Cerita Silat ABG Polos : Tiga Maha Besar 4 [lanjutan bara maharani] Tamat

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Senin, 26 Desember 2011

Cerita Silat ABG Polos : Tiga Maha Besar 4 [lanjutan bara maharani]

Memang sudah lama ia terjun kedalam dunia persialatan,
selama luntang lantung kesana kemari tanpa tempat tinggal
yang tetap, entah sudah berapa ribu kali masuk kerumah
makan untuk bersantp, tapi mi num arak seorang diri baru
dialaminya sekarang untuk pertama kali.
Ketika pelayan arak itu mendengar bahwa tamunya hanya
memesan beberapa macam sayur yang sederhana, dikiranya
pemuda ini bukan seorang yang biasa makan minun, oleh
sebab itu arak yang dihidangkan juga arak biasa yang
terhitung dari kwalitet rendah.
Baru satu tegukan ia mencicipi, terasa arak itu amat keras
bagaikan tusukkan jarum, bukan saja susah ditelan bahkan
rasanya juga sangat tak enak.
Tanpa terasa ia menghela napas berat, dalam benaknya
terlintas pula kenangan dimasa silam.
Dia masih ingat ketika untuk pertama kalinya minum arak
dikota Cho ciu, waktu itu senja baru menjelang tiba dan ia
menghadiri pertemuan yang diadakan Giok Teng Hujin
didalam kuil It goan koan dari Thong-thian-kauw, ketika itu
Giok Teng Hujin dengan dandanan yang agung sambil
membopong Soat-ji makhluk aneh itu duduk di kursi utama,
sementara disampingnya didampingi Cing siu cu dan Ngo ing
cin jin dari Kuil It goan koan.
Pui Che-giok dayang Giok Teng Hujin yang cantik jelita
bertugas melayani Hoa Thian-hong, sementara kawanan gadis
cantik yang lain mengiringi diseputar ruang perjamuan.

Waktu itulah untuk pertama kalinya dia dihormati orang
sebagai tamu terhormat, untuk pertama kalinya disanjung dan
dipandang oleh seorang jago kenamaan.
Menyusul kemudian perjamuan yang diadakan Giok Teng
Hujin dalam pesanggrahan nya ditepi pantai, rumah yang
putih dengan ruangan yang serba indah.
Dan terakhir ketika berada dalam kota Lok yang, didalam
sebuah ruang loteng yang kecil mungil, dengan pembaringan
yang putih beralaskan kain seprei warna merah jambu, lilin
merah dengan ukiran naga dan burung hong, serta arak dewa
mabuk yang menggairahkan api asmara.
Aaai, dia hanya senantiasa melepaskan budi kepadaku,
melepaskan kebaikan kepadaku belum pernah mengucapkan
kata-kata yang tak sedap didengar, tak pernah menuntut
sesuatu balas jasa atas pertolongan yang pernah
dilakukannya, dia memang seorang perempuan yang cantik,
hebat dan luar biasa.
Berpikir sampai disitu, tak kuasa lagi air mata jatuh bercucuran
membasahi pipinya.
Haruslah diketahui, bibit cinta yang bersemi didalam hati
Hoa Thian-hong maupun Giok Teng Hujin bermula dari suatu
persahabatan yang erat akrab dan hangat, rasa persahabatan
yang begitu tebal dan mendalam sedikit demi sedikit terlanjur
masuk kedalam hati Hoa Thian-hong hingga akhirnya
menjurus kesoal citta.
Bibit persahabatan diantara mereka berdua memang
tampaknya tidak terlalu hangat, tidak terlalu membekas dihati
sanubari malahan terasa agak cabul dan melanggar
kesusilaan, malahan boleh dibilang bagaikan permainan anakanak.

Pada hakekatnya hal itu disebabkan Giok Teng Hujin
merasa umurnya terlalu tua hingga tidak pantas mendampingi
si anak muda itu, oleh sebab ia kuatir bukan kebaikan yang
diperoleh sebaliknya justru cemoohan atau hinaan, maka cinta
kasih yang bersemi dalam hatinya hanya disampaikan secara
gurauan, sementara dalam hati kecilnya ia merasa sedih dan
menahan tetesan air mata.
Pada hakekatnya di masa lampau, Hoa Thian-hong sama
sekali tidak merasakan akan hal itu, ia tetap belum dapat
meresapi limpahan cinta yang ditujukan Giok Teng Hujin
kepadanya, ia selalu menganggap perempuan itu lincah
berwajah riang, romantis dan tidak bersungguh-sungguh
dalam menghadapi soal semacam apapun jua.
Tapi sekarang, secara tiba-tiba ia jadi paham, ia merasa
bahwa penghianatan Giok Teng Hujin terhadap
perkumpulannya adalah akibat dia, akibat ia hendak
menghalangi dirinya jangan sampai menyerahkan pedang baja
itu kepada orang lain.
Dan sekarang kitab kiam keng sudah berada dalam
sakunya, ia semakin dapat meresapi kebaikan dari Gok teng
hujin itu, apalagi selelah terbayang akan ancaman siksaan In
hwe lian bun (api dingin melelehkan sukma) serta Ngo kiam
hua si (lima pedang menyincang badan), pemuda itu semakin
merasakan betapa pedih dan tersiksanya perasaan hatinya.
Ditengah helaan napas panjang dan pelbagai pikiran yang
berkecamuk dalam benaknya, tanpa terasa sepoci arak telah
berpindah kedalam perutnya.
Cepat dia angkat poci kosongnya seraya berseru, “Hey,
pelayan! Ambillah satu poci lagi!”

Seorang pelayan segera maju menghampiri sambil berkata.
“Harap yaya tunggu sebentar, hamba segera akan siapkan
satu poci arak lagi!”
Selang sesaat dia telah muncul kembali sambil membawa
sepoci arak, dalam keadaan murung karena memikirkan
banyak persoalan si anak muda itu sama sekali tidak
memikirksn apa sebabnya pelayan itu jadi lebih rajin dari pada
tadi.
Melihat arak telah dihidangkan, diapun segera penuhi
cawannya dan meneguk isinya, hanya tiba-tiba saja ia merasa
arak yang dimi num jauh lebih harum dan sedap agaknya arak
pilihan yang telah puluhan tahun lamanya disimpan dalam
gudang.
Dalam heran dan tercengangnya, tiba-tiba ia merasa
suasana disekitar ruangan itu menjadi hening dan serius,
hanya disudut kiri saja masih kedengaran ada orang sedang
berbicara.
Cepat dia alihkan sorot matanya ke arah mana berasalnya
suara pembicaraan itu, ternyata mereka hanya sekelompok
pedagang belaka, sementara dari sisi mejanya duduk pula
seorang pemuda berdandan busu sedang melotot penuh
kegusaran ke arah kaum pedagang tadi, rupanya ia hendak
mencegah orang-orang itu buka suara.
Agak tertegun Hoa Thian-hong menghadapi kejadian
tersebut, dia alihkan kembali sorot matanya ke arah lain.
Tampaklah seorang kakek berusia lima puluh tahunan
duduk dikursi utama, enam orang yang masih muda dengan
pakaian ringkas dan masing-masing membawa sebuah

bantalan panjang yang tampaknya adalah senjata tajam
berada diseputarnya.
Ketika kakek itu menyaksikan Hoa Thian-hong berpaling ke
arahnya, cepat ia bangkit berdiri seraya memberi hormat,
ujarnya sambil tersenyum.
“Kongcu ya, baik-baikkah engkau?”
Cepat Hoa Thian-hong bangkit berdiri dan balas memberi
hormat.
“Baik-baikkah engkau lo enghiong?” sahutnya.
Sapa menyapa sudah lazim terjadi diantara kawanan jago
persilatan yang bertemu di suatu tempat, misalnya warung
makan atau rumah penginapan karena menganggap pihak
lawan lebih tua maka Hoa Thian-hong merasa sepantasnya.
Kalau ia baru duduk setelah lawannya duduk.
Siapa tahu rupanya kakek itupun sedang menunggu sampai
anak muda itu duduk lebih dahulu ia baru duduk, untuk sesaat
kedua orang itu sama-sama berdiri tertegun tanpa
mengucapkan sepatah kata pun.
Melihat itu, kawan-kawan lainnya yang ada di seputar meja
ikut bangkit berdiri untuk menunjukkan sikap hormatnya.
Setelah menyaksikan kesemuanya itu, Hoa Thian-hong
lantas berpikir dalam hatinya, “Orang-orang itu terlalu
sungkan terhadap diriku, aku jadi tak enak rasanya….”
Maka dia maju menghampiri orang-orang itu seraya
tegurnya dengan sekulum senyuman menghiasi bibirnya,
“Cayhe adalah Hoa Thian-hong, boleh aku tahu siapa nama
besar dari Lo enghiong?!”

Buru-buru kakek tua itupun melangkah keluar dari tempat
duduknya.
“Ooh…. aku adalah Tio Ceng tang, sungguh beruntung aku
bisa bertemu dengan Hoa hongcu, pertemuan ni sangat
menggembirakan hidupku”
Dari sikap serta gerak-gerik Tio Ceng tang yang gagah dan
perkasa, siapapun akan tahu bahwa dia bukan seorang
manusia sem barangan, akan tetapi sikapnya yang begitu
menghormat terhadap Hoa Thian-hong membuat si anak
muda itu merasa jadi riku.
Dalam keadaan pusing oleh persoalan yang sedang
dihadapi, Hoa Thian-hong sebenarnya tidak berminat untuk
mengadakan hubungan lebih jauh dengan orang ini, akan
tetapi iapun tak mau kurang hormat sehingga mendatangkan
kesan kurang baik bagi orang lain, maka dengan sikap yang
tetap menghormat kembali ia berkata, “Ooh…. rupanya Tio lo
enghiong, sayur dan arak ditempat ini sangat lezat, bila lo
enghiong tidak terburu-buru melakukan perjalanan,
bagaimana kalau kita minum dulu satu dua cawan?”
Bagaikan orang yang kaget karena tiba-tiba mendapat lotre
tujuh puluh lima juta rupiah, Tio Ceng tang berdiri melongo
untuk beberapa saat lamanya, kemudian dengan gelisah
sahutnya, “Daripada menolak, baiklah kuterima penghormatan
ini, kongcu, silahkan duduk, silahkan duduk”
Setelah kedua orang itu anbil tempat duduk, pelayan
menambah cawan dan sumpit.
Terdengar Tio Ceng tang berseru dengan cepat.

“Eíeb, pelayan…. siapkan lagi beberapa macam sayur,
apabila ada arak yang paling baik, harap siapkan sepoci lagi!”
Pelayan itu mengiakan berulang kali kemudian buru-buru
menuju kedalam dapur.
Sementara itu dari logat suara Tio Ceng tang, pemuda kita
dapat menangkap bahwa suaranya membawa logat wilayah
San see yang barat, maka iapun menegur, “Tio lo enghtoog,
aku boleh tahu darimana asalmu?”
“Aku juga berasal dari In tiong san!” sahut Tio Ceng tang
dengan sekulum senyum kebanggaan tersungging diujung
bibirnya.
“Oooh…. rupanya kita berasal dari desa yang sama, maap
maap….” kata Hoa Thian-hong sambil memberi hormat lagi.
“Kongcu tak usah banyak adat, beberapa hari berselang
aku dengar cerita dari para sahabat, katanya Hoa kongcu
sedang berangkat pulang ke desa dan bermalam di Lok yang,
mengapa….”
“Boanpwee telah bertamu dengan suatu kejadian yang ada
diluar dugaan, ujar Hoa Thian-hong dengan wajah sedih,
maka aku harus berangkat menuju keselatan, apakah
locianpwe juga hendak pulang kedesa?”
“Bulan berselang aku baru saja berangkat dari desa,
sekarang kami hendak menuju ke kota Cho ciu. Haahh….
haah…. haah…. kongcu, janganlah bersikap sungkan-sungkan,
sebutan locianpwe tak berani kuterima….!”
Selang sesaat kemudian, pelayan telah menghidangkan
sayur dan arak baru, sambil minum arak dan bersantap Hoa
Thian-hong mengajak tamunya berbicara kesana kemari

Semula dia bermaksud antuk mencari tahu kabar tentang
orang-orang Kiu-im-kauw, tapi setelah tahu bahwa dia asal
utara mau kesela tan, maka niatnya itupun dibatalkan.
Setelah pembicaraan berlangsung sekian lama, tiba-tiba Tio
Ceng tang meletakan kembali cawan araknya keatas meja,
lalu ujarnya dengan muka serius, “Kami orang-orang dusun
telah mendapat kabar yang mengatakan bahwa lo hujin telah
kehilangan tenaga dalamnya sewaktu melakukan pertarungan
untuk menumpas kaum sesat, semua orang sangat
menguatirkan kesehatannya, bolehkah aku tahu bagaimana
keadaannya sekarang?”
“Terima kasih atas perhatian locianpwa semua, Ibuku telah
sehat kembali dan tenaga dalamnya telah pulih kembali
seperti sedia kala.
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh,
“Apakah locianpwe sekeluarga berada dalam keadaan sehat
walafiat juga?”
Sambil menjura Tio Ceng tang tertawa, jawabnya,
“Berbicara terus terang, semenjak kecil aku sendiripun telah
luntang lantung dalam dunia persilatan, untungnya nasibku
agak mu jur sehingga berhasil mendirikan sebuah perusahaan
ekspedisi Toa tong piau kiok dikota Cho-Ciu, berkat bantuan
dari sahabat sa habatlah usahaku dapat berlangsung agak
lumayan.”
“Oohh rupanya Tio lo piau tai!”
Tio Ceng tang tertawa lebar.
“Setelah perusahaan itu berjalan beberapa tahun, sekalipun
hanya berupa usaha kecil-kecilan namun boleh dibilang aku

berhasil mendapatkan banyak kemajuan dari situ. Siapa tahu
setelah terjadinya pertarungan berdarah dalam pertemuan
Pek-beng-hwie kaum lurus banyak yang dibunuh dan kaum
sesat malahan mendapatkan kemenangan, kejadian itupun
segera merubah pula nasib kehidupan dari kami orang-orang
kecil dalam dunia persilatan….”
“Apakah usaha ekspedisimu tak boleh melewati wilayah
kekuasaan, malahan harus membayar pajak yang mencekik
leher kepada pihak perkumpulan….?” tanya Hoa Thian-hong
dengan sepasang alis matanya berkenyit
“Aiah, kalau cuma begitu sih urusan kecil” sahut Tio Ceng
tang sambil tertawa, “justru yang payah mereka main rampok
dan main rampas dengan begitu saja, sejak kaum iblis
memperoleh kemenangan maka perusahaan Toa tong piau
kiok ikut disita pula oleh orang-orang Hong-im-hwie, aku tahu
bahwa kekuatanku sangat minim, kalau main ribut jelas bukan
tandingan sebab ibaratnya telur melawan batu, terpaksa
selama banyak tahun kupendam terus rasa mangkel dan
dongkolku ini”
“Siapa yang telah mengangkangi perusahaan Poa tong piau
kiok mu itu?” tanya Hoa Thian-hong dengan cepat, menurut
apa yang kuketahui orang-orang Hong im bwe Kebanyakan
sudah mampus atau terluka ketika berlangsungnya pertemuan
Kian Ciau tay hwe….”
Tio ceng tang goyangkan tangannya berulang kali, ia
bertanya sambil tertawa, “Kongcu tak usah gelisah, orang
yang mengangkangi perusahaan Toa totg piau kiok itu
bernama Hek Kun lun, dia masih belum berhak untuk
menghadiri pertemuan Kian ciau tay hwe”
Sesudah tertawa terbahak-bahak, sambungnya lebih jauh.

“Sejak pertarungan di lembah Cu-bu-kok kekuatan Hongim-
hwie telah runtuh dan mengalami kehancuran, dalam
keadaan demikian aku rasa hanya bajingan-bajingan cilik
macam Hek Kun lun yang berdiam di daerah pastilah sudah
kabur terbirit-birit sambil memboyong keluarganya dan
sekarang akupun sudth tiba waktunya untuk menerima
kembali warisan ku yang sudah lama terbengkelai setelah
belasan tahun hidup sebagai pemburu!”
Mendengar perkataan itu, tanpa terasa Hoa Thian-hong
terbayang kembali akan perkumpulan Sin-kie-pang dibawah
pimpinan Kho Hong-bwee, mungkinkah pendekar perempuan
itu berhasil merubah moral anak buahnya, soal ini masih
merupakan suata tanda tanya besar, selain itu Kiu-im-kauw
telah menyusupkan pula pengaruhnya kedalam dunia
persilatan, kalau dikatakan dunia sudah aman, sebenarnya
boleh dibilang ucapan ini terlalu pagi.
Walau begitu Hoa Thian-hong merasa tidak tega untuk
mengatakan keluar, dia kuatir mengurangi kegembiraan Tio
Ceng tang.
Sementara itu Tio Ceng tang telah mengangkat cawan
araknya seraya berkata dengan serius, Hoa kongcu, bukannya
aku sengaja menyanjung atau menjilat pantat, tahukah
engkau berapa banyak sahabat persilatan dan rakyat kecil
yang merasa berterima kasih kepadamu? tak usah kita jauhjauh
mencari perumpamaan, cukup ambilah kedai ini sebagai
contoh, kalau tempo dulu yang berkunjung kemaii kebanyakan
adalah orang-orang perkumpulan, buka mulut lantas memaki,
gerak tangan lantai memukul orang, habis makan kalau
senang membayar, kalau tak senang lantas pergi dengan
begitu saja, maka sekarang keadaannya telah berubah,
manusia-manusia semacam itu sudah tergeser dari percaturan
dunia persilatan, usaha rakyat kecilpun berjalan lagi dengan

tertib tahu kah kongcu bahwa ketertiban dan keamanan ini
semuanya adalah pemberianmu….”
Merah jengah selembar wajah Hoa Thrao Hong, dengan
cepat dia menukas, Membasmi kaum durjana menolong kaum
lenah adalah kewajiban setiap umat persilatan didunia,
kemampuan apa yang kumiliki sebagai seorang manusia yang
masih muda dan berilmu cetek? Kalian tak usah memuji diriku,
aku tak lebih hanya menyumbangkan sedikit tenaga untuk
membantu kaum tua belaka….”
Pemuda itu kuaitir kalau di sanjung-sanjung lebih lanjut,
cepat dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain.
“Selama satu dua hari belakangan ini, apakah Lo piau tau
pernah melihat orang-orang dari Kiu-im-kauw?”
Agak tertegun Tio Ceng tang setelah mendengar perkataan
itu, sahutnya setelah termanggu sesaat.
Aku memang pernah mendengar kalau Kiu-im-kauw yang
sudah bubar telah bangkit kembali, tapi selama ini belum
pernah kutemui orang- orang dari pihak Kiu-im-kauw”
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Cuma
selang pagi tadi aku telah berjumpa dengan sekawanan
manusia berbaju kuning yang dandanannya tosu bukan tosu,
pendeta bukan pendeta, kalau dugaanku tak salah mestinya
mereka adalah orang-orang Mo-kauw dari luar perbatasan”
“Kalau begitu mereka pastilah Tang Kwik-siu dan muridnya!
pikir Hoa Thian-hong di hati.
Cepat ia bertanya, “Berapa orana yang telah lo piau tau
temui? Mereka telah pergi ke arah sebelah manoa?”

Mereka semua berjumlah lima orang, empat pria dan
seorang wanita, arahnya kalau bukan menuju kota Cho Ciu,
pastilah menuju ke ke Ou kwang….!”
“Empat pria seorang wanita!” ulang Hoa Thian-hong
dengan dahi berkerut kencang, “kalau bukan menuju ke kota
Cho Ciu? Pastilah menuju ke Oa kwang….?!”
Sambil meletakkan kembali cawan araknya keatas meja,
Tio Ceng tang berkata lagi dengan wajah serius, “Putraku
pernah berjumpa dengan kongcu sewaktu ada dikota Cho-ciu,
maka tatkala kongcu masuk sedalam warung tadi, ia telah
menerangkan kepadaku, sebenarnya ketika itu juga akan
kusampaikan berita ini kepada diri kongcu, akan tetapi
berhubung….”
Betapa gelisahnya Hoa Thian-hong tatkala dilihatnya orang
itu tidak langsung membicarakan urusan yang serius, cepat
dia menukas dengan hati gelisah.
“Seorang sahabatku telah terjatuh ketangan musuh
besarnya, karena memikirkan kesela-matannya aku jadi
sangat murung, harap lo piau tau jangan mentertawakan
kehilafanku itu!”
“Ooh tidak, tidak boleh aku tahu sahabat kongcu itu
seorang laki-laki ataukah….”
“Dia adalah seorang nona, sahabat karib dari istriku,
menurut berita yang kuterima katanya ia kena ditangkap
orang-orang dari pihak Kiu-im-kauw!”
“Aaah! Kalau begitu kejadian ini aneh sekali!”
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak anak muda
itu, segera dia bertanya.

“Dimana letak keanehan itu? Apakah aku boleh tahu
perempuan yang lo pia tau temui itu berapa besar usianya dan
bagaimanakah dandanannya….?”
Tanpa berpikir panjang Tio Ceng tang segera menjawab,
“Dia adalah seorang nona yang cantik jelita bak bidadari yang
turun dari kahyangan, usianya belum mencapai dua puluh
tahunan, pakaian maupun dandanannya tidak berbeda jauh
dengan keempat pria tersebut, diapun mengenakan jubah
kuning dengan sepatu terbuat dari kain, ikat pinggangnya
berwarna kuning pula”
Sesudah berhenti sebentar, sambangnya lebih jauh,
“Bukannya aku sengaja mengibul atau omong kosong,
kecantikan nona itu benar-benar luar biasa, hampir saja aku
tidak percaya kalau dldunia ini ternyata terdapat seorang
perempuan yang memiliki kecantikan wajah yang begitu
hebatnya”
Betapa terperanjatnya Hoa Thian-hong seteleh mendengar
perkataan itu, dalam hati dia lantas berpikir, “Aduuh….
jangan-jangan dia adalah Kun Gie?”
Ketika secara tiba-tiba Tio Ceng tang menyaksikan air muka
si anak muda itu berubah jadi pucat piat bagaikan mayat, dia
jadi sa ngat kuatir dengan penuh perhatian ujarnya, “Hoa
kongcu, kau….”
Setelah berbasil menguasai diri, cepat-cepat Hoa Thianhong
berkata lagi.
“Lo piau tau, harap terangkan dengan cepat, aku harus
segera selamatkan jiwanya, karena itu perjalanan pun harus
kulakukan sekarang juga”

“Terima perintah!” Tio Ceng tang.
Sesudah termenung sebentar, dia berkata, kembali.
“Kemarin malam kami menginap didalam sebuah rumah
penginapan yang memakai merek Kho ke ci, ketika baru saja
bangun tidur secara lapat-lapat kudengar ada suara gaduh
diluar halaman, mana secara iseng aku membuka jendela
menengok keluar, kutemukan empat laki-laki dan seorang
perempuan itu lagi bersiap-siap hendak berangkat, tapi
perempuan itu ribut terus dan tak mau pergi, katanya kalau
tidak naik kuda maka dia tak mau berangkat, waktu itu aku
tidak terlalu menaruh perhatian, siapa tahu tiba-tiba gadis
cantik itu berseru keras….”
Berbicara sampai disini, tiba-tiba ia membungkam dan tidak
melanjutkan kembali kata-katanya.
Hoa Thian-hong jadi sangat gelisah, cepat dia berseru,
“Apa yang dikatakan nona itu?”
Tio Ceng tang tidak langsunng menjawab, dengan sorot
mata yang tajam dia menyapu sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian dengan suata yang lirih sahutnya, “Nona itu
berteriak demikian: ‘Dari sini menuju ke Kiu ci masih ada lima
enam ribu li jauhnya, aku tak kuat jalan lagi, kalau kalian mau
menggali harta silahkan gali sendiri, aku tidak ingin kaya, aku
tidak ingin….’”
“Dia tak ingin apa lagi?” sela Hoa Thian-hong.
Sayang ketika berbicara sampai disitu, kakek yang
tampaknya pemimpin rombongan itu sudah menghampirinya,
sambil tertawa kakek itu segera memaki, “Kamu si bocah
perempuan edan, kami toh mau pergi ke kota Cho ciu, siapa
bilang mau ke Kiu ci atau sip ci, tapi nona itu segera berteriak

lagi: ‘Kalau pergi ke kota Cho ciu, maka kalian semua pasti
akan mampus semua! Baru saja berbicara sarpai disitu, nona
itu sudah diseret pergi oleh kakek tua tersebut.”
Hoa Thian-hong semakin murung, dengan dahi berkerut dia
cuma bisa berguman seorang diri, “Kiu ci…. menggali
harta….Cho Ciu….”
Terdengar Tio Ceng tang berkata kembali, “Menurut
penilaianku, apa yang dikatakan nona itu sebagai Kiu ci
pastilah tujuan mereka yang sebenarnya, sedang kakek itu
sengaja mengucapkan kota Cho ciu untuk melamurkan
perhatian orang, sayangnya beberapa orang itu terlalu cepat
perginya, ketika kami berangkat ternyata jejak mereka sudah
tidak tampak lagi”
“Lo piau tau, seingatmu nona itu berbicara dengan logat
darimana? Selain Lo piau tau apakah ada orang lain yang
pernah menyaksikan raut wajah nona itu?”
“Logat suara itu campuran, tapi sebagian besar sepertinya
logat dari orang-orang Ho lim, ketika itu fajar baru
menyingsing kebetulan aku bangun lebih pagi, maka ketika
semua orang bangun sesudah mendengar suara ribut-ribut
dari nona itu, mereka telah berlalu dari rumah penginapan
tersebut”
Kalau begitu dia pastilah Kun gie ada nya, batin Hoa Thianhong
didalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget menggema
memecahkan kesunyian disusul seorang dara berbaju hijau lari
masuk kedalam kedai dan berlutut dihadapan Hoa Thitan
Hong sambil menangis tersedu-sedu.

“Kongcu ya!” serunya dengan lirih, “jiwa siocia tak bisa
dilindungi lagi, berusahalah cepat untuk menyelamatkan
jiwanya….”
Secara mendadak Hoa Thian-hong merasakan dadanya
amat sakit, cepat ia menarik napas panjang dan melancarkan
kembali udara yang tersumbat didalam dadanya, kemudian
ucapnya, “Che giok, bangunlah! Aku sudah mengetahui akan
persoalan ini, dan sekarang juga aku sedang berangkat
menuju kesitu!”
Kiranya dara berbaju hijau itu bukan lain adalah dayang
kepercaysaa dari Giok Teng Hujin yakni Pui Che-giok adanya,
setelah melakukan perjalanan siang malam tanpa berhenti,
mukanya tampak kusut rambutnya awut-awutan tak karuan,
sekujur badan basah dan bau keringat, keadaannya benarbenar
sangat mengenaskan.
Delam bopongannya tampak Soat-ji makhluk rase itu,
tampaknya Soat-ji menderita luka yang cukup parah mukanya
layu dan lesu, tubuhnya sama sekali tak mampu bergerak.
Tampaknya makhluk cerdik inipun menyadari bahwa
majikannya sedang kesusahan dan rupanya diapun tahu kalau
Hoa Thian-hong adalah orang yang paling akrab hubungannya
dengan majikannya, sepasang ma ta yang merah dan pudar
menatap anak muda itu dengan sorot belas kasihan sementara
mulutnya memperdengarkan suara keluhan lirih.
Pui Che-giok bangkit berdiri dengan isak tangis yang
menjadi, ujarnya lirih.
“Kongcu ya, cepatlah berangkat! Siocia sedang menderita
karena menjalani siksaan api dingin melelehkan sukma, siksian
itu terlalu sadis dan kejam…. oooh, kengcu ya cepatlah
selamatkan jiwanya!”

“Sekarang dia berada dimana?” tanya Hoa Thian-hong
dengan darah panas bergolak dalam dadanya.
“Dia ada di Cho ciu,” sahut gadis itu dengan air mata
bercucuran membasahi wajahnya.
Hoa Thian-hong meaggertak gigi menahan emosi, katanya
kemudian, “Perjalanan amat jauh, tak mungkin bisa kita capai
tempat itu dalam waktu singkat, bersantaplah lebih dahulu!”
Seraya berkata ia lantas membopong Soat-ji, rase putih
salju itu.
Pui Che-giok duduk di kursi dan berusaha untuk mengisi
perutnya, tapi air mata jatuh bercucuran dengan derasnya
membuat ia tak mampu menelan nasi dalam mulutnya itu,
akhirnya ia menggeleng sembari berkata, “Budak tak tega
untuk makan!”
“Paksalah untuk makan sedikit aku akan berangkat duluan,
dan engkau boleh menyusul belakangan”
Diangkatnya cawan arak itu lalu melolob Soat-ji untuk
minum.
Sambil melelehkan air matanya Pui Che-giok paksakan diri
untuk makan, katanya lagi, “Soat-ji kena dihajar oleh kaucu
dengan ilmu pukulan Yu seng ciang hingga isi perutnya
terluka, aku lihat dia sudah tiada harapan untuk hidup lagi.”
Paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi hijau membesi,
sahutnya dengan suara dalam, “Tak usah kuatir, aku pasti
berhasil enteng hidupkan kembali dirinya!”

Memang parah sekali luka dalam yang diderita Soat-ji,
begitu parahnya sampai nafsu untuk minum arakpun ikut
hilang.
Hoa Thian-hong segera mengambil uang sekeping sebagai
pembayaran uang arak, tapi Tio Ceng tang buru-buru
membayarnya.
Dalam keadaan begini, Hoa Thian-hong tidak berminat
untuk banyak bicara lagi, setelah saling memberi hormat,
serunya kepada Tio Ceng-tang, “Sampai jumpa lagi dikota Cho
cia!”
Sekali berkelebat, sambil membopong Soat-ji berlalulah si
anak mada itu dari sana.
Ia mulai sadar tahwa Pek Kun-gie telah terjatuh pula
ketangan musuh, bahkan keadaannya gawat sekali, sedikitpun
tidak berada dibawah keadaan Giok Teng Hujin, walaupun
demikian gadis itu masih lebih mujur, kenapa, ia masih
mempunyai orang tua, punya saudara dan lagi sebagai
seorang putri ketua Sin-kie-pang.
Berbeda jauh dengan Giok Teng Hujin yang hidup
menderita tanpa sanak tanpa saudara, kecuali orang dayang
dan seekor rase salju, boleh dibilang tiada sanak lain, maka
setelah mempertimbangkan sebentar pemuda ini mengambil
keputusan untuk tinggalkan dahulu urusan Pek Kun-gie dan
berusaha untuk selamatkan dahulu jiwa Giok Teng Hujin.
Rase salju itu dapat memahami perkataan manusia, dan
lagi pandai pula bertempur, sambil melanjutkan perjalanan
pemuda itu lantas salurkan hawa murninya untuk
menyembuhkan luka yang diderita makhluk tersebut.

Begitula, sembari melanjutkan perjalsaan ia salurkan terus
hawa murninya ke tubuh Soat-ji, dua tiga jam kemudian luka
yang diderita rase salju itu ada enam tujuh bagian telah
sembuh, waktu itulah makhluk tadi meronta bangun dan
melanjutkan perjalanan sendiri dengan berlarian disamping
pemuda itu.
Mereka melakukan perjalanan siang malam tanpa berhenti,
ketika kentongan kedua baru menjelang, anak muda itu sudah
tiba di kota Cho ciu.
Baru saja masuk kedalam kota, ia berjumpa dengan Oh
Sam yang muncul dari hadapannya, si anak muda itu segera
menegur, “Pek hujin berada dimana?”
“Cu to baru tiba siang tadi, sekarang ia dikantor cabang, Cu
amat mengguatirkan keselamatan kongcu maka beliau
perintahkan hamba untuk menunggu kedatangan kongcu di
sini!”
Sesudah melirik sekejap kepada Soat-ji makhluk rase itu,
dia melanjutkan lebih jauh, “Apakah nona kedua tidak
melakukan perjalanan bersama-sama kongcu….?”
“Mungkin sudah terjadi kejadian yang tak terduga!” sahut
Hoa Thian-hong dengan suara mendalam, “aku sama sekali
tak bertemu dengannya, cepat bawa aku menghadap cu bo
mu!”
Oh Sam amat terperanjat, tanpa mengucapkan sepatah
katapun ia segera putar badan dan lari kedepan.
Selang sesaat tibalah mereka berdua dikantor cabang
perkumpulan Sin-kie-pang, Oh Sam langsung membawa Hoa
Thian-hong menaju keruang dalam.

Ketika mendengar suara langkah manusia, Kho Hong-bwee
segera menyambut seraya menegur, “Thian-hong, dimana Kun
gie?”
Hoa Thian-hong maju kedepan sambil memberi hormat,
lalu sahutnya dengan kepala tertunduk.
“Kemungkinan besar kun gie telah bertemu dengan Tang
Kwik-siu dan kena ditawan oleh mereka, semestinya
boanpwee akan mengejar ke arah Ou kwang….”
Mula-mula Kho Hong-bwee tampak agak terkejut, tapi
sejenak kemudian ia sudah tenang kembali, sambil bangunkan
Hoa Thian-hong dia berkata.
“Berbicara menurut cengli, memang sepantasnya engkau
datang ke Cho ciu lebih dulu engkau sama sekali tidak berbuat
salah!”
Perempuan ini segera perintahkan pelayan untuk siapkan
hidangan dan arak wangi.
Hoa Thian-hong tahu bahwa perempuan ini terkenal karena
bijaksana, akan tetapi berhubung ia merasa tak punya katakata
yang bisa diutarakan, maka sebagai gantinya ditatapnya
sekejap perempuan itu dengan pandangan penuh berterima
kasih.
Setelah memberi hormat pula kepada Pek Soh-gie, iapun
menegur, “Cici, Bong toako ada dimana?”
“Dia ada didalam ruang tengah” jawab Pek Soh gi,
“beristirahatlah lebih dulu, tentunya engkau merasa lelah
bukan?”

Ketika mereka bertiga masuk keruang tengah, tampaklah
Bong pay dengan badan dibalut sedang duduk bertopang
dagu, mukanya murung bercampur kesal, sekalipun tahu ada
orang yang masuki ruangan itu dia sama sekali tidak menegur
ataupun angkat kepalanya.
Hoa Thian-hong segera maju menghampirinya, lalu
menegur, “Toako, bagaimana keadaan lukamu?”
Bong pay gelengkan kepalanya dan tetap membungkam
dalam seribu bahasa.
Kho Hong-bwee yang ada disampingnya segera tersenyum,
ujarnya.
“Bocah ini bersikeras akan menantang Kiu-im Kaucu untuk
berduel, tapi aku justru telah melarang dia pergi kesana!”
Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang, dia
tahu walaupun paras muka perempuan itu tampaknya tenang
dan tidak menunjukkan sikap gugup ataupun gelisah,
sebenarnya rasa kuatirnya terhadap keselamatan putrinya
sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia lantas mencari tempat
duduk dan bermaksud mengisahkan pengalamannya
sepanjang perjalanan menuju kesana.
Pada saat itulah dua orang dayang masuk kedalam ruangan
sambil membawa nampan dan air teh.
Kho Hong-bwee segera ulapkan tangannya sembari
berkata, “Cucilah dulu mukamu, kemudian bersantap, setelah
itu barulah bercerita….”
Tanpa banyak berbicara Hoa Thian-hong cuci muka dan
makan hidangan ringan yang telah tersedia, ketika perjamuan
telah siap. Kho Hong-bwee segera mempersilahkan tamu nya

untuk duduk sementara ia bersama Bong Pay dan Pek Soh-gie
mengiringi disampingnya.
Sudah belasan tahun lamanya Kho Hong-bwee bertapa
ditempat yang terpencil, kepandaiannya untuk menguasai diri
memang melebihi siapapun, sekalipun ia tahu bahwa
keselamatan putrinya terancam, namun sepanjang perjamuan
berlangsung, tak separah katapun yang dia ucapkan
menyinggung soal keselamatan putrinya itu.
Menanti sampai telah selesai, Hoa Thian-hong barulah
mence-ritakan apa yang telah didengarnya dari mulut Tio
Ceng tang.
Mendengar keterangan tersebut, dengan dahi berkerut Kho
Hong-bwee termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia
baru berkata, “Kalau memang rombongan itu benar-benar
terdiri dari empat pria dan seorang wanita, mereka yang pria
pastilah Tang Kwik-siu, Kok See-piauw beserta muridmuridnya,
sedang yang perempuan tak usah diragukan lagi
tentulah Pek Kun-gie budak binal Itu!”
“Bibi, aku sangat mengharapkan agar malam ini juga bibi
sekalian melakukan perjalanan untuk menghadang jalan pergi
mereka! ujar Hoa Thian-hong dengan wajah murung, apabila
berhasil menyusul Tang Kwik-siu, maka berusahalah untuk
mengadakan hubungan kontak dengan kantor cabang kota
Cho ciu, begitu urusan disini selesai, boanpwe segera akan
menyusul kalian kesana!”
“Ibu, beberapa orahg bajingan itu bukan manusia baikbaik”
ujar Pek Soh-gie pula, keadaan adik memang terlalu
bahaya, aku rasa asul Hoa toako memang sangat bagus, lebih
baik sekarang juga kita lanjutkan perjalanan!”
Kho Hong-bwee tertawa.

“Untuk mengejar orang kita harus mempunyai arah
tertentu, kalau arahnya saja tidak tahu, bagaimana mungkin
pengejaran bisa di lakukan?” katanya cepat.
Menurut dugaanku, Kun gie memang sengaja berkaok-kaok
untuk menarik perhatian orang banyak, dia mengatakan
bahwa mereka akan berangkat ke Kiu ci untuk mencari harta,
rupa-rupanya rahasia itu memang sengaja dibocorkan olehnya
dengan harapan berita tersebut bisa terdengar oleh kita
orang.
“Benar!” ujar Bong Pay pula, “kejadian yang sebenarnya
pastilah demikian. Hemm hemm hemm dia memang cerdik
dan punya banyak akal setannya, kalau yang dikatakan urusan
lain, belum tentu orang akan menaruh perhatian, tapi katakata
mencari harta cukup menghebohkan siapapun yang
mendengar, sudah tentu berita itu dengan cepat akan tersiar
keseluruh dunia persilatan”
“Ibu, Kiu ci yang dia maksudkan mungkinkah bukit Kiu ci
san yang letaknya di wilayah Yong kang?” tanya Pek Soh-gie
dengan wajah amat murung karena gelisah.
Kho Hong-bwee mengangguk tanda membenarkan.
“Benar, didaratan Tiooggoan memang terdapat beberapa
tempat yang bernama Kiu ci, tapi kalau dia katakan jaraknya
masih lima enam ribu li, maka tak bisa salah lagi yang dia
maksudkan tentulah bukit Kiu ci san yang terletak di wilayah
Yong kang!”
“Bibi, apakah selama ini engkau dan toa ci berdiam diri
dibukit Huan keng san?” tanya Hoa Thiao Hong dengan dahi
berkerut.

Kho Hong-bwee menghela napas panjang, ia mengangguk
dan menyahut, “Kedua tempat itu sama-sama nama dari
gunung dan sama-sama pula letaknya di barat daya”
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya, “Aku jadi agak curiga,
wilayah utara maupun selatan wilayah keng ou merupakan
daerah kekuasaan Sin-kie-pang, dengan dandanan mereka
yang begitu menyolok, entah dengan cara apa mereka
lanjutkan perjalanannya?”
0000O0000
79
SEMUA orang tertegun sebab ucapan itu memang masuk
diakal, sementara suasana jadi bening dan tak seorangpun
yang mampu menjawab, tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie
berseru, “Aah, aku punya akal!” Dia lantas bangkit berdiri dan
buru-buru lari masuk kedalam ruangan.
Selang sesaat gadis itu telah muncul kembali membawa
sebuah nampan beralasan kain kuning, dalam kain kuning itu
tersedialah seperangkat alat untuk meramal nasib.
Menyaksikan itu, Bong Pay langsung berteriak, “Aah, benar,
bibi adalah seorang pertapa, soal lihat nasib, meramal nasib
sudah menjadi ilmu pegangan yang paling diandalkan”
Cepat Pek Soh-gie menyingkirkan cawan dan sumpit dari
meja, kemudian sambil letakkan nampan itu dihadapan ia
berkata.
“Ibu, silahkan engkau buatkan satu ramalan untuk melihat
nasib adik dewasa ini”
Kho Hong-bwee tertawa.

“Banyak orang mengatakan bahwa gadis cantik umurnya
pendek sekalipun dalam kenyataan Kun gie terhitung seorang
gadis yang ayu tapi ia masih belum terhitung seorang gadis
rupawan, diapun tidak termasuk seorang manusia yang
berumur pendek, aku rasa nasibnya tak perlu diramalkan lagi!”
Dengan muka murung dan gelisah Pek Soh-gie memohon
lebih jauh.
“Mencari rejeki menghindari bencana merupakan perbuatan
yang jamak bagi manusia, ibu haraplah engkau engkau suka
menghitungkan nasib adik!”
Sekali lagi Kho Hong-bwee tersenyum.
“Rahasia langit tak boleh dibocokan, daripada mengundang
kemarahan para malaikat, begini saja akan kubatasi dengan
sebuah ramalan saja dan aku lihat urusan Kun gie untuk
sementara waktu kita kesampingkan lebih dahulu akan kucoba
untuk hitungkan nasib bagi Giok Teng Hujin saja!”
Mendengar perkataan itu, dalam hati kecilnya Hoa Thianhong
menghela napas panjang, pikirnya.
“Satu gelombang belum tenang, gelombang lain telah
datang…. aai, akulah yang menjadi biang keladi hingga
terjadinya semua peristiwa ini!”
Berpikir sampai disitu, diapun lantas bertanya.
“Bibi, tahukah engkau Kiu-im Kaucu pada saat ini berada
dimana?”
“Semua kuil bekas milik Thong-thian-kauw telah dirampas
orang-orang Kiu-im-kauw, menurut laporan dari bawahanku,

Kiu-im Kaucu beserta kawanan jago lihaynya berkumpul
semua dalam kuil It goan koan sebelah timur kota, Giok Teng
Hujin sendiripun terkurung pula dalam kuil itu!”
Hoa Thian-hong menghela napas berat.
“Aaai….! Meskipun Kiu-im Kaucu menyatakan bahwa ia
sedang menghukum Ku Ing-ing lantaran penghianatannya,
pada hakekatnya ia justru sedang mencari gara-gara dengan
boanpwee!”
“Kalau memang begitu tujuannya, itu berarti keselamatan
Ku Ing-ing untuk sementara waktu tidak terancam bahaya,
beristirahatlah semalam bila kekuatanmu sudah pulih kembali
barulah usahakan pertolongan….!”
“Boanpwe memang sudah menyiapkan suatu rencana
matang dalam soal ini,” sahut Hoa Thian bong sambil
mengangguk, “oleh sebab itulah kukatakan bahwa
keselamatan Kun gielah justru yang bahaya, bibi! Lebih baik
ramalkan jejaknya dengan begitu kita pun bisa siapkan
pertolongan baginya”
Kho Hong-bwee berpikir sebentar, akhirnya dia
mengangguk.
“Kalau memang begitu, baiklah!”
Sesudah cuci tangan dia lantas mengambil balok kura-kura
itu dan mulai membuat ramalannya
Ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong memang terhitung
tinggi, akan tetapi dalam ilmu ramal meramal ia sama sekali
tidak paham begitu pula dengan Bong pay, maka kedua orang
ini hanya duduk membungkam di samping meja sambil
menyaksikan Kho Hong-bwee membuat ramalannya.

Setelah melakukan ramalan dan memperhitungkan dalam
hati kecilnya, tiba-tiba dengan paras muka berubah hebat ia
berseru, “Aia….! kok aneh benar….”
“Bagaimina menurut isi ramalan? Apakah adik menemui
mara bahaya?” tanya Pek Soh-gie dengan terperanjat.
“Benar-benar sangat aneh!” ujar Kho Hong-bwee, “menurut
perhitungan ramalan, semestinya Kun gie masih berada dalam
kota ini!”
Sesudah berhenti sebentar ia tertawa dan gelengkan
kepalanya berulang kali, ujarnya, “Sepandai-pandainya tupai
melompat toh pernah terjatuh juga, siapa tahu kalau
ramalanku ini meleset?”
Hoa Thian-hong segera bangkit berdiri seraya berseru,
“Cuaca kadang kala cerah kadang kala mendung, nasib
manusia kadangkala mujur kadangkala sial, aku rasa
persoalan ini tak dapat dibiarkan berlalu dengan begitu saja,
harap bibi beristirahat lebih bulu, biarlah boanpwe lakukan
penggeledahan diseluruh kota”
Setelah memberi hormat, dia siap berlalu dari situ.
Secara diam-diam Kho Hong-bwee mengawasi terus
perubahan mimik wajah si anak muda itu, melihat betapa
panik dan cemasnya Hoa Thian-hong, dalam hati dia lantas
berpikir, Kalau ditinjau dari kemurungan dan kegelisahan yang
mencekam hatinya, sudah jelas kalau ia menaruh rasa cinta
yang tebal terhadap diri Kun gie.
Sementara dia masih melamun, Bong Pay telah berteriak
keras, “Biarlah aku dan adik Soh-gie melakukan perjalanan

bersama, akan kami periksa setiap rumah penginapan yang
ada dalam kota ini!”
Tiba-tiba Kho Hong-bwee bangkit berdiri lalu berkata,
“Kalian tak usah memisahkan diri, kita laksanakan pencarian
bersama-sama, Soh-gie! Undang kemari Oh Sam!”
Oh Sam segere menyahut dan masuk kedalam ruangan,
sahutnya, “Hamba ada disini!”
“Perintahkan semua pelindung hukum agar siap diruang
tengah untuk menerima instruksi!”
Dengan hormat Oh Sam menyahut dan berlalu dari situ.
Sepeninggalnya Oh Sam, barulah Kho Hong-bwee
memandang sekejap ke arah pinggang Hoa Thian-hong,
kemudian tegurnya, “Kemana kaburnya pedang bajamu?!”
“Pedang baja telah patah, kitab Kiam keng berada dalam
sakuku!”
“Ooh, kiong hi, kiong hi atas keberhasilanmu itu!” seru Kho
Hong-bwee kemudian.
Setelah berhenti sebentar, dengan wajah serius dia
melanjutkan, “Andaikata Kiu-im Kaucu memaksa engkau untuk
menukar nyawa Ku Ing-ing dengan kitab Kiam keng tersebut,
apa yang hendak engkau lakukan?!”
Mula-mula Hoa Thian-hong agak tertegun, menyusul
sahutnya, “Kalau itulah syaratnya, maka boanpwe harus
pertimbangkan peraoalaa ini sebaik-baiknya!”
“Ah, dalam masalah ini tak mungkin bisa dipertimbangkan
lagi!” teriak Bong Pay dengan gusar, “sebagai seorang pria

sejati, tidaklah pantas kalau engkau tunduk pada perintah dan
tekanan musuh, sekalipun Ku Ing-ing akhirnya toh mati,
setelah engkau berhasil pelajari isi kitab Kiam keng bukankah
engkau dapat membunuh Kiu-im Kaucu untuk membalaskan
dendam sakit hatinya? Aku lebih rela berhutang budi dan
gorok leher bunuh diri daripada membiarkan kitab Kiam keng
itu terjatuh ketangan Kiu-im Kaucu….!”
“Setiap urusan ada sumbernya,” kata Hoa Thian-hong,
“meskipun toako telah diselematkan jiwanya oleh sebatang
Leng-ci, akan tetapi dahun Leng-ci tersebut kau peroleh dari
tangan siaute, dalam hal ini sama sekali tak ada sangkut
pautnya dengan Ku lng ing, dengan sendirinya engkaupun tak
usah berterima kasih dengan mengorbankan jiwamu!”
“Menurut Kun gie!” kata Kho Hong-bwee pula, “dikala ia
ditangkap Pia Leng-cu, engkau pernah menembusnya dengan
menggunakan pedang bajamu itu, yaa urusan itu sudah lewat,
rasanya akupun tak ingin banyak berbicara lagi, tapi engkau
musti ingat, kitab Kiam keng adalah gudangnya ilmu silat,
sejilid kitab pusaka yang diincar banyak orang, benda itu
menyangkut pula mati hidupnya dunia persilatan, oleh sebab
itu aku harap engkau suka mempertimbangkan sebaik-baiknya
sebelum bertindak!”
“Terima kasih atas petunjuk dari bibi!”
“Hoa toako!” ujar Pek Soh-gie kemudian, “pedang bajamu
sudah patah, apakah engkau membutuhkan senjata lain?”
“Bila ada sebilah pedang panjang, tolong berilah sebilah
untuk Sian te….”
Pek Soh-gie segera masuk kedalam ruangan, selang sesaat
ia telah muncul kembali menyerahkan sebilah pedang panjang
kepada pemuda itu.

Hoa Thian-hong segera menggembolnya dipinggang,
setelah membopong Soat-ji bersama-sama jago yang lain
mereka menuju keruang tengah.
Disana telah menanti beberapa puluh orang pelindung
hukum, hiangcu dan tongcu, Kho Hong-bwee segera
menghitung jumlahnya kemudian berangkatlah melakukan
pencarian.
Setelah keluar dari kantor cabang kota Cho ciu, Kho Hongbwee
memimpin rombongan itu menuju kepintu kota sebelah
selatan.
Waktu itu fajar belum menyingsing, jalan raya sepi dan tak
tampak seorang manusia pun yang berlalu lalang.
Tampaknya Kho Hong-bwee telah mempunyai keyakinan,
dia memimpin rombongan itu bergerak maju kedepan,
sedikitpun tidak tampak ragu-ragu.
Selang sesaat sampailah mereka kepintu selatan, karena
pintu kota masih tertutup maka mereka masing-masing loncat
naik keatas tembok kota,
Tiba-tiba Hoa Thian-hong merasakan hatinya tergerak,
pikirnya.
“Kalau dilihat keyakinannya yang begitu tebal, mungkinkah
ramalannya memang tepat sekali?”
Sementara ingatan itu masih melintas dalam benaknya,
semua orang sudah melompat keatas tembok kota, dari situ
tampaklah Kho Hong-bwee dengan sorot mata yang tajam
bagaikan kilat sedang mengawasi ke arah tenggara tanpa
berkedip.

Hoa Thian-hong ikut memandang ke arah situ, apa yang
dilihat hanyalah kegelapan ditengah keheningan, tak sesuatu
apapun yang terlibat olehnya.
Oh Sam menyusul tiba kesana setelab menengok sekejap
kedepan, tiba-tiba katanya.
“Lapor cubo, tempat itu masih memancarkan cahaya
merah, agaknya baru saja dilanda kebakaran”
Kho Hong-bwee mengangguk, sambil ulapkan tangannya ia
lantas berseru.
“Hayo berangkat!”
Ia lompat turun lebih dahulu dan bergerak menuju ke arah
mana munculnya cahaya merah tadi.
Kawanan jago lainnya membungkam dalam seribu bahasa,
melihat pemimpinnya sudah berangkat semua orangpun ikut
menyusul dari belakang, semangat mereka tinggi dan
keberaniannya mengagumkan.
Rupanya cahaya merah itu berasal dari sebuah dusun yang
jaraknya kurang lebih lima enam li dari kota, tentu saja jarak
sedekat itu tidak dipandang sebelah mata oleh orang-orang
itu, tak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka
didepan dusun itu.
Dalam dusun tadi hanya terdapat tiga pulubhan keluarga
petani, rumah mereka terbuat dari batu bata, rupanya
kebakaran hanya terjadi disebuah gedung belaka, waktu itu
api masih belum padam, sementara para penduduk desa yang
menonton apipun masih berkerumun disitu sambil saling mem
bicarakan peristiwa itu.

Tiba-tiba suasana yang semula gaduh menjadi hening dan
sepi kiranya kedatangan sege-rombolan jago silat ini cukup
mengejutkan orang-orang itu.
Dengan sorot mata yang tajam, Kho Hong-bwee menyapu
sekejap sekitar tempat itu, kemudien sambil menatap seorang
laki-laki berusia lima puluh tahunan yang berdandan sebagai
seorang hartawan, tegurnya.
“Maaf kalau mengganggu sebentar lo wangwe, terimalah
hormat dari pinto Kho Hong-bwee”
Ketika orang itu melihat bahwa pemimpin dari rombongan
orang persilatan itu adalah seorang to koh berusia
pertengahan, rasa kaget yang semula menghiasi wajahnya
kian bertambah menyurut, akan tetapi setelah mendengar
nama Kho Hong-bwee, tiba-tiba paras mukanya kembali
berubah, untuk sesaat lamanya ia tak mengucapkan sepatah
katapun.
Kho Hong-bwee tidak menggubris sikap orangitu, sambil
tertawa ia menegur lagi, “Lo wangwe, boleh aku tahu siapa
namamu?”
Buru-buru orang itu maju beberapa langkah kedepan,
seraya menjura sahutnya, “Aku seorang rakyat kecil yang
bernama Lau Cu cing!”
“Oooh Rupanya Lau wangwe, apakah rumah gedung
wangwe yang ketimpa bencana kebakaran?”
“Benar…. benar….” jawab Lau Cu cing sambil beberapa kali
mengangguk.

Dibelakang hartawan itu berkumpul pula sekawanan orang
perempuan, pelbagai macam barang peti dan bungkusan
tersebar di tanah, sekilas pandangan siapapun akan tahu
bahwa merekalah yang telah ketimpa bencana kebakaran itu.
“Setelah Lau wangwe ketimpa bencana, sebetulnya tidaklah
pantas bagi kami untuk mengganggu kesedihan yang kalian
alami, tapi berhubung ada sedikit persoalan yang mau tak
mau harus diperiksa, maka terpaksa kami harus mengganggu
sebentar ketenangan wangwe!”
“Aaah…. mana…. mana…. kalau tootiang ada persoalan
silahkan saja diajukan!”
“Boleh aku tahu lo wangwe, kebakaran ini disebabkan
karena kurang hati-hati ataukah dikarenakan perbuatan dari
musuh kalian?”
“Ooh…. kejadian ini karena kurang hati-hati orang kami
sendiri, aku cuma seorang rakyat kecil yang tidak mempunyai
musuh besar, meskipun kebakaran ini telah menghancurkan
rumah leluhur, untung saja tidak sampai melukai orang!”
Dari ucapan tersebut dapatlah diketahui bahwa hartawan
ini, masih merasa beruntung meskipun di tengah kesedihan.
Dalam anggapan orang lain, setelah hartawan ini
menerangkan bahwa kebakaran disebabkan ketidak sengajaan
dan sama sekali tiada hubungannya dengan musuh besar
yang mencari balas, Kho Hong-bwee pasti akan membawa
anak buahnya berlalu dari sana.
Apa yang terjadi?

Ternyata Kho Hong-bwee malahan ulapkan tangannya ke
arah Oh Sam sekalian sambil memerintahkan, “Periksalah
disekitar tempat ini, coba lihat apakah ada sesuatu tanda yang
mencurigakan?”
Oh Sam sekalian segera mengiakan dan menyebarkan diri
untuk melakukan pemeriksaan, ada yang masuk kedalam
dusun, ada pula yang keluar dari dusun itu, semua gerak-gerik
mereka dilakukan dengan teratur dan tenang, sedikitpun tidak
tampak berisik.
Setelah anak buahnya menyebarkan diri Kho Hong-bwee
bertanya lagi, “Lau wangwe, badanmu tetap semangatmu
berkobar, aku rasa tentunya engkau adalah seorang jago
persilatan bukan?”
“Waktu masih muda siau bin (rakyat kecil) pernah belajar
ilmu bela diri kampungan, tujuanku tak lebih hanya untuk
menyehatkan badan, tak berani Siau bin anggap diriku sebagai
seorang jago persilatan!”
“Apakah Lau wangwe kenal dengan asal usul kami?” tanya
Kho Hong-bwee sambil tersenyum.
“Bila dugaan Siau bin tidak keliru, semestinya tootiang
sekalian adaleh para enghiong dari perkumpulan Sin-kiepang!”
jawab Lau Cu cing setelah ragu sejenak.
Setelah berhenti untuk tukar napas, dia melanjutkan
kembali lebih jauh, “Setiap penduduk Cho ciu sebagian besar
mengetahui urusan tentang dunia persilatan sekalipun Siau bin
jarang sekali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan,
tetapi seringkali kudengar orang membicarakannya, maka dari
itu Siau bin dapat menebak asal usul dari tootiang serta para
enghiong sekalian”

Kho Hong-bwee mengerutkan dahinya, lantas berpaling dan
bisiknya kepada Hoa Thian-hong dengan nada lirih.
“Rupanya nama jelek kami telah membangkitkan rasa was
was dalam hati wangwe ini, sekalipun ia tahu duduknya
perkara belum tentu bersedia untuk menerangkapnya kepada
kita, bagaimana sekarang baiknya?!”
“Pengalaman boanpwe dalam dunia persilatan terlalu cetek,
aku tidak berhasil menebak apa alasannnya sehingga wangwe
itu berbuat demikian?” sahut Hoa Thian-hong dengan muka
kesal.
Bong Pay yang selama ini membungkam, tiba-tiba menyela
dari samping.
“Aku lihat toa moay sangat lembut dan halus budinya,
bagaimana kilau kita suruh dia saja yang menanyakan?”
Pek Soh-gie memandang sekejip ke arah ibunya, kemudian
dengan langkah yang lemah gemulai menghampiri Lau Cu
cing, sehabis memberi hormat katanya dengan lembut, “Lo
wangwe, siau li mempunyai seorang adik kembar yang
terjatuh kelansan musuh, jiwanya terancam bahaya dan kami
sedang mencari jejaknya, apabila lo wangwe mengetahui
jejaknya, sudilah kiranya memberikan petunjuk untuk kami,
atas bantuan dari lo wangwe itu kami pastilah akan merasa
amat berterima kasih!”
Sementara itu fajar telah menyingsing, ketika mendengar
perka-taan tersebut, Lau Cu cing segera alihkan perhatiannya
ke atas wajah Pek Soh-gie ketika menyaksikan raut wajahnya
tiba-tiba ia terperanjat dan mundur selangkah kebelakang
sambil goyangkan tangannya berulang kali.

“Nona, aku harap engkau jangan banyak menaruh curiga!”
serunya dengan cepat, “aku bukan seorang jago persilatan,
dan aku pun tidak tahu dimanakah adikmu berada, aku harap
engkau janganlah mendesak diri ku sehingga aku tak mampi
berbuat apa-apa”
Mendengar perkataan itu Pok Soh-gie lantas alihkan soror
matanya ke arah ibuaya, dengan perasaan apa boleh buat dia
gelengkan kepalanya berulang kali.
Jangankan Pek Hujin, Hoa Thian-hong sendiripun dapat
mengetahui bahwa sebab musabab terjadinya kebakaran
digedung keluarga Lau tersebut sudah pasti bukan belatar
belakang karena ketidak sengajaan, akan tetapi setelah
dilihatnya hartawan itu bersikeras untuk membungkam dalam
seribu bahasa, tentu saja Kho Hong-bwee maupun Hoa Thianhong
tidak ingin memaksa dengan memakai kekerasan.
Selang sesaat, para jago yang dikirim untuk melakukan
pencarian di empat penjuru telah kembali kesitu, ternyata
mereka tidak berhasil menemukan sesuatu apapun yang
mencurigakan.
Waktu itu Oh Sam juga sedang kembali kepasukannya,
ketika ia lewat disamping sebuah pohon yang besar, tiba-tiba
wajahnya agak tertegun kemudian secepat kilat menghampiri
pohon itu dan memeriksanya dengan seksama.
Kemudian dengan suara keras dia berseru, “Hoa kongcu,
cepat kemari!”
Hoa Thian-hong sangat terperanjat, cepat dia maju ke
depan diikuti kawanan jago lainnya, bahkan Lau Cu cing ikut
pula di paling belakang.

Pohon Waru itu sangat besar, daunnya rimbun dan tumbuh
tepat didepan gedung keluarga Lau yang terbakar, jaraknya
hanya empat lima kaki saja.
Pada bagian belakang dahan pohon itu tampaklah kulitnya
telah disayat orang bagian, sementara diatas dahan yang
tersayat itu diukir beberapa buah tulisan dengan ilmu
sebangsa tim kongci yang sangat kuat hingga membekaslah
seringkaian tulisan yang nyata.
Adapun tulisan itu, kira-kira berbunyi demikian,
“Ditujukan Hoa Thian-hong,
Berangkat ke Kiu ci secepat mungkin, segera!”
Tulisan Segera itu tulisan dengan sangat cepat, dibawahnya
tercantumlah sebuah tanda bulatan yang diberi ekor, sekilas
pandangan orang akan mengira gambaran itu sebagai
gambaran kecubong (anakan katak).
Orang lain tidak kenal tanda tersebut lain halnya dengan
Bong Pay, begitu mengetahui lambang tadi kontan dia
berseru, “Lhoo…. ini kan lambang kipas dari Cu supek?”
Hoa Thian-hong mengawasinya dengan lebih seksama
sesudah mendengar seruan itu, memang ucapan itu tak salah,
lukisan tersebut memang mirip sekali dengan gambar sebuah
kipas, maka kepada Kho Hong-bwee dia lantas berkata, “Bibi,
tulisan ini rupanya sengaja ditinggalkan Dewa yang suka
pelancongan Cu lo cianpwe, kalau dugaanku tak keliru, tulisan
ini pastilah ada hubungannya dengan masalah Kun gie!”
Pek Soh-gie maju menghampiri tulisan itu setelah diraba
sebentar diapun berkata pula, “Tulisan ini masih basah,
tampaknya di buat belum lama berselang!”

Sampai disitu Kho Hong-bwee pun berpaling lagi ke arah
Lau Cu ci ng seraya berkata, “Lau wangwe, kami sama sekali
tidak mempunyai maksud jahat terhadap dirimu, bila engkau
tahu tentang jejak putriku itu, mohon sudilah kiranya
memberitahukan kepada kami, pinto pasti akan membalas
budi kebaikan itu!”
“Siau bin benar-benar tak tahu urusan, tiada sesuatu yang
mampu kuucapkan!” sahut Lau Cu cing sambil berbungkokbungkok.
Mendengar perkataan itu, para jago dari Sin-kie-pang ratarata
menunjukkan wajah kegusaran, walau begitu mereka tak
berani mengutarakan kebuasan mereka itu dihadapaa umum,
sebab semua orang tahu nyonya ketua yang memimpin
mereka sekarang terhitung seorang pemimpin yang jujur.
Dalam keadaan begini, apa lagi yang bisa mereka lakukan
kecuali secara diam-diam melotot ke arah Lau Cu cing dengan
muka buas.
Dipelototi banyak orang, Lau Cu cing jadi serba salah dan
merasa amat tidak tenteram, sorot malanya berulang kali
melirik ke arah Hoa Thian-hong dengan maksud mohon
pertolongannya.
Kendatipun merasa curiga, Hoa Thian-hong tidak sampai
bersikap lain, ia menjura dan berkata.
“Aku adalah Hoa Thian-hong, apakah lo wangwe akan
memberikan sesuatu petunjuk?”
Buru-buru Lau Cu cing balas memberi hormat, sahutnya.

“Sudah lama aku dangar orang berkata bahwa Hoa tayhiap
mempunyai sebilah pedang baja yang berwarna hitam dan
selalu tergantung di pin gang, kenapa….”
Belum habis orang itu berkata, Hoa Thian-hong telah
menukas sambil tertawa tergelak.
“Haahh…. haahhh…. haahhh…. pedang baja itu sudah
patah jadi dua, maka sebagai gantinya aku telah menggembol
sebilah pedang yang lain!”
Lau Cu cing mengangguk tiada hentinya dan berseru, “Aku
memang benar-benar tiada sesuatu yang dapat dikatakan!”
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Hoa
tayhiap adalah enghiong yang dipuji dan dihormati oleh setiap
umat persilatan apabila ada hal-hal yang perlu kuberitahukan
sudah pasti akan kuutarakan secara blak-blakan”
“Aaah, aku masih muda, aku tak berani menerima kebaikan
dari Lo wangwee!” kata pemuda itu lagi sambil tertawa.
Sementara itu Kho Hong-bwee yang mengamati terus dari
samping, diam-diam berpikir dalam hati, “Licik amat kakek tua
ini, tampaknya dia termasuk pula seorang lakon tersembunyi!”
Sesudah termenung sebentar, dia lantas bertanya, “Thian
bong, apa rencanamu selanjutnya?”
“Aaaai….! Sekarang boanpwe toh sudah berada dikota Cho
ciu, bila kukesampingkaa urusan Ku Ing-ing dengan begitu
saja, terus terang saja dalam hati kecilku aku merasa tak
tega….”

“Baik!” tukas Kho Hong-bwee kemudian, aku dan mereka
semua akan melakukan pengejaran lebih dahulu, bila
urusanmu disini sudah selesai segeralah menyusul kami!”
“Boanpwe terima perintah” sahut Hoa Thian-hong sambil
memberi hormat.
Kho Hong-bwee tampak menggetarkan bibirnya seperti
mau mengatakan sesuatu lagi tapi maksud itu akhirnya
dibatalkan, sambil memimpin anak buahnya berangkatlah
mereka menuju keselatan.
Menanti rombongan itu sudah lenyap dari pandangan, Hoa
Thian-hong baru menghela napas panjang, ia merasakan
kesepian.
Selang sesaat kemudian, dia baru menghapus tulisan Cu
Thong itu dan manjura ke arah Lau Cu cing, tanpa
mengucapkan kata-kata lagi dia membawa Soat-ji rase salju
itu kembali ke kota.
Setelah kembali kedalam kota, dia ambil keputusan untuk
menyusup kedalam kuil It goan koan malam itu juga, kalau
bisa Ku Ing-ing akan sekalian diselamatkan jiwanya, maka
begitu tiba dirumah penginapan dia lantas tidur nyenyak.
Ketika bangun tengah hari itu, dia lantas menyembuhkan
kembali luka yang diderita Soat-ji dengan tenaga dalamnya
yang sempurna, selesai bersantap siang, Soat-ji tidur diatas
pembaringan sedangkan Hoa Thian-hong ambil keluar kitab
kiam keng itu dan mempelajarinya didepan meja.
Pada halaman pertama, tercantumlah masalah tentang
pedang sebagai suatu benda, ternyata apa yang dibicarakan
sama sekali berbeda dengan kitab pedang manapun juga.

Kalau didalam kitab pedang biasa maka yang dititik
beratkan adalah jurus serangannya yang khusus, maka dalam
kitab kiam keng ini yang dibicarakan adalah soal ilmu pedang
itu sendiri, sekalipun disertai juga hampir seratus macam
lukisan yang berbeda-beda akan tetapi isinya berlainan dan
terselip perubahan yang begitu banyak nya sehingga tak
mungkin bisa dipercayakan dalam waktu singkat.
Dalam waktu singkat Hoa Thian-hong telah terjerumus
kedalam isi kitab itu, seluruh perhatiannya dikonsentrasikan
menjadi satu, tanpa terasa malam pun menjalang tiba, selama
ini meskipun ada sebagian kecil dari isi kitab itu dapat
dipahami olehnya, tapi dapatkah ilmu itu dimanfaatkan bila
terjadi pertarungan, masih merupakan sebuah tanda tanya
besar.
Setelah menyimpan kembali kitab Kiam keng, pelayan
datang membawa lampu lentera den siapkan makanan.
Soat-ji masih berbaring diatas pembaringan, sepasang
matanya memancarkan sinar tajam, rupanya kesehatannya
telah pulih kembali seperti sedia kala….
Hoa Thian-hong memandang sekejap, ke arah binatang itu,
lalu tertawa pikirnya di hati, “Soat-ji memang hebat dan
berbahaya, kalau tenang ia lebih tenang dari perawan kalau
sudah bergerak lebih cepat dari loncatan kelinci…. tidak aneh
kalau waktu turun tangan kelihayannya luar biasa….”
Sepasang telapak tangannya segera diluruskan kedepan
dan bersiul nyaring.
Secepat sambaran kilat Soat-ji makhluk aneh itu melompat
ketanggan Hoa Thian-hong deagan seksama pemuda itu
memeriksa seku jur tubuhnya, setelah mengetahui bahwa
lukanya telah sembuh, ia merasa amat gembira maka

ditaruhnya binatang itu diatas meja untuk bersantap bersamasama.
Hubungan manusia dengan binatang ini berlangsung makin
akrab, diam-diam pemuda ini menjadi terkenang kembali akan
diri Giok Teng Hujin, tiada hentinya ia menghela napas
panjang.
Tiba-tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang
memecahkan kesunyian, menyusul pintu kamar sebelah
dibuka orang, kalau didengar dari pembicaraan tersebut,
rupanya ada dua orang yang menginap dalam sebuah kamar.
Suara pembicaraan kedua orang itu amat nyaring dan
bertenaga, seringkali kata-katanya disertai pula dengan kata
sandi yang sering dipakai orang persilatan.
Dari pembicaraan tersebut Hoa Thian-hong segera
mengetahui bahwa kedua orang itu adalah jago dari kalangan
hitam, maka diapun tidak menaruh perhatian khusus.
Jilid 26 : Menyelamatkan Giok Teng Hujin
SELANG sesaat kemudian, kedua orang itupun bersantap
didalam kamar, tiba-tiba terdengar seorang diantaranya yang
lebih muda berkata, “Ang kiu ko, sebenarnya siapa yang telah
membocorkan rahasia itu hingga urusan jadi heboh?”
Suara dari orang she Ang itu kedengaran lebih serak dan
bertenaga, terdengar dia segera menyahut, “Perduli amat
berita itu berasal dari siapa, pokoknya urusan kita adalah
melaksanakan tugas tersebut!”
Orang yang pertama tadi rupanya meneguk dulu araknya,
kemudian dengan suara berat katanya lagi, “Aaaai….! Siaute

kuatir kalau perjalanan kita cuma sia-sia belaka, sekali lagi kita
ke tanggor batunya….”
“Ingat saudara, tembok bertelinga, lebih baik tak usah kau
ungkap lagi masalah itu, Hmm! Kalau engkau tidak ingin
mencari nama dan kedudukan silahkan saja pulang ke rumah
membopong anak meniduri istri dan hidup riang gembira,
siapa yang akan mengurusi dirimu lagi!”
Orang itu segera tertawa dingin dan berseru dengan nada
mendongkol, “Heehh…. heeeh…. heehh…. omong kosong, aku
Ciang Kin bukan seorang manusia yang takut mati, aku cuma
merasa bahwa ilmu silat yang dimiliki lawan kita terlampau
tinggi padahal Hong-im-hwie sudah hancur berantakan dan
tercerai berai, dengan andalkan kita beberapa orang prajurit
yang kalah perang rasanya masih bisa untuk mencari posisi
yang menguntungkan, kalau cuma jiwa yang melayang sih
urusan kecil, bagaimana kalau sampai ditertawakan orang?”
Hoa Thian-hong yang mencari dengar pembicaraan itu,
dalam hatinya segera berpikir.
“Aaah….! rupanya sisa-sisa komplotan dari Hong-im-hwie,
entah urusan penting apakah yang sedang mereka kerjakan?”
Terdengar orang she Ang itu berkata lagi dengan suara
lirih, “Inilah kesempatan bagi kita untuk membalikan diri dan
mencari kedudukan, sekalipun harus korbankan jiwa tua kita
juga harus melaksanakannya dengan mati-matian!”
Ciang Kin lantas berbisik pula dengan suara lembut.
“Menurut berita yang kudengar, katanya musuh besar kita
mendapat perintah ibunya untuk pulang kedesa, ketika tiba
dikota Lok yang tiba-tiba ia berputar arah, menurut berita
kemarin hari dia telah munculkan diri di Hoo lam….”

Pembicaraan kedua orang itu makin lama semakin lirih,
buru-buru Hoa Thian-hong pusatkan seluruh perhatiannya
untuk mendengarkan pembicaraan tersebut dengan seksama.
Terdengarlah orang she Ang itu sedang berbisik dengan
suara yang sangat lirih, “Pendapatmu itu keliru besar,
meskipun ilmu silat yang dimiliki musuh besar kita sangat
lihay, tapi dia bukan seorang manusia yang serakah, bahkan
dia anggap dirinya sebagai seorang pendekar, maka setiap
perbuatannya dilakukan menurut cengli, maka dalam masalah
ini bukan dia yang musti kita kuatirkan, tapi nenek sialan dari
Kiu-im-kauw dan Pek loji dari Sin-kie-pang!”
“Cong tang kee memerintahkan kita semua agar berkumpul
di kota Kim leng, apakah kita harus berjalan mengitari dulu
propinsi Hok kian langsung menuju Bu gi?”
“Tentu saja bukan begitu maksudnya,” jawab orang she
Ang dengan suara dingin, “cong tangkee memerintahkan
semua teman agar berputar melewati arah tenggara,
maksudnya hanya untuk menghindari bentrokan dengan pihak
Sin-kie-pang, padahal kota Kiu ci bila dimaksudkan sebagai
arti suatu tempat maka letak yang sebenarnya adalah
dikaresidenan Pa kay di Ghong see, kalau diartikan sebagai
nama sungai maka letaknya dekat Tan yang di propinsi Kang
siok, bila diartikan sebagai nama telaga letaknya ada di
sebelah timur laut karesidenan Kang ling, telaga itu dibuat
oleh Beng taysu pada jaman Liang dengan tenaga manusia,
tapi kalau dimaksudkan sebagai bukit Kiu ci…. waah banyak
sekali jumlahnya!”
“Pengetahuan siaute amat cetek, aku hanya tahu di
karesidenan Huan sui sian pada propinsi Hoo tam terdapatt
sebuah bukit Kiu ci san, Kiu ko!”

“Coba terangkanlah ditempat mana lagi terdapat bukit yang
bernama bukit Kiu ci san!”
“Disebelah barat keresidenan Ciau hua sian pada propinsi
Su chian terdapat sebuah bukit yang bernama Kiu ci san,
disebelah utara karesidenan Sam kang sian dipropinsi Kwang
see terdapat pula sebuah bukit kiu ci san, bukit itu bentuknya
sembilan buah patahan dan terdiri dari batu karang yang
tajam, ditengahnya terdapat sebuah air terjun yang amat
besar, inilah bukit Kiu ci san yang sebenarnya, sedang bukit
Bu gi san di propinsi Hok kian terdapat pula sembilan buah
tekukan, pemandangan disitu sangat indah, namun dalam
kenyataan bukit itu bukanlah bernama bukit Kiu ci!”
“Jadi kalau begitu tempat yang kita tuju adalah bukit kiu ci
san yang letaknya ada di See lam?”
Orang she Ang itu tidak menjawab, rupanya ia lagi
mengangguk.
Terdengar Ciang Kin berkata lagi, “Oooh….! Rupanya Kiu ko
sudah pernah menjajahi seluruh kolong langit sehingga
pengetahuannya begitu luas, sudah banyak tahun siaute
bergaul dengan dirimu, sungguh tak nyana engkau adalah
manusia selihay itu!”
“Aah. aku sih cuma mendengarnya dari Cong tangkee kita!”
“Sekalipun begitu, toh pengetahuanmu jauh lebih luas
daripada aku sendiri!”
Diam-diam Hoa Thian-hong tertawa geli setelah mendengar
perkataan itu, ketika ia merasa bahwa pembicaraan
selanjutnya adalah kata-kata yang tidak penting, dia lantas
menggembol pedangnya, membopong Soat-ji dan diam-diam
tinggalkan rumah penginapan itu.

Waktu itu senja telah menjelang tiba, jalan raya ramai
sekali, dengan langkah yang santai Hoa Thian-hong
menyelusuri jalan menuju selatan pintu kota.
Selang sesaat kemudian sampailah anak muda itu disekitar
kuil It goan koan, dari kejauhan tampaklah pintu gerbang kuil
itu tertutup rapat, sepintas lalu bangunan itu sudah tidak mirip
sebuah kuil lagi, cahaya lampu menerangi seleruh penjuru,
dari situ dapatlah diketahui bahwa jumlah penghuni yang
bberada disitu amat banyak.
Setelah memandang sekejap dari kejauhan, anak muda itu
segera menyusup masuk kedalam sebuah lorong dan
menyelinap kebelakang bangunan kuil tadi.
Dibelakang halaman kuil terdapat sebuah loteng yang
terdiri dari empat tingkat, bangunannya amat megah dan
mentereng, dahulunya merupakan tempat penting dari It goan
koan, bahkan ketika Giok Teng Hujin menjamu Hoa Thianhong
tempo hari, perjamuan itupun diadakan pada tingkat
paling tinggi dari bangunan tersebut.
Dalam hati Hoa Thian-hong lantas berpikir, “Bila Kiu-im
Kaucu berada didalam kuil dia sudah pasti berada dalam
bangunan itu, tapi dimanakah Giok Teng Hujin disekap?”
Tiba-tiba ia saksikan dua sosok bayangan manusia
berkelebat lewat didepan sana, ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki kedua orang itu sudah mencapai puncak
kesempurnaan hingga gerak-geriknya begitu enteng bagaikan
segulung asap ringan saja.
Mula-mula Hoa Thian-hong merasa terperanjat tapi setelah
mengetahui siapakah kedua orang itu ia jadi sangat

kegirangan buru-buru serunya dengan ilmu menyampaikan
suara, “Paman Suma….”
Kiranya salah seorang diantara dua orang yang memakai
baju hijau dan menyoren pedang itu tak lain adalah Kiu mio
kiam kek (jago pedang berjiwa rangkap sembilan) bermuka
putih, berambut panjang dan berjubah pendeta warna abuabu,
senjatanya adalah sebuah sekop perak, siapa lagi kalau
bukan Cu Im taysu….
Pada saat itu Suma Tiang-cing sudah siap melompat
kedalam pekarangan kuil, ketika mendengar pangilan tersebut
ia batalkan niatnya dan malahan menghampiri si anak muda
itu.
Hoa Thiian hong segera menyambut kedatangan kedua
orang itu, baru saja ia hendak memberi hormat, Cu Im taysu
telah memburu datang sambil membangunkan anak muda itu.
“Nak, sudah lama engkau tiba di sini?” tegurnya sambil
tertawa ramah.
“Tengah malam kemarin boanpwe baru sampai disini, ada
urusan apa taysu dan paman Suma datang kesini?”
Kiu mio kiam kek, Suma Tiang-cing segera menjawab, “Aku
dan taysu baru saja pulang setelah berpesiar kebukit Tay san,
sepanjang jalan aku dengar orang berkata bahwa Kiu-im
Kaucu telah menuju ke kota Lok yang bahkan berhasil
menangkap Giok Teng Hujin yang mengkhianati dirinya.
Mendengar berita tersebut aku segera memburu datang
kemari dengan harapan bisa selamatkan jiwanya, sebab ketika
jiwaku terancam tempo hari, berkat beberapa tetes Leng-ci
mustika pemberian Ku Ing-ing lah jiwaku selamat, aku tak bisa
melupakan budi kebaikannya ini….!”

Hoa Thian-hong sama sekali tidak menyangka kalau
sebatang Leng-ci pemberian Ku Ing-ing telah mengundang
bantuan yang begitu banyak dari kawan-kawan persilatan,
pada hal dua pertiga diantaranya sudah dia makan sendiri,
sedangkan sisanya sepertiga pun harus dibagi untuk Suma
Tiang-cing, Chin Giok long dan Bong Pay.
Berbicara menurut perbuatan yang telah dilakukan Ku Inging
selama ini, semestinya Suma Tiang-cing yang benci akan
kejahatan tak mungkin akan singsingkan lengan baju untuk
membantu dirinya, tapi kenyataannya jago berangasan itu
telah datang kemari untuk memberikan pertolongan, kejadian
ini boleh dibilang sama sekali diluar dugaan siapapun.
Melihat wajah Hoa Thian-hong yang diliputi kesedihan dan
kemurungan, Cu Im taysu merasa tak tega, segera sahutnya,
“Nak, janganlah murung! Sebenarnya aku dan paman Samu
mu sudah kelabakan setengah mati, sekarang setelah
bertambah dengan kau seorang maka berarti kesempatan kita
untuk menolong orang semakin besar, mari kita rundingkan
sampai masak, kemudian segera turun tangan!”
Haruslah diketahui, meskipun Hoa Thian-hong tersohor
didunia persilatan, perawakannya tinggi kekar, orangnya jujur
dan wataknya tegas, akan tetapi pada hakekatnya dia baru
berusia sembilan belas tahun, di riridingkan Chin Wan-hong
dan Pek Kun Ci pun masih jauh lebih muda, ia termasuk
seorang pemuda yang cerdik tanpa menghi langkan sifat
kejujurannya, sederhana, polos tapi tidak bodoh, terhadap
kaum yang lebih tuapun sangat menaruh hormat….
Oleh sebab itulah kebanyakan orang persilatan dari
golongan lurus sama-sama menyayangi dirinya, menganggap
dia sebagai seorang rekan yang baik, hanya saja ada sebagian
orang mengutarakan perasaannya itu secara terus terang, ada
pula yang cuma menyimpannya didalam hati.

Sementara itu Suma Tiang-cing telah menuding ke arah
loteng tinggi didalam kompleks kuil It goan koan seraya
berkata, “Ketika senja menjelang tiba tadi, aku telah
menyusup kedalam kuil dan berhasil menangkap seorang
imam cilik dari Thong-thian-kauw, imam cilik itu bertugas
sebagai pelayan yang melayani orang-orang Kiu-im-kauw,
menurut pengakuannya, Kiu-im Kaucu berdiam ditingkat
ketiga bangunan loteng itu, sedangkan Ku Ing-ing disekap
pada loteng tingkat paling atas dan sedang menjalankan
siksaan Api dingin melelehkan sukma yang amat keji,
bagaimanakah cara menjalankan siksaan tersebut dia tak
menyaksikan sendiri, maka tak dapat dikatakan secara jelas,
tapi dia tahu babwa Ku Ing-ing jelas belum mati!”
0000O0000
80
HOA THIAN-HONG menghela nafas panjang.
Aaai….! Jika Kiu-im Kaucu punya keinginan untuk
membunuh Ku Ing- ing, maka perbuatan itu bisa dilakukan
dengan gampang sekali bagaikan membalik telapak tangan
sendiri, tapi kenyataannya ia tidak mau turun tangan untuk
bereskan jiwanya, itu berarti dia sengaja hendak menyiksa
mangsanya dan menggunakan dia sebagai umpan untuk
memancing boanpwee masuk jebakan.
“Kenapa begitu?” tanya Suma Tiang-cing dengan sepasang
alis matanya berkenyit.
Kiu-im-kauweu memandang keponakan sebagai paku
dalam mata, dia menganggap aku sebagai penghalang yang
menghalangi niatnya untuk merajai seluruh kolong langit maka
kalau bisa secepatnya berusaha untuk lenyapkan aku, sudah

dua kali keponakan bentrok dengan diri nya, tapi setiap kali
menang kalah sukar ditentukan, oleh karena itu rasa bencinya
terhadap diriku semakin menebal.
Iapun lantas menceritakan peristiwa yang telah dialaminya
selama ini, ketika Cu Im taysu dan Suma Tiang-cing
mendengar kalau ia telah berhasil mendapatkan kitab kiam
keng, kedua-duanya merasa gembira tapi sewaktu mendengar
Tang Kwik-siu tiba masuk kedaratan Tionggoan untuk mencari
harta di bukit Kiu ci san, kembali mereka tertegun.
Cu Im taysu menghela napas panjang, ujarnya, “Meskipun
aku sudah menduga bahwa pertikaian dalam dunia persilatan
belum selesai, namun tak kusangka kalau perubahan yang
berlangsung sedemikian cepatnya, kalau ditinjau dari sini
dapatlah diketahui babwa Kiu-im Kaucu mempunyai ambisi
yang sangat besar, Tang Kwik-siu mempunyai rencana busuk
yang sukar diraba arah tujuannya sedang sisa-sisa laskar dari
Hong-im-hwie dan Thong-thian-kauw masih belum mau
menyerah dengan begitu saja, aku rasa hawa nafsu
membunuh yang menyelimuti dunia persilatan dewasa ini jauh
lebih tebal daripada pertemuan di Pek-beng-hwie mau pun
dalam pertemuan Kian ciau tay hwe!”
Suma Tian cing tertawa dingin.
“Heh…. heehh…. heeh…. Sebagian besar masyarakat
didunia ini kebanyakan menganggap bahwa yang berhasil jadi
raja, yang kalah jadi penyamun karena ketidakpuasan
manusialah menjadikan sebab musabab hingga terjadinya
pertikaian ini, apabila situasi dalam dunia persilatan dapat
dibalikkan seperti keadaan pada lima puluh tahun berselang
dimana orang yang belajar silat suka akan gengsi,
membicarakan soal kedudukan lebih mementingkan
pertarungan satu lawan satu, semua orang menganggap yang
menang kuat yang kalah harus mengaku kalah dan malu

untuk main kerubut, maka dunia persilatan akan menjadi
aman. Bila kita menghendaki keadaan tersebut maka hanya
ada satu cara saja yang bisa kita lakukan!”
“Apakah caramu itu paman?” tanya Hoa Thian-hong
dengan dahi berkerut kencang.
“Hmm! Apalagi? Kita bantai dan bunuh semua kawanan
manusia durjana itu dari muka bumi, asal kaum gembong iblis
itu sudah tersapu lenyap, dunia pasti akan aman.”
“Omintohud!” seru Cu in taysu, selama dunia masih dihuni
oleh makhluk yang bernama manusia, maka kejahatan tak
mungkin bisa musnah dari hati umatnya, sekali pun kau basmi
kawanan manusia durjana ge nerasi ini toh dari generasi yang
akan datang akan muncul pula manusia-manusia durjana
lainnya. Suma lote! Ucapan yeng disertai emosi seperti apa
yang kau katakan itu bukanlah suatu cara yang jitu, Thianhong!
Jangan kau anggap perkataannya itu sebagai
sungguhan!”
Suma Tiang-cing tertawa dingin.
“Taysu engkau keliru besar!” serunya kembali. “Jikalau kita
bunuh habis manusia-manusia durjana dari generasi sekarang
sekalipun pada generasi yang akan datang muncul pula
manusia durjana lain, aku rasa sifat kejahatannya tentu jauh
lebih ringan”
“Thian memberikan pelajaran kepada umatnya agar saling
mengasihi sesamanya, bila kita gunakan membunuh untuk
mencegah membunuh, maka ajaran ini terlalu tidak masuk di
akal dan tak pantas dituruti, Thian-hong! Jangan kau gubris
ajaran semacam itu.”

Hoa Thian-hong segera menghela nafas panjang, ia tahu
Suma Tiang-cing masih belum puas, apabila perdebatan in
berlangsung terus sampai beberapa haripun tak ada habisnya,
buru-buru ia menyela dari samping.
“Pendapat dari taysu didasarkan pada pelajaran agama,
sedang pendapat paman Suma didasarkan pada kenyataan,
aku rasa kedua duanya masuk diakal.”
Berbicara sampai disini, tiba-tiba dia membungkam dan
tidak mengatakan apa-apa lagi.
Cu Im taysu segera menyambung.
“Memang benar, urusan paling penting yang harus kita
pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya untuk menolong
orang, menurut pendapatmu bagaimana kita musti turun
tangan?”
Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, lalu
menjawab.
“Ku Ing-ing disekap pada loteng tingkat keempat,
sedangkan Kiu-im Kaucu menjaga pada tingkat ketiga, bila
boanpwe ingin menye-lamatkan Ku Ing-ing tanpa diketahui
olehnya, sudah jelas hal ini tak mungkin bisa kulakukan!”
Sekalipun begitu, kita masa harus merampasnya secara
terang-terangan….?!” tanya Cu Im taysu dengan cepat.
“Boanpwe yakin, dengan kekuatan kita bertiga sekalipun
harus berhadapan muka dengan kawanan jago Kiu-im-kauw
yang berkumpul seruangan, kita masih mampu menerjang
masuk dan mampu juga untuk menerjang keluar, akan tetapi
kalau dikatakan kita harus menembusi kepungan mereka

sambil membawa Ku Ing-ing, jelas pekerjaan ini sulit sekali
untuk dilaksanakan”
“Perkataanmu memang benar, dalam kea aan kepepet bisa
saja Kiu-im Kaucu turun tangan membereskan dulu nyawa Ku
Ing-ing. Aaaai….! Aku rasa persoalan ini merupakan suatu
persoalan yang amat sulit, pa dahal perempuan itu harus
diselamatkan jiwanya, apa daya kita sekarang?”
Hoa Thian-hong menghela napas panjang, dia lantas
berpaling dan memandang ke arah Suma Tiang-cing.
Melihat sinar mata kedua orang itu ditujukan ke arahnya,
dengan cepat Suma Tiang-cing gelengkan kepalanya sambil
berkata, “Sudah setengah harian aku peras otak berusaha
mencari akal yang bagus, tapi usahaku ini selalu gagal, kalau
bisa malah aku akan mengambil keputusau untuk menyerbu
pakai kekerasan, kalau perempuan itu berhasil diselamatkan
yaa syukur, kalau tak bisa akan kulakukan pembantaian secara
besar-besaran agar Kiu-im Kaucu mengetahui sampai
dimanakah kelihayanku, cuma begitu jika aku gagal
selamatkan jiwa orang, maka kemungkinan besar jiwa Cu Im
taysu akan ikut jadi korban”
Cu Im taysu tersenyum.
“Meskipun aku tidak suka melakukan pemubunahan, akan
tetapi aku tak takut menghadapi bacokan golok, apalagi
disuruh bertempur boleh dibilang merupakan suatu
kegembiraan!”
Hoa Thian-hong termenung sebentar, tiba-tiba katanya,
“Boanpwe telah menemukan suatu cara yang amat sederhana,
bagaimana kalau kita bertiga turun tangan bersama? Kita
serbu secara menggelap maupun secara terang-terangan, lihat
saja bagaimana hasilnya nanti!”

“Baik! Suma Tiang-cing menanggapi dengan suara berat,
aku rasa inilah satu-satunya cara yang paling ada harapan,
biarlah aku dan Cu Im Taysu menyerbu secara terangterangkan,
kalau bisa akan kami belenggu musuh tangguh itu
sebisa mungkin, sedangkan engkau segera menyusup
kepuncak loteng untuk menolong orang”
“Benar, bila kau berbasil selamatkan perempuan itu maka
berusahalah untuk menerjang keluar, jangan kau gubris diriku
dan paman Suma lagi!” kata Cu Imn taysu sambil tertawa.
Suma Tiang-cing mempunyai julukan sebagai Kiu mio kiam
kek, jago pedang berjiwa rangkap sembilan, bukan saja
beraninya luar biasa diapun seorang pemberang, sekali pun
dihadapannya terhalang hutan golok atau bukit pedang ia tak
akan memandang sebelah matapun.
Maka begitu melihat keputusan telah di ambil, ia lantas
loncat masuk kebalik dinding pekarangan kedalam kuil It goan
koan.
Menyaksikan hal itu, buru-buru Cu Im taysu berseru kepada
anak muda itu, “Engkau harus berhati-hati….!”
Dengan cekatan tubuhnya ikut loncat masuk kedalam
pekarangan kompleks kuil itu.
Hoa Thian-hong tak berani berayal, cepat diapun melesat
kedepan dan menyusup masuk kedalam kompleks kuil It goan
koan tersebut.
Sebagai orang yang bertanggung jawab untuk
menyelamatkan jiwa Ku Ing-ing, pemuda itu tak berani
bertindak secara gegabah, dengan sangat hati-hati dan hampir
boleh dibilang menempel pada dinding bangunan, dari satu

bangunan berpindah kebangunan yang lain tanpa
menimbulkan sedikit suara pun, dengan gerak-geriknya ini
kendatipun ada orang disekitar sana, belum tentu bisa
ditemukan dengan gampang.
Belakang dinding pekarangan adalah sebuah kebun bunga,
disitu pohon dan rumput tumbuh dengan suburnya, ada
gunung-gunungan, ada kolam dan ada pula pintu berbentuk
bulat.
Dibelakang pintu itu berdirilah sebuah bangunan loteng
yang megah, ketika Hoa Thian-hong melompat masuk lewat
dinding pekarangan, Suma Tiang-cing dan Cu Im taysu sudah
menyusup masuk lewat pintu bulat tadi, cepat si anak muda
itu bersembunyi dibelakang pintu bulat itu sambil mengawasi
gerak-gerik dari dua orang rekannya.
Rembulan bersinar dengan terangnya diawang-awang,
cahaya lampu memancar dari bawah, dalam suasana terang
benderang tentu saja jejak Suma Tiang-cing dan Cu Im taysu
tak bisa disembunyikan lagi, segera mereka berhasil
ditemukan oleh penjaga loteng itu.
“Siapa disitu?” terdengar seseorang membentak kasar.
Aku Suma Tiang-cing dan Cu Im taysu sengaja datang
kemari untuk menyambangi kaucu mu!”
Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, tubuhnya
langsung meluncur keudara dan menerjang keloteng tingkat
ketiga.
Loteng tingkat ketiga jaraknya ada belasan keki, dalam
dunia persilatan dewasa ini jarang sekali ada orang yang
mampu melakukan hal itu, dengan sendirinya para penjaga

loteng itu segera sadar bahwa mereka telah kedatangan
musuh tangguh.
Dengan hati tercekat, kedua orang penjaga itu segera
membentak keras, secepat sambaran kilat mereka menerjang
maju kedepan.
Dengan gaya burung bangau menerjang ke angkasa,
laksana anak panah yang terlepas dari busurnya, Suma Tiangcing
membumbung keangkasa, belum habis ia berseru
sepasang kakinya sudah menempel diatas tiang dan pedang
mustikanya diloloskan pula dari sarungnya.
Dengan suatu gerakan yang amat cepat, kedua orang itu
menerjang tiba, terdengarlah suara desingan tajam menderuderu,
sebuah tombak pendek dan sebuah senjata pit baja
penotok jalan darah dengan gerakan yang amat cepat telah
meluncur tiba.
Sama Tiang cing segera membentak nyaring, “Siapa berani
menghalangi aku, mampus!”
Pedangnya secepat sambaran kitat segera melancarkan
serangan kilat ke arah depan.
Dua orang jago yang bertugas menjaga loteng itu
merupakan dua orang jago lihay dari istana neraka, bukan
saja bentuk senjata yang digunakan sangat aneh, jurus
serangan yang digunakan cukup mengge-tarkan hati siapapun
yang memandang, bila orang lain yang dihadapi nisca nyalinya
akan dibuat tercekat.
Sayang musuh yang dihadapinya justru adalah Kiu mio
Kiam kek yang pemberang, jago muda ini tak pernah
mempersoalkan apakah musuh yang dihadapinya adalah

musuh tangguh atau kaum keroco, begitu menyerang ia
segera melancarkan serangan dengan jurus yang ganas dan
tenaga yang mengerikan, membuat siapapun jadi keder
rasanya.
Setelah melepaskan serangannya tadi, kemudian
menyaksikan Suma Tiang-cing melancarkan sergapan dengan
pedang bajanya, dua orang jago dari istana neraka itu segera
menyangka kalau musuhnya akan menangkis ancaman
tersebut deagan mengandalkan ketajaman senjatanya.
Siapa tahu, bukan saja ancaman itu tidak ditangkis,
ternyata pihak lawan malahan melepaskan pula ancaman
maut ke arah mereka dengan sistim adu jiwa.
Tentu saja kedua orang jago itu tak ingin mati konyol,
sebelum serangannya dilancarkan sampai habis, cepat-cepat
kedua orang itu membatalkan kembali ancamannya seraya
melepaskan jurus serangan untuk menyelamatkan diri.
Sayang serbu kali sayang, Suma Tiang-cing bukan manusia
sembarangan, dan lagi dalam melepaskan ancamannya itu ia
telah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya, boleh
dibilang sergapannya tanpa memperhitungkan mana lebih
duluan dan mana belakangan.
Baru saja jago yang bersenjata tombak itu berusaha untuk
menghindarkan diri kesamping, tahu-tahu….”Krakk!” ditengah
benturan nyaring, senjata tombaknya itu sudah terpapas
kutung jadi dua bagian.
Jago yang bersenjata poan koan pit itu cepat memburu
kedepan. senjatanya diputar menusuk kaki Suma Tiang-cing,
maksudnya dengan serangan tersebut maka ia dapat
selamatkan jiwa rekannya.

Siapa tahu Suma Tiang-cing bertindak cekatan, sekali
angkat kakinya tahu-tahu ia sudah menginjak senjata lawan,
menyusul mana sebuah tendangan dahsyat melemparkan
tubuhnya sehingga mencelat sejauh satu kaki lebih dari
tempat semula.
Pada hakekatnya anak buah Kiu-im-kauw yang diatur
disekitar bangunan loteng itu khusus disediakan untuk
menghadapi Hoa Thian-hong, apa lacur sekarang yang baru
dihadapi adalah Suma Tiang-cing seorang jago yang nekad
dan pemberang, kontan saja pertahanan mereka dijebolkan
hanya cukup dalam sekali gebrakan.
Baru saja musuhnya terdesak mundur ke belakang, Suma
Tiang-cing sudah memberatkan tubuhnya dan melayang
keatas serambi.
“Manusia kasar, mau kabur kemana? tiba-tiba seorang
perempuan dengan suara yang dingin menyeramkan menegur
dari samping.
Berbareng dengan seruan tersebut, sepulung desingan
hawa pedang yang tajam menyergap kedepan dan langsung
menghajar jalan darah Ki bun hiat ditubuh Suma Tiang-cing.
Betapa terperanjatnya jago muda itu menghadapi serangan
yang sama sekali tak terduga ini, peluh dingin sampai
mengucur keluar membasahi sekujur mbuhnya.
Cepat pedang mustikanya dikibaskan kedepan dengan jurus
bwe bong wu liu (Pusaran angin mainkan pohon Liu), bukan
saja ia tidak memperduiikan keselamatan jiwa sendiri,
malahan sambil bergerak kedepan ia melancarkan serangan
balasan.

Sreeet….! Senjata sekop dari Cu Im taysu meluncur tiba
dari samping gelanggang.
Dengan berkobarnya pertarungan itu maka dalam sekejap
mata, api obor sudah bermunculan di empat penjuru dan
menyoroti daerah sekitar gelanggang hingga terang
benderang bagaikan disiang hari, berbareng itu pula dari
kedua belah sisi serambi bermunculan puluhan orang laki-laki
maupun perempuan.
Dalam keadaan demikianlah pintu loteng terbuka, Kiu-im
Kaucu dengan senjata toya kepala setannya munculkan diri
didepan muka.
Sementara itu Suma Tiang-cing telah melihat jelas bahwa
tandingannya ketika itu adalah seorang gadis berambut
panjang yang berpotongan badan ramping, dia kenali gadis itu
sebagai Tiamcu istana neraka dibawah pimpinan Kiu-im
Kaucu, bahkan mengenali juga bahwa senjata mustika yang
dipergunakannya adalah pedang mustika Bian liong poo kiam
bekas milik Thong-thian-kauw.
Dalam waktu singkat dua puluh gebrakan sudah lewat
dengan cepatnya, pertarungan berlangsung makin sengit dan
seru.
Waktu itu usia Suma Tiang-cing baru mencapai tiga puluh
tahunan, sedangkan Tiamcu istana neraka berusia diantara
tiga puluh tahunan juga, bukan saja wajah mereka cakep dan
cantik, senjata yang digunakan juga adalah senjata mustika,
berbicara yang sesungguhnya pertarungan semacam itu
pastilah berlangsung dengan halus dan lembut.
Apa lacur watak Suma Tiang-cing seorang pemberang dan
ganas, setiap serangan yang dilancarkannya selalu bermaksud
untuk melukai orang, hal ini memaksa Tiamcu dari istana

neraka terpaksa harus mengeluarkan pula jurus-jurus
ampuhnya untuk melayani kehendak lawan.
Kiu-im Kaucu hanya menonton jalannya penarungan itu
dari sisi kalangan, sepasang alis matanya berkenyit hingga
menjadi satu garis, dengan suara lantang ia berseru, “Suma
Tiang-cing sudah tersohor sebagai seorang jagoan yang
pemberang dan besar sekali jiwa nekadnya, ia sudah terbiasa
melakukan serangan-serangan kasar macam itu….”
“Anjing betina tak usah banyak bacot, kalau berani hayo
turun kemari.! tukas Suma Tiang-cing sambil membentak
gusar.
Kiu-im Kaucu sama sekali tidak melayani makian tersebut,
malahan sambil tertawa ujarnya, “Engkau bukan tandinganku
maka lebih baik tak usahlah menantang aku untuk bertarung,
saat ini Hoa Thian bong telah menyusup naik keatas loteng
aku harus berjaga-jaga disana menunggu kedatangannya!”
Betapa terkejutnya Suma Tiang-cing sesudah mendengar
perkataan itu, dia lantas menduga bahwa dialas loteng telah
disiapkan jebakan yang lihay sehingga gembong iblis ini
membiarkan musuhnya berhasil menyusup naik ke atas.
“Kalau memang terjadi begini, bukankah itu berarti bahwa
selembar jiwa Hoa Thian-hong sedang terancam bahaya
maut?”
Karena memikirkan persoalan itu pikiran dan perhatiannya
jadi bercabang, Tiamcu istana neraka tidak menyia-nyiakan
kesempatan baik itu dengan begitu saja, dia lantas
membentak keras, pedang mustika boan liong kiam hoatnya
dengan memancarkan cahaya bianglala yang amat
menyilaukan mata segera memancar memenuhi seluruh

angkasa, dalam waktu singkat dia telah melancarkan
serangkaian serangan balasan yang amat gencar.
Sesudah kehilangan posisinya yang baik, dengan cepat pula
Suma Thiang cing terdesak hebat sehingga kedudukannya
berada di bawah angin.
Dalam waktu singkat secara beruntun dia telah menemui
ancaman mara bahaya, untungnya dia memiliki jurus untuk
adu jiwa yang mengerikan, maka setiap saat dia masih
mampu untuk menyelamatkan jiwanya dari ancaman itu.
Sementara itu dipihak lain, Hoa Thian-hong telah
manfaatkan kesempatan berkobarnya pertarungan itu secara
baik-baik, sesudah berputar kesamping, sambil membopong
Soat-ji dia lantas melompat naik ke loteng tingkat keempat.
Dalam prasangkanya disekitar loteng itu sudah pasti telah
disiapkan jebakan maupun penjagaan yang sangat ketat, tapi
apa yang dilihatnya waktu itu?
Ternyata suasana diatas loteng tingkat keempat itu sunyi
senyap tak kedengaran sedikit suarapun, bukan saja tak
nampak adanya bayangan manusia, alat jebakan atau senjata
rahasiapun tak nampak satupun.
Diatas serambi loteng tergantung sebuah lampu lentera
yang anti hembusan angin, cahaya yang redup menyinari
sebuah pintu ruangan yang berukir naga dan burung hong.
Dengan cekatan Hoa Thian-hong melayang kedepan dan
mendorong pintu tersebut, ternyata pintu tidak terkunci,
ketika didorong segera terpentang lebar.
Ruangan itu kosong melomgpong, tak kelihatan sesosok
bayangan manusia pun yang berada disitu.

Ruangan itu luasnya sekitar tiga kaki persegi, sepuluh buah
lentera keraton yang indah tergantung didalam ruangan itu.
Hoa Thian-hong masih ingat ketika ia dijamu Giok Teng Hujin
tempo hari, dalam ruangan inilah perjamuan tersebut
diselenggarakan.
Sayang suasana dalam ruangan itu remang-remang,
diantara sepuluh buah lampu lertara yang tersedia dalam
ruangan itu, hanya dua buah diantaranya yang dipasang,
ditengah suasana yang remang-remang itulah Hoa Thian-hong
merasakan suatu perasaan yang sangat aneh.
Didekat ruangan itu terdapat tiga buah pintu, didepan pintu
tergantung horden yang cukup tebal, sekilas pandangan
dapatlah di ketahui bahwa dalam ruangan itu tersedia tiga
buah kamar tidur.
Setelah menutup kembali pintu ruangan, Hoa Thian-hong
bergerak masuk kedalam untuk melakukan pemeriksaan,
waktu itulah Soat-ji yang berada dalam bopongannya
mendesis lalu melompat turun dan secepat kilat menyusup
masuk kedalam ruang tidur sebelah tengah.
Tanpa sadar perasaan hati Hoa Thian-hong berubah jadi
amat tenang, cepat dia menyelinap kedepan pintu dan
menyingkap horden yang menutupinya. Apa yang kemudian
terlihat dihadapannya membuat darahnya tersirap, dengan
mata melotot karena menahan gusar dia menyerbu masuk
kedalam ruang itu, serunya setengah mendesis, “Cici….!”
Semula ruangan tersebut adalah sebuah kamar rahasia,
tapi sekarang perabot yang ada dalam ruangan itu sudah
dipindahkan semua sehingga tinggal sebuah ruangan yang
kosong melompong.

Ditengah ruangan terdapatlah sebuah meja sembahyangan
yang tampak masih baru, diatas meja sembahyangan
terdapatlah empat buah patung arca setinggi beberapa depa
yang tersebut dari kayu wangi, patung itu ada yang duduk ada
pula yang berdiri, bentuknya satu sama yang lain jauh
berbeda.
Cuma saja keempat-empatnya adalah patung perempuan
dan berambut parjang sampai sepundak.
Meskipun raut wajah yang digambarkan pada keempat
patung itu tidak jelek, tapi seperti halnya dengan Kiu-im
Kaucu, paras muka mereka, membawa selapis kemisteriusan
yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Didepan sebuah patung arca itu terletak sebuah hiolo,
diatas hiolo itu tertancap hio yang mengeluarkan bau dupa
wangi, cuma tidak kelihatan ada lilin.
Kurang lebih empat lima depa didepan meja sembahyangan
itu terdapat kasur bulat untuk semedi, waktu itu Giok Teng
Hujin duduk diatas kasur tadi sambil menghadap ke arah
patung arca, tubuh bagian atasnya berada dalam keadaan
bugil, rambut nya yang panjang terurai menutupi
punggungnya yang telanjang itu.
Didepan kasur bulat itu tergantung sebuah lampu lentera
terbuat dari tembaga yang aneh sekali bentuknya, diatas
lampu itu terdapat tutupnya, diatas penutupaya terdapat tujuh
buah lubang kecil, asap hijau dan percikan api kecil manancar
keluar dari ketujuh lubang itu menciptakan tujuh buah asap
hijau setinggi delapan sembilan cun.
Ketika asap itu menggumpal keatas segera bergabung
menjadi satu dan berbelok menuju ke arah dada Giok Teng

Hujin, kobaran api itu segera membakar dadanya dengan
ganas.
Tepat pada lekukan payudara Giok Teng Hujin tergantung
sebuah bulatan sebesar mulut cawan arak yang berwarna
keperak-perakan, kebakaran api yang bergabung setelah
keluar dari ketujuh lubang kecil itu langsung memancar keatas
bulatan perak itu dan memanggangnya hingga
memperdengarkan bunyi gemericik yang amat nyaring.
Sekujur tubuh Giok Teng Hujin kelihatan gemetar keras,
badannya telah basah kuyup bermandikan peluh.
Rupanya kesadaran Giok Teng Hujin waktu itu belum
lenyap sama sekali, ketika mendengar panggilan dari Hoa
Thian-hong dengan cepat dia berpaling ke arah samping dan
mengguraikan rambutnya yang panjang untuk menutupi
seluruh bagian raut wajahnya.
“Jangan sentuh aku!” terdengar gadis itu berseru dengan
nada gelisah, “jangan kau sentuh lampu lentera itu!”
Suara itu kering, serak dan tak enak didengar, seakan-akan
bukan berasal dari mulut perempuan itu.
Hoa Thian-hong segera menerjang kehadapanya dan
berlutut disamping tubuh Giok Teng Hujin, sekujur badannya
gemetar keras sepasang matanya berubah jadi merah
membara sementara air mata jatuh bercucuran membasahi
seluruh wajahnya.
“Cici…. kau….!” akhirnya ia terisak dan tidak sanggup
melanjutkan kembali kata-katanya.
Beberapa titik air mata jatuh bercucuran membasahi wajah
Giok-teng hujin ketika ia tundukkan kepalanya, air mara itu

menetes diatas lampu lentera itu dan seketika muncullah asap
warna hijau yang sangat mengerikan.
Pemandangan ketika itu benar-benar mengenaskan, baru
pertama kali ini Hoa Thian-hong menyaksikan jalannya siksaan
yang amat keji ini, tentu saja hatinya terasa jadi remuk
redam, darah panas dalam rongga dadanya ikut bergelora
dengan hebatnya, dia ingin turun tangan namun tak tahu apa
yang musti dilakukan pada saat ini
Rupanya Soat-ji rase salju stupun tahu bahwa majikannya
sedang menjalankan siksaan yang kejam, dikala itu makhluk
tersebut ber sandar disisi majikannya sambil merintih tiada
hentinya, tampaknya binatang itu sedang beriba hati.
Hoa Thian-hong merasa dendam bercampur benci, tiba-tiba
serunya dengan nyaring, “Cici, apa yang harus kulakukan!”
Saking jengkelnya, dengan sekuat tenaga dia hajar
permukaan lantai itu keras-keras.
“Lampu itu!” bisik Giok Teng Hujin dengan lirih.
Mendengar seruan tersebut, buru-buru Hoa Thian-hong
menarik kembali tenaga pukulannya.
“Blaang! sebuah bekas telapak tangan yang dalam sempat
membekas diatas permuaan lantai, untungnya lampu siksaan
tersebut tidak sampai tergetar oleh pukulan tadi.
Giok Teng Hujin benar-benar tersiksa lahir batinnya
menghadapi siksaan api dingin melehkan sukma yang
dialaminya sekarang, akan tetapi dengan tabah dihadapinya
secara jantan.

Tatkala ia saksikan kedatangan Hoa Thian-hong untuk
pertama kalinya tadi, dua titik air mata memang sempat
meleleh keluar, akan tetapi dengan cepat semua penderitaan
dan siksaan yang dialaminya ditahan didalam hati, sesudah
berhenti beberapa saat lamanya segera ujarnya.
“Aaai.! Bagaimanapun aku toh tak bisa hidup lebih lama
lagi, daripada aku hidup menanggung derita, lebih baik
totoklah jalan darah kematianku, agar aku bisa lebih cepat
melepaskan diri dari siksaan hidup ini!”
“Tidak!” jerit Hoa Thian-hong sambil menggigit bibir
menahan air matanya yang meleleh keluar.
Giok Teng Hujin menghela nafas panjang.
“Aaii! Setiap manusia tak luput dari kematian, aku merasa
amat puas apabila bila mati disisimul”
Engkau tak boleh mempunyai ingatan semacam itu, hayo
keluar kanlah semangat dan keberanianmu untuk melanjutkan
hidup, sekalipun harus pertaruhkan selembar jiwaku akan
kutolong juga engkau hingga lolos dari mara bahaya.
Seekor semutpun menginginkan hidup, apa lagi aku adalah
seorang manusia, mengapa aku tidak ingin hidup? Bukan
begitu saja dan lagi, aai! aku benar-benar merasa berat untuk
meninggalkan engkau.
Sekalipun ucapan tersebut sangat pendek dan singkat,
akan tetapi luapan cinta yang diperlihatkan dalam perkataan
itu benar-benar sanggup melelehkan besi baja.
Hoa Thian-hong merasa hatinya amat sakit bagaikan
ditusuk dengan pisau tajam, air matanya jatuh bercucuran
membasahi wajahnya.

Ketika dilihatnya sekujur badan Giok Teng Hujin gemetar
keras, seolah-olah sedang menahan suatu penderitaan yang
hebat, buru-buru ia menyeka air matanya sambil berseru lagi,
“Beritahukanlah kepadaku, sebenarnya macam apakah lampu
setan itu, aku hendak mencarikan akal untuk menyelamatkan
jiwa mu!”
Giok Teng Hujin gelengkan kepalanya dengan sedih, sambil
terisak menahan tangisnya ia menjawab, “Berilah jawaban
dulu kepadaku, engkau harus berjanji tak akan menerima
paksaan dari kaucu walau berada dalam keadaan apapun,
engkau tak boleh mudah menyerah dengan begitu saja.”
Hoa Thian-hong merasa hatinya semakin perih apalagi
setelah mendengar betapa perhatiannya Giok Teng Hujin
terhadap dirinya walau berada dalam keadaan begitu.
Akhirnya Hoa Thian-hong berjanji tak akan menerima
paksaan dari Kaucu jika ini yang dikehendaki oleh Giok Teng
Hujin.
Kemudian diterangkanlah oleh Giok Teng Hujin dengan
nada sedih kepada Hoa Thian-hong.
“Dadaku telah dilapisi oleh serbuk perak yang dinamakan
Miat ciat in leng (serbuk dingin pelenyap keturunan) bubuk itu
dibuat menurut resep rahasia yang hanya dimiliki oleh Kiu-imkauw,
yakni terbuat dari campuran kotoran ulat sutera,
empedu burung-burung yang bisa berbunyi, air liur katak
buduk, butiran putih telur dari ubur-ubur, kulit ari dari cacing
dicampur pula dengan bubuk phospor yang mengandung
racun jahat, bila serbuk perak Miat ciat in leng ini dipoleskan
diatas dada seseorang, racun itu akan segera meresap ke
tubuh ma-nusia bila dibiarkann terus maka racun itu akan

menyerang kejantung yang mengakibatkan kematian dari
korbannya!”
Perempuan itu berhenti sebentar, kemudian meneruskan
lagi kata katanya lebih jauh, “Lentera yang bisa melelehkan
sukma ini pun bukan benda sembarangan, didalam lentera itu
di isi dengan hawa racun dari katak puru (sejenis katak yang
kasar kulitnya dan berbintik-bintik), karena mendapat
pembakaran dari cahaya api lentera ini, maka hawa racun Miat
ciat in leng yang dipoleskan kedadaku jadi terhisap, karenanya
jiwaku bisa selamat sampai kini, tapi jika kutinggalkan cahaya
api ini, racun tersebut segera akan menyerang kejantungku
yang akan mengakibatkan aku jadi tewas!”
“Tapi…. tapi…. betapa sengsara dan tersiksanya tubuhmu
karena selalu dibakar oleh api yang menyala-nyala ini?” seru
Hoa Thian-hong sambil menggigit bibirnya kencang.
“Aaai….! Sebagaimana kau ketahui: ‘Api dingin melelehkan
sukma’ adalah siksaan yang paling keji dan paling berat dari
Kiu-im-kauw kami, masih mendingan kalau siksaan itu hanya
Ngo kiam hun si (lima pedang memisahkan mayat)….”
“Apakah ada pemunahnya atau tidak?” tanya pemuda itu
kemudian dengan penuh rasa dendam.
Giok Teng Hujin manggut-manggut.
“Ada sih ada, cuma obat pemunahnya hanya dimiliki oleh
kaucu seorang….!”
“Aku akan mencari dia sekarang juga!” seru Hoa Thianhong
sebelum perempuan itu menyelesaikan kata-katanya,
cepat dia bangkit berdiri dan siap berlalu dari situ.
“Eeh…. tunggu sebentar!” seru Giok Teng Hujin gelisah.

Hoa Thian-hong berpaling sambil menyeka air mata yang
meleleh keluar bercampur dengan keringat.
“Apa yang hendak kau tanyakan lagi?” tanyanya.
“Dimanakah pedang bajamu?”
“Sudah lenyap, kitab kiam keng ada disakuku!”
“Adik Hong, ingat baik-baik perkataanku!” kata Giok Teng
Hujin mendadak dengan wajah seiius “bila kau serahkan kitab
kiam keng sebagai pertukaran syarat, kendatipun aku bisa kau
selamatkan, akhir nya aku tetap akan bunuh diri!”
Tertegun Hoa Thian-hong setelah mendengar ancaman itu,
air mata yang baru dihapus kembali meleleh keluar dengan
derasnya
Giok Teng Hujin berkata lagi, “Pada umumnya siksaan api
dingin melelehkan sukma akan berlangsung selama tujuh hari
tujuh malam, aku masih ada kesempatan hidup selama lima
hari, usahakanlah pertolongan untukku, tapi jangan kau
terima semua paksaan dari orang lain, engkaupun tak boleh
menyiksa diri sendiri, usahakan pertolongan sewajarnya
mengerti?”
“Ooh…. cici, bolehkah kusentuh badanmu? Walau hanya
sebentar saja….” pinta Hoa Thian-hong mendadak dengan air
mata bercucuran.
Agak tertegun Giok Teng Hujin mendengar perkataan itu,
tapi akhirnya dia mengangguk.
“Sentuhlah, tapi jangan sampai menggoncangkan
tubuhku!”

Cepat Hoa Thian-hong lepaskan jubah luarnya, sambil
berjongkok dia seka keringat yang membasahi punggung Giok
Teng Hujin ketika jari tangannya menyentuh tubuh sang dara
yang bergetar keras, tanpa sadar tubuhnya ikut gemetar
karas.
“Kenakan pakaian itu ditubuhku!” bisik Giok Teng Hujin
dengan suara yang lirih.
Hoa Thian-hong kenakan bajunya dipunggung perempuan
itu, kemudian berkata lagi, “Wajahmu berkeringat, pipimu
berminyak, ijinkanlah kuseka keringat dan minyak itu, lihatlah,
rambutmu kusut dan awut-awutan biarlah kubereskan
semuanya untukmu!”
“Jangan!” seru Giok Teng Hujin ambil buru-buru berpaling.
Kiranya setelah mengalami siksaan selama sehari dua
malam, kulit dan pori-poro wajah dara itu banyak berkerut
akibat kepanasan, kelembutan dan kehalusan telah banyak
yang hilang, dengan begitu mukanya tampak jauh lebih tua
daripada keadaan di hari-hari biasa.
Sebagai anggota Kiu-im-kauw, tentu saja dara itupun tahu
akan akibat yang bakal diterima sesudah menjalankan
siksaaan tersebut maka ia tak ingin Hoa Thian-hong melihat
wajahnya dan mengetahui pula akan kerutanya.
Tertegun si anak muda itu ketika permintaannya ditolak, ia
berdiri termangu, sementara dalam hati timbullah perasaan
heran dan tak habis mengerti, ia tak tahu betapa perempuan
itu merahasiakan raut wajahnya, mungkinkah terjadi suatu
perubahan?

Namun ia tidak berpikir panjang, setelah termangu
sebentar akhirnya pemuda itu berkata, “Cici bersabarlah disini,
segera kucari Kiu-im Kaucu! Aku akan membikin perhitungan
dengannya!”
“Bawalah serta Soat-ji!” Giok Teng Hujin menambahkan.
“Biarkan disini dulu, sebentar aku akan kemari lagi….”
“Jangan! Sebelum kau dapatkan obat pemunah, tak usah
kau tengok diriku lagi, hindarilah segala resiko yang tak
diinginkan, daripada kau celaka disergap orang”
Sedih dan pilu perasaan hati Thian-hong, ia merasa hatinya
bagaikan disayat-sayat pisau, tak tega rasanya pemuda itu
untuk menampik permintaannya, maka dengan membopong
Soat-ji dia lantas mengundurkan diri dari ruangan itu.
Setelah keluar dari ruangan, ia dengar pertempuran yang
sedang berlangsung dibawah loteng makin bertambah seru.
Mendadak…. segulung hawa nafsu membunuh yang luar biasa
tebalnya menerjang kedalam benak, ia merasa darah panas
ditubuhnya jadi mendidih, hanya satu ingatan yang terlintas
dalam benaknya, ingatan itu adalah membunuh orang, makin
banyak orang yang dibunuh makin baik.
Dipihak lain, Suma Tiang-cing dan Yu beng tiamcu sudah
bertarung sebanyak tiga ratus gebrakan, dada kiri Suma
Tiang-cing telah bertambah dengan sebuah mulut luka
sepanjang tiga cun, sedangkan lengan kiri tiamcu istana
Neraka juga bertambah dengan sejalur luka, darah bercampur
keringat membasahi tubuh mereka membuat mereka tampak
lebih seram dan mengerikan.
Cahaya kilat dan hawa pedang menyelimuti sekeliling
ruangan tersebut, dua orang jago lihay itu saling bergerak

diantara lapisan cahaya pedang, mereka saing menerkam dan
saling menerjang ganas dan mengerikan sekali pertarungan
yang sedang berlangsung.
Rapanya kelihayan ilmu siiat mereka seimbang, maka
sekalipun sudah bertarung lama, keadaan tetap seimbang
alias sema kuat.
Akhirnya mungkin karena penasaran, makin menyerang
mereka makin kalap dan masing-masing mengeluarkan
segenap kepandaian tangguh yang dimilikinya.
Sepasang pedang saling membentur satu sama lainnya
menimbulkan dentingan nyaring yang memekikan telinga.
Pedang pek le kiam milik Suma Tiang-cing memang sebilah
pedang yang tajam dan luar biasa, tapi dibandingkan dengan
Boan liong poo kiam dari Thong-thian-kauw yang kini berada
ditangan tiamcu istana neraka, toh masih kalah tajamnya,
karena itu tiap kali terjadi benturan, diatas pedangnya segera
tertinggal sebuah gumpilan sebesar biji beras.
Hingga detik ini, sudah tiga gumpilan yana menghiasi
pedang Pek lee kiam tersebut, betapa sakit hati dan
sayangnya Suma Tiang-cing melihat pedangnya rusak, ia
menyerang makin ganas dan makin kalap, hampir semua ilmu
kepandaian yang dimilikinya dikeluarkan, seumpama
musuhnya kurang teguh imamnya niscaya sedari tadi tadi
sudah dibuat ketakutan oleh tindakan musuhnya yang mirip
kerbau gila ini.
Diam-diam Cu Im taysu merasa kuatir, ia tahu bila
pertarungan itu dibiarkan terus berlangsung, maka akhirnya
salah satu diantara mereka tentu akan mati, beberapa kali ia
membentak agar rekannya menghentikan pertarungan itu,

sayang bentakannya telah mendapatkan tanggapan,
pertarungan masih berlangsung terus dengan serunya.
Kiu-im Kaucu tidak menunjukkan perubahan sikap,
mukanya tetap dingin dan kaku sedangkan mulutnya
membungkam dalam seribu bahasa.
Disaat pertarungan kedua orang itu sudah mencapai pada
puncak ketegangan, Hoa Thian-hong menerkam dari atas
loteng, semua orang jadi panik dan sama-sama menbentak
keras.
Namun si anak muda itu sudah keburu kalap, ia tak ambil
peduli kegusaran orang lain, diiringi gulungan angin pukulan
yang amat dahsyat, sebuah pukulan maut telah di lontarkan
ke tubuh tiamcu istana neraka.
Semua orang menjerit kaget, hati mereka berdebar keras
bahkan ada pula yang sampai mundur sempoyongan, memang
semua orang sudah menduga kalau cepat atau lambat Hoa
Thian-hong pasti akan muncul di sana, tapi mereka tak
menyangka kalau pemuda yang biasanya kalem dan tidak
menyerang orang secara sembarangan, tiba-tiba saja
menyergap seseorang yang sedang terlibat dalam
pertempuran.
Dalam gugupnya, pertama-tama Kiu-im Kaucu yang
membentak gusar lebih dahulu, untuk mencegah jelas tak
mungkin lagi, maka dia lantas mencaci maki kalang kabut.
Suma Tiang-cing sendiri tak ingin mencari kemenangan
dengan cara meagerubut, apalagi terhadap seorang
perempuan, seraya membentak diapun tarik kembali
serangannya sambil mundur kebelakang.

Tiamcu istana neraka yang terserang tak banyak berkutik,
tahu-tahu dia merasakan lengan nya bergetar keras, dan
pedang Boan liong poo kiam tersebut sudah dirampas oleh
Hoa Thian-hong.
Ia tak tahan didorong oleh tenaga pukulan yang maha
dahsyat, begitu pedang mustika tersebut terampas oleh
lawan, kuda-kudanya gempur dan tak bisa dicegah lagi
dengan sempoyongan ia mundur beberapa langkah
kebelakang.
Dengan wajah hijau membesi dan memukul-mukulkan
tongkat kepala setannya keatas tanah, Kiu-im Kaucu memaki
kalang kabut, “Anjing Hoa Thian-hong, begitukah
perbuatanmu? Begitukah perbuatan dari seorang manusia
yang menganggap dirinya sebagai seorang enghiong….
seorang pahlawan?”
Merah membara sepasang mata Hoa Thian-hong, wajahnya
menyeringai seram, dengan sorot mata berapi-api, ia lepaskan
Soat-ji ketanah, kemudian membuang pula pedang yang
digembol ketanah, dengan suara yang dingin menyeramkan ia
berseru, “Tak ada gunanya kita banyak bicara, lebih baik
ambillah suatu keputusan untuk menyelesaikan masalah ini!”
Sekuat tenaga Kiu-im Kaucu berusaha untuk menenangkan
hatinya, lalu sambil tertawa tergelak katanya, “Haaahh….
haaahhh…. haaahhh…. engkau rampas pedang Boan liong poo
kiam dari tangan anggotaku, apakah kau hendak berduel
lawan aku dengan mengandalkan senjata itu?”
Hawa nafsu membunuh telah menyelimuti wajah Hoa
Thian-hong, ia tahu dalam masalah Giok Teng Hujin, ia tak
mungkin memohon kepada kaucu ini dengan kata yang
lembut, bertukar syarat jelas tak mungkin, sedangkan dengan
jalan kekerasanpun belum tentu bisa berhasil karena sekalipun

ia bisa menangkan Kiu-im Kaucu toh belum tentu orang itu
bersedia melepaskan tawanannya.
Jelaslah sudah bagi pemuda itu bahwa masalah yang
dihadapi adalah sebuah masalah pelik bagaikan sebuah simpul
mati, kecuali ia bersedia menuruti semua kemauan dan
keinginan lawan, tak mungkin Giok Teng Hujin dapat ditolong.
Tiba-tiba terbayang kembali olehnya betapa tersiksa dan
menderitanya Giok teng hujn tersiksa oleh api dingin
melelehkan sukma, api amarah bergelora dalam dadanya
kembali memuncak, kebencian dan rasa dendam kembali
muncul dihati.
Dalam keadaan demikian, ia jadi kalap, kemarahannya
susah dikendalikaa lagi, dengan mata melotot besar tiba-tiba
ia putar badan dan menerkam ke arah kawanan jago dari Kiuim-
kauw.
Hebat sekali perubahan wajah Kiu-im Kaucu menyaksikan
perbuatan sang pemuda, ia lantas membentak nyaring, “Hoa
Thian-hong, engkau berani bertindak keji?”
Hoa Thian-hong menjengek sinis, dia putar pedang mustika
itu dan sahutnya dengan nada seram, “Kau anggap aku Hoa
Thian-hong tak berani bertindak kejam? Hmm, kalau mau
salahkan maka sekarang juga salahkan, akan kubasmi dulu
semua begundalmu, kemudian akan kulihat mampukah
engkau menghalangi niatku ini!”
Selesai berkata, kembali ia siap menerkam kedepan.
Cu Im taysu bertindak cepat, rupanya dia tahu kegusaran
dan kenekadan pemuda itu, sambil menghadang jalan
perginya dia berseru, “Omintohud. berbuatlah belas kasihan,

jangan karena emosi melakukan pembantaian keji yang sama
sekali tak ada manfaatnya!”
Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, sinar
matanya berapi api, dengan penuh emosi teriaknya, “Taysu,
berbuatlah kebaikan untukku, boanpwae benar-benar amat
benci dan dendam!”
Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang berat dan
mantap, membuat setiap pendengar perkaraan itu merasakan
telinganya mendengung keras, ibarat guntur yang membelah
bumi disiang hari bolong, paras muka mereka rata-rata
berubah hebat.
Suma Tiang-cing ikut menghela nafas panjang, katanya
pula dari sisi gelanggang, “Thian-hong, tadi aku memang
pernab mengatakan akan membantai sampai habis setiap
orang jahat, manusia jahanam yang ada didunia ini, janganlah
kau anggap serius perkataanku itu, sebab ucapan yang
dikatakan dalam keadaan emosi adalah kata-kata kasar
belaka, kau tak boleh menganggap ucapan itu sebagai kata
yang sungguh-sungguh”
Dengan pedang terhunus dan mata melotot besar karena
gusar beberapa kali Hoa Thian-hong hendak menerjang lewati
Cu Im taysu dan menerkam orang-orang dari Kiu-im-kauw.
Tapi ketika menyaksikan keagungan serta kekerenan wajah
Cu Im taysu yang menghadang dihadapannya, ia tak berani
menerjang secara gegabah, apalagi sesudah mendengar
nasehat dari Suma Tiang-cing, pemuda itu makin termangu
dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Perlu diketahui watak mulia, welasasih dan bijaksana yang
dimiliki Hoa Thian-hong sekarang, tak lain adalah warisan dari
ayah nya sedangkan Hoa Hujin termasuk seorang pendekar

perempuan berhati sekeras baja, membenci kejahatan hingga
merasuk ketulang, dalam pandangannya membasmi kejahatan
sama halnya dengan berbuat kemuliaan, membunuh seorang
manusia berhati keji sama artinya menyelamatkan beberapa
orang baik dari kematian, baginya daripada satu kota
menangis lebih baik satu keluarga saja yang menangis.
Sejak suaminya mati dan rumahnya dirampas musuh, rasa
dendam dan ingin membalas dendam berkobar-kobar dalam
benaknya, dia bercita-cita untuk membasmi tumpas iblis dari
muka bumi dan membantai setiap manusia jahanam yang
ditemuinya, dia tidak membenci satu dua orang iblis belaka
melainkan seluruh manusia iblis dari golongan hitam.
Oleh karena itulah meskipun sangat ketat pendidikan yang
dia berikan kepada putranya, namun tak pernah ia
menyinggung soal kebajikan dan welas kasih.
Dengan dasar pendidikan yang telah diperoleh semenjak
kecil, Hoa Thian-hong pun tanpa disadari ketularan pula watak
keras dari ibunya ini, maka ketika Suma Tiang-cing
mengucapkan kata-kata emosi tadi, suatu bayangan gelap
sudah menyelimuti hati si anak muda itu, apalagi setelah
persoalan yang menyangkut tentang diri Giok Teng Hujin
mengalami kesulitan, bahkan mendekati jalan buntu, hawa
nafsu membunuh yang sejak permulaan sudah mengkilik isi
hatinya seketika tak terkendalikan lagi dan memancarlah
keluar bagaikan air bah yang menjebolkan tanggul.
Rasa benci dan dendam masih menyelimuti seluruh benak
Hoa Thian-hong, nasehat dari Cu Im taysu maupun Suma
Tiang-cing memang sempat meredakan darahnya yang
mendidih, tapi bukan berarti dapat melenyapkan
keseluruhannya.

Sekujur tubuhnya masih gemetar keras menahan emosi,
pedang mustika boan liong po kiam berkilauan memancarkan
setentetan cahaya yang amat tajam, sinar tersebut mencorong
keluar dan amat menyilaukan mata tiap pendekar, begitu
dahsyatnya pancaran hawa lwekang yang tersalur didalam
pedangnya itu sampai lantai loteng bergetar dan berkenyit
keras, udara disekitar gelanggang terasa membeku dan kaku
memaksa setiap orang merasa susah untuk bernapas.
Dengan wajah sedih tapi serius kembali Cu Im taysu
berkata, “Nak, masih hidupkah nona itu?”
Titik air mata tak kuasa lagi meleleh keluar membasahi pipi
anak muda itu, dengan wajah yang kaku Hoa Thian-hong
mengangguk.
“Ia masih hidup, sekarang sedang menjalankan siksaan
diatas loteng, suatu siksaan yang tidak berperikemanusiaan,
siksaan yang hanya bisa dilakukan oleh binatang bukan
perbuatan seorang manusia normal!”
Berkernyitlah dahi Cu Im taysu sehabis mendengar
jawaban itu, dia lantas berpaling ke arah Kiu im kancu dan
berkata, “Kaucu, dengan memberanikan diri pinceng sekalian
ingin memohon sesuatu kepadamu, apakah engkau bersedia
membebaskan nona itu dari segala siksaannya?”
Diam-diam Kiu-im Kaucu menghembuskan nafas lega, ia
tahu sesudah jago berbaju pendeta ini memohon kepadanya,
tanpa disadari suasana kaku dan sesak yang semula
menyelimuti gelanggangpun kini sudah melumer kembali, ia
tertawa dan menjawab, “Ku Ing-ing merupakan anak murid
Kiu-im-kauw kami, mau kusiksa dia atau mau kubunuh dirinya
persoalan ini adalah persoalan pribadi perkumpulanku, apa
sangkut pautnya dengan kalian semua?”

Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong sudah
diketahui oleh banyak orang, apalagi sesudah pedang mustika
Boan liong po kiam yang tajamnya luar biasa itu berhasil
dirampas olehnya, keadaan si anak muda itu boleh dibilang
ibarat harimau yang tumbuh sayapnya.
Andaikata pemuda itu tetap nekad dan melanjutkan niatnya
untuk membantai setiap anggota Kiu-im-kauw yang
ditemuinya, Kiu-im Kaucu percaya bahwa dia tak mampu
untuk melindungi keselamatan anak buahnya, malahan
mencegahpun belum tentu mampu.
Oleh sebab itulah, setelah Cu Im taysu dan Suma Tiangcing
berhasil membatalkan niat si anak muda itu untuk
melakukan pembantaian, serta-merta nada ucapannya pun
ikut mengalami perubahan besar, pembicaraannya tidak
seketus tadi lagi, malahan jauh lebih lembut dan kendor….
Cu Im taysu menundukkan kepalanya dan menghela napas
panjang, kemudian ujarnya, “Tak usah kaucu terangkan,
pinceng sendiripun mengetahui bahwa persoalan ini
sebenarnya adalah masalah pribadi perkumpulanmu sendiri,
karenanya kami hanya memohon kerelaanmu, kami bukanlah
manu sia-manusia yang tidak mengutamakan soal cengli….!”
“Aku tahu setiap persoalan yang terjadi didunia ini memang
tak bisa terlepas dan soal cengli, sebagai pendekar-pendekar
besar yang berjiwa ksatria tentu saja taysu sekalian harus
mengutamakan soal cengli, bukan begitu?”
Kembali Cu Im taysu menghela napas panjang, selang
sesaat kemudian dia baru bertanya lagi, “Kaucu, bila diijinkan
ingin sekali pinceng menanyakan satu persoalan lagi….”
“Apa yang hendak kau tanyakan lagi?” sela Kiu-im Kaucu
dengan suara lantang.

“Sebetulnya kesalahan serta dosa apakah yang telah
dilanggar nona Ku, sehingga dia harus disiksa secara keji?”
Kiu-im Kaucu tersenyum.
“Kusiksa dirinya lantaran dia berani membangkang
perintahku serta berkhianat terhadap perkumpulannya,
apakah taysu merasa tidak terima dengan tuduhanku ini?”
00000O00000
81
“OH…. tidak berani, menurut apa yang pinceng ketahui,
sudah amat lama nona Ku tersiksa dan menderita selama dia
menyusup ke tubuh perkumpulan Thong-thian-kauw,
berbicara sesungguhnya sudah banyak sekali pahala yang
telah dia lakukan demi perkumpulanmu!”
“Siapa berjasa dia mendapat pahala, siapa bersalah dia
harus menerima pula hukumannya” tukas Kiu-im Kaucu sambil
tertawa, “Sekalipun keputusan dan tindak tandukku kurang
bijaksana atau kurang adil, aku rasa orang lain tidak berhak
untuk mencampurinya, ketahuilah persoalan ini adalah urusan
pribadiku sendiri!”
Sekali lagi Cu Im taysu menghela napas panjang.
“Aaai…. kami semua berhutang budi kepada nona Ku,
sekarang setelah jiwanya terancam bahaya, tentu saja kami
semua tak dapat berpeluk tangan balaka menyaksikan ia mati
tersiksa, makanya kami semua mohon kebijaksanaan dari
kaucu untuk melepaskan nona Ku dari siksaan dan memberi
sebuah jalan kehidupan baginya!”

“Haahh…. haaahh…. haaah…. meskipun Ku Ing-ing pernah
melepaskan budi kepada kalian semua, toh kalian semua tak
pernah melepaskan budi apa-apa kepada perkumpulan Kiu-imkauw
kami, dan berarti boleh saja aku memberi muka
kepadamu, tapi dapat pula kami tak akan memberi muka
kepadamu….!” seru Kiu-im Kaucu sambil tertawa tergelak.
Merah padam selembar wajah Cu Im taysu sesudah
mendengar perkataan itu, untuk sesaat lamanya dia tak tahu
apa yang musti dijawab.
Suma Tiang-cing yang mengikuti jalannya perundingan itu,
dalam hati kecilnya lantas berpikir, “Taysu ini terlalu polos dan
tak memahami kelicikan serta kebusukan hati orang, kalau dia
yang memimpin perundingan ini sekalipun sepuluh tahun lagi
juga tak akan berhasil, tampaknya aku harus turun tangan
sendiri”
Berpikir sampai disitu, dia lantas maju kedepan dan ujarnya
kepada Kiu-im Kaucu dengan mata melotot, “Aku sudah
pernah menerima kebaikan dan budi pertolongan dari Ku Ingg
ing, itu berarti bagaimanapun juga aku harus menolong
dirinya sampai terlepas dari siksaanmu, kalau mau melepaskan
cepatlah kau sanggupi kalau tidak setuju hayo kita selesaikan
saja persoalan ini diujung senjata!”
“Suma Tiang-cing!” seru tiamcu istana neraka dari samping
dengan suara yang ketus, “untuk menangkan akupun tidak
mampu mau apa engkau berlagak sok didepan kaucu kami?”
“Apa susahnya menangkan dirimu?” teriak Suma Tiang-cing
dengan gusarnya, “suatu hari aku pasti akan mencari engkau
dan menantang engkau untuk berduel hingga salah satu
diantara kita mampus!”
Tiamcu istana neraka tertawa dingin.

“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. sayang pedang mustikaku
telah dirampas orang dengan cara yang memalukan,
sedangkan kaucu kamipun tidak sampai merampas pula
pedang mustikamu, kalau bertemu lagi dikemudian hari sudah
tentu aku tak bisa menangkan dirimu….”
Pancingan yang dilontarkan Tiamcu dan istana neraka ini
segera termakan oleh lawannya, benar juga Suma Tiang-cing
segera berseru sesudah mendengus dingin, “Hmmm! Engkau
tak usah kuatir apa bila kita berjumpa lagi dikemudian hari,
Suma Tiang-cing tak akan melayani dirimu dengan pedang
mustika. Hmmm…. hmmm…. jangan kau anggap setelah
kugunakan pedang biasa maka aku tak mampu untuk
bereskan jiwa anjing mu!”
Sementara kedua orang itu sedang saling mencaci maki
dan ribut, tiba-tiba dari bawah loteng melayang turun
seseorang, dia tak lain adalah Pui Che-giok, sambil memburu
ke gelanggang serunya dengan penuh kegelisahan, “Hoa
kongcu!”
“Bagus!” seru Hoa Thian-hong dengan mata melotot,
engkau punya keberanian untuk datang kemari, tak malu
nonamu menyayangi engkau selama ini!”
Pui Che-giok melirik sekejap ke arah Kiu-im Kaucu dengan
wajah pucat pias seperti mayat, tampaknya dia merasa jeri
dan takut sekali sementara diluar dia menjawab, “Budak
diambil nona setelah nona masuk kedalam perkumpulan
Thong-thian-kauw, dan berarti budak bukan terhitung anggota
Kiu-im-kauw!”
“Baiklah, engkau berdirilah disamping, bila aku gagal untuk
menyelamatkan nonamu, aku bersumpah pasti akan
membalaskan dendam baginya, aku tak akan membiarkan

orang-orang dikolong langit mentertawakan diriku dan
menuduh Hoa Thian-hong tak punya rasa tanggung jawab, tak
punya rasa setia kawan, sehingga seorang dayangpun tak bisa
menandingi….”
Mendengar ucapan tersebut Pui Che-giok benar-benar
mengundurkan diri kesamping gelanggang, sementara
bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi
akhirnya niat itu dibatalkan.
Jilid 27
Dari gerak-gerik serta sikap cemas dayang tersebut, Hoa
Thian-hong dapat menduga pula kalau dara tersebut hendak
melaporkan sesuatu, sesudah tertegun sebentar, akhirnya dia
bertanya, “Ada persoalan apa lagi yang hendak kau sampaikan
kepada diriku? Cepatlah katakan!”
“Barusan budak pergi ke kantor cabangnya perkumpulan
Sin-kie-pang untuk mencari tahu jejak kongcu, ada seorang
kakek yang bernama Lau Cu cing dengan membawa empat
orang kakek tua yang rata-rata berumur seratus tahun keatas
sedang mencari berita kongcu pula ketempat itu, budak lantas
bertanya kepada orang she Lau itu ada urusan apa hendak
mencari kongcu, dia menjawab katanya ada persoalan maha
penting yang hendak di bicarakan dengan kongcu, maka
budak lantas membawa mereka semua datang kemari
sekarang mereka sedang menanti kehadiran kongcu diluar
kuil!”
Betapa terperanjatnya Hoa Thian-hong sesudah mendengar
laporan itu, serunya, “Empat orang kakek tua berusia seratus
tahun keatas datang mencari aku?”

“Emmmm!” Pui Che-giok mengangguk, “rambut mereka
telah beruban semua, tapi badannya masih tegap dan
langkahnya masih mantap, rupa-rupanya mereka berilmu
semua!”
Kiu-im Kaucu yang ikut mendengarkan laporan tersebut
ikut merasakan jantungnya berdebar keras, pikirnya dihati,
“Untuk mencari seorang manusia yang berusia delapan puluh
tahun saja sudah sukarnya bukan kepalang, apalagi keempat
orang itu bisa hidup mencapai seratus tahun, malahan kumpul
pula menjadi satu, apabila bukan tokoh-tokoh silat yang
berilmu tinggi, tak ,ungkin mereka bisa mencapai usia setinggi
itu. Heeehh…. heeehh…. setelah anak jadah ini memperoleh
bantuan empat jago lihay, aku kan semakin tak bisa
mengganggu dirinya lagi? Sialan!”
Perlu diketahui, bila seseorang yang berusia seratus tahun
keatas berlatih terus ilmu silatnya dengan tekun dan rajin,
maka kelihayan ilmu silat yang dimilikinya boleh dibilang
sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang sukar dilukiskan
dengan kata-kata, apalagi sekaligus muncul empat orang
bersamaan waktunya, tidaklah heran kalau Ku im kaucu
dibikin bergidik hatinya selelah mendengar berita tersebut.
Dengan dahi berkerut Hoa Thian-hong termenung
sebentar, kemudian gumannya seorang diri.
“Entah siapakah keempat orang ini? Tang Kwik-siu telah
membakar gedung tempat tinggal Lau Cu cing dan kini
keempat orang kakek tua itu datang mencari aku, dus berarti
persoalan yarg hendak mereka bicarakan dengan diriku juga
pasti menyangkut masalah percarian harta karun dibukit Kiu ci
san!”
Ketika Kiu-im Kaucu mendengar soal menggali harta dibukit
Kiu ci san, jantungnya ikut berdebar keras sehingga hampir

saja ia menjerit kaget saking emosinya, segera ia berpikir
dihati.
Masalah sebesar ini kenapa tidak kuketahui barang
sedikitpun juga! Aaah…. benar, Tang Kwik-siu bagaimanapun
juga adalah seorang ketua suatu perkumpulan besar,
kedudukannya sangat tinggi dan dia adalah seorang yang
menjaga gengsi berbeda dengan Siang Tang Lay yang pergi
datang ibaratnya sukma gentayangan, andaikata tiada suatu
persoalan yang penting dan serius, tak mungkin manusia
semacam dia bersedia datang kedaratan Tionggoan!”
Sementara dia masih termenung, Hoa Thian-hong telah
berpaling ke arah Cu Im taysu seraya bertanya.
“Sebagai orang yang lebih muda sudah sepantasnya kalau
memberi hormat kepada kaum angkatan tua, taysu, tolong
pergilah ke luar sebentar dan wakililah boanpwe untuk
menyambut kedatangan kakek kakek tua itu!”
Cu Im taysu kelihatan ragu mukanya murung dan
keberatan untuk tinggalkan tempat itu, sinar matanya
malahan dialihkan ke wajah Kiu-im Kaucu.
Rupanya ia kuatir sepeninggalnya dari situ, kedua belah
pihak terjadi bentrokan lagi sehingga pertarungan kembali
berlangsung bila sampai demikian kejadiannya, tanpa
kehadirannya disitu berarti hanya akan melemahkan posisi
pihaknya belaka.
Sebagai seorang jago yang berpengalaman luas, tentu saja
Kiu-im Kaucu juga bisa menebak isi hati orang, tiba-tiba ia
menengadah sambil tertawa terbahak-bahak.
“Haaahhh…. haaahhhh…. haaahhh…. Hoa Thian-hong,
benarkah engkau akan beradu jiwa denganku?”

“Keadaanku sekarang ibaratnya anak panah diatas busur,
bagaimanapun juga panah ini harus dilepaskan!” sahut sang
pemuda sambil menarik mukanya.
“Haaahhh…. haaahh…. haaahhh…. kembali Kiu-im Kaucu
tertawa terbahak bahak, kalau kulihat dari pedang bajamu
yang sudah tiada, tentunya kitab Kiam keng telah berhasil kau
dapatkan bukan?”
Hoa Thian-hong tertawa dingin.
“Heehhh…. heeehh…. heeehhh…. kitab Kiam keng berada
disakuku, cuma sayang tak mungkin akan kugunakan benda
tersebut untuk di tukarkan dengan engkau!”
Kiu-im Kaucu tertawa, “Tentu saja, tentu saja…. tak usah
kau katakan, aku juga sudah dapat menebak suara
hatiku….Hmm! Sekalipun ilmu silat yang kau miliki setingkat
lebih tinggipun, aku tak nanti akan jeri apalagi takut
kepadamu!”
Setelah berhenti sebentar, dia ulapkan tangannya seraya
berkata lebih jauh, “Pergilah dari sini! Kujamin tak akan
mencelakai nyawa Ku Ing-ing, bila isi Kiam keng sudah kau
pelajari, maka aku akan menantang engkau untuk berduel lagi
dihadapan para orang gagah dari seluruh kolong langit, bila
dalam pertarungan itu engkau berhasil mengung-guli diriku,
Ku Ing-ing akan segera kuserahkan kembali kepadamu!”
Betapa girangnya Cu Im taysu setelah mendengar
perkataan itu, cepat dia menyambung, “Kalau memang kaucu
sudah berjanji begini, itulah lebih bagus lagi, aku percaya
sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, apa
yang telah kaucu katakan tak akan disesali kembali, Thianhong!
Hayo kita pergi!”

Hoa Thian-hong sendiri dalam hati kecilnya sedang berpikir,
“Kiu-im Kaucu adalah seorang manusia yang licik dan banyak
akalnya, mana ia sudi memberi keuntungan bagiku? Aaai….!
Cu Im taysu memang kelewat jujur orangnya, masa ia belum
tahu betapa lihaynya orang ini….?”
Walaupun dia bisa berpikir sampai disitu namun gagal
untuk mencari tahu dimanakah letak maksud dan tujuan Kiuim
Kaucu dengan tindakannya itu, untuk sementara waktu si
anak muda ini jadi serba salah dibuatnya, mau pergi tapi
bagaimana? kalau tidak pergi, lantas bagaimana?
Terdengar Pui Che-giok berkata lagi dari sisi gelanggang,
“Menerima siksaan api dingin melelehkan sukma, ibaratnya
melubangi batok kepala sambil menyulut lampu langit, bila
dileleh kan selama tujuh hari tujuh malam lamanya korban
akan kehabisan tenaga ibaratnya lentera yang kehabisan
minyak, hawa murninya akan banyak terkuras, dan sekalipun
bisa hidup diapun tak ubahnya seperti seorang manusia cacad
lainnya!”
Ucapan itu entah ditujukan kepada siapa tapi semua orang
bisa menduga bahwa perkataan tersebut sengaja ditujukan
kepada Hoa Thian-hong.
Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa nyaring, kemudian ujarnya,
“Engkau toh bukan anggota Kiu-im-kauw kami, darimana
engkau bisa tahu seluk beluk siksaan ini sedemikian jelasnya?”
Dengan memberanikan diri Pui Che-giok menatap tajam
lawannya, lalu menjawab, “Nona yang memberitahukan
kepadaku!”
Kiu-im Kaucu segera tertawa.

“Haaah…. haaahh…. bagus, bagus sekali. Kiranya sedari
dulu ia sudah mengetahui betapa lihaynya siksaan api dingin
melelehkan sukma, jadi kalau begitu ia sudah tahu
kelihayannya tapi sengaja melanggar perataran untuk
mencobanya sendiri? Bagus, kalau begitu biarlah dia tahu rasa
sekarang.”
Mendengar kata-kata sudah tahu tapi sengaja melanggar
sendiri sakit rasanya hati Hoa Thian-hong, ia tahu kesemuanya
ini adalah lantaran dia, karena mesalah dirinya membuat Giok
Teng Hujin harus menerima siksaan lahir maupun batin….
begitu sakit hatinya serasa bagaikan diiris-iris dengan pisau.
“Bebaskan dia dari siksaan tersebut!” teriak pemuda itu
dengan penuh kebencian “bila engkau bersedia membebaskan
dia, aku pun tak akan melatih ilmu dalam kitab Kiam keng,
setiap saat akan kunantikan tantanganmu untuk
melangsungkan duel satu lawan satu, bila engkau berhasil
menangkan diriku, kitab Kiam keng akan kuserahkan
kepadamu sebaliknya kalau engkau kalah maka nona Giok
Teng Hujin harus engkau lepaskan!”
“Perkataan seorang kuncu berat bagaikan bukit, sampai
waktunya aku pasti akan menantikan kedatanganmu untuk
melangsungkan duel tersebut, sekarang juga akan
kubebaskan dirinya dari siksaan tersebut.”
Jawaban ini terlalu cepat dan sama sekali diluar dugaan,
untuk sesaat lamanya Hoa Thian-hong dibikin tertegun dan
tak mampu berkata-kata.
Dia cukup mengetahui sampai dimanakah kekuatan ilmu
silat yang dimilikinya sekarang, pada hakekatnya ia tiada
keyakinan untuk menangkan lawannya, dan sekarang ternyata
pihak lawan menyanggupi tantangannya dengan begitu jelas,
itu berarti bila ia tiada memiliki suatu kepandaian yang bisa

diandalkan keampuhannya, tak mungkin perempuan itu begitu
cepat memberikan keputusannya.
Sementara itu Cu Im taysu kembali sudah berkata, “Empat
orang kakek tua itu sedang menanti kedatangan kita diluar
kuil, mari kita sambut kedatangannya!”
Sebenarnya Hoa Thian-hong ingin membuktikan dengan
mata kepala sendiri bagai mana Kiu-im Kaucu membatalkan
siksaan yang menimpa Ku Ing-ing alias Giok Teng Hujin, akan
tetapi setelah diajak pergi oleh Cu Im taystu terpaksa ia
manggut dan siap berlalu dari situ.
Tiba-tiba Pui Che-giok maju kedepan, dengan muka rada
takut-takut ia berkata, “Kongcu, aku…. aku ingin tetap tinggal
di sini untuk melayani nona”
Hoa Thian-hong memang merasa ada baiknya kalau
dayang itu tetap tinggal disana untuk melayani nonanya, tapi
diapun kuatir kalau Kiu-im Kaucu berbuat tidak senonoh atas
diri dayang ini, mengingat Pui Che-giok secara terangkan
berani melawan ketua tersebut, mendengar permintaan itu,
bukannya menjawab sorot mata yang setajam sembilu
malahan dialihkan ke arah ketua perkumpulan Kiu-im-kauw.
Sebagai seorang jago kawakan yang berpengalaman luas,
tentu saja Kiu-im-kauwcu dapat menangkap maksud hati
lawannya, dia segera tertawa tergelak dengan nyaring
Haaah…. haaaah…. haaahh…. majikan susah anjing ikut
susah, majikan gembira anjingpun ikut gembira, jangan kau
anggap aku adalah seorang manusia yang jiwanya picik, tak
mungkin kususahkan seorang dayang yang sama sekali tak
ada artinya bagi pandanganku, biarkan saja ia tinggal disini
untuk menemani majikannya….”

Begitu Kiu-im Kaucu telah memberikan persetujuannya, Pui
Che-giok sambil membopong Soat-ji lantas mengundurkan diri
ke samping dengan mulut membungkam, ini bukan
dikarenakan Kiu-im Kaucu menunjukkan sikapnya yang
terbuka maka ia berterima kasih kepadanya.
Cu Im taysu dan Suma Tiang-cing yang mengikuti pula
kejadian tersebut, dalam hati kecilnya ikut membatin, “Bila Ku
Ing-ing tidak mempunyai kelebihan sebagai seorang majikan
yang baik, tidak mungkin dayangnya menunjukkan kesetiaan
yang luar biasa, aaai! Memang tak bisa disalahkan kalau
budak ini bersedia mengorbankan nyawanya untuk merawat
majikannya, bila dihari biasapun majikannya bersikap luar
biasa puka kepada dayangnya”
Dalam pada itu, Hoa Thian-hong sedang mengamati
pedang mustika Boan liong po kiam yang berada ditangannya,
tiba-tiba ia melemparkan senjata itu ke arah Tiamcu istana
neraka, kemudian memungut kembali pedang sendiri, setelah
itu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berlalu dari sana,
Co Im taysu dan Suma Tiang-cing sendiri pun tidak banyak
bicara, mereka segera berlalu pula mengikuti dibelakang si
anak muda itu.
Sungguh cepat gerakan tubuh tiga orang jago tersebut,
selang sesaat kemudian mereka sudah tiba diluar kuil.
Benar juga diseberang jalan dekat kuil It goan koan
berdirilah empat orang kakek tua berambut putih. Lao Cu cing
berdiri di samping dan sedang bercakap-cakap dengan badan
setengah dibungkukan tanda menghormat.

Walaupun tetap utuh dan putih mulus, badannya gagah
dan langkahnya tegap, sedikitpun tidak kelihatan ketuaannya
ataupun loyo karena dimakan usia.
Jenggot mereka rata-rata sepanjang dada, yang terpendek
pun sadah mencapai dua depa, membuat siapa pun yang
memandang keempat orang itu, segera timbullah perasaan
menghormat.
Demikian pula keadaannya dengan Hoa Thian-hong, Cu Im
taysu serta Suma Tiang-cing, tanpa disadari timbul rasa
menghormat dalam hati kecil mereka, dengan langkah yang
menghormat mereka maju menghampirinya.
Hoa Thian-hong berjalan dipaling depan, lantaran dialah
yang dicari oleh keempat orang kakek tua itu, dari kejauhan ia
telah menjura kepada Lau Cu cing seraya berkata, “Berhubung
ada urusan penting, boanpwee telah datang terlambat, mohon
para lojin dan wangwe sekalian sudi memberi maaf yang
sebesar besarnya.”
Lau Cu cing segara balas memberi hormat.
“Kongcu tak perlu sungkan-sungkan!” sahutnya.
Kemudian dia memperkenalkan kakek-kakek tua itu urut
dengan tempat mereka berdiri, sambil menunjuk ke arah
samping kiri dia berkata, Kakek tua yang ini adalah kong co
(ayahnya kakek) ku, sedang orang tua ini dari marga Gan,
orang tua ini dari marga Li, sedang orang tua ini dari marga
Po yang.
Buru-buru Hoa Thian-hong maju kedepan sambil memberi
hormat dalam-dalam, katanya, “Aku yang muda Hoa Thianhong,
menjumpai para orang tua sekalian!”

“Pinceng Cu Im, menjumpai orang tua berempat kata Cu
Im taysu pula seraya memberi hormat”
Sedang Suma Tiang-cing sambil maju memberi hormat
katanya, “Aku yang muda Suma Tiang-cing menjumpai
cianpwe berempat!”
Setelah berhadapan muka dengan keempat orang kakek
tua itu sekaligus, beberapa orang jago ini membahasakan
dirinya dengan kedudukan yang rendah, sebab bicara soal
tingkat mereka kalah tingkat sampai empat generasi.
Lau Cu cing sendiri lantas memperkenalkan pula dua orang
jago itu kepada keempat kakek tua tadi, “Taysu ini adalah
seorang hiap kek (jago tua) dari golongan kaum beragama,
sedang Suma tayhiap juga merupakan enghiong diantara
sekalian pendekar, mereka adalah pendekar-pendekar sejati
yang disanjung dan dihormati umat persilatan.”
Buru-buru Cu Im taysu serta Suma Tiang-cing
mengucapkan beberapa patah kata merendah.
Senyum ramah selalu menghiasi wajah ke empat orang
kakek tua itu, selesai berkenalan, Kong co dari Lau Cu cing itu
lantas tertawa tergelak seraya berkata, “Kalian semua tak
usah sungkan-sungkan, Haah…. haaah…. haaahh bila ada
tempat untuk berbicara, kami berempat ada urusan penting
hendak dibicarakan dengan diri Hoa kongcu!”
Sebelum Hoa Thian-hong sempat menjawab, Cu Im taysu
telah berseru lebih dahulu, “Tempatnya ada dan tak jauh dari
tempat ini, biarlah siau ceng yang membawa jalan.”
Habis berkata dia lantas berjalan lebih dahulu
meninggalkan tempat tersebut.

Jarak antara kuil It goan koan dengan pintu kota timur
memang sangat dekat, Cu Im taysu segera membawa
beberapa orang itu menuju keluar kota.
Walaupun usianya sudah menanjak lebih dari satu abad,
ternyata gerak-gerik keempat orang kakek tua itu masih lincah
dan enteng, Lau Cu cing sendiripun pernah berlatih ilmu silat
maka gerak langkahnya tegap lagi cepat, dengan begitu
perjalanan pun bisa dilakukan dengan sangat cepat.
Selang sesaat kemudian, sampailah mereka disebuah kuil
kecil.
Kuil kecil itu letaknya sendirian diluar kota, penghuni kuil itu
cuma seorang pendeta tua yang bergelar It piau, dia adalah
seorang sahabat karib Cu Im taysu selama banyak tahun.
Setiap kali Cu Im taysu berkunjung ke kota Cho ciu, dia
selalu menginap dalam kuil ini, maka setibanya didepan pintu
kuil, ia lantas membuka pintu depan dan mempersilahkan
semua orang untuk masuk keruang tengah.
Ketika fajar baru saja menyingsing, It piau taysu baru saja
menyelesaikan doa paginya, ketika mendengar suara langkah
manusia dia lantas bangkit berdiri dari kursi bantalnya.
Cepat Cu Im taysu menjura seraya berkata, “Maaf, kembali
Cu Im akan mengganggu ketenangan suheng untuk beberapa
waktu.”
IT piau hweesio balas memberi hormat, bibirnya bergerak
sedikit tapi tak sepatah katapun yang diucapkan, ia lantas
mengundurkan diri dari ruangan tersebut.

Di belakang ruang kuil tersebut merupakan dua buah
kamar kecil, yang satu dipakai untuk tempat tinggal It piau
hweesio, sedangkan yang lain biasanya ditempati Cu Im taysu.
Ketika tiba didepan pintu, It piau hwesio memberi hormat
kepada sekalian tamunya, ketika semua orang sudah masuk
kedalam ruangan, hwesio itu membawa sebuah kasur
duduknya dan masuk kedalam.
Menunggu para tamunya telah duduk semua, Cu Im taysu
baru berkata sambil tertawa, “It piau suheng adalah seorang
padri yang tuli lagipula bisu, dia bukan orang persilatan, maka
bila kalian ada urusan yang hendak dibicarakan, utarakan saja
dengan blak-biakan, sebab sekalipun kita undang
kedatangannya kemari, belum tentu ia bersedia untuk
mendengarkan!”
Hoa Thian-hong alihkan sinar matanya keatas wajah Lan Cu
cing serta keempat orang kakek tua itu, kemudian dengan
serius ia bertanya, “Entah ada persoalan apakah cianpwe
berempat datang mencari diriku yang muda ini?”
Kakek Po yang memandang sekejap ke arah Liu Cu cing,
ruparya kekek ini menyuruh dia untuk berbicara lebih dahulu.
Lau Cu cing mengangguk, maka diapun berkata, “Baiklah,
ceritaku kumulai dari peristiwa yang terjadi kemarin malam!”
Dari mulut Hoa Thian-hong, baik Cu Im taysu maupun
Suma Tiang-cing telah mengetahui kalau rumah kediaman Lau
Cu sing telah terbakar, sedang dewa yang suka pelancongan
Cu Thong meninggalkan surat yang memerintahkan Hoa
Thian-hong agar segera berangkat menuju kebukit Kiu ci san.
Semenjak menghadapi peristiwa yang serba
membingungkan ini, mereka bertiga sama-sama ingin

mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, malahan
beberapa kali mereka hendak bertanya langsung kepada Lau
Cu cing, tapi setiap kali diurungkan niatnya itu maka ketika
Lau Cu cing akan menceritakan sendiri peristiwa yang telah
terjadi, mereka segera pasang telinga baik-baik.
Dengan suara perlahan Lau Cu cing mulai bercerita,
“Tengah malam kemarin, lima orang jago silat berbaju kuning
tiba-tiba menyerbu masuk kedalam rumahku, mereka berkata
akan menjumpai kongco ku yang masih hidup. Ayahku dan
kakekku sudah lama meninggal dunia, sedangkan kongco ku
masih sehat wal’afiat dan hidup digunung Huang-san, sudah
enam puluh tahun lamanya tak pernah pulang rumah barang
sekali pun, sedangkan kami dari buyut buyutnya secara
teratur datang berkunjung kebukit Huang-san untuk
membayanginya, oleh sebab Kong cu berpesan agar kejadian
ini selalu dira-hasiakan maka tetangga tetangga kami tak
seorangpun yang mengetahui akan kejadian ini”
Ia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lebih jauh,
“Kelima orang manusia berbaju kuning itu terdiri dari empat
laki laki dan seorang perempuan, tiga orang diantaranya
bermuka jelek sekali, sedangkan pria yang masih muda dan
gadis yang masih kecil itu berwajah bagus dan menarik,
terutama yang perempuan cantiknya bak bidadari dari
kahyangan akhirnya aku tahu kalau dia Pek Kun-gie putri
ketua dari Sin-kie-pang. Kedatangan mereka amat garang dan
kasar, katanya jejak kongcu kami akan dicari sampai ketemu
terutama Pek Kun-gie, ia selalu menyinggung soal harta
karun, katanya kalau aku tidak memberikan pengakuannya
maka seluruh keluarga kami akan dibantai sampai habis.
Rupanya kakek tua yang menjadi pemimpin rombongan itu
kuatir bila rahasianya terbongkar semua, jalan darahnya
segera ditotok, ketika itulah Pek Kun-gie tak dapat berbicara
lagi”

“Jelas dia mempunyai maksud dan tujuan lain, tak mungkin
dara itu benar-benar akan melakukan kejahatan” sela Hoa
Thian-hong dengan cepat.
Lau Cu cing tidak memberikan tanggapannya, kembali dia
melanjutkan penuturannya.
“Sepanjang hidup cayhe hanya tahu ber kat makan buah
dewa yang tak ternilai harganya, maka Kongco kami bisa
hidup sampai lebih dari saiu abad, aku sama sekali tidak tahu
menahu tentang soal harta karun, apa lagi setelah kulihat
kedatangan kelima orang itu tidak mengandung maksud baik,
lebih lebih tak berani kukatakan kalau Kong co kami hidup
dibukit Huang-san. Ketika itulah tiba-tiba Pek Kun-gie berkata
“Aku lihat keempat orang itu sudah….”
Kata-kata berikutnya tidak dilanjutkan, tiba-tiba saja orang
she Lau itu membungkam.
Tentu saja Hoa Thian-hong sekalian tahu bahwa kata
selanjutnya tentulah kata mati, Lau Cu cing tak berani
melanjutkan kata- katanya oleh karena menyangkut kong co
serta teman-temannya.
Selang sesaat kemudian, ia baru meneruskan kata-katanya
lebih jauh, “Betapa gusar dan mendongkolnya hatiku setelah
mendengar gadis itu menyumpahi kongco ku, rasa marah dan
tak senang hati ku ini segera terpancar diatas wajahku,
ternyata kakek yang menjadi pemimpin rombongan itu cukup
cerdas dan cekatan, dari perubahan wajahku dia lantas
tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya kepada empat
orang lainnya, ‘Cousu ya sangat cerdas dan perhitungannya
tak pernah meleset, kalau tidak lantaran kecerdikannya ini tak
mungkin beliau berhasil mendapatkan sebutir mutiara Lip cu
dan sejilid kitab pusaka Thian hua ca ki diantara beribu-ribu
orang pencari harta.’ Heemmm…. heeehmmm…. ia telah

memperhitungkan bahwa keempat orang laki laki itu akan
hidup selama seratus lima puluh tahun lamanya, tak mungkin
keempat orang itu bisa cepat mati!”
Terlanjur mengatakan kata mati, air muka Lau Cu cing
segera berubah hebat dan menunjukkan sikap gugup dan
perasaan tak tenang.
Hoa Thian-hong bertiga cuma bisa saling berpandangan
dengan mulut melongo, beribu-ribu orang datang mencari
harta karun, peristiwa itu pastilah suatu peristiwa besar yang
pernah menggemparkan seluruh kolong langit, bila cuma
berita kosong belaka mereka belum tentu akan percaya, tapi
sekarang empat kakek tua berusia seabad lebih yang pernah
mengalami sendiri peristiwa tersebut duduk dihadapan
mereka, mau tak mau terpaksa ketiga orang itu harus
mempercayainya juga.
Membayangkan kembali peristiwa yang terjadi dimasa
lampau, tak kuasa lagi Cu Im taysu bertanya, “Apakah kitab
pusaka Thian hua Ci ki termasuk sebagai suatu kitab pusaka
ilmu silat?”
Tapi setelah perkataan itu dilontarkan ke luar, padri ini baru
merasa bahwa ia sudah terlanjur bicara yang tidak senonoh,
buru-buru sambungnya lagi.
“Pinceng tidak berniat serakah atau ingin mendapatkannya,
pertanyaanku hanya lantaran rasa ingin tahu belaka!”
Tiba-tiba ia merasa tidak tenang hatinya, cepat tambahnya
lagi, “Omintohud, rasa ingin tahu adalah perbuatan bodoh dan
omong kosong, dosa…. dosa….”
Semua orang merasa geli menyaksikan tingkah laku padri
ini, tapi teringat betapa serius dan berusahanya padri itu

untuk mengekang diri, timbul pula rasa hormat dihati mereka,
maka tak seorangpun berani tertawa.
Tiba-tiba Po-yang Lojin berkata, Thian hua adalah nama
manusia, dia merupakan murid paling kecil dari Kiu-ci Sinkun,
orang ini she Cho dan waktu mati baru berusia dua puluh
tahunan, tapi ilmu silatnya sangat tinggi, ilmu kepandaiannya
yang dipelajarinya adalah jurus-jurus paling ampuh dari
pelbagai perguruan dan partai besar yang ada didunia.
“Dari pelbagai perguruan dan partai besar? sela Suma
Tiang-cing dengan hati terperanjat.
“Betul, ilmu silatnya meliputi pelbagai perguruan dan partai
besar” sahut Po-yang Lojin, “Cho Thian-hua berbakat bagus
dan berotak cerdik, tapi lantaran ilmu silat yang dipelajarinya
terlalu banyak, terlalu ruwet dan tak mungkin baginya untuk
mengingat semua intisari serta kelihayannya selain itu diapun
mempunyai tujuan tertentu, maka setiap kali setelah
mempelajari sejenis ilmu silat, diam-diam ia membuat catatan
sendiri dalam sejilid kitab, lama kelamaan terjadilah sebuah
catatan Ilmu silat yang kemudian diberi nama Thian hua ca
ki!”
Sekarang Hoa Thian-hong baru paham dengan duduknya
persoalan, ia lantas berseru, “Tak beran kalau ilmu silat yang
dimiliki Tang Kwik-siu amat banyak ragamnya, macam gadogado,
tapi semuanya tidak sempurna dan tidak matang,
rupanya ia belajar menurut catatan kitab Thian hua ca ki
tersebut….! sekarang aku baru mengerti rahasia ini!”
“Sampai dimanakah macam ragamnya kepandaian silat
orang itu?” tanya Suma Tiang-cing.

Ia pandai ilmu pukulan Tong pit sin kin ilmu iblis hua kut
mo ciang, ilmu sakti kim kong ciat eng. ilmu jari Yu seng sin ci
dan aneka ragam lagi banyaknya.
Sepasang mata Sama Tiang cing melotot besar karena
tertegun, serunya kemudian, Waah…. waah…. gado-gado,
benar-benar ilmu gado-gado. Lo wangwe! Silaukan kau lanjut
kan penuturanmu.
Lau Cu cing mengangguk.
Setelah kupikir-pikir, segeralah kurasakan bahwa duduk
persoalan nya amat rumit.
“Cu Im suheng!” tiba-tiba terdengar It piau hwesio
memanggil dari arah dapur.
Cu Im taysu ingin mendengarkan cerita dari Lau Cau cing,
maka dia hanya mengiakan belaka, apa mau dikata It piau
hwesio kembali memanggil lagi dengan lantang, terpaksa Cu
Im taysu bertanya dengan suara setengah berteriak, “Suheng,
ada urusan apa engkan panggil diriku?”
“Kalian sedang membicarakan soal harta karun, aku tak
berani pergi kesitu!” seru It piau hwesio.
Tertegun Hoa Tbian hong setelah mendengar ucapan
tersebut, segera katanya, “Biar aku yang muda pergi kesana!”
Dia lantas masuk kedapur, selang sesaat kemudian pemuda
itu sudah muncul kembali sambil membawa senampan nasi
dan sayur mayur yang tidak berjiwa, katanya, “Lo suhu itu
menutupi telinganya sendiri dengan kain, tak heran kalau
pembicaraan kita tak terdengar olehnya”

“Omintohud!” seru Cu Im taysu sambil tertawa, “It piau
suheng baru benar-benar terhitung sebagai seorang padri
yang saleh, kalau aku, haaah…. hahh…. haahh…. aku pantas
disebut bwesio sontoloyo, haha haha.”
Hoa Thian-hong ikut tertawa, dia lantas menghidangkan
nasi dengan sayur mayur itu kedepan semua orang.
Begitulah, sambil bersantap semua orang mendengarkan
Lau Cu cing melanjutkan kembali penuturannya, “Aku tak
berani memberitahukan tempat tinggal engkong co ku kepada
mereka namun tak mungkin aku membungkam dalam seribu
bahasa, sesudah putar otak akhirnya kujawab bahwa engkong
co ku beserta ketiga orang rekannya suka berpesiar ketempattempat
kenamaan, susah untuk menemukan jejak mereka,
tapi aku bersedia untuk menemukan kembali jejaknya.
Rupanya….Tang Kwik-siu tahu bahwa tiada gunanya
menggunakan kekerasan atas diriku dan lagi merekapun tidak
punya waktu untuk menungga terlalu lama, akhirnya dia
panggil muridnya yang membawa sebuah hiolo warna merah
darah untuk maju kedepan, dari dalam hiolo tersebut Tang
Kwik-siu menangkap seekor kelabang aneh yang tubuhnya
berbintik-bintik hitam, bajuku dising-singkan lalu kelabang itu
dibiarkan menggigit pergelangan tangan kiriku. Dalam
keadaan demikian, sekalipun kegusaran memuncak dalam
benakku, pada hakekatnya aku tak punya kemampuan untuk
memberi perlawanan apa-apa”
“Sungguh tak ku nyana Tang Kwik-siu begitu keji dan bejat
moralnya, bila sampai bertemu lagi lain waktu, pasti akan
kusuruh ia rasakan kelihayanku!” kata Hoa Thian-hong dengan
gusar.
Lau Cu cing melirik sekejap ke arah si anak muda itu,
kemudian ujarnya lebih jauh.

“Setelah Tang Kwik-siu membiarkan kelabangnya menggigit
perge-langan tanganku, sambil menyingsingkan bajunya Pek
Kun-gie mendadak berkata sambil tertawa, “Hahaha Lau Cu
cing, akupun pernah merasakan bagaimana enaknya dipagut
kelabang, tampaknya kita memang senasib sependeritaan, ba
gaimana kalau kita angkat saudara saja, engkau jadi kakak
dan aku jadi adik!” pada mulanya aku mengira dara itu cuma
berolok-olok, tapi setelah pergelangan tangan kirinya
diperlihatkan kepadaku, barulah kuketahui bahwa dia memang
mengalami nasib yang sama seperti akui”
Bicara sampai disitu, dia lantas menyingsingkan ujung
bajunya dan memperlihatkan bekas gigitan kelabang itu
kepada Hoa Thian-hong.
Pada pergelangan tangan kirinya terdapat dua titik merah
sebesar kacang hijau yang menongol keluar, sedang disisi
bengkak itu terdapat bekas gigitan binatang yang melekuk
kedalam, ia tahu bahwa ucapan orang itu tak salah.
Terbayang kembali bagaikan ngerinya Pek Kun-gie bila
digigit kelabang, ia merasa tak tega bercampur menguatirkan
keselamatan gadis itu.
Setelah menurunkan kembali ujung bajunya, Lau Cu cing
melan-jutkan kembali kata-katanya, “Tang Kwik-siu berkata
kepadaku bahwa racun keji kelabang itu sudah menyusup ke
dalam darahku, empat puluh sembilan hari kemudian racun itu
baru mulai bekerja, dan bila tidak diobati maka aku akan
tewas dalam keadaan mengerikan, katanya kecuali obat
pemunahnya didunia ini tiada obat lain yang bisa mengobati
racun tersebut!”
Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, setelah itu
sambungnya lebih jauh, “Ia memerintahkan cayhe untuk
menemukan jejak engkong co ku atau salah seorang diantara

empat kakek tua yang dimaksudkan, kemudian empat puluh
hari kemudian berangkat ke kota karesidenan Sam kang di
propinsi Kwang-se untuk bertemu dengannya, bila aku tidak
datang maka jiwaku akan melayang, bahkan bila urusannya
telah selesai maka dia akan membantai pula keluargaku!”
“Bagaimana jawaban lo wangwe?” tanya Suma Tiang-cing.
“Aku hanya mengiakan belaka, tidak ku berikan jawaban
yang tegas dan memastikan!”
“Kalau memang begitu, tidak pantas kalau mereka lepaskan
api dan membakar rumah tinggal lo wangwe!” kata Hoa Thianhong.
“Api itu bukan dilepaskan mereka, tapi Pek Kun-gie yang
membakar rumahku malahan diapun hendak mencelakai pula
jiwa anak istriku!” Liu Cu cing menerangkan dengan tertawa.
“Kurang ajar, keji amat perbuatannya!” bentak Hoa Thianhong
dengan penuh kegusaran.
Tampaknya Lau Cu cing sudah mengetahui kalau Hoa
Thian-hong mempunyai hubungan istimewa dengan Pek Kungie,
ia lantas tersenyum dan berkata lagi, “Nona Pek berkata
begini kepadaku, “Lau Cu cing, kita toh sudah angkat saudara
sepantasnya kalau kuberi tanda mata atas peristiwa ini….!”
Memang lihay sekali cara nona itu melepaskan api, belum
sempat kutangkap maksud kata-katanya, dia sudah
melepaskan segulung bubuk obat keatas lampu lentera,
diiringi suara ledakan besar api segera menjilat ruangan.
Tampaknya Tang Kwik-siu ada maksud untuk
memadamkan api tersebut, tapi tak sempat, ia hanya berdiri
termangu.

Berbeda dengan Pek Kun-gie, ia kelihatan bangga sekali,
sambil menuding kepadaku, katanya lagi, “Engkau tak usah
sakit hati bagaimanapun juga engkau toh tak akan bisa
temukan jejak engkong co mu, sekalipun engkau berhasil
temukan orangnya, cepat atau lambat toh tetap mati,
kelabang itu merupakan binatang paling keji dikolong langit,
sekalipun orang yang digigit diberi obat pemunah, diapun
cuma bisa bertahan hidup selama setengah tahun belaka!”
Mendengar ucapan tersebut, Tang Kwik-siu jadi marah dan
mencaci maki tapi Pek Kun-gie juga berteriak-teriak keras.
“Apa yang dia jeritkan?” tanya Hoa Thian-hong dengan
kemarahan masih berkobar dalam benaknya.
Nona Pek berteriak begini, “Kita sudah berjanji bahwa aku
tak akan melarikan diri, tak akan membocorkan rahasia
indentitasku, tak akan membongkar rahasia, toh tak pernah
dalam perjanjian itu melarang aku bunuh orang dan lepaskan
api? Engkau mengaku sebagai seorang cikal bakal suatu
perguruan besar, kenapa ucapanmu tidak bisa dipercaya,
kenapa perbuatanmu tak pegang janji?”
Berbicara sampai disitu, tiba-tiba nona Pek ayun telapak
tangannya hendak menghajar anakku paling kecil,
serangannya bukan ma in-main tapi suatu serangan yang
amat ganas, untungnya Tang Kwik-siu bertindak cukup
cekatan, ia berbasil menangkap nona Pek sehingga
terhindarlah anakku dari kematian!”
Mendengar sampai disitu, dengan dahi berkerut Suma
Tiang-cing segera berkata, “Rupanya semua kelembutan dan
kehalusan Pek Kun-gie cuma pura-pura belaka…. Hmmm!
Kalau memang begitu, mulai hari ini Thian-hong tak boleh
memperdulikan dirinya lagi”

Suma Tiang-cing adalah saudara angkat dari Hoa Goan-siu,
berbicara soal hubungan maka kecuali ibunya boleh dibilang
enciknya ini merupakan orang yang paling dekat hubungannya
dengan pemuda itu.
Justru oleh karena adanya hubungan yang sangat erat,
Suma Tiang-cing berani mengutarakan perintahnya yang amat
tegas.
Hoa Thian-hong sebagai angkatan yang lebih rendah, tentu
saja tak berani membangkang perintahnya itu, Tercekat hati
Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, tapi iapun tidak
berhasil menemukan alasan yang tepat untuk menangkis
perintah tadi, terpaksa dengan kepala tertunduk dia
mengiakan barulang tali.
Sekalipun begitu, rasa sedih dan murung sempat juga
meliatas diatas wajahnya.
Lau Cu cing sendiri, diam-diampun berpikir, Nama besar
Hoa Thian-hong telah menggetarkan seluruh kolong langit,
dan lagi dia masih muda, sepantasnya kalau anak muda
berjiwa panas dan mudah jadi sombong atau jumawa, tapi
kenyataannya dia tetap sederhana dan penurut, kejadian ini
benar-benar luar biasa sekali.
Perlu diketahui, walaupun ilmu silat dan kesuksesan
berusaha dapat membuat orang menaruh hormat, tapi masih
ada bagian lain yang tidak menghormati ataupun
mengaguminnya, tapi ada sebagian orang lantaran wataknya
mulia dan berbudi luhur maka bukan saja orang banyak yang
mengaguminya, malahan jumlah orang yang menaruh rasa
kagum kadangkala jauh lebih besar dan banyak.

Begitu pula halnya dengan Lau Cu cing kalau Hoa Thianhong
hanya hebat dalam ilmu silat dan tinggi kedudukannya
dalam dunia persilatan, belum tentu dia akan mengaguminya,
tapi justru karena wataknya yang halus budi dan jujur ia jadi
amat kagum.
Tiba-tiba dia menengadah dan tertawa terbahak-bahak,
kemudian katanya pula.
Hoa kongcu, bicara sejujurnya, ketika kemarin malam aku
lihat engkau berada serombongan dengan orang-orang Sinkie-
pang, timbul perasaan tak senang dihatiku, karenanya
meskipun aku mempunyai kesulitan, rahasia tersebut tidak
sampai kubocorkan dihadapanmu apalagi setelah kuketahui
bahwa hubunganmu dengan nona Pek sangat akrab, semakin
besar rasa antipatiku yang muncul dalam hatiku.
00000o00000
82
MERAH padam selembar wajah Hoa Thian-hong karena
jengah, buru-buru katanya.
Lo wangwe, boanpwe bukanlah manusia yang tak tahu
bagaimana menyayangi diri sendiri, akan tetapi pada
hakekatnya banyak kejadian yang berada dalam dunia ini yang
memaksa orang tak mampu mengendalikan diri, kendatipun
harus disertai dengan pengorbanan yang besar, tapi mau tak
mau perbuatan itu harua dilakukan juga, boanpwee sudah
berusaha untuk bergerak terus lebih keatas, apa daya
kemampuanku memang terbatas, akhirnya toh tetap
terjerumus kembali menurut aliran perubahan.
Cepat Lau Cu cing ulapkan tangannya.

“Kongcu tak usah terlalu merasa rendah diri, aku sudah
memahami watak serta perangai kongcu, akupun bisa
memahami setiap perbuatan yang kau lakukan pasti didasari
oleh alasan yang kuat, tak heran ka lau aku jadi salah paham
karena tak tahu duduk persoalan yang sebenarnya”
Tiba-tiba Suma Tiang-cing ikut menghela napas panjang
dan berkata dengan lirih, “Aaai…. namaku Kiu mia kiam kek
(jago pedang sembilan jiwa) kudapatkan dengan lumuran
darah, siapa yang tidak tahu kalau aku Suma Tiang-cing
adalah laki-laki berhati keras, tapi toh hari ini aku harus
mengadu jiwa lantaran ingin menolong jiwa seorang gadis,
aaai….! Mungkin inilah yang dinamakan apa boleh buat bila
keadaan sudah begitu…. heeh heehh heehh mendingan kalau
orang lain tahu akan duduk persoalannya kenapa aku sampai
adu jiwa ka-rena seorang gadis, bila orang itu tak tahu
duduknya perkara bukankah mereka juga akan menaruh
perasaan salah paham kepadaku?”
Berbicara sampai disini, ia lantas berpaling kembali ke arah
Hoa Thian-hong seraya berkata lebih jauh, “Aku segan untuk
mencampuri urusanmu dengan budak dari keluarga Pek, mau
bagai mana terserah pada kemauanmu sendiri….!”
Tertegun Hoa Thian-hong sesudah mendengar perkataan
itu, tapi diam-diam diapun bersyukur karena ia bebas dari
ikatan yang memberatkan pikirannya, walaupun begitu
pemuda itu tak dapat menunjukkan rasa girangnya, karena
tanpa sadar soal Pek Kun-gie dan Giok Teng Hujin
berbarengan berkecamuk dalam benaknya.
Tiba-tiba terdengar Lau Ca cing tertawa nyaring, lalu
berkata, “Hoa kongcu, sekarang apakah engkau sudah dapat
menduga apa sebabnya Pek Kun-gie membakar rumahku dan
melukai cucuku?”

“Oou….! Kenapa?” seru Hoa Thian-hong dengan muka
tertegun.
Cu Im taysu adalah seorang padri yang berbudi luhur, dia
ingin sekali membuat semua orang yang ada didunia ini jadi
orang baik semua, dari pembicaraan tersebut segera diketahui
olehnya bahwa dibalik pertanyaan itu tentu ada penjelasan
lebih jauh, segera selanya, “Sekalipun Pek Kun-gie adalah
putri Pek Siau-thian, tapi ia pribadi sebenarnya tidak bernama
jelek, apalagi setelah menjadi sahabat Thian-hong, wataknya
pasti banyak mengalami perubahan, Kalau toh dia bisa
melakukan perbuatan seperti membakar rumah, membunuh
orang, sudah pasti dibalik kesemuanya itu dia mempunyai
maksud serta tujuan tertentu…. bukan begitu?”
Lau Cu cing tersenyum.
“Tadi aku masih belum bisa memecahkan persoalan ini tapi
barusan tiba-tiba dapat kupahami mengapa nona Pek sampai
berbuat demikian, sudah pasti ia sengaja membakar rumahku
dan ingin membunuh cucuku dengan tujuan untuk
merangsang aku mengharapkan aku sangat membenci kepada
mereka, asalkan aku telah menaruh rasa benci kepada
mereka, sudah tentu akupun tak akan tunduk oleh ancaman
Tang Kwik-siu atau dengan perkataan lain dia bermaksud
untuk menggagalkan rencana Tang Kwik-siu untuk mencari
harta karun”
Cu Im taysu segera bertepuk tangan sambil tertawa.
“Haaah…. haaah…. haaahh…. benar, perkataan ini memang
cocok sekali, tak nyana nona Pek sangat cerdik cuma….
perbuatannya membakar rumah kelewat ganas, apalagi ingin
melukai jiwa orang lain, tindakan semacam ini tidak
dibetulkan, untung saja tak ada yang sampai korban jiwa,

Thian-hong kalau lain kali bertemu kembali, engkau harus baik
baik memperingatkan dirinya!”
Merah padam wajah Thian-hong karena malu, dengan
perasaan kikuk dia lantas mengangguk.
Setelah itu baru ujarnya lagi kepada Lau Cu cing, “Pek hujin
dari perkumpulan Sin-kie-pang adalah seorang pemimpin yang
bijaksana, bila bertemu nanti boanpwe akan minta kepadanya
untuk mengganti kerugian yang telah wangwe derita,
boanpwe tanggung Pek hujin tak akan menolak!”
“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. meskipun aku bukan
seorang milyuner, tapi kalau cuma sebuah rumah gedung
masih tak menjadi beban pemikiranku, biarlah maksud baik
Hoa kongcu kuterima didalam hati saja!”
Dalam pada itu, Po-yang Lojin berempat telah selesai
bersantap pagi, Suma Tiang-cing segera mengalihkan
pembicaraan kepokok persoalan yang sebenarnya, tentu saja
ia merasa riku untuk langsung menyinggung soal harta karun,
maka dengan jalan memutar kayun, dia bertanya dengan
lantang.
“Po yang locianpwee, tadi boanpwe mendengar locianpwe
menyebut tentang diri Kiu-ci Sinkun, mungkinkah dia adalah
seorang tokoh persilatan yang berilmu silat sangat tinggi?”
Po-yang Lojin membereskan rambutnya yang kusut, lalu
mengangguk tanda membenarkan.
“Ehmm! Dikolong langit yang serba aneh ini sering terdapat
manusia-manusia yang dinamakan Kutu busuk, setan arak,
gila harta, setan perempuan, coba kalian pikirkan lagi masih
ada setan-setan apa lainnya yang belum kusebutkan??”

Hoa Thian-hong tersenyum, ia tidak menjawab tapi saling
berpandangan dengan rekan-rekan lainnya, siapapun tidak
paham dengan maksud perkataannya itu.
Akhirnya Suma Tiang-cing berkata, “Ada sejenis manusia
yang gemar sekali berjudi, begitu tergila gilanya sampai tak
bisa ditolong lagi, orang menyebut mereka sebagai setan
judi!”
Sambil tertawa Cu Im taysu ikut angkat bicara, “Pinceng
mempunyai seorang sahabat yang tiada kesenangan lain
kecuali main catur, begitu tenangnya dia bermain catur
sampai tiap menit tiap detik selalu bermain tak hentinya, kalau
kebetulan bertemu tandingan permainan dilakukan siang
malam, kalau tak ada lawan bertanding dibelinya gula-gula
dan menyuruh anak tetangganya untuk melayani dia bermain
kalau tak bisa dia lantas mengajarnya, bagi orang ini lebih
baik tidak makan daripada tidak main catur, orang banyak
sebut dia sebagai setan catur!”
“Ada setan judi ada setan catur, apakah ada manusia jenis
lain?” tanya Po-yang Lojin sambil tertawa, “Boanpwe pernah
dengar ada orang gila pangkat, entah benarkah ada manusia
manusia yang gila pangkat dan kedudukan?”
Po-yang Lojin tersenyum dan mengangguk.
“Ada, memang didunia ini banyak terdapat manusia yang
gila pangkat dan kedudukan. Mereka ada manusia-manusia
yang sekolah ingin pintar, setelah pintar ingin punya
kedudukan, setelah dapat kedudukan ingin naik pangkat,
setelah naik pangkat pingin jadi pembesar, sudah jadi
pembesar ingin jadi kaisar, bahkan berbuat dengan cara yang
rendah apapun asal tujuannya tercapai, manusia seperti itu
disebut manusia yang gila pangkat dan kedudukan!”

Mendadak Suma Tiang-cing seperti menyadari akan
sesuatu, dia lantas berkata, “Berbicara soal ilmu silat
mungkinkah ada orang yang gila ilmu?”
Kali ini Po-yang Lojin tertawa tergelak dengan nyaringnya.
“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. orang yang suka
belajar ilmu silat memang banyak, tapi orang yang berai benar
gila ilmu jarang sekali ditemui dikolong langit!”
“Locianpwe, mungkinkah Kiu-ci Sinkun adalah seorang
manusia gila ilmu….?” tanya Hoa Thian-hong.
“Bukan!” orang tua itu menggeleng.
Hoa Thian-hong jadi tertegun, pikirnya di hati, “Kalau
bukan terus, bukankah sia-sia belaka pembicaraan yang
berlangsung selama ini?”
Sementara dia masih termenung, Po-yang Lojin telah
berkata kembali, “Bukan saja Kiu-ci Sinkun gila ilmu bahkan
karena gilanya ia jadi kesemsem karena kesemsemnya jadi
kalap, dan saking kalapnya jadi kesetanan, dia adalah seorang
kesetanan ilmu!”
“Weh, kalau begitu dia pastilah seoleng tokoh silat yang
luar biasa sekali, ilmunya tentu lihay dan tingkah lakunya
kokoay, apakah locianpwe bersedia untuk menceritakan
riwayatnya?” tanya Cu Im taysu dari samping.
Kakek tua she Lau yang menjadi engkong co nya Lau Cu
cing tiba tiba menyela, “Pada waktu itu orang persilatan yang
berjumpa dengannya menyebut dia sebagai Sinkun, tapi kalau
berada dibelakangnya orang tidak menyebut sebagai Kiu-ci
Sinkun lagi melainkan Kiu si sinmo, iblis sakti ini terhitung
manusia paling berdosa didalam dunia persilatan sejak dulu

sampai sekarang, perbuatannya luar biasa sekali, sering kali
apa yang di anggap khayalan bagi orang lain telah diciptakan
menjadi kenyataan olehnya, pengaruhnya bagi dunia
persilatan boleh dibilang luar biasa besarnya”
Kakek tua she Lau menghela napas panjang, kemudian
menyambung, “Dunia persilatan yang ada disaat itu sudah
dibikin kacau balau tak karuan olehnya, tapi justru karena
tingkah lakunya maka terciptalah dunia persilatan pada saat
ini, mungkin juga sisa-sisa pengaruh keedanannya itu masih
akan mempengaruhi pula dunia persilatan pada seratus tahun
mendatang!”
Ucapan kakek tua she li ini cukup menggetarkan hati
semua orang, baik Hoa Thian-hong maupun Suma Tiang-cing
dibuat tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo
sesudah mendengar ucapan tersebut, mereka dibikin
kebingungan dan tidak habis mengerti.
Terdengar kakek tua she Gan menyambung pula, katanya,
“Jiko Sute, biarlah toako yang memberi keterangan kepada
mereka, dengan begitu semua orang tidak dibuat kebingungan
tak habis mengerti, coba lihatlah bukankah mereka melongo
karena kebingungan sendiri?”
Kakek tua ahe Li dan kakek tua she Lau segera
mengangguk dan sama-sama berpaling ke arah Po-yang Lojin.
Agak lami Po-yang Lojin termenung, rupanya ia berusaha
untuk mengumpulkan kembali semua daya ingatannya,
setelah itu baru ujarnya perlahan lahan, “Kiu-ci Sinkun
dilahirkan kurang lebih seratus delapan puluh tahun berselang,
sejak kecil sudah gemar belajar silat, ketika berusia belasan
tahun dia belajar ilmu dari Huan Teng, seorang guru silat
kenamaan di jaman itu, Huang Teng bergelar Sinkun {pukulan
sakti} katanya ilmu silat yang dimiliki berasal dari jilid kitab

pusaka yang bernama Po-kia Sinkun, hampir separuh
hidupnya habis untuk belajar ilmu, tidaklah heran kalau
kepandaian silat yang dimilikinya benar-benar hebat. Dengan
semangat yang menyala-nyala Kiu-ci Sinkun berangkat
menjumpai guru silat itu dan mohon agar ia diterima menjadi
muridnya, apa mau dikata Huan Teng mempunyai suatu
peraturan yang khusus bagi orang yang hendak menjadi
muridnya, dan lagi tanpa kecuali semuanya harus melakukan
persyaratannya iu”
“Bagaimana peraturannya?” tanya Suma Tiang-cing.
Kalau dibicarakan soal peraturannya, maka lebih tepat
kelau dikatakan balas jasa, apabila orang hendak belajar silat
kepadanya maka dia musti bersedia membawa balas jasa yang
cukup besar atau mempunyai orang kenamaan yang bersedia
menjamin kwalitetnya, atau bila hal ini tidak mungkin, maka si
pukulan sakti Huan teng ini akan mencoba dulu ketekunan
serta kerajinannya. Yang dimaksudkan mencoba ketekunan
dan kerajinan disini adalah menjadi pelayan keluarga Huan
selama empat tahun lamanya, setelah lewat empat tahun baru
akan ditetapkan apakah dia dapat diterima atau tidak.
“Bagi mereka yang mempunyai kekayaan atau mempunyai
kenalan orang besar tenta saja persyaratan itu tak susah
untuk diatasi,” kata Cu Im taysu sambil tertawa, “sedangkan
Kiu-ci Sinkun tidak berhata pun tak ada kenalan orang besar,
masa dia bersedia manjadi jongos orang selama empat
tahun?”
“Memang begitulah kenyataannya, waktu itu usia Kiu-ci
Sinkun baru belasan tahun, sekalipun harus menjadi pelayan
selama empat tahun, tupanya soal itu tak menjadi halangan
baginya. Justru karena ambisinya yang besar maka dia terima
syarat tersebut. Sejak menjadi jongosnya keluarga Huan,
setiap pagi hari ia saksikan anak murid Huan Teng berlatih

ilmu, ia merasa tangannya jadi gatal dan ingin belajar,
akhirnya saking tak tahannya dia telah melanggar pantangan
yang sebelumnya telah ditetapkan oleh Huan Teng….!”
Bercerita sampai disitu, ia berhenti untuk meneguk air teh
setegukan, sesudah tenggorokannya basah, barulah
sambungnya lebih jauh, “Tidak sampai beberapa bulan
lamanya ia menjadi jongosnya keluarga Huan, secara diamdiam
ia telah mencuri belajar semua ilmu silat yang sedang
dilatih oleh murid-muridnya Huan Teng, ia mencuri lihat
mencuri belajar dan mencuri untuk melatihnya, tapi kejadian
ini bara saja berlangsung selama beberapa hari, perbuatannya
ketahuan Huan Teng, bayangkan saja mencuri belajar ilmu
silat orang lain adalah pantangan paling besar bagi umat
persilatan, apalagi Huan Teng adalah seorang jago yang
kurang terbuka pikirannya, dalam gusar dan mendongkolnya
ia lantas menangkap Kiu-ci Sinkun dan mengha jarnya habishabisan
sehingga nyaris mati konyol setelah dihajar, dia diusir
dari perguruan dalam perkiraan Huan Teng urusanpun akan
berakhir sampai disitu saja. Siapa tahu justru karena
perbuatannya ini, membuat dunia persilatan sejak hari itulah
mengalami banyak perubahan.”
“Pandai amat kakek tua ini bercerita” pikir Hoa Thian-hong
didalam hati, “sekali pun perlahan-lahan tapi menawan hati,
membuat para pendengarnya sedikitpun tidak merasa
gelisah.”
Sementara itu Po-yang Lojin telah bercerita kembali, Kiu-ci
Sinkun adalah seorang anak yatim piatu, sejak diusir dari
keluarga Huan, dia hidup terlunta-lunta dipinggir jalan sebagai
seo rang pengemis, keadaan ini berlangsung hampir setengah
tahun lamanya, luka yang dia deritapun perlahan-lahan jadi
sembuh kembali, sejak itulah rasa bencinya terhadap pukulan
sakti Huan Teng merasuk ketulang sumsum.

Dia ada maksud belajar ilmu dari guru lain dan bila ilmunya
berhasil diyakinkan maka dia akan menuntut balas, tapi
perasaannya selalu tak tenang karena ia hanya sempat
mencuri belajar beberapa jurus ilmu Po-kia Sinkun milik Huan
Teng, maka suatu hari ia tak dapat mengendalikan perasaan
hatinya lagi, diam-diam ia menyusup kedalam gedung
keluarga Huan dan masuk kekamar tidurnya Huan Teng,
sudah beberapa bulan ia menjadi jongosnya keluarga Huan
maka tanpa mengalami kesulitan apapun ia berhasil masuk
kekamar tidur bekas gurunya ini dan mencuri kitab pusaka
yang disayang Huan Teng melebihi sayangnya pada jiwa
sendiri itu.
“Benar-benar besar sekali nyali orang ini, cuma tidak
sepatutnya ia menjadi pencuri!” kata Cu Im taysu sambil
tertawa tergelak.
Pada umumnya orang jadi nekad karena mata gelap, tapi
ada pula sementara orang yang nekad untuk melindungi diri
sendiri, seperti perbuatan dari Kiu-ci Sinkun ini, sama sekali
tak ada hubungannya dengan kenekadan serta keberaniannya,
di a hanya gila ilmu dan gila belajar ilmu, lantaran ilmu silat
dia berbuat segala sesuatu tanpa perhitungan yang masak,
keberanian manusia semacam ini kadangkala memang lebih
hebat dari keberanian orang biasa.
“Aku rasa Huan Teng pasti tak akan berpeluk tangan belaka
setelah dia tahu kitab pusakanya dicuri orang, lalu
bagaimanakah selanjutnya setelah ia tahu kejadian ini?” tanya
Suma Tiang-cing dari samping.
Setelah Huan Teng mengetahui kalau kitab pusakanya
dicuri oleh Kiu-ci Sinkun, ia lantas menjelajahi seluruh daratan
Tionggoan untuk mencari jejaknya, tapi sayang usahanya ini
tidak mendatangkan hasil apa-apa, Kiu-ci Sinkun yang dicari
sama sekali tidak ditemukan jejaknya. Dua tahun kemudian,

tiba-tiba Kiu-ci Sinkun munculkan diri di dalam dunia
persilatan, bahkan melakukan pula suatu perbuatan terangterangan
yang amat menggemparkan semua umat persilatan.
“Perbuatan aneh apakah itu?” tanya Hoa Thian-hong
dengan perasaan tercengang.
“Pada waktu itu dikota Kay hong hidup seorang jago
pedang yang bernama Kongsun Tong, permainan ilmu
pedangnya sudah tersohor sekali didunia persilatan, ilmu
pedangnya itu dinamakan It ci hui kiam (pedang satu huruf)
diantara seluruh ilmu pedang yang ada didunia ini,
kepandaiannya terhitung ilmu silat tingkat tinggi. Kiranya
setelah berhasil mencuri kitab Po-kia Sinkun dari rumah
keluarga Huan, Kiu-ci Sinkun telah menyembunyikan diri
ditengah gunung untuk mempelajaiinya, tidak sampai setahun
seluruh ilmu dalam kitab itu sudah dipelajari habis, karena
takut dikejar Huan Teng dia bersembunyi selama satu tahun
lagi digunung untuk memperdalam ilmunya, lama kelamaan
kegemarannya untuk belajar ilmu yang lain tak bisa dibendung
lagi, berangkatlah dia ke kota Kay Hong dan mencari Kongsun
Tong untuk membicarakan suatu barter….”
“Barter bagaimanakah itu?” tanya Hoa Thian-hong.
“Kiu-ci Sinkun mengeluarkan sejilid kitab salinan ilmu Po-kia
Sinkun untuk ditukarkan dengan sejilid kitab salinan ilmu
pedang It Ci hui kiam milik Kongsun Tong, ia berharap agar
Kongsun Tong bersedia m nerima tukar menukar itu.”
Mendengar cerita tersebut, semua orang tak dapat
menahan gelinya lagi, tertawalah beberapa orang jago itu
dengan nyaring.

Suma Tiang-cing segera berkata, “Mungkin Kin ci sinkuc
adalah seorang tolol yang otaknya terlalu sederhana dan tidak
tahu keadaan.”
Po-yang Lojin menggeleng.
“Kecerdasan orang ini luar biasa sekali dan jarang ditemui
dikolong langit, oleh karena dalam benaknya ia cuma
memikirkan soal ilmu silat belaka, maka bila dia sudah
berminat akan suatu ilmu, dengan cara dan jalan apapun akan
ditempuh olehnya untuk mendapatkan apa yang diinginkan,
kendatipun perbuatannya itu melanggar kebiasa n orang dan
cukup bikin tercengang orang lain!”
“Benar, sahabatku si setan catur juga demikian” sela Cu Im
taysu dengan cepat.
Setelah berhenti sebentar, ia tertawa dan gelengkan
kepalanya.
“Terlalu banyak cerita lucu tentang orang ini, bila lain
waktu ada waktu pasti akan kuceritakan!”
Po-yang lojin tersenyum, ia melanjutkan kembali
penuturannya, “Rupanya Huan Teng memandang peristiwa
hilangnya kitab pusaka Po kia kun boh merupakan suatu
peristiwa yang paling memalukan baginya, diapun tahu jika
berita ini sampai disiarkan dan semua orang didunia
mengetahui akan kejadian ini, maka Kiu-ci Sinkun akan
semakin tak berani unjuk kan diri, karena itu sejak kejadian
sampai detik itu rahasia tersebut tetap disimpan baik-baik,
orang lain tak seorangpun yang mengetahui akan kejadian ini.
Begitulah setelah Kongsu Tong mendengar permintaannya dan
memeriksa pula kitab tersebut, walaupun dihati merasa amat
terkejut tapi dia manyanggupi permintaan orang, bahkan
bersedia pula untuk menyiapkan sejilid salinan ilmu

pedangnya untuk ditukarkan dengan kitab itu, Kiu-ci Sinkun
masih muda dan kurang pengalaman, iapun tak tahu betapa
liciknya orang lain, ia menganggap orang lain tentu sama pula
kebaikannya seperti dia, maka untuk sementara waktu
berdiamlah dia dikota Kay hong sambil menunggu Kongsun
Tong selesai membuatkan sebuah salinan kitab ilmu pedang
baginya.”
“Mungkinkah Kongsun Tong juga bukan seorang manusia
baik-baik?” tanya Suma Tiang-cing.
Po-yang Lojin mengelus jenggotnya yang panjang dan
tertawa.
“Sebagus-bagusnya seseorang toh tetap ada cacadnya,
sejelek jeleknya manusia toh ada pula kebaikannya, sekalipun
didalam masyarakat ada orang yang berwatak baik, dibalik
kebaikannya itu pasti ada wataknya yang jelek, susah untuk
menentukan baik buruk dari pandangan sekilas saja, begitu
pula dengan Kongsun Tong, ia tak bisa dikatakan orang baik
pun tak bisa dikatakan orang jahat”
“Omintohud, perkataan lojin memang sangat tepat dan
sangat mengena sekali dilubuk hati setiap orang….” puji Cu Im
taysu.
Ia lantas berpaling ke arah Hoa Thian-hong dan
menambahkan, “Thian-hong, engkau harus ingat baik-baik
perkataan dari Po-yang Lojin ini, sebagai seorang pendekar
sejati sudah menjadi kewajibanmu untuk maju terus pantang
mundur, tapi bukan berarti boleh membunuh orang secara
sembarangan, sebab manusia yang benar-benar bejad dan
jahat sehingga tak setitik kebaikanpun dimilikinya jarang sekali
terdapat didunia ini, sejahat jahatnya orang ia masih tetap
memiliki kebaikan walaupun perbandingannya jauh sekali!”

“Boanpwe akan mengingat selalu nasihat ini, dan tak akan
kucelakai orang lain dengan sembarangan!” sahut Hoa Thianhong
sam bil manggut.
Suasana hening untuk sementara waktu, terdengarlah
Suma Tiang-cing bertanya lagi setelah memandang sekejap ke
arah Po-yang Lojin, “Locianpwe, bagaimanakah caranya
Kongsun Tong mengatasi persoalan yang dihadapinya ini?”
“Setelah menerima kitab salinan ilmu pukulan tersebut,
sekali dipandang Kongsun Tong sudah tahu kalau isinya tidak
palsu, tapi ia curiga kalau inti sari dari ilmu pukulan tersebut
telah dihilangkan dengan begitu saja. Sebab menurut jalan
pikirannya, kitab Po kia kun boh adalah kitab pusaka andalan
keluarga Haun, jelas tak mungkin kalau kitab tersebut dapat
dicuri oleh seorang anak muda, ia lantas menaruh curiga kalau
Huan Teng sedang mengatur siasat busuk untuk menjatuhkan
nama baiknya, sengaja ia mengirim seorang bocah dengan
membawa kitab pusaka yang tidak komplit untuk ditukar
dengan rahasia ilmu silatnya, setelah ia berbasil menguasai
ilmu pedangnya maka datanglah jago itu untuk
menghancurkan nama baiknya.
“Berpikir sampai disitu, betapa gusarnya Kongsun Tong,
tapi dikarenakan Kiu-ci Sinkun cuma seorang bocah belasan
dan lagi jelek jelek dia juga seorang tamu, maka sebagai
orang kenamaan ia tak mau bertempur melawan bocah tak
bernama itu, dia lantas kembali kekamar dan ambil keluar
sejilid kitab pedang, kepada Kiu-ci Sinkun ujarnya, “Coba
lihatlah kitab pedangku ini, tulisannya mencapai beberapa
puluh laksa kata, jurusnya seratus satu dan gambarnya
seratus satu pula, kalau musti disalin maka membutuhkan
waKtu yang sangat lama, terutama karena tiada pembantu
yang bisa dimintai pertolongannya, aku harap engkau suka
sabar menanti sebab sedikitnya dua puluh hari baru bisa
selesai!”

Kitab itu memang antik bentuknya dan padat isinya,
semakin gatal rasanya Kiu-ci Sinkun untuk mendapatkannya,
apa mau dikata, isi kitab itu memang tebal maka ia berjanji
akan kembali lagi kesitu satu bulan mendatang, dan waktu
itulah barter akan dilaksanakan oleh ke dua belah pihak”
“Sebenarnya rencana busuk apakah yang telah disusun
oleh Kongsun Tong itu?”
“Kongsun Tong tersohor namanya karena ilmu pedangnya
yang lihay, kecuali ilmu lainnya bahkan terhadap kitab pusaka
Po kia kun boh tersebutpun sama sekali tidak tertarik, dia
malahan menaruh curiga kalau Huan Teng mengadung
maksud jahat dan mengirim orang untuk membohongi ilmu
silatnya sendiri, maka dia ambil keputusan untuk
menggunakan akal busuk melawan akal busuk, bukan saja
akan membari kelihayan kepada Huan Teng, mumpung
menggunakan kesempatan yang sangat baik inipun dia akan
angkat nama hingga tersohor dikolong langit”
“Dengan cara apa ia laksanakan rencananya berdasarkan
siasat lawan siasat itu?” tanya Hoa Thian-hong seraya tertawa.
“Sepeninggal Kin ci siokun, diam-diam Kong sun Tong
membuat sepucuk surat dan mengutus orang untuk segera
menyampaikan kepada Huao Teng, didalam surat itu
diterangkan bahwa ada orang yang bendak menukar kitab
pusaka Po kia kua boh miliknya dengan kitab ilmu pedangnya,
dan diharapkan kedatangannya untuk menangkap pencuri,
selain itu diam-diam iapun mengumpulkan sekawanan jago
kenamaan dari dunia persilatan untuk bertindak sebagai saksi,
menurut perhitungannya andaikata Huan Teng benar-benar
kecurian maka jikalau pencurinya berhasil ditangkap dan
barang yang tercuri dapat dikembalikan kepada pemiliknya
sudah pasti Huan Teng akan merasa sangat berterima kasih

kepadanya, sebalikuya kalau kejadian ini meru pakan siasat
busuk dari orang itu, maka berada dihadapan kawanan jago
persilatan Kongsun Tong akan menantang Huan Teng untuk
berduel, bukan saja rencana busuknya akan dibongkar dan
dibeberkan didepan mata jago kenamaan, bila ia berhasil
kalahkan Huan Teng bukankah nama besarnya akan semakin
tersohor lagi dikolong langit….?”
Suma Tiang-cing tertawa tergelak sesudah mendengar
cerita itu, serunya tanpa terasa, “Siasat ini mempunyai
manfaat rangkap, baik kiri maupun kanan semua akan
mendatangkan hasil yang menguntungkan dirinya, ruparupanya
pendekar pedang ini memang luar biasa sekali!”
Po yang lojtn tersenyum.
Ketika Huan Teng menerima surat pemberitahuan itu, tentu
saja buru-buru ia berangkat memenuhi undangan, sementara
sekawanan jago persilatan yang diundang Kongsun Teng ju-ga
telah berdatangan pula pada waktunya. Nah, ketika saat yang
dijanjikan telah tiba, Kiu-ci Sinkun dengan membawa salinan
kitab pusaka Po kia kun boh datang kerumah Kongsun Tong
dengan wajah berseri-seri, setellah masuk kegedung dan
menemukan banyak jago hadir disana, terutama pukulan sakti
Huan Teng yang sudah bersiap-siap dengan wajah penuh
kema rahan, sadarlah pemuda itu kalau dia sudah dihianati
Kongsun Tong, setelah kejadian menjadi begini sudah pasti
barter tak mungkin dilangsungkan, untuk kabur juga tak ada
harapan, terpaksa dengan keraskan kepala ia maju terus
kedlam rumah itu untuk menghadapi kenyataan.
“Bagaimana akhirnya??” tanya Cu Im taysu cepat, rupanya
ia sangat tertarik oleh kisah tersebut.
Cukup perkasa tindakan Kiu-ci Sinkun, sebelum Pukulan
sakti Huan Teng menegur dirinya, serta-merta ia sudah

berkata lebih dulu. Aku sudah dua tahun menjadi jongos di
rumahmu, kau sudah menghajar pula tubuhku setengah mati,
sebagai gantinya aku telah mencuri kitab pusakamu dan
melatihnya selama dua tahun, aku rasa urusan ini tiada
faedahnya dibicarakan berlarut larut. Kini kitab tersebut telah
kusembunyikan disuatu tempat yang sangat rahasia letaknya,
kecuali aku siapapun jangan harap bisa temukan benda itu,
sekarang aku nembawa sejilid kitab salinannya, bila kau
bersedia maka kitab salinan ini akan kuserahkan dahulu
kepadamu, urusan dibikin beres sampai disini saja, sebaliknya
kalau engkau tetap merasa tidak terima, maka kita harus
menyelesaikannya dengan ilmu silat, bila kau menang, kitab
salinan ini kuserahkan dulu kepadamu, lalu kuantar engkau
untuk mengambil kitab aslinya, selain itu kau hendak
menghukum diriku dengan cara apapun aku tak akan
membangkang atau coba menghindarinya”
“Andaikata Kiu-ci Sinkun yang menang?” tanya Hoa Thian
bong.
Po-yang Lojin tertawa setelah mendapat pertanyaan itu,
sahutnya, “Pertanyaan semacam ini hanya kau seorang yang
mengajukan, orang lain tak akan berpikir sampai disini, waktu
itu Kiu-ci Sinkun berkata pula, “Andaikata aku yang menang,
maka kitab Kun boh tersebut menjadi milikku, kau tak boleh
mencari gara-gara lagi dengan aku, sedangkan akupun tak
akan mencelakai jiwamu, engkau boleh pulang kerumah dan
melatih kembali ilmu silatmu, tiga tahun kemudian datanglah
mencari aku dan kita bertanding lagi, coba kita lihat siapakah
yang lebih cepat memperoleh kemajuan dalam latihannya?”
Bercerita sampai disini, Po-yang Lojin sendiripun tak dapat
menahan diri sehingga gelengkan kepalanya berulang kali,
katanya sambil tertawa nyaring, “Saudara sekalian, Kiu-ci
Sinkun memang, benar-benar seorang manusia luar biasa,
sejak jaman dahulu sampai sekarang, bukan saja kelakuannya

aneh, tindak tanduknya juga luar biasa sekali, karena itulah
dengan tidak bosan-bosannya kuceritakan kisah dimasa
mudanya kepada kalian, kalau tidak begini sudah pasti kalian
tidak akan percaya dengan tindak tanduknya dimasa
kemudian.”
“Silahkan locianpwee melanjutkan ceritanya, kami sudah
pasang telinga baik-baik” kata Hoa Thian-hong.
Jilid 28
Po-yang Lojin mengangguk, selanjutnya ia teruskan lagi
ceritanya, “Sudah tentu pukulan sakti Huan Teng tak pandang
sebelah mata pun atas diri Kiu-ci Sinkun, apalagi berada
dihadapan kawanan jago persilatan yang ada dikolong langit,
ia lebih-lebih tak ingin kehilangan pamornya, sambil menahan
rasa gusar dan mendongkolnya ia cuma mengangguk tiada
hentinya sambil menjawab, ‘Bagus….! Bagus….’
Menunggu ia telah selesaikan perkataannya, Huan Teng
segera terjun kedalam gelanggang dan terjadilah suatu
penarungan sengit di tanah lapang, berlatih silat keluarga
Kong sun semua pertarungan dilangsungkan dengan menurut
peraturan dunia persilatan.”
Berbicara sampai disini, tak tahan lagi ia menghela napas
panjang, katanya lebih jauh, “Aaai, tahun itu Huan Teng
sudah berusia enam puluh tahun, ilmu Po kia kun boh tersebut
sudah dipelajari selama empat puluh tahun lamanya,
sedangkan Kiu-ci Sinkun masih muda dan ilmu pukulan sakti
itu pun baru dipelajari dua tahun, apa yang kemudian terjadi?
Ternyata kepandaian mereka berdua seimbang alias setali tiga
uang, sekalipun sudah bertempur selama liga ratus gebrakan,
ternyata menang kalah masih belum dapat ditentukan”

“Sesuai dengan namanya yakni Po-kia Sinkun (pukulan
sakti penjebol tameng) aku rasa ilmu tersebut semestinya
adalah sejenis ilmu pukulan keras yang mengandalkan tenaga
gwa kang,” kata Suma Tiang-cing keheranan. “Padahal Huan
Teng sudah berlatih selama empat puluh tahun lamanya
dengan tekun, semestinya ia lebih tangguh baik dalam
kekuatan maupun kematangan, kenapa dia tak mampu
menangkan seorang angkatan muda?”
Jawabannya sederhana sekali, sebabnya Kiu-ci Sinkun
adalah seorang manusia yang sangat berbakat dalam berlatih
ilmu silat, terhadap soal ilmu silat, dia memiliki daya ingat
yang luar biasa, selain itu kalau orang lain tiap hati cuma
berlatih satu dua jam, maka dalam benaknya kecuali ilmu silat
boleh dibilang tak ada pikiran lain yang berkecamuk dalam
benaknya, seolah-olah, kecuali makan dan tidur dia selalu
menyibukkan diri dengan berlatih ilmu silat, oleh sebab itulah
bila dia berlatih satu tahun, sama halnya dengan orang lain
berlatih selama lima enam tahun, ditambah pula dengan
bakatnya yang bagus serta kecerdasan yang melebihi orang
lain, maka satu tahun dia berlatih sama halnya dengan orang
lain berlatih melama sepuluh dua puluh tahun lamanya.
Dia menarik nafas panjang-panjang, kemudian lanjutnya,
“Dalam pertarungan tersebut, Huan Tong menang karena
tenaga dalamnya jauh lebih sempurna, sebaliknya Kiu-ci
Sinkun lebih dapat meresapi makna serta inti sari dari ilmu Pokia
Sinkun tersebut, seringkali dia bisa mengeluarkan jurus
baru hasil ciptaannya sendiri, kadangkala diapun
mengandaikan kelincahan serta kegesitannya untuk mengatasi
keampuhan tenaga pukulan lawan, oleh sebab itulah
walaupun sepanjang pertarungan itu berlangsung, seringkali
dia menghadapi mara bahaya, tapi toh Kiu-ci Sinkun berhasil
mempertahankan diri sehingga tidak sampai menderita
kekalahan”

“Pertarungan itu tidak dibatasi sampai berapa jurus sampai
akhirnya toh pasti ada yang kalah atau menang bukan?” tanya
Suma Tiang-cing lagi.
Setelah bertarung sampai dua ratus tiga puluh jurus, tibatiba
Kiu-ci Sinkun menunjukkan kelihayannya, secara beruntun
dia melakukan beberapa gerakan yang keliru untuk menipu
musuhnya masuk perangkap, kemudian suatu ketika tinjunya
langsung disodok kemuka menghajar bahu Huan Teng,
mungkin karena terlalu banyak tenaga yang diperlukan untuk
mainkan pukulan sakti Po-kia Sinkunnya juga karena usia
Huan Teng sudah menanjak sehingga kekuatannya jadi lemah,
setelah bertarung lama tanpa hasil, kegusaran yang
membakar dada Huan Teng makin membara karena gusar,
kekuatannya tak dapat menghimpun dan kelemahan inilah
yang telah dimanfaatkan oleh Kiu-ci Sinkun.
“Waah, akhir dari pertarungan itu pastilah diluar dugaan
siapapun juga” kata Hoa Thian-hong, entah bagaimana
selanjutnya?”
“Sewaktu Kiu-ci Sinkun berlatih ilmu Po-kia Sinkun tersebut,
semua pikiran dan ingatannya dipusatkan pada soal
keampuhan jurus, dengan sendirinya tiada kekuatan yang dia
miliki, dengan mengandalkan kekuatan tenaganya sebagai
seorang pemuda, secara dipaksakan dia dapat bertahan
sebanyak dua ratus gebrakan lebih, waktu itu tenaganya
sudah hampir habis digunakan, karena itu sekalipun
pukulannya berhasil menghajar bahu Huan Teng, namun
pukul an itu sama sekali tak bertenaga bukan saja tidak terasa
malahan Kiu-ci Sinkun sendiri yang terpukul sampai mundur
beberapa langkah kebelakang, begitu pertarungan terhenti
pemuda itu tak mampu melanjutkan pertarungannya lagi tapi
hasil yang dicapainya telah menggemparkan seluruh ruangan,

sebagian besar kawanan jago persilatan itu merasa kaget dan
terkesiap oleh kejadian tersebut….”
“Menurut peraturan dunia persilatan, pertarungan ini telah
dimenangkan Kiu-ci Sinkun, masa dihadapan umum Huan
Teng tak mau mengakui kekalahannya?” kata Suma Tiangcing.
“Pada waktu itu Huan Teng berdiri tertegun ditengah
gelanggang tanpa bisa berbuat apa-apa, sedangkan Kiu-ci
Sinkun sendiri sudah bura-buru meninggalkan salinan kitab
ilmu silat itu, dia hanya berseru, “sampai jumpa tiga tahun
lagi!” dengan gerakan cepat dia kabur dari tempat kejadian,
meskipun banyak jago persilatan yang merasa tidak puas
dengan kejadian itu, tapi dalam keadaan serba kalut semua
orang tak tahu apa yang musti dilakukan, menanti mereka
sadar kembali dari lamunannya, Kiu-ci Sinkun sudah lenyap
tak berbekas.
“Haaah…. haaah…. haah kitab pusaka salinan itu sudah
ditinggalkan, lagipula ada janji untuk bertemu tiga tahun lagi,
tentu saja orang lain merasa tak enak hati untuk turut campur
dalam urusan itu, Waah-Kiu-ci Sinkun memang cukup licik dan
cerdik!” seru Cu Im Taysu sambil tertawa tergelak,
Po-yang Lojin tersenyum, ujarnya, “Urusan pun dianggap
sudah berlalu dengan begitu saja, semua orang lantas bubar
dan kembali kerumah masing-masing. Pukulan sakti Huan
Teng sendiri melakukan penggeledahan selama beberapa jam
dikota Kay hong, tapi jejak dari Kiu-ci Sinkun bagaikan ditelan
keperut bumi saja, sama sekali tidak berhasil ditemukan lagi,
dengan putus asa bercampur kecewa terpaksa ia harus pulang
kerumah untuk berlatih tekun ilmu silatnya, ia bersiap-siap
untuk membunuh Kiu-ci Sinkun dalam pertarungannya tiga
tahun mendatang, siapa tahu beberapa bulan kemudian
dirumah Kong sun Tong telah terjadi keonaran!”

“Apakah kitab pusaka ilmu silatnya juga dicuri orang?”
tanya Hoa Thian-hong.
Suma Tiang-cing segera menyela, “Setelah Huan Tong
mengalami nasib yang tragis, aku percaya Kong sun Tong
pasti bertindak lebih waspada lagi, terutama terhadap kitab
pusaka ilmu pedangnya itu, ia tentu menyembunyikan secara
sempurna. Kendatipun Kiu-ci Sinkun memiliki daya
kemampuan untuk menyusup kerumah lawan dan
membongkar almari orang lain, belum tentu ia dapat
menemukan kitab sekecil itu!”
Po-yang Lojin tertawa, ceritanya lagi.
“Suatu hari, baru saja Kongsun Tong pulang dari
bepergian, tiba tiba temukan secarik keras diatas meja
tulisnya ketika di baca ternyata surat dari Kiu-ci Sinkun, dalam
surat tersebut ia mencaci maki Kongsun Tong karena
berkhianat, oleh sebab itu menggunakan kesempatan sewaktu
ia pergi, kitab pusakanya dicuri, bahkan berjanji pula pada tiga
tahun mendatang dengan jurus It cia cian li (sekali melesat
seribu li) dia akan memahtahkan jurus It nia ban nia (sekali
ingat selaksa tahun) kemudian dengan jurus It ki ho seng
(sekali jadi berurutan) akan memaksa Kongsun Tong
menggunakan It heng sam mey (Satu deret tiga bencana)
menyusul mana dengan jurus It thio it si (kadangkala tegang
kadangkala kendor) dia akan menghadiahkan sebuah babatan
tajam diatas dada kanan kongsun Tong, tapi ia menyatakan
pula bahwa jiwa Kongsun Tong tak akan dicabut agar bisa
melakukan pertarungan ulangan pada tiga tahun berikutnya.
“Masa orang ini berisi benar–benar mempunyai kepandaian
sehebat itu sehingga kitab pusaka milik Kongsun Tong juga
ikut dicuri?” tanya Suma Tiang-cing dengan dahi berkerut.

Po-yang Lojin tidak menjawab pertanyaan itu, tapi
melanjutkan kembali, “Setelah membaca surat tersebut
Kongsun Tong mengerutkan dahinya, memang ilmu pedang It
ci kui kiam miliknya memakai kata It semua pada permulaan
katanya, seperti It sia cian li, It nian ban nia, It ki ho seng, It
heng sam mey serta It thio it si semuanya merupakan namanama
jurus pedang. Ia merasa kitab tersebut tak mungkin bisa
dicuri, mungkin semua nama itu dilihat olehnya tatkala kitab
pusaka tersebut diperlihatkan kepada Kiu-ci Sinkun tempo
hari. Dia merasa kitab itu sudah disimpan sangat rahasia yang
tak mungkin bisa dicuri bocah itu, maka dianggapnya surat
tersebut sebagai suatu ejekan belaka, ia tidak memperhatikan
secara serius!”
“Tapi….” setelah berhenti sebentar, Po-yang Lojin
melanjutkan kembali kata-katanya, “Kongsun Tong merasa
bahwa kelima jurus serangan yang ditulis Kiu-ci Sinkun tentu
punya maksud tertentu, tanpa terasa dia mulai
membayangkan secara diam-diam. Masih mendingan kalau
tidak dibayangkan, begitu dipikirkan kontan paras mukanya
berubah hebat, ia merasa dada kanannya seolah-olah betulbetul
ditusuk orang dengan pedang, buru-buru dia masuk
kekamar tidurnya, menyingkirkan rak bukunya, menekan
tombol dan terbukalah sebuah ruang rahasia diatas dinding,
ketika Kongsun Tong menekan tombol rahasia yang lain, pintu
besi itu membuka secara otomatis…. apa yang kemudian dia
lihat? Kitab ilmu pedang itu masih tersimpan baik-baik dalam
ruang rahasia, bahkan tak pernah disentuh orang.
“Waah,kalau begitu maksud Kiu-ci Sinkun meninggalkan
suratnya itu tak lain hanya bermaksud mengejek lawannya
belaka? kata Cu Im taysu.
“Perkataan tasyu memang ada benarnya cuma tidak tepat
keseluruhannya.

Ternyata Kiu-ci Sinkun memiliki kecerdikan yang luar biasa,
meskipun kitab pusaka itu hanya dilihat sepintas lalu, tapi dia
dapat menghapalkan nama-nama dari jurus serangan itu,
tampaknya Kiu-ci Sinkun memang berhasrat besar untuk
mencuri kitab pusakanya itu. Walaupun begitu diapun tahu
betapa liciknya Kongsun Tong, kitab pusaka itu pasti
disembunyikan disuatu tempat yang sangat rahasia dan tak
mungkin bisa ditemukan orang lain, malahan mungkin jaga
kitab itu selalu digembol dalam sakunya.
Berbicara sampat di sini, Po-yang Lojin menghela napas
panjang.
“Aaii! Kesabaran dari Kiu-ci Sinkun memang luar biasa
sekali, baik siang ataupun malam, tiap hari berjaga-jaga terus
didalam rumah Kongsun Tong, ia tidak pernah bersembunyi
terlalu dekat, terutama sekali di kala Kongsun Tong sedang
berlatih ilmu pedangnya, ia lantas mencuri lihat dari kejauhan
dan kemudian dicocokkan dengan nama-nama dari jurus
serangan yang dia ingat, begitulah…. setelah mencuri lihat
selama beberapa bulan dan berhasil meraba jalannya
permainan pedang orang itu, ia mulai melaksanakan siasat
melemparkan baru bertanya jalan.”
“Siasat melempar batu bertanya jalan??” tanya Hoa Thianhong
dengan wajah tercengang.
Benar! Oleh karena dia tak tahu dimanakah Kongsun Tong
menyimpan kitab pusaka ilmu silatnya, maka setelah
meninggalkan surat, dia sendiri bersembunyi diatas atap
sambil mengintip terus kebawah, setelah diketahui olehnya
letak rahasia dari alat rahasia tersebut, diam-diam dia baru
berlalu dari situ.
“Kenapa musti begitu?” tanya Hoa Thian-hong tercengang,
rupanya ia merasa keheranan oleh kenyataan tersebut.

“Kongsun Tong adalah seorang manusia yang cerdik dan
banyak akal muslihatnya, setelah diketahui bahwa kitab
pusakanya tetap berada ditempat semula, dia lantas dapat
menebak maksud hati lawannya, waktu itu diapun tidak
menunjukkan sesuatu reaksi, setelah almari rahasianya
dikembalikan pada letak semula dan kitab pusaka itupun
disimpan ditempat semula, dia lantas berlalu seperti tidak
pernah terjadi sesuatu apa pun.”
“Tapi malamnya, ia melakukan penggeledahan yang teliti di
setiap sudut rumahnya, setelah yakin benar kalau disekttar
tempat itu tak ada musuh yang bersembunyi, sekali lagi dia
buka almari rahasianya dan ambil keluar kitab yang asli,
sedangkan kitab tiruan diletakkan sebagai gantinya sedang
kitab yang asli di gembol dalam saku. Sejak itulah dia selalu
memasang jebakan dan perangkap untuk membekuk pencuri,
kadangkala diapun pergi sambil membawa pedang, sekitar
wilayah diperiksa dengan teliti apakah ada jejak Kiu-ci Sinkun
atau tidak, apa mau dikata ternyata jejak Kiu-ci Sinkun tak
ditemukan lagi. Kiranya waktu itu dia sudah berada di wilayah
Kanglam dan menjadi muridnya Biau-hua Tojin seorang tosu
keji yang berdiam dibukit Mo san!”
“Waah….! Orang ini memang menarik sekali,” kata Cu Im
taysu sambil tertawa, “apakah dikarenakan merasa tak
mampu menangkan Kongsun Tong maka dia lepaskan
mangsanya itu?”
“Hmm! Cerita menarik masih belum dimulai! Dengan
kecerdasan serta bakatnya itulah ia belajar giat sekali dibawah
pimpinan Biau-hua Tojin, hampir semua ilmunya diturunkan
kepadanya, apalagi ketika Biau-hua merasa ada kecocokan
dalam watak maupun pembawaan, ia merasa lebih
menyayangi muridnya ini, malahan Kiu-ci Sinkun dianggap
sebagai murid kepercayaannya dan semua ilmu rahasia yang

tak pernah diwariskan kepada orang lain diturunkan semua
kepada muridnya yang satu ini.”
“Kiu-ci Sinkun ternyata memang tidak mengecewakan
gurunya, cuma dalam dua tahun semua kepandaian yang
diwariskan Biau-hua Tojin telah dikuasai semua, ketika tiada
kepandaian baru yang bisa dipelajari lagi, ia mulai tertegun
dan tidak kerasan, suatu ketika dikala ada kesempatan yang
baik baginya, maka kaburlah dia dari atas gunung, bahkan
sambil menyelam minum air, ia sekalian mencuri pula semua
kitab ilmu pedang, ilmu pukulan, ilmu menangkap setan, ilmu
pertabiban dan ilmu jampi-jampi milik imam itu!”
Terbahak-bahak Hoa Thian-hong sesudah mendengar cerita
itu, serunya cepat, “Waah…. kepandaiannya sudah dikuras
habis, sekarang dia kuras pula semua harta milik gurunya,
orang ini memang luar biasa hebatnya!”
“Engkau pernah melihat orang yang suka akan bendabenda
antik?” tiba-tiba Po-yang Lojin bertanya.
Hoa Thian-hong menggeleng.
“Belum pernah, tapi boanpwee tahu pasti ada manusia
macam itu didunia ini!”
“Bagi Kiu-ci Sinkun, kitab-kitab pusaka, ilmu silat adalah
barang antik, bagi orang yang gemar barang antik, sering kali
dia mengumpulkan kitab-kitab curiannya itu dan dibaca
berulang kali malahan kemudian sekalipun ilmu silat yang
dimiliki Kiu-ci Sinkun sudah amat lihay, tapi setiap kali dia
mendengar kalau disuatu tempat mempunyai kitab pusaka,
maka sekalipun harus menempuh jarak beribu-ribu li, dia tetap
mendatangi tempat itu, gagal diminta secara terang-terangan
maka dicurinya dengan cara apapun. Kiu-ci Sinkun pada waktu
ia sudah mendekati orang yang demam silat

“Bagaimana keadaan Biau-hua Tojin selelah mengetahui
murid kesayangannya kabur sambil membawa lari kitab kitab
pusakanya?” tanya Suma Tiang-cing sambil tertawa geli.
“Apalagi? Tentu saja dikejar dan dicari ubek-ubekan!”
“Berhasil ditangkap atau tidak?” tanya Hoa Thian-hong
dengan perasaan ingin tahu.
“Kalau berhasil ditangkap, tak mungkin dia mencarinya
sampai ubek-ubekan….!”
Cu Im taysu tertewa tergelak, serunya cepat, “Locinpwe,
lanjutkan ceritamu, aku duga Kongsun Tong pasti menderita
kerugian besar!”
Memang begitulah, kurang lebih dua tahun kemudian,
waktu itu Kongsun Tong sudah hampir melupakan peristiwa
masa lalu, apalagi ia merasa kurang leluasa untuk membawa
kitab pusakanya kemana-mana, maka kitab pusaka itu ditaruh
kembali ke tempatnya semula, sementara itu Kiu-ci Sinkun
yang berhasil kabur dari bukit Mo-san langsung menuju ke
kota Kay-hong, setelah dua tahun belajar ilmu dari Biau-hua
loto bukan saja ilmu silatnya memperoleh banyak kemajuan,
segala ilmu setanpun banyak yang dia kuasai, pagi itu dia lihat
Kongsun Tong pergi jalan-jalan sambil membawa sangkar
burungnya, menanti Biau-hua Tojin dan Kongsun Tong
melakukan pencarian besar-besaran keseluruh dunia
persilatan, waktu itu Kiu-ci Sinkun sudah kabur puluhan laksa
li jauhnya dan bersembunyi diatas bukit Heng an nia untuk
melatih ilmu pedangnya!”
ooooOoooo
83

Po-yang Lojin tarik napas panjang-panjang, kembali
meneguk air teh untuk membasahi kerongkongannya, tiba-tiba
ia berkata.
Orang ini memang lihay dan sepanjang hidupnya sudah
banyak pengalaman aneh yang dialaminya, Jite!. Kau teruskan
ceritanya, aku sudah capai ngomong terus, tapi ceritanya
harus sederhana tapi jelas bagi pendengarnya,”
Baru-buru kakek she Li itu berpikir sebentar untuk
mengumpulkan kembali daya ingatnya. setelah itu baru
tuturnya.
“Setahun kemudian, tiba-tiba Kiu-ci Sinkun berkunjung
kerumah kediaman Huan Teng untuk memenuhi janji tiga
tahunnya, ketika itu Biau-hua loto dan Kongsun Tong telah
berjaga-jaga disekitar rumah keluarga Huan, ketika Kiu-ci
Sinkun munculkan diri, mereka bertiga segera mengepungnya
rapat-rapat dan kalau bisa ingin sekali mereka cabik-cabik
musuhnya jadi beberapa bagian….!”
“Tapi Kiu-ci Sinkun tetap tenang-tenang saja, sebagaimana
caranya yang lama, barang siapa ingin mendapatkan kembali
kitabnya yang hilang, dia harus bisa dikalahkan kalau tidak
maka tuntutannya itu harus diulangi kembali sampai tiga
tahun berikutnya, tentu saja Huan Teng turun tangan lebih
dahulu, tapi belum sampai empat puluh gebrakan, jago tua itu
sudah dikalahkan menyusul ia beradu pedang dengan
Kongsun Tong dan akhirnya ia bertempur melawan Biau-hua
loto bekas gurunya, tapi kedua orang jago itu mengalami
nasib yang sama, tak sampai dua ratus gebrakan secara
beruntun mereka telah dikalahkan dengan cara yang
mengenaskan sekali”

Ketika kakek tua she Gin melihat Ji ko nya telah kelupaan
menceritakan hal yang paling penting, cepat dia
menambahkan, “Ketika ia bertempur melawan Huan Teng
maka ilmu silat yang dipakai hanya melulu ilmu pukulan Po-kia
Sinkun, ketika bertarung melawan Kongsun Tong yang dipakai
cuma ilmu pedang It ci hui kiam, sedangkan dikala bertempur
melawan Biau-hua loto yang dipakaipun hanya melulu ilmu
yang dipelajari dari imam tua ini, sedikitpun tidak
mengandung ilmu pukulan Po-kia Sinkun ataupun ilmu pedang
It ci hui kiam!”
“Oooh…. ini baru hebat namanya!” seru Hoa Thian-hong,
“kalau aku yang harus menjadi dia, susah rasanya untuk
membedakan jurus ini adalah jurus milik siapa, jurus itu
adalah jurus pukulan apa lagipula ditengah pertarungan
seru…. waah, pusing deh rasanya!”
Kakek tua she Li itu menghela napas panjang.
“Aaai…. Mula-mula tiga orang itu bertarung secara
bergantian tapi setelah semua dikalahkan, Biau-hua loto
segera mengusulkan untuk main kerubut, maka tiga orang
jago lihay itupun serentak menyerbu ke gelanggang dan
mengerubuti Kiu-ci Sinkun seorang diri….”
“Selama bersembunyi di bukit Heng an sia entah barang
aneh apa saja yang telah dimakan Kiu-ci Sinkun selama
setahun lamanya, ternyata tenaga dalam yang dimilikinya
peroleh kemajuan yang pesat, ilmu meringankan tubuh yang
dia milikipun amat sempurna, sekalipun harus bertempur tiga
babak secara beruntun namun ia masih tetap tangguh dan
gagah perkasa, ketika dia harus satu lawan tiga mulailah Kiu-ci
Sinkun keteter hebat tapi ia masih bertahan terus dengan cara
pertarungannya, siapa yang sedang dihadapi jurus serangan
apa pula yang dipakai….

“Akhirnya dia menderita luka parah karena tak tahan
dikerubuti tiga orang jago, untungnya Biau-hua Tojin sekalian
bermaksud menawannya hidup-hidup agar barang mereka
yang hilang bisa didapatkan kembali, dengan keuntungan
inilah suatu ketika Kiu-ci Sinkun berhasil menembusi kepungan
dan melarikan diri”
“Bukankah ia sudah menderita luka parah, masa Biau-hua
Tojin sekalian bertiga tidak mampu menangkapnya kembali?”
tanya Suma Tiang-cing keheranan.
“Orang ini mempunyai tiga kemampuan, yakni pandai
mencuri, pandai melarikau diri serta pandai bersembunyi,
belum pernah ketiga macam kepandaiannya ini mengalami
kegagalan ataupun salah perhitungan!”
“Bagaimana selanjutnya?” tanya Hoa Thian-hong sambil
tertawa.
“Selanjutnya selama dua tahun belakangan dalam dunia
persilatan secara beruntun terjadi peristiwa-peristiwa
pencurian, banyak jago jago kenamaan baik dari goloogan
putih maupun dari golongan hitam kecurian kitab pusakanya,
tampuknya kesintingan Kiu-ci Sinkun sudah mencapai pada
puncaknya sehingga umat persilatan disatroni olehya, keadaan
pada waktu itu jadi kacau balau tak karuan, banyak orang
yang kecurian segera menyebarkan diri kedalam dunia
persilatan dan mencari jejaknya, sekalipun demikian toh ia tak
berhasil ditangkap, sampai belasan tahun kemudian tiba-tiba
ia munculkan diri dalam dunia persilatan!”
“Li locianpwe, selama belasan tahun dia telah bersembunyi
dimana?” tanya Hoa Thian-hong sambil tertawa.
“Menurut perkiraan orang banyak, kemungkinan besar ia
sudah menyingkir ke negeri Thian lok (kini India), hal ini

berdasarkan dari ilmu Yoganya yang sangat lihay setelah
muncul kembali kedalam dunia persilatan, dengan dasar
kepandaian Yoga itulah orang menduga ia pasti menyingkir
kesitu!”
Cu Im taysu menyela, “Kitab pusaka ilmu silat berbeda
dengan harta kekayaan seperti emas, perak, intan, permata,
sebelum dirampas kembali siapa pun tak mau menyerah
dengan begitu saja, setelah dia muncul kembali kedalam dunia
persilatan, sudah pasti banyak sekali jago silat yang datang
membuat perhitungan dengan dirinya?”
“Oooh…. Hal ini sudah jelas”
Setelah berhenti sebentar, Li lojin melanjutkan, “Bagi orang
lain, kemunculannya berarti kesempatan untuk menagih
hutang lama, sebaliknya bagi Kiu-ci Sinkun, kemunculannya
justru untuk mengulangi kembali tingkah polanya dimasa
lampau, suasana dalam dunia persilatan waktuitu makin kacau
balau!”
“Kali ini bagaimana caranya dia mengacau dunia
persilatan?” tanya Hoa Thiasn hong.
“Pada waktu itu, usia Kiu-ci Sinkun baru mencapai tiga
puluh tahunan, tapi kelihayan ilmu silatnya sudah tiada
taranya sehingga sukar untuk menemukan tandingan, tapi
kesenangannya terhadap ilmu silat makin bertambah besar,
kesenangan bukan lenyap lantaran ilmu silatnya bertambah
lihay, justru sebaliknya makin terperosok semakin dalam,
makin melangkah ia semakin jauh, kalau dulu ia main mencuri
maka sekarang ia main rampas secara terang-teranganan,
boleh jadi memakai gertakan, mungkin juga memakai
kekerasan ataupun kelicikan, pokoknya dia berdaya upaya
agar semua kitab pusaka ilmu silat yang dimiliki orang lain
bisa dimiliki sendiri olehnya.”

“Kenapa umat persilatan tidak bersatu padu dan bekerja
sama untuk menghadapinya?”
“Siapa bilang umat persilatan tidak bersatu padu dan
menghada-pinya bersama? pada jaman itu, untuk menghadapi
dia seorang bukan saja umat persilatan dari golongan putih
bersatu padu, malahan mereka bekerja sama dengan
golongan hitam untuk bersama-sama menyingkikan Kiu-ci
Sinkun dari muka bumi….”
“Masa dengan kekuatan Kiu-ci Sinkun seorang diri, dia
mampu meng-hadapi kekuatan gabungan dari seluruh umat
persilatan didunia ini?”
“Pada waktu itu seorang belum mengenal nama Kiu-ci
Sinkun, kebanyakan orang tak tahu pula siapa namanya, maka
ada yang sebut si demam silat ada pula menyebut si rase
kepadanya, dunia persilatan pada waktu itu ibaratnya hutan
pemburuan, semua umat persilatan berkumpul jadi untuk
bersama-sama berburu makhluk rase yang licik ini,
kemanapun dia pergi umat persilatan segera mengejar diri
belakang dan menghadang dari depan, kendatipun siang
malam musti ka bur kesana kemari untuk menghindari
pengejaran, tapi dia masih sempat pula menyusun rencana
untuk mengganggu orang lain.”
“Keanehan orang ini memang luar biasa sekali, rasanya dari
dulu sampai sekarang belum pernah ada yang menyamai
keanehan dirinya” kata Cu Im taysu, “aai…. pinceng rela hidup
dijaman itu kalau bisa, agar dapat kukenali manusia yang
sangat aneh ini!”
Li lojin tersenyum, sambungnya, “Begitulah, dunia
persilatan dikacau selama dua tahun lamanya, umat persilatan
masih tetap tak mampu berbuat apa-apa atas jago lihay yang

aneh ini. Pada waktu itulah tiba-tiba ketua dari perguruan
keluarga Wi ying ada dikota Goan-ciu berhasil menemukan
dua jilid kitab pusaka yang disembunyikan Kiu-ci Sinkun dalam
sebuah gua dibukit Ho-lan-san, kitab yang berhasil ditemukan
itu adalah kitab ilmu pedang partai Tiam cong serta kitab Ciok
yu cap sa kek milik Ciok Yu kek dikota Seng ciu, katanya kitab
ini adalah kitab pertabiban yang dibuat dikala jaman dinasti
kaisar Sianyan Tee, isinya berupa ilmu pengobatan dan ilmu
pertabiban yang sama sekali tak ada hubungannya dengan
ilmu silat, kitab itu dicuri oleh Kiu-ci Sinkun pada belasan
tahun berselang. yaa….! begitulah ketua dari perguruan
keluarga Wi ini bukan saja tidak berhasil menemukan kitab
pusaka perguruannya yang tercuri dia malah menemukan
barang milik orang lain….”
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan kembali katakatanya,
“Kebanyakan barang-barang yang berhasil dicuri dan
dirampas Kiu-ci Sinkun disimpan dalam bukit bukit dan
lembah-lembah terpencil yang susah ditemukan orang,
sekalipun semua kitab pusaka itu adalah milik orang lain tapi
setelah berada ditangannya di anggap sebagai barang
miliknya sendiri, dia tak ingin mengembalikannya kepada
orang lain dan tak sudi pula didapatkan orang, maka setelah
dua jilid kitab pusaka disimpannya dalam bukit Ho-lan-san
ditemukan orang betapa gusar dan mendongkolnya Kiu-ci
Sinkun, setelah berkelana banyak tahun, tiba-tiba timbul
ingatan untuk mencari tempat tinggal yang tetap, pilih punya
pilih akhirnya ia memilih bukit Kiu ci san, dibangunya sebuah
istana yang kuat dan kokoh diatas bukit itu, disana ia menetap
dan menyimpan semua harta kekayaannya.”
“Bukankah dia mempunyai banyak musuh yang membenci
dirinya? Masakah dia bisa hidup tenang disana?” tanya Hoa
Thian-hong.

“Tenta saja kehidupannya tak tenang, begitu kabar berita
tersebut tersiar kedunia persilatan, orang-orang yang
kehilangan kitab pusa kanya segera berdatangan kebukit Kiu
ci san, ditambah pula para pembantu yang membantu sobatsobatnya
membuat suasana dibukit Kiu ci san benar-benar
sangat ramai sekali, malahan aku dengar lebih banyak orang
yang bermaksud mencari kesempatan untuk merampas kitab
pusaka daripada mereka yang ingin menuntut kembali kitab
miliknya yang di rampas!”
“Dengan kekuatannya seorang diri, masa dia mampu
menandingi orang sebanyak itu?” tanya Suma Tiang-cing.
Li lojin menghela nafas panjang.
“Aaai! Waktu itu rata-rata para jago yang hadir didepan
istana Kiu ci kiong diliputi emosi dan hawa amarah, sekali
komando serentak kawanan jago sebanyak ratusan orang itu
menyerbu kedepan dan mengerubuti Kiu-ci Sinkun, dalam
keadaan begitu kendatipun ilmu silat yang dimiliki Kiu-ci
Sinkun lihaynya bulan kepalang, tak urung juga dibuat jeri dan
bergidik!”
“Andaikata orang-orang itu benar-benar menyerbu dengan
tujuan adu nyawa, sudah pasti Kiu-ci Sinkun bukan tandingan
mereka dan nis caya dia akan mati konyol” kata Hoa Thianhong.
Li lojin tertawa.
“Sebenarnya orang-orang itu memang bermaksud untuk
beradu jiwa, cuma sayang orang-yang dibelakang berteriakteriak
sementara itu yang ada didepan cuma berdiri kaku
seperti patung!”

Tiba tiba Po-yang Lojin menyela, “Ilmu silat yang dimiliki
Kiu-ci Sinkun amat lihay, andaikata benar-benar terjadi
pertarungan, yang berada dibarisan depan sudah pasti akan
korban lebih dulu, padahal tujuan mereka hanya merebut
kembali kitab ilmu silat yang dirampas lawan, dengan
sendirinya tak seorangpun para jago yang ada dibarisan depan
sudi bergebrak lebih dahulu, rupanya merekapun sempat
berpikir kalau mereka adu nyawa, yang untung adalah orang
lain, lalu apa guna dan arti kematian mereka? Sebab itulah
mereka lebih suka melihat orang lain adu jiwa sedang mereka
sendiri berpeluk tangan menjadi nelayan yang beruntung.”
Li lojin berkata pula, “Dibalik kesemuanya itu sebenarnya
masih terdapat suatu sebab musabab yang sensitif sekali
artinya, yakni sekalipun Kiu-ci Sinkun tergila-gila oleh ilmu silat
namun tindak tanduknya sama sekali tidak garang ataupun
keji, sepanjang hidup belum pernah ia membunuh seorang
manusiapun, bila sedang bangga meskipun wajahnya berseri
namun tidak sombong, oleh karena itulah orang orang di
jaman itu menyebutnya sebagai Demam silat, ada pula yang
memakinya sebagai si Rase, ada pula yang memakinya si
Sinting, walaupun begitu antara mereka tak pernah terikat
olah dendam sakit hati apapun jua, oleh karena itu antara
merekapun tidak mempunyai keharusan untuk beradu jiwa,
justru karena wataknya yang sama sekali tidak keji dan bengis
inilah, sampai kinipun orang menyebutnya sebagai Sinkun!”
“Ehmmm! Kalau dipikir-pikir, memang disinilah letak kunci
yang paling penting” Hoa Thian bong mengangguk, “entah
bagai manakah akhir dari kejadian itu?”
“Rupanya Kiu-ci Sinkun sendiripun mempunyai perhitungan
yang cukup masak, waktu itu dia berkata begini, “Bukankah
tujuan kalian semua adalah minta kembali barang-barang
kalian yang hilang? Kalau main kerubut seperti orang
kampungan begitu, dari mana tujuan kalian bisa tercapai?

Malahan bisa jadi barang sudah hilang nyawapun ikut
melayang. Kalau kamu semua mau menuruti perkataanku dan
cara yang kukemukakan, siapa tahu kalau apa yang kalian
harapkan bisa tercapai? Jangan kuatir, aku toh sudah menetap
disini, tak mungkin aku bakal melarikan diri”
“Waaah! caranya ini luar biasa” puji Cu Im taysu sambil
tertawa.
Li lojin tersenyum.
“Memang luar biasa sekali. Waktu itu dia berkala pula:
‘Mulai hari ini aku berdiam terus dibukit Kiu ci san ini, jika
kalian ingin mendapatkan kembali benda milik kalian,
berusahalah dengan giat mulai sekarang carilah kitab-kitab
ilmu silat yang berhubungan dengan ilmu silat, ilmu racun,
ilmu bangunan, ilmu pertabiban serta ilmu-ilmu kepandaian
lainnya atau mencari obat-obat mujarab, pedang mustika,
golok mustika, bahkan boleh juga mencari intan permata serta
mutu manikam lainnya yang berharga, asal kalian bisa
dapatkan salah satu dari benda-benda itu kemudian
ditukarkan kepadaku, pokoknya asal aku penujui sudah pasti
kitab pusaka milik kalian yang kucuri akan kukembalikan
kepada kalian!”
Tertawa Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu,
dia berkata, “Cara ini kurang adil rasanya bagi para pemilik
barang yang merasa keheranan, mungkin tak ada yang setuju
dengan usulnya itu?”
Memang begitulah kenyataannya, para pemilik barang itu
segera menjawab, “Kau mencuri barang, kami merampas
barang kami, sekarang suruh kami tebus barang kami dengan
barang lain, cara ini sama sekali tidak adil dan bijaksana.”
“Apa jawab Kiu-ci Sinkun?”

Dia lantas berkata begini: “Kalau kalian tidak setuju dengan
caraku ini aku masih ada cara yang kedua, bila istanaku sudah
kubangun jadi, maka semua kitab pusaka dan benda mustika
yang kumiliki akan kusimpan semua ditempat ini, kalian boleh
menirukan caraku dengan mencuri ataupun merampas
barang-barang itu dari tanganku, setiap saat akan kunantikan
kedatangan kalian!”
“Waah, waaah cara ini lebih latah lagi sela Suma Tiang-cing
segera, tapi kejadian tersebut memang tak dapat dihindari,
kenda tipun tidak ia katakan, orang lain toh akan berusaha
untuk melakukan juga.”
Li lojin tersenyum.
“Tapi diapun menerangkan pula, cara ini ada syaratnya
yakni jika orang yang datang melakukan pencurian adalah
pemilik barangnya sendiri, bila tertangkap maka dia akan
dipenjara selama tiga tahun tanpa ada hukuman yang lain,
tapi bila orang yang melakukan pencurian bukan pemilik
barang, jika tertangkap dia akan dijatuhi hukuman sesuai
dengan berat entengnya dosa yang di langgar, mereka yang
melanggar berat maka ilmu silatnya akan dipunahkan,
sedangkan yang enteng ditahan dalam istana sebagai jongos!”
“Hmmm…. bagus juga cara yang dia ajukan ini” ujar Cu Im
taysu sambil tertawa.
Selain kedua cara tadi, dia masih mempunyai cara yarg
ketiga, dia bilang bila istana Kiu ci kiong sudah didirikan,
setiap hari Tong ciu dalam istana akan diadakan pertemuan
besar perebutan kitab pusaka yang akan berlangsung selama
tujuh hari tujuh malam, siapapun boleh ikut serta dalam pesta
perebutan itu, tertu saja dalam pesta pertemuan itupun
disertai pula dengan pelbagai syarat, antara lain yang paling

penting adalah para peserta harus mereka yang kehilangan
kitab pusaka, dan barang yang diperebutkan juga terbatas
pada kitab yang dimilikinya, misalkan si pukulan sakti Huan
Teng, dia hanya berhak merebut kembali kitab pusaka Po kia
kun boh nya, karena itu dia hanya terbatas untuk bertempur
dengan memakai ilmu Po-kia Sinkun pula, bila tahun itu kalah
maka tahun berikutnya dipersilahkan untuk turut kembali.
“Orang ini sungguh menarik hati” seru Hoa Thian-hong
tanpa terasa, “kalau tidak demikian jika mereka harus
bertarung satu lawan satu maka siapapun tak akan mampu
menandingi kelihayannya, dan lagi bila dengan memakai ilmu
perguruan serdiripun tak mampu menangkan orang lain,
kejadian tersebut memang terhitung sangat memalukan”
“Kebaikan yang terutama dari orang ini adalah dia tak ingin
mencelakai jiwa orang lain” Li lojin menerangkan, dan lagi dia
selalu meninggalkan kesempatan yang baik kepada orang lain
untuk merebut kembali barang miliknya, sebab itulah
sekalipun dunia persilatan telah dibikin kacau balau tak karuan
tetapi tidak sampai menimbulkan bencana besar ataupun
banjir darah!”
“Dari pada adu jiwa dan bertempur mati-matian memang
lebih baik berusaha dengan menggunakan ketiga macam cara
tersebut, lalu bagaimanakah pendapat para pemilik kitab?”
“Bagi para pemilik kitab, dapat bertempur melawan Kiu-ci
Sinkun hanya terbatas dalam ilmu silat perguruannya, lagi
pula kalau menang bisa memperoleh kembali barang yang
hilang, boleh dibilang suatu kesempatan yang baik sekali
untuk menangkannya, siapapun yakin kalau ilmu silat
perguruan sendiri telah dikuasai penuh dan siapapnn percaya
kalau mereka punya harapan untuk menang, toh andaikata
kalah tahun berikutnya masih boleh ikut kembali dalam pesta
perebutan tersebut, selain itu mereka juga kuatir kalau Kiu-ci

Sinkun didesak terus terusan maka dia akan minggat dan
susah dicari kembali jejaknya, daripada kitab pusakanya hilang
maka para pemilik kitab akhirnya menyetujui juga usulnya
itu!”
Tiba-tiba Po-yang Lojin menambahkan, “Didalam kejadian
tersebut masih terdapat pula kunci yang amat penting,
sebagian besar orang-orang yang hendak mencari keuntungan
diair keruh adalah kawanan jago dari kalangan hitam, tatkala
para pemilik kitab sudah menunjukkan tanda-tanda setuju
mereka malahan coba menghasut dan memarakkan kembali
suasara yang mulai reda itu, dalam keadaan demikian inilah
tiba-tiba Kiu-ci Sinkun menggunakan serangan yang paling keji
dan paling cepat untuk melumpuhkan belasan orang diantara
mereka yang berilmu silat paling tinggi, menyaksikan
kelihayan ilmu silat yang dimiliki Kiu-ci Sinkun ini, para pemilik
kitab semakin tak berani bertindak gegabah.
“Lihay amat cara sidemam silat ini bertindak” puji Suma
Tiang-cing sambil tertawa.
Lihaynya sih tidak untuk membangun istana Kiu ci kiong,
dia membutuhkan tenaga yang besar dan benda yang banyak,
menurut jalan pemikirannya maka orang-orang yang
ditangkapnya ini akan dijadikan anak buahnya untuk
mengurangi para pekerja pembangangunan.
“Bagaimana kemudian?” tanya Hoa Thian-hong sambil
tertawa.
“Selanjutnya….Hey, lebih baik kita cepat-cepat
membicarakan soal pencarian harta karun saja, cerita jite
terlalu banyak hal-hal yang tak penting, lebih baik samte saja
yang lanjutkan!”

Kakek tua she Gin itu biru buru meneruskan kembali kisah
cerita nya dengan suara nyaring, “Untuk mendirikan istana Kiu
ci kiong mereka membutuhkan waktu selama hampir
mendekati lima tahun lamanya, pada tahun keenam bulan
Tiong ciu untuk pertama kalinya diadakan pesta perebutan
barang pusaka, secara beruntun pesta itu diselenggarakan
sampai tujuh tahun lamanya, tapi tak seorangpun yang
berhasil merebut kembali kitab pusaka perguruan mereka,
sepanjang masa itu ada orang yang disekap selama tiga tahun
lantaran tertangkap sewaktu hendak mencuri barang pusaka,
ada pula yang menjadi pelayan dalam istana Kiu ci kiong,
disamping itu banyak pula kawanan jago yang mencari bendabenda
a-neh untuk ditukarkan dengan kitab salinan ilmu silat
perguruannya masing-masing bahkan ada pula yang secara
sukarela masuk istana Kiu ci kiong untuk menjadi seorang
anak buah, pokoknya barang-barang pusaka yang bertumpuk
dalam istana Kiu ci kiong kian lama kian ber tambah banyak,
pengaruh mereka pun kian bertambah besar, hal ini membuat
kedudukan Kiu-ci Sinkun bertambah kuat dan mantap, kekuasaannya
meliputi seluruh kolong langit, tapi menghasilkan
pula suatu persoalan baginya….”
Setelah berhenti sebentar untuk tukar naps, sambungnya
lebih jauh, “Selama tahun-tahun terakhir, Kiu-ci Sinkun telah
menerima empat orang murid kesemuanya merupakan
pemuda-pemuda berbakat bagus yang cerdik dan tekun
mempelajari ilmu, dibawah petunjuk Kiu-ci Sinkun yang lihay,
ilmu silat keempat orang ini memperoleh kemajuan yang
sangat pesat, akan tetapi kemampuan yang mereka miliki
masih belum mampu untuk mewakili guru mereka
menghadapi para pemilik kitab dalam setiap pesta perebutan
barang pusaka”
Rupanya dia kuatir kalau Hoa Thian-hong tidak paham
dengan keterangannya ini, cepat dia melanjutkan, “Kita ambil
contoh saja pukulan sakti Huan Teng, usianya waktu itu sudah

mencapai tujuh puluh tahunan, kekuatan tubuhnya sudah
banyak berkurang selama pesta perebutan barang pusaka itu
dilangsung kan, ia selalu diwakili oleh putranya Huang Heng,
tahun itu Huan Heng baru berusia empat puluh tahunan, tapi
ilmu pukulan Po-kia Sinkun yang dikuasainya sudah mencapai
puncak kesempurnaan, untuk mengalahkan jago setengah
umur itu Kiu-ci Sinkun sendiripun membutuhkan seratus
gebrakan lebih baru keinginannya bisa tercapai. Murid kedua
dari Kiu-ci Sinkun yang bernama Si Bun kong paling gemar
mempelajari ilmu silat aliran keras, terutama sekali ilmu
pukulan sakti Po-kia Sinkun, setelah jalan nadi pentingnya Jin
dan tok berhasil ditembusi, lalu mendapat pula bantuan dari
obat-obatan, tenaga dalam yang dimilikinya sudah jauh
melebihi Hoan Teng, akan tetapi kematangan jurus Po-kia
Sinkunnya masih kalah jauh dari Huan Tang, oleh sebab itu
dia belum dapat mewakili gurunya dalam pesta perebutan
barang pusaka itu, padahal jago-jago seperti Kong sun Tong
dan Biau-hua Tojin sekalian sudah berlatih tekun lagi selama
dua puluh tahun terakhir ini sehingga kepandaian silat mereka
mencapai puncak kesempurnaan yang tidak terhingga, tentu
saja murid-muridnya Kiu-ci Sinkun lebih tidak mungkin bisa
menyusulnya.
Suma Tiang-cing tertawa.
“Dalam keadaan demikian Kiu-ci Sinkun tak mungkin
mengingkari janji sendiri, itu berarti dia mencari kesulitan bagi
dirinya sendiri,” katanya.
“Manusia berbakat bagus sukar dicari didunia, apa lagi
orang yang cerdik sekaligus berbakat, belum tentu tiap
generasi bisa di temukan, sebab itulah pada pesta perebutan
barang pusaka yang kedelapan kalinya, Kiu-ci Sinkun
memberikan suatu pengumuman yang luar biasa, barang
siapa dapat menemukan bocah laki atau perempuan yang
cerdas dan berbakat bagus, boleh dikirim ke istana Kiu ci

kiong untuk ditukarkan dengan barang mustika bahkan akan
mendapatkan pula balas jasa yang cukup lumayan….”
“Gila…. benar-benar gila” kata Suma Tiang-cing sambil
gelengkan kepalanya dia tertawa.
“Memang terlalu gila-gilaan perbuatannya ini tapi belsan
tahun berikutnya setiap tahun paling sedikit Kiu-ci Sinkun
menerima seorang, dua orang murid baru, hingga akhir
hayatnya ada tiga puluh delapan orang murid laki perempuan
yang dia miliki, diantaranya sebagian besar adalah manusiamanusia
cerdas yang berbakat, tentu saja kepesatan ilmu silat
yang dicapai merekapun amat luar biasa, ketika Kiu-ci Sinkun
menanjak keusia tua, hampir semua muridnya mampu untuk
mewakili gurunya turun gelanggang, meskipun ada juga
beberapa orang jago lihay yang terpaksa harus dihadapi
sendiri oleh Kiu-ci Sinkun!”
“Sepanjang sejarah ini, apakah ada orang yang akhirnya
berhasil merampas kembali kitab pusaka mereka?” tanya Hoa
Thian-hong dengan perasaaa ingin tahu.
“Ada! Selama empat puluh tahun pesta perebutan barang
pusaka dilangsungkan, ada tiga orang yang berbasil
merampas kembali barang miliknya, tapi selama itu pula
hampir sebagian besar barang pusaka yang ada didunia ini
telah dikuras dan diboyong masuk kedalam istana Kiu ci kiong.
Bagaimanakah akhirnya nasib dari istana Kiu ci kiong ini!”
tanya Hoa Thian-hong sambil menjulurkan lidahnya.
“Mengikuti Kiu-ci Sinkun, terpendam untuk selamanya
didalam permukaan tanah, selain semua kekayaannya ikut
terpendam bahkan ada tiga puluh delapan orang muridnya
dan dua ratus tujuh puluh tiga orang yang ikut terkubur
hidup-hidup dalam istana tadi!”

“Aaah! Sebenarnya apa yang sudah terjadi?” pemuda itu
berseru kaget.
Singkatnya saja, diantara tiga puluh delapan orang
muridnya kurang lebih ada dua belas orang adalah matamata,
kedua belas orang ini sebagian besar adalah anak murid
jago silat kenamaan yang sengaja dikirim kedalam istana,
adapula yang dipelihara dulu oleh orang luar, setelah
mendapat pendidikan yang matang kemudian dikirim kedalam
istana untuk menjadi mata-mata, tentu saja orang-orang yang
berdiri dibelakang kedua belas orang murid ini bermaksud
untuk mengincar barang mustika yang tak ternilai harganya
dalam istana Kiu ci kiong.
Perlu ditambahkan, selama masa menerima murid, Kiu-ci
Sinkun tidak memikirkan kesoal lain, ia melakukan seleksinya
dengan menitik beratkan pada bakat dan kecerdasan
walaupun begitu diapan dapat menduga maksud-maksud tidak
baik yang terkandung dihati orang lain, cuma saja Kiu-ci
Sinkun tak sampai melakukan tindakan yang paling keji untuk
memberantas orang-orang itu, sebab justru diantara beberapa
orang itu terdapatlah muridnya yang paling berbakat dan
muridnya yang paling berhasil menguasai ilmu silat yang
diwariskan kepada mereka, oleh karena itu disamping
membatasi ruang gerak mereka, diapun berharap dengan
perasaan dan hubungan sebagai guru dan murid, sikap
mereka iiu perlahan-lahan bisa mengalami perubahan, sayang
muridnya terlali banyak, otomatis suasananya ikut kalut dan
campur aduk tak karuan, apa yang diharapkan selalu tidak
berhasil diwujudkan.
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lagi.
Masalah kedua yang menyulitkan dirinya adalah tentang
ahli warisnya, sepanjang masa hidupnya orang ini telah

memusatkan semua perhatian dan ingatannya untuk berlatih
ilmu, bertanding dan mewariskan ilmu kepada orang lain,
namun dia gagal untuk menciptakan murid yang benar-benar
ampuh, di antara ketiga puluh delapan orang muridnya tak
seorang yang berhasil menuruni kemampuannya untuk
menguasai segenap ilmu silat yang ada didunia ini,
kepandaian yang berhasil dicapai ketiga puluh delapan orang
muridnya selain berbeda beda, karena itu satu diantara ketiga
puluh orang muridnya itu tak mampu mengalahkan ketiga
puluh tujuh orang rekan lainnya, lagipula diantara mereka,
empat orang muridnya yang diterima paling awal memiliki ilmu
silat paling tinggi, sedangkan dua tiga orang muridnya yang
diterima paling akhir justru memiliki bakat dan kecerdasan
paling tinggi, oleh karena itulah suasananya jadi serba kalut
dan tak bisa teratasi.
Oleh sebab harta kekayaan yang berada dalam istana Kiu ci
kiong kelewat banyak, hal ini membuat siapapun yang
bercokol dalam istana tersebut merasa tak sudi
meninggalkannya dengan begitu saja, siapapun berharap
untuk menjadi pemilik tunggal harta kekayaan sebesar itu,
maka mulailah ketiga puluh delapan orang murid saling
gontok-gontokan dan saling memperebutkan kekuasaan
tertinggi, pikir mereka asal gurunya sudah mati, maka
perebutan kekuasaan secara terang-terangan akan segera
dimulai.
“Orang-orang itu melakukan perebutan kekuasaan dengan
berkomplot ataukah secara sendiri-sendiri?” tanya Sama Tiang
cing
“Tentu saja berkomplot, tapi oleh karena ketiga puluh
delapan orang itu rata-rata adalah manusia cerdas yang
berotak brilian, maka makin brilian mereka makin besar pula
perasaan mementingkan diri sendiri dihati masing-masing
pihak, semakin sulit pula bagi mereka untuk bekerja sama

dengan orang lain, begitulah mereka terbagi menjadi empat
lima kelompok, tapi merekapun bertujuan sama yakni saling
mempergunakan kemampuan serta kehebatan rekannya bagi
tercapainya ambisi mereka pribadi, siapapun tak sudi tanduk
kepada yang lain, siapapun tak sudi mendengarkan perintah
orang lain, sua sana jadi kacau balau tak karuan, ditambah
pula hasutan serta rongrongan dari luar istana, membuat
keadaan makin kalut, bayangkan saja siapa yang sanggup
mengatasi keadaan seperti itu?”
“Sebenarnya sampai sekarang dalam istana tersebut masih
tersimpan benda-benda mustika apa lagi?” tanya Cu Im taysu
dengan dahi berkerut.
“Aah….! Apa yang kau inginkan disanalah tersedia, bagi
orang yang gemar ilmu silat dalam istana itu tersedia beriburibu
jilid kitab pusaka ilmu silat, bagi orang yang suka harta
dalam istana terdapat intan permata dan emas perak yang
melimpah, mau umur panjang dan hidup segar bugar terus
dalam istana terdapat obat mujarab yang bisa menambah
umur, ingin awet muda di situpun tersedia obat untuk selalu
awet muda, barang antik, lukisan berharga, kitab Budha, kitab
agama To tersimpan pula dalam istana tadi, bahkan aku
dengar setumpuk kitab Buddha yang diambil oleh pendeta
Tong Sam cong hoatsu dengan susah payah di langit
baratpun, sudah diboyong masuk kedalam istana oleh seorang
perompak kenamaan dari samudra timur, malahan aku dengar
jika kau ingin menjadi dewa atau malaikatpun dalam istana itu
dapat kau temukan kitabnya!”
“Omiotohud! Masa begitu? Baru pertama kali ini kudengar
cerita sehebat ini!” seru Cu Im taysu dengan mata terbelalak.
“Locianpwe, kalau toh didalam istana terdapat obat
mujarab yang bisa panjang umur, kenapa Kiu-ci Sinkun bisa
bisa mati?” tanya Hoa Thian-hong keheranan.

“Benar! Kematian Kin ci sinkun memang merupakan suatu
teka teki yang tidak terjawab sampai sekarang,” sahut Poyang
Lojin, “berhubung dengan kematian dari Kiu-ci Sinkun,
tiba-tiba saja bukit Kiu ci san dilanda oleh gempa yang sangat
hebat, bukit ambruk, batu berguguran, istana Kiu ci kiong
tenggelam kedasar permukaan tanah, tak seorang pun
anggota istana itu berhasil melarikan diri. Kematian Kiu-ci
Sinkun juga menjadi teka teki yang tak terjawab hingga kini,
tapi yang pasti dalam istana memang terdapat banyak sekali
obat-obat mujarab yang bisa menambah umur manusia jadi
lebih panjang.”
Li lojin menghela napas panjang, ia berkata pula, “Dalam
penggalian harta karun yang diselenggarakan untuk kedua
kalinya, beruntung kami empat bersaudara berhasil
menemukan sebiji buah cu ko yang berwarna merah, karena
kami semua mendapat seperem pat bagian dari buah mustika
itu, maka umur kami jadi panjang dan bisa hidup sampai hari
ini….!”
“Penggalian harta karun yang kedua kalinya?” seru Hoa
Thian-hong tercengeng, “Benar, kami ikut dalam gerakan
penggalian harta karun yang kedua kalinya, dan kini gerakan
penggalian harta karun yang ketiga kalinya segera akan
dimulai!”
Hoa Thian-hong, Suma Tiang-cing serta Cu Im taysu hanya
saling berpandangan dengan mulut membungkam mereka tak
mampu memberikan komentar apapun.
Sementara itu poyang lojin telah melanjutkan kembali katakatanya,
Setelah istana Kiu ci kiong tiba-tiba tenggelam
keperut bumi, sementara orang yang ada diluar lantas
memberikan dugaan serta perkiraan-perkiraan mereka, ada
yang mengatakan dalam istana itu pasti terjadi pergolakan

hebat yang berlangsung antara murid-murid Kiu-ci Sinkun
pribadi, sehingga mengakibatkan terjadinya penghan-curan
secara besar-besaran oleh Kiu-ci Sinkun, tapi keadaan didalam
istana tersebut memang amat kalut, siapapun tak dapat
menemukan alasan yang sebenarnya tentu saja mereka hanya
menguatirkan soal harta karun yang ada dalam istana itu saja
sedangkan terhadap soal yang lain tak ada yang menaruh
perhatian.
Suma Tiang-cing beberapa kali hendak buka suara tapi
selalu diurungkan, akhirnya ia keraskan juga hatinya seraya
bertanya, “Setelah istana itu tenggelam, sudah pasti akan
muncul para pencari harta, entah bagaimanakah keadaannya
pada penggalian yang diselenggaraksn untuk pertama
kalinya?”
“Sejak Istana Kiu ci kiong tenggelam keperut bumi, tiga
puluh tahun berikutnya bukit Kiu ci san selalu dipenuhi oleh
para pencari harta, diantaranya tercatat dua tahun setelah
istana itu tenggelam keperut bumi merupakan tahun pencari
harta yang paling besar, sejak bulan ketiga sampai bulan
kesembilan yakni selama setengah tahun, kurang lebih seribu
orang lebih para pencari harta yang berkumpul dibukit
tersebut.”
“Masa sebanyak itu?” seru Hoa Thian-hong dengan dahi
berkerut, “dengan kekuatan orang yang begitu banyaknya,
sudah tentu mereka mendapatkan hasil yang lumayan bukan?”
“Ketika Kiu-ci Sinkun membangun istana tersebut,
tujuannya adalah memusuhi umat persilatan, waktu itu diapun
sudah memperhi-tungkan, andaikata suatu ketika ia
mengalami kegagalan total, prinsipnya dari pada barangbarang
yang berhasil dikumpulkannya selama separuh masa
kehidupannya itu terjatuh ketangan orang lain, lebih baik ia
berkorban bersama semua hartanya, karena itu bukan saja

alat rahasia yang amat dahsyst telah dipasang diseluruh istana
tersebut, diapun telah menyiapkan pula alat jebakan yang bisa
menenggelamkan istana tersebut keperut bumi, andaikata alat
rahasia itu di tekan maka bumi akan goncang dan bukit akan
ambruk, bukan saja istana itu akan tenggelam keperut bumi,
bahkan diatasnya akan tertutup pula oleh suatu sungai bawah
tanah dengan arus air yang sangat deras, karena harus
menggali melewati arus sungai dibawah tanah inilah maka
selama setengah tahun menggali, tak seorangpun yang
berhasil menemukan harta.”
“Tengah malam bulan kesembilan, tiba-tiba ada orang yang
menyentuh kerak bumi tanpa sengaja, begitu alat penggalinya
menyentuh bagian dari tanah tersebut, dalam waktu singkat
rentetan bukit yang berada disebelah kiri longsor kebawah,
batu cadas sebesar rumah berguguran menutupi seluruh
permukaan tanah, semalaman itu juga ada delapan ratus
orang penggali harta yang tewas tertimbun tanah longsor.”
“Akibat dari tanah longsor itu, keadaan medan ditempat itu
kembali mengalami perubuhan, tiga ratus orang lebih yang
berhasil lolos dari bencana itu kebanyakan menjadi cacad, ada
pula yang putus asa dan rata-rata mereka kabur semua dari
situ kecuali sebagian kecil yang masih ngotot tetap tinggal
disitu meneruskan penggalian nya, dengan demikian
berakhirlah gerakan penggalian harta yang pertama kali!”
“Bagaimana pula dengan gerakan yang diselenggarakan
untuk kedua kalinya?” tanya Hoa Thian-hong.
oooo0oooo
84
“PENGGALIAN harta karun kedua kalinya diselenggarakan
tujuh belas tahun sesudah terjadinya peristiwa tragis itu, cuma

saja suasananya ketika itu jauh berbeda,” ujar Poyang lojin
degnan sinar mata berki lat tajam.
Paras muka Hoa Thian-hong, Suma Tiang-cing serta Cu Im
taysu menunjukkan perubahan, sepasang mata mereka
terbelalak lebar, dengan tenang mereka nantikan kata-kata
berikutnya.
“Musim semi tahun itu tiba-tiba ada orang yang berhasil
menggali sebilah pedang mustika diatas bukit itu!” kata Poyang
Lojin.
Suma Thiang cing adalah seorang pemuda yang amat
gemar akan pedang mustika, mendengar ucapan itu tak tahan
dia lantas bertanya, “Pedang mustika apakah itu?”
“Pedang Liong swan kiam!”
“Aaah….! Suma Thiang cing berseru kaget, pedang itu
adalah salah satu diantara tiga bilah pedang mustika dari Oa ci
cu,” ia berhenti sebentar kemudian lanjutkan, “Locianpwe,
silahkan melanjutkan kisahmu boan seng tak akan menukas
lagi!”
“Murid paling kecil dari Kiu-ci Sinkun yang bernama Cao
Thian hua pernah menggunakan pedang kenamaan itu untuk
bertanding ilmu melawan Kongsun Tong, setelah pedang
tersebut muncul dari perut bumi maka badaipun kembali
melanda bukit Kiu ci san, berbondong-bondong kawa-nan jago
persilatan berdatangan ke bukit untuk melakukan penca-rian
harta karun….”
Setelah termenung sebentar, kembali ia lanjutkan katakatanya,
“Bulan keenam tahun itu, aliran sungai yang berada
dibawah tanah tiba-tiba mengering, tanah diatas permukaan
istana Kiu ci kiong tersumbul keluar, kesempatan ini semakin

menggairahkan para penggali untukbekerja dengan lebih
bersemangat, sampai akhir bulan sepuluh, hampir dua ribu
orang pencari harta yang telah berkumpul dibukit tersebut.”
“Waduh…. dua ribu orang! Lalu bagaimana caranya untuk
melakukan penggalian?” seru pemuda Hoa.
“Sulit rasanya untuk menerangkan kesemuanya itu dengan
kata-kata, pokoknya pada waktu itu para pencari harta terdiri
dari aneka ragam manusia, ada yang jago-jago silat, ada yang
bukan orang persilatan melainkan hanya para pekerja upahan
yang memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari uang, ada
pula yang berkelompok merupakan satu komplotan tapi ada
juga yang berdiri sendiri, dimasa masa penggalian harta
karun, suasana diatas bukit Kui ci san ramai sekali ibaratnya
sebuah kota kecil, pedagang, penjaja makanan, pekerja,
berkumpul menjadi satu di tempat itu.”
“Aaai!” Li lojin menyambung setelah menghela napas,
“selama tiga puluh tahun, sudah tak terhitung jumlah orang
yang terlantar akibat pencarian harta karun ini, banyak yang
menggadaikan rumah untuk membayai penggalian, ada yang
meninggalkan anak istri hanya untuk mencari harta tersebut,
bahkan tidak terbatas pada orang persilatan saja, banyak
diantaranya yang merupakan kaum pedagang dan kaum
pekerja, mereka memandang pencarian harta sebagai sumber
kekayaan yang bisa membahagiakan kehidupan mereka,
bukan saja usahanya ditinggalkan, anak istri juga
ditelantarkan, tiap hari tiap detik mereka hanya menggali dan
menggali terus….”
“Dosa…. dosa….! Kiu-ci Sinkun memang pembuat bencana
bagi umat persilatan” seru Co Im taysu sambil menghela
napas dan gelengkan kepalanya berulang kali.

Hoa Thian-hong sendiri tertawa seraya bertanya,
“Locianpwe, bagaimanakah hasil dari penggalian harta yang di
selenggarakan untuk kedua kalinya itu?”
“Singkatnya hanya dua orang yang berhasil mendapatkan
benda berharga, satu kelompok adalah kami empat
bersaudara berhasil mendapatkan sebiji buah merah yang
telah dimakan habis, sedangkan yang lain adalah ciang bunjin
angkatan ketiga dari partai Seng sut pay yang berhasil
mendapatkan kitab Thian hua ca ki milik Cao Thian hua!”
“Bagaimana sikap orang-orang lain yang tidak berhasil
mendapatkan apa-apa?”
“Waktu itu aneka ragam manusia bercampur baur diatas
bukit tersebut, keadaannya sangat kalut dan tidak menentu,
ketua angkatan ketiga dari Seng sut pay memang cukup
cerdik dan cekatan, setelah mendapatkan kitab pusaka Thian
Hua ca ki, Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan
perubahan apa-apa, dia lantas berpura-pura melanjukan sikap
putus asa dan menarik pasukannya mundur dari tempat itu.
Begitulah, dengan membawa kedelapan sembilan orang
muridnya, mereka lantas kabur dari bukit Kiu ci san.”
“Kenapa musti berbuat begitu?” tanya Hoa Thian-hong
tercengang.
“Apalagi sebabnya kalau bukan takut dirampas orang lain,
banyak orang yang menderita akibat mencari harta, banyak
yang kehilangan rumah kehabisan harta kehilangan ayah atau
anak lantaran harta tersebut, apalagi mereka yang kehilangan
kitab pusaka perguruannya, sekalipun sudah berusaha banyak
tahun toh tak ada hasilnya, tentu taja mereka tak akan
biarkan orang-orang Seng Sut pay yang bukan termasuk
bilangan daratan Tionggoan mendapat keuntungan itu, cuma
aku dengar katanya pihak Teng sut pay kehilangan pula

sejenis barang pusaka yang tersimpan dalam istana Kiu ci
kiong, apakah benar atau tidak berita ini?”
“Setelah cianpwe berempat mendapatkan buah merah
apakah kalian lanjutkan penggalian?” tanya pemuda Hua.
“Setelah kami makan buah merah itu, menurut suara hati
memang ingin melanjutkan penggalian, tapi setelah dipikir
kembali, kami toh tidak kehilangan apa-apa, sebiji buah merah
indah merupakan penemuan yang luar biasa sekali apalagi
mengingat begitu banyak pencari harta hanya kami saja yang
berhasil mendapatkan mustika, itu berarti pula Thian sudah
memberikan kemurahannya kepada kami, jika kami lanjutkan
penggalian bukankah sama artinya kami adalah orang yang
kemaruk harta? Oleh karena itu setelah berunding akhirnya
kami berempat mengundurkan diri dari tempat itu….”
“Aaai! Orang bilang mereka yang tahu diri selalu dilindungi
Thian, demikian pula dengan kami empat bersaudara, belum
lama kami mengundurkan diri dari tempat penggalian, tibatiba
diatas bukit itu kembali terjadi bencana tanah longsor
disertai ledakan-ledakan aneh, beratus-ratus orang penggali
harta tak sempat kabur dan tersapu o-leh air bah, menyusul
kemudian terjadi pula gempa bumi dan tanah merekah, dalam
waktu singkat arena penggalian kembali mengalami
perubuhan besar, mereka yang mati semakin banyak lagi,
cuma mayat mayat itu lenyap tak berbekas entah tersapu air
bah entah tertanam keperut bumi.
Kakek Lan yang selama ini hanya membungkam terus, tibatiba
menghela napas berat, lalu berkata, “Aaai! Kalau
berbicara tentang keadaan yang sangat mengerikan pada hari
itu, seolah-olah Lo Thian Ya menjadi gusar karena
keserakahan dan kerakusan umatnya sehingga ia menurunkan
bencana besar itu untuk menghukum mereka!”

Hoa Thian-hong dan Suma Tiang-cing saling berpandangan
sekejap, kedua orang ini sama sekali tidak mempunyai niat
serakah atau kemaruk harta, tapi mereka merasa bila sesuatu
benda mustika kalau dibiarkan terpendam terus didasar tanah
maka lama-kelamaan benda itu akan musnah dengan
sendirinya, bila sampai demikian keada- annya, maka sama
artinya mereka berbuat keji terhadap benda alam, mereka
hilangkan arti kegunaan yang sebenarnya dari benda-benda
alam tersebut, oleh sebab itu mereka berdua mempunyai
pendapat yang sama, yakni cepat-cepat menggali keluar
benda mustika itu agar bisa dimanfaatkan oleh umat manusia.
Bagaimanapun juga Thian menciptakan segala sesuatu
yang ada didunia ini untuk dipakai serta dimanfaatkan oleh
umatnya, benda yang tercipta ada, bukan dimaksudkan untuk
dimusnahkan dengan begitu saja oleh alam itu sendiri.
Akan tetapi, setelah mendengar perkataan dari Lan lojin,
tanpa terasa dua orang jago ini jadi terbungkam.
Terdengar Po-yang Lojin berkata, “Selama ini kami empat
bersaudara hidup mengasingkan diri dibukit Huang-san,
kehidupan kami dilewatkan dengan penuh riang gembira dan
bebas merdeka, tapi secara tiba-tiba pada akhir tahun ini kami
semua telah menyadari akan sesuatu hal, kami merasa apa
bedanya antara usia panjang dan usia pendek? Kami sudah
diberi berkah oleh Thian untuk hidup berumur panjang, maka
sepantasnya kalau kitapun berkewajiban untuk memberikan
semua benda ciptaan alam kepada umat manusia didunia ini,
kami harus membantu umat manusia untuk menemukan
kembali harta karun yang terpendam didasar perut bumi
sehingga bisa dinikmati pula oleh manusia-manusia lain,
disamping itu dapat pula kami cegah agar tiada manusia lagi
yang mengorbankan jiwanya dengan percuma lanlaran urusan
harta karun.

Liu lojin menyambung pula, “Yaa….! Tampaknya takdir
memang menghendaki demikian, harta karun dibukit Kiu ci
san memang sudah waktunya untuk muncul didunia ini,
selesai berunding, kami empat bersaudara segera tinggalkan
bukit Huang-san dan langsung menuju kota Cho Ciu, maksud
kami akan mencari ananda Cu cing serta mencari tahu lebih
dahulu keadaan dalam dunia persilatan, apa mau dikata ketika
kami tiba dirumahnya telah bertemu pula dengan kejadian
yang dilakukan Tang Kwik-siu, kami lantas semakin menyadari
bahwa takdir telah berkata demikian, sekalipun kami tidak
munculkan diri toh gerakan menggali harta karun yang ketiga
kalinya segera akan dilangsungkan.
“Agar semuanya berjalan lancar, persoalan ini harus diatasi
dengan serius dan hati-hati, ujar Gan lojin pula, kalau tidak,
kuatirnya sebelum harta karun itu berhasil diambil, peristiwa
tragis kembali sudah berlangsung”
“Locianpwee berempat!” kata Suma Tiang-cing dengan
serius, “aku yang muda percaya bahwa kalian berempat telah
mempunyai rencana yang matang, bolehkah kami ikut tahu
bagaimana caranya kita harus turun tangan?”
“Bagaimana pula kita harus melaksanakan pergerakan ini
sehingga bilamana harta karun itu tergali keluar, tak sampai
terjadi perebutan secara kasar yang mengakibatkan terjadinya
badai pembunuhan yang mengerikan dalam dunia persilatan?”
Sambil menunjukkan ibu jarinya, Po-yang Lojin berkata
dengan suara sangat dalam, “Yang terutama adalah mencari
seorang manusia yang bijaksana, berjiwa besar daa
berpengaruh besar untuk memimpin pergerakan ini, tapi orang
tersebut harus mempunyai tiga syarat yang penting satupun
syarat tersebut tak boleh kurangi!”

“Apa saja ketiga buah syaratnya itu?” tanya Cu Im taysu
dengan dahi berkerut.
“Pertama orang ini harus berilmu silat sangat tinggi,
kepandaiannya itu dapat menekan dan mengendalikan
manusia-manusia berambisi besar seperti halnya dengan Tang
Kwik-siu”
“Locianpwe, tahukah engkau bahwa dalam dunia persilatan
dewasa ini masih terdapat manusia yang lebih berambisi dan
lebih tamak daripada Tang Kwik-siu?” tiba-tiba Hoa Thianhong
menyela.
“Siapakah orang itu?” tanya Po-yang Lojin dengan kaget.
“Orang itu adalah Kiu-im Kaucu” jawab Suma Tong cing
segera, “orang ini keji, berambisi besar dan berilmu tinggi,
sedikitpun tidak kalah bila dibandingkan dengan Tang Kwiksiu!”
Po-yang Lojin mengangguk beberapa kali, ujarnya lagi,
“Kedua, orang yang memimpin gerakan penggalian ini mesti
seorang yang bijaksana dan lebih mengutamakan kepentingan
umum daripada kepentingan pribadi, dia tak boleh berwatak
mata duwitan, tak boleh punya watak serakah dan kemaruk
harta, andaikata barang mustika yang dicari berhasil
ditemukan maka benda-benda itu musti diserahkan kepada
siapa yang berhak mendapatkan benda itu, kecuali bagian
yang berhak ia terima, ia tak boleh menggambil bagian orang
lain.”
“Waah…. syarat yang kedua ini memang sulit ditemukan
pada tubuh orang persilatan,” seru Suma Tiang-cing, “tapi tak
usah kuatir sekalipun Suma Tiang-cing tak berani mengatakan
aku memiliki watak seperti itu, namun aku dapat menemukan
manusia semacam itu!”

Jilid 29
“SETELAH harta karun itu berhasil ditemukan, peristiwa ini
pasti akan menggetarkan seluruh kolong langit, pada waktu
itu para jago dari segala pelosok dunia pasti akan berdatangan
untuk mencari bagian, soal terpenting bagi sang pemimpin ini
adalah mencari jalan pemecahan bagaimana caranya
mengendalikan massa, bagaimana memberi perintah kepada
mereka, siapa yang berjasa akan diberi pahala apa, siapa yang
salah harus diberi ganjaran apa, semua kebijaksanaan ini
tergantung padanya dan mengandalkan ilmu silat tok tak
mungkin bisa mengatasi kesemuanya itu!”
“Waah…. kalau mesti mencari manusia seperti ini, sukarlah
rasanya!” kata Cu Im taysu sambil menghela nafas panjang.
“Apakah locianpwe berempat sudah mempunyai pandangan
ataupun gambaran tentang siapakah yang cocok uutuk
menempati jabatan ini?” tanya Suma Tiang-cing kemudian.
Mendapat pertanyaan tersebut empat datuk dari bukit
Hoang san serentak gelangkan kepalanya, Sekalipun belum
ada sekarang toh masih ada kesempatan untuk memilih,
bagaimana pun juga kita kan tak bisa membiarkan mereka cari
dan berusaha sendiri dengan mengadu nasib!”
Berbicara sampai disit, tiba-tiba teringat oleh Suma Tiangcing
bahwa keempat datuk dari gunung Hoang san pun
berbasil mendapatkan sebiji buah merah lantaran nasib
mereka yang baik ia lantas riku sendiri karena tanpa sadar ia
telah mengorek luka orang, hal ini berarti kurang sopan
kepada mereka berempat, tanpa terasa merahlah selambar
wajahnya.

Terdengar Po-yang Lojin tertawa terbahak, kemudian
berkata, “Suma tayhiap adalah pendekar sejati yang berjiwa
terbuka apa yang dikatakan memang tepat sekali, lagi pula
masalah yang paling kita kuatirkan adalah pertumpahan darah
yang bakal terjadi setelah harta karun itu ditemukan, menurut
keadaan yang sepantasnya memang harus kita pilih tapi
sayangnya sudah lama kami tak pernah bergaul dengan orang
lain susah rasanya bagi kami untuk mencari manusia seperti
yang dimaksudkan.
Suma Tiang-cing agak tertegun, tiba-tiba dia berpaling
sambil bertanya .
“Thian-hong beranikah engkau memegang jabatan ini?”
Betapa terperanjatnya Hoa Thian-hong setelah mendengar
pertanyaan itu, cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya.
“Keponakan masih terlalu muda, tidak becus aku untuk
memegang jabatan itu, lagi pula dengan watakku dan
kemampuanku, siapa yang sudi mendengarkan perkataanku?”
Ca Im taysu termenung sebentar, kemudian dia ikut
berkata, “Aaii….! Sebenarnya hanya seorang yang pantas
memegang tampuk pimpinan ini dan orang itu adalah Hoa
Hujin, cuma sayang….”
“Sampai dimanakah kepulihan ilmu silat ibumu?” tanya
Suma Tiang-cing sambil berpaling ke arah pemuda itu.
“Ilmu meringankan tubuhnya sudah pulih kembali dua tiga
bagian!”
“Waah…. kalau cuma dua tiga bagian tak mungkin bisa
menduduki pucuk pimpinan, sebab bagi orang yang belajar

silat hanya akan tunduk kepada orang yang ilmu silat nya
lebih lihay, jika mereka harus tunduk kepada seorang manusia
yang lemah dan tak berkekuatan apa-apa, siapa yang
kesudian tunduk perintah?”
“Bagaimana kalau biar ibuku yang memegang pucuk
pimpinan, sedangkan kita semua akan bantunya dari
samping?”
“Tidak mantap!” jawab Suma Tiang-cing dengan dingin,
“kalau caramu itu bisa dilakukan, apa salahnya kalau biar aku
saja yang memegang pucuk pimpinan kemudian kalian
membantu aku dari samping?”
“Dosa! Dosa….!” ujar Cu Im taysu sambil tertawa,
“perkataan yang sama sekali tak ada manfaatnya, lebih baik
tak usah dibicarakan saja daripada buang waktu dan tenaga
dengan percuma!”
“Menurut keterangan Cu ing, hingga dewasa ini
perkumpulan Sia ki pang masih merupakan satu kekuatan
yang amat besar, apabila Kiu-im Kaucu dan Tang Kwik-siu
memang memusuhi kaum pendekar dari golongan lain, maka
pihak Sin-kie-pang merupakan daya kekuatan yang bi-sa
diandalkan untuk mengimbangi kekuatan lawan, apakah pihak
Sin-kie-pang bersedia tunduk dibawah perintah jikalau Hoa
Hujin yang memegang pucuk pimpinan ini!”
“Heeehh…. heeeh…. heeeh, perkumpulan Sin-kie-pang
berambisi besar dan angkuhnya luar biasa, mana mau mereka
tunduk kepada perintah kita?” seru Suma Tiang-cing sambil
tertawa dingin tiada hentinya.
Tiba-tiba Lau Cu cing menyela, “Aku lihat Pek hujin amat
menaruh perhatian dan rasa sayang kepada Hoa kongcu, aku
rasa setiap perkataan dari Hoa kongcu selalu dituruti olehnya!”

Cu Im taysu tertawa, ia menjawab, “Pek hujin menyayangi
Hoa Thian-hong oleh karena ia mempunyai niat untuk menarik
Thian-hong, sebagai menantunya, dia memang seorang
nyonya yang bijaksana dan baik hati.”
“Hehmm…. heehhm…. aku lihat jika Sin-kie-pang benarbenar
disetir oleh Kho Hong-bwee maka bicara soal pribadi
maupun soal tugas sudah pasti Thian-hong berada dipihak
yang rugi!”
Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, dia ingin
membantah tetapi tak tahu musti berkata dari mana.
Liu lojin berkata pula, “Menggali harta karun bukan suatu
pekerjaan yang mudah dan gampang, untuk mengerjakannya
kita membutuhkan banyak tenaga dan banyak manusia, aku
lihat jumlah anggota perkumpulan Sin-kie-pang banyak sekali
mereka adalah suatu kekuatan yang tak boleh dianggap
enteng!”
Tiba-tiba sinar setajam sembilu memancar keluar dari mata
Suma Tiang-cing dengan blak-blakkan dia menegur,
“Locianpwe berempat, aku lihat kalian toh sangat memahami
keadaan situasi dalam dunia persilatan kalau ingin
mengatakan sesuatu kenapa tidak diutarakan saja secara
terang-terangan?”
Empat datuk dari gunung Huang-san saling berpandangan
sekejap, akhirnya Po-yang Lojin berkata dengan serius, “Terus
terang saja kami katakan, bahwa kami berempat sangat
setuju kalau Hoa kongcu yang menduduki jabatan sebagai
pucuk pimpinan didalam pergerakan ini. Perlu di ketahui
bahwa masalah ini menyangkut masalah kekerasan yaitu
meliputi kedudukannya dalam dunia persilatan serta kelihayan
ilmu silatnya, disamping itu juga menyangkut dalam soal

moral yakni meliputi soal kebijaksanaan, adil dan lebih
mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan
pribadi. Sudah lama kami berempat berusaha menemukan
manusia semacam ini, dan akhirnya kami merasa bahwa
diantara sekian banyak orang gagah yang ada didalam dunia
persilatan, hanya dia seoranglah yang mampu menandingi
Kiu-im Kaucu maupun Tang Kwik-siu, tapi berhubung tugas ini
berat dan menyangkut masalah yang lebih besar lagi sedikit
salah bertindak bukan saja nama baiknya akan hancur, jiwa
akan melayang, menyangkut pula keselamatan orang lain,
maka….”
Tidak sampai kakek tua itu menyelesaikan kata-katanya,
Suma Tiang-cing telah berpaling seraya menegur, “Thianhong,
bersediakah engkau untuk menerima kedudukan ini?”
Dengan gugup bercampur gelisah, Hoa Thian-hong segera
menjawab, “Apabila tugas ini dapat dilaksanakan secara
sempurna dan baik, dunia persilatan tentu akan jadi aman
tentram dan damai, cara ini memang jauh lebih baik daripada
bertempur dengan pedang atau golok melawan kaum
penjahat.”
“Benar!” sambung Cu Im taysu, bilamana engkau bisa
melaksanakan tugas mulia ini dengan sebaik-baiknya, tak
malu engkau menjadi seorang manusia didunia ini.
Aku yang muda sama sekali tak berniat tamak atau
kemaruk harta, apabila sanggup kulakukan dengan
kekuatanku, dengan senang hati akan kuterima tugas berat
tersebut, tapi aku merasa bahwa kekuatanku masih terlalu
lemah.
“Telur busuk!” maki Suma Tiang-cing dengan gusar,
“sebagai seorang laki-laki sejati berani berbuat tentu berani

tanggung jawab, bila engkau telah menyanggupinya, apalagi
yang muski kau ragukan?”
“Aaaii!” Cu Im taysu menghela nafas parjang, “untuk
melaksanakan tugas yang maha berat ini, kita memang harus
berbuat dengan sungguh-sungguh dan sepenuh tenaga, kalau
hanya berdasarkan emosi belaka, mendingan kalau cuma
dirinya sendiri yang rugi, kalau sampai mencelakai umat
manusia kan berabe?”
Dewasa ini kita tak dapat menemukan orang lain yang
cocok untuk memikul tanggung jawab ini, itu berarti tugas ini
tak bisa terhindar dari halnya bagaimana musti hati-hati,
bagaimana musti bertindak, semuanya itu toh urusan
belakangan”
Setelah berhenti sebentar dengan wajah lebih kendor dia
melanjutkan kata-katanya, “Mulai saat ini juga telah menerima
tugas itu dan kami semua akan menurut perintahmu,
sekalipun aku adalah angkatan yang lebih tua dari padamu
tapi sejak kini aku pun tak akan bersikap keras lagi kepadamu
dari pada menghilangkan martabatmu dimuka umum”
“Terima kasih atas kasih sayang paman!” cepat Hoa Thianhong
bangkit dan memberi hormat.
Po-yang Lojin segera tertawa terbahak-bahak, “Haaahh….
haaah…. haaah….Hoa kongcu sekarang marilah rundingkan
soal rencana besar ini lebih jauh!”
Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar,
kemudian berkata, “Boanpwe rasa, kata-kata yang telah kita
bicarakan di muka tadi tiada halangannya didengar orang luar,
tapi kata-kata berikutnya lebih baik untuk sementara waktu
kita rahasiakan dulu!”

“Apa maksudmu?” seru Suma Tiang-cing dengan wajah
berubah hebat.
Sebelum anak muda itu memberikan jawabannya, dari luar
ruangan tiba-tiba terdengar seseorang tertawa tergelak
menyusul suara dari Kiu-im Kaucu berkumandang diudara,
“Hoa Thian-hong kuucapkan selamat kepadamu karena
memangku jabatan tinggi ini, nyonyamu bersedia
mendengarkan perin tahmu…. haaah…. haaah….”
Betapa gusarnya Suma Tiang-cing sukar dilukiskan dengan
kata-kata, cepat dia melejit dan melayang keluar ruangan itu,
kemudian dari atas atap dia melongok keluar.
Beberapa ratus kaki dari bangunan itu terlihatlah Kiu-im
Kaucu dengan tongkat kepala setannya sedang berlalu sambil
tertawa terbahak-bahak, sungguh cepat gerakan tubuhnya,
dalam waktu singkat ia sudah berada jauh sekali dari situ.
Suma Tiang-cing mendengus dingin, setelah mengitari kuil
itu satu kali, dia kembali lagi kedalam ruangan, tegurnya ke
arah Hoa Thian-hong, “Sedari kapan setan tua itu tiba disini?”
Keponakan menaruh curiga bahwa dia akan menguntit kita
semua, maka secara diam-diam kuperhatikan terus sekitar
tempat ini, benar juga, baru saja kita sampai disini, diapun
tiba pula keatas ruangan ini, keponakan ingin membuat dia
jadi kheki, maka sengaja kubiarkan dia berdiri agak lama
diluar sana setelah kita akan membicarakan so al yang
penting, barulah kita usir dia pergi
Kenapa muski begini! tanya Suma Tiang-cing dengan dahi
berkerut.
Orang itu paling suka mencari urusan, sedikit saja ada
angin bertiup atau rumput bergerak, dia merasa harus ikut

ambil bagian, kini soal mencari harta karun sudah ketahuan
olehnya, makaa diapun pasti akan menyelidiki persoalan ini
sampai jelas, bila kita tidak membiarkan dia tahu setelah kita
semua pergi, dia pasti akan kembali kemari dan memaksa It
Pian suhu untuk menceritakan baginya, malahan mungkin juga
akan mencari gara-gara dengan Lan wangwe, padahal Ku Inging
juga masih berada ditangannya, karena itu keponakan
sengaja hendak membuyarkan perhatiannya”
Mendengar keterangan itu, Po-yang Lojin segera tertawa
terbahak bahak, “Haahh…. haaah…. haaah…. Hoa kongcu
engkau benar-benar amat teliti!”
“Locianpwe engkau tak tahu duduknya persoalan ini,
boanpwe jadi ketakutan dibuatnya oleh tingkah mereka!”
Po-yang Lojin mengelus jenggotnya dan tertawa, tanyanya,
“Apa rencana kongcu tentang tindakan kita selanjutnya?”
Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian jawabnya,
“Pertama-tama boanpwe ingin mohon bantuan dari Lau lo
wangwe untuk berkunjung ke perkampungan Liok soat san
ceng serta merundingkan rencana penggalian harta karun ini
dengan ibuku, istriku adalah seorang yang ahli dalam ilmu
racun, kemungkinan besar ia dapat memunahkan pula racun
kelabang yang bersarang di tubuh lo wangwe, menurut
pendapatku bila usaha pertolongan ini tidak berhasil, toh
masih ada kesempatan untuk menyusul ke kota Sam kang
stan.
“Rencana ini bagus sekali” sahut Cu cing dengan girang,
“sudah lama aku dengar dan kagum atas nama besar to hujin,
memang ma salah besar ini harus diberitahukan kepada lo
hujin, sedangkan mengenai racun kelabang ini aku lebih baik
mati keracunan daripada musti tunduk dan minta belas
kasihan dari Tang Kwik-siu!”

“Cu cing! Keberangkatanmu kesana lebih banyak
manfaatnya dari pada kerugian” kata Po-yang Lojin, tentang
soal ini rasanya engkau sendiripun setuju bukan? sedangkan
kami empat saudara adalah kuda-kuda tua yang mengerti
jalan, sekalipun nyawa kami sebagai pertaruhan kami
berempat tetap akan ikut serta dalam perjalanan menuju bukit
kiu ci san, entah bagaimana menurut pendapat Hoa kongcu?”
Tentu saja Hoa Thian-hong tak dapat menolak keinginan
orang lain, terpaksa ia berkata.
“Apabila menuruti pendapat boanpwe, lebih baik locianpwe
berangkat lebih dahulu keselatan dengan ditemani oleh Cu Im
taysu, toh persoalan ini tak mungkin bisa diselesaikan dalam
satu dua hari belaka, sepanjang perjalanan menuju sana tentu
melelahkan badan, maka dari itu lebih baik boanpwe saja yang
berangkat kesana ini hari juga agar bisa meninjau situasi
dibukit Kiu ci sambil mengamat-amati gerak-gerik dari Tang
Kwik-siu!”
“Bagus sekali, Lo Siansu! Bersediakah engkau menemani
kami berempat menuju bukit Kiu ci san?”
Cu Im taysu adalah seorang jago silat kawakan tentu saja
dia dapat memahami maksud hati pemuda itu.
Empat datuk dari bukit Huang-san memang sudah tua, ilmu
silatnya tak seberapa, itu berarti dia yang bertugas menemani
mereka disepanjang perjalanan sebagai pelindung.
Segera sahutnya setelah mandapat pertanyaan itu.
“Dengan senang hati pinceng bersedia menmani locianpwe
berempat, silahkan cianpwe berempat yang menetapkan
jadwal pemberangkatan!”

“Kami berempat tidak lebih hanya burung-burung bangau
liar yang terbang kesana kemari tanpa arah tujuan, baiklah,
kita segera berangkat sesudah tinggalkan tempat ini!”
Sementara itu Suma Tiang-cing telah berpaling ke arah Hoa
Thian-hong seraya bertanya, “Bagaimana dengan aku? Kalau
engkau ada perintah, silahkan diutarakan tanpa sungkansungkani”
Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong karena
jengah, katanya kemudian, “Setelah berita penggalian harta
karun ini tersiar keluar, kawanan jago silat dan orang gagah
dari seluruh pelosok dunia akan berdatangan kebukit Kiu ci
san, menurut pendapat boanpwee hanya empek Ciu seorang
yang tak akan munculkan diri karena masalah ini, sebab
sebagai seorang pendekar sejati yang berjiwa besar, tak
mengkin ia kesudian turut serta didalam perebutan harta milik
orang.”
“Benar, Ciu Thian-hau memang tak boleh ketinggalan
dalam gerakan ini!” komentar Cu Im taysu.
“Baiklah!” kata Suma Tiang-cing kemudian, “akan kuseret
dia untuk turun gunung kemudian menyusul kalian kebukiit
Kiu ci San!”
“Lo siansu kalan toh kepntusan telah di ambil, bagaimana
kalau kita berangkat sekarang juga?” tiba-tiba Po-yang Lojin
berkata.
Buru-buru Cu Im taysu melompat bangun, sahutnya, “Ini
tahun siau ceng baru berusia enam puluh dua tahun kata lo
didepan sebutan cianpwe tadi tak berani kuterima!”

Begitulah setelah pertandingan selesai, secara beruntun
mereka keluar dari ruangan itu siap berangkat, It piau hwesio
yang menghantar keberangkatan para tamunya beberapa kali
hendak buka suaranya, tapi setiap kali niat itu dibatalkan.
Cu Im taysu seperti memahami isi hatinya, ia lantas
bertanya, “Suheng, apakah engkau hendak menyampaikan
sesuatu pesan?”
It piau hwesio termenung dan sangsi sebentar, akhirnya
sepatah demi sepatah kata sahutnya.
Dengan melewati seribu bukit selaksa sungai dan bersusah
payah, Tong Sam cong hoatsu berhasil mencapai negeri Thian
tok dan berkat belas kasih Sang Buddha, beliau dapat pulang
dengan membawa setumpuk kitab sembahyangan, kita
sebagai murid Buddha yang maha pengasih.
Ooh kiranya soal itu, Cu Im akan selalu mengingat
persoalan itu, seandainya kitab sembahyangan itu benar-benar
berada didalam is tana Kiu ci kiong, aku pasti akan berusaha
keras untuk mendapatkannya.
Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba bisiknya, “Apakah
suheng juga ingin ikut serta dalam perjalanan menuju kebukit
Kiu ci san?”
It piau hwesio tampak agak tertegun setelah mendengar
pertanyaan itu, sahutnya tergagap, “Aku bukan orang
persilatan, biar…. biar lah aku mempertimbangkan lagi selama
beberapa hari!”
Cu Im taysu mengangguk, ia lantas putar badan dan
berlalu mengikuti dibelakang para jago.

Suma Tiang-cing berangkat dulu seorang diri, karena dia
harus menuju ketelaga Tay su.
Sedangkan Hoa Thian-hong juga berpisah dengan
rombongan, dia langsung kembali ke rumah penginapannya.
Setelah bersantap malam udarapun kian menjadi gelap,
seorang diri si anak muda itu duduk termenung dalam
kamarnya, ia sedang memikirkan masalah yang menyangkut
diri Giok Teng Hujin, akhirnya pemuda itu mengambil
keputusan malam nanti dia akan sekali lagi menyelidiki kuil It
goan koan, bila perlu diapun akan melakukan perundingan
babak terakhir dengan Kiu-im Kaucu.
Sementara ia masih termenung melamunkan banyak
persoalan, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.
Hoa Thian-hong agak tertegun kemudian tegurnya, “Siapa
diluar?”
“Aku!” jawaban itu amat rendah parau dia sepertinya
pernah dikenal.
Berkerut dahi Hoa Thian-hong mendengar jawaban itu, ia
meraba gagang pedangnya dan perlahan-lahan membuka
pintu kamar.
Tapi ketika sorot matanya membentur di atas wajah
pendatang itu, mendadak sekujur badannya gemetar keras.
“Oh, kau….” bisiknya lirih.
Ditengah kegelapan seorang gadis baju hitam berkain cadar
warna hitam berdiri di luar pintu, Pui Che-giok sambil
membopong Soat-ji berdiri dibelakang gadis berkerudung ini.

Begitu melihat kemunculan Pui Che-giok serta Soat-ji,
serta-merta Hoa Thian-hong lantas menduga bahwa gadis
berkerudung hitam yang berada dihadapan matanya sekarang
tak lain adalah Giok Teng Hujin.
Sekalipun sudah menduga sampai kesitu, pemuda itu masih
tampak agak sangsi, bukankah Giok Teng Hujin lebih gemuk
dan lebih montok dari pada gadis dihadapannya sekarang?
Dan lagi andaikata dia adalah Giok Teng Hujin, mengapa raut
wajahnya ditutup oleh kain cadar berwarna hitam?
Tatkala gadis berkerudung hitam itu menyaksikan
kekagetan Hoa Thian-hong, dua titik air mata tanpa terasa
menetes keluar membasahi pipinya dibalik kata cadar, bisiknya
lirih, “Thian-hong!”
Semakin tergetar perasaan hati Hoa Thian-hong sebelah
mendengar panggilan itu, ia genggam sepasang tangan gadis
itu erat-erat lalu bisiknya pula dengan gemetar, Gadis
berkerudung itu memang tak lain adalah Giok Teng Hujin, tapi
segala sesuatunya telah berubah, tubuhnya berubah jadi
kurus kering, dandanan serta pakaiannya jauh lebih
sederhana, gerak-gerik maupun suara pembicaraannya
berubah jadi berat dan kaku, gadis itu seolah-olah telah
berubah jadi manusia lain.
Lama sekali kedua orang itu berdiri saling berhadapan
muka, mereka tak bergerak maupun berkutik sementara
empat mata saling berpandangan dengan air mata jatuh
bercucuran.
Pui Che-giok melewiti dua orang itu dan masuk kedalam
kamar sambil memasang lentera, bisiknya, “Kongcu silahkan
duduk!”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, sambil
bergandengan tangan mereka masuk kekamar dan duduk
bersanding diatas pembaringan.
Pui Che-giok menampilkan sekulum senyvman paksa,
katanya, “Ini hari nona belum bersantap biarlah kuperintahkan
pelayan untuk siapkan hidangan.”
Selesai berkata ia lantas berlalu.
Sepeninggal dayang itu, Hoa Thian-hong mengamati wajah
perempuan itu beberapa saat, kemudian sambil
memberanikan diri tanyanya, “Cici, bagaimana dengan
wajahmu?”
“Wajahku kena penyakit, aku tak ingin menunjukkan di
hadapanmu!” jawab Giok Teng Hujin dengan lirih.
Setelah mengetahui kalau wajah gadis itu tidak cedera,
diam-diam Hoa Thian-hong menghembuskan napas lega, ia
tersenyum dan kembali katanya lagi, “Aaahh….! Kiranya cuma
urusan kecil, perlahan-lahan toh akan sembuh dengan
sendirinya, aku jadi menguatirkan kalau wajahmu cedera
berat!”
Perlahan-lahan Giok Teng Hujin berpaling.
“Seandainya wajahku cedera dan rusak? bagaimana
perasaan hatimu?” ia bertanya.
“Aaai! Padahal apa bedanya ruasak atau tidak, asal pikiran
cici bisa lebih terbuka, bagi aku sih bukan soal”
“Coba rabalah wajahku tapi kau musti meraba dengan
memakai punggung tangan jangan pakai telipak tanganmu!”

Hoa Thian-hong tertegun dan tidak habis mengerti oleh
perkataannya tapi dia tahu gadis itu berkata demikian sudah
pasti dikarenakan ada sebab-sebab tertentu.
Tanpa terasa ia membayangkan kembali kejadian masih
berada dalam kuil It goan koan ketika sedang melaksanakan
siksaan api dingin melelehkan sukma, perempuan itu pun
berusaha menyembunyikan wajahnya dengan rambut yang
panjang, semakin gadis itu merahasiakan wajahnya Hoa
Thian-hong merasa makin curiga dan ingin tahu.
Akhirnya dia menyikap kain cadar itu dan merabanya
dengan punggung tangan, ia menemukan wajah dara itu
masih tetap utuh dan tidak mengalami cedera apa-apa, cuma
wajahnya sekarang bertambah kering dan kehilangan
kehalusan, kelembutan serta kekonyolannya dimasa lalu.
“Apakah sudah kau rasakan?” tanya Giok Teng Hujin
kemudian dengan nada murung.
Hoa Thian-hong tertawa geli.
“Aku tidak merasakan apa-apa, aku lihat engkau yang telah
membesar-besarkan suatu masalah yang sebetulnya kecil!”
Dengan sedih Giok Teng Hujin menghela napas panjang,
kembali ia berkata, “Aaii….! Kau anggap siksaan api dingin
melelehkan sukma adalah suatu penyiksaan mainan yang bisa
dibuat sebagai bahan gurauan? Api dingin dari lentara itu
sudah memusnahkan masa mudaku, sekarang aku sudah
menjadi tua”
Pertama-tama Hoa Thian-hong agak terperanjat, tapi
sebentar kemudian ia sudah tertawa seraya berkata, “Tua
biarkanlah jadi tua, toh makin meningkat usia seseorang,

wajahnya juga akan ikut berubah jadi tua, siapa yang dapat
awet muda terus?”
Giok Teng Hujin tundukkan kepalanya dengan sedih.
“Tapi engkau toh belum tua bisiknya lirih, dahulu saja aku
tak bisa menangkan Chin Wan-hong serta Pek Run gie, apa
lagi setelah wajahku jadi tua dan peyot, lebih-lebih tak dapat
kutandingi kecantikan mereka berdua!”
Hoa Thian-hong tertawa, tertawa dengan suara dan nada
yang berat memilukan.
“Aku tahu, bila aku terlalu banyak memberikan penjelasan
serta keterangan maka engkau malahan tak akan
mempercayai diriku lagi, pokoknya engkau boleh ingat baikbaik,
biar langit jadi gersang tanah jadi tua namun cintaku
padamu tak akan tua, bagaimanapun berubah jadi tua, dalam
hati kecilku engkau selamanya tetap kau. Aasai….Sekali pun
engkau secara tiba-tiba dapat berubah jadi seorang dara
berusia belasan aku tak dapat memberikan cinta yang lebih
banyak kepadamu sekalipun kau berubah jadi nenek-nenek
yang peyot dan rambut telah berubah semua, akupun tak
dapat memberikan cinta yang lebih sedikit padamu asal kau
ingat saja bahwa samudera boleh mengering batu boleh
menjadi lapuk namun cintaku padamu tidak akan berubah
untuk selama-lamanya!”
Giok teng hajin termenung untuk beberapa saat lamanya,
kemudian ia berkata lagi, “Rupanya semakin lama engkau
semakin pandai berbicara, perka-taanmu pun makin lama
semakin dewasa, apakah selama ini kau hidup dalam segala
kemurungan dan segala kesulitan?”
Hoa Thian-hong mengangguk.

“Pek Kun-gie terjatuh ke tangan Tang Kwik-siu dan
sekarang aku menemukan pula masalah pencarian harta
karun, jalan yang terbentang didepan mata jelas banyak
rintangan dan kesulitan, berhasil atau gagal sukar diramalkan
mulai sekarang, kalau tugasku tidak terlalu berat, kenapa tiap
hari aku musti bermuram durja? Aaaai! Engkaupun harus
mengepos semangat dan tenaga untuk membantu aku dalam
penyelesaian tugas-tugas ini.”
“Apa sangkut pautnya antara aku dengan urusannya Pek
Kun-gie?” tanaya Giok Teng Hujin sambil tertawa.
0000O0000
85
Hoa Thian-hong miringkan kepalanya lalu tertawa,
sahutnya, “Untuk mengatasi masalah yang ada didunia ini,
segala sesuatunya tergantung pada diri sendiri, misalnya
dalam masalah Pek Kun-gie mau tak mau aku harus
mengurusinya, dan masalahku, mau tak mau engkau pun
harus mencampurinya pula, bila Thian telah mengatur segala
sesuatunya secara rapi, siapakah yang dapat membangkang
perintah Nya?”
Setelah mendengar perkataan itu, tanpa sadar Giok Teng
Hujin merasakan dada dan perasaan hatinya jauh lebih segar,
lega dan terbuka, bagaimanapun juga ia merasa bahwa
didunia ini masih ada seseorang yang masih membutuhkan
hiburan serta bantuannya, hal ini membangkitkan kembali
gairahnya untuk hidup.
Sambil tertawa cekikikan ujarnya, “Kalau toh Pek Kun-gie
berada dalam keadaan bahaya, kenapa engkau tidak merasa
sedih ataupun gelisah, mau apa engkau berkeliaran ke kota
Cho ciu bukannya pergi menolong si dia?”

Hoa Thian-hong tertawa getir.
“Kenapa lagi kalau bukan lantaran kau?” sahutnya.
Kemudian sambil menunjuk kedepan, dia melanjutkan,
“Sewaktu aku berjumpa muka dikota Cho ciu tempo hari
penemuan itu dilangsungkan dalam kamar itu maka setelah
datang kembali kesini tanpa kusadari aku telah kembali lagi
kekamar ini masa engkau masih belum paham dengan
perasaan hatiku pada dirimu?”
Giok Teng Hujin tertawa cekikikan meski pun dihati ia
merasa hangat dan mesra namun diluaran sahutnya dengan
suara hambar.
“Jangan omong sembarangan, perempuan hidup lantaran
cinta, pokoknya separuh hidupku selanjutnya adalah tanggung
jawabmu.”
Hoa Thian-hong tertawa ringan.
“Eeh cici, aku adalah seorang laki-laki yang tak tahu budi,
lagipula nasibku jelek, kunasehati dirimu lebih baik cepatlah
sadarkan diri dan mencari tulang punggung yang lebih
baikkan!”
Giok Teng Hujin tertawa cekikikan, setelah berhenti
sebentar dia lantas alihkan pokok pembicaraan kesoal lain,
ujarnya dengan suara lantang, “Setelah Kiu-im Kaucu tahu
bahwa engkau adalab penyelenggara pencarian harta karun
seketika itu juga aku dibebaskan, katanya hukuman siksaan
untuk sementara waktu di tunda dulu, ia perintahkan aku
membuat pahata untuk menebus dosa.”

“Bagaimanakah jawabanmu?” tanya Hoa Thian-hong
dengan dahi berkerut kencang”
Giok Teng Hujin tertawa merdu.
“Aku jawab lihat saja perkembangannya nanti, aku akan
berbuat dengan segala kemampuanku. Hmmmm! Aku nyaris
mati ditangannya, sejak itu pula aku sudah tak pandang
sebelah matapun terhadap kancu itu.”
“Aku tahu persoalan ini tak akan berakhir dengan begitu
saja, tampaknya ia memang harus dibikin mampus!” kata Hoa
Thian-hong sambil tertawa getir.
“Kembalikan kecantikan dan kelembutan wajahku!” tibatiba
Giok Teng Hujin berseru dengan manja.
“Tapi bagaimana caranya?” tanya Hoa Thian-hong dengan
sepasang mata terbelalak besar dan lagi engkau toh baru saja
menjalankan siksaan sudah tentu wajahmu jadi agak layu dan
kusut!”
“Layu?” seru Giok Teng Hujin “wajahku sudah berkeriput,
sudah jadi tua!”
Mula-mula Hoa Thian-hong agak tertegun kemudian sambil
tertawa sahutnya, “Aku tidak merasa keberatan sekalipun kau
jadi tua pokoknya kan hati kita telah berpadu menjadi satu?”
“Hmmm kau pintar omong kosong, janjimu muluk aku tak
punya gairah untuk hidup lebih lanjut!”
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.
“Didalam istana Kiu ci kiong terdapat banyak sekali obat
mujarab, sekalipun harus pertaruhkan nyawamu engkau harus

mendapatkan untukku, agar keriput-keriput diwajahku hilang
semua dan kembali di masa muda, kalau tidak…. Hemm! Aku
akan mati didepan matamu….”
Hoa Thian-hong tertegun, serunya cepat.
“Istana Kiu ci kiong sudah hampir seratus tahun lebih
tenggelam keperut bumi, sekali pun ada obat mujarab yang
bagaimanapun bagusnya toh akhirnya akan berubah jadi
pasir.”
“Tidak mungkin, Kiu-ci Sinkun adalah seorang manusia
yang cerdas dan berpengetahuan tinggi, tidak mungkin dia
akan membiarkan obat obat mujarab itu hancur menjadi abu,
obat mujarab itu tentunya telah disimpan secara baik-baik!”
Setelah berhenti sebentar ia melanjutkan kembali katakatanya,
“Kalau engkau tidak dapat mencarikan obat mnjarab
yang bisa menghilangkan keriput-keriput diatas wajahku,
maka engkau harus carikan sejenis ilmu sakti yang dapat
mengembalikan kecantikan serta masa mudaku akan kucari
suatu tempat yang sepi dan terpencil untuk melatih ilmu
kepandaian tersebut, selama masa latihanku engkau hendak
mencari tiga istri empat gundik aku tak mau tahu, pokoknya
setiap setengah tahun sekali, engkau harus berkumpul selama
beberapa hari dengan aku, menanti benar-benar sudah
menjadi tua, hubungan kita baru putus jadi dua!”
Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong lantas berpikir di
dalam hati kecilnya.
“Po-yang Lojin selalu menegaskan bahwa penyelenggara
pencarian harta karun ini adalah seorang yang jujur dan tidak
punya jiwa korupsi, barang-barang yang bukan menjadi
miliknya tidak diperkenankan untuk diambil bagi diri sendiri,
kalau sekarang ku-sanggupi permintaan Ku Ing-ing untuk

mendapatkan kitab pusaka awet muda serta obat mujarab,
kemudian Kun gie juga pesan satu dua macam, Wan hong
juga pesan satu dua macam kemudian para cianpwe minta
pula satu dua macam, bagaimana caraku bisa membagi isi
harta karun itu secara adil dan bijaksana?”
Terdengar Giok Teng Hujin berkata lagi dengan murung,
“Aku lihat dahimu berkerut daa mulutmu membungkam,
perasaan hati mu tampak sangat berat, persoalan apakah
yang membuat engkau merasa serba salah?”
Hoa Thian-hong tertawa kering.
“Aku sedang berpikir, jujur dan tidak korupsi memang
gampang diucapkan tapi hakekatnya sukar untuk
dilaksanakan!”
“Kalau manusia tidak berusaha untuk kepentingan diri
serdiri, dunia akan kiamat dengan cepat, perduli amat jujur
atau tidak korupsi atau tidak, selama engkau adalah manusia
maka kau tak akan terlepas dari sifat mementingkan diri
sendiri, kecuali bila engkau adalah seorang manusia super
ajaib.”
“Bagaimana maksudmu?” tanya sang pemuda sambil
tertawa.
“Air yang jernih tak akan ada ikannya, manusia yang jujur
tak akan ada temannya, kalau engtau ingin menjadi seorang
manusia yang jujur, bijaksana dan tidak korupsi, maka
bersiap-siaplah untuk menjadi seorang manusia sebatang kara
yang tidak disenangi orang lain.”
Setelah berhenti sebentar, dia menambahkan, “Pokoknya
bagaimanapun juga bila, kau tak dapat memenuhi harapanku

ini maka aku akan beradu jiwa dengan dirimu, biar kita
menjadi suami istri setan saja di alam baka!”
Hoa Thian-hong dibuat serba salah oleh tingkah laku
perempuan itu, untung Pui Che-giok masuk sambil
menghidangkan santapan sehingga si anak muda itupan bisa
terlepas dari keadaannya yang serba salah.
Sambil menggandeng tangan pemuda itu, Giok Teng Hujin
bangkit dan duduk di meja perjamuan, katanya, “Aku dan Che
giok akan bersantap, kau duduklah disini menemani aku
sambil menceritakan soal harta karun dibukit Kiu ci san,
kentongan ketiga tengah malam nanti kita segera berangkat”
“Biarlah aku berangkat lebih dulu, sedang kau dan Che giok
beirstirahat beberapa hari dulu dikota Cho chiu, setelah
kesehatan badanmu pulih kembali….”
Cepat Giok Teng Hujin gelengkan kepalanya.
“Tidak, aku malahan ingin bersayap sehingga bisa sekali
terbang tiba di bukit Kiu ci san dan angkat cangkul menggali
sendiri tempat terkuburnya harta karun itu”
xxxx xxxx
Bukit Kiu ci san adalah serentetan bukit tinggi dengan
sembilan buah patahan yang terjal diantara patahan-patahan
terjal itu tergan tunglah air terjun yang tinggi dan deras.
Pada patahan terjal yang ketujuhlah istana Kiu ci kiong
terpendam, tempat itu merupakan bukit yang tertinggi
diantara sekian banyak bukit yang tersebut disana sini.

Seratus tahun berselang istana itu berdiri angker dipuncak
bukit tersebut warna keemasan ysng mentereng dapat terlihat
sendari puluhan li jauhnya.
Tapi setelah mengalami banyak kejadian yang berubahubah
kini istana Kiu ci kiong sudah lenyap dari permukaan
tanah bahkan puing-puingpun tidak nampak.
Pagi itu di atas bukit telah kedatangan berombongan
manusia yang berbaju kuning, rombongan itu dipimpin oleh
ketua Seng sut pay yang lebih dikenal sebagai ketua Mo-kauw,
Tang Kwik-siu.
Satu-satunya anggota perempuan yang ikut serta
rombongan itu memang tak lain adalah Pek Kun-gie yang
cantik jelita bak bidadari dari kayangan, putri kesayangan
ketua Sin-kie-pang sedangkan keenam belas orang lainnya
terdiri dari murid-murid Tang Kwik-siu termasuk diantaranya
adalah Kok See-piauw.
Rombongan itu akhirnya mencapai puncak bukit yang tinggi
itu, dihadapan mereka terbentanglah sebuah air terjun yang
deras airnya, lebar telaga penampang air di bawah air terjun
itu mencapai empat kaki dengan kedalaman lima depa.
Disamping telaga batu cadas tersebar disana sini semak
belukar yang tinggi hampir menyeltmuti seluruh permukaan
tanah.
Lama sekali Kok See-piauw mengamati keadaan disekeliling
tempat itu, lalu tanyanya, “Suhu, masakah istana Kia ci kiong
terpendam di bawah air terjun ini?”
Tang kwik termenung sebentar lalu menggeleng.

“Aku rasa tidak, malahan mungkin berada dibawah tebing
yang terjal ini!” sahutnya
Seorang manusia aneh bermuka jelek berambut dan beralis
mata merah yang berada disisi kiri Tang Kwik-siu segera
berseru, “Kalau toh sasarannya sudah diketahui, kita segera
buntu aliran air ini dan mulai melakukan penggalian!”
Orang ini bertema Hong Liong murid tertua dari Tang Kwiksiu
dengan membawa sekawanan adik seperguruan belum
lama tiba didaratan Tionggoan untuk bergabung dengan
gurunya.
Ketika mendengar perkataan tersebut, Tang Kwik-siu
segera mengerutkan dahinya rapat-rapat.
“Menurut petunjuk dari Cousu ya, istana Kiu ci kiong
didirikan diatas sebidang tanah yang luasnya mencapai seribu
hektar, begitu luas dan besarnya tempat itu sehingga hari
keempat setelah tanah merekah, semua bangunan itu baru
terkubur kedalam perut bumi, untuk melakukan penggalian
kita harus menemukan lebih dahulu pintu masuknya serta
jalan utama yang berhubungan dengan istana itu, sekalipun
kita lakukan penggalian, sepuluh sampai setengah bulan pun
belum tentu bisa kita selesaikan pekerjaan penggalian ini.
“Lalu apa yang musti kita lakukan?” tanya Hong Liong
dengan dahi berkerut.
“Untuk melakukan pekerjaan besar ini, kita harus bekerja
sama dengan orang-orang persilatan dari daratan Tionggoan,
kalau tidak begitu, kenapa kita tidak diam-diam saja meluruk
kesini untuk menggali tanah, sebaliknya musti memutar kayun
dan mengejutkan semua jago didaratan Tionggoan?”

Sementara itu Pek Kun-gie sedang berdiri ditepi kolam
sambil memandang pesona air terjun dihadapannya, keatika
mendengar perkataan itu dia lantas berpaling dan memandang
ke arah lawannya dengan sorot mata yang dingin dan tajam,
setajam sembilu.
Tang kwik Sin segera tertawa terbahak-bahak.
“Haahh…. haaah…. haaaahh…. selama beberapa hari
belakangan ini sikapmu mengalami perubahan besar, seakanakan
telah berubah jadi manusia lain, bolehkah aku tahu apa
sebabnya?”
Paras muka Pek Kun-gie dingin, ketus dan kaku, bukanya
menjawab dia malah bertanya, “Kalau kudengar dari
pembicaraanmu barusan, tampaknya engkau sengaja
membocorkan rahasia harta karun ini kedalam dunia
persilatan?”
“Haaah…. haah…. haah….” Tang Kwik-siu tertawa angkuh,
“meskipun orang persilatan didatatan Tionggoan rata-rata licik
dan banyak akalnya, akupun bukan seorang manusia yang tak
betotak. Haaah haaah…. kalau aku sampai jatuh kecundang
ditangan seorang budak seperti kau bukankah itu namanya
perahu yang terbalik dalam selokan?”
Habis berkata, kembali dia tertawa terbahak-bahak.
Pek Kun-gie mendengus dingin.
“Hemm! Jadi kalau begitu, engkau memang sengaja
hendak menggunakan diriku untuk membocorkan rahasia
harta karun ini kepada dunia luar?”
“Boleh juga kalau engkau menuduh diriku, tapi tahukah
engkau dimanakah letak kelihayanku ini?”

Tanpa berpikir panjang, dara itu segera menjawab,
“Gampang sekali untuk menjawab pertanyaan ini, bukankah
engkau kuatir ditunggangi orang lain bila engkau yang
mencari orang lain untuk bekerja sama? Maka daripada
menguntungkan orang lebih baik engkau menanti orang lain
yang datang mencari dirimu sehingga dengan leluasa kau
dapat mengajukan syarat?”
Sekali lagi Tang Kwik-siu tertawa tebahak-bahakk,
“Haaah…. haaah…. haaah engkau memang sangat cerdik tapi
aku lihat sikapmu beberapa hari belakangan ini berubah jadi
dingin dan lamban mendatangkan antipati bagi mereka yang
memandang, apakah aku boleh tahu sebab musababnya?”
“Engkau toh mengakui dirimu sebagai seorang manusia
cerdik, Hmm! Rapanya soal inipun tidak kau pahami”
“Haaah…. haaah…. haaah…. hati orang perempuan
bagaikan jarum didasar samudra sekalipun aku sudah berpikir
selama beberapa hari toh tidak dapat kutemukan sebab
musababnya tapi aku yakin engkau bukan sengaja
memperlihatkan kepada kami”
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lagi, “Bila kau tak
ingin racun dari kelabang langit itu bersarang dalam tubuhmu,
sekarang juga aku dapat memunahkannya dari bagimu”
“Tidak perlu!” jawab Pek Kun-gie ketus.
Kiranya orang-orang dari Seng Sut pay menyebut kelabang
tersebut sebagai kelabang langit, racunnya ganas dan luar
biasa kejinya.
Pek Kun-gie telah digigit oleh kelabang tersebut setelah
ditangkap orang-orang Seng Sut pay ini, racun keji binatang

itu sudah lama bersarang dalam tubuhnya, dan kini Tang
Kwik-siu secara sukarela hendak memunhakan racun itu bagi
Pek Kun-gie, sebenarnya hal ini merupakan satu kesempatan
yang paling baik untuk membebaskan diri dari pengaruh racun
itu.
Apa mau dikata, gadis itu malahan menolak tawarannya itu,
malahan sikapnya tetap dingin dan kaku, tindakannya ini tentu
saja membuat Tang Kwik-siu yang kejam dan berotak
tajampun jadi kebingungan sendiri.
Sementara itu Pek Kun-gie setelah menyelesaikan kata-kata
tersebut, sikapnya amat dingin dan hambar.
Kok See-piauw mengikuti semua gerak-gerik dara itu
dengan pandangan tajam, paras mukanya tampak berubah
hebat dan hawa gusar menyelimuti wajahnya tapi ia tak berani
mengatakan sepatah katapun.
Dengan mata melotot, Hong Liong mengamati bayangan
punggung Pek Kun-gie dengan mendelong, tiba-tiba tanyanya,
“Suhu, mungkinkah budak ini hendak mengakhiri hidupnya
dengan cara itu?”
Orang ini termasuk seorang iblis yang ganas, bengis dan
memandang nyawa manusia bagaikan benda yang tak
berharga, tapi terhadap Pek Kun-gie yang cantik jelita ia
merasakan sesuatu perasaan yang aneh, ia merasa sekalipun
tak mungkin dirinya bisa memperoleh benda yang sangat
indah itu namun diapun kuatir kalau tiba-tiba benda yang
indah itu musnah dengan sendirinya.
Tiba-tiba Kok See-piauw mendengus dingin.

“Hmmm! Mungkin bagi toa suheng merasa agak asing
deagan gaya dan gerak-geriknya itu, buat siaute sih sudah
biasa…. lagu lama!”
“Ooh…. iya? Kenapa?” tanya Hong Liong dengan perasaan
tertarik, sinar matanya berkilat.
“Dulu-dulunya dia memang telalu bersikap demikian
sekalipun tatkala untuk pertama kalinya bertemu dengan
bocah keparat she Hoa sikapnya juga tetap dingin kaku dan
sedikitpun membawa ciri-ciri kewanitaannya”
“Bagaimana selanjutnya?” tanya Hong Liong semakin
tercengang
Dengan gemas dan penuh kebencian, Kok See-piauw
melanjutkan kata-katanya lebih jauh, “Akhirnya dia bertemu
kembali dengan bocah keparat she Hoa itu dikota Cho ciu,
entah apa sebabnya tiba-tiba ia terpesona dan terpikat oleh
pemuda bangsat itu, sejak jatuh cinta sikapnya yang dingin
dan hambar itu tersapu lenyap, sebagai gantinya senyum dan
gelak tertawa selalu menghiasi wajahnya….”
“Lalu semanjak kapan sikapnya berubah kembali jadi dingin
dan hambar?”
“Dua hari sebelum toa suheng tiba disini, padahal kamipun
tidak bersikap kasar kepadanya”
Tiba-tiba Tang Kwik-siu tertawa terbahak-bahak, lalu
serunya, “Haaahh haahh haaah kiranya begitu sekarang aku
paham sudah!”
“Suhu, apa yang kau pahami?” cepat Hong Liong bertanya
dengan perasaan ingin tahu.

Menyaksikan sikap serta tingkah laku muridnya yang begitu
ingin tahu, kembali Tang Kwik-siu berpikir, “Aaai, rupanya
setiap orang memang suka akan gadis yang cantik, kembali
ada seorang yang akan cemburu olah karena soal
perempuan!”
Sementara dalam hati ia berpikir demikian, dimulut
sahutnya sambil tertawa, Pastilah budak ini merasa gemas dan
jengkel lantaran Hoa Thian-hong tidak muncul juga ditempat
ini, maka akhirnya kemarahan dan kejengkelannya
dilampiaskan kepada kita.
Mendengar penjelasan dari gurunya ini, hawa nafsu
membunuh seketika menyelimuti wajah Hong Liong, serunya
dengan cepat, “Oooh kiranya begitu, mendingan kalau keparat
she Hoa ini tidak datang, kalau ia berani datang kesini maka
aku segera akan mencabut jiwa anjingnya, baik atau jelek kita
barus memboyong budak ini kembali ke Seng sut Pay!”
Tang Kwik-siu menarik muka, katanya, “Orang persilatan
didaratan Tionggoan rata-rata licik dan banyak akal, bubungan
masing-masing pihakpun sangat kacau dan tidak karuan,
engkau tahu kenapa aku tidak manfaatkan kesempatan yang
sangat baik ini untuk menyelesaikan soal penggalian harta
karun? Hal ini lantaran kau kurang cermat dan otakmu tidak
jalan, kepandauanmu juga tak mampu menandingi orangorang
persilatan didaratan Tionggoan, makanya aku tak berani
menyerahkan tugas mencari harta karun ini kepadamu.”
Sepasang mata Hong Liong melotot besar, serunya dengan
penasaran, “Dengan tenagaku seorang aku bisa menaklukkan
sepuluh perkumpulan, masa dengan kemampuan seperti ini
aku tak dapat menandingi pula jago-jago silat dari daratan
Tionggoan? Hmm! Kalau prinsipku, ketemu satu bunuh satu,
ketemu sepasang bunuh sepasang, sekalipun mereka berakal

licik, akan kubuat mereka tak mampu untuk
menggunakannya….”
Tang Kwik-siu tertawa dingin.
“Hemm! Kalau begitulah prinsipmu, maka selamanya
jangan harap kau bisa pulang ke wilayah Seng Sut hay”
Hong Liong sangat tidak puas dia malah hendak mencoba
membantah, akan tetapi selelah dilihatnya paras muka
gurunya rada aneh, terpaksa ia menahan diri.
Perlahan-lahan Tang Kwik-siu alihkan kembali
pandangannya ke arah bayangan punggung Pek Kun-gie, lalu
dengan suara dalam ia berkata, “Malam ini atau besok malam,
orang-orang dari Sin-kie-pang serta Hoa Thian-hong pasti
akan berdatangan kemari, selama aku tak ada di-tempat ini,
kemanapun Pek Kun-gie hendak pergi lebih baik kalian jangan
coba menghalangi dan kalianpun dilarang mencari gara-gara
dengan siapapun, mengerti?”
Diam-diam Kok See-piauw merasa amat gelisah, ia lantas
berseru, “Kalau toh memang begitu, kenapa kita musti
memboyong dirinya datang kemari?”
Tang Kwik-siu tersenyum.
“Tentu saja aku mempunyai maksud-maksud tertentu dan
rahasia di balik rencanaku ini tak perlu kalian ketahui”
Selesai berkata, ia lantas perintahkan muridnya untuk
mencari kayu dan membangun rumah papan disitu sebagal
persiapan untuk tinggal lama disitu, sedang dia seorang diri
menuruni lembah dan bergerak menuju kealiran air dari kolam
itu….

Hong Liong memerintahkan adik seperguruannya untuk
bekerja, tatkala senja menjelang tiba mereka telah berhasil
mendirikan beberapa rumah kayu yang sederhana dan selang
sesaat rembulan telah muncul menerangi seluruh jagad.
Ditengah remang-remangnya suasana, belasan sosok
bayangan manusia dengan gerakan yang sangat cepat
bagaikan sambaran kilat bergerak mendekat, Hong Liong yang
bermata tajam segera menegur dengan suara lantang
“Siapa yang datang?”
Tiada jawaban hanya salah seorang perempuan diantara
anggota rombongan itu pun menyapa.
“Kun gie….”
Pek Kun-gie masih termangu-mangu ditepi jurang ketika
secara tiba-tiba mendengar suara panggilan dari ibunya, ia
tampak terpe-ranjat sehingga tubuhnya bergetar keras, buruburu
dia menyongsng maju kedepan.
Tatkala menyaksikan putri kesayangannya tidak mengalami
cedera, Kho Hong-bwee merasa sangat lega, sinar matanya
segera dialihkan ke arah beberapa buah rumah kayu yang
barusan selesai dibangun itu.
Sementara itu, rombongan anak murid partai Seng sut hay
yang mendengar tibanya s kelompok musuh segera berlari
keluar dari rumah-rumah kayu itu, oleh sebab Tang Kwik-siu
telah memberikan pesannya maka mereka tak berani mencari
urusan.
Pek Soh-gie memburu maju kedepan, sambil merangkul
adiknya dia menegur penuh perhatian, “Adikku, tidak apa-apa
bukan?”

Pek Kun-gie menggelengkan kepalanya, biji mata yang jeli
kembali dialihkan ke arah rombongan yang baru tiba,
dugaannya ternyata tak meleset, kekasih hati yang selalu
dirindukan selama ini benar-benar belum munculkan diri.
Seketika itu juga dia merasa amat kecewa dan putus asa,
hatinya terasa jadi remuk redam, ingin sekali dia menggorok
lehernya untuk menghabisi hidupnya sendiri.
Para anggota perkumpulan Sin-kie-pang telah berdatangan
semua, mereka pada maju memberi hormat dengan wajah
berseri, sebaliknya Pek Kun-gie tetap menunjukkan wajah
yang dingin, kaku dan hambar tiada jawaban yang terdengar,
mulutnya selalu membungkam seakan-akan dia sama sekali
tidak merasa gembira karena bebas dari tawanan.
Kho Hong-bwee yang cermat segera dapat menemukan
keadaan yang kurang beres itu, dengan hati terperanjat
segera tanyanya dengan suara dalam, “Apakah engkau sudah
dirugikan!”
Perlu diketahui kecantikan Pek Kun-gie bak bidadari dari
kahyangan, gadis cantik jelita seperti dia bila sampai terjatuh
ketangan lawan maka keadaan tersebut ibaratnya domba
dimulut harimau siapapun merasa tidak berlega hati.
Sebagai seorang dara muda, kesucian badan merupakan
hal yang kadangkala lebih penting dari pada nyawa sendiri,
tentu saja Kho Hong-bwee amat kuatir kalau putrinya telah
dinodai oleh lawan.
Tentu saja dia tak menyangka kalau Pek Kun-gie bernasib
mujur lantaran kecantikan wajahnya itu, oleh karena
kecantikan wajahnya sukar dicarikan tandingan dikolong
langit, maka orang menganggapnya sebagai suatu benda seni

yang tak ternilai harganya membuat siapapun yang
memandang merasa suka dan setelah suka tak ingin
merusaknya siapapun merasa tak tega untuk
menghancurkannya dengan begitu saja.
Selama ini Pek Kun-gie memang telah mengiringi anak
murid partai Seng sut pay untuk melakukan perjalanan sejauh
sepuluh laksa li, sepanjang jalan siapa pun melamunkan hal
yang tidak-tidak, apalagi Tang Kwik-siu sebagai seorang ketua
dari suatu perguruan besar, tentu saja lamunannya jauh lebih
hebat daripada anak muridnya.
Sekalipun begitu ia selalu merasa bahwa memperkosa Pek
Kun-gie dengan suatu paksaan merupakan suatu tindakan
yang keliru besar, perbuatannya itu pasti akan merusak
pemandangan, dan lagi pihak Sin-kie-pang maupun Hoa
Thian-hong pasti tak akan melepaskan dirinya dengan begitu
saja, itu berarti pula dia akan merusak rencana besarnya
untuk menggali harta karun.
Dengan dasar pelbagai alasan inilah, Tang kwiw Siu selalu
mawas diri dan menahan nafsu untuk tidak sampai menodai
Pek Kun-gie yang cantik, ini bukan berarti dia telah
melepaskan dara itu dengan begitu saja, ia sendiripun masih
punya keinginan untuk melakukan perbuatan tersebut
bilamana dikemudian hari ada kesempatan.
Begitulah, tatkala mendengar pertanyaan dari ibunya, Pek
Kun-gie segera memahami arti yang dimaksudkan, cepat ia
menggeleng.
“Aku belum dirugikan!” sahutnya hambar.
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Ibu tak
usah kuatir, putri dari ketua Sin-kie-pang tidak mungkin akan
melakukan perbuatan yang memalukan ayah ibunya!”

“Bagus! Punya semangat” tiba-tiba seseorang memuji
dengan suara yang lantang.
Mendengar seruan tersebut, orang-orang dari perkumpulan
Sin-kie-pang pada terperanjat dan serentak mereka berpaling
ke arah mana berasalnya suara itu.
Hong Liong waktu itu berada didepan rumah, dia mengira
Hoa Thian-hong telah datang, segera tubuhnya berkelebat
kedepan dan menghalangi jalan lewat tempat itu seraya
membentak, “Bocah keparat she Hoa, temui dahulu taoya
mu!”
Bong Pay ikut naik darat ia membentak, “Bangsat, kawanan
tikus darimana berani bertingkah disini, aku Bong Pay akan
menemui dirimu lebih dulu!”
Begitu selesai berkata, ia lantas menerjang kedepan tapi ia
keburu ditangkap oleh Kho Hong-bwee sehingga tak bisa
berkutik.
Tampaklah tiga orang laki-laki munculkan diri dari balik
hutan siong kurang lebih seratus kaki didepan sana, orang
pertama adalah, seorang laki-laki besar dan jangkung dengan
bau warna merah wajahnya gagah dan jenggotnya panjang,
siapa lagi orang itu kalau bukan Pek Siau-thian ketua dari
perkumpulan Sin-kie-pang.
Melihat siapa yang muncul, Pek Kun-gie segera memburu
kedepan sambil menerjang kedalam pelukan kakek itu sambil
serunya, “Ayah!”
Air mata tak bisa dibendung lagi segera bercucuran dengan
derasnya.

Perlu untuk diketahui, Pek Soh-gie dibesarkan oleh ibunya
sedangkan Pek Kun-gie dibesarkan oleh ayahnya jadi
hubungan maupun wataknya lebih mirip ayahnya dari pada
ibunya.
Oleh sebab itu ketika Kho Hong-bwee yang datang, Pek
Kun-gie masih dapat menahan diri tapi begitu Pek Siau-thian
yang tiba, rasa sedih yang ditahan-tahan selama ini tak
mampu kendalikan lagi semuanya segera meluncur keluar.
Dengan halus dan penuh kasih sayang, Pek Siau-thian
membelai rambut putrinya, ia berkata dengan halus, “Anak
baik kejadian yang sudah lewat biarkanlah lewat, kenapa
musti kau bersedih, makanya mulai hari ini janganlah kau
tinggalkan ayah ibumu lagi”
Pek Kun-gie menganggguk berulang kali.
“Sekarang putrimu baru tahu bahwa hanya ayah dan ibu
saja yang benar-benar menyayangi diriku sedang lainnya
hanya cinta palsu…. sayang palsu”
“Benar untuknya, sadar saat inipun belum terlambat!”
Kho Hong-bwee maju kedepan, ujarnya pula kepada
suaminya itu, “Cepat amat kedatanganmu, siapakah kedua
orang itu?”
Pek Siau-thian tertawa paksa, “Hujin, kau pasti lelah sekali
katanya”
Kemudian sambil menuding ke arah dua orang yang berada
dibelakangnya ia melanjutkan.

“Kedua orang ini semuanya adalah toko-tokoh lihay dari
dunia persilatan dewasa ini, mereka terhitung pula sebagai
sahabat-sahabat karibku.”
Dua orang laki-laki itu telah berusia empat puluh tahunan,
sebelum Pek Siau-thian menyeselesaikan kata-katanya, lakilaki
yang menyoren pedang dipunggung itu segera menjura
sambil memperkenalkan diri.
“Aku adalah Kiong Thian yu!”
Sedangkan laki-laki berdandan sebagai sastrawan itu
menyambung, “Aku adalah Thian sun pou, sudah lama
mengagumi budi kebaikan dari hujin….”
Kho Hong-bwee mengangguk sebagai tanda menghormat,
oleh sebab mereka adalah sahabat dari suaminya maka ia
perintahkan Kun gie serta Soh-gie untuk maju memberi
hormat.
Baik Kiong Thian yu maupun Tiang sun Pou dalam hati
merasa keheranan, mereka lihat paras kedua kakak beradik itu
mirip satu sama lainnya, tapi sang kakak memancarkan
kehalusan serta kesederhanaan, sebaliknya sang adik lebih
lincah dan genit, timbullah kesan serta perasaan yang berbeda
pada kedua orang itu.
Sementara itu Pek Siau-thian sendiripun sedang mengamati
wajah Bong Pay dengan sinar mata tajam.
Beberapa bulan berselang, wilayah disebelah selatan sungai
kuning berada dibawah pengaruh perkumpulan Sin-kie-pang,
dan kini diantara tiga musuh besar ada dua sudah runtuh,
sedangkan Sin-kie-pang tetap berdiri dengan kokoh, dengan
sendirinya sikap maupun gerak-gerik sang ketuanya ini tetap
gagah dan cukup menggidikkan hati.

Apa mau dikata yang dihadapi adalah Bong Pay yang tak
takut langit tak takut bumi, ketika Pek Siau-thian
mengawasinya diapun balas mengawasi orang itu dengan
sorot mata yang tak kalah tajamnya.
Kho Hong-bwee segera menemukan gelagat yang kurang
serasi itu, ia tahu jika saling melotot ini dibiarkan berlangsung
terus niscaya akhirnya akan terjadi hal yang kurang beres.
Buru-buru serunya.
“Anak Pay, hayo cepat memberi hormat kepada empekmu!”
Agak tertegun Pek Siau-thian setelah menyaksikan
hubungan yang begitu akrab antara Bong Pay dengan Kho
Hong-bwee namun diapun bukan orang bodoh hanya berpikir
sebentar saja dia lantas mengetahui duduk persoalan yang
sebenarnya sudah pasti persoalan ini ada hubungan dengan
putri sulungnya.
Dalam keadaan seperti ini, kendatipun dia adalah seorang
jago yang gagah perkasa toh tak urung dapat termangumangu
pula.
Sementara itu Bong Pay sudah maju kedepan seraya
memberi hormat, katanya, “Aku Bong Pay memberi hormat
untuk empek!”
Suara lantang dan amat nyaring sekali ibarat guntur yang
membelah bumi di siang hari bolong.
Diam-diam Pek Siau-thian tertawa getir, ia tak menyangka
kalau kedua orang putrinya sama sama jatuh cinta kepada
pemuda dari golongan kaum pendekar, seraya ulapkan
tangannya ia menyahut kaku.

“Tak usah banyak adat!”
Mendengar ucapan itu, Bong pay segera putar badan dan
mengundurkan diri kesamping Kho Hong-bwee.
Dari tingkah laku pemuda itu, Pek Siau-thian dapat melihat
pula suatu keanehan yakni sepanjang masa itu tak pernah
Bong pay melirik ke arah putri sulangnya, suatu perasaan
heran dan tak habis mengerti segera menyelimuti wajahnya.
Rupanya dalam pergaulannya yang berlangsung selama
berhari-hari, tanpa disadari kedua orang itu sudah saling jatuh
cinta, kendatipun demikian sebagai orang yang sederhana den
jujur mereka tetap berhubu ngan secara wajar tanpa suatu
penonjolan hubungan yang luar biasa.
Bong Pay dapat tunduk seratus persen kepada Kho bong
bwe adalah dikarenakan alasan lain, sedari kecil ia hidup
sebatang kara dan belum pernah merasakan cinta kasih
seorang ibu, kasih sayang dilimpahkan Kho Hong-bwee
kepadanya membuat ia tunduk kepada perempuan itu.
Memang disinilah letak kelemahan orang yang berhati
keras, bila orang kasar kepadanya maka dia bisa berbuat lebih
kasar kepada orang itu, sebaliknya kalau orang lembut
Kepadanya maka diapun akan lembut kepada orang itu.
Begitulah, setelah semua orang saling memberi hormat,
Pek Siau-thian alihkan sorot matanya ke arah Hong Liong yang
berada dikejauhan, kemudian serunya, “Beritahu kepada
suhumu, besok pagi aku hendak mengajak dia untuk bertemu
serta merundingkan soal penggalian harta karun!”
Hong Liong tahun ini berusia empat puluh tahunan, ia
sudah belajar ilmu selama tiga puluh tahun lebih, tak heran

kalau dia percaya dengan kemampuan ilmu silat yang
dimilikinya.
Ketika ia saksikan Pek Siau-thian bersikap jumawa dalam
hatinya, kontan hatinya jadi murka dan tak senang hati dalam
pandangannya toh ilmu silat orang itu belum tentu bisa lebih
tinggi dari kepandaiannya.
Tanpa ia sadari pula, perasaan tak senang itu segera
tertera diatas wajahnya.
Pek Siau-thian adalah seorang manusia ysng berotak
brillian, sudah tentu perubahan sikap lawannya tak lolos dari
pandangan matanya, cepat ia dapat menangkap maksud hati
orang itu, katanya dengan dingin, “Hmm! Kalau urusan ini bisa
kau putusi tak mungkin gurumu akan bersusah payah jauh
jaub datang serdiri kedaratan Tionggoan, huh bobotku
bukanlah bobot yang bisa kau tandingi”
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Kenyataan toh
menunjukkan bahwa kalian guru dan mnrid tidak sempai
merugikan putriku, aku sendiripun ogah untuk mencari
perkara dengan kalian, bila kau tak puas, nantikan saja
kedatangan bocah she Hoa dan tantanglah dia untuk berduel”
Habis berkata sambil ulapkan tangannya, ia lantas berlalu
dari tempat itu.
Sudah puluhan tahun Pek Siau-thian meminpin dunia
persilatan tentu saja sikap maupun daya pengaruhnya
berbeda jauh dengan orang biasa apalagi Hong Liong hidup
diluar daratan Tionggoan, penga-lamannya juga amat cetek,
sekalipun ilmu silatnya lihay, ia masih kalah jauh bila
dibandingkan dengan Pek Siau-thian.

Dalam pada itu, ketua dari Sin-kie-pang telah membawa
orang-orangnys untuk berlalu dari situ, setelah mencari
daratan yang agak tinggi letaknya, ia perintahkan orang untuk
beristirahat dan besok pagi baru mencari bahan kayu untuk
membangun rumah buat persiapan untuk berdiam agak lama
disitu.
Dengan dahi berkerut, Kho Hong-bwee berpaling kepada
suaminya, lalu tanyanya, “Engkau punya rencana untuk
tinggal berapa lama disini?”
“Paling capat dua bulan paling lama setengah tahun, aku
akan berdiam terus disini sampai istana Kiu ci kiong tergali
dan harta karunnya ditemukan kita!”
Tiba-tiba Pek Kun-gie menyela diri samping, katanya,
“Ayah, Tang Kwik-siu memiliki sejilid kitab yang isinya berupa
catatan rahasia ilmu silat, pada halaman yang terakhir dari
buku itu aku lihat seolah-olah tercantum sebuah peta bumi,
seringkali bila tak ada orang, diam-diam Tang Kwik-siu ambil
keluar peta tersebut dan memandangnya dengan wajah
mendelong”
“Ooh….! iya?” seru Pek Siau-thian dengan wajah rada
berubah, “telah kuduga kalau Tang Kwik-siu mengandaikan
sesuatu dalam usaha pencarian harta karun ini, tak kunyana
kalau benda yang sangat diandalkan olehnya adalah sebuah
peta bumi!”
Ia lantas berpaling ke arah Kiong Thian yu serta Thian sun
pou, kemudian sambungnya lebih jauh, “Kiong jiko, Thian sun
Lote, menurut dugaan kalian berasal darimanakah kitab serta
peta bumi yang dimiliki Tang Kwik-siu itu?”
Kiong Thian yu termenung sebentar, kemudian sahutnya,
“Mungkin juga kitab itu adalah benda yang berasal dari istana

Kiu ci kiong, tentang apa isi dari peta itu…. waah! Rada sulit
untuk menduganya.”
“Tang Kwik-siu memahami aneka ragam ilmu silat dari
pelbagai partai persilatan yang ada didunia ini” tukas Pek Kungie
lagi, jangan-jangan kitab tersebut adalah sumber dari
segala cabang ilmu silat yang berhasil dikuasainya itu?”
Tiangsun Pou yang selalu membungkam tiba-tiba berkata,
“Ada kemungkinan besar kalau isi peta bumi itu merupakan
petunjuk ke arah lorong rahasia yang menghubungkan tempat
penyim panan harta, tapi asal dapat kulihat sebentar saja aku
yakin letak tempat itu pasti akan segera kukenali”
Pek Kun-gie memutar sepasang biji matanya yang jeli,
kemudian ujarnya pula, “Empek Kiong, paman Tiangsun, ruparupanya
sudah lama kalian mengetahui rahasia tentang harta
karun ini?”
Tiangsun Pou menghela napas panjang.
“Aaai….! seratus tahun berselang berita soal harta karun
sudah bukan rahasia lagi, hampir setiap manusia yang ada
didunia ini mengetahui akan berita tersebut tapi oleh karena
sering kali mengalami kegagalan maka banyak orang jadi
kecewa putus asa dan akhirnya masalah yang sangat hangat
ini menjadi dingin dengan sendirinya meskipun begitu bukan
berarti persoalan ini sudah dilupakan orang, tiap orang
seakan-akan hanya menunda pelaksanaan pencarian itu untuk
sementara waktu, menanti kesempatan yang sangat baik telah
tiba, barulah mereka kerjakan kembali. Leluhurku mempunyai
hubungan yang erat sekali dengan masalah harta karun ini,
setiap kali mereka akan menghembuskan nafas yang terakhir,
rahasia ini selalu diwariskan turun temurun kepada generasigenerasi
yang akan datang, kami selalu menganggap
permasalahan ini sebagai masalah besar, tapi oleh karena

besarnya hubungan soal ini dengan keluarga kami maka soal
inipun semakin kami rahasiakan. Dengan dasar itulah maka
kecuali mereka-mereka yang mempunyai hubungan erat
dengan persoalan ini, tak mungkin mereka akan mengetahui
duduk persoalan yang sebenarnya.
Jilid 30 : Persekutuan Sin Kie Pang dan Seng Sut Pay
PEK SIAU-THIAN yang berada di sampingnya lantas
menambahkan pula dengan lantang, “Empek Kiong mu ini
adalah ahli waris dari partai persilatan Hoa san pay, kitab ilmu
pukulan dan ilmu pedangnya sudah terampas dan tersimpan
dalam istana Kiu ci kiong”
Kiong Thian yu ikut menghela napas panjang.
“Yaaah….! leluhur paman Tiangsun mu adalah seorang
tokoh yarg amat tersohor pada waktu itu, orang sebut dirinya
sebaai Seng jin lu pan (Lu pan bertangan sakti) istana Kiu ci
kiong ini adalah hasil karyanya yang paling cemerlang, tapi
setelah ia selesai membangun istana Kiu ci kiong ini, sampai
tua ia disekap oleh Kiu-ci Sinkun dalam penjara hingga akhir
hayatnya, banyak sekali kitab-kitab bangunan yang penting
artinya terpendam didalam istana tersebut!”
Perlu diketahui Lu pan adalah seorang ahli dalam bidang
pembangunan yang amat tersohor sekali pada dynasti Ciu, ia
berasal dari negeri Lu, oleh karena lihaynya dalam konstruksi
bangunan maka namanya selain dipakai untuk julukan mereka
yang memiliki kemampuan setaraf dengan ahli bangunan kuno
itu.
Tiangsun pou menghela napas panjang, kemudian dia
berkata pula, “Leluhur paman Kiong mu juga seorang jago
yang sangat lihay, beli au dapat melukis dua ekor naga

dengan dua belah tangannya secara bersamaan, begitu
lihaynya lukisan itu sehingga meskipun berbareng namun
kemiripannya tak jauh berbeda, aaai! Bila aku mempunyai
kemampuan setinggi itu maka menggali istana Kiu ci kiong
bukan pekerjaan yang sulit lagi bagiku.”
“Paman tak usah murung ataupun kesal” hibur Pek Kun-gie,
menurut penilaian keponakanmu, usaha kita dalam menggali
harta karun kali ini seratus persen pasti akan berhasil.
Ia lantas membeberkan bagaimana Tang Kwik-siu
mempunyai rencana untuk bekerja sama dengan para jago
dari daratan Tionggoan serta siasat-siasat apa yang akan
dilakukan iblis tua itu.
Selesai mendengar penjelasan tersebut Pek Siau-thian
tersenyum, lalu ujarnya, “Haahh…. haahhh…. haahhh….
keadaan ini ibaratnya tiga ekor binatang buas yang
menyeberangi sungai bersama, masing-masing pihak hanya
bisa menggantungkan pada nasib serta rejeki sendiri-sendiri,
siapapun bisa berhasil asal kan dia mempunyai rejeki yeng
baik tapi bagaimana hasilnya? untuk sementara waktu lebih
baik jangan dibicarakan lebih dulu”
Setelah berhenti, sebentar dia melanjutkan.
“Ana Kun, baju kuning itu kurang sedap dipandang mata,
cepatlah berganti pakaian!”
Pek Kun-gie mengangguk, ia lantas menghampiri encinya
unuk pinjam pakaian.
Buru-buru Pek Soh-gie membuka buntalan dan mengambil
keluar pakaian sendiri lalu menemui adiknya masuk kehutan
untuk tukar pakaian.

Orang-orang dari pihak Sin-kie-pang membawa rangsum
kering, setelah bersantap mereka duduk sambil kongkouw,
waktu itu Tang Kwik-siu telah kembali pula dari rondanya,
dengan membawa sekelompok anak muridnya mereka duduk
didepan rumah.
Jarak antara kedua belah pihak hanya terpaut satu
panahan belaka, dari kejauhan mereka dapat saling
berpandangan.
Selama ini Pek Kun-gie selalu tutup mulut dan
merahasiakan masalah dipagutnya pergelangan tangan kirinya
itu oleh kelabang langit, sebab itu hubungan antara pihak Sinkie-
pang dengan Seng sut pay bisa berlangsung dengan
tenang tanpa urusan, malahan mereka telah bersiap sedia
untuk bekerja sama dan saling memanfaatkan keuntungan
serta kelebihan yang dimiliki oleh pihak lawannya.
Rembulan telah memancarkan sinarnya dari tengah awangawang,
malam itu sunyi sepi dan tak kedengaran sedikit
suarapun, angin yang dingin berhembus sepoi-sepoi
menyejukkan badan.
0000O0000
86
DALAM keadaan sesejuk ini, mereka yang memiliki tenaga
dalam agak sempurna masih duduk bersemedi sambil
menggatur napas, sedangkan mereka yang bertenaga dalam
cetek sudah tertidur pulas.
Pek Soh-gie duduk didepan sebuah batu cadas,
punggungnya bersandar diatas batu itu sambil mengantuk,
sedangkan Pek Kun-gie berbaring diatas tanah dengan

menggunakan kaki kakaknya sebagai bantal, ditengah
keheningan suasana, diapun mulai terkantuk-kantuk.
Mendadak dari tempat kejauhan muncul belahan sosok
bayangan manusia, dengan cepatnya mereka berlari mendekat
dan menuju menuju ke arah mereka berada.
Pek Siau-thian yang bermata tajam, segera dapat
mengenali orang-orang itu sebagai anak buahnya, cepat ia
memburu kedepan dan menyambut kedatangan mereka.
Perkumpulan Sin-kie-pang tak malu disebut sebagai suatu
perkumpulan dengan organisasi yang bagus serta peraturan
perkumpulan yang ketat, sekalipun para pelindung hukum
maupun tongcunya kebanyakan adalah jago-jago persilatan
namun selelah bergabung dengan perkumpulan itu gerak-gerik
mereka jadi disiplin dan mentaati peraturan, berbeda jauh
dengan perbuatan kasar serta berangasan yang sering kali
diperlihatkan para jago dari rimba hijau.
Rupanya kedatangan rombongan inipun karena mendapat
perintah dari Pek Siau-thian, setelah tiba dan memberi hormat
serentak mereka membubarkan diri untuk mencari tempat
beristirahat, selang sesaat kemudian suasana diatas puncak
kembali pulih dalam keheningan.
Kurang lebih setengah jam kemudian anak buah
perkumpulan Sin-kie-pang rombongan yang kedua telah tiba
pula disana, menyusul beberapa jam kemudian rombongan
yang ketigapun tiba juga disitu, dalam semalaman saja sudah
lima puluh orang lebih jago-jago inti dari perkumpulan Sin-kiepang
yang telah berkumpul dibukit Kiu ci san.
Menjelang fajar tiba-tiba diatas bukit itu kedatangan
kembali segeromboagao jago persilatan rombongan itu
dipimpin oleh seorang perempuan berambut panjang dan

membawa tongkat hitam berkepala setan siapa lagi orang itu
kalau bukan Kiu-im Kaucu serta para anggota perkumpulan
Kiu-im-kauw nya.
Pek Siau-thian paling benci dan mendendam terhadap
pihak Kiu-im-kauw, sebenarnya dia berambisi besar dan citacitanya
adalah merajai seluruh kolong langit tapi setelah
pertarungan berdarah dilembah Cu-bu-kok hampir boleh
dikata semua impian indahnya telah hancur lembur hingga
lenyap tak berbekas.
Kekalahan pahitnya itu sekalipun berhubungan pula dengan
dahsyatnya pedang baja milik Hoa Thian-hong namun faktor
terpenting yang mempengaruhi kesalahannya ini adalah terlalu
banyak mata-mata Kiu-im-kauw yang menyusup kedalam
perkumpulannya, jumlah yang sangat banyak itu sangat
mempengaruhi kekuatan serta daya tempur pihak Sin-kiepang.
Sepanjang hidup, hanya kali itu saja Pek Siau-thian
mengalami kekalahan besar, tak heran kalau ia memandang
peristiwa tersebut sebagai suatu penghinaan, suatu peristiwa
yang paling memalukan sepanjang sejarahnya, ia telah
bertekad untuk membalas dendam hanya karena otaknya
memang cerdik, sebelum kesempatan baik tiba dia tak akan
melaksanakan niatnya itu secara gegabah.
Kendatipun demikian, ketika musuh besar saling
berhadapan muka, tak urung merah juga matanya karena
marah, ia mendengus dingin dan tertawa dingin tiada
hentinya.
Mendadak Tang Kwik-siu tertawa tergelak, kemudian ia
berseru, “Pek lo pangcu, bersediakah engkau menerima
undangan Tang Kwik-siu untuk merundingkan sesuatu?”

Pek Siau-thian berpaling, ia lihat Tang Kwik-siu dengan
jubah kuningnya yang berkibar terhembus angin sedang
berjalan mendekat dengan santai.
Ia lantas maju menyongsong kedatangannya, sesudah
balas memberi hormat, sahutnya, “Tang Kwik heng, dari
puluhan laksa li kau bersusah payah datang kebukit Kiu ci san
untuk mencari harta karun, tampaknya semua persiapan
rencanamu sudah masak sekali!”
“Haahh…. haaahh…. haahh….” Tang kwik Sin tertawa
terbahak-bahak, “saudara Pek mengapa tidak kau katakan
saja bahwa aku datang kedaratan Tionggoan untuk mencari
harta karun daratan Tionggoan kenapa engkau ganti dengan
bukit Kia ci san?”
“Dunia persilatan meliputi seluruh wilayah didaratan ini, apa
bedanya antara daratan Tionggoan dengan tepi perbatasan?
Saudara Tang kwik engkau terlalu memandang asing diri
kami.”
“Haahh…. haaahhh…. haaahh…. jadi kalau begitu maksud
saudara Pek bahwa kamipun berhak untuk menggali harta
karun itu?”
“Setiap benda yang ada didunia ini adalah milik tiap
manusia yang hidup dibumi ini kalau toh aku berhak menggali
mengapa saudara Tang kwik tidak berhak untuk menggalinya
pula?”
Sekali lagi Tang kwik Sin tertawa terbahak-bahak.
“Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa Pek heng
adalah seorang tokoh persilatan yang sejati, setelah bertemu
hari ini dapat kubuktikan bahwa berita itu memang bukan
nama kosong belaka”

“Terlalu memuji…. terlalu memuji….” sahut Pek Siau-thian
dengan cepat.
Berbicara sampai disini dua orang jago silat itu saling
berpandangan kemudian kembali tertawa terbakak-bahak.
Belum habis tertawa mereka, dari bawah bukit sebelah
utara kembali muncul serombongan manusia, orang pertama
adalah seorang pemuda berwajah tampan dengan sebilah
pedang tersoren dipinggang, siapa lagi pemuda itu kalau
bukan Hoa Thian-hong….
Dibelakangnya mengikuti empat datuk dari bukit Huangsan,
Cu Im taysu, Suma Tiang-cing. Ciu Thian hay yang
khusus diundang dari telaga Tay ou dan paling terakhir adalah
Giok Teng Hujin yang berkain cadar hitam serta dayangnya
Pui Che-giok.
Begitu menyaksikan hadirnya empat datuk dari bukit
Huang-san bersama dengan rombongan Hoa Thian-hong,
kontan sepasang alis mata Tang Kwik-siu berkeryit, ia lantas
berpaling ke arah Pek Siau-thian seraya berkata, “Saudara
Pek, merekalah yang merupakan rombongan penggali harta
karun yang sebenarnya, aaai…. memang kita hanya kebagian
tempat untuk menguntit dibelakang orang ini saja!”
Begitu dilihatnya Hoa Thian-hong munculkan diri, Pek Siauthian
sudah merasa kheki apa lagi setelah mendengar
perkataan dari Tang Kwik-siu kontan ia mendengus dingin.
Melihat siasatnya termakan, Tang Kwik-siu tertawa dalam
hati, selain itu diapun merasa lega dan menghembuskan
napas panjang lan-taran diketahuinya bahwa hubungan kedua
orang itu memang tak akur.

Setelah mendaki keatas bukit, ketika melewari disamping
Khe Hong bwe pemuda Hoa Thian-hong segera memberi
hormat sambil berkata, “Maaf bibi karena ada masalah lain
aku yang muda datang terlambat….”
Kho Hong-bwee yang cerdik tentu saja tahu bahwa
perkataan itu sengaja ditujukan kepda putrinya, ia tersenyum.
“Aku sendiri pun kemarin malam baru tiba, sepanjang jalan
tentunya kau merasa lelah bukan? Beristirahatlah dulu
disana!”
Hoa Thian-hong mengiayakan berulang kali, kemudian ia
berpaling ke arah Pek Kun-gie, ketika dilihatnya gadis itu
bersikap diam dan hambar, seolah-olah sama sekali terasa
asing terhadap dirinya, kembali ia tertegun.
“Apakah racun keji yang bersarang ditubuhmu telah
punah?” tegurnya lirih.
“Racun keji apa?” seru Kho Hong-bwee dengan nada
terperanjat.
“Dahulu aku sudah tergigit makhluk beracun tapi sekarang
sudah sembuh” sahut Pek Kun gie dingin.
Ketika dilihatnya sikap serta paras maka dara itu kurang
baik, Hoa Thian-hong segera maju kedepan dan
menggenggam tangan kirinya, kemudian ia singkap ujung
bajunya.
Diatas pergelanggan tangannya yang putih dan halus
tampak dua bekas gigitan merah masih membekas disitu.
Sekuat tenaga Pek Kun-gie meronta dan melepaskan diri
dari cekalan si anak muda itu kemudian teriaknya dengan

mendongkol, “Kau tak usah mencapai urusanku, urusi
persoalanmu sendiri, soal mati hidupku tak usah kau
kuatirkan!”
Hoa Thian-hong tertegun, paras mukanya berubah jadi
pucat kehijau-hijauan, selang sesaat kemudian dengan
langkah lebar ia berjalan menuju kehadapan Tang Kwik-siu
sambil menyalurkan tangannya kedepan, serunya lantang,
“Ciangbunjin kalau engkau mempunyai obat pemunahnya,
harap segera diserahkan kepadaku!”
Paras muka Pek Siau-thian berubah hebat, ditatapnya
wajah Tang Kwik-siu tajam-tajam kemudian ia mendengus
dingin.
Menyaksikan perubahan wajahnya itu, Tang Kwik-siu
segera tertawa terbahak-bahak.
“Haah…. haahh…. haahh…. obat pemunah tentu saja ada,
apalagi hubunganku dengan saudara Pek sudah menjadi erat,
sekalipun saudara Pek tidak mengatakannya keluar siaute pun
akan mempersembabkan obat pemunah itu kepadamu”
Kiu-im Kaucu yang berada dipihak lain, tiba-tiba menyindir
sambil tertawa tergelak.
“Haaahh…. haaahhh…. haahh….Hoa Thian-hong rupanya
tak berguna, engkau repot-repot begitu toh mereka adalah
sobat lama!”
Mendadak Hong Liong menyelinap dibelakang tubuh Hoa
Thian-hong, kemudian sambil tertawa dingin, katanya, “Bocah
keparat, obat pemunahnya berada disaku toaya mu, kalau
engkau menginginkan obat pemunah itu, menangkan dulu
toayamu!”

Tang Kwik-siu berkata sambil berkata tergelak, “Hoa
kongcu, dia adalah muridku Hong Liong, sudah lama ia
mengagumi nama besarmu dalam dunia persilatan dan
sekarang ingin minta beberapa petunjuk ilmu silat darimu,
harap engkau suka memberi pelajaran, obat pemunahnya
pasti akan diserahkan kepadamu.”
Berbicara sampat disini, ia lantas berpaling ke arah Hong
Liong dan berkata pula, “Hoa Kongcu adalah seorang
pendekar sejati dari daratan Tionggoan, ia bersedia melayani
dirimu berarti pula ia menaruh rasa hormat kepadamu,
bertempurlah dengan batas dua ratus gebrakan kalau kalah
mengaku saja kalah jangan sekali-kali main sabun!”
Hong Liong bertepuk tangannya sekali, lalu serunya, “Hey
bocah cilik, hayo majulah!”
Betapa gusar dan mendongkolnya Hoa Thian-hong melihat
kesombongan musuhnya, ia lantas berpikir, “Bila ingin
menaklukkan hati orang maka aku harus mendemon-trasikan
pula kemampuan yang kumiliki, tampaknya sukar bagiku
untuk menyelesaikan masalah harta karun dengan jalan
damai, aneka ragam manusia telah berkumpul disini, siapa
yang sudi memberi muka padaku?”
Berpikir sampai disitu ia lantas mengambil keputusan untuk
memamerkan kekuatannya dihadapan musuh.
Tanpa banyak bicara lagi telapak tangan kirinya segera
diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan udara kosong.
Hong Liong tak berani bertindak gegabah, iapun tak sudi
bertindak sungkan-sungkan, melihat musuhnya sudah turun
tangan diapun membentak keras dan melepaskan pula
serentetan pukulan balasan.

Sejak terjun kedalam dunia persilatan hampir boleh dibilang
setiap hari Hoa Thian-hong berkecimpungan dalam
pertarungan-pertarungan seru, pengalamannya dalam
menghadapi pertempuran boleh dibilang sangat luas dan
banyak.
Dengan dasar pengalamannya ini maka sekali bentrok dia
lantas tahu kalau Hong Liong benar-benar telah mendapatkan
warisan lang sung dari Tang Kwik-siu, berbicara dalam soal
ilmu pukulan, belum tentu dirinya bisa menangkan lawan.
Sementara dua orang jago silat itu baru saja bertempur,
dari bawah bukit kembali muncul serombongan manusia yang
dipimpin oleh seorang kakek tua berlengan tunggal, dia adalah
Jin Hian bekas ketua Hong-im-hwie yang telah buyar,
Dibelakang mengikuti pula seorang imam tua yang tak
berkaki lagi, imam itu berjalan dengan menopang dua batang
toya baja, orang itu tak lain adalah Thian Ik-cu bekas ketua
Thong-thian-kauw.
Sedang jago-jago lainnya yang berjumlah hampir tujuh
puluh orang itu antara lain adalah Malaikat kedua Sim Ki an
serta bekas anggota Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw.
Kedua kelompok kekuatan itu terhitung kelompok yang
paling lemah, sewaktu melewati kota Sam kang sian, Hoa
Thian-hong telah bertemu dengan mereka, tapi toh
kedatangan mereka masih tetap tertinggal selangkah
dibelakang.
Sementara itu pertarungan yang sedang berlangsung
antara Hoa Thian-hong melawan Hong Liong masih berjalan
dengan serunya, sekejap mata mereka telah bergebrak
sebanyak enam puluh jurus, menanti Jin Hian serta Tbian Ik

cu sudah tiba ditepi gelanggang, kedua orang itu sudah
bertempur hingga mencapai ratusan gebrakan.
Sepanjang pertarungan itu berlangsung, Hoa Thian-hong
selalu merasa gelisah dan tak tenang, pikirnya dihati, “Sejak
pihak Seng sut pay mendapat bantuan dari kitab Thian hua ca
ki, kemajuan ilmu silat yang mereka miliki telah peroleh
kemajuan yang pesat sekali, buktinya Hong Liong pun memiliki
tenaga dalam yang amat sempurna tak mungkin aku bisa
menangkan dirinya secara gam pang, padahal dia tak lebih
cuma seorang muridnya Tang Kwik-siu kalau iapun tak dapat
kumenangkan bagaimana caranya aku bisa menaklukan para
jago lainnya serta meminpin operasi pencarian harta karun?”
Berpikir sampai disini tanpa terasa ia lantas menggigit
bibirnya kencang-kencang, sengaja ia membuka pertahanan,
dia memancing musuhnya agar masuk jebakan.
Benar juga, ketika Hong Liong menemukan titik kelemahan
tersebut betapa kejut dan girang hatinya cepat ia membentak,
“Kena!”
Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.
Semua peristiwa ini berlangsung dengan kecepatanb
sambaran kilat, sebelum semua orang sempat menjerit kaget
tiba-tiba Hoa Thian-hong mendengus dingin, telapak tangan
kirinya segera diayun kemuka dan mengirim pula sebuah
pukulan gencar.
“Plaak!”
Ketika sepasang telapak tangan itu saling beradu satu sama
lainnya, posisi Hoa Thian-hong tetap sekokoh bukit karang
sebaliknya tubuh Hong Liong bergetar keras

Tampaklah Hoa Thian-hong menggertak gigi dengan wajah
yang dingin menyeramkan, kaki kanannya melangkah maju
setindak, telapak tangan kirinya segera diayun kedepan
melepaskan sebuah pukulan kilat.
Serangan tersebut dilancarkan mengarah dada Hong Liong
kecepatan bagaikan sambaran petir dan lagi diluar dugaan,
dalam keadaan begini tak sempat lagi bagi Hong Liong untuk
mematahkannya, cepat-cepat ia tangkis keatas dan
menyambut kembali serangan tersebut dengan kekerasan.
“Plook….!” sekali lagi terjadi bentrokan dahsyat.
Sekujur badan Hong Liong gemetar keras, sambil
mendengus dingin ia muudur selangkah kebelakang, diatas
permukaan tanah jelas terteralah sebuah bekas telapak kaki
yang amat tajam.
Dalam hal jurus serangan, Hoa Thian-hong memang tak
dapat merebut kemenangan maka ia pertaruhkan tenaga
dalamnya untuk menggertak tubuh sang lawan.
Maka begitu serangannya telah dilancarkan, ia melangkah
maju kemuka, pergelangan tangannya kembali diputar dan
melancarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan.
Hong Liong betul-betul terdesak hebat, tiada jalan lain
baginya didalam keadaan seperti itu kecuali menangkis
ancaman tersebut den gan keras lawan keras.
“Ploook! Ploook! Ploook!” secara beruntun Hong Liong
harus menerima enam buah pukulan berantai yang memaksa
tubuhnya mundur pula enam tangkah kebelakang.

Bekas telapak kaki yang tertera diatas permukaan batupun
kian kebelakang kian nyata dan dalam sepasang mata Hong
Liong melotot besar mukanya merah padam.
Sedangkan Hoa Thian hon bersikap dingin menyeramkan,
hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.
Sungguh gelisah dan cemas perasaan hati Tang Kwik-siu
menghadapi kejadian itu, dia masih ingat ketika terjadi
pertarungan dikota Lok yang tempo hari, Hoa Thian-hong bisa
mengimbangi permainan silatnya setelah mendapat petunjuk
dari Hoa Hujin, oleh sebab itu diapun ingin memberi petunjuk
pula kepada Hong Liong, agar ia bisa melepaskan diri dari
pertarungan sistim bayangan menempel dengan bayangan
dari pemuda she Hoa.
Apa mau dikata ia merasakan pula tenaga dalam yang
begitu sempurna dari Hoa Thian-hong, setiap pukulan-pukulan
yang dilancar kan selalu merupakan pukulan yang kuat dan
sederhana.
Walaupun tidak banyak tipu muslihat yang terselip dibalik
pukulan-pukulan itu, namun jelas tenaga dalam Hong Liong
belum bisa memahami musuhnya, itu berarti kendati pun ia
memberikan petunjuknya, belum tentu Hong liong dapat
meloloskan diri dari kepungan lawan.
Bisa dibayangkan betapa gelisahnya iblis Tua dari Seng Sut
pay ini, dia ingin mencari jalan lain tapi selalu gagal, untuk
sesaat lamanya ia tak tahu apa yang musti di lakukan.
Perlu diketahui, seluruh inti ilmu silat yang dimiliki Hoa
Thian-hong hanya terhimpun dalam satu jurus pukulan serta
enam belas ilmu pedang ilmu, silat tersebut tiada tipu muslihat
yang jitu, semuanya datar dan sederhana, justru

keampuhannya terletak pada kehebatan srrta kecepatannya
dalam mengerahkan tenaga dalam.
Contohnya adalah pertarungan antara Hoa Thian-hong
dengan Kiu-im Kaucu tempo hari, dengan padang bajanya
secara beruntun dia lepaskan berpuluh-puluh buah bacokan
keatas toya kepala setannya Kiu in kaucu padahal ilmu silat
perempuan Kiu-im-kauw ini luar biasa lihaynya toh ia tak
mampu melepaskan diri dari kejaran pedang lawan, dari sini
dapat ditarik kesimpulan betapa dahsyat dan sempurnanya
kepandaian silat si anak muda itu….
Sementara itu Hoa Thian-hong sendiripun meresa kaget
bercampur tercekat ketika ia saksikan enam buah pukulan
berantainya belum berhasil merobohkan Hong Liong, tentu
saja diapun tahu jika Hong Liong sampai dibikin mampus
urusan tak akan selesai sampai disitu saja sebaliknya kalau ia
disuruh melepaskan musuhnya dengan begitu ssja ia pun tak
sudi.
Akhirnya setelah putar otak dan berpikir beberapa saat
lamanya, tiba-tiba ia membentak keras, “Perduli amat, rasakan
pukulanku ini!”
Sebuah pukulan gencar segera dilepaskan kedepan
mengarah dada lawannya.
Pukulan itu sangat dahsyat dan menggunakan tenaga
sebesar dua belas bagian, lagi pula kecepatannya mengerikan
sekali.
Kaget dan panik Hong Liong menghadapi kejadian tersebut,
mukanya yang semula berwarna merah padam, seketika
berubah jadi pucat keabu-abuan.

“Hoa kongcu, kau yang menang dalam pertarungan ini!”
tiba-tiba Tang Kwik-siu berseru sambil tertawa terbahakbahak.
Sambil berseru ia maju kedepan dan menempelkan telapak
tangannya diatas punggung Hong Liong, kemudiaa menyeret
muridnya untuk mundur sejauh beberapa kaki ke belakang.
Darah panas yang bergolak dalam dada Hong Liong
bergelora makin keras, bahkan meluap naik keatas
tenggorokan, untungnya Tang Kwik-siu bertindak cepat,
sehingga darah yang hampir dimuntahkan keluar dalam
dicegah kembali.
Padahal Hoa Thian-hong sendiripun hanya menyiapkan
pukulan itu sebagai suatu gertak sambal belaka, setelah pihak
musuh menyerah kalah, iapun segera membuyarkan seluruh
tenaga pukulannya.
Kendatipun kemenangan berhasil diraih, ia sendiri
merasakan suatu perasaan yeng kosong dan hambar….
Dari sakunya Tang Kwik-siu mengambil keluar sebiji obat
berwarna merah, seraya diberikan ketangan pemuda, itu
katanya sambil tertawa, “Telah lama aku dengar orang
berkata bahwa kongcu telah makan teratai racun empedu api
serta Leng-ci berusia seribu tahun sehingga tenaga dalammu
makin sempurna dan tiada tandingannya dikolong langit,
ternyata memang begitulah keadaannya!”
Apa yang dimaksudkan dalam kata-katanya itu sudah
cukup jelas, yaitu ia memujih kemenangan yang berhasil
diraih Hoa Thian-hong tidak lebih hanya lantaran bantuan
serta kasiat dari dua macam obat mustika itu belaka.

Tiba-tiba Ciu Thian bau menyindir dengan ketus, “Hmm!
Katanya saja yang kalah harns mengaku kalah, yang menang
harus mengaku menang, sekalipun kalah tak boleh main
sabun. Huuh….! Kenapa mesti menggunakan kata-kata yang
tak berguna itu?”
Tang Kwik-siu segera berpaling, lalu menegur, “Jago lihay
dari manakah engkau? Maaf aku tidak mengetahuinya!”
“Hmm! Aku she Ciu bernama Thian hau.”
Dalam pada itu, Hoa Thian-hong telah menerima obat
berwarna merah itu sambil menyela, “Tang kwik sianseng,
kedatanganmu kedataran Tionggoan kali ini bertujuaa
menggali harta ataukah ingin menjumpai orang gagah yang
ada didaratan Tionggoan?”
“Bagaimana kalau tujuanku menggali harta? Dan
bagaimana pula kalau tujuanku adalah ingin bertemu dengan
orang gagah didaratan Tionggoan….?”
“Bila tujuanmu hendak menggali harta maka kita tak perlu
saling cekcok dan bertengkar, kita harus bersatu padu uutuk
bersama-sama menyelesaikan pekerjaan besar ini, siapa yang
lebih banyak menge-luarkan tenaga dia berhak mendapatkan
jumlah yang banyak sebaliknya siapa yang mengeluarkan
tenaga sedikit, dia hanya mendapatkan jumlah yang lebih
sedikit, keadilan akan tetap dijaga dan semuanya akan
diselesaikan sebijaksana-bijaksananya!”
Meskipun sudah kalah rupanya Hong Liong belum puas,
kembali hardiknya dengan suara keras, “Bagaimana kalau
tujuan kami adalah untuk menemui para orang gagah
didaratan Tionggoan?”
Hoa Thian-hong tertawa.

“Sebagian besar harta karun yang berada didalam istana
Kiu ci kiong ini adalah kitab pusaka ilmu silat, bila Seng sut
pay kalian merasa berilmu tinggi dan merasa yakin kalau
dapat menangkan orang gagah yang ada didaratan
Tioaggoan, lantas apa gunanya kalian mendapatkan kitabkitab
pusaka itu? Bukankah kehadiran kalian hanya akan
mengurangi jatah kami orang Tionggoan dalam pembagian
nanti? Kalau memang begini, apa salahnya kalau kami orang
Tionggoan beradu kepandaian dulu dengan kalian, Jika orang
Seng sut pay berhasil dikalahkan dan kembali kesarangnya,
kami baru menggali harta karun ini dan menikmati kitab-kitab
tersebut bagi kepentingan kami orang Tionggaan!”
Pek Siau-thian yang mengikuti jalannya pembicaraan
tersebut, dalem hati kecilnya lantas berpikir, “Hebat amat
binatang kecil ini! Bukan saja ilmu silatnya peroleh kemajuan
yang pesat, cara berbicaranya pun jauh lebih lihay dari
siapapun juga, ia tak boleh dipandang enteng….!”
Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa tergelak, kemudian katanya,
“Kedua cara itu memang bagus sekali, kami Kiu-im-kauw
bersiap sedia menempuh dengan cara apapun, baik urusan
main senjata, adu kekerasan maupun dalam urusan menggali
bumi mencari harta, kami orang-orang Kiu-im-kauw
memutuskan diri untuk berdiri dibelakang Hoa kongcu!”
Berbicara soal adu mulut, Hong Liong lebih-lebih kalah jauh
dari orang lain, dan lagi Tang Kwik-siu juga mengetahui
sampai dimanakah kelilayan dari Kiu-im Kaucu, karena kuatir
muridnya mencari gara-gara lagi, cepat katanya sambil
tertawa, “Kita semua adalah orang-orang persilakan, tentu
saja setiap orang berharap dapat mengukur ilmu dengan
orang lain, sayangnya Seng sut pay kami pun mempunya
sejenis benda mustika yang tersimpan pula dalam istana Kiu ci
kiong, kami perlu menggali dulu istana ini dan mengambil

kembali benda tersebut, aku lihat lebih baik hubungan kerja
kita memang jangan sampai diganggu lebih dulu oleh urusan
sepele!”
Pek Siau-thian juga berpikir, “Nenek setan itu sudah
mengutarakan sikapnya berdiri dibelakang binatang cilik itu,
entah apa maksud tujuannya dibalik kesemuanya itu?”
Berpikir sampai disini, segera ujarnya, “Kunci yang paling
utama dalam penggalian harta karun ini adalah bagaimana
cara menggalinya sehingga tidak sampai menyentuh nadi
bumi yang bisa mengakibatkan terjadinya tanah longsor,
gempa bumi, banjir serta tanah merekah. Untungnya
keturunan dari Seng jiu lu pan ahli bangunan yang mendirikan
istana Kiu ci kiong di masa lampau telah hadir pula disini saat
ini!”
Semua orang sama-sama merasa terperanjat, beratus-ratus
pasang mata serentak dialihkan ke arah rombongsn Sin-kiepang.
Tiangsun Pou maju selangkah kedepan, sesudah memberi
hormat kepada semua jago ia memperkenalkan diri, “Aku yang
tak becus adalah Tiangsun Pou masih cetek dan serba
terbatas ilmu bangunan yang aku kuasahi.
Pek Siau-thian segera menyambung, “Tentang asal usul
dari Tiangsun lote rasanya tiada sesuatu yang perlu
dibicarakan lagi dan sekarang ia bersedia untuk turut campur
dalam pencarian harta karun ini, entah bagaimana dengan
saudara yang lain? Apakah kalian ada pendapat tentang soal
ini?”
Maksud ucapan itu cukup jelas, dia sedang bertanya
kepada orang lain dengan mengandalkan apakah mereka akan
mencari harta.

Tang Kwik-siu yang pertama-tama menjawab, “Seng sut
pay kami memegang selembar peta rahasia, tanpa peta
rahasia itu sekalipun orang yang pernah memasuki Kiu ci
kiong dimasa lalu belum tentu bisa mendekati tempat
penyimpanan harta”
Berbicara sampai disini, dia lantas tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba Kiu im kancu berkata.
“Empat datuk dari gunung Huang-san pernah menyaksikan
sendiri istana Kiu ci kiong, merekapun pernah ikut dalam
usaha pencarian harta karun, dalam pekerjaan ini tak bisa
ketinggalan tenaga mereka berempat, dan kini mereka hadir
dipihak Hoa kongcu itu berarti Hoa kongcu berhak pula untuk
ikut serta dalam usaha pencarian harta karun ini”
Tampaknya Pek Siau-thian memang bermaksud untuk
menyingkirkan pihak Kiu-im-kauw dari pekerjaan itu, cepat ia
berseru dengan dingin.
“Lalu apa yang diandalkan Kiu-im-kauw?”
“Perkumpulan kami datang kesini hanya untuk membantu
usaha Hoa kongcu, waktu penggalian kami maju, waktu
pembagian harta kami mundur, harap para orang gagah tak
usah memikirkan persoalan ini”
Mendengar perkataannya yang begitu manis, Hoa Thianhong
dibuat serba salah, mau menangis tak bisa mau tertawa
pun tak dapat.
Baik Pek Siau-thian maupun Tang Kwik-siu sama-sama
mempunyai dugaan kalau antara Kiu-im Kaucu dengan Hoa
Thian-hong telah mengadakan kontak secara rahasia maka

dari itu pihak Kiu-im-kauw selalu membantu Hoa Thian-hong
dan berdiri dibelakangnya.
Ini bisa dibuktikan oleh mereka dari ke munculan Giok Teng
Hujin yang selalu berada dibelakang pemuda itu dan tak
pernah memisahkan diri padahal mereka tahu bahwa Giok
Teng Hujin adalah tenaga yang sa ngat berkuasa dalam
perkumpulan Kiu-im-kauw, tak mungkin perempuan itu berada
dipihak Hoa Thian-hong bila antara dua kelompok kekuatan itu
tidak pernah mengadakan kontak apa-apa.
Lebih-lebih Tang Kwik-siu yang kurang begitu paham akan
seluk beluknya dunia persilatan didaratan Tionggoan ini lebih
percaya lagi dengan ucapan Kiu-im Kaucu tadi
Maka sorot matanya lantas dialihkan ke arah Jin Hian serta
Thong-thian-kauwcu, tegurnya, “Bagaimana dengan sahabatsahabat
dari kelompok ini? Tujuan kalian hanya ingin meramaikan
suasana ataukah bertujuan untuk turut serta dalam
pencarian harta karun?”
“Kami datang kemari untuk adu nasib” sahut Jin Hian
dengan suara yang berat dan dalam, “bisa menggali kami
akan menggali, ada harta kami akan mengambil harta benda
dalam perut bumi yang tiada pemiliknya, aku rasa setiap
orang berhak untuk mendapatkannya dan siapapun tak usah
memperdulikan tindakan kami”
Sepasang alis mata Tang Kwik-siu kontan berkeryit, ia
berpaling ke arah Pek Siau-thian minta penjelasan.
Dengan suara hambar Pek Siau-thian menerangkan,
“Mereka adalah bekas jago-jago lihay dari perkumpuiau Hongim-
hwie serta Thong-thian-kauw!”

Sementara pembicaraan berlangsung, mereka saling
berpandangan dengan penuh arti, dalam waktu singkat inilah
kedua belah pihak telah mengadakan kontak perjanjian secara
diam-diam untuk menyingkirkan rombongan terakhir ini dari
percarian harta karun, hanya mereka belum memastikan
bagaimana caranya turun tangan.
Sementara itu Hoa Thian-hong yang berdiri didekat mereka
berdua sempat mengikuti jalannya lirikan dari kedua belah
pihak, makin meningkat usianya makin banyak pengetahuan
yang dimilikinya, betapa terperanjatnya dis setelah
menyaksikan perilaku dua pemimpin golongsn besar ini….
Ia tahu Sin Ki Pang telah bersekongkol dengan pihak Seng
sut pay didalam masalah percarian harta karun ini, bila kerja
sama ini dibiarkan berlangsung terus niscaya pihaknya yang
bakal terjepit.
Tiba-tiba terdengar Tang Kwik-siu berkata sambil tertawa,
“Hoa Kongcu, didalam masalah pencarian harta karun ini,
empat datuk dari gunung Huang-san, Tiangsun sianseng serta
peta rahasia milikku merupakan tiga faktor terpening yang tak
bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lain, karenanya
kami ingin bertanya kepadamu, bagaimanakah usul atau
saranmu dalam pekerjaan ini?”
Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, dalam hati
kecilnya dia berpikir, “Ditinjau dan situasi yang terpentang
didepan mata saat ini, permulaan dari penggalian harta karun
ini pasti akan diakhiri dengan derah manusia yang mengalir
dimana-mana, suatu hasil yang baik su dah pasti tak mungkin
terjadi, bila aku tak mampu mengendalikan tingkah laku
beberapa orang gembong iblis ini dengan kata-kata,
bagaimana caranya aku bisa mengatur serta menguasai
keadaan?”

Untuk sesaat ia tak tahu apa yang mesti dilakukan,
akhirnya ia menjawab juga, “Menurut apa yang kuketahui,
masih banyak sekali jago persilatan yang belum hadir disini
dan beberapa hari mendatang mereka tentu akan berkumpul
semua ketempat ini, aku rasa bila kita bersatu padu maka
persoalan gampang diselesaikan, tapi bila kita tercerai berai
niscaya usaha ini akan mengalami kegagalan, apa salahnya
kalau kita undurkan sampai tengah hari besok berkumpul
kembali serta merunding-kan lagi masalah ini….?”
Tang Kwik-siu tertawa.
“Betul….! Betul….! Persoalan yang sangat penting artinya
ini memang tak perlu dirundingkan dalam waktu singkat,
bagaimana pendapat saudara Pek?”
“Kalau akuu sih tak ada perkataan lain” jawab Pek Siauthian
hambar, dia lantas memberi hormat dan mengundurkan
diri dari situ.
Hoa Thian-hong pun memberi hormat kepada Tang Kwiksiu
lalu ikut berlalu dari situ.
Perasaan hatinya pada saat ini terasa amat berat sekali, ia
tak akur dengan Pek Siau-thian, walaupun dengan Pek Kungie
dia ada hubungan yang luar biasa namun pada Waktu itu
sikap dara itupun kurang begitu menyenangkan, maka setelah
mempertimbangkan keadaannya beberapa saat, akhirnya ia
serahkan obat penawar itu kepada Kho Hong-bwee, dan iapun
kembali pada rombongannya.
Setelah berkumpul dengan kawanan jago kaum lurus, tibatiba
terdengar Ciu Thian bau berkata sambil menunjuk ke arah
puncak bukit sebelah kiri.

Tempat itu paling tinggi letaknya, lebih baik kita membuat
tenda disitu saja, selain letaknya terpencil, dan lagi kitapun
dapat mengawasi gerak-gerik kawanan bajingan itu.
Setelah semua orang setuju, maka berangkatlah kawanan
jago itu untuk bertenda di kaki bukit, sementara orang-orang
dari Kiu-im-kauw bertenda dipuncak bukit itu.
Jarak antara kedua belah pihak hanya beberapa puluh
tombak meski pun suara pembicaraan tidak kedengaran tapi
gerak-gerik mereka dapat saling terlihat.
Sementara Jin Hian dan Thian Ik-cu beristirahat ditempat
yang lebih kebelakang, merekapun memisahkan diri jadi dua
kelompok.
Setelah melakukan perjalanan semalaman suntuk, semua
orang merasa amat lelah, setelah bersantap mereka duduk
bersemedi untuk mengatur pernapasan.
Hanya Hoa Thian-hong seorang yang kelihatan tidak
tenang, ia merasa banyak urusan yang memenuhi benaknya
semakin dipikir ia merasa semakin kalut, akhirnya dengan
wajah yang murung bercampur kesal ia duduk sambil
bertopang dagu.
Cu Im taysu merasa tak tega, ia menghampiri si anak muda
itu dan bertanya, “Thian-hong marilah kita bicarakan
persoalaan yang sedangkan kau hadapi, siapa tahu kalau
dengan perundingan tersebut dapat mengu rangi
kemurunganmu?”
Hoa Thian-hong segera menggeleng.

“Kekuatan pihak kita berlalu minim dan kecil, sekalipun
harta karun dapat tergali, itupun tak dapat kita milik sebab
mereka pasti akan saling merampas dan saling membunuh”
“Kalau ingin main rampas silahkan suruh mereka rampas!”
teriak Suma Tiang-cing dengan gemas, sampai waktunya
pilihkan buku-buku yang bagus-bagus dan rampaslah lebih
dulu kemudian lindungi empat datuk untuk mundur dari sini,
kami akan menghadang para pengejar dan menghancurkan
kawanan bajingan itu”
Dengan cepat Hoa Thian-hong menggeleng.
“Tujuan kita datang kesini bukanlah untuk merebut benda
mustika, kalau kita sampai terlibat pula dalam soal rampas
merampas maka tujuan kita yang sebenarnya akan menjadi
kabur artinya!”
“Bagaimanapun juga kita harus mencari akal untuk
membantai lebih dulu kawanan iblis dan bajingan dan Cui
Thian hau mengusulkan dengan suaranya yang dingin, “biln
bajingan itu sudah terastasi urusan selanjutnya gampang
untuk diselesaikan”
Hoa Thian-hong tertawa getir dan menggelengkan
kepalanya berulang kali.
Kemenangan boanpwe atas diri Hong liong tadi sudah tidak
cemerlang, apalagi jumlah anggota mereka sangat banyak,
main kekerasan sudah pasti tak akan berhasil.
Siapa suruh kau tidak menggunakan pedang!” omel Suma
Tiang-cing dengan mendongkol, buat apa kita musti sungkansungkan
terhadap kawanan manusia yang memalukan itu!”
Kembali Hoa Thian-hong tertawa getir.

Bila aku musti bertempur memakai senjata, mungkin Pek
Siau-thian dapat kukalahkan, Kiu-im Kaucu dapat kutandingi
dan bila ditanding-kan deegan Tang Kwik-siu sedikitnya juga
selisih tak seberapa tapi kendatipun kita bisa menangkan
mereka toh belum sampai menaklukan mereka? apalagi
menggantungkan kepandaian pada sebilah pedang bukan lah
suatu kemampuaan yang cemerlang.
Lalu bagaimana dengan ilmu yang kau pelajari dari kitab
Kiam keng?, tanya Cu Im taysu.
Aku selalu sibuk menyelesaikan pelbagai persoalan, boleh
di bilang tak ada waktu luang barang sedikitpun untuk
mempelajarinya, paling banter aku baru sempat membacanya
sekali”
“Kalau begitu berlatihlah dengan tekun” seru Ciu Thian-hau
dengan suara dalam, “bila berbasil, jagal dulu Tang Kwik-siu!”
Hoa Thian-hong mengangguk, setelah termenung sebentar
akhirnya ia agak tenang dan memandang puncak
dibelakangnya, kemudian baru katanya lagi.
“Boanpwe hendak duduk semedi diatas puncak itu sambil
mengingat-ingat jurus pedangku, harap cianpwe semua
menunggu disini saja.”
Semua orang mengangguk dan memandang bayangan
punggung si anak muda itu hingga lenyap dari pandangan
mata.
Puncak bukit itu tingginya mencipai enam tujuh kaki, luas
dataran dipuncak itu paling cuma lima depa tapi datar dan
merata.

Dudak seorang diri diatas puncak bukit itu, tanpa terasa
Hoa Thian-hong teringat kembali akan ibunya, duduk
menghadap ke utara benaknya segera dipenuhi oleh kenangan
sewaktu ibunya memberi petunjuk kepadanya waktu ia
berterangan melawan Tang Kwik-siu dikota Lok yang tempo
hari.
Diam-diam pikirnya dihati, “Sumber dari ilmu silat
sebenarnya hanya satu yang kemudian ber ubah-ubah
menurut situasi serta keadaan yang sedang dihadapi, mi
salnya saja kitab Kiam keng, sekalipun yang dimuat adalah
ilmu pedang toh tiada tercantum jurus-jurus pedang yang
pasti, itu ber arti ilmu silat dapat dipakai untuk melawan
musnh hanya disebabkan orang itu pandai melihat gelagat
serta tahu bagaimana cara menghindari sergapan musuh serta
melepaskan serangan balasan dengan gerakan tercepat dan
terganas…. berarti pula teori ini tak akan berbeda pula kalau
diterapkan pada ilmu pukulan maupun ilmu totokan.”
Kemudian ia berpikir lebih jauh, “Teori ilmn silat
mengatakan pula, untuk menghindari serangan musuh, maka
alangkah baiknya kalau kita gunakan serangan untuk
memunahkan serangan musuh, kalau toh teori ini sudah
kupahani, apa salahnya kalau kuleburkan teori ilmu pedang
yang kudapat kedalam permainan tangan kosong?
Bagaimanapun juga, daripada memakai pedang akan lebih
enak bertangan kosong belaka!”
Berpikir sampai disitu ia lantas mengambil keluar kitab
Kiam keng san dan sekali lagi membaca dari awal hingga
akhir.
Sementara itu tulisan serta lukisan yang tercantum dalam
kitab Kiam keng telah dipahami olehnya, maka setelah
membacanya sekali lagi, ia simpan kitab tersebut dan mulai

mengupas serta membahas setiap teori serta rahasia yang
didapatkan dari kitab tadi.
Semakin dipikir ia merasa semakin tertarik dan akhirnya
semua perhatian ingatan serta pikiran terpadu menjadi satu
untuk meeesapi makna dari teori-teori tersebut, dan tanpa
disadari pula pemuda itupun melupakan hal-hal lain.
Tengah hari Cu Im taysu diam-diam naik ke atas bukit,
ketika menyaksikan keadaan tersebut, ia tahu bahwa pemuda
itu sedang konsentrasi mempelajari ilmunya, maka setelah
meninggalkan rangsum dan air, padri inipun mengundur diri
dari sana.
Senja itu, Cu Im taysu berkunjung lagi ke atas puncak
bukit, tapi ketika dilihatnya pemuda itu tetap duduk tanpa
bergerak ma lahan ransum serta air yang disediakan tak
disentuhnya terpaksa ia turun lagi dari bukit itu.
Tengeh malam tiba-tiba Kiu-tok Sianci dari wilayah Biau
dengan membawa kedua belas orang muridnya tiba disana,
setelah di tanya oleh Cu Im taysu sekalian barulah diketahui
bahwa kitab pusaka Pek tok keng dari perguruan Kiu-tok
Sianci telah terjatuh pula didalam istana Kiu ci kiong, benda
tersebut merupakan kitab pusaka dari per-guruannya karena
itu mereka pandang tinggi peristiwa tersebut.
Sejak kitab itu lenyap, ilmu racun yang di miliki
perguruannya diwariskan berdasarkan ajaran mulut kemulut
tanpa dasar kitab bimbingan, lagi pula mereka kuatir kalau
kitab Pek tok teng tadi terjatuh ketangan orang lain, maka
begitu kabar tentang pencarian harta karun tersiar, buru-buru
berangkatlah mereka tinggalkab wilayah Biau menuju
kedaratan tionggoan,

Chin Wan-hong adalah murid terakhir dari Kiu tok sian ki
sedangkan Hoa Thian-hong dianggap menantu perguruan
mereka yang paling baik, apalagi usia kedua belas orang
muridnya hampir sebaya dengan Hoa Thian-hong dimana
hampir setengah tahun lamanya mereka pernah hidup
bersama dikala pemuda itu merawat luka racunnya dilembah
Hu-liang-kok, dalam pandangan mereka Siau long adalah
pujaan semua orang.
Oleh karena itu, dikala mereka saksikan pemuda itu cuma
duduk tak berkutik diatas puncak, semua orang lantas ribut
hendak menengok keatas puncak.
Kiu-tok Sianci kuatir muridnya membuat ribut, setelah
mencegah semua orang untuk ikut, seorang diri ia menengok
keatas bukit, setelah itu dia membakar dupa wangi disebuah
biolo dan memerintahkan muridnya yang paling besar Lau hoa
siaancu untuk mengangkutnya keatas bukit dan diletakkan
disamping Hoa Thian-hong.
Dupa wangi itu bukan sembarangan dupa, bila asap yang
berbau harum tersiar keluar, maka mereka yang mencium bau
dupa itu akan merasakan pikirannya jadi tenang dan segar
kembali.
Sehari telah lewat dengan cepatnnya, tengah hari
berikutnya Pek Siau-thian, Tang Kwik-siu, Kiu-im Kaucu
beserta Jin Hian serta Thian Ik-cu telah berkumpul dibukit
untuk merundingkan soal penca rian harta karun, waktu itu
Hoa Thian-hong masih duduk tak berkutik diatas puncak
sambil mendalami ilmu silatnya.
Dalam keadaan seperti ini, semua orang jadi geiisah, baik
Kiu-tok Sianci dan Cu Im taysu sekalian maupun Giok Teng
Hujin dan Pek Kun-gie semua orang merasa cemas, mereka
kuatir si anak muda itu terserang jalan api menuju neraka,

karena suasana yang kacau dan hangat, sekalipun demikian
merekapun tak berani menyadarkan pemula itu.
Akhirnya Kiu-tok Sianci dan Ciu Thian-hau mengadakan
rapat kilat, mereka menyadari betapa pentingnya keselamatan
Hoa Thian-hong pada saat ini, maka diputuskan untuk
mengutus Kiu-tok Sianci yang mewakili kawanan jago dari
kaum lurus untuk hadir dalam perundingan tersebut.
Kiu-tok Sianci maju menghampiri kawanan jago lainya,
kepada mereka ia menerangkan, Pada saat ini Hoa Thian-hong
sedang melatih diri ia tak dapat menghadiri perundingan
tersebut, muka aku akan mewakili dirinya didalam
perundingan ini.
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya kembali, “Orang Biau
mempunyai sebuah mustika yang tersimpan pula di dalam
istana Kiu ci kiong, aku rasa kamipun berhak untuk mengambil
kembali benda milik kami itu, Hoa Thian-hong bukan manusia
yang ber ambisi uniuk merampas barang milik orang lain,
kalian tak usah menguatirkan dirinya, semua persoalan akan
diselesaikan seadil-adilnya!”
Tang Kwik-siu tahu bahwa Pek Siau-thian tak sudi berbicara
dengan Kiu-im Kaucu, sambil tertawa ia lantas berkata.
“Bagus sekali kalau memang begitu, lalu entah
bagaimanakah pendapat dari Kiu-im Kaucu?”
Kiu-im Kaucu tidak lengsung menjawab, dalam hati
pikirnya, “Hmm! aku justru akan menanti sampai tibanya
kesempatan yang baik, akan kutunggu sampai benda-benda
mustika itu muncul lebih dulu sebelum mengambil tindakan
selanjunya”

Tentu saja jalan pikiran ini tak diutarakan keluar, sambil
tertawa jawabnya.
“Kedatangan kami orang-orang dari Kiu-im-kauw adalah
demi membantu usaha Hoa kongcu untuk mencari harta kalau
toh bukan Hoa kongcu yang memimpin usaha pencarian ini,
lebih baik kamipun mengundurkan diri dari pekerjaan besar
ini!”
Selesai berkata, dia lantas putar badan dan menyingkir dari
tempat tersebut.
Baik Tang Kwik-siu maupun Pek Siau-thian bukan manusiamanusia
bodoh, tentu saja merekapun tahu apa yang sedang
dipersiapkan Kiu-im Kaucu, namun sebagai jago yang
berpengalaman dalam dunia persilatan, mereka tak ingin
membongkar rahasia tersebut sebelum tiba waktunya, maka
sambil menahan diri, Tang Kwik-siu berpaling ke arah Jin Hian
seraya bertanya, “Bagaimanakah rencana saudara Jin serta
Thian Ik totiang?”
Rupanya antara Jin Hian dan Thian Ik-cu telah terjalin
perse-kongkolan yang erat, ketika mendengar pertanyaan itu,
Jin Hian segera menjawab, Sudah lama kami dengar orang
berkata bahwa istana Kiu ci kiong didirikan pada wilayah
seluas puluhan li yang luar biasa lebarnya, kami tak sudi
tunduk kepada orang lain dan kami berdiri sendiri tanpa
mengikuti siapapun, kalau orang lain menggali pintu depan,
kami akan menggali pintu belakang, kalau orang lain masuk
dari kiri maka kami akan masuk lewat pintu kanan, pokoknya
aku tak sudi melewati pintu yang digali orang lain.
Tang Kwik-siu tersenyum setelah mendengar perkataan itu.

“Bagaimana andaikata kalian menggali sehingga
menyentuh nadi bumi yang dapat mengakibatkan gempa
bumi, tanah longsor, serta air bah?” tanyanya.
Tiba-tiba Pek Siau-thian menyela, “Saudara Tang kwik,
tanah dan hutan tiada pemiliknya, kita bisa menggali orang
lainpun berhak menggali, biarlah mereka bekerja sambil
mengadu nasib toh bukan manusia yang berkuasa melainkan
Thian lah yang punya kuasa”
Mula-mula Tang Kwik-siu agak tertegun tetapi setelah
menyaksikan hawa nafsu membunuh yang menyelimuti wajah
Pek Siau-thian ia lantas dapat memahami maksud hatinya,
sambil tertawa terbahak sahutnya, “Perkataan dari saudara
Pek memang tak salah, agaknya dalam urusan menggali harta
karun ini hanya kita berdua saja yang harus mengeluarkan
tenaga!”
Pek Siau-thian tersenyum kepada Kiu-tok Sianci, ia
memberi hormat dan katanya, “Didalam urusan pencarian
harta karun ini biarlah aku bekerja sama dengan Kiu-tok
Sianci, tapi berhubung sian ci serta anak muridnya kaum
wanita semua maka tak perlu kalian turun tangan sendiri,
silahkan empat datuk dari bukit Huang-san saja yang tampil
kedepan untuk memberikan petunjuknya!”
“Empat datuk dari bukit Huang-san telah menyatakan
kesanggupannya untuk membantu usaha pencarian ini,
bahkan telah menyatakan pula bahwa mereka tidak berani
mengambil satu bendapun yang berada didalam istana Kiu ci
kiong!”
“Harta karun yang berada dalam istana Kiu ci kiong tak
terhingga banyaknya, sekalipun kami kemaruk juga tak
mungkin bisa memiliki semua kalau toh empat datuk itu tak

mau mengambil benda apapun biar kita beri pahala lain
kepada mereka sebagai tanda mata.”
Begitulah keputusanpun segera diambil dan sejak itu
Tiangsun Pou serta empat datuk dari bukit Huang-san
berkumpul jadi satu untuk mempelajari situasi letak dari istana
Kiu ci kiong dimasa lalu, kemudian meneliti pula keadaan
medan yang terbentang didepan mata saat ini.
Dalam pada itu, Tang Kwik-siu telah mempelajari pula
situasi dari air terjun di sebelah atas, dengan membawa anak
muridnya serta sebagaian anggota Sin-kie-pang mereka
berangkat keatas untuk membendung selokan dan
mengalihkan aliran air terjun ketempat lain.
Selain itu diapun mengutus orang untuk turun gunung dan
membeli alat perlengkapan serta bahan rangsum.
Hampir semua pekerja yang berkumpul diatas bukit Kiu ci
san adalah jago-jago persilatan berilmu tinggi, oleh karenanya
tenaga mereka sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari orang
biasa, selain itu gerak-gerik merekapun jauh lebih gesit.
Dengan kelebihan itulah hasil kerja mereka sangat
mengejutkan sekali, ketika malam menjelang tiba, aliran air
terjun tersebut sudah terbendung, dengan begitu telaga
dengan airnya mulai surut dan akhirnya mengering.
Empat datuk dari bukit Huang-san dan Tiangsun Pou
bekerja lembur, mereka berkumpnl diam sebuah rumah kayu
sambil mempelajari terus situasi istana.
Hoa Thian-hong sendiri masih tetap melatih ilmunya diatas
bukit, beberapa kali Pek Kun-gie dan Giok Teng Hujin hendak
naik ke bukit untuk menengok si anak muda itu, tapi oleh

karena mengetahui kelihayan dari Kiu-tok Sianci, mereka tak
berani mendekat.
Tengah malam, Chin Pek-cuan dengan membawa putranya
Chin Giok Linng telah tiba pula dari kota Keng ciu, menjelang
fajar secara beruntun tiba pula berpuluh-puluh orang penggali
harta dari pelbagai pelosok dunia persilatan, kebanyekan
mereka adalah jago-jago yang ada hubungannya dengan
harta karun diistana Kiu ci kiong.
Tapi setelah tiba disana, dan mereka saksikan hampir
semua jago kenamaan daru dunia persilatan baik dari
golongan putih maupun dari golongan hitam berkumpul
semua disitu, malahan ketua Siu ki pang dan kaucu dari Mokauw
berada pula disana, terpaksa mereka hanya berdiri
termangu dengan mata mendelong, siapapun tak berani turun
tangan secara gegabah.
Sampai menjelang tengah hari, telah seratus orang lebih
jago jago tanpa kelompok yang tiba dibukit itu, diantara
mereka terdapat pula keturunan dari pukulan sakti Huan Teng
dan pedang satu huruf Kongsun Tong, tentu saja diantara
mereka terdapat pula jago-jago yang datang untuk mencari
keuntungan diair keruh, malahan Tio Ceng tang yang berasal
satu desa dengan Hoa Thian-hong membatalkan niat nya
untuk menerima penyerahan kembali perusahaan piau kioknya
dikota Cho ciu dan buru-buru berkunjung pula ke bukit itu
Keika senja menjelang tiba, secara kasar Tiangsun Pou
telah berhasil membuat sebuah peta medan yang meliputi
lingkaran sekitar tempat itu.
Para jago dari Seng sut pay dan Sin-kie-pang mulai bekerja
mengangkuti batu dan membereskan keadaan medan dari
semua halangan, meskipun mereka terdiri dari kawanan jago
lihay, toh keadaanya tetap mengenaskan sekali.

Sebelum permukaan tanah disebelah kiri sempat
dibersihkan, Jin Hian dan Thian Ik-cu telah memerintahkan
anak buahnya untuk mulai menggali tanah disebehah lain.
Jarak antara kedua belah pihak sangat luas, tempat yang
rombongan dari Jin Hian dan Thian Ik-cu gali adalah sebidang
tanah dalam radius lima puluh kaki dari tempat yang
dikerjakand Pek Siau-thian, selain itu tanah yang mereka
galipun diluar daerah yang merupakan bekas selokan yang
dibendung pihak Sin-kie-pang.
Karenanya sepintas lalu orang akan mengatakan bahwa
pekerjaan mereka bebas, sedikitpun tadik menarik keuntungan
dari pihak lain, malahan boleh dibilang bagaikan air sungai tak
melanggar air sumur.
Ketika malam menjelang tiba, mereka berhati-hati menggali
tanah selebar dua kaki dengan dalam lima depa.
Berdiri di tempat kejauhan, Pek Siau-thian mengamati
pekerjaan yang dilakukan orang-orang itu, kemudian dia
berpaling ke arah Tang Kwik-siu dan tanyanya sambil tertawa,
“Saudara Tang kwik, coba lihatlah liang besar itu, apakah
terasa terlalu kecil kalau dibuat untuk mengubur kurang lebih
tujuh puluh orang?”
Dengan wajah serius Tang kwik Sio mengamati sekejap
tempat itu, kemudian sahutnya, “Aku rasa rada terlalu kecil,
kalau mereka mereka dibiarkan menggali satu hari lagi,
tentunya sudah cukup!”
“Kalau memang begitu, biarlah mereka menggali sehari
lagi!” kata Pek Siau-thian kemudian sambil mengangguk.

Selama dua orang tokoh silat itu melakukan perundingan,
Jin Hian maupun Thian Ik-cu sama sekali tak merasa kalau
ada orang yang sedang mengincar nyawa mereka apalagi para
jago yang datang tanpa kelompok semakin tak tahu akan
kejadian ini, malahan mereka telah bersatu untuk
merundingkan cara lain yang dirasakan dapat pula
mendatangkan hasil yang memuaskan.
oooOooo
87
SAMPAI keesokan harinya, ketika rombongan dari Pek Siauthian
mulai menggali tanah, para jago yang tidak berkelompok
juga mulai bekerja sama dan melakukan penggalian kurang
lebih empat lima puluh kaki jauhnya dari liang kecil yeng
dibuat rombongan Jin Hian.
Terhadap perbuatan orang-orang itu, baik Pek Siau-thian
maupun Tang Kwik-siu pura-pura tidak melihat, merekapun
tidak melarang o rang-orang itu untuk bekerja.
Suatu hari, diatas bukit tiba-tiba bermunculan tenda dan
rumah gubuk yang dibuat berjualan oleh rakyat disekitar bukit
itu, ada yang menjual teh, menjual arak, menjual barang
kebutuhan sehari-hari, menjual penggali tanah malahan ada
seorang nyonya setengah tua dengan membawa seorang dara
berusia lima enam belas tahanan menjual nyanyi di sana,
suasana jadi saut ramai sekali.
Malam ini adalah malam yang keempat, Hoa Thian-hong
belum juga turun dari puncak bukit, meskipun kebanyakan
orang tahu bahwa empat lima hari tidak tidur bukan suatu
pekerjaan yang luat biasa bagi seseorang yang telah memiliki
tenaga dalam amat sempurna, namun mereka kuatir apabila
pemuda itu menggunakan tenaga yang berlebihan dalam

pikiran maupun latihannya sehingga mengalami jalan api
menuju nereka
Maka keesokan harinya pagi-pagi sekali, Kiu-tok Sianci
serta Ciu Thian-hau beberapa orang secara bergilir naik
kebukit dan duduk disamping Hoa Thian-hong sembari
berjaga-jaga atas segala kemung-kinan yang tidak diinginkan.
Malam itu sudah tanggal dua puluh, rembulan yang sudah
agak lonjong mulai mencorong ditengah awang, ketika
kentongan ke empat hampir tiba, mendadak Pek Siau-thian
serta anak buahnya meninggalkan tempat tidur dan serentak
bermunculan dari rumah rumah kayu.
Malam itu Pek Kun-gie tak dapat tidur, ia sedang berdiri
dibalik jendela sambil memandang Hoa Thian-hong yang
berada diatas puncak dengan termangu-mangu, maka
menyaksikan kejadian tersebut cepat ia memburu keluar
rumah dari sambil menarik ujung baju Pek Siau-thian
teriaknya dengan kaget, “Ayah!”
Kho Hong-bwee pun sudah berkelebat keluar dari rumah, ia
langsung menegur
“Sau hat apa yang hendak kau lakukan?”
Pek Siau-thian rada menaruh rasa was-was dan jeri
terhadap istrinya ini, mendengar teguran tersebut sambil
tersenyum ia lantas menjawab, “Jin loji serta Ik cu masih
mendendam kepada kita lantaran kekalahan yang dialaminya
ketika ada dilembah Cu-bu-kok, sekarang mereka berencana
untuk menimbulkan tanah longsor dan hendak membasmi kita
semua dari muka bumi, oleh karena itu sebelum mereka
bertindak kita musti berusaha mendahului dan mencegah
perbuatannya itu.

Sesudah berhenti sebentar ia melanjutkan .
“Kau toh mengetahui sendiri bahwa mereka adalah
manusia-manusia yang paling kejam dan bengis dikolong
langit dewasa ini, perbuatan jahat yang dilakukan selama ini
jaun lebih banyak daripadaku, aku kuatir menambah
keresahan serta kemurungan hatimu, maka keputusan untuk
bertindak sendiri tanpa berunding lebih dahulu dengan dirimu”
Setelah mengetahui bahwa kejadian itu sama sekali tak ada
hubungannya dengan Hoa Thian-hong, legalah perasaan hati
Pek Kun-gie, cepat ia melepaskan cekalannya pada ujung baju
ayahnya.
Sementara Ko Hong bwe sendiri dengan dahi berkerut
segera menegur, “Sebagai umat manusia sayangilah
sesamanya dengan penuh cinta kasih, apa gunanya
melakukan dosa dengan membunuh orang? Bagai-manapun
juga engkau harus memikirkan pula bagi keturunanmu,
janganlah oleh karena perbuatanmu, anakmu yang harus
merasakan hukum karmanya!
Pek Siau-thian tersenyum.
“Aku bersusah payah memeras keringat dan tenaga
berusaha untuk menemukan harta karun itu, kalau bukan
disebabkan karena kau dan ke dua anakku, memangnya aku
suka mencari peti mati buat diri sendiri!”
Ia menuding kedepan dan melanjutkan, “Coba lihat! orangorang
dari pihak Seng sut pay telah bergerak, hal ini
menunjukkan bahwa persoalan ini menyangkut keselamatan
jiwa orang banyak, jadi bukan aku seorang yang berpikiran
sempit”

Kho Hong-bwee berpaling kesamping, benar juga Tang
Kwik-siu dengan membawa anak muridnya telah bermunculan
dari rumah-rumah kayu mereka rupanya mereka sedang
menantikan gerak-gerik dari pihak sini.
Tak tahan lagi perempuan itu menghela napas panjang
katanya dengan hambar, “Bila aku berusaha keras untuk
menghalangi perbuatanmu itu niscaya orang lain akan
menuduh engkau takut bini dan tak berani berkutik terhadap
istri sendiri, baiklah, lakukanlah perbuatan ini menurut
perasaan hatimu, hanya ingatlah selalu bila engkau terlalu
banyak membantai orang maka sama artinya engkau telah
melukai perasaan hatiku!”
Tertegun Pek Siau-thian sesudah mendengar perkataan ini,
selang sesaat dia baru menjawab.
“Jikalau mereka tahu diri dan segera mengundurkan diri
dari pertikaian ini tidak mungkin melakukan pembantaian
secara besar- besaran!”
Sehabis berkata ia lantas menjura ke arah Tang Kwik-siu
dan memberi tanda agar ia yang turun tangan lebih dulu.
Melihat kode rahasia tersebut, Tang Kwik-siu balas
memberi hormat dari kejauhan pula.
Pada hakekatnya dua orang sakti ini telah mengadakan
kontak rahasia satu sama lainnya, maka selesai memberi
hormat, masing-masing pihak lantas memimpin anak buahnya
dan serentak menerjang ke arah tenda yang dihuni
romboogan Jin Hian.
Posisi antara kedua belah pihak tidak terlampau jauh,
selang sesaat kemudian jago-jago lihay dari pihak Teng sut

pay dan Sin-kie-pang yang berjumlah tujuh delapan puluh
orang bagaikan gulungan air bah telah menerjang ke depan.
Terlihatlah Jin Hian dengan sebilah golok emas yang
memancarkan sinar kebiru-biruan karena mengandung racun,
melompat keluar dari tendanya dengan garang kemudian
menghardik keras-keras.
“Pek Loji, apa yang hendak kau lakukan?”
Rupanya pihak Hong-im-hwiee serta Thong-thian-kauw
menyadari bahwa kekuatan mereka paling lemah diantara
jago-jago yang hadir dibukit Kiu ci san dewasa itu, terutama
sekali untuk berjaga-jaga atas serangan maut dari Pek Siauthian,
maka tiap malam peronda selalu diperketat dan
sekalipun tak berani bertindak secara gegabah.
Kerena itu, ketika Pek Siau-thian munculkan diri dari rumah
kayunya, pihak Hong im bwe telah mengetahui akan gerakan
tersebut.
Begitu Jin Hian menegur secara langsung, serentak
pasukannya dengan senjata terhumus telah melesat keluar
dari tenda-tenda mereka dan siap menghadapi segala
kemungkinan.
Pek Siau-thian memang seorang jago yang berhati keji, tapi
diapun tak berani melanggar permintaan istrinya, dalam
susana kalut, ia lantas berseru keras, Siapa yang tak ingin
mampus, cepat enyah dari sini!”
Berbareag dengan selesainya ucapan tersebut, sebuah
serangan gencar telah dilepaskan kedada Jin Hian.
Tang Kwik-siu jauh lebih keji daripada orang-orang lain,
kalau dihari-hari biasa setiap pembukaan katanya selalu

diiringi senyuman, maka saat ini tanpa mengucapkan sepatah
katapun ia menerjang kedepan dan langsung menyergap
tubuh Thian Ik-cu.
Sejak sepasang kakinya kutung, Thian Ik-cu telah melatih
ilmunya dengan sepasang toya baja, tatkala ia saksikan
tibanya serangan yang amat dahsyat dari Tang Kwik-siu
,terpaksa senjatanya diputar untuk menyambut datangnya
ancaman tersebut.
Dalam waktu singkat berkobarlah suatu pertempuran yang
amat seru ditengah gelanggang.
Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw memang sudah
rontok namanya dari muka bumi, akan tetapi banyak
anggotnya yang masih hidup, dan mereka bukanlah manusiamanusia
yeng mudah dihancurkan dengan begitu saja,
terutama sekali Malaikat kedua Sim Kian anggota tubuhnya
tetap utuh dan ilmu silatnya masih tetap hebat, apalagi rasa
dendam telah berkecamuk dalam benaknya, membuat ia jadi
paling ganas dan paling buas dalam pertarungan itu, setiap
musuh yang dijumpainya segera diterjang dan diterkam
dengan jurus serangan terkeji.
Suasana jadi gaduh dan ramai sekali, suara benturan
senjata dan bentakan-bentakan kegusaran bergema
memenuhi seluruh angkasa, kutungan badan, lelehan darah
menggenangi seluruh permukaan tanah, membuat
pemandangan ditempat itu tampak mengerikan sekali.
Sengit dan mengerikan sesasana pertarungan itu, semua
jago dibuat terkejut dan sadar dari tidurnya, selain itu Hoa
Thian-hong yang sudah empat hari empat malam terlelap
dalam latihannya, ikut sadar pula dari konsentrasinya.

Selama Hoa Thian-hong mendalami ilmu silatnya, suara lain
sama sekali tidak mempengaruhi dirinya, akan tetapi suara
pertarungan dan jerit kesakitan seketika menyadarkan kembali
anak muda itu dari semedinya.
Jilid 31
KIU-TOK SIANCI kebetulan bertugas sebagai pelindungnya,
ketika dia saksikan sekujur badan pemuda itu gemetar keras
dan sepasang matanya melotot besar, cepat serunya dengan
suara dalam, “Sian long, aku berada disini!”
Cepat Hoa Thian-hong berpaling, setelah mengetahui orang
itu adalah Kiu-tok Sianci, wajahnya berseri karena gembira,
seakan-akan ia telah berjumpa dengan ibu sendiri.
“Sian long, sadarkan pikiranmu dan minumlah sedikit air
bersih!” kembali Kiu-tok Sianci berbisik.
Hoa Thian-hong berpaling, melihat disampingnya ada air
teko, ia mengambilnya dan meneguk habis isi teko tersebut,
lalu bertanya, “Sian nio, siapakah yang sedang terlibat dalam
pertarungan sengit itu?”
“Pek Siau-thian serta Tang Kwik-siu dengan membawa
jago-jago silatnya sedang mengerubuti Jin Hian serta Thian Ikcu!”
Sepasang alis mata Hoa Thian-hong kontan berkerut
kencang.
“Lantaran harta karun mereka saling membunuh,
perbuatan semacam ini tak dapat dibiarkan berlangsung terus.
Sang ji harus mencampuri urusan ini.”

“Biarkanlah mereka saling bunuh membunuh!” kata Kiu-tok
Sianci dengan wajah tercengang, “toh kejadian ini lebih
banyak menguntungkan bagi kita dari pada ruginya? Buat apa
kau musti mencampuri urusan ini?”
Jin Hian serta Thian Ik-cu sudah terdesak sekali, kekuatan
mereka bukan terhitung sebagai suatu ancaman yang dapat
mencelakai umat manusia lagi, kita wajib memberi
kesempatan hidup mereka, agar mereka dapat bertobat dari
perbuatan jahatnya serta banyak melakukan kebajikan! ujar
Hoa Thian-hong dengan cemas, sebaliknya Pek Siau-thian
serta Tang Kwik-siu adalah dua kekuatan besar yang masih
merupakan ancaman besar bagi umat Bu lim, kita tak boleh
membiarkan mereka bertindak sewenang-wenang….”
Setelah berhenti sebentar, tambahnya, “Apalagi Seng ji
telah menyanggupi permintaan dari empat datuk bukit Huangsan
untuk memimpin usaha penggalian harta karun ini secara
adil dan bijaksana, oleh sebab itu bagaimanapun juga Pek
Siau-thian dan Tang Kwik-siu musti ditundukkan lebih dahulu!”
“Anakku yang baik,” sahut Kiu-tok Sianci, “bagiku, orang
baik musti disayang dan orang jahat musti dibunuh, aku sama
selali tidak mengerti dengan kata-kata yang telah kau ucapkan
itu”
Rupanya ketekadan Hoa Thian-hong sudah bulat, ia
berkata lagi dengan lembut, “Siau nio, Seng ji sudah ambil
keputusan untuk mencampuri urusan ini!”
“Aaaai….! Dengan kekuatan seorang, berapa orang musuh
yang bisa kau hadapi? Dan bagaimana pula caranya engkau
mencampuri urusan mereka?”
Dengan gagah Hoa Thian-hong menjawab.

“Masalah ini sudah berkembang jadi amat kritis,
bagaimanapun juga aku akan berusaha dengan sekuat tenaga
untuk mengatasi persoalan ini, sambil berjalan kita lihat saja
perkembangannya nanti!”
Berbicara sampai disitu, dia lantas bangkit berdiri dan
berpekik panjang.
“Anak manis, engkau sudah empat hari empat malam tidak
makan, bersantaplah lebih dulu” kata Kiu-tok Sianci.
Tiba-tiba ia temukan Hoa Thian-hong telah meluncur
kebawah bukit, meskipun suara pekikan serasa masih
berkumandang dari sisi telinganya, namun bayangan tubuh
pemuda itu sudah lenyap tak berbekas.
Menyaksikan keadaan tersebut, perempuan Biau ini jadi
tertegun lalu buru-buru memburu kebawah.
Sementara itu pertempuran berdarah masih berlangsung
dengan serunya, dikala pekikan nyaring yang membelah
angkasa tiba-tiba berkumandang memenuhi angkasa, semua
orang merasa terperanjat, dalam gugupnya beberapa orang
diantara mereka segera kenali suara itu sebagai pekikan dari
Hoa Thian-hong.
“Semuanya berhenti!” terdengar Hoa Thian membentak
dengan penuh kegusaran.
Bersamaan dengan seruan tersebut, sesosok bayangan
manusia dengan kecepatan yang luar biasa meluncur kebawah
dan langsung menerkam tubuh Tang Kwik-siu.
Pada Waktu itu Tang Kwik-siu sedang bertempur melawan
malaikat kedua Sim kiam beberapa gebrakan kemudian ia

menemukan bahwa ilmu silat yang dimiliki musuhnya ini
ternyata lebih lihay daripada kepandaian silat dari Jin Hian
maupun Thian Ik-cu, setelah mengetahui bahwa ia tak
mungkin bisa rebut kemenangan dengan tangan kosong, dia
memutuskan untuk melepaskan ikat pinggang emas yang
terikat dipinggangnya itu untuk bertempur melawan Sim
Kian….
Apa mau dikata baru saja ia bersiap sedia merebut
kemenangan tiba-tiba Hoa Thian-hong menerkam dari tengah
udara.
Kejadian ini segera menggusarkan hatinya, ikat pinggang
naga emasnya segera digerakkan keudara kemudian secepat
sambaran kilat mengejar tubuh lawan.
Hoa Thian-hong pada dasarnya mempunyai niat untuk
mendemonstrasikan kelihaiannya agar semua orang tunduk
dibawah perintahnya, bilamana ia memimpin gerakan
pencarian harta nanti, maka dipilihnya Tang kwik Sin sebagai
korban percobaan karena bagaimanapun juga ia tak enak hati
untuk menyerang Pek Siau-thian menginggat Kho Hong-bwee
serta putrinya mempunyai hubungan yang cukup erat dengan
dirinya.
Begitu menukik kebawah ia menyergap musuhnya dengan
gencar, ketika ia rasakan datangnya ancaman ikat pinggang
naga emas yang mengarah dadanya, cepat tangan kanan
bergetar keras kemudian dengan suatu gerakan yang luar
biasa cepatnya ia tangkap kepala naga pada ujung sabuk
tersebut erat-erat.
Betapa terperanjatnya Tang Kwik-siu menghadapi ancaman
tersebut seakan-akan baru sadar dari impian ia lantas
membentak keras, “Hoa Thian-hong!”

Ia sendiripun tak tahu apa arti dari bentakan itu, sementara
telapak tangan kirinya dengan suatu gerakan yang sangat
cepat melepaskan sebuah totokan kemuka.
Totokan jari yang luar biasa dahsyatnya itu menimbulkan
suara getaran yang memekikkan telinga kawanan jago yang
kebetulan berada ditempat itu sama-sama merasakan
telinganya menjadi sakit.
Hoa Thian-hong sama sekali tidak terpengaruh oleh
desingan tajam yang memekikan telinga itu, malahan semakin
bertempur ia tampak semakin bersemangat, tangan kanannya
dibolak-balikkan beberapa kali melingkarkan ikat pinggang
naga emas itu di atas telapak tangannya, kemudian dengan
tangan kirinya ia lancarkan sebuah cengkeraman keatas
pergelangan tangan Tang Kwik-siu.
Berbicara soal kelincahan menggunakan tangan kiri,
dikolong langit dewasa ini boleh dibilang tak seorangpun dapat
menandingi kegesitan Hoa Thian-hong.
Baru saja serangan yang dilepaskan Tang Kwik-siu
mencapai separuh jalan, serangan yang dilepaskan Hoa Thianhong
tahu-tahu sudah mencapai sasaran lebih dahulu, ketika
jari tangannya menyentuh pergelangan tangan Tang Kwik-siu,
bagaikan dipagut ular berbisa cepat gembong iblis itu menarik
kembali tangannya kebelakang.
Pada saat ini, dalam benak Hoa Thian-hong hanya
mempunyai satu ingatan, yakni ia lebih suka mengorbankan
selembar jiwanya daripada melepaskan cekatannya pada ikat
pinggang berkepala naga emas itu….Ketika telapak tangan
kirinya gagal mencengkeram pergelangan tangan Tang Kwiksiu,
ia lantas membentak kerat dan menyusulkan dengan
sebuah pukulan lagi.

Apabila dihari-hari biasa, niscaya Hoa Thian-hong akan
menyerang dengan jurus Kun-siu-ci-tauw, akan tetapi saat ini
yang terpikir diotaknya adalah soal kecepatan maka gerakan
permulaan dari Kun-siu-ci-tauw yang seharusnya melakukan
gerakan perputaran setengah lingkaran lebih dahulu didepan
dada, telah dibuang dengan begitu saja, secara langsung dia
dorong telapak tangannya mengancam dada musuh.
Keringat telah membasahi sekujur badan Tang Kwik-siu,
dalam keadaan terancam bahaya, ia tak sempat berpikir
panjang lagi, dalam gugupnya buru-buru ia angkat telapak
tangannya dan langsung menebas pergelangan tangan si anak
muda itu.
Hoa Thian-hong mendengus dingin, sekuat tenaga ia tarik
ikat pinggang naga emas itu sementara telapak tangan kirinya
yang tajam bagaikan golok menebas kebawah.
Posisi Tang Kwik-siu pada saat ini ibaratnya orang yang
tertinggal disebuah batu karang ditengah samudra, mau
menceburkan diri takut, mau tetap berdiam diri juga tak
mungkin, keadaannya serba salah.
Telapak tangan kesannya sudah terasa panas dan kaku,
nyaris ikat pinggang naga emasnya terampas lawan.
Ikat pinggang naga emas adalah benda mustika dari
perguruan Seng sut pay, benda itu merupakan benda
kehormatan dan keagungan dari seorang ciangbunjin,
jangankan benda itu tahan dibacok oleh senjata mustika,
cukup memandang dari ukirannya yang hiduppun sudah cukup
membuat hati orang terkesima.
Pek Kun-gie sendiri pernah mengagumi keindahan sabuk
naga emas tersebut dan ingin sekali memperolehnya, tentu
saja sebagai ketua Seng sut pay, Tang Kwik-siu lebih rela

hancur lebur tubuhnya daripada benda mustika keluarganya
kena dirampas orang .
“Breeett!” karena mati-matian mempertahankan sabuk
naga emasnya itu ujung baju targan kiri Tang Kwik-siu kena
tertebas oleh bacokan telapak tangan Hoa Thian-hong
sehingga kutung separuh, bekas kutungannya rata sekali
bagaikan disayat dengan pisau.
Sementara itu kawanan jago yang berada ditempat
kejahuan telah meluruk datang semua, pertarungan massal
telah terhenti dan sebagian besar jago persilatan telah
mengerubungi sekeliling gelanggang.
Pek Siau-thian yang berdiri disamping arena melotot besar
dengan muka tajam membesi, kesengsaraan yang diderita
Tang Kwikk Siu dapat dirasakan pula oleh dia sendiri,
sementara kawanan jago lainpun rata- rata dibikin terkejut
dan tercengang oleh kejadian yang sama sekali berada diluar
dugaan ini, mereka cuma bisa berdiri dengan wajah
kebingungan dan tak habis mengerti.
Sampai detik itu, baik Hoa Thian-hong maupun Tang Kwiksiu
masih saling mencengkeram ikat pinggang naga emas itu
dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya
dipergunakan untuk melangsungkan pertarungan.
Bagi Hoa Thian-hong, pertarungan ini sama artinya dengan
menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk menyerang
kelemahan dari lawan, posisinya tentu saja jauh lebih
menguntungkan dirinya, karena posisinya yang baik maka
sejurus demi sejurus ia meneter terus musuhnya habishabisan,
jurus pukulan yang dipakaipun makin lama semakin
dahsyat dan mematikan.

Sekuat tenaga Tang Kwik-siu melakukan perlawanan,
makin bertempur hatinya semakin bergidik, makin lama ia
merasa dirinya makin terjerumus kedalam lumpur yang tak
terkirakan dalamnya dan kini ia betul-betul sudah terperosok
kedalamnya.
Hong Liong jadi cemas bercampur kuatir, ia takut nama
baik gurunya akan musnah dengan begitu saja ditangan
lawan, tak kuasa lagi dia meraung keras, sambil putar
sepasang telapak tangannya sekuat tenaga orang itu
melepaskan beberapa puluh buah pukulan dahsyat.
Perubahan ini terjadi sangat mendadak, siapapun tak
sempat untuk menghalanginya, terdengarlah serentetan
bentakan nyaring bagaikan guntur membelah bumi menggema
di angkasa.
Waktu itu tangan Hoa Thian-hong masih mencengkeram
sabuk naga, sedangkan tangan kirinya melakukan serangan
maut, bila diwaktu lampau si anak muda itu pasti akan
kebingungan setengah mati.
Untungnya Hoa Thian-hong yang sekarang adalah Hoa
Thian-hong berilmu tirggi sekilas pandangan ia lantas temukan
titik kelemahan Hong Liong pada lambung serta dadanya yang
terbuka.
Ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu, sementara telapak
tangannya masih menahan serangan musuh, tiba-tiba
tubuhnya miring kesamping dan kaki kanannya melepaskan
sebuah tendangan kilat kedepan!
“Enyah kau dari sini!” bentaknya.
Hong Liong menjerit kesakitan sambil memegang
lambungnya ia melompat mundur sejauh beberapa kaki

kebelakang, ketika terjatuh ketanah ia masih mengerang
karena kesakitan.
Para penonton buru-buru menyingkir ke belakang oleh
karena semua orang berada dalam keadaan kaget maka
meskipun keadaan Hong Liong mengenaskan sekali, tak
seorangpun yang mampu bersuara.
Kiu-tok Sianci sendiripun merasa amat terperanjat, serunya
kemudian dengan lantang, “Barang siapa berani menyergap
lagi secara licik, jangan salahkan kalau kami akan suruh kamu
semua rasakan lihaynya racun cuka Biau kami!”
Semua orang membungkam dalam seribu bahasa, sekarang
setiap orang sudah mengetahui akan kelihayan Hoa Thianhong,
jangan toh orang lain anak murid Seng sut pay
sendiripun tak ada yang berani maju kemuka untuk membantu
gurunya.
Tapi justru karena terjadinya peristiwa itu, maka
pertarungan antara Thian-hong melawan Tang Kwik-siu juga
berubah jadi seimbang, ini disebabkan oleh karena Tang Kwiksiu
yang merupakan cikal bakal suatu perguruan besar
berhasil memanfaatkan peluang yang sangat baik.
Ketika Hong Liong melancarkan sergapan tadi, Hoa Thianhong
terpaksa harus memecahkan perhatiannya untuk
menghadapi ancaman itu, dengan sendirinya gerakan
tangannya jadi lebih lambat.
Sekalipun kelambatan tersebut hanya kecil sekali, tapi bagi
pandangan mata jago lihay macam Tang Kwik-siu yang telah
memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan
merupakan peluang yang sangat besar.

Detik itulah tangan kanannya juga berputar dan melipatkan
sabuk naga emasnya hingga melilit pada telapak tangannya
dalam keadaan seperti ini kecuali isi perutnya terluka boleh
dibilang ia tak usah kuntit kalau senjatanya sampai terlepas
lagi dari genggamannya.
Selain itu menggunakan peluang yang sangat baik itu,
tangan kirinya telah melancarkan serangan mematikan serta
berusaha untuk memperbaiki posisinya yang terdesak, maka
setelah bersusah payah berhasil pula ia mengimbangi
permainan lawannya.
Dalam sekejap mata, telapak tangan kiri masing-masing
pihak telah melepaskan empat puluh buah pukulan berantai
sedangkan sabuk naga yang berada ditangan kanannya saling
dibetot dan ditarik, untungnya sabuk itu adalah sebuah benda
mustika yang luar biasa, berganti barang lain niscaya sejak ta
di benda itu sudah putus jadi dua bagian oleh betotan tenaga
sakti kedua orang itu.
Pertarungan sengit ini benar-benar merupakan suatu
pertarungan seru yang mendebarkan hati, baik dalam
menghimpun tenaga, melakukan serangan, menggunakan tipu
muslihat, kesemuanya mempengaruhi kesuksessn dari
serangan tersebut, kebanyakan penonton yang mengikuti
jalannya pertarungan itu jadi tertegun dan bergidik rasanya.
Tiba-tiba terdengar seorang nyonya tua membentak
dengan suara lantang, “Minggir!”
Mendengar bentakan itu, Thian Ik-cu segera berpaling, ia
saksikan ada tiga orang pria dan dua orang wanita munculkan
diri dari arah belakang, perempuan tua itu adalah Tio Samkoh,
sedangkan dua orang kakek tua itu adalah Hoa In dan
Harimau pelarian liong Liau, Lau Cu cing, kakek ketiga tak
dikenal olehnya, sementara nyonya muda yang bergaun hitam

dengan wajah yang agung tak lain adalah Chin Wan-hong,
nyonya muda dari perkampungan Liok Soat Sanceng.
Pepatah kuno mengatakan: Posisi seorang istri terpengaruh
oleh kedudukan sang suami. Nama besar Hoa Thian-hong
pada waktu itu kian hari kian membumbung tinggi, hal ini
orang lain memandang tinggi pula terhadap istrinya, maka
sewaktu Chin Wan-hong munculkan diri, Thian Ik-cu beserta
anak buahnya tanpa sadar bersama-sama menyingkir
kesamping jalan
Dengan langkah yang lemah gemulai, Chin Wan-hong
berjalan masuk kedalam ruangan, ia menyapu sekejap
sekeliling gelanggang pertarungan, kemudian maju
menghampiri gurunya.
“Tak usah banyak adat!” seru Kiu-tok Sianci dengan suara
dalam.
Sementara mulutnya berbicara, sepasang mata yang tajam
tak pernah beralih dari gelanggang pertarungan.
Chin Wan-hong memandang sekejap ke arah Cu Im Taysu
kemudian sapanya dengan lembut, “Lo siansu, para empek
dan paman sekalian, apakah semuanya berada dalam keadaan
baik-baik?”
“Tak usah banyak adat!” sahut Ciu Thian-hau dengan nada
rendah.
Mendengar jawaban tersebut, Chin Wan-hong alihkan
kembali sorot matanya ke arah gelanggang pertarungan, ia
saksikan pertarungan itu meskipun masih berlangsung dengan
seru namun siapa menang siapa kalah masih belum
ditentukan, maka dia maju kedapan dan serunya dengan
suara lantang, “Harap saudara berdua hentikan dulu

pertarungan itu, aku hendak menyampaikan beberapa patah
kata lebih dahulu kepada semua jago.
Hoa Thian-hong cukup mengenali tabiat dari istrinya, dalam
keadaan seperti ini tak mungkin dia akan tampilkan diri untuk
ber bicara seandainya ia tidak mendapat perintah dari ibunya.
Maka setelah mendengar perkataan itu, timbullah niatnya
untuk menghentikan pertarungan itu.
Tang Kwik-siu sendiri sedari tadi sudah berniat untuk
meng-hentikan pertarungan, maka ketika sorot mata mereka
berdua saling terbentur satu sana lainnya serentak
serangannya pun dihentikan
Hoa Thian-hong melepaskan cekalannya pada sabuk naga
emas itu dan mereka berdua dengan napas tersengkal
mengundurkan diri kebelakang.
Chin Wan-hong mendekati suaminya dengan wajah serius
ia lantas berkata, “Ibu memerintahkan kepadaku untuk
menyampaikan beberapa patah kata kepada khalayak ramai,
katanya harta karun yang tersimpan dalam istana Kiu ciu
kiong merupakan hasil jerih payah dari leluhur kita semua,
sepantasnya kalau benda-benda itu diselesaikan oleh khalayak
ramai secara bersama-sama, siapa yang berhak mendapatkan
benda itu dia harus diberi benda yang menja-di hak miliknya
sedangkan benda yang tak ada pemiliknya akan menjadi milik
setiap orang yang ikut dalam pekerjaan penggalian ini. Sudah
terlalu lama benda-benda mustika tersebut terkubur didalam
perut bumi, terlalu sayang rasanya kalau benda-benda itu
dibiarkan terkubur untuk selamanya, maka menjadi kewajiban
kitalah untuk bersama-sama menggali tanah dan menemukan
kembali istana yang terpendam ini, kami akan berusaha
dengan sejujur-jujurnya dan sebijaksana mungkin, bila ada
diantara kami yang bertindak tak jujur ataupun mementingkan

kebutuhan sendiri, kami bersedia menerima ganjaran dan
hukuman dari setiap orang, demikian pula dengan saudara
sekalian, bila diantara kalian ada yang tamak dan berusaha
mencari keuntungan bagi diri sendiri tak segan-segan kami
akan mengambil tindakan tegas untuk menjatuhkan hukuman
yang setimpal kepadanya, harap saudara semua suka
mencamkan kata-kata kami ini!”
Fajar baru saja menyingsing diufuk sebelah timur, sinar
sang surya yang berwarna keemas-emasan memancar diatas
wajahnya yang jeli dan agung.
Beratus-ratus pasang mata ditujukan keatas wajah dara itu,
mendengarkan tiap patah kata yang merupakan suara hati
dari Hoa Hujin, hampir tiap jago yang ada disana telah
memusatkan perhatian serta mendengar kata-katanya dengan
bersungguh-sungguh hati.
Tiba-tiba Tio Sam-koh berseru kembali dengan suara
lantang, “Sekali lagi aku harap saudara sekalian dengar baikbaik
kata-kata kami ini, pertama kami sudah bertekad untuk
turut serta dalam usaha penggalian harta ini, bila harta karun
itu sudah ditemukan, kami akan mendapatkan benda-benda
yang tak dimaui orang lain. Kedua setiap benda yang ada
pemiliknya baik orang itu adalah orang baik mau pun orang
jahat Sekalipun dia adalah manusia yang jahatnya bukan
kepalang atau mempunyai dendam sakit hati dengan kami,
benda yang menjadi hak miliknya tetap akan kami serahkan
kepadanya!”
Setelah beberapa kata itu diutarakan keluar, para penggali
harta yang terdiri dari aneka ragam manusia, diam-diam
merasa ke-girangan, bahkan para jago dari golongan Hongim-
hwie serta Thong-thian-kauw juga ikut merasakan
jantungnya berdebar keras, mereka merasa ada harapan
untuk ikut memperoleh harrta karun itu jika para jago dari

golongan lurus yang memimpin usaha penggalian ini, apalagi
setelah Hoa Thian-hong menghajar Tang Kwik-siu tadi berarti
pula telah selamatkan puluhan lembar jiwa, seketika itu juga
semua orang merasa tertarik sekali oleh usul ini….
Tiba-tiba Thian Ik-cu angkat muka dan berkata, “Jika
pekerjaan besar ini benar-benar dilaksanakan sesuai dengan
dua cara tersebut, kami semua bersedia untuk menunggu
perintah!”
Perkataan itu diutarakan tanpa ujung atau pun pangkalnya,
apalagi berbicara sambil menghadap langit, orang tak tahu
kata-kata itu sebenarnya ditujukan kepada siapa, tapi
sementara jago dapat meraba pula kalau kata-kata itu sedang
ditujukan kepada Hoa Thian-hong.
Bagi Hoa Thian-hong sendiri, ia lebih mengutamakan
suksesnya pekerjaan itu dari pada mencari keuntungan bagi
diri sendiri, cepat dia menjura kemudian sahutnya, “Pekerjaan
ini adalah pekerjaan besar dari kita umat manusia, kata
perintah tak berani kuterima, kalau toh totiang sekalian be
sedia turut serta dengan pekerjaan besar ini, hal tersebut
tentu saja jauh lebih baik lagi….”
Tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan suara yang
amat nyaring dan lantang, “Apabila Hoa kongcu bersedia
memimpin pekerjaan besar ini, kami semua bersedia untuk
meleksanakan tugas yang dibebankan kepada kami, tak
sepatah katapun kami berani membantah”
Hoa Thian-hong berpaling, ia lihat orang yang berbicara
adalah seorang laki-laki kekar yang berwajah asing baginya,
sebelum ini belum pernah ia temui orang tersebut.
Tio Ceng tang yang berada di sisinya segera
memperkenalkan lelaki itu kepada Hoa Thian-hong, “Orang ini

she Huan bernama Thong, leluhurnya pukulan sakti Huan
Teng adalah orang pertama yang kecurian kitab pusakanya
oleh Kiu-ci Sinkun….”
“Oooh rupanya saudara Huan” sapa Hoa Thian-hong sambil
menjura, “kitab pusaka Po kia kun boh adalah benda pusaka
milik keluarga Huan, bila benda-benda itu dapat ditemukan,
sudah pasti akan kami serahkan kepada saudara Huan.”
Berbicara sampai disitu, dengan sinar mata yang luar biasa
tajamnya, ia menyapu sekejap wajah Kiu-im Kaucu, Tang
Kwik-siu serta Pek Siau-thian, kemudian katanya lagi,
“Saudara sekalian, menurut pendapatku, mulai hari ini
pekerjaan penggalian lebih baik dibagi jadi dua bagian, yaitu
kerja pagi dan kerja malam, tiap bagian dikerjakan oleh dua
kelompok manusia secara bergilir, biarlah aku dan saudara
Huan Thong sekalian terhitung sebagai satu kelompok dan Jin
lo enghiong serta Thian Ik totiang jadi kelompok kedua, kami
akan kerjakan pada giliran yang partama ini….”
“Memang bagus sekali cara itu!” seru Kho Hong-bwee
dengan lantang, “orang-orang Sin-kie-pang merupakan satu
kelompok tersendiri dan akan bekerja pada malam harinya”
Mendengar ucapan itu Hoa Thian-hong sejera berpikir
dihati, “Pada saat ini hati orang mulai goyah dan inilah
kesempatan yang paling baik untuk mempengaruhi hati orang,
setelah bibi memberikan persetujuannya, lebih baik aku tak
usah mengurusi bagaimanakah sikap dari Pek Siau-thian
lagi….”
Berpikir sampai disini, dia lantas berseru, “Tang Kwik
siangbunjin, partaimu bersedia bekerja disiang hari ataukah
bekerja di malam hari?”

Sejak berakhirnya pertarungan tadi, Tang Kwik-siu merasa
hatinya kalut dan uring-uringan, sekarang melihat ada
kesempatan untuk mele-paskan diri dari keadaan yang serba
kikuk ini, cepat sahutnya, Biarlah kami dan rombongan Sinkie-
pang beristirahat disiang hari, giliran kerja kami malam
nanti!”
Hoa Thian-hong berpaling ke arah Kiu-im Kaucu, lalu
tanyanya dengan suara dalam, “Kaucu berulangkali
mengatakan bahwa kekuatan kalian selalu mendukung setiap
usulku, untuk kesediaan tersebut aku merasa amat berterima
kasih sekali, dikemadian hari budi kebaikan ini tentu akan
kami balas, entah apakah kaucu bersedia kerja?”
Diam-diam Kiu-im Kaucu menghela napas panjang,
pikirnya, “Aaai….! Bocah ini bisa tampilkan diri dari sekian
banyak jago yang ada, jelas kejadian ini bukan suatu kejadian
secara kebetulan saja”
Selama ini ia selalu menggembor-gemborkan bahwa
kedatangannya ketempat ini adalah untuk membantu Hoa
Thian-hong, setelah ucapan itu diutarakan keluar tentu saja ia
tak dapat menarik kembali kata katanya itu, apalagi tiap
kelompok kekuatan sudah sanggup melakukan kewajibannya.
Kiu-im Kaucu tahu bila ia menampik pekerjaan tersebut,
maka dia akan menjadi sasaran orang banyak, terutama posisi
Hoa Thian-hong yang begitu baik disaat itu, asal ia beri
komando niscaya setiap orang yang hadir disitu dengan
senang hati akan bantu mengerubuti mereka, sebab
bagaimana pun punahnya kelompok mereka berarti
mengurangi satu saingan untuk mendapatkan harta karun.
Apalagi Hoa Thian-hong adalah pemimpin mereka yang
tertinggi, perempuan itu sadar bahwa kepandaian silatnya
masih bukan tandingan lawan.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia merasa
dirinya harus pandai memutar kemudi dalam situasi seperti ini,
karena itu sebelum Hoa Thian-hong menyelesaikan katakatanya,
sambil tertawa dia telah menukas, “Jumlah anggota
kelompok Kiu-im-kauw sangat banyak, begini saja, biarlah aku
berbuat kebaikan sampai pada dasarnya, kami orang-orang
dari Kiu-im-kauw akan terbagi jadi dua kelompok yang akan
bekerja secara bergilir baik siang maupun malam, bukankah
hasilnya akan jauh lebih memuaskan?”
“Banyak bekerja malah mengundang kegagalan, lebih baik
aku tak banyak bicara!” pikir Hoa Thian-hong dalam hati.
Ia lantas memberi hormat dan berkata, “Kami siap
menerima pernyataan dari kaucu, kalau memang begitu
sekarang juga pekerjaan ini akan kita mulai!”
Habis berkata ia memberi tanda kepada kawanan penggali
harta yang aneka ragam itu, kemudian dengan langkah lebar
menuju ke medan penggalian itu.
Diiringi tempik sorak dan suara teriakan yang gegap
gempita, berangkatlah kawanan jago persilatan itu menuju
kelokasi penggalian.
Orang-orang dari Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw
adalah jago jago yang kalah perang sekalipun mereka
dimusuhi oleh kaum lurus maupun dari kalangan rimba hijau,
namun kekuatan mereka terhitung cukup lumayan untuk
mempertahankan diri.
Justru kelompok aneka ragam manusia inilah merupakan
jago-jago dari kalangan paling lemah, untuk menentang Sinkie-
pang atau Kiu-im-kauw jelas bukan tandingan, meskipun
mereka hadir disitu, toh yang bi sa dilakukan hanya melotot

belaka, sedikit salah bertindak niscaya bencana akan menimpa
diri mereka.
Sekarang Hoa Thian-hong telah memimpin mereka untuk
bekerja, bisa dibayangkan betapa gembiranya semua orang
atas kejadian ini.
Selama beberapa hari terakhir, orang orang orang Sin-kiepang
dan Seng sut pay sudah membuat sebuah liang besar
selebar sepuluh kaki lebih menuruti peta biru yang dilukis
Tiangsun Pou, liang besar itu lebar di atas dan sempit
dibawah, tangga dibuat disana sini, karena besarnya tempat
yang harus digarap maka walaupun sudah empat hari bekerja,
luas liang itu baru dua kaki.
Tiangsun Pou membagi rombongan pekerja itu menjadi dua
bagian, orang-orang dari Hong im bwe dan Thong-thian-kauw
bekerja disebelah kiri, sedangkan para jago dari aneka ragam
manusia itu bekerja dikanan.
Hoa Thian-hong telah melepaskan jubahnya siap untuk
bekerja, tapi ditolak oleh para jago lainnya.
Dengan suara lantang Tio Ceng tang berteriak, Hoa
kongcu, engkau adalah pemimpin kita yang memikul tanggung
jawab besar ini, tak pantas kalau engkau turun tangan
sendiiri.
“Benar!” sambung yang lain, “bagaimana pun juga Hoa
kongcu harus simpan tenaga untuk bersiap sedia menghadapi
segala kemungkinan yang tak diinginkan!”
“Waah kalau begitukan kasarannya aku sudah dijadikan
tukang pukul oleh mereka” batin Hoa Thian-hong dihati.

Sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, terdegar
seseorang ber seru lagi dengan lantang, “Lebih baik Hoa
kongcu kita jadikan mandor saja!”
“Betul!” sambung yang lain, “Hoa kongcu adalah mandor
kita!”
Suara hiruk pikuk dan seruan para jago berkumandang dari
sana sini mendukung usul tersebut.
Akhirnya setelah didesak pula oleh Tiang sun Pou dan
empat datuk dari bukit Huang-san, mau tak mau Hoa Thianhong
menerima juga tawaraanya ini, bahkan memerintahkan
Hoa In dan Harimau pelarian Tiong Lian untuk bekerja lebih
keras agar menutupi pekerjaan dari bagiannya.
Cu Im taysu, Ciu Thian-hau serta Suma Tiang cing tiga
orang telah mengambil keputusan pula untuk tidak mengambil
benda mustika apapun juga, karenanya mereka malas untuk
bekerja.
Chin Pek-cuan yang sudah tua berhasrat untuk memberi
sanjungan kepada menantunya, ia memaksa untuk turun
tangan sendiri, ditemani Chin Giok-liong dan Bong pay
merekapun ikut terjun ke tempat kaum penggali harta itu.
Sementara semua orang masih ribut-ribut, tiba-tiba Chin
Wan-hong memanggil Bong Pay, lalu ujarnya, “Bong toako,
siau moay ada beberapa patah kata hendak dibicarakan
dengan diri toako, bersediakah engkau untuk mendengar-kan
perkataanku ini?”
“Ada arusan apa?”

Chin Wan-hong memandang sekejap sekeliling tempat itum
ketika dilihatnya sekitar tempat itu banyak orang, bibirnya
yang sudah bergerak segera dibatalkan kembali.
Bong pay adalah seorang jago muda yang berjiwa terbuka,
menyak-sikan hal tersebut cepat serunya, “Ditempat ini tak
ada orang luar, mau bicara katakan saja secara blak-biakan!”
Chin Wan-hong tersenyum.
“Ketika siau moy lewat di wilayah Tian Cu, secara kebetulan
telah berjumpa dengan Cu locianpwe!”
“Betul! Kami sedang kebingungan, padahal Cu locianpwe
toh sudah berangkat keselatan kenapa sampai sekarang ia
belum juga tiba ditempat ini?” sela Hoa Thian-hong.
“Cu locianpwe mengatakan akan pergi ke kota Teng yang
untuk mengundang kehadiran seorang sahahat karibnya,
katanya orang itu mempunyai sangkut paut yang sangat besar
dengan pekerjaan penggalian harta karun ini!”
“Apakah Cu supek ada pesan yang akan disampaikan
kepadaku?” tanya Bong Pay.
Sambil tersenyum Chin Wan-hong mengangguk.
“Cu locianpwe berpesan kepadaku katanya usia toako
sudah meningkat dewasa sepantasnya kalau dengan usia
sedewasa itu toako harus mencari seorang istri untuk
menyambung keturunan, katanya nona Pek dari Sin-kie-pang
adalah pasangan yang ideal bagimu, maka beliau
memerintahkan siau moay untuk menjodohkan kalian berdua!”

“Aaah! aku tak mau tahu tentang urusan ini!” seru Bong
Pay dengan wajah merah padam, habis berkata ia lantas putar
badan dan berlalu dari situ .
“Eeeh…. eeeh…. toako, tunggu sebentar!” seru Chin Wanhong
lagi dengan gelisah.
Terpaksa Bong Pay berhenti katanya dengan gelisah.
Aku tak mau turut campur, bagaimana Cu supek
memerintahkan dirimu, lebih baik engkau saja yang
mengerjakan perintah itu.
Tiangsun Pou yang berdiri disambing tiba-tiba menyela,
“Eeh…. bukannya aku membantu sahabat lamaku untuk
berbicara, hakekatnya keponakan perempuanku Soh-gie
adalah seorang dara yang cantik jelita dan halus berbudi, dia
merupakan calon istri yang paling bagus, siapa bisa
memperistri dirinya yang banyak hok ki dan banyak rejeki
bakalnya.”
Hoa Thian-hong sendiripun berkata dengan wajah serius.
“Enci Soh-gie adalah pilihan yang paling tepat bagi saudara
Bong, enci Hong! Bagaimanapun juga engkau harus
mensukseskan perjodohan ini!”
Chin Wan-hong termenung dan berpikir sebentar,
kemudian berkata, “Aku cuma menguatirkan tentang satu
urusan!”
“Apa yang kau kuatirkan? Bong toako dan enci Soh-gie
adalah pasangan yang paling ideal, kedua belah pihak toh
sudah menyetujui akan hubungan mereka itu!”

“Pek pangcu tidak berputra dan lagi tak pernah menerima
murid, seandainya ia minta Bong toako untuk masuk kerumah
pihak perempuan setelah menikah nanti, bagaimana jadinya?”
Berbicara sampai disini, sorot matanya lantas dialihkan
keatas wajah Bong Pay.
Sekali lagi merah padam selembar wajah Bong Pay lantaran
jengah.
“Aku tak mau!” serunya lagi.
Ia putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.
Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, dia lantas
berpikir dihati, “Betul juga perkataannya, andaikata setelah
kawin nanti aku di minta untuk masuk kerumah pihak
perempuan, apa yang musti kulakukan untuk mengatasi
persoalan ini?”
Berpikir sampai disitu, tanpa sadar dia lantas berhenti dan
berdiri termangu-mangu….
Betapa susah dan sedihnya Chin Wan-hong karena tidak
memperoleh jawaban yang memuaskan hati, ia lantas
berpaling ke arah suaminya seraya bertanya, “Engkoh Hong,
menurut pendapatmu apa yang harus kita lakukan?”
“Aku juga tak turut campur!” sahut Hoa Thian-hong sambil
tertawa.
Selesai berkata dia lantas berjalan menuju ke arah kaum
pekerja yang sudah mulai melakukan penggalian.
“Eeeh…. eeeh…. engkoh Hong tunggu sebentar!” buru-buru
Chin Wan-hong berseru.

Ia memburu maju kedepan kemudian bisiknya dengan lirih,
“Ibu memerintahkan aku untuk menyampaikan beberapa
patah kata ke padamu, pada bagian yang terpenting aku
belum sampai mengutarakannya dihadapan umum!”
“Apa petunjuk ibu yang lain?” tanya sang pemoda dengan
wajah serius.
Dengan suara rendah jawab Chin Wan-hong, “Menurut ibu,
bila ilmu silatmu tak bisa menandingi mereka maka
berusahalah dengan sepenuh tenaga, asal engkau sudah
berusaha dengan semampu mungkin, hal itu sudah lebih dari
cukup, sebaliknya kalau ilmu silatmu dapat menangkan orang
lain maka engkau musti menaklukan hati orang dengan budi
kebaikan serta tindakan yang bijaksana!”
Agak tertegun Hoa Thian-hong setelah mendengar
perkataan itu, serunya kemudian, “Belum pernah ibu
mengajarkan aku untuk menaklukan hati orang dengan budi
kebaikan serta tindakan yang bijaksana!”
“Bila kekuatanmu sudah melampaui orang lain, saat itulah
dengan budi kebaikan engkau baru bisa menaklukan hati
orang, dulu ibu tidak pernah mengajarkan teori ini kepadamu,
hal ini disebabkan ilmu silatmu belum berhasil mencapai pada
puncaknya!”
oooooOooooo
88
HOA THIAN-HONG berpikir sebentar lalu bertanya lagi,
“Apakah ibu tak akan datang kemari?”
Chin Wan-hong manggut tanda membenarkan.

“Pada waktu ini, ibu, Siau Ngo-ji serta Haputule sedang
berlatih ilmu silat, bila datang kemari maka latihan mereka
akan terganggu, dan lagi mereka kuatir orang muda gampang
terpikat oleh harta karun, maka lebih baik sama sekali tidak
muncul saja!”
Hoa Thian-hong menghela nafas panjang.
“Aaai….! Pengetahuan serta pengalaman ibu memang jauh
lebih luas daripada aku, rupanya dia orang tua sudah tak mau
mencampuri urusanku lagi, maka sengaja suruh aku
merasakan pahit getirnya manusia.”
“Tapi keadaan situasi pada saat ini toh tidak terlalu jelek!”
seru Chin Wan-hong.
Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, ia melirik
sekejap sekeliling tempat itu, setelah melihat tak seorangpun
berada disitu, barulah pemuda itu berkata lagi, “Suasana
tenang dan damai yang kau lihat pada saat ini hanya bersifat
sementara, akhirnya toh persoalan ini harus diselesaikan
diujung senjata, harta karun itu pasti akan dirampok mereka
dengan menggunakan ilmu silat!”
“Aku dengar jumlah harta karun yang tersimpan dalam
istana ini tak terhingga banyaknya!” bisik Chin wang hong.
Hoa Thian-hong tertawa getir.
“Sampai dimanapun banyaknya benda tersebut, toh tetap
tak akan lebih banyak dari kawanan jago yang berkumpul
disini, sekalipun setiap orang bisa dibagi dengan satu macam
barang, tapi nilai dari benda berharga itu kan tak sama, benda
yang benar-benar bagus jumlahnya tentu sedikit sekali.”

“Asalkan kita tak ambil satu macam bendapun dan
membagi ke semuanya itu buat orang lain toh sama saja
artinya!”
Hoa Thian-hong tertawa, “Cara ini tidak akan dapat
menyelesaikan persoalan tersebut, misalnya saja ada sebiji
buah Cu ko, dimana barang siapa memakannya maka dia akan
ewet muda dan panjang usia, kemudian Pek Siau-thian
menginginkannya, Tang kwit Siu juga menginginkannya
sedang Kiu-im Kaucu juga berharap bisa mendapatkannya,
kalau tidak di selesaikan secara bertarung bagaimana
persoalan ini bisa diatasi?”
Chin Wan-hong tersenyum
“Asal benda itu bisa dibagi menjadi tiga bagian hingga
semua orang dapat merasakannya bukankah urusan akan
beres?”
Tersenyum getir Hoa Thian-hong setelah mendengar
perkataan itu.
“Aaai! Kamu ini masa dalam keadan seperti inipun, masih
punya kegembiraan untuk menggoda aku, andaikata benda itu
adalah suatu benda yang tak bisa dibagi lantas bagimana
caranya uatuk mengatasi persoalan itu?”
“Pokoknya kita akan berjuang demi kepentingan umum dan
berbuat menurut kemampuan yang kita miliki”
Hoa Thian-hong menghela nafas panjang.
Yaa, setelah persoalan ini diurus kita, maka aku harap
persoalan ini bisa diselesaikan dengan cara yang sebaikbaiknya,
kalau toh masalah ini berakhir dengan bencana, dan
keadaan yang kurang memuaskan, bukan saja kita akan siaTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
sia berjuang, malahan perasaan hati kita jadi sedih dan
menyesal untuk selamanya.
Cbin Wan bong mengangguk, dengan wajah serius ia
berkata, Kalau begitu biarlah kuikat dulu tali perkawinan
antara Bong tosko dengan Pek toa sinciu, asalkan kita sudah
punya hubungan famili dengan pihak Sin-kie-pang, maka
andaikata terjadi suatu keributan niscaya Pek lo pangcu akan
menjual muka kepadamu, bila tindakan ini kurang cukup maka
engkau pun boleh mengikuti jejak Bong toako dengan
mengikat tali hubungan dengan pihak Sin-kie-pang.
“Huuuss jangan sambarangan bicara” sela Hoa Thian-hong
sambil tertawa, “Pemuka dunia persilatan tak mungkin
bersedia tundukkan kepala dihadapan Pek Siau-thian,
mengenai perkawinan dari Bong Toa ko dan enci Soh-gie lebih
baik engkau saja yang menjadi mak comblangnya, tak usah
kau menanyakan soal pendapat dari jago-jago lain, dari pada
terjadi hal-hal yang tak diinginkan yang akan mengakibatkan
gagalnya persoalan ini!”
Chin Wan-hong menganggut seraya mengiakan maka Hoa
Thian-hong kembali ke arena penggalian untuk menjadi
mandor, sedangkan Chin Wan-hong kembali keatas bukit
untuk memberi hormat kepada gurunya dan Cu Im taysu
sekalian, setelah itu berbicara pula dengan saudara-saudara
seperguruannya.
Dalam kerepotan akhirnya ia berhasil pula menyingkirkan
sedikit waktu untuk berkunjung kerumah kayu yang dibuat
orang-orang dari perkumpulan Kiu-im-kauw.
Ketika Kiu-im Kaucu melihat kedatangannya, ia segera
menyambut kedatangan perempuan itu diluar pintu rumah,
sapanya sambil tertawa, “Sau hujin apakah kedatanganmu
kemari adalah untuk menengok Ku Ing-ing?”

Cepat Chin Wan-hong memberi hormat dan menyahut,
“Selain menengok enci Ing ing, kedatanganku juga memberi
hormat kepada kaucu!”
“Haahh…. haaahh…. haaahh, sau hujin tak usah sungkansungkan!”
seru Kiu-im Kaucu sambil tertawa terbabak-bahak,
“aku tak berani menerima penghormatanmu itu, maaf!
Tempat ini tak sesuai untuk menerima tamu”
Ia lantas berpaling ke arah Giok Teng Hujin dan
melanjutkan, “Sau hujin baru kali ini datang kemari, temanilah
dia untuk berjalan-jalan keempat penjuru sembari menikmati
keindahan alam.”
“Ing ing terima perintah!” sahut Giok Teng Hujin sambil
memberi hormat.
Chin Wan-hong sendiri memang kuatir kalau disitu terlalu
banyak orang hingga ia tak leluasa untuk berbicara,
mendangar perkataan itu dia lantas mohon diri dan mengajak
Giok Teng Hujin berlalu dari sana.
Sejak dulu sampai sekarang antara kedua orang ini boleh
dibilang sama sekali tak ada ganjalan hati, sekalipun Giok
Teng Hujin mencintai diri Hoa Thian-hong, akan tetapi Chin
Wan-hong sama sekali tidak menaruh rasa cemburu, maka
setelah berjalan agak jauh, Chin Wan-hong buka suara sambil
berkata, “Enci, wajahmu!”
Giok Teng Hujin masih mengenakan kain cadar hitam
diatas wajahnya, mendengar perkataan itu dia lantas tertawa.
“Wajahku telah berkeriput dan menjadi tua karena siksaan
yang kuderita, apakah Thian-hong belum menceritakan
kejadian ini kepadamu?” sahutnya lembut.

Chin Wan-hong menggeleng.
“Mungkin karena banyak orang dan lagi Thian-hong sedang
sibuk mengurusi soal penggalian harta, maka ia belum
menceritakan sesuatu tentang diri enci”
Tiba-tiba dia menghela napas panjang, lanjutnya lebih
jauh, “Aku jadi teringat dengan Leng-ci berusia seribu tahun
itu, bila benda mustika itu masih berada disakumu maka
sekarang cici tak perlu menguatirkan soal keriput diatas wajah
lagi”
Mendengar perkataan itu, Giok Teng Hujin tertawa.
“Benar, mustika yang berada didunia ini hunya bisa
dinikmati oleh mereka yang punnya rejeki besar, encimu tak
lebih cuma seorang perempuan buangan tak berguna, tidak
terjerumus kedalam neraka sudah merupakan suatu
keberuntungan, sekalipun Leng-ci itu masih ada, belum tentu
aku bisa menikmatinya.
“Aaah…. enci pandai bergurau!”
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya, “Thian-hong sudah
terlalu banyak memerima budi kebaikan dari cici, hutang kami
kepadamu sudah tak terhitung jumlahnya, dan lagi kakakku
Giok liong juga tertolong jiwanya lantaran Leng-ci mustika itu,
boleh dibilang kami keluarga Hoa dan Chin merasa amat
berterima kasih sekali atas budi dan pertolongan dari cici itu!”
Giok Teng Hujin tertawa.
Suma tayhiap juga bentrok dengan Kiu-im Kaucu lantaran
Leng-ci berusia seribu tahun itu, sungguh tak kusangka

demikian banyak orang yang berterima kasih kepadaku karena
persoalan itu.
Chin Wan-hong tersenyum, dengan wajah serius ia berkata
lagi, “Mertuaku adalah seorang manusia yang luar biasa, dia
orang tua sangat memikirkan tentang kehidupan cici, apa lagi
setelah baru-baru ini memperbincangkan tentang diri cici,
maka setelah dipikir pulang pergi beliau merasa bahwa
daripada cici sekalian bercokol di perkumpulan Kiu-im-kauw
serta berkeliaran dalam dunia persilatan alangkah baiknya
kalau cici datang saja keperkampungan Liok Soat Sanceng dan
berdiam disitu bersama kami, tentunya cici bersedia untuk
memenuhi harapan kami ini bukan?”
Tertegun Giok Teng Hujin setelah mendengar perkataan
itu, lama sekali dia tertegun dan untuk sesaat tak tahu apa
yang musti diucapkan.
Ia tahu Chin Wan-hong sebagai seorang yang jujur tidak
mungkin akan membohongi dirinya, padahal ucapan dari Hoa
Hujin selalu sekokoh batu karang, apa yang telah diutarakan
keluar berarti pula persoalan itu telah diputuskan olehnya, tak
mungkin masalah itu hanya diutarakan karena basa basi
belaka.
Tapi ingatan lain lantas terlintas dalam benaknya, yang di
masudkan untuk berdiam di perkampungan Liok soat san ceng
berarti pula pengakuan langsung dari Hoa Hujin atas
hubungannya dengan Hoa Thian-hong, hal ini berarti pula
kalau dia telah menyetujui hubungan perkawinan mereka
berdua.
Kejadian semacam ini hampir boleh dikata sama sekali tak
terduga, tentu saja untuk sesaat lamanya ia jadi kelabakan
sendiri.

Namun bagaimanapun juga dia adalah jago silat kawakan
yang sudah kenyang makan asam garam, setelah tertegun
beberapa saat lamanya diapun menggeleng.
“Budi kebaikan dia orang tua tak akan kulupakan
selamanya”, ia berkata dengan suara berat, “tapi aku hanya
bisa menerima maksud baiknya itu didalam hati saja tak
mungkin bisa kupenuhi harapan dari dia orang tua”
Setelah berhenti sebentar sambungnya lagi, “Hian moay
adalah seorang perempuan yang bijaksana, terus terang
kukatakan bahwa akan tidak menolak maksud tersebut hanya
aku malu dengan diriku sendiri, persoalanku ini jangan kau
anggap sebagai suatu tindakan pura-pura, aku telah
mengambil keputusan ini dengan bersungguh hati!”
Chin Wan-hong merasa sedih dan serba salah, setelah
termenung sebentar iapun berkata, “Kalau toh enci tidak
memandang asing diriku, Siau moay juga tak akan
menganggap kau sebagai orang luar, biarlah kujelaskan lebih
dahulu duduknya persoalan ini sehingga engkau tahu
dimanakah letak sumber dari keputusan ini.”
Setelah berpikir sebentar, ia melanjutkan, “Sejak dulu
sampai sekarang keluarga Hoa adalah keluarga besar dunia
persilatan, nama besar ini bukan direnggut lantaran
mengandalkan ilmu silat belaka, ambillah contoh diri
mertuaku, dia orang tua boleh dibilang merupakan pendekar
besar diantara kaum wanita, perbuatan dan tindakannya lebih
mengutamakan keadilan serta kejujuran, ia rela kehilangan
rumah dan hidup sengsara daripada melakukan perbuatanperbuatan
yang bertentangan dengan jiwa ksatria nya dan kini
enci menaruh budi kebaikan kepada Thian-hong!”
Giok Teng Hujin menggerakkan bibirnya seperti
mengucapkan sesuatu tapi sebelum kata-kata tersebut sempat

diutarakan keluar, rupanya Chin Wan-hong sudah dapat
menebak suara hatinya, cepat ia melanjutkan lebih jauh,
“Yang dimaksudkan sebagai budi disini bukanlah budi dari
Leng-ci berusia seribu tahun itu, melainkan budi yang diterima
Thian-hong sejak berkenalan dengan cici, soal Leng-ci
mungkin saja bisa diganti dengan benda yang sama, tapi budi
yang diterima karena bantuan dan cinta kasih cici, kalau tidak
dibalas dengan cinta kasih pula, masakah bisa diganti dengan
benda lain?”
“Tapi cinta kasih yang kuberikan kepada Thian-hong toh
muncul karena kemauanku sendiri, aku sama sekali tidak
mengharapkan balas jasa dari dirinya!”
“Mengharapkan pembalasan atau tidak adalah urusan cici
sendiri” kata Chin Wan-hong dengan serius, “tapi yang pasti
orang persilatan memandang soal budi sebagai persoalan
yang paling penting, mertuaku tak ingin Thian-hong menjadi
orang yang lupa budi, tak mau melihat didunia ini ada
kejadian yang tak adil, selain itu aku sendiripun berharap
semua kekasih yang ada didunia ini bisa dilanjutkan ke
jenjang perkawinan, aku tak ingin melihat didunia ini adalah
laki-laki yang putus cinta, ada gadis yang merana…. maka aku
harap engkau bersedia menerima tawaran kami ini!”
Giok Teng Hujin tertawa, katanya, “Hatimu terlalu welas
kasih dan halus bagaikan Pousat, apakah engkau tidak merasa
bahwa perbuatanmu ini sedikit kelewat batas?”
Chin Wan-hong tersenyum.
“Soal itu lebih baik tak usah dibicarakan katanya, marilah
kita bicarkan lagi soal tentang keluarga Hoa, sebagaimana
engkau tahu meskipun keluarga Hoa adalah keluarga yang
dihormati orang banyak…. toh keluarga ini hidup dari ilmu
silat, berbeda jauh dengan kalangan keluarga hartawan atau

pejabat yang turun temurun karena pangkat, kami menuruti
peraturan persilatan yang di bicarakan adalah aoal cengli dan
kami tak terikat oleh adat ataupun tata cara lain. Bagi
pandangan kami asal hal itu terasa pantas dan tidak jelek
maka sekalipun Thian-hong punya dua istri atau tambah lagi
dengan tiga empat orang istri juga tak menjadi soal, lagi pula
barang siapa yang sudah dinikahi olehnya kami anggap
sebagai istri yang sah tak akan kami bedakan apakah dia
adalah istri yang sah atau gurdik!”
Giok Teng Hujin tertawa.
“Sudahlah!” ia berseru, “dahulu aku tidak kenal dengan kau
tapi belakangan ini sering kudengar watak serta tabiatmu dari
mulut Thian-hong dan akupun semakin memahami dirimu, aku
dapat mengerti betapa besar jiwamu, coba bayangkan
seandainya perempuan yang pertama kali dikawini Thian-hong
bukan kau melainkan Pek Kun-gie, mungkin rumah tangganya
akan bertambah rumit dan penuh dengan persoalan yang
memusingkan kepala, Thian-hong tak akan punya niat untuk
berlatih si at lagi apalagi menyelenggarakan usaha penggalian
harta karun?”
Chin Wan-hong tersenyum.
“Sejak dilahirkan aku memang memiliki lidah yang kaku,
bagaimanapun juga lidah yang kaku ini sudah mati rasa
sehingga tak bisa kurasakan bagaimana rasanya orang
cemburu atau iri….!”
“Betul, orang lain mungkin saja dapat membagi cinta kasih
dari Thian-hong” ujar Giok Teng Hujin sambil tertawa, “tapi
siapa pun tak dapat membelah hatinya, sebab dia telah
persembahkan hatinya hanya bagimu seorang.”
Chin Wan-hong tertawa.

Kalau orang makan buah Tho maka yang dimakan adalah
dagingnya, siapa yang suka makan bijinya? Begitu pula
dengan kaum perempuan, yang mereka butuhkan hanya cinta
kasih, siapa yang memperdulikan hatinya bagaimana? Sejak
dilahirkan aku memang punya takaran yang kelewat kecil,
kalau makan kebanyakan malahan tak bisa di cernakan”
Setelah berhenti sebentar lanjutnya lebih jauh, Lebih baik
kita tak usah banyak membicarakan masalah yang tak
berguna, biarlah siau moay bicarakan masalah yang lebih
penting saja.
Oooh…. kiranya engkau sedang melaksanakan perintah,
anggaplah enci sedih merasakan kelihayanmu hari ini” seru
Giok Teng Hujin sambil meleletkan lidahnya.
Chin Wan-hong ikut tersenyum, katanya dengan serius,
“Cici, kalau menyuruh Thian-hong memutuskan hubungan
dengan engkau, maka kejadian ini kurang begitu bijaksana,
tapi kalau membiarkan kalian berhubungan terus, padahal
engkau masih keluyuran didepan, sudah pasti Thian-hong
akan dicemooh dan ditertawakan orang. Engkau toh tahu
betapa ketat dan kerasnya pendidikan mertua ku terhadap
putranya? Bukan saja beliau akan dimaki orang karena tak
becus, siau moay sendiripun akan diejek orang sebagai
nyonya yang suka cemburuan…. waah, kalau sampai semua
keluarga kena dicemooh orang, kan urusannya jadi berabe?
Makanya hanya ada satu cara untuk mengatasi persoalan ini,
yakni memboyong cici pularg kerumah, setelah upacara resmi
diadakan, maka kita semua akan hidup dengan penuh
kegembiraan.”
Giok Teng Hujin tertawa.

“Waah! Engkau memang sangat lihay, berbicara pulang
pergi akhirnya toh demi kepentingan dirimu sendiri.”
Setelah berhenti sebentar, dengan serius dia melanjutkan,
“Aaaiii! Bila Thian-hong lanjutkan hubungannya dengan aku,
lantas bagaimana dirimu? Tentang soal ini aku sudah
memikirnya sedari dulu, cuma dahulu kita tak kenal maka tak
bisa dikatakan lagi dan sekarang setelah kita berkenalan
bagaimanapun Juga aku ikut memikirkan keadaanmu, biarlah
maksud baikmu itu akan kubalas dike mudian hari!”
Cepat Chin Wan-hong geleng kepala.
“Cici,” katanya dengan serius, “Thian-hong adalah seorang
anak yang amat berbakti, bila ibunda telah melarang Thianhong
untuk berhubungan dengan engkau maka bubungan cici
dengan Thian-hong tak akan berlangsung sampai hari ini, dia
orang tua bukan seorang manusia yang gampang mengambil
keputusan akan tetapi bila ia sudah mengambil keputusan
maka yang diharapkan adalah kesuksesan, bila cici
bersungguh hati mencintai Thian-hong seharusnya dengan ke
dudukanmu sebagai seorang angkatan muda keluarga Hoa
engkau taati perkataan dari beliau, apa gunanya engkau
melukai perasaan serta hubunganmu dengan dia orang tua?”
Ketika mendengar perkataan itu, Giok Teng Hujin berdiri
tertegun sementara air matanya jatuh bercucuran.
“Cici merasa tak punya keberanian antuk melangkah masuk
kepintu gerbang keluarga Hoa….”
Chin Wan-hong termenung sebentar, kemudian sambil
menggenggam tangannya ia berkata dengan nada dalam,
“Cici, sau moay punya rencana bagus untuk mengatasi
persoalan ini, tapi kalau cici menampik lagi, itu berarti engkau
tak sudi berkelompok dengan siau moay”

“Katakanlah apa rencanamu itu!” bisik Giok Teng Hujin
dengan sedih.
“Kurang lebih tiga ratus dua puluh li di sebelah timur laut
pulau Tiang le to di samudra Tang bay, terdapat sebuab pulau
ko song yang bernama In soat to, keluarga Hoa mempunyai
sebuah pesanggrahan diatas pulau tersebut, dan sampai
sekarang masin ada pelayan keluarga Hoa yang berdiam di
situ, setelah urutan harta karun ini selesai, silahkan cici
berdiam dipulau It soat to tersebut, urusan selanjutnya siau
moay akan aturkan buat cici!”
Berbicara sampai disitu tanpa menunggu jawaban lagi, ia
lantas memberi hormat dan berlalu dari situ.
Giok Teng Hujin cuma bisa berdiri termangu dengan air
mata bercucuran, ia tak tahu apa yang musti dilakukan pada
saat ini.
Dengan lemah gemulai Chin Wan-hong bergerak menuju
perkemahan orang orang Sin-kie-pang, waktu itu keluarga Pek
Siau-thian yang terdiri dari empat jiwa sedang berkumpul
disebuah rumah kayu.
Ketika Kho Hong-bwee dan Pek Soh-gie melihat
kedatangan perempuan itu, mereka cepat memburu kedepan
dan menyambut kedatangan diluar pintu, sementara Pek Siauthian
pura-pura tidak melihat dan Pek Kun-gie tetap duduk
ditempat semula.
Selesai memberi hormat kepada Kho Hong-bwee berdua,
Chin Wan-hong masuk kedalam ruangan dan memberi hormat
kepada Pek Siau-thian seraya berkata, “Wan hong
menghaturkan hormat buat empek Pek!”

“Tak usah banyak adat!” sela Pek Siau-thian ketus.
Sau hujin, sHahkaa duduk! cepat Kho Hong-bwee berseru
sambil tertawa, Kun gie hidangkan air teh”
Dalam rumah itu tak ada pelayan maka menurut peraturan,
orang yang paling mudalah bertindak sebagai pengganti
pelayan.
Dengan perasaan apa boleh buat Pek Kun-gie segera
bangkit dan menuang secawan air teh, sebab ia anggota
termuda maka dialah yang berkewajiban untuk menghilangkan
air teh bagi tamunya.
Chin Wan-hong menerima cawan air teh itu dan ditetakkan
di meja, tiba-tiba ia tangkap tangan kiri dara itu kemudian
menyingsingkan bajunya dan periksa pergelangan tangan
tadi….
Melihat itu Kho Hong-bwee lantas berkata sambil tertawa,
“Tempo hari ia dipagut kelabang langit yang ganas, tapi
setelah Thian-hong memberi pelajaran adat kepada murid
tertuanya Tang Kwik-siu, beberapa hari berselang obat
pemusnahnya telah ia minum, cuma tak tahu bagaimanakah
perkembangan lukanya itu?”
Chin Wan-hong tertawa.
“Walaupun bekas gigitannya masih utuh, warna sembab
sudah lenyap, itu tandanya ia sudah bebas dari pengaruh
racun. Bibi tak usah kuatir, dengan ilmu tusuk jarum
keponakan pernah memunahkan pula racun kelabang yang
mengeram ditubuh Lau Cau cing, bila adik Kun gie masih
kurang enak badan, tit li bersedia untuk memberikan
pertolongan.”

Tiba-tiba Pek Kun-gie meronta dan melepaskan diri dari
cekalan, kemudian ujarnya dengan ketus, “Hmmm! Sebelum
datang kemari, engkau telah berkunjung dulu kepihak Kiu-imkauw,
sekarang dengan mulut manis mencari muka kepada
kami, sebenarnya apa maksud tujuanmu? Kalau ingin
mengangkangi sendiri harta karun itu, boleh saja kita
rundingkan secara blak blakan!”
Mendengar soal harta karun, tanpa sadar Chin Wan heng
teringat kembali akan suaminya, ia lantas tersenyum dan
menjawab, “Meskipun harta karun memang suatu hal yang
menawan hati, aku tiada bermaksud untuk mengangkanginya,
lagipula waktunya belum tiba, sekalipun saatnya sudah sampai
engkau belum berhak mendapat bagian!”
Mula-mula Pek Kun-gie agak tertegun, tapi setelah
memahami maksud dari kata-kata itu, ia jadi malu bercampur
mendongkol.
Akan tetapi sebelum ia sempat mengumbar amarahnya,
sambil tersenyum Chin Wan-hong telah menarik Kun pie agar
duduk di-sampingnya, kemudian kepada Kho Hong-bwee,
ujarnya lagi, “Bibi, tit li mendapat titipan dari dewa yang suka
pelancongan Cu locianpwe untuk datang menyambangi,
sekalian hendak membicarakan pula tentang satu urusan!”
“Cu tayhiap saat ini ada dimana? Urusan apa yang hendak
dibicarakan dengan kami?” tanya Kho Hong-bwee dengan
wajah tertarik.
Dengan wajah serius dan nada keren jawab Chin Wanhong.
“Oleh karena ada urusan penting dikota Teng yang, Cu
locianpwe tak dapat datang kemari! Hanya pesannya,
mengingat Bong toako adalah seorang pemuda sebatang kara,

sedangkan enci Soh-gie cantik dan berhalus budi, maka Cu
locianpwe ingin mengikat tali hubungan dengan keluarga bibi
dan tit li diperintahkan datang kemari serta ber tindak sebagai
mak comblangnya!”
Kho Hong-bwee tertawa lebar, sesudah mendengar
perkataan itu katanya dengan tenang, “Bong Pay adalah
seorang pendekar sejati, seorang lelaki berhati keras dan lagi
punya bakat yang bagus, aku suka sekali dengan bocah lelaki
ini!”
Watak paling bagus dari Bong toako adalah sifatnya yang
terbuka dan jiwanya yang jantan, pendapat tit li yang bodoh,
enci Soh-gie yang polos dan sederhana memang paling pantas
kalau didampingi oleh seorang yang kasar seperti dia.
“Aaai….!” Kho Hong-bwee menghela napas panjang, “Sohgie
amat tawar dalam soal pahala dan kedudukan, manusia
macam begini hanya akan menderita dan tersiksa bila bertemu
dengan orang yang tidak berbudi baik.”
Bicara sampai disini ia lantas berpaling ke arah suaminya
dan menambahkan, “Sau that bagaimana pendapatmu?”
Semenjak semula Pek Siau-thian telah merundingkan
persoalan ini dengan istrinya, oleh karena putrinya sangat
jujur dia memang pantas menjadi istri laki-laki kasar yang
berhati keras seperti Bong Pay.
Walaupun begitu, ia mempunyai kesan yang berbeda
dengan orang orang dari grupnya Hoa Thian-hong, kalau
menurut suara hatinya ingin sekali ia bikin jengkel orangorang
itu, tapi diapun kuatir kalau perbuatanya ini akan
melukai perasaan hati putrinya.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa ia harus
menuruti rencana semua, sahutnya dengan sederhana, “Besok
suruh dia masuk kepihak perempuan, sekembalinya keatas
gunung perkawinan baru diselenggarakan, nama sih boleh
tetap dipakai cuma ajarannya musti menuruti perkataanku dan
ia dilarang membang-kang semua ajaranku itu!”
Kho Hong-bwee lantas berpaling ke arah Chin Wan-hong,
lalu tanyanya dengan lirih, “Hian tit li bagaimana
pendapatmu?”
Cepat Chin Wan-hong memberi hormat.
“Semua perkataan empek memang masuk diakal dan sudah
umum, lagi pula tak meleset dari dugaan Cu locianpwe,
menurut pendapat tit li, Bong toako masih muda dan lagi tiada
bimbingan angkatan yang lebih tua, bila sekarang Bong toako
bisa memperoleh kasih sayang dari bibi dan enci Soh-gie,
memang sepantasnya kalau dia menerima prasyarat tersebut!”
“Kalau toh persoalan ini tidak meleset dari dugaan Cu
tayhiap, maka berarti persoalan ini lebih gampang untuk
diselesaikan, sekembalinya dari sini boleh kau tanyakan
kepada Bong Pay, apakah ia bersedia untuk menerima syarat
itu, kalau bersedia maka besok boleh datang ketempat kami.”
Chin Wan-hong mengiakan berulang kali, maka diapun
bangkit untuk mohon diri, ketika keluar dari ruangan ia
gandeng tangan Pek Kun-gie dan diajaknya keluar bersama.
Sejak Chin Wan-hong menikah, pertama karena ia
terpengaruh oleh kedudukan Hoa Hujin dan kedua diapun
sudah punya kedudukan dimata masyarakat, tanpa sadar
timbullah sikap yang agung dan berwibawa diatas wajahnya.

Sebaliknya Giok Teng Hujin serta Pek Kun-gie tidak lebih
cuma burung-burung liar yang belum masuk sangkar semakin
lama mereka bergaul dengan Chin Wan-hong, mereka
merasakan dirinya semakin kecil dan tak ada artinya, tanpa
mereka sadari perasaan tersebut segera mencekam seluruh
benaknya.
Ketika Pek Kun-gie digandeng keluar oleh Chin Wan-hong,
rasa sedih yang timbul dari lubuk hatinya sukar dilukiskan
dengan kata kata, ia bermaksud untuk meronta lepas dari
cekalannya namun ragu, dibiarkan begitu saja hati terasa tak
puas, apalagi diapun tak berani menyalahi orang
dihadapannya ini, maka setelah ditarik keluar agak jauh. ia
baru berani menegur sambil mencibirkan bibirnya, “Eeeh….
aku kan bukan dayangmu, kau bawa aku pergi kemana?”
Chin Wan-hong tertawa, setelah berhenti sebentar bisiknya,
“Dapat kulihat bahwa engkau sedang cek cok dengan Thianhong,
bukankah begitu?”
“Huuh! Hubunganku dengannya sudah buyar, antara kami
berdua sudah tiada ikatan apa-apa lagi!” seru Pok Kun gie
dengan nada ketus.
Chin Wan-hong tersenyum.
“Ada permulaan tentu ada akhir, apakah engkau tidak takut
ditertawakan orang? Ceritakanlah kepadaku persoalan sedih
apakah yang telah kau alami selama ini?”
Mendengar pertanyaan itu, merahlah sepasang mata Pek
Kun-gie, dengan sedih jawabnya, “Setelah aku terjatuh
ketangan Tang Kwik-siu, hidupku tiap hari bagaikan menemani
gerombolan harimau dan serigala, tiap detik kuharapkan
kedatangannya, tiap menit kuharapkan pertolongannya, tapi ia
tetap berada di kota Cho ciu, bahkan sama sekali tak

menganggap suatu persoalan atas peristiwa yang menimpa
aku, mimpipun aku tak pernah mengira kalau kedudukanku
jauh lebih rendah dari pada kedudukan Ing ing”
Sampai akhirnya karena sedihnya bukan kepalang, tak
tahan lagi dia melelehkan air mata.
“Apakah Thian-hong tahu juga tentang persoalan ini?”
tanya Chin Wan-hong dengan lembut.
“Perduli amat dia tahu atau tidak?” jawab Pek Kun-gie
dengan penuh rasa mendongkol.
Chin Wan-hong tertawa, ujarnya lagi, “Ooooh! Rupanya
engkau jengkel sendirian, tahukah kau bahwa benaknya cuma
dipenuhi oleh masalah besar dunia persilatan? mungkin
pikiranya tak pernah sampai memikirkan keadaanmu ini.”
Dengan sehelai sapu tangan, ia menyeka air mata yang
membasahi wajahnya, setelah itu sambungnya lebih jauh,
“Barusan akupun pergi menengok enci Ing ing lebih dahulu
sebelum datang menengok dirimu, urutan ini musti diatur
menurut enteng beratnya, dan bukan dibedakan karena
hubungan yang lebih erat, tentang soal ini engkau bisa
memahami tidak?”
“Aku ingin tahu, dalam hal apa Ku Ing-ing lebih berat dan
Pek Kun-gie lebih enteng”
Jilid 32 : Musibah di istana terpendam
“ENCI Ku Ing hidup sebatang kara dalam dunia persilatan,
ia tak punya sanak tak punya keluarga, didunia pada saat ini
cuma Thian-hong satu-satunya sanak bagi nya” kata Chin
Wan-hong sambil tertawa “sedangkan, engkau adalah mutiara

dari perkumpulan Sin-kie-pang kekuasaan serta kekuatan
kalian amat besar sekali, bila Tang Kwik-siu hendak
mencelakai dirimu maka dia harus berpikir akan diri Hoa
Thian-hong, iapun musti memperhitungkan pula kekuatan
yang dipunyai perkumpulan Sin-kie-pang, mampukah untuk
dilawan atau tidak karenanya walaupun engkau berada dalam
keadaan bahaya pada hakekatnya keadaan belum mencapai
pada puncak kekritisan yang memerlukan bantuan, berbeda
dengan enci Ing ing, waktu itu dia sedang melakukan siksaan
api dingin yang malelehkan sukma”
Pek Kun-gie termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia
bertanya lagi, “Kenapa siluman rase itu menutupi wajahnya
dengan kain hitam?”
“Setelah mengalami siksaan berat, enci Ing ing menderita
tekanan jiwa yang amat berat, wajahnya ikut berkeriput
hingga mengalami perubahan besar, oleh sebab itu sampai
sekarang ia menderita cacad muka. Aii! Kedatangan Thianhong
waktu itu memang tepat sekali, bila dia datang setengah
hari lebih lambat entah siksaan apa lagi yang akan diderita
oleh enci Ing ing, dia adalah seorang manusia yang bernasib
jelek, janganlah kau pandang dirinya sebagai seorang musuh!”
“Hmmm! Rejekimu besar nasibmu, sangat baik tentu saja
sikapmu lebih terbuka dari pada orang lain?” seru Pek Kun-gie
dengan mata amat dingin.
Mendengar perkataan itu, Chin Wan-hong tertawa geli.
“Rejeki ada yang besar ada yang kecil, ada pula yang
datangnya agak cepat dan ada pula yang agak lambat, belum
tentu nasib mu jelek, cuma datangnya jauh lebih lambat
daripada, sekalipun begitu janganlah menggeruti atau merasa
terhadap Thian, daripada sikapmu iri akan menyalahi Pousat
sehingga Pousat tak mau melindungi dirimu!”

“Aku tak sudi dilindungi oleh siapapun!” teriak dara she Pek
dengan manja.
Chin Wan-hong tersenyum manis, hiburnya dengan suara
lembut, Thian-hong sudah amat lelah karena tugasnya yang
amat berat selama inii, janganlah membuat sedih hatinya lagi,
besok kami akan menemani Bong toako datang kerumah, aku
harap engkau jangan mengumbar hawa nafsu lagi.
Selesai berkata, ia lantas lepaskan tangannya dan turun
dari bukit tersebut.
Li-hoa Siancu sedang mananti kedatangannya bagaikan
semut diatas wajah yang panas, ketika perempuan itu
munculkan diri ia langsung berseru lantang, “Hong ji,
permainan setan apa yang sedang kau lakukan? Ketahuilah
dua orang perempuan itu sama-sama adalah siluman rase,
buat apa engkau ribut-ribut dengan mereka?”
“Aaah! Kami adalah kenalan lama, berbicara soal kehidupan
sehari hari memang menarik hati!”
Waktu itu Ciu Thian-hau sedang bermain catur dengan
Suma Tiang cing, sedang Cu Im taysu duduk disampingnya, ia
lantas berpaling seraya bertanya, “Hong ji, bagaimana dengan
tugasmu sebagai mak comblang?”
Chin Wan-hong menghampiri padri itu, kemudian
menuturkan apa yang telah diucapkan oleh Pek Siau-thian.
Setelah mendengar penuturan tersebut, Ciu Thian-hau
segera tertawa dingin, katanya, “Heeehh…. heeehh….
heeehh…. omong kosong! Pek Siau-thian itu manusia macam
apa? Kog Bong pay harus menuruti ajarannya, bukankah dia
akan ikut menjadi seorang bajingan cilik? Aku rasa jangan kita

penuhi permintaan itu, bila perlu batalkan soal perkawinan ini
dan kita carikan perempuan lain bagi pasangan Bong pay”
“Empek yang baik” ujar Chin Wan-hong sambil tertawa,
“emas murni tak takut dibakar dengan api, Boag Toako adalah
seorang laki-laki sejati yang berjiwa kesatria, sewajarnya kalau
ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,
kalau toh Pek pangcu bisa mempengaruhi Bong toako,
memangnya Bong toako tak dapat mempengaruhi Pek
pangcu. Lagi pula bibi dari keluarga Pek adalah seorang
perempuan yang bijaksana, selama Bong toako didampinginya
aku rasa tak akan banyak halangan yang bakal ia temui.”
Berbicara sampai disini, dia lantas berpaling ke arah Cu Im
taysu dan diam-diam mohon bantuannya.
Cu Im taysu adalah padri, seorang yang saleh dan
mengutamakan kasih sayang kalau mengikuti jalan pikirannya
maka ia sangat berharap bisa membawa orang jahat untuk
kembali kejalan yang benar.
Maka ketika ia mendengar ucapan terakhir dimana
dikatakan kemungkinan juga Bong Pay bisa mempengaruhi
Pek Siau-thian, satu ingatan segera terlintas dalam benaknya,
buru-buru serunya, “Perkataan dari Hong ji memang tak
keliru, Bong Pay paling benci kejahatan, diapun bisa
membedakan mana yang baik dan mana yang jahat,
kakerasan hatinya melampaui siapapun dan ilmu silat yang dia
miliki juga tak rendah, siapa tahu setelah Pek Siau-thian
mempunyai menantu seperti Bong Pay dia lantas lepaskan
golok pembunuh dan kembali kejalan yang benar? Inilah
kesempatan yang terbaik untuk membawa iblis itu menuju
jalan kebenaran, menurut pendapatku perkawinan ini jangan
dilewatkan dengan begitu saja.

Suma Tiang cing yang selama ini membungkam, tiba-tiba
berkata, “Kalau toh Cu toako sendiripnn tidak kuatir, kenapa
kita musti menguatirkan dirinya? Apa lagi suatu hari Bong Pay
jadi jahat, kita kan masih punya kesempatan untuk lenyapkan
Pek Lo ji dan akar akarnya dari muka bumi.
Ciu Thian-hau termenung dan berpikir sebentar, lalu
sahutnya, “Bagus juga cara ini, tapi kita bertiga musti
menaruh perhatian khusus, sekali Bong Pay salah bertindak
maka kita musti turun tangan dengan tegas.
Perkawinan dari Bong Pay dan Pek Soh-gie pun ditetapkan,
begitu malam harinya pihak Sin-kie-pang dan Seng sut pay
mendapat giliran kerja, sedang keesokan harinya pekerjaan
dilakukan oleh orang-orang dari Kiu-im-kauw.
Siangnya Hoa Thian-hong suami istri di tambah dengan
Chin Giok-liong dengan menemani Bong Pay menuju
perkemahan dari orang-orang Sin-kie-pang.
Oleh karena pihak laki masuk pihak perempuan, mereka tak
perlu membawa mas kawin.
Pek Siau-thian sebagai seorang ketua dari suatu
perkumpulan besar tidak berdiam diri belaka, sekalipun berada
diluar rumah namun ia tidak bertindak seenaknya.
Kecuali arak dan daging dihidangkan untuk menjamu tamutamunya,
iapun memberi persenan yang cukup besar buat
anak buahnya, suasana riang gembira segera menyelimuti
suasana di bukit Kiu ci san.
Malam itu, Hoa Thian-hong memimpin jago-jago aneka
ragamnya meneruskan penggalian, ketika kentongan keempat
baru lewat dan karena suatu urusan, Hoa Thian-hong sedang

keluar dari liang penggalian, tiba-tiba dari arah dasar liang
terdengar seseorang berteriak keras.
Hoa kongcu…. istana Kiu ci kiong telah munculkan diri….
istana Kiu ci kiong telah munculkan diri.
Dengan hati terperanjat, Hoa Thian-hong berpaling ke arah
mana berasalnya suara teriakan itu.
Beberapa orang yang berada didalam liang penggalian
sambil bersorak sorai dan menari dan teriaknya berulang kali.
“Istana Kiu ci kiong telah munculkan diri! Sobat-sobat
semua dan lihatlah…. istana Kiu ci kiong telah muncul dari
dasar per-mukaan tanah”
Teriakan-teriakan keras itu membelah kesunyian yang
mencekam di malam buta itu, semua jago dibuat terkejut dan
sadar dari tidurnya, dalam waktu singkat jago-jago lihay dari
pelbagai pelosok tempat baik dari golongan putih maupun dari
golongan hitam serentak ber larian masuk kedalam liang
tersebut.
Luas liang yang sedang digali itu mencapai sepanjang dua
puluh kaki dengan lebar empat puluh kaki, tiap lima depa
digantung sebuah tangga dan dalamnya sudah mencapai
sembilan puluh kaki.
Karena dalamnya liang tersebut maka orang-orang yang
ada diatas liang menyaksikan orang yang sedang bekerja di
bawah liang sebesar semut kecuali beberapa orang jago yang
dapat melihat jelas keadaan tersebut sebagian besar mereka
tak dapat melihat apa-apa.

Hoa Thian-hong dengan menemani Tiangsun Pou serta
empat datuk dari bukit Huang-san memburu ke tempat
kejadian, waktu itu dasar liang telah menjadi lautan manusia,
tiap anak tangga penuh berjejal kawanan jago, lampu lentera
menyinari seluruh penjuru membuat suasana jadi terang
benderang
Ketika Hoa Thian-hong dan Tiansun Pou sekalian tiba
didasar lembah, hampir seluruh jago pada menyingkir ke
samping untuk memberi jalan lewat.
Didasar liang terdapat sebuah atap tembaga sepanjang dua
depa lebar satu depa enam cun dengan memancarkan sinar
keemas-emasan, selain itu terdapat pula sebuah kepala
patung binatang Kilin dan separuh potong papan nama yang
luasnya empat depa masih terbaca, sebab huruf besar yang
terbuat dari emas.
Tulisan itu adalah Huruf Ban atau sepuluh laksa.
Setelah beberapa orang itu mencapai tempat kejadian, Pek
Siau-thian segera menunjuk ke arah separuh bagian papan
nama itu seraya berseru, “Tiangsun lote, cepatlah rundingkan
dengan keempat datuk, tempat ini sebenarnya adalah bagian
mana dari istana Kiu ci kiong?”
Po-yang Lojin maju melewati lautan manusia, seteah
membaca tulisan Ban itu, ia lantas berseru, Oooh! Tempat ini
adalah istana Ban yo tian, sudah terhitung tempat penting
didalam istana Kiu ci kiong, orang lain dilarang masuk keluar
ditempat ini”
Li lojin yang berada disisinya melanjutkan, Menurut berita
yang tersiar dalam dunia persilatan, ketika Kiu-ci Sinkun
memberi nama untuk istananya ini, ia pernah berkata:
Barangsiapa dapat memasuki ruang istana ini dia adalah anak

buah istana Kiu ci kiong, dan apa dia harapkan akan dipenuhi
sampai puas, selama hidup tak akan menderita lagi”
Tiangsun pou membeberkan peta birunya dan
membentangkan dihadapan kawanan jago, Po-yang Lojin
lantas menunjuk ke arah sebidang tanah yang bertulisan Ban
yo tian, ujarnya lagi, Disinilah letak istana Ban yu tian,
belakang istana adalah sebuah kebun bunga, dibelakang
kebun bunga adalah sebuah telaga kecil, setelah melewati
jembatan batu maka kita akan sampai ditem pat tinggalnya
Kiu-ci Sinkun.
Peta biru itu dibuat oleh Tiangsun Pou berasarkan
keterangan dari empat datuk bukit Huang-san, catatan diatas
peta itu amat jelas sekali, hampir semua pemimpin persilatan
berkerumun dimuka dan meneliti peta itu.
Tiba-tiba Pek Kun-gie menerobos masuk dari kerumunan
orang banyak, kemudian ia berdesakan dan berdiri disamping
Hoa Thian-hong.
Kebetulan Kiu-tok Sianci berdiri disamping pemuda itu,
karena didesak Pek Kun-gie, ia jadi terdorong kesamping,
kejadian ini segera menggusarkan hatinya, Dengan dahi
berkerut perempuan suku Biau ini siap mengumbar hawa
amarahnya tapi oleh karena Pek Kun-gie adalah seorang anak
muda ia malu untuk menurunkan gengsi sendiri.
Rupanya Pek Kun-gie tahu bahwa hubungannya dengan
Hoa Thian-hong tak dapat berlangsung lantaran hadangan dan
penampikan dari Kiu-tok Sianci beserta anak muridnya, karena
itu dia sangat membenci orang orang dari wilayah Biau ini.
Oleh karena itu ia agak penasaran atas diri Kiu-tok Sianci,
sebelum perempuan itu sempat mengumbar hawa amarahnya,

ia sudah melotot seraya menegur, “Heey, apa yang sedang
kau pelototi? Memangnya mau makan orang ya?”
Kalau gadis itu berlagak sok maka Hoa Thian-hong yang
paling panik, cepat-cepat ia tarik gadis itu kebelakang
kemudian bentaknya dengan perlahan, “Eih, bagaimana sih
kamu ini? kenapa berani bersikap tak tahu sopan terhadap
orang yang lebih tua dirimu? kalau sampai orang lainpun
mengetahui tingkah lakumu ini bagaimana jadinya nanti?”
Pek Kun-gie tidak langsung menjawab, kembali ia melotot
sekejap searah Kiu-tok Sianci dengan penuh perasaan
dendam, setelah itu baru sahutnya dengan lirih, “Kalian tak
boleh bertindak gegabah, sampai sekarang Tang Kwik-siu
beserta anak muridnya tidak pernah turun kemari, Kok Seepiauw
bajingan cilik itupun lenyap tak ketahuan kemana
perginya, aku lihat kejadian ini aneh sekali, kita musti
waspada dan berjaga-jaga atas segala kemungkinan yang tak
diinginkan!”
Sunggguh terperanjat hati Hoa Thian-hong setelah
mendengar laporan tersebut, dengan pandangan tajam ia
menyapu sekejap seke-liling tempat itu, betul juga perkataan
itu, baik Pek Siau-thian maupun Kiu-im Kaucu, Jin Hian serta
Thian Ik-cu, beberapa orang tokoh penting dalam dunia
persilatan telah hadir semua didasar liang galian itu, tapi dari
pihak Mo-kauw yakni Tang Kwik-siu beserta anak muridnya,
tak seorang pun yang menampakkan diri disitu.
Sementara itu, Kho Hong-bwee merasa sangat tak senang
hati lantaran Kiu-tok Sianci sentimen dengan putrinya, dalam
keadaan seperti ini dia lantas manfaatkan kesempatan itu
dengan sebaik baiknya, dengan menunjukkan lagaknya
sebagai seorang angkatan yang lebih tua, ia menghardik,
“Peristiwa ini sangat mencurigakan hati, Thian-hong! Segera
naik keatas dan selidiki persoalan ini sampai jelas!”

“Baik!” sahut Hoa Thian-hong, ia tak berani berayal lagi
serentak tubuhnya melejit keatas.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki si anak muda ini
sudah mencapai pada puncaknya, sambil menutul permukaan
batu, dalam waktu singkat ia sudah mencapai permukaan
liang tersebut.
Baru saja dia hendak melangkah keluar dari liang galian,
tiba- tiba terdengar Tang Kwik-siu tertawa terbahak-bahak
dengan seramnya, disusul ia berkata, “Haaaah…. haaaahh….
haaaah….Hoa kongcu, betulkah harta karun itu sudah
menampakkan diri?”
Seraya mengejek, segulung angin pukulan yang maha
dahsyat ibaratnya gulungan ombak yang dimainkan taufan
melanda datang dengan dahsyatnya, diantara desingan tajam
tersebut terselip pula bau busuk yang sangat memualkan.
Kejut dan gusar Hoa Thian-hong menghadapi kejadian ini,
disaat yang kritis dia mengepos tenaga, sepasang telapak
tangannya lantas menekan permukaan tanah dan Sreet….!
dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya
dia melejit ke udara, kemudian ber jumpalitan beberapa kali.
Lompatan keudara yang indah dan maha sakti ini tak
mungkin bisa dilakukan orang lain didunia ini kecuali Hoa
Thian-hong seorang, sebab bukan saja seseorang harus
memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, diapun
harus mempunyai keberanian yang luar biasa.
Meleset dengan serangan mautnya, Tang Kwik-siu jadi
ketakutan setengah mati, nyalinya serasa jadi pecah, sambil
berpekik nyaring dia putar badan dan kabur terbirit-birit.

Ketika masih berada ditengah udara mendadak telinganya
yang tajam telah menangkap serentetan suara yang aneh
sekali kede ngaranya, cepat dia alihkan perhatiannya
ketempat berasalnya suara itu.
Apa yang telah terjadi? Mendadak perasaan hatinya
tercekat, jantungnya berdebar keras dan mukanya pucat pias
seperti mayat, dengan perasaan ngeri jeritnya keras-keras,
“Awass….! Air bah telah datang, cepat kabur keatas…. cepat
kabur dari sina,air bah telah datang!”
Ia membenci dan mendendam pada kekejaman serta
kelicikan Tang Kwik-siu, setelah memberi peringatan kepada
kawanan jago itu secepat kilat ia mengejar ke arah gembong
iblis tersebut.
Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, jerit
ngeri terkumandang susul menyusul dari dalam liang galian itu
menyusul mana jeritan kaget mendekati setengah kalap
menggelegar dari balik liang tersebut, “Ooooh…. ular…. ular
beracun…. kelabang beracun…. laba-laba beracun!”
Jeritan ngeri demi jeritan ngeri berkumandang susul
menyusul, suasana amat kalut setiap orang saling berdesakan
dan berebutan untuk memanjati anak tangga, ada yang
marangkak naik keatas ada pula yang merosot kebawah,
apalagi mendengar suara gulungan air bah yang
menggemuruh dengan kerasnya, semua orang semakin
bergidik dan pecah nyali.
Dalam keadaan seperti ini, setiap orang yang masih berada
dalam liang galian tersebut mati-matian berusaha untuk
menerjang naik keatas permukaan sebaliknya mereka yang
berilmu silat rendah, seketika terdesak kebawah dan
berjatuhkan ke dasar liang tersebut.

Dalam waktu tingkat, suara gemuruh air bah yang
memekikkan telinga menggelegar di udara, keras sekali suara
itu, seakan-akan ada berjuta-juta orang pasukan berkuda
yang meluncur datang bersamaan waktunya.
Begitu suara gemuruh yang keras bagaikan ledakan gunung
berapi itn menggelegar diudara, suasana dalam liang galian itu
jadi panik dan kacau balau tak karuan, setiap orang hanya
memikirkan untuk menyelamatkan jiwa sendiri, obor yang
mereka bawa pun pada dibuang ketanah, dengan begitu
suasana jadi gelap gulita.
Ditengah kegelapan yang mencekam seluruh jagad, jeritan
kaget dan teriakan panik berkumandang dari sana sini,
seakan-akan mereka tertimpa bencana kiamat saja.
Terdengar Pek Siau-thian meneriakan nama “Hong bwe”
Kho Hong-bwee meneriakan nama “Kun gi” Kiu-tok Sianci
meneriakan nama dari anak muridnya, Kiu im kancu, Jin Hian
serta Thian Ik-cu sekalian masing masing kabur secepatnya
dari tempat celaka itu, mereka tak gubris bagaimana keadaan
yang lain, yang dipikirkan hanya bagaimana caranya untuk
meloloskan diri secepatnya dari sana.
Hampir sebagian besar kawanan jago yang hadir ditempat
itu terlibat dalam peristiwa maut ini, tapi ada pula beberapa
orang yang sama sekali tidak ikut mengalami kejadian
tersebut, mereka adalah Chin Wan-hong, Cu Im taysu, Ciu
Thian hay serta Suma Tiang cing empat orang.
Keempat orang ini ditinggal dalam markas untuk menjaga
keamanan disitu, mereka tak pernah bergeser selangkahpun
dari markasnya, maka ketika terjadi peristiwa yang sama
sekali tak terduga itu, buru-buru mereka lari ketepi liang
galian untuk berusaha menolong rekan-rekan sendiri.

Dalam waktu singkat air bah yang maha dahsyat itu sudah
menggulung tiba ditepi galian tersebut, kawanan manusia
yang begitu banyak seperti semut makin cepat lagi merangkak
naik keatas tebing tersebut.
Mereka yang agak lambat larinya segera diterjang oleh
kawanan jago lainnya sehinggaag terjatuh dan terinjak jadi
daging hancuran, dalam keadaan seperti ini tiap orang hanya
memikirkan bagaimana caranya untuk meloloskan diri serta
menyelamatkan jiwa sendiri.
Malahan ada pula yang telah mencabut keluar senjata
mereka, tanpa pandang bulu baik dia rekan atau musuh
pokoknya mereka membacok sekenanya agar bisa terbuka
sebuah jalan lewat dan mereka bisa lebih cepat lagi tinggalkan
tempat celaka itu.
Selang sesaat kemudian, sang surya telak muncul di ufuk
sebelah timur dan memamcarkan sinar keemas-emasannya
enyoroti wajah kawanan jago yang baru lolos dari bencana itu.
Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak keras, “Coba lihat!
Hoa kongcu berada disana”
Beratus-ratus pasang mata beralih ke arah mana yang
ditunjuk, benar juga, dibawah sorotan cahaya sang surya,
tampaklah Hoa Thian-hong dengan pedang terhunus sedang
bertempur sengit melawan Tangkwik Siu serta belasan orang
anak muridnya….Cahaya senjata berkilauan tertimpa sinar
matahari dan membiaskan serentetan sinar yang menyilaukan
mata, pertarungan itu berlangsung dengan sengitnya
Kiu-im Kaucu yang sangat mendongkol bercampur gusar
serentak acungkan kepalanya sambil berteriak lantang, “Hayo
berangkat, kita cingcing setiap orang dari Seng sut Pay

menjadi perkedel, jangan biarkan diantara mereka berhasil
kabur dari sini dalam keadaan selamat!”
Serentak kawanan jago itu menghadapi dengan teriakanteriakan
kalap, dengan senjata terhunus mereka lantas
menyerbu ketepi gelanggang.
oooooOooooo
89
GELANGGANG pertarungan dimana Hoa Thian-hong sedang
bertempur melawan Tang Kwik-siu beserta anak muridnya
adalah sebuah tebing curam yang amat terjal dan sangat
berbahaya.
Ciu Thian-hau serta Suma Tiang Cing paling menguatirkan
keselamatan hidup si anak mada itu, dengan mengerahkan
segenap ke kuatan yang dimilikinya kedua orang itu sudah
berhasil mencapai puncak tebing yang amat curam itu, baru
saja mereke hendak melayang kedepn untuk memberi
bantuannya, tiba-tiba Hoa Thian-hong berseru dengan
lantang, “Kalian tak usah turun tangan membantu, biarlah
kubereskan sendiri beberapa orang kurcaci ini”
Dua orang itu lantas alihkan sorot matanya ketengah
gelanggang, mereka lihat sebatang pedang Hoa Thian-hong
seperti naga sakti yang sedang bermain diudara menggelegar
kesana kemari dengan entengnya, baik Tang Kwik-siu maupun
Hong Liong keduanya sudah terkurung di tengah tengah
kepungan.
Tang Kwik-siu mainkan ikat pinggang berukir naga emas
sementara Hong Liong mainkan sebilah golok bergigi yang
lebar dan besar ditangan kiri dan sebuah ikat pinggang emas
ditangan kanan.

Ketika itu sekujur badan mereka berdua sudah penuh
dengan luka bacokan, darah segar mengalir keluar membasahi
sekujur badannya, paras muka mereka pucat pias seperti
mayat, keadaannya mengenaskan sekali.
Dari delapan belas orang murid perguruan Seng sut pay
yang dibawa serta dalam perjalanan kecuali Kok See-piauw
seorang yang tidak kelihatan batang hidungnya, tujuh belas
orang sisanya mengurung Hoa Thian-hong rapat-rapat dari
luar gelanggang, kendatipun kepungan itu sangat ketat dan
rapat tapi tak seorangpun manusia-manusia itu berhasil
mendekati si anak muda itu.
Sungguh terharu dan gembira Ciu Thian-hau setelah
menyaksikan betapa gagah perkasanya Hoa Thian-hong,
kendatipun dikerubuti oleh sembilan belas orang jago
tangguh, pemuda itu masih tampak sehat wal’afiat tanpa
kekurangan suatu apapun, tubuhnya bersih dan bebas dari
luka yang membuat ia cedera.
Saking terharu gembiranya, pendekar besar yang berhati
setenang air telaga ini tak dapat menguasai emosinya lagi,
titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya,
sambil goyangkan tangannya berulang kali kepada kawanan
jago yang berlari datang dengan cepatnya itu, ia berteriak
keras, “Coba lihatlah kalian ke atas sana, jangan untuk maju
ke situ biarkan mereka lanjutkan pertarungan!”
Kiranya selama ini kecuali memimpin rombongan pekerja
untuk menggali tanah mencari harta, Hoa Thian-hong selalu
manfaatkan setiap detik setiap menit yang dimilikinya untuk
memperdalam ilmu silatnya hampir boleh dibilang jarang
sekali ia beristirahat atau tidur, dan perbuatannya ini tentu
saja hanya diketahui oleh sekelompok manusia yang
mempunyai hubungan paling akrab dengannya.

Oleh karena tindakannya yang kelewat berani ini, tanpa
disadari rambut Hoa Thian-hong yang hitam ikut berubah jadi
putih beruban.
Untuk menghindari perhatian banyak orang, Chin Wanhong
telah meminjam potlot alis dari sucinya untuk
menghitamkan rambut Thian-hong yang telah putih beruban
itu, mesti dalam hati merasa sedih namun dara itu tak banyak
berbicara, sebab dia tahu banyak bicarapun tak ada gunanya.
Hanya orang-orang inilah tahu betapa besarnya
pengorbanan yang telah dibayar Hoa Thian-hong untuk
memiliki ilmu silat yang maha tinggi itu, karenanya hanya
mereka pula yang merasa terharu dan melelehkan air mata
setelah menyaksikan kesuksesan Hoa Thian-hong untuk
membuat pontang-panting musuh yang dianggap sebagian
besar orang sebagai momok yang ditakuti itu.
Dalam pada itu, semua jago persilatan yang lolos dari
bencana telah berkumpul semua diatas tebing, semua
perhatian mereka tertuju pada pertarungan yang sedang
berlangsung dipuncak tebing yang curam itu.
Sementara air bah telah menggenangi seluruh liang galian
yang besar dan dalam, hasil kerja para jago baik dari
golongan putih maupun dari golongan hitam yang bersusah
payah selama dua puluh harian itu sekarang lenyap tak
berbekas disapu air bah.
Tiba-tiba Tang Kwik-siu menjerit dengan suara yang amat
keras mendekati setengah kalap, “Hoa Thian-hong! Memburu
orang tak akan memburu sampai seratus langkah, sekarang
engkau sudah berhasil menangkan pertarungan ini apa lagi
yang kau inginkan?”

Sebelum Hoa Thian-hong menjawab, kawanan jago
penasaran telah berteriak-teriak penuh kemarahan.
“Bangsat tua itu berhati kejam melebihi racunnya ular
berbisa, dia hendak membasmi kawan-kawan jago dari
daratan tionggoan tanpa berbekas, dosanya kelewat besar,
manusia bangsat itu tak boleh dibiarkan hidup, jangan ampuni
mereka!”
“Hoa kongcu, bunuh saja manusia-manusia itu, kau tak
usah berbelas kasihan lagi bagi mereka, manusia-manusia
terkutuk itu harus dibasmi dari muka bumi.
Hoa kongcu, kalau engkau tak bersedia untuk turan tangan,
serahkan saja bangsat-bangsat itu kepada kami, kamilah yang
akan menjatuhkan hukuman yang setimpal untuk mereka.
Jangan lepaskan bangsat-bangsat dari Seng sut pay,
cincang mereka sampai hancur berkeping-keping.
Sekejap mata, teriakan-teriakan gusar dan bentakanbentakan
nyaring seperti guntur yang menggelegar di
angkasa, menggema dise luruh lembah bukit itu, keadaan jadi
amat genting.
Pucat pias selembar wajah Tang Kwik-siu, dengan penuh
ketakutan ia menjerit, “Kalian jangan sembarangan menuduh,
kalian jangan sembarangan melimpahkan dosa kepada kami,
perbuatan itu dilakukan oleh Kok See-piauw seorang, dia
adalah orang Tionggoan, dialah yang harus bertanggung
jawab atas terjadinya peristiwa ini, jangan melibatkan Seng
sut pay kami dengan kejadian tersebut!”
Hoa Thian-hong mendengus dingin, pergelangan tangannya
digetarkan kedepan. Sreet! Ia melepaskan sebuah bacokan
kilat kemuka.

Sebuah mulut luka yang panjang dan besar segera muncul
didada sebelah kiri Tang Kwik-siu, darah segar berhamburan
keluar membasahi sekujur badannya.
Tang Kwik-siu semakin ketakutan, nyalinya pecah dan
tanpa sadar sekujur badannya gemetar keras, kendatipun ikat
pinggang naga emasnya sudah diputar sedemikien rupa, toh
babatan pedang dari pemuda itu gagal untuk dibendungnya.
Dalamm pada itu, tusukan pedang dari Hoa Thian-hong
telah berputar kesamping dan membabat pula dada kiri Hong
Liong hingga terluka panjang, sementara kaki kirinya
melayangkan keatas dan seorang murid Seng sut pay kena
tertendang sehingga mencelat dari tebing curam itu….
tercebur kedalam air bah.
Menyaksikan kehebatan si anak muda itu, Kho Hong-bwee
yang berada dipuncak bukit itu, gelengkan kepalanya berulang
kali, katanya dengan nada gegetun, “Aaaai! Bocah ini memang
hebat dan mengagumkan, sekalipun Kiu-ci Sinkun hidup
kembali, belum tentu ia bisa menandingi kehebatan bocah
muda ini!”
Paras muka Pek Siau-thian kaku tanpa emosi, mendengar
ucapan istrinya, ia cuma, bisa mengeretak giginya keras-keras
sehingga terdengar bunyi gemerutuk yang nyaring.
Haruslah diketahui, Tang Kwik-siu adalah seorang tokoh
silat yang berilmu tinggi, jangankan orang lain sekalipun Kiuim
Kaucu sendiripun merasa belum tentu bisa menandingi
kelihayan gembong Mo-kauw itu, bisa dibayangkan bagaimana
dengan lainnya.
Hong Liong telah memperoleh warisan langsung dari
gurunya, golok bergigi ditangan kirinya memiliki bobot

mencapai empat puluh kati, sedangkan ikat pinggang emas
ditangan kanannya merupakan senjata lemas yang ampuh,
kerja sama antara keras dan lunak ini boleh dibilang amat erat
sehingga kedahsyatan yang ditimbulkan pun luar biasa sekali.
Kiu-im Kaucu maupun Pek Siau-thian sekalian jago-jago
lihay tentu saja dapat melihat dengan jelas betapa lihaynya
kemampuan Hong Liong dan Tang Kwik-siu, tapi
kenyataannya bukan saja Hoa Thian-hong sanggup melayani
kerubutan dua orang jago lihay itu, malahan dapat pula
melayani kerubutan dari belasan orang jago lainnya, bukan
saja pemuda itu berada diposisi yang tak terkalahkan, bahkan
masih punya kemampuan untuk mempermainkan lawannya,
tidak heran kalau kawanan tokoh silat itu jadi putus asa dan
tak berani punya pikiran untuk menantang Hoa Thian-hong
berduel.
Pada saat ini, Tang Kwik-siu hanya punya satu pikiran yaitu
berharap agar ia di tendang oleh Hoa Thian-hong hingga
tercebur ke dalam air, sebab dengan begitu maka ia akan
mendapat kesempatan untuk melarikan diri dari tempat celaka
itu.
Apa mau dikata, Hoa Thian-hong sama sekali tidak berbuat
begitu, ia tak sudi memberi kesempatan kepada musuhnya
untuk kabur, dia akan membekuk gembong ibis itu kemudian
dijatuhi hukuman yang setimpal setelah diadili bersama oleh
kawanan jago persilatan….
Perbuatan serta tindakan Tang Kwik-siu terlampau keji,
sikapnya yang tidak menyenangkan itu telah menimbulkan
kegusaran semua orang, sebagai manusia licik tentu saja ia
diapun bisa membayangkan bagaimana jadinya andaikata ia
sampai diadili oleh kawanan jago persilatan.

Segenap tenaga dan kemampuan telah dikerahkan keluar
untuk mencoba kabur dari situ tapi permainan pedang Hoa
Thian-hong terlampau dahsyat dan lihay, sekalipun ia sudag
berusaha toh akhirnya gagal.
Pada hakekatnya dua kali tusukan kilat yang dilakukan Hoa
Thian boes tadi terlampau aneh dan sakti, jangankan Tang
Kwik-siu yang sedang bertempur, malahan Kiu-im Kaucu dan
Pek Siau-thian yang mengikuti jalannya pertarungan dari sisi
gelanggang pun dibuat tak habis mengerti.
Tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie berseru lengking, “Suruh
dia serahkan keluar kitab pusaka Thian hua ca ki….!”
Begitu mendengar tentang soal Thian hua ca ki, sekilas
harapan untuk hidup muncul dalam hati Kecil Tang Kwik-siu,
ia merasa jiwanya mungkin bisa tertolong dengan pertukaran
kitab pasaka itu….
Tapi ingatan lain dengan cepat melintas dalam benaknya, ia
merasa perbuatan Seng sut pay sudah menimbulkan bencana
bagi khalayak ramai, kendatipun kitab pusaka itu sudah ia
serahkan kepada Hoa Thian-hong, untuk bersedia untuk
melepaskannya, belum tentu kawanan jago persilatan lainnya
menyetujui tindakan tersebut.
Dalam pada itu Hoa Thian-hong telah membentak dengan
keras, “Tang Kwik-siu serahkan kitab Thian hua ca ki itu
kepadaku, aku orang she Hoa menjamin kehidupan
untukmu….”
“Cepat serahkan kitab pusaka Thian hua ca ki untuk
menebus dosa dosamu yang sudah nampak!” teriak Pek Kungie
pula dengan lantang, “kalau tidak kau penuhi permintaan
itu sekarang juga kami akan beres kan kalian guru dan murid
semua, kemudian berangkay ke Cia hay dan membumi

ratakan sarang tikus Seng sut pay kalian agar cucu muridmu
hancur berantakan dan tak seorang manusiapun tersisa.”
Sorak sorai yang ramai dan gegap gempita segera
berkumandang memenuhi angkasa, banyak orang medukung
usul itu, bahkan banyak orang pula yang berteriak sambil
acungkan kepalan siap bertempur, jelas semua orang sudah
membenci rombongan dari Seng Sut pay itu hingga merasuk
ketulang sum-sumnya.
Pucat pias selembar wajah Tang Kwik-siu, sepasang
matanya merah darah, selama hidup mimpi pun ia tak pernah
bayangkan, bahwa suatu ketika dia bakal menderita kekalahan
sedemikian mengenaskannya.
Tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang manusia yang
bejad dan bermoral jahat, sekalipun berada diujung tanduk
dan keselamatan jiwanya terancam, pikirannya tak sampai
kalut ataupun bingung, sesudah berpikir sebentar mendadak
bentaknya, “Hoa Thian-hong, hentikan seranganmu,
kuserahkan kitab pusaka ini kepadamu!”
Hoa Thian-hong menarik kembali serangannya dan
melompat mundur ke sisi tebing, perlahan-lahan katanya,
“Saudara, kuperingatkan kepadamu, alangkah baiknya kalau
berbuat jujur dan jangan mencoba untuk bermain licik lagi
kalau tidak bisa-bisa khalayak ramai sampai marah dan
menyergap dirimu. aku tak akan menjamin keselamatan
jiwamu lagi!”
Napas Tang Kwik-siu tersengkal-sengkal, setelah mengatur
kembali pernapasannya, dari saku dia ambil keluar sejilid kitab
yang kumal, seraya menuding sejilid kitab yang terbuat dari
kulit, katanya, “Orang she Hoa, lihatlah baik-baik, inilah Kitab
pusaka Thian hua ca ki, barang yang tulen dan sama sekali
bukan barang tiruan!”

Pek Kun-gie mendengus dingin, timbrungnya dari samping,
“Bila engkau berani menghancurkan kitab tersebut, kami akan
cincang tubuhmu menjadi berkeping-keping, akan kami
hancur lumatkan tubuhmu kemudian disuguhkan kepada
anjing!”
Tang Kwik-siu berlagak pilon, meskipun kata-kata itu tajam
dan pedas, ia pura-pura tidak mendengar, seraya membalik
pada halaman terakhir dari kitab Thian hua ca ki tersebut, ia
menuding pada lukisan yang tertera disitu, lalu katanya lagi,
“Inilah peta rahasia yang menunjukkan letak penyimpanan
harta pusaka itu, tanpa peta yang tertera dalam kitab ini,
kendati pun kalian mengobrak-abrik seluruh kulit bumi yang
menopang bangunan Kiu ci kiong, jangan harap barangbarang
pusaka itu berhasil kalian temukan.
Diam-diam Hoa Thian-hong merasa tak tega, ia lihat
sekujur badan gembong iblis itu sudah penuh dengan luka
yang menganga, keadaannya mengenaskan sekali, tanpa
terasa ia berpikir, Bagaimanapun jasa orang ini toh sebagai
seorang cikal bakal dari suatu perkumpulan besar, gerakan
pencarian harta yang terjadi sekarangpun dia yang mulainya
lebih dulu tapi sayang karena terlampau tamak, akhirnya
harus mengalami nasib setragis ini, kalau dibicarakan kembali
sebetulnya patut di kasihani.
Karena berpendanganbegitu, paras muka nya jauh lebih
lunak, ia berkata lagi, “Dalam gerakan pencarian harta ini, jasa
mu terhitung besar sekali, kendatipun Seng Sut pay bercokol
ditepi perbatasan tapi apa bedanya dengan kami semua
orang-orang Tionggoan? Walaupun bunga berwarna merah,
daun berwarna hijau, tapi asalnya dari satu batang yang
sama, bukan begitu?”

“Nah, andaikata dalam istana Kiu ci kiong benar-benar ada
harta karunnya maka aku tidak keberatan untuk membaginya
pula untuk kalian beberapa orang, dan bilamana engkau
sekalian bersedia pula untuk tetap tinggal disini dan
melanjutkan usaha penggalian ini, aku yang tak becus akan
berusaha mohonkan pengertian dari saudara-saudara lainnya
agar sudi memaafkan kalian!”
Tang Kwik-siu ulapkan tangannya menukas ucapan yang
belum selasai itu, ia tertawa sedih, katanya, “Sekalipun semua
kitab pusaka ilmu silat yang berada dalam istana Kiu ci kiong
berhasil kudapatkan, toh tak akan mampu untuk menandingi
sebilah pedang saktimu, meskipun Tang Kwik-siu bodoh, tak
akan ku lanjutkan kembali usahaku untuk melakukan
percarian tersebut!”
Begitu perkataan itu diutarakan keluar, baik Kiu-im Kaucu
maupun Pek Siau-thian sama-sama merasa tercekat, perasaan
hati mereka jadi dingin separuh, pikirnya hampir berbareng,
“Benar juga ucapan itu! Kendatipun semua kitab pusaka ilmu
silat yang tersimpan dalam istana Kiu ci kiong berhasil
dirampas semua toh akhirnya tak akan berhasil menangkan
kelihayan bocah she Hoa tersebut, lalu apa gunanya musti
bersusah payah untuk membuang tenaga serta pikiran dengan
percuma?”
Rupanya sampat detik itu dua orang pemuka persilatan
yang berambisi besar itu masih juga memiliki pikiran jahat,
mereka berencana bila harta karun itu ditemukan maka pada
akhirnya mereka akan berusaha merampas serta
mengangkangi semua kitab pusaka itu bagi kepentingan
pribadi.
Tapi sekarang setelah mendengar perkataan dari Tang
Kwik-siu, ibaratnya lonceng pagi yang menyadarkan orang
dari tidurnya, seketika menyadarkan kembali dua orang tokoh

silat ini bahwa pikiran mereka itu sebetulnya keliru dan sama
sekali tak ada manfaatnya.
Serta-merta kegembiraan serta minat mereka berdua
terhadap kitab pusaka ilmu silatpun mengalami kemerosotan
total bahkan akhirnya boleh dibilang sama sekali tak berminat
lagi.
Dalam pada itu, Hoa Thian-hong telah berkata lagi, “Ilmu
silat adalah suatu aliran air yang mengalir dari segala penjuru
dimana akhirny terbentuk jadi samudra, kalau toh engkau
ribut dan mempersoalkan diriku seorang, tidakkah terasa
bahwa tindakanmu itu sebenarnya telah menodai maksud dan
tujuan orang belajar silat?”
Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan lebih jauh.
“Setiap manusia mempunyai cita-cita dan tujuan yang
berbeda, tentu saja aku tak berani memaksa engkau untuk
menuruti kehendakku, ketahuilah bahwa kitab pusaka Thian
hua ca ki adalah benda milik orang Tionggoan, maka aku
minta kitab tersebut agar ditinggalkan disini, bila Seng Sut pay
ada benda yang tersimpan dalam istana Kiu Ci kiong,
andaikata istana ini sudah terbuka dan benda itu kutemukan,
pasti akan kuhatur sendiri benda itu ke Seng Sut pay!”
Tang Kwik-siu tertawa seram.
“Haaahh…. haahh…. haaah…. sekalipun Seng Sut pay kami
mempunyai benda yang tersimpan dalam istana ini, tapi
engkau tak perlu bersusah payah untuk mengembalikannya
kepadaku, aku harap benda itu dimpan saja baik-baik, sepuluh
tahun atau seratus tahun mendatang bilamana dari Seng sut
pay kami sudah mempunyai orang berbakat, pasti akan kuutus
orang itu untuk mengambilnya kembali. Mengenai kitab
pusaka Thian hua ca ki ini, benda tersebut diperoleh cousu

kami dari sini, maka Tang Kwik-siu tak ingin benda tersebut
dirampas dari tanganku bila kalian menginginkan benda ini,
silahkan untuk mencarinya sendiri”
Selesai berkata dia salurkan hawa murninya lalu menyambit
kitab Thian hua ca ki tersebut ke dalam jurang.
Bagaimana anak panah yang terlepas dari busurnya kitab
Thian hua ca ki itu meluncur kemuka dan tampaknya segera
akan tercebur kedalam air bah yang ganas,
Kawanan jago persilatan yang berkumpul diatas tebing
tersebut jadi gempar, caci maki dan kutukan berkumandang
dari sana sini semua orang jadi marah sekali melihat tindakan
tengik dari gembong iblis tersebut.
Hoa Thian-hong tertawa dingin, tiba- tiba dia melambung
ke udara dan Sreeet! Dengan taktik hisapan, suatu kepandaian
tingkat tinggi telapak tangannya diayun kemuka dan kitab
Thian hua ca ki yang sudah tercebur kedalam air itu seketika
terhisap kedalam gengamannya kemudian ia berjumpalitan
diudara dan ibaratnya burung walet terbang di angkasa si
anak muda itu kembali melayang keatas tebing.
Tempik sorak bergelegar diseluruh angkasa, kawanan jago
persi-latan yang menyaksikan jalannya peristiwa itu samasama
memuji, sampai-sampai Pek Siau-thian sendiri pun lupa
keadaan, ia berteriak keras, “Bagus!”
Sesudah memuji, caci maki dan kutukan kembali terlontar
keluar ini membuat suasana diatas tebing curam itu jadi ramai
dan gaduh sekali.
Tang Kwik-siu merasa malu, benci bercampur gusar,
menggunakan kesempatan di kala Hoa Thian-hong melayang
kembali ke arah tebing dan perhatian semua jago tertuju pada

kitab pusaka Thian hua ca ki dia lantas menjajakkan kakinya
seraya berseru, “Hayo pergi!”
Ia tergerak lebih dulu menerjang turun dari tebing itu, para
murid tentu saja tak berani berayal, mereka saling berebutan
menyusul gurunya unyuk kabur dari tempat celaka itu.
Hong Liong tak dapat melupakan rasa bencinya, sebelum
meninggalkan tempat itu, mendadak golok bergiginya yang
ada dalam telapak tangan kitinya tiba-tiba di sambit ke udara
dan menyergap tubuh Hoa Thian-hong yang sedang meluncur
tiba.
Jeritan kaget dan makian kotor kembali berkumandang
diatas tebing curam tersebut.
Hoa Thian-hong sama sekali tidak gugup ketika merasa
tibanya angin desingan tajam, ia lantas tahu babwa Hong
Liong telah menyergap tubuhnya dengan golok bergiginya
yang berat itu.
Tanpa memandang barang sekejappun, tangan kanannya
diayun kebelakang, pedangnya diputar lantas disambit ke arah
datangnya golok bergigi itu, sementara tubuhnya sendiri
berjumpalitan di udara dan melayang turun ditepi tebing.
Traanngg….! Diiringi suara dentingan nyaring yang
memekikkan telinga, bunga api bermuncratan keempat
penjuru….
Termakan oleh sambitan pedang itu, golok bergigi tadi
tertumpuk keras dan rontok kebawah, sementara pedang itu
sendiri setelah memukul rontok senjata lawan, dengan
membawa angin desingan tajam langsung meluncur ke arah

punggung Hong Liong dengan kecepatan bagaikan anak
panah yang terlepas dari busurnya.
Ketika mendengar suara desingan angin tajam menderuderu
di belakang tubuhnya, dengan ketakutan setengah mati
Hong Liong jatuh kan diri berguling ditanah lalu menceburkan
diri kedalam air dan melarikan diri terbirit-birit.
Tang Kwik-siu tak berani kabur melalui gerombolan jago
persilatan yang berkerumun diatas tebing, dengan membawa
anak murid nya dia melarikan diri dengan menceburkan diri
kedalam air.
Berhubung Hoa Thian-hong telah menyetujui untuk
melepaskan rombongan Seng sut pay dari tempat itu, maka
tak seorang jagopun yang melakukan pengejaran, kendatipun
demikian, hujan senjata rahasia toh sempat berhamburan
disekitar badan Tang Kwik-siu dengan rombongan, caci maki
dan suara cemoohan berkumandang memecahkan kesunyian,
keadaan cukup mengenaskan sekali.
Tang Kwik-siu dan anak muridnya tak berrani berpaling,
dengan terbirit-birit mereka berenang mengikuti aliran air dan
melarikan diri dari situ, sekejap mata kemudian bayangan
tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.
Sepeninggalnya Tang Kwik-siu dan rombongan, Hoa Thianhong
menghampiri kawanan jago persilatan itu, sambil
mengangkat tinggi tinggi kitab pusaka Thian hua ca ki,
serunya dengan lantang, “Saudara-saudara sekalian,
dihalaman terakhir kitab pusaka Thian hua ca ki ini terdapat
selembar peta bumi yang erat sekali hubungannya dengan
letak harta karun tersebut, sekarang kitab catatan ini akan
kuserahkan kepada Tiangsun sianseng dan biarlah dia yang
mempelajari isi peta ini dengan seksama, atau dengan
perkataan lain, sejak kini kitab pusaka Thian hua ca ki akan

disimpan oleh Tiangseng sianseng, andaikata saudara sekalian
punya usul lain, silahkan diutarakan keluar sekarang juga,
andaikata, tiada usul lain lagi, maka siapapun dilarang untuk
melakukan perampasan atau pencurian kitab pusaka itu lagi!”
Dalam keadaan serta situasi ini, tentu saja tak seorang
manusiapun berani mengucapkan kata-kata yang berada
menentang, se rentak kawanan jago silat itu memberikan
persetujuannya, maka urusanpun diputuskan demikian.
Hoa Thian-hong lantas menyerahkan kitab pusaka Thian
hua ca ki tersebut kepada Tiangsun Pou, kemudian dari sana
untuk mencari Huang-san su lo.
Setelah bertemu muka, pemuda itu menghela napas
panjang, katanya dengan lirih, “Aaai…. sungguh menyesal aku
tak dapat melindungi keselamatan kalian berempat entah
bagaimanakah caranya cianpwe berempat melarikan diri dari
bencana tersebut?”
Po-yang Lojin tertawa berbahak bahak, sahutnya,
“Haahhh…. haaahah…. haaaah…. pada waktu itu suasana
dalam liang galian gelap gulita, dimana tangan kami
menyentuh, di situ hanya lautan manusia yang berjejal jejal,
kemanapun kami coba berlalu semua jalan tersumbat dan tak
tembus, akhirnya kami empat orang tua malahan tertinggal
paling buncit, untunglah Jin tongkeh dan Thian Ik totiang
datang membantu, kalau tidak begitu haaahah…. haaaah
terpaksa kami hanya bisa duduk sambil menunggu tibanya
saat kematian!”
Liu lojin ikut berbicara, katanya, “Hoa kongcu, bila
dikemudian hari barang pusaka itu berhasil ditemukan semua,
maka bagian kami telah kami putuskan untuk di berikan untuk
Jin tongkeh serta Thian Ik totiang!”

“Aaah….! Kami menolong orang hanya berdasarkan
desakan suara hati, janganlah kalian mencampur baurkan
dengan soal harta karun!” cepat-cepat Thian Ik-cu menampik.
Hoa Thian-hong segera berkata, “Totiang, Jin tongkeh!
Tindakan kalian menolong orang dikala orang sedang
menghadapi mara bahaya merupakan suatu tindakan yang
terpuji, kami semua mengucapkan terima kasih atas
pertolongan tersebut, seandainya dikemudian hari barangbarang
pusaka itu benar benar berhasil ditemukan, sudah
sepantasnya kalau kami harus memberi suatu balas jasa yang
setimpal bagi kalian.”
Kemudian sambil berpaling kepada Kho Hong-bwee,
tanyanya, “Bibi, apakah ada saudara-saudara dari
perkumpulan Sin-kie-pang yang mengalami musibah?”
“Tang Kwik-siu telah menyebarkan sekawanan makhluk
beracun yang dipeliharanya dipermukaan liang galian itu,
belasan orang anggota perkumpulan kami yang kena digigit
makhluk itu hingga keracunan, aku libat belasan orang dari
Kiu-im-kauw juga mengalami nasib yang sama!”
Hoa Thian-hong sangat menguatirkan keselamatan jiwa
orang-orang itu, cepat ia pergi mencari istrinya untuk memberi
pertolongan.
Chin Wan-hong datang mendekat, serunya dengan lantang,
“Harap bibi dan kaucu suka memerintahkan setiap orang yang
keracunan agar supaya datang ketempat boanpwe sini”
Habis berkata ia putar badan dan kembali kebaraknya.
Kho Hong-bwee dan Kiu-im Kaucu tidak tingkat sungkansungkan
lagi, dia lantas memerintahkan anak buahnya untuk

menggotong mereka yang keracunan hebat guna peroleh
pengobatan dari Chin Wan-hong.
Perlu diterangkan, malam itu giliran kerja dari orang-orang
Thong-thian-kauw, Hong im bwe serta kawanan jago tanpa
kelompok, sewaktu berita tentang ditemukannya istana Kiu ci
kiong tersiar keluar, orang-orang dari Sin-kie-pang serta Kiuim-
kauw segera berdatangan kesitu dan berdesakan dilapisan
paling atas dari liang tersebut.
Oleh sebab itu makhluk beracun yang disebarkan Tang
Kwik-siu hanya melukai orang-orang dari kedua golongan itu
belaka.
Sebaliknya korban yang mati terpijak lebih banyak berasal
dari jago-jago tanpa kelompok, mereka merupakan kelompok
terlemah dengan ilmu silat paling cetek, apalagi sedang giliran
kerja di dasar liang penggalian, maka sewaktu air bah
melanda tiba, orang-orang Hong-im-hwie dan Thong-thiankauw
serentak melarikan diri mendahului mereka, bahkan ada
pula yang ditumpuk, di terjang temannya, tidaklah heran kalau
banyak diantara mereka mati terpijak ataupun tergulung oleh
air bah.
Sementara itu Hoa Thian-hong sudah memeriksa keadaan
diseke-liling tempat itu, tatkala dilihatnya Bong Pay beserta
kakak beradik dari keluarga Pek berada dalam keadaan sehat
wal afiat, diapun mohon pamit kepada Kho Hong-bwee serta
kembali ke dalam rombongannya, tapi sesaat melewati
rombongan dari Kiu-im-kauw, tak tahan dia mampir disana.
Giok Teng Hujin masih mengenakan kain kerudung hitam
untuk menu tupi raut wajahnya, ketika melihat kekasih hatinya
menghampiri, dia tertawa rendah, serunya menegur, “Berkat
perlindungan Thian yang maha kuasa, sungguh beruntung aku

tak sampai mati konyol!”
Hoa Thian-hong tersenyum, ketika melihat Soat ji yang
berada dalam pelukan Pui Che-giok mendesis lirih, dia maju
dan membelainya dengan penuh kasih sayang, kemudian baru
menuju ke rombongan dari Kiu-tok Sianci, jago racun dari
wilayah Biau.
Melihat kedatangan pemuda itu, Lan-hoa Siancu segera
acungkan jempolnya, ia berkata sambil tertawa, “Siau long,
hari ini engkau betul-betul menunjukkan kelihayan, bila lain
waktu ada kesempatan, aku pasti akan mengajak kau untuk
berduel adu kepandaian!”
Hoa Thian-hong tersenyum, sorot matanya perlahan-lahan
menyapu sekejap rombongan itu sementara mulutnya
berkemak-kemik menghitung jumlah orangnya.
Melihat perbuatan si anak muda itu, Ci-wi Siancu tertawa
dan berkata.
“Kau tak usah menghitung lagi, berikut suhu jumlahnya
adalah tiga belas orang tak bakal keliru!”
Kiu-tok Sianci ikut berkata sambil tertawa.
“Keadaan pada waktu itu sungguh kalut, ketika engkau
berteriak dari atas, suasana didasar liang itu seketika jadi
gelap gulita, semua jalan lewat jadi buntu, dalam keadan
begitu kamipun sama-sama berpegangan tangan antara satu
dan lainnya, aku menarik tangan Lan hoa tanpa ambil pusing
lagi keadaan disana sambil menyeret mereka, kami semua
kabur melewati batok kepala orang banyak”

Murid yang kesembilan Bong Tin tin berkata pula sambil
tertawa, “Yaa, waktu itu memang gawat keadaannya,
siapapun jadi gugup dan gelagapan, ada seorang tosu bau
bahkan memeluk pinggangku kencang kencang dalam
paniknya, aku lancarkan satu tinju keras keatas kepala tosu
bau itu, mungkin batok kepalanya sudah kuhantam sampai
remuk jadinya.
Mendengar penuturan tersebut, Hoa Thian-hong hanya bisa
meringis sambil tertawa getir, betapa tidak, dari rombongan
jago yang datang dari wilayah Biau ini. kecuali Chin Wan-hong
seorang boleh dibilang yang lain bertindak tanpa memandang
bulu, mereka tidak ambil perduli apakah perbuatannya itu baik
atau buruk, yang diutamakan adalah melindungi orang-orang
goloagannya sendiri.
Sekalipun sepanjang sejarah, mereka tak pernah
melakukan perbuatan yang kelewat jahat, tapi kalau
dibandingkan dengan cara kerja kaum pendekar dari daratan
Tionggoan, maka perbuatan serta tindak laku mereka tak bisa
dianggap benar.
Kendatipnn begitu, Kiu-tok Sianci amat menyayangi Hoa
Thian-hong, kasih sayangnya pada pemuda itu melebihi kasih
sayangnya antara seorang ibu terhadap anaknya, dengan
kawaaan muridnya pemuda itupun mempunyai hubungan
yang lebih akrab dari pada saudara kandung sendiri, sebab
itulah Hoa Thian-hong tak berani mengatakan apa-apa
terhadap mereka.
Kebetulan pada waktu itu lewat seorang anggota dari
perkumpulan Sin kie pang, dia adalah seorang kakek berjubah
hijau, sambil goyangkan tangannya menuding kesana kemari,
terdengar dia berkata kepada rekannya yang ada disisinya,
“Hmm…. hmmmm…. untung ji siocia kita cukup cekatan dan
cerdik, dalam peristiwa ini dan ia berhasil mengetahui rencana

busuk dari Tang Kwik-siu, kalau terlambat sedetik lagi, entah
berapa banyak orang lain yang bakal tewas didalam liang itu,
bahkan mungkin saja jago-jago yang mengatakan dirinya
lihaypun ikut terkubur untuk selamanya dalam liang yang tiada
terkira dalamnya itu.
Terdengar rekannya segara menanggapi pula, “Ji siocia kita
itu memang luar biasa sekali, andaikata tak ada dia, mungkin
kitab Thian hua ca ki itupun tak diketahui kemana lenyapnya!”
“Hmm! ca ki apaan lagi….” orang ketiga menyela, “mungkin
kendatipun harta karun yang ada disini sudah diboyong pulang
ke wilayah Ceng hay pun, kita semua masih tidur mendengkur
disini”
Kakek berjubah hijau yang bicara paling dulu itu segera
berkata lagi, “Tentu saja begitu. Hmm! Hmm! Tang Kwik-siu
itu manusia apa? Rahasia pencarian harta karun itu telah dibeli
oleh Ji siocia kita dengan pertaruhan nyawa!”
Murid kedua belas dari Kiu-tok Sianci bernama Lan cui,
usianya cuma setahun lebih tua daripada Chin Wan-hong, dia
adalah seorang gadis suku Biau yang masih polos dan bersifat
kekanak-kanakan, mendengar beberapa orang itu memujimuji
kebaikan dan jasa Pek Kun-gie, hatinya jadi mangkel
karena tak bisa mengolok-olok, maka sambil memandang
bayangan punggung beberapa orang itu, ia lantas meludah
keras-keras ke atas tanah.
Dalam sekejap mata, suara meludah berkumandang saling
menyusul, kecuali Kiu-tok Sianci serta Biau-nia Sam-sian,
sembilan orang suku Biau lainnya ikut meludah keatas tanah.
Tiba-tiba Lan-hoa Siancu berkata dengan jengkel, “Siau
long, kalau engkau berani berbicara lagi dengan Pek Kun-gie
walau hanya sepatah katapun, aku akan menghukum kau

untuk berlutut dihadapan orang banyak. Ketahuilau apa yang
kukatakan dapat kulaksanakan, aku tak akan ambil peduli
engkau sudah dewasa atau belum!”
Tertegun Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu
tapi dengan cepat dia anggukan kepalanya berulang kali.
“Siaute akan mengingat selalu peringatan dari enci hoa!”
katanya.
“Melirik sekejap kepadanya pun tak boleh tahu?” hardik Lan
cui pula dengan lantang.
Dengan muka pucat pias seperti mayat Hoa Thian-hong
menganguk.
“Siaute akan mengingat selalu perkataan dari enci Cui!”
kembali dia menyahut.
Haruslah diketahui hubungan batin antara manusia dengan
manusia lain memang aneh sekali.
Sebagaimana telah diketahui, sewaktu Hoa Thian-hong
telah makan Teratai racun empedu api sehingga jiwanya
terancam, mereka inilah yang telah merenggut kembali
jiwanya dari alam baka.
Waktu itu Lan cui bertugas untuk mengurusi makanan dan
minuman Hoa Thian-hong selain itu membantu pula Chin
Wan-hong untuk mengurusi soal membersihkan badan si anak
muda itu selama banyak bulan, pekerjaan yang amat rendah
dan kasar itu dilakukan olehnya dengan seksama dan senang
hati, boleh dibilang budi kebaikan sebesar ini tak bisa dibayar
dengan apapun jua.

Sekalipun Hoa Thian-hong berhasil merampas semua harta
karun yang ada dalam istana Kiu ci kiong ini dan seluruhnya
diserahkan kepadanya, belum tentu budi sebesar itu dapat
terlunasi apalagi mereka anggap pemuda itu sebagai saudara
sendiri dan Hoa Thian-hong pun menganggap mereka sebagai
kakak sendiri, lama kelamaan hubungan batin mereka boleh
dibilang sudah erat sekali.
Siapapun tak akan menyesal untuk saling menyayang dan
Hoa Thian-hong yang merasa berhutang budi, tentu saja
harus tunduk kepada mereka, kalau tidak maka kendatipun
dari pihak Kiu-tok Sianci tak bisa berbuat apa-apa tapi sertamerta
Hoa Thian-hong akan dianggap sebagai seorang
manusia munafik, seorang manusia yang tak tahu budi….
Sepanjang anak muridnya berbicara, Kiu-tok Sianci sendiri
membungkam dalam seribu bahasa, tanpa sadar pikirannya
terbayang kembali kejadian pada malam tadi, sewaktu ada
dalam liang penggalian dan ia melotot gusar kepada Pek Kungie,
waktu itu bukan saja kegusarannya tak terlampiaskan,
malahan ia sendiri yang rugi.
Ia tahu Pek tok keng, kitab pusaka perguruannya masih
tersimpan dalam istana Kiu ci kiOng, bagai manapun juga
kitab tersebut harus dimilikinya kembali, tapi dipikir kembali
kesemuanya itu toh berkat bantuan dari Pek Kun-gie, ia
sebagai seorang ketua suatu perguruan yang berjiwa angkuh
merasa amat tak gembira dengan kejadian ini, sebab ia tak
sudi dibantu orang lalu apalagi orang yang membantunya
adalah orang yang paling tak disukai.
Hoa Thian-hong sendiripun tahu bahwa kawanan kakakkakak
perempuannya ini adalah manusia yang tak bisa diajak
berbicara, mereka tak mungkin bisa diajak untuk berbicara
secara cengli, maka timbullah niatnya untuk cepat-cepat
menyingkir saja dari sana.

Tiba-tiba dilihatnya Kiu-tok Sianci menunjukkan wajah
murung dan kesepian, dia cepat tertawa paksa seraya berkata,
“Kian nio, enci Hong sedang mengobati luka-luka yang diderita
sebagian jago, apakah engkau tak mempunyai kegembiraan
untuk memberi petunjuk kepadanya?”
Menyinggung tentang muridnya yang terkecil semangat
Kiu-tok Sianci berkobar kembali, sahutnya dengan cepat,
“Betul! Mari kita bersama-sama menengok Hong ji, jangan
biarkan dia kurang mahir sehingga merusak nama baikku!”
“Betul, hayo kita kesana dan membantu adik Hong”, Lao
hoa siancu segera memberi tanggapannya, habis berkata
tanpa menunggu rekan rekannya ia kabur lebih dulu.
Orang-orang suku Biau memang paling simpatik dan
hangat, dalam waktu singkat dari gusar mereka jadi gembira,
terentak berbondong bondong meninggalkan tempat itu, soal
yang baru terpikirpun seketika lenyap dari benaknya.
Tiga puluh orang lebih jago-jago persilatan yang keracunan
ber-kumpul dalam sebuah rumah kayu, waktu itu Chin Wanhong
sedang mengobati luka-luka keracunan mereka dengan
tusukan jarum emas.
Tapi oleh karena makhluk beracun yang dipelihara Tang
Kwik-siu mencapai puluhan jenis dan lagi semuanya termasuk
jenis-jenis aneh yang langka didunia ini, untuk pengobatanpun
mengalami banyak kesulitan, Chin Wan-hong yang harus
bekerja seorang diri, dibuat kerepotan setengah mati.
Memunahkan racun dengan tusukan jarum emas
merupakan sejenis ilmu khusus yang memerlukan
pengetahuan serta pelajaran yang sangat mendalam, diantata
sekian banyak murid Ki tok sian ci, hanya empat orang yang

betul-betul menguasai kepandaian tersebut, diantaranya
hanya Lan-hoa Siancu dan Li hoa siaccu yang sudah mencapai
kesempurnaan.
Sebaliknya murid-murid seperti Beng Tin tin dan Lan cui
sekalian mereka lebih terterik untuk mempelajari
menggunakan racun untuk melawan racun, sedang soal ilmu
mengobati orang yang keracunan boleh dibilang selisih jauh
sekali bila dibandingkan dengan siau sumoay mereka ini.
Tatkala Kiu-tok Sianci tiba dalam rumah kayu itu, pertamatama
dia mengawasi dahulu pekerjaan dari Lan-hoa Siancu
serta Li-hoa Siancu, dia kuatir kalau muridnya berbuat salah
sehingga menimbulkan korban yang tak diinginkan.
Ketika itu Lan-hoa Siancu sedang menusuk jalan darah
Hong bu hiat ditubuh seseorang yang tak sadarkan diri,
sewaktu melihat gurunya datang, sambil tertawa segera
katanya, “Orang ini dipagut oleh seekor laba-laba bermata
tiga, Hong ji telah mengobati seseorang dan sudah ada
pengalaman, suhu! Kau tak usah kuatir kalau aku sampai
salah tangan”
Kiu-tok Sianci pun mengawasi muridnya yang kedua yaitu
Li hoa ciancu, ia lihat muridnya ini sedang mengobati
seseorang yang dilukai oleh kelabang langit, kecuali mulut
lukanya merah mem-bengkak, tak ada gejala lain yang
tampak.
Chin Wan-hong pernah mengobati racun keji yang
bersarang di tubuh Liu cu cing akibat dipagut kelabang langit,
dan ia memberikan keterangan yang mendetail kepada Li-hoa
Siancu, tak heran kalau kakak seperguruannya ini bisa
memberikan pengobatan dengan gampang.

Perlu diterangkan sebelum seseorang memberikan
pertolongannya untuk mengobati luka racun dengan tusukan
jarum maka terlebih dahulu orang itu harus memahami sifat
dari racun yang mengeram ditubu si-penderita kemudian baru
menggunakan jarum emas untuk menembusi urat urat nadi
penting dan memunahkan sari racun tersebut dengan tusukan
jarum.
Tapi ada bahayanya pula pengobatan dengan cara ini,
bilamana sifat racun yang di duganya ternyata keliru atau
tusukan jarum itu tidak tepat pada sasarannya, bukannya
sembuh, orang yang keracunan itu malahan akan semakin
cepat menemui ajalnya, sebab hawa racun itu justru
melambung lebih keatas lagi hingga menyerang jantung.
Dalam pada itu Chin Wan-hong sedang memeriksa sifat
racun yang mengeram ditubuh seorang korban sedangkan Ciwi
Siancu sekalian mengerubuti disekelilingnya, Kiu-tok Sianci
berjalan mondar-mandir sambil bergendong tangan, diamdiam
dia mengawasi muridnya yang terkecil ini menjalankan
praktek.
Mendadak dari pintu luar berkumandang suara gaduh
menyusul Dewa yang suka pelancongan, Cu Thong dengan
membopong seseorang melangkah masuk dengan langkah
lebar.
Dibelakang jago tua itu menyusul Ko Thay murid atas nama
dari Ciu It Bong, dengan membawa bungkusan panjang
disampingnya berjalan seorang kakek tua bemuka hitam, Bong
pay berjalan dipaling belakang sendiri.
Buru-buru Hoa Thian-hong menyambut manusia ada dalam
bopongan Cu Thong itu tegurnya, “Locianpwe apa sebenarnya
yang telah terjadi?”

Sambil menuding orang yang jatuh tak sadarkan diri itu,
Dewa yang pelancongan Cu Thong menjawab, “Orang ini
bernama Cing Cu gan, seorang ahli tanah dan paling suka
menggunakan bahan peledak, sudah tiga puluh tahun lamanya
dia tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan,
ketika kulihat Tang Kwik-siu datang kemari untuk mencari
harta maka sengaja kuajak dia datang ke sini untuk diaduken
langsung dengan Tang kwik tua bangka itu, siapa tahu ketika
kami naik gunung kebetulan sekali kami jumpai Kok See-piauw
bajingan cilik itu sedang menghancurkan berdungan”
Setelah berhenti sebentar, tambahnya lebih jauh dengan
gelisah, “Cerita selanjutnya nanti saja dibicarakon kembali,
tatkala Ciang lote ini beradu satu pukulan dengan Kok Seepiauw
bajingan cilik itu, sungguh tak nyana sepasang telapak
tangan bajingan cilik itu penuh dengan racun. Sian ci!
Cepatlah turus tangan memberi ban tuan, selamatkan dulu
selembar jiwa tuanya.
Cepat-cepat Chin Wan-hong mempersiapkan jarum
emasnya untuk melakukan pertolongan.
Kiu-tok Sianci yang berada disisinya lantas tersenyum, ia
berkata, “Anak Hong, engkau saja yang turun tangan, akan
kuawasi pekerjaaamu ini dan samping!”
Chin Wan-hong tak banyak bicara lagi, secepat kilat dia
menusukkan lima batang jarum emas sepanjang tujuh inci itu
keseku jur dada Ciang cu gan, maksudnya untuk melindungi
detak jantung dari jago tersebut, menyusul kemudian ia tusuk
pula sepasang ibu jari tangan orang itu dengan dua batang
jarum emas.
Kiu-tok Sianci rupanya tahu kecemasan orang, ia tertawa
dan berkata sambil menghibur, “Saudara Cu, kau tak kuatir,
selama aku dan murid murid ku masih berada disini tak

mungkin ada orang yang bakal mati karena keracunan, hayo
lanjutkan ceritamu!”

ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru Cerita Silat ABG Polos : Tiga Maha Besar 4 [lanjutan bara maharani], cersil terbaru, Cerita Dewasa Cerita Silat ABG Polos : Tiga Maha Besar 4 [lanjutan bara maharani], cerita mandarin Cerita Silat ABG Polos : Tiga Maha Besar 4 [lanjutan bara maharani],Cerita Dewasa terbaru,Cerita Dewasa Terbaru Cerita Silat ABG Polos : Tiga Maha Besar 4 [lanjutan bara maharani], Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru Cerita Silat ABG Polos : Tiga Maha Besar 4 [lanjutan bara maharani]
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat ABG Polos : Tiga Maha Besar 4 [lanjutan bara maharani] Tamat dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat ABG Polos : Tiga Maha Besar 4 [lanjutan bara maharani] Tamat ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-abg-polos-tiga-maha-besar.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat ABG Polos : Tiga Maha Besar 4 [lanjutan bara maharani] Tamat ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat ABG Polos : Tiga Maha Besar 4 [lanjutan bara maharani] Tamat sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat ABG Polos : Tiga Maha Besar 4 [lanjutan bara maharani] Tamat with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-abg-polos-tiga-maha-besar.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 7 komentar... read them below or add one }

Obat Maag Kronis Tradisional mengatakan...

http://goo.gl/DNpuK tq kang semoga makin sukses aminn,,,

Obat Maag mengatakan...

http://goo.gl/hsWGU kerennkang broo

Obat Hepatitis Herbal mengatakan...

http://goo.gl/eYG42j Obat Herbal Hepatitis

Obat Tradisional Maag Kronis mengatakan...

http://goo.gl/WIeNS Obat Tradisional Maag Kronis

Obat Maag mengatakan...

http://goo.gl/hsWGU Obat Maag

Khasiat Jelly Gamat Gold G mengatakan...

goo.gl/YkHoQr
ajip kang

Khasiat Jelly Gamat Gold G mengatakan...

keren kang

Posting Komentar