Cersil Online : Pendekar Pemanah Rajawali Serial 12

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Sabtu, 17 Desember 2011

Kwee Ceng berhati mulia, ia mengira si nyonya telah terhajar keras olehnya, ia lantas berkata: “Maaf, cianpwee, aku yang muda berbuat kurang ajar terhadapmu, tetapi inilah bukan disengaja. Sekarang aku minta sukalah cianpwee mengijinkan kami berlalu…”
Eng Kouw mendapatkan sambil bicara si anak muda itu saban-saban melirik si nnona, agaknya ia sangat menyayang dan memperhatikan, melihat begitu, ia jadi ingat akan nasibnya sendiri yang tidak beruntung, yang terpisah jauh dari kekasihnya, yang tidak mempunyai harapan akan dapat berkumpul pula. Kapan ia ingat akan nasibnya, mendadak timbul rasa julesnya. Maka ia kata dengan dingin: “Anak perempuan ini telah terkena tangan beracun Ngo Tok Sin-ciang dari Khiu Cian Jin, paling lama ia hidup hanya tiga hari, perlu apa kau masih menyayangi dan melindunginya?”
Mendengar itu, Kwee Ceng kaget sekali, lekas-lekas ia menoleh kepada Oey Yong. Ia melihat muka si nona seperti ditawungi sinar guram. Dengan lantas ia lompat kepada kekasihnya itu.
“Yong-jie, bagaimana kau rasa?” ia menanya, suaranya menggetar.
Oey Yong merasai dada dan perutnya panas, sebaliknya kaki tangannya dingin. Ia menyahuti: “Engko Ceng, selama tiga hari ini, jangan kau meninggalkan aku pergi sekalipun cuma setindak. Dapatkah?”
“Setengah tindak juga aku tidak akan tinggalkan kau…” menjawab si anak muda cepat sedang hatinya mencelos. Rupanya si nona telah mendengar perkataannya si nyonya tua itu.
“Sekalipun tidak berpisah setengah tindak, temponya cuma lagi tigapuluh enam jam…! berkata si nyonya dingin.

Kwee Ceng mengangkat kepalanya, memandang nyonya itu. Ia tidak bisa berbuat lain daripada menunjuk roman minta dikasihani, ialah agar nyonya itu jangan mengeluarkan kata-kata yang dapat melukai hatinya Oey Yong….
Sebenarnya Eng Kouw masih hendak memuasi kejelusannya ketika ia menmpak roman si anak muda ang lesu itu, ia lantas berpikir: “Adakah Thian mengirim dua orang ini ke mari untuk aku membalas sakit hatiku ini?” Ia mengangkat kepalanya, memandang langit. “Oh, Thian, Thian….” keluhnya.
Justru itu di luar terdengar pula suara berisik dari orang-orang Khiu Cian Jin, rupanya mereka masih mencari di sekitar situ dan sekarang kembali mendekati rumah yang dikurung dengan rawa lumpur, yang pepohonannya merupakan rahasia keder. Terang mereka menyangka si muda-mudi berada di dalam rumah tetapi mereka tidak berdaya untuk memasukinya.
Lewat lagi sesaat dari arah rimba terdengarlah suaranya Khiu Cian Jin, si ketua Tiat Ciang Pang: “Sin-soan-coe Eng Kouw, Kiu Tiat Ciang mohon bertemu denganmu!”
Suara itu datang dengan melawan angin tetapi karena dikeluarkannya dengan bantuan tenaga dalam yang mahir, terdengarnya terang sekali.
Eng Kouw bertindak ke jendela. Ia pun mengempor tenaga dalamnya. Ia menyahuti dengan suara yang panjang: “Aku ini biasanya tidak menerima kunjungan orang luar. Apakah kau tidak ketahui bahwa siapa datang ke tempatku ini, rawa lumpur hitam, dialah bagiannya mati, tidak bagian hidupnya?!”
Di sana terdengar pula suaranya Khiu Cian Jin: “Ada dua orang muda, satu pria dan satu wanita, masuk ke dalam rawa lumpr hitam kau ini, maka aku minta sukalah kau menyerahkan mereka padaku!”
“Siapakah yang dapat masuk ke dalam rawa lumpur hitamku ini?” berkata Eng Kouw. “Sekarang ini ada tengah malam buta rata, maka janganlah kau mengganggu tidur orang yang nyenyak!”
“Baiklah kalau begitu!” terdengar lagi suara Khiu Cian Jin. “Jangan kau berkecil hati!”
Suara itu bernada tak berani memandang enteng kepada si nyonya. Habis itu terdengarlah suara berisik yang pergi jauh.
Eng Kouw berpaling pada Kwee Ceng. “Kau ingin menolongi adikmu ini atau tidak?” ia tanya.
Kwee Ceng melengak, lalu ia menjatuhkan dirinya berlutut.
“Jikalau locianpwee suka menolong…” katanya.
“Locianpwee!” kata si nyonya, bengis. “Apakah aku sudah tua?”
“Tidak, tidak terlalu tua,” sahut Kwee Ceng cepat.
Sinar matanya Eng Kouw berpindah dari si anak muda ke jendela, dari mulutnya terdengar kata-kata ini: “Tidak terlalu tua…Hm, itu artinya sudah tua…!”
Kwee Ceng menjadi bingung. Rupanya perkataannya itu telah menyinggung si nyonya. Ia tidak tahu mesti membilang apa.
Eng Kouw menoleh pula. Sekarang ia melihat kepala orang berkeringatan.
“Kalau orangku itu dapat menyayangi aku satu persepuluh saja dari si bocah tolol ini,” pikirnya. “Ah, tidakkah sia-sia belaka hidupku ini…” Lalu ia bersenandung dengan perlahan:
“Empat buah perkakas tenun…maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan….Sayang, belum lagi tua tetapi kepala sudah putih…. Gelombang musim semi, rumput hijau, di musim dingin di dalam tempat yang tersembunyi, saling berhadapan mandi baju merah……..”
Mendengar itu Kwee Ceng heran.
“Ah, rasanya aku kenal syair ini…” pikirnya. Tapi ia tidak ingat, siapa pernah membacakan itu. Itulah bukannya Cu Cong, gurunya yang nomor dua dan juga bukan Oey Yong. Maka dengan perlahan, ia menanya si nona: “Yong-jie, siapakah yang mengarang syair ini? Apakah artinya itu?”
Si nona menggeleng kepala.
“Aku mendengar ini baru untuk pertama kali,” sahutnya. “aku tidak tahu siapa pengarangnya. Sayang belum tua tetapi kepala sudah putih…Sungguh suatu kata-kata yang bagus!”
Kwee Ceng masgul, sudah ia tidak ingat, Oey Yong pun tidak tahu, sedang si nona terpelajar, luas pengetahuannya. Pikirnya: “Syair bukan buatan Oey Yong, tentu bukan karya ayahnya. Habis siapakah? Toh aku ingat aku pernah mendengarnya…”
Eng Kouw pun lantas berdiam. Ia lagi memikirkan segala apa yang telah berlalu. Ia nampak sebentar bergirang sebentar berduka. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan berkata: “Adikmu ini terhajar tangannya Kiu Tiat Ciang Pang, entah ada benda apa yang menghalanginya sehingga ia tidak mati lantas, meski begitu, tidak peduli bagaimana dia tidak bakal dapat bertahan lewat tiga hari. Ah, lukanya ini cuma ada satu orang yang dapat menolongnya…”
Kwee Ceng lagi menjublak ketika ia mendengar kata-kata terakhir itu, hatinya lantas memukul keras saking girangnya, maka ia lantas menjatuhkan diri berlutut pula di depan nyonya itu, ia mengangguk tiga kali hingga kepalanya membentur tanah. Ia lantas memohon: “Tolong loo…oh, tidak, tidak! Tolong kau menolongi adikku ini, budimu tidak nanti aku lupai…”
“Hm!” bersuara Eng Kouw, dingin. “Mana aku mempunyai kepandaian untuk menolongi orang? Kalau aku pandai, musahil aku berdiam di ini tempat membeku menderita kesengsaraan ini…”
Kwee Ceng berdiam saja.
“Nyata kau beruntung,” kemudian nyonya itu berkata pula: “Kamu telah bertemu denganku yang mengetahui tempat kediaman orang itu, dan beruntung pula, tempatnya tidak jauh, maka di dalam tempo tiga hari, kamu dapat tiba di sana…Hanyalah sukar untuk dibilang orang itu suka menolongi atau tidak.”
Kwee Ceng girang bukan kepalang.
“Aku nanti meminta, memohonnya!” ia berkata. “Aku percaya tidak nanti ia tidak menolong kalau ia melihat bahaya lagi mengancam….”
“Apa itu melihat bahaya mengancam tidak menolong?” kata Eng Kouw. “Kebaikan apa kau telah berikan padanya? Kenapa dia mesti menolong kamu?”
Suara itu menggenggam kegusaran.
Kwee Ceng mengerti, ia tidak berani menyahuti.
Si nyonya bertindak ke kamar luar, di sana ia duduk di kursi, kepalanya ditunduki. Ia memegangi pit, entah dia menulis apa. Habis menulis, surat-suratnya itu dilepit, lantas dibungkus rapi dengan masing-masing sepotong cita, yang terus ia jahit, kemudian ia menjahit dan menjahit lagi hingga merupakan tiga kantung. Habis itu, baru ia kembali ke kamar bundar itu.
“Sekeluarnya dari rimba ini, menyingkirlah kamu dari kepungannya Tiat Ciang Pang,” ia berkata. “Kamu menuju langsung ke timur laut, terus sampai di kecamatan Tho-goan. Di sana barulah kamu membuka kantung yang putih itu. Seterusnya tindakan apa yang kamu harus lakukan, di dalam situ ada ditulis jelas. Sebelum kamu sampai di sana, ingat baik-baik, jangan kamu buka surat ini!”
Kwee Ceng girang sekali, ia menghanturkan terima kasih berulangkali. Kemudian ia menyodorkan tangannya untuk menerima kantung-kantung itu.
Eng Kouw menarik pulang tangannya.
“Tunggu dulu!” katanya. “Jikalau orang itu tidak sudi menolong, yah sudah saja, tetapi apabila dia suka menolongi hingga adikmu ini ketolongan, aku hendak minta suatu apa.”
“Budi ini mesti dibalas,” berkata Kwee Ceng. “Cianpwee menitahkan saja!”
Eng Kouw tertawa dingin ketika ia berkata: “Jikalau adikmu ini tidak binasa, maka di dalam tempo satu bulan ia mesti kembali ke mari dan di sini ia mesti tinggal bersama aku selama satu tahun!”
Kwee Ceng heran.
“Kenapa begitu?” tanyanya.
“Kenapa begitu?” balik tanya si nyonya. “Apakah sangkutannya itu sama aku? Aku cuma tanya kau, kau suka atau tidak?”
“Kau menghendaki aku mengajari kau ilmu hitung Kie-bun-sut, bukan?” Oey Yong campur bicara. “Apakah susahnya itu? Baik, aku memberikan janjiku!”
Eng Kouw mendelik kepada si anak muda.
“Percuma jadi laki-laki, kau tak bisa melawan kecerdikan adikmu satu persepuluh!” ia mengejeknya tetapi ia menyerahkan tiga kantung kainnya itu.
Kwee Ceng menyambuti. Ia melihat satu kantung putih, satu merah dan satu lagi kuning. Ia lantas menyimpan itu baik-baik. Ia memberi hormat sambil menjura tetapi Eng Kouw menyingkir, tak mau ia menerima hormat itu. Ia kata: “Tak usah kau mengucap terima kasih padaku, aku juga tidak sudi menerimanya. Kamu dan aku bukan sanak bukan kandung, perlu apa aku menolongi adikmu ini? Taruh kata kita bersanak, juga tak usah kau menjadi begini bersyukur. Adalah janji kita yang mesti ditepati. Aku bilang padamu, aku menolongi adikmu untuk diriku juga. Hm, siapa tidak berbuat untuk dirinya, dia dimusnahkan Langit dan Bumi!”
Kwee Ceng heran sekali. Suara itu pun tak sedap untuk kupingnya. Oleh karena ia memang tidak pandai bicara, ia tidak tahu mesti membilang apa. Ia sekarang cuma mengingat keselamatannya Oey Yong.
Eng Kouw mengawasi pula si pemuda dengan mata mendelik.
“Kau telah bercapai lelas satu malaman,” katanya. “Kmau juga tentu telah lapar, maka baiklah kamu dahar bubur!”
Oey Yong sudah lantas merebahkan diri di atas pembaringan, ia beristirahat separuh pulas separuh sadar. Kwee Ceng menjagai dia di sampingnya, pikirannya tidak tentram.
Eng Kouw, yang pergi ke dalam, tak lama datang pula dengan membawa sebuah tetampan, di atas mana ada dua mangkok bubur yang masih panas, asapnya masih mengepul-ngepul. Harum bubur itu. Sebagai temannya ada daging ayam dan ikan.
Kwee Ceng lantas saja terbangun selera makannya. Ia memang saudh lapar sekali. Ia tidak menyangsikan pula si nyonya. Tadi ia mengkhawatirkan Oey Yong, ia lupa makan. Maka ia menepuk-nepuk belakang tangan kekasihnya itu.
“Yong-jie, mari dahar!” katanya.
Oey Yong membuka matanya, ia menggeleng kepala perlahan.
“Dadaku sangat sakit, aku tidak mau dahar,” sahutnya.
“Hm!” Eng Kouw tertawa dingin. “Ada obat untuk melenyapkan rasa nyeri tetapi kamu bercuriga!”
Oey Yong tidak ambil peduli sindiran itu.
“Engko Ceng, mari kasih aku sebutir pil Kiu-hoa Giok-louw-wan,” kata dia.
Pil itu ada pil pemberiannya Liok Seng Hong semasa di Kwie-in-chung, si nona simpan itu di dalam sakunya, ketika Ang Cit Kong dan Kwee Ceng terluka di tangan Auwyang Hong, mereka makan obat itu beberapa butir, benar obat itu tidak dapat menyembuhkan tetapi bisa menghilangi rasa sakit.
Kwee Ceng menyahuti, ia membuka kantung si nona dan mengeluarkan obat yang diminta itu.
Ketika Oey Yong menyebutkan namanya obat, hati Eng Kouw terkesiap, begitu lekas ia melihat pil merah itu, ia kata dengan bengis: “Adakah ini Kiu-hoa Giok-louw-wan? Kasih aku lihat!”
Kwee Ceng heran mendengar suara orang demikian aseran, ia menoleh. Maka ia melihat mata si nyonya bersinar tajam. Ia menjadi lebih terheran lagi. Tapi ia menyerahkan semua sekantung obat itu.
Kapan Eng Kouw menyambutnya, ia merasakan bau harum dari obat itu menyampok hidungnya. Ia lantas merasakan tubuhnya adem. Ia mengawasi si anak muda, terus ia menanya; “Obat ini ada obat dari Tho Hoa To, darimana kamu mendapatkannya? Lekas bilang! Lekas!” Suaranya itu bengis tetapi bengis bercampur nada sedih.
Dalam herannya, Oey Yong berpikir: “Dia hendak mempelajari ilmu Kie-bun-sut, apakah ia mempunyai hubungannya sama salah satu murid ayahku?”
Kwee Ceng sendiri sudah lantas menjawab: “Adikku ini ialah putrinya pemilik Tho Hoa To!”
Mendadak Eng Kouw berlompat berjingkrak.
“Anaknya Oey Lao Shia?!” dia berteriak. Kedua matanya lantas bersinar bengis, kedua tangannya terus dipentangkan, agaknya hendak dia menubruk si nona di depannya itu.
“Engko Ceng, kembalikan tiga kantung itu!” kata Oey Yong. “Karena dialah musuh ayahku, kita jangan menerima budinya!”
Kwee Ceng mengeluarkan kantungnya hanya ia berayal mengembalikannya. Ia bersangsi.
“”Letaki, engko Ceng!” kata pula Oey Yong. “Belum tentu aku mati! Mati pun boleh apa!”
Belum pernah Kwee Ceng tidak meluluskan sesuatu kehendaknya si nona, maka ia meletakinya tiga kantung surat wasiat itu.
Eng Kouw memandang keluar jendela, perlahan terdengar keluhannya: “Oh, Thian, Thian…!” Kemudian dengan lantas ia pergi ke kamar sebelah, di sana ia membaliki tubuhnya, entah apa yang ia lakukan.
“Mari kita berangkat!” mengajak Oey Yong. “Aku sebal melihat perempuan ini!”
Belum lagi Kwee Ceng menyahuti, si nyonya sudah kembali.
“Aku hendak memperlajari ilmu Kie-bun-sut, perlunya untuk memasuki Tho Hoa To,” ia berkata, “Sekarang gadisnya Oey Lao Shia ada di sini, aku menyakinkannya seratus tahun juga tidak ada gunanya. Dasar nasib, apa mau dibilang? Nah, pergilah kamu! Bawalah kantung itu!”
Ketiga kantung itu, bersama kantung obat, ia sesapkan di tangannya si anak muda. Kepada Oey Yon ia berkata: “Obat Kiu-hoa Giok-louw-wan ini untukmu ada bahayanya tidak ada faedahnya, maka janganlah kau makan pula, hanya kalau nanti kau sudah sembuh, jangan kau lupa janji kita satu tahun itu! Ayahmu telah membikin rusak seluruh penghidupanku, maka semua barang makanan di sini, lebih suka aku memberikannya anjing yang makan, tak sudi aku memberikannya kepada kamu!”
Lantas bubur dan dua rupa masakannya itu ia lemparkan keluar jendela!
Oey Yong gusar bukan kepalang, mau ia membuka mulutnya, atau mendadak ia sadar, maka ia lantas pegangi Kwee Ceng, untuk bangun berdiri. Dengan tongkatnya, ia menulis tiga baris huruf di atas pasir, setelah mana ia mengajak si anak muda itu bertindak ke luar.
Kapan ia sudah tiba di pintu luar, Kwee Ceng berpaling ke belakang, dengan begitu ia bisa melihat Eng Kouw, yang semenjak tadi berdiam saja, lagi mengawasi ke tanah, agaknya dia berdiri bengong, rupanya dia tengah menghitung……..
Sesampainya di muka rimba, Kwee Ceng menggendong Oey Yong, lalu ia bertindak pergi mengikuti jalan masuknya tadi. Selama itu, ia menutup mulut, karena pikirannya dipusatkan kepada tindakan kakinya itu supaya ia tidak salah jalan. Adalah setibanya di luar, di tempat aman, baru ia menanya si nona apa yang ditulisnya tadi.
Oey Yong tertawa.
“Aku menulis tiga macam hitungan untuknya,” sahutnya. “Dia boleh memikirkan itu setengah tahun, tidak nanti dia mendapatkan jawabannya. Biarlah rambut putihnya menjadi tambah uban! Siapa suruh dia bersikap demikian kurang ajar!”
“Sebenarnya dia bermusuh apa dengan ayahmu?”
“Aku tidak tahu. Tidak pernah aku mendengar ayah mengomonginya.” Ia hening sedetik. Lantas ia menanya: “Dimasa mudanya, dia mestinya cantik sekali. Benar tidak engko Ceng?” Selagi menanya begitu, di hatinya ia menduga apa mungkin nyonya itu pernah saling menyinta dengan ayahnya…
“Biar dia cantik atau tidak,” Kwee Ceng menyahut. “Dia lagi memikirkan tulisanmu itu, umpama kata dia mendadak menyesal, tidak nanti dia dapat menyusul kita.”
“Entah apa dia tulis di dalam kantungnya itu?” tanya Oey Yong. “Jangan-jangan dia tidak bermaksud baik. Apakah tidak baik kita membuka dan melihatnya?”
“Jangan, jangan!” Kwee Ceng mencegah. “Biar kita turut pesannya, sampai di kecamatan Tho-goan baru kita buka…”
Oey Yong sangat terpengaruhkan keinginan tahunya, ingin ia melihatnya, tetapi Kwee Ceng tetap mencegah akhirnya ia suka mengalah.
Sementara itu tanpa terasa sang malam telah berlalu, sang fajar datang menggantikannya, Kwee Ceng naik ke atas sebuah pohon tinggi, untuk melihat kelilingan. Ia tidak melihat orang-orang Tiat Ciang Pang, maka hatinya lega. Ia lantas bersiul memanggil kuda serta burungnya, yang muncul dengan cepat. Yang datang belakangan ialah kedua burung rajawali.
“Mari kita berangkat,” kata si anak muda setelah ia dan si nona sudah berada di punggung kuda mereka.
Justru itu waktu, di pinggiran rimba terdengar suara orang berseru-seru, lalu terlihat munculnya beberapa puluh orang. Merekalah orang-orang Tiat Ciang Pang, yang tak putus asa meskipun Eng Kouw telah menampik mereka, dengan terpaksa mereka menanti sambil menyembunyikan diri, baru mereka keluar setelah Kwee Ceng mengasih dengar suaranya yang nyaring memanggil kuda dan burungnya.
“Maaf, tak dapat kami menemani kamu!” berkata Kwee Ceng kepada mereka itu seraya ia mengeprak mengasih kudanya lari, maka dalam tempo yang pendek, di kuda merah meninggalkan jauh sekali kawanan pengepungnya itu.
Di waktu tengah hari, Kwee Ceng telah melalui perjalanan beberapa ratus lie, maka ia lantas berhenti di tepi jalan, di mana ada sebuah warung nasi. Si situ ia bersantap. Oey Yong lagi sakit, ia makan sedikit bubur.
Habis makan anak muda ini menanya tuan rumah tempat itu apa namanya. Ia diberi tahu bahwa ia berada di dalam wilayah kecamatan Tho-goan, maka tidak ayal lagi ia mengeluarkan kantung putihnya, untuk dibuka dan diperiksa. Di dalam situ ada sehelai peta bumi dengan dua baris yang berbunyi: “Jalan mengikuti petunjuk dalam gambar ini. Di ujung jalanan ini ada sebuah air tumpah yang besar, di samping mana ada sebuah rumah yang atap. Sampai di situ bukalah kantung yang merah.”
Tanpa ragu-ragu, Kwee Ceng menuruti surat wasiat itu. Ia mengasih kudanya lari sampai sekira delapanpuluh lie, sampai jalanan nyata makin jauh makin sempit. Lagi delapan atau sembilan lie, jalanan merupakan jalanan selat yang sempit, di kiri-kanan ialah tembok gunung. Jalanan demikian kecil hingga muat hanya satu orang. Kuda merah juga tidak dapat jalan di situ. Saking terpaksa, Kwee Ceng menggendong pula Oey Yong dan kudanya ditinggalkan, dibiarkan mencari makanannya sendiri.
Bab 61. Tukang pancing, tukang kayu, petani dan pelajar
Satu jam Kwee Ceng jalan terus. Kadang-kadang ada tempat demikian sempit hingga untuk lewat di situ, Oey Yong mesti dipondong, tubuhnya dikasih miring.
Ketika itu ada bulan ke tujuh, matahari sangat terik, akan tetapi di situ puncak gunung menghalangi pengaruhnya sang Batara Surya, maka juga jalanan di selat itu sebaliknya menjadi adem.
Kwee Ceng jalan terus sampai ia merasa lapar, maka ia mengeluarkan bekalannya ransum kering, ia menangsel perut sambil jalan, karena ia tidak mau menyia-nyiakan tempo. Ia telah makan habis tiga biji kue. Tepat ketika lehernya kering karena ingin minum, kupingnya mendengar suara air. Dengan lantas ia percepat tindakannya. Semakin lama suara air semakin nyaring. Ia mesti jalan mendaki.
Akhirnya si anak muda tiba di atas bukit. Maka dari situ ia dapat melihat iar tumpah itu, yang besar sekali, airnya meluncur ke bawah, jatuh terbanting keras. Itulah sebab suara yang nyaring tadi. Ketika ia mengawasi, di samping air tumpah itu ia tampak sebuah rumah atap. Ia lantas mencari sebuah batu besar di mana ia berduduk. Ia lantas mengeluarkan kantung yang merah, yang terus dibuka. Di dalam situ ada sebuah surat wasiat yang berbunyi:
“Lukanya anak perempuan ini cuma Toan Hongya yang dapat menolongi…”
Membaca surat itu, Kwee Ceng terkejut.
“Toan Hongya!” katanya kepada Oey Yong. “Bukankah dialah Lam Tee si Kaisar dari Selatan yang namanya kesohornya dengan nama ayahmu?”
Sebenarnya Oey Yong sudah lelah sekali tetapi mendengar disebutnya nama Kaisar dari Selatan itu, Lam Tee, ia menjadi ketarik hatinya.
“Lam Tee?” katanya. “Ya, aku pernah mendengarnya dari ayah. Toan Hongya itu adanya di Taili di Inlam dimana ia menjadi raja. Apakah itu bukan…” Ia berhenti berkata karena mendadak hatinya menjadi sangat dingin. Bukankah Inlam itu ada satu propinsi yang jauh sekali, yang tak dapat dicapaikan dengan perjalanan hanya tiga hari? Ia lantas menguatkan hatinya, untuk berduduk sambil menyender pada tubuh si anak muda. Ia mau melihatnya sendiri suratnya Eng Kouw itu.
Begini bunyinya surat dari kantung wasiat yang merah itu:
“Lukanya anak perempuan ini cuma Toan Hongya yang dapat menolongi… hanya Toan Hongya itu banyak perbuatannya yang tak selayaknya, karena mana dia jadi tinggal menyembunyikan diri di Tho-goan, hingga orang sangat sukar menemuinya. Kalau orang bicara dengannya dengan minta diobati, itulah justru pantangannya yang paling besar. Kalau maksud itu diutarakan, belum lagi orang masuk ke rumahnya, orang bakal dibikin celaka lebih dulu oleh si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar. Maka itu untuk bertemu dengannya, kamu mesti mendusta. Kamu bilang saja bahwa kamu datang atas nama gurumu, Ang Cit Kong, untuk bertemu sama Toan Hongya, untuk menyampaikan berita penting. Apabila kamu telah bertemu sama Toan Hongya, maka kamu serahkanlah isinya kantung kuning. Kehidupanmu tergantung dengan ini.”
Habis membaca, Kwee Ceng menoleh kepada Oey Yong. Ia melihat si nona mengerutkan keningnya. Ia menanya: “Yong-jie, kenapa Toan Hongya melakukan banyak perbuatan tak layak? Kenapa justru permintaan tolong diobati adalah pantangan yang terlebih besar lagi? Dan apa itu artinya kecelakaan di tangan si tukang pancing, tukang kayu, petani dan pelajar?”
Si nona menghela napas.
“Engko Ceng, janganlah kau menganggap aku terlalu pintar hingga semua-semuanya aku mesti ada jawabannya.” sahutnya.
Kwee Ceng terkejut, ia mengawasi tanpa menanyakan lagi. Ia pondong nona itu.
“Baiklah, mari kita turun!” ujarnya. Tapi, sebelum mulai bertindak, ia mengawasi pula ke bawah ke air tumpah. Di tepi air, di mana ada sebuah pohon yangliu, ia melihat seorang tengah berduduk, kepala orang itu ditutup sama tudung bambu. Karena jaraknya jauh, ia tidak dapat melihat tegas. Terpaksa, ia terus berjalan turun.
Terpengaruh oleh keinginannya lekas-lekas sampai, terbantu oleh jalana di situ tak sesukar tadi, lekas juga Kwee Ceng tiba di bawah, di tepian air tumpah itu. Sekarang ia melihat orang tadi sedang duduk sambil memancing ikan.
Air tumpah jatuhnya sangat keras, air pun mengalir deras luar biasa, di mana bisa ada ikan di situ? Taruh kata ada ikannya, mana sempat ikan itu mencaplok umpan pancing? Maka anehnya yang orang memancing ikan di air sedemikian itu.
Pemuda itu tidak berani lancang mengganggu orang. Lebih dulu ia mengawasi saja. Ia mendapatkan si tukang pancing berumur tigapuluh tujuh atau tigapuluh delapan tahun, kulit mukanya hitam seperti pantat kuali, mukanya berewokan, bulunya kaku seperti kawat. Kedua mata orang terus dipakai mengawasi tajam ke arah air. Setelah mengawasi sekian lama, ia turunkan Oey Yong, supaya si nona dapat duduk menyender di pohon, untuk beristirahat, ia sendiri pergi ke tepian, untuk melihat di kobakan air tumpah itu ada ikan apa. Orang itu tetap diam saja, mereka tidak ditegur sama sekali.
Sekian lama Kwee Ceng mengawasi, tiba-tiba ia melihat berkelebatnya sinar kuning di dalam air itu. Si tukang pancing nampak girang, sebab mendadak jorannya melenkung tertarik ke arah air. Karena ada satu makhluk yang memakan umpan pancing itu - makhluk yang seluruhnya berwarna kuning emas. Saking heran, si anak muda berseru sendirinya: “Eh, binatang apakah itu?”
Berbareng sama seruannya si anak muda itu, seekor binatang yang serupa itu melesat pula menyambar pancing, maka si tukang pancing menjadi girang sekali, dengan erat-erat ia mempertahankan jorannya, yang sebaliknya jadi makin melengkung. Rupanya kuat sekali merontanya si ikan aneh itu, sebentar kemudian, patahlah joran itu, kedua ikannya berloncat ke air, terus berenang pergi, lenyap di kolong batu. Meski air sangat deras, ikan itu tak hanyut terbawa air.
Si tukang pancing lantas memutar tubuhnya, dia mengawasi Kwee Ceng dengan mata mendelik dan muka merah, tandanya ia murka sekali.
“Hai, bangsat cilik busuk!” dia mendamprat. “Setengah hari dan setengah mati aku menantikan di sini, sekejap saja kau membikin kaget dan kabur binatang yang aku lagi pancing itu!” Terus ia mengangkat tangannya yang besar, seperti dia hendak menyerang, hanya entah kenapa, dia menahannya, hingga tangannya itu mengasih dengar suara meretek.
Kwee Ceng tahu ia telah mengganggu orang itu, ia tidak menjadi gusar.
“Maaf, paman,” katanya merendah. “Sebenarnya bukan maksudku mengganggu padamu. Sebenarnya ikan apakah itu?”
Orang itu masih tetap gusar.
“Buka matamu!” katanya sengit. “Apakah itu ikan? Itulah Kim Wawa!”
Kwee Ceng tertawa. Ia tetap tidak gusar.
“Mohon tanya paman, apa itu Kim Wawa?” ia tanya. Ia tidak mengerti makhluk itu dinamai “Kim Wawa” atau “Anak Emas”.
“Kim Wawa ialah Kim Wawa!” orang itu berteriak semakin gusar. “Eh, bangsat bau, perlu apa kau banyak bacot?!”
Tetap Kwee Ceng mengendalikan diri. Ia membutuhkan petunjuk untuk mencari Toan Hongya.
“Maaf, paman,” katanya, sembari ia memberi hormat pula.
Tapi Oey Yong tak dapat bersabar seperti engko Ceng-nya itu.
“Kim Wawa ialah ikan wawa yang berwarna kuning emas,” ia campur bicara. “Apakah yang aneh pada ikan itu? Di rumahku, aku memeliharanya beberapa pasang!”
Tukang pancing itu heran mendengar si nona mengetahui tentang ikan itu, tetapi hanya sebentar ia tercengang, segera ia mengasih dengar suaranya yang tak sedap: “Hm, kau ngepul ya? Kau memeliharanya beberapa pasang! Aku tanya padamu, apakah perlunya Kim Wawa itu?”
“Apa perlunya?” sahut si nona sabar. “Aku melihatnya ikan itu bagus, dia dapat bersuara yayaya, seperti anak kecil, maka aku lantas memeliharanya, untuk dibuat main!”
Mendengar keterangan orang, tak salah, pengail itu mulai menjadi sabaran sedikit.
“Eh, anak,” katanya kemudian, “Kalau benar kau memelihara ikan itu, kau harus mengganti aku satu pasang!”
“Perlu apa aku mesti mengganti padamu?” si nona menanya.
Orang itu menunjuk Kwee Ceng, dia menyahutinya:” Aku mengail, aku dapat satu ekor, lantas dia berteriak tak karua-karuan, hingga muncul satu seekor yang lain, hingga kejadian patahlah joranku. Kim Wawa ini sangat cerdik, selanjutnya dia tak bakal kena dikail lagi, maka itu kalau kau tidak disuruh mengganti, habis bagaimana?”
“Tatuh kata kau dapat memancingnya, kau cuma dapat satu,” kata lagi Oey Yong. “Apa mungkin kau dapat mancing sekali dua?”
Ditanya begitu, orang itu berdiam. Ia menggaruk-garuk kepalanya.
“Kalau begitu, kau menggantilah seekor!” katanya kemudian.
Oey Yong tertawa. Ia berkata: “Jikalau sepasang Kim Wawa dipisahkan hidup-hidup, maka tak lebih daripada tiga hari, baik yang jantan maupun yang betina, dua-duanya bakal mati sendirinya.”
Mendengar begitu, lenyaplah kesangsiannya si pengail, dengan lantas ia menjura kepada sepasang muda-mudi itu. Ia berkata pula: “Baiklah, anggaplah aku yang tidak benar! Sekarang maukah kau membagi aku satu pasang?”
Oey Yong tersenyum.
“Lebih dulu kau mesti menerangkan padaku, perlu apa kau dengan ikan emas itu?” ia tanya.
Orang itu berdiam, agaknya ia bersangsi. Tapi cuma sejenak, lantas ia membuka mulutnya.
“Baiklah, aku nanti menjelaskan kepada kamu,” katanya. “Paman guruku, seorang India, beberapa hari yang lalu telah datang ke mari mengunjungi guruku. Ia telah mendapat tangkap itu sepasang ikan emas, ia girang bukan main. Ia membilangi kita bahwa di negerinya itu ada semacam binatang yang berbisa sekali, yang sangat sukar untuk disingkirkan, kecuali dengan ini ikan, yang menjadi binatang pelumahnya. Dia menyerahkan ikan itu kepadaku, untuk aku merawatnya beberapa hari, nanti setelah ia selesai berbicara sama guruku, diwaktu ia berangkat pulang, hendak ia membawanya sekalian, untuk dipelihara di sana, siapa tahu…”
“Siapa tahu kau telah berlaku tidak hati-hati dan kau membuatnya terlepas!” Oey Yong mendahului.
Pengail itu kaget: “Eh, mengapa kau tahu?” tanyanya heran.
“Tidakkah gampang menduga itu?” berkata si nona tersenyum. “Ikan itu memangnya sukar dipeliharanya. Aku sendiri mulanya memelihara lima pasang dan kemudian kabur dua pasang.”
Matanya si tukang pancing bersinar. Agaknya ia sangat tergiur.
“Nona yang baik, kau bagilah aku sepasang,” ia minta. “Kamu masih mempunyai dua pasang lagi, tidakkah itu cukup? Kalau paman gusar, itulah hebat untukku…”
“Untuk membagi kau satu pasang, itulah urusan kecil sekali;” berkata si nona, tetap manis. “Hanya aku hendak menanya kau, kenapa kau mula-mulanya galak sekali?”
Orang itu jengah, dia bingung. Ia mau tertawa tetapi pun gagal…..
“Ah, nona yang baik,” akhirnya ia kata, “Kau ini tinggal di mana? Apakah tidak jauh dari sini?”
“Kalau dikata dekat, tidak dekat,” sahutnya, “Kalau dikata jauh, ya tidak jauh, tetapi kalau beberapa ribu lie, ya ada…”
Tukang pancing itu kaget, lantas kumisnya bangun berdiri.
“Hai, budak cilik!” dia membentak, “Kiranya kau lagi permainkan tuanmu!” Dia sudah lantas mengangkat kepalannya yang besar, hendak ditimpahkan kepala orang, akan tetapi kapan dia melihat seorang nona cilik dan nampaknya lemah, dia batal sendirinya.
Kwee Ceng sendiri sudah lantas bersiap, untuk menjambret tangan orang itu.
Oey Yong tertawa. Sama sekali ia tidak takuti ancaman itu.
“Kenapa terburu nafsu?” katanya. “Aku telah memikirkan jalannya. Eh, engko Ceng, coba kau tolong panggil si rajawali putih!”
Anak muda itu tidak dapat menerka hati kawannya akan tetapi ia menuruti.
Kapan si pengail mendengar suara orang, ia terkejut. Suara itu nyaring mendengung, berkumandang di lembah-lembah. Maka sekarang ia kata di dalam hatinya: “Baiklah tadi aku tidak lantas bertempur dengannya, kalau tidak, aku bisa celaka….”
Tak lama datanglah sepasang rajawali mereka.
Oey Yong minta Kwee Ceng mengambil babakan pohon, di situ dengan jarumnya ia mencacah beberapa baris tulisan, singkat bunyinya:
“Ayah!
Aku menghendaki sepasang Kim Wawa, maka suruhlah si rajawali membawanya.
Dari anakmu,
Yong.”
Melihat itu barulah Kwee Ceng mengerti, maka ia menjadi girang sekali. Ia lantas menyiapkan tali, ialah ikat pinggangnya yang ia kutungi, lalu dengan itu ia ikat surat babakan pohon itu pada kakinya si rajawali yang jantan. Oey Yong pun lantas berkata kepada si rajawali itu: “Kau bawa ini ke Tho Hoa To, lekas pergi dan lekas kembali!”
Kwee Ceng masih khawatir burungnya itu kurang mengerti, ia menunjuk ke Timur dan tiga kali menyebutnya: “Tho Hoa To!”
Sepasang burung rajawali jinak itu berbunyi berbareng, lantas keduanya terbang pergi, setelah berputaran di tengah udara, mereka menuju ke timur, sebentar saja mereka lenyap di antara gumpalan mega.
Si Tukang pancing melongo matanya dan terpentang mulutnya.
“Tho Hoa To…Tho Hoa To…” katanya kemudian, seperti mengoceh tidak karuan. “Pernah apakah kamu dengan Oey Yok Su Loosianseng?”
Baru sekarang Oey Yong memprlihatkan aksinya.
“Ialah ayahku! Habis kenapa?!” sahutnya, temberang.
“Oh!” seru orang itu heran.
Oey Yong tidak menggubris sikap orang itu, ia tanya: “Dalam tempo beberapa hari saja, burung itu bakal membawa datang ikan itu kemari. Tidak terlambat, bukankah?”
“Harap saja…” kata orang itu, matanya mengawasi sepasang anak muda itu, agaknya ia bersangsi.
Kwee Ceng memberi hormat.
“Aku belum menanyakan nama she dan nama yang besar dari paman,” katanya.
Orang itu tidak menyahuti, sebaliknya ia menanya: “Perlu apa kau datang ke mari? Siapakah yang menyuruhnya?”
Kwee Ceng terus membawa sikapnya yang menghormat.
“Aku yang muda ada mempunyai urusan untuk mana aku memohon bertemu sama Toan Hongya,” ia memberitahukan. Ia sebenarnya mau memberi keterangan seperti petunjuknya Eng Kouw, akan menyebutkan nama gurunya, Ang Cit Kong, tetapi ia tidak biasa mendusta, mendadak ia merasa tak dapat ia mengatakan itu.
“Guruku tidak dapat menemui orang!” orang itu kata dengan keras. “Mau apa kau mencari guruku itu?”
Untuk sejenak Kwee Ceng terbenam dalam kesangsian. Ia sebenarnya mau terus bicara secara sebenarnya, tapi mendadak ia ingat keselamatannya Oey Yong. Tidakkah ia nanti menggagalkan si nona? Bukankah tak apa ia mendusta kali ini? Selagi ia bersangsi, si pengail telah mendapat lihat kesangsiannya itu dan melihat tegas si nona, yang lagi sakit.
“Kau mencari guruku untuk minta diobati, bukankah?” dia menanya.
Disenggapi begitu, pemuda itu tak dapat mendusta lagi. Ia mengangguk.
“Benar,” sahutnya, sedang hatinya menyesal tak dapat mendusta….
“Untuk menemui guruku, jangan harap!” kata tukang pancing itu bengis. “Biar aku ditegur guru dan pamanku, aku tak menghendaki lagi ikanmu itu! Lekas pergi!”
Kata-kata itu ketus dan pasti, bagaikan pantek paku, Kwee Ceng menjadi berdiri menjublak, untuk sesaat itu, ia merasakan tubuhnya dingin seluruhnya. Sesaat kemudian barulah ia dapat berkata pula.
“Nona yang terluka ini dan membutuhkan pengobatan adalah putri yang dicintai dari Oey Tocu dari Tho Hoa To,” ia berkata, ia pun menjura. “Sekarang ini, nona ini pun menjadi Pangcu dari Kay Pang. Maka itu paman, aku minta, dengan memandang Oey Tocu dan Ang Pangcu itu, sukalah kau menunjuki kami jalan, supaya kami diajak bertemu menemui Toan Hongya.”
Mendengar disebutkannya Ang Pangcu, roman si tukang pancing sedikit berubah, akan tetapi ia menggeleng kepala.
“Nona ini pangcu dari Kay Pang?” tanyanya. “Aku tidak percaya!”
Kwee Ceng menuju kepada tongkat Lek-tiok-thung di tangannya Oey Yong.
“Itulah tongkat Tah-kauw-pang dari Ang Pangcu,” ia berkata. “Tentunya paman mengenali tongkat itu…”
Tukang pancing itu mengangguk.
“Pernah apakah kamu dengan Kiu Cie Sin Kay?” ia tanya pula.
“Ialah guru kami.”
“Oh…” si tukang pancing bersuara perlahan. “Jadinya kamu datang ke mari mencari guruku ini karena disuruh gurumu, bukan?”
Lagi-lagi Kwee Ceng dibikin ragu-ragu. Ia ingat baik-baik ajarannya Eng Kouw untuk mendusta tetapi itu bertentangan dengan kejujurannya.
“Benar!” Oey Yong segera mendahului menjawab.
Orang itu bertunduk, terang ia ragu-ragu. Terdengar ia berkata dengan perlahan: “Bagaimana sekarang? Kiu Cie Sin Kay dengan guruku itu bersahabat luar biasa erat…”
Oey Yong ynag cerdik mengerti kesulitan orang itu, ia lantas berkata: “Guru kami menitahkan kami mencari Toan Hongya, disamping untuk minta dia menolong mengobati aku juga karena ada urusan penting yang mesti disampaikan!”
Mendadak orang itu mengangkat kepalanya. Kembali terlihat ia menjadi bengis.
“Benar Kiu Cie Sin Kay yang menitahkan kamu menemui Toan Hongya?” ia tanya keras.
“Ya,” menyahut Oey Yong.
Orang itu menegaskan pula: “Benar Toan Hongya, bukannya orang lain?”
Nama Toan Hongya itu ditekan keras, mendengar itu, Oey Yong menduga pasti ada sebabnya sesuatu, tetapi karena sudah terlanjur, ia tidak dapat lain jalan.
“Ya,” ia menyahut pasti, mengangguk.
Pengail itu maju dua tindak. Tiba-tiba ia berseru: “Toan Hongya sudah mati!”
Oey Yong dan Kwee Ceng kaget bukan kepalang.
“Mati?” tanya mereka berbareng.
“Ketika Toan Hongya mati, Kiu Cie Sin Kay ada disampingnya!” berkata si tukang pancing itu, suaranya tetap keras. “Maka itu cara bagaimana dia boleh menitahkan kalin pergi mencari lagi kepada Toan Hongya? Hayo bilang, siapakah yang menitahkan kamu? Dengan datang kemari, kamu membawa akal busuk apa? Lekas bilang!”
Segara ia maju setindak lagi, tangan kirinya dikipaskan sebagai ancaman, tangannya menyambar ke pundaknya si nona.
Kwee Ceng memang selalu bersiap, maka itu, melihat sikap garang dari orang itu, ia menghadang pula di depan Oey Yong, kedua tangannya bersikap dengan jurusnya “Melihat naga di sawah”. Manampak ini, orang itu heran. Itu tandanya si anak muda tak mau menyerang kepadanya. Meski begitu, ia melanjuti sambarannya. Karena ini mendadak ia merasakan benturan pada tangannya itu, yang bergemetar, terus ia merasakan dadanya panas, sedang tangannya itu mental balik. Dengan lantas ia lompat mundur, ia khawatir nanti diteruskan diserang anak muda itu. Selagi berlompat ia ingat pembicaraan Ang Cit Kong bersama gurunya tentang ilmu silat. Ia ingat, anak muda ini bersilat dengan Hang Liong Sip-pat Ciang.
“Teranglah mereka ini muridnya Ang Pangcu, tidak boleh aku berbuat salah terhadap mereka,” begitu ia lantas mendadat pikiran. Ia lantas mengawasi Kwee Ceng, siapa terus menunjuk sikap menghormat meski terang barusan ia menang unggul, tidak ada romannya yang puas atau temberang. Tapi ia masih berkata: “Jiewi benar ada murid-muridnya Kiu Cie Sin Kay tetapi jiewi datang kemari bukan atas titah gurumu itu, benar bukan?”
Kwee Ceng tak tahu maksud orang tetapi rahasia hatinya telah dapat diterka, dengan terpaksa ia mengangguk.
Tukang pancing itu tidak lagi bersikap bengis seperti semula.
“Walaupun Kiu Cie Sin Kay sendiri yang terluka dan datang ke mari, masih siauwko tidak dapat mengantarkan dia naik ke gunung untuk bertemu sama guruku, maka itu haraplah jiewi memaafkannya,” katanya. Sekarang ia menyebut diri dengan “siauwko” artinya ” yang muda”
“Apakah benar meskipun guruku sendiri yang datang, masih tidak dapat?” Oey Yong menegsakan.
“Tidak dapat!” menyahut orang itu, kepalanya digoyang. “Biarnya dipukul sampai mati, tidak dapat!”
Oey Yong mencurigai orang ini. Bukankah dia menyebut Toan Hongya gurunya dan dia juga membilang Toan Hongya sudah mati? Kenapa ia menyebutnya waktu Toan Hongya mati Kiu Cie Sin Kay berada di sampingnya? Tidakkah itu aneh?
“Tidak bisa lain, gurunya mesti ada di atas gunung!” ia lantas mengambil keputusan. “Tidak peduli dia Toan Hongya atau bukan, kita mesti menemuinya!”
Maka ia mengangkat kepalanya, mendongak ke atas gunung, yang puncaknya seperti masuk ke dalam awan. Itulah puncak lebih tinggi beberapa kali lipat daripada puncak Tiong Cie Hong dari Tiat Ciang San. Benar-benar puncak itu sulit untuk dinaiki. Kemudian ia mengawasi air tumpah. Ia memikirkan jalan untuk dapat mendaki gunung itu. Tengah ia mengawasi itu, ia melihat berkelebatnya sinar kuning di dalam air. Segera ia bertindak ke tepian sambil ia mengawasi jauh. Maka terlihatlah olehnya dua ekor ikan tadi berada di bawah batu, ekornya berada di luar guanya itu…. Ia lantas menggapai Kwee Ceng.
Anak muda itu mendekati. Ia pun lantas melihat ikan itu.
“Nanti aku turun dan menangkapnya,” kata Kwee Ceng.
“Jangan!” mencegah si nona. “Air deras, mana kau dapat berdiri diam di air? Janganlah berlaku tolol…!”
Akan tetapi Kwee Ceng berpikir, kalau ia menempuh bahaya dan menangkap ikan itu, untuk diserahkan pada si pengail, mungkin hati orang ini berubah. Ia pun tidak dapat menyia-nyiakan waktu lewat berlarut-larut, itulah membahayakan Oey Yong. Karena ia tahu, nona itu bakal mencegah padanya, maka diam-diam ia lompat ke air tanpa ia membuka lagi sepatu dan pakaiannya.
“Engko Ceng!” Oey Yong berteriak kaget. Ia lantas bangun, tetapi kedua kakinya bergoyang, serta tubuhnya terhuyung pula.
Si tukang pancing kaget, ia lompat menyambar nona itu, kemudian ia lari ke arah gubuk, agaknya dia lantas mencapai sesuatu guna menolongi si anak muda.
Oey Yong berduduk di batu, ia mengawasi ke arah Kwee Ceng, yang dapat berdiri tegak di air, gempurannya air tumpah yang dahsyat tak dapat membikin tubuhnya itu bergeming, maka legalah hatinya.
Kwee Ceng sendiri sudah lantas bertindak untuk menangkap ikan. Ia membungkuk, kedua tangannya dianjurkan perlahan-lahan, sikapnya waspada. Nyata ia bisa bekerja sebat dan jitu juga tangkapannya. Dua-dua tangannya bisa mencekal ekornya ikan emas itu, hanya ketika ia mengangkatnya, ia tidak berani mencekal keras-keras, ia khawatir ikan itu mati. Kesempatan ini digunai kedua ekor ikan itu yang badannya licin, waktu keduanya berontak, mereka dapat lolos dan melentik pula ke air, di mana mereka selulup pula masuk ke kolong batu!
Oey Yong menjerit saking menyesalnya karena sayang ikan itu lolos. Justru itu di belakangnya pun ada orang yang berseru. Ketika ia berpaling, ia melihat si tukang pancing lagi berdiri bengong di belakangnya, pundaknya memanggul sebuah perahu kecil dan tangannya mencekal sepasang pengayuh. Rupanya dia hendak menolong orang kecebur.
Kwee Ceng tidak lantas berlalu dari air tumpah. Ia tetap berdiri tegar. Ia membungkuk pula. Kedua tangannya di ulur ke kolong batu, ke gua tempat ikan tadi lari sembunyi. Tapi ia tidak mau menangkap ikan, yang tidak terlihat, hanya ia memegang batu, untuk diangkat. Ia girang ketika ia merasa batu itu bergerak sedikit. Maka sekarang ia menyiapkan tenaganya, untuk jurusnya “aga terbang ke langit”. Dengan mendadak ia mengangkat batu itu, terus dilemparkan ke sampingnya, di lain pihak, kedua tangannya menyambar ke air. Maka sejenak itu juga, kedua tangannya telah mencekal masing-masing seekor Kim Wawa!
Batu besar itu terbanting ke air di samping, berisik suaranya, air muncrat dan mengalir tambah keras. Kwee ceng sendiri tidak terhuyung tubuhnya ketika ia mengangkat dan melemparkan batu itu.
Si tukang pancing heran dan kagum, tetapi sekarang ia memikir daya untuk menolong Kwee Ceng naik ke darat. Pemuda itu berada di tempat sekira dua tombak. Dengan kedua tangan memegang ikan, sulit untuk dia menggunai lagi tangannya itu, atau ikan itu bakal terlepas pula. Akhirnya ia menyodorkan pengayuhnya, ia ingin anak muda itu mencekalnya, tanpa ia ingat tangan orang lagi memegang ikan….
Tapi Kwee Ceng tidak berkhawatir, setelah melihat ke tepian, ia menjejak dengan kaki kanannya, dengan begitu dia dapat berlompat ke pinggir, di sini ia menaruh kaki kirinya, untuk menjejak pula, maka di lain saat, ia sudah berada di atas di antara si nona dan si tukang pancing.
Oey Yong kaget, girang dan kagum. Sungguh ia tidak menyangka demikian pesat sudah kemajuannya pemudanya ini. Tentu sekali sesaat itu ia tidak ingat bahwa Kwee Ceng telah mempertaruhkan jiwanya cuma untuk menolong dia. Sebenarnya anak muda itu sendiri bergidik kalau ia ingat perbuatannya yang nekat itu.
Lain orang yang tercengang ialah si tukang pancing. Ia heran dan kagum. Maka sekarang tahulah ia, anak muda itu lihay tenaga dalamnya dan ilmu ringan tubuh, jangan dibicarakan lagi tentang nyali yang besar.
Segera setelah itu, Kwee Ceng tertawa. Kedua Kim Wawa di tangannya, sambil meronta-ronta telah mengasih dengar suaranya yang berisik, yang benar seperti gegowakannya seorang bocah!
“Ah, pantas dia dipanggil Kim Wawa!” katanya lagum. Kemudian ia mengulurkan tangannya kepada si tukang pancing, untuk menyerahkan ikan itu.
Orang itu terlihat alisnya bergerak, tanda dari kegirangannya. Ia pun lekas-lekas menurunkan pengayuhnya. Ketika ia sudah mengulurkan tangannya, mendadak ia menariknya pulang.
“Kau lemparkanlah kembali ke air, aku tidak menghendaki itu!” katanya.
“Kenapa begitu?” tanya Kwee Ceng heran.
“Meski aku menerima ikanmu, tidak dapat aku mengantarkan kau kepada guruku,” dia menyahut. “Menerima budi tetapi budi itu tidak dibalas, itulah perbuatan yang akan mendatangkan tertawanya orang-orang gagah di kolong langit ini!”
Kwee Ceng heran hingga ia tercengang.
“Paman,” katanya kemudian, sungguh-sungguh, “Kau tidak dapat meluluskan permintaan kami, pada itu mesti ada sebabnya, baiklah kami tidak hendak memaksakannya. Tapi kedua ekor ikan ini tidak berarti, inilah bukan budi, maka itu paman ambillah!” Ia mengulur pula tangannya, ia menyerahkan ikan itu.
Kali ini si tulang pancing menyambuti, hanya romannya sangat likat.
Kwee Ceng berpaling kepada Oey Yong, ia kata: “Yong-jie, hidup dan mati itu takdir, umur manusia tak dapat dipastikan, maka kalau benar-benar kau tidak dapat disembuhkan, di dunia baka itu ada jalannya, maka di sana pastilah akan ada engko Cengmu yang akan tetap menemanimu! Mari kita pergi!”
Mendengar suaranya anak muda itu, merah matanya Oey Yong. Tapi ia sudah memikir sesuatu. Ia tidak lantas menyahuti si anak muda.
“Paman,” ia berkata kepada tukang pancing itu, “Kau tetap tidak dapat memberi petunjuk pada kami, tidak apalah, hanya ada satu hal yang aku tidak mengerti. Jikalau kau tidak menjelaskannya itu, mati pun aku tidak meram…”
“Apa itu?” menanya si tukang pancing heran.
“Kau lihat puncak itu licin bagaikan kaca,” berkata si nona. “Bukankah tidak ada jalan untuk mendakinya? Maka umpama kata bersedia akan mengantarkan kami, apa salahnya?”
Orang itu berpikir: “Telah pasti aku tidak dapat mengantarkan dia, maka apa halangannya kalau aku memberikan keteranganku kepadanya?” Maka ia menajwab: “Kalau dikata sukar, memangnya sukar, tetapi kalau dibilang gampang, benar-benar gampang sekali. Di sebelah sana, di ujung gunung itu, air tumpah tak sekeras di sini maka jikalau aku duduk di atas perahu besiku dan aku mendayung, aku dapat maju dengan melawan air. Kalau satu orang diantarkan satu kali, maka dua kali saja lantas dua orang dapat tiba di atas!”
“Oh, kiranya begitu!” berkata si nona. “Nah, ijinkan kami pergi!”
Nona ini lantas berbangkit, untuk memegangi tubuh Kwee Ceng, siap untuk berlalu.
Kwee Ceng memberi hormat pada orang itu tanpa membilang apa-apa.
Tukang pancing itu mengawasi orang, kemudian ia lari ke gubuknya, sebab ia khawatir ikannya nanti terlepas pula.
Begitu orang masuk ke dalam, Oey Yong lantas berkata: “Lekas ambil perahu dan pengayuhnya itu! Mari kita pergi ke atas!”
Kwee Ceng terkejut, ia melengak.
“Ini…ini kurang bagus…” katanya ragu-ragu.
“Baiklah!” seru si nona. “Kau mau jadi kuncu, nah jadilah kuncu!”
Kwee Ceng bingung: “Mana lebih penting, menolong Yong-jie atau jadi kuncu?” demikian otaknya bekerja sulit. Justru itu, Oey Yong dengan susah payah, sudah bertindak pergi. Cuma sedetik saja, ia lantas mengambil keputusannya. Ia lari ke perahu, ia angkat itu, ia melemparkannya ke air, ke atasan air tumpah itu, kemudian ia pergi menyambar kedua pengayuhnya. Tindakannya yang terakhir adalah menolong Oey Yong untuk lari ke atas, hingga dilain saat mereka sudah berada di atas di mana mereka tampak perahu tadi.
“Ser!” demikian suara terdengar, suara dari senjata rahasia.
Dengna mendak, Kwee Ceng membebaskan diri dari senjata rahasia itu, yang jatuh ke dalam perahu mana tepat datang ke dekatnya. Maka bersama-sama Oey Yong, ia lompat naik ke perahu itu, untuk segera dikuyah mudik…
Si tukang pancing terdengar caciannya tapi tak nyata apa katanya…
Kwee Ceng lantas mengayuh. Mulanya dengan tangan kiri, sebab ia masih memegangi Oey Yong, ketika perahu itu maju, ia melepaskan si nona, ia mengayuh dengan tangan kanannya itu. Demikian selanjutnya, setiap mengayuh, perahunya maju beberapa kaki….
“Budak busuk! Perempuan hina!” demikian sang angin membawa dampartan si tukang pancing, mendengar mana, Oey Yong tertawa, “Lihat, dia masih menganggapnya kau orang baik! Akulah yang dia caci!” katanya.
Kwee Ceng lagi mengayuh, matanya mengawasi ke depan, ia tidak mendengar guraunya si nona. Ia mesri memakai tenaga dan pikirannya. Perahu itu besar kepalanya dan enteng buntutnya, dia maju melawan air, yang boleh dibilang deras juga. Beberapa kali ia hampir terpukul mundur. Dengan menggunai tipu dari “Sin Liong pa bwee” atau “Naga sakti menggoyang ekor” dengan cepat ia dapat menguasai kedua pengayuhnya itu, kedua tangannya bergerak dengan cepat dan kuat dan rapi.
Senang Oey Yong melihatnya, dengan gembira ia kata: “Meski si tukang pancing tadi yang mengayuh, tidak nanti dia dapat mengayuh selekas ini!”
Perahu itu maju terus, setelah lewat sekian lama, air menikung, habis itu maka terlihatlah permukaan air yang airnya tenang, di kedua tepinya ada tumbuh pohon yangliu. Itulah kali kecil yang lebarnya setombak lebih. Di situ pun ada banyak pohon tho. Kalau itu waktu musim semi, pastilah indah pemandangan alamnnya. Sebagai gantinya bunga tho, di tepian ada banyak bunga putih yang kecil-kecil, yang baunya harum.
Dua-dua muda-mudi ini heran dan kagum. Tidak dinyana, di atas gunung ini ada tempat sepermai itu.
Iseng-isng Kwee Ceng mengayuh dalam, hampir ia membuatnya pengayuhnya terlepas. Di luar dugaannya, kali itu dalam tak terjajakan oleh pengayuhnya itu. Di bawahpun air menggolak.
Sekarang kenderaan air dapat dikayuh maju perlahan-lahan, keduanya dapat menikmati pemandangan alam yang indah, makin jauh nampkanya makin menarik hati.
“Jikalau lukaku ini sukar diobati,” kata Oey Yong menghela napas. “Biarlah aku terkubur di sini, tak usah aku turun lagi…”
Kwee Ceng berduka, hendak ia menghiburi si nona itu atau ia melihatnya di sebelah depan mereka ada sebuah terowongan, darimana ada terhembus bau harum yang keras sekali. Perahunya telah lantas masuk ke dalam gua itu yang airnya mengalir sedikit keras.
Segera kuping mereka mendengar suara apa-apa.
“Suara apakah itu?” si pemuda tanya.
“Entahlah,” sahut si nona menggeleng kepala.
Terowongan itu tidak panjang, sebentar kemudian mereka telah keluar di ujung yang lain. Segala apa menjadi terang seperti tadi. Bahkan sekarang mereka bersorak. Di depan mereka terlihat air mancur yang besar sekali, tingginya setombak lebih dan airnya meluncur tinggi bagaikan tiang menjulang ke udara. Itulah yang mangasih dengar suara tadi. Sampai di situ, habislah kali di atas gunung itu dan sumbernya kali ialah air mancur ini.
Kwee Ceng membantu Oey Yong naik ke darat, kemudian ia menarik perahunya ke batu, setelah mana bersama si nona ia memandangi air mancur itu. Di antara sinarnya matahari, air itu mengasih lihat bianglala yang intadh. Tak tahu mereka bagaimana harus memuji keindahan itu, mereka duduk diam sambil berpegangan tangan. Mereka masih kesengsem ketika mereka mendengar suara nyanyian yang seperti keluar dari arah belakang bianglala itu.
“Kota dan kalinya rusak semua! Mana si pencinta negara?
Memikirkan kemakmuran dan keruntuhan, itulah penderitaan.
Dinasti Tong bangun, itu artinya dinasti Swie roboh.
Jadi miriplah dengan naga yang berubah-ubah.
Cepat, langit dan bumi salah!
Lambat, langit dan bumi salah!”
Lantas juga terlihat si penyanyi, tangan kirinya membawa sebatang kayu cemara, tangan kanannya mencekal sebuah kampak. Maka teranglah, dia seorang tukang kayu - ya seorang tukang mencari kayu bakar.
Setelah melihat pakaian orang itu, Oey Yong ingat tulisannya Eng Kouw, ialah: “…….Kalau orang bicara dengannya dengan minta diobati, orang bakal terbikin celaka lebih dulu oleh si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar…..” Tadi mereka bertemu sama tukang pancing. Dan ini, bukankah ini dia si tukang kayu?
Apakah mereka bakal bertemu sama petani dan si pelajar? Siapa empat orang ini? Murid atau pelayankah dari Toan Hongya? Ia menjadi masgul. Untuk melewati si tukang pancing demikian sukar, maka entah ini tukang kayu. Bukankah nyanyian dia ini bukan nyanyian sembarang? Entah bagaimana lagi dengan si petani dan si pelajar?
Kembali terdengar orang itu bernyanyi:
“Dari atas jembatan, memandang jauh,
Hawa dari kerajaan, telah runtuh….
Di atas panggung tak terlihat kepala perang….
Semenjak dulu, hanya seputaran, semua musnah.
Pahala, tidak kekal!
Nama juga tidak kekal!”
Perlahan jalannya si tukang kayu itu, lalu ia mengawasi si muda-mudi, acuh tak acuh lantas ia bekerja, mengampak kayu di pinggiran gunung.
Oey Yong melihat tubuh orang yang kekar dan roman gagah, gerak-geriknya seorang panglima perang, maka coba dia itu bukan dandan sebagai tukang kayu dan lagi berada di hutan ini, dia pasti dapat menjadi seorang kepala perang. Ia lantas ingat keterangan gurunya bahwa Lam Tee, si Kaisar dari Selatan, ialah Toan Hongya, telah menjadi kaisai di Taili, Inlam, maka apa mungkin tukang kayu ini asalnya ialah panglima perangnya? Nyanyian orang, pula suaranya, semuanya luar biasa.
Lagi sekali tukang kayu itu bernyanyi:
“Puncak gunung bagaikan bertumpuk,
Gelombang seperti berangkara murka,
Di jalanan kota Tongkwan sana,
Memandang ke barat, hati ragu-ragu,
Melihat istana, semua runtuh menjadi tanah…
Bangun, rakyat bersengsara!
Musnah, rakyat bersengsara!”
Mendengar kata-kata yang terakhir itu, Oey Yong ingat ayahnya sering mengatakan: “Apa itu segala kaisar dan panglima perang? Semua itu mahkluk jahat tukang membikin rakyat celaka! Merubah kerajaan, menukar she, semua itu menyusahkan rakyat saja!” Maka tanpa merasa, gadis itu memuji: “Nyanyian yang bagus!”
Tukang kayu itu berpaling, ia menancapkan kampaknya di pinggangnya.
“Bagus? Apanya yang bagus?” dia menanya.
Oey Yong hendak menyahuti ketika mendadak ia ingat: “Dia gemar bernyanyi, kenapa aku tidak mau membalas dia dengan nyanyian juga?” Maka ia bersenyum, lalu ia bernyanyi dengan suara perlahan:
“Gunung-gunung hijau saling menanti,
Mega-mega putih saling mencintai,
Tak bermimpikan jubah sulam dan sabuk emas,
Cukup dengan sebuah gubuk,
Dengan bunga hutannya mekar.
Siapakah yang memusingi:
Siapa bangun, siapa roboh,
Siapa berhasil, siapa gagal?
Cukup dengan gubuk dan satu sendok!
Melarat, semangat tak berubah!
Berhasil, cita-cita tak berubah!”
Nona ini lantas menyangka pasti si tukang kayu ialah panglimanya Lam Tee, panglima yang sekarang lagi hidup bersembunyi - yang dulunya pasti berkuasa besar atas bala tentara, maka itu ia memperdengarkan nyanyiannya itu, untuk menimpali nyanyian orang. Dugaannya memang tepat karena si tukang kayu menjadi girang, sambil menunju ke samping gunung, dia kata: “Naiklah!”
Di samping gunung itu ada sebuah batu yang besar mirip dengan langan tangan, ketika Kwee Ceng dan Oey Yong memandang ke atas, mereka hanya melihat awan dan bangkonya rotan. Meski begitu, si anak muda lari menghampirkan rotan itu, untuk disambar, untuk dipakai melapai naik!
Kwee Ceng cuma mengerti separuh dari semua nyanyian itu, di sebelah itu, yang ia paling khawatirkan ialah si tukang kayu nanti mengubah pikirannya, maka ia tidak mau membuang tempo lagi. Dengan kedua tangannya bekerja cepat, dengan lekas ia telah naik belasan tombak tingginya. Di situ, ia masih dengar nyanyian si tukang kayu:
“….dulu hari itu orang berebutan,
Sekarang bagaimana?
Menang, semua menjadi tanah!
Kalah, semua menjadi tanah!”
Oey Yong di punggungnya si anak muda tertawa.
“Engko Ceng,” katanya, “Kalau menurut dia itu, kita tak usah datang ke mari untuk minta diobati!”
Kwee Ceng heran hingga ia melengak: “Apa!” dia tanya.
“Semua orang toh bakal mati, bukan?” kata si nona tertawa. “Orang sembuh, dia berubah menjadi tanah! Orang tak sembuh, dia berubah menjadi tanah juga!”
“Fui!” si anak muda mengasih dengar suaranya. “Sudah, jangan dengari ocehannya!”
Oey Yong itu benar lucu, ia tidak menghiraukan si anak muda, dia bernyanyai perlahan: ” Hidup, kau menggendong aku! Mati kau menggendong aku juga!”
Kwee Ceng berdiam, ia kewalahan. Ia lebih memerlukan menggunai terus kedua tangannya, untuk naik ke atas, sampai mereka memasuki awan atau kabut. Ketika itu musim panas tetapi hawa dingin.

“Di hadapan kita ini terdapat segala pemandangan alam yang indah dan luar biasa,” kata si nona kagum, “Umpama kata aku tidak bakal dapat disembuhkan, taklah kecewa perjalanan kita ini…”
“Yong-jie, ah…” berkata si anak muda, masgul: “Jangan menyebut-nyebut tentang mati atau hidup, bisakah?”
Si nona tertawa, dengan perlahan ia meniup pundak orang.
“Eh, jangan main-main!” kata Kwee Ceng, yang merasakan pundaknya panas dan gatal, “Awas, nanti tanganku terlepas, nanti kita jatuh mati berdua…”
“Bagus!” berseru si nona. “Nah, kali ini bukanlah aku yang menyebut-nyebut hidup atau mati!”
Saking kewalahan, pemuda itu cuma bisa tertawa.
Lewat sekian lama, setelah melapai terus dengan tetap rajinnya, tibalah muda-mudi ini di bongkot rotan itu, ialah puncak gunung, yang merupakan sebuah tanah datar. Hanya belum sempat Kwee Ceng menurunkan tubuhnya Oey Yong, keduanya terkejut akan mendadak mendengar suara berisik seperti batu besar jatuh di susuli jeritan kerbau berulang-ulang, di susul lagi sama bentakan satu orang.
“Heran, mengapa di atas gunung begini ada kerbau?” kata si anak muda, yang lantas lari ke arah darimana suara datang. Ia tidak sempat menurunkan Oey Yong, yang berkata: “Bukankah ada si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar? Nah, kalau ada si petani mesti ada kerbaunya!”
Segera mereka mendengar lagi suaranya kerbau, dan sekarang mereka lantas melihat binatang itu, yang tengah mengangkat kepalanya, keletakannya luar biasa sekali, ialah tubuhnya terlentang di atas batu karang besar, keempat kakinya meronta-ronta tanpa dapat bangun, sedang batunya bergoyang-goyang. Di bawah batu itu dengan memasang kuda-kuda, satu orang mengangkat terbuka kedua tangannya, dipakai menampah batu itu berikut kerbaunya. Yang lebih hebat, orang itu berdiri di tempat di mana tidak ada tempat mundur lagi. Kalau tangan orang itu tak kuat menahan, kerbau dan batu itu mesti jatuh, atau orang itu ketimpa atau jatuh bersama kerbau itu, atau sedikitnya orang itu bakal patah tangan atau kakinya. Rupanya kerbau itu lagi makan rumput, dia terpeleset dan jatuh di batu itu, lalu orang itu mencoba menolongi dengan kesudahannya mereka sama-sama terancam bahaya.
Melihat keadaan manusia dan kerbau itu, Oey Yong tertawa. Katanya: “Tadi orang baru menyanyikan lagu San Po Yang, sekarang ini lagu San Po GU!”
Lagu yang dinyanyikan si tukang kayu tadi ialah lagu “San Po Yang” atau “Kambing di atas lereng”, dan si nona menyebutnya “San Po Gu”, ia menukar “Kambing” dengan “kerbau” (Gu)
Di atas puncak itu ada sawah lebar belasan bauw yang tengah ditanami. DI pinggir sawah ada sebuah pacul. Orang yang menahan batu berikut kerbau itu bertubuh telanjang dan kakinya melesak di lumpur sebatas dengkul.
Sembari mengawasi, Oey Yong pikir kerbau itu beratnya di atas dua ratus kati dan berat batunya tak berjauhan, maka itu bisalah dimengerti kuatnya orang itu, yang ia duga mestilah si petani yang dimaksudkan dalam suratnya Eng Kouw.
Kwee Ceng sudah lantas mengasih turun si nona, ia terus lari hendak membantui orang itu.
“Tahan, jangan kesusu!” si nona mencegah.
Tapi si anak muda itu murah hatinya, dia terus lari, tiba di samping si petani, ia berjongkok, sambil memasang kuda-kudanya, dia mengangkat kedua tangannya guna membantu menahan batu seraya dia berkata pada orang itu: “Aku nanti menahan batu ini, kau tolong singkirkan dulu kerbau itu!”
Orang itu menurut, akan tetapi ia melepaskan dulu sebelah tangannya, yang kanan, tangan kirinya menahan terus, rupanya ia khawatir si pemuda tak kuat. Tapi anak muda itu bukan cuma menahan, ia mengangkat batu itu hingga terangkat sedikit, hingga tangan si petani terlepas dari batu. Kapan ia melihat orang cukup kuat, ia lantas molos keluar, untuk lompat naik ke sebelah atas, darimana barulah ia mau menarik kerbau itu, hanya lebih dulu daripada itu, ia mengawasi si anak muda yang datangnya tiba-tiba sekali. Segera ia menjadi heran. Ia melihat seorang bocah umur tujuh atau delapanbelas tahun. Yang aneh, orang itu menahan batu berikut kerbau tanpa terlihat menggunai banyak tenaga. Ia menjadi heran dan bercuriga, sebab ia merasa ia sendiri sangat kuat. Ia melihat ke bawah, ia menampak Oey Yong, seorang bocah yang lain, bahkan ia mendapatkan nona itu lesu, sebagai seorang lagi sakit.
“Sahabat, untuk urusan apakah kau datang ke mari?” ia tanya, herannya bertambah.
“Aku mao memohon bertemu sama gurumu, Tuan,” Kwee Ceng menyahut terus-terang.
“Untuk urusan apakah?” orang itu menanya pula.
Kwee Ceng melengak, ia belum menyahut, atau terdengarlah suaranya Oey Yong: “Kau singkirkan dulu kerbau itu, sebentar kau menanya perlahan-lahan, tak nanti kelambatan! Kalau dia keterlepasan tangan, apakah bukan kerbau dan manusia akan jatuh bersama?”
Dalam herannya, si petani berpkir: “Dua orang ini datang untuk suhu mengobati mereka, maksud mereka baik, hanya heran kenapa kedua suheng di sebelah bawah tidak melepaskan panah nyaringnya? Kalau mereka ini datang dengan membolos, terang mereka mestinya lihay. Kalau dugaanku ini benar, baiklah aku gunai ketika selagi dia tidak dapat meloloskan diri, aku tanya dulu dia biar terang…” Maka ia menanya: “Apakah kamu datang untuk minta diobati?”
Kwee Ceng mengangguk. Ia pikir, sudah terlanjur omong sebenarnya, baiklah ia berterus-terang terus.
Melihat orang mengangguk, paras si petani berubah.
“Nanti aku tanya dulu!” katanya. Dengan gerakan yang nampaknya enteng sekali, ia berlompat turun.
“Eh!” Kwee Ceng memanggil, “Kau bantui aku menurunkan dulu batu besar ini!”
“Sebentar saja aku kembali!” berkata si petani tertawa.
Melihat kelakuan orang itu, Oey Yong sudah dapat lantas menerka maksudnya. Dia mau membikin Kwee Ceng lelah, setelah itu dengan gampang dia nanti mengusir mereka berdua. Karena menduga begini, ia menyesal yang ia lagi sakit hingga ia tidak dapat membantu engko Ceng-nya itu. Tentu sekali ia bingung, sebab tak tahu ia, berapa lama si petani bakal pergi!
“Eh, paman, mari!” ia memanggil. Ia bingung berbareng mendongkol pula.
Petani itu berhenti, ia tertawa dan berkata: “Dia bertenaga besar, buat satu jam atau tiga perempat, tidak apa, kau jangan takut!”
Ini jawaban membuat si nona gusar.
“Dengan baik hati engko Ceng menolongi padamu, kau sebaliknya hendak menyiksa,” pikirnya. “Apakah kau kira sedikit waku satu jam atau seperempat itu? Biaklah, kau perlu diberikan sedikit pengajaran…” Demikian lantas ia mendapat pikiran, maka ia kata pula pada petani itu. “Paman, bukankah kau hendak menanyakan gurumu dulu? Itulah pantas. Tapi di sini ada sepucuk surat, dari guruku, Ang Cit Kong, untuk dihanturkan kepada gurumu itu, maka tolong kau bawa sekalian.”
Mendengar disebutnya nama Ang Cit Kong, petani itu mengasih dengar suara terkejut. “Oh, kiranya nona muridnya Kiu Cie Sin Kay?” katanya. Terus ia menghampirkan, untuk mengambil surat yang dimaksudkan itu.
Dengan ayal-ayalan Oey Yong membuka kantung di punggungnya, ia beraksi mau mengeluarkan suratnya, tetapi ia terlebih dahulu mengambil baju lapisnya, sembari berbuat begitu, ia menoleh kepada Kwee Ceng. Mendadak ia memperlihatkan roman kaget, ia pun berteriak: “Oh, oh, celaka! Tangannya itu bakal nowah! Paman, kau tolongilah dia!”
Petani itu tercengang sebentar, lalu ia tertawa.
“Tidak apa-apa,” katanya. “Mana suratmu?”
“Kau tolongi,” kata Oey Yong pula. “Kau tidak tahu, sukoku itu lagi meyakinkan ilmu silat Pek-khong-ciang, kemarin ini tangannya direndam dalam air obat, belum habis latihannya itu, kalau dia menggunai tenaganya terlalu lama, tangannya itu bisa terluka…”
Oey Yong tahu dari ayahnya tentang bagaimana Pek-khong-ciang, Tangan Memukul Udara, harus dipelajari, maka itu, ia hendak mengakali di petani ini. Si petani tidak paham, ilmu Pek-khong-ciang itu sebagai murid lihay, ia pernah mendengarnya dari gurunya, maka itu, mendengar perkataan si nona, ia jadi berpikir: “Kalau tanpa sebab aku mencelakakan murid Kiu Cie Sin Kay, bukan saja suhu bakal menegur aku, hatiku sendiri pun tidak enak. Sekarang ini dia datang dengan maksud baik. Hanya aku menyangsikan si nona kecil ini, dia omong benar atau dia lagi menggunai akal liciknya untuk menipu aku agar aku membebaskan kawannya itu…”
Oey Yong melihat orang bersangsi, ia angkat baju lapisnya dan berkata pula: “Ini baju lapis joan-wie-kah dari Tho Hoa To, yang tak menpam senjata, tolong paman mengerebongkannya di pundaknya, kalau sudah dikerebongi, biarlah batu itu diletakkan pula di pundaknya, dengan begitu, dia tidak nanti dapat pergi, dia pun tak usah terluka. Bukankah itu bagus untuk kedua belah pihak?”
Si petani juga pernah mendengar tentang baju lapis itu, ia hanya tetap ragu-ragu ketika ia menyambuti baju itu.
Oey Yong senantiasa mengawasi orang, ia melihat orang tetap bersangsi, maka ia berkata pula: “Guruku telah mengajari aku tidak boleh aku berdusta terhadap lain orang, maka itu mana berani aku membohongi kau, Paman? Jikalau paman tidak percaya, kau cobalah bacok beberapa kali baju lapisku ini!”
Si petani mengawasi si nona, ia mau percaya orang jujur. Ia berpikir pula: “Kiu Cie Sin Kay itu orang tua dan terhormat, kata-katanya ada kata-kata bagaikan emas atau kumala, guruku pun sangat menghargainya, sedang nona ini tak macamnya tukang mendusta…” Karena berpikir demikian, ia lantas mencabut golok pnedek di pinggangnya, terus ia membacok baju lapis itu, sampai beberapa kali. Benar ia mendapat kepastian, abju itu tidak rusak. Sekarang ia baru percaya benar.
“Baiklah!” katanya kemudian, “Nanti aku mengerebongkannya!”
Petani itu tidak menyangka sama sekali, bahwa walaupun roman Oey Yong sangat polos dan kekanak-kanakan, otaknya sangat tajam, dibatok kepalanya banyak akalnya. Maka ia menghampirkan Kwee Ceng, ia meletakkan baju itu di lengan si anak muda, siap untuk dikerebongi, setelah mana ia memegang batu, untuk diangkat. Sembari berbuat begitu, ia kata: “Kau lepaskan tanganmu, kau pakai pundakmu untuk menahan batu!”
Dengan menyender pada batu, Oey Yong mengawasi petani itu tajam-tajam, begitu lekas ia melihat orang mengangkat batu, mendadak ia memanggil Kwee Ceng: “Engko Ceng, Hui liong cay thian!”
Kwee Ceng mendengar itu, ia mengerti maksud si nona itu. “Hui liong cay thian” itu ialah salah satu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang yang berarti “aga terbang di langit”. Itu pun artinya, ia harus terbang. Maka begitu ia merasai tindihan kendor, ia menarik tangan kanannya, tangna kirinya ia loloskan di bawah tangan kanannya itu, lalu kakinya menjejak, tubuhnya melessat ke samping Oey Yong! Bukan main sebatnya ia bergerak dengan jurus “Hui liong cay thian” itu.
“Kurang ajar” maki si petani begitu lekas ia ketahui bahwa ia sudah kena ditipu mentah-mentah. Sebab dalam sekejab itu, ialah yang sekarang mesti berdiri diam menahan pula batu serta kerbaunya itu!
“Engko Ceng, mari kita pergi!” kata Oey Yong. Ia memperlihatkan roman sangat puas, sembari menoleh kepada si petani, ia berkata: “Paman, tenagamu sangat besar, kau dapat menahan batu itu untuk satu jam atau tiga perempat, tidak nanti terjadi bahaya apa-apa, kau jangan khawatir….!”
“Hai, budak cilik!” maki si petani. “Secara begini kau akali si orang tua! Kau bilang Kiu Cie Sin Kay dapat dipercaya, tapi dengan begitu kau meruntuhkan nama baiknya, kau bocah cilik!”
Oey Yong tidak gusar, ia bahkan tertawa.
“Apakah yang runtuh?” ia berkata. “Memang guruku itu membilangi aku bahwa aku tidak boleh berdusta akan tetapi ayahku mengatakannya memperdayakan orang bukanlah suatu perkara hebat! Karena aku suka mendengar perkataan ayahku, jadi guruku tidak dapat berbuat apa-apa atas diriku!”
“Siapa ayahmu?” tanya si petani mendongkol sekali.
“Eh, bukankah aku telah memberikan kau tetika untuk menguji baju lapisku itu?” si nona membalikkan.
“Ah, biar mampus, biar mampus!” mengutuk petani itu. “Hai, kiranya kau budak setan, kaulah anak setan perempuan dari Oey Lao Shia! Ah, kenapa aku begini tolol?!”
“Memang!” kata pula Oey Yong, tetapi tertawa. “Kata-kata guruku memang berat bagaikan gunung, dia belum pernah mendusta, adalah sukar untuk mempelajari itu, sedang aku juga tidak berani mempelajarinya! Menurut aku, peljaran ayahkulah yang cepat!”
Lagi-lagi si nona tertawa, lalu ia menarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi. Mereka mengikuti jalanan, untuk ke depan.
Kwee Ceng girang dan heran. Ia tidak mengerti kenapa Oey Yong mengakali si petani, hingga petani nitu sendiri yang memapah pula batu serta kerbaunya itu.
Tak lama sampailah mereka di ujung jalan itu. Di depan mereka melintang sebuah jembatan bagaikan penglari batu, lebarnya kira setengah kaki, kedua ujungnya duduk di antara kedua puncak, karena ada kabut atau awan, ujungnya yang lain tak nampak. Kalau batu itu terletak di tanah, kecil pun tak berarti, sekarang itulah sebuah jembatan, bawah itu ada jurang yang dalam, sungguh berbahaya. Dengan melihat saja ke bawah, hati sudah ngeri.
“Sungguh pandai sekali Toan Hongya menyembunyikan diri,” kata Oey Yong menghela napas.
“Umpama ada seorang bermusuh hebat dengannya, kalau musuh itu dapat mencari sampai di sini, mungkin sakit hatinya akan berkurang separuh….”
“Kenapa si tukang pancing mengatakan bahwa Toan Hongya sudah mati?” tanya Kwee Ceng. “Perkataannya itu membuat hatiku tidak tentram….”
“Ya, memang mengherankan,” sahut si nona. “Melihat romannya, dia tidak berbohong. Dia juga mengatakan guru kita melihat sendiri kematian Toan Hongya itu…”
“Ah, sudahlah!” kata Kwee Ceng akhirnya. “Sudah sampai di sini, tidak bisa lain, kita mesti jalan terus…!” Ia lantas berjongkok, untuk Oey Yong menggemblok di punggungnya, setelah mana ia berjalan cepat di jembatan batu itu. Ia menggunakan ilmu ringan tubuh “Keng-kang Tee-ciong-sut”
Sebenarnya jembatan batu itu tidak rata dan juga licin sekali, siapa jalan dis itu, semakin perlahan, semakin banyak ketikanya untuk terpeleset dan jatuh, maka Kwee Ceng sebaliknya berjalan seperti berlari. Hanya ketika sudah melalui kira-kira delapan tombak, Oey Yong lantas teriak: “Awas, di depan itu putus!”
Kwee Ceng pun telah melihat itu, ia tidak berpikir untuk mencari tahu, kenapa bisa terjadi begitu, ia hanya menjejak, untuk mengenjot tubuh, maka dilain saat ia sudah berlompat ke seberang.
Oey Yong tidak menghiraukan lagi kematian, ia cuma merasa perbuatan si anak muda sangat berbahaya. Selewat dari situ, ia tertawa. Ia kata: “Engko Ceng, terbangmu masih tetap kalah dengan si rajawali!”
Nyatanya jalanan terputus itu, tetapi ada sambungannya pula, bukan hanya ada satu itu, sebaliknya bahkan ada tujuh rintasan, tetapi ketujuh-tujuhnya dapat dilewati Kwee Ceng, maka dilain saat tibalah mereka di ujung jembatan yang terakhir, yang terputusnya agak lebar. Habis itu barulah tampak sebidang tanah datar. Di situ terdengar suara orang membaca kitab.
Kwee Ceng menghentikan tindakannya. Ia mengawasi bagian yang terputus itu, yang lebarnya beberapa tombak lebih. Tepat di atas tanah itu, yang ceglok, di situ ada seorang yang berdandan sebagai pelajar duduk bersila, tangannya memegang buku, mulutnya membaca. Surat bacaan tadi keluar dari mulut dia ini. Di belakangnya ada sebuah lagi jalan yang putus dan ceglok.
“Sukar…” si anak muda mengeluh. “Tidak sukar aku melompat ceglokan ini hanya di situ bercokollah si pelajar ini! Mana dapat aku melompati dia? Kalau tidak, di sini tidak ada jalan lain… Di mana aku mesti menaruh kakiku?” Terpaksa ia berkata: “Paman aku yang muda mohon bertemu dengan gurumu, maka itu, tolong paman memimpin aku menemuinya.”
Pelajar itu tidak menyahut, mungkin dia tidak mendengar, sebab dia lagi asyik sekali membaca kitabnya, sambil kepalanya digoyang-goyangkan.
Lagi sekali Kwee Ceng mengajaknya bicara, suaranya dikeraskan, tetapi masih si pelajar diam saja.
“Yong-jie, bagaimana?” akhirnya Kwee Ceng tanya pada kawannya.
Oey Yong tidak lantas menjawab. Ia memperhatikan tempat di mana di pelajar dudukl. Di situ mereka tidak bisa bertempur, sebab salah satu atau dua-duanya tentu akan celaka. Pula, taruh kata mereka menang, kemenangan itu tidak ada artinya. Bukankah mereka datang untuk memohon sesuatu? Mana dapat mereka mencelakakan orang? Maka atas pertanyaan Kwee Ceng itu, ia mengerutkan alisnya. Dari apa yang ia dengar, si pelajar lagi membacakan kitab Loen Gie, terang dan lancar suaranya.
“Untuk membikin dia membuka mulutnya, tidak ada lain jalan daripada membuat hatinya panas.” Kemudian nona ini membuka berpikir. Maka berkatalah ia mengejek: “Biarpun Loen Gie dibaca beribu kali putar balik, kalau tak mengerti maksud Guru Besar Khong Coe tentang peribudi besar toh percuma!”
Pelajar itu tampak terkejut, ia mengangkat kepalanya.
“Apakah itu peribudi besar?” tanyanya. “Aku mohon pengajaran.”
Oey Yong memandang pelajar itu, yang usianya limapuluh lebih, yang kepalanya ditutup dengan kopiah sabuk Siauw-yauw-kin, tangannya memegang kipas dan jenggotnya panjang. Dia benar mirip seorang pelajar.
“Apakah kau tahu ada berapa banyak murid Khong Coe?” ia menanya, suaranya tetap dingin, tertawanya mengejek.
“Apakah sukarnya?” jawab pelajar itu dengan tertawa. “Murid Khong Coe ada tiga ribu orang dan yang paling pandai tujuhpuluh dua!”
“Dari tujuhpuluh dua murid itu, orangnya ada yang tua dan ada yang muda,” kata si nona. “Tahukah kau, berapa yang tua dan berapa yang muda?”
Pelajar itu tercengang. Di dalam kitab Loen Gie hal itu tak dibicarakan, dan di kitab-kitab lain pun tidak dicatat.
“Aku mengatakan kau tidak mengerti bunyinya kitab, apakah aku salah?” tanya Oey Yong disengaja. “Tadi aku mendengar kau membaca, yang dewasa lina enam orang dan yang bocah enam tujuh orang. Bukankah lima kali enam menjadi tigapuluh orang? Bukankah enam kali tujuh menjadi empatpuluh dua? Jadi yang muda itu empatpuluh dua orang? Bukankah kalau kedua jumlah itu dijumlah lagi. semuanya jadi berjumlah tujuhpuluh dua? Hm! Kau belajar tetapi tanpa berpikir, hm, sungguh celaka!”
Pelajar itu tahu orang merebut alasan dengan dipaksakan, tanpa merasa, ia tertawa. Meskipun demikian, ia kagum akan kecerdikan si nona.
“Nona kecil, kau sungguh pandai!” katanya. “Aku kagum kepadamu! Kamu hendak mencari guruku, untuk urusan apakah itu?”
Oey Yong berpikir dengan cepat: “Jikalau terang terang aku memberitahukan, bahwa aku hendak minta diobati, pasti dia menggunakan segala macam cara untuk menghalang-halangi. Tapi pertanyaan ini juga tidak dapat tidak dijawab. Baiklah, dia membaca kitab Loen Gie, baik kejejal dia dengan ujar-ujar Khong Coe juga!” Maka ia tertawa dan menyambut: “Nabi itu tidak dapat aku menemuinya, maka dapat menemui kuncu juga bolehlah! Jikalau ada sahabat yang datang dari tempat yang jauh, bukankah itu menggirangkan?”
Pelajar itu dongak, ia tertawa lebar.
“Bagus, bagus!” katanya. “Sekarang aku hendak mengajukan tiga pertanyaan padamu, jikalau kau dapat menjawabnya, akan aku membawa kau kepada guruku, jikalau ada satu saja yang kau tidak mampu menjawabnya, maka persilahkan kamu berdua pulang kembali!”
“Ah, hebat, hebat!” Oey Yong mengeluh. “Aku tidak pernah membaca banyak kitab, jikalau pertanyaanmu sulit, sungguh aku tidak dapat menjawabnya…”
“Tidak sukar, tidak sukar!” si pelajar tertawa. “Di sini ada sebuah syair, yang melukiskan tentang diriku, untukmu cukup kau menjawabnya dengan mempat huruf. Kau coba saja!”
“Baik!” si nona menjawab. “Jadi inilah tebak-tebakan! Teka-teki itu menarik hati! Silahkan kau menyebutnya!”
Si pelajar mengurut kumisnya, ia membaca; “Enam kitab telah lama penah di dada, satu pedang sepuluh tahun digosok di tangan…”
“Aha!” memuji Oey Yong sambil mengulur lidah, “Inilah namanya Bun Bu Coan Cay! Sungguh hebat!” Ia memotong untuk memuji orang pandai dua-dua dalam ilmu surat (bun) dan silat (bu)
Si pelajar tertawa, ia melanjuti: “Di atas bunga Heng ada satu batang melintang, karena khawatir rahasia langit nanti bocor janganlah membuka Mulut. Satu titik bertumpuk-tumpuk besar bagaikan gantang, menutupi Setengah pembaringan hingga tak nampak apa-apa. Habis nama lalu menanti menggantung kopiah untuk pulang. Tahukah tuan asal-usul diriku ini?”
Oey Yong segera berpikir. Ia lantas memegang pokok pertanyaan itu: “Habis nama lalu menanti menggantung kopiah untuk pulang. Tahukah tuan asal-usul diriku ini?”
“Kalau melihat romannya, dulunya ia mesti seorang menteri di dalam pemerintahan Toan Hongya,” demikian pikirnya. “Kemudian ia menggantung kopiahnya, dia meninggalkan pemerintahan, mengundurkan diri untuk tinggal menyembunyi di gunung atau rimba. Apakah sukarnya teka-teki ini?” Maka ia lantas menjawab: “Huruf Enam itu kalau di bawahnya ditambah satu satu huruf Satu ditambah lagi huruf Sepuluh, itu jadinya huruf Sin. Huruf Heng itu kalau di atasnya ditambah Satu huruf yang melintang dan dibuang huruf Mulut dibawahnya, maka jadilah huruf Bie. Setengah Pembaringan itu kalau ditukar dengan huruf Besar dengan huruf besar itu ditambah Satu titik di atasnya, itulah huruf Cong. Kalau huruf Habis itu di buang kopiahnya, ialah atasannya, maka jadilah dia huruf Goan. Jadi semua itu bunyinya ialah Sin Bie Conggoan! Maaf, maaf, kiranya aku berhadapan sama yang mulia Sin-bie Conggoan!”
Pelajar itu terbengong. Ia mengganggapnya teka-tekinya itu sulit. Atau taruh kata orang dapat menjawabnya, mesti lewat dulu sekian lama, tidak sedemikian cepat. Dua orang itu berada di jembatan tunggal itu, meski si pemuda lihay, tidak nanti ia sanggup menggendong orang berdiam lama-lama di situ, ia menyangka mereka bakal tahu diri dan mundur sendirinya. Siapa sangka, Oey Yong telah menjawabnya cepat luar biasa, seperti tanpa mikir lagi. Oleh karena ini, karena si nona cerdas luar biasa, ia lalu memikir untuk mengajukan pertanyaan yang sukar. Ia lantas memandang ke sekitarnya. Di pinggiran gunung ia menampak sekumpulan semacam pohon palem, yang daunnya bergoyang-goyang mengikuti tiupan angin, bagaikan kebutan kipas. Sebagai seorang conggoan- tamatan tertinggi dari Hanlim Academy - ia lantas mendapat pikiran. Maka ia menggoyang-goyangkan kipasnya, terus ia berkata: “Aku ada mempunyai sebuah syair bagian atasnya, aku minta nona suka tolong menyambungi bagian bawahnya.”
Oey Yong meleletkan lidahnya.
“Oh, inilah yang dinamakan twie dan twie ini tak demikian menarik hati seperti teka-teki!” katanya. “Tapi baiklah, silahkan kau menyebutkannya!”
Bab 62. It Teng Taysu
Pelajar itu menunjuk dengan kipasnya ke kumpulan pohon palem itu, ia membacakan syairnya itu, atau lian, yang dikatakan bagian atasnya: “Sang angin meniup-niup pohon palem, bagaikan seribu tangan menggoyang-goyang sang kipas.”
Syair itu di satu pihak menggambarkan pemandangan alam - ialah yang pohon, di lain pihak menunjuki juga hal dirinya si pelajar - ialah kipasnya, maka Oey Yong lantas berpikir: “Tidak dapat aku menjawab dia dengan hanya menunjuk serupa benda, mesti juga ada arti yang merangkap di dalamnya.” Ia lantas memandang ke sekitarnya, hingga ia melihat di depannya, di tanah datar, sebuah bangunan sebagai kuil atau biara, di depan mana ada sebuah pengempang teratai. Ketika itu bulan ke tujuh hampir habis, daun teratai sudah kering kebih dari separuhnya. Lalu ia tertawa dan berkata: “Jawabanku itu untuk menyambungi sudah ada hanya aku khawatir aku berbuat salah terhadap kau, paman, jadi tidak leluasa untuk aku mengatakannya….”
“Tidak apa, kau sebut saja!” menyahut si pelajar.
“Jangan kau gusar, paman…”
“Tentu sekali tidak.”
Oey Yong menunjuk kepada kopiah siauw-yauw-kin di kepala pelajar itu.
“Baiköah!” katanya. “Sambunganku bagian bawah dari syairmu itu ialah: ‘Diantara daun teratai separuh kering, satu memedi kaki tunggal memakai siauw-yauw-kin.”
Mendengar itu, si pelajar tertawa terbahak-bahak.
“Bagus, bagus!” ia memuji. “Bukan saja jawabannya sangat tepat juga itu dijawabnya cepat sekali.”
Kwee Ceng mengawasi ke daun-daun teratai di pengempang itu, ia melihat ada selembar daun hampir kering yang duduknya begitu rupa hingga mirip dengan satu setan satu kaki yang memakai kopiah siauw-yauw-kin itu! Maka ia juga tertawa.
“Hus, hus, jangan tertawa!” kata si nona pada kawannya. “Tungkulan kau tertawa, kakimu bisa terpeleset, nanti kita berdualah yang bakal menjadi si setan-setan yang tidak memakai kopiah siauw-yauw-kin itu!”
Si pelajar sendiri sementara itu tengah berpkir. “Dia tidak dapat dirobohkan dengan twie yang umum saja, dia mesti menyaksikan yang sangat sukar.” Lalu ia ingat halnya di masa bersekolah, gurunya pernah memberikan ia twie yang sudah puluhan tahun belum pernah ada lain orang yang dapat menimpalinya. Ia hendak mencoba ini. Ia kata: “Sekarang aku mempunyai satu lian lagi, aku minta nona kecil menimpalinya. Inilah Kim Sek pie pee, delapan raja besar semua serupa kepalanya.”
Mendengar itu tanpa merasa Oey Yong tercengang. Kim sek pie pee itu, ialah alat-alat tetabuhan semacam gitar, memang semua empat-empat hurufnya berkepala dengan huruf-huruf Ong = Raja di atasnya. Inilah benar-benar syair atau lian yang sulit untuk ditempeli (twie).
Si pelajar mengawasi orang, senang hatinya menampak si nona menghadapi kesulitan. Ia lantas berkata: “Lian bagian atas ini memangnya sukar, aku sendiri tidak dapat menimpelinya dengan pasti, hanya karena kita sudah omong terlebih dahulu, umpama kata nona tidak dapat menempalinya, seperti janji kita, silahkan kamu kembali saja!”
Justru orang “mengusir” justru Oey Yong mendapat pikiran. Ia tertawa.
“Untuk menimpali itu, tidaklah sukar!” katanya. “Hanya aku merasa kurang enak di hati menyebutkan itu. Tadi saja aku telah berbuat salah terhadap paman, sedang sekarang aku bakal menyinggung berbareng kamu berempat si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan palajar.”
Pelajar ini tidak mempercayai orang.
“Untuk menimpali saja sudah sukar sekali, apapula dengan sekaligus mengenai empar orang,” pikirnya. “Benarkah itu?” Lalu ia membilang: “Asal kau dapat menimpali dengan tepat, bergurau sedikit tidak apa!
Si nona tertawa.
“Kalau paman bilang begitu, baiklah, lebih dulu aku minta maaf!” katanya. “Sambungannya lian paman itu ialah: Ci Bie Bong Liang, ialah empat setan cilik dengan masing-masing ususnya!”
Cie bie bong liang itu ialah setan hutan, setan gunung, setan tukang makan batok kepala orang dan peri, semua empat huruf berpokok dengan huruf Kwie = Setan.
Mendengar itu, si pelajar terperanjat, lekas-lekas ia berbangkit untuk untuk menjura dalam seraya tangannya dikibaskan.
“Aku menyerah, Nona,” katanya.
Oey Yong pun lekas-lekas memberi hormat.
“Jikalau bukannya paman beramai sangat bersungguh-sungguh menghalang-halangi kami berdua mendaki gunung, sebenarnya juga lian paman ini sangat sukar untuk dijawab!”
“Hm!” si pelajar bersuara seraya ia lantas minggir.
“Silahkan!” katanya. Ia memutar tubuh dan berlompat dari tempat menghadangnya itu.
Kwee Ceng mendengar pembicaraan orang dengan perhatian, ia sebenarnya khawatir Oey Yong gagal, maka bukan main girangnya ia mengetahui si nona menang, segera ia berlompat, mulanya di tempat bekas si pelajar, lalu terus ke rintangan lainnya yang paling belakang.
Melihat orang menggendong tetapi gerakannya demikian hebat, si pelajar menghela napas sendirinya dan di dalam hatinya ia berkata: “Aku bangga atas kepandaianku ilmu surat dan ilmu silat, sekarang ternyata, dalam ilmu surat aku tak ada seperti si nona, dalam ilmu silat tak ada seperti si pemuda, sungguh aku mesti malu…” Ketika ia melirik kepada si nona, nyata sekali nona itu sangat girang akan kemenangannya, rupanya ia memikir ia telah merobohkan satu conggoan. Maka ia pikir, “Baiklah aku ganggu dia, supaya ia jangan terlalu girang.” Maka ia lantas berkata: “Nona, meskipun ilmu suratmu lihay, tetapi di dalam halnya prilaku, kau ada cacadnya.”
Oey Yong tertawa.
“Di dalam hal ini aku minta petunjukmu,” ia bilang.
“Bukankah di dalam kitab Beng Coe ada bilang, yang dibilang adat-istiadat ialah pria dan wanita tak dapat saling bersentuh tangan?” katanya si pelajar. “Sekarang lihat sendiri, Nona adalah seorang gadis dan dengan engko kecil ini, kamu bukanlah suami-istri, maka kenapa nona membiarkan ia menggendong padamu? Beng Hoe-coe membilang, cuma kalau sang ipar perempuan kelelap maka sang ipar lelaki dapat menolongnya. Nona ini tidak kelelap, Nona pun bukan iparnya engko kecil ini, kenapa dia menggendong Nona? Itulah sangat besar melanggar adat-istiadat.”
Mendengar sindiran atau ejekan ini Oey Yong berpikir: “Hm! Engko Ceng toh sangat baik denganku. Memang dialah bukan suamiku, suko Liok Seng Hong membilang demikian, sekarang ini conggoan membilang demikian juga…” Ia tidak suka mengalah, maka sambil mainkan mulutnya, ia berkata: “Beng Hoe Coe itu memang paling suka mengaco-belo! Dapatkah kau percaya kau percaya kata-katanya itu?”
Mendengar demikian, si pelajar menjadi gusar. ia tidak senang Beng Hoe Coe dikatakan mengaco-belo.
“Beng Hoe Coe ialah seorang nabi, seorang rasul, mengapa kata-katanya tak dapat dipercaya?” dia tanya keras.
Oey Yong kata tertawa, bagaikan bersenandung, ia kata: “Seorang pengemis mana mempunyai dua istri? Seorang tetangga mana mempunyai demikian banyak ayam? Di jaman itu masih ada kaisar dari kerajaan Ciu, kenapa orang mesti omong banyak dengan raja-raja Gui dan Cee?”
Mendengar kata-kata si nona, pelajar itu berdiri menjublak. Ia mengetahui baik sekali kata-kata nona ini.
Apa yang disebutkan Oey Yong adalah syair karya ayahnya sendiri. Oey Yok Su pintar akan tetapi tabiatnya aneh, maka itu, sering ia membuat syair dengan apa ia mengejek Khong Coe dan Beng Coe. Kalau bukan begitu, dialah bukan Tong Shia di Sesat dari Timur.
Beng Coe itu pernah bercerita dari halnya seorang dari negeri Cee mempunyai seorang istri serta seorang gunidk, toh untuk hidupnya, ia pergi mengemis sisa sayur dan nasi dingin, dan halnya seorang yang setiap hari mencuri seekor ayam tetangganya. Dua cerita itu disyairkan dengan maksud akan dipakai menipu orang. Tentang yang lainnya: jaman itu ialah jaman perang antara negara (Cian Kok), itu masih ada raja dari kerajaan Ciu, maka itu Tong Shia menanya, kenapa Beng Cu bukannya menunjang raja Ciu, dia hanya pergi kepada raja muda Liang Hui Hong dan Cee Soan Ong kepada siapa Beng Cu meminta pangkat? Tong Shia menganggapnya itu bertentangan sama prilakunya seorang nabi atau rasul.
Pelajar ini berpikir: “Si orang negeri Cee dan si tetangga itu cuma cerita, cuma cerita, perumpamaan saja, hanya yang mengenai Beng Coe itu, mungkin Beng Coe sendiri di alam baka sukar menjawab…” Ia melirik pula si nona, ia berpikir lagi: “Dia masih begini muda, kenapa dia begini cerdik?”
Meski apa yang ia pikir itu, si pelajar membungkam. Ia hanya memimpin dua muda-mudi itu. Ketika melewati pengempang, ia memandang kepada daun teratai yang tadi disebutkan si nona itu, kemudian ia melirik kepada si nona. Oey Yong tertawa dan melengos!
Tidak lama sampailah mereka di kuil, si pelajar mengundang kedua tetamunya masuk ke kamar sebelah timur, di mana lantas ada kacung pendeta yang menyuguhkan the.
“Jiewi, harap tunggu sebentar, hendak aku mengabarkan guruku,” kata si pelajar.
“Eh, tunggu dulu,” berkata Kwee Ceng. “Itu paman petani, di lereng gunung di tengah menahan batu yang ada kerbaunya, dia tidak dapat meloloskan dirinya, baiklah paman pergi menolong dia.”
Mendengar ini, si pelajar kaget. Hingga tanpa bilang apa-apa lagi, dia lantas lari keluar.
“Nah, lekaslah buka itu kantung yang kuning!” kata Oey Yong kepada kawannya.
“Ah,” kata si pemuda, “Kalau kau tidak menyebutnya, pasti aku lupa.” Ia lantas mengeluarkan kantung kuning itu, untuk memerika isinya. Itulah kertas putih tanpa huruf, hanya ada gambar, yang meggambarkan seorang India yang menjadi raja, dengan pisau raja itu telah memotongi dagingnya hingga tak ada tubuhnya yang utuh, sedang darahnya berhamburan. Di depan raja ini ada sebuah dacin, alat peranti menimbang: di ujung yang satu ada seekor burung dara putih dan di sebelah yang lain ialah dagingnya itu. Daging lebih banyak, burung dara lebih kecil, tetapi buktinya, burung dara lebih berat. Di samping dacin ada seekor burung elang, yang romannya sangat bengis.
Sekian lama Oey Yong mengawasi gambar itu, ia tidak mengerti maksudnya.
Kwee Ceng pun tidak tahu apa artinya itu, karena si nona diam saja, ia turut berdiam. Maka ia gulung gambar itu, utuk dipegangi dengan digenggam.
Tidak lama terdengar tindakan kaki yang berat dan berisik, lalu nampak si petani datang dengan dipegangi si pelajar, romannya sangat gusar. Rupanya ia mendongkol sebab kena diakali hingga ia seperti tersiksa. Dia terus dibawa masuk ke dalam kuil.
Selang tak lama, muncullah satu kacung pendeta. Dia memberi hormat dengan merangkpa kedua tangannya. Ia menanya.
“Jiewi datang dari tempat yang jauh, entah ada urusan apa?”
“Kami sengaja datang untuk mohon menghadap Toan Hongya,” Kwee Ceng menyahuti. “Kami minta tolong agar kedatangan kami disampaikan.”
Pendeta itu merangkap kedua tangannya.
“Toan Hongya sudah lama tak ada lagi di dalam dunia ini, maka sayang sekali, jiewi telah bercapai lelah tanpa ada hasilnya. Silahkan dahar dulu, sebentar nanti siauw-ceng mengantarkannya turun gunung.”
Kwee Ceng berdiam, karena ia kecele sekali mendapat jawaban itu. Tidak demikian dengan Oey Yong, yang telah melihat kuil itu dan sekarang si pendeta cilik ini. Ia menduga sesuatu. Ia mengambil gambar dari tangannya Kwee Ceng, ia kata: “Aku telah mendapat luka parah, sengaja aku datang ke mari untuk minta gurumu suka menolongi, dari itu sehelai kertas ini tolong kau menyampaikannya kepada gurumu itu.”
Kacung itu menerima, ia tidak berani membuka gambar itu, hanya setelah memberi hormat, ia masuk ke dalam. Tapi tidak lama ia keluar pula, sembari menurunkan alisnya, sambil memberi hormat, ia berkata: “Silahkan jiewi masuk.”
Itulah undangan, maka Kwee Ceng menjadi girang sekali. Ia lantas pegangi Oey Yong, untuk diajak mengikuti kacung itu.
Kuil itu kecil tetapi dalam. Kwee Ceng berdua Oey Yong jalan di satu jalanan batu hijau yang lecil melewati sebuah tempat di mana ada ditanam banyak pohon bambu, yang daunnya lebat, keadaannya sunyi dan tenang, hingga siapa berada di situ, ia tentunya terpengaruh suasana kesucian. Di dalam rimba bambu itu terlihat sebuah rumah batu terdiri dari tiga ruang. Si kacung pendeta lantas membuka pintu, untuk mempersilahkan kedua tetamunya masuk ke dalam. Ia berdiri di pinggaran dengan sikapnya yang sangat menghormat.
Kwee Ceng girang. Ia bersenyum kepada pendeta itu, sebagai tanda terima kasihnya. Bersama Oey Yong, ia jalan berendeng masuk ke dalam.
Di atas meja kecil ada pedupaan dari kayu garu. Di kedua samping itu ada berduduk masing-masing seorang hweeshio atau pendeta. Yang satu mukanya hitam, hidungnya mancung, matanya dalam. Dialah seorang India. Yang lainnya, yang bajunya kasar, mempunyai alis putih yang panjang, ujung alisnya meroyot turun di ujung matanya. Wajah pendeta ini menunjuk ia murah hati, benar sinar matanya rada guram, mungkin tercampur kedukaan, tetapi umumnya dia halus dan agung. Si pelajar dan si petani berdiri di belakang pendeta alis panjang ini.
Oey Yong bertindak tanpa sangsi lagi. Ia menarik tangan Kwee Ceng, untuk menghampirkan pendeta itu, sambil membungkuk ia berkata: “Teecu Kwee Ceng bersama Oey Yong menghadap Supee.”
Kwee Ceng terkejut mendengar nona itu memanggil supee atau paman guru, meski begitu tanpa bersangsi lagi dia menekuk kedua kainya untuk mengangguk sampai empat kali.
Pendeta alis panjang itu bersenyum, ia bangun untuk berdiri, tangannya diulur mengasih bangun pada mereka itu. Ia pun tertawa dan berkata: “Saudara Cit telah mendapatkan murid yang baik sekali dan saudara Yok mendapatkan anak yang manis! Menurut katanya mereka ini…” ia menunjuk kepada si petani dan si pelajar, “Lihay ilmu surat dan ilmu silat kamu berdua, jauh melebihkan murid-muridku yang bodoh itu. Haha, sungguh kamu berdua harus diberi selamat!”
Mendengar suara itu, Kwee Ceng merasa pasti orang adalah Toan Hongya, maka ia heran kenapa seorang raja boleh berubah menjadi hweeshio dan heran juga bahwa Toan Hongya dikatakan sudah mati, toh orang masih hidup segar-bugar. Pula ia heran yang Oey Yong lantas mengetahui pendeta itu adalah Toan Hongya sendiri.
Lalu terdengar si pendeta menanya Oey Yong: “Apakah ayahmu dan gurumu mu baik-baik semua? Ketika dulu hari kita berapat di gunung Hoa San di mana kita merundingkan ilmu pedang bersama ayahmu, ayahmu itu masih sebatang kara, siapa sangka baru berpisah dua puluh tahun, dia telah mendapatkan satu anak perempuan yang cantik dan pintar! Apakah kau ini mempunyai saudara tua dan muda, enci atau adik? Dan kakek luarmu itu, dia orang gagah yang manakah?”
Ditanya begitu, matanya Oey Yong menjadi merah.
“Ibuku cuma melahirkan aku seorang,” sahutnya. “Ibu pun telah meninggal semenjka siang-siang. Siapa itu kakek luarku, aku tidak tahu…”
“Oh,” kata pendeta itu, yang dengan perlahan menepuk pundak orang, sebagai tanda menghibur. “Aku telah bersemadhi tiga hari dan tiga malam, baru saja aku pulang. Apakah kamu sudah lama menunggu aku?”
Oey Yong berpikir: “Dilihat dari sikapnya ini, dia sangat menyukai kami. Maka mungkin di sepanjang jalan tadi, yang menyulitkan kami adalah bisanya muridnya itu…” Karena itu, ia lekas menyahut: “Teecu juga baru tiba. Syukur beberapa paman telah mempersulit di tengah jalan, kalau tidak, tentulah kami sudah tiba semenjak tadi-tadi, hingga dengan supee tengah bersemadhi mungkin tibanya kami akan sia-sia belaka.”
Mendengar itu, si pendeta tertawa riang.
“Mereka itu sangat khawatir aku bertemu sama orang luar,” katanya. “Sebenarnya, bukankah kau bukannya orang luar? Ah, anak, muridmu tajam sekali, dasar turunan! Baiklah kamu ketahui, Toan Hongya sudah tidak ada lagi dalam dunia ini, sekarang aku dipanggil It Teng Hweesio. Gurumu ketahui ketika aku mulai menganut agama, ia menyaksikannya, ayahmu mungkin belum mengetahuinya.”
Baru sekarang segala apa terang bagi Kwee Ceng. Toan Hongya telah menjadi Hweeshio, dia memakai nama It Teng itu, pantas dia dikatakan sudah menutup mata. Memang siapa menyucikan diri, dia bagaikan menjelma pula. “Suhu mengetahui tentang supee ini, kalau suhu menyuruh kita ke amri, tidak nanti ia menyebut pula Toan Hongya, hanya It Teng Taysu.” Maka itu, benar-benar Oey Yong cerdik sekali, ia lantas dapat menerka!
“Memang juga ayah tidak tahu,” berkata Oey Yong.
“Benar,” It Teng pun bilang sambil ia tertawa. “Tentang gurumu itu, mulutnya itu lebih banyak yang masuk, sedikit yang keluar, yang dimakan banyak, yang dibicarakan sedikit, maka itu urusan aku si pendeta tua tentulah dia tak suka bicarakan itu sama lain orang. Kamu datang dari tempat jauh, kamu sudah dahar atau belum? Ah….” Mendadak pendeta ini terkejut, lalu ia menarik tangan Oey Yong ke depan pintu di mana ia mengawasi dengan tajam, di sinar matahari. Di sini dia nampak seperti kaget.
Kwee Ceng benar tak gelap pikirannya tetapi tahulah ia bahwa It Teng Taysu tentu telah mendapat lihat sakitnya Oey Yong, maka itu, hatinya jadi sangat pedih, lantas saja ia menjatuhkan diri di depan pendeta itu, berulang-ulang ia mengangguk.
It Teng meluncurkan sebelah tangannya, akan mengangkat bangun bocah itu.
Kwee Ceng merasakan satu tenaga besar membentur tangannya, ia tidak berani menentang itu, ia lantas mengikuti, maka ia berbangkit dengan perlahan-lahan. Sembari bangun, ia berkata: “Teecu mohon supee suka menolongi jiwanya sumoy ini…”
It Teng mengangkat si anak muda dengan mengandung dua maksud, satu untuk mengasih bangun benar-benar, yang lain guna mencoba tenaga dalam bocah itu. Umpama Kwee Ceng melawan, tidak nanti ia membikin orang terluka atau terpelanting, di dalam hal itu, ia pandai mengendalikan tenaganya. Sebaliknya, meskipun Kwee Ceng mengikuti, ia merasa bahwa anak muda ini juga pandai mengendalikan tenaganya, maka itu ia menjadi kagum.
“Saudara Cit mendapat murid yang bagus sekali,” pikirnya. “Pantas murid-muridku kalah…”
Sementara itu, habis orang berkata, Kwee Ceng kaget sekali. Mendadak ia merasa tubuhnya kena tertarik hingga ia maju satu tindak, ketika ia mencoba menahan diri, mukanya menjadi merah tahu benar lihaynya pendeta tua itu. Sebenarnya ia menduga It Teng sudah berhenti menguji padanya, ia mengendorkan diri seperti wajar, tidak tahunya, ia diuji terus. Sekarang ia menginsyafi benar lihaynya Tong Shia dan See Tok, Lam Tee dan Pak Kay.
It Teng dapat melihat sinar mata anak muda itu, ia heran dan kagum, ia menepuk perlahan pundak orang, sembari tertawa ia kata: “Anak, kau telah mempunyai kepandaianmu ini, sungguh inilah dukar didapat.”
Dilan pihak, pendeta ini masih belum melepaskan tangannya yang satu lagi yang memegangi tangan Oey Yong, maka ia lantas menoleh kepada si nona. Hanya kali ini ia tidak lagi tertawa hanya bersenyum, cuma dengan sungguh-sungguh dengan perlahan sekali, ia bilang: “Anak, jangan kau takut, kau tetapkan hatimu.”
Lalu ia menuntun nona itu, untuk dikasih duduk.
Oey Yong sangat bersyukur. Seumurnya belum pernah ia merasa orang perlakukan ia begini manis dan halus, tidak juga ayahnya yang aneh itu. Ayahnya itu menyayangi ia, tetapi sikap mereka berdua mirp sahabat erat, tidak pernah si ayah menunjuk tegas cinta kasihnya seorang ayah sebagaimana umumnya. Maka itu, tanpa merasa, ia menangis.
“Jangan menangis, anak yang baik, jangan menangis,” It Teng menghibur. “Tubuhmu sakit, bukan? Nanti supeemu mengobati kau hingga sembuh.”
Hanyalah semakin halus ia pendeta berbicara, semakin sedih hatinya si nona, hingga ia menangis tersedu-sedu tak hentinya.
Kwee Ceng girang mendengar It Teng memberi janjinya itu, tetapi kebetulan ia mengangkat kepalanya dan melihat si petani dan si pelajar, ia terkejut. Dua orang itu memandang dia dengan wajah bermuram durja tanda dari kemurkaan. Ia berpikir: “Kami bisa masuk sampai di sini, semua itu mengandal kepada kecerdikannya Oey Yong, yang pandai menggunai tipu daya, tidak heran, selagi It Teng Taysu begini baik, kenapa keempat muridnya menggunai segala jalan untuk menghalang-halangi kami?”
Pemuda ini baru berhenti berpikir ketika ia mendengar It Teng menanya Oey Yong. Katanya: “Anak, bagaimana caranya kau terluka, dan bagaimana jalannya hingga kau dapat masuk ke mari, coba kau tuturkan pada supeemu.”
Oey Yong memberikan keterangan bagaimana ia terlukakan Khiu Cian Jin, yang mula ya ia tidak tahu ada yang tulen dan ada yang palsu, karena kesangsiannya itu, ia mandah saja kasih dirinya dihajar.
Mendengar disebutknya nama Khiu Cian Jin, It Teng Taysu itu mengerutkan alis, hanya sejenak, lalu ia dapat bersenyum pula, ia nampak tenang seperti biasa.
Oey Yong si cerdik bicara sambil diam-diam memperhatikan si pendeta itu, maka air muka orang itu tidak lolos dari pandangan matanya yang tajam. Begitu ketika ia menutur sampai di bagian mereka bertemu Eng Kouw di rimba rahasia dan rawa lumpur hitam, ia juga mendapatkan si pendeta itu berubah lagi romannya, si pendeta seperti tengah mengenang peristiwa lama. Karena ini, ia menunda penuturannya itu.
“Kemudian bagaimana?” tanya It Teng, yang menghela napas.
“Kemudian kami sampai di kaki gunung,” melanjuti Oey Yong yang terus menceritakan bagaimana mereka dipersulit si tukang pancing, tukang kayu, yang memberi mereka lewat dengan gampang, sebaliknya, mengenai tiga yang lain, ia sengaja menambah-nambahkan hingga si petani dan pelajar mendongkol bukan buatan.
“Yong-jie, jangan omong sembarangan,” beberapa kali Kwee Ceng campur bicara. “Paman-paman itu tak ada sedemikian galak….”
Oey Yong berani bicara begitu rupa, karena ia tahu, di depan gurunya, mereka itu tidak nanti berani berbuat sesuatu atas dirinya. Ia memang sengaja hendak mengocok isi perut mereka itu.
“Anak-anak itu benar perbuatannya kurang bagus terhadap anak-anak kecil,” kata It Teng kemudian. “Biarlah sebentar aku menyuruh mereka menghanturkan maaf kepada kamu.”
Oey Yong melirik dua murid itu, selagi ia bercerita terus sampai ia memasuki kuil ini, akhirnya ia tambahkan. “Begitulah teecu lantas memberikan gambar itu untuk supee periksa. Sedari itu waktu, baru mereka tidak berani menghadang kami lagi.”
It Teng nampaknya heran.
“Eh, gambar apakah itu?” ia tanya.
“Itulah gambarnya burung elang, burung dara dan daging yang dipotong,” menyahut si nona.
“Kau serahkan itu pada siapa?” It Teng tanya pula.
Belum lagi Oey Yong menyahuti, si pelajar telah merogoh sakunya dan mengeluarkan gambar itu.
“Gambar itu ada pada teecu, suhu,” ia berkata. “Tadi suhu belum selesai bersemadhi, gambar itu teecu tidak berani lantas menyerahkannya.”
It Teng menyambuti gambar itu.
“Lihatlah!” katanya. “Jikalau kau tidak menyebutkannya, mana aku bisa melihat ini?” Ia membuka gambar itu perlahan-lahan, terus ia lihat. Cuma sekelebatan, ia lantas tertawa dan kata: “Kiranya orang khawatir aku tidak suka menolong kau, maka ia menggunai gambar ini untuk membangkitkan kemendongkolanku, agar hatiku menjadi panas. Tidakkah dengan begitu ia jadi memandang enteng sekali kepada aku si pendeta tua?”
Oey Yong tidak menjawab, ia hanya melirik si petani dan pelajar, hingga ia kembali melihat muka orang suram, agaknya hati mereka cemas dan tetap mendongkol. Ia menjadi heran sekali. Ia tanya dirinya sendiri: “Kenapa mereka tak senang mendengar It Teng Taysu berniat mengobati aku? Kenapa mereka seperti menghendaki kematianku? Adakah itu disebabkan obatnya ada obat dewa?” Ia mengawasi pula si pendeta, yang lagi memperhatikan gambar itu, yang bahkan dibawa ke terangnya matahari, untuk ddiperiksa dengan teliti. Dia bukannya membaca hanya memperhatikan kertasnya. Beberapa kali kertas itu disentil-sentil, dan air mukanya di pendeta menandakan ia ragu-ragu.
“Adakah lukisan ini lukisannya Eng Kouw sendiri?” ia menanya.
“Benar.”
Pendeta itu berdiam sejenak.
“Kau melihatnya dengan matamu sendiri?”
Pertanyaan ini heran, maka Oey Yong mengingat-ingat kejadian hari itu. Ia menjawab: “Di waktu Eng Kouw menulis, ia membelakangi kami berdua, aku cuma melihat ia menggoyangi pit, entah dia menulis surat atau melukis gambar.”
“Kau membilang masih ada dua kantung surat lainnya. Mana, kasih aku melihatnya.”
Kwee Ceng menyerahkan dua lembar surat wasiat itu.
It Teng mengawasi sekian lama, lalu air mukanya berubah.
“Benarlah!” katanya kemudian. Ia menyerahkan surat itu pada si nona seraya berkata: “Saudara Yok itu seorang pelukis pandai, kau putrinya, kau tentu mengerti segala apa. Kau lihat ketiga surat itu, ada apakah yang berlainan?”
Oey Yong menyambuti dan memeriksa.
“Ini dua kerta giokpoan yang biasa,” ia berkata. “Dan gambar ini memakai kertas ciu-song.”
It Teng mengangguk.
“Mengenai lukisan, akulah si orang diluar kalangan,” katanya pula. “Coba kau bilangi aku pandanganmu tentang gambar ini.
Oey Yong meneliti.
“Supee pura-pura menjadi orang di luar kalangan!” katanya tertawa. “Sebenarnya supee telah melihatny, ini bukan gambar lukisannya Eng Kouw sendiri!”
Kembali berubah air mukanya It Teng.
“Jadi benar ini bukannya lukisannya Eng Kouw sendiri?” katanya. “Aku melihatnya dari jalan pikirannya, bukannya dari gambarnya.”
Oey Yong menarik tangan orang.
“Mari lihat huruf-hurufnya kedua surat ini,” ia berkata. “Bagaimana halus tekukannya dan indah. Huruf-huruf di dalam gambar sebaliknya kaku! Ah, inilah lukisannya seorang laki-laki! Memang, mestinya dia seorang pria, hanya sayangnya dia tidak mempunyai minat menggambar, lukisannya tak ada harganya. Tetapi tulisannya ini, karena ia menggunai tenaganya, telah menembus ke belakang kertas… Air bak ini juga mestinya telah lama sekali, jangan-jangan lebih tua dari usianya…”
It Teng Taysu menghela napas. Ia menunjuk kepada sebuah kitab di atas meja, ia menyuruh si pelajar mengambilnya untuknya.
Oey Yong membaca judulnya kitab, maka ia kata di dalam hatinya; “Dia mau bicara tentang kitab suci dengan aku, mana aku mengerti….” Itulah sebuah kitab suci dan pula cetakan tua.
It Teng membuka lembarannya kitab itu, lalu di samping itu ia meletaki gambar dari Eng Kouw. “Kau lihat!” katanya.
“Eh, kertasnya sama!” kata Oey Yong heran.
Pendeta itu mengangguk.
Kwee Ceng tidak mengerti, sambil berbisik ia tanya si nona, kertas apanya yang sama.
“Kau lihat sendiri dan bandingkanlah,” kata Oey Yong. “Bukankah kertasnya gambar dan kitab ini sama saja?”
Si anak muda mengawasi teliti dan memegang juga kedua kertas, yang tebal dan licinnya sama saja.
“Benar sama. Habis bagaimana?” ia tanya.
Si nona tidak menjawab, ia hanya memandang It Teng, untuk memperoleh jawaban.
“Kitab ini dibawa oleh adik seperguruanku dari Wilayah Barat,” berkata pendeta itu alias Toan Hongya.
Semenjak semula, Kwee Ceng dan Oey Yong tidak memperhatikan si pendeta bangsa India itu, baru sekarang mereka menoleh dan mengawasi. Pendeta itu tetap duduk bersila, tidak bergerak atau menoleh, tidak memperdulikan orang bicara asyik di dekatnya.
“Kitab ini juga terbuat dari kertas buatan Wilayah Barat, demikian juga kertas dari gambar ini,” kemudian It Teng berkata pula. “Pernahkah kau mendengar namanya gunung Pek To San di Wilayah Barat itu?”
Pek To San ialah gunung Unta Putih.
“Gunungnya See Tok Auwyang Hong?” tanya Oey Yong terkejut.
“Tidak salah,” menyahut si pendeta perlahan. “Gambar ini pun dilukis oleh Auwyang Hong.
Oey Yong dan Kwee Ceng kaget sampai mereka bungkam.
It Teng Taysu bersenyum.
“Auwyang Kongcu itu seorang yang pandai berpikir dan jauh pendengarannya,” katanya.
“Supee, aku tidak tahu kalau gambar ini dilukis oleh si bisa bangkotan itu!” kata Oey Yong. “Kalau begitu dia bermaksud tidak baik tentu….”
It Teng bersenyum, tetapi kapan ia melihat parasnya si nona, yang merah, suatu tanda nona ini lagi menahan sakit, ia mengulur tangannya memegang pundak orang.
“Baiklah belakangan saja kita bicara lebih jauh. Sekarang yang penting ialah mengobatimu,” katanya. Lalu ia mengajak si nona pergi ke kamar samping.
Belum lagi mereka memasuki kamar itu, si pelajar dan si petani, yang saling melirik, sudah mendahului lompat ke pintu kamar untuk menghalangi di situ. Keduanya lantas berlutut dan berkata: “Suhu, biarlah teecu saja yang mengobati nona ini.”
It Tent menggeleng kepala.
“Apakah pelajaranmu telah cukup?” ia bertanya. “Apakah kau sanggup mengobati hingga sembuh?”
“Teecu akan mencoba sebisa-bisanya,” menyahut kedua murid itu.
Si pendeta lantas mengasih lihat roman sungguh-sungguh.
“Apakah nyawa manusia dapat dicoba-coba?” ia kata nyaring.
“Dua orang ini datang ke mari atas petunjuk orang jahat,” kata si pelajar, “Mereka pasti tidak mengandung maksud baik. Walaupun suhu bermaksud baik hendak menolongi orang tetapi tidak dapat suhu kena diperdayakan akal jahat!”
It Teng menghela napas.
“Apakah yang setiap hari aku mengajarkan kamu?” ia tanya perlahan-lahan. “Baiklah kau bawa gambar ini dan pergilah lihat-lihat.”
Guru ini menyerahkan gambarnya Auwyang Hong itu.
Si petani mengangguk dalam.
“Suhu, gambar ini dilukis See Tok,” katanya. “Inilah akal busuk dari Auwyang Hong….”
Kelihatannya murid ini bergelisah sekali, sampai air matanya turun mengalir.
Oey Yong dan Kwee Ceng mengawasi dengan bingung. Mereka tidak menyangka, kenapa tindakannya It Teng Taysu untuk mengobati ada demikian rupa sangkut pautnya. Apakah yang menyebabkan sikapnya kedua murid itu?
“Bangun, bangun,” kata It Teng perlahan. “Jangan kamu menyebabkan hati tetamu kita menjadi tidak tenang.”
Suara itu sabar akan tetapi nadanya ialah nada dari putusan mutlak. Kedua murid itu rupanya mengerti, terpaksa mereka berdiam, mereka berbangkit untuk berdiri di pinggaran, kepala mereka tunduk.
It Teng Taysu mengajak Oey Yong masuk.
“Kau juga masuk!” ia memanggil Kwee ceng, yang berdiri diam.
Pemuda itu bertindak masuk.
Setelah itu, It Teng menarik turun sero bambu, terus ia menyulut sebatang hio, untuk ditancap di tempat abu di atas meja.
Kamar itu berperabot kecuali sebuah meja bambu itu cuma dengan tiga buah tempat duduk dari tikar. Oey Yong diperintah duduk di tikar yang tengah. Kepada Kwee Ceng ia memesan: “Kau jagai hio itu, kalau sudah terbakar habis, kau beritahu aku.”
Pemuda itu menyahuti, “Ya!”
Lantas It Teng duduk di tikar di samping si nona, matanya memandang ke sero, segera ia memesan pula kepada si anak muda; “Kau jagai pintu juga, jangan ijinkan orang lain masuk ke mari - tidak peduli adik seperguruanku atau murid-muridku, kau jangan kasih masuk!”
Kwee ceng heran tetapi ia berikan janjinya.
Habis itu It Teng merapatkan kedua matanya. Tapi tak lama, ia melek pula, ia berkata kepada si pemuda: “Jikalau mereka itu sampai menggunai kekerasan, kau lawan! Ingat, di sini ada bergantung jiwanya sumoymu!”
Kwee Ceng mengangguk, ia jadi semakin heran, hatinya pun tegang.
It Teng lalu berkata kepada Oey Yong: “Kau kedorkan seluruh tubuhmu, tidak peduli ada rasa nyeri atau gatal bagaimana hebat juga, jangan kau membuat perlawanan atasnya!”
Si nona tertawa ketika ia menyahuti: “Aku menganggap diriku sudah mati…!”
Mau tidak mau, It Teng pun tertawa.
“Anak yang baik, kau benar-benar pintar!” ia memuji. Ia lantas menutup pula matanya untuk memusatkan pikirannya. Ketika hio sudah terbakar kira satu dim, mendadak ia berlompat bangun, tangan kirinya diangkat, diletaki di dadanya, tangan kanannya, dengan jari telunjuknya, diarahkan, ditotokan ke jalan darah pek-hwee-hiat di embun-embunan Oey Yong.
Ketika ditotok itu, tanpa merasa, Oey Yong berjingkrak sendirinya, terus ia merasa dari embun-embunnya itu keluar hawa panas.
Habis menotok, It Teng menarik pulang tangannya itu, hanya belum lewat sejenak, kembali ia sudah menotok, sekarang di jalan darah houw-teng-hiat di belakang jalan darah pek-hwee-hiat itu, terpisahnya cuma satu dim. Setelah itu, dengan saling susul ia menotok terus pelbagai jalan darah lainnya, seperti kiang-kian-hiat, laohu-hiat, honghu-hiat, ah-bun-hiat, taytwie-hiat, totoo-hiat dan lainnya, maka ketika hio terbakar baru setengah batang, dia sudah menotok semua tigapuluh jalan darah.
Kwee Ceng telah maju jauh, maka itu ia bisa menyaksikan cara menotok dari It Teng itu, hingga ia melihat tegas kelihayan si pendeta. Sesuatu gerakan beda satu dari lain. Ilmu totok semacam itu, ia belum dapat dari Kanglam Liok Koay, bahkan di dalam kitab bagian ilmu totok dari Kiu Im Cin-keng, tidak ada dicatat juga. Menyaksikan itu, ia kagum hingga mulutnya terbentang dan matanya hampir kabur. Selama itu ia tidak ingat yang It Teng lagi menggunai seluruh tenaga dalamnya guna menyalurkan semua jalan darah dan nadi Oey Yong.
Habis menotok itu, It Teng duduk untuk beristirahat. Sesudah itu, sesudah Kwee Ceng menyulut sebatang hio yang lain, ia mulai bekerja pula. Kali ini dia menotok duapuluh lima jalan darah yang disebut bagian nadi dim-meh. Pula kali ini, totokan dilakukan dengan kesebatan, gerakannya bagaikan sesapung menyambar-nyambar air, ia seperti menahan napas. Yang hebat, semua totokan itu tidak pernah gagal.
“Sungguh hebat, di kolong langit ini ada kepandaian seperti ini,” kata Kwee Ceng di dalam hatinya saking kagum.
Kemudian It Teng Taysu menotok pula empatbelas jalan darah yang disebut im-wie-meh. Juga totokan itu dilakukan dengan lain cara, dengan gerak-gerik kaki “jalan naga” dan “tindakannya harimau”, hingga sikapnya nampak sangat angker, hingga dimatanya Kwee Ceng, dia bukan lagi seorang pendeta suci dan alim, hanya seorang raja dari berlaksa rakyat negeri. Sekali ini It Teng tidak beristirahat lagi, ia meneruskan menotok tigapuluh dua jalan darah dari yang-wie-meh. Totokan ini dari jarak sedikit jauh. Umpama ketika ia menotok jalan darah hongtie-hiat di leher si nona, ia berlompatan dari jarak setombak, habis itu terus ia lompat mundur pula, demikian seterusnya.
Menampak cara menotok itu, Kwee Ceng kata di dalam hatinya: “Kalau kita lagi bertempur sama musuh yang tangguh, apabila bertempur dengan rapat berbahaya, bolehlah kita pakai cara jauh ini. Dengan begitu, sambil menyerang untuk merebut kemenangan, kita juga dapat membela diri dengan sempurna.”
Demikian, sembari menonton, anak muda ini mengingati baik-baik setiap totokan itu, bagaimana sikapnya, dari bersiap sampai menotok dan sampai sesudahnya itu, untuk mulai dengan lain-lain totokan lagi. Diam-diam ia juga mengutuk dirinya, yang dikatakan bebal sekali, yang gampang lupa, hingga ada yang baru dilihat lalu tak teringat lagi.
Setelah menukar lagi dua batang hio, It Teng sudah selesai menotok dua bagian jalan darah im-kiauw dan yang-kiauw. Ketika Kwee Ceng melihat totokan pada jalan darah kie-kut-hiat, mendadak ia ingat: “Ah, totokan ini ada termuat di dalam Kiu Im Cin-keng! Dasar aku yang tolol, aku tidak dapat menangkap maksudnya!”
Sekarang ia melihat gerak-gerak It Teng sama dengan petunjuk-petunjuk dalam kitab Kiu Im Cin-keng itu. Hal ini menggampangi ia mengingat-ingat, hingga ia mengingat baik tempo It Teng menotok jalan darah ciong-meh.
Paling belakang It Teng Taysu hendak menotok jalan darah tay-meh. Untuk itu, ia mesti jalan ke belakang Oey Yong. Pertama kali ia menotok ciangbun-hiat, sedang semuanya ada delapan jalan darah. Sekarang nampak gerakannya si pendeta sangat lambat, agaknya ia bergerak sukar sekali, sedang napasnya sudah memburu dan tubuhnya terhuyung, bagaikan ia tak kuat berdiri lebih lama pula.
Kwee Ceng melihat semua itu, ia terkejut apapula kapan ia menampak peluh membasahi jidatnya pendeta itu, mengucur di alisnya yang putih dan panjang itu. Ia ingin maju menolongi tetapi ia khawatir mengganggu. Tempo ia mengawasi Oey Yong, si nona telah bermandikan keringat, pakaiannya basah. Dia pun mengerutkan alis dan menutup mulut rapat-rapat, rupanya ia melawan rasa nyeri yang hebat.
Selagi anak muda ini terbengong, mendadak ia mendengar satu suara di sebelah belakang, ialah dari tersingkapnya sero bambu, suara mana disusul sama panggilan nyaring: “Suhu!” Disusul lagi sama masuknya orang yang berseru itu. Belum ia ingat itu, ia segera menyerang ke belakang, dengan salah satu totokannya It Teng barusan. Ia menyerang saling susul dengan cepat sekali hingga empat kali. Sebagai kesudahan dari itu, ia mendengar suara robohnya beberapa orang. Sekarang barulah ia menoleh ke belakang, tepat di saat satu orang, ialah si pelajar, berlomnpat ke belakang, hingga ia bebas dari totokan. Yang roboh ialah si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani bertiga, mereka terus rebah di lantai. Ia bengong mengawasi mereka, sebab tak dipikirnya untuk menyerang mereka itu. Ketika ia memandang si pelajar itu, dia itu lagi mengawasi ia dengan bengis, satu tanda orang ada sangat gusar.
“Habis sudah!” berseru si pelajar dalam murkanya. “Apalagi yang hendak dicegah?”
Kwee Ceng menoleh, maka ia melihat It Teng Taysu lagi duduk bersila di atas tempat duduknya, mukanya pucat sekali, bajunya basah dengan peluhnya, sedang Oey Yong telah roboh dengan tubuh tak bergerak, entah dia sudah meninggal atau masih hidup. Maka dalam kagetnya, ia lompat menubruk, guna mengasih bangun. Paling dulu hidungnya mendapat cium bau amis.
Muka nona itu pucat bercampur sinar biru, tak ada cahaya dari darahnya, hanyalah sinar hitamnya yang samar-samar sudah lenyap semua.
Kwee Ceng mendengari napas orang di hidung, jalan napas itu berat sekali. Tapi dengan mendapat dengar suara napas itu, ia merasa lega sedikit.
Ketika itu si pelajar sudah menolongi menotok bebas si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani, bersama-sama mereka merubungi guru mereka, semua membungkam, roman mereka diliputi kedukaan dan kegelisahan.
Kwee Ceng tidak memperhatikan mereka itu, ia terus menungggui si nona, muka siapa ia awasi. Maka hatinya menjadi bertambah lega kapan dengan perlahan-lahan ia mendapatkan paras nona itu berubah pula sedikit dadu. Hanya paras dadu itu, lama-lama berubah terus, lalu merah, habis mana kedua pipi nona itu terasa panas begitu pun dahinya, panasnya seperti api ketika dahi itu diraba.
Lagi beberapa saat, butir-butir peluh yang besar turun dari jidatnya di nona lalu kembali parasnya berubah, dari merah menjadi putih pula. Kejadian ini terulang sampai tiga kali, tiga kali juga peluh keluar banyak sekali. Diakhirnya, Oey Yong mengeluarkan suara kaget dan kedua matanya dibuka, terus ia menanya: “Engko Ceng, mana dapur? Mana es?”
Bukan kepalang girangnya Kwee Ceng mendengar orang dapat berbicara.
“Apa dapur? ia bertanya. “Apa es?”
Si nona melihat ke seputarnya, ia menggeleng kepala. Akhirnya ia tertawa.
“Ah, aku bermimpi hebat sekali!” katanya. “Aku bermimpikan Auwyang Hong, Auwyang Kongcu dan Khiu Cian Jin. Mereka itu menjebloskan aku ke dalam dapur, untuk dipanggang, lalu mereka mengambil es, dengan apa aku dibikin dingin, setelah tubuhku dingin, dia membakar pula…Ah, sungguh menakutkan! Eh, bagaimana dengan It Teng Taysu?”
It Teng membuka matanya, ia tertawa.
“Lukamu sudah sembuh,” katanya. “Sekarang kau perlu beristirahat satu atau dua hari. Jangan sembarang bergerak, supaya kau nanti sembuh seluruhnya.”
“Seluruh tubuhku rasanya tidak bertenaga sama sekali,” berkata si nona, “Sampai pun jari tangan malas digeraki…”
Ketika itu si petani mendelik pada si nona, dia agaknya sangat gusar. Oey Yong melihat itu, ia tidak mengambil mumat. Ia hanya kata kepada paman gurunya itu.
“Supee tentulah sangat lelah sebab untuk mengobati aku, supee telah mengeluarkan banyak tenaga. Aku mempunyai obat Kiu-hoa Giok-louw-wan buatan ayahku, apa supee mau memakannya beberapa biji?”
“Bagus!” kata It Teng gembira. “Aku tidak menyangka kau membawa obat mujarab buatan ayahmu itu. Itulah obat untuk menambah tenaga. Ketika kita merundingkan ilmu pedang di Hoa San, tempo semuanya sudah sangat letih, ayahmu membaginya kepada kami beramai, habis makan itu, kita semua menjadi segar sekali.”
Oey Yong lantas mengeluarkan kantong obatnya, untuk diserahkan pada si paman guru.
Si petani lari ke dapur, untuk mengambil semangkok air, sedang si pelajar mengeluarkan obat itu, semuanya dikeluarkannya obat itu, lalu semuanya dikasihkan pada gurunya.
“Tidak begini banyak!” berkata It Teng tertawa. “Obat ini sangat sukar dibuatnya. Cukup kita minta separuhnya saja.”
“Tetapi suhu!” berkata si pelajar, yang romannya cemas, “Meski obat di dalam dunia digotong semua ke mari, itu masih belum cukup!”
Pendeta itu tidak tega menampik, maka ia lantas menelan beberapa puluh butir, yang ia bantu dengan air beberapa ceglukan. Kemudian ia kata kepada Kwee Ceng: “Kau pergi pimpin sumoymu ini untuk beristirahat dua hari, setelah itu kamu pergi turun gunung, tak usah kamu menemui aku lagi. Eh, ada satu urusan yang aku hendak minta dari kamu…..”
Kwee Ceng sudah lantas menjatuhkan dirinya berlutut seraya mengangguk empat kali hingga kepalanya membentur lantai. Oey Yong pun turut menjura, sambil berkata perlahan: “Supee telah menolongi jiwaku, budimu ini tidak nanti keponakanmu berani melupakannya.”
It Teng tertawa. “Lebih baik dilupakan, supaya tak usah diingat-ingat lagi,” katanya, seraya ia terus menoleh kepada Kwee Ceng, untuk memberi pesannya: “Kamu telah naik ke gunung ini, hal itu segala kejadian di sini, jangan kamu omongkan kepada orang lain, juga tak usah kau menyebutkannya kepada gurmu.”
Kwee Ceng tercengang. Ia justru lagi memikirkan bagaimana harus membawa gurunya datang ke mari guna minta pertolongan paman guru ini.
It Teng tertawa. Ia berkata pula: “Kamu juga lain kali tak usah datang pula ke mari, kami sekaligus hendka pindah.”
“Pindah?” tanya si anak muda heran. “Pindah ke mana, supee?”
It Teng tersenyum, ia tidak menjawab.
“Ah, engko tolol,” kata Oey Yong tertawa. “Karena tempat supee ini telah ketahuan oleh kita maka supee mau pindah. Mana supee dapat memberi keterangan padamu?”
Meski ia berkata begitu, nona ini sebenarnya berduka sekali. Itulah gara-garanya dia maka si supee mau pindah meninggalkan tempat kediamannya yang bagus ini. Mana bisa ia melupakan budi yang sangat besar itu? Mengingat begini, ia mengawasi empat murid orang, yang telah berkumpul semua. Ia ingin berkata-kata kepada mereka itu. Hanya belum lagi ia membuka mulutnya, mendadak paras It Teng menjadi pucat, tubuhnya terhuyung, lalu jatuh dari tempat duduknya!

Bab 63
Si pelajar berempat menjadi sangat kaget begitu juga Kwee Ceng. Bersama-sama mereka berlompat menubruk. Mereka melihat daging di mukanya pendeta itu bergerak-gerak, tandanya dia lagi melawan rasa nyeri yang hebat. Mereka menjadi bingung sekali, tak tahu mereka bagaimana harus menolongnya. Semua lantas berdiri diam di pinggiran.
Tidak lama, It Teng bersenyum.
“Anak, adakah obatmu ini buatan ayahmu sendiri?” ia tanya Oey Yong.
“Bukan, supee. Inilah buatannya suko Liok Seng Hong, tetapi ia membuatnya menurut surat obat ayah.”
“Pernahkah kau mendengar dari ayahmu, kalau obat ini dimakan terlalu banyak dapat berbalik menjadi bahaya?” si pendeta menanya pula, suaranya sabar.
Oey Yong terkejut. “Mungkinkah ada yang tidak benar pada obatku ini?” pikirnya. Ia lekas menyahuti: “Ayah pernah membilang, semakin banyak dimakan semakin baik, hanya sebab pembuatannya sukar, ayah sendiri tidak berani memakan banyak-banyak.”
It Teng berdiam, agaknya ia berpikir. Kemudian ia menggeleng kepala.
“Ayahmu itu sangat cerdik dan pandangannya sangat jauh,” katanya, “Ia sangat sukar diterka hatinya hingga aku pun tidak dapat membilang apa-apa tentangnya.
Mungkinkah ia hendak menghukum Liok Suhengmu maka dia diberikan surat obat yang dipalsukan? Atau mungkinkah Liok Suhengmu itu bermusuh dengan kau maka di dalam obatnya itu dicampuri beberapa biji yang ada racunnya?”
Mendengar disebutnya racun, semua orang terkejut.
“Suhu, apakah suhu telah keracunan?” si pelajar tanya.
“Syukur di sini ada paman gurumu, maka biarnya racun yang lebih dahsyat lagi tidak akan membikin orang mati,” sahut sang guru.
Mukanya keempat murid itu lantas berubah, segera mereka menoleh kepada Oey Yomg dan berkata dengan bengis: “Guru kami bermaksud baik menolongi kau, cara bagaimana kau begini besar hati berani meracuninya?”
Segera mereka itu mengurung, agaknya mereka mau lamtas menerjang.
Kwee Ceng menjadi bingung sekali. Ia tidak nyana akan perkembangan semacam ini.
Oey Yong pun bingung tetapi segera ia berpikir segala sesuatu memgenai obat itu, hingga ia menduga, pada ini tentu ada hubungannya dengan perbuatannya Eng Kouw di rumahnya di rawa lumpur hitam itu. Bukan obat itu telah dibawa si nyonya ke lain kamar, untuk diperiksa, dan sampai sekian lama baru nyonya itu membawanya pula ke luar untuk diserahkan kembali kepadanya?
“Supee, aku mengerti sekarang!” katanya. Sebab segera ia dapat menerka. “Inilah perbuatannya Eng Kouw!”
“Benarkah Eng Kouw?” It Teng bertanya.
“Ya,” sahut si nona, dan ia tuturkan apa yang terjadi di rumah Eng Kouw, hingga sekarang ia menjadi bercuriga. “Dia pun telah memesan wanti-wanti supaya aku sendiri jangan makan obat ini. Tentu teranglah sudah sebab ia mencampuri racun di dalamnya.”
“Hm!” mengejek si petani. “Dia perlakukan kau baik sekali dan maka itu ia khawatir membuatnya kau mampus!”
Nona ini sangat berduka yang paman gurunya terkena racun, maka itu ia tidak memikir untuk mengadu lidah dengan murid orang, bahkan dengan perlahan ia kata:
“Sebenarnya dia bukannya berkhawatir untuk membikin aku mati, hanya dia khawatir, kalau aku memakannya, supee nanti tidak kena dia racuni……”
“Dosa, dosa,” berkata It Teng, yang menghela napas. Lantas sikapnya menjadi sangat tenang. Ia kata perlahan kepada muda mudi itu: “Inilah nasib dan dengan kamu berdua tidak ada hubungannya. Juga Eng Kouw sendiri, inilah telah terjadi karena karma. Sekarang pergi kamu beristirahat beberapa hari, habis itu baik-baik saja kamu turun gunung. Benar aku telah terluka tetapi adik seperguruanku pandai sekali mengobati racun, maka kamu tidak usah berkhawatir.”
Pendeta ini lantas menutup rapat matanya, ia tidak berkata-kata lagi.
Berdua muda mudi itu membungkuk, untuk pamitan. Mereka melihat It Teng bersenyum, tangannya dikibaskan, maka itu mereka tidak berani berdiam lebih lama lagi di situ, dengan perlahan mereka memutar tubuh dan mengundurkan diri. Si kacung menantikan mereka di luar kamar, mereka lantas diajak ke sebuah kamar di ruang belakang, kamar mana tidak ada perabotannya kecuali dua pembaringan bambu.
Tidak lama, di situ muncul dua orang pendeta tua dengan barang makanan sayur.
“Silahkan dahar,” mereka mengundang.
“Apakah taysu baik?” tanya Oey Yong. Ia senantiasa memikirkan paman guru itu.
“Siauwceng tidak tahu,” sahut satu pendeta, suaranya tajam. Ia lantas memberi hormat, untuk segera mengundurkan diri.
“Mendengar suara mereka, aku mengira wanita,” kata Kwee Ceng.
“Mereka thaykam,” berkata Oey Yong. “Tentu mereka itu telah merawati taysu semenjak taysu masih menjadi raja.”
Kwee Ceng heran.
Karena masing-masing berpikir, tidak ada nafsu dahar mereka. Terus mereka berdiam di dalam kamar yang sunyi itu, cuma kadang-kadang saja berkesiur suara angin lewat, membuatnya daun-daun bambu bersuara perlahan.
“Yong-jie, kepandaian taysu hebat sekali,” kemudian si pemuda berkata.
“Begitu?” kata si pemudi perlahan dan singkat.
“Guru kita,” kata pula Kwee Ceng, “Dan ayahmu juga Ciu Toako, Auwyang Hong dan Khiu Cian Jin, walaupun mereka semua lihay tidak nanti mereka dapat melawan It Teng Supee……”
“Coba bilang, di antara mereka berenam, siapa yang pantas mendapat sebutan jago nomor satu di kolong langit ini?”
Kwee Ceng berpikir.
“Sebenarnya sesuatunya dari mereka mempunyai keistimewaannya sendiri-sendiri,” sahutnya sesaat kemudian, “Dari itu tidak dapat dibilang siapa di antaranya yang paling lihay……”
“Di dalam halnya bun bu coan cay?” si nona menanya pula, tentang kepandaian orang dua-dua di dalam ilmu surat dan ilmu silat.
“Di dalam hal itu, tentulah ayahmu,” menyahut si anak muda.
Oey Yong girang, inilah kentara dari romannya. Hanya sebentar, ia lalu menghela napas.
“Maka itu inilah anehnya!” katanya.
“Apakah yang aneh?” tanya Kwee Ceng cepat. Ia heran.
“Taysu begini lihay, keempat muridnya lihay juga,” kata Oey Yong, “Tetapi kenapa mereka hidup bersembunyi di tempat sunyi begini? Kenapa asal mendengar ada orang datang, mereka nampak takut seperti juga bencana besar bakal mengancam mereka?
Di antara keenam jago, cuma See Tok dan Khiu Cian Jin yang mungkin menjadi musuhnya, tetapi mereka itu berdua berkenamaan, apa mungkin mereka akan datang berdua untuk mengepung taysu?”
“Tetapi, Yong-jie,” kata Kwee Ceng. “Biarnya See Tok dan Khiu Cian Jin datang bersama, sekarang kita tidak usah takuti mereka.”
“Bagaimana itu?”
Kwee Ceng nampaknya likat, agaknya ia tak enak hati untuk menjawab.
“Eh, kenapakah kau nampaknya sulit bicara?” si nona menegur.
“Kepandaiannya It Teng Taysu pasti tidak ada di bawahan See Tok,” kata si anak muda kemudian, “Atau sedikitnya, mereka berimbang. Menurut penglihatanku, ilmu menotok jalan darah dari taysu mungkin ada cara untuk meruntuhkan Kap Moa Kang dari See Tok itu……”
“Bagaimana dengan Khiu Cian Jin?” Oey Yong tanya pula, “Apakah si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar, bukannya tandingan dia seorang?”
“Benar. Selama di puncak Tiat Ciang Hong, di gunung Kun San, di telaga Tong Teng, pernah aku melayani Khiu Cian Jin. Kalau kita bertempur seratus jurus, mungkin aku dapat melawan seri padanya, tetapi lebih daripada seratus jurus, belum tentu aku dapat bertahan lebih lama pula. Ketika tadi aku menyaksikan Taysu menotok kau……”
Mendadak Oey Yong menjadi girang, ia memotong: “Kalau begitu kau telah dapat mempelajari kepandaiannya Taysu! Dengan begitu bukankah kau bakal dapat mengalahkan Khiu Tiat Ciang?”
“Kau tahu sendiri otakku puntul,” berkata si anak muda, “Dan ilmu totok ini sangat dalam, mana bisa aku lantas berhasil memahamkannya? Hanya benar aku telah mendapatkan beberapa jurus. Aku pikir, untuk segera mengalahkan Khiu Cian Jin, itulah sukar, tetapi buat bertahan sampai satu jam atau tiga perempat, mungkin aku sanggup……”
Oey Yong lantas menghela napas.
“Dan kau pun melupakan satu hal,” katanya masgul.
“Apakah itu?”
“Sekarang ini Taysu terkena racun dan entah sampai kapan ia bakal sembuh……”
Kwee Ceng berdiam, lantas ia menjadi sengit.
“Kenapa si nenek, Eng Kouw demikian kejam?” katanya mengeluh. Ia baru berkata begitu, atau ia ingat suatu apa, hingga ia berseru: “Ah, celaka!”
Oey Yong kaget.
“Apa?” dia menanya.
“Kau telah berjanji dengan Eng Kouw!” si pemuda memberi ingat. “Setelah kau sembuh, kau mesti menemani dia satu tahun, bukan? Nah, habis bagaimana? Apakah janji itu mesti ditepati atau tidak?”
“Kau sendiri?”
“Jikalau kita tidak dapat petunjuknya, tidak dapat kita mencari It Teng Taysu. Itu waktu pastilah lukamu…… Ah, tak dapatlah dikatakan……”
“Kenapa tak dapat dikatakan? Bilang saja terus-terang. jiwaku tidak dapat ditotong lagi! Kaulah satu laki-laki maka kau tentunya ingin menepati janji itu, bukankah?”
Si nona lantas menjadi berduka. Ia ingat Kwee Ceng pun tidak suka melanggar janji perjodohannya dengan putri Gochin Baki dari Mongolia. Air mukanya menjadi guram.
Mengenai sifat wanita ini, Kwee Ceng asing, maka itu selagi Oey Yong berduka dan hendak menangis, ia tetapi tidak sadar. Maka ia kata; “Dia membilang ayahmu lihay, memang seratus kali daripadanya, umpama kata kau suka mengajari dia, dia bilang dia tak bakal dapat menyamai kulit atau bulu ayahmu. Dia telah mengetahui itu, habis apa perlunya dia masih menghendaki kau menemani dia?”
Oey Yong menutup mukanya, ia tidak menyahuti.
Pemuda itu masih tidak sadar, ia mengulangi pertanyaannya.
“Eh, tolol, benarkah kau tidak mengerti?” akhirnya tanya si nona gusar.
Kwee Ceng heran orang gusar tidak karu-karuan.
“Ya, Yong-jie, aku memang dasarnya tolol,” ia mengaku. “Maka itu juga aku minta kau suka memberikan keteranganmu.”
Oey Yong menyesal yang ia telah mengeluarkan perkataan keras itu, sekarang ia mendengar suara orang yang lemah lembut, orang yang telah mengaku ketololannya, ia menjadi sangat berduka, tak dapat tertahan lagi, ia menangis di dalam rangkulan pemuda itu.
Masih Kwee Ceng tidak mengerti, ia mengusut-ngusut punggung orang seraya menghibur.
Oey Yong menarik ujung baju orang, untuk menyusut air matanya.
“Engko Ceng, aku yang salah,” katanya. Mendadak ia tertawa. “Lain kali aku tidak bakal memaki pula kepadamu……”
“Memang aku tolol, apakah halangannya untuk kau mengatakannya?” kata si tolol, tetap polos.
Nona itu menghela napas.
“Ya, kau memang baik, akulah yang buruk,” katanya kemudian. “Mari aku menjelaskan padamu. Eng Kouw itu bermusuh sama ayahku, dia mencari ilmu kepandaian untuk dia pakai menyatroni Tho Hoa To, guna menuntut balas , tetapi dia telah mendapat kenyataan, dalam ilmu silat dia kalah dari kau, maka karena putus asa, dia mengubah siasatnya. Dia sekarang hendak menjadikan aku sebagai manusia tanggungan, supaya ayahku datang menolongi aku.
Dengan akal ini, dia jadi menang di atas angin, dia menjadi dapat jalan untuk mencelakai ayahku itu.”
Baru sekarang si tolol mengerti, maka ia menepuk pahanya.
“Oh, benar begitu! Kalau demikian adanya, janji itu tidak dapat ditepati!” ia berkata.
“Kenapa tidak?” tanya Oey Yong, “Pasti mesti ditepati.”
“Eh?” si anak muda heran.
“Eng Kouw itu sangat lihay,” berkata si nona, menerangkan. “Lihat saja bagaimana ia telah mencampuri racun di dalam obat Kiu-hoa Giok Louw Wan dengan apa dia mencelakai It Teng Taysu. Maka jikalau dia tidak disingkirkan, dia akhirnya bakal jadi ancaman bencana untuk ayahku. Dia ingin aku menemani dia, aku nanti menemaninya.
Sekarang aku telah bersiap sedia, tidak nanti aku kena diakali dia. Aku percaya, tidak perduli dia bakal menggunai tipu apa, aku merasa pasti bakal dapat memecahkannya!”
“Tetapi, itulah sama artinya kau menemani seekor harimau betina……” kata si anak muda masgul.
Oey Yong hendak berkata pula ketika kupingnya mendengar suara berisik dari sebelah depan, dari kamar sucinya It Teng Taysu. Itulah beberapa kali suara kaget atau seruan.
Kwee Ceng pun mendengar itu, maka keduanya saling mengawasi. Selagi mereka memasang kuping, suara berisik itu lantas lenyap.
“Entah bagaimana dengan taysu?” kata si pemuda.
Si pemudi menggeleng kepala.
“Nah, kau daharlah lantas tidur,” kata Kwee Ceng kemudian. Oey Yong masih menggeleng kepala. Atau mendadak: “Ada orang datang!” katanya.
Benar juga lantas terdengar tindakan kaki beberapa orang, di antaranya ada yang berkata dengan suara sengit: “Budak itu banyak akalnya, baik mampusi dulu padanya!”
Itulah suara si petani. Maka Kwee Ceng berdua terkejut.
“Jangan sembarang,” terdengar suara si tukang kayu. “Kita menanya jelas dulu.”
“Apa yang mau ditanyakan lagi?” kata si petani. “Sudah terang dua bangsat cilik itu disuruh musuh suhu datang kemari! Kita bunuh yang satu, biarkan yang satu lagi, untuk menanyakan keterangannya. Cukup kita memeriksa si tolol!”

Selagi mereka bicara, mereka sudah sampai di depan pintu kamar di mana Kwee Ceng dan Oey Yong berada. Nyata mereka tidak takut yang suara mereka dapat didengar orang di dalam kamar itu.
Kwee Ceng mengerti ancaman bahaya, tanpa bersangsi pula dengan pukulan “Hang liong yu hui”, ia menghajar tembok di belakangnya, hingga dengan suara sangat berisik tembok itu gempur, membuat sebuah liang. Setelah itu, dengan membungkuk, ia menggendong si nona, terus ia lompat melewati liang itu.
Di sana terlihat si petani, yang sangat gesit, sebelah tangannya diulur, guna menyambar kaki kiri si anak muda.
Oey Yong tidak berdiam saja, ia melihat sambaran itu, maka dengan tangan kirinya ia mengibas ke belakang, mengebut jalan darah yang tie-hiat dari si petani. Itulah ilmu kebutan, atau totokan, warisan ayahnya. Itulah yang disebut “Lan-hoa Hut-hiat Ciu”,
atau Bunga Anggrek Mengebut Jalan Darah. Ilmu ini tidak selihay ilmu totoknya It Teng tetapi toh berbahaya untuk lawan.
Si petani kaget, lekas-lekas ia menarik pulang sambaranmya, ia membaliki itu, untuk menangkis, tetapi gerakan ini memperlambat gerakannya, maka Kwee Ceng telah berhasil berlompat lewat, akan berlari terus dengan melompati tembok belakang. Di sini ia baru lari beberapa tindak, atau ia menjerit sendirinya, berkeluh kesah. Di depannya itu ada tumbuh pohon duri setinggi sependirian orang, lebat dan banyak durinya, hingga tak dapat dilewati orang. Ketika ia menoleh, ia menampak mendatanginya empat orang ialah si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar. Mereka itu lantas berdiri menghadang.
“Taysu menitahkan kami turun gunung, tuan-tuan telah mendengarnya sendiri,” berkata Kwee Ceng, “Kenapa sekarang kamu menghalangi kami?”
Si pengail mendelik matanya.
“Guru kami sangat baik hatinya, dia pemurah, dengan mengorbankan diri dia menolongi kamu, kenapa sekarang kamu……” kata dia, suaranya mengguntur.
Dua-dua muda mudi itu terkejut.
“Dia mengorbankan diri?” tanya mereka berbareng. “Bagaimana itu…..?”
“Fui……!” berseru si pengail dan petani.
Si pelajar tertawa dingin, dia berkata: “Lukamu, nona telah ditolong diobati oleh guruku dengan guruku itu mengorbankan dirinya! Mustahil kau benar-benar tidak ketahui itu?”
“Dengan sebenarnya, aku tidak tahu,” menyahut Oey Yong. “Tolong kau menjelaskannya.”
Pelajar itu mengawasi. Ia melihat roman orang benar seperti tidak lagi mendusta, maka ia berpaling kepada si tukang kayu. Dia ini mengangguk. Lantas ia berkata:
“Nona, kau telah mendapat luka yang sangat berbahaya, untuk menyembuhkannya kau mesti dapat penyaluran pada pelbagai jalan darah dan nadimu. Untuk itu dibutuhkan ilmu It Yang Cie Siang-thian Kanghu. Ilmu itu, semenjak meninggalnya Ong Tiong Yang Cinjin, kauwcu dari Coan Cin Pay, cuma guru kami satu orang yang mengerti itu. Meski begitu, kalau ilmu itu dipakai mengobati orang, dia sendiri mesti turut mendapat penyakit sebagai akibatnya, sebab dia mesti menggunai terlalu banyak tenaga terutama tenaga dalamnya. Untuk lima tahun, habislah semua kepandaian silatnya……”
Oey Yong kaget hingga ia mengeluarkan seruan tertahan. Ia menyesal dan malu sekali.
“Selama itu tempo lima tahun, untuk memulihkan diri, orang mesti berlatih dan bersemedhi setiap hari, siang dan malam, kalau dia salah berlatih, maka dia bakal nampak kegagalan dan kepandaiamnya itu tidak akan pulih kembali. Orang yang menjadi korbam begitu, entengnya dia bercacad seumur hidup, hebatnya dia lantas mati. Guruku begitu murah hati menolongi kau, kenapa kau begini jahat, kebaikan dibalas dengan kejahatan?”
Mendadak Oey Yong melepaskan diri dari Kwee Ceng, lantas ia berlutut ke arah kamarnya It Teng Taysu, empat kali ia mengangguk, sembari menangis ia berkata:
“Supee, sungguh keponakanmu tidak menyangka begini besar kau telah melepas budi menolongi jiwaku……”
Menyaksikan kelakuan si nona, roman si pengail berempat nampak sedikit sabar.
“Ayahmu menitahkan kau menjalankan akalnya ini mencelakai guru kami, benar-benar kau sendiri tidak tahu?” tanya si tukang pancing.
Ditanya begitu, Oey Yong menjadi gusar.
“Mana dapat ayahku mencelakai supee?” katanya keras. “Ayahku itu orang macam apa? Mana dapat ayahku berlaku demikian hina dina?”
Si tukang pancing menjura.
“Jikalau ini bukan titah ayahmu, nona, harap kau memberi maaf atas kelancanganku ini,” ia berkata.
“Hm!” berkata si nona. “Jikalau perkataanmu barusan dapat didengar ayahku, tidak perduli kau muridnya supee, kau pasti bakal diberi rasa sedikit!”
“Hm,” berkata si pengail, “Ayahmu digelarkan Tong Shia, si Sesat dari Timur, maka itu kami pikir, apa yang dapat diperbuat See Tok, si Bisa dari Barat, tentulah dapat dilakukan juga ayahmu. Sekarang ini rupanya soal adalah lain.”
“Mana dapat ayahku dibanding dengan See Tok?” berkata si nona. “Auwyang Hong si bangsat tua itu, apa juga dapat dia lakukan! Apakah yang dia telah perbuat?”
“Baik,” si pelajar datang sama tengah. “Sekarang segala apa sudah jelas, mari kita kembali ke dalam untuk bicara lebih jauh.”
Maka berenam mereka masuk ke kamar, untuk terus berduduk, akan tetapi empat orang itu duduk demikian rupa, hingga sendirinya mereka seperti memegat jalan keluar kedua muda-mudi itu. Oey Yong mengetahui itu, ia bersenyum, ia tidak mau membuka rahasia orang.
“Apakah kamu ketahui tentang urusan Kiu Im Cin-keng?” si pelajar mulai bicara.
“Aku ketahui itu. Apakah ada sangkutannya supee dengan kitab itu?”
“Ketika diadakan pertemuan pertama di Hoa San itu, soalnya ialah perebutan kitab Kiu Im Cin-keng itu,” berkata si pelajar. “Ketika itu Coan Cin Kauwcu adalah yang terlihay, kitab itu telah jatuh di tangannya. Bahwa semua orang takluk kepada kauwcu itu, itulah bukan soal lagi. Tiong Yang Cinjin sangat mengagumi ilmu Sian Thian Kang dari guru kami, maka juga di tahun kedua bersama-sama adik seperguruannya dia datang mengunjungi guru kami di Tali, ketika itu mereka berbicara banyak tentang ilmu silat itu.”
“Adik seperguruannya Tiong Yang Cinjin?” tanya Oey Yong. “Itulah Loo Boan Tong Ciu Pek Thong!”
“Benar,” sahut si pelajar. “Nona masih begini muda tetapi banyak sekali orang yang nona kenal……”
“Ah, jangan kau memuji aku,” berkata si nona.
“Paman Ciu itu seorang sangat jenaka, tetapi kami tidak tahu bahwa dia dipanggil Loo Boan Tong si bocah tua bangkotan yang nakal. Ketika itu guru kami masih belum mensucikan diri.”
“Oh, kalau begitu ketika supee masih menjadi kaisar!” kata Oey Yong.
“Benar. Coan Cin Kauwcu (Dewi-KZ) itu bersama adik seperguruannya tinggal di istana belasan hari, selama itu kami berempat senantiasa mendampinginya. Guru kami telah menjelaskan segala apa mengenai Sian Thian Kang itu, hingga Tiong Yang Cinjin menjadi sangat girang, maka ia pun lantas mengajari ilmu silat It Yang Cie yang menjadi ilmu silatnya yang paling istimewa. Kami mendengari semua pembicaraan akan tetapi pelajaran kami masih sangat rendah dan kami pun tumpul sekali, tak dapat kami mengajari itu.”
“Habis bagaimana dengan Loo Boan Tong?” Oey Yong tanya. “Kepandaiannya Loo Boan Tong tidak cetek.”
“Paman Ciu itu seorang gemar bergerak, tak suka dia berdiam, setiap hari dia berputaran saja di seluruh istana. Dia pergi ke timur dan ke barat, ke segala tempat sampai pun dia tidak pandang-pandang lagi keraton di mana permaisuri dan selir-selir bertinggal. Semua orang kebiri dan dayang mendapat tahu dialah tetamu agung kami, tidak ada di antaranya yang berani melarang.”
Oey Yong dan Kwee Ceng saling memandang dan bersenyum. Mereka tahu baik sifatnya itu engko atau kakak angkat. Cuma di dalam hatinya, mereka kata: “Itu dia sifatnya Loo Boan Tong!”
“Ketika Tiong Yang meminta diri,” si pelajar melanjuti, “Dia berkata kepada guru kami:
‘Selama yang belakangan ini penyakitku yang lama kembali kumat, maka mungkin aku tidak bakal berdiam lama lagi di dalam dunia ini, karena sekarang sudah ada ahli waris dari It Yang Cie, jadi di dalam dunia ada orang yang dapat menindih padanya, bolehlah tak usah dikhawatir yang dia nanti berani malang melintang bermain gila.’ Baru setelah itu guru kami mengetahui maksud utama kenapa Tiong Yang Cinjin melakoni perjalanan demikian jauh datang ke Tali mengunjungi guru kami, maksudnya ialah untuk mewariskan kepandaiannya itu, agar setelah ia menutup mata nanti, ada orang yang dapat mengekang Auwyang Hong. Lima-limanya Tong Shia, See Tok, Lam Tee, Pak Kay dan Tiong Sin Thong adalah orang-orang yang namanya sama termashurnya, kalau Tiong Yang Cinjin membilang terus terang dia datang http://kangzusi.com/ untuk memberi pelajaran, dia khawatir guru kami merasa dirinya dipandang enteng, dari itu lebih dulu dia minta pelajaran Sian Thian Kang, kemudian baru dia membalas mengajari
It Yang Cie. Itulah artinya pertukaran. Guru kami mengetahui maksud baik dari Tiong Yang Cinjin, ia menjadi bersyukur, ia mengagumi kauwcu itu. Ia lantas memahamkan itu dengan sungguh-sungguh. Kemudian di negara Tali itu telah terjadi suatu hal yang malang, hati guru kami menjadi tawar, maka itu ia pergi mencukuri rambutnya dan masuk menjadi hweeshio.”
Mendengar itu, Oey Yong berpikir; “Toan Hongya tidak mau menjadi kaisar, dia lebih suka menjadi pendeta, mestinya kejadian malang itu sangat melukai hatinya. Karena muridnya ini tidak mau menjelaskan, tidak dapat aku minta keterangan atas kejadian itu……” Ia memandang kepada kawannya. Ia melihat Kwee Ceng seperti hendak membuka mulut, untuk menanya, ia lekas mencegah dengan kedipan matanya.
Kwee Ceng mengerti kedipan itu, ia menunda membuka mulutnya.
Air muka si pelajar nampak guram. Rupanya ia teringat akan peristiwa dulu itu. Ia berdiam beberapa saat baru ia berbicara pula.
“Setahu bagaimana, kemudian hal guru kami mempelajari It Yang Cie itu telah bocor,” katanya. “Pada suatu bari, ini suhengku……” ia menunjuk pada si petani “……
telah menerima titah suhu, ialah guru kami itu, untuk pergi mencari daun obat-obatan.
Suhengku telah pergi ke gunung Tay Soat San di barat Inlam, di sana orang telah melukai ia dengan ilmu silat Kap Moa Kang.”
“Pastilah penyerang itu si Bisa bangkotan!” berkata Oey Yong.
“Siapa lagi kalau bukannya dia?” berkata si petani gusar. “Mulanya seorang muda yang tidak karu-karuan yang telah mencari stori denganku, dia membilangnya Tay Soat San itu miliknya dan dia melarang siapa juga mencari daun obat di situ. Aku telah menerima pengajaran suhu, aku berlaku sabar, tapi justru aku mengalah, si anak muda semakin mendesak, dia menyuruh aku mengangguk tigaratus kali kepadanya, baru dia mau mengijinkan aku turun gunung. Karena habis sabarku, aku menempur dia. Pemuda tu benar lihay, sekian lama kita bertempur, kita tetap seri. Itu waktu mendadak muncullah si tua berbisa itu, tanpa banyak omong, dia menghajar aku hingga aku terluka parah, setelah mana si anak muda menggendong aku, mengantari aku pulang sampai di luar kuil Liong Coan Sie di mana suhu berdiam.”
“Kalau begitu sudah ada orang yang mewakilkan kau membalas sakit hatimu,” berkata si nona. “Pemuda itu ialah Auwyang Kongcu sudah ada yang membunuhnya.”
“Ah, dia telah mati?” kata si petani gusar. “Siapakah yang membunuh dia?”
“Eh, heran!” kata Oey Yong. “Ada orang lain membunuh musuhmu, kau masih gusar?”
“Musuhku mesti aku yang membalas sendiri!” sahut si petani.
“Sayang kau tidak dapat membalasnya……” kata si nona menghela napas.
“Sebenarnya siapakah yang membunuhnya?”
“Dia juga seorang busuk. Kepandaian dia itu kalah dari Auwyang Kongcu tetapi dia menggunai akal.”
“Bagus!” berkata si pelajar. “Nona, tahukah kau maksudnya Auwyang Hong melukai suhengku ini?”
“Tidak sukar untuk menerka itu,” menyahut Oey Yong. “Dengan kepandaiannya See Tok, dengan dua kali turun tangan, dapat dia membinasakan suhengmu, tetapi dia Cuma melukai parah, lalu dia mengantarnya pulang ke depan pintu rumah gurumu. Maksudnya itu ialah agar gurumu menghabiskan tenaga dalamnya untuk mengobati suhengmu itu.
Barusan kau membilangnya, supee mesti membuang tempo lima tahun untuk memulihkan kepandaiannya, maka itu berarti, kalau nanti diadakan rapat yang kedua di gunung Hoa San, pasti gurumu tak keburu turut mengambil bagian.”
Pelajar itu menghela napas.
“Nona sungguh cerdik, tetapi kali nona cuma dapat menerka separuhnya,” ia berkata.
“Kejahatan Auwyang Hong itu sukar diterka dari bermula. Justru di saat suhu mengobati suhengku ini, justru kesegaran suhu belum kembali, dia datang melakukan penyerangan, maksudnya untuk membikin mati pada suhu……”
“It Teng Supee demikian murah hati, apakah benar dia menyebabkan permusuhan dengan Auwyang Hong?” Kwee Ceng menanya. Anak muda ini heran.
“Engko kecil, pertanyaanmu ini tidak tepat,” menyahut si pelajar. “Pertama-tama, si orang murah hati itu justrulah musuh daripada si orang jahat. Si orang jahat tak suka hidup bersama di dalam dunia dengan orang baik hati. Kedua, kalau Auwyang Hong hendak mencelakai orang, dia tentu tidak sudi memperhatikan orang itu bermusuhan dengannya. Karena dia ketahui ilmu silat It Yang Cie dari suhu adalah penumpas dari ilmu silatnya, maka itu dia dapat menggunai seratus atau seribu akal keji untuk membinasakan guru kami.”
Kwee Ceng mengerti, ia mengangguk beberapa kali.
“Habis, apakah supee telah kena dia bikin celaka?” ia menanya pula.
“Setelah suhu melihat lukanya suheng, lantas suhu dapat menerka maksudnya Auwyang Hong,” si pelajar menerangkan pula. “Malam itu juga suhu pindah tempat, dan Auwyang Hong tidak berdaya mencari. Karena tahu Auwyang Hong tidak bakal berhenti sampai di situ, kami mencari tempat-tempat sampai kami mendapatkan ini tempat suci.
Setelah suhu pulih kesehatannya, kami berempat mengusulkan suhu pergi mencari See Tok di Pek To San, guna membuat perhitungan dengannya, akan tetapi suhu berpendirian, kalau dapat mengalah baiklah dia mengalah terus dan kami dilarang pergi menerbitkan gara-gara. Demikianlah untuk belasan tahun kami tinggal dengan aman di tempat ini. Siapa tahu sekarang kamu berdua datang kemari! Kami cuma tahu kamu murid- muridnya Kiu Cie Sin Kay, kami menduga kamu tidak bermaksud jahat, maka itu kami merintanginya setengah hati, coba kami berbuat nekat, tidak nanti kami membiarkan kamu masuk ke kuil kami. Sungguh di luar dugaan, toh akhir-akhirnya guru kami telah terkena juga tangan jahat kamu……”
Setelah berkata begitu, mendadak muka si pelajar menjadi bengis pula, bahkan sambil berbangkit bangun, ia menghunus pedangnya, yang berkilau berkeredepan.
Melihat demikian, si pengail, si tukang kayu dan si petani, turut berbangkit juga sambil menghunus senjata mereka, lantas mereka mengambil sikap mengurung.
“Ketika aku datang mencari supee untuk minta diobati, aku tidak tahu bahwa pengobatannya itu bakal menghabiskan kepandaiannya selama lima tahun,” berkata Oey Yong. “Bahwa obatku ada racunnya, itu juga aku tidak tahu, sebab itu ada perbuatannya lain orang. Supee telah melepas budi padaku, meskipun kami tidak punya hati, tidak nanti kami membalas kebaikannya dengan kejahatan.”
“Kalau begitu,” menegur si tukang pancing, “Kenapa selagi kesehatan guru kami belum pulih dan dia pun terkena racun, kamu mengajak musuh mendaki gunung ini?”
Ditanya begitu, Oey Yong dan Kwee Ceng kaget bukan alang kepalang.
“Tidak sama sekali!” mereka menyangkal.
“Masih menyangkal!” membentak si tukang pancing. “Begitu suhu terkena racun, kita lantas menerima gelang kumala dari pihak musuh. Kalau memangnya kamu tidak bersekongkol mana bisa terjadi peristiwa begini kebetulan?”
“Gelang kumala apa itu?” Oey Yong tanya. Ia benar tidak mengerti.
“Hm, masih berlagak piton!” si tukang pancing mengejek. Mendadak ia menggeraki dua tangannya, maka kedua pengayuhnya lantas menghajar muda mudi di depannya itu.
Kwee Ceng duduk berendeng sama Oey Yong, begitu ia melihat datangnya pengayuh, ia berlompat bangun, kedua tangannya bergerak, tangan kanan menyambar satu pengayuh, untuk segera dirampas, tangan yang lain menangkap pengayuh yang kedua, yang terus ia gentak.
Si tukang pancing kaget dan tangannya kesakitan, pengayuhnya itu terpaksa dilepaskan. Selagi begitu, Kwee Ceng meneruskan menangkis garunya si petani, hingga kedua senjata bentrok keras dan lelatu apinya muncrat berhamburan. Setelah itu, lekas-lekas ia mengangsurkan, menyerahkan pulang pengayuhnya si tukang pancing, hingga dia ini heran dan tercengang, tetapi cuma sebentar, setelah menyambuti itu, berbareng bersama kampaknya si tukang kayu, dia menyerang pula.
Kwee Ceng sementara itu berlaku sangat sebat, begitu ia mundur, begitu ia menolak, menampak mana si pelajar yang mengenali ilmu silat Hang Liong Sip-pat Ciang, segera meneriaki kedua saudara seperguruannya: “Lekas mundur!”
Si tukang pancing dan si tukang kayu adalah murid-muridnya seorang guru yang lihay, mereka menginsyafi bahaya dengan cepat mereka menarik pulang senjata mereka sambil mengundurkan diri juga. Tapi biar bagaimana mereka sebat, mereka masih kalah gesit, mereka tidak dihajar hanya senjata mereka disambar, untuk dirampas pula!
“Sambut ini!” berkata Kwee Ceng, yang kembali mengembalikan senjata orang, sekarang pengayuh dan garu!
“Bagus!” si pelajar memuji sambil ia menikam dengan pedangnya ke iga kanan.
Melihat datangnya tikaman, Kwee Ceng terperanjat. Sekarang terbukti, dari keempat murid orang itu, adalah si pelajar ini, yang gerak-geriknya halus, justru yang ilmu silatnya paling lihay. Maka ia tidak mau berlaku alpa. Untuk dapat melindungi Oey Yong, yang tidak boleh mengeluarkan banyak tenaga, ia membela diri dengan gerakannya menuruti barisan Thian Kong Pak-tauw-tin dari Coan Cin Cit Cu. Mula-mula ia hanya mengurung diri, kemudian perlahan-lahan ia memperlebar kurungannya, maka keempat lawan itu terpaksa mundur sendirinya, sampai mereka terdesak ke tembok. Disaat ini, asal ia mau turun tangan, dapat si anak muda melukai mereka itu, atau salah satu di antaranya.
Selama itu, Kwee Ceng mempertahankan diri, antaranya ia tidak menambah tenaganya. Dengan begini ia membuatnya mereka dua pihak tidak kalah dan tidak menang.
Si pelajar agaknya penasaran, mendadak ia mengubah ilmu pedangnya. Kali ini pedangnya itu mengasih dengar sambaran angin mengaung. Ia menyerang ke empat penjuru, setiap kalinya dengan enam tusukan atau sabetan beruntun. Itulah ilmu pedang Ay Lao Kiam Hoat dari Ay Lao San di Inlam, yang semuanya terdiri dari tigapuluh enam jurus. Tapi terhadap si anak muda, ilmu pedang itu tidak mempan. Tenang-tenang seperti biasa, dengan tangan kanan pemuda ini melayani pedang, dengan tangan kirinya ia menghalau setiap senjatanya si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani.
Disaat datangnya tusukan pedang yang ketigapuluh enam, Kwee Ceng menyambut itu dengan sentilannya jari tengah. Itulah dia ilmu silat Tan Cie Sin Thong dari Oey Yok Su, ilmu silat yang tak ada keduanya, sebagaimana terbukti ketika dengan Ciu Pek Thong ia main-main menyentil batu, sedang selama di Kwie-in-chung, dia telah memberi petunjuknya kepada Bwee Tiauw Hong, sementara Kwee Ceng telah melihatnya di Gu-kee-cun, Lim-an, selama Tong Shia melayani Coan Cin Cit Cu. Memang ia belum mencapai kemahiran seperti Oey Yok Su tetapi ketika pedang si pelajar kena tersentil, pedang itu berbunyi nyaring dan mental. Si pelajar merasai tangannya sakit sampai hampir terlepas cekalannya.
“Tahan!” pelajar itu berseru sambil ia lompat mundur.
Si tukang pancing sudah lantas menurut, semuanya mengundurkan diri, tetapi mereka sudah terdesak ke tembok, tidak ada ruang lagi untuk mundur, maka itu, si tukang pancing mundur ke pintu, si petani lompat di liang tembok yang gempur, sedang si tukang kayu, yang terus menyelipkan kapaknya di pinggangnya, bukan menyingkir hanya sambil tertawa dia kata: “Aku telah membilangnya kedua tetamu kita ini tidak mengandung maksud jahat tetapi kamu tidak percaya!” Ia berbicara itu sama ketiga saudara seperguruannya.
Si pelajar menyimpan pedangnya, ia menjura kepada Kwee Ceng.
“Kau baik hati, kau suka mengalah, engko kecil,” katanya. “Terima kasih!”
Kwee Ceng lekas-lekas berbangkit untuk membalas hormat. Hanya karena kata-kata si tukang kayu, ia heran, ia kata di dalam hatinya: “Kami memang tidak mengandung maksud buruk, mengapa mereka berempat mulanya tidak mempercayainya? Kenapa baru sekarang mereka percaya?”
Oey Yong melihat paras kawannya, ia tahu apa yang orang pikir, maka ia membisik.
“Jikalau kau memikir buruk, kau tentunya telah melukai mereka. Sekarang ini, sekalipun It Teng Supee bukanlah tandinganmu.”
Kwee Ceng pikir itu benar ia mengangguk.
Si pelajar berempat telah berkumpul pula di dalam kamar.
“Sebenarnya siapa itu musuh dari It Teng Supee?” Oey Yong tanya. “Apa itu yang disebut gelang kumala?”
“Menyesal,” menyahut si pelajar. “Bukannya kami tidak suka menjelaskan hanya sebenarnya kami sendiri tidak tahu duduknya hal. Apa yang kami tahu ialah suhu dan orang itu ada mempunyai kepentingan.” Oey Yong masih mau menanya ketika si petani berlompat bangun seraya berkata keras: “Ah, inilah berbahaya!”
“Bahaya apa?” tanya si tukang pancing.
Si petani menunjuk si pelajar, ia menyahuti: “Suhu sedang kehabisan tenaga, sekarang dia menutur segala apa, kalau kedua tetamu kita ini bermaksud tidak baik, kita sendiri tidak sanggup mencegahnya, apakah kau kira suhu masih dapat ditolongi?”
Mendengar kekhawatiran itu, si tukang kayu berkata: “Paduka conggoan pandai berpikir, mustahil hal ini dia tidak dapat memikirkannya? Kalau begitu, mana bisa dia menjadi perdana menteri dari negara Tali? Sebenarnya dia ketahui dari siang-siang bahwa kita bukan tandingannya tetapi dia toh bertindak juga, itulah ke satu untuk mencoba kepandaiannya kedua tetamu kita ini dan kedua untuk membikinnya kau percaya habis!”
Si pelajar bersenyum.
Si petani dan si tukang pancing mendelik kepada saudaranya, mereka kagum, separuhnya lagi menyesali.
Ketika itu terdengar tindakan kaki orang, lalu muncul seorang kacung pendeta, yang lantas memberi hormat seraya berkata: “Suhu menitahkan suheng berempat mengantarkan tetamu pulang.”
Atas itu semua orang berbangkit. Tapi Kwee Ceng segera berkata: “Supee lagi menghadapi musuh, mana dapat kita lantas berlalu dari sini? Bukankah siauwtee tidak tahu diri tetapi ingin aku bekerja sama suheng berempat untuk mengusir dulu musuh itu.”
Si tukang pancing berempat saling melirik, mereka memperlihatkan roman girang.
“Nanti aku pergi dulu menanyakan suhu,” kata si pelajar, yang lantas berlalu, diikutiketiga saudaranya. Tidak lama mereka kembali, kali ini lenyap roman mereka yang gembira. Si pelajar lantas berkata: “Suhu mengucap terima kasih atas kebaikan jiewi, tetapi suhu membilang juga, segala apa biar terserah kepada karma, biar orang berbuatnya sendiri-sendiri, dari itu orang luar tidak dapat campur tangan.”
Tapi Oey Yong memikir lain.
“Engko Ceng, mari kita bicara sendiri sama supee!” katanya.
Kwee Ceng menurut. Ketika mereka sampai di kamar It Teng Taysu, pintu kamar dikunci, percuma mereka mengetuk-ngetuk dan memanggil-manggil, tidak ada suara jawaban. Sebenarnya pintu itu bisa digempur tetapi mereka tidak berani berbuat demikian.
“Suhu tidak dapat menemui kamu pula, jiewi,” berkata si tukang kayu, yang airmukanya guram. “Karena gunung itu tinggi dan air panjang, baiklah lain kali kita bertemu pula.”
Oey Yong belum bilang apa-apa, atau Kwee Ceng mendapat satu pikiran, maka ia lantas berkata dengan nyaring: “Yongjie, mari kita pergi! Bukankah supee tidak sudi menemui kita? Sebentar di bawah gunung, supee mengasih ijin atau tidak, kalau kita ketemu orang dan orang itu banyak rewel, kita hajar padanya!”
Si nona yang cerdik lantas dapat menerka maksud engko Cengnya itu, ia pun menyahuti dengan nyaring: “Kau benar, engko Ceng! Umpama kata musuhnya supee sangat lihay dan kita mati di tangannya, kita puas, hitung-hitung kita sudah membalas budi supee!”
Dua-dua suara itu keras, pasti suara itu terdengar sampai di dalam, maka juga, ketika si muda mudi baru jalan beberapa tindak, mendadak daun pintu dipentang, lalu terdengar suara tajam dari seorang pendeta tua: “Taysu mengundang jiewi!”
Kwee Ceng girang sekali, bersama Oey Yong, ia jalan berendeng masuk ke dalam kamarnya It Teng Taysu. Di sana si pendeta, bersama si pendeta dari India, masih duduk bersila. Mereka lantas menghampirkan, untuk memberi hormat sambil berlutut.
Ketika kemudian mereka mengangkat kepala, mereka mendapatkan It Teng Taysu bermuka pucat kuning, beda daripada waktu semula mereka melihatnya. Mereka jadi bersyukur berbareng berduka, hingga mereka tidak tahu mesti membilang apa.
It Teng Taysu bersenyum.
“Semua masuk!” ia kata kepada empat muridnya, yang menanti di depan pintu. “Aku hendak bicara.”
Si pelajar berempat menghampirkan, lebih dulu mereka memberi hormat kepada guru mereka itu, juga kepada si pendeta India. Dia ini cuma mengangguk, lantas dia tunduk dan berdiam, kembali tidak memperdulikan semua orang.
It Teng Taysu mengawasi asap yang bergulung naik, tangannya membuat main sebuah gelang kumala. Oey Yong melihat itu, katanya dalam hatinya; “Terang itu ada gelang orang perempuan, entah apa maksudnya musuh supee bolehnya mengirimkan ini?”
Untuk beberapa detik, semua orang berdiam, kemudian baru terdengar It Teng Taysu menghela napas dan mengatakan: “Setiap hari dahar nasi, tetapi pernahkan memakannya sebutir beras?” Ia lantas menoleh kepada si muda-mudi, untuk melanjuti:
“Kamu berdua mulia hati, aku si pendeta tua menerima itu dengan baik, Mengenai urusan ini, jikalau aku tidak menjelaskan, aku khawatir murid-murid atau sahabat-sahabat dari kedua pihak nanti menerbitkan gelombang yang tak diingini. Itulah bukannya kehendakku. Tahukah kamu siapa sebenarnya aku ini?”
“Supee adalah kaisar dari Tali di Inlam,” menyahut Oey Yong. “Supee ada satu-satunya kaisar di Selatan yang kesohor sekali, siapakah yang tidak tahu?”
It Teng bersenyum.
“Kaisar palsu, pendeta juga palsu,” ia berkata. “Kau, nona kecil, kau pun palsu……”
Oey Yong tidak menginsyafi filsafat si pendeta, ia mengawasi saja.
It Teng berkata pula, dengan perlahan: “Negara Tali kami, semenjak Sri Baginda Sin Seng Bun Bu Tee Thaycouw membangun pemerintahan, ialah di tahun Teng-yoe, itulah lebih dulu duapuluh tiga tahun dari berdirinya kerajaan Song oleh Song Thay-couw Tio Kong In. Setelah tujuh turunan, kerajaan diturunkan kepada Baginda Peng Gie. Setelah empat tahun memerintah, Baginda Peng Gie mengundurkan diri dari kerajaan dan masuk menjadi pendeta. Tahta diserahkan pada keponakannya ialah Baginda Seng Tek. Kemudian tahta diturunkan terus kepada Baginda-bagina Hin Cong Hauw Tek, Poo Teng, Hian Cong Soan Jin serta ayahku, Keng Cong Ceng Kong. Semua Baginda itu telah menjadi pendeta juga. Dari Thay-couw sampai pada aku, delapanbelas turunan, ada tujuh raja yang mensucikan diri.”
Si tukang pancing berempat adalah orang Tali, mereka semua tahu hal ikhwalnya raja-raja mereka itu, cuma Kwee Ceng berdua Oey Yong yang heran, hingga mereka mau memikir, apa mungkin menjadi pendeta lebih senang daripada menjadi raja……
It Teng Taysu melanjuti keterangannya: “Kamu keluarga Toan kami, dengan berkah kebijaksanaan leluhur kami, telah berhasil menjadi sebuah keluarga kaisar di sebuah negara kecil di Selatan. Semua mereka merasa tanggung jawab itu besar, maka juga hati mereka tidak tenang, tidak berani mereka melakukan apa-apa yang melewati batas.
Biarnya begitu, siapa menjadi raja, bukankah dia dapat dahar tanpa meluku, dapat berpakai tanpa menenun? Bukankah kalau keluar dia naik kereta, dan kalau pulang memasuki istana? Bukankah semua itu asalnya dari keringatnya rakyat? Oleh karena itu semua, disaat usianya langsung, mereka menginsyafi capai lelah rakyatnya itu, mereka merasa menyesal, maka diakhirnya mereka telah menjadi pendeta……”
Selagi mengucap begitu, pendeta ini memandang ke luar, mulutnya memperlihatkan senyuman, tetapi pada alisnya, nampak roman kedukaannya. Maka itu, entahlah dia bergirang atau berduka.
Enam orang itu mendengar dengan terus berdiam.
It Teng Taysu mengangkat gelang kumalanya, ia masuki itu ke dalam jari telunjuk dari tangannya, ia putar itu beberapa kali. Kemudian ia meneruskan: “Aku sendiri, aku bukannya mengikuti kebiasaan leluhurku itu. Tentang aku, sebab-sebabnya ada sangkut pautnya dengan urusan rapat ilmu pedang di gunung Hoa San, ketika lima jago saling berebutan kitab. Ketika tahun itu Tiong Yang Ong Cinjin dari Coan Cin Kauw memperoleh kitab, di lain tahunnya dia datang sendiri ke Tali, dia mewariskan ilmu silat It Yang Cie padaku. Setengah tahun dia berdiam di dalam istanaku, merundingkan tentang ilmu silat. Kita cocok sekali satu dengan lain, adik seperguruannya, Ciu Pek Thong. Dia ini ternyata tidak betah duduk diam saja, dia lantas pergi putar kayun di seluruh istana. Diluar dugaan, dia telah menerbitkan peristiwa.”
Mendengar itu, Oey Yong kata di dalam hatinya: “Kalau Loo Boan Tong tidak menerbitkan gara-gara itu barunya namanya heran!”
It Teng Taysu menghela napas.
“Sebenarnya biang peristiwa adalah pada diriku sendiri,” ia berkata pula. “Aku adalah satu raja kecil, kerajaanku tidak dapat disamakan dengan kerajaan Song, meski begitu, aku mempunyai sedikit permaisuri dan selir. Ya, inilah dosa. Aku gemar ilmu silat, jarang aku mendekati orang perempuan, bahkan permaisuri, aku menemuinya beberapa hari sekali, maka itu bisa dimengerti, mana ada tempo akan menemui segala selir?”
Berkata sampai di situ, It Teng memandang keempat muridnya.
“Kamu tidak mengetahui tentang ini, sekarang biarlah kamu mendapat tahu juga,” ia menambahkan.
Mendengar ini, Oey Yong kata di dalam hatinya: “Benar-benar mereka tidak tahu, mereka jadinya tidak mendustakan aku.”
“Sekalian selirku melihat aku setiap hari berlatih silat, di antaranya ada yang ketarik hati dan minta diajarkan.” It Teng mulai pula. “Aku suka mengajari mereka. Aku pikir, pelajaran itu ada baiknya, untuk mereka menjadi bertambah sehat dan panjang umur. Di antaranya adalah Lauw Kui-hui, yang bakatnya paling baik. Selir ini, begitu diajari, begitu dia bisa. Dia masih muda, dia rajin belajar, dia memperoleh kemajuan pesat. Dasar mau terjadi urusan. Pada suatu hari dia tengah berlatih di taman dia terlihat Ciu Suheng. Ciu Suheng gemar silat, dia polos, dia tidak menghiraukan perbedaan di antara pria dan wanita, begitu melihat Lauw Kui-hui, dia mengajaknya main-main. Tentu sekali Lauw Kui-hui bukanlah tandingannya……”
Oey Yong terkejut.
“Tentulah Loo Boan Tong tidak mengenal kira dan dia melukai kui-hui……” katanya perlahan.
“Melukai, itulah tidak,” It Teng memberitahu. “Baru dua tiga jurus, dia telah menotok hingga kui-hui roboh, lantas dia menanya, kui-hui takluk atau tidak. Pasti sekali Lauw Kui-hui menyerah kalah. Ciu Suheng puas sekali, setelah menotok bebas kepada kui-hui, ia lantas bicara banyak tentang ilmu totok. Memangnya kui-hui sangat ketarik sama kepandaian itu, padaku ia telah minta diajari berulang-ulang. Coba kamu pikir, ilmu kepandaian semacam itu mana dapat diturunkan kepada kui-hui? Sekarang ada ketikanya, ia lantas minta Ciu Suheng mengajarinya.”
“Kalau begitu, niscaya Loo Boan Tong puas sekali,” kata si nona.
“Apakah kau kenal Ciu Suheng?” It Teng tanya.
“Kamilah sahabat-sahabat erat!” si nona menyahuti tertawa. “Dia pernah tinggal sepuluh tahun di Tho Hoa To, belum pernah dia pergi satu tindak juga!”
“Dia dapat berdiam begitu lama sedang sifat dia tak suka diam?”
“Sebab dia dipenjarakan ayah!” sahut si nona tertawa. “Baru yang belakangan ini dia dimerdekakan!”
It Teng mengangguk.
“Begitu?” katanya. “Apa sekarang dia baik?”
“Dia baik hanya tabiatnya makin tua makin jadi!”
It Teng bersenyum. Kembali ia meneruskan: “Sebenarnya ilmu totok itu tidak dapat diajari kecuali ayah dengan gadisnya, ibu dengan putranya dan suami istri. Biasanya guru lelaki tidak menurunkan kepada murid perempuannya dan guru perempuan tidak kepada murid laki-lakinya……”
“Kenapa begitu supee?”
“Itulah sebab lam lie siu siu put cin,” menjawab It Teng.
“Pria dan wanita, tidak dapat bersentuh tangan. Coba pikir tanpa meraba jalan darah di seluruh tubuh, mana bisa ilmu itu diajari sempurna?”
“Bukankah supee telah menotok sekujur tubuhku?” si nona tanya.
Si pengail dan petani sebal nona ini main potong cerita, mereka mengawasi nona itu dengan mata mendelik. Oey Yong melihat itu, ia balik mendeliki mereka, bahkan diamenegur: “Kenapa? Tak dapatkah aku bertanya?”
It Teng bersenyum.
“Dapat, dapat!” katanya lekas. “Kaulah satu bocah, jiwamu pun sangat perlu ditolong, kau mesti dipandang dari jurusan lain.”
“Baiklah. Bagaimana selanjutnya?”
“Selanjutnya yang satu mengajari, yang lain mempelajari,” It Teng melanjuti ceritanya itu. “Ciu Suheng sedang gagahnya, Lauw Kui-hui sedang mudanya, tubuh mereka beradu tak hentinya, hari ketemu hari, tanpa merasa, hati mereka berubah, hingga akhirnya mereka mengacau sampai tidak dapat diurus lagi……”
Oey Yong mau menanya atau mendadak ia mendapat menahan hatinya. Ia pun segera mendengar kelanjutannya cerita: “Lantas ada orang yang memberi laporan padaku. Sebenarnya aku mendongkol, tetapi aku masih memandang Ong Cinjin, aku berpura-pura pilon. Adalah belakangan, hal itu dapat diketahui juga oleh Ong Cinjin.”
“Urusan apakah sampai tak dapat diurus lagi?” tanya Oey Yong akhirnya. Ia polos, ia tidak menyangka jelek.
It Teng beragu-ragu sedikit. Rupanya sulit ia mencari kata-kata.
“Mereka itu bukan suami istri tetapi kenyataannya mereka mirip suami istri,” sahutnya kemudian.
“Ah, aku tahu sekarang!” berkata si nona. “Loo Boan Tong dan Lauw Kui-hui itukemudian melahirkan anak?”
“Itulah bukannya,” berkata It Teng. “Mereka baru berkenalan kira sepuluh hari lebih kurang, mana bias mereka mendapat anak? Ketika Ong Cinjin mendapat tahu itu, dia ringkus Ciu Suheng dan dihadapkan kepadaku, dia menyerahkannya untuk aku memberi hukuman. Kami kaum persilatan, kami menghargai kehormatan dan persahabatan lebih tinggi daripada urusan orang perempuan, maka aku lantas membebaskan Ciu Suheng, lantas aku memanggil Lauw Kui-hui, di situ aku menitahkan mereka menjadi suami istri. Ciu Suheng menampik, dia mengatakan dia tidak tahu bahwa itulah perbuatan salah, bahwa kalau ia tahu itu perbuatan tidak bagus, meski dibunuh juga tidak nanti dia melakukannya. Dia keras menolak menikah dengan Lauw Kui-bui. Ong Cinjin menjadi masgul sekali. Dia kata kalau dia memang tidak tahu Ciu Suheng itu manusia tolol dan tak tahu selatan, tentulah dia sudah membunuhnya.”
Oey Yong mengulur lidahnya keluar.
“Sungguh hebat Loo Boan Tong, dia menghadapi bahaya!” katanya.
“Penampikannya itu membuat aku mendongkol,” berkata It Teng, yang meneruskan ceritanya. “Dengan tandas aku kata padanya: ‘Ciu suheng, dengan ikhlas aku menyerahkan kui-hui padamu! Apakah kau menyangka aku mengandung maksud lain?
Bukankah semenjak dulu ada dibilang, saudara ialah tangan dan kaki dan istri itu pakaian? Apakah artinya seorang perempuan?”
“Eh, eh, supee, kau memandang enteng wanita!” Oey Yong memotong. “Kata-kata supee mirip sama ngaco belo!”
Si petani menjadi gusar.
“Tak dapatkah kau tidak memotong?” dia tanya bengis.
“Supee omong tidak tepat, itulah mesti dibantah!” berkata si nona membelar.
Keempat murid itu melongo. Bagaimana mereka menghormati guru mereka, maka bagaimana “kurang ajarnya” bocah wanita ini.
It Teng sabar luar biasa, dia tidak menggusari si nona. Dia meneruskan perkataannya: “Mendengar perkataanku itu, Ciu Suheng menggeleng kepala. Maka aku menjadi bertambah gusar. Aku kata padanya: ‘Jikalau kau mencintai dia, kenapa sekarang kau menampik? Jikalau kau memang tidak mencintai, kenapa kau lakukan perbuatanmu itu? Negeriku memang negeri kecil, tetapi tidak nanti aku mengijinkan kau menghina kami!’ Mendengar itu, Ciu Suheng menjublak sekian lama, akhirnya dia menjatuhkan diri berlutut di depanku, mengangguk beberapa kali lalu berkata; ‘Toan Hongya, aku salah! Aku pergi sekarang!’ Aku tidak menyangka akan putusannya ini, aku tercengang karenanya. Dia lantas mengeluarkan sehelai sapu tangan sutra dari sakunya, dia berikan itu kepada Lauw Kui-hui seraya berkata: ‘Ini aku pulangi padamu!’
Kui-hui tahu orang bersusah hati, ia tertawa sedih. Ia tidak menyambuti sapu tangan itu, maka sapu tangan itu jatuh di dekat kakiku. Ciu Suheng tidak membilang apa-apa lagi, dia terus berlalu. Sejak itu sudah berselang sepuluh tahun lebih, tentang dia aku tidak mendengar apa-apa lagi. Ong Cinjin menghaturkan maaf berulang-ulang kepadaku, habis itu ia pun berlalu, sampai kemudian aku mendengarnya ia telah meninggal dunia.
Ia berhati mulia tidak ada tandingannya, saying……”
“Di dalam ilmu silat, mungkin Ong Cinjin lebih lihay daripada kau, supee,” berkata si nona. “Tetapi bicara tentang hati mulia, dia tidak bisa melawan supee sendiri. Habis bagaimana dengan sapu tangan sulam itu?”
Si pelajar berempat tidak puas si nona mengingat selalu sapu tangan itu. Tapi guru mereka berbicara terus: “Aku melihat Lauw Kui-hui menjublak saja, seperti yang ditinggalkan arwahnya, aku jadi mendongkol. Aku menjumput sapu tangan itu. Di situ aku menampak sulaman sepasang burung wanyoh memain di air. Hm, tidak salah lagi, itulah barang Lauw Kui-hui untuk kekasihnya. Aku tertawa dingin. Lantas aku membalik sapu tangan itu. Kiranya di situ ada sebaris syairnya……”
Oey Yong sangat tertarik hingga ia lantas menanya: “Apakah itu berbunyi…… ‘Empat buah perkakas tenun…… maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan……”
Si petani habis sabar, dia membentak: “Kami sendiri tidak tahu, bagaimana kau ketahui itu? Ha, kau ngaco saja, kau main potong tak hentinya!”
Tetapi It Teng sendiri tidak gusar, ia menghela napas. “Benar begitu,” sahutnya. “Kau juga ketahui itu?”

Bab 64
Mendengar suara guru mereka, keempat murid itu tercengang.
Kwee Ceng berlompat seraya berseru: “Aku ingat sekarang! Ketika malam itu Oey Tocu meniup seruling, Ciu Toako tak kuat menahan hatinya, kemudian aku mendengar dia membacakan syairnya itu. Ialah: ‘Empat buah perkakas tenun…… maka tenunan burung wanyoh bakal terbang perpasangan…… sayang, belum lagi tua, tetapi kepala sudah putih…… Gelombang musim semi, rumput hijau, dimusim dingin, di dalam tempat tersembunyi, saling berhadapan baju merah……” Ia menepuk paha kanannya, ia kata pula: “Tidak salah! Ketika itu aku heran sekali. Di dalam segala-gala, Ciu Toako lebih menang daripada aku tetapi selagi aku tidak terganggu serulingnya Oey Tocu, ia sendiri kelabakan, tak kuat ia mempertahankan diri, tidak tahunya dia dapat mengingat peristiwa lama itu hingga pemusatan pikirannya menjadi kacau. Pantaslah dia mencaci orang perempuan! Kau tahu, Yong-jie, dia sampai menasihati aku untuk aku jangan baik dengan kau……”
“Hm, Loo Boan Tong!” kata si nona mendongkol. “Lihat kalau nanti aku bertemu padanya, akan aku jewer kupingnya!” Mendadak ia tertawa dan menambahkan: “Ketika di Lim-an aku telah menggodai dia, aku telah mengatakan tidak ada wanita yang akansudi menikah padanya, agaknya dia mendongkol, rupanya itu pun disebabkan peristiwa itu.”
“Maka ketika aku mendengar Eng Kouw membacakan itu, aku seperti telah pernah mendengarnya,” kata pula Kwee Ceng, “Hanya itu waktu, biar bagaimana aku memikirkannya, tidak juga aku ingat. Eh, Yong-jie, mengapa Eng Kouw pun mengetahui syair itu?”
Ditanya begitu, si nona menghela napas.
“Karena Eng Kouw ialah Kui-hui,” sahutnya.
Di antara si tukang pancing berempat, adalah si pelajar yang sudah menduga lima atau enam bagian, maka juga tiga yang lainnya menjadi heran, semua mengawasi guru mereka.
“Kau sangat pintar, Nona,” kata It Teng Taysu dengan perlahan, “Tidak kecewa kau menjadi putrinya saudara Yok. Lauw Kui-hui itu mempunyai nama kecil, ialah Eng. Aku pun mulanya tidak mengetahui itu. Itu waktu aku telah melemparkan sapu tangan kepadanya, lantas aku tidak melihat pula padanya. Karena aku berduka sekali, aku tidak memperdulikan lagi urusan negara, aku menungkuli diri dengan setiap hari melatih ilmu silat.”
“Supee, itu waktu di dalam hatimu kau sangat mencinta dia,” kata Oey Yong. “Kau tapinya tidak mengetahui. Kalau tidak, tidak nanti kau menjadi tidak gembira……”
“Nona!” berkata si pelajar berempat. Mereka ini tidak senang nona ini berani bicara demikian macam terhadap guru mereka.
“Apa? Apakah aku salah omong?” Oey Yong balik menanya. “Supee, salahkah aku?” Air mukanya It Teng Taysu suram. Ia berkata: “Selama itu lebih dari setengah tahun
tidak pernah aku panggil Lauw Kui-hui datang menghadap, akan tetapi di dalam impian, sering aku bertemu dengannya. Demikian pada suatu malam, habis memimpikan dia, tidak dapat aku melawan niat hatiku, aku mengambil putusan untuk melihat padanya.
Aku tidak memberitahukan niatku kepada thaykam atau dayang, aku pergi sendirian dengan diam-diam. Aku ingin menyaksikan apa yang dia kerjakan. Ketika aku tiba di wuwungan kamarnya, aku mendengar suara anak kecil menangis keluar dari kamarnya itu. Ah……! Malam itu salju turun banyak dan angin pun dingin sekali, tetapi di atas genting itu aku berdiri lama sekali, sampai fajar, barulah aku turun dan kembali ke kamarku. Habis itu aku mendapat sakit berat.”
Oey Yong heran. Seorang raja, dan di tengah malam buta rata, untuk selirnya, telah mesti menyiksa diri secara begitu.
Sekarang barulah keempat murid itu ketahui kenapa guru mereka - ketika itu ialah junjungan mereka - yang tubuhnya demikian tangguh, telah mendapat sakit yang berat itu.
“Lauw Kui-hui telah mendapat anak, tidakkah itu bagus?” Oey Yong tanya pula.
“Supee, kenapa kau tidak menjadi gembira?””Anak tolol, anak itu ialah anaknya Ciu Suheng.”
“Ciu Suheng pun telah pergi sedari siang-siang, apakah dia telah datang pula secara diam-diam menemui kui-hui?”
“Tidak. Apakah kau belum pernah dengar orang menyebutnya kandungan sepuluh bulan?”
Si nona itu agaknya sadar.
“Ah, aku mengerti sekarang!” katanya. “Pasti anak itu terlahir mirip Loo Boan Tong, kupingnya lebar dan hidungnya mancung, kalau tidak, mana kau ketahui dialah anaknya Loo Boan Tong!”
“Itulah bukannya. Sudah satu tahun lebih aku tidak mendekati kui-hui, maka itu anak itu pasti bukan anakku.”
Oey Yong berdiam, urusan itu gelap untuknya.
“Aku jatuh sakit hingga setengah tahun lebih,” kata It Teng kemudian, “Setelah sembuh, aku tidak suka memikirkan pula urusan itu. Kemudian lewat dua tahun lebih, pada suatu malam, selagi aku bersemedhi di dalam kamarku, mendadak Lauw Kui-hui datang, dia menyingkap gorden dan nerobos masuk, Thaykam dan dua siewi yang menjaga di luar pintu mencegah, tetapi mereka kena dihajar. Ketika aku menoleh, aku melihat kui-hui menggendong anaknya itu. Aku mendapatkan dia bermuka pucat, dengan lantas dia bertekuk lutut di depanku dan menangis menggerung-gerung, sambil mengangguk-angguk, dia kata: ‘Aku mohon belas kasihan hongya, supaya anak ini dikasih ampun. ‘”
“Aku berbangkit, akan melihat anak itu. Dia bermuka merah, napasnya memburu.
Ketika aku menggendong dan memeriksa, aku mendapatkan tulang iganya patah lima biji. Kui-hui masih menangis, ia kata: ‘Hongya aku bersalah, aku harus mati, tetapi aku mohon anak ini diberi ampun.’ Aku tanya, anak itu kenapa. Dia mengangguk-angguk terus, dia tidak menjawab aku hanya tetap mohon aku mengampuni anaknya itu. ‘Mohon hongya mengampuni dia,’ katanya ketika aku menanya pula, hingga aku menjadi heran sekali. ‘Kalau hongya menghendaki kematianku, aku tidak penasaran hanya ini anak, ini anak……’”
“‘Siapa yang menghadiahkan kematian padamu?!’ Aku tanya pula. Sebenarnya kenapa anak ini terluka?”
“Kui-hui mengangkat kepalanya, ia mengawasi aku. ‘Apakah bukan hongya yang menitahkan siewi untuk menghajar mati anak ini?’ Dia tanya. Aku menjadi heran. Mesti ada apa-apa pada kejadian itu. ‘Jadi dia dilukai oleh siewi?’ Aku tanya. ‘Budak yang mana yang begitu bernyali besar?’ Dia terkejut. ‘Oh, jadi bukannya hongya yang menitahkan? Kalau begitu, anak ini bakal ketolongan……!’ Habis berkata begitu dia pingsan.”
“Aku heran sekali, aku pun merasa kasihan melihat keadaannya kui-hui itu. Aku mengangkat dia bangun, direbahkan di pembaringan. Selang sekian lama, baru dia sadar. Dia lantas menangis, sembari dia menuturkan duduknya kejadian. Katanya, dia lagi menepuk-nepuk anaknya untuk ditiduri, mendadak dari luar jendela berlompat masuk satu orang, ialah satu siewi yang mukanya bertopeng, anaknya lantas dirampas dan diangkat, dihajar punggungnya. Kui-hui kaget, dia mencegah. Siewi itu menolak kui-hui, lagi sekali dia menghajar anak itu, kemudian dia tertawa dan berlompat pergi. Kui-hui tidak mengejar, ke satu siewi itu kosen sekali, kedua dia menyangka siewi itu diperintah olehku. Itulah sebabnya kui-hui lantas membawa anaknya itu datang padaku, untuk minta ampun. Aku menjadi semakin heran. Aku memeriksa teliti anak itu, aku tidak mendapat tahu dia terlukakan pukulan ilmu silat apa. Aku mendapatkan ada otot anak itu yang putus. Aku lantas pergi ke kamar kui-hui, untuk melakukan pemeriksaan, sebab aku percaya si penjahat bukan sembarang orang. Kemudian di atas genteng aku melihat tapak kaki. Aku lantas kata pada kui-hui: ‘Penjahat itu lihay sekali, terutama ilmunya enteng tubuh. Di dalam negeri Tali ini, kecuali aku, tidak ada orang yang kedua yang lihay sebagai dia.’ Kui-hui menjadi kaget, ia berkata; ‘Mustahilkah dia? Perlu apa dia membinasakan anaknya sendiri?’ Berkata begitu, mukanya menjadi pucat seperti muka mayat.”
Oey Yong terkejut.
“Tidak nanti Loo Boan Tong berbuat demikian……” katanya perlahan.
“Ketika itu aku justru menduga pada Ciu Suheng,” berkata It Teng Taysu, “Kecuali dia, tidak ada orang yang segagah dia. Aku pun menduga, mungkin dia berbuat begitu sebab dia tidak sudi mempunyai anak itu, yang bakal membikin dia malu. Ketika kui-hui mendengar dugaanku itu, ia malu dan cemas, ia kaget. Mendadak ia kata: ‘Tidak, pasti bukan dianya! Suara tertawanya orang itu bukan suara tertawanya.’ Aku berkata: ‘Kau sedang kaget dan ketakutan, mungkin kau kurang jelas?’ Tapi ia berkeras, ia kata:
‘Suara tertawanya orang itu aku akan ingat buat selama-lamanya, meski aku menjadi setan, tidak nanti aku lupa! Bukan, bukannya dia!’”
Mendengar itu, semua orang menggigil sendirinya tanpa merasa.
Kwee Ceng dan Oey Yong lantas membayangi roman Eng Kouw ketika si nyonya mengertak gigi.
“Mendengar perkataannya kui-hui, aku jadi percaya,” It Teng bercerita pula. “Hanya aku tidak bisa menerka si penjahat. Dia begitu kosen, kenapa dia hendak membinasakan seorang anak kecil? Aku sampai menduga-duga kepada murid-muridnya Cinjin umpama Ma Giok, Khu Cie Kee dan lainnya. Mungkin mereka hendak melindungi nama baik partai mereka maka mereka melakukan perjalanan jauh guna melakukan pembunuhan itu……”
Kwee Ceng hendak membuka mulutnya atau ia mengurungkan itu. Ia tidak seberani Oey Yong, yang tak takut memotong pembicaraan orang suci itu.
“Kau hendak membilang apa?” It Teng Taysu menanya kapan ia melihat orang batal bicara.
“Ma Totiang, Khu Totiang dan lainnya itu adalah orang-orang suci dan gagah, tidak nanti mereka melakukan perbuatan serendah itu,” Kwee Ceng bilang.
“Ong Cie It itu pernah aku menemuinya di Hoa San, dia memang seorang laki-laki,”
kata It Teng, “Tentang yang lainnya, aku tidak tahu. Memang, kalau benar mereka, dengan satu hajaran saja mereka dapat membinasakan anak itu, maka kenapa mereka menghajar hanya setengah mati?”
Sembari bicara, pendeta ini sembari berpikir. Sudah belasan tahun, ia masih belum dapat memecahkan keragu-raguannya itu. Ruang itu menjadi sunyi sekali.
“Baiklah, nanti aku menuturkan terus,” katanya kemudian.
Tiba-tiba Oey Yong berlompat.
“Tidak salah lagi, dia pastilah Auwyang Hong!” katanya.
“Belakangan aku juga pernah menduga dia,” kata It Teng, “Hanya kemudian aku berpikir juga, mustahil dia yang berada jauh di wilayah Barat, sedang dia juga bertubuh tinggi dan besar. Menurut kui-hui, si orang jahat ada terlebih kate dan kecil dari kebanyakan orang.”
“Benar-benar heran,” kata si nona.
“Ketika itu aku sangsi memikirkan anak itu,” It Teng berkata pula. “Dia terlukakan tak lebih hebat daripada lukamu, nona, hanya dia masih kecil sekali, tubuhnya sangat lemah, maka untuk mengobati dia, aku mesti mengorbankan tenaga dalamku. Aku jadi bersangsi sebab aku tahu, di dalam rapat yang kedua di gunung Hoa San nanti, pastiaku tidak dapat turut mengambil bagian. Beberapa kali aku hendak menampik, aku gagal. Aku gagal. Aku kasihan melihat Kui-hui, yang menangis saja. Ah, benarlah kata Ong Cinjin bahwa kitab itu bisa mendatangkan kegaduhan dan mencelakai banyak orang. Buktinya aku sendiri, karena memikirkan kitab itu, aku menjadi lain dari biasanya.
Lama aku berpikir, baru aku mengambil keputusan untuk mengobati anak itu. Selama aku berpikir itu, aku merasa akulah seorang hina dina mirip dengan binatang. Aku pun masih tidak dapat mengubah kelakuanku meskipun aku sudah mengambil keputusan itu, aku menganggapnya aku menolong lantaran tidak bisa menolak permohonan sangat dari Lauw Kui-hui.”
“Supee, aku membilang kau sangat mencinta dia, sedikit pun kau tidak salah,” berkata Oey Yong.
It Teng seperti tidak mendengar perkataan si nona, dia berkata terus: “Ketika Kui-hui mendengar jawabanku, dia girang sampai dia pingsan. Lehih dulu aku uruti dia, untuk menyadarkannya, baru aku menolongi anaknya itu. Aku menguruti bocah itu dengan Sian Thian Kang. Ketika aku membuka otonya, aku terkejut. Oto itu memakai sulaman sepasang burung wanyoh serta syairnya itu. Oto itu terbuat dari sapu tangan yang Ciu Suheng dulu hari melemparkannya kepadanya. Selagi aku terbengong, kui-hui rupanya melihat sikapku itu. Maka ia mengertak gigi, ia mengeluarkan pisau belati, yang ia tujukan ke dadanya. Ia kata, ‘Hongya, aku tidak ingin hidup pula di dunia, maka itu aku memohon belas kasihanmu, kau tolongilah anak ini. Aku menukar dia dengan jiwaku, nanti di lain dunia, aku akan menjadi anjing dan kuda guna membalas budimu ini.’
Lantas ia menikam dadanya.”
Semua orang terkejut, meski mereka tahu Lauw Kui-hui toh masih hidup. Itulah sebab hebatnya suasana yang diciptakan penuturannya It Teng Taysu. Pendeta ini bercerita terus, tapi sekarang ia seperti berbicara seorang diri. Ia kata: “Segera aku mencegah perbuatan Kui-hui dengan merampas pisau belatinya itu. Aku berlaku cepat tetapi toh dadanya tergores juga sedikit hingga dia mengucurkan darah. Karena aku khawatir dia nanti mencoba membunuh diri lagi, aku totok jalan darah di tangan dan kakinya hingga dia tidak dapat bergerak. Habis membalut lukanya, aku kasih di duduk di kursi, untukberistirahat. Dia tidak membilang apa-apa, dia cuma mengawasi aku, matanya menunjuki kedukaannya yang sangat. Aku pun berdiam saja. Maka di situ Cuma terdengar suara napasnya si anak kecil, napas yang mendesak. Mendengar napas bocah itu, aku jadi ingat segala kejadian yang telah berlalu. Aku ingat bagaimana mulanya dia masuk ke istana, bagaimana aku mengajari dia silat. Aku menyayangi padanya dan dia selalu menghormati aku, dia agak jeri, dengan teliti dia merawat aku, belum pernah dia membantah, hanya bahwa dia tidak pernah mencintai aku, inilah aku tidak tahu, baru aku menginsyafinya setelah datang itu hari yang dia jatuh hati kepada CiuSuheng. Demikian sifatnya kalau seorang wanita mencintai seorang pria. Dia bengong mengawasi sapu tangannya itu, dia bengong mengawasi Ciu Suheng berlalu untuk selamanya. Sinar matanya itu membuat aku tidak tentram tidur dan tidak bernapsu dahar. Sekarang aku melihat pula sinar matanya itu, sekarang disaat dari hancurnya hatinya pula. Cuma sekarang bukan untuk kekasihnya, hanya untuk anaknya.”
It Teng berdiam sejenak.
“Seorang laki-laki diperhina demikian, tidak dapat apapula aku seorang raja! Maka itu, mengingat demikian, hatiku menjadi panas. Dengan tiba-tiba aku menendang bangku gadis di depanku hingga bangku itu rusak. Ketika kemudian aku menoleh pada kui-hui, aku terkejut, aku melengak. ‘Eh, rambut…… rambutmu itu kenapa?’ Aku tanya dia. Dia seperti tidak mendengar perkataanku, dia terus mengawasi anaknya. Dulu-dulu aku tidak mengerti orang mempunyai sinar mata demikian itu, sekarang baru aku menginsyafinya. Berapa besar dia harus dikasihani. Dia rupanya telah mengerti yang aku tidak sudi menolongi anaknya itu, maka selama dia masih hidup, ingin dia memandang anaknya itu, makin lama makin baik. Aku mengambil kaca, aku bawa itu kepadanya. ‘Lihat rambutmu,’ aku kata padanya. Dalam tempo yang sangat pendek itu, dia seperti menjadi lebih tua beberapa puluh tahun, sedang dia sebenarnya baru berumur sembilan belas tahun. Disebabkan kaget, takut, berduka, menyesal,
penasaran, putus harapan, mendadak ramhutnya itu berubah menjadi uban!”
“Dia tidak memperhatikan sedikit juga roman atau rambutnya itu. Dia menyangka aku pakai kaca untuk menghalangi dia mengawasi anaknya itu. Dia kata padaku, ‘Angkat kaca itu.’ Dia bicara tegas sekali, dia seperti lupa akulah raja ialah junjungannya. Aku menjadi heran. Aku tahu dia biasanya sangat menyayangi paras mukanya. Aku menyingkirkan kaca, maka terus dia mengawasi anaknya itu. Ah, kalau dia ada seribu arwahnya, tentulah dia serahkan semua itu kepada anaknya, asal anaknya itu hidup.
Aku mengerti bagaimana perasaannya itu. Dia ingin mati untuk anaknya itu.”
Kwee Ceng dan Oey Yong saling mengawasi. Di dalam hatinya, mereka saling mengatakan: “Kalau aku pun menampak kesukaran seperti itu, apakah kau juga dapat mengawasi aku demikian rupa?” Tanpa merasa mereka saling menyodorkan tangan,untuk saling memegang erat-erat, hati mereka berdenyutan, tubuh mereka dirasai hangat.
“Sebenarnya aku merasa tidak tega,” It Teng kemudian melanjuti ceritanya, “Aku berniat menolongi anak itu, apa mau, sapu tangan itu tetap berada di dadanya. Itulah sulaman sepasang burung wanyoh, yang saling menyenderkan leher mereka.
Kepalanya burung itu putih. Itulah lambang untuk hidup bersama hingga di hari tua.
Maka kenapakah, sebelum tua tetapi rambut sudah putih terlebih dulu? Maka melihat rambut putihnya itu, dengan sendirinya aku mengeluarkan keringat dingin. Mendadak hatiku menjadi keras hati. Aku kata padanya: ‘Baiklah, kamu boleh menjadi tua bersama, biarlah aku bersia-sia sendiri di istana sunyi ini tetap sebagai kaisar! Dialah anak kamu berdua, kenapa aku mesti mengorbankan diri untuk menolong menghidupi dia?’ Dia memandang aku. Itulah pandangannya yang terakhir. Pada mata itu tertampak sinar kedukaan, penasaran, permusuhan. Semenjak itu, dia tidak pernah melihat aku lagi.
Sebaliknya aku, tidak dapat melupakan sinar mata itu. Dia kata dengan dingin. ‘Kau lepaskan aku, aku hendak menggendong anakku!’ Perkataannya itu mirip firman, membuatnya orang susah membantahnya. Maka aku membebaskan dia dari totokan.
Dia menggendong anaknya itu. Anak itu pasti terluka parah hingga tidak dapat ia menangis, mukanya bersinar gelap, matanya mengawasi ibunya, mungkin ia minta ditolongi. Aku sendiri sejenak itu, aku tidak mempunyai rasa kasihan sedikit juga. Aku hanya melihat, rambut hitamnya berubah menjadi putih. Mungkin itulah perasaan belaka. Lalu aku mendengar dia berkata halus pada anaknya: ‘Anak, ibumu tidak mempunyai kepandaian untuk menolongi kau, ibumu tidak dapat membiarkan kau tersiksa lebih lama, maka, anak kau tidurlah biar nyenyak…… Tidur, anak tidur, untuk selama-lamanya jangan kau mendusin pula!’ Aku mendengar dia bernyanyi perlahan, menyanyikan lagu mengeloni anak tidur. Sedap nyanyiannya itu…… Ya, begini, nah kau dengarlah!”
Orang heran. Si pendeta mengatakan demikian tetapi di situ tidak ada terdengar suara nyanyian. Mereka saling mengawasi, mereka terkejut.
“Suhu!” kata si pelajar. “Kau telah bicara terlalu banyak, kau lelah, baiklah kau beristirahat.”
It Teng seperti tidak mendengar. Dia berkata pula: “Anak itu bersenyum. Hanya sejenak, saking sakitnya, dia bergelisah. Lantas ibunya berkata pula padanya halus sekali: ‘Jantung hatiku, kau tidurlah, nanti lenyap semua rasa sakitmu, sedikit juga tidak sakit lagi……’ Sekonyong-konyong terdengar suara menumblas dan pisau belati telahnancap di dadanya!”
Oey Yong kaget hingga ia menjerit, kedua tangannya memeluk lengannya Kwee Ceng.
Si pelajar berempat pun kaget tidak terhingga, muka mereka menjadi pucat.
Hebat penuturannya It Teng itu, yang sebaliknya berbicara terus: “Aku kaget, aku terhuyung, terus aku jatuh ke lantai. Dalam keadaan lapat-lapat aku tidak tahu memikir apa. Aku banya ingat dia berbangkit dengan perlahan-lahan, dengan perlahan dia kata:
‘Akhirnya akan ada satu hari yang aku, dengan pisau belatiku ini, nanti menumblas ulu hatimu.’ Dia menunjuk pada gelang kumala di tangannya, dia kata pula: ‘Inilah gelang yang di hari aku masuk ke istana kau memberikan kepadaku. Kau tunggu saja, di itu hari yang gelang kumala ini aku kembalikan padamu, maka itu hari juga pisau belati ini akan turut datang.’”
Sambil berkata begitu, It Teng putar gelang itu di jari tangannya. Ia bersenyum.
“Inilah gelang kumala itu,” katanya. “Aku telah menantikan belasan tahun ini hari tibalah harinya itu!”
“Supee, dia membunuh sendiri anaknya, ada apa sangkutannya itu dengan kau?”
Oey Yong tanya. “Pula dia telah mencelakai kau dengan racun, maka meskipun ada permusuhan dulu hari itu, bukankah itu sudah impas? Biarlah, sebentar di kaki gunung, akan kami menyuruh dia pergi, supaya dia jangan datang mengganggu pula……”
Tepat selagi si nona berkata itu, satu kacung hweeshio datang masuk.
“Suhu,” katanya, “Dari kaki gunung ada lagi yang mengantarkan ini……”
Dengan kedua tangannya, kacung itu menyerahkan sebuah bungkusan kecil.
It Teng menyambuti, untuk terus dibuka. Untuk kagetnya semua orang, hingga mereka berseru, itulah sehelai oto bersulamkan burung wanyoh, sulaman burungnya hidup sekali, cuma suteranya sudah berubah kuning. Di antara kedua ekor burung itu ada satu liang bekas tusukan pisau, di samping liang ada bagian yang hitam, sisa darah.
It Teng meletaki oto itu di lantai, ia bengong mengawasi. Sekian lama ia berdiam, romannya berduka, lalu dia berkata: “Inilah sulaman burung wanyoh yang mau terbang berpasangan. Hm, mau terbang berpasangan, tetapi akhirnya menjadi impian belaka.
Dia menggendong anaknya, dia berlompat keluar jendela, sembari berlalu dia tertawa keras dan lama. Setibanya di luar, dia lompat naik ke atas genting, sekejap saja dia lenyap. Aku menjadi tidak dahar dan tidak minum, tiga hari tiga malam aku memikirkannya. Diakhirnya aku sadar, maka itu, aku mewariskan mahkota kepada anakku yang sulung, aku sendiri lantas masuk menjadi pendeta.” Dia menunjuk empat muridnya, akan menambahkan: “Mereka ini lama telah mengikuti aku, mereka tidak suka berpisahan, maka mereka turut aku pergi ke Inlam Barat, ke kuil Liong Coan Sie.
Mulanya selama tiga tahun pertama, mereka membantu putraku memerintah. Mereka membantu dengan bergiliran. Kemudian, setelah putraku sudah mengerti tugasnya, dan justru telah terjadi itu peristiwa di Tay Soat San di mana Auwyang Hong melukai muridku ini, kita lantas pindah ke mari. Sejak itu kita tidak kembali ke Tali. Hatiku keras, aku tidak suka menolong anak itu, maka itu selanjutnya, sampai belasan tahun hingga sekarang ini, siang dan malam, aku merasa hatiku tidak tenang. Aku memikir untuk lebih banyak menolongi orang, guna menebus dosaku yang besar itu. Mereka ini tidak mengetahui kesengsaraan hatiku, mereka selalu mencegah. Ah, taruh kata aku dapat menolong selaksa jiwa, anak itu toh tetap mati. Kalau bukan aku membayarnya dengan jiwaku sendiri, mana dosa itu dapat ditebus? Maka setiap hari aku menanti-nanti kabar dari Eng Kouw, menanti dia membawa pisau belatinya untuk menumblas dadaku. Aku tadinya berkhawatir dia tak keburu datang, nanti aku mati terlebih dulu, kalau begitu, hebat untukku. Tapi bagus, sekarang temponya telah tiba, harapanku bakal terkabul.
Ah, sebenarnya, buat apa dia menaruh racun di dalam obat Kiu Hoa Giok Louw Wan?
Kalau aku tahu, dia bakal segera datang, tak usah suteeku menolongi aku menyingkirkan racun itu.”
Oey Yong tapinya tidak senang.
“Perempuan itu jahat!” ia kata sengit. “Rupanya dia telah ketahui tempat kediaman supee ini, karena khawatir tidak bisa melawan, dia menantikan ketikanya yang baik, maka kebetulan sekali aku terlukakan Khiu Cian Jin, dia sambar ketika ini dia pakai aku sebagai perkakas. Pantas dia menunjuki aku tempat supee. Dia rupanya memikir untuklebih dulu membikin habis tenaga supee, baru dia mau turun tangan sendiri. Akumenyesal yang diriku kena dipermainkan dia! Supee, kenapa gambarnya Auwyang Hong itu bisa berada di tangannya? Ada apa hubungannya dia dengan gambar itu?”
It Teng mengambil sebuah kitab dari atas mejanya dan membalik lembarannya. Ia berkata. “Gambar ini mempunyai lelakon seperti ini. Di sebuah kota di India ada seorang raja yang sujud. Pada suatu hari seekor burung dara terbang kepadanya meminta perlindungan. Burung dara itu dikejar seekor elang. Burung ini meminta burung dara itu, katanya, kalau tidak, dia bakal mati kelaparan. Sulit untuk raja itu, sebab menolong yang satu berarti mencelakai yang lain. Maka akhirnya ia mengambil pisau dan memotong dagingnya sendiri. Si burung elang meminta daging raja yang sama beratnya seperti burung dara itu, maka daging itu ditimbang. Kenyataannya burung dara itu berat luar biasa, daging raja tidak cukup kendati ia sudah memotong seluruh anggota tubuhnya.
Ketika raja menimbangkan tubuhnya juga, maka bergoyanglah bumi, langit bergembira, bidadari-bidadari menyebar bunga, harumlah semua jalan, maka juga naga langit dan setan-setan yang berada di udara pada menghela napas dan berkata: ‘Siancay, siancay.
Kegagahan sebagai ini, sungguh belum pernah ada!’”
Itulah dongeng tetapi demikian rupa It Teng menuturnya, semua orang jadi tergerak hatinya.
“Sekarang aku mengerti, supee,” berkata Oey Yong. “Dia khawatir supee tidak suka menolong mengobati aku, dia sengaja menunjuki gambar itu untuk membikin hati supee tertarik.”
“Benar begitu,” kata It Teng bersenyum. “Ketika dulu hari itu dia meninggalkan Tali, tentu hatinya gusar dan penasaran, tentu dia mencari orang gagah, entah bagaimana, dia bertemu sama Auwyang Hong. Pasti Auwyang Hong mengetahui maksud orang maka ia menolong melukis gambar itu. Kitab ini tersiar luas di Wilayah Barat danAuwyang Hong adalah orang sana, tentu dia mengetahuinya dengan baik.”
“Sungguh jahat!” kata Oey Yong sengit. “Si bisa bangkotan menggunai Eng Kouw dan Eng Kouw menggunai aku, ini dia akal jahat meminjam golok membunuh lain orang!”
“Jangan kau gusar,” berkata It Teng menghela napas. “Umpama kata dia tidak bertemu sama kau, mesti dia akan melukakan orang, yang dia menyuruhnya datang ke mari meminta aku menolonginya. Cumalah, siapa tidak mempunyai kepandaian, tidak dapat dia datang ke mari. Sudah lama Auwyang Hong melukis gambar ini, maka itu rencananya pasti telah diatur semenjak sepuluh tahun yang lampau. Bukankah ini pun semacam jodoh?”
“Benar, supee. Tapi ia masih mempunyai satu maksud lain, yang lebih penting daripada urusannya dengan supee ini.”
It Teng heran. “Apakah itu?” ia tanya.
“Loo Boan Tong kena dikurung ayahku di Tho Hoa To, dia hendak pergi menolongi,” si nona menerangkan. Ia menerangkan bagaimana Eng Kouw mencoba mempelajari
Kie-bun-sut, supaya bisa memasuki Tho Hoa To. Kemudian ia menambahkan;
“Kemudian Eng Kouw ketahui, ia belajar lagi seratus tahun juga tidak nanti ia dapat melawan ayahku, maka justru ia melihat aku terluka, lantas ia……”
Mendengar itu It Teng tertawa panjang, lalu ia berbangkit.
“Sudah, sudah!” katanya. “Segala apa terjadi secara kebetulan, maka sekarang
tentulah dia puas!” Ia berpaling kepada empat muridnya, untuk memerintah: “Pergi kamu menyambut dengan baik pada Lauw Kui-hui! Eh, bukan! Kamu menyambut Eng Kouw, kau ajak dia datang kemari. Sedikit juga kamu tidak boleh berlaku tidak hormat kepadanya.”
Tanpa berjanji, keempat murid itu menekuk lutut mendekam akan menangismenggerung-gerung. “Suhu!” kata mereka.
It Teng Taysu menghela napas. Ia kata: “Kamu telah mengikuti aku untuk banyak tahun, mungkinkah kamu masih belum tahu hati gurumu?” Ia menoleh kepada Kwee Ceng dan Oey Yong, untuk mengatakan; “Aku hendak meminta sesuatu kepada kamu.”
“Titahkan saja, supee,” menyahut si anak muda.
“Bagus!” kata pendeta itu, “Sekarang pergilah kamu turun gunung. Seumurku, aku banyak berhutang kepada Eng Kouw, maka itu kalau di belakang hari dia menemui sesuatu bahaya, aku minta dengan memandang aku si pendeta tua, haraplah kamu membantui dia secara sungguh-sungguh. Umpama kata kamu dapat merangkap jodoh dia dengan jodoh Ciu Suheng, aku akan lebih-lebih lagi bersyukur.”
Dua muda-mudi itu tercengang, mereka saling mengawasi. Bukankah Eng Kouw datang untuk menuntut balas? Dengan perbuatannya ini, bukan saja It Teng menutup pintu bagi siapa yang hendak menuntut balas untuknya, dia pula mau membalas kejahatan dengan kebaikan.
Menampak dua orang itu berdiam, It Teng bertanya; “Apakah permintaanku si pendeta tua ini sulit untuk kamu menjawabnya?”
Oey Yong masih bersangsi tetapi ia menjawab: “Kalau supee minta begitu, baiklah, kami menerima baik.” Ia lantas menarik ujung baju Kwee Ceng, untuk diajak sama-sama memberi hormat, guna meminta diri.
“Kamu tak usah bertemu muka sama Eng Kouw,” It Teng kata pula. “Maka pergilah kamu turun dari gunung belakang.”
Oey Yong menyahuti, ia tarik Kwee Ceng untuk diajak pergi.
Keempat murid itu melihat wajah si nona tenang saja, diam-diam mereka mencaci nona itu tidak berbudi, sebab mereka anggap nona itu tidak memikirkan keselamatannya orang yang telah menolongi dia.
Kwee Ceng mengikuti tanpa bicara. Ia tidak percaya Oey Yong demikian tidakberbudi. Ia percaya si nona ada punya maksud lain. Ketika mereka sampai di mulut pintu, si nona lantas berbisik padanya, atas mana ia mengangguk-angguk, terus ia bertindak kembali, tindakannya perlahan.
It Teng berkata pada pemuda itu; “Kau jujur dan setia, di belakang hari kau pasti akan berhasil melakukan sesuatu yang besar. Maka itu, urusan Eng Kouw pun aku perserahkan padamu.”
Kwee Ceng menyahuti baik, akan tetapi berbareng dengan itu, dengan mendadak sekali, dengan kesebatannya yang luar biasa, ia menyambar lengannya si pendeta bangsa India di sisi It Teng Taysu, menyusul mana tangan kiri menotok dua jalan darah hoa-kay dan thian-cu dari pendeta itu, hingga si pendeta tak dapat berkutik dalam detik itu juga.
Kejadian ini membikin si pelajar berempat menjadi sangat kaget dan heran.
“He, kau bikin apa?” mereka menegur.
Tindakannya Kwee Ceng belum selesai. Ia tidak memberikan penyahutan kepada empat orang itu, sebaliknya tangan kirinya lantas menyambar ke pundaknya It Teng Taysu.
Menampak sambaran itu, It Teng menggeraki tangan kanannya, gesit luar biasa, ia menyambut tangan kiri si anak muda, untuk ditangkap.
Kwee Ceng menjadi kaget dan heran. Ia tidak menyangka pendeta itu masih bisa menghindarkan diri dari sambarannya. Itulah kepandaian dahsyat, yang ia baru pernah menyaksikannya. Hanya ia mendapat kenyataan, ketika kedua tangan saling membentur, tenaganya si pendeta lemah sekali, maka ia lantas memutar tangannya untuk membalas menangkap. Berbareng dengan itu, dengan tangan kanannya, Kwee Ceng menggunai jurus “Naga sakti menggoyang ekor”, guna memukul mundur si pengail dan si tukang kayu, yang menyerang ia dari samping. Sebab kedua murid pendeta itu, dalam kagetnya, sudah lantas menerjang, untuk menolongi guru mereka.
Mereka ini cuma bisa maju satu kali saja, lantas mereka dibikin tidak berdaya. Si anak muda meneruskan menotok dua jalan darah mereka, hong-bwee dan ceng-ciok.
Ketika itu Oey Yong juga sudah turun tangan. Dengan tongkatnya ia mendesak mundur si petani sampai di muka pintu.
Si pelajar menjadi kelabakan.
“Berhenti, berhenti!” ia berseru berulang-ulang. “Mari kita bicara dulu!”
Si petani menjadi seperti kalap, dia berkelahi nekat sekali, hendak dia merangsak, akan tetapi dia dirintangi tongkat kaum Pengemis, saban-saban kena dipaksa mundur pula.
Kwee Ceng sekarang menerjang keluar dari kamar suci, dia paksa memukul mundur kepada si pengail, si tukang kayu dan si pelajar juga, hingga mereka ini terpaksa mundur setindak demi setindak.
Oey Yong dalam melayani si petani telah menotok ke arah alis lawannya itu. Petani itu terkejut, dia berteriak, dengan terpaksa dia berkelit sambil berlenggak sambil berlompat juga.
“Bagus!” berseru si nona selagi orang mundur, lalu dengan sebat ia menutup pintu.
Sekarang ia tertawa haha-hihi dan mengatakan: “Tuan-tuan, tahan, hendak aku bicara!”
Si tukang kayu dan si tukang pancing telah menangkis serangannya Kwee Ceng, mereka merasakan tangan mereka sakit, mereka terhuyung mundur beberapa tindak, meski begitu, ketika si anak muda maju, mereka pun maju pula dengan berbareng, guna melawan terus. Di dalam keadaan seperti itu, mereka tidak kenal takut.
Kwee Ceng telah mendengar suara kawannya, ia berhenti untuk melayani terlebih jauh, cepat-cepat ia menarik pulang tangannya, sembari memberi hormat, ia kata;
“Maaf! Maaf!”
Keempat murid It Teng menjadi heran dan melengak karenanya.
Oey Yong segera berkata; “Kami telah menerima budi guru kamu, budi yang besar sekali, sekarang guru kamu berada dalam bahaya cara bagaimana kami bisa berpeluk tangan menonton saja? Maafkan perbuatan kami ini ada berhubung sama maksud kami untuk memberi pertolongan.”
Si pelajar menjura.
“Musuh majikan kami itu ialah majikan kami juga,” ia berkata. “Di antara kita orang ada tingkat tinggi dan rendah, karena itu, kalau majikan kami yang wanita itu datang ke mari, kami tidak berani turun tangan terhadapnya. Juga guru kami, karena kematiannya sang putra selama belasan tahun, tidak tentram hatinya, maka itu kalau sebentar Lauw Kui-hui datang, jangan kata memangnya telah lenyap kepandaiannya, walaupun ia masih gagah, ia tentu bakal mandah dibunuh Lauw Kui-hui. Maka hal itu sangat menyulitkan kami, kami tidak berdaya. Dari itu nona, jikalau kamu bisa menunjuki jalan keluar kepada kami, meski tubuh kami hancur lebur, tidak nanti kami melupakan budimu yang besar itu.”
Melihat orang bicara demikian sungguh-sungguh, Oey Yong tidak mau bergurau pula.
“Kami mulanya mengharap bantuannya si orang India yang menjadi paman guru kamu,” ia berkata, “Kami tidak menyangka, dia sebenarnya tidak mengerti ilmu silat, karena itu sekarang aku mesti menukar siasat. Tindakan ini luar biasa, besar bahayanya. Umpama kata kita berhasil, di belakang hari tidak bakal ada ancaman bahaya lagi, Eng Kouw sangat licin, kepandaiannya juga tinggi, dari itu aku masih berkhawatir. Aku bodoh, aku tidak dapat memikir lain jalan lagi……”
Si pelajar berempat mengawasi.
“Ingin kami mendengar keterangan nona,” kata si pelajar.
Oey Yong menggeraki alisnya yang bagus, terus ia memberikan keterangannya, mendengar mana, keempat muridnya It Teng saling mengawasi, hingga sekian lama mereka tidak dapat membuka suara.

Ketika sang lohor tiba, dengan perlahan-lahan, sang Batara Surya turun ke belakang gunung. Tinggal angin gunung, yang masih meniup-niup, membuatnya bergoyang-goyang pepohonan di depan kuil. Juga daun-daun kering di pengempang mengasih dengar suaranya yang halus. Tinggallah sinar layung, yang membuatnya puncak gunung berbayang, rebah bagaikan satu raksasa……
Si tukang pancing berempat duduk bersila di ujungnya jembatan batu, mata mereka diarahkan ke ujung lain dari jembatan itu. Hati mereka masing-masing tidak tentram.
Lama mereka menanti, sampai sang magrib tiba. Beberapa ekor gagak terbang dengan suaranya yang berisik, terbang pergi ke selat gunung.
Masih di ujung jembatan sana tak nampak siapa juga.
“Mudah-mudahan Lauw Kui-hui mengubah pikirannya,” berkata si tukang pancing di dalam hatinya. “Di dalam hal ini, suhu tidak dapat dipersalahkan. Biarlah dia tak datang untuk selama-lamanya……”
“Lauw Kui-hui sangat cerdik, tentulah ia sekarang lagi memikirkan akal muslihatnya,” si tukang kayu berpikir lain.
Si petani adalah yang paling tak sabaran.
“Biarlah dia datang lebih siang, supaya urusan pun beres lebih siang!” pikirnya. “Biar bahaya biar rejeki, biar baik biar jahat, biarlah lekas ada keputusannya! Dikatakan datang, dia tidak datang, apa itu tidak membikin orang bergelisah?”
Si pelajar sebaliknya pikir; “Makin lambat dia datang, makin berbahaya ancaman bencananya. Sebenarnya soal sulit sekali……”
Sebetulnya pelajar ini pintar dan pandai berpikir, belasan tahun dia menjadi perdana menteri negara Tali, pernah dia menghadapi banyak perkara besar dan peperangan juga, tetapi belum pernah dia menghadapi saat tegang sebagai ini. Maka dia jadi berpikir keras, apapula ketika itu, cuaca jadi semakin gelap, di tempat jauh di sana, tak nampak suatu apa, kecuali suara yang menyeramkan dari si burung malam, si kokok beluk atau burung hantu. Tidak heran kalau kemudian dia ingat kepada dongeng semasa ia kecil.
“Si kucing malam bersembunyi di tempat gelap, dia mencuri alisnya beberapa orang, alis yang dapat dia menghitungnya dengan tepat, maka umur dia itu tak menanti sampai fajar……”
Dengan si kucing malam dimaksudkan si burung hantu. Dan cerita itu dongeng belaka, akan tetapi karena teringatnya di waktu sore, dalam suasana seperti itu, mau atau tidak, bulu roma menjadi terbangun sendirinya. Hebat pengaruhnya suara si burung hantu itu……
“Mungkinkah suhu tidak bakal lobos dari takdirnya ini, dan ia mesti mati di tangannya seorang wanita?” si pelajar berpikir.
“Nah, dia datang ‘tu!” mendadak terdengar suara si tukang kayu, suaranya perlahan dan bergemetar.
Benar saja, di atas jembatan, terlihat berkelebatnya satu tubuh manusia. Tiba di bagian liang atau ceglokan, dengan pesat bayangan itu berlompat. Dia begitu gesit hingga si pelajar berempat menjadi heran, hingga mereka berpikir: “Ketika dia belajarsilat pada suhu, kita sudah mewariskan kepandaian suhu, kenapa sekarang dia menjadi terlebih lihay daripadaku? Selama belasan tahun ini, di mana ia meyakinkan ilmu silatnya itu?”
Selagi orang itu mendatangi bagaikan bayangan, si pelajar berempat lantas bangun untuk berdiri, segera mereka memecah diri ke kedua sisi.
Cepat sekali orang itu telah tiba. Dia mengenakan pakaian hitam, cuaca pun gelap, tetapi dia dapat lantas dikenal. Memang dialah Lauw Kui-hui, selir yang dicintai Toan Hongya. Maka lantas mereka itu memberi hormat sambil mengucapkan: “Siauwjin menghadap Nio-nio!”
Mereka menyebut diri: “siauwjin”, hamba yang rendah dan memanggil nyonya itu dengan Nio-nio, sebutan mulia untuk seorang permaisuri.
“Hm!” Eng Kouw mengasih dengar suaranya, sedang matanya menyapu empat orang itu.
“Apakah Nio-nio itu?” katanya bengis. “Lauw kui-hui sudah lama mati! Aku ialah Eng Kouw. Hai, yang mulia Perdana Menteri, yang mulia Jenderal Besar, yang mula Laksamana dan Pemimpin dari Pasukan Gielimkun, kiranya kamu semua ada di sini!
Aku menyangka Sri Baginda benar-benar sudah melupai dunia, dia menjadi pendeta, siapa tahu dia justru bersembunyi di sini, dia tetap masih menjadi kaisar yang berbahagia!”
Hati empat orang itu berdenyutan. Suara kui-hui sangat tak enak terdengarnya.
“Sekarang ini Sri baginda bukan lagi seperti Sri Baginda dulu hari,” berkata si pelajar, si bekas perdana menteri yang mulia itu, “Kalau Nio-nio melihat padanya, pasti Nio-nio tidak bakal mengenalinya.”
“Hai, masih kamu menyebut Nio-nio!” membentak Eng Kouw, “Apakah kamu hendak mengejek aku? Apa perlunya kamu hendak memberi hormat padaku sampai aku mati?”
Keempat orang itu saling melirik, lantas mereka bangun berdiri.
“Hambamu yang rendah mengharap kesehatan Nio-nio,” kata mereka.
Eng Kouw mengangkat tangannya.
“Hongya menitahkan kamu memegat aku, perlu apa ini segala macam adat istiadat?” katanya. “Jikalau kamu hendak turun tangan, lekas kamu menggeraki tangan kamu!
Kamu raja dan menteri setahulah kamu telah mencelakai berapa banyak rakyat negeri, maka terhadap aku, seorang wanita, perlu apa kamu masih berpura-pura?”
“Raja kami mencintai rakyatnya seperti dia mencintai anaknya sendiri,” berkata si pelajar, “Dia sangat bijaksana dan mulia hatinya, jangan kata mencelakai orang yang tidak bersalah dosa, sekalipun seorang penjahat besar, dia masih menyayanginya!
Mustahilkab Nio-nio tidak ketahui itu?”
Muka Eng Kouw menjadi merah.
“Beranikah kamu main gila terhadap aku?” dia menanya bengis.
“Hambamu tidak berani……”
“Kamu menyebut hambamu, sebenarnya di antara kita mana ada lagi raja dan menterinya?” kata Eng Kouw. “Sekarang aku hendak menemui Toan Tie Hin, kamu hendak memberi jalan atau tidak?”
Toan Tie Hin itu ialah namanya Toan Hongya alias It Teng Taysu. Si pelajar berempat mengetahui itu tetapi mereka tidak pernah berani menyebut itu, maka itu terkesiap hati mereka akan mendengar Eng Kouw menyebutnya seenaknya saja.
Si petani yang asalnya adalah komandan Gielimkun, pasukan raja, menjadi habis sabar. Dia kata dengan keras; “Siapa satu hari pernah menjadi raja, dia agung seumur hidupnya, maka mengapa kau mengucap kata-kata tidak karuan?”
Eng Kouw tertawa panjang, tanpa membilang suatu apa, ia berlompat maju.
Keempat orang itu mengulur tangan mereka, untuk memegat. Mereka pikir:
“Meskipun dia libay, mustahil kita tidak dapat merintangi dia? Biarnya kita melanggar titah Sri Baginda, karena terpaksa, kita tidak bisa berbuat lain……”
Eng Kouw tidak menggunai kedua tangannya, baik untuk mendorong mereka dapat atau untuk meninju, dia maju terus, bersedia akan membenturkan tubuhnya kepada mereka itu!
Si tukang kayu terkejut. Tentu sekali ia tidak berani membiarkan tubuhnya ditubruk, itu artinya mereka saling membentur tubuh. Maka ia berkelit ke samping, sebelah tangannya diulur, guna menyambar ke pundak si nyonya, bekas junjungannya itu. Ia menyambar dengan cepat, ia juga menggunai tenaga, akan tetapi ketika tangannya mengenai sasarannya, ia heran. Ia menjambak sesuatu yang lunak dan licin, ia gagal mencekuk si nyonya.
Justru itu si petani dan tukang pancing, sambil berseru, menyerang dari kiri dan kanan!
Eng Kouw tidak menangkis, ia hanya berkelit. Ia mendak, lalu ia molos bagaikan ular licin di bawahan tangan kedua penyerangnya itu. Berbareng dengan itu, si tukang pancing mendapat cium bau yang harum sekali, hingga ia terkejut, hingga lekas-lekas ia menggeser incarannya, khawatir nanti mengenai tubuh nyonya itu.
“Bagaimana he?” membentak si petani, gusar. Dengan sepuluh jarinya yang kuat, ia menyambar ke pinggang selir raja itu.
“Jangan kurang ajar!” membentak si tukang kayu.
Si petani tidak menghiraukan bentakan itu, ia meluncurkan terus tangannya, hingga ia mengenakan sasarannya, hanya untuk herannya, ia membentur sesuatu yang licin, hingga ia tidak dapat mencengkeram!
Demikian dengan ilmu lindungnya, Eng Kouw meloloskan diri dari rintangannya tiga bekas menterinya itu, maka sekarang tahulah ia mereka tidak dapat mencegah padanya. Karena ini, ia lantas membalas, sebelah tangannya melayang kepada si petani.
Melihat demikian, si pelajar menyerang dengan totokannya, ke lengan bekas selir itu, tetapi ini junjungan wanita tidak memperdulikannya, bahkan dia juga mengeluarkan jari tangannya, memapaki totokan itu, hingga tangan mereka bentrok seketika.
Bukan main kagetnya si pelajar, hingga dia berseru. Bentrokan itu membikin dia merasa sangat sakit, tubuhnya pun lantas roboh terbanting.
Si tukang kayu dan si tukang pancing berlompat, guna menolongi kawannya itu.
Si petani dengan kepalannya, menyerang Lauw Kui-hui, untuk merintangi nyonya itu nanti menyusuli serangannya kepada kawannya yang roboh itu. Tangannya ini keras bagaikan besi.
Eng Kouw hendak menguji kepandaiannya yang ia ciptakan sendiri selama hidup menyendiri di rawa lumpur hitam, ia tidak menyingkir dari serangan itu. Sikapnya ini membikin kaget penyerangnya. Karena si petani pikir, kalau ia mengenakan sasarannya, tentulah hancur lebur batok kepalanya kui-hui itu. Ia lantas menarik pulang, tetapi dengan begitu kepalannya itu mengarah juga hidung Eng Kouw!
Nyonya itu berkelit dengan cepat, kepalan lewat di depan hidungnya, mengenakan pipi si nyonya. Justru ia terkejut, justru tangannya dapat kena ditangkap. Ia kaget dan berontak, atau lantas ia merasakan tangannya sakit, sebab tangan itu kena dibikin patah! Ia mengertak gigi, tanpa menghiraukan tangan patah itu, dengan tangan kanannya, ia segera menotok ke ceglokan sikut.
Si pelajar berempat telah mendapat pelajaran baik dari guru mereka, meski belum mereka mewariskan ilmu silat It Yang Cie, buat di dunia kangouw, sudah jarang tandingan mereka, maka mereka tidak menyangka pada diri Eng Kouw mereka seperti membentur batu. Tentu sekali, saking kerasnya niatnya menuntut balas, si nyonya pun mempelajari senjata rahasia yang berupa jarum emas. Ia mengambil dasar dari gerakan menyulam. Telunjuk kanannya dipakaikan gelang seperti cincin emas, pada cincin itu ada tiga batang jarumnya yang dipakaikan racun. Demikian sambil tertawa dingin, ia menyambut si petani.
Bagaikan orang yang menusuki diri pada jarum, demikian si petani. Begitu tangannya ketusuk, begitu ia menjerit, begitu juga tubuhnya roboh seperti si pelajar tadi!
“Hm, paduka congkoan!” Eng Kouw tertawa dingin. Ia lantas nerobos maju.
“Nio-nio, tahan!” berseru si tukang pancing.
Eng Kouw memutar tubuhnya. “Kau mau apa?” ia menanya dingin.
Sekarang si nyonya sudah tiba di depan pengempang. Pengempang itu dipisahkan dengan rumah suci dengan sebuah jembatan batu yang kecil dan ia sudah berada di kepala jembatan. Ia mengawasi dengan roman dan sinar mata bengis, di dalam gelap, sinar matanya itu nampak nyata. Maka terkejutlah si tukang pancing melihat sinar mata itu, hingga ia tidak berani menerjang.
“Yang mulia perdana menteri dan yang mulia congkoan berdua telah terkena jarumku. Cit Ciat Ciam, maka di kolong langit ini sudah tidak ada orang yang dapat menolong mereka!” kata Eng Kouw dingin. Habis berkata begitu, ia memutar pula tubuhnya, tanpa menanti jawaban, ia berjalan maju, perlahan tindakannya, tidak ia berpaling pula. Nyata ia tidak khawatir yang orang nanti menyerang dengan membokong kepadanya.
Jembatan batu yang kecil itu cuma seperjalanan kira duapuluh tindak, ketika si nyonya hampir sampai di ujung penghabisan, di sana dari tempat yang gelap muncul satu orang, muncul secara tiba-tiba, hanya dia segera memberi hormat seraya berkata:
“Adakah cianpwee baik-baik saja?”
Eng Kouw terkejut. Ia berkata di dalam hatinya: “Ini orang muncul secara tiba-tiba begini! Kenapa aku tidak mengetahui dari siang-siang? Jikalau dia menurunkan tangan jahat, pastilah aku telah terbinasa atau sedikitnya terluka……”
Maka ia lantas mengawasi. Ia melihat seorang dengan tubuh tinggi dan dada lebar, alisnya gompiok, matanya besar. Ia pun lantas mengenali Kwee Ceng, si anak muda yang ia berikan petunjuk untuk datang ke gunung ini.
“Apakah lukanya si nona kecil sudah sembuh?” ia menanya.
“Terima kasih untuk petunjuk cianpwee,” menyahut si anak muda sambil menjura.
“Lukanya sumoayku syukur telah diobati sembuh oleh It Teng Taysu.”
“Hm! Kenapa dia tidak datang sendiri menghaturkan terima kasih padaku?” Eng Kouw tanya, sembari berkata, ia bertindak maju.
Kwee Ceng berdiri di ujung jembatan, ia tahu orang hendak menerobos tak perduli ia bakal terbentur.
“Cianpwee, silahkan kembali!” ia berkata cepat.
Eng Kouw tidak menghiraukannya, ia maju terus. Bahkan dengan menggunai Nie-ciu-kang, ilmu silat “Lindung”, ia nerobos ke samping kiri si anak muda.
Kwee Ceng pernah menempur nyonya ini di rawa lumpur hitam, di rumah si nyonya, ia tidak menyangka orang ada selicin demikian, dalam heran dan kagetnya itu, ia berlompat, lantas ia menyerang dengan tangan kirinya, yang dilancarkan ke belakang.
Ia telah menggunai ilmu silat Kong Beng Kun ajarannya Ciu Pek Thong.
Eng Kouw sudah melewati si anak muda ketika ia terkejut atas berkesiurnya angin kepalan, halus tetapi keras. Untuk menolong diri seharusnya ia mundur pula, akan tetapi ia telah berkeputusan pasti, untuknya ada maju tidak ada mundur, maka juga, ia tahu apa yang ia mesti lakukan.
“Hati-hati!” Kwee Ceng berteriak. Atau mendadak ia merasakan ada tubuh wanita yang halus yang menubruk lengannya, selagi ia kaget, kakinya telah kena digaet si nyonya, hingga tidak ampun lagi, keduanya jatuh ke arah pengempang.
Selagi tubuhnya belum jatuh ke air, tangan kiri Eng Kouw dilewatkan di bawahan ketiak kanan Kwee Ceng, diangkat ke atas, ke belakang leher, terus ke pundak kiri si anak muda, untuk dipakai mencekek tenggorokan anak muda itu, untuk itu ia menggunakan dua jerijinya jempol dan tengah. Inilah ilmu silat “Siauw-kim-na” atau “Tangkapan kecil” jurus “Memencet tenggorokan menutup napas”. Kalau orang kena terpencet, ia bisa lantas putus napasnya.
Kwee Ceng merasakan gerakan tangan orang itu, ia terperanjat. Ia tahu yang ia terancam bahaya. Dengan lantas ia membela diri. Ia juga menggeraki tangan kanannya ke arah lehernya si nyonya, hanya ia bukan mengarah tenggorokan hanya belakang leher, sebab ia menggunai tipu serupa untuk bagian belakang, sedang Eng Kouw untuk bagian depan.
Eng Kouw lantas merasa akan gerakannya pihak lawan. Ia pun tahu lihaynya pencetan itu, maka ia berdaya untuk menghindarkannya.
Jembatan itu tidak tinggi, jaraknya ke muka air dekat sekali, meski begitu, sebelum tubuh dua orang itu tercebur, mereka sudah saling menyerang atau membela diri.
Diakhirnya, “Byur!” maka keduanya jatuh ke air!
Empang itu dalam kira dua kaki, di situ ada lumpurnya, maka setelah berada di dalam pengempang, keduanya kerendam air sebatas dada.
Eng Kouw licik sekali. Dengan tangan kiri ia merogoh ke dalam air, ia mengambil lumpur, dengan itu ia lantas menghajar mukanya si anak muda.
Kwee Ceng terkejut, ia berkelit.
Di dalam bergerak di lumpur, itulah keistimewaannya si nyonya. Sudah belasan tahun ia berlatih di rawa lumpur, maka juga tubuhnya dapat bergerak dengan lincah sekali, mirip dengan lindung. Kalau di darat dia licin, di air terlebih lagi. Ini juga sebabnya ia berhasil menubruk si anak muda, untuk mereka kecebur bersama. Ia percaya, dengan bertempur di air, dapat ia melewati anak muda ini.
Di dalam air, Kwee Ceng kalah gesit. Rugi untuknya, ia juga tidak berani menyerang melukai nyonya itu. Karena ia cuma bertujuan merintangi si nyonya. Maka lekas juga ia terdesak. Berulang-ulang ia diserang dengan lumpur, hingga ia selalu mesti main berkelit. Akhirnya ia gelagapan, ketika ada juga lumpur yang menimpa mukanya sebelum ia sempat berkelit, ia cuma bisa menutup matanya. Sambil membela diri dengan sebelah tangan, dengan tangan yang lain ia singkirkan tanah basah itu. Ia telah diajari Kanglam Liok Koay, kalau terkena senjata rahasia, jangan sekali kehilangan ketabahan, kalau kita gugup atau bingung, leluasa musuh mengulangi serangannya.
Maka itu, ia membela diri sambil menyerang beruntun tiga kali.
Eng Kouw yang pintar menyingkir dari setiap serangan itu, ia berlompat naik ke darat, dari itu ketika kemudian Kwee Ceng sudah bisa membuka matanya, ia tengah lari menuju ke dalam kuil. Di dalam hatinya ia kata: “Sungguh hebat! Kalau tidak ada pengempang, tidak nanti aku dapat mengundurkan bocah tolol itu. Rupanya Thian ada besertaku, supaya aku berhasil menuntut balas……”
Segera juga ia sampai di depan pintu. Ia mengajukan sebelah tangannya, akan menolak daun pintu.
“Blak!” demikian satu suara nyaring dan pintu terbuka dengan gampang. Ia menjadi terkejut bahna herannya. Tentu sekali ia berkhawatir nanti ada musuh bersembunyi, maka ia tidak lantas maju terus untuk masuk, ia hanya berdiri diam sambil memasang mata.
Kuil itu sunyi senyap. Karena itu baru ia bertindak masuk.
Di pendopo ada api pelita, menyorotkan roman agung dari patung sang Buddha yang dipuja di situ. Ia lantas berlutut memberi hormatnya, ia memuji agar ia dibantu melaksanakan pembalasannya. Tengah ia memuji, tiba-tiba ia mendengar suara tertawa perlahan dan geli di sebelah belakangnya. Ia terkejut. Segera ia bersiap membela diri, ialah dengan tangan kiri ia menyampok ke belakang, dengan tangan kanan ia menekan tikar untuk berlompat bangun sambil memutar tubuhnya.
“Bagus!” ia mendengar pula satu suara, kali ini pujian untuk lompatannya yang lincah itu. Ia mengenali suaranya seorang nona. Ketika ia sudah mengawasi - karena ia pun tidak diserang - segera ia melihat tegas siapa nona itu, ialah Oey Yong!
Nona Oey mengenakan baju hijau dengan ikat pinggang merah, gelang rambutnya yang terbuat dari emas berkeredep berkilauan. Pada wajahnya yang cantik terlihat senyuman manis. Sedang tangannya mencekal Lek-tiok-thung, tongkat keramat dari Kay Pang, Partai Pengemis.

Bab 65
“Eng Kouw, lebih dahulu aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih untuk pertolonganmu!” si nona lantas berkata.
Tapi si nyonya terus terang: “Aku memberi petunjuk kepadamu untuk kau datang berobat kemari, maksudku yang utama bukan untuk menolongi kau, hanya untuk mencelakai orang. Buat apa kau mengucap terima kasih padaku?”
Nona Oey menghela napas.
“Di dalam dunia ini, budi dan permusuhan sangat sukar dijelaskannya,” katanya.
“Ayahku di Tho Hoa To telah memenjarakan Loo Boan Tong Ciu Pek Thong limabelas tahun lamanya sampai diakhirnya, dia tetap tidak sanggup menolongi jiwanya ibuku……”
Mendengar disebutnya nama Pek Thong, tubuh Eng Kouw bergidik.
“Ada apakah hubungannya di antara ibumu dan Ciu Peng Thong?” ia menanya bengis.
Oey Yong cerdik sekali. Segera ia menduga, Eng Kouw tentu mencurigai ada hubungan asmara di antara ibunya dan Loo Boan Tong. Nada suara nyonya ini tegas menyatakan itu. Tapi ini pun bukti bahwa setelah berselang belasan tahun, kui-hui ini masih tidak melupakan Pek Thong, bahkan dia menjadi jelus terhadap orang lain. Tapi orang menanyakan tentang ibunya. Ia lantas tunduk dan air matanya mengucur turun.
“Ibuku telah dibikin letih Ciu Pek Thong hingga ia meninggal dunia,” sahutnya.
Eng Kouw menjadi bertambah curiga. Ia mengawasi tajam nona di depannya, hingga ia melihat kulit muka orang yang putih dan halus, matanya yang indah dan alis bagus bagaikan dilukis. Ia merasa, meskipun dulu, semasa ia muda dan sedang cantiknya, tidak dapat ia melawan nona ini. Maka kalau dia ini sama dengan ibunya, sama cantiknya, siapa berani tanggung Ciu Pek Thong tidak jatuh hati terhadap ibu si nona ini? Maka ia mengerutkan alis.
Oey Yong berkata pula: “Jangan kau memikir yang tidak-tidak! Ibuku ada seorang bagaikan bidadari, sedang Ciu Pek Thong itu buruk bagaikan kerbau nakal! Kecuali orang yang ada matanya tanpa bijinya, tidak nanti ada yang menaruh hati pada si nakal itu!”
Eng Kouw tahu ia dimaki berdepan, tetapi toh kata-kata si nona melenyapkan kecurigaannya, maka berbareng dengan itu, lenyap juga kejelusannya. Tapi ia mempunyai tabiatnya sendiri, ia tetap berlaku dingin. Ia kata: “Karena ada orang yang mencintai Kwee Ceng yang tolol seperti babi, mesti ada orang yang mencintai juga orang yang buruk dan nakal seperti kerbau! Kenapa ibumu itu dibikin mati letih oleh Loo Boan Tong?”
“Kau mencaci sukoku, aku tidak suka bicara denganmu!” sahut Oey Yong, yang menunjuki tak senang hatinya. Ia lantas memutar tubuh, dengan lagaknya orang bergusar.
“Baiklah,” kata Eng Kouw cepat. “Lain kali aku tidak mengatakan dia lagi.”
Oey Yong menghentikan tindakannya, ia memutar tubuh.
“Loo Boan Tong juga bukannya sengaja membikin mati ibuku,” ia berkata, “Adalah ibuku yang tidak beruntung, yang telah meninggal dunia disebabkan gara-gara dia.
Karena murkanya di satu saat, ayahku telah mengurung dia di Tho Hoa To. Diakhirnya, sia-sia saja tidak ada hasilnya dan ayah menjadi menyesal karenanya. Ada dibilang, penasaran ada sebabnya, utang ada piutangnya. Ada sebabnya utang piutangnya.
Siapa membinasakan orang yang kau cintai, kau harus cari di ujung langit atau di pangkal laut, untuk membalaskan sakit hati, tetapi memindahkan hawa amarah kepada lain orang, apa perlunya itu?”
Mendengar itu Eng Kouw berdiri menjublak. Ia seperti merasa kepalanya dikemplang dengan tongkat.
“Maka itu ayahku telah memerdekakan Loo Boan Tong……” Oey Yong berkata pula.
Eng Kouw terkejut.
“Jadi aku tidak perlu menolongi lagi padanya?” tanyanya. Agaknya dia lantas lega hatinya.
Semenjak meninggalkan Tali, Eng Kouw sudah lantas pergi mencari Ciu Pek Thong.
Untuk beberapa tahun, sia-sia belaka usahanya itu. Kemudian dari mulutnya Hek Hong Siang Sat, dengan tidak disengaja, ia mendengar halnya Pek Thong dikurung Oey Yok Su di Tho Hoa To, tentang sebabnya, ia tidak berhasil memperoleh keterangan. Ia girang berbareng berduka mendapat kabar halnya Pek Thong itu. Ia girang sebab ia sekarang ketahui di mana adanya si kekasih, hanya ia berduka sebab sulit untuk pergi menemui dan menolongi dia itu. Ia pernah mencoba memasuki Tho Hoa To. Di situ, jangan kata menolongi orang, ia sendiri bersengsara tiga hari tiga malam, hampir ia mati kelaparan. Setelah lolos dari Tho Hoa To, barulah ia berdiam di rawa lumpur hitamnya itu, untuk meyakinkan ilmu gaib, maksudnya supaya dapat memasuki Tho Hoa To itu.
Sekarang, mendapat tahu Pek Thong sudah bebas, rupa-rupa perasaan memenuhkan otaknya.
“Loo Boan Tong paling mendengar kata terhadapku,” kata pula Oey Yong, sekarang sambil tertawa manis. “Apa juga yang aku bilang, belum pernah dia berani bantah.
Jikalau kau ingin menemui dia, mari ikut aku turun gunung, aku nanti menolongi kamu merangkap jodoh. Dengan begitu juga aku jadi bisa membalas budimu sudah menolongi aku.”
Perkataan itu membikin muka Eng Kouw menjadi merah dan hatinya berdebaran.
Oey Yong mengawasi nyonya itu, hatinya lega. Ia percaya yang ia bakal berhasil membujuki si nyonya, hingga bahaya menjadi lenyap untuk It Teng Taysu. Tengah ia mengharapi jawaban orang, tiba-tiba ia melihat nyonya itu menepuk tangan keras, lantas romannya berubah menjadi bengis dan dia berkata dengan bengis: “Eh, budak masih berambut kuning, dapatkah kau membikin dia mendengar kata terhadapmu?
Apakah yang kau andalkan? Apakah kecantikanmu! Hm! Aku tidak melepas budi padamu, aku tidak mengharapi pembalasan budimu itu! Sekarang lekas kau membuka jalan, jangan kau ayal-ayalan! Jangan kau nanti mengatakan aku tidak mengenal kasihan!”
Oey Yong tidak takut, dia bahkan tertawa.
“Ah, ah! Kau hendak membunuh aku?” tanyanya.
“Kalau membunuh kau, boleh jadi apa?” kata Eng Kouw dingin. “Lain orang jeri terhadap Oey Lao Shia, aku tidak! Aku tidak takut bumi atau langit!”
Oey Yong terus tertawa.
“Tidak apa kau membunuh aku!” katanya. “Habis siapa nanti menolongi kau memecahkan teka-tekiku baru-baru ini?”
Eng Kouw lantas diingati teka-teki si nona. Memang semenjak kepergiannya Oey Yong, tidak berhasil ia memecahkan teka-teki itu, sia-sia belaka ia menghitungnya.
Untuk dapat menolongi Ciu Pek Thong, ia mengasah otak, ia bekerja keras memikirkan, sampai ada kalanya ia lupa dahar dan lupa tidur. Sekarang, mendengar suara si nona, timbullah kesangsiannya.
“Kau jangan bunuh aku, nanti aku mengajari kau,” kata Oey Yong. Ia lantas mengambil pelita di depan patung, ia pindahkan itu ke lantai. Ia juga mengambil sebatang jarum emas, dengan itu ia mencoret-coret di atas batu.
Eng Kouw menjadi ketarik, tanpa merasa ia mengawasi. Ia menjadi kagum sekali untuk kepintaran si nona.
“Tapi, apa perlunya, dia melayani aku bicara secara begini?” kemudian ia pikir.
“Apakah dia bukannya hendak mengulur tempo?”
Diam-diam ia memandang ke pedalaman. Ia menduga mestinya It Teng Taysu berdiam di ruang belakang. Tentu sekali ia tidak sudi diakali satu bocah. Maka itu tanpa berkata apa-apa, ia bertindak ke dalam. Ketika ia sudah melewati hud-tian, ia melihat sinar api yang guram. Ia menjadi jeri. Tidakkah ia bersendirian saja?
“Toan Tie Hin!” ia lantas memanggil, suaranya keras. “Sebenarnya kau mau menemui aku atau tidak? Kenapa kau menyembunyikan diri di tempat yang gelap?
Adakah perbuatanmu perbuatan satu laki-laki?”
Oey Yong mengikuti itu nyonya. Mendengar suara orang, ia tertawa dan berkata:
“Eng Kouw, apakah kau mencela tempat ini kurang penerangannya? It Teng Supee justru takut lampu terlalu banyak hingga kalau dipasang semuanya kau nanti menjadi kaget. Ia justru menitahkan api dipadamkan……”
“Hm!” si nyonya menyahuti. “Akulah manusia yang ditakdirkan mesti mampus masuk ke neraka, mustahil aku takut segala gunung golok dan kuali minyak?”
Si nona bertepuk tangan.
“Bagus sekali!” ia berseru. “Aku justru hendak main-main di gunung golok denganmu!”
Ia lantas menyalakan api dan menyulut ke lantai.
Eng Kouw terkejut. Di sisi kaki si nona ada minyaknya. Ia mengawasi tajam. Ia bukan melihat pelita hanya satu cangkir teh yang isi minyaknya setengah, yang direndamkan sumbu. Di samping itu ada nancap sebatang bambu kecil yang diraut tajam, panjangnya kira satu kaki. Tanpa henti-henti, si nona bertindak, saban bertindak, ia menyulut, dan di samping setiap cangkir, ada bambu lancip yang serupa. Ketika telah selesai si nona menyulut, Eng Kouw menghitung, jumlahnya seratus tigabelas batang juga. Ia heran.
“Kalau dibilang inilah panggung Bwee-hoa-chung,” ia pikir, “Pelatuknya mesti tujuhpuluh dua atau seratus delapan. Tapi ini seratus tigabelas. Apakah artinya ini? Ini juga bukannya keletakan penjuru pat-kwa! Dengan ujung pelatuk begini tajam, di mana orang dapat menaruh kaki? Ah, dia tentulah memakai sepatu dasar besi……” Maka ia lantas memikir: “Dia sudah bersiap sedia, aku tentu kalah, maka baik aku berlagak pilon, aku terus melewati ini!”
Ia lantas bertindak. Tapi cangkir dan pelatuk dipasang rapat, sukar untuk berjalan, maka ia menendang roboh lima enam batang. Sembari berbuat begini, ia kata:
“Permainan setan apa ini? Nyonya besarmu tidak mempunyai kesempatan akan menemani kau main-main!”
“Eh, eh, jangan!” berteriak Oey Yong. “Jangan! Jangan!”
Eng Kouw tidak memperdulikan, ia menendang terus.
Si nona agaknya menjadi habis sabar.
“Baiklah!” dia mengancam. “Kau tidak mau pakai aturan, maka hendak aku memadamkan api! Hati-hatilah kau melihatnya, kau perhatikanlah kedudukannya setiap pelatuk bambu tajam itu!”
Eng Kouw kaget.
“Mereka di sini tentulah telah mengingat baik keletakan semua pelatuk bambu ini,” ia pikir, “Kalau mereka mengepung aku, bisa aku terbinasa di sini. Baiklah aku lekas mengangkat kaki!”
Karena memikir demikian, si nyonya mengempos semangatnya, untuk menendang dengan terlebih gencar lagi.
“Kau main gila! Kau tidak tahu malu!” berseru Oey Yong, yang terus berlompat maju, untuk menghalangi dengan tongkatnya, hingga diantara sinar api, cahaya hijau tongkat itu berkelebatan.
Eng Kouw tidak memandang mata kepada seorang bocah, segera ia menghajar dengan tangan kirinya, berniat membikin patah tongkat keramat itu, akan tetapi segera ia kecewa. Si nona mengasih lihat ilmu silat tongkat Tah Kauw Pang-hoat bagian “hong”
atau “menutup”. Dengan ini ia tidak menyerang, hanya ia memutar tongkatnya bagaikan tembok penghadang. Kalau lawan tidak maju, tongkat itu tidak berbahaya, tetapi asal lawan maju satu tingkat saja, ia bisa merasakan bagiannya.
Begitulah ketika satu kali Eng Kouw menyerang pula, mendadak ia merasakan tangannya sakit dan kaku. Ia berlaku sebat untuk menarik pulang tangannya itu tetapi tongkat mendahulukan menghajar belakang telapakan tangannya. Baru sekarang ia kaget berbareng gusar sekali, tetapi sebagai seorang yang dapat berpikir ia tidak menjadi kalap. Sebaliknya, ia menguasai diri ia menurut menutup diri, guna melihat dahulu ilmu silat nona itu.
“Dulu hari itu aku menyaksikan Hek Hong Siang Sat mereka memang lihay,” pikir bekas kui-hui ini. “Tetapi mereka itu tidak heran karena mereka berumur kira-kira empatpuluh tahun. Kenapa sekarang ini bocah lihay sekali? Rupanya Oey Yok Su telah mewariskan ke pandaiannya kepada ini anak tunggalnya yang ia sangat saying……”
Tentu sekali bekas nyonya agung ini tidak tahu halnya ilmu silat kaum Kay Pang serta tongkat keramatnya itu. Kalau Oey Yong bersilat dengan Tah Kauw Pang-hoat meskipun Oey Yok Su sendiri, tidak nanti gampang-gampang ayah itu dapat merobohkannya.
Selagi orang menutup diri, Oey Yong juga tetap menutup dirinya, tetap ia menghadang, guna mencegah nyonya itu dapat nerobos ke perdalaman kuil. Di lain pihak setiap kali ia bertindak, berbareng ia menendang, ia membuatnya padam setiap pelita cangkir itu, untuk membikin mati semuanya seratus tigabelas buah. Ia menggunai ujung sepatunya, ia membikin tidak ada cangkir yang pecah ketendang, sedang muncratnya minyak pun sedikit. Dalam hal menendang ini, ia menggunai ilmu silat Tho Hoa To yang dinamakan “Tendangan Menyapu Daun”.
Eng Kouw berkelahi sambil memasang mata. Ia percaya si nona belum pulih kesehatannya, maka ia pikir, baiklah ia menyerang di bawah, supaya nona itu lekas letih, agar dalam tempo beberapa puluh jurus saja, ia akan sudah memperoleh kemenangan. Akan tetapi perkembangan terlebih jauh membuatnya ia berkhawatir.
Itulah sebab si nona terus main menendang api hingga padam.
Dengan cepat di tiga penjuru ruang sudah gelap, tinggal di ujung timur laut, hingga sinar api menjadi seperti berkelak-kelik. Ke arah ini si nona mendesak guna melangsungkan usahanya memadamkan semua itu.
“Inilah berbahaya,” Eng Kouw mengeluh. “Celaka kalau api padam semua. Mana bisa aku bertindak dengan leluasa? Di sembarang waktu aku bisa kena injak pelatuk bambu yang tajam ini……”
“Kau ingat baik-baik keletakkannya pelatuk bambu! Oey Yong mengasih dengar suaranya dalam kegelapan setelah api padam semua. “Mari kita bertarung selama tigapuluh jurus! Asal kau dapat tidak melukakan aku, aku akan memberi ijin kau masuk menemui It Teng Taysu!”
“Tetapi kau curang,” kata Eng Kouw. “Pelatuk ini dipasang olehmu sendiri, entah untuk beberapa hari dan beberapa malam kau telah melatih dirimu. Aku sendiri baru melihatnya sekejapan, mana bisa aku mengingat semua?”
Oey Yong biasa menang sendiri, ia percaya kepada kekuatan memikirkannya.
“Itulah tidak susah!” katanya tertawa. “Kau nyalakan pelita, kau boleh tancap pelatuk itu sesukamu, setelah rapi, api baru dipadamkan pula, habis itu baru kita bertempur lagi.”
Eng Kouw tahu, inilah bukan lagi mengadu ilmu ringan tubuh hanya mengadu otak, mengadu berpikir. Ia kata di dalam hatinya, si nona demikian licin, apa boleh dia melayaninya? Bukankah sakit hatinya belum terbalas? Tapi ia pun cerdik, ia lantas mendapat pikiran.
“Baiklah, aku si nyonya tua nanti menemani kau main-main!” katanya. Ia lantas mengeluarkan apinya ia menyulut semua pelita itu.
“Kenapa kau menyebutnya dirimu si nyonya tua?” berkata Oey Yong tertawa.
“Melihat romanmu yang cantik bagaikan kumala, kau lebih menang daripada nona-nona lainnya yang berumur enambelas tahun! Pantaslah dulu hari itu Toan Hongya menjadi tergila-gila kepadamu!”
Eng Kouw tengah menancapi pelatuk ketika ia mendengar perkataan si nona, ia menjadi melengak. Ia lantas tertawa dingin dan menyahuti: “Dia tergila-gila padaku?
Hm! Selama tiga tahun aku masuk ke dalam istananya berapa kalikah dia pernah memperhatikan aku?”
“Eh, heran!” berkata si nona, “Bukankah dia telah mengajari silat padamu?”
“Apakah mengajari silat berarti diperhatikan?”
“Aku mengerti sekarang! Toan Hongya hendak memahamkan ilmu Sian Thian Kang, It Yang Cie, dia jadi tidak terlalu rapat denganmu……”
“Hm! Kau tahu apa?” kata bekas kui-hui itu. “Kalau begitu, kenapa dia dapat juga putra mahkota?”
Oey Yong memiringkan kepalanya, nampaknya ia berpikir.
“Putra mahkota dilahirkan lebih dulu, ketika itu Toan Hongya belum mempelajari Sian Thian Kang,” katanya sesaat kemudian.
Eng Kouw mengasih dengar suara, “Hm!” lalu membungkam, terus ia mengatur pelatuk baru. Oey Yong sendiri diam-diam memperhatikan pengaturan itu, karena ia tahu, pertarungan yang bakal datang berarti bahaya untuk jiwanya.
“Toan Hongya tidak mau menolongi anakmu, itulah karena dia mencintai kau,” kata ia pula kemudian.
“Karena dia mencintai aku?” Eng Kouw tanya. Lagu suaranya menandakan ia mendongkol sekali, ia sangat membenci.
“Dia jelus terhadap Loo Boan Tong! Kalau dia tidak mencintai kau, kenapa dia jelus?”
Kembali Eng Kouw berdiam. Dulu-dulu ia tidak pernah ingat hal ini. Memang beralasan, karena cintanya, raja Tali itu menjadi jelus.
“Maka itu, turut penglihatanku, baiklah kau pulang saja,” kata lagi si nona.
“Kecuali kau mampu menghalangi aku!” bilang si nyonya dingin. Kembali hatinya panas.
“Baiklah!” berkata si nona. “Kalau kau tetap hendak mengadu kepandaian, suka aku menemani kau! Jikalau kau mampu nerobos, aku tidak akan menghalang-halangi lagi!
Bagaimana kalau kau tidak sanggup?”
“Selanjutnya aku tidak akan mendaki pula gunung ini!” menyahut si nyonya. “Aku menghendaki kau menemani aku satu tahun, janji itu pun suka aku menghapuskannya!”
Oey Yong menepuk tangan.
“Bagus!” ia berseru. “Memang hebat untuk aku berdiam di rawa lumpur hitam selama satu tahun! Siapa sanggup?”
Selama itu, Eng Kouw telah menancap kira enampuluh batang. Mendadak ia memadamkan pelitanya.
“Yang lain-lainnya biarlah tetap sebagaimana adanya!” katanya. Mendadak saja ia menerjang si nona dengan lima jari tangannya terbuka.
Oey Yong melihat ia diserang secara demikian, ia berkelit. Ia lantas membalas menyerang, menekan ke pundak nyonya itu.
Eng Kouw tidak menangkis, ia bertindak maju terus, tindakannya lebar, saban-saban terdengar kakinya menginjak pelatuk, yang memperdengarkan suara, sebab semua pelatuk itu telah terpatahkan. Maka leluasa sekali dia bertindak terus.
Sekejab saja si nona sadar.
“Ha, aku terpedayakan!” katanya. “Teranglah tadi, selagi menukar pelatuk, dia mematahkan setiap pelatu itu……”
Tentu saja, ia menjadi menyesal sekali.
Eng Kouw segera sampai di belakang, terus ia menolak pintu, maka di dalam kamar ia melihat seorang pendeta lagi duduk bersila di tengah-tengah. Pendeta itu sudah tua, kumisnya yang ubanan dan panjang turun ke dadanya, sedang leher jubahnya sampai ke pipinya. Ia sedang bersemedhi. Di sampingnya, dia ditemani oleh keempat muridnya, beberapa pendeta tua lainnya serta beberapa kacung.
Kapan si pelajar melihat si nyonya datang, ia bertindak ke depan si pendeta tua sambil merangkap kedua tangannya. “Suhu, Lauw Nio-nio datang berkunjung!” memberi tahu.
Si pendeta tua mengangguk perlahan, ia tidak menyahuti.
Di dalam ruang itu cuma ada sebuah pelita, maka bisa dimengerti, di situ setiap muka orang tak nampak tegas.
Eng Kouw memang tahu Toan Hongya sudah mensucikan diri, hanya ia tidak menyangka, baru sepuhuh tahun tidak bertemu, kaisar yang begitu gagah dan pintar itu, sekarang telah menjadi pendeta begini tua dan lemah, ia pun lantas mengingat perkataannya Oey Yong tadi perihal pendeta tua ini. Tanpa merasa, hatinya menjadi lemah, hingga gagang goloknya tidak lagi dipegang erat-erat. Ketika ia mehihat ke bawah, ia mendapatkan oto sulamnya dilekati di depan pendeta itu, di atas oto itu ada gelang kumaha - itu gelang yang dulu hari Toan Hongya menghadiahkan dia.
Sekejap itu seperti terkilas segala apa, di depan matanya bagaikan berbayang saat ia baru masuk ke istana, belajar silat, bertemu sama Ciu Pek Thong hingga mereka memain api asmara, lalu ia melahirkan anak dan anaknya terbinasa. Yang hebat ketika ia ingat wajah anaknya yang menderita sakit karena lukanya yang hebat, bagaimana anak itu beroman minta ditolongi tetapi pertolongan gagal dan anak itu seperti menyesali ibunya……
Mendadak saja Eng Kouw menyerang kepada Toan Hongya, goloknya nancap di dada, melesak sampai sebatas gagangnya. Ia tahu kaisar itu lihay, ia mau percaya tikamannya tidak bakal lantas merampas jiwa, maka justru ia merasakan sesuatu yang aneh waktu goloknya menebas, ia lekas menarik pulang, guna mengulangi dengan tikaman yang kedua kali. Hanya di luar sangkaannya, goloknya itu seperti nancap keras.
Ketika itu si pelajar berempat menjerit, semua berlompat maju.
Sepuluh tahun lebih Eng Kouw telah mehatih diri, dan tikamannya ini ia mengulanginya entah berapa ribu, atau berapa puhuh ribu kali. Ia tahu, Toan Hongya mesti telah menjaga diri baik-baik, maka ia juga bersiap sempurna. Maka ketika ia akhirnya dapat mencabut goloknya dengan tangan kanan, tangan kirinya dipakai melindungi dirinya. Dengan sebat ia berlompat mundur ke pintu. Di sini ia masih sempat menoheh ke belakang, dengan begitu ia bisa melihat Toan Hongya memegangi dadanya, rupanya dia merasakan kesakitan yang sangat. Karena ia telah membalas sakit hati, ia lantas ingat kebaikannya raja itu, ia lantas menghela napas, terus ia memutar tubuhnya, untuk ngeloyor pergi. Tapi ketika ia baru memutar tubuh, mendadak ia menjadi kaget sekali, sampai ia menjerit keras dan bulu romanya bangun berdiri. Di ambang pintu itu, ia melihat seorang pendeta lagi berdiri dengan kedua tangan dirangkap di depan dadanya. Kebetulan sekali, sinar api menuju ke mukanya pendeta itu, suatu muka yang penuh dengan sorot cinta kasih. Yang mengagetkan ialah si pendeta Toan Hongya adanya!
“Mungkinkah aku salah membunuh orang?” begitu berkelebat pikiran di otaknya.
Maka ia lantas menoleh pula ke belakang, kepada orang yang baru ia tikam.
Ketika itu terlihat si pendeta berbangkit berdiri perlahan-lahan, terus dia membuka jubah sucinya, sedang tangan kirinya meraba ke mukanya, untuk menarik terlepas kumis jenggotnya. Maka kagetlah ia. Si pendeta palsu itu ialah Kwee Ceng! Kembali ia mengeluarkan jeritan.
Pasti sekali Eng Kouw tidak tahu bahwa ia telah dipermainkan Oey Yong, yang telah mengatur tipu dayanya itu dengan bekerja sama si anak muda. Kwee Ceng menotok It Teng Taysu untuk dapat menggantikan dia. Kalau It Teng Taysu diajak berdamai dulu, mungkin dia menolak. Si pendeta India ditotok karena disangkanya lihay, tidak tahunya ia tidak punya guna. Selanjutnya nona Oey bersiap terlebih jauh. Selagi ia menungkuli Eng Kouw main pelita, Kwee Ceng dibantu si pelajar berempat pergi menyamarkan diri.
Sebab habis kecemplung di pengempang, anak muda ini tidak mengejar nyonya itu hanya pergi ke dalam untuk siap sedia. Untuk ini Kwee Ceng berkorban rambutnya, yang dicukur habis, sedang untuk kumis jenggotnya, dipakai kumisnya It Teng Taysu, kumis siapa pun dicukur. Sebenarnya keempat murid itu merasa tidak enak mempermainkan guru mereka, tetapi mengingat pengorbanan Kwee Ceng itu serta usahanya Oey Yong guna menolong guru mereka, terpaksa mereka menurut. Kalau lain orang yang menyamar jadi It Teng, ada kemungkinan dia tertikam mati oleh Eng Kouw yang lihay itu. Sekalipun Kwee Ceng yang dapat menjepit goloknya si nyonya, saking hebatnya tikaman, ujung golok toh melukai juga kulit dan sedikit dagingnya, syukur tidak berbahaya. Kalau Kwee Ceng memakai baju lapisnya Oey Yong, ia bisa lobos dari ancaman bencana, tetapi baju itu tidak dipakai sebab dikhawatir si nyonya jadi curiga.
Selagi akal itu berjalan demikian baik, sekonyong-konyong It Teng Taysu muncul.
Inilah tidak cuma membikin kaget kepada Eng Kouw tetapi juga Oey Yong semua.
It Teng itu, meskipun ia terluka tenaga dalamnya, ilmu silatnya sendiri tidak lenyap semua, sedang Kwee Ceng, diwaktu menotok dia, sudah menotok di jalan darah yang tidak akan mengakibatkan kecelakaan. Ia telah dipernahkan di kamar sebelah. Di sini ia dengan perlahan-lahan menyalurkan tenaganya, ia berhasil membebaskan diri dari totokan, maka itu ia lantas keluar. Kebetulan sekali, ia berpapasan dengan Eng Kouw.
Mukanya nyonya itu menjadi sangat pucat saking kaget dan berkhawatir. Ia lantas merasa bahwa ia tidak bakal lolos lagi dari kepungan.
“Kembalikan goloknya kepadanya!” berkata It Teng pada Kwee Ceng.
Pemuda itu mendengar suara yang berpengaruh, tanpa bersangsi pula, ia melemparkan golok di tangannya kepada Eng Kouw.
Si nyonya menyambuti senjatanya itu, lalu ia mengawasi orang banyak terutama It Teng, untuk melihat apa akan orang perbuat atas dirinya. Ia menduga mungkin ia bakal disiksa……
It Teng membuka jubahnya dengan perlahan, terus ia membuka baju dalamnya.
“Jangan ganggu dia,” berkata ia, “Biarkan dia turun gunung dengan baik. Nah sekarang, kau tikamlah aku!” ia meneruskan kepada si selir. “Memang sudah lama aku menantikanmu!”
Suara itu perlahan dan sabar, tetapi mendengar itu, Eng Kouw merasa ia seperti mendengar guntur, hingga ia berdiri tercengang, golok terlepas jatuh sendirinya dari tangannya. Begitu ia sadar, ia menutupi mukanya, ia lari ke luar dari kuil. Mulanya masih terdengar tindakan kakinya, lalu itu lenyap.
Semua orang saling mengawasi, mereka pun tercengang semua berdiam. Hanya selang sesaat, di situ terdengar dua kali suara menggabruk, lalu terlihat si tukang pancing dan si petani roboh terguling. Karena mereka telah menjadi korban jarum beracun dari Eng Kouw. Tadinya mereka masih dapat bertahan, sekarang setelah mendapatkan guru mereka selamat, saking girang, habis tenaga perlawanannya, mereka roboh sendirinya.
Si pelajar kaget. “Lekas undang paman guru!” katanya.
Belum berhenti suara si pelajar ini, atau Oey Yong telah muncul bersama si pendeta India, maka pendeta itu lantas dapat bekerja menolongi dua keponakan murid itu, selain dikasih obat makan, jeriji tangan mereka pun dibelek, untuk mengeluarkan darahnya yang sudah kecampuran racun. Habis bekerja, ia berkata-kata seorang bagaikan memuji.
Itulah kata-kata dalam bahasa Sansekerta. It Teng ketahui bahasa itu, ia lega hatinya. Sebab si sutee, adik seperguruan mengatakan lukanya dua orang itu tidak berbahaya untuk jiwanya, bahwa mereka harus beristirahat dua bulan nanti mereka sembuh betul.
Ketika itu Kwee Ceng sudah menukar pakaiannya dan lukanya pun telah dibalut, ia berlutut di depan It Teng untuk minta maaf.
It Teng mengangkat bangun tubuh pemuda itu.
“Kau berkorban untuk menolongi aku, akulah yang berhutang budi,” katanya. “Semua ini karena salahku.” Ia menoleh kepada si pendeta India, untuk menjelaskan pertolongan anak muda itu.
Pendeta itu kembali mengucapkan kata-kata dalam bahasa Sansekerta. Mendengar itu, Kwee Ceng heran.
“Aku kenal ini,” katanya, dan ia terus menghapal lanjutannya kata-kata itu, menurut ajarannya Ciu Pek Thong.
It Teng dan si pendeta India menjadi heran pemuda ini mengerti bahasa asing itu.
“Bagaimana ini?” menanya Toan Hongya pada anak muda itu.
Kwee Ceng jujur, ia lantas menutur kepada ia mengerti bahasa itu.
Mendengar keterangan itu, It Teng menghela napas.
“Tatmo Couwsu memang orang India, tetapi di waktu menulis Kiu Im Cin-Keng, ia memakai bahasa Tionghoa,” katanya, “Cuma di bagian-bagian pokok, ia tetap menggunai bahasa Sansekerta. Kitab itu memang sangat sukar dimengerti, sukar juga dihapalnya.”
Kemudian pendeta itu menitahkan keempat muridnya dan yang lain-lain keluar dari kamar, habis itu ia menjalin, ia memberi penjelasan pada Kwee Ceng dan Oey Yong tentang bunyi Kiu Im Cin-keng seperti dihapalkan Kwee Ceng barusan.
It Teng dapat memberi penjelasan sempurna, Oey Yong lantas mengerti, sedang Kwee Ceng si bebal, mengerti enam sampai tujuh bagian.
Kemudian berkatalah It Teng Taysu: “Aku telah terluka hebat, turut biasa, aku mesti beristirahat lima tahun, baru kesehatanku akan pulih, tetapi dengan memperoleh warisan Tatmo Couwsu ini, aku rasa tak usah sampai tiga bulan, aku akan sudah sembuh seanteronya.”
Kwee Ceng dan Oey Yong menjadi girang sekali.
Sejak ttu, muda mudi ini lantas berdiam di atas gunung, menemani It Teng Taysu. Si pendeta telah mewariskan kepandaiannya It Yang Cie, Sian Thian Kang dan penjelasan lebih jauh dari Kiu Im Cin-keng, sedang mereka berbareng menjagai pendeta ini lantaran dikhawatir Eng Kouw nanti berbalik pikiran dan datang pula untuk menuntut balas, selagi masih sakit, tentu It Teng tidak dapat membela dirinya.
Dihari kedelapan, selagi Oey Yong dan Kwee Ceng berlatih di luar kuil, mereka mendengar suara burung berbunyi di udara, suaranya nyaring tapi nadanya sedih, lalu segera terlihat burungnya mendatangi dari arah timur.
“Bagus, Kim-wawa sampai!” berseru si pemudi seraya bertepuk tangan.
Segera juga kedua burung rajawali sampai dan turun. romannya lesu.
Muda mudi ini heran, mereka lantas memeriksa. Di dada kiri rajawali betina ada nancap sebatang panah pendek, dan di kaki rajawali jantan ada sepotong juiran cita hijau. Kim-wawa sebaliknya tidak ada. Oey Yong mengenali, juiran itu ialah juiran baju ayahnya. Ia menjadi kaget. Pasti kedua burung itu telah sampai di Tho Hoa To. Mungkin Tho Hoa To kedatangan musuh tangguh maka ayahnya tidak sempat melayani ia dalam urusan ikan emas itu. Heran adalah terpanahnya burung itu. Musuh mestinya lihay.
Celakanya, kedua burung tidak dapat berbicara. Oleh karena berkhawatir Oey Yong lantas mengajak Kwee Ceng menemui Thian Tek, untuk berpamitan. Kepada pendeta itu dituturkan sebabnya niat kepergian mereka. It Teng tidak dapat menahan kedua tetamunya ini.
Si pengail dan petani lagi sakit, mereka rebah di pembaringan, maka itu si pelajar dan si tukang kayu yang mengantarkan turun gunung. Di kaki gunung si nona mendapatkan kuda dan burungnya. Di situ, kedua pihak berpamitan.
Perjalanan ini dilakukan Oey Yong dengan gembira. Ia tidak terlalu mengkhawatirkan ayahnya, yang ia tahu lihay dan pintar, umpama musuh tangguh sekali, pasti ayahnya itu dapat mempertahankan diri.
“Semenjak kita berkenalan, entah berapa banyak kali kita menghadapi ancaman bahaya,” katanya. “Dan selamanya, di dalam bahaya, kita memperoleh kebaikan.
Lihatlah kali ini. Aku terhajar Khiu Cian Jin, akhirnya aku memperoleh It Yang Cie dan Kiu Im Sin Kang.”
“Aku rela tidak mengerti ilmu silat asal kau selamat tidak kurang suatu apa,” kata Kwee Ceng.
Senang hatinya si nona, ia girang bukan main. Tapi ia tertawa dan kata: “Ah, ah, untuk mengambil-ambil hati, jangan kau omong enak saja! Tanpa mengerti ilmu silat, tentulah kau telah orang hajar mati! Jangan kata Auwyang Hong dan See Thong Thian semua, walaupun satu anggota saja dari Tiat Ciang Pang, dia bisa membacok kutung lehermu!”
“Biar bagaimana, aku tidak akan mengijinkan kau terluka lagi!” kata si anak muda.
“Kali ini lukamu hebat sekali, melihatnya saja hatiku tidak kuat…… Di Lim-an aku terluka, aku merasa tidak apa-apa.”
“Kalau begitu, kau tidak punya hati!” kata si nona tertawa.
Kwee Ceng heran. “Kenapa begitu?” ia tanya.
“Kau terluka, kau tidak merasa, tetapi bagaiman dengan aku?” kata si nona.
Si anak muda diam, lalu dia tertawa lama. Ia menjepi perut kuda, maka kudanya itu lantas kabur.
Tengah hari itu mereka tiba di kecamatan Tho-goan Oey Yong belum pulih kesehatannya, disebabkan menunggang kuda terlalu lama, ia merasa letih, kedua pipinya menjadi merah, napasnya pun kurang lurus jalannya, maka Kwee Ceng ajak ia mampir di rumah makan Pie Cin Lauw.
Sembari dahar Kwee Ceng minta pelayan tolong memanggili tukang perahu, yang perahunya hendak di sewa untuk menyeberang ke Hankauw.
“Kalau tuan menumpang, tuan bisa menghemat sewaan perahu,” kata pelayan itu.
“Kalau tuan memborong sendiri, sewanya mahal……”
Oey Yong tidak senang si pelayan banyak bicara. Ia mengasih lihat roman gusar, ia melemparkan uang perak lima tail.
“Cukup tidak?” ia tanya.
“Cukup, cukup!” kata si pelayan, yang lantas ngeloyor pergi.
Kwee Ceng tidak mau si nona minum arak ini, khawatir arak mengganggu kesehatannya, dari itu ia pun tidak minum.
Tengah mereka bersantap, pelayan kembali bersama seorang tukang perahu, katanya dia minta uang sewa empat tail enam chie, dapat nasi tanpa lauk pauk.
Oey Yong akur, tanpa banyak bicara, ia menyerahkan uang lima tail itu.
Tukang perahu itu menerima uang, ia memberi hormat sambil menunjuk mulutnya, suaranya tidak karuan. Ternyata dia gagu. Kedua tangannya lantas digunai sebagai gantinya.
Oey Yong mengerti pembicaraan dengan tangan itu, ia melayani, atas mana tukang perahu itu berlalu dengan kegirangan.
“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Kwee Ceng.
“Kata dia, habis bersantap kita berangkat. Aku menyuruh dia membeli beberapa ekor ayam beberapa kati daging, uangnya sebentar kita ganti.”
Pemuda itu menghela napas.
“Kalau dia bertemu aku, tak tahu aku mesti bikin apa……” katanya. Kemudian ia ingat Ang Cit Kong. Inilah disebabkan hidangan lezat yang dimakannya itu. Ia kata:
“Entah suhu ada di mana dan bagaimana dengan lukanya……”
Selagi Oey Yong mau menyahuti, ia mendengar tindakan kaki di tangga lauwteng, lantas ia melihat naiknya dua too-kauw, ialah imam wanita. Mereka menutupi muka hingga tinggal matanya yang terlihat. Mereka mengambil meja di pojok, kepada pelayan, yang satunya bicara perlahan.
Oey Yong merasa ia seperti kenal dua imam itu tetapi ia tidak ingat betul.
Kwee Ceng melihat kawannya memperhatikan orang, ia menoleh, justru imam yang satu lagi mengawasi ia. Dia itu lantas melengos.
“Engko Ceng, imam itu tergerak hatinya!” kata Oey Yong perlahan sambil tertawa.
“Dia tentu mengatakan kau tampan sekali……”
“Hus, jangan ngaco!” kata si anak muda. “Mereka orang suci……”
Masih si nona tertawa. “Kalau kau tidak percaya, lihat saja nanti!” katanya.
Habis bersantap, mereka turun dari lauwteng. Si nona bercuriga, ia menoleh ke arah kedua too-kouw itu, kebetulan yang satu lagi menyingkap tutup mukanya, maka melihat muka orang, hampir ia berseru heran. Si too-kouw menggoyangi tangan, lekas-lekas dia menutup mukanya, untuk terus tunduk dan dahar.
Kejadian itu cepat sekali, Kwee Ceng tidak melihatnya.
Di pintu rumah makan, tukang perahu sudah menantikan. Oey Yong memberi tanda bahwa ia hendak belanja sebentaran. Tukang perahu itu mengangguk, ia menunjuk ke pinggir kali dimana ada perahunya. Si nona mengangguk, lantas ia berjalan terus bersama Kwee Ceng. Mereka melihat tukang perahu itu berdiri menantikan. Di sebuah jalan di sebelah timur, dari mana rumah makan tak nampak lagi, Oey Yong berhenti, matanya mengawasi ke rumah makan itu.
Tidak lama kedua too-kouw tadi nampak keluar. Mereka mengawasi kuda merah dan burung rajawali. Terang mereka lagi mencari orang. Setelah itu mereka bertindak ke barat.
“Mari,” berkata si nona, yang terus menarik ujung baju si pemuda.
Kwee Ceng heran tetapi ia ikut tanpa bicara.
Kota Tho-goan tidak besar, tak lama mereka sudah keluar dari pintu timur. Dari situ si nona menuju ke selatan, melewati pintu, lalu mengambil jurusan barat.
“Kita menguntit kedua too-kouw itu?” Kwee Ceng tanya akhirnya. “Ah, jangan kau main-main denganku!”
“Main-main apa?” berkata si nona tertawa. “Too-kouw demikian cantik, seperti bidadari! Menyesal kalau kau tidak mengikuti dia!”
Si anak muda menghentikan tindakannya.
“Yong-jie, kalau kau menyebut lagi, aku akan marah!” katanya.
“Ah, ah, aku tidak takut!” kata si nona. “Coba kau marah, aku lihat!”
Si pemuda kalah desak, ia lantas mengikuti pula. Kira lima enam lie, di sana terlihat kedua imam wanita duduk di bawah pohon kayu di tepi jalan. Ketika mereka menampak si muda-mudi, mereka berbangkit dan berjalan pergi ke jalan kecil yang menuju ke lembah.
Oey Yong menarik tangan pemudanya, untuk diajak pergi ke jalan kecil itu.
“Yong-jie!” kata si anak muda. “Kalau kau tetap bergurau, nanti aku pondong kau untuk dibawa balik!”
Si nona tidak memperdulikan.
“Aku letih, pergilah kau mengikuti sendiri!” katanya.
Pemuda itu lantas berjongkok. “Mari aku gendong kau!” katanya. Ia kata tidak ingin ia nanti terbit onar pula. Agaknya ia sangat memperhatikan si nona.
Oey Yong tertawa.
“Nanti aku singkap sapu tangan penutup mukanya untuk kau lihat!” katanya. Dan ia mempercepat tindakannya, menyusul ke dua too-kouw itu. Ia lari.
Kedua imam wanita itu berhenti jalan, bahkan mereka menantikan.
Begitu sampai, Oey Yong menubruk too-kouw yang lebih jangkung, tangannya membuka tutup muka orang.
“Yong-jie, jangan!” Kwee Ceng berseru selagi ia menyusul. Tapi sudah kasep. Ketika ia melihat muka si too-kouw, ia berdiri menjublak.
Too-kouw itu bermuka sedih, air matanya mengembang. Dialah Bok Liam Cu, si nona yang baru-baru ini mengikuti Yo Kang pergi ke barat.
“Enci Bok, kau kenapa?” tanya Oey Yong sambil merangkul.
“Apakah Yo Kang kembali menghinamu?”
Liam Cu tunduk, ia tidak menyahuti.
Kwee Ceng menghampirkan. “Sie-moay,” ia memanggil.
Nona itu yang dipanggil adik - sie-moay - menyahuti dengan perlahan.
Oey Yong menarik tangan nona itu, untuk diajak duduk di bawah pohon di tepi kali kecil di dekat mereka.
“Enci, bagaimana caranya dia menghina kau?” ia menanya pula. “Mari kita cari dia untuk membuat perhitungan! Juga aku dan engko Ceng telah dipermainkan dia, hampir jiwa kita melayang di tangannya!”
Liam Cu tidak lantas menyahuti, hanya ia menggapai kepada kawannya.
“Adik, mari!” ia memanggil.
Karena memperhatikan Liam Cu, Oey Yong dan Kwee Ceng melupai too-kouw yang satunya itu. Baru sekarang mereka menoleh dan memandang dia. Kebetulan too-kouw itu lagi mengawasi si anak muda, hingga sinar mata mereka bentrok.
Too-kouw itu menghampirkan, ia pun menyingkirkan tutup mukanya, terus ia menjura kepada si anak muda seraya berkata: “Inkong, baik?”
Kwee Ceng heran sekali. Nona itu ialah Cin Lam Kim. Pantas dia memanggil ingkong, tuan penolong. Ia lekas membalas hormat. Ia sekarang melihat tegas, di rambut dan di kuping si nona ada bunga kecil warna putih dan pakaian dalamnya dari kain kasar, tanda dari berkabung.
“Mana kakekmu?” ia tanya. “Apa ia baik.
Nona itu tidak lantas menjawab, ia hanya menangis. Itulah tanda yang kakeknya telah menutup mata.
Liam Cu berbangkit, ia menarik tangannya Nona Cin, untuk diajak duduk bertiga, hingga tubuh mereka berbayang di permukaan air.
Kwee Ceng duduk terpisah dari mereka itu, ia duduk di atas sebuah batu, pikirannya bekerja. Ia heran dengan pertemuan sama kedua nona ini. Kenapa mereka dandan sebagai imam dan di rumah makan tidak mau lantas menegur? Kenapa si empeh Cin meninggal dunia?
Oey Yong melihat kedua nona itu tengah berduka, ia tidak menanyakan mereka, hanya ia memegangi tangan mereka masing-masing dengan erat-erat.
“Adik, Kwee Sieko,” kata Liam Cu kemudian, “Perahu yang kamu sewa ada perahunya orang Tiat Ciang Pang dan mereka itu sudah mengatur daya untuk mencelakai kamu.”
Oey Yong dan Kwee Ceng kaget. Inilah mereka tidak sangka.
“Kau maksudkan perahunya si gagu itu?” akhirnya mereka tanya.
“Benar. Tapi dia bukannya gagu, dia berpura-pura. Bahkan dia orang lihay dari Tiat Ciang Pang. Karena suaranya keras, rupanya dia khawatir kamu bercuriga mendengar suara itu, ia pakai akal.”
“Kalau kau tidak omong, enci, benar-benar aku tidak tahu,” kata Oey Yong. Ia benar kaget sekali.
Kwee Ceng lantas naik ke atas pohon, akan memandang kelilingan. Di situ cuma ada dua tiga orang tani. Maka ia kata di dalam hatinya. “Kalau Oey Yong tidak mengambil jalan mutar, pasti ada orang Tiat Ciang Pang yang menguntit kita.”
Liam Cu menghela napas. Ia berkata pula, perlahan: “Urusanku dengan Yo Kang, kamu telah mendapat tahu, hanya kemudian diwaktu membawa jenazah ayah dan ibu angkatku ke Selatan, aku bertemu pula dengannya di Gu-kee-cun di Lim-an……”
“Hal itu kami sudah ketahui, enci,” kata Oey Yong. “Kami pun melihat dia membinasakan Auwyang Kongcu……”
Liam Cu heran, matanya dibuka lebar. Ia tak dapat mempercayai.
Oey Yong tahu orang sangsi, maka ia memberikan keterangan bahwa itu waktu ia berdua Kwee Ceng ada di kamar rahasia lagi beristirahat. Ia pun menceritakan halnya Yo Kang mengaku jadi pangcu dari Kay Pang, cuma ia menuturkan itu secara singkat, sebab ia lebih ingin mengetahui hal ikhwal nona ini.
“Dia jahat, pasti dia tidak bakal dapat pembalasan baik!” kata Liam Cu sengit. “Maka aku cuma bisa menyesalkan diri yang mataku tidak ada bijinya. Rupanya sudah takdir, sudah nasib aku bertemu dengannya.”
Oey Yong mengeluarkan sapu tangannya, menyusuti air mata nona itu.
Liam Cu sangat berduka, sampai sekian lama, baru dapat ia berkata pula.
(Bersambung bab 66)
Bab 66
Dengan tangan kanannya, nona Bok menggenggam erat tangannya Oey Yong, dengan tangan kirinya ia mengusap-usap belakang tangan nona itu. Dengan matanya, ia mengawasi rontoknya bunga ke permukaan air.
“Melihat dia membunuh Auwyang Kongcu, aku menduga dia telah merubah perbuatannya yang sudah-sudah,” demikian ia melanjuti. “Aku lebih girang lagi melihat dia disambut kedua orang lihay dari Kay Pang, yang memperlakukan dia hormat sekali.
Begitulah aku turut dia sampai di Gakciu di mana pihak Kay Pang mengadakan rapat besarnya di gunung Kun San. Lebih dulu daripada itu, diam-diam dia memberitahukan aku bahwa Ang Pangcu telah meninggalkan pesan agar ia menjadi pengganti pangcu.
Aku heran dan girang, tetapi aku sangsi, hanya melihat semua orang Kay Pang begitu menghormati dia, kesangsianku lenyap. Aku bukan orang Kay Pang, tidak dapat aku menghadiri rapat, maka itu aku menanti di dalam kota. Aku pikir, dengan menjadi pangcu dari Kay Pang, pasti dia bakal bekerja untuk negera dan rakyat, pasti besar usahanya. Aku percaya juga, dia bakal menumpas musuhku, guna membalaskan sakit hati ayah dan ibu angkatku. Malam itu aku berpikir keras hingga aku tidak dapat tidur pulas. Di waktu fajar selagi aku mulai lelah dan tidur layap-layap, mendadak dia pulang dengan jalan lompat masuk dari jendela. Aku kaget, aku kira dia mau main gila pula.
Ketika aku hendak menegur, dia mendahului berbisik. ‘Adik, urusan gagal, mari kita lekas menyingkir!’ Aku lantas tanya dia apa sudah terjadi, dia menjawab; ‘Di dalam Kay Pang ada pemberontak. Golongan Baju Kotor dan Baju Bersih bentrok karena urusan mengangkat pangcu, mereka bertempur, sudah ada banyak orang yang binasa.’ Aku kaget dan heran, aku menanya bagaimana duduknya. Ia menjawab: ‘Karena yang terbinasa begitu banyak, aku mengundurkan diriku sendiri, aku tidak mau jadi pangcu lagi.’ Aku pikir, tindakan itu benar. Ia menerangkan pula, ‘Tapi pihak Pakaian Bersih tidak mau melepaskan aku syukur aku dibantu Khiu Pangcu dari Tiat Ciang Pang, dengan begitu bisa juga aku meloloskan diri dan berlalu dari Kun San. Sekarang ini mari kita pergi ke Tiat Ciang San untuk menyingkir buat sementara waktu.’ Aku tidak tahu Tiat Ciang Pay itu rombongan baik atau jahat, aku turut padanya. Setibanya di Tiat Ciang San, baru aku melihat gerak-geriknya Khiu Pangcu aneh, rupanya mereka ada dari kaum sesat. Karena itu aku usulkan dia mencari Tiang Cun Cu Khu Cie Kie, supaya imam itu mengundang orang-orang gagah, untuk membantu pihak Kay Pang mengadakan tata tertib partainya, supaya bisa dipilih satu pangcu yang tepat. Aku kata, dia tidak dapat pergi dengan begitu saja, dia mesti ingat budinya Ang Pangcu serta menjalani baik-baik pesannya. Tapi dia aneh, dia bukan. bicara dari hal Kay Pang, dia justru menimbulkan urusan pernikahan. Kita jadi bentrok. Aku telah memberi teguran padanya.”
“Bagaimana kemudian?” Oey Yong tanya selagi si nona berhenti sebentar.
“Besoknya aku menyesal atas percederaan kemarin itu,” kata Lim Cu melanjuti. “Dia benar tidak memperhatikan lagi urusan Kay Pang, tetapi dengan menimbulkan soal pernikahan, itu tandanya dia mencintai aku. Aku merasa aku menegur keras padanya, pantas dia menjadi tidak senang. Hanya malam itu, hatiku jadi bertambah tidak tenang.
Aku menyalakan api, aku menulis surat padanya untuk meminta maaf. Aku bawa surat itu ke kamarnya, untuk meletakinya di bawah jendelanya. Selagi aku mau mengasih masuk surat itu di sela-sela jendelanya mendadak aku mendengar dia lagi bicara, entah sama siapa. Mulanya aku tidak berniat mendengari pembicaraan mereka itu, hendak aku menaruh surat itu dan lantas pergi. Tapi aku jadi ketarik sebab aku mengenali suara orang itu. Dia mencoba bicara perlahan, toh aku dapat mendengarnya dengan nyata.”
“‘Siauw-ongya’, demikian aku dengar ‘Pikiran wanita memang tak ketentuannya.
Kalau nona Bok itu tidak mau menurut, kau jangan terlalu buat pikiran. Pikirannya itu mungkin buat sewaktu-waktu saja. Khiu Pangcu khawatir kau berduka, ia mengirimkan barang ini untuk kau melegakan hatimu.’ Aku heran. Entah barang apa itu yang Khiu Pangcu hendak memberikannya. Maka ingin aku melihatnya.”
Mendengar itu, Oey Yong pun heran dan turut ingin mengetahui. Bahkan la sayangi selagi di Tiat Ciang San ia tidak dapat melihatnya, kalau tidak, tentulah ia sudah merampas itu?!”
Liam Cu meneruskan pula ceritanya: “Dia membilang terima kasih. Dia kata dia tidak berduka dan tak usah pangcu mengirimkan sesuatu kepadanya. Tapi orang itu tertawa dan kata; ‘Ongya lihat dulu, aku tanggung ongya girang!’ Dia menepuk tangannya perlahan, dua kali. Tanda itu disusul sama datangnya dua orang yang menggotong sebuah keranjang besar. Aku lantas mengintai. Orang tadi menghampirkan keranjang itu dan membuka tutupnya.
Oey Yong memotong; “Aku tahu isinya keranjang itu, kalau bukan ular berbisa tentulah kodok. Pernah aku melihat itu!”
Cin Lam Kim sebegitu jauh berdiam saja, dia tidak campur bicara, air mukanya juga tidak berubah, tapi kali ini dia mengawasi nona Oey.
“Adik, kau salah menerka!” kata Liam Cu. “Di dalam keranjang besar itu ada satu orang, ialah ini adik Cin!”
Oey Yong dan Kwee Ceng mengasih dengar suara kaget perlahan.
Baru sekarang nona Cin itu berbicara, matanya memandang ke kali, sikapnya tenang sekali. Ia kata; “Semenjak inkong dan nona Oey pergi, bersama kakek aku tetap menuntut penghidupan sebagai penangkap ular. Kami selalu ingat kepada inkong, tak habisnya kami membicarakannya meskipun inkong tinggal di rumah kami cuma satu hari dua malam. Dengan begitu, hidup kami tidak kesepian. Sampai pada suatu hari, selagi aku menangkap ular, aku kedatangan tiga orang yang berpakaian hitam semua. Tidak karuan rupa, mereka tertawa terhadapku. Aku curiga, lantas aku lari pulang. Mereka mengikuti. Belum aku tiba di rumah, mereka telah berhasil menyusul aku dan aku lantas dipegang. Aku ketakutan dan menjerit minta tolong. Kakek keluar, dia mau menolongi aku. Dengan lantas kakek dibunuh mereka itu.”
Kwee Ceng gusar sekali hingga ia menumbuk pahanya.
“Dulu ada inkong yang menolong, kali ini ada siapa?” si nona melanjuti. “Begitu aku dibawa ke gunung Tiat Ciang San. Setibanya di puncak, baru aku mendapat tahu mereka juga telah menawan beberapa puluh orang lain yang hidupnya sebagai tukang menangkap ular. Khiu Pangcu mau menangkap banyak ular, untuk dipakai melatih semacam ilmu.”
Oey Yong mengangguk. “Aku tahu itu,” katanya.
Lam Kim seperti tidak mendegar perkataan si nona, ia bicara terus: “Tiat Ciang Pang menitahkan aku menangkap ular. Sampai sebegitu jauh, aku tidak diganggu, bahkan dia
menitahkan aku mengusir kodok hijau untuk berkelahi dengan kodok besar dan juga
mengusir ular untuk memakani kodok besar itu. Hanya di dalam beberapa hari, tahulah aku apa sebabnya aksi mereka itu. Ialah mereka itu memperhatikan caranya semua binatang itu berkelahi, lalu mereka melatih diri dengan mencontoh perkelahiannya kodok hijau dan ular itu.”
Mendengar sampai di situ, Oey Yong berlompat bangun.
“Engko Ceng!” katanya, “Juga Khiu Cian Jin lagi mengharap-harap Kiu Im Cin-keng!”
Kwee Ceng tidak mengerti. “Bagaimana?” dia tanya.
“Dia lagi memahamkan ilmu silat Kap Moa Kang dari See Tok. Kalau nanti datang waktu pertemuan yang kedua kali di gunung Hoa San, dia mau menjadi jago nomor satu di kolong langit ini.”
Baru sekarang Kwee Ceng mengerti.
“Biar mereka berdua bertempur mati hidup, itu baru bagus,” kata Oey Yong. “Engko Ceng, coba bilang, di antara mereka berdua, siapa yang terlebih lihay?”
Kwee Ceng berpikir. Lantas ia menggoyang kepala.
“Aku tidak tahu, mereka sama lihaynya.”
“Ya, biarlah,” kata pula si nona. Ia berpaling kepada Lam Kim, untuk menanya: “Enci, bagaimana kejadiannya maka kau dimasuki ke dalam keranjang?”
“Aku telah menjadi budaknya, jangan kata baru dimasuki ke dalam keranjang, disuruh mendaki gunung golok atau masuk ke dalam kuali panas, semua terserah kepadanya ……” sahut nona Cin masgul.
Oey Yong tidak puas dengan jawaban itu, tetapi mengingat orang lagi bersusah hati, ia tidak bilang suatu apa.
“Aku hampir menjerit melihat adik Cin muncul dari dalam keranjang,” kata Liam Cu, yang melanjuti penuturannya. “Dia pun kaget. Bandit Tiat Ciang Pang itu berkata sambil tertawa kepada Yo Kang: ‘Siauw-ongya, permainan ini tak ada kecelaannya, bukan?’ Yo Kang menggoyang-goyang tangannya. ‘Jangan-jangan!’ katanya, ‘Lekas bawa dia pergi!
Kalau nona Bok ketahui ini, bisa onar ……’ Mendengar suaranya itu, aku menyangka dia benar berlaku baik padaku. Tapi si bandit membujuk: ‘Nona Bok mana tahu? Kalau ongya suka, lagi beberapa hari, apabila ongya turun gunung, dengan cara diam-diam kami nanti mengantarkan dia ke istana, tapi jika ongya sudah bosan, biarkan saja dia di sini. Semua akan dilakukan hingga iblis pun tidak tahu.’ Lantas dia pegang adik Cin, untuk ditarik keluar dari keranjang, dia kata: ‘Baik-baik kau melayani siauw-ongya. Inilah tugas bagus untukmu!’ Setelah itu dia suruh dua orangnya berlalu dengan membawa keranjang itu, dia sendiri turut berlalu sesudah memberi hormat pada Yo Kang. Ketika dia pergi, dia sekalian menutup pintu. Setelah berada sendirian, Yo Kang mengambil gunting, buat menggunting sumbu lilin, hingga apinya jadi lebih terang, hingga dia bisa memandang kecantikannya adik Cin. Sembari tertawa dia menghampirkan, untuk menarik tangan orang. Dia menanya nama dan umur adik Cin. Adik Cin tidak menyahuti.
Lantas ia dipeluk dan mukanya dicium, sembari tertawa dia kata; ‘Harum sungguh harum!’ Menyaksikan itu, bukan main panas hatiku, mataku seperti kabur, hingga aku tidak melihat apa yang dia lakukan terlebih jauh, sampai aku mendapatkan adik Cin memegang sebatang cagak kecil, dua cagaknya diarahkan ke dadanya sendiri. Ia mengancam: ‘Memang aku sudah tidak mengharap lagi jiwaku, asal kau langgar pula tubuhku, akan kubunuh diri di depanmu!’ Aku puji adik Cin. Aku juga harap Yo Kang nanti mundur. Dugaanku itu meleset. Acuh tak acuh, Yo Kang memutuskan dua buah kancing bajunya, dengan itu dia menyentil dua kali. Dengan satu kancing dia membikin jatuh cagak di tangan adik Cin dengan yang lain dia menotok urat gagu orang. Sampai di situ, habis sabarku, maka aku mendobrak jendela dan berlompat masuk ke dalam kamar. Dia tercengang tapi lantas dia tertawa.
“Adikku, kebetulan kau datang!” kata dia padaku. Entah kenapa melihat dia tertawa, hawa marahku lenyap separuhnya. Ketika kemudian dia membujuki aku, aku jadi bimbang, tidak tahu aku mesti berbuat apa. Adalah ketika itu, adik Oey, kau memanggil aku.”
“Ketika itu aku juga tidak menyangka kau berada di atas gunung Tiat Ciang San,” kata Oey Yong.
“Ketika enci bertempur sama Khiu Pangcu,” kata Liam Cu, “Aku pergi ke luar, niatku untuk membantui, tetapi entah ke mana perginya enci semua. Kembali hatiku menjadi jeri. Diam-diam aku kembali ke kamar, aku mengintai di jendela. Samar-samar aku melihat dia memeluk pula adik Cin. Tiba-tiba saja aku muntah darah, lantas aku berseru:
‘Baiklah, putus kita sampai di sini! Untuk selama-lamanya aku tidak akan melihat pula padamu!’ Tanpa menanti jawaban, aku lari turun gunung. Keadaan ada sangat kacau itu waktu. Aku melihat dengan membawa obor orang-orang Tiat Ciang Pang meluruk ke puncak Tiong Cie Hong. Dengan begitu, aku turun gunung tanpa rintangan. Hatiku menjadi tawar, niatku ialah untuk mati saja. Aku bertemu sebuah bangunan, yang gelap, aku langsung masuk ke dalamnya. Itulah sebuah kelenteng. Di tembok kiri aku melihat gambar lukisan seorang imam yang bersenjatakan sebatang pedang panjang, sikapnya gagah, di samping itu ada tulisan tiga huruf, bunyinya Wa Sie Jin, artinya orang mati yang hidup. Aku tidak tahu artinya kata-kata itu, hanya aku berpikir, kalau aku mati, siapa akan membalas sakit hati ayah dan ibu angkatku? Maka itu, aku lantas berdiam di situ, aku di terima menjadi murid oleh tookouw tua dari kelenteng tersebut. Besoknya aku merasakan tubuhku panas, lalu aku lupa akan diriku. Lewat beberapa hari, aku tersadar, aku mendapatkan adik Cin ini ada di depan pembaringanku, lagi merawati aku.
Ia pun telah berdandan sebagai tookouw.”
Oey Yong hendak menanya Lam Kim, bagaimana caranya dia lobos dari Tiat Ciang San, akan tetapi karena khawatir nanti dapat jawaban kurang tepat seperti tadi, ia membatalkan niatnya itu. Sebaliknya nona itu mengawasi Kwee Ceng, sikap siapa seperti juga nona Oey, agaknya ingin ia memperoleh keterangan. Ia lantas berkata:
“Orang she Yo itu telah digaplok beberapa kali oleh enci Bok, dia menjublak saja. Ketika dia mendengar suara berisik dari sakunya dia mengeluarkan pedang pendek, yang ia selipkan di pinggangnya, terus dia memadamkan api. Dia mendekati aku, dia mengusap-usap mukaku, setelah itu dia tertawa dan lompat keluar jendela. Kira satu jam, suara berisik menjadi kurangan, rupanya orang telah pada memburu turun gunung.
Sebenarnya itulah saatnya untuk aku melarikan diri, apa celaka si orang she Yo telah mengikat aku, hingga aku mesti rebah di samping pembaringan tanpa berdaya. Masih aku mendengar suara berisik, yang makin lama makin jauh dan akhirnya sirap. Selagi keadaan sunyi itu, si orang she Yo kembali dengan jalan melompati jendela seperti tadi.
Lantas dia duduk di kursinya, dari bayangannya aku melihat dia menunjang janggut, dia duduk terpekur. Kemudian aku mendengar dia mengoceh sendirian, katanya: ‘Bocah she Kwee itu berani mendaki gunung, mestinya di belakang dia ada orang yang pandai yang menyusul. Maka inilah bukan tempat yang bagus! Buat apa aku berdiam lama-lama di sini?’”
“Manusia hina!” kata Oey Yong sengit.
Lam Kim menyambungi: “Kemudian dia menepuk meja, dia kata: ‘Hm! Kau tidak sudi bertemu pula denganku selamanya …… Perduli apa? Asal usahaku berhasil, kekayaan dan kemuliaanku bakal tidak ada batasnya, itu waktu di dalam keratonku tentu telah berkumpul tiga ribu selir dan dayang! Mana aku kekurangan si cantik manis?”
“Dasar bangsat!” mendamprat Kwee Ceng yang mendongkol sekali.
Lam Kim terkejut mendapatkan tuan penolongnya begitu gusar. Ia tidak tahu, dari kata-katanya Yo Kang itu, terang sudah orang she Yo itu hendak menjual negara, untuk keuntungan dirinya sendiri.
“Coba kau cerita terus,” kata Kwee Ceng kemudian, sabar.
“Kau menghendaki aku bicara terus?” si nona menegasi.
“Kalau kau letih, kau beristirahatlah dulu,” sahut si pemuda.
Nona Cin mengawasi pula, air mukanya berubah, toh ia bersikap tenang.
“Letih, itulah tidak,” katanya. “Hanya aku mengalami kemalangan dan malu, susah aku mengatakannya ……”
“Kalau begitu, tidak usah kau bercerita. Mari kita omong dari lainnya hal.”
“Tidak. Sebenarnya aku mesti menuturkan semua supaya kau tahu.”
“Nah, nanti aku pergi ke sana, kau boleh bicara sama ini dua enci Bok dan Oey,”
berkata si pemuda yang lantas berbangkit, untuk bertindak pergi. Ia menduga tentulah Yo Kang sudah main gila terhadap nona ini, sehingga dia likat untuk menuturkan pengalamannya itu.
Tetapi Lam Kim berkata. “Jikalau kau pergi, sampai mati juga aku tidak akan menuturkan. Selama dua hari ini, enci Bok berlaku baik sekali padaku, meski begitu, aku tidak mau bercerita kepadanya ……”
Kwee Ceng memandang Oey Yong, nona itu mengedipi mata, menganjurkan ia berduduk, maka urung ia mengangkat kaki, bahkan ia duduk pula di tempatnya.
Lam Kim menghela napas. Ia nampak lega hatinya. Lantas ia mulai bercerita pula:
“Telah tetap keputusannya orang she Yo itu. Dia lantas berbenah. Untuk itu dia menyalakan api. Ketika dia melihat aku di tepi pembaringan, dia terperanjat. Dia menyangka bahwa aku sudah kabur. Dia membawa ciaktay, untuk menyuluhi mukaku.
Lantas dia tertawa dan berkata ‘Hm! Karena kau, aku kehilangan dia! Sekarang kau pikirlah. Jikalau kau suka menurut aku, akan aku ajak kau turun gunung. Kalau tidak, boleh tetap rebah di sini, supaya orang-orang Tiat Ciang Pang perlakukan apa mereka suka. Aku menjadi bingung, aku bersangsi. Berdiam di gunung, akibatnya tentu berbahaya, tetapi dengan turut dia, juga entah bagaimana akhirnya. Melihat aku berdiam saja, dia tertawa nyaring. Mendadak timbul nafsu binatangnya, dia lantas merusak diriku ……”
Tiga orang itu berdiam, cuma Bok Liam Cu berdiam sambil mengucurkan air mata.
Itulah bukti Yo Kang main gila terhadapnya. Ia tahu Yo Kang busuk tetapi tidaklah disangka dia hina begitu rupa. Ia pernah mengasih ampun, tetapi sekarang?
Lam Kim tenang luar biasa. Dia bercerita seperti juga dirinya tidak ada sangkutnya dengan ceritanya itu. Dia kata; “Karena aku telah ternodakan, aku lantas mengambil putusan. Aku ikut dia turun gunung. Aku telah pikir, aku mesti menuntut balas, habis mana, hendak aku menghabiskan jiwaku. Gunung Tiat Ciang San itu sangat berhahaya, dengan susah payah dia membantu aku turun. Sampai fajar muncul, kita masih ada di tengah gunung. Dia malu bertemu sama orang Tiat Ciang Pang, dia mengambil jalan dari belakang gunung. Dia sengaja memilih tempat yang tidak ada jalannya. Dengan begitu, sering dia merayap pada pohon rotan. Maka perjalanan jadi semakin lama.
Lereng gunung pun makin berbahaya. Di sana ada jurang yang dalam sekali, aku melihatnya hingga kakiku lemas. Tiba di tempat tinggi, kaki tanganku bergemetaran. Dia tertawa. ‘Aku nanti gendong kau, asal kau jangan bergerak! Nanti kita berdua habis ……’ Lantas dia jongkok di depanku. Aku pikir inilah ketika yang paling baik untukku, untuk mati bersama. Aku lantas mendekam di punggungnya kedua tanganku memeluk erat lebernya. Selagi dia hendak berbangkit, dengan kakiku, aku menjejak keras batu besar di sisiku. Dia kaget. dia menjerit keras. Kita berdua jatuh.”
Bok Liam Cu kaget hingga ia berkaok. Tapi segera ia ingat kejahatannya Yo Kang, lantas ia mengertak gigi. ia menguati hati.
“Aku merasakan tubuhku melayang,” Lam Kim meneruskan.
“Aku girang. Kalau tubuhku hancur lebur, dia tentu bakal hancur lebur juga.
Mendadak aku merasakan gentakan hebat, mataku kabur, hatiku memukul. Aku menduga habislah aku. Tapi segera aku mendengar Yo Kang tertawa terbahak. Ketika aku membuka mataku, aku melihat tangan kanannya merangkul cabang pohon cemara, yang tumbuh di lereng itu. Tubuh kita berdua bergelantungan di cabang itu, yang telah menolong jiwanya. Tapi dia tidak sadar bahwa aku hendak membikin celaka padanya.
Dia menyangka aku ketakutan dan tak dapat berdiri betul. Dia puas sekali yang kami ketolongan. Sembari tertawa dia kata: ‘Jikalau bukan siauw-ongya lihay ilmu silatnya, apa kira jiwa kecilmu masih ada?’ Pohon itu terpisah dari tanah cuma tujuh atau delapan tombak. Dia lantas merayap ke pohon. Dia kata pula: “Sekarang kita turun dulu ke lembah, di sana baru kita mencari jalan keluar.’ Di dalam lembah itu ada hanya rumput-rumput yang sudah busuk dan tulang-tulang binatang. Dengan satu tulang paha, dia membuka jalan, sembari jalan dia bicara sambil tertawa-tawa padaku. Aku takut dia curiga, nanti sukar aku turun tangan, terpaksa aku melayani dia bicara. Tidak lama, dia berteriak sambil lompat mundur.
Dia menggunai tulangnya membiak rumput tebal di mana tadi dia menaruh kaki. Di situ dia mendapatkan satu mayat, yang mengenakan baju kuning. Muka mayat rusak hingga tak dapat dilihat lagi, cuma kumis dan jenggotnya yang putih bertitikan darah segar. Rupanya belum lama dia jatuh mati di situ.”
“Si tua bangka Khiu Cian Lie telah mampus, toh masih ada orang yang melihat cecongornya!” kata Oey Yong.
“Yo Kang memeriksa tubuhnya mayat itu,” berkata pula Lam Kim. “Banyak barang yang didapatkan, seperti cincin, pedang pendek dan batu bata. ‘Kiranya tua bangka ini mati di sini,’ dia kata. Sembari berkata begitu, dia menarik keluar sejilid buku ……”
“Mungkin itu buku sulapnya,” kata Oey Yong.
Seperti yang tidak mendengar perkataan si nona, Lam Kim bercerita terus: “Si orang she Yo itu membuka dan memeriksa buku itu, kelihatannya dia ketarik hatinya, dia membalik-balik terus lembaran dengan romannya girang. Kemudian dia simpan buku itu di dalam sakunya. Habis itu kami berjalan terus. Satu hari kami berada di dalam selat, sampai magrib baru kami tiba di mulut selat itu. Kami mencari rumah seorang tani untuk menumpang bermalam. Dia suruh aku mengaku sebagai istrinya, katanya agar orang jangan curiga. Habis bersantap malam, dia menyalakan api, dia membuka buku yang tadi, untuk diperiksa pula. Aku melihat dia menggeraki tangan dan kakinya, seperti lagi bersilat. Rupanya buku itu ada buku pelajaran silat. Aku menyender di pembaringan letih dan berduka, rasanya malas aku bergerak. Mendadak aku mendengar dua kali suara kodok di luar jendela. Aku tahu betul, itulah suara kodok hijau dicekuk ular berbisa.
Dengan tiba-tiba aku mendapat pikiran. Aku ingat kakekku yang telah mati itu, ia tentu telah berkumpul bersama ayah ibuku, sekalian pamanku dan yang lainnya di dunia baka. Aku sebaliknya, di dalam dunia ini aku hidup sebatang kara, hidup menderita, sengsara dan ternoda, bahkan mau mati juga sukar. Karena mendapat ingat itu, aku kata pada orang she Yo itu: ‘Siauw-ongya, aku hendak keluar sebentar.’ Dia tertawa.
‘Baik,’ katanya. ‘Asal jangan kau memikir untuk kabur, sebab dalam sekejap, pasti aku dapat menyusul kau!’ Aku menjawab; ‘Aku lari? Lari ke mana?’ Ia tertawa pula dan kata:
‘Itu betul. Dengan tidak memikir lari, kaulah anak yang manis!’ Sekeluarnya dari kamar, aku pergi ke belakang. Aku berdiri sebentar. Aku mendengar suara si ular lagi menelan mangsanya. Diam-diam aku menghampirkan ular itu, aku tangkap ekornya, terus aku menekuk dia, lalu aku membungkusnya dengan sapu tangan. Lantas aku kembali ke dalam. Senang dia melihat aku kembali begitu cepat. Dia tertawa dan mengangguk-angguk. Kembali dia membaca bukunya itu. Kemudian dia kata; ‘Pergi kau tidur lebih dulu, sebentar aku temani kau.’ Di dalam hatiku, aku damprat dia: ‘Orang jahat, hari ini Thian menyuruhnya aku membalas sakit hatiku!”‘
Mendengar sampai di situ, Oey Yong lantas ketahui apa cara membalas sakit hati nona Cin ini. Liam Cu juga mendapat menduga samar-samar, maka teganglah hatinya.
Cuma Kwee Ceng yang masih belum mengerti.
“Aku mengebut pembaringan mengusir nyamuk, terus aku menurunkan kelambu,”
Lam Kim menyambungi pula. “Sembari merebahkan diri, aku membuka sapu tanganku, akan mengeluarkan ular itu. Aku menekannya, supaya dia tidak berkutik-kutik. Dengan tangan kiriku, dengan kipas, aku menutup tubuh ular. Kemudian aku menantikan. Aku mesti menahan napas. Sampai lama dia belum naik ke pembaringan, dia seperti melupakan aku. Hatiku berdenyutan. Aku khawatir aku gagal. Minyak pelita menjadi semakin kurang, cahayanya pun menjadi guram, akhirnya api padam. Barulah itu waktu aku mendengar dia tertawa dan berkata: ‘Haha, aku harus mati! Lantaran membaca buku saja, aku sampai melupakan si manis! Mustikaku, jangan kau sesalkan aku ……’
Aku tidak menyahuti, malah aku berlagak pulas dengan mengasih dengar suara menggeros perlahan. Tetapi kupingku kupasang. Aku mendengar dia menutup bukunya, yang di kasih masuk ke dalam sakunya. Aku mendengar dia membuka baju luarnya.
Aku mendengar juga dia naik di pembaringan dan membuka sepatunya. Ketika itu hawa sangat panas, dia meloloskan semua pakaiannya. Ketika dia memeluk aku, aku masih terus berpura-pura pulas, adalah tangan kiriku dengan perlahan-lahan menyingkirkan kipas, lalu tangan kananku membawa kepala ular ke dadanya. Dengan kukuku, aku mencubit ular itu, membikinnya kesakitan dan kaget, karena mana dia lantas menggigit dada si jahat. Dia kaget, dia berteriak: ‘Apa?’ Terus dia berlompat turun dari pembaringan. Sekarang dia merasakan ular masih menggigit dadanya, dia menariknya hingga terlepas, tetapi gigi ular itu copot dan nancap di dadanya.”
Liam Cu kaget hingga ia berjingkrak bangun, matanya mengawasi nona Cin. Ia ini bercerita sampai di bagian sangat tegang itu tetapi romannya, suaranya juga, tenang-tenang saja. Menampak demikian, nona Bok ini kagumsekali.
“Dia lantas berteriak-teriak: ‘Ular! Ular!”‘ Lam Kim masih meneruskan dengan sabar sekali. “Ketika itu aku masih belum memikir lantas mati, aku hendak menyaksikan dia tersiksa, habis itu baru aku mau pergi ke dunia baka menjenguk kakek dan ayah bundaku, maka aku pun berpura-pura kaget dan berteriak-teriak: ‘Apa? Ular? Mana?
Mana?’ Dia menyahuti: ‘Aku digigit ular!’ Aku menanya pula: ‘Mana ularnya? Lekas pasang api! Lekas!’ Benar-benar dia menyalakan api. Aku melihat empat liang kecil dan hitam-hitam di dadanya, diam-diam aku bergirang. Lantas aku kata padanya: ‘Kau rebah saja, jangan bergerak, nanti aku pergi mencari daun obat-obatan.’ Tuan rumah pun bangun dengan kaget. Dia kata: ‘Memang di sini ada ular berbisa, hanya heran dia bolehnya naik ke pembaringan ……’ Aku lantas bawa pelita dan pergi ke luar, untuk mencari daun obat-obatan. Yang aku cari bukan daun obat untuk memunahkan bisa ular, sebaliknya obat yang bisa membikin racun ular itu bekerja semakin berbahaya ……”
Ketika si. nona bercerita sampai di situ, sebelah tangannya Liam Cu melayang ke mukanya, hingga sebelah pipinya menjadi merah dan bengkak.
Oey Yong lantas menyambar tangannya nona Bok. “Enci, bukankah binatang itu harus mendapatkan bagiannya?” ia menegur.
Liam Cu berdiam, kepalanya pusing. Ia berdiam dengan mata mendelong.
Lam Kim telah di tempiling ia tidak menggubrisnya, ia masih melanjuti ceritanya:
“Daun obat itu tidak dapat dicari dalam tempo sebentaran itu, aku pun tidak terus mencarinya. Dia telah digigit ular beracun, dia tidak dapat bertahan enam jam, maka aku mencabut rumput sembarangan, aku mamah itu, dengan itu aku beborehkan dia.
Dadanya itu telah bengkak dan bergaris hitam. Beberapa kali sudah dia pingsan. Aku berduduk di sisinya berpura-pura menangis. Mulanya aku berpura-pura, di akhirnya aku menangis benar-benar. Aku ingat akan nasibku, aku jadi sangat bersedih. Satu kali dia sadar dia mengawasi aku dengan tajam. Rupanya dia menyangka akulah yang sengaja menggigitkan ular itu kepadanya. Setelah melihat aku menangis, kecurigaannya itulenyap. ia menghela napas dan kata; Akhirnya toh ada juga seorang yang mengucurkan air mata untukku ……’ Dari tengah malam sampai fajar, lagi tiga kali dia pingsan lantas dia kedinginan, tubuhnya menggigil. Dia rupanya menduga jiwanya tidak bakal ketolongan lagi, dia kata padaku: ‘Aku mau minta tolong padamu, kalau beres dan berhasil, kau akan mendapat pembalasan baik sekali.’ Aku menjawab, ‘Aku tidak mengharapi hadiah. Kau sebutkan saja. Dia menyuruh aku mengambil bukunya dari sakunya, dia kata: ‘Kalau aku sudah mati, kau ambil pedang pendekku ini, bersama ini buku, kau mengantarkannya ke istana Pangeran Chao Wang dari negara Kim, kau mesti menyerahkannya sendiri di tangan pangeran itu. Bilang bahwa halnya surat wasiat Gak Bu Bok berada di dalam buku ini.”
Mendengar itu Oey Yong dan Kwee Ceng saling mengawasi hati mereka sama bertanya: “Kenapa bukunya Khiu Cian Lie itu ada hubungannya sama bukunya Gak Hui?”
“Dengan tenaganya yang hampir habis, dia melanjuti pesannya padaku,” Lam Kim melanjuti tanpa memperhatikan sikap orang-orang di dekatnya itu. “Dia kata: ‘Kau beritahu kepada Chao Wang bahwa dengan mulutku sendiri aku menjanjikan kau supaya kau diangkat menjadi permaisuri. Dengan begitu, maka kau bakal hidup senang dan mulia tak ada taranya.’ Aku mengangguk tanpa membilang suatu apa. Dia tertawa sedih dan menanya: ‘Kenapa kau tidak menghaturkan terima kasih padaku?’ Aku tetap tidak menyahuti. Aku telah memikir, sesudah dia tidak dapat menggeraki tangan dan kakinya, hendak aku membikin hancur kitab itu di depan matanya, supaya di saat kematiannya itu tidak saja dia tersiksa lahir tetapi juga bathinnya ……”
“Kau! Kau!” membentak Liam Cu bengis. “Kenapa kau begitu kejam? Benar dia berbuat tak pantas kepadamu tetapi itu disebabkan dia menyukai kecantikanmu?!”
Oey Yong berduka, “Sayang, saying ……” katanya perlahan.
“Sayang?” kata Lam Kim. Baru sekarang ia memperhatikan suara orang. “Manusia begitu jahat tetapi kematiannya masih di sayangi?”
Nona ini keliru mengerti. Oey Yong menjawab dia: “Aku bukan menyayangi dia, aku menyayangi bukunya itu ……”
Nona Cin tidak meladeni pula, ia hanya melanjutkan: “Di waktu fajar, manusia jahat itu berteriak-teriak meminta air. Aku menuangi air ke dalam sebuah mangkok dan meletaki mangkok itu di tepi pembaringan. ‘Ini air’, kataku. Dia mengulur tangannya, untuk mengambil mangkok itu. Aku menggesernya sedikit jauh. Dia tidak dapat mengambil, maka dia memaksakan diri untuk bangun, untuk berduduk. Nyata tenaganya tidak mengijinkannya. ‘Tolong, tolong kau kasihkan aku ……” dia minta. ‘Kau ambil sendiri,’ kataku. Dia mengeluarkan seluruh tenaganya, tangannya dilonjorkan. Dia berhasil mengambil mangkok air itu. Nampaknya dia girang sekali. Akan tetapi tangannya kaku, tangannya itu tidak dapat ditekuk, ketika dia memaksa menekuknya, prang! Maka mangkok itu terlepas dan jatuh pecah di tanah. Aku tahu bahwa dia telah habis tenaganya, maka aku ambil bukunya, aku bawa ke depannya seraya berkata:
‘Bukankah kau menghendaki buku ini aku membawanya ke istana Chao Wang? Baiklah, kau lihat!’ Aku merobeknya selembar, lembaran itu aku merobek-robeknya pula. Dia nampak kaget. ‘Kau …… kau ……” katanya. Terang dia kaget dan gusar. Aku hendak menyiksa dia. Habis merobek selembar, aku merobek selembar lainnya. Dia gusar hingga dia pingsan. Aku menanti, aku menanti sampai dia sadar, lalu aku merobek pula.
Demikian sampai aku merobek beberapa lembar, dia lantas merapatkan matanya, tidak suka dia melihatnya lebih jauh. Meski dia tidak melihat, kupingnya dapat mendengar, kupingnya itu masih mendengar terus. Demikian dia mendengari suara robekan kertas ……”
Seorang diri Lam Kim berbicara, tiga orang mendengari dia. Tiga orang ini masing-masing kesannya. Mereka seperti dapat membayangkan romannya Yo Kang di atas pembaringannya, selagi nona Cin merobeki kertasnya.
“Tiba-tiba aku melihat perubahan pada air mukanya,” nona Cin melanjuti. “Dia seperti lagi memasang kuping, memperhatikan sesuatu. Aku berhenti merobek kertas. Aku juga memasang kupingku. Segera aku mendengar suara bicaranya beberapa orang serta tindakan kaki mereka itu, mulanya jauh. Di saat kematiannya, binatang itu masih licik sekali. Dia berpura-pura tidak mendengar suara itu. ‘Air, air, kasih aku air ……’ katanya.
Aku mendengar suara orang datang semakin dekat, datang sampai di luar rumah.
Lantas aku mendengar cacian: ‘Binatang perempuan! Pastilah dua binatang cilik itu diambil. Sin Soan Cu!’ Lantas terdengar suara seorang lain: “Menurut aku, baiklah perempuan hina itu dibakar mampus berikut binatang cilik itu!’ Lagi seorang berkata:
‘Tidak dapat kita berbuat demikian. Kalau dia tidak terbakar mati? Binatang itu lihay, dia bisa menjadi biang penyakit untuk kaum kita Tiat Ciang Pang.’ Mendengar mereka ada orang-orang Tiat Ciang Pang, aku kaget. Aku takut mereka nanti masuk dan menolongi orang she Yo itu. Tiat Ciang Pang memelihara banyak ular berbisa, mereka pasti bisa mengobati siapa keracunan bisa ular. Lantas aku menjumput pecahan mangkok. Aku sudah memikir, kalau mereka itu masuk ke dalam, hendak aku membinasakan dulu si orang she Yo, setelah itu baru aku membunuh diri. Aku takut dia membuka mulut, maka dengan bajunya aku membungkus kepalanya dan mulutnya aku sumbat dengan hancuran kertas. Entah bagaimana, orang-orang Tiat Ciang Pang itu lewat terus, tidakada seorang juga yang mampir dan masuk ke dalam rumah. Setelah merasa orang sudah pergi jauh, aku membukai bungkusan kepalanya. Aku berniat mengulangimenyobek lembaran buku itu. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu pekarangan ditolak.
Aku heran. Aku tahu di situ sudah tidak ada orang lain. Suami istri petani pemilik rumah itu, sudah pergi ke sawahnya. Aku pergi ke pintu dan mengintai. Aku melihat delapan orang datang sambil berpegangan tangan, perlahan jalannya, tangan mereka mencekal masing-masing sebatang galah, yang mereka ketruk-ketruki ke tanah. Nyatalah mereka semua orang-orang buta dan pakaian mereka dekil, tetapi masih terlihat tegas, asalnya pakaian itu ialah putih.”
“Itulah budak-budaknya si bisa bangkotan,” kata Oey Yong perlahan.
Lam Kim menoleh kepada Kwee Ceng dan berkata:
“Baru-baru ini ketika inkong dan aku berada di dalam rimba, selagi inkong hendak menangkap hiat-niauw, aku melihat sendiri budak-budak jahat itu dipatuki burung api itu, maka itu aku lantas mengenali mereka. Dengan lantas aku pakai baju panjang itu menutup pula muka si bangsat. Lalu aku mendengar seorang budak jahat itu berkata, “Ngamal, ngamal …… bagilah sayur dan nasi dingin pada orang-orang buta ……’ Aku tidak berani bersuara, aku diam saja. Si buta itu berkata pula, dia mengemis nasi. Aku tetap tidak menjawab. Beberapa kali permintaannya itu diulangi. Akhirnya aku dengar, ‘Di sini tidak ada lain orang, mari kita mencari ke lain tempat. Tadinya mereka itu pada berduduk, lantas mereka pada bangun berdiri. Aku khawatir mereka nanti masuk kedalam, maka aku lantas batuk-batuk, terus aku membuka pintu. Aku tanya mereka itu siapa. Nampaknya mereka itu kaget. Yang satu lantas berkata, ‘Nona, sukalah berlaku baik, tolong kau membagi makanan untuk kami.’ Yang lainnya mengeluarkan sepotong perak dari sakunya seraya berkata; ‘Kita membeli dengan uang ……’ Aku lantasmempersilahkan mereka duduk, kataku, nanti aku masak nasi untuk mereka. Aku ingin mereka lekas-lekas pergi. Aku lantas pergi ke dapur, aku masak nasi, aku menggorengi sayur. Demikian mereka duduk berdahar. Habis mereka bersantap, disaat mereka mau pergi, mendadak si orang she Yo berteriak. Aku lari ke dalam. Aku melihat dia mencoba berduduk, tangannya menuding aku, dengan roman ketakutan, dia berteriak pula;
‘Auwyang Kongcu! Auwyang Kongcu!’ Aku kaget hingga aku mencelat. Aku tidak tahu siapa itu Auwyang Kongcu. Aku berkhawatir sekali, aku takut orang-orang buta itu mendengar suaranya. Maka aku pungut bajunya, untuk membungkus pula kepalanya. Di luar dugaanku, dia menjadi kuat sekali, dia berontak hingga aku terjatuh. Lagi sekali dia mengasih dengar suaranya; ‘Auwyang Kongcu, kau, kau ampuni aku …… kau ampuni aku ……’”
Oey Yong, Kwee Ceng dan Bok Liam Cu meliha tegas Yo Kang membunuh Auwyang Kongcu, mereka mengerti ketakutannya Yo Kang dalam keadaan was-wasnya itu, meski begitu, mereka merasakan punggung mereka dingin. Mereka merasa ngeri. Bahkannona Oey, meskipun dia gagah, dia berlompat kepada Kwee Ceng, untuk duduk menyenderkan tubuhnya.
Lam Kim melihat eratnya perhubungan muda-mud itu, sakit ia merasakan hatinya.
Tapi ia meneruskan: ‘Begitu orang she Yo itu menyebut-nyebut Auwyang Kongcu, budak-budak buta itu pada nerobos ke dalam, mulut mereka bertanya berulang-ulang:
‘Kongcu! Kongcu’! Kau di mana?’ Aku menjadi kaget. Tahulah aku, mereka itu bujang dan majikan. Aku merasa aku bakal gagal. Dalam takutku, aku lantas lari. Entah kenapa,
waktu itu aku tak lagi ingin mati. Aku takut nanti ditangkap mereka, aku bisa disiksa, maka aku kabur terus. Bagaikan ada malaikat yang menunjuki aku lari sampai di kuilnya enci Bok, justru enci Bok lagi sakit berat, tubuhnya sangat panas. Aku lantas merawati sebisanya. Malam itu aku berpikir keras, akhirnya, aku minta too-kouw tua itu menerima aku sebagai muridnya. Dua hari kemudian baru panas tubuhnya enci Bok kurangan dan ia sadar ……”
“Kemudian bagaimana?” Liam Cu memotong cerita nona itu.
“Bagimana? Tentu saja dia mati!” menyahut Lam Kim.
“Nanti, nanti aku lihat ……!” Sambil berkata begitu, Liam Cu berlompat bangun, terus dia lari.
“Enci! Enci!” Oey Yong memanggil.
Liam Cu tidak mendengar, dia lari terus, hingga sebentar saja dia lenyap di sebuah pengkolan. Oey Yong bertiga tahu Liam Cu tidak dapat melupakan Yo Kang, tidak perduli orang she Yo itu terbukti kejahatannya. Mereka menghela napas.
Setelah berdiam sekian lama, Lam Kim berbangkit.
“Inkong,” katanya perlahan pada Kwee Ceng, “Aku telah menutur segala apa, maka bersyukurlah kepada Thian, aku dapat dipertemukan pula kepada inkong.” Ia merogoh ke sakunya, ia mengeluarkan sejilid buku yang sudah rusak, ia menyerahkan itu pada sianak muda seraya menambahkan: “Buku ini telah aku robek belasan lembarannya, aku tidak tahu ini sebenarnya buku apa, tetapi orang she Yo itu menganggapnya sebagai mustika, maka mungkin ada faedahnya. Coba inkong periksa.”
Kwee Ceng menyambuti buku itu, tanpa memeriksa lagi, ia masuki ke dalam sakunya.
“Sekarang kau berniat pergi ke mana?” ia menanya. Ia lebih memerlukan nasibnya nona yang berperuntungan sangat malang ini.
“Aku telah bertemu pula sama inkong, untukku, ke mana aku pergi, sama saja,”
menyahut nona Cin. “Kelihatannya Tiat Ciang Pang bermaksud tidak baik kepada inkong maka itu aku harap inkong berdua suka berhati-hati.”
“Kenapa kau ketahui tukang perahu itu orang Tiat Ciang Pang?” Oey Yong tanya“Sebab dialah orang yang memasuki aku ke dalam keranjang dan menyerahkan aku pada si orang she Yo itu.”
“Oh ……” kata nona Oey yang lantas telah mengetahuinya bagaimana ia harus mengambil sikap kepada si tukang perahu.
“Setelah enci Bok sembuh, kita berdamai untuk melakukan perjalanan bersama,”
Lam Kim masih berkata lebih jauh. “Demikian tadi di rumah makan, kami melihat inkong berdua serta itu tukang perahu. Dasar Thian tidak mengijinkan orang jahat dapat berbuat sesukanya, kami telah dibuatnya memergoki dia.”
Habis mengucap, si nona memberi hormat kepada Oey Yong, terus ia berlutut pada Kwee Ceng seraya berkata; “Sekarang perkenankan aku meminta diri. Semoga inkong panjang umur dan beruntung!”
Kwee Ceng mengasih bangun nona itu, hatinya pepat, Tidak tahu ia mesti membilang apa.
“Enci Cin,” berkata Oey Yong, “Kau sudah tidak punya rumah, maka baiklah kau turut kami pergi ke Kanglam.”
Lam Kim menggeleng kepala.
“Aku berniat balik ke hutannya kakekku,” katanya.
“Kau tinggal sebatang kara, mana dapat?” Oey Yong kata.
“Seumurku, aku memang bersendirian saja ……”
Oey Yong berpaling kepada Kwee Ceng, ia membungkam.
Lam Kim menoleh kepada si anak muda, habis mana ia memutar tubuhnya, untuk bertindak pergi.
Pemuda itu masih menjublak sampai ia ingat suatu apa.
“Nona, tunggu dulu!” ia memanggil.
Nona itu menghentikan tindakannya, ia tidak memutar tubuhnya.
“Nona, kalau kau ketemu lagi orang jahat, bagaimana?” Kwee Ceng tanya, nona itu tunduk, ia menyahuti dengan perlahan: “Aku sebatang kara dan lemah, aku cuma akan menerima nasib saja ……”
“Mari aku ajarkan kau serupa ilmu,” berkata Kwee Ceng, “Jikalau kau rajin mempelajarinya, aku percaya lain kali kau bisa melawan sedikitnya lima orang.”
Nona itu berpikir sebentar, lalu ia memberikan penyahutannya: “Baiklah kalau inkong menitahkannya, nanti aku mempelajarinya.”
Kwee Ceng heran melihat orang tidak bergembira karenanya. Ia lantas mengajari nona itu ilmu yang ia dapatkan dari Tan Yang Cu Ma Giok selama di gurun pasir. Itulah ilmu tenaga dalam, Lwee Kang Sim-hoat yang terdiri dari sepuluh jurus.’
Lam Kim berotak cerdas, ia memperhatikan pengajaran itu. Tidak lama, ia telah dapat mengingat baik-baik.
“Setelah dipelajari sungguh-sungguh nanti baru nampak kefaedahannya pelajaran ini,” Kwee Ceng memberi keterangan. “Kau tidak mengerti ilmu silat, tetapi dengan meninju dan menendang kalang kabutan, kau dapat juga melukai orang.”
Nona itu berdiam, lalu ia meminta diri pula dan pergi dalam kesunyian.
Setelah orang pergi jauh, Oey Yong kata kepada kawannya: “Aku memberi selamat padamu telah mendapat seorang murid!”
“Mana dapat dibilang dialah muridku,” kata si anak muda. “Aku cuma mengharap dia tidak nanti diperhina lagi segala orang jahat.”
“Itulah sukar dibilang,” kata Oey Yong. “Sekalipun orang sepandai kau, kau masih dipermainkan orang jahat …….”
Kwee Ceng menghela napas.
“Di jaman kacau seperti ini, manusia kalah dengan anjing,” ia bilang. “Apa mau di kata ……?”
“Sekarang, mari kita mampusi anjing gagu itu!” berkata si anak muda tanya.
“Anjing gagu yang tadi,” sahut si nona, yang lantas menggerak-geraki tangannya seraya mengasih dengar suara ah-aha-uh-uh.
Melihat itu Kwee Ceng tertawa.
“Jadi kita tetap menaiki perahunya si gagu palsu itu?” ia menegaskan.
(Bersambung bab 67)

Bab 67
“Pasti kita akan memakai perahunya itu,” menyahut si nona. “Bangsat tua Khiu Cian Jin telah melukai hebat kepadaku, hendak aku membalas terhadapnya, umpama kata aku tidak sanggup melayani dia, puas juga sedikit hatiku apabila aku bisa menyingkirkan beberapa pengikutnya.”
Keduanya lantas kembali ke rumah makan. Di sana si tukang perahu yang gagu itu lagi tangal-tongol, mengharapi kedatangan orang. Ia menjadi girang sekali apabila ia menampak kembalinya si muda-mudi.
Dengan berlagak pilon, Kwee Ceng berdua pergi ke perahu orang Tiat Ciang Pang itu. Mereka melihat sebuah perahu sedang, tidak besar dan tidak kecil, dan gubuknya hitam. Itulah perahu pengangkutan yang paling banyak digunai di sungai Goan Kang. Di atas perahu ada dua orang, yang masih muda, yang lagi mencuci lantai.
Begitu keduanya turun ke perahu, tukang perahu itu melepaskan tambatannya dan menolak perahu ke tengah sungai di mana layar lantas dipasang. Kebetulan sekali angin Selatan meniup keras, perahu laju cepat mengikuti aliran sungai.
Kapan Kwee Ceng memikirkan kebinasaannya Yo Kang serta nasibnya Liam Cu dan Lam Kim, ia sangat berduka. Sambil menyenderkan tubuhnya, ia tunduk diam, matanya memandang jauh ke depan.
“Engko Ceng,” berkata Oey Yong tiba-tiba. “Coba kau kasih lihat bukunya nona Cin itu? Entah ada hubungan apa di antara itu buku dan buku wasiatnya Gak Bu Bok ……”
Anak muda itu seperti sadar.
“Hampir aku lupa!” katanya. Ia terus mengeluarkan bukunya, diserahkan pada sinona.
Oey Yong menyambuti, lantas ia membalik beberapa lembaran.
“Oh, kiranya begini!” katanya agak terperanjat. “Engko Ceng, mari lihat!”
Kwee Ceng berbangkit dan menghampirkan, ia duduk di samping si nona di tangan siapa ia melihat buku itu.
Ketika itu sudah magrib, sinar layung memain di permukaan air. Sinar itu, yang menyorot berbalik dari air, mengenakan juga mukanya si nona, baju dan buku di tangannya itu.
Sepasang muda-mudi itu besar hatinya, walaupun mereka berada di dalam kendaraan air musuh, mereka tidak takut. Dengan asyik mereka memperhatikan buku pemberian nona Cin itu.
Buku itu ada buku buah tangannya Siangkoan Kiam Lam, pangcu yang ke-23 dari Tiat Ciang Pang. Di situ Kiam Lam mencatat segala apa mengenai sepak terjang partainya. Dialah salah seorang punggawanya jenderal Han See Tiong. Ketika Gak Hui terbinasakan dorna Cin Kwee dan Jenderal Han dipecat, dia pun berhenti. Banyak orang sebawahan dan serdadunya, yang turut mengundurkan diri dan hidup bertani. Tapi dia benci kawanan dorna, yang menguasai pemerintahan, maka dia mengajak serombongan sebawahannya, yang menyetujui cita-citanya untuk menaruh kaki diwilayah Kheng-siang, bekerja sebagai berandal. Hanya kemudian, mereka masuk dalam kalangan Tiat Ciang Pang, malah ketika pangcu yang tua menutup mata, dia menyambut sebagai gantinya. Mulanya Tiat Ciang Pang ada perkumpulan biasa saja akan tetapi setelah dipimpin dia, sifatnya berubah dan menjadi kuat. Dia berhasil mengumpul kawan orang-orang gagah di Ouwlam dan Ouwpak, hingga kedudukannya tangguh seimbang dengan kedudukan Kay Pang di Utara. Tidak pernah Kiam Lam melupakan negara dan musuh negaranya, untuk membangunnya pula, sering dia mengirim mata-mata ke Lim-an. Ia mengharap ketika baik guna bergerak. Kemudian Kaisar Kho Cong mengundurkan diri dari takhta kerajaan, yang ia serahkan kepada Kaisar Hauw cong, ia sendiri merasa senang menjadi Thay sianghong. Kaisar Hauw Gong ingat kesetiaannya Gak Hui, ia menitahkan memindahkan kuburannya dari tepi jembatan Cong An Kio ke tepian See Ouw, Telaga Barat, di mana pun dibangun rumah abunya, sedang pakaian dan semua barang lainnya dari Gak Bu Bok disimpan di istana.
Malamnya dari siangnya jenazah dipindahkan, bekas orang-orangnya Gak Hui datang dengan diam-diam untuk bersembahyang. Mata-mata Tiat Ciang Pang di Lim-an mengetahui hal itu dan mendengarnya juga bahwa di antara warisan Gak Bu Bok ada sejilid kitab tentang ilmu perang, maka hal itu diwartakan ke Tiat Ciang San. Kiam Lam lantas bekerja. Ia mengajak sejumlah orangnya yang pandai, mereka berangkat ke kota raja. Pada suatu malam mereka memasuki istana dan berhasil mencuri kitabnya Gak Hui itu, yang mana malam itu juga dibawa dan diserahkan kepada Han See Tiong.
Ketika itu Jenderal Han sudah berusia lanjut dan bersama istrinya, Nio Hong Giok, ia tinggal menyendiri di tepi See Ouw. Dia telah terbangun semangatnya menyaksikankitabnya Gak Hui itu, hingga ia menghunus pedang dan membacok meja. Ia menghela napas. Untuk memperingati sahabat kekalnya itu, Gak Hui, ia lantas mengumpulkan pelbagai karyanya Gak Bu Bok, dijadikan sebuah buku, buku mana dia kasihkan pada Siangkoan Kiam Lam, yang dinasehati untuk mencoba mewujudkan cita-cita Gak Hui untuk mengusir bangsa asing, guna membangun pula negara sendiri. Kiam Lam menerima itu semua. Ia juga bisa berpikir, maka ia ingat, tidak mungkin Gak Hui menulis kitab perangnya itu untuk dibawa ke kubur, tentulah itu untuk diwariskan kepada suatu orang, hanya saking kerasnya penjagaan Cin Kwee, kitab tersebut tak sempat disampaikan. Pula mungkin, karena sesuatu sebab, orang yang harus menerima kitab tidak keburu sampai di kota raja. Kalau ini benar, ada kemungkinan orang itu datang keistana dan menubruk tempat kosong disebabkan kitab itu sudah tercuri. Karena ini, ia lantas membikin petanya gunung Tiat Ciang San diberikuti keterangan singkat bunyinya;
“Kitab warisan Gak Bu Bok adanya di Tiat Ciang San, di puncak Tiong Cie Hong, di lereng yang kedua.” Jenderal Han khawatir orang tidak mengerti petunjuk singkat itu, ia menambahkan dengan cabutan sayirnya Gak Bu Bok sendiri. Jenderal Han juga percaya bahwa orang yang bakal menerima warisan itu, jikalau bukannya murid Gak Bu Bok sendiri, tentulah salah seorang sebawahannya.
Kapan Siangkoan Kiam Lam telah pulang ke Tiat Ciang San, ia memanggil kumpul banyak pencinta negara, ia mengajaknya mereka bergerak. Tapi pemerintah Song jeri kepada negara Kim, bukan saja gerakan mulia itu tidak ditunjang bahkan ditindas, dalam hal mana, bangsa Kim pun membantu. Maka gagallah usahanya Siangkoan Kiam Lam, ia mati di atas puncak Tiat Ciang Hong karena luka-lukanya. Bukunya itu bagian belakang, tulisannya tidak karuan, mungkin ditulis sesudah dia terluka. Yang paling hebat ialah setelah belasan lembarnya dirobek-robek Cin Lam Kim.
“Tidak disangka Siangkoan Pangcu seorang pencinta negara,” kata Kwee Ceng masgul, hingga ia menghela napas. “Sampai pada ajalnya, dia masih memegangi erat-erat bukunya ini. Aku tadinya menduga dia sama dengan Khiu Cian Jin si pengkhianat, mulanya aku memandang rendah kepadanya. Kalau tahu begini, tentulah aku sudah menghunjuk hormatku kepada tulang-belulangnya itu.”
Tidak lama dari itu, cuaca mulai gelap, maka tukang perahu meminggirkan perahunya dan menambatnya, hendak ia masak nasi dan menyembelih ayam, untuk mempersiapkan barang makanan.
Oey Yong dan Kwee Ceng khawatir nanti diracuni, dengan alasan si tukang perahu tidak resik, mereka membawa daging ayam dan sayurannya ke darat, ke rumah seorang desa, untuk tolong dimatangi, untuk mereka bersantap di sana.
Tukang perahu itu mendongkol, tetapi karena dia gagu, dia tidak bisa bilang apa-apa kecuali nampak sinar mata dan romannya yang muram.
Habis bersantap, sepasang muda-mudi itu masih berangin di bawah pohon di depan rumah si orang kampung.
“Entah apa yang ditulis dalam beberapa lembar halaman yang dirobek enci Cin itu,”
berkata si nona. “Di dalam dunia ini cuma Khiu Cian Lie dan Yo Kang yang pernah membaca itu tetapi mereka dua-duanya telah mati.”
“Khiu Cian Lie cuma mengambil buku ini, tidak bukunya Gak Bu Bok, kenapakah?” tanya Kwee Ceng
“Mungkin itu disebabkan dia mendapat dengar suara kita. Dan baru ambil jilid ini, dia tidak berani mengambil jilid lainnya. Mungkin beberapa lembar yang tersobek itu penting isinya. Bukankah si tua bangka sangat memperhatikan itu?”
“Hanya heran tentang Siangkoan Pangcu itu. Dia lari ke puncak. Kenapa tentara negeri tidak mengejarnya terus?”
“Ini pun aneh. Rupanya cuma setelah melihat isinya sobekan baru duduknya hal akan dapat dimengerti ……” kata si nona, yang mendadak tertawa. “Kalau enci Cin tidak merobeknya dan kejadian dia pergi kepada Wanyen Lieh, itu waktu pasti bakal ada pertunjukan yang bagus sekali ……” Ia berhenti pula, atau kembali ia berkata, berseru; “Bagus!”
“Apakah itu?” Kwee Ceng menanya.
“Kita menyerahkan buku ini kepada Wanyen Lieh,” menerangkan si nona. “Dengan begitu, dia pasti akan mengirim orang ke Tiat Ciang San untuk mencari buku warisan Gak Bu Bok itu. Bukankah Tiong Cie Hong tempat keramat Tiat Ciang Pang? Mana Khiu Cian Jin suka membiarkan tempat sucinya diganggu? Maka itu pasti sekali mereka bakal saling bunuh di antara kawan sendiri! Tidakkah ini bagus?”
“Ya, itu benar bagus!” Kwee Ceng kata sambil bertepuk tangan.
“Aku tidak sangka sekali Suko Kiok Leng Hong telah mendirikan jasa besar sekali!” kata Oey Yong yang pun girang.
Kwee Ceng tidak mengerti. “Bagaimana?” ia tanya. “Kitab Gak Bu Bok disimpan didalam gua di tepi Cui Han Tong di dalam istana,” berkata si nona. “Karena Siangkoan Kiam Lam telah mencurinya dari sana, tentulah gambarnya ia telah taruh di tempat buku itu. Benar bukan?”
“Benar.”
“Kiok Suko telah diusir dari Tho Hoa To tetapi ia tidak melupakan budi gurunya. Ia tahu ayah gemar akan tulisan, gambar dan barang lainnya asal barang kuno, ia rupanya ketahui semua itu ada terdapat banyak di dalam istana, maka tanpa menghiraukan bahaya, ia nyelundup ke istana dan berhasil mencuri banyak gambar, tulisan dan lainnya ……”
“Benar, benar!” Kwee Ceng bilang. “Sukomu itu telah mencuri semua itu berikut gambar peta rahasia itu, lalu semuanya dia simpan di kamar rahasia di Gu-kee-cun, untuk dia nanti menghadiahkan kepada ayahmu, maka apa lacur, dia kena disusul rombongan siewi dan kena dibinasakan. Maka itu ketika Wanyen Lieh pergi ke istana, ia kebogehan, sudah buku Gak Hui tidak ada, petanya juga hilang. Ah, kalau tahu begitu, selama di gua itu tidak usah kita mati-matian merintangi mereka, hingga aku tidak nanti sampai dilukai si bisa bangkotan dan kau tidak usah bersusah hati tujuh hari tujuh malam ……”
“Soalnya tidak dapat dipandang dari sudutmu itu,” membantah si nona. “Jikalau kau tidak beristirahat di kamar rahasia itu, mana kita bisa dapatkan gambar peta itu? Juga mana ……” Ia berdiam. Ia menjadi ingat pertemuannya sama putri Gochin Baki. Maka ia jadi masgul. Selang sesaat, ia kata pula: “Entah bagaimana dengan ayahku sekarang ……?”
Ia memandang rembulan sisir.
“Segera bakal tiba Pee-gwee Tiong Ciu,” katanya. “Setelah pertandingan di Yan Ie Lauw di Kee-hin, apakah kau bakal kembali ke gurun pasir di Mongolia?”
“Tidak. Lebih dulu aku membunuh Wanyen Lieh, guna membalaskan sakit hatinya ayahku dan paman Yo.”
“Setelah itu?” tanya si nona, matanya tetap mengawasi si Putri Malam.
“Masih banyak urusan lainnya! Suhu mesti diobati dulu hingga sembuh. Pula Ciu Toako mesti dicari, untuk menyuruh dia pergi ke rawa lumpur hitam kepada Eng Kouw ……”
“Setelah semua itu beres, kau toh akhirnya kembali ke Mongolia?”
Kwee Ceng tidak bisa menyahut, tak tahu ia mesti membilang apa.
“Ah, aku tolol!” kata si nona tiba-tiba. “Perlu apa aku memikirkan semua itu? Justru ada ini ketika baik, satu hari lebih lama kita berkumpul, satu hari terlebih baik! Mari kita kembali ke perahu, kita permainkan si gagu palsu itu ……”
Kwee Ceng menurut. Keduanya berjalan pulang. Tiba di perahu, tukang perahu dan dua pembantunya sudah tidur.
“Pergi kau tidur, aku nanti berjaga-jaga,” Kwee Ceng membisiki si nona.
Oey Yong merasakan kesehatannya belum pulih semua, maka itu ia letaki kepalanya di paha si anak muda. Dengan perlahan ia pulas.
Kwee Ceng tidak mau membikin tukang perahu nanti curiga, meskipun ia tidak menginginkan, ia terpaksa merebahkan diri, hanya diam-diam ia menghapal ajaran It Teng Taysu bagian dari Kiu Im Cin-keng yang memakai bahasa Sansekerta. Ia menghapali terus sekitar satu jam, akhirnya ia menjadi gembira. Tidak saja ia tidak merasa kantuk, ia bahkan menjadi segar. Hanya tengah ia bergirang itu, ia mendengar Oey Yong mengigau perlahan: “Engko Ceng, jangan kau menikah sama putri Mongolia itu, aku sendiri yang hendak menikah denganmu.” Ia melengak. Kembali ia mendengar suara si nona: “Bukan bukan, aku salah omong. Aku tidak meminta apa-apa dari kau, aku tahu kau suka aku, itu saja sudah cukup.”
“Yong-jie, Yong-jie,” kata si anak muda terdengar. Oey Yong tidak menyahuti, hanya napasnya perlahan.
Pemuda itu bingung. Ia mencintai si nona, ia merasa kasihan. Ia mengawasi wajah orang yang tidur nyenyak di pahanya itu. Paras si nona itu putih tersinarkan cahaya rembulan, karena kesehatannya belum pulih, kulit mukanya belum kembali bersemu dadu. Ia mengawasi dengan menjublak.
“Dia tentulah bermimpi dan dalam mimpinya ia mengingat peruntungan kita berdua,”
pikir anak muda ini. “Aku tidak boleh melihat dia dari sikapnya sehari-hari saja, yang bergembira, seperti orang tidak pernah berduka, sebenarnya di dalam hatinya, ia masgul. Ah, akulah yang membikin dia mengalami kesulitan ini. Coba itu hari kita tidak bertemu di Thio-kee-kauw, bukankah itu baik untuknya?”
Selagi yang satu bermimpi atau mengigau itu dan yang lain mengawsinya dengan pikiran bimbang, tiba-tiba di permukaan air itu terdengar suara pengayuh bekerja, lalu terlihat sebuah perahu mendatangi dari sebelah hulu.
Kwee Ceng menjadi heran.
“Air sungai ini sangat deras dan berbahaya, siapa begitu bernyali besar berani menjalankan perahu malam-malam?” pikirnya. Karena ini, ingin ia melihat. Ketika ia hendak mengangkat kepala, mendadak ia mengurungkan itu. Tiba-tiba ia mendengar tiga kali tepukan tangan perlahan dari perahunya. Diwaktu sunyi seperti itu, suara tepukan tangan itu nyata terdengarnya.
Setelah itu terdengar suara layar dibenahkan.
Tidak usah lama Kwee Ceng menanti akan mendapatkan perahu itu di pinggirkan dan dikasih nempel sama perahunya, maka dengan perlahan ia menepuk-nepuk tubuhnya Oey Yong untuk mengasih bangun kawannya itu.
Hampir di itu waktu, tubuh perahu bergoyang sedikit.
Pemuda itu segera mengintai. Ia masih sempat melihat satu orang, dalam rupa bayangan, berlompat ke perahu yang baru sampai itu. Orang itu ialah si tukang perahu yang berlagak gagu.
“Kau tunggu di sini, aku mau pergi melihat,” Kwee Ceng berbisik pada kawannya.
Oey Yong yang telah lantas bangun, mengangguk.
Dengan cepat Kwee Ceng pergi ke kepala perahu. Ia melihat perahu tetangga itu masih bergoyang, ia lantas lompat ke situ. Dengan membarengi bergoyangnya perahu ia membikin penghuni perahu itu tidak curiga. Dengan lantas ia mengintai. Maka terlihat olehnya tiga orang dengan pakaian hitam semua, seragamnya kaum Tiat Ciang Pang.
Pula ia mengenali satu di antaranya, yang tubuhnya tinggi besar, ialah Kiauw Thay yang pernah dipecundangi Oey Yong.
Pemuda ini sangat gesit, maka itu, ia seperti mendahului si tukang perahu. Sesudah ia mengintai, baru tukang perahu itu tiba di dalam gubuk. Segera dia ditanya Kiauw Thay: “Apa kedua binatang cilik itu ada di sini?”
“Ya,” menyahut si tukang perahu yang sekarang bisa bicara.
“Apakah mereka bercuriga?” Kiauw Thay menanya pula.
“Nampaknya tidak. Cuma mereka tidak sudi dahar dari itu aku tidak dapat bekerja.”
“Hm! Biarlah mereka mengantari jiwa di Chee-liong-tha! Lusa tengah hari perahu kamu tiba di Chee-liong-tha, terpisah satu lie dari muara itu, ada dusun Chee-liong-cip.
Di sana kau singgah kami nanti menantikan kamu untuk membantu.”
“Ya,” si tukang perahu menyahuti pula.
“Dua binatang cilik itu lihay, kau mesti berhati-bati,” Kiauw Thay memesan. “Kalau kau berhasil, pangcu bakal menghadiahkan kepadamu. Sekarang pergi kau balik keperahumu dengan ambil jalan dari dalam air, supaya perahumu itu tidak bergoyang, agar mereka tidak curiga.”
“Apakah Kiauw Cee-cu tidak ada titah lainnya?”
“Tidak!” menyahut Kiauw Thay seraya mengibaskan tangannya.
Tukang perahu itu lantas keluar dari gubuk perahu. Ia pergi ke belakang, di sana ia turun ke dalam air, untuk berenang ke perahunya sendiri.
Kwee Ceng berlaku sebat, ia mendahului kembali ke perahunya. Ia membikin Oey Yong apa ia lihat dan dengar.
“Hm!” kata si nona perlahan. “Di tempat It Teng Taysu, air jauh terlebih deras, kita tidak takut, apalagi segala Chee-liong-tha? Mari tidur!”
Karena mengetahui rencananya orang jahat, muda-mudi ini jadi lega hatinya.
Di hari ketiga pagi, ketika tukang perahu hendak mengangkat jangkar, untuk mulai berangkat pula, Oey Yong kata padanya: “Tunggu sebentar! Lebih dulu kau mendaratkan kuda kami jangan kalau nanti perahu karam di Chee-liong-tha, dia nanti mengantarkan jiwanya!”
Tukang perahu itu berlagak pilon.
Oey Yong tidak memperdulikannya, bersama Kwee Ceng ia menuntun kudanya mendarat.
“Yong-jie, baik kita jangan bergurau sama mereka,” kata Kwee Ceng perlahan. “Baik dari sini kita melanjuti perjalanan kita dengan menunggang kuda.”
“Kenapa begitu?” menanya si nona.
“Tiat Ciang Pang bangsa manusia rendah, buat apa melayani mereka? Kita diam-diam saja.”
“Apa dengan diam-diam saja kita aman?” tanya si nona.
Pemuda itu berdiam.
Oey Yong mengendorkan les kuda, tangannya menunjuk ke jalanan di sebelah utara.
Kuda itu mengerti. Sudah sering dia berpisah dari majikannya, senantiasa mereka dapat bertemu pula. Maka dia lari ke arah utara itu di mana sebentar kemudian dia lenyap.
“Mari kita kembali ke perahu,” kata si nona, menepuk tangan.
“Kesehatanmu belum pulih, perlu apa kau menempuh bahaya?” Kwee Ceng kata pula.
“Kita terpaksa,” sahut nona itu. Ia berjalan balik, ia turun ke perahunya.
Kwee Ceng mengiringi kawannya itu.
Putrinya Oey Yok Su tertawa, dia kata gembira; “Engko tolol, kita ada bersama, biar kita mengalami banyak yang aneh-aneh, kalau kemudian kita berpisah, bukankah jadi banyak yang dapat direnungkan? Bukankah itu bagus?”
Perahu berlayar sampai nampak sungai makin berbahaya. Di kiri dan kanan hamya nampak gunung atau tebing.
Kwee Ceng dan Oey Yong pergi ke kepala perahu, mereka melihat segala apa, maka insyaAah mereka akan bahayanya perjalanan ini. Untuk dapat maju melawan air,
perahu mesti ditarik orang. Di situ ada beberapa perahu lainnya. Perahu besar membutuhkan beberapa kuli, sedang perahu kecil, perlu delapan atau sembilan orang.
Kuli-kuli penarik itu telanjang dadanya dan kepalanya dilibat sabuk putih, sambil menarik mereka mengasih dengar suara bareng dan sama. Perahu yang berlayar milir hanyut pesat sekali.
Sepasang muda-mudi ini menduga mereka bakal segera mendekati Chee-liong-tha.
Hari pun makin lama makin siang.
“Yong-jie,” kata Kwee Ceng perlahan, “Aku tidak menyangka sungai Goan Kang mempunyai bagian yang airnya begini deras dan berbahaya. Mungkin bagian deras ini panjang sekali. Kalau perahu terbalik sedang kau masih belum segar, tidakkah itu berbahaya?”
“Habis bagaimana?”
“Kita bunuh saja tukang perahu itu lantas kita ke pinggir dan mendarat.”
Si nona menggeleng kepala.
“Itulah tidak menarik hati!” katanya.
“Memangnya sekarang waktunya main-main?”
“Aku justru menggemari itu!” si nona tertawa.
Pemuda itu berdiam, ia mengawasi ke depan dan ke kiri dan kanan. Ia lantas berpikir.
Berjalan lagi sekian lama, waktu sudah mendekati tengah hari. Setelah melintasi sebuah pengkolan, Kwee Ceng melihat di depan di pinggiran sungai, ada beberapa puluh rumah, yang tinggi dan rendah bergantung sama letaknya tanah pegunungan. Disitu, air jadi semakin deras. Ketika sebentar kemudian perahu tiba di dekat kumpulan rumah-rumah itu, di tepi sungai terlihat beberapa puluh orang yang seperti lagi menantikan.
Si tukang perahu lantas melemparkan dua lembar dadung ke darat, dadung mana disambuti beberapa puluh orang itu dan lantas dililit ke sebuah pelatok besar. Dengan ditarik, perahu itu sampai di tempat yang cetek.
Tidak lama tiba lagi sebuah perahu yang ditarik kira tigapuluh kuli, perahu itu dikasih berlabuh di situ, sedang di sebelah depan telah berlabuh kira-kira duapuluh perahu lainnya. Lantas ada seorang di daratan yang berkata nyaring: “Tadi malam keluar ular naga, air di gunung banjir, air sungai ini jadi sangat deras, maka sambil menanti air surut, mari semua beristirahat di sini!”
“Numpang tanya, toako, tempat ini apa namanya?” tanya Oey Yong pada seorang di sampingnya.
“Chee-liong-cip,” orang yang ditanya menjawab.
Nona itu mengangguk, diam-diam ia memperhatikan tukang perahunya. Dia itu berbicara dengan gerakan tangan sama seorang di darat, orang mana bertubuh besar dan kekar. Dia menyerahkan satu bungkusan pada orang itu. Kemudian, mendadak orang itu mengeluarkan kapak dengan apa dia membabat putus dadung penambat perahu, terus dia mengangkat jangkar, terus dia mendorong perahu itu. Maka sekejap saja, dengan tubuh miring perahu itu hanyut terbawa air.
Si tukang perahu yang memegang kemudi, mengawasi ke muka air. Dua pembantunya yang masing-masing memegang galah kejen, romannya bersiap-siap akan melindungi si tukang perahu. Mungkin mereka khawatir kedua pemumpangnya menyerang tukang kemudi itu.
Kwee Ceng terkejut, ia mengawasi air yang deras. Setiap waktu perahu itu dapat membentur wadas. Itu artinya terbalik dan karam.
“Yong-jie, rampas kemudi!” ia berteriak. Ia pun hendak lari ke buntut perahu.
Dua orangyang memegang galah itu mendengar suara si anak muda, mereka bersiap. Ketika mereka mengangkat galahnya, kejennya bergemerlap di cahaya matahari. Itulah tandanya kejen itu tajam sekali.
“Perlahan!” tiba-tiba Oey Yong berseru.
“Bagaimana?” si pemuda tanya.
“Kau melupakan burung kita ……” si nona berbisik. “Kalau sebentar perahu karam,
kita naiki mereka untuk terbang pergi. Aku mau lihat apa mereka bisa bikin ……” Kwee Ceng sadar.
“Pantas Yong-jie tidak takut, kiranya ia telah siap sedia tipu dayanya,” pikirnya. Ia lantas menggapai kepada dua ekor burungnya, untuk disuruh berdiam di samping mereka.
Si tukang perahu tidak tahu kenapa anak muda itu batal bergerak, diam-diam ia bergirang. Ia mau percaya mereka kena dibikin jeri oleh arus yang sangat deras itu.
Segera juga terdengar suara dari serombongan kuli penarik perahu, lalu terlihat orang-orangnya, yang lagi menarik sebuah perahu dengan gubuk hitam, yang mengibarkan bendera hitam juga. Ketika si tukang perabu melihat perahu itu, dia lantas mengangkat kapaknya dengan apa dia mengapak putus kemudinya, kemudian dia pergi ke pinggir kiri. Terang dia bersiap akan lompat ke perahu yang lagi mendatangi itu.
Kwee Ceng melihat aksinya tukang perahu itu.
“Naik!” ia kata seraya menekan punggungnya si rajawali betina.
“Jangan kesusu!” berkata Oey Yong. “Engko Ceng, kau hajar perahu itu dengan jangkar!”
Kwee Ceng mengerti maksudnya nona itu, ia bersiap.
Tanpa kemudi, perahu hanyut makin pesat, sebentar saja, kedua perahu datang semakin dekat. Perahu yang ditarik mudik itu digeser, supaya tidak sampai diterjang perahu yang hanyut. Tukang-tukang menarik perahu agaknya kaget, mereka pada berteriak.
Kwee Ceng menanti saatnya, segera ia melemparkan jangkarnya keras sekali. Ia mengarah pelatok yang dipakai mengikat dadung penarik. Karena perahu pun ditarik keras, maka lemparan jangkar jadi semakin hebat. Begitu terkena, pelatok itu patah, dadungnya terlepas. Selagi tukang-tukang menariknya jatuh ngusruk, perahunya sendiri lantas terbawa air, hanyut keras sekali. Orang banyak pada berteriak kaget.
Si tukang perahu kaget sekali.
“Tolong! Tolong!” dia berteriak-teriak saking takut. “Hai, orang gagu bisa bicara!” kata Oey Yong tertawa. “Inilah keanehan di kolong langit!”
Kwee Ceng sendiri mengawasi ke perahu yang hanyut itu, tangannya masih memegangi jangkar yang satunya. Tukang kemudi dari perahu itu lihay, di air deras dia masih mencoba memutar kepala perahu, agar jangan buntutnya yang laju di muka seperti semula. Tepat pada saatnya, si anak muda melemparkan jangkar ke kepala perahu.
Si tukang perahu gagu tetiron kaget bukan main.
Di saat yang sangat berbahaya itu, dari dalam perahu mendadak lompat keluar satu orang, yang bersenjatakan galah kejen dengan apa dia menyambuti, menyontek jangkarnya Kwee Ceng. Dia bertenaga besar tetapi galahnya ini tidak cukup kuat, galah itu patah, karena itu, tujuan jangkar jadi berkisar. Begitulah jangkar dan patahan galah jatuh ke air. Orang kuat itu berdiri tegar di perahunya, dia mengenakan baju pendek warna kuning, dia berambut putih romannya gagah. Dialah Khiu Cian Jin ketua Tiat Ciang Pang.
Dua-dua Kwee Ceng dan Oey Yong menjadi kagum sekali hingga mereka tercengang.
Justru itu, tanpa ketahuan, tubuh perahu telah membentur wadas. Keras goncangan benturan itu muda-mudi itu kena terdampar ke pintu gubuk. Mereka kaget, terutama sebab air segera merendam mata kaki mereka.
Tidak ada ketika lagi untuk naik ke punggung burung. “Mari!” Kwee Ceng berseru seraya dia berlompat ke arah Khiu Cian Jin. Dia sengaja hendak menubruk ketua Tiat Ciang Pang itu, sebab kalau dia lompat ke lain bagian dari perahu itu, sebelum tiba, dia bisa dipapaki serangan. Itulah berbahaya.
Khiu Cian Jin melihat orang berlompat ke arahnya, rupanya dia dapat menerka maksud orang, karena ia tengah memegang galahnya, dengan itu ia lantas memapak. Kwee Ceng melihat penyambutan itu, dia kaget.
Khiu Cian Jin melontarkan galahnya, yang menjurus ke dada si anak muda. Ia rupanya menganggap, lebih baik menyerang sambil menimpuk daripada menanti orang tiba di perahunya.
Dalam saat sangat berbahaya untuk si anak muda, tiba-tiba terlihat sinar hijau menyambar galah kejen. Karena mana, lenyaplah ancaman bahaya itu.
Itulah Oey Yong, yang berlompat menyusul kawannya, yang dengan tongkatnya menangkis galah. Setelah itu, begitu menginjak perahu, si nona segera menyerang pangcu dari Tiat Ciang San, hingga dia menjadi gelagapan, hampir dia kena ditotok.
Khiu Cian Jin mengenal baik lihaynya tongkat si nona, maka itu, selagi Kwee Ceng baru menaruh kaki, ia mundur kepada anak muda itu, yang ia sapu. Dengan begitu ia berkelit sambil menyerang. Selagi Kwee Ceng berkelit, ia menyusuli dengan dua serangan saling susul dengan kedua tangannya.
Lihay serangannya jago dari Tiat Ciang San ini. Itulah pukulan dari Tiat Ciang Kang-hu, atau ilmu silat Tangan Besi, yang kaum Tiat Ciang Pang andalkan selama mereka menjagoi, bahkan di tangan orang she Khiu ini, jurusnya telah diubah dan ditambah hingga menjadi semakin lihay. Dibanding sama Hang Liong Sip-pat Ciang, ilmu itu kalah keras tetapi menang halus.
Begitu dua orang itu bergerak di atas perahuPerahu sewaannya Kwee Ceng telah patah pinggang dan karam, si gagu dan dua kawannya kecebur ke air dan terbawa arus, sia-sia mereka berenang, mereka terbenam di dalam air menggolak bagaikan pusar air.
Perahunya Khiu Cian Jin sendiri, meskipun hanyut keras, masih dapat dipertahankan, karena ada orang Tiat Ciang Pang yang lantas mengendalikannya.
Di atasan perahu, terbang mengikuti, adalah kedua burung rajawali serta hiat-niauw, ketika burung itu saban-saban mengasih dengar suaranya.
Sampai itu waktu, Oey Yong pun turut berkelahi. Lebih dulu ia mengundurkan beberapa orang Tiat Ciang Pang, yang merintangi padanya, setelah itu ia dekati Kwee Ceng, guna mengepung Khiu Cian Jin.
Karena sama-sama lihay, kedua pihak berkelahi dengan rasa risih.
Selagi bertempur itu, Oey Yong melihat golok berkelebat di dalam gubuk perahu. Itulah seorang yang tengah membacok. Ia tidak tahu apa yang dibacok itu tetapi ia curiga, maka ia lantas menimpuk dengan jarumnya. Pembacok itu kena lengannya, bacokannya tak dapat diteruskan, goloknya justru mengenai pahanya sendiri sampai dia menjerit. Si nona menyusul seraya berlompat masuk ke dalam gubuk. Ia menendang terjungkal orang itu, yang sudah tidak berdaya, lalu dia melihat seorang rebah tidak berkutik di lantai perahu sebab kaki tangannya dibelenggu. Ia tidak usah mengawasi lama akan mengenali Sin-soan-cu Eng Kouw, hingga ia menjadi heran. Tidak sekali disangka, di sini mereka dapat menemui nyonya itu, bahkan dalam keadaan tidak berdaya itu. Tanpa ayal lagi, ia memungut goloknya orang tadi dengan apa ia memutuskan tambang yang mengikat tangan si nyonya.
Begitu lekas tangannya bebas, dengan tangan kirinya Eng Kouw merampas golok ditangannya si nona, selagi Oey Yong heran, dia sudah lantas membacok mampus orang Tiat Ciang Pang itu, yang tadi hendak membinasakan padanya. Habis itu baru ia memutuskan tali belengguan kakinya, sedang musuhnya roboh celentang, hingga Oey Yong mengenali, dialah Kiauw Thay. Maka ia kata di dalam hatinya, “Kau sangat jahat, pantas kau mampus!”
“Meski kau telah menolongi aku, jangan kau harap aku akan membalas budi!” kata Eng Kouw pada si nona.
“Siapa mengharap pembalasan budimu?” kata si nona tertawa. “Kau telah menolong aku, maka ini satu kali, aku menolongi kau. Dengan begini, kita menjadi tidak saling berhutang!”
Sembari berkata begitu, Oey Yong pergi pula ke luar, untuk membantu lagi kepada Kwee Ceng.
Khiu Cian Jin benar-benar lihat, dia dapat bertahan, hanya segera ia menjadi kaget ketika kupingnya mendengar beberapa teriakan beruntun serta suara tubuh tercebur keair. Sebab Eng Kouw, dalam gusarnya, sudah menghajar semua orang Tiat Ciang Pang yang berada di dalam kendaraan air itu, membikin mereka kecemplung ke air deras.
Hingga tidak perduli yang pandai berenang, orang-orang jahat itu jangan harap nanti lolos dari bahaya mampus kelelap!
Khiu Cian Jin digelarkan “Tiat Ciang Sui-sing-piauw”, atau si Tangan besi yang mengambang di muka air itu bukan berarti dia dapat berjalan di muka air seperti mengambang, itu diartikan lihaynya ilmunya enteng tubuh, jangan kata di air deras demikian, sekalipun di air tenang di telaga, tidak dapat dia jalan ngambang. Maka itu sekarang, hatinya tidak tenang. Ia berkelahi sambil mundur. Kewalahan ia melayani Kwee Ceng yang dibantu Oey Yong. Untuk mencegah si nona menyerang ia dari belakang, ia berdiri membelakangi air. Secara begini ia mencoba bertahan.
Oey Yong berkelahi sambil memperhatikan lawannya yang tangguh ini. Sering ia melihat jago itu melirik ke kiri dan kanan. Ia menduga tentulah orang mengharap-harap datangnya lain perahu, ialah bantuan untuk pihaknya. Maka ia juga turut memasang mata. Ia pikir, “Biarnya dia jago, dia bakal dikepung bertiga. Kalau kita gagal, sebenarnya kita ialah kantung-kantung nasi ……”
Eng Kouw di lain pihak telah berhasil menyapu semua orang Tiat Ciang Pang. Ia membiarkan hanya satu orang, ialah si tukang pengemudi. Ia melihat bagaimana dua muda-mudi itu belum bisa berbuat apa-apa terhadap Khiu Cian Jin, maka akhirnya ia menghampirkan mereka.
“Nona kecil, kau minggirlah!” ia kata kepada Oey Yong - ia tertawa dingin. “Mari, kasihkan aku yang maju!”
Oey Yong tidak puas sekali. Terang orang memandang enteng padanya. Tapi ia cerdik, ia lantas berpikir. Terus ia mendesak ketua Tiat Ciang Pang itu.
Khiu Cian Jin bisa menduga si nona tentulah mau mundur mentaati kata-kata sinyonya, meski ia mengerti, ia toh tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membela diri, karena si nona mendesak, Kwee Ceng tetap menyerang padanya. Oey Yong bukan mundur sendirinya, ketika ia mundur, ia menarik tangan baju kawannya seraya berkata;
“Biarkan dia maju sendiri!”
Kwee Ceng heran tetapi ia mundur seraya membela diri.
Eng Kouw tidak memperdulikan sikap si nona, ia hanya menghadap Khiu Cian Jin, dengan tertawa dingin, dia berkata; “Khiu Pangcu, di dalam dunia kangouw, namamu terdengar cukup nyaring, maka aku heran untuk perbuatanmu yang hina dina! Selagi aku tidur di rumah penginapan, tengah aku tidak tahu apa-apa, mengapa kau menggunai hio pulas dan dengan caramu itu kau membekuk aku? Bagus perbuatanmu itu ya?”
“Kau telah dibekuk oleh orang sebawahanku, buat apa kau masih banyak bacot?”
Khiu Cian Jin membalasi. “Jikalau aku yang turun tangan sendiri, hanya dengan sepasang tangan kosongku, sepuluh Sin Soan Cu pun dapat aku membekuknya!” Eng Kouw tetap bersikap dingin.
“Di dalam hal apa aku bersalah dari kamu kaum Tiat Ciang Pang?” ia tanya.
“Dua binatang cilik ini lancang memasuki Tiat Ciang Hong, tempat kami yang suci,”
kata Khiu Cian Jin, “Kenapa kau menerimanya mereka di rawa lumpur hitam? Denganbaik-baik aku minta mereka diserahkan padaku, kenapa kau melindungi mereka dengan kau mendustai aku? Apakah kau sangka Khiu Cian Jin boleh dibuat permainan?”
“Oh, kiranya itulah gara-gara dua binatang cilik ini!” katanya. “Kalau kau mempunyai kepandaian, pergi punya banyak tempo akan campur tahu segala urusan tetek bengek begini!”
Lauw Kui-hui lantas mengundurkan diri, ia duduk bersila di lantai perahu, sikapnya sangat tenang. Ia maju jadi si penonton harimau bertarung, akan menyaksikan orang roboh dua-duanya!
Sikapnya nyonya ini mengherankan dua-dua Kwee Ceng dan Oey Yong dan Khiu Cian Jin. Itulah mereka tidak sangka.
Eng Kouw turun gunung dengan pikiran kacau. Ia mendongkol dan berduka, tidak dapat ia gampang-gampang melampiaskan itu. Ia mendongkol sebab gagal ia membunuh It Teng Taysu. Tidak tega ia melihat sikap tenang dari pendeta itu. Ia bersedih kalau ia membayangi kematian anaknya yang malang itu. Begitu ketika ia mondok di rumah penginapan, ia berlaku alpa, ia kena diasapi orang Tiat Ciang Pang dan kena ditangkap karenanya. Di dalam keadaan biasa, tidak nanti ia kena dibekuk secara demikian. Ia juga tidak menyangka, di dalam bahaya, ia ditolongi Oey Yong. Ia tetap mendongkol, maka itu, ia ingin biarlah muda-mudi itu dan Khiu Cian Jim mampus bersama ……
Oey Yong berpikir cepat: “Baik, kami akan melayani dulu Khiu Cian Jin, habis itu baru kami nanti mengasih lihat sesuatu padamu!” Ia lantas mengedipi mata kepada Kwee Ceng, terus ia menerjang pula pada Khiu Cian Jin. Aksinya ini segera ditiru si anak muda.
Begitulah bertiga mereka bergebrak pula.
Eng Kouw menonton, dengan asyik. Ia melihat, meski ketua Tiat Ciang Pang itu lihay, dia sukar bisa cepat-cepat merebut kemenangan. Ia bahkan melihat ketua itu mundur. Ia mau percaya, jago dari Tiat Ciang San ini akhirnya bakal mampus atau terluka …… Kwee Ceng pun melihat sikap lawannya itu, ia menduga orang lagi mencari akal.
Dilain pihak ia berkhawatir untuk Oey Yong, yang baru sembuh dan tidak selayaknya mengeluarkan banyak tenaga. Maka akhirnya ia kata; “Yong-jie, baik kau beristirahat, sebentar kau maju pula!”
Nona itu menurut.
“Baik,” sahutnya seraya ia mundur. Ia tertawa.
Eng Kouw mengiri menyaksikan eratnya perhubungan si pemuda dengan si pemudi, terutama perhatiannya si pemuda itu, hingga ia berpikir: “Dalam hidupku, kapannya pernah ada orang berbuat begini macam terhadapku?” tiba-tiba dari mengiri, ia menjadi cemburu dari cemburu, hatinya menjadi panas. Mendadak ia berlompat bangun dan berkata dengan nyaring: “Dua lawan satu, apa itu namanya? Mari, mari kita berempatmenjadi dua rombongan, satu!” Ia lantas mengeluarkan dua batang bambu, tanpa menanti jawaban orang, Ia berlompat menyerang nona Oey.
Oey Yong menjadi mendongkol sekali.
“Perempuan gila yang lenyap hatinya!” ia mendamprat. “Tidak heran Loo Boan Tong tidak mencintaimu!”
Tapi ini cuma menambah kemurkaannya Eng Kouw, yang menyerang makin hebat.
Oey Yong menjadi repot. Ia boleh lihay ilmunya Tah Kauw Pang-hoat tetapi ia kalah tenaga dalam, ia juga belum pulih kesehatannya, maka terpaksa ia menutup diri. Lebih sulit lagi, perahu itu bergerak keras tak hentinya disebabkan derasnya arus.
Kwee Ceng sendiri tetap melayani Khiu Cian Jin, ia tidak bisa merebut kemenangan tetapi ia pun tidak kalah.
Ketua Tiat Ciang Pang menjadi heran tidak karu-karuan Eng Kouw membantu padanya. Tentu sekali, perubahan sikap si nyonya membuatnya ia girang. Dengan begitu dia jadi seperti tambah semangat, terus ia menyerang hebat. Ketika Kwee Ceng menyerang ia dengan jurus “Melihat naga di sawah,” ia berkelit, habis berkelit, segera ia membalas menyerang, dengan dua tangannya berbareng: Tangan kanan dengan kejennya tangan kiri tangan kosong.
Kwee Ceng tidak takut, ia menangkis dengan dua dua tangan juga. Maka tangan mereka bentrok. Lantas mereka sama-sama menyerukan. “Hm!” dan tubuh mereka mundur masing-masing tiga tindak. Khiu Cian Jin menahan diri dengan memegang tiang kemudi, dan kaki kiri Kwee Ceng terserimpat dadung, hampir dia terguling. Guna menjaga diri agar tidak diserbu, ia meneruskan lompat jumpalitan.
Khiu Cian Jin menganggap inilah ketikanya yang baik, dia tertawa nyaring dan lama, lantas dia maju, guna menyerang.
Eng Kouw tengah mendesak Oey Yong sampai si nona bernapas sengal-sengal dan peluhnya mengucur tatkala dia mendengar tertawanya ketua Tiat Ciang Pang, dia kaget hingga mukanya beruhah, hingga lupa dia menarik pulang senjatanya yang kiri. Oey Yong melihat lowongan, lantas ia menyerang ke dada, menotok jalan darah sin-kie. Eng Kouw tidak menghiraukan itu, dengan tubuh terhuyung, dia menubruk ke arah Khiu Cian Jin sambil mulutnya berseru: “Kiranya kau!”
Ketua Tiat Ciang Pang terkejut, apapula ia melihat muka bengis dari nyonya itu yang mulutnya dipentang, kedua tangannya dibuka. Si nyonya seperti mau menubruk buat menggigit atau menggerogoti orang.
“Kau mau apa?” berseru Cian Jin dalam herannya. Ia juga lompat ke samping.
Eng Kouw gagal sama tubrukannya yang pertama itu, dengan mulut bungkam, ia menubruk pula. Ia seperti kalap. Kali ini ia mengajukan kepalanya, untuk menyeruduk. Cian Jin berkhawatir. Ia merasa, celaka kalau ia kena dipeluk perempuan yang telah seperti kalap itu. Ia juga berkhawatir melihat Kwee Ceng merangsak. Maka untuk menolong diri, kembali ia berlompat minggir.
Oey Yong segera menarik tangannya Kwee Ceng, buat diajak berdiam di satu pinggiran. Dari situ mereka mengawasi Eng Kouw. Mereka pun heran dan berkhawatir.
Nyonya itu kalap seperti orang gila. Terus dia main tubruk, mulutnya senantiasa berseru, giginya dipertontonkan. Terang dia ingin memeluk Cian Jin untuk digerogoti ……
Jago Tiat Ciang Pang itu menjadi kewalahan, ia selalu main berkelit. Beberapa kali tangannya kena terjambret tercakar, hingga tangannya itu berdarah-darah. Dalam khawatirnya, beberapa kali ia berseru; “Pembalasan, pembalasan! Apakah aku mesti terbinasa di tangan perempuan gila ini?!”
Eng Kouw mengulangi tubrukannya, sampai Khiu Cian Jin berada di dekat si tukang kemudi. Sekarang si nyonya matanya menjadi merah. Rupanya ia tahu, lawannya sangat lihay, sukar ia berhasil menubruk. Mendadak ia menyerang si tukang kemudi,
hingga orang menjerit dan terjungkal ke air, menyusul mana, ia menendang tiang kemudi sampai tiang itu patah!
Segera karena tak terkendalikan, perahu itu goncang keras, hanyutnya kacau.
Oey Yong kaget hingga ia mengeluh. Kalapnya Eng Kouw bisa membikin mereka nanti kecebur ke air, mungkin bakal mati …… Ia tidak tahu kenapa nyonya itu menjadi kalap mendadak. Karena itu ia mainkan mulutnya, guna memanggil burungnya.
Justru itu perahu melintang, segera membentur wadas, nyaring suaranya. Sebagai akibatnya, kepala peranu bocor.
Khiu Cian Jin kaget, ia menginsyafi bahaya, maka ia pun menjadi nekat, tetapi ia bukan menempur si nyonya kalap, ia hanya mengenjot tubuhnya, untuk berlompat kedarat. Ia tidak sampai di tepian, ia kecebur, tenggelam ke dalam air. Tapi ia sadar, ia mencoba memegangi batu wadas, dengan berpegangan terus, ia melapai ke pinggiran.
Ia telah kena menenggak air, toh ia tiba juga di pinggiran di mana ia merayap naik kedarat, lalu dengan pakaian kuyup ia duduk beristirahat, matanya mengawasi ke perahu yang hanyut jauh, hingga nampak seperti satu titik hitam. Ia bergidik kalau ia ingat kalapnya Eng Kouw.
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil Online : Pendekar Pemanah Rajawali Serial 12 dan anda bisa menemukan artikel Cersil Online : Pendekar Pemanah Rajawali Serial 12 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-online-pendekar-pemanah-rajawali_5766.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil Online : Pendekar Pemanah Rajawali Serial 12 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil Online : Pendekar Pemanah Rajawali Serial 12 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil Online : Pendekar Pemanah Rajawali Serial 12 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-online-pendekar-pemanah-rajawali_5766.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar