Cerita Silat Anak Pilihan : Pedang Keadilan 8 Tamat

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 20 Desember 2011

sambil tertawa terkekeh-kekeh jengek Pek si-hiang:
"Ha ha ha... hati-hati, pedangku sudah dipolesi racun
jahat"
"Nona Pek. kau betul-betul sangat keji" umpat Li
Tiong-hui penuh amarah, golok panjangnya segera
diayun ke depan melepaskan sebuah tusukan kilat.
Terdengar Hongpo Tiang-hong berteriak keras: "llmu
sesat sembilan iblis mempunyai banyak perubahan yang
unik selama bertarung jangan sekali-kali kau pandang
dirinya, juga tak usah melayani tanya jawabnya."
Pek si- hiang menyodokkan pedang pendeknya cepat
ke depan, langsung menyongsong golok dari Li Tionghui.
sejak awal Li Tiong-hui sudah waspada, Buru-buru ia
tekuk pergelangan tangannya sambil menarik kembali
senjata goloknya, lalu sambil merendah secepat petir dia
tusuk perut musuh.
Ilmu silat keluarga Hong-san memang tersohor
sebagai ilmu silat gado- gado. Kalau dalam serangan
pertamanya tadi ia menggunakan jurus pedang dari

2843
partai Bu-tong, maka dalam serangannya yang terakhir ia
gunakan jurus "burung hong pentang sayap" dari aliran
Kun-lun-pay.
Kembali Pek si-hiang merendahkan senjatanya
menyongsong tubuh golok Li Tiong-hui, tegurnya sambil
tersenyum: "Bagaimana keadaan luka Lim Han-kim?"
Begitu perhatian Li Tiong-hui agak bercabang
goloknya segera terhajar oleh senjata Pek si-hiang.
Traaaang senjatanya patah jadi dua.
Memanfaatkan peluang ini, Pek si-hiang mengubah
gerak serangannya, secepat petir ia sodok pedangnya kc
atas menusuk dada Li Tiong-hui.
Tergopoh-gopoh Li Tiong-hui melompat ke belakang
untuk meloloskan diri dari ancaman maut itu.
Tiba-tiba Seebun Giok-hiong maju selangkah, tegurnya
dengan suara dingin: "Pek si-hiang, apa yang pernah kita
janjikan bisa diwujudkan saat ini bukan?"
"Aku tahu, selama aku belum mati, kau tak akan
berani bertindak sewenang-wenang dengan melakukan
pembantaian dalam dunia persilatan Nah, silakan turun
tangan"
Dua-tiga patah kata ini amat sederhana
pengungkapannya, tapi seketika membuat Li Tiong-hui
dan Hongpo Tiang-hong sekalian tertegun.
Rupanya dalam hati kecil ketiga orang ini sudah
membekas kesan yang mendalam terhadap Pek si-hiang,
namun setelah mendengar kata-katanya itu, tak urung
mereka manggut-manggut juga seraya berpikir.

2844
"Betul juga perkataan Pek si-hiang, satu-satunya
orang yang paling ditakuti seebun Giok-hiong cuma Pek
si-hiang. seandainya ia sampai terbunuh hari ini, siapa
lagi yang mampu mengontrol kebuasan seebun Giokhiong..?"
Tanpa terasa niat mereka untuk membunuh Pek sihiang
pun sirna seketika itu juga. Tatkala mereka alihkan
kembali perhatiannya ke tengah arena, kelihatan seebun
Giok-hiong telah bertarung sengit melawan Pek si-hiang.
Biarpun seebun Giok-hiong cuma menggunakan
kutungan pedang, namun kedahsyatan serangannya
ibarat gulungan ombak di tengah samudra luas, Hawa
pedang yang ber-lapis-lapis membungkus sekujur badan
Pek si-hiang dalam jala cahaya pedang yang menyilaukan
mata.
sebaliknya, meski Pek si-hiang mengandalkan pedang
mestika yang tajamnya luar biasa, namun di bawah
cecaran serangan pedang seebun Giok-hiong yang begitu
gencar, ia benar-benar kewalahan dan tak berdaya
melakukan serangan balasan-
Dalam saat itu Hongpo Tiang-hong serta Kim-hud
totiang telah usai membalut luka masing-masing, Dengan
senjata terhunus mereka ikut menyaksikan jalannya
pertarungan di tengah arena.
Tiba-tiba Li Tiong-hui menghela napas panjang,
bisiknya kepada Hongpo Tiang-hong: "Biarpun Pek sihiang
patut dibunuh, namun ia tak boleh mati dalam
keadaan begini"
"Ucapan Bengcu tepat sekali"

2845
"Awasi dari sisi arena, jangan beri kesempatan kepada
seebun Giok-hiong untuk membunuh Pek si-hiang."
Kemudian ia membalikkan badan menghampiri ke sudut
ruang perahu, bisiknya lirih: "Bagaimana keadaan
lukanya?"
saat itu Phang Thian-hua sedang menguruti dada Lim
Han-kim, ia segera angkat kepala setelah mendapat
pertanyaan itu, sahutnya: "Parah sekali lukanya..."
"Masih bisa ditolong?"
"Akan kuusahakan dengan sepenuh tenaga, tertolong
atau tidak akan kita ketahui sepeminuman teh
kemudian."
"Aaaai... tampaknya Phang cengcu mesti bersusah
payah," bisik Li Tiong-hui sambil menghela napas.
"Ucapan Bengcu terlalu serius."
Kembali ia menguruti dada Lim Han-kim serta
mencoba memompa denyut jantungnya.
Dalam keadaan begini, Li Tiong-hui sudah tak
menaruh perhatian sama sekali atas situasi dalam arena
pertarungan seluruh pikiran dan perhatiannya
tercurahkan pada Lim Han-kim yang sedang ditolong
Phang Thian-hua.
sepeminuman teh kemudian tampak Phang Thian-hua
angkat wajahnya dengan muka berseri, Katanya sembari
membesut keringat yang membasahi jidatnya: "Ia
tertolong"
"Terima kasih Phang cengcu atas jerih payahmu,"
sambut Li Tiong-hui girang.

2846
BAB 35. janji pertarungan Di Hong-san
Dari dalam sakunya Phang Thian-hua mengeluarkan
sebuah botol porselen dan menuang ke luar dua butir pil
berwarna merah tua, lalu setelah menjejalkan ke mulut
Lim Han-kim, ia berkata dengan nada yakin-
"Pil Hui-seng-wan ramuanku merupakan obat mestika
yang tiada taranya di kolong langit. Bila kedua butir pil
tersebut masih belum mampu menyembuhkan lukanya
dengan cepat, maka paling tidak Lim Han-kim harus
beristirahat selama tiga bulan penuh sebelum dapat pulih
kembali seperti sediakala."
Rasa girang yang semula menghiasi wajah Li Tiong-hui
hilang lenyap seketika, sebagai gantinya kabut murung
yang tebal menyelimuti wajahnya. " Kenapa begitu?"
serunya.
"Aku telah memulihkan kembali denyut jantungnya
dengan tenaga murni, ditambah lagi dengan khasiat Huiseng-
wan tersebut untuk memulihkan kembali kondisinya
yang lemah, Bila lukanya tidak terlampau parah, kedua
butir pil Hui-seng-wan itu pasti dapat memulihkan
kembali kekuatannya dalam waktu singkat Tapi, jika obat
itu pun tak manjur, berarti..." Ketika dilihatnya rasa
murung dan sedih menyelimuti wajah Li Tiong-hui, tak
kuasa lagi ia segera menghentikan perkataannya.
" Lanjutkan perkataanmu," pinta Li Tiong-hui lirih,
"Jangan bohongi aku. Meski dia bakal mati, paling tidak
Phang cengcu telah berusaha dengan sepenuh tenaga."

2847
setelah menghela napas panjang phang Thian-hua
berkata: "Apabila pil mestika Hui-seng-wan gagal
pulihkan kembali tenaga murninya dalam waktu singkat,
hal ini membuktikan bahwa isi perutnya telah mengalami
luka yang teramat parah, berarti pula kekuatan tubuhnya
mustahil dapat dipulihkan dalam sehari dua."
"Ehmmm, mengerti aku kini, bila dalam waktu singkat
tenaga dalamnya tak berhasil pulih kembali, maka
keselamatan jiwanya bakal terancam bukan?"
"Tidak separah dugaanmu Maksudku, bila ia gagal
pulihkan kekuatannya dalam waktu singkat, maka
dibutuhkan waktu paling cepat setengah sampai setahun
untuk memulihkan kembali kondisi badannya."
"Aaaai Moga-moga ilmu pengobatan phang cengcu
memang hebat sehingga kesehatan tubuhnya dapat pulih
dalam waktu singkat."
Tiba-tiba Ciu Huang bangkit berdiri dan menjura
kepada Phang Thian-hua lalu katanya: "sudah lama
ibunya hidup menjanda, ia cuma punya putra seorang,
Apabila anaknya sampai mengalami suatu musibah, sulit
rasanya untuk mencegah ibunya mengambil keputusan
pendek. saudara Phang, bagaimana pun kau harus
berupaya dengan sepenuh tenaga"
"Aku pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga"
janji Phang Thian-hua seraya menghembuskan napas
panjang.
Dengan perasaan agak tercengang Li Tiong-hui
mengawasi wajah Ciu Huang, kemudian tegurnya: "Jadi
Ciu tayhiap mengetahui asal-usulnya?"

2848
Dengan kepala tertunduk ciu Huang termenung
sejenak. lalu sahutnya: "Yaa, di kolong langit saat ini,
paling banyak hanya ada tiga orang yang tahu akan asalusulnya..."
"Dan locianpwee adalah satu di antara ketiga orang
itu?"
"Tapi aku telah bersumpah tak akan bocorkan asalusulnya
kepada siapa pun, jadi aku harap Bengcu
maklum dan sudi memaafkan." Berkilat sepasang mata Li
Tiong-hui sehabis mendengar ucapan itu, mendadak
bisiknya: "Apakah asal-usulnya ada sangkut paut dengan
si Raja pedang?"
Ciu Huang agak tertegun, setelah menghela napas
katanya: "Liku- liku di balik persoalan ini banyak
melibatkan orang ternama dalam dunia persilatan. Betul
aku punya watak bicara blak-blakan tanpa tedeng aling,
tapi harap Bengcu maafkan diriku, Dalam masalah ini,
aku benar-benar harus bungkam, lebih baik jangan kau
desak lagi."
Biarpun perkataan itu diucapkan setengah berbisik,
tapi Phang Thian-hua yang berada persis di hadapan
mereka berdua dapat mendengar dengan jelas sekali.
Agaknya Li Tiong-hui masih pantang menyerah, sekali
lagi desaknya dengan suara lirih: "Ciutayhiap. apakah
kau takut menyinggung perasaan si Pangeran pedang itu
hingga segan bicara terus terang?"
Ciu Huang tersenyum "Ketika nama besar Raja Pedang
masih tersohor dalam dunia persilatanpun aku tak
pernah takut kepadanya, apalagi sekarang."

2849
"Kalau begitu, locianpwee lebih takut menyalahi
sesama umat persilatan ketimbang berhadapan dengan
si Raja pedang?"
"Selama hidup, sudah kenyang aku hidup malang
melintang dalam dunia persilatan Tak sedikit jagoan
tangguh yang pernah kujumpai, rasanya selama ini
belum pernah kukenali perkataan takut."
" Kalau memang begini bukan, begitu pun bukan,
lantas lantaran apa kau enggan bicara?"
"Aaaai panjang untuk mengisahkan peristiwa ini, lagi
pula menyangkut reputasi serta nama baik seseorang,
jadi aku berharap agar Bengcu jangan kelewat
memaksaku."
Melihat keseriusan orang tersebut, tentu saja Li Tionghui
sungkan untuk mendesak lebih jauh, terpaksa semua
pertanyaan ditelan kembali ke dalam perut. Tiba-tiba
terdengar seebun Giok-hiong membentak nyaring:
"Lepaskan senjatamu"
Kutungan pedangnya diayun ke depan secepat kilat
menghantam pergelangan tangan kanan Pek si-hiang.
Waktu itu, pedang yang berada dalam genggaman pek
si-hiang sudah terlanjur menyodok ke depan untuk
mengunci gerak serangan seebun Giok-hiong, bukan
masalah gampang baginya untuk menarik kembali
senjatanya dalam waktu singkat.
Tampaknya bila tabokan pedang seebun Giok-hiong
yang begitu cepat berhasil menghajar tangannya, kecuali
melepaskan senjatanya, pergelangan tangan kanannya
niscaya akan terluka.

2850
Dalam posisi yang terdesak. mau tak mau Pek sihiang
harus lepaskan pedangnya, seebun Giok-hiong
sama sekali tidak menggubris pedang mestika yang
rontok ke tanah itu, kutungan pedangnya kembali diayun
secepat kilat menyapu tenggorokan musuh.
Melihat keadaan amat kritis, Kim-hud lotiang segera
membentak keras: "Atas perintah Li bengcu, kita wajib
menghalangi niat jahat nona seebun ..."
Buru-buru senjata kebutannya dikebut ke depan
menggempur tubuh seebun Giok-hiong.
"Hey, apa-apaan kau?" bentak seebun Giok-hiong
sembari memutar kutungan pedangnya untuk
membendung ancaman senjata kebutan.
"Atas perintah Li Bengcu, terpaksa pinto harus
melaksanakan semua titahnya" sahut Kim-hud totiang
sambil menarik kembali senjata kebutannya,
Tiba-tiba terlihat cahaya tajam berkelebat lewat,
sebuah tusukan maut meluncur tiba. Buru-buru Kim-hud
totiang mengegos ke samping, Ketika berpaling,
dilihatnya sipenyerang ternyata adalah Pek si-hiang.
Kontan saja tosu ini naik darah, terutama bila teringat
baru saja ia berusaha selamatkan jiwanya.
"Budak sialan" umpatnya, "Apa-apaan kamu? Hmmm,
tahu begini, tak nanti kutolong dirimu."
"Hmmm, dengan susah payah aku baru berhasil
memancingnya untuk masuk perangkap. bahkan nyaris
berhasil mengungguli dirinya, siapa suruh kau turut
campur hingga semua usahaku gagal total?"

2851
"Hmmm sudah jelas pedangmu berhasil dipaksa orang
hingga terlepas dari genggaman, sekarang malah
menyalahkan aku, Hmmmm, hmmmm, benar-benar
manusia tak tahu diri"
Tiba-tiba Pek si-hiang berpaling ke arah seebun Giokhiong,
lalu katanya sambil tertawa: "Bagaimana
keyakinanmu sekarang untuk dapat mengungguli aku?"
seebun Giok-hiong termenung sambil berpikir sejenak.
kemudian sahutnya: "Yaa, aku telah melanggar
pantangan terbesar, yakni kelewat pandang enteng
kemampuanmu sepantasnya kaulah pemenang dari
pertarungan barusan."
Melihat seebun Giok-hiong sudah mengaku kalah, Kimhud
totiang makin tercengang dibuatnya. Untuk sesaat ia
jadi termenung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Pada saat inilah si Pangeran pedang yang selama ini
hanya menonton dari sisi arena mendadak melangkah
maju menuju ke luar ruang perahu. "Halangi dia" bentak
Li Tiong-hui begitu melihat hal tersebut
Hongpo Tiang-hong menyahut dan maju ke depan
menghadang persis di depan ruang perahu.
Terdengar bentakan nyaring bergema dari luar
ruangan, keempat- lima orang lelaki bertameng yang ada
di situ serentak menyerbu masuk dan siap membantu
pangeran pedang,
"Tahan" hardik seebun Giok-hiong cepat dengan
kening berkerut
Pangeran pedang segera memberi tanda, kawanan
busu yang siap menyerbu masuk itu segera mundur

2852
kembali ke belakang, lalu sembari berpaling ke arah
seebun Giok-hiong tanyanya: "Apa yang hendak kau
sampaikan nona?"
"Bukankah maksud kedatanganku ke daratan
Tionggoan adalah untuk mencari nama? Nah, tak perlu
susah-susah naik ke gunung siong-san untuk mencari
siau-lim-pay. Asal kau mampu mengungguli kawanan
jago yang hadir di sini kini, nama besarmu pasti akan
lebih termashur ketimbang Raja pedang tempo dulu.."
Kemudian setelah menoleh sekejap ke arah Li Tionghui,
lanjutnya: "Pertarungan hari ini lebih baik dihentikan
sampai di sini saja, Bicara soal kekuatan yang terbentang
saat ini, meski kekuatanmu setingkat lebih unggul, tapi
bila aku bergabung dengan Pek si-hiang serta Pangeran
pedang, mungkin pihakmu tak akan mampu meraih
keuntungan apa pun. Bagaimana kalau kita tetapkan
masa lain untuk melakukan pertarungan habis-habisan?"
Li Tiong-hui tidak langsung menjawab, pikirnya: "Bila
kusia-siakan kesempatan baik pada hari ini, mungkin aku
bakal kehilangan peluang untuk membunuh seebun Giokhiong".
Belum sempat ia mengucapkan sesuatu, mendadak
terlihat bayangan abu-abu berkelebat lewat dari sisi
Hongpo Tiang-hong, menerobos masuk ke ruang perahu
dan hinggap di pundak seebun Giok-hiong.
Li Tiong-hui segera mengenali bayangan itu sebagai
burung aneh yang sehari-hari bertengger di bahu kakek
berbaju kuning, anak buah andalan seebun Giok-hiong.

2853
Justru karena bentuknya yang sangat aneh itulah,
siapa pun akan segera mengenalinya dalam sekilas
pandangan.
Terdengar seebun Giok-hiong tertawa terkekeh- kekeh
sambil ejeknya: "Li Tiong-hui, bala bantuanku akan
segera tiba, Perlu kau ingat, kekuatanku maha dahsyat,
jauh di atas kekuatanmu"
"Bila kami berhasil mencegah burung aneh yang
bertengger di bahumu terbang meninggalkan perahu ini,
belum tentu bala bantuanmu berhasil mencapai tempat
ini," kata Hongpo Tiang-hong.
"Burung ini tak perlu terbang lagi. ia memang datang
sebagai petunjuk jalan, Lihat saja nanti, bala bantuanku
toh akan tiba dengan sendirinya di sini..."
Kemudian sambil berpaling ke wajah Pek si-hiang,
lanjutnya: "Kalau ingin disalahkan, maka keteledoran
nona Pek yang mesti disalahkan Tatkala naik ke perahu
ini tadi, secara diam-diam aku telah tinggalkan kode
rahasia, sayang nona Pek tidak menyadari akan hal ini."
Tampak Pek si-hiang sedang berdiri mendelong sambil
mengawasi Lim Han-kim yang tergolek di sudut ruang
perahu tanpa berkedip.
"Nona Li" Mendadak siok-bwee berteriak keras,
"sebentar lagi nona kami akan mendusin sayang, luka
yang diderita Lim siangkong kelewat parah hingga tak
dapat berbicara ..."
seebun Giok-hiong berkerut kening, tanpa bersuara ia
melangkah ke depan menghampiri Pek si-hiang.

2854
Waktu itu, perhatian semua orang sedang tertuju ke
wajah Pek si-hiang, hingga gerak-gerik seebun Giokhiong
lolos dari pantauan mereka.
sampai seebun Giok-hiong sudah tiba di sisi Pek sihiang,
Li Tiong-hui baru menyadari akan gawatnya
situasi, buru-buru hardiknya: "Cepat halangi dia"
sayang keadaan sudah terlambat, telapak tangan
seebun Giok-hiong secara telak sudah menghantam
punggung Pek si-hiang. Gempuran tersebut tidak
menimbulkan sedikit suara pun, tahu-tahu kelihatan
tubuh Pek si hiang gontai, muntahkan darah segar dan
segera roboh terjungkal ke lantai.
"Benar-benar perbuatan yang keji" umpat Hongpo
Tiang-hong sambil tertawa dingin Dengan jurus "
menggapai ke air memancing naga" pedangnya langsung
ditusukkan ke tubuh seebun Giok-hiong.
si Hakim sakti ciu Huang pun tidak mengira seebun
Giok-hiong bakal membokong musuhnya secara begitu
licik, dengan penuh amarah ia membentak keras dan
melepaskan pula sebuah pukulan segulung tenaga
pukulan yang maha dahsyat langsung meluncur ke depan
dengan iringan suara yang nyaring.
Seebun Giok-hiong tertawa terkekeh-kekeh, tangan
kirinya diputar untuk menyambut datangnya serangan
dari ciu Huang, sementara kutungan pedang di tangan
kanannya digetarkan menangkis tusukan pedang dari
Hongpo Tiang-hong, kemudian badannya mengegos ke
samping dan secepat petir menyerbu maju ke depan

2855
Kim-hud lotiang mengebaskan senjata kebutannya,
dengan jurus Bidadari cantik menyebar bunga, ia babat
tubuh lawan
Seebun Giok-hiong mengangkat kutungan pedangnya
ke atas menyongsong kedatangan senjata kebutan itu,
lalu keempat jari tangan kanannya secara beruntun
disentilkan keluar Empat gulung desingan angin tajam
serentak meluncur ke udara dan menyerang musuhnya.
Buru-buru Kim-hud totiang mengegos ke samping,
Berhasil menghindari ketiga gulung desingan tajam yang
pertama, sayang gagal menghindari serangan keempat.
Tahu-tahu bahu kirinya terasa amat sakit, serangan
tersebut sudah bersarang telak.
Sebuah tendangan kilat dari Seebun Giok-hiong
mendesak Hongpo Tiang-hong. Ter-gopoh-gopoh
Hongpo Tiang-hong menarik kembali pedangnya yang
sedang menggempur lawan Tubuh Seebun Giok-hiong
segera miring ke samping dan langsung menyerbu ke
tepi pintu ruang perahu.
Sambil mengayun golok panjangnya Li Tiong-hui
mengejar dari belakang, teriaknya: "cepat halangi dia"
Kebetulan waktu itu Seebun Giok-hiong sudah sampai
di tepi pintu ruang perahu, pangeran pedang yang
mendengar teriakan Li Tiong-hui itu tiba-tiba mencabut
keluar pedangnya dan membentak nyaring: "Kembali kau
ke dalam ruangan."
"Aaaah, belum tentu" ejek seebun Giok-hiong.
Kutungan pedangnya diputar... Traaaang Diiringi suara
benturan nyaring pedang si Pangeran pedang berhasil
ditangkis ke samping, sepasang kakinya segera meluncur

2856
ke atas melepaskan tendangan maut, dua lelaki kekar
yang menghadang persis di depan pintu segera termakan
tendangan itu dan roboh terjungkal ke tanah.
Memanfaatkan peluang inilah, seebun Giok-hiong
menerobos keluar ke atas geladak perahu, Lengan
kirinya langsung digetarkan ke atas, burung aneh
berwarna abu-abu yang bertengger di bahunya tadi
langsung terbang ke angkasa.
Bersamaan dengan terbangnya burung aneh itu,
seebun Giok-hiong menjejakkan pula kakinya meluncur
ke udara dan menyambar sepasang kaki burung tadi,
Memanfaatkan ke sempatan ini, badannya ikut meluncur
pula ke tengah sungai sejauh dua kaki dari tempat
semula.
Dalam saat itu ciu Huang dan Li Tiong-hui telah
menyusul ke ujung geladak perahu, ilmu meringankan
tubuh yang dimiliki seebun Giok-hiong benar-benar luar
biasa, walaupun hanya meminjam sedikit tenaga dari
burung aneh tersebut, namun tubuhnya dalam waktu
sekejap telah berada empat-lima kaki dari posisi semula.
Terdengar dari kejauhan sana ia berseru lantang: "Li
Tiong-hui, cepat atau lambat akhirnya kita harus berduel
juga. Lebih baik tetapkanlah waktu dan tempat yang
sesuai untuk melangsungkan pertarungan antara kita"
Li Tiong-hui berpaling memandang sekejap ke ruang
perahu, lalu bisiknya lirih: "Bagaimana keadaan luka
nona Pek?"
"Parah sekali" jawab Phang Thian-hua.

2857
sambil menggeretak gigi dan menghela napas Li
Tiong-hui bergumam: "Tampaknya aku tak bisa
menggubris makian dari ibu lagi..."
sambil mempertinggi nada suaranya ia berteriak:
"seebun Giok-hiong, aku khawatir kau tak berani
mendatangi tempat yang akan kutentukan"
"Biar ke sorga atau neraka, seebun Giok-hiong tak
akan mundur setapak pun"
"Bagus, berani kau mendatangi lembah Ban-siong-kok
di bukit Hong-san?" tantang Li Tiong-hui.
"Bagus sudah lama kudengar nama besar lembah Bansiong-
kok di bukit Hong-san. Kalau memang nona Li
bersedia mengundang,sampai waktunya, aku seebun
Giok-hiong pasti akan hadir, tentukan juga waktu
pertemuan kita."
"Tengah hari tanggal sepuluh bulan dua belas, akan
kunantikan kehadiranmu di lembah Ban-siong- kok"
"Baiklah, mumpung jaraknya dari hari ini masih ada
tiga bulan, segera akan kuundang bala bantuan
sebanyak-banyaknya."
"sampai waktunya lebih baik nona seebun ajak serta
segenap anak buah andalanmu, kita selesaikan pertikaian
kita hingga tuntas"
"Baik" seebun Giok-hiong tertawa, "Dengan selesainya
pertikaian di antara kita. Tahun baru mendatang pun
bisa kulewati dengan lebih tenang dan santai."
"Kalau begitu, kita tetapkan begini saja, silakan nona
seebun lanjutkan perjalananmu"

2858
"Bila nasib Pek si-hiang kurang beruntung dan keburu
mati, harap nona Li sudi mewakiliku untuk tancapkan
sekuntum bunga berkabung di hadapan pusaranya."
"Dalam keluarga Hong-san kami banyak tersimpan
obat Hui-seng-wan yang mujarab dan hebat, Asal nona
Pek sanggup bertahan sehari semalam lagi untuk
mencapai bukit Hong-san, aku yakin selembar jiwanya
pasti akan selamat"
"Moga-moga saja apa yang kau ucapkan dapat
terkabul, semoga ia mampu bertahan sehari semalam
lagi" ejek seebun Giok-hiong sambil tertawa.
"Nona seebun, rupanya kau sudah melupakan
kehadiranku di sini" sela Phang Thian-hua tiba-tiba
sambil melangkah keluar dari ruang perahu dengan
langkah lebar. "Dengan andalkan kemampuan ilmu
pengobatan-ku serta persediaan obat yang kumiliki masih
lebih dari cukup untuk melindungi keselamatan nona Pek
serta Lim siangkong selama tiga hari dua malam"
seebun Giok-hiong tertawa hambar.
"Kalau begitu, tolong sampaikan rasa haru-ku kepada
Lim siangkong bila telah sadar nanti," katanya, kemudian
putar badan dan berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggung seebun Giok-hiong
yang menjauh, Phang Thian-hua berkata: "Hanya
andalkan kekuatan seekor burung, ternyata ia mampu
menyeberangi sungai berarus deras ini dengan selamat.
Tampaknya kita harus akui bahwa ilmu silat yang dimiliki
orang ini luar biasa sekali."

2859
Sementara itu Hakim sakti Ciu Huang telah datang
menghampiri sambil berbisik: "Benarkah Bengcu hendak
gunakan bukit Hong-san untuk berduel dengan seebun
Giok-hiong?"
Li Tiong-hui menghela napas panjang, "Aaaaai...
kecuali bukit Hong-san, tidak kutemukan tempat lain
yang lebih sesuai."
"Bagaimana kalau ibumu tak setuju?"
"Nasi sudah terlanjur menjadi bubur, Kalau ibuku mau
marah, biarlah dia mengumpat diriku habis-habisan"
Ciu Huang termenung dan berpikir beberapa saat, lalu
katanya: "Ada beberapa patah kata, entah pantas tidak
kuutarakan keluar?"
Li Tiong-hui tidak menanggapi perkataan Ciu Huang,
sambil berpaling ke arah Pangeran pedang, katanya:
"Kau boleh pergi sekarang"
Dengan langkah lebar Pangeran pedang keluar dari
ruang perahu, serunya seraya menjura: "sebenarnya
maksud kedatanganku ke Tionggoan adalah ingin
menjumpai para jago lihay dari dunia persilatan tapi
sekarang, aku sadar bahwa kemampuanku masih
ketinggalan jauh, maka aku segera akan pulang ke Lamhay
dan mengajak ayah untuk bersama sama menghadiri
pertemuan di bukit Hong-san..."
Tampaknya ia belum selesai dengan perkataannya,
ditatapnya wajah Li Tiong-hui lekat-lekat, namun tak
sepatah kata pun diucapkan.
Melihat itu, dengan kening berkerut Li Tiong-hui
segera menegur: "Masih ada yang ingin disampaikan?"

2860
sesudah mendeham pelan kata Pangeran prdang:
"Harap nona sudi menyediakan sebuah meja perjamuan
untuk ayahku dalam pertemuan puncak di bukit Hongsan
nanti."
"Ayahmu pasti datang?"
"Nona tak usah khawatir seandainya ayahku menolak.
aku punya cara yang dapat membuat beliau penuhi
harapanku, jadi harap nona sediakan sebuah tempat
baginya."
selesai berkata ia pun memberi hormat, lalu sambil
memberi tanda kepada para pengawal elitnya ia berseru:
"Kembali ke perahu"
Dengan langkah lebar ia tinggalkan perahu tersebut
diikuti puluhan orang pengawal elit-nya.
Memandang kepergian kawanan jago tersebut, Li
Tiong-hui menghela napas panjang, bisiknya kepada Ciu
Huang: "Apa yang ingin ciu tayhiap katakan, sekarang
boleh kau sampaikan"
"Aku mendukung nona menjadi Bulim Bengcu,
tujuannya tak lain agar kau bersedia memimpin umat
persilatan untuk melawan seebun Giok-hiong, tapi bila
nona ingin kembali ke bukit Hong-san, makaaku pun
terpaksa harus mohon diri"
"Kenapa?"
"Semasa ayahmu masih hidup, meski dia adalah
sahabat karibku tapi antara aku dengan ibumu pernah
terlibat percekcokan yang sangat hebat. sejak peristiwa
itu belum pernah aku bertemu lagi dengannya,judi aku

2861
merasa kurang leluasa bila harus mengikuti nona pulang
ke bukit Hong-san!"
"Aaaah, mungkin ibuku sudah lupa dengan peristiwa
itu, buat apa Ciu tayhiap masih memikirkannya di hati?"
Ciu Huang tertawa tergelak "Ha ha ha... aku tak
pernah risau dengan masalah tersebut, justru yang
kukhawatirkan adalah bila ibumu masih menyimpan
masalah ini di dalam hati."
"Ciu tayhiap tak usah khawatir, selama belasan tahun
terakhir ibuku selalu hidup menyepi dan tak pernah
memikirkan urusan keduniawian lagi, jadi beliau tak akan
memikirkan peristiwa itu lagi."
Ciu Huang menghela napas panjang, "Aaaai...
kendatipun begitu, aku pernah diusir ibumu tempo hari
dari bukit Hong-san. sekalipun kejadian ini sudah
berlangsung cukup lama dan sepantasnya dilupakan,
tapi..."
"Kalau begitu demikian saja," tukas Li Tiong-hui cepat
"Bagaimana kalau Ciu tayhiap mewakili aku pergi
mengundang siau-lim-pay, Bu-tong-pay, Cing-shia-pay,
serta Kun-lun-pay untuk hadir di bukit Hong-san pada
bulan dua belas sebelum tanggal sepuluh?"
"Dengan senang hati kuterima tugas ini, namun..."
"Aku tentu akan melaporkanmu kepada ibuku
bahwasanya kesediaan ciu tayhiap hadir di Hong-san
adalah lantaran ingin selamatkan umat persilatan dari
tragedi."

2862
Ciu Huang termenung berpikir sejenak. kemudian
katanya: "Baiklah, bila ibumu bersedia menerima aku,
tentu aku akan hadir di bukit Hong-san."
Li Tiong-hui pun alihkan sorot matanya ke wajah Kimhud
totiang, tegurnya: "Bagaimana keadaan luka
totiang?"
"Enteng sekali" jawab Kim-hud lotiang cepat.
"Bagus, kalau begitu aku minta tolong kepada totiang
agar memberitahukan setiap umat persilatan yang kau
jumpai agar bersedia datang ke lembah Ban-siong-kok di
bukit Hong-san sebelum tanggal sepuluh bulan dua
belas..."
"Bagaimana kalau yang datang lebih banyak mereka
yang cuma menonton keramaian?"
"Tidak apa-apa, makin banyak makin baik," sahut Li
Tiong-hui seraya tertawa getir.
"Aku benar-benar tak habis mengerti," sela Ciu Huang.
"Apakah nona sudah temukan suatu rencana yang
bagus?" Li Tiong hui menghela napas panjang.
"ibuku saban hari cuma menutup diri di belakang
gunung, beliau semakin lama semakin jarang
mencampuri urusan kami dua bersaudara, Hubungan
batin kami sebagai ibu dan anak pun makin lama
semakin mendingin dan hambar, tapi apabila umat
persilatan yang hadir di bukit Hong-san banyak sekali,
demi reputasi dan nama baik keluarga Hong-san,
kendatipun ibu enggan campur tangan, paling tidak mau
tak mau terpaksa ia harus tampilkan diri juga."

2863
"oooh, jadi tampaknya nona ingin gunakan cara ini
untuk paksa ibumu tampilkan diri?" Kembali Li Tiong-hui
menghela napas.
"Aaaaai Apabila sampai waktunya kondisi badan nona
Pek belum pulih juga, aku benar-benar tak tahu dengan
cara apa kita harus hadapi seebun Giok-hiong." Tiba-tiba
Hongpo Tiang-hong tertawa tergelak
"Ha ha ha... semasa ayahmu masih hidup, ia pernah
bilang kepadaku bahwa ilmu silat yang dimiliki ibumu luar
biasa hebatnya, setiap umat persilatan pasti pernah
mendengar bahwa nyonya Li memiliki ilmu silat hebat,
tapi tak seorang pun pernah saksikan beliau turun
tangan menghadapi lawan. jika sampai waktunya aku
berkesempatan menyaksikan peristiwa itu, biarpun harus
mati, aku akan mati dengan meram."
"Aaaai... jangan lagi umat persilatan, kami sebagai
putra-putrinya pun tidak mengetahui sampai di mana
watak serta sifat ibuku yang sebenarnya, terutama pada
beberapa tahun terakhir. Tidak gampang bagi aku serta
kakakku untuk bersua muka dengannya."
Ciu Huang manggut-manggut, ia seperti hendak
mengucapkan sesuatu tapi niat itu diurungkan kembali.
Kim-hud totiang pun berkata: " Kalau memang begitu,
pinto akan gunakan segala kemampuan yang kumiliki
untuk melaksanakan perintah nona dan di dalam tiga
bulan mendatang, berita ini sudah tersiar merata di
seantero daratan Tionggoan."
"Terima kasih atas kesediaan totiang."

2864
"Bengcu tak usah banyak adat." Mendadak Ciu Huang
menengadah, lalu serunya sambil menghembuskan
napas panjang: "Nona Li, si pangeran pedang itu ..."
Tiba-tiba ia tutup mulut
"Ada apa dengan pangeran pedang?" tanya Li Tionghui.
"Lebih baik utus orang memberitahu kepadanya agar
lebih baik mereka tidak menghadiri pertemuan di bukit
Hong-san," kata Ciu Huang setelah mendeham berapa
kali.
seakan-akan menyadari akan sesuatu, Li Tiong-hui
bertanya: "Kenapa?"
"Panjang untuk menceritakan masalah ini, menurut
apa yang kuketahui tentang latar belakang persoalan ini,
tampaknya semasa masih hidupnya dulu ayahmu pernah
mempunyai hubungan yang luar biasa akrabnya dengan
si Raja pedang. Konon mereka berdua pernah berjanji
untuk berduel pedang di atas sebuah puncak tebing yang
terjal, siapa yang kalah dalam pertarungan tersebut,
meski tak sampai terluka di ujung pedang lawan ia pasti
akan terperosok ke dalam jurang dan tubuhnya hancur
lebur."
"Tentu ayahku yang berhasil unggul dalam
pertarungan itu?"
"Atas dasar apa nona berani mengatakan begitu?"
"Setahuku, mendiang ayahku tidak mati dalam
pertandingan pedang itu, jelas mendiang ayahku yang
menang."
ciu Huang gelengkan kepalanya berulang kali.

2865
"Tak seorang pun berhasil unggul dalam pertarungan
itu Bila ada seorang di antara mereka yang berhasil
unggul, dengan watak ayahmu serta si Raja pedang yang
keras dan berangasan, tak nanti mereka akan biarkan
lawannya tetap hidup."
"Jadi maksudmu kekuatan mendiang ayahku seimbang
dengan si Raja pedang, tak ada yang menang dan tak
ada yang kalah?"
"itu pun tidak, Bila ayahmu harus bertarung habishabisan
melawan si Raja pedang, salah seorang di antara
mereka pasti akan tewas atau paling tidak akan terluka
parah."
"Waaah, aku jadi tak habis mengerti Kalau toh,
mereka berdua sudah duel habis-habisan, kekuatan
mereka berdua pun tidak berimbang, kenapa mereka
berdua sama-sama selamat tanpa luka?"
"Sebab ibumu muncul tepat pada saatnya dan melerai
pertarungan mengerikan itu..."
setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya: "Tidak
banyak umat persilatan yang mengetahui peristiwa ini,
selain aku seorang, mungkin tiada orang kedua yang
tahu."
"Rupanya begitu Tahukah Ciu tayhiap kenapa ibuku
melerai pertarungan mereka berdua?"
Pertanyaan ini diajukan dengan perasaan berharap, ia
berharap bisa mengorek sedikit keterangan dari mulut ciu
Huang. Terdengar ciu Huang menghela napas panjang.

2866
"Latar belakang yang sesungguhnya tak pernah
dijelaskan ayahmu kepadaku, jadi apa yang kuketahui
pun hanya terbatas sampai di sini saja."
Li Tiong-hui termenung dan berpiklr sejenak, lalu
tegasnya lirih: "ciu tayhiap betul-betul tidak tahu?"
"Aku benar-benar tak tahu."
Li Tiong-hui angkat wajahnya dan menghela napas
panjang katanya kemudian: "Kalau memang ciu tayhiap
enggan menjelaskan yaa sudahlah, aku juga tak bisa
mendesakmu terus."
"Menurut pandanganku peristiwa yang sudah lewat
biarkan saja berlalu, toh tak ada sangkut pautnya dengan
keadaan sekarang, justru yang penting adalah usaha
Bengcu untuk mencegah si Raja pedang dan putranya
ikut hadir dalam pertemuan puncak di bukit Hong-san-"
"Begitu penting urusan tersebut?"
"Yaa menurut pandanganku"
"Bagaimana kalau kupikirkan dulu sebelum
diputuskan?"
"Perahu mereka bergerak ke selatan mengikuti arus
sungai yang deras, bila nona tak segera ambil keputusan,
mungkin kau akan terlambat menyusul mereka."
Sementara pembicaraan berlangsung, perahu telah
merapat di tepi pantai sungai. Li Tiong-hui berpaling
memandang Siok-bwee dan Hiang-kiok sekejap lalu
tanyanya: "Kalian berdua ingin turut aku pulang ke bukit
Hong-san?"

2867
"Kami berdua akan mengikuti nona kami ke mana pun
pergi, biar harus mati juga tak menyesal," jawab siokbwee
cepat.
"Bagus sekali Dengan kehadiran kalian berdua, nona
kalian tentu akan lebih terawat sepanjang jalan."
Sambil menghela napas siok-bwee memberi hormat
dalam-dalam, katanya: "Terima kasih banyak atas
kemurahan hati Li Bengcu"
"Nona Pek pernah lepas budi kepada umat persilatan,
sudah sepantasnya bila setiap anggota persilatan ikut
memperhatikan keselamatan jiwanya."
Begitu perahu merapat ke darat, Kim- hud totiang
segera mendarat duluan sambil serunya: "Bengcu, pinto
harus berangkat duluan untuk melaksanakan perintah
Anda..."
"Terima kasih totiang"
"Bengcu kelewat serius." Kim- hud lotiang tersenyum,
dengan cepat ia bergerak meninggalkan tempat itu,
sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari
pandangan.
Sambil menghela napas Ciu Huang berkata lagi: "Li
bengcu, harap kau pertimbangkan kembali usulku
tentang menyusul Pangeran pedang dan mencegah
ayahnya ikut hadir dalam pertemuan puncak di bukit
Hong-san. sekarang aku harus mohon diri lebih dulu."
Dengan cepat ia beranjak pergi pula dari situ.
Sepeninggal Ciu Huang, Li Tiong-hui berpaling kearah
Hongpo Tiang-hong dan berkata: "Biar aku pulang
diiringi Phang cengcu saja, sedang lo-cengcu boleh

2868
sampaikan perintahku, minta kakakku beserta para jago
lainnya langsung berangkat ke bukit Hong-san"
"Nona Li," sela Phang Thian-hua. "Luka yang diderita
Lim Han-kim dan Pek si-hiang sangat parah, mereka
harus dibawa dengan kereta kuda, Perlu kujelaskan
bahwa perjalanan jauh ini berpengaruh sangat besar
terhadap kondisi lukanya, benar aku punya obat-obatan
yang hebat, tapi obat-obatan tersebut belum cukup
menjamin keselamatan jiwanya."
"Phang cengcu, aku hanya berharap kau bisa
pertahankan keselamatan mereka hingga tiba di bukit
Hong-san. setibanya di rumah, aku yakin ibuku dapat
mengobati luka-luka mereka."
"Bagaimana pun juga, aku berkewajiban memberi
keterangan yang sejelasnya lebih dulu, bagaimana
keputusannya terserah Bengcu"
Agaknya Li Tiong-hui sudah ambil keputusan,
tukasnya: "sekarang juga kita berangkat."
Mereka menempuh perjalanan dalam suasana yang
amat sepi, yang terdengar hanya suara roda kereta yang
berputar membawa dua orang penderita yang sakit
parah.
Untuk menjaga keselamatan jiwa kedua orang itu,
sepanjang jalan phang Thian-hua tak berani
menyadarkan kedua orang pasiennya, Dengan andalkan
obat mestika ramuannya ia mencoba mempertahankan
kondisi sakit mereka agar tidak bertambah buruk.
Siok-bwee dan Hiang-kiok mendampingi majikannya
dengan perasaan kosong dan bimbang, luka Pek si-hiang

2869
yang sangat parah membuat mereka berdua kehilangan
kendali, mereka tak memiliki lagi kemampuan untuk
mengambil keputusan.
Li Tiong-hui sendiripun jarang bicara sepanjang jalan,
tampaknya pikirannya sedang dibebani masalah yang
serius.
Hari ini, ketika matahari sudah tenggelam di balik
bukit, tibalah rombongan tersebut di bukit Hong-san.
Dipimpin Li Tiong-hui sendiri, mereka berjalan menelusuri
dua buah tikungan bukit yang terjal.
"Untuk mencapai lembah Ban-siong-kok, kita harus
melewati perjalanan yang terjal dan berbahaya, Aku rasa
kereta-kereta tersebut terpaksa harus kita tinggalkan di
sini..." kata Li Tiong-hui kemudian.
Setelah memandang sekejap siok-bwee dan Hiangkiok.
lanjutnya: "Aku harap nona berdua mau
menggendong nona Pek."
"Yaa" tukas Hiang-kiok cepat. "Biar enci siok-bwee
menggendong nona kami sedang budak akan
membopong Lim siangkong"
Sesungguhnya Li Tiong-hui sedang serba salah, tentu
saja ia sungkan menyuruh Phang Thian-hua membopong
Lim Han-kim, sedang ia sendiri juga tak bebas
membopong pemuda tersebut. Untung saja Hiang-kiok
menyediakan diri untuk menggendong Lim Han-kim,
maka tanpa banyak bicara lagi serunya: "Bagus sekali
kalau begitu, mari kita segera berangkat."
Dari sakunya Phang Thian-hua mengambil keluar
sepotong emas dan diberikan kepada kusir kereta,

2870
kemudian ia berangkat menyusul di belakang rombongan
lainnya.
Ketika mereka selesai melewati sebuah bukit, senja
telah menjelang tiba, angin kencang yang menerpa
pohon cemara, menimbulkan suara berisik yang
memekak telinga.
Li Tiong-hui berpaling memandang sekejap dua orang
dayang itu, lalu bisiknya: "Nona berdua baru sembuh dari
luka, masih mampu untuk melanjutkan perjalanan?"
"Budak yakin masih sanggup bertahan diri," jawab
siok-bwee sambil menyeka peluh yang membasahi
jidatnya .
Sambil menunjuk ke arah sebuah lembah hijau di
kejauhan sana, Li Tiong-hui menjelaskan: "Lembah di
depan itulah lembah Ban-siong-kok. mari kita percepat
perjalanan, sebelum malam tiba kita pasti sudah tiba di
sana,"
"Nona tak usah menguatirkan kami, teruskan
perjalanan dengan cepat, budak percaya masih mampu
menyusul"
"Kalau begitu terpaksa harus repotkan kamu berdua."
Li Tiong-hui tertawa getir sambil meneruskan perjalanan.
Tatkala tiba di depan lembah Ban-siong-kok. siokbwee
dan Hiang-kiok sudah kepayahan, napas mereka
tersengal-sengal.
Lembah Ban-siong-kok adalah sebuah lembah yang
berada di balik dua tebing karang yang mengapit sebuah
lorong sempit jalan masuk itu lebarnya cuma satu kaki,
tapi setelah masuk. jalanan menjadi sangat lebar.

2871
Di atas sebuah batu cadas setinggi satu kaki, tertera
beberapa huruf dengan tinta berwarna emas, tulisan itu
berbunyi: KELUARGA PERSILATAN BUKIT HONG-SAN.
Di sisi tulisan itu tertera dua baris tulisan kecil yang
berbunyi: Harap turun dari kuda, lepaskan pedang
sebelum masuk ke lembah. Dengan agak sangsi siokbwee
berkata: "Nona, budak berdua menggembol
senjata, apa perlu ditinggal di luar lembah?"
"Tidak usah, datang bersama aku tak perlu tinggalkan
senjata," jawab Li Tiong-hui seraya masuk ke dalam
lembah.
Bukit Hong-san terkenal karena pohon pinusnya yang
lebat. Bentuk pohon-pohon tersebut sangat aneh lagi
kokoh, ada yang berbentuk manusia, ada berbentuk
monyet, ada pula yang berbentuk naga, sungguh indah
dan menakjubkan,
Sambil menghela napas Phang Thian-hua berkata:
"padahal dalam perkampungan Pit-tim-san-ceng, aku
telah menanam pelbagai jenis pohon pinus yang
berbentuk aneh dan luar biasa, tapi kalau dibandingkan
dengan pohon pinus disini, benar-benar ketinggalan jauh,
Aaaai Hari ini, sepasang mataku benar-benar terbuka."
"Di belakang lembah Ban-siong-kok terdapat sebidang
kebun yang dinamakan Kebun raya seribu pohon, kebun
itu dibina keluarga kami secara turun temurun, disitu
ditanam aneka ragam pepohonan dan tumbuhan dari
segala penjuru dunia. Ketika masih kecil, aku sering
bermain di sana dengan kakakku hingga lupa waktu.
Apabila bencana besar ini dapat kita lewatkan dengan
selamat, aku berjanji akan menjamu para jago dari

2872
segala penjuru dunia di kebun raya tersebut, agar semua
orang dapat ikut menikmati hasil karya keluarga Hongsan
dalam membina kebun raya tersebut,"
"Yaaa, hanya cukup mendengar penuturan nona, aku
bisa bayangkan betapa hebatnya kebun raya yang
dimaksud."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka
sudah ratusan kaki menerobos masuk ke dalam lembah,
pemandanganpun kembali berubah. Kini di kedua sisi
jalan berdiri berjajar pohon pinus yang diatur secara rapi
dan teratur hingga mirip dengan lapisan dinding, Di
tengah kegelapan malam lamat-lamat kelihatan
bayangan bangunan yang berdiri tegak dan anggun.
Di tengah keheningan yang mencekam jagad inilah,
tiba-tiba terdengar bunyi desingan anak panah yang
melintas menembus angkasa, kian lama suara itu kian
menjauh sebelum akhirnya lenyap dari pendengaran.
Sambil tersenyum Li Tiong-hui menerangkan
"Keempat pengawal pintu keluarga kami memang nakal
dan suka menggoda orang, Agar tidak sampai
mengejutkan kalian, harap tunggu sebentar di sini".
Belum selesai ia berkata, terdengar suara auman
harimau yang memekakkan telinga bergema datang,
disusul berhembusnya angin puyuh yang kencang dan
berbau amis.
Dua ekor harimau belang bertubuh besar muncul
secara tiba-tiba dari balik pepohonan dan langsung
menerkam ke hadapan mereka.

2873
"Jangan ganggu tamu-tamu kehormatan-ku" Li Tionghui
segera menghardik nyaring.
Tampaknya kedua ekor harimau itu pintar dan jinak.
setelah menengok Li Tiong-hui sekejap. mereka segera
mendekam ditanah sambil mendesis pelan, setelah itu
baru putar badan dan berlalu dari situ.
Melihat adegan ini, diam-diam siok-bwee berpikir
"Rupanya keempat penjaga pintu yang dia maksudkan
adalah harimau- harimau tersebut. Kini yang muncul
hanya dua ekor, berarti masih ada dua ekor lagi yang
belum muncul..."
Baru saja ingatan tersebut melintas, dari balik pohon
di sisi sebelah kanan kembali terdengar suara pekikan
keras disusul munculnya dua ekor makhluk raksasa
menghadang di tengah jalan.
Dengan perasaan terkejut Hiang-kiok berpikir
"Waaah... Dari mana datangnya monyet sebesar ini?
betul- betul binatang langka..."
Tampak Li Tiong-hui mengebaskan tangannya
memberi tanda sambil berseru keras: "Ayoh pergi dari
sini, suruh mereka ambil lampu untuk menyambut
kedatangan tamu"
Kedua ekor monyet besar berbulu emas itu mencicit
berulang kali, kemudian balik badan dan berlalu.
BAB 36. Memohon ijin ibu

2874
Seraya memandang bayangan kedua ekor monyet itu
berlalu, Li Tiong-hui kembali menjelaskan.
"Dulu, penjaga pintu keluarga Hong-san kami hanya
terdiri dari dua ekor harimau raksasa, kedua ekor monyet
raksasa ini belum lama baru berhasil ditundukkan ibuku,
Konon kedua ekor monyet ini memiliki kekuatan yang
luar biasa, tenaga tarikannya sanggup membelah tubuh
harimau menjadi dua bagian. Entah dari mana asalnya
kedua makhluk itu hingga akhirnya bisa muncul di
seputar kawasan Hong-san."
"Menurut apa yang kuketahui," ucap Phang Thian-hua,
" Kedua makhluk tersebut disebut gorilla, masih
termasuk dalam jenis monyet, biasanya banyak
berkeliaran di tengah bukit yang terpencil atau hutan
yang luas."
"Sungguh aneh makhluk itu," kata Hiang-kiok pula,
"Padahal tak sedikit gunung kenamaan dan hutan
belantara yang didatangi nona kami, rasanya selama ini
belum pernah kujumpai makhluk seperti ini. Lantas, apa
sebabnya mereka dapat muncul di bukit Hong-san?"
"Waaah, kalau soal ini aku tak bisa menjawab ..."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba
muncul hiasan cahaya lentera yang bergerak mendekati
mereka, Dari kejauhan sana tampak muncul dua orang
gadis berbaju hijau yang membawa lentera. usia kedua
orang gadis itu hampir sebaya, kira-kira berusia enamtujuh
belas tahunan.
Begitu berjumpa dengan Li Tiong-hui, serentak
mereka memberi hormat seraya berseru: "Rupanya nona
telah pulang"

2875
Li Tiong-hui manggut-manggut, katanya: "Aku datang
mengajak beberapa orang tamu agung, coba kalian
siapkan beberapa buah kamar dan siapkan hidangan."
Budak di sebelah kanan menyahut dan segera
beranjak pergi, sedangkan budak yang ada disebelah kiri
dengan mengangkat lenteranya tinggi-tinggi, bergerak
sebagai membawa jalan.
Sambil berjalan Li Tiong-hui berbisik, "Selama
beberapa waktu belakangan, apakah nyonya besar
pernah muncul dari pertapaannya?"
"Belum pernah." Budak itu menggeleng, "sejak
kepergian nona dan tuan muda, nyonya besar belum
pernah keluar dari gedung Tay-sang-kek. semua urusan
rumah tangga selama ini hanya diurus nenek ong."
Dalam pembicaraan itu, mereka telah melewati
beberapa buah dinding pohon dan tiba di depan sebuah
ruangan besar. seorang nenek berbaju biru yang
rambutnya telah beruban, berusia enam puluh tahunan
dan membawa sebuah tongkat tampak berdiri di depan
pintu, di kedua sisinya berdiri dua orang dayang berbaju
hijau yang membawa lentera besar.
Sambil menuruni tangga batu, nenek itu memberi
hormat seraya berkata: "Bila aku yang tua tak
menyambut kedatangan nona dari jauh, harap nona sudi
memaafkan."
Tampaknya Li Tiong-hui menaruh hormat terhadap
nenek itu, buru-buru ia balas memberi hormat seraya
menyahuti.

2876
"Terima kasih banyak atas perhatian nenek dan mau
mengurusi rumah tangga selama ini."
Ong popo tertawa.
"itu sudah tugas dan kewajibanku, nona jangan
merendah." Buru-buru ia menyingkir ke samping
memberi jalan lewat buat majikannya.
Kepada Phang Thian-hua, siok-bwee dan Hiang-kiok
bertiga Li Tiong-hui pun berseru: "Phang cengcu
sekalian, silakan masuk"
Selama ini ong popo hanya mengawasi Phang Thianhua
bertiga tanpa bermaksud menghalangi namun
keningnya jelas berkerut kencang.
Tiba dalam ruangan, air teh pun segera dihidangkan
Ong popo menyusul masuk ke dalam ruangan, bisiknya:
"Telah kuperintahkan ke dapur untuk menyiapkan makan
malam buat nona sekalian,"
Li Tiong-hui angkat wajahnya memandang sekejap
langit-langit ruangan, lalu katanya kembali.
"Harap popo sampaikan perintahku ke dapur, suruh
mereka siapkan hidangan dan arak dalam jumlah banyak.
dalam tiga-lima hari mendatang, bakal ada banyak jago
persilatan yang akan berkunjung ke lembah Ban-siongkok
kita."
Agaknya ia sudah menduga, paras muka Ong popo
pasti berubah amat jelek sesudah mendengar perkataan
itu, karenanya ia enggan menatap wajah nenek tersebut
selama berbicara.

2877
Benar juga, Paras muka Ong popo berubah hebat,
rambutnya yang beruban kelihatan gemetar keras,
setelah mendeham berulang kali baru katanya: "Apa
perlu dilaporkan dulu ke nyonya?"
"Tidak usah," tolak Li Tiong-hui. "Jika ada yang
menyalahkan biar aku yang menanggung resiko ini."
"Aaaaai... kalau memang begitu, akan kulaksanakan
perintah ini." Akhirnya Ong popo menghela napas.
"Oya, masih ada satu urusan lagi, bila Ong popo
berkunjung ke gedung Tay-sang-kek, sampaikan kepada
ibuku, katakan aku ada urusan penting hendak berjumpa
dengannya."
"Bagaimana jika nyonya belum selesai bertapa?"
"Kalau hari ini tak bisa, besok saja" sahut Li Tiong-hui
setelah berpikir sejenak, "Cuma kau perlu ambilkan dulu
sebotol bubuk obat si- mia-jit-po-san. Kedua orang
sahabatku terluka sangat parah, hanya obat tersebut
yang bisa selamatkan jiwanya".
"Ambil sebotol?" ong popo berseru kaget.
"Yaa, ambil sebotol"
"Setahuku, obat si- mia-jit-po-san tinggal dua botol
kurang, obat mestika itu sangat langka dan tiada duanya
di kolong langit, nona".
"ong popo" tukas Li Tiong-hui cepat, "Kini ibuku masih
bertapa, kakakku pergi jauh dan belum kembali, tolong
tanya siapa yang paling berkuasa di keluarga Hong-san
ini?"

2878
setelah tertegun sesaat, jawab ong popo: "Tentu saja
nona yang paling berkuasa"
"Bagus sekali Nah, sekarang ambil keluar sebotol obat
si- mia-jit-po-san"
"Aku turut perintah" Dengan perasaan berat Ong popo
beranjak pergi dari situ.
Sepeninggal nenek itu, Phang Thian-hua baru
mendeham seraya berkata: "Ada beberapa patah kata
yang kurang pantas, entah bolehkah kuutarakan keluar?"
"Tidak apa-apa," sahut Li Tiong-hui. "Katakan saja"
"Tampaknya dalam keluarga Hong-san, Ong popo
mempunyai hak kekuasaan yang amat besar, dan
menurut perasaanku, rupanya ia kurang senang atas
kehadiran kami yang tak terduga ini.jadi menurut
perasaanku, lebih baik Beng cu jangan kelewat
memojokkan dirinya. Bila memang kurang berkenan di
hati, lebih baik kami pindah saja keluar dari lembah Banseng-
kok."
"Tidak usah, sejak kecil Ong popo sudah berada di
keluarga Hong-san. Hingga kini boleh dibilang ia sudah
berdiam puluhan tahun, bahkan sejak kecil aku dan
kakakku dibesarkan olehnya. Memang tak keliru bila kita
agak mengalah kepadanya, tapi dia pun seorang yang
tahu keadaan dan persoalan, Meskipun pada saat ini
mungkin hatinya kurang senang, tapi selewatnya
beberapa hari, dia akan membaik sendiri"
Gerak langkah Ong popo kelihatannya amat lamban,
padahal dalam kenyataan cepatnya luar biasa, sementara

2879
pembicaraan masih berlangsung, ia telah muncul kembali
dalam ruang tamu.
Sambil menghampiri Li Tiong-hui dan menyodorkan
sebuah botol porselen, terdengar nenek itu berkata:
"Nona, obat bubuk si- mia-jit-po-san telah kubawa
kemari."
Li Tiong-hui serahkan botol itu ke tangan phang
Thian-hua sambil katanya: "Aku rasa Phang cengcu pasti
sudah tahu kegunaan dari Jit-po-san ini dan rasanya tak
perlu kujelaskan lagi, harap cengcu sudi memberikan
obat ini kepada mereka, sedang masalah lain biar kita
bicarakan besok saja setelah aku menghadap ibuku."
Melihat botol porselen itu masih disegel rapat, Phang
Thian-hua segera menerimanya.
"Nona, obat ini luar biasa mustajabnya, sedang nona
Pek dan Lim siangkong terbukti lukanya tidak mengalami
perubahan apa pun kendati telah menempuh perjalanan
jauh, ini menunjukkan bahwa mereka tidak perlu diobati
lagi dengan obat mustajab tersebut"
"Kalau begitu, tolong Phang cengcu simpankan lebih
dulu, Bilamana diperlukan, harap cengcu segera
memberikan kepada mereka."
"Baik, bila tidak terpaksa, aku pasti tak akan
menggunakan" janji Phang Thian-hua sambil masukkan
botol itu ke dalam sakunya,
Li Tiong-hui pun berpaling ke arah Ong popo sambil
bertanya: "Popo, sudah kau siapkan tempat pemondokan
buat mereka?"

2880
"Semuanya telah disiapkan, nona tak perlu
risau,"jawab Ong popo sambil menghela napas.
Pelan-pelan Li Tiong-hui bangkit berdiri, kembali
pesannya kepada Phang Thian-hua: "Bila luka yang
mereka derita mengalami sesuatu perubahan, tolong
suruh mereka memberi kabar kepadaku."
"Baik, akan kuingat"
Dipimpin dua orang dayang berbaju hijau yang
membawa lentera, Phang Thian-hua serta siok-bwee
sekalian diajak masuk ke sebuah halaman terpencil di
mana terdapat beberapa ruangan yang berjajar
Sambil menyulut lilin, pesan dayang itu. "silakan kalian
beristirahat sejenak, hidangan akan segera tiba."
Keesokan harinya, baru saja Phang Thian-hua bangun
tidur, seorang dayang telah muncul di depan pintu sambil
berkata: "Nona kami menunggu kedatangan Phang
cengcu"
Dengan cepat Phang Thian-hua diajaknya masuk ke
dalam sebuah ruang besar di sisi gedung tersebut
Hari ini Li Tiong-hui mengenakan baju hijau dengan
gaun hijau pula, Meski senyuman menghiasi bibirnya,
namun keningnya nampak berkerut kencang dan diliputi
kemurungan yang mendalam.
Begitu melihat Phang Thian-hua muncul disana, ia
segera bangkit berdiri sambil serunya: "Cengcu, harap
kau menemani aku pergi menjumpai ibuku."

2881
"Sudah lama aku mengagumi nama besar nyonya Li,
beruntung sekali dapat menyambanginya, cuma leluasa
tidak?"
"Tidak apa-apa..." setelah berhenti sejenak, kembali
lanjutnya: "Cuma... sikap ibuku memang agak dingin dan
hambar terhadap orang lain, untuk itu harap Phang
Cengcu jangan gampang tersinggung."
"Oooh, kalau soal itu mah aku tak berani."
"Kalau begitu mari kita berangkat"
Dengan mengikuti di belakang Li Tiong-hui,
berangkatlah Phang Thian-hua menelusuri jalan setapak
yang penuh aneka bunga dan pepohonan sebelum
akhirnya tiba di sebuah bangunan yang dikelilingi hutan
lebat.
Sambil menelusuri jalan setapak selebar dua depa
yang beralas batu, Li Tiong-hui berbisik "lnilah gedung
Tay-sang-kek tempat tinggal ibuku."
Phang Thian-hua cuma mengiakan pelan tanpa banyak
bicara, Rupanya secara tiba-tiba ia merasakan betapa
tenang dan seriusnya gedung putih yang dikelilingi
pepohonan ini.
Ketika habis melewati tiga belas buah anak tangga
beralas batu putih, tibalah mereka di depan sebuah pintu
gerbang yang tertutup rapat.
Ong popo yang berambut putih telah berdiri serius di
muka pintu, begitu melihat kehadiran kedua orang itu,
segera ucapnya: "Ibumu telah setuju..."
"Terima kasih banyak Ong popo."

2882
Ong popo angkat muka dan menghembuskan napas
panjang. "cuma, saat ini belum waktunya" ia berbisik
"Biar aku menanti di luar biliknya."
Ong popo tidak berkata apa-apa, namun sepasang
matanya yang tajam mengawasi terus wajah Phang
Thian-hua tanpa berkedip.
Ditatap seperti ini, Phang Thian-hua segera merasa
amat gundah dan tak tenang, buru-buru dia melengos
kearah lain dan tak berani beradu pandang dengannya.
Dalam suasana yang amat hening dan sepi, waktu
berialu sangat lambat, seakan- akan siput yang sedang
merangkak. Tiba-tiba kedengaran suara lonceng yang
berdentang pelan bergema keluar dari balik pintu kayu
yang tertutup rapat itu.
Ong popo segera menyingkir ke samping, lalu ia
berkata: "Sekarang kau boleh masuk"
Buru-buru Li Tiong-hui berjalan mendekati pintu,
mendorongnya hingga terbuka dan menyelinap masuk ke
dalam, Phang Thian-hua ragu-ragu -sejenak. tapi dengan
cepat ia menyusul di belakang gadis tersebut.
Setelah masuk ke balik pintu, tampak tempat itu
merupakan sebuah ruangan kosong yang amat luas,
Kecuali empat buah bangku yang terbuat dari kayu
pinus, tiada perabot lain yang berada di sana, persis di
tengah dinding sebelah depan tergantung sebuah kain
dengan beberapa huruf yang amat besar, tulisan itu
berbunyi: LUPAKAN SEMUA PERASAAN.
Membaca tulisan ini, Phang Thian-hua pun berpikir
"Terhadap putra-putrinya sendiri pun nyonya Li bersikap

2883
begitu disiplin dan keras, rasanya tulisan yang tercantum
dalam ruangan ini memang cocok sekali dengan
sikapnya..."
Sementara ia masih berpikir, dari balik dinding
ruangan telah berjalan keluar seorang nyonya setengah
umur.
Dengan langkah cepat Li Tiong-hui segera memburu
ke depan, berlutut sambil serunya: "Ananda memberi
hormat kepada ibu"
"Bangunlah..." ucap nyonya Li sambil tertawa hambar.
Phang Thian-hua pelan-pelan alihkan perhatiannya ke
wajah perempuan itu, ia saksikan nyonya Li mengenakan
pakaian berwarna putih, meski tidak berdandan namun
tidak menutupi kecantikan wajahnya yang alami. sekilas
pandang orang akan mengira usianya baru dua puluh
tujuh-delapan tahunan.
Menyaksikan semua itu, tanpa terasa kembali ia
berpikir "Li Tong-yang sudah hampir belasan tahun
meninggal dunia, jadi kalau di-hitung-hitung paling tidak
usia Nyonya Li tahun ini sudah mencapai empat puluh
tujuh-delapan tahunan, tak nyana ia masih tetap awet
muda.
Sementara ia masih berpikir, Li Tiong-hui telah
berbisik: "Phang cengcu, mari kesini menjumpai ibuku"
Dengan langkah lebar Phang Thian-hua maju
mendekat, seraya memberi hormat katanya: "Phang
Thian-hua dari perkampungan pit-tim-san-ceng
menjumpai nyonya Li"

2884
"Silakan duduk Phang cengcu," kata Li hujin.
ucapannya amat singkat, seakan-akan khawatir kalau
kelewat banyak bicara saja.
"Terima kasih"
Setelah melihat tamunya duduk. nyonya Li baru
berpaling kembali kearah Li Tiong-hui. "Ada urusan apa
kau ingin bertemu denganku ?" tegurnya.
"Kaku benar hubungan ibu dan anak," batin
PhangThian-hua segera, "seakan-akan sedang berbicara
dengan teman lama yang sudah sekian tahun tak
berjumpa saja..."
"lbu," sahut Li Tiong-hui. "Bila tak ada urusan penting,
ananda tak akan berani mengusik ketenangan ibu..."
"Ada urusan apa? Cepat katakan"
"Kini, ananda telah diangkat menjadi Bulim Bengcu"
"Ehmm, bagus sekali." Nyonya Li tertawa hambar.
"Ananda mengerti, kemampuan yang kumiliki masih
belum pantas untuk menduduki jabatan tersebut, umat
persilatan justru memilih ananda, semua ini tak lain
karena nama besar ayah dan ibu."
"Aku tahu, masih ada yang lain?"
Phang Thian-hua terkesiap. pikirnya: "Dingin benar
sikap nyonya Li sebagai seorang ibu terhadap putrinya,
Bukan cuma bicara singkat, nadanya pun dingin
membeku seperti hembusan angin puyuh dari Kutub
utara saja..."
Terdengar Li Tiong-hui menghela napas panjang.

2885
"Kini, beberapa orang anak buah ananda terluka parah
dan hingga kini belum sadar, Ananda mohon kemurahan
hati ibu, sudilah kiranya untuk menolong mereka agar
lolos dari musibah kali ini."
Paras muka Nyonya Li tetap dingin membeku, sampai
lama sekali dia tak mengucapkan sepatah kata pun.
Li Tiong-hui angkat wajahnya memandang ibunya
sekejap. kemudian sambil menjatuhkan diri berlutut
katanya lagi: "Ananda sadar, tidak seharusnya aku
mengusik ketenangan ibu, tapi nasi sudah menjadi
bubur, Masalah ini tak dapat dilepaskan dengan begitu
saja. Ananda mohon ibu sudi memandang di atas
hubungan kita sebagai ibu dan anak untuk mengabulkan
permohonan ananda ini."
Nyonya Li berpaling memandang sekejap tulisan di
atas dinding, kemudian katanya: "Hanya persoalan ini?"
"Masih ada masalah lain yang hendak ananda
laporkan" Nyonya Li berkerut kening, namun ia tetap
membungkam.
Pelan-pelan Li Tiong-hui melanjutkan "Ananda bisa
diangkat sebagai Bulim Bengcu lantaran ingin melawan
kekejaman seebun Giok-hiong, perempuan iblis itu
memiliki ilmu silat yang luar biasa hebatnya. Ananda
sadar masih bukan tandingannya, malahan berulang kali
ananda keok di tangannya, Dalam keadaan begini,
terpaksa ananda menyebar undangan ke seluruh penjuru
daratan untuk mengundang kehadiran para jago di
kolong langit guna bersama-sama kumpul di bukit Hongsan
dan menyelenggarakan persatuan untuk bersamasama
melawan seebun Giok-hiong."

2886
Paras muka nyonya Li yang pada dasarnya sudah
dingin, kini diliputi sikap yang lebih membekukan hati
setelah mendengar penuturan tersebut, pelan-pelan ia
duduk di bangku.
Phang Thian-hua mendeham pelan, sebetulnya dia
ingin membantu Li Tiong-hui mengucapkan sepatah dua
patah kata, Namun, setelah melihat sikap dingin dari
nyonya Li, kata-kata yang telah sampai di tenggorokan
itu segera ditelan kembali.
Ia berpengalaman luas,jadi orang pun pandai
menahan diri setelah melihat semuanya ini segera
pikirnya lagi: "sudah jelas Li Tiong-hui tahu bila sikap
ibunya amat dingin dan kaku, semestinya ia datang
menghadap sendirian Kenapa justru aku dipaksa untuk
mendampinginya? Di balik semua ini tentu ada
alasannya".
Berpendapat begitu, dia pun mengambil sikap berdiam
diri, tutup mulut sambil menantikan perubahan
selanjutnya. Terdengar Li Tiong-hui berkata lebih lanjut
"Ananda telah menyebar undangan untuk memanggil
semua partai dan perguruan yang ada di daratan
Tionggoan- agar mengutus jago-jago andalannya untuk
ikut ambil bagian dalam pertarungan di bukit Hong-san.
Namun, kepandaian silat yang dimiliki seebun Giok-hiong
betul-betul luar biasa hebatnya, ditambah lagi anak
buahnya banyak dan sebagian besar merupakan jagojago
tangguh berilmu tinggi. Karenanya, walaupun pihak
ananda telah didukung para jago tangguh dari pelbagai
aliran dan perguruan, kekuatan kami belum tentu
sanggup menandingi kekuatan pihak seebun Giok-hiong."

2887
"Bagus" pekik Phang Thian-hua dalam hati. "Rupanya
dia sedang menggunakan siasat menghasut dan
memanasi hati ibunya untuk mensukseskan rencananya."
ia coba melirik ke wajah nyonya Li, tapi paras muka
perempuan itu tetap dingin, kaku, hambar dan sama
sekali tidak termakan hasutan itu.
Melihat hal ini, kembali Phang Thian-hua berpikir:
"Entah ilmu silat apa yang dipelajari nyonya Li, ternyata
ia begitu teguh imannya dan tidak terpengaruh oleh
hasutan macam begitu, sejak kemunculannya hingga
kini, sikapnya tetap dingin dan kaku ibarat sebuah
patung ukiran saja, sungguh luar biasa."
Tampak Li Tiong-hui angkat wajahnya memandang
ibunya sekejap. lalu melanjutkan kembali ucapannya
yang terhenti tadi.
"Pertempuran ini bukan saja menyangkut nasib
seluruh umat persilatan, terlebih menyangkut pula nama
besar keluarga Hong-san kita." Nyonya Li menghela
napas pelan, tapi ia tetap membungkam.
"Ooh, ibu" pinta Li Tiong-hui. "semasa masih hidup
dulu, ayah adalah seorang ksatria sejati yang disanjung
dan dihormati setiap manusia, seandainya beliau masih
hidup sekarang, niscaya beliau pun akan mendukung
ananda... masa ibu..."
"Kau rindu sekali pada ayahmu?" Nyonya Li tertawa
getir.
"Aaaai... dasar nasib ananda kurang beruntung,
semasa ayah masih hidup dulu, ananda masih berusia
kecil hingga kini bayangan wajah ayah pun hanya
teringat samar-samar..."

2888
Pelan-pelan nyonya Li meraba bahu Li Tiong-hui
dengan lemah lembut. Heran, begitu tangannya
menyentuh tubuh gadis tersebut, tiba-tiba ia menarik
tangannya kembali, kemudian setelah membenahi
rambutnya ia menukas: "Bicaramu kelewat banyak"
Li Tiong-hui angkat wajahnya, dua titik air mata jatuh
bercucuran membasahi pipinya.
Hingga detik ini Phang Thian-hua tak mampu
menahan diri lagi, mendadak ia bangkit berdiri sambil
berseru keras. " Nyonya Li"
"Ada apa?" Pelan-pelan nyonya Li berpaling
memandang Phang Thian-hua.
"Atas sanjungan dan dukungan para jago dari seluruh
kolong langit, putrimu telah diangkat menjadi Bulim
Bengcu."
"Soal ini aku sudah tahu."
"Demi keselamatan seluruh umat persilatan aku
bahkan tinggalkan kehidupanku yang tenang selama
puluhan tahun untuk berbakti kepada Bengcu dan
melaksanakan perintahnya, masa nyonya enggan
mengingat hubungan ibu dan anak dengan membantu
usaha putrimu itu?"
Nyonya Li tertawa hambar. "Nenek Ong ada di mana?"
Tiba-tiba serunya.
"Hamba di sini" Dengan membawa tongkat bambu
Ong popo munculkan diri. "Perintahkan mereka untuk
menggotong kemari kedua orang yang terluka parah itu"

2889
Apabila terhadap Li Tiong-hui sikap Ong popo begitu
keren dan serius, maka sikapnya terhadap nyonya Li
justru menghormat sekali, setelah menyahut buru-buru
dia beranjak pergi.
Agaknya sifat sayang seorang ibu terhadap anaknya,
ditambah lagi dengan cucuran air mata putrinya telah
melelehkan kebekuan hati Nyonya Li. setelah menghela
napas sejenak, kembali ia melanjutkan ucapannya tadi.
"Orang bilang anak lelaki patuh pada ayahnya, anak
perempuan patuh pada ibunya, Tampaknya ucapan ini
memang benar dan patut dipercaya, Aaaai... kalian dua
bersaudara, tak seorang pun yang mirip aku, kalian
justru menuruni watak suka mencari gara-gara dari
bapakmu"
"Ananda memang bersalah dan pantas menerima
hukuman, Bila urusan ini telah beres, ananda pasti akan
melepaskan jabatanku sebagai Bulim Bengcu dan siap
menerima hukuman dari ibu."
Nyonya Li tertawa hambar tanpa memberi tanggapan,
ia berpaling ke arah Phang Thian-hua, lalu ucapnya:
"Phang cengcu tersohor sebagai Dewa jinsom yang mahir
ilmu pengobatan dan pertabiban, sudah kau periksa
keadaan luka mereka berdua?"
"Sudah kuperiksa, luka yang diderita kedua orang itu
amat parah, bahkan aku pun dibuat gelagapan."
Sementara pembicaraan berlangsung, empat orang
dayang berbaju hijau telah muncul dalam ruangan
dengan membopong Lim Han-kim serta Pek si-hiang.

2890
"Baringkan saja di lantai, kalian boleh pergi" perintah
nyonya Li.
Setelah meletakkan kedua tandu itu ke lantai, empat
dayang tadi segera mengundurkan diri.
Nyonya Li berpaling memandang sekejap ke arah Li
Tiong-hui, lalu perintahnya: "Kau boleh bangkit"
Kemudian dengan langkah lebar ia mendekati Lim Hankim.
Rupanya sedari tadi Li berlutut di tanah, mendengar
perintah tersebut ia pun bangkit dan menyusul di
belakang ibu-nya.
Pelan-pelan nyonya Li menyingkap selimut yang
menutupi badan Lim Han-kim, namun ketika sorot
matanya membentur di wajah anak muda tersebut.
Bagaikan tersengat listrik bertegangan tinggi saja,
mendadak badannya gemetar keras. Rasa kaget
bercampur tercengang segera menghiasi wajahnya.
Selama ini, Li Tiong-hui hanya memperhatikan Lim
Han-kim, ia sama sekali tidak perhatikan perubahan
mimik wajah ibunya, Lain dengan Phang Thian-hua yang
amati terus gerak-gerik nyonya tersebut, semua
perubahan itu dapat dilihatnya dengan amat jelas.
Setelah berhasil menguasai gejolak perasaan hatinya,
nyonya Li pun bertanya: "Anak Hui, siapa namanya?"
Betapa gembiranya Li Tiong-hui tatkala mendengar
nada pembicaraan ibunya begitu lembut dan halus,
seakan-akan sudah menaruh kesan yang baik terhadap
pemuda itu, buru-buru ia memberikan jawaban. "Dia
bernama Lim Han-kim."

2891
"Lim Han-kim..."
"Yaa, Lim Han-kim, dia baik sekali orang-nya.,."
Nyonya Li tidak membiarkan Li Tiong-hui melanjutkan
kata- katanya, kembali dia menukas: "Anak Hui, tahukah
kau akan asal-usul nya?"
"Tidak"
Nyonya Li tidak banyak bertanya lagi, ia periksa
denyut nadi Lim Han-kim dengan seksama, kemudian
berkata lagi dengan sikap serius.
"Meskipun lukanya cukup parah, hawa murninya
belum sampai buyar. Asal ia diberi obat yang jitu, niscaya
lukanya akan sembuh dan kesehatannya akan pulih
kembali dengan cepat"
"Ibu, kau sanggup menyembuhkan luka-nya?"
"Hal ini perlu bantuan dari Phang cengcu," kata
Nyonya Li sambil berpaling secara tiba-tiba ke arah
Phang Thian-hua.
"Selama kemampuan aku she-Phang masih
dibutuhkan, aku pasti akan berusaha dengan sepenuh
tenaga."
"Untuk melindungi isi perutnya, ia telah kerahkan
tenaga dalamnya yang terhimpun di dada, akibatnya di
bagian dadanya sekarang terkumpul segumpal darah
beku, Mula pertama kau mesti paksa keluar dulu
gumpalan darah di dalam dadanya dengan tenaga dalam,
setelah itu baru kita obati dengan ramu-ramuan."
"Yaa, aku pun sependapat dengan usul ini, hanya tadi
tak berani ambil keputusan."

2892
"Kalau begitu aku minta tolong kepada Phang cengcu
agar mendesak keluar gumpalan darahnya lebih dulu..."
Phang Thian-hua menyahut dan menghampiri Lim
Han-kim dengan langkah lebar.
"Tunggu sebentar, kita tunggu sesaat lagi sebelum
turun tangan" cegah nyonya Li tiba-tiba sambil
menggeleng.
Phang Thian-hua agak tertegun, ia mundur balik ke
tempat semula.
Pelan-pelan nyonya Li menghampiri Pek si-hiang,
menyingkap selimutnya dan bertanya: "siapa pula nona
ini?"
"Dia bernama Pek si-hiang" sahut Li Tiong-hui.
"Tampaknya ia cerdik sekali."
"Tebakan ibu sangat tepat, nona Pek memang seorang
gadis yang cerdik dan berkemampuan luas."
Dengan teliti nyonya Liperiksa luka yang diderita Pek
si-hiang, lalu katanya: "Aku rasa luka yang diderita nona
ini jauh lebih parah ketimbang Lim Han-kim."
"Masih bisa ditolong?"
"Ditolong sih masih bisa, cuma butuh banyak tenaga
dan pikiran."
"Ibu, mohon belas kasihanmu untuk menyelamatkan
jiwanya"
"Kondisi tubuh nona Pek sudah jelek sejak sebelum
terluka, Aku tebak, ia tentu seorang nona yang
berpenyakitan bahkan tenaga dalam yang dimilikinya

2893
tidak disertai dasar yang kuat, Aku sendiri kurang yakin
apakah bisa menolongnya atau tidak."
"Maksud ibu... harapannya untuk sembuh kecil sekali?"
"Yaa, mati dan hidup masing-masing menempati
setengah bagian, aku hanya bisa berusaha dengan
segala kemampuan."
Pelan-pelan air mata jatuh bercucuran membasahi
wajah Li Tiong-hui.
"Ibu" bisiknya. "Aku telah berhutang budi kepada nona
Pek, beberapa kali ia telah selamatkan jiwaku. "
"Aku mengerti" Nyonya Li manggut-manggut. "Ong
popo"
Tampaknya Ong popo belum pernah tinggalkan
gedung Tay-sang-kek. ia segera muncul dengan langkah
lebar begitu mendengar panggilan itu.
"Ada perintah apa, nyonya?" tanyanya,
"Suruh mereka siapkan sebuah wajan besar, dua
gentong cuka yang sudah berumur puluhan tahun serta
sebuah kukusan besar" Ong popo menyahut dan segera
berlalu.
Berpaling kepada Li Tiong-hui, kembali nyonya Li
berkata: "sekarang kalian boleh pergi, tengah malam
nanti aku akan berusaha menyembuhkan luka yang
diderita nona Pek."
"Terima kasih ibu"
Nyonya Li berpaling sekejap ke arah Phang Thian-hua,
lalu katanya pula: "Minta tolong kepada Phang cengcu
agar mendesak keluar gumpalan darah di dada Lim HanTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
2894
kim. Malam ini aku akan meramu obat, besok kita bisa
berikan kepadanya."
"Terima kasih, nyonya Li."
"Phang cengcu, mari kita pergi," bisik Li Tiong-hui
kemudian. "Perlu gotong kembali Lim Han-kim dan Pek
si-hiang?"
"Kita tak usah mengurusi."
Phang Thian-hua menyahut, bersama Li Tiong-hui
mereka segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Tiba di depan pintu, tampak Ong popo dengan
tongkatnya berdiri di samping halaman sambil
tersenyum, Kepada Li Tiong-hui segera serunya:
"selamat nona, akhirnya kau berhasil membujuk nyonya"
"Terima kasih juga untuk bantuan dari Ong popo,"
"Aaaai sudah sepantasnya bila aku membantu dengan
semampuku." Ong popo menghela napas panjang.
Dengan hormat Li Tiong-hui menjura kepada nenek itu
kemudian baru pelan-pelan menuruni anak tangga.
Phang Thian-hua menyusul di belakangnya, sembari
berjalan bisiknya: "Aku sempat khawatir ketika bertemu
ibumu pertama kali tadi? sungguh tak nyana akhirnya
Bengcu berhasil juga membujuknya."
"Padahal aku sendiripun kurang yakin ketika tiba di
gedung Tay-sang-kek awal tadi, aku hanya adu
keberuntungan..."
"Ketika ibumu bertemu Lim Han-kim tadi."

2895
"Ehmmm," tukas Li Tiong-hui sambil tertawa,
"Nampaknya ibu punya kesan yang baik sekali
terhadapnya, kejadian ini benar-benar berada di luar
dugaanku."
BAB 37. Sembuh Dari Luka
Phang Thian-hua mendeham beberapa kali dan tidak
menanggapi lagi, sementara di hati kecilnya dia berpikir
"Dengan keteguhan iman nyonya Li, tidak seharusnya
batinnya tergoncang hebat tatkala bertemu dengan Lim
Han-kim tadi, sudah pasti di balik peristiwa ini masih ada
latar belakangnya, mungkin juga suatu rahasia besar...
kelihatannya Li Tiong-hui belum sampai menyadari akan
hal tersebut Ehmmm... lebih baik aku tak campuri urusan
ini."
Mendadak Li Tiong-hui menghentikan langkahnya dan
berkata kepada Phang Thian-hua: "Bila Lim Han-kim
sudah digotong keluar, para dayang pasti akan memberi
kabar kepada Phang cengcu..."
"Bengcu tak usah kuatir, aku percaya dengan mudah
dapat mendesak keluar gumpalan darah yang
menyumbat dadanya." Li Tiong-hui manggut-manggut.
"Sehabis mengobati luka yang diderita kedua orang
itu, Phang cengcu sendiri perlu istirahat secukupnya,
Mungkin dalam tiga sampai lima hari kemudian, para
jago dari seluruh pelosok dunia persilatan sudah
berdatangan kemari, Phang cengcu masih diperlukan
tenaganya untuk menyambut kedatangan mereka."

2896
"Masalah ini tak usah dikhawatirkan aku pasti akan
bekerja dengan sebaik-baiknya."
"Saat ini, Siok-bwee dan Hiang-kiok tentu sedang risau
dan gelisah memikirkan keselamatan nona Pek. tolong
Phang cengcu sampaikan juga kabar baik ini kepada
mereka." Selesai berkata, ia pun berialu dan situ.
Betul juga, Ketika Phang Thian-hua kembali ke
kamarnya, siok-bwee dan Hiang-klok sudah menanti di
dalam ruangan.
Begitu melihat Phang Thian-hua muncul di situ,
serentak kedua orang dayang itu memberi hormat sambil
bertanya: "bagaimana dengan luka nona kami?"
"Nyonya Li sudah bersedia memberikan pertolongan
malam ini juga beliau akan turun tangan-"
"Besarkah harapannya?" tanya Siok-bwee sambil
menghembuskan napas panjang.
Tidak tega Phang Thian-hua melihat kerisauan yang
mencekam wajah kedua orang dayang itu, setelah
menghela napas panjang sahutnya: "Kalau didengar dari
nada pembicaraan nyonya Li sih, besar sekali
harapannya."
Siok-bwee segera pejamkan matanya sambil
berkemak-kemik: "Thian yang maha pengasih mogamoga
Kau memberi kesembuhan untuk nona kami. Untuk
menebus semua ini, biar umur hamba dipotong puluhan
tahun pun hamba rela menerimanya." Sekali lagi Phang
Thian-hua menghela napas panjang.
"Nona berdua tak usah khawatir kehebatan ilmu
pertabiban yang dimiliki nyonya Li masih jauh di atas

2897
kemampuanku. Bila ia bersedia memberi pertolongan
sudah pasti ia yakin dapat menyembuhkannya."
Dua orang dayang itu saling berpandangan sekejap.
setelah memberi hormat kepada Phang Thian-hua, pelanpelan
mereka pun mengundurkan diri dari situ.
Memandang bayangan mereka berdua yang berlalu,
kembali Phang Thian-hua menghela napas panjang,
batinnya: "Tak disangka kesetiaan kedua orang dayang
ini terhadap majikannya begitu tinggi dan tebal..."
Bila ia terbayang pula bagaimana usaha Pek si-hiang
selamatkan para jago dari bencana besar, perasaan sedih
bercampur haru menyelimuti pula seluruh perasaannya.
Tak lama sepeninggal siok-bwee berdua, seorang
dayang berbaju hijau telah muncul dalam ruangan sambil
melapor "Lim siangkong telah dikirim ke dalam kamar,
silakan Phang Cengcu menyembuhkan lukanya."
"Tolong bawa aku ke sana"
Dayang itu menyahut dan berlalu lebih dulu. Mengikuti
di belakang dayang tadi, Phang Thian-hua berjalan
melewati sebuah halaman yang luas dan masuk ke
sebuah bangunan yang sepi.
"Lim siangkong berada dalam kamar itu" ucap dayang
tersebut kemudian sambil membuka pintu ruangan.
Ketika Phang Thian-hua melangkah masuk ke dalam
ruangan, ia jumpai Li Tiong-hui sedang berdiri sedih di
depan pembaringan dan memandang wajah Lim Han-kim
dengan termangu-mangu.

2898
Hingga Phang Thian-hua tiba disisi pembaringanpun,
Li Tiong-hui masih belum merasa, bahkan berpaling pun
tidak.
Setelah mendeham pelan phang Thian-hua menegur:
"Nona Li, bagaimana keadaan luka Lim siangkong?"
Pelan-pelan Li Tiong-hui berpaling, dengan mata yang
berkaca-kaca karena air mata ia menyahut: "Dia memang
pasangan yang serasi dengan Pek si-hiang"
Melihat kemasgulan yang begitu tebal menyelimuti
wajah gadis tersebut, untuk sesaat Phang Thian-hua tak
tahu bagaimana harus memberikan tanggapannya, Dia
hanya menengok ke arah Lim Han-kim dan
membungkam dalam seribu bahasa.
Setelah menghela napas, kembali Li Tiong-hui berkata:
"Ada satu permintaan ingin kusampaikan kepada Phang
Cengcu, harap kau jangan menampik,"
"Selama persoalan tersebut dapat kuselesaikan
dengan kemampuanku pasti akan kulakukan hingga
tuntas."
"Bila kau berhasil menyembuhkan luka Lim Han-kim, ia
pasti akan berterima kasih sekali kepadamu."
"Apakah Bengcu minta aku menuntut imbalan bagi
pertolongan ini?"
"Phang Cengcu salah paham, aku hanya mohon
Cengcu bersedia menjadi Mak comblang."
"Menjadi mak comblang untuk siapa?"
"Lim Han-kim dengan Pek si-hiang" Li Tiong-hui
tertawa getir.

2899
"Selama hidup belum pernah kulakukan pekerjaan
tersebut, aku tidak tahu bagaimana harus buka mulut
dan bagaimana harus mengikatkan jodoh kedua orang
itu."
"Asal Phang cengcu sudah bersedia, bagaimana cara
berbicara dan bagaimana harus bertindak. aku akan
mengatur semuanya untukmu."
Berkilat sepasang mata Phang Thian-hua, ditatapnya
wajah Li Tiong-hui lekat-lekat kemudian katanya:
"Bengcu, kenapa sih kau hanya memikirkan kepentingan
orang melulu? Cobalah pikirkan untuk dirimu sendiri"
Kembali Li Tiong-hui tertawa getir.
"Bila bencana besar ini berhasil kulewati dengan
selamat, aku bermaksud serahkan kedudukan Bulim
Bengcu ini kepada si Hakim sakti Ciu Huang, Aku berniat
hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia, hidup
memencilkan diri di tengah gunung yang sepi. Aaaai...
kini, aku baru bisa menyelami perasaan ibuku, tak heran
bila ia tak bisa mengulumkan senyumannya selama ini."
Diam-diam Phang Thian-hua gelengkan kepalanya, ia
berpikir "Kalau masalahnya sudah menyangkut cinta
muda-mudi, aku Phang Thian-hua harus angkat tangan,
sebab sedikitpun aku tidak memahaminya."
Terdengar Li Tiong-hui berkata lebih lanjut: "Phang
cengcu, aku harap kau bersedia memenuhi permintaanku
ini."
Phang Thian-hua melirik Li Tiong-hui sekejap.
pikirnya: "Apabila kuterima permintaannya hari ini maka
keputusan tersebut akan berbobot lebih berat dari

2900
gunung baja. Andaikata ia menyesal di kemudian hari,
mungkin keputusan tersebut tak bisa diubah lagi..."
Perlu diketahui. Phang Thian-hua adalah seorang jago
yang tergila-gila pada ilmu silat dan ilmu pengobatan.
selama hidupnya boleh dibilang ia tak pernah mencicipi
rasanya bercinta, tapi pengalamannya berkecimpung
dalam dunia persilatan selama puluhan tahun membuat
orang tua ini pandai menilai keadaan orang,
pengalamannya yang matang membuat ia berhasil
menarik kesimpulan bahwa ucapan Li Tiong-hui itu meski
diucapkan setulus hati, namun diutarakan oleh karena
keadaan yang memaksa, Atau dengan perkataan lain, ia
mengorbankan diri demi cintanya.
Sesudah termenung sejenak. Phang Thian-hua berkata
kembali pada nona itu.
"Kini, nona Pek menderita luka yang amat parah,
Masih merupakan tanda tanya besar, berhasilkah ia
sembuh dari Iukanya, sedangkan Lim Han-kim juga
belum sadar dari pingsan-nya. Aku rasa kelewat dini
untuk membicarakan masalah tersebut. Bagaimana kalau
persoalan ini ditunda beberapa hari lagi, agar aku pun
bisa mempertimbangkan secara matang?"
"Baiklah silakan Phang cengcu berpikir dengan
seksama, jangan kau anggap masalah ini sepele,
sesungguhnya mempengaruhi sekali keselamatan umat
persilatan di masa mendatang..."
"Waah, kalau begitu aku malah tak mengerti," tukas
Phang Thian-hua.
"Setelah aku dipercayai dan diangkat menjadi seorang
Bulim Bengcu, sudah merupakan kewajibanku untuk

2901
mengutamakan keselamatan umat persilatan di dunia ini.
Kini pertarungan kita dengan seebun Giok-hiong belum
dimulai, terlalu dini untuk membicarakan masalahnya,"
"Bengcu harap menjelaskan"
Li Tiong-hui menghela napas panjang.
"Saat ini, dalam dunia persilatan terdapat dua sumber
bencana, Kesatu adalah seebun Giok-hiong sedang yang
lain adalah Pek si-hiang. Kekuatan seebun Giok-hiong
sudah terbentuk, keganasannya susah dikendalikan lagi
kecuali memerangi dengan kekerasan dan andalkan
kepandaian masing-masing untuk menentukan mati
hidup, Bila seebun Giok-hiong berhasil unggul, sudah
pasti dialah pemimpin dunia persilatan dan dunia
persilatan niscaya akan berada di bawah
kekuasaannya..."
"Tentang masalah ini, Bengcu tak usah banyak
berpikir," sela Phang Thian-hua. "Kendatipun ilmu silat
yang dimiliki seebun Giok-hiong terbukti unggul dan
hebat, aku tak percaya kalau kemampuannya sanggup
melawan tenaga gabungan dari segenap jago tangguh
dari dunia persilatan. Betul akibat dari pertarungan ini
kedua belah pihak akan kehilangan banyak tenaga dan
jagoan, tapi pada akhimya seebun Giok-hiong merupakan
pihak yang menderita kekalahan total." Li Tiong-hui
tertawa getir.
"Seandainya nasib kita baik dan berhasil
memenangkan pertarungan ini, berarti dalam dunia
persilatan tinggal bibit bencana yang berasal dari Pek sihiang.
Berbicara dari kecerdasan dan kelicikan yang
dimiliki kedua orang ini, kemampuan Pek si-hiang masih

2902
sepuluh kali lebih hebat daripada seebun Giok-hiong, jika
kita beri kesempatan tiga tahun kepadanya, ia pasti
dapat menghimpun suatu kekuatan yang maha dahsyat.
Bila ini sampai terjadi... aku takut tak seorang pun
manusia di dunia saat ini yang sanggup menghadapinya.
Tak sampai satu tahun, seluruh dunia persilatan pasti
sudah berada dalam cengkeramannya."
Phang Thian-hua berpikir sejenak. kemudian manggutmanggut,
"Benar juga perkataan ini, bila Pek si-hiang yang
melakukan tindak kejahatan, kedahsyatan dan
kebrutalannya pasti jauh di atas kemampuan seebun
Giok-hiong."
"Untuk mencegah ia berbuat onar, kini hanya ada dua
cara, Kesatu, kita bunuh dia beserta kedua pelayannya
mumpung kesadarannya belum pulih kembali atau
kedua, terpaksa kita jodohkan dia kepada Lim Han-kim."
"Sekalipun kita jodohkan dia dengan Lim Han-kim, toh
ia tetap mampu melakukan keonaran dalam dunia
persilatan?" bantah Phang Thian-hua tidak habis
mengerti. Li Tiong-hui gelengkan kepalanya berulang
kali.
"Aku rasa tak mungkin, Bila seorang gadis sudah
kawin dengan kekasih hatinya, maka keadaannya ibarat
kuda liar yang sudah diberi pelana, Dia tak akan
melakukan perbuatan-perbuatan yang kasar lagi,
Memang betul cara pertama lebih menuntaskan masalah,
sebab bibit bencana dapat ditumpas seakar-akarnya, tapi
cara semacam ini kelewat keji, lagi pula kita semua
berhutang budi kepada Pek si-hiang. oleh sebab itulah,

2903
setelah kupikir bolak-balik, akhirnya dapat kusimpulkan
bahwa cara kedua yang lebih pantas..."
"Betul juga perkataan Bengcu"
"Nah, obatilah lukanya, aku tak akan mengganggu
lagi." selesai berkata, gadis itu beranjak pergi dari situ.
Mengawasi bayangan punggung Li Tiong-hui yang
berlalu dengan langkah berat dan gontai, satu ingatan
segera melintas dalam benak Phang Thian-hua, pikirnya:
"seandainya dia bukan seorang Bulim Bengcu, tentu saja
ia tak perlu memikirkan keselamatan umat persilatan.
Aaaai... justru gara-gara memangku jabatan seorang
Bengcu, mau tak mau dia mesti mengorbankan
kepentingan pribadi..."
Berpikir sampai di sini, tak kuasa lagi dia turut
menghela napas sedih. Tiba-tiba dari luar kamar
terdengar suara Li Tiong-hui bergema lagi: "Aku harap
Phang cengcu mempertimbangkan masalah ini baik-baik"
Phang Thian-hua mengiakan. setelah menutup pintu
kamar, ia tanggalkan pakaian yang dikenakan Lim Hankim,
memeriksa luka di dadanya lalu mengerahkan
tenaga dalamnya lewat jalan darah Mia-bun-hiat untuk
mendesak keluar gumpalan darah yang menyumbat anak
muda itu.
Sekalipun ia memiliki tenaga dalam yang amat
sempurna, namun pengobatan semacam ini paling boros
menggunakan energi, Tak sampai setengah jam, sekujur
tubuh Phang Thian-hua sudah basah kuyup oleh
keringat.

2904
Tapi dalam saat-saat yang genting ini, ia tak bisa
berhenti untuk beristirahat sejenak. terpaksa sambil
menggeretak gigi ia bertahan terus.
Di saat tenaga dalamnya makin menipis dan hampir
terputus inilah, mendadak ia merasa ada sebuah tangan
menempel pada punggungnya dan aliran hawa panas
segera menyusup masuk ke dalam badannya.
Terdengar Ong popo berbisik dari belakang: "Aku
mendapat perintah dari nona untuk membantumu."
Merasakan begitu kuat dan dahsyatnya aliran hawa
panas yang menyusup ke dalam tubuh-nya, Phang
Thian-hua pun berpikir "Tak kusangka nenek ini memiliki
tenaga dalam yang begitu dahsyat, kuat dan
sempurna..."
Setengah jam kembali sudah lewat, kini peredaran
darah dalam tubuh Lim Han-kim telah lancar kembali.
Gumpalan darah yang mengganjal dadanya terdesak
keluar dan menyembur keluar melalui mulutnya berupa
gumpalan-gumpalan hitam yang besar.
Sambil menarik kembali tangannya yang menempel
dipunggung Lim Han-kim, kata Phang Thian-hua: " Lim
siangkong, kau belum boleh berbicara sekarang, lebih
baik pejamkan mata sambil mengatur pernapasan"
Bersamaan waktunya Phang Thian-hua menarik
kembali tangannya yang menempel di punggung Lim
Han-kim, tangan yang menempel dipunggung phang
Thian-hua turut ditarik pula.
Belum sempat si Dewa jinsom ini berpaling untuk
mengucapkan sesuatu, terdengar desingan angin

2905
berhembus lewat, sesosok bayangan manusia sudah
menerobos keluar lewat pintu dengan kecepatan tinggi.
Pelan-pelan Lim Han-kim membuka mata-nya,
memandang Phang Thian-hua sekejap. lalu seperti ingin
mengucapkan sesuatu tapi niat itu diurungkan kemudian.
Phang Thian-hua membantu pemuda itu untuk
membaringkan diri, kemudian katanya: "Gara-gara ingin
selamatkan jiwamu, nona Li sudah mengorbankan
banyak pikiran dan tenaga." Kemudian setelah berhenti
sejenak. tambahnya: "Meski lukamu cukup parah, untung
tidak sampai merusak kondisi badanmu. Asal kau
beristirahat dengan baik, dalam tiga sampai lima hari
kesehatanmu bakal pulih kembali seperti sediakala, ingat
baik-baik, sebelum mendapat persetujuanku,jangan
bicara sembarangan sekarang istirahatlah dengan
tenang, dua jam lagi akan kuberi obat." selesai berkata,
ia balik badan dan berlalu.
Begitulah, di bawah perawatan yang seksama dari
Phang Thian-hua, dengan cepat kesehatan tubuh Lim
Han-kim pulih kembali seperti sediakala, Dua hari
kemudian tenaganya sudah pulih kembali, badannya juga
terasa lebih segar, Namun pelbagai persoalan yang
mencurigakan ikut pula timbul dalam hati kecilnya, hanya
saja semua kecurigaan tersebut tak bisa terjawab
berhubung Phang Thian-hua melarangnya berbicara
apalagi meninggalkan ruangan.
Tengah hari ketiga, Lim Han- Kim sudah tak mampu
mengendalikan diri lagi, diam-diam ia menghimpun
tenaga dalamnya dan secara tiba-tiba dihantamkan ke
tubuh Phang Thian-hua.

2906
Dengan perasaan amat terkejut buru-buru Phang
Thian-hua memutar tangan kanannya untuk menyambut
sera ngan tersebut, kemudian tegurnya dengan penuh
kegusaran: "Hey, apa-apaan kamu ini?"
"Locianpwee jangan marah." Lim Han-kim tersenyum,
"Aku hanya ingin menjajal apakah kekuatan tenagaku
telah pulih kembali atau belum."
"Hmmm, paling tidak pukulanmu itu mengandung
kekuatan seberat tiga ratus kati" seru Phang Thian-hua
ketus. "Lagi pula sasaran yang kau tuju adalah bagian
mematikan di dadaku, coba kalau reaksiku kurang cepat,
apa aku tidak terluka di tanganmu sedari tadi?"
"Jadi kekuatan tubuhku sudah pulih kembali?"
"Masa kau tak bisa merasakan sendiri dan harus
dicobakan langsung kepadaku?"
Kembali Lim Han-kim tertawa.
"Sesungguhnya sedari kemarin aku sudah merasa
bahwa kekuatan badanku telah pulih kembali seperti
sediakala, tapi heran, kenapa locianpwee masih melarang
aku berbicara dan sepanjang hari memaksaku untuk
beristirahat?"
Mula-mula Phang Thian-hua agak tertegun, kemudian
teriaknya: "oooh, jadi kau sudah mencurigai aku?"
Buru-buru Lim Han-kim bangkit berdiri dan menjura
dalam-dalam, ujarnya lembut: "Banyak masalah
mencurigakan yang mengganjal dadaku selama ini. Aku
gagal menemukan jawabannya, sedang locianpwee
membatasi ruang gerak dan kebebasanku secara ketat,
melarangku berbicara sepatah pun. Dalam keadaan

2907
terpaksa, mau tak mau kugunakan siasat tersebut, untuk
itu harap locianpwee jangan marah."
Phang Thian-hua menghela napas panjang.
"Tahukah kau apa sebabnya kularang kau berbicara?"
tanyanya.
"Aku tidak mengerti."
"Sesungguhnya akupun mengerti bahwa banyak
masalah mengganggu pikiranmu selama ini, tapi aku
sendiri pun khawatir bila sampai kau ajukan pertanyaan
itu kepadaku, sebab aku tak sanggup memberikan
jawabannya,"
"Kalau begitu beritahukan saja apa yang locianpwee
ketahui, sedang yang tidak kau ketahui, aku tak berani
mendesak."
"Kalau begitu tanyalah"
"Apakah kita berada diperkampungan pit-tim-sanceng,
tempat tinggal locianpwee?"
"Bukan, bukan, tempat ini bukan rumah kediamanku"
Phang Thian-hua menggeleng. "Kita sedang berada di
lembah Ban-siong-kok, rumah tinggal keluarga Hongsan"
"Tempat tinggal keluarga Hong-san? Kenapa aku bisa
berada di sini?"
"Kau dan Pek si-hiang terluka sangat parah. Aku tak
sanggup menolong kamu berdua, maka nona Li
membawa kalian pulang ke rumahnya dan minta tolong
ibunya untuk mengobati luka kamu berdua."

2908
"Ooooh, rupanya begitu, lantas bagaimana keadaan
luka nona Pek?" tanya Lim Han-kim sambil menghela
napas.
Baru saja Phang Thian-hua hendak menjawab, tibatiba
satu ingatan melintas dalam benaknya, kata-kata
yang siap meluncur keluar seketika ditelan kembali,
dengan sepasang matanya yang tajam diawasinya wajah
Lim Han-kim tanpa berkedip.
Berubah wajah Lim Han-kim, kontan teriaknya: "Ada
apa? Apakah nona Pek sudah mengalami musibah yang
tidak diharapkan?"
"Tidak, ia baik sekali," jawab Phang Thian-hua dengan
kening berkerut "Cuma luka yang dideritanya jauh lebih
parah daripada lukamu, Meski nyonya Li sudah berusaha
menolongnya siang malam, kondisi badannya belum
pulih seutuhnya."
Mendengar jawaban tersebut Lim Han-kim
menghembuskan napas lega, ujarnya kemudian: "llmu
sesat sembilan iblis memang sejenis ilmu silat yang
paling jahat di dunia ini."
"Apa maksudmu?" tanya Phang Thian-hua tidak habis
mengerti.
"Sebenarnya nona Pek adalah seorang gadis yang baik
sekali. Gara-gara mempelajari ilmu sesat sembilan iblis
wataknya jadi ikut berubah, tingkah lakunya liar dan
ganas, perbuatannya keluar dari rel kebenaran... bahkan
kejahatan macam apa pun dapat ia lakukan."
"Masa di kolong langit betul-betul terdapat ilmu silat
begitu aneh dan dahsyatnya?"

2909
"Dengan mata kepalaku sendiri pernah kubaca catatan
rahasia ilmu sesat sembilan iblis tersebut. Bahkan aku
pun pernah menyaksikan perubahan mimik wajah Li
Tiong-hui serta Seebun Giok-hiong yang dipaksa Pek Sihiang
mempelajari ilmu tersebut"
Timbul perasaan ingin tahu Phang Thian-hua setelah
mendengar uraian ini, tak tahan tanyanya: "Kalau begitu
Li Bengcu dan Seebun Giok-hiong pernah juga
mempelajari ilmu sesat sembilan iblis?"
"Yaa Untung segera kuketahui gelagat yang tidak
menguntungkan sehingga jalan darah mereka kutotok
secepatnya, Coba kalau tidak, mereka akan terperosok
makin dalam oleh pengaruh iblis tersebut dan susah
melepaskan diri lagi, mereka akan kecanduan hebat."
"Masa ada kejadian semacam ini? Berpuluh-puluh
tahun aku hidup mengembara dalam dunia persilatan,
rasanya belum pernah kudengar tentang kejadian
semacam ini..."
Setelah berhenti sejenak. kembali terusnya: "Bila luka
nona Pek sudah sembuh nanti, aku harus minta petunjuk
darinya mengenai ilmu sesat sembilan iblis tersebut"
"Jangan...jangan.... Lebih baik jangan kau pelajari
ilmu jahat itu" cegah Lim Han-kim sambil goyangkan
tangannya berulang kali.
"Aku sudah cukup lama hidup di dunia ini, kalau bisa
hidup terus pun paling banter tinggal berapa tahun lagi.
Apa salahnya bila kupelajari ilmu aneh tersebut untuk
menambah pengetahuan. Aku bukan bermaksud
mempelajarinya sebagai ilmu pegangan, aku cuma ingin
tahu saja."

2910
"Aaaaai..." Lim Han-kim menghela napas panjang,
"sekalipun pek si-hiang dapat sembuh dari luka yang
dideritanya, bukan berarti pengaruh ilmu iblisnya turut
musnah, ia tetap akan melakukan perbuatan dan sepak
terjang yang tak benar."
Mendadak terlihat bayangan manusia berkelebat
lewat, Li Tiong-hui tahu-tahu sudah melangkah masuk ke
dalam ruangan seraya menyapa: "saudara Lim, kau
sudah sembuh?"
Buru-buru Lim Han-kim memberi hormat. "Terima
kasih banyak atas pertolongan Bengcu"
"Ketika berlangsung pemilihan Bengcu, saudara Lim
toh tidak ikut hadir, aku rasa kau tak perlu memanggilku
sebagai Bengcu..." Kemudian setelah berhenti sejenak.
kembali terusnya: "sebenarnya aku harus menjenguk
saudara Lim lebih awal lagi, tapi berhubung kondisi
badan nona Pek belum pulih kembali, Aku kuatir tak
dapat memberikan pertanggungan jawab bila berjumpa
dengan saudara Lim, karenanya aku tak berani
berkunjung kemari."
"Lantas bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Lim
Han-kim cemas.
Sekilas senyuman pedih tersungging di ujung bibir Li
Tiong-hui, sahutnya pelan: "Sekarang keadaannya sudah
membaik. Gara-gara ingin selamatkan nona Pek, ibuku
telah berjuang tiga hari tiga malam lamanya, syukur
pada akhirnya beliau berhasil membetot balik sukma
nona Pek dari pintu neraka."
"Sekarang ia sudah sadar?" desak pemuda itu lagi.

2911
Li Tiong-hui tak dapat membendung rasa sedih yang
mencekam perasaan hatinya lagi, buru-buru ia melengos
kearah lain sambil berseru: "siau-cing, kau ada di mana?"
Seorang dayang berbaju hijau segera munculkan diri
sambil menyahut: "Hamba berada di sini"
"Ajak Lim siangkong pergi menjenguk nona Pek"
perintah Li Tiong-hui cepat, kemudian buru-buru ia
beranjak pergi dari situ.
Memandang bayangan punggung si nona yang berlalu,
Phang Thian-hua menghela napas panjang, bisiknya tibatiba:
"Saudara Lim, kau telah melukai hatinya"
Lim Han-kim tertegun.
"Sebenarnya aku berniat memberitahukan satu hal
kepadanya..."
Belum selesai ucapan tersebut, terdengar dayang
berbaju hijau itu sudah berseru: "Siang-kong, harap ikuti
hamba"
Lim Han-kim tertawa getir, katanya lagi: "Sebenarnya
aku hendak beritahu kepadanya, untuk menjaga segala
kemungkinan yang tak diharapkan, kita tak boleh
membiarkan nona Pek sadar kembali seutuhnya."
"Oooh, rupanya begitu, bagaimana kalau kutemani
dirimu?"
"Locianpwee sangat pandai dalam ilmu pengobatan,
memang paling baik bila kau bersedia mendampingiku."
Sementara itu si dayang sudah menanti di luar pintu,
maka berangkatlah Lim Han-kim dan Phang Thian-hua
mengikuti di belakangnya.

2912
Setelah melewati sebuah kebun dengan halaman yang
luas, dayang berbaju hijau itu menuding ke arah sebuah
bangunan loteng di depan sana seraya menjelaskan
"Nona Pek berada dalam bangunan loteng itu, silakan
siangkong pergi sendiri"
"Terima kasih, nona."
Ketika tiba di depan pintu, tampak Hiang-kiok berdiri
menanti di sana, Begitu bertemu dengan Lim Han-kim, ia
segera memberi hormat seraya berkata: "Selamat Lim
siangkong atas kesembuhanmu dari luka parah."
"Terima kasih juga atas perhatianmu bagaimana
keadaan nona Pek?"
"Berkat pengobatan nyonya Li yang seksama, kondisi
badannya sudah banyak membaik."
"Apakah ia sudah sadar kembali?" tanya Lim Han-kim
cemas.
"Penyakitnya sih sudah sembuh, tapi ia belum sadar
kembali."
Lim Han-kim menghembuskan napas lega setelah
mendengar perkataan ini, katanya kemudian "Boleh aku
masuk untuk menjenguk-nya?"
"Silakan"
Masuk ke dalam ruangan, terlihat Pek si- hiang
tergeletak di atas pembaringan sambil menengok ke
langit-langit ruangan Tubuhnya yang lemah dan kurus
kini nampak lebih kurus kering, matanya terpejam dan
wajahnya pucat pias seperti mayat. siok-bwee berdiri

2913
ditepi pembaringan dengan wajah murung bercampur
masgul.
"Dia sudah minum obat?" tanya Lim Han-kim
kemudian.
"Sudah."
"Ada satu hal yang sebenarnya ingin kurundingkan
dengan nona berdua."
"Urusan apa Lim siangkong? Katakan saja, budak pasti
akan melaksanakan segera."
"Pernahkah nona bayangkan, bagaimana keadaan
nona Pek bila sudah sadar kembali nanti?"
Siok-bwee tertegun, lalu jawabnya ragu: "soal ini
budak tak bisa ramalkan"
"Kini, kondisi tubuhnya belum pulih kembali padahal
ilmu sesat masih bercokol dalam tubuhnya. Bila setelah
mendusin nanti ia melakukan keonaran... aku tak bisa
menebak apa jadinya, apa lagi kita masih berada dalam
gedung milik keluarga Hong-san."
"Budak belum pernah berpikir sampai ke situ."
"Berhubung masalah ini menyangkut mati hidup nona
Pek, aku harap nona berdua mau memikirkannya kembali
dengan seksama." siok-bwee menghela napas panjang.
"Aaaai... sesungguhnya pikiran budak saat ini sedang
amat kalut berhubung nona belum juga sadarkan diri.
Bila siangkong punya sesuatu pendapat, lebih baik
pikirkanlah untuk kami."
"Menurut pendapatku, begitu nona Pek sadar nanti,
kau harus segera menotok jalan darahnya."

2914
Mendadak Pek si- hiang membuka matanya lebarlebar,
memandang Lim Han-kim sekejap lalu dipejamkan
kembali ia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi
sayang tak berkekuatan untuk berbicara.
Walau begitu, kejadian tersebut sangat
menggembirakan siok-bwee, buru-buru teriaknya: "Non,
kau telah sadar, kau telah sadar."
Tiba-tiba dari belakang tubuh mereka bergema suara
seseorang yang dingin membeku bagaikan es: "Saat ini
ia belum boleh berbicara, jangan kalian usik dirinya"
Ketika Lim Han-kim berpaling, tampak seorang nyonya
setengah umur yang cantik bagaikan dewi telah berdiri di
muka pintu,
Dengan cepat siok-bwee jatuhkan diri berlutut sambil
berseru: "Budak menjumpai nyonya besar."
Dari seruan siok-bwee, Lim Han-kim segera tahu
bahwa perempuan cantik ini tak lain adalah nyonya Li,
buru-buru ia menjura pula, seraya berkata dengan
hormat: "Aku yang muda Lim Han-kim menjumpai
nyonya."
Dengan wajah serius nyonya Li ulapkan tangannya
"Tidak usah banyak adat."
Pelan-pelan dia menghampiri pembaringan lalu
tempelkan telapak tangannya di atas dada Pek si- hiang.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian baru ia
menghela napas dan berpaling seraya berseru: "Ambilkan
jarum emasku"
Seorang dayang kecil berbaju hijau menyahut dan
menyembahkan sebuah kotak porselen.

2915
Nyonya Li membuka kotak itu, mengeluarkan sebatang
jarum emas dan setelah berpikir sejenak langsung
ditusukkan ke dada Pek si-hiang.
Dalam suasana hening yang mencekam seluruh
ruangan itulah, tiba-tiba terdengar suara genta yang
dibunyikan tiga kali bergema tiba.
Dengan kening berkerut nyonya Li berpaling sekejap
ke arah dayang berbaju hijau itu sambil perintahnya:
"Coba tengok, apa yang terjadi."
Meskipun Lim Han- kim tidak tahu perlambang apakah
suara genta itu, namun ia mengerti bahwa suara genta
itu mengartikan suatu pentingatan yang gawat.
Setelah mengutus dayangnya pergi, paras muka
Nyonya Li kembali kelihatan dingin dan kaku, tidak
kelihatan panik, risau maupun gelisah. suasana hening
kembali mencekam seluruh ruangan, sedemikian sepinya
sampai suara jarum yang terjatuh ke lantaipun dapat
kedengaran dengan jelas sekali.
Sepenanakan nasi kembali lewat tanpa terasa, Dayang
berbaju hijau yang diutus keluar tadi kini muncul kembali
dengan langkah tergesa-gesa. sesudah membisikkan
beberapa patah kata ke sisi telinga Nyonya Li, kembali ia
berlalu dengan langkah tergopoh-gopoh.
Paras muka nyonya Li tetap dingin dan kaku, pelanpelan
dia cabut keluar jarum emas yang berada di dada
Pek si-hiang, lalu sambil berpaling ke arah Lim Han-kim
dan siok-bwee, ujarnya seraya mengeluarkan sebuah
botol porselen: "Dalam botol ini berisi tiga butir pil,
Berikan kepadanya setiap tiga jam satu kali, besok dia
boleh bersantap apa saja."

2916
Selesai berkata ia pun membalikkan badan dan
beranjak pergi dari situ
"Budak menghantar kepergian nyonya" seru siokbwee
sambil menyembah berulang kali.
"Tidak usah" tampik nyonya Li tanpa berpaling lagi.
Sepeninggal nyonya Li, siok-bwee baru bangkit berdiri
dan bisiknya kepada Lim Han-kim: "siangkong,
tampaknya nona dapat diselamatkan."
Baru selesai ucapan tersebut, dari kejauhan terdengar
dua suara pekikan nyaring berkumandang datang.
Ketika Lim Han-kim memburu keluar ruangan,
bayangan tubuh nyonya Li sudah tidak nampak lagi,
sementara Phang Thian-hua sedang berbisik-bisik
dengan Hiang-kiok di luar halaman.
Melihat kemunculan Lim Han-kim, Hiang-kiok pun
berbisik: "Kelihatannya keluarga Hong-san telah
kedatangan musuh tangguh."
"Tampaknya pihak pendatang sudah menerjang
masuk..." bisik Phang Thian-hua.
"Bagaimana kalau kita bersama-sama menengok ke
sana?"
"Jangan" Phang Thian-hua buru-buru gelengkan
kepalanya, "Sebelum peroleh ijin dari nona Li serta
Nyonya Li, lebih baik kita jangan pergi secara
sembarangan lagi pula lebih baik kau berada di sini untuk
melindungi keselamatan nona Pek."
Belum sempat Lim Han-kim memberikan
tanggapannya, mendadak terlihat seorang dayang

2917
berbaju hijau dengan pedang terhunus berlarian
mendekat, semua dayang yang bekerja dalam keluarga
Hong-san rata-rata mengenakan pakaian dengan model
serta warna yang sama, oleh sebab itu tidak sulit untuk
mengenalinya dalam sekilas pandangan.
Dayang itu langsung menghampiri Phang Thian-hua
dan berbisik: "Ada musuh yang menyerang ke dalam
keluarga Hong-san, suatu pertarungan seru mungkin tak
bisa dihindari lagi. Kami berharap Anda semua masuk ke
dalam ruangan, tutup pintu dan jendela rapat-rapat agar
tak sampai menimbulkan kesalahanpaham."
"Seandainya musuh benar-benar tangguh,
sepantasnya bila kami turut menyumbangkan tenaga,
masa malah disuruh bersembunyi?" bantah Lim Han-kim.
"Membantu sih tidak perlu, lebih baik kalian masuk
saja ke dalam kamar dan tutup pintu rapat-rapat,"
"Saudara Lim," Phang Thian-hua segera menimpali
"Kita adalah tamu yang tidak tahu akan peraturan
keluarga Hong-san, lebih baik masuk ke dalam kamar."
selesai bicara, ia masuk lebih dulu ke dalam kamar.
Dengan perasaan terpaksa, Lim Han-kim dan Hiangkiok
masuk juga ke dalam kamar menyusul di belakang
Phang Thian-hua.
"Jangan lupa tutup pintu dan jendela rapat-rapat"
Kembali dayang berbaju hijau itu berpesan. "walau
mendengar suara apa pun, lebih baik jangan mengintip
ke luar" Hiang-kiok menyahut dan segera tutup pintu
rapat-rapat.

2918
Setelah berada dalam ruangan, Lim Han-kim
menengok Phang Thian-hua sekejap lalu bisiknya: "Aku
rasa kejadian ini rada mencurigakan"
"Soal apa?"
"Kenapa kita dilarang untuk mengintip ke luar?"
"Mungkin keluarga Hong-san mempunyai sistem
pertahanan yang tidak ingin diketahui orang luar."
Berbicara tentang sifat Phang Thian-hua, sebenarnya
dia adalah seorang yang tinggi hati dan segan tunduk
kepada siapa pun. Berhubung ia sudah dibuat kagum
oleh kehebatan ilmu pertabiban yang dimiliki Nyonya Li,
ditambah pula dengan sikap dingin dan kaku yang
dipancarkan perempuan tersebut, tanpa sadar dalam hati
kecilnya timbul perasaan kagum dan hormat yang tinggi.
itulah sebab-nya, kendatipun rasa heran dan curiga
sempat menyelimuti perasaan hatinya, namun ia
berusaha untuk tetap menahannya.
Hiang-kiok yang masih muda, sifat kekanakkanakannya
belum hilang, segera mengusulkan:
"Kalau mereka larang kita untuk mengintip ke luar,
bagaimana kalau kita buat lubang di daun jendela untuk
mengintip ke luar? Toh, mereka tak akan tahu?"
"Jangan" cegah Phang Thian-hua seraya menggeleng,
"Kalau sampai ketahuan, mereka pasti akan memandang
hina perbuatan kita"
Baru selesai perkataan tersebut diucapkan, mendadak
terdengar suara dengungan yang sangat aneh
berkumandang datang.

2919
Dengan kening berkerut Lim Han-kim ber-bisik:
"Kelihatannya memang rada aneh dan mencurigakan
coba dengar, suara aneh apa itu?"
Phang Thian-hua pasang telinga untuk memperhatikan
dengan seksama, sesaat kemudian ia gelengkan
kepalanya dan menghela napas panjang, jelas dia sendiri
pun tak bisa membedakan suara apakah itu. Mendadak
Hiang-kiok berseru tertahan: "Aaaah, tahu aku, suara itu"
"Suara apa?"
"Suara tawon dalam jumlah yang besar"
Lim Han-kim pasang telinga baik- baik dan
mendengarkan dengan seksama, Benar juga, yang
terdengar memang suara rombongan tawon yang
terbang melintas, Kenyataan ini membuat hatinya makin
tercengang, pikirnya: "Masa keluarga Hong-san benarbenar
menggunakan rombongan tawon untuk memukul
mundur serangan musuh? Kalau benar merupakan
kenyataan, kejadian ini sungguh merupakan suatu
peristiwa yang langka, Aku bakal menyesal seumur hidup
jika tak bisa melihatnya."
Perasaan ingin tahu yang sangat kuat segera
berkecamuk dalam benaknya, tanpa sadar ia bergerak
hendak membuka daun jendela.
"Saudara Lim, jangan gegabah" Buru-buru Phang
Thian-hua mencegah.
Mendengar teguran itu, Lim Han-kim menarik kembali
tangannya dan menghela napas panjang.
"Aaaai... belum pernah kudengar ada orang memukul
mundur musuhnya dengan rombongan tawon, Kalau

2920
tidak melihat sendiri, aku bakal menyesal sepanjang
hidup,.."
"Sedikit pun tidak aneh" Tiba-tiba suara seseorang
yang terdengar lemah menyambung. suara itu terputusputus,
jelas berasal dari Pek si-hiang. serentak Lim Hankim,
Hiang-kiok dan siok-bwee memburu ke depan,
tampak Pek si-hiang sudah duduk bersandar di
pembaringan.
Rupanya perhatian beberapa orang itu tercurah ke
luar ruangan sehingga tak seorang pun tahu sejak kapan
gadis itu sadarkan diri.
"Nona," bisik siok-bwee, "Lukamu belum sembuh total,
lebih baik jangan sembarangan bergerak. Kalau toh nona
ingin bicara, lebih baik sambil berbaring saja" Pek sihiang
menggeleng.
"Asalkan kesadaranku pulih kembali, maka dengan
cepat luka dalamku akan ikut pulih juga," ucapnya
lemah.
"Nona hendak andalkan ilmu sesat sembilan iblis lagi?"
tanya Lim Han-kim ragu.
"Di kolong langit ini hanya ilmu sesat sembilan iblis
yang dapat mengubah seorang awam menjadi seorang
yang hebat dalam tiga-lima bulan saja, dan cuma ilmu
sesat sembilan iblis yang dapat mengubahku dari
seorang gadis penyakitan yang lemah menjadi seorang
yang sehat dan segar"
"Aturan belajar silat yang benar adalah berurutan dari
dasar menuju ke atas, selangkah demi selangkah maju
terus ke atas, sebaliknya ilmu sesat sembilan iblis yang

2921
nona pelajari hanya bertujuan mencapai hasil dalam
waktu yang sesingkat-singkatnya, meskipun memberikan
hasil yang luar biasa, namun kau tidak memiliki dasar
yang kokoh" Tiba-tiba Hiang-kiok menimbrung:
"Nona, maafkan budak banyak mulut, ada satu hal
perlu hamba laporkan kepada nona"
"Soal apa?"
"Ketika masih di perahu tempo hari, nona telah
menghajar Lim siangkong hingga luka parah, untung ada
nona Li yang segera membawa nona serta Lim siangkong
pulang ke bukit Hong-san, coba kalau tidak, mungkin Lim
siangkong sudah tewas"
Mendadak Pek si-hiang mencengkeram selimutnya
kuat-kuat, peluh sebesar kacang kedele bercucuran amat
deras, mulutnya terbuka dan napasnya tersengal-sengal,
tampaknya ia menderita sekali.
Hiang-kiok paling muda di antara yang hadir di sana,
ia paling tak mampu menahan diri. Dengan rasa gelisah
bercampur takut teriaknya keras-keras: "Nona, kenapa
kau?"
"Cepat ambilkan jarum emasku" seru Pek si-hiang
dengan napas tersengal-sengal. Mendengar ucapan
tersebut, siok-bwee menghela napas panjang.
"Nona, berhubung sudah lama nona tidak memakai
jarum emas, budak tidak membawanya."
Tiba-tiba Pek Si-hiang ambruk ke atas selimut, sekujur
tubuhnya gemetar keras, giginya menggigit ujung
selimut kuat- kuat, namun ia tetap berusaha untuk
menahan rasa sakit yang luar biasa itu agar tak sampai

2922
merintih atau mengaduh, penderitaan yang luar biasa ini
membuat Hiang-kiok maupun siok-bwee hanya bisa
berdiri tertegun, sementara air mata mereka bercucuran
keluar dengan derasnya,
BAB 38. Melawan pengaruh iblis
Lim Han-kim turut tak tega, sambil berusaha menahan
air matanya jatuh berlinang, bisiknya pelan: "cepatlah
berlatih ilmu sesat sembilan iblis untuk melawan
penderitaanmu itu"
Mendengar anjuran tersebut, sambil gelengkan
kepalanya Phang Thian-hua berkata: "Saudara Lim, kau
toh benci bila dia berlatih ilmu sesat sembilan iblis,
kenapa sekarang malah menganjurkan dia untuk
berlatih?"
"Coba kau lihat penderitaannya. Kalau tidak
menyuruhnya melatih ilmu sesat tersebut, bisa jadi dia
akan mati lantaran tersiksa,"
"Kenapa kau tidak berusaha untuk membantunya,
siapa tahu dengan kekuatanmu dia bisa lolos dari
percobaan ini?"
"Meski aku berniat untuk melakukannya, sayang
kemampuanku amat terbatas untuk berbuat begitu"
"Bagaimana kalau kubantu?"
"Silakan locianpwee memberi petunjuk. aku yang
muda siap untuk mendengarkan"

2923
"Pertama-tama totok dulu jalan darah Yu-bun dan Kikoan-
hiat-nya"
Lim Han-kim agak tertegun, tapi ia menurut dan
menotok juga jalan darah Yu-bun dan Ki-koan-hiat di
tubuh Pek si-hiang.
Terdengar Pek si-hiang, menghembuskan napas
panjang dan tiba-tiba menjadi tenang kembali, giginya
yang semula menggigit kencang ujung selimut pun
pelan-pelan dilepaskan. Agaknya dengan tertotoknya
jalan darah itu, penderitaan serta siksaan yang
dialaminya menjadi jauh lebih berkurang.
Lim Han-kim berpaling memandang Phang Thian-hua
sekejap. kemudian tanyanya: "Locianpwee, apa tindakan
kita berikutnya?"
Belum sempat Phang Thian-hua menjawab, mendadak
pintu ruangan didorong orang.
Ketika semua orang berpaling, tampak seorang
dayang berbaju hijau pelan-pelan masuk ke dalam,
memberi hormat kepada Lim Han-kim dan katanya: "Lim
siangkong, kau diundang nyonya kami."
"Nyonya Li mengundang aku?" seru Lim Han-kim
tertegun.
"Benar"
Lim Han-kim berpaling ke arah Phang Thian-hua dan
pesannya: "Tolong locianpwee jaga keadaan nona Pek.
aku segera akan kembali ke sini"
"Kau tak usah khawatir saudara Lim"

2924
Tampaknya dayang berbaju hijau itu sudah tak sabar
menunggu, kembali bisiknya:
"Nyonya kami sudah lama menunggu"
"Ayoh kita berangkat"
Mengikuti di belakang dayang berbaju hijau itu, Lim
Han-kim berjalan ke luar dari ruangan, sambil berjalan, ia
mencoba memperhatikan pemandangan di seputar sana.
Ternyata segala sesuatunya masih seperti sedia kala,
tidak nampak bekas pertarungan, juga tak nampak ada
kerusakan.
Menyaksikan semua ini, tak tahan pemuda itu
bertanya: "Apakah musuh tangguh yang menyerang
keluarga Hong-san telah berhasil dipukul mundur?"
"Hmmm Tak seorang pun dari pihak kami yang turun
tangan, tapi nyatanya musuh harus mundur dengan
membawa luka. siapa yang berani menyatroni keluarga
Hong-san sama artinya dengan mencari penyakit buat
diri sendiri"
"Kalau tak seorang pun yang turun tangan, bagaimana
mungkin musuh bisa mundur dengan membawa luka?"
"Ong popo sangat pandai menjinakkan tawon, musuh
sudah terluka oleh sengatan beracun tawon-tawon itu..."
Agaknya kemudian dayang itu sadar kalau ia sudah
salah berbicara, buru-buru ia menutup mulutnya rapatrapat.
Lim Han-kim juga tak banyak bicara lagi, ia percepat
langkahnya menelusuri jalan setapak.

2925
Sesudah melewati beberapa buah halaman luas,
sampailah mereka di depan sebuah pesanggrahan yang
megah. Dayang berbaju hijau itu langsung masuk ke
dalam ruangan pesanggrahan itu.
Ketika Lim Han-kim menyusul masuk ke dalam,
tampak nyonya Li sedang duduk di sebuah bangku rotan
sambil mengawasi bunga seruni putih di depan jendela
dengan termangu.
"Nyonya" kata dayang berbaju hijau itu sambil
memberi hormat, "Lim siangkong telah datang"
"Sudah tahu, kau boleh pergi" sahut nyonya Li sambil
tetap menatap bunga seruni putih di luar jendela dengan
termangu
Dayang berbaju hijau itu menyahut dan pelan-pelan
mengundurkan diri dari situ.
Lim Han-kim mencoba melirik nyonya Li sekejap.
Tampak perempuan itu berwajah cantik dan sangat
anggun, ia memakai baju warna biru, mukanya
berwibawa dan mendatangkan rasa hormat bagi yang
memandang.
Tanpa terasa ia menjura dalam-dalam seraya
menyapa: "Aku yang muda, Lim Han-kim, menjumpai
locianpwee"
Nyonya Li berpaling memandang Lim Han-kim
sekejap, lalu ditunjuknya bangku yang berada di sisinya
sambil berkata: "Duduklah di sana"
"Entah ada urusan apa locianpwee memanggilku?"
tanya Lim Han-klm setelah mengambil tempat duduk,

2926
"Baik-baikkah ibumu?"
Lim Han-kim tertegun lalu sahutnya: "lbunda sehat
walaftat."
"Baikkah ayahmu?"
"Sudah lama ayahku meninggal, bahkan aku yang
muda pun belum sempat melihat raut muka ayahku."
Nyonya Li menghela napas panjang.
"Ibumu pernah menyinggung tentang masa lalu
ayahmu?"
"Belum pernah ibu menyinggung soal masa lalu
ayahku."
"Sebagai seorang anak, masa tak ingin tahu asal-usul
sendiri? Sekali pun Ibumu tak pernah menyinggung,
masa kau tak dapat mendesaknya agar menjelaskan?"
Tergerak hati Lim Han-kim setelah mendengar ucapan
itu, pikirnya: "Heran, kenapa tiba-tiba ia mengajukan
pertanyaan yang menyangkut asal-usulku, bahkan
pertanyaannya begitu menjurus?"
Kendatipun timbul perasaan curiga, tak urung
dijawabnya juga dengan sejujurnya:
"Beberapa kali aku pernah ajukan pertanyaan yang
menyangkut mendiang ayahku, tapi setiap kali ibu pasti
mencaci maki diriku habis-habisan, kemudian ibu
menangis tersedu-sedu. Karena aku tak ingin ibu
menderita gara-gara persoalan ini, maka aku pun tak
berani menyinggung masalah itu lagi."
"Benarkah di belakang telinga kiri ibumu terdapat
sebuah tahi lalat berwarna merah?"

2927
Lim Han-kim termenung berpikir sejenak, lalu serunya:
"Yaa betul, dari mana locianpwee bisa tahu?"
Perlahan-lahan nyonya Li membalikkan tubuhnya dan
menatap wajah Lim Han-kim lekat-lekat, katanya: "Dulu,
ibumu adalah saudaraku yang paling baik dan paling
akrab."
Mendengar itu Lim Han-kim berpikir: "Wajahku
sedikitpun tidak mirip ibu, sekalipun ia akrab sekali
dengan ibu, tidak mungkin ia bisa temukan ciri- ciri khas
ibuku dari pengamatan pada wajahku, bisa jadi ia
menebaknya dari namaku..."
Berpikir sampai di sini dia pun berkata: "Ooh, rupanya
begitu, boleh aku tahu, aku harus menyebut apa
terhadap locianpwee?"
"Terserah apa maumu" sahut Nyonya Li sambil
tertawa hambar.
Kembali Lim Han-kim berpikir: "Ia bilang,
hubungannya dengan ibuku melebihi hubungan
persaudaraan, jadi sepantasnya bila aku memanggilnya
bibi." Maka dia pun berseru: "Kalau begitu aku harus
menyebut bibi."
"Terserah apa maumu." pelan-pelan nyonya Li bangkit
berdiri "Sekarang kau boleh kembali."
Ia memberi tanda kepada si dayang berbaju hijau
yang berada di muka pintu dan tanpa menunggu Lim
Han-kim berbicara, perintah-nya: "Ajak Lim siangkong
balik ke kamarnya"
Seusai berkata, ia menoleh ke luar jendela dan tidak
menengok lagi pemuda tersebut walau sekejappun.

2928
Kendati pelbagai pertanyaan memenuhi benak Lim
Han-kim, namun sikap Nyonya Li yang begitu dingin,
kaku dan hambar, memaksa pemuda tersebut mau tak
mau harus menelan kembali semua pertanyaannya.
Dengan berjalan mengikuti di belakang dayang tadi,
kembalilah dia ke kamarnya.
Sepanjang jalan suasana amat hening, agaknya
dayang itu khawatir Lim Han-kim mengajukan berbagai
pertanyaan kepadanya, ia berjalan cepat sekali, dalam
waktu singkat mereka telah tiba dipesanggrahan di mana
Pek si-hiang sedang dirawat
Setelah membukakan pintu ruangan, buru-buru
dayang itu mohon pamit dan berlalu dari sana.
Mengawasi bayangan punggungnya yang menjauh,
dalam hati kecil Lim Han-kim berpikir "Heran, kenapa ia
datang dan pergi dengan begitu terburu-buru, seolaholah
khawatir aku mengajukan pertanyaan kepadanya?
Ehmmm, ia pasti sudah tahu latar belakangnya."
Belum habis lamunannya, Hiang-kiok sudah
membukakan pintu sambil berseru dengan gembira: "Lim
siangkong, nona kami sudah sadar kembali"
"Bagus sekali" sahut Lim Han-kim sekenanya, masalah
berat yang membebani benaknya membuat pemuda ini
segan banyak bicara.
Di atas pembaringan tampak Pek si-hiang berbaring
dengan wajah tenang, matanya terpejam dan napasnya
teratur, semua penderitaan yang mencekam wajahnya
kini sudah lenyap tak berbekas, Phang Thian-hua dengan
tongkatnya berdiri serius di sisi pembaringan, ia kelihatan
amat keren, sedang siok-bwee kelihatan agak murung

2929
dan risau, agaknya ia sudah mendapat firasat bahwa
setelah suasana yang hening ini lewat, suatu badai yang
lebih dahsyat pasti akan berlangsung.
Hanya Hiang-kiok yang belum hilang sifat kekanakkanakannya,
wajahnya kelihatan berseri, tampaknya ia
belum menyadari betapa seriusnya suasana saat itu.
Dari situasi yang terbentang di depan mata, Lim Hankim
dapat merasakan betapa seriusnya keadaan saat itu,
setelah berhasil menenangkan perasaan hatinya, ia
berbisik "Locianpwee, apakah keadaan luka nona Pek
sudah ada perubahan?"
"Bila dalam satu jam mendatang tidak terjadi
perubahan atas dirinya, berarti situasi kritis sudah
terlalui."
"Apakah locianpwee dapat merasakan sesuatu?"
"Sepeninggal saudara Lim tadi, aku periksa denyut
nadinya, secara lamat-lamat kutemukan ada segumpal
hawa murni yang tak terkendali sedang mengalir dan
menerjang dalam sekujur tubuhnya..."
Kemudian setelah menghela napas panjang, lanjutnya:
"Gejala semacam ini mirip sekali dengan pertanda jalan
Api Menuju Neraka yang sering dialami para pesilat. Aku
tak dapat menduga apakah aliran hawa murni yang tak
terkendali itu bakal menimbulkan sesuatu perubahan
atau tidak."
"Kalau sudah tahu ada aliran hawa yang tak
terkendali, kenapa locianpwee tidak mencoba untuk
membimbing aliran tersebut agar mengalir pada jalurnya
yang benar?" sela Lim Han-kim.

2930
"Bila ada yang menggiring dari luar dan dia pribadi
meluruskannya dari dalam, mungkin cara tersebut bisa
membuahkan hasil, Tapi kini, nona Pek sendiripun tak
sanggup menguasai diri, bagaimana mungkin aku dapat
menggiring aliran tersebut dari luar?"
"Jadi kalau begitu kita hanya bisa pasrah pada nasib
dan biarkan ia berkembang sendiri?"
"Asalkan aliran sesat itu tidak sampai menyusup ke
dalam urat nadi serta sendi-sendi utamanya, mungkin
saja setelah mengalir beberapa waktu, aliran tersebut
akan balik kembali pada jalur yang sebenarnya. Bila
dilihat dari sikap tidurnya yang begini tenang sekarang,
mungkin saja aliran sesat itu sudah kembali pada posisi
yang sebenarnya."
Mendengar itu, Lim Han-kim menghela napas panjang.
"Aaaai... aku rasa cara ini kelewat nyerempet bahaya..."
"Masalah apa sih?" Tiba-tiba terdengar seseorang
menimbrung
Ketika Lim Han-kim berpaling, tampak Li Tiong-hui
sedang melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Ooh, kami sedang membicarakan keadaan nona Pek."
ujar Phang Thian-hua menerang-kan.
"Bukankah dia sedang tertidur nyenyak?" kata Li
Tiong-hui setelah menengok Pek si-hiang sekejap.
"Sepintas lalu ia memang kelihatan tidur amat tenang
dan nyenyak, padahal aliran hawa sesat sedang bergolak
dalam isi perutnya, apabila sampai tersesat ke dalam
nadi dan sendi-sendi penting, keselamatan jiwanya
terancam."

2931
Li Tiong-hui menengok Lim Han-kim sekejap lalu
pelan-pelan berjalan ke hadapan pembaringan,
tangannya ditempelkan ke dada Pek si-hiang,
Lebih kurang sepenanak nasi kemudian baru ia
menarik kembali tangannya dan menghela napas.
"Yaa, betul, pergolakan hawa murni dalam isi perutnya
sangat menghebat, ibarat kuda liar yang terlepas kendali,
aku takut susah untuk dikendalikan lagi..."
Setelah menatap sekejap wajah Lim Han-kim, ia
menoleh kearah Phang Thian-hua sambil meneruskan:
"Phang cengcu, kau punya akal untuk mengembalikan
aliran hawa murninya yang tersesat?"
Phang Thian-hua menggeleng.
"Bila ada cara yang jitu, tak nanti kutunggu sampai
sekarang."
"Gejala ini mirip dengan gejala jalan api menuju
neraka bagi kaum pesilat, makin lama kita mengulur
waktu, semakin berbahaya keselamatan jiwanya, urusan
ini tak bisa ditunda-tunda lagi Phang cengcu, bila kau
memang menyerah, terpaksa kita harus menanyakan
masalah ini kepada ibuku"
Phang Thian-hua menghela napas, ia seperti hendak
mengucapkan sesuatu tapi niat tersebut dibatalkan
kemudian.
"Barusan aku telah bertemu dengan Nyonya Li" kata
Lim Han-kim.
"Apa yang ibu tanyakan kepadamu?"
"Nyonya Li menanyakan soal asal-usulku."

2932
Seakan-akan dadanya dihantam orang keras-keras,
sekujur badan Li Tiong-hui bergetar keras, serunya
tertahan: "lbu menanyakan asal-usulmu?"
"Betul, malahan ibumu adalah sahabat lama ibuku."
"Dari mana kau bisa tahu?" Li Tiong-hui tertegun.
"Sebetulnya aku sendiripun tak tahu, malah ibumu
yang memberitahukan kepadaku, ibumu bahkan dapat
menyebutkan ciri khas ibuku secara tepat, kenyataan ini
membuat aku mau tak mau harus percaya juga."
"Oooh, rupanya begitu" Li Tiong-hui menghela napas
pelan.
Tiba-tiba muncul seorang dayang berbaju hijau yang
lari masuk dengan tergopoh-gopoh sambil melapor: "Di
luar gedung kedatangan seorang lelaki dan dua wanita
yang ingin bertemu dengan nona."
"Jangan-jangan para jago dari pelbagai partai yang
mendapat kabar telah berdatangan? Tapi rasanya tak
mungkin secepat itu..." pikir Li Tiong-hui. Segera
tegurnya: "Apakah mereka menyebutkan namanya?"
"Yaa, lelaki itu mengaku dari keluarga Pek."
"Aaah, pasti loya kami yang telah menyusul kemari,"
seru Hiang-kiok cepat. "sekarang mereka berada di
mana?"
"Semenjak ada penceroboh yang menyusup masuk ke
dalam perkampungan Hong-san, ong popo telah
memperketat penjagaan disetiap penjuru, kini mereka
masih tertahan di mulut lembah."

2933
"Baiklah, undang mereka masuk, akan kutemui
mereka di ruang tamu."
"Ong popo berpesan juga, berhubung keluarga Hongsan
kita punya aturan yang mewajibkan setiap
pendatang melepaskan senjata, maka Ong popo minta
petunjuk apakah teman-teman nona juga wajib
meninggalkan senjata mereka di luar lembah?"
Li Tiong-hui termenung sambil berpikir sejenak.
kemudian menggeleng: "Tidak usah, karena mereka
mohon menghadap secara baik-baik, berarti mereka
tidak berniat memusuhi kita."
Tiba-tiba siok-bwee memberi hormat seraya berkata:
"Nona Li, apa yang diucapkan adikku Hiang-kiok tepat
sekali. Besar kemungkinan loya kami yang telah
menyusul ke sini, Bagaimana kalau budak menyertai
nona untuk pergi menjumpainya, Bila dia memang loya
kami, budak akan tampilkan diri untuk bertemu,
sebaliknya kalau bukan, budak akan mengundurkan diri
secara diam-diam, hingga nona pun bisa melakukan
persiapan secukupnya."
"Baiklah, Kalau begitu, ikutlah aku"
"Terima kasih, nona"
Sambil berpaling kearah Phang Thian-hua, kembali
gadis itu berpesan: "Phang cengcu, tolong rawatlah nona
Pek baik-baik, setelah bertemu dengan pendatang, aku
akan mencari ibuku untuk minta petunjuk"
"Aku akan berusaha dengan sepenuh tenaga"
Dengan disertai siok-bwee, berangkatlah Li Tiong-hui
meninggalkan ruangan itu.

2934
Mendadak Phang Thian-hua teringat kembali sikap
Nyonya Li ketika bertemu Lim Han-kim untuk pertama
kalinya, satu ingatan melintas dalam benaknya, ia
berpikir "Kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki nyonya Li
sudah mencapai taraf sikap yang begitu dingin dan
hambar, suatu tingkatan yang luar biasa sempurnanya.
Tapi aneh, kenapa ia tak mampu mengendalikan
emosinya tatkala bertemu Lim Han-kim untuk pertama
kalinya? Bahkan mengutus pula seorang dayang untuk
mengundang Lim Han-kim dan menanyai asal-usul nya?
Aku yakin ini bukan perbuatan iseng, di balik semua ini
pasti terselip suatu rahasia besar..."
Sementara ia masih melamun, tiba-tiba Pek si-hiang
membuka matanya dan menggerakkan tangan kanannya
dengan lemah seraya berbisik "Cepat ambilkan jarum
emasku"
"Tadi enci siok-bwee sudah bilang, jarum emas tidak
dibawa," sahut Hiang- klok.
"Aku punya" sela Phang Thian-hua sambil merogoh ke
luar sebatang jarum emas dan menyodorkannya ke
depan.
Setelah menerima jarum emas itu, Pek si- hiang
meronta untuk bangun dan menusuk dadanya dengan
jarum itu.
Phang Thian-hua dapat melihat, arah yang dituju
gadis tersebut ternyata adalah jalan darah penting Tiongteng-
hiat di atas dada, Begitu jalan darah tersebut
tertusuk, semangat Pek si-hiang seketika berkobar
kembali, raut wajahnya yang semula pucat pias pun kini
terlintas selapis warna semu merah.

2935
Kendatipun phang Thian-hua lihay dalam ilmu
pengobatan, ia sendiri pun tidak menyangka semangat
Pek si-hiang dapat bangkit kembali setelah jalan darah
penting itu ditusuk dengan jarum emas.
Dengan rasa heran bercampur penasaran ia menengok
Lim Han-kim dan Hiang- kiok sekejap. kemudian
tanyanya: "llmu silat apaan itu?"
Lim Han-kim hanya gelengkan kepalanya dengan
mulut membungkam.
Beberapa saat kemudian, Pek si-hiang telah membuka
matanya kembali, dipandangnya Lim Han-kim lekat-lekat,
lalu bisiknya: "Berada di mana aku sekarang?"
"Keluarga Hong-san"
"Kalau begitu aku berada di rumahnya Li Tiong-hui."
Pek si-hiang menghembuskan napas panjang.
"Untung nona Li membawa pulang nona ke
rumahnya," sambung Hiang-kiok cepat, "Coba kalau tak
ada perawatan yang seksama dari Nyonya Li, entah
bagaimana jadinya?"
"Selain itu kita juga harus berterima kasih kepada
Phang cengcu," kata Lim Han-kim pula, "Justru berkat
perawatan dan pengobatannya yang seksama sepanjang
perjalanan sampai kesini, kita masih tetap hidup dan
peroleh pertolongan"
"Hebatkah ilmu pengobatan yang dimiliki nyonya Li?"
tanya Pek si-hiang sambil tertawa hambar.
"Percuma aku peroleh nama besar selama ini," ujar
Phang Thian-hua sambil menghela napas. "Bila

2936
dibandingkan kemampuan nyonya Li, ternyata aku masih
ketinggalan jauh."
"Entah bagaimana pula dengan ilmu silatnya?"
"lbarat bentangan air di lautan selatan, sukar diukur
luasnya dan berapa dalamnya." Pek si-hiang tertawa
getir.
"Sekalipun dia hebat, toh ia tak akan mampu
menyembuhkan penyakit yang kuderita."
"Menurut pendapatku, nyonya Li pasti memiliki
kemampuan untuk mengobati penyakitmu," sambung
Phang Thian-hua. Pek si-hiang gelengkan kepalanya
berulang kali.
"Mustahil di dunia saat ini, tak akan ada seorang
manusia pun yang bisa temukan cara pengobatan yang
tepat untuk menyembuhkan penyakitku ini"
"Kecuali dengan berlatih ilmu sesat sembilan iblis,
bukan?" sela Lim Han-kim sambil menghela napas.
"Aku belum terlalu kecanduan, lagi pula sebelum
berlatih ilmu tersebut, di dalam hati aku sudah membuat
persiapan yang sungguh-sungguh, sehingga tidak dilatih
pun sekarang sama saja."
Setelah menghela napas, lanjutnya: "Aaaai... terus
terang saja, coba kalau seebun Giok-hiong tidak
menghajarku hingga terluka parah, mungkin sulit bagiku
untuk menghentikan ketergantunganku pada ilmu
tersebut. Dengan ia melukaiku, justru telah
menyelamatkan aku dari kecanduan, Yaaa... antara budi
dan dendam memang sulit untuk dibicarakan"

2937
Tiba-tiba Phang Thian-hua menyela:
"Tahukah.nona, Lim Han-kim telah terluka di tangan
siapa?"
"Ketika masih berlatih ilmu iblis, aku tidak kehilangan
daya ingatanku. Aku tetap sadar, hanya perangaiku
berubah seratus delapan puluh derajat, aku tak mampu
mengendalikan diri, aku tahu, ia terluka oleh
hantamanku"
Dengan tatapan penuh rasa sesal dan cinta ia alihkan
sorot matanya ke atas wajah Lim Han-kim, pelan-pelan
ujarnya lagi: "saudara Lim, kau harus memaklumi
keadaanku. Pek si-hiang yang kau hadapi ketika itu
bukan Pek si-hiang yang sebenarnya, ilmu sesat sembilan
iblis telah mendorongku kealam dunia yang lain, aku lupa
akan diriku, aku telah berubah jadi duplikatnya sembilan
iblis."
"Jangan kau lanjutkan kata-katamu" sela Lim Han-kim
cepat, "Aku tahu, kau tidak sengaja, kau tak berniat
untuk berbuat begitu, Aaaai... justru dewasa ini ada satu
masalah lain yang merisaukan hatiku."
"Soal apa?"
"Dengan tidak melatih ilmu sesat sembilan iblis lagi,
kau memang dapat pulih kembali menjadi Pek si- hiang
yang sebenarnya, tapi tubuhmu lemah, penyakitmu
belum hilang, dengan cara apa kau hendak
mempertahankan diri?" Pek si- hiang tertawa.
"Tidak apa-apa, meski badanku lemah dan setiap saat
malaikat elmaut dapat merenggut nyawaku, tapi
kehidupan yang bisa kuraih sekarang akan merupakan

2938
kehidupanku yang paling bahagia, sebaliknya dengan
berlatih ilmu sesat sembilan iblis, betul badanku bisa
sehat dan kokoh, penyakitku hilang lenyap. tapi aku telah
menjadi duplikatnya sembilan iblis, meski dapat hidup
seratus tahun, lalu apa artinya?"
"Saat ini dunia persilatan sedang memasuki era yang
amat kritis, saat inilah mati hidupnya kaum sesat dan
lurus ditentukan orang secerdas nona tidak sepantasnya
mati dalam keadaan begini"
"Tidak apa-apa." Pek si-hiang tertawa.
"Aku dapat mengaturkan suatu tempat tujuan
untukmu, asal kau bersedia tinggal selama tiga tahun di
situ sebelum muncul lagi ke dalam dunia persilatan Aku
jamin kau tak bakal ikut terseret dalam bencana dunia
persilatan kali ini."
Tiba-tiba kedengaran suara pintu dibuka orang,
nyonya Li dengan wajah sedingin es berjalan masuk ke
dalam ruangan
Melihat itu, buru-buru Hiang- kiok berseru: "Nona,
dialah nyonya Li yang telah selamatkan jiwamu" sembari
berkata, ia sudah menjatuhkan diri berlutut.
"Tak usah banyak adat," sela nyonya Li dingin Hiangkiok
menyahut dan bangkit berdiri
Dari atas pembaringannya Pek si- hiang manggutmanggut
sebagai tanda hormat, kata-nya: "Maaf bila aku
tak bisa memberi hormat berhubung sedang terluka,
harap locianpwee memaklum."

2939
Dengan sorot mata yang tajam, nyonya Li mengawasi
sekejap jarum emas yang tertancap di dada Pek si-hiang,
selang sesaat kemudian ia berkata:
"Tusukan jarum emas itu memang dapat
membangkitkan semangat hidupmu, tapi tahukah kau
bahwa cara seperti ini sama artinya dengan menghisap
candu untuk menahan sakit?"
"Betul." Pek si- hiang tertawa, "Tapi selain berbuat
demikian, terpaksa aku harus berbaring di atas ranjang
tanpa bergerak maupun bicara."
"Tahukah kau bahwa kau sudah tak mampu hidup
lebih dari setahun lagi?"
"Setahun kelewat lama." Pek si- hiang tertawa, "Aku
cuma ingin hidup tiga bulan lagi."
Di atas wajah nyonya Li yang dingin membeku, tibatiba
tersungging sekulum senyuman, ujarnya lembut:
"Tahukah kau nak mengapa kau tak bisa hidup lebih
lama?"
Dengan sedih Pek si-hiang menghela napas panjang,
ia tundukkan kepalanya dan tidak berbicara.
Hiang-kiok yang ada di sisinya segera menimbrung:
"Dari dulu, wanita cantik memang berumur pendek.
mungkin hal ini disebabkan wajah nona kami kelewat
cantik."
"Husss, kau budak cilik jangan ngaco belo" hardik Pek
si-hiang sambil angkat wajahnya.

2940
Sambil tersenyum nyonya Li berkata: "Meskipun apa
yang dia katakan tak tepat, namun selisih pun tidak
terlalu jauh."
Pek si-hiang angkat wajahnya dan lantas tertawa
sedih, ia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi niat
tersebut diurungkan kemudian. Kembali nyonya Li
berkata:
"Nak. aku mengerti, sesungguhnya dalam hati
kecilmupun sudah paham cuma tak ingin kau utarakan
keluar, betul bukan? Baiklah, biar aku yang bicara
mewakilimu"
Mendengar pembicaraan tersebut, dengan rasa heran
Lim Han-kim berpikir: "Aneh, masa seseorang yang
hampir mati juga bisa dilihat dari bentuk wajahnya?"
Dengan wajah serius nyonya Li berkata lebih lanjut:
"Nak, kau kelewat pintar, tapi tiada manusia sempurna di
dunia ini. Dan manusia sempurna tak akan dibiarkan
hidup terus di dunia ini. Aaaai... mungkin orang lain tidak
paham maksud ucapan ini, tapi aku percaya kau pasti
mengerti"
"Justru karena itulah, sedikitpun aku tak takut mati..."
Air mata berkembang di kelopak mata Pek si-hiang.
"Aku percaya perkataanmu itu, tapi apa sebabnya kau
bersikeras hendak pelajari ilmu sesat sembilan iblis?"
Pelan-pelan Pek Si-hiang melirik Lim Han-kim sekejap.
setelah itu jawab nya: "Lantaran dia, aku ingin hidup
beberapa tahun lebih panjang, tapi sekarang aku
mengerti, keputusanku itu salah."

2941
"Kau masih ada kesempatan untuk kembali dan kau
mampu untuk melepaskan semua itu, Aku percaya, kau
memiliki kemampuan yang lain daripada yang lain."
Sementara itu Lim Han-kim hanya melongo
mendengarkan pembicaraan kedua orang itu. sekilas
pandang, kata-kata yang mereka pergunakan dalam
pembicaraan tersebut kedengaran amat sederhana dan
seolah-olah mudah ditangkap. tapi setelah coba ditelaah,
ternyata ia tak habis mengerti ia gagal menangkap
maksud yang terkandung dalam ucapan tersebut, seolaholah
di balik pembicaraan tadi terselip makna yang
sangat dalam.
Tiba-tiba nyonya Li menghela napas panjang, katanya:
"Nak. sesungguhnya aku ingin sekali berbicara lebih
mendalam denganmu"
"Dengan senang hati aku akan melayani kehendak
nyonya."
Nyonya Li berpikir sejenak. lalu katanya lagi: "Aku
hanya khawatir pembicaraan yang kelewat banyak akan
mempengaruhi kondisi sakitmu."
"Tidak apa-apa, toh sulit bagiku untuk hidup lebih dari
tiga bulan, lentera yang hampir kehabisan minyak justru
mesti dimanfaatkan sebisanya..."
"Bila kau dapat membantuku untuk memecahkan
beberapa persoalan pelik yang menyangkut ilmu
pengobatan, mungkin aku bisa membantumu untuk
mengobati penyakit yang kau derita,"

2942
"Aku khawatir kemampuanku tak berhasil
memecahkan persoalan tersebut," kata Pek si-hiang
sambil membenahi rambutnya yang kusut
Lim Han-kim ikut mengawasi gerak-gerik gadis itu,
mendadak ia menjerit tertahan: "Nona Pek, kau..."
"Oooh, sudah kau lihat rambutku yang mulai
beruban?"
"Benar."
"Bila aku dapat hidup tiga tahun lagi, saat itu kau tak
akan berhasil menjumpai seutas rambut pun yang
hitam."
"Nak." sela nyonya Li tiba-tiba. "seharusnya kau mulai
pasrah, jangan kelewat memikirkan masalah kecantikan
diri"
Seolah-olah baru menyadari akan sesuatu, Pek sihiang
berseru tertahan, sepasang matanya terbelalak
lebar sementara dua titik air mata jatuh berlinang.
Dengan senyuman hambar menghiasi bibirnya,
kembali nyonya Li berkata:"Nak. malam ini aku telah
sediakan suatu perjamuan makan malam yang amat
megah bagimu,pada kentongan pertama malam nanti
akan kuutus orang untuk mengundangmu. Kita bisa
berbincang-bincang sambil bersantap malam."
"Aku siap menanti perintah." Nyonya Li manggutmanggut
"Nah, baik-baiklah beristirahat, aku pergi dulu." seusai
berkata, ia membalikkan tubuh dan beranjak pergi
dengan langkah lebar.

2943
Buru-buru Pek si-hiang meronta bangun sambil
berseru: "Biar kuantar kepergian nyonya..."
"Tidak usah," tampik nyonya Li sambil berlalu.
Memandang bayangan punggung nyonya Li hingga
lenyap dari pandangan, Pek Si-hiang menghela napas
panjang.
"Aaaai... ia sedang menghadapi banyak kesulitan di
depan mata..."
Mendadak terlihat pintu kamar bergerak. Li Tiong-hui
muncul dengan langkah lebar sambil menegur: " Ibuku
datang kemari?"
"Yaa, baru saja ia berlalu."
"Ayah dan ibumu datang menjengukmu"
"Di mana mereka sekarang?"
"Di ruang tengah. Aku tahu sakitmu cukup parah, jadi
aku tak berani memutuskan apakah kau ingin bertemu
dengan mereka atau tidak" setelah berpikir sejenak, kata
Pek si-hiang:
"Jauh-jauh orang tuaku datang kemari untuk
menjengukku, masa aku tidak menemui mereka...?"
Ia meronta bangun kemudian pelan-pelan berjalan ke
luar meninggalkan ruangan, Buru-buru Hiang-kiok
menyusul dan menggandeng nonanya.
"Nona Pek," sela Li Tiong-hui tiba-tiba. "Aku lihat
gerak-gerikmu sangat berat, kenapa tidak kau undang
orang tuamu untuk bertemu di dalam kamar saja?"
"Apakah leluasa?" Pek si-hiang tarik napas panjang.

2944
"Kenapa tidak? Tunggulah di sini nona, biar aku pergi
mengundang mereka untuk masuk kemari."
"Terima kasih atas bantuanmu"
Sambil berkata ia balik ke sisi pembaringan,
membaringkan diri dan mencabut ke luar jarum emas
dari atas dadanya, Begitu jarum dicabut, paras mukanya
segera berubah hebat, Cepat-cepat Hiang-kiok menarik
selimut dan diselimutkan ke atas dan Pek si-hiang.
"Saudara Lim." Tiba-tiba Phang Thian-hua berbisik.
"Kurang leluasa bagi kita untuk tinggal di sini, ayoh kita
juga pergi"
Lim Han-kim mengiakan dan beranjak meninggalkan
ruangan, Melihat itu, cepat-cepat Hiang-kiok berteriak:
"Lim siangkong, Phang cengcu, kalian berdua mau ke
mana?"
"Kami merasa kurang leluasa untuk berada di sini..."
"Apa salahnya siangkong tetap di sini agar bisa
bertemu dengan loya serta nyonya."
"Aku rasa tak usah..."
Belum habis perkataan itu diucapkan, dari ruang luar
sudah bergema datang suara langkah kaki manusia, Li
Tiong-hui berjalan di muka diikuti seorang lelaki
setengah umur berambut putih di belakangnya.
Di belakang lelaki berambut putih itu menyusul
seorang nyonya setengah umur yang berwajah cantik
dan mengenakan pakaian warna hitam.

2945
Lim Han-kim segera mengenali lelaki berambut putih
itu sebagai si pedang racun Pek siang, sedangkan nyonya
berbaju hitam itu adalah Gadis naga berbaju hitam.
Dalam keadaan begini, Lim Han-kim serta Phang
Thian-hua jadi serba salah, mereka merasa kurang
leluasa untuk keluar dari ruangan tersebut, terpaksa
dengan termangu-mangu hanya berdiri mematung di sisi
ruangan.
Dengan langkah lebar Pedang racun Pek Siang
langsung menyerbu ke sisi pembaringan, serunya dengan
suara dalam: "Anak Hiang, bukalah matamu, coba lihat
siapa yang telah datang menjengukmu?"
Pelan-pelan Pek si-hiang membuka matanya
memandang Pek siang sekejap, lalu bisiknya: "Ayah."
"Betul, ayah bersama ibumu dan Han-gwat samasama
datang menjengukmu..."
"Ananda sedang sakit, maaf kalau tak bisa memberi
hormat kepada kalian berdua," bisik Pek si-hiang lemah
sambil pejamkan kembali matanya.
Pek siang menghela napas panjang, "Aaaai... nak.
kondisi badanmu semakin lama semakin lemah, padahal
satu-satunya keinginanku serta ibumu adalah ingin
menyembuhkan penyakit yang kau derita itu, Biar harus
menjelajahi seluruh pelosok langit pun kami rela... tapi...
sudah sekian tahun kami mengembara, segala penjuru
dunia sudah kami singgahi, hasilnya tetap sia-sia...
Untung di saat kami sedang putus asa, Thian maha adil
dan mengabulkan permohonan kami. Akhir-nya kami
berhasil temukan seorang tabib hebat, cuma dia ingin
periksa dulu penyakitmu sebelum mengambil tindakan,

2946
Karenanya kami melacak jejakmu hingga tiba
diperkampungan keluarga Hong-san. Nak, pernah kah
kau bayangkan betapa sengsaranya kami selama ini?"
Dua titik air mata pelan-pelan meleleh ke luar
membasahi pipi Pek si-hiang, katanya: "Gara-gara
urusanku, ayah dan ibu harus lari pontang-panting, aku...
aku amat menyesal."
"Nak. jangan bicara begitu, jangankan hanya
kecapaian, demi kau, biar usia kami berdua harus
dipotong puluhan tahun pun, kami rela, Cinta orang tua
terhadap anaknya memang tak bisa ditandingi oleh apa
pun, yang kami harapkan hanyalah kesediaanmu untuk
ikut kami menjumpai tabib tersebut, agar ia dapat
mengobati penyakitmu itu."
"Sejak dulu ananda toh sudah bilang, percuma usaha
ayah dan ibu selama ini, sebab tiada tabib di dunia ini
yang sanggup mengobati penyakitku ini..."
"Sekalipun begitu, ayah dan ibu harus berusaha
semaksimal mungkin."
Tiba-tiba Phang Thian-hua menyela:
"Setahuku, kecuali nyonya Li dari perkampungan
keluarga Hong-san, tiada tabib lain di dunia ini yang
sanggup menandingi kemampuanku."
Pek siang segera menoleh begitu mendengar ucapan
tersebut, tegurnya: "Anda adalah..."
"Phang Thian-hua dari perkampungan Pit-tim-sanceng"

2947
"Sudah lama kudengar nama besar Dewa jinsom" Pek
siang segera menjura memberi hormat.
Gadis naga berbaju hitam yang berdiri di sisinya buruburu
menyela: "Apakah Phang cengcu sudah periksa
penyakit yang diderita putri kami itu?"
"Yaa, sudah Cuma kemampuanku tak sanggup untuk
menanggulangi penyakit tersebut." Gadis naga berbaju
hitam menghela napas panjang.
"Aaaai... kalau toh Phang cengcu juga berkata begitu,
terpaksa kami harus mencoba untuk menemui orang
tersebut"
"Saudara Pek, maaf bila aku banyak mulut," ucap
Phang Thian-hua tiba-tiba. "Boleh aku tahu, siapa yang
kau maksudkan mampu untuk mengobati penyakit
putrimu itu?"
"Dia hanya seorang kakek yang tak dikenal dalam
dunia persilatan, tapi ilmu pertabiban yang dimilikinya
luar biasa sekali," kata Gadis naga berbaju hitam dengan
penuh rasa kagum. Dengan mata kepala sendiri
kusaksikan ia hidupkan kembali seorang wanita hamil
yang sudah mati hanya dengan sebuah tusukan jarum,
bahkan wanita tersebut berhasil melahirkan putranya
dengan selamat"
Mendengar penuturan itu, Phang Thian-hua tertawa
terbahak-bahak: "Ha ha ha... kalau hanya begitu saja sih
tak aneh, aku yakin kemampuanku masih tak kalah dari
kemampuannya."
"Tapi wanita hamil itu sudah putus nyawa"
"Sudah berapa lama ia putus napas?"

2948
"Lebih kurang setengah jam"
"Ha ha ha... kalau baru setengah jam, denyut
jantungnya belum berhenti sama sekali, tentu saja ia
dapat disembuhkan Tapi penyakit yang diderita putri
kalian ini... berbeda sekali... bahkan besar sekali
perbedaannya..."
Bagaimana pun juga, Phang Thian-hua termasuk salah
satu tokoh pertabiban yang disegani dalam dunia
persilatan, tentu saja apa yang dia katakan sangat
berbobot otomatis kata-katanya itu mendatangkan
pengaruh yang cukup besar bagi Pek siang berdua.
Pelan-pelan si pedang racun Pek siang berpaling,
kemudian berkata sambil memberi hormat
"Demi menyembuhkan penyakit putriku ini, kami
berdua sudah peras pikiran dan tenaga habis-habisan,
tapi selalu gagal menjumpai seorang tabib hebat yang
mampu mengobati penyakit itu. Aaaai... terus terang saja
kami katakan, asal ada orang yang mampu mengobati
penyakit putri kami ini, biar orang tersebut berada di
ujung langit pun, kami tetap akan mencarinya sampai
dapat Phang cengcu, kau adalah seorang tabib
kenamaan, aku percaya kau pasti lebih paham mengenai
penyakit yang diderita putriku itu, dapatkah kau memberi
petunjuk? "
"Menurut apa yang kuketahui, di dunia saat ini
mungkin hanya ada dua orang yang mampu mengobati
penyakit putrimu. "
"Siapakah mereka berdua?"

2949
"Yang satu adalah nyonya Li dari keluarga Hong-san,
sedang orang kedua adalah putrimu sendiri"
"Bagaimana dengan Phang cengcu sendiri?" seru
Gadis naga berbaju hitam cepat "Bila cengcu sanggup
mengobati penyakit putriku itu, biar kami harus menjadi
kuda atau anjing pun, kami rela melakukannya."
"Ucapan Anda terlalu serius, padahal aku pun tak
berdaya, tapi kalian tak usah cemas sebab Nyonya Li
sudah berjanji akan mengobati penyakit yang diderita
putri kalian."
Gadis naga berbaju hitam segera berpaling ke arah
pedang racun Pek siang, serunya: "Kita harus menjumpai
nyonya Li..."
Belum sempat pedang racun Pek Siang menjawab,
tiba-tiba dari kejauhan sana berkumandang datang tiga
kali sudah genta yang dibunyikan bertalu-talu.
Sebagai orang yang sudah lama berkecimpungan
dalam dunia persilatan, timbul kecurigaan Pek siang
sesudah mendengar bunyi genta itu, bisiknya cepat:
"Phang cengcu, apa arti bunyi genta itu?"
Belum sempat Phang Thian-hua menjawab, lagi-lagi
tiga kali suara genta berkumandang datang.
Pek Siang segera melirik Gadis naga berbaju hitam
sekejap sambil bisiknya: "Suara genta kembali berbunyi,
kau lindungi anak Hiang, biar aku pergi memeriksanya"
BAB 39. Persiapan Menghadapi pertempuran

2950
Buru-buru Phang Thian-hua mencegah seraya
katanya: "Kita berada diperkampungan keluarga Hongsan
sekarang, lebih baik kalau kita berdiam diri saja"
"Betul aku hanya seorang tetamu, tapi setelah berada
di dalam perkampungan keluarga Hong-san, tak akan
kuijinkan siapa pun datang mencari gara-gara
diperkampungan ini. Apalagi nyonya Li sudah bantu
menolong anakku, sudah sepantasnya bila aku
manfaatkan kesempatan baik ini untuk membantu
perkampungan keluarga Hong-san, paling tidak sanggup
saja sebagai perasaan terima kasihku kepada mereka."
selesai bicara, ia pun beranjak pergi meninggalkan
ruangan.
Begitu cepat gerakan tubuhnya, belum sempat Phang
Thian-hua menghalangi kepergiannya, tahu-tahu Pek
siang sudah lenyap dari pandangan.
Pada saat itu Lim Han-kim berpikir dalam hatinya:
"Baru setengah harian sudah dua kali muncul musuh
tangguh yang bermaksud menyerang perkampungan
keluarga Hong-san, entah tokoh silat dari mana yang
begitu bernyali hingga berani mencari gara-gara? Kini
Pek siang sudah tampilkan diri untuk membendung
serangan musuh, masa aku Lim Han-kim begitu pengecut
hingga keluar untuk menontonpun tak berani?"
Berpikir hegitu, ia pun turut melompat keluar dari
ruangan, Phang Thian-hua berniat menghalangi, sayang
terlambat sudah.
Keluar dari ruangan, Lim Han-kim segera periksa
sekeliling tempat itu, namun bayangan si pedang racun

2951
Pek siang sudah lenyap tak berbekas, maka dia pun
menjejakkan kakinya dan melayang ke atas atap rumah.
Dengan ketajaman mata yang dimiliki, ia mencoba
periksa sekeliling tempat itu, namun suasana amat
hening. Bukan saja jejak musuh tak kelihatan, bahkan
jago-jago dari perkampungan keluarga Hong-san yang
memapaki serangan lawanpun tak kelihatan batang
hidungnya, apalagi jejak dari si pedang racun Pek siang.
Diam-diam Lim Han-kim berpikir lagi: "Kelihatannya
setiap pembantu dan dayang yang berada dalam
perkampungan Hong-san ini sudah dididik secara ketat
hingga tidak gugup maupun panik dalam menghadapi
serbuan musuh..."
Sementara ia masih termenung, tiba-tiba terdengar
teguran dari seorang gadis yang bernada dingin
berkumandang datang:
"Urusan yang menyangkut keluarga Hong-san tak
perlu dicampuri orang luar, lebih baik menyingkirlah dari
situ dari pada terjadi kesalahan paham hingga melukai
Anda."
Ketika Lim Han-kim menoleh, dia jumpai seorang
dayang berbaju hijau yang menggenggam pedang di
tangan kanannya dan sebuah benda berwarna putih
keperak-perakan di tangan kirinya telah muncul di
belakang tubuhnya.
Melihat semua itu, kembali pemuda kita berpikir
"Benda keperak-perakan yang berada dalam genggaman
dayang itu pasti sejenis pelontar senjata gelap yang
dibubuhi racun... Waaah, kalau memang setiap dayang di

2952
perkampungan ini dilengkapi senjata pamungkas macam
begitu, sudah tentu saja kehebatannya luar biasa..."
Ketika melihat Lim Han-kim masih saja berdiri
mematung tanpa menggubris teguran-nya, dengan
marah kembali dayang itu menghardik.
"Hey, sudah kau dengar belum teguranku? Cepat
bersembunyi mau tunggu apa lagi di situ?"
Belum lagi Lim Han-kim melompat turun dari atap.
terdengar ujung baju terhembus angin bergema tiba,
bagai seekor burung Li Tiong-hui sudah muncul di
samping anak muda tersebut.
Setelah menengok dayang itu sekejap. katanya: "Lim
siangkong, ayo temani aku periksa posisi lawan."
Mendengar ucapan itu, tanpa banyak bicara dayang
tadi mengundurkan diri dan bersembunyi di balik
ruangan.
Sepintas lalu perkampungan keluarga Hong-san ini
nampak kedodoran dalam soal penjagaan, padahal
pengawasan mereka ketat sekali, Rupanya para penjaga
menyembunyikan diri di tempat yang tersembunyi hingga
tak gampang ketahuan jejaknya.
"Saudara Lim," bisik Li Tiong-hui. "Tempat ini
merupakan gedung bagian belakang perkampungan
kami, Bila ada musuh tangguh menyusup kemari,
terpaksa kami akan hadapi mereka dengan senjata
rahasia andalan kami, yaitu jarum lebah."
"Aku tebak, jarum lebah itu pasti ganas dan sangat
beracun?"

2953
"Betul, kehebatan jarum lebah ini jauh di atas
keganasan bwee-hoa-ciam.. ibuku sudah turunkan
perintah, bila sipenyusup tidak melukai anggota
perkampungan, mereka dilarang menyerangnya dengan
menggunakan senjata itu sebab benda tersebut
merupakan hasil rancangan ibuku sendiri yang selama ini
belum pernah muncul dalam dunia persilatan, jadi tak
banyak orang yang tahu."
"Oooh, rupanya begitu"
"Apakah saudara Lim ingin tahu siapa penyusup itu?"
"Bila kutinjau dari suasana yang begini tenang di
seputar tempat ini, rasa-rasanya seperti tak ada
penyusup ganas yang menyerang perkampungan ini." Li
Tiong-hui segera tertawa.
"Lonceng peringatan tak bakal dibunyikan secara
ngawur. Bila genta itu sudah berdentang, berarti pasti
ada musuh tangguh yang menyusup masuk kemari,
saudara Lim, jika kau punya minat, ayolah ikut diriku,
mari kita periksa posisi lawan" setelah termenung
berpikir sejenak. Lim Han-kim manggut-manggut.
"Baiklah, harap nona berjalan duluan"
"Tidak usah sungkan-sungkan, aku akan menjadi
penunjuk jalan yang baik bagimu" selesai bicara, ia pun
bergerak lebih dulu menuju ke depan.
Dengan ketat Lim Han-kim mengikuti di belakang
gadis itu, dengan cepat mereka menyeberangi atap
rumah menuju ke halaman yang lain.
Gerak tubuh Li Tiong-hui cepat sekali, hanya dalam
waktu singkat mereka telah melampaui beberapa buah

2954
halaman. Kini lamat-tamat sudah dapat didengar suara
senjata tajam yang saling beradu.
"Aaaah, rupanya benar-benar ada musuh yang
menyusup kemari," gumam Lim Han-kim seraya
mempercepat langkahnya menuju ke sumber suara
bentrokan senjata itu.
"Eeei, jangan sembarangan turun tangan..." seru Li
Tiong-hui memperingatkan.
Setelah melewati sebuah dinding pekarangan yang
tinggi, sampailah Lim Han-kim di depan sebuah tanah
berumput.yang luas. saat itu tampak empat orang
dayang berpedang sedang bertarung seru melawan
seorang kakek berpakaian pendeta yang melakukan
perlawanan dengan hanya andalkan tangan kosong.
Berapa kaki di belakang arena berdiri Ong popo
dengan tongkat kepala naganya, di kedua sisi nenek
tersebut berjajar enam orang dayang bersenjata
terhunus.
Ilmu silat keluarga persilatan Hong-san memang
sudah termashur akan kehebatannya, terutama aliran
silatnya yang menyerap hampir semua intisari ilmu silat
yang dimiliki pelbagai partai besar untuk digabung
menjadi sebuah aliran baru, oleh sebab itu gerak
serangan yang digunakan keempat orang dayang
tersebut berbeda sekali dengan aliran yang ada pada
umumnya.
Dalam pertarungan yang sedang berlangsung,
keempat orang dayang itu masing-masing
mengembangkan aliran silat yang berbeda-beda, hingga
seolah-olah dalam arena perta rungan sekarang hadir

2955
empat tokoh silat dari empat partai besar, dapat
dibayangkan betapa sulitnya menghadapi gempurangempuran
dahsyat mereka.
Namun kepandaian silat yang dimiliki kakek
berdandanan pendeta itu pun tak kalah hebatnya, Di
antara kibaran ujUng bajUnya yang menari kian kemari
bak kupu-kupu yang terbang di antara aneka bunga,
kendatipun serangan keempat dayang itu amat dahsyat,
ternyata semua ancaman yang datang bisa dihadapinya
dengan mudah.
Lim Han-kim mencoba memperhatikan kakek
berpakaian pendeta itu dengan lebih seksama, tapi ia
segera dibuat terperanjat. Ternyata kakek berbaju
pendeta yang sangat lihay itu tak lain adalah Thian-hok
sangjin dari bukit Mao-san.
Dengan rasa tercengang bercampur tak habis
mengerti pikirnya: "Bukankah Thian-hok sangjin disekap
dalam istana panca racun? Kenapa bisa muncul di sini?"
Tanpa berpikir panjang lagi segera teriaknya: "Nona
berempat, harap segera hentikan serangan kalian"
Dalam gelisah dan cemasnya, tak tahan pemuda
tersebut berteriak dengan suara lantang.
Siapa sangka keempat dayang itu sama sekali tak
menggubris, jangankan menghentikan serangan,
menengok kearahnya sekejap pun tidak. bahkan mereka
semakin meningkatkan daya gempurnya.
Dengan setengah berbisik buru-buru Li Tiong-hui
berkata: "saudara Lim tak usah emosi, memang

2956
begitulah aturan pcrguruan kami, mereka tak bakal
tunduk pada perintah orang lain."
"Kau kenal dengan kakek berbaju pendeta itu?" Lim
Han-kim balik bertanya.
"Yaa, dia kan Thian-hok Sangjin dari bukit Mao-san."
"Yaa, dia seorang pendeta jujur yang berhati lurus,
mustahil kedatangannya untuk mencari gara-gara. Harap
nona segera turunkan perintah kepada keempat
dayangmu agar segera hentikan serangan"
Li Tiong-hui manggut-manggut, seraya berpaling ke
arah Ong popo, serunya: "Ong popo, tolong suruh
mereka hentikan dulu serangannya"
Dengan kening berkerut, Ong popo bepikir sejenak,
tapi akhirnya ia menuruti juga maksud Li Tiong-hui,
bentaknya: "Tahan"
Begitu hardikan bergema, keempat orang dayang itu
segera menarik kembali senjatanya dan mundur dari
arena.
Dengan langkah lebar Lim Han-kim, maju ke arena,
tegurnya seraya memberi hormat: "Locianpwee"
Pelan-pelan Thian-hok Sangjin mengalihkan sorot
matanya ke wajah Lim Han-kim, setelah mengamatinya
beberapa saat, ia pun menegur: "Kaukah yang bernama
Lim Han-kim?"
"Yaa betul, ada urusan apa sih hingga secara tiba-tiba
locianpwee datang menyatroni perkampungan keluarga
Hong-san?"
"Kedatangan pinto (aku) hanya atas dasar perintah"

2957
"Perintah dari siapa?"
"Pemilik istana panca racun"
Lim Han-kim kontan saja tertegun, serunya cepat:
"Ada beberapa masalah yang selama ini mengganjal
pikiranku, bersediakah locian-pwee memberi petunjuk
kepadaku?"
"Kau ingin tahu hubungan budi dan dendam antara
pinto dengan pemilik istana panca racun?"
"Yaa, betul"
Thian-hok sangjin menghela napas panjang.
"Aaaai... panjang sekali untuk menceritakan kisah ini,
lagi pula saat ini bukan saat yang tepat untuk
menyinggung kembali peristiwa tersebut. Bila ada
kesempatan di kemudian hari, pinto tentu akan
membeberkan-nya kepadamu."
"Thian-hok sangjin" Tiba-tiba terdengar Ong popo
menimbrung dengan suara dingin, "Malam ini kau
sengaja datang menyatroni perkampungan keluarga
Hong-san, tindakanmu itu sama artinya dengan tidak
pandang sebelah mata pun terhadap nyonya Li serta aku,
dengan cara apa kau hendak selesaikan hutangmu ini?"
Thian-hok sangjin tertawa getir.
"Pinto terpaksa berbuat begini, semoga nyonya Li
bersedia memaklumi tindakanku ini."
Ong popo termenung dan berpikir sejenak, kemudian
ucapnya: "Baiklah, mengingat kau adalah sahabat
lamaku, akupun tak ingin memperpanjang masalah ini

2958
lagi.. ." sembari ulapkan tangannya, ia menambahkan:
"Kau boleh pergi sekarang"
"Kedatanganku ke perkampungan keluarga Hong-san
bukannya tanpa sebab, sebelum tujuanku tercapai, masa
aku harus mengundurkan diri dengan begitu saja?"
"Jadi apa tujuanmu?" Air muka Ong popo berubah
hebat.
"Tolong sampaikan kepada nyonya Li, katakan bahwa
pinto ada urusan dan ingin berjumpa dengannya"
"Sudah lama nyonya mengundurkan diri dari
keramaian dunia, ia tak pernah terima tamu lagi jika kau
ada persoalan, katakan saja kepadaku, nanti biar aku
yang sampaikan kepada nyonya"
"Persoalan ini menyangkut sebuah masalah yang
besar sekali, aku takut kau tak akan mampu ambil
keputusan,jadi dibicarakanpun tak ada gunanya."
"Urusan apa sih? Katakan saja kepadaku" timbrung Li
Tiong-hui tiba-tiba.
"Nona ini adalah nona Li..." Buru-buru Lim Han-kim
memperkenaikan.
"Kalau begitu, tolong nona suka menyampaikan
kepada ibumu bahwa Thian-hok sangjin dari bukit Maosan
ingin bertemu dengannya."
"Bukankah Ong popo sudah beritahu kepada totiang
bahwa ibuku sudah lama tak bersedia terima tamu lagi?
sudah lama aku yang muda mengagumi nama besar
totiang, apabila totiang butuh bantuan dari

2959
perkampungan keluarga Hong-san kami, aku Li Tiong-hui
pasti akan berusaha membantu dengan sepenuh tenaga"
"Maksud baik nona sangat mengharukan hati pinto,
tak heran bila Anda mampu menduduki jabatan sebagai
Bu-lim bengcu, tapi menurut pendapatku, dalam urusan
ini bukan saja nona tak bakal mampu menanggulanginya,
bahkan Anda tak bakal memahami maksudku."
Lama kelamaan habis sudah kesabaran Ong popo, ia
naik darah, bentaknya dengan penuh amarah: "Hei, si
hidung kerbau busuk yang tak tahu diri, kau jangan
mendesak terus menerus seharusnya kau sudah puas
karena aku tidak menuntut keadilan darimu gara-gara
kehadiranmu di perkampungan kami secara lancang. Bila
kau masih tak tahu diri dan cerewet melulu di tempat ini,
hmmm Hmmmm jangan salahkan bila aku bertindak
kasar kepadamu"
Thian-hok sangjin mengangkat kepalanya memandang
sekejap cuaca dengan wajah gelisah bercampur cemas,
katanya kemudian "Baiklah, kalau toh kalian berdua
segan menyampaikan kehadiranku ke dalam, terpaksa
aku akan menerobos masuk secara paksa"
"Hmmm, coba kau hadapi diriku lebih dulu" teriak Ong
popo sambil menghentakkan tongkatnya ke tanah.
Sementara itu Lim Han-kim amati terus perubahan
sikap Thian-hok sangjin dengan seksama, ia semakin
keheranan sewaktu menjumpai kegelisahan yang
mencekam wajah pendeta itu, pikirnya: "Heran, kenapa
ia memaksa ingin bertemu dengan nyonya Li? Urusan
apa gerangan yang sedang dihadapinya?"

2960
Tedengar Thian-hok sangjin berkata lagi setelah
menjura dalam-dalam: "Batas waktu yang kumiliki amat
sedikit, aku tak bisa menunda lebih jauh lagi. Bila
perbuatanku menyinggung perasaan kalian semua,
biarlah di kemudian hari aku mohon maaf"
Seusai berkata, tiba-tiba ia melejit ke udara dan ibarat
seekor burung rajawali raksasa ia melesat ke udara,
melewati atas kepala Lim Han-kim dan menerobos ke
halaman dalam.
Bersamaan waktunya dengan tindakan Thian-hok
sangjin itu, Ong popo turut melejit pula ke udara,
tongkatnya dengan jurus memotong putus awan di bukit
membabat pinggang pendeta tersebut.
Berada di tengah udara, tiba-tiba Thian-hok sangjin
menarik napas dalam-dalam, tahu-tahu badannya melejit
tiga depa lagi ke tengah udara dan terhindar dari
sergapan maut itu. Tatkala ia melayang turun kembali ke
permukaan tanah, badannya sudah berada tiga kaki dari
posisinya semula.
Dengan penuh amarah Ong popo membentak "Thianhok
sangjin, beranikan kau bertarung tiga ratus jurus
melawan tongkatku?"
"Pinto tak punya banyak waktu, kalau ingin bertarung
lebih baik tunda dulu sampai di kemudian hari" sembari
berteriak. ia lanjutkan gerakan tubuhnya melesat masuk
ke dalam perkampungan.
Baru saja Ong popo hendak melakukan pengejaran,
terdengar Li Tiong-hui mencegah: "Tak perlu dikejar,
biarkan ia rasakan sedikit penderitaan lebih dulu..."

2961
Mendengar ucapan tersebut, secara tiba-tiba Lim Hankim
teringat kembali pada tabung jarum Hui-hong-ciam
yang digenggam kawanan dayang dalam gedung.
Kendatipun ilmu silat yang dimiliki Thian-hok sangjin
amat lihay, namun sergapan jarum Hui-hong-ciam
tersebut bukanlah serangan yang mudah dihadapi, tak
kuasa lagi timbul perasaan khawatir dalam hati kecil anak
muda tersebut.
Dengan rasa gemas bercampur gusar, Ong popo
mengawasi bayangan punggung Thian-hok sangjin yang
menjauh seraya bergumam: "Jika dia berani melukai
orang, aku bersumpah tak akan membiarkan dia keluar
dari lembah Ban-siong-kok dalam keadaan selamat"
Mendengar ucapan tersebut, dalam hati kecilnya Lim
Han-kim berpikir: "Kalau dilihat dari rambut Ong popo
yang sudah beruban, semestinya ia sudah berusia lanjut,
heran, kenapa wataknya masih begitu berangasan dan
berapi-api...?"
Sementara dia masih termenung, tiba-tiba terlihat dua
sosok bayangan manusia bagaikan burung rajawali
meluncur datang dari arah selatan.
Melihat kehadiran kedua orang itu, Ong popo semakin
naik darah, Dengan badan gemetar karena gejolak
emosinya, ia berteriak seraya menggeretak gigi: "Bagus,
bagus sekali selama puluhan tahun terakhir belum
pernah ada orang berani menyatroni perkampungan
keluarga Hong-san. Tak nyana, hanya dalam beberapa
hari saja musuh tangguh berulang kali datang mencari
gara-gara... Hmmm, jika tidak kutahan beberapa lembar
nyawa mereka sebagai peringatan, orang persilatan tentu

2962
tak anggap sebelah mata lagi kepada perkampungan
keluarga Hong-san kita."
Jelas beberapa patah katanya itu sengaja ditujukan
untuk menyindir Li Tiong-hui, sekalian menilai reaksi
yang bakal ditunjukkan gadis tersebut.
Biarpun tabiat Ong popo kasar dan berangasan,
namun tindak-tanduknya amat berhati-hati dan cara
berpikirnya pun amat teliti.
Li Tiong-hui hanya tersenyum tanpa menanggapi
sindiran tersebut, ditariknya lengan Lim Han-kim sambil
bisiknya: "Saudara Lim, kita tak repot-repot turun tangan
sendiri" Dengan cepat ia mundur lima langkah dari posisi
semula.
Sungguh cepat gerakan tubuh kedua sosok bayangan
manusia itu, hanya dalam waktu singkat mereka telah
sampai di hadapan beberapa orang itu. Tatkala Lim Hankim
mencoba mengamati wajah para pendatang
tersebut, dengan cepat ia dibuat tertegun.
Si pendatang adalah seorang pendeta dan seorang
awam, yang pendeta tak lain adalah Ci Mia-cu, pemilik
kuil Cing-im-koan di bukit Ciong-san, sedangkan si awam
adalah pencuri sakti Nyoo cing-hong.
Ci Mia-cu memperhatikan Lim Han-kim sekejap.
kemudian serunya: "Bagus, bagus sekali, rupanya
saudara Lim juga berada di sini, kalau begitu pinto tak
usah susah-susah pergi mencarimu lagi"
"Koancu, baik-baikkah selama ini" Buru-buru Lim Hankim
menjura memberi hormat.

2963
Tidak memberi kesempatan kepada Lim Han-kim
menyelesaikan perkataannya, kembali Ci Mia-cu
meneruskan "Untuk melacak jejak saudara Lim, ibumu
serta gurumu telah datang ke kuil Cing-im-koan dan
memaksa pinto untuk serahkan dirimu kepada mereka,
ketika pinto sedang dibuat kelabakan dan kalang kabut,
untung muncul si pencuri tua yang kebetulan berkunjung
ke kuil kami. Menurut si pencuri tua, kemungkinan besar
saudara Lim berada di perkampungan keluarga Hongsan,
ia bahkan bersedia menemani pinto untuk
berkunjung kemari. Eeeh... ternyata tebakannya sangat
tepat"
Ong popo yang selama ini hanya berdiam diri di sisi
arena, tiba-tiba ikut nimbrung: "Koancu, meski kau
termasuk tamu yang sering berkunjung ke
perkampungan keluarga Hong-san, namun kau tak boleh
bertindak semaumu sendiri tanpa mengindahkan
peraturan yang berlaku di sini jangan lagi mengetuk
pintu, mengucapkan kata permisi pun tidak, hmmm
jangan kau pandang enteng reputasi keluarga Hong-san
kami"
Buru-buru ci Mia-cu memberi hormat seraya tertawa.
"Sesungguhnya pinto sudah masuk lewat lembah Bansiong-
kok. tapi berhubung lembah itu sudah ditutup
rapat oleh kepungan musuh tangguh, terpaksa
kugunakan seutas tali untuk merambat kemari lewat
dinding tebing... Maksudku sekalian memberi kabar
tentang kepungan tadi."
Berubah paras muka Ong popo setelah mendengar
laporan ini, serunya tak tahan lagi: "Kurang ajar, siapa

2964
yang begitu bernyali berani menutup jalan masuk ke
perkampungan keluarga Hong-san kami?"
"Waaah, kalau soal itu, pinto kurang jelas."
"Kalau dilihat dari dandanan mereka sih, nampaknya
sangat aneh," sambung si pencuri sakti Nyoo Cing-hong.
"Pakaian mereka berwarna-warni dan tingkah lakunya
nyentrik"
"Huuuh, cepat betul kehadiran mereka," bisik Li Tionghui
sambil melirik Lim Han-kim sekejap.
Agak gelagapan Lim Ham-kim balik bertanya: "siapa
yang kau maksud?"
"Anak buah seebun Giok-hiong"
"Aaaah... betul Anak buah seebun Giok-hiong memang
mengenakan pakaian berwarna- warni. . . "
Sambil menghentakkan tongkatnya ke tanah, Ong
popo berseru: "Nona, tolong ajaklah koancu untuk duduk
dalam ruangan, biar aku segera pergi menghadapi
mereka,"
Sambil memberi tanda pada kedelapan dayang
berbaju hijau itu, ia putar badan dan beranjak pergi dari
situ
"Tunggu sebentar, Ong popo" teriak Li Tiong-hui.
"Ada urusan apa, nona?" Ong popo menghentikan
langkahnya.
"Mereka hanya berhenti di luar lembah Ban-siong-kok
dan enggan menyerbu kemari, ini menandakan bahwa
mereka belum berniat menyerbu ke dalam lembah kita
dalam waktu singkat. . . "

2965
"Masa kita harus menunggu sampai mereka menyerbu
kemari baru melakukan perlawanan?"
"Ong popo, masalah ini menyangkut suatu persoalan
yang amat besar, apa tidak lebih baik kau rundingkan
dulu masalah ini dengan ibu sebelum keluar dari lembah
untuk bertarung melawan mereka?"
Ong popo berpikir sejenak. lalu mengangguk
"Baiklah..."
Kepada empat dayang berbaju hijau yang berada di
sisi kirinya, ia berkata lebih jauh: "Dengan
mengacungkan tabung jarum hui-hong-ciam, kalian
berjaga-jaga di mulut lembah, barang siapa berani
mencoba menerjang masuk, bunuh semua tanpa
pandang bulu"
Keempat orang dayang itu mengiakan dan beranjak
pergi dari sana. Melihat semua ini Lim Han-kim berpikir "
Kelihatannya kedudukan ong popo dalam perkampungan
keluarga Hong-san amat tinggi dan punya kekuasaan
besar. Agaknya kecuali nyonya Li, dialah orang kedua
yang pegang kekuasaan, sehingga selama nyonya Li
menutup diri, dialah yang memegang semua keputusan
final."
Mendadak teringat olehnya akan si pedang racun Pek
siang, kenapa selama ini tak nampak bayangan
tubuhnya?" Kalau dibilang ia sampai terluka oleh jarum
lebah terbang, peristiwa ini pasti merupakan suatu
kejadian yang patut disesalkan.
Baru saja dia hendak menanyakan soal ini kepada Li
Tiong-hui, mendadak terdengar dua pekikan nyaring

2966
bergema tiba. Pekikan tersebut panjang, tinggi dan
melengking, jelas bukan berasal dari suara manusia.
"Tampaknya pekikan tersebut berasal dari suara
pekikan monyet-monyet penjaga kampung..." pikir Lim
Han-kim.
Tampak rambut Ong popo yang telah beruban itu
bergetar keras meski tak dihembus angin, ia
menengadah ke atas dan tertawa nyaring:
"Ha ha ha ha... bagus, bagus sekali Tampaknya dari
empat arah delapan penjuru musuh telah menyerbu
masuk. rupanya mereka memang punya maksud
menyusahkan aku si nenek..."
Mendadak ia melejit ke udara dan bagaikan segulung
asap ringan, badannya melesat ke arah berasalnya suara
pekikan itu dengan kecepatan luar biasa.
Memandang bayangan punggung Ong popo yang
menjauh, sambil gelengkan kepalanya berulang kali Ci
Mia-cu bergumam: "Haai... meski umurnya bertambah,
sifat berangasan nya masih tetap seperti sediakala."
Terlihat bayangan manusia bergerak cepat, kawanan
dayang berpedang itu pun turut bergerak menyusul di
belakang Ong popo.
Sementara itu paras muka Li Tiong-hui telah berubah
amat serius, agaknya dia pun sudah merasakan bahwa
gelagat tidak beres. setelah termenung beberapa saat,
ujarnya: "Mari kita duduk dulu di ruang tamu"
Tanpa menanti jawaban, ia bergerak lebih dulu
meninggalkan tempat tersebut. sambil tersenyum, Nyoo

2967
Cing- hong berbisik: " Koancu, kelihatannya kita belum
terlambat"
"Aaaai, bila dilihat situasinya kini, nampaknya pinto tak
bisa cuma berpangku tangan saja."
"Tapi nona Li sudah menjadi Bu-lim bengcu, kau toh
bukan anak buahnya, Bila kau enggan turun tangan
melawan musuh, ia pasti akan menganggapmu sebagai
lawannya." Ci Mia-cu menghela napas panjang.
"Aaaai, kau tak usah memaksa aku untuk
mengucapkan janji harus membantunya. Kau tahu
bukan, meski sifatku malas dan segan berkelahi dengan
orang, tapi situasi yang kita hadapi sekarang telah
memaksaku tak bisa berpeluk tangan belaka."
Waktu itu pikiran Li Tiong-hui sedang dipenuhi pelbagi
masalah hingga meski ia mendengar semua tanya jawab
yang sedang berlangsung, namun enggan untuk
menimbrung atau menanggapi.
Tiba-tiba di ruang tamu, empat orang dayang telah
menyediakan air teh untuk tamu-tamunya .
Diam-diam Lim Han-kim mencoba mengawasi paras
muka kawanan dayang tersebut, dilihatnya wajah
mereka nampak tenang dan sedikit pun tidak
menunjukkan rasa gugup atau takut.
Tak kuasa lagi ia memuji di dalam hati, pikirnya: "Anak
buah perkampungan keluarga Hong-san memang dididik
secara ketat dan penuh disiplin, meski menghadapi
situasi gawat, mereka tak kelihatan panik apalagi
gugup,.."

2968
Dalam saat itu Li Tiong-hui telah membisikkan sesuatu
ke telinga seorang dayang yang berada di-sisinya,
nampak dayang tersebut segera berlalu dari situ dengan
langkah cepat.
Selang berapa saat kemudian tampak delapan orang
dayang bersenjata lengkap muncul dalam ruang tamu
itu.
Setelah munculnya kedelapan dayang bersenjata itu,
Li Tiong-hui baru bangkit berdiri sambil katanya: "Silakan
saudara sekalian duduk sejenak di sini, sedang aku
hendak menengok sekejap keluar lembah, ingin tahu
jagoan dari mana yang berani mengacau di sini"
"Aku bersedia menemanimu" sambung Lim Han-kim
cepat
"Kalau begitu, silakan"
"Bagaimana kalau aku juga menemani Bengcu untuk
periksa keadaan di luar lembah?" Nyoo Cing-hong ikut
menawarkan diri seraya bangkit berdiri.
"Jangan, kalian baru saja datang dari tempat jauh dan
badan tentu sudah lelah, lebih baik istirahat dulu di sini"
"Biarpun harus korbankan jiwa, aku bersedia
melakukannya," desak Nyoo Cing- hong.
Ketika coba berpaling, dilihatnya Ci Mia-cu sedang
menikmati air teh dengan santai, terhadap pembicaraan
kedua orang tersebut dia seakan-akan tidak
mendengarnya sama sekali.
Nyoo Cing-hong tahu, ilmu silat yang dimiliki pendeta
itu sangat hebat. Apabila ia bersedia menemani

2969
perjalanan ini, sudah dapat dipastikan kehadirannya akan
merupakan seorang pembantu yang bisa diandalkan oleh
sebab itu, tak tahan serunya lagi: "Totiang"
"Ada apa?" tanya Ci Mla-cu sambil tertawa hambar.
"Sialan si hidung kerbau busuk ini" umpat Nyoo Cinghong
dalam hati kecilnya. Tadi masih berkata mau turun
tangan membantu, setelah diajak. malah pura-pura
berlagak bisu tuli, sialan amat dia.
Meski berpikir begitu, katanya juga: "Nona Li mau
periksa keadaan musuh di luar lembah "
"Bagus" kata Ci Mia-cu sambil manggut-manggut
"Cepatlah berangkat, hingga cepat pula kembali"
"Bagus" Kembali Nyoo Cing-hong mengumpat "Kau
ajak aku si pencuri tua main gila... harus kuberi pelajaran
yang setimpal untukmu"
Maka dia pun berkata lagi: "Apa totiang tak berminat
untuk ikut menengok situasi?"
"Aku rasa menunggu di sini juga sama saja..." sahut Ci
Mla-cu sembari menghirup air tehnya.
Li Tiong-hui mengerdipkan matanya yang bulat besar
berulang kali, tiba-tiba katanya: "Giok-cian memang
kelewat nakal, sekarang ia sedang disekap ibuku, Bila
bertemu ibu, nanti tolong totiang mohonkan
pengampunan baginya."
"Soal ini pinto tentu akan mengingatnya"
"Kalau begitu, mari kita berangkat" kata Li Tiong-hui
kepada Lim Han-kim, dengan cepat ia beranjak pergi dari
situ.

2970
Tak terlukiskan rasa dongkol Nyoo Cing-hong melihat
kejadian itu, sambil berjalan umpatnya: "Hidung kerbau
busuk. lihat saja nanti, kalau aku si pencuri tua tidak
mencuri habis semua hartamu, percuma aku dijuluki
orang sebagai si pencuri sakti"
Li Tiong-hui mempercepat langkahnya, bagaikan
terbang ia meluncur ke depan, dalam waktu singkat
tibalah mereka di mulut lembah.
Delapan orang dayang bersenjata lengkap menempel
ketat di belakang Li Tiong-hui, sedang Lim Han-kim serta
Nyoo Cing-hong menyusul di barisan paling belakang.
Tiba di mulut lembah. tiba-tiba Li Tiong-hui
memperlambat langkahnya, sembabi membereskan
rambutnya yang kusut, pelan-pelan ia maju ke depan
lembah.
Lebih kurang lima kaki di depan mulut lembah, berdiri
berjajar serombongan manusia yang mengenakan
pakaian warna-warni, tingkah laku mereka sangat aneh
dan kelihatan nyentrik.
Warna pakaian mereka terbagi menjadi empat jenis,
setiap warna terdiri dari lima orang, orang yang
mengenakan warna kuning emas menyoren pedang,
yang mengenakan baju putih menggembol golok. yang
berbaju abu-abu membawa ruyung lemas, sedang yang
mengenakan warna biru langit membawa senjata trisula,
Kedua puluh orang tersebut masing-masing berdiri pada
empat penjuru yang berbeda.
Dengan pandangan mata tajam Li Tiong-hui menyapu
sekejap seluruh jagoan itu, kemudian katanya: "saudaraTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
2971
saudara sekalian, siapa yang bertindak sebagai
komandan? silakan tampil keluar untuk berbicara"
"Li bengcu, ada petunjuk apa kau?" suara merdu
seseorang segera menanggapi.
Dari belakang kawanan jago bertubuh kekar itu pelanpelan
berjalan ke luar seorang gadis muda berbaju hijau
yang meng gembol pedang.
"Siapa kau?" tegur Li Tiong-hui dengan kening
berkerut.
"Budak adalah siau-cui, kehadiranku atas perintah
nona seebun," jawab gadis itu lembut.
"Di mana seebun Giok-hiong kini? suruh dia datang
kemari menjumpai aku."
"Majikan kami masih ada urusan lain, karenanya
budak diperintahkan untuk datang kemari lebih dulu."
"Apa maksud seebun Giok-hiong mengutus kau datang
kemari?" seru Li Tiong-hui sambil tertawa dingin. Kembali
siau- cui tersenyum.
"Nona menitahkan budak agar menjaga di mulut
lembah Ban-siong-kok sambil menanti petunjuknya lebih
jauh."
"Aku telah mengadakan perjanjian dengan seebun
Giok-hiong untuk menyelesaikan perselisihan kami, Kini
waktu yang dijanjikan belum tiba, kenapa dia ingkar janji
dengan mendahului mengutus kalian datang ke tempat
ini?"
"Budak hanya tahu melaksanakan perintah, urusan
lain tak berani bertanya, Mengenai janji nona kami

2972
dengan Li bengcu, budak lebih-lebih tak mengerti, jadi
tak ada gunanya nona menegur budak"
Kembali Li Tiong-hui tertawa dingin.
"Tahukah kau, apa akibatnya apabila perjanjian
tersebut rusak terlebih dulu?"
"Soal itu sih budak kurang paham."
"Kalau tidak tahu, biar kujelaskan kepadamu sekarang
juga, semua pertarungan berdarah segera akan digelar di
tempat ini"
"Sewaktu budak hendak berangkat kemari, nona telah
menyertakan dua puluh orang jagoannya yang paling
tangguh untuk menyertai perjalanan ini. Nona pun
berulang kali berpesan kepadaku, bila orang tidak
mengganggu kita, kita tak boleh mengusik orang lain,
tapi bila ada orang yang memaksa, kami dilarang untuk
mengundurkan diri dari kejadian tersebut, apalagi sampai
merusak dan mencoreng reputasi perguruan bunga
bwee"
"Bila seketika ini juga kuperintahkan untuk membantai
kalian, seebun Giok-hiong tentu akan menggunakan
kejadian itu sebagai alasan untuk membuat gara-gara,
tapi kalian pun harus tahu, tindakan kamu semua dengan
menutup mulut lembah Ban-seng-kok kami merupakan
tindakan pemaksaan yang tak bisa diterima oleh pihak
perkampungan keluarga Hong-san..."
"Jadi maksud Bengcu?" siau-cui tertawa hambar.
"Segera tarik diri dari sini, ketimbang banjir darah
keburu digelarkan di tempat ini sebelum waktu yang
dijanjikan tiba"

2973
Siau-cui menghembuskan napas panjang, ucapnya:
"Terima kasih banyak atas kebaikan hati Li bengcu,
namun sebelum menerima perintah dari nona kami,
budak betul-betul tak berani meninggalkan tempat ini,
jadi harap nona maklum"
"Kalian benar-benar enggan angkat kaki?" Berubah
hebat paras muka LiTiong-hui.
"Sampai detik ini kami semua belum pernah
menginjakkan kaki di dalam lembah Ban-siong-kok yang
merupakan wilayah kekuasaan kalian, jadi sesungguhnya
kami pun belum pernah melanggar batas daerah dari
keluarga persilatan Hong-san, jikalau Li bengcu tetap
bersikeras hendak mempergunakan kekerasan, yaa apa
boleh buat lagi... tapi budak telah mendapat petunjuk
dari nona kami, sikap budak terhadap Li bengcu harus
sopan dan tahu hormat. Budak dilarang mengusik dirimu,
namun jika nona mendesak dan memojokkan terus posisi
budak. yaaa... apa boleh buat, terpaksa akan
kupertaruhkan selembar jiwaku ini untuk berusaha
melindungi diri"
Li Tiong-hui tertawa dingin.
"Sebuah alasan yang betul-betul licik dan jahat, tak
ada bedanya sedikit pun dengan ulah seebun Giok-hiong.
sudah membawa jagoan untuk menutup lembah Bansiong-
kok kami, sekarang berdalih pula macammacam..."
"Bagaimana pun juga perkampungan keluarga Hongsan
toh punya pintu gerbang, sampai detik ini kami
semua belum pernah melangkah masuk ke dalam pintu

2974
gerbangmu, Dalam hal ini Li bengcu harus mengakui
kebenarannya, bukan?"
Li Tiong-hui mengalihkan sorot matanya
memperhatikan sekejap kawanan jago yang dipimpin
siau-cui itu, memang benar, tak seorang pun di antara
mereka yang melanggar batas wilayah keluarga Hongsan.
Melihat hal ini, diam-diam pikirnya: "Budak ini selain
licik dan pandai berdebat, lagi pula teliti dan cermat, ia
terhitung manusia yang tak gampang dihadapi..."
Berpikir sampai di sini, ucapnya dengan nada dingin
"Apa maksud seebun Giok-hiong menitahkan kau dengan
membawa kawanan jago hadir di bukit Hong-san
sebelum batas waktu yang dijanjikan?"
"Budak hanya dititahkan untuk menyambut para tamu
yang diundang nona kami untuk hadir di sini."
Li Tiong-hui menarik napas panjang dan segera
terbungkam.
Lim Han-kim tak dapat menahan diri lagi, selanya tibatiba:
"Masa seebun Giok-hiong perlu mengundang
bantuan untuk membantunya bertempur?"
Siau-cui mengerling genit ke arah Lim Han-kim, lalu
sahutnya: "Bila daya ingatku tak keliru, bukankah kau
adalah Lim Han-kim, Lim siangkong?"
"Yaa, memang aku"
Dari dalam sakunya siau-cui ambil keluar sepucuk
surat yang bersampul rapat, kemudian katanya lebih
jauh: "Menurut nona, kongcu adalah orang yang berada

2975
di luar garis dalam perselisihan ini. Kau tidak termasuk
anggota perguruan bunga bwee, juga bukan anak buah
Li bengcu, kendatipun berada di perkampungan keluarga
Hong-san namun statusmu cuma tamu, betul tidak
pendapat ini?"
Lim Han-kim termenung dan berpikir sejenak.
kemudian katanya: "Ada urusan apa kau, katakan saja
berterus terang"
"Bila ucapan budak betul, nona titip sepucuk surat
rahasia yang harus disampikan kepada siangkong, Bila
Lim siangkong sudah berpihak kepada keluarga Hongsan,
lebih baik surat ini tak usah dibaca lagi"
"Kenapa?"
"Menurut nona, bila Lim siangkong sudah menjadi
anak buah Li bengcu, tapi masih menerima surat rahasia
ini, maka siangkong akan memperoleh predikat sebagai
penghianat yang berhubungan dengan musuh"
"Betul, dia hanya berstatus tamu di sini" sela Li Tionghui
cepat.
Siau-cui segera menyodorkan surat rahasia itu sambil
berkata: "Setelah Li bengcu sendiri menegaskan status
siangkong sebagai tamu, rasanya pernyataan ini tak
bakal salah lagi"
Setelah menerima surat rahasia itu, Lim Han- kim
dapat membaca tulisan pada sampul surat itu berbunyi: "
Khusus untuk Lim Han- kim."
Lim Han- kim memandang Li Tiong-hui sekejap.
kemudian dengan suara dalam, katanya kepada siau-cui:
"Surat ini boleh segera kurobek untuk dibaca isinya?"

2976
"Menurut nona kami, meski Lim siangkong membuka
surat itu secara sembunyi pun akhirnya pasti siangkong
akan beritahu isi surat tersebut kepada Li bengcu, oleh
sebab itu kau tak perlu membukanya secara sembunyi,
kapan saja Lim siangkong ingin membaca isi surat
tersebut, setiap saat pula dapat kau lakukan."
Dengan wajah serius, Lim Han- kim membuka sampul
surat itu serta membaca isinya, tapi paras mukanya
seketika berubah hebat.
Sementara itu siau-cui dengan sepasang matanya
yang jeli mengamati terus wajah Lim Han- kim tanpa
berkedip. agaknya dia ingin membaca suara hati pemuda
tersebut dari perubahan mimik mukanya.
"Apa isi surat itu?" tanya Li Tlong-hui setengah
berbisik,
Setelah melihat kembali surat itu ke dalam sampul,
sahut Lim Han- kim pelan: "Lebih baik kita pulang dulu
sebelum nona membaca sendiri isi surat ini"
Li Tiong-hui terhitung seorang gadis yang amat cerdik,
seketika ia sadar akan kecerobohan dirinya, Bisa jadi isi
surat rahasia itu merupakan siasat busuk seebun Giokhiong,
bisa juga di balik surat itu masih tersembunyi
rencana lainnya, karena itu ia berkata kepada siau-cui.
"Sebelum matahari tenggelam hari ini, kau harus
angkat kaki dari tempat ini. Kalau sampai malam nanti
kalian masih di sini, hmmm jangan salahkan bila aku
bertindak keji"
"Akan budak ingat baik-baik nasehat ini" sahut siau-cui
seraya tertawa.

2977
BAB 40. Rahasia isi surat
Dengan wajah sedingin salju, Li Tiong-hui meng
alihkan pandangan matanya melirik sekejap seputar
tempat itu. Ketika dilihatnya seekor kupu-kupu terbang
lewat, ia segera ayunkan tangan kanannya. Tampak
cahaya perak berkelebat lewat, tahu-tahu kupu-kupu
yang sedang terbang lewat itu sudah rontok ke tanah.
Ternyata di balik baju Li Tiong-hui tersembunyi pula
sebuah tabung penyembur jarum Hui- hong- ciam.
Dari kejauhan secara lamat-lamat kelihatan tubuh
kupu-kupu itu sudah dipenuhi dengan lubang-lubang
kecil.
Dengan wajah berubah hebat, siau-cui berkata: "Tak
nyana anggota keluarga persilatan Hong-san juga
memakai senjata rahasia sebangsa Bwee-hoa-ciam."
"Keliru besar bila kau menganggap senjata itu Bweehoa-
ciam Bila dibandingkan dengan Bwee-hoa-ciam,
maka kehebatan senjata ini masih sepuluh bahkan
seratus kali lebih hebat, bukan saja dapat digunakan di
tengah kegelapan malam, kendatipun seebun Giok-hiong
datang sendiri pun, belum tentu ia mampu
menghindarkan diri"
Bekernyit sepasang alis mata siau-cui, dia seperti
hendak mengatakan sesuatu, tapi niat tersebut sebera
diurungkan kembali.

2978
Kepada kedelapan orang dayang yang berada di
belakangnya Li Tiong-hui berkata lagi: "Kalian jaga di
mulut lembah Bila sampai malam menjelang tiba nanti
mereka belum mau angkat kaki, jangan segan-segan
pergunakan jarum Hui-hong-ciam untuk hadapi mereka,
Bunuh semua orang tersebut tanpa kecuali..."
Serentak kedelapan orang dayang itu menyahut
"Budak akan laksanakan perintah"
"Tapi sebelum matahari terbenam, jangan sekali-kali
kalian usik mereka" titah Li Tiong-hui lagi.
Tanpa membuang waktu lagi, ia beranjak pergi
meninggalkan tempat tersebut.
Lim Han- kim segera menyusul di belakangnya,
sedang kedelapan orang dayang itu turut pula
mengundurkan diri masuk ke dalam lembah.
Memandang bayangan punggung Lim Han- kim yang
menjauh, siau-cui mendengus dingin, lalu sambil
menengadah ia termenung sambil berpikir.
Kehebatan, kekejian serta keganasan jarum Hui-hongciam
sudah terbukti di depan mata. siau-cui sadar bahwa
kemampuannya tak akan mampu membendung ancaman
tadi, namun dia pun tak rela angkat kaki begitu saja
sehingga untuk sementara waktu ia jadi bimbang dan tak
tahu apa yang mesti diperbuatnya.
Pada saat itu Lim Han- kim yang menyusul di belakang
Li Tiong-hui segera percepat langkahnya begitu sudah
masuk ke dalam lembah, katanya cemas: "Nona Li,
mungkinkah siau-cui akan menarik diri sebelum batas
waktunya berakhir?"

2979
"Aku percaya dia tak akan membandel terus, justru
yang membuatku tak habis mengerti adalah sebab
musabab kehadiran mereka di sini."
"Benarkah di dalam lembah Ban-siong-kok ini terdapat
sebuah mata air yang besar?"
"Kenapa?"
"Seebun Giok-hiong menyinggung masalah itu..."
"Apa dia ingin menggali sumber mata air tersebut
untuk menenggelamkan perkampungan keluarga Hongsan
kami?"
"Di dalam suratnya ia berkata, apabila sumber mata
air itu tergali, maka seluruh lembah Ban-siong-kok akan
tenggelam oleh air bah, tapi orang yang berniat menggali
sumber mata air itu bukan dia."
"Kalau bukan dia, lantas siapa?"
"Soal itu tak disinggung dalam suratnya, tapi ia bilang
bila nona tidak mengetahui dengan jelas masalah sumber
mata air itu, dianjurkan untuk bertanya kepada nyonya,
Katanya, ibumu pasti mengetahui dengan jelas."
"Boleh kubaca ini suratnya?" pinta Li Tiong-hui
kemudian
Dari dalam sakunya Lim Han-kim mengambil keluar
surat itu, katanya kemudian sambil menghela napas.
"Dalam suratnya, ia masih menyinggung banyak
masalah yang tak ada sangkut pautnya dengan masalah
ini. Dia tentu sedang ngaco belo, harap nona tidak
mempercayainya" sambil berkata ia sodorkan surat itu ke
tangan Li Tiong-hui. setelah menerima surat itu, Li TiongTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
2980
hui pun membaca isinya: "Ditujukan untuk Lim Han-kim,
Lim siangkong:
"Aku dengar di dalam keluarga Hong-san tersimpan
aneka macam obat-obatan yang mustajab dan tak
ternilai harganya, Di samping itu nyonya Li sendiri
sebagai seorang tokoh sakti dalam dunia persilatan,
bukan cuma ilmu silatnya yang tinggi, bahkan ilmu
pengobatannya juga luar biasa, jauh mengungguli
kemampuanku. Aku percaya kesehatan siangkong pasti
telah pulih kembali seperti sediakala, untuk itu aku
mengucapkan selamat kepadamu"
Membaca sampai di sini, sambil tertawa hambar Li
Tiong-hui berkata: "Tampaknya ia sangat memperhatikan
dirimu" ia lalu membaca lebih jauh.
"Aku dengar di masa lalu nyonya Li pernah patah hati,
Walau peristiwa itu sudah lewat belasan tahun, namun
luka-luka hatinya hingga kini belum sembuh juga
sehingga akibatnya beliau tak mau banyak campur
urusan tentang putra-putrinya. Tapi aku percaya kasih
seorang ibu terhadap anaknya tetap ada. Bila putrinya
menghadapi bencana besar, niscaya dia akan turut
membantunya."
"Perasaan hatiku kini pernah diliputi dendam dan
benci, hawa napsu membunuhku sudah muncul, bisa
kubayangkan pertarungan seru ini pasti sangat
mengerikan, Dengan kedudukannya sebagai seorang Bulim
bengcu, Li Tiong-hui pasti akan manfaatkan
kesempatan ini untuk menghimpun kekuatan segenap
jago di kolong langit agar berkumpul di keluarga Hongsan.
Dengan tindakannya itu, aku percaya lembah BanTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
2981
siong-kok segera akan berubah menjadi ladang
pembunuhan yang paling brutal sepanjang sejarah,
Mayat akan bertumpuk menggunung, darah akan
menggenangi bumi bagaikan telaga.”
Membaca sampai di sini, dengan kening berkerut Li
Tiong-hui berkata: "Kalau dibaca isi surat ini, tampaknya
seebun Giok-niong sudah bertekad untuk mengubah
pertarungan ini menjadi ladang pembunuhan yang paling
sadis."
"Coba nona baca dulu isi surat itu hingga selesai." Lim
Han-kim menganjurkan-
"Aku percaya di dalam dunia saat ini teramat sedikit
manusia yang sanggup menandingi kemampuanku. Betul
kecerdasan otak Pek si-hiang mengagumkan, tapi ilmu
silatnya amat terbatas, apalagi aku sudah menggunakan
cara yang paling hebat untuk melenyapkan kepandaian
silatnya, sekalipun di dalam keluarga Hong-san terdapat
obat-obat mestika, paling banter obat-obatan itu cuma
dapat selamatkan jiwanya dari kematian, Dengan luka
yang begitu parah, meski kubunuh Pek si hiang juga
tiada artinya sama sekali”
Membaca sampai di sini, kembali Li Tiong-hui
mendengus dingin "Hmmmm, bicara tak ada
juntrungnya, Antara kau dengan dirinya toh tak ada
dendam sakit hati, tak perlu dia membalaskan dendam
bagimu"
"Dasar perempuan," pikir Lim Han-kim dalam hati,
"Dalam suasana dan situasi seperti ini pun kau masih
punya minat untuk mempermasalahkan soal kecil."

2982
Tampaknya Li Tiong-hui segera menyadari akan
kekeliruannya, ia pun membaca surat itu lebih lanjut.
"Sebenarnya aku ingin menuruti nasehat siangkong
dengan mengundurkan diri dari keramaian dunia
persilatan dan tidak mencampuri segala urusan tetek
bengek yang ada hubungannya dengan persilatan lagi,
tapi kematian orang tuaku yang mengenaskan segera
menyulut kembali perasaan dendamku. Rasa benci ini
sulit kulupakan hingga pada akhirnya aku harus menyianyiakan
harapan siangkong."
"Satu permintaanku kepada siangkong, hanyalah
berharap kau keluar dari lingkaran masalah ini, tak usah
membantu pihakku pun tak usah membantu pihak Li
Tiong-hui, saksikan saja jalannya pertarungan ini sebagai
seorang penonton yang baik. Asal aku dapat membalas
dendam sakit hatiku ini, aku pasti akan mohon maaf di
hadapan siangkong."
Li Tiong-hui segera menghela napas panjang: "Aaaai...
ternyata rasa cintanya kepadamu sudah begitu
mendalam..."
Lim Han- kim turut menghela napas, "seebun Giokhiong
amat licik dan banyak akalnya, apalagi pikiran dan
perasaannya sudah terbalut oleh rasa dendam kesumat,
bagaimana kau boleh percaya dengan ucapannya itu?"
Li Tiong-hui tidak menanggapi lagi ucapan mana,
bacanya lebih jauh:
"Menggunakan tentara tak bisa terhindar memakai
taktik, bahkan makin licik taktik itu makin baik, Dalam
posisi saling berhadapan sebagai musuh, berlaku aturan
kalau bukan kau yang mati, akulah yang mampus.

2983
semula aku berniat hendak menggali sumber mata air
dari bukti Hong-san untuk menenggelamkan
perkampungan keluarga Hong-san. Dengan kekuatan air
bah yang meluap. aku hanya butuh waktu amat singkat
untuk melenyapkan perkampungan keluarga Hong-san
yang sudah seratus tahun termashur dalam dunia
persilatan ini.
Meski Nyonya Li memiliki kepandaian silat yang luar
biasa pun, tak nanti kekuatannya sanggup membendung
kekuatan alam berupa air bah yang datang menggulung,
Aku yakin lembah Ban-siong-kok akan berubah jadi
telaga."
"Tapi aku pun merasa bahwa tindakanku seperti ini
amat merusak tata krama, apalagi siangkongpun masih
berada di dalam keluarga Hong-san, Air bah tak mungkin
bisa memilih mangsanya, Mengingat hubungan
siangkong dengan diriku selama ini amat baik, akhirnya
kubatalkan niatku itu. Aku ambil keputusan untuk
mengajak nyonya Li berduel dengan mengandalkan ilmu
silat."
"Hmmm" Li Tiong-hui mendengus dalam-dalam.
"Rupanya ia mengurungkan niat untuk menggali sumber
mata air bukit Hong-san lantaran takut kau turut mati
tenggelam... sungguh romantis perempuan itu sungguh
bijak hatinya." Lim Han-kim kembali menghela napas
panjang.
"Nona Li, bacalah surat itu lebih lanjut, sekalipun
seebun Giok-hiong tidak bermaksud menggali sumber
mata air bukit Hong-san, tapi ada orang lain yang berniat
mencelakai keluargamu"

2984
Dengan perasaan kesal bercampur sedih, Li Tiong-hui
melirik Lim Han-kim sekejap. kemudian membaca isi
surat itu lebih jauh:
"Sekalipun aku batalkan niat keji itu, namun banyak
umat persilatan di dunia ini yang berhati lebih kejam
dariku, Menurut informasi rahasia yang berhasil kuterima,
agaknya ada orang lain yang berencana hendak
memanfaatkan situasi serba kacau ini untuk menggali
sumber mata air bukit Hong-san dan menenggelamkan
perkampungan itu."
"Setelah kuselidiki kasus ini lebih mendalam, ternyata
maksud "orang itu pertama, ingin memfitnah diriku
dengan kejadian tersebut, Kedua, orang itu pasti punya
dendam kesumat yang amat mendalam dengan pihak
keluarga Hong-san sehingga dia ingin manfaatkan situasi
serba kacau ini untuk membalas sakit hatinya. orang
bilang, dengan sekali timpuk memperoleh dua ekor
burung, Harap siangkong sampaikan berita ini kepada
nona Li Tiong-hui hingga kejadian yang menyesalkan
bisa dihindari "
"Dengan pemberitahuan siangkong ini, tak bisa
disangkal kau telah selamatkan beratus lembar jiwa
anggota keluarga Hong-san, siangkong pun bisa
membalas budi pertolongan mereka yang telah
selamatkan jiwamu, Dengan impasnya hutang piutang
ini, maka siangkong pun bisa cuci tangan atas masalah
tersebut."
" Hanya kata-kata itu saja yang bisa kupersembahkan
kepada siangkong diiringi tetesan air mata."

2985
Di bawahnya tercantum: salam dari seebun Giokhiong.
Selesai membaca surat tersebut, dengan kening
berkerut Li Tiong-hui kembalikan surat itu ke tangan Lim
Han-kimi katanya: "Apakah kau hendak menuruti
nasehatnya dan meninggalkan keluarga Hong-san kami?"
"Urusan ini tidak mendesak. lebih baik kita
kesampingkan dulu, Yang paling penting kini adalah
mencari tahu siapa gerangan yang berniat merusak
sumber mata air bukit Hong-san, Nona, tahukah kau
letak sumber mata air itu?"
"Rasanya aku pernah mendengar ibu berbicara soal
ini, Tapi aku sendiri kurang tahu di mana letak sumber
mata air itu Aku rasa sebelum peroleh persetujuan dari
ibu, aku tak berani mengambil keputusan secara
gegabah."
"Urusan ini besar sekali pengaruhnya dan tak boleh
ditunda lagi, lebih baik nona segera pergi menjumpai
nyonya."
"Baiklah" sambil menyahut Li Tiong-hui mempercepat
langkahnya melesat ke depan-
Tiba di ruang tamu, Lim Han-kim berseru: "silakan
nona pergi menjumpai hujin, sedang aku akan
menunggu di ruang tamu saja."
"Bukankah ibuku sangat baik terhadapmu?"
"Kalau soal itu sih, aku kurang tahu."
"Lim siangkong, aku rasa lebih baik lagi jika kau
bersedia mendampingi aku untuk bertemu dengan ibu,

2986
lebih baik lagi apabila surat dari seebun Giok-hiong itu
kau perlihatkan kepada ibu. Aaai... selama belasan tahun
terakhir, ibuku selalu hidup mengasingkan diri di gedung
Tay-sang-kek dan tak pernah mencampuri urusan
keduniawian lagi. Semua masalah besar maupun urusan
kecil yang berkenaan dengan keluarga Hong-san, selama
ini diurus oleh ong popo, jadi terus terang saja aku
sendiri tak begitu yakin akankah berhasil membujuk
ibuku turun tangan serta mencampuri urusan ini. Kini
seebun Giok-hiong telah menganggap ibuku sebagai
musuh tangguhnya, aku rasa bila siangkong bersedia
mendampingi diriku serta melukiskan betapa congkaknya
seebun Giok-hiong, ada kemungkinan ibuku akan
tergerak hatinya untuk ikut serta dalam masalah ini."
"Kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya tak
terkalahkan oleh apa pun, mana ada seorang ibu yang
tidak memperdulikan keselamatan jiwa putri sendiri.."
bantah Lim Han-kim. setelah berhenti sejenak. lanjutnya:
"Bila nona merasa lebih leluasa mengajakku, tentu saja
dengan senang hati akan kutemui nyonya."
"Kalau begitu, mari kita segera berangkat"
Terpaksa Lim Han-kim menyusul di belakang Li Tionghui,
mereka berangkat menuju ke gedung Tay-sang-kek.
Di depan pintu gerbang gedung Tay-sang-kek berdiri
dua orang dayang berbaju serba putih yang
menggenggam pedang, kedua orang itu segera
menghadang jalan pergi Li Tiong-hui berdua seraya
menegur.

2987
"Nyonya telah berpesan, kecuali peroleh panggilan
khusus, siapa pun dilarang memasuki gedung Tay-sangkek."
"Kurang ajar" umpat Li Tiong-hui mendongkol. "Masa
kau tidak kenal siapa aku?"
"Mana berani budak tidak mengenali diri nona," sahut
dayang berbaju putih yang ada di sebelah kiri cepatcepat.
"Nah, itulah dia, kenapa kalian masih belum mau
menyingkir?"
"Maaf nona, nyonya sudah turunkan perintahnya
sehingga sebelum peroleh persetujuan beliau, budak
berdua tak berani ambil keputusan, untuk itu harap nona
sudi memaafkan" Sembari berkata, kedua orang dayang
itu sama-sama bungkukkan badan memberi hormat.
Sepasang alis mata Li Tiong-hui semakin berkerut,
katanya lebih jauh dengan nada dingin: "Kelihatannya
nyali kalian tambah lama bertambah berani, sampai aku
pun berani dihalangi?"
Dayang di sebelah kiri itu buru-buru menarik tangan
rekannya dan bersama-sama berlutut sambil menyahut:
"Budak berdua tak berani menghalangi nona, tapi hamba
pun tak berani membangkang perintah nyonya."
"Ayoh, cepat masuk beri laporan kepada nyonya,
katakan aku ingin bertemu" bentak Li Tiong-hui marah.
"Nyonya sudah berpesan, hamba berdua benar-benar
tak berani menerobos masuk." kata dayang di sebelah
kanan cepat,

2988
Sedang dayang di sebelah kiri buru-buru
menambahkan: "Bila nona bersikeras hendak masuk ke
dalam gedung Tay-sang-kek. silakan bunuh dulu budak
berdua."
Li Tiong-hui tertawa dingin.
"Hmmm, kau anggap aku tak berani membunuh
kalian?"
Kedua orang dayang itu tundukkan kepalanya sambil
melelehkan air mata, ia menyahut lirih.
"Budak berdua terpaksa harus membangkang perintah
nona, harap nona mau memaklumi keadaan kami. Tapi
bila nona bersikeras hendak menghukum mati budak
berdua, silakan saja beri perintah, Tanpa nona harus
turun tangan sendiri, budak berdua sanggup menghabisi
nyawa kami."
Menyaksikan keadaan itu Lim Han-kim menghela
napas panjang, katanya: "Nona Li, kau tak boleh
salahkan mereka berdua."
Pada saat itulah dari dalam gedung Tay-sang-kek.
tiba-tiba berkumandang suara teguran yang dingin dan
kaku: "siapa di situ?"
Li Tiong-hui segera mengenali suara teguran itu
berasal dari suara ibunya, buru-buru dia menyahut.
"Anak Hui yang berada di sini."
Pintu gerbang yang semula tertutup rapat segera
terbentang lebar, nyonya Li dengan mengenakan pakaian
berwarna putih dan berwajah dingin bagaikan es telah
berdiri kaku di muka pintu.

2989
Cepat-cepat Li Tiong-hui jatuhkan diri berlutut seraya
berseru: "Ananda ada urusan penting ingin berjumpa
dengan ibu".
Nyonya Li tertawa hambar. "Aku lihat nyalimu tambah
hari bertambah besar.”
"persoalan ini menyangkut mati hidupnya keluarga
Hong-san kita, jadi mau tak mau terpaksa ananda harus
nyerempet bahaya untuk bertemu dengan ibu."
Dengan sinar mata yang tajam bagaikan sembilu,
nyonya Li menatap wajah Li Tiong-hui dan Lim Han-kim
sekejap. kemudian tanyanya: "Urusan apa?"
"Lim siangkong telah menerima sepucuk surat rahasia
dari seebun Giok-hiong, dalam suratnya diberitakan
bahwa ada orang berniat membongkar sumber mata air
bukit Hong-san dengan maksud menenggelamkan
seluruh perkampungan kita."
Agak berubah paras muka nyonya Li " Hmmmmm" "
Setelah mendengar ucapan itu, serunya tertahan
"Masa ada kejadian seperti ini?"
"Yaa, justru lantaran persoalan ini maha penting dan
gawat, terpaksa ananda harus mengusik ketenangan
Ibu."
"Di mana surat itu sekarang?"
Li Tiong-hui berpaling melirik Lim Han-kim sekejap.
lalu jawabnya: "surat itu berada di tangan Lim
siangkong."
Melihat hal ini, Lim Han-kim berpikir "Kelihatannya
mau tak mau aku harus keluarkan surat itu"

2990
Dari dalam sakunya ia ambil keluar surat itu dan
disodorkan ke tangan nyonya Li sambil ujarnya: "surat itu
berada di sini, silakan locianpwee periksa." Pelan-pelan
nyonya Li menerima surat itu dan membaca isinya,
Li Tiong-hui yang secara diam-diam memperhatikan
terus perubahan wajah ibunya, dengan cepat merasa
amat gembira, begitu dilihat hawa amarah telah
menyelimuti wajah nyonya Li, pikirnya: "Bila isi surat
tersebut bisa membangkitkan amarah ibu, sudah bisa
dipastikan pertarunganku melawan seebun Giok-hiong
akan memberi keuntungan bagi posisiku."
Dengan cepat nyonya Li membaca habis isi surat itu,
kemudian sambil melipat kembali surat tersebut dan
serahkan ke tangan Lim Han-kim, katanya: "seebun Giokhiong
sudah menantang kau berduel"
Lim Han-kim tak tahu bagaimana harus memberikan
tanggapannya, terpaksa ia berlagak tidak mendengar dan
menyimpan kembali surat tersebut ke dalam saku.
"Anak Hul, bangunlah," kata nyonya Li kembali seraya
menghela napas panjang.
"Terima kasih ibu," sahut Li Tiong-hui sambil bangkit
berdiri.
"Apa yang dikatakan dalam surat itu memang benar."
nyonya Li melanjutkan kembali kata-katanya. "Di
belakang gedung Tay-sang-kek memang terdapat sebuah
sumber mata air, Apabila sumber mata air tersebut
terbongkar, bukan saja dalam waktu semalam seluruh
perkampungan keluarga Hong-san akan tenggelam,
mungkin air bah yang terjadi akan menggenangi pula
seluruh keresidenan di seputar bukit ini."

2991
"Ibu, harap kau memberi petunjuk kepada kami
bagaimana cara mencegah perbuatan keji ini, ananda
akan segera kirim orang untuk menghalanginya."
"Yang aneh adalah sumber mata air itu tersimpan
beratus-ratus kaki di bawah permukaan tanah, dari mana
seebun Giok-hiong bisa mengetahui rahasia tersebut..."
Tiba-tiba muncul seorang dayang berbaju hijau yang
berlarian mendekat sambil berseru: "Lapor nyonya, nona
Pek mohon bertemu"
Tiba-tiba saja sekilas senyuman cerah tersungging di
balik wajah nyonya Li yang dingin kaku itu, sahutnya:
"Cepat undang dia masuk kemari" Dayang berbaju hijau
itu mengiakan dan segera berlalu. Kembali nyonya Li
ulapkan tangannya seraya berkata.
"Kalian boleh pergi dulu, tentang bagaimana cara
menghadapi orang yang akan menggali sumber mata air
itu, akan kuutus orang untuk memberitahukan kepada
kalian"
Li Tiong-hui berpaling memandang Lim Han-kim
sekejap. lalu putar badan dan berlalu dari situ
Lim Han-kim berjalan mengikuti di belakang Li Tionghui,
sambil berjalan dengan perasaan keheranan
pikirnya: "Tampaknya Pek si- hiang benar-benar memiliki
kemampuan yang luar biasa, hingga nyonya Li yang
dingin kaku pun dapat menjalin hubungan yang begitu
akrab dengannya."
Sementara dia masih termenung, tampak dayang
berbaju hijau tadi sudah muncul kembali dengan langkah
tergesa-gesa. Di belakang dayang berbaju hijau itu

2992
menyusul siok-bwee dan Hiang-kiok yang menggotong
sebuah tandu.
Di atas tandu inilah Pek si-hiang membaringkan diri,
matanya terpejam rapat dan wajahnya pucat pias
bagaikan lilin.
Mendadak Li Tiong-hui memperlambat langkahnya dan
berbisik kepada Lim Han-kim: "Tampaknya aku harus
minta pertolonganmu"
"Apa yang dapat kubantu?" tanya Lim Han-kim
tertegun-
"Tampaknya ibuku menaruh kesan yang luar biasa
terhadap Pek si-hiang, seingatku belum pernah ibu
bersikap demikian terhadap orang lain jadi menurut
pendapatku, untuk bisa mengundang ibu turut serta
dalam kelompok penentang seebun Giok-hiong, aku
harus minta bantuan dari Pek si-hiang untuk mendukung
soal ini."
"Lantas apa yang bisa kubantu?"
"Tentu saja membujuk Pek si-hiang agar
membantuku"
"Rasanya... sama saja bukan bila nona sendiri yang
mengatakan kepadanya?" Li Tiong-hui tertawa getir.
"Kau bukan wanita, tentu saja tidak mengetahui
perasaan seorang wanita terhadap pria, semakin cerdik
perempuan itu, semakin gampang dia tergoda cinta, Dan
sekali wanita sudah jatuh cinta, maka sampai mati pun
rasa cintanya tak akan berubah, Yaa, dari dulu nasib
perempuan cantik memang selalu jelek, orang bilang
kecantikan mereka menarik hati banyak orang dan

2993
mudah mencari pasangan, padahal perasaan cintanya
yang tak pernah mau berubah seringkali merupakan
penyebab utama terjadinya tragedi dan kejadian sedih."
Dia seolah-olah sedang membicarakan soal Pek sihiang,
tapi seperti juga sedang menuturkan diri sendiri,
ini membuat Lim Han-kim gelagapan dan tak tahu
bagaimana harus menjawab.
Ketika mereka berdua balik ke ruang tamu, koancu
dari kuil Cing-im-koan ci Mia-cu masih duduk seorang diri
sambil menikmati air teh, sementara pencuri sakti Nyoo
cing-hong berdiri di luar ruangan sambil memandang ke
angkasa dengan pandangan kosong.
Rupanya Nyoo Cing-hong turut balik ke ruang tamu itu
ketika Li Tiong-hui dan Lim Han-kim meninggalkan mulut
lembah, Hanya saja tatkala sepasang muda mudi itu
menuju ke gedung Tay-sang-kek. pencuri tua ini
menunggu dalam ruang tamu.
Melihat kehadiran kembali Li Tiong-hui, Ci Mia-cu
angkat wajahnya memandang gadis itu sekejap. lalu
ujarnya: "Berhubung ibumu enggan terima tamu,
terpaksa pinto harus menunggu dengan sabar dalam
ruangan ini."
"Sungguh hebat iman totiang, kau mampu menahan
diri." Ci Mia-cu tertawa.
"Pinto toh tak mungkin menyerbu masuk ke dalam
gedung Tay-sang-kek, kalau bukan sabar menunggu, apa
lagi yang bisa kuperbuat?"
Pelan-pelan Li Tiong-hui duduk. katanya: "Bila dilihat
dari tekad totiang yang ingin bertemu ibuku, pasti ada

2994
masalah penting yang hendak kau sampaikan, boleh
diberitahukan kepadaku?"
Ci Mia-cu menggeleng.
"Urusan yang menyangkut generasi lalu, lebih baik
diselesaikan generasi yang lalu, meski disampaikan pada
nona, belum tentu nona akan memahami, jadi lebih baik
tak usah disinggung."
"Soal apa sih? Apa salahnya kau utarakan?"
"Nona ingin tahu?"
"Betul."
Ci Mia-cu meneguk air tehnya sambil termenung
berapa saat, kemudian sambil menggeleng katanya:
"Lebih baik jangan kukatakan"
"Kalau begitu totiang hanya membawa pesan orang
lain yang harus kau sampaikan?"
"Tak ada orang yang titip pesan kepadaku, tapi
selama hidup aku memang gemar berusaha demi orang
lain."
"Demi ibuku?"
"Selain demi ibumu, juga demi segenap umat
persilatan di kolong langit." Li Tiong-hui segera menghela
napas panjang.
"Jadi urusan ini ada hubungannya dengan si raja
pedang yang pernah termashur dulu?"
"Apa? Jadi ibumu telah memberitahukan soal ini
kepadamu?" Ci Mia-cu kelihatan agak terperangah.

2995
"Tidak, tapi aku pernah mendengar orang lain
membicarakannya."
Ci Mia-cu segera terbungkam sambil merenung berapa
saat, sampai lama kemudian baru ia berkata: "Kalau
memang ibumu belum pernah menyinggung masalah ini,
lebih baik aku pun tutup mulut."
Mendadak terdengar suara langkah kaki manusia yang
ramai bergema tiba disusul munculnya seorang dayang
berbaju hijau yang lari masuk ke dalam ruang tamu
dengan langkah tergopoh-gopoh.
Dayang itu langsung berlari menuju ke sisi Li Tiong-hui
dan membisikkan sesuatu ke sisi telinganya.
Mendengar bisikan tersebut, paras muka Li Tiong-hui
berbuah hebat, tapi sebentar kemudian dengan lagak
setenang-tenangnya dia bangkit berdiri, membenahi
rambutnya yang kusut dan memberi tanda kepada si
dayang sambil serunya: "Aku sudah tahu, kau boleh
pergi dulu."
Dayang berbaju hijau itu membungkukkan badan
memberi hormat dan mengundurkan diri dari situ.
Menunggu hingga dayang tadi keluar dari gedung dan
tak nampak bayangan tubuhnya, baru Li Tiong-hui
berkata lagi: "Harap lotiang dan Lim siangkong
menunggu dulu dalam ruangan, aku akan pergi sejenak."
"Silakan nona," sahut Ci Mia-cu cepat.
Dengan cepat Li Tiong-hui beranjak pergi
meninggalkan ruangan tersebut.

2996
Sepeninggal nona itu, Lim Han-kim turut bangkit
berdiri dan ujarnya sembari memberi hormat kepada Ci
Mia-cu: "Totiang, ada sedikit masalah ingin kutanyakan
kepadamu, harap kau bersedia memberi jawaban."
"Itu sih tergantung masalah apa yang ingin kau
tanyakan dan tahukah aku akan jawaban nya."
"Totiang kenal dengan ibuku?"
"Tentu saja kenal." Ci Mia-cu manggut-manggut,
"Totiang juga kenal dengan nyonya Li?"
"Benar."
"Sudah lama totiang kenal dengan ibuku?"
"Tentu saja, waktu itu kongcu belum lahir." Ci Mia-cu
tertawa.
"Kalau begitu pasti totiang kenal juga dengan ayahku,
bukan?" Mendapat pertanyaan ini ci Mia-cu tertegun-
"Kalau masalah ini sih aku kurang tahu, sebab setelah
perkawinannya ibumu tak pernah bertemu aku lagi."
"Aaaai..." Lim Han-kim menghela napas panjang,
"Padahal totiang mengetahui masalah ini, hanya enggan
mengaku terus terang, bukankah begitu?"
"Bila kongcu ingin mengetahui latar belakang asalusulmu,
kenapa tidak kau tanyakan langsung kepada
ibumu?"
"lbu selalu melarang aku menyinggung masalah
tersebut"

2997
"Nah, itulah dia Kalau ibumu sendiri pun keberatan
membicarakan masalah tersebut, mana boleh
kubicarakan masalah orang lain?"
"Mungkin saja ibu memang segan menyinggung
masalah yang ada hubungannya dengan ayahku, sebagai
orang luar apa salahnya totiang membicarakan masalah
tersebut?" Cepat-cepat Ci Mia-cu gelengkan kepalanya
berulang kali.
"Maaf, sebelum mendapat persetujuan dari ibumu, aku
tak dapat membicarakan masalah tersebut..."
Sesudah termenung sambil berpikir sejenak. kembali
ia menambahkan: "Tapi ada satu hal aku dapat
memberitahukan kepadamu, paling lama akhir bulan
nanti kau pasti sudah mengetahui dengan jelas asalusulmu."
"Apa maksud ucapan lotiang ini?"
"Badai besar yang pernah melanda dunia persilatan ini
pasti ada penyelesaiannya dalam tiga bulan mendatang,
Bila badai tersebut telah mereda, secara otomatis jagojago
yang mengetahui dengan jelas asal-usul kongcu pun
akan berdatangan semua ke perkampungan keluarga
Hong-san ini. sudah barang tentu salah satu di antara
mereka ada yang bakal membongkar rahasia asal-usulmu
itu."
"Masa begitu sederhana?"
"Betapa pun sulitnya masalah yang ada di dunia ini,
asal sudah peroleh penyelesaian secara tepat, maka
segala sesuatunya akan nampak begitu gampang dan
sederhana. Kini kongcu merasa segala sesuatunya serba

2998
aneh dan misterius, hal ini lantaran kau belum
mengetahui secara jelas rahasia yang menyelimuti asalusulmu,
padahal begitu penjelasan diperoleh dan
segalanya menjadi terang, maka kau akan memperoleh
perasaan bahwa segala sesuatunya hanya begitu saja."
"Aku rasa masalah ini tak akan sesederhana apa yang
locianpwee utarakan, menurut pendapatku dalam dunia
persilatan dewasa ini tak banyak orang yang mengetahui
rahasia asal-usulku."
"Paling tidak. toh bukan cuma pinto seorang yang
tahu." Ci Mia-cu tersenyum.
Melihat hal ini Lim Han-kim pun berpikir "Melihat
kekerasan kepalanya, mungkin sulit bagiku untuk peroleh
jawaban yang memuaskan darinya, Kalau begitu aku
mesti menjebaknya dengan pembicaraan, siapa tahu aku
berhasil mengorek sedikit rahasia."
Berpikir demikian ia pun berkata: "Tampaknya bukan
kebanyakan jago lihay yang locianpwee maksudkan,
melainkan si raja pedang dari Lam-hay itu bukan?"
Benar juga, Ci Mia-cu langsung tertegun dibuatnya,
Namun bagaimana pun juga semakin tua jahe memang
makin pedas, dengan dasar pengalamannya yang
matang, ia tak sampai kalut dibuatnya.
Setelah termenung sejenak. katanya: "Tentang hal
tersebut, aku kurang begitu jelas."
Dari jawaban yang diperolehnya ini, Lim Han-kim
dapat mengambil kesimpulan bahwa pendeta tersebut
susah dipojokkan, sehingga ditanya lebih jauh pun tak

2999
ada gunanya, maka setelah menghela napas panjang dia
pun tidak banyak bicara lagi.
Dalam saat itu si pencuri sakti Nyoo Cing-hong telah
masuk ke dalam ruangan, ia bicara kepada Ci Mia-cu
dengan suara dalam:
"Kini Li bengcu sedang menghadapi masalah yang
amat besar dan pelik, kendatipun kau enggan
membantunya memukul mundur musuh-musuh tersebut,
sepantasnya bila kau pikirkan suatu cara untuk
membebaskan dirinya dari kesulitan ini."
"Kesulitan apa?" tanya Lim Han-kim sambil melompat
bangun
"Aku sendiri kurang tahu apa latar belakang
masalahnya, tapi sempat kulihat air matanya berderai
tatkala pergi meninggalkan ruang tamu tadi."
Ci Mia-cu menghela napas panjang.
"Beban yang harus ditanggung olehnya memang
kelewat berat. seorang gadis muda berusia belasan
tahun mesti memikul tanggung jawab untuk memikirkan
keselamatan segenap umat persilatan di dunia. Beban
tersebut masih harus ditambah dengan beban hancurnya
perasaan dan hatinya gara-gara cinta. Aaaai... hampir
seratus tahun lamanya keluarga Hong-santelah berbakti
demi umat persilatan, apakah Thian begitu tega dengan
memberi ganjaran kepada ibu beranak dua orang itu
hidup penuh penyesalan hanya disebabkan percintaan
yang gagal?"

3000
Lim Han-kim memahami betul apa artinya perkataan
itu walaupun tidak terlampau mendalam, ia segera
bangkit berdiri seusai mendengar perkataan itu.
"Biar kupergi lihat keadaan Li bengcu, andaikata ia
benar-benar menjumpai kesulitan, pasti akan kubantu
dirinya." seusai berkata ia segera beranjak keluar.
Ci Mia-cu menggerakkan bibirnya seperti mau
mencegah, tapi niat tersebut segera diurungkan kembali.
Keluar dari ruang tamu, Lim Han-kim saksikan suasana
di seputar tempat itu amat hening. Bayangan tubuh Li
Tiong-hui sudah tidak nampak lagi. Mendadak dari balik
sebatang pohon besar muncul seorang gadis berbaju
hijau yang menggenggam pedang, Lim Han-kim segera
berjalan menghampirinya seraya menegur. "Boleh kutahu
kemana nona Li telah pergi?"
"Kau ingin mencarinya?" tanya dayang berbaju hijau
itu setelah memandang Lim Han-kim sekejap.
"Benar."
Setelah merenung sejenak, sahut dayang tadi: "la
pergi ke arah barat"
Tidak menunggu banyak waktu lagi, Lim Han-kim
berbalik ke arah barat dan menyusul ke situ.
Setelah melalui sebuah dinding yang terdiri dari
pepohonan rapat, tibalah pemuda itu di sisi kebun bunga
yang luas, Di sisi kebun itu terbentang sebuah jalan
setapak yang beralas batuan kecil berwarna putih.
Lim Han-kim mencoba memeriksa keadaan di
sekitarnya, ia jumpai jalanan yang mengarah ke utara

3001
adalah jalan yang menuju ke gedung Tay-sang-kek,
maka dia pun menelusuri jalanan ke arah barat.
Beberapa puluh kaki kemudian, kembali jalanan itu
berbelok menuju ke arah selatan-
Baru saja Lim Han-kim melalui sebuah tikungan,
mendadak terdengar seseorang membentak nyaring.
"Berhenti"
Ketika pemuda itu angkat wajahnya, tampak seorang
perempuan setengah umur yang mengenakan celana
warna biru berjubah biru pula dengan mengangkat tinggi
toya kepala naganya telah menghadang jalan perginya.
Buru-buru Lim Han-kim menjura sambil
memperkenalkan diri: "Aku Lim Han-kim..."
"Tahukah kau tempat apakah ini? Berani amat kau
memasukinya secara sembarangan?" tukas perempuan
setengah umur itu ketus.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, aku sampai di sini
karena sedang mengejar nona Li."
"Baiklah, kau boleh berbalik sekarang"
"Berbalik?" Lim Han-kim tertegun "cian-pwee, kau
melihat ke mana nona Li pergi?"
"Kau maksudkan nona kami?"
Lim Han-kim tidak langsung menjawab, pikirnya:
"Berapa banyak saudara sih yang dimiliki keluarga Hongsan?
Kok. perlu bertanya-tanya lagi?" Meski begitu,
jawabnya juga: "Tentu saja nona kalian, nona Li Tionghui"

3002
Perempuan setengah umur itu menatap tajam anak
muda tersebut berapa saat, lalu katanya: "Walaupun aku
tahu di mana ia berada sekarang, tapi sebelum peroleh
persetujuan darinya, tak mungkin bisa kukatakan
kepadamu. Kalau memang nona tidak mengundang
kamu bertemu di sini, lebih baik kau tak usah
mencarinya"
Lim Han-kim semakin keheranan dibuat-nya, kembali
ia berpikir "Masa Li Tiong-hui menyimpan sebuah rahasia
yang tak boleh diketahui orang lain?"
Ia mencoba memperhatikan keadaan di depannya, di
situ ia temui sebuah pintu yang tertutup rapat, Di
seputar bangunan tumbuh pepohonan yang rindang dan
rapat setinggi satu kaki lebih. sehingga sulit untuk
melihat dengan jelas keadaan di dalam sana . . .
Mendadak perempuan setengah umur itu
menghentakkan tongkatnya ke tanah sembari
membentak: "Apa yang perlu kau lihat? Ayoh cepat
mundur dari sini Kalau kau membandel terus, jangan
salahkan kalau aku bertindak kurang ajar"
Dengan kening berkerut Lim Han-kim mengundurkan
diri ke belakang, pikirnya: "semua dayang yang bekerja
di perkampungan keluarga Hong-san ini rata-rata cantik
dan lemah lembut. Heran, kenapa tabiat perempuan
setengah umur ini justru kasar dan berangasan...?"
Belum lagi ia beranjak pergi darisiiu, tiba-tiba dari
belakang tubuhnya berkumandang suara teriakan Li
Tiong hui. "siangkong, silakan kemari"
Tatkala Lim Han-kim berpaling, tampak pintu yang
semula tertutup rapat itu kini sudah terbuka, Tampak Li

3003
Tiong-hui bersandar di pintu sedang mengawasi dirinya,
mukanya lesu dan murung, masih basah oleh air mata.
Kenyataan ini kontan saja membuat pemuda kita
keheranan, tapi ia tetap melangkah maju
menghampirinya.
BAB 41. Nasib jelek si Nona cantik
Meskipun perempuan setengah umur itu tidak turun
tangan menghalangi ternyata dia juga tidak menghindar
Terpaksa Lim Han-kim berjalan lewat melalui
sampingnya.
"Silakan masuk. siangkong" ucap Li Tiong-hui sambil
menyingkir ke samping memberi jalan lewat.
"Leluasakah?" Lim Han-kim agak sangsi.
"Sebetulnya kurang leluasa, cuma tidak apa-apa.
Ayoh, cepat masuk ke dalam" setelah menghela napas
panjang, Lim Han-kim pun berjalan memasuki ruangan
itu.
Setelah melalui pintu gerbang, di depannya terbentang
sebuah bangunan besar yang terbuat dari batu granit,
Bangunan itu mirip benteng, tapi juga mirip sebuah
kuburan-yang pasti bentuk bangunannya angker tapi
kokoh, sebuah terali besi yang besar dan berat tampak
tertutup rapat dan memisahkan bangunan bagian dalam
dengan bagian luar.
"Tempat apaan ini?" tanya Lim Han-kim agak
tertegunTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
3004
"Tempat menyimpan abu leluhur kami, tiga generasi
keluarga Hong-san semuanya berada di sini, di samping
tempat menyimpan barang-barang penting dari keluarga
kami."
"Aaaah, mana boleh kumasuki daerah yang begitu
penting dari perkampunganmu?" Li Tiong-hui tertawa
getir.
"Tempat ini memang merupakan daerah terlarang dari
perkampungan keluarga Hong-san. jangan lagi orang
luar, anggota keluarga Hong-san sendiri pun tak boleh
memasuki daerah ini secara sembarangan..."
Dengan perasaan terkejut bercampur cemas Lim Hankim
mundur dua langkah.
"Kalau begitu kau pun tak boleh sembarangan
memasuki daerah terlarang, lebih baik aku keluar saja..."
Mendadak air mata jatuh berderai membasahi wajah Li
Tiong-hui, setengah berbisik, ia berkata:
"Aku ingin kau pergi menjumpai seseorang."
"Siapa?"
"Boleh dibilang dia adalah suamiku, juga bisa
dikatakan sebagai sahabat karibku, terserah apa pun
penilaianmu."
"Apa? jadi nona telah berkeluarga?" seru Lim Han-kim
semakin terperanjat. Kembali Li Tiong-hui tertawa getir.
"Masih seorang diri atau sudah berkeluarga, buat aku
maupun kau sudah bukan suatu persoalan yang penting
lagi, seandainya aku belum berkeluarga kini, apa pula
yang bisa kau lakukan terhadapku?"

3005
"Soal ini... soal ini..." Lim Han-kim tertegun dan tak
mampu melanjutkan kata-katanya.
"Kau tak perlu ini itu lagi," tukas Li Tiong-hui. "Kini kau
sudah memiliki Pek si-hiang yang begitu mencintai
dirimu, ada pula seebun Giok-hiong yang bermanjamanja
denganmu, Dalam keadaan demikian, tak mungkin
aku Li Tiong-hui tebalkan muka dan ngotot ingin dikawini
dirimu pula, jadi kau tak usah khawatir." Lim Han-kim
menghela napas sedih.
"Aaaai... nona Li, kenapa kau bilang begitu? Aku Lim
Han-kim bukan manusia bangsa kurcaci, terhadap siapa
pun aku punya pandangan dan perasaan yang sama."
"Sudahlah, kita tak usah mendebatkan soal ini lagi,"
sela Li Tiong-hui sambil tertawa getir, "Mari kita masuk
ke dalam untuk menjenguk dirinya..." sambil berkata dia
melangkah maju ke depan
Lim Han-kim mengikuti di belakang gadis itu dengan
ketat, mereka memasuki sebuah ruangan yang ditata
indah, Tampak seorang pemuda berwajah pucat pias dan
berambut kusut sedang duduk termenung di situ sambil
mengawasi sebuah lukisan yang dibentang di
hadapannya.
Pelan-pelan Li Tiong-hui berjalan mendekati pemuda
itu sambil bisiknya: "Ngo-long, sehatkah tubuhmu akhirakhir
ini?"
Pelan-pelan pemuda itu meletakkan lukisan tersebut
ke meja, angkat kepala dan memandang Li Tiong-hui
sekejap. sekulum senyuman segera tersungging di ujung
bibir-nya.

3006
"Akhirnya kau datang juga..." bisiknya lirih. Li Tionghui
coba tersenyum kecil, sahutnya:
"Sesungguhnya sejak awal aku berhasrat datang
menjengukmu namun masih banyak masalah yang harus
kuselesaikan terlebih dulu hingga tak sempat pulang,
padahal akupun sering merindukan kau."
Pemuda berwajah pucat itu nampak tertegun. "Apa?
Kau merindukan aku?" Ia coba menegaskan.
"Betul, siang kubayangkan malam kuimpikan, aku
rindu sekali kepadamu sampai-sampai duduk pun
melamunkan dikau, aku dapat rasakan bahwa di antara
semua lelaki yang ada di dunia ini, hanya kau seorang
yang benar-benar mencintaiku secara tulus hati."
"Sedang mimpikah aku ini...?" gumam pemuda
berwajah pucat itu dengan wajah mendelong.
"Tidak, kau bukan lagi bermimpi, kita masih hidup di
dunia ini, pikiran kita masih segar, siapa pun tak ada
yang sedang bermimpi"
Mendadak pemuda berwajah pucat itu bertepuk
tangan sambil menari-nari. Menari sambil diiringi suara
nyanyiannya yang keras dan parau.
Wajahnya yang semula murung dan alis matanya yang
semula bekernyit terus, kini telah berubah jadi cerah,
perasaan riang, gembira dan luapan emosi yang
meledak-ledak mewarnai seluruh tingkah lakunya.
Lim Han-kim hanya berdiri melongo di sisi ruangan,
memandang tingkah polah gila dari si pemuda tersebut
dengan perasaan agak gugup bercampur gelagapan.

3007
Sekulum senyuman kini tersungging di ujung bibir Li
Tiong-hui, kendatipun begitu, titik air mata nampak jatuh
bercucuran membasahi wajahnya yang cantik,
"Nona Li" kata Lim Han-kim kemudian setelah
menghela napas panjang, "Rasa cintanya kepadamu
sudah mendekati rasa cinta dari seorang sinting yang tak
waras otaknya, garang kujumpai manusia semacam ini."
Sembari membesut air mata yang membasahi pipinya,
Li Tiong-hui mengangguk.
"Yaa... dulu, aku tak pernah ambil peduli, tapi
sekarang aku benar-benar sudah paham, betul-betul
sudah mengerti apa arti "cinta" yang sesungguhnya."
"Mengerti soal cinta?"
"Dulu, bukan saja aku tak pernah merasa bahagia atas
perhatian dan luapan cinta kasih yang diperlihatkan
dirinya kepadaku, bahkan timbul rasa muak dan benci
yang sangat mendatang Aku merasa orang itu sangat
menyebalkan Tapi kini aku baru sadar, aku baru tahu
bahwa penderitaan dan siksaan batin yang dialaminya
selama ini amat menusuk perasaan, penderitaannya
mustahil bisa dihadapi orang lain selain dia. Oleh sebab
itulah aku wajib membayar ganti rugi kepadanya, aku
harus menebus dosa-dosaku selama ini kepadanya
dengan cara mencoba mencintainya dan menyayanginya
dengan sepenuh hati."
Dengan mulut terbungkam dalam seribu basa Lim
Han-kim menundukkan kepalanya, untuk beberapa saat
ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun-setelah
menarik napas panjang, kembali Li Tiong-hui berkata:
"Saudara Lim, betul bukan perkataanku ini?"

3008
Pelan-pelan Lim Han-kim angkat wajah-nya, sahutnya
dengan wajah bersungguh-sungguh:
"Terus terang saja, kau benar-benar kagum dan
menaruh hormat kepada ketulusan cinta saudara ini,
cintanya betul-betul murni dan sejati, rasa cinta yang
muncul dari sanubarinya yang murni."
"Yaaa... tak dapat dipungkiri, semua kenyataan yang
kualami sekarang ini tak lain akibat dari nasehat serta
ajaran saudara Lim kepadaku selama ini." Li Tiong-hui
tertawa getir,
"Bukan saja aku harus berterima kasih kepadamu,
terutama saudara Ong, dia wajib mengucapkan banyak
terima kasih kepadamu, sebab berkat pelajaranmu, rasa
cintanya kepadaku baru bisa kesampaian."
"Aku yang telah memberi ajaran kepadamu?"
"Benar..."
Tiba-tiba nampak pemuda berwajah pucat itu
membalikkan badannya dan langsung menubruk ke
dalam pelukan Li Tiong-hui.
Menghadapi tindakan tak terduga yang dilakukan
pemuda tersebut, secara otomatis Li Tiong-hui
membentangkan lengannya dan balas memeluk pemuda
itu, bahkan menyandarkan pula kepalanya di dada
pemuda tadi dengan penuh rasa cinta. Tak terlukiskan
rasa gembira pemuda itu, mendadak teriaknya keraskeras:
"Thian benar-benar maha tahu dan maha pengasih,
akhirnya aku Ong Yong-jing berhasil melumerkan

3009
kebekuan hati adik Hui..." Menyusul kemudian ia tertawa
terbahak-bahak.
Saking gembiranya ia tertawa dan saking
memuncaknya luapan emosi saat itu, mendadak
napasnya jadi sesak. disusul kemudian badannya roboh
terjungkal ke atas tanah.
"Kekasih Ong..." jerit Li Tiong-hui terperanjat buruburu
ia totok jalan darah Mia-bun-hiat di punggung
pemuda itu.
Ong Yong-jing mengeluh pelan lalu menghembuskan
napas panjang, setelah itu badannya mulai menggeliat
dan tersadar kembali dari pingsannya.
Perasaan gembira, kaget, panik dan masgul
bercampur aduk menghiasi wajah Li Tiong-hui, tiba-tiba
dengan wajah serius ia totok jalan darah di tubuh ong
Yong-jing. Peristiwa ini kontan saja membuat Lim Han
kim termangu, pikirnya: "Apa-apaan ini, waaah...
perasaan wanita memang paling susah ditebak..."
Sementara itu Li Tiong-hui telah membopong tubuh
Ong Yong-jing dan dibaringkan ke atas tempat
pembaringannya, kemudian ia baru berjalan ke luar dari
balik kamar.
"Nona Li" sapa Lim Han-kim kemudian setelah
menghembuskan napas panjang, "Bagaimana keadaan
saudara Ong?"
"Bukankah kau merasa sangat keheranan dengan
kejadian ini?" tanya Li Tiong-hui setelah menyeka air
matanya.

3010
"Benar, aku memang agak tercengang dengan
peristiwa ini."
"Kau tentu heran bukan, apa sebabnya kutotok jalan
darahnya?"
"Benar, aku memang tak habis mengerti, kenapa kau
mesti menotok jalan darahnya?"
"Aku harus menunggu hingga pertarunganku melawan
seebun Giok-hiong berakhir, saat itu aku akan
mengundurkan diri sebagai Bu-lim Bengcu dan datang
menengoknya, saat itulah aku bersama dia akan
mengundurkan diri dari keramaian dunia dan tidak
mencampuri urusan keduniawian lagi."
"Oooh, rupanya begitu, nona tak perlu menerangkan
lebih jauh, aku sudah memahami maksudmu."
"Sepantasnya kuajak dirimu untuk melihat sekeliling
tempat ini, namun untuk itu aku perlu membicarakan
terlebih dulu dengan ibuku."
"Tidak usah cukup bertemu dengan saudara Ong pun
sudah membuatku merasa amat puas."
Selesai berkata ia putar badan dan beranjak pergi dari
situ.
Sambil menyusul di belakang Lim Han-kim, tiba-tiba Li
Tiong-hui berkata lagi:
"Apakah saudara Lim ingin tahu urusanku dengan
saudara Ong?"
"Bila nona bersedia menjelaskan aku siap untuk
mendengarkan"

3011
"Mendiang ayahku adalah sahabat karib ayahnya,
beliau sangat dikagumi ayahku, suatu ketika mendiang
ayahku minum arak bersama ayahnya, di kala mabuk.
ayah saudara ong menyuguhkan secawan air teh kepada
ayahku, dalam girangnya ayahkupun berjanji, bila beliau
punya putri, pasti akan dijodohkan kepada putranya..."
"Jadi hanya dasar ucapan di kala mabuk itu?"
"Yaa, bagi mendiang ayahku, ucapan tersebut tidak
bermakna apa-apa, lagipula tak pernah tercatat dalam
benaknya, siapa tahu setengah tahun kemudian ayah
saudara Ong mengirim sejumlah kado kepada ayahku,
saat itu aku baru dilahirkan tiga bulan..."
"Tajam betul pendengaran paman Ong mu itu..."
"Tentu saja ibu kaget setelah menerima kado tersebut,
ketika ditanyakan kepada ayahku, ayah pun ikut
terperanjat setelah diingat kembali, beliau baru teringat
bahwa di kala mabuk sempat mengutarakan janjinya itu."
Lim Han-kim menghela napas panjang.
"Aaaai... tak disangka empek Ong itu menanggapi
secara serius ucapan orang mabuk."
"Mendengar ayah sudah mengaku ada kejadian seperti
ini, terpaksa ibu pun cuma membungkam diri, tak nyana
ketika belum genap aku berusia satu tahun, ternyata
ayah sudah pergi mendahului diriku hingga bagaimana
wajah ayah pun aku tak sempat melihatnya,"
"Bagaimana dengan empek Ong itu..."
"Tatkala ayah meninggal, empek Ong sempat datang
melayat, ia menangis hampir tiga hari tiga malam di

3012
hadapan layon ayahku, bahkan saking sedihnya terakhir
dia pun mati di depan meja sembahyang ayah."
"Waaah... tak nyana ayahmu mempunyai seorang
sahabat sejati macam begitu..."
"Meski demikian, ibu berpendapat lain, karena ia
sudah mempunyai kesan yang kurang simpati terhadap
empek Ong, maka kematiannya di depan layon ayah
dianggapnya sebagai intrik busuk yang telah
direncanakan sebelumnya." Kembali Lim Han-kim
menghela napas.
"Kematian merupakan suatu kejadian maha besar bagi
umat manusia, ibumu kelewat banyak curiga."
"Anehnya, justru kejadian tersebut sudah terduga oleh
ibu jauh hari sebelumnya."
"Apa benar?" Lim Han-kim melengak. "Apa mungkin
kematian orang she Ong di depan layon ayahmu
merupakan suatu intrik yang telah direncanakan
sebelumnya?"
"Boleh dibilang begitu setelah terjadinya peristiwa itu,
ibu mengundang datang berapa orang tabib kenamaan
untuk melakukan otopsi, dijumpai empek Ong memang
sudah menelan pil racun yang bekerja lambat sebelum
datang ke rumah kami."
"Nah di sinilah aku kurang paham, sekalipun
kematiannya disebabkan racun bereaksi lambat, toh
kematiannya demi ayahmu, ia mati karena rasa setia
kawannya yang tinggi, mungkinkah kematian semacam
itu dianggap sebagai sebuah intrik?"

3013
Li Tiong-hui melirik Lim Han-kim sekejap. lalu
sahutnya:
"Empek Ong adalah seorang jago dalam ilmu
pertabiban, ia sadar bahwa dirinya telah mengidap
semacam penyakit aneh, sekalipun tidak mati di depan
layon ayah, usianya tak bakal melebihi tiga bulan lagi."
"Oooh, rupanya begitu..." Lim Han-kim
menghembuskan napas panjang. setelah berhenti
sejenak, terusnya:
"Kesemuanya ini hanya berdasarkan analisa atau
memang terbukti?"
"lbu sendiri yang mengisahkan hal tersebut, tentu saja
suatu kejadian yang nyata."
Cepat Lim Han-kim menggeleng. "Tapi harus diingat,
ibumu punya kesan yang kurang simpati terhadap empek
Ong itu."
" Untuk membuktikan ia tak berniat memfitnah orang
seenaknya, maka ibu telah mengawetkan jenasah ayah
serta empek Ong dengan semacam obat-obatan dengan
maksud agar di kemudian hari kami dapat ikut
melakukan penelitian"
"Kalau memang begitu tak bakal salah lagi."
"Kecerdasan ibuku luar biasa dan tiada tandingannya
di dunia ini, bahkan Pek si- hiang juga tak bakal mampu
menandinginya, cuma selama ini beliau enggan
menonjolkan kelebihannya."
Mendadak Lim Han-kim menghentikan langkahnya
sambil berkata:

3014
"Nona Li, ada beberapa patah kata entah pantas tidak
kukatakan?"
"Katakan saja, meski salah tanya juga tak apa, cuma
bila kuanggap tak pantas untuk dijawab, aku tak akan
menjawabnya."
"Baik..."
Setelah termenung sejenak, lanjutnya:
"Di saat ayahmu masih hidup, apakah hubungannya
dengan ibumu kurang harmonis?" Li Tiong-hui menarik
napas panjang.
"Watak mereka bertolak belakang, mendiang ayahku
berjiwa terbuka, gagah dan berhati ksatria, sebaliknya
ibuku lebih suka menutup diri dan selalu hidup
menyendiri, dua sifat yang bertentangan"
"Maaf, tidak sepantasnya kuajukan pertanyaan
semacam ini."
"Tidak apa-apa, toh sudah kau ajukan"
Lim Han-kim tidak berani banyak bertanya lagi, ia
percepat langkahnya meninggalkan tempat itu.
Li Tiong-hui mempercepat langkahnya dan menyusul
ke belakang Lim Han-kim, katanya lagi:
"Saudara Lim, ada satu persoalan ingin kumohonkan
kepadamu, harap kau jangan menampik,"
"Bila dapat kulakukan, tentu kulaksanakan sepenuh
tenaga."
"Kau pasti bisa melakukan"
"Baiklah, katakan"

3015
"Setelah pertarunganku melawan Seebun Giok-hiong,
aku berniat mengumumkan pengunduran diriku di
hadapan para jago dari kolong langit serta meletakkan
jabatan sebagai Bengcu, tolong pada saat itu kau
mewakili aku untuk umumkan soal perkawinanku ini
sekalian mengundang mereka agar turut menikmati arak
perkawinanku."
"Maaf nona, masalah ini merupakan masalah besar,
rasanya kedudukanku kurang cocok untuk
mengumumkan kejadian besar ini, kenapa tidak meminta
ibumu saja yang umumkan perkawinan ini?"
"Ibu tak setuju dengan perkawinan ini, otomatis beliau
enggan menyelenggarakan pesta perkawinan bagiku."
Lim Han-kim menghela napas panjang.
"Perkawinan adalah suatu kejadian besar bagi
kehidupan manusia, bila ibumu keberatan, masa kau
akan selenggarakan sendiri pesta perkawinan itu?"
"Itulah sebabnya aku minta tolong padamu untuk
umumkan perkawinanku ini ke hadapan umum, dengan
begitu meski ibu tak setuju, ia akan rikuh untuk
menghalangi perkawinanku ini."
"Kalau sampai begini, ibumu pasti akan sangat
membenciku"
"Sebenarnya aku berniat minta tolong kakakku untuk
mengumumkan perkawinan ini, tapi aku takut setelah
peristiwa ini ibu akan sangat membencinya, hubungan
kami dua bersaudara dengan ibu pada dasarnya sudah
dingin dan jauh, bila sampai begitu pasti hubungan itu
akan merosot hingga ke titik beku, kalau sampai begitu,
selama hidup kami tak punya harapan untuk berbaikan

3016
lagi, beda dengan dirimu, kau adalah orang luar,
tingkatanmu juga lebih muda, meski ibu membencimu,
rasanya beliau tak sampai akan membalas dendam
kepadamu."
Lim Han-kim menghela napas panjang, "sekalipun
begitu, bagaimana kehidupanmu selanjutnya dengan
ibumu?"
"Anak perempuan yang sudah menikah ibarat air
dalam baskom yang telah dibuang, setelah perkawinan
kami, andai tak bisa bertemu dengan ibu lagi pun tak
menjadi masalah, aku bisa mengajak suamiku pergi
tinggalkan perkampungan bukit Hong-san dan tak pulang
kemari lagi untuk selamanya, dunia begini luas, masa tak
ada tempat lain bagiku untuk berteduh?"
Lim Han-kim termenung sambil berpikir sejenak.
kemudian ucapnya: "Masih ada satu hal lagi kurang
kupahami."
"Tanyakan saja, asal kuketahui pasti akan kujawab."
"Mengapa Ong Yong-kim dipenjara di dalam benteng
batu?"
"Bukan dipenjara tapi atas keinginannya sendiri untuk
berdiam di situ, setelah datang untuk bersembahyang di
depan makam ayah-nya, ia menolak untuk meninggalkan
benteng batu itu kecuali aku bersedia menerima
perkawinan dengannya."
"Sudah berapa lama ia berdiam di sana?"
"Lebih kurang tiga tahun lebih, tiga tahun berselang
ketika ia datang untuk bersembahyang di depan makam
ayahnya, sekalian ia singgung soal perkawinan kami tapi

3017
permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh ibuku, sejak
itulah dia menolak untuk meninggalkan benteng
tersebut."
"Aaai... orang ini betul-betul terbuai oleh cinta buta,"
keluh Lim Han-kim sambil menghela napas.
Sebetulnya dia mau bilang bahwa orang ini tebal
muka, tapi kata-kata yang sudah sampai di depan mulut
segera ditelannya kembali
"Kala itu, aku pun tak menaruh perhatian atas
kejadian tersebut, maka dia pun berdiam di situ selama
bertahun-tahun, tiap kali kami datang untuk
bersembahyang, dia hanya menengok dari kejauhan
dengan termangu-mangu, aaai... dalam setahun dia
hanya sempat menengokku sekali, itu pun hanya
berlangsung dalam waktu singkat, namun ia menanti
terus di situ dengan sabar, menanti hanya untuk
menengokku dalam sekejap."
Tiba-tiba Lim Han-kim busungkan dadanya seraya
berseru: "Baik, kukabulkan permintaanmu itu."
Sekulum perubahan wajah yang aneh segera
menghiasi wajah Li Tiong-hui, tak dapat dibayangkan
perubahan itu berupa senyuman atau tangisan, juga tak
bisa dibedakan apakah ia gembira atau murung, hanya
sahutnya pelan: "Kalau begitu aku harus berterima kasih
kepadamu."
"Menjodohkan perkawinan seseorang merupakan
kejadian yang patut digembirakan, nona tak perlu
sungkan denganku."

3018
Tatkala tiba di depan ruang tamu, tampak Ci Mia-cu
masih duduk termangu-mangu di tengah ruangan.
Si pencuri sakti Nyoo Cing-hong berdiri di muka pintu
sambil memandang langit dengan termangu.
Li Tiong-hui melirik Lim Han- kim sekejap. kemudian
ujarnya:
"Saudara Lim, kini sudah tak ada urusan lagi, kau
boleh pulang untuk beristirahat. Menurut dugaanku,
dalam berapa hari ini seebun Giok-hiong pasti akan
menyusul kemari, jadi saudara Lim patut menyimpan
tenaga secara baik-baik." Mendengar ucapan tersebut,
pemuda kita berpikir.
"Dia sengaja menyuruhku pergi tinggalkan tempat ini,
agaknya ada urusan penting hendak ia bicarakan dengan
Ci Mia-cu . . ." Maka dia pun berkata: "Kalau begitu aku
mohon diri lebih dulu." Kemudian sambil balik badan, ia
pun memberi hormat kepada Ci Mia-cu.
Seraya balas memberi hormat kata Ci Mia-cu:
"Besok tengah hari aku akan tinggalkan tempat ini,
sebelum pergi, aku berharap bisa berjumpa lagi
denganmu."
"Baik, akupun ada urusan hendak dibicarakan dengan
totiang, besok tengah hari aku pasti akan kemari untuk
bertemu denganmu."
"Pasti kutunggu kehadiranmu." Lim Han-kimpun
beranjak pergi dari situ.

3019
Selama ini dia sangat menguatirkan keselamatan Pek
si hiang, maka dia langsung menuju ke kamar gadis
tersebut,
Waktu itu Phang Thian-hua sedang duduk berhadapan
dengan si pedang racun Pek siang suami istri, tampaknya
ada suatu urusan besar yang sedang dibicarakan.
Melihat kehadiran anak muda tersebut, buru-buru
Phang Thian-hua bangkit berdiri seraya berkata:
"Kebetulan sekali kedatanganmu saudara Lim, kami
sedang sangsi untuk memutuskan suatu masalah besar."
"Masalah apa?" tanya Lim Han-kim dengan kening
berkerut
"Nona Li adalah Bu-lim Bengcu saat ini, tapi selama
berada dalam perkampungan keluarga Hong-san,
tampaknya gerak geriknya terbelenggu dan kurang
leluasa, ini sangat menghambat sepak terjangnya."
"Dia masih mempunyai seorang ibu, tentu saja segala
urusan tak bisa dia putuskan sendiri"
Pedang racun Pek siang menyela:
"Nyonya Li telah selamatkan jiwa putriku, bagaimana
pun juga aku harus sumbangkan tenagaku demi
kepentingannya..." setelah menghembuskan napas
panjang, lanjutnya:
"Menurut hasil pengamatanku situasi perkampungan
keluarga Hong-san saat ini amat gawat dan berbahaya,
sudah banyak jagoan tangguh yang menyusup kemari."
"Apakah nona Li sudah mengetahui urusan ini?" tanya
Lim Han-kim.

3020
"Di antara jago-jago tangguh itu ada seorang di
antaranya punya hubungan yang sangat akrab
denganku, sebetulnya aku enggan banyak bicara, tapi
mengingat nyonya Li telah selamatkan jiwa putriku,
rasanya tak tega aku membungkam terus."
"Oooh, kau maksudkan Thian-hok sangjin?"
"Betul"
"Selain Thian-hok sangjin, masih ada siapa lagi?"
"Masih ada dua orang lagi, sayang aku tak sempat
melihat bentuk wajahnya secara jelas, namun ditinjau
dari ilmu meringankan tubuh yang dimiliki, sudah dapat
disimpulkan mereka adalah jago-jago tangguh berilmu
tinggi."
"Kalau begitu mereka pasti si penggali sumber mata
air itu."
"Mata air apa?"
Lim Han-kim sadar bahwa ia sudah salah bicara, untuk
menarik kembali jelas tak mungkin maka katanya lebih
lanjut:
"Dalam wilayah perkampungan keluarga Hong-san ini
konon terdapat sebuah mata air yang mengalir di bawah
perut bumi, ada orang berniat merusak mata air tersebut
agar seluruh perkampungan ini tenggelam disapu air
bah."
"Haaah, ada kejadian begini?" pedang racun Pek siang
tersentak kaget.
"Berita ini kudengar dengan mata kepala sendiri, pasti
betul."

3021
"Kalau benar-benar begitu, aku tak boleh bertepuk
tangan saja."
Tiba-tiba gadis naga berbaju hitam menimbrung:
"Aku rasa, kendatipun Thian-hok sangjin dipaksa oleh
keadaan, mustahil ia bersedia melakukan tindakan
terkutuk semacam itu, pasti rombongan lain yang berniat
berbuat begitu."
"Betul," sambung Pek siang pula "Tapi sayang wilayah
lembah Ban-siong-kok ini luas sekali, sedang kita pun tak
tahu dimana letak mata air tersebut, bagaimara cara kita
untuk mengamankan daerah itu?"
Sembari berbicara, sorot matanya dialihkan ke wajah
Lim Han-kim. Lim Han-kim tidak langsung menjawab,
pikirnya:
"Biarpun tahu orangnya, tahu wajahnya, aku belum
tahu bagaimana isi hatinya, betul dia adalah ayah Pek sihiang,
tapi aku tak boleh bertindak gegabah dengan
menunjukkan letak mata air tersebut, siapa tahu dia pun
bermaksud sesuatu."
Berpikir sampai di situ, buru-buru dia alihkan
pembicaraan ke soal lain, tanyanya sambil menengok
Phang Thian-hua: "Phang cengcu, bagaimana keadaan
nona Pek?"
"Masalah ini sulit untuk kujawab secara pasti,
kecerdasan nyoya Li tiada taranya, beliau pun tidak
membicarakan hasil pengamatannya atas penyakit yang
diderita nona Pek. karena itu aku cuma bisa bilang
bahwa mati hidupnya nona Pek tergantung hasil
pengobatan dari nyonya Li pribadi..."

3022
Dalam pada itu Pek siang sudah naik darah, ia merasa
dicemooh oleh sikap Lim Han-kim yang berusaha
merahasiakan hal tersebut kepadanya, mencorong sinar
buas dari balik matanya, hawa membunuh pun mulai
menyelimuti seluruh wajahnya. Gadis naga berbaju hitam
cukup mengenal watak suaminya ini, buru-buru serunya:
"suamiku, jangan bertindak gegabah"
Pek siang menghela napas panjang, meski amarahnya
tak sampai meledak namun bukan berarti rasa gusarnya
telah mereda, hardiknya keras. "Lim Han-kim"
"Ada apa locianpwee?" Lim Han-kim membalik badan.
"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan,
konon hubunganmu dengan putriku sangat akrab,
benarkah begitu?" Lim Han-kim agak tertegun, buru-buru
jawabnya: "Boleh dibilang begitu, aku memang cocok
sekali dengan putri Anda."
"Mulai detik ini aku melarang kau berhubungan lagi
dengan putriku"
"Hubunganku dengan nona Pek hanya sekedar teman
biasa, aku sangat menaruh hormat kepadanya."
"Antara lelaki dan wanita ada batasnya, aku adalah
ayahnya, aku berhak memutuskan segala sesuatu
baginya, Awas Bila di kemudian hari aku masih melihat
kau berhubungan dengan putriku, hmmm jangan
salahkan bila aku bersikap keji kepadamu."
Setelah termangu sesaat Lim Han-kim mengangguk
"Baik Pesan locianpwee akan kuingat selalu."
"Antara kau dengan aku tak punya hubungan apa-apa.
kau tak usah memanggilku Locianpwee"

3023
Setelah beberapa kali terbentur batunya, untuk sesaat
Lim Han-kim jadi gelagapan sendiri, akhirnya setelah
melirik Phang Thian-hua sekejap. ia pun balik badan
beranjak pergi.
Baru berjalan berapa langkah, tampak Pek si-hiang
dibimbing oleh siok-bwee dan Hiang-kiok muncul dari
balik ruangan. Hiang-kiok segera berseru begitu melihat
anak muda itu:
"Lim siangkong, ada berita gembira untukmu, nona
kami sudah tertolong dari ancaman bahaya."
Lim Han-kim cuma tertawa getir, sambil menyingkir ke
samping, ia membungkam diri. sementara itu pedang
racun Pek siang telah berteriak keras: "Benarkah begitu?"
Belum sempat Hiang-kiok menjawab, Pek si-hiang
sudah berkata duluan:
"Hanya sudah ditemukan titik terang tentang sumber
penyakitku, apakah berhasil disembuhkan atau tidak,
masih terlalu dini untuk diduga."
Ketika pembicaraan masih berlangsung, Lim Han-kim
telah melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu.
Hiang-kiok sangat tercengang melihat kelakuan anak
muda itu, pikirnya: "Bagaimana sih orang ini, belum lagi
selesai bicara, masa sudah ngeloyor pergi?" Dasar masih
lugu dan periang, buru-buru serunya: "Hei, Lim
siangkong"
"Tidak usah dipanggil" potong Pek siang ketus. Hiangkiok
tertegun dan tak berani banyak bicara lagi.

3024
Pek si- hiang menghela napas panjang, bisiknya tibatiba:
"Bawa aku ke pembaringan"
Hiang-kiok dan siok-bwee menyahut, buru-buru
mereka bimbing Pek si-hiang naik ke atas pembaringan.
Sambil menarik selimut untuk menutupi badannya,
Pek si-hiang berkata lembut: "Ayah, kau sudah marahi
Lim Han-kim?"
"Yaa, dia sudah kumaki-maki, sudah ku-ancam mulai
hari ini tak boleh mengganggu dirimu lagi"
Mendengar perkataan itu berubah wajah Hiang-kiok,
cepat teriaknya: "Loya, Lim siangkong tak pernah
mengganggu nona..."
"Plookk . . ." Tanpa banyak bicara Pek siang
menampar mulut Hiang-kiok keras-keras, umpatnya:
"Budak sialan, siapa suruh kau banyak ngoceh"
Keras betul tempelengan itu, bukan cuma pipinya
membengkak. darah pun ikut bercucuran dari mulutnya,
dengan wajah melengak dayang itu cuma bisa berdiri
mematung dan tak berani banyak bicara lagi.
Pek si-hiang gelengkan kepalanya berulang kali,
katanya sambil tertawa hambar:
"Ayah, sepantasnya kau urusi anakmu sendiri terlebih
dulu sebelum memaki Lim siangkong, apa tidak kau
anggap tindakanmu kelewat batas?"
"Putriku pintar dan hebat, kenapa aku mesti
memakimu?"
"Tapi dia tidak jujur dan penuh dosa" sambung Pek sihiang
sambil tersenyum.

3025
"Siapa bilang putriku penuh dosa?" Berubah air muka
Pek siang.
"Lim siangkong adalah seorang pemuda jujur yang
berjiwa besar, justru akulah yang telah berusaha dengan
segala cara untuk mengusik serta mengganggunya."
Pek siang malu sekali setelah mendengar perkataan
ini, sesudah termangu sesaat ia berkata:
"Tapi... tapi rasanya putriku bukan manusia semacam
itu?"
"Aku telah mengaku sendiri secara terus terang, masa
ayah tak percaya dengan kata-kataku?" Pek si-hiang
tertawa.
"Bila aku harus percaya, lantas apa yang mesti
kulakukan?"
"Ayah mesti memberi hajaran yang setimpal kepada
putrimu."
"Bagaimana kalau kelewat berat?"
"Ayah, kau menggembel apa di balik bahumu?"
"Pedang mestika"
"Kalau begitu bunuhlah dia dengan pedangmu,
daripada anakmu harus tersiksa terus sepanjang masa
oleh gerogotan penyakit-nya."
Mendadak si pedang racun Pek siang mendongakkan
kepalanya dan tertawa keras, kemudian serunya:
"Nak, tahukah kau apa julukan bagi ayah dalam dunia
persilatan?"
"Tentu saja tahu."

3026
"Lantas apa sebutan orang persilatan untukku?"
"Si Pedang Racun"
"Nah itulah dia, nak jadi kau anggap aku tak tega
turun tangan membunuhmu?"
"Yaa, betul" sahut Pek si-hiang sambil tertawa, "Kalau
ayah tega membunuh anak sendiri, kau baru pantas
dijuluki si pedang racun."
Dengan suatu gerakan cepat Pek siang meloloskan
pedangnya, lalu ujarnya dingin: "Anggap saja aku tak
pernah mendidik dan memeliharamu sejak kecil."
Dengan rasa cemas bercampur panik siok-bwee dan
Hiang-kiok buru-buru-jatuhkan diri berlutut dan
memohon berulang kali: "Loya, ampunilah jiwa nona...
ampunilah jiwa nona"
"Tutup mulut" hardik Pek siang keras, "Di sini tak ada
urusan yang berhubungan dengan kalian berdua, jangan
banyak bicara"
Kedua orang dayang itu benar-benar tak berani bicara
lagi, dengan kepala tertunduk mereka menangis
sesenggukan.
Selama ini Phang Thian-hua hanya membungkam diri
saja, setelah melihat kejadian tersebut segera pikirnya:
"Orang persilatan berkata bahwa pedang racun Pek
siang berhati keji dan tak punya perasaan, kelihatannya
berita itu betul juga. seganas-ganasnya harimau tak akan
menyantap anak sendiri, tapi orang ini tega membunuh
putri sendiri, nampaknya aku tak boleh berpangku
tangan belaka."

3027
Dalam pada itu Pek si- hiang kembali sudah berkata:
"Ayah, silakan turun tangan segera, aku rela mati di
ujung pedang ayah sendiri ketimbang sepanjang masa
aku harus tersiksa oleh derita penyakit ini."
"Baik" bentak Pek siang dengan wajah membesi,
"Setelah membunuhmu, akan kubunuh juga Lim Han-kim
agar tubuh kalian bisa dikubur bersama dalam satu
liang." selesai bicara, pedangnya segera diayun ke bawah
untuk membabat tubuh Pek si-hiang.
"Ampuni jiwanya saudara Pek." bentakan nyaring
bergema disusul berkelebatnya sebuah tongkat untuk
membendung babatan tersebut.
Ketika mengetahui si penghadang adalah Phang
Thian-hua, dengan penuh amarah Pek siang berteriak:
"Phang Thian-hua, kenapa kau menghalangi aku?"
"Sudah setua ini aku hidup di dunia, belum pernah
kudengar ada ayah ingin membunuh anak sendiri,"
"Lalu apa urusannya dengan kau?"
"Aku tahu, nona Pek adalah anakmu yang tidak
seharusnya kucampuri urusannya, tapi situasi saat ini
berbeda sekali, sehingga aku tak bisa berpangku tangan
belaka."
"Situasi yang berbeda?"
"Yaa, situasi yang berbeda sekali, sebab nona Pek
sudah bukan milik saudara Pek seorang,"
"Tapi dla kan putriku, aku berhak mengurusi dirinya..."

3028
"Betul, aku tahu dia putrimu, tapi semua harapan
umat persilatan di dunia saat ini telah tertumpu pada
dirinya, sebab hanya dia seorang yang dapat selamatkan
semua rekan persilatan dari ancaman bahaya kematian.
sedang aku telah mendapat perintah dari Bengcu untuk
melindungi keselamatan jiwanya, jadi aku tak bisa
membiarkan Anda membunuhnya."
"Kalau aku bersikeras hendak membunuh-nya?" teriak
Pek siang penuh amarah.
"Terpaksa aku pun akan melindungi keselamatan
jiwanya dengan sepenuh tenaga."
Tanpa banyak bicara sipedang racun Pek siang
menarik senjatanya lalu dibabarkan langsung ke
pinggang Phang Thian-hua.
Buru-buru jago tua itu memutar toyanya untuk
membendung datangnya ancaman.
Pek siang memutar kembali pedangnya, dengan gerak
jurus yang aneh tapi cepat dalam waktu singkat ia sudah
lepaskan delapan buah serangan berantai
Begitu hebat dan cepatnya ancaman tersebut, mau tak
mau Phang Thian-hua harus mundur dua langkah dari
posisi semula, dengan perasaan kaget pikirnya: "Tak
nyana jurus serangan yang dimiliki orang ini begitu keji
dan menakutkan..." Buru-buru ia lepaskan tiga buah
serangan balik untuk mendesak mundur lawannya,
BAB 42 Jari Lembut Penangkal Pedang Racun

3029
Dalam waktu singkat suatu pertempuran yang dahsyat
berlangsung di tempat itu, hawa pedang yang berlapislapis
menyelimuti setiap sudut ruangan sementara
bayangan toya menari di antara lapisan tersebut.
Siok-bwee dan Hiang-kiok buru-buru membopong Pek
si-hiang bersembunyi di sudut ruangan, sebaliknya Gadis
naga berbaju hitam hanya mengawasi jalannya
pertarungan itu dengan wajah tertegun, ia tak tahu apa
yang mesti diperbuat.
Pada mulanya jurus serangan yang digunakan Pek
siang meski ganas dan menakutkan, namun jurus
tersebut bukan jurus serangan yang mematikan, tapi
selewatnya berapa gebrakan, gerak serangannya makin
ganas dan mematikan, bahkan semua ancaman tersebut
tertuju ke titik-titik kematian di tubuh Phang Thian-hua.
Sesungguhnya bagi Phang Thian-hua pribadi sama
sekali tak ada niat untuk bertarung melawan Pek siang,
dia cuma bermaksud menghalanginya membunuh Pek sihiang,
tapi setelah berhadapan dengan serangan maut
Pek siang yang mengancam keselamatan jiwanya, mau
tak mau dia harus melancarkan serangan balik dengan
sepenuh tenaga.
Di dalam ruangan yang sempit dan kecil, Pek siang
meraih posisi yang lebih menguntungkan, dengan
pedangnya yang ringan ia dapat bergerak lincah dan
cekatan dalam ruang sempit itu, berbeda sekali dengan
Phang Thian-hua, senjata toyanya panjang lagi berat,
dalam ruang sempit pun kurang leluasa untuk
dikembangkan akibatnya ia sangat dirugikan dalam posisi
tersebut.

3030
Dalam pada itu serangan yang dilancarkan Pek siang
makin lama makin bertambah ganas dan mematikan,
lambat laun Phang Thian-hua mulai keteter dan tak
sanggup mempertahankan diri.
Gadis naga berbaju hitam cukup mengenal watak
suaminya, ia sadar hawa napsu membunuh telah
menyelimuti perasaannya, jikalau Phang Thian-hua
sampai terbunuh dalam peristiwa tersebut, dapat
dipastikan urusan akan berkembang semakin runyam.
Maka secara diam-diam ia loloskan pedangnya dan siap
untuk melerai pertarungan ini.
"Berhenti" Mendadak terdengar suara bentakan
nyaring bergema memecahkan keheningan.
Begitu mendengar hardikan tersebut, buru-buru Phang
Thian-hua menarik kembali senjatanya sambil melompat
mundur
Berbeda dengan Pek siang, ia begitu bernapsu
melancarkan serangan mematikan hingga tak sempat lagi
baginya untuk mengendalikan diri, "sreeet" pedangnya
langsung menusuk ke bahu kiri Phang Thian-hua.
Di antara kilatan cahaya tajam, darah segar segera
bercucuran membasahi lantai.
Terlihat bayangan manusia berkelebat lewat, segulung
desingan angin tajam langsung menggembur
pergelangan tangan kanan Pek siang.
Menyadari datangnya ancaman tersebut, Pek siang
berusaha menghindarkan diri tapi sayang terlambat
sudah, pergelangan tangannya terasa kaku, tahu-tahu
pedangnya sudah terlepas dari genggaman.

3031
Cepat-cepat dia menoleh, tampak nyonya Li dengan
wajah sebeku salju telah berdiri kaku di muka pintu.
"Nyonya Li?" bisik Pek siang dengan wajah membesi,
pelan-pelan dia pungut pedangnya dari lantai.
"Yaa betul" jawab nyonya Li hambar
Pek siang merasa lengan kanannya masih kaku dan
kesemutan, maka dia pungut pedangnya dengan tangan
kiri, setelah itu ia baru berkata dengan suara dingin:
"Sentilan jari tangan nyonya Li sungguh hebat, hanya
dalam satu sentilan saja dapat merontokkan pedangku,
kau memang luar biasa."
Pelan-pelan nyonya Li melangkah masuk ke dalam
ruangan, katanya:
"Bila Anda berkelahi dalam perkampungan keluarga
Hong-san, sama artinya kau tidak pandang sebelah mata
terhadap kami." Pedang racun Pek siang mendengus
dingin:
"Hmmm, sudah lama kudengar nama besar
perkampungan keluarga Hong-san, beruntung sekali
bagiku bila nyonya bersedia memberi petunjuk beberapa
gebrakan kepadaku."
Nyonya Li kelihatan agak tercengang, tapi hanya
sebentar kemudian sudah pulih kembali seperti sedia
kala, tanyanya pelan: "Kau ingin bertarung melawanku?"
"Yaa, aku ingin menjajal kehebatan nyonya."
"Untuk sementara ini lengan kananmu belum bisa
digunakan untuk menggenggam pedang tiga hari
kemudian kondisimu baru akan sembuh seperti sedia

3032
kala, bagaimana kalau kita tunda sampai tiga hari
kemudian?"
"Tidak usah, dengan menggunakan tangan kiri pun
sama saja."
"Aku termasuk sahabat karib putri Anda, tidak pantas
bila kita berdua berkelahi," kata nyonya Li dengan kening
berkerut
"ltu masalah putriku sendiri, apa sangkut pautnya
dengan aku?"
"Oooh, jadi kau memaksa aku untuk bertarung?"
"Betul."
"Kalau begitu lebih baik kalian berdua suami istri turun
tangan bersama," ucap Nyonya Li setelah memandang
Gadis naga berbaju hitam sekejap.
"Tidak usah, urusan ini adalah masalah aku Pek Siang
pribadi, tak ada sangkut pautnya dengan istriku."
"Sesungguhnya sudah banyak tahun aku tak pernah
bertarung melawan orang lain, baik ilmu pedang maupun
tangan kosong, tapi kau memaksaku terus menerus,
tampaknya apa boleh buat lagi, baiklah, kamu berdua
boleh turun tangan berbareng, mungkin dengan
kekuatan kalian berdua masih bisa menerima berapa
jurus seranganku. jika kau turun tangan seorang diri, aku
kuatir tak sampai sepuluh gebrakan pun kau sudah
keok."
"Bila aku sampai mati di tangan nyonya, anggap saja
hal ini karena kebodohanku sendiri yang tak rajin melatih
diri, aku tak bakal menyalahkan siapa pun."

3033
Tidak banyak membuang waktu lagi ia getarkan
pedangnya dan langsung menusuk ulu hati nyonya Li.
Dengan wajah serius Nyonya Li tetap berdiri tegak di
posisi semula, dia menunggu sampai pedang tersebut
hampir mengenai badannya sebelum tubuhnya miring ke
samping kiri dan meloloskan diri dari ancaman tersebut
secara cekatan-
Gagal dengan serangan pertama Pek Siang tidak
segera menarik kembali senjatanya, tiba-tiba ia
mengubah posisinya, dari tusukan kini ia lepaskan
sebuah babatan miring.
Serangan ini sangat kejam dan jahat, pabila nyonya Li
tak sanggup menghindarkan diri, niscaya ia akan terluka
parah oleh serangan tersebut
Dalam pada itu Phang Thian-hua telah berusaha
membubuhi obat pada luka luarnya, ia jadi amat gusar
setelah menyaksikan serangan Pek siang yang begitu
kejam, pikirnya:
"Orang ini memang kelewat keterlaluan, kalau tidak
diberi pelajaran, ia tentu semakin sombong..."
Sementara dia masih berpikir, nyonya Li sudah
menyentilkan jari tangannya ke depan.
Jurus serangan ini kendatipun dilancarkan belakangan
ternyata sasarannya tercapai lebih duluan, secara tepat
sekali sentilan jari tangan Nyonya Li itu membentur di
atas gedang lawan.
Bagaikan terhajar suatu tenaga getaran yang maha
dahsyat, tahu-tahu senjata Pek siang itu bergetar dan
menggeliat ke arah lain.

3034
Tampaknya senjata itu seakan-akan hendak terlepas
dari genggamannya, namun Pek siang menggenggamnya
dengan sepenuh tenaga dan mempertahankannya matimatian.
Nyonya Li tertawa hambar, sekali lagi ia sentilkan
jari tangannya ke depan.
Segulung desingan angin tajam menyambar lewat dan
tepat menghajar pergelangan tangan kiri Pek siang.
Kali ini Pek siang merasa pergelangan tangannya
menjadi kaku, seluruh kekuatan tubuhnya hilang tak
berbekas, pedangnya tak sanggup digenggam lagi dan
tak ampun segera terlepas dan jatuh ke tanah.
Dengan wajah sedingin salju nyonya Li memandang
Pek siang sekejap. lalu tanyanya: "sudah mengaku
kalah?"
Kini pedang racun Pek siang sudah sadar bahwa ilmu
silatnya masih ketinggalan jauh bila dibandingkan
kepandaian lawan, di samping itu rasa kaku dan
kesemutan yang melanda sepasang pergelangan
tangannya belum hilang sama sekali, ini menyebabkan ia
tak mampu menggunakan pedang lagi untuk sesaat,
kendatipun rasa tak puas masih melanda perasaan
hatinya, namun mau tak mau dia harus mengakui juga
kekalahannya. setelah melirik Gadis naga berbaju hitam
sekejap. tegurnya dingin.
"Kau lebih butuh anakmu atau suamimu?"
Gadis naga berbaju hitam tertegun sesaat, lalu
katanya:

3035
"Masa kau tak mengingat sedikitpun hubungan darah
antara diri kalian dan meninggalkannya dengan begitu
saja?"
Pek siang semakin sewot, tukasnya:
"Kalau anak lebih kau pentingkan, jangan harapkan
suamimu lagi." selesai berkata dia putar badan dan
beranjak pergi meninggalkan tempat itu
Pelan-pelan nyonya Li melangkah masuk ke dalam
ruangan, sambil tertawa hambar katanya kepada Gadis
naga berbaju hitam: "Sepantasnya kau susul suamimu
itu"
"Aaaai, yang satu anak yang lain suami, susah bagiku
untuk mengambil keputusan"
"Biarkan saja dia pergi" sela Pek si-hiang tiba-tiba,
"lbu tetap tinggal di sini saja menemani aku."
"Betul tabiat ayahmu kasar, berangasan dan gampang
naik darah, padahal perhatian serta rasa sayangnya
kepadamu sangat mendalam, demi kau, selama tahuntahun
terakhir ini dia telah menjelajahi seluruh jagad
untuk mencari tabib kenamaan dan obat mestika bagimu,
coba kau lihat, gara-gara menguatirkan keselamatanmu
rambutnya sudah mulai beruban"
"Tapi ananda pun demi kebaikan ayah," ucap Pek sihiang
sedih,
"Yaa, aku cukup memahami rasa baktimu terhadap
orang tua."
"Watak ayah berangasan dan kasar, hanya salah
bicara saja sudah cabut pedang membunuh orang,

3036
padahal berapa hari lagi semua jago dari kolong langit
akan berkumpul di sini, kalau berbicara dari watak ayah,
tak bisa dipungkiri banyak perselisihan akan terjadi garagara
ulahnya, terhadap diriku boleh saja dia mencaci
maki semaunya, tapi apakah orang lain mau bersikap
ramah kepadanya? Coba bayangkan, bukankah sampai
waktunya justru dialah yang banyak membuat garagara?"
Gadis naga berbaju hitam menghela napas sedih:
"Aaaai... bagaimana lagi, memang begitulah watak
ayahmu, tapi selama belasan tahun aku berkumpul
dengannya, aku tak begitu merasakan bagian mana dari
ayahmu yang kurang berkenan di hati."
Tiba-tiba nyonya Li menyela:
"Kalau bukan memandang pada wajah putrimu,
jangan harap Pek siang dapat tinggalkan tempat ini
dalam keadaan selamat."
Gadis naga berbaju hitam tidak memberi komentar,
dengan mata kepala sendiri ia sudah melihat kehebatan
ilmu silat Nyonya Li, ia mengerti ilmu silat Pek siang
masih bukan apa-apanya perempuan ini, seandainya
nyonya Li bermaksud mencabut nyawanya pun, hal
tersebut bukan suatu pekerjaan yang kelewat susah.
Pek si-hiang segera meronta bangun dan menyembah
kepada nyonya Li sambil katanya: "Biarlah boanpwee
mewakili ayah untuk mohon maaf kepadamu nyonya Li."
Dengan lembut nyonya Li membangunkan Pek si-hiang,
ucapnya:
"Dalam dunia persilatan saat ini hanya kau seorang
yang bisa cocok denganku, mulai detik ini kita adalah

3037
sahabat karib, jadi kau tak perlu bersungkan-sungkan
lagi."
"Terima kasih banyak atas perhatian nyonya,"
"Beristirahatlah di sini dengan tenang, tengah malam
nanti akan kuutus orang untuk menjemputmu menuju
gedung Tay-sang-kek."
"Nyonya begitu sayang kepadaku, Pek si-hiang tak
tahu bagaimana harus membalasnya kemudian hari."
"Kau sudah kelewat banyak membalas budi itu, jadi
tak usah sungkan-sungkan lagi." Bicara sampai di sini,
dia pun putar badan dan beranjak pergi.
Sepeninggal nyonya Li, Pek si-hiang baru berpaling ke
arah Phang Thian-hua sambil bertanya:
"Parah tidak luka yang diderita locian-pwee?"
Phang Thian-hua tertawa terbahak-bahak:
"Hahahaha... lukaku tak terhitung seberapa, aku Phang
tua masih mampu menahannya."
"Aku mengerti, demi aku maka kau sengaja mengalah
kepada ayahku, budi kebaikan ini pasti akan kubayar di
kemudian hari."
"Nona Pek kelewat serius, semua umat persilatan di
dunia saat ini merasa berhutang budi kepada nona Pek.
jadi urusan sekecil itu tak perlu kau pikirkan.." sesudah
melirik Gadis naga berbaju hitam sekejap. lanjutnya:
"Tentu kalian ibu dan anak sudah lama tak bertemu
dan ingin bicara sepuasnya, aku tak akan mengganggu
lagi."

3038
Seraya berkata ia beranjak pergi. Memandang hingga
bayangan tubuh phang Thian-hua lenyap dari
pandangan, gadis naga berbaju hitam baru menghela
napas panjang:
"Aaaai... kalian anak dan ayah sungguh berbeda,
ayahmu berwatak aneh dan susah bergaul dengan siapa
pun, sebaliknya kau justru dihormati setiap orang."
"Aaaah, siapa bilang, justru mereka enggan mengusik
diriku karena aku tak lebih hanya seorang gadis lemah."
"Nak, kau selalu pintar. tahukah kau kenapa ibu tidak
pergi menyusul ayahmu?"
"Ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan kepadaku?"
"Yaa benar, kau memang sangat pintar . . ." Gadis
naga berbaju hitam manggut-manggut, kepada siokbwee
dan Hiang-kiok dia memberi tanda sambil terusnya:
"Berjaga-jagalah kamu berdua di muka pintu, siapa
saja yang mendekat segera lapor kedalam."
Siok-bwee serta Hiang-kiok menyahut dan bersamasama
keluar dari ruangan.
"lbu" Pek si-hiang menghela napas, "Ada suatu urusan
penting yang ingin kausampikan kepadaku?"
Gadis naga berbaju hitam mengangguk.
"Yaa, sudah lama kejadian ini mengganjal dalam
hatiku, rasanya kurang leluasa bila tak kuutarakan
keluar."
"Katakan saja ibu, akan kudengarkan dengan
seksama."

3039
Gadis naga berbaju hitam termenung sejenak
kemudian katanya:
"Tahukah kau nak bahwa ibumu sekarang bukan ibu
kandungmu?"
Mula-mula Pek Si-hiang agak tertegun, menyusul
kemudian sahutnya sambil tertawa hambar:
"Soal ini ananda tidak tahu, ibu selama ini sangat baik
kepadaku, aku pun selamanya menganggap ibu sebagai
ibu kandungku sendiri"
"Aku mengerti, tapi tahukah kau kenapa secara tibatiba
ibu menceritakan rahasia ini kepadamu?"
"Aku tak tahu, mohon ibu memberi petunjuk."
"Aaaai... sebetulnya ayahmu telah berpesan,
bagaimana pun kejadiannya rahasia ini tak boleh
kusampaikan kepadamu."
"Kelewat banyak masalah yang dikuatirkan ayah, aku
bisa memaklumi pabila ayah bersikap demikian.."
Ditatapnya gadis naga berbaju hitam sekejap. lalu
membungkam dan tak bicara lagi.
Mereka berdua saling berpandangan sampai lama
sekali tanpa berkata-kata, akhirnya Gadis naga berbaju
hitam yang bicara lebih dulu: "Nak, kenapa kau tak
bertanya kepadaku?"
"Bertanya apa?"
"Berita tentang ibu kandungmu?"
"lbu begitu sayang dan perhatikan diriku, aku merasa
terharu dan berterima kasih sekali."

3040
"Hari ini aku putuskan untuk membuka rahasia ini tak
lain karena aku ingin menyampaikan berita tentang jejak
ibu kandungmu itu."
Seteguh apa pun hati Pek Si-hiang, tergetar juga
hatinya sekarang, ia tertegun sesaat sambil bergumam:
"Maksud ibu . . , ibu kandungku masih hidup?"
"Betul, ia masih hidup segar bugar." setelah angkat
wajahnya sambil menarik napas panjang, Gadis naga
berbaju hitam kembali melanjutkan.
"Bila ayahmu tahu kalau aku sudah bocorkan rahasia
ini kepadamu, mungkin dia segera akan menghabisi
nyawaku" Pek si-hiang menghela napas sedih, selanya:
"Ibu, kau tahu ibu kandungku berada dimana sekarang?"
"Nak. kau harus menyanggupi sebuah permintaanku
lebih dulu sebelum ibu membuka rahasia besar ini."
"Jangankan seribu, sejuta pun pasti kusanggupi, cepat
katakan ibu"
"Sanggupi dulu permintaanku, jangan kelewat emosi,
jangan mendendam lagi dengan ayahmu."
"Baik, aku kabulkan semua permintaan itu, sekarang
katakanlah ibu"
"lbu kandungmu ada di perkampungan bukit Hongsan"
Bagaikan tersengat listrik bertegangan tinggi, Pek sihiang
tersentak sampai berdiri dari pembaringan,
serunya tertahan:
"Apa? ibu kandungku berada di perkampungan
keluarga Hong-san?"

3041
"Cukup, hanya sebatas ini yang bisa kujelaskan pada
mu sekarang, terserah ibu kandungmu mau mengenali
dirimu atau tidak. bila dia bersedia mengakui pasti semua
kejadian masa lampau akan dia beberkan kepadamu,
sebaliknya bila dia enggan mengenali dirimu lagi, biar
kau berlutut sampai matipun juga tak ada gunanya. Nah
kau harus baik-baik menjaga diri nak. aku harus pergi
sekarang."
"lbu, tunggu sebentar..." teriak Pek si-hiang gelisah.
Sambil berteriak ia melompat bangun dan berusaha
menubruk ke arah ibunya.
Sebagaimana diketahui, kondisi tubuhnya saat ini
sangat lemah, tak lama ia melompat bangun, tubuhnya
segera roboh terkulai kembali dengan lemas. Tergopohgopoh
Gadis naga berbaju hitam menyambar tubuhnya
sambil menggerutu. "Nak. kenapa kondisi tubuhmu
makin lama makin bertambah buruk?"
"lbu, kabulkan sebuah permintaanku..." bisik Pek sihiang
dengan napas tersengal-sengal.
"Maaf nak, aku tak dapat menyebut nama secara
terang-terangan, sebab hal ini menyangkut nama baik
serta reputasi seseorang, bila ibu berterus terang, bukan
cuma terhadap kau dan aku. terhadap orang lain pun tak
baik, jadi kau pasti dapat memaklumi kesulitan ibumu
sekarang, sebagai gadis yang cerdik kau tentu paham
bukan dengan maksudku?"
Air mata pelan-pelan jatuh bercucuran membasahi
wajah Pek si-hiang, agak sesenggukan bisiknya lirih:
"Nyonya Li kah ibu kandungku itu?"

3042
"Sudah kuduga, kau tentu bertanya begini padaku,
tapi sekali lagi minta maaf, ibu tak dapat
mengatakannya."
Pelan-pelan Pek si-hiang merebahkan diri, kembali
ujarnya sambil menghela napas:
"Aku mengerti, ibu punya kesulitan yang tak bisa
diutarakan, tak baik aku mendesaknya lagi, tapi
kumohon ibu bersedia mengabulkan satu permintaanku."
"Katakan"
"Tinggallah di sini dan temani aku berapa hari."
Setelah termenung sejenak Gadis naga berbaju hitam
menggeleng:
"Seharusnya aku tinggal di sini selama berapa hari
untuk menemanimu, tapi bila teringat ayahmu... aaaai,
aku takut bila tak didampingi ibu..."
"Yaa, betul juga perkataan ibu." Pek si-hiang menyela,
"Kau memang lebih pantas mendampingi ayah, dengan
watak ayah yang aneh dan berangasan, beliau memang
jarang teman, tanpa ibu dia pasti kesepian."
"Ehmmm, ayahmu memang tak punya teman"
"Masih ada satu hal lagi ingin kutanyakan pada ibu..."
"Katakan"
"Demi sakitku, ayah telah jelajahi seluruh pelosok
dunia untuk mencari tabib kenamaan dan obat mestika,
andai ibu bersedia melahirkan berapa orang adik lagi
niscaya ayah tak perlu terlalu menguatirkan diriku
seorang."

3043
"Setiap orang menuduh ayahmu sebagai seorang
manusia kejam yang tak berperikemanusiaan, buas dan
jahat, padahal siapa sih di antara mereka yang tahu
bahwa hatinya sesungguhnya telah dipenuhi luka
tusukan yang mengerikan, penderitaan yang pernah
dialaminya mungkin tak bisa ditahan oleh siapa pun."
"Aku tahu." Pek Si-hiang mengangguk. "lbu maupun
ayah memang manusia luar biasa, perasaan tersiksa,
tertekan yang kalian alami tak akan diluapkan ke luar,
tak siapa pun yang bakal mengerti keadaan kalian
berdua." Gadis naga berbaju hitam tersenyum.
"Kepedihan yang ibu tanggung selama ini sedikit pun
tidak berada di bawah penderitaan ayahmu..."
"Aku mengerti." Pek si-hiang pelan-pelan pejamkan
matanya, "lbu boleh pergi sekarang, maaf aku tak bisa
menghantar"
Gadis naga berbaju hitam menghela napas: "Baikbaiklah
jaga dirimu nak, bila aku berhasil membujuk
ayahmu agar berputar haluan, mungkin kami akan
berkunjung lagi ke perkampungan keluarga Hong-san
untuk menengok dirimu."
"Moga-moga ibu berhasil membujuk ayah "
Gadis naga berbaju hitam menghela napas panjang, ia
seperti ingin mengatakan sesuatu lagi namun akhirnya
diurungkan, tanpa berbicara lagi ia beranjak pergi
meninggalkan tempat itu.
Memandang hingga bayangan tubuh ibunya lenyap
dari pandangan, Pek si-hiang baru pejamkan matanya
beristirahat.

3044
Dalam pada itu Lim Han-kim yang dihina habishabisan
oleh Pek siang segera balik ke kamar tidurnya,
setelah menutup pintu kamar ia pun berbaring sambil
melamun.
"Orang bilang keluarga perkampungan bukit Hong-san
amat termashur sepanjang ratusan tahun lamanya, aku
lihat di balik kesemuanya ini seperti menyembunyikan
suatu rahasia besar... rasanya aku perlu bergaul lebih
erat dengan anggota perkampungan ini, siapa tahu dari
mereka aku bisa mengetahui lebih banyak rahasia lagi."
Ia tak berhasil menemukan sumber dari segala
permasalahan ini, tapi secara lamat-lamat ia bisa
merasakan bahwa semua pertikaian yang sedang
berlangsung dalam dunia persilatan saat ini, agaknya tak
terlepas karenanya dengan keluarga persilatan ini...
Entah berapa waktu lewat sudah... mendadak ketukan
pintu memecahkan keheningan.
Buru-buru Lim Han-kim melompat bangun sambil
membuka pintu, tampak Li Tiong-hui melangkah masuk
dengan wajah amat.serius.
Ia angkat sedikit wajahnya menengok sekejap seluruh
ruangan, lalu katanya sambil tertawa paksa:
"Rupanya aku mengganggu ketenangan saudara Lim?"
"Aaah, tak apa-apa. urusan apa yang membuat nona
tegang."
Pelan-pelan Li Tiong-hui ambil tempat duduk. setelah
itu baru tanyanya:
"Erat tidak hubunganmu dengan Thian-hok sangjin?"

3045
"Kami hanya sempat bertemu berapa kali jadi tak bisa
dibilang erat hubungannya, tapi selama ini aku menaruh
hormat dan kagum terhadap sikap maupun ilmu
silatnya."
"Kau pernah bersua dengannya?"
Dari nada pembicaraan tersebut Lim Han-kim segera
menilai ada yang tak beres, tak tahan tanyanya:
"Ada apa? Apakah Thian-hok Sangjin telah menemui
ancaman bahaya?" Li Tiong-hui manggut-manggut.
"Lukanya cukup parah..."
"Berada dimana dia sekarang?"
"Di luar gedung Tay-sang-kek."
"Terluka di tangan ibumu?"
"Benar, dia menerjang masuk ke gedung Tay sang-kek
secara paksa, bahkan sempat melukai dua orang dayang
yang bertugas di situ, itulah sebabnya terpaksa ibu
melukainya." Lim Han-kim termenung sesaat sambil
berpikir setelah itu baru katanya:
"Rasanya dalam kolong langot dewasa ini, kecuali
ibumu sudah takada orang kedua yang mampu
melukainya." setelah berhenti sejenak kembali terusnya:
"Apakah Thian-hok sangjin yang ingin bertemu
denganku? Atau hal ini atas prakarsa nona sendiri?"
"Tentu saja atas kemauan Thian-hok sangjin, Lukanya
cukup parah, dengan andalkan sisa kekuatannya ia
mempertahankan diri, aku rasa tentu ada masalah amat
penting yang hendak disampaikan kepadamu."

3046
"Kalau begitu tolong nona hantar aku ke sana,"
"Rasanya waktu sudah tak banyak lagi, cepat ikuti
diriku." Sambil berkata ia beranjak meninggalkan
ruangan.
Dengan ketat Lim Han-kim mengikuti di belakang Li
Tiong-hui langsung menuju ke gedung Tay-sang kek.
Tiba di depan gedung Tay-sang-kek, mendadak Li
Tiong-hui menghentikan langkahnya sambil menuniuk ke
satu arah: "Itu dia, ia berada di sana"
Ketika Lim Han-kim angkat kepala, betul juga, di
bawah gerombolan pepohonan yang rindang duduklah
Thian- hok sangjin.
Buru-buru Lim Han-kim memburu ke hadapannya,
tampak Thian- hok sangjin duduk bersandar pada batang
pohon dengan mata terpejam rapat, jubahnya dipenuhi
dengan noda darah yang mulai mengering.
Dengan perasaan iba pemuda itu berbisik:
"Locianpwee"
Thian-hok sangjin membuka matanya pelan-pelan,
setelah memandang Lim Han-kim sekejap bisiknya: "Kau
telah datang..."
"Yaa, begitu tahu locianpwee terluka parah, aku
segera menyusul kemari."
"Duduklah dulu aku hendak menyampaikan sesuatu
kepadamu..."
Semburan darah segar yang meluncur ke luar dari
mulutnya memotong perkataannya yang belum selesai.

3047
"Luka dalam yang locianpwee derita sangat parah, tak
baik berbicara pada keadaan begini, rawatlah dulu
lukamu itu,"
"Luka yang kuderita sangat parah, sekalipun bisa lolos
dari kematian namun ilmu silatku bakal punah sama
sekali, mulai hari ini keadaanku ibaratnya seorang
manusia cacad."
"Tenaga dalam yang locianpwee miliki amat
sempurna, asal mau merawat luka itu dengan baik.
niscaya kekuatan saktimu bakal pulih kembali." Thianhok
sangjin tertawa getir.
"Aku bukan merasa sayang dengan ilmu silatku, justru
bila aku tak mengerti ilmu silat, tak nanti nasibku akan
berakhir setragis ini." setelah tarik napas panjang,
kembail lanjutnya:
"Aku tak menyesal seandainya harus mati di sini,
namun ada dua keinginanku yang belum sempat
terkabul, aku harus menitipkan kedua keinginanku ini
kepada seseorang, setelah kupikirkan berulang kali,
rasanya di dalam perkampungan keluarga Hong-san ini
hanya kau seorang yang bisa kutitipi pesan tersebut,
itulah sebabnya aku harus mengganggu dirimu."
"Bila totiang ingin menyampaikan sesuatu, katakan
saja segera, asal dapat kulakukan, pasti akan
kuselesaikan hingga tuntas."
"Aku tahu, titipanku ini tak akan kuserahkan
kepadamu tanpa imbalan... aku tak akan melupakan
budimu iiu."

3048
"Aku hanya berniat membantu. tidak membayangkan
peroleh imbalan apapun dari totiang."
Dari dalam sakunya Thian-hok sangjin mengeluarkan
sebuah bungkusan kantung yang terbuat dari sutra,
katanya sambil menyodorkan benda tersebut ke tangan
Lim Han-kim:
"Di dalam kantung sutra ini tersimpan semua catatan
rahasiaku selama puluhan tahun mengarungi lautan
dunia persilatan, kau harus menyimpannya baik-baik."
Setelah menyimpan kantung itu ke dalam saku,
pemuda kita baru bertanya: "Harus kuserahkan kepada
siapa kantung sutra ini?"
"Kantung itu sudah menjadi barang milikmu, di
dalamnya tercatat semua kejadian penting yang
kebanyakan kusaksikan dengan mata kepala sendiri,
meskipun ada di antaranya tidak kusaksikan sendiri,
namun sudah melalui pembuktian yang seratus persen
bisa dipercayai"
Setelah mengatur napasnya yang tersengal, bisiknya
lirih:
"Meskipun benda itu bukan benda mestika macam
buku ilmu silat, namun sifatnya jauh lebih berharga dari
benda apa pun, kau tak boleh membocorkannya ke luar,
sebab kalau tidak, bisa mengundang dagangnya bencana
kematian."
"Akan kuingat selalu di dalam hati."
"Demi membalaskan dendam bagi kematian ayahnya,
seebun Giok-hiong tak segan-segan melakukan
pembantaian secara besar-besaran, namun..."

3049
Tiba-tiba ia menghentikan pembicaraan-nya.
Setelah mengalami berbagai kejadian belakangan ini,
pengalaman Lim Han-kim sudah banyak mengalami
kemajuan, ia segera sadar akan sesuatu dan cepat-cepat
berpaling.
Betul juga, tampak nyonya Li dengan mengenakan
pakaian serba biru sedang menghampiri mereka dengan
langkah pelan.
La berjalan amat santai, seolah-olah sedang
menikmati keindahan alam dan aneka bunga, namun
ketika sudah berada dua-tiga depa di hadapan kedua
orang itu ia baru menghentikan langkahnya, dengan
sorot mata yang lebih tajam dari sembilu ditatapnya
wajah Lim Han-kim sekejap. kemudian menegur: "Mau
apa kau datang kemari?"
Ketika dilihatnya Thian-hok sangjin bersandar pada
batang pohon dengan mata terpejam rapat, seolah-olah
sudah tertidur nyenyak. terpaksa sahutnya: "Aku adalah
sobat karib Thian-hok totiang..."
"Dia mengirim orang untuk mengundangmu kemari?"
"Betul"
"Siapa yang dikirim...?" Lim Han-kim berpikir:
"Bagaimana pun Li Tiong-hui toh anaknya, masa dia
akan berbuat sesuatu terhadapnya?" Berpikir begitu,
jawabnya: "Nona Li..."
"Kurang ajar, besar benar nyali anak Hui sekarang..."
umpat nyonya Li. setelah berhenti sejenak, kembali
ujarnya:

3050
"Dia sengaja mengundangmu kemari tentu disebabkan
Suatu urusan yang amat penting, apa yang hendak ia
rundingkan denganmu?" kembali Lim Han-kim berpikir.
"Nyonya Li amat cerdik, rasanya sulit untuk
membohonginya, dan lagi membohongi dia sama artinya
mencari kesulitan bagi diri sendiri, lebih baik aku berterus
terang saja..." Karena itu sahutnya: "Rasanya memang
ada sesuatu yang penting..." Nyonya Li tertawa dingin,
tukasnya:
"Kelihatannya kau polos dan jujur, ternyata hatimu
licik busuk dan tak bisa dipercaya, kalau pingin main gila
di hadapanku sama artinya dengan mencari penyakit
buat dirimu sendiri"
"Tapi aku telah menjawab dengan sejujurnya."
"Kalau begitu bawa kemari" perintah nyonya Li sambil
ulurkan tangannya ke depan. Dalam hati kecilnya Lim
Han-kim merasa terkejut, tapi ia pura-pura berteriak:
"Apanya yang bawa kemari?"
"Barang yang diserahkan Thian-hok sangjin
kepadamu, semua perbuatanmu sudah kulihat dengan
jelas, buat apa kau berbohong?" Kembali Lim Han-kim
berpikir.
"Tampaknya isi kantung sutra yang dititipkan Thianhok
sangjin kepadaku amat penting artinya, aku tak
boleh menyia-nyiakan harapannya."
Berpikir sampai di sini, dia pun buang jauh-jauh rasa
takutnya terhadap kematian, sambil tertawa hambar ia
balik bertanya:

3051
"Apa yang telah locianpwee ketahui?" Berubah hebat
paras muka nyonya Li. hardiknya:
"Kendatipun kau adalah sahabat putriku, jangan
dianggap aku tak berani membunuhmu bila membuat
aku marah."
"Yaa, apa boleh buat meski locianpwee ingin
membunuhku, aku juga tak bisa berkata apa-apa..."
"Hmmm, maksudmu biar kubunuh dirimu juga tak
akan menemukan apa pun..?" jengek nyonya Li sambil
tertawa dingin.
"Kenyataannya aku memang tidak menyimpan apaapa"
"Kalau begitu biar aku geledah..."
"Silakan nyonya, bila tak percaya, geledah saja
sakuku"
Tiba-tiba nyonya Li berpekik keras: "Tui-im, Po-hong,
dimana kalian berdua?" Dari balik kerumunan bunga
segera melompat ke luar dua orang dayang berbaju hijau
yang segera berlarian mendekat Kembali nyonya Li
berkata hambar "Bila kau mengaku sekarang mungkin
masih ada harapan untuk hidup, tapijika barang bukti
tergeledah... Hmmmm Menyesal nanti tak ada
gunanya..."
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam pikiran Lim
Han-kim, tapi akhirnya dia mengambil keputusan,
katanya:
"Yaa apa boleh buat lagi jika locianpwee bersikeras
hendak menyuruh mereka lakukan penggeledahan.."

3052
"Periksa seluruh isi sakunya" perintah nyonya Li
kemudian sambil menoleh ke arah dayangnya.
Kedua orang dayang itu menyahut, salah seorang di
antara mereka segera menotok jalan darah cian-cing-hiat
di bahu kiri anak muda tersebut.
Dengan cepat Lim Han-kim mengelak ke samping
untuk menghindar, tegurnya:
"Nyonya..."
"Ada apa?"
"Boleh-boleh saja bila kau ingin menggeledah isi
sakuku, masa jalan darahku harus ditotok lebih dulu?"
"Memang itulah keinginanku"
"Bagi seorang lelaki, kepala boleh dipenggal, darah
boleh mengalir tapi jangan harap boleh dihina, aku tak
bisa menerima penghinaan semacam ini."
Sementara itu Tui-im dan Po-hong sudah
menghentikan tindakannya untuk sementara dan berdiri
menanti di sisi arena.
"Kenapa?" jengek Nyonya Li sambil tertawa dingin,
"Kau berniat melakukan perlawanan?"
"Lebih baik darahku berceceran membasahi lantai
daripada harus menerima penghinaan semacam ini,"
ucap Lim Han-kim sesudah menghembuskan napas
panjang.
"Bagus Kau sangat pemberani, asal kau mampu
mengungguli Tui-im dan Po-hong, akan kubatalkan
niatku untuk menggeledah"

3053
"Senjata tak bermata, andai aku yang terluka masih
tak mengapa, sebaliknya bila aku yang berhasil melukai
mereka berdua, urusan kan menjadi lebih tak enak..."
"Tak usah kuatir, bila kau berhasil melukai mereka,
anggap saja kesalahan mereka sendiri mengapa tak rajin
berlatih silat, bahkan seandainya kau berhasil membunuh
mereka pun tak menjadi masalah, akan kuanggap
memang nasib mereka yang jelek."
"Baiklah, kalau nyonya tak menyalahkan diriku,
terpaksa aku akan bertindak kasar." Kembali Nyonya Li
berpaling ke arah kedua orang dayangnya seraya
berpesan:
"llmu silat yang dimiliki siangkong ini sangat hebat,
mati hidup kalian tergantung kemampuan kamu sendiri,
maka kalian mesti berhati-hati."
Kedua orang dayang itu mengiakan dan serentak
mencabut ke luar senjata masing-masing. Diam-diam Lim
Han-kim menghela napas panjang, pikirnya:
"Tak nyana kehadiranku di perkampungan keluarga
Hong-san justru mendatangkan banyak keruwetan."
Sementara dia masih termenung, tiba-tiba terdengar
suara bisikan yang amat lirih bergema di sisi telinganya:
"Kau harus bertindak hati-hati sebab kedua orang
dayang ini merupakan dua orang dayang kesayangannya
yang pernah mendapat didikan langsung dari nyonya Li,
ilmu pedang yang mereka miliki luar biasa hebatnya, tadi
aku pun sempat bertarung melawan mereka..."
Lim Han-kim tahu, Thian-hok sangjin dengan menahan
rasa sakitnya telah mengirim pesanan tersebut lewat ilmu

3054
menyampaikan suara, karenanya ia bersikap lebih serius,
perasaan memandang rendah musuhnya segera
dilenyapkan.
Begitu pedangJ in-sang-kiam sudah dicabut ke luar,
ujarnya kepada kedua orang dayang itu:
"Apakah nona berdua akan maju bersama-sama?"
"Lim siangkong seorang diri, kami berdua akan maju
bersama, Lim siangkong sepuluh orang pun kami tetap
akan maju berduaan."
"Bagus, silakan nona berdua mulai menyerang"
Dayang di sebelah kiri segera menggerakkan
pedangnya menciptakan tiga kuntum bunga pedang
dengan jurus "Burung hong manggut tiga kali" dan
menusuk dada musuhnya. Lim Han-kim memutar
senjatanya membendung datangnya tusukan itu.
Di saat ia menggerakkan senjatanya itulah dayang di
sebelah kanan melepaskan tusukan juga dengan jurus
"bangau putih pentang sayap".
"Hebat juga kerja sama dua orang dayang ini..." pikir
Lim Han-kim dalam hati. Cepat-cepat dia mundur tiga
langkah meloloskan diri dari ancaman tersebut.
Setelah berhasil lolos dari sergapan lawan, sadarlah
pemuda itu bahwa ia sudah bertemu musuh amat
tangguh, kecuali berhasil mengungguli kedua orang
lawannya, mustahil dia punya kesempatan lain untuk
meloloskan diri dari situ.
Berpendapat begitu, secepat petir ia maju menerkam
kembali sambil lepaskan serangan.

3055
Kedua orang dayang itu tidak gentar, mereka
pencarkan diri dan balas menyerang dari dua sisi yang
berlawanan.
Dalam waktu singkat bunga pedang meyelimuti
seluruh angkasa, terjadilah pertarungan yang amat
sengit di tempat itu.
Begitu pertarungan dimulai, Lim Han-kim sudah
mengerti bahwa kesempatan menang baginya amat tipis,
maka di samping menghadapi serangan musuhnya
secara hati-hati, ia berusaha mengingat kembali jurusjurus
pedang ilmu pedang naga langitnya dan digunakan
untuk membendung ancaman yang datang.
Walaupun kedelapan jurus ilmu pedang naga langit
tersebut belum begitu hapal, namun daya kemampuan
dari gerak serangan tersebut sungguh luar biasa, setiap
kali ia terjerumus dalam keadaan bahaya, jurus pedang
itu selalu berhasil menyelamatkan jiwanya. Puluhan
gebrakan sudah lewat, namun posisi kedua belah pihak
tetap berimbang.
Nyonya Li mulai jengkel dan habis kesabarannya
setelah melihat kedua orang dayangnya gagal
mengalahkan lawan, dengan amarah yang mulai
berkobar ia menghardik sambil tertawa dingini
"Keluarkan semua jurus simpanan kalian. cukup asal
tidak menghabisi nyawanya"
Dua orang dayang itu menyahut, permainan
pedangnya segera berubah, serangan yang dilancarkan
juga makin gencar dan dahsyat

3056
Lim Han-kim kerahkan seluruh daya kemampuan yang
dimilikinya untuk melawan dan bertahan, namun ia mulai
keteter dan terdesak hebat, tak sampai lima gebrakan
kemudian pemuda tersebut sudah dibuat kelabakan dan
terancam bahaya maut.
Rupanya sebelum mendapat perintah dari nyonya Li,
kedua orang dayang itu tak berani menggunakan jurus
yang mematikan, mereka hanya berharap bisa memaksa
Lim Han-kim melepaskan senjatanya atau menotok jalan
darahnya.
Justru tindakan mereka ini sangat menguntungkan
bagi Lim Han-kim, itulah sebabnya ia mampu
mempertahankan diri sekian waktu.
Tapi begitu Nyonya Li turunkan perintah-nya, dua
orang dayang itu mulai menyerang habis-habisan,
akibatnya Lim Han-kim keteter hebat.
Tampaknya pemuda itu segera akan terluka di tangan
kedua orang dayang tersebut...
Pada saat yang amat kritis inilah tiba-tiba terdengar
seseorang berseru dengan suara lirih:
"Nyonya Li, ampuni jiwanya"
Ketika Nyonya Li berpaling, tampak siok-bwee dan
Hiang-kiok sedang memapah Pek si-hiang jalan
mendekat.
Kondisi tubuh gadis tersebut makin lama nampak
semakin parah, tampaknya tanpa dipapah mustahil
baginya untuk berjalan. Dengan kening berkerut Nyonya
Li berseru:

3057
"Kalian cepat berhenti"
Tui-im dan Po-hong seketika menarik kembali
senjatanya dan mundur dari arena.
BAB 43 Seruling Penakluk Ular
Pelan-pelan Pek si-hiang berjalan menghampiri nyonya
Li dan bisiknya lirih: "Terima kasih banyak atas
kemurahan hati nyonya."
"Darimana kau bisa tahu akan peristiwa ini?" tegur
Nyonya Li dengan wajah dingin. Pek si-hiang tersenyum.
"Bukankah nyonya selalu memuji kecerdikanku? Kalau
cuma masalah seperti ini pun tak bisa kuduga, percuma
nyonya memujiku selama ini."
"Aaaai... lagi-lagi anak Hui yang beritahukan persoalan
ini kepadamu bukan?" nyonya Li menghela napas
panjang. Pek si-hiang menggeleng.
"Aku rasa enci Hui tak memiliki keberanian sebesar
ini."
Dengan sepasang matanya yang tajam Nyonya Li
mengerling Pek si-hiang sekejap. lalu sindirnya:
"Demi Lim Han-kim ia bersedia mengorbankan segala
sesuatunya, masa dia masih teringat dengan ibunya?"
"Nyonya keliru besar." Pek si-hiang menggeleng, "Enci
Hui amat berbakti kepadamu." Nyonya Li menghela
napas panjang:

3058
"Aaaai... aku berharap nak, lain kali kurangilah sifat
mencampuri urusan orang lain yang kau miliki, bisa
bukan?"
Kemudian tanpa menunggu jawaban dari Pek sihiang,
ia beranjak pergi dari situ diiringi Tui-im dan Pohong.
Memandang hingga bayangan tubuh ketiga orang itu
lenyap dari pandangan, Pek si-hiang baru berkata kepada
Lim Han-kim: "Baik,baikkah kamu?"
"Hebat benar ilmu pedang dayang-dayang itu, untung
nona datang tepat waktunya, coba tidak. aku sudah mati
atau terluka parah di tangan mereka berdua."
"Asal kau selamat, cukuplah..." kata Pek si- hiang, lalu
dibimbing kedua orang dayangnya dia dekati Thian-hok
sangjin dan melanjutkan: "Kau terluka parah empek?"
Thian-hok sangjin manggut-manggut:
"Rasanya aku sudah tak tahan lagi, ada baiknya juga
aku peroleh pelepasan dengan cara begini, paling tidak
banyak keruwetan bisa kuhindari."
"Empek kelewat serius, selama ini aku menaruh curiga
bahwa kejadian tempo hari bukan kesalahanmu,
mumpung para jago dari seluruh dunia akan berkumpul
di perkampungan bukit Hong-san ini, siapa tahu
pertemuan tersebut bisa membantumu untuk
menuntaskan kesalahan paham yang telah berlangsung
puluhan tahun."
"Anak Hiang, sungguhkah ucapanmu itu?" Tiba-tiba
Thian-hok sangjin melotot besar.

3059
"Berulang kali sudah kuteliti dan kuanalisa peristiwa
yang kau alami itu, mungkin saja kau menggempurnya
satu kali waktu itu, tapi mustahil dia bakal terluka oleh
gempuran tersebut."
Setelah mengatur napasnya yang tersengal-sengal, dia
melanjutkan:
"Oleh sebab itu kau wajib mempertahankan sisa
hidupmu yang sangat berguna ini untuk menuntaskan
angan-anganmu yang telah terkandung melama puluhan
tahun." Thian-hok sangjin berpikir sejenak. lalu katanya:
"Anak Hiang, kau tidak merasa bahwa ucapanku sudah
agak terlambat..."
"Begitu serius luka yang kau derita?" tukas Pek sihiang
dengan rasa terperanjat.
"Yaa, aku rasa jiwaku tak bisa dipertahankan lagi, isi
perutku sudah mulai terjadi perubahan"
"Kau terluka oleh gempuran nyonya Li?" tanya Pek sihiang
lagi.
"Yaa, dia menghajar dadaku"
"Orang-orang keluarga Hong-san pasti mampu
menyembuhkan luka yang kau derita"
"Percuma, kau berniat minta obat dari nyonya Li?"
Thian-hok sangjin gelengkan kepalanya.
"Betul."
"Dia sangat baik kepadamu?"
"Aku dianggap sahabat karibnya."

3060
"Batas kesabarannya amat jelek. desakanmu bisa
timbulkan masalah, bisa-bisa ia membunuhmu"
"Aku tahu, separuh hidupnya yang dilewati dalam
kesepian dan kesendirian menimbulkan rasa dendam
kesumat yang mendalam, kemasgulan dan kemurungan
memaksa dia harus melatih diri lebih giat agar
melupakan kejadian di masa lampau, maksudnya agar
dia bisa melupakan semua kesedihan serta keruwetan
hatinya, sayang ia lupa bahwa kesedihan dan keruwetan
yang terkandung dalam tubuhnya tak akan hilang
sebelum disalurkan ke luar, akibatnya semakin dia
berusaha untuk menenangkan hati, pikirannya semakin
kalut dan tak tenang, semakin dingin sikapnya terhadap
orang lain, semakin dalam juga kemurungan yang
menindas perasaan hatinya, semuanya ini pada akhirnya
membentuk watak yang lebih aneh lagi bagi dirinya."
"Setelah mengetahui masalahnya, kenapa kau masih
mencoba mencabut gigi harimau?" tegur Thian-hok
sangjin
"Sekalipun rasa dedamnya mungkin muncul
terhadapku, tak mungkin dia membunuhku."
"Kenapa?"
"Dewasa ini hanya aku seorang yang dapat
mengimbangi pembicaraannya dan mungkin hanya aku
seorang yang paling dicocokinya, dia ingin ketenangan
tapi juga takut kesepian, sudah terlalu lama dia menahan
kesepian tersebut hingga sebenarnya dia sudah tak
tahan lagi."
"Kalau cuma masalah ini saja yang kau anggap
sebagai penyebabnya, mungkin pikiranmu tersebut

3061
kelewat kekanak-kanakan," sela Thian-hok sangjin tibatiba.
Dengan sepasang mata yang melotot besar Pek sihiang
menatap wajah pendeta itu lekat-lekat serunya:
"Jadi kau tahu?"
"Tahu apa?"
"Dimana ibu kandungku sekarang?"
"Siapa yang beritahu urusan ini padamu?"
"ibuku, aaaai... padahal dia toh tak boleh
membohongiku sepanjang masa..."
Thian-hok sangjin membuka mulutnya ingin
mengucapkan sesuatu, sayang yang muncul justru
semburan darah segar yang segera mengotori seluruh
jubahnya Menyaksikan hal ini, Pek si-hiang menghela
napas panjang. "Biar kucoba mintakan obat untukmu"
Lalu dengan dibimbing siok-bwee dan Hiang-kiok dia
berlalu meninggalkan tempat tersebut
Sepeninggal nona itu, Lim Han-kim ambil keluar
sebuah sapu tangan dan dipakainya untuk menyeka
darah yang mengotori tubuh Thian-hok sangjin, bisiknya
lirih: " Locianpwee, kau harus mempertahankan dirimu"
Thian-hok sangjin tarik napas panjang menahan rasa
sakit di dadanya yang luar biasa. "Anak muda..."
bisiknya, "Kau harus tinggalkan perkampungan keluarga
Hong-san secepatnya, Nyonya Li..."
"Tidak" Lim Han-kim menggeleng, "Aku rasa mustahil
bagiku untuk tinggalkan tempat ini."

3062
"Bila kau tak mampu tinggalkan tempat ini, carilah
tempat yang rahasia dan cepatlah kubur kantung yang
kuberikan kepadamu itu..."
Kemudian dari sakunya dia mengeluarkan lagi dua jilid
kitab yang tipis, sambil disodorkan terusnya:
"Kedua kitab ini berisikan dua jenis ilmu silat yang
sangat hebat, simpanlah kitab-kitab itu dalam kantung
yang kuberikan kepadamu. setelah isi kantung yang
sebetulnya kau sembunyikan, bila nyonya Li kembali
memaksamu untuk periksa isi kantung tersebut,
serahkan kantung berisi kitab silat ini kepadanya, dengan
kelihayan ilmu silat yang dimilikinya tak nanti dia akan
rampas kitab tersebut"
Meskipun Lim Han-kim menganggap cara ini kurang
ksatria, namun bila teringat sifat nyonya Li yang begitu
aneh, mau tak mau terpaksa ia turuti juga nasehat
tersebut. Kembali Thian-hok sangjin berkata:
"Bila aku tewas gara-gara luka ini, maka kau akan
menjadi satu-satunya orang di dunia ini yang menyimpan
rahasia besar itu, tentang apakah berita tersebut akan
siarkan secara luas atau tidak dalam dunia persilatan di
kemudian hari, kau boleh putuskan sendiri.."
Belum sempat Lim Han-kim menjawab, mendadak ia
saksikan Li Tiong-hui muncul dengan langkah tergesagesa
sambil berseru:
"seebun Giok-hiong telah menyiapkan pasukan
penyergapnya di luar perkampungan keluarga Hong-san
dengan tugas menghalau jago-jago kita yang sedang
berdatangan- sudah dua kelompok jago persilatan yang
terhalau oleh mereka bahkan ditumpas sampai habis"

3063
"Haaah, masa begitu?" Lim Han-kim tersentak kaget.
"Masa kau belum mau percaya?"
"Dari siapa nona dengar berita ini?"
"Dari seorang murid Bu-tong-pay, tujuh orang jago
Bu-tong-pay datang kemari bersama lima orang gagah
dari Kang-tang, siapa tahu mereka terperangkap di
tengah jalan oleh jago-jago yang disiapkan seebun Giokhiong,
dari dua belas orang yang ada, sepuluh rekan
mereka terbunuh saat itu juga, sedang dua lainnya
berhasil melarikan diri, merekalah yang membawa kabar
buruk tersebut."
"Kalau begitu, berita tersebut dapat dipercaya
sumbernya, lantas apa rencana nona?" tanya Lim Hankim.
"Akan kupimpin sekelompok jago untuk menyambut
tamu-tamu kita."
"Sepantasnya aku turut serta dalam rombonganmu,
tapi... luka totiang ini sangat parah."
"Kau tak perlu mengurusi aku" tukas Thian-hok
sangjin tiba-tiba, "Pergilah bersama mereka"
"Tapi... tapi..."
Pada saat itulah Pek si-hiang muncul di sana dibimbing
kedua orang dayangnya.
Tanpa memperdulikan kehadiran Li Tiong-hui lagi, Pek
Si-hiang langsung menghampiri Thian-hok sangjin sambil
serunya: "Nyonya Li telah menghadiahkan obat, cepat
empek telan."

3064
"Nak" bisik Thian-hok sangjin setelah melirik gadis itu
sekejap. "Kau benar-benar memiliki kemampuan yang
luar biasa."
Tanpa membuang waktu diterimanya obat tadi dan
langsung ditelan.
Setelah Thian-hok sangjin menelan pil itu, Pek si-hiang
baru berpaling ke arah Li Tiong-hui sambil menegur:
"Enci Hui, apakah terjadi sesuatu perubahan?"
"Yaa, dengan suatu tindakan kilat seebun Giokshiong
telah pindahkan semua kekuatannya kemari."
Mendengar itu Pek si-hiang menghela napas panjang.
"Aaaai... enci Hui, ada berapa patah kata yang kurang
patut terpaksa harus kuucapkan, harap kau tidak marah."
"Katakan saja."
"Dengan menantang seebun Giok-hiong bertarung di
lembah Ban-siong-kok, apakah kau bermaksud
memancing nyonya Li turut campur dalam peristiwa ini?"
"Meski aku berniat begitu, rasanya ibu belum tentu
mau."
"Sekalipun kau berhasil memperoleh bantuan dari
jago-jago sembilan partai besar, bila ibumu segan turut
campur maka kesempatanmu untuk meraih kemenangan
dalam pertarungan ini tetap kecil."
Li Tiong-hui termenung dan berpikir sejenak kemudian
katanya: "Kalau begitu aku mohon petunjuk dari nona
Pek."
Pek si-hiang pejamkan matanya berpikir sejenak. lalu
sambil menghembuskan napas panjang katanya:

3065
"Selama ibumu belum bersedia turun tangan, maka
hal ini justru menguntungkan posisimu."
"Keuntungan apa?"
"Selama ibumu belum turun tangan, seebun Giokhiong
masih menaruh perasaan was-was dan ragu, ia tak
akan berani turun tangan secara gegabah apalagi
memaksakan suatu pertarungan habis-habisan, lain
ceritanya bila ibumu sudah turun tangan, dipaksa oleh
situasi dan keadaan yang memojokkan terpaksa seebun
Giok-hiong akan membalas dengan sekuat tenaga,
terlepas siapa yang bakal menangkan pertarungan akbar
ini, satu hal pasti akan terjadi yakni pembantaian secara
besar-besaran."
"Nona pernah menyinggung soal ini dengan ibuku?"
"Yaa, aku pernah mengajak ibumu membahas
masalah ini."
"Lantas bagaimana pendapat ibu?"
"Tidak seperti apa yang nona duga, tampaknya ibumu
sangat hambar memandang masalah ini..."
"Oooh, berarti ibu mulai menaruh perhatian?"
"Tampaknya ada sesuatu masalah yang
disembunyikan sebab tiap kali bahan pembicaraan
menyinggung masalah tersebut, ibumu selalu
mengurungkan perkataannya."
Li Tiong-hui termenung berpikir sesaat, setelah itu
baru katanya:
"Yaa, ibarat nasi sudah menjadi bubur, sekalipun
kekalahan berada dipihak kita toh kita wajib melawan

3066
habis-habisan, masalah apakah ibu bersedia membantu
atau tidak. biarlah beliau putuskan sendiri.." sesudah
berhenti sejenak. kembali terus-nya:
"Tapi sekarang ada satu masalah lagi yang amat pelik
dan perlu bantuan dari nona."
"Soal apa?"
"llmu silat yang dimiliki Ong popo memang sangat
hebat, sayang dia harus memikul tanggung jawab atas
keselamatan lembah Ban-siong-kok serta mengatur
keempat puluh delapan orang dayang yang dikomando
oleh-nya, hal ini membuat dia tak mungkin bisa
menolongku lagi, padahal sekarang seebun Giok-hiong
telah ingkar janji, dengan suatu serangan kilat dia telah
mengatur perangkap di seputar bukit Hong-san untuk
membantai jago-jago kita yang akan hadir kemari,
akibatnya sebelum pertarungan akbar itu dimulai, aku
sudah banyak kehilangan kekuatan.."
"Oooh... maksudmu, kau suruh aku meminjamkan Tuiim
dan Po-hong dari nyonya Li agar bisa membantumu?"
tukas Pek si- hiang cepat.
"Yaa, memang itulah harapanku, ilmu silat yang
dimiliki kedua orang dayang itu sangat hebat karena
kepandaian mereka langsung dididik ibu sendiri, bantuan
mereka besar sekali manfaatnya bagiku."
"Baiklah, akan kucoba ajukan permintaan ini..."
Tak selang berapa saat kemudian, Pek si- hiang telah
muncul kembali diikuti Tui-im dan Po-hong, dua orang
dayang itu. sambil tersenyum Li Tiong-hui berkata:

3067
"Heran, selama ini watak ibuku sangat aneh dan susah
didekati, tapi kebaikannya terhadapmu bukan cuma
menimbulkan perasaan dengki dan iri dari kami sebagai
keturunannya, bahkan membuat orang sukar untuk
mempercayainya."
Sementara itu Tui-im dan Po-hong telah tiba di situ
seraya memberi hormat kepada Li Tiong-hui.
"Tak usah banyak adat," tukas si nona cepat, "Aku
berharap kalian mau membantuku."
"Perintahkan saja nona, budak pasti akan laksanakan,"
sahut Tui im seraya menjura.
"Perjalanan kita kali ini berbahaya sekali, kalian harus
mempersiapkan senjata rahasia."
"Kami sudah siap nona, jangankan cuma menghadapi
pertarungan, biarpun harus terjun ke lautan api pun kami
sudah siap."
"Bagus sekali, mari kita sebera berangkat."
Tiba-tiba Lim Han-kim melompat bangun seraya
berseru: "Nona, aku pun bersedia mendampingimu"
"Seebun Giok-hiong telah mengerahkan segenap
kekuatannya, apakah bakal selamat atau tidak sukar
untuk diramalkan mulai sekarang, saudara Lim, sebagai
Bu-lim Bengcu sudah menjadi kewajibanku untuk
menyerempet bahaya ini, sedang kau... apa gunanya ikut
menyerempet bahaya karena masalah yang tak
berhubungan denganmu?"
"Justru karena kekuatan nona sangat minim, maka
aku bersedia mendampingimu."

3068
"Bagaimana menurut pendapat nona Pek?" tanya Li
Tiong-hui kemudian sambil berpaling ke arah Pek sihiang.
"Bawalah dia pergi," sahut Pek si-hiang sesudah
melirik anak muda itu sekejap. "Tak nanti seebun Giokhiong
membunuhnya."
"Tapi... pabila seebun Giok-hiong berniat menahannya
di sana, aku tak yakin bisa mengajaknya pulang kembali
kemari."
"Tak usah kuatir, ajak saja dia pergi." Pek si- hiang
tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu aku mesti merepotkan saudara
Lim."
Lim Han-kim manggut-manggut, kepada Pek si- hiang
bisiknya:
"Nona, kau harus merawat Thian-hok lotiang baikbaik,
aku akan pergi dulu."
"Sebelum berangkat, ingin kusampaikan sepatah kata
dulu untukmu."
"Soal apa?"
"Kau harus banyak menggunakan akal dan pikiran,
kurangi menggunakan kekerasan sebab ilmu silat yang
dimiliki seebun Giok-hiong jauh melebihi kemampuanmu,
berbicara soal pertarungan, tak nanti kau mampu
mengungguli dirinya." Bagaikan menyadari sesuatu Lim
Han-kim berseru tertahan:

3069
"Yaaa... betul, kecuali nona seorang, memang tak ada
manusia kedua di dunia ini yang mampu menandingi
kecerdasan seebun Giok-hiong."
Tiba-tiba Pek si- hiang tersenyum.
"Padahal kau pun sanggup menundukkan dia, tak usah
pakai akal atau tipu muslihat, cukup asalkan bersikap
lebih ramah dan halus terhadapnya."
"Waktu sudah semakin larut, aku harus berangkat
sekarang," kata Li Tiong-hui kemudian
"Enci Hui harus baik-baik jaga diri"
"Terima kasih atas perhatianmu."
Dengan diikuti Tui-im dan Po-hong berangkatlah gadis
itu meninggalkan tempat tersebut.
Lim Han-kim menyusul di paling belakang.
Tampaknya Li Tiong-hui gelisah sekali, sepanjang
perjalanan ia menempuh perjalanan mata cepat tanpa
berhenti sedetik pun
Tak selang berapa saat kemudian sampailah mereka di
mulut lembah Ban-siong-kok.
Waktu itu suasana di mulut lembah tersebut amat
sepi, siau-cui yang membawa jago-jagonya berjaga di
situ, kini sudah mengundurkan diri
Dalam pada itu matahari sudah tenggelam di langit
barat, waktu senja pun menjelang tiba.
Lim Han-kim mempercepat langkahnya menyusul ke
belakang Li Tiong-hui sambil serunya: "Nona Li"

3070
"Ada apa?" tanya Li Tiong-hui sambil berhenti
berjalan,
"Aku teringat satu hal."
"Katakan saja."
"Sebagai seorang Bu-im Bengcu tidak seharusnya
nona maju sendiri untuk menghadapi musuh, seandainya
benar-benar bertemu seeburi Giok-hiong, bukankah
akibatnya bisa terjadi pertarungan habis-habisan?"
"Kalau bukan aku sendiri yang pergi, siapa lagi yang
bisa mewakili aku?"
"Bila nona mau mempercayai diriku, biar aku saja
yang mewakili nona."
"Hanya kau seorang?" Li Tiong-hui tertawa hambar.
"Lebih baik lagi jika Tui-im dan Po-hong berdua mau
berangkat bersama aku..."
Cepat-cepat Li Tiong-hui menggeleng.
"Sebagai seorang ketua persekutuan dunia persilatan
wajib bagiku untuk menangani sendiri masalah ini, bila
aku sendiri saja enggan pergi menyerempet bahaya,
lantas mana ada jago yang bersedia menuruti
perintahku? Maksud baik saudara Lim biar kuterima di
dalam hati saja."
Selesai bicara kembali dia percepat langkahnya
meneruskan perjalanan
Tiba-tiba Lim Han-kim teringat kembali dengan
kantung yang diserahkan Thian-hok sangjin masih
berada dalam sakunya, andaikata bertemu dengan anak
buah seebun Giok-hiong nanti hingga terjadi pertarungan

3071
dan andaikata nasibnya kurang beruntung hingga tewas
dalam pertarungan tersebut, bukankah dia akan
mengecewakan harapan orang?
Tapi keadaannya sekarang ibarat menunggang
dicunggung harimau, tak mungkin lagi baginya untuk
mengundurkan diri dari situ, oleh sebab itu sambil
meneruskan perjalanan dia mulai perhatikan keadaan di
seputarnya, dia berharap bisa temukan suatu tempat
yang baik untuk sembunyikan kantung tersebut.
Sebagai orang yang sejak kecil tumbuh menjadi
dewasa di lembah Ban-siong-kok. Li Tiong-hui boleh
dibilang sangat hapal dengan daerah tersebut, tampak ia
belok ke kiri berputar ke kanan, sepanjang jalan bergerak
cepat sekali, dalam waktu singkat hampir separuh bagian
lembah tersebut telah habis dikelilingi
Namun apa yang mereka saksikan hanya hembusan
angin gunung yang kencang, tak sesosok bayangan
manusia pun yang nampak. Diam-diam Lim Han-kim
berpikir:
"Kalau seebun Giok-hiong benar-benar sudah
persiapkan jagonya di luar lembah Ban-siong-kok,
kenapa tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak
meski separuh lembah sudah selesai diputar?"
Mendadak Li Tiong-hui menghentikan perjalanannya,
melompat naik ke puncak sebatang pohon raksasa dan
dari situ dia coba periksa seputar tempat tersebut
sebelum meluncur turun kembali.
"Apa nona berhasil menemukan suatu pertanda yang
mencurigakan?" bisik Lim Han-kim. Li Tiong-hui
menggeleng.

3072
"Aku rasa agak sulit bagi kita untuk menemukan jejak
mereka, bisa saja ketika melihat kehadiran kita, mereka
segera sebarkan kode rahasia dan perintahkan jagojagonya
yang sudah dipersiapkan di sekeliling tempat ini
untuk segera mengundurkan diri atau menyembunyikan
diri, bagaimana mungkin kita bisa menemukan mereka?"
"Dimana anggota Bu-tong-pay serta lima jago dari
Kang-tang mendapat sergapan dari jago-jagonya seebun
Giok-hiong?"
"Di tempat ini."
"Mustahil jago-jago dari Bu-tong-pay serta lima jago
dari Kang-tang menyerah begitu saja tanpa melakukan
perlawanan, bila pernah bertempur berarti di sini pasti
ditinggali jejak-jejak atau bekas pertarungan, ayoh kita
periksa dengan teliti." sembari berkata, ia mulai
mengawasi seputar tempat itu.
Mendadak terdengar Tui-im si dayang itu berseru:
"Cepat kemari, di sini dijumpai banyak noda darah"
Lim Han-kim memburu ke sana, betul juga di atas
batu gunung terlihat banyak noda darah yang sudah
mengering, maka setelah menghela napas katanya:
"Tampaknya berita itu memang benar."
Sementara itu Li Tiong-hui dengan suara keras telah
berteriak lantang:
"Seebun Giok-hiong, setelah berani melakukan
tindakan terkutuk seperti ini, kenapa kau tak berani
munculkan diri untuk berjumpa dengan aku?"

3073
Desiran angin lembut berhembus lewat, sesosok
bayangan manusia melayang turun dari atas sebatang
pohon besar
"Seebun Giok-hiong..." umpat Li Tiong-hui sambil
tertawa dingin.
Tapi setelah diamati lebih teliti ternyata orang itu
bukan seebun Giok-hiong melainkan siau-cui yang
mendapat tugas berjaga di luar lembah, Tanpa terasa
dengan kening berkerut katanya: "oooh, rupanya kau..."
siau-cui tertawa hambar.
"Nona kami belum tiba di bukit Hong-san, jadi nona Li
tak usah terlalu memikirkan" Li Tiong-hui berkerut
kening, agaknya dia hendak mengumbar amarahnya tapi
niat tersebut segera diurungkan ujarnya kemudian sambil
tertawa lebar:
"Jadi kalian yang telah membunuh lima jago dari
Kang-tang serta tujuh jago dari Bu-tong-pay..." siau-cui
tertawa-tawa.
"Jika hutang darah ini hendak kau catat atas
namakupun tak ada masalah."
"Apa maksud ucapanmu nona?" tegur Lim Han-kim.
"Sekalipun sudah kujelaskan belum tentu nona Li mau
percaya, lebih baik tak usah kubantah."
"Coba jelaskan"
"Sesungguhnya tujuh jago dari Bu-tong-pay saling
bertarung dan saling membunuh dengan lima jago dari
Kang-tang, percaya tidak dengan penjelasanku ini?"

3074
Li Tiong-hui termenung sambil berpikir sejenak.
kemudian katanya:
"Asal kau dapat mengajukan sebuah alasan yang bisa
diterima dengan akal sehat, sudah barang tentu aku
akan mempercayainya.." siau-cui tertawa terkekehkekeh.
"Alasan? Ha ha h a ... bila kujelaskan mungkin kau
pun akan tertawa terpingkal-pingkal karena geli."
"Katakan saja."
"Mereka terbakar oleh rasa cemburu... hahahaha...
aneh bukan? Aku pun tidak mengira ketujuh pendeta
yang menyebut diri berasal dari perguruan suci begitu
rela dan tega saling membunuh dengan lima jagoan dari
Kang-tang itu hanya gara-gara seorang gadis. Coba kau
bayangkan nona, lucu tidak peristiwa ini?"
"Kaukah si nona yang dimaksud?"
"Aku berwajah jelek dan tidak menarik perhatian,
tentu saja ketujuh orang pendeta serta kelima jago dari
Kang-tang itu tak bakal saling membunuh gara-gara
aku."
"Bila kau ingin agar kami percaya dengan
perkataanmu, undang keluarkan nona yang kau maksud
itu agar kami bisa tahu macam apakah dirinya itu."
"Sebelum nona kami muncul di sini, kunasehati kalian
berdua agar lebih baik urungkan saja niat tersebut"
"Bila nona melarang kami untuk menjumpainya,
berarti kau bohong dan cuma membuat alasan.."
Siau-cui segera tersenyum.

3075
"Baiklah, bila kalian berdua bersikeras ingin bertemu
juga, terpaksa aku harus mengabulkan permintaan itu."
"Bagus, ingin kusaksikan permainan busuk apa saja
yang bisa diperankan Seebun Giok-hiong."
Pelan-pelan Siau-cui mengalihkan pandangan matanya
ke wajah Lim Han-kim, setelah mengamatinya sekejap, ia
berkata:
"Sebagai seorang wanita, tentu saja bukan masalah
bila nona Li pingin melihatnya, tapi Lim siangkong adalah
seorang pria, lebih baik jangan melihat hal tersebut..."
"Aku masih yakin dengan kemampuanku sendiri," sela
Lim Han-kim cepat.
Dari dalam sakunya siau-cui pun mengeluarkan
sebatang seruling pendek, katanya lebih jauh:
"Bagaimana kalau kumainkan sepotong lagu lebih dulu
untuk kalian berdua dengar?"
Baru saja Li Tiong-hui hendak menampik, Siau-cui
telah tempelkan serulingnya di tepi mulut serta
memainkan lagu.
Irama seruling tersebut aneh sekali, ketika didengar
pada awalnya nada tersebut seperti punya tekanan yang
amat berat, namun setelah didengarkan lebih jauh, lama
kelamaan suara tersebut menjadi semakin terbiasa
hingga lambat laun seperti enak betul kalau didengarkan
serta dinikmati
Kurang lebih sepeminum teh kemudian, mendadak
terdengar Li Tiong-hui membentak penuh amarah:
"Apa anehnya suara seruling ini? Ayoh cepat hentikan"

3076
Siau-cui sama sekali tidak menggubris bentakan
tersebut, bahkan melanjutkan tiupannya.
Dalam hati kecilnya Lim Han-kim mulai berpikir
"Aneh betul irama seruling ini, dari mana siau-cui
pelajari kepandaian tersebut? Ehmmm, di balik
permainan serulingnya ini tentu ada suatu sebab
tertentu."
Sementara dia masih termenung, mendadak terendus
bau amis yang menusuk hidung di seputar tempat itu.
Sewaktu dia menengok. terlihatlah berbagai macam
ular yang aneh-aneh bentuknya muncul dari empat arah
delapan penjuru, rombongan ular itu dengan cepat
mengurung beberapa orang tersebut di tengah arena.
"Aaah... ular" pekiknya dengan penuh rasa terkejut
"Betul, memang ular" jawab siau-cui sambil berhenti
memainkan serulingnya, "semua jenis ular aneh yang
berada dalam radius sepuluh li sekeliling lembah Bansiong-
kok telah kuundang kemari, lima puluh kaki di
sekeliling kalian sekarang telah dipenuhi berbagai macam
ular berbisa..."
Li Tiong-hui segera tertawa terkekeh-kekeh:
"Hahahaha . . . rupanya anak buah seebun Giok-hiong
tidak punya kepandaian hebat lainnya kecuali bermain
ular?"
"Hmmmm" siau-cui mendengus, "Asal kalian berempat
berani sembarangan bergerak sekarang, segera
kuperintahkan berbagai macam ular beracun itu untuk
menyerang kalian dari empat arah delapan penjuru."

3077
Lim Han-kim coba memperhatikan dengan seksama,
betul juga, sekeliling mereka sudah berkumpul begitu
banyak ular beracun, kontan saja api amarahnya
berkobar, dengan penuh amarah teriaknya:
"Nona, apa maksudmu memanggil datang begitu
banyak ular beracun untuk mengurung kami di sini?"
Siau-cui tertawa.
"Perempuan itu bernama Coa-nio (Wanita ular), bila
sekeliling tempat ini tak ada ular maka keadaannya ibarat
ikan di atas daratan, semakin banyak ular beracun yang
berkumpul di sini, dia akan semakin nampak daya pikatnya."
"Aaah, masa ada kejadian begitu?" seru Lim Han-kim
keheranan.
"Kalau tak percaya buktikan sendiri, segera kuundang
kehadirannya." sementara itu Li Tiong-hui sudah berbisik
kepada Tui-im dan Po-hong:
"Kalian berdua coba periksa dengan teliti sekitar sini,
masih adakah jalan mundur yang tidak tertutup ular
beracun, kita tak boleh terkurung di sini," Dua orang
dayang itu saling bertukar pandangan sekejap, lalu
menyahut:
"Biar kami membuka jalan, nona menyusul di
belakang, untuk lolos dari kurungan ular beracun bukan
suatu pekerjaan yang sulit."
"Menurut pendapatku, lebih baik kita jangan
gegabah," bisik Lim Han-kim pula.

3078
Sementara itu siau-cui sudah putar badan beranjak
pergi dari situ, ia berjalan melalui rombongan ular
beracun itu dengan santainya,
Meski kawanan ular itu sama-sama angkat kepalanya
sambil menjulurkan lidah, ternyata tak seekor pun di
antara ular-ular itu yang bermaksud menerkam siau-cui.
Tak selang berapa saat kemudian bayangan tubuh
dayang tersebut sudah lenyap dari pandangan .
Sepeninggal siau-cui, Li Tiong-hui baru berpaling ke
arah Lim Han-kimsambil bertanya:
"Saudara Lim punya akal baik untuk meloloskan diri
dari kepungan ular ini?"
"Menurut pendapatku lebih baik jangan nyerempet
bahaya, sebab jumlah ular beracun yang berada di
sekitar kita saat ini sudah mencapai puluhan ribu
banyaknya, kita bakal kewalahan jika harus bertarung
melawan binatang-binatang melata itu."
"Jadi menurut pendapat saudara Lim?" Lim Han-kim
angkat wajahnya memandang sekejap sebatang pohon
siong di hadapan-nya, lalu tanyanya:
"Siapa di antara kamu bertiga yang paling hebat ilmu
meringankan tubuhnya?" Li Tiong-hui menoleh ke arah
Tui-im: "Kau dan Po-hong siapa yang lebih hebat?"
"Budak lebih baik,"jawab Tui-im cepat,
"Nona bersedia melompat naik ke puncak pohon besar
itu?" tanya Lim Han-kim kemudian. Tui-im melirik pohon
itu sekejap lalu mengangguk "Yaa, rasa-rasanya aku
mampu mencapai ke dahan pohon itu."

3079
"Bagus Tolong nona naik ke atas pohon itu lalu
turunkan tali dari situ, dengan bantuan tali tersebut kami
semua bisa mencapai ke atas pohon itu..."
Ngeri juga perasaan Tui-im setelah menyaksikan
kawanan ular yang bergerak semakin dekat dari empat
penjuru, dalam keadaan begini dia tak berani ayal lagi,
hawa murninya segera dihimpun dan tubuhnya melejit
naik ke atas batang pohon. Dengan cepat Tui-im
turunkan tali pinggang seraya teriaknya: "Siapa yang
hendak naik duluan?"
"Saudara Lim, kau naik dulu" ucap Li Tiong-hui sambil
berpaling ke arah pemuda itu.
Melihat kawanan ular itu bergerak semakin mendekat,
buru-buru Lim Han-kim meloloskan pedang Jin-siangkiamnya
sambil membuat persiapan, dia menggeleng:
"Tidak, lebih baik nona naik lebih dulu"
Sementara pembicaraan masih ber-langsung, Tui-im
telah menurunkan tali pinggangnya.
"Kita tak boleh membuang waktu lagi," bisik Li Tionghui
sambil menyambar ikat pinggang itu dan melejit ke
atas.
Dengan bantuan tenaga tarikan dari Tui-im, Li Tionghui
berhasil mencapai batang pohon siong itu secara
mudah.
"Sekarang giliran nona yang naik" ucap Lim Han-kim
sambil berpaling ke arah Po-hong.
Sementara itu Tui-im telah turunkan kembali ikat
pinggangnya, Po-hong pun dengan cepat ikut melompat
naik ke atas batang pohon.

3080
Ketika tiba giliran Lim Han-kim, baru saja dia hendak
meloncat ke atas, mendadak terdengar seseorang
berseru sambil tertawa dingin "Lim siangkong, bila tak
ingin mati, cepat berdiri di tempat semula."
Lim Han-kim urungkan niatnya seraya ber-paling,
ketika menjumpai siau-cui telah muncul di atas sebuah
batu besar tiga kaki di hadapannya, sambil tertawa
dingin segera serunya:
"Nona anggap kawanan ular itu betul-betul mampu
melukai aku Lim Han-kim?"
"Lima kaki di sekeliling pohon besar itu tak nampak
tumbuhan lain, bila kau naik ke atas batang pohon
tersebut, bukankah sama artinya masuk ke dalam
perangkap?"
"Paling tidak toh lebih aman ketimbang mati digigit
ular di tempat ini"
"Bila Lim siangkong bersedia mempercayai ucapanku,
turuti perkataanku dan pelan-pelan berjalan ke luar dari
kepungan kawanan ular itu."
"Kalau aku tidak percaya?"
"Berarti siangkong mencari kematian buat diri sendiri,
yaa apa boleh buat lagi, terserah padamu."
Dalam pada itu kawanan ular yang bergerak dari
empat penjuru telah semakin mendekat, jaraknya tinggal
empat- lima depa dari tubuh Lim Han-kim. "saudara
Lim." Kedengaran Li Tiong-hui berteriak keras, "Ayoh
cepat naik kemari" sambil berteriak, ikat pinggang itu
kembali dilempar turun ke bawah.

3081
Lim Han-kim segera menyambar ikat pinggang
tersebut dan dibantu tenaga tarikan dari Li Tiong-hui,
tubuh si anak muda tersebut segera meluncur naik ke
atas batang pohon.
Pada saat itulah sekilas cahaya tajam berkelebat
lewat, tahu-tahu sebuah sambaran cahaya putih telah
memutuskan tali pinggang tersebut.
BAB 44. Perintah Palsu
Walaupun ikat pinggang itu tersambar putus, namun
Lim Han-kim segera manfaatkan tenaga tarikan yang
masih tersisa untuk meluncur ke arah batang pohon,
bersamaan waktunya ia sambar sebuah ranting pohon
dengan tangan kirinya.
"Sreeeet, sreeeet..." Dua bilah pisau terbang diiringi
desingan suara tajam menyambar lewat.
Lim Han-kim memutar pedang Jit-siang-kiamnya
dengan cepat, "Traaaang" sebilah pisau terbang berhasil
dipukulnya rontok. namun sebatang yang lain
menyambar lewat dan langsung memotong ranting
pohon dimana Lim Han-kim sedang berpegangan
Tak ampun lagi bersamaan dengan patah-nya ranting
pohon itu, tubuh Lim Han-kim ikut terperosok pula ke
tengah kerumunan ular beracun.
Bersamaan waktunya dengan meluncur jatuhnya
tubuh Lim Han-kim, Li Tiong-hui ikut meluncur turun pula

3082
dari atas pohon, belum lagi kakinya menyentuh lantai,
pedangnya sudah bergerak cepat.
Di tengah kilatan cahaya putih, percikan darah amis
menyebar ke mana-mana, ular beracun yang berada tiga
depa di seputar tempat itu terpapas kutung semua oleh
sambaran pedangnya.
Pada saat itulah sepasang kaki Lim Han-kim persis
melayang turun dan mencapai permukaan tanah.
"Saudara Lim" teriak Li Tiong-hui gelisah, "Cepat
melompat naik ke atas pohon..." sembari berteriak dia
melompat naik lebih dulu ke atas pohon besar itu.
Lim Han-kim segera menyusul dari belakang dan
sama-sama melompat naik ke atas batang pohon.
"Lim siangkong." Terdengar suara Siau-cui bergema
lagi, "Budak telah berusaha dengan sepenuh tenaga,
salah sendiri Lim siangkong enggan menuruti nasehat
budak. kalau sampai terjadi apa-apa, resikonya tanggung
sendiri" Li Tiong-hui tertawa dingin:
"Hmmmm, siasat busuk apa lagi yang kau miliki, cepat
keluarkan semuanya..."
"Hahahaha... nona Li," sela siau-cui sambil tertawa
terkekeh-kekeh, "Nona kami pandai menggunakan aneka
racun, tentunya kau sudah mengerti bukan?"
"Kalau sudah tahu mau apa?"
"Telah kami perhitungkan dengan matang, bila kalian
terkurung oleh ular beracun itu maka satu-satunya jalan
tinggal menghindar ke atas pohon besar itu, maka jauh
sebelumnya kami telah lumuri pohon itu dengan racun

3083
jahat, aku yakin kalian berempat saat ini sudah terluka
oleh racun jahat itu"
Li Tiong-hui coba meneliti keadaan di seputar pohon,
benar juga, di antara rimbunnya dedaunan terlihat
banyak sekali bubuk berwarna putih.
Buru-buru Tui-im merogoh ke dalam sakunya dan
mengeluarkan empat butir pil yang segera dibagikan
seorang satu, setelah dirinya ikut menelan sebutir, budak
itu baru berkata:
"Inilah pil anti racun yang diramu khusus oleh nyonya,
cepat kalian telan pil itu." Dalam pada itu suara siau-cui
kembali berkumandang:
"Bubuk racun yang ditebarkan di atas pohon itu meski
dahsyat sekali daya perusaknya namun lambat sekali
bekerjanya, tapi bila racun itu mulai bekerja kasiatnya,
nasib kalian pasti akan habis, kecuali obat khusus
ramuan nona kami sendiri, tak nanti ada obat lain yang
bisa selamatkan jiwa kalian."
Po-hong yang jarang sekali berbicara, tiba-tiba
menimbrung:
"Nona, budak itu mengira kita sudah keracunan,
kenapa tidak kita gunakan siasat melawan siasat dengan
pura-pura keracunan untuk memancing dia masuk
perangkap?"
"Budak itu pintarnya bukan main, aku rasa tak
gampang untuk memancingnya masuk perangkap."
"Sekalipun tidak masuk perangkap. toh kita tak boleh
lepaskan kesempatan yang sangat baik ini untuk
memperjuangkan kehidupan, siau-cui sudah menduga

3084
bahwa kita akan mengungsi ke atas pohon besar ini,
berarti kecuali kawanan ular di seputar lembah Bansiong-
kok ini, dia pasti sudah siapkan juga jago-jago
lihaynya di seputar sini, bila kita berani melakukan
sesuatu tindakan, niscaya dia akan perintahkan anak
buahnya untuk maju menyerang."
Dalam pada itu siau-cui kembali berteriak lantang
setelah tidak mendengar suara jawaban dari lawannya:
"Kalau tidak percaya, kalian boleh mencoba atur
pernapasan, segera akan kalian buktikan bahwa
ucapanku bukan gertak sambal belaka." setelah berhenti
sejenak, kembali terus-nya:
"Akan kuhitung sampai sepuluh kali kentongan bila
kalian masih enggan menyerahkan diri, jangan salahkan
siau-cui akan bertindak keji." Lim Han-kim gelengkan
kepalanya berulang kali, gumamnya tiba-tiba:
"Aneh... sungguh aneh."
"Apanya yang aneh?"
"Tampaknya tempat ini punya arti yang sangat
penting buat siau-cui." sementara mereka masih
berbincang, suara kentongan yang pertama telah
bergema.
Li Tiong-hui mengintip dari balik celah dedaunan,
setelah perhatikan sekejap sekitar sana, ia membungkam
diri
Mendadak Tui-im menarik ujung baju Po-hong seraya
berbisik:

3085
"Adikku, tiba-tiba aku teringat satu cara untuk
mengusir ular-ular tersebut"
"Bagaimana caramu?"
"Aku dengar ular paling takut dengan api, kenapa
tidak kita gunakan api untuk menyerang ular-ular
tersebut?"
"Caramu ini memang bagus, tapi bagaimana cara kita
untuk turun tangan?" Tui-im tersenyum.
"Coba lihat tumpukan rumput kering yang berada dua
kaki di depan sana, kita bisa turun bersama-sama,
dengan kau melindungi diriku, aku menyerbu ke sana
menyulut api, maka rumput tersebut tentu akan segera
terbakar, hanya masalahnya punyakah keberanian dari
cici untuk melakukan misi berbahaya ini?"
Po-hong turut tertawa. "Cici, kau kelewat pandang
enteng diriku,"
Tanpa membuang waktu lagi ia segera melayang
turun ke atas permukaan tanah.
"Nona," bisik Tui-im kemudian, "Budak akan berusaha
pukul mundur kepungan kawanan ular itu lebih dulu,
kemudian baru bertarung habis-habisan melawan budak
itu."
Tanpa menunggu jawaban dari Li Tiong-hui, dia pun
ikut meluncur turun dari atas pohon.
Begitu mencapai permukaan tanah, sepasang pedang
kedua orang itu bergerak cepat, dimana cahaya tajam
berkelebat lewat, percikan darah amis dan hancuran
daging ular menyebar ke mana-mana.

3086
Lim Han-kim mencoba mengintip ke bawah. ia
saksikan sepasang pedang kedua orang dayang itu telah
membentuk selapis cahaya putih yang bergerak menuju
ke arah tumpukan rumput kering, serbuan mereka yang
begitu mantap seakan-akan menganggap di sana tak
hadir begitu banyak ular. setengah berbisik Li Tiong-hui
berkata:
"Ilmu pedang itu adalah ilmu pedang sapuan bawah
hasil ciptaan ibuku, tak kusangka kemampuan mereka
berdua telah mencapai tingkat kesempurnaan ilmu
pedang ini memang cocok bila dipakai dalam kepungan
musuh jumlah banyak."
"Kemampuan ibumu memang luar biasa sekali, bila
dilihat dari begitu rapat dan ketatnya serangan yang
khusus mengincar bagian bawah tubuh musuh, rasanya
biar jago persilatan kelas satu pun belum tentu sanggup
menghadapinya."
Dalam pada itu kedua orang dayang tadi sudah
semakin mendekati tumpukan rumput kering itu, dengan
cepat Tui-im mengeluarkan batu api, tapi sebelum ia
sempat menyulut rumput kering itu mendadak terdengar
beberapa kali desingan angin tajam meluncur datang.
Sudah cukup lama Tui-im dan Po-hong mengikuti
nyonya Li, bukan saja ilmu pedang mereka amat
sempurna, dalam ilmu senjata rahasia pun memiliki
keberhasilan yang mengagumkan,
Begitu mendengar suara desingan itu, mereka segera
tahu bahwa senjata rahasia sedang mengancam jiwanya,
tanpa berpaling lagi mereka memutar sepasang
pedangnya ke belakang. "Traaaang ... traaaang ,.."

3087
Diiringi suara dentingan nyaring, dua bilah pisau
terbang itu mencelat tersambar pedang dan rontok ke
tanah.
Sementara tangan kanannya pukul jatuh serangan
senjata rahasia, tangan kiri Tui-im segera bekerja cepat
menyulut api dan membakar rumput kering itu.
Tumpukan ranting kering yang berada di sana seketika
berkobar menjadi lautan api begitu tersulut api, dalam
waktu singkat api menyebar ke mana-mana dan asap
hitam menyelimuti seluruh angkasa.
Gara-gara konsentrasinya lebih tercurah pada api,
perhatian Tui-im bercabang, akibatnya seekor ular
beracun melompat ke atas dan mematuk pergelangan
tangan kirinya.
Buru-buru Tui-im memutar pedangnya sambil
menyambar, percikan darah amis menyebar ke manamana,
ular tersebut segera terpotong menjadi berapa
bagian.
Lim Han- kim yang berada di tempat atas dapat
menyaksikan semua peristiwa itu dengan jelas, diamdiam
timbul juga perasaan kagumnya atas keberanian
Tui-im, pikirnya:
"Padahal Tui-im dan Po-hong hanya kaum wanita, tak
nyana keberaniannya begitu mengagumkan sedang aku
Lim Han- kim adalah seorang lelaki sejati, masa aku
harus berpeluk tangan belaka?"
Berpikir sampai di situ, ia pun meluncur turun ke atas
tanah, dengan pedang di tangan kanan, ranting pohon di

3088
tangan kiri, ia sapu dan babat habis kawanan ular di
sekelilingnya.
Bersamaan waktunya Lim Han-kim meluncur ke bawah
pohon, siau-cui dengan memimpin belasan- orang
jagonya telah menyerbu datang dan mencegat Tui-im
serta Po-hong, sementara siau-cui sendiri dengan
membawa empat orang busu berbaju biru langsung
menghampiri Lim Han-kim.
Kobaran api semakin membara, kawanan ular yang
semula mengurung rapat sekitar tempat itu kontan saja
bubar dan lari terbirit-birit.
Siau-cui dengan wajah penuh amarah langsung
menerkam ke arah Lim Han-kim, bentaknya nyaring:
"Cepat buang senjatamu dan menyerahkan diri, apa
kau benar-benar ingin bermusuhan dengan nona kami?"
Mula-mula Lim Han-kim agak tertegun, menyusul
kemudian sahutnya sambil tertawa:
"Dengan kedua belah pihak aku Lim Han-kim tak
punya budi maupun dendam, asaikan nona kalian
bersedia mengurungkan ambisinya, aku..."
Siau-cui tidak banyak bicara, ia memberi kode dengan
pedangnya, dua orang busu berbaju biru yang berada di
belakangnya langsung menyerbu ke depan dan
mengayunkan sen-jatanya.
Lim Han-kim tak mau kalah, dia putar juga pedangnya
membendung datangnya serangan tersebut, dengan
pedang pendek dia layani serangan dari kedua orang
busu itu, sementara ranting di tangan kirinya digunakan
untuk membunuh ular.

3089
Dalam pada itu siau- cui telah berteriak lantang:
"Li Tiong-hui, berani kau bertarung mati-matian
melawan aku?"
"Lebih baik kalian bertiga maju bersama-sama" jengek
Li Tiong-hui seraya menyapu sekejap siau-cui beserta
kedua orang busunya.
Siau-cui membentak nyaring, pedangnya diputar
langsung membacok ke atas kepala lawan.
Dengan gerakan "awan tebal dari angkasa" pedangnya
menangkis pental senjata musuh, mengikuti gerakan itu
dia balas membabat pinggang musuh, di balik
pertahanan ia lancarkan pula sebuah serangan.
Tiba-tiba siau-cui seperti teringat akan suatu masalah
yang penting sekali, mendadak ia tarik kembali
senjatanya sambil melompat mundur, ujarnya:
"Nona Li, ada satu hal tidak kupahami, kau bersedia
memberi petunjuk dan keterangan?" Agak lega juga
perasaan Li Tiong-hui setelah melihat Tui-im, Po-hong
serta Lim Han- kim mampu mengimbangi lawannya
meski pertarungan berlangsung amat seru.
"Soal apa?" tegurnya ketus, "Bubuk racun ramuan
nona kami sangat manjur dan lihay, jelas sudah kalian
berempat telah keracunan tadi, kenapa racun itu belum
juga bekerja dalam tubuh kalian?"
"Keluarga Hong-san merupakan gudang-nya obatobatan,
kau anggap racunnya seebun Giokshiong mampu
mengapa- apakan kami?"

3090
"Jadi kalian telah menelan pil anti racun?" seru siaucui
dengan kening berkerut. Li Tiong-hui tertawa
hambar.
"Benar, permainan busuk Seebun Giok-hiong masih
belum seberapa hebat, kau anggap kemampuannya bisa
dipamerkan di perkampungan keluarga Hong-san kami?"
"Kurang ajar" bentak Siau-cui gusar, "Kau berani
menghina kemampuan nona kami?" Kembali ia
menerjang ke muka sambil melancarkan sebuah bacokan
kilat.
"Hey budak busuk," ejek Li Tiong-hui sambil tertawa
dingin, "Kemampuanmu seorang masih bukan
tandinganku, lebih baik kalian bertiga maju bersamasama."
Meskipun sedang berbicara, permainan pedangnya
tidak mengendor sedikit pun, bagaikan hembusan angin
puyuh ia tangkis ancaman dari Siau-cui kemudian secara
beruntun melepaskan tiga buah serangan balasan-
Ilmu silat dari keluarga Hong-san memang tersohor di
seluruh dunia persilatan, inti sari dari kepandaian silatnya
merupakan petilan dari inti sari ilmu silat pelbagai partai
besar di dunia, tak heran bila permainan pedang dari Li
Tiong-hui saat ini aneh sekali, termasuk perubahan jurus
dari Bu-tong-pay, Kun-lun-pay maupun Go-bi-pay.
Termakan oleh ketiga serangan tersebut, siau-cui
keteter hebat dan terdesak mundur beberapa langkah.
Semula kedua orang Busu berbaju biru itu hanya
berdiri di sisi arena, tapi begitu melihat Siau-cui terdesak

3091
mundur, serentak mereka memutar senjatanya dan
menyerang dari dua sisi.
Pertarungan sengit pun segera berkobar santara Li
Tiong-hui melawan ketiga orang musuhnya, dalam waktu
singkat seluruh arena telah diselimuti hawa pedang yang
menggidikkan hati.
Kerja sama Tui-im dan Po-hong betul-betul hebat dan
dahsyat, kendatipun mereka harus menghadapi empat
orang Busu sekaligus, namun kedua dayang tersebut
tetap berada di atas angin.
Justru karena lengan kiri Tui-im keburu terluka lebih
dulu oleh patukan ular maka keempat orang lawannya
masih bisa bertahan sementara waktu, coba tidak,
mungkin mereka sudah keok semenjak tadi.
Di pihak lain, pertarungan antara Lim Han- kim
melawan dua orang busu itu pun berjalan seimbang,
dengan andaikan ketajaman senjatanya pemuda itu
berhasil mengutungi senjata salah seorang lawannya, hal
ini memaksa kedua musuhnya tak berani bentrok dengan
senjata lawan, akibatnya posisi mereka pun tetap
berimbang,
Pertarungan antara Li Tiong-hui melawan siau-cui
berlangsung paling sengit, dengan kemampuan yang
dimiliki siau-cui dimana ilmu silatnya jauh melebihi kedua
orang busu tersebut, bukan saja jurus serangan yang
digunakan rata-rata ganas dan keji, bahkan sasaran yang
dituju pun merupakan bagian yang mematikan, hal ini
memaksa Li Tiong-hui harus membagi perhatian yang
lebih banyak untuk menghadapi sergapan tersebut.

3092
Sebaliknya kedua orang busu itu menjepit dari kedua
sisi dengan memanfaatkan setiap peluang yang dijumpai,
kendatipun jurus serangannya tidak seganas jurus siaucui,
namun kerja sama mereka bertiga sangat bagus dan
sempurna.
Dalam pada itu kobaran api yang membakar ilalang
membara semakin dahsyat, jilatan api yang membara
boleh dibilang telah mengurung beberapa orang itu di
tengah lautan api.
Tiba-tiba Tui-im membentak keras, secepat kilat ia
lancarkan tiga buah tusukan berantai yang satu di
antaranya segera melukai salah seorang Busu berbaju
biru itu.
Sesungguhnya kepungan keempat orang Busu itu
sudah makin kedodoran tadi, dengan terlukanya salah
satu di antara mereka, maka pertahanan orang-orang itu
pun semakin lemah.
Po-hong tak mau kalah, menyusul keberhasilan
rekannya dia pun lepaskan dua serangan mematikan
yang berhasil melukai kembali salah seorang musuhnya.
Tampaknya dua orang busu lainnya sadar bahwa
mereka bukan tandingan lawan, tiba-tiba pedangnya
ditarik ke belakang dan siap melarikan diri dari arena.
Melihat hal itu Tui-im menjengek sambil tertawa dingin:
"Hmmmm, keenakan betul kalian mau kabur.. ."
Sebuah tusukan kilat dilancarkan disusul Tui-im
menerjang maju ke depan melakukan pengejaran, lagilagi
ia berhasil menghadang jalan pergi musuhnya.

3093
Kedua orang dayang ini sadar bahwa situasi yang
begitu gawat mengharuskan mereka selesaikan
pertarungan ini makin cepat semakin baik, serangannya
segera makin diperketat.
Tak sampai lima gebrakan kemudian kedua orang
Busu itu sudah terluka pula oleh tusukan pedang lawan.
Luka yang diderita kedua orang Busu ini rata-rata
terletak pada bagian tubuh yang mematikan, akibatnya
mereka sudah tak mampu lagi untuk melanjutkan
pertempuran.
"Adikku," bisik Po-hong kemudian, "Bagaimana
keadaan lukamu?"
"Tidak apa-apa, cuma luka luar."
"Sekarang kobaran api sudah makin mengganas, kalau
tidak cepat-cepat meloloskan diri, kita akan sulit
melepaskan diri"
"Yaa betul." Tui-im membenarkan "Kau segera
membantu nona, biar aku membantu Lim siang kong."
Po-hong menyahut dan langsung menerjang ke arah
musuh-musuh yang sedang mengerubuti Li Tiong-hui.
Sedangkan Tui-im dengan dua kali lompatan saja telah
mencapai sisi Lim Han- kim, serunya keras:
"Lim siang kong, biar kubantu dirimu."
Padahal ucapan tersebut tak ada artinya sebab
pedangnya sudah bekerja cepat membabat lawannya,
Kemampuan dua orang Busu itu dalam melawan Lim
Han- kim sebenarnya hanya berimbang saja, dengan

3094
kehadiran Tui-im sekarang, keadaannya otomatis
berubah timpang.
Tak sampai enam-tujuh gebrakan ke-mudian, salah
seorang busu berbaju biru itu sudah terluka oleh tusukan
Tui-im.
Semangat Lim Han- kim segera bangkit kembali, dua
serangan dadakan membuat busu yang kedua terluka
pula oleh serangannya.
Ketika berpaling ke arena lain, tampak siau-cui masih
bertarung sengit melawan kerubutan Li Tiong-hui serta
Po-hong.
Kini tubuh siau-cui telah penuh dengan luka dan noda
darah, namun ia tetap melakukan perlawanan sengit,
tampaknya dia bermaksud memberi perlawanan hingga
titik darah penghabisan.
Rupanya kehadiran Po-hong tadi dengan cepat
berhasil melukai dua orang Busu berbaju biru itu.
Sambil memburu ke sisi arena Lim Han-kim berseru
keras:
"Nona siau-cui, anak buahmu sudah terluka semua,
kini tinggal kau seorang, daripada melawan terus lebih
baik menyerah kalah saja"
"Hmmm, keluarga Hong-san segera akan tumpas,"
tukas siau-cui marah, "Biarpun hari ini aku bakal gugur,
nonaku pasti akan membalaskan dendam kematianku
ini."
"Kau si budak jelek liar betul," umpat Tui-im jengkel,
"Lim siangkong, kau tak perlu membujuknya lagi, kalau

3095
dia memang pingin mampus, biar kami penuhi
keinginannya itu." Dengan kecepatan bagaikan kilat ia
lepaskan sebuah tusukan.
Siau-cui putar pedangnya membendung datangnya
tusukan dari Tui-im, tak disangka saat itulah Po-hong
melancarkan sergapan kilat dari samping arena.
Di bawah bimbingan nyonya Li sendiri, ilmu silat yang
dimiliki Tui-im serta Po-hong boleh dibilang sangat
tangguh, benar ilmu silat dari siau-cui sangat lihay,
namun mana mungkin ia bisa membendung sergapan
kedua orang lawannya? Di antara cahaya putih yang
berkelebat lewat, bahu kirinya tertusuk telak.
Siau-cui membentak nyaring, sekuat tenaga ia
lancarkan dua serangan untuk mendesak mundur Li
Tiong-hui serta Tui-im, kemudian sambil mundur sejauh
tiga depa, ia angkat kepalanya menghela napas panjang
sambil mengeluh: "Wahai nonaku, aku telah berusaha
dengan sekuat tenaga."
Tanpa banyak bicara dia gorok leher sendiri dengan
pedangnya,
Untung Lim Han- kim bertindak cepat, ia maju ke
muka sambil putar pedang Jin-siang-kiamnya untuk
menangkis pedang siau-cui, menyusul kemudian ia
cengkeram pergelangan tangan kanan lawan dan
merampas senjatanya.
"Siapa suruh kau menolong aku?" bentak siau-cui
sangat gusar.

3096
"Menang kalah sudah lumrah dalam pelbagai
pertarungan kenapa nona harus mengambil jalan
pendek?"
"Enyah... enyah kau dari sini..." teriak siau-cui sambil
meronta-ronta, namun belum selesai ucapannya ia sudah
sempoyongan dan roboh terjungkal ke tanah.
"Saudara Lim." Terdengar Li-Tiong-hui menegur
dengan hambar, "Kau benar-benar berniat
menolongnya?"
"Aaaaai... meskipun dia adalah dayangnya seebun
Giok-hiong, toh dalangnya bukan dia, coba kau saksikan
kesetiaannya terhadap majikan, sikap seperti ini sangat
mengagumkan lagipula kematiannya tidak akan
mengubah situasi pada umumnya, nona, ampunilah
jiwanya" Li Tiong-hui menghela napas panjang.
"Saudara Lim, kau sungguh bijaksana dan berhati
luhur, kedudukan Bengcu sudah sepantasnya menjadi
milikmu.."
"Nona terlalu serius," sahut Lim Han- kim tertawa.
"Kini kobaran apa telah membongkar semua
permukaan, jika kau ingin selamatkan jiwanya, cepat
bawa dia tinggalkan tempat ini."
Lim Han- kim berpikir sejenak. kemudian sambil
membopong siau-cui dia tinggalkan tempat itu lebih dulu.
Dalam waktu singkat mereka telah meninggalkan
daerah kebakaran itu. Mendadak Li Tiong-hui berhenti
berjalan sambil katanya:

3097
"Saudara Lim, aku lihat urusan ini agak aneh, coba
kau tanyakan kepadanya, dimana orang-orang yang
dibawanya?"
Lim Han-kim menundukkan kepalanya, ia jumpai siaucui
pejamkan matanya rapat-rapat, mungkin sudah jatuh
tak sadarkan diri, karena itu sahutnya seraya
menggeleng "Lukanya cukup parah, mungkin ia sudah
tak mampu memberikan jawabannya." Termangumangu
Li Tiong-hui mengawasi lautan api di hadapannya
sambil bergumam:
"Heran, padahal dia seharusnya bisa melarikan diri,
kenapa perempuan itu justru ngotot bertarung matimatian?
Ketika saudara Lim selamatkan jiwanya, dia
bukan berterima kasih malahan menunjukkan
penderitaan batin yang luar biasa, seakan-akan hanya
kematian yang bisa bebaskan dia dari penderitaan
tersebut... apa yang sebenarnya telah terjadi dan
menimpa dirinya?"
"Yaa, betul sekali ucapanmu itu," sambung Lim Hankim
pula, "Aku pun sangat keheranan atas peristiwa ini."
Belum habis ucapan tersebut diutarakan, mendadak
dari tengah kobaran api itu bergema suara ledakan yang
maha dahsyat, begitu dahsyatnya ledakan itu hingga
seluruh bumi terasa bergetar keras, asap tebal pun
segera menyelimuti seluruh angkasa.
Berubah hebat paras muka Li Tiong-hui setelah
melihat kejadian ini, serunya tanpa terasa:
"Benar-benar sebuah perangkap yang keji dan jahat,
untung Tui-im melepaskan api untuk membakar tempat
ini."

3098
Tampaknya suara ledakan yang maha dahsyat itu
menyadarkan juga siau-cui dari pingsannya, sembari
membuka matanya lebar-lebar dia mengeluh:
"Oooh nona... habis sudah, habis sudah, siau-cui
merasa berdosa padamu, aku malu bertemu dengan
kau... oooh, biar mati pun aku tak bisa tenteram..."
Dalam pada itu Li Tiong-hui telah menggertak giginya
menahan gejolak emosi yang membara, umpatnya tak
terasa:
"Seebun Giok-hiong, kau memang perempuan
bedebah, tak kusangka sama sekali bila hatimu begitu
licik, keji dan buas, sedikitpun tak berperikemanusiaan."
Mendadak terdengar seseorang menjengek sambil
tertawa dingin:
"Li Bengcu, menjelek-jelekkan nama orang di belakang
yang bersangkutan merupakan perbuatan yang
memalukan, kau tak kuatir menurunkan wibawamu
sebagai seorang ketua dunia persilatan?"
Ketika Li Tiong-hui berpaling, terlihatlah seebun Giokhiong
dengan pakaian serba hitam dan membawa
sebuah topi bambu telah berdiri kaku di hadapannya,
jelas ia baru datang dari tempat yang jauh.
Begitu melihat kemunculan seebun Giok-hiong, Lim
Han- kim segera membaringkan siau-cui ke tanah seraya
berseru:
"Nona, kedatanganmu kebetulan sekali, budak
kesayanganmu sudah terluka parah, kau harus
menolongnya segera, kalau tidak. mungkin selembar
jiwanya tak bakal ketolongan lagi."

3099
Dengan langkah lebar seebun Giok-hiong berjalan
mendekat setelah menengok keadaan siau-cui sekejap.
tegurnya: "siapa yang melukai dia?"
"Aku" sahut Tui-im dan Po-hong hampir bersamaan
Setajam sembilu sorot mata seebun Giok-hiong
menyapu dua orang dayang itu sekejap. lalu katanya:
"Kalian berdua pasti akan kuberi bagian"
Li Tiong-hui mendengus dingin, selanya: "Waktu dan
tempat petarungan telah kita sepakati bersama, kita pun
telah berjanji pada saat yang telah ditentukan kita akan
bertarung habis-habisan, hmmmm sungguh tak kusangka
kau gunakan kesempatan ini untuk membokong orang,
bahkan gunakan siasat licik ini untuk memusnahkan
kami. Untung saja siasat busukmu ketahuan lebih awal,
coba kalau tidak... bukankah seluruh jago dan orang
gagah di dunia akan celaka oleh pikiran licikmu itu?"
Seebun Giok-hiong berkerut kening, tanpa
mengucapkan sepatah kata pun dia bungkukkan badan
dan menepuk dada siau-cui satu kali.
Waktu itu sebenarnya siau-cui sudah tak sadarkan diri,
tapi begitu dadanya ditabok seebun Giok-hiong, ia segera
tersadar kembali.
Tidak memberi kesempatan kepada siau-cui bicara
duluan, seebun Giok-hiong menghardik marah:
"Siapa yang perintahkan kau untuk menanam bahan
peledak di sini?"
"Bukankah nona mengirim perintah dengan tusuk
konde emas?" sahut siau-cui.

3100
"Dimana tusuk konde emas itu sekarang?"
"Dalam saku hamba"
Seebun Giok-hiong segera merobek pakaian siau-cui
dan mengambil tusuk konde emas yang dimaksud dari
saku gadis itu. sambil tertawa dingin Li Tiong-hui segera
menyindir. "Barang bukti sudah di depan mata, nona
mau membantah apa lagi?"
Seebun Giok-hiong sama sekali tidak menanggapi
sindiran Li Tiong-hui itu, diamatinya tusuk konde emas
itu dengan seksama, kemudian dari sakunya dia
mengeluarkan sebuah botol porselen, menuang dua butir
pil dan dicekokkan ke mulut siau-cui seraya berkata:
"Cepat telan pil itu, kau harus pertahankan nyawamu
untuk mencuci bersih nama baikku dari fitnahan ini."
Mendadak terdengar suara ujung baju terhembus
angin bergema datang, ketika semua orang berpaling,
tampak seorang perempuan setengah umur berwajah
cantik dan mengenakan baju serba putih telah muncul di
tempat itu.
"ibu..." pekik Li Tiong-hui seraya berlutut. si
pendatang memang tak lain adalah nyonya Li.
Tui-im serta Po-hong serentak jatuhkan diri berlutut
pula di hadapan majikannya, Nyonya Li ulapkan tangan
kanannya sambil menukas: "Tidak usah banyak adat"
Kemudian sambil berpaling ke arah seebun Giok-hong,
terusnya: "Kau yang bernama seebun Giok-hiong?"
"Betul" Nona itu mengangguk.

3101
"Selama ini aku jarang mencampuri urusan putriku,
tapi cara yang nona pergunakan sekarang bukan hanya
ditujukan untuk putriku saja, sebaliknya justru ingin
memusnahkan seluruh perkampungan keluarga Hong-san
kami"
Dengan sikap yang amat tenang seebun Giok-hiong
membenahi rambutnya yang kusut, kemudian baru
sahutnya:
"Siang malam menempuh perjalanan jauh baru saja
boanpwee tiba di tempat ini, jadi aku tidak tahu sama
sekali atas peristiwa yang baru terjadi di sini, lebih baik
locianpwee jangan panik dulu, biar kuperiksa dayangku,
siapa tahu dari mulutnya bisa kita ungkap latar belakang
yang sebenarnya."
Nyonya Li menengok siau-cui yang berbaring di tanah
itu sekejap. lalu menegur: "Lukanya cukup parah?"
"Tak menjadi masalah, ia telah menelan pil
mujarabku, rasanya untuk tetap hidup sih bukan soal
berat."
"Bagus, kalau begitu tanyalah"
Sementara itu melihat situasi bertambah tegang dan
pertarungan setiap saat bisa berlangsung diam-diam Lim
Han-kim berpikir
"Pihak nyonya Li selain ada Li Tiong-hui juga ada Tuiim
dan Po-hong, kelompok mereka berjumlah empat
terhitung sangat tangguh,sebaliknya seebun Giok-hiong
hanya seorang diri, sehebat apa pun, ilmu silatnya sulit
rasanya bagi dia untuk menangkan pertarungan ini."

3102
Sementara pemuda itu masih berpikir, seebun Giokhiong
telah berkata dengan suara dingin:
"Siau-cui, sudah sadarkan pikiranmu?"
"Saat ini pikiran budak sudah amat jernih"
"Bagus, apa yang kutanyakan kepadamu berikut ini,
jawablah dengan sejujurnya aku tidak takut dengan siapa
pun atau sengaja, ingin mencuci bersih namaku dari
peristiwa ini, aku hanya ingin buktikan kepada mereka
bahwa untuk membasmi keluarga Hong-san tak perlu
kugunakan cara serendah dan sehina ini."
"Ajukan saja semua pertanyaan nona, budak akan
menjawab secara jujur danjelas."
"Masih ingatkah kau manusia macam apa yang telah
menyampaikan perintah palsu ini kepadamu?"
"Seseorang berbaju serba hitam yang menggembel
pedang di punggungnya."
"Maksudku bagaimana macam bentuk wajahnya"
"Dia mengenakan kain kerudung berwarna hitam
hingga budak kesulitan melihat raut muka aslinya."
"Darimana datangnya begitu banyak bahan peledak
ini?"
"Pemberian dari manusia berbaju hitam itu, dengan
tunjukkan tusuk konde emas itu ia mengatakan bahwa
dia diperintah nona untuk menghantar kemari bahan
peledak tersebut, budak pun diperintahkan untuk
membuat perangkap bahan peledak di daerah sini,
katanya nona berniat menghadang datang seluruh jago
persilatan dari perkampungan keluarga Hong-san ini,

3103
kemudian sampai saatnya bahan peledak ini akan disulut
agar semua yang hadir di sini mati semua."
"Bagaimana pula bentuk manusia yang membawa
bahan peledak itu sampai disini?" tanya seebun Giokhiong
lebih jauh.
"Semua mengenakan pakaian warna warni, persis
seperti pasukan pengawal panca warna milik nona."
Mendengar sampai-di sini seebun- Giok-hiong pun
menghela napas panjang, katanya pelan:
"Mereka dapat selidiki segala sesuatunya secara begitu
jelas, ini membuktikan bahwa mereka sudah mempunyai
persiapan serta perencanaan yang matang..." setelah
berhenti sejenak, terusnya:
"Siau-cui, sudah banyak tahun kau ikuti diriku, masa
tak bisa kau bedakan kalau tusuk konde emas ini palsu?"
"Begitu melihat tanda perintah tusuk konde emas,
budak hanya tahu taat dan mendengarkan perintah
dengan seksama, karena menguatirkan budak tak
sanggup menyelesaikan tugas berat dari nona secara
sempurna, maka budak pun tak punya perhatian lagi
untuk membedakan apakah tanda perintah itu asli atau
palsu." seebun Giok-hiong segera berpaling ke arah
Nyonya Li ucapnya:
"Nah, begitulah jalan ceritanya, begitu sederhana dan
singkat, ada orang lain yang begitu benci dengan
keluarga Hong-san kalian tapi tak berani tampil sendiri
untuk membalas dendang maka ia pun sengaja mencatut
namaku. Bagaimana? percaya tidak?"

3104
"Ehmmm, nampaknya sih tidak lagi bohong." Nyonya
Li mengangguk. seebun Giok-hiong segera bungkukkan
badan membopong siau-cui, katanya lagi:
"Aku hanya ingin mengutarakan kejadian yang
sesungguhnya, sedang mengenai apa nyonya Li mau
percaya atau tidak dengan kisah tersebut, itu tak ada
sangkut pautnya lagi dengan aku."
Kemudian sambil membalikkan badan, tambahnya:
"Sekarang minggirlah, aku harus pergi dari sini" .
"Tunggu dulu" bentak Li Tiong-hui.
Setajam sembilu sebun Giok-hiong melototi wajah Li
Tiong-hui. "Masih ingin bicara apa lagi nona?" jengeknya.
"Untuk sementara ini biar aku percayai omonganmu
tadi bahwa bahan peledak tersebut bukan nona yang
utus orang untuk menanamnya di sini, tapi satu hal
sudah jelas telah dilakukan budak kesayanganmu itu,
sebelum tiba saatnya budakmu telah menghadang orangorang
yang hendak hadir di perkampungan keluarga
Hong-san, apa tugas ini juga bukan atas perintah dari
nona?"
"Memang aku yang mengutus siau-cui datang kemari."
"Apa maksudmu mengutus siau-cui datang kemari?"
Sambil berpaling ke arah Lim Han- kim dan menatap
sekejap pemuda tersebut, sahut sebun Giok-hiong:
"Aku suruh dia mengirim sepucuk surat yang ditujukan
buat saudara Lim itu, tentunya dia telah menunjukkan
surat tersebut kepada nona Li bukan?"

3105
"Kalau cuma bermaksud kirim surat untuk orang
kesayanganmu, cukuplah kirim satu orang saja, kenapa
kau suruh Siau-cui membawa serta begitu banyak jago
tangguh?"
"Siau-cui pernah menyerang masuk ke dalam
perkampungan keluarga Hong-san kalian?"
"Sekalipun belum pernah menyerang lembah Bansiong-
kok, dia telah melukai beberapa orang rekan
persilatan yang ingin hadir dalam pertemuan ini."
Pelan-pelan Seebun Giok-hiong membaringkan
kembali Siau-cui ke atas tanah, katanya:
"Li Tiong-hui, kau tak usah mencari gara-gara, bila
kau anggap saat ini merupakan kesempatan terbaik
bagimu untuk membunuh Seebun Giok-hiong, cari saja
alasan yang lebih sederhana untuk turun tangan"
Li Tiong-hui berpaling memandang ibunya sekejap,
namun wajah perempuan setengah umur itu diliputi
warna dingin dan hambar yang sukar ditebak apa makna
yang sebenarnya dari sikap tersebut.
Sementara ia sedang serba salah, mendadak terlihat
Tui-im dan Po-hong telah maju bersama seraya
meloloskan senjata mereka.
"Sudah lama budak berdua mendengar akan
kehebatan ilmu silat nona Seebun, bersediakah nona
memberi petunjuk kepada kami?" katanya.
"Kalian bukan tandinganku lebih baik suruh orang lain
saja" Jelas maksudnya menantang nyonya-Li.

3106
"Seandainya budak mati ditangan nona, anggap saja
sebagai ketidak becusanku sendiri, biar harus mati pun
tak perlu disesali" desak Tui-im lebih jauh.
"Baiklah, bila kalian bersikeras ingin merasakan
kehebatanku, tak kan kukecewakan harapan kalian
berdua, ayoh... majulah bersama"
Sikapnya begitu tenang, santai dan acuh tak acuh,
seakan-akan kemampuan kedua orang musuhnya sama
sekali-tak dipandang sebelah mata pun.
Tui-im dan- Po-hong saling bertukar pandangan
sekejap, kemudian serentak mereka getarkan pedangnya
dan siap melancarkan serangan
Tampaknya kedua orang dayang ini tahu bahwa
musuh yang mereka hadapi sekarang adalah musuh
tangguh yang belum pernah dijumpainya selama ini,
karena itu mereka tak berani bertindak secara gegabah.
Seebun Giok-hiong berdiri tak bergerak. dia menunggu
sampai sepasang pedang tersebut hampir mengenai
badannya sebelum tiba-tiba maju selangkah dan secara
lincah melepaskan diri dari ancaman tersebut.
Gagal mengenai sasarannya kedua orang dayang itu
segera menarik senjatanya melindungi diri
"Tak perlu tegang," ejek seebun Giok-hiong dingin,
"Aku akan mengalah tiga jurus untuk kalian."
Baru saja kedua orang dayang itu siap melancarkan
serangan kembali, mendadak terdengar seseorang
membentak nyaring: "Tunggu dulu"

3107
Ternyata Pek Si-hiang dibopong oleh Siok-bwee dan
Hiang- kiok sedang bergerak mendekat dengan
cepatnya.
Nyonya Li segera berkerut kening, dia seperti hendak
mengucapkan sesuatu tapi kemudian diurungkan.
Setibanya di sisi arena, siok-bwee dan Hiang- kiok
pelan-pelan turunkan Pek si-hiang ke tanah.
Sambil tersenyum lembut Pek si-hiang bangkit berdiri
dan maju ke depan arena, sapanya:
"Enci seebun, baik- baikkah Anda selama ini?"
BAB 45. Badai Di Bukit Hong-san
Terbayang kembali bagaimana dia melukai gadis
tersebut sewaktu di perahu tempo hari, timbul perasaan
menyesal dalam hati seebun Giok-hiong, namun dasar
wataknya keras dan selama ini enggan mengaku salah
kepada siapa pun maka sahutnya ketus: "Berpisah pun
baru berapa bulan, kenapa aku tidak baik?"
"Tapi ketika itu aku kan masih pengikut kalangan
sesat, tidak terhitung sebagai manusia."
"Dan sekarang?"
"Sekarang sudah baik kembali pada wajah asliku
sendiri, seorang gadis lemah yang banyak penyakitan,
asal cici menutukku dengan ujung jari pun jiwaku akan
tercabut."

3108
"Kelihatannya kondisi badanmu sekarang jauh lebih
buruk ketimbang ketika bertemu di kota si-ciu berapa
waktu berselang."
"Memang, tapi hidupku sekarang jauh lebih gembira
daripada keadaanku dulu." seebun Giok-hiong menengok
Lim Han- kim sekejap lalu tertawa hambar, katanya:
"Aku tak habis mengerti, kenapa sih kau enggan
mempelajari ilmu sesat sembilan iblis lagi untuk
mengobati penyakitmu?".
"Enci tak akan mengerti..."
"Masa di balik kesemuanya ini masih terdapat alasan
lain yang lebih dalam artinya?" Pek si- hiang tersenyum
lembut.
"Apabila cici bisa memahami arti yang sebenarnya,
badai pembunuhan yang bakal digelar di sini seketika
akan punah dan lenyap tak berbekas."
Tiba-tiba Nyonya Li menyela:
"Ajaran Buddha maha luas namun hanya menampung
mereka yang berjodoh, nak. lagi lagi kau suka
mencampuri urusan orang lain."
"Thian itu maha adil dan bijaksana," kata Pek si- hiang
tertawa, "Kenapa manusia harus berpikiran kerdil?
Nyonya..."
"Tidak usah kau lanjutkan" tukas Nyonya Li ketus.
Pek si-hiang sama sekali tak marah, dengan nada
yang tetap ramah dan halus katanya: "Bila ucapanku tadi
ada kesalahan mohon nyonya sudi memaafkan."

3109
"Nyonya Li..." Mendadak seebun Giok-hiong berseru
sambil tertawa keras, "Aku pernah dengar orang
persilatan bilang bahwa nyonya adalah jago silat nomor
wahid di kolong langit saat ini, entah berita tersebut
benar atau tidak?"
"Kau anggap ilmu silatmu sudah paling hebat?" jengek
Nyonya Li dingin.
"Kalau harus bertarung satu lawan satu, rasanya
jarang ada orang yang bisa menandingiku"
"Kalau memang begitu mudah sekali"
Seebun Giok-hiong harus termenung beberapa saat
sebelum memahami makna dari ucapan Nyonya Li itu,
segera katanya: "Aaaah, maksud nyonya, kau suruh aku
menjajal?"
Setelah melirik Li Tiong-hui sekejap kata nyonya Li:
"Sebetulnya aku enggan mencampuri urusan dunia
persilatan, sekalipun urusan itu menyangkut putriku ..."
"Tapi sekarang, kau sudah berubah ingatan bukan?"
sambung seebun Giok-hiong sambil tertawa.
"Benar, walaupun aku tak ingin terlibat karena
masalah hubungan keluarga, namun sudah menjadi
kewajibanku berbuat amal demi masyarakat orang
banyak."
"Oooh, artinya kau ingin membunuh aku untuk
menentramkan dunia persilatan?"
"Sekalipun aku tak sampai membunuhmu paling
sedikit ilmu silatmu harus kumusnahkan, agar kau tak

3110
bisa mengandalkan kepandaian silatmu itu untuk
melakukan kejahatan lagi."
Sekilas rasa gusar melintas di wajah seebun Giokhiong,
tapi sesaat kemudian sudah lenyap tak berbekas,
katanya kemudian sambil tersenyum manis:
"Nyonya Li, kau harus sadar, apa yang kau inginkan
belum tentu bisa terlaksana dengan gampang."
Nyonya Li tidak banyak komentar, ia berpaling ke arah
Tui-im serta Po-hong sambil pesannya:
"Selama aku bertarung melawan nona Seebun nanti,
kalian dilarang untuk turut membantu, tahu?"
"Hmmm..." Dengan sombong seebun Giok-hiong
tertawa dingin, "Sekalipun mereka turut membantu juga
tidak apa-apa..."
Nyonya Li tertawa hambar.
"Seebun Giok-hiong" katanya, "Bila kau sanggup
mengungguli diriku, rasanya kau pun bisa penuhi
harapanmu untuk merajai seluruh dunia persilatan tanpa
tandingan."
"Cepat atau lambat akhirnya kita toh harus
melangsungkan juga pertarungan ini, maka yang harus
terjadi biarlah terjadi sekarang ini, nyonya seorang
wanita yang saleh, sudah sepantasnya bila aku yang
muda mengalah dua jurus dulu untukmu."
"Kau kelewat latah" dengus Nyonya Li hambar, pelanpelan
ia berjalan menghampiri gadis tersebut.
Lim Han- kim sadar, selama masih tenang maka
keadaan kedua orang ini ibarat batu karang, namun

3111
begitu pertempuran berlangsung, situasinya pasti sangat
mengerikan dan akhirnya salah seorang di antara mereka
tentu ada yang terluka atau tewas. sementara dia masih
berpikir, tiba-liba terdengar Pek si-hiang berteriak keras:
"Jangan berkelahi"
Dengan dibimbing Siok-bwee ia maju mendekap
kemudian terusnya:
"Saat dan keadaan sekarang masih belum waktunya
bagi kalian untuk bertempur"
"Kenapa?" tanya seebun Giok-hiong, "Masa untuk
bertarung pun harus memilih waktu dan hari yang baik?"
"Semua orang gagah akan berkumpul di bukit Hongsan
untuk menyelenggarakan pertemuan paling akbar,
bila kalian ingin bertarung, seharusnya pertempuran ini
menjadi acara puncak pada penutupan pertemuan akbar
tersebut, bila acara menarik semacam ini sudah kalian
langsungkan sekarang, bukankah para jago yang hadir
dalam pertemuan ini bakal merasa kecewa?"
Selesai mendengar perkataan ini, seebun Giok-hiong
segera berpaling ke wajah nyonya Li sambil katanya:
"Perkataan dari Pek si- hiang ada benarnya juga,
bagaimana menurut pendapat nyonya?"
"Nak. kau kelewat suka mencampuri urusan orang
lain," keluh Nyonya Li sambil melirik Pek si- hiang
sekejap. kemudian ia balik badan dan beranjak pergi
meninggalkan tempat tersebut,
Tampaknya saja ia berjalan sangat lamban, namun
hanya dalam waktu sekejap bayangan tubuhnya sudah
lenyap tak berbekas.

3112
Sepeninggal nyonya Li, Pek si- hiang baru berpaling ke
arah Li Tiong-hui sambil ujarnya:
"Ketika aku datang kemari tadi, kudapat berita yang
mengatakan sudah banyak jago persilatan yang
berdatangan di luar lembah Ban siong-kok. cici harus
segera pulang untuk menyambut kedatangan mereka."
Li Tiong-hui berkerut kening, namun ia berlalu juga
diikuti Tui-im dan Po-hong. Lim Han- kim yang melihat
hal ini diam-diam berpikir.
"Semua orang disingkirkan Pek Si-hiang dari sini,
berarti dia ada urusan yang hendak dibicarakan dengan
seebun Giok-hiong, aku tak leluasa berdiam terus di
sini..."
Berpendapat begitu maka dia pun balik badan dan
bermaksud pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Tunggu dulu saudara Lim" seru Pek si-hiang tiba-tiba.
"Bukankah kalian hendak berbincang? Kurang leluasa
bila aku tetap tinggal di sini," Pek si-hiang tertawa.
"Bila kehidupan manusia ibarat sebuah panggung
sandiwara, kau adalah pemegang peran utama dalam
sandiwara ini, sebelum memainkan perananmu masa kau
hendak pergi?"
"Nona Pek. permainan setan apa yang sedang kau
persiapkan?" tegur seebun Giok-hiong tidak habis
mengerti.
"Kau pun pemegang peran utama..." sambung Pek sihiang
sambil tertawa.

3113
Seperti baru memahami akan sesuatu, seebun Giokhiong
segera tertawa terkekeh-kekeh:
"Hahahaha... bagaimana dengan kau sendiri? juga Li
Tiong-hui? Kalian termasuk juga pemegang peran
utama."
"Bagaimana bisa membandingkan ikan dengan telapak
beruang yang mahal harganya? Nona Li sudah berhasil
merebut kedudukan Bu-lim Bengcu, bagi seorang gadis
berusia belasan tahun, kemampuannya untuk memimpin
seluruh dunia persilatan sudah merupakan prestasi yang
luar biasa, sedang aku? Diriku tak lebih hanya seorang
nona lemah penyakitan, hidupku di dunia pun tak terlalu
lama, posisi ku hanya tak lebih sebagai benang pembuka
jalan"
Senyuman yang semula menghiasi wajah Seebun
Giok-hiong seketika hilang tak berbekas, dengan sikap
dingin dan kaku pelan-pelan ujarnya:
"Li Tiong-hui dengan kedudukannya sebagai Bu-lim
Bengcu telah mengundang datang begitu banyak jago
lihay untuk berkumpul di lembah Ban-siong-kok. untuk
mengimbangi kekuatannya yang sangat memojokkan
diriku, taksalah bila aku pun mengundang beberapa
orang jago untuk membantu posisiku, dalam satu- dua
hari mendatang mereka pasti sudah tiba di sini. Terlepas
dari dendam kesumat kematian orang tuaku, bicara dari
situasi saat ini, keadaanku tak ubahnya seperti
menunggang di punggung harimau, tak mungkin lagi
buatku untuk mengundurkan diri, jadi pertarungan
berdarah ini cepat atau lambat pasti akan terjadi juga.
Dalam keadaan semacam ini aku rasa tak cocok bila kita

3114
singgung lagi masalah muda mudi yang tak berguna..."
setelah berhenti sejenak, kembali terus-nya:
"Yang paling penting sekarang adalah kau harus
tentukan sikap sejak dini, betul aku seebun Giok-hiong
tak berani punya harapan dengan mengharapkan simpati
darimu untuk berpihak padaku, paling tidak aku hanya
berharap kau bisa berpangku tangan dan pergi
tinggalkan perkampungan ini dengan mengajak serta Lim
Han- kim, hiduplah berapa tahun dengan tenang di suatu
tempat terpencil. Yaaa, semua perkataanku ini
kuucapkan dengan setulus hati, bila kau tetap tidak
percaya yaa apa boleh buat."
"Tidak. aku tak boleh pergi." Pek si-hiang gelengkan
kepalanya.
"Kenapa?"
"Aku belum sempat menyelesaikan pekerjaan yang
telah kusanggupi kepada Nyonya Li untuk diselesaikan,
lagipula aku sudah ambil keputusan untuk tidak
mempelajari ilmu sesat lagi, dengan kondisi tubuhku
yang begini lemah, paling berapa bulan saja aku bisa
hidup di dunia ini, sisa hidup ini harus kunikmati sepuaspuasnya."
"Hmmm,jadi kau anggap perkampungan keluarga
Hong-san ini sangat kuat seperti benteng baja hingga
Nyonya Li mampu melindungi keselamatan jiwa kalian
semua?" tukas seebun Giok-hiong dingin. Pek si- hiang
tertawa hambar.
"Dan kau berpendapat pasti dapat mengungguli
nyonya Li?" balik tanyanya.

3115
"Aku pun tahu ilmu silat yang dimiliki Nyonya Li
memang luar biasa hebatnya, bila mesti bertarung satu
lawan satu belum tentu aku sanggup mengunggulinya,
tapi dia pun jangan harap bisa mengalahkan seebun
Giok-hiong secara gampang, pada akhirnya mungkin
yang terjadi adalah pertarungan habis-habisan yang
menyebabkan tewasnya kedua belah pihak. Kecuali kau
memang berniat tetap tinggal di sini untuk
membantunya, kalau tidak turuti saja nasehatku,
tinggalkan tempat ini segera,"
"Siapa sih yang kau undang untuk membantumu?
Tampaknya kau sudah punya perhitungan pasti dapat
menangkan pertarungan ini?"
"Pertempuran yang bakal berlangsung merupakan
suatu pertarungan kekerasan yang saling mengandalkan
kepandaian, aku rasa walaupun nona Pek punya
kecerdikan yang luar biasa pun jangan harap bisa
temukan siasat bagus untuk menangkan pertarungan
ini."
Pek si-hiang segera menghela napas panjang:
"Aaaai... ditinjau dari nada perkataanmu yang begitu
tegas dan meyakinkan, tampaknya bagaimanapun kau
bertekad hendak menangkan pertarungan kali ini?"
"Yaa, situasi telah berkembang jadi begini, rasanya
aku sudah tidakpunya harapan lagi untuk selesaikan
masalah ini secara baik-baik dan damai." Agak berubah
paras muka Pek si- hiang, katanya:
"Bila aku tak berdaya mencegahmu melakukan badai
pembunuhan ini, namun aku mampu mengubah

3116
kemampuan silat nyonya Li dalam semalam saja menjadi
jauh lebih tangguh "
Mula-mula seebun Giok-hiong agak tertegun,
menyusul kemudian sahutnya sambil tertawa hambar:
"Karena perkataan ini diucapkan sendiri oleh Pek sihiang,
mau tak mau aku harus mempercayainya, aaai...
kenapa harus kau utarakan keluar? Pepatah kuno
memang benar, sepandai-pandainya tupai melompat,
akhirnya toh jatuh juga."
"Kenapa? Masa kau ingin membunuhku?"
"Tepat sekali dugaanmu, setelah kau terbunuh maka
kemungkinan besar aku akan peroleh kesempatan untuk
meraih kemenangan"
Seraya berkata, pelan-pelan dia angkat tangan
kanannya siap melepaskan sebuah pukulan .
"Sreeet" Dengan suatu gerakan cepat Lim Han- kim
meloloskan pedang pendeknya dan maju menghadang di
depan Pek Si-hiang, serunya:
"Apa-apaan kamu? Dia toh bermaksud baik dengan
membujukmu, mau dituruti atau tidak terserah kamu
sendiri.." seebun Giok-hiong tertawa dingin, tukas-nya:
"Lim Han-kim, kau betul-betul manusia yang tak tahu
diri, kau anggap hanya andalkan kekuatanmu seorang
sudah cukup untuk selamatkan Pek si- hiang? Biarpun
aku seebun Giok-hiong adalah wanita, tapi aku cukup
tahu bahwa sebagai manusia aku tak boleh punya pikiran
lemah seorang wanita, untuk selamatkan jiwa sendiri pun
masih tanda tanya besar, masa kau mampu selamatkan
orang lain?"

3117
"Betul, aku mengerti bahwa diriku masih bukan
tandingan nona, tapi aku Lim Han-kim masih punya
semangat tidak takut mati," ucap Lim Han-kim serius.
"Hahaha... biarpun punya semangat juga percuma,
toh tak bisa selamatkan jiwamu." seebun Giok-hiong
tertawa terkekeh.
Setelah berhenti sejenak. dengan nada suara yang
berubah dingin membekukan hati tambahnya:
"Cepat kau menyingkir dari situ"
Lim Han-kim tidak menggubris, dengan pedang
disilangkan di depan dada dan hawa murni dipersiapkan,
ia tetap berdiri tak bergerak di tempat semula.
Sebaliknya paras muka Pek si- hiang berubah hebat,
sambil tertawa dingin katanya: "Seebun Giok-hiong,
masa kau nekat ingin menjajal kebolehanku?"
Mula-mula seebun Giok-hiong agak tertegun,
menyusul kemudian sahutnya sambil tertawa hambar:
"Nona Pek. tampaknya kau sudah kehabisan akal
hingga gertak sambal pun kau pergunakan?"
Tiba-tiba Pek si- hiang mendorong mundur siok-bwee
dan Hiang- kiok. lalu bisiknya pula kepada Lim Han-kim:
"Saudara Lim, coba minggirlah"
Lim Han-kim berpaling, ia saksikan paras muka Pek Sihiang
saat itu telah berubah menjadi amat serius, selapis
warna merah menyelimuti wajahnya, seakan-akan gadis
itu telah berubah menjadi seseorang yang lain

3118
Perubahan ini tentu saja sangat mencengangkan
hatinya, diam-diam ia berpikir. "Masa dia betul-betul
memiliki kepandaian yang hebat?"
Sebaliknya Seebun Giok-hiong dengan sorot matanya
yang tajam juga sedang mengawasi Pek Si-hiang dengan
tatapan tajam, seakan-akan ia berniat mencari tahu
rahasia di balik mimik mukanya itu.
Lim Han-kim segera menyingkir dari arena sambil
berpesan: "Nona Pek, kau harus lebih berhati-hati."
"Sudah kuketahui kekejian, kebengisan serta cara
kerjanya, lagipula ia pernah melukai aku satu kali, masa
akan kubiarkan dia melukai diriku untuk kedua kalinya?"
Lim Han-kim coba berpaling ke arah Siok-bwee dan
Hiang-kiok, namun wajah kedua orang dayang itu pun
diliputi kebimbangan, jelas mereka pun tidak memahami
tindakan dari majikannya itu
Terdengar Pek Si-hiang berkata lagi:
"Hey Seebun Giok-hiong, kenapa kau tak segera turun
tangan?"
Saat itu Siok-bwee dan Hiang-kiok telah meloloskan
pula senjatanya sambil memperhatikan arena dengan
penuh perhatian, mereka telah siap sedia memberikan
pertolongan setiap saat.
Lim Han-kim tak mau ketinggalan dia pun
mempersiapkan diri dengan baik sambil berjaga-jaga.
Paras muka seebun Giok-hiong amat serius, dengan
sorot mata yang tajam dia awasi Pek si- hiang tanpa
berkedip.

3119
Lebih kurang sepeminum teh kemudian, mendadak ia
berbungkuk membopong tubuh siau-cui sambil katanya
dingin:
"Tidak kusangka nona Pek telah berhasil mempelajari
ilmu pukulan tangan berdarah."
Kemudian tanpa banyak bicara dia balik badan dan
beranjak pergi, sekejap kemudian bayangan tubuhnya
sudah lenyap tak berbekas.
Lama sekali Pek si- hiang berdiri kaku tanpa bergerak
sebelum akhirnya berbisik pelan
"Seebun Giok-hiong sudah pergi jauh?"
"Yaa, ia sudah pergi entah ke mana," sahut Lim Hankim.
"Bagus sekali..." sahut Pek si-hiang sambil mencabut
lepas sebatang jarum emas dari iganya.
Berbareng dengan tercabutnya jarum tersebut,
tubuhnya ikut roboh terjungkal ke tanah.
"Nona..." buru-buru siok-bwee dan Hiang- kiok maju
ke muka membimbing tubuh majikannya.
Sambil membuka matanya dan menghembuskan
napas panjang bisik Pek Si-hiang:
"Kita harus tinggalkan tempat ini secepat-nya, bila
dugaanku tak keliru, dalam waktu singkat seebun Giokhiong
sudah menyadari kelemahanku ini."
"Apakah nona telah menggunakan siasat untuk
menipunya?" tanya Lim Han-kim.

3120
"Di dalam dadanya penuh dengan rasa dendam
kesumat dan api amarah, andaikata ia balik kembali ke
sini pasti semua orang akan dibabatnya sampai habis
termasuk kau sendiri, yaaa... situasi saat ini amat gawat,
aku tak sempat lagi memberi penjelasan kepadamu,
pokoknya kita harus tinggalkan tempat ini secepatnya."
Siok-bwee dan Hiang-kiok tidak banyak bicara lagi,
mereka sebera menggotong tandu dan meninggalkan
tempat itu secepatnya.
Lim Han-kim dengan pedang terhunus mengikuti di
belakangnya.
Baru saja melewati sebuah tikungan bukit, mendadak
jalan pergi mereka terhadang oleh seorang perempuan
berambut panjang yang berwajah sangat jelek-
Sedemikian jeleknya wajah orang itu hingga boleh
dibilang jarang sekali dijumpai di kolong langit saat ini,
tak heran bila Hiang-kiok dan siok-bwee segera menjerit
tertahan.
Dengan gerakan cepat Lim Han-kim mendahului tandu
dan berdiri melintang di depan Pek si-hiang, lalu
tegurnya ketus:
"Seebun Giok-hiong, kau tak perlu menyamar sebagai
setan iblis untuk menakuti orang,"
Begitu tahu kalau perempuan itu adalah seebun Giokhiong,
serentak siok-bwee dan Hiang-kiok menurunkan
tandu ke tanah dan bersama-sama meloloskan
pedangnya bersiap sedia.

3121
Seebun Giok-hiong mendengus dingin, tanpa
menengok sekejap pun ke arah dua orang dayang itu
tegurnya:
"Pek si-hiang, kepergianmu terlalu terburu- buru."
Pelan-pelan Pek si-hiang bangkit berdiri dari tandunya
dan menyahut:
"Belalang menubruk comberet, burung nuri mengincar
dari belakang, coba tengoklah ke belakang, periksa siapa
yang telah berdiri di situ?" seebun Giok-hiong agak
tertegun, tanpa terasa ia berpaling,
Namun suasana di situ amat hening, tak nampak
sesosok bayangan manusia pun di situ. sambil tertawa
terkekeh-kekeh seebun Giok-hiong segera berkata:
"Pek si- hiang, tampaknya kehebatan serta
kemampuanmu hanya sebatas begitu saja, tak kusangka
kata-kata bohongan semacam begini pun bisa kau
gunakan untuk menipuku . . ." Kemudian setelah
berhenti sejenak. dengan nada yang dingin bagaikan es
terusnya:
"Mengingat kita adalah kenalan lama, maka cukup
pantas rasanya bila kuberi kesempatan kepadamu untuk
memilih cara mati, mau bunuh diri? Ataukah aku harus
turun tangan untuk membantumu?"
"Nona seebun, tampaknya kau sudah melupakan aku
orang she Lim?" tegur Lim Han-kim tiba-tiba.
Seebun Giok-hiong tersenyum manis,
"Apa gunanya kehadiranmu di sini?" ejeknya.

3122
"Meskipun aku sadar bahwa kepandaian silatku masih
bukan tandinganmu, tapi sebelum kau dapat membunuh
nona Pek, paling tidak harus kau singkirkan dulu diriku."
"Ehmmmm, di kala masih hidup tak dapat hidup
seatap. memang paling baik pabila setelah mati bisa
dikubur dalam satu liang. Wahai Lim Han-kim Kupenuhi
harapanmu itu."
"Jangan lupa dengan kami berdua.." jerit siok-bwee
dan Hiang- kiok berbareng.
"Kalian berdua?" sambung seebun Giok-hiong sambil
melirik kedua orang itu sekejap.
"Tak usah kuatir, segera kusempurnakan juga
keinginan kamu berdua..."
Sementara berbicara mendadak tubuhnya mendesak
maju ke muka, tangan kanannya segera menyambar ke
tubuh siok-bwee sementara tangan kirinya mencakar
Hiang-kiok. Buru-buru siok-bwee melompat mundur
sambil melepaskan sebuah sapuan pedang.
Hiang-kiok merasakan nadi pada pergelangan
tangannya menjadi kaku, tahu-tahu pedangnya telah
berhasil dirampas oleh seebun Giok-hiong.
Rupanya tujuan perempuan itu memang hanya
merampas pedang sehingga serangan yang ditujukan ke
arah siok-bwee itu hanya berniat memaksanya mundur
ke belakang dan tak sempat menolong rekannya.
Melihat betapa cepatnya gerak serangan tersebut,
diam-diam Lim Han-kim berpikir.

3123
"Habis sudah riwayatku, tampaknya gabungan tenaga
kami bertiga belum tentu sanggup membendung sepuuh
jurus serangannya."
Sementara itu siok-bwee pun amat terkejut setelah
melihat pedang Hiang-kiok berhasil dirampas hanya
dalam satu gebrakan saja, pedangnya segera digetarkan
dan melepaskan sebuah tusukan kilat
Seebun Giok-hiong putar pedangnya menangkis
datangnya ancaman itu. "Traaaang..."
Kembali terdengar suara benturan yang amat nyaring,
siok-bwee merasa pergelangan tangannya kesemutan,
pedangnya tak sanggup lagi digenggam dalam
tangannya, tak ampun senjata tersebut terlempar ke
tengah udara...
Berhasil mementalkan pedang siok-bwee dengan
getaran pedangnya, lagi-lagi seebun Giok-hiong
melepaskan satu bacokan kilat menyambar tubuh gadis
itu.
Menyaksikan begitu cepat datangnya ancaman
tersebut, buru-buru siok-bwee menyusut mundur untuk
menghindar namun terlambat selangkah...
"Sreeet" Di tengah desingan angin tajam, segenggam
rambutnya rontok terpapas kutung.
Lim Han-kim membentak nyaring, sambil
menggetarkan pedangnya ia mendesak maju ke muka
dan menghadang persis di depan tubuh Pek si-hiang.
"Lim Han-kim" Dengan sangat marah seebun Giokhiong
membentak, " Tampaknya kau benar-benar sudah
bosan hidup?"

3124
Pedangnya digetarkan, seperti menusuk seperti pula
membacok ia lepaskan sebuah ancaman ke depan
Lim Han-kim merasa datangnya seranganku aneh
sekali, ia sama sekali tak dapat menduga sasaran
manakah yang sebenarnya sedang dituju, dalam
terkejutnya terpaksa ia menggerakkan pedangnya untuk
melindungi seluruh badan.
Posisi ini merupakan suatu sistim pertahanan secara
total betapa pun hebatnya serangan yang datang
mustahil bisa melukai tubuhnya,
Siapa tahu ketika ujung pedang Seebun Giok-hiong
hampir mengenai tubuhnya tiba-tiba ia tarik kembali
serangan tersebut sambil katanya dengan dingin: "Lim
Han-kim, aku ingin bertanya kepadamu dan kau harus
menjawab secara jujur"
"Soal apa?"
"Kau ibarat patung lumpur yang menyeberangi sungai,
untuk menyelamatkan diri pun tak mampu, kenapa kau
masih berusaha untuk menyelamatkan Pek si- hiang?"
"Kau kuat sedang dia lemah, kau yang kuat berusaha
menghina yang lemah, tentu saja aku Lim Han-kim tak
boleh berpangku tangan."
"Hanya karena alasan itu?" seebun Giok-hiong
menegaskan
"Apa alasan ini kurang cukup?"
"Yaa, kurang, jawab saja terus terang, apakah kau
sangat mencintainya?"
Agak tertegun Lim Han-kim berpikir:

3125
"Kalau mesti kujawab perempuan mana yang paling
kucintai di dunia ini, orang tersebut tak lain adalah Pek
si-hiang."
Berpikir begitu, tanpa terasa ia menoleh ke arah si
nona, terlihat Pek Si-hiang sedang bersandar pada
sebatang pohon siong dengan senyum lembut menghiasi
wajahnya, tak terlintas sedikit pun rasa takut di
wajahnya.
Melihat hal ini maka sahutnya kemudian sambil
busungkan dada:
"Betul, aku memang mencintainya, ada apa?"
"Aaah, tidak apa-apa..." jawab seebun Giok-hiong.
Pelan-pelan dia turunkan kembali pedangnya,
kemudian melanjutkan
"Kalau kau begitu mencintai dirinya, mengapa tidak
kau ajak dia untuk pergi jauh meninggalkan tempat ini?
Lim Han-kim, walaupun aku tak punya keyakinan yang
terlalu besar untuk menangkan pertarungan ini, tapi Li
hujin sesungguhnya juga telah kehilangan berapa
kesempatan untuk meraih kemenangan, bila pertarungan
ini mulai berkobar, drama berdarah ini pasti akan diakhiri
dengan banjir darah serta pemandangan yang sangat
mengerikan. Turutilah nasehatku, ajak dia dan pergi ke
tempat yang jauh, dengan selesainya pertarungan ini,
dunia persilatan akan mengalami ketenangan untuk
jangka waktu yang lama, aku percaya dengan bimbingan
Pek si- hiang yang prima, dalam tiga sampai lima tahun
kepandaian silatmu akan maju pesat, bila kau muncul
kembali saat itu maka dunia persilatan akan menjadi
milikmu."

3126
Perkataan itu diutarakan dengan sungguh-sungguh
dan serius, dari balik matanya yang bulat besar terlihat
dua butir air mata jatuh berlinang.
Lim Han-kim melongo dan termangu-mangu, begitu
cepat seebun Giok-hiong berubah sikap ibarat datangnya
halilintar di siang hari bolong, selain munculnya tiba-tiba
juga berlangsung begitu cepat, akibatnya untuk berapa
saat dia tak tahu harus berkata apa. Pelan-pelan Pek sihiang
menanggapi:
"Biarpun seebun Giok-hiong kejam hatinya dan buas,
namun perkataannya ini benar-benar diucapkan dari
lubuk hatinya."
Lim Han-kim memandang Pek si- hiang sekejap lalu
berganti memandang seebun Giok-hiong, kemudian
sambil menghela napas panjang katanya:
"Walaupun nona bermaksud baik, tapi terpaksa hanya
bisa kuterima di dalam hati saja, aku tak bisa pergi dari
sini, terlebih nona Pek."
"Kenapa tak bisa pergi?" teriak seebun Giok-hiong
marah, "Dunia begitu luas, kau bisa berempat tinggal di
mana saja, kenapa bersikeras ingin tinggal di sini dan
memusuhi aku?"
Mendadak Pek Si- hiang maju mendekat, selanya:
"Enci Seebun, setelah kau ketahui bahwa dunia sangat
luas, kenapa bukan kau sendiri yang mengalah dengan
mengundurkan diri dari kancah pertarungan ini? Kenapa
kau nekat ingin beradu jiwa dengan nyonya Li? Apalagi
menurut pengamatanku, keinginanmu sukar untuk
terkabul..."

3127
"Ooh, maksudmu aku masih bukan tandingannya?"
tukas seebun Giok-hiong ketus.
"Meskipun kau berbakat alam namun tenaga dalammu
masih kalah setingkat bila dibandingkan dengan nyonya
Li, terus terang saja aku katakan, dalam lima ratus jurus
nyonya Li dapat mengungguli dirimu."
"Aku tak perduli apakah tandingannya nyonya Li atau
bukan, tapi satu hal sudah pasti, tak ada manfaatnya
bagi kalian untuk tetap tinggal di sini," ucap seebun Giokhiong
dengan wajah serius. Pek si-hiang tersenyum.
"Aku harus tetap tinggal di sini untuk mengurusi akhir
dari pertarungan ini, demi kau maupun demi nyonya Li
aku tak boleh berpeluk tangan pergi dari sini,"
"Baiklah" seebun Giok-hiong tertawa dingin "sudah
kucoba untuk nasehati kalian secara baik-baik tapi kalian
tetap keras kepala dan mau tetap tinggal di sini untuk
menunggu kematian, kalau begitu jangan salahkan bila
aku berhati kejam, akan kulihat dengan cara apa kau
hendak mengurusi akhir dari pertarunganku..." Pelanpelan
ia siapkan pedangnya, lalu menambahkan:
"Aku tak percaya, dengan andalkan kecerdasan kau
seorang dapat mengubah bencana yang sudah berada di
depan mata menjadi keselamatan"
"Kusangka kau sudah tidak memiliki perasaan cinta
lagi rupanya dalam hati kecilmu masih terselip rasa cinta
yang lembut terhadapnya, ehmmm, cukup meninjau dari
soal ini aku harus tetap tinggal di sini untuk selamatkan
jiwamu."

3128
"Hmmmm Kematian sudah di ambang pintu kau masih
mencoba bersilat lidah terus..." pedangnya segera
digetarkan menciptakan dua kuntum bunga pedang yang
secara terpisah menusuk tubuh siok-bwee dan Hiangkiok.
Buru-buru kedua orang dayang itu menggerakkan
pedangnya untuk menangkis datangnya ancaman
tersebut
Namun tenaga serangan yang disertakan seebun Giokhiong
dalam tusukan itu kuat sekali, begitu siok-bwee
berdua menyambut serangan itu dengan keras lawan
keras, tubuh mereka sebera tergetar keras hingga
masing-masing mundur satu langkah. sambil gelengkan
kepalanya dan menghela napas Pek si- hiang berseru:
"Enci seebun, coba berpalinglah lihat siapa yang telah
datang."
"Tak usah dilihat lagi," tukas seebun Giok-hiong sambil
melancarkan sebuah bacokan lagi.
Dengan menghimpun segenap tenaga yang dimiliki
Lim Han-kim mendorong pedang di tangan kanannya ke
muka untuk menyambut serangan tadi, katanya:
"Seebun Giok-hiong, bila kau berniat membunuh kami
semua, seharusnya kau lakukan sekarang juga."
Seebun Giok-hiong tertegun, ia berpaling, tampak
nyonya Li dengan wajah serius telah berdiri dua kaki di
belakangnya.
"Cepatlah pergi cici," bisik Pek Si-hiang. "Saat ini
bukan saat yang tepat untuk mengumbar napsu."

3129
Seebun Giok-hiong tidak menggubris, ditatapnya
nyonya Li lekat-lekat seraya menantang:
"Bagus sekali nyonya Li, mumpung kau sudah datang,
bagaimana kalau mencoba dulu sebuah tusukanku
sebelum pergi?"
"Bagus sekali, gunakanlah seluruh kekuatanmu untuk
melancarkan tusukan, apabila tusukanmu itu berhasil
membinasakan aku, maka paling tidak kau sudah dapat
separuh kesempatan untuk meraih kemenangan dalam
pertarungan di perkampungan keluarga Hong-san nanti,
sebaliknya jika kau gagal melukaiku, kau masih
berkesempatan untuk mengundurkan diri dari kancah
pertarungan tersebut."
"Sudah lama kudengar keaneka ragaman ilmu silat
yang dimiliki perkampungan keluarga Hong-san, terlebih
Nyonya Li sebagai seorang tokoh nomor wahid dalam
dunia persilatan, maka di dalam menghadapi
pertarungan malam ini, aku yang muda sudah cukup
paham bila kemampuanku masih bukan tandinganmu"
"Lalu berapa jurus yang kau inginkan agar bisa punya
kesempatan untuk meraih kemenangan?"
"Bila kejadian ini berlangsung tiga bulan lalu, untuk
menjawab pertaruhanku dengan nyonya Li malam ini aku
tak perlu memikir terlalu banyak dan segera akan
kusanggupi, tapi kini keadaannya sudah berbeda, ibarat
anak panah sudah berada di atas busur, mau tak mau
harus dilaksanakan juga Jadi aku rasa kita tak usah
mempertaruhkan apa pun, toh pertarungan ini harus
berakhir dengan terluka atau tewasnya salah satu pihak,
sehingga pabila nyonya Li berniat mencegahku

3130
melakukan pembantaian dan menghindarkan umat
persilatan dari pertumpahan darah ini, satu-satu-nya
jalan hanyalah berusaha untuk menghabisi nyawaku."
Sembari berkata, kembali dia persiapkan pedangnya
untuk melancarkan serangan.
Sambil berdiri serius, Nyonya Li mengawasi pedang di
tangan seebun Giok-hiong itu dengan seksama, katanya:
"Aku dengar, untuk menghadapi diriku kau telah
mengundang kehadiran dua orang jago tangguh, apa
benar begitu?"
"Benar, dalam pandanganku satu-satunya orang yang
sanggup bertanding habis-habisan melawanku hanyalah
Nyonya Li seorang..."
"Kau toh sudah anggap diriku sebagai tandinganmu
apa gunanya kau mengundang dua orang pembantu?"
"Hal ini disebabkan aku tak punya keyakinan untuk
bisa mengungguli dirimu nyonya Li, jadi untuk menjaga
segala sesuatunya, terpaksa aku harus sedia payung
sebelum hujan."
"Terima kasih banyak kau telah menghargai
kemampuanku Nah, kau boleh turun tangan sekarang"
"Terima kasih, nyonya Li, kau harus berhati-hati"
Mendadak gadis itu menggetarkan pergelangan
tangannya, pedang baja tersebut seketika berubah jadi
sangat lembek bagaikan sebuah angkin saja, dalam
beberapa kelebatan senjata tersebut sudah menyambar
ke tubuh Nyonya Li.

3131
Dalam perkiraan Lim Han-kim semula, pertarungan
antara dua orang jago lihay ini pasti berlangsung dalam
gerak cepat lawan cepat disertai perubahan yang tak
terhingga banyaknya.
Siapa tahu gerak serangan dari seebun Giok-hiong itu
justru begitu lambat bagaikan siput yang sedang berjalan
saja, jangan lagi untuk melukai Nyonya Li, rasanya untuk
menusuk seseorang yang tak mengerti ilmu silat pun
sukar sekali.
Dia mencoba perhatikan nyonya Li, ternyata
perempuan setengah umur itu berdiri angker bagaikan
sebuah batu karang, sepasang matanya yang tajam
justru mengawasi ujung pedang seebun Giok-hiong
dengan serius, hati-hati dan penuh perhatian.
Tatkala ujung pedang tersebut hampir mencapai di
depan dada Nyonya Li, mendadak seebun Giok-hiong
mengubah gerakannya dari lambat menjadi cepat sekali,
di antara kilatan cahaya yang menyilaukan mata,
terbentik bunga pedang yang menyebar ke empat
penjuru.
Dalam sekejap mata, sekujur tubuh Nyonya Li sudah
terkurung dalam lapisan bunga pedang itu.
Tak terlukiskan rasa kaget Lim Han-kim setelah
menyaksikan peristiwa ini, pikirnya:
"Tak nyana sama sekali serangan pedangnya begitu
ganas, mampu tidak Nyonya Li untuk meloloskan diri
tanpa cedera?"
Sementara ia masih termenung, suasana dalam arena
telah terjadi perubahan, tampak bunga pedang yang

3132
dipancarkan oleh serangan seebun Giok-hiong tersebut
tiba-tiba hilang lenyap tak berbekas.
Nyonya Li masih tetap berdiri di tempat semula, hanya
paras mukanya kelihatan lebih dingin dan serius.
Seebun Giok-hiong juga masih berdiri dengan senjata
tergenggam, mereka berdua berdiri saling berhadapan
tanpa mengucapkan sepatah kata pun
Gara-gara pecah perhatiannya Lim Han-kim tak
sempat melihat secara jelas bagaimana cara Nyonya Li
memunahkan ancaman dari seebun Giok-hiong yang
demikian dahsyatnya itu, diam-diam ia merasa sayang.
Sepeminum teh lamanya kedua orang itu berdiri saling
berhadapan, akhirnya seebun Giok-hiong turunkan
pedangnya ke bawah seraya berkata pelan:
"Kesempurnaan tenaga dalam yang nyonya miliki
memang bukan nama kosong, Hari ini aku merasa puas
dengan hasil pertarungan ini."
Selesai bicara, pelan-pelan ia balik badan dan beranjak
pergi meninggalkan tempat itu.
Meskipun dia berusaha menjaga ketenangan serta
kemantapan langkahnya, namun Lim Han-kim dapat
menyaksikan bahwa langkahnya agak gontai dan enteng,
jelas isi perutnya sudah terluka parah.
Menanti sampai bayangan punggung seebun Giokhiong
sudah lenyap di balik tikungan jalan, nyonya Li
baru cepat-cepat bergerak menuju ke belakang sebuah
batu besar.

3133
Lim Han-kim menyaksikan gerak langkah perempuan
ini pun agak gontai dan mengambang, hal ini sangat
mencengangkan hatinya.
"Heran" Demikian ia berpikir, "Masa nyonya Li juga
menderita luka dalam?"
Terdorong rasa ingin tahunya, tanpa terasa ia
melangkah ke depan berniat menyusul di belakangnya.
"Cepat berhenti" seru Pek Si-hiang mendadak.
Lim Han-kim menghentikan langkahnya seraya
berpaling.
"Kau memanggil aku?"
Pek Si-hiang tidak menjawab, dia hanya menggapai
berulang kali,
"Ada apa nona memanggilku?" tanya Lim Han- kim
sambil berjalan menghampiri
"Apa kau bermaksud menengok nyonya Li?" bisik Pek
Si-hiang.
"Yaa, rasanya dia kurang beres, jangan-jangan isi
perutnya juga terluka."
"Betul." Pek Si-hiang mengangguk, "Dia memang
berluka dalam, cuma luka yang diderita Seebun Giokhiong
jauh lebih parah. Aaaai... Tampaknya aku tak
boleh berpeluk tangan.."
Mendengar itu, Lim Han-kim berpikir dengan
keheranan:
"Sejak kau tinggalkan ilmu sesat sembilan iblis, kondisi
tubuhmu sudah pulih kembali seperti sedia kala, lemah,

3134
banyak penyakitan, dengan cara apa kau hendak
bertanding melawan mereka?"
Meski berpikir begitu, jawabnya juga:
"Lebih baik lagi pabila nona dapat menemukan sebuah
siasat jitu yang bisa memaksa seebun Giok-hiong
mengundurkan diri secara suka rela, dengan begitu
pertarungan berdarah ini pasti dapat terhindar"
"Seebun Giok-hiong mustahil mau mengurungkan
niatnya untuk menciptakan pertumpahan darah ini
apalagi membatalkan di tengah jalan, kau rasa selain kita
berusaha mengalahkan dirinya dalam pertarungan nanti,
satu-satunya jalan adalah menghabisi nyawanya sebelum
pertemuan terselenggara, dengan kematiannya secara
otomatis pertumpahan darah ini pun bisa dihindari..."
Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya: "Aku
yang salah menilai dirinya."
"Bagaimana kau bisa salah menilainya?"
"Dalam anggapanku, kehadiranmu mungkin bisa
selamatkan dia dari jurang kehancuran ini, siapa tahu dia
lebih suka memutuskan tali hubungan cinta ketimbang
membatalkan rencananya."
"Aaah, nona Pek hanya bergurau, dengan kepandaian
silat yang kumiliki ini rasanya sepuluh jurus pun aku tak
mampu menghadapinya."
"Yang kumaksudkan bukan ilmu silatmu, aaai . . .
bagaimana pun urusan toh sudah menemui jalan buntu,
lebih baik tak usah disinggung lagi, masalah terpenting
saat ini adalah menemukan orang yang sanggup

3135
menaklukkan Seebun Giok-hiong dalam waktu yang amat
singkat ini."
"Nyonya Li terhitung jagonya nomor wahid di kolong
langit, selain dia, siapa lagi yang mampu
mengunggulinya?"
"Kalau cuma menghadapi Seebun Giok-hiong seorang,
Nyonya Li sudah cukup untuk membendungnya, tapi
situasi saat ini telah berubah, para jago yang diundang
Seebun Giok-hiong untuk membantu kubunya pasti
bukan manusia sembarangan bila orang yang
diundangnya persis seperti apa yang kuduga, tampaknya
kita harus menggunakan taktik racun melawan racun
untuk menghadapinya, dengan menghalalkan segala cara
kita berusaha meraih kemenangan"
"Dengan menghalalkan sebala cara?" gumam Lim
Han- kim tidak habis mengerti.
"Yaa, seebun Giok-hiong mulai duluan menghalalkan
segala cara untuk meraih kemenangan tentu saja kita
pun tak usah sungkan-sungkan untuk mengikuti
tindakannya itu."
"Maksud nona..."
Sekilas hawa napsu membunuh melintas di atas wajah
Pek si-hiang, katanya:
"Dia enggan menuruti nasehatku dengan memaksakan
terus kehendaknya, terpaksa aku harus membantu
nyonya Li untuk membinasakan dirinya."
Mendengar itu Lim Han- kim hanya bisa menghela
napas panjang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

3136
BAB 46. Tiga Manusia Aneh
Pek si-hiang menggenggam tangan kiri Lim Han-kim
erat-erat, lalu ujarnya lagi:
"Saudara Lim, aku tahu kau keberatan bila kubunuh
seebun Giok-hiong, tapi situasi saat ini telah berubah
menjadi amat kritis, bila kita mundur selangkah berarti
memberi kesempatan kepadanya untuk maju selangkah,
kita bisa saja mengampuni seorang seebun Giok-hiong,
tapi sebagai gantinya banyak nyawa umat persilatan
yang akan jadi korban di ta-ngannya, lagipula dia sendiri
pun enggan lepaskan aku. sebagai seorang ksatria kita
tak boleh berhati lemah, apalagi terperangkap oleh bibitbibit
cinta."
"Nona Pek, aku..."
Pek si-hiang gelengkan kepalanya berulang kali, tak
memberi kesempatan kepadanya untuk melanjutkan
pembicaraan, selanya kembali:
"Aku paham, baik seebun Giok-hiong, Li Tiong-hui
maupun aku Pek si-hiang, kami sama-sama mempunyai
bobot yang seimbang dalam hatimu, tentunya kau
merasa kesulitan bukan untuk membagi kasih secara
seimbang terhadap kami bertiga..."
"Kau jangan ngaco belo," tukas Lim Han- kim, "Nona
Li jangan kau masukkan dalam hitungan, ia sudah
menjadi istri orang."
"Aaaah, masa iya?" seru Pek si-hiang tertegun

3137
"Aku tak perlu berbohong, lagipula orang tersebut
berada di perkampungan keluarga Hong-san saat ini dan
aku pun sudah menyanggupi mereka untuk menjadi mak
comblangnya serta mengumumkan perkawinan mereka
di hadapan para jago silat seusai pertumpahan darah itu
berlangsung."
Tampaknya Pek si-hiang, gadis serba tahu dan cerdas
luar biasa ini dibuat termangu juga sehabis mendengar
berita yang sama sekali tak terduga ini, setelah
termenung beberapa saat tanyanya: "siapa yang beritahu
soal ini kepadamu?"
"Li Tiong-hui beritahu sendiri soal ini kepadaku,
bahkan aku pun sudah bertemu dengan calon suaminya,
orang itu benar-benar tergila-gila dengannya, bila Li
Tiong-hui bersedia menjadi istrinya, orang itu pasti akan
mencurahkan segenap rasa cintanya untuk merawat
serta menyayanginya."
"Aaai..." Pek si-hiang menghela napas panjang,
"Kendatipun begitu, belum tentu kejadian ini merupakan
suatu perkawinan yang bahagia."
"Kenapa?"
"Kau bukan wanita, tentu tak paham dengan perasaan
seorang wanita, pada dasarnya wanita memang
ditakdirkan untuk melayani kaum pria, bila kejadiannya
terbalik, kaum pria yang mesti melayani istrinya, belum
tentu dia akan merasa puas dan bahagia, karena apa
yang terpikir olehnya adalah bagaimana merawat,
melayani serta menyayangi sang suami."
"Benarkah begitu?" Lim Han- kim tertegun

3138
"Yaa, paling tidak aku serta Li Tiong-hui mempunyai
pandangan serta pemikiran demikian..."
Setelah berhenti sejenak. lanjutnya:
"Bila Li Tiong-hui telah menentukan pilihannya, berarti
tinggal seebun Giok-hiong seorang yang dapat menjadi
istrimu, aaaai sayang sekali dia terlalu liar dan susah
dikendalikan, napsu membunuh pun telah menutupi
pikirannya, hal ini membuat aku jadi serba salah."
Hiang-kiok yang masih polos dan tak punya pikiran
lain tiba-tiba menimbrung:
"Nona, bagaimana dengan kau sendiri? Mengapa
bukan kau sendiri yang menikah dengan Lim siangkong?"
Merah padam selembar wajah Pek si-hiang, katanya
sambil tertawa:
"Budak dungu, aku sudah hampir mampus, masa kau
suruh dia menikahi setan sebagai bininya?"
"Bukankah nona telah disembuhkan oleh Nyonya Li?"
tegur Lim Han- kim agak tertegun.
"Belum" Pek si-hiang menggeleng seraya menghela
napas panjang.
"Kenapa? Apakah nyonya Li tak mampu mengobati
penyakitmu itu?"
"Badai pembunuhan telah berada diambang pintu,
mana aku punya waktu untuk mengobati penyakit itu?"
"Jadi maksud nona, semestinya kau mampu
menyembuhkan penyakit itu, namun kau sengaja enggan
mengobatinya?"

3139
"Ehmmm, boleh saja kau anggap begitu, bila kuobati
penyakit tersebut hingga sembuh, lalu apa rencanamu
terhadap diriku?" setelah termenung berpikir sebentar,
sahut Lim Han- kim:
"Bila kau sembuhkan penyakit itu, maka bila badai
pembunuhan ini bisa kita lampaui, kita bisa mencari
sebuah tempat yang sepi dan terpencil untuk hidup
dengan damai..."
"Apa gunanya mencari tempat yang sepi dan
terpencil?"
Lim Han- kim tersenyum.
"Kita cari tempat yang sepi dan terpencil untuk
tinggal, kemudian kita sembuhkan dulu penyakitmu,
setelah itu aku baru akan temani kau untuk berpesiar
mengunjungi semua tempat kenamaan di dunia ini."
"Hanya berpesiar mengunjungi tempat indah?"
Dibimbing siok-bwee, Pek si-hiang maju ke depan sambil
tersenyum.
Tiba-tiba Hiang-kiok menghela napas panjang,
selanya.
"Nona, nona... masa kau tak paham dengan maksud
ucapannya? Bukankah Lim siangkong sudah
menerangkan sejelas-jelasnya? "
"Kenapa tidak kau suruh dia berbicara lebih jelas lagi?"
"Kau ingin aku berkata apa lagi?" tanya Lim Han- kim
sambil tersenyum jengah. Pek si-hiang ikut tertawa.
"Apa saja yang ingin kau utarakan harus diucapkan
semua, tak boleh kau rahasiakan barang sepatah pun."

3140
"Baiklah, bila badai besar ini telah berlalu, akan kuajak
dirimu berpesiar ke tempat-tempat indah, kemudian
mengajakmu pergi menjumpai ibuku" Tiba-tiba wajah
Pek si-hiang yang penuh senyuman itu berubah amat
serius, tanyanya:
"Bila ibumu tak suka aku setelah melihat kondisi
badanku yang begini lemah, lalu apa yang kau lakukan?"
"Nona amat cerdik dan berjiwa besar, kenapa sih kau
menguatirkan masalah yang begitu sepele?"
Tiba-tiba Pek si-hiang tundukkan kepalanya dengan
sedih.
"Kau suruh aku mengubah apa yang sebenarnya telah
kuputuskan, tentu saja banyak hal yang perlu
kurisaukan."
"Masalah apa sih yang sebetulnya telah kau
putuskan?" Lim Han- kim bertanya dengan wajah
bingung.
"Sekarang tak boleh kusampaikan kepadamu, biar lain
kali saja baru dibicarakan lagi." Pelan-pelan ia
menyandarkan diri di tubuh siok-bwee.
"Nona" seru Hiang-kiok cemas, "setelah terlanjur
dibicarakan, kenapa sih tidak kau bicarakan hingga
tuntas?"
"Hatiku sedih sekali, cepat bimbing aku pulang ke
kamar" tukas Pek si- hiang tiba-tiba.
Ketika semua orang berpaling, terlihat butiran keringat
sebesar kacang kedele jatuh bercucuran membasahi
wajahnya.

3141
Dengan rasa terperanjat Lim Han- kim maju
menghampiri "Kenapa kau?"
Ketika tangan kirinya yang tergenggam terasa dingin
bagaikan es, pemuda itu makin tertegun dibuatnya.
Sambil menghela napas siok-bwee segera
menerangkan:
"Lim siangkong tak usah kuatir, setiap kali nona kami
menghadapi masalah yang menjengkelkan mengejutkan
atau mengerikan perasaan hatinya, ia selalu tunjukkan
gejala seperti ini, dia akan baik kembali setelah
beristirahat sejenak." Kemudian sambil menoleh ke arah
Hiang- kiok, tambahnya: "Kita harus cepat-cepat
menggotong nona untuk kembali ke kamarnya." Hiangkiok
menyahut dan segera membopong nonanya ke atas
tandu.
"Kalian berdua berangkatlah duluan," kata Lim Hankim
cepat, "Aku akan menunggu nyonya Li di sini."
"Mungkin Nyonya Li sudah kembali ke lembah Bansiong-
kok duluan, apa tidak berbahaya bila kau berjumpa
dengan seebun Giok-hiong nanti?"
"Tidak apa-apa, menurut nona Pek. seebun Giok-hiong
sudah terluka parah bahkan jauh lebih parah ketimbang
nyonya Li, aku rasa untuk sementara ini tak mungkin ia
bisa pulih seperti sedia kala, kalian berdua pulanglah
duluan, sebentar lagi aku baru pulang ke lembah Bansiong-
kok."
"Baiklah, cuma kau harus berhati-hati..." pesan siokbwee,
kemudian bersama Hiang-kiok menggotong
majikannya dan berlalu.

3142
Lim Han- kim berjalan menuju ke belakang batu
gunung, tapi di situ sudah tak nampak lagi bayangan
tubuh nyonya Li, dengan rasa heran yang amat sangat
segera pikirnya:
"Dengan jelas sekali kusaksikan nyonya Li menuju ke
belakang batu besar ini, masa dengan kondisi terluka
parah dia masih mampu mendaki ke atas tebing curam
ini...?"
Dipenuhi rasa ingin tahu ia berjalan menelusuri jalan
setapak yang ada menuju ke sebuah lembah yang
sempit.
Tempat itu amat terpencil dan sepi, rumput ilalang
tumbuh subur setinggi manusia, Lim Han- kim segera
meloloskan pedangnya dan melanjutkan langkahnya
memasuki rimbunnya ilalang itu.
Tanpa terasa ia sudah memasuki semak tebal itu
sejauh lima puluhan kaki. Akhirnya sebuah batu karang
yang tinggi besar menghadang jalan perginya.
Baru saja Lim Han- kim bermaksud melompat naik ke
atas batu itu untuk memeriksa keadaan, mendadak
terdengar desingan angin tajam menyambar lewat, sikut
kanannya tahu-tahu jadi kaku dan pedang yang
digenggamnya sudah terlepas dari pegangan.
Menyusul kejadian itu, dari sisi batu cadas itu berjalan
ke luar seorang pemuda baju putih yang ceking tapi
jangkung, berwajah pucat pias seperti mayat dan
bersikap mengerikan
Dengan sorot matanya yang tajam dia awasi Lim Hankim
tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

3143
Setelah berhasil menenangkan pikirannya dan
menghimpun hawa murninya di Tan-tian, Lim Han- kim
menegur: "siapa kau?"
Belum selesai teguran itu bergema, lagi-lagi sikut
kirinya terasa kaku, hawa murni yang telah terhimpun di
lengan kiri itu pun mendadak lenyap tak berbekas.
Menyusul kemudian tampak pemuda jangkung itu
menggapai tangan kanannya, entah bagaimana caranya
tahu-tahu tubuh Lim Han- kim sudah berhasil
dicengkeramnya secara mudah dan diseret menuju ke
belakang batu cadas.
Lim Han- kim dapat merasakan betapa kuatnya
cengkeraman kelima jari tangan orang itu pada bahunya,
bahkan tulang pundak pun secara lamat-lamat terasa
sakit, pikirnya dengan perasaan terkejut: " Hebat betul
ilmu silat orang ini."
Jarak antara dinding tebing dengan batu karang itu
paling banter hanya bisa dilalui satu orang saja, tapi
pemuda ceking itu dengan mengempit tubuh Lim Hankim
tetap memaksakan diri menerobos lewat dari celah
tersebut
Di balik lorong sempit itu tampak seorang kakek
berambut putih sepanjang pinggang dengan memegang
sebuah tongkat besar berdiri menyandar pada dinding
tebing.
Pemuda ceking itu sebera membanting tubuh Lim
Han- kim ke atas tanah, kemudian pelan-pelan mundur
ke belakang kakek tersebut.

3144
Lim Han- kim mencoba mengawasi keadaan di
sekelilingnya, lagi-lagi muncul seorang pemuda berbaju
hitam yang tinggi kurus melangkah ke luar dari arah kiri
dengan langkah lebar.
Kecuali warna pakaian yang berbeda, kedua orang itu
mempunyai perawakan badan, bentuk serta gerak gerik
yang mirip sekali, bahkan wajahnya sama-sama dingin
dan menyeramkan.
Saat itu, biarpun beberapa jalan darah Lim Han-kim
tertotok, namun kesadaran pikirannya tetap jernih,
pikirnya:
"Dandanan ketiga orang ini sangat aneh, bahkan mirip
tiga sosok mayat hidup, entah berasal dari mana mereka
itu?"
Sementara ia masih berpikir, orang berambut putih
yang berdiri bersandar pada dinding tebing itu telah
menegur dengan suara dingin: "Kau anggota keluarga
Hong-san?"
Biarpun pertanyaan itu dapat didengar amat jelas, Lim
Han-kim berlagak pilon, ia cuma mengawasi kakek
berambut putih itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun
Rupanya watak kakek berambut putih itu kasar dan
sangat berangasan, dengan penuh rasa mendongkol ia
hentakkan tongkatnya ke tanah...
"Blummmm" Batu dan pasir segera beterbangan
mengikuti suara ledakan yang memekikkan telinga.
"Kurang ajar, dengar tidak dengan pertanyaanku
barusan?" bentaknya penuh amarah.

3145
"Hebat betul tenaga orang ini," batin Lim Han-kim,
"Tongkatnya pasti terbuat dari baja asli dan berani
bertaruh beratnya tentu di atas ratusan kati." Namun ia
tetap membungkam diri.
Kakek berambut putih itu segera berpaling ke arah
pemuda berwajah pucat itu seraya menegur:
"Kalian totok jalan darahnya?"
"Benar" sahut dua orang pemuda itu dengan hormat
"Bebaskan totokannya, aku hendak bertanya
kepadanya."
Pemuda berbaju putih itu mengiakan dan segera
menepuk bebas jalan darah di iga dan dadanya yang
tertotok. sekali lagi Lim Han-kim berpikir
"Biarpun ilmu silat yang dimiliki rombongan ini cukup
bagus, sayang tidak didukung pikiran yang cerdik, aku
tak boleh lawan mereka dengan kekerasan, lebih baik
dilawan dengan akal saja..."
Terdengar kakek berambut putih itu berkata lagi:
"Kini, aku telah bebaskan totokan jalan darahmu, bila
pertanyaanku enggan dijawab juga, hmmm . . . jangan
salahkan bila kau segera kuhajar dengan toya ini."
Sambil mengendorkan ototnya yang kaku sahut Lim
Han-kim: "Bila ingin bertanya sesuatu, katakan saja."
"Kau anggota perkampungan keluarga Hong-san?"
"Meskipun aku bukan anggota perkampungan
keluarga Hong-san, tapi saat ini sedang menginap di
situ."

3146
"Kau sudah bertemu dengan istrinya Li Tiong-yang?"
"Tentu saja sudah"
"Kenon berkat latihannya yang tekun selama beberapa
tahun belakangan ini, tenaga dalamnya sudah mengalami
kemajuan pesat, apa benar berita itu?"
Sebenarnya Lim Han-kim ingin menjawab tak tahu,
namun kata-kata tersebut segera ditelan kembali
sebelum terlanjur diutarakan, katanya:
"Betul sekali, tenaga dalam nyonya Li memang
mengalami kemajuan yang amat pesat selama berapa
tahun terakhir ini, bahkan sudah mencapai puncak
kesempurnaan" Kakek berambut putih itu segera
mendengus dingin:
"Hmmmm sehebat-hebatnya seorang wanita, tak akan
bisa mencapai puncak kesempurnaan yang paling hebat"
"Kelihatannya orang ini takut sekali dengan nyonya
Li," pikir Lim Han-kim, "Tapi lagaknya saja seakan-akan
tak terima kalah, aku mesti panasi dulu hatinya."
Berpendapat begitu, dia pun berkata:
"Konon tenaga dalam yang dimiliki nyonya Li sudah
mencapai tingkatan yang disebut melukai orang dengan
timpukan daun, meski sudah lama ia tak muncul di dalam
dunia persilatan, namun seluruh umat persilatan telah
memandangnya sebagai jago nomor wahid di kolong
langit."
Betul juga, begitu mendengar kata-kata tersebut
kakek berambut putih itu langsung naik pitam,
dihentaknya toya besi itu ke tanah hingga batu dan pasir
beterbangan pekiknya:

3147
"Aku tak percaya, aku tak percaya..."
Lim Han-kim mencoba melindungi wajahnya dari
percikan batu danpasir dengan tangan kirinya, sementara
perhatiannya mulai dialihkan ke sekeliling tempat itu,
mencari jalan untuk melarikan diri
Pekikan kakek berambut putih itu berhenti secara tibatiba,
lalu untuk berapa saat lamanya tak kedengaran
sedikit suara pun
Dengan perasaan heran Lim Han-kim coba mengintip.
ternyata kakek itu masih berdiri kaku bersandar pada
dinding tebing, hanya air mata tampak jatuh bercucuran
membasahi pipinya.
Dengan perasaan keheranan ia berpikir:
"Kakek ini pasti mengidap penyakit syaraf, masa tak
ada apa-apa ia menangis begitu sedih?"
Ketika mencoba memperhatikan sepasang pemuda
ceking itu, ternyata mereka berdua pun berdiri bersandar
pada dinding tebing sambil pejamkan mata, tampaknya
sedang mengatur pernapasan.
"Waaah, ini dia kesempatan baik bagiku untuk
melarikan diri," pekik Lim Han-kim di dalam hati.
Hawa murninya segera dihimpun, lalu secara tiba-tiba
ia melejit ke tengah udara dan meluncur ke atas batu
cadas.
"Kurang ajar," umpat kakek itu amat gusar, "Belum
pernah ada orang berhasil menyambung nyawa dari
cengkeramanku"

3148
Belum selesai ucapan tersebut diutarakan, tiba-tiba
Lim Han-kim merasakan pinggangnya kesemutan, tahutahu
tenaganya lenyap tak berbekas dan tubuhnya roboh
terjungkal ke atas tanah.
Tatkala tubuhnya hampir mencapai permukaan tanah,
tiba-tiba pinggangnya disambar orang dan tahu-tahu
sudah diangkat seseorang.
Lim Han-kim coba melirik. ia jumpai kakek tersebut
sedang melolohnya dengan napsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya, terdengar ia berkata:
"Selama hidup belum pernah kubiarkan seorang pun
lolos dari cengkeramanku dalam keadaan hidup, Hmmm
Hari ini kau beruntung bisa melihat wajahku, meski harus
mati, sepatutnya mati dengan mata meram."
Toya bajanya segera diangkat ke udara dan pelanpelan
diayunkan ke atas kepalanya.
"Habis sudah riwayatku," pekik Lim Han-kim dalam
hati, "Percuma aku bicara soal kebenaran dengan tua
bangka yang sinting dan tak waras otaknya ini..."
Di saat yang amat kritis itulah mendadak terdengar
seseorang berteriak lantang: "Jangan lukai dia"
Ketika itu, ujung toya baja tersebut sudah hampir
menghantam batok kepala Lim Han-kim, kakek gila
tersebut seketika menarik kembali ayunannya begitu
mendengar teriakan tadi.
Cepat Lim Han-kim berpaling ke arah mana datangnya
teriak tadi, terlihat seebun Giok-hiong dengan tangan
kanannya memegangi dadanya sedang berjalan
mendekat dengan langkah lambat.

3149
"Orang ini jelas anggota perkampungan keluarga
Hong-san, kenapa aku tak boleh membunuhnya?" pekik
kakek berambut putih itu marah.
Seebun Giok-hiong tarik napas panjang-panjang
seraya turunkan kembali tangan kanannya yang
memegangi dada, sahutnya lembut:
"Kalau kukatakan tak boleh dibunuh, lebih baik jangan
kau bunuh,"
"Kurang ajar," umpat kakek itu semakin gusar,
"sengaja aku kemari untuk membantumu masa aku
harus turuti perintahmu?"
"Ular tanpa kepala tak akan bergerak, burung tanpa
sayap tak akan terbang, di antara kita berdua mesti ada
salah seorang di antaranya menjadi pimpinan."
"Lantas siapa yang menjadi pemimpin?"
"Aku yang mengundang kalian untuk membantuku
tentu saja akulah pemimpin kalian." Tiba-tiba kakek
berambut putih itu mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak:
"Hahahaha... kau masih begitu muda, masa aku setua
ini harus menghormatimu sebagai pemimpin serta
menuruti semua perintahmu?"
"Tak pernah dunia persilatan bedakan siapa tua siapa
muda, yang berhasil dialah pemimpinnya, betul usiamu
sudah lanjut, tapi kau patut menuruti perintahku" Cepat
kakek berambut putih itu menggeleng.
"Bila aku mesti turuti perintah mu, bukankah seluruh
umat persilatan akan mentertawakan kebodohanku?"

3150
"Lantas apa yang kau inginkan hingga bersedia
menuruti perintahku?"
"Asal dengan ilmu silat kau mampu membuatku takluk
dan tunduk. tentu saja aku akan turuti semua
perintahmu."
"ltu mah gampang, ayoh kita beradu berapa gebrakan,
dengan cepat kau akan ketahui berhak tidak ilmu silatku
memerintah kau."
Lim Han-kim yang mengikuti pembicaraan tersebut
diam-diam berpikir.
"Akibat pertarungannya melawan nyonya Li, tak
enteng luka dalam yang dideritanya, malahan untuk
berjalan pun ia mesti pegangi dada sendiri untuk
menahan sakit, kini dia sudah berani menantang orang
untuk berduel kembali, aaaai... sungguh jarang
menjumpai perempuan segarang dan seganas ini..."
Dalam pada itu si kakek berambut putih itu sudah
menghentakkan toyanya ke tanah sambil berseru:
"Baik, kau anggap aku takut kepadamu?"
Sembari mengerahkan tenaga dalamnya bersiap sedia,
seebun Giok-hiong menantang:
"Bagus sekali, dengan cara apa kita akan bertanding?
Bertarung secara lisan atau kekerasan?"
"Kalau namanya bertarung tentu saja harus bertarung
dengan kekerasan, mana ada pertarungan secara lisan?"
"Padahal pertarungan secara lisan lebih sederhana dan
singkat, cukup kita tentukan suatu sistim pertarungan
yang berlaku kemudian masing-masing mentaati

3151
peraturan yang ada dan kita saling meng utarakan jurus
serangan yang digunakan secara lisan, sebaliknya bila
pertarungan dengan kekerasan, kita mesti gunakan
segenap kemampuan yang dimiliki untuk saling diadukan,
baik itu ilmu pukulan, ilmu senjata maupun ilmu senjata
rahasia." Kakek berambut putih itu tertawa dingin.
"Hehehe... aku Thia sik-kong sudah hidup setua ini
rasanya belum pernah kubuat segala peraturan dan tetek
bengeknya sebelum melakukan pertarungan, lebih baik
kita bertarung secara kekerasan saja."
"Bagus sekali Kalau begitu kau boleh menyerang
duluan"
Thia sik-kong segera mengayunkan toya bajanya,
dalam sekejap mata selapis bayangan toya yang
membawa hawa dingin menyelimuti angkasa dan
langsung membabat tubuh seebun Giok-hiong.
Dengan gesit dan cekatan seebun Giok-hiong
mengelak ke samping meloloskan diri di kurungan
bayang-bayang itu, ejeknya:
"Lama kudengar orang bercerita, katanya ilmu toya
angin puyuhmu memiliki tenaga penghancur bak
gulungan ombak di tengah samudra, tapi setelah
kusaksikan sendiri saat ini... hmmm, ternyata
kemampuannya cuma begitu-begitu saja, mana mungkin
kepandaianmu itu bisa kau gunakan untuk menandingi
nyonya Li?"
Gagal dengan serangannya yang pertama Thia Sikkong
telah siapkan serangan berikut-nya, namun ia
segera hentikan serangan tersebut begitu mendengar
ucapan dari seebun Giok-hiong, teriaknya:

3152
"Sementara waktu kita batalkan dulu pertarungan ini"
"Kenapa?"
"Kehadiranku ke daratan Tionggoan kali ini bertujuan
mengadu kepandaian dengan nyonya Li, kalau harus
bertarung melawanmu, lebih baik kita lakukan setelah
selesai pertarunganku melawan nyonya Li."
"Barusan aku telah bertarung satu gebrakan melawan
nyonya Li." seebun Giok-hiong menerangkan.
"Kau berhasil melukainya?" desak Thia sik-kong agak
gelisah. Nada suaranya penuh kecemasan dan
kekuatiran.
Mula-mula seebun Giok-hiong agak tertegun,
menyusul kemudian sahutnya sambil tertawa-tawa:
"Yaa, aku telah melukainya."
Tiba-tiba Thia sik-kong mengayunkan toya bajanya
dan langsung dihantamkan ke depan. Dengan cekatan
seebun Giok-hiong melejit ke samping menghindarkan
diri, sambungnya: "Tapi luka yang kuderita jauh lebih
parah ketimbang luka yang dideritanya."
Thia sik-kong menarik kembali toya bajanya dan amati
seebun Giok-hiong beberapa kejap. tegasnya:
"Maksudmu luka yang diderita Nyonya Li jauh lebih
ringan ketimbang lukamu?"
"Justru karena itulah aku baru berpendapat bahwa kau
sulit untuk mengungguli Nyonya Li."
Lim Han-kim semakin kebingungan setelah mengikuti
tanya jawab itu, pikirnya:

3153
"Siapa gerangan Thia sik-kong yang sinting dan tak
waras itu? Kenapa dia pandang nyonya Li sebagai musuh
besar yang begitu dibencinya? Anehnya, ketika
mengetahui Nyonya Li terluka lantaran duelnya melawan
seebun Giok-hiong, dia pun berniat adu jiwa dengan
nona tersebut? sebenarnya dia itu teman atau musuhnya
Nyonya Li? Aku tak habis mengerti dibuatnya..."
Sementara itu Thia sik-kong telah sandarkan diri ke
atas batu tebing sembari bergumam:
"Bila aku keok lagi di tangannya, malu rasanya aku
pulang ke negeri sayie ..."
"Hanya ada satu cara bila kau ingin mengungguli
nyonya Li," teriak seebun Giok-hiong tiba-tiba.
"Apa caramu?"
"Turuti semua perintahku Aku pasti akan persiapkan
sebuah rencana yang bagus agar kau dapat berduel
melawan nyonya Li."
"Baiklah," kata Thia sik-kong kemudian sambil
pejamkan matanya, "Kali ini kuturuti perintahmu"
Tanpa banyak bicara seebun Giok-hiong menarik
tangan Lim Han-kim dan diajaknya pergi meninggalkan
tempat itu.
Sikap dua pemuda berbaju hitam dan putih itu tetap
kaku bagaikan patung, mereka seakan-akan tidak melihat
kehadiran dua orang tersebut, jangan lagi menghadang,
menegurpun tidak.

3154
Setelah melewati dua-tiga li dari tempat semula
seebun Giok-hiong baru menghentikan perjalanannya
sembari berkata:
"Makhluk tua itu agak edan dan tak waras otaknya,
salah sedikit saja ia suka main membunuhi coba aku tak
muncul tepat pada waktunya, mungkin kau sudah terluka
parah oleh pukulan toya bajanya."
"Terima kasih banyak atas pertolongan nona."
Seebun Giok-hiong tarik napas panjang, dari sakunya
ia mengeluarkan dua butir obat dan segera ditelannya,
kemudian baru sambungnya:
"Kenapa kau tidak balik ke lembah Ban-siong-kok?
Mau apa kau datang kemari? Apa sedang menjalankan
perintah untuk memeriksa persiapanku di sini?"
"Kau kelewat percaya diri, seandainya kukatakan
bukan, belum tentu kau mau percaya, baiklah, terserah
apa tuduhanmu, akupun segan memberi penjelasan"
seebun Giok-hiong menghela napas panjang.
"Lim Han-kim," katanya lembut, "Aku ingin beritahu
kau akan beberapa masalah, harap kau bersedia
mengingatnya selalu."
"Soal apa?" tanya Lim Han-kim tersenyum.
"Sebenarnya ada sedikit perbedaan sikap bila aku
dibandingkan Li Tiong-hui maupun Pek si-hiang..."
"Tentang hal ini aku sudah lama mengerti." seebun
Giok-hiong tertawa hambar

3155
"Sekalipun sudah lama paham, tentunya kurang
menguasai bukan? Lebih baik aku terangkan sendiri
kepadamu."
"Ehmmm, memang ada baiknya bila kau terangkan
sendiri"
"Terus terang kuakui, sebenarnya akupun sangat
menyukaimu, tapi perasaan sukaku agak berbeda jika
dibandingkan rasa suka Pek si-hiang maupun Li Tiong-hui
terhadapmu"
"Aku kurang mengerti."
"Cinta mereka kepadamu mungkin merupakan cinta
dengan sepenuh hati, sebaliknya aku menyukaimu
karena ada suatu prasyarat yang pasti."
Mendengar sampai di sini, Lim Han-kim tertawa
terbahak-bahak.
"Hahahaha, kalau cinta kasih muda mudi harus
didasari suatu syarat lantas apa jadinya dengan dunia
percintaan remaja di dunia ini?"
"Oooh,jadi kau bandingkan aku sama dengan
perempuan-perempuan pelacur yang menjajakan cinta
karena mengharapkan imbalan?"
Lim Han-kim hanya tertawa dingin tanpa memberi
komentar.
Setelah menghela napas sedih, seebun Giok-hiong
berkata lebih jauh:
"Tiap kali aku sedang duduk melamun seorang diri,
atau terjaga dari tidurku di tengah malam buta,aku pun
selalu merindukan kau bahkan rasa rinduku amat

3156
mendalam dan menggebu-gebu, aku yakin perasaanku
saat itu tidak kalah dengan Pek si-hiang ataupun Li
Tiong-hui. Tapi begitu aku mulai bekerja, semua
belenggu cinta muda mudi akan kutinggal jauh-jauh, aku
tak ingin dibuat repot oleh masalah cinta, kendatipun kau
sesungguhnya merupakan satu-satunya pria yang paling
kucintai di dunia ini..."
Tiba-tiba paras mukanya berubah amat serius,
sepasang alis matanya melejit, sorot matanya setajam
sembilu, sepatah demi sepatah lanjutnya:
"Tapi, jika kau berniat menghalang-halangi
pekerjaanku... HHmmm, aku tetap tega untuk
membinasakan dirimu."
"Bila nona berniat membunuhku, lakukan saja saat ini,
tak perlu berputar-putar sampai ke ujung langit..."
"Sekarang, napsu membunuhku belum timbul, jadi
lebih baik secepatnya kau pulang ke lembah Ban-siongkok"
Pelan-pelan Lim Han-kim bangkit berdiri, katanya:
"Kau tak menyesal melepaskan aku dari sini?"
"Kenapa mesti menyesal?"
"Apa jadinya bila aku membantu Li Tiong-hui?"
"Sekalipun kau membantu Li Tiong-hui juga tak akan
mempengaruhi situasi secara keseluruhan.."
Mula-mula Lim Han-kim agak tertegun, menyusul
kemudian ia tertawa tergelak.

3157
Gelak tertawa yang tak terduga ini sebera
mencengangkan seebun Giok-hiong yang cerdik, ia tak
habis mengerti dibuatnya.
Sesudah termangu sesaat, tegurnya: "Apa yang kau
tertawakan?"
"Nona kelewat pandang enteng kemampuan Lim Hankim,
sekalipun aku memang bukan tandingan nona,
paling tidak aku sanggup membakar perasaan Pek sihiang
agar mengambil sikap memusuhi dirimu."
"Ooh, rupanya begitu..." seebun Giok-hiong tertawa.
sesudah berhenti sejenak untuk tarik napas, lanjutnya:
"Seandainya pertarungan ini bakal berlangsung tiga
bulan kemudian, aku percaya Pek si-hiang mempunyai
kemampuan untuk selamatkan dunia persilatan dari
ancaman badai pembunuhan ini. Tapi peristiwa besar
tersebut sudah di ambang pintu sekarang, paling lama
sepuluh hari, paling cepat tujuh hari kemudian badai
pembunuhan secara besar-besaran akan segera digelar
di lembah Ban-siong-kok ini. Aku tak percaya Pek sihiang
punya kehebatan sedahsyat itu hingga mampu
mengubah situasi ini dalam sepuluh hari saja."
"Jadi maksud nona, kau pasti dapat menangkan
pertarungan besar kali ini?"
"Kau sudah berjumpa dengan Thia Sik-kong bukan?
Dialah salah seorang dari dua tokoh tangguh yang
kuundang untuk menghadapi nyonya Li, jangan lagi jagojago
biasa, bahkan aku sendiri pun belum tentu mampu
menerima kedelapan puluh delapan jurus ilmu toya angin
puyuhnya secara utuh, Betul ilmu silat Nyonya Li sangat
hebat, tapi di saat ia berhasil mengungguli Thia Sik-kong,

3158
saat itu kekuatan tubuhnya pasti sudah terkuras banyak.
Asal Nyonya Li sudah tersingkirkan, siapa lagi di dunia
persilatan saat ini yang mampu menandingi aku, Seebun
Giok-hiong?" Dengan kening berkerut Lim Han-kim
berpikir.
"Jadi Seebun Giok-hiong bermaksud melakukan
pertarungan secara bergilir untuk menghadapi nyonya Li?
Betul-betul sebuah siasat yang keji dan memalukan"
Terdengar Seebun Giok-hiong berkata lebih lanjut
sambil tertawa dingin:
"Aku berani beritahu soal ini kepadamu berarti tidak
kuatir kau laporkan hal tersebut kepada nyonya Li,
sekalipun kau bocorkan rahasia ini, belum tentu ia
mampu untuk mencegahnya."
Lim Han-kim tidak banyak bicara iagi, ia putar badan
dan segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Memandang bayangan punggung Lim Han-kim hingga
lenyap dari pandangan, Seebun Giok-hiong menghela
napas sedih, tak kuasa dua titik air mata jatuh beriinang
membasahi pipinya.
Dengan langkah cepat Lim Han-kim menelusuri jalan
setapak meninggalkan tempat tadi, sekejap kemudian
tibalah dia di lembah Ban-siong-kok.
Tatkala mencapai mulut lembah, ia saksikan ada
serombongan pendeta berjubah abu-abu dengan
mengiringi seorang pendeta tua berjubah kuning sedang
berjalan memasuki lembah.
Li Tiong-hui dengan pakaian serba hijaunya dan
sebilah pedang tersoren di punggungnya sedang sibuk

3159
menyambut kedatangan rombongan itu Memandang
pendeta tua berjubah kuning itu, dalam hati Lim Han-kim
berpikir:
"Sudah pasti rombongan pendeta itu berasal dari kuil
siau-lim-si, konon perguruan siau-lim-pay merupakan
tonggaknya dunia persilatan, kalau ditinjau dari gaya
mereka, rasanya memang jauh berbeda dengan
rombongan lain."
Sementara ia masih termenung, mendadak terdengar
seseorang berseru lantang: "Ketua Bu-tong-pay diiringi
delapan murid utamanya tiba"
Lim Han-kim berpaling, ia saksikan ada sembilan
orang tosu berusia pertengahan sedang bergerak
mendekat,
Pendeta yang berdiri di paling depan adalah seorang
tosu bercambang lima yang berwajah keren dan
bertubuh gagah. Kembali Lim Han-kim berpikir
"Bu-tong-pay serta siau-lim-pay sama-sama disebut
sebagai tonggaknya dunia persilatan, nama besar
mereka amat termashur dalam dunia kangouw, entah
siapakah tosu gagah ini?"
Sementara itu Li Tiong-hui telah membalikkan badan
untuk menyambut kedatangan rombongan itu.
Tosu yang berjalan di paling muka itu segera
menghentikan langkahnya seraya menjura, tanyanya:
"Apakah nona adalah Li Bengcu?"
"Yaa, aku Li Tiong-hui," jawab si nona sambil
tersenyum, "Totiang adalah..."

3160
"Pinto adalah Thian Ceng-cu dari Bu-tong-pay."
"Oooh, rupanya ketua Bu-tong-pay Li Tiong-hui
merasa amat bersyukur dan terharu atas kerelaan totiang
datang kemari demi keadilan dunia persilatan-.."
"Sudah menjadi kewajibanku untuk memenuhi
panggilan Bengcu."
"Silakan ciangbunjin (ketua) masuk ke dalam lembah"
Thian Ceng-cu tersenyum,
"Aku pun sudah lama mendengar akan nama besar
lembah Ban-siong-kok. sungguh sangat beruntung aku
dapat mengunjunginya hari ini."
"Ciangbunjin adalah seorang ketua partai, sudah
barang tentu sangat jarang melakukan perjalanan dalam
d unta persilatan.
"Ucapan Bengcu kelewat serius..." setelah berhenti
sejenak, kembali katanya:
"Bagaimana situasi saat ini? Begitu menerima
panggilan Bengcu, aku telah mengutus sebagian anak
muridku untuk hadir lebih awal agar bisa membantu di
sini, apakah mereka telah hadir?"
"Sudah, malah seebun Giok-hiong pun telah mengirim
sebagian anak buahnya untuk mengacau di sini,
kemungkinan besar dalam dua-tiga hari mendatang
pertarungan bakal meledak."
"Berarti pertempuran sudah di depan mata?"
"Benar, untung saja tootiang serta jago-jago dari siaulim-
pay telah tiba di sini."

3161
"Bukankah pendeta berjubah kuning tadi adalah ketua
dari siau-lim-pay..."
"Benar, memang Po-hong taysu."
"Luar biasa, luar biasa, seingatku dalam tiga puluh
tahun terakir ini Po-hong taysu tak pernah tinggalkan
kuilnya barang selangkah pun, tak disangka ia bersedia
hadir di sini, hal ini membuktikan bahwa Beng cu punya
pamor yang besar"
"Atas kesediaan totiang sekalian mau menghargai
diriku, aku merasa amat berterima kasih ..."
Ketika ia menyaksikan Lim Han-kim muncul di situ,
segera sambungnya:
"Setelah menempuh perjalanan jauh tentunya lotiang
semua merasa lelah, silakan beristirahat dulu, besok
tengah hari kita baru mulai berunding membicarakan
langkah kita menghadapi musuh."
"Ada satu hal, boleh aku bertanya kepada Bengcu?"
"Silakan saja bertanya."
"Selain jago-jago dari siau-lim-pay, kawanan jago dari
perguruan mana saja yang akan hadir di sini?"
"Tentu saja sembilan partai besar. Hanya saat ini baru
pihak siau-lim-pay serta perguruan Anda yang tiba
duluan"
"Kecuali sembilan partai besar?"
"Ada empat puluh delapan orang jago dari pelbagai
daerah telah hadir lebih duluan, kini mereka sedang
beristirahat dalam lembah Ban-siong-kok."

3162
"Terima kasih banyak untuk penjelasan Bengcu," kata
Thian Ceng-cu kemudian sambil memberi hormat,
kemudian dengan langkah lebar melanjutkan
perjalanannya,
Dari balik lembah segera muncul dua orang dayang
berbaju hijau yang menghantar tamunya ke tempat
istirahat.
Dalam pada itu Lim Tiong-hui telah berjalan
menghampiri Lim Han-kim sambil menegur: "Kau sudah
kembali?"
Lim Han-kim dapat merasa bahwa hubungannya
dengan gadis itu seakan-akan bertambah asing dan
terhalang jarak yang amat jauh, setelah tertegun sesaat
dia mengangguk. "Yaa, aku sudah kembali."
"Telah bertemu lagi dengan seebun Giok-hiong?"
"Benar, Dari mana nona bisa tahu?" Li Tiong-hui
tertawa hambar.
"itu sih gampang untuk ditebak, seandainya tidak
bertemu seebun Giok-hiong, seharusnya kau sudah
pulang sedari tadi."
"Oooh, rupanya begitu." Li Tiong-hui menghela napas
panjang:
"Apakah dia kembali membujukmu agar meninggalkan
lembah Ban-siong-kok untuk mencari tempat yang aman
dan menjauhi urusan dunia persilatan?"
"Seebun Giok-hiong sangat percaya diri bahkan
omongannya amat besar, seakan-akan pertarungan ini

3163
pasti dimenangkan olehnya, aku rasa tak mungkin lagi
diajak damai."
"Ilmu silat banyak tergantung pada perhitungan jadi
kemenangan atau kekalahan tak mungkin bisa ditentukan
oleh ucapan saja."
"Yaaa... apa yang ingin seebun Giok-hiong sampaikan
kepadamu kini telah kusampaikan kepada nona, soal
mau percaya atau tidak. akupun tak bisa berbuat apaapa."
"Apakah semua perkataan itu disampaikan sendiri oleh
seebun Giok-hiong?"
"Selain seebun Giok-hiong, akupun telah bertemu
dengan seseorang."
"Siapa dia?"
"Orang yang diundang seebun Giok-hiong untuk
membantu pihaknya."
"Tahu siapa namanya?"
"Yaa, dia bernama Thia sik-kong, rambutnya sudah
memutih, panjangnya malah sepinggul, senjata toya
bajanya berbobot kurang lebih seratus kati, bukan cuma
kasar, sifatnya berangasan dan kejam, sedikit-dikit
membunuh orang."
"Thia sik-kong...? Thia sik-kong...? Rasanya kenal
betul dengan nama ini... tapi kenapa tak teringat olehku
siapa dia dan pernah bertemu dimana?" gumam Li Tionghui.
"Mungkin nona hanya pernah mendengar namanya
tapi belum pernah bertemu dengan orangnya..."

3164
"Setiap umat persilatan pasti tahu bahwa
perkampungan keluarga Hong-san punya pergaulan yang
amat luas dan kenalan yang tak terhitung jumlahnya,
dari mana kau bisa tahu kalau aku tak pernah bersua
dengan Thia sik-kong itu?"
"Menurut apa yang kuketahui, rasanya sudah hampir
dua puluhan tahun Thia Sik-kong tak pernah datang ke
daratan Tionggoan, padahal umur nona belum sampai
dua puluh tahun, dari mana kau bisa bertemu muka
dengannya?"
"Berarti ibuku pasti kenal dengannya."
"Benar, kedatangannya memang disebabkan ibumu,
agaknya pada masa silam dia pernah bertarung melawan
ibumu tapi nasibnya malang, dalam pertarungan tersebut
ia menderita kekalahan total, oleh sebab itu timbul
perasaan benci yang sangat mendalam terhadap ibumu,
Maksud kehadirannya ke daratan Tionggoan kali ini tak
lain ingin membalas dendam sakit hatinya dulu, rupanya
seebun Giok-hiong mengetahui hal ini dan
memanfaatkan peluang tersebut untuk membantu
pihaknya."
Sambil pejamkan mata Li Tiong-hui termenung
beberapa saat, kemudian ujarnya:
"Alangkah baiknya bila kau bersedia bertemu dengan
ibuku dan menceritakan kejadian tadi secara jelas
kepadanya."
"Aku memang bermaksud begitu..." setelah berhenti
sejenak, kembali lanjutnya:

3165
"Tampaknya Seebun Giok-hiong sudah bertekad
hendak menciptakan badai pembunuhan di sini, meski
aku telah berusaha membujuknya agar urungkan niat itu,
namun yang kuperoleh malah sindiran dan cemoohan
belaka..."
"Oleh karena itu kau amat mendendam-nya?"
sambung Li Tiong-hui.
"Gara-gara ulah Seebun Giok-hiong yang membuat
keonaran, dunia persilatan terlanda badai pembunuhan
yang mengerikan, jangankan aku, setiap umat persilatan
di dunia ini pasti akan menaruh rasa benci yang
mendalam terhadapnya." Sementara itu terdengar lagi
suara teriakan nyaring berkumandang datang: "Ketua
dari Gobi-pay tiba"
Sambil menghela napas panjang Li Tiong-hui berkata:
"Harap saudara Lim memaklumi keadaanku, selama
berapa hari belakangan ini pikiran dan perasaanku
memang agak risau dan murung, sehingga tanpa disadari
ucapanku agak kasar dan tak enak didengar, bila ada
kata-kata yang menyinggung perasaanmu, harap
saudara Lim sudi memaklumi dan memaafkan."
"Nona sedang memangku jabatan tinggi dengan tugas
yang berat di atas pundakmu, Lim Han-kim tak boleh
berkecil hati..."
BAB 47. Menjelang pertempuran Besar
"Aku senang bila saudara Lim tak marah kepadaku,"
kata Li Tiong-hui agak lega, "Kini nona Pek sudah pindah

3166
ke loteng Teng-siong-lo, pergilah tengok dia, aku harus
menyambut kedatangan tamu-tamu lain."
"Terima kasih nona." Lim Han-kim segera memberi
hormat dan melangkah masuk ke dalam lembah dengan
langkah lebar,
Dari balik sebatang pohon siong muncul seorang
dayang berbaju hijau yang menghadang jalan perginya
sambil menegur: "Lim siangkong hendak ke mana?"
Meski belum terlalu lama Lim Han-kim menetap di
lembah Ban-siong-kok. namun sebagian besar dayangdayang
di situ mengenalinya.
"Oooh, tolong hantar aku ke loteng Teng-siong-lo,"
sambut Lim Han-kim cepat. Dayang itu mengiakan dan
berjalan lebih dulu,
Loteng Teng-siong-lo terletak di bawah sebuah tebing
terjal dalam lembah Ban-siong-kok. sekeliling bangunan
itu tumbuh pepohonan siong yang tinggi dan lebat.
Dayang itu mengajak Lim Han-kim menelusuri jalan
setapak yang beralas batu menuju ke balik pepohonan
siong tersebut.
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di depan
sebuah pintu yang tertutup rapat
Belum sempat Lim Han-kim mengetuk pintu, pintu
tersebut telah membuka dengan sendirinya disusul
munculnya Hiang- kiok yang penuh senyuman di sisi
pintu tadi. Belum sempat anak muda itu mengucapkan
sesuatu, ia telah berkata duluan: "Cepat naik ke loteng,
nona sudah tak sabar menanti kedatanganmu"

3167
Sambil melangkah masuk ke dalam gedung tanya Lim
Han-kim: "Ada apa sih?"
"Entahlah, aku sendiri juga tak tahu."
Setelah mendaki sampai ke tingkat ketiga, Hiang- kiok
mengajak pemuda itu memasuki sebuah ruangan yang
sederhana tapi bersih.
Pek si- hiang sedang duduk sambil selimutan,
rambutnya yang panjang dan kusut dibiarkan terurai di
bahunya.
Lim Han-kim memandang ruangan itu sekejap. lalu
menuju ke sudut ruangan dan duduk di bangku yang
berada di sana.
"Duduk saja dekatku" seru Pek si- hiang cepat sembari
menepuk sisi pembaringannya, "Aku tak punya tenaga
untuk bicara keras."
Dengan langkah lebar Lim Han-kim menghampiri gadis
itu dan duduk di sisinya: "Aku..."
"Ssttt" tukas Pek si- hiang sambil menggeleng,
"Dengarkan dulu perkataanku"
Lim Han-kim mendeham pelan dan menelan kembali
kata-katanya.
"Kau sudah bertemu dengan seebun Giok-hiong?"
tanya Pek si- hiang kemudian, "Apakah kau dilukai
olehnya? Tidak bukan? Tapi dia pasti menyindir dan
mencemooh diriku habis-habisan bukan?"
"Darimana nona bisa tahu?" tanya Lim Han-kim sambil
membelalakkan matanya keheranan.

3168
"Bukankah dia ingin meminjam mulutmu untuk
menyampaikan isi hatinya kepadaku?"
"Salah besar," tukas Lim Han-kim, "Aku rasa dia telah
mengambil keputusan bulat untuk menciptakan badai
pembunuhan ini."
"Apakah dia menyinggung soal diriku?"
"Yaa, dia bilang pertempuran paling akbar sudah di
depan mata, tak mungkin kau bisa mengubah situasi "
"Hmmm seebun Giok-hiong kelewat pandang enteng
kemampuanku" dengus Pek si- hiang dingin.
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya:
"Lim siangkong, aku ingin memohon satu hal
kepadamu."
"Asal dapat kulakukan, pasti akan kukabulkan"
"Aku mohon kepadamu untuk bertindak sebagai
pelindung ku selama lima hari, dalam lima hari ini akan
kumanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk
melatih sejenis ilmu silat yang bisa dipakai untuk
menghadapi seebun Giok-hiong, agar ia dapat saksikan
sampai dimanakah kehebatan aku Pek si hiang."
"Hanya lima hari yang begitu singkat, ilmu silat macam
apa yang dapat kau pelajari?" Pek si- hiang tersenyum
"Bukan cuma seebun Giok-hiong yang akan kubuat
kaget, bahkan nyonya Lipun akan sangat terperanjat"
"Nona Pek. tampaknya kau sedang ber-gurau, masa
kau serius?" Lim Han-kim tidak yakin.

3169
"Aku tidak bergurau, semua kata-kataku diucapkan
dengan sejujur-jujurnya."
"Baiklah, bagaimana caraku bertindak sebagai
pelindung mu?"
"Berjagalah di tingkat kedua sana, siapa pun harus
dilarang untuk menaiki tingkat ketiga, termasuk nyonya
Li atau Li Tiong-hui sekalipun"
"Baik, aku akan melindungi nona selama lima hari."
"Dalam lima hari ini kau dilarang meninggalkan tingkat
kedua barang selangkah pun."
"Akan kuturuti kehendak nona."
"Dalam lima hari ini, siok-bwee serta Hiang-kiok harus
membantuku untuk berlatih ilmu, mereka tak bisa
membantumu."
"Tak apa-apa, biar aku seorang sudah cukup,"
"Kalau begitu kita putuskan demikian saja. Nah,
pergilah"
Dengan pandangan ragu, tak habis mengerti dan tak
yakin Lim-Han-kim memandang Pek si- hiang sekejap.
kemudian pelan-pelan membalikkan badan dan berlalu
dari situ.
Hiang-kiok mengintil di belakang Lim Han-kim hingga
tiba di loteng tingkat dua, bisiknya kemudian:
"Lim siangkong, kau bersedia melindungi nona kami?"
"Tentu saja, bukankah kau sudah mendengarnya
sendiri tadi?"

3170
"Kenapa sih kau bersedia melakukan permintaannya?"
omel Hiang-kiok dengan air mata bercucuran.
"Apa tindakanku keliru?" Lim Han-kim tidak habis
mengerti
"Masa kau tidak tahu, bila ia berhasil mempelajari ilmu
silat tersebut maka sebagai akibatnya jiwanya pasti
melayang."
"Masa begitu?" Lim Han-kim semakin tertegun-
"Kapan aku membohongimu? Aaaai... masa ucapanku
juga tak kau percayai?"
"Kalau memang begitu akan kutolak permintaannya
tadi." sembari berkata anak muda itu balik badan naik
kembali ke tingkat atas.
Buru-buru Hiang-kiok menarik tangan Lim Han-kim
sambil serunya: "jangan kau tak boleh naik."
"Kenapa?"
"Bila kau tolak permintaannya sekarang, ia tentu tahu
akulah si pelapornya, nanti aku yang bakal dihajar habishabisan."
"Aaaah, masa begitu serius?"
"Kau tidak paham dengan sifat nona kami,
kelihatannya saja dia lemah seolah-olah tak punya
tenaga, padahal rasa ingin menangnya kuat sekali, bila
kau menyinggung perasaan hatinya sekarang, sudah
pasti nona tak bakal tahan"
"Lalu menurut nona bagaimana baiknya?"

3171
Belum sempat Hiang-kiok menjawab, kedengaran
suara siok-bwee berteriak dari atas: "Adik Hiang-kiok.
nona suruh kau cepat kembali."
Tak sempat lagi menjawab pertanyaan dari Lim Hankim,
Hiang-kiok segera balik badan dan berlalu dari situ.
Dengan termangu-mangu Lim Han-kim awasi
bayangan punggung Hiang-kiok hingga lenyap dari
pandangan, kemudian ia baru duduk pada anak tangga
loteng itu.
Entah berapa lama sudah lewat... tiba-tiba terdengar
suara langkah kaki manusia bergema datang.
Cepat-cepat Lim Han-kim membuka matanya, ternyata
saat itu malam telah menjelang, terlihat sesosok
bayangan manusia sedang bergerak mendekat.
Sambil melompat bangun pemuda itu menegur:
"Siapa di situ?"
"Saudara Lim-kah di situ?" suara lembut seorang gadis
menyahut, "Aku Li Tiong-hui"
Menyusu ljawaban tersebut, si nona telah berdiri di
hadapannya.
Buru-buru Lim Han-kim rentangkan kedua tangannya
menghalangi jalan pergi gadis itu, serunya:
"Nona Li hendak ke mana?"
"Menemui Pek si- hiang."
"Tidak bisa," tolak Lim Han-kim seraya menggeleng,
"saat ini nona Pek tak bisa menerima tamu."

3172
"Kenapa?" Li Tiong-hui tertegun, "Padahal aku ada
urusan penting yang harus kurundingkan dengan
dirinya."
"Tidak bisa, sekarang ia tak boleh bertemu dengan
siapa pun."
"Ada apa sih?" tanya Li Tiong-hui dengan kening
berkerut, "Apakah ada masalah yang sangat serius?"
Setelah termenung sejenak sahut Lim Han-kim:
"Nona Pek telah berpesan, di dalam lima hari ini dia
tak ingin diganggu siapa pun, dan aku telah
menyanggupinya untuk melaksanakan tugas ini, jadi
aku... yaaa, terpaksa tak dapat penuhi keinginanmu"
Berkilat sepasang mata Li Tiong-hui setelah
mendengar penjelasan itu Ditatapnya pemuda itu
sekejap, kemudian katanya:
"Mungkin saja saudara Lim dapat menghalangi diriku,
tapi... mampukah kau menghalangi ibuku?"
"Nona Pek telah berpesan, siapa pun tak dapat
bertemu dengannya, berarti termasuk juga ibumu."
"Lantas dimana siok-bwee dan Hiang-kiok sekarang?"
"Mereka berdua melayani Pek si-hiang, jadi tak bisa di
samakan dengan kita semua."
"Jadi aku tak mungkin bisa naik?"
" Kecuali nona Li berhasil membunuhku atau menotok
jalan darahku hingga aku kehilangan sama sekali
kekuatan untuk melakukan perlawanan."
"Aaah, saudara Lim tak usah kelewat serius."

3173
Sembari berkata gadis itu segera balik badan dan
berlalu dari tempat tersebut
Malam itu lewat dengan aman- ternyata Li Tiong-hui
tidak muncul lagi untuk mengganggu.
Lim Han-kim juga dengan setia melaksanakan tugas
jaganya, semalaman ia berjaga terus di mulut tangga
tanpa bergeser selangkah pun.
Ketika fajar baru menyingsing, muncul dua orang
dayang berbaju hijau menghantar sarapan.
Lim Han-kim menghalangi kedua orang dayang tadi
naik ke loteng dan memerintahkan mereka untuk
meninggalkan sarapan di sana,
Ketika dayang-dayang itu meninggalkan sarapannya di
sana dan mengundurkan diri, muncul masalah yang
mengganggu perasaan Lim Han-kim, pikirnya:
"Pek si- hiang sedang berlatih ilmu silat, berarti dia
pun butuh hidangan untuk mengisi perut, tapi bagaimana
caraku menghantarnya ke atas loteng?" sementara dia
masih termenung, mendadak terdengar suara siok-bwee
bergema datang: "Lim siangkong, apa ada orang
menghantar sarapan?"
"Yaa, sarapan telah kutahan di sini, tapi bagaimana
caraku untuk menghantar ke atas?"
"Biar budak yang mengambilnya sendiri," sahut siokbwee
sambil turun dari loteng. sambil mengangsurkan
sarapan ke tangan dayang itu, bisik Lim Han-kim lirih:

3174
"Konon nona Pek hendak melatih sejenis ilmu silat
yang bisa menaklukkan seebun Giok-hiong hanya dalam
lima hari, apa benar ada kejadian seperti ini?"
"Tentu saja ada, "jawab siok-bwee dengan wajah
serius, "Kapan sih nona kami pernah membohongi
orang?"
"Hanya dalam waktu lima hari dia hendak menguasai
sejenis ilmu silat yang bisa menaklukkan seebun Giokhiong,
rasa-rasanya kejadian macam ini seperti dongeng
saja, sulit dipercayai siapa pun"
"Kecerdasan serta kemampuan nona kami memang
jauh melebihi siapa pun, tentu saja dia sanggup
menciptakan prestasi yang mengagumkan" Lim Han-kim
menghela napas panjang.
"Bagaimana keadaan nona Pek saat ini?" tanyanya
kemudian
"Sulit untuk kubayangkan, ia duduk setenang pendeta
tua yang sedang bersemedi, tapi rasa-rasanya juga tidak
mirip begitu."
"Kenapa?"
"Sudah kukatakan tadi, sulit bagiku untuk melukiskan
keadaannya saat ini, sebab di dalam ketenangannya
bersemedi terlihat pula ada gejolak besar yang melanda
tubuhnya."
"Aaaah, masa ada kejadian seaneh itu? sulit untuk
dipercaya dengan nalar..."
"Pada mulanya budak mengira hanya aku seorang
yang mempunyai perasaan demikian, kemudian ketika

3175
kutanyakan kepada adik Hiang-kiok. ternyata dia pun
mempunyai perasaan yang sama, jadi kesimpulanku,
perasaan tersebut bukan sengaja kubuat- buat" setelah
berhenti sejenak, lanjutnya:
"sarapan sudah hampir dingin, budak harus mohon diri
lebih dulu." selesai bicara ia sebera berlalu.
Empat hari berlalu dengan cepat, dalam empat hari ini
Lim Han-kim berjaga-jaga terus di mulut tangga tanpa
meninggalkan tempat tersebut barang selangkah pun-
Dalam waktu-waktu ini ternyata tak ada orang yang
datang mengganggu lagi kecuali dua orang dayang yang
datang mengirim hidangan pada saat-saat tertentu.
Menjelang tengah hari kelima, Lim Han-kim mulai agak
lelah dan mengantuk. maka dia pun duduk bersila di
tengah tangga untuk mengatur pernapasan-
Dalam keheningan yang mencekam itulah, tiba-tiba ia
merasa ada langkah manusia sedang bergerak menaiki
anak tangga.
Dengan sigap Lim Han-kim membuka matanya
sembari berjaga-jaga, ternyata Nyonya dengan pakaian
serba putih dan wajah sedingin es telah muncul di
hadapannya. Buru-buru Lim Han-kim melompat bangun
dan menghadang jalan pergi nyonya Li.
"Cepat menyingkir dan memberi-jalan lewati " hardik
Nyonya Li dingin. Buru-buru Lim Han-kim menggeleng.
"Tidak bisa, aku sudah menyanggupi Pek si-hiang
untuk bertindak sebagai pelindung-nya, aku akan
melarang siapa pun menaiki tangga ini serta
mengganggunya."

3176
"Kenapa menjadi pelindungnya?" tanya nyonya Li
keheranan
"Nona Pek sedang berlatih sejenis ilmu silat,
latihannya baru berakhir tengah malam ini, bila nyonya
ingin bertemu dengannya, datang saja lewat tengah
malam nanti."
"Bila ia betul-betul sedang berlatih sejenis ilmu silat,
kehadiranku sekarang bukan saja tak merugikan dia,
bahkan akan sangat bermanfaat baginya."
"Aku percaya Nyonya memiliki kemampuan tersebut,
tapi sebelum peroleh persetujuan di nona Pek. aku tak
bisa membiarkan nyonya melewati tempat ini."
"Hmmm, mungkin kau lupa dimana dirimu berada
sekarang?"
"Keluarga Hong-san di lembah Ban-siong-kok."
"Setiap jengkal tanah di tempat ini merupakan barang
milikku, berarti tak ada yang bisa melarang aku pergi ke
manapun, lebih baik kau segera menyingkir daripada
mencari penyakit buat diri sendiri."
Lim Han-kim cukup sadar bahwa ilmu silat yang
dimiliki Nyona Li amat tinggi dan hebat, bahkan sebuah
gempurannya sudah cukup membuat dirinya keok.
karena itu katanya, "Aku sadar, kepandaianku masih
ketinggalan jauh bila dibandingkan ilmu silat nyonya, tapi
maaf, aku sedang menjalankan tugas, bila nyonya
bersikeras ingin naik ke atas loteng, silakan robohkan
diriku terlebih dulu."
Belum sempat Nyonya Li mengucapkan sesuatu,
mendadak dari kejauhan sana bergema datang tiga kali

3177
suara bunyi lonceng yang berdentang nyaring, maka ia
pun berkata:
"Beritahu siok-bwee dan Hiang-kiok. bagaimana pun
juga aku harus berjumpa dengan Pek si-hiang, aku akan
balik lagi sepenanak nasi kemudian."
Belum sempat Lim Han- kim menjawab, Nyonya Li
sudah berlalu dengan gerakan amat cepat.
Tindak tanduknya kelihatan lemah gemulai, padahal
kecepatannya tak terlukis dengan kata, dalam sekejap
mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Memandang bayangan punggung Nyonya Li yang
pergi jauh, dalam hati Lim Han-kim berpikir:
"Nyonya Li berbeda jauh dengan Li Tiong-hui, kalau
dia mengatakan akan balik sepenanak nasi lagi, sampai
waktunya dia pasti akan muncul lagi di sini, padahal ilmu
silatku mustahil bisa menandingi dirinya, jika ia sudah
muncul di sini, pasti perempuan itu akan bersikeras
untuk naik ke loteng dan aku tak akan mampu
membendungnya, waaah. harus kulaporkan kejadian ini
kepada siok-bwee serta Hiang-kiok," Berpikir sampai di
situ, dia pun berteriak keras:
"Nona siok-bwee, turunlah sejenak Ada urusan penting
harus kulaporkan kepadamu." Baru saja ia berteriak,
siok-bwee sudah lari turun sambil berbisik,
"Ada apa sih? saat ini nona sedang mencapai puncak
samadinya, bila kau berkaok-kaok macam begini, ia bisa
terkejut hingga mengakibatkan luka dalam."
"Ada urusan penting harus kulaparkan kepada nona."

3178
"Soal apa? Apa sangat serius?"
"Nyonya Li telah berkunjung kemari."
"Dan dia memaksa untuk naik?"
"Benar, untung di saat kami berdebat sengit
berdentang suara lonceng yang mengejutkan hatinya,
tapi sebelum beranjak pergi, ia beritahu kepadaku
katanya dia akan datang sepenanak nasi lagi, aku sadar
bahwa kepandaianku bukan tandingannya, sekalipun
kucoba menghalanginya dengan sepenuh tenaga
akhirnya toh pertahananku bakal jebol juga, maka dari
itu kejadian tersebut harus kulaporkan dulu kepada nona
agar ia membuat persiapan."
Sambil tersenyum kata siok-bwee:
"Tuan Lim, kenapa sih kau bersikap begitu sungkan
kepada kami? panggil saja aku siok-bwee, panggilan
nona, nona, membuat perasaanku sangat tersiksa."
"Maksudku aku pingin tahu bagaimana cara kita untuk
menghadapi Nyonya Li nanti," kata Lim Han-kim sambil
tertawa pula,
"Semedi nona lagi mencapai puncaknya yang paling
berbahaya, meski kita tahu maksud kedatangan nyonya
Li tidak bermaksud jelek. namun kita tak boleh
membiarkannya naik." setelah memandang siok-bwee
sekejap. kata Lim Han-kim lirih:
"Apabila kekuatan kita berdua digabung, aku rasa
kemampuan kita hanya cukup untuk membendung tiga
jurus serangannya."

3179
"Tidak mengapa, aku akan menemanimu untuk
menanti kedatangannya di sini."
"Tidak usah," tampik Lim Han-kim seraya menggeleng,
"Aku rasa nyonya Li sudah mulai naik darah, bila
amarahnya sampai meledak, suatu pertarungan tak akan
bisa dihindari lagi, lebih baik kita laporkan kejadian ini
kepada nona"
"Tidak bisa, saat ini dia tak boleh pecah perhatian,
bagaimana caranya untuk menjawab pertanyaan kita?"
"Lalu bagaimana baiknya?"
"Siang kong tak usah kuatir, budak percaya masih
mampu untuk mencegah niat Nyonya Li."
Betul juga, lebih kurang sepenanak nasi kemudian
Nyonya Li benar-benar muncul kembali di situ.
Dengan pandangan marah nyonya Li menyapu sekejap
Lim Han-kim serta siok-bwee, kemudian tegurnya:
"Oooh, rupanya kalian berdua mau bergabung?"
"Nyonya..." Buru-buru siok-bwee memberi hormat,
"Pek si- hiang lagi bermain setan apaan, masaaku pun
segan ditemuinya?" kata Nyonya Li lagi dingin.
"Nona sedang berlatih sejenis ilmu silat, saat ini
samadinya sedang mencapai puncak yang paling
berbahaya, ia tak bisa memecahkan perhatian untuk
terima tamu."
"Ilmu apaan sih yang sedang dilatihnya?"
"Budak kurang tahu ilmu silat apa yang sedang
dipelajarinya, budak hanya tahu nona sedang berlatih

3180
sejenis ilmu silat yang akan digunakannya untuk
menghadapi seebun Giok-hiong."
"Mana mungkin di dalam waktu yang relatip singkat ia
berhasil mempelajari sejenis ilmu silat untuk menghadapi
Seebun Giok-hiong?" Nyonya Li mengerutkan dahi.
"Soal itu budak kurang paham, sebelum mulai berlatih
ilmu tersebut nona telah beritahu kepada budak bahwa
dalam lima hari ini dia tak bisa diganggu oleh siapa pun,
sebab bila terganggu bukan saja semua hasil latihan
sebelumnya akan terbengkalai keselamatan jiwa nona
pun sangat terancam, oleh sebab itulah budak ingin
memohon kepada Nyonya agar datang menjenguk nona
selewatnya tengah malam nanti."
Nyonya Li berdiri membungkam sambil peras otak
memikirkan sesuatu, dia seolah-olah tidak mendengar
sama sekali apa yang sedang dibicarakan Siok-bwee.
Beberapa saat kemudian ia baru bergumam:
"Apa benar Pek Si-hiang memiliki kemampuan yang
berlipat ganda lebih hebat dariku serta memiliki
pengetahuan yang jauh melebihi pengetahuanku?"
Lim Han-kim hanya berdiri kaku dengan perasaan
kebat kebit, sebab ia tak bisa menduga apa yang sedang
dipikirkan Nyonya Li saat itu dan apa tindakan
berikutnya?
Pelan-pelan Nyonya Li menarik kembali pandangan
kosongnya untuk menengok Siok-bwee sekejap, lalu
tanyanya:
"Selama beberapa hari ini apakah kau selalu berjaga di
sisinya?"

3181
"Benar."
"Menurut pandanganmu apakah ia telah peroleh
sesuatu hasil?"
"Yaa, menurut analisa budak, tampaknya nona telah
berhasil mencapai suatu prestasi."
"Bagus sekali, beritahu kepadanya, selewat tengah
malam nanti aku akan datang menjenguknya lagi"
"Terima kasih nyonya" seru siok-bwee kegirangan
Pelan-pelan nyonya Li mengalihkan sorot matanya ke
wajah Lim Han-kim, tanyanya: "Kau kenal dengan
nyonya Kim?"
"Nyonya Kim yang mana?" Lim Han-kim kebingungan.
"Seorang sahabat karibku, semua orang persilatan
memanggilnya nona Kim." Tergerak perasaan Lim Hankim
setelah mendengar penjelasan itu, jawabnya:
"Yaa, dalam dunia persilatan aku pernah bertemu
dengan nona Kim, dimana dia sekarang?"
"Gedung Tay-sang-kek. Aku tidak mengira ia bisa
pergunakan sebuah perahu layar untuk mengarungi
lautan kehidupannya selama puluhan tahun,
dibandingkan dirinya, aaaai . . . aku masih kalah jauh."
setelah berhenti sejenak, kembali terus-nya:
"Sebelum senja menjelang tiba nanti, ketua lembah
Hong-yap- kok dari bukit utara, Tan Ceng-poo bersama
ibumu akan tiba di Lembah Ban-siong-kok."
Tiba-tiba Lim Han-kim merasakan dadanya bagaikan
dihantam orang keras-keras? teriaknya tertahan-"ibuku
ikut datang?"

3182
"Benar, ibumu akan menjadi tamu agungku di gedung
Tay-sang-kek."
Lim Han-kim merasa emosinya bergolak keras, ibarat
gelombang samudra yang diamuk topan, tapi ia berusaha
meredam gejolak tersebut dan mencoba menentramkan
hatinya, kemudian baru katanya:
"Harap nyonya sudi mewakili aku yang muda untuk
sampaikan kepada ibu bahwa aku telah menyanggupi
permintaan nona Pek untuk melindunginya selama lima
hari, sebelum lewat tengah malam nanti aku tak bisa
menyambut kehadiran beliau."
Nyonya Li tarik napas panjang-panjang, katanya:
"Tindakan anak Hui kali ini memang ada baiknya juga,
agar semua budi dan dendam yang terjalin dalam dunia
persilatan selama ini bisa dibuatkan perhitungan yang
jelas dalam pertemuan besar ini."
Baru berjalan beberapa langkah, mendadak ia
berpaling dan katanya lagi:
"Nak, ada satu hal perlu kusampaikan kepadamu, aku
telah berubah pikiran untuk membunuh Thian-Hok
sangjin, malah kugunakan semua kekuatanku untuk
menolongnya, dalam tiga sampai lima hari mendatang
kesehatan tubuhnya akan pulih kembali bahkan ilmu
silatnya masih bisa dipertahankan seperti sedia kala."
"Terima kasih banyak kuucapkan atas baik budi
nyonya," seru Lim Han-kim seraya menjura dalam-dalam.
Ketika ia selesai menjura dan angkat kembali
kepalanya, nyonya Li sudah lenyap dari hadapannya.

3183
"Huuuh, sungguh berbahaya" keluh siok-bwee sambil
membesut keringat dingin, "Coba kalau budak gagal
membujuknya hingga dia nekat menerjang masuk juga,
bukan saja keselamatan jiwa kita berdua terancam,
bahkan nona pun bisa mengalami jalan api menuju
neraka,"
"Bila nona Pek memang sedang mencapai puncak
samadinya, lebih baik kau segera balik ke atas untuk
membantunya, serahkan saja tempat ini kepadaku
seorang."
Baru beberapa langkah siok-bwee berjalan, mendadak
ia berhenti, berpaling dan katanya lagi:
"Lim siangkong, ada berapa patah kata entah pantas
tidak kusampaikan kepadamu?"
"Tidak mengapa, katakan saja"
"Bila aku salah bertanya harap siangkong jangan
marah."
"Apa ada hubungannya dengan nona kalian?"
"Tentu saja ada hubungan yang erat dengan nona
kami. . ."
Tiba-tiba suara langkah yang ramai memotong
ucapannya yang belum selesai, Li Tiong-hui dengan
wajah gelisah bercampur cemas muncul di mulut tangga
sembari ber-seru: "Apakah ibuku ada di atas?"
"Baru saja pergi dari sini."
Li Tiong-hui tidak banyak bertanya lagi, ia balik badan
dan berlalu, tapi ketika sampai di mulut pintu mendadak

3184
ia berhenti seraya berseru: "saudara Lim, maukah kau
turun sebentar?"
"Ada apa?" tanya pemuda itu sambil berkerut kening,
"Bisa kau membantu aku sekejap?"
"Lim siangkong, pergilah sebentar," bisik siok-bwee,
"Serahkan tempat ini kepadaku."
Buru-buru Lim Han-kim lari turun ke bawah, setibanya
di depan Li Tiong-hui, tanyanya:
"Ada apa? Kenapa kau nampak gelisah?"
"Seebun Giok-hiong telah menyerbu masuk ke dalam
lembah Ban-siong-kok"
"Selama berapa hari ini jago-jago dari mana saja yang
telah tiba di sini?"
"Selain Bu-tong-pay dan siau-lim-pay, pihak cing-shiapay,
Kun-lun-pay juga telah hadir."
"Lantas berapa banyak jago yang dibawa seebun Giokhiong?"
tukas Lim Han-kim.
"Anehnya dia hanya datang didampingi seorang kakek
berbaju kuning yang membawa burung, rasa-rasanya sih
bukan datang untuk bertarung, aku sadar bila harus
menghadapinya satu lawan satu, kecuali ibuku sendiri
sulit ada orang yang bisa menandinginya. Aku kuatir ia
menantang pertarungan satu lawan satu dengan
keluarga Hong-san kami di hadapan para jago dunia, aku
tak tahu bagaimana harus menghadapnya?" Mendengar
ucapan tersebut, Lim Han-kim berpikir
"Di dalam lembah saat ini telah berkumpul begitu
banyak jago lihay, kalau mereka saja tak sanggup

3185
menghadapi seebun Giok-hiong, apalagi aku Lim Hankim."
Tidak menunggu anak muda itu menjawab, Li
Tiong-hui telah berkata lebih lanjut:
"Harap saudara Lim jangan salah paham, aku bukan
bermaksud memintamu menghadapi seebun Giok-hiong
secara kekerasan, aku hanya berniat memintamu
mewakili aku untuk menanyakan maksud
kedatangannya, sebab aku sebagai seorang Bu-lim
Bengcu bila mesti berhadapan langsung dengannya, pasti
akibatnya suasana akan membeku dan pembicaraan
menemui jalan buntu.
Bukan berarti aku pengecut atau takut mati, tapi
mengingat masalah ini menyangkut keselamatan umat
banyak. aku tak ingin memporak-porandakan urusan
besar gara-gara masalah sepele. Hingga saat ini,
kekuatan pihak kita belum terhimpun semua, lebih baik
bila pertarungan bisa ditunda beberapa hari lagi.
Aaaaai... tahu jadi Bengcu ternyata punya beban mental
yang begini berat, dari dulu kutolak saja jabatan
tersebut..." Lim Han-kim tidak langsung menjawab,
pikirnya:
"Walaupun Li Tiong-hui hanya seorang wanita, tapi ia
selalu berjiwa gagah dan berani, sungguh tak disangka
setelah terpilih menjadi Bu-lim Bengcu sikap serta tindak
tanduknya jadi terlalu hati-hati dan penuh perhitungan.
Berpikir sampai di situ, ujarnya:
"Jadi maksud nona, aku mewakili nona untuk
berunding dengan seebun Giok-hiong kapan baiknya
pertarungan dimulai?"

3186
"Maksud kehadiran seebun Giok-hiong saat ini masih
sukar diduga, lebih baik tanyakan dulu maksud
kedatangannya sebelum mengambil keputusan."
"Lebih baik nona memberikan sedikit gambaran
kepadaku bagaimana mesti ambil keputusan, kalau tidak
masa setelah bertemu dengannya nanti, aku harus minta
petunjuk lagi kepada nona sebelum memberikan jawaban
kepada mereka?" Li Tiong-hui termenung berpikir
sebentar, kemudian ujarnya:
"Menurut perkiraanku dalam setengah bulan
mendatang sebagian besar jago persilatan sudah pada
berkumpul di perkampungan keluarga Hong-san ini, jadi
lebih baik janji dengannya untuk bertarung setengah
bulan kemudian"
"Baiklah, akan kucoba"
"Pergilah Menurut pendapatku, kedatangan Seebun
Giok-hiong kali ini masih membawa maksud lain, jadi apa
pun yang dia tanyakan kepadamu, putuskan sendiri
menurut keadaan." Lim Han-kim manggut-manggut dan
sebera berlalu.
Keluar dari loteng Teng-siong-lo, pemuda ini dapat
merasakan suasana yang serius dan menyeramkan
Ia dapat merasakan berdirinya banyak sekali dayang
bersenjata di belakang pepohonan dan bunga, bahkan
para dayang itu sama-sama menyiapkan tabung jarum
emas yang siap dipancarkan, jelas semua tempat
strategis dalam perkampungan keluarga Hong-san saat
ini telah terjaga secara ketat.

3187
Dengan langkah lebar Lim Han-kim menelusuri jalan
setapak menuju ke gedung utama.
Keluar dari gedung tersebut menuju ke luar lembah,
Lim Han-kim menyaksikan banyak sekali jago persilatan
dengan senjata terselip di badan bersiaga di sana-sini.
Setelah melewati pepohonan yang lebat dikiri-kanan
jalan,akhirnya ia saksikan seebun Giok-hiong dengan
pakaian serba hijau dan rambut terikat sapu tangan putih
sedang berjalan mendekat dengan langkah santai.
Mengikuti di belakang seebun Giok-hiong adalah kakek
berperawakan tinggi besar yang mengenakan jubah
kuning, jenggot putihnya sepanjang dada, wajahnya
dingin menyeramkan dan di bahunya bertengger dua
ekor burung aneh berwarna abu-abu tua. sambil
mendeham Lim Han-kim menghadang jalan pergi seebun
Giok-hiong seraya menyapa:
"Nona, selamat berjumpa kembali." Dengan
pandangan dingin seebun Giok-hiong memandang Lim
Han-kim sekejap. kemudian sahutnya sambil tertawa
hambar.
"Mana Li Tiong-hui?"
"Nona Li sangat sibuk. oleh sebab itu aku diminta
mewakilinya menjumpai nona."
"Apakah kau dapat membuat keputusan?"
"Aku diminta untuk mewakilinya, otomatis aku telah
diberi wewenang untuk mengambil keputusan"
"Beritahu kepada Li Tiong-hui, kentongan pertama
malam nanti orang-orangku akan menyerbu masuk ke

3188
dalam lembah Ban-siong-kok dari empat penjuru, bila ia
menganggap tak sanggup menandingiku sebelum
matahari terbenam sore nanti suruh dia datang ke luar
lembah Ban-siong-kok dan menyerah kalah kepadaku"
"Jadi kedatangan nona hanya disebabkan persoalan
ini?" tanya Lim Han-kim setelah berhasil menenangkan
pikirannya.
"Sekalipun masih ada urusan lain, tak ada gunanya
kuberitahukan padamu."
"Keberanian nona benar-benar mengagumkan” kata
Lim Han-kim setelah memandang sekeliling tempat itu
sekejap." seandainya nyonya Li muncul saat ini, mungkin
sulit buat nona untuk meninggalkan lembah ini dalam
keadaan selamat."
"Aku sendiri pun merasa heran, lembah Ban-siong-kok
dengan penjagaan yang begitu ketat kenapa bisa
membebaskan aku Seebun Giok-hiong memasukinya
dengan leluasa."
"Keluarga persilatan bukit Hong-san dapat termashur
dalam dunia kangouw bukan lantaran ilmu silat mereka
yang hebat dan luar biasa..." seebun Giok-hiong tertawa
dingin, tukas-nya:
"Aku rasa kau sudah ditaklukkan seratus persen oleh
Li Tiong-hui hingga sepenuh hati memihak
perkampungan bukit Hong-san. Kini nyonya Li maupun Li
Tiong-hui tak berani munculkan diri untuk berhadapan
denganku, itu berarti mereka sadar bahwa kesempatan
untuk meraih kemenangan bagi mereka amat minim.
Hmmm, dia anggap oleh karena di antara kita berdua

3189
punya hubungan pribadi yang intim maka kau disuruh ke
luar untuk menahan aku, jangan mimpi"
Lim Han-kim tidak langsung menjawab, pikirnya:
"Seebun Giok-hiong datang tanpa senjata dan cuma
didampingi seorang pengawal, mustahil dia bisa meraih
kemenangan apa bila sungguh terjadi pertempuran di
lembah Ban-siong-kok ini, lalu apa sebabnya Li Tiong-hui
enggan tampilkan diri untuk berjumpa dengannya?"
Ketika tak mendengar jawaban dari Lim Han-kim,
kembali seebun Giok-hiong berkata sambil tertawa
dingin:
"Jangan-jangan Li Tiong-hui sudah dapat menebak isi
hatiku sehingga lantaran ia tak tega untuk turun tangan
sendiri membunuhmu, maka... hhhehhh... heheh..."
Lim Han-kim tambah gelisah sesudah menangkap
hawa napsu membunuh memancar ke luar dari balik
mata perempuan itu, dia tahu perempuan itu segera
akan turun tangan melancarkan serangan, maka pikirnya
dengan cepat:
"Apa yang diminta Li Tiong-hui untuk kusampaikan
kepadanya belum sempat kuutarakan secuwilpun, bila
aku keburu terbunuh, bisa menyesal hidupku ini..." Maka
dengan suara lantang teriaknya:
"Apa pun yang nona utarakan, aku bisa mengambil
keputusan dengan segera."
Seebun Giok-hiong berkerut kening, belum sempat
mengutarakan sesuatu, kembali Lim Han-kim berkata:

3190
"Saat pertarungan yang diputuskan kau dengan Li
Bengcu masih ada setengah bulan lagi, sebagai seorang
Bengcu, nona Li enggan menjilat kembali ludah yang
telah dikeluarkan oleh sebab itu terhitung mulai hari ini
hingga lima belas hari kemudian nona Li enggan untuk
bentrok lagi denganmu, sampai waktunya nanti Li
Bengcu pasti akan menyambut sendiri kedatanganmu di
mulut lembah Ban-siong-kok, dan bila sampai saatnya
terserah nona hendak memilih cara pertarungan macam
apa untuk menyelesaikan semua pertikaian yang ada."
Ia tahu, apa yang telah diucapkan seebun Giok-hiong
dapat pula dilakukan olehnya tanpa ragu, terasa rugi
besar bila ia keburu mati terbunuh sebelum pesan-pesan
dari Li Tiong-hui disampaikan, andaikata setelah pesan
disampaikan ia tetap terbunuh, hal ini akan diterimanya
dengan perasaan lebih rela.
Tampak napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah
seebun Giok-hiong, jengeknya:
"Sudah selesai perkataanmu?"
"Sudah"
Secepat sambaran petir Seebun Giok-hiong
menggerakkan lengannya mencengkeram pergelangan
tangan Lim Han-kim, tegurnya sambil tertawa dingin:
"Cepat jawab, apa sebabnya Li Tiong-hui enggan
bertemu aku?"
"la terlalu sibuk. tak ada waktu bertemu dengan mu."
"Hmmm, karena ia tahu kemampuan yang dimilikinya
hari ini belum mampu menandingi aku, satu jam lagi

3191
seluruh perkampungan keluarga Hong-san akan
tenggelam tersapu air."
"Kau telah menggali sumber mata air bukit Hongsan..."
tukas Lim Han-kim dengan wajah berubah.
"Hmmm, aku seebun Giok-hiong belum sehina itu
untuk melakukan perbuatan terkutuk..." seebun Giokhiong
tertawa dingin.
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan
suara lantang:
"Tempo haria ku sudah mengirim surat untukmu, aku
rasa hal ini telah kau laporkan kepada Nyonya Li bukan?"
"Benar, telah kusampaikan kepada nyonya Li maupun
nona Li."
"Aku dengar Pek si-hiang sedang melatih semacam
ilmu guna menghadapi aku..."
Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapkan,
mendadak terdengar seseorang berkata dengan suara
parau:
"Anak Kim, minggirlah, biar guru yang hadapi
perempuan ini."
Lim Han-kim menoleh, ia jumpai seorang kakek
berbaju hijau sedang berjalan mendekat dengan langkah
lambat, dia adalah gurunya semasa di lembah Hong-yapkok,
Tan ceng-po. Maka teriaknya dengan rasa girang:
"Suhu ..."
Buru-buru ia jatuhkan diri berlutut
"Tidak usah banyak adat," tampik Tan Ceng-po sambil
kebaskan ujung bajunya, segulung tenaga besar sebera

3192
menahan tubuh anak muda itu hingga tak sampai
berlutut. Kedengaran seseorang berseru pula dengan
suara merdu:
"Tan tua, lebih baik kita urusi teman sendiri tanpa
perdulikan tingkatan yang berbeda..."
Buru-buru Lim Han-kim berpaling, tampak seorang
perempuan setengah umur yang cantik dan mengenakan
pakaian berwarna kuning sedang berjalan mendekat, dia
tak lain adalah Kim Nio-Nio yang pernah ditemui di
tengah sungai tempo hari.
"Saudara Lim, baik- baikkah kau?" sapa Kim Nio-Nio
sambil tertawa.
"cici, baik- baikkah kau..." sahut Lim Han-kim pula
sambil memberi hormat. Sementara itu Seebun Giokhiang
telah menegur:
"Jadi kau adalah ketua lembah Hong- yap- kok yang
termashur itu, Tan ceng-po?"
"Benar, aku adalah Tan ceng-po."
"Tatkala terjadi tragedi berdarah di perguruan bunga
Bwee, dimana orang tuaku mati terbunuh, bukankah
Anda turut hadir pula dalam pertemuan tersebut?"
"Benar." Tan ceng-po manggut-manggut, "Nona ingin
buktikan terjadinya peristiwa tersebut atau pingin
membalas dendam untuk kematian orang tuamu?"
"Aku hanya ingin membalas dendam."
"Bila nona ingin membalas dendam tanpa menanyakan
dulu duduknya perkara, silakan untuk turun tangan
sekarang juga."

3193
Ketika Lim Han-kim melihat sepasang tangan Seebun
Giok-hiong dirapatkan terus satu sama lainnya, segera
timbul perasaan was-was, teriaknya lantang: "Suhu, hatihati,
Seebun Giok-hiong sangat licik dan banyak akal
muslihatnya."
Dalam pada itu terdengar Kim Nio-Nio berseru pula:
"Seebun Giok-hiong, ketika orang tuamu mati
dikerubuti, aku pun ikut hadir di sana, bila aku tidak
membeberkan kepadamu, mungkin tak akan kau ketahui
latar belakangnya yang pasti."
"Menurut penyelidikanku, ada delapan belas orang
yang ikut mengerubuti orang tuaku dulu."
"Berapa orang yang kau ketahui sekarang?"
"12 orang"
"Kalau begitu aku adalah satu di antara 6 orang
lainnya." Kim Nio-Nio menegaskan
"Boleh kau jelaskan siapa saja 5 orang yang lain?"
Tiba-tiba Kim Nio-Nio angkat wajahnya sembari tarik
napas panjang, ujarnya:
"Sebutkan dulu siapa saja ke-12 orang yang telah kau
ketahui itu, agar dendam ini tak sampai salah alamat,"
"Boleh saja kusebutkan, cuma aku pun ada satu
syarat, sehabis kusebutkan nama ke-12 orang itu, kau
pun harus sebutkan juga nama-nama dari ke-5 orang
lainnya," Kim Nio-Nio tertawa tawa, diliriknya Tan cengpo
sekejap kemudian katanya:
"Hidup kami selama ini terbelenggu dalam masalah
hutang piutang, dendam mendendam, aku berharap

3194
dalam pertemuan di bukit Hong-san kali ini semua
dendam dan hutang yang dibuat selama belasan tahun
ini dapat diperhitungkan sampai tuntas, oleh sebab itu
setiap orang yang terlibat dalam peristiwa pengeroyokan
tempo hari harus turut bertanggung jawab pula hari ini,
entah bagaimana menurut pendapat saudara Tan?"
"Memang begitulah niat kedatanganku kali ini." Tan
ceng-po tersenyum hambar, "Sebab bila sudah
diputuskan demikian, mau kabur pun tak ada gunanya."
Kim Nio-Nio mengangguk.
"Sudah hampir 20 tahun aku melarikan diri dari
kenyataan dengan hidup terlunta-lunta di atas kapal,
sudah 20 tahun pula aku memikirkan persoalan ini,
akhirnya kuputuskan untuk hadir di perkampungan bukit
Hong-san kali ini..."
Dia angkat wajahnya memandang Seebun Giok-hiong,
kemudian tambahnya: "Nah, sebutkan siapa saja yang
telah kau ketahui?"
"Jadi kau telah menyetujui syaratku?"
"Sekarang hanya bisa kusanggupi setengahnya, tapi
periu kuberitahukan kepadamu, sebagian besar orangorang
tersebut tentu akan hadir pula dalam pertemuan
puncak ini."
"Sebenarnya aku bisa saja melacak kalian satu persatu
kemudian membalaskan dendam kematian orang tuaku,
tapi sekarang aku telah memberi peluang bagi kamu
semua agar berkumpul di sini serta menyelesaikan
masalah ini, berarti aku telah memberi kesempatan
kepada kalian semua..."

3195
"Yaaa, peristiwa berdarah tempo dulu bukan terjadi
lantaran satu sebab saja, salju yang membeku setebal
tiga inci tak akan terbentuk dalam hujan salju satu
malam saja. Tentunya kau paham bukan dengan maksud
ucapanku ini, selama hidup jangan harap kau dapat
temukan kami berdelapan belas sekaligus, kecuali orang
tuamu hidup kembali."
"Asal kutangkap salah seorang di antara kalian
kemudian menyiksanya, masa tak bakal kuperoleh nama
ke-6 orang lainnya?"
"Aaaai, lebih baik jangan kelewat percaya diri." Kim
Nio-Nio menghela napas, "Tapi... yaaa, urusan toh sudah
menjadi berita besar dalam dunia persilatan, aku rasa
siapa pun pasti berkeinginan ikut hadir dalam pertemuan
kali ini. Coba kau sebutkan dulu nama dari kedua belas
orang itu, akan kudengarkan apa benar atau tidak."
"Ciat-pin dan Po-tok taysu dari siau-limpay"
"Ehmmm, kedua orang hweesio ini memang terlibat."
"Li Tong-yang dari keluarga Hong-san, Ciu Heng si
hakim sakti, Thian-hok sangjin, Hian-hok cengcu yang
kini menjadi ketua Bu-tong-pay, si pedang racun Pek
siang, Kim-hud totiang dari Kun-lun-pay, gadis naga
berbaju hitam..." Pelan-pelan dia berpaling ke arah Tan
ceng-po dan melanjutkan: "Kemudian kau, Tan ceng-po
dari lembah Hong-yap- kok."
"Betul, semua yang kau sebut memang ikut hadir
waktu itu, tapi jumlah mereka baru sepuluh, siapa kedua
orang lainnya?"

3196
"Dua manusia aneh dari Thian-lam, si naga botak
siang Kin dan nenek naga berambut putih."
"Jejak kedua orang ini paling susah dilacak. mereka
tidak memiliki tempat pemondokan yang tetap..."
"Itu mah tak perlu kau kuatirkan, kini kedua manusia
aneh dari Thian-lam sudah kusekap di suatu tempat yang
sangat rahasia."
"Nona, tampaknya namamu benar-benar bukan nama
kosong"
"Selain dirimu, masih ada lima orang lagi yang terlibat,
nyonya, tolong kau sebutkan..." Kim Nio-Nio tertawa.
"Nona tak perlu kuatir, sampai waktunya mereka pasti
akan menampakkan diri dengan sendirinya, tapi aku
perlu menasehati nona, di kala beberapa orang itu telah
berkumpul semua di sini, maka kendatipun ada jagoan
yang paling jempolan sekali pun di tempat ini, jangan
harap ia dapat menghadapi mereka semua sekaligus, jadi
saranku, carilah beberapa orang pembantu andalan bila
ingin menghadapi mereka sekaligus."
"Pihak siau-lim maupun Bu-tong sudah banyak
mendidik jagoan tangguh bagi diriku, dan kini, sebagian
besar hasil didikan mereka telah menjadi anak buah
andalanku." Mendadak ia memperlantang nadanya
seraya melanjutkan.
"Maksud kedatanganku kali ini tak lain ingin memaksa
Li hujin untuk menyingkap keenam nama sisanya."
"Kau punya keyakinan untuk mengungguli Li hujin?"
sela Kim Nio-Nio sambil tertawa hambar.

3197
"Meskipun dalam pertarungan satu lawan satu belum
tentu aku dapat mengunggulinya, bukan berarti aku
mesti mengalami kekalahan secara drastis,"
"Sekalipun seperti apa yang nona katakan, tapi
dengan cara apa kau bisa memaksa Li hujin untuk
menyebutkan sisa dari keenam nama itu?"
"Kecuali Li hujin sudah siap meninggaikan
perkampungannya, dalam dua jam aku sanggup
menenggelamkan seluruh lembah Ban-siong-kok dalam
gulungan air bah."
"Kenapa?"
"Di dasar lembah Ban-siong-kok mengalir sebuah
sungai bawah tanah dengan jumlah air yang sangat
besar, nadi yang menghubungkan tempat ini dengan
sungai bawah tanah tersebut telah kukuasai, cukup
memberi satu perintah dari sini, seluruh lembah Bansiong-
kok akan tenggelam dilanda air bah."
Kim Nio-Nio agak tertegun, ia berpaling dan
memandang Lim Han- kim sekejap kemudian tanyanya:
"Benarkah apa yang dia ucapkan?"
"Yaa, memang begitu" Lim Han- kim mengangguk
Kim Nio-Nio memandang Tan Ceng-po se-kejap.
kemudian pelan-pelan katanya:
"Waktu itu Li hujin tidak terlibat dalam peristiwa
tersebut, dia pun tidak hadir di sana, darimana ia bisa
tahu nama-nama lainnya?"

3198
"Hmmm, kalau sekarang mah aku tak butuh Li hujin
lagi," jengek seebun Giok-hiong sambil tertawa dingin.
Kim Nio-Nio tertawa tawa.
"Jadi kau hendak mencariku?" balik tanyanya
"Betul, sekarang aku memang hendak mencarimu."
Kim Nio-Nio segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Tepat sekali bila kau mencariku, dibandingkan Li
hujin, ilmu silatku memang ketinggalan jauh, cuma... kau
harus melayani aku untuk bertarung dulu beberapa
jurus."
"Sayang aku tak punya waktu untuk melayani
pertarunganmu, aku ingin kau menyebutkan sisa kelima
nama itu."
Kim Nio-Nio mencoba memeriksa sekeliling tempat itu
sekejap. ketika tak dijumpai seebun Giok-hiong
membawa anak buah, dia pun tersenyum.
"Bila kami menahanmu di sini, dengan cara apa pula
kau memberi komando kepada anak buahmu untuk
meledakkan nadi air tersebut?"
"Bagus, biar kutunjukkan kebolehan kami."
Perkataan tersebut diucapkan seolah-olah sedang
bergumam, bahkan menoleh pun tidak. Tampak kakek
berbaju kuning itu menggerakkan tangan kanannya
sambil menuding ke langit, burung abu-abu yang semula
bertengger di pundaknya itu seketika melesat ke udara
dengan kecepatan luar biasa.
Tampaknya Kim Nio-Nio telah membuat persiapan, di
kala burung abu-abu itu merentangkan sayapnya untuk

3199
terbang, secepat kilat pula Kim Nio-Nio melepaskan
sebuah pukulan ke atas.
Namun gerakan burung abu-abu itu kelewat cepat, di
saat Kim Nio-Nio melepaskan pukulannya, burung abuabu
tesebut telah lolos dari jangkauan tenaga pukulan
Kim Nio-Nio bahkan melesat setinggi puluhan kaki ke
tengah udara. Menyaksikan adegan tersebut, Tan cengpo
berkerut kening sambil berpikir. "Luar biasa cepatnya
terbang burung ini, amat jarang kujumpai peristiwa
semacam ini." sementara itu Kim Nio-Nio telah berkata
sambil tersenyum:
"Satu di antara kelima orang itu mempunyai nama dan
pamor yang luar biasa tingginya, hanya sayang ia sudah
menetap jauh di laut selatan sana..."
"Siapa dia?"
"Pernah mendengar nama Raja pedang yang amat
tersohor pada dua puluhan tahun berselang?"
"Yaa, rasanya pernah kudengar"
"APabila nona menganggap semua orang yang ikut
mengerubuti ayah dan ibumu dulu adalah pembunuh, si
raja pedang harus kau tuduh sebagai salah satu
pembunuhnya."
"Raja pedang ditambah kau berarti sudah ada empat
belas orang, siapa pula keempat nama lainnya?"
Kim Nio-Nio tidak langsung menjawab, ia melirik Tan
Ceng-po sekejap kemudian baru katanya:
"Lebih baik beritahu kepadanya, toh bila mereka
bersedia ikut hadir dalam pertemuan puncak ini, meski

3200
tidak kita sebutkan, mereka akan mengaku juga dengan
sendirinya, apalagi jika ada di antara mereka yang
enggan hadir di sini, kita lebih wajib lagi untuk
membongkar identitas sebenarnya"
"Betul." Tan Ceng-po manggut-manggut, "sudah
saatnya budi dan dendam diselesaikan hingga impas,
peristiwa ini sudah tertunda hampir satu generasi,
kenapa tidak kita singkat semua tabir rahasianya?"
"Tatkala terjadi pengeroyokan terhadap seebun suami
istri, siapa pun tak ada yang menduga bahwa dua puluh
tahun kemudian putrinya akan membalaskan dendam
bagi mereka, waktu itu pun tak ada perjanjian yang
melarang kita untuk bicara, hanya masalahnya
sekarang..."
Kim Nio-Nio berhenti sejenak sambil menatap tajam
wajah seebun Giok-hiong, lalu tambahnya:
"Nona, kau punya saudara?"
"Kalian tak usah takut," jengek seebun Giok-hiong
dingin, "Dari keluarga seebun, tinggal aku seebun Giokhiong
seorang yang masih hidup, bila kalian sanggup
menghabisi nyawaku saat ini, tak akan ada orang lain
lagi yang datang mencari balas terhadap kalian"
"Bagus sekali, inilah masa akhir dari pertikaian yang
terjadi puluhan tahun terakhir ini dimana melibatkan
hampir semua jago tangguh yang pernah hidup dalam
lima puluh tahun terakhir, ditinjau dari hal ini sudah
cukup bagi kita untuk mati dengan sepasang mata
meram."
Setelah berhenti sejenak, kembali terus-nya:

3201
"Nona seebun, aku pun punya satu syarat apalah nona
bersedia untuk mengabulkan?"
"Apa syaratmu?"
"Apa yang hendak kau lakukan setelah kusebutkan
nama dari beberapa orang terakhir itu?"
"Soal ini... sulit bagiku untuk menjawab pada saat ini,"
sahut seebun Giok-hiong setelah termenung dan berpikir
sejenak.
Sebelum Kim Nio-Nio memberikan jawabannya,
mendadak terdengar seseorang berseru dengan nada
dingin: "Tidak perlu dijawab"
Ketika semua orang berpaling, tampak Li hujin dengan
pakaian serba biru pelan-pelan sedang berjalan
mendekat
Sekilas pandang ia nampak berjalan amat santai, tapi
dalam waktu singkat ia telah tiba di hadapan beberapa
orang itu. sambil tersenyum Kim Nio-Nio segera berseru:
"Nadi air di bawah lembah ini telah mereka kuasai,
kelihatannya terpaksa kita harus turuti perintahnya, "
"Hmmm, tak bakal semudah itu..." dengus Li hujin
dingin
Sambil mengalihkan pandangannya ke wajah seebun
Giok-hiong, lanjutnya:
"Keempat anak buah nona yang bertugas menjaga
pintu air itu sudah mati terbunuh di ujung jariku."
Berubah hebat paras muka seebun Giok-hiong setelah
mendengar perkataan itu, katanya tanpa sadar:

3202
"Sejak tidak menjumpai kau dan Li Tiong-hui,
seharusnya hal ini sudah terpikir olehku."
"Yang agak terlambat kau menyadari hal ini."
Seebun Giok-hiong segera berpaling ke arah manusia
berbaju kuning itu sambil memberi aba-aba:
"Siap untuk mengundurkan diri"
Kakek berbaju kuning itu menyahut sambil menepuk
pergelangan tangan kirinya, burung abu-abu yang
bertengger di situ segera terbang melesat ke udara dan
langsung menukik ke arah timur.
"Hmmm" dengus Li hujin, "Apa maumu memasuki
lembah Ban-siong-kok seorang diri? ingin berduel
melawanku sekali lagi?"
"Tak perlu aku seebun Giok-hiong mesti bersusah
payah sendiri, toh ada orang lain yang bakal membuat
perhitungan denganmu."
"Kau maksudkan Thia sik-kong?"
"Meskipun dia pernah keok di tanganmu, kekalahan
tersebut dianggap sebagai penghinaan terbesar baginya,
berulang kali dia telah memohon kepadaku untuk
mendapat kesempatan bertarung habis-habisan melawan
dirimu"
"Katakan kepadanya, setiap saat kunantikan
kehadirannya."
"Aku mengerti, meski ilmutoya angin puyuh yang
ditekuni Thia sik-kong cukup lihay, belum tentu ia
sanggup menandingi kehebatanmu," Li hujin hanya
tertawa dingin tanpa memberi komentar.

3203
Sambil tertawa seebun Giok-hiong berkata lebih lanjut,
hanya kali ini dia pertinggi nada suaranya:
"Tapi masih ada seorang lagi yang bakal beradu jiwa
denganmu, dan dia bukan termasuk manusia biasa,"
"Siapa dia?"
"Nyonya pedang patah hati..."
Agak berubah paras muka Li hujin, ia membungkam
tanpa memberi komentar apa pun.
"Bagaimana, takut kepadanya?" ejek seebun Giokhiong
sambil tertawa dingin.
Li hujin mendelik gusar, setajam sembilu sorot
matanya mengawasi wajah musuhnya, ia berseru:
"Seebun Giok-hiong, bila dalam waktu sepeminum teh
kau belum keluar dari lembah Ban-siong-kok. jangan
harap kau bisa tinggalkan perkampungan Hong-san ini
dalam keadaan selamat"
"Gara-gara salah perhitungan lagi-agi kau berhasil
memenangkan babak pertarungan ini dengan merebut
kembali pintu air tersebut" setelah berhenti sejenak
lanjutnya:
"Beritahu anak kesayanganmu, dalam tiga hari
mendatang, setiap saat aku bakal menyerbu masuk ke
dalam lembah Ban-siong-kok ini,sampai waktunya tak
akan kuloloskan setiap orang yang kujumpai dalam
lembah ini termasuk ayam dan anjing."
Pelan-pelan paras muka Li hujin pulih kembali dalam
ketenangan yang luar biasa, dengusnya hambar

3204
"Jika kupikirkan kepentingan putriku, saat ini tak akan
kubiarkan kau tinggalkan tempat ini dalam keadaan
selamat."
"Jadi kalian berniat mengerubuti aku?"
Baru selesai ucapan tersebut diutarakan, terdengar
seseorang berseru lantang dari kejauhan
"Ketua Cing-shia-pay dan Go-bi-pay tiba"
Kim Nio-Nio pun ikut menimbrung:
"Nona Seebun, kelengahanmu kali ini membuat kau
kalah total, bahkan kekalahanmu hari ini mengenaskan
sekali, kecuali kau yakin dapat loloskan diri dari
kepungan dalam keadaan selamat, lebih baik kau
dengarkan dulu berapa syarat kami."
"Katakan"
"Bukankah kau ingin membalaskan dendam ayahmu?"
"Juga ibuku"
"Sekalipun ditambah sepuluh orang lagi juga tak ada
gunanya, sebab dalam pertaruhan kali ini, kau hanya
pegang dua hingga tiga puluh persen kesempatan saja
untuk menang."
"Bila kalian yakin bisa mengungguliku hari ini, kenapa
tidak segera dibuktikan?"
"Bila kau setuju, setengah bulan kemudian mari kita
selesaikan semua pertikaian ini dalam suatu duel yang
jujur di lembah Ban-hoa-kok. kalau tidak, kita boleh
gunakan pelbagai cara untuk menahan nona pada hari ini
juga,"

3205
Seebun Giok-hiong segera menyingkap bajunya
memperlihatkan sebuah sabuk kulit dengan dua belas
pedang kecil sepanjang delapan yang melilit di
pinggangnya, kemudian berkata:
"Aku setuju untuk menunda pertarungan ini sampai
setengah bulan kemudian, tapi jangan kalian anggap aku
takut dengan ancaman tadi." Kemudian sambil
meloloskan dua belas pedang kecilnya itu ia melanjutkan
"Aku pingin tahu, siapa yang sanggup menahan diriku di
sini."
Dengan suatu gerakan cepat ia tancapkan kedua belas
pedang kecil itu pada dua belas buah jalan darah penting
di sekujur badannya, pedang-pedang itu terbenam dalam
tubuhnya hingga tinggal nampak gagangnya, kemudian
pelan-pelan dia balik badan dan berlalu dari situ.
Baik Tan Ceng-po maupun Kim Nio-Nio dan Lim Hankim
sekalian sama-sama berubah wajahnya setelah
menyaksikan peristiwa itu, tubuh mereka sampai
gemetar menahan gejolak emosi.
Hanya nyonya Li seorang tetap tenang dan bersikap
dingin, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apa pun.
Menurut aturan dunia persilatan, bila ada orang berani
menghalangi kepergian seebun Giok-hiong, orang itu
mesti mampu mencabut ke luar lebih dulu kedua belas
batang pedang kecil itu dari tubuh si nona kemudian
ditancapkan pada tubuh sendiri seperti apa yang
dilakukan lawannya, kemudian pertarungan yang jujur
baru bisa dilangsungkan. sambil menghela napas Tan
Ceng-po berbisik

3206
"Seebun Giok-hiong terbukti memang ampuh, lihay
dan cerdik, jangankan melakukan pertarungan, untuk
meniru caranya dengan membenamkan kedua belas bilah
pedang pada tubuh sendiri pun, aku mengakui sejujurnya
bahwa diriku tak sanggup,"
"Yang aneh adalah tidak nampak darah yang mengalir
ke luar dari kedua belas tempat bekas tusukannya." Kim
Nio-Nio menyambung. "Padahal pedang-pedang itu
terbenam sampai delapan inci dalam tubuhnya, semua
ujung langit pernah kujelajahi tapi belum pernah
kusaksikan kepandaian sehebat itu."
"Padahal kemampuannya itu bukan barang aneh." Li
hujin menjelaskan "Dia cuma lagi mempraktekkan ilmu
yoga dari negeri Thian-tok. Yang mengagumkan justru
kemampuannya melatih ilmu tersebut hingga mencapai
tingkat kesempurnaan macam begini, tak heran jika ia
sombong dan tekebur, seakan-akan tiada tandingan lagi
di kolong langit."
Kim Nio-Nio melayangkan kembali pandangannya ke
muka, tapi bayangan tubuh seebun Giok-hiong sudah
lenyap dari pandangan, tak terasa ia menghela napas
panjang: "Aaaaai... kau sudah siap untuk menghadapi
pertarungan ini?"
"Sekarang, aku belum memutuskan ..." jawab Nyonya
Li singkat, sorot matanya dialihkan ke wajah Lim Hankim,
kemudian tambah-nya: "Kau ingin bertemu dengan
ibumu?"
"Yaa, aku memang ingin bertemu beliau, cuma dimana
beliau sekarang?"
"Dalam gedung Tay-sang-kek"

3207
"Kalau begitu biar kusambangi guruku lebih dulu,"
ucap Lim Han- kim sambil menghampiri Tan ceng-po
dengan langkah lebar, seraya berlutut, hormatnya: "Tecu
menjumpai suhu"
"Tak usah banyak adat, ayoh cepat berdiri," tampik
Tan ceng-po sambil tersenyum.
Dalam pada itu Nyonya Li sudah berpaling ke arah Kim
Nio-Nio seraya bertanya: "Kau kenal dengan nyonya
pedang patah hati?"
"Yaa, masa ia masih teringat dengan dendamnya
tempo dulu?" Kim Nio-Nio mengangguk.
Nyonya Li seperti mau mengucapkan sesuatu tapi
kemudian diurungkan, tanpa berbicara lagi ia beranjak
pergi dari situ.
Lim Han- kim pun berbisik: "suhu, tecu ingin
menjumpai ibu."
"Kalau begitu pergilah, cuma jangan kelewat banyak
bertanya," pesan Tan ceng-po. Lim Han- kim mengiakan
dan segera menyusul di belakang nyonya Li.
Sepanjang perjalanan, walaupun nyonya Li tahu kalau
Lim Han- kim mengikutinya dari belakang, namun ia tak
pernah berpaling, apalagi melihat pemuda itu.
Setibanya di luar gedung Tay-sang-kek. Nyonya Li
baru menghentikan langkahnya seraya berpaling dan
katanya:
"Langsung masuk ke ruang utama lalu belok ke kiri,
masuklah sendiri." Lim Han- kim menyahut dan

3208
mendorong pintu gerbang, ternyata pintu itu tidak
terkunci.
Di balik pintu adalah sebuah ruang pertemuan yang
maha luas, dinding di seputar ruangan berwarna putih
bersih bak salju, tak nampak meja kursi, apalagi
bayangan manusia.
Seperti petunjuk yang didapatkan, Lim Han- kim
berbelok ke sebelah kiri, tapi hingga mencapai ujung
dinding ruangan itu ia belum juga melihat bayangan
ibunya, dalam keadaan panik bercampur gelisah tanpa
terasa teriak-nya: "lbu, anak Kim pingin bertemu
denganmu."
Ia berteriak beberapa kali, namun tiada jawaban yang
diperoleh Dia coba menoleh ke luar, tapi pintu gerbang
gedung Tay-sang-kek sudah tertutup rapat, dalam ruang
pertemuan yang begitu luas dan lebar, tak nampak
sesosok bayangan manusia pun-sambil berusaha
menenangkan pikirannya Lim Han- kim berpikir:
"Bicara dari status nyonya Li saat ini dalam dunia
persilatan, mustahil ia bermaksud membohongiku tapi
dimana ibuku berada sekarang? Masa dalam gedung
Tay-sang-kek juga dilengkapi alat rahasia atau kamar
rahasia?"
Berpikir sampai di situ, tak kuasa lagi dia coba
mendorong dinding ruangan di hadapannya.
Betul juga, dengan adanya dorongan itu, mendadak
dinding ruangan di hadapannya itu mulai berdenyit dan
terbukalah sebuah pintu rahasia.

3209
Lim Han- kim kuatir pintu rahasia itu keburu menutup
kembali, maka cepat-cepat dia menerobos masuk ke
dalam.
Dalam lorong sempit di balik pintu rahasia berdiri
seorang dayang berbaju putih yang segera menyongsong
kedatangannya seraya memberi hormat, katanya:
"Baru saja budak peroleh pemberitahuan dari nyonya
untuk menyambut kedatangan siangkong."
"Di mana ibuku sekarang?"
"Nyonya tua lagi beristirahat di ruang dalam, silakan
siangkong mengikuti budak" sembari berkata ia beranjak
meninggalkan tempat itu,
Mengikuti di belakang dayang tersebut Lim Han- kim
menelusuri jalan lorong sejauh beberapa puluh kaki
sebelum membelok ke kiri secara tiba-tiba, di
hadapannya kini terbentang sebuah ruang tidur yang
amat indah.
Lim Han- kim coba mengamati isi ruangan itu, terlihat
seorang nyonya setengah umur yang mengenakan baju
warna biru sedang duduk bersila di atas pembaringan.
Dalam sekilas pandangan Lim Han- kim sudah
mengenali perempuan setengah umur itu sebagai ibunya,
buru-buru dia maju ke depan, berlutut di hadapannya
seraya berseru: "Putramu yang tak becus Lim Han- kim
menjumpai ibu."
"Duduklah di sini nak." kata nyonya Lim sambil
membangunkan putranya, "Mari duduk dulu, ada
persoalan ingin kutanyakan kepadamu"

3210
Lim Han- kim dapat merasakan keanehan yang
diperlihatkan ibunya dalam ketenangan yang di luar
kebiasaan itu, buru-buru tanyanya: "Ada petunjuk apa
ibu?"
Sementara itu dayang berbaju putih tadi telah
mengundurkan diri selepas merapatkan kembali pintu
kamar.
"Kau telah bertemu dengan nyonya Li?" tanya nyonya
Lim.
"Yaa, sudah."
"Bagaimana kalau dibandingkan ibu?:"
Lim Han- kim agak tertegun, dia tak menyangka akan
dihadapkan dengan pertanyaan semacam ini, balik
tanyanya kemudian: "Bagian mana yang ibu
maksudkan?" Nyonya Lim tertawa hambar.
"Berbicara soal kepintaran dan ilmu silat, jelas ibu
bukan tandingannya, tentu yang kumaksud adalah
usianya, coba kau perhatikan, siapa yang lebih tua
antara aku dengan nyonya Li."
"Kalau ananda harus bicara sejujurnya, nyonya Li
memang kelihatan jauh lebih muda ketimbang ibu, tapi
hal ini bisa dimaklumi sebab tenaga dalam yang dimiliki
nyonya Li sudah mencapai puncak kesempurnaan,
apalagi dia pun memiliki kepandaian untuk menjaga
keawetan tubuhnya, jadi tak dapat diambil sebagai
perbandingan..."
"Sesungguhnya ibu dua tahun lebih muda ketimbang
nyonya Li," tukas Nyonya Lim tiba-tiba, "Andaikata ibu
tidak memusnahkan ilmu silat yang ibu miliki, sebaliknya

3211
berlatih tekun seperti dia, maka bukan saja pada saat ini
wajahku kelihatan lebih muda, mungkin taraf ilmu silat
yang kumiliki pun hampir seimbang dengan
kemampuannya,"
"Yaa, ibu bukan saja sudah memusnahkan ilmu silat
sendiri.." Nyonya Lim alihkan pandangan matanya ke
wajah Lim Han- kim,
"Bahkan telah kubuat putraku turut menderita akibat
ulah ibunya coba kalau tidak. saat ini mungkin kau sudah
punya kedudukan yang bagus dalam dunia persilatan"
"lbu, semakin kudengar penuturanmu makin bingung
rasanya, bersediakah ibu menerangkan lebih terperinci?"
"Apakah kau bersikeras ingin tahu latar belakang
sebenarnya?" tanya Nyonya Ltm sambil tertawa hambar.
"Sebagai putra ibu aku wajib mengetahui siapa ayah
kandungku kalau tidak. harus ku-taruh ke mana wajahku
ini?" Nyonya Lim tarik napas panjang-panjang.
"Tujuan utamaku memusnahkan ilmu silat yang
kumiliki tak lain adalah ingin melepaskan diri dari
pertikaian dunia persilatan dan mencari suatu tempat
yang terpencil untuk hidup secara tenang dan damai, tapi
nyatanya perhitungan manusia tak bisa melawan
kehendak Thian, walaupun aku telah memusnahkan ilmu
silatku, namun hidupku tak pernah tenang, bahkan nyaris
aku tewas oleh beberapa orang bandit kecil, untung
gurumu muncul tepat pada waktunya hingga jiwa kita
berdua dapat diselamatkan”
"lbu, kau telah bercerita panjang lebar, tapi belum kau
sebutkan siapa nama ayah kandungku?"

3212
Paras muka nyonya Lim tiba-tiba berubah jadi semu
merah bercampur pucat, tampaknya ia sedang
mengalami pertempuran batin yang berat.
Lim Han- kim coba melirik. melihat ibunya sedang
berlinang air mata, ia jadi ciut hatinya dan tak berani
banyak bertanya lagi.
Lebih kurang sepeminum teh kemudian nyonya Lim
baru menghela napas panjang, sambil menyeka air mata
yang membasahi pipinya ia bertanya lirih: "Jadi kau ingin
tahu?"
"Selama belasan tahun, masalah inilah yang selalu
mengganjal perasaan ananda."
"Sebetulnya aku segan memberitahu rahasia ini
kepadamu, tapi situasi kini telah ber-ubah, meski ingin
kurahasiakan pun rasanya tak akan terlalu lama lagi."
"Ooh ibu... biar macam apa pun ayah kandungku itu,
ia tetap adalah ayah yang membuat kehadiranku di dunia
ini menjadi kenyataan, sudah menjadi hakku untuk
mengetahui rahasia ini."
Nyonya Lim tak dapat membendung rasa harunya lagi,
air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, pelan-pelan
ia berkata:
"Nak. meski kuberitahu siapa ayahmu, belum tentu
orang yang bersangkutan mau mengakui dirimu sebagai
darah dagingnya."
Lim Han- kim tertegun, pikirnya: "Sebetulnya apa yang
telah terjadi?"

3213
Karena heran bercampur penasaran, ditatapnya wajah
ibunya tanpa berkedip. sampai lama sekali ia tak
mengucapkan sepatah katapun.
"Baiklah nak" kata nyonya Lim kemudian, "setelah
kubeberkan rahasia ini, terserah bagaimana penilaianmu
terhadapku, mau benci boleh, mau sinis juga tak
mengapa, sesungguhnya meski kau memiliki ayah
kandung, namun tak punya hak untuk menyandang
keluarganya,"
Tiba-tiba saja Lim Han- kim merasa dadanya seperti
dijotos orang keras-keras hingga napasnya jadi sesak
dan nyaris jatuh tak sadarkan diri, sampai lama
kemudian ia baru mampu bertanya: "siapa orang itu?"
Mendadak nyonya Lim menatap tajam wajah putranya
dengan sorot mata yang lebih tajam dari sembilu,
tegurnya: "Kau membencinya?"
"Dia telah menipu ibu kemudian menelantarkan kita
berdua, aku wajib membencinya."
"Aaaai... padahal kau tak boleh salahkan dia." Nyonya
Lim menggeleng berulang kali.
"Kalau bukan dia yang disalahkan, masa aku harus
salahkan ibu?"
"Benar, memang ibu yang harus disalahkan"
Lim Han- kim tak bisa membendung rasa sedihnya lagi
air mata bercucuran membasahi pipinya, dengan suara
dalam serunya:
"Ooh ibu... cepat beritahu padaku, siapa gerangan
dia? Ananda sudah hampir gila..."

3214
BAB 49. Rahasia Masa Lampau
"Nak. kau harus mampu mengendalikan diri, kalau
ingin membenci, bencilah ibumu. sudah kuduga kejadian
hari ini pasti akan terjadi Aaai... dua puluh tahun
berselang bila kau mati tenggelam di sungai, tak akan
terjadi banyak urusan macam hari ini, seharusnya
kubiarkan kau mati tenggelam dulu, aku tak seharusnya
selamatkan jiwamu..."
"Ibu, ananda tak berani membenci ibu..." tukas Lim
Han- kim sedih.
Dari sakunya nyonya Lim ambil keluar sebuah sapu
tangan dan dipakai untuk menghapus air matanya,
kemudian katanya:
"Dua puluhan tahun berselang, dalam dunia persilatan
terdapat tiga orang gadis yang cantik dan pandai,
mereka selalu luntang lantang bersama, hubungan
mereka begitu akrab melebihi akrabnya saudara
kandung, meski mereka bertiga bukan sedarah namun
masing-masing saling hormat menghormati sayang
menyayangi aku rasa hubungan dengan saudara
sekandung sendiri pun belum tentu semesra itu..."
"lbu adalah salah satu di antaranya?" sela Lim Hankim
seraya menyeka air mata. Nyonya Lim manggutmanggut.
"Benar, orang persilatan menyebut kami tiga dewi, ibu
menduduki urutan kedua, sedang urutan pertama adalah
nyonya Li yang telah kau jumpai selama ini..."

3215
Bayangan manusia tampak berkelebat lewat, Li hujin
muncul di depan pintu seraya menghardik ketus: "Tutup
mulut"
Lim Han-kim berpaling cepat, ia terkesiap begitu
melihat wajah Li hujin membeku bagaikan es dan hawa
napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajahnya,
hawa murni segera dihimpun dan ia bersiap sedia
melindungi keselamatan ibunya.
Lim hujin angkat wajahnya dengan tenang, ditatapnya
Li hujin sekejap lalu menegur. "Ada apa enci pertama?"
"Siapa yang kesudian jadi encimu?" tukas Li hujin
ketus.
"Kau toh sudah tahu bahwa ilmu silatku telah punah,
bila ingin membunuhku sekarang, kau cukup
melakukannya secara gampang."
"Hmmm, bila aku berniat membunuhmu, tak nanti
kubiarkan kau hidup hingga kini, kau anggap dengan
bersembunyi di lembah Hong-yap-kok maka aku tak
sanggup mencarimu? sejak belasan tahun berselang,
jejakmu telah berhasil kulacak secara jelas, aku sudah
bersikap cukup murah hati kepadamu."
Lim hujin menengok Lim Han- kim sekejap. lalu
katanya:
"Selama dua puluh tahun ini, aku tak pernan ingkar
janji, aku tak pernah melanggar sumpahku dengan
menceritakan kisah lama kepada putraku ini. Tapi situasi
saat ini berbeda, badai besar telah melanda seluruh
dunia persilatan, budi dan dendam di antara kita tiga
bersaudara pun sudah saatnya untuk diselesaikan aku

3216
rasa tak perlu rahasia ini kusimpan terus apalagi
terhadap putra kandungku sendiri"
"Tidak bisa, kita sudah ada perjanjian, pokoknya
selama kita masih hidup, rahasia ini tak boleh diungkap
oleh siapa pun-"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan nada
dingin dan menyeramkan lanjutnya: "Masih ingat tidak,
siapa yang mengusulkan perjanjian ini?"
"Yaa, memang aku yang usulkan"
"Kau sendiri yang membuat perjanjian tersebut
kenapa kau pula yang akan melanggarnya hari ini?"
"Aku hanya ingin beritahu kepada putra kandungku,
bahkan mengungkap sejujurnya tanpa berusaha
membela diriku sendiri, akan kubuat dia mengerti bahwa
ibunya adalah seorang wanita yang sangat jahat,
seorang wanita yang telah merebut pacar orang lain." Li
hujin gelengkan kepalanya berulang kali:
"Sudahlah, yang lewat biarkan lewat, apa gunanya
diungkit kembali..." Dia angkat wajahnya sambil
menghembuskan napas panjang, terusnya:
"Sebetulnya aku telah berjanji tak akan mencampuri
urusan dunia persilatan lagi, kendatipun masalah ini
menyangkut putri kandungku aku tak berminat
mencampurinya. Tapi sekarang, rasanya aku harus
berubah pikiran, aku tak tega menyaksikan generasi
berikut terjerumus pula dalam lembah kehancuran
penderitaan dan siksaan"
Mendadak Lim Han-kim menyela:

3217
"Aku adalah seorang lelaki sejati, aku tak punya muka
bila tak mengetahui siapa ayah kandung sendiri"
"Nak, meski sudah kau ketahui apa pula yang bisa kau
lakukan?" tukas Li hujin tiba-tiba, "Kecuali penderitaan
dan siksaan batin, kau tak bisa berbuat apa-apa."
"Hubungan seorang anak dengan ayah kandungnya
adalah suatu hubungan yang genting dan alami, biar dia
seorang perampok atau bajingan tengik, aku toh tetap
harus mengakuinya sebagai ayahku sendiri" Kembali Li
hujin menggeleng.
"Nak, kau sudah dewasa kini, lebih baik budi dan
dendam yang dilakukan generasi lalu tak usah dicampuri
generasi berikut:"
"Orang kuno berkata, hutang ayah harus dibayar
anak, sebagai putra dari ayahku, apakah aku harus
berpeluk tangan?"
"Apakah kau sanggup mengurusinya? Bicara soal ilmu
silat maupun kepintaran generasi kalian masih belum
mampu menandingi kehebatan generasi lampau." setelah
berhenti sejenak, kembali lanjut-nya: Tapi ada dua orang
yang tidak terlibat dalam peristiwa ini."
"Hujin maksudkan Pek si-hiang dan see-bun Giokhiong?"
"Benar, memang kedua orang itu yang kumaksud,
bayangkan saja bagaimana kemampuanmu bila
dibandingkan mereka berdua?"
"Walaupun dalam hal ilmu silat serta kecerdikan aku
masih belum mampu menandingi nona Pek serta seebun

3218
Giok-hiong, namun sebagai seorang lelaki sejati, aku
segan mengaku kalah terhadap mereka,"
Li hujin segera alihkan pandangan matanya ke wajah
Lim hujin, ujarnya cepat: "Putramu memang kelewat
keras kepala, rasanya harus kau yang membujuknya..."
"Aku toh cuma ingin tahu siapa ayah kandungku masa
..."
"Cukup nak, tak usah dilanjutkan," teriak Lim hujin
keras.
Melihat wajah ibunya telah berubah merah membara
dan air mata bercucuran makin deras, Lim Han-kim tak
berani bicara lagi, ia segera tutup mulutnya rapat-rapat.
"Lebih baik suruh dia keluar dulu," perintah Li hujin
dingin.
Tampaknya Lim hujin merasa amat ngeri dan takut
terhadap Li hujin, katanya setelah menengok Lim Hankim
sekejap:
"Keluarlah dulu nak Aku harus berbincang-bincang
dulu dengan bibi Li-mu ini..."
"Kau terlalu serius, aku tak berani menerima panggilan
itu," tukas Li hujin ketus. Mendadak Lim Han-kim
menatap wajah Li hujin lekat-lekat, kemudian ujarnya
pelan:
"Ibuku tak pandai bersilat, kendatipun beliau telah
menyalahi hujin, harap hujin mau menahan diri dan
periakukan beliau secara baik-baik, bila hujin bersikeras
ingin menuntut balas, aku bersedia mewakili orang tuaku
untuk menerima sebuah tanggung jawab itu."

3219
"Hmmmm, berapa lembar nyawa sih yang kau miliki?
sebentar ingin menanggung bebannya ayah, sebentar
akan menanggung bebannya ibu, bila aku berniat
menghabisi nyawa kalian berdua, buat apa mesti
kutunggu hingga hari ini?"
"Bila Li hujin sampai mencederai ibuku, selama hidup
akan kucatat kejadian ini di dalam hatiku."
"Sudah, cepat keluar Tak usah bersilat lidah lagi di
sini."
Sementara itu Lim hujin turut menghardik
"Tampaknya kau anggap dirimu sudah dewasa hingga
perkataan ibu pun tak perlu lagi kau gubris..."
"Ananda tak berani..." Buru-buru anak muda itu balik
badan dan beranjak pergi dari situ.
Dengan perasaan gundah, sedih, masgul dan ingin
tahu pemuda itu meninggalkan pintu ruangan menuju ke
ruang Tay-sang-kek.
Bau harum bunga yang semerbak menyadarkan anak
muda itu bahwa dia telah meninggalkan ruang bawah
tanah.
Lim Han-kim mendongakkan kepalanya sambil
menghembuskan napas panjang, pikirannya kembali
tersadar dan jernih.
Suara langkah kaki manusia bergema tiba menyusul
tampak Li Tiong-hui muncul dengan langkah tergesagesa.

3220
Begitu bertemu Lim Han-kim, segera serunya:
"saudara Lim, seebun Giok-hiong telah mengundurkan
diri..."
"Mengundurkan diri.." gumam Lim Han-kim,
mendadak sambungnya dengan lantang: "seberapa
banyak masalah yang menyangkut ibumu yang kau
ketahui?"
"Masalah yang menyangkut ibuku?" Li Tiong-hui
tertegun,
Karena tak ada tempat pelampiasan, Lim Han-kim
segera melampiaskan semua perasaan jengkel,
mendongkol dan geramnya kepada Li Tiong-hui.
sahutnya ketus:
"Betul, masalah yang menyangkut ibumu, berapa
banyak yang kau ketahui? Cepat katakan padaku."
"Tidak banyak yang kuketahui tentang masalah
ibuku," ucap Li Tiong-hui bimbang, ditatapnya pemuda
itu dengan pandangan keheranan.
"Berapa banyak yang kau ketahui, beritahukan saja
kepadaku semuanya." Li Tiong-hui tertawa hambar.
"Apakah ibuku telah menyinggung perasaan saudara
Lim?" tegurnya.
"Aku pingin tahu urusan masa silamnya, bila nona
bersedia menerangkan, aku akan berhutang budi
kepadamu."
"Bila aku tak bersedia menerangkan?"
"Aku yakin bisa peroleh jawaban itu dengan cara lain,"
sahut Lim Han-kim setelah tertegun sejenak, ia balik

3221
badan dan segera beranjak pergi meninggalkan tempat
itu.
Sesudah berjalan sekian lama, gejolak emosi dalam
dadanya pun makin mereda, ia pun mulai berpikir:
"Kenapa ibuku harus memusnahkan sendiri ilmu silatnya?
Kenapa ia begitu takut kepada Li hujin? Di balik
semuanya ini tentu ada sebab-sebab tertentu..."
Suara teriakan ibunya serasa masih mendengung di
sisi telinganya: "Harus kukatakan pada putraku, ibunya
adalah seorang wanita jahat, wanita yang merebut
kekasih orang..."
Keraguan, rasa curiga dan tak habis mengerti sekali
lagi melintas dalam pikiran Lim Han-kim, pikirnya:
"Apa mungkin ibu telah merebut kekasihnya Li hujin
hingga hubungan tiga dewi yang lebih akrab dari saudara
kandung itu berubah jadi musuh bebuyutan? Tapi siapa
pula orang ketiga dari tiga dewi itu selain ibu dan Li
hujin? Berada dimana ia sekarang?"
Ia merasa berbagai masalah yang mencurigakan dan
diliputi tabir rahasia ini berkecamuk dalam benaknya, ia
coba peras otak untuk memikirkan namun gagal peroleh
jawabannya, ia merasa bagaikan tersesat di sebuah jalan
buntu, tersesat dalam hutan belukar yang lebat.
Lama sekali ia berdiri termangu sambil peras otak, tapi
tak setitik jawaban pun berhasil diraihnya, saat itulah ia
baru teringat akan Pek si-hiang.
Dewasa ini rasanya hanya Pek si-hiang seorang yang
dapat membantunya untuk menyelesaikan masalah

3222
tersebut, hanya gadis itu yang dapat menyingkap teka
teki itu.
Berpikir sampai di situ, buru-buru ia lari menuju ke
gedung Teng-siong-lo.
Tampak Hiang-kiok dengan pedang terhunus sedang
berdiri menghadang di mulut tangga, sepasang matanya
menyembur hawa amarah yang membara, seolah-olah
ada kobaran api yang sedang membara di sana.
Melihat kemarahan Hiang-kiok, Lim Han-kim malah
tersadar kembali dari masalah yang membelenggunya,
serunya: "Nona Hiang-kiok"
Hiang-kiok alihkan sinar matanya yang penuh amarah
itu ke wajah Lim Han-kim, sampai lama kemudian ia baru
bertanya: "Lim siangkong?"
"Yaa benar, aku"
"Ke mana saja kau selama int?"
"Oooh, aku sedang mengurusi sedikit masalah gawat,
bagaimana keadaan nona Pek?"
"Justru gara-gara kepergianmu, hampir saja nona
mengalami jalan api menuju neraka,"
"Nona Pek mengalami jalan api menuju neraka?" Lim
Han-kim sangat terkejut Tiba-tiba Hiang-kiok tertawa
cekikikan.
"Bagaimana sih kamu ini? Dengarkan baik-baik
perkataanku sebelum memberi komentar, aku bilang,
hampir saja nona mengalami jalan api menuju neraka,
bukan berarti nona sudah mengalaminya . "

3223
"Kalau begitu tolong sampaikan kepada nona, katakan
ada urusan penting hendak kubicarakan dengannya."
Hiang-kiok termenung dan berpikir sebentar kemudian
katanya:
"Kalau orang lain yang mengajukan permintaan ini
pasti sudah kutolak mentah-mentah, tapi berhubung Lim
siangkong yang menghendakinya, budak jadi serba
salah. Begini saja, tolong kau gantikan posisiku dengan
berjaga di mulut tangga, biar aku masuk untuk
sampaikan permintaanmu ini, coba lihat apakah nona
bisa menjumpaimu atau tidak."
"Terima kasih atas pertolonganmu"
Hiang-kiok menghela napas panjang, "Aaaai... tak
usah sungkan-sungkan, asal kau bersikap lebih baik
terhadap nona kami, itu sudah cukup,"
Lim Han-klm hanya berdiri termangu, untuk sesaat dia
tak tahu bagaimana harus meniawab ucapan tersebut
Untung Hiang-kiok tidak ada maksud menunggu
jawabannya, ia balik badan dan segera berlalu.
Tak selang berapa saat kemudian, ia sudah muncul
dengan wajah penuh rasa menyesal, katanya:
"Maaf Lim siangkong, saat ini nona belum bisa
menerimamu harus ditunggu sampai tengah malam
nanti."
"Baiklah, biar aku menunggunya di sini" setengah
harian dalam penantian merupakan saat yang paling
menyiksa bagi Lim Han-kim, dalam ingatan pemuda
tersebut, waktu seakan-akan merangkak sangat lambat

3224
Dengan susah payah akhirnya waktu tengah malam
pun menjelang tiba. Tampaknya selama ini Hiang-kiok
selalu perhatikan gerak gerik Lim Han-kim, baru saja
tengah malam lewat ia sudah naik kembali ke loteng
untuk melongok keadaan Pek Si-hiang. Tak lama
kemudian ia sudah muncul kembali sambil berseru:
"Nona telah sadar kembali kini, silakan siangkong naik
ke loteng untuk menjenguknya "
Lim Han-kim menyahut dan mengikuti di belakang
Hiang-kiok naik ke ruang Teng-siong-lo.
Waktu itu Pek si-hiang dengan pakaian serba putih
sudah duduk di belakang meja dengan wajah cerah dan
berseri.
Cahaya lilin di meja membuat seluruh ruangan terang
benderang bagaikan bermandi cahaya, sambil memberi
hormat seru Lim Han- kim:
"Selamat nona, tampaknya semedimu telah mencapai
puncak kesempurnaan."
"Menurut Hiang-kiok. kau sudah lama menunggu..."
ucap Pek si-hiang sambil ter-senyum, "Dalam lima hari
belakangan ini, tentu sudah banyak kejadian yang kau
alami, masalah sulit apa yang kau hadapi sekarang?"
"Panjang untuk diceritakan..." Lim Han- kim menghela
napas panjang.
"Kehidupan manusia memang penuh dihiasi kejadian
yang kurang berkenan di hati, seringkali delapan puluh
persen masalah yang dijumpai manusia adalah kejadian
yang tak menyenangkan kau tak perlu kelewat sedih atau
emosi, coba terangkan satu persatu kepadaku."

3225
Nada pembicaraannya lembut penuh kasih sayang,
tapi memiliki daya pengaruh yang besar.
Lim Han- kim angkat wajahnya memandang Pek sihiang
sekejap. lalu katanya:
"Nona Pek. aku telah menjumpai suatu peristiwa yang
amat pelik, harap nona bersedia memberi petunjuk. "
"Apakah menyangkut masalah asal usulmu?" tanya
Pek si-hiang sambil tersenyum.
"Darimana nona bisa tahu?" tanya Lim Han- kim
dengan wajah tertegun bercampur keheranan.
"Padahal bukan suatu kejadian aneh bila sudah tahu
masalahnya, Li hujin pernah membicarakan masalah ini
denganku, walau secara garis besar dan tidak terlalu
terperinci nah, bila kau ingin menanyakan sesuatu.
katakanlah sekarang..."
Secara singkat Lim Han- kim pun menceritakan semua
masalah yang sedang dihadapinya sekarang...
Selesai mendengar penuturan tersebut Pek si-hiang
menghembuskan napas panjang, katanya:
"Jadi kau hanya ingin tahu siapa ayah kandungmu?"
"Aku pingin tahu semua budi dendam yang
menyangkut masalah ini," sahut Lim Han- kim setelah
termenung sejenak.
"Padahal urusan ini menyangkut angkatan tuamu
sendiri, apa pula yang bisa kau perbuat setelah
mengetahui semua peristiwa ini secara jelas? semisalnya
semua kesalahan besar ini terletak di bahu ibumu, apa
pula yang hendak kau lakukan?"

3226
"Soal ini... soal ini..." Lim Han- kim tertegun. sambil
tersenyum Pek si-hiang melanjutkan:
"Tidak usah ini itu lagi, sebenarnya semua bencana
dan badai yang melanda dunia persilatan saat ini ada
sangkut pautnya dengan budi dendam dari keluarga
kalian, secara kebetulan pula LiTiong-hui berhasil
merebut kursi Bengcu hingga tanpa ia sadari masalah
yang terjadi dalam dunia persilatan telah ia gabung
menjadi satu dengan masalah pelik yang menyangkut
keluargamu."
Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya:
"Cuma, hal ini pun bukan suatu kebetulan, semua
perselisihan yang diperbuat generasi tua kalian memang
sudah sewajarnya bila dipikul oleh generasi berikutnya,
apalagi baik generasi lalu maupun generasi sekarang
semuanya merupakan tokoh-tokoh silat kenamaan dalam
dunia persilatan dengan titik sentral terletak di
perkampungan keluarga Hong-san ini, maka sudah
sewajarnya bila sengketa ini diselesaikan pada saat ini
hingga tuntas, sebab bila tertunda lagi mungkin akan
menjerumuskan generasi berikut ke dalam pertikaian
berdarah."
"Nona, tampaknya kau seperti sudah paham betul
dengan peristiwa ini...?" seru Lim Han- kim tertes un.
"Kendatipun aku tidak mengetahui secara terperinci,
tapi bisa kupahami secara garis besarnya, Yang
dimaksudkan sebagai pertikaian dunia persilatan agaknya
sebagian besar terpusat pada kalian beberapa orang,
perlu kau ketahui, nama besar keluarga Hong-san bisa

3227
berkibar seratus tahun lamanya dalam dunia persilatan,
hal ini bukanlah suatu kejadian yang gampang.
Suatu keluarga persilatan berbeda sekali keadaannya
dengan suatu partai atau perguruan besar, Bila suatu
partai atau perguruan besar maka mereka secara bebas
dapat menerima umum yang berbakat untuk dilatih
menjadi jagoan yang meneruskan cita-cita partainya,
sedangkan suatu keluarga persilatan hanya bisa
mewariskan kepandaiannya kepada anak keturunan
sendiri, padahal belum tentu setiap generasi berikutnya
memiliki keturunan yang berbakat.
Bayangkan saja, untuk menjaga nama harum keluarga
Hong-san dalam dunia persilatan selama seratus tahun,
berapa banyak pikiran dan tenaga yang harus
dikorbankan keluarga tersebut selama ini..." sesudah
termenung sejenak, lanjutnya:
"Li hujin adalah seorang wanita berbakat yang
memiliki kepandaian luar biasa, sayang kehidupannya
penuh penderitaan dan kesedihan, ia tak pernah
mengenyam kehidupan yang gembira apalagi bahagia..."
"Sebab apa pula ia mengalami hal tersebut?" sela Lim
Han- kim.
"Akan kuberitahukan padamu, cuma jangan kau sebar
luaskan di luaran."
"Pasti akan kuingat pesan nona."
"Untuk melindungi reputasi dan pamor dari keluarga
Hong-san agar tidak memudar, hanya ada satu cara yang
bisa mereka tempuh, yaitu memilih seorang menantu
yang cantik, pintar dan memiliki ilmu silat tangguh.

3228
Dalam situasi dan kebutuhan yang mendesak bagi
keluarga Hong-san macam itulah, dia kawin dengan Li
Tong- yang dan menjadi istri dari tokoh tersebut. Tapi
dengan pilihan ini, akhirnya dia pun harus
mempertaruhkan kebahagiaan dari seluruh hidupnya."
Lim Han- kim termenung sambil berpikir sejenak.
kemudian ujarnya:
"Jadi maksud nona, Li hujin bisa kawin dengan Li
Tong-yang karena hal ini terpaksa oleh keadaan dan
bukan atas kemauannya sendiri?"
"Bagaimana kisah sesungguhnya aku sendiri pun tak
tahu, tapi yang pasti mereka adalah sepasang suami istri
yang tidak pernah bahagia."
Lim Han- kim mengerutkan dahinya rapat-rapat,
termenung dan tidak bicara lagi.
Setelah membetulkan rambutnya yang kusut, Pek Sihiang
ikut menghela napas panjang, lanjutnya:
"Kautak mungkin bisa membayangkan penderitaan
dan siksaan batin yang dialami Li hujin selama ini, oleh
sebab itulah sikapnya dingin dan hambar, dia lewatkan
hidupnya dalam kesepian dan kesendirian, bahkan
terhadap anak kandung sendiri pun sama sekali tidak
menaruh perhatian apalagi kasih sayang."
"Kalau begitu penderitaan yang dialami ibuku pasti
jauh lebih tragis dan menderita?" Pek si-hiang
tersenyum.
"Itu sih menurut pandanganmu, siapa tahu ibumu
justru merasa puas dan bahagia?"

3229
"Sepanjang hidup ibuku selalu menderita dan tersiksa,
seingatku, belum pernah ibu tersenyum riang apalagi
tertawa gembira."
"Aaaai... bila ibumu tak pernah merasakan gembira
dan bahagia, mengapa ia bersedia membayar mahal
kebahagiaannya dengan memusnahkan seluruh ilmu silat
sendiri? Hanya saja, kebahagian yang dinikmati ibumu
berlangsung kelewat singkat"
Lim Han- kim hanya berdiri melongo, untuk berapa
saat lamanya dia tak tahu bagaimana harus memberikan
komentarnya.
Setelah menghela napas panjang, Pek si-hiang berkata
lebih lanjut.
"Tak usah kelewat sedih, ibumu adalah seorang tokoh
yang patut dihormati dan dikagumi, untuk meraih
kebahagiaan yang berlangsung singkat dia rela
mengorbankan kesunyian dalam sepanjang hidupnya, hal
ini membuktikan betapa tingginya ia menilai arti dari
sebuah cinta.
Dengan susah payah ia memeliharamu, mendidikmu
hingga dewasa, kesemuanya ini tak lain mencerminkan
betapa sucinya rasa cinta yang telah ia berikan selama ini
kepada kekasihnya.
Baik Li hujin maupun ibumu, mereka berdua samasama
merupakan wanita cantik yang berbakat hebat, kau
tak boleh memandang dan menilai mereka dengan sudut
pandangan orang awam, apabila kisah tragis yang
mereka alami harus diluapkan ke luar, tak nanti mereka
berdua akan mengalami kehidupan seperti ini..."

3230
Lim Han- kim menghela napas panjang, selanya:
"Nona, aku Lim Han- kim adalah seorang pria sejati..."
"Apa gunanya seorang pria sejati?" tukas Pek si-hiang
sambil menggeleng, "Tak ada orang tua yang salah di
dunia ini, sebagai putra mereka, masa kau ingin
bermusuhan dengan orang tua sendiri?"
"Nona jangan salah paham, maksudku..."
"Aku tahu, kau merasa hal yang menyesakkan dadamu
selama ini tak tersalurkan keluar, padahal bila kau mau
memikirkan lebih dalam, maka perasaanmu akan menjadi
tenang dengan sendirinya, Tentang urusan ibumu, aku
sendiri pun kurang begitu jelas, tapi aku dapat
memberitahukan sedikit tentang urusan yang
menyangkut Li hujin..." setelah membetulkan rambutnya
yang kusut, ia melanjutkan.
"Tatkala Li hujin kawin dengan Li Tong-yang, ia
pernah mengucapkan beberapa patah kata dan sejak itu
sepanjang hidupnya ia memegang teguh janjinya itu.
puluhan tahun bagaikan sehari, ternyata hingga kini ia
tidak mengubahnya sama sekali."
"Apa yang pernah dia ucapkan?"
"la berjanji kepada Li Tong-yang untuk memberinya
satu putra dan satu putri sebagai garis keturunannya,
kemudian akan hidup mengasingkan diri dalam
perkampungan keluarga Hong-san dan sepanjang hidup
tidak meninggalkan perkampungan itu lagi barang
selangkah pun, ternyata selama puluhan tahun terakhir
dia pegang janjinya erat-erat."

3231
Agaknya Lim Han- kim belum memahami maksud
perkataan itu, lama sekali ia termenung sebelum
akhirnya menyadari apa makna dari ucapan tersebut,
serunya kemudian:
"Jadi maksud nona, sebetulnya Li hujin tidak cinta Li
Tong-yang dan pekawinannya dilangsungkan karena
terpaksa?"
"Benar, ia memang dipaksa oleh keadaan. Dalam
suatu situasi yang pelik Li hujin terpaksa dan mau tak
mau harus kawin dengan Li Tong- yang, meski dia
menyerah oleh tuntutan keadaan namun tak rela
menjalani kehidupan seterusnya dalam suasana begitu,
maka dia pun berubah, berubah jadi dingin, kaku dan
sama sekali tak punya perasaan."
"Aaaai, cerita ini sulit dipercaya bila tidak diceritakan
oleh nona Pek sendiri.."
"Akan kusinggung lagi satu masalah, kau pasti akan
percaya setelah mendengarnya."
"Coba nona sebutkan"
"Jangan lagi Li Tong-Yang sudah lama mati, biarpun
dia masih hidup segar bugarpun belum tentu
perkampungan keluarga Hong-san bisa dipertahankan
hingga kini. Tapi kenyataannya keluarga Hong-san masih
tetap berdiri tegak. bukan saja tidak melemah bahkan
semakin tangguh, tahukah kau semuanya ini berkat
kekuatan siapa?"
"Nyonya Li?"
"Benar, memang berkat nyonya Li, hal ini
membuktikan bahwa keluarga Hong-san memang tak

3232
salah memilih menantu..." setelah menghembuskan
napas panjang, lanjutnya:
"Sebaliknya kejadian ini justru makin menyiksa batin Li
hujin, meskipun ia tak berminat untuk melindungi nama
besar perkampungan keluarga Hong-san, namun mau tak
mau dia harus melindungi juga reputasi serta pamor
perkampungannya."
"Nona, aku tak paham akan satu hal."
"Soal apa?"
"Boleh saja Li hujin tidak mencintai suami-nya, masa
terhadap anak kandung sendiri pun ia tak menaruh cinta
kasih?"
"Titik kelemahan inilah yang berhasil di ketahui Li
Tong- yang sebelum ajalnya, dia tahu di saat
perkampungan keluarga Hong-san menghadapi kesulitan
apalagi berada di ambang kehancuran, secara otomatis
dan mau tak mau Li hujin pasti akan tampil ke depan
untuk membela, sebab bagaimana pun juga putra
putrinya adalah anak kandung yang dilahirkan lewat
rahimnya."
"Aaaai... sungguh tak kusangka di antara suami istri
pun saling menggunakan taktik dan akal muslihat"
Tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang datang
suara seruan dari Li hujin: "Nona Pek, sudah selesaikah
latihanmu?"
"Berkat lindungan Thian, aku berhasil lolos dari
momok jalan api menuju neraka, silakan masuk hujin"

3233
Belum habis perkataan itu diucapkan, Li hujin sudah
muncul dalam ruangan. Pek si-hiang segera bangkit
berdiri untuk menyambut, hormatnya: "Menjumpai hujin"
"Tak usah banyak adat..." tampik Li hujin sambil
mengulapkan tangannya. Kemudian sambil mengalihkan
pandangannya ke wajah Lim Han- kim, lanjutnya: "sudah
kutebak kau pasti berada di sini, ternyata tebakanku
memang tepat"
"Memang ada beberapa masalah yang tidak begitu
kupahami, maka sengaja aku kemari untuk mohon
petunjuknya."
Dengan sorot mata yang tajam Li hujin menatap
wajah Pek si-hiang, kemudian tegurnya: "Nak, apakah
sudah kau sampaikan semua pembicaraanku denganmu
tempo hari?"
"Hanya sebagian," sahut Pek si-hiang tersenyum,
"Tapi aku yakin ia akan mengetahui latar belakangnya
dalam waktu singkat, oleh sebab itu tak ada salahnya
bila kita beberkan semuanya kepada dia."
Wajah Li hujin berubah sedingin salju, tapi nada
suaranya masih ramah dan tenang, katanya:
"Nak, kau tak boleh membeberkan kelewat banyak
rahasia pribadiku"
"Bagaimana dengan masalah yang menyangkut ibu
kandungnya? Apakah aku pun tak boleh memberitahukan
kepadanya?"
Setelah tertegun sesaat sahutnya: "Berapa banyak
yang kau ketahui tentang masalah pribadi Lim hujin?"

3234
"Biarpun latar belakangnya tidak kuketahui, paling
tidak bisa kujelaskan secara garis besarnya."
Li hujin termenung sejenak. mendadak tanyanya:
"llmu silat apa sih yang sedang kau pelajari?"
Lenyap seketika senyuman yang menghiasi bibir Pek
si-hiang, ia terbungkam dalam seribu basa.
Suasana dalam ruanganpun berubah jadi hening,
begitu sepinya hingga napas setiap orang kedengaran
jelas.
Dengan perasaan keheranan Lim Han-kim berpikir.
"Aneh, kenapa mereka berdua sama-sama
membungkam?" sampai lama kemudian Li hujin baru
berkata lagi:
"Cepat beritahu padaku, ilmu silat apa yang sedang
kau latih dan seberapa hebat daya hancurnya?"
Pek si-hiang menghela napas panjang.
"Hujin, sudah lama kau hidup mengasingkan diri dan
jauh dari keramaian keduniawian buat apa sih kau masih
memiliki sifat ingin menang yang begitu kuat? Maaf
hujin, bukan aku bermaksud melukai hatimu, tapi katakata
tersebut memang muncul dari lubuk hatiku."
"Belum pernah kudengar ada ilmu silat yang bisa
dipelajari hanya dalam waktu lima hari, hal inilah yang
mendorong rasa ingin tahuku," kata Li hujin hambar.
"Sebenarnya aku sudah memiliki dasar yang kuat
dalam ilmu tersebut, waktu selama lima hari hanya
kupakai untuk mengulang kembali hasil latihanku dulu."
"Jadi ilmu itu adalah ilmu sesat sembilan iblis?"

3235
"Bukan, yang kulatih adalah sim-hoat dari aliran
lurus."
"Bisa kau perlihatkan padaku?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Tenaga dalamku belum memiliki dasar yang kuat
hingga penggunaan tenaga tidak terkendali sama sekali,
aku hanya bisa memakai bukan mengendalikan takutnya,
bila kugunakan maka semua tenagaku akan tersalur
keluar tanpa bisa dicegah lagi."
"Nak. mengakulah dengan jujur, dengan melatih ilmu
silat macam itu, sebenarnya siapa yang hendak kau
hadapi? Aku? Atau seebun Giok-hiong?"
Pek si-hiang angkat wajahnya, menatap muka Li hujin
tajam-tajam, sampai lama kemudian ia baru berkata:
"Selama ini kau bersikap baik kepadaku."
"Tapi kejadian yang melukai hati di masa lampau
membuat hatiku selalu was-was, karenaaku pun telah
melakukan beberapa tindakan yang menimbulkan
kepedihan hati orang lain"
Dalam pada itu Lim Han- kim yang tak paham dengan
maksud pembicaraan kedua orang itu hanya bisa
memandangi mereka dengan termangu. Pelan-pelan Pek
si-hiang pejamkan mata-nya, ia berkata:
"Mungkin kau masih sanggup melukai diriku bila ingin
kau lakukan sekarang." Li hujin tertawa hambar.
"Bila aku ingin mencabut nyawamu nak. tak perlu
kubiarkan kau hidup hingga hari ini" katanya.

3236
"Hal ini dikarenakan kau tak menyangka bila aku
sanggup mempelajari ilmu sakti hanya dalam waktu 5
hari yang singkat."
"Sampai detik ini, aku masih belum terlalu percaya."
Pek Si-hiang tertawa getir.
"Percayalah padaku, aku berbicara sejujurnya, tiada
orang yang mampu membendung ilmu silat yang sedang
kulatih ini, termasuk hujin maupun Seebun Giok-hiong."
"Nak. di kala aku masih seusiamu dulu, seperti halnya
dirimu, aku diliputi bayangan khayal, bayangan mukjijat,
tapi kenyataannya aku harus hidup menderita selama
puluhan tahun di dalam kehidupan yang amat sederhana
dan bersahaja."
"Aku tahu, sayang kita berbeda, kau tidak memiliki
kesempatan macam aku, mempelajari rahasia ilmu silat
yang luar biasa dan tak pernah ada selama ribuan tahun
terakhir, tak ada sejenis ilmu silat pun di dunia ini yang
bisa lolos dari pengetahuan yang kumiliki. Benar aku tak
pandai bersilat, tapi aku tahu dimana letak
keampuhannya suatu ilmu dan bagaimana cara
menangkalnya, Aku tahu dan bisa menggunakan suatu
cara yang gampang dan sederhana untuk menyalurkan
segenap kekuatan tersembunyi yang kumiliki untuk
mencapai tujuanku, sedang kau, kau tak bisa dan tak
mampu."
Lama sekali Li hujin termenung, nampaknya ia
tersudut, tapi kemudian ujarnya:
"Mungkin saja banyak pengetahuan tentang ilmu silat
yang kau ketahui, tapi tahukah kau akan rahasia asal
usulmu?"

3237
"Aku tahu, ibu kandungku masih berada dalam
perkampungan keluarga Hong-san saat ini."
"Thian- hok sangjin yang memberitahukan rahasia ini
kepadamu?" tanya Li hujin agak terkejut.
Pek si-hiang menggeleng, "Bukan, bukan dia, ibu yang
memelihara aku yang memberitahukan rahasia ini
padaku."
"Gadis naga berbaju hitam?"
"Benar, memang dia."
"Aneh, darimana ia bisa mengetahui latar belakang
rahasia ini?"
"Kalau soal ini mah aku sendiri tak jelas." setelah
berhenti sejenak, tiba-tiba serunya dengan suara dalam:
"Ada satu hal ingin kutanyakan kepada hujin."
"Tentang jejak ibu kandungmu?"
"Aku hanya ingin tahu dia masih hidup atau sudah
mati?"
"Masih hidup segar bugar di dunia ini, bahkan
semalam aku masih pergi menjenguknya."
"Apakah ia sudah tahu kalau putri kandung nya kini
juga hadir di perkampungan keluarga Hong-san?"
"Telah kuberitahukan hal ini kepadanya."
"Ibu pasti gembira setelah mendengar kabar itu?"
"Tidak, ia bersikap dingin dan hambar."

3238
Pek si-hiang pun berpaling dan memandang Lim Hankim
sekejap. bisiknya: "Menantilah dengan sabar,
peristiwa ini pasti akan terungkap dengan jelas."
"Sifat ibumu persis seperti watakmu sekarang," kata Li
hujin kembali dengan wajah dingin, "Lemah lembut
kelihatannya tapi keras kepala sebenarnya, yang berbeda
adalah dia tidak memiliki kecerdasan seperti kau, sedang
kau tidak memiliki kehebatan ilmu silat seperti dia."
Lim Han- kim yang mengikuti jalannya pembicaraan
tersebut diam-diam berpikir.
"Tadinya ibuku yang menjadi pokok pembicaraan,
kenapa sekarang masalah ibunya nona Pek yang menjadi
bahan pembicaraan? Apa mungkin ibunya nona Pek juga
berada dalam perkampungan keluarga Hong-san."
Berpikir sampai di situ, tiba-tiba satu ingatan melintas
dalam benaknya, ia berpikir lebih jauh:
"Aaaah benar, bukankah tiga dewi terdiri dari tiga
bersaudara? Li hujin adalah dewi pertama, ibuku kedua,
berarti ibunya Pek si-hiang adalah si Dewi terakhir..."
Berpikir begitu, dia pun pasang telinga baik-baik untuk
mendengarkan lebih lanjut. sementara itu Pek si-hiang
telah bertanya setelah menghela napas panjang:
"Apakah ilmu silat yang dimiliki ibuku sangat hebat?"
"Bila dibandingkan kepandaianku tentu saja ia masih
bukan tandinganku"
"Bila kepandaian silatnya jauh di atas kemampuanmu,
mustahil kau bisa mengurungnya dalam perkampungan
keluarga Hong-san-"

3239
"Benar, aku memang menyekapnya selama belasan
tahun dalam perkampungan keluarga Hong-san, tapi dia
dapat melewati hidupnya dalam keadaan baik dan
gembira, semenjak aku kawin, selama ini aku tak pernah
tinggalkan perkampungan ini barang selangkah pun, dia
sendiri yang datang kemari mencariku." setelah berhenti
sejenak. lanjutnya:
"Kau jangan salah paham nak. aku hanya bermaksud
memberi penjelasan padamu, hingga detik ini aku masih
belum percaya kalau kau hendak menentang aku."
"Aku mengerti, kau memiliki alasan yang sangat
prima, semua kesalahan kau jatuhkan ke pundak ibuku."
"Aaaaai... kau memang berbeda dengan orang lain
nak. selewatnya badai besar ini, pasti akan
kupertemukan kau dengan ibu kandungmu agar semua
pertikaian yang dialami generasi lampau bisa diselesaikan
hingga tuntas dan kau pun bisa mengetahui kejadian
sebenarnya secara jelas dan gamblang."
Lalu diliriknya Lim Han- kim sekejap dan melanjutkan.
"Tentu saja termasuk pertikaianku dengan ibumu."
Setelah berhenti sejenak untuk tukar napas, Li hujin
berkata kembali:
"sekarang kalian tak perlu pecahkan perhatian untuk
memikirkan persoalan ini, manfaatkan sebaik-baiknya
sisa waktu yang tinggal belasan hari ini untuk
menghimpun tenaga, Bila badai besar ini dapat kita
lewatkan dengan selamat, maka semuanya pun akan
kubeberkan secara gamblang, dan sampai waktunya
kalian bakal tahu kejadian apa yang sebenarnya
dilakukan generasi tua kalian."

3240
"Tak usah kuatir nyonya, aku jamin kemenangan pasti
berada di pihak kita..."
BAB 50. Menjumpai seebun Giok hiong
"Jangan kelewat percaya diri." Li hujin mengingatkan,
"Kemampuan seebun Giok- hiong luar biasa, sebelum
kejadian hari ini, aku pun mempunyai keyakinan seperti
dirimu, Tapi sekarang, keyakinanku sudah mulai goyah,
jangan lagi ia berhasil menjaring begitu banyak jago lihay
untuk membantu kubunya, hanya seebun Giok-hiong
seorang pun sudah cukup memusingkan kepala kita."
"Kenapa keyakinan hujin bisa goyah?"
"Kalau cuma berbicara masalah ilmu silat, biarpun
seebun Giok-hiong berlatih berapa tahun lagi belum
tentu mampu mengalahkan aku, tapi pengetahuannya
yang begitu luas dan pikirannya yang begitu cemerlang,
rasanya kita tak boleh menghadapi secara sembarangan"
"Maksudmu dia berhasil menguasai ilmu Yoga dan
beberapa macam ilmu sesat lain-nya?"
"Bukan cuma begitu, aku curiga dia telah menguasai
beberapa macam ilmu sesat yang luar biasa."
"Tidak apa-apa, sehebat-hebatnya kepandaian silat
yang dipelajari inti sarinya toh tetap sama. Dengan
kemampuan yang hujin miliki sekarang masih lebih dari
cukup untuk menghadapinya . "
"Moga-moga saja begitu."

3241
Selesai berkata, dia pun beranjak pergi meninggalkan
tempat itu.
Menanti bayangan punggung Li hujin sudah lenyap
dari pandangan, Lim Han-kim baru berkata:
"Apakah nona baru hari ini tahu kalau ibumu berada di
perkampungan keluarga Hong-san?"
"Tidak, rahasia ini sudah lama kuketahui, hanya tidak
tahu berada dimana sekarang. Suatu ketika aku pernah
curiga Li hujin adalah ibu kandungku, tapi dengan cepat
aku sadar bahwa dugaanku itu salah besar."
"Nona tidak pernah menanyakan masa lampaumu?"
"Tidak. aku tahu saatnya belum tiba, ditanyakan juga
percuma."
Lim Han- kim menggerakkan bibirnya seperti akan
mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut segera
diurungkan.
"Apa yang ingin kau katakan?" tegur Pek si-hiang.
"Menurut penuturan ibuku, mereka pernah
mempunyai tiga bersaudara yang sangat akrab, Li hujin
menempati posisi pertama, ibuku kedua, dan mungkin
sekali ibumu menempati urutan ketiga."
"Ehmm, bisa jadi ibuku nomor tiga."
Lim Han- kim menghela napas panjang: "Aaaai... kalau
menuruti kemauan Li hujin, dia baru akan bercerita bila
badai pembunuhan ini sudah lewat, padahal andaikata
dalam pertarungan ini ada di antara mereka yang
tewas..."
"Maksudmu Li hujin?"

3242
"Entah Li hujin atau diriku, asal salah seorang di
antara kami tewas, bukankah teka teki asal usulku akan
menjadi rahasia untuk selamanya..." Pek si-hiang turut
menghela napas panjang, selanya:
"Bila dugaanku tak salah, kemungkinan besar ayahmu
akan turut menghadiri pertemuan puncak ini."
"Ayahku masih hidup?"
"Apa yang diceritakan ibumu kepadamu? Apa dia
menyatakan ayahmu sudah meninggal."
Lim Han- kim coba berpikir sebentar, benar juga,
ibunya memang tak pernah menyatakan kalau ayahnya
telah meninggal karena itu ujarnya:
"Nona bisa mengatakan kemungkinan tersebut berarti
kau sudah tahu bukan siapa ayahku?"
"Aku tak tahu, tapi banyak orang mengetahui hal ini."
"Siapa?"
"Ciu Huang, Thian-hok sangjin, gurumu Tan ceng-po...
aku rasa mereka semua pasti tahu..."
"Anehnya kenapa mereka segan memberitahukan hal
ini kepadaku?"
"Aku rasa tentu ada sebab-sebab tertentu, mungkin
mereka enggan menyinggung kembali peristiwa lama
hingga melukai perasaan ibumu, mungkin juga karena
masalah ini menyangkut keadaan yang gawat sehingga
tak berani bicara sembarangan..." setelah berhenti
sejenak, kembali terus-nya:
"Sabarlah sedikit, paling lama toh setengah bulan lagi
semuanya akan terungkap. Bukankah kau sudah

3243
menunggu hampir dua puluh tahun lamanya, kenapa tak
mau menunggu setengah bulan lagi? Di samping itu,
masih ada satu urusan lagi aku butuh bantuanmu."
"Butuh bantuanku?"
"Benar, hanya aku tak tahu punya nyalikah kau untuk
melaksanakan hal ini?"
"Asal bisa kulaksanakan, tentu akan kulakukan"
"Bagaimana kalau kuminta kau pergi nyerempet
bahaya?"
"Mau suruh terjun ke air atau api, pasti akan
kulakukan"
"Maksudmu kau bersedia hidup untukku, begitu juga
bersedia mati untukku?"
"Betul, silakan nona sampaikan permintaanmu."
"Temani aku pergi menjumpai seebun Giok-hiong."
"Mau apa bertemu dengannya?"
"Aku berharap bisa mencegah terjadinya pertumpahan
darah kali ini, jadi aku berniat membujuknya agar
menghapus niatnya untuk membalas dendam, apalagi
kalau bisa mengubah suasana yang mengerikan dan
penuh ancaman bahaya maut dalam perkampungan
keluarga Hong-san ini menjadi suasana yang tenang dan
penuh kedamaian-"
"Aku takut keinginanmu itu sukar terkabul."
"Sekalipun gagal, paling tidak aku telah berusaha
sebatas kemampuanku, asal kau mau menuruti

3244
perkataanku, kemungkinan untuk berhasil sudah lima
puluh persen berada di tangan kita."
"Mana mungkin." Lim Han- kim menggeleng, "Kecuali
kau mampu membunuhnya, kalau tidak, kemungkinan
untuk berhasil minim sekali harapannya."
"Kau berpendapat begitu apa karena dia enggan
menuruti bujukan dan nasehatmu?"
"Sudah kubeberkan untung ruginya bila pertarungan
ini dilanjutkan, bukan saja semua kemampuanku telah
dicurahkan, bahkan mulut serasa sudah kecut semua
lantaran banyak bicara, tapi nyatanya dia tetap nekat
dengan rencananya, ia tolak mentah-mentah semua
bujuk rayuku, apalagi tadi dia sudah mengadakan
perjanjian dengan Li hujin untuk berduel, situasi
sekarang ibarat anak panah sudah siap dilepaskan, mana
mungkin bisa dihalangi lagi..." Pek si-hiang tertawa
hambar.
"Masa kau tidak merasa kalau di antara kita berdua
terdapat perbedaan, apa yang tak sanggup kau lakukan,
mungkin saja bisa kulaksanakan dengan baik?"
Lim Han- kim cukup mengerti akan kemampuan dari
gadis tersebut, bahkan kehebatannya berapa ratus kali
lebih hebat darinya, karena itu untuk sesaat dia hanya
termangu. Pek si-hiang menghela napas panjang,
katanya lagi dengan lembut:
"Bila ia mengerti kalau harapannya untuk meraih
kemenangan dalam pertarungan ini amat tipis,
bayangkan sendiri, apakah dia masih akan berkeras
kepala..."

3245
"Tindak tanduk seebun Giok- hiong selama ini hanya
menuruti suara hati sendiri, belum tentu ia percaya
dengan perkataanmu itu, kecuali seketika itu juga kau
berhasil menaklukkannya . "
Tiba-tiba Pek si-hiang bangkit berdiri, katanya sambil
menggenggam tangan Lim Han- kim erat-erat:
"Temani aku, masa kau tega biarkan aku pergi
seorang diri?"
"Baiklah" ucap Lim Han- kim akhirnya, "Bila kau
bersikeras hendak pergi, tentu akan kutemani
kepergianmu ini, cuma seebun Giok- hiong sudah dibuat
lupa daratan oleh kobaran dendam kesumatnya, siapa
tahu ia malah berniat membunuhmu"
"Masalah ini tak boleh ditunda lagi, bagaimana kalau
kita berangkat sekarang?"
"Budak bersedia menemani nona" seru siok-bwee dan
Hiang-kiok bersama-sama.
"Tidak usah," tampik Pek si-hiang sambil menggeleng,
"Asal Lim siangkong bersedia menemani aku, itu sudah
cukup, lebih baik kalian berjaga di sini sambil menunggu
kepulanganku. "
"Kapan nona baru kembali?" tanya Siok-bwee.
Pek Si-hiang periksa sebentar keadaan cuaca di luar,
lalu sahutnya: "Paling lambat sebelum tengah hari."
"Kini fajar pun belum menyingsing kemana nona
hendak mencari Seebun Giok-hiong?" tanya Lim Han-kim.

3246
"Ayoh berangkat saja pokoknya aku punya cara untuk
menemukan jejaknya" seru Pek si-hiang sambil turun dari
loteng.
Dengan mengikuti di belakang Pek Si-hiang,
berangkatlah Lim Han-kim berdua meninggalkan
bangunan loteng Teng-siong-lo.
Keadaan Pek Si-hiang masih nampak lemah sekali,
waktu berjalan tubuhnya gontai kesana kemari, seolaholah
untuk berdiri tegak pun masih belum sanggup.
Menyaksikan hal ini Lim Han-kim berpikir.
"Sudah sekian lama kau melatih diri tapi nyatanya
untuk berjalan sendiri pun masih amat lemah dan tak
bertenaga, mana mungkin bisa mengalahkan Seebun
Giok-hiong dalam suatu pertarungan nyata? Nampaknya
perjalanan malam ini lebih banyak bahayanya ketimba
selamat..."
Berpikir sampai di situ, tak kuasa lagi dia merangkul
tubuh Pek Si-hiang dan membantunya meneruskan
perjalanan
Saat itu penjagaan di seputar perkampungan keluarga
Hong-san ekstra ketat, sekeliling gedung Tay-sang-kek
maupun gedung Teng-siong-lo dijaga oleh segerombol
dayang dari keluarga Hong-san- Hanya saja mereka
semua bersembunyi di balik semak belukar dan
pepohonan hingga orang yang tak tahu latar
belakangnya, sulit untuk menemukan jejak mereka.
Untung juga kawanan dayang itu sudah pada
mengenal siapa Lim Han- kim serta Pek si-hiang, karena
itu tatkala melihat sepasang muda mudi ini berjalan

3247
sambil berangkulan, tak seorang pun di antara mereka
yang menegur atau menghalangi.
Semenjak kehadiran para jago dari siau-lim-pay dan
Bu-tong-pay, ong popo yang bertugas menjaga
keamanan lembah Ban-siong-kok telah menarik semua
kekuatannya untuk berjaga di gedung bagian dalam,
sedang keamanan di luar gedung menjadi tanggung
jawab para jago.
Saat itu, tanggung jawab keamanan seluruh lembah
oleh Li Tiong-hui sebagai Bu- lim Bengcu telah
diserahkan ke tangan ketua Bu-tong-pay, Thian-hok
sangjin-
Meskipun kawanan jago yang bertugas menjaga
keamanan lembah tidak mengenal Lim Han- kim serta
Pek si-hiang, namun berhubung kedua orang ini muncul
dari gedung bagian belakang, otomatis tak seorang pun
yang mencoba menegur atau menghalangi.
Setibanya di mulut lembah, kepergian mereka baru
dihadang oleh seorang pendeta setengah umur yang
bersenjata sebuah toya. "Apa maksud kalian berdua
datang kemari?" tegurnya.
"Kami sedang melaksanakan tugas dari Li hujin untuk
memeriksa posisi musuh di luar lembah," jawab Pek sihiang
cepat.
Dengan seksama pendeta setengah umur itu meneliti
wajah Lim Han- kim serta Pek si-hiang, kemudian pelanpelan
mengundurkan diri dari situ.
Jelas dalam hati kecilnya sudah timbul perasaan
curiga, hanya dia segan banyak bertanya, Pek si-hiang

3248
segera berjalan meninggalkan lembah, beberapa kaki
kemudian dia baru menghembuskan napas panjang
seraya berkata:
"Seharusnya Li Tiong-hui menggunakan kata-kata
sandi sebagai kode rahasia, dengan menggunakan kata
sandi, seseorang baru boleh masuk kelaur lembah
dengan leluasa, cara seceroboh ini berbahaya sekali
untuk keamanan mereka, Tapi untung bagi kita, coba
kalau kata sandi telah dipergunakan mungkin sulit bagi
kita untuk keluar lembah malam ini." Lim Han- kim
berpikir dalam hati:
"Meninjau dari sikapnya yang begitu santai, agaknya ia
mempunyai keyakinan penuh untuk mensukseskan
langkahnya malam ini..." Berpikir begitu, dia pun
bertanya:
"Kegelapan malam masih menyelimuti seluruh jagad,
kemana kita harus mencari seebun Giok- hiong?"
"Gampang sekalL cepat bimbing aku ke sana"
Lim Han- kim berkerut kening tapi tidak membantah,
ia pun membimbing Pek si-hiang melanjutkan perjalanan.
Dua-tiga li kemudian Pek si-hiang berhenti secara
mendadak. la mendongakkan kepalanya memeriksa
posisi bintang sebentar, kemudian katanya: "Cepat
bimbing aku menuju ke puncak bukit itu"
"Mau apa mendaki puncak bukit itu?"
"Mencari seebun Giok- hiong"

3249
"Tak mungkin See bun Giok-hiong berada di puncak
bukit itu," kata Lim Han-kim setelah memandang bukit
itu sekejap.
"Aku tahu, asal kita sudah tiba di puncak bukit itu,
tentu dia akan munculkan diri untuk bertemu dengan
kita,"
Lim Han-kim tahu gadis ini mempunyai perhitungan
yang masak dan perkiraan yang jitu, karenanya tanpa
banyak bertanya lagi ia bimbing Pek si-hiang menuju ke
puncak bukit itu.
Derap langkah Pek si-hiang sangat lemah dan seolaholah
tak bertenaga, meski nampaknya Lim Han-kim
hanya membimbingnya untuk menempuh perjalanan,
padahal kenyataannya pemuda tersebut sedang
membopongnya untuk meneruskan perjalanan ke puncak
bukit.
Ketika tiba di puncak bukit itu, Pek si-hiang sudah
amat kelelahan, bukan cuma keringatnya bercucuran
napas pun ikut ngos-ngosan.
Dalam keadaan begini Lim Han-kim tak sanggup
menahan diri lagi, tegurnya setelah mendeham pelan:
"Nona, sebenarnya ilmu silat yang kau latih selama
lima hari ini telah berhasil kau pelajari belum?"
"Tentu saja sudah selesai kupelajari kalau tidak. buat
apa kita kemari? Mau mengantar nyawa dengan
percuma?"
"Tapi ilmu silat apa yang nona pelajari? Kenapa tak
nampak sedikit pun tanda kalau kau telah
menguasainya?"

3250
"Tak usah kuatir, seebun Giok-hiong pasti dapat
mengetahuinya,"
Dalam hati Lim Han- kim berpikir.
"Aku telah berjanji akan menemanimu, berarti aku tak
boleh memikirkan soal mati hidupku lagi..."
Berpikir begitu, dia pun berkata:
"Sekarang, dengan cara apa kita akan mengundang
kehadiran seebun Giok- hiong?" Dari sakunya Pek sihiang
ambil keluar sebuah tabung bulat berwarna merah,
katanya:
"Coba kau letakkan benda ini di atas batu besar lalu
bakarlah, seebun Giok-hiong segera akan muncul di sini."
"Tapi aku tidak membawa korek api?"
"Aku punya." Dari sakunya kembali gadis itu
mengeluarkan bahan pembuat api dan diserahkan
kepada anak muda tersebut
Lim Han- kim segera menerimanya dan menyulut
tabung berwarna merah yang sudah diletakkan di atas
batu.
"Setelah kau sulut sumbunya, cepat mundur kemari."
Kembali Pek si-hiang berseru.
Lim Han- kim menurut dan begitu sumbu telah disulut,
ia cepat-cepat mundur ke sisi Pek si-hiang.
"Blaaammmm... "
Suatu ledakan keras berkumandang memecahkan
kesunyian, menyusul suara dentuman itu, semburan
bunga api meluncur ke tengah udara dan memercikkan
kembang api yang berwarna warni di angkasa.

3251
Pek si-hiang melirik Lim Han- kim sekejap, lalu
bisiknya sambil tertawa:
"Sayang kesehatan badanku dalam kondisi jelek. tak
sempat kurancang pesta kembang api yang lebih indah."
Lim Han-kim tidak langsung menjawab, pikirnya:
"Heran, dalam situasi dan keadaan seperti ini, kau
masih punya ingatan untuk membuat permainan kanakkanak
macam begini..." Dengan mengalihkan
pembicaraan ke masalah lain, ucapnya:
"Berapa lama lagi seebun Giok-hiong baru tiba di sini?
Bagaimana jika yang datang ternyata bukan seebun
Giok-hiong?"
"Sekarang waktu masih pagi, kita harus menunggu
beberapa saat lagi, mari kita manfaatkan kesempatan ini
untuk berbincang-bincang."
"Apa lagi yang perlu diperbincangkan?"
"Berbicara masalah perkawinanmu, aku rasa kau
sudah tak boleh menunda waktu lagi dalam mencari
jodoh sebagai istrimu, di antara Li Tiong-hui dan seebun
Giok-hiong, kau harus pilih salah satu di antaranya
menjadi istrimu."
Lim Han-kim mendongakkan kepalanya sambil tarik
napas panjang, celanya:
"Kini, badai pertumpahan darah sudah di ambang
pintu, dapatkah aku lolos dari pembantaian ini dalam
keadaan selamat masih menjadi tanda tanya besar, apa
gunanya kita singgung urusan macam begitu?"

3252
" Kalau begitu perlu kuberitahu kepadamu, selama aku
Pek si- hiang yang kendalikan pertemuan puncak di bukit
Hong-san ini, akhir dari pertemuan ini tak bakal setragis
dan sengeri apa yang kau bayangkan, Masalahnya
sekarang adalah bagaimana kelanjutan dan situasi ini bila
aku sudah mati."
"Apa? Kau bakal mati?"
"Sudah cukup lama aku hidup di dunia ini, apa
salahnya bila aku mati" Pek si-hiang balik bertanya
sambil tertawa. Lim Han- kim menghela napas panjang:
"Apakah kau sudah lupa dengan peristiwa yang kita
alami dalam kuburan pesanggrahan pengubur bunga?
Bila aku, Lim Han- kim harus menikah, maka orang yang
paling berhak menjadi istriku hanya nona seorang."
"Aaaai... aku mengerti, sejak dulu pun kau sudah
kuanggap sebagai suamiku, sayang semua usahaku
untuk mempertahankan hidup telah mengalami
kegagalan total, kecuali mempelajari kembali ilmu sesat
sembilan iblis, dalam dunia ini tak ada ilmu silat lain yang
bisa mempertahankan hidupku lebih lama, padahal
sebagaimana kau ketahui, sifatku akan berubah kejam
dan sadis bila mempelajari kembali ilmu sesat tersebut,
karenanya aku telah bertekad untuk meninggalkannya,
ini berarti saat kematianku telah ditentukan.
Belakangan ini telah kugunakan seluruh kemampuan
dan pengetahuan yang kumiliki untuk berjuang hidup,
namun akhirnya tetap gagal untuk lolos dari
cengkeraman elmaut, karena itulah sebelum
kuhembuskan napas yang penghabisan harus kucarikan

3253
seorang pengganti yang sesuai untuk meneruskan
puisiku."
Mendadak Lim Han-kim teringat kembali dengan
perkataan Hiang-kiok, buru-buru serunya:
"Seandainya kau tidak beriatih ilmu silat, apakah kau
tetap akan mati juga?"
"Hmmm, pasti Hiang-kiok sudah ngaco belo..."
"Cepat katakan sesungguhnya..." tukas Lim Han-kim
gelisah, "Kenapa sih kau tak pernah mau bicara jujur
kepadaku?"
Pelan-pelan Pek Si-hiang sandarkan kepalanya di atas
pelukan Lim Han-kim, lalu katanya lembut:
"Jangan galak-galak padaku, toh aku sudah hampir
mati, kenapa kau tidak bersikap lebih baik dan mesra
padaku."
Rasa cinta dan sayang yang tak terhingga menyusup
keluar dari lubuk hati Lim Han-kim, ia tak dapat
kendalikan emosinya lagi, sambil memeluk erat-erat
gadis tersebut bisiknya penuh kelembutan:
"Semenjak perbincangan kita yang panjang lebar
dalam kuburan pesanggrahan pengubur bunga, aku
sudah..."
Tiba-tiba teriihat sesosok bayangan manusia
berkelebat lewat menuju ke puncak bukit.
Dengan cekatan Lim Han-kim melompat bangun
seraya persiapkan pedang Jin-slang-kiam untuk
menghadapi segala kemungkinan, tegurnya:
"Siapa di situ?"

3254
"Aku, Li Tiong-hui" jawab bayangan tadi dengan nada
yang merdu. sambil tertawa Pek si-hiang berkata:
"Sudah kutebak kau pasti datang, cepat kemari, kita
harus bicarakan masalah ini dengan serius."
"Apa yang perlu kita bicarakan?" sambil padamkan
obornya Li Tiong-hui berjalan mendekat.
"Kesalahan besar yang pernah dilakukan generasi tua
kita tak boleh diulang kembali oleh generasi kita, oleh
sebab itu aku harus berupaya sekuat tenaga untuk
mencegah terjadinya badai pertumpahan darah ini, kalau
bisa hawa jahat diubah jadi hawa perdamaian. oleh
karena itu kita harus perbincangkan dulu masalah ini
dengan sebaik-baiknya."
"Apa gunanya kita bicarakan masalah tersebut?" Li
Tiong-hui ambil tempat duduk di hadapan gadis tersebut,
"Toh yang menjadi pemeran utama dalam drama ini
adalah seehun Giok-hiong."
"Dia pasti akan muncul..." Pek si-hiang menegaskan.
Kemudian sesudah berhenti sejenak kembali terusnya:
"Walaupun awal terjadinya pertemuan puncak di bukit
Hong-san ini adalah hasil pertikaianmu dengan seebun
Giok-hiong, tapi kini telah berubah menjadi pertemuan
puncak untuk menyelesaikan kemelut yang dilakukan
generasi tua kita. ibu dari Lim siangkong, ibumu serta
ibuku dulunya adalah saudara angkat yang seia sekata,
tapi kemudian gara-gara suatu masalah berubah jadi
musuh bebuyutan, ibuku paling tragis nasibnya, hingga
kini beliau masih disekap oleh ibumu dalam
perkampungan keluarga Hong-san, sedang ibunya Lim

3255
siangkong juga harus memusnahkan ilmu silatnya garagara
ulah ibumu."
"Betulkah ada kejadian seperti ini?" tukas Li Tiong-hui
sambil membelalakkan matanya.
"Seratus persen merupakan kejadian nyata. oleh
karena itulah bukan saja kita wajib menghindarkan
pertumpahan darah yang tragis dalam pertemuan nanti,
kalau bisa kita rukunkan kembali mereka bertiga, agar
hubungan persaudaraan yang pernah terjalin di masa
lampau dapat berlangsung kembali seperti sedia kala."
"Apa yang menyebabkan hubungan mereka jadi
retak?"
"Aku rasa masalahnya bukan hanya satu, tapi yang
terpenting adalah disebabkan sifat egois dari
perkampungan keluarga Hong-san di samping hubungan
cinta segi tiga yang tak terpecahkan"
Dia angkat wajahnya sambil menghembuskan napas
panjang, lanjutnya:
"Sekarang keadaan kita sama, ada tiga orang gadis
yang bersamaan waktu mencintai seorang pria..."
"Kalau masalah ini sih nona Pek tak usah kuatir," sela
Li Tiong-hui setelah melirik Lim Han-kim sekejap. "Paling
tidak aku, Li Tiong-hui sudah menyatakan untuk
mengundurkan diri dari persaingan ini, sebab aku sudah
memiliki pilihan hati sendiri, bahkan selesai pertemuan
puncak ini aku akan mengundurkan diri dari keramaian
dunia kangouw dan mulai menempuh perjalanan hidup
baru."

3256
"Cobalah kau pikirkan kembali masalah ini dengan
cermat dan seksama, benarkah keputusan tersebut
sudah tepat? janganlah disebabkan rasa ingin mengalah
yang timbul saat ini menjadikan penyesalan yang tak
terhingga di kemudian hari. Menurut penilaianku ada
kemungkinan generasi kita yang lampau pun mengalami
keadaan persis seperti kita sekarang, mungkin mereka
berniat saling mengalah namun di hati kecil masingmasing
sesungguhnya sudah muncul benih kebencian
yang berakibat hubungan persaudaraan mereka jadi
retak dan akhirnya dari persaudaraan berubah menjadi
permusuhan-"
"Tampaknya kau seperti mengetahui betul tentang
kejadian masa lampau...?"
"Aku hanya menduga menurut penilaian pribadiku
sendiri, Dari tiga bersaudara itu, ilmu silat ibumu paling
hebat, kecerdasan maupun kehebatannya juga
melampaui yang lain, tak dapat dibantah dialah
pemimpin dari tiga bersaudara tersebut, tapi juga
lantaran itu penderitaan yang dialaminya paling tragis
dan menyedihkan..."
"Ibuku hidup mengasingkan diri dalam lembah Hongyap-
kok, tentu dialah yang paling tragis pengalamannya"
seru Lim Han-kim cepat.
"Sepintas lalu nampaknya memang begitu," kata Pek
si-hiang coba menerangkan, "Tapi paling tidak ibumu
masih mempunyai seseorang yang bisa dibuat kenangan,
dia pun masih mempunyai seorang putra yang bisa
didambakan dan diharapkan. Dibandingkan dengan ibuku
yang selama banyak tahun disekap Li hujin dalam

3257
kehidupan yang terkekang dan tersiksa, pengalaman
ibuku jelas lebih tragis dan mengenaskan.
Tapi jika mereka berdua dibandingkan Li hujin, nasib
ibu kita berdua masih terhitung lebih mujur dan
beruntung, sepintas lalu ia memang kelihatan bebas
merdeka, mau ke mana pun tiada orang yang berani
melarang, saban orang menaruh hormat padanya, tapi
kenyataannya hampir tiap detik ia mesti hidup dalam
siksaan batin yang luar biasa, dia mesti memikul
tanggung jawab moril yang teramat berat, apakah ibumu
dan ibuku mengalami keadaan seperti Li hujin...?"
"Oooh, jadi disebabkan siksaan batin itulah maka dia
berubah jadi dingin kaku dan tak berperasaan?" seru Lim
Han-kim setelah termangu- mangu sesaat.
"Kecuali Li hujin yang memiliki kondisi iman begitu
kuat, coba kalau orang lain yang mengalami kejadian
macam ini, mungkin sejak dulu sudah tak sanggup
melanjutkan hidupnya, Bila setiap saat terbayang kembali
peristiwa tragis yang pernah dialaminya di masa lampau,
mana mungkin ia bisa tampilkan cinta kasih dan rasa
sayangnya saat ini? sikapnya bisa tetap mendingan tanpa
melakukan hal yang di luar garis pun sudah merupakan
suatu tindakan yang patut diacungi jempol" Tiba-tiba Li
Tiong-hui menghela napas panjang, katanya:
"Aku jadi teringat satu kejadian setelah mendengar
penuturan nona barusan, memang seingatku, sepanjang
hidupku belum pernah kulihat ibuku tersenyum apalagi
tertawa riang."
Dengan sorot mata yang tajam Pek si-hiang menatap
wajah Li Tiong-hui lekat-lekat, kemudian katanya:

3258
"Ibumu seorang tokoh silat yang prima, tapi harus
memendam rasa benci dan penyesalan yang amat
mendalam. selama belasan tahun ia hidup dalam
sanjungan dan rasa hormat orang lain kepadanya, tapi ia
tetap melewati hidupnya dalam kesepian dan
kesendirian. semisalnya ia hidup dalam lingkungan yang
terkekang dan tak bebas, mungkin kita bisa memaklumi
posisinya, tapi kenyataannya ia bebas merdeka mau
pergi ke manapun, dia pun tidak terikat oleh sesuatu
peraturan tertentu, selama ini ia bisa mengekang rasa
benci, marah dan dendamnya, tak lain karena kekuatan
iman yang dimilikinya. Apakah kelebihannya ini tidak
sangat mengagumkan?"
"Nona Pek. setelah kau tahu kalau ibuku telah
mengurung ibumu dalam perkampungan keluarga Hongsan,
masa kau sama sekali tidak membenci atau
mendendamnya?" tanya Li Tiong-hui.
Pek si-hiang menggeleng.
"Sama sekali tidak-" sahutnya, "Sebab aku tahu di
balik semua peristiwa ini tentu ada sebab-sebab tertentu,
mungkin juga maksud ibumu mengurung ibuku bukan
berniat mengurungnya beneran, tapi berniat melindungi
keselamatan jiwanya..."
Tiba-tiba terdengar Li Tiong-hui menghardik: "siapa di
situ?"
"Kemarilah cici seebun" seru Pek si-hiang keras,
"sudah lama kami menantikan kedatanganmu. "
Terdengar seebun Giok-hiong mendengus dingin.

3259
"Hmmm, semenjak kalian tinggalkan lembah Bansiong-
kok. aku sudah peroleh laporan lengkap. semua
tindak tanduk kalian telah berada dalam pengawasanku."
"Maksud kedatangan kami kemari memang ingin
berjumpa dengan kau." Pek si-hiang menerangkan.
"Tidak kuatir kubunuh dirimu?"
"Kau tak akan mampu membunuhku, sudahlah, tak
usah banyak bicara yang tak berguna, kemarilah"
Pelan-pelan Seebun Giok-hiong berjalan mendekat,
ditatapnya sekejap ketiga orang itu dengan sinar mata
setajam sembilu, kemudian katanya sinis: "Mau apa Pek
si-hiang? Lagi-lagi ingin membujukku dengan lidahmu
yang tajam?"
"Tidak." Pek si-hiang menggeleng, "Aku cuma pingin
berbincang-bincang denganmu, ilmu silat yang kau miliki
diperoleh dengan tak mudah, asal kau tidak melenceng
jalannya, aku percaya dalam tiga puluh tahun mendatang
cici bakal menjadi tokoh nomor wahid di kolong langit."
"Hanya ingin menyampaikan beberapa kata itu?"
Pek si-hiang tidak menggubris sindirannya, ia tepuk
batu di samping Lim Han-kim seraya serunya:
"Duduklah di sini, mari kita berbicara secara baikbaik,"
Seebun Giok-hiong seperti mau mengucapkan sesuatu
tapi kemudian diurungkan, ia duduk di tempat yang
ditunjuk dan bertanya: "Apa yang mau dibicarakan?
sekarang boleh kau sampaikan."

3260
"Bila kudengar dari nada pembicaraanmu, seolah-olah
kau sudah amat yakin dapat menangkan pertarungan kali
ini?"
"Menang kalah masing-masing pihak hanya
menempati posisi setengahnya"
"Tak mungkin." Pek si-hiang menggeleng, "Menurutku,
kau hanya mempunyai kesempatan sebanyak dua puluh
persen."
"Dari mana kau bisa menyebutkan angka tersebut?"
"Kau pernah bertarung melawan Li hujin bukan?
Bagaimana dibandingkan dengan kemampuanmu? "
"Dalam lima ratus gebrakan pertama sulit ditentukan
siapa yang lebih unggul, tapi selain Li hujin, aku tak bisa
temukan orang kedua yang sanggup menandingi
kemampuanku."
"Keliru, masih ada aku" tegas Pek si-hiang sambil
tersenyum.
"Kau?" seebun Giok-hiong tertawa dingin. Pek si-hiang
manggut-manggut, katanya dengan wajah serius: "Jadi
kau kurang percaya?" Kembali seebun Giok-hiong
tertawa dingin.
"Bila aku tak salah, mendengar mungkin kau sendiri
pun kurang begitu percaya."
"Berpisan hanya tiga hari pun bisa terjadi perubahan
besar, apalagi kita sudah berpisah hampir tujuh hari."
"Biarpun berpisah tujuh hari, aku tak percaya
seseorang yang sama sekali tak mengerti silat dapat
melatih dirinya menjadi seorang jagoan yang sanggup

3261
menghadapi seebun Giok-hiong." Pek si-hiang menghela
napas panjang:
"Padahal masalah ini tidak sulit, kita bisa buktikan
sekarang juga. Cuma, sebelum pertarungan di antara kita
berlangsung, aku pingin berbincang-bincang dulu dengan
kau."
"Mau bicarakan apa?"
"Berbicara masalah kita berempat"
"Kau maksudkan Lim Han-kim dan kau..." seebun
Giok-hiong melirik anak muda itu sekejap.
"Yaa, ditambah kau dan Li Tiong-hui," sambung Pek
si-hiang. Cepat-cepat seebun Giok-hiong menggeleng.
"Jangan melibatkan aku dalam persoalan ini, bila kau
dan Lim Han-kim bersedia melepaskan diri dari pertikaian
ini, aku pun bersedia membantu kalian untuk pergi
meninggalkan tempat ini."
Pelan-pelan Pek si-hiang bangkit berdiri, ia berpaling
memandang Li Tiong-hui dan Lim Han-kim sekejap.
kemudian pesannya:
"Bila pertarunganku melawan seebun Giok-hiong mulai
berlangsung, kalian berdua harus sebera mengundurkan
diri dari sini..."
Kemudian sambil menatap wajah seebun Giok-hiong,
lanjutnya:
"Selama ini kuanggap kau adalah seorang gadis yang
cerdik, bisa menilai keadaan, tak tahunya kau hanya
seorang manusia tekebur yang tak tahu kekuatan sendiri,
Ucapan Lim Han-kim memang tepat sekali, pikiranmu

3262
sudah ternoda oleh ingatan jahat untuk balas dendam
dan aku percaya kondisimu sekarang ibarat: Tidak akan
melelehkan air mata sebelum melihat peti mati, Baiklah,
biar malam ini kubuktikan bahwa selain Li hujin masih
ada seseorang lagi yang sanggup menghadapi diri-mu."
Menghadapi Pek si-hiang, tanpa sadar dalam hati kecil
seebun Giok-hiong muncul perasaan jeri dan ngeri yang
luar biasa, ia nampak tertegun setelah melihat gadis itu
bangkit berdiri sambil menyumpahinya, pikirnya segera:
"Jangan-jangan budak yang pintar dan punya
pengetahuan luas ini benar-benar bisa ciptakan
kemukjijatan dengan menguasai ilmu silat tangguh dalam
waktu singkat? Tapi... rasanya hal semacam ini mustahil
bisa terjadi." Berpikir sampai di situ, tak kuasa lagi ia
bergumam:
"Mustahil ada mukjijat semacam ini di dunia, aku tak
percaya, aku betul-betul tak percaya ..."
"Bila pada mulanya aku sudah memiliki dasar yang
kuat, dan kini hanya latihan ulang, masa kau masih
belum mau percaya?" Pek si-hiang mencoba meyakinkan.
"Aku tak percaya, kecuali kau dapat membuktikan di
hadapanku."
"Tidak. tak bisa dibuktikan," tolak Pek si-hiang sambil
berkerut kening.
"Kenapa?"
"Sebab bila gempuranku dilepaskan maka kekuatan
yang muncul tak terbendung lagi."

3263
"Ooh maksudmu, kau cuma mampu melepaskan sekali
gempuran saja?"
"Kau ingin bertaruh dengan menjajal kehandalanku
ini?" Agak berubah paras muka Pek si- hiang.
Seebun Giok-hiong tersenyum.
"Lebih baik utarakan saja keinginanmu Terlepas
bagaimana akhir dari pertemuan puncak ini, selama
seebun Giok-hiong masih hidup, pasti akan kulaksanakan
keinginanmu itu." Pek si-hiang melirik Lim Han-kim
sekejap. kemudian katanya:
"Lim siangkong menyimpan masalah pelik yang sangat
mengganjal hatinya, begitu pula dengan ibuku yang
tersekap dalam perkampungan keluarga Hong-san
selama ini..."
"Bagus sekali," tukas seebun Giok-hiong, "Asal nona
Pek bersedia menjalin kerja sama dengan ku, dunia
persilatan pasti dapat kita kuasai secara mudah..."
"Aku hanya pingin beritahu kepadamu, bukan cuma
kau seorang yang punya dendam kesumat, aku, Lim
siangkong semuanya punya dendam kesumat dan sakit
hati, tapi nyatanya kami tidak pernah punya ingatan
untuk membalas dendam secara babi buta macam kau."
"Waaah... kalau begitu jiwa kalian tentu lebih besar
ketimbang jiwaku..."
"Itu pun tidak. Aku hanya ingin memberitahu
kepadamu, akhir dari kita berempat sebenarnya
tergantung pada keputusanmu seorang."

3264
"Akhir dari kita berempat? Kedengarannya seolah-olah
nasib dari kita berempat itu sama senasib
sependeritaan?"
"Benar, dengan perkampungan keluarga Hong-san
sebagai sentralnya, semua pertikaian dalam dunia
persilatan terjadi dan terbentuk, sedang Lim siangkong
serta kita bertiga menjadi pemeran utama yang tergilas
oleh pertikaian ini. Jika kau rela menahan diri dan
bersabar bukan saja kita bisa menciptakan ketenangan
selama puluhan tahun dalam dunia persilatan bahkan
dengan kesabaran kita, pertikaian yang terjadi di antara
generasi tua kita pun bisa diluluhkan menjadi
perdamaian yang abadi."
"Pandai amat kau bersilat lidah," sindir seebun Giokhiong,
"Cuma sayang aku tak bisa kelewat percaya
padamu. . . " setelah berhenti sejenak, lanjutnya:
"Meski begitu, aku tetap ingin dengar bagaimana
rencanamu untuk mengatur akhir dari kita semua."
"Aku tahu, kau pasti tak sabaran.."
Ditatapnya wajah seebun Giok-hiong dengan mata
melotot, lalu katanya lebih jauh dengan nada dingin:
"Seebun Giok-hiong, semua yang kusampaikan
padamu adalah suatu kenyataan, mau percaya atau tidak
terserah padamu."
"Baiklah." seebun Giok-hiong tersenyum, "Katakan
saja apa yang ingin kau sampaikan, akan kudengarkan
semuanya dengan seksama."

3265
"Bila kau bersedia menuruti bujukanku, maka di antara
kita beberapa orang, kaulah yang bakal peroleh akhir
paling indah dan bahagia..."
"Bicara soal akal muslihat, aku masih bukan
tandinganmu," tukas seebun Giok-hiong.
"Dengarkan dulu kelanjutan kata-kataku, jangan
memotong seenaknya" tegur Pek si-hiang agak gusar.
Seebun Giok-hiong nampak tertegun dan tak berani
banyak bicara lagi. Pek si-hiang kembali berkata:
"Pertama-tama akan kusampaikan dulu sebuah kabar
yang menggembirakan bagimu, aku sudah tak bisa hidup
lebih dari sebulan.."
"Benarkah itu?" seru Lim Han-kim gelisah,
"Yaa, semua perkataan kuucapkan sejujurnya."
Mendengar itu, seebun Giok-hiong tertawa terkekehkekeh:
"Hahahaha... bila nona Pek benar-benar mati, siksaan
batin yang berat pasti akan kau alami untuk
selamanya..."
"Jangan menyindir terus" Kembali Pek si-hiang
memotong, "Meski hidupku tinggal sebulan, paling tidak
aku masih bisa bertahan selama dua puluh hari lagi,
berarti aku masih sempat menghadiri pertemuan puncak
yang kau gelar di tempat ini."
"Bagaimana kelanjutannya setelah kau mati?"
"Oleh karena Li Tiong-hui sudah punya pilihan hati
sendiri, terpaksa kuserahkan Lim Han- kim padamu"

3266
"Serahkan padaku?" seebun Giok-hiong terkejut "kau
rela? Begitu juga Li Tiong-hui, apa dia pun rela?"
"Kini aku sudah bersuami" seru Li Tiong-hui dengan
ketus, "Bila aku bisa lolos dari badai pertumpahan darah
ini, pasti akan kuundang kalian semua untuk menghadiri
pesta perkawinanku, ... "
"Aku pikir kesempatanmu ke sana amat tipis"
Tiba-tiba Lim Han-kim melompat bangun sambil
berteriak:
"Hey, aku Lim Han-kim adalah seorang lelaki, masa
kalian ..."
"Bagaimana kalau kau tidak menimbrung dulu?" pinta
Pek si-hiang sambil memberi tanda.
"Kenapa? Aku Lim Han-kim toh bukan sebuah barang
persembahan, masa kau hendak sumbangkan kepada
orang lain?"
"Aaaai... justru inilah masalah utama dari kita
berempat, bila kita terdiri dari dua pria dan dua wanita,
tentu urusan tak usah repot seperti ini, sayang di sini
hanya ada kau seorang..."
"Justru barang langka mahal harganya" sindir seebun
Giok-hiong sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Jangan mencemooh dia" pinta Pek si-hiang sambil
menggeleng, "Dengarkan dulu perkataanku. Kini Li
Tiong-hui sudah punya pilihan sendiri, sedang nyawaku
tinggal sebulan lagi, jadi setelah kupertimbangkan
berulang kali, rasanya kecuali kutitipkan dia pada cici,
siapa lagi yang bisa kuserahi?"

3267
"Seandainya kau bicara sejujurnya, urusan ini pun
merupakan masalah setelah selesainya pertemuan
puncak ini..."
"Cici keliru besar, setelah berlangsungnya pertemuan
puncak itu, situasi dalam dunia persilatan tentu porak
poranda tak karuan, dengan mempertaruhkan sisa
hidupku, aku pasti akan berusaha menyumbangkan
sedikit baktiku untuk membenahi keadaan dunia
persilatan, syukur pabila aku bisa mengubah ancaman
yang berbau darah ini menjadi situasi yang tenang dan
penuh kedamaian, bila aku bisa melihat kau serta Li
Tiong-hui memiliki keluarga yang bahagia, meski harus
mati pun aku bisa mati dengan mata terpejam..."
Mendadak seebun Giok-hiong bangkit berdiri, katanya:
"Terima kasih banyak atas maksud baikmu itu, aku
merasa berterima kasih sekali dengan perhatian ini,
betul, aku memang menyukai Lim Han-kim, namun
seebun Giok-hiong berbeda sekali dengan wanita lain,
aku tak bisa melupakan dendam sakit hati orang tuaku
gara-gara seorang pria, bila tak ada jalan yang
sempurna, terpaksa aku harus jatuhkan pilihan pada
salah satu di antaranya. Aku pun setuju dengan
permintaanmu tadi, setelah kematianmu aku akan
berusaha dengan sekuat tenagaku untuk melindungi dan
menjaga kekasihmu itu, agar dia mempunyai posisi yang
terhormat dalam dunia persilatan, saat itu aku akan
berada di belakang layar dan mengaturkan strategi
baginya, Aku rasa pembicaraan kita hari ini cukup sampai
di sini saja, pagi sudah hampir menjelang tiba, lagipula
kondisi badanmu kurang bagus, segeralah pulang untuk
beristirahat Nah, sampai ketemu lagi."

3268
Selesai berkata, ia memberi hormat dan segera berlalu
meninggaikan tempat tersebut
Memandang bayangan punggung seebun Giok-hiong
yang menjauh, Pek si-hiang menghela napas panjang,
gumamnya: "Tak nyana ia begitu keras kepala"
"Mari kita pulang," ajak Li Tiong-hui sambil berdiri, "
Kalau memang ia nekat ingin bertarung, apa boleh buat
lagi?"
BAB 51. ibarat Menunggang Di Punggung
Harimau
Sambil berpaling ke arah Lim Han-kim, bisik Pek sihiang:
"Aku telah menyinggung perasaanmu, tidak
marah bukan?"
Sebenarnya Lim Han-kim bermaksud menegur gadis
itu dengan beberapa patah kata yang tak sedap. namun
melihat rasa menyesal dari Pek si-hiang, kata-kata yang
sudah di bibir sukar diutarakan, akhirnya ia pun berkata
sambil tersenyum:
"Sekarang kau sudah mengerti bukan, seebun Giokhiong
tak pernah menaruh rasa cinta padaku."
Pek si-hiang tidak memberi tanggapan, memandang
kegelapan malam yang masih menyelimuti jagad,
gumamnya:
"Budi dendam yang diwariskan tiga orang gadis cantik
di masa lampau belum mencapai akhir cerita,
mungkinkah kisah sejenis itu akan terulang kembali...?"

3269
"Aku rasa ceritanya sangat berbeda," ucap Li Tionghui
setelah menghela napas panjang, "Kita tak bisa
disalahkan dalam peristiwa ini, kau sudah menunjukkan
kebesaran jiwa yang paling hebat"
Pek si-hiang menggeleng berulang kali.
"Aku tak habis mengerti, apa sih yang diandalkan
seebun Giok-hiong hingga dia berani bersikeras untuk
melanjutkan pertarungan ini?"
"Untuk mencapai peristiwa ini, sudah banyak tahun ia
membuat persiapan dan perancangan yang seksama, aku
yakin ia sudah mempunyai persiapan yang sangat
matang."
"Mari kita pulang" ajak Lim Han-kim kemudian
"Aaaai... sewaktu datang, aku membawa pengharapan
yang besar, sungguh tak nyana harus diakhiri dalam
keadaan begini, betul-betul mengenaskan"
Sambil menghela napas berulang kali, pelan-pelan Pek
si-hiang meninggalkan tempat itu.
"Cepat kau gandeng tangannya," bisik Li Tiong-hui
pada pemuda itu, "Kau harus menahannya dengan
penuh cinta kasih."
"Menahannya?" Untuk sesaat Lim Han-kim tak bisa
menangkap arti perkataannya hingga tertegun.
"Yaa, bila ia benar-benar tak ingin mati, berarti dia
akan peroleh cara lain untuk mempertahankan
hidupnya."
"Lalu kenapa dia harus mati?"

3270
"Sebab hidupnya penuh penderitaan, kemampuannya
sangat bertolak belakang dengan kondisi tubuhnya yang
lemah, bayangkan sendiri semisalnya kau yang mesti
hidup menderita selama belasan tahun, apakah kau
masih bergairah untuk melanjutkan hidupmu..." Tiba-tiba
terlihat Pek si-hiang terhuyung-huyung lalu roboh ke
samping bukit.
Rupanya jalan setapak itu curam lagi sempit, dalam
kondisi tubuh yang tak seimbang, badannya yang lemah
pun segera roboh terjungkal ke sisi jalan. Cepat-cepat
Lim Han-kim melompat ke depan dan memondong tubuh
gadis tersebut
"Semenjak kecil, aku sudah terbiasa roboh tak
sadarkan diri sampai lama sekali," kata Pek si-hiang
sambil tersenyum, "Ketika sadar kembali dari pingsanku,
kulihat tubuhku sudah berbaring di atas ranjang, itulah
sebabnya selama ini Hiang-kiok dan siok-bwee selalu
mendampingiku ke mana pun aku pergi, tapi belakangan
ini aku jarang roboh mencium tanah"
"Masa sudah begini besar masih sering roboh
mencium tanah?" Pek si-hiang menghela napas sedih.
"Aaaai... walaupun memiliki kekayaan yang melimpah,
sandang pangan berlimpah ruah, tapi apa artinya hidup
tersiksa macam diriku ini?"
Sebenarnya Lim Han-kim ingin sekali mengucapkan
beberapa kata untuk menghibur hatinya, tapi ketika
dilihatnya Li Tiong-hui mengikuti persis di belakang
mereka, niat tersebut terpaksa ditahan kembali
Dalam waktu singkat mereka bertiga sudah balik ke
dalam lembah Ban-siong-kok. tampak cahaya lentera

3271
menerangi seluruh ruangan, bayangan manusia pun
bergerak kesana kemari, Melihat itu Li Tiong-hui berbisik,
"Kita kedatangan bala bantuan lagi, harap saudara Lim
antar dulu nona Pek pulang ke loteng Teng-siong-lo, aku
mesti melayani tamu-tamu yang baru datang."
"Kau adalah seorang Bengcu, sudah sepantasnya kau
menyambut kedatangan mereka," sahut Lim Han-kim.
Ia pun melanjutkan perjalanan menuju loteng Tengsiong-
lo.
Tiba dalam kamar tidur, dari bawah ranjangnya Pek sihiang
ambil keluar sejilid kitab yane bersampul kulit
kambing, lalu bisiknya: "Kau tak usah pergi."
"Kenapa?" tanya Lim Han-kim terkejut.
"Baca dulu isi buku ini di bawah loteng sana, besok
aku akan mulai mewariskan ilmu silat padamu, selama ini
kau harus pusatkan pikiran, jangan melamunkan yang
bukan-bukan, manfaatkan waktu selama tujuh hari ini
dengan sebaik-baiknya." Lim Han-kim menggeleng.
"Aku tidak memiliki bakat dan kecerdasan seperti
nona, tak mungkin aku berhasil menguasai ilmu tersebut
dalam waktu tujuh hari."
"Akan kugunakan sejenis ilmu tusuk jarum untuk
membantu merangsang hawa murnimu."
Lim Han-kim sebera teringat pula bahwa gadis itu
memang sering merangsang timbulnya hawa terpendam
dengan bantuan tusuk jarum, untuk sesaat ia jadi
tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah kata
pun.

3272
"Bagaimana? Kau merasa sangat takut?" tanya Pek sihiang.
"Aku hanya tak habis mengerti, bagaimana mungkin
hawa murni yang dimiliki seseorang dapat bertambah
hanya dengan bantuan tusuk jarum?"
"Mengenai ilmu tusuk jarum, pengetahuannya amat
mendalam dan mendetail, susah bagiku untuk
menerangkan dalam waktu singkat Lebih baik kau buang
jauh-jauh semua pikiran yang tak berguna sekarang,
pusatkan perhatianmu hanya untuk berlatih ilmu silat
tersebut."
"Aku takut gagal."
"Kau tak boleh gagal dalam latihan ini, sebab bila ilmu
tersebut gagal kau kuasai, bukan saja kau tak bisa
menempatkan diri dalam pertemuan puncak nanti,
bahkan tak akan berhasil selamatkan ibumu dari musibah
yang mengancam."
"Tapi... apa sangkut pautnya dengan ibuku?"
"Apabia seebun Giok-hiong yang menangkan
pertarungan ini, akhir yang tragis tak usah dibayangkan
lagi, sebaliknya bila Li hujin yang berhasil mengungguli
seebun Giok-hiong, sudah pasti dia tak ingin masa
lalunya tersebar luas dalam dunia persilatan, berarti dia
tak akan membiarkan ibumu tinggalkan perkampungan
keluarga Hong-san, seperti juga nasib ibuku, sepanjang
hidup akan tersekap di sini."
"Benarkah itu?" seru Lim Han-kim tertegun-
"Tentu saja sungguh, Bila kita bisa mengubah tragedi
yang akan menimpa pertemuan puncak ini menjadi suatu

3273
pertemuan penuh kedamaian, bukan saja kita dapat
selamatkan umat persilatan dari kematian yang tak
berarti, semua pertikaian dari generasi tua kita pun bisa
dileraikan menjadi kebahagiaan sebaliknya jika senjata
yang berbicara, sudah pasti pertemuan ini akan berakhir
sangat mengerikan terlepas siapa menang siapa kalah,
yang ada hanyalah perebutan superior di antara sesama
umat persilatan."
Lim Han-kim berpikir sejenak, akhirnya dia
mengangguk "Benar juga perkataan nona."
"Mula-mula aku berhasrat membujuk Seebun Giokhiong
agar berubah pikiran, tak nyana tekadnya sudah
mengeras bagai baja, berarti kita harus tergantung pada
diri sendiri bila ingin mengubah situasi tersebut."
"Hanya mengandalkan kekuatan nona dan aku
berdua?"
"Mungkin saja kita masih mempunyai rekan yang satu
haluan, tapi apa bila kita tak mampu mengendalikan
situasi, sekalipun mereka punya haluan yang sejalan
dengan kita, toh tak akan kita peroleh bantuan nyata dari
orang-orang itu"
"Kalau begitu biar kucoba dengan sepenuh tenaga."
"Bayangkan selalu bahwa persoalan ini menyangkut
keselamatan ibumu, menyangkut pula keselamatanku
maka kau pasti bisa mempelajari ilmu tersebut dengan
sungguh hati."
"Tapi apa sangkut pautnya persoalan ini dengan
keselamatan nona?"

3274
"Siapa bilang tak ada sangkut pautnya? Bila kau bisa
memperlihatkan kehebatanmu dalam pertemuan puncak
nanti hingga situasi terkendali, berarti aku tak perlu
keluar tenaga, bila tenagaku tak tercecer artinya aku bisa
hidup dua tahun lebih lama."
"Sungguh?"
"Kapan sih aku pernah membohongimu? Cuma... aku
hanya bisa hidup dua tahun lebih lama..."
"Hahahaha... dua tahun pun sudah lebih dari cukup."
Lim Han-kim tertawa tergelak.
"Kau benar-benar serius ingin mengawini seorang
perempuan penyakitan macam aku sebagai istrimu?"
"Tentu Akan kumanfaatkan dua tahun ini dengan baik,
akan kucurahkan semua cinta kasihku padamu, biar
cuma dua tahun, aku sudah merasa puas sekali."
"Dua tahun akan lewat dengan begitu saja, bagaimana
selanjutnya?"
"Selanjutnya? Aku tetap akan mendampingimu..."
"Tapi aku kan sudah mati" Lim Han-kim tersenyum.
"Aku tahu, kau tak bakal mati, demi aku, kau pasti
akan berusaha untuk hidup terus, sekalipun kau benarbenar
mati, itu pun hanya ragamu yang pergi tinggalkan
aku, sedang suaramu, senyummu dan hatimu akan selalu
dan selamanya hidup dalam hatiku."
Senyum manis menghiasi wajah Pek si-hiang
mengiringi cucuran air mata kegirangan yang membasahi
pipinya, berbisik lirih:

3275
"Aku gembira... gembira sekali, tapi kegembiraan ini
mengingatkan aku pada penderitaan yang dialami Li
hujin, oleh karena itu aku harus mengatakan sesuatu
padamu."
"Soal apa?"
"Di kemudian hari, pabila kita berhasil menguasai
keadaan, terlepas penderitaan macam apa yang pernah
dialami ibumu, kita tak boleh bersikap kelewat keras
terhadap Li hujin"
Lim Han-kim menghela napas panjang.
"Baiklah, sampai waktunya aku tentu akan menuruti
semua permintaanmu."
"Bagus." Pek si-hiang tersenyum, "sekarang kau boleh
membuka kitab tersebut dan mulai membaca isinya."
Dengan wajah penuh keriangan Lim Han-kim
membuka kitab itu dan membaca isinya dengan
seksama.
Pek si-hiang duduk mendampingi di sisi-nya, ia begitu
lembut dan tenang menemani kekasihnya membaca.
Kitab itu sangat tipis, tak sampai sepenanak nasi
kemudian Lim Han-kim telah selesai membacanya.
"Minumlah dulu," bisik Pek si-hiang sambil
menyodorkan cawan teh, "istirahat sejenak sebelum kau
beritahu padaku bagaimana pandanganmu tentang ilmu
ini." Lim Han-kim menyambut cawan itu dan meneguk
isinya, kemudian baru berkata:
"Tulisan dalam kitab ini mempunyai makna yang
sangat mendalam, banyak bagian tidak kupahami."

3276
"Sekarang kau baru membaca sekali, tentu saja
artinya belum bisa kau tangkap dengan jelas, Coba
ulangi dua-tiga kali, pelan-pelan aku akan membantumu
untuk memberi penjelasan"
Sekali lagi Lim Han-kim membaca isi kitab tersebut
dari awal.
Begitulah, di bawah bujuk rayu Pek si-hiang, Lim Hankim
telah membaca ulang isi kitab itu sampai puluhan
kali.
Lambat laun dia mulai dapat menangkap maksud dari
tulisan tersebut dan menambah khazanah
pengetahuannya.
Mendadak Pek si-hiang menutup rapat kitab itu, lalu
katanya sambil tersenyum: "sekarang kau harus
menderita."
"Menderita apa?"
"Sekarang kau harus berada dalam kamar ini seorang
diri, semua pintu dan jendela akan kututup rapat, sedang
kau harus pusatkan pikiran untuk menelaah isi kitab
tersebut, bila menjumpai bagian yang tidak kau pahami
ulangi lagi mulai dari awal."
"Kalau tetap tidak mengerti?"
"Kau pasti bisa memahami banyak sekali."
"Baiklah, akan kucoba." Digenggamnya tangan Lim
Han-kim erat-erat, lalu bisik Pek si-hiang:
"Mulai sekarang kau harus berada dalam ruangan ini
seorang diri, selama dua belas jam tak boleh makan tak

3277
boleh minum, segenap pikiran dan perhatianmu harus
dicurahkan pada pelajaran silat."
"Dua belas jam akan lewat sekejap mata, apa artinya
untuk mempelajari suatu ilmu?"
"Dua belas jam kemudian aku akan datang lagi untuk
menjengukmu waktu itu kau tentu sudah hapal di luar
kepala seluruh isi kitab ini, meski ada bagian-bagian yang
mungkin tidak kau pahami, paling tidak kau sudah
mempunyai kesan yang mendalam terhadap kepandaian
itu. Nah, sampai waktunya kita bisa diskusikan bersama,
kau berlatih sambil mendengarkan penjelasanku Aku
yakin tujuh hari sudah lebih dari cukup bagimu untuk
menguasai kepandaian itu."
"Aku akan berlatih dengan sepenuh hati"
"Kalau begitu manfaatkan baik-baik waktu yang
tersedia."
Selesai bicara, gadis itu beranjak keluar sembari
merapatkan pintu ruangan.
Sesuai dengan petunjuk Pek si-hiang, dengan seksama
Lim Han-kim mulai mempelajari isi kitab itu.
Tujuh hari berlalu amat cepat, sesuai dengan janjinya,
hari itu Pek si-hiang muncul dalam ruangan dan memberi
dorongan semangat kepada anak muda itu untuk berlatih
lebih tekun.
Pada hari kedelapan, Lim Han-kim benar-benar sudah
hapal dengan ketiga jurus ilmu pukulan geledek serta
pedang sakti dunia jagat itu.

3278
Pek si-hiang ikut bergembira melihat keberhasilan
anak muda itu, katanya sambil tertawa:
"Walaupun tiga jurus pukulan geledek Thian-lui-samciang
serta ilmu pedang dunia jagat Cian-kun-it-kiam
merupakan ilmu maha tinggi yang luar biasa, namun
kepandaian tersebut termasuk juga ilmu yang paling
jahat dan ganas, untuk memiliki ilmu pemusnah
sedahsyat ini dibutuhkan seseorang dengan hati yang
bajik dan baik, kini walaupun kau berhasil menguasai
sebagian kecil kepandaian itu, namun tenaga dalam yang
kurang sempurna membuat daya pamungkas dari kedua
ilmu tersebut hanya mencapai delapan puluh persen,
oleh karena itu kau mesti manfaatkan setiap kesempatan
yang ada untuk berlatih diri"
Karena kelewat banyak bicara, gadis itu mulai
tersengal-sengal napasnya sambil bermandi keringat.
"Semuanya sudah kuingat," hibur Lim Han-kim cepat,
"Berapa hari belakangan ini kau turut tersiksa gara-gara
aku, sekarang tidurlah dan beristirahat sepuasnya."
"Dalam tujuh hari belakangan ini, beberapa kali Li
Tiong-hui mengutus anak buahnya mengundangmu ikut
menghadiri rapat umum dipendopo utama, tapi
semuanya telah kutolak, pagi tadi ia datang sendiri
kemari, katanya siang ini kau diminta hadir dipendopo
utama, dan aku telah mewakilimu menyanggupi
undangan tersebut sekarang tengah hari sudah tiba,
cepatlah kau bergabung dengan mereka"
"Ada rapat apa sih dipendopo utama?"

3279
"Paling banter membicarakan siasat untuk menghadapi
seebun Giok-hiong..." setelah berhenti sejenak, kembali
terusnya:
"Konon dalam berapa hari belakangan ini,
perkampungan keluarga Hong-san telah kedatangan
banyak jago, ditinjau dari hal ini, tampaknya
pertumpahan darah tak dapat dihindari lagi... Lim
siangkong, lebih baik rahasiakan sementara waktu kalau
kau telah mempelajari tiga jurus pukulan geledek dan
jurus pedang maut tersebut."
"Aku mengerti."
"Baiklah, sekarang kau boleh pergi, sedang aku pun
perlu beristirahat." selesai bicara, gadis itu beranjak
pergi.
Lim Han-kim segera tinggalkan gedung Teng-siong-lo
dan buru-buru menuju kependopo utama.
Waktu itu banyak orang sudah hadir dalam pendopo,
Li Tiong-hui dengan menempati kursi utama sedang
memperhatikan seluruh ruangan
Lim Han-kim dapat melihat di situ hadir pula Ciu
Huang, Hongpo Tiang-hong, ketua Cing-im-koan yaitu Ci
Mia-cu, Li Bun-yang, Hansi-kong dan jago-jago lainnya
Begitu melihat kehadiran pemuda itu, sambil manggutmanggut
seru Li Tiong-hui:
"Silakan duduk di sini saudara Lim"
Dengan langkah lebar Lim Han-kim menghampiri gadis
itu, betul juga lebih kurang tiga depa di sisi kiri Li Tionghui
terdapat sebuah bangku kosong, dia pun menempati
kursi tersebut.

3280
Beberapa saat kemudian Li Tiong-hui baru bangkit
berdiri, ditatapnya para jago sekejap kemudian baru
berkata:
"Apa pendapat kalian tentang usaha kita menghadapi
agresi seebun Giok-hiong?"
"Posisi kita sekarang ibarat menunggang di punggung
harimau, jadi pertarungan tak dapat dihindari lagi," kata
Ciu Huang setelah mendeham pelan, "Dari kawanan jago
pelbagai perguruan yang telah berkumpul di sini, kalau
bukan dipimpin oleh ketuanya sendiri, pasti mengutus
jagoan paling tangguhnya untuk membantu kita. Pertama
hal ini menunjukkan kesetiaan semua jago terhadap
ketuanya, kedua membuktikan juga bahwa semua umat
persilatan telah mengetahui situasi sebenarnya yang
berlangsung dalam dunia persilatan saat ini, seebun
Giok-hiong adalah sumber dari semua bencana dan
tragedi ini, demi keselamatan jiwa kita semua hanya ada
satujalan untuk kita tempuh yakni bertarung hingga tetes
darah penghabisan-"
"Betul," sambung Hongpo Tiang-hong pula, "Semua
yang kuundang untuk ikut menghadiri pertemuan puncak
ini telah menyanggupi untuk hadir tepat waktunya, ini
semua membuktikan bahwa persatuan masih ada dalam
hati kecil setiap umat persilatan, biar bagaimana pun
hebatnya ilmu silat seebun Giok-hiong, mustahil dia
sanggup melawan segenap kekuatan umat persilatan."
Mendadak terdengar dayang yang bertugas menjaga
pintu berseru lantang:
"Ketua siau-lim-pay dan ketua Bu-tong-pay tiba"

3281
Reputasi kedua partai besar ini cukup hebat dalam
dunia persilatan selama berapa ratus tahun terakhir,
sudah barang tentu pamornya juga luar biasa. serentak
para jago yang hadir bangkit berdiri untuk menyambut
kedatangan mereka.
Lim Han-kim coba memperhatikan keluar pendopo,
terlihat seorang padri dan seorang tosu muncul bersama
dari balik pintu.
Si padri mengenakanjubah lhasa berwarna kuning,
alisnya panjang tergantung di sisi mata, wajahnya angker
dan berwibawa.
Sebaliknya si tosu mengenakan jubah pendeta
berwarna hijau, jenggotnya panjang terurai sedada,
mukanya lonjong dan berwibawa.
Tampak pendeta berjubah kuning itu membalas
hormat para jago seraya berseru: "silakan duduk, silakan
duduk..."
Sedangkan si tosu memberi hormat kepada Li Tionghui
sambil katanya: "Maaf bila Bengcu harus menunggu
lama karena keterlambatan kami berdua."
"Silakan duduk Taysu, totiang" kata Li Tiong-hui.
Tosu itu manggut-manggut, ia menyapu sekejap
wajah para jago dan akhirnya menjura kepada Ciu Huang
sambil katanya: "Selamat berjumpa kembali pendekar
ciu"
"Selamat bertemu,"jawab Ciu Huang, "Tak kusangka
sebagai seorang ketua ternyata lotiang bersedia pimpin
sendiri anak buahmu untuk menghadiri pertemuan ini,
kehadiranmu sangat membantu moril kami semua."

3282
Hian- hok sangjin, ketua dari Bu-tong-pay itu segera
mengalihkan pandangannya ke wajah hwesio berjubah
kuning itu, sahutnya:
"Kalau aku sih memang khusus kemari untuk
menyelesaikan sedikit perselisihan di masa lampau,
justru kita harus bersyukur karena ketua siau-lim-pay Buhong
taysu yang jarang melakukan perjalanan dalam
dunia persilatan mau hadir sendiri di sini untuk
memimpin anak buahnya." Bu-hong taysu tersenyum.
"Pinceng memang wajib hadir dalam pertemuan ini
untuk memenuhi undangan dari Bengcu."
"Ucapan taysu kelewat serius," seru Li Tiong-hui.
sementara itu Lim Han-kim berpikir dalam hati:
"Tak kuduga sebagai seorang ketua siau-lim-pay yang
begitu tersohor, pendeta ini begitu rendah hati dan
bersahaja, betul-betul mengagumkan. Dari pintu gerbang
pendopo kembali terdengar suara dayang tadi berseru
lantang:
"Ketua Gobi-pay dan cing-shia-pay hadir"
Tampak dua orang pendeta setengah umur muncul
dari balik pintu gerbang langsung menuju ke tengah
pendopo.
Tak terlukis rasa girang Li Tiong-hui setelah melihat
partai-partai besar hadir dengan dipimpin langsung oleh
ketuanya, sambil memberi hormat serunya: "Silakan
duduk taysu berdua."
Dua orang hwesio itu berusia sekitar 50-an tahun,
seorang memakai jubah warna abu-abu, sedang lainnya

3283
berjubah hijau, setelah membalas hormat Li Tiong-hui,
masing-masing menempati tempat duduknya.
Ketika melihat semua tokoh penting telah hadir dalam
pendopo, Li Tiong-hui segera bangkit sambil berkata:
"Pengaruh besar yang ditimbulkan oleh bencana besar
kali ini sangat mempengaruhi situasi dunia persilatan
selama puluhan tahun berikut, aku berharap saudara
sekalian sudi mengemukakan pendapat masing-masing,
mari kita mencari cara yang paling tepat untuk
membendung serbuan musuh"
"Kami semua siap mengamankan dan melaksanakan
perintah Bengcu" seru Bu-hong taysu, ketua Siau-lim-pay
sambil bangkit berdiri.
"Taysu, Li Tiong-hui tak lebih hanya seorang wanita
lemah, berkat dukungan dari para jagolah aku terpilih
menjadi ketua Bu-lim, untuk dukungan ini aku merasa
berterima kasih sekali. Cuma, bencana besar yang kita
hadapi sekarang berpengaruh amat besar bagi
keselamatan seluruh umat Bu-lim, itulah sebabnya aku
amat butuh pendapat dan usul dari para tokoh senior."
"Bengcu tak perlu berendah hati lagi," ujar Thian
Ceng-cu, ketua Bu-tong-pay. "Tapi aku memang berniat
mengusulkan beberapa hal, harap Bengcu mau
memaklumi."
"Katakan saja pendapat totiang"
"Seebun Giok-hiong memiliki ilmu silat yang luar bisa,
ia datang dengan membawa seluruh inti kekuatan yang
dimiliki dengan satu tujuan yakni mencapai cita-citanya,
bisa dibayangkan pertarungan yang bakal berlangsung

3284
pasti amat sengit dan brutal. oleh sebab itu menurut
pendapatku, pada awal pertarungan nanti kita jangan
terlalu memforsir kekuatan kita dengan melakukan
pertarungan-pertarungan adu jiwa..."
Disapunya sekejap para jago dalam pendopo itu,
ketika melihat banyak di antara mereka manggutmanggut
tanda setuju, dia pun melanjutkan kembali
kata-katanya:
"ltulah sebabnya kuusulkan agar kekuatan kita dibagi
menjadi tiga sektor dengan masing-masing sektor
didukung oleh kekuatan inti kita untuk menghadapi
seebun Giok-hiong maupun beberapa orang jago lainnya,
bila salah satu sektor merasa tak kuasa membendung
serangan musuh, maka kekuatan mereka harus ditarik
mundur ke sektor kedua, demikian seterusnya, mulut
lembah Ban-siong-kok kita jadikan sektor pertama
sedang depan pendopo ini menjadi basis kekuatan
terakhir kita..."
"Bila sektor ketiga kita gelar di muka pendopo, apakah
hal ini tidak kelewat riskan, kelewat ke dalam?" tanya Ciu
Huang sambil bangkit berdiri.
"Aku telah pelajari situasi di seputar pendopo ini,
selain terdapat lapangan yang amat luas, jarak dengan
pepohonan pun cukup panjang, sehingga di antara
pohon-pohon bisa kita pakai untuk menyembunyikan
kekuatan kita, bisa pula digunakan untuk melangsun
pertempuran menurut pendapatku, bagaimana kalau Buhong
taysu dengan memimpin anak buahnya menggelar
sebuah barisan Lo-han-tin di muka pendopo tersebut
dengan menunggu kehadiran lawan yang menerobos ke

3285
sana, bila kawanan musuh itu terperangkap dalam
barisan maka jago-jago kita lainnya bisa melancarkan
serangan balasan, siapa tahu kita bisa menumpas habis
mereka di situ..."
"Sebuah ide yang cemerlang" puji Ciu Huang sambil
menggebrak meja. Thian Ceng-cu tersenyum, lanjutnya:
"Bila kekuatan musuh berhasil kita potong, maka
konsentrasi kita tinggal dicurahkan pada seorang saja,
yakni musuh utama kita." Li Tiong-hui berpaling ke wajah
Bu-hong taysu. "Bagaimana pendapat taysu?" tanyanya.
"Meskipun lolap telah membincangkan siasat ini
dengan Thian Cengcu totiang, tapi yang terutama adalah
bagaimana tanggapan dari ibumu tentang hal ini?"
"Benar," sambung Ciu Huang, "Maksud hati ibumu
sukar diduga, lebih baik Bengcu bicarakan dulu masalah
ini dengan ibumu." Kembali Lim Han-kim berpikir.
"Sejak kawin dengan Li Tong- yang, Li hujin tak
pernah tinggalkan bukit Hong-san barang selangkah pun,
tapi nyatanya kebesaran nama perempuan itu sudah
menyebar luas ke seantero jagad, nampaknya dia
memang sebutir mutiara terpendam." sementara itu
Thian ceng-cu telah berkata lagi:
"Bila Bengcu dapat menghadirkan ibu Anda kemari,
maka rencana tersebut dapat kita putuskan segera."
"lbu sudah berjanji akan turun tangan membantu,
tentu saja dia tak akan berpangku tangan belaka,
tentang kemunculannya, ia akan muncul pada saat yang
tepat hingga rasanya tak perlu mesti menghadiri rapat
ini, menurut pendapatku lebih baik kita membagi tugas

3286
seperti yang direncanakan biar ibuku yang menyesuaikan
diri kemudian."
"Bengcu," ujar Hongpo Tiang-hong tiba-tiba sambil
bangkit berdiri, "Ada beberapa masalah entah bolehkah
kusampaikan keluar?"
"Katakan saja Hongpo lo-enghiong" seru Li Tiong-hui
tersenyum.
"Menurut pendapatku, sebelum pertarungan paling
akbar ini digelar, lebih baik kalau kita beri kesempatan
lagi buat seebun Giok-hiong mengundurkan diri secara
terhormat, kita wajib tunjukkan kekuatan sesungguhnya
yang telah terhimpun sekarang agar dia tahu diri dan
membatalkan pertarungan tersebut."
"Bagaimana usulmu itu?"
"Menurut pandanganku, dari pada menghadangnya di
tengah jalan, lebih baik undang mereka semua datang
kemari, siapkan meja perjamuan kemudian sambil
pamerkan kekuatan kita berusaha membujuknya lagi
secara baik-baik agar ia sadar bahwa posisinya sudah
terjepit dan sangat berbahaya, seandainya tujuan seebun
Giok-hiong cuma pingin membalaskan dendam kematian
orang tuanya, beri kesempatan kepada orang-orang yang
terlibat langsung dalam peristiwa dulu untuk
menyelesaikan pertikaian mereka secara adil dan
terbuka, misalnya dalam penyelesaian tersebut ada di
antara mereka yang terluka di tangan seebun Giok-hiong,
hal ini pun sudah lumrah tapi urusannya bisa segera
dituntaskan, sebaliknya bila kita yang berhasil melukai
seebun Giok-hiong, aku yakin para pembantunya tak
akan berani bertindak gegabah apalagi dalam posisi

3287
tanpa seorang pimpinan, hanya tidak kuketahui
bagaimana pandangan Bengcu atas usulku ini?" Li Tionghui
tersenyum.
"Pendapat Hongpo lo-enghiong memang bagus sekali,
masih ada pendapat atau usul lain?"
Dari luar gerbang pendopo kedengaran suara teriakan
lantang berkumandang: "Dewa cebol Cu Gi tiba"
Lim Han-kim segera menyaksikan seorang lelaki cebol
yang mengenakan topi caping lebar berjalan masuk ke
ruang pendopo dengan langkah cepat.
Hampir semua jago yang hadir dalam ruangan saat itu
menaruh hormat kepada tokoh silat yang selama ini
nampak kepala tak nampak ekornya ini, serentak mereka
berdiri menyambut seraya memberi hormat.
Dengan langkah lebar Dewa cebol Cu Gi langsung
menuju ke tengah pendopo, lalu serunya kepada Li
Tiong-hui: "Eeei keponakanku dimana ibumu sekarang?"
"Mungkin saja masih dipendopo Tay-Yang-kek."
"Bagaimana kalau diundang kemari? Ada beberapa
urusan penting harus kubicarakan sendiri dengan
ibumu."
"Dapatkah locianpwee beritahukan padaku dulu?"
Menggunakan kesempatan di saat Li Tiong-hui sedang
bicara, si dewa cebol Cu Gi mengawasi sekejap seluruh
jago yang hadir dilain ruangan, setelah itu dia baru
berkata: "Tahu, siapakah Nyonya pedang patah hati?"
"Nyonya pedang patah hati? Rasanya pernah
kudengar ibu berbicara soal dia."

3288
"Selain nyonya pedang patah hati, seebun Giok-hiong
telah mengundang beberapa orang gembong iblis yang
sangat lihay untuk membantunya menyerang kita ..."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, dari luar
pendopo telah kedengaran seseorang sedang berseru
dengan nada berat: "Selama hidup aku tak pernah
menyebut namaku."
Cu Gi segera menghentikan pembicaraannya seraya
berpaling, tampak seorang kakek bermata satu yang
rambutnya telah memutih semua, dengan disertai
seorang gadis berbaju putih berkabung sedang
menyerbu masuk ke dalam ruangan dengan langkah
lebar.
Di antara sekian banyak jago yang hadir dalam
ruangan, hanya Lim Han-kim, Li Tiong-hui, Han si-kong
serta Li Bun-yang beberapa orang yang kenal dengan
orang ini, serentak mereka bangkit untuk memberi
hormat.
"Sang locianpwee..." sapa Li Tiong-hui sambil memberi
hormat
"Sang Lam-ciau?" gumam dewa cebol Cu Gi seraya
melirik kakek itu sekejap.
"Sang Lam-ciau sudah lama mati, aku adalah aku,"
tukas Sang Lam-ciau ketus.
"Kau bukan sang Lam-ciau?"
"Tak usah perduli siapa aku, kedatanganku kali ini
adalah untuk membantu kalian..."

3289
Sorot matanya dialihkan ke wajah Li Tiong-hui,
terusnya:
"Apa pun perintah Li Bengcu, akan kulaksanakan
semuanya tanpa menolak."
Keangkuhan dan sifat tinggi hati yang diperlihatkan
orang ini seketika membuat kawanan jago dalam
pendopo tertegun.
Li Tiong-hui cukup memahami perasaan hati kakek ini,
dia tahu kakek tersebut menyimpan rasa benci dan
dendam yang amat mendalam, karena itu katanya lagi
sambil memberi hormat: "silakan duduk locianpwee."
Setajam sembilu sorot mata sang Lam-ciau mengawasi
sekejap kawanan jago dalam ruangan, kemudian tanpa
banyak bicara ia melangkah maju ke tempat duduk yang
tersedia.
"Tunggu sebentar" hardik Dewa cebol Cu Gi mendadak
sambil melepaskan sebuah pukulan dengan tangan
kanannya.
Sang Lam-ciau memutar tangan kanannya
menyongsong datangnya serangan tersebut dengan
keras lawan keras. "Blaaaammm. . "
Menyusul terjadinya benturan keras itu,
menggelegarlah suara ledakan yang memekikkan telinga,
baik si Dewa cebol Cu Gi maupun kakek berjenggot putih
itu masing-masing tergetar mundur satu langkah. sambil
tertawa tergelak seru Dewa cebol Cu Gi:
"Hahahaha... ternyata memang saudara Sang, selamat
berjumpa" sembari bicara ia memberi hormat

3290
Sang Lam-ciau mendengus dingin "Hmmm, cebol Cu,
aku paling benci diajak bergurau, lebih baik hati-hati
sedikit tingkah lakumu."
Dewa cebol Cu Gi tersenyum dan tidak menggubris
sang Lam-ciau lagi, kepada Li Tiong-hui ujarnya lebih
jauh:
"Peristiwa ini tak boleh dianggap main-main, lebih baik
undang keluar ibumu."
"Soal ini... soal ini..."
"Semua orang gagah dari kolong langit telah
berkumpul di sini, masa ibumu masih jual lagak dengan
menampik untuk hadir di pertemuan im?" tegur Cu Gi
jengkel.
"Aku tak pernah mencampuri urusan ibuku"
"Cebol Cu" umpat sang Lam-ciau marah, "Kau
memang paling suka cari penyakit, Li Tiong-hui adalah
ketua Bengcu kita, segala sesuatunya kita wajib mentaati
perintahnya, apa sangkut pautnya masalah ini dengan Li
hujin?" Dewa cebol Cu Gi tertawa tergelak.
"Hahahaha... kau tahu, siapa saja yang telah
diundang, seebun Giok-hiong untuk menunjang
kubunya?"
"Siapa?"
"Thia sik-kong..."
"Berapa jurus toya angin puyuh milik Thia sik-kong
bukan suatu kepandaian yang terlalu hebat, kenapa
mesti ditakuti?"

3291
"Jangan keburu napsu, toh kata-kataku belum selesai
disampaikan selain Thia sik-kong masih ada lagi Nyonya
pedang patah hati."
"Nyonya pedang patah hati belum mampus?"
"Bukan saja belum mampus, malahan sudah
menerima undangan dari seebun Giok-hiong untuk
memperkuat kubunya."
"Sekalipun nyonya pedang patah hati ikut hadir, mau
apa dia?"
"Mungkin saja saudara sang mampu untuk
membendung keampuhan nyonya pedang patah hati.."
Belum sempat sang Lam-ciau menanggapi perkataan
itu, mendadak terlihat seorang dayang berlari masuk
dengan langkah tergesa-gesa sambil berteriak: "Nona..."
"Ada apa?" Li Tiong-hui berkerut kening.
"Di luar lembah Ban-siong-kok kedatangan
serombongan manusia yang menyebut diri sebagai
pangeran pedang, sebelum budak sempat memberi
laporan, rombongan tersebut sudah menyerbu masuk..."
"Mengapa tidak kalian halangi?"
"llmu silatnya amat tangguh, banyak sudah rekan
hamba yang terluka di tangannya, padahal hamba
sekalian mendapat perintah untuk tidak membalas,
karena itu terpaksa hamba menerjang masuk kemari
untuk memberi laporan."
"Dimana ia sekarang?"
"Sudah menyerbu masuk ke dalam lembah, sesaat lagi
mungkin sudah akan tiba di luar pendopo."

3292
"Ehmm, aku sudah tahu, kau boleh pergi sekarang."
Dayang itu segera mengundurkan diri dari ruangan.
sepeninggal dayang tadi, Dewa cebol Cu Gi berteriak
dengan marah:
"Kurang ajar, manusia macam apa yang begitu
bernyali, berani mengaku diri sebagai pangeran pedang?
"
"Putranya raja pedang tentu menyebut diri sebagai
pangeran pedang." Ciu Huang menjelaskan
Lim Han- kim yang mengikuti-jalannya pembicaraan
itu segera berpikir:
"Pangeran pedang pernah dikalahkan seebun Giokhiong
hingga menimbulkan rasa tidak puas dalam
hatinya, waktu itu ia sempat mengancam akan pulang ke
Lam-hay untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada
orang tuanya dan mengundang mereka untuk ikut
menghadiri pertemuan puncak ini, tapi... masa secepat
itu ia pulang ke Lam-hay dan muncul kembali di
daratan...?"
Sementara anak muda tersebut masih berpikir, suara
langkah manusia telah bergema memecahkan
keheningan, empat orang Busu berbaju perang lapis baja
telah muncul di ambang pintu pendopo.
Di belakang keempat Busu berbaju perang itu
mengikuti seorang pemuda tinggi besar yang berbaju
sangat perlente dan mewah.
Dalam sekilas pandangan saja Lim Han- kim dapat
mengenali kembali pemuda tinggi besar itu sebagai
pangeran pedang yang pernah dijumpainya tempo hari.

3293
Dengan angkuhnya pangeran pedang melangkah
masuk ke tengah ruang pertemuan, ditatapnya sekejap
seluruh hadirin, tapi ia segera tertegun setelah
menyaksikan beratus pasang mata sedang
mengawasinya dengan pandangan tajam, dalam sekilas
pandang saja ia sudah tahu bahwa kebanyakan jago
yang hadir dalam ruangan ini memiliki tenaga dalam
yang amat sempurna.
Tanpa sadar timbul rasa keder di hati kecilnya, dengan
sendirinya sikap angkuh dan jumawanya pun ikut luntur
sebagian.
Sambil tertawa dingin seru Li Tiong-hui: "Pangeran
pedang, kenapa tidak memberi hormat setelah berjumpa
denganku?"
Pangeran pedang mengawasi Li Tiong-hui sekejap
ketika dilihatnya gadis muda belia itu ternyata duduk di
bangku utama, tanpa terasa tegurnya balik: "Apa sih
kedudukan nona Li di sini?"
"Tentu saja Bu-lim Bengcu saat ini" bentak Han Sikong
penuh amarah. Sekali lagi pangeran pedang dibuat
tertegun tatkala menjumpai beratus pasang mata yang
mengawasinya memancarkan hawa amarah yang
meluap, buru-buru ia memberi hormat:
"Pangeran pedang menjumpai Bengcu." Biarpun
perawakan badannya tinggi besar, namun caranya
berbicara masih kekanak-kanakan.
"Cepat benar kehadiranmu di sini," tegur Li Tiong-hui
lagi, "Apa ayah ibumu turut datang?"

3294
"Yaa, di tengah jalan pulang ke rumah aku telah
bertemu dengan perahu yang ditumpangi orang tuaku,
maka aku pun balik kemari secepatnya."
"Ayahmu turut datang?"
"Aku disuruh berangkat duluan tapi orang tuaku
segera menyusul, paling cepat besok paling lambat tiga
hari lagi, mereka semua pasti sudah tiba di sini."
"Sebutan ayahmu adalah . . ." sela Dewa cebol Cu Gi.
"Aku menyebut diriku sebagai pangeran pedang, tentu
saja ayahku adalah raja pedang,"
"Yang kutanyakan siapa namanya, masa dia bermarga
Kiam dan bernama Ong?"
"Seorang anak tak boleh menyebut nama orang
tuanya secara sembarangan, sekalipun kutahu siapa
nama ayahku, namun tak akan kuucapkan sembarangan
"
"Kalau kupaksa untuk berbicara juga?" ancam Dewa
cebol Cu Gi gusar.
"Siapa sih kamu ini? Berani amat bersikap kurang ajar
padaku?"
"Sialan, bapakmu pun belum tentu berani bicara kasar
padaku, kau si bocah ingusan kemarin sore berani
berkoar-koar seenaknya, sudah bosan hidup
nampaknya?"
"Cebol jelek. monyet bertubuh kerdil, kau sendiri yang
sudah bosan hidup,.." balas pangeran pedang tak kalah
gusarnya.

3295
Selesai bicara ia segera memberi tanda, dua orang
Busu berbaju perang itu serentak menerjang Dewa cebol
Cu Gi dengan sebuah serangan yang dahsyat.
Dewa cebol Cu Gi tertawa dingin, dia rentangkan
sepasang tangannya melepaskan pukulan gencar.
Tidak kelihatan bagaimana caranya mengerahkan
tenaga, tahu-tahu dua orang Busu itu sudah mendengus
tertahan, mundur tiga langkah sambil mendekap
dadanya lalu terbongkok- bongkok menahan sakit.
BAB 52. Saling Mengatur formasi
Cukup lama sudah Dewa cebol Cu Gi malang
melintang dalam dunia persilatan, selama ini dia
ibaratnya seekor naga sakti yang nampak hidungnya tak
kelihatan ekornya, setiap orang tahu bahwa ilmu silatnya
amat tangguh, namun amat jarang orang melihat
bagaimana cara dia merobohkan musuhnya.
Maka setelah melihat cara pendekar cebol ini
merobohkan kedua orang musuhnya yang mengenakan
pakaian lapis baja hanya dengan sekali sodokan, bahkan
mengakibatkan lawannya luka parah, serentak para jago
tertegun dibuatnya.
Dalam hati pangeran pedang sangat terkejut
bercampur ngeri setelah melihat kedua orang Busunya
roboh hanya dalam satu gebrakan saja, meski begitu
namun demi gengsi dan harga dirinya ia pantang
mengaku kalah dengan begitu saja. seraya meloloskan
pedangnya ia balas membentak:

3296
"Sebutkan dulu siapa namamu, aku tak sudi melukai
seseorang yang tak punya nama."
"Bagus," jengek Dewa cebol Cu Gi sambil tertawa
dingin, "Biar kuberi pelajaran dulu padamu sebelum
membuat tuntutan kepada bapaknya."
Sang Lam-ciau yang selama ini hanya mem-bungkam,
tiba-tiba melompat ke depan menghadang di muka
kedua orang itu sambil tegurnya dingini
"Hey, kehadiran kamu semua di sini demi menyokong,
Li Bengcu atau ingin pamer kekuatan saja?"
"Bocah sialan ini kelewat tengik lagaknya, kalau tak
diberi pelajaran tak enak rasanya hatiku," omel Dewa
cebok.
"Kalau urusan sepele tak bisa ditahan, masalah besar
akan berantakan jadinya, kau si cebol toh sudah cukup
lama berkelana dalam dunia persilatan, masa prinsip
macam ini pun tidak kau pahami?"
Terhadap orang lain sikap Dewa cebol Cu Gi selalu
angkuh, tinggi hati dan enggan memberi muka kepada
siapa pun, hanya terhadap sang Lam-ciau dia sanggup
bersabar dan menahan diri
Teguran itu ternyata tidak membuatnya marah atau
berbalik mengajak sang Lam-ciau ribut, setelah
mendeham beberapa kali sahutnya:
"Betul juga ucapan saudara sang" Kepada pangeran
pedang segera serunya sambil tertawa dingini
"Sebagai seorang tua aku tak sudi ribut dengan
kurcaci macam kau, baiklah, saat ini aku tak akan ribut

3297
dulu, biar kubuat perhitungan ini dengan bapakmu
nanti."
"Bagaimana menurut mendapatmu?" sang Lam-ciau
mengalihkan mata tunggalnya kepada pangeran pedang.
Pelan-pelan pangeran pedang sarungkan kembali
pedangnya:
"Aku memang bukan orang yang suka mencari garagara,"
katanya.
Begitulah, pertarungan yang nyaris meledak dapat
dilerai dan diredakan hanya dengan sepatah dua patah
kata Sang Lam-ciau.
Setelah suasana mereda dan menjadi tenang kembali,
Li Tiong-hui baru menatap tajam pangeran pedang itu
sambil menegur. "Pangeran pedang, apa maksudmu
datang kemari?"
"Aku berniat turut menghadiri pertemuan para jago ini
sambil menambah pengetahuanku tentang orang-orang
daratan-"
"Berarti kau ingin memusuhi kami?"
"Tidak, sama sekali tidak."
"Sebagai musuh atau teman memang sukar dipastikan
sebelum kehadiran ayahmu di sini." Lim Han-kim yang
duduk di sisi gadis tersebut segera berbisik:
"Sebagai seorang Bu-lim Bengcu yang memimpin
dunia persilatan, kau harus tunjukkan sikap dewasa
seorang pemimpin, terlepas apa pun tujuan utama
kedatangannya, kau wajib menyediakan tempat duduk
baginya."

3298
Li Tiong-hui termenung berpikir sebentar setelah
mendengar ucapan itu, katanya kemudian-
"Pangeran pedang, aku tak mau tahu apa maksud
kedatanganmu yang sebenarnya, tapi setelah muncul
dalam perkampungan Hong-san ini, selayaknya kulayani
kau sebagai seorang tamu, silakan duduk."
Pangeran pedang menoleh memandang seputar
ruangan sekejap. kemudian baru ambil tempat duduk.
Sesaat kemudian Li Tiong-hui baru berkata lebih jauh:
"Gara-gara yang terjadi barusan telah memotong
pembicaraan Cu locianpwee yang belum selesai, silakan
kau lanjutkan pembicaraanmu tadi."
"Bila ibumu enggan menampakkan diri di sini,
percuma kuutarakan kata-kataku itu." Li Tiong-hui
melengak dan tak tahu bagaimana harus menanggapi
perkataan itu,
Sementara ia dibuat serba salah, mendadak terlihat
olehnya ibunya dengan mengenakan baju serba putih
dan berwajah dingin membeku muncul di pintu pendopo.
Melihat itu buru-buru serunya:
"lbuku sudah datang, bila locianpwee ingin
menyampaikan sesuatu, katakan sekarang."
Dewa cebol Cu Gi berpaling memandang Li hujin
sekejap. lalu sapanya: "selamat berjumpa"
"Ada urusan apa kau bersikeras ingin bertemu
denganku?" tegur Li hujin dingin.

3299
"Entah dari mana seebun Giok-hiong mendapat tahu
tentang nyonya pedang patah hati, ia berhasil
mengundangnya untuk mendukung kubunya."
"Berita ini sudah kuketahui sejak kemarin."
"Siapa yang beritahu padamu?"
"Siapa pun orangnya toh sama saja"
Dewa cebol Cu Gi berkerut kening, kembali katanya:
"Semenjak kematian Li Tong- yang, belum pernah
nyonya tampilkan senyuman barang sekejap pun, hal ini
membuat kawan-kawan lama perkampungan Hong-san
tak berani mengunjungi tempat ini lagi."
"Hanya beberapa patah kata itu saja?" sela Nyonya Li
ketus.
"Dengan susah payah kutempuh perjalanan sejauh
ribuan li hanya untuk menyampaikan berita tersebut, tak
nyana nyonya telah mengetahuinya lebih dulu."
Setajam sembilu Li hujin menatap wajah Cu Gi lalu
beralih ke wajah Ciu Huang, kemudian ujarnya menahan
geram:
"Seandainya dia tidak kenal dengan teman-teman
macam kalian, mungkin hingga kini masih hidup segar di
dunia ini."
Selesai berbicara dia balik badan dan berlalu dengan
langkah lambat.
"Tunggu sebentar ibu" seru Li Tiong-hui cemas.
"Ada apa?" Li hujin berhenti seraya berpaling.

3300
"Semua jago dari pelbagai partai yang hadir di sini
menaruh rasa hormat kepada ibu, harap ibu mau tetap
tinggal di sini sambil membicarakan strategi berikut."
"Hmmm, sudah kelewat banyak masalah yang kau
berikan padaku, apakah itu belum cukup?"
Ketika menjumpai pangeran pedang duduk di situ, ia
segera menegur: "siapa orang ini?"
"Pangeran pedang . "
Agak berubah paras muka Li hujin, tapi hanya
sebentar dan segera pulih kembali dalam ketenangan,
katanya dingin:
"Kau menyebut diri sebagai pangeran pedang,
bapakmu tentu orang yang menyebut diri sebagai raja
pedang?"
"Benar, ayahku memang raja pedang "pangeran
pedang mengangguk.
Sekilas hawa napsu membunuh melintas di wajah Li
hujin yang serius, katanya lagi:
"Ayahmu juga berniat turut hadir dalam pertemuan
puncak ini?"
"Benar, ayah dan ibuku akan segera menyusul
kemari."
"Bagus sekali" Tanpa memperdulikan pangeran
pedang lagi, ia meneruskan langkahnya meninggalkan
ruangan.
Sepeninggal Li hujin, Sang Lam-ciau baru berseru
kepada Dewa cebol Cu Gi dengan suara dingin:

3301
"Hei cebol, Li hujin sudah muncul, kesimpulan apa
yang telah kau peroleh?"
"Aaaai... sepeninggal Li Tong-yang, sifat Li hujin makin
berubah aneh dan nyentrik."
"Menurut pendapatku, apabila semua jago yang hadir
dalam pendopo ini mau berjuang dengan keberanian
penuh, aku yakin kekuatan kita masih sanggup
membendung serbuan dari seebun Giok-hiong ..."
Sorot matanya dialihkan ke wajah Li Tiong-hui,
kemudian terusnya:
"Li Bengcu, ada beberapa patah kata perlu
kukemukakan sebelumnya daripada kalau sudah tiba
saatnya."
"Katakan saja locianpwee."
"Maksudku datang kemari membantumu hari ini bukan
dikarenakan kau adalah seorang Bengcu maka aku
bersedia menolongmu, perduli siapa kau dan apa
kedudukanmu, semuanya tak ada sangkut pautnya
dengan aku. sesungguhnya sudah lama aku pensiun,
kehadiranku sekarang tak lain karena ingin mewujudkan
pesan terakhir majikanku.
Dalam anggapanku, kau masih tetap seorang ketua
dari perkumpulan Hian-hong-kau, oleh karena itulah aku
hadir dengan membawa semua inti kekuatan dari
perkumpulan tersebut..."
"Soal ini aku mengerti." Li Tiong-hui manggutmanggut,

3302
"Lebih baik tahu sejak dini, jadi dalam mengatur
kekuatan nanti, kau bisa bertindak sebagai seorang ketua
perkumpulan Hian-hong-kau yang memerintah anak
buahnya."
"Aku amat bersyukur dengan kesediaan locianpwee
untuk menyumbangkan kekuatannya bagi kami."
Berkilat mata tunggal Sang Lam-ciau, setelah tarik
napas sejenak. terusnya lagi:
"Kini kau sudah menjadi ketua dari dunia persilatan
artinya sudah tak ada waktu lagi untuk mengurusi
masalah perkumpulan Hian-hong-kau, sedang aku pun
sudah putus asa dan tak bersemangat semenjak
kematian majikanku dulu, karenanya bila bencana besar
ini sudah lewat, perduli tinggal berapa jago Hian-hongkau
yang masih hidup, kau mesti umumkan pembubaran
perkumpulan ini kepada khalayak ramai, sebab sebagai
seorang ketua partai, hanya kau yang berhak untuk
melakukan hal ini."
"Baik, akan kulaksanakan keinginan locianpwee itu."
Sang Lam-ciau tidak banyak bicara lagi, ia pun
mengundurkan diri dan duduk membisu.
Pelan-pelan Li Tiong-hui menyapu sekejap wajah para
jago dengan pandangan lembut, lalu ujarnya:
"Masih adakah di antara saudara sekalian yang ingin
mengemukakan pendapat? silakan dikemukakan"
Ketika pertanyaan yang diulang beberapa kali tidak
peroleh tanggapan, ia pun berkata lebih lanjut dengan
lantang:

3303
"Adakah di antara saudara sekalian yang enggan
menuruti perkataanku karena menganggap aku Li Tionghui
terlalu muda dan tak pantas menghadapi masalah
besar? Bila ada di antara kalian yang mempunyai
pendapat begitu, silakan kemukakan sekarang juga."
Para jago saling bertukar pandangan, sampai lama sekali
tak ada yang menanggapi
"Baiklah," kata Li Tiong-hui kemudian, " Kalau
memang saudara sekalian begitu menganggap tinggi
diriku, biar kututup rapat hari ini hingga di sini dulu, Beri
waktu kepadaku untuk menganalisa pendapat dan usul
dari Anda sekalian tadi, bila sudah kuatur suatu
perencanaan matang, rapat pasti akan kuadakan lagi."
Suasana dalam sidang tetap hening, semua perhatian
hadirin tercurah ke wajah Li Tiong-hui, sampai lama
sekali belum ada yang buka suara. sambil tersenyum Li
Tiong-hui berkata lagi.
"Kini musuh tangguh telah di depan mata, aku
berharap kita bisa menggalang persatuan dan kerja sama
yang erat untuk bersama-sama menanggulangi serbuan
musuh, untuk pelayanan yang kurang sempurna dari
perkampungan kami, aku mohon maaf yang sebesar-nya,
maklum kekuatan kami amat minim."
Kemudian sambil berpaling ke arah Li Bun-yang,
tambahnya:
"Jika saudara sekalian membutuhkan sesuatu, hubungi
saudaraku"
Selesai bicara ia beranjak dari tempat duduknya dan
keluar dari ruang pendopo.

3304
Sebelum berangkat menghadiri rapat tadi, Lim Hankim
telah menerima pesan dari Pek si-hiang yang minta
kepadanya agar tidak menjumpai ibunya sementara
waktu sampai see-bun Giok-hiong datang menyerbu,
meski ia sangat gelisah dan tak tenang, namun anak
muda tersebut enggan melanggar pantangan tersebut
karenanya sambil menahan gejolak hatinya ia tinggalkan
ruang pendopo dan langsung menuju bangunan Tengsiong-
lo.
Pek si- hiang sudah menanti di mulut tangga, ketika
melihat pemuda tersebut muncul di sana, segera
sapanya sambil tertawa: "Apa yang diputuskan Li Tionghui?"
"Hingga kini belum ada orang yang mengetahui
rencananya, tapi bila dilihat dari sikap-nya, rupanya ia
sudah mempunyai perencanaan yang matang."
"Minumlah teh dulu," kata Pek si-hiang sambil
menyodorkan secawan teh dan duduk di sisinya, "
istirahat sejenak sebelum menceritakan semuanya
kepadaku."
Lim Han- kim meneguk air teh itu setegukan kemudian
secara ringkas menceritakan kembali apa yang dilihat
dan didengarnya dalam ruang pendopo tadi.
Dengan sabar Pek si-hiang mendengarkan penuturan
itu hingga selesai, kemudian baru katanya sambil
tersenyum:
"Rupanya Li Tiong-hui mempunyai pendirian dan
pandangan sendiri, ia ingin menegakkan wibawanya
sebagai seorang Bengcu" setelah berhenti sejenak.
kembali lanjutnya:

3305
"Sekilas pandang, situasi saat ini begitu tenang dan
damai, padahal kekalutan yang terjadi luar biasa sekali,
kekacauan yang membuat pertemuan puncak ini berubah
menjadi sebuah ajang pertarungan phisik maupun akal."
Setelah menarik napas panjang, katanya lagi sambil
tertawa:
"Kekasih Lim, manfaatkan baik-baik sisa waktu yang
ada untuk mendalami ketiga jurus ilmu pukulan geledek
dan pedang sakti jagad dunia itu, aku ingin
penampilanmu dalam pertemuan puncak nanti
mengejutkan semua orang, agar kekuatan sejati yang
memimpin dunia persilatan bergeser kembali dari tangan
seorang wanita ke tangan seorang pria."
Lim Han- kim menggerakkan bibirnya seperti ingin
mengucapkan sesuatu, tapi segera dicegah Pek si-hiang
dengan goyangan tangannya.
"Tidak usah banyak tanya," tukasnya, "Lebih baik
pusatkan semua pikiranmu untuk melatih diri, tak usah
cabangkan pikiran untuk memikirkan urusan lain"
"Aku bersedia mengikuti petunjukmu," kata Lim Hankim
tersenyum.
"Tentu saja harus menuruti kata-kataku, aku toh
sudah menjadi istrimu, masa ada seorang istri ingin
mencelakai suaminya?"
Waktu berlalu amat cepat, selama beberapa hari ini
Lim Han- kim mengurung diri dalam ruangan dan
pusatkan segenap perhatiannya untuk melatih ilmu sakti
tersebut.

3306
Hari ini, ketika fajar baru menyingsing Pek si-hiang
sudah muncul sambil menyapa: "Bagaimana hasil
latihanmu kekasih Lim?"
"Rasanya sih ada kemajuan yang cukup pesat"
"Sangat bagus, hari ini mungkin kau harus pamerkan
kebolehanmu itu di depan umum."
"Jadi pertemuan puncak akan dibuka hari ini?"
"Benar, dan tampaknya rasa percaya diri Li Tiong-hui
tumbuh semakin kuat selama beberapa hari ini."
"Kenapa?"
"Sebab ia tidak mengunjungi diriku lagi."
Dengan pandangan yang tajam Lim Han- kim
mencoba mengamati wajah Pek si-hiang, terlihat olehnya
cahaya semu merah memancar dari balik wajahnya yang
pucat, kelihatannya kesegaran gadis itu lebih prima,
karenanya sambil tertawa serunya: "Kelihatannya
kesehatanmu bertambah baik belakangan ini..."
"Yaa, memang jauh lebih sehat..."
Gadis itu berhenti sejenak. kemudian melanjutkan:
"Walaupun kepandaian silatmu mengalami kemajuan
pesat, tidak banyak orang yang mengetahui hal ini, Li
Tiong-hui juga tak akan terlalu menghargai
kemampuanmu, tak nanti ia serahkan tugas penting
untukmu."
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"lkuti saja ke mana pun dia pergi, bila keadaan tidak
memaksa, jangan sembarangan turun tangan"

3307
"Baik, pesan nona akan selalu kuingat." Lim Han- kim
manggut-manggut. Keluar dari pintu kamar, tiba-tiba
pemuda itu berpaling lagi sambil bertanya: "Bagaimana
dengan nona sendiri?"
"Aku pasti akan muncul pada saat yang paling tepat,"
sahut Pek si-hiang tertawa, "Pergilah, tak usah urusi aku"
"Kau mesti baik-baik jaga diri," pesan Lim Han- kim
serius.
"Aku pasti akan merawat diriku baik-baik,"
Lim Han- kim manggut-manggut dan menuruni anak
tangga dengan langkah lebar.
Keluar dari Teng-siong-lo, ia langsung berangkat
menuju ke ruang pendopo.
Sepanjang perjalanan suasana amat hening dan tak
nampak seorang manusia pun, bahkan para dayang yang
selama ini dipersiapkan untuk menjaga di sekitar tempat
itu pun telah ditarik mundur semua.
Tiba di ruang pendopo ia baru saksikan hampir semua
orang telah berkumpul di sana, ruangan yang begitu
lebar kini terasa penuh sesak hingga nyaris tak ada
ruang kosong.
Secara berurut dari sebelah kiri duduk Ciu Huang,
menyusul kemudian Tan Ceng-poo, ketua Kun-lun-pay
Kim-hud totiang, si naga botak siang Kiam dan Nenek
naga berambut putih dan dua manusia aneh Thian- lam,
Hong-po Tiang- hong, Kim Nio-nio, Phang Thian-hua, Ci
Mia-cu dan lain-lain.

3308
Sedang berada di deretan sebelah kanan dikepalai Li
Bun-yang, menyusul kemudian Han kong, Hongpo Lan
dan puluhan lagi jago dari generasi yang lebih muda.
Meski Lim Han- kim tidak kenal dengan para jago itu
satu persatu, namun dia tahu mereka pastilah kawanan
jago yang menonjol atau punya nama di masing-masing
daerahnya.
Yang tak nampak dalam ruangan tersebut adalah
jago-jago dari siau-lim-pay, Bu-tong-pay, jago-jago di
bawah pimpinan sang Lam-ciau serta rombongan dari
pangeran pedang.
Tampaknya semua orang sedang menantikan sesuatu,
paras muka mereka nampak serius dan tegang, suasana
hening dan tak kedengaran sedikit suara pun.
Lim Han- kim mengawasi sekejap suasana dalam
ruang pendopo, kemudian pelan-pelan berjalan menuju
ke deretan sebelah kanan-Hongpo Lan segera menggeser
duduknya sambil berbisik "Cepat kemari saudara Lim,
sebentar Bengcu akan tiba"
Lim Han- kim berpikir sejenak, lalu berjalan mendekat
dan mengambil urutan di antara Han si- kong serta
Hongpo Lan.
Tak lama Lim Han-kim menempatkan diri-nya, dengan
langkah berwibawa Li Tiong-hui sudah muncul di dalam
ruangan.
Ia muncul dikawal Yu Siau-liong di sebelah kiri dan
Tui-im, dayang pribadi Li hujin yang membawa sepasang
pedang di sebelah kanan.

3309
Sementara empat manusia buas dari sin-ciu yaitu si
Dewa buas, iblis jahat, setan gusar dan sukma murung
dengan menggembel senjata masing-masing mengiringi
dari belakang. Melihat formasi tersebut, diam-diam Lim
Han- kim memuji: "sungguh berwibawa... benar-benar
hebat."
Li Tiong-hui sudah tukar pakaiannya waktu itu, dia
mengenakan baju ringkas berwarna hijau dikombinasi
dengan sebuah mantel luar berwarna hitam, gagang
pedangnya yang menongol keluar dari balik mantel dihias
pula dengan pita kuning yang berkibar ketika tertiup
angin.
Dengan pandangan berwibawa dia menyapu sekejap
seluruh hadirin dalam ruangan, lalu serunya:
"Maaf Anda semua harus lama menunggu."
"Menjumpai Bengcu" seru para jago serentak sambil
memberi hormat. Li Tiong-hui balas memberi hormat.
"Saudara-saudara sekalian," ujarnya kemudian,
"Apakah dunia persilatan kita bakal dikuasai kaum sesat
atau tidak di kemudian hari, semuanya tergantung
bagaimana kita mengantisipasi pertempuran yang bakal
berlangsung hari ini, aku berharap saudara sekalian mau
menjalin kerja sama yang baik dan bahu membahu
menghadapi musuh kita nanti."
"Kami semua pasti akan taat pada perintah Bengcu,"
sahut para jago serentak. Li Tiong-hui memandang cuaca
di luar, lalu katanya lagi:
"Sebentar Seebun Giok-hiong akan muncul di sini,
mumpung masih ada waktu, bila ada di antara kalian

3310
yang enggan terlibat dalam pertikaian ini dan berniat
menarik diri, manfaatkan kesempatan baik ini sekarang
juga." Kembali Lim Han- kim berpikir
"Kelihatannya Li Tiong-hui sudah mempersiapkan
segala sesuatunya secara matang."
Belum habis ingatan tersebut melintas, dari luar
pendopo sudah berkumandang suara teriakan seseorang:
"seebun Giok-hiong tiba"
"Aku tahu," sahut Li Tiong-hui sambil ulapkan
tangannya, kepada para jago ia berseru:
"Kita tak boleh bersikap kurang hormat terhadap tamu
kita, mari kita sambut bersama kedatangannya . "
Sambil berkata, ia berjalan meninggalkan ruangan.
Tui-im dan Yu siau-liong menempel ketat di sisi kiri
kanan gadis itu, sedangkan para jago menyusul di
belakangnya.
Ketika tiba di lembah Ban-siong-kok, tampak seebun
Giok-hiong telah menanti di mulut lembah.
Hari ini, seebun Giok-hiong muncul dengan
mengenakan pakaian ringkas pula, sepasang pedangnya
digembol di punggung, sementara ikat pinggang terbuat
dari kulit ular hijau melilit di pinggangnya, di sana
tersoren pula sebaris pedang pendek. Li Tiong-hui segera
memberi hormat seraya berseru: "Bila kedatangan kami
agak terlambat, harap cici sudi memaafkan."
Menggunakan kesempatan ketika berbicara ia awasi
seputar tempat itu, terlihat di belakang seebun Giokhiong
mengikuti empat orang dayang, keempat orang itu

3311
semuanya membopong sepasang pedang di
punggungnya, sementara di kejauhan terlibat puluhan
bayangan manusia sedang menunggu.
Terdengar seebun Giok-hiong menjengek sambil
tertawa dingini
"Li Bengcu, kau tak usah berbicara manis lagi, kita
datang sebagai musuh yang saling berhadapan aku rasa
bujuk rayu atau kata-kata manis singkirkan saja jauhjauh."
"Bagaimana pun juga aku tetap tuan rumah di sini,
tidak baik aku bersikap kurang sopan terhadap tamuku,
silakan cici, mari kita masuk ke dalam lembah untuk
minum teh."
"Oya?Jadi kau sudah siapkan perjamuan yang
beracun?"
"Cici tak perlu menyindir, aku hanya siapkan sedikit
arak dan beberapa cawan air teh untuk menyambut
tamu-tamuku."
"Kau hanya mengundangku seorang atau
mengundang seluruh orang yang kuajak kemari hari ini?"
ejek seebun Giok-hiong lagi sambil melirik ke belakang
sekejap.
"Biarpun perkampungan keluarga Hong-san letaknya
terpencil di atas bukit, namun kami cukup persediaan
untuk menjamu tamu yang datang, berapa banyak pun
pengikut yang cici bawa, kuundang semuanya untuk
minum arak."
"Hmmm, kelihatannya Li Bengcu cukup supel."

3312
"Memang sewajarnya begitu, silakan masuk nona
seebun"
Dengan pandangan dingin seebun Giok-hiong
menyapu sekejap para jago di belakang Li Tiong-hui,
kemudian katanya:
"Dari mulut lembah sampai ruang pendopo
perkampungan kalian berjarak cukup jauh, lagipula harus
melewati banyak tempat yang strategis, kau tidak
merasa bahwa tindakanmu mengundang kami masuk ke
tengah lembah adalah suatu tindakan yang teramat
bodoh?"
"ltu mah tak perlu cici risaukan."
"Jadi kau nekat ingin mengundang kami semua?"
"Benar"
seebun Giok-hiong sebera tertawa dingin:
"Hmmm, ingin kulihat siasat busuk apa yang telah
direncanakan Pek si-hiang untuk menjebakku..."
Kepada dayang di sebelah kirinya ia berseru:
"Undang mereka semua untuk masuk lembah, katakan
Li Bengcu sudah siapkan perjamuan untuk mereka."
Dayang itu menyahut dan segera berlalu.
Pelan-pelan Seebun Giok-hiong berjalan menghampiri
Li Tiong-hui.
Dengan gerakan cepat ciu Huang menghadang di
depan Li Tiong-hui sambil bentak-nya:

3313
"Dengan maksud baik Li Bengcu mengundang kalian
minum arak, aku harap nona Seebun bersikap lebih
sopan."
"Minggir kamu" hardik Seebun Giok-hiong sesudah
mengamati Ciu Huang sekejap.
"Semasa masih berkelana dalam dunia persilatan dulu,
ayahmu tersohor karena kelicikan, kebuasan dan
kekejaman hatinya, jadi kami harus selalu bersikap
waspada terhadap nona."
Tiba-tiba Seebun Giok-hiong mencabut keluar sebilah
pedang pendek dari ikat pinggangnya, kemudian
katanya:
"Misalnya aku ingin membunuh Li Tiong-hui sekarang,
aku yakin kau tak bakal mampu melindungi keselamatan
jiwanya."
Diam-diam Ciu Huang menghimpun tenaga dalamnya
bersiap sedia, sambil mengawasi pedang pendek di
tangan perempuan itu ia mendengus:
"Aku tak tahu nona memiliki kepandaian tangguh
seperti apa itu, meski diriku tak becus, aku bersedia
menjajal kehebatanmu."
"Akan kusuruh kau saksikan sampai dimana kehebatan
yang kumiliki..." kata seebun Giok-hiong sambil
mempersiapkan pedang pendeknya.
Sementara itu semua jago yang hadir dalam lembah
tidak mengetahui permainan busuk apa yang sedang
dipersiapkan seebun Giok-hiong, setiap orang
meningkatkan kewaspadaan masing-masing dan bersiap
sedia menghadapi segala kemungkinan.

3314
Mendadak seebun Giok-hiong menggetarkan lengan
kanannya, dengan cepat pedang pendek itu melesat ke
tengah udara setinggi tiga kaki lebih, kemudian seakanakan
kehabisan tenaga, pedang tadi segera meluncur
balik ke bawah.
Berkerut kening para jago yang hadir setelah
menyaksikan pertunjukan itu, pikir mereka:
"Permainan apaan ini, meski orang awam yang tak
berkepandaian pun sanggup untuk melakukan permainan
macam itu."
Terlihat cahaya tajam berkelebat kembali di udara, kali
ini ada dua bilah pedang pendek yang meluncur ke
depan dan tepat menghantam di atas pedang pendek
yang jatuh hampir mencapai tanah tadi.
Benturan yang terjadi kali ini seketika mewujudkan
suatu perubahan yang sangat aneh.
Di kala pedang pendek yang pertama sudah rontok
hampir dua kaki ke arah tanah, begitu terhajar pedang
pendek kedua seketika melejit kembali ke udara dan
secepat kilat meluncur ke arah samping.
Menyusui kemudian pedang ketiga kembali meluncur
ke udara dan menghantam pada pedang pendek kedua.
Sesudah terbentur oleh pedang yang ketiga tadi, tibatiba
senjata itu berputar arah dan menyambar ke tubuh
Li Tiong-hui dengan kecepatan luar biasa.
Tui-im tidak ambil diam, secepat petir dia lancarkan
sebuah gempuran kilat ke arah senjata tadi. "Traaang..."

3315
Diiringi bunyi keras akibat benturan tersebut, pedang
pendek itu meluncur kembali ke sisi lain.
Pada saat itulah pedang kedua sudah terbentur
sambitan pedang ketiga hingga berputar arah dan ujung
senjata tersebut menyambar ke badan Li Tiong-hui. Tuiim
berkerut kening, sekali lagi ia lancarkan gempuran ke
arah senjata tersebut.
Serangannya selain cepat juga amat tepat, persis
menghajar di ujung pedang pendek itu.
Tampak pedang pendek tersebut berputar beberapa
kali di udara kemudian secara mendadak mengancam
tubuh Li Tiong-hui lagi.
Rupanya semua pedang pendek yang dilepaskan
seebun Giok-hiong tadi menggunakan sejenis kekuatan
berpusing yang istimewa, pada mulanya gerak serangan
itu nampak lemah dan tak bertenaga, padahal di balik
kelemahan itulah tersimpan sejenis kekuatan yang
sangat aneh.
Bagi orang yang tidak mengetahui rahasia tersebut
dan membendungnya secara sembarangan maka
bentrokan yang terjadi justru memancing semakin
aktifnya kekuatan berpusing yang tersembunyi dan
mewujudkan kehebatannya.
Tak terlukiskan rasa terkejut Tui-im setelah melihat
pedang pendek yang ditangkisnya itu bukan saja tidak
terpental sebaliknya setelah berputar dua kali kembali
mengancam tubuh Li Tiong-hui, ketika bersiap akan
melancarkan serangan lagi, keadaan sudah terlambat.

3316
Li Tiong-hui bukan orang bodoh ia sadar pasti ada
keistimewaan tertentu di balik gerakan pedang ini, ia tak
berani menangkis dengan kekerasan, dengan suatu
gerakan cepat nona ini berkelit ke samping untuk
menghindarkan diri
Kebetulan sekali saat inilah pedang ketiga menyambar
datang dan meluncur ke arah mana Li Tiong-hui berada.
Li Tiong-hui sudah tahu bahwa pedang tersebut
mengandung suatu kekuatan yang aneh, apabila
diserang dengan kekerasan maka pedang tersebut justru
akan terpental dan menyerang ke arahnya dari posisi
yang tak terduga, oleh sebab itu dia tak mau
menanggapi dengan kekerasan.
Lagi-lagi badannya bergeser dua langkah ke samping
meloloskan diri dari ancaman tersebut
Tampak kedua batang pedang pendek itu membentur
di atas batu di tanah untuk kemudian terpental lagi ke
udara dan lagi-lagi mengancam tubuh Li Tiong-hui.
Decak kagum bergema memenuhi arena pertarungan,
kawanan jago di sisi arena benar-benar dibuat
terperanjat oleh kehebatan musuhnya.
Setelah mengetahui kalau benturan prdangnya tadi
mengakibatkan terjadinya peristiwa tak terduga ini, Tuiim
tak berani bertindak secara gegabah, terpaksa
teriaknya: "Hati-hati nona, serangan senjata rahasia dari
belakang."
Li Tiong-hui mendusin dari lamunannya setelah
mendengar teriakan itu, buru-buru dia himpun tenaga
dalamnya dan melejit ke udara. "sreeeet..."

3317
Diiringi desingan angin tajam, sebatang pedang
pendek melintas lewat persis dari bawah kaki Li Tionghui.
Selesai melepaskan tiga batang pedang pendek tadi,
seebun Giok-hiong telah merogoh ke pinggangnya
mempersiapkan dua batang pedang lagi, cuma ia tidak
lepaskan serangannya kali ini.
Baru saja Li Tiong-hui berhasil menghindari sergapan
pedang kedua, pedang ketiga telah meluncur balik
mengancam dadanya, hal ini memaksanya harus berkelit
lagi ke samping.
Hanya dua batang pedang pendek ternyata mampu
membuat Li Tiong-hui kalang kabut sendiri, kejadian
tersebut bukan saja membuat ketua dunia persilatan ini
amat sedih dan kehilangan muka, para jago yang ikut
menyaksikan jalannya peristiwa itu pun ikut bersedih
hati.
Tak terbayang bagaimana malunya mereka
seandainya Li Tiong-hui sebagai seorang Bu-lim Bengcu
harus terluka oleh senjata rahasia seebun Giok-hiong
sebelum pertarungan resmi berlangsung. Mereka ingin
sekali turun tangan membantu, namun tak tahu dari
mana mereka harus membantunya.
Yang lebih menakutkan lagi seebun Giok-hiong masih
menggenggam dua bilah pedang yang siap dilancarkan
padahal dua bilah pedang pertama pun sudah amat sulit
dihadapi, apa jadinya bila kedua bilah pedang berikut
turut dilepaskanjuga? Terdengar seebun Giok-hiong
tertawa terkekeh-kekeh sambil mengejek:

3318
"Li Bengcu, asal kau lebih waspada dan bertindak lebih
cermat, sebetulnya tak sulit untuk merontokkan kedua
pedangku itu." sembari bicara kembali tangannya
digetarkan ke muka.
Dua bilah pedang yang telah digenggamnya tadi
segera meluncur ke muka dan... "Traaang, traaang,
traaang . .." Keempat batang pedang itu saling
bertumbukan di udara dan semuanya rontok ke tanah. Li
Tiong-hui tertawa hambar, sahutnya:
"Enci seebun tak perlu pamer kepandaian lagi, padahal
aku sudah tahu akan kehebatan ilmu silatmu, berilah
kesempatan kepadaku untuk bertindak sebagai tuan
rumah yang ramah sebelum cici memamerkan kembali
kebolehanmu nanti."
Lama sekali seebun Giok-hiong menatap wajah Li
Tiong-hui, kemudian sambil berdecak katanya:
"Cctt... ccct... ccct... mau tak mau aku meski kagumi
kesabaranmu, coba kalau aku bukan ingin balaskan
dendam orang tuaku hingga terpaksa mesti bentrok
denganmu, sekarang juga cici pasti akan pergi tinggalkan
tempat ini."
Ia pungut kembali keempat batang pedangnya lalu
disisipkan kembali di pinggangnya.
"Kejadian telah berkembang jadi begini, aku rasa cici
tak perlu bersungkan-sungkan lagi, mari silakan masuk
ke dalam lembah"
Seebun Giok-hiong segera memberi tanda kepada
anak buahnya, kemudian berangkatlah mereka
berbondong-bondong memasuki lembah.

3319
Li Tiong-hui coba melirik kawanan jago itu, selain
kakek berbaju kuning yang membawa burung abu-abu
itu, terlihat pula puluhan orang Busu berpakaian warna
warni yang menggembel aneka senjata, dua belas orang
dayang bersenjata pedang dan puluhan orang manusia
aneh berambut panjang yang membungkus kepalanya
dengan kain hitam.
Tapi dari sekian banyak jago, yang paling menonjol
adalah isi tandu kecil berwarna putih yang digotong dua
orang perempuan setengah umur yang bertubuh kuat,
tirai pada jendela tandu itu tertutup rapat hingga tak
nampak jelas siapa penghuninya.
Mengikuti di belakang tandu putih itu adalah seorang
kakek yang mengenakan cadar muka warna kuning serta
seorang nenek setengah umur yang memakai pakaian
aneh.
Pada kain cadar muka yang dikenakan kakek itu
tertempel sehelai kertas dengan tulisan yang berbunyi
begini:
"Tak perlu tahu siapa namaku, yang penting tentukan
mati hidup lewat pertarungan"
Mengikuti di belakang sepasang kakek nenek itu
adalah Thia sik-kong beserta murid-muridnya yang kaku
bagaikan mayat hidup.
Berkerut juga jidat Li Tiong-hui menyaksikan manusiamanusia
tersebut, pikirnya: "Entah dari mana saja ia
dapatkan aneka ragam manusia aneh tersebut?"
Sementara ia masih berpikir, seebun Giok-hiong telah
berkata lagi sambil tertawa terkekeh-kekeh:

3320
"Heheheheh . . . bagaimana Li Bengcu? Pingin tahu
kekuatan cici yang sesungguhnya?"
"Cici terlalu serius," jawab Li Tiong-hui sambil balik
badan dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
BAB 53. Kemunculan kembali Raja pedang
Seebun Giok-hiong percepat langkahnya untuk jalan
beriring dengan Li Tiong-hui, sambil berjalan tanyanya:
"Apa Pek si-hiang belum mati?"
Belum sempat Li Tiong-hui menjawab, Lim Han-kim
telah menyela duluan:
"Dia masih hidup segar bugar, mengapa kau malah
sumpahi dia agar cepat mati?"
Seebun Giok-hiong berpaling memandang Lim Hankim
sekejap. lalu sindirnya sambil tertawa:
"Kau toh tahu, aku sedang berbicara dengan Bengcu
kalian..."
Lalu sambil menatap Li Tiong-hui, tegurnya:
"Apa sih pangkatnya orang ini?"
"Ada apa? Dia kan Lim Han-kim, masa tidak kenal?"
"Sekarang kita sudah berhadapan sebagai musuh,
makin sedikit orang yang dikenal semakin baik."
Lim Han-kim mendengus dingini

3321
"Nona seebun jangan sombong dan tekebur dulu,
menurut pengamatanku, belum tentu kau bisa
menangkan pertarungan di perkampungan Hong-san kali
ini."
Seebun Giok-hiong tertawa terkekeh-kekeh.
"Hahahaha... pasti Pek si-hiang yang ajari kau berkata
begitu," ejeknya.
"Tak perlu diajari nona Pek. aku sama saja sanggup
menghadapi nona untuk bermain beberapa jurus."
Beberapa kali seebun Giok-hiong mengawasi wajah
Lim Han-kim, namun dia enggan berbicara dengan
pemuda itu, kepada Li Tiong-hui kembali katanya:
"Li Bengcu, walaupun kita saling berhadapan sebagai
musuh, namun selama ini kau selalu memanggil cici
padaku, sebutan mana membuat perasaanku tak pernah
tenang, oleh sebab itu aku perlu memberitahukan satu
hal padamu."
"Soal apa?"
"Kuakui Pek si-hiang memang seorang gadis berbakat
alam yang luar biasa hebatnya, sayang dia kelewat
banyak membaca buku hingga akhirnya keracunan
buku."
"Yang kuketahui selama ini, semakin banyak
seseorang membaca buku, pengetahuannya juga makin
luas, belum pernah kudengar orang berkata bahwa
seseorang bisa keracunan buku karena kebanyakan
membaca."

3322
"Buktinya sekarang, dengan mengabaikan tempattempat
strategis untuk mempertahankan diri, kau malah
mengundang musuhmu memasuki daerah pentingmu,
apakah tindakan semacam ini tidak melanggar ajaran
strategi perang? Kecuali Pek si-hiang, aku yakin meski
ibumu sendiri juga tak akan berani mengambil tindakan
sedemikian drastis."
"Tebakan cici kali ini keliru besar, justru aku yang
merancang strategi kali ini."
"Apa? Kau yang merancang strategi ini?"
Seebun Giok-hiong membelalakkan matanya, "Betul,
aku mesti peras otak selama tiga hari tiga malam
sebelum memutuskan untuk menggunakan rancangan
strategi ini."
Seebun Giok-hiong segera tertawa terkekeh-kekeh,
"Hahahaha... apakah kau masih berharap aku bisa
berubah pikiran pada saat terakhir dan mau
mengabaikan niatku untuk membalas dendam kesumat
ini?"
"Alangkah bahagianya diriku bila kau bersedia
melakukan hal itu, bila cici mau bertobat aku pun
bersedia meninggalkan bangku Beng-cu agar para jago di
kolong langit hidup dengan bebas."
Seebun Giok-hiong menghela napas panjang.
"Tak aneh jika kau merancang strategi ini," katanya.
"Sebaliknya bila cici bersikeras ingin menyelesaikan
masalah ini dengan banjir darah, apa mau dikata aku pun
terpaksa akan memimpin seluruh orang gagah yang

3323
terhimpun di sini untuk melakukan pertarungan hingga
titik darah penghabisan."
"Selain ibumu, belum kutemukan orang lain yang
mampu bertarung sebanyak seratus gebrakan
melawanku .,."
"Seandainya kau sudah ditahan oleh ibuku, mampukah
orang-orang yang cici bawa bertarung melawan para
jago lihay dari pelbagai partai dan perguruan besar?"
"Justru yang tak kau sangka adalah dua orang musuh
besar ibumu dulu yang sengaja kuajak kemari untuk
menjegal kehadiran ibu-mu, perasaan benci mereka
terhadap ibumu sudah merasuk ke tulang sumsum,
dengan terhadangnya ibumu, maka aku bisa leluasa
melakukan pembantaian secara besar-besaran."
Setelah berhenti sejenak kembali lanjutnya: "Cuma ...
bisa jadi aku akan mengampuni jiwamu."
Li Tiong-hui tertawa hambar.
"Bila pertarungan mulai berkobar dalam pertemuan
puncak kali ini, bukan saja nasib dunia persilatan untuk
seratus tahun berikut menjadi bahan pertarungan nama
baik serta kehadiran perkampungan keluarga Hongsanpun
turut dipertaruhkan Apabila aku sampai kalah,
buat apa kuteruskan hidupku di dunia ini?"
"Hebat... luar biasa, sayang predikat Beng-cu yang
kau panggul di bahumu telah mencelakai kehidupanmu."
Li Tiong-hui angkat wajahnya menghembuskan napas
panjang, setelah termenung sejenak katanya:

3324
"Bila kau yang menangkan pertarungan kali ini, dalam
tiga puluh tahun mendatang tak akan ada seorang
manusia pun dalam dunia persilatan yang sanggup
menentangmu, saat tersebut cici pasti akan menguasai
seluruh jagad raya dan tak tertandingkan lagi."
Begitulah, sambil berbincang-bincang mereka
melanjutkan perjalanan, tanpa terasa tibalah rombongan
itu di tepi hutan, di luar pendopo utama. sambil berhenti,
kata Li Tiong-hui seraya berpaling:
"Sudah sampai di tempat tujuan, silakan cici masuk ke
ruang pendopo dan minum teh."
Seebun Giok-hiong tidak melanjutkan langkahnya, ia
perhatikan dulu sekeliling tempat tersebut kemudian baru
berkata:
"Pepohonan yang tumbuh mengelilingi bangunan ini
nampaknya dibangun menurut posisi pat-kwa, apakah
ibumu yang merancang?" Li Tiong-hui tertawa hambar,
tukasnya:
"Pepohonan yang tumbuh di tempat ini merupakan
cemara naga yang berusia di atas dua ratus tahun, mana
mungkin ibuku yang menanam?"
Seebun Giok-hiong tidak banyak bertanya lagi, dia
melanjutkan langkahnya memasuki ruang pendopo.
Li Tiong-hui menyusul di sisinya danjalan bersanding.
Dalam ruang pendopo yang luas telah disiapkan
puluhan buah meja perjamuan, sayur dan arak telah
dihidangkan.

3325
"Cici, aku mempersilakan semua jago yang kau
undang untuk memasuki ruangan, dalam setiap meja
perjamuan yang disediakan pasti ada orang dari pihak
kami yang menemani."
"Mula-mula duduk dan pesta bersama, selesai
bersantap pembantaian mulai digelar, waaah... waaah...
cici terhitung tamu jahat yang tak tahu diri"
"Tidak mengapa." Li Tiong-hui tersenyum, "Hidangan
sayur dan arak yang tersedia hanya merupakan tanda
hormatku sebagai tuan rumah terhadap tamu-tamunya."
"Lalu aku mesti duduk pada meja yang mana?"
"Tentu saja cici harus duduk di meja utama, biar aku
menemani cici duduk di sana," sahut Li Tiong-hui sambil
menuding ke arah meja perjamuan di paling belakang.
"Aku rasa tidak usah," tampik seebun Giok-hiong
sambil menggeleng, "Menurut pendapatku lebih baik kita
selesaikan masalah ini dengan pertarungan saja, sedang
soal perjamuan ini... aku pikir kelewat merepotkan..."
"Cici, kau kelewat sungkan masa untuk menghadiri
perjamuan saja enggan..."
Seebun Giok-hiong mendengus dingin sambil
melanjutkan langkahnya memasuki ruang pendopo,
sambil berjalan kembali tanyanya:
"Li Bengcu, selain kau dan aku, siapa lagi yang ikut
duduk satu meja dengan kita?"
"Lebih baik cici duduk duluan di meja perjamuan
utama sebelum kutemukan siapa saja yang cocok untuk
mendampingimu."

3326
"lbumu tidak ikut hadir?"
"Selesai perjamuan, ibu pasti akan muncul dengan
sendirinya."
Seebun Giok-hiong segera berpaling dan membisikkan
sesuatu kepada dayang yang berada di belakangnya,
salah seorang di antaranya segera meninggalkan
ruangan menuju keluar pendopo.
Tanya Li Tiong-hui kemudian:
"Bagaimana cici? siapa saja yang kau undang untuk
duduk semeja dengan dirimu?"
"Selain aku, masih ada nyonya pedang patah hati,
Thia sik-kong serta kiongcu dari istana Panca racun."
"Ngo-tok Kiongcu juga ikut datang?" Li Tiong-hui
berkerut kening.
"Nama besar istana panca racun memang tersohor
sampai di mana-mana, tapi berapa banyak orang sih
yang pernah berjumpa dengan ketua istananya secara
pribadi?"
"Apakah ketua istana panca racun bernama Dewi
selaksa Racun?"
"Bukan" seebun Giok-hiong menggeleng "Dewi selaksa
Racun hanya salah satu di antara ketiga orang murid
utamanya."
Mendengar penjelasan tersebut, dalam hati Li Tionghui
berpikir.
"Seebun Giok-hiong benar-benar luar biasa, tidak
kusangka sampai ketua istana panca Racun pun sanggup

3327
dia undang kemari." Walaupun berpikir demikian, ia
berkata juga:
"Mendompleng ketenaran cici, hari ini aku tentu bisa
berkenalan dengan banyak sekali orang-orang
kenamaan."
Seebun Giok-hiong tersenyum, selanya: "Li Bengcu,
siapa saja yang akan kau undang untuk duduk semeja
dengan kami...?" setelah berhenti sejenak. tambahnya:
"Ada sepatah dua patah kata perlu kusampaikan lebih
dulu, agar jangan sampai setelah terjadi sesuatu yang
tak diinginkan, cici baru disalahkan"
Li Tiong-hui tersenyum, meski di hati kecilnya ia
berpikir
"Apa-apaan dia ini? permainan busuk apa lagi yang
sedang ia persiapkan terhadapku...?" kendatipun berpikir
begitu, tanyanya juga: "soal apa sih?"
"Nyonya pedang Patah Hati, Ketua istana Panca Racun
serta Thia sik-kong bukan termasuk anak buahku,
hubungan mereka denganku juga tak lebih hanya
sebagai tamu undangan, selain ikatannya denganku tidak
terlalu kuat, sifat mereka pun teramat jelek, oleh karena
itu di dalam memilih teman duduk yang akan
mendampingi mereka nanti, lebih baik kau bersikap
ekstra hati-hati,sebab kalau sampai salah bicara hingga
terjadi insiden yang tidak diharapkan jangan salahkan cici
yang tidak memberi peringatan lebih awal."
"Terima kasih banyak atas nasehat cici"
"Tak perlu sungkan-sungkan baik- baiklah memilih
patnermu." Li Tiong-hui berpaling dan melirik Tui-im

3328
sekejap. lalu perintahnya: "Cepat kau undang Dewa
Cebol Cu locian-pwee, sang locianpwee dan ..."
Karena masih kurang seorang sedang orang tersebut
belum ditemukan, maka dia pun termenung sejenak
sambil berputar otak.
Tui-im tahu kalau majikannya belum selesai bicara,
maka dia hanya berdiri di sana sambil menanti.
Sementara Li Tiong-hui sedang mengalami kesulitan
untuk menemukan orang terakhir yang cocok untuk
mendampingi musuh-musuhnya, mendadak terdengar
seseorang menyambung dengan suara merdu:
"Jelek-jelek begini aku masih termasuk juga seorang
tamu agungmu, kenapa kau tidak mengundangku untuk
duduk mendampingi tamu-tamu agung lainnya?"
Ketika seebun Giok-hiong berpaling, terlihat olehnya
Pek si-hiang yang dituntun siok-bwee sedang berjalan
mendekat dengan langkah perlahan.
Tanpa menanti persetujuan dari Li Tiong-hui lagi,
dengan langkah lebar gadis tersebut langsung berjalan
menuju ke meja utama dan duduk persis di samping Li
Tiong-hui.
Secara diam-diam seebun Giok-hiong mengamati
wajah Pek si-hiang, ia semakin keheranan setelah
dilihatnya sinar wajah gadis itu amat cerah, bahkan
kondisi tubuhnya nampak sehat sekali.
Kendatipun begitu, tegurnya juga sambil tertawa:
"Pek si-hiang, akhirnya kau berhasil juga meloloskan
diri dari cengkeraman elmaut, bila kulihat dari kondisi

3329
tubuhmu sekarang, mungkin umurmu akan mencapai
seratus tahun lebih."
"Terima kasih, terima kasih, semuanya ini tak lain
berkat doa restu cici seebun Giok-hiong ..." jawab Pek sihiang
tertawa.
Tak terlukiskn rasa mendongkol seebun Giok-hiong
ketika mendengar namanya langsung disebut oleh gadis
tersebut, sambil tertawa dingin serunya:
"Biar kondisi tubuhmu cukup bagus, sayang jidatmu
berwarna semu hitam, itu pertanda kemungkinan besar
kau akan mengalami bencana kematian karena suatu
kasus pembunuhan."
"Mati hidup manusia sudah ditentukan oleh takdir, aku
tak pernah memikirkannya di dalam hati."
"Hmmmm ... besar amat jiwamu"
"Kelihatannya percuma saja lidahku selama ini
berkicau, nyatanya usahaku tak ada guna-nya, orang
yang sudah terlanjur keblinger toh tetap keblinger juga.
Yaa... itulah sebabnya kedatanganku kali ini cuma ingin
menonton keramaian."
Melihat kedua orang itu sudah mulai perang mulut,
dimana ucapan kedua belah pihak makin lama semakin
meruncing, Li Tiong-hui sebera sadar, bila keadaan
tersebut dibiarkan berlanjut maka perselisihan tak bisa
dihindari lagi. oleh sebab itu buru-buru serunya:
"Bila ingin membicarakan sesuatu bagaimana kalau
kita lanjutkan seusai perjamuan nanti?"

3330
Pek si-hiang tersenyum, kepada dua orang dayang
yang berdiri di belakangnya, ia memberi tanda seraya
perintahnya:
"Di sini sudah tak ada urusan kalian mundurlah dulu"
Kedua orang dayang itu menyahut dan bersama-sama
mengundurkan diri dari sana.
Dalam pada itu Tui-im masih berdiri menanti di
belakang Li Tiong-hui, ketika menyaksikan Pek si-hiang
telah menempati kursinya,terpaksa ia bertanya lirih:
"Hanya mengundang Cu locianpwee serta Sang
locianpwee?"
"Yaa, cepat suruh mereka kemari"
Tiba-tiba terdengar seebun Giok-hiong berkata setelah
melirik Li Tiong-hui sekejap: "Li bengcu, apa tidak
berbahaya membiarkan nona Pek itu duduk di tempat
ini..."
Walaupun mengerti apa yang dimaksudkan Li Tionghui
pura-pura bertanya lagi: "Bahaya apa?"
"Nona Pek tidak memiliki kemampuan untuk membela
diri, mendingan kalau orang lain yang dihadapi, kau tahu
Ngo-tok Kiongcu sangat berbisa, sekujur badannya boleh
dibilang membawa racun yang amat jahat, kalau sampai
dla ajak nona pek bergurau dan akibatnya nona Pek
sampai terluka... waaah, waaah, waaah, apakah
peristiwa ini tidak akan menyesalkan banyak orang?"
Pek si-hiang tersenyum.
"Kalau soal itu mah... nona seebun tak perlu kuatir,
misalnya aku benar-benar terluka oleh racun jahatnya

3331
Ngo-tok Kiongcu, anggap saja ilmu yang kumiliki
memang belum becus sehingga meski harus mati juga
tak perlu disesalkan."
"Mengenaskan benar ucapanmu barusan... kalau
dilihat dari tubuhmu yang begitu lemah, memang
rasanya kurang tega melukaimu coba bayangkan sendiri,
apa cici tidak ikut menanggung penyesalan bila kau
betul-betul keracunan nanti?"
Sementara itu Lim Han- kim sudah mendapat perintah
dari Pek si-hiang, maka tidak menunggu undangan resmi
dari Li Tiong-hui, dia langsung mengambil posisi dengan
duduk di samping gadis tersebut
Ketika mendengar seebun Giok-hiong berulang kali
menyindir dan mempermainkan Pek si-hiang, darah
mudanya langsung bergelora dengan perasaan
mendongkol pikirnya:
"Sialan benar orang ini... sudah tahu nona Pek
bertubuh lemah, buat apa dia memanasi terus dengan
kata-kata ejekan ...?"
Pek si-hiang sama sekali tidak termakan oleh ejekan
musuh, malahan sambil membenahi rambutnya yang
kusut dan tersenyum manis, ujarnya:
"Nona seebun, pernah tidak kau mendengar pepatah
yang mengatakan- BERPISAH TIGA HARI, JANGANLAH
MEMANDANG SESUATU DENGAN PANDANGAN SAMA?
Kalau memang ia melepaskan binatang peliharaannya
nanti, akan kubuktikan kepadamu bagaimana aku pandai
menangkapnya serta menghadiahkan kepadamu."

3332
Melihat gadis itu amat tenang, sama sekali tak gugup,
bahkan seolah-olah sudah mempunyai perhitungan yang
masak. dalam hati kecilnya seebun Giok-hiong berpikir.
"Begitu tenang gadis tersebut menghadapiku, janganjangan
ia memang sudah mempunyai persiapan yang
matang? Gila, aku mesti tingkatkan kewaspadaan-.."
Sementara dia masih termenung, Tui-im telah muncul
kembali mengajak si Dewa Cebol Cu Gi dan sang Lamciau.
Sebagaimana diketahui kedua orang jagoan ini bersifat
aneh sekali, yang seorang cebol berwajah lucu sedang
yang lain tua bermuka buruk penuh codet, untuk duduk
mendampingi gadis-gadis cantik tersebut, keadaan
mereka memberikan pemandangan yang amat kontras.
Sejak menempati kursinya di meja perjamuan si Dewa
Cebol Cu Gi selalu menunjukkan sikap yang dingin dan
ketus, pandangannya selalu tertuju ke atap rumah,
terhadap gadis-gadis cantik di hadapannya sama sekali
tidak memandang barang sekejappun.
Sebaliknya sang Lam-ciau hanya pejamkan matanya
duduk mematung, keadaannya tak berbeda dengan
seorang pendeta yang sedang bersemedi
Li Tiong-hui yang tenang, seebun Giok-hiong yang
genit serta Pek si-hiang yang cantik sudah cukup
mendatangkan perasaan dag dig dug bagi semua jago
yang hadir dalam pertemuan tersebut, kini ditambah lagi
dengan sang Lam-ciau yang menyeramkan serta Dewa
Cebol Cu Gi yang ketus, membuat suasana di situ
berubah semakin tegang dan mengerikan hati.

3333
Dalam keheningan yang mencekam, tiba-tiba Li Tionghui
menegur. " Kenapa tamu-tamunya cici belum juga
datang?"
"Kenapa sih mesti terburu napsu?" seebun Giok-hiong
tersenyum, "Toh sejak tadi sudah kujelaskan mereka
bertiga bukan anak buahku, belum tentu mereka
bersedia menuruti perkataan cici, bila sebentar sikap
mereka menyinggung perasaan bengcu, harap kau sudi
memaklumi."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, terlihat
seorang dayang berbaju hijau muncul dengan membawa
tiga orang manusia berdandan aneh lagi nyentrik.
Orang pertama adalah seorang kakek berjenggot putih
yang membawa tongkat baja, dia tak lain adalah Thia
sik-kong.
Orang kedua adalah seorang pendeta wanita yang
rambutnya disanggul ke atas serta memakai jubah
pendeta yang besar lagi longgar, wajahnya pucat pias
seperti mayat, pedang panjang tergantung di
punggungnya, Dandanan serta perawakannya yang aneh
membuat orang susah membedakan apakah dia seorang
pria atau wanita. sambil tersenyum seebun Giok-hiong
segera memperkenalkan-
"Saudara-saudara sekalian, tentu kalian sudah pernah
mendengar nama besar dari saudara ini bukan? Dialah
ketua dari istana Panca Racun"
"Kiongcu, silakan duduk" Li Tiong-hui mempersilakan
sambil bangkit berdiri

3334
Pendeta aneh yang tak mirip pria maupun wanita itu
tertawa dingin, tanpa memberikan tanggapan dia
langsung menempati bangku di sisi Thia sik-kong.
Orang terakhir adalah seorang nyonya setengah umur
yang mengenakan gaun berwarna hijau, wajahnya cantik
jelita hanya sayang sikapnya kaku dan sedingin es.
sambil tertawa kembali seebun Giok-hiong
memperkenalkan.
"Sedang nyonya ini tak lain adalah Nyonya pedang
Patah Hati yang nama besarnya tersohor di kolong langit
dan dikenal setiap umat persilatan"
"Selamat berjumpa, sudah lama kudengar nama
besarmu" Kembali Li Tiong-hui bangkit berdiri sambil
memberi hormat
Nyonya pedang Patah Hati mendengus dingin
ditatapnya Li Tiong-hui sekejap, lalu tegurnya:
"Jadi kau adalah putrinya Li Tong-yang?"
"Benar, aku bernama Li Tiong-hui"
"Hahaha. dia malah seorang Bu- lim Bengcu sekarang"
Seebun Giok-hiong menimpali sambil tertawa terbahakbahak.
"Hmmm" Nyonya Pedang Patah Hati mendengus
dingin, "Sudah lama aku hidup mengasingkan diri dari
keramaian dunia, aku tak perduli dia adalah seorang
pemimpin dunia persilatan atau pemimpin perampok
dunia, toh tak ada sangkut pautnya denganku."
Li Tiong-hui hanya tertawa saja, ia tak menemukan
jawaban yang tepat untuk menanggapi ucapan tersebut

3335
Ketika tak mendengar jawaban dari gadis tersebut
kembali Nyonya Pedang Patah Hati berkata sambil
tertawa hambar "Sehat-sehat bukan keadaan ibumu?"
"Berkat doa restu dari locianpwee, kondisi ibuku
sangat bagus."
"Bagus sekali, justru aku paling kuatir jika ia keburu
mati mendadak, kalau sampai ia keduluan mampus,
kedatanganku bukankah bakal sia-sia belaka?"
"Locianpwee, sebenarnya apa yang telah terjadi
dengan ibuku?" tegur Li Tiong-hui dengan kening
berkerut "Kalau didengar dari nada pembicaraanmu
sepertinya kau ada perselisihan dengan beliau? Kenapa
kau mesti menyakiti hatinya?"
"Kalau aku memang berniat menyakiti hati-nya, lantas
kau mau apa?" jengek Nyonya Pedang Patah Hati sambil
menempati bangkunya.
"Menyakiti hati orang dengan kata-kata yang kotor
bukan perbuatan seorang pendekar, apakah locianpwee
tidak kuatir menurunkan pamor serta nama baikmu?"
Berkilat sepasang mata Nyonya Pedang patah Hati
sesudah mendengar ucapan tersebut ditatapnya wajah
gadis itu tanpa berkedip, kemudian serunya dingin.
"Tunggu saja setelah kubunuh ibumu, pasti akan
kuberi pelajaran yang setimpal kepadamu."
Seraya berkata, pelan-pelan ia menempati tempat
duduknya.
Seebun Giok-hiong pun menuding ke arah Pek si-hiang
sambil memperkenalkan

3336
"Sedang nona yang ini adalah nona Pek si-hiang, dia
termasuk seorang gadis jenius yang memiliki
kemampuan luar biasa, dialah perencana utama dari
pertemuan puncak yang diselenggarakan Li Bengcu kali
ini."
Pek si-hiang hanya tersenyum tanpa memberikan
tanggapan-Ngo-tok Kiongcu melirik Pek si-hiang sekejap,
lalu tegurnya:
"Tidak kusangka nona semuda itu ternyata memiliki
pengetahuan yang hebat, nanti pasti akan kucari
kesempatan untuk mohon petunjuk darimu..." Pek sihiang
tetap cuma tersenyum, mulutnya membungkam
dalam seribu bahasa.
Melihat gadis itu tertawa, Thia sik-kong segera
menggebrak meja keras-keras seraya berteriak penuh
amarah:
"Apa yang lucu? Kenapa kau tertawa? Hmm.. jangan
membuat hatiku mendongkol, jangan salahkan kalau
kucabuti semua gigimu."
Seebun Giok-hiong yang mendengar teriakan itu,
segera menimpali pula sambil menghela napas panjang:
"Aaaai... adik Pek. senyummu kelewat memikat hati,
tak heran Thia locianpwee sampai naik darah."
"Terima kasih banyak atas pujian cici see-bun" Pek sihiang
tetap tersenyum.
Li Tiong-hui dapat membaca situasi yang bertambah
genting, ia sadar manusia-manusia macam apa Ngo-tok
Kiongcu, Nyonya pedang Patah Hati serta Thia sik-kong
adalah manusia aneh yang berhati kejam, bila keadaan

3337
tersebut dibiarkan berlangsung maka setiap saat
bentrokan phisik pasti tak dapat dihindari lagi.
Oleh karena itu perintahnya kepada dayang Tui-im
yang berada di belakangnya: "Perintahkan semua jago
untuk menempati kursi masing-masing" Tui-im menyahut
dan teriaknya:
"Bengcu memerintahkan kepada semua jago agar
menempati kursi masing-masing ..."
Mendengar seruan tersebut, serentak para jago yang
hadir diperkampungan keluarga Hong-san mengambil
tempat duduk masing-masing.
Sebaliknya anak buah pengikut seebun Giok-hiong
masih tetap berdiri di posisi semula, nampaknya mereka
enggan menuruti perintah tersebut. Melihat itu, Li Tionghui
berpaling ke arah seebun Giok-hiong sambil ujarnya:
"Hidangan sudah mulai dingin, harap cici
memerintahkan mereka untuk menempati meja
perjamuan."
Seebun Giok-hiong berpaling dan katanya kepada
seorang dayang di sisinya:
"Beritahu mereka, kita tak boleh menampik kebaikan
Li Bengcu, suruh mereka semua mengambil tempat
duduk"
Dayang itu menyahut, dari sakunya dia mengeluarkan
sebuah panji kecil bersulamkan bunga bwee, lalu sambil
dikibarkan serunya:
"Atas perintah dari nona seebun, diharapkan saudara
semua mencari tempat duduk."

3338
Begitu perintah diberikan, para jago pengikut seebun
Giok-hiong menyahut dan mencari tempat duduk.
Pelan-pelan seebun Giok-hiong berpaling ke arah Li
Tiong-hui, lalu katanya sambil tertawa mengejek:
"Adik Li, bilamana kau sanggup memaksa para jagoku
untuk menuruti semua perintahmu, maka kedudukanmu
sebagai Bu-lim Beng-cu baru benar-benar sah dan diakui
seluruh dunia persilatan"
"Aku yakin saat semacam itu sudah tak lama lagi" Pek
si-hiang yang duduk di sisinya menimpali
"Tapi harus menunggu berapa tahun berapa bulan
lagi?" sindir seebun Giok-hiong sambil tertawa hambar
"Aku percaya paling lama tengah hari besok. paling
cepat setelah senja menjelang hari ini."
"Aku kuatir keinginanmu itu sukar terwujud."
"Moga-moga saja apa yang telah kuucapkan barusan
segera akan menjadi kenyataan" Dalam pada itu Li
Tiong-hui telah mengangkat cawan araknya sambil
berseru:
"Aku percaya para jago yang hadir dalam pertemuan
kali ini adalah jago-jago pilihan dari seluruh penjuru
dunia, untuk itu terimalah secawan arakku sebagai tanda
hormatku kepada saudara sekalian."
Selesai berkata, dia pun meneguk habis isi cawan nya.
Nyonya Pedang Patah Hati hanya mengangkat
cawannya sambil ditempelkan di atas bibir, kemudian
meletakkannya kembali ke meja, sedangkan seebun

3339
Giok-hiong dan Thia sik-kong masing-masing meneguk isi
cawannya hingga habis.
Sedangkan Ngo-tok Kiongcu melirik sekejap cawan di
hadapannya, lalu berkata: "Kalau arak macam begitu
mah kurang sedap, biar diminum juga tak ada rasanya..."
Dari dalam sakunya ia merogoh keluar seekor
kelabang beracun, lalu dicelupkan ke dalam cawan
araknya.
Kelabang itu seluruh badannya berminyak. ketika
dicelupkan ke dalam cawan arak tersebut warna seluruh
arak tersebut segera berubah menjadi hitam pekat
seperti tinta.
Dengan tenangnya Ngo-tok Kiongcu meneguk habis isi
cawan tersebut, termasuk juga kelabang besar tadi,
dilalapnya ke dalam mulut dengan penuh nikmat.
Mual rasanya perut Li Tiong-hui setelah menyaksikan
bagaimana perempuan itu melahap habis seekor
kelabang seperti menikmati semangkuk bakmi saja,
dengan perasaan terkesiap pikirnya:
"Luar biasa kemampuan orang ini, tidak setiap orang
dapat melakukan hal semacam dia ini, entah ilmu racun
apa yang dikuasainya?"
Tiba-tiba Ngo-tok Kiongcu meroboh kantungnya,
kembali mengambil keluar seekor kelabang yang segera
disodorkan ke depan cawan Pek si-hiang, ujarnya sambil
tertawa menyeringai:
"Aku dengar nona memiliki kepandaian yang luar
biasa, aku percaya kau pasti menguasai semua bidang

3340
kemampuan yang ada di dunia ini, bagaimana kalau
kuhormati Anda dengan secawan arak ini?"
Pek si hiang melirik sekejap isi cawan di hadapannya,
ketika menjumpai warna araknya telah berubah jadi
hitam pekat seperti tinta, segera sahutnya sambil tertawa
hambar:
"Selama hidup belum pernah kupelajari ilmu melahap
binatang beracun macam kepandaian yang kau miliki,
jika mesti meneguk habis isi cawan tersebut, waaah...
aku bisa mati duluan"
"Hmmm..." Ngo-tok Kiongcu mendengus dingin, "Jika
seseorang telah ditakdirkan harus mati karena
keracunan, biar tidak minum arak beracun pun, dia bisa
mati lantaran digigit binatang beracun"
"Lantas kalau menurut pendapatmu, aku ini
ditakdirkan mati lantaran apa...?" tanya Pek Si-hiang
sambil tertawa.
"Aku rasa kau bakal mati keracunan"
Pek si-hiang tersenyum, dengan tenangnya ia
membenahi rambutnya yang kusut, lalu diambilnya
cawan arak yang berada di hadapannya itu.
Tapi sebelum jari tangannya sempat menyentuh
cawan tersebut, mendadak sebuah tangan yang lain
telah merebut cawan arak tersebut sambil berseru keras:
"Biar aku yang coba merasakan kehebatan racun
kelabang ini, akan kulihat apa benar racunnya bisa
mematikan orang."

3341
Ketika Lim Han-kim berpaling, ia saksikan orang yang
merampas cawan arak tersebut tak lain adalah Sang
Lam-ciau.
Dengan sekali tegukan ia habiskan isi cawan arak
beracun itu berikut kelabangnya, kemudian seraya
meletakkan kembali cawan kosong ke atas meja,
katanya:
"Kukira kehebatan racun kelabang tersebut memang
luar biasa hingga mampu mencabut nyawa orang dalam
sekejap, huuh... ternyata kehebatannya cuma begitu
saja..."
"Boleh kutahu siapa namamu?" seru Ngo-tok Kiongcu
sambil tertawa dingin.
"Aku hanya seorang prajurit dari dunia persilatan
seorang serdadu tua di bawah perintah Li Bengcu, kalau
boleh, aku ingin mencoba pula beberapa jurus
kepandaian silat Kiongcu"
"Dia adalah Sang Lam-ciau yang termashur di kolong
langit," seru seebun Giok-hiong segera, "Tak disangka
seorang pendekar hebat akhirnya harus hidup terlantar
hanya gara-gara terjerat oleh jaring cinta, sungguh
mengenaskan hidupnya..." Berubah hebat paras muka
Sang Lam-ciau setelah mendengar ejekan itu, katanya
gusar.
"Aku paling benci kalau ada orang mengajakku
bergurau, hmmm, nona, aku harap kau sedikit tahu diri"
"Aku tak ambil perduli kau betul-betul Sang Lam-ciau
atau bukan, sebab tidak penting bagiku, tapi dari
kesanggupanmu minum habis arak beracun kelabang ini

3342
maka kau memang sepatutnya memandang tinggi
kemampuanmu."
Dari sakunya dia merogoh keluar seekor ular kecil
berwarna hijau lalu dengan sengaja mematukkan ibu
jarinya ke ujung gigi ular tadi, sampai lama kemudian ia
baru menarik kembali jari tangannya seraya berkata:
"Tadi, sudah kau buktikan bahkan arak beracun
kelabang tidak mempan terhadapmu, bagaimana kalau
kau coba lagi pagutan ular beracunku ini?"
"Sehebat- hebatnya seorang jago silat, mustahil ia
mampu mempelajari pelbagai ilmu silat yang ada di
kolong langit sekaligus, sebagai seorang ahli racun yang
semenjak kecil belajar ilmu beracun, tentu saja gigitan
seekor ular beracun tak akan melukaimu hmmm, apa sih
anehnya dengan kehebatan tersebut?" jengek Sang Lamciau
dingin.
"Ooh... jadi maksudmu, kecuali dalam ilmu beracun
dalam ilmu silat lainnya kau masih jauh melebihi
kemampuanku?"
"Maksudku, segala urusan sepatutnya diselesaikan
menurut keadaan yang paling adil, jadi masalahnya
bukan diajukan oleh kau sendirian..."
Ia pungut cawan arak yang berada di depannya,
meletakkan ke atas meja lalu menekannya dengan
telapak tangan kanan, setelah itu lanjutnya:
"Sekarang aku pun ingin mengajukan satu persoalan,
bila kau sanggup mengambil cawan arak yang berada di
tanganku tanpa membuat isi cawannya tertumpah, aku

3343
pasti akan membiarkan dari tanganku digigit oleh ular
beracun- mu."
Selesai bicara, dia angkat kembali telapak tangannya
yang semula menekan di atas cawan tersebut.
Sekilas pandang, cawan tersebut tidak nampakkan
sesuatu yang aneh, cawan itu terietak secara normal di
atas meja hanya saja permukaan cawan tadi ternyata
sudah melesak masuk ke dalam kayu sehingga bibir
cawannya kini rata dengan permukaan meja tersebut
Demonstrasi tenaga dalam yang sangat hebat ini
kontan saja mengejutkan hati Li Tiong-hui di samping
perasaan kagum yang luar biasa, tak ketinggalan pula si
dewa cebol pun secara diam-diam mengagumi kehebatan
rekannya itu.
Ketua istana panca racun kelihatan agak tertegun,
sampai setengah harian dia tak sanggup mengucapkan
sepatah kata pun.
Sementara ia sedang serba salah, mendadak
terdengar Nyonya pedang patah hati mendengus dingin
sambil mencibir:
"Huuh, hanya permainan sulap pun pingin
dipamerkan"
Dengan ujung jari tangannya yang lembut dan putih,
ia membuat sebuah lingkaran di sekeliling cawan tadi,
lalu dengan jari telunjuk serta ibu jarinya ia jepit bibir
cawan tadi kemudian pelan-pelan mencabutnya keluar
dari dalam kayu tanpa setitik arak pun yang sempat
muncrat keluar.

3344
"Hebat, hebat" puji sang Lam-ciau, "Tak disangka ilmu
jari kim-kong-ci yang nyonya miliki telah kau latih hingga
mencapai tingkat kesempurnaan, luar biasa"
Li Tiong-hui tahu, bila keadaan tersebut dibiarkan
berlangsung terus maka semua rencananya akan
berantakan, buru-buru dia menimpali:
"ilmu silat yang dimiliki cianpwee sekalian memang
rata-rata sangat hebat dan masing-masing mempunyai
kelebihan sendiri, aku rasa pertarungan tak usah
dilanjutkan lagi, ayoh, terimalah dulu salam hormatku
dengan secawan arak ini" selesai bicara, ia teguk habis isi
cawannya. Nyonya pedang patah hati tertawa dingin.
"Hmm, kau tak usah kuatir, sebelum berjumpa dengan
ibumu, tak nanti aku bertarung dengan siapa pun."
Sambil turut mengangkat cawannya diam-diam seebun
Giok-hiong melirik Sang Lam-ciau sekejap. pikirnya:
"Hebat benar ilmu silat tua bangkotan itu, aku mesti
memandangnya sebagai salah seorang musuh
tangguhku... ehmmm, aku harus mencari akal untuk
singkirkan dia terlebih dulu, daripada setelah terjadinya
pertarungan nanti, aku harus pecah perhatian untuk
mengawasi dia."
Sementara itu Pek si-hiang secara diam-diam juga
sedang mengawasi perubahan wajah seebun Giok-hiong,
melihat biji matanya yang berputar-putar dan alis
matanya yang mengernyit, dia sadar bahwa hawa napsu
membunuh gadis tersebut telah bangkit Kepada sang
Lam-ciau segera bisiknya: "Locianpwee, kau tidak
seharusnya memamerkan kebolehanmu"

3345
"Apa kelewat kasar sehingga kurang sedap ditonton?"
"Bukan begitu, justru karena kelewat bagus maka
demonstrasimu tadi telah membangkitkan hawa napsu
membunuh orang lain, kau mesti berhati-hati terhadap
serangan gelap seseorang."
Terkesiap seebun Giok-hiong sesudah mendengar
sindiran itu, segera pikirnya:
"Tak nyana budak busuk tersebut begitu lihay,
sehingga apa yang menjadi suara hatiku juga berhasil
ditebaknya secara jitu, kelihatannya aku mesti
menjagalnya terlebih dulu." setelah mengambil
keputusan, sambil tersenyum ujarnya:
"Hey adik Pek. nampaknya kondisi tubuhmu
belakangan ini bertambah sehat dan segar."
"Seebun Giok-hiong," ujar Pek si-hiang dengan wajah
serius, "sekalipun aku mempunyai kesabaran yang luar
biasa, bukan berarti tanpa batas, lebih baik kau jangan
kelewat memojokkan posisiku. "
"Aaah, kau kelewat serius" seebun Giok-hiong tertawa
terkekeh-kekeh.
Kecerdasan serta pengalaman yang dimiliki Li Tionghui
memang kalah jauh bila dibandingkan seebun Giokhiong
serta Pek si-hiang, tapi dari tanya jawab yang
dilakukan kedua orang itu, dia dapat menarik sedikit
kesimpulan maka pikirnya segera:
"Bisa gawat bila seebun Giok-hiong berniat mencelakai
Pek si-hiang, lagipula gadis itu tak pandai bersilat, mana
mungkin dia sanggup menghadapi gempurannya? Ehmm,
untuk menolong situasi, ada baiknya aku sedia payung

3346
sebelum hujan... tapi, semua orang yang hadir di sini
rata-rata memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, kalau
tidak dicarikan sebuah akal yang sempurna, rasanya
mustahil aku bisa selamatkan jiwanya..."
Sementara dia masih berputar otak mencari akal,
mendadak terdengar seseorang membentak dengan
suara yang lantang lagi nyaring:
"Sungguh tak kusangka setelah aku mengundurkan
diri dari dunia persilatan di daratan Tinggoan, si katak
pun pingin jadi pentolan."
Nada pembicaraan orang itu amat tekebur, bahkan
diucapkan dengan kata-kata yang tegas dan nyaring,
membuat para jago yang hadir dalam arena merasa
tergetar hatinya.
Ketika semua orang berpaling, terlihatlah seorang
lelaki setengah umur yang memakai jubah kuning,
berjenggot putih dan menggembel sebuah pedang di
punggungnya sedang berjalan masuk ke dalam ruangan
dengan langkah lebar.
Tingkah laku orang itu amat congkak dan jumawa,
seakan-akan dia anggap semua jago yang hadir dalam
ruangan tersebut hanya patung-patung tak bernyawa.
seebun Giok-hiong pun turut berpikir dalam hati kecilnya:
"Siapa pula orang ini? Tapi kalau dilihat lagaknya yang
angkuh namun menawan hati, di masa mudanya dulu ia
pasti merupakan idaman hati setiap gadis."
Terdengar Nyonya pedang patah hati mengejek sambil
tertawa dingini

3347
"Bagus, bagus sekali, ternyata si raja pedang yang
sudah banyak tahun menyembunyikan diri di luar daratan
pun ikut hadir di sini."
"Raja pedang ...?" gumam seebun Giok-hiong.
"Benar, dialah raja pedang yang pernah mengobrak
abrik dunia persilatan selama dua puluh tahun dengan
segala cerita romantisnya, gara-gara kelewat banyak
menghamili perempuan akhirnya dia kabur keluar dari
daratan untuk menyembunyikan diri, tak nyana hari ini
dia berani muncul kembali di sini..."
Sementara itu pangeran pedang telah muncul di dalam
ruangan dengan langkah tergopoh-gopoh memberi
hormat di hadapan lelaki setengah umur tadi sambil
berseru: "Menyambut kehadiran ayahanda ..."
"Tidak usah banyak adat"
"Apakah ibunda juga turut datang?"
"Yaa, ibumu telah tiba di luar pendopo, pergi,
sambutlah kedatangannya..."
Pangeran pedang menyahut dan buru-buru
meninggalkan ruang pendopo itu.
Postur maupun perawakan kedua orang ini memang
berbeda sekali, kalau raja pedang meski telah berusia
setengah urnur namun masih memiliki daya tarik yang
luar biasa terutama bagi kaum wanita, sebaliknya
pangeran sedang memiliki perawakan badan yang tinggi
besar dan sama sekali tidak menarik. sehingga boleh
dibilang ia tak cocok menjadi keturunan seorang lelaki
romantis.

3348
Sementara para jago masih sangsi, tampak pangeran
pedang telah muncul kembali sambil menggandeng
tangan seorang perempuan yang berperawakan tinggi
besar, berpinggang lebar,wajah lebar dengan telinga
besar serta rambut yang disanggul dengan sekuntum
bunga merah menghiasi rambutnya.
Dengan perasaan tertegun pikir Lim Han- kim:
"Beginikah tampang istri si raja pedang yang tersohor
itu? seandainya dia seorang pria, waah ... orang itu pasti
jauh lebih angker dan menakutkan ..."
Kedengaran perempuan tinggi besar itu segera
berkoar begitu masuk ke dalam ruang pendopo:
"Hei suamiku, jauh-jauh kita datang kemari, masa
sebuah bangku tempat duduk pun tidak tersedia buat
kita?"
Biarpun perawakan tubuhnya tinggi besar dan kasar,
ternyata perempuan itu mempunyai suara yang lembut
dan halus, berbeda jauh bila dibandingkan dengan
badannya. Raja pedang segera tertawa terbahak-bahak:
"Hahahaha... benar juga perkataan permaisuri, hey
siapa ketua penyelenggara pertemuan ini?"
"Ada apa kau mencari aku?" sapa Li Tiong- hui sambil
pelan-pelan bangkit berdiri Raja pedang tersenyum
"Jauh-jauh dari seberang lautan aku bersama
permaisuri dan pangeranku datang menghadiri
pertemuan puncak ini, masa tempat duduk pun tidak kau
siapkan untuk kami?"

3349
Berdebar keras detak jantung Li Tiong-hui setelah
mendengar gelak tertawanya yang begitu nyaring
menusuk pendengaran, pikirnya segera:
"Tak heran orang ini disebut iblis cinta yang
menggemparkan seluruh dunia persilatan, ternyata ia
betul-betul memiliki daya pikat yang luar biasa, untung
senyumannya terjadi saat ini, coba kalau hal ini
berlangsung dua puluh tahun berselang, mungkin
nyawaku sudah ikut terbetot hingga aku rela takluk dan
menuruti semua perintahnya."
Walaupun berpikir demikian, sahutnya juga:
"Bukankah di meja perjamuan sebelah sana masih ada
tempat kosong? Duduk saja sendiri"
"Tidak. aku ingin duduk pada meja perjamuan yang
terpisah." Raja pedang menampik, Li Tiong-hui berpikir
sejenak. akhirnya ia berpaling dan perintahnya kepada
Tui-im:
"Tambahkan satu meja khusus untuk keluarga
mereka"
Tui-im menyahut dan segera beranjak pergi dari situ.
Sementara itu wanita tinggi besar tadi telah menarik
tangan putra pangerannya sembari bertanya:
"Apakah nona ini yang kau maksudkan?"
"Benar, memang nona ini yang kumaksud, cuma yang
ananda harapkan adalah bisa mengawini ketiga orang
nona yang duduk dalam perjamuan itu sekaligus."
Kini, semua jago yang hadir dalam ruang pendopo
telah paham, apa sebabnya pangeran pedang memiliki

3350
postur badan yang jauh berbeda daripada ayahnya yang
tersohor sebagai iblis cinta ini, rupanya dia dilahirkan
oleh seorang ibu yang berperawakan menyeramkan.
Terdengar perempuan tinggi besar itu berseru:
"Baik, kita pinang ketiga-tiganya untukmu" Mendengar
ucapan tersebut semua jago ya hadir dalam ruang
pendopo sama-sama tertegun, pikirnya:
"Luar biasa, enak amat cara perempuan itu berbicara,
dia tak menyangka kalau ketiga orang nona itu justru
merupakan manusia-manusia yang paling susah dihadapi
dalam dunia persilatan saat ini. Mungkin saja Li Tiong-hui
dan Pek si-hiang yang berwatak lembut tidak
memberikan reaksinya, tapi seebun Giok-hiong... iblis
wanita ini bertabiat kasar dan berangasan, ucapan
tersebut pasti akan membangkitkan hawa amarahnya..."
"Terima kasih ibu permaisuri" Terdengar pangeran
pedang menyambut tanggapan dari ibunya dengan
penuh antusias.
Ditinjau dari wajahnya yang berseri-seri penuh
keriangan, seolah-olah dianggapnya apa yang telah
disetujui ibunya pasti akan kesampaian.
Dalam pada itu, perempuan tinggi besar itu telah
berkata lagi dengan suara lantang:
"Hey suamiku, tampaknya tidak sia-sia perjalanan jauh
kita ke daratan Tionggoan kali ini, coba lihat kita berhasil
mencarikan gundik muda untuk putra kesayangan kita."
Raja pedang mendehampelan, belum sempat
memberikan sesuatu tanggapan, Tui-im dengan
membawa dua orang lelaki berbaju hijau telah muncul

3351
dengan menggotong sebuah meja baru dan dengan
cepat meja perjamuan baru telah disiapkan.
Setelah berada dalam ruang pendopo beberapa saat,
raja pedang telah memanfaatkan kesempatan tersebut
untuk mengamati situasi di seputarnya, ketika
menyaksikan begitu banyak jago tangguh dari dunia
persilatan hadir di situ, sikap angkuhnya yang semula
menghiasi wajahnya seketika hilang lenyap.
Dengan cepat perempuan tinggi besar itu bersama
putranya berjalan menuju ke meja perjamuan yang
tersedia dan mengambil tempat duduk.
Begitu pula dengan si raja pedang, sambil mengambil
tempat duduk. bisiknya:
"Tak nyana dalam pertemuan kali ini, begitu banyak
jago tangguh dari seluruh penjuru dunia telah berkumpul
di sini, sebelum mengetahui duduk persoalan yang
sebenarnya, lebih baik hindari semua pertikaian dan
bentrokan phisik dengan orang lain, mengerti?"
Pangeran pedang melirik ibunya sekejap. kemudian
mengangguk. menundukkan kepala dan tidak berbicara
lagi,
Sebaliknya perempuan tinggi besar itu nampak sangat
tak puas dengan nasehat suami-nya, tiba-tiba ia
menggebrak meja keras-keras sambil berteriak:
"Apa yang perlu kita takuti? Hmmm, siapa berani
macam-macam dengan kita, akan kujagal dirinya terlebih
dulu"
Teriakan itu sifatnya bergumam, seolah-olah berbicara
sendiri dan tidak tertuju kepada siapa pun, tapi ratusan

3352
pasang mata para jago yang hadir dalam ruang pendopo
serentak ditujukan ke arahnya.
Begitu- juga seebun Giok-hiong yang sudah terbakar
oleh emosi dan hawa amarah sejak tadi, meski suara
hatinya ingin turun tangan, namun ia tetap berusaha
mengendalikan diri, Bisiknya kepada Nyonya pedang
patah hati: "siapa sih perempuan aneh yang kasar dan
tinggi besar itu?"
"Raja wanita penakluk harimau"
"Rasanya belum pernah kudengar nama sebutan itu?"
"Tak seorang manusia pun mengetahui asal usulnya,
ada orang mengatakan ia adalah penduduk daratan
Tionggoan yang sejak kecil hidup di daerah Lam- hay,
meskipun postur badannya kasar dan tinggi namun ilmu
silat yang dimilikinya terhitung sangat tinggi dan
tangguh."
"Nyonya pernah bertarung melawannya?"
BAB 54. Pertempuran Babak Pertama
"Biarpun belum pernah bertarung sendiri, tapi sudah
banyak kudengar orang menceritakan tentang kehebatan
ilmu silatnya..." sesudah berhenti sejenak, kembali
tambahnya:
"Kalau ilmu silat yang dimilikinya tidak hebat dan luar
biasa, bagaimana mungkin bisa menjadi istrinya si raja
pedang yang gila perempuan?"

3353
"Hampir setengah abad lamanya raja pedang malang
melintang di dalam dunia persilatan dengan
meninggalkan banyak sekali kejadian-kejadian romantis,
sekarang, justru perempuan jelek macam begitu yang
menjadi istri sahnya, itu namanya kualat, memang dia
mesti makan karma tersebut."
Nyonya pedang patah hati tertawa dingin
"Semenjak meninggalkan daratan Tiong-goan dan
hidup mengasingkan diri di Lam-hay, belum pernah satu
kali pun ia balik kemari, tak nyana hari ini dia datang lagi
ke daratan, tampaknya besar juga nyali orang ini."
"Kenapa? Apa si raja pedang punya banyak musuh di
sini?"
"Dengan wajahnya yang ganteng, ilmu silatnya yang
tinggi, ditambah lagi orangnya tak mau terikat dan hidup
dalam suasana percintaan bebas, entah berapa banyak
peristiwa menghebohkan pernah ia buat di sini, orang
persilatan memandang dia sebagai duri dalam pelupuk
mata, siapa saja berharap bisa mengenyahkan dirinya
dari muka bumi."
"Jadi nyonya pun amat membencinya?" tanya seebun
Giok-hiong sambil tertawa.
"Bukan cuma aku, saya yakin setiap manusia di dunia
ini pasti membenci lelaki cabul semacam itu, bila ada
kesempatan emas untuk membunuhnya, aku tak akan
melepaskan peluang tersebut."
Meski tidak memberikan tanggapan apa pun, dalam
hati kecilnya Seebun Giok-hiong berpikir:

3354
"Aku rasa, kejadiannya tak mungkin sesederhana itu...
tentu ada udang di balik batu"
Dalam pada itu Li Tiong-hui telah bangkit berdiri,
angkat cawan araknya dan berseru lantang:
"Aku merasa bersyukur dan berterima kasih sekali atas
kesediaan saudara-saudara sekalian untuk menghadiri
pertemuan puncak di gunung Hong-san kali ini, sebagai
tanda rasa terima kasihku yang besar, terimalah
sulangan secawan arakku ini..." selesai bicara, ia segera
meneguk habis isi cawannya.
Kata-katanya yang halus, lembut, penuh sopan santun
amat mengesankan para jago yang hadir dalam ruang
pendopo saat itu, termasuk juga seebun Giok-hiong
pribadi, tanpa terasa banyak orang ikut mengangkat
cawan masing-masing dan meneguk habis isinya.
"Li Tiong- hui" seru Seebun Giok-hiong kemudian
sambil tertawa dingin ,"Masih ada tidak bala bantuanmu
yang belum tiba di sini?"
"Raja pedang beserta keluarganya bukan termasuk
kelompok yang mendukung pihakku, cici, apa kau
anggap aku sedang menggelar siasat dengan sengaja
mengulur-ulur waktu?"
"Kalau memang sudah tiada bala bantuan yang
diharapkan, lebih baik kita mulai bertarung"
"Enci seebun, apa kau tak tenang untuk makan di
sini?" sindir Pek si-hiang tiba-tiba sembari tertawa
hambar
"Hmmm Bila saat pertarungan sudah dimulai nanti,
pertama-tama aku harus menjajal dulu ilmu silat kursus

3355
kilat yang adik Pek pelajari selama ini, pingin tahu
seberapa hebat sih kepandaian yang kau pelajari itu."
Pek si-hiang menghela napas panjang:
"Haaai... enci seebun tak usah kelewat memojokkan
posisiku, sampai waktunya aku pasti akan melayani
keinginanmu itu ..."
Berubah hebat paras muka seebun Giok-hiong, namun
ia tidak banyak bicara lagi.
Terhadap Pek si-hiang, seebun Giok-hiong memang
menaruh perasaan ngeri yang tak terhingga, walaupun
dalam pembicaraan dia selalu berusaha mengejek dan
memojokkan posisi gadis tersebut, padahal dalam hati
kecilnya ia benar-benar merasa amat takut Kembali Li
Tiong- hui memenuhi cawannya dengan arak. lalu
katanya:
"Enci seebun, ada beberapa persoalan ingin
kutanyakan kepadamu, bersediakah kau memberi
jawaban?"
"Katakan saja cepat Mumpung masih ada kesempatan
untuk bertanya, gunakan sebaik-baiknya, sebab setelah
pertarungan berkobar nanti, kau sudah tak punya waktu
lagi untuk berbuat itu"
"Dengan membawa begitu banyak jagoan cici datang
meluruk tempat tinggalku, sebenarnya tujuanmu hanya
ingin membalaskan dendam atas kematian orang tuamu
atau masih ada maksud lain, seperti misalnya ingin
merebut kedudukan Bu-lim Bengcu?"

3356
"Selain membalaskan dendam sakit hati orang tuaku,
kedudukan Bu-lim Bengcu pun aku berhasrat untuk
merebut serta mendapatkannya"
"Cici, sebagian besar pembunuh orang tuamu telah
hadir dan berkumpul semua di sini, memang inilah
kesempatan terbaik buat cici untuk membalas dendam,
sedang mengenai posisi seorang Bu-lim Bengcu,
seandainya cici berhasrat dengan senang hati kedudukan
tersebut akan kupersembahkan kepadamu."
Seebun Giokshiong tertawa dingin.
"Aku tak sudi menjabat sebuah kedudukan tinggi yang
diperoleh dengan gampang, kedudukan tersebut harus
kurebut dengan mengandalkan tenaga, pikiran serta
kemampuanku sendiri, aku ingin seluruh umat persilatan
betul-betul tunduk dan takluk seratus persen kepadaku,
mau turuti semua perintahku dengan iklas dan takluk.
aku tak ingin kedudukan Bu-lim Bengcu yang kupangku
nanti diperoleh secara kebetulan seperti dirimu."
"Kalau begitu, kecuali terjadi suatu pertarungan habishabisan
aku sudah tidak mempunyai pilihan lain lagi?"
Seebun Giok-hiong tertawa hambar.
"Jadi kau anggapjauh-jauh aku membawa rombongan
besarku datang kemari hanya bermaksud untuk
mengajak kau bergurau?"
"Aaai... bila cici sudah berketetapan begitu, aku tak
ada jalan lain kecuali melayani keinginanmu"
Sementara pembicaraan berlangsung, hidangan
mengalir masuk ke ruangan tiada henti nya.

3357
"Cici." Kembali Li Tiong- hui berkata sambil menyumpit
hidangan, "silakan mengisi perutmu dengan sedikit
hidangan yang ada, daripada kau kehabisan tenaga bila
harus bertempur nanti."
"Aku rasa, di lain waktu masih cukup banyak
kesempatan untuk menikmati hidangan, kenapa aku
mesti buang waktu dengan percuma?"
"Jadi cici sudah menemukan cara terbaik untuk
melangsungkan pertarungan ini?" tanya Li Tiong- hui
sambil meletakkan kembali sumpitnya ke meja.
"Aku rasa cara terbaik untuk melangsungkan
pertarungan ini adalah langsung bertempur dengan
mengandalkan kemampuan serta kekuatan masingmasing,
kenapa harus dicari jalan lain yang
merumitkan?"
"Maksudku, dengan cara bagaimana kita akan
melangsungkan pertarungan ini?"
"Menurut pendapatmu? "
"Kita akan bertempur partai demi partai, babak demi
bahak. atau bertarung secara massal ?"
"Kalau soal itu sih kau putuskan saja sendiri"
"Heran amat orang ini," pikir Li Tiong-hui dalam hati,
"Padahal dia sudah mempunyai rencana, kenapa tidak
dikemukakan secara blak-blakan?"
Ia mencoba memperhatikan situasi dalam perjamuan
tampak Pek si-hiang sedang memandang ke empat
penjuru dengan pandangan santai, seakan-akan ia sama
sekali tidak mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

3358
Seebun Giok-hiong mengangkat cawannya sambil
meneguk habis isinya, kemudian baru ujarnya:
"Sebagai seorang tamu, kurang pantas bagiku untuk
mendahului tuan rumah, jadi lebih baik kau saja yang
memberikan usulan serta keputusannya kujamin
usulanmu tak bakal kutampik, satu-satunya harapanku
adalah pertarungan bisa segera diselenggarakan
sehingga sebelum malam hari tiba nanti, siapa menang
siapa kalah sudah ada keputusannya"
"Bagus sekali, kalau toh cici sudah memberi mandat
kepadaku untuk mengambil keputusan akupun akan
segera beberkan semua perencanaanku. Aku rasa,
meskijumlah kedua belah pihak sangat besar dan
banyak. bukan berarti semua orang harus turun tangan
dalam kancah pertarungan ini..."
Belum habis perkataan itu diucapkan seebun Giokhiong
telah menukas sambit tertawa terkekeh-kekeh:
"Pihak siau-Iim-pay lelah menggetar formasi Lo-hantin
di muka pendopo sana, formasi semacam itu
termasuk pertarungan satu lawan satu atau pertarungan
keroyokan?"
"Tentu saja pertarungan seperti itu termasuk
pertarungan keroyokan." jawab Li Tiong-hui eepat,
sementara dalam hatinya berpikir.
"Seebun Giok-hiong benar-benar sangat hebat,
ternyata ia tahu kalau pihak siau-Iim-pav telah
menggelar formasi lo-han-tin di depan pendopo sana..."
Terdengar seebun Giok-hiong berkata lagi:

3359
"Aku harus kemukakan juga sebuah pandanganku
yakni selama aku bertarung melawan seseorang, selama
ini aku mempunyai suatu pandangan yang jauh berbeda
dengan pandangan orang biasa, terlepas jalan licik atau
cara keji macam apa pun yang hendak dilakukan asal
bisa menaklukkan pihak lawan, hal ini sudah kuanggap
sebagai suatu kemenangan."
"Ehmm, jalan pemikiranmu itu memang cukup adil,"
sindir Pek si-hiang.
"Tentu saja adil, apakah nona Pek tidak puas dengan
pandanganku ini?"
Pek si-hiang angkat wajahnya melihat waktu,
kemudian kepada Li Tiong-hui katanya:
"Kini semua jago yang ingin hadir dalam pertemuan
puncak ini telah hadir, aku rasa kita pun tak usah
menunggu lebih lama, kalau memang nona seebun
sudah tak sabar menunggu, apa salahnya bila
pertarungan akbar segera kita buka?"
Li Tiong-hui mengiakan, bangkit berdiri, memandang
parajugo sekejap lalu tanyanya: "Apakah saudara
sekalian sudah makan kenyang?"
"Sudah" sahut para jago serentak.
"Nona seebun sudah tak sabar menanti, karena itu bila
ada di antara saudara sekalian belum puas minum arak.
minumlah dulu sepuasnya, bila belum puas makan, isilah
perut Anda sekenyangnya. Bila sudah cukup puas, mari
kita keluar daripendopo, di sana sudah tersedia lapangan
yang cukup luas untuk melangsungkan pertarungan kita

3360
dapat segera melangsungkan pertarungan yang telah
kita nanti-nantikan selama ini."
Serentak para jago bangkit berdiri, keluar dari ruang
pendopo menuju ke lapangan yang telah tersedia.
Biarpun sebagian besar jago sudah keluar dari
ruangan, ternyata para tokoh yang duduk semeja dengan
seebun Giok-hiong masih tetap duduk tak bergerak di
tempat semula.
Karena perempuan itu tidak bangkit berdiri, nyonya
pedang patah hati, Ngo-tok Kiong-cu serta Thia-sik-kong
juga tidak turut bangkit dari tempat duduknya.
Sang Lam-ciau, Pek si-hiang serta si Dewa cebol Cu Gi
ikut tidak bangkit juga dari tempat duduknya.
Menyaksikan hal ini, dengan perasaan keheranan Li
Tiong- hui berpikir.
"Aneh betul perempuan ini, tadi ia mendesak terus
untuk segera dilangsungkan pertarungan sekarang dia
malah duduk tak bergerak dari posisinya, aneh apaapaan
dia ini?"
Berpikir sampai di sini, dia pun berseru:
"Mari enci seebun, semua orang sudah menanti"
Seebun Giok-hiong menyapu sekejap ke seluruh
ruangan, benar juga, semua jago telah meninggalkan
ruang perjamuan kecuali keluarga si raja pedang yang
masih tetap duduk di tempat semula,
Melihat pangeran pedang mengawasi wajahnya terus
dengan mata melotot, kontan saja amarah seebun Giokhiong
berkobar, sambil tertawa dingin serunya: "Apa

3361
yang kamu pelototkan terus? Hati-hati kucongkel keluar
biji matamu" Pangeran pedang tidak marah, pun tidak
memberi komentar, dia hanya tersenyum.
Agaknya Pek si-hiang sudah bisa menebak isi hati
seebun Giok-hiong, tiba-tiba sindirnya sambil tertawa
hambar:
"Cici seebun apakah kau enggan meninggalkan
ruangan ini karena masih ada diriku di sini?"
"Benar, aku rasa persoalan di antara kita berdua harus
segera diselesaikan daripada Li Tiong-hui turut campur di
dalam masalah ini."
"Apanya yang perlu diselesaikan?" tanya Li Tiong-hui
keheranan.
"Hanya urusan pribadi kami berdua, lebih baik kau tak
usah turut campur" sambil tersenyum Pek si-hiang
berkata pula:
"Enci seebun kuatir aku mengaturkan strategi bagimu
dalam pertarungan nanti hingga merepotkan pihaknya,
oleh karena itu dia bermaksud menghabisi nyawaku lebih
dulu."
"Ternyata kau memang amat pandai" puji seebun
Giok-hiong sambil tertawa dingin.
Mendadak dayang berbaju hijau yang berada di
belakangnya mencabut keluar sebilah pedang yang
berada di bahunya, kemudian dengan kecepatan luar
biasa menerjang ke arah Pek si-hiang sambil melepaskan
sebuah tusukan maut.

3362
Buru-buru Li Tiong-hui memberi tanda, si Sukma
Murung yang berada di belakangnya segera menyahut,
melepaskan sebuah pukulan dahsyat dan berdiri
menghadang di muka Pek si-hiang.
"Minggir kamu" hardik dayang berbaju hijau itu sambil
tertawa dingin.
"Hmmm, tidak semudah itu..." jengek Sukma Murung
sinis.
Dayang berbaju hijau itu membentak nyaring,
pedangnya diputar dua kali di tengah udara, mendadak
sasarannya berubah, kali ini dia tusuk dada Sukma
Murung dengan kecepatan bagaikan kilat
Sukma Murung sama sekali tidak meloloskan
senjatanya dengan pukulan dahsyat yang dilepaskan
tangan kirinya dia tahan serangan pedang yang tiba,
dengan kelima jari tangan kanannya yang setengah
ditekuk berbentuk cengkeraman ia balas mengancam
pergelangan tangan kanan dayang tersebut.
Melihat dayangnya yang pertama sudah dihadang
Sukma Murung, seebun Giok-hiong segera memberi
tanda kepada tiga orang dayang lainnya sambil berseru:
"Kalian serentak maju bersama"
"Li Tiong-hui tak mau kalah, dia pun memberi tanda
kepada si Dewa buas yang berbaju merah, iblis jahat
yang berbaju hijau dan setan gusar yang berbaju kuning
untuk serentak maju bersama menyongsong kedatangan
ketiga orang dayang tadi.

3363
Dalam waktu singkat delapan orang terbagi dalam
empat partai terlibat dalam suatu pertarungan yang amat
seru dalam ruang pendopo itu.
Kepada Ngo-tok Kiongcu yang duduk di sisinya,
seebun Giok-hiong kembali berseru:
"Kiongcu, sudah saatnya untuk pamerkan
kebolehanmu"
Rupanya meski seebun Giok-hiong tidak percaya kalau
Pek si- hiang bisa melatih sejenis ilmu silat yang maha
sakti dalam waktu relatif singkat, namun di hati kecilnya
tetap muncul suatu perasaan takut yang luar biasa, dia
kuatir bila apa yang dikatakan Pek si-hiang merupakan
suatu kenyataan maka kesulitan yang bakal dihadapi
pasti akan bertambah besar.
Itulah sebabnya walau pertarungan sudah
berlangsung ia masih segan untuk turun tangan sendiri.
Di antara keempat orang jagoan dari kubu seebun Giokhiong,
ilmu silat yang dimiliki Ngo-tok Kiongcu terhitung
yang terlemah, namun ilmu beracun serta binatang
beracunnya susah dilawan dan dihadapi siapa pun.
Dalam keadaan demikian, ia berharap Pek si-hiang
bisa diracuni oleh jagoannya itu entah dengan cara apa
pun, asalkan korbannya bisa dilenyapkan dalam waktu
singkat, dengan matinya Pek si-hiang maka situasi pasti
bisa dikendalikan olehnya.
Tentu saja Ngo-tok Kiongcu tidak mengerti latar
belakang tersebut, lagipula dia pun tak pernah
memandang sebelah mata pun atas kemampuan yang
dimiliki gadis tersebut, Rengeknya sambil tertawa dingini

3364
"Bocah perempuan, tadi kau enggan meneguk habis
arak beracunku, bagaimana kalau sekarang kau saksikan
kehebatan binatang beracunku yang lain?"
"Lebih baik jangan terburu napsu dulu" jawab Pek sihiang
sambil menggeleng.
"Pesan terakhir apa yang ingin kau sampaikan? Ayoh
cepat diutarakan"
Pek si-hiang tertawa dingin.
"Seebun Giok-hiong" ejeknya dingin, " Kenapa kau tak
berani turun tangan sendiri terhadapku? sudah tahu
kalau serangan terhadapku bisa mengakibatkan
kematian, kenapa kau suruh orang lain menyambung
nyawa untukmu?" seebun Giok-hiong tersenyum.
"Tidak kusangka dengan tubuh yang lemah gemulai,
nada bicaramu sombongnya luar biasa, kau tahu nama
besar Kiongcu sudah tersohor sampai di mana-mana,
dengan mengutarakan pembicaraan semacam itu, sama
artinya kau tak pandang sebelah mata pun atas
kemampuannya . "
"Nampaknya makin lama watakmu semakin rusak. kau
anggap aku tak sanggup menghabisi nyawamu?" bentak
Pek si-hiang marah.
Sementara itu Ngo-tok Kiongcu sudah mengeluarkan
seekor ular berbisa yang siap diluncurkan ke arah gadis
tersebut, hatinya tergerak begitu selesai mendengar
tanya jawab kedua orang tadi, tanpa terasa pikirnya:
"Betul juga perkataan budak ini, kalau nona ini
kelewat gampang untuk dihadapi, kenapa seebun Giokhiong
tidak turun tangan sendiri untuk menghadapinya,

3365
malahan aku yang disuruh menghadapi dia? Hmmm, aku
tak boleh nyerempet bahaya demi kepentingan orang
lain"
Berpikir sampai di sini, dia pun urungkan niatnya
untuk turun tangan.
Pek si-hiang menyapu sekejap wajah Ngo-tok Kiongcu,
lalu katanya lagi dengan suara dingin:
"Seebun Giok-hiong bisa meminta kepadamu untuk
turun tangan menghadapiku, aku rasa kau pasti memiliki
suatu kepandaian yang hebat, kenapa tidak kau cobakan
sekarang untuk menghadapiku? "
Berubah hebat paras muka Ngo-tok Kiongcu setelah
mendengar perkataan ini, alis matanya bekernyit, hawa
napsu membunuh menyebar menyelimuti seluruh
wajahnya, dalam hati ia berpikir.
"Sehebat- hebatnya ilmu silatmu, tak mungkin kau
bisa menghabisi nyawaku hanya dalam satu kali
gempuran, kelewat jumawa perkataannya ini... Hmm,
sekarang kau telah memojokkan posisiku dengan
perkataan tajam, bila aku tetap enggan turun tangan,
orang lain pasti akan menertawakan ketidak becusanku."
Berpikir begitu ia pun berseru sambil tertawa dingini
"Baiklah, bersiap-siaplah menerima seranganku"
Dengan pandangan tajam seebun Giok-hiong
mengawasi gerak gerik kedua orang itu, dia ingin
menyaksikan siapa yang keluar sebagai pemenang dalam
pertarungan tersebut
Belum lagi Ngo-tok Kiongcu melepaskan makhluk
beracunnya untuk melancarkan serangan, tiba-tiba ia

3366
saksikan Pek si-hiang malahan memejamkan matanya
seolah-olah tidak perduli dengan dirinya, tindak tanduk
gadis tersebut kontan memancing rasa keheranan dalam
hati kecilnya.
"Aneh benar budak ini." Demikian ia berpikir
"Bukannya bersiap-siap menerima se-rangan, kenapa ia
malahan pejamkan matanya rapat-rapat? Apa-apaan
dia?" Tampak Pek si-hiang masih dengan mata terpejam
bergumam:
"Manusia hanya bisa mati satu kali, bila kau tak kuatir
menghadapi kematian, silakan saja melepaskan serangan
terhadapku"
Sepanjang hidup, belum pernah Ngo-tok Kiongcu
menjumpai lawan seperti ini, bersikap begitu tenang dan
mantap walaupun ancaman telah berada di depan mata,
justru karena keanehan sikap lawannya, kembali dia
mengurungkan niatnya untuk melepaskan serangan.
"Nona seebun," tanyanya tiba-tiba, "Permusuhan apa
sih yang terjalin antara kau dengan dirinya?"
"Sebetulnya tak ada permusuhan khusus antara kami
berdua, tapi sekarang, posisi kita kan sudah berhadapan
sebagai musuh, ini berarti kalau bukan dia yang mati,
kaulah yang mampus, oleh sebab itu Kiongcu boleh turun
tangan sesuka hati, tak perlu sungkan-sungkan lagi..."
Ngo-tok Kiongcu tertawa hambar.
"Budak ini sesumbar dengan mengatakan sanggup
merobohkan musuhnya hanya dalam satu kali pukulan,
entah ancamannya ini benar atau tidak?"

3367
Tampaknya sikap Pek si- hiang yang begitu tenang
justru mendatangkan perasaan sangsi dan curiga bagi
Ngo-tok Kiongcu, oleh sebab itu ia tak ingin turun tangan
secara gegabah.
Melihat suasana berubah jadi kaku dan nampaknya
bila tak segera dilerai maka pertarungan tak bisa
dihindari, Li Tiong-hui tersenyum sambil katanya:
"Enci seebun, oleh karena Anda sendiri segan
menyerempet bahaya, aku lihat saudara ketua dari istana
panca racun pun tak berniat adu nyawa dengan
percuma, aku rasa lebih baik kita geser dulu ke halaman
luar, di situ kita bisa menggunakan segenap kemampuan
yang dimiliki untuk beradu kepandaian sekalian
disaksikan segenap anggota dunia persilatan yang telah
menunggu di sana."
"Perkataan Li Bengcu sangat tepat." Ketua istana
panca racun segera menimpali, "Kalau toh pertarungan
tak bisa dihindari, lebih baik kita tentukan menang kalah
dalam suatu pertarungan resmi."
Sebenarnya seebun Giok-hiong berniat melukai Pek sihiang
lebih dulu sebelum meninggalkan ruang pendopo
agar dalam pertarungan nanti ia bisa lebih berkonsentrasi
untuk menghadapi kawanan jago lainnya, dalam
perhitungannya, asal gadis tersebut dapat dirobohkan
maka seluruh umat persilatan bisa dibuat gempar atau
paling tidak timbul rasa ngeri mereka terhadap dirinya,
maka dengan manfaatkan kesempatan tersebut dia bisa
melukai mereka untuk selanjutnya menghabisi
perkampungan keluarga Hong-san dan membalaskan
dendam bagi kematian orang tuanya.

3368
Asalkan umat persilatan bisa dikalahkan akan
terbukalah peluang baginya untuk merebut kedudukan
sebagai ketua dunia persilatan
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali di
luar perhitungan, sikap tenang Pek si-hiang justru
membuat keder ketua istana panca racun hingga
mengurungkan niatnya untuk turun tangan
Menyaksikan hal tersebut, dengan suara dingin seebun
Giok-hiong pun berkata:
"Adik Pek. pengorbananmu kelewat besar, maka ada
baiknya kau bersikap lebih berhati-hati di kemudian hari."
Warna semu merah mulai menghiasi wajah Pek sihiang,
nampaknya gadis ini agak naik darah, sahutnya:
"Tampaknya walaupun aku enggan membunuh orang
tapi ada seseorang justru berusaha memojokkan terus
posisiku, hmmm, nampaknya aku harus membunuh
beberapa orang lebih dulu sebelum memuaskan hatimu."
Seorang gadis lemah lembut yang semula berwajah
pucat pias seperti mayat, tiba-tiba berubah begitu kaku
dan keras hati bahkan sinar matanya memancarkan
cahaya yang menggidikkan hati, perubahan drastis ini
segera mengejutkan banyak orang.
Seebun Giok-hiong adalah seorang tokoh silat yang
cukup berpengalaman dari sikap serta mimik muka yang
diperlihatkan Pek si-hiang saat ini, ia sadar bahwa gadis
tersebut bukan lagi gertak sambal saja, tapi ia benarbenar
mampu membunuh seseorang hanya dalam satu
kali gempuran, bahkan dari sinar matanya yang begitu
tajam, ia pun dapat menangkap bahwa gadis tersebut

3369
benar-benar telah mempelajari sejenis ilmu silat yang
amat tangguh. Melihat gelagat yang sangat tidak
menguntungkan ini, buru-buru ia berteriak keras:
"Tahan"
Keempat orang dayangnya serentak menghentikan
serangannya, begitu pula dengan ke-empat iblis yang
siap bertarung, yaitu si Dewa buas, iblis Jahat, Setan
Gusar serta Sukma Murung.
"Kita menuju ke lapangan pertarungan lebih dulu"
Kembali perintahnya.
Sementara mengayunkan langkahnya menuju ke
lapangan di luar pendopo, dalam hati kecilnya Seebun
Giok-hiong memeras otak mencari akal bagaimana
caranya menghadapi Pek Si-hiang, ia tahu situasi yang
dihadapinya saat ini teramat kritis, itu berarti bila ia gagal
menghabisi gadis tersebut secara terang-terangan, maka
ia mesti membokong-nya secara gelap.
Yang dimaksudkan sebagai lapangan pertarungan tak
lebih hanya sebuah lapangan rumput yang tak terlalu
luas, di sekelilingnya terhadap bentangan tali yang
membentuk arena dengan deretan bangku berjajar di
luar garis arena tersebut.
Dalam pada itu, sekeliling arena telah dipadati
kawanan jago yang siap mengikuti jalannya pertarungan
tersebut, masing-masing golongan membentuk grupnya
sendiri hingga mana golongan musuh dan mana
golongan teman terlihat jelas sekali.
"Enci Seebun, silakan menempati kursi utama" kata Li
Tiong- hui kemudian sembari memberi hormat.

3370
Seebun Giok-hiong memutar pandangan matanya
memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian
pelan-pelan berjalan menuju ke arah barat dan
mengambil tempat duduk di sana.
Nyonya pedang patah hati, ketua istana panca racun
serta Thia sik-kong sekalian masing-masing
menempatkan diri pula di samping gadis tersebut.
Karena pihak lawan telah mengambil posisinya di
sebelah barat, maka Li Tiong-hui dengan memimpin
pasukannya menempatkan diri pada posisi sebelah timur
Li Tiong-hui melirik Pek si-hiang sekejap. lalu bisiknya:
"Nona Pek, apakah kau ingin duduk dipihakku?" Pek sihiang
manggut-manggut.
"Bila aku duduk kelewat jauh dari sisimu bagaimana
caramu menghadapi seebun Giok-hiong?"
Biarpun dalam hati kecilnya Li Tiong-hui kurang
senang atas perkataan tersebut, namun ia sadar bahwa
apa yang dikatakan gadis tersebut memang suatu
kenyataan, maka sahutnya kemudian sambil tersenyum:
"Baiklah, silakan nona Pek duduk di sisiku dan
membantu aku menghadapi serbuan musuh."
Maka kedua orang gadis tersebut duduk bersanding
pada kursi utama.
Dalam pada itu kawanan jago juga telah
menempatkan diri masing-masing, suasana berubah jadi
sangat hening kecuali suara angin yang berhembus
sepoi-sepoi.
"Nona Pek. apa yang harus kita lakukan sekarang?"
bisik Li Tiong- hui kemudian.

3371
"Serbuan tentara harus dibendung dengan panglima,
lihat dulu siapa yang di terjunkan seebun Giok-hiong
dalam babak pertama nanti, kemudian kita baru memilih
orang yang tepat untuk menghadapinya."
Sementara kedua orang itu sedang berbincangbincang,
seebun Giok-hiong telah berseru lantang:
"Li Bengcu, kita boleh mulai bertarung bukan?"
"Katakan saja apa kehendakmu aku pasti akan
menuruti keinginanmu"
"Tidak baik tamu mendahului tuan rumah silakan Li
Bengcu utarakan keinginanmu"
"Akh, jangan Bagaimana pun juga cici adalah tamu
undanganku, tidak baik tuan rumah berebut dengan
tamunya, lebih baik cici saja yang mengutarakan
kehendakmu." seebun Giok-hiong termenung dan
berpikir sejenak, akhirnya dia berkata:
"Apa artinya usulan yang kuajukan nanti bakalnya juga
ditolak mentah-mentah oleh Li Bengcu? Aku rasa, lebih
baik kau yang mengajukan prasyaratnya."
Belum sempat Li Tiong- hui mengucapkan sesuatu,
Pek si-hiang telah mendahului. "Jangan kau sanggupi
keinginannya, kau bakal terjebak oleh siasat busuknya"
"Kenapa? Masa kita harus perlihatkan kelemahan
sebelum pertarungan dilangsungkan?"
"Bila kau termakan oleh jebakan busuknya hingga
mengucapkan janji, maka sesal kemudian tak ada
gunanya, lebih baik tolak mentah-mentah usulannya itu."
"Jadi kau sudah tahu apa yang bakal dia katakan?"

3372
"Seandainya ia mengajukan alasan agar korban yang
jatuh pada kedua belah pihak tidak terlalu parah maka
lebih baik urusan diselesaikan oleh kedua belah pihak
pimpinan tertingginya, apa kau akan menyetujui?"
Li Tiong-hui termangu, sampai lama kemudian baru
sahutnya: "Terima kasih banyak atas nasehat dan
petunjukmu"
"Bagi dirinya, kedua belah pihak telah saling
berhadapan sebagai musuh, berarti kalau bukan dia mati
tentu kau yang hidup, pihak mana pun tak rela
melepaskan setiap peluang yang ada untuk meraih
kemenangan, jadi hadapi saja perempuan itu dengan
segenap kemampuan yang kau miliki, kita pasti punya
cara untuk membendung serta menghadapi
gempurannya . "
Selesai mendengar perkataan itu, Li Tiong-hui berpikir
di dalam hati:
"Betul juga ucapan ini, bukan saja bisa menjaga
kehormatanku, lagipula kita bisa hadapi mereka dengan
lebih luwes dan lentur"
Ketika sampai lama sekali belum kedengaran suara
jawaban dari Li Tiong-hui, sambil tertawa dingin Seebun
Giok-hiong mengejek:
"Li Bengcu, kenapa tiba-tiba membungkam? ingin
membatalkan pertarungan ini?"
"Perkataan enci Seebun kelewat serius, bila aku benarbenar
keder dan ciut hati terhadapmu tak nanti aku
berani memusuhimu hingga kini." Diam-diam Seebun
Giok-hiong berpikir.

3373
"Sekali kau salah bicara, mampus kalian semua untuk
selamanya..." Maka untuk mewujudkan keinginannya ini,
kembali dia berkata:
"Apabila Li Bengcu sudah setuju, maka aku ingin sekali
menantang dirimu untuk bertarung pada babak yang
pertama ini, memandang sikapmu yang selama ini selalu
menganggapku sebagai kakak, akan kuhadapi dirimu
dengan tangan sebelah, asal dalam pertarungan nanti
kau berhasil mengalahkan diriku, maka seketika itu juga
akan kubawa semua anak buahku untuk pergi tinggalkan
tempat ini dan mulai detik ini kuanggap kau sebagai
satu-satunya Bu-lim Bengcu serta tidak akan mencampuri
urusan dunia persilatan lagi."
Seandainya tidak diperingatkan Pek Si-hiang lebih
dulu, sudah bisa dipastikan Li Tiong-hui akan termakan
oleh jebakan ini, tapi sekarang, sikapnya amat tenang
dan sama sekali tak terpengaruh sindiran lawan, malah
katanya sambil tersenyum:
"Keliru besar bila enci seebun berpendapat begini
sekarang, kita harus bertarung mencari kemenangan
dengan andalkan kemampuan masing-masing, ini berarti
siapa memiliki kekuatan seberapa harus digunakan untuk
menghadapi resiko sesuai dengan kadar kekuatan-nya,
aku memang tahu enci seebun adalah pemimpin dari
golonganmu, sedang aku pun pemimpin dari golonganku,
jadi kelewat dini bila kita berdua mesti bertarung duluan,
Nona see-bun, apa pun kemampuan yang Anda miliki
boleh kau beberkan sekarang, asal kau sanggup
mengalahkan kekuatanku, pada akhirnya toh mau tak
mau aku harus turun tangan juga menghadapi Anda."

3374
Dengan perasaan jengkel seebun Giok-hiong melotot
sekejap ke arah Pek si-hiang, ia tahu rencananya gagal
total gara-gara ulah gadis tersebut, katanya kemudian:
"Nampaknya tamu memang tak boleh mendahului
tuan rumah, lebih baik Li Bengcu yang menentukan
langkah berikut"
Sebagaimana diketahui kedua belah pihak sama-sama
memandang serius hasil pertarungan ini, bila dalam
babak pertama sudah menderita kekalahan maka
kekalahan tersebut akan sangat mempengaruhi
semangat juang rekan-rekan lainnya meski belum tentu
mempengaruhi seluruh situasi, oleh sebab itu orang
pertama yang harus diterjunkan dalam pertarungan
pembukaan ini merupakan kunci kesuksesan seluruh
babak pertarungan ini.
Itulah sebabnya untuk memilih orang pertama yang
akan diterjunkan dalam pertarungan ini, masing-masing
pihak harus menganalisa secara teliti dan serius agar
tidak menderita kerugian besar dalam pertarungan nanti,
Li Tiong-hui melirik Pek si-hiang sekejap. lalu bisiknya:
"Nona Pek. seebun Giok-hiong bersikeras enggan
mengutus orangnya lebih dulu, apa yang mesti kita
lakukan sekarang?"
"Dia ingin mencari kemenangan dari pertarungan
babak pertama ini, lebih baik nona utus orang yang bisa
mendatangkan seribu pertanyaan baginya."
"Tapi siapa yang paling cocok?"

3375
"Pilihlah seseorang yang sama sekali di luar
perhitungannya, tentang siapa orangnya, kau harus
putuskan sendiri"
Li Tiong-hui jadi serba salah, sampai lama sekali ia
putar otak namun belum juga ditemukan orang yang
paling cocok.
Sementara ia sedang serba salah, tiba-tiba Sang Lamciau
tampilkan diri seraya berseru: "Li Bengcu"
Begitu melihat kemunculan tokoh tersebut, Li Tionghui
segera berpekik di dalam hati:
"Akh Kenapa aku lupa dengan orang ini, memang
paling cocok bila dia yang tampil dalam pertarungan
babak pertama ini" Berpikir begitu segera sahutnya: "Ada
apa locianpwee?"
"Aku bersedia terjun dalam pertarungan babak
pertama ini"
"Sesungguhnya boanpwee tak berani memohon
kepada locianpwee untuk terjun dalam pertarungan
babak awal ini bila locianpwee tidak menawarkan diri.."
"Bengcu kelewat serius."
"Kalau begitu aku berharap locianpwee bisa
menangkan pertarungan pembukaan ini"
Sang Lam-ciau menggerakkan bibirnya seperti hendak
mengucapkan sesuatu tapi niat tersebut segera
diurungkan kembali. Pelan-pelan ia terjun ke tengah
arena dan berkata:

3376
"Aku hanya seorang tua yang cacad, adakah
seseorang jago yang bersedia memberi petunjuk
kepadaku?"
Mimpi pun seebun Giok-hiong tidak menyangka kalau
pihak lawan akan terjunkan seorang tokoh misterius
dalam pertarungan babak pertama, untuk sesaat dia
sendiri yang kelabakan dan tak tahu siapa yang mesti
diterjunkan.
Dia mencoba memandang kawanan jago-jagonya,
namun tak satu pun di antara mereka yang menyediakan
diri untuk tampil secara sukarela, nampaknya orangorang
itu segan menjadi tumbal yang pertama.
Setelah memperhatikan sekian lama kawanan jago
yang berjajar di belakangnya, see-bun Giok-hiong
menghentikan pandangan matanya ke wajah ketua
istana panca racun, katanya pelan:
"Bukankah Kiongcu punya ganjalan dan permasalahan
dengan orang gagah itu? Bagaimana kalau Anda saja
yang menghadapinya?"
Ketua istana panca racun tidak banyak komentar
pelan-pelan la bangkit berdiri dan beranjak menuju ke
tengah lapangan.
Dengan suara lantang kembali seebun Giok-hiong
berseru: .
"Kiongcu, dalam pertarungan ini, kedudukan kita
adalah saling bermusuhan sebagai musuh bebuyutan, ini
berarti siapa lengah dia harus menggadaikan nyawanya,
oleh sebab itu kau tak perlu sungkan untuk
menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk

3377
merobohkan lawan, yang penting musuh harus
dirobohkan secepatnya."
Ia cukup sadar bahwa keahlian khusus orang itu
terletak pada makhluk-makhluk beracunnya, oleh karena
takut rekannya agak sungkan menggunakan keahliannya
karena ditonton banyak jago, maka sebelum jadi kasep ia
memberi peringatan terlebih dulu.
Dengan mata tunggalnya yang tajam sang Lam-ciau
mengawasi wajah ketua istana panca racun lekat-lekat,
kemudian katanya:
"Dilihat dari kemampuanmu yang berhasil mendirikan
suatu partai dengan andalkan makhluk-makhluk beracun,
aku percaya ilmu yang kau pelajari pasti cukup tangguh,
tapi sayang sudah kelewat banyak kejahatan yang kau
perbuat, jadi orang semacam kau lebih pantang untuk
mati."
"Hmmm, jangan sombong dan mengomentari ulahku,
menangkan dulu aku sebelum banyak bacot"
"Apa pun kelebihan yang kau miliki ada baiknya
digunakan sejak awal pertarungan, sebab bila nasibku
lebih mujur hingga sanggup mengalahkan dirimu, aku
pasti akan cabut nyawamu untuk membasmi kejahatan
dari muka bumi."
"Hmmm, kau tidak merasa terlalu awal untuk
ngebacot seenaknya...?" potong ketua Istana panca
racun mangkel.
Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali lanjutnya:
"Nah, hati-hatilah..."

3378
Sepasang tangannya diayunkan secara tiba-tiba, dua
kilatan cahaya warna hijau segera meluncur ke depan
langsung menyambar ke tubuh sang Lam-ciau.
Dengan cekatan Sang Lam-ciau mengibaskan tangan
kanannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat untuk
merontokkan kilatan cahaya yang datang dari sebelah
kanan, sementara tangan kirinya menyambar secepat
kilat mencengkeram kilatan cahaya yang datang dari kiri
Termakan gempuran dahsyat Sang Lam-ciau yang
dipancarkan dari pukulannya, cahaya di sebelah kanan
itu segera tergetar dan rontok ke samping, sementara
kilatan cahaya yang datang dari sebelah kiri berhasil
dicengkeram tokoh bermata satu ini.
Tapi begitu semua orang tahu apa yang berhasil
ditangkap tokoh tersebut, serentak para jago tertegun
dan berseru kaget.
Rupanya kilatan cahaya hijau itu bukan sembarangan
senjata rahasia, melainkan dua ekor ular kecil berwarna
hijau pupus.
Ular di sebelah kanan yang tergempur telak oleh
pukulan sang Lam-ciau tadi segera terguling ke tanah,
menggeliat beberapa kali kemudian mati, sebaliknya ular
di sebelah kiri yang kena cengkeram jago tua itu segera
membalikkan ekornya dan balas menghantam lima jari
lawannya.
Sambil tertawa dingin Ketua istana panca racun
mengejek:
"Jangan kau lihat ular itu kecil, kekuatannya luar biasa
sekali, sisik di seluruh badannya mengandung bisa yang

3379
paling jahat dan mematikan bila tergurat sedikit saja,
Wahai Sang Lam-ciau, nama besar pun bakal musnah di
tanganku hari ini... Hmmm, tak nyana kemampuanmu
cuma begitu saja."
Sang Lam-ciau mendongakkan kepalanya berpekik
panjang, sahutnya: "Kau anggap hanya seekor ular kecil
sanggup menghancurkan namaku?"
Meminjam kesempatan di saat berpekik nyaring tadi,
ia kerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya dan
menggencet ular yang dicengkeramnya itu keras-keras,
tak ampun hancuran tubuh ular tadi menjadi berkepingkeping
dan berserakan di tanah lapang.
Bagi kawanan jago yang menonton jalannya
pertarungan itu, demonstrasi tenaga dalam semacam ini
tidak menimbulkan decak kekaguman yang terlalu
berlebihan, sebab bagi setiap orang yang memiliki tenaga
dalam cukup sempurna, melakukan hal yang sama
bukanlah suatu pekerjaan susah.
Berbeda sekali bagi pandangan ketua istana panca
racun yang mengetahui jelas sejauh mana kemampuan
bertahan dari ular- ularnya itu, dengan perasaan kaget
bercampur terkesiap segera pikirnya:
"Tak nyana ilmu silat yang dimiliki tua bangka bermata
satu ini luar biasa hebatnya, dari kemampuannya
menghancurkan ularku dengan sekali gencetan saja, bisa
diperkirakan kekuatannya mencapai lima ratus kati
lebih... aku mesti waspada dan tak boleh kelewat
gegabah..."
Rupanya ular kecil itu termasuk sejenis ular kecil yang
punya kulit bersisik amat tebal, kulit yang tebal tersebut

3380
tidak gampang terpotong, jangan lagi menggunakan
tangan, dengan senjata tajam pun belum tentu bisa
mengirisnya.
Selesai menghancurkan ular kecil itu, kembali sang
Lam-ciau berkata sambil tertawa dingin
"Ngo-tok Kiongcu, aku tahu hatimu tak akan puas bila
aku tak memberi kesempatan kepadamu untuk
mengeluarkan seluruh kepandaian simpananmu, nah bila
masih ada kepandaian lain yang ingin kau gunakan,
pergunakanlah segera mumpung masih ada kesempatan
kalau tidak. akulah yang akan melakukan serangan
balasan"
"Kau coba lagi kehebatanku ini" bentak Ketua istana
panca racun tiba-tiba.
Terlihat beberapa sosok bayangan hitam meluncur ke
arah tubuh sang Lam-ciau dengan kecepatan luar biasa.
Dengan cekatan Sang Lam-ciau mengayunkan
tangannya berulang kali, beberapa sosok bayangan
hitam yang meluncur dengan kecepatan tinggi itu
serentak terbabat rontok ke atas tanah.
Tatkala semua jago mengalihkan perhatiannya ke
tanah, maka tampaklah empat sosok kelabang sepanjang
setengah depa tergeletak mati di situ, semua binatang
beracun itu sudah mati hancur karena termakan getaran
pukulan yang amat dahsyat
Kemampuan ketua istana panca racun menyerang
musuh dengan makhluk beracun sebagai senjata rahasia
segera menggidikkan hati kawanan jago yang hadir
dalam arena saat itu, tanpa sadar pikir mereka:

3381
"Entah berapa banyak makhluk beracun yang
disembunyikan di balik jubah kombornya yang pria tak
mirip pria, perempuan tak mirip perempuan itu?"
Begitu berhasil memusnahkan kawanan kelabang yang
menyergap dirinya tadi, Sang Lam-ciau segera mendesak
maju sambil melancarkan serangan kilat ke tubuh
perempuan nyentrik itu, pukulannya yang tajam
bagaikan ayunan golok langsung membacok dari sisi kiri
ke tengah badan
Buru-buru Ketua istana panca racun melangkah
mundur untuk meloloskan diri, kemudian tangan kirinya
dibalik melancarkan pula sebuah serangan balasan. sang
Lam-ciau mendengus dingin.
"Hmmmm sudah cukup lama kau melakukan
kejahatan dalam dunia persilatan dengan tameng istana
panca racun, aku rasa inilah saat terakhir bagimu untuk
menghirup udara segar Hari ini aku harus lenyapkan bibit
bencana macam kau darl muka bumi."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, secara
beruntun dia lancarkan delapan buah serangan berantai
yang datang susul menyusul.
Begitu gencar dan hebatnya serangan tersebut
membuat Ketua istana panca racun ini mundur berulang
kali sambil mengucurkan keringat dingin, nyaris ia
termakan oleh kedelapan serangan maha dahsyat itu.
Sang Lam-ciau memang amat hebat, di balik pukulanpukulan
berantainya yang tajam dan hebat, ia sertakan
pula ilmu Ki-na-jiu atau ilmu cengkeraman yang aneh
tapi hebat.

3382
Di tengah pertarungan yang berlangsung sengit, tibatiba
terdengar sang- Lam-ciau membentak keras: "Kena"
"Blaaammm..." suara benturan keras yang
memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan
sebuah gempuran dahsyat bersarang telak di lengan kiri
Ketua istana panca racun itu.
Pukulan ini bersarang cukup telak. buktinya lengan kiri
Ketua istana panca racun patah seketika dan otomatis
lumpuh total tak bisa digunakan lagi.
Ketua istana panca racun mendengus dingin, dengan
tangan kanannya yang masih mampu bergerak ia balas
melancarkan sebuah pukulan ke dada lawan.
Sang Lam-ciau tidak berusaha menghindar sebaliknya
ia malah menyongsong datangnya gempuran itu dengan
keras melawan keras,
"Blaaaammmm..." sekali lagi terjadi benturan keras
yang memekikkan telinga, dalam benturan untuk kedua
kalinya ini tubuh ketua istana panca racun tergetar
mundur satu langkah dari posisi semula.
Kendatipun serangannya ini berhasil memukul mundur
ketua istana panca racun, Sang Lam-ciau sendiri pun
mendengus dingin sembari tergetar mundur dua langkah.
Ketika semua orang mengalihkan perhatiannya ke
tubuh kakek bermata satu ini, maka tampaklah pada
pergelangan tangan kirinya bergelantungan seekor ular
kecil berwarna emas, di bawah cahaya matahari
kelihatan jelas sisik ularnya yang berkilauan
memantulkan cahaya.

3383
Perubahan yang terjadi sangat mendadak dan sama
sekali di luar dugaan ini kontan mengejutkan para jago
hingga untuk beberapa saat lamanya mereka tak tahu
harus berbuat apa.
Sampai lama kemudian baru kedengaran seseorang
berteriak keras:
"Ach . . . itu mah ular bergaris emas yang paling
beracun di dunia ini"
BAB 55. Pertarungan Terakhir
Sang Lam-ciau tundukkan kepalanya perhatikan ular
emas itu sekejap. tiba-tiba ia membentak keras dan
langsung menerjang ke arah ketua istana panca racun.
Dengan tanpa perdulikan ular emas yang menggigit
pergelangan tangannya Sang Lam-ciau justru merangsek
musuhnya, semangat serta tindakan yang sama sekali di
luar dugaan ini seketika mengejutkan kawanan jago yang
hadir di seputar arena.
Terkesiap hati Ketua istana panca racun melihat
datangnya serangan yang begitu dahsyat dan
mengerikan disertai kilatan sinar mata yang setajam
sembilu itu, buru-buru ia lontarkan dua pukulan berantai
dengan niat membendung datangnya ancaman maut itu,
"Braaaakkk .. ."
Serta merta serangan dahsyat itu berhasil dibendung
serta dihalaunya ke sisi badan

3384
Siapa tahu justru pada saat itulah sang Lam-ciau
melepaskan sebuah tendangan maut persis mengarah
ulu hati perempuan nyentrik ini.
Tendangan yang disertai tenaga seribu kati ini betulbetul
luar biasa dahsyatnya seketika itu juga badan
Ketua istana panca racun ini mencelat ke udara dan
terbanting keras-keras ke atas tanah, darah segar
mengucur keluar dari panca inderanya dan tewaslah
perempuan nyentrik tersebut seketika itu.
Selesai menghabisi nyawa ketua dari istana panca
racun itu, sang Lam-ciau membalikkan badannya sembari
mencabut keluar sebuah belati tajam dari sakunya, lalu
tanpa banyak cin-cong dia babat lengan kiri sendiri
hingga kutung menjadi dua bagian
Bisa dari ular bergaris emas itu benar-benar amat keji
dan jahat, apalagi sejak dipagut ular berbisa itu Sang
Lam-ciau belum sempat menutup peredaran darahnya
ataupun mengerahkan tenaga dalam untuk membendung
serangan bisa tersebut, apalagi kesempatan mana
digunakan untuk menggempur dan menghabisi nyawa
musuh, tak heran apa bila racun jahat tadi telah
menyebar hingga ke atas ketiaknya.
Melihat darah yang mengucur keluar dari bekas luka di
ketiaknya berwarna hitam pekat, Sang Lam-ciau sadar
bahwa racun ular itu sangat hebat dan jahat, Buru-buru
dia buang pisau belatinya ke atas tanah, lalu serunya
dengan suara keras: "siapa di antara rekan-rekan yang
bersedia pinjamkan senjata tajamnya kepadaku?"

3385
Lim Han- kim memberikan tanggapannya, sembari
meloloskan pedang jin-siang-kiam dari sakunya, ia
sodorkan senjata tersebut ke tangan pendekar tua ini.
"Pedang bagus" puji sang Lam-ciau sambil menerima
sodoran pedang pendek itu. kemudian secepat kilat ia
mengayunkan tangan kanannya dan memotong habis
sisa lengannya yang tinggal separuh tadi hingga kini
benar-benar kutung sebatas bahu.
Mengutungi lengan sendiri gara-gara dipagut ular
berbisa bukan merupakan atraksi aneh bagi umat
persilatan yang sudah terbiasa berkecimpungan dalam
masalah gempur menggempur, tapi dalam satu saat
yang sama dua kali mengutungi lengan sendiri benarbenar
merupakan tindakan langka, hampir semua jago
yang hadidi seputar arena dibuat terperangah, heran,
kagum oleh tindakan tersebut
Selesai mengutungi lengan sendiri, sang Lam-ciau
mengembalikan pedang tersebut ke tangan Lim Hankim,
lalu sambil mendekati Li Tiong-hui dengan langkah
lebar, ujarnya:
"Beruntung sekali aku tak mengecewakan harapan
Bengcu dengan berhasil melenyapkan seorang musuh
tangguh dari muka bumi, dengan demikian aku pun telah
mewujudkan sumpah janjiku di masa lampau dengan
melaksanakan pesan terakhir kaucu. Kini aku sudah
menjadi seorang kakek yang cacad total, aku tak mampu
untuk melanjutkan pertarungan lagi, karena itu aku ingin
mohon diri terlebih dulu..."

3386
Tanpa menunggu jawaban dari gadis tersebut, ia
membalikkan badan dan segera beranjak pergi
meninggalkan arena.
Memandang bayangan punggung Sang Lam-ciau yang
semakin menjauh, ada keinginan dalam hati kecil Li
Tiong-hui untuk memanggil serta menahannya, tapi niat
tersebut segera dicegah Pek si-hiang: "Jangan.. Biarkan
dia pergi..."
Dengan langkah lebar Sang Lam-ciau meninggalkan
arena pertarungan, dimana ia lewat, kawanan jago buruburu
menyingkir dan memberi jalan lewat baginya.
Tak selang beberapa saat kemudian, bayangan
tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Baru saja pertarungan babak pertama berlangsung,
korban jiwa telah terjadi bahkan berakhir secara amat
tragis, kendatipun begitu kalau dihitung kembali,
kemenangan masih berada di pihak Li Tiong-hui.
Memandang mayat Ketua istana panca racun yang
terkapar bersimbah darah di atas tanah, seebun Giokhiong
mendengus dingin, katanya pelan:
"Lama kudengar Ketua istana panca racun berhasil
mempelajari sejenis ilmu beracun yang sangat aneh,
entah kematiannya kali ini. merupakan mati sungguhan
atau pura-pura?" Pelan-pelan ia bangkit berdiri,
kemudian perintahnya:
"Singkirkan dia dari sana"
Mendadak terdengar seseorang berteriak keras disusul
berlarian mendekati arena pertarungan dengan langkah
tergopoh-gopoh, ketika Li Tiong-hui berpaling, segera

3387
dikenalnya orang itu adalah Thian-hok tootiang. Dengan
perasaan heran bercampur tak habis mengerti gadis itu
berpikir "Mau apa dia kemari? Kenapa lari ter-gopohgopoh
macam dikejar setan saja?"
Tampak Thian-hok tootiang berlarian menuju ke sisi
jenasah Ketua istana panca racun, sambil berlari
mendekat teriaknya: "Letakkan jenasahnya di sana"
Rupanya pada saat itu sudah muncul dua orang lelaki
kekar berbaju hitam yang siap menggotong pergi mayat
Ketua istana panca racun dari arena pertarungan.
Teriakan yang datang secara tiba-tiba ini segera
membuat kedua orang lelaki itu tertegun dan untuk
sesaat tak tahu apa yang mesti diperbuat
"Kembalikan padaku" Kembali Thian-hok tootiang
berteriak sambil berusaha merebut balik jenasah
perempuan nyentrik itu.
Dengan perasaan ragu kedua orang lelaki itu
memandang sekejap ke arah seebun Giokshiong,
agaknya menunggu reaksi dari perempuan tersebut,
sementara tindak tanduk mereka nampak jelas
gelagapan, bingung dan tak tahu apa yang mesti
dilakukannya.
"Serahkan saja kepadanya" perintah seebun Giokhiong
kemudian sambil tertawa hambar.
Pelan-pelan kedua orang lelaki itu serahkan jenasah
ketua istana panca racun ke tangan Thian-hok tootiang
kemudian mengundurkan diri dari arena.
Setelah menerima penyerahan jenasah Ke-tua istana
panca racun, mendadak tampak air mata jatuh

3388
bercucuran membasahi wajah Thian-hok tooting, titiktitik
air mata yang mengucur deras sempat menetes
membasahi jenasah ketua istana panca racun yang
berada dalam bopongannya.
Sampai lama kemudian Thian-hok tootiang baru
berjalan menuju ke hadapan Li Tiong-hui, lalu ujarnya:
"Semula aku berniat datang kemari untuk membantu
Bengcu menghadapi serangan musuh, tapi kini ia telah
tewas di tangan sang Lam-ciau, niatku pun ikut pupus
dengan kepergiannya, kau tahu kehadiranku di sini sudah
tak berguna lagi, aku tak lagi bisa membantu Bengcu
untuk memerangi mereka."
"Jadi locianpwee ingin pergi dari sini?" tanya Li Tionghui
pelan.
"Yaa, aku harus segera balik ke kuil Lian-im-bio dan
mengubur jenasahnya di situ"
"Aneh benar sikap pendeta ini," pikir Li Tiong-hui
dalam hati kecilnya, "Ada hubungan apa antara Thianhok
sangjin dengan perempuan nyentrik yang lelaki tak
mirip lelaki, perempuan tak mirip perempuan ini?"
Berpikir demikian, tanpa sadar ia bertanya:
"Locianpwee, sebenarnya apa sih hubunganmu
dengan Ketua istana panca racun? Apakah dia adalah
sahabat karibmu?"
Thian-hok sangjin termenung sambil berpikir sejenak.
akhirnya setelah menghela napas sahutnya:
"Aaaai... Bagaimana pun juga dia toh sudah
kehilangan nyawa, jadi akupun tak perlu menjaga nama

3389
serta reputasiku lagi, bicara sejujurnya dia adalah istriku
ketika aku belum menjadi pendeta dulu"
Begitu pengakuan tersebut dibeberkan, jerit kaget,
seruan tertahan segera bergema memecahkan
keheningan, hampir semua jago yang hadir di seputar
arena dibuat terkejut oleh pengakuan tersebut, sebab
mereka semua tahu bahwa Thian-hok sangjin adalah
seorang pendeta agama To yang sangat taat dan saleh,
nama harumnya juga sudah tersohor sampai di manamana,
siapa tahu justru pendeta saleh ini mempunyai
istri yang tersohor pula namanya dalam dunia persilatan.
setelah tertegun beberapa saat, Li Tiong-hui baru
berkata:
"Kenapa tidak locianpwee kemukakan sejak tadi? Tahu
kalau dia adalah istrimu, boan-pwee pasti akan
memohon kepada sang locianpwee agar tidak mencelakai
jiwanya."
Thian-hok sangjin menghela napas panjang.
"Aaaai... salah dia sendiri kenapa terlalu banyak
melakukan kejahatan, kalau dihitung dari perbuatannya
selama ini, dia memang pantas mendapat ganjaran
hukuman mati, lebih baik tak usah disayangkan lagi."
Li Tiong-hui ikut menghela napas panjang, katanya:
"Yaa, bila locianpwee bersikeras ingin pergi dari
sini,aku pun tak bisa menahanmu lebih lama lagi..."
"Sebenarnya dia termasuk seorang wanita yang baik
hati dan mulia, hanya gara-gara sedikit salah paham
akhirnya dia minggat meninggalkan aku, tak nyana
akhirnya dia malah bergabung dengan istana panca

3390
racun bahkan menjadi ahli waris dari perguruan
tersebut..."
Berbicara sampai di situ, ia membalikkan badan dan
pergi dari situ dengan langkah lebar.
Memandang bayangan punggung Thian-hok sangjin
yang menjauh entah kenapa tiba-tiba muncul perasaan
sedih dalam hati kecil seebun Giok-hiong, bagaimana pun
juga drama tragis yang baru berlangsung sempat
menghujam perasaan dan hati sanubarinya yang paling
dalam...
Tiba-tiba terdengar Thia sik-kong berseru dengan
suara dalam:
"Jauh-jauh aku datang kemari, tujuanku tak lain ingin
bertemu dan bertarung melawan nyonya Li, nona
seebun, lebih baik kau jangan suruh budak itu untuk
maju bertempur lagi, aku sudah tak sabar untuk bertemu
dan bertempur habis-habisan melawan nyonya Li"
Seebun Giok-hiong mencoba untuk menyapu sekejap
suasana di sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya
bayangan tubuh nyonya Li belum juga kelihatan, ia pun
berseru: "Li Bengcu"
Biarpun seruan tersebut tidak terlampau keras, namun
segera menyirnakan suasana duka dan tragis yang
semula mencekam seluruh seluruh arena pertarungan
menyadarkan semua jago yang hadir di situ dan
mengembalikan pikiran mereka yang terpengaruh
suasana dramatis tadi.
Pelan-pelan Li Tiong-hui bangkit berdiri, lalu bertanya:
"Ada urusan apa nona seebun?"

3391
"Kawanan jago yang hadir di arena saat ini mencapai
ratusan orang banyaknya, bila setiap orang ingin turun
tangan melangsungkan pertarungan aku rasa bertempur
selama tiga hari tiga malam pun acara ini tak akan
selesai."
"Ucapan Anda tepat sekali, lalu apa pendapat nona
seebun?"
"Aku ingin menunjuk orangnya dalam pertarungan
berikut, apakah Li Bengcu bersedia mengabulkan?"
"Jangan kau kabulkan permintaan itu" Buru-buru Pek
si-hiang berbisik, "Kita harus mengambil keputusan
menurut jalan pemikiran sendiri"
Li Tiong-hui mengangguk. serunya kemudian kepada
seebun Giok-hiong dengan suara keras:
"Silakan nona seebun tunjuk nama kalau memang kau
ingin berbuat begitu, cuma... disetujui atau tidak. itu
urusanku sendiri"
"Pertarungan babak pertama tadi berlangsung antara
jago tangguh melawan jago tangguh, jadi dalam
pertarungan babak yang kedua ini jagoan yang ditunjuk
harus melebihi yang pertama bukan?"
"Katakan saja apa maksudmu"
"Sudah lama kudengar akan nama besar ibumu yang
tersohor dan tenar di seantero jagad, bagaimana kalau
aku ingin menantang ibumu untuk bertarung pada babak
berikut?"
"Waah, kalau soal ini mah ..." Belum selesai Li Tionghui
menjawab, mendadak terdengar seseorang

3392
menimpali dengan suara yang dingin, hambar dan kaku:
"Kau tak usah bingung."
Nyonya Li dengan pakaian serba putih tahu-tahu
sudah muncul di sisi arena dan berjalan menuju ke
tengah gelanggang dengan langkah perlahan.
Biarpun usianya sudah melehihi setengah abad,
namun bekas kecantikan wajahnya masih kentara sekali,
hanya sayang di balik keayuan tersebut tersisip hawa
dingin dan kaku yang sangat menggidikkan hati.
Setibanya di tengah arena pertarungan, perempuan
itu menghentikan langkahnya dan bertanya ketus:
"Siapa yang ingin bertarung melawanku?"
Thia sik-kong maupun nyonya pedang patah hati
serentak bangkit berdiri dan saling berebut menuju ke
tengah arena pertarungan.
"Heei... tunggu dulu" seru seebun Giok-hiong
berusaha mencegah.
"Thia sik-kong masih bukan tandingannya, biar aku
yang menghadapi perempuan ini" sela Nyonya pedang
patah hati cepat.
"Darimana kau tahu jika aku bukan tandingannya?"
hardik Thia sik-kong marah.
"Kalau cuma andalkan berapa jurus ilmu toya angin
ributmu, bagaimana mungkin bisa kau tandingi
kehebatan nyonya Li?" . Thia sik-kong tertawa dingin.
"Kalau begitu kau boleh turun tangan sesudah aku
keok di tangannya nanti"

3393
Tanpa membuang waktu lagi ia melompat ke tengah
arena dan pasang kuda-kuda siap melancarkan serangan,
Nyonya pedang patah hati tak mau kalah, dia pun
bersiap sedia terjun ke arena, tapi tindakan tersebut
segera dicegah seebun Giok-hiong, bisiknya:
"Dia bukan tandingannya nyonya Li, dalam seratus
gebrakan pertama pasti sudah keok di tangan nyonya Li,
kenapa kau takut tak bisa membalas dendam?" Pelanpelan
nyonya pedang patah hati duduk kembali, hanya
bantahnya:
"Jika dia sampai kalah, berarti kita sudah kalah dua
babak secara beruntung apakah hal ini tak akan
merosotkan mental serta semangat tempur kita?"
"Tak menjadi soal, aku datang dengan persiapan
cukup matang, jadi biarpun kalah berapa babak lagi pun
tak akan sampai mengendorkan semangat tempur kita."
Nyonya pedang patah hati tak banyak bicara lagi, ia
duduk di tempatnya semula dan membungkam diri dalam
seribu basa.
Ketika mengalihkan pandangannya kembali ke arena,
tampak Thia sik-kong dengan membawa toya besinya
sedang menghampiri Nyonya Li dengan langkah lebar,
begitu tiba di hadapan perempuan tersebut tegurnya
dengan suara dingini "Masih kenal aku?"
"Hmm,Thia Sik-kong"
"Betul"

3394
Ditatapnya wajah nyonya Li dengan sinar mata
setajam sembilu, "Dulu kita pernah bersengketa bahkan
bermusuhan, tentu masih ingat bukan?"
"Ingat sekali"
"Kalau memang masih ingat, cabut senjata-mu"
"Aku selalu melayani musuhku dengan tangan kosong,
apalagi terhadap ilmu toya angin ributmu itu, aku sudah
siap sedia, ayoh silakan mulai menyerang."
"Kau sudah edan?" hardik Thia sik-kong marah.
"Edan atau bukan, itu urusanku, kau boleh menyerang
segera, tak usah banyak ngebacot lagi." .
"Baik, akan kulihat sejauh mana kemajuan yang
berhasil kau capai selama ini." Diiringi desingan angin
tajam, toyanya melancarkan sebuah bacokan kilat ke
depan.
Dengan sikap amat santai nyonya Li mengibaskan
ujung bajunya, lalu dengan gesit dan cekatan ia
menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Gagal dengan serangan yang pertama buru-buru Thia
sik-kong menarik kembali senjatanya sambil melepaskan
sapuan kedua.
Serangannya kali ini amat dahsyat, bahkan diiringi
deruan angin topan yang memekikkan telinga.
Nyonya Li mendengus dingin, bukan mundur ia justru
maju memapaki datangnya serangan tersebut, hanya
terlihat bahunya sedikit bergerak, tahu-tahu bagaikan
sambaran petir ia, sudah berkelebat lewat persis dari sisi
badan Thia Sik-kong.

3395
Gagal dengan serangan yang kedua Thia sik-kong
membentak nyaring, toyanya diputar membentuk lapisan
cahaya yang berlapis-lapis untuk mengurung sekujur
badan lawan.
Sekali lagi Nyonya Li berkelit ke samping dengan
gerakan yang lincah dan gesit, tahu-tahu ia sudah lolos
dari kurungan lapisan cahaya tadi dan berdiri di posisi
semula.
"Tahan" bentaknya tiba-tiba.
"Apa lagi yang ingin kau katakan?" tanya Thia sik-kong
sambil menarik kembali toya baja nya.
"Kau belum berhasrat untuk menyerah kalah?"
"Menang kalah belum ketahuan kenapa aku mesti
mengaku kalah?"
"Hmm, tidak tahu diberi hati, coba kau periksa lengan
kirimu"
Hampir sebagian besar jago yang hadir di seputar
arena tak mengerti apa yang telah terjadi buru-buru
mereka alihkan perhatiannya ke lengan kiri kakek
tersebut setelah mendengar ucapan tesebut.
Betul juga, pada ujung baju sebelah kiri Thia sik-kong
telah bertambah dengan dua lubang sebesar mulut
cawan, hanya tidak diketahui lubang itu dibuat dengan
benda apa.
Menyaksikan robekan pada bajunya Thia sik-kong
kelihatan termenung dan berdiri termangu-mangu,
sampai lama sekali tak kedengaran ia mengucapkan
sepatah kata pun.

3396
Kalau mengikuti aturan yang berlaku dalam dunia
persilatan, Thia sik-kong harus mengaku kalah setelah
menjumpai kejadian seperti ini, tapi situasi saat ini
berbeda sekali dengan pertarungan di hari-hari biasa,
biarpun bajunya robek bukan berarti ia sudah tak mampu
melanjutkan pertarungan.
"Thia sik-kong," ejek Nyonya pedang patah hati
segera sambil tertawa dingin, "sedari tadi aku toh sudah
bilang, kau masih bukan tandingannya, tapi kau ngotot
terus, nah coba lihat hasilnya sekarang, mengaku kalah
bukan?"
Tak terlukiskan rasa gusar dan malu Thia sik-kong
sehabis mendengar sindiran tersebut, tanpa
mengucapkan pepatah kata pun mendadak ia
membentak keras dan melancarkan kembali sebuah
pukulan dahsyat.
Ilmu toya angin ributnya termasuk ilmu toya paling
ampuh dan dahsyat dalam dunia persilatan, apalagi
dibentangkan dalam suasana malu bercampur gusar, bisa
dibayangkan betapa dahsyat dan luar biasanya tenaga
serangan tersebut.
Dalam waktu singkat seluruh badan Nyonya Li sudah
terkurung dalam kungkungan bayangan toya tersebut.
Dilihat dari betapa kuat dan dahsyatnya tenaga
serangan yang terpancar dari toya tersebut, bisa
dibayangkan apa jadinya bila tubuh Nyonya Li sampai
tersapu senjata itu hal mana membuat para jago yang
menyaksikan jalannya pertarungan ikut tercekam dalam
ketegangan dan kekuatiran yang mendalam.

3397
Dalam waktu singkat puluhan gebrakan telah
berlangsung, Thia sik-kong telah melancarkan hampir
seratus kali sapuan dan pukulan, namun jangan lagi
melukai musuhnya, menyentuh ujung baju Nyonya Lipun
dia tak mampu.
Di tengah pertarungan, mendadak terlihat Nyonya Li
melejit ke tengah udara dan melepaskan diri dari
kepungan, lalu bentaknya dingin: "Tahan"
"Ada apa?"
"Kau masih enggan mengaku kalah?"
Thia sik-kong termenung sejenak, lalu sahutnya:
"Hingga kini menang kalah belum ketahuan kalau
memang kau hebat, ayoh coba lukai aku"
"Tidak, aku tak boleh melukaimu"
Thia sik-kong tertegun, pikirnya: "Masa dia masih
ingat bagaimana aku mengejar dan tergila-gila
kepadanya dulu, hingga tak tega melukaiku?"
Pikiran dan perasaannya jadi kalut untuk sesaat dia
tak dapat ambil keputusan hingga cuma berdiri melongo.
Nyonya Li termasuk seorang wanita yang amat cerdik,
dari perubahan mimik mukanya ia sudah dapat menebak
apa yang sedang dibayangkan kakek tersebut, sambil
tertawa dingin kembali tegurnya:
"Bila kubalikkan tanganku, nyawamu pasti akan segera
melayang"
Dalam hati kecilnya Thia sik-kong sendiri pun tahu
bahwa kepandaian silat yang dimilikinya masih bukan
tandingan nyonya Li, tapi masalahnya sekarang ia

3398
sedang bertarung di hadapan ratusan orang jago, ia
merasa bakal kehilangan muka jika harus mengaku kalah
dan mundur dari arena pertarungan.
Membayangkan bagaimana reputasi serta nama
baiknya bakal hancur dalam sekejap, Thia sik-kong
merasa tak rela untuk mengakui dengan begitu saja,
maka serunya ketus:
"Kau anggap dengan menggertakku maka aku segera
keok, ciut hatinya dan mundur dari arena pertarungan?"
Nyonya Li mendengus dingin:
"Hmmm, tua bangka tak tahu diri, kau anggap aku
benar-benar tak tega untuk membunuh mu? "
"Siapkan senjatamu" kata Thia sik-kong sambil
mempersiapkan senjata toya bajanya.
"Tidak, tak usah pakai senjata, dalam tiga jurus aku
sanggup membunuhmu, lagipula sampai detik ini sudah
berulang kali aku membujukmu agar mengurungkan
niatmu bertarung tapi kau keras kepala, enggan turuti
nasehatku, yaa apa boleh buat lagi, jangan salahkan bila
aku bertindak keji"
Agaknya Thia sik-kong sudah dibuat naik darah ia
mendengus dingin:
"Hm Kau anggap hasil latihanku selama belasan tahun
ini cuma sia-sia, tak ada guna-nya?"
"Kalau memang begitu, keluarkan semua
kemampuanmu"
Thia sik-kong mengangkat toyanya tinggi-tinggi, paras
mukanya yang semula pucat pias seperti mayat

3399
mendadak berubah jadi mengerikan seakan-akan ada
selapis hawa putih macam mega yang menyelimuti
seluruh tubuhnya.
Nyonya Li berdiri tenang, kaku, tak bergerak seperti
sebuah patung batu, hanya sorot matanya yang setajam
sembilu mengawasi toya baja Thia sik-kong tanpa
berkedip.
Kabut putih yang menyelimuti wajah Thia sik-kong
makin lama semakin tebal, sementara toya bajanya yang
terangkat ke tengah udara pelan-pelan diayunkan ke
bawah.
Menghadapi datangnya ancaman tersebut, nyonya Li
tetap berdiri tanpa bergerak, sepasang matanya masih
mengawasi terus toya baja lawan tanpa berkedip.
Ketika ujung toya kakek tersebut berada lebih kurang
dua depa dari tubuh Nyonya Li, mendadak gerak
serangannya bertambah cepat, kali ini secepat sambaran
petir langsung menghantam batok kepala perempuan
setengah umur itu.
Rupanya di balik ayunan senjata toyanya tadi
terkandung pelbagai perubahan yang luar biasa sekali,
asalkan Nyonya Li mencoba untuk berkelit ke samping
maka senjata toya itu akan menyusul ke arah mana
lawannya menghindarkan diri
Siapa tahu musuh yang dihadapinya kali ini adalah
Nyonya Li yang memiliki tenaga dalam amat sempurna,
bukan saja ia tak mencoba menghindar, bahkan masih
tetap berdiri tak bergerak pada posisinya semula.

3400
Thia sik-kong perhitungkan jarak toyanya hampir
mengenai tubuh lawannya ketika secara tiba-tiba
menyerang lebih cepat lagi, kali ini dia hantam batok
kepala lawan dengan kekuatan penuh .
Terkesiap juga perasaan semua jago yang hadir dalam
arena setelah menyaksikan kejadian ini, dalam anggapan
mereka sulit bagi Nyonya Li untuk meloloskan diri dari
ancaman maut.
Siapa tahu bersamaan dengan meluncur datangnya
toya tersebut, tiba-tiba Nyonya Li membuang tubuhnya
ke samping untuk menghindarkan diri dari babatan maut
tersebut, kemudian dengan suatu gerakan yang cepat ia
sodok bahu kanan lawannya.
Perubahan ini dilakukan sangat cepat, sedemikian
cepatnya hingga sukar diikuti dengan mata telanjang.
Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, dengan
kecepatan tak terlukis dengan kata nyonya Li menyelinap
ke sisi badan Thia sik-kong dan meluncur ke belakang
tubuhnya.
"Blaaaammmm ..." Ayunan toya yang maha dahsyat
itu menghantam keras di atas tanah, selain menimbulkan
suara benturan yang memekikkan telinga, muncullah
sebuah liang sedalam dua depa pada bekas hantaman
tersebut.
Li Tiong-hui sangat menguatirkan keselamatan ibunya,
ia coba melihat ke tengah arena.
Tampak Nyonya Li masih berdiri tenang dengan sikap
dingin dan kaku, hanya pipinya kelihatan semu merah
dan badannya sedikit bergetar, jelas di dalam

3401
pertarungan terakhir ini dia telah mengerahkan sepenuh
tenaganya.
Ketika semua orang memperhatikan keadaan Thia Sikkong,
kelihatan ia berdiri bodoh di tempat semula
dengan pandangan kosong, tubuhnya agak gemetar,
sikapnya bodoh, sampai lama kemudian ia baru berpaling
ke arah Nyonya Li sambil ucapnya:
"Dua puluh tahun berselang, aku keok pada jurus ke-
99, tapi hari ini... satu jurus pun aku tak sanggup
menghadapi aaai... percuma latihanku selama ini."
"Untuk menghadapimu barusan, seluruh kekuatanku
telah kugunakan, mestinya biar kalah juga kalah dengan
terhormat, tadi sengaja aku mengampuni jiwamu, asal
setelah kejadian ini kau tidak berlatih ilmu silat lagi maka
lukamu tak bakalan kambuh kembali Usiamu kini sudah
lanjut, apa arti nama dan kedudukan bagimu?
semestinya gunakan sisa waktumu ini untuk menikmati
hidup ..."
Thia sik-kong tertawa getir.
"Selama belasan tahun terakhir ini aku selalu dipacu
untuk berlatih karena dukungan semangat ingin menang,
tak disangka semakin dilatih, ilmu silatku semakin tak
berguna, nampaknya harapanku untuk mengunggulimu
sudah pupus, hidup terus di dunia pun rasanya tak
berarti lagi."
Dari sakunya ia mencabut keluar sebilah pisau belati,
lalu terusnya: "Masih ingat dengan pisau belati ini?"
Nyonya Li hanya berdiri dengan sikap kaku dan dingin,
mulutnya tetap membungkam dalam seribu basa.

3402
Setelah tertawa tergelak, kembali Thia sik-kong
berkata:
"Pisau belati ini kau tinggalkan kepadaku bersama
sepucuk surat yang isinya memperingatkan kepadaku
agar tidak merecoki dirimu lagi, andai aku tetap
menggodamu maka kau akan mencongkel keluar hatiku
dengan menggunakan pisau belati ini. Meski benda
tersebut bukan barang kesayanganmu paling tidak benda
itu pernah menjadi milikmu, karenanya selama ini aku
menyimpannya terus sebagai barang mestika. Kini akan
kupenuhi harapanmu tersebut, akan kukorek keluar
hatiku dengan pisau ini agar kau bisa menyaksikan hatiku
sebenarnya hitam atau merah ..."
Begitu selesai bicara, ia tancapkan pisau belatinya ke
dada sendiri dan mengorek keluar jantungnya .
Darah segar segera berhamburan membasahi seluruh
tanah, jantung yang terkorek keluar itu rontok ke tanah
dan nampak masih berdenyut keras.
Peristiwa semacam ini benar-benar di luar dugaan
siapa pun, suatu peristiwa yang tragis dan mengerikan
hati, membuat para jago tertegun dan berdiri melongo,
suasana amat hening hingga tak kedengaran sedikit
suara pun.
Sambil mencoba mempertahankan dirinya, Thia Sikkong
menuding ke arah jantungnya yang terkapar di
tanah itu sambil berseru: "Ambillah jantungku itu"
Selesai berteriak, badannya menggeliat lalu terkapar
ke atas tanah, menghembuskan napas yang
penghabisan.

3403
Nyonya Li hanya berdiri di tempat tanpa berusaha
berkelit, lontaran jantung tadi seketika mengenai bajunya
yang berwarna putih dan menodai pakaiannya.
Begitu tragis kejadian ini membuat suasana di seputar
arena hening seketika, para jago berdiri tertegun dan tak
seorang pun mengeluarkan suara.
Sampai lama kemudian Nyonya Li baru
menghembuskan napas panjang seraya menegur.
"Seebun Giok-hiong, sudah kau saksikan semua?"
"Saksikan apa?"
"Semua jago dari angkatan tua pada patah semangat
dan putus asa, tahukah kau apa sebabnya?"
"Ombak belakang sungai Tiang kang selalu
mendorong ombak di depannya, memang sudah
sewajarnya bila generasi baru menggantikan generasi
lama..." Nyonya Li tertawa dingin, tukasnya:
"Nampaknya kau sudah kelewat kebiinger sehingga
tak ada gunanya aku banyak bicara, kini dari empat jago
yang kau andalkan sudah dua orang keok di tangan
kami, apa lagi yang bisa kau andalan untuk meraih
kemenangan dalam pertarungan kali ini?"
"Tak perlu nyonya kuatirkan keadaanku" sahut seebun
Giok-hiong kalem.
Sementara itu Li Tiong-hui selalu mengamati
perubahan mimik muka lawannya, ketika dilihatnya gadis
itu tetap tenang, sedikitpun tak nampak kuatir dalam hati
kecilnya segera berpikir.

3404
"Nampaknya masih ada kekuatan lain yang
diandalkannya, ia kelihatan kalem dan begitu tenang..."
Di tengah keheningan yang mencekam seluruh arena,
dengan wajah serius selangkah demi selangkah Nyonya
pedang patah hati berjalan menuju ke tengah arena.
Nyonya Li sendiri tidak banyak komentar, dengan
mulut tetap membungkam diawasinya gerak gerik
nyonya pedang patah hati itu dengan sorot mata tajam.
Berada lebih kurang 5 depa di hadapan lawannya,
Nyonya pedang patah hati menghentikan langkahnya dan
berkata:
"Seandainya nasibku kurang mujur hari ini hingga
mesti tewas di tanganmu, tolong bakar jenasahku hingga
menjadi abu dan taburkan ke dalam laut, aku tak ingin
membiarkan mayatku tetap utuh di dunia inu"
"Kau bersikeras ingin berduel habis-habisan?"
"Ehmm, aku rasa kita berdua tak mungkin bisa hidup
bersama di dunia ini..."
Nyonya Li menggerakkan bibirnya seperti hendak
mengucapkan sesuatu, tapi begitu lirih suaranya hingga
tak kedengaran oleh siapa pun kecuali yang
bersangkutan, kelihatan Nyonya pedang patah hati
tertawa getir, menggeleng dan tetap membungkam
dalam seribu basa.
Karena tak menangkap apa yang diucapkan ibunya, Li
Tiong-hui berpaling ke arah Pek si-hiang sambil
bertanya:

3405
"Adik Pek. sebagai orang pintar tahukah kau apa yang
diucapkan ibuku barusan?"
"Tentu saja tahu, kami pernah membahas masalah
tersebut bersama, pokoknya masalah ini ada kaitannya
dengan si raja pedang dari Lam-hay."
Belum selesai ucapan tersebut, suasana di tengah
arena telah terjadi perubahan, dari sakunya Nyonya
pedang patah hati telah mencabut keluar sebilah pedang
kutung yang segera disilangkan di depan dadanya siap
melancarkan serangan, terdengar perempuan itu
berkata:
"Sejak menderita kekalahan di tanganmu tempo hari,
aku telah bersumpah akan mengalahkan dirimu dengan
pedang kutung ini, hari ini akan kulaksanakan sumpahku
itu"
Nyonya Li berkerut kening, dia seperti hendak
mengatakan sesuatu tapi niat itu dibatalkan kemudian,
pelan-pelan ia pun mencabut keluar sebilah badik dari
sakunya seraya ber-kata: "Kau boleh turun tangan"
"Hati-hati" hardik Nyonya pedang patah hati.
Tangannya digetarkan, kutungan pedang yang berada
di tangannya mendadak meluncur ke depan menusuk
dada Nyonya Li.
Dalam menghadapi serangan dari Nyonya pedang
patah hati, kelihatan sekali Nyonya Li bertindak sangat
hati-hati dan cermat, tidak seperti menghadapi Thia sikkong
tadi dimana ia tak pandang sebelah mata pun.
Ketika melihat datangnya ancaman tersebut, buru-buru

3406
badiknya diayun ke muka menyongsong datangnya
serangan tersebut.
Tidak menunggu kutungan pedang di tangan
kanannya mengenai sasaran, kembali Nyonya pedang
patah hati menggetarkan kutungan pedang di tangan
kirinya untuk melancarkan serangan berikut.
Nyonya Li berkerut kening, badiknya didorong ke
muka menyongsong datangnya kedua serangan tersebut.
Dua kutungan pedang menghadapi sepasang badik,
tanpa menimbulkan sedikit suara pun saling beradu satu
dengan lainnya diikuti kedua belah pihak sama-sama
berdiri mematung tanpa berkutik,
Beginilah cara bertarung tokoh-tokoh silat kelas dunia,
begitu bertemu mereka segera melangsungkan
pertarungan adu tenaga dalam.
Kendatipun tidak menimbulkan suara berisik, namun
semua jago yang hadir di seputar arena sadar,
pertarungan semacam ini merupakan pertarungan yang
paling berbahaya dan mematikan, di balik keheningan
dan kesunyian justru tersimpan mara bahaya yang begitu
besar, yang bisa mengancam jiwa seseorang dalam
waktu singkat.
Beratus-ratus pasang mata serentak tertuju ke tubuh
kedua orang tersebut, menantikan hasil pertarungan itu
dengan hati berdebar.
Terlihat pakaian yang dikenakan nyonya Li maupun
Nyonya pedang patah hati bergetar dan berkibar
kencang kendatipun tak ada angin yang berhembus
lewat, paras muka Nyonya Li kelihatan pucat seperti

3407
kertas, kabut putih mengepul dari ubun-ubunnya
sementara peluh mulai mengucur keluar membasahi jidat
dan tubuhnya.
Sebaliknya paras muka Nyonya pedang patah hati
berubah jadi merah kehitam-hitaman, seluruh badannya
juga basah kuyup oleh cucuran keringat.
Dari keadaan tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa
kedua belah pihak telah mengerahkan segenap tenaga
dalam yang dimilikinya untuk melangsungkan
pertarungan mati hidup, ini berarti sebelum salah satu
pihak roboh terkapar pertarungan mustahi bisa
dihentikan di tengah jalan.
Li Tiong-hui segera menyadari kalau gelagat tidak
menguntungkan, kepada Pek si-hiang buru-buru
bisiknya:
"Nona Pek. nampaknya gelagat tak beres, ibuku sudah
tak sanggup mempertahankan diri "
"Beritahu Lim Han-kim, suruh dia saja yang turun
tangan, sebab orang lain tak bisa menolong."
"Lim Han-kim..?" Li Tiong-hui keheranan.
"Yaa, hanya dia yang mampu mencegah terjadinya
banjir darah, cepat beritahu dia..."
Sementara pembicaraan sedang berlangsung
mendadak terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat
lewat langsung menerjang ke tengah arena, ternyata
orang itu adalah raja pedang dari Lam-hay.
Tampak ia mencabut keluar sebilah pedang dari
punggungnya lalu ditebaskan ke tengah arena

3408
pertarungan dengan kecepatan luar biasa, di antara
kilatan cahaya yang berkelebat tahu-tahu kutungan
pedang di tangan nyonya pedang patah hati maupun
badik di tangan Nyonya Li sudah terpapas kutung jadi
berapa bagian dan tercecer di tanah.
Gerakan tubuh raja pedang sangat cepat, begitu
berhasil mengutungi senjata yang berada di tangan
kedua belah pihak kembali jari tangannya menari kian
kemari, tahu-tahu jalan darah kedua orang wanita itu
sudah tertotok telak.
Tampak Nyonya Li serta Nyonya pedang patah hati
roboh terjungkal dan terkapar di tanah.
Pada saat yang bersamaan kembali jari tangan raja
pedang berkelebat lewat menepuk bebas pengaruh
tolokan pada tubuh kedua orang wanita itu, kemudian
baru ujarnya:
"Bila pertarungan dilanjutkan, akhirnya kau berdua
bakal sama-sama mampus, aku rasa pertarungan ini tak
perlu dilanjutkan lagi."
"Dengan tangan yang mana kau totok jalan darahku?"
tegur Nyonya Li sambil menatap raja pedang itu penuh
amarah.
"Tangan kanan"
"Dengan tangan yang mana kau bebaskan totokan
jalan darahku?"
"Dengan tangan kanan juga"
"Bagus, akan kukutungi tangan kananmu lebih dulu"

3409
"Tidak bisa" teriak seseorang secara mendadak
dengan suara ketus, "Dia harus mengorek keluar
jantungnya seperti Thia sik-kong tadi, kita harus periksa
sampai sehitam apa hatinya."
Ketika semua orang berpaling, tampak seorang
nyonya berpakaian sangat sederhana diikuti seorang
tokau (pendeta wanita dari agama To) muncul di sisi
arena dan langsung menuju ke lengah gelanggang.
Begitu melihat kehadiran perempuan berpakaian
sederhana itu. Lim Han-kim merasakan hatinya bergetar
keras hingga tanpa sadar ia melompat bangun dari
tempat duduknya, sebab wanita itu tak lain adalah
ibunya.
Untung Pek si-hiang kebetulan berpaling, melihat hal
itu buru-buru cegahnya:
"Cepat duduk kembali musuh besar sedang di depan
mata, kau tak boleh mengusik konsentrasi mereka."
Kalau di hari-hari biasa nona ini selalu bicara lembut
dan halus. maka hardikannya yang kasar kali ini seketika
membuat Lim Han-kim tertegun, akhirnya ia duduk
kembali.
Dalam pada itu raja pedang telah memperhatikan
beberapa orang wanita itu satu persatu, kemudian
katanva sambil tersenyum: "Rupanya kalian tiga
bersaudara masih berkumpul jadi satu."
"Dengan tangan kanan kau sentuh badanku, pantas
tidak kalau kukutungi lengan kananmu?" bentak Nyonya
Li dingin.
"Pantas, pantas" Raja pedang mengangguk.

3410
"Kau berhati keji, meninggalkan aku di saat hamil tua,
pantas tidak kalau kucabut keluar jantung dan hatimu?"
"Yaa, memang pantas" Untuk kedua kalinya raja
pedang mengangguk. Tokau di sisi perempuan berbaju
sederhana itu berbicara pula:
"Gara-gara kehadiranmu kami tiga bersaudara harus
gontok-gontokan dan bermusuhan sendiri hampir dua
puluh tahun lamanya, kesemuanya ini tak lain berkat
rayuan gombalmu yang manis bagai madu, keji bagaikan
racun, bukan begitu saja bahkan kau membohongi aku,
menotok jalan darahku, memperkosaku lalu
meninggalkan aku seorang diri di tengah gunung yang
sepi hingga akhirnya aku diperkosa untuk kedua kalinya
oleh orang lain, untuk dosamu itu pantas tidak bila kuiris
lidah jahatmu itu?"
"Pantas, memang pantas"
Nyonya pedang patah hati yang selama ini cuma
membungkam tiba-tiba ikut menimbrung pula:
"Gara-gara mata keranjangmu yang jahat, aku sampai
menghianati perguruan, membunuh guru sendiri, pantas
tidak bila kucongkel keluar sepasang matamu?" sambil
tertawa raja pedang manggut-manggut:
"Baiklah Tanganku, mataku, lidahku dan hatiku sudah
diingini orang lain, rasanya aku memang tak bisa hidup
lebih lama dari hari ini."
"Kau sudah kelewat banyak melakukan dosa dan
kesalahan, perbuatanmu terkutuk dan pantas dicerca,
sudah seharusnya kau mampus dari dulu."

3411
Tiba-tiba raja pedang mendongakkan kepalanya lalu
tertawa terbahak-bahak: "Hahahaha... nampaknya
sepanjang hidupku tak pernah kulakukan perbuatan
baik."
"Perbuatan baik tak pernah dilakukan, perbuatan jahat
bertumpuk-tumpuk, aku heran, kenapa Thian masih
memberi kesempatan kepadamu untuk hidup hingga
kini?"
Baru habis ucapan tersebut diutarakan mendadak
terdengar seseorang meraung keras: "Perempuan busuk.
jauhi suamiku ..."
Suara itu kasar, nyaring dan penuh tenaga, persis
auman harimau, Disusul kemudian tampak permaisuri
raja pedang melompat masuk ke tengah arena dengan
langkah lebar dan wajah hijau membesi menahan marah.
Penutup
Raja pedang berpaling memandang istrinya sekejap.
kemudian katanya:
"Kau tak perlu kuatir, rasa benci mereka terhadapku
sudah merasuk hingga ke tulang sumsum, tak nanti
mereka akan rebut suamimu." Kepada Nyonya Li katanya
pula:
"Aku sadar, selama ini tingkah lakuku yang kelewat
romantis telah mendatangkan banyak bencana dan
penderitaan bagi orang lain, sadar akan kesalahanku
inilah maka aku merantau jauh ke pulau Hay-nam untuk

3412
mencari seorang wanita yang aneh, jelek dan
menyeramkan untuk kujadikan istri, sudah hampir dua
puluh tahun kami hidup bersanding masih tak cukupkah
hukuman yang telah kujalin selama ini?"
"Belum, belum cukup, aku belum puas sebelum
menghancur lumatkan tubuhmu hingga remuk
berkeping-keping "
"Aaaai..." Raja pedang menghela napas panjang,
"Padahal di masa mudaku dulu, tak terlintas setitik
pikiran pun untuk melakukan kejahatan apalagi
membohongi kalian, bila kurenungkan kembali sepak
terjangku di masa lalu, seratus tertusuk jarum selaksa
batang perasaan hatiku, aku sudah tak betah melewati
hari-hari tersiksa seperti itu. Maka apa pun yang kalian
inginkan akan kupersembahkan semuanya hari ini juga.
Namun, sebelum ajalku tiba, perbolehkan aku untuk
melaksanakan suatu tugas mulia bagi kepentingan umat
persilatan.."
Tiba-tiba ia pungut kembali pedangnya dari atas
tanah, kemudian serunya:
"Seebun Giok-hiong, aku hendak mencabut bibit
bencana bagi umat persilatan, kau ingin bunuh diri
ataukah bertarung melawanku?"
"Siapa suruh mereka tergila-gila padamu di masa
lampau hingga rela menyerahkan kehormatannya
kepadamu? Kalau mesti berbicara sejujurnya, kau tak
salah, kau tak pantas kelewat menyesali perbuatan
sendiri, apalagi menghukum diri sendiri yang sebetulnya
tak bersalah," bujuk seebun Giok-hiong.

3413
Sementara itu Lim Han-kim telah mengambil
kesimpulan bahwa raja pedang yang berada di
hadapannya sekarang, adalah ayahnya, tapi pikiran dan
perasaannya yang ruwet membuat pemuda ini tak tahu
apa yang mesti dilakukan. Ketika ia mencoba berpaling
ke arah Pek si-hiang, dilihatnya gadis itu sedang
memandangi Tokoh di tengah arena tersebut dengan air
mata berlinang.
Kejadian ini tentu saja mencengangkan perasaan
hatinya, tanpa terasa bisiknya:
"Nona Pek. apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Cepat tampil ke depan, tantang seebun Giok-hiong
untuk berduel"
"Mana mungkin aku bisa menandinginya?"
"Tiga pukulan geledek dan satu jurus ilmu pedang
langit merupakan ilmu silat maha dahsyat di kolong langit
saat ini, kendatipun belum cukup tangguh untuk
menghabisi nyawanya, paling tidak kau masih sanggup
mengalahkannya, hadapi saja dengan tenang hati"
Lim Han-kim tertegun, setelah ragu sejenak akhirnya
ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tengah arena.
Begitu tiba di tengah arena, pemuda itu segera
berteriak keras:
"Seebun Giok-hiong, dua babak pertama telah kita
lewatkan, kedua belah pihak sama-sama telah
menampilkan angkatan tua, maka dalam babak berikut
ini aku ingin menantang nona untuk berduel. Berani tidak
kau terima tantanganku ini?"

3414
Tantangan yang sama sekali di luar dugaan ini kontan
mengejutkan semua jago yang hadir di seputar arena,
tanpa terasa beratus pasang mata serentak tertuju ke
arahnya.
Mula-mula seebun Giok-hiong kelihatan tertegun,
menyusul kemudian sahutnya sambil tertawa hambar.
"Kau ingin menantangku?"
"Benar, berani tidak kau terima tantanganku ini?"
Belum sempat jawaban diberikan raja pedang telah
berpaling memandang wajah Lim Han-kim sekejap sambil
menegur. "Anda adalah ..."
"Jangan bicara dengannya" hardik perempuan berbaju
sederhana itu mendadak. Tampak raja pedang
mengiakan dan benar-henar tidak banyak bicara lagi.
Dalam pada itu seebun Giok-hiong telah memberi
tanda, seorang dayang muncul sambil bertanya:
"Apa perintahmu nona?"
"Coba kau wakili aku menghadapi Lim tay-hiap.
cuma... kau boleh melukai tapi jangan membunuhnya,
mengerti?"
Dayang itu menyahut, mencabut pedangnya berjalan
ke hadapan Lim Han-kim dan katanya:
"Lim siangkong, silakan menyerang lebih dulu"
Lim Han-kim menggeleng:
"Kau bukan tandinganku lebih baik suruh seebun Giokhiong
maju sendiri."

3415
"Lim siangkong, asal kau mampu mengalahkan budak.
nona pasti akan melayani tantanganmu itu."
"Betul juga omongan dayang ini," pikir Li Han-kim
kemudian, "Lagipula aku toh belum tahu sampai sejauh
mana keampuhan ketiga jurus pukulan geledek serta
ilmu pedang langit tersebut, kenapa tidak kupakai
dayang ini sebagai kelinci percobaan?" Berpikir begitu,
maka ia pun berseru: "Kalau begitu berhati-hatilah nona"
sebuah pukulan segera dilontarkan lurus ke depan.
Menyaksikan datangnya serangan itu sangat aneh,
lagipula susah diramalkan ke bagian mana serangan itu
tertuju, terpaksa dayang itu melompat ke samping untuk
menghindarkan diri.
Siapa tahu pada saat itulah Lim Han-kim memutar
tangan kanannya sambil mengerahkan hawa murni,
sebuah pukulan dahsyat tahu-tahu sudah meluncur ke
muka.
Terdengar dayang itu menjerit kesakitan, tubuhnya
terlempar lima langkah ke belakang, roboh terjungkal
dan pedangnya terlempar hampir dua kaki dari sisi
tubuhnya.
Mimpi pun Lim Han-kim tidak menyangka kalau
pukulan geledek memiliki kedahsyatan yang begitu
mengerikan untuk sesaat ia berdiri tertegun.
Ketika ia coba memperhatikan dayang tersebut,
tampak gadis itu sudah tergeletak tewas dengan darah
segar menyembur keluar dari ketujuh lubang inderanya.
Sambil gelengkan kepalanya berulang kali dan
menghela napas panjang kata Lim Han-kim:

3416
"Seebun Giok-hiong, kenapa kau biarkan seorang anak
buahmu dengan ilmu silat yang begitu bersahaja untuk
menghantar nyawa dengan percuma? Apakah kau tidak
merasa tindakanmu kelewat keji?"
Demonstrasi ilmu pukulan yang begitu dahsyat ini
kontan mengejutkan seluruh jago yang hadir di sana,
termasuk juga Nyonya Li sampai berdiri terbelalak
dengan sinar mata tak percaya, ternyata tak seorang pun
di antara yang hadir tahu ilmu silat macam apa yang
telah digunakan anak muda itu barusan. Pelan-pelan
Seebun Giok-hiong bangkit berdiri, katanya:
"Harus kuakui, Pek Si-hiang memang memiliki
kemampuan yang luar biasa, tak nyana dalam beberapa
waktu yang amat singkat kau mampu mengubah
seseorang menjadi begitu dahsyat..."
Kemudian setelah berhenti sejenak. tambahnya:
"Tapi sayang, kau telah mencelakainya, gara-gara
ulahmu itu, dia yang mestinya tak perlu mampus dalam
pertemuan kali ini, terpaksa harus menghadapi saat
akhirnya."
Lim Han-kim cukup sadar sampai dimana kehebatan
ilmu silat yang dimiliki gadis tersebut seandainya ia
benar-benar berniat membunuhnya, hal itu bisa
dilakukannya semudah membalikkan telapak tangan, tapi
ibaratnya sudah terlanjur menunggang di punggung
harimau, mau mundur pun sudah tak mungkin, maka
mau tak mau sambil membesarkan nyali ia menanggapi:
"Nona tak usah banyak bicara, siapa menang siapa
kalah masih menjadi teka teki besar, kalau ingin bicara

3417
sesumbar, lakukan saja setelah berhasil mengungguli
diriku nanti."
Mendengar ucapan tersebut raja pedang tertawa
tergelak. timbrungnya dengan suara menggeledek
"Anak manis, hadapi perempuan itu dengan perasaan
lega, cukup melihat semangatmu yang luar biasa, aku
yakin kemenangan pasti berada di pihakmu." ,
Walaupun di bibir seebun Giok-hiong bicara besar,
padahal hatinya sudah dibikin ciut oleh kematian
dayangnya di tangan Lim Han-kim tadi, ia cukup sadar
betapa dahsyatnya ilmu silat yang digunakan pemuda itu.
Maka setelah menghimpun tenaga dalamnya ia
menghardik. "Hati-hati"
Mendadak sebuah pukulan dilontarkan ke depan.
Serangan ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa,
Lim Han-kim hanya merasakan pandangan matanya
kabur, tahu-tahu selapis bayangan tangan sudah
mengurung belasan buah jalan darah penting di seluruh
badannya.
Menghadapi situasi seperti ini, tak terlukis rasa
terkejut anak muda itu, buru-buru dia menghimpun
seluruh kekuatan tubuh yang dimilikinya dan melepaskan
sebuah pukulan meledek.
ilmu silat yang maha dahsyat ini bukan saja memiliki
perubahan yang sukar diduga sebe-lumnya, lagipula
secara otomatis akan mengeluarkan tenaga perlawanan
bila membentur sesuatu kekuatan lain.
"Blaaammmm . . ." Terdengar suara ledakan yang
memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan,

3418
bayangan tangan yang semula menyelimuti seluruh
udara tadi tahu-tahu hilang lenyap tak berbekas, seebun
Giok-hiong dengan wajah hijau membesi terlempar
mundur sejauh tiga langkah lebih.
Selesai melancarkan pukulan yang pertama, secara
berantai Lim Han-kim melepaskan pula pukulan yang
kedua diimbangi terjangannya ke muka.
Buru-buru seebun Giok-hiong menangkis datangnya
ancaman itu, siapa tahu di saat terakhir sebelum terjadi
bentrokan kekerasan, tiba-tiba Lim Han-kim memutar
telapak tangannya sambil berganti sasaran.
"Duuuk . . . Kraaaakkk . . ." secara telak pukulan itu
bersarang di lengan kiri seebun Giok-hiong menyebabkan
lengan gadis itu terkulai lemas ke bawah.
Rupanya dalam hantaman kerasnya tadi Lim Han-kim
berhasil mematahkan tulang tangan kiri gadis tersebut
Seebun Giok-hiong mendengus dingin, secepat petir ia
mundur sejauh satu kaki lalu sambil meloloskan
pedangnya ia membentak nyaring, diiringi kilauan cahaya
putih, sebuah tusukan kilat dilepaskan. sedemikian cepat
gadis itu melancarkan serangan pedangnya membuat
Lim Han-kim tak sempat memutar otaknya, dalam
keadaan gelagapan cepat-cepat ia cabut pedangnya
sambil menyongsong kedatangan ancaman itu.
"Traaangg..." Dentingan nyaring bergema
memecahkan keheningan, sekali lagi seebun Giok-hiong
terdesak mundur sejauh tiga langkah, sekujur badannya
bermandikan darah, ia berdiri sambil menenteng
pedangnya dengan wajah serius dan kaku.

3419
Sebaliknya Lim Han-kim berdiri dengan napas
terengah-engah dan keringat membasahi seluruh
tubuhnya, jelas ia kelelahan dan kehabisan tenaga.
Bentrokan yang baru terjadi ini berlangsung amat
cepat, sedemikian cepatnya hingga tak banyak jago yang
sempat menyaksikan jalannya pertarungan itu secara
jelas.
Kendati begitu, raja pedang dapat mengikuti semua
pertarungan itu dengan jelas, tampak dia menghampiri
Lim Han-kim dengan langkah pelan dan bertanya lembut:
"Anak muda, apa sih nama ilmu pedang yang barusan
kau gunakan?"
"Il... ilmu gedang laa... langit" sahut Lim Han-kim
tersengal-sengal. Raja pedang segera tertawa terbahakbahak:
"Hahahaha... cukup, cukup, seandainya kau memiliki
kematangan seratus persen, aku yakin tiada seorang
manusia pun di dunia ini yang mampu menandingimu."
Sementara itu seebun Giok-hiong masih berusaha
menahan goncangan tubuhnya yang keras, lalu serunya
diiringi suara tertawa yang tinggi melengking:
"Pek si- hiang, kendatipun kau berhasil menangkan
pertarungan hari ini, sayang seluruh orang yang hadir
dalam pertemuan hari ini bakal mampus dan tak akan
terhindar dari petaka, peristiwa tragis tak lama lagi akan
segera berlangsung."
Pek si-hiang bangkit berdiri, bisiknya kepada Li Tionghui:
"Nona Li, ayoh kita bujuk cici seebun agar segera
mengakhiri drama ini."

3420
Sementara itu suasana dalam arena telah terjadi
perubahan, raja pedang dengan wajah serius telah
mencabut pedangnya dan ditancapkan di hadapan Lim
Han-kim sambil berkata:
"Percuma aku memiliki nama besar sebagai raja
pedang nyatanya aku harus mengakui bahwa jurus
seranganmu tadi tak mampu kuhadapi. Nah, terimalah
pemberian pedang ini sebagai kenangan"
Setelah itu kepada seebun Giok-hiong tegurnya pula:
"Jadi kau adalah putrinya seebun Hong dari perguruan
bunga bwee?"
"Benar"
Meskipun darah yang bercucuran keluar dari mulut
lukanya amat deras, hampir seluruh pakaian yang
dikenakan telah bergelepotan darah, namun ia tetap
bersikap tegar, tenang dan tak terlintas perasaan
kesakitan, seakan-akan luka yang dideritanya itu tak
pernah terpikir olehnya.
Setelah tertawa hambar kembali raja pedang
bertanya:
"jadi sekarang kau ingin membalaskan dendam sakit
hati orang tuamu?"
"Betul, dendam kesumat ini lebih dalam dari samudra,
sebagai keturunannya aku wajib membalaskan dendam
bagi kematian mereka berdua." Raja pedang segera
tertawa terbahak-bahak:
"Hahahaha... membalaskan dendam kesumat bagi
kematian orang tua memang menjadi kewajiban setiap

3421
putra putrinya, cuma sayang seebun Hong bukan ayah
kandungmu." Mula-mula seebun Giok-hiong agak
tertegun menyusul kemudian teriaknya marah:
"Ngaco belo, kau jangan mencoba memutar balikkan
kenyataan semua peristiwa ini kudengar sendiri dari ibu
asuhku..."
"Kau anggap Seebun Hong itu manusia super atau
manusia hebat?"
Raja pedang tersenyum, "Mana mungkin dia bisa
melahirkan seorang putri secerdik dan sehebat dirimu?"
"Lalu menurut pendapatmu, siapa ayahku?"
"Tentu saja aku, si raja pedang"
Begitu ucapan tersebut dikemukakan, suasana di
seluruh arena jadi gempar. seebun Giok-hiong nampak
tertegun, tapi segera hardiknya: "Kau jangan ngoceh
seenaknya..."
Sambil berteriak. tangan kanannya diayunkan
berulang kali, sekilas cahaya pedang segera meluncur ke
depan dengan kecepatan luar biasa.
Temyata si raja pedang sama sekali tak berusaha
untuk menghindar tampak empat bilah pedang pendek
menancap telak di tubuh raja pedang tersebut, darah
segar menyembur keluar membasahi tubuhnya.
Dengan rasa tertegun bercampur keheranan tegur
seebun Giok-hiong: "Mengapa kau tidak menghindar?"
"Mereka semua menuntut salah satu anggota tubuhku,
jadi sudah selayaknya bila kau pun mewakili ibumu untuk
menusuk tubuhku beberapa kali."

3422
"Jadi kau bicara serius?" seebun Giok-hiong mulai
mengerutkan dahinya.
Pelan-pelan si raja pedang mengeluarkan separuh
gelang kemala dari dalam sakunya, sambil diperlihatkan
ke hadapan gadis itu katanya:
"Asal kau memiliki separuh gelang kemala yang lain,
maka ceritaku tadi akan terbukti bukan isapan jempol
saja."
Seebun Giok-hiong menerima pemberian gelang
kemala itu, setelah diamati sekejap. dari dalam sakunya
dia pun mengeluarkan separuh buah gelang kemala yang
segera disatukan dengan gelang kemala pemberian raja
pedang.
Benar juga, ternyata gelang itu memang asalnya satu,
bahkan pada kedua belah gelang yang telah disatukan itu
terbaca beberapa huruf yang berbunyi:
"PUTRI RAJA PEDANG."
"Sekarang kau sudah percaya bukan?" tanya raja
pedang sambil menghela napas panjang.
Tiba-tiba seebun Giok-hiong menutup wajahnya dan
menangis tersedu-sedu, tanpa mengucapkan sepatah
kata pun ia balikkan tubuh dan lari meninggalkan arena.
Sementara itu Nyonya Li mengikuti semua peristiwa
tersebut dengan pandangan kaku dan dingin, selapis
hawa putih menyelimuti wajah-nya, bentaknya
mendadak: "Kau benar-benar biadab, dimana saja
melakukan perbuatan tak senonoh"

3423
Pek si-hiang sendiri pun menggunakan kesempatan
tersebut berbisik kepada Li Tiong-hui:
"Kini ancaman musibah telah berlalu, yang tertinggal
hanya urusan pribadi beberapa orang itu, lebih baik kau
bubarkan dulu para jago yang hadir di sini." Li Tiong-hui
manggut-manggut, segera serunya lantang:
"Kini badai dan ancaman telah berlalu, aku rasa
saudara sekalian juga tak ada gunanya tetap tinggal
terus di sini, silakan kembali dulu ke ruang pertemuan
untuk mencicipi hidangan."
Pada mulanya kawanan jago itu mengira pertempuran
berdarah yang amat mengerikan pasti tak bisa dihindari,
bahkan keselamatan jiwa mereka pun menjadi tanda
tanya besar, siapa tahu akhir dari kesemuanya ini sama
sekali di luar dugaan.
Maka begitu Li Tiong-hui turunkan perintahnya, para
jago pun serentak membubarkan diri dari seputar arena
menuju ke ruang pertemuan.
Nyonya pedang patah hati pun berpaling ke arah anak
buah yang dibawa seebun Giok-hiong sambil memberi
perintah: "Lebih baik kalian pun membubarkan diri"
Dengan kepergian seebun Giok-hiong, berarti
rombongan ini telah kehilangan pemimpinnya, ucapan
dari Nyonya pedang patah hati segera menyadarkan
mereka dari lamunan, tanpa diperintah untuk kedua
kalinya serentak mereka membubarkan diri dari arena
tersebut.
Dalam waktu singkat lembah Ban-siong-kok jadi
hening dan sepi, dari berapa ratus orang yang semula

3424
memadati lapangan tersebut kini tersisa hanya belasan
orang saja.
Setelah suasana jadi hening kembali, Pek si-hiang baru
tampil ke depan, berjalan menuju ke hadapari Tokau itu
dan memberi hormat sambil serunya: "Ooh ibu . . .
apakah kau masih kenal dengan putrimu?"
Dengan air mata berlinang Tokau itu membangunkan
Pek si-hiang, bisiknya:
"Sekarang berdiri dan menyingkirlah dulu ke sana, aku
harus membantu bibi Li untuk membuat perhitungan
dengan lelaki paling keji ini." Raja pedang menggeleng
pelan, tukasnya:
"Kalian tak perlu turun tangan sendiri, apa yang telah
kujanjikan pasti akan kupersembahkan satu persatu
kepada kalian semua."
Tiba-tiba Nyonya Li menghela napas panjang katanya:
"Kalau dipikir kembali, semua pertikaian, dendam
kesumat dan rasa benci yang berlangsung dalam tiga
puluh tahun terakhir ini hanya timbul gara-gara ulah kau
seorang, semestinya kau patut merasa bangga serta
menyesal atas semua perbuatanmu itu, karena
kesemuanya ini tak terlepas dari ulah kau seorang." Raja
pedang mendongakkan kepalanya dan tertawa keras:
"Hahahaha... mungkin kalian anggap hidupku selama
ini kulewati dalam suasana penuh riang gembira dan
kebahagiaan-.." setelah menghela napas sedih,
lanjutnya: "Kalau kamu semua masih bisa membenci
seseorang, sedang aku... tak ada seorang pun yang bisa
kubenci, tak seorang pun bisa ku- kekang dan kucintai...

3425
hidupku selama dua puluh tahun terakhir ibarat duduk di
atas jarum, mungkin sampai mimpi pun kalian tak akan
bisa membayangkan betapa tersiksa dan menderitanya
hidupku selama ini."
Mendadak Lim Han-kim berjalan menuju ke hadapan
ibunya, lalu berseru: "Ooh ibu, apakah si raja pedang
inilah ayah kandungku?"
"Sebelum kau lahir di dunia ini, ayahmu telah menyianyiakan
kau, membuang dirimu dari sisinya, jadi ayahmu
sudah mati sedari dulu."
"Ooh ibu . . ." Kembali Lim Han-kim menukas, "Bagi
seorang anak, orang tua itu selalu benar dan tak
bersalah, kendatipun di masa lalu mungkin ayah telah
menyakiti hati ibu serta menyia-nyiakan kita berdua, tapi
bagaimana pun juga ia tetap adalah ayah kandungku,
ibu..."
"Tutup mulut" bentak perempuan itu penuh amarah,
"Sekarang kau telah dewasa, kau boleh pilih mau ikut ibu
atau ikut bapakmu, aku memang tak mampu mencegah
keinginanmu tentukan sendiri pilihanmu sekarang juga."
Lim Han-kim tertegun dan tak berani banyak bicara
lagi, dengan mulut terbungkam terpaksa ia mundur dari
arena.
Pelan-pelan raja pedang menyapu Nyonya Li sekalian
sekejap. ketika dilihatnya beberapa orang wanita itu
memandang ke arahnya dengan sinar mata kebencian,
sadarlah lelaki ini bahwa kebencian mereka terhadap
dirinya telah merasuk sampai ke tulang sumsum, maka
setelah tertawa hambar katanya:

3426
"Sebelum ajalku tiba, ada beberapa patah kata ingin
kusampaikan terlebih dulu, sebab tidak enak rasanya
kalau tidak kuutarakan kepada kalian"
"Cepat katakan"
"Sepeninggalku nanti berarti semua dendam kesumat
yang terjalin antara kalian semua ikut berakhir pula, aku
berharap kalian jangan saling bermusuhan lagi, hiduplah
berdampingan dengan penuh kedamaian-"
"Kau tak usah mencampuri urusan kami bersaudara..."
potong Nyonya Li ketus.
"Hahahaha... baiklah, beri sedikit kesempatan bagiku
untuk berpamitan dengan anak istriku..."
Ia berjalan menghampiri istrinya yang jelek itu dan
secara tiba-tiba menotok jalan darahnya hingga
Pangeran maupun permaisuri pedang tak dapat berkutik
lagi. Kemudian diambilnya kutungan pedang dari atas
tanah dan katanya lebih jauh:
"Bila jalan darah mereka berdua tidak kutotok lebih
dahulu, mereka pasti akan berusaha menghalangi
niatku..."
Bicara sampai di situ, mendadak kutungan pedang itu
diayunkan ke atas lengan kanan sendiri dan menebasnya
hingga kutung menjadi dua bagian.
Darah segar pun segera menyembur keluar dari mulut
lukanya dan membasahi tubuhnya.
Paras muka si raja pedang tetap tenang seolah-olah
tak pernah terjadi suatu peristiwa pun, ia pungut lengan
kanan sendiri yang telah tertebas kutung itu dan

3427
diserahkan ke tangan nyonya Li sambil katanya: "Nah,
terimalah lengan kananku"
"Buang saja ke tanah" jawab Nyonya Li sambil
melengos ke arah lain.
Raja pedang tersenyum, ia buang kutungan lengan
kanannya ke tanah kemudian baru berpaling ke arah
nyonya berpakaian Tokau itu sambil katanya lagi: "Kau
inginkan lidahku, nah segera kupersembahkan lidahku
untukmu..."
Kembali kutungan pedang itu bekerja menyayat lidah
sendiri, kucuran darah segar kembali menyembur keluar
dari mulutnya membasahi pakaian maupun permukaan
tanah.
Raja pedang kembali memungut potongan lidahnya
dan diberikan kepada pendeta wanita itu.
Dengan mata terpejam rapat dan air mata bercucuran
deras membasahi pipinya, pendeta wanita itu menerima
kutungan lidah tersebut dan memegangnya erat-erat.
Ketika ia mengalihkan kembali pandangan matanya ke
tengah arena, tampak si raja pedang telah mencongkel
keluar mata kanan sendiri dan menyerahkan ke tangan
Nyonya pedang patah hati.
Sambil menerima bola mata yang masih bergelepotan
darah segar itu Nyonya pedang patah hati
mendongakkan kepalanya dan tertawa keras.
Selesai mengutungi lengan sendiri, memotong lidah
sendiri dan mencongkel keluar biji mata sendiri, kembali
raja pedang mengayunkan kutungan pedang itu ke arah
ulu hati sendiri

3428
"Cukup," bentak Lim Han-kim sambil menerjang ke
arah si raja pedang.
Mendadak raja pedang mengayunkan kakinya
melancarkan sebuah tendangan kilat ke arah dada Lim
Han-kim, tendangan tersebut meski dilancarkan sangat
cepat dan luar biasa hebatnya, namun sama sekali tidak
mengandung tenaga penghancur yang mengerikan,
sebaliknya tenaga yang lembut justru menahan tubuh
anak muda itu hingga tak mampu bergerak lebih jauh.
Bukan begitu saja, malahan bersamaan waktunya
terlihat tubuh Lim Han-kim terhuyung mundur dan roboh
terkapar ke tanah, rupanya dalam tendangan tersebut
raja pedang telah menotok jalan darahnya.
Bersamaan waktunya tubuh Lim Han-kim roboh
terkapar ke atas tanah, raja pedang telah mengayunkan
kutungan pedangnya ke arah ulu hati sendiri, membelah
dadanya dan mengorek keluar jantung sendiri yang
nampak masih berdenyut
Di bawah sinar matahari yang cerah, wajah raja
pedang kelihatan amat menyeramkan dengan wajah dan
tubuh penuh gelepotan darah ia awasi perempuan
berbaju sederhana itu sambil menyeringai
Menyaksikan adegan yang sangat mengerikan ini,
perempuan berbaju sederhana itu tak sanggup menahan
diri lagi, tiba-tiba teriaknya keras: "Kekasih Lim ..."
Sembari berteriak, ia menerjang ke muka dan
memeluk tubuh raja pedang itu erat-erat.
Semenjak mengutungi lengan sendiri, mengorek
keluar biji mata kanannya, memotong lidah sendiri dan

3429
mencongkel keluarjantung sendiri, posisi raja pedang
masih tetap berdiri tegak, ini semua tak lain berkat
pertahanan tubuh serta tenaga dalamnya yang kuat, tapi
setelah ditubruk oleh tubuh perempuan berbaju
sederhana itu, ia tak sanggup menahan diri lagi,
tubuhnya langsung roboh terjungkal ke tanah.
Serentak Nyonya Li, pendeta wanita serta Nyonya
pedang patah hati maju mengerumuni tubuh si raja
pedang tersebut
Tampak raja pedang menggeliat dan berusaha bangkit
berdiri, dengan menggunakan darah yang mengucur dari
tubuhnya ia menulis beberapa huruf di atas pakaian
Nyonya Li yang berwarna putih itu, tulisan tersebut
berbunyi: "Biarkan mereka ibu dan anak pulang kembali
ke Lam-hay" Dengan air mata bercucuran Nyonya Li
mengangguk, bisiknya: "Tak usah kuatir saudara Lim,
akan kupenuhi permintaanmu itu." Kembali raja pedang
menulis di atas pakaian Nyonya Li dengan darahnya:
"Dengan darah telah kubayar semua hutangku, kini
hutang piutang telah impas, perasaan hatiku juga ikut
lega."
"Kekasih Lim, kenapa kau anggap semuanya ini terlalu
serius..." pekik perempuan berbaju sederhana itu sambil
berpekik sedih.
Raja pedang menggeleng, kepada pendeta wanita
yang berdiri di hadapannya kembali dia menulis:
"Aku mewakili anakku meminang anak putrimu, harap
putrimu bersedia menjadi istri Han kim."

3430
Dengan air mata bercucuran pendeta wanita itu
mengangguk. katanya:
"Pada dasarnya mereka memang pasangan sejoli yang
setimpal, aku pasti akan mengawinkan mereka berdua."
Sekujur badan raja pedang mulai gemetar keras, tapi
ia memaksakan diri untuk menulis kembali:
"Kalau teringat kembali cinta kasih kita semua di masa
lalu, aku menyesal kenapa Thian menimpakan nasib
buruk untuk kita semua."
Dengan menahan sesenggukan karena sedih kata
Nyonya pedang patah hati:
"Sebelum bertemu denganmu, memang timbul rasa
benci dalam hatiku, tapi sekarang, melihat cucuran
darahmu, aku merasa amat menyesal..."
Mendadak raja pedang menggeliat sambil melompat
bangun, ia genggam tangan kanan perempuan berbaju
sederhana itu erat-erat, lalu mata kirinya terpejam dan
menghembuskan napas terakhir.
"Kekasih Lim... Kekasih Lim..." pekik perempuan
berbaju sederhana itu sambil memeluk jenasah raja
pedang erat-erat.
Isak tangis pun segera meledak memecahkan
keheningan lembah Ban-siong-kok, suasana menjadi
amat murung dan memedihkan hati.
Entah berapa saat sudah lewat, sampai lama
kemudian Nyonya Li baru membesut air matanya,
membangunkan perempuan berbaju sederhana itu dan
berusaha membujuk:

3431
"Ji-moay (adik kedua), orang yang telah mati tak akan
hidup kembali, menangis terus juga tak ada gunanya kau
harus menjaga kesehatan badanmu." sambil menahan
rasa sedih yang mendalam jawab perempuan itu:
"Semenjak kupunahkan seluruh kepandaian silatku,
sebenarnya perasaan hatiku telah mengering, aku
merasa banyak berhutang kepadanya maka akan
kugunakan sisa hidupku untuk menemani kuburannya,
lagipula anakku Han-kim sudah dewasa, aku berharap
cici mau mewakili aku untuk mengawasinya."
Selesai berkata ia bopong jenasah raja pedang dan
beranjak pergi dari situ dengan langkah lebar.
"Mari kuantar" bisik Nyonya pedang patah hati sambil
mengintil di belakangnya.
Sepeninggal kedua orang wanita itu, Nyonya Li baru
berpaling ke arah pendeta wanita itu sambil berkata:
"Sam-moay (adik ketiga), akhir dari drama ini kelewat
tragis... aaai, yang harus kita pikirkan sekarang adalah
bagaimana dengan keturunan kita, ayoh kita bereskan
perkawinan dari Han-kim dengan putrimu..."
Kemudian setelah angkat wajahnya dan
menghembuskan napas panjang, lanjutnya:
"Tugasku menjaga keadilan dan kebenaran dunia
persilatan telah berakhir, tanggung jawabku terhadap
perkampungan keluarga Hong-san juga telah usai, aku
rasa semua tugas ini menjadi giliran Lim Han-kim untuk
melanjutkan. Aku percaya dengan bantuan Pek si-hiang
yang cerdik dan hebat, dalam tiga puluh tahun
mendatang dunia persilatan tak akan terjadi masalah

3432
lagi, semoga saja mereka dapat memimpin dunia
persilatan secara adil dan bijaksana, hingga kita sebagai
angkatan tua bisa beristirahat dengan tenang ..."
Dan sampai di sini pula kisah "PEDANG KEADILAN",
semoga kita dapat bersua kembali dalam cerita silat lain.
Terima kasih.
TAMAT
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Anak Pilihan : Pedang Keadilan 8 Tamat dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Anak Pilihan : Pedang Keadilan 8 Tamat ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-anak-pilihan-pedang_5799.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Anak Pilihan : Pedang Keadilan 8 Tamat ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Anak Pilihan : Pedang Keadilan 8 Tamat sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Anak Pilihan : Pedang Keadilan 8 Tamat with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-anak-pilihan-pedang_5799.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar