Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 8

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 07 Desember 2011

Ci-kim-kong Hwesio terkesiap, cepat dia berteriak,
"Lepaskan lagi Leng-hwe-tan, gunakan 'Lautan api membakar
langit', binasakan orang ini!"
Sementara itu Thay-kun sudah merasakan betapa dahsyat
dan hebatnya Leng-hwe-tan, ia tak berani melancarkan
serangan ke arah lawan secara gegabah lagi, badannya segera
bergerak dan melompat ke samping tubuh Bong Thian-gak,
kemudian dengan cekatan membopong tubuh pemuda itu.

1116
Rentetan Leng-hwe-tan yang dilancarkan secara bertubitubi
ke arahnya segera berledakan dimana-mana serta
menimbulkan suara gemuruh.
Thay-kun membentak sambil membopong tubuh Bong
Thian-gak, dia segera melejit ke tengah udara.
Tenaga dalam yang dimilikinya saat ini membuat orang tak
berani mempercayainya, sekali lompatan saja dia telah
berhasil melompati hutan bambu.
Menyaksikan ilmu meringankan tubuh yang begitu hebat
dan luar biasa, untuk sesaat Ci-kim-kong Hwesio menjadi
kaget dan lupa untuk melepas Leng-hwe-tan serta melakukan
pengejaran, dia hanya berdiri termangu di tempat dengan
mata terbelalak, bayangan Thay-kun sudah lenyap di balik
hutan bambu.
Thay-kun sambil membopong Bong Thian-gak berlari
menyusuri hutan bambu itu sejauh satu li lebih, mendadak
sepasang matanya bersinar tajam, rupanya dia sudah keluar
dari hutan bambu yang begitu rapat di Ban-jian-bong itu.
Tanpa terasa Thay-kun menghentikan langkah, lalu
memandang sekejap sekeliling tempat itu, ternyata dia sudah
berada di sebelah barat laut pekuburan itu, sepanjang mata
memandang hanya padang rumput yang luas tanpa tepian.
Tanpa berbicara ataupun mengeluarkan sedikit suara pun,
Thay-kun berjalan menyusuri padang rumput yang sangat luas
itu.
Kemanakah dia hendak pergi?
Cahaya matahari yang mendekati senja memancarkan
sinarnya yang merah ke atas tubuhnya, beberapa bagian
pakaian yang dikenakan telah hangus terbakar, membuat
pakaiannya sangat kusut dan wajahnya amat layu.

1117
Angin berhembus menerbangkan rambutnya yang panjang
dan membentuk perpaduan pemandangan memilukan dan
mengenaskan.
"Engkoh Gak, engkoh Gak, dimanakah engkau berada,
engkoh Gak
Angin barat berhembus, seakan ada panggilan yang
menyayat hati.
"Engkoh Gak, dimanakah engkau berada? Engkoh Gak
Suara panggilan yang muncul sangat mendadak dan
bernada memilukan itu segera menyadarkan Thay-kun dari
pikiran kusut dan murung.
Dengan cepat dia memandang sekejap ke arah padang
rumput yang membentang tak bertepian di depan matanya,
namun tak kelihatan sesosok bayangan orang pun di sana.
"Jelas itu suara panggilan seorang perempuan," gumam
Thay-kun dengan suara lirih.
"Dia sedang mencari engkoh Gak, siapakah engkoh Gak
itu?" Thay-kun berdiri tegak di situ dengan tenang, menanti
datangnya suara panggilan itu sekali lagi.
Namun suasana amat hening, sepi, bahkan suara panggilan
tadi tak terdengar lagi.
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas, lalu bergumam,
"Mungkinkah aku telah salah mendengar?"
"Ai! Mengapa aku harus berjalan menuju ke padang rumput
yang tak bertepian ini?"
"Kini keselamatan jiwa Bong Thian-gak sedang terancam
bahaya, mengapa aku membuang waktu yang berharga begitu
saja?"
"Si tabib sakti Gi Jian-cau berada dalam Ban-jian-bong,
bagaimana pun aku harus dapat menemukannya dan

1118
memaksanya menyelamatkan jiwa Bong Thian-gak. Aku harus
secepatnya kembali ke Ban-jian-bong."
Tadi berhubung Thay-kun diserang Leng-hwe-tan oleh Cikim-
kong sekalian secara bertubi-tubi, merasa sudah tak ada
harapan lagi mengungguli musuh, kemudian harapannya
untuk menemukan si tabib lakti Gi Jian-cau pun sudah lenyap,
dia menjadi putus asa, sedih dan kecewa sekali.
Pukulan batin yang sangat berat itu membuat pikirannya
menjadi sangat kalut, sehingga tanpa disadari dia berjalan
menuju ke padang rumput tanpa tujuan.
Sekarang dia dapat menenangkan pikiran, dengan perasaan
lebih tenang dan otak lebih dingin, dia mulai merasa bahwa
kondisi Bong Thlun-gak sangat lemah, dia sangat
membutuhkan pertolongan si tabib takti, maka dia pun
memutuskan balik ke Ban-jian-bong.
Dengan membopong tubuh Bong Thian-gak, berangkatlah
Thay-kun kembali ke Ban-jian-bong.
Tidak sampai setengah jam kemudian, Thay-kun sudah tiba
di mulut barat laut Ban-jian-bong.
Thay-kun berpikir, dalam perjalanan memasuki Ban-jianbong
kali llil, ia tak akan bisa menghindari suatu pertarungan
berdarah lagi. Bong Thian-gak yang berada dalam
bopongannya akan semakin terancam lagi oleh bahaya maut.
Karena itu Thay-kun mencari pohon Siong besar,
membaringkan Bong Thian-gak di situ, lalu katanya dengan
lembut, "Bong-suheng, terbaringlah di sini dengan tenang, aku
akan segera kembali."
Bong Thian-gak sudah berada dalam keadaan tak sadar,
sudah barang tentu dia tak mampu menjawab pertanyaan itu.
Thay-kun menggeleng sambil menghela napas sedih,
kemudian baru membalikkan badan dan mengerahkan

1119
Ginkangnya menerobos ke dalam hutan bambu di Ban-jianbong.
Ban-jian-bong yang sangat menyeramkan dan
menggidikkan masih dicekam keheningan.
Secara beruntun Thay-kun menembus enam-tujuh lapis
kuburan, namun tak sesosok bayangan pun yang berhasil
ditemukan.
Thay-kun makin gelisah, apalagi melihat senja semakin
mendekat. Bila dia berdiam terus-menerus hingga membiarkan
malam menjelang tiba, berarti usahanya menemukan si tabib
sakti akan semakin menemui kesulitan.
Pikir punya pikir, tanpa terasa Thay-kun mulai berteriak,
"Ci-kim-kong Hwesio, berada dimanakah kau? Nonamu hendak
menantangmu bertarung tiga ratus gebrakan."
Bagaikan seorang yang sudah kalap, kembali Thay-kun
berteriak, "Tabib sakti Gi-locianpwe, kau bersembunyi dimana?
Gi-locianpwe, Thay-kun tahu kau bersembunyi di dalam Banjian-
bong ini. Ayo cepat keluar!"
Suara teriakannya yang sangat keras segera menggema di
seluruh hutan bambu itu.
Namun suasana dalam Ban-jian-bong tetap hening, sepi
dan sama sekali tak terdengar sedikit suara pun.
Gelak tawa Thay-kun yang keras dan tajam itu akhirnya
berubah seperti orang gila.
"Badannya berputar-putar dalam hutan bambu secepat
sambaran kilat, pukulan demi pukulan dilancarkan berulang
kali ke sana kemari membuat peti mati hancur berantakan dan
tulang belulang beterbangan di angkasa.
Mendadak terdengar dua kali desingan angin tajam.

1120
Thay-kun segera mengenali suara itu, desingan senjata
rahasia, maka sepasang tangannya segera digetarkan dan
tubuhnya melejit ke tengah udara.
Pada saat itulah terdengar suara ledakan keras, jilatan api
menyambar dari bawah kakinya.
Tubuh Thay-kun bagaikan seekor burung walet yang
terbang di angkasa segera meluncur ke arah hutan bambu di
hadapannya, di mana angin pukulan menyambar, seorang
Hwesio berbaju kuning segera roboh terjengkang ke atas
tanah.
Setelah berhasil membinasakan seorang musuh, sekali lagi
Thay-kun melejit ke udara dan menerjang lagi ke dalam hutan
bambu.
Baru saja kakinya melayang turun ke atas tanah, sesosok
bayangan muncul dari balik pepohonan bambu yang rindang.
Thay-kun segera membentak, "Hendak kabur kemana kau!"
Telapak tangan kirinya segera melepaskan sebuah bacokan
maut ke depan.
Dimana angin pukulan menyambar, bayangan orang segera
rontok dari tengah udara dan tak pernah merangkak bangun
kembali.
Tenaga pukulan Thay-kun benar-benar sangat dahsyat dan
tajam, membuat siapa pun yang melihat akan bergidik.
Sementara suara desingan senjata rahasia kembali
terdengar.
Thay-kun mulai memutar otak dan menghitung sisa Kimkong
Hwesio yang masih tersisa, Bong Thian-gak telah
membunuh tiga orang, barusan ia telah membunuh tiga orang
dan kini membunuh lagi dua orang, berarti masih tersisa tiga
orang saja.

1121
Dengan gerakan tubuh yang enteng seperti burung walet,
Thay-kun meluncur ke udara, lalu seganas harimau dia
menerkam ke arah hutan bambu di hadapannya.
Jeritan ngeri yang memilukan sekali lagi berkumandang,
dari balik peti mati mencelat keluar sesosok tubuh yang
kemudian tergeletak di tanah sebagai mayat.
"Pelacur busuk, Hud-ya akan mengadu jiwa denganmu!"
Di tengah bentakan keras, Ci-kim-kong Hwesio dan Kimkong
Hwesio yang terakhir muncul dari balik gundukan tanah.
Sebatang anak panah kecil disertai dua desingan angin
pukulan yang sangat kuat segera menyergap datang dari arah
belakang.
Thay-kun tertawa terkekeh-kekeh, lalu bentaknya,
"Sesungguhnya kalian mesti muncul diri sejak tadi!"
Dengan cepat Thay-kun melompat ke muka dan melayang
turun
di belakang kedua Hwesio itu dengan sangat ringan. Tibatiba
terdengar seseorang membentak.
Telapak tangan kiri Thay-kun sudah keburu diayunkan ke
depan dengan kecepatan luar biasa.
Salah seorang dari Kim-kong Hwesio itu segera mendengus
tertahan, lalu tubuhnya roboh terjengkang ke belakang dan
binasa dalam keadaan mengenaskan.
Dengan cepat tiga sosok bayangan telah melayang datang
dan turun di samping tubuh Ci-kim-kong Hwesio.
Setelah mengetahui jelas siapa ketiga orang itu, dengan
perasaan girang Thay-kun segera berseru, "Ci-kim-kong
adalah satu-satunya sumber berita untuk kita, harap kalian
jangan melukai dirinya!"

1122
Ternyata ketiga orang yang baru saja muncul adalah Tio
Tian-seng, Liu Khi serta Tan Sam-cing.
Sewaktu Ci-kim-kong Hwesio menyaksikan ketiga orang itu,
dia justru menarik muka sambil membentak, "Kalian bertiga
cepat turun tangan dan bekuk perempuan rendah itu!"
Thay-kun jadi tertegun, ditatapnya Tio Tian-seng bertiga
dengan termangu, dia ingin tahu bagaimanakah reaksi rekanrekannya
itu?
Tampak olehnya Tio Tian-seng, Liu Khi dan Tan Sam-cing
segera berkelebat ke muka dan dengan cepat membentuk
posisi mengurung dari posisi tiga sudut, dengan begitu
perempuan itu terkurung rapat.
Thay-kun berkerut kening, lalu serunya lantang, "Tiopangcu,
sejak kapan kalian bertiga berubah pendirian serta
bersedia menuruti perintahnya?"
"Nona Thay-kun," dengan suara dalam Mo-kiam-sin-kun Tio
Tian-seng berkata, "kami telah berjumpa si tabib sakti Gi Jiancau.
Demi persatuan kami untuk bersama-sama menghadapi
Hek-mo-ong, maka kami telah mengambil keputusan untuk
tetap tinggal di Ban-jian-bong sambil berjaga-jaga di sini."
"Mulai sekarang setiap orang dilarang memasuki daerah
Ban-jian-bong lagi. Oleh sebab itu kami berharap nona Thaykun
bersedia mengundurkan diri dari sini secepatnya."
Thay-kun berkerut kening, lalu dengan hawa napsu
membunuh menyelimuti wajahnya, dia berkata, "Sebelum
berhasil menjumpai Gi
Jian-cau, aku tak akan mengundurkan diri dari Ban-jianbong."
"Nona," kata Liu Khi dengan ketus, "bilamana kau
bersikeras tak mau mengundurkan diri, terpaksa kau harus
terlibat dalam suatu pertarungan sengit melawan kami!"

1123
Pelan-pelan Thay-kun mengalihkan sorot matanya ke wajah
Tan Sam-cing, kemudian tanyanya pula, "Apakah Tanlocianpwe
juga sudah berpihak kepada mereka?"
Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing mendengus dingin,
kemudian katanya, "Berbagai perubahan yang mendadak
seringkali terjadi dalam Kangouw. Nona Thay-kun, kuanjurkan
padamu lebih baik pergi dari Ban-jian-bong ini secepatnya,
kalau tidak, kau akan tertimpa bencana kematian."
Thay-kun segera tertawa dingin.
"Bagus, bagus sekali. Cuaca gampang berubah, urusan
dunia pun selalu berubah tak menentu. Jika memang demikian
aku ingin terkubur dalam Ban-jian-bong ini daripada
mengundurkan diri dari sini."
Tiba-tiba Ci-kim-kong Hwesio yang berada di sisinya
berkata pula dengan suara berat, "Dia telah membinasakan
sembilan orang Kim-kong Hwesio, apakah aku harus
membiarkan dia pergi dari sini begitu saja?"
Tio Tian-seng memandang sekejap ke arah Ci-kim-kong
Hwesio, kemudian katanya, "Taysu, si tabib sakti ada perintah
membiarkan dia mengundurkan diri dari Ban-jian-bong. Bila
dia tidak mau mundur, kita baru berusaha membunuhnya."
"Aku tidak percaya si tabib sakti benar-benar berbuat
demikian," teriak Ci-kim-kong Hwesio.
Thay-kun tertawa dingin, kemudian teriaknya secara tibatiba,
"Hwesio bajingan, biar kubunuh dirimu lebih dulu."
Thay-kun segera mengayun telapak tangan kirinya,
kemudian mendesak ke depan menghampiri Ci-kim-kong
Hwesio.
Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak, tiba-tiba dua bilah
pedang dan sebilah golok panjang telah menghadang jalan
pergi Thay-kun dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

1124
Tio Tian-seng, Tan Sam-cing serta Liu Khi adalah tiga jago
persilatan berilmu silat tinggi dalam Kangouw dewasa ini.
Setelah mereka bekerja sama, siapa yang sanggup
menghadapinya?
Dalam kejutnya, Thay-kun segera mundur tiga langkah,
kemudian ujarnya dingin, "Benarkah kalian bertiga akan
mencampuri urusanku dan menghalangi niatku ini?"
Dengan suara dalam Tio Tian-seng berkata, "Tabib sakti
berpesan kepada kami bahwa Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak
yang terkena jarum beracun ekor lebah dari Leng-hwe-tan tak
bakal mati. Apakah nona masih ingin membuat keonaran
lagi?"
"Apakah dia berkata demikian? Benarkah Jian-ciat-suseng
tak akan mati?" tanya Thay-kun dengan perasaan bergetar
keras.
Tio Tian-seng menghela napas panjang.
"Ai, tadi pun aku sudah terkena racun jarum ekor lebah
Leng-hwe-tan, bekerjanya racun itu telah memancing
bekerjanya racun dari Hek-mo-ong yang terkandung dalam
badanku. Tapi kenyataan aku tak mampus."
"Tapi kau sudah memperoleh perawatan dan pengobatan
tabib sakti, itulah sebabnya kau tak mampus!"
Tiba-tiba Tio Tian-seng bertanya, "Nona, pernahkah kau
tahu tentang teori dalam ilmu pertabiban yang dinamakan
"dengan racun melawan racun'?"
"Walaupun Jian-ciat-suseng sudah terkena jarum ekor
lebah yang amat beracun, bukan saja dia tak akan mati,
bahkan akan memusnahkan racun dari Hek-mo-ong yang
ditanamkan di dalam tubuhnya, sekarang dia hanya pingsan
selama beberapa jam, jiwanya tak akan terancam."
"Sungguhkah perkataanmu itu?" tanya Thay-kun dengan
terkejut bercampur heran.

1125
"Aku tak perlu membohongimu."
Thay-kun segera tertawa dingin.
"Apabila kalian berani membohongi aku, selama hidup aku
bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan kalian
secara damai."
Selesai berkata, dia lantas membalikkan badan dan
beranjak pergi dari situ.
Tiba-tiba terdengar Tio Tian-seng berkata lagi, "Harap nona
mengingatnya baik-baik, sekali lagi jangan kau memasuki
daerah Ban-jian-bong ini."
Thay-kun yang sudah jauh segera menyahut dengan suara
merdu,
"Bila Jian-ciat-suseng selamat dari ancaman bahaya,
kemungkinan besar kami akan mengundurkan diri untuk
selamanya dari keramaian dunia persilatan."
Bayangan tubuh Thay-kun pun segera lenyap di balik
remang-remangnya cuaca.
Matahari sudah lama tenggelam, yang tersisa tinggal
secercali sinar yang sangat redup.
Di padang rumput yang hening, tiada hentinya
berkumandang suara panggilan yang memilukan dan
memedihkan hati, "Bong-suheng, dimana kau? Bong-suheng
Seorang perempuan yang berpakaian compang-camping
dan berwajah kusut berlarian di padang rumput seperti orang
kalap.
"Bong Thian-gak, dimanakah kau? Mengapa kau
meninggalkan aku begitu saja?"
Tiada hentinya perempuan berbaju biru itu berteriak dan
menjerit sekerasnya.

1126
Padang rumput yang tampak begitu sepi, hening dan
mengerikan. Sebelum matahari terbenam tadi, di angkasa
terdengar orang yang berteriak, "Engkoh Gak, engkoh Gak,
dimanakah kau?" Dan sekarang ketika magrib tiba, kembali
suasana hening dipecahkan oleh teriakan, "Bong-suheng,
Bong-suheng, dimanakah kau?"
Sama-sama teriakan pilu seorang perempuan, sama-sama
bernada cemas dan sedih, namun berasal dari dua orang
perempuan yang berbeda.
Ternyata ketika Thay-kun berlari keluar dari Ban-jian-bong
dan kembali ke bawah pohon yang rindang itu, bayangan
tubuh Bong Thian-gak sudah lenyap. Tidak meninggalkan
bekas apa-apa, tak mungkin pemuda itu diserang binatang liar
atau menjumpai suatu peristiwa yang sama sekali di luar
dugaan.
Tapi tubuh Bong Thian-gak lenyap begitu saja.
Jelas dia sudah mendusin sendiri dari pingsannya,
kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Kepergian Bong Thian-gak tanpa pamit membuat Thay-kun
merasa sedih. Sejak dia menelan pil penghilang sukma hingga
syarafnya menderita luka, keadaan badannya menjadi sangat
lemah, akibatnya pukulan batin yang amat besar ini segera
membuat jalan pikirannya menjadi lamban dan tidak jelas.
Bagaikan orang gila, dia mulai berlarian sambil memanggil
nama Bong Thian-gak, dia berlari menyusuri setiap sudut
padang rumput yang dilewatinya.
Malam sangat kelam.
Di sudut padang rumput berdiri sebuah gedung bobrok,
sepi dan menyeramkan.
Tiba-tiba muncul seorang perempuan muda berambut
panjang yang mengenakan baju putih, perempuan muda itu

1127
berwajah cantik, usianya antara dua puluh tahunan, namun
perutnya besar sekali, jelas dia sedang mengandung.
Di atas perutnya yang sudah besar dan kandungan berusia
lima-enam bulan ini berbaring seorang lelaki dalam keadaan
tak sadar, hal ini membuat perempuan muda itu nampak lebih
lemah dan mengenaskan.
Seluruh wajah perempuan muda itu diliputi perasaan sedih
dan pedih, ia memandang sekejap sekeliling gedung itu, lalu
gumamnya, "Mungkin gedung ini tak ada penghuninya?"
Sembari bergumam dengan cepat ia membopong lelaki itu
dan masuk ke dalam gedung.
Nyonya muda itu mengetik batu api, sekilas cahaya api
menerangi sekeliling tempat itu, ternyata sebuah ruangan
besar, perabotnya komplit dan di atas dinding tergantung
beberapa lukisan pemandangan dan orang, sementara
lantainya bersih tak berdebu, jelas ada penghuninya.
Dengan terkejut perempuan muda itu mengundurkan diri
dari pintu ruangan, kemudian serunya lembut, "Adakah
seseorang di sini?"
Pertanyaan itu diulang beberapa kali, namun tak terdengar
suara apa pun.
Akhirnya nyonya muda itu bergumam, "Mungkin pemilik
rumah sedang keluar, pintu luar tidak dikunci, jelas dia tak
pergi jauh. Ai, luka yang diderita engkoh Gak begini parah,
aku perlu mengobati luka itu secepatnya. Ya sudahlah,
terpaksa aku meminjam ruangan ini...."
Sekali lagi nyonya muda itu masuk ke dalam ruangan, lalu
menyulut tiga batang lilin yang ada dalam ruangan itu, cahaya
api segera menerangi seluruh penjuru ruangan itu.
Kali ini nyonya muda itu dapat melihat jelas ruangan itu
diatur sangat rapi dan mewah, terutama lukisan di atas

1128
dinding, pada hakikatnya semua lukisan itu berasal dari
pelukis kenamaan.
Tapi nyonya muda itu seperti tak ada waktu untuk
menikmati lukisan-lukisan itu, dengan cepat ia membaringkan
lelaki dalam bopongannya itu ke atas sebuah meja pendek di
tengah ruangan.
Kemudian dia melepas pakaian bagian dadanya dan
diperiksa dengan seksama semua luka yang dideritanya,
kemudian dia memegang urat nadinya dan memeriksa lebih
kurang sepeminuman teh lamanya.
Kemudian nyonya muda itu baru menghela napas panjang,
mengambil kursi dan mengeluarkan sebuah kotak kemala
persegi panjang yang segera diletakkan di atas kursi tadi.
Ketika penutup kotak itu terbuka, selapis cahaya emas dan
perak segera memancar dari balik kotak itu.
Sinar emas dan perak itu sangat kuat dan menusuk
pandangan mata, sehingga sinar lilin yang semula menyinari
ruangan itu pun terasa menjadi redup.
Dengan cepat nyonya muda berbaju putih itu
mengeluarkan isi kotak kemala itu, ternyata isinya adalah
jarum emas dan perak.
Jarum-jarum itu lembut seperti bulu kerbau, setiap batang
jarum memancarkan sinar yang sangat kuat.
Dengan sangat teratur, perempuan berbaju putih itu
menjajarkan jarum-jarum itu di atas bangku, ternyata jarum
itu terdiri dari dua belas batang jarum emas dan dua belas
jarum perak.
Ketika semua persiapan telah selesai, perempuan berbaju
putih baru menarik napas panjang, dengan tangan kanan
memegang sebatang jarum emas, tangan kiri memegang
sebatang jarum perak, serentak dia tusuk jalan darah penting
di dada pemuda itu dengan cepat.

1129
Gerakan yang dilakukan nyonya muda itu sangat cepat,
sepasang tangannya bekerja bersama secara bergantian.
Dalam waktu singkat, dari dua puluh empat batang jarum
emas dan perak itu tinggal dua batang yang belum
ditancapkan.
Saat itu dia telah menggenggam kedua batang jarum emas
dan perak terakhir.
Mendadak dari luar berkumandang suara panggilan yang
keras dan memekakkan telinga.
"Bong-suheng, dimanakah kau berada?"
Ketika mendengar teriakan itu, nyonya muda berbaju putih
itu nampak tertegun, namun dengan cepat kedua batang
jarum emas dan perak itu ditancapkan ke atas dada pemuda
itu.
Mendadak sesosok bayangan berkelebat masuk ke dalam
ruangan gedung.
Seorang perempuan berbaju biru yang compang-camping,
dengan cepat sudah berdiri di ruang tengah. Ketika
menyaksikan orang yang tergeletak di atas meja rendah itu,
teriaknya, "Jangan kau lukai dia!"
Dengan gerakan sangat cepat dia mendesak maju, lalu
cahaya merah memancar dari tangan kirinya, tahu-tahu
sebuah pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang telah dilontarkan.
Nyonya muda berbaju putih itu memandang sekejap ke
arahnya, namun kedua batang jarum emas dan perak itu
masih dilanjutkan menusuk ke jalan darah pemuda itu.
Berada dalam keadaan seperti ini, sudah barang tentu
mustahil bagi nyonya muda berbaju putih itu untuk menangkis
datangnya ancaman serangan perempuan itu, apalagi
serangan itu merupakan ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang yang
ganas dan mematikan.

1130
Tampaknya nyonya cantik berbaju putih itu segera akan
tewas di tangan lawan.
Siapa tahu pada saat itulah dari belakang tubuh nyonya
berbaju putih itu muncul sebuah tangan yang mendahului
pukulan dahsyat tadi dengan mendorong tubuh perempuan
berbaju putih itu hingga mundur tiga-empat langkah.
Thay-kun tak pernah menyangka ilmu pukulan Soh-li-jianyang-
sin-kang akan mengenai tempat kosong. Meskipun saat
itu dia pun melihat orang yang mendorong perempuan
berbaju putih itu, namun tak sempat lagi melepaskan
serangannya, dengan cepat dia hendak memeluk orang yang
berbaring di atas meja itu.
Melihat perbuatan itu, nyonya muda berbaju putih itu
segera berteriak, "Jangan kau sentuh dia!"
Jangan dilihat badannya lemah-gemulai seperti tak
bertenaga, ternyata gerakannya cepat dan sama sekali di luar
dugaan. Tahu-tahu sebuah pukulan telah dilontarkan ke
depan.
Telapak tangan kanan nyonya berbaju putih itu
menghantam di atas bahu kanan Thay-kun.
Akibatnya Thay-kun tidak mampu menahan diri lagi,
dengan sempoyongan dia terdorong mundur tiga-empat
langkah, kemudian memuntahkan darah segar.
Selapis hawa membunuh yang sangat menggidikkan segera
memancar dari mata Thay-kun, pelan-pelan dia mengangkat
telapak tangan kirinya.
Mendadak terdengar suara seorang kakek, "Tahan!"
Suara itu terlambat, pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang
Thay-kun telah dilontarkan ke depan.

1131
Nyonya berbaju putih mendengus tertahan, lalu sambil
memeluk perutnya yang besar dia terjongkok dan duduk di
tanah.
Saat itulah Thay-kun baru melihat lawan adalah seorang
perempuan yang sedang mengandung. Dia menjadi tertegun,
kemudian kakinya menjadi lemas dan akhirnya jatuh terduduk
di atas tanah.
Paras muka nyonya muda berbaju putih pucat-pias seperti
mayat. Mukanya mengejang keras, dengan suara penuh
penderitaan dia berkata, "Empek, tolong bantu aku
melindunginya, dia segera akan mendusin."
Ternyata di dalam ruangan itu telah bertambah dengan
seorang kakek berbaju hijau.
Kakek itu mempunyai wajah yang keras, alis matanya
berwarna putih, telinga besar, namun tampaknya seperti
sedang menderita sesuatu penyakit sehingga mukanya kuning
kepucat-pucatan.
Kendatipun demikian, hal itu sama sekali tidak menutupi
kegagahan serta kewibawaannya.
Kakek berbaju hijau memandang sekejap ke arah nyonya
muda berbaju putih, lalu tanyanya dengan ramah, "Parahkah
luka yang kau derita?"
"Parah sekali, telah menggoncang rahimku!"
Dalam pada itu Thay-kun sudah mulai sadar, secara lamatlamat
tindakan yang dilakukan perempuan muda berbaju putih
tadi bukan bermaksud hendak mencelakai Bong Thian-gak,
melainkan sedang mengobati lukanya dengan ilmu tusuk
jarum yang sangat hebat.
Thay-kun benar-benar menyesal, menyesal atas
kecerobohannya.

1132
Dengan cepat ia meronta bangun dari atas tanah, lalu
tanyanya agak gemetar, "Si... siapakah kau?"
Dengan wajah murung dan suara merintih, nyonya muda
berbaju putih itu berbisik pelan, "Mungkin ... mungkin kau
telah mencelakai jiwa anakku yang masih dalam kandungan."
"Ai, aku ... aku benar-benar telah khilaf. Aku ... aku kelewat
ceroboh," keluh Thay-kun sambil menghela napas sedih.
Kakek berbaju hijau berjalan mendekat, lalu mengeluarkan
sebuah botol obat menuju ke hadapan nyonya muda itu.
Dengan cepat dia mengeluarkan tiga butir pil, ujarnya dengan
lembut, "Cepat kau telan pil ini. Pil itu adalah Kiu-coan-bingwan,
bisa jadi akan menekan goncangan pada rahimmu."
Dengan cepat nyonya muda berbaju putih menerima
pemberian itu dan sekaligus menelan ketiga butir pil itu. Betul
juga, ketika pil itu masuk ke dalam mulut, terasa harum
semerbak memancar kemana-mana. Rasa sakit dalam perut
juga semakin berkurang.
Tiba-tiba Thay-kun membimbing nyonya muda berbaju
putih itu, kemudian bisiknya, "Cici, maafkanlah aku!"
Setelah menelan pil tadi, rasa sakit yang melilit perut
nyonya muda berbaju putih itu pun semakin berkurang,
dengan kening berkerut dia segera bertanya, "Siapakah kau?
Mengapa kau kenal padanya?"
"Apakah Cici kenal padanya?" Thay-kun balik bertanya
dengan terkesiap.
"Dia adalah suamiku," jawab si nyonya muda itu dengan
suara pedih.
Thay-kun benar-benar terkejut sekali.
"Ah, kalau begitu kau adalah ... adalah Song Leng-hui!"
Agaknya nyonya muda berbaju putih itu sama sekali tak
mengira Thay-kun bisa menyebut namanya dengan tepat,

1133
selapis sinar duka dan murung segera memancar dari balik
matanya, pelan-pelan dia bertanya, "Siapakah namamu?"
"Aku bernama Thay-kun, aku adalah adik seperguruannya."
Ternyata nyonya muda berbaju putih itu adalah Song Lenghui.
Sejak Bong Thian-gak meninggalkannya untuk turun
gunung, dia hidup seorang diri di tengah pegunungan yang
terpencil sambil merindukan suaminya, rasa rindu itu kian hari
kian bertambah.
Setiap pagi maupun senja, dia selalu berdiri di puncak bukit
sambil menunggu suaminya pulang.
Pada bulan kedua, Song Leng-hui merasa ada perubahan
pada dirinya. Perut pun makin hari makin membesar, dia tahu
hubungan intim yang mereka lakukan pada malam ini telah
menghasilkan benih dalam rahimnya.
Kejadian itu membuat Song Leng-hui semakin
mengharapkan suaminya pulang, dia ingin turun gunung, tapi
pesan orang tuanya sebelum meninggal membuatnya tak
berani membangkang sumpah untuk turun gunung.
Tapi rasa rindu yang menyiksa dirinya serta perut yang
semakin bertambah besar, membuat perempuan itu tak bisa
berdiam diri lagi, akhirnya tanpa berpikir lebih jauh, ia segera
turun gunung.
Setelah turun gunung, dia pun mulai menyusuri jejak Bong
Thian-gak sepanjang jalan. Dia pergi ke Ho-pak, lalu ke Holam,
sebulan lebih dia menderita dan mengembara, namun
jejak Bong Thian-gak belum juga ditemukan.
Dalam sedih dan tekanan batin yang sangat berat, akhirnya
terjadi perubahan pada dirinya. Setiap senja mulai menjelang
tiba, dia mulai menyusuri tempat terpencil dan meneriakkan
nama, "Engkoh Gak ...engkoh Gak."
Akhirnya dia berhasil juga menemukan Bong Thian-gak.

1134
Ia tergeletak di bawah pohon dalam keadaan sangat kritis,
maka sambil membopong tubuhnya dan menyusuri jalanan
sejauh satu li lebih, akhirnya dia berhasil menemukan gedung
itu.
Song Leng-hui menghela napas sedih, pelan-pelan katanya,
"Thay-kun, aku pernah mendengar nama itu disebut olehnya,
dia terjun kembali ke dunia persilatan tak lain karena ingin
menolongmu. Ai, tapi dia ... dia telah berubah menjadi begini
rupa sekarang."
Air mata bercucuran membasahi wajah Thay-kun, serunya
lirih, "Enci Song, maafkanlah aku, aku memang pantas mati
bila kau mengalami sesuatu. Bagaimana mungkin aku bisa
mempertanggungjawabkan kepada Bong-suheng."
Thay-kun menangis, menangis dengan sedihnya.
Suara isak-tangisnya amat memilukan, membuat siapa pun
yang mendengar turut berduka.
Memandang keadaan itu, Song Leng-hui menjadi terharu
pula, tanpa terasa dia segera menghibur, "Enci Thay-kun, kau
tidak usah bersedih, aku tak akan mati."
"Enci Song, tadi aku telah melancarkan serangan dengan
ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang, aku sudah seharusnya mati."
Mendadak kakek berbaju hijau itu menghela napas
panjang, lalu berkata, "Sebenarnya ilmu pukulan Soh-li-jianyang-
sin-kang adalah ilmu sakti yang sangat langka, tapi
untunglah, nona Song memiliki tenaga Tay-gi-khi-kang yang
melindungi badannya, sehingga luka yang dideritanya pun
tidak terlampau parah."
Perkataan kakek berbaju hijau membuat kedua orang
perempuan itu segera sadar bahwa di dalam ruangan itu
masih hadir seorang kakek berbaju hijau.
Song Leng-hui segera berpaling ke arah kakek itu,
kemudian ujarnya dengan lembut, "Terima kasih banyak atas

1135
pemberian obat Locianpwe. Maafkanlah, Siauli sedang terluka
sehingga tak dapat menyampaikan rasa terima kasihku
kepadamu."
"Nona Song tidak usah banyak adat."
Tiba-tiba Song Leng-hui berkata lagi, "Tampaknya
Locianpwe adalah tuan rumah gedung ini. Bila Siauli telah
memasuki gedung kediamanmu pada saat yang kurang cepat
dan secara gegabah, harap Locianpwe sudi memaafkan."
Sebenarnya Thay-kun mengira Song Leng-hui dan kakek
berbaju hijau itu berasal dari satu jalan, dia baru tertegun
sesudah mendengar perkataan itu, tanpa terasa dia
memperhatikan beberapa kejap.
"Tak usah sungkan-sungkan," kata kakek berbaju hijau itu
sambil tersenyum. "Kita dapat bersua berarti di antara kita
memang punya jodoh."
Song Leng-hui kembali tersenyum.
"Locianpwe memang betul-betul seorang tokoh yang luar
biasa. Nyatanya kau sanggup menebak asal-usul ilmu silatku
secara tepat, bolehkah aku tahu siapa nama Locianpwe?"
Sambil mengelus jenggotnya yang panjang dan tertawa,
kakek berbaju hijau itu berkata, "Tay-gi-khi-kang merupakan
ilmu silat yang luar biasa dalam persilatan, di kolong langit
dewasa ini pun hanya Song-ciu suami-istri yang memiliki
kepandaian itu. Bila dugaanku tidak salah, sudah pasti nona
adalah keturunan Song-ciu."
Berubah paras muka Song Leng-hui, cepat dia bertanya,
"Siapakah Locianpwe?"
Dalam benak Song Leng-hui dengan cepat melintas pesan
terakhir ayahnya sebelum meningal, "Anak Hui, sekalipun kau
berhasil melatih ilmu silat yang luar biasa, ilmu Tay-gi-khikang
serta berbagai macam ilmu silat lainnya, namun
bagaimana pun juga kau tidak boleh turun gunung, sebab

1136
orang tuamu mempunyai seorang musuh besar yang lihai
sekali. Bukan saja dia telah berhasil melatih berbagai macam
ilmu silat yang hebat di dunia ini, dia pun berhati kejam dan
buas. Sekali kau menggunakan ilmu silatmu, maka dia akan
segera mengenali asal-usulmu itu dan melakukan
pembunuhan atas dirimu."
"Oleh karenanya aku meminta kau bersumpah dan selama
hidup tidak turun gunung, selama hidup merahasiakan ilmu
silat yang kau miliki itu ... sekalipun terhadap kekasihmu
sendiri, kau juga tidak boleh memperlihatkan ilmu silatmu
sendiri."
Hati Song Leng-hui benar-benar bergetar keras, ditatapnya
kakek berbaju hijau itu lekat-lekat tanpa berkedip.
Menyaksikan ketegangan yang mencekam Song Leng-hui,
diam-diam Thay-kun menegur kecerobohannya, maka dia pun
memutuskan bila kakek itu bersiap melakukan serangan, maka
dia akan turun tangan lebih dahulu.
Sementara itu kakek berbaju hijau sudah memandang
sekejap ke arah kedua gadis itu, kemudian katanya, "Kalian
tak usah bertanya siapa namaku, kalian pun tidak perlu curiga
dan takut terhadapku."
Song Leng-hui adalah seorang yang baru terjun ke dunia
Kangouw, pengetahuan serta pengalaman yang dimilikinya
masih cetek. Setelah mendengar ucapan kakek itu, dia
menjadi tersipu-sipu dan segera menundukkan kepala.
Sebaliknya Thay-kun segera tersenyum, seraya berkata,
"Ah, kami tidak lebih hanya merasa bahwa Locianpwe adalah
seorang aneh, lain daripada yang lain."
"Melihat yang aneh jangan terasa aneh, keanehan hanya
akan muncul dari dasar hati," kata kakek berbaju hijau itu
sambil mengelus jenggotnya dan tertawa.

1137
Kemudian dia berpaling dan memandang sekejap ke arah
Bong Thian-gak yang masih terbaring di atas meja sambil
berkata, "Ilmu tusuk jarum Song-hujin yang mengandalkan
dua puluh empat batang jarum emas dan perak merupakan
tandingan dari berbagai macam racun yang ada di dunia ini,
kini semua racun yang ada di dalam tubuhnya mungkin sudah
punah oleh tusukan jarum emas dan perak itu. Nona Song,
kau boleh mencabut semua jarum emas dan perak itu."
"Locianpwe, tampaknya kau seperti banyak tahu tentang
segala sesuatu mengenai kedua orang tuaku?" tanya Song
Leng-hui curiga.
Kakek berbaju hijau itu segera tertawa terbahak-bahak,
"Nama besar Song-ciu suami-istri tercantum dalam deretan
nama sepuluh tokoh persilatan. Nama mereka amat
termasyhur, tak aneh bila diketahui setiap orang."
"Locianpwe, maaf bila aku mengajukan pertanyaan secara
sembrono," tukas Thay-kun. "Aku lihat wajahmu kurang baik.
Apakah kau merasa kurang sehat?"
Kembali kakek berbaju hijau itu tertawa tergelak, "Benarbenar
memiliki ketajaman mata luar biasa. Betul, aku memang
menderita suatu penyakit menahun."
"Bolehkah aku tahu penyakit apakah itu?"
"Keracunan," jawab si kakek sambil tersenyum.
"Apakah racun yang bersarang di dalam tubuh Locianpwe
sukar untuk diobati?"
"Racun yang bersarang dalam tubuhku cuma bisa
disembuhkan oleh dua orang saja di kolong langit dewasa ini."
"Aku tahu siapakah kedua orang yang kau maksudkan itu."
"Coba katakanlah!"
"Si tabib sakti Gi Jian-cau serta dua puluh empat batang
jarum emas dan perak Song-hujin!"

1138
Sekali lagi kakek berbaju hijau itu tertawa terbahak-bahak,
"Pintar sekali. Dugaanmu memang sangat tepat, tapi aku tidak
habis mengerti, darimanakah kau bisa menebak isi pikiranku
secara tepat."
"Sewaktu enci Song terluka tadi, aku dapat melihat bahwa
kau merasa amat gelisah dan tidak tenang."
Song Leng-hui yang mendengarkan pembicaraan itu,
segera mengedipkan matanya yang jeli berulang kali,
kemudian ditengoknya kakek itu sekejap, katanya, "Benarkah
Locianpwe menderita luka keracunan menahun?"
"Benar," kakek berbaju hijau itu mengangguk. "Racun yang
bersarang di dalam tubuhku itu sudah menyiksaku selama
puluhan tahun lamanya."
"Bila Locianpwe memang terluka, sudah sepantasnya bila
aku membantumu dengan segenap kemampuan yang
kumiliki."
"Kalau begitu aku ucapkan banyak terima kasih lebih dulu."
Tiba-tiba Song Leng-hui berkata kepada Thay-kun, "Enci
Thay-kun, coba kau pergilah ke sana dan cabutlah kedua
puluh empat batang jarum emas dan perak itu dari atas tubuh
engkoh Gak."
Thay-kun segera berjalan ke hadapan Bong Thian-gak dan
mencabut kedua puluh empat batang jarum emas dan perak
yang menancap di tubuh Bong Thian-gak.
Dengan suara lembut Song leng-hui segera berkata lagi,
"Setengah jam kemudian dia akan mendusin. Enci Thay-kun
setelah termakan oleh pukulan Tay-gi-ciang tadi, kuduga isi
perutmu sudah menderita luka ringan. Kau cepatlah duduk
bersila untuk mengatur pernapasan, kalau tidak, bila darah
sampai membeku di dalam badan sudah pasti akan
menciptakan luka dalam yang tak terobati."

1139
Thay-kun merasa berterima kasih sekali mendengar
perkataan itu, kemudian katanya, "Enci Song, aku tidak apaapa,
yang penting adalah kau sendiri."
"Ketiga butir pil mujarab yang dihadiahkan Locianpwe
kepadaku sangat mujarab, mungkin keadaanku sudah tidak
apa-apa lagi. Sekarang biar aku beristirahat dulu sejenak,
sebelum membantu menyembuhkan luka yang diderita
Locianpwe."
"Tak perlu terburu napsu," cepat kakek berbaju hijau
berkata. "Tak ada salahnya bila nona Song sekalian
beristirahat beberapa hari dulu di sini. Bila luka yang kau
derita sudah sembuh, barulah kau coba membantuku
mengobati luka yang kuderita ini."
"Enci Song," Thay-kun segera menyambung, "mari kita
beristirahat dulu selama beberapa hari di sini."
Song Leng-hui menghela napas panjang.
"Ai, antara kita dan Locianpwe ini boleh dibilang sama
sekali tidak kenal dan tak punya hubungan apa-apa. Aku
merasa kurang enak untuk mengganggu ketenangan orang
lain."
Si kakek berbaju hijau segera tertawa, "Perkataan nona
Song terlalu serius. Bila kau sanggup menyembuhkan
penyakitku yang telah menahun ini, maka aku akan sangat
berterima kasih kepadamu, bahkan budi kebaikan ini pun tak
tahu bagaimana musti kubayar. O, ya .... Bukankah kalian
belum bersantap malam? Sebentar biar aku masuk ke dalam
dan memerintahkan orang-orangku mempersiapkan hidangan
malam untuk kalian."
Selesai berkata kakek berbaju hijau segera beranjak masuk
ke ruang dalam, dengan begitu dalam ruangan pun tinggal
Bong Thian-gak, Song Leng-hui dan Thay-kun bertiga.

1140
Sekalipun Thay-kun dan Song Leng-hui menaruh
kecurigaan terhadap asal-usul kakek itu, namun sikap
bersahabat si kakek membuat mereka tak mampu menduga
secara sembarangan.
Tak lama setelah kakek itu masuk, dari ruang dalam telah
muncul dua orang dayang berbaju hijau, yang seorang
membawa baki berisi enam buah cawan, sedang yang lain
membawa sebuah poci berisi air teh.
Kedua orang dayang itu berusia antara lima-enam belas
tahun, berkulit putih, bermata jeli dan senyum manis
menghiasi ujung bibirnya, membuat siapa pun yang
memandang merasa tertarik.
Dayang berbaju hijau yang berada di sebelah kanan segera
berkata dengan suara merdu, "Bila pelayanan kami terlambat,
harap sudi dimaafkan. Silakan nona berdua minum teh!"
Sembari berkata kedua dayang itu telah
mempersembahkan dua cawan air teh dengan cepat.
Tanpa sungkan Thay-kun dan Song Leng-hui segera
menerima cawan air teh itu.
Tiba-tiba Thay-kun merasa cawan teh itu dingin sekali,
ketika diamati lebih seksama lagi, ternyata terbuat dari kemala
asli.
Dengan terkejut Thay-kun berseru, "Wah, keenam cawan
ini benar-benar benda antik yang tak ternilai harganya!"
"Ketajaman mata nona sungguh mengagumkan," kata
dayang berbaju hijau itu sambil tersenyum. "Keenam cawan
kemala putih berusia seribu tahun ini merupakan cawan yang
hanya digunakan majikan terhadap tamu agung. Konon bila
menggunakan cawan ini untuk menyeduh air teh, bukan saja
baunya akan lebih harum dan rasanya manis, terlebih dapat
menyegarkan tubuh."

1141
Sementara itu Song Leng-hui telah meneguk secawan. Dia
segera berseru, "Oh, sungguh harum sekali. Belum pernah aku
minum air teh semacam ini."
Thay-kun segera turut mencicipi, dengan cepat dia pun
memuji tiada hentinya,
"Air teh ini benar-benar lezat dan harum. Bagaikan cairan
kental yang menyegarkan badan, benar-benar luar biasa."
Sementara itu dayang berbaju hijau itu sudah berdiri di
samping dan memenuhi dua cawan air teh lagi.
"Mengapa adik berdua tidak mencicipi pula secawan?" kata
Song Leng-hui tiba-tiba.
Dayang berbaju hijau itu segera tersenyum.
"Air teh dalam cawan kemala putih berusia seribu tahun
merupakan benda yang tak ternilai harganya. Budak tak
berani meneguknya."
Thay-kun yang mendengar perkataan itu segera merasa
amat terkejut, pikirnya dengan cepat, "Mengapa mereka tak
berani minum air teh itu? Jangan-jangan di balik semua itu
terdapat hal-hal yang tak beres."
Belum selesai ingatan itu melintas, tiba-tiba terdengar
suara gelak tawa yang sangat keras, "Siu-kong, Siu-go,
bukankah tamu telah menghadiahkan secawan teh kemala
putih kepada kalian? Mengapa kalian tidak berterima kasih
kepada tamu?"
Mendengar ucapan itu, kedua dayang berbaju hijau itu
segera berkata bersama, "Terima kasih banyak budak ucapkan
atas pemberian teh dari nona."
Kemudian mereka meneguk habis isi cawan itu dengan
lahapnya.
setelah itu ia baru berseru, "Hm, sungguh harum, sungguh
manis."

1142
Dari sikap kedua dayang itu meneguk air teh, Song Lenghui
dapat melihat bahwa mereka belum pernah mencicipi air
teh yang berasal dari cawan kemala berusia seribu tahun itu,
maka setelah tertegun sejenak, tanyanya, "Apakah kalian
belum pernah minum air teh itu?"
Dari balik ruangan muncul kembali kakek berbaju hijau itu,
sambil tersenyum ia segera berkata, "Cawan kemala putih
berusia seribu tahun merupakan benda langka yang tak
ternilai harganya di dunia ini, belum pernah kuserahkan cawan
itu untuk dipakai para pelayan. Oleh sebab itu harap kalian
berdua jangan menertawakannya."
Song Leng-hui berkerut kening mendengar perkataan itu,
diam-diam pikirnya, "Pelit amat orang ini, tapi heran, mengapa
ia justru bersikap royal kepada kami?"
Sebaliknya Thay-kun segera berkata pula sambil tertawa,
"Silakan Locianpwe pun menikmati secawan air teh bersama
kami."
Thay-kun tahu bahwa kaum persilatan penuh dengan tipumuslihat
serta ancaman mara bahaya, apalagi asal-usul kakek
berbaju hijau itu tidak diketahui secara jelas, bagaimana pun
juga ia merasa wajib untuk menjaga diri dan waspada
terhadap serangan lawan.
Tampaknya kakek berbaju hijau itu dapat membaca suara
hati Thay-kun, dia segera tertawa terbahak-bahak, "Tentu saja
aku harus menemani tamu minum bersama."
Sementara itu Siu-kong telah mengangsurkan pula secawan
air teh ke hadapannya, kakek berbaju hijau itu segera
meneguknya sampai habis, kemudian baru berkata sambil
tertawa ringan, "Siu-kiong, Siu-go, cepat masuk dan bantu
Hay Cing-cu menyiapkan sayur dan arak."
Kedua dayang berbaju hijau segera menjura dan
mengundurkan diri dari ruangan itu.

1143
Sementara kakek itu sudah duduk dan berkata sambil
tersenyum, "Sejak setengah tahun berselang, aku pindah
kemari untuk merawat lukaku. Untuk itu aku hanya membawa
tiga orang pembantu saja, itulah sebabnya gedung ini kosong
dan amat sepi rasanya."
Song Leng-hui serta Thay-kun memang ingin mengajukan
pertanyaan itu kepada si kakek, sungguh tak disangka
ternyata dia telah memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Dalam hati Thay-kun tanpa terasa timbul perasaan curiga
dan bimbang, sambil tertawa merdu dia lantas berkata,
"Bolehkah aku tahu, siapakah nama Locianpwe?"
Kakek itu tertawa tergelak, "Nona Thay-kun, cepat atau
lambat kalian pasti akan mengetahui siapa aku."
Baru selesai dia berkata, suara rintihan pelan bergema dari
mulut Bong Thian-gak yang berbaring di meja, kemudian
tampak anak muda itu bangkit dan duduk.
Begitu duduk, kebetulan sekali sorot matanya tertuju ke
arah Song Leng-hui yang berada di hadapannya. Dalam
tertegunnya, Bong Thian-gak segera menggosok-gosok
matanya berulang kali.
Tiba-tiba terdengar Song Leng-hui berseru, "Engkoh Gak ...
ini aku!"
Dengan cepat dia sudah menubruk ke muka.
"Leng-hui ... kau? Atau aku sedang bermimpi?" seru Bong
Thian-gak sambil menggeleng kepala berulang kali.
Sementara itu Thay-kun segera bangkit dan
menghampirinya sambil berkata, "Kau bukan lagi bermimpi,
enci Song turun gunung hendak menolongmu."
Saat itu Bong Thian-gak telah melihat jelas raut muka
setiap orang yang berada dalam ruangan itu, jelas semua ini
bukan dalam mimpi, tapi kenyataan. Dalam ingatannya, Song

1144
Leng-hui adalah seorang gadis lemah yang sama sekali tak
mengerti ilmu silat, darimana dia sanggup menyembuhkan
lukanya?
Tapi benarkah dia mampu menolongnya?
Bukankah tiga tahun berselang, dia pun pernah
menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut?
Berbagai ingatan berkecamuk dalam benak Bong Thiangak,
tiba-tiba sorot matanya tertumbuk kepada perut Song
Leng-hui yang membengkak besar.
Tanpa terasa ia tertegun dan bergumam lirih, "Kau ... kau
telah mengandung?"
Dalam pada itu Song Leng-hui pun sudah melihat sikap
Bong Thian-gak yang bingung dan tak habis mengerti, dia
malah tertegun dibuatnya, tiba-tiba saja gadis itu menangis
tersedu-sedu sambil menundukkan kepala.
Tangisan yang kelewat sensitif kaum wanita. Ketika ia lihat
kegugupan pemuda itu, disangkanya si pemuda tidak
menyukainya lagi, tidak suka kalau dia mengandung, maka
hatinya menjadi amat sedih.
Tiba-tiba Thay-kun berkata dengan dingin, "Bong-suheng,
enci Song telah mengandung anakmu. Kau benar-benar amat
kejam, membiarkan seorang gadis yang lemah hidup seorang
diri di atas gunung yang terpencil, sekarang dia telah
melakukan perjalanan jauh dan bersusah-payah mencari kau,
bahkan menyelamatkan pula jiwamu, mengapa kau justru
bersikap begitu dingin dan hambar kepadanya?"
Ketika melihat istrinya menangis, Bong Thian-gak dibuat
semakin tertegun lagi, dia baru sadar dari lamunannya, tibatiba
ia berteriak dan menubruk ke depan, lalu sambil
memegang bahunya dia berseru dengan gembira, "Leng-hui,
kau ... kau benar-benar sudah mengandung anak kita berdua?

1145
Oh, aku gembira sekali. Belum pernah terbayang olehku akan
mendapat anak, aku benar-benar merasa gembira."
Song Leng-hui ikut tertawa dengan tersipu-sipu malu,
katanya lirih, "Benarkah kau menyukai anak? Aku malah
merasa jengkel karena dia datang terlalu cepat."
"Lebih cepat malahan lebih baik," seru Bong Thian-gak
sambil melompat kegirangan. "Aku malah ingin sekali dia lahir
saat ini juga dan memanggil ayah padaku."
"Tempat ini bukan rumah kita, kau jangan berteriak-teriak
seperti anak kecil."
Mendengar itu, Bong Thian-gak baru memperhatikan
sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tanyanya heran,
"Berada dimanakah kita sekarang? Mengapa kau turun
gunung? Bersediakah kau menceritakan segalanya kepadaku?"
Mendadak kakek berbaju hijau itu berkata, "Nona Song dan
Bong-laute telah bertemu kembali setelah berpisah sekian
lama, tentu banyak persoalan yang hendak kalian bicarakan,
biarlah aku mohon diri lebih dulu."
Kali ini Bong Thian-gak dapat melihat paras muka kakek
berbaju hijau itu dengan jelas, air mukanya segera berubah.
Setelah tertegun sejenak, pikirnya, "Aku seperti pernah
berjumpa orang ini? Tapi siapakah dia? Ya, siapakah dia?"
Dalam pada itu si kakek berbaju hijau sudah
mengundurkan diri dari ruangan itu.
Thay-kun sendiri merasa kecut hatinya, di samping rasa
cemburu yang timbul secara tiba-tiba setelah menyaksikan
Song Leng-hui dan Bong Thian-gak berbicara lirih dengan
sikap begitu mesra dan penuh cinta kasih, diam-diam dia
segera membalikkan badan dan beranjak pergi pula dari situ.
Song Leng-hui yang menyaksikan keadaan itu segera
mengejar ke depan, sambil serunya, "Enci Thay-kun, kau
hendak pergi kemana?"

1146
Thay-kun menyahut sambil tersenyum, "Bong-suheng
sudah sehat kembali, aku ... aku hendak pergi dari sini."
"Enci, kau tak boleh pergi. Bila kau pergi, maka aku pun
akan segera pulang ke gunung."
Sambil menghela napas Bong Thian-gak berkata pula,
"Thay-kun, kau jangan pergi dulu. Sekalipun hendak pergi, tak
perlu tergesa-gesa. Ai, tempat apakah ini? Siapa pula kakek
tadi?"
Sesungguhnya Thay-kun pun sudah melihat pula
perubahan air muka Bong Thian-gak setelah melihat paras
muka kakek berbaju hijau itu. Satu ingatan segera melintas
dalam benaknya, segera tanyanya, "Bong-suheng, apakah kau
pernah bersua dengannya? Dia adalah tuan rumah tempat ini,
gedung ini terletak di luar kota Lok-yang, di sekelilingnya tidak
bertetangga."
"Jadi kalian sama sekali tidak kenal padanya?" tanya Bong
Thian-gak dengan kening berkerut.
"Ya, kami tak pernah kenal sebelumnya."
Secara ringkas Thay-kun segera menceritakan kembali apa
yang mereka alami. Dengan kening berkerut kencang Bong
Thian-gak mendengarkan kisah itu dengan penuh perhatian.
Song Leng-hui menaruh kesan baik terhadap kakek berbaju
hijau itu, cepat dia berseru, "Engkoh Gak, empek tua ini
sangat ramah, gagah dan menyenangkan, dia pasti orang
baik-baik."
Mendadak Bong Thian-gak berseru tertahan, paras
mukanya kembali berubah hebat, serunya lirih, "Dia agak
mirip dengan...”
Dengan merendahkan suaranya hingga setengah berbisik,
Bong Thian-gak berkata, "Raut mukanya sangat mirip Samcing
Totiang."

1147
"Hek-mo-ong!" Thay-kun terkejut.
"Seandainya dia benar-benar adalah Sam-cing Totiang, kita
tak boleh berdiam lama di sini."
"Siapa Hek-mo-ong?" tanya Song Leng-hui dengan
perasaan tidak habis mengerti.
"Dia adalah seorang jago silat yang ganas dan berhati
buas, sedikit pun tidak berperi-kemanusiaan."
"Engkoh Gak, kau jangan salah melihat orang."
"Benar, aku sendiri pun tidak mempunyai keyakinan untuk
mengenalinya sebagai Sam-cing Totiang, namun perawakan
tubuh serta bayangan punggungnya mirip Sam-cing Totiang."
Tiba-tiba Thay-kun berkata, "Seandainya dia adalah Hekmo-
ong, seharusnya dia sudah turun tangan terhadap kita
sejak tadi."
Hek-mo-ong adalah seorang tokoh sakti yang dikenal
namanya oleh setiap umat persilatan, namun tak seorang pun
yang berhasil menjumpainya. Untuk bisa membuktikan apakah
dia adalah Hek-mo-ong atau bukan, terpaksa mereka harus
tetap tinggal di situ.
"Apa yang mesti kita lakukan sekarang untuk membuktikan
dia benar-benar adalah Hek-mo-ong atau bukan?" tanya Bong
Thian-gak kemudian.
Thay-kun memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak,
lalu katanya, "Sewaktu berada di Ban-jian-bong, Hek-mo-ong
pernah terkena tusukan pedang Tan Sam-cing, agaknya
tusukan itu telah mendatangkan luka yang cukup berat
baginya."
"Jadi kita harus memeriksa tubuhnya, adakah luka bekas
tusukan atau tidak?"
"Enci Leng-hui telah berjanji untuk menyembuhkan luka
yang dideritanya."

1148
"Oh, benarkah itu?" tanya Bong Thian-gak cepat.
"Benar," sahut Song Leng-hui. "Aku telah berjanji akan
mengobati penyakitnya, sudah barang tentu aku tak boleh
mengingkari perkataan sendiri."
"Penyakit apa yang dideritanya?"
"Dia bilang keracunan hebat, penyakit itu sudah
menyiksanya selama puluhan tahun."
"Racun keji? Racun apakah itu? Masakah dapat mengeram
di dalam badan sampai puluhan tahun lamanya?"
"Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok, sedang Thio Kim-ciok
sudah dicelakai oleh sepuluh tokoh persilatan dan Ho Lanhiang
pada tiga puluh tahun berselang, mayatnya pun telah
tenggelam di dasar telaga. Andaikan Thio Kim-ciok dapat lolos
dari musibah itu, maka dia tentu akan menderita pula penyakit
menahun."
"Sekarang kakek berbaju hijau itu mengatakan dirinya
menderita penyakit menahun, kenyataan ini sesuai dengan
keadaan Thio Kim-ciok, bila dia bangkit dari hidupnya. Untuk
menyingkap teka-teki ini, kita memang wajib tetap tinggal di
sini."
Kemudian setelah berhenti sejenak, Thay-kun menyambung
lebih jauh, "Andaikata kakek berbaju hijau itu benar-benar
adalah Hek-mo-ong Thio Kim-ciok, aku pikir dia pun tak akan
turun tangan keji terhadap kita, kita tak punya dendam sakit
hati apa pun dengannya?"
"Betul," Bong Thian-gak menghela napas panjang. "Kita
memang tak punya dendam sakit hati apa pun dengannya,
tapi tersangkut pula sedikit dendam dengannya. Bukankah Oh
Ciong-hu adalah guruku."
Sampai di sini dia menengok sekejap ke arah Song Lenghui,
kemudian katanya sambil menghela napas, "Tak kusangka
pula, Song Leng-hui adalah keturunan Song-ciu suami-istri.

1149
Oleh sebab itu bila Hek-mo-ong benar-benar adalah Thio Kimciok,
mungkin aku dan Leng-hui tak akan dilepaskan olehnya
begitu saja."
Lambat-laun Song Leng-hui sudah dapat menangkap garis
besar pembicaraan itu, dengan wajah berubah ia segera
berseru, "Sebelum meninggal dunia, ayah pernah berpesan
kepadaku bahwa dia mempunyai seorang musuh besar yang
sangat lihai. Engkoh Gak, kalian mengatakan sepuluh tokoh
persilatan telah membinasakan Thio Kim-ciok, sebenarnya
siapa Thio Kim-ciok itu?"
Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Hingga sekarang aku sendiri pun tidak mengetahui sumber
dendam kesumat itu. Biarlah kalau ada waktu senggang akan
kuberitahukan persoalan itu kepadamu."
Baru selesai dia berkata, mendadak terdengar suara gelak
tertawa yang amat keras.
Kakek berbaju hijau telah muncul kembali dari ruang
belakang sambil berkata, "Aku cukup tahu sejarah hidup
saudagar kaya-raya Thio Kim-ciok. Apabila kalian bertiga tidak
merasa bosan, aku bersedia menceritakan kisahnya secara
garis besar."
Bong Thian-gak dan Thay-kun menjadi melongo, sebaliknya
Song Leng-hui berseru dengan merdu, "Cepatlah ceritakan
Locianpwe, orang macam apakah Thio Kim-ciok itu?"
Sambil mengelus jenggot, kakek berbaju hijau tertawa,
"Baik, aku akan bercerita, tapi panjang sekali untuk
mengisahkan peristiwa itu. Bukankah kalian bertiga belum
bersantap malam? Mari kita bersantap di ruang belakang lebih
dulu sambil bercerita."
"Kalau begitu terpaksa kami mengganggu ketenanganmu,"
ucap Thay-kun sambil tertawa.
Kakek berbaju hijau balas tertawa.

1150
"Setiap orang persilatan lebih mengutamakan kebebasan
dan keterbukaan, apalagi kita merasa cocok sejak bertemu.
Buat apa mesti sungkan-sungkan lagi? Mari ikut aku."
Selesai berkata, kakek berbaju hijau segera membalikkan
badan dan beranjak lebih dulu, dia berjalan menuju ke
halaman belakang, kemudian setelah melalui sebuah beranda
menuju ke kebun bunga di halaman belakang.
Di dalam kebun terdapat gunung-gunungan, gardu dan
aneka bunga yang menyebarkan bau harum semerbak.
Sementara itu di sebuah gardu di hadapan mereka tampak
cahaya lentera bersinar terang. Sebuah meja perjamuan yang
penuh dengan berbagai macam hidangan telah disiapkan, dua
orang berdiri di samping meja, mereka adalah sepasang
dayang berbaju hijau yang tadi, sedangkan di sisi lain berdiri
seorang aneh bermuka hijau yang bertubuh gemuk pendek
dan berwajah jelek sangat menyeramkan.
Begitu mereka memasuki gardu, Sui-kiong dan Sui-go
segera menyiapkan tempat duduk sambil tersenyum-simpul,
sedangkan lelaki bermuka aneh itu tetap berdiri di tempat
tanpa berbicara atau tertawa, wajahnya sangat kaku dan
tanpa emosi.
Kakek berbaju hijau itu tertawa ringan sambil menunjuk ke
arah lelaki itu, katanya, "Dia bernama Hay Cing-cu, meski
mukanya jelek dan tak sedap dipandang, namun merupakan
seorang koki yang sangat hebat, dia sudah puluhan tahun
lamanya melayani kebutuhanku, benar-benar seorang
pembantu setia yang pantas dihormati dan disegani."
Si kakek berbaju hijau segera duduk di bangku tepat di
muka Hay Cing-cu.
"Silakan duduk, tidak usah sungkan," katanya lagi.
Song Leng-hui, Thay-kun dan Bong Thian-gak
menganggukkan kepala lebih dulu ke arah Hay Cing-cu, siapa

1151
tahu lelaki aneh bermuka jelek itu tetap berdiri kaku tanpa
emosi, sepasang matanya yang bulat sama sekali tak
bergerak, dia hanya berdiri kaku saja di situ, persis seperti
patung.
Kenyataan ini tentu saja membuat ketiga orang itu menjadi
tertegun, diam-diam pikirnya, "Aneh benar orang ini."
Tanpa sungkan lagi, mereka segera mengambil tempat
duduk.
Dalam pada itu Siu-kiong dan Siu-go telah menghampiri
mereka untuk menuang arak dan menyiapkan hidangan.
"Tak perlu sungkan, setelah kita bersantap dan meneguk
arak, barulah berbincang-bincang."
Tampaknya kakek berbaju hijau amat ramah, suka
bersahabat dan mudah bergaul, sikapnya begitu luwes dan
berpengalaman.
Hidangan yang disiapkan benar-benar mewah, hampir
setiap hidangan rasanya lezat dan menggiurkan.
Bong Thian-gak bertiga memang sudah lama kelaparan,
sudah tentu mereka tak sungkan lagi.
Selesai bersantap, kakek berbaju hijau berkata sambil
tersenyum, "Sekarang kita boleh mulai bercerita, tapi sebelum
dimulai, aku ingin bertanya dulu, seberapa banyak yang sudah
kalian ketahui tentang Thio Kim-ciok?"
"Aku sama sekali tidak tahu," kata Song Leng-hui sambil
menggeleng kepala.
Kakek berbaju hijau itu segera mengalihkan sorot matanya
ke arah Thay-kun dan Bong Thian-gak.
Thay-kun termenung sejenak, kemudian katanya dengan
suara merdu, "Kami tahu Thio Kim-ciok adalah seorang
saudagar kaya-raya pada tiga puluh tahun lalu, kekayaannya
melebihi kekayaan sebuah negeri."

1152
Sambil tersenyum kakek berbaju hijau manggut-manggut.
"Ya betul, kekayaan yang dimiliki Thio Kim-ciok memang
sangat besar seperti apa yang tersiar selama ini dalam
masyarakat luas."
"Kami pun tahu Thio Kim-ciok telah mengumpulkan semua
Enghiong Hohan yang ada di kolong langit. Tapi kemudian
berhubung hendak belajar silat, dia telah mengangkat sepuluh
tokoh persilatan menjadi gurunya."
Kakek berbaju hijau manggut-manggut.
"Ya, termasuk istri Thio Kim-ciok sendiri, perempuan
tercantik di wilayah Kanglam Ho Lan-hiang, jumlahnya sebelas
tokoh persilatan."
Lalu sesudah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh,
"Selanjutnya bagaimana kejadian yang menimpa Thio Kim-ciok
hingga dia tewas, apakah kalian tahu juga?"
"Keadaan yang sejelasnya tidak diketahui, namun kami
tahu bahwa dia mati dibunuh oleh sepuluh tokoh persilatan
serta Ho Lan-hiang, namun di antara kesepuluh jago itu
tampaknya ada dua orang yang tidak ikut dalam peristiwa itu."
"Dua orang yang mana?"
"Menurut dugaanku, kemungkinan besar mereka adalah Liu
Khi dan Tan Sam-cing."
Kembali kakek berbaju hijau tersenyum, "Jadi menurut
pendapat kalian, Thio Kim-ciok belum mati?"
"Thio Kim-ciok memang tidak pernah mati," jawab Thaykun
tertawa.
Kakek berbaju hijau tertawa bergelak, "Nona memang
pintar sekali. Thio Kim-ciok memang belum mati, tapi nona tak
pernah dapat menduga siapakah Hek-mo-ong?"

1153
Ucapan itu kontan menggetarkan hati Thay-kun dan Bong
Thian-gak, segera tanyanya, " Jadi Hek-mo-ong bukan Thio
Kim-ciok?"
Kakek berbaju hijau memandang bintang yang bertaburan
di angkasa, kemudian pelan-pelan ujarnya, "Yang akan kita
bicarakan sekarang adalah Thio Kim-ciok bukan Hek-mo-ong.
Sekarang aku hendak bertanya, apa sebabnya kesepuluh
tokoh persilatan dan Ho Lan-hiang hendak membunuh Thio
Kim-ciok?"
"Bila apa yang dikatakan Liu Khi kepada kami adalah
sejujurnya, maka kesepuluh tokoh itu membunuh Thio Kimciok
karena kuatir apabila ia sudah mencapai puncak
keberhasilan, maka dia pasti akan merajai persilatan."
Dengan cepat kakek berbaju hijau menggeleng kepala
berulang kali, katanya, "Alasan kesepuluh tokoh persilatan dan
Ho Lan-hiang mencelakai Thio Kim-ciok rasanya tak berbeda
dengan alasan yang dipikirkan masing-masing orang, kuatir
ilmu silat yang dimiliki Thio Kim-ciok mengalami kemajuan
amat pesat sehingga mencelakai umat manusia, tapi aku tahu
yang benar-benar mempunyai pikiran demikian hanya Ku-lo
Hwesio, Oh Ciong-hu, serta Song-ciu suami-istri. Sekilas orang
memang merasa bahwa alasan keempat orang ini membunuh
Thio Kim-ciok adalah benar dan tepat, karena demi
menyelamatkan umat persilatan dari ancaman bahaya besar,
namun yang mereka lakukan justru adalah termakan siasat
busuk pihak lain."
"Mengapa dikatakan mereka termakan siasat busuk pihak
lain?" tanya Thay-kun.
"Karena si perencana siasat busuk itu sesungguhnya ingin
membunuh Thio Kim-ciok demi harta."
"Demi harta? Kalau begitu si perencana siasat busuk itu
bukan Ho Lan-hiang?"

1154
"Bukan Ho Lan-hiang, tapi niat Ho Lan-hiang membunuh
suaminya pun tak terlepas dari harta."
"Wah, semakin kudengar, aku merasa semakin bingung
dan tidak mengerti. Sebetulnya siapa perencana siasat busuk
itu?"
Tiba-tiba kakek berbaju hijau berkata dengan suara dalam,
"Semua orang tahu Thio Kim-ciok kaya-raya dan memiliki
harta yang tak terhitung banyaknya, tapi tahukah kalian
darimana Thio Kim-ciok bisa kaya-raya secara mendadak?"
"Soal itu tidak kami ketahui," Thay-kun segera menggeleng.
"Rasanya tak ada yang tahu darimanakah sumber harta
kekayaannya itu."
"Yang menjadi alasan utama kematian Thio Kim-ciok adalah
rahasia sumber kekayaannya diketahui orang lain," kata kakek
berbaju hijau dengan suara dalam.
"Apa rahasia sumber kekayaan Thio Kim-ciok?"
Dengan sorot mata tajam kakek berbaju hijau memandang
sekejap wajah semua orang yang hadir, kemudian lanjutnya,
"Sumber kekayaan Thio Kim-ciok diperoleh dari sebuah bukit
tambang emas yang dimilikinya. Oleh karena itu Thio Kim-ciok
memiliki emas murni yang tak ada habisnya, yang membuat
dia menjadi seorang hartawan kaya-raya yang tiada
tandingannya di seluruh kolong langit."
Semua orang menghela napas panjang, baru sekarang
mereka tahu apa yang menjadi penyebab Thio Kim-ciok
menjadi kaya-raya.
Dengan suara lembut Song Leng-hui segera bertanya,
"Dimana letak tambang emas itu? Selain Thio Kim-ciok, siapa
lagi yang tahu?"
Kakek berbaju hijau menghela napas panjang, "Ai, Thio
Kim-ciok adalah seorang berotak licik dan berhati ganas.
Setiap orang yang dikirimnya ke tambang emas untuk

1155
mengumpulkan emas itu, semuanya tak ada yang lolos dari
pembunuhan tutup mulut sekembalinya mengirim emas murni
itu. Semakin bertambah kekayaan Thio Kim-ciok, semakin
banyak pula orang yang menjadi korban. Selama sepuluh
tahun saja, entah berapa banyak jiwa yang telah melayang di
tangannya."
Mendengar sampai di sini, Bong Thian-gak sekalian diamdiam
terkesiap juga oleh kekejaman dan kebuasan Thio Kimciok.
Setelah menghela napas panjang, kakek berbaju hijau
berkata lebih jauh, "Namun Thio Kim-ciok mempunyai juga
kebajikan, yaitu setiap kali dia membunuh pekerja
tambangnya, maka dia akan memberikan emas murni dalam
jumlah yang tak akan habis digunakan oleh keluarganya
sepanjang hdup sehingga anak keturunan pekerja tambang itu
tak akan mengalami kelaparan atau telantar hidupnya."
Bong Thian-gak tetawa dingin, serunya, "Thio Kim-ciok
telah membunuh orang, menyiksa manusia demi kepuasan
dan kekayaan sendiri. Apakah dosa sebesar ini bisa diperingan
dengan kebajikannya meninggalkan emas yang cukup bagi
keluarga yang ditinggalkan?"
Berubah paras kakek berbaju hijau, tapi sejenak kemudian
sudah lenyap tak berbekas. Katanya lagi sambil menghela
napas, "Benar, ada sementara orang yang menyukai
kehangatan keluarga daripada emas yang berlimpah. Tapi
bilamana nyawa seseorang bisa dikorbankan dengan timbalbalik
yang sesuai, kalau dihitung-hitung kematiannya bisa
dibilang cukup berharga juga."
"Bagaimana pun juga tingkah-laku serta perbuatan Thio
Kim-ciok patut dikutuk setiap orang di dunia," kata Bong
Thian-gak dengan suara dingin.
"Betul," kakek berbaju hijau mengangguk, "Thio Kim-ciok
memang berdosa."

1156
"Locianpwe, lanjutkan kembali kisahmu itu!" pinta Thay-kun
dengan suara lembut.
Kakek berbaju hijau termenung dan berpikir sejenak,
kemudian katanya, "Oleh sebab itu tambang emas milik Thio
Kim-ciok belum pernah diketahui orang kedua, tapi entah
bagaimana jadinya, ternyata rahasia tambang emas miliknya
itu diketahui juga."
"Pepatah kuno mengatakan, 'Burung mati karena makanan,
manusia mati karena harta'. Kata-kata itu memang tepat,
akibatnya entah berapa banyak orang mulai menyusun
rencana busuk dan berupaya dengan segala cara untuk
mendapatkan peta rahasia tambang emas itu."
"Keselamatan jiwa Thio Kim-ciok pun mulai tak terjamin.
Suatu hari Thio Kim-ciok mendapat surat berisi peringatan
kepadanya, surat itu berbunyi, 'Dalam waktu satu bulan, kau
harus menyiapkan peta rahasia itu, kalau tidak, nyawamu tak
akan terjamin'."
"Surat itu ditanda-tangani oleh Hek-mo-ong."
Ketika mendengar kisah itu sampai di sini, tiba-tiba Thaykun
teringat perkataan Liu Khi. Dia segera bertanya, "Kalau
begitu Thio Kim-ciok segera mengutus Liu Khi untuk
menyelidiki siapa gerangan orang yang menamakan diri
sebagai Hek-mo-ong setelah menerima surat peringatan itu
dan gara-gara hal itu pula Thio Kim-ciok menugaskan Liu Khi
untuk membunuh Hek-mo-ong."
"Rupanya nona pun mengetahui juga tentang peristiwa
itu," kata kakek berbaju hijau sambil tersenyum.
"Yang dicurigai Thio Kim-ciok sebagai Hek-mo-ong waktu
itu tak lain adalah satu di antara kesepuluh tokoh persilatan
dan Ho Lan-hiang."
"Apakah Thio Kim-ciok mau memenuhi keinginan Hek-moong
dengan melukiskan peta rahasia tambang emasnya?"

1157
"Benar, Thio Kim-ciok memang membuat peta tambang
emasnya itu, tapi dengan suatu kepandaian yang luar biasa,
peta itu dipecah menjadi sebelas bagian yang masing-masing
dibagikan kepada kesebelas orang."
"Siapa saja kesebelas orang itu?"
"Kesebelas orang itu adalah istrinya Ho Lan-hiang beserta
sepuluh tokoh persilatan."
"Ai, Thio Kim-ciok memang seorang pintar," kata Thay-kun
sambil menghela napas panjang. "Langkah catur yang
dilakukan olehnya ini betul-betul luar biasa. Secara tepat sekali
dapat membuat para musuh yang mengincar harta
kekayaannya saling bunuh demi memperebutkan bagian peta
yang lain."
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya pula, "Jelas
kesebelas bagian peta rahasianya itu disebarkan setelah ia
terbunuh."
Dengan cepat kakek berbaju hijau tertawa bangga, dia
segera bertanya, "Nona Thay-kun, darimana kau tahu Thio
Kim-ciok baru menyebarkan kesebelas potongan peta rahasia
sesudah dia terbunuh?"
"Thio Kim-ciok sudah tahu kalau Hek-mo-ong adalah satu di
antara istrinya beserta sepuluh tokoh persilatan, namun tak
dapat menentukan secara pasti siapakah orangnya, lagi pula
dia pun tahu, jika batas waktu sebulan sudah lewat peta
rahasia itu belum juga diserahkan, sudah pasti dia akan
terbunuh di tangan Hek-mo-ong. Maka untuk membalas
dendam bagi kematiannya sendiri, ia menjalankan siasat
membunuh orang meminjam golok dengan menyerahkan
bagian peta rahasia ke tangan orang kepercayaannya dengan
pesan, bila ia mati, maka kesebelas bagian peta rahasia itu
harus diserahkan pada orang-orang yang telah ditentukan."
"Ai, manusia memang mati karena harta. Ketika semua
orang sudah menerima bagian peta rahasia itu, siapakah yang

1158
tidak akan saling bunuh untuk memperoleh bagian peta
rahasia yang lain?"
"Kalau begitu kekacauan dunia persilatan saat ini serta
kematian yang menimpa kesepuluh tokoh persilatan ini tak
lain diciptakan oleh siasat Thio Kim-ciok itu?"
Tiba-tiba kakek berbaju hijau menghela napas sedih,
ujarnya, "Namun kemudian Thio Kim-ciok sendiri pun tak
pernah mengira kalau tindakan Hek-mo-ong masih setingkat
lebih tangguh daripada jalan pikirannya. Tatkala batas waktu
satu bulan sudah lewat, nyatanya Hek-mo-ong bukan datang
mencelakai dirinya, melainkan mempengaruhi kesebelas jago
lihai lainnya untuk bekerja sama mencelakai Thio Kim-ciok."
"Tapi Hek-mo-ong sendiri pun tak pernah menduga tentang
kesebelas bagian peta rahasia tambang emasnya."
Bong Thian-gak segera menengok sekejap ke arah Thaykun,
lalu ujarnya, "Thay-kun, bukankah dugaan kita bahwa
Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok adalah salah besar?"
"Benar, Thio Kim-ciok memang bukan Hek-mo-ong."
Pada saat inilah Song Leng-hui bertanya, "Locianpwe, kau
mengatakan Thio Kim-ciok belum mati, lantas dimanakah
orangnya sekarang?"
Sebelum kakek berbaju hijau sempat menjawab, mendadak
Hay Cing-cu yang berdiri di belakang kakek berbaju hijau telah
berpekik aneh, menyusul tubuhnya secepat sambaran kilat
meluncur keluar dari gardu itu. Dengan paras muka berubah
hebat kakek berbaju hijau segera berkata, "Pembicaraan kita
telah disadap orang."
Tampang Hay Cing-cu memang jelek dan tidak menarik,
bulat gemuk seperti tong, namun kesempurnaan ilmu
meringankan tubuhnya benar-benar mengagumkan dan
mengejutkan. Dalam sekejap bayangan tubuhnya sudah
lenyap.

1159
Tiba-tiba Bong Thian-gak bangkit seraya bertanya,
"Locianpwe, perlukah kubantu mengejar orang yang telah
menyadap pembicaraan kita tadi?"
"Tidak usah," kakek berbaju hijau menggeleng. "Ilmu
meringankan tubuh yang dimiliki pendatang itu sangat hebat.
Andaikata Hay Cing-cu gagal mengejarnya, maka tak ada
orang yang bisa menyusulnya lagi."
Perkataan itu membuat Bong Thian-gak merasa kurang
enak, tapi dia pun duduk kembali.
Tampaknya kakek berbaju hiaju itu tahu dia telah salah
bicara, cepat katanya lagi, "Bong-siauhiap, maafkan
kelancanganku bicara yang bukan-bukan tadi."
"Ah, ilmu meringankan tubuh Hay Cing-cu memang sangat
hebat."
Thay-kun tak ingin suasana serba kaku dan rikuh itu
berlangsung lebih lanjut, sambil tertawa ringan dia segera
berkata, "Locianpwe, maafkan aku bila ternyata kelewat
berterus-terang. Benarkah Locianpwe adalah Thio Kim-ciok?"
Kakek berbaju hijau menghela napas panjang, "Rahasia
tentang belum matinya Thio Kim-ciok hingga saat ini baru
diketahui oleh kalian beberapa orang saja."
"Orang persilatan mengutamakan pegang janji, kami
bertiga tak akan membocorkan rahasia ini kepada siapa pun,"
Thay-kun berjanji dengan suara dalam.
"Betul, akulah Thio Kim-ciok!"
Sekalipun secara lamat-lamat orang sudah tahu kakek
berbaju hijau itu adalah orang kaya pada tiga puluh tahun
berselang, Thio Kim-ciok, namun sebelum ada pengakuan
tegas dari pribadinya, tak urung mereka tetap ragu-ragu dan
tak yakin.

1160
Namun setelah pengakuan itu diberikan, tak urung semua
orang dibuat terperanjat juga, serentak Bong Thian-gak
bertiga mengawasi wajah kakek berbaju hijau tanpa berkedip.
Thio Kim-ciok memang terlalu misterius dan penuh rahasia.
Pada saat itulah terdengar Song Leng-hui bertanya dengan
air mata bercucuran, "Thio-locianpwe, apakah kau yang telah
mencelakai kedua orang tuaku?"
Kembali kakek berbaju hijau menghela napas sedih,
katanya perlahan, "Nona Song, aku tidak pernah mencelakai
orang tuamu, aku pun tidak pernah mencelakai Ku-lo Hwesio,
Oh Ciong-hu serta Kui-kok Sianseng. Namun terus terang
kuakui, aku pernah membenci mereka serta pernah
bersumpah akan membinasakan mereka, tapi sayang aku tak
punya kemampuan berbuat demikian."
"Mengapa Thio-locianpwe mengatakan kau tidak
berkemampuan berbuat demikian?" tanya Thay-kun cepat.
Sekali lagi Thio Kim-ciok menghela napas sedih, katanya
pula, "Tiga puluh tiga tahun berselang, sepuluh tokoh
persilatan serta Ho Lan-hiang telah memberikan serangan
yang telak dan mematikan kepadaku. Kendati aku beruntung
bisa meloloskan diri dari musibah itu, namun saat ini diriku
telah berubah menjadi manusia cacat."
"Dapatkah Locianpwe menjelaskan lebih jauh?"
"Dalam usaha pembunuhan yang mereka lakukan pada
waktu itu, tubuhku telah terkena tiga pukulan yang amat
dahsyat dan beracun, sebuah totokan jari Thian-kang-ci, tujuh
batang panah beracun penempel tulang serta tujuh buah luka
bacokan pedang, yang paling hebat lagi aku dicekoki beberapa
tetes obat racun Hok-teng-ang yang dapat memutus usus."
"Dengan begitu banyak luka yang kau derita, bagaimana
mungkin kau masih dapat hidup hingga sekarang?" tanya
Thay-kun dengan perasaan terkejut bercampur keheranan.

1161
Mencorong sinar aneh dari balik mata Thio Kim-ciok,
dengan agak emosi katanya, "Andaikata orang lain, biarpun
punya cadangan nyawa sebanyak sepuluh lembar pun, tak
dapat selembar pun dipertahankan, tapi aku harus dapat
mempertahankan hidup lebih jauh."
"Liu Khi mengatakan pada kalian bahwa aku mati
tenggelam di dasar telaga, padahal yang benar adalah
sesudah aku dipaksa minum racun Hok-teng-ang, segera
kukerahkan tenaga dalamku untuk melawan dan sempat
bertarung mati-matian selama setengah jam dengan sepuluh
tokoh persilatan beserta Ho Lan-hiang. Dengan badan terluka
parah dan hawa murni tak mampu dihimpun kembali,
ditambah pula racun jahat sudah menyusup ke dalam badan
hingga darah bercucuran dari ketujuh lubang indra, waktu itu
aku mengira diriku pasti mati, tapi aku tak rela membiarkan
diriku tewas dibunuh mereka, maka aku pun jadi nekat dan
terjun ke dalam telaga."
"Akhirnya Thio-locianpwe berhasil lolos dari mulut harimau
serta dapat kembali ke kehidupan yang tenang?" tanya Thaykun.
"Sesudah melompat ke dasar telaga, air telaga yang dingin
membekukan badan membuat keadaanku yang mulai
kehilangan kesadaran menjadi segar kembali, tentu saja aku
tak ingin mati begitu saja, maka aku pun mulai berjuang
melawan cengkeraman malaikat elmaut. Dengan sekuat
tenaga aku berenang dan menyelam ke dalam istana bawah
airku yang kubangun secara rahasia."
"Mimpi pun Ho Lan-hiang serta kesepuluh tokoh persilatan
tak menyangka aku telah membangun istana bawah air yang
amat rahasia di dasar telaga itu, tapi justru karena itulah aku
dapat hidup terus di dunia ini."
"Selama dua puluh tahun berikutnya, aku tinggal di dalam
istana air sambil berjuang melawan cengkeraman malaikat
elmaut, perawatan dan pengobatan hampir dua puluh tahun

1162
lamanya membuat luka pukulan, luka pedang sembuh sama
sekali... ai."
"Tapi racun jahat Hok-teng-ang yang menyerang dalam
tubuhku ternyata tak pernah dapat dilenyapkan untuk
selamanya. Oleh sebab itulah aku tak pernah dapat
memulihkan kembali tenaga dalamku seperti sediakala, tentu
saja aku pun tak dapat menggunakan jurus silat tingkat tinggi
yang pernah aku pelajari."
"Akibatnya aku pun tidak dapat membunuh musuh besar
yang telah mencelakai diriku itu."
"Ai, waktu yang berlangsung lama kadangkala memang
dapat menawarkan rasa benci dan dendam seseorang.
Perjuanganku selama dua puluh tahun melawan maut
membuat aku menjadi sadar dan menyesali semua
perbuatanku dulu, aku merasa tanganku sudah penuh
bernodakan darah. Dosa dan kesalahanku pun sudah
bertumpuk. Mungkinkah semua musibah yang menimpa diriku
selama ini merupakan karma atas semua perbuatanku
dahulu?"
"Dendam, rasa benci yang mendarah daging dalam diriku
lambat-laun pun semakin tawar dan menghilang."
"Tatkala meninggalkan istana bawah air tujuh tahun
berselang, tiba-tiba aku dengar kabar bahwa Kui-kok Sianseng
dari Mi-tiong-bun telah terbunuh, kemudian sepasang kekasih
persilatan Song-ciu suami-istri juga tewas, disusul pula dengan
kematian Oh Ciong-hu serta padri sakti dari Siau-lim-pay Ku-lo
Hwesio. Semua itu membuat aku merasa terkejut, di samping
pula merasa sangat....”
Sampai di sini tiba-tiba perkataannya berhenti, sambil
tersenyum Thay-kun segera melanjutkan, "Tentunya kau pun
merasa sangat gembira bukan?"
Thio Kim-ciok memandang ke arah nona itu, lalu menghela
napas panjang, "Ai, apa yang diucapkan nona Thay-kun

1163
memang benar. Aku merasa gembira karena siasat meminjam
golok membunuh orang yang telah aku persiapkan sejak tiga
puluh tahun berselang, kini sudah mulai berkembang."
"Akibatnya api dendam dan benci yang mengeram dalam
Thio-locianpwe pun menggelora dalam dada membara kembali
bukan?" tanya Thay-kun lagi.
"Benar, aku berharap semua orang yang pernah
bersekongkol mencelakai diriku, kini mendapatkan pembalasan
yang setimpal."
"Padahal otak peristiwa berdarah ini adalah Hek-mo-ong.
Apakah Thio-locianpwe berhasil menyelidiki siapa gerangan
Hek-mo-ong?" kembali Thay-kun bertanya.
"Belum," Thio Kim-ciok menggeleng.
"Kira-kira aku sudah dapat menduga siapa gerangan Hekmo-
ong itu."
"Silakan nona mengutarakan."
Thay-kun segera tersenyum.
"Padahal Thio-locianpwe sendiri pun sudah mengetahui
siapa gerangan Hek-mo-ong itu?"
"Benar, secara lamat-lamat sudah kuketahui siapakah dia,
tapi sebelum kesepuluh tokoh persilatan dan Ho Lan-hiang
mati hingga tinggal orang terakhir, rasanya susah untuk
menentukan secara tepat. Kau harus tahu kelicikan,
kehebatan ilmu silat serta kemampuan menyusun rencana
besar kesebelas orang itu sama-sama hebat dan luar biasa,
satu dengan yang lain tak ada yang lebih lemah."
Mendadak Bong Thian-gak menyela dengan suara nyaring,
"Hek-mo-ong adalah si tabib sakti Gi Jian-cau."
"Betul," Thio Kim-ciok mengangguk. "Di antara sepuluh
tokoh persilatan itu, Gi Jian-cau merupakan orang paling
kejam dan buas. Dia adalah manusia munafik yang berlagak

1164
suci. Racun Hok-teng-ang yang mengeram dalam tubuhku
sekarang tak lain adalah hasil perbuatannya."
"Mungkin Hek-mo-ong sudah mendapat kabar tentang
masih hidupnya Thio-locianpwe," kata Thay-kun dengan suara
dalam.
Belum selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba dari tengah
udara berkumandang tiga kali suara pekikan panjang yang
amat keras dan memekakkan telinga.
Dengan wajah berubah hebat Thio Kim-ciok segera
berkata, "Hay Cing-cu telah menjumpai musuh tangguh,
kemungkinan musuh tangguh akan menyerbu kemari sebentar
lagi."
Sambil berkata tiba-tiba saja Thio Kim-ciok bangkit dari
tempat duduknya.
"Thio-locianpwe," kata Thay-kun kemudian, "silakan duduk
di sini dengan tenang. Andaikata Hay Cing-cu membutuhkan
bantuan, kami bersedia membantunya."
Thio Kim-ciok menghela napas panjang, "Seperti apa yang
ditebak nona, agaknya Hek-mo-ong sudah memperoleh kabar
bahwa aku belum tewas, musuh yang kini datang bisa jadi
bertujuan untuk membuktikan apakah benar aku belum mati."
"Tapi menurut pendapatku, tujuan kedatangan musuh
tangguh adalah untuk mengincar peta rahasia tambang emas
itu."
Thio Kim-ciok tertawa rawan.
"Sekalipun di dalam tubuhku masih tersisa racun keji Hokteng-
ang hingga tak mungkin bagiku untuk mengerahkan
tenaga dalam dan bertarung melawan orang, tapi bila musuh
ingin menaklukkan diriku secara mudah, aku rasa pihak lawan
harus membayar dengan mahal."

1165
Tiba-tiba Song Leng-hui bertanya, "Thio-locianpwe, apakah
kau minta aku membantumu untuk memusnahkan racun Hokteng-
ang yang masih mengeram dalam tubuhmu itu?"
Thio Kim-ciok segera menghela napas, "Ai, kecuali kedua
puluh empat batang jarum emas perak nona Song, di kolong
langit dewasa ini memang tiada cara pengobatan lain yang
dapat dipergunakan untuk memusnahkan pengaruh racun
Hok-teng-ang yang bersarang di dalam tubuhku."
"Locianpwe, sekarang juga aku bersedia mengobati
penyakitmu itu," seru Song Leng-hui.
"Sekarang tak mungkin, musuh telah datang."
Baru selesai dia berkata, terlihat Hay Cing-cu dengan
sekujur badan bermandikan darah melayang turun di depan
gardu itu.
Dengan ketajaman matanya, beberapa orang itu sudah
melihat dengan jelas bahwa luka yang diderita Hay Cing-cu
akibat tusukan tiga peluru terbang yang memancarkan sinar
tajam, ketiga batang senjata rahasia itu menancap persis di
dadanya dalam posisi segitiga.
Ujung peluru emas menembus dadanya. Darah kental
membasahi seluruh badannya, jelas luka yang dideritanya
amat parah, namun dengan gerakan yang masih cepat Hay
Cing-cu langsung menerobos masuk ke dalam gardu dan
berseru cemas, "Majikan cepat menyingkir, musuh tangguh
yang menyerbu kemari sangat ganas dan luar biasa."
Pada saat itulah dari atap rumah seberang telah melayang
turun dua sosok orang dengan ringannya.
Ternyata kedua orang itu adalah lelaki dan perempuan
kekar bermata tunggal dan berlengan cacat.
Sesudah melihat jelas pendatang itu, Bong Thian-gak dan
Thay-kun sama-sama terkesiap, pekiknya tanpa sadar, "Ah,
rupanya anak buah Biau-kosiu!"

1166
Dengan langkah cepat Bong Thian-gak menuju ke gardu
batu itu, lalu menegur dengan ketus, "Apakah Biau-kosiu ikut
datang?"
Sebelum lelaki dan perempuan kekar berlengan cacat itu
sempat menjawab, dari balik kegelapan sudah terdengar
seseorang menjawab dengan suara merdu, "Jian-ciat-suseng,
nyawamu betul-betul amat panjang, ternyata kau masih
hidup."
Biau-kosiu dengan langkah lemah-gemulai telah muncul
dan berhenti di antara lelaki dan perempuan kekar itu,
sementara matanya yang jeli mengamati setiap orang yang
berada di dalam gardu dengan seksama. Katanya lagi sambil
tertawa, "Orang tua yang berada di dalam gardu itu tentulah
Hek-mo-ong Thio Kim-ciok bukan?"
Dalam pada itu Thio Kim-ciok dengan wajah dingin
membesi dan sorot mata menggidikkan mengamati ketiga
orang itu, wajahnya tetap dingin tanpa emosi, sedang
mulutnya membungkam.
Sebaliknya Bong Thian-gak segera menyela sambil tertawa
dingin, "Dugaan nona Biau salah besar, dia bukan Hek-moong."
"Hm!" Biau-kosiu mendengus dingin. "Jian-ciat-suseng, bila
kau masih ingin hidup beberapa tahun lagi, kuanjurkan
kepadamu agar tidak mencampuri urusan orang lain."
Bong Thian-gak balas tertawa dingin, "Tentu aku ingin
hidup seratus tahun lagi, tapi aku rasa urusan ini tak usah kau
campuri."
"Jian-ciat-suseng, tahukan kau siapakah orang ini?" tegur
Biau-kosiu dingin.
"Seorang Bu-lim Cianpwe!"

1167
Tiba-tiba Biau-kosiu berpaling ke atap rumah dan
membentak, "Cong-kaucu, benarkah orang itu adalah
suamimu, Thio Kim-ciok?"
Teriakannya yang sangat mendadak dan sama sekali di luar
dugaan ini membuat semua orang tertegun. Sorot mata
mereka pun dialihkan ke atap rumah di depan situ.
Ternyata pada sisi atap rumah secara lamat-lamat ada tiga
sosok bayangan orang berdiri di sana.
Bau harum bunga anggrek yang sangat tipis lamat-lamat
berhembus datang, bau harum semacam ini merupakan bau
khas perempuan tercantik dari Kanglam, Ho Lan-hiang.
Thio Kim-ciok dapat mengendus bau itu, tentu saja Bong
Thian-gak pun dapat mengendus pula bau harum bunga itu.
Salah satu dari ketiga orang itu sudah tentu adalah Ho Lanhiang
sedangkan orang yang di sebelah kiri adalah Ji-kaucu
dan orang yang di sebelah kanan adalah Sim Tiong-kiu,
komandan pasukan tanpa tanding.
Ketiga orang ini adalah kekuatan inti Put-gwa-cin-kau,
sekalipun pada tiga puluh tahun berselang nama mereka tidak
dicantumkan oleh Tio Tian-seng ke dalam urutan sepuluh
tokoh persilatan, namun kepandaian silat mereka sama sekali
tidak kalah dengan kepandaian silat kesepuluh tokoh
persilatan itu.
Dengan suara gemetar diliputi perasaan terkejut dan ngeri,
Ho Lan-hiang menyahut pelan, "Sebenarnya aku masih belum
percaya kalau dia masih hidup di dunia ini. Setelah
menyaksikan dengan mata kepala sendiri hari ini, ternyata
berita itu memang benar."
Yang dia maksudkan tentu adalah Thio Kim-ciok.
Sejak Biau-kosiu dan rombongan menampakkan diri, Thio
Kim-ciok masih tetap membungkam, tapi sekarang agaknya
dia sangat dipengaruhi oleh emosi.

1168
Sekujur tubuhnya gemetar keras, sorot matanya
memancarkan sinar amarah berapi-api dan menggidikkan.
Setelah tertawa keras dengan suara menyeramkan dia
berkata, "Benar, aku adalah Thio Kim-ciok. Perempuan
rendah, tak nyana kau masih mengenali diriku."
Pengakuan Thio Kim-ciok ini membuat Biau-kosiu secepat
kilat menyerbu ke muka dan menyerang ke dalam gardu batu
itu.
Segera Bong Thian-gak melintangkan badan dan
menghadang di depan undak-undakan batu menuju ke arah
gardu. Sambil membentak, lengan tunggalnya segera
diayunkan ke depan melepaskan sebuah bacokan.
Serangan yang dilancarkan olehnya sekarang amat gencar
dan dahsyat, tenaga yang disertakan pun amat mengerikan.
Dengan cekatan Biau-kosiu menghindar ke samping untuk
berkelit dari serangan dahsyat itu, lalu badannya melejit
dengan ringan dan bermaksud menyerang lagi dari sisi lain.
Siapa tahu Bong Thian-gak dengan lengan tunggalnya yang
gesit dan cepat dalam perubahan jurus, kembali melancarkan
sebuah bacokan kilat, Biau-kosiu mau tak mau harus mundur.
Lama kelamaan habis sudah kesabaran Biau-kosiu. Dengan
kening berkerut, bentaknya gusar, "Jian-ciat-suseng, apabila
kau mencampuri urusanku, jangan salahkan aku bertindak
keji!"
Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Kekejian dan kebuasan nona sudah lama kurasakan,
mengapa kau tak memperlihatkan kelihaianmu itu?"
Mendadak Biau-kosiu berpaling ke arah lelaki dan
perempuan kekar bermata tunggal itu, kemudian bentaknya,
"Biau-han-thian suami-istri, kalian berdua jaga baik-baik Jianciat-
suseng itu."

1169
Suami-istri bermata tunggal itu menyerang Bong Thian-gak
dari kiri dan kanan dengan kecepatan luar biasa, sementara
Biau-kosiu sendiri sekali lagi mendesak maju.
"Mundur semua!" bentak Bong Thian-gak.
Badannya berputar kencang dan dua gulung angin pukulan
yang sangat dahsyat menyapu ke arah suami-istri bermata
tunggal itu.
Selesai melancarkan kedua buah serangan itu, Bong Thiangak
bagai setan gentayangan kembali mendesak ke depan dan
menghadang jalan pergi Biau-kosiu. Tangan kirinya bagaikan
cakar menyambar ke bawah dan mencengkeram urat nadi
pergelangan tangan kiri nona itu.
Demikian cepat dan cekatannya serangan itu membuat
siapa pun terkesiap.
Sementara itu meskipun kedua orang laki perempuan
bermata tunggal itu masing-masing menyambut serangan
Bong Thian-gak, namun tenaga serangannya itu sangat kuat
dan dahsyat sehingga menggetarkan tubuh mereka tigaempat
langkah. Biau-kosiu menjerit kaget.
Di bawah sapuan ujung jari tangan Bong Thian-gak atas
urat nadi pergelangan tangan kirinya, dengan cepat dia
mengundurkan diri dengan ketakutan.
Bong Thian-gak sama sekali tidak memanfaatkan
kesempatan itu untuk melakukan pengejaran, hanya tegurnya
kemudian dengan wajah sedingin salju, "Nona Biau,
kuanjurkan kepadamu agar mundur dari sini. Kalau tidak, aku
akan membalas air susu dengan air tuba. Bila kalian terluka
nanti, jangan salahkan diriku!"
"Jian-ciat-suseng, aku ingin bertanya kepadamu, mengapa
kau membantu Hek-mo-ong?" tanya Biau-kosiu dengan
geram.

1170
"Dia adalah Thio Kim-ciok, bukan Hek-mo-ong. Sebetulnya
nona Biau ingin mencelakainya dikarenakan peta rahasia
tambang emas bukan? Ataukah untuk membalas dendam bagi
kematian ayahmu?"
Perempuan rase dari bukit Biau-san, Biau-kosiu, nampak
tertegun dan berdiri melongo.
Setelah mendengar pertanyaan itu, dia segera balik
bertanya, "Jadi kau sudah mengetahui asal-usulku?"
"Aku tahu nona adalah putri kesayangan ketua Mi-tiongbun
di Tibet, Kui-kok Sianseng."
Mendadak Biau-kosiu tertawa seram, segera tanyanya,
"Tentunya kau tahu juga bukan bagaimana kejadiannya
sewaktu Kui-kok Sianseng mendapatkan musibah?"
"Kui-kok Sianseng merupakan orang pertama yang tewas di
tangan Hek-mo-ong."
"Dendam sakit hati terbunuhnya ayahku lebih dalam dari
samudra, aku sebagai putrinya merasa wajib menuntut balas
sakit hati ini. Jian-ciat-suseng, apakah kau bermaksud
menghalangi niatku membalas dendam?"
"Bersediakah nona mempercayai perkataanku?" ujar Bong
Thian-gak dengan suara hambar. "Baik Kui-kok Sianseng,
Song-ciu suami-istri maupun mendiang Bu-lim Bengcu Oh
Ciong-hu dan Ku-lo Hwesio, mereka bukan tewas di tangan
Thio Kim-ciok, melainkan mati di tangan Hek-mo-ong, si
perencana musibah ini. Hek-mo-ong bukan Thio Kimciok,
melainkan seorang yang lain."
"Bagaimana kau bisa membuktikan dia bukan Hek-moong?"
jengek Biau-kosiu sambil tertawa dingin.
Menghadapi pertanyaan itu, jelas Bong Thian-gak tak
mampu menjawab, padahal dia sendiri pun tak dapat
membuktikan secara pasti bahwa Thio Kim-ciok bukanlah Hekmo-
ong seperti apa yang yang dia duga.

1171
Sebenarnya Bong Thian-gak tadinya menganggap Thio
Kim-ciok sebagai Hek-mo-ong. Setelah mendengar penjelasan
Thio Kim-ciok tadi, mereka baru tahu Hek-mo-ong sebenarnya
adalah orang lain.
Lantas siapakah Hek-mo-ong, si otak semua peristiwa
berdarah ini?
Mungkinkah orang itu adalah tabib sakti Gi Jian-cau? Tentu
saja hingga sekarang belum ada seorang pun yang berani
memastikan.
Biau-kosiu tertawa, lalu katanya, "Sesudah dicelakai oleh
sepuluh tokoh persilatan pada tiga puluh tahun berselang,
sudah pasti Thio Kim-ciok akan menaruh perasaan dendam
dan sakit hati terhadap pembunuh-pembunuhnya. Andaikata
ia masih hidup di dunia ini, apakah dendam sakit hati itu tak
akan dituntut balas?"
"Sebenarnya aku pun masih menaruh perasaan ragu dan
tak percaya tentang berita yang mengatakan bahwa Thio Kimciok
masih hidup di dunia ini. Apakah dia masih dapat
meloloskan diri dari kecurigaan sebagai Hek-mo-ong?"
Perkataan itu diutarakan dengan suara tegas, bertenaga
dan penuh pengertian yang mendalam.
Secara lamat-lamat Bong Thian-gak dapat merasakan
bahwa apa yang diucapkan Biau-kosiu memang benar, sebab
selain Thio Kim-ciok, siapa pula yang berminat membunuh
kesepuluh tokoh persilatan itu?
Tanpa terasa Bong Thian-gak berpaling ke arah gardu dan
memandang sejenak ke arah Thio Kim-ciok.
Sementara itu Thio Kim-ciok dengan wajah dingin
membeku membungkam, wajahnya kaku tanpa perubahan
emosi.
Dengan langkah lemah-gemulai, Thay-kun segera maju dan
pelan-pelan berkata, "Walaupun semua perkataan nona Biau

1172
masuk akal dan bisa diterima, namun aku ingin bertanya satu
hal kepada nona, siapakah yang telah memberitahu kepadamu
bahwa Thio Kim-ciok belum tewas?"
"Mengapa kau menanyakan hal ini?" tanya Biau-kosiu
dengan suara dingin.
"Sebab aku dapat membantumu menemukan Hek-mo-ong
yang sebenarnya."
"Kau maksudkan Hek-mo-ong adalah salah seorang di
antara kesepuluh tokoh persilatan?" tanya Biau-kosiu dengan
suara dingin dan kaku.
"Betul, orang itu adalah salah seorang di antara kesepuluh
tokoh persilatan itu."
"Omong kosong, ngaco-belo," bentak Biau-kosiu dengan
geram. "Seandainya Thio Kim-ciok sudah mati pada tiga puluh
tahun berselang dan tidak bangkit dari kematiannya, bisa jadi
Hek-mo-ong adalah salah satu di antara kesepuluh tokoh
persilatan. Tapi kini terbukti sudah kalau Thio Kim-ciok masih
hidup di dunia ini, terbukti sudah kalau Hek-mo-ong
sesungguhnya adalah dirinya sendiri."
"Dugaan nona Biau salah besar," pelan-pelan Thay-kun
menyahut. "Apabila seorang mempunyai rencana busuk dan
keji hendak melimpahkan dosa dan kesalahannya kepada
orang lain, seringkah dia akan mencari titik lemah lawanlawannya,
yakni pertentangan batin untuk dimanfaatkan,
sebab dengan cara begitulah apa yang dicita-citakan baru
dapat terwujud."
"Hek-mo-ong adalah seorang di antara kesepuluh tokoh
persilatan dan kenyataan itu merupakan suatu bukti yang
jelas. Apabila dugaanku tidak salah, kupastikan Hek-mo-ong
akan terpaksa memberitahukan kepadamu tentang kabar
belum matinya Thio Kim-ciok, karena nona Biau sudah mulai
mencurigai asal-usulnya. Oleh sebab itulah mau tak mau
terpaksa dia harus menyampaikan berita itu."

1173
"Benarkah berita belum matinya Thio Kim-ciok mempunyai
arti begitu penting?" seru Biau-kosiu sambil tertawa dingin.
Thay-kun memandang sekejap ke arahnya, kemudian
menjawab, "Berita mati hidup Thio Kim-ciok tentu saja
mempunyai arti sangat penting bagi Hek-mo-ong."
Kemudian setelah berhenti sejenak dan menarik napas
panjang, kembali dia melanjutkan, "Hek-mo-ong sengaja
menghasut kesepuluh tokoh persilatan untuk mencelakai jiwa
Thio kim-ciok Locianpwe, tak lain bertujuan untuk merampas
tambang emas dari tangannya. Rahasia peta tambang itu
cukup dipahami setiap orang dari kesepuluh tokoh persilatan
itu. Oleh karena itu apabila berita belum matinya Thio Kimciok
bocor dan diketahui umum, maka sudah dapat dipastikan
bahwa sisa kesepuluh tokoh persilatan beserta kawanan jago
lainnya akan berdaya-upaya membunuh Thio-locianpwe dan
merampas rahasia peta tambang emas itu. Itulah sebabnya
dalam keadaan terpaksa mau tak mau Hek-mo-ong
mengungkap padamu bahwa Thio-locianpwe sebenarnya
belum mati."
Perkataan Thay-kun itu segera menggetarkan perasaan
Thio Kim-ciok sendiri, dengan cepat dia bertanya, "Nona Thaykun,
jadi menurut pendapatmu Hek-mo-ong sudah lama
mengetahui kalau aku belum mati?"
"Benar," sahut Thay-kun sambil tersenyum. "Sudah lama
sekali Hek-mo-ong tahu kau telah menyelundup ke dalam kuil
Sam-cing-koan di kota Lok-yang."
Biau-kosiu mendengus dingin, katanya pula, "Kalau
memang begitu, mengapa Hek-mo-ong tidak secara langsung
datang mencari Thio Kim-ciok?"
"Hm, pertanyaan yang sangat bagus! Memang, Hek-moong
sudah lama mengetahui Thio Kim-ciok Locianpwe belum
mati, namun apa sebabnya tak secara langsung datang
mencari Thio-locianpwe? Menurut dugaanku, Hek-mo-ong tak

1174
berani berbuat demikian lantaran dia takut dan jeri terhadap
kepandaian silat Thio-locianpwe, Hek-mo-ong sadar dia tak
mempunyai keyakinan untuk menang dan berhasil apabila dia
menyerang Thio-locianpwe secara langsung. Karena itu dia
ingin memanfaatkan kemampuan nona Biau beserta sisa
kekuatan sepuluh tokoh persilatan yang masih hidup untuk
sekali lagi membasmi Thio-locianpwe dari muka bumi."
Dengan suara dingin Biau-kosiu berkata, "Sam-cing Tojin
dari Sam-cing-koan adalah Thio Kim-ciok dan Thio Kim-ciok
adalah Sam-cing Totiang. Berita yang mengejutkan ini baru
diketahui pada malam tadi. Betul, ketika aku selidiki tentang
orang-orang yang mencurigakan sebagai Hek-mo-ong
sebenarnya tinggal satu orang yang terakhir, tetapi sekarang
berubah menjadi dua orang. Akhirnya siapakah Hek-mo-ong
yang sebenarnya, aku yakin dalam waktu singkat hal ini akan
berhasil kuselidiki dengan jelas."
Selesai berkata dia lantas berpaling ke belakang dan
serunya lantang, "Biau-han-thian, ayo kita pergi!"
Dengan cepat dia menggerakkan tubuh dan melejit pergi.
Tiba-tiba terdengar Bong Thian-gak berseru, "Nona Biau,
mengapa tidak kau katakan nama orang terakhir yang
dicurigai itu?"
Tanpa berpaling, sahut Biau-kosiu dengan suara dingin, "Si
tabib sakti Gi Jian-cau telah membocorkan kabar tentang
belum matinya Thio Kim-ciok kepada setiap orang. Mulai
sekarang Thio Kim-ciok bakal diserang dan dikepung oleh para
jago persilatan, lebih baik kalian hadapi mereka secara hatihati."
Biau-kosiu dan Biau-han-thian suami-istri bertiga sudah
lenyap di balik kegelapan sana dengan cepat.
Di atas atap rumah di seberang gardu sana masih berdiri
dengan tenang Ho Lan-hiang, Ji-kaucu serta Sim Tiong-kiu
bertiga.

1175
Mendadak Ho Lan-hiang tertawa, lalu katanya, "Thio Kimciok,
mengapa kau tak berani mengaku sebagai Hek-mo-ong?"
Thio Kim-ciok masih tetap berdiri dalam gardu batu itu
dengan wajah dingin, kaku, tanpa emosi, mulut
membungkam.
Hati Thay-kun serta Bong Thian-gak yang mendengar
ucapan itu bergetar keras, mereka menantikan penyangkalan
Thio Kim-ciok, namun suasana dalam arena masih tetap
hening, sepi.
Suasana yang hening dan sepi itu berlangsung cukup lama,
sebelum akhirnya Thio Kim-ciok berkata dengan pelan,
"Perempuan rendah, nyalimu benar-benar sangat besar!"
Ho Lan-hiang tertawa terkekeh-kekeh, "Apabila Thio Kimciok
mempunyai kemampuan untuk membunuhku, mungkin
sudah turun tangan sejak tadi."
"Kalau sudah mengetahui bahwa aku tidak berkemampuan
untuk membunuhmu, mengapa kau tidak segera turun tangan
menyerang diriku?" Thio Kim-ciok balik bertanya dengan suara
dalam dan berat.
"Tiga puluh tahun berselang, kau telah dipaksa menelan
beberapa tetes racun Hok-teng-ang, setelah keracunan, kau
pun diserang kawanan jago. Sekalipun tiga puluh tahun
kemudian kau lolos dari ancaman maut itu, tetapi aku percaya
Thio Kim-ciok telah menjadi seorang manusia cacat."
Selesai berkata Ho Lan-hiang dengan matanya yang tajam
dan menggidikkan mengawasi setiap gerak-gerik Thio Kimciok
yang berada dalam gardu.
Sikap Thio Kim-ciok ketika itu nampak sangat tenang.
Wajahnya tidak menampilkan wajah girang, marah, sedih,
murung dan berdiri membungkam di tempat tanpa bergerak.
Setelah tertawa terkekeh-kekeh, kembali Ho Lan-hiang
berkata lebih jauh, "Dugaanku tidak salah bukan? Seandainya

1176
Thio Kim-ciok masih tetap sehat dan segar-bugar, tak nanti
dia akan melepaskan setiap musuh yang dijumpainya, tentu
dia pun tak akan membiarkan seorang perempuan yang telah
mengkhianati, mengumpat, mencemoohnya dan menyindir
dirinya."
Entah mengapa pada saat dan keadaan seperti ini Thio
Kim-ciok masih tetap berdiri membungkam, mulutnya seolaholah
terkunci rapat seperti seorang bisu.
Thay-kun dapat melihat jelas bahwa kedua orang itu
sedang beradu otak, mengapa hingga sekarang Ho Lan-hiang
belum juga turun tangan? Sudah jelas hal ini disebabkan
perempuan itu pun belum yakin seratus persen bahwa Thio
Kim-ciok benar-benar tak berkemampuan lagi untuk
membunuh mereka.
Oleh sebab itu dia berusaha mengejek, mencemooh,
menyindir dan mengumpat lawan dengan harapan dari
pembicaraan itu dia berhasil menyelidiki secara pasti tentang
keadaan Thio Kim-ciok yang sesungguhnya.
Sebaliknya Thio Kim-ciok benar-benar seorang berotak
cerdas dan lihai, setiap gerak-geriknya serta mimik wajahnya
ditampilkan dengan begitu sempurna, sehingga susah diduga
orang, apakah hal itu benar ataukah hanya pura-pura saja.
Pada saat itu Bong Thian-gak justru tak sanggup menahan
diri, sambil tertawa dingin segera katanya, "Ho Lan-hiang,
mengapa kau tidak segera turun tangan? Kami sudah tak
sabar lagi menunggumu!"
"Jian-ciat-suseng, hari ini bukannya aku bermaksud
mengadu domba di antara kalian, tapi kau harus tahu bahwa
Thio Kim-ciok adalah seorang licik yang berhati buas dan
kejam. Kekejamannya boleh dibilang tiada orang di dunia ini
yang sanggup menandinginya, dia sangat pandai memperalat
orang lain, dia pun sangat memahami bagaimana caranya
melenyapkan orang itu. Justru karena kekejaman dan

1177
kebuasan Thio Kim-ciok itulah maka tiga puluh tahun
berselang kesepuluh orang gurunya bersepakat
membinasakan dirinya daripada ia menerbitkan bencana yang
lebih besar lagi di kemudian hari."
"Kau tak usah membacot lebih lanjut," tukas Bong Thiangak
sambil tertawa dingin. "Sekalipun Thio Kim-ciok adalah
seorang telur busuk di masa lampau, tapi sekarang rasanya
dia tak akan menandingi kekejian dan kecabulanmu itu."
Kembali Ho Lan-hiang tertawa terkekeh-kekeh, "Jian-ciatsuseng,
tahukah kau akan rencana busuk yang sedang
dipersiapkan Thio Kim-ciok saat ini?"
"Dia hendak membalas dendam, hendak membantai setiap
orang yang pernah mencelakai jiwanya," sahut Bong Thiangak
hambar.
"Betul, dia ingin membantai orang yang pernah
mencelakainya dahulu, tapi dia lebih-lebih berkeinginan untuk
membunuh setiap jago persilatan yang membantunya."
"Kau tak usah bersilat lidah mencoba mengadu domba
kami," jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin. "Yang
jelas, antara orang she Bong dengan Put-gwa-cin-kau kalian,
terutama dengan kau, aku bersumpah tak akan hidup
berdampingan secara damai."
"Jian-ciat-suseng memang termasuk seorang jago lihai di
antara kaum angkatan muda," Ho Lan-hiang tersenyum, "tapi
bila kau berkeinginan untuk beradu kemampuan dengan
kesepuluh tokoh persilatan yang pernah termasyhur di masa
lampau, kemampuanmu itu masih belum cukup matang. Bila
kau tak percaya, silakan kau turun tangan terhadapku!"
Bong Thian-gak berkerut kening, mendadak ia berpaling ke
arah Song Leng-hui dan katanya, "Leng-hui, pinjamkan
pedang bambumu itu kepadaku!"

1178
Ternyata di balik bahu Song Leng-hui tersoreng sebilah
pedang bambu yang dibuat sendiri oleh Bong Thian-gak ketika
mereka berdua hidup berdampingan di tengah gunung yang
terpencil tempo dulu.
Pek-hiat-kiam milik Bong Thian-gak hilang ketika
berlangsung pertarungan dalam Ban-jian-bong tempo hari,
sehingga saat ini dia tak bersenjata sama sekali. Itulah
sebabnya dia meminjam pedang dari Song Leng-hui.
Dengan cepat Song Leng-hui melolos pedang itu dan
berkata dengan lembut, "Engkoh Gak, apakah kau mau
bertarung melawannya?"
Sambil bertanya dia berjalan mendekat sambil menenteng
pedang bambunya itu.
Tiba-tiba Thay-kun berjalan mendekatinya, lalu berbisik
pelan, "Bong-suheng, jangan turun tangan lebih dahulu."
"Antara aku dan dia ibarat api dan air yang tak mungkin
bisa hidup berdampingan, cepat atau lambat di antara kami
tentu akan dilangsungkan suatu pertarungan antara mati
hidup. Buat apa aku mesti menunggu lebih lanjut?" ucap Bong
Thian-gak dengan suara dalam dan berat.
"Ucapan Bong-suheng memang benar. Apabila kita tidak
berusaha membunuhnya, dia pasti akan membunuh kita, tapi
hari ini rasanya kita belum perlu membunuhnya."
"Mengapa?" tanya anak muda itu dengan perasaan tidak
habis mengerti.
Tiba-tiba Thay-kun memperkeras suaranya dan berseru
lantang, "Sebab bila kita membunuhnya, berarti sudah
termakan oleh siasat busuk Hek-mo-ong."
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bong
Thian-gak, katanya kemudian, "Termakan siasat busuk Hekmo-
ong? Bukankah dia adalah satu komplotan dengan Hekmo-
ong?"

1179
Agaknya perkataan terakhir Thay-kun itu membuat Ho Lanhiang
merasa sangat terkejut, sesudah tertawa dingin pelanpelan
dia berseru, "Budak setan, aku ingin bertanya
kepadamu, siapakah Hek-mo-ong yang sesungguhnya?"
Jelas selama ini Ho Lan-hiang menganggap Thio Kim-ciok
sebagai Hek-mo-ong.
Thay-kun segera tersenyum.
"Aku hanya bisa memberitahukan kepadamu, Hek-mo-ong
yang sebenarnya bukan Thio Kim-ciok Locianpwe."
Kembali Ho Lan-hiang tertawa dingin.
"Sekarang perkembangannya sudah semakin bertambah,
seorang bocah cilik berusia tiga tahun pun akan mengetahui
bahwa Thio Kim-ciok sesungguhnya adalah Hek-mo-ong."
"Sayang sekali dugaanmu itu keliru besar," Thay-kun
tertawa cekikikan.
Kemudian setelah berhenti sejenak, tegurnya, "Terus
terang saja kuberitahukan kepadamu, Hek-mo-ong yang
sesungguhnya bukan saja ingin membasmi kesepuluh tokoh
persilatan, bahkan kau dan anak buahmu pun rasanya tak
bakal dibiarkan hidup bebas di dunia ini. Dewasa ini Hek-moong
sedang melaksanakan rencananya untuk membunuh dan
membasmi kalian semua. Nah, mau percaya atau tidak
terserah kepadamu."
Dengan tenang Ho Lan-hiang termenung dan berpikir
sejenak, lantas ia berseru, "Ji-kaucu, komandan Sim, ayo kita
pergi dari sini!"
Di bawah seruan Ho Lan-hiang, berangkatlah kedua jago
Put-gwa-cin-kau itu meninggalkan tempat itu.
Dalam waktu singkat ketiga sosok orang itu sudah lenyap di
balik wuwungan rumah sana.

1180
Malam telah pulih kembali dalam keheningan dan kesepian
yang mencekam.
Pelan-pelan Bong Thian-gak menghela napas panjang,
ujarnya kemudian dengan perasaan tak habis mengerti,
"Thay-kun, mengapa kau biarkan dia pergi dari sini dengan
aman dan selamat?"
"Kepandaian silat Ho Lan-hiang sudah mencapai tingkatan
yang tak terukur lagi. Apabila kita bertarung melawannya pada
malam ini, menang kalah masih merupakan tanda tanya
besar. Seandainya kedua belah pihak terlibat dalam
pertarungan yang seru, tiba-tiba Hek-mo-ong muncul serta
mencelakai Thio Kim-ciok Locianpwe, maka bagaimana
jadinya? Itulah sebabnya lebih baik kita singkirkan dahulu
dendam pribadi dan berusaha menghindari setiap bentrokan
dengan orang, kecuali dengan Hek-mo-ong."
"Thay-kun, apakah kau sudah tahu siapakah Hek-mo-ong?"
tanya Bong Thian-gak.
Thay-kun mengangguk.
"Ya, aku sudah tahu siapakah dia."
"Siapakah orang itu?"
"Untuk sementara waktu belum dapat kuberitahukan
kepada kalian."
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Sudah kuduga sedari tadi, kau tidak akan
mengutarakannya. Ai! Bagaimana rencana kita selanjutnya?"
Thay-kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Thio
Kim-ciok, lalu sahutnya, "Untuk sementara waktu lebih baik
kita berdiam di dalam bangunan ini."
"Nona Thay-kun," Thio Kim-ciok berkata sambil menghela
napas sedih. "Kecerdasan otakmu benar-benar mengagumkan.

1181
Seandainya tiada kau pada hari ini, bisa jadi kita semua sudah
termakan oleh rencana busuk Hek-mo-ong."
Thay-kun tersenyum.
"Hek-mo-ong telah pergi meninggalkan tempat ini, aku
yakin dia sendiri pun tak dapat menduga secara pasti keadaan
Thio-locianpwe yang sesungguhnya sehingga untuk sementara
waktu ia tak akan turun tangan terhadap kita semua."
Kembali hati Bong Thian-gak tergerak, segera tanyanya,
"Thay-kun, kau bilang barusan Hek-mo-ong berada di sekitar
tempat ini?"
"Benar," Thay-kun mengangguk, " saat Biau-kosiu dan
rombongan muncul di sini, Hek-mo-ong pun muncul pula di
salah satu sudut bangunan ini, hanya dia tetap diam di situ
menunggu perkembangan selanjutnya, di saat Ho Lan-hiang
dan rombongan meninggalkan tempat ini, secara diam-diam
pun dia turut pergi dari sini."
Sampai di sini gadis itu segera berpaling dan memandang
sekejap ke arah Thio kim-ciok, kemudian sambungnya, "Thiolocianpwe,
ada beberapa persoalan yang belum Boanpwe
pahami. Kumohon Locianpwe sudi memberi penjelasan."
"Katakanlah, Thay-kun!"
"Aku tahu, sudah sejak dulu Locianpwe telah mengetahui
siapakah Hek-mo-ong itu, lagi pula kau pun masih mempunyai
tenaga dan kemampuan yang cukup untuk membinasakan
dirinya. Mengapa kau orang tua enggan membalas dendam?"
"Aku pun tak ingin mengelabui kalian lagi. Sebenarnya
alasanku berbuat demikian, tak lain karena dendam dan benci.
Aku berharap mereka bisa saling gontok hingga akhirnya
tinggal Hek-mo-ong."
"Tapi kenyataannya sekarang apa yang kau inginkan malah
menghasilkan keadaan yang terbalik. Hek-mo-ong telah
mengadakan persekongkolan dengan kawanan jago lihai untuk

1182
bersama-sama mengurung dan mengeroyok dirimu,
sanggupkah Thio-locianpwe menghadapi mereka?"
Berkilat mata Thio Kim-ciok, sahutnya dengan lantang,
"Asal nona Song bersedia membantuku menghilangkan sisa
racun keji yang masih mengeram dalam tubuhku, aku percaya
masih mampu menghadapi kerubutan kawanan jago lihai
persilatan."
Tiba-tiba Song Leng-hui berkata dengan merdu, "Thiolocianpwe,
kau boleh segera mencari tempat yang aman dan
terlindung. Sekarang juga aku akan turun tangan
menyembuhkan penyakitmu itu."
Thay-kun memandang sekejap ke arah Song Leng-hui,
kemudian katanya merdu, "Padahal dengan tubuh yang masih
berpenyakit pun, aku percaya Thio-locianpwe dapat melawan
keroyokan kawanan jago lihai persilatan."
Paras muka Thio Kim-ciok berubah secara tiba-tiba, dengan
suara dalam ia segera bertanya, "Nona, apakah yang ingin kau
katakan, lebih baik sampaikan secara terus terang."
Thay-kun termenung beberapa lama, kemudian baru
berkata, "Bicara soal kesetia kawanan, kami memang wajib
membantu Thio-locianpwe menyembuhkan penyakit menahun
akibat racun keji itu. Tapi kami pun kuatir bila Thio-locianpwe
sudah sembuh dari penyakit itu, maka secara tiba-tiba akan
berubah menjadi seorang yang lain."
"Hm, jalan pikiranmu itu persis seperti jalan pikiran sepuluh
tokoh persilatan di masa lampau," kata Thio Kim-ciok sambil
tertawa dingin.
"Tentu saja, sebab bila racun keji yang mengeram dalam
tubuh Thio-locianpwe dihilangkan, kau akan menjelma
menjadi seorang jago silat yang tiada tandingannya di dunia
ini, bahkan kau pun memiliki harta kekayaan yang tidak
terhitung jumlahnya."

1183
"Bagi seorang manusia yang berilmu silat tinggi dan
mempunyai harta kekayaan yang tak terhitung jumlahnya,
andaikan pikirannya sedikit menyeleweng saja, akibatnya
tentu tak dapat dilukiskan. Itulah sebabnya mau tidak mau
kami harus mempertimbangkan sampai sejauh itu."
Thio Kim-ciok segera tertawa dingin.
"Aku bukan memohon pertolonganmu, aku minta nona
Song yang menyembuhkan penyakitku ini."
"Tentu saja kau boleh meminta pertolongan nona Song,"
kata Thay-kun dengan suara pelan, "tapi seandainya
kuungkap hubunganmu dengan Hek-mo-ong, sudah dapat
dipastikan Song Leng-hui tidak akan mengobati penyakitmu
itu."
Baik Song Leng-hui maupun Bong Thian-gak keduanya
sama-sama dibuat tertegun, melongo dan tidak habis
mengerti, mereka tidak tahu apa yang sebabnya Thay-kun
menolak menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok.
Sesungguhnya terjalin hubungan apakah antara Thio Kimciok
dan Hek-mo-ong?
Segera Song Leng-hui berkata, "Enci Thay-kun,
pengetahuan serta pengalamanmu jauh lebih luas dibanding
diriku, kami akan menuruti semua perintah serta petunjukmu."
Perkataan ini sudah jelas, asal Thay-kun menolak
menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok, maka
dia pun akan menuruti perkataan Thay-kun dengan tidak
mengobati penyakitnya.
Berubah hebat paras muka Thio Kim-ciok, dengan suara
dingin ujarnya, "Bagi seorang persilatan, memegang janji
adalah salah satu syarat utama agar dapat dipercaya orang,
nona Song sudah berjanji tapi kemudian mengingkarinya,
benar-benar jarang kujumpai."

1184
Merah jengah wajah Song Leng-hui oleh dampratan itu, dia
menjadi tergagap, "Aku ... aku ... aku kan belum pernah
berjanji akan menyembuhkan penyakitmu itu!"
Dengan cepat Thay-kun berkata pula dengan suara dingin,
"Thio-locianpwe, aku cukup tahu bahwa kau mempunyai
rencana busuk dan maksud keji terhadap keselamatan umat
persilatan. Demi menjaga agar umat persilatan tidak dibuat
pecundang oleh ulahmu itu, mau tidak mau terpaksa kami
harus bertindak sangat hati-hati dalam menghadapi persoalan
ini."
"Apabila Thio-locianpwe tidak mempunyai rencana jelek
lainnya dan khusus bertujuan membalas dendam, maka
dendam harus dibalas kepada siapa yang berhutang. Jadi
sepantasnya Thio-locianpwe mencari Hek-mo-ong serta
melepas rasa dendammu kepadanya. Mengapa kau justru
bersekongkol dengan Hek-mo-ong melakukan kejahatan?"
Beberapa patah kata itu kontan membuat Bong Thian-gak
menjadi terlongong, segera tanyanya, "Jadi dia bersekongkol
dengan Hek-mo-ong melakukan berbagai kejahatan?"
"Benar," Thay-kun mengangguk, "sesungguhnya antara
Hek-mo-ong dan Thio Kim-ciok memang sudah terjalin
hubungan pribadi yang sangat erat dan akrab."
"Benarkah nona sudah dapat menduga asal-usul serta
identitas yang sebenarnya dari Hek-mo-ong?" tanya Thio Kimciok
lagi sambil tersenyum.
"Justru karena sudah mengetahui siapakah dia, maka aku
baru menaruh curiga terhadap semua gerak-gerik serta sepakterjang
Thio-locianpwe."
"Mengapa tidak nona sebutkan siapakah Hek-mo-ong?"
tanya Thio Kim-ciok
"Waktunya belum tiba, tunggu sampai saatnya aku pasti
akan mengungkap rahasia ini kepada semua orang."

1185
Thio Kim-ciok mendengus dingin, "Mengapa tidak nona
katakan sekarang juga? Apakah belum dapat meyakini
identitas Hek-mo-ong itu?"
"Benar," Thay-kun tersenyum. "Dugaanku ini belum yakin
seratus persen, tapi aku percaya selisih juga tak jauh lagi."
Tiba-tiba Thio Kim-ciok berkata dengan suara dalam dan
sangat berat, "Apakah kalian bersedia menyembuhkan
penyakitku atau tidak, keputusan terserah kepada kalian
sendiri dan aku pun tak bermaksud memaksakan kehendakku.
Seperti apa yang dikatakan nona Thay-kun tadi, sekalipun
dengan tubuh mengidap penyakit keracunan Hok-teng-ang,
aku masih tetap mampu mengadu kepandaian dengan para
jago persilatan itu. Tapi ada hal yang perlu kalian ketahui, di
saat kesepuluh tokoh persilatan dan Ho Lan-hiang terbasmi,
maka persengketaan antara Hek-mo-ong dan diriku pun akan
menjadi kiamatnya dunia persilatan."
Selesai mengucapkan perkataan itu tba-tiba Thio Kim-ciok
berjalan keluar dari gardu itu, Hay Cing-cu, Siu-kiong dan Siugo
kedua orang dayangnya segera mengikut pula di
belakangnya.
Saat itulah terdengar suara Thio Kim-ciok kembali
berkumandang, "Saat kambuhnya penyakit yang kuderita
sudah hampir tiba. Oleh sebab itu aku harus kembali ke dalam
kamarku untuk beristirahat. Apabila kalian membutuhkan
sesuatu, minta saja kepada kedua orang dayangku ini."
Habis berkata, dengan cepat Thio Kim-ciok berjalan masuk
ke dalam kamarnya.
Bong Thian-gak mengawasi bayangan Thio Kim-ciok lenyap
di balik ruangan, kemudian ia berkata sambil menghela napas
panjang, "Ai, persoalan dalam dunia persilatan memang penuh
dengan intrik jahat dan tipu-muslihat yang amat keji,
perubahan demi perubahan dapat berlangsung secara
mendadak hingga susah diduga sebelumnya."

1186
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya,
"Sumoay, darimana kau bisa tahu bahwa antara Thio Kim-ciok
dan Hek-mo-ong sebenarnya telah terjalin hubungan kerjasama?"
"Bong-suheng, menurut pendapatmu, siapakah Hek-moong?"
Thay-kun bertanya.
Bong Thian-gak tertegun sejenak, lalu sahutnya, "Selain si
tabib sakti Gi Jian-cau, masakah masih ada orang lain lagi?"
"Dugaanmu itu keliru besar," kata Thay-kun sambil
menggeleng, "Tabib sakti hanya pembantu Hek-mo-ong."
"Lantas siapakah dia?"
"Liu Khi."
"Liu Khi?" seru BongThian-gak dengan terperanjat.
"Sumoay, apakah dugaanmu tidak salah?"
"Dari berbagai gejala dan persoalan yang kita jumpai, aku
bisa menemukan petunjuk atau petanda yang menunjukkan
bahwa Liu Khi merupakan Hek-mo-ong yang sesungguhnya?"
"Baik Thio Kim-ciok maupun Gi Jian-cau dan Liu Khi samasama
merupakan orang yang dicurigai sebagai Hek-mo-ong,
namun di antara mereka bertiga hanya seorang yang
merupakan Hek-mo-ong sebenarnya dan orang ini tak lain
adalah Liu Khi."
Bong Thian-gak mengerutkan dahi, selang sejenak
kemudian baru bertanya, "Sumoay, bagaimana caramu
membuktikan bahwa Liu Khi adalah Hek-mo-ong yang
sebenarnya?"
"Soal ini tak mungkin dapat kujelaskan seluruhnya
kepadamu pada saat ini, apalagi yang penting aku hanya ingin
memberitahukan kepadamu bahwa Liu Khi adalah Hek-moong,
sehingga kau pun bisa berhati-hati dan jangan sampai
dipecundangi olehnya."

1187
"Apakah Thio Kim-ciok sudah mengetahui akan asal-usul
yang sebenarnya dari Hek-mo-ong?"
"Thio Kim-ciok merupakan seorang yang sangat lihai,
sekalipun dia sudah mengetahui siapakah Hek-mo-ong, namun
masih saja berlagak seakan-akan tidak tahu. Ketika aku
bertanya kepada Thio Kim-ciok tadi, apa sebabnya dia tidak
secara langsung mencari Hek-mo-ong untuk membalas
dendam, tujuannya tak lain adalah ingin mengetahui apakah
Thio Kim-ciok sudah mengetahui Liu Khi pembunuh
sebenarnya, tapi Thio Kim-ciok seakan-akan tidak tahu."
"Maka aku pun mulai menaruh curiga terhadap Thio Kimciok,
kita harus mempertimbangkan masak-masak rencana
Song Leng-hui menyembuhkan penyakit Thio Kim-ciok itu."
Bong Thian-gak segera manggut-manggut, katanya,
"Apakah Sumoay menaruh curiga bahwa Thio Kim-ciok
bersekongkol dengan Hek-mo-ong untuk membunuh
kesepuluh tokoh persilatan itu?"
Thay-kun menggeleng.
"Mereka tidak berkomplot, sebaliknya Hek-mo-ong justru
telah diperalat oleh Thio Kim-ciok."
"Kalau begitu Thio Kim-ciok benar-benar seorang licik dan
banyak tipu-muslihatnya. Dari sini terbukti juga bahwa Thio
Kim-ciok belum bisa menghilangkan rasa benci dan
dendamnya terhadap kesepuluh tokoh persilatan serta Ho Lanhiang
yang telah mencelakainya pada tiga puluh tahun
berselang."
"Jelas Thio Kim-ciok memang berhasrat membunuh
kesepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang," kata Thaykun
lebih jauh, "tapi di luaran, kematian Kui-kok Sianseng,
Song-ciu dan Oh Ciong-hu serta Kulo Hwesio seakan-akan
tewas di tangan Hek-mo-ong, padahal yang benar kematian
mereka disebabkan oleh rencana busuk Thio Kim-ciok."

1188
"Ai, padahal cara yang digunakan Thio Kim-ciok untuk
membalas dendam pun tidak dapat disalahkan, hanya saja
yang mengerikan adalah kelicikannya itu dapat mencelakai
umat persilatan di kemudian hari."
Tiba-tiba Song Leng-hui bertanya, "Enci Thay-kun,
sebenarnya kita harus menyembuhkan penyakit yang diderita
Thio Kim-ciok atau tidak?"
Thay-kun termenung dan berpikir beberapa saat, kemudian
dia baru menyahut sambil menghela napas, "Kita harus
membantu Thio Kim-ciok menyembuhkan penyakit yang
dideritanya."
Baru selesai dia berkata, mendadak dari balik kegelapan
malam terdengar seorang berkata dengan suara dingin
menyeramkan, "Bila kalian berani menolong Thio Kim-ciok,
maka kalian akan mampus tanpa liang kubur."
Suara ancaman itu seakan-akan berkumandang dari
kejauhan sana, tapi seperti juga berasal dari suatu tempat
yang sangat dekat sekali.
Nada suara itu mengalun dan berputar-putar di tengah
udara, sehingga membuat orang susah menentukan
darimanakah suara itu berasal.
Bong Thian-gak segera membentak, "Siapa kau? Mengapa
tidak segera menampakkan diri?"
"Aku adalah Hek-mo-ong yang asli," jawab suara itu tetap
mengalun di tengah udara.
Baik Bong Thian-gak maupun Thay-kun dapat mengenali
dengan segera bahwa suara itu adalah suara Hek-mo-ong,
jauh berbeda dengan suara Hek-mo-ong yang dua kali telah
mereka dengar sebelum ini.
Bong Thian-gak tertawa dingin, "Apakah kau adalah Liu
Khi?"

1189
"Aku adalah Hek-mo-ong, bukan Liu Khi," sahut suara itu
sambil tertawa tergelak.
Mendadak terdengar Song Leng-hui menjerit, "Dia
bersembunyi di atas gunung-gunungan."
Bong Thian-gak serta Thay-kun serentak mengalihkan sorot
mata mereka ke arah gunung-gunungan yang berada di sisi
kiri mereka setelah mendengar jeritan itu, benar saja secara
lamat-lamat mereka saksikan sesosok bayangan muncul dan
berdiri di atas gunung-gunungan itu.
Ketajaman mata Thay-kun serta Bong Thian-gak tidak
diragukan, kendati mereka masih dapat membedakan dengan
jelas bayangan orang yang berdiri di balik kegelapan itu,
namun saat itu mereka justru tidak dapat membedakan secara
jelas tinggi-rendahnya bayangan orang itu serta ciri-ciri lain
yang dapat diingat.
Jelas bayangan orang yang berada di atas gununggunungan
itu tercipta oleh ilmu menghilang dari In-heng-coatkang
yang merupakan kepandaian sakti.
Dengan menggerakkan sepasang bahu kiri dan kanannya
hingga membuat seluruh badan tak pernah berhenti bergerak,
maka pandangan orang lain tak akan bisa menangkap bentuk
badan secara jelas.
Mendadak Thay-kun berteriak, "Adik Song, jangan dekati
orang itu."
Tampak Song Leng-hui tengah mendekati gununggunungan
itu.
Song Leng-hui menghentikan langkah, katanya sambil
berpaling, "Cici, asalkan kita bisa mendekatinya, sudah pasti
akan terlihat bentuk tubuhnya dengan lebih jelas."
"Hek-mo-ong justru mengharapkan kau maju ke depan
seorang diri," kata Thay-kun memperingatkan.

1190
Baik Song Leng-hui maupun Bong Thian-gak keduanya
mengerti apa yang dimaksudkan Thay-kun.
Dengan suatu gerakan yang amat cekatan sekali Bong
Thian-gak segera melompat ke depan dan berdiri bersiap di
samping Song Leng-hui.
Sambil tertawa Thay-kun segera berkata, "Asalkan kita
bertiga maju dan mundur bersama, aku rasa kita tak usah
takut lagi kepada Hek-mo-ong."
Hek-mo-ong yang berada di atas gunung-gunungan
mendengus dingin sambil tertawa seram, katanya, "Aku sudah
memperingatkan kalian, jangan menyembuhkan penyakit yang
diderita Thio Kim-ciok. Bila kalian tak mau menuruti nasehatku
ini, kalian bertiga bakal mampus tanpa liang kubur."
Thay-kun tertawa cekikikan, "Sebetulnya kami tak punya
rencana menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok,
tapi setelah kau mengetahui rahasia Thio Kim-ciok yang
sebenarnya, agaknya kami harus merubah rencana semula,
sekarang kami harus menyembuhkan penyakit yang diderita
Thio Kim-ciok."
Hek-mo-ong kembali tertawa dingin, "Nasib Thio-kim-ciok
telah ditetapkan akan berakhir sebelum kentongan kelima
malam ini. Percaya atau tidak terserah pada kalian."
Satu ingatan segera melintas dalam benak Thay-kun,
katanya, "Kalau begitu Thio Kim-ciok telah ditakdirkan mati
sebelum kentongan keempat?"
Hek-mo-ong yang berada di atas gunung-gunungan segera
tertawa dingin, "Bila takdir sudah menentukan bahwa Thio
Kim-ciok hanya bisa hidup sampai kentongan keempat malam
ini. Siapa yang bisa menolongnya?"
"Sumoay, adik Hui," kata Bong Thian-gak secara tiba-tiba
dengan suara dalam, "sungguh beruntung kita dapat
berjumpa dengan Hek-mo-ong pada malam ini, bagaimana

1191
pun juga kita harus menyingkap tabir rahasia Hek-mo-ong ini
sampai tuntas."
"Baik," sahut Thay-kun manggut-manggut "Mari kita
menyerang bersama-sama."
Sambil bicara Thay-kun telah mendesak maju.
Begitu Thay-kun bergerak, Bong Thian-gak serta Song
Leng-hui serentak maju pula mengikut di belakangnya.
Bong Thian-gak dengan pedang bambu di tangan
tunggalnya berada di bagian tengah, sementara Thay-kun dan
Song Leng-hui bergerak dari sisi kiri dan kanan.
Mereka bertiga maju secara bersama-sama secepat kilat,
langsung menerjang ke arah gunung-gunungan.
Suara gelak tertawa yang amat keras bagaikan tangisan
kuntilanak serta lolongan serigala di malam buta segera
berkumandang.
Hek-mo-ong yang berada di atas gunung-gunungan
bagaikan segulung asap tebal segera bergerak pula ke depan
menyongsong kedatangan Bong Thian-gak.
Rupanya Hek-mo-ong telah memilih Bong Thian-gak
sebagai sasaran pertama, kedua belah pihak sama-sama
menerjang ke depan bagaikan sambaran petir, dalam waktu
singkat tahu-tahu sudah saling berhadapan.
Agaknya Bong Thian-gak tidak menyangka Hek-mo-ong
bakal menerjang ke arahnya. Baru menjumpai bayangan
hitam berkelebat, Bong Thian-gak telah merasakan musuh
berada di depan mata.
Dalam keadaan demikian, tiada kesempatan lagi bagi Bong
Thian-gak untuk berpikir panjang, pedang bambu di
tangannya segera diayunkan ke depan melancarkan tusukan.
Jurus pedang yang digunakan adalah menyerang dari
bawah menuju ke atas, kecepatan gerakannya luar biasa.

1192
Mungkin Hek-mo-ong sendiri pun tidak menyangka tenaga
dalam Bong Thian-gak jauh lebih tangguh daripada apa yang
diduga semula, bahkan begitu serangannya dilancarkan,
segera terasa segulung angin serangan yang tajam dan kuat
menyambar ke depan serasa menembus badan.
Akibat pancaran hawa serangan pedang yang kuat dan
dahsyat itu, Hek-mo-ong segera kehilangan kesempatan
menyerang musuh lebih dulu. Kesempatan yang lenyap untuk
pertama kalinya selama hidupnya.
Dalam posisi demikian, mau tak mau dia harus
menggerakkan tubuh menghindarkan diri dari serangan
musuh, lalu dengan cepat mengeluarkan pukulan
tengkoraknya yang amat cepat dan mengerikan itu.
Sejak melepaskan serangan pedang, mata Bong Thian-gak
tak hentinya mengawasi gerak-gerik lawan tanpa berkedip,
tiba-tiba ia merasa pandangan matanya menjadi kabur, lalu
tubuh musuh yang meluncur datang dari tengah udara telah
bergeser ke sebelah kiri. Tentu saja serangan pedangnya
mengenai tempat kosong.
Pada saat inilah secara lamat-lamat Bong Thian-gak dapat
melihat di balik ujung baju sebelah kanan Hek-mo-ong kosong
melompong.
"Ah! Dia benar-benar seorang berlengan tunggal!" pekiknya
dalam hati.
Bong Thian-gak segera melihat dari balik ujung baju kanan
Hek-mo-ong yang kosong melompong itu telah meluncur
keluar sebuah benda dan benda itu tak lain adalah sebuah
tangan.
Tangan Tengkorak!
Sejak dahulu sampai sekarang, tangan tengkorak yang
merupakan alat pembunuh Hek-mo-ong tak pernah meleset

1193
dari sasaran. Hal Ini disebabkan gerakan itu terlalu cepat,
sedemikian cepalnya bagaikan sambaran petir saja.
Tubuh Bong Thian-gak mencelat ke tengah udara dan
bagaikan sebuah layang-layang putus benang, tubuhnya
segera jatuh terjerembab dari atas.
Robohnya Bong Thian-gak segera membangkitkan rasa
sedih dan gusar Thay-kun serta Song Leng-hui, serentak
mereka menerjang ke muka dari kiri dan kanan.
Dua gulung tenaga serangan yang tajam dan maha dahsyat
segera meluncur ke muka dan menggencet tubuh Hek-mo-ong
yang mnsih melambung di tengah udara.
Terdengar gelak tawa yang menyeramkan dan
menggidikkan. Di tengah sapuan angin pukulan yang amat
kencang, bayangan tubuh Hek-mo-ong melambung ke tengah
udara dan melayang turun di atas gunung-gunungan.
Ketika Thay-kun dan Song Leng-hui bersama-sama
melayang turun, tampak Bong Thian-gak yang masih
sempoyongan berusaha bangkit dari atas tanah.
"Engkoh Gak, Suheng, bagaimana keadaanmu?" kedua
orang gadis itu bertanya secara bersama.
Dengan wajah pucat-pias seperti mayat dan mengertak
gigi, sahut Bong Thiang-gak, "Aku tidak apa-apa. Untung tidak
melukai bagian mematikan, tak usah kuatir, aku tak bakal
mati!"
Selama ini serangan tangan tengkorak maut Hek-mo-ong
selalu mengarah jalan darah Sam-kan-hiat pada hulu hati
dengan kecepatan tinggi dan ketepatan yang mengagumkan,
belum pernah ada seorang jago silat pun yang dapat
meloloskan diri dari ancaman yang mematikan ini.
Tapi sekarang Bong Thian-gak telah memecahkan
kebiasaan itu, ia berhasil menghindari serangan musuh yang
menghajar bagian lain dari badannya.

1194
Serangan tangan tengkorak Hek-mo-ong telah menghajar
telak di atas dada bagian atas puting susu kirinya. Kendati
Bong Thian-gak telah mengerahkan Tat-mo-khi-kang untuk
melindungi seluruh badan, namun kuatnya serangan musuh
membuat ia menderita luka cukup parah.
Hawa murni segera tersebar kemana-mana, peredaran
darahnya bergolak keras, dada terasa sakit dan pedas seperti
terbakar bara api.
Thay-kun dan Song Leng-hui merasa gembira karena
melihat Bong Thian-gak tidak roboh pingsan akibat serangan
itu
Sebaliknya Hek-mo-ong justru merasa amat terkesiap.
Dengan jelas ia melihat pukulan tengkorak mautnya
menghajar hulu hati musuh secara tepat dan telak, akan tetapi
kenyataannya pihak musuh tidak roboh.
Padahal selama puluhan tahun malang-melintang di
Kangouw belum pernah serangannya meleset, tapi kali ini dia
harus menerima kegagalan itu.
"Hm," tiba-tiba Hek-mo-ong memperdengarkan suara
tertawa dinginnya yang rendah, berat dan menyeramkan,
"Jian-ciat-suseng, sungguh tak kusangka kau dapat lolos dari
tangan tengkorakku ini. Hm, sekalipun kau dapat menghindari
serangan tengkorak maut yang pertama dengan selamat,
apakah kau mampu menghindari serangan pukulan tengkorak
maut yang kedua?'
Bong Thian-gak tertawa seram, bentaknya, "Hek-mo-ong,
akan kucoba sekali lagi menerima pukulanmu itu."
Di tengah bentakan itu, Bong Thian-gak dengan pedang
terhunus telah menerjang ke depan.
Mendadak dari balik ruangan dalam gedung terdengar
seorang menjerit kaget dan membentak, "Siapa di situ?
Berhenti!"

1195
Disusul kemudian terdengar suara jeritan ngeri yang
memilukan. Jeritan itu sangat keras dan bergema memecah
keheningan malam, membuat siapa pun yang mendengar
berdiri bulu kuduknya.
Dengan wajah berubah Thay-kun berseru, "Aduh celaka!
Jeritan itu berasal dari kedua orang dayang itu, ada orang
yang hendak mencelakai jiwa Thio Kim-ciok!"
Perubahan yang terjadi amat tiba-tiba ini membuat Bong
Thian-gak segera mengurungkan niatnya melancarkan
serangan ke arah Hek-mo-ong.
Sementara itu Hek-mo-ong yang berada di atas gununggunungan
berseru sambil tertawa dingin, "Sekarang aku akan
memberikan sebuah kesempatan lagi bagi kalian untuk
menyelamatkan hidup. Bila kalian bertiga mengundurkan diri
sekarang juga, maka aku pun berjanji tak akan mencelakai
kalian, tapi bila kalian berniat mencampuri urusan kami lagi,
hm! Jangan salahkan aku turun tangan keji dan tak kenal
ampun."
Tiba-tiba Bong Thian-gak membentak, "Sumoay, adik Hui,
kalian segera masuk ke dalam ruangan untuk menyambut
kedatangan mereka, biar aku menghadapi Hek-mo-ong
seorang diri."
Selesai berkata Bok Thian-gak segera berpekik panjang,
tubuhnya melambung ke udara dan sekali lagi melangkah ke
arah gunung-gunungan untuk menyerang Hek-mo-ong.
Song Leng-hui yang menyaksikan kejadian itu segera
berteriak, "Cici, kau cepat membantu Thio-locianpwe, biar aku
berada di sini membantu engkoh Gak menghadapi Hek-moong."
Sambil berkata Song Leng-hui menggerakkan pula
tubuhnya, bagaikan burung walet yang terbang di angkasa,
dia menerjang ke arah gunung-gunungan itu.

1196
Di luar dugaan, kali ini Hek-mo-ong sama sekali tidak
menyambut serangan mereka, sekali berkelebat bayangan
tubuhnya sudah lenyap di balik kegelapan malam.
Bong Thian-gak dan Song Leng-hui serentak melayang
turun dari gunung-gunungan itu, tapi malam itu amat hening,
bayangan tubuh Hek-mo-ong telah lenyap.
Mendadak suara jeritan ngeri yang memilukan dan
menggidikkan berkumandang dari balik halaman gedung.
Song Leng-hui, Bong Thian-gak serta Thay-kun seperti baru
mendusin dari impian saja, serentak melompat naik ke atas
pagar pekarangan dan menerjang masuk ke dalam gedung.
Ujung baju yang terhembus angin bergema tiada hentinya.
Dari atas pagar pekarangan tahu-tahu melayang turun dua
orang kakek berjenggot hitam yang menghadang jalan mereka
dengan pedang terhunus.
Begitu melihat jelas kedua orang itu, Bong Thian-gak
segera menjerit kaget, "Tio-pangcu, Tan-locianpwe, rupanya
kalian berdua!"
Ternyata kedua kakek berjenggot hitam yang berdiri
dengan pedang terhunus itu tak lain adalah malaikat sakti
pedang iblis Tio Tianseng serta delapan pedang salju
beterbangan Tan Sam-cing.
Waktu itu mereka berdiri dengan hawa membunuh
menyelimuti wajah masing-masing, mereka berdiri dengan
serius dan pedang siap melancarkan serangan.
"Bong-laute," terdengar Tio Tian-seng berkata dengan
suara dalam, "kumohon kepada kalian agar tidak mencampuri
urusan ini, cepatlah pergi meninggalkan tempat ini!"
Sementara itu secara lamat-lamat Thay-kun sudah dapat
menduga apa gerangan yang telah terjadi, ia segera tertawa

1197
cekikikan, "Tio-pangcu, bukanlah kalian kemari untuk
membunuh Thio Kim-ciok?" .
"Kalau nona sudah mengetahui bahwa Thio Kim-ciok
berada di sini, harap nona segera mengundurkan diri dari
tempat ini," ucap Tio Tian-seng dengan suara dalam.
Kembali Thay-kun berkata sambil tersenyum, "Berita
tentang masih hidupnya Thio Kim-ciok telah membuat kalian
merasa amat terkejut dan segera menganggap Hek-mo-ong
adalah Thio Kim-ciok. Tapi sekarang aku hendak
memberitahukan sebuah berita yang amat mengejutkan
kepada kalian, Hek-mo-ong yang sesungguhnya bukan Thio
Kim-ciok melainkan Liu Khi. Bila kalian tidak percaya, aku
hendak bertanya, lagi kepada kalian, apakah si golok sakti
berlengan tunggal datang bersama kalian?"
Belum selesai perkataan itu diutarakan, dari balik kegelapan
dalam halaman itu terdengar seseorang menyahut sambil
tertawa seram, "Nona Thay-kun, harap kau tidak memfitnah
orang semaumu sendiri, apalagi mencoba mengadu-domba di
antara kami. Bukankah aku orang she Liu berada di sini?"
Dalam pembicaraan itu, tampak seorang lelaki berjubah
hitam bertubuh jangkung kurus dan berlengan tunggal,
dengan sebilah golok panjang tersoreng di pinggangnya
pelan-pelan menampakkan diri dari kegelapan.
Orang itu tak lain adalah si golok sakti yang berlengan
tunggal Liu Khi adanya.
Bong Thian-gak serta Song Leng-hui segera dibuat tertegun
oleh kejadian itu.
Hanya Thay-kun seorang yang tersenyum, pelan-pelan
ujarnya,
"Liu-tayhiap, cepat amat gerakan tubuhmu, tak nyana
dalam sekejap mata saja kau dapat memerankan dua peranan
yang berbeda."

1198
"Perkataan nona benar-benar membuat orang merasa
kebingungan dan tidak habis mengerti," ujar si golok sakti
yang berlengan tunggal dengan suara dingin.
Mendadak Tio Tian-seng berkata dengan wajah serius dan
suara dalam, "Tentunya nona Thay-kun sudah pernah
mendengar, tiga puluh tahun berselang sepuluh tokoh
persilatan bekerja sama membunuh Thio Kim-ciok."
"Sekarang terbukti Thio Kim-ciok masih hidup dan tak
diragukan lagi Hek-mo-ong yang telah mencelakai jiwa Kui-kok
Sianseng, Song-cui suami-istri, Oh Ciong-hu serta Ku-lo
Hwesio, tak lain tak bukan adalah Thio Kim-ciok."
Thay-kun tersenyum.
"Betul, sampai sekarang Thio Kim-ciok memang belum
dapat melupakan dendam kesumat sedalam lautan terhadap
kalian sepuluh tokoh persilatan, karena perbuatan kalian yang
telah mencelakai jiwanya pada tiga puluh tahun berselang,
tapi menurut apa yang kuketahui, Thio Kim-ciok belum pernah
melakukan tindakan untuk mewujudkan harapannya
membalas dendam."
"Darimana nona bisa tahu kalau ia belum melakukan
sesuatu tindakan?" tanya Tio Tian-seng dengan suara dalam,
wajahnya berubah hebat.
"Sebab sejak menderita luka keracunan pada tiga puluh
tahun lalu, hingga kini luka itu belum pernah sembuh,
kematian Kui-kok Sianseng sekalian sepuluh tokoh persilatan
pasti bukan perbuatan Thio Kim-ciok."
"Kalau bukan, siapa pula yang telah membunuh mereka?"
Thay-kun melirik sekejap ke arah Liu Khi, lalu sahutnya
merdu, "Hek-mo-ong!"
"Mengapa pula Hek-mo-ong harus membunuh Kui-kok
Sianseng sekalian?"

1199
"Tujuan utama Hek-mo-ong membunuh sepuluh tokoh
persilatan serta Ho Lan-hiang tak lain adalah untuk merampas
peta rahasia tambang emas milik Thio Kim-ciok."
"Tatkala Thio Kim-ciok menerima surat undangan kematian
dari Hek-mo-ong tempo hari, secara diam-diam dia telah
memotong peta rahasia tambang emasnya menjadi sebelas
bagian yang dihadiahkan kepada sepuluh tokoh persilatan
serta Ho Lan-hiang."
"Baik Tio-pangcu maupun Tan Sam-cing Locianpwe adalah
termasuk orang-orang yang tergabung dalam sepuluh tokoh
persilatan, bukankah kalian pun pernah menerima satu bagian
peta rahasia tambang emas itu?"
Pertanyaan yang diajukan Thay-kun segera membuat
wajah Tio Tian-seng dan Tan Sam-cing berubah hebat.
Hanya Liu Khi seorang yang tertawa dingin tiada hentinya,
katanya, "Budak setan, sungguh tak kusangka begitu banyak
persoalan yang telah kau ketahui. Hehehe! Benar, pada tiga
puluh tahun berselang sepuluh tokoh persilatan telah
menerima satu bagian peta rahasia tambang emas dan sejak
saat itu pula kesepuluh tokoh persilatan dan Ho Lan-hiang
telah berubah menjadi orang yang dicurigai sebagai Hek-moong,
masing-masing saling mencurigai dan gontok-gontokan.
Sejak saat itu pula sepuluh tokoh dunia persilatan tidak
pernah merasakan hari yang tenteram. Bila dipikir sekarang,
aku sungguh merasa kagum dengan siasat pinjam golok
membunuh orang dari Thio Kim-ciok."
Thay-kun tersenyum, segera ia berkata pula, "Thio Kim-ciok
bisa melaksanakan rencana balas dendam dengan siasat
meminjam golok membunuh orang, hal ini jelas membuktikan
bahwa Thio Kim-ciok sudah lama tahu kesepuluh tokoh
persilatan serta Ho Lan-hiang memang berencana hendak
membinasakan dirinya."

1200
"Waktu itu dengan jelas Thio Kim-ciok mengetahui bahwa
sulit baginya untuk meloloskan diri dari musibah itu, akan
tetapi dia pun tak rela mati dengan membawa dendam sakit
hati. Itulah sebabnya dia pun mulai menyusun rencana
kejinya, agar setelah kematiannya nanti, para pembunuh yang
telah mencelakai jiwanya saling gontok dan bunuh untuk
memperebutkan peta rahasia tambang emas itu."
"Ai, andaikata dugaanku tak salah, Ku-lo Hwesio dan Songciu
suami-istri telah merasakan betapa lihainya siasat
meminjam golok membunuh orang Thio Kim-ciok waktu itu
sehingga mereka putuskan untuk hidup mengasingkan diri di
pegunungan terpencil sambil berusaha menghindari musibah
itu. Tapi darimana mereka dapat menduga Hek-mo-ong yang
dimaksud Thio Kim-ciok itu sebenarnya adalah salah seorang
di antara kesepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang?
Itulah sebabnya mereka pun tak dapat meloloskan diri dari
nasib tragis di tangan Hek-mo-ong yang sedang berusaha
merebut peta rahasia tambang emas yang berada di tangan
mereka."
Mendengar sampai di sini, Tio Tian-seng menghela napas
panjang, katanya kemudian, "Benarkah nona beranggapan
bahwa Hek-mo-ong adalah salah seorang di antara kesepuluh
tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang?"
"Aku yakin dugaanku ini tak akan salah," jawab Thay-kun
dengan wajah bersungguh-sungguh.
Liu Khi tertawa dingin, katanya, "Yang masih hidup di dunia
ini hingga sekarang tinggal enam orang, apakah kita harus
saling gontok dan bunuh terus-terusan?"
"Andaikata aku tidak bertemu dengan Gi Jian-cau di Banjian-
bong, rasanya kita masih akan terus saling bunuh!"
sambung Tan Sam-cing.
Dari perkataan Tan Sam-cing, sudah jelas ia memberi
dukungan kepada Liu Khi.

1201
Dalam keadaan begini agaknya Tio Tian-seng pun
dihadapkan pada suatu pilihan yang sangat berat, ia
membungkam dan memandang bintang yang tersebar di
angkasa sambil memutar otak.
Mendadak Thay-kun tertawa cekikikan, "Masih ada satu
persoalan yang belum sempat kusampaikan kepada kalian,
yaitu sampai sehari sebelum hari ini, antara Thio Kim-ciok dan
Hek-mo-ong sesungguhnya masih terjadi kontak dan
hubungan yang akrab, justru kedua orang itulah yang telah
menyusun rencana untuk membunuh sepuluh tokoh persilatan
beserta Ho Lan-hiang."
Perkataan ini seketika mengejutkan Tan Sam-cing, ia
segera bertanya, "Nona apa maksudmu?"
Thay-kun tersenyum.
"Dengarkan perkataanku ini dengan pikiran tenang."
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih lanjut,
"Barusan sudah kubilang, hingga sekarang Thio Kim-ciok
masih belum dapat melupakan dendam kesumatnya terhadap
sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang yang telah
bekerja sama mencelakakan jiwanya. Sudah barang tentu
tidak dapat disalahkan jika Thio Kim-ciok berkeinginan
membalas sakit hatinya itu, tapi siapa orang yang mampu
membunuh kesepuluh tokoh persilatan yang sangat lihai itu?
Lagi pula Thio Kim-ciok masih menderita luka racun sehingga
sama sekali tak mampu membalas dendam."
"Itulah sebabnya Thio Kim-ciok segera memanfaatkan
maksud tujuan Hek-mo-ong yang ingin mengangkangi peta
rahasia tambang emas itu seorang diri dengan membunuh
musuh-musuhnya. Padahal sesungguhnya Thio Kim-ciok sudah
mengetahui siapakah otak dari semua ini, yaitu Hek-mo-ong,
tapi rahasia itu tetap dijaganya hingga kini."
Ketika pembicaraan baru berlangsung sampai di situ, sambil
tertawa dingin Liu Khi menukas, "Budak setan, perkataanmu

1202
barusan pada hakikatnya cuma ngaco-belo. Jadi menurut
pendapatmu, Hek-mo-ong membunuh sepuluh tokoh
persilatan karena tujuannya hendak mengangkangi peta
rahasia tambang emas yang berada di tangan kesepuluh tokoh
persilatan itu? Tapi aku ingin bertanya tentang satu hal
kepadamu, apa sebabnya Hek-mo-ong tidak secara langsung
pergi mendesak Thio Kim-ciok supaya dibuatkan peta rahasia
tambang emas yang baru?"
"Kau harus tahu, Hek-mo-ong bukan orang bodoh, dia
cukup tahu bagaimana harus menghadapi Thio Kim-ciok. Aku
rasa bila dia mau turun tangan terhadap Thio Kim-ciok, maka
hal ini mempermudah baginya untuk mencapai apa yang
diharapkan ketimbang harus menghadapi sepuluh tokoh
persilatan serta Ho Lan-hiang."
Bantahan Liu Khi itu kembali menggetarkan pikiran semua
orang, diam-diam mereka pun berpikir, "Ya, betul, apa
sebabnya Hek-mo-ong tidak langsung membunuh Thio Kimciok?"
Padahal Thay-kun sendiri pun belum dapat memecahkan
masalah itu, maka untuk sementara waktu dia hanya
membungkam.
Sementara itu sosot mata semua orang telah dialihkan ke
wajah Thay-kun menantikan jawabannya.
Namun sikap Thay-kun waktu itu amat tenang dan santai,
senyum manis tetap menghiasi ujung bibirnya yang
terbungkam.
Sikap semacam ini segera mendatangkan perasaan
misterius bagi siapa pun yang melihatnya.
Bahkan Liu Khi sendiri pun tak dapat menduga apa
gerangan yang sedang diperbuat Thay-kun.
Suasana hening dan sepi, tiba-tiba dipecahkan oleh suara
ledakan keras yang amat memekakkan telinga.

1203
Ledakan itu begitu dahsyatnya sampai menggetarkan
seluruh permukaan bumi, mengejutkan pula segenap jago
yang berada di sana.
Suara ledakan itu berasal dari balik ruang gedung,
menyusul segulung asap yang sangat tebal menggulung
keluar dari balik jendela.
Mendadak dari balik jendela melompat keluar sesosok
bayangan orang yang tubuhnya terjilat kobaran api.
Dalam genggaman orang itu memegang sebatang Boankoan-
pit. Begitu muncul dari jendela, ia segera menjatuhkan
diri dan berguling beberapa kali di atas tanah hingga kobaran
api yang menjilat tubuhnya padam, setelah padam dia baru
melompat bangun dari atas tanah.
Walaupun ia berhasil menghindarkan diri dari bencana
tubuh terbakar, namun keadaan orang itu sungguh sangat
mengenaskan.
Jubah panjang berwarna birunya telah terbakar hangus
hingga compang-camping tak keruan, wajahnya hitam terkena
hangus dan asap yang tebal. Biarpun begitu, orang yang
pernah kenal dengannya masih dapat mengenali raut wajah
itu.
"Ah, dia adalah si tabib sakti Gi Jian-cau!" Thay-kun yang
pertama-tama menjerit kaget.
Ketika Bong Thian-gak mendengar Thay-kun mengatakan
orang itu adalah tabib sakti Gi Jian-cau, terbayang jeritan
ngeri perempuan yang terdengar tadi, tanpa terasa ia mulai
berpikir apa gerangan yang sedang dilakukan tabib sakti Gi
Jian-cau di dalam gedung itu?
Bong Thian-gak berkelebat ke depan, kemudian secara
tiba-tiba menerobos masuk lewat daun jendela.
Baru saja tubuhnya bergerak, seseorang telah membentak
pula, "Berhenti!"

1204
Tio Tian-seng dengan pedang terhunus telah mendesak ke
depan, pedangnya seperti naga sakti yang keluar dari air
segera menusuk ke tubuhnya serta menghalangi jalan pergi
anak muda itu.
"Bong-laute," ujarnya kemudian. "Bila kau bermaksud
memasuki halaman gedung, jangan salahkan pedangku ini tak
kenal dirimu lagi!"
Bong Thian-gak mundur selangkah, lalu sahutnya sambil
tertawa dingin, "Tio-pangcu, rupanya kalian sudah
bersekongkol hendak membunuh Thio Kim-ciok!"
"Tiga puluh tahun berselang, sepuluh tokoh persilatan tidak
memperkenankan Thio Kim-ciok hidup di dunia, maka tiga
puluh tahun kemudian pun kami tetap tak akan mengizinkan
dia hidup terus!" kata Tio Tian-seng dengan suara dalam.
Tiba-tiba Bong Thian-gak berpaling dan memandang
sekejap ke arah tabib sakti Gi Jian-cau yang masih berdiri
dengan Boan-koan-pit terhunus, tanyanya dengan dingin,
"Apakah kalian berhasil?"
Jawaban tabib sakti itu justru merupakan jawaban yang
sangat ingin diketahui Tio Tian-seng, Tan Sam-cing serta Liu
Khi, maka sorot mata semua orang pun dialihkan ke wajah Gi
Jian-cau yang amat mengenaskan itu.
Dengan gerakan yang amat santai Gi Jian-cau
membersihkan tubuhnya dari debu, lalu ujarnya dengan
hambar, "Thio Kim-ciok telah mendirikan sebuah benteng di
bawah tanah yang kuat dan tangguh, ibarat sarang naga gua
harimau di dalam gedung ini."
Biarpun cuma sepatah kata yang sederhana dan biasa,
namun justru mencakup seluruh jawaban dari pertanyaan
yang diajukan.
Paras muka Tio Tian-seng sekalian segera berubah hebat.

1205
Liu Khi tertawa dingin dan mengejek, "Huh! Biarpun sarang
naga gua harimau, memangnya mampu membendung
serbuan sepuluh tokoh persilatan."
Ketika mendengar ucapan itu, tabib sakti Gi Jian-cau segera
memandang sekejap ke arah Liu Khi, kemudian ujarnya pelan,
"Selama ini banyak sudah ilmu Ngo-heng dan berbagai ilmu
lain yang kupelajari, aku pun mengerti ilmu bangunan dan
ilmu jebakan api, tapi barusan hampir saja tak sanggup keluar
dari gedung itu dengan selamat."
Dalam deretan sepuluh tokoh persilatan, Gi Jian-cau
terhitung tokoh yang berkepandaian tinggi serta
berpengetahuan luas, hal ini cukup diketahui setiap umat
persilatan, tapi beberapa patah kata yang barusan diucapkan
olehnya itu membuat Tio Tian-seng sekalian berkerut kening.
Dengan suara dalam Tan Sam-cing berkata, "Bila kita tak
mampu menyerbu masuk ke dalam ruang bawah tanahnya,
bagaimana cara kita membekuk Thio Kim-ciok?"
Liu Khi tertawa dingin, "Bagaimana pun juga Thio Kim-ciok
tak mungkin bersembunyi terus di ruang bawah tanah. Hm,
sekalipun dia bersembunyi terus di situ, aku yakin mampu
menerobos masuk ke dalam ruang rahasianya."
Pembicaraan beberapa orang ini segera membuat Bong
Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui merasa gembira.
Mimpi pun mereka tidak mengira kecerdikan Thio Kim-ciok
demikian mengagumkan sehingga dia telah melengkapi
gedung yang luas ini dengan ruangan bawah tanah yang
penuh dengan alat rahasia.
Thio Kim-ciok sudah lama menduga suatu waktu para jago
akan berkumpul di situ untuk membekuknya, maka jauh hari
sebelumnya dia telah mempersiapkan tindakan jitu untuk
menanggulangi keadaan itu.
Bong Thian-gak berdehem pelan, kemudian tanyanya
kepada Gi Jian-cau dengan suara dalam, "Gi-locianpwe, tadi

1206
kudengar dua kali jeritan ngeri dua perempuan yang berada di
dalam ruangan gedung. Tolong tanya apakah kedua dayang
itu ajal di tanganmu?"
Agaknya baru sekarang Gi Jian-cau memperhatikan
kehadiran Bong Thian-gak bertiga. Ia mendongakkan
kepalanya yang hitam pekat oleh hangus, Lalu diawasinya
mereka bertiga dengan sorot mata tajam.
"Mungkin kau yang disebut Jian-ciat-suseng?" katanya
ketus.
Mendadak Thay-kun mendorong ke depan dan serunya,
"Gi-locianpwe, kau masih ingat aku?"
"Tentunya kesadaran pikiranmu telah pulih kembali,
bukan?"
Thay-kun tertawa cekikikan, "Betul, aku sudah sadar
seutuhnya, banyak terima kasih atas pemberian Hui-hunwanmu
itu."
"Hm!" Gi Jian-cau mendengus dingin. "Kalau begitu sudah
lama kau bersekongkol dengan Thio Kim-ciok!"
"He, atas dasar apa kau menuduh aku telah lama
bersekongkol dengan Thio Kim-ciok?" seru Thay-kun agak
tertegun .
Dengan gemas dan rasa benci Gi Jian-cau berkata,
"Dengan mengorbankan segenap pikiran dan tenagaku selama
setengah umur hidupku, aku berhasil membuat tiga butir Huihun-
wan, tapi akhirnya dicuri sebutir di antaranya oleh Kengtim
Suthay yang bersekongkol dengan Thio Kim-ciok. Akibat
perbuatannya itu, aku gagal mewujudkan suatu masalah besar
yang kucita-citakan."
"Tapi satu hal yang tidak kumengerti adalah perbuatan Thio
Kim-ciok, mengapa dia bersedia memberikan pil Hui-hun-wan
itu untukmu?"

1207
"Thio Kim-ciok menderita luka cukup parah serta
membutuhkan sebutir pil Hui-hun-wan untuk
menyembuhkannya, aku tidak percaya Thio Kim-ciok
memberikan pil Hui-hun-wan itu untukmu."
Perkataannya ini segera menggerakkan pikiran Bong Thiangak,
tiba-tiba ia teringat kejadian di Sam-cing-koan dimana
Keng-tim Suthay serta jago-jago lihai Hiat-kiam-bun terbunuh
secara mengenaskan.
Berpikir sampai di situ, tiba-tiba saja pemuda itu
mengernyitkan alis, kemudian membentak, "Gi Jian-cau, aku
ingin bertanya kepadamu. Apakah Keng-tim Suthay sekalian
jago lihai Hiat-kiam-bun tewas di tanganmu?"
"O, jadi Keng-tim Suthay telah mampus?" kata Gi Jian-cau
dingin. "Kalau begitu Keng-tim Suthay pasti bermaksud
mengangkangi pil Hui-hun-wan sehingga dibunuh Thio Kimciok
lebih dahulu."
Bong Thian-gak yang mendengar ucapan itu jadi termangu,
diam-diam ia pun berpikir, "Benarkah Keng-tim Suthay mati
terbunuh di tangan Thio Kim-ciok?"
"Tapi jelas Sam-cing Tosu yang berada di dalam kuil Samcing-
koan adalah hasil penyaruan Thio Kim-ciok, sedang
sekarang tabib sakti bilang Thio Kim-ciok telah bersekongkol
dengan Keng-tim Suthay untuk mencuri sebutir pil Hui-hunwan
untuk menyembuhkan penyakitnya. Kalau begitu
mungkinkah Keng-tim Suthay dibunuh oleh Thio Kim-ciok?"
Sementara dia masih berpikir, tiba-tiba terdengar Thay-kun
yang berada di sampingnya berkata sambil menghela napas
sedih, "Kematian Keng-tim Suthay sungguh mengenaskan,
tapi andaikan Gi-locianpwe tidak berubah pikiran, Suthay pun
tak akan mati secara mengenaskan."
Waktu itu Bong Thian-gak merasakan darah yang mengalir
dalam tubuh bagaikan mendidih. Dengan penuh perasaan

1208
dendam ia berkata, "Thay-kun, lebih baik kita urungkan saja
niat kita menyembuhkan luka yang diderita Thio Kim-ciok."
"Bong-suheng!" Thay-kun tersenyum, "sekalipun Keng-tlm
tutttiy sekalian jago-jago Hiat-kiam-bun tewas di tangan Thio
Kim-ciok kita tetap harus berupaya menyembuhkan luka yang
diderita Thio Kim ciok”
Bong Thian-gak menjadi tertegun untuk beberapa saat,
kemudian katanya, "Thio Kim-ciok telah membantai anak
murid Hiat-kiam-bun. Dendam sakit hati ini lebih dalam dari
samudra. Bilamana sakit hati Itu tidak dibalas, bagaimanakah
kita bisa menghibur arwah anggota Hiat-kiam-bun yang telah
berada di alam baka?"
"Bila ada dendam, sudah barang tentu kita wajib menuntut
balas,”sahut Thay-kun dengan suara dalam, "tapi paling tidak
kita wajib melakukan penyelidikan lebih dulu sejelas-jelasnya,
siapakah pembunuh yang sesungguhnya dalam peristiwa itu?"
Ucapan nona itu segera menggerakkan pikiran Bong Thiangak
segera dia berpikir pula, "Ya betul, kenapa aku harus
mempercayai perkataan Gi Jian-cau begitu saja? Ah benar,
bukankah Keng-tim Suthay pernah meninggalkan pesan yang
mengatakan agar aku berusah membunuh tabib sakti itu."
Gi Jian-cau berdehem pelan, katanya lagi dengan suara
dingin, "Dalam perselisihan kami sepuluh tokoh persilatan
dengan Thio Kim ciok, kalian para angkatan muda sama sekali
tak tersangkut. Kuanjurkan kepada kalian lebih baik tak usah
mencampuri urusan ini, kalau tidak, aku kuatir kalian akan
mampus tanpa liang kubur."
Kembali Thay-kun tersenyum. "Gi-locianpwe, tahukah kau
siapa Hek-mo-ong itu?" dia bertanya.
"Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok!" sahut Gi Jian-cau
sambil tertawa dingin.

1209
Liu Khi segera berseru pula sambil tertawa licik, "Nona
Thay-kun, kuperingatkan sekali lagi kepadamu, di sekitar
gedung ini sekarang telah berdatangan begitu banyak jago
lihai persilatan, kedatangan mereka pada malam ini tak lain
hendak membunuh Thio Kim-ciok."
"Oleh sebab itu biarpun kali ini Thio Kim-ciok memiliki
sepuluh lembar nyawa cadangan pun, jangan harap bisa
mempertahankan hidupnya. Bilamana kau ingin membantu
Thio Kim-ciok, maka hal ini sama artinya sudah bosan hidup di
dunia."
Thay-kun tersenyum.
"Sejak tadi sudah kuduga Ho Lan-hiang dan Biau-kosiu
sekalian bersembunyi di sekitar gedung ini bersama-sama jago
andalannya, malah bisa jadi sastrawan berwajah tampan Liong
Oh-im beserta jago-jagonya pun telah berdatangan. Cuma aku
pikir belum tentu kawanan jago persilatan yang begini banyak
itu akan tunduk dan menuruti perintahmu."
"Siapa tahu orang yang sedang mereka cari bukan Thio
Kim-ciok, melainkan Liu Khi serta Gi Jian-cau!"
Berubah hebat paras muka Liu Khi, dia segera membentak,
"Budak setan, rupanya arak kehormatan kau tampik, arak
hukuman kau cari. Sudah bosan hidup rupanya kau!"
Di tengah bentakan itu, Liu Khi telah mencabut senjatanya,
lalu dengan kecepatan luar biasa dia langsung membacok
pinggang gadis itu.
Baru saja golok Liu Khi bergerak, dua bilah pedang yang
muncul secara tiba-tiba dari sisi arena, seperti sepasang naga
yang muncul dari samudra, satu dari kiri dan yang lain dari
kanan, segera mencegat dari arah berlawanan dengan
kecepatan tak kalah dari gerakan Liu Khi.
Kedua bilah pedang itu tahu-tahu sudah menangkis
sambaran golok panjang itu.

1210
Ternyata kedua bilah pedang itu adalah pedang iblis Tio
Tian-seng serta pedang bambu Bong Thian-gak.
Dengan satu gerakan yang tak kalah cepatnya Liu Khi
segera memutar kembali mata goloknya dan ditarik ke
belakang.
Kemudian sambil melotot ke arah Tio Tian-seng, dia
membentak penuh gusar, "Tio-pangcu, sesungguhnya apa
maksudmu?"
Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh Tio Tianseng
berkata, "Kepandaian silat Jian-ciat-suseng bertiga tidak
berada di bawah kepandaian silat tokoh mana pun dari
sepuluh tokoh persilatan di masa lalu. Bila kita harus
bertarung melawan mereka, maka tanpa kita sadari perbuatan
itu telah memenuhi harapan Thio Kim-ciok."
"Kalau bukan begitu, lantas dengan cara apakah kita harus
menghadapi beberapa orang yang tak tahu diri ini?" seru Liu
Khi sambil tertawa dingin.
Tiba-tiba Tio Tian-seng berpaling ke arah Bong Thian-gak,
lalu katanya, "Bong-laute, ada satu patah kata yang ingin
kusampaikan kepadamu, yaitu soal dendam kesumat sepuluh
tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok, kau tahu perselisihan
ini sudah terjalin sejak tiga puluh tahun berselang, oleh
karena itu selama sepuluh tokoh persilatan masih ada yang
hidup, kami tak akan membiarkan Thio Kim-ciok tetap hidup,
pertarungan kami dengan Thio Kim-ciok tak pernah bisa
dileraikan lagi."
"Sebaliknya kalian adalah orang-orang yang berada di luar
garis, mengapa kalian mesti menjerumuskan diri ke dalam
kancah perselisihan itu? Hasilnya tak menguntungkan bagi
kalian? Karena itu kuanjurkan kepada kalian, lebih baik
tinggalkan tempat ini secepatnya."
"Boanpwe merasa berterima kasih atas nasehat Tiopangcu,"
kata Bong Thian-gak dengan lantang, "tapi ada satu

1211
hal yang perlu Locianpwe mengerti, walaupun antara kami
bertiga dengan Thio Kim-ciok tidak mempunyai hubungan budi
dan dendam secara langsung, namun hubungan kami adalah
anak murid atau keturunan langsung sepuluh tokoh persilatan,
maka kami wajib mengetahui sampai jelas siapa gerangan
Hek-mo-ong yang sesungguhnya."
"Ah betul, hampir saja aku lupa bahwa Bong-laute adalah
anak murid Oh Ciong-hu serta Ku-lo Hwesio," segera kata Tio
Tian-seng.
Sampai di situ, sorot matanya segera dialihkan ke wajah
Song Leng-hui sambil tanyanya pula, "Siapa pula dia?"
"Dia adalah istriku, putri tunggal sepasang kekasih
persilatan Song-ciu suami-istri."
Tio Tian-seng menghela napas sedih, ujarnya kemudian,
"Kalau memang begitu Bong-laute sekalian memang berhak
untuk tetap tinggal di sini."
"Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak, "sesungguhnya musuh
besar yang sedang Boanpwe cari saat ini adalah Hek-mo-ong,
bukan Thio Kim-ciok. Andaikata Thio Kim-ciok adalah Hek-moong,
maka di antara kami dengannya terjadi pula hubungan
sakit hati."
"Jadi kau beranggapan Thio Kim-ciok bukan Hek-mo-ong?"
tiba-tiba Tio Tian-seng bertanya dengan suara dalam.
"Barusan kami telah bertarung melawan Hek-mo-ong asli
dan bilamana pandanganku belum lamur, Boanpwe masih
teringat dengan jelas bahwa Hek-mo-ong adalah seorang
berlengan tunggal."
Liu Khi tertawa kering, katanya, "Dalam Kangouw dewasa
ini, orang berlengan tunggal yang cukup pantas menjadi Hekmo-
ong hanya Jian-ciat-suseng serta aku dua orang."
"Bong-laute mengatakan orang yang paling dicurigai
sebagai Hek-mo-ong adalah Liu Khi, tapi aku tak akan

1212
mempercayai begitu saja," kata Tio Tian-seng dengan suara
dalam.
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas panjang, lalu katanya,
"Tidak percaya pun tak ada gunanya. Bila dugaanku tidak
salah, maka untuk membuktikan siapakah Hek-mo-ong yang
sesungguhnya, maka jawaban itu tidak dapat diperoleh
sebelum sepuluh tokoh persilatan dan Ho.Lan-hiang mampus
semua hingga tinggal orang terakhir. Saat itulah wajah asli
Hek-mo-ong baru akan ketahuan."
Mendadak Bong Thian-gak tertawa keras, serunya, "Liu Khi,
mudah sekali bila kau ingin membuktikan bahwa kau bukan
Hek-mo-ong, cukup kau singkap baju kananmu yang kutung
itu dan perlihatkan kepada semua orang, apakah di situ telah
kau sembunyikan tangan tengkorakmu atau tidak. Jika tak
ada, maka terbukti kau memang bukan Hek-mo-ong."
"Tangan tengkorak andalan Hek-mo-ong untuk membunuh
sudah cukup menggetarkan setiap orang, namun tak seorang
pun di dunia ini yang mengetahui bahwa tangan tengkorak
andalan Hek-mo-ong disembunyikan di lengan kanannya yang
kutung."
Tidak heran perkataan Bong Thian-gak itu mengejutkan
para jago, masing-masing segera berpikir dalam hati,
"Betulkah tangan tengkorak Hek-mo-ong tersembunyi di balik
lengannya yang kutung?"
Dengan hati berdebar dan perasaan amat tegang, sorot
mata kawanan jago itu serentak dialihkan ke lengan kutung
Liu Khi.
Sambil mengerut dahi Tio Tian-seng bertanya pula dengan
suara dalam, "Bong-laute, benarkah kau pernah bersua
dengan Hek-mo-ong?"
"Bukan hanya bersua, malahan dada kiriku sempat dihajar
olehnya dengan tangan tengkoraknya. Jika kalian tak percaya,
silakan diperiksa tanda yang berada di tubuhku ini."

1213
Sembari berkata, tiba-tiba pemuda itu membuka pakaian
yang menutupi dadanya.
Biarpun suasana malam itu sangat gelap, namun dengan
ketajaman mata Tio Tian-seng sekalian, sekilas pandang saja
mereka dapat melihat dengan jelas bahwa di atas dada
sebelah kiri Bong Thian-gak terdapat sebuah cap tangan
tengkorak yang sembab membengkak dan berwarna hitam
seperti yang biasanya ditemukan, justru karena itulah Bong
Thian-gak tak sampai menemui ajal.
Pada saat itulah tiba-tiba berkumandang suara gelak tawa
yang amat keras, menyusul terdengar seseorang berkata, "Tio
Tian-seng, benarkah di atas tubuhnya terdapat bekas tangan
tengkorak?"
Sesosok bayangan orang berbaju putih telah melompat
datang dengan cepatnya.
Orang ini bukan lain adalah sastrawan berwajah tampan
Liong Oh-im, salah seorang di antara sepuluh tokoh persilatan.
Liong Oh-im muncul dengan pedang tersoreng di punggung
dan kipas tulang kemala di tangan, dia berjalan ke hadapan
Bong Thian-gak dengan langkah amat santai.
Setelah memeriksa sekejap bekas tangan tengkorak di dada
Bong Thian-gak, dengan wajah berubah ia berseru keras, "Ah,
ternyata memang bekas tangan tengkorak yang asli, cuma
warnanya saja yang berbeda."
Sampai di sini sorot matanya segera dialihkan ke wajah Liu
Khi.
Liu Khi tertawa seram, katanya, "Liong Oh-im, sungguh tak
disangka kau pun datang kemari!"
Liong Oh-im tertawa ringan, sahutnya, "Dari kesepuluh
tokoh persilatan yang belum mampus, hampir semuanya telah
muncul di sini. Termasuk Ho Lan-hiang pun mungkin sudah
berada di sekitar tempat ini."

1214
Belum selesai perkataan itu diucapkan, terendus bau harum
semerbak bunga anggrek yang tersebar di sekitar tempat itu,
lalu terdengar seseorang berkata dengan suara lembut dan
halus, "Lan-hiang sudah tiba sejak tadi!"
Semua orang segera berpaling ke arah asal suara ini,
tampaklah tiga sosok bayangan orang berdiri di atas gununggunungan.
Tak disangkal lagi orang yang berada di tengah adalah Ho
Lan-hiang, sedangkan di sisi kirinya adalah Ji-kaucu, sedang
orang yang berada di sebelah kanan adalah Sim Tiong-kiu.
Liu Khi tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya, "Sungguh tak
kusangka semua orang telah berdatangan kemari. Hm, kalau
begitu kita pun tak usah menunggu lebih lanjut, sekarang juga
kita dapat turun tangan terhadap Thio Kim-ciok."
"Tunggu sebentar!" mendadak Liong Oh-im berseru keras
sambil tertawa.
"Liong-suseng, apalagi yang kau ragukan?" tegur Liu Khi
sambil tertawa dingin.
Liong Oh-im tertawa terbahak-bahak, "Tiga puluh tahun
lalu, sepuluh tokoh persilatan hendak membunuh Thio Kimciok
dan tiga puluh tahun kemudian Thio Kim-ciok yang
hendak membunuh sepuluh tokoh persilatan untuk membalas
dendam. Kedua belah pihak telah bersumpah tak akan hidup
berdampingan secara damai lagi, namun di balik dendam
kesumat yang berlangsung selama ini terselip pula seorang
sutradara yang misterius. Dialah yang sesungguhnya menjadi
dalang peristiwa berdarah ini, yakni Hek-mo-ong. Sebelum kita
melangkah lebih jauh, aku pikir ada baiknya menyelidiki lebih
dulu siapa sesungguhnya orang yang telah berperan sebagai
Hek-mo-ong?"
Berubah hebat paras muka Liu Khi, segera tegurnya
dengan suara dingin, ”Jadi Liong-heng mencurigai aku sebagai
Hek-mo-ong?"

1215
Liong Oh-im tersenyum, "Sekarang persoalan telah
berkembang menjadi begini rupa, aku rasa Liu-sianseng wajib
memperlihatkan lengan kananmu yang kutung itu kepada
semua orang."
"Liu Khi," Tio Tian-seng berseru pula dengan lantang. "Kau
harus bertindak untuk menghilangkan kecurigaan orang
terhadap dirimu."
Mendadak terdengar Thay-kun berseru dengan suara
merdu, "Tidak usah diperiksa lagi, dalam keadaan dan waktu
seperti ini, di balik lengan tunggalnya itu tak akan ditemukan
tangan tengkoraknya."
"Sumoay, apa maksudmu berkata demikian?" tanya Bong
Thian-gak dengan wajah termangu.
"Seandainya aku menjadi Hek-mo-ong, jika muncul sebagai
orang lain, aku tak akan melengkapi diriku dengan tangan
tengkorak itu."
Kobaran hawa amarah yang membara telah menyelimuti
wajah Liu Khi, tiba-tiba ia membentak dengan geram, "Budak
setan, rupanya kau sudah menuduh aku habis-habisan. Hm,
bila aku harus menerima penghinaan hari ini tanpa balas,
perbuatanmu ini sama artinya dengan memberi aib sepuluh
tokoh persilatan, hm .... Sekarang pentang mata kalian lebarlebar,
lihat dengan jelas, benda apakah yang kusembunyikan
di balik lengan kutungku ini?"
Seraya berkata Liu Khi segera menggulung ujung baju
kanannya yang kosong sampai ke batas bahu kanannya
sehingga lengannya yang kutung itu dapat terlihat dengan
jelas dan nyata.
Kecuali bekas kutungan lengan akibat bacokan pisau,
ternyata tidak nampak tangan tengkorak seperti apa yang
dicurigakan.

1216
Mendadak pada saat itu terdengar Liu Khi membentak
dengan penuh rasa geram, "Bocah keparat yang berani
menghina aku, kalian harus menyerahkan nyawamu."
Golok saktinya kembali dilontarkan ke muka dengan
hebatnya.
Serangan golok itu langsung ditujukan ke arah Bong Thiangak.
Serangan itu meluncur dari bawah berbalik membacok ke
arah atas. Selain dilepaskan dengan kecepatan luar biasa,
jurus serangan pun luar biasa, dalam waktu singkat telah
mencapai sasarannya.
Terdengar bunyi robekan, di tengah kilauan cahaya putih
yang terpancar dari mata golok, Bong Thian-gak melayang
pergi ke samping, sekalipun ia sudah bergerak cukup cepat,
ujung baju sebelah kirinya terpapas juga dan terjatuh ke atas
tanah.
Andaikata lengan kanan Bong Thian-gak tidak kutung sejak
dulu, hari ini lengan itu pasti akan kutung juga termakan oleh
sambaran golok kilat itu.
Bersamaan waktunya dengan gerakan menghindar tadi,
Bong Thian-gak telah mengayunkan pula pedang bambunya
melancarkan sebuah bacokan kilat.
Serangan itu langsung mencegah serangan golok kedua Liu
Khi yang berusaha menyerobot posisi. Itulah sebabnya di saat
mata golok Liu Khi menyambar tiba untuk kesekian kalinya,
serangan pedang Bong Thian-gak pun turut membabat tiba
dari arah samping.
Begitu pertarungan berlangsung, para jago yang hadir di
arena segera mengerti bahwa pertarungan antara kedua
orang itu tak akan berakhir dalam waktu singkat.
Bila jago-jago lihai sedang bertarung, sekalipun terdapat
sedikit selisih kepandaian mereka, asalkan kemampuan itu

1217
hampir berimbang, maka bukan pekerjaan mudah bagi
mereka untuk menentukan menang kalah dalam waktu
singkat.
Tampaknya Liu Khi bermaksud melangsungkan pertarungan
kilat, makin menyerang semakin cepat. Tujuannya tentu ingin
membinasakan Bong Thian-gak.
Oleh sebab itu setiap jurus serangan yang dilontarkan,
hampir semuanya merupakan jurus maut yang ganas dan
buas, kecepatannya pun bagaikan sambaran kilat.
Sebaliknya permainan pedang Bong Thian-gak pun cepat,
ganas dan buas untuk mengimbangi permainan lawan.
Kendati ia dipaksa oleh gerak serangan Liu Khi sehingga
berada dalam posisi di bawah angin, namun ia tetap
menghadapi serangan musuh dengan tenang, jurus dilawan
dengan jurus, gerakan dipatahkan dengan gerakan, gerakgeriknya
sama sekali tidak kalut.
Untuk sementara waktu Thay-kun dan Song Leng-hui
merasa agak lega.
Sebaliknya kawanan jago lainnya menjadi bingung dan tak
tahu bagaimana harus menyelesaikan pertikaian itu.
Tiba-tiba terdengar si tabib sakti Gi Jian-cau berkata
dengan suara dingin, "Tujuan kedatangan kita hari ini adalah
membekuk Thio Kim-ciok. Barang siapa berani menentang
usaha kita membunuh Thio Kim-ciok adalah musuh kita juga,
apakah kita mesti membuang waktu lagi dengan percuma?"
"Gi Jian-cau," bentak Thay-kun dengan suara dingin, "jika
kau berani maju selangkah lagi, silakan mencicipi dahulu
kelihaian ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang."
Sambil berkata gadis itu menyiapkan telapak tangan kirinya
dan ditujukan ke arah si tabib sakti di hadapannya.
Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan ilmu pukulan yang
amat dahsyat dan sudah lama termasyhur di seantero

1218
persilatan, sekalipun si tabib sakti Gi Jian-cau terhitung salah
seorang yang tercantum dalam sepuluh tokoh sakti persilatan,
namun dia pun tak berani bertindak secara gegabah.
"Budak setan," Gi Jian-cau segera mengumpat, "biarpun
kau memiliki ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang yang maha
dahsyat, tetapi kemampuanmu itu hanya sanggup menandingi
aku seorang."
"Seorang pun sudah lebih dari cukup," kata Thay-kun
sambil tertawa merdu. "Sebab sampai detik ini, hanya kau
serta Liu Khi yang berniat melenyapkan kami dari sini."
Baru selesai perkataan itu diucapkan, mendadak Ho Lanhiang
yang berada di atas gunung-gunungan berkata dengan
suara dingin, "Budak busuk, aku pun tak akan melepaskan
kau."
Belum sempat Thay-kun menanggapi, tiba-tiba terdengar
pula seorang berseru dengan suara merdu, "Ho Lan-hiang,
jika orang-orang Put-gwa-cin-kau berani bergerak, aku pun
akan segera turun tangan menghadang kalian."
Semua jago segera berpaling ke arah asal suara itu, entah
sejak kapan ternyata dalam halaman itu telah bertambah
dengan Biau-kosiu beserta rombongan.
Adapun rombongan Biau-kosiu ini terdiri dari Biau-han-thian
suami-istri serta nenek berambut putih.
Betapa senang Thay-kun mengetahui Biau-kosiu serta
rombongan mendukung pihaknya, ia segera tertawa cekikikan,
katanya, "Nona Biau, apakah kau sudah mengetahui siapa
Hek-mo-ong yang sebenarnya?"
"Setiap orang yang hadir di arena saat ini mempunyai
kecurigaan sebagai Hek-mo-ong dan kedatanganku kali ini
adalah khusus untuk menyelidiki siapa Hek-mo-ong yang
sesungguhnya sehingga dendam sakit hati ayahku bisa
dibalas," ucap Biau-kosiu dingin.

1219
Sembari berkata, ia bersama rombongannya pelan-pelan
berjalan masuk ke dalam arena.
Dalam pada itu pertarungan antara Bong Thian-gak
melawan Liu Khi telah mencapai puncak yang paling kritis.
Pertarungan di antara mereka berdua yang semula
berlangsung amat cepat dan ganas, kini telah berubah
menjadi lambat, bahkan gerakannya amat sederhana dan
bersahaja.
Walaupun begitu, setiap orang yang hadir tahu bahwa di
balik setiap jurus serangan yang digunakan kedua orang itu
terselip intisari segenap kepandaian yang mereka miliki.
Tiba-tiba terdengar Bong Thian-gak membentak, "Liu Khi,
sambut dulu jurus serangan 'bianglala panjang menutup sang
surya' ini!"
Pedang diangkat sejajar dada, kaki kiri maju selangkah dan
pedangnya seperti semburan air yang kuat menusuk dada Liu
Khi dengan kekuatan maha dahsyat.
Begitu Bong Thian-gak mengeluarkan jurus serangan ini,
berubah hebat paras muka para jago yang menonton dari
samping, mendadak terdengar Tio Tian-seng berteriak keras,
"Liu Khi, jangan bertindak gegabah, jangan kau sambut
serangan itu."
Tio Tian-seng meluncur ke depan dari sisi kiri sambil
mengayun pedangnya dengan kecepatan luar biasa.
Dengan bertindaknya Tio Tian-seng secara di luar dugaan
ini, suasana dalam arena menjadi kalut, bentakan nyaring,
hardikan lantang bergema silih berganti.
Thay-kun, Soh Leng-hui, Biau-kosiu dan Tan Sam-cing
serentak melompat ke depan dan terjun ke dalam arena.

1220
Di tengah gelak tawa yang amat keras, Liu Khi melejit ke
tengah udara bagaikan seekor burung elang raksasa dan
melayang ke belakang.
Terdengar suara benturan keras. Tahu-tahu pedang bambu
di tangan Bong Thian-gak telah terpapas kutung oleh bacokan
pedang Tio Tian-seng
Bong Thian-gak mendengus tertahan, tubuhnya mencelat
jauh dan jatuh terduduk di atas tanah.
Thay-kun dan Song Leng-hui sama-sama menjerit kaget,
serentak mereka melompat ke hadapan Bong Thian-gak.
Sementara itu Bong Thian-gak memutar biji mata, lalu
sambil melompat bangun dari atas tanah, bentaknya, "Tiopangcu,
sebenarnya serangan pedangku dapat memaksa Liu
Khi mengungkap identitasnya. Sungguh tak disangka, kau
telah menggagalkan usahaku itu."
Dengan wajah serius Tio Tian-seng berkata, "Ilmu pedang
Bong-laute telah mencapai puncak kesempurnaan. Aku
merasa amat kagum atas kemampuanmu itu, tetapi aku tak
bisa membiarkan Liu Khi terluka di ujung pedangmu begitu
saja."
Sementara itu Song Leng-hui telah bertanya dengan penuh
kuatir, "Engkoh Gak, apakah kau terluka?"
"Tidak," Bong Thian-gak menggeleng.
Dalam pada itu Liu Khi yang sudah berdiri, katanya dengan
senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya, "Malam ini aku
orang she Liu telah memperoleh pengalaman baru. Hm,
hampir saja aku terluka di ujung pedangmu itu."
"Sungguh menyesal aku gagal membuka kedok palsumu
pada malam ini," kata Bong Thian-gak hambar.

1221
Mendadak terdengar Biau-kosiu berseru dengan suara
lantang, "Bong-siauhiap, mengapa kalian harus menjual
tenaga untuk Thio Kim-ciok?"
"Sebab kami tahu Thio Kim-ciok bukan Hek-mo-ong yang
sedang kita cari."
Biau-kosiu tertawa dingin, "Peduli Thio Kim-ciok adalah
Hek-mo-ong atau bukan, dari ambisi serta tekad Thio Kim-ciok
untuk melampiaskan rasa benci dan dendamnya, tak mungkin
dia melepaskan setiap orang yang berhubungan dengan
sepuluh tokoh persilatan begitu saja. Oleh sebab itu bila kalian
bersikap membela Thio Kim-ciok secara membabi-buta, pada
hakikatnya perbuatan kalian itu merupakan perbuatan yang
sangat tolol."
"Bong-laute," Tio Tian-seng segera menambahkan, "apa
yang dikatakan nona Biau tepat sekali. Thio Kim-ciok adalah
seorang buas yang berhati sempit dan munafik, dia seorang
pendendam dan tak pernah melepaskan musuhnya begitu
saja, padahal Bong-laute serta nona Song mempunyai
hubungan yang sangat akrab dengan sepuluh tokoh
persilatan, pada akhirnya Thio Kim-ciok juga tak bakal
melepas kalian begitu saja."
Baru saja Tio Tian-seng selesai berkata, mendadak
terdengar suara ledakan keras yang memekakkan telinga,
menyusul gedung yang amat besar dan megah itu roboh
berantakan ke atas tanah.
Di tengah robohnya gedung itu, terdengar pula beberapa
kali jeritan ngeri yang memilukan. Beberapa sosok bayangan
orang nampak melarikan diri terbirit-birit dari balik reruntuhan
bangunan.
Dengan ketajaman mata Bong Thian-gak, sekilas pandang
saja ia sudah mengenali orang yang sedang melarikan diri itu,
seorang kakek berbaju hitam serta tiga orang lelaki kekar
berbaju hitam pula.

1222
Mendadak hatinya bergetar keras, tanpa sadar serunya
tertahan.
"Hek-ki-to-cu Long Jit-seng."
Ketika kakek berbaju hitam yang kabur menyelamatkan diri
itu sampai di hadapan Bong Thian-gak dan melihat kehadiran
si anak muda itu, ia tertawa licik, sapanya, "Jian-ciat-suseng,
sungguh tak disangka kita bersua lagi di sini."
Sebagaimana diketahui, dalam pertempuran di kuil Hongkong-
si, Long Jit-seng berhasil menyelamatkan jiwanya dari
kematian.
Kemunculan orang ini membuat Bong Thian-gak segera
teringat perkataan Liu Khi barusan.
"Sesungguhnya aku sudah menyiapkan selembar kartu raja
untuk menghancurkan semua peralatan rahasia yang berada
dalam gedung ini."
Dari sini bisa diduga kartu raja yang dimaksud Liu Khi tadi
tak lain adalah Hek-ki-to-cu Long Jit-seng.
Sementara itu di saat Long Jit-seng berempat
menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan rumah tadi, Gi
Jian-cau memperhatikan bangunan yang roboh itu dengan
seksama.
Tiba-tiba wajahnya berubah hebat, dari balik matanya
mencorong sinar penuh rasa kaget. Sambil mengawasi Long
jit-seng sekalian, katanya dengan suara dingin, "Sungguh tak
disangka, kalian berhasil menemukan pintu masuk Kiu-kiongpat-
kwa, sungguh mengagumkan."
Liu Khi tertawa terbahak-bahak, katanya pula, "Gi-heng,
mari kuperkenalkan, dia adalah Long Jit-seng dari lautan
timur. Aku pernah bilang bukan, betapa pun lihai serta
rumitnya alat rahasia Thio Kim-ciok, persiapannya itu takkan
bisa menghalangi kita untuk pergi mencarinya."

1223
Long Jit-seng tertawa seram pula, ujarnya, "Sungguh tak
disangka, para jago seluruh kolong langit berkumpul di sini
pada malam ini. Sungguh kejadian ini merupakan suatu
keberuntungan bagiku. Kini pintu masuk Pat-kwa-kiu-kiong
sudah berhasil ditemukan, mengapa kalian tidak masuk ke
dalam untuk membekuk Thio Kim-ciok?"
Gi Jian-cau tertawa dingin, "Walaupun pintu masuk barisan
Kiu-kiong-pat-kwa telah berhasil ditemukan, namun alat
rahasia yang terdapat di ruang bawah tanah sana masih
banyak dan berlapis-lapis. Dalam hal ini rasanya kita masih
memerlukan bantuan Long-tocu."
Long Jit-seng tertawa tergelak, "Aku tak lebih cuma
melaksanakan perintah untuk membukakan pintu masuk
barisan Kiu-kiong-pat-kwa yang berada dalam gedung ini.
Sekarang tugas telah selesai, aku tak sudi menyerempet
bahaya lagi dengan percuma."
Sampai di situ Long Jit-seng segera mengulap tangan
kanannya dan bersiap mengajak ketiga anak buahnya pergi
meninggalkan tempat itu.
Mendadak terdengar Biau-kosiu membentak, "Berhenti!"
Long Jit-seng memandang sekejap ke arah nona itu, lalu
bertanya, "Siapakah kau? Ada urusan apa memanggil aku?"
"Aku bernama Biau-kosiu, aku meminta padamu untuk
mengajak kami memasuki barisan Kiu-kiong-pat-kwa yang
berada di bawah tanah itu."
"Seandainya aku keberatan?" tanya Long Jit-seng
menantang.
"Kalau begitu, silakan kau mampus di tempat ini."
"Bila aku mati, kalian pun jangan berharap bisa menangkap
Thio Kim-ciok untuk selamanya."

1224
Tiba-tiba Biau-kosiu memandang sekejap ke arah Liu Khi
yang berada di samping arena, lalu tegurnya dingin, "Dia ini
anak buahmu?"
Liu Khi tertawa, "Aku pernah menyelamatkan jiwanya satu
kali, maka dia pun hanya membantuku sekali. Waktu itu aku
hanya meminta kepadanya utnuk membantuku menemukan
pintu masuk menuju barisan Kiu-kiong-pat-kwa yang berada
dalam bangunan bawah tanah itu dan sekarang tugasnya
telah selesai, tentu saja aku pun tak bisa mengekang dirinya
lagi."
Biau-kosiu tertawa dingin, tiba-tiba ia berjalan ke muka dan
pelan-pelan menghampiri Long Jit-seng.
Setiap jago yang berada dalam arena mengetahui bahwa
Biau-kosiu bermaksud memaksa Long Jit-seng memenuhi
keinginannya.
Mendadak terdengar Long Jit-seng membentak, telapak
tangannya segera diayunkan ke depan membacok dada Biaukosiu
yang sedang berjalan mendekat.
Dengan suatu gerakan yang amat cepat dan lincah, Biaukosiu
menghindar ke samping, kemudian pergelangan
tangannya diputar sambil menyambar, tanpa mengeluarkan
sedikit tenaga pun, dia telah berhasil mencengkeram urat nadi
pergelangan tangan kanan Long Jitseng.
Pada saat itulah ketiga lelaki kekar berbaju hitam yang
berdiri di belakang Long Jit-seng menerjang maju secara
bersama-sama.
Biau-kosiu segera mengayun tangan kirinya siap
meluncurkan sebuah bacokan mematikan, tiba-tiba terdengar
Long Jit-seng berteriak, "Nona, jangan kau lukai pembantu
utamaku."

1225
Di tengah seruan itu, golok Liu Khi telah tercabut,
kemudian diayunkan sejajar dada menghadang jalan pergi
ketiga lelaki kekar itu serta niat Biau-kosiu untuk menyerang.
Melihat Liu Khi menghalangi niatnya, Biau-kosiu segera
menegur sambil tertawa dingin, "Liu-tayhiap, apakah kau
berniat melepaskannya pergi dari sini?"
Liu Khi tertawa terbahak-bahak, "Apabila nona Biau
bermaksud minta bantuan Long-tocu, aku rasa kau harus
memohonnya secara baik-baik."
"Tapi sayang dia enggan menerima arak kehormatan,
sebaliknya justru mencari arak hukuman," jengek Biau-kosiu
sambil tertawa dingin.
Liu Khi tak menggubris Biau-kosiu lagi, dia segera
menggerakkan badan dan memberi hormat kepada Long Jitseng
sambil katanya, "Long-tocu, kau pun terhitung seorang
pintar, kau juga tahu bahwa setiap orang yang mengepung
gedung ini merupakan jago-jago persilatan yang pernah
menggetarkan persilatan, lagi pula mereka bertekad hendak
membekuk Thio Kim-ciok, padahal Thio Kim-ciok pernah
belajar ilmu bangunan dan ilmu alat rahasia dari Susiokmu."
"Berarti selain dirimu yang mampu memecahkan alat
rahasia yang dipasang Thio Kim-ciok, tidak ada orang kedua di
dunia ini yang mampu melakukannya. Oleh sebab itu
bagaimana pun juga mereka tak akan melepaskan dirimu
begitu saja pada malam ini."
Long Jit-seng tertawa dingin.
"Sungguh tidak disangka Liu-tayhiap telah menyingkap
semua rahasiaku di hadapan umum."
"Itulah sebabnya kau harus membantu usaha kami
membekuk Thio Kim-ciok."
Long Jit-seng tertawa licik, "Oh, tentu saja…”

1226
Liu Khi tersenyum, dia melirik sekejap ke arah Biau-kosiu,
lalu ujarnya, " Nona Biau, sekarang kau boleh
melepaskannya."
Biau-kosiu mendengus dingin. Sambil mengendorkan
tangan kanannya ia berkata dingin, "Seharusnya sejak tadi
kau memerintahkan kepadanya untuk berbuat demikian."
Mendadak Liu Khi berseru dengan suara lantang,
"Dengarkan baik-baik saudara sekalian, sekarang Thio Kimciok
telah berada dalam ruang bawah tanah gedung ini yang
telah dilengkapi dengan alat-alat rahasia yang tangguh dan
kuat. Selama puluhan tahun terakhir ini, dia selalu mengeram
di situ untuk merawat lukanya, sampai dimanakah
ketangguhan alat-alat rahasianya serta rahasia apa yang
terkandung di balik semua ini, aku rasa kita harus masuk
sendiri serta menggalinya."
Baru saja Liu Khi selesai berkata, tiba-tiba dari balik
kegelapan malam berkumandang suara seorang tua yang
serak tapi lantang, "Apa yang diucapkan Liu Khi memang
benar. Di balik ruang bawah tanah dalam gedung ini memang
tersimpan banyak sekali rahasia, cuma kalian harus ingat,
tempat ini pun merupakan perangkap kematian yang bisa
menghabisi riwayat hidup kalian."
Beberapa patah kata itu bergema dengan lantang dan
dapat didengar oleh setiap jago dengan jelas, namun semua
orang hanya bisa mendengar suaranya tanpa berhasil melihat
sang pembicara.
Berubah hebat paras muka semua jago.
Tio Tian-seng segera menghardik dengan suara dalam,
"Siapakah kau? Harap sebutkan namamu."
Suara yang serak tapi nyaring itu tertawa terbahak-bahak,
"Aku adalah Thio Kim-ciok yang hendak kalian bekuk pada
malam ini. Pintu neraka menuju ke barisan Kui-kiong-pat-kwa

1227
telah terbuka lebar dan siap menyambut kalian, mengapa
kalian ragu-ragu memasukinya?"
Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui telah
mengenali suara itu, suara Thio Kim-ciok yang bermaksud
menantang sepuluh tokoh persilatan untuk berduel.
Perubahan yang berlangsung sangat tiba-tiba ini segera
membuat gedung itu diliputi suasana misterius, tegang dan
menyeramkan.
Sementara itu para jago telah melangkah menghampiri
bangunan yang roboh itu.
Ketika semua orang sudah melihat jelas keadaan di situ,
berubah hebat paras muka mereka.
Ternyata di atas bekas gedung yang megah dan
mentereng, kini telah muncul sebuah kuburan yang
mengerikan.
Di atas batu nisan di muka kuburan yang sangat besar dan
sangat aneh itu muncul sebuah pintu berbentuk rembulan, di
atasnya terpajang tujuh huruf besar berwarna merah darah:
"Kuburan umat persilatan Kiu-kiong-pat-kwa".
Di sebelah kiri dan kanan batu nisan itu terpancang pula
sepasang nisan yang bertuliskan:
"Pintu neraka menyambut umat manusia dengan tubuh
hancur tulang remuk naik ke surga."
Bergidik perasaan para jago menyaksikan semua ini, untuk
beberapa saat lamanya mereka hanya bisa mengawasi liang
kuburan yang terbuka lebar itu dengan mata terbelalak dan
wajah termangu.
Liong Oh-im berseru lantang, "Thio Kim-ciok, benarkah kau
berada di dalam liang kuburan itu?"

1228
Gelak tawa nyaring segera berkumandang, "Liong Oh-im,
aku memang berada di liang kuburan. Aku telah membuang
pikiran dan tenaga selama tiga puluh tahun untuk
mempersiapkan liang tempat peristirahatan yang paling
nyaman untuk kalian sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lanhiang
si perempuan rendah itu. Mengapa kalian tidak cepat
masuk kemari?"
Kalau tadi sepuluh tokoh persilatan yang masih hidup serta
Ho Lan-hiang amat bernapsu untuk menangkap Thio Kim-ciok,
maka sekarang setelah Thi Kim-ciok menantang mereka,
orang-orang itu malah ragu menyambut tantangan itu.
Semua orang tahu bahwa Thio Kim-ciok telah bertekad
hendak membalas dendam. Perangkap yang telah ia siapkan
selama tiga puluh tahun dengan susah-payah ini merupakan
sarang naga gua harimau yang amat berbahaya dan sukar
untuk dilewati.
Dengan suara setengah berbisik, Bong Thian-gak segera
bertanya kepada Thay-kun, "Sumoay, apakah kita akan turut
masuk ke dalam?"
"Tentu saja kita harus ikut masuk. Hanya saja, bila kita
sudah masuk ke dalam, mungkin tak akan bisa keluar lagi
untuk selamanya."
"Apa maksudmu berkata demikian?"
"Aku merasa tempat ini seperti juga apa yang dikatakan
Thio Kim-ciok tadi, merupakan kuburan yang paling besar
untuk mengubur jago-jago lihai dunia persilatan."
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, dugaan Sumoay memang benar, Thio Kim-ciok belum
dapat melupakan dendam sakit hati yang pernah dialaminya
tiga puluh tahun berselang. Ai, buat apa kita mesti ikut serta
dalam persoalan ini?"

1229
"Ya benar, kita memang tak usah melibatkan diri dalam
perselisihan itu, tapi perselisihan antara sepuluh tokoh
persilatan dengan Thio Kim-ciok pada malam ini, terutama
menang kalah mereka akan mempengaruhi nasib dan keadaan
persilatan di masa mendatang."
Sementara kedua orang itu masih berbincang-bincang,
kawanan jago lainnya secara beruntun telah memasuki pintu
di muka kuburan besar itu.
Liu Khi berjalan paling akhir, ketika kakinya baru saja akan
melangkah masuk, tiba-tiba ia menariknya kembali. Kemudian
sambil berpaling ke arah Bong Thian-gak sekalian, tanyanya
sambil tertawa, "Apakah kalian tidak bermaksud memasuki
kuburan umat persilatan?"
Thay-kun tertawa dingin.
"Setelah kau masuk nanti, kami bisa masuk sendiri."
"Bila kalian berniat ikut masuk, paling baik jika berjalan
mengikut di belakang kami. Kalau tidak, pasti akan sulit untuk
meneruskan perjalanan," kata Liu Khi sambil tertawa seram.
"Terima kasih atas maksud baikmu, silakan kau pergi lebih
dulu!"
Sementara itu dari balik liang kubur terdengar suara Tio
Tian-seng berteriak, "Liu Khi, semua orang sedang
menantikan kedatanganmu. Mengapa kau tidak segera masuk
ke dalam?"
Liu Khi tertawa terbahak-bahak, dia segera masuk ke dalam
liang kubur.
Waktu itu pintu neraka menuju ke kuburan masih terbuka
lebar, pada mulanya masih terdengar suara langkah kaki para
jago serta suara pembicaraan mereka, tapi lambat-laun
semakin jauh, makin jauh ... akhirnya tidak terdengar lagi
sedikit suara pun.

1230
Bong Thian-gak yang menjumpai keadaan itu menjadi
sangat terkejut, segera ujarnya, "Wah, liang kubur ini
nampaknya mempunyai lorong yang amat panjang dan
dalam."
Paras muka Thay-kun berubah juga, katanya pula, "Bila
seseorang berjalan di lorong bawah tanah, biarpun sudah
mencapai jarak sejauh satu li pun, seharusnya masih bisa
mendengar suara langkah kakinya. Tapi mereka baru masuk
selama seperempat jam, nyatanya suara mereka lenyap,
kejadian seperti ini benar-benar aneh sekali."
Belum lagi mereka selesai berkata, mendadak terlihat
seseorang berkelebat keluar dari balik liang kubur, tahu-tahu
seorang kakek berbaju hijau telah berdiri di depan pintu liang
kubur itu.
"Ah, Thio-locianpwe."
Ternyata orang tua yang berdiri di depan pintu liang kubur
itu tak lain adalah Thio Kim-ciok. Waktu itu ia berdiri dengan
wajah kereng dan serius, ujarnya tiba-tiba, "Bong-siauhiap,
bila bersedia menyembuhkan penyakit yang kuderita, silakan
ikut masuk ke dalam. Bila menolak, harap secepatnya pergi
meninggalkan tempat ini."
Satu ingatan segera melintas dalam benak Bong Thian-gak,
tanyanya dengan suara dalam, "Dengan cara apakah Thiolocianpwe
hendak menghadapi Liu Khi sekalian?"
Dengan wajah serius dan nada bersungguh-sungguh, Thio
Kim-ciok menjawab, "Agaknya sepuluh tokoh persilatan serta
Ho Lan-hiang telah bertekad membunuh diriku. Demi
melanjutkan hidup, terpaksa aku harus memberikan
perlawanan dengan sepenuh tenaga dan berjuang sampai titik
darah penghabisan."
"Apakah Locianpwe mempunyai kekuatan yang cukup
untuk menghadapi orang-orang itu?" kembali Bong Thian-gak
bertanya.

1231
"Sudah barang tentu kekuatan yang kumiliki tidak mampu
melawan kemampuan mereka, tapi sampai akhirnya hanya
Hek-mo-ong seorang yang akan berduel melawan diriku."
Sebelum Bong Thian-gak dapat menangkap arti di balik
perkataan Thio Kim-ciok itu, Thay-kun telah berhasil
menangkap arti ucapan itu, sambil menghela napas ia segera
berkata, "Jadi kalau begitu Thio-locianpwe benar-benar telah
memperalat kemampuan Hek-mo-ong untuk membunuh sisa
kesepuluh tokoh persilatan? Ai, apakah tindakan dan cara
yang ditempuh Thio-locianpwe ini tidak terlampau kejam?"
Hijau membesi wajah Thio Kim-ciok.
"Umpatan nona Thay-kun memang tepat sekali," sahutnya.
"Nah, katakan sekarang, apakah kalian bersedia membantuku?
Saat ini Hek-mo-ong telah berada di dalam kuburan untuk
membunuh sepuluh tokoh persilatan yang tersisa serta Ho
Lan-hiang, aku pun harus selekasnya mempersiapkan segala
sesuatunya."
Thay-kun menghela napas sedih.
"Kini badai pembunuhan sudah berada di depan mata,
apakah Thio-locianpwe bersedia mengungkap siapa gerangan
Hek-mo-ong yang sebenarnya?"
Thio Kim-ciok termenung dan berpikir beberapa saat,
setelah itu baru menghela napas panjang.
"Nona Thay-kun memang seorang nona yang cerdas dan
berotak encer, aku benar-benar merasa kagum atas
kepintaranmu itu. Memang benar, Hek-mo-ong adalah Liu
Khi."
"Hah, jadi benar adalah Liu Khi?" seru Bong Thian-gak
terperanjat.
"Ya, sejak tiga puluh tahun berselang, aku sudah tahu Liu
Khi adalah Hek-mo-ong."

1232
"Kalau Thio-locianpwe sudah mengetahui bahwa otak dari
semua kejahatan ini adalah Liu Khi, mengapa kau tidak secara
langsung mencarinya untuk membalas dendam?" tanya Bong
Thian-gak dengan suara keras.
Tiba-tiba Thio Kim-ciok mendongakkan kepala dan tertawa
tergelak dengan suara menyeramkan.
"Walaupun Liu Khi dan aku terikat dendam sakit hati
sedalam lautan, tapi sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lanhiang
pun punya dendam sakit hati denganku, aku sangat
membenci mereka, begitu benciku hingga bertekad akan
membasmi mereka satu per satu, tapi ... aku sudah tidak
memiliki kekuatan sedemikian besar, maka aku...”
Berbicara sampai di sini, suara Thio Kim-ciok terdengar
amat sedih, murung dan terputus-putus karena menahan
emosi.
Thay-kun menghela napas sedih, segera ujarnya pula,
"Maka Thio-locianpwe pun memperalat Hek-mo-ong Liu Khi
untuk membinasakan kesepuluh tokoh persilatan itu satu per
satu?"
Thio Kim-ciok mengangguk pelan.
"Ya, meskipun begitu, akhirnya Liu Khi akan turun tangan
juga terhadapku."
"Bukankah kau sangat berharap bisa membunuh Liu Khi?"
jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.
Thio Kim-ciok menghela napas sedih.
"Tapi yang pasti aku tak akan mampu menandingi Hek-moong
Liu Khi."
"Ai, selama tiga puluh tahun terakhir ini, aku harus
berusaha keras mengendalikan rasa dendam dan benciku yang
terbesar untuk bekerja sama dengan Liu Khi serta berusaha
melenyapkan sepuluh pesilat tangguh dari muka bumi ini.

1233
Terus terang kukatakan, aku memang sengaja mengulur
waktu agar luka yang kuderita bisa disembuhkan lebih dulu."
Mata Thio Kim-ciok yang sedih dan penuh duka itu
dialihkan ke Song Leng-hui. Itulah pandangan penuh harapan.
Hingga detik ini Bong Thian-gak baru mulai memperoleh
sedikit pengertian atas budi dendam serta musibah yang
terjadi dalam dunia persilatan selama ini, sesungguhnya
persoalan ini memang terlalu rumit dan memusingkan kepala.
Tentu saja yang patut dikasihani adalah mereka yang telah
keburu mati secara mengenaskan.
Satu masalah pelik yang dihadapi mereka sekarang, yaitu
apakah mereka harus membantu kakek yang berhati kejam
dan buas ini untuk mengembalikan kekuatannya sehingga ia
dapat memuaskan napsunya untuk membalas dendam sakit
hatinya?
Tapi seandainya mereka tidak membantu kakek ini untuk
memulihkan kembali kekuatannya, Hek-mo-ong Liu Khi pasti
akan membinasakan pula Thio Kim-ciok setelah ia berhasil
menghabisi nyawa Tio Tian-seng sekalian.
Tiba-tiba terdengar Thay-kun menghela napas panjang,
"Sudahlah, kami bersedia membantu memulihkan kembali
kekuatanmu itu."
Thio Kim-ciok amat gembira.
Sebaliknya paras muka Bong Thian-gak berubah hebat, ia
segera menegur, "Sumoay, apakah kita harus menyetujui
permintaannya?"
"Bicara soal dosa dan kekejaman, Hek-mo-ong Liu Khi otak
dari semua kekejian ini. Apabila kita berniat menyingkirkan
dalang semua kekejian dan kebuasan itu, maka kita harus
berbuat demikian. Hanya satu masalah yang dikuatirkan
adalah sehabis sembuh dari lukanya nanti, apakah Thiolocianpwe
benar-benar mampu melawan kekuatan Liu Khi."

1234
Thio Kim-ciok menghela napas panjang, "Sekalipun tidak
dapat membunuhnya, paling tidak aku mempunyai kekuatan
untuk beradu jiwa dengannya."
Mendadak Thay-kun berkata dengan serius, "Thiolocianpwe,
aku ingin mengucapkan sesuatu kepadamu, yaitu
Thian adalah maha pengasih dan penyayang, kecuali
menghadapi seorang buas yang dosanya sudah menumpuk
dan tidak terampuni lagi, kita harus menolong mereka yang
terancam bahaya."
"Kini Liu Khi telah memancing Tio Tian-seng sekalian para
jago memasuki kuburan itu serta membantai mereka secara
brutal. Apakah Thio-locianpwe akan berpeluk-tangan tanpa
berusaha menolongnya?"
Thio Kim-ciok menghela napas panjang.
"Ai, dendam sakit hatiku kepada mereka sudah mencapai
titik puncaknya, ibarat air dengan api, aku tak akan hidup
berdampingan lagi dengan mereka secara damai. Dengan
sendirinya mati hidup mereka pun tak usah kupusingkan lagi,
sebab daripada membiarkan mereka tetap hidup di dunia ini,
lebih baik membiarkan mereka saling gontok. Apakah nona
berniat memaksaku menyelamatkan mereka?"
"Aku tidak suruh Locianpwe pergi menolong mereka, kami
hanya minta kepada Locianpwe untuk menerangkan pintu
masuk dan keluar kuburan ini."
"Ai, baiklah! Mari kalian ikuti aku," ucap Thio Kim-ciok
kemudian sambil menghela napas.
Selesai berkata, ia membalikkan badan dan berjalan
kembali ke arah kuburan.
Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui segera
mengikut di belakangnya.
Terdengar Thio Kim-ciok yang berada di depan berkata lagi,
"Pintu masuk menuju ke kuburan Bu-lim-bong ini terbagi

1235
menjadi dua buah lorong yang masing-masing adalah lorong
kehidupan dan lorong kematian. Tadi lorong kematian sudah
ditutup, sedang jalan yang kita lalui sekarang adalah lorong
kehidupan."
"Perlu kalian ketahui, lorong kehidupan ini berada dalam
suasana gelap-gulita, tak nampak jari sendiri, ditambah
dengan perubahan Kiu-kiong-pat-kwa, maka akan timbul
kesan seperti munculnya badai, kilat, setan atau makhluk
aneh. Tapi kalian tak usah takut, kalian pun jangan berusaha
turun tangan memukul atau menyerang benda yang
dijumpai."
Belum selesai perkataan Thio Kim-ciok, Bong Thian-gak
sekalian telah mendengar timbulnya suara angin puyuh yang
menderu-deru, suara angin itu begitu dahsyatnya sehingga
menggidikkan siapa pun yang mendengar, bahkan seolah-olah
menggulung ke arah tubuh mereka.
Bong Thian-gak sekalian menjadi sangat terperanjat,
andaikata Thio Kim-ciok tidak berpesan lebih dulu, niscaya
mereka akan mundur.
Dengan membusungkan dada dan langkah lebar, Bong
Thian-gak meneruskan perjalanan ke depan. Anehnya,
walaupun mereka mendengar suara hembusan angin puyuh
yang menderu-deru dan memekakkan telinga, namun tubuh
mereka sama sekali tidak terasa seperti terhembus angin
puyuh.
Perubahan aneh yang sama sekali tak terduga ini benarbenar
sangat luar biasa, baru sekarang Bong Thian-gak
mengagumi betapa hebatnya ilmu Ngo-heng itu.
Pada saat itulah terdengar Thio Kim-ciok yang berada di
depan berkata, "Setelah hembusan angin lewat, hujan dan
guntur akan datang silih berganti, tapi semuanya hanya
khayalan belaka, kalian tak perlu merasa kuatir."

1236
Baru selesai peringatan itu diberikan, Bong Thian-gak
segera merasakan menyambarnya halilintar yang menusuk
mata di depannya, kemudian disertai ledakan guntur yang
menggelegar, terasa hujan turun dengan derasnya.
Padahal semuanya itu hanya merupakan khayalan belaka,
Bong Thian-gak merasa tubuhnya kering dan sama sekali tidak
ada setetes air pun yang membasahi tubuhnya, namun
telinganya justru menangkap suara air hujan yang turun
sangat deras.
Lama kelamaan Bong Thian-gak tak dapat mengendalikan
rasa ingin tahunya lagi, ia segera bertanya, "Thio-locianpwe,
sesungguhnya darimanakah datangnya suara khayalan itu?"
"Di sinilah letak kelihaian ilmu rahasia barisan Ngo-heng
serta Kiu-kiong-pat-kwa, padahal suara-suara khayalan itu
justru timbul dari dalam tubuh kita sendiri."
"Timbul dari dalam tubuh sendiri? Apa artinya?"
"Tak mungkin kujelaskan hal ini dalam waktu singkat. Nah,
hati-hatilah, bayangan setan yang lebih menakutkan akan
segera muncul, ingat baik-baik, jangan turun tangan
menyerang makhluk apa pun yang datang menyerang kalian!"
Baru selesai ia berkata, suara tangisan setan dan jeritan
kuntilanak bergema silih berganti.
Bersamaan Bong Thian-gak seolah-olah melihat munculnya
kepala setan berambut panjang dan berwajah bengis
menyeramkan menerjang ke arahnya.
Andaikata Thio Kim-ciok tidak berpesan sekali lagi, sudah
pasti Bong Thian-gak akan menyingkir jauh-jauh dari situ.
Benar juga, ternyata bayangan setan yang menerkam
datang tadi hanya khayalan semu belaka.
Dengan perasaan terkejut bercampur keheranan Bong
Thian-gak segera bertanya, "Thio-locianpwe, jika aku turun

1237
tangan melancarkan serangan atau menghindar ke samping,
apakah akibat yang akan terjadi?"
"Bong-laute, kau juga jangan bergurau secara
sembarangan," seru Thio Kim-ciok dengan perasaan gelisah,
"bila kau bergerak hingga rubuhmu menyentuh alat rahasia,
maka tubuhmu akan terseret masuk ke dalam lorong
kematian."
"Bukankah Tio Tian-seng sekalian masih berada di dalam
lorong kematian sekarang?"
"Benar, sejak memasuki kuburan Bu-lim-bong tadi, mereka
sudah menempuh jalan yang salah, yaitu lorong kematian."
"Apa yang bakal terjadi bilamana seorang berjalan melalui
lorong kematian?"
"Bila orang yang memasuki lorong kematian itu tidak
menguasai perubahan Kiu-kiong-pat-kwa, maka selama hidup
dia tak akan bisa kembali dalam keadaan selamat, apalagi
keluar dari kuburan Bu-llm bong ini."
"Kalau begitu, seandainya Tio Tian-seng sekalian tidak
memahami rahasia perubahan Kiu-kiong-pat-kwa, maka
selama hidup dia akan terkurung di dalam lorong kematian
itu?"
"Hek-mo-ong telah bertekad akan membunuh seluruh
orang di dalam kuburan Bu-lim-bong ini, aku rasa nasib
mereka lebih banyak bencananya daripada selamat."
"Tio Tian-seng Locianpwe mempunyai hubungan yang
paling akrab denganku, aku tak bisa membiarkan mereka
tewas terbunuh tanpa berusaha menolongnya."
Di tengah pembicaraan itu, Bong Thian-gak segera
mengerahkan tenaga pukulannya dan membacok ke sisi
kirinya.

1238
Baru saja dia akan melancarkan pukulan, Thio Kim-ciok
telah menyadari perbuatannya itu, ia segera menjerit kaget,
"Jangan kau lakukan...”
Dengan cepat dia menggerakkan tangannya balas
mencengkeram tangan pemuda itu.
Tahu-tahu serangan yang dilancarkan Bong Thian-gak
sudah menghantam di dinding batu itu
Di tengah suara ledakan keras yang memekakkan telinga,
Bong Thian-gak merasakan permukaan tanah dimana ia
berdiri terasa berputar kencang, tidak bisa ditahan lagi
tubuhnya segera terjatuh ke sisi kanan
Bersamaan waktunya pula Bong Thian-gak mendengar
Thay-kun berteriak, "Bong-suheng, apa yang hendak kau
lakukan?"
Walaupun Bong Thian-gak tak bisa mengendalikan
keseimbangan tubuhnya lagi hingga berputar dan terjatuh ke
kanan, namun kesadaran pikirannya masih tetap utuh.
Mendengar teriakan itu, ia segera menyahut dengan lantang,
"Aku hendak menyelamatkan jiwa Tio Tian-seng sekalian,
kalian segera mendesak Thio Kim-ciok."
Belum habis perkataan itu, kembali terdengar suara
ledakan keras menggelegar, tubuh Bong Thian-gak terjerumus
ke dalam sebuah jurang yang tak nampak dasarnya, angin
tajam terasa menderu di sekelilingnya.
Berada dalam keadaan begini, Bong Thian-gak tak sanggup
melanjutkan perkataannya lagi, cepat dia menghimpun tenaga
dalam untuk memperingan bobot tubuhnya agar dirinya yang
sedang meluncur ke bawah bisa bergerak lebih lamban.
Tiba-tiba saja Bong Thian-gak merasakan kaki telah
menyentuh permukaan tanah, suasana di sekitar sana terasa
hening, suasana gelap mencekam sekelilingnya membuat
kelima jari sendiri pun tak terlihat.

1239
Baru sekarang Bong Thian-gak merasa sangat menyesal,
dia menyesal karena bertindak gegabah hingga terperosok ke
tempat itu.
Di samping itu dia pun merasa amat terkejut bercampur
keheranan terhadap peralatan ganda dalam kuburan Bu-limbong
yang mempunyai perubahan sedemikian rupa, ia tidak
habis mengerti apa sebabnya serangan yang dilancarkan
olehnya tadi bisa mengalihkan dirinya sampai ke tempat
semacam ini.
Di tengah keheningan yang mencekam, tiba-tiba Bong
Thian-gak menangkap suara langkah kaki berjalan mendekat
dari hadapannya.
Diam-diam Bong Thian-gak menghimpun tenaga murninya
sambil bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Sementara itu suara langkah kaki tadi makin mendekat.
Bong Thian-gak dapat menangkap suara langkah itu terdiri
dari dua orang.
"Siapa di situ?" Bong Thian-gak segera membentak.
Tapi begitu suara teguran diutarakan, Bong Thian-gak
segera merasakan datangnya dua gulung desingan senjata
rahasia yang amat tajam ke arah tubuhnya.
Walaupun Bong Thian-gak dalam lorong bawah tanah yang
gelap, namun sepasang telinganya sangat tajam, serta-merta
dia menggerakkan tubuhnya dan bergeser ke sisi sebelah
kanan.
Baru saja tubuhnya berdiri tegak, dua orang itu telah
menerjang dari kiri dan kanan dengan kecepatan luar biasa,
bahkan melancarkan serangan bersama-sama.
"Siapa di situ?" kembali Bong Thian-gak membentak. "Bila
tidak menyebutkan nama kalian, jangan salahkan bila aku
menyerang secara keji."

1240
Sekali lagi anak muda itu berkelebat menghindar ke sisi
sebelah kiri.
Agaknya kedua orang yang gagal dalam serangannya itu
merasa terperanjat sekali, serentak mereka menghentikan
serangannya.
Dalam pada itu jarak antara kedua belah pihak sudah
dekat, Bong Thian-gak dapat mendengar dengan jelas suara
napas kedua orang yang berada di hadapannya itu sangat
berat disertai suara rintihan dan dengusan tertahan.
Dengan perasaan terkejut bercampur keheranan Bong
Thian-gak segera bertanya lagi, "Kenapa kalian? Apakah
terluka?"
Setelah suara rintihan dan hembusan napas memburu agak
mereda, terdengar orang itu menjawab dengan suara parau,
"Kau adalah orang Thio Kim-ciok ataukah salah seorang di
antara para jago yang memasuki kuburan Bu-lim-bong ini?"
Sekarang Bong Thian-gak sudah dapat melihat wajah
kedua orang yang berada di hadapannya ini, walaupun secara
lamat-lamat. Dia berseru tertahan, lalu bergerak lebih ke
depan, tegurnya segera, "Bukankah kalian berdua adalah anak
buah Biau-kosiu ... Biau-han-thian suami-istri?"
Benar, kedua orang itu memang kedua anak buah Biaukosiu,
lelaki dan perempuan kekar bermata tunggal itu.
Tampaknya Biau-han-thian suami-istri masih belum
mengenali Bong Thian-gak, segera bentaknya, "Berhenti! Jika
kau berani maju selangkah lagi, kedua puluh empat peluru
emas akan kami lancarkan secara bersama."
Bong Thian-gak menghentikan langkah, lalu berseru lagi
dengan lantang.
"Aku adalah Jian-ciat-suseng, apakah kau masih belum
mengenali diriku?"

1241
Biau-han-thian suami-istri berseru tertahan, lalu berkata,
"Ya benar, kau adalah Jian-ciat-suseng, tapi kau adalah teman
atau musuh?"
Bong Thian-gak tertawa ringan, "Aku adalah sahabat
kalian, senasib sependeritaan yang sama-sama berkurung di
dalam Bu-lim-bong ini."
Biau-han-thian segera mendengus, "Hm, selagi berada di
halaman tadi, kau berpihak kepada Thio Kim-ciok. Selama
berada dalam kuburan Bu-lim-bong, kau pun termasuk salah
satu pembantu untuk membunuh para jago. Hm! Hari ini, kami
akan mengadu jiwa denganmu."
"Tunggu dulu!" bentak Bong Thian-gak dengan suara
keras.
"Apalagi yang hendak kau katakan?" seru Biau-han-thian
sambil tertawa seram.
"Apa yang menyebabkan kalian terluka? Dimanakah Biaukosiu
serta para jago lainnya?" tanya pemuda itu dengan
suara dalam.
Biau-han-thian tertawa seram, "Apa yang mengakibatkan
kami terluka? Masakah kau belum tahu? Apalagi kalau bukan
dilukai oleh begundal-begundalmu."
"Tutup mulutmu!" bentak Bong Thian-gak sambil berkerut
kening. "Sekarang kalian sudah termakan oleh siasat busuk
Hek-mo-ong. Keselamatan jiwa kalian terancam, masakah
kalian belum menyadari akan hal ini? Dimanakah para jago
lainnya saat ini? Harap kau segera mengajakku ke sana."
Mendadak Biau-han-thian tertawa seram, "Aku tidak bakal
mengajakmu ke sana. Kami suami-istri bisa bertemu dengan
kau saat ini, hitung-hitung kami lagi sial. Jika kau memang
berkepandaian, ayo cepatlah bunuh kami berdua."

1242
Sekarang Bong Thian-gak sudah tahu bahwa kedua orang
itu telah salah mengira dia sebagai musuh. Padahal dalam
keadaan seperti ini, ia tak bisa merubah sikap serta
pandangan mereka yang keliru itu, tapi bila dilihat dari
keadaan Biau-han-thian suami-istri yang menderita luka, bisa
diduga Liu Khi sudah mulai melakukan pembantaian secara
besar-besaran.
Tindakan paling baik sekarang adalah secepatnya
menemukan para jago dan menyingkap tabir rahasia bahwa
Liu Khi adalah Hek-mo-ong.
Sementara dia masih termenung memikirkan persoalan itu,
tiba-tiba Biau-han-thian suami-istri telah menerjang datang
lagi dari sisi kiri dan kanan.
Bong Thian-gak segera membentak, tubuhnya bagai
gangsingan segera berputar, serunya, "Dengarkan baik-baik
kalian berdua! Liu Khi adalah Hek-mo-ong, dalang semua
kekejaman dan kekejian selama ini, dia sengaja memancing
para jago memasuki kuburan Bu-lim-bong ini tak lain
bertujuan untuk membunuh setiap jago lihai persilatan. Apa
yang aku ucapkan ini adalah sesungguhnya dan fakta, percaya
atau tidak terserah kepada kalian sendiri!"
Selesai mengucapkan perkataan itu, Bong Thian-gak segera
menyelinap ke samping dan melanjutkan perjalanannya
menuju ke arah depan.
Waktu itu Biau-han-thian suami-istri sudah menderita luka
parah sehingga sama sekali tak berkekuatan lagi untuk
mengejar Bong Thian-gak, namun kata-kata Bong Thian-gak
sebelum pergi serta tindakan si anak muda yang tidak
membunuh mereka, membuat kedua orang itu merasa curiga
bercampur ragu, tanpa terasa pikirnya, "Mungkinkah dia
adalah orang baik-baik?"
Suasana di dalam lorong bawah tanah itu gelap-gulita dan
lembab, dengan langkah cepat Bong Thian-gak bergerak

1243
maju, namun masih belum juga ditemukan ujung lorong
bawah tanah itu.
Tiba-tiba hati Bong Thian-gak bergetar keras, ia teringat
lorong bawah tanah ini ada beberapa bagian mirip lorong
bawah tanah Kiu-kiong-mi-hun-to di dalam kuil Sam-cingkoan.
Bagi orang yang tidak memahami kunci rahasia lorong
itu, walaupun sudah berjalan pulang pergi akhirnya kembali
lagi ke posisi semula.
Teringat sampai di sini, hatinya menjadi bergidik, segera
pikirnya lagi, "Aduh celaka! Thio Kim-ciok pernah bilang,
lorong kematian di dalam kuburan Bu-lim-bong ini dibangun
menurut perubahan barisan Kiu-kiong-pat-kwa. Bagi mereka
yang tak memahami kunci rahasia ilmu barisan itu, dengan
cara apakah baru dapat keluar dari tempat ini?"
Sementara dia masih termenung memikirkan hal itu,
mendadak dari kejauhan sana terdengar suara seseorang
sedang menghela napas sedih.
Secepat kilat Bong Thian-gak segera bergerak ke muka
mendekati sumber suara itu, segera tegurnya, "Siapa yang
berada di depan?"
Bong Thian-gak memiliki sepasang mata tajam, ia bisa
melihat ada seseorang dengan sepasang mata tajam sedang
berdiri bersandar di dinding lorong di hadapannya. Tampak
orang itu menggenggam sebatang senjata yang pendek
bentuknya.
Ketika melihat kedatangan Bong Thian-gak, orang itu
segera menggerakkan senjatanya langsung menusuk ke dada
lawan dengan kecepatan luar biasa serta keganasan yang
menggidikkan.
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Bong Thiangak,
ia masih ingat di antara kawanan jago yang memasuki
kuburan Bu-lim-bong ini, tak seorang pun yang
mempergunakan senjata pendek macam begini.

1244
Orang itu sudah pasti adalah pembunuh yang telah
disiapkan Hek-mo-ong Liu Khi sebelumnya untuk menyergap
dan membunuh para jago yang kebetulan lewat di situ.
Berpikir begitu Bong Thian-gak segera membentak,
rubuhnya bergerak ke muka dengan kecepatan tinggi dan
menerobos lewat dari bawah cahaya kilat senjata pendeknya,
kemudian tangan kanannya bergerak cepat dan menghantam
pergelangan tangan kanan lawan yang menggenggam senjata
itu.
Jerit kesakitan segera bergema, pergelangan tangan kanan
orang itu segera termakan oleh bacokan tangan Bong Thiangak
yang tajam bagaikan golok itu hingga patah.
Sekalipun Bong Thian-gak sendiri berlengan tunggal,
namun perubahan jurus serangannya amat cepat dan boleh
dibilang nomor wahid di dunia ini.
Terlihat pergelangan tangan kirinya membalik dengan
cepat, tahu-tahu kelima jarinya sudah mencengkeram jalan
darah kaku di bahu orang itu.
Dengan dicengkeramnya jalan darah kaku di bahu, pada
hakikatnya orang itu tak bisa berkutik lagi.
"Apakah kau sudah bosan hidup?" hardik Bong Thian-gak.
Tampaknya orang itu menderita kesakitan yang luar biasa,
dia merintih tiada hentinya, tapi segera sahutnya, "Bagaimana
kalau masih ingin hidup? Bagaimana pula kalau sudah bosan
hidup?"
Baru sekarang Bong Thian-gak dapat melihat bahwa orang
itu seorang kakek yang telah berusia lanjut, dia tertawa
dingin, "Bila ingin hidup, turuti semua perintahku tanpa
membantah. Kalau sudah bosan hidup, cukup tanganku
digerakkan ke bawah dan menghantam nadi penting di atas
tengkukmu, nyawamu pasti akan dibereskan dengan segera."

1245
"Daripada hidup menderita, lebih baik aku minta kematian
yang cepat," kata kakek itu lagi setengah merintih.
"Tapi sayang, aku tak akan membiarkan kau mati dalam
waktu singkat," jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.
Kakek itu mendengus, "Hm, dari usiamu yang masih muda,
tidak kusangka hatimu begitu keji dan buas."
Untuk sesaat Bong Thian-gak menjadi tertegun, segera
ujarnya lagi, "Kau menyergapku secara tiba-tiba dari balik
kegelapan, apakah tindakanmu ini bukan merupakan suatu
perbuatan yang kejam?"
Bantahan itu membungkamkan si kakek.
Kembali Bong Thian-gak berkata dengan suara dingin, "Ayo
cepat mengaku, apakah kau adalah begundal Hek-mo-ong?"
"Siapa itu Hek-mo-ong? Aku tidak tahu, kami hanya
mengetahui pemilik kuburan Bu-lim-bong ini adalah Thio Kimciok."
"Kalau begitu kau adalah anak buah Thio Kim-ciok?" tanya
Bong Thian-gak dengan perasaan terkesiap.
Sambil mengertak gigi menahan emosi, kakek itu berkata,
"Bukan, kami bukan anak-buah si orang edan itu."
"Lantas kau berasal dari aliran mana?" tanya Bong Thiangak.
"Kami adalah orang-orang mengenaskan yang dikurung
oleh orang edan itu selama puluhan tahun di dalam Bu-limbong
ini."
"Apa? Jadi kau pun dicelakai oleh Thio Kim-ciok?" Bong
Thian-gak terkejut.
"Benar, Thio Kim-ciok sudah dua puluh tahun mengurung
kami di dalam Bu-lim-bong ini. Siksaan lahir-batin dalam

1246
jangka waktu yang begini panjang membuat sebagian orangorang
kami menjadi orang yang tak waras lagi otaknya."
Bong Thian-gak sungguh merasa terkejut bercampur
keheranan, kembali dia bertanya, "Apa sebabnya Thio Kimciok
mengurung kalian di dalam Bu-lim-bong ini?"
"Kami sendiri pun tidak tahu apa sebabnya dia mengurung
kami di sini."
"Lantas berapa banyak rekan-rekanmu yang ikut disekap
oleh Thio Kim-ciok di tempat ini?" tanya Bong Thian-gak lagi
agak tertegun. "Semua berjumlah tujuh puluh dua orang."
"Apakah ketujuh puluh dua orang ini semuanya adalah
orang-orang persilatan?"
"Ya, tentu saja mereka semua adalah jago persilatan."
Setelah berhasil mengetahui rahasia yang sangat aneh itu,
Bong Thian-gak merasa kaget, dia tidak habis mengerti
mengapa Thio Kim-ciok menyekap kawanan jago persilatan
itu.
"Bagaimana ceritanya sehingga kalian dapat disekap di
sini?" tanya Bong Thian-gak.
Sambil berkata, ia kendorkan cengkeramannya atas
pergelangan tangan kakek itu.
Kakek itu memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak,
lalu setelah menghela napas panjang, katanya dengan nada
suara yang amat sedih, "Ai, hal ini terjadi pada dua puluh
empat tahun berselang, aku she Kim bernama Toa-hay,
sesungguhnya aku adalah seorang Piausu dari perusahaan Anwan-
piau-kiok di wilayah Ho-pak. Suatu hari aku telah
mengawal sejumlah barang yang diterima perusahaan, tetapi
secara aneh tahu-tahu sudah ditawan ke tempat ini. Sejak
memasuki kuburan Bu-lim-bong ini, tak pernah ada harapan
lagi bagi kami untuk keluar dari sini."

1247
"Siapakah pemilik barang yang kau kawal waktu itu?" tanya
Bong Thian-gak.
"Tentu saja pemilik barang kawalan kami adalah Thio Kimciok!"
Hingga kini Bong Thian-gak belum juga mengerti apa
sebabnya Thio Kim-ciok mengurung orang-orang itu di dalam
Bu-lim-bong, ia menggeleng sambil menghela napas, lalu
katanya, "Kim-piauthau, apa sebabnya kau membokongku
tadi?"
"Sebab aku mengira kau adalah komplotan Thio Kim-ciok."
"Kalau begitu, kalian benar-benar amat membenci Thio
Kim-ciok?"
Mendadak Kim Toa-hay tertawa seram, "Siapa bilang tidak
membencinya? Tanpa sebab-musabab Thio Kim-ciok telah
menyekap kami sepanjang tahun di dalam neraka dunia yang
tak kelihatan matahari ini, membuat kami semua harus jauh
dari rumah, berpisah dengan anak istri dan sanak keluarga.
Dendam sakit hati kami sudah begitu mendalam, kalau bisa
kami ingin mendahar dagingnya dan menghirup darahnya."
Kembali Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai
betul, walaupun Thio Kim-ciok tidak mencelakai jiwa kalian,
tetapi telah menghancurkan masa depan kalian. Ai, siksaan
hidup semacam ini pada hakikatnya memang lebih berat
daripada kematian."
"Tapi apa sebabnya Thio Kim-ciok bersikap begitu kejam
dan tidak berperi-kemanusiaan terhadap kalian?"
Tiba-tiba terdengar Kim Toa-hay berseru tertahan, lalu
tanyanya dengan cepat, "Anak muda, bagaimana caramu
memasuki Bu-lim-bong ini?"
Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba saja Bong Thian-gak
teringat kembali dengan tugas dan kewajibannya memasuki
Bu-lim-bong itu, maka katanya kemudian, "Kim-piauthau, aku

1248
hendak memberitahukan satu hal padamu, di Bu-lim-bong ini
segera akan dilangsungkan suatu pembantaian secara besarbesaran
dan kejam. Saat ini di sini telah hadir seorang yang
bernama Hek-mo-ong, manusia itu bermaksud hendak
membunuh sejumlah jago lihai, ia telah memancing banyak
jago lihai memasuki Bu-lim-bong ini pada setengah jam
berselang. Berhubung aku mendapat tahu intrik busuk Hekmo-
ong, maka aku bergerak menyusul kemari dengan tujuan
hendak menyelamatkan jiwa pada jago itu."
"Yang menjadi Hek-mo-ong pastilah Thio Kim-ciok, si orang
edan itu," teriak Kim Tao-hay.
"Dugaanmu keliru besar," Bong Thian-gak menggeleng.
"Yang menjadi Hek-mo-ong bukan Thio Kim-ciok. Sekarang
kau tak usah mencampuri urusan itu, aku ingin memohon
sesuatu bantuan dari Kim-piauthau. Bila nasibku memang
baik, aku yakin tak lama kemudian Kim-piauthau bisa
meninggalkan kuburan Bu-lim-bong serta kembali ke alam
bebas."
Kim Toa-hay termenung sambil berpikir beberapa saat
lamanya, lalu bertanya, "Bantuan apakah yang kau harapkan
dariku?"
"Sudah dua puluh tahun Kim-piauthau berdiam di dalam
Bu-lim-bong ini, aku rasa kau pasti sudah hapal lorong rahasia
dalam Bu-lim-bong ini. Karena itu, aku berharap Kim-piauthau
suka membawaku berjalan-jalan melalui lorong rahasia yang
terdapat di sini."
"Baik, aku menyanggupi permintaanmu itu," jawab Kim
Toa-hay dengan cepat.
"Urusan ini tak bisa ditunda lagi, mari kita segera
berangkat."
Ketika Kim Toa-hay hendak menggerakkan rubuhnya,
tulang pergelangan tangan kanannya segera terasa amat sakit
sehingga tanpa terasa dia merintih kesakitan.

1249
Melihat hal ini, Bong Thian-gak merasa sangat menyesal,
karena sudah turun tangan kelewat berat sehingga
mematahkan tulang pergelangan tangannya.
Setelah menghela napas, katanya, "Kim-piauthau, sekarang
akan kutotok dulu jalan darah di atas lengan kananmu
sehingga akan mengurangi rasa sakit yang kau derita. Setelah
berhasil lolos dari Bu-lim-bong ini, pasti akan kucarikan akal
untuk mengobati luka pada pergelangan tanganmu itu."
Seraya berkata dia segera turun tangan secepat kilat
menotok semua jalan darah penting di atas lengan kanannya.
Dengan begitu lengan itu berubah menjadi lemas, mati rasa
dan sama sekali tak berfungsi lagi.
Baru sekarang Kim Toa-hay tahu bahwa Bong Thian-gak
hanya memiliki sebuah lengan, tanpa terasa dia menghela
napas, "Anak muda, rupanya kau pun cacat?"
"Ya, aku adalah seorang cacat, aku bernama Bong Thiangak,"
kata pemuda itu sambil tertawa getir.
Baru selesai dia berkata, mendadak dari balik lorong
rahasia itu secara lamat-lamat dia mendengar suara jerit
kesakitan dan teriakan kalap yang bergema.
Suara itu tidak terlalu keras, namun nadanya amat
mengenaskan dan penuh perasaan ngeri, bagaikan jeritan
setan di tengah malam buta, membikin bulu kuduk siapa pun
berdiri bila mendengarnya.
Dengan terkejut Bong Thian-gak bertanya, "Suara apakah
itu?"
Kim Toa-hay memasang telinga pula mendengarkan suara
itu dengan seksama, tiba-tiba paras mukanya hebat.
"Ah, ada orang sedang membantai saudara-saudaraku,
mari kita segera berangkat!"

1250
Seusai berkata, ia telah membalikkan badan dan beranjak
pergi dari sana.
Bong Thian-gak segera mengikut di sampingnya, dalam
perjalanan ia bertanya, "Saudaramu? Siapakah saudaramu
itu?"
"Rekan-rekan yang disekap di tempat ini bersamaku."
Bong Thian-gak terkejut, katanya, "Ya benar, seandainya
kawanan jago yang memasuki Bu-lim-bong bertemu dengan
rekan-rekanmu itu, sudah pasti akan timbul kesalah pahaman
yang berakibat timbulnya pertarungan. Ayo cepat! Kita harus
ke sana secepatnya."
Saat itu Kim Toa-hay nampak amat gelisah dan cemas, dia
berlari dengan kecepatan tinggi.
Setelah melalui tiga buah tikungan, mendadak di depan
sana muncul setitik cahaya lentera, jeritan ngeri dan teriak
kesakitan yang bergema tadi ternyata berasal dari situ. Suara
jeritan masih terdengar, bahkan jauh lebih jelas, keadaan di
situ masih kalut dan seru.
Bong Thian-gak tak dapat menahan diri lagi, mendadak ia
menyambar lengan kiri Kim Toa-hay, lalu secepat sambaran
kilat berkelebat menuju ke depan.
Setelah keluar dari lorong bawah tanah, tempat itu berupa
sebuah ruangan yang luas, saat itu ruangan itu telah berubah
menjadi lautan darah, mayat bergelimpangan di atas lantai
mendatangkan suatu pemandangan yang sangat mengerikan.
Beberapa buah lentera minyak tertempel di empat penjuru
dinding menerangi suasana dalam ruangan itu dengan jelas.
Waktu itu dua orang jago lihai berpedang sedang bertarung
seru melawan sekelompok orang aneh berambut panjang,
berpakaian compang-camping serta berwajah tujuh bagian
mirip setan.

1251
Kawanan orang aneh itu menyerang dengan buas, ganas
dan menyeramkan. Tapi berhubung ilmu silat yang mereka
miliki masih selisih jauh bila dibandingkan dengan kedua orang
lawannya, maka setiap kali kedua orang itu mengayun
pedangnya, seperti memotong sayur saja, batok kepala segera
menggelinding dan jeritan mengerikan mencekam perasaan.
"Tio-pangcu, Liong-tayhiap, hentikan pembantaian itu!"
Waktu itu Bong Thian-gak telah melihat dengan jelas kedua
pendekar itu tak lain adalah Tio Tian-seng serta Liong Oh-im.
Sambil membentak, ia segera melompat maju ke muka.
Ketika mendengar bentakan itu, Tio Tian-seng dan Liong
Oh-im segera menarik kembali pedang masing-masing dan
mundur beberapa langkah ke belakang.
Akan tetapi puluhan orang aneh berambut panjang yang
berada di hadapan mereka kembali berteriak aneh dan sambil
mementang cakar mautnya menerjang maju lagi secara kalap.
Terlihat jelas betapa murkanya Liong Oh-im terhadap
kawanan orang aneh itu, dia membentak dan pedangnya
sekali lagi melancarkan bacokan maut ke depan.
Bong Thian-gak yang melihat hal ini, segera berteriak,
"Hentikan pembantaian itu, mereka bukan orang jahat!"
Sambil mengendorkan kempitannya atas Kim Toa-hay,
Bong Thian-gak melejit ke udara sambil menyambar ke depan,
tapi sayang sudah terlambat.
Serangan Liong Oh-im yang dilancarkan sepenuh tenaga itu
benar-benar amat dahsyat, apalagi belasan orang aneh itu
sedang menyerbu ke depan secara bersama-sama.
Dimana cahaya pedangnya berkelebat, sebelas orang aneh
itu roboh bergelimpangan ke atas tanah, semburan darah
segar memancar kemana-mana bagaikan sumber mata air.

1252
Merah berapi-api sepasang mata Kim Toa-hay menyaksikan
peristiwa itu, dia meraung keras, lalu menubruk ke arah Liong
Oh-im dari belakang.
Waktu itu Liong Oh-im sudah setengah kalap, dia segera
memutar ujung pedangnya dan menyongsong datangnya
terjangan Kim Toa-hay.
Melihat kejadian ini, Bong Thian-gak segera membentak,
"Liong-tayhiap, tindakanmu kali ini sungguh kelewat keji dan
buas!"
Dari tengah udara Bong Thian-gak mengayun tangan
kirinya serta melepaskan sebuah bacokan ke depan.
Angin pukulan yang dahsyat seperti amukan ombak di
tengah samudra langsung menyapu ke depan dengan
hebatnya.
Terhadang oleh angin pukulan yang begitu kuat, tubuh
Liong Oh-im yang sedang menerjang ke muka itu segera
terhenti dan sukar untuk maju barang selangkah pun, akan
tetapi ia tidak berdiam diri saja, ujung pedangnya segera
diputar, lalu menusuk Bong Thian-gak dengan jurus naga sakti
mengibas ekor.
Bong Thian-gak membentak gusar, tubuhnya segera
melayang turun ke atas tanah, kemudian dengan cekatan
menggelincir maju ke muka, telapak tangannya menerobos
lewat bawah cahaya pedangnya yang berkilauan, lalu secara
ganas dan dahsyat menghantam dada Liong Oh-im.
Serangan yang sangat kuat dan dahsyat ini mendesak
Liong Oh-im, mau tak mau ia harus menarik pedangnya sambil
menyurut mundur, tapi saat itulah Kim Toa-hay telah berhasil
menyelinap maju dari belakang dan melepaskan sebuah
jotosan yang keras ke punggung lawan.
Tak ampun lagi punggung Liong Oh-im termakan oleh
pukulan Kim Toa-hay yang amat keras itu.

1253
Untung saja tenaga dalam yang dimiliki Liong Oh-im cukup
kuat dan sempurna. Biarpun begitu, jotosan Kim Toa-hay
cukup membuatnya semakin kalap.
"Bajingan busuk, kau ingin mampus rupanya!" ia
mengumpat dengan penuh gusar.
Kelima jari tangan kirinya dipentang lebar segera
menyambar ke belakang dan persis mencengkeram
pergelangan tangan kiri Kim Toa-hay.
Dengan gerakan cepat bagaikan kilat, Liong Oh-im segera
membalik pedangnya langsung digorokkan ke leher Kim Toahay.
Walau urat nadi penting pada pergelangan tangan kiri Kim
Toa-hay sudah dicekal sehingga seluruh tubuh tidak memiliki
kekuatan untuk melawan lagi. Melihat datangnya sambaran
pedang yang langsung menggorok ke arah lehernya, dia tidak
dapat berbuat banyak kecuali mengejangkan wajah yang
penuh penderitaan dengan pancaran amarah yang meluapluap.
Pada saat yang kritis itulah, terdengar Bong Thian-gak
menjerit kaget, "Tahan!"
Sambil berseru, ia segera mengeluarkan ilmu Kim-na-jiuhoat
tingkat tinggi, dia pergunakan jepitan kedua jari
tangannya untuk menahan tusukan pedang Liong Oh-im.
Tindakan nekat yang dilakukan Bong Thian-gak itu kontan
saja membuat kaget Tio Tian-seng serta Liong Oh-im.
Mimpi pun, mereka tidak menyangka Bong Thian-gak
berani mengeluarkan tindakan semacam ini secara berani.
Liong Oh-im tertawa dingin, sambil mengerahkan tenaga
dalam ke batang pedang, dia memilin pedangnya, lalu
digesekkan lebih ke belakang.

1254
Dalam keadaan begini, seandainya Bong Thian-gak tidak
segera melepas tangan, niscaya pergelangan tangannya akan
tersayat putus.
Sebaliknya jika Bong Thian-gak mengendorkan
cengkeraman, sudah pasti Kim Toa-hay tak dapat lolos dari
bencana itu dan termakan oleh tusukan maut ini.
Dalam keadaan kritis dan sangat berbahaya inilah, tiba-tiba
Bong Thian-gak membentak, dia segera mengeluarkan ilmu
simpanannya yang paling dahsyat.
Kaki kanannya secepat sambaran kilat tahu-tahu
menendang urat nadi penting pada pergelangan tangan kanan
Liong Oh-im.
Sekalipun Liong Oh-im termasuk jago lihai dunia persilatan,
namun sulit baginya untuk menghindarkan diri dari tendangan
kilat yang dilancarkan Bong Thian-gak itu.
Seketika pedangnya tertendang hingga mencelat,
menancap di atas dinding lorong rahasia itu. Sedemikian
kerasnya tenaga serangan itu, terlihat betapa kerasnya
getaran pedang itu setelah tertancap pada dinding gua.
Muka Liong Oh-im berubah hijau membesi, secara beruntun
dia mundur tiga-empat langkah, lalu bentaknya, "Jian-ciatsuseng,
hari ini jika bukan kau yang mati, biarlah aku yang
mampus!"
Sembari berseru, dengan kecepatan bagai kilat ia
mengeluarkan kipas kumalanya dari saku.
Cepat Bong Thian-gak berseru, "Tunggu dulu Liongtayhiap,
harap kau suka mendengarkan penjelasanku lebih
dahulu."
Dalam pada itu Tio Tian-seng telah berjalan mendekat
dengan pedang terhunus. Dilihat dari sikapnya waktu itu, jelas
jago ini berdiri sepihak dengan Liong Oh-im.

1255
Sebaliknya Kim Toa-hay berdiri dengan wajah murung dan
penuh rasa dendam, berulang kali dia bermaksud menerjang
lagi ke depan.
Untung saja niat itu segera dicegah oleh Bong Thian-gak,
serunya sambil menarik tangan, "Kim-piauthau, kau bukan
tandingannya."
Dengan menahan tangis Kim Toa-hay berteriak, "Kalian
telah membunuh saudara-saudaraku senasib sependeritaan
yang telah hidup selama dua puluh tahun di tempat ini. Aku ...
aku akan membalas dendam."
Memandang mayat yang bergelimpangan di atas tanah,
tanpa terasa hati Bong Thian-gak terasa kecut dan turut
melelehkan air mata.
Setelah menghela napas sedih, katanya kemudian, "Liongtayhiap,
terlalu kejam kalian, mengapa kau bantai orang-orang
yang tak berdosa itu? Ai...."
"Orang-orang ini sama sekali tak berdosa, justru hidup
mereka sangat menderita karena sejak dua puluhan tahun
berselang mereka telah disekap oleh Thio Kim-ciok dalam Bulim-
bong ini. Kehidupan mereka sudah lama putus dengan
alam kehidupan bebas, sungguh.tak disangka akhirnya mereka
harus mati secara mengenaskan karena dibantai oleh kalian
secara keji."
"Bong-laute, aku tidak mengerti dengan perkataanmu itu,"
kata Tio Tian-seng dengan wajah serius. "Ketika orang-orang
itu bertemu kami, bagaikan siluman sesat dan setan iblis,
mereka menyerang kami secara ganas dan kalap. Apakah
kami berdua tidak boleh melakukan perlawanan melindungi
keselamatan jiwa sendiri?"
Kembali Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai,
mereka mati secara mengenaskan, nasib mereka betul-betul
mengibakan hati!"

1256
Mendadak Liong Oh-im tertawa ringan, jengeknya, "Jianciat-
suseng, kau tak usah berlagak iba hati macam kucing
menangisi tikus, sudah lama aku mencarimu untuk berduel!"
Bong Thian-gak segera menarik wajah secara tiba-tiba, lalu
berkata, "Liong Oh-im, tanpa mempedulikan keselamatanku
sendiri, aku telah masuk ke dalam Bu-lim-bong. Tujuanku tak
lain adalah ingin mencegah Hek-mo-ong yakni Liu Khi turun
tangan secara keji untuk membantai kalian."
Perkataan Bong Thian-gak itu diucapkan dengan nada berat
dan tegas, setiap kata disertai kesungguhan wajah.
Mendadak Liong Oh-im terbahak-bahak, "Jian-ciat-suseng,
kau tak usah berlagak mulia dan baik hati, Thio Kim-ciok tak
lain adalah Hek-mo-ong. Barusan kami telah mencoba
kelihaian ilmu silatnya dalam lorong rahasia itu."
"Bong-laute," dengan wajah serius Tio Tian-seng berkata,
"bila aku mendengar perkataanmu itu semasa masih ada di
luar Bu-lim-bong, mungkin hatiku akan ragu dan curiga. Tapi
sekarang kami telah yakin, sesungguhnya Hek-mo-ong bukan
lain adalah Thio Kim-ciok."
"Tio-pangcu, apa yang telah kalian alami sewaktu berada di
Bu-lim-bong ini?" tanya Bong Thian-gak dengan kening
berkerut kencang.
"Kami telah merasakan kehebatan serangan maut Hek-moong."
"Ada yang terluka?" tanya Bong Thian-gak dengan
terperanjat.
Kembali Liong Oh-im tertawa dingin, "Ilmu silat yang
dimiliki sepuluh tokoh persilatan adalah nomor wahid di kolong
langit, sekalipun Hek-mo-ong mempunyai tiga kepala enam
lengan tak nanti bisa melukai kami."

1257
Dengan suara dalam Bong Thian-gak bertanya lagi, "Di saat
kalian mendapat serangan brutal dari Hek-mo-ong, apakah Liu
Khi hadir pula di tempat kejadian?"
'Tentu saja, Liu Khi pun hadir di arena," sahut Tio Tianseng
sambil mengangguk.
Bong Thian-gak termenung beberapa saat, lalu menjawab
dengan lantang, "Orang yang melancarkan serangan kepada
kalian waktu itu sudah pasti bukan Hek-mo-ong
sesungguhnya."
"Kalau bukan, lalu siapa yang menjadi Hek-mo-ong
sesungguhnya menurut pendapatmu?" jengek Liong Oh-im
dengan suara dingin dan ketus.
Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, Hek-mo-ong
yang sesungguhnya tak lain adalah Liu Khi."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh,
"Kini Liu Khi telah memancing kalian memasuki Bu-lim-bong.
Hal ini tak lain karena Liu Khi dan Thio Kim-ciok telah
melakukan persekongkolan secara diam-diam dengan tujuan
membasmi kalian sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang
dari muka bumi."
"Hm, pada hakikatnya perkataanmu itu hanya ngaco-belo
tak keruan," jengek Liong Oh-im sambil tertawa dingin.
"Andaikata Liu Khi adalah Hek-mo-ong, maka dia pasti
bersumpah tidak akan hidup berdampingan secara damai
dengan Thio Kim-ciok. Bagaimana mungkin mereka malah
bersekongkol dengan suatu kerja sama yang begitu rapi?"
"Jian-ciat-suseng, kau jangan berbohong. Nah, katakan
segera kepada kami, sebetulnya hari ini kau ingin bekerja
sama dengan kami untuk membekuk Thio Kim-ciok atau
tidak?'

1258
Bong Thian-gak tidak langsung menjawab pertanyaan itu,
hanya katanya setelah menghela napas panjang, "Kalian
enggan menuruti perkataanku, akhirnya kau akan menyesal."
Pada saat itulah mendadak terdengar Kim Toa-hay
membentak, "Setelah membunuh tujuh puluh satu lembar
nyawa manusia, apakah kalian akan menyudahi persoalan ini
di sini saja?"
Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Kim Toa-hay,
lalu katanya sambil menggeleng kepala dan menghela napas
panjang, "Kim-piauthau, kau tak perlu membalas dendam bagi
kematian rekan-rekan senasib sependeritaanmu lagi."
"Mengapa aku tidak boleh membalas dendam bagi
kematian mereka?" teriak Kim Toa-hay sambil melotot,
matanya merah membara karena kobaran api dendam dan
amarah.
"Kedua orang yang kau hadapi sekarang, satu adalah Tio
Tian-seng, yang lain adalah Liong Oh-im. Aku rasa kau pasti
sudah pernah mendengar nama besar mereka sebelum
memasuki Bu-lim-bong ini? Selama puluhan tahun terakhir ini,
entah sudah berapa banyak jago persilatan yang tewas di
ujung pedangnya. Coba bayangkan berapa orangkah di antara
mereka yang berhasil membalas dendam?"
Ucapan itu diutarakan dengan wajar dan merupakan
kenyataan, yang lemah memang sulit menghadapi yang kuat,
sebab barang siapa nekat melakukannya juga, maka keadaan
mereka ibarat telur yang diadu dengan baru cadas.
Tiba-tiba Kim Toa-hay memeluk kepala sendiri sambil
menangis tersedu-sedu.
"Betul, aku memang tak berkemampuan untuk membalas
dendam bagi kematian saudara-saudaraku itu karena ilmu silat
yang kumiliki memang bukan tandingan orang. Sekalipun
nekat membalas dendam, paling aku akan mengorbankan

1259
jiwaku dengan percuma. Oh, Thian, mengapa kau begini tak
adil."
Sambil menangis tersedu-sedu, Kim Toa-hay membalikkan
badan berlalu dari situ dengan langkah cepat.
Keadaannya saat ini tak ubahnya seperti orang gila, sambil
menjerit dan menangis, dia berlari meninggalkan tempat itu.
Melihat hal ini Bong Thian-gak segera berteriak, "Kimpiauthau
... Kim-piauthau, kemana kau hendak pergi?"
Tapi dalam waktu singkat bayangan tubuh Kim Toa-hay
sudah lenyap dari pandangan mata.
Sejak disekap dalam Bu-lim-bong selama dua puluh tahun,
keadaan Kim Toa-hay sudah berubah menjadi setengah
sinting. Apalagi saat ini mesti menerima pukulan batin yang
begitu besar, tak heran ia menjadi gila sungguhan.
Tiba-tiba Tio Tian-seng berkata sambil menghela napas
panjang, "Setiap korban yang tewas dalam ruangan ini, tak
ubahnya seperti orang gila. Mereka menerkam dan berusaha
membunuh lawan begitu bertemu orang asing, sikap dan
tindakan mereka sangat mengerikan. Andaikata Bong-laute
yang menjumpai keadaan semacam itu, aku yakin kau pun
pasti akan terlibat dalam pembantaian secara besar-besaran
terhadap mereka. Ai! Aku tidak mengerti, apa sebabnya dalam
Bu-lim-bong ini bisa terdapat orang-orang macam itu?"
Bong Thian-gak menggeleng kepala seraya menghela
napas panjang, "Walaupun tindakan yang dilakukan Tiopangcu
serta Liong-tayhiap terlalu kejam dan tak berperasaan,
namun orang-orang itu pun patut dikasihani, siksaan batin
yang dialami selama dua puluh tahun membuat orang-orang
itu jadi gila dan kalap. Mereka memang lebih bahagia
mengalami kematian daripada harus hidup tersiksa, tapi di
antara kita yang memasuki Bu-lim-bong hari ini, mungkin akan
mengalami nasib yang sama dengan mereka. Mati kelaparan

1260
dalam Bu-lim-bong atau terluka sepanjang hidup di sini hingga
tiada kesempatan lagi untuk melihat terangnya matahari."
Berubah hebat paras muka Tio Tian-seng dan Long Oh-im
setelah mendengar perkataan itu.
Liong Oh-im tertawa dingin, "Liu Khi telah membawa serta
Tang-hay-tocu Long Jit-seng dalam perjalanan kali ini. Betapa
pun hebatnya perubahan alat rahasia dalam Bu-lim-bong ini,
aku yakin Long Jit-seng pasti dapat memecahkannya serta
membawa kami keluar dari Bu-lim-bong dengan selamat."
"Betul, Long Jit-seng memang mempunyai kepandaian ilmu
Pat-kwa, ilmu perbintangan, ilmu bangunan serta ilmu
perangkap lainnya," kata Bong Thian-gak dingin. "Dan aku
pun tahu bahwa Bu-lim-bong tak nanti bisa menyekapnya di
sini, tapi sayang sekali Long Jit-seng adalah pembantu utama
Hek-mo-ong Liu Khi. Bila kau tak percaya, tunggu saja sampai
waktunya nanti!"
Baru selesai ia bicara, mendadak terdengar seseorang
berkata pula dengan suaranya yang merdu, "Apa yang
diucapkan Jian-ciat-suseng memang benar. Liu Khi telah
mengkhianati kita semua."
Mendengar ucapan itu, serentak semua orang berpaling.
Dari sudut ruangan bawah tanah itu muncul tiga orang.
Mereka adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, perempuan
tercantik dari wilayah Kanglam Ho Lan-hiang beserta kedua
orang pembantu utamanya, Ji-kaucu serta Sim Tiong-kiu.
Melihat kemunculan Ho Lan-hiang, Tio Tian-seng dan Liong
Oh-im segera maju ke muka dengan langkah cepat, tanyanya,
"Liu Khi telah berkhianat? Apa yang dia lakukan?"
"Liu Khi memancing aku memasuki sebuah pintu mati yang
dikenal sebagai telaga selaksa racun penghancur tulang,
akhirnya Liu Khi bersama tabib sakti Gi Jian-cau dan Long Jitseng
lenyap secara tiba-tiba."

1261
"Apakah perbuatan mereka bisa dianggap sebagai
pengkhianatan terhadap kita?" tanya Liong Oh-im hambar.
"Sewaktu berada di telaga selaksa racun penghancur
tulang, kami telah bertemu Hek-mo-ong. Dia tidak menyerang
kami, melainkan mengambil sikap menawarkan suatu
perundingan secara damai."
Sampai di situ, tiba-tiba dia membungkuk dan tidak
melanjutkan lagi perkataannya.
"Perundingan secara damai macam apakah yang ia
tawarkan kepada kalian?" kembali Liong Oh-im bertanya.
"Ia minta kepadaku untuk menyerahkan bagian peta
rahasia harta karun yang menjadi milikku," sahut Ho Lanhiang
sambil tertawa dingin.
Seketika itu juga hati semua orang bergetar keras.
"Apakah kau telah menerima tawaran itu?" tanya Liong Ohim
lagi.
"Masih di dalam pertimbanganku."
Tio Tian-seng menghela napas sedih, katanya kemudian,
"Hekmo-ong telah menawarkan pula hal yang sama kepada
kami."
"Sejak memasuki Bu-lim-bong ini, teka-teki sekitar identitas
Hek-mo-ong yang sesungguhnya makin lama makin kentara.
Thio Kim-ciok bukan Hek-mo-ong dan aku rasa setiap orang
telah mengetahui hal ini secara jelas."
"Jadi maksudmu Hek-mo-ong adalah satu di antara lima
jago tersisa dari sepuluh tokoh persilatan yang masih hidup
saat ini?" ujar Liong Oh-im sambil tertawa dingin.
"Benar, satu di antara kelima orang yang masih hidup,
malaikat sakti pedang iblis, delapan pedang salju beterbangan,
tabib sakti, sastrawan berwajah tampan dan golok sakti

1262
berlengan tunggal pastilah Hek-mo-ong yang sedang kita
cari."
"Jika ada orang menaruh curiga kepadamu bahwa kau
adalah Hek-mo-ong. Bagaimana penjelasanmu tentang
tuduhan itu?" jengek Liong Oh-im sambil tertawa dingin.
"Aku tidak menyalahkan, jika kalian berpendapat demikian.
Kalian memang wajar mempunyai kecurigaan semacam itu."
"Padahal masalah siapakah Hek-mo-ong sesungguhnya
sudah menjadi masalah basi dan tak ada artinya lagi. Sejak
kita memasuki Bu-lim-bong, tujuan kita semua hanya satu,
yakni melenyapkan Thio Kim-ciok dari muka bumi!"
"Tapi aku kuatir jusru Thio Kim-ciok yang akan
melenyapkan kita dari muka bumi."
"Bagus, bagus sekali," kata Liong Oh-im tertawa. "Di saat
Thio Kim-ciok sudah mampus nanti, di antara kita pun harus
dicarikan suatu penyelesaian secara adil dan cepat, paling
tidak harus ditentukan siapa yang lebih unggul di antara kita
semua."
"Sekarang kalian masih bisa berkata akan membunuh Thio
Kim-ciok. Padahal tahukah kalian, bahwa kita justru sudah
terperangkap oleh tipu muslihat Thio Kim-ciok sehingga
keselamatan jiwa kalian terancam bahaya maut," kata Bong
Thian-gak dingin.
Ho Lan-hiang berpaling dan memandang sekejap ke arah
Bong Thian-gak, kemudian katanya pula sambil tertawa
ringan, "Apa yang diucapkan Jian-ciat-suseng memang benar,
kita sudah terperangkap dalam Bu-lim-bong sehingga setiap
salah langkah bisa mengakibatkan jiwa kita terancam bahaya
maut."
"Ho Lan-hiang, apa rencanamu sekarang? Tak ada salahnya
diutarakan secara blak-blakan," seru Tio Tian-seng tiba-tiba.

1263
Perempuan paling cantik dari wilayah Kanglam ini segera
tertawa cekikikan, "Saat ini aku tak lain hanya ingin
memberitahukan kepada kalian bahwa Liu Khi telah berhasil
menarik Tan Sam-cing serta Gi Jian-cau berpihak kepadanya.
Mereka berniat hendak melenyapkan kita dari muka bumi."
"Jadi kau pun berniat mengajak Lohu dan Liong Oh-im
untuk bekerja sama menghadapi mereka?" kata Tio Tian-seng
hambar.
"Aku rasa hanya dengan berbuat demikianlah kekuatan kita
baru akan berimbang."
Tio Tian-seng mendengus dingin, "Ketika kita belum masuk
ke dalam Bu-lim-bong, sudah kuduga kalau kau, Ho Lan-hiang
akan melakukan pengacauan dari tengah. Ai, bila kita sampai
berbuat begini, maka keselamatan jiwa kita semua yang
berada dalam Bu-lim-bong ini benar-benar berbahaya sekali!"
Ho Lan-hiang menarik muka secara tiba-tiba seraya
berseru, "Apa yang ingin kuutarakan telah kusampaikan, apa
yang menjadi keputusan terserah pada pilihan kalian sendiri."
"Hm, dalam peristiwa pembunuhan yang dilakukan sepuluh
tokoh persilatan terhadap Thio Kim-ciok pada tiga puluh tahun
berselang, tak lain karena gara-gara dirimu."
Berubah hebat paras muka Ho Lan-hiang setelah
mendengar perkataan itu, segera bentaknya, "Tio Tian-seng,
kau hendak mencari kesulitan bagi dirimu sendiri?"
Dengan wajah serius Tio Tian-seng berkata lebih jauh,
"Peristiwa itu telah berkembang menjadi begini sekarang, aku
pun tak ingin melindungi lagi nama baik sepuluh tokoh
persilatan. Ai, dulu sepuluh tokoh persilatan bukan cuma
memperkosa istri orang lain, merampok harta kekayaan orang,
bahkan membunuh pula korbannya. Perbuatan semena-mena
ini boleh dibilang merupakan dosa besar yang tak akan dapat
ditebus dengan kematian saja."

1264
"Tio Tian-seng," tiba-tiba Liong Oh-im membentak,
"perbuatanmu ini benar-benar sudah keterlaluan."
Di Tengah bentakan itu, tiba-tiba saja Liong Oh-im
menggerakkan pedangnya melancarkan sebuah tusukan kilat
ke depan.
Bong Thian-gak segera membentak, sebuah bacokan
dilepaskan pula ke muka, angin pukulan yang kuat dan
dahsyat itu seketika menggetarkan tubuh Liong Oh-im hingga
mundur sejauh tiga langkah.
Sementara itu Tio Tian-seng telah berkata dengan wajah
serius dan bersungguh-sungguh, "Liong-heng, kuanjurkan
kepadamu janganlah mengulang lagi perbuatan salah yang
pernah kita lakukan bersama pada tiga puluh tahun
berselang."
Sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im tertawa dingin,
"Tio Tian-seng, aku mau bertanya kepadamu, apa yang
menjadi tujuan kedatanganmu ke Bu-lim-bong hari ini?"
Tio Tian-seng tidak langsung menjawab, melainkan tertawa
seram, "Yang menjadi tujuan utama kedatanganku ke Bu-limbong
hari ini tak lain adalah untuk mengetahui apakah Thio
Kim-ciok benar-benar masih hidup di dunia ini."
Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak segera menyela
dengan lantang, "Tio-locianpwe, Boanpwe dapat
memberitahukan kepadamu, Thio Kim-ciok masih hidup segar
bugar di dunia ini."
"Bagus, bagus sekali," Tio Tian-seng tertawa tergelak.
"Kalau memang Thio Kim-ciok masih hidup segar bugar, maka
kedatanganku ke Bu-lim-bong ini tanpa suatu maksud dan
tujuan lagi. Andaikata dibilang ada maksud, maka maksudku
tak lain adalah minta maaf kepada seseorang serta menyesali
semua perbuatan yang pernah kulakukan dulu."

1265
"Apakah orang yang dimaksudkan Tio-pangcu adalah Thio
Kim-ciok?" tanya Bong Thian-gak lebih lanjut dengan suara
dalam.
"Benar, aku telah melakukan suatu perbuatan yang sangat
memalukan dan amat salah terhadap Thio Kim-ciok."
Dengan wajah berat dan serius Bong Thian-gak mendesak
lebih lanjut, "Tadi Tio-pangcu mengatakan sepuluh tokoh
persilatan telah memperkosa istri orang dan merampok harta
kekayaannya. Apakah hal ini benar-benar pernah terjadi?"
Tio Tian-seng menghela napas sedih.
"Dari kesepuluh tokoh orang persilatan yang ada, kecuali
seorang di antaranya yang merupakan wanita, hampir
semuanya sudah pernah melakukan hubungan senggama
dengan Ho Lan-hiang."
Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak setelah
mendengar ucapan yang terakhir ini, segera serunya, "Apakah
Ku-lo Hwesio, si pendeta agung dari Siau-lim-pay pun tak lolos
dari perbuatan ini?"
"Bila aku berbicara bohong barang sepatah kata saja, biar
Thian menumpas diriku."
Bong Thian-gak benar-benar amat terkejut. Walaupun
hingga detik ini dia masih belum mau mempercayainya seratus
persen, tetapi bila teringat akan kejalangan serta daya pikat
yang dimiliki Ho Lan-hiang, mau tak mau dia harus percaya
juga akan hal itu.
Dengan wajah hijau membesi, Liong Oh-im tertawa seram,
lalu serunya, "Tio Tian-seng, kau anggap setelah pengakuan
dosamu itu lantas Thio Kim-ciok bakal mengampuni dosadosamu?
Seorang lelaki sejati berani berbuat berani
bertanggung jawab dan selamanya tak kenal kata menyesal.
Tak nyana kau adalah manusia pengecut semacam ini. Hm!

1266
Akulah orang pertama yang akan melenyapkan kau dari muka
bumi."
Liong Oh-im segera menggerakkan pedangnya sambil
bersiap-siap melancarkan serangan.
Mendadak pada saat itu di tengah ruangan terjadi getaran
gempa bumi yang amat keras, sedemikian kerasnya hingga
menggoyang semua dinding ruangan.
Semua jago tak mampu berdiri tegak lagi oleh getaran itu,
masing-masing segera jatuh terjungkal ke atas tanah.
Bong Thian-gak sendiri merasa amat terperanjat atas
terjadinya getaran keras yang muncul secara tiba-tiba itu,
namun sepasang matanya yang tajam tetap mengawasi empat
penjuru dengan seksama.
Begitu memandang, Bong Thian-gak segera menyaksikan
suatu perubahan alat rahasia yang amat luar biasa.
Ternyata di tengah gempa bumi keras yang menggetar
ruangan itu, keempat dinding ruangan besar dan semua pintu
turut bergeser, bahkan permukaan ruangan pun pelan-pelan
ikut bergerak naik ke atas.
Gempa bumi yang sangat kuat itu berlangsung kurang lebih
seperempat jam lamanya sebelum akhirnya berhenti.
Namun pemandangan di sekeliling ruangan telah berubah
sama sekali, kini dari sekeliling dinding ruangan telah muncul
delapan buah lorong besar yang membentang jauh ke perut
bumi sana. Tapi berhubung suasana di situ amat gelap, maka
tiada seorang pun yang tahu betapa dalam setiap lorong yang
ada di sana.
Sementara semua orang masih bimbang dan kaget oleh
perubahan yang terjadi secara amat mendadak itu, tiba-tiba
dari tengah ruangan berkumandang suara seseorang yang
berkata dengan aneh, "Para jago dengarkan baik-baik,
sekarang pintu Pat-kwa-bun dari Bu-lim-bong telah tertutup

1267
semua. Dalam keadaan begini, sekalipun kalian mempunyai
sayap jangan harap bisa meninggalkan Bu-lim-bong ini barang
selangkah pun."
Begitu mendengar suara ini, Bong Thian-gak segera
melompat bangun dan membentak dengan suara keras,
"Apakah kau adalah Hek-mo-ong?"
Gelak tawa itu terhenti sejenak, kemudian baru terdengar
ia menjawab, "Benar, aku adalah Hek-mo-ong. Sebenarnya
orang yang hendak dibunuh Thio Kim-ciok hanya sepuluh
tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang, tapi kalian orang-orang
yang berada di luar garis ternyata ikut mencari kematian bagi
diri sendiri dengan ikut masuk ke dalam Bu-lim-bong. Hal ini
tidak dapat menyalahkan aku kelewat kejam, salah sendiri
kalian tak mau menuruti perkataanku?"
Di tengah pembicaraan itu, dari balik delapan lorong yang
tersebar di delapan penjuru itu bermunculan pula delapan
orang.
Kedelapan orang itu tak lain adalah Biau-kosiu, nenek
berambut putih serta Biau-han-thian suami-istri yang berada
dalam satu kelompok, lalu Gi Jian-cau, Tan Sam-cing serta
Long Jit-seng, pada rombongan ketiga adalah Kim Toa-hay
yang sudah sinting itu.
Dari sekian jago yang memasuki Bu-lim-bong, hanya Liu
Khi seorang yang tidak nampak hadir di situ sekarang.
Ho Lan-hiang memandang sekejap ke arah semua jago
yang hadir, lalu tertawa cekikikan, gumamnya, "Hanya Liu Khi
seorang yang tidak muncul di sini. Kalau begitu, dia adalah
Hek-mo-ong sesungguhnya."
Sementara itu Gi Jian-cau sekalian berdelapan yang baru
muncul dari balik lorong hampir semuanya dalam keadaan
sangat mengenaskan dan ada yang terluka, di antaranya Long
Jit-seng yang tampaknya menderita luka paling parah,

1268
tubuhnya harus dibimbing oleh Tan Sam-cing agar tidak
roboh.
Dengan suara keras Bong Thian-gak segera membentak,
"Hek-mo-ong, aku rasa setiap orang sudah mengetahui
siapakah dirimu sekarang. Bukankah kau adalah Liu Khi?"
Dari balik ruangan bergema suara gelak tawa penuh
kebanggaan, terdengar dia menyahut, "Dalam keadaan seperti
ini, tentu saja kalian sudah tahu siapakah aku. Benar, Hek-moong
adalah Liu Khi. Tapi sayang, kalian terlalu lambat
mengetahui akan hal ini."
Dengan suara dalam tabib sakti Gi Jian-cau berseru, "Betul,
Liu Khi adalah Hek-mo-ong dan Hek-mo-ong adalah
komplotan Thio Kim-ciok, sudah sejak dahulu Hek-mo-ong
menerima permintaan Thio Kim-ciok untuk membunuh habis
sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang. Hari ini kita
sudah terjebak oleh perangkapnya."
"Hehehe," kembali terdengar suara tertawa licik Hek-moong
dari balik ruangan, "Gi Jian-cau, apa yang kau ucapkan
memang benar. Sejak tiga puluh tahun berselang, Liu Khi
sudah menerima permintaan Thio Kim-ciok untuk
membinasakan kalian."
Kemudian Ho Lian-hiang berseru pula sambil tertawa
cekikikan, "Liu Khi, apa balas jasa yang dijanjikan Thio Kimciok
kepadamu sebagai imbalan dalam pembunuhan ini?"
"Peta rahasia dari bukit tambang emas."
"Akhirnya bukankah kau sendiri pun dikhianati oleh Thio
Kim-ciok?" jengek Ho Lan-hiang lagi sambil tertawa.
"Tidak, aku sama sekali tidak dikhianati oleh Thio Kimciok."
"Bila kau tidak dikhianati oleh Thio Kim-ciok, mengapa Thio
Kim-ciok merobek peta rahasia tambang emasnya menjadi

1269
sebelas bagian dan dibagikan kepada sepuluh tokoh persilatan
serta aku?"
Hek-mo-ong tertawa seram,
"Tujuan Thio Kim-ciok berbuat demikian tak lain adalah
untuk mengadu domba kalian, agar kalian saling gontok dan
bunuh demi memperebutkan peta rahasia itu. Dengan cara
begitu pula aku baru dapat membunuh kalian dengan mudah.
Itulah sebabnya pembagian peta rahasia itu menjadi sebelas
bagian sebetulnya merupakan salah satu rencanaku, hanya
saja Thio Kim-ciok tak pernah menyangka kalau sepuluh tokoh
persilatan bakal bekerja sama dengan Ho Lan-hiang untuk
membinasakan dirinya."
"Kau benar-benar adalah Liu Khi?" tiba-tiba Tio Tian-seng
membentak.
Hek-mo-ong tertawa tergelak.
"Tio-pangcu, apakah kau menemui kesulitan? Silakan
sampaikan, aku pasti akan membantu memecahkan
kesulitanmu itu."
"Benar, aku memang mempunyai banyak persoalan yang
tidak kupahami. Pertama, kami ingin membuktikan lebih
dahulu benarkah kau adalah Liu Khi yang asli? Untuk itu harap
kau tampil lebih dahulu."
Hek-mo-ong tertawa licik, "Tio-pangcu, aku tidak akan
tampil seperti apa yang kau inginkan, tetapi aku dapat
memberitahukan kepadamu bahwa aku memang golok sakti
berlengan tunggal yang asli. Bila kurang percaya, tanyakan
saja kepada Gi Jian-cau."
"Benar, dia adalah Liu Khi. Tapi ada satu hal yang sulit
dipercaya, yakni Thio Kim-ciok ternyata berada sekomplotan
dengannya."
"Hm, mengapa aku tidak bisa berkomplotan dengan Thio
Kim-ciok?" seru Hek-mo-ong lagi dengan tertawa dingin.

1270
"Pertama, aku Liu Khi tidak pernah berzinah dengan istrinya.
Kedua, di saat sepuluh tokoh persilatan bekerja sama
membunuh Thio Kim-ciok pada tiga puluh tahun berselang,
aku pun tidak turut ambil bagian."
"Dalam peristiwa pengeroyokkan yang terjadi atas Thio
Kim-ciok tempo hari, Tan Sam-cing tak turut ambil bagian,"
kata Tio Tian-seng.
"Sekalipun Tan Sam-cing tidak turut ambil bagian dalam
peristiwa pengeroyokan dan pembunuhan atas Thio Kim-ciok
dulu, namun secara diam-diam ia mencintai Ho Lan-hiang.
Jadi soal perempuan, ia tetap terlibat secara langsung."
Mendadak Bong Thian-gak membentak, "Liu Khi, walaupun
kau tidak turut serta dalam peristiwa pengeroyokan dan
pembunuhan atas Thio Kim-ciok, tapi sesungguhnya kaulah
dalang yang mengatur peristiwa itu, kaulah otak dari peristiwa
berdarah ini."
Hek-Mo-ong tertawa terbahak-bahak, "Justru aku adalah
Hek-mo-ong, maka aku pula yang menjadi otak semua
peristiwa ini. Biarpun begitu, nyatanya Thio Kim-ciok bersedia
bekerja sama denganku."
Tiba-tiba Biau-kosiu membentak pula, "Hek-mo-ong,
apakah ayahku Kui-kok Sianseng mati di tanganmu?"
Hek-mo-ong tidak menjawab, kemudian baru berkata,
"Tidak, bukan aku yang membunuh."
"Lantas siapakah pembunuhnya?" bentak Biau-kosiu lebih
jauh.
"Tio Tian-seng yang melakukan, tapi boleh dibilang juga Ho
Lan-hiang yang telah membunuh ayahmu itu."
Paras muka Biau-kosiu kontan berubah hebat, keningnya
berkerut dan hardiknya kepada Tio Tian-seng, "Tio-pangcu,
benarkah apa yang dikatakan Hek-mo-ong?"

1271
Bong Thian-gak amat terperanjat, ditatapnya Thio Tianseng
tanpa berkedip. Dalam hati dia sangat berharap jago tua
itu menyangkal tuduhan itu.
Akan tetapi Tio Tian-seng segera menghela napas panjang,
"Ya benar, Kui-kok Sianseng memang tewas di ujung
pedangku, tetapi pertarungan itu berlangsung secara jantan
dan terbuka. Aku sama sekali tak menggunakan tipumuslihat."
"Mengapa kau membunuh ayahku? Ayo cepat katakan!"
bentak Biau-kosiu dengan marah.
Suara tertawa licik Hek-mo-ong sekali lagi bergema,
terdengar ia berkata, "Tio Tian-seng membunuh Kui-kok
Sianseng demi perempuan paling cantik di wilayah Kanglam
Ho Lan-hiang, sebab waktu itu Kui-kok Sianseng sedang gilagilanya
mencintai Ho Lan-hiang, sedangkan Tio Tian-seng
adalah seorang pelindung Ho Lan-hiang. Dalam situasi samasama
cemburu dan ingin merebut hati sang pujaan hati, tidak
heran mereka bertarung mati-matian."
"Hek-mo-ong," bentak Biau-kosiu dengan marah, "kau
jangan ngaco-belo bicara sembarangan. Aku tidak percaya
ayahku berbuat demikian."
Gelak tawa Hek-mo-ong kembali berkumandang, selanya
tiba-tiba, "Bukan cuma Kui-kok Sianseng yang mampus garagara
cemburunya terhadap perempuan ini, bahkan Oh Cionghu
pun tewas di ujung pedang Tio Tian-seng karena alasan
yang sama."
Paras muka Bong Thian-gak berubah hebat, dengan suara
dalam ia segera bertanya kepada Tio Tian-seng, "Benarkah
apa yang dikatakan Liu Khi barusan?"
"Ya, semua yang dikatakannya memang benar," Tio Tianseng
menghela napas panjang.

1272
Biau-kosiu tak mampu menahan gejolak emosinya lagi, dia
segera membentak, "Tio Tian-seng, bersiap-siaplah kau
menerima kematianmu!"
Sembari berkata gadis itu maju tiga langkah dan sepasang
tangannya dengan cepat melolos dua bilah pisau belati yang
bersinar tajam.
"Nona Biau," Tio Tian-seng segera berkata dengan suara
dalam, "aku tak ingin membunuh orang lagi, harap kau jangan
bergerak sembarangan."
"Siapa membunuh orang, dia harus membayar dengan
nyawanya sendiri. Bagaimana pun juga aku tetap akan
membalas dendam bagi kematian ayahku," bentak Biau-kosiu
sambil melotot.
Di tengah pembicaraan, tubuhnya bergerak maju ke depan,
seperti sebuah gasing yang sedang berputar dia mendesak
maju, sementara sepasang pisau belatinya bagaikan dua titik
cahaya bintang menusuk ke bagian mematikan di tubuh Tio
Tiang-seng.
Segera Tio Tian-seng melompat ke belakang, kemudian
bentaknya, "Nona Biau, dengarkan dulu perkataanku! Aku
membunuh ayahmu serta Oh Ciong-hu tak lain karena
tindakan melindungi diri sendiri, dalam suatu pertarungan
yang tak bisa dihindarkan bisa jatuh korban di salah satu
pihak."
"Kau tak usah banyak bicara," tukas Biau-kosiu sambil
menahan geramnya. "Jika punya kepandaian, bunuhlah aku!"
Di tengah bentakannya, pisau belatinya kembali menyergap
jalan darah mematikan di tubuh Tio Tian-seng dengan
kecepatan bagaikan sambaran petir. Setiap jurus serangan
dilakukan secara cepat dan merupakan ancaman serius.
Di bawah sergapan pisau belatinya yang bertubi-tubi,
selangkah demi selangkah Tio Tian-seng mundur terus,

1273
namun ia sempat berbicara lagi, "Nona Biau, aku sudah
merasa menyesal karena pernah diperalat oleh Ho Lan-hiang
sehingga membunuh orang. Hari ini aku tak berkeinginan
melukaimu."
"Tapi aku pun berharap kau jangan mendesak dan
memojokkan aku. Jika kau ingin membalas dendam,
tunggulah setelah kita keluar dari Bu-lim-bong ini dengan
selamat, waktu itu aku pasti akan memberi keadilan
kepadamu," tambah Tio Tan-seng.
Mendadak terdengar Bong Thian-gak membentak pula,
"Nona Biau, harap kau hentikan dulu seranganmu itu."
Sambil berseru pemuda itu menerjang masuk ke dalam
arena. Telapak tangan kanannya segera diayunkan ke muka
melepaskan sebuah pukulan, angin serangan yang tajam
segera membendung datangnya ancaman Biau-kosiu.
"Kau berniat membantunya?" bentak Biau-kosiu dengan
marah, keningnya berkerut kencang.
Dengan wajah serius dan nada bersungguh-sungguh Bong
Thian-gak berkata, "Nona Biau, dengarkan nasehatku, untuk
sementara waktu janganlah kau menyerang secara
sembarangan."
"Dendam kesumat terbunuhnya ayahku lebih dalam
daripada samudra, aku tak bisa melepaskannya begitu saja."
"Biarpun Tio Tian-seng adalah musuh besar pembunuh
ayahmu, tapi Ho Lan-hiang adalah otak di belakang layar yang
memberi perintah kepadanya. Apakah perempuan ini tak
pantas dibunuh?"
Biau-kosiu tertawa dingin, "Hm, setelah membunuh Tio
Tian-seng nanti, Ho Lan-hiang pun tak bakal lolos dari
kematian."
Ho Lan-hiang yang selama ini hanya menonton dari
samping segera tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya, "Nona Biau,

1274
aku berani bertaruh kepadamu, orang-orangmu tak bakal
mampu menandingi kehebatan Tio Tian-seng. Percaya tidak?"
"Hm, sekalipun bukan tandingannya, aku tetap akan
mengadu kepandaian dengannya," jawab gadis itu.
Bong Thian-gak segera berkata dengan suara dalam, "Nona
Biau, harap kau suka mendengarkan perkataanku baik-baik,
semua jago persilatan yang hadir dalam Bu-lim-bong saat ini
hampir semuanya mempunyai niat busuk, mereka berharap
ada satu pihak yang bertarung lebih dulu, sementara mereka
akan menjadi nelayan beruntung yang tinggal memungut
hasilnya. Apakah kau tak dapat merasakan gejala itu?"
Biau-kosiu mendengus dingin, "Asal aku berhasil
mengalahkan Tio Tian-seng, dengan sendirinya para jago lain
pun dapat kutaklukkan. Nah, Jian-ciat-suseng, harap kau
mundur dari situ."
Tio Tian-seng kembali menghela napas panjang, "Ai,
sebenarnya aku ingin menyimpan sedikit tenaga untuk
menghadapi Ho Lan-hiang lebih dulu, sungguh tak disangka
nona Biau justru mendesakku terus-menerus. Kalau kau ingin
cepat membalas dendam bagi kematian ayahmu, silakan
segera turun tangan!"
Tio Tian-seng segera melintangkan pedangnya di depan
dada dan berdiri dengan serius, sementara dari balik matanya
memancar sinar tajam yang menggidikkan.
"Tunggu sebentar," tiba-tiba Bong Thian-gak membentak.
"Aku ingin bertanya dulu kepada Tio-pangcu, apa sebabnya
kau membunuh Oh Ciong-hu?"
Tio Tian-seng memandang sekejap ke arah Bong Thiangak,
lalu menghela napas, "Tentang segala budi dendam yang
menyangkut sepuluh tokoh persilatan, tentunya Bong-laute
sudah mengetahui sedikit banyak, bukan? Kalau ditanya apa
alasanku membunuh Oh Ciong-hu, maka hal ini tak lain
disebabkan karena perempuan jalang itu."

1275
"Apakah Oh Ciong-hu pernah mencintai Ho Lan-hiang?"
"Ho Lan-hiang adalah perempuan jalang dan pandai
memikat perhatian lelaki."
"Sepuluh tokoh persilatan bukan orang suci, tentu saja
mereka tak akan lolos dari rayuan mautnya, apalagi Oh Cionghu
dan Ho Lan-hiang adalah saudara seperguruan, mereka
pernah saling mencintai di masa lalu. Bagaimana mungkin Oh
Ciong-hu bisa lolos dari perangkap mautnya?"
"Sekarang pun aku lihat masih ada juga mereka yang
terpikat oleh rayuannya hingga rela menjual nyawa baginya."
"Apakah Tio-pangcu turun tangan membunuh musuh
cintamu karena kuatir perempuan jalang itu terjatuh ke dalam
pelukan orang lain?"
Tio Tian-seng sekali lagi menghela napas panjang,
"Kemungkinan besar Bong-laute tidak akan percaya dengan
perkataanku, tapi cerita yang sesungguhnya adalah Oh Cionghu
yang kuatir aku merampas perempuan jalang ini hingga
turun tangan lebih dulu membunuhku."
Bong Thian-gak menggeleng kepala. -
"Sekarang Oh Ciong-hu telah mati, tentu saja aku tak akan
percaya dengan pengakuan dari seorang yang masih hidup
seperti kau."
Kembali Tio Tian-seng menghela napas, "Seandainya Ho
Lan-hiang tidak bohong, dia pasti akan membeberkan duduk
persoalan yang sesungguhnya kepadamu."
Mendengar ucapan itu, tanpa terasa Bong Thian-gak
mengalihkan sorot matanya ke arah Ho Lan-hiang.
Perempuan paling cantik dari wilayah Kanglam itu segera
tertawa ringan, katanya cepat, "Alasan utama Tio Tian-seng
membunuh Oh Ciong-hu tak lain disebabkan hendak

1276
membalas dendam atas sebuah pukulan yang pernah
diterimanya dulu."
"Ho Lan-hiang, kau berbohong," bentak Tio Tian-seng.
Bong Thian-gak menghela napas seraya berkata, "Tiopangcu,
tak usah berdebat lagi tentang masalah kematian
yang menimpa Oh Ciong-hu, sebab aku sudah tidak berhasrat
untuk menyelidiki lebih lanjut Pertikaian antara sepuluh tokoh
persilatan dengan Thio Kim-ciok serta perselisihan kalian
dengan Hek-mo-ong, lebih baik kalian sendiri yang
menyelesaikannya!"
"Ai, saat ini aku justru merasa agak menyesal karena ikut
terseret ke dalam persoalan ini."
Tiba-tiba Biau-kosiu mendengus dingin sambil mengumpat,
"Huh, manusia tak becus, lelaki banci. Sudah tahu gurunya
terbunuh, kau malah menyatakan cuci tangan dari persoalan
itu. Andaikata arwah Oh Ciong-hu di alam baka tahu hal ini, ia
pasti akan menyesal telah menerima murid yang tak
bertanggung-jawab macam kau."
"Nona Biau, hati-hati kalau bicara," tegur Bong Thian-gak
dengan serius.
"Memangnya aku salah mengumpatmu?" kembali Biaukosiu
menjengek secara sinis.
"Tentang pertikaian sepuluh tokoh persilatan dengan Thio
Kim-ciok, aku telah mengetahui persoalan itu sejelasnya.
Sepuluh tokoh persilatan telah terayu oleh kejelitaan Ho Lanhiang,
saling cemburu, saling membenci dan akhirnya saling
membunuh. Perbuatan busuk semacam ini jelas merupakan
perbuatan rendah dan memalukan, aku rasa hanya Tio Tianseng
seorang yang berani mengungkapnya. Oleh sebab itu
aku merasa amat kagum atas keberanian Tio-pangcu."
"Dan kini aku sudah mengetahui dengan jelas bahwa
guruku pernah melakukan perbuatan rendah yang sangat

1277
memalukan. Apakah aku harus mencari gara-gara lagi secara
membabi-buta tanpa membedakan mana yang benar dan
yang salah?"
"Ai, yang lebih menggemaskan lagi adalah dengan ilmu silat
serta nama besar sepuluh tokoh persilatan, ternyata mereka
rela dipikat dan dirayu oleh seorang perempuan jalang
sehingga nama baik hancur, orangnya pun binasa. Peristiwa
ini benar-benar amat tragis."
Perkataan Bong Thian-gak yang diutarakan secara blakblakan
ini kontan membuat paras muka Tio Tian-seng, Tan
Sam-cing, Gi Jian-cau dan Liong Oh-im berubah merah
padam, dengan mulut terbungkam mereka menundukkan
kepala.
Sementara itu dengan wajah bimbang Biau-kosiu
bergumam pula, "Mungkinkah ayah pun ikut terpikat oleh
perempuan jahat itu?"
Ho Lan-hiang tertawa terkekeh-kekeh, dengan suara jalang
ujarnya, "Bagus sekali umpatanmu itu Jian-ciat-suseng, tetapi
kau tentu tahu bahwa bencana keluarnya dari mulut. Hari ini
kau sudah dipastikan harus mati di sini."
Sampai di situ, dia segera mengulap tangan kanan. Kakek
berbaju hitam yang berada di sampingnya yaitu Sim Tiong-kiu
segera melangkah maju, sambil bentaknya, "Jian-ciat-suseng,
bersiap-siaplah kau menerima kematian!"
Bong Thian-gak sudah pernah bertarung melawan Sim
Tiong-kiu, dia tahu kakek itu memiliki ilmu jari yang lihai
sekali. Oleh sebab itu segera dia menghimpun seluruh tenaga
dan perhatiannya dengan memperhatikan jari telunjuk tangan
kiri lawan.
"Sim Tiong-kiu!" katanya kemudian sambil tertawa dingin,
"jika kau sudah mendengar kisah hubungan gelap sepuluh
tokoh persilatan dengan Ho Lian-hiang, apakah kau masih
terpikat oleh kegenitan dan kecantikannya hingga rela berbakti

1278
terus kepadanya? Padahal dengan tampangmu, wahai Sim
Tiong-kiu, benarkah kau memperoleh kasih sayang sejati
darinya?"
Ucapan Bong Thian-gak itu penuh dengan sindiran,
membuat paras muka Sim Tiong-kiu seketika itu juga berubah
merah padam dan untuk sesaat lamanya tak mampu
mengucapkan sepatah kata pun.
Berubah pula paras muka Ho Lan-hiang, segera bentaknya
keras, "Sim Tong-kiu, kau berani melanggar sumpahmu?"
Tatkala mendengar teguran itu, tiba-tiba saja sekujur
badan kakek berbaju hitam Sim Tiong-kiu gemetar keras, jari
telunjuk tangan kirinya segera ditekuk, kemudian melakukan
sentilan keras ke depan.
Serangan jari yang dahsyat dan luar biasa itu bagaikan
sambaran halilintar segera meluncur ke muka dan langsung
menyerang jalan darah kematian di dada Bong Thian-gak.
Bong Thian-gak memang sudah tahu Sim Tiong-kiu
memiliki ilmu jari yang sangat hebat dengan daya penghancur
yang luar biasa, maka di saat Sim Tiongrkiu baru saja
menggerakkan jari tangannya, ia sudah menerjang ke muka.
Diiringi suara bentakan yang keras, pedang kayu di
tangannya langsung dicabut dan menusuk iga kiri Sim Tiongkiu.
Ilmu pedang yang diiringi terjangan kilat ini dilakukan
dengan gerakan yang mengerikan, tak heran paras muka
kawanan jago yang hadir berubah hebat.
Serta-merta Sim Tiong-kiu menggeser kaki kirinya ke
samping, lalu meluncur mundur untuk meloloskan diri dari
serangan pedang pemuda itu.
Menyaksikan serangan jari tangan Sim Tiong-kiu yang
istimewa dan luar biasa itu gagal membunuh lawan, kembali
paras muka Ho Lan-hiang berubah hebat, segera serunya,

1279
"Mundur kau, apakah sebelum ini kalian sudah pernah
bertarung?"
Sim Tiong-kiu segera mengundurkan diri ke sampingnya,
lalu menjawab, "Ya, ketika berada di kuil Hong-kong-si tempo
hari, kami sudah pernah bertarung."
Setelah memukul mundur Sim Tiong-kiu dengan serangan
pedangnya, Bong Thian-gak tidak melanjutkan dengan
serangan kedua, sebaliknya sambil melintangkan pedang di
depan dada, ia berkata dengan lantang, "Ho Lan-hiang, ilmu
jarinya yang merupakan senjata maut pencabut nyawa sudah
tak mampu melukai diriku lagi, bahkan rahasia pedang Cingtong-
kiam milik Ji-kaucu pun sudah kuketahui dengan jelas.
Oleh karena itu kedua orang utusan pelindung bungamu
sudah tidak sanggup lagi melindungi keselamatan jiwamu,
mengapa kau tidak turun tangan sendiri untuk bertarung
melawanku?"
Tantangan Bong Thian-gak yang diucapkan secara blakblakan
dan terus terang ini segera membuat Ho Lan-hiang
mengernyitkan alis, hawa membunuh segera menyelimuti
wajahnya, dia berseru, "Ji-kaucu!"
Ji-kaucu yang berada di sisi kirinya segera menyahut
dengan suara lantang, "Siap!"
"Kau tampil ke muka dan bunuh keparat itu!"
"Harap Cong-kaucu jangan kelewat emosi," kata Ji-kaucu
dengan kalem tanpa luapan perasaan. "Aku rasa waktu untuk
membunuhnya belum tiba."
Ketika mendengar ucapan ini, hawa membunuh yang
semula telah menyelimuti wajahnya mendadak lenyap,
sebagai gantinya ia segera menampilkan wajah lembut dan
ramah, setelah tertawa terkekeh, katanya, "Ji-kaucu, kau
memang tak malu menjadi tangan kananku. Kecerdasan
otakmu sungguh mengagumkan."

1280
Sebaliknya Bong Thian-gak segera menjengek sambil
tertawa dingin, "Ji-kaucu, kau tidak usah mencoba menyimpan
tenaga lagi. Hari ini aku ingin mencoba kelihaian ilmu silatmu."
Saat itu Bong Thian-gak telah berdiri dengan pedang
dilintangkan di depan dada, sepasang matanya memancarkan
sinar tajam, sementara hawa membunuh telah menyelimuti
wajahnya.
Setiap jago dalam arena dapat melihat bahwa pemuda itu
telah menghimpun tenaga murninya dan siap melepaskan
serangan pedang terbangnya.
Keadaan Bong Thian-gak yang sudah siap melepaskan
serangan pedang terbangnya saat ini ibarat anak panah yang
sudah berada di gendewa yang ditarik. Oleh karena itu Jikaucu
yang menyaksikan keadaan itu segera mengerti bahwa
dia tak bisa meloloskan diri lagi dari ancaman.
Kaki kiri Ji-kaucu segera maju setengah langkah, tangan
kanannya secepat kilat mencabut pedang bercahaya hijau dari
pinggang, lalu setelah tertawa seram, katanya, "Jian-ciatsuseng,
hari ini kita memang harus bertarung!"
"Dendam sakit hati yang telah terjalin di antara kita berdua
rasanya cepat atau lambat harus dituntaskan, pertarungan
memang tak dapat dihindari lagi," sahut Bong Thian-gak
sambil tersenyum.
"Selama ini kau tak lebih cuma panglima yang kalah
perang, aku rasa hari ini pun kau tak akan lolos dari nasib
kekalahan konyol."
Bong Thian-gak segera mendengus dingin, "Hm,
seandainya aku menderita kekalahan lagi di tanganmu, biar
mati pun aku tak menyesal!"
Selesai berkata Bong Thian-gak segera menggerakkan
bahunya bergerak ke muka, pedangnya dengan jurus pelangi
panjang menutupi matahari langsung meluncur.

1281
"Serangan bagus!" bentak Ji-kaucu.
Di tengah kilauan cahaya pedang berwarna hijau serta
lejitan bintang merah berkilauan, tiba-tiba berkumandang
suara gemerincingan
yang amat nyaring.
Serangan pedang Bong Thian-gak yang dilancarkan dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat itu tahu-tahu sudah
terbendung.
Dalam pengaruh hawa murninya yang disalurkan ke tubuh
pedang itu, pedang bambu yang lemah telah berubah menjadi
keras dan tajam bagaikan pedang sungguhan.
Itulah sebabnya ketika bentrokan yang barusan terjadi,
pedang bambunya tidak menjadi putus karena ketajaman
pedang lawan.
Begitu pedang bambu Bong Thian-gak digetarkan terpental
ke belakang, tangan kirinya segera diputar kencang,
pedangnya seperti seekor naga sakti yang sedang membalik
badan, menyambar dari bawah ke atas langsung merobek
lambung Ji-kaucu.
Ilmu pedang yang sangat aneh dan luar biasa semacam ini
pada hakikatnya di luar dugaan siapa pun juga.
Mimpi pun Ji-kaucu tidak mengira gerak serangan Bong
Thian-gak yang berhasil dibendung itu dalam waktu singkat
telah berubah arah, menyergap bagian mematikan di
tubuhnya.
Sementara dia masih terperanjat menghadapi perubahan
itu, tahu-tahu ujung pedang Bong Thian-gak sudah menempel
di atas baju Ji-kaucu yang menutupi lambungnya. Dalam
keadaan demikian, sekalipun ada malaikat turun dari
kahyangan, rasanya tak mampu menolong Ji-kaucu lolos dari
musibah ini.

1282
Bisa dibayangkan betapa cepatnya sambaran pedang jagojago
lihai yang sedang bertarung. Waktu itu tiada kesempatan
lagi bagi Ji-kaucu untuk memutar otak, mendadak hawa
membunuh memancar dari wajahnya, pedangnya segera
dibalik, lalu ditusukkan pula ke dada Bong Thian-gak.
Dalam anggapan para jago, serangan pedang Ji-kaucu itu
tak lebih cuma gerakan sia-sia, karena ancaman itu tak ada
artinya.
Padahal waktu itu serangan pedang Bong Thian-gak sudah
hampir mengenai tubuh Ji-kaucu, andaikata menyerang pun
Ji-kaucu tentu akan tewas lebih dulu di ujung senjata Bong
Thian-gak.
Itulah sebabnya serangan Ji-kaucu ini pada hakikatnya
tidak akan memberikan manfaat apa pun.
Tapi siapakah yang dapat menduga kalau di balik serangan
Ji-kaucu itu sesungguhnya ia sedang melakukan tindakan
nekat mengajak lawan mengadu jiwa.
Pedang tembaga berwarna hijau itu bukan saja dapat
diperpanjang atau diperpendek sesuai kehendak hati, bahkan
bagian tengah pedang yang kosong itu telah dia isi dengan
semacam cairan beracun yang bisa menyembur keluar apabila
tombol rahasianya dipencet
Di saat yang amat kritis itulah mendadak sesosok bayangan
orang secepat sambaran kilat meluncur tiba, disusul segulung
angin pukulan berpusing yang sangat kuat menumbuk tubuh
Bong Thian-gak serta mementalkan tubuhnya hingga mencelat
ke samping kanan.
Tenaga pukulan yang maha dahsyat itu memiliki kekuatan
sangat mengerikan, Bong Thian-gak merasa tubuhnya tak
mampu dikendalikan lagi, setelah mencelat ke belakang, dia
mesti mundur sebelum berhenti.

1283
Suara semburan air beracun bergema, dari ujung pedang
Ji-kaucu memancar tiga gulung cairan hitam.
Begitu jatuh ke atas tanah, segera tertampak asap hitam
mengepul ke udara, dalam waktu singkat lantai berbatu itu
sudah terbakar hangus hingga muncul bekas lekukan sedalam
beberapa inci.
Sesudah menyaksikan itu, Bong Thian-gak baru sadar
bahwa orang itu telah menyelamatkan jiwanya.
Tapi dia pun telah menyelamatkan jiwa Ji-kaucu.
Tatkala sorot mata para jago dialihkan ke wajah pendatang
itu, mendadak air muka mereka segera berubah menjadi
pucat.
Itulah mimik wajah kaget, ngeri, seram, tegang serta
berbagai perubahan lainnya.
Pendatang itu seorang kakek berbaju hijau yang
memelihara jenggot berwarna hitam, berwajah segar dan
berwibawa, akan tetapi bagi pandangan para jago dalam
arena justru lebih menyeramkan dan mengerikan daripada
melihat setan atau memedi.
Bong Thian-gak menjerit kaget lebih dulu, "Thio Kim-ciok!
Thio-locianpwe!"
Kakek berjenggot hitam berbaju hijau itu memang tak lain
adalah Thio Kim-ciok.
Sementara itu dari balik sebuah pintu rahasia di tengah
ruangan pelan-pelan berjalan keluar Song Leng-hui serta
Thay-kun.
Setelah suasana agak hening, Thio Kim-ciok baru berkata
dengan suara hambar, "Bong-laute, tak ada artinya kau
mengadu jiwa dengan lawan. Itulah sebabnya aku telah
melancarkan Kun-goan-khi-kang untuk mendorongmu dari
ancaman bahaya."

1284
Biarpun cuma beberapa patah kata yang sederhana, namun
sudah menjelaskan betapa berbahayanya situasi waktu itu.
Kemunculan Thio Kim-ciok membuat para jago merasa
kaget dan bergidik, tapi juga merubah suasana di arena
menjadi tegang dan menyeramkan. Ancaman pertempuran
setiap detik dapat meledak di situ.
Dari sekian jago yang hadir, kecuali Bong Thian-gak, Song
Leng-hui serta Thay-kun tiga orang, empat orang dari sepuluh
tokoh persilatan maupun Ho Lan-hiang serta Biau-kosiu
sekalian sama-sama telah meraba senjata masing-masing,
bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Bong Thian-gak melayangkan pandangannya dan
memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian
dengan kening berkerut dia berpikir, "Tampaknya semua telah
bekerja sama untuk menghadapi Thio Kim-ciok."
Dalam pada itu Thio Kim-ciok dengan mata yang
memancarkan cahaya tajam telah memandang sekejap wajah
orang-orang di situ, kemudian ujarnya dingin, "Mungkin kalian
tak pernah mengira bukan kalau aku masih hidup di dunia
ini?"
Tio Tian-seng segera menghela napas panjang dengan
nada sedih, sahutnya, "Ya, kenyataan kau memang masih
hidup!"
"Tio Tian-seng," kata Thio Kim-ciok lagi dengan suara
dingin, "Aku tahu kau sudah menyesal, tapi Thio Kim-ciok
tetap tak akan memaafkan dirimu."
Kembali Tio Tian-seng tertawa pedih, "Aku tahu, Thio Kimciok
adalah seorang yang berhati kejam, buas dan membunuh
orang tanpa berkedip. Jangankan terhadap musuh-musuh
besarmu, bahkan terhadap orang yang tiada sangkut-pautnya
dengan dirimu pun sudah berapa banyak yang tewas di
tanganmu."

1285
"Kalian semua tak akan lolos dari kematian!" ujar Thio Kimciok
lagi dengan suara dingin dan menyeramkan.
Tiba-tiba sinar matanya dialihkan ke wajah Ho Lan-hiang.
Dalam pada itu sekulum senyum manis telah tersungging di
ujung bibir Ho Lan-hiang, katanya dengan suara yang amat
tenang, "Orang pertama yang hendak kau bunuh tentu diriku,
bukan?"
"Aku akan menghancur-leburkan tubuhmu serta
mencincangnya," sahut Thio Kim-ciok dengan wajah dingin
dan suara hambar.
Kembali Ho Lan-hiang tertawa merdu, "Tiga puluh tiga
tahun berselang kau tidak memiliki kemampuan untuk
melukaiku. Tiga puluh tiga tahun kemudian, lebih-lebih jangan
harap dapat melukai seujung rambutku."
Pada saat itulah Bong Thian-gak dapat melihat Tio Tianseng,
Tan Sam-cing, Liong Oh-im, Gi Jian-cau bersama Ho
Lan-hiang, Ji-kaucu, serta Sim Tiong-kiu sekalian secara pelanpelan
telah bergerak maju mengurung Thio Kim-ciok rapatrapat.
Melihat itu, mendadak Bong Thian-gak mengayunkan
pedangnya sambil membentak nyaring, "Berhenti kalian
semua. Bila ada yang berani maju selangkah lagi, jangan
salahkan pedangku akan segera melukai orang."
Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru, "Bukankah Bong-laute
telah mengambil keputusan untuk melepaskan diri dari kancah
pertikaian yang penuh dengan budi dan dendam ini?"
Dengan suara dalam Bong Thian-gak membentak, "Mencari
kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak
merupakan suatu perbuatan terkutuk serta memalukan."
Tiba-tiba Thio Kim-ciok berpaling ke arah anak muda itu,
lalu berkata sambil tertawa, "Bong-laute, dari sikap serta

1286
perbuatan mereka itu, tentu kau tak akan menyalahkan aku
andaikata kubunuh mereka dari muka bumi?"
"Thio-locianpwe berniat membantai semua orang yang ada
di sini?" tanya Bong Thian-gak dengan perasaan bergetar
keras.
"Aku tidak dapat melepaskan seorang pun di antara
sepuluh tokoh persilatan serta perempuan jalang itu."
Bong Thian-gak menghela napas, kemudian katanya,
"Thian maha penyayang. Apakah Thio-locianpwe tak merasa
bahwa dendam yang kau perlihatkan sekarang telah
melanggar ajaran Thian?"
Thio Kim-ciok tertawa dingin, "Andaikan setiap umat
persilatan di dunia ini dapat memahami apa artinya ajaran
Thian, aku rasa tidak bakal terjadi lagi badai pembunuhan
serta mengalirnya anyir darah dalam persilatan. Sepuluh tokoh
persilatan mempunyai kedudukan yang agung dan terhormat,
tetapi nyatanya mereka bisa juga melakukan perbuatan
terkutuk yang amat memalukan itu."
Bong Thian-gak sadar bahwa dia tak mampu lagi
menghalangi niat Thio Kim-ciok untuk melampiaskan rasa
dendam kesumatnya, maka setelah menghela napas panjang,
dia pun bertanya, "Yakinkah Thio-locianpwe bahwa
harapanmu itu bakal tercapai?"
"Walaupun aku tidak mempunyai keyakinan sepenuhnya,
namun dapat kupertaruhkan dengan selembar nyawaku."
Mendadak terdengar Ho Lan-hiang yang berada di samping
arena berseru sambil tertawa terkekeh-kekeh, "He si tua Thio,
saat ini kau telah dikepung oleh semua jago. Aku tidak
percaya kau masih mempunyai kesempatan untuk melarikan
diri ke dalam alat rahasiamu."
Dalam sekejap di empat penjuru sudah berdiri Tio Tianseng,
Gi Jian-cau, Tan Sam-cing, Liong Oh-im, Ho Lan-hiang,

1287
Sim Tiong-kiu serta Ji-kaucu dengan senjata terhunus.
Tampaknya pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi.
Bong Thian-gak segera berpikir, "Sanggupkah Thio Kimciok
menandingi kerubutan tujuh jago lihai dunia persilatan
ini?"
Dengan pandangan sinis Thio Kim-ciok memperhatikan
sekejap, kemudian berkata, "Kepungan kalian mirip barisan
pembunuh yang dipakai untuk menghadapiku tiga puluh tiga
tahun berselang, hanya sayang di sini sudah tak nampak
beberapa wajah."
"Thio Kim-ciok!" dengan wajah serius dan nada
bersungguh-sungguh Tio Tian-seng berkata, "sebenarnya aku
merasa malu untuk mencari kemenangan dengan
mengandalkan jumlah banyak, tapi aku pun tahu bahwa kau
adalah seorang licik yang berhati busuk serta banyak akal
muslihatnya. Oleh karena itu mau tak mau terpaksa kami
harus mempergunakan cara mengerubut yang tidak gagah ini
untuk menghadapimu."
"Andaikata aku merasa takut untuk menghadapi kerubutan
kalian, tidak nanti aku menampilkan diri," sahut Thio Kim-ciok
dingin.
Liong Oh-im tertawa seram, "Thio Kim-ciok, kau
mempunyai kemampuan seberapa besar hingga dapat
menembus kepungan kami bertujuh?"
"Andaikata aku berniat membunuh kalian, maka hal ini bisa
aku lakukan secara mudah dan tak usah membuang tenaga."
Belum habis perkataan Thio Kim-ciok, Thay-kun yang
selama ini berdiri di samping menyela dengan suara merdu,
"Di saat terjadinya gempa bumi yang menggetarkan seluruh
permukaan gua tadi, seluruh alat rahasia dalam lorong bawah
tanah ini sudah tertutup seluruhnya. Biarpun kalian sanggup
membunuh Thio Kim-ciok saat ini, tetapi kalian sendiri pun

1288
tidak bakal terlepas dari Bu-lim-bong yang sudah tersumbat
ini, akhirnya kalian bakal mampus juga karena kelaparan."
Beberapa patah kata Thay-kun ini kontan membuat paras
muka kawanan jago itu berubah hebat.
Liong Oh-im segera tertawa licik, "Bagus, bagus sekali,
kalau semua orang bisa mati bersama di dalam Bu-lim-bong,
hal itu jauh lebih baik lagi."
Dengan suara dingin menyeramkan Thio Kim-ciok berkata
pula, "Aku tak ingin menyaksikan kalian mampus tanpa
memberi perlawanan, aku pun tak ingin membiarkan kalian
mampus dalam Bu-lim-bong ini."
Beberapa patah katanya yang terakhir ini terasa sangat
aneh dan bertentangan dengan apa yang dikatakan
sebelumnya, tapi para jago mengerti, di balik semua itu tentu
masih terdapat latar belakang lainnya.
Sambil tertawa licik Liong Oh-im segera berkata, "Kalau
begitu, tentunya jalan keluar dari Bu-lim-bong ini
sesungguhnya bukan merupakan hasil karya Thio Kim-ciok
bukan?"
Thio Kim-ciok tidak menjawab, tapi Thay-kun telah berseru
dengan suara merdu, "Betul, orang yang menggerakkan alat
rahasia untuk menutup seluruh lorong rahasia dalam Bu-limbong
ini bukan Thio-locianpwe, melainkan Hek-mo-ong. Dia
hendak mengurung kalian dalam Bu-lim-bong ini."
Mendadak dari balik ruangan yang luas itu berkumandang
kembali suara Hek-mo-ong yang dingin serta misterius itu,
"Thio Kim-ciok, aku tidak menyangka kau bakal mengingkari
janjimu sendiri."
Thio Kim-ciok tertawa dingin, sahutnya dengan suara keras,
"Hek-mo-ong, aku sama sekali tidak mengingkari janji, aku
hanya tak rela membiarkan musuh-musuh besarku ini tewas di
tanganmu."

1289
"Thio Kim-ciok!" kembali suara Hek-mo-ong berkumandang
lagi, "apakah kau yakin dapat membinasakan Ho Lan-hiang
bertujuh?"
Thio Kim-ciok tertawa dingin, "Termasuk kau, berarti
berjumlah delapan orang. Aku yakin tak seorang pun di antara
kalian yang dapat meloloskan diri dalam keadaan selamat."
Hek-mo-ong tertawa terkekeh, katanya, "Sebagai imbalan
dari usaha bantuan membinasakan Ho Lan-hiang sekalian
adalah janjimu menyerahkan peta rahasia tambang emas
kepadaku dan sekarang kau telah berbalik ingin membunuh
sendiri musuh-musuh besarmu itu. Apakah kau pun berniat
membatalkan perjanjian di antara kita?"
"Kita telah berjanji. Setelah kau membantu aku
membinasakan Ho Lan-hiang sekalian, maka antara aku dan
kau pun akan dilangsungkan pertarungan sengit yang akan
menentukan mati hidup di antara kita," sahut Thio Kim-ciok
dingin.
"Tapi aku takut kemampuanmu sangat terbatas sehingga
gagal membunuh Ho Lan-hiang sekalian, sebaliknya malah
mencelakakan diri sendiri. Oleh sebab itu kuanjurkan
kepadamu lebih baik serahkan saja penyelesaian nyawa
mereka kepadaku."
Dari tanya-jawab yang berlangsung antara Hek-mo-ong
dan Thio Kim-ciok ini. Secara garis besar semua orang sudah
mulai memahami apa yang sebenarnya direncanakan kedua
orang yang berkomplot itu.
Mendadak Tio Tian-seng membentak dengan suara keras,
"Liu Khi, bila kau memang bernyali, ayo cepat keluar untuk
berduel mati-matian denganku."
"Hahaha," gelak tawa nyaring Hek-mo-ong segera bergema
memenuhi seluruh ruangan. "Tio Tian-seng, tahukah kau
bahwa di dasar tanah dalam ruangan dimana kalian berpijak
sekarang telah ditanam beratus-ratus obat mesiu yang setiap

1290
saat dapat meledak? Bila kusulut sumbu mesiu itu, maka aku
yakin dalam seperempat jam, kalian akan mampus dengan
tubuh hancur berkeping-keping."
Kawanan jago yang hadir dalam arena kontan terkesiap.
Bong Thian-gak segera memandang sekejap ke arah Thio Kimciok,
lalu tanyanya, "Thio-locianpwe, benarkah apa yang
dikatakannya itu?
"Benar, di dasar lantai ruangan ini memang sudah ditanam
obat peledak dalam jumlah besar. Seandainya benar-benar
meledak, maka daya kekuatannya mampu menenggelamkan
seluruh perkampungan ini ke dasar tanah."
Mendengar sampai di sini, Bong Thian-gak segera
menghela napas panjang, "Apa rencana Thio-locianpwe
selanjutnya untuk menghadapi situasi demikian ini?"
Tiba-tiba Thay-kun tersenyum, selanya, "Bong-suheng tidak
usah kuatir, aku percaya Thio-locianpwe pasti sudah
mempunyai rencana yang rapi untuk menghadapi semua itu."
Dalam pada itu para jago yang berada di dalam ruangan
bawah tanah itu tak berani bertindak lagi secara gegabah,
mereka cuma bisa mengawasi wajah Thio Kim-ciok dengan
mata terbelalak dan pandangan termangu.
Mendadak terdengar lagi suara Hek-mo-ong berseru
lantang dari balik ruangan, "Thio Kim-ciok, dengarkan baikbaik.
Andaikata aku bertekad membatalkan niatku untuk
mendapatkan rahasia peta bukit tambang emas itu dengan
menyulut sumbu mesiu yang berada di sini, entah bagaimana
perasaanmu?"
Thio Kim-ciok tertawa dingin, "Seandainya kau berbuat
demikian, maka kau sendiri pun tak akan terlepas dari
ancaman kematian. Aku yakin dalam seperempat jam, kau tak
akan mampu melepaskan diri dari sini serta menyingkir ke
tempat yang lebih aman."

1291
"Bila aku sudah bertekad untuk mengadu jiwa, apa yang
dapat kau lakukan?"
"Aku rasa kau tidak bakal berbuat demikian," jengek Thio
Kim-ciok sambil tertawa dingin.
"Bagus, kalau begitu tunggu saja!" jengek Hek-mo-ong
sambil tertawa seram.
Begitu selesai berkata, di dalam ruangan itu sudah tak
terdengar lagi suara Hek-mo-ong.
Dengan wajah serius Thio Kim-ciok berkata dingin, "Bila
Hek-mo-ong sudah memperhitungkan secara tepat bahwa
dalam seperempat jam dia mampu meninggalkan Bu-lim-bong
secara aman, maka pada saat itu dia pasti akan menyulut
sumbu mesiu dan meledakkan perkampungan ini. Dan
sekarang aku pun telah memutuskan akan mengajak kalian
meninggalkan Bu-lim-bong ini, tapi di saat kalian telah
meninggalkan Bu-lim-bong, saat itu juga aku akan mulai turun
tangan membunuh setiap musuh besarku yang masih
berkeliaran! Nah, apa yang kukatakan sudah selesai
kuutarakan. Harap kalian mengikuti aku!"
Selesai berkata, Thio Kim-ciok segera membalikkan badan
dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Dengan pedang terhunus, Liong Oh-im segera menghadang
jalan perginya, sambil tertawa ia berseru, "Thio Kim-ciok,
sesudah keluar Bu-lim-bong, kami pun tak punya kesempatan
untuk melanjutkan hidup. Apa salahnya kita berduel saja di
dalam Bu-lim-bong ini untuk menentukan siapa yang harus
mampus di antara kita berdua?"
"Pertarungan berdarah dalam Bu-lim-bong bisa
menyebabkan semua yang hadir tewas," kata Thio Kim-ciok
dingin, "tapi bila hal ini terjadi di luar Bu-lim-bong, maka
keadaannya berbeda. Sekalipun akhirnya kalian akan mampus
juga di tanganku, tapi paling tidak kalian masih dapat hidup
lebih lama lagi."

1292
Tan Sam-cing tertawa dingin, serunya, "Thio Kim-ciok,
bacotmu itu benar-benar kelewat besar dan takabur. Setelah
keluar dari Bu-lim-bong nanti, Tan Sam-cing orang pertama
yang akan mencoba ilmu silatmu."
"Baik!" sahut Thio Kim-ciok sambil manggut-manggut,
"sesudah meninggalkan Bu-lim-bong nanti, orang pertama
yang akan kubunuh adalah kau."
Ketika berbicara sampai di situ, Thio Kim-ciok sudah lewat
di samping Liong Oh-im dan berjalan menuju ke sebuah
lorong bawah tanah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, para jago mengikut
di belakang Thio Kim-ciok memasuki lorong itu, makin ke
dalam luas lorong itu bertambah lebar.
Tapi suasana di situ pun makin lama semakin gelap
sehingga akhirnya untuk melihat jari tangan sendiri pun susah.
Bong Thian-gak bersama Thay-kun dan Song Leng-hui
mengikut di belakang Thio Kim-ciok.
Di saat mereka melewati lorong bawah tanah yang gelap
gulita itu, suasana amat hening dan tak seorang pun yang
berbicara, tapi perasaan setiap orang berat sekali, berbagai
ingatan berkecamuk dalam benak mereka.
Terutama mereka yang berjalan paling belakang seperti Ho
Lan-hiang, malaikat sakti pedang iblis, tabib sakti, delapan
pedang salju beterbangan serta sastrawan berwajah tampan.
Masing-masing dengan menggunakan ilmu menyampaikan
suara saling merundingkan tindakan selanjutnya yang harus
dilakukan setelah meninggalkan Bu-lim-bong, bagaimana
caranya membinasakan Thio Kim-ciok dari muka bumi.
Mendadak terdengar Bong Thian-gak menghela napas
panjang, kemudian bertanya, "Thio-locianpwe, benarkah kau
harus membunuh mereka semua?"

1293
"Dendam sakit hati sedalam lautan cuma dapat dihapus
dengan pembunuhan terhadap musuh-musuhnya," sahut Thio
Kim-ciok hambar. "Apalagi sejak puluhan tahun berselang, aku
punya rencana untuk menghabisi nyawa kesepuluh tokoh
persilatan itu."
Bong Thian-gak terkejut sekali, segera tanyanya, "Thiolocianpwe,
apa maksudmu?"
"Puluhan tahun berselang, di saat aku mengangkat
kesepuluh tokoh persilatan menjadi guru untuk belajar silat,
dalam hati kecilku sudah tumbuh niat dan ambisi untuk
menguasai dunia persilatan."
Ketika mendengar sampai di situ, Bong Thian-gak seolaholah
teringat akan suatu persoalan, segera ujarnya, "Kalau
begitu tindakan sepuluh tokoh persilatan membinasakan
Locianpwe pada tiga puluh tiga tahun berselang adalah
disebabkan..”
Mendadak Bong Thian-gak menutup mulut dan tidak
melanjutkan kata-katanya.
Tapi sambil tertawa dingin Thio Kim-ciok telah berkata,
"Sesungguhnya sebab-musabab sepuluh tokoh persilatan
bekerja sama membunuh diriku, selain dikarenakan mereka
berzinah dengan istriku Ho Lan-hiang dan mengincar harta
karun milikku. Tujuan utama ialah kuatir bila aku
mengkhianati mereka sebagai guru serta menguasai seluruh
dunia. Itulah sebabnya mereka turun tangan lebih dahulu."
"Ku-lo Hwesio mempunyai pengetahuan yang paling luas di
antara rekan-rekannya. Di saat ia mewariskan ilmu silat
kepadaku dulu, rupanya ia berhasil menemukan tulang
pemberontak yang tumbuh di atas kepalaku, merupakan
pertanda bahwa di kemudian hari aku akan mengkhianati
perguruan serta menciptakan bencana serta keonaran di
seluruh dunia."

1294
"Apakah Thio-locianpwe benar-benar mempunyai niat
semacam itu?" tanya Bong Thian-gak lagi dengan perasaan
kaget.
"Benar, di atas kepalaku memang tumbuh tulang
pemberontak. Waktu itu aku memang berniat jahat serta
bertabiat kejam, buas dan licik," jawab Thio Kim-ciok sambil
tertawa seram.
Ketika mendengar sampai di sini, tanpa terasa Bong Thiangak
bergidik, katanya kemudian, "Apakah sampai kini tabiat
Thio-locianpwe itu belum juga berubah?"
Thio Kim-ciok tertawa dingin, "Merubah bukit dan alam itu
mudah, tapi merubah watak sulit."
Setelah memperdengarkan suara tawa dinginnya yang licik,
keji dan buas, dia berkata lebih jauh, "Sepanjang hidupku, aku
paling kagum terhadap seorang saja yaitu Thay-kun. Sekilas
pandang saja ia sudah dapat mengetahui bahwa aku adalah
seorang raja pembunuh yang keji, buas dan licik. Tapi
akhirnya Thay-kun mengizinkan juga Song Leng-hui
menyembuhkan penyakitku agar Lohu dapat memiliki kembali
kekuatan yang kumiliki dulu. Tapi dengan perbuatan Thay-kun
itu, sama artinya telah menyelamatkan jiwa kalian semua.
Sebab menuruti tabiatku, kalian pun jangan harap bisa lolos
dari cengkeraman mautku."
Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri Bong Thian-gak
mendengar itu, mimpi pun dia tak menyangka Thio Kim-ciok
sesungguhnya memang seorang jahat, buas, kejam dan licik
bagai seekor ular berbisa.
Tapi dari beberapa patah kata Thio Kim-ciok itu pula dia
dapat merasakan juga bahwa badai pembunuhan berdarah
sudah mengancam ketenangan dunia persilatan.
Perasaan Bong Thian-gak waktu itu sangat berat dan
masgul. Sebetulnya ia sudah bertekad tak akan mencampuri
pertikaian itu, tapi sekarang tentu saja ia tak bisa berpeluk

1295
tangan menyaksikan Thio Kim-ciok membunuh sesamanya
secara keji dan tak berperasaan.
Tapi antara dia dan Thio Kim-ciok pun tak pernah terjalin
perselisihan atau sakit hati apa pun, bagaimana mungkin ia
dapat turun tangan mencegah dirinya membalas dendam
terhadap sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang.
Padahal sesungguhnya Ho Lan-hiang sekalian bukanlah
manusia baik-baik, bukankah mereka pun merupakan
gembong-gembong iblis yang keji, buas, cabul serta banyak
melakukan kejahatan?
Sementara Bong Thian-gak masih pusing memikirkan
masalah itu, mendadak terdengar Thio Kim-ciok berteriak,
"Hek-mo-ong telah mulai menyulut sumbu mesiu, seperempat
jam lagi seluruh permukaan bumi ini akan tenggelam. Ayo
cepat kabur dari sini, siapa tahu dapat meloloskan diri dari
musibah?"
Rupanya pada saat itu semua orang dapat menangkap
suara sumbu mesiu dibakar. Di samping itu, hidung mereka
pun dapat mengendus bau mesiu yang amat menusuk.
Entah bagaimanakah sistim bangunan dalam lorong Bu-limbong
itu, nyatanya begitu sumbu mesiu disulut, dalam waktu
singkat api telah menutup setiap sudut lorong.
Paras muka para jago segera berubah hebat, mereka sudah
tak berminat lagi memikirkan bagaimana cara menghadapi
Thio Kim-ciok.
Tampak Thio Kim-ciok meluncur ke depan dengan
kecepatan tinggi, sementara para jago lainnya mengikut di
belakangnya secara membabi-buta.
Lorong bawah tanah itu sangat gelap dan tak ada setitik
cahaya pun, semua orang merasa telah menempuh suatu
perjalanan yang amat jauh.

1296
Mendadak terdengar Thio Kim-ciok berseru keras dari ujung
lorong bawah tanah itu, "Tempat ini merupakan daerah
perkampungan, sekarang aku akan menyulut sumbu mesiu
yang tersembunyi di sini untuk meledakkan dinding batu di
atas sana."
Sambil berkata, tampak cahaya api memancar dalam
lorong, tahu-tahu Thio Kim-ciok telah menyulut sebuah sumbu
hitam sebesar jari tangan yang tergantung di atas dinding
ruangan.
Dalam waktu singkat cahaya api memancar kemana-mana,
sumbu yang disembunyikan di atas dinding lorong pun mulai
terbakar.
Di antara kawanan jago yang hadir di situ, ada di antaranya
yang tidak percaya kepada Thio Kim-ciok, namun sewaktu
ingin menghalangi perbuatannya itu, keadaan sudah
terlambat.
Sementara itu terdengar Thio Kim-ciok telah berkata
kembali, "Untuk mencapai pusat bahan peledak di atas dinding
batu itu, kita membutuhkan waktu tiga menit. Seandainya
dinding batu itu meledak sebelum bahan peledak di dasar
lorong itu meletus, berarti kita akan mampus terkubur di
tempat ini"
Biarpun para jago tidak percaya penuh terhadap
perkataannya itu, namun di saat jiwa terancam di depan mata,
tak urung setiap orang merasakan juga hatinya berdebar
keras.
Puluhan pasang mata bersama-sama ditujukan ke atas
sumbu mesiu yang sedang terbakar dan merambat ke atas
dengan cepatnya itu. Dengan harap-harap cemas mereka
berdoa agar api segera mencapai puncak dan meledakkan
dinding batu di atas permukaan tanah.
Biarpun waktu tiga menit itu sangat pendek, namun dalam
perasaan mereka waktu itu lamanya bagaikan tiga tahun.

1297
Pada saat itulah terdengar Thio Kim-ciok berkata lagi,
"Tindakan Hek-mo-ong menyulut sumbu mesiu di dasar lorong
rupanya telah memperpanjang umur kalian semua."
"Thio-locianpwe, apa maksudmu?" tanya Bong Thian-gak
dengan tidak mengerti.
"Kini sumbu mesiu di dasar lorong Bu-lim-bong telah
menyala setiap saat bakal meledak hebat. Kekuatan yang
tercipta akibat ledakan itu bisa menenggelamkan lorong ini
dan kehebatan goncangan yang dihasilkan tak akan mampu
dilawan oleh siapa pun. Oleh sebab itu, di saat dinding batu
itu meledak nanti, bila kalian masih menginginkan nyawa,
berlarilah sekuat tenaga melampaui lorong ini. Kalau tidak,
kalian jangan harap bisa lolos dari ancaman maut."
"Tapi dengan begitu berarti juga aku sudah tak punya
kesempatan untuk membantai kalian semua. Bukankah ini
berarti Hek-mo-ong telah memperpanjang nyawa kalian?"
"Tapi setelah aku berhasil mencapai di atas, aku bakal balik
kemari mencari kalian satu per satu serta membalas dendam."
Baru selesai perkataan itu diucapkan, mendadak terdengar
suara ledakan yang dahsyat.
Seluruh permukaan lorong bergoncang keras, disusul
guguran batu dan tanah berhamburan di hadapan mereka,
ternyata dinding di atas permukaan telah hancur berantakan
dan sinar fajar memancar masuk ke dalam lorong itu.
Di antara pasir dan debu yang beterbangan, Thio Kim-ciok
sudah melompat keluar lebih dulu, kabur secepat-cepatnya
menuju ke muka, sambil berlari kencang pekiknya, "Cepat
kabur!"
Semua jago yang berada dalam lorong bawah tanah segera
berhamburan keluar dari liang ledakan yang merekah dan
berusaha secepat-cepatnya melarikan diri dari tempat itu.

1298
Akibat saling berebutnya para jago menyelamatkan diri,
akhirnya Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui
malah ketinggalan paling akhir.
Angin dingin berhembus, kabut amat tebal, rupanya
kentongan kelima baru saja lewat, fajar pun mulai
menyingsing dari ufuk timur.
Bong Thian-gak serta Thay-kun dan Song Leng-hui berdiri
sekejap di tepi liang, mereka saksikan bayangan orang sedang
melarikan diri ke empat penjuru dengan kecepatan luar biasa
dan lenyap di balik kabut pagi yang tebal.
Bong Thian-gak berpaling ke sebelah barat. Di sana
ternyata ada perkampungan.
Menyaksikan itu, mereka menjadi tertegun. Apa yang baru
saja dialaminya, serasa bagaikan dalam alam impian.
Terdengar Thay-kun berseru cemas, "Bong-suheng,
kemungkinan besar apa yang dikatakan Thio Kim-ciok itu
benar, mari kita pergi secepatnya dari sini!"
Dia segera menarik tangan Bong Thian-gak serta Song
Leng-hui, diajak kabur menjauhi ke arah timur.
Dengan ragu-ragu Bong Thian-gak berkata, "Thio Kim-ciok
adalah manusia licik dan banyak akal muslihatnya, semua
perkataan maupun tindak-tanduknya sungguh membuat orang
sukar untuk percaya."
"Aku sendiri tidak percaya," sambung Song Leng-hui.
"Andaikata apa yang dikatakan memang benar, ingin sekali
kusaksikan peristiwa tenggelamnya lorong yang dimaksud."
"Jika ingin melihat, paling tidak kita harus lari lebih dulu
sebelum berhenti untuk menonton!"
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang ini
memang amat sempurna, mereka meluncur cepat
meninggalkan tempat itu.

1299
Pada saat itulah mendadak suatu ledakan dahsyat bergema
memecah keheningan.
Menyusul ledakan yang maha dahsyat ini, tampak jilatan
lidah api membumbung tinggi ke tengah udara.
Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui bertiga
segera merasakan permukaan tanah bergoncang sangat keras
bagaikan dilanda gempa bumi berkekuatan besar, kepala
mereka jadi pusing, pandangan berkunang-kunang dan
sepasang kaki mereka tak mampu lagi berdiri tegak di atas
permukaan tanah.
Menyaksikan itu, Thay-kun berseru dengan cemas,
"Permukaan tanah akan tenggelam, kita harus segera
melompat ke depan."
Bong Thian-gak tidak menyangka peristiwa yang dianggap
bagaikan dalam impian itu bakal berubah menjadi kenyataan,
dalam terkejutnya mereka bertiga segera mengerahkan
seluruh kekuatan yang dimiliki untuk berlari ke muka.
Serentetan ledakan yang sangat dahsyat kembali bergema
susul-menyusul.
Bong Thian-gak telah melihat permukaan tanah di
hadapannya merekah dan tenggelam akibat ledakan dahsyat
itu.
Cepat mereka bertiga menjejakkan kaki ke atas permukaan
tanah yang belum tenggelam, lalu dengan sekuat tenaga
melompat ke muka dan berlari kencang.
Di saat ujung kaki mereka menjejak tanah untuk kedua
kalinya, suatu kekuatan dahsyat telah menggelegar. Seluruh
permukaan bumi bagaikan bergoncang keras, ketiga orang itu
tak mampu berdiri tegak lagi dan segera terlempar ke atas
tanah.

1300
Bumi bergoncang hebat membuat Bong Thian-gak, Thaykun
serta Song Leng-hui merasakan kepala pusing, mata
berkunang-kunang dan tak sanggup berdiri tegak.
Terpaksa mereka harus merangkak di atas tanah,
merangkak dengan sekuat tenaga menuju ke depan dan
melawan goncangan tanah yang makin menghebat.
Diam-diam Bong Thian-gak berpikir dalam hati, "Habis
sudah riwayatku! Kami bertiga pasti akan terkubur untuk
selamanya di sini."
Sementara itu Thay-kun menggenggam tangan Song Lenghui,
mereka berdua segera berteriak, "Engkoh Gak, dimanakah
kau?"
Bong Thian-gak mendongakkan kepala, ia saksikan kedua
orang gadis itu tak jauh dari sisi tubuhnya, namun berhubung
permukaan tanah bergoncang terlalu hebat mengakibatkan
pandangan mata menjadi kabur dan kedua orang gadis itu tak
sempat menjumpai dirinya.
"Aku berada di sini," sahut Bong Thian-gak dengan suara
keras.
Sambil berteriak Bong Thian-gak berusaha keras
merangkak ke depan dan menghampiri mereka, goncangan
yang begitu dahsyat dan hebat membuatnya sama sekali tak
mampu bergerak lagi.
Pada saat itulah Thay-kun melihat Bong Thian-gak, sambil
menangis teriaknya lagi, "Engkoh Gak, jika kita harus mati,
biarlah kita bertiga dikubur bersama-sama. Kau cepatlah
kemari!"
Kedua gadis itu berusaha keras merangkak ke depan
mendekati Bong Thian-gak.
Tenaga goncangan yang makin menghebat itu membuat
mereka tak sanggup lagi memberikan perlawanan. Bong
Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui merasakan tekanan

1301
udara yang menggencet tubuh mereka semakin bertambah
berat.
Mereka bertiga segera merasakan bernapas kian bertambah
susah, kesadaran pun makin menurun.
Rupanya pada saat itu permukaan tanah mulai tenggelam
ke bawah.
Tenggelamnya permukaan tanah menimbulkan pusaran
angin yang sangat kuat membuat udara sekeliling situ
membumbung ke atas, akibatnya udara sekeliling tempat itu
menjadi kekurangan zat asam. Itulah sebabnya Bong Thiangak
bertiga merasa sukar untuk bernapas.
Kembali terjadi ledakan yang maha dahsyat, diikuti
goncangan yang sangat kuat.
Matahari serasa tidak bersinar lagi, dunia seolah-olah
berubah menjadi gelap-gulita.
Bong Thian-gak, Song Leng-hui serta Thay-kun tidak
mampu bertahan diri lagi, mereka jatuh tak sadarkan diri.
Peristiwa aneh dengan tenggelamnya permukaan tanah ke
dalam perut bumi pun tak sempat lagi mereka saksikan.
Tatkala mereka sadar dari pingsannya. Pertama-tama yang
masih dirasakan adalah bumi yang masih bergoncang serta
kepala pening dan mata berkunang-kunang.
Bong Thian-gak yang pertama-tama membuka mata lebih
dulu. Ia saksikan langit nan merah, cahaya matahari yang
lembut di langit belah barat, rupanya senja telah menjelang
datang.
Suasana dan pemandangan di sekeliling tempat itu pun
samakali telah berubah.
Tempat dimana mereka berada sudah dipenuhi air lumpur.
Dari balik liang besar yang menganga bagaikan telaga,

1302
nampak asap putih yang panas masih mengepulkan asap
seperti peristiwa timbulnya kawah ini di pegunungan berapi.
Menyusul Thay-kun dan Song Leng-hui sadar dari
pingsannya, dua nona ini segera dibuat tertegun dan melongo
oleh pemandangan aneh yang terbentang di depan mata,
tanpa terasa mereka bergumam, “Nerakakah ini?"
"Tidak, kita masih berada di alam semesta," sahut Bong
Thian-gak sambil menghela napas sedih. "Musibah telah
berlalu dan ternyata kita masih hidup di dunia ini."
Andaikata waktu itu mereka berlari kurang cepat, niscaya
tubuh mereka bertiga sudah mati terkubur di dalam perut
bumi.
Rupanya setelah mengalami ledakan dahsyat yang
berakibat tenggelamnya tanah dalam perut bumi ini, tanah
padang rumput kini telah berubah menjadi sebuah kubangan.
Bukan cuma itu, pada permukaan tanah terjadi pula
retakan bumi yang sangat besar, yang kecil menjadi selokan,
sedangkan yang besar berubah menjadi sungai. Malah semua
pepohonan tumbang, sedang rerumputan menjadi layu.
Betapa dahsyat serta mengerikannya peristiwa ledakan
yang baru saja berlangsung itu.
Thay-kun memandang sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian dengan paras muka berubah hebat katanya sambil
menghela napas, "Entah berapa banyak obat peledak yang
telah ditanam Thio Kim-ciok pada dasar Bu-lim-bong itu?
Nyatanya ledakan yang terjadi bisa berakibat tenggelamnya
permukaan tanah. Ai! Bila dilihat dari rekahan tanah dan
hancurnya bebatuan di sini, bisa diduga dasar Bu-lim-bong
tentu sudah berubah menjadi sebuah gunung berapi kecil."
Matahari senja masih memercikkan sinar, membuat
permukaan tanah nampak merah membara.

1303
Bagaikan baru terlepas dari peristiwa mengerikan, Bong
Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui bertiga pelan-pelan
berjalan menuju ke arah timur dengan wajah kusut.
Setelah mengalami peristiwa luar biasa ini, tampaknya
perasaan mereka sudah dingin dan hambar. Persoalan apa
pun yang terjadi di dunia persilatan sudah tak ada daya tarik
lagi untuk mereka campuri.
Dengan langkah yang lelah dan lemas, mereka keluar dari
tempat itu mencari tempat terpencil untuk hidup
mengasingkan diri.
Mendadak terdengar suara pekikan nyaring yang amat
keras berkumandang datang mengikuti hembusan angin.
Dengan perasaan kaget dan terkesiap mereka bertiga
segera mendongakkan kepala. Mereka saksikan ada seseorang
sedang mengejar orang yang lain.
Yang kabur sudah jelas pihak yang kalah, sambil berlari dia
masih memberikan perlawanan gigih, namun rambutnya
sudah terurai kusut. Meskipun pedang di tangannya berulang
kali masih melancarkan serangan gencar dan mematikan,
namun sudah jelas ia tidak mampu lagi menghadapi serangan
maut pedang pendek lawan.
Suatu ketika tampak cahaya pedang berkelebat, pedang
pendek sang pengejar telah berhasil menghujam ke tubuh
pihak yang kalah itu.
Jeritan keras yang mengerikan pun bergema. Dengan
langkah terhuyung-huyung orang yang menderita kekalahan
itu melarikan diri terbirit-birit menuju ke hadapan Bong Thiangak
bertiga.
Orang yang kalah bertarung itu sudah melihat dengan jelas
paras Bong Thian-gak bertiga, kulit wajahnya nampak
mengejang keras menahan penderitaan luar biasa, sementara

1304
sorot matanya memancarkan sinar merengek yang amat
mengibakan.
Mendadak Thay-kun berseru tertahan, "Ah, rupanya Tan
Sam-cing Locianpwe!"
Biarpun orang yang kalah bertarung itu sudah berlepotan
darah di seluruh wajahnya hingga kelihatan amat
menakutkan, namun Bong Thian-gak bertiga masih dapat
mengenali dirinya. Dia memang tak lain adalah Tan Sam-cing,
seorang di antara sepuluh tokoh persilatan.
Sang pemenang dengan garang dan gagahnya melompat
turun di hadapan lawan.
Kembali Bong Thian-gak bertiga berseru tertahan, "Ah,
rupanya Thio Kim-ciok Locianpwe."
Betul, Thio Kim-ciok. Waktu itu tangan kanannya
menggenggam pedang pendek yang memancar sinar putih
berkilauan, wajah kelihatan dingin, kaku, sadis, buas dan
mengerikan.
Dalam pada itu Tan Sam-cing telah berseru dengan nada
merengek, "Jian-ciat-suseng, tolonglah aku, bantulah diriku”
Bong Thian-gak menggeleng dengan hambar, sahutnya
dengan wajah serius, "Kami sudah tak ingin terlibat dalam
kasus bunuh-membunuh yang berlangsung di antara kalian."
"Tapi dia bukan cuma ingin membunuh sepuluh tokoh
persilatan saja, dia pun akan membantai setiap umat
persilatan yang ada di dunia ini," jerit Tan Sam-cing dengan
perasaan kaget bercampur ketakutan.
Thio Kim-ciok segera tertawa menghina, jengeknya, "Tan
Sam-cing, bukankah kau nampak gagah dan perkasa selagi
berada di dalam Bu-lim-bong tadi? Sungguh tak kusangka kau
berubah menjadi begini lemah. Kasihan ... oh benar-benar
mengenaskan. Siapa orangnya di dunia ini yang tidak merasa

1305
takut menghadapi kematian? Dan siapa pula yang bisa lolos
dari maut? Aku rasa kau pun tak perlu menyesal lagi."
Sampai di situ, pedang pendeknya yang sudah diangkat
tinggi-tinggi itu pelan-pelan digerakkan ke bawah menusuk
dada Tan Sam-cing.
Tampaknya Tan Sam-cing sudah dalam keadaan tak
mampu melakukan perlawanan lagi dan hanya bisa
membelalakkan mata menyaksikan pedang pendek itu pelanpelan
menusuk ke tubuhnya.
Perasaan ngeri, seram, ketakutan serta berbagai perasaan
lainnya serentak bermunculan dari balik matanya.
Ia nampak begitu mengenaskan, patut dikasihani dan
sangat menyedihkan.
Mendadak Bong Thian-gak berteriak, "Tunggu sebentar,
Thio-locianpwe."
Namun Thio Kim-ciok sama sekali tidak menggubris,
pedang pendek di tangannya juga tidak berhenti karena
teriakan Bong Thian-gak itu. Dalam waktu singkat mata
pedang yang putih dan dingin telah menembus badan Tan
Sam-cing.
Ketika pedang pendek itu dicabut kembali, mata pedang
masih kelihatan putih bersih bagaikan salju, tapi cairan darah
segar telah memancar dari mulut luka di dada Tan Sam-cing.
Jeritan ngeri yang memilukan hati pun berkumandang
memecah keheningan.
Jeritan yang begitu mengerikan sekali lagi bergema di luar
dugaan siapa pun.
Bong Thian-gak segera mengernyitkan alis sambil diamdiam
berpikir, "Apa seramnya suatu kematian? Hm, namanya
saja seorang jago silat yang tercantum dalam deretan sepuluh
tokoh persilatan, mengapa baru terkena sekali tusukan saja ia
sudah menjerit-jerit macam begitu? Sungguh tak tahu malu."

1306
Agaknya Thay-kun serta Song Leng-hui mempunyai
perasaan yang sama.
Dalam pada itu agaknya Thio Cim-ciok tak rela membiarkan
Tan Sam-ceng menemui ajalnya dalam waktu singkat. Oleh
sebab itu, tusukan pedangnya sama sekali tidak tertuju ke
bagian mematikan.
Jerit kesakitan Tan Sam-cing itu bagi pendengaran Thio
Kim-ciok justru mendatangkan perasaan gembira yang luar
biasa, ia segera tertawa terbahak-bahak dengan penuh
kegembiraan.
Dengan nada seram dan ketakutan kembali Tan Sam-cing
berseru, "Thio Kim-ciok, kumohon kepadamu cepatlah cabut
nyawaku, janganlah kau siksa diriku lagi!"
Thio Kim-ciok mendengus dingin, "Hm, tiga puluh tiga
tahun berselang, racun Hok-teng-ang telah cukup membuatku
tersiksa dan menderita. Siksaan yang kurasakan waktu itu
benar-benar tak dapat diutarakan dengan perkataan, sekarang
aku tak lebih cuma menusuk tubuhmu dengan sebilah pedang
pendek, apakah siksaan dan penderitaan yang kau rasakan
jauh lebih hebat daripada siksaan Hok-teng-ang?"
"Pedangmu itu sudah kau rendam dengan racun keji,"
teriak Tan Sam-cing dengan ketakutan, "ketika menusuk ke
dalam tubuh, rasa sakitnya bukan kepalang. Kau ... kau
sangat keji, buas, tidak berperikemanusiaan. Kumohon ...
kumohon padamu, cepatlah hadiahkan sebuah pukulan lagi
untuk menghabisi nyawaku secepatnya!"
Tatkala Bong Thian-gak bertiga mendengar perkataan Tan
Sam-cing ini, paras mukanya berubah hebat.
"Thio-locianpwe, benarkah di atas pedangmu sudah kau
olesi dengan racun?" Thay-kun segera menegur dengan suara
ngeri.

1307
Thio Kim-ciok tertawa terbahak-bahak penuh rasa bangga,
katanya, "Betul, pedangku ini merupakan sebilah pedang
manusia cacat yang kuciptakan selama puluhan tahun dan
direndam dalam sari racun selama banyak tahun. Bukan saja
pedang ini mengandung seratus jenis racun yang keji, mata
pedangnya amat tajam, bila tertusuk ke dalam tubuh manusia
yang berdarah panas akan menimbulkan penderitaan dan
siksaan yang tak terlukiskan."
Baru sekarang Bong Thian-gak bertiga mengerti apa
sebabnya Tan Sam-cing, jago tua yang gagah dan perkasa
ternyata memperdengarkan suara jeritan kesakitan yang
begitu memilukan walau hanya termakan sebuah tusukan
saja.
Dari sini dapatlah disimpulkan betapa kejam, buas dan
jahatnya Thio Kim-ciok.
Bila dia ingin membalas dendam, seharusnya sekali tusukan
saja musuhnya dapat tertusuk mati, tapi dia tidak ingin
berbuat demikian, dia hendak menyiksa lawannya secara keji
dan buas, agar lawannya mati setelah menderita siksaan luar
biasa.
Berubah paras muka Bong Thian-gak menyaksikan kejadian
itu, ujarnya kemudian setelah menghela napas sedih, "Thiolocianpwe,
buat apa kau menyiksa orang dengan cara begitu
keji dan buas? Kumohon kepadamu, berilah sebuah kematian
yang cepat untuk Tan Sam-cing!"
Thio Kim-ciok tertawa seram, "Andai aku harus membunuh
dalam sebuah tusukan, lebih baik aku tak usah
membunuhnya. Hm! Kematian adalah suatu peristiwa yang
amat sederhana, asal mata sudah terpejam maka segala
sesuatunya tak diketahui lagi. Itulah sebabnya aku akan
membuat musuh-musuh besarku merasakan siksaan dan
penderitaan yang paling keji di kolong langit sebelum
membiarkan dia mampus."

1308
"Bong-laute, sekali lagi kuperingatkan kepadamu, jangan
sekali-kali mencampuri urusan pribadiku atau aku pun akan
menggunakan cara yang sama kejinya untuk membinasakan
kalian."
Seusai berkata, kembali Thio Kim-ciok menggunakan
pedangnya menusuk lambung Tan Sam-cing.
Penderitaan serta siksaan yang dialami Tan Sam-cing saat
ini benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata. Tubuhnya
seperti ditusuk-tusuk jarum tajam, kulit dagingnya serasa
disayat pisau, penderitaannya seratus kali lipat lebih hebat
daripada siksaan macam apa pun.
Pedang manusia cacat mendatangkan siksaan dan
penderitaan yang mengerikan. Mungkin hanya mereka yang
pernah merasakan tusukan itu yang dapat melukiskan.
Kembali Tan Sam-cing memperdengarkan jerit kesakitan
yang memilukan, jeritannya seperti babi disembelih,
mendatangkan perasaan ngeri dan seram bagi siapa saja yang
mendengar.
Tan Sam-cing tak sanggup menahan diri lagi, dia segera
mengayun telapak tangannya siap menghabisi nyawa sendiri.
Tapi pedang pendek Thio Kim-ciok segera diayunkan ke
depan dan telapak tangannya pun terpapas kutung menjadi
dua.
Ketika ia mencoba menggigit putus lidahnya untuk bunuh
diri, jari telunjuk tangan kiri Thio Kim-ciok kembali menotok
jalan darah di atas gerahamnya sehingga mulut itu tak dapat
tertutup.
Pokoknya dia harus merasakan siksaan keji lebih dulu
sebelum mengakhiri perjalanan hidupnya.
Akhirnya Tan Sam-cing menemui ajal.

1309
Di atas tubuhnya, seluruhnya terdapat empat puluh dua
tusukan pedang.
Sejak tusukan pertama pedang manusia cacat menembus
tubuh Tan Sam-cing, dia harus merasakan siksaan dan
penderitaan selama tiga jam sebelum akhirnya mati secara
mengenaskan.
Segala penderitaan dan siksaan tak bakal mempengaruhi
dirinya lagi.
Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui telah
menyaksikan cara membunuh orang yang paling sadis, kejam
dan buas yang pernah ada di dunia ini.
Mereka tak mampu mencegah perbuatan keji Thio Kim-ciok
dan hal ini telah mendatangkan perasaan menyesal yang amat
mendalam bagi perasaan mereka. Suatu kejadian yang amat
memalukan, karena sebagai seorang pendekar dari golongan
lurus, mereka berpeluk tangan membiarkan orang lain
menderita dan terpaksa mati secara keji dan sadis!
Selesai membinasakan Tan Sam-cing, Thio Kim-ciok
berkata, "Bong-laute, keteguhan imanmu sungguh
mengagumkan, akhirnya kau tidak mencampuri urusanku
serta mendatangkan kesulitan bagi dirimu sendiri. Aku merasa
amat kagum."
Dengan suara hambar Bong Thian-gak bertanya, "Agaknya
Tan Sam-cing adalah korban pertama Thio-locianpwe setelah
meninggalkan lorong bawah tanah Bu-lim-bong?"
Thio Kim-ciok mendesis dingin, "Hitung-hitung Tan Samcing
memang termasuk orang yang bernyali. Tatkala daratan
itu sudah tenggelam, dia tidak berusaha melarikan diri dari
sini, sebaliknya justru datang sendiri mencari aku. Itulah
sebabnya dia menempati urutan pertama sebagai korbanku."
"Siapa pula yang akan menjadi korbanmu yang kedua?"
tanya Bong Thian-gak kemudian dengan nada serius.

1310
Thio Kim-ciok tertawa terbahak-bahak.
"Mungkin orang itu adalah sastrawan berwajah tampan
Liong Oh-im!"
Sementara itu Song Leng-hui telah berkata pula dengan air
mata bercucuran, "Thio-locianpwe, kumohon padamu
janganlah membunuh orang lagi, sebab setiap kali kau
membunuh orang, sama artinya dengan aku yang telah
membunuh orang itu."
Thio Kim-ciok tertawa terbahak-bahak pula, "Benar,
engkaulah yang telah menciptakan diriku menjadi seorang raja
baru di dunia persilatan, kau mestinya merasa bangga kepada
semua orang dan menjadi seorang sombong karena
kemampuanmu. Nona Song, apa pula yang kau sedihkan?"
"Raja pembunuh ... raja baru dunia persilatan? Apakah kau
ingin menguasai seluruh jagat?" tanya Thay-kun terkejut.
Thio Kim-ciok tertawa tiada hentinya, "Yang menjadi
ambisiku bukan menjadi seorang raja dalam Kangouw saja,
tapi seorang kaisar kerajaan besar. Hahaha, tatkala aku sudah
selesai menyiksa serta membunuh segenap musuh-musuhku,
maka mata pedangku akan kutunjukkan kepada dinasti
kerajaan ini. Aku akan mengumpulkan pasukan dan
memberontak. Waktu itu aku tentu membutuhkan banyak
sekali tenaga dukungan dan bantuan dari kaum muda yang
pintar dan berbakat macam kalian. Andaikan kalian bertiga
memiliki pula ambisi sebesar itu, silakan membantu usahaku
ini, mari kita bekerja sama membangun satu kerajaan baru di
negeri ini."
Thay-kun, Bong Thian-gak serta Song Leng-hui menjadi
tertegun dan berdiri terbelalak dengan mulut melongo. Saat
itu Bong Thian-gak sekalian baru mengerti apa sebabnya Ku-lo
Hwesio dari Siau-lim-si rela melakukan perbuatan terkutuk
dengan berusaha membinasakan Thio Kim-ciok.

1311
Mengusir bangsa Tartar dan memulihkan kembali bangsa
dan negara dari kaum penjajah memang merupakan tugas
suci setiap insan yang merasa dirinya bangsa Han. Tapi
dengan kekejaman, kebuasan serta kesadisan manusia macam
Thio Kim-ciok ini, bukan saja tidak akan berhasil menciptakan
pekerjaan besar demi kesejahteraan masyarakat, bahkan
sebaliknya akan membawa setiap orang terjerumus ke dalam
penderitaan dan siksaan yang tak terhingga.
Bong Thian-gak bertiga bukan manusia bodoh yang mudah
dipedaya begitu saja, sudah barang tentu mereka pun dapat
melihat bahwa Thio Kim-ciok bukanlah juru selamat yang akan
membawa rakyat bangsa Han menuju ke suatu kehidupan
yang lebih cerah.
Oleh karena itu bukan saja Bong Thian-gak bertiga tidak
dapat membantu usaha Thio Kim-ciok, malahan sebaliknya
perkataan dan ungkapan ambisi orang itu telah
membangkitkan hawa membunuh dalam hati mereka.
Ketiga muda-mudi itu tahu dalam kehidupan bermasyarakat
yang cinta damai ini, jangan sekali-kali raja setan pembunuh
manusia semacam ini dibiarkan hidup terus.
Akan tetapi Bong Thian-gak sekalian pun sadar bahwa ilmu
silat yang dimiliki Thio Kim-ciok sudah mencapai tingkatan
yang luar biasa, tak mungkin kekuatan mereka bertiga mampu
melenyapkan dia pada saat ini.
Thio Kim-ciok sendiri pun bukan seorang bodoh. Dari
perubahan wajah serta cara bicara ketiga muda-mudi itu, dia
mengerti bahwa Bong Thian-gak sekalian tak bakal membantu
ambisinya itu.
Maka sesudah tertawa terbahak-bahak, katanya, "Biarpun
aku termasuk orang yang keji, tapi dalam kehidupan seharihari
aku dapat membedakan mana budi dan dendam. Asalkan
Bong-laute sekalian tidak berniat mencampuri urusan dunia
persilatan lagi, maka aku pun tak akan mengusik kalian, lebih

1312
baik kalian bertiga hidup mengasingkan diri di tempat terpencil
dan tak usah mengurusi masalah lain. Tapi ingat, satu kali
kalian berniat mencampuri urusan dunia persilatan, maka aku
pun tak akan diam. Nah, sampai ketemu lagi di lain waktu."
Begitu selesai berkata, Thio Kim-ciok segera melejit ke
tengah udara dan beberapa kali loncatan saja, bayangan
tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Senja makin redup, angin dingin berhembus kencang,
suasana di jagat raya ini terasa seram dan mengerikan.
Memandang mayat Tan Sam-cing yang terkapar di atas
tanah dalam keadaan mengerikan itu, Bong Thian-gak
menghela napas sedih seraya berkata, "Thay-kun, kita harus
berusaha keras mencegah perbuatan Thio Kim-ciok melakukan
pembunuhan lebih lanjut."
"Masih untung kita tidak berusaha menghalangi
perbuatannya hari ini. Kalau tidak, mungkin kita pun tak akan
lolos dari musibah ini," sahut Thay-kun hambar.
Kembali Bong Thian-gak menghela napas, "Tapi apakah
kita harus membiarkan seorang raja iblis pembunuh manusia
membantai orang dengan semena-mena?"
"Perbuatan Thio Kim-ciok yang mencari balas terhadap
sepuluh tokoh persilatan bukanlah suatu perbuatan berdosa."
"Thio Kim-ciok mempunyai tulang pemberontak di
kepalanya, ambisi yang terkandung dalam dadanya sudah
bukan melulu menguasai dunia persilatan. Dengan kepandaian
silat yang dimilikinya serta didukung oleh kekayaannya yang
berlimpah-ruah, dia benar-benar bisa mengumpulkan tentara
untuk memberontak serta membuat keonaran dimana-mana,
dia akan menciptakan suatu badai pembunuhan yang
mengerikan di negeri ini."
"Ya, siapa pun di dunia ini memang tak akan kenal puas,"
ucap Thay-kun sambil manggut-manggut. "Bisa jadi Thio KimTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
1313
ciok akan mewujudkan ambisinya mengumpulkan pasukan
serta melakukan pemberontakan."
"Tapi bila kita bertiga ingin mencampuri urusan ini,
kemungkinan besar kita pun akan tewas secara mengerikan di
ujung pedang iblis Thio Kim-ciok."
"Apabila kita bisa bekerja sama dengan Tio Tian-seng
sekalian, aku pikir kita masih mampu melawan Thio Kim-ciok,"
kata Bong Thian-gak dengan suara dalam.
Thay-kun segera tersenyum.
"Bila ingin menandingi Thio Kim-ciok, kita butuh bantuan
dari orang-orang berkepandaian silat macam Tio Tian-seng
sebanyak enam-tujuh orang. Dengan himpunan kekuatan
sebesar ini, Thio Kim-ciok baru bisa ditanggulangi."
"Sekarang dengan kekuatan kita bertiga, ditambah Tio
Tian-seng atau sastrawan berwajah tampan, berarti kita masih
kekurangan tenaga satu dua orang lagi. Apakah kita pun harus
bekerja sama dengan Ho Lan-hiang?"
"Kebusukan dan kesesatan Ho Lan-hiang rasanya tidak
kalah dengan kejahatan Thio Kim-ciok," kata Bong Thian-gak
dingin.
"Benar," sambil tersenyum Thay-kun manggut-manggut.
"Bukan hanya Thio Kim-ciok seorang dalam persilatan ini yang
bisa mendatangkan bencana dan kemusnahan bagi umat
persilatan. Itulah sebabnya kita wajib memberi kesempatan
kepada Thio Kim-ciok untuk membantai habis manusiamanusia
seperti Hek-mo-ong dan Ho Lan-hiang sekalian."
"Tetapi orang kedua yang akan dibunuh Thio Kim-ciok
adalah Liong Oh-im bukan Hek-mo-ong atau Ho Lan-hiang
seperti yang kau maksudkan."
"Di sinilah kecerdikan serta perhitungan Thio Kim-ciok yang
hebat, dia memang sengaja menjadikan sastrawan berwajah

1314
tampan menjadi korbannya yang kedua, karena dia kuatir
Liong Oh-im akan bekerja sama dengan orang lain."
"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Thay-kun termenung sebentar, kemudian katanya, "Gaksuheng,
menurut pendapatku, lebih baik kita mengundurkan
diri saja dari keramaian dunia persilatan."
Lalu ia memandang sekejap ke arah Song Leng-hui,
terusnya lebih jauh, "Kini adik Hui sudah berbadan dua.
Andaikata Suheng mengalami sesuatu yang tak diinginkan,
bagaimana pula dengan nasib adik Hui?"
Bong Thian-gak terperanjat sekali, tapi sebelum ia sempat
berkata, terdengar Song Leng-hui berkata pula, "Enci Thaykun,
setiap kali Thio Kim-ciok membinasakan satu orang, sama
artinya dengan akulah yang melakukan pembunuhan itu.
Bagaimana pun juga aku harus membuat Thio Kim-ciok mati
atau paling tidak tubuhnya cacat."
"Aku harus berbuat demikian, sebab dengan begitu hati
nurani baru merasa tenteram."
"Ucapan adik Hui memang benar," sambung Bong Thiangak
pula. "Biarpun tubuh kita hancur-lebur, kita mesti
berupaya membinasakan Thio Kim-ciok."
Mendengar perkataan itu, Thay-kun segera menghela
napas panjang, "Ai, kalau begitu mari kita cepat pergi dari
sini!"
"Kita harus pergi kemana?" tanya Bong Thian-gak dengan
wajah tertegun.
"Pergi mencari Tio Tian-seng."
"Tapi kemanakah kita harus mencarinya?"
"Dunia begini luas, tentu saja harus mencarinya ke empat
penjuru!"

1315
Saat ini Bong Thian-gak sendiri tak tahu dimana Tio Tianseng
berada. Oleh sebab itu mereka mengambil jalan menuju
ke timur.
Tiga-empat hari sudah lewat, perjalanan cepat ditempuh
tiada hentinya, penyelidikan dilakukan di sana-sini, akan tetapi
Bong Thian-gak sekalian belum berhasil juga menemukan
je|ak Tio Tian-seng sekalian. Orang-orang itu bagaikan batu
yang tenggelam di tengah samudra, hilang lenyap begitu saja.
Hari ini Bong Thian-gak mengajak kedua nona Itu
menginap di sebuah rumah penginapan.
Sambil bermuram-durja Bong Thian-gak duduk termenung
di bawah lampu.
Tiba-tiba Thay-kun dan Song Leng-hui muncul dalam
ruangan, Bong Thian-gak segera berpaling dan memandang
sekejap, ujarnya sambil menghela napas, "Satu hari kembali
sudah lewat!"
"Suheng," tiba-tiba Thay-kun berkata dengan penuh
rahasia, "bila dugaanku tidak keliru, tengah malam nanti kita
akan mendapat kabar."
"Sumoay, kalau begitu kalian tidurlah cepat," seru Bong
Thian-gak sambil menghembuskan napas panjang.
"Engkoh Gak," kata Song Leng-hui pula dengan suara
lembut, "tengah hari tadi enci Thay-kun telah menemukan
tanda-tanda yang mencurigakan, agaknya gerak-gerik kita
sudah diikuti orang selama dua hari lebih."
Bong Thian-gak kelihatan terperanjat sekali, serunya kaget,
"Ada orang menguntit kita? Mengapa aku tidak merasa sama
sekail?"
"Tampaknya orang yang mengikuti kita punya gerak gerlk
yang lihai dan luar biasa," Thay-kun menerangkan. "Padahal
aku sendiri pun hanya berhasil menemukan tanda-tanda
rahasia yang ditinggalkan olehnya setiap kali dia menguntit

1316
kita sampai di suatu tempat, sementara bayangan tubuhnya
sendiri tidak kutemukan sama sekali."
Ketika mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak segera
berseru, "Thay-kun, apakah tanda yang kau maksudkan itu
adalah kupu-kupu warna putih?"
"Benar, memang kupu-kupu putih. Masih ingatkah Suheng
bahwa di setiap sudut dinding rumah penginapan yang kita
tempati ini selalu terdapat lukisan kupu-kupu yang dibuat
dengan kapur?"
"Tapi siapakah yang menggunakan lambang kupu-kupu
putih?" seru Bong Thian-gak.
Dengan cepat Thay-kun menggeleng kepala, katanya,
"Siapakah si kupu-kupu putih itu sampai sekarang belum
kuketahui, tapi aku percaya si kupu-kupu putih ini pastilah
orang yang dikirim oleh salah satu di antara sepuluh tokoh
persilatan untuk menghubungi kita."
"Darimana Sumoay bisa berkata seyakin ini?" seru Bong
Thian-gak dengan kening berkerut.
"Sebab selama beberapa hari terakhir ini, kita selalu
berusaha mencari berita Tio Tian-seng, Gi Jian-cau serta Liong
Oh-im sekalian. Bisa jadi berita ini pun sudah terdengar oleh
Tio Tian-seng sekalian, karena mereka ingin membuktikan
apakah berita itu benar atau tidak, maka dikirimnya seseorang
untuk menguntit kita."
Bong Thian:gak menggeleng, katanya, "Sumoay,
perkataanmu makin membingungkan. Kalau Tio Tian-seng
sekalian sudah tahu kita sedang mencari jejaknya, mengapa
mereka tidak secara langsung menampakkan diri serta
bertemu dengan kita?"
"Karena Tio Tian-seng sekalian tetap kuatir kita menjadi
antek Thio Kim-ciok."

1317
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak baru mengerti,
segera serunya, "Ya benar, Tio Tian-seng sekalian pasti akan
mencurigai hal ini."
Dengan wajah murung dan masgul, Thay-kun segera
berkata lebih jauh, "Dan aku yakin pada saat ini pun Thio Kimciok
berusaha keras menemukan Tio Tian-seng sekalian."
Bong Thian-gak menjadi terkejut, serunya kemudian,
"Andaikata Thio Kim-ciok menguntit di belakang kita,
bukankah urusan akan bertambah runyam?"
"Ya, benar, andaikata hal ini sampai terjadi, maka kita telah
menjadi pembantu Thio Kim-ciok."
"Ai, semoga saja persoalan ini tidak sampai berkembang
menjadi semacam itu."
Thay-kun segera memandang sekejap keadaan cuaca di
luar jendela, kemudian katanya lagi, "Kentongan ketiga sudah
hampir tiba, aku rasa si kupu-kupu putih segera akan
menampakkan diri untuk berhubungan dengan kita."
"Benarkah si kupu-kupu putih akan muncul?"
"Bagi umat persilatan yang seringkah melakukan
perjalanan, berlaku suatu peraturan di antara mereka, yaitu
bila dia sedang menguntit seseorang untuk menyelidiki apakah
dia teman sealiran, maka orang itu pasti akan melakukan
pengintaian selama tiga hari tiga malam sebelum
menampakkan dirinya dan seandainya orang itu adalah musuh
yang dicari, setelah penguntitan itu dia baru akan turun
tangan."
Baru saja Thay-kun bicara sampai di situ, mendadak dari
luar ruangan bergema suara langkah kaki manusia, disusul
seseorang mengetuk pintu sambil menyapa, "Bong-siangkong,
apakah kau sudah tidur?"
"Siapa?" tegur Bong Thian-gak sesudah tertegun sejenak.

1318
"Pelayan," sahut orang yang berada di luar.
Sebelum Bong Thian-gak sempat menjawab, Thay-kun
telah berseru dengan cepat, "Ada urusan apa? Cepat masuk."
Pintu itu memang tak dikunci, maka sesosok bayangan
orang segera bekelebat masuk ke dalam ruangan, dia adalah
seorang lelaki berdandan pelayan.
Bong Thian-gak sekalian sebagai jago lihai memiliki
ketajaman mata luar biasa, di saat lelaki itu menyelinap masuk
ke dalam tadi, mereka sudah dapat melihat bahwa orang ini
bukan seorang pelayan yang sebenarnya.
Dia seorang lelaki kekar yang amat cekatan sekali, begitu
masuk ke dalam ruangan, sambil menjura segera katanya,
"Harap Bong-siangkong sudi memaafkan, hamba bernama Tan
Long."
"Tan-heng, ada urusan apa kau datang berkunjung di
tengah malam buta begini?" pelan-pelan Bong Thian-gak
bertanya.
Dengan sorot matanya yang tajam, Tan Long memandang
sekejap ke arah Thay-kun serta Song Leng-hui, kemudian
sahutnya, "Kalau tak ada urusan penting tentu tidak akan
berkunjung ke kuil Sam-po-tian. Aku mendapat titipan dari
seseorang untuk mengundang kalian bertiga menjumpainya."
"Tolong tanya, Tan-cuangsu dapat titipan dari siapa?" tanya
Thay-kun sambil tersenyum.
Menurut perkiraan Bong Thian-gak bertiga semula, Tan
Long bukan lain adalah orang yang meninggalkan tanda kupukupu
di atas dinding ruangan. Tapi sekarang tampaknya di
belakang layar masih terdapat seorang yang lain.
Lalu siapakah manusia yang bernama kupu-kupu putih itu?
Ada urusan apa si kupu-kupu putih mencarinya?

1319
Sambil tertawa Thay-kun berkata, "Dapatkah Tan-cuangsu
mempersilakan si kupu-kupu putih yang datang kemari?"
Pada wajah Tan Long segera muncul perasaan serba susah,
sahutnya. "Berhubung gerak-gerik si kupu-kupu putih kurang
leluasa, maka tolong kalian bertiga saja yang datang ke sana."
"Apakah kita akan berangkat sekarang juga?" tanya Thaykun.
"Ya, lebih cepat memang lebih baik."
"Kalau memang begitu, harap Tan-cuangsu segera
mengajak kita ke sana!"
Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui segera
mengikuti lelaki yang mengaku bernama Tan Long ini
meninggalkan rumah penginapan, mereka berempat menuju
keluar kota dan menempuh perjalanan cepat selama lebih
kurang setengah jam.
Tiba-tiba Tan Long menghentikan langkah.
Dengan heran Bong Thian-gak bertanya, "Sudah
sampaikah, Tan-heng?"
Dengan cekatan Thay-kun melayangkan pandangannya
sekejap memperhatikan sekeliling tempat itu. Rupanya tempat
itu merupakan tanah hutan yang sepi dan penuh semakbelukar
liar, tak nampak setitik cahaya lentera pun.
Dia mengernyitkan alis sambil berpaling memperhatikan
wajah Tan Long dengan seksama.
Sementara itu Tan Long memperlihatkan rasa kaget
bercampur heran, lalu bisiknya, "Aduh celaka, kita telah
dikejar orang."
"Darimana kau bisa tahu?" tanya Bong Thian-gak setelah
tertegun sejenak.

1320
Rupanya sejak mereka meninggalkan rumah penginapan
hingga kini, Bong Thian-gak bertiga sama sekali tidak
merasakan kalau ada orang yang sedang menguntit jejak
mereka.
Dengan suara dalam Tan Long berkata, "Benar, kita telah
dikejar dan diawasi, si penguntit mempunyai gerak-gerik yang
amat rahasia dan secepat bayangan iblis. Tadi pihak lawan
berhenti di balik kegelapan di tepi jalan sana, namun dalam
sekejap mata bayangan itu sudah lenyap."
"Tan-heng, mungkin syarafmu sudah terganggu," jengek
Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.
Seraya berkata, pemuda itu segera berjalan menuju ke
arah pohon di hadapannya itu.
Mendadak terdengar Bong Thian-gak menjerit kaget,
secepat kilat tubuhnya menerjang ke arah tempat gelap itu.
Thay-kun serta Song Leng-hui bergerak pula mengejaran
dari belakang, seru mereka hampir bersamaan, "Apa yang
telah ditemukan?"
Tapi dengan cepat kedua nona itu sudah melihat di bawah
pohon besar itu tergantung sesosok mayat.
Mayat itu menyeramkan sekali, dia mati dengan mata
melotot dan lidah melelet keluar, sangat mengerikan sekali
tampangnya.
Akan tetapi setelah menyaksikan raut wajah orang itu,
Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui segera menjerit
kaget sambil mundur tiga langkah dengan perasaan ngeri.
Yang membuat mereka kaget bukanlah tampang sang
korban yang menyeramkan, melainkan wajah mayat itu.
Dengan suara gemetar Bong Thian-gak segera berseru,
"Sungguh tak nyana secepat ini Liong Oh-im menemui
ajalnya."

1321
Biarpun berada dalam kegelapan, namun dengan
ketajaman mata beberapa orang itu, mereka masih dapat
melihat dengan jelas tampang sang korban.
Memang tak salah, mayat yang mati digantung ini bukan
lain adalah sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im.
Sebagaimana diketahui, Thio Kim-ciok pernah berkata
bahwa orang yang akan menjadi korban kedua adalah Liong
Oh-im dan satu hal yang mengerikan adalah Liong Oh-im
memang menemui ajalnya dalam waktu singkat.
Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, kini Liong
Oh-im telah mati. Entah siapakah yang akan menjadi korban
berikutnya dari pedang manusia cacat Thio Kim-ciok?"
Mendadak terdengar Thay-kun berseru tertahan, lalu
dengan langkah cepat berjalan mendekati mayat yang
tergantung itu. Kemudian setelah diperiksa beberapa saat, dia
berseru, "Liong Oh-im bukan tewas di tangan Thio Kim-ciok."
"Lalu tewas di tangan siapa?" tanya Bong Thian-gak
tertegun.
Dengan wajah serius Thay-kun berkata, "Rasa benci Thio
Kim-ciok terhadap sepuluh tokoh persilatan boleh dibilang
merasuk ke tulang sumsum. Dari sikap Thio Kim-ciok ketika
membantai Tan Sam-cing sedemikian kejinya, bisa diduga
Liong Oh-im tak akan mampus dengan tubuh utuh. Oleh
sebab itu dapat disimpulkan kalau kematian Liong Oh-im
bukan disebabkan pedang manusia cacat Thio Kim-ciok."
Seperti memahami akan sesuatu, Bong Thian-gak segera
berpikir, "Ya, benar juga! Dari luka yang menyebabkan
kematian Liong Oh-im, dimana wajahnya hitam gelap dan
tidak ditemukan luka luar yang mematikan, jelas kematiannya
dikarenakan terjerat seutas kawat baja yang kuat pada
lehernya. Tapi siapakah yang memiliki kemampuan sehebat ini
sehingga dalam sekali gerakan saja berhasil menggantungnya
sampai mati?"

1322
Thay-kun memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak,
setelah itu tanyanya, "Suheng, dapatkah kau ketahui apa yang
menyebabkan kematiannya?"
Bong Thian-gak menggeleng kepala.
"Pada hakikatnya aku tak berani percaya kalau kematian
Liong Oh-im disebabkan jeratan kawat baja di lehernya itu.
Ilmu silat yang dimiliki Liong Oh-im sangat hebat dan dia
bukan seorang jago silat biasa yang mudah dirobohkan begitu
saja. Siapakah yang mempunyai kemampuan sehebat ini
untuk menjerat lehernya serta menggantungnya sampai
mati?"
Thay-kun menggeleng pula, katanya, "Luka yang
menyebabkan kematian Liong Oh-im bukan jeratan kawat baja
pada lehernya itu, tetapi karena serangan sejenis racun yang
amat dahsyat daya kerjanya, dia mati karena keracunan. Liong
Oh-im baru digantung setelah dia putus nyawa."
Bong Thian-gak nampak ragu-ragu, kemudian dia maju
mendekat dan bermaksud membopong jenazah itu serta
memeriksanya dengar lebih seksama.
Mendadak ia mendengar Thay-kun berseru dari belakang
tubuhnya, "Suheng, jangan kau sentuh mayat itu."
Dengan terkesiap Bong Thian-gak segera menarik
tangannya, lalu bertanya, "Mengapa?"
"Seluruh tubuh Liong Oh-im telah ternoda oleh racun yang
maha keji, bila kita menyentuh tubuhnya dengan tangan atau
menyentuh salah satu bagian pakaian yang dikenakan, niscaya
kita pun akan keracunan juga."
Bong Thian-gak mengamati wajah Thay-kun lekat-lekat,
lalu tanyanya, "Apakah kita biarkan mayat itu diterjang air
hujan dan dikeringkan panasnya matahari?"

1323
"Kita kan bisa memutus kawat penggantung itu dengan
pedang, lalu mengubur jenazahnya tanpa menyentuh badan
atau pakaiannya."
Mendadak Bong Thian-gak berpaling, lalu berseru tertahan,
"Mana Tan Long?"
Ternyata Tan Long yang semula berdiri di belakang mereka
kini sudah lenyap, entah sejak kapan dia telah pergi
meninggalkan tempat itu?
Thay-kun dan Song Leng-hui merasa heran juga atas
kepergian Tan Long yang tanpa pamit itu.
Thay-kun yang cekatan dan banyak curiga segera teringat
akan satu hal, cepat dia berseru, "Suheng, kemungkinan besar
kita telah terperangkap oleh siasat lawan. Mulai sekarang kita
harus meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi segala
kemungkinan."
Belum selesai perkataan itu diutarakan, Bong Thian-gak
telah berteriak kaget lagi, "Mayat tergantung! Di atas pohon
itupun terdapat sesosok mayat yang mati tergantung."
Rupanya di atas sebatang pohon Pek-yang yang tinggi,
tampak pula sesosok mayat yang mati tergantung, mayat itu
masih bergoyang kian kemari karena terhembus angin.
Song Leng-hui berteriak pula keheranan, "Ketika kita masih
berada di sana tadi, mengapa tak nampak mayat itu?"
Di saat Bong Thian-gak, Tan Long, Thay-kun dan Song
Leng-hui berempat berhenti di pohon Pek-yang tadi, di situ
mereka tidak melihat ada mayat yang mati tergantung.
Paras muka Thay-kun segera berubah hebat, tiba-tiba dia
berseru, "Aduh celaka, jangan-jangan mayat yang mati
tergantung itu adalah Tan Long? Mulai sekarang kita bertiga
tak boleh berpisah lagi."

1324
Seraya berkata, pelan-pelan dia berjalan ke muka
mendekati pohon Pek-yang dimana mayat itu tergantung.
Bong Thian-gak serta Song Leng-hui tidak percaya kalau
mayat yang tergantung di atas pohon itu adalah mayat Tan
Long, tanpa terasa mereka berjalan menuju ke depan.
Namun ketika sorot mata mereka yang tajam dapat
menangkap raut wajah mayat yang tergantung itu, tanpa
sadar ketiga orang itu mundur beberapa langkah dengan
wajah pucat dan peluh dingin bercucuran dengan derasnya,
rasa seram dan ngeri segera menyelimuti perasaan mereka.
Ternyata tak salah lagi dugaan Thay-kun, mayat yang mati
tergantung di atas pohon Pek-yang itu adalah Tan Long.
Seperti juga keadaan Liong Oh-im, Tan Long mati dengan
leher terjerat seutas kawat baja yang sangat kuat, wajahnya
hitam pekat, lidahnya melelet dan matanya melotot besar.
Di saat mereka tak nampak Tan Long berada di situ tadi,
sebenarnya Bong Thian-gak bertiga menyangka Tan Long
telah pergi meninggalkan mereka atau mungkin juga
mempunyai suatu rencana tertentu terhadap mereka bertiga.
Mimpi pun mereka tidak mengira kalau dalam waktu begitu
singkat Tan Long telah dibunuh orang tanpa menimbulkan
sedikit suara pun, bahkan mayatnya digantung di atas pohon
Pek-yang.
Cara membunuh yang begitu cepat, kejam dan misterius ini
benar benar merupakan kejadian yang luar biasa.
Sekalipun Bong Thian-gak bertiga masih belum begitu jelas
mengetahui asal-usul Tan Long, tapi mereka tahu bahwa Tan
Long adalah seorang lelaki cekatan serta pintar, ilmu silatnya
pun tidak lemah.
Tapi kenyataan dia dibunuh secara begitu mudah tanpa
sempat menimbulkan sedikit suara pun.

1325
Pembunuhnya sudah pasti seorang berhati kejam, buas dan
tak berperasaan.
Tapi siapakah orang itu?
Bong Thian-gak bertiga segera menjadi tegang. Dengan
kesiap-siagaan penuh mereka memperhatikan situasi di
sekeliling situ dengan seksama, mereka mempersiapkan diri
menghadapi segala kemungkinan.
Mereka sadar bahwa pembunuh keji itu belum pergi terlalu
jauh, dia pasti berada di sekeliling tempat itu sambil
menunggu kesempatan baik untuk turun tangan keji terhadap
mereka bertiga.
Dan Bong Thian-gak bertiga pun sadar bahwa mereka tidak
mempunyai pegangan serta keyakinan untuk bisa
mempertahankan diri dari serangan maut si pembunuh itu.
Suasana di sekitar tempat itu terasa amat hening, sepi,
sedemikian seramnya hingga mendatangkan suasana ngeri
bagi siapa pun.
Makin lama waktu berlalu, situasi pun terasa makin gawat
dan tegang.
Akhirnya Bong Thian-gak tak dapat menahan diri lagi, tibatiba
ia berpekik nyaring, lalu bentaknya, "He pembunuh,
dimanakah kau? Ayo cepat keluar dan bertarung tiga ratus
gebrakan denganku."
Bentakan Bong Thian-gak itu diutarakan seperti orang gila
saja, suaranya begitu keras mengalun di angkasa dan
mendengung tiada hentinya.
"He pembunuh, kenapa belum juga muncul? Kalau memang
bernyali, cepat keluar. Jian-ciat-suseng menunggu
kedatanganmu."

1326
Bersamaan dengan menggemanya bentakan ini, mendadak
dari balik kegelapan di antara pepohonan muncul sesosok
bayangan hitam, meluncur datang dengan cepat.
Bayangan hitam itu berkelebat dan langsung menerjang
tubuh Bong Thian-gak.
Waktu itu kendati Bong Thian-gak merasa sangat kesal dan
setengah kalap, namun ilmu silatnya memang tak bisa
dianggap remeh. Dengan suatu kesiap-siagaan yang tinggi,
telapak tangan tunggalnya segera melepaskan sebuah pukulan
dahsyat ke depan.
Thay-kun serta Song Leng-hui tidak berpeluk tangan, Sohli-
jian-yang-sin-kang serta Tay-gi-khi-kang yang dahsyat
serentak dilontarkan pula ke arah bayangan iblis itu dari sisi
kiri dan kanan.
Tiga orang dengan tiga macam ilmu sakti serentak
menggulung ke muka menciptakan suatu kekuatan dahsyat
yang tak terlawankan.
Di tengah benturan yang memekakkan telinga, hawa murni
memancar keempat penjuru menciptakan pusaran angin
berpusing yang amat hebat, desingan tajam menderu-deru,
pasir dan debu beterbangan ke angkasa, tampak bayangan
iblis itu melayang turun.
Menyusul terdengar seorang dengan suara dingin
menyeramkan seperti hembusan salju yang membekukan hati
bergema di angkasa, "Himpunan tiga ilmu sakti yang amat
dahsyat, nyatanya serangan gabungan kalian telah
mematahkan ancaman maut dari tengkorak pembunuhku!"
Di bawah sinar bintang yang redup, tampak seorang
berbaju hitam mengenakan topeng tengkorak telah berdiri di
hadapan mereka.
Ujung baju sebelah kanannya tampak kosong dan berkibar
ketika terhembus angin, sepasang matanya bersinar tajam

1327
bagaikan cahaya hijau mata setan yang begitu tajam, buas,
sesat sehingga mendatangkan perasaan ngeri bagi siapa pun
yang memandangnya.
Setelah berhasil mengendalikan gejolak perasaannya, Bong
Thian-gak berbisik lirih, "Hek-mo-ong, kau adalah raja iblis
hitam!"
Walaupun selama ini nama besar Hek-mo-ong atau si raja
iblis hitam ini sudah menggetarkan perasaan setiap orang dan
kehadirannya selalu mencekam perasaan hati siapa pun,
namun selama ini Bong Thian-gak bertiga belum pernah
bertemu langsung wajah aslinya.
Biarpun Bong Thian-gak sekalian sudah mempunyai dugaan
yang meyakinkan atas asal-usul serta identitas yang
sebenarnya dari Hek-mo-ong, yaitu Liu Khi, tapi siapakah dia
sebenarnya hingga kini belum pernah memperoleh jawaban
secara nyata.
Oleh sebab itu dengan cepat Bong Thian-gak membentak,
"Benarkah kau adalah Liu Khi?"
Hek-mo-ong segera memperdengarkan dengusan dingin
serta suara tawanya yang mendirikan bulu roma, pelan-pelan
dia mengangkat lengan kirinya, kemudian melepas topeng
tengkorak yang dikenakan di atas wajahnya.
Wajah asli Hek-mo-ong pun akhirnya muncul juga.
"Ah! Ternyata kau memang Liu Khi!"
Hampir bersamaan Bong Thian-gak, Thay-kun sertu Song
Leng-hui berpekik keras.
Dan dengan demikian teka-teki sekitar identitas Hek moong
yang sebenarnya pun terungkap.
Dalam keadaan demikian Bong Thian-gak malah sama
sekali tidak merasa ngeri ataupun terperanjat.

1328
Thay-kun segera berkata sambil tertawa, "Ternyata dugaan
kami memang tidak meleset. Nyatanya kau memang Liu Khi!
Tapi satu hal yang tidak kupahami, apa sebabnya kau
membantu Thio KIm-ciok membunuh orang?"
"Thio Kim-ciok membunuh sepuluh tokoh persilatan karena
ingin membalas dendam, sedang aku pun bertekad
membunuh mereka," kata Hek-mo-ong dengan suara dalam
dan pelan.
"Disebabkan dendam kesumat?"
"Bukan dendam kesumat, melainkan karena harta
kekayaan."
"Apakah dikarenakan tambang emas itu?" tanya Thay-kun.
"Benar, setiap orang yang mengetahui rahasia tentang
tambang emas itu harus mati."
"Tapi kau tahu juga bahwa Thio Kim-ciok tak akan
melepaskan dirimu?"
"Asal kubunuh seorang lebih banyak di antara sepuluh
tokoh persilatan, berarti sebagian kekuatan yang akan
memperebutkan harta kekayaan itu berkurang."
Dari pembicaraan yang baru berlangsung, terungkaplah
sudah semua rencana busuk Hek-mo-ong.
Kalau begitu Hek-mo-ong dan Thio Kim-ciok sebetulnya
sudah bekerja sama untuk saling mengisi kekurangan masingmasing.
Seorang Thio Kim-ciok saja sudah memusingkan kepala dan
susah dihadapi, apalagi ditambah dengan seorang Hek-moong
sekarang. Nampaknya sepuluh tokoh persilatan sudah
tiada harapan lagi untuk meloloskan diri dari bencana itu.
Thay-kun segera berkata, "Walaupun kau membantu Thio
Kim-ciok membasmi semua musuh-musuh besarnya, tapi pada

1329
akhirnya kau sendiri pun akan dilenyapkan Thio Kim-ciok dari
muka bumi."
"Thio Kim-ciok adalah seorang yang berwatak aneh,
sombong, takabur dan selama hidup tak punya teman.
Sebaliknya aku orangnya baik, suka membantu orang dan
banyak sahabat persilatan yang merupakan sobat lamaku. Aku
akan hidup sepanjang masa dengan aman dan damai."
Thay-kun tersenyum.
"Hingga sekarang, sudah berapa orang di antara sepuluh
tokoh persilatan yang kau bunuh?"
"Hanya Liong Oh-im seorang."
"Mengapa kau pun membunuh Tan Long?"
"Untuk menghalangi usahanya mengajak kalian pergi
menemui si kupu-kupu putih."
"Siapakah si kupu-kupu putih itu?" tanya Bong Thian-gak
dengan terperanjat.
Hek-mo-ong cuma tertawa seram tanpa menjawab
pertanyaan itu.
Thay-kun segera berkata pula, "Jadi tindakan yang kau
lakukan malam ini hanya bermaksud mencegah kami pergi
menemui si kupu-kupu putih?"
Kata Hek-mo-ong sambil tertawa dingin, "Andaikata aku tak
dapat memanfaatkan tenaga kalian, maka akan kubunuh
kalian bertiga daripada meninggalkan bibit bencana di
kemudian hari."
Bong Thian-gak segera mendengus dingin, bentaknya, "Liu
Khi, sepanjang hidupmu sudah banyak kejahatan yang kau
lakukan. Pembunuhan demi pembunuhan kau lakukan tanpa
perasaan, dosamu sudah menumpuk. Andaikata kami
bebaskan dirimu pada hari ini, percuma hidup kami di dunia
ini, nah, bersiaplah kau menerima kematian!"

1330
Hek-mo-ong tertawa seram.
"Aku justru menerima bakat alam dari Yang Kuasa untuk
membunuh orang. Sepanjang hidupku hanya membunuh
oranglah pekerjaan yang kulakukan dan belum pernah
dibunuh orang lain. Jika kau tak percaya dengan perkataanku
ini, silakan saja untuk dicoba."
"Tunggu sebentar!" mendadak Thay-kun berseru.
Dengan cepat dia menggeser tubuhnya menghadang di
depan Hong Thian-gak, setelah itu sambungnya, "Dapatkah
kau memberi keterangan kepada kami, sebenarnya macam
apakah si kupu-kupu putih itu? Sebetulnya si kupu-kupu putih
itu lelaki ataukah perempuan?"
"Dia adalah seorang wanita. Orang itu she Pek bernama
Hu-tiap, jadi namanya persis seperti julukannya. Berusia kirakira
lima puluh lima tahun."
"Hm, keteranganmu cukup jelas," Thay-kun tersenyum,
"tapi menurut apa yang kuketahui, dalam dunia persilatan
tidak terdapat manusia yang bernama si kupu-kupu putih."
"Benar, di dunia persilatan memang tidak terdapat manusia
bernama kupu-kupu putih," ucap Hek-mo-ong sambil tertawa
dingin, "Tapi sepuluh tokoh persilatan serta Thio Kim-ciok
mengetahui secara pasti siapakah perempuan yang bernama
kupu-kupu putih itu."
"Terutama sekali Thio Kim-ciok, di kala ia mendengar nama
si kupu-kupu putih disebut orang, bulu kuduknya akan
berdiri."
Perkataan Hek-mo-ong ini kembali membuat perasaan
semua orang bergetar keras.
Thay-kun mengerut dahi, lalu berkata, "Apa sebabnya?"
Tiba-tiba Hek-mo-ong menarik muka, lalu dengan suara
dalam ia berkata, "Pada tiga puluh tahun lalu, Thio Kim-ciok

1331
telah melakukan pembunuhan berdarah yang sangat
mengerikan. Yang menjadi korban pembunuhan adalah istri
pertamanya."
"Kalau begitu si kupu-kupu putih adalah istri tua Thio Kimciok?"
tanya Thay-kun terkejut.
"Ya, istri tua Thio Kim-ciok memang bernama Pek Hu-tiap!"
Sesungguhnya nama Pek Hu-tiap atau kupu-kupu putih itu
terasa sangat asing bagi pendengaran Bong Thian-gak
sekalian, tapi setelah memperoleh penjelasan dari Hek-moong,
mereka pun bisa menarik kesimpulan.
Thay-kun berkata, "Benar-benar tak dinyana Thio Kim-ciok
telah mencelakai istri sendiri. Peristiwa itu sungguh
menggidikkan."
Hek-mo-ong tertawa dingin, "Thio Kim-ciok memang
berwatak kejam, buas dan tak berperi-kemanusiaan, dia
membunuh orang tanpa berkedip. Baginya membunuh
seorang tak berarti apa-apa, namun di saat dia membunuh
istrinya dulu, pembunuhan itu baru dilakukan untuk pertama
kalinya. Oleh sebab itu dalam perasaan Thio Kim-ciok,
peristiwa itu merupakan kejadian yang menyeramkan."
"Dapatkah kau menceritakan secara ringkas bagaimana
jalannya peristiwa sampai Thio Kim-ciok membunuh istrinya
sendiri?"
"Suatu malam pada tiga puluh tahun berselang, di saat
Thio Kim-ciok sedang terbuai dan terpikat oleh kecantikan Ho
Lan-hiang, secara keji dia telah membunuh istrinya yang sah,
Pek Hu-tiap."
"Padahal saat itu Pek Hu-tiap sedang berbadan dua. Dalam
keadaan perut besar, secara keji Thio Kim-ciok telah
memotong keempat anggota badan Pek Hu-tiap. Tak heran
tubuh Pek Hu-tiap bermandikan darah, tubuhnya menjadi
seperti sebuah bola besar yang bergelindingan di atas tanah

1332
sambil merengek-rengek minta ampun pada Thio Kim-ciok
serta memberi jalan kehidupan kepadanya, ia berjanji akan
menghabisi nyawa sendiri setelah putranya dilahirkan nanti."
"Apakah Thio Kim-ciok tak memberi jalan kehidupan
kepadanya?" tanpa terasa Thay-kun bertanya.
"Tidak! Thio Kim-ciok malah mengayunkan pedangnya
langsung menusuk dada istrinya yang malang."
"Bagaimana kemudian?" tanya Thay-kun lagi dengan
gelisah.
"Inilah kisah pembunuhan yang dilakukan olehnya terhadap
Pek Hu-tiap. Bagaimana selanjutnya, darimana aku bisa tahu?"
"Apakah ceritamu itu kenyataan?" tanya Bong Thian-gak
penuh emosi.
"Bila kurang percaya, silakan kalian tanyakan persoalan ini
kepada Thio Kim-ciok," sahut Hek-mo-ong dengan suara
dingin tanpa perasaan.
"Kalau memang begitu, apa sebabnya kau menghalangi
usaha kami menjumpai Pek Hu-tiap?"
"Demi kepentinganku sendiri, terpaksa aku berbuat
demikian."
Thay-kun segera tertawa merdu, tanyanya tiba-tiba,
"Benarkah Pek Hu-tiap masih hidup?"
"Tentu saja Pek Hu-tiap masih hidup."
"Sekalipun Pek Hu-tiap masih hidup di dunia ini, tapi
setelah keempat anggota badannya dikutungi oleh Thio Kimciok
tempo dulu, berarti dia sudah menjadi manusia cacat
tanpa tangan dan kaki. Bagaimana mungkin kemunculannya
akan mendirikan bulu kuduk Thio Kim-ciok?"
"Waktu dapat menciptakan seorang" biasa menjadi seorang
luar biasa, contohnya Thio Kim-ciok sendiri. Apalagi bagi Pek

1333
Hu-tiap yang menyimpan rasa benci, dendam dan sakit hati
yang meluap-luap."
"Tahukah kau dimanakah Pek Hu-tiap sekarang?" kembali
Thay-kun bertanya sambil tersenyum.
"Tentu saja tahu."
"Lantas apakah hubungan antara Tan Long dan Pek Hutiap?"
kembali Thay-kun bertanya.
"Dia adalah pembantu utamanya."
"Setelah kau membunuh Tan Long apakah kau tidak kuatir
Pek Hu-tiap akan datang mencari balas terhadapmu?"
Dengan mulut membungkam dan tanpa mengucapkan
sepatah kata pun, Hek-mo-ong memandang kegelapan
dengan termangu, tiba-tiba paras mukanya berubah.
Dari balik matanya itu segera memancar hawa membunuh
yang menggidikkan. Ditatapnya Bong Thian-gak bertiga lekatlekat,
kemudian tegurnya, "Apakah kalian bertiga melakukan
pekerjaan untuk Thio Kim-ciok?"
Bong Thian-gak mendengus dingin, "Hm, jangankan
membantu dia, malah kami sedang mencarinya dan berusaha
membunuh Thio Kim-ciok dengan tangan kami sendiri."
"Bagus sekali, kini Thio Kim-ciok telah datang. Bekerjasamalah
kalian untuk membunuhnya!"
Selesai berkata, Hek-mo-ong segera berkelebat dan lenyap
di balik pepohonan sana.
Baru saja Bong Thian-gak bermaksud menghalangi
kepergiannya, bayangan tubuh Hek-mo-ong telah lenyap dari
pandangan sehingga tak ada gunanya dia berteriak.
Sementara itu dari ujung jalan raya sana, pelan-pelan
berjalan mendekat seorang kakek berbaju biru berjenggot

1334
putih. Orang itu memang tak lain adalah si raja iblis
pembunuh manusia Thio Kim-ciok.
Pertama-tama yang ditemukan Thio Kim-ciok lebih dulu
adalah mayat Liong Oh-im.
Ia mendongakkan kepala dan memperhatikan beberapa
saat jenazah itu, kemudian baru meneruskan perjalanan serta
berhenti di hadapan Bok Thian-gak bertiga.
Kembali ia mengangkat kepala serta memperhatikan
beberapa kejap mayat Tan Long, wajahnya kelihatan hambar
tanpa emosi, kemudian tanyanya dengan hambar, "Siapakah
yang telah membunuh kedua orang ini?"
Bong Thian-gak bertiga sama sekali tidak menyangka kalau
yang datang benar-benar adalah Thio Kim-ciok. Untuk
beberapa saat mereka hanya berdiri tertegun di situ dengan
wajah melongo.
Mereka baru sadar dari lamunan setelah mendengar
teguran itu. Cepat Thay-kun menyahut, "Kami pun ingin
bertanya pada Locianpwe, apakah Liong Oh-im mati di
tanganmu?"
Mendapat pertanyaan yang sama, Thio Kim-ciok
mendengus dingin, serunya, "Benar-benar seorang bocah
perempuan yang sangat cekatan."
Thay-kun kembali tersenyum, katanya pula, "Locianpwe
pernah berkata bahwa si sastrawan berwajah tampan akan
menjadi korbanmu yang kedua. Oleh karena itulah setelah
menyaksikan kematiannya serta-merta kami pun menduga
Liong Oh-im mati di tangan Locianpwe."
Thio Kim-ciok mendesis dingin, katanya kemudian, "Setiap
hari aku membidik burung manyar, tak disangka ternyata
mataku sendiri yang terpatuk. Bila kulihat mimik wajah kalian,

1335
sudah pasti kalian bertiga mengetahui siapakah
pembunuhnya."
"Mengapa Locianpwe seyakin itu?" tanya Thay-kun sambil
tertawa misterius.
"Aku sudah mengetahui dengan jelas bahwa kalian datang
kemari dengan mengikuti korban itu," kata Thio Kim-ciok
cepat.
Sembari berkata dia menuding ke arah mayat Tan Long
yang masih tergantung di atas pohon.
Thay-kun menjadi sangat terkejut, cepat dia bertanya,
"Darimana Locianpwe bisa tahu kalau kami datang kemari
bersamanya?"
"Aku lihat dia sudah tiga hari tiga malam menguntit di
belakang kalian bertiga."
"Kalau begitu Locianpwe pun menguntit di belakang kami?"
"Siapa bilang aku menguntit kalian? Cuma secara kebetulan
saja kita menempuh arah perjalanan yang sama."
Tiba-tiba Thay-kun menuding ke arah jenazah Tan Long,
lalu bertanya lagi, "Apakah Locianpwe tahu asal-usulnya?"
"Apakah kalian pun mengetahui asal-usulnya?" Thio Kimciok
balik bertanya dengan wajah berubah.
Dengan cepat Thay-kun menggeleng kepala, "Kami hanya
tahu dia bernama Tan Long, sedangkan soal lain sama sekali
tidak kuketahui."
"Kau sedang berbohong," bentak Thio Kim-ciok dengan
suara dingin. "Selama hidup aku paling benci orang yang suka
berbohong di hadapanku!"
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas sejenak, kemudian
berkata, "Kami tak berniat membohongi Thio-locianpwe,

1336
sesungguhnya Tan Long mengajak kami datang kemari karena
ingin menjumpai seseorang."
"Menjumpai siapa?"
"Pek Hu-tiap!"
Ketika mendengar nama Pek Hu-tiap, paras muka Thio Kimciok
segera berubah hebat, dia menengadah dan sampai lama
sekali berdiri termangu-mangu, kemudian baru bertanya lagi,
"Kecuali persoalan ini, apalagi yang dikatakan Tan Long?"
"Tidak ada lagi," Thay-kun menggeleng. "Sebetulnya siapa
Pek Hu-tiap itu? Apakah Thio-locianpwe mengetahuinya?"
Thio Kim-ciok kelihatan rada gugup ketika dihadapkan pada
pertanyaan itu, buru-buru dia berkata, "Darimana aku bisa
tahu siapakah dia?"
Secara diam-diam Thay-kun, Bong Thian-gak serta Song
Leng-hui memperhatikan perubahan mimik mukanya. Dari
sikapnya itu, mereka pun semakin percaya bahwa yang
dikatakan Hek-mo-ong tentang hubungan Thio Kim-ciok dan
Pek Hu-tiap sesungguhnya memang kenyataan.
Sementara itu Thio Kim-ciok telah mendongakkan kepala
sekali lagi mengawasi mayat Tah Long, mendadak ia tertawa
dingin, lalu gumamnya, "Aku tidak akan terjebak oleh
perangkapmu. Aku sendiri pun pernah menjadi seorang ahli
dalam ilmu beracun, permainan kecil seperti itu tidak nanti
membuat diriku masuk perangkap."
Sudah jelas Thio Kim-ciok mengetahui bahwa seluruh
badan Tan Long telah disebari bubuk beracun tanpa wujud
yang sangat hebat.
Thay-kun sengaja berlagak kaget, tanyanya, "Locianpwe,
apakah kedua sosok mayat itu mengandung racun keji?"
"Racun yang ditaburkan di atas mayat-mayat itu
merupakan racun Hek-si-ku dari Say-jiang. Apabila terkena

1337
tubuh seseorang, maka dalam dua puluh empat jam darah
dan dagingnya akan mengering karena habis dihisap oleh ulatulat
Hek-si-ku. Kedahsyatan dan kekejiannya luar biasa."
Baik Thay-kun maupun Bong Thian-gak pernah mendengar
kehebatan racun Hek-si-ku, air muka mereka segera berubah
hebat.
Setelah menghela napas panjang, Thay-kun segera
berkata, " Kalau begitu dalam dua puluh empat jam jenazah
Liong Oh-im serta Tan Long akan musnah? Ai, kematian
mereka benar-benar mengenaskan!"
Mendadak Thio Kim-ciok menarik wajah, kemudian berkata
lebih lanjut, "Hek-si-ku adalah sejenis racun yang sangat
hebat. Menurut apa yang kuketahui, di dunia persilatan
dewasa ini hanya Hek-mo-ong seorang yang pandai
menggunakan racun itu, apalagi melukai orang dalam sekejap.
He, aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kedua orang itu
mati dibunuh Hek-mo-ong?"
Ketika mendengar itu, diam-diam Thay-kun berpekik
memuji dalam hati, "Nyata sekali Thio Kim-ciok memang
seorang yang sangat hebat. Tak kusangka dugaan dan
tebakannya terhadap setiap masalah begitu tepat dan jitu,
agaknya aku mesti memberitahukan keadaan yang
sebenarnya kepada orang ini."
Setelah berpikir beberapa saat, tiba-tiba ia tertawa
terkekeh-kekeh, kemudian ujarnya, "Thio-locianpwe,
dugaanmu keliru besar. Sebenarnya kami tak ingin
memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepadamu
daripada mendatangkan kerugian bagi kami sendiri."
Sampai di situ, Thay-kun sengaja menghentikan
perkataannya di tengah jalan.
Dengan tak sabar Thio Kim-ciok segera berkata, "He budak
setan, kau tak usah berputar kayun lagi. Cepat kau katakan
apa yang ingin kau utarakan."

1338
"Sebenarnya orang yang telah membunuh Liong Oh-im
serta Tan Long adalah Pek Hu-tiap."
Paras muka Thio Kim-ciok segera berubah hebat,
bentaknya,
"Omong kosong, manusia macam apa Pek Hu-tiap yang
kalian jumpai itu?"
Sambil tersenyum Thay-kun berkata, "Pek Hu-tiap yang
kami jumpai barusan adalah seorang perempuan berkerudung
yang cacat keempat anggota tubuhnya, dia duduk di dalam
tandu yang digotong oleh empat orang lelaki kekar."
Sembari berkata, dengan sorot mata tajam Thay-kun
mengamati perubahan wajah Thio Kim-ciok.
Pada waktu itu paras muka Thio Kim-ciok telah menjadi
pucat. Dengan termangu-mangu dia mengawasi langit dengan
pandangan kosong, sementara air mukanya berubah tiada
hentinya, tak diketahui apakah merasa tegang ataukah ngeri?
Akhirnya terdengar Thio Kim-ciok bergumam seperti orang
sedang mengigau, "Benarkah dia masih hidup di dunia ini?
Tapi dengan luka yang dideritanya, ditambah pula
kandungannya tergetar hingga menyebabkan ia keguguran.
Mungkinkah dia bisa hidup terus?"
Mendadak dari balik mata Thio Kim-ciok memancar cahaya
tajam, diawasinya wajah Thay-kun tanpa berkedip, kemudian
tegurnya lagi, "Benarkah apa yang kau ucapkan itu?"
"Apa yang telah kami saksikan telah kusampaikan
kepadamu, buat apa aku mesti berbohong?"
Thio Kim-ciok segera mendengus dingin, "Sudah berapa
lama ia meninggalkan tempat ini dan sekarang menuju
kemana?"
"Dia berlalu setengah jam berselang dan menuju ke arah
barat."

1339
Ketika mendengar itu, tanpa mengucapkan sepatah kata
pun Thio Kim-ciok segera menggerakkan tubuhnya menuju ke
arah barat.
Memandang bayangan punggung Thio Kim-ciok yang
lenyap di kejauhan, sekulum senyuman bangga tersungging di
ujung bibir Thay-kun.
Sebaliknya Bong Thian-gak segera berkata sambil
menghela napas panjang, "Kami pernah bersumpah akan
membinasakan Thio Kim-ciok serta Hek-mo-ong, tapi hari ini
secara tak diduga kedua orang raja iblis pembunuh manusia
itu telah muncul di depan kita, tapi kenyataannya kita tak
mampu membunuh mereka, sebalik membiarkan mereka
bertingkah semaunya sendiri. Ai, penghinaan semacam ini
sungguh membuat perasaan orang serasa remuk."
Dengan wajah serius Thay-kun segera berseru dengan
sungguh-sungguh, "Ada keberanian tanpa akal, bukanlah
seorang lelaki. Bila kita bertindak ceroboh tanpa memikirkan
resikonya, hal ini berarti mencari kematian untuk diri sendiri."
"Apalagi untuk mencari suatu kemenangan bagi umat
persilatan, kemenangan itu belum tentu harus diraih dengan
pertarungan, dari kecerdasan otak pun kita dapat
memperolehnya juga."
Baru selesai Thayrkun berbicara, mendadak dari atas
sebatang pohon di sana berkumandang suara orang bertanya
dengan suara lembut dan ramah, "Siapakah perempuan itu?"
Disusul terdengar seorang tua bersuara rendah menyahut,
"Perempuan ini bernama Thay-kun. Sejak kecil dia dibesarkan
oleh Ho Lan-hiang, tapi kini dia telah memisahkan diri dari
kelompok Ho Lan-hiang."
Bong Thian-gak sekalian menjadi amat terperanjat, sebab
suara lelaki tua serak itu seperti amat dikenal. Namun untuk
sesaat lamanya mereka justru tak dapat mengenali suara
siapakah itu?

1340
Dengan suara berat dan dalam Bong Thian-gak segera
bertanya, "Siapa di situ?"
Baru saja bentakan itu berkumandang, tiba-tiba dari balik
pohon di hadapannya muncul sebuah tandu kecil yang
digotong dua orang. Dalam waktu singkat tandu itu telah
muncul di hadapannya.
Gerakan tandu itu benar-benar cepat seperti melayang di
tengah udara saja, dalam waktu singkat telah tiba di depan
mata.
Tapi saat itu juga Thay-kun maupun Bong Thian-gak
sekalian telah melihat dengan jelas tandu kecil itu.
Apa yang dilihatnya benar-benar merupakan keanehan dan
kejadian yang sukar untuk dipercaya.
Ternyata kedua orang penggotong tandu itu tak lain adalah
dua orang kakek yang telah lanjut usia.
Dan yang paling aneh lagi adalah kedua kakek itu ternyata
bukan lain adalah Tio Tian-seng serta Gi Jian-cau yang sedang
dicari-cari Bong Thian-gak sekalian selama ini.
Mula-mula Bong Thian-gak mengira matanya yang salah
melihat, segera ia memejamkan mata, kemudian baru dibuka
kembali untuk memperhatikan dengan lebih seksama.
Apa yang terlihat di depan mata seperti sediakala, paras
muka Tio Tian-seng serta Gi Jian-cau sama sekali tidak
berubah, semua merupakan kenyataan, bukan khayalan.
Dengan perasaan kaget bercampur keheranan Thay-kun
berpaling ke arah tandu itu.
Di dalam tandu itu duduk dengan tenang seorang
perempuan, dia mengenakan baju putih lebar hingga hampir
menutupi seluruh tubuhnya dan membuat orang lain tidak
dapat melihat sepasang tangan dan kakinya.

1341
Wajah mengenakan pula kain kerudung putih yang hampir
menutupi seluruh wajahnya, andaikata rambutnya yang
panjang tidak terurai di kedua bahunya dan orang tak
mendengar suaranya, tak akan ada yang bisa mengenali dia
itu lelaki atau perempuan.
"Siapakah itu?"
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Thay-kun,
dengan jelas ia dapat menebak asal-usul manusia berbaju
putih itu.
Kalau tadi dia hanya menciptakan cerita bohong untuk
menipu Thio Kim-ciok, sungguh tak disangka cerita itu kini
justru telah menjadi kenyataan.
Pek Hu-tiap, si kupu-kupu putih benar-benar naik sebuah
tandu kecil.
Sementara itu Bong Thian-gak merasa gembira setelah
bertemu dengan Tio Tian-seng, segera teriaknya, "Tiolocianpwe,
kedatangan kalian memang kebetulan sekali.
Boanpwe sedang mencarimu."
Tio Tian-seng maupun Gi Jian-cau sama sekali tidak
menurunkan tandu itu, mereka tetap berdiri sambil memikul
tandu kecil itu.
Pelan-pelan Tio Tian-seng berkata, "Ada urusan apa kalian
mencari diriku?"
"Tahukah Tio-pangcu, bahwa Thio Kim-ciok sedang mencari
jejakmu?"
Paras muka Tio Tian-seng segera berubah serius, sahutnya,
"Kami pun sedang mencari jejak Thio Kim-ciok."
Bong Thian-gak segera menghela napas sedih, katanya
kemudian dengan suara lirih, "Tan Sam-cing telah mengalami
musibah secara tragis."

1342
"Liong Oh-im juga telah pulang ke alam baka," sambung
Tio Tian-seng.
"Tapi Liong Oh-im bukan…”
Belum Bong Thian-gak selesai bicara, tiba-tiba terdengar
Thay-kun tertawa merdu dan menukas, "Tio-pangcu, Thio
Kim-ciok sudah mengumbar watak kejamnya dengan
melakukan kejahatan yang sama sekali tidak berperikemanusiaan."
"Apabila sehari ia tetap hidup di dunia ini, berarti
masyarakat akan menderita pula. Entah bagaimanakah
rencana Tio-pangcu dalam usaha melenyapkan iblis ini dari
muka bumi?"
Dengan suara dalam, Tio Tian-seng segera berkata, "Dosa
serta kesalahan yang dilakukan Thio Kim-ciok sudah melebihi
batas. Semua jago telah dibuat marah oleh perbuatannya dan
kini segenap umat persilatan telah bangkit menentangnya.
Apakah kalian tak merasa bahwa daerah sekitar tempat ini
telah memancarkan suasana aneh?"
Bong Thian-gak mencoba mengamati sejenak suasana di
sekitar sana, lalu sahutnya, "Ya benar, apa yang kami saksikan
malam ini rasanya memang sedikit di luar dugaan."
"Segenap umat persilatan telah berencana membinasakan
Thio Kim-ciok di tempat ini pada kentongan kelima nanti. Tapi
situasi saat ini rasanya kurang beres. Liong Oh-im dan Tan
Long terbunuh bersamaan secara mengenaskan dan apabila
dilihat dari keadaan mereka setelah mati, sudah jelas kedua
orang itu bukan mati dibunuh Thio Kim-ciok."
Thay-kun dengan suara merdu menukas, "Apabila Tiopangcu
ingin bertanya tentang peristiwa itu, buat apa berputar
satu lingkaran besar lebih dulu sebelum bertanya?"

1343
"Kalau begitu kalian harus mengatakan kepada kami,
siapakah pembunuh Tan Long serta Liong Oh-im?" seru Tio
Tian-seng dengan cepat.
Setelah mendengar itu, Bong Thian-gak serta Thay-kun dan
Song Leng-hui segera mengerti bahwa di tempat itu bakal
berlangsung suatu pertempuran yang amat sengit.
Mereka sama sekali tidak menyangka tindakan
melenyapkan Thio Kim-ciok dari muka bumi bakal berlangsung
sedemikian cepatnya.
"Tio-pangcu," Thay-kun segera berkata lagi, "maaf kalau
saat ini aku belum bisa menjawab pertanyaanmu itu, sebab
jago-jago persilatan yang kujumpai pada malam ini terdiri dari
beraneka-ragam manusia dari berbagai aliran. Oleh sebab itu
Siauli ingin mengetahui satu hal lebih dulu, yakni siapakah
yang merencanakan usaha pembasmian terhadap Thio Kimciok?"
"Apakah Tan Long tidak memberitahukan kepada kalian
rencana pembasmian terhadap Thio Kim-ciok?"
Thay-kun menggeleng, "Tidak, Tan Long hanya
memberitahu, dia hendak mengajak kami pergi menemui
seseorang."
"Orang yang hendak dipertemukan oleh Tan Long kepada
kalian tak lain adalah orang yang berada di dalam tandu ini,"
kata Tio Tian-seng.
"Ah, jadi dia adalah Pek Hu-tiap?"
Perempuan yang berada di dalam tandu segera berkata
dengan suara ramah dan lembut, "Benar, akulah Pek Hu-tiap.
Dan aku pula yang merencanakan pembunuhan terhadap Thio
Kim-ciok pada malam ini."
Setelah persoalan berkembang menjadi begini, Thay-kun
pun menjadi paham pula terhadap persoalan yang semula
masih teka-teki ini, cuma masih ada satu hal yang belum

1344
diketahui masalahnya, sambil tersenyum tanyanya lagi,
"Konon Pek Hu-tiap dan Thio Kim-ciok pernah menjadi suamiistri,
apakah benar?"
Ketika mendengar pertanyaan itu, agaknya perempuan
yang berada di dalam tandu itu merasa amat emosi, sekujur
tubuhnya gemetar keras, sahutnya, "Rupanya kalian sudah
mengetahui asal-usulku, tapi siapa yang memberitahu semua
itu kepada kalian?"
"Orang itu tak lain adalah orang yang telah membunuh Tan
Long serta Liong Oh-im, yakni Hek-mo-ong Liu Khi."
Pek Hu-tiap sama sekali tidak menunjukkan perubahan
sikap apa pun, tapi Gi Jian-cau yang berada di belakangnya
segera mendengus dingin, umpatnya dengan suara seram,
"Sejak dahulu aku sudah tahu bahwa Liu Khi adalah manusia
yang tak bisa dipercaya. Di luarnya saja ia setuju bekerjasama
dengan kita untuk membunuh Thio Kim-ciok, kenyataan
dia masih tetap menjadi kuku garuda Thio Kim-ciok."
Dengan wajah murung bercampur kesal, Tio Tian-seng
berkata pula sambil menghela napas panjang, "Seorang Thio
Kim-ciok saja sudah susah dihadapi, apalagi ditambah seorang
Liu Khi. Ai, urusan sudah jelas bertambah serius."
Tapi agaknya Pek Hu-tiap sudah mempunyai rencana yang
matang, pelan-pelan dia pun berkata, "Pertikaian antara
sepuluh tokoh persilatan, Ho Lan-hiang, Thio Kim-ciok, Hekmo-
ong dan aku sesungguhnya merupakan perselisihan yang
amat pelik, siapa pun tidak akan membiarkan pihak lain
meraih kemenangan. Oleh sebab itu aku telah melihat dengan
jelas bahwa hubungan antara kita semua sesungguhnya
merupakan suatu hubungan yang amat sensitif, saling
bertentangan dengan perasaan sendiri. Itulah sebabnya pada
malam ini aku baru bisa mengajak Ho Lan-hiang serta Hekmo-
ong sekalian untuk bekerja-sama menghadapi Thio Kimciok."

1345
"Dalam pertarungan yang akan berlangsung malam ini,
andaikata Thio Kim-ciok benar-benar dapat terbunuh seperti
apa yang kita harapkan. Aku rasa di antara kita pun harus
membayar dengan harga yang cukup mahal yaitu mereka
yang berhasil lolos dari pertarungan itu dalam keadaan hidup,
akhirnya akan terbunuh juga oleh pihak lain yang mencari
balas sampai pada orang terakhir."
Dengan ucapan Pek Hu-tiap yang berterus terang ini,
semua rahasia pun ikut terungkap, yaitu dapatnya mereka
bekerja-sama saat ini tak lain karena tujuan utama mereka
yaitu melenyapkan Thio Kim-ciok lebih dahulu.
Terdengar Pek Hu-tiap berkata lebih lanjut dengan suara
pelan, "Oleh karena itu siapa yang bakal mati tak perlu kita
persoalkan lagi. Yang penting tujuan kita tercapai, yaitu
berhasil melenyapkan Thio Kim-ciok dari muka bumi."
Gi Jian-cau tertawa dingin, "Yang kukuatirkan justru
sebelum kita berhasil membunuh Thio Kim-ciok, orang kita
malah saling gontok."
"Apakah tabib sakti menaruh curiga bahwa aku dan Hekmo-
ong telah membuat persekongkolan secara diam-diam?"
tanya Pek Hu-tiap dengan suara tetap lembut.
"Terbukti Liong Oh-im telah mati dibunuh oleh Hek-moong,
hal itu menimbulkan rasa curiga siapa pun," ucap Gi Jiancau
dingin.
Pelan-pelan Pek Hu-tiap berpaling ke arah Tio Tian-seng,
kemudian katanya dengan suara dalam, "Tio-pangcu, apakah
kau pun menaruh kecurigaan ini?"
"Bukankah kau pernah bilang, pertikaian di antara kita tak
pernah akan memperoleh penyelesaian sebelum salah satu
pihak menemui ajal? Sekarang kita dapat saling bekerja-sama,
hal ini tak lebih demi kepentingan diri pribadi. Oleh karena itu
selain ingin melenyapkan Thio Kim-ciok secepatnya dari muka
bumi, aku tak ingin memikirkan persoalan lain."

1346
"Hm, hanya Tio-pangcu seorang yang dapat melihat situasi
yang sedang kita hadapi sekarang secara jelas dan gamblang.
Aku yakin setelah berlangsungnya pertempuran berdarah
malam ini, satu-satunya orang yang bisa hidup dengan
selamat mungkin hanya Tio-pangcu seorang."
Tio Tian-seng tidak menanggapi ucapan itu, dia
memandang sekejap keadaan cuaca, lalu katanya sambil
menghela napas, "Sekarang waktu sudah menunjukkan
kentongan keempat, kita harus mulai melakukan gerakan."
Tiba-tiba dari tengah udara berkumandang suara pekikan
panjang yang keras, begitu kerasnya suara itu sehingga
membelah keheningan malam.
Begitu pekikan itu berkumandang, dari arah lain pun
bergema pula suara pekikan.
Dalam waktu singkat suara pekikan saling sambut.
Tiba-tiba Pek Hu-tiap menurunkan perintah, "Thio Kim-ciok
berada di sebelah barat daya, mari kita mengejarnya ke sana!"
Begitu selesai berkata, tandu kecil yang digotong Tio Tianseng
dan Gi Jian-cau sudah bergerak cepat meluncur ke
tengah udara dan bergerak ke muka dengan kecepatan tinggi.
Bong Thian-gak segera berteriak, "Pek Hu-tiap, jangan
pergi dulu. Kami bersedia turut serta dalam usaha
pembunuhan terhadap Thio Kim-ciok."
"Aku telah berpesan pada Tan Long untuk mengundang
kalian bertiga ikut serta dalam gerakan ini, namun setelah
melihat kalian kaum muda bersemangat dan berbudi luhur,
maka kurasa tak perlu lagi mengundang kalian untuk memikul
tugas berbahaya ini. Sekarang lebih baik kalian mundur saja
dari sini daripada harus terlibat dalam bencana pembunuhan
yang mengerikan, ketahuilah melanjutkan hidup bukan
pekerjaan yang mudah, janganlah kalian gunakan nyawa
sebagai bahan gurauan. Thio Kim-ciok semakin kalap

1347
mendekati gila, dia hanya tahu membunuh orang, cepatlah
menghindarkan diri dari musibah ini."
Suara yang lembut dan ramah itu bergema nyaring di
tengah udara dan akhirnya lenyap di kejauhan sana.
Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Thay-kun,
lalu katanya, "Bagaimana kita sekarang? Apa yang harus kita
lakukan?"
Tanpa pikir panjang Thay-kun menjawab, "Mari kita
pulang."
Bong Thian-gak tertawa getir, "Tidak, meski harus
mengorbankan jiwa, aku tak bisa meninggalkan keramaian itu
begitu saja."
Tapi perkataan Pek Hu-tiap itu benar, sekarang Thio Kimciok
sudah kalap dan mendekati gila, ia sudah kehilangan
semua akal pikiran serta kesadarannya. Begitu melihat orang,
dia cuma tahu membunuh, bayangkan saja apakah kita
mampu menahan serangan pedang manusia cacatnya?"
Tindakan Thio Kim-ciok membasmi umat manusia
merupakan tindakan terkutuk, sudah sepantasnya bila kita
bangkit dan berusaha melenyapkan bajingan itu dari muka
bumi ini. Biarpun Bong Thian-gak tak sanggup menghadapi
bajingan itu seorang diri, namun aku pun tak bisa melarikan
diri hanya dikarenakan menyelamatkan jiwa sendiri!"
Sementara mereka masih ribut, dari kejauhan
berkumandang beberapa kali jeritan ngeri yang memilukan.
Jeritan ngeri yang bergema di tengah malam buta begini,
terutama suaranya yang mengerikan bagaikan lolongan
serigala dan tangisan setan sungguh mendatangkan suasana
yang amat tak sedap.
Bong Thian-gak sekalian tahu bahwa pertempuran darah
sudah mulai berlangsung, jeritan ngeri para jago lihai
persilatan yang tertusuk pedang manusia cacat Thio Kim-ciok.

1348
Siksaan dan penderitaan yang luar biasa membuat orangorang
itu memperdengarkan jeritan sedemikian ngennya.
Thay-kun segera berseru setengah merengek, "Suheng,
kau harus berpikir demi keselamatan adik Hui!"
"Sumoay," kata Bong Thian-gak segera, "apabila aku tidak
turut serta dalam gerakan menumpas Thio Kim-ciok hari ini,
tak ada artinya aku hidup di dunia ini. Sekarang ajaklah Lenghui
pergi dari sini, biar aku sendiri yang dating ke sana!"
Selesai berkata, ia lantas membalikkan badan dan beranjak
pergi dahulu.
Thay-kun dan Song Leng-hui cepat menyusulnya sambil
berteriak, "Suheng, jangan pergi dulu. Kalau memang ingin
mati, lebih baik kita mati bersama!"
Bong Thian-gak mendengus dingin, "Hm, siapa bilang kita
bakal mati? Kita tidak akan mati di tangan Thio Kim-ciok."
Sampai di situ, berangkatlah ketiga orang itu menuju ke
arah barat daya dengan mengerahkan ilmu meringankan
tubuh masing-masing.
Udara malam amat cerah tanpa setitik awan pun menghiasi
angkasa, bintang bertaburan dimana-mana dan memantulkan
cahaya yang amat redup.
Keheningan malam yang sebenarnya begitu indah dan
syahdu, kini dihiasi oleh jeritan ngeri yang menyayat hati,
membuat suasana berubah begitu mengerikan, bagaikan
sebuah tempat pembantaian manusia yang menggidikkan.
Bayangan orang tampak saling bergerak kejar mengejar,
cahaya golok dan bayangan pedang menyelimuti angkasa,
percikan darah berhamburan di permukaan tanah, keadaan
benar-benar menggidikkan.
Seorang kakek berbaju hijau bagaikan orang kesurupan
menerjang setiap orang yang ditemuinya dengan tusukan

1349
pedangnya yang putih bercahaya, semua orang ditusuk,
dibacok, disapu, ditotok, dibantai tanpa mengenal ampun dan
nyatanya tak seorang pun di antara mereka yang mampu
menahan satu jurus serangannya.
Di luar lapangan pembantaian itu, di atas sebuah bukit kecil
di tengah padang rumput, telah terbentuk barisan berbentuk
segitiga.
Di tengah barisan ada sebuah tandu kecil yang diduduki
Pek Hu-tiap, sedangkan Tio Tian-seng dan Gi Jian-cau berdiri
di sampingnya.
Di sayap kanan berdiri pula tiga orang, mereka
mengenakan topeng tengkorak. Lengan kanan mereka pun
sama-sama kosong tinggal sebuah lengan saja, di pinggang
terselip sebilah golok panjang.
Andai perawakan tubuh mereka tidak berbeda dalam
ketinggian, maka siapa pun tak akan bisa mengenali siapakah
ketiga orang itu.
Dandanan Hek-mo-ong yang telah menggemparkan
persilatan. Malah kini muncul tiga orang dengan dandanan
Hek-mo-ong Liu Khi.
Ternyata Liu Khi masih mempunyai dua orang pembantu,
itulah sebabnya di saat Liu Khi muncul dengan peranannya
sebagai si golok sakti berlengan tunggal, pada saat bersamaan
di tempat lain pun muncul Hek-mo-ong.
Di sayap kiri tandu itu berdiri juga tiga orang, mereka
adalah Cong-kaucu Put-gwan-cin-kau, perempuan paling
cantik dari wilayah Kanglam Ho Lan-hiang serta dua orang
pembantu utamanya Ji-kaucu serta Sim Tiong-kiu.
Kesembilan orang itu membentuk sebuah barisan segitiga
di atas bukit kecil itu, dari tempat yang tinggi mereka
menyaksikan jalannya pembantaian yang begitu mengerikan
di tengah lapangan itu.

1350
Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui mengikuti
pula jalannya peristiwa itu dari kejauhan.
Mereka bertiga tidak segera ikut serta dalam pertempuran
itu. Begitu tiba di tempat kejadian, Bong Thian-gak dan Song
Leng-hui di bawah pimpinan Thay-kun langsung menuju ke
sisi kiri tanah bukit itu serta bersembunyi di belakang sebuah
batu besar.
Mendadak di tengah pertarungan berkumandang lagi
serentetan suara jeritan ngeri yang bergema tiada hentinya,
begitu menyeramkan suara jeritan itu hingga menggidikkan
siapa pun yang mendengarnya.
Dengan terkesiap Bong Thian-gak sekalian segera berpaling
ke arah arena.
Ternyata Thio Kim-ciok sedang melakukan suatu tindakan
yang benar-benar menggidikkan, dia telah mengeluarkan ilmu
pedang pembunuh manusianya yang paling hebat.
Saat itu tubuhnya melejit ke udara, pedang manusia
cacatnya telah membungkus tubuhnya, selapis cahaya putih
menggulung kian kemari dengan kecepatan tinggi.
Dalam waktu singkat, tiga puluhan jagoan pedang berbaju
hitam yang sedang mengurungnya sudah menemui nasib
tragis, batok kepala mereka bergelindingan ke atas tanah,
percikan darah segar berceceran kemana-mana, tak ada yang
mampu menahan serangannya dan tak seorang pun di antara
mereka yang berhasil meloloskan diri.
Kawanan jago pedang berbaju hitam itu tak lain merupakan
anggota Put-gwa-cin-kau.
Malam ini Ho Lan-hiang datang dengan membawa
seratusan jago pedang berbaju hitam, namun dalam waktu
yang begitu singkat kekuatannya sudah tertumpas habis.
Di kala Thio Kim-ciok telah selesai membunuh jagoan
pedang yang terakhir, dia segera mendongakkan kepala dan

1351
tertawa keras. Suaranya amat menggidikkan, lalu sambil
memutar pedang manusia cacat di tangan kanannya, dia
berteriak, "Pek Hu-tiap, aku akan datang membunuhmu."
Di tengah bentakan, dengan pedang manusia cacat
diluruskan ke depan, selangkah demi selangkah dia menaiki
bukit kecil itu.
Sementara Pek Hu-tiap yang duduk di balik tenda telah
berkata dengan suara pelan, "Hek-mo-ong, segenap kekuatan
Put-gwa-cin-kau sudah tertumpas habis. Sekarang akan
kulihat kemampuan tujuh puluh dua tentara tengkorakmu!"
Salah seorang di antara tiga Hek-mo-ong yang berdiri di
sayap kanan segera tertawa tergelak, sahutnya, "Bila Thio
Kim-ciok ingin membantai tentara tengkorakku, tak nanti bisa
dilakukan semudah ini."
Sampai di sini, tiba-tiba ia berseru, "Cepat kau undang
tentara tengkorak kita."
Begitu perintah diturunkan, dua manusia tengkorak yang
berdiri di belakang Liu Khi pun segera mendongakkan kepala
dan berpekik nyaring.
Pekikan itu tinggi melengking persis seperti suara lolongan
serigala, mendatangkan perasaan seram bagi siapa yang
mendengar.
Begitu suara pekikan bergema, dari balik keheningan yang
mencekam tanah berumput itu berkumandang teriakan aneh
yang menggidikkan.
Dari empat penjuru segera bermunculan bayangan iblis
yang meluncur tiba bagaikan sambaran kilat, dalam waktu
singkat bayangan iblis itu sudah mengepung Thio Kim-ciok.
Mereka terdiri dari tujuh puluh dua manusia aneh
bertopeng tengkorak, tangan kiri membawa sebuah panji
tengkorak berbentuk segitiga, sedangkan tangan kanan
memegang sebuah tongkat pendek berkepala tengkorak.

1352
Kawanan tentara tengkorak itu mengitari Thio Kim-ciok
sambil melompat-lompat, berteriak dan menggerakkan panji
serta toya mereka. Gerakannya itu tak ubahnya seperti
pasukan suku Biau yang sedang bertempur.
Thio Kim-ciok tertawa, pedang manusia cacatnya diayunkan
ke depan langsung membacok seorang tentara tengkorak
yang berada di dekatnya.
Pertempuran sengit pun kembali berkobar dengan
hebatnya di tempat itu.
Nyata kawanan tentara tengkorak memang berbeda
dengan pasukan jago pedang berbaju hitam Put-gwa-cin-kau
yang begitu mudah dibantai. Sekalipun jurus-jurus serangan
Thio Kim-ciok luar biasa ganas dan kejinya, namun tak
seorang pun di antara pasukan tentara tengkorak yang terluka
di ujung pedangnya.
Dalam pada itu kawanan tentara tengkorak itu seperti
pasukan yang datang dari neraka saja, berteriak dan
melompat ke muka secara garang. Dengan delapan orang
membentuk satu kelompok mereka menerjang dan menyerang
Thio Kim-ciok secara cepat.
Beberapa kali Thio Kim-ciok mengayunkan pedang
melancarkan serangkaian bacokan, namun bukan saja gagal
membunuh tentara tengkorak, malah sebaliknya ia harus
mundur beberapa langkah karena terjangan maut pihak
lawan.
Suara bentakan menggelegar, Thio Kim-ciok mengeluarkan
ilmu pedang terbangnya yang paling ganas dan mengerikan,
langsung meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Sekalipun pasukan tengkorak merupakan kawanan jago
yang telah memperoleh didikan khusus serta kebal terhadap
bacokan golok dan tusukan tombak, namun setelah
menghadapi ilmu pedang tingkat tinggi semacam itu, tak
disangka mereka berubah menjadi lapuk seperti kayu kering.

1353
Jeritan ngeri bagai teriakan setan bergema, delapan prajurit
tengkorak terbabat pinggangnya hingga putus dan tewas
seketika.
Dalam rencana penumpasan terhadap Thio Kim-ciok hari
ini, Pek Hu-tiap sama sekali tidak kuatir banyak korban yang
jatuh di pihaknya. Dia menggunakan pertarungan bergilir ini
dengan tujuan memaksa Thio Kim-ciok mengeluarkan ilmu
pedang tingkat tingginya sehingga dia kehabisan tenaga
dalam.
Itulah sebabnya kesembilan orang itu tetap menyimpan
tenaga serta menonton jalannya pertarungan itu dari atas
bukit kecil.
Prajurit satu demi satu saling susul roboh terkapar di atas
tanah dalam keadaan tak bernyawa.
Akhirnya tak seorang pun di antara mereka yang berhasil
lolos dalam keadaan selamat, mereka tewas di ujung pedang
Thio Kim-ciok dalam keadaan yang mengenaskan.
Sambil berpekik keras, Thio Kim-ciok segera melejit ke
tengah udara, lalu menerjang ke atas bukit kecil di
hadapannya itu.
Keadaan Thio Kim-ciok waktu itu sangat mengerikan,
gulungan rambutnya telah terlipat sehingga menutupi
sebagian wajahnya, noda darah membasahi seluruh tubuhnya.
Dengan sepasang mata melotot penuh amarah dia mengawasi
kesembilan orang yang berada di bukit kecil itu tanpa
berkedip, lalu setelah tertawa seram, bentaknya, "Liu Khi,
benarkah dia Pek Hu-tiap?"
"Benar," jawab Hek-mo-ong Liu Khi dengan suara dingin.
"Dia adalah istri pertamamu, Pek Hu-tiap."
Lalu setelah berhenti sejenak, lanjutnya, "Thio Kim-ciok,
mungkin kau tidak menyangka bukan bahwa orang yang

1354
hendak membunuhmu pada malam ini hampir semuanya
merupakan orang-orang yang pernah kau cintai dan hormati?"
Thio Kim-ciok tertawa seram, "Tiga puluh tahun aku
menderita akibat dicelakai sepuluh tokoh persilatan dan tiga
puluh tiga tahun kemudian kembali aku mengalami
pengepungan yang licik dan tak tahu malu dari kalian. Tapi
kalian mesti tahu, selamanya aku tak bakal mati di tangan
kalian, seluruh dunia akan berada dalam kekuasaanku."
Di tengah pembicaraan itu, tiba-tiba Thio Kim-ciok melejit
lagi ke tengah udara, kemudian langsung menerjang ke arah
tandu itu.
Tandu kecil itu masih berada dalam gotongan Tio Tian-seng
serta Gi Jian-cau, mereka tak bergerak sedikit pun juga, Pek
Hu-tiap yang berada di dalam tandu pun sama sekali tidak
melakukan sesuatu tindakan apa pun.
Gerakan Thio Kim-ciok menerjang dengan kecepatan luar
biasa, dalam waktu singkat dia sudah melayang di atas tandu
kecil itu, pedang manusia cacatnya langsung diayunkan ke
muka untuk mencungkil kain kerudung putih yang menutupi
wajah Pek Hu-tiap.
Agaknya para jago yang berada di sekelilingnya memang
sedang menunggu tindakan Thio Kim-ciok itu.
Pada saat bersamaan, terdengar Pek Hu-tiap yang berada
dalam tandu membentak, "Thio Kim-ciok, habis sudah
riwayatmu hari ini!"
Tandu kecil yang sama sekali tidak bergerak ini mendadak
memperdengarkan suara ledakan yang amat keras, empat
dinding tenda itu tahu-tahu hancur dan berjatuhan ke atas
tanah, sementara pedang berwarna putih yang tajam
bermunculan dari balik baju Pek Hu-tiap yang lebar langsung
menusuk keluar.

1355
Ketika Pek Hu-tiap melancarkan serangan, Tio Tian-seng,
Gi Jian-cau, Ho Lan-hiang, Ji-kaucu, Sim Tiong-kiu, Liu Khi
serta kedua orang manusia tengkoraknya serentak
melancarkan pula serangan.
Kesembilan jago lihai persilatan itu segera mengeluarkan
jurus mengadu jiwa yang diciptakan bersama-sama untuk
membendung datangnya ancaman Thio Kim-ciok.
Thio Kim-ciok telah mempelajari hampir semua ilmu silat
yang ada di dunia persilatan dewasa ini, para jago tahu
andaikata serangan gabungan itu tidak berhasil mengenai
tubuh Thio Kim-ciok, berarti untuk selamanya jangan harap
mereka mampu membinasakan Thio Kim-ciok.
Tapi bilamana serangan gabungan itu mengenai sasaran,
maka akibatnya tak terlukiskan pula.
Mimpi pun Thio Kim-ciok tidak menyangka para jago akan
menggunakan serangan gabungan senekad ini untuk
menghadapinya, dia tahu sudah termakan siasat lawan, tak
kuasa lagi dia mendongakkan kepala dan tertawa seram.
Pedang manusia cacat segera digetarkan ke atas sambil
diayunkan berulang kali, berlapis-lapis cahaya pedang
berwarna-warni segera memancar dari pedang pendeknya
untuk melindungi seluruh tubuh.
Siapa tahu pada saat itulah Pek Hu-tiap yang duduk di
dalam tandu dengan seluruh badan penuh dengan senjata
tajam telah melejit pula ke tengah udara sambil melancarkan
serangan.
Jerit kesakitan yang memilukan, teriakan keras, bentakan
bagal guntur serentak bergema memenuhi angkasa.
Bayangan orang saling menyambar di lengah udara, cahaya
golok dan bayangan pedang tiba-tiba lenyap tak berbekas.

1356
Pek Hu-tiap tahu-tahu sudah terduduk di atas tanah,
pakaian yang berwarna putih telah dipenuhi lubang pedang,
darah segar bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Di hadapan Pek Hu-tiap berdirilah Thio Kim-ciok, di tangan
kanannya masih tetap tergenggam pedang manusia cacat,
sementara bagian dada, punggung dan lambungnya masingmasing
terdapat empat buah luka yang mengucurkan darah
segar.
Dengan wajah kaget, gugup dan sedih Thio Kim-ciok
sedang mengawasi wajah Pek Hu-tiap tanpa berkedip.
Ternyata kain kerudung putih yang menutupi wajah Pek
Hu-tlap telah terlepas, kini muncullah seraut wajah pucat,
lembut, halus dan kelihatan sangat ramah.
Di luar kedua orang itu, sudah ada tiga orang yang roboh
dalam keadaan tewas, mereka adalah dua manusia tengkorak
serta Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Sedangkan mereka yang tak roboh, tubuhnya dihiasi pula
dengan berbagai macam luka yang mengakibatkan
pendarahan, namun mereka tetap mengawasi wajah Thio Kimciok
dengan pandangan penuh amarah.
Setelah kulit mukanya mengencang beberapa saat, Thio
Kim-ciok baru berbisik lirih, "Kau benar-benar Hu-tiap!"
Dengan wajah sangat tenang dan lembut, Pek Hu-tiap
kembali berkata, "Thio Kim-ciok, kau tidak menyangka bukan
bahwa aku mnslh tetap hidup? Dan kau tak pernah menduga
bukan bahwa aku akan bekerja-sama dengan musuhmusuhmu
untuk membunuh dirimul Dan kau tentunya lebihlebih
tak pernah mengira kalau pada akhirnya akan tewas di
tanganku. Aku tak ingin menjelaskan lagi tentang semua dosa
dan kesalahanmu. Nah, bersiaplah kau menerima kematian."

1357
Thio Kim-ciok tertawa seram, "Mati? Aku belum akan mati.
Sekalipun harus mati, paling tidak baru akan mati setelah
membunuh habis semua musuh besarku."
Sampai di situ, tiba-tiba Thio Kim-ciok berteriak, "Ho Lanhiang,
kau perempuan cabul, pembawa bencana, kubunuh
dirimu lebih dulu!"
Thio Kim-ciok memang memiliki tenaga serta kemampuan
hebat. Sekalipun ia telah menderita luka parah, namun orang
ini masih tetap memiliki ilmu pedang luar biasa.
Tampaknya serangan Thio Kim-ciok ini sama sekali tidak
memberi kesempatan kepada orang lain untuk menghindarkan
diri.
Tampaknya Ho Lan-hiang sendiri pun tak mampu
menghindarkan diri dari serangan pedang Thio Kim-ciok.
Mata pedang yang putih bersih langsung menembus dada
Ho Lan-hiang, pedang manusia cacat itu telah dicabut keluar.
Ho Lan-hiang tak mampu menahan diri lagi, dia menjerit
ngeri dengan suara yang amat memilukan, darah segar
menyembur keluar dari dadanya bagaikan air mancur.
Para jago yang berada di sekitar tempat itu menjadi
terbelalak dengan mulut melongo, mereka tidak percaya
dengan ilmu silat Ho Lan-hiang yang begitu hebat ternyata tak
mampu menahan sebuah serangan Thio Kim-ciok.
Sementara itu Thio Kim-ciok yang telah mencabut keluar
pedang manusia cacatnya langsung memutar mata pedang itu
dan ditujukan ke Gi Jian-cau sambil bentaknya, "Gi Jian-cau,
kau pun harus merasakan sebuah tusukan pedangku ini."
Serangan pedang Thio Kim-ciok ini dilakukan dengan
kecepatan luar biasa.

1358
Dengan kaget bercampur ngeri Gi Jian-cau melompat
mundur, namun usaha itu tidak berhasil menghindarkan diri
dari ancaman.
Ujung pedang lawan segera menembus dadanya,
menimbulkan rasa sakit yang tak terlukiskan, tak kuasa lagi
dia pun menjerit kesakitan dengan suara amat mengerikan.
Liu Khi, Tio Tian-seng serta Sim Tiong-kiu tentu saja tak
membiarkan pedang Thio Kim-ciok menembus dada mereka.
Tanpa membuang waktu lagi mereka menerjang ke arah Thio
Kim-ciok.
Serangan jari, ayunan pedang dan sambaran golok dengan
mengerahkan segenap kemampuan langsung mengancam tiga
tempat mematikan di tubuh Thio Kim-ciok.
Ibarat banteng yang sudah terluka, Thio Kim-ciok nampak
menyeramkan sekali, pedang manusia cacat di tangannya
diangkat sejajar dada, lalu dengan kecepatan luar biasa
menusuk dada Slm Tiong-kiu.
Jeritan bagaikan babi disembelih segera bergema
memenuhi angkasa, Sim Tiong-kiu menjadi korban ketiga
yang tewas tertembus pedang manusia cacat.
Namun di saat Thio Kim-ciok melepaskan tusukan ke dada
Slm Tiong-kiu, punggung dan pinggangnya termakan pula
oleh bacokan golok Liu Khi serta tusukan pedang Tio Tlanneng.
Bacokan golok serta tusukan pedang dua jago lihai ini
kontan membuat Thio Kim-ciok meraung penuh amarah,
dengan sepasang bahu bergetar keras dia berteriak lantang,
"Liu Khi, kau telah mengkhianati aku."
Pedang manusia cacatnya segera dicabut keluar dari rubuh
Sim Tiong-kiu dan dialihkan ke arah Hek-mo-ong Liu Khi.
Liu Khi tahu pertarungan ini menyangkut hidup matinya,
maka sambil tertawa dingin katanya, "Thio Klm dok, sekarang

1359
aku hendak memberitahukan satu hal kepadamu, ketahuilah di
saat kau membantai Pek Hu-tiap secara keji dulu, akulah yang
telah menyelamatkan jiwanya dan saat itu pula dia
mengundangku untuk berusaha membunuhmu dengan
imbalan sebuah bukit tambang emas."
"Kau tahu, Liu Khi dikenal umat persilatan sebagai seorang
pembunuh bayaran, setelah menerima imbalan, tentu sa|a aku
tak dapat ingkar janji. Oleh karena itu pada tiga puluh tiga
tahun berselang aku pun mengatur sepuluh tokoh persilatan
serta Ho Lan-hiang untuk membunuhmu. Tujuanku waktu itu
tak lain adalah mewujudkan janjiku terhadap Pek Hu-tiap."
Thio Kim-ciok yang sebetulnya sudah siap melancarkan
tusukan maut dengan pedang manusia cacatnya segera
mengurungkan niat itu, katanya dengan suara hambar, "Coba
kau lanjutkan perkataanmu itu"
Liu Khi tertawa, kemudian katanya, "Dulu kau bisa
membunuh istrimu Pek Hu-tiap tak lain karena terpikat oleh
rayuan maut Ho Lan-hiang, padahal perkenalanmu dengan Ho
Lan-hiang tidak lebih merupakan salah satu rencana busuk
sepuluh tokoh persilatan. Oleh karena itu biarpun Pek Hu-tiap
menderita musibah di tanganmu, tapi kesepuluh tokoh
persilatan pun tak dapat terlepas dari tanggung-jawab ini.
Karena itulah Pek Hu-tiap telah bersumpah akan
membinasakan sepuluh tokoh persilatan, Ho Lan-hiang serta
kau Thio Kim-ciok. Sedang aku mendapat undangan dari Pek
Hu-tiap untuk melaksanakan pembunuhan itu, karena aku pun
menjadi dalang semua pembunuhan yang berlangsung dalam
dunia persilatan."
Ketika Liu Khi mengungkapkan sumber keresahan dan
musibah yang menimpa dunia persilatan selama empat puluh
tahun ini, hampir semua yang hadir dalam arena sama-sama
berdiri terbelalak dengan mulut melongo, sebab budi dan
dendam yang telah berlangsung selama ini memang
terlampau aneh, ruwet dan membingungkan.

1360
Lama setelah termenung, Liu Khi baru berkata lagi, "Semua
peristiwa berdarah ini dapat berlangsung, sebabnya tak lain
karena kau, yang telah membunuh istri sendiri. Nah, Thio Kimciok,
kau sebagai sumber dari segala bencana dan musibah
yang terjadi, serahkanlah jiwamu sekarang juga!"
Begitu selesai mengucapkan perkataan itu, Liu Khi dengan
serangan goloknya yang cepat melancarkan sebuah bacokan
ke depan.
Thio Kim-ciok meraung penuh amarah, pedang manusia
cacatnya secepat kilat diayunkan ke muka menyongsong
datangnya bacokan itu.
Pada saat itulah Pek Hu-tiap yang sedang duduk di atas
rumput dengan tenang membentak, "Thio Kim-ciok, jangan
kau bunuh Liu Khi."
Tubuh Pek Hu-tiap yang bulat tanpa sepasang tangan dan
sepasang kaki itu segera melejit bagaikan sebutir peluru besi.
Golok maut Liu Khi segera membacok pinggang Thio Kimciok
secara telak.
Sebaliknya tubuh Pek Hu-tiap yang gemuk bulat justru
menempel di atas punggung Thio Kim-ciok.
Ternyata dari bagian sepasang lengan dan kaki Pek Hu-tiap
yang buntung telah muncul empat bilah pedang tajam dan kini
keempat pedang yang amat tajam itu telah menembus empat
bagian tubuh Thio Kim-ciok di tempat yang mematikan.
Seluruh tubuh Liu Khi mengejang keras, dengan langkah
sempoyongan ia mundur tiga-empat langkah, kemudian
serunya dengan pedih, "Thio Kim-ciok, ternyata gerakan
pedangmu masih setengah tingkat lebih cepat daripada
gerakan golokku."
Dalam pada itu Thio Kim-ciok yang ditunggangi Pek Hu-tiap
telah berpaling, kemudian dengan suara gemetar dia berkata,

1361
"Akhirnya aku harus tewas di tanganmu, aku ... aku mati
tanpa menyesal."
Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, sepasang kaki
Thio Kim-ciok pelan-pelan berjongkok dan akhirnya roboh
terkapar di atas tanah tanpa bernyawa lagi.
Dengan cepat Pek Hu-tiap menggerakkan tubuhnya
mencabut keempat bilah pedangnya dari tubuh Thio Kim-ciok,
setelah itu sambil menerkam Liu Khi, serunya, "Liu Khi, kau
tak boleh mati. Kau belum melaksanakan janjimu yang
kedua?"
Sementara itu Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Lenghui
yang menyembunyikan diri di belakang batu besar telah
muncul.
Terdengar Liu Khi menyahut dengan suara lemah, "Pedang
manusia cacat Thio Kim-ciok telah direndam dalam racun yang
sangat keji. Bukankah janjiku yang kedua adalah mencari jejak
putrimu? Aku ... aku pun telah berhasil menemukannya."
"Mana putriku?" seru Pek Hu-tlap dengan gelisah.
"Dimanakah dia sekarang? Cepat katakan, segera akan
kukatakan letak tambang emas itu."
Tapi sayang, waktu itu sepasang mata I.iu Khi telah
membalik ke atas, katanya lirih, "Dia ... dia ... dia adalah…”
Namun Liu Khi tidak sempat menyebutkan nama putri Pek
Hu-tiap, karena jiwanya sudah keburu berangkat
meninggalkan raganya.
Dengan suara pilu dan sedih, Pek Hu tiap segera menjerit
keras "Oh putriku, dimanakah kau berada ... oh putriku ...
dimanakah kau berada?"
Dengan suara pilu dan sedih la berteriak, suaranya makin
lama semakin rendah dan melemah dan akhirnya dia harus
menghembuskan napas terakhirnya dengan membawa
kekecewaan.

1362
Ternyata Pek Hu-tiap juga sudah termakan tusukan pedang
manusia cacat Thio Kim-ciok, sehingga dengan demikian dia
pun tak dapat lolos dari bencana kematian ini.
Memandang mayat-mayat yang bergelimpangan di
hadapannya, Tio Tian-seng menghela napas panjang,
gumamnya seram, "Sungguh tak disangka, aku benar-benar
berhasil lolos dari musibah ini. Ai, kalau dibilang siapa yang
paling tidak beruntung dalam peristiwa berdarah ini, maka
orang itu tak lain adalah Pek Hu-tiap serta Thio Kim-ciok
suami-istri."
"Ya," sahut Thay-kun sambil menghela napas sedih pula.
"Kini dunia persilatan sudah tenang kembali untuk sementara
waktu dan kami pun bisa hidup mengasingkan diri di bukit
terpencil dengan perasaan tenang."
T A M A T
BIODATA PENYADUR
Tjan Ing Djioe telah menerjemahkan lebih dari 90 judul
cerita silat. Jumlah yang mengukuhkannya sebagai
penerjemah terbesar sesudah O.K.T. (Oei Kim Tiang).
Karya terjemahan pertamanya adalah Tujuh Pusaka Rimba
Persilatan (Tiancan Cjiding) yang terbit pada tahun 1969.
Tujuh belas tahun kemudian, di tahun 1986, ia menerbitkan
Darah Pahlawan (Ludingji karya Jin Yong) dan meninggalkan
dunia penerjemahan.
Bahasa terjemahannya sederhana dan lugas, sedang
penguasaan bahasa Indonesianya yang jauh lebih baik

1363
daripada para pendahulunya membuat terjemahannya lebih
dekat dengan pembaca generasi muda,
Lahir dari keluarga peranakan di Semarang pada tahun
1949, la pernah duduk di Zhonghua Gongxue sampai kelas 6
ketika sekolah ditutup. Untunglah bahwa ibunya seorang guru,
sehingga penguasaan bahasa Mandarinnya tetap
dikembangkan, apalagi ia sendiri memang gemar membaca
cerita silat dalam bahasa aslinya. Ketika masih duduk di
Fakultas Sospol Universitas Diponegoro, Semarang, ia mulai
terjun dalam dunia penerjemahan, salah satu sebab ia tak
menyelesaikan kuliahnya!
Sesudah 'pensiun' hampir dua puluh tahun, di tahun 2005
ia kembali menerjemahkan cerita silat, terdorong keinginannya
untuk mengangkat kembali popularitas cerita silat di tanah air
bersama-sama Masyarakat Tjerita Silat. Selain menerjemahkan
cerita-cerita baru, ia juga melakukan revisi pada naskahnaskahnya
yang lama untuk diterbitkan kembali di sela-sela
kesibukannya sebagai pengusaha peternakan ayam.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 8 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 8 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-terbaik-pendekar-cacat-8.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 8 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 8 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 8 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-terbaik-pendekar-cacat-8.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar