Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 6

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 07 Desember 2011

Oleh karena itulah baru saja Bong Thian-gak masuk ke
dalam hutan, hujan panah sudah menyergap dari belakang,
sementara dari kiri dan kanannya menerjang empat batang
tombak.

768
Selama tiga tahun melatih diri di bawah air terjun dahulu,
Bong Thian-gak telah berhasil pula melatih ilmu membedakan
arah angin serta ilmu tenaga dalam yang menitik-beratkan
pada mengatasi gerak di tengah ketenangan, merebut
ketenangan di tengah gerak.
Keempat tombak itu dengan cepat dirontokkan oleh
sambaran pedangnya, sedangkan hujan panah yang
menyerang datang dari belakang punggungnya, melesat ke
depan melewati atas punggungnya hanya dengan cara dia
membungkukkan badan.
Menyusul terdengar dua kali jeritan ngeri, sekali lagi
pedang Bong Thian-gak menunjukkan kehebatannya, dua
orang pengawal berbaju kuning yang menyembunyikan diri di
belakang pohon kena ditebas kepalanya hingga tewas
seketika.
Bong Thian-gak meneruskan perjalanannya menembus
hutan itu, jeritan demi jeritan pun bergema saling susul.
Berpuluh bambu ada kalanya ikut terpapas kutung oleh
bacokan pedang Bong Thian-gak sehingga roboh ke atas
tanah.
Pertempuran berdarah ini betul-betul merupakan
pertarungan yang jarang terjadi dalam Bu-lim.
Lewat setengah jam kemudian Bong Thian-gak telah keluar
dari balik hutan yang gelap.
Di bawah cahaya rembulan yang terang benderang,
pembunuh yang masih muda ini telah berubah menjadi
manusia darah, rambutnya kusut dan pakaiannya robek,
pedangnya yang berlumuran darah masih meneteskan titiktitik
darah ke atas tanah.
Berapa banyak orangkah yang telah terbunuh di tangan
Bong Thian-gak dalam hutan itu?

769
Walaupun pertempuran telah berhenti, sorot mata Bong
Thian-gak masih tetap memancarkan hawa membunuh yang
amat menggidikkan.
Ternyata dia tahu, pentolan penyamun pembawa bibit
bencana dan segala musibah baginya selama ini adalah Siau
Cu-beng yang belum menemui ajalnya di ujung pedangnya.
Bong Thian-gak sendiri pun merasa heran, sudah jelas
tempat ini merupakan sarang Put-gwa-cin-kau, walau
pertarungan berlangsung lama, kawanan jago lihai dari Putgwa-
cin-kau yang menampakkan diri tak lebih hanya Siau Cubeng
dan Liok-kaucu.
Kemana perginya Cong-kaucu serta Ji-kaucu dan Sim
Tiong-kiu sekalian? Apakah mereka semua tidak berada di
sini?
Walaupun demikian, Bong Thian-gak pun diam-diam
bersyukur, harus dia akui bila seorang saja di antara ketiga
orang itu menampakkan diri, niscaya dia akan terancam
bahaya maut pada malam ini.
Teringat akan hal itu, Bong Thian-gak segera berubah
pikiran, dia tidak ingin meninggalkan tempat itu secepatnya,
dia masih harus melanjutkan pertarungannya.
Kepalanya segera didongakkan.
Bangunan loteng yang berlapis-lapis, gedung yang megah,
berdiri kekar di bawah cahaya rembulan.
Namun anehnya, semua gedung dan bangunan loteng itu
berada dalam keadaan gelap, tiada cahaya lentera, tiada
bayangan manusia yang nampak.
Sekeliling tempat itu berubah begitu hening, menyeramkan
dan menggidikkan.

770
Hawa napsu membunuh Bong Thian-gak semakin berkobar,
namun empat penjuru tidak nampak seorang pun, bagaimana
mungkin dia dapat melanjutkan pembantaiannya.
"Siau Cu-beng, mengapa kau tidak menampakkan diri? Kau
sudah ketakutan? Siau Cu-beng, ayo cepat menampakkan diri
untuk menerima kematian!" Bong Thian-gak berteriak, sudah
barang tentu Siau Cu-beng dapat mendengar suara teriakan
itu dengan jelas.
Akan tetapi keperkasaan Bong Thian-gak sudah
menggetarkan hatinya, dia sadar pasti dirinya bukan
tandingan lawan.
Markas besar Put-gwa-cin-kau yang menyeramkan dengan
penjagaan yang begitu ketat, dalam waktu singkat berubah
menjadi kuburan yang sepi, suasana amat menyeramkan,
bagaikan kota mati ditinggal penghuninya.
Untuk beberapa saat Bong Thian-gak hanya berdiri kaku di
tempat, dia tak tahu apa yang mesti dilakukannya sekarang?
Mendadak suara jeritan perempuan yang melolong seperti
jeritan kuntilanak terdengar bergema dari loteng di depan
sana.
Jeritan itu seperti suara jeritan seseorang yang merasakan
penderitaan batin yang luar biasa.
Bong Thian-gak berkerut kening, tubuhnya secepat kilat
bergerak menuju ke arah bangunan loteng itu.
Sementara itu teriakan dan lengkingan perempuan itu
sekali lagi bergema di angkasa.
Suaranya begitu mengerikan, membuat bulu kuduk orang
berdiri dan darah serasa mendidih.
Setelah itu terdengar pula seorang dengan suara terputusputus
berteriak, "Lebih baik kalian bunuh aku, kumohon ...

771
kumohon kepada kalian ... janganlah menyiksa aku dengan
cara begini."
Setelah itu kembali bergema teriakan seperti suara lolongan
serigala di tengah malam buta.
Bong Thian-gak sudah terpancing tiba di bawah loteng itu,
tibatiba satu ingatan terlintas di benaknya, tanpa sadar
pikirnya, "Jangan-jangan mereka sengaja memasang sebuah
perangkap di tempat ini."
Karena ingatan itu, dia segera membatalkan niatnya untuk
melompat naik ke atas loteng itu.
Tapi ingatan lain terlintas dalam benaknya, "Betul, jelas
perangkap jahat untuk memancingku masuk jebakan ... tapi
perempuan itupun sudah jelas seorang korban mereka ...
padahal tempat ini sangat berbahaya, aku wajib
menyelamatkan jiwanya."
Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak segera melompat
naik ke atas loteng itu, menghantam daun jendelanya
sehingga terpentang lebar.
Di balik daun jendela merupakan sebuah ruangan yang
sangat lebar, terlihat seorang perempuan dalam keadaan bugil
terikat kencang pada tonggak kayu di tengah ruangan.
Sedangkan di lantai terlihat ada beberapa ekor ular beracun
sedang meliuk-liuk sambil menjulurkan lidahnya yang
berwarna merah, dua di antaranya merayap mendekati nona
bugil itu.
Perasaan kaget, ngeri dan ketakutan menyelimuti wajah
gadis bugil tadi, membuatnya sekali lagi menjerit.
Tatkala perempuan bugil itu melihat Bong Thian-gak
muncul di situ, sorot matanya memancarkan sinar
permohonan.
"Bedebah!" umpat Bong Thian-gak amat gusar.

772
Tanpa memikirkan bagaimana akibatnya, pemuda itu
segera melejit ke tengah udara dan langsung meluncur ke
arah tonggak kayu dimana perempuan bugil itu terikat.
Pedangnya segera digetarkan, dan "Crit", persis menusuk di
atas tonggak kayu itu.
Dengan tangan kiri menggenggam pedang, Bong Thian-gak
menggantungkan diri di atas pedangnya, sementara ujung
baju kanannya dikebaskan ke muka.
Akibat babatan ujung bajunya itu, dua ekor ular yang
sedang merambat mendekati tonggak kayu itu segera terhajar
hingga terputus menjadi beberapa bagian.
Pada saat itulah perempuan bugil yang terikat di atas
tonggak kayu beraksi, tubuhnya bagaikan ular menggeliat, lalu
... "Plak", Bong Thian-gak terhajar telak oleh serangannya.
Mimpi pun Bong Thian-gak tak bisa membayangkan dengan
cara apakah perempuan bugil itu melepaskan diri dari
belenggu tali itu.
Dia pun tidak tahu genggaman perempuan bugil itu
mencekal seekor ular kecil yang berwarna hijau kehitamhitaman.
Tahu-tahu Bong Thian-gak merasa punggungnya sakit
sekali, dia tidak menyadari bahwa jiwanya sekarang sudah
berada di tepi kematian.
Kaki kanan Bong Thian-gak masih mengait di atas tonggak
kayu, kemudian ia membopong perempuan bugil tadi dan
membaringkannya di atas lantai.
Ia membaringkan perempuan itu di atas lantai yang bebas
dari ancaman ular, kemudian telapak tangan kanannya
dikebaskan, gulungan angin pukulan segera menyambar, ularular
beracun yang berada di lantai pun seekor demi seekor
tersambar hingga mati semua.

773
Sementara itu suara tawa cekikikan yang amat jalang dan
cabul mulai berkumandang dari mulut perempuan bugil itu.
Sambil mengerut dahi Bong Thian-gak segera berpaling.
Entah sejak kapan perempuan bugil itu sudah mengenakan
selembar kutang untuk menutupi payudaranya yang montok,
di bawah perutnya juga sudah dilingkari gaun pendek untuk
menutupi bagian rahasianya, raut wajahnya yang semula
menderita dan ketakutan kini sudah kembali seperti keadaan
pada umumnya.
Terutama sekali seekor ular kecil berwarna hijau kehitamhitaman
yang tergenggam pada tangan kanannya membuat
Bong Thian-gak seperti terbangun dari impian, ia segera sadar
dirinya sudah tertipu.
"Si... siapakah kau?" tegurnya kemudian.
Dengan suara yang amat tenang perempuan bugil itu
menjawab, "Su-kaucu Put-gwa-cin-kau, Hek-coa-li-liong (gadis
cantik ular hitam)!"
Tak terlukiskan rasa terkejut Bong Thian-gak setelah
mendengar pengakuan itu, dia lantas teringat rasa sakit yang
pernah dialaminya pada saat menolong perempuan itu tadi.
Paras mukanya segera berubah hebat, hardiknya penuh
gusar, "Kurangajar! Cari mampus rupanya kau?"
Telapak tangan kirinya segera diayunkan ke muka
melancarkan sebuah bacokan maut.
Hek-coa-li-liong sama sekali tidak berkelit, telapak tangan
Bong Thian-gak persis menghantam di atas perut perempuan
itu.
Dengan tenaga dalam yang dimiliki Bong Thian-gak,
serangannya itu cukup baginya untuk menghancurkan batu
gunung, tapi Hek-coa-li-liong malah tertawa terkekeh-kekeh
seperti orang gila.

774
"Apa kau mampu membunuhku? Setiap orang yang
terpagut ular kecil berwarna hijau kehitam-hitamanku ini,
dalam setengah menit racunnya akan mulai bekerja dan
seluruh kekuatan yang dimiliki akan punah, kau tak akan
memiliki kekuatan untuk membunuh orang lain."
Betul, saat ini Bong Thian-gak memang merasa
kekuatannya punah, bagaikan seseorang yang ilmu silatnya
dipunahkan orang lain.
Dalam ingatan Bong Thian-gak, Su-kaucu Put-gwa-cin-kau
ini, Hek-coa-li-liong, adalah seorang yang teramat asing
baginya. Itulah sebabnya ia terluka oleh serangannya, Bong
Thian-gak menghela napas panjang, kemudian katanya,
"Sungguh tak kusangka, aku Bong Thian-gak telah melakukan
kesalahan besar gara-gara terdorong oleh perasaan, ai,
sekarang aku sudah terjatuh ke tanganmu, mau bunuh,
cincang, terserah kehendakmu!"
Dalam pada itu Hek-coa-li-liong telah selesai membereskan
rambutnya yang kusut, sekarang dapat dilihat dengan jelas
bagaimana kulit tubuhnya begitu putih bersih, mukanya bulat
telur dan berparas cantik jelita bak bidadari dari kahyangan,
usianya di antara dua puluh empat tahun.
Sambil tertawa cekikikan Hek-coa-li-liong berkata kembali,
"Kau mempunyai perasaan kasihan? Hm! Dua ratus orang
anggota Put-gwa-cin-kau telah kau bantai secara kejam.
Kaulah manusia dalam persilatan saat ini yang membunuh
orang paling banyak. Gembong iblis pembunuh manusia
macam dirimu, mana mungkin mempunyai perasaan kasihan?
Huh, kau tak usah membual lagi di hadapanku."
Disemprot dengan kata-kata yang begitu pedas, tanpa
terasa Bong Thian-gak menundukkan kepala, ucapnya
kemudian, "Kalau ingin turun tangan, ayolah lakukan
secepatnya!"
Hek-coa-li-liong tersenyum.

775
"Membunuhmu? Tidak akan kulakukan semudah itu."
"Kalau tidak, perbuatan apa yang hendak kau lakukan
terhadap diriku?" tegur Bong Thian-gak mulai naik pitam.
"Sekarang kau telah kehilangan ilmu silatmu, bagaimana
pun juga kau tidak bakal bisa kabur dari sini, oleh sebab itu
aku hendak mencari akal lain untuk menghadapi dirimu."
Sepanjang pembicaraan, secara diam-diam Bong Thian-gak
telah mencoba mengerahkan hawa murninya, tapi urat nadi
serta jalan darahnya seakan-akan tersumbat oleh suatu
kekuatan besar sehingga tak setitik tenaga pun yang mampu
disalurkan.
Dengan menghela napas sedih pelan-pelan Bong Thian-gak
bertanya, "Apa nama ular itu? Sungguh tak nyana begitu
hebat."
Hek-coa-li-liong tertawa bangga, sahutnya, "Ular ini bukan
ular sungguhan, yang benar adalah sejenis senjata tajam."
Bong Thian-gak mengalihkan sorot matanya ke ular kecil
warna hijau kehitaman yang berada di tangan kanannya.
Ternyata memang sama sekali tak bergerak, kenyataan
memang bukan ular sungguhan, melainkan senjata yang
berbentuk ular.
Bong Thian-gak berseru tertahan, kemudian tanyanya,
"Apa nama senjata itu?"
"Hek-Jik-leng-coa (ular sakti hijau kehitam-hitaman)."
"Apakah kau telah menyembunyikan racun keji di balik
lidah ular itu?" tanya Bong Thian-gak lagi sambil menghela
napas.
"Betul, punggungmu tertusuk oleh lidah ular itu, bukan oleh
pagutannya."

776
"Apakah kau sudah mendapatkan cara terbaik untuk
menghukum diriku?"
"Belum!" kembali Hek-coa-li-liong menggeleng kepala.
"Walau aku sudah menjadi manusia tak berilmu silat, tetapi
aku tak dapat berdiam kelewat lama di sini menunggu
hukuman."
"Meski ilmu silatmu telah punah, namun kau masih dapat
menyelamatkan nyawamu selama tinggal di tempat ini.
Andaikata kau meninggalkan loteng ini, niscaya Siau Cu-beng
akan membunuhmu."
Bong Thian-gak tertegun mendengar kata-katanya itu,
"Apakah selama aku tetap mengendon di tempat ini, kau dan
Siau Cu-beng tak akan merenggut nyawaku?"
Hek-coa-li-liong tertawa dingin, "Selamanya Siau Cu-beng
tak akan berani mencampuri urusanku, yang paling
menakutkan apabila aku hendak merenggut jiwamu."
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, mati bukan sesuatu yang menakutkan, aku hanya
merasa bahwa kematianku terlalu tak berharga."
"Mengapa tak berharga?" tanya Hek-coa-li-liong.
"Orang-orang Put-gwa-cin-kau kejam dan tidak
berperasaan. Tatkala mendengar jeritanmu tadi, aku mengira
orang Put-gwa-cin-kau sedang menyiksa orang dengan sangat
keji. Itulah sebabnya aku terburu-buru datang kemari. Ai,
sungguh tak kusangka kau pun termasuk satu di antara
gembong Put-gwa-cin-kau."
Hek-coa-li-liong tertawa dingin, tiba-tiba bentaknya, "Siau
Cu-beng, jika kau berani melangkah masuk ke dalam lotengku
ini, segera akan kusuruh kau mati tergigit ular beracun."
Ketika mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak segera
berpaling dan menengok sekejap keluar jendela, tampak

777
olehnya suasana di bawah loteng terang-benderang
bermandikan cahaya. Siau Cu-beng beserta sekelompok
pengawal berbaju kuning telah mengepung loteng itu.
Siau Cu-beng masih mengenakan kain berkerudung,
tampak dia mendongakkan kepala dan berkata lantang,
"Sebelum memperoleh izin dari Su-kaucu, tentu saja Cu-beng
tidak berani bertindak sembarangan memasuki kamar
tidurmu."
Ketika itu tenaga dalam Bong Thian-gak telah punah, dia
sangat kecewa dan putus asa, maka sambil berdiri di sisi
arena ia memutar otak mencari akal, pikirnya, "Biar waktu
tertunda, coba kulihat apakah tenaga dalamku masih ada
kemungkinan pulih atau tidak?"
Sementara itu Hek-coa-li-liong telah mendengus dingin
sambil berkata, "Kalau memang begitu, mengapa kau bawa
orang-orangmu mengepung loteng ini?"
Siau Cu-beng tertawa ringan.
"Aku kuatir Su-kaucu tidak bisa menaklukkan Jian-ciatsuseng."
"Hm, sekalipun tak mampu melakukannya, aku juga tak
akan memberi kesempatan kepadamu untuk menaklukkan
orang itu," jengek Hek-coa-li-liong dengan ketus.
"Su-kaucu," mendadak Siau Cu-beng berkata dengan suara
dalam, "Malam ini, aku orang she Siau bersedia memberi
kesempatan kepadamu untuk menebus dosa-dosamu yang
lalu, kuharap kesempatan yang sangat bagus ini jangan kau
sia-siakan begitu saja."
"Apa yang mesti kulakukan?" tanya Hek-coa-li-liong sambil
tertawa dingin.
"Jika Su-kaucu berhasil menaklukkannya, harap kau
serahkan orang itu kepadaku untuk dijatuhi hukuman."

778
Sekali lagi Hek-coa-li-liong tertawa dingin.
"Satu kali tergigit ular berbisa, sepuluh tahun takut tali
tambang. Aku tak bakal menyerahkan jasa besar ini kepadamu
begitu saja."
"Su-kaucu!" kembali Siau Cu-beng berkata dengan suara
dingin, "Bila kau melakukan kesalahan lagi, perkumpulan akan
menggunakan peraturan yang paling ketat dan berat untuk
menghukum serta menyiksa dirimu."
"Kau tak usah kuatir," Hek-coa-li-liong tertawa menjengek.
"Aku masih mampu mengawasinya hingga Cong-kaucu
pulang."
"Kalau begitu Su-kaucu tidak bersedia menyerahkan orang
itu kepadaku?"
"Kau licik dan munafik, yang kau pikirkan hanya
kepentingan sendiri, aku sudah cukup banyak menerima
pelajaran pahit darimu."
"Apakah Su-kaucu tak kuatir aku bakal menurunkan
perintah menyerang lotengmu," kata Siau Cu-beng lagi sambil
tertawa dingin dengan suara menyeramkan.
"Di dalam loteng ini terpelihara beribu-ribu ular beracun,
bila kau memang tidak kuatir dipagut ularku, silakan saja
untuk mencoba."
"Ular paling takut dengan api," jengek Siau Cu-beng sambil
tertawa dingin. "Aku masih bisa melepaskan api membakar
loteng ini."
Hati Hek-coa-li-liong bergetar keras, ujarnya kemudian,
"Ular-ular beracun peliharaanku telah mendapat latihan
khusus. Asal kubunyikan serulingku, maka beribu-ribu ular
beracun itu akan menyerbu keluar. Aku tak percaya kau masih
mampu mempertahankan hidup."

779
"Su-kaucu," teriak Siau Cu-beng semakin marah,
"tindakanmu sungguh mengkhianati peraturan yang telah
ditetapkan perkumpulan."
"Yang telah melanggar peraturan bukanlah aku, melainkan
kau sendiri," jengek Hek-coa-li-liong sambil tertawa dingin.
"Sewaktu aku ditahan di dalam loteng ini, siapa pun tidak
dibiarkan mengusik atau mengganggu ketenanganku. Apakah
komandan Siau telah lupa?"
"Tapi kenyataan sekarang Su-kaucu berniat melindungi
buronan penting, aku mempunyai hak penuh untuk
menjatuhkan hukuman yang setimpal kepadamu."
Hek-coa-li-liong tertawa dingin, "Siau Cu-beng, kau tidak
usah banyak cerita lagi. Dendam sakit hati di antara kita sudah
seperti air dan api, tidak mungkin bagi kita untuk hidup
bersama, apa pun yang hendak kau lakukan terhadap diriku,
boleh kau laksanakan sekarang juga!"
Siau Cu-beng mendengus dingin.
"Hm, kau tidak bersedia bekerja sama denganku. Berarti
kau sendiri yang mencari jalan kematian."
Sepanjang pembicaraan, Bong Thian-gak hanya
mendengarkan dengan hati dingin dan perasaan tenang.
Ketika pembicaraan telah usai, dia baru menghela napas
seraya berkata, "Siau Cu-beng adalah seorang licik yang
berhati keji serta buas. Kekejaman dan kebrutalannya boleh
dibilang sudah mencapai titik puncak yang paling tinggi, bisa
jadi kau akan musnah di tangannya."
Hek-coa-li-liong memandang sekejap ke arah Bong Thiangak,
kemudian katanya dingin, "Apakah kau berniat
mempengaruhi aku agar berkhianat?"
"Ai, mungkin dengan begitu keselamatan jiwa kita berdua
baru bisa dipertahankan," jawab Bong Thian-gak sambil
menghela napas. Hek-coa-li-liong tertawa dingin.

780
"Terus terang saja kuberitahu suatu hal kepadamu, sejak
aku disekap dalam loteng ini, menelan semacam obat racun
yang berdaya kerja lambat, suatu ketika jika aku berani
melarikan diri dari tempat ini dan dalam satu bulan tidak
menelan obat penawar racunnya, maka daya kerja racun itu
akan mulai beraksi, akhirnya aku bakal mampus dengan darah
keluar dari ketujuh lubang indra. Itulah sebabnya aku tak
berani berkhianat ataupun melarikan diri."
Bong Thian-gak terkejut mendengar keterangan itu,
sekarang ia tahu cara bagaimana Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau
mengendalikan jago-jago lihainya dan bagaimana pula cara
menguasai kawanan Enghiong.
Tapi justru dari perkataan itu Bong Thian-gak pun
mendapat tahu bahwa dari dasar hati gadis itu sesungguhnya
sudah mempunyai niat untuk berkhianat terhadap Put-gwacin-
kau.
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bong
Thian-gak, tanyanya kemudian, "Su-kaucu, apakah kau tahu
obat racun macam apakah yang telah kau makan?"
"Tidak!" Hek-coa-li-liong menggeleng kepala berulang-kali.
"Masih berapa lama lagi Su-kaucu mesti menelan obat
penawar berikutnya?" kembali pemuda itu bertanya.
"Empat hari. Selewat empat hari, bila obat penawar racun
belum juga diserahkan kepadaku, akibatnya aku akan tewas
dengan keadaan mengenaskan."
"Ai, dalam tiga tahun belakangan ini, boleh dibilang setiap
waktu aku selalu kuatir bila mereka tak menyerahkan obat
penawar racun kepadaku, menghadapi ancaman maut itu
sungguh penderitaan batin yang betul-betul amat berat."
Menyusul gadis itu bergumam, hanya saja Bong Thian-gak
tidak menangkap jelas, karena saat itu dia sedang
memperhitungkan suatu masalah penting.

781
Tiba-tiba terdengar Bong Thian-gak bergumam, "Ai, masih
ada waktu. Dalam empat hari sudah pasti akan tiba di kota
Lok-yang."
"Apakah yang kau pikirkan?" tanya Hek-coa-li-liong sambil
melirik sekejap ke arahnya.
Dengan wajah berseri Bong Thian-gak berkata, "Bila Sukaucu
bertekad hendak meninggalkan cengkeraman maut Putgwa-
cin-kau. Aku pun bersedia mengusahakan pengobatan
racun yang mengeram dalam tubuhmu."
"Aku tidak percaya kau memiliki kemampuan semacam itu,"
kata Hek-coa-li-liong itu.
"Di dunia persilatan dewasa ini, terdapat seorang tabib
sakti dan kenamaan yang mampu menawarkan racun yang
mengeram dalam tubuhmu sekarang."
"Obat racun yang bersifat lambat yang kutelan adalah
bikinan si tabib sakti Gi Jian-cau, kecuali Gi Jian-cau sendiri,
aku rasa tiada orang lain di kolong langit dewasa ini yang
mampu menawarkan racun jahat itu."
Bong Thian-gak semakin girang.
"Justru orang yang kumaksud tadi tak lain adalah Gi Jiancau,
aku memang berniat mengajakmu mencarinya."
"Kau tidak usah ngaco-belo tak keruan”Hek-coa-li-liong
berkata dingin. "Obat-obatan yang berada dalam kekuasaan
Cong-kaucu boleh dibilang semuanya berasal dari Gi Jian-cau,
mana mungkin dia mau mengobati orang yang telah menelan
racun bikinannya sendiri."
Bong Thian-gak segera tersenyum.
"Memang, apa yang kau ucapkan betul sekali, tapi aku pun
berani menjamin Gi Jian-cau pasti akan bersedia mengobati
racun jahat yang mengeram di dalam tubuhmu."

782
"Apa hubunganmu dengan Gi Jian-cau?" tanya Hek-coa-liliong.
"Dia adalah salah satu pelindung perguruan kami."
"Lantas siapakah kau?"
"Aku adalah ketua Hiat-kiam-bun ... Jian-ciat-suseng Bong
Thian-gak."
Agaknya Hek-coa-li-liong menaruh pandangan yang
teramat asing terhadap segala perubahan dan tokoh dalam
Bu-lim.
Sambil tertawa ia menggeleng kepala, kemudian ujarnya,
"Aku sudah disekap hampir tiga tahun lamanya di loteng ini.
Karenanya aku sama sekali tidak jelas tentang segala masalah
dan kejadian yang berlangsung di Bu-lim selama ini, walaupun
begitu aku cukup mengenal nama Hiat-kiam-bun."
Kemudian sambil menarik muka, ia berkata lebih lanjut
dengan suara dingin, "Andai kata Hiat-kiam-bun benar-benar
sudah muncul, maka ketua terpilihnya selain Ko Hong dan
Keng-tim Suthay, mengapa bisa terjatuh ke tangan Jian-ciatsuseng?"
Diam-diam Bong Thian-gak merasa girang mendengar
ucapan itu, cepat ia bertanya, "Su-kaucu, darimana kau bisa
tahu nama Ko Hong dan Keng-tim Suthay?"
Hek-coa-li-liong memandang sekejap ke arahnya, lalu
jawabnya, "tentang orang yang bernama Ko Hong, aku
memang tidak kenal, tapi aku kenal Keng-tim Suthay."
Tiba-tiba Bong Thian-gak teringat suatu masalah, dia
segera bedanya, "Bagaimanakah hubungan pribadi Su-kaucu
dengan Jit-kaucu Thay kun?"
Paras Hek-coa-li-liong segera berubah hebat ia balik
bertanya, "Darimana kau bisa tahu nama Jit-kaucu?"
Bong Thian-gak menghela napas panjang.

783
"Su-kaucu bisa tahu tentang Hiat-kiam-bun karena Jitkaucu
Thay-kun yang memberitahukan hal itu kepadamu, bisa
juga Thay-kun berniat menarik kau agar bergabung dengan
Hiat-kiam-bun."
"Ai, bicara yang sebenarnya, Ko Hong yang muncul tiga
tahun berselang tak lain adalah aku sendiri. Ko Hong adalah
nama samaranku, bila Su-kaucu bersedia memenuhi
permohonan tadi, harap kau segera turun tangan!"
Hek-coa-li-liong termenung dan berpikir beberapa saat,
kemudian baru berkata, "Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Bila aku berani berbohong sedikit saja, biar Thian
mengutuk diriku serta memberi kematian yang paling tragis
kepadaku."
Wajah Hek-coa-li-liong baru nampak berseri setelah
mendengar kata-kata terakhir tadi, katanya, "Harap kau duduk
bersila di atas tanah, segera aku berikan obat penawar racun
itu untukmu."
Selesai berkata, dengan cepat Hek-coa-li-liong masuk ke
ruang dalam, sekejap kemudian dia telah muncul kembali.
Pada waktu itu dia sudah mengenakan mantel yang
berbuat dari kulit ular, tangan kiri membawa seruling pendek,
sementara tangan kanannya membawa pisau belati.
Dia mengambil seekor bangkai ular dari antara tumpukan
bangkai ular yang berserakan, kemudian pisau belatinya
merobek perut bangkai tadi dengan lincah dan cekatan, tahutahu
ia sudah mencongkel empedu ular berwarna hijau
kehitam-hitaman.
Ujarnya pula, "Ayo, cepat kau telan empedu ular ini, dalam
setengah jam tenaga dalammu lambat-laun akan pulih seperti
sedia kala."

784
Belum selesai ia berkata, bayangan orang berkelebat dari
luar jendela, kemudian seorang berbaju hitam berkerudung
telah menerjang masuk ke dalam ruangan.
Hek-coa-li-liong segera membentak nyaring, "Siau Cu-beng,
kau berani melangkah masuk ke daerah terlarang?"
Di tengah bentakan itu, Hek-coa-li-liong berkelebat
menghadang di depan Bong Thian-gak, lalu jari tangannya
menyentil ke depan dan melemparkan empedu ular itu ke
dalam mulut Bong Thian-gak.
Pada saat bersamaan pula, pisau belati di tangan kanannya
menusuk Siau Cu-beng.
Dengan cekatan Siau Cu-beng menggeser langkah
menghindarkan diri dari ancaman itu, lalu umpatnya dengan
suara dingin, "Perempuan rendah, kau benar-benar telah
berkhianat rupanya."
Dengan gerakan cepat tangan kanannya melolos sebilah
pedang panjang.
Setelah melepaskan sebuah serangan dengan pisau
belatinya tadi, Hek-coa-li-liong telah mengundurkan diri ke
muka Bong Thian-gak. Ketika mendengar ucapan itu, segera
sahutnya dingin. "Soal berkhianat sudah kurencanakan sejak
dulu, cuma belum ada kesempatan untuk mewujudkannya."
Siau Cu-beng tertawa dingin.
"Berarti kau mencari masalah. Kalau begitu, jangan
salahkan lagi bila aku berhati keji dan buas terhadap dirimu!"
Siau Cu-beng mendesak maju, pedangnya berkelebat
berulang kali dengan gerakan aneh, beruntun ia melancarkan
tiga buah serangan.
Jurus pedang yang dipergunakan Siau Cu-beng kelihatan
aneh dan ganas, Hek-coa-li-liong harus memainkan pisau

785
belatinya dengan lihainya untuk mematahkan jurus serangan
itu.
Sewaktu serangan berhasil diatasi, ia pun sudah terdesak
hingga mundur ke hadapan Bong Thian-gak.
Sambil tertawa dingin Siau Cu-beng menjengek, "Bila kau
bersedia membuang pisaumu dan menyerahkan diri, masih
ada kemungkinan bagimu untuk mempertahankan nyawamu
itu."
Selesai berkata, sebuah serangan gencar kembali
dilancarkan ke depan.
"Aku lebih suka mati daripada hidup tersiksa dan
menderita," bentak Hek-coa-li-liong.
Serangan pedang yang amat dahsyat dan hebat, nyaris
memaksa Hek-coa-li-liong kehilangan pisau belatinya, hampir
saja mencelat dari genggaman.
"Aku tahu," jengek Siau Cu-beng, "Kepandaianmu yang
terhebat adalah mengendalikan kawanan ular dengan irama
seruling, sedang dalam ilmu silat, kau tidak akan mampu
bertahan sepuluh jurus serangan pedangku."
Jurus pedang Siau Cu-beng berubah terus tiada hentinya,
sebentar menotok sebentar membacok, secara beruntun dia
melancarkan tiga buah serangan lagi.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget berkumandang.
Ternyata lengan kiri Hek-coa-li-liong telah tersambar oleh
pedang lawan sehingga muncul sebuah luka memanjang yang
cukup dalam.
Pada saat itu pula pedang panjang di tangan kiri Siau Cubeng
sekali lagi melancarkan serangan.
Pisau belati yang tergenggam di tangan kanan Hek-coa-liliong
segera tersontek oleh pedang lawan hingga mencelat ke
tengah udara.

786
Pedang Siau Cu-beng kembali melakukan gerakan
menyambar, ujung pedang yang tajam menempel
tenggorokan Hek-coa-li-liong yang merupakan bagian
mematikan di tubuh manusia.
Sambil tertawa dingin, dengan penuh kebanggaan Siau Cubeng
berkata, "Sekarang, apa lagi yang bisa kau katakan?"
Paras muka Hek-coa-li-liong masih tampak begitu tenang
dan kalem, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu, katanya
kemudian, "Siau Cu-beng, kau sudah kehilangan kesempatan
terbaik untuk membunuh aku."
Entah sejak kapan Hek-coa-li-liong telah menggenggam
seekor ular kecil berwarna hijau kehitam-hitaman di tangan
kanannya.
"Apa maksudmu?" tanya Siau Cu-beng agak seram
bercampur ketakutan.
"Coba kau lihat dulu, ular kecil yang berada dalam
genggamanku sekarang adalah benda apa?"
"Ular sakti hijau hitam!"
"Tahukah kau, benda apa saja yang tersimpan di dalam
lambung kecil ini?"
"Tiga belas batang jarum beracun." Hek-coa-li-liong tertawa
bangga.
"Selama ular sakti hijau hitam berada di genggamanku,
tujuh langkah bisa melukai orang dan tak seorang pun yang
mampu untuk menghindarkan diri. Andaikata pedangmu
langsung kau tusukkan ke dalam tubuhku, maka aku tak akan
mempunyai kesempatan yang baik untuk mengeluarkan ular
sakti hijau hitam itu."
"Tapi sekarang ... biarpun kau masih bisa menusuk mati
diriku dengan pedangmu, namun aku pun dapat
menyemburkan jarum-jarum beracun yang tersimpan di dalam

787
lambung ular sakti hijau hitam ini, karenanya saat ini kita
hanya bisa saling mempertahankan diri belaka."
Siau Cu-beng tertawa dingin, tiba-tiba tanyanya,
"Bagaimana dengan keadaan Jian-ciat-suseng saat ini?"
Hek-coa-li-liong sama sekali tidak berpaling, hanya
jawabnya dingin, "Kau tidak perlu menggunakan akal muslihat
busuk dan licik untuk menipuku, aku tak bakal terkena
siasatmu itu."
"Jika kita harus saling bertahan pada keadaan seperti ini,
pada «khirnya kau akan mampus juga di ujung pedangku,"
seru Siau Cu-beng kemudian sambil tertawa dingin.
Hek-coa-li-liong segera tertawa.
"Jika aku mati, kau pun jangan harap bisa meninggalkan
tempat ini dalam keadaan selamat."
"Kalau memang begitu, lihat saja bagaimana akhirnya
nanti!"
Mendadak Siau Cu-beng menggeser tubuh ke arah sisi kiri.
Bersamaan pedang di tangan kirinya yang terkulai menghadap
ke lantai mencungkil ke atas secepat kilat.
Hek-coa-li-liong mendengus penuh amarah, sambil
membentak kelima jari tangan kanannya segera menekan
tombol rahasia yang berada di lambung ular sakti hijau
hitamnya.
Dalam sekejap Hek-coa-li-liong merasa lengan kanannya
menjadi dingin, tahu-tahu cahaya tajam pedang Siau Cu-beng
telah menyambar lengan kanannya, percikan darah segar
segera memancar kemana-mana.
Hek-coa-li-liong menjerit kesakitan, lengan kanannya
sebatas sikut telah terbabat pedang lawan hingga kutung,
bersamaan, terdengar bunyi desingan angin tajam bergema.

788
Pedang Siau Cu-beng yang menempel di atas tenggorokan
Hek-coa Ii liong tahu-tahu sudah ditarik kembali sambil diputar
menciptakan selapis cahaya pedang yang amat tebal untuk
melindungi seluruh badannya.
.senjatanya menusuk tubuh Bong Thian-gak dengan
kecepatan luar biasa.
Serangan yang dilancarkan itu merupakan serangan
terakhir Siau Cu-beng dengan segenap tenaganya. Bukan saja
serangannya aneh susah diduga, tenaganya pun ganas luar
biasa.
Sebelum serangannya tiba, hawa dingin yang menyayat
badan telah menyambar kemana-mana.
Bong Thian-gak berkerut kening menyaksikan ini. Dengan
cepat pedang di tangan kirinya digerakkan menyongsong
datangnya ancaman.
Suatu jeritan ngeri yang menyayat hati segera
berkumandang.
Di antara percikan darah segar yang memancar kemanamana.
"Plak", lengan kiri berikut pedang Siau Cu-beng telah
terpapas kutung dan rontok ke tanah.
Sungguh kaget dan tercengang Hek-coa-li-liong
menyaksikan itu, dia tak mengira dengan suatu gerakan yang
begitu ringan, ternyata Bong Thian-gak dapat mengatasi
serangan lawan yang begitu dahsyat, bahkan sekaligus
mengutungi lengan kiri Siau Cu-beng.
Dengan sempoyongan Siau Cu-beng mundur dua langkah,
namun sebelum ia sempat berdiri tegak, kembali cahaya
pedang berkelebat di hadapannya.
Jeritan ngeri yang memilukan sekali lagi berkumandang,
kali ini lengan kanan berikut pangkal bahunya kena terbabat
kutung.

789
Agaknya Siau Cu-beng sudah merasakan bahwa dia
menghadapi jalan buntu yang membahayakan keselamatan
jiwanya. Biarpun lengan kiri dan kanannya sudah kutung serta
darah segar bercucuran dengan amat derasnya, saking
sakitnya hampir saja ia tak sadarkan diri, namun ia masih
berusaha menjejakkan kaki sekuat tenaga dan kabur melalui
daun jendela.
Siapa tahu bayangan orang segera berkelebat, segulung
tenaga pukulan yang sangat dahsyat menghantam tubuhnya
membuat dia mendengus tertahan, lalu roboh di atas tanah.
Ternyata Bong Thian-gak dengan pedang terhunus sudah
berdiri di hadapannya, cahaya pedang yang berkilauan tajam
kini sudah menempel di atas tenggorokannya.
Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak segera berseru,
"Sebelum ajalmu tiba, ingin kulihat wajahmu, apakah kau pun
memperlihatkan rasa takut dan ngeri dalam menghadapi
datangnya malaikat elmaut."
Kain kerudung hitam yang menutupi wajah Siau Cu-beng
segera tersambar oleh cukilan pedang hingga terlepas.
Muncul seraut wajah yang pucat-pias bagaikan kertas,
potongan serta mimik mukanya tidak jauh berbeda seperti
keadaan pada sepuluh tahun berselang, hanya bedanya
sekarang wajah itu mengejang keras dan penuh diliputi
perasaan takut, ngeri, sakit dan seram.
Bong Thian-gak mendongakkan kepala tertawa seram,
kemudian katanya, "Siau Cu-beng, andaikata kubunuh kau
dengan sebuah tusukan, hal ini keenakan bagimu, karenanya
aku hendak mengutungi keempat anggota tubuhmu terlebih
dahulu, kemudian membiarkan darahmu mengalir keluar
sampai kering dan rasakanlah bagaimana enaknya mati secara
perlahan-lahan."

790
Cahaya pedang kembali berkelebat, jeritan ngeri yang
menyayat hati bagaikan jeritan babi yang mau disembelih
segera berkumandang.
Sepasang kaki Siau Cu-beng sebatas lutut kini sudah
terpapas kutung menjadi dua.
Ia mulai terguling-guling di atas tanah, meraung-raung
seperti singa sekarat, mulai mengeluh dan merintih, bagaikan
pengemis yang meminta belas kasihan, mengenaskan sekali
keadaannya waktu itu.
Dalam waktu singkat ia telah berubah menjadi seorang
berdarah.
Pada saat itulah bunyi seruling yang aneh dan amat tak
enak didengar berkumandang dalam ruangan.
Hek-coa-li-liong memainkan seruling pendeknya dengan
tiupan Iembut, namun irama yang dihasilkan justru tinggi
melengking dan amat tidak sedap didengar, kemudian
katanya, "Aku telah memainkan irama Iblis penakluk ular.
Sebentar kawanan ular beracun akan bergerak merayapi
tubuhnya dan akan mulai mengisap darah yang mengalir dari
tubuhnya, dia akan mati karena darahnya diisap oleh ularularku.
Biar siksaan semacam ini terhitung kejam dan tidak
berperi-kemanusiaan, Namun termasuk pembalasan yang
setimpal bagi dosa dan kejahatan yang, telah dilakukannya
selama ini. Bong-siangkong, mari kita segera berangkat!"
Belum selesai dia berkata, segulung bau amis sudah
berhembus, enam tujuh ekor ular berbisa menampakkan diri
di depan pintu ruangan.
Hek-coa-li-liong segera menarik ujung baju Bong Thiangak,
lalu mereka berdua bersama-sama melompat keluar
ruangan melalui jendela.
Kawanan manusia yang semula mengepung sekeliling
loteng itu secara rapat dan ketat, kini justru telah

791
membubarkan kepungan mereka, malah tak nampak seorang
pun di situ.
Belum jauh mereka pergi, dari dalam ruang loteng
terdengar lagi suara jeritan ngeri Siau Cu-beng yang
memilukan di tengah keheningan malam yang mencekam
seluruh jagat, jeritannya sungguh menggetarkan hati setiap
orang yang mendengarnya.
Seorang berhati buas bagai ular berbisa yang sepanjang
hidupnya banyak melakukan kejahatan kini telah memperoleh
pembalasan yang setimpal, dia harus merasakan siksaan dan
penderitaan yang amat berat dimana sisa darah di dalam
tubuhnya diisap oleh ular-ular beracun hingga mengering
sebelum akhirnya ajal merenggut kehidupannya.
Mendengar jeritan yang begitu menyayat hati, Bong Thiangak
menghela napas sedih, kemudian setelah menyarungkan
pedangnya ke pinggang, ia menarik tangan Hek-coa-li-liong
dan diajak melewati tiga-empat halaman rumah.
Sepanjang perjalanan mereka sama sekali tidak menjumpai
suatu hadangan pun.
Tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya, "Kita hendak kemana?"
"Bukankah kau hendak pergi mencari adik
seperguruanmu?" Hek-coa-li-liong balik bertanya.
"Dimana dia berada? Berapa lamakah yang kita butuhkan
untuk sampai di sana?"
"Bila jadi dia disekap di dalam istana cinta iblis, jaraknya
dari tempat ini kurang lebih satu jam perjalanan."
"Mengapa tempat itu dinamakan istana cinta iblis?" tanya
Bong Thian-gak dengan kening berkerut.
"Sebab tempat itu merupakan tempat hiburan bagi anggota
Put-gwa-cin-kau."

792
"Jadi dia sudah dinodai oleh kawanan iblis itu?" BongThiangak
merasa sedih sekali.
"Tak seorang pun bisa lolos dari perkosaan setelah berada
di dalam istana cinta iblis."
Membara hawa amarah dan perasaan dendam di hati kecil
Bong Thian-gak, sambil mengertak gigi menahan rasa
bencinya, ia bersumpah, "Selama Bong Thian-gak masih hidup
di dunia ini, aku pasti akan menyuruh Cong-kaucu Put-gwacin-
kau merasakan pembalasan yang paling kejam."
Hek-coa-li-liong melirik sekejap ke arah Bong Thian-gak,
ujarnya, "Walaupun orang yang paling berkuasa dan
memegang tampuk pimpinan tertinggi dalam perkumpulan
Put-gwa-cin-kau adalah Cong-kaucu, namun aku rasa bila
benar-benar ingin meleyapkan Put-gwa-cin-kau dari muka
bumi, bukan Cong-kaucu yang harus dibunuh terlebih dahulu."
"Apakah kita harus membunuh kuku-kuku garudanya
terlebih dahulu?"
Hek-coa-li-liong mengangguk membenarkan.
"Betul, kita harus membunuh kuku-kuku garudanya lebih
dahulu, tapi tahukah kau siapa saja yang merupakan kukukuku
garuda andalannya?"
"Sim Tiong-kiu, Ji-kaucu, dan lain sebagainya."
Sambil tertawa, Hek-coa-li-liong menggeleng kepala
berulang-kali.
"Dugaanmu keliru besar, Cong-kaucu masih mempunyai
tiga orang utusan pelindung bunga yang sangat misterius
identitasnya, maka bisa jadi kau akan terperanjat."
Bong Thian-gak menjadi sangat keheranan, segera
tanyanya, "Ia masih mempunyai tiga orang utusan pelindung
bunga yang misterius identitasnya, siapa sebenarnya ketiga
orang itu?"

793
"Kau jangan bertanya dulu siapakah ketiga orang yang
kumaksud, sekarang aku hendak bertanya dulu satu hal, saat
ini si tabib sakti Gi Jian cau berada dimana?"
"Di suatu tempat rahasia di kota Lok-yang."
"Bila kau berhasil menjumpai Gi Jian-cau, kau harus segera
membunuhnya," mendadak gadis itu berpesan.
"Apa maksudmu berkata demikian?" tanya Bong Thian-gak
sambil berkerut kening, ia merasa tak habis mengerti.
"Sebab dia merupakan satu di antara ketiga utusan
pelindung bunga Cong-kaucu yang misterius itu."
"Ah, tidak mungkin," pemuda itu menggeleng kepala
berulangkah. "Tabib sakti Gi Jian-cau tak mungkin menjadi
kuku garuda Cong-kaucu."
Ketika mendengar jawaban itu, Hek-coa-li-liong nampak
merasa sedih, kembali dia berkata, "Bila kau tidak
mempercayai perkataanku ini, cepat atau lambat kau akan
terbunuh di tangannya."
"Gi Jian-cau adalah pelindung hukum perguruan kami,"
kata Bong Thian-gak kemudian dengan suara dalam. "Biarpun
sampai sekarang aku belum berjumpa dengannya, namun
Keng-tim Suthay dari perguruan kami sangat menaruh
kepercayaan kepadanya, sudah barang tentu aku pun amat
mempercayai dirinya."
"Tapi sekarang secara tiba-tiba saja kau mengutarakan
kata-kata seperti ini, sungguh hal ini membuatku keheranan
setengah mati."
"Kini di dalam tubuhmu masih mengeram racun yang
sangat jahat, padahal batas waktunya tinggal empat hari lagi,
mari sekarang juga kita berangkat ke Lok-yang dan minta Gi
Jian-cau mengobati racun itu."

794
"Aku tahu dan memang sudah kuduga sejak tadi bahwa
kau tak akan percaya pada perkataanku ini, namun tujuanku
tak lebih hanya ingin membuat kau tahu bahwa Gi Jian-cau
adalah salah satu di antara ketiga pelindung bunga Congkaucu
yang misterius."
"Asal kau mengikuti aku sampai di kota Lok-yang, segera
akan kau ketahui sendiri Gi Jian-cau termasuk orang baik atau
jahat."
"Tidak, aku takkan pergi ke Lok-yang."
"Kalau kau tidak ke Lok-yang, lantas hentak pergi
kemana?"
"Aku ingin mempergunakan sisa waktu empat hari ini untuk
mencari tempat yang ideal dan indah bagi tempat kuburku."
"Asal kita berhasil mencapai kota Lok-yang dalam empat
hari, aku pun yakin Gi Jian-cau dapat mengobati racun jahat
yang mengeram dalam tubuhmu itu. Kau harus tahu nyawa
seorang berharga sekali, mengapa kau melepas kesempatan
yang sangat baik untuk melanjutkan hidup?"
Hek-coa-li-liong menggeleng kepala berulang-kali. "Aku
sudah merasakan malaikat maut sudah mendekati diriku.
Itulah sebabnya aku harus berpisah secepatnya darimu, kalau
tidak, kau bakal terseret ke dalam masalah ini gara-gara aku."
"Ai, perkataanmu ini semakin membuat aku bingung dan
tak habis mengerti," Bong Thian-gak menghela napas
panjang. "Bila bukan disebabkan menghargai jiwamu,
mengapa kau mesti berkhianat untuk menyelamatkan jiwaku?"
Sekali lagi Hek-coa-li-liong menggeleng kepala.
"Sejak dulu aku memang sudah berniat berkhianat,
mengapa pula aku mesti mencelakai jiwamu? Ai, terus terang
saja kuberitahukan kepadamu, aku tidak akan ke Lok-yang,
bukannya disebabkan aku tidak percaya kepada Gi Jian-cau."

795
"Tapi bukankah kau pernah berkata kepadaku bahwa racun
jahat yang bersarang di dalam tubuhmu itu tak akan bisa
diobati siapa pun selain obat penawar racun bikinan Gi Jiancau?
Kalau kedua pihak sama-sama menjumpai jalan buntu,
mengapa kita tak berangkat ke Lok-yang untuk mengadu
untung? Siapa tahu dewi rezeki masih berada di pihakmu?"
Dengan pancaran mata penuh rasa terima kasih, Hek-coali-
liong memandang sekejap ke arah pemuda itu, kemudian
katanya, "Asalkan aku masih dapat mempertahankan hidupku,
pasti akan kusumbangkan segenap pikiran dan tenagaku demi
kepentinganmu."
Dengan cepat Bong Thian-gak bisa menangkap arti
sebenarnya perkataan itu, ia berseru tertahan, kemudian
tanyanya, "Kau menolak pergi ke Lok-yang, apakah karena
kau sudah punya jalan kehidupan yang lain?"
Hek-coa-li-liong tertawa rawan.
"Antara hidup dan mati masing-masing setengah
kesempatan."
Akhirnya Bong Thian-gak menghela napas panjang. "Ai,
kalau kau bersikeras tak akan pergi ke Lok-yang, biarlah aku
mendampingimu kemana pun kau hendak pergi." Cepat Hekcoa-
li-liong menggeleng kepala.
"Siangkong adalah seorang ketua perguruan besar, aku
tahu musuhmu sangat banyak dan berbagai masalah masih
menantikan penyelesaian darimu. Buat apa kau mesti
membuang waktu yang sangat berharga cuma dikarenakan
urusanku?"
"Aku hanya ingin menemani kau selama empat hari saja,
sebab bila aku tidak berbuat begini, hatiku tak akan merasa
tenang."
Agaknya Hek-coa-li-liong tahu keinginan si anak muda itu
tak bisa ditolak lagi, setelah menghela napas panjang katanya,

796
"Baiklah! Bila seandainya kau gagal mengobati racun jahat
yang mengeram dalam tubuhku, paling tidak kau masih bisa
membantu mengubur jenazahku nanti."
"Sekarang kita hendak kemana?" tanya anak muda itu.
"Kita cukup mencari sebuah tanah pegunungan yang
terpencil dan jauh dari keramaian orang."
Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan mencoba
memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, kurang lebih
setengah li di depan sana, ia melihat tanah perbukitan,
dengan kening berkerut tanyanya kemudian, "Dengan cara
apakah kau hendak mengobati lukamu itu?"
"Aku bermaksud menggunakan racun melawan racun."
Kedua orang itu bergerak menuju ke kaki bukit dengan
cepat.
Hek-coa-li-liong memilih tanah lapang berumput dan duduk
di situ, kemudian sambil tersenyum katanya, "Siangkong,
tahukah kau dengan cara apa aku hendak melakukan racun
melawan racun itu?"
"Aku memang berniat meminta keterangan darimu," sahut
Bong Thian-gak sambil menggeleng.
"Aku hendak menggunakan irama seruling untuk
memancing datangnya beribu-ribu ekor ular berbisa, kemudian
dengan memilih tujuh ekor ular berbisa di antaranya yang
memiliki kadar racun paling tinggi untuk memagut tubuhku."
"Tapi mungkinkah kau akan berhasil dengan cara itu?"
tanya Bong Thian-gak terkejut.
Hek-coa-li-liong segera tersenyum.
"Asal waktunya tepat dan caranya benar, aku rasa
kemungkinan berhasil mencapai lima puluh persen."

797
"Rasanya cara ini tak bisa ditanggung keberhasilannya,
mengapa kau enggan mengikuti aku pergi ke Lok-yang?"
Hek-coa-li-liong menggeleng kepala, sahutnya, "Aku tahu,
selama hidup Gi Jian-cau jangan harap bisa menolong jiwaku."
Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Sekarang baiklah kuberitahukan suatu hal kepadamu, saat
ini Gi
Jian-cau sedang membuat semacam pil pengembali sukma
di kota Lok-yang. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan
Thay-kun serta kawanan jago persilatan lainnya, oleh sebab
itu kau harus percaya bahwa Gi Jian-cau sebenarnya adalah
seorang pendekar dari golongan lurus."
Berubah hebat paras muka Hek-coa-li-liong mendengar
perkataan Itu, serunya dengan cepat, "Kemungkinan besar dia
bukan lagi membuat pil pengembali sukma yang kau
maksudkan."
"Aku mengetahui persoalan ini dari Keng-tim Suthay, aku
yakin dia tak bakal salah mendengar."
Tiba-tiba Hek-coa-li-liong teringat akan sesuatu, serunya
tertahan, "Siangkong, kau harus selekasnya berangkat ke Lokyang
melakukan pemeriksaan, bisa jadi di tempat itu sudah
terjadi suatu musibah besar."
"Tidak, aku harus merawat dirimu, tak mungkin aku
memisahkan diri dalam dua persoalan yang berbeda."
"Aku bukan sedang bergurau," kata Hek-coa-li-liong dengan
nada gelisah. "Malah kemungkinan besar Keng-tim Suthay
serta segenap anggota Hiat-kiam-bun lain telah tertimpa
musibah yang mengenaskan."
Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak, mendadak ia
peluk pinggang Hek-coa-li-liong, lalu mengerahkan
Ginkangnya meninggalkan tempat itu.

798
"Hei, mau apa kau?" Hek-coa-li-liong segera menegur.
"Setelah mendengar perkataanmu tadi, mau tak mau kita
harus berangkat ke Lok-yang, namun aku pun tak bisa
meninggalkan dirimu begitu saja, karenanya terpaksa aku
harus membawa serta dirimu."
"Sekalipun hendak berangkat ke Lok-yang aku kan masih
punya sepasang kaki untuk berjalan sendiri," seru si nona
agak mendongkol.
"Ah, maaf, aku takut kau enggan mengikuti aku." Cepat
pemuda itu menurunkan tubuh si nona.
Setelah berdiri kembali, Hek-coa-li-liong mendongakkan
kepala dan memeriksa sekejap keadaan sekeliling tempat itu,
kemudian ia bertanya, "Tahukah kau kita berada dimana
sekarang?"
Bong Thian-gak melongo, lalu menggeleng kepala
berulang-kali.
"Tidak tahu."
"Tempat ini adalah Leng-juan di San-say, asal kita bisa
melewati perbukitan Tay-heng-san yang melintang, maka kita
sudah sampai di wilayah Ho-lam, berarti perjalanan dari sini
sampai Lok-yang paling hanya satu hari perjalanan."
"Wah, itu lebih baik lagi," kata Bong Thian-gak gembira.
Dengan suara hambar kembali Hek-coa-li-liong berkata, "Gi
Jian-cau adalah seorang licik, jahat, kejam dan berhati busuk.
Sejak puluhan tahun berselang, ia sudah bersekongkol dengan
Cong-kaucu. Di saat Put-gwa-cin-kau mulai meracuni umat
persilatan dan meneror umat manusia, racun jahat bikinan Gi
Jian-cau boleh dibilang merupakan pendukung utamanya."
Bong Thian-gak menghela napas sedih.
"Dari dulu sampai sekarang, selain Nabi, siapakah umat
manusia di dunia ini yang bisa luput dari kesalahan? Ai, bila ia

799
bersedia menggunakan kemampuannya membuat obat guna
menolong umat manusia, hal ini tentu akan lebih baik lagi."
"Jika Gi Jian-cau masih mempunyai jiwa yang baik dan
perasaan welas asih, sejak permulaan ia tak akan membuat
obat racun untuk mencelakai jiwa manusia."
Bong Thian-gak tahu gadis itu sudah telanjur mempunyai
kesan buruk terhadap Gi Jian-cau, oleh sebab itu dia pun tidak
mengajaknya berdebat lebih jauh, sambil mengalihkan pokok
pembicaraan ke masalah lain, tanyanya, "Hingga sekarang aku
masih belum mengetahui namamu, boleh aku tahu siapa
namamu?"
"Aku she Han bernama Siau-cing," sahut Hek-coa-li-liong
sambil tersenyum.
"Nona Han, luka pada lenganmu belum sembuh,
mampukah kau menempuh perjalanan malam?" Han Siau-cing
tertawa.
"Aku adalah seorang anak gadis, tidak mungkin aku
menyuruhmu menggendong diriku terus menerus."
Merah padam wajah Bong Thian-gak, cepat ia
menerangkan, "Aku tak bermaksud seperti itu. Bila kau lelah,
marilah kita beristirahat sejenak sebelum melanjutkan
perjalanan kita."
"Aku tidak lelah."
Maka berangkatlah Bong Thian-gak dan Han Siau-cing
melewati perbukitan Tay-heng-san, lalu melalui pesisir utara
sungai Huang-ho, menyeberangi sungai dan tiba di Beng-kim
selewat lohor.
Menjelang magrib, di sebuah kuil bobrok di luar kota Lokyang
di dusun Cho-keh-po, muncul sepasang muda-mudi
berlengan tunggal.

800
"Bong-siangkong, apakah kau tidak salah mencari tempat?"
tanya si gadis bermantel ular.
Si pemuda mengangkat kepala dan memandang sekejap
kuil bobrok itu, kemudian menjawab dengan suara dalam dan
berat, "Tak bakal salah, mari kita masuk untuk melihat!"
Dengan berjalan bersanding, mereka masuk ke kuil bobrok
itu.
Daun kering berserakan di halaman, rumput liar tumbuh
dimana-mana. Tampaknya kuil itu memang sudah lama
terbengkalai.
Apalagi setelah melangkah masuk ke dalam ruang tengah,
sarang laba-laba tampak memenuhi sudut ruangan, debu
menebal, meja altar dan segala peralatan rusak dan hancur,
tak mungkin ada orang yang berdiam di tempat itu.
Ketika angin lembut berhembus, lamat-lamat terendus bau
amis yang menusuk penciuman.
"Bong-siangkong apakah kau mengendus bau busuk
mayat?" tiba-tiba Han Siau-cing bertanya.
Paras pemuda itu berubah hebat, ia balik bertanya, "Bau
bangkai? bau ini adalah bau mayat yang membusuk."
Gadis berlengan tunggal alias Han Siau-cing segera
mengendus sekeliling tempat itu, kemudian bertanya lagi,
"Tampaknya bau busuk itu berasal dari gedung belakang di
sebelah barat laut."
Pemuda berlengan tunggal tak lain adalah Bong Thian-gak
segera menggerakkan tubuh meluncur ke gedung belakang.
"Bong-siangkong, tidak usah diperiksa lagi," Han Siau-cing
segera berseru.
Tapi Bong Thian-gak sama sekali tidak menghentikan
langkahnya, karena itu terpaksa si nona menyusul ke
belakang.

801
Waktu itu Bong Thian-gak sedang berdiri di depan pintu
sambil mengawasi ruang dalam dengan pandangan
mendelong dan wajah termangu-mangu.
Sambil menutup hidung, Han Siau-cing mendekati pemuda
itu serta menengok ke dalam.
Mayat-mayat berserakan di dalam gedung itu, bau busuk
yang amat menusuk tersebar luas, membuat orang hampir
muntah.
Bila dilihat dari rambut mayat-mayat itu, dandanan dan
pakaian yang dikenakan, agaknya semua mayat itu terdiri dari
kaum wanita.
Sambil menghela napas sedih Han Siau-cing berkata,
"Bong-siangkong, yang kukatakan tidak salah bukan, Gi Jiancau
memang seorang laknat."
Bong Thian-gak sama sekali tidak menjawab, dia beranjak
dan melangkah masuk ke ruangan itu, kemudian setelah
memeriksa sekejap semua mayat yang terkapar di situ, ia
keluar lagi dari ruangan sambil bergumam, "Semua yang
menjadi korban adalah anggota perempuan Hiat-kiam-bun dan
tak salah lagi, tapi ... mengapa tidak terlihat mayat Keng-tim
Suthay serta Gi Jian-cau."
"Sudah kau periksa apa yang menyebabkan kematian
mereka?" tanya Han Siau-cing tiba-tiba.
Dengan wajah berubah hebat, sahut Bong Thian-gak, "Aku
tidak menemukan satu titik luka pun di tubuh mayat itu."
"Nah, itulah dia!" Han Siau-cing kembali menghela napas.
"Mereka semua tentu mati diracun, jadi pembunuh kejinya
sudah pasti Gi Jian-cau."
"Nona Han," ujar Bong Thian-gak kemudian dengan wajah
serius. "Sebelum aku selesai dengan pemeriksaanku,
janganlah menuduh siapa pun dengan sembarangan."

802
Tiba-tiba Han Siau-cing tertawa terkekeh-kekeh, "Berada
dalam keadaan dan situasi semacam ini pun kau masih
menganggap Gi Jian-cau sebagai orang baik?"
Mendadak Bong Thian-gak membentak, "Siapa di situ?"
Sambil membentak, tubuhnya seperti seekor elang raksasa
segera melompat ke depan.
Reaksi Han Siau-cing jauh lebih lamban. Tatkala dia
menyusul ke halaman depan, Bong Thian-gak telah bentrok
satu gebrakan melawan pendatang itu dan sebagai akibat dari
bentrokan ini, sepasang bahunya terguncang keras,
langkahnya gontai dan selangkah demi selangkah ia sedang
mundur ke belakang.
Kemudian darah menyembur dari mulut Bong Thian-gak.
Sementara itu di hadapan Bong Thian-gak telah berdiri
seorang kakek berjenggot hitam yang menggunakan baju
berwarna hijau.
Ia menggembol sebilah pedang antik, rambutnya sudah
memutih, namun matanya yang memancarkan sinar tajam
sedang mengawasi anak muda itu tanpa berkedip.
Sambil membentak, Han Siau-cing bersiap hendak
menerjang ke depan, tapi Bong Thian-gak segera memegang
lengannya sembari berbisik, "Jangan bertindak gegabah nona
Han, ilmu silat yang dimiliki orang ini hebat sekali, kau tak
akan mampu membendung serangannya."
Tiba-tiba terdengar kakek berjenggot hitam itu bertanya
dengan suara nyaring, "Kau adalah Jian-ciat-suseng?"
Bong Thian-gak terkejut, bukan karena orang itu dapat
menyebut julukannya, tapi dikarenakan dalam bentrokan yang
berlangsung tadi, ia bisa merasakan kekuatan dan
kedahsyatan tenaga serangan kakek itu.

803
Sejak dia berlatih tekun selama tiga tahun di bawah air
terjun, Hong Thian-gak selalu menaruh kepercayaan yang
amat besar pada kemampuan ilmu silatnya, dia menganggap
tiada orang yang bisa mengungguli dirinya.
Tapi hari ini untuk pertama kalinya ia menderita kekalahan
di tangan orang.
Getaran tenaga pukulan yang dilancarkan kakek berjenggot
hitam tadi telah melukai isi perutnya serta mengguncang rasa
percayanya terhadap kemampuan sendiri.
Dengan perasaan agak tegang, gugup dan panik dia
menegur, muaranya terdengar agak gemetar, "Siapakah kau?"
Han Siau-cing sendiri pun tidak mengenal siapa gerangan
kakek berjenggot hitam yang berada di hadapannya sekarang.
Kakek berjenggot hitam itu sama sekali tidak menyebut
nama serta julukannya, hanya tanyanya lagi dengan suara
hambar, "Apakah kau murid Oh Ciong-hu?"
Bong Thian-gak tak mengerti mengapa ia mengajukan
pertanyaan itu, segera jawabnya, "Benar, aku adalah anak
muridnya."
Paras muka kakek itu berubah, katanya, "Kesempurnaan
tenaga dalam yang kau miliki benar-benar jauh mengungguli
kemampuan Oh Ciong-hu sendiri."
"Aku rasa kau tentunya sudah boleh menyebut identitasmu,
bukan?" kata Bong Thian-gak kemudian dengan kening
berkerut.
"Asal kau berani melancarkan sebuah serangan pedang lagi
kepadaku, aku bersedia menyebut nama serta julukanku,"
sahut si kakek hambar.
Bong Thian-gak melolos pedang dan siap melancarkan
serangan, katanya, "Aku bersedia melancarkan serangan
pedang lagi atas dirimu, namun perlu kujelaskan, serangan

804
pedangku ini bisa jadi merupakan akhir dari kehidupanku, tapi
mungkin juga merupakan titik hancur bagi kehidupanmu,
karena itu kuanjurkan lebih baik serangan kubatalkan saja."
"Bila kau tidak berani melancarkan serangan, aku akan
menyerang dirimu lebih dulu," ancam si kakek.
Sembari berkata, kakek itu pelan-pelan melolos pedang
antiknya, pedang itu sama sekali tidak memercikkan setitik
cahaya pun, juga tidak nampak mata pedang, karena pedang
itu tak lebih hanya sebilah pedang kayu, pedang kayu yang
sama sekali tumpul. Menyaksikan bentuk pedang itu, paras
muka Bong Thian-gak justru berubah semakin serius. Pedang
kayu sebagai senjata andalan, Bong Thian-gak tahu ilmu
pedang kakek itu sudah mencapai taraf kemampuan yang luar
biasa.
Berapa orang dalam Kangouw dewasa ini yang memiliki
ilmu pedang begitu sempurna?
"Ah! Kau adalah ketua Kay-pang," Bong Thian-gak menjerit
kaget.
Sebelum pemuda itu berbicara, pedang kayu yang berada
dalam genggaman kakek itu sudah menusuk ke arah dadanya.
Tusukan itu dilancarkan sangat lamban tapi sangat berat.
Sekilas serangan itu amat lamban, sama sekali tidak
mengandung hawa napsu pembunuh, tetapi Bong Thian-gak
justru menghadapinya dengan wajah serius dan tegang.
Dalam sekejap dia seakan-akan menghadapi bahaya
ancaman
maut.
Bentakan keras menggeledek di angkasa.
Kemudian berkumandang suara benturan yang
memekakkan telinga.

805
Pedang Bong Thian-gak berhasil memapas kutung pedang
kayu si kakek berjenggot hitam itu.
Sebaliknya pedang kayu si kakek juga berhasil mematahkan
pedang Bong Thian-gak.
Dalam pada itu Bong Thian-gak sudah berjumpalitan,
lengan tunggalnya masih menggenggam kutungan pedang,
sementara matanya mengawasi si kakek di hadapannya tanpa
berkedip.
Suasana tegang kembali menyelimuti seluruh arena.
Tiba-tiba terdengar kakek itu menghela napas sedih,
kemudian katanya, "Serangan pedangmu itu ternyata mampu
menembus hawa pedangku, ternyata kau pun berhasil melatih
hawa pedang yang maha sakti. Sungguh tak nyana, dengan
usiamu yang begitu muda, ternyata mampu melatih hawa
pedang yang hebat, betul-betul tak kuduga."
Cucuran darah berlinang dari ujung bibir Bong Thian-gak,
namun ia menjawab sambil tersenyum, "Bila Locianpwe
melancarkan serangan lagi kepadaku, niscaya Boanpwe tak
bakal lolos dari ancaman bahaya maut."
"Bila serangan yang pertama tak mampu membunuhmu,
hari ini aku tak akan melepaskan serangan kedua," ucap si
kakek hambar.
Kakek itu membuang kutungan pedangnya, kemudian
berkata, "Bila kau masih mampu, sekarang silakan
membunuhku."
"Locianpwe," kata Bong Thian-gak lantang, "sebetulnya di
antara kita sama sekali tak terikat dendam sakit hati apa pun,
mana berani Boanpwe menyerang dirimu lagi."
Bong Thian-gak pun membuang kutungan pedangnya,
kemudian melanjutkan, "Cuma Boanpwe ingin mencari tahu
beberapa hal, harap Iocianpwe sudi memberi penjelasan."

806
"Persoalan apa yang hendak kau ketahui?"
"Aku ingin tahu, sesungguhnya siapakah Locianpwe?"
"Ketua angkatan ketujuh Kay-pang, Mo-kiam-sin-kun Tio
Tian-seng."
Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka Tio Tian-seng
adalah ketua Kay-pang saat ini. Rahasia itu boleh dibilang
jarang di ketahui umat persilatan.
Bong Thian-gak berdiri tertegun dan melongo mendengar
jawaban itu.
Dengan wajah serius Tio Tian-seng bertanya lagi, "Apakah
kau masih ada pertanyaan lain? Ayo, cepat utarakan."
Bagaikan baru sadar dari impian, cepat Bong Thian-gak
bertanya, "Ada keperluan apa Locianpwe datang kemari?"
"Mencari si tabib sakti Gi Jian-cau untuk mengobati luka
yang diderita muridku, To Siau-hou."
"Apakah Locianpwe telah berhasil menemukan si tabib
sakti?" tanya Bong Thian-gak lagi.
"Belum."
Bong Thian-gak berkerut kening, lalu katanya, "Boanpwe
juga sedang mencari Gi Jian-cau, mungkin Locianpwe sudah
melihat mayat-mayat yang terkapar di ruang belakang itu!"
Tio Tian-seng mendengus, "Hm, pertanyaanmu sudah
selesai diutarakan, sekarang aku hendak pergi. Ingat pada
saat kita bersua lagi bisa jadi aku akan membunuhmu."
Seusai berkata, dia menggerakkan tubuh beranjak pergi
dari situ.
Belum sempat Bong Thian-gak memanggilnya, Tio Tianseng
sudah lenyap dari pandangan mata.

807
Keadaan Bong Thian-gak saat ini benar-benar bagaikan
berada dalam alam impian, dia seperti kurang percaya dengan
apa yang dialaminya barusan, dia tak percaya baru saja habis
bertarung melawan jagoan paling tangguh yang diakui umat
persilatan selama enam puluh tahun belakangan ini, Tio Tianseng.
Dia pun tak menyangka orang paling tangguh di kolong
langit dewasa ini, Tio Tian-seng tak lain adalah ketua Kaypang.
Han Siau-cing berseru kaget, "Jadi dia adalah Tio Tianseng?"
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, tentu saja dalam dunia persilatan dewasa ini, bukan
hanya Tio Tian-seng seorang yang mampu mematahkan
pedangku dengan hanya menggunakan sebilah pedang kayu."
"Dia termasuk juga utusan pelindung bunga Cong-kaucu?"
"Bong-siangkong, masih ingat dengan perkataanku tempo
hari tentang ketiga orang utusan pelindung bunga Cong-kaucu
yang misterius identitasnya?"
Paras muka Bong Thian-gak menjadi amat serius, katanya,
"Kecuali Gi Jian-cau serta Tio Tian-seng, siapakah orang
ketiga?"
"Agaknya orang ketiga bernama Hek-mo-ong (raja iblis
hitam)."
"Hek-mo-ong? Mana mungkin dalam Bu-lim terdapat
manusia dengan julukan itu?"
"Bong-siangkong," kata Han Siau-cing dengan nada
bersungguh-sungguh, "sebenarnya aku sendiri kurang
percaya, tapi bila teringat kata-kata terakhir seorang Bu-lim
Locianpwe yang sedang mendekati ajalnya, ucapan itu
memang sangat masuk akal."

808
"Bu-lim Locianpwe manakah yang berkata kepadamu? Apa
pula yang dia katakan?"
Han Siau-cing termenung dan berpikir beberapa saat
lamanya, .setelah itu baru ujarnya, "Orang itu adalah gurumu
... Oh Ciong-hu."
"Kau benar-benar telah berjumpa dengan guruku
menjelang ajalnya?" Bong Thian-gak berseru kaget.
Han Siau-cing manggut-manggut.
"Menjelang ajalnya, mendiang Bu-lim Bengcu Oh Ciong-hu
telah bicara banyak denganku."
"Dapatkah kau memberitahukan kepadaku semua kejadian
yang dialami Suhuku menjelang ajalnya?" pinta sang pemuda
cemas.
Han Siau-cing menghela napas sedih, katanya kemudian,
"Peristiwa ini berlangsung pada tiga tahun berselang, waktu
itu aku termasuk salah seorang di antara kawanan jago yang
diutus Cong-kaucu untuk mencelakai jiwa Bu-lim Bengcu Oh
Ciong-hu yang amat lihai itu."
Mencorong sinar tajam penuh hawa napsu membunuh dari
balik mata Bong Thian-gak, ditatapnya wajah Han Siau-cing
lekat-lekat, kemudian tanyanya dingin, "Apakah kau juga
termasuk salah seorang di antara pembunuh keji yang telah
mencelakai guruku?"
Sekali lagi Han Siau-cing menghela napas sedih.
"Justru karena aku tidak turut menyerang Oh-locianpwe,
maka Cong-kaucu menaruh curiga padaku serta menyekapku,
bila Siangkong tidak percaya, aku pun tidak dapat berbuat
apa-apa."
"Kalau begitu, tentunya kau masih ingat dengan jelas
bukan, siapa-siapa saja yang terlibat dalam peristiwa
keributan itu?"

809
Han Siau-cing termenung sambil berpikir sejenak,
kemudian ia baru berkata, "Coba kau dengar dulu cerita
peristiwa itu."
"Cepatlah kau ceritakan!"
Han Siau-cing menarik napas panjang, kemudian katanya,
"Tiga tahun berselang kami telah mengepung Oh-locianpwe di
sebuah tanah padang rumput, hampir segenap jago lihai yang
tergabung dalam Put-gwa-cin-kau telah dikerahkan ke sana,
maka terjadilah pertarungan berdarah yang sangat
mengerikan. Oh-locianpwe almarhum dengan kemampuan
seorang diri bertarung dan menerjang musuh dengan buas,
ketika pertarungan berakhir, beliau telah menghabisi nyawa
kedua ratus jago lihai Put-gwa-cin-kau tanpa ampun.
"Aku masih ingat ketika kujumpai Oh-locianpwe, waktu itu
ia sedang duduk bersila di bawah sebatang pohon waru, di
sampingnya berdiri seekor kuda berbulu emas.
"Belum sempat aku menghampiri Oh-locianpwe, beliau
yang semula memejamkan mata mendadak membuka mata,
kemudian setelah memandang sekejap ke arahku, ia pun
menegur sambil tertawa, 'Apakah kau orang yang datang
untuk memenggal batok kepalaku?'.
"Aku tertegun mendengar teguran itu, kemudian
menggeleng kepala dengan mulut tetap membungkam. Saat
itulah Oh-locianpwe dengan tertawa pedih berkata kembali,
'Aku sudah hampir mati, bila kau memang menginginkan
batok kepalaku, silakan mencabut pedang serta
memenggalnya, sebab aku tak punya bertenaga lagi untuk
memberikan perlawanan ... namun sebelum ajalku tiba, aku
ingin memberitahukan satu hal kepada kalian, yakni segenap
anggota Put-gwa-cin-kau, kecuali Cong-kaucu, pada akhirnya
akan mati dalam keadaan mengenaskan.'.
"Sewaktu mendengar keterangan itu, dengan cepat aku
pun bertanya, 'Mengapa?'.

810
"Tampaknya kejernihan otak Oh-locianpwe mulai kabur,
tapi aku mendengar ia berkata, 'Bila kau percaya, berusahalah
mencari daya-upaya melepaskan diri dari belenggu Put-gwacin-
kau secepatnya. Walaupun tatkala kalian memasuki
perkumpulan sudah dicekoki obat racun yang berdaya kerja
lambat, tapi aku beri tahukan kepadamu bahwa seseorang
masih bisa menyelamatkan jiwa kalian ... dia adalah Ku-lo
Sinceng dari Siau-lim-pay. Sewaktu kau bertemu beliau nanti,
katakan kepadanya ketiga orang pelindung bunga Cong-kaucu
yang misterius itu adalah tabib sakti Gi Jian-cau, Tio Tian-seng
dan Hek-mo-ong.'.
"Tatkala bicara sampai di situ, nada suaranya terputus,
ternyata Oh-locianpwe telah berpulang ke akhirat."
"Apakah kau sudah pergi menjumpai Ku-lo Sinceng?" tanya
Bong Thian-gak.kemudian dengan wajah amat serius.
"Belum," Han Siau-cing menggeleng. "Sebab tak lama
setelah Oh-locianpwe meninggal dunia, Siau Cu-beng beserta
segenap jagoan lihai Put-gwa-cin-kau telah berdatangan ke
situ, mereka mendesakku untuk memberitahukan apa yang
telah disampaikan Oh-locianpwe menjelang ajalnya tadi."
"Apakah kau telah berterus terang kepada mereka?" tanya
Bong Thian-gak cepat.
"Tidak, aku tak pernah mengucapkan sepatah kata pun
kepada mereka, justru karena itu Cong-kaucu segera menaruh
curiga kepadaku dan sejak itu pula aku dikurung olehnya di
loteng itu."
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, kalau menjelang ajalnya Suhu telah mengatakan bahwa
Gi Jian-cau, Tio Tian-seng serta Hek-mo-ong bertiga adalah
utusan pelindung bunga Cong-kaucu, aku rasa hal itu tak
bakal salah lagi... tapi peristiwa itu sungguh membuat orang
tidak habis mengerti. Ai, bila aku tidak menghilangkan
kantung ketiga yang telah disiapkan Ku-lo Sinceng tempo hari

811
dan membukanya sekarang, bisa jadi teka-teki itu dapat
dipecahkan."
Bong Thian-gak teringat bahwa Ku-lo Sinceng telah
menyerahkan tiga buah kantung kepadanya menjelang ajalnya
tempo hari, waktu yang ditetapkan untuk membuka kantung
yang terakhir ini tak lain adalah saat Tio Tian-seng
menampakkan diri.
Sekarang Tio Tian-seng telah menampakkan diri, namun
kantung ketiga itu telah hilang entah dimana?
Sementara itu Han Siau-cing menghela napas sedih seraya
berkata, "Sekarang Gi Jian-cau bersembunyi entah dimana,
tentu saja aku sudah tidak bisa menunggu dirinya lagi untuk
memperoleh pengobatan."
"Seandainya Gi Jian-cau benar-benar sudah berubah
pendirian, entah berapa banyak jago persilatan yang bakal
berkorban di dunia saat ini. Ai! Dari tumpukan mayat yang
tergeletak di sana, tampaknya mereka sudah mati belasan hari
lamanya, dari pakaian yang dikenakan mayat-mayat itu tidak
salah lagi mereka adalah anggota Hiat-kiam-bun, tapi
mengapa tidak kutemukan jenazah Keng-tim Suthay di antara
tumpukan mayat itu? Bukankah ini berarti terdapat setitik
harapan."
Bong Thian-gak segera menarik tangan Han Siau-cing
sambil katanya, "Mari kita melakukan pemeriksaan di tempat
lain!"
"Kita hendak pergi kemana lagi?" tanya Han Siau-cing tidak
habis mengerti.
"Tempat yang sebenarnya untuk membuat obat."
"Kalau begitu tempat ini bukan tempat pembuatan obat
yang sesungguhnya?" tanya Han Siau-cing terperanjat.
"Masalah pembuatan pil pengembali sukma oleh Gi Jian-cau
sesungguhnya menyangkut nasib segenap umat persilatan.

812
Sekalipun tempat ini sudah diserang musuh, tapi aku percaya
orang-orang Hiat-kiam-bun masih mempunyai cara lain untuk
memindahkan tabib sakti meninggalkan tempat ini."
Han Siau-cing tertegun, serunya, "Bong-siangkong, apakah
kau masih percaya bahwa Gi Jian-cau membuatkan pil
pengembali sukma untukmu?"
"Peristiwa ini belum mencapai jalan buntu, tentu saja masih
ada setitik harapan."
Mendadak Han Siau-cing berseru tertahan, air mukanya
segera berubah pucat-pias seperti mayat, sekujur badannya
ikut bergetar keras.
Bong Thian-gak terkejut, buru-buru ia bertanya, "Mengapa
kau? Apakah racun yang mengeram dalam tubuhmu mulai
kambuh?"
"Tidak," Han Siau-cing segera menggeleng.
Pada saat itulah segulung angin berhembus, Bong Thiangak
segera mengendus bau harum semerbak yang tipis, inilah
bau bunga anggrek yang amat dikenal olehnya, bau yang
bukan untuk pertama kali ini terendus olehnya.
"Ah! Rupanya dia telah datang!" Bong Thian-gak berseru
kaget.
"Bong-siangkong, kau cepat kabur," buru-buru Han Siaucing
berseru dengan gelisah. "Ia mengejar sampai di sini,
tujuannya adalah hendak membunuh aku, kau cepatlah lari!"
Tiba-tiba Bong Thian-gak tertawa, teriaknya, "Cong-kaucu,
kalau kau sudah datang, mengapa tidak segera menampakkan
diri?"
Baru selesai dia berkata, dari halaman gedung
berkumandang suara irama musik yang lembut, kemudian
nampak sebuah tandu besar yang megah dan mentereng

813
digotong oleh enam belas orang perempuan kekar pelan-pelan
muncul.
Di belakang tandu besar itu mengikut pula sekelompok
orang.
Rombongan itu berjumlah lebih kurang dua puluh orang,
tapi yang membuat Bong Thian-gak merasa terkejut adalah
turut hadirnya seorang perempuan cantik, seorang sastrawan
baju hijau serta seorang kakek baju hitam berlengan tunggal.
Han Siau-cing dapat melihat pula kehadiran ketiga orang
itu, ia segera berseru dengan suara gemetar, "Si-hun-mo-li, Jikaucu
serta Sim Tiong-kiu ... ah, habis sudah nyawa kita kali
ini!"
Bong Thian-gak juga merasa tegang, seram dan ketakutan
sehabis melihat rombongan itu.
Dalam gerakannya kali ini Put-gwa-cin-kau telah
mengerahkan segenap kekuatan inti terhebat yang mereka
miliki. Bagaimana pun juga dengan kekuatannya seorang diri
tak mungkin bisa melawan kawanan sebanyak itu.
"Kabur!"
Ingatan itu mendadak lewat dalam benak Bong Thian-gak.
Ia tak tahu, ingatan semacam itu apakah merupakan
pilihan yang bodoh atau cerdik.
Namun ia tahu, dia tak boleh mengalami nasib tragis
seperti apa yang dialaminya tiga tahun berselang.
Oleh sebab itulah Bong Thian-gak segera melarikan diri.
Ia meninggalkan Han Siau-cing begitu saja, melarikan diri
sendirian.
Dengan cepat bagaikan sambaran kilat, Bong Thian-gak
melejit ke lengah udara kemudian kabur menuju ke arah barat
daya.

814
Umpatan marah, sindiran sinis dan bentakan nyaring
dengan cepat bergema memenuhi angkasa.
Walaupun Bong Thian-gak dapat mendengar semua itu,
namun ia sama sekali tidak berpaling. Dengan mengerahkan
ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, pemuda itu
melarikan diri terbirit-birit.
Jeritan perempuan yang sangat mengerikan hati bergema
dari kejauhan, seperti teriakan Thay-kun pada tiga tahun
berselang.
Hancur luluh perasaan Bong Thian-gak waktu itu, ia merasa
betapa hinanya perbuatan yang dilakukan olehnya sekarang,
ia merasa dirinya adalah seorang pengecut yang tak berani
bertanggung-jawab.
"Mengapa aku harus kabur? Mengapa aku mesti melarikan
diri? Aku bukan seorang lelaki sejati, aku adalah seorang lelaki
pengecut yang takut mampus. Bong Thian-gak, wahai Bong
Thian-gak, dengan perbuatan yang memalukan ini,
mungkinkah kau masih bisa tampil di Kangouw?"
Seperti kelinci yang melarikan diri dari terkaman harimau,
Bong Thian-gak melarikan diri menembus hutan,
menyeberangi jurang.
Sepanjang jalan ia merasa sedih, menyesal dan mengutuk
diri sendiri.
Lalu ia berhenti secara tiba-tiba, duduk bersimpuh di atas
tanah dan menangis tersedu-sedu.
Matahari tenggelam di balik bukit, sinar keemas-emasan
masih menyinari padang rumput yang luas.
Saat itulah muncul seorang kakek baju hijau berjenggot
hitam dari ujung padang rumput sana.
Pelan-pelan ia berjalan menghampiri Bong Thian-gak dan
berhenti di hadapannya.

815
Bong Thian-gak mengangkat kepala, ia tersentak kaget dan
melompat bangun dari atas tanah.
Sekulum senyuman menghiasi bibir kakek berbaju hijau itu,
dia mengangguk pelan, lalu berkata, "Kau memang seorang
lelaki pintar yang pemberani, benar-benar hebat kau, lelaki
jempolan."
Bong Thian-gak tertunduk malu, mukanya merah seperti
babi panggang.
"Aku tahu, aku memang seorang pengecut, seorang lelaki
konyol," ia berbisik lirih, "Tio-locianpwe tak usah
menggodaku!"
"Orang yang berani melakukan perbuatan yang tak berani
dilakukan orang lain dan tak terpikir orang lain. Dia barulah
seorang laki-laki pintar yang pemberani, terus terang saja,
siapa di kolong langit ini yang berani mengambil keputusan
dan tindakan semacam kau? Apa salah kalau kukatakan kau
adalah lelaki pemberani yang pintar?"
"Kau ... kau maksudkan ... tindakanku melarikan diri tadi
adalah perbuatan seorang lelaki pemberani yang pintar?"
tanya Bong Thian-gak gugup.
Kakek itu manggut-manggut.
"Coba kau tidak kabur, sudah pasti kau akan menjadi lelaki
konyol dan mata gelap yang akibatnya ... hm, mati konyol!
Asal gunung tetap menghijau, masa takut kehabisan kayu
bakar? Yang penting memang kabur dulu."
Perasaan sedih, hina dan menyesal yang semula
menggeluti pikiran Bong Thian-gak kini terhapus dari
perasaannya, tapi ia belum bisa melenyapkan semua perasaan
sesalnya.
Kembali dia berkata, "Aku telah kabur meninggalkan
seorang gadis lemah begitu saja, cara dan tindakan yang
kulakukan ini bukan cara dan perbuatan seorang lelaki sejati."

816
Kakek tua tertawa hambar, "Barang siapa berani
mengkhianati Put-gwa-cin-kau, cepat atau lambat ia pasti
akan mati."
Tiba-tiba mencorong sinar aneh dari balik mata Bong
Thian-gak, di tatapnya kakek baju hijau itu lekat-lekat,
kemudian tanyanya, "Tio-locianpwe ada urusan apa kau
datang kemari?"
"Mengajak kau mengantarku menemui Gi Jian-cau."
"Parah sekali luka To Siau-hou?"
"Nyawanya sudah berada di ujung tanduk."
"Tio-pangcu," tiba-tiba Bong Thian-gak berkata, "ada suatu
hal ingin kutanyakan kepadamu."
"Soal apa? Cepat katakan."
"Aku dengar dewasa ini terdapat tiga orang Enghiong yang
disegani orang ternyata menjadi utusan pelindung bunga
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."
Paras muka kakek baju hijau itu segera berubah hebat,
dengan gugup ia bertanya, "Kau tahu siapakah ketiga orang
itu?"
"Tentu saja tahu."
"Apakah satu di antaranya adalah Gi Jian-cau?"
"Ya, termasuk juga Tio Tian-seng," sambung pemuda itu.
Paras muka kakek baju hijau itu segera berubah tak sedap
dipandang, cepat ia berseru, "Tahukah kau Tio Tian-seng
hanya berjanji tak akan mencampuri urusan dunia persilatan
selama sepuluh tahun?" Bong Thian-gak menggeleng.
"Bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya, aku
memang tidak terlalu jelas. Aku hanya tahu ada tiga tokoh
tangguh yang telah menjadi utusan pelindung bunga Congkaucu
Put-gwa-cin-kau."

817
Kakek baju hijau tertawa dingin.
"Tiga hari berselang, janji sepuluh tahun sudah habis batas
waktunya, sekarang aku sudah tidak terikat lagi dengan
dirinya."
"Bagaimana dengan Gi Jian-cau?"
"Gi Jian-cau pun ada ikatan janji sepuluh tahun
dengannya," jawab Tio Tian-seng hambar, "Tapi aku yakin
selamanya Cong-kaucu tak bakal melepas dirinya begitu saja."
"Apakah dia akan mencelakai jiwa Gi Jian-cau?"
"Bukan tabib sakti Gi Jian-cau saja, dia pun akan
mencelakai jiwaku."
Mendengar penjelasan itu, Bong Thian-gak tertawa
tergelak, "Siapa dewasa ini yang masih berkemampuan
membunuh dirimu."
Tio Tian-seng menghela napas sedih, kemudian baru ia
berkata, "Hek-mo-ong. Dia adalah satu-satunya lawan
tandingku."
"Siapakah Hek-mo-ong itu?" tanya Bong Thian-gak terkejut.
Tio Tian-seng menggeleng.
"Aku sendiri pun tak tahu siapa Hek-mo-ong, aku hanya
tahu orang ini bisa membunuh korbannya tanpa
menampakkan wujud aslinya, gerak-geriknya selalu rahasia
dan sesungguhnya dia otak di belakang layar yang menyetir
Put-gwa-cin-kau selama ini."
"Sesungguhnya Hek-mo-ong inilah yang menjadi pimpinan
besar Put-gwa-cin-kau, dialah dalang kekacauan dunia
persilatan."
”Tio-pangcu, bila kau tak menampik, seluruh anggota Hiatkiam-
bun bersedia bekerja sama dengan perkumpulan kalian
menentang kekuasaan dan kelaliman Put-gwa-cin-kau."

818
"Mengikuti perubahan situasi dan perkembangan persilatan,
antara Hiat-kiam-bun dengan Kay-pang memang tak mungkin
dapat dipisahkan lagi."
"Bagus kalau begitu, tetapkan dengan sepatah kata ini
saja."
"Masalahnya tak bisa ditunda-tunda lagi, ayo segera
antarkan aku menjumpai Gi Jian-cau."
Bong Thian-gak segera bangkit, kemudian ujarnya, "Tiopangcu,
harap ikuti diriku!"
Kuil Sam-cing-koan adalah kuil kaum Sam-cing yang
terletak di sebelah utara kota Lok-yang.
Kuil itu dibangun di kaki bukit, bangunannya megah dan
mentereng, tak ubahnya seperti istana.
Matahari sudah lama tenggelam, keremangan pun
menyelimuti
seantero jagat.
Dalam suasana seperti ini, tiba-tiba di depan pintu gerbang
kuil muncul seorang pemuda berlengan tunggal serta seorang
kakek baju hijau berjenggot hitam.
Pintu gerbang tertutup rapat, suasana dalam gedung pun
sunyi senyap tak terdengar sedikit suara pun.
Sambil mengepal tinju tangan kirinya, pemuda berlengan
tunggal itu mengetuk pintu gerbang tiga kali.
Mendadak pintu gerbang dibuka orang, empat orang Tosu
berbaju kuning segera muncul, sebilah pedang tersoreng di
punggung masing-masing, sementara orang yang berjalan
paling depan segera menyapu pandang sekejap wajah kedua
orang tamunya dengan sinar mata tajam.
"Sicu berdua hendak mencari siapa?" tegurnya.

819
Pemuda berlengan tunggal tersenyum, "Aku she Bong
bernama Thian-gak, ingin berjumpa Koancu kalian."
Sekilas perubahan aneh tampak menghiasi wajah Tosu
berbaju kuning itu, dengan cepat ia mengalihkan sorot
matanya dan mengamati sekujur badan pemuda itu dari atas
sampai ke bawah.
Kemudian baru berkata dengan dingin, "Jadi kau adalah
ketua Hiat kiam-bun Jian-ciat-suseng."
"Ya, memang aku," Bong Thian-gak tersenyum.
Tiba-tiba Tosu berbaju kuning itu menarik muka dan
menegur dengan serius, "Tolong tanya, sesungguhnya dalam
Hiat-kiam-bun berapa orang Jian-ciat-suseng?"
Pertanyaan ini segera menyentak hati Bong Thian-gak,
cepat ia menegur, "Totiang, tolong tanya apa maksudmu?"
Setelah tertawa dingin, sahut Tosu berbaju kuning itu,
"Terus terang aku beritahukan kepadamu, setengah jam
berselang telah datang Jian-ciat-suseng yang berkunjung
dalam kuil kami." Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak.
Paras muka Tio Tian-seng yang berada di sampingnya turut
berubah, sekali berkelebat ia sudah menerobos masuk ke
dalam.
Ternyata reaksi ketiga orang Tosu lain yang berjaga-jaga di
sisi pintu cukup cepat, serentak mereka melolos pedang
masing-masing, kemudian di antara kilatan cahaya tajam, tiga
bilah pedang berkelebat menghadang jalan pergi Tio Thian
Seng.
Agaknya Bong Thian-gak sendiri pun sudah merasakan
keadaan gawat dan seriusnya peristiwa ini, mendadak ia
mengayun telapak tangannya melancarkan pukulan ke arah
dada Tosu berbaju kuning itu.

820
Sesungguhnya Tosu berbaju kuning itu telah bersiap
menghadapi serangan, ia tak mengira serangan musuh
ternyata begitu cepat bagaikan sambaran kilat.
Tahu-tahu dadanya terasa sakit dan napasnya menjadi
sesak, tak sempat lagi mengeluh, peredaran darahnya telah
tersumbat dan ia pun roboh tak sadarkan diri.
Tiga orang Tosu yang mencoba menghadang jalan pergi
Tio Tian-seng juga telah dirobohkan semua dengan jalan
darah tertotok.
"Bong-laute, apakah Gi Jian-cau berada di dalam kuil ini?"
tanya Tio Tian-seng dengan suara dalam.
"Benar, dia berada di ruang peracikan obat."
"Sekarang sudah ada musuh yang menyaru sebagai dirimu
memasuki kuil, bisa jadi hendak mencelakai jiwa Gi Jian-cau."
Belum selesai ia berkata, dari arah kuil tiba-tiba
berkumandang suara genta yang dibunyikan bertalu-talu,
suaranya keras dan nyaring memenuhi seluruh bukit dan
menggetarkan angkasa. Berbareng dari balik gedung utama
yang megah serentak menyerbu puluhan Tosu berpedang
yang segera menuju ke arah pintu gerbang.
Bong Thian-gak mengerti, perkembangan saat ini telah
berubah gawat, kecuali dia masuk ke dalam kuil dan
menjumpai Sam-cing Koancu untuk menerangkan duduk
permasalahan yang sebenarnya, kalau tidak, pertumpahan
darah tentu akan berlangsung di situ.
Demi keselamatan Gi Jian-cau, Bong Thian-gak merasa tak
mampu lagi menghindarkan diri dari bentrokan dengan orangorang
Sam-cing-koan.
"Tio-pangcu!" dengan suara dalam ia berseru, "kita serbu
ke dalam, tapi kumohon kau jangan melukai jiwa mereka."

821
Bong Thian-gak segera melompat ke muka dan
menyongsong kedatangan kawanan Tosu itu.
Puluhan orang Tosu berbaju kuning itu seperti daun kering
yang terhembus angin kencang, begitu termakan pukulan Tio
Tian-seng dan Bong Thian-gak, segera berjatuhan ke lantai
dan roboh tak sadarkan diri.
Sementara itu Tio Tian-seng telah melompat ke atas atap
rumah, lalu dengan kecepatan luar biasa meluncur ke arah
gedung halaman kedua.
Dalam pada itu suara genta telah berkumandang di seluruh
kuil, bayangan orang berkelebat, kembali muncul
serombongan Tosu yang bersenjata lengkap dari balik gedung.
Bong Thian-gak langsung meluncur masuk ke dalam
gedung utama, kemudian dengan suara keras teriaknya,
"Totiang sekalian, harap dengarkan baik-baik. Aku adalah
Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak, ketua Hiat-kiam-bun. Aku
datang untuk berjumpa dengan Koancu kalian, harap kalian
jangan menghalangi jalanku, bawalah aku menjumpai ketua
kalian secepatnya!"
Namun kawanan Tosu itu sama sekali tidak menggubris,
diiringi hentakan keras, serentak mereka menyerbu ke arah
Bong Thian-gak sambil mengayunkan senjata!
Dalam keadaan begini, terpaksa Bong Thian-gak harus
memutar lengan tunggalnya, dimana angin pukulannya
menyambar, kawanan losu itu satu demi satu segera roboh
bergulingan.
Soal tenaga dalam, kemampuan Bong Thian-gak sudah
mencapai puncak kesempurnaan, berat-ringannya serangan
bisa dilancarkan sekehendak hati. Oleh sebab itu meski
kawanan Tosu itu terguling terkena serangan, mereka hanya
roboh dengan jalan darah tertotok, sama sekali tak
mempengaruhi keselamatan jiwa mereka.

822
Bong Thian-gak bergerak secepat hembusan angin, makin
bertarung makin mendesak ke depan, dalam waktu singkat ia
sudah memasuki halaman kelima.
Halaman kelima adalah lapangan tempat berkumpul dalam
kuil Sam-cing-koan.
Tatkala Bong Thian-gak menyerbu masuk ke dalam
lapangan itu, dengan cepat pemuda itu dibikin tertegun dan
berdiri termangu-mangu.
Ternyata empat penjuru sekeliling tanah lapang itu sudah
dipenuhi Tosu baju kuning dengan senjata terhunus, jumlah
mereka mencapai tiga ratusan orang.
Tio Tian-seng sedang terkepung, waktu itu ia sudah
menghunus sebilah pedang yang penuh berlepotan darah,
sedang di sekeliling arena terlihat ada tujuh kutungan lengan
berceceran, darah telah membuat tanah lapang itu menjadi
merah.
Dari sorot mata ketujuh Tosu yang cacat lengannya,
tampaknya mereka memiliki kepandaian silat sangat tinggi,
namun sekarang mereka duduk bersila di atas tanah dengan
wajah diliputi perasaan sedih, gusar dan penuh penderitaan.
Bong Thian-gak segera menerjang ke sisi Tio Tian-seng,
kemudian setelah menghela napas sedih, katanya, "Tiopangcu,
seranganmu kelewat berat!"
"Aku tidak menyangka dalam kuil Sam-cing-koan terdapat
tujuh orang jago pedang yang amat lihai, hampir saja aku
menderita kalah oleh kepungan barisan pedang Jit-sing-kiamtin
mereka," sahut Tio Tian-seng dingin.
Baru saja selesai berkata, dari balik rombongan di sebelah
timur sana tiba-tiba berjalan keluar Sam-cing Tosu yang
membawa Hud-tim (kebutan).
Di sisi kiri dan kanannya mengikut empat Tosu kecil yang
masing-masing membawa dua bilah pedang pendek.

823
Tosu itu berjalan dengan sangat lambat, selangkah demi
selangkah berjalan ke tengah arena.
Malam sudah menjelang tiba, kegelapan mencekam seluruh
jagat, Bong Thian-gak baru bisa melihat jelas paras muka
Tosu itu setelah berhadapan.
Tosu ini berjenggot hitam sepanjang dada, rambutnya
digulung dengan tusuk konde, sementara sepasang matanya
memancarkan sinar tajam bagaikan bintang timur.
Terutama sikap si Tosu yang begitu anggun dan
berwibawa, membuat setiap orang yang bertemu dengannya
segera akan muncul perasaan kagum dan hormat.
Setelah Bong Thian-gak melihat Tosu tadi, segera dia
menjura seraya berkata, "Aku Bong Thian-gak, tampaknya
saudara adalah Sam-cing Koancu."
Sementara itu Tosu berbaju kuning itu sudah menghentikan
langkahnya, tatkala sinar matanya dialihkan dari wajah Bong
Thian-gak ke wajah Tio Tian-seng, tiba-tiba saja paras
mukanya berubah hebat.
Paras muka Tio Tian-seng sendiri pun agak berubah
melihat wajah tosu itu, segera katanya, "Sungguh tak
kusangka Pat-kiam-hui-hiang (delapan pedang salju
beterbangan) Tan Sam-cing yang telah lenyap dari dunia
persilatan sejak empat puluh tahun berselang, ternyata sudah
menetap dalam kuil Sam-cing-koan di kota Lok-yang ini."
Mendengar nama Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing, hati
Bong Thian-gak bergetar, diam-diam ia berpikir, "Tan Samcing?
Bukankah dia adalah jago pedang Bu-tong-pay yang
amat termasyhur namanya pada empat puluh tahun
berselang?"
Konon kesempurnaan ilmu pedang yang dimiliki orang ini
luar biasa sekali sehingga disebut sebagai orang kedua

824
tertangguh dalam Bu-tong-pay setelah Thia Sam-hong, Cosu
pendiri Bu-tong-pay.
Empat puluh tahun lalu dalam Bu-lim terdapat empat orang
paling termasyhur. Mereka adalah Ku-lo Sinceng, Oh Ciong-hu,
Tio Tian-seng dan Tan Sam-cing.
Tosu berbaju kuning itu segera mengebas Hud-timnya
beberapa kali, kemudian sambil tertawa ringan katanya,
"Sebenarnya aku sedang ragu dan curiga, jagoan darimanakah
yang mampu melukai ketujuh muridku, tidak kusangka orang
itu adalah Tio Tian-seng."
Tiba-tiba suaranya menjadi berat, sambungnya, "Suatu
serangan vang bagus, serangan yang bagus sekali, nyatanya
pedang Tio Tian-seng masih kejam, buas dan tak mengenal
ampun."
"Tan Sam-cing," ujar Tio Tian-seng dingin, "seandainya kita
harus melangsungkan pertarungan, bisa jadi kita harus
bertarung selama tiga hari tiga malam sebelum bisa
ditentukan siapa lebih unggul di antara kita."
Paras muka Tan Sam-cing berubah amat serius, pelanpelan
ia berseru, "Kiam-tong, siapkan pertarungan!"
Serentak keempat Tosu yang berdiri di kiri kanan Tan Samcing
melolos pedang pendek, begitu pedang dilolos dari
sarungnya, delapan jalur sinar pedang yang tajam bagai
lapisan kabut segera menyelimuti angkasa.
Melihat itu, seru Bong Thian-gak, "Harap jangan
bertarung." Tan Sam-cing memandang Bong Thian-gak
sekejap, lalu tegurnya, "Siapa kau?"
"Aku bernama Bong Thian-gak, ketua Hiat-kiam-bun.
Berhubung Gi Jian-cau dan Keng-tim Suthay dari perguruan
kami pernah berpesan kepadaku, bahwa mereka meminjam
tempat dalam kuil kalian untuk membuat obat, maka aku
datang kemari untuk meninjau mereka."

825
Berubah hebat paras Tan Sam-cing, segera tegurnya,
"Dengan cara apakah kau bisa membuktikan kau adalah Jianciat-
suseng?"
"Tan-koancu," dengan cepat Bong Thian-gak berseru,
"sebenarnya apa yang telah terjadi di sini? Apakah ada musuh
yang telah mencatut namaku untuk mengunjungi kuil ini?"
"Sebelum kita bicara lebih jauh, alangkah baiknya bila kau
bisa membuktikan dulu identitasmu. Bila kau tak mampu,
berarti kau adalah manusia jahanam yang menyaru sebagai
Jian-ciat-suseng."
"Apa yang Koancu inginkan?"
"Keng-tim Suthay pernah menjelaskan wajah dan identitas
Jian-ciat-suseng kepadaku, tapi yang paling penting adalah
terdapatnya benda kepercayaan Hiat-kiam-bun yakni Pek-hiatkiam."
Berubah paras muka Bong Thian-gak, ia segera bertanya,
"Apakah sudah ada orang datang kemari dengan membawa
pedang Pek-hiat-kiam?"
"Bukan cuma membawa Pek-hiat-kiam saja, bahkan ia
mempunyai raut muka dan ciri yang sama dengan dirimu."
"Sekarang orang itu berada dimana?"
"Sudah pergi menjumpai Keng-tim Suthay."
"Aduh celaka," seru Bong Thian-gak dengan gelisah.
"Tolong tanya Keng-tim Suthay berada dimana sekarang?
Bagaimana kalau sekarang juga Koancu mengajakku pergi
menjumpainya."
"Boleh saja, asal kau sudah membuktikan kaulah Jian-ciatsuseng
yang sesungguhnya,"
"Setelah bertemu Keng-tim Suthay nanti, siapa yang asli
dan yang

826
palsu akan segera diketahui."
Tan Sam-cing tertawa dingin.
"Aku telah mendapat pesan wanti-wanti dari Keng-tim
Suthay bahwa pembuatan obat oleh si tabib sakti
mempengaruhi keselamatan |iwa banyak orang. Kejadian ini
amat penting dan tak boleh terjadi kesalahan sekecil apa pun,
tentu saja aku tak berani mengambil resiko."
Bong Thian-gak menjadi gelisah sehingga mendepakdepakkan
kaki berulang-kali, serunya, "Kini musuh tangguh
telah memasuki tempat pembuatan obat, bila keadaan seperti
ini dibiarkan berlangsung lerus, mungkin suatu peristiwa yang
sama sekali di luar dugaan bakal terjadi. Tan-koancu, bila kau
menganggap masalah pembuatan obat oleh Gi Jian-cau adalah
masalah besar, kau harus bertindak secepatnya."
Tio Tian-seng turut menimbrung pula, "Pokoknya jika Gi
Jian-cau sampai mengalami suatu musibah, jangan harap kau
Tan Sam-cing bisa berdiam terus di tempat ini."
Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing tertawa dingin, katanya,
"Kau lelah melukai tujuh orang muridku, hari ini kau pun
jangan harap bisa meninggalkan kuil Sam-cing-koan dalam
keadaan aman dan selamat."
Di antara sekian orang, Bong Thian-gak yang merasa paling
gelisah, cepat dia berseru lagi dengan lantang, "Dendam
permusuhan Locianpwe berdua lebih baik disingkirkan lebih
dulu, hal terpenting yang harus segera kita atasi sekarang
adalah menghalangi usaha kaum laknat untuk mencelakai Gi
Jian-cau."
Tan Sam-cing memandang sekejap ke arah Bong Thiangak,
kemudian ujarnya, "Tempat dimana si tabib sakti Gi Jiancau
mengolah obat adalah gua yang amat rahasia letaknya,
orang biasa tak mungkin bisa masuk ke dalam secara mudah,
apalagi di luar gua pun dijaga oleh banyak jago lihai. Bila

827
Keng-tim Suthay merasakan hal yang tidak beres, dia pasti
akan mengirim tanda rahasia kepadaku."
"Pinto justru kuatir kalian berdualah yang sesungguhnya
hendak mencelakai si tabib sakti, bila kuajak kalian memasuki
gua rahasia itu, tak bisa kubayangkan bagaimana akibatnya."
"Kalau begitu kau tak akan mengajak kami bertemu Gi Jiancau?"
tegur Tio Tian-seng dengan suara dingin. Tan Sam-cing
tertawa dingin pula.
"Aku akan mengajak kalian berjumpa dulu dengan Kengtim
Suthay."
"Hanya dia yang dapat membuktikan keaslian kalian."
"Harap Tan-koancu segera mengajak kami menjumpainya,"
seru Bong Thian-gak gelisah.
"Ayo ikut aku!" seru Tan Sam-cing kemudian sambil
mengebas Hud-tim yang berada di tangan kirinya.
Ia membalik badan, lalu berjalan menuju ke arah timur.
Keempat Tosu kecil yang mendampinginya, dengan delapan
bilah pedang masih terhunus segera mengikut di sekitar Tan
Sam-cing dengan kewaspadaan tinggi.
Setiap langkah kaki keempat Tosu kecil itu selalu berirama
dan menjaga jarak mereka dengan Tan Sam-cing, tidak terlalu
cepat juga tidak terlalu lambat, biarpun lima orang berjalan
bersama-sama, namun langkahnya bagaikan langkah satu
orang.
Bong Thian-gak dan To Tian-seng mengikut di
belakangnya, melihat cara keempat Tosu kecil dan Tan Samcing
berjalan, mereka dibuat terkejut, segera pikirnya, "Dari
cara mereka berjalan, tampaknya kepandaian silat yang
dimiliki keempat Tosu kecil ini sudah mencapai puncak
kesempurnaan, terutama dari langkah mereka yang seirama
dengan Tan Sam-cing, sudah jelas keempat Tosu kecil ini akan

828
menjadi pembantu utama Tan Sam-cing bila melancarkan
serangan nanti."
Sam-cing-koan adalah kompleks kuil yang amat luas,
gedungnya dibangun searah dengan tanah perbukitan.
Ketujuh orang itu menembus tiga gedung lagi sebelum
akhirnya tiba pada gedung kesembilan.
Sepanjang perjalanan Bong Thian-gak tiada hentinya
mengawasi sekeliling tempat itu, tak ada bayangan manusia,
agaknya segenap Tosu dalam kuil itu telah dihimpun
seluruhnya ke tanah lapang di depan gedung kelima.
Gedung yang kesembilan ini berbeda corak dengan delapan
gedung lainnya. Dari kejauhan gedung itu hanya dinding
melulu seputarnya tidak terdapat gedung tambahan ataupun
pintu keluar, mirip sebuah gedung manunggal yang berdiri
sendiri.
Tan Sam-cing serta keempat Tosu kecil menuju ke gedung
itu, tak tahan Bong Thian-gak bertanya, "Tan-koancu, apakah
Keng-tim Suthay sekalian berada di dalam gedung itu?"
"Benar," Tan Sam-cing mengangguk, "mereka memang
berada dalam gedung ini."
Sembari berkata, ketujuh orang itu menelusuri undakundakan
batu dan naik ke atas.
Setibanya pada undak-undakan terakhir, Bong Thian-gak
berdua baru dapat melihat gedung itu ternyata kosong.
Sebelum Bong Thian-gak mengajukan pertanyaan, Tan
Sam-cing telah menjelaskan lebih dahulu, "Di dalam gedung
terdapat gua besar yang tembus ruang bawah tanah, gua itu
terbagi menjadi sembilan buah lorong yang saling bersilangan
dalam perut bumi. Bila seseorang yang tidak mengenal jalan
masuk ke situ, mereka akan memasuki sebuah barisan yang
membingungkan dan jangan harap dapat keluar lagi dengan
selamat."

829
Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru, "Tunggu dulu, jangan
masuk."
"Ada apa?" tanya Tan Sam-cing seraya berpaling.
"Mengapa tak kulihat seorang pun dalam ruangan?"
Tan Sam-cing tertawa dingin.
"Sebelumnya kita telah melewati daerah terlarang,
bagaimana mungkin bisa bertemu orang?"
"Tan Sam-cing, kami akan menunggu di sini sampai kau
mengajak keng-tim Suthay keluar serta membuktikan
kebenaran identitas kami, sebelum kami memasuki gedung
rahasia dengan barisanmu itu."
"Tio-pangcu," kata Tan Sam-cing sambil tertawa dingin,
"bila kau takut masuk, lebih baik menunggu di luar saja atau
kau memang takut tak bisa keluar lagi dalam keadaan
selamat?"
Tio Tian-seng segera tertawa.
"Aku berani membunuh ketujuh orang muridmu, berarti aku
tak takut menghadapi balas dendammu."
"Empat puluh tahun berselang, meskipun Tio Tian-seng
adalah seorang raja iblis pembunuh manusia yang ditakuti
orang, namun Tan Sam-cing masih berani menantangmu
bertarung secara blak-blakan."
"Tapi kenyataan tempo hari kau menghindari tantanganku
untuk berduel," jengek Tio Tian-seng sambil tertawa dingin.
"Sepuluh tahun sudah cukup merubah segalanya, siapa
tahu justru kaulah yang akan menghindari tantanganku pada
hari ini."
"Kalau begitu, tunggu saja nanti!"
Tan Sam-cing segera memimpin keempat Tosu kecil
melanjutkan perjalanan memasuki gedung.

830
Di ujung gedung terdapat dinding bukit yang rata bagaikan
cermin, tiba-tiba Tan Sam-cing menarik sebuah gelang besi
tempat obor yang terdapat di dinding.
Diiringi suara keras, dinding batu yang datar itu mendadak
bergeser ke samping dan terbukalah sebuah pintu rahasia.
Dengan langkah cepat Tan Sam-cing dan keempat Tosu
kecil melangkah masuk.
Menyusul kemudian terdengar lagi suara gemuruh yang
sangat keras, dinding batu yang bergeser tadi kini sudah
menutup kembali.
Siapa pun tak menyangka kalau di atas dinding batu yang
licin bagaikan cermin itu sesungguhnya terdapat sebuah pintu
rahasia. Menyaksikan hal itu, Bong Thian-gak menghela napas
panjang, katanya, "Bila si tabib sakti memang mengolah obat
di tempat ini, maka tempat ini memang sebuah tempat yang
sangat aman."
Belum selesai ia berkata, tiba-tiba terdengar lagi suara
gemuruh pintu terbuka lagi dan Tan Sam-cing melompat
keluar dari pintu rahasia dengan wajah tegang.
Tergetar perasaan Bong Thian-gak, cepat ia menyongsong
sambil menegur, "Tan-locianpwe, apa yang telah terjadi?"
"Celaka, telah terjadi peristiwa besar," seru Tan Sam-cing
dengan wajah kaget bercampur gugup. "Murid-murid kami
yang bertugas melakukan penjagaan di dalam sana telah mati
dibunuh orang."
Mendengar itu, Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng serentak
menyelinap masuk ke dalam pintu rahasia.
Di balik pintu itu terdapat sebuah ruangan, di sana terdapat
pula perabot rumah tangga, belasan orang Tosu berbaju
kuning tampak roboh bergelimpangan di atas tanah dalam
keadaan mengenaskan.

831
Di ujung dinding batu terdapat sembilan buah lorong gua,
saat itu keempat Tosu kecil tadi dengan pedang terhunus
berjaga di depan mulut gua, sikap mereka amat serius
seakan-akan sedang menghadapi musuh besar.
Bong Thian-gak dapat merasakan betapa gawatnya situasi
waktu itu, maka kepada Tan Sam-cing yang ikut masuk ke
dalam ruangan, ia bertanya, "Tan-koancu, si tabib sakti
berada dimana?"
"Tempat dimana Gi Jian-cau mengolah obat terletak dalam
sebuah ruang rahasia di tengah kesembilan lorong itu, Kengtim
Suthay bersama beberapa orang jago lihai Hiat-kiam-bun
bersama-sama menjaga di situ."
Dalam pada itu Tio Tian-seng telah memeriksa setiap
mayat yang tergeletak di tempat itu, wajahnya nampak serius,
ia berdiri termangu sambil memutar otak memikirkan kejadian
yang sedang dihadapinya.
"Tio-pangcu, apa yang menyebabkan kematian orangorang
itu?" tanya Bong Thian-gak kemudian dengan suara
nyaring.
Sebelum Tio Tian-seng sempat menjawab, Tan Sam-cing
telah menjelaskan lebih dulu, "Mereka tewas oleh pukulan
tenaga dalam yang hebat dan sempurna, setiap serangan
tepat mengenai isi perut."
Tio Tian-seng seperti teringat akan sesuatu, ia segera
berseru tertahan, lalu membungkukkan badan dan merobek
pakaian bagian dada sesosok mayat.
Dengan cepat, ia menjerit kaget, "Ah, Hek-mo-ong!"
Dengan cepat Bong Thian-gak dan Tan Sam-cing memburu
ke sana, ternyata di atas dada Tosu itu terdapat sebuah cap
tengkorak berwarna hitam.
"Apakah lambang tengkorak hitam ini merupakan lambang
Hek-mo-ong?" tanya Bong Thian-gak keheranan.

832
Sewaktu Tan Sam-cing mendengar kata "Hek-mo-ong",
dengan cepat ia menghampiri sesosok mayat yang lain serta
merobek pakaian di bagian dada mereka.
Ternyata di dada mayat-mayat itu terdapat lambang
tengkorak hitam.
Paras muka Tio Tian-seng berubah menjadi tak sedap
dipandang, pelan-pelan ia berkata, "Tak salah lagi,
pembunuhnya adalah Hek-mo-ong, sebab setiap korban yang
dibunuh Hek-mo-ong, di dadanya selalu terdapat lambang
tengkorak hitam."
Setelah berhenti sejenak, kepada Tan Sam-cing ia
bertanya, "Hidung kerbau, menurut pendapatmu sudah
berapa lama mereka dibunuh?"
"Ai, kurang lebih satu jam berselang," kata Tan Sam-cing
sambil menghela napas sedih.
Tio Tian-seng menggeleng kepala berulang kali. "Tak
mungkin begitu lama."
"Lantas menurut pendapatmu mereka sudah tewas berapa
lama?"
"Paling lama setengah jam berselang, paling cepat
seperempat jam yang lalu."
"Pembunuhnya mungkin masih belum meninggalkan
tempat ini”seru Bong Thian-gak kemudian.
"Benar," Tio Tian-seng mengangguk. "Jelas orang itu belum
meninggalkan gua ini, bisa jadi si pembunuh masih berada
dalam lorong gua atau mungkin juga sedang mencelakai jiwa
Keng-tim Suthay dan tabib sakti."
Bong Thian-gak segera berkelebat ke depan dan menyerbu
ke dalam lorong gua.
"Bong-laute, jangan masuk dulu!" cepat Tio Tian-seng
berteriak.

833
Bong Thian-gak berhenti seraya berpaling, "Tio-pangcu,
bila kita tak segera menghalangi pembunuh itu, akibatnya
sukar dibayangkan."
"Pembunuh itu mempunyai kepandaian silat luar biasa, lagi
pula bersembunyi di dalam gua. Jika Bong-laute masuk ke
dalam secara sembrono, niscaya keselamatan jiwamu akan
terancam."
"Betul!" kata Tan Sam-cing pula. "Harap Bong-sicu jangan
masuk dulu, dalam gua ini hanya terdapat sebuah pintu
masuk, bila pembunuh itu belum pergi dari sini, ia tidak
mungkin muncul di tempat ini."
Tio Tian-seng segera menengok sekejap ke arah Tan Samcing,
lalu serunya, "He, hidung kerbau, sekarang kau baru
percaya kalau dia adalah ketua Hiat-kiam-bun?"
Tan Sam-cing menghela napas panjang.
"Ai, si pendatang itu bukan hanya membawa tanda
kepercayaan ketua Hiat-kiam-bun yakni Pek-hiat-kiam, dia pun
cacat lengan kiri dan pincang kaki kanannya, usia hampir
sebaya, cara bagaimana Pinto bisa membedakan kepalsuan
dirinya?"
"Apakah dia datang seorang diri?" tanya Tio Tian-seng lagi
dengan kening berkerut.
"Masih ada dua orang lagi, seorang gadis berusia dua puluh
tahun dan seorang kakek."
"Sudah kau lihat jelas paras kakek itu?"
Tan Sam-cing segera berseru tertahan, "Ah, sudah kulihat,
tapi sama sekali tiada gambaran dalam benakku."
"Dengan ketajaman mata Tan-koancu, masa kau begitu
cepat melupakan ciri wajahnya?"
"Sungguh aneh," Tan Sam-cing menggeleng kepala.
"Padahal bila seseorang pernah berjumpa denganku, maka

834
sepuluh tahun lagi pun aku masih dapat mengingatnya, tapi
sekarang aku sama sekali tak punya kesan apa pun tentang
dirinya."
Pada saat itulah dengan wajah kereng dan serius, Tio Tianseng
bertanya lagi, "Hei, hidung kerbau, sungguhkah kau tak
bisa mengingat muka kakek itu?"
Tan Sam-cing menggeleng kepala berulang kali.
"Aneh, betul-betul sangat aneh, rasanya orang itu
menggerakkan tubuhnya tiada henti waktu itu ... sehingga
paras mukanya tak dapat terlihat dengan jelas."
"Kalau begitu bisa jadi kakek itu adalah Hek-mo-ong," ucap
Tio Tian-seng kemudian dengan wajah serius.
"Hek-mo-ong? Rasanya Pinto juga pernah mendengar
nama itu."
"Kapan kau mendengar nama itu? Mendengarnya dari
siapa?"
"Sepuluh tahun lalu, Oh Ciong-hu pernah menyinggung
nama itu, dia pun menjelaskan kemisteriusan orang itu dan
perbuatannya yang sadis dan keji."
Tio Tian-seng menghela napas sedih.
"Ai, sayang sekali Oh Ciong-hu telah tewas, kalau tidak,
dialah yang paling jelas mengetahui asal-usul Hek-mo-ong.
Tan Sam-cing, apakah Oh Ciong-hu mengatakan kepadamu
siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya?"
"Sama sekali tidak."
Bong Thian-gak menimbrung dengan suara dalam,
"Seandainya
Hek-mo-ong dan sekalian pembunuh benar-benar masih
berada dalam gua ini, menunggu kedatangan mereka di
tempat ini rasanya bukan cara terbaik, entah Hek-mo-ong itu

835
seorang berkepala tiga berlengan enam atau bukan. Bila Tiopangcu
dan Koancu bersedia membantu, Boanpwe yakin
masih dapat menghadapi manusia laknat itu." Tio Tian-seng
segera mengangguk.
"Betul, dengan kekuatan kita bertiga, sekalipun ada dua
orang Hek-mo-ong yang tangguh pun jangan harap bisa unjuk
gigi, yang kukuatirkan sekarang adalah Tan-koancu."
Belum sempat ia mengutarakan kata-kata berikutnya, Tan
Sam-cing sudah mendengus dingin sembari menukas, "Hekmo-
ong telah membunuh belasan anggota kami, kau anggap
Pinto akan melepaskan begitu saja?"
"Tapi aku juga telah melukai ketujuh orang muridmu,"
sambung Tio Tian-seng.
Tan Sam-cing segera tertawa dingin, "Dendam sakit hati ini
pasti akan kutuntut balas, aku tahu Tio Tian-seng tentu
mengetahui hal ini dengan jelas."
"Yang kukuatirkan kau si hidung kerbau akan
memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk
membalas dendam. Bila hal itu sampai terjadi, hari ini aku
benar-benar akan keok di tempat ini."
"Aku pasti akan membunuh Hek-mo-ong lebih dahulu
sebelum mencari balas kepadamu," seru Tan Sam-cing sambil
tertawa dingin.
Mendengar pembicaraan yang berlangsung antara kedua
orang itu, Bong Thian-gak terkesiap, segera pikirnya,
"Tampaknya Tosu tua ini seorang licik yang banyak akal
muslihatnya, jelas dia bukan dari golongan lurus."
Berpikir sampai di sini, tiba-tiba Bong Thian-gak melompat
ke depan dan menerobos masuk ke dalam gua nomor lima
yang tepat berada di tengah.
"Bong-laute, tunggu dulu!" lekas Tio Tian-seng berseru
dengan gelisah.

836
Tanpa berpaling, Bong Thian-gak menyahut lantang,
"Harap Tio-pangcu berjaga-jaga di luar saja, jangan biarkan
pembunuh itu melarikan diri, masalah dalam lorong biar
kuhadapi seorang diri!"
Selesai berkata, Bong Thian-gak telah kabur ke dalam gua.
Suasana di dalam lorong gua gelap-gulita sehingga sukar
untuk melihat kelima jari tangan sendiri. Ketika Bong Thiangak
sudah masuk dan belum jauh, di hadapannya sudah
terbentur dinding batu, ternyata lorong itu berakhir sampai di
situ, sedangkan di sisi kiri kanannya masing-masing terdapat
lorong cabang yang entah berhubungan dengan mana,
sedangkan bagian tengah adalah dinding batu.
Waktu itu Bong Thian-gak sangat menguatirkan jiwa Kengtim
Buthay dan si tabib sakti, buru-buru dia berbelok menuju
ke arah lorong gua sebelah kanan.
Berjalan tak jauh pula, gua tadi terbagi lagi menjadi tiga
cabang, kali ini Bong Thian-gak dibuat termangu, tapi
kemudian dia memilih meneruskan perjalanannya dengan
menempuh gua sebelah tengah.
Kembali ia menempuh perjalanan, lorong pun terpecah lagi
menjadi empat cabang, ia memilih sebuah lorong di
antaranya.
Lorong bawah tanah yang gelap dan menyeramkan
menimbulkan perasaan ngeri bagi siapa pun, gua itu entah
berapa dalamnya dan masih terdapat berapa banyak cabang
lagi?
Setelah menempuh perjalanan sekian lama, Bong Thiangak
merasa dirinya tersesat. Setiap kali mencapai
persimpangan jalan, terpaksa ia mesti memilih satu di
antaranya untuk melanjutkan, tapi lelelah ditempuh dan
menyelusuri sekian waktu, dia merasa balik ke pinisi semula.

837
Hal itu segera menimbulkan perasaan menyesal di hati
kecilnya, ia teisesat. Kemanakah dia harus pergi mencari
Keng-tim Suthay serta si tulah sakti Gi Jian-cau?
Mendadak Bong Thian-gak seperti menangkap suara
langkah yang sangat lirih, suara itu datang menuju ke
arahnya.
Bong Thian-gak pura-pura tidak merasakan hal itu, dia
masih melanjutkan langkahnya setindak demi setindak ke arah
depan.
Siapa sangka suara langkah itu mengintilnya dan tiba-tiba
lenyap begitu saja.
Bong Thian-gak dibuat tertegun dan segera menghentikan
langkah lemhari berpaling.
la menangkap sesosok bayangan orang berbaju hitam yang
kecil ramping telah berdiri di belakang tubuhnya.
Lorong bawah tanah yang gelap gulita sudah barang tentu
tak memungkinkan baginya untuk melihat raut wajah lawan
secara jelas, tapi sorot mata lawan justru seperti dua titik
cahaya bintang yang sedang mengawasi dirinya tanpa
berkedip.
"Siapa kau?" Bong Thian-gak menegur.
Orang berbaju hitam itu tidak menjawab, tapi Bong Thiangak
dapat merasakan segulung angin pukulan berhawa dingin
menyergap dirinya secara diam-diam.
Bong Thian-gak segera membentak, telapak tangan kirinya
diayun ke muka sekuat tenaga, sementara tubuhnya
mengikuti gerak serangan itu bergeser ke samping.
Terasa ada senjata rahasia yang terbang melalui sisi
tubuhnya tanpa menimbulkan sedikit suara pun, senjata
rahasia itu akhirnya menerjang dinding gua hingga permukaan
dinding berguguran ke tanah.

838
Dengan terkejut Bong Thian-gak lantas berpikir, "Sungguh
berbahaya! Serangan senjata lawan sama sekali tidak
menimbulkan sedikit suara pun. Coba kalau aku tidak
menggeser ke samping, bukankah senjata rahasia itu akan
bersarang di tubuhku secara telak?"
Ketika ia mencoba mendongakkan kepala, orang berbaju
hitam itu nampaknya sudah berubah posisi.
Sekali lagi Bong Thian-gak membentak, "Siapa kau? Bila tak
mau bersuara, jangan salahkan bila aku berbuat kurangajar
kepadamu!"
Orang berbaju hitam itu masih juga belum bersuara, Bong
Thian-gak mengerahkan tenaga dalam secara diam-diam,
kemudian dengan cepat melepaskan sebuah pukulan yang
amat dahsyat ke depan.
Serangan itu dilepaskan dengan hebat, tatkala angin
serangan menderu, sesungguhnya kekuatan serangan sendiri
telah mencapai setengah tombak ke hadapan musuh, pada
hakikatnya sama sekali tidak memberi kesempatan kepada
lawan untuk menghindar.
Namun orang itu memang terhitung jago silat berilmu
tinggi, di saat angin serangan mulai menderu bagai amukan
angin puyuh, tahu-tahu orang itu telah bergeser.
Bong Thian-gak baru tahu, bisa jadi orang ini adalah salah
satu di antara ketiga pembunuh yang dimaksud Tan Sam-cing
tadi, karenanya dia menggerakkan tubuh dan mendesak maju
secara garang.
Lengan tunggalnya kembali diayun, telapak tangan yang
tajam bagaikan babatan mata golok langsung diayunkan
menghantam dada musuh.
Kecepatan serangan Bong Thian-gak sudah merajai
persilatan dan jarang sekali ada musuh yang mampu lolos.
Kenyataan biarpun kecepatan serangan Bong Thian-gak

839
sangat mengagumkan, ancaman itu cuma mengenai tempat
kosong.
Orang itu segera berkelebat, kali ini tangannya yang halus
mulus seakan-akan menggenggam benda yang secara
langsung dihujamkan ke arah dadanya.
Bong Thian-gak amat terperanjat, serangan musuh sangat
aneh dan hebat, rasanya mustahil untuk membendung
ancaman itu.
Bong Thian-gak berseru tertahan, dadanya seperti dicap
hingga roboh terjengkang ke belakang.
Tapi bersamaan pula Bong Thian-gak mengayunkan kaki
kanan melepaskan sebuah tendangan kilat ke depan, jeritan
kaget segera berkumandang, tubuh orang berbaju hitam yang
kecil mungil itu seketika tertendang oleh Bong Thian-gak
hingga mencelat ke belakang sana.
Begitu tubuhnya menumbuk dinding batu, segera roboh ke
tanah.
Dengan gerakan yang sangat cepat Bong Thian-gak melejit
dan menerjang ke arah orang itu.
Telapak tangan tunggalnya diputar dan mencengkeram
urat nadi lengan kiri lawan.
Dalam anggapan Bong Thian-gak, orang itu terkena
tendangannya hingga roboh terjengkang, berarti serangan
yang dilancarkan olehnya malah pasti berhasil membekuk
musuh.
Siapa tahu pada saat itulah, kakinya yang kecil mendadak
diayun ke muka dan menghantam tubuh Bong Thian-gak
hingga jatuh terejerembab ke sisi kanan.
Orang itu menghunus pisau belati yang bersinar tajam,
kemudian sambil melejit dari atas tanah menyergap Bong
Thian-gak.

840
Seketika timbul hawa membunuh Bong Thian-gak,
sebenarnya semua serangan yang dilancarkan cukup hati-hati,
sebab diketahuinya lawan adalah seorang wanita, dia enggan
melancarkan serangan ganas untuk menyakiti musuhnya itu.
Tapi setelah mengetahui betapa sukarnya menaklukkan
lawan, mau tak mau dia mesti mempersiapkan serangan yang
jauh lebih ganas dan buas, sebab ia tahu, bila tidak, hal itu tak
mungkin akan berhasil.
Sambil mendengus dingin Bong Thian-gak mengayun
telapak tangannya dan secara beruntun melancarkan tiga
serangan berantai.
Semua ancaman dilancarkan tanpa menimbulkan sedikit
suara pun, tapi justru serangan itu merupakan ancaman yang
dahsyat, dan mengerikan.
Perempuan berbaju hitam menjerit kesakitan, tubuhnya
mundur sempoyongan kemudian membalikkan badan dan
melarikan diri ke arah lorong gua.
"Kau anggap masih bisa melolos diri?" jengek Bong Thiangak
dengan suara dingin.
Dengan cepat ia melompat ke depan dan melakukan
pengejaran secara ketat.
Tapi hanya selisih satu langkah saja, perempuan berbaju
hitam itu sudah menyelinap ke balik sebuah cabang lorong
gua yang gelap dan menyembunyikan diri di balik kegelapan
sana.
Tak terlukiskan rasa dongkol Bong Thian-gak menghadapi
itu, sambil menggebrak tanah, dia mengumpat tiada hentinya,
"Pelacur busuk, akan kulihat kau bisa kabur sampai dimana?"
Lorong demi lorong segera diperiksa dan digeledahnya
secara seksama dan teliti.

841
Namun bukan saja ia tak berhasil mengejar gadis berbaju
hitam itu, ia pun gagal menemukan lorong menuju keluar,
pemuda itu tersesat dalam lorong rahasia yang
membingungkan itu.
Sudah hampir satu jam ia menelusuri lorong bawah tanah,
rasanya kaki sudah linu dan kaku, akhirnya setelah menghela
napas panjang ia duduk di atas tanah.
Sekarang baru timbul perasaan gugup bercampur ngeri
dalam hati pemuda itu.
Pikirnya, "Sekarang aku terkurung di sini, bila tiada orang
yang menolong, bukankah aku bakal mati kelaparan dalam
lorong sialan ini."
Tiba-tiba ia menangkap suara rintihan lirih berkumandang
dari depan, rintihan itu segera memutus lamunannya.
Serta-merta anak muda itu memeriksa dan memandang
sekeliling tempat itu.
Akhirnya ia lihat seseorang sedang duduk bersandar di
dinding gua, Bong Thian-gak segera menyilangkan telapak
tangannya untuk melindungi dada, lalu selangkah demi
selangkah menghampiri.
Dugaannya memang tidak meleset, dia adalah seorang
perempuan berbaju hitam.
Tiba-tiba perempuan berbaju hitam itu memuntahkan
darah segar, lalu dengan suara lirih ia berkata, "Jika kau
berani mendekat lagi, segera akan kulontarkan peluru api
Leng-hwe-tan."
Baru saja kata-kata itu selesai diutarakan, Bong Thian-gak
sudah mendesak ke muka, kelima jari tangannya bagaikan
cakar elang tahu-tahu sudah mencengkeram urat nadinya.
"Sayang sekali tindakanmu terlampau lambat," ia
menjengek sambil tertawa dingin, "lagi pula kau pun tidak

842
memiliki kekuatan lagi untuk menggerakkan jari-jari
tanganmu."
Memang benar perempuan berbaju hitam itu tidak memiliki
kekuatan lagi untuk menggerakkan jari-jari tangannya.
Urat nadi adalah alat penggerak peredaran darah, apabila
urat nudi dicengkeram, maka segenap kekuatan akan lenyap,
apalagi gadis itu memang pada dasarnya telah kehilangan
kekuatan untuk melakukan perlawanan.
"Siapa kau?" akhirnya perempuan itu menegur dengan
suara gemetar.
Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Aku justru ingin bertanya kepadamu, siapa kau?"
"Aku adalah Sam-buncu Hiat-kiam-bun," suara perempuan
itu masih gemetar.
"Hm, siapa yang mau percaya begitu saja?" jengek Bong
Thian-gak sambiI tertawa dingin.
"Kumohon padamu, bersediakah kau melepas
cengkeramanmu?"
"Boleh saja, asal kau bersedia juga menjawab
pertanyaanku secara terus terang."
"Apa yang hendak kau tanyakan? Cepatlah kau ajukan!"
"Sesungguhnya berapa banyak anggota komplotanmu yang
sudah menyelundup ke dalam lorong bawah tanah ini?"
"Komplotan? Komplotan apa?"
Bong Thian-gak kembali tertawa dingin.
"Komplotan Hek-mo-ong, komplotan yang berniat datang
kemari untuk membunuh si tabib sakti Gi Jian-cau."
"Ah!" perempuan itu berseru tertahan, lalu buru-buru
bertanya, "Siapa kau? Cepat katakan!"

843
"Aku adalah ketua Hiat-kiam-bun, Jian-ciat-suseng Bong
Thian-gak."
Baru selesai ia berkata, tiba-tiba Bong Thian-gak
merasakan datangnya segulung angin pukulan yang maha
dahsyat menyergap tiba dari arah belakang tanpa
menimbulkan suara.
Serta-merta Bong Thian-gak melepaskan cengkeraman
pada urat nadi tangan kanan perempuan itu, kemudian
dengan cekatan berkelit ke samping untuk menghindarkan
diri.
Suatu benturan keras segera berkumandang, menyusul
jeritan ngeri yang menyayat hati.
Ternyata angin pukulan yang amat keras dan dahsyat itu
persis menghajar tubuh perempuan berbaju hitam itu.
Di saat tubuhnya berkelit ke samping tadi, Bong Thian-gak
telah mengayunkan pula telapak tangannya dengan kecepatan
luar biasa.
Kembali menggema suara ledakan keras yang memekakkan
telinga, seseorang dengan tertawa licik yang dingin dan
menggidikkan segera berkelebat dan lenyap di balik kegelapan
sana.
Bong Thian-gak sama sekali tak menyangka serangannya
yang cepat ternyata gagal melukai musuh, dia siap menerjang
kembali, namun musuh telah kabur menyelamatkan diri.
Untuk beberapa saat lamanya Bong Thian-gak tertegun dan
berdiri termangu-mangu, kemudian ia membalikkan badan
memeriksa keadaan perempuan berbaju hitam itu. Siapa tahu
perempuan tadi sudah tergeletak lemas di atas tanah,
tergeletak dalam keadaan tak bernyawa.
Baru sekarang Bong Thian-gak mengerti, rupanya tujuan
serangan orang tadi adalah menghilangkan saksi hidup.

844
Memandang mayat yang tergeletak di hadapannya ini Bong
Thian-gak menghela napas sedih, gumamnya tanpa terasa,
"Bila arwahmu bisa tahu, sudah tentu kau tahu siapakah orang
yang telah membunuhmu, dia adalah rekanmu sendiri."
Bong Thian-gak masih menganggap perempuan berbaju
hitam itu adalah rekan Hek-mo-ong, ia masih ragu dia adalah
Sam-hubuncu Hiat-kiam-bun.
Lorong bawah tanah itu kembali dicekam suasana seram,
ngeri serta menggidikkan.
Bong Thian-gak mengerti di dalam lorong bawah tanah itu
masih tersembunyi beberapa orang musuh yang setiap saat
bisa melancarkan sergapan ke arahnya, oleh sebab itu ia
meningkatkan kewaspadaan nambil pelan-pelan bergerak
maju.
Mendadak Bong Thian-gak menangkap lagi suara langkah
yang bergerak mendekat dari sembilan penjuru yang berbeda.
Saat itu Bong Thian-gak sedang berdiri di tengah sembilan
buah persimpangan.
Dengan wajah serius dan memusatkan perhatian, matanya
yang dingin dan tajam mengawasi ke sekeliling tempat itu.
Terasa olehnya dari balik sembilan lorong gelap dan
mengerikan Itu masing-masing berdiri seorang, delapan belas
buah sorot mata yang tajam seperti api setan mengawasi
wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Dengan terkejut Bong Thian-gak berpikir, "Bukankah
menurut keterangan Tan Sam-cing dalam lorong bawah tanah
ini hanya terdapat liga orang musuh saja? Mengapa sekarang
ada begitu banyak?"
Ia pun mendehem beberapa kali, kemudian menegur, "Aku
adalah ketua Hiat-kiam-bun Bong Thian-gak, apakah sobat
bersembilan adalah anggota perguruan di bawah pimpinan
Tan-koancu dari kuil Sam-cing-koan?"

845
Dalam hati pemuda itu kembali berpikir, "Jangan-jangan
orang-orang ini dikirim Tan Sam-cing untuk mencari diriku
atau mungkin juga sedang mencari si pembunuh keji Hek-moong."
Baru selesai Bong Thian-gak berbicara, tiba-tiba ia
merasakan datangnya sembilan gulungan angin pukulan
dahsyat yang dilontarkan secara bersama-sama, deru angin
tajam yang memekakkan telinga segera menyapu datang
dengan dahsyatnya.
Bong Thian-gak dapat menangkap keanehan di balik deru
angin pukulan itu, ia tak berani berdiri di tengah arena
menyongsong datangnya ancaman, maka sambil bergeser ke
samping, pemuda itu langsung menerjang ke salah seorang di
depannya.
Tindakan yang diambilnya sekarang sungguh cerdas,
andaikata ia masih berdiri di tengah persimpangan jalan
menghadapi datangnya ancaman, betapa pun sempurnanya
tenaga dalam yang dimilikinya akan sulit baginya
membendung tenaga gabungan sembilan orang.
Dalam sekejap mata lorong itu sudah dipenuhi oleh suara
deru angin pukulan yang kencang, dahsyat dan mengerikan.
Desingan angin berpusing serta pantulan tenaga pukulan yang
menimbulkan suara benturan yang sangat memekakkan
telinga.
Bong Thian-gak menggerakkan lengan tunggalnya dan
bertarung sebanyak tiga-empat jurus dengan orang yang
berada di lorong itu.
Begitu bentrokan terjadi, Bong Thian-gak segera dapat
merasakan betapa lihainya ilmu silat yang dimiliki lawan,
semua serangan berantai yang dilepaskannya secara beruntun
berhasil dihindari lawan secara mudah.

846
Orang yang berada di dalam lorong rahasia itu cukup licik
dan cerdik, sambil menahan datangnya ancaman, dengan
cepat ia mundur.
"Siapa kau?" dengan suara lantang Bong Thian-gak segera
membentak. "Bila kau tak mengemukakan identitasmu, jangan
salahkan bila aku melancarkan serangan keji."
Bong Thian-gak menghimpun tenaga dalamnya enam
bagian, namun musuh tetap tak bersuara, malah membalikkan
badan dan kabur.
Habis sudah kesabaran Bong Thian-gak, dengan
menghimpun tenaga yang dahsyat ia melepaskan dua bacokan
kilat ke depan.
Angin pukulan meluncur ke depan, terdengar dengusan
tertahan dan orang yang melarikan diri itu jatuh terjengkang
ke atas tanab, tak bangun kembali untuk selamanya.
Bong Thian-gak menerkam ke depan lalu mencengkeram
urat nadi lawan, tapi denyut nadi orang sudah berhenti,
jiwanya telah kembali ke akhirat.
Seruan kaget bergema, agaknya dalam kegelapan itu Bong
Thian-gak relah menemukan orang itu tak lain adalah seorang
Tosu tua.
Siapakah mereka? Mungkinkah anak murid Tan Sam-cing?
Tapi mengapa mereka masih melancarkan serangan meski
sudah kusebutkan namaku?
Dengan terkesiap Bong Thian-gak berpikir, "Jika kesembilan
orang yang menyerang tadi adalah kawanan Tosu Sam-cingkoan,
berarti usahaku untuk lolos dari gua ini akan menjumpai
kesulitan besar."
Saat itu pikiran dan perasaan Bong Thian-gak sangat kalut,
ia tak habis mengerti orang yang berada dalam lorong rahasia
itu sebenarnya kawan atau lawan.

847
la menduga bisa jadi kesembilan Tosu yang menyerang
dirinya tadi adalah jago-jago lihai Sam-cing-koan yang
ditugaskan untuk melindungi si tabib sakti Gi Jian-cau
mengolah obat.
Mungkin saja mereka telah salah mengira dirinya sebagai
komplotan pembunuh Hek-mo-ong.
Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak pun merasa tekateki
yang semula menyelimuti perasaan kini telah memperoleh
jawaban yang benar, rasa menyesal karena membinasakan
seorang sahabat pun segera timbul dalam hati kecilnya.
Tanpa terasa ia membungkukkan badan dan memberi
hormat kepada jenazah itu, kemudian berdoa di hadapannya
bagi ketenteraman arwah Tosu tadi.
Suasana di lorong bawah tanah kembali tercekam dalam
kediaman, begitu sepinya hingga mirip kuburan.
Bong Thian-gak bersila di atas tanah dengan perasaan
tenang, ia mencoba mengatur napas dan sekali lagi terdengar
bergemanya suara langkah kaki dari balik lorong.
Suara langkah kaki itu seakan-akan bergema dari jauh,
suaranya sangat lirih dan lembut, jika ia tidak sedang
bersemedi tak nanti bisa menangkap suara itu.
Hong Thian-gak terkejut, tentu ada jago lihai yang
mempunyai Ilmu tinggi sedang bergerak mendekat, malah
bisa jadi orang itu adalah Hek mo-ong yang misterius.
Teringat pembunuh itu, Bong Thian-gak segera
memusatkan segenap kemampuan bersiap menghadapi segala
kemungkinan.
Bong Thian-gak tahu orang itu sudah memasuki lorong
bawah tanah dimana ia berada sekarang dan selangkah demi
selangkah sedang berjalan mendekat.

848
Mendadak orang itu menghentikan langkah, rupanya dia
pun sudah merasakan kehadiran seseorang di tempat itu. Ia
tahu Bong Thian-gak adalah seorang jago lihai berilmu tinggi,
semestinya ia sudah menangkap suara dengus napas dari
jauh, kenyataan ia baru mendengar setelah jarak sudah dekat.
Kedua belah pihak segera menghimpun tenaga dalam
masing-masing sambil menunggu kesempatan melancarkan
serangan kilat.
Tampaknya kedua orang itu sama-sama menunggu sampai
pihak lawan melancarkan serangan lebih dulu, tapi kedua
orang itu sama-sama enggan menyerang lebih dulu.
Semakin lama kedua belah pihak semakin tak berani
melancarkan serangan lebih dulu.
Pertarungan jago-jago yang berilmu tinggi seringkah
menang-kalah hanya ditentukan oleh selisih yang kecil sekali,
apalagi bila kedua belah pihak sudah tahu musuh menghadapi
serangan dengan ketenangan, maka barang siapa berani
melancarkan serangan lebih dulu, enam puluh persen dia
berada dalam posisi kalah.
Itulah sebabnya terpaksa kedua belah pihak saling
menunggu.
Pada saat itulah mendadak Bong Thian-gak merasakan
tibanya rombongan lain yang berjalan mendekat dari belakang
tubuh orang itu.
Agaknya orang itu pun sudah merasakan hal itu.
Dengan demikian posisi menjadi sangat tidak
menguntungkan bagi orang itu.
Bong Thian-gak yang melihat keadaan itu berpikir dalam
hatinya, "Kemungkinan besar orang yang sedang bergerak
mendekat itu adalah delapan orang Tosu yang menyergapku
tadi, jika orang di depanku sekarang adalah Hek-mo-ong,

849
maka dia tentu akan membalikkan badan menyerang kawanan
Tosu yang mendekat itu."
Suasana dalam arena makin bertambah tegang, kini
kawanan Tosu yang menghampiri tempat itu sudah semakin
mendekat.
Mendadak pertarungan berkobar dengan cepat.
Ternyata orang itu membalikkan badan sambil melompat ke
depan.
Bong Thian-gak membentak, tubuhnya melayang
menyergap orang misterius itu.
Terjangan Bong Thian-gak pada hakikatnya dilakukan
dengan tepat dan garang.
Tapi kawanan musuh yang menerjang dari belakang tubuh
orang misterius itu tiba lebih cepat.
Di tengah kegelapan terdengar suara bentrokan demi
bentrokan berkumandang tiada hentinya.
Lalu sesosok demi sesosok orang mencelat ke belakang
sambil mendengus dan mengeluh kesakitan, satu demi satu
roboh terkapar.
Telapak tangan kanan Bong Thian-gak secepat sambaran
kilat langsung menyodok ke dada orang misterius itu.
Orang misterius itu tak berani menyongsong datangnya
ancaman Bung Thian-gak dengan kekerasan, dia bergeser
mundur tapi di belakang tubuhnya sudah dinding batu,
padahal babatan maut Bong Thian-gak telah meluncur datang.
Jalan mundur sudah tetutup, terpaksa orang misterius itu
harus menggerakkan sepasang lengannya membendung
datangnya ancaman tadi.
Siapa sangka gerak serangan yang dilancarkan Bong Thiangak
aneh sekali, gerak serangannya tiba-tiba menyelinap ke

850
samping dan berubah menjadi sodokan kepalan yang
langsung meninju jalan darah Mu hay-hiat di lambung musuh.
Biarpun Bong Thian-gak dapat merubah serangannya
dengan tepat, namun reaksi orang misterius itu pun cukup
cepat, kaki kanannya segera diangkat ke atas.
Sodokan tinju yang dilancarkan Bong Thian-gak
menghantam lutut lawan.
Akibatnya orang misterius itu roboh ke sisi kanan.
Bong Thian-gak membentak, sekali lagi telapak tangan
kirinya melancarkan sebuah bacokan.
Serangan yang dilancarkan BongThian-gak kali ini
menggunakan tenaga dalam delapan bagian. Selain cepat,
serangan itu pun ganas, kecuali pihak lawan menyambut
ancaman itu dengan kekerasan, tiada cara lain yang bisa
dipakai untuk meloloskan diri dari ancaman itu. Telapak
tangan kembali saling beradu.
Bong Thian-gak segera merasa hawa darah dalam dada
bergolak, ia mundur dan hampir saja roboh terjengkang.
Sejak terjun ke dalam persilatan, baru pertama kali ini Bong
Thian-gak menjumpai lawan yang memiliki tenaga dalam lebih
tangguh dari kemampuannya. Dari bentrokan itu ia merasa isi
perutnya menderita sedikit luka.
Tampaknya orang misterius itu pun dibuat tergetar keras
dadanya hingga darah bergolak, lama sekali ia berdiri
mengatur pernapasan, kemudian dengan suara berat berkata.
"Hai, seandainya berganti orang lain, mungkin aku sudah mati
di ujung tangan Bong-laute sejak tadi."
"Ah, kau adalah Tio-pangcu?" seru Bong Thian-gak kaget.
"Ya, memang aku."

851
Bong Thian-gak segera melompat bangun sambil berseru,
"Harap Tio-pangcu sudi memaafkan, Boanpwe tidak tahu kau
orang tua yang sedang kuhadapi."
"Siapa pun dalam lorong bawah tanah yang gelap ini, tak
akan terhindar dari kesalah-pahaman, karena kita tidak bisa
membedakan kawan dan lawan bukan?"
"Tio-pangcu, tahukah kau siapa saja yang telah kau
bunuh?" tanya Bong Thian-gak sambil menghela napas.
"Para anggota kuil Sam-cing-koan."
Jawaban itu kembali membuat Bong Thian-gak tertegun.
"Kalau Tio-pangcu sudah mengetahui identitas mereka,
mengapa menghabisi nyawa mereka."
"Mereka sudah berulang kali menyergap diriku, sekarang
sudah berubah jadi musuhku. Apakah kita mesti berpeluk
tangan menunggu datangnya kematian?"
"Sudah berapa lama Tio-pangcu datang kemari?"
"Sesaat setelah kau masuk, aku pun segera menerobos
masuk ke lorong lain,"
"Apakah Tio-pangcu telah berjumpa dengan kawanan
pembunuh Hek-mo-ong?"
"Aku sudah menjumpai banyak penyergap," sahut Tio
Tiang-seng dengan suara dalam, "tapi semuanya adalah kaum
Tosu, sekarang aku mulai curiga."
"Apakah yang Tio-pangcu curigai?"
"Aku curiga Tan Sam-cing telah berbohong."
"Apa yang dia bohongkan?"
"Sudah kau jumpai Hek-mo-ong dalam lorong gua ini?"

852
"Aku cuma bertemu seorang perempuan berbaju hitam,
agaknya dialah salah seorang wanita pembunuh seperti yang
dilukiskan oleh Tan-koancu."
"Coba kau terangkan duduk persoalannya kepadaku."
Secara ringkas Bong Thian-gak menceritakan
pengalamannya sejak berjumpa perempuan berbaju hitam itu.
Seusai mendengar penuturan itu, Tio Tian-seng menghela
napas, katanya, "Bisa jadi orang yang ditemui Bong-laute
adalah Sam-hubuncu perguruanmu."
"Apa maksudmu?" tanya Bong Thian-gak dengan terkejut.
Tio Tian-seng termenung sambil berpikir, kemudian
sahutnya, "Seandainya dalam lorong ini benar-benar terdapat
Hek-mo-ong dan komplotannya sebagai pembunuh, maka
Sam-hubuncu perguruanmu pasti mengetahui, tatkala ia
mendengar kau menyinggung Hek-mo-ong, sikapnya justru
menunjukkan asing dan tidak tahu-menahu."
"Tio-pangcu tidak yakin Hek-mo-ong ada dalam lorong ini?"
tanya Hong Thian-gak lagi dengan terkejut.
"Soal ini aku sendiri tidak berani memastikan, tapi aku
merasa Tan sam-cing mempunyai niat jahat."
"Jadi menurut Tio-pangcu, kawanan penyerang ini adalah
pembunuh yang dikirim Tan Sam-cing untuk menghabisi
nyawa kita?"
"Jika Tan Sam-cing tak bermaksud berbuat demikian,
seharusnya dia sudah masuk lorong gua serta mengajak kita
keluar dari sini!"
"Tapi apa salahnya jika dia tetap berjaga-jaga di luar?
Bukankah maksudnya hendak menghalangi Hek-mo-ong
sekalian meloloskan diri dari sini?"

853
"Bukankah Tio-pangcu telah membuktikan bahwa para
korban yang tewas di luar gedung itu akibat pukulan
tengkorak Hek-mo-ong."
"Sekarang kita berada dalam keadaan berbahaya, aku
curiga Tan Sam-cing sekomplotan dengan Hek-mo-ong."
Bong Thian-gak semakin terperanjat, serunya kemudian,
"Bila apa yang kau katakan memang benar, bukankah
keadaan Gi Jian-cau serta Keng-tim Suthay terancam bahaya?"
"Kemungkinan besar Gi Jian-cau belum mampus. Sekalipun
Hek-mo-ong berhasil menemukannya, belum tentu terbunuh
di tangannya, namun selain si tabib sakti seorang, sudah tentu
musuh tak segan turun tangan keji terhadap mereka."
Semakin mendengar Bong Thian-gak semakin terperanjat,
dia bertanya, "Sekarang apa yang mesti kita lakukan?"
"Tentu saja harus mencari akal agar bisa mengundurkan
diri dari tempat ini."
"Aku telah menelusuri lorong bawah tanah, namun sampai
sekarang masih belum juga berhasil menemukan pintu
keluarnya."
"Sewaktu aku masuk tadi, sepanjang jalan telah kutinggali
tanda rahasia. Ayo, Bong-laute, ikuti diriku!"
Bong Thian-gak merasa kagum atas kecerdasan Tio Tianseng,
katanya, "Untung aku bertemu Tio-pangcu, kalau tidak,
bisa jadi selama hidup aku tak akan berhasil meninggalkan
tempat ini."
"Bisa jadi kita akan menghadapi sergapan yang
membahayakan jiwa kita, dalam menempuh perjalanan nanti
paling baik jangan sampai menimbulkan sedikit suara pun."
"Baik," sahut Bong Thian-gak sambil mengangguk.
Kembali Tio Tian-seng berpesan, "Seandainya kita
mendapat sergapan musuh tangguh, jangan sekali-kali kau

854
meninggalkan aku terlampau jauh, apabila sampai kehilangan
kontak, aku mesti membuang banyak waktu mencari jejakmu,
bila sampai kita berpisah misalnya, paling baik jika kau
menanti kedatanganku di tempat semula."
Sambil bicara, Tio Tian-seng sudah melangkah, sementara
Bong Thian-gak mengikut di belakangnya.
Mendadak Tio Tian-seng menghentikan langkahnya.
Bong Thian-gak pun menghentikan langkah, didengarnya
suara peringatan Tio Tian-seng yang dikirim dengan
mempergunakan ilmu menyampaikan suara, "Kini musuh
tangguh telah menampakkan diri, bisa jadi orang itu adalah
Hek-mo-ong, hati-hatilah!"
Bong Thian-gak mengangkat kepala serta mengalihkan
pandangan ke arah lorong yang gelap gulita, tampak olehnya
seseorang berdiri angker di situ.
Sinar mata tajam mencorong dari balik matanya, agaknya
tenaga dalam orang itu sudah mencapai tingkat
kesempurnaan.
"Mungkin orang itu adalah Hek-mo-ong?" tanya Bong
Thian-gak kemudian dengan ilmu menyampaikan suara.
"Rasa-rasanya mirip Hek-mo-ong," jawab Tio Tian-seng
agak tegang. "Sayang kita bertemu di lorong bawah tanah,
mustahil buat aku menggunakan pedang. Wah ... celaka! Aku
bisa dipaksanya berada di bawah angin."
Mendengar suara berat yang terpancar keluar dari mulut
Tio Tian-seng, kata Bong Thian-gak, "Mengapa kita tidak
bekerja sama?"
"Kepandaian silat Hek-mo-ong yang paling hebat adalah
pukulan tengkorak penggempur hati. Di kolong langit dewasa
ini masih belum ada seorang pun yang sanggup menghindari
serangan jarak dekatnya, oleh sebab itu bila bertempur
melawannya, bagaimana pun juga jangan memberi

855
kesempatan kepadanya untuk mendekati kita, karena begitu
ilmu pukulan tengkorak penggempur hati dilontarkan, tiada
orang yang bisa membendungnya, sebab itu kuanjurkan
kepadamu janganlah bertarung kelewat emosi melawannya."
"Sekarang bisa jadi dia belum mengetahui kehadiranmu di
belakangku, maka aku ingin mempraktekkan taktik
perlawanan yang amat jitu. Di saat kulancarkan pukulan,
bergeserlah kau ke sisi kiri, lalu dengan menempatkan diri ke
posisi belakang, lepaskanlah sebuah serangan yang paling
dahsyat ke arahnya ...."
Belum habis ucapan Tio Tian-seng, bayangan iblis di
hadapannya sudah bergerak mendekat.
Orang itu baru saja bergerak, namun tahu-tahu sudah
berada di hadapannya.
Tio Tian-seng segera membentak, telapak tangannya
diayunkan bersama, dua gulungan angin pukulan yang sangat
dahsyat serta-merta menggulung ke muka dengan
dahsyatnya.
Bersamaan waktunya, Tio Tian-seng segera bergeser ke sisi
kiri.
Sementara itu Bong Thian-gak seperti sukma gentayangan
telah meluncur ke muka serta menggantikan kedudukan Tio
Tian-seng, segulung angin pukulan yang sangat dahsyat
segera dilontarkan ke depan.
Sungguh tak nyana kepandaian silat iblis itu sangat luar
biasa, tatkala kedua gulung angin pukulan dahsyat Tio Tianseng
membentur tubuhnya, dia segera mengebaskan tangan
kirinya serta memunahkan ancaman itu.
Bersamaan waktunya, secepat sambaran kilat dia
mendesak maju.
Tapi serangan kilat yang dilepaskan Bong Thian-gak benarbenar
di luar dugaannya.

856
Dalam gugup dan cemasnya, orang itu segera melepaskan
sebuah serangan lagi dari jarak dekat.
Tio Tian-seng dapat menyaksikan jalannya pertarungan
dengan jelas, ia segera membentak, pedang yang digembol di
punggungnya segera dilolos, lalu ia lepaskan sebuah tusukan
kilat ke muka.
"Trang", bentrokan keras bergema disusul munculnya
percikan bunga api.
Iblis itu mendengus tertahan, badannya terhajar oleh Bong
Thian-gak hingga mencelat ke belakang.
"Hendak kabur kemana kau?" jengek Bong Thian-gak
sambil tertawa dingin.
Dia mengejar ke depan dan persis menghadang di depan
iblis itu. Lengan tunggal Bong Thian-gak segera melancarkan
serangkaian serangan.
Angin pukulan yang dahsyat dan kencang, bagaikan
sayatan pedang mendesak iblis itu mundur ke arah dinding
gua.
Pada saat itulah Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng dari
kiri kanan pelan-pelan mendesak maju.
Pedang dalam genggaman Tio Tian-seng nampak
memancarkan cahaya di balik kegelapan, setitik cahaya
bagaikan sinar kunang-kunang dalam pandangan Bong Thiangak
berubah bagai cahaya yang terang benderang.
Sekarang mereka sudah dapat melihat dengan jelas iblis
itu, ternyata seorang berkerudung berbaju hitam, tangan
kanannya nampak menggunakan sarung tangan, berbentuk
tengkorak manusia berwarna putih.
Tio Tian-seng menghentikan langkah di hadapan orang itu,
kemudian sambil tertawa dingin ia bertanya, "Kau adalah anak
buah Hek-mo-ong?"

857
Iblis itu tidak menjawab, hanya matanya memancarkan
bayangan aneh mengawasi Bong Thian-gak di sisi kiri dengan
tak berkedip.
"Hek-mo-ong sudah datang belum?" bentak Tio Tian-seng
lagi.
Kali ini iblis itu menjawab, namun suaranya amat
menggidikkan, "Suatu saat kalian pasti akan mampus di
tangan Hek-mo-ong."
Selesai berkata, tiba-tiba tubuhnya roboh terjengkang.
Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng tertegun menghadapi
situasi demikian, untuk sesaat mereka tak tahu apa yang akan
dilakukan.
Mendadak Tio Tian-seng menggerakkan pedang melepas
sebuah tusukan ke depan.
Iblis itu sama sekali tak menghindar, pedang langsung
menembus dadanya.
"Ah, dia telah mampus!" seru Bong Thian-gak tertegun.
Setelah pedangnya menembus dada orang itu, Tio Tianseng
turut mendesak maju, dengan cepat tangannya
menyingkap kain kerudung yang menutupi wajahnya.
Noda darah masih meleleh dari bibirnya.
Tio Tian-seng adalah seorang jago silat kawakan,
menyaksikan hal ini segera ia menghela napas, katanya,
"Serangan Bong-laute benar-benar tajam dan dahsyat, isi
perutnya telah kau pukul hancur."
"Ai, nyatanya orang itu masih sanggup bertahan sekian
lama setelah menerima pukulanku sebelum mampus.
Kehebatan ilmu silatnya benar-benar sangat mengerikan!"
"Mungkin orang ini adalah pembantu utama Hek-mo-ong,"
kata Tio Tian-seng lagi sambil menghela napas. "Ai,

858
seandainya bukan serangan mendadak Bong-laute yang
dilancarkan di luar dugaannya, bukan pekerjaan mudah
membinasakan dirinya."
"Ai, tadinya aku merasa Tio-pangcu terlalu mengada-ada
setelah kau melukiskan betapa hebat dan menakutkannya
Hek-mo-ong, tapi setelah kulihat betapa hebatnya kepandaian
silat yang dimiliki anak buahnya, baru kubayangkan Hek-moong
seorang musuh yang sangat menakutkan."
"Bong-laute, bukanlah aku kelewat menilai tinggi
kemampuan musuh, kemampuan Hek-mo-ong memang
menakutkan, aku pernah bertemu satu kali dengannya dan
hampir saja jiwaku melayang."
"Apakah Tio-pangcu kenal orang ini?" tanya Bong Thiangak
sambil menunjuk ke arah korban.
Tio Tian-seng menggeleng kepala.
"Raut wajahnya asing bagiku."
"Ai, akhirnya anak buah Hek-mo-ong muncul dalam lorong
bawah tanah ini, nampaknya apa yang diucapkan Tan Samcing
bukan ucapan kosong belaka."
"Menurut Tan Sam-cing, orang yang berada dalam lorong
bawah tanah ini adalah seorang kakek, seorang perempuan,
serta seorang cacat lengan dan berkaki pincang, sedang
korban yang kita jumpai sekarang adalah lelaki setengah umur
yang berusia empat puluh tahunan."
"Jadi menurut Tio-pangcu, korban bukan termasuk di
antara ketiga orang yang dimaksud Tan Sam-cing?"
Tio Tian-seng segera menggeleng, "Ya, sama sekali tidak
sesuai."
"Siapa tahu si kakek yang dimaksud Tan Sam-cing adalah
orang ini?" ujar Bong Thian-gak.

859
"Kecuali kita bertemu perempuan serta orang yang
menyaru sebagai Bong-laute itu, kalau tidak, aku tidak akan
percaya perkataan Tan Sam-cing."
"Seandainya kedua orang itu menyembunyikan diri di sudut
lorong bawah tanah, bagaimana mungkin kita bisa
menemukan jejaknya?"
"Kita kan tak bakal meninggalkan Sam-cing-koan ini dalam
waktu singkat? Sebentar kau boleh bersama-sama Tan Samcing
melakukan penggeledahan di sini, sedang tugas menjaga
di luar biar kugantikan untuk semenjtara."
"Baik, kita memang harus menemukan si tabib sakti dan
Keng-tim Suthay sebelum pergi meninggalkan tempat ini!"
Tiba-tiba Tio Tian-seng menghela napas, kemudian
tanyanya, "Bong-laute, apakah kau sudah mengetahui asalusul
Tan Sam-cing?"
"Konon dia adalah anak buah murid Bu-tong-pay."
"Bong-laute, menurut pendapatmu apakah nama besar Patkiam-
hui-hiang cukup tersohor di dunia persilatan pada empat
puluh tahun berselang?"
"Padri sakti dari Siau-lim-pay, guruku Oh Ciong-hu, Mokiam-
sin-kun serta Pat-kiam-hui-hiang adalah tokoh silat yang
paling termasyhur di Kangouw waktu itu. Mereka disebut
empat tokoh persilatan, terutama kehebatan mereka di antara
golongan lurus maupun sesat."
"Yang disebut pedang lurus tentulah Pat-kiam-hui-hiang
Tan Sam-cing, sedang si pedang sesat adalah aku Mo-kiamsin-
kun, bukan?"
"Waktu itu pedang Tio-pangcu memang penuh dengan
hawa membunuh, sehingga orang menyebutnya si pedang
sesat. Tapi menurut perasaan Boanpwe, sesungguhnya
pedang Tio-pangcu sama sekali tidak sesat."

860
Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, dengan dasar
apakah orang membedakan antara sesat dan lurus, rasanya
sulit untuk ditelusuri dan aku pun enggan mempersoalkan.
Yang ingin kuketahui sekarang adalah tersohornya Pat-kiamhui-
hiang Tan Sam-cing waktu itu, apa sebabnya ia lenyap
secara tiba-tiba? Tahukah si tabib sakti serta Keng-tim Suthay
bahwa Sam-cing Koancu yang sekarang sebenarnya adalah
Pat-kiam-hui-hiang yang amat termasyhur namanya?"
"Apa maksud Tio-pangcu mencurigai hal itu?"
"Bong-laute, sekarang bila kubilang Tan Sam-cing adalah
Hek-mo-ong yang misterius itu, apakah Bong-laute anggap hal
ini mungkin?"
Bong Thian-gak segera menggeleng.
"Tan Sam-cing cukup termasyhur sebagai orang budiman,
ia tak pernah mempunyai nama jelek."
"Sebaliknya bila kukatakan bahwa akulah Hek-mo-ong?"
Hati Bong Thian-gak segera bergetar keras, sahutnya
kemudian, "Jika hal ini terjadi beberapa hari berselang, jika
ada orang bertanya siapakah Hek-mo-ong, maka tentu akan
menduga Tio-pangcu."
Tio Tian-seng tersenyum.
"Kalau bukan begitu, lantas siapakah menurut Bong-laute
yang pantas dicurigai sebagai Hek-mo-ong?"
Baru selesai perkataan itu, dari sudut lorong gua terdengar
seorang menanggapi dengan suara lantang, "Menurut
perasaan Pinto, Hek-mo-ong adalah Mo-kiam-sin-kun Tio Tianseng."
Bergemanya suara itu membuat hati Bong Thian-gak
maupun Tio Tian-seng bergetar. Yang membuat mereka
terkejut adalah kehadiran lawan sampai di dekat mereka,
namun sama sekali tidak mereka rasakan.

861
Sambil tertawa dingin Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng
segera menegur, "He, hidung kerbau, sudah lamakah kau
datang kemari?"
Dari balik lorong gua yang gelap gulita pelan-pelan muncul
seseorang, walaupun kedua belah pihak belum pernah melihat
raut wajah masing-masing dengan jelas, namun Bong Thiangak
serta Tio Tian-seng tahu bahwa si pendatang adalah Samcing
Koancu Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing.
Tiba-tiba Tan Sam-cing menghentikan langkah, lalu
menyahut dengan suara hambar, "Sejak Bong-sicu
membinasakan orang aneh tadi, Pinto telah hadir di sini."
"Kedatanganmu memang tepat sekali," seru Tio Tian-seng
tertawa dingin.
Tan Sam-cing tertawa dingin.
"Tentu saja kedatanganku memang sangat tepat. Coba
kalau aku tidak datang, sudah pasti Pinto dicurigai sebagai
Hek-mo-ong."
"Biarpun kau sudah datang, bukan berarti bisa lepas dari
kecurigaanku," jengek Tio Tian-seng.
Tan Sam-cing mendengus, "Hm! Menubruk angin
menangkap bayangan, memfitnah orang tanpa fakta yang
nyata, mengadu domba di antara sesama manusia, semuanya
memang watak kebiasaanmu."
"Boleh saja bila kau ingin lepas dari kecurigaan," kata Tio
Tian-seng dingin, "kecuali si tabib sakti sekalian ditemukan
dalam keadaan sehat dan selamat, kalau tidak, jangan harap
kau bisa terlepas dari kecurigaan kami."
Tan Sam-cing naik pitam, segera bentaknya penuh amarah,
"Tio Tian-seng, kau memojokkan orang dengan kata-kata
tuduhanmu itu. Bila kau lanjutkan, Pinto tak bisa menahan diri
lebih jauh!"

862
Bong Thian-gak merasakan panasnya situasi, bila keadaan
ini dibiarkan berlangsung terus, kemungkinan akan berkobar
pertempuran berdarah yang mengerikan.
Maka dia maju beberapa langkah, setelah menjura pada
Tan Sam-cing, ujarnya dengan suara lantang, "Tan-koancu,
harap kau jangan marah dulu. Dewasa ini masih ada musuh
tangguh bersembunyi dalam lorong bawah tanah. Apabila di
antara kita terjadi keributan sendiri, hal itu tentu akan
menggirangkan lawan."
"Bong-sicu tak usah kuatir, ketiga orang pembunuh yang
menyusup masuk ke dalam lorong bawah tanah ini sudah mati
terbunuh."
"Jadi Tan-koancu telah berjumpa dengan pembunuhpembunuh
itu?"
"Pinto telah membunuh seorang, lalu menemukan sesosok
mayat di lorong gua, ditambah mayat yang berada di hadapan
kita sekarang, bukankah berarti ketiga pembunuh itu telah
tertumpas?"
"Bagaimanakah bentuk wajah pembunuh yang berhasil
Tan-koancu habisi nyawanya?"
"Orang yang menyaru sebagai Bong-sicu."
Seraya berkata, Tan Sam-cing melepaskan sebilah pedang
berikut sarungnya dari bahu, kemudian melanjutkan, "Pekhiat-
kiam berada di sini, harap Bong-sicu menerimanya."
"Ehm, terima kasih banyak atas bantuan Tan-koancu
menemukan kembali Pek-hiat-kiam ini."
Seraya berkata, ia maju ke depan.
Tiba-tiba Tan Sam-cing mengayun tangan kanannya,
pedang yang berada di dalam sarung itu tahu-tahu berkelebat
ke muka dan mengancam jalan darah Sim-kan-hiat di tubuh
anak muda itu.

863
Tindakan itu bukan saja membuat Bong Thian-gak tak
sempat menghindar, Tio Tian-seng juga sama sekali tak
menyangka.
Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak, tanpa terasa ia
berpekik dalam hati, "Aduh celaka!"
Siapa tahu Tan Sam-cing hanya menutul jalan darahnya,
sama sekali tidak disertai tenaga dalam. Terdengar ia berseru
sambil tertawa dingin, "Bong-sicu memang orang yang berjiwa
terbuka dan berbudi luhur, kebijakanmu membuat Pinto
kagum, maaf atas kelancangan Pinto barusan."
Rupanya Tan Sam-cing hendak menggunakan cara itu
untuk mencoba mengerti apakah Bong Thian-gak menaruh
curiga kepadanya atau tidak.
Sesudah termangu-mangu beberapa saat, Bong Thian-gak
baru menerima pedang itu, lalu diperiksanya dengan seksama.
Benar juga, pedang itu memang benda kepercayaan Hiatkiam-
bun, Pek-hiat-kiam, maka sekali lagi dia memberi hormat
kepada Tan Sam-cing seraya berkata, "Seandainya Tankoancu
adalah musuh, dengan seranganmu tadi niscaya habis
sudah jiwaku."
"Seandainya Bong-sicu selalu waspada dan berjaga-jaga
terhadap serangan orang, niscaya kau akan berhasil
menghindarkan diri dari tusukan tadi," ucap Tan Sam-cing.
Bong Thian-gak menggeleng kepala.
"Jurus serangan yang dipergunakan Tan-koancu tadi jauh
berbeda dengan jurus kebanyakan orang. Aku tahu, biarpun
sudah waspada dan berjaga-jaga, rasanya sulit juga
menghindarkan diri."
Tan Sam-cing tersenyum.
"Bong-sicu memiliki kepandaian silat yang amat hebat, tapi
tidak sombong, kebesaran jiwamu serta kerendahan hatimu
benar-benar mengagumkan sekali."

864
Tiba-tiba Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng tertawa dingin,
katanya, "Hei, hidung kerbau, kau mengatakan telah
membunuh orang, dimana mayatnya sekarang?"
"Dalam lorong bawah tanah sana."
"Dan masih ada orang lagi?"
"Perempuan pembunuh itu terbunuh di lorong bawah
tanah, entah ia tewas oleh Bong-sicu atau mati terbunuh di
tanganmu?"
"Apakah mayat perempuan yang Tan-koancu temukan
adalah perempuan berbaju hitam?"
Pada saat itulah tiba-tiba Bong Thian-gak mendengar suara
bisikan Tio Tian-seng yang disampaikan dengan ilmu
menyampaikan suara, "Bong-laute, jangan kau katakan bahwa
perempuan itu adalah Sam-hubuncu dari Hiat-kiam-bun. Aku
lihat perkataan Tan Sam-cing saling bertentangan, lagi pula
gerak-geriknya amat mencurigakan, kita tidak bisa
mempercayainya begitu saja."
Dalam pada itu Tan Sam-cing mengangguk seraya
menjawab,
"Benar, dia adalah perempuan berbaju hitam."
Dengan suara dingin, Tio Tian-seng segera menimbrung,
"Mayat yang terkapar dalam lorong bawah tanah ini rasanya
bukan hanya tiga, hidung kerbau, sudah kau lihat hal ini?"
"Sudah," sahut Tan Sam-cing dengan suara dalam. "Aku
justru Ingin bertanya siapa yang telah membunuh kawanan
Tosu itu?"
"Aku memang ingin bertanya kepadamu, atas perintah
siapa kawanan hidung kerbau itu berniat membunuhku?"
bantah Tio Tian-seng dingin.
"Jika begitu mereka mati di tangan Tio-pangcu?"

865
"Tan-koancu," tukas Bong Thian-gak, "semua Tosu itu
bukan mati terbunuh di tangan Tio-pangcu."
"Apakah Bong-sicu telah membunuh seorang di
antaranya?" ucap Tan Sam-cing hambar.
Dengan perasaan bergetar keras, Bong Thian-gak
membenarkan.
"Betul, Boanpwe memang membunuh satu orang."
"Luka pada mayat-mayat itu telah kuperiksa dengan
seksama, luka yang menyebabkan kematian kesebelas mayat
dilakukan oleh orang yang nama, berarti mereka terbunuh di
tangan Tio-pangcu."
Tio Tian-seng tertawa dingin.
"Eh, hidung kerbau, apakah kau sedang mencari alasan
untuk mengajakku berduel?"
"Hm! Tanpa sebab-musabab anak murid kuil kami telah
menjadi kurban, tentu saja Pinto tak akan membiarkan si
pembunuh berlalu dari sini dengan bebas merdeka!" jawab
Tan Sam-cing sambil mendengus.
"Aku sudah bersiap menahan seranganmu, ayolah silakan
turun tangan."
"Akhirnya kita berdua akan melangsungkan juga duel matihidup
di lorong bawah tanah ini."
Sambil berkata, pelan-pelan Tan Sam-cing melolos sebilah
pedang pendek yang bersinar tajam dari belakang bahunya.
Begitu ia melolos pedang pendek, cahaya putih yang
berkilau segera memancar menerangi lorong bawah tanah itu.
Melihat Tosu itu sudah melolos pedang, Bong Thian-gak
segera melompat ke muka dan berdiri di antara kedua orang
itu, cegahnya,

866
"Tunggu dulu! Bila Locianpwe berdua hendak bertarung,
alangkah baiknya bila pertarungan dilangsungkan setelah
berhasil menemukan si tabib sakti."
"Tio-pangcu memaksa Pinto berkelahi sekarang juga," kata
Tan Sam-cing.
"Hm, aku tidak bodoh mengajak kau berkelahi di sini," sela
Tio Tian-seng sambil tertawa dingin.
"Kalau begitu, biar Pinto simpan kembali pedangku ini,"
kata Tan Sam-cing.
Sembari berkata, dia memasukkan kembali pedang
pendeknya ke dalam sarung.
"Tan-koancu!" seru Bong Thian-gak kemudian, "sekarang
bawalah kami bertemu Gi Jian-cau."
"Harap kalian berdua mengikuti aku."
Dia membalikkan badan dan beranjak pergi lebih dulu.
Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng mengikut di
belakangnya.
Biarpun lorong bawah tanah itu sangat gelap hingga sukar
dilalui, tetapi Tan Sam-cing dapat bergerak secepat terbang,
malah sewaktu berbelok pun tak pernah ragu atau pun
berhenti, agaknya dia memang menguasai keadaan tempat
itu.
Sesudah melalui enam persimpangan jalan dan menelusuri
tujuh lorong, mendadak Tan Sam-cing menghentikan langkah,
lalu melakukan pemeriksaan di sebuah dinding batu, kemudian
ia menuju ke hadapan Bong Thian-gak dan bisiknya dengan
suara lirih, "Ada orang telah memasuki ruang gua rahasia ini,
bisa jadi musuh masih bercokol di dalam ruang itu."
"Dimanakah letak ruang gua itu?" tanya Bong Thian-gak
dengan terkejut.

867
Tan Sam-cing tidak menjawab pertanyaan itu, malah dia
berkata, "Harap kalian berdua berjaga di kedua ujung lorong
gua ini, Pinto akan segera membuka pintu rahasia menuju ke
ruangan dalam."
"Hai, hidung kerbau!" seru Tio Tian-seng dingin. "Kau tidak
usah bermain setan di hadapanku, sudah kuduga sejak tadi
kau akan bersikap begini."
Tan Sam-cing tak menggubris, kembali dia berkata,
"Seandainya ruang rahasia itu sampai kemasukan orang,
keselamatan jiwa si tabib sakti dan Keng-tim Suthay benarbenar
berbahaya sekali. Kalian berdua tiarap selekasnya
mengikuti perkataanku tadi dan berjaga-jaga di kedua ujung
lorong, kita tak boleh membuang waktu lagi."
Dalam pada itu Bong Thian-gak telah berjalan ke depan,
Tio Tian-seng juga sudah mengundurkan diri dari situ.
Pada saat itulah tiba-tiba Tan Sam-cing melolos pedangnya
dari belakang bahu, sekilas cahaya tajam menyoroti dinding.
Dengan pedang terhunus Tan Sam-cing berjalan beberapa
langkah dengan menelusuri dinding batu sebelah kanan, tibatiba
ia lepaskan sebuah tusukan ke atas dinding itu.
Suara gemuruh bergema di angkasa.
Dinding batu di sisi kiri Tan Sam-cing mendadak bergeser
ke samping, sekilas cahaya lentera memancar masuk ke dalam
lorong itu lewat celah-celah pintu.
Sementara itu Tan Sam-cing telah mencabut pedang
pendeknya dari dinding batu, dengan cepat tubuhnya
berkelebat dan menerobos masuk melalui celah pintu yang
terbuka.
Tio Tian-seng serta Bong Thian-gak segera menyerbu
bersama, kemudian menyelinap masuk pula melalui celah
pintu yang terbuka.

868
Setelah memasuki pintu rahasia itu, barulah diketahui
bahwa tempat itu pun merupakan sebuah lorong bawah tanah
pula.
Hanya bedanya, lorong ini terang-benderang bermandikan
cahaya, hampir setiap jarak tiga kaki terdapat sebuah lentera.
Lorong itu lurus ke depan, waktu itu Tan Sam-cing sudah
berada di depan sana.
Tio Tian-seng dan Bong Thian-gak di kiri kanan segera
melakukan pengejaran dengan menelusuri kedua sisi dinding
gua.
Pada ujung lorong itu terdapat sebuah tikungan menuju
sebelah kiri, bayangan tubuh Tan Sam-cing lenyap di balik
tikungan itu.
Menyusul Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng tiba juga di
ujung tikungan sana, serentak mereka mendongakkan kepala.
Pada ujung dinding sebelah kiri terdapat sebuah pintu, di
balik pintu terbentang sebuah ruangan yang luas.
Dalam ruangan ini pun tak nampak bayangan Tan Samcing.
Namun di atas permukaan tanah tampak mayat
bergelimpangan di sana-sini, ceceran darah menodai lantai,
senjata berserakan, keadaan benar-benar mengerikan dan
memilukan.
Di antara korban yang tewas dan berserakan ini, selain
terdapat kaum Tosu, terdapat pula gadis-gadis muda.
Keadaan yang menyebabkan kematian hampir sama, ada
yang kehilangan kepala, pinggangnya terpapas kutung, empat
anggota badan berserakan, ada pula yang tewas tanpa
meninggalkan bekas luka apa pun.
Sekilas Bong Thian-gak mengetahui bahwa para korban
adalah anggota Hiat-kiam-bun yang ditugaskan melindungi si

869
tabib sakti mengolah obat, sedang kawanan Tosu itu dari kuil
Sam-cing-koan.
Di ruang belakang masih terdapat ruangan lain, dengan
cepat Bong Thian-gak melakukan pemeriksaan ke situ.
Dalam pada itu dari balik ruangan sebelah kiri tampak Tan
Sam-cing muncul, setelah menghela napas sedih, ia berkata,
"Sicu tak perlu masuk ke dalam lagi, tak seorang hidup pun
yang terdapat di ruang dalam."
"Bagaimana dengan si tabib sakti?" tanya Bong Thian-gak
kejut bercampur gelisah.
Tan Sam-cing menghela napas panjang.
"Ai, Hiolo pengolah obat masih terdapat di situ, namun
orangnya sudah lenyap entah kemana."
"Bagaimana dengan Keng-tim Suthay?"
"Ia sudah tewas terkena musibah!"
Mendengar Keng-tim Suthay terkena musibah, Bong Thiangak
langsung berteriak, "Dimanakah jenazahnya sekarang?"
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Tio Tian-seng berteriak
dari belakang, "Tan Sam-cing, lebih baik kita langsungkan duel
mati-hidup di tempat ini saja!"
Bong Thian-gak tidak habis mengerti, mengapa Tio Tianseng
menantang Tan Sam-cing berduel dalam keadaan dan
situasi seperti ini. Tan Sam-cing tertawa tergelak dengan
suara menyeramkan, "Tio Tian-seng, cepat atau lambat kita
memang harus melaksanakan duel mati-hidup untuk
menentukan nasib kita berdua."
Dalam pada itu Bong Thian-gak merasa pedih dan
kehilangan semangat sesudah mengetahui Keng-tim Suthay
tewas terbunuh. Dalam keadaan demikian dia tak
bersemangat lagi memperhatikan perselisihan di antara
mereka berdua.

870
Badannya segera berkelebat dan masuk ke ruang belakang
dengan cepat.
Di ruang belakang terdapat dua bilik, sebuah di sebelah kiri
dan yang lain di sebelah kanan.
Mula-mula Bong Thian-gak memasuki bilik sebelah kiri, di
situ terdapat dua buah pembaringan, kelambu dan seprei
masih teratur rapi, pakaian dan perabotan lainnya masih utuh,
hanya tak nampak seorang pun.
Di bagian depan terdapat sederet pembaringan dan
perabotan lain, di sini juga tak nampak seorang pun.
Buru-buru Bong Thian-gak menuju ke ruang lain, tempat
itu hanya ada sebuah tungku raksasa berkaki tiga, sebuah
pengolah obat terdapat di atas tungku, sementara beberapa
buah bantal duduk berserakan di sekelilingnya.
Di sisi tungku, dua orang bocah cilik duduk terbungkuk,
mereka tak berkutik sama sekali, jelas sudah tewas.
Selain jenazah kedua bocah itu, di dekat tungku bagian
belakang, duduk bersila seorang tokoh setengah umur di atas
kasur duduk.
Tangan kirinya masih memegang Hud-tim, sedangkan
tangan kanannya diletakkan di depan dada, wajahnya pucatpias
dan matanya terpejam rapat.
Sesudah melihat dengan jelas raut wajah tokoh setengah
umur itu, Bong Thian-gak segera berteriak, "Keng-tim
Suthay!"
Ia menubruk ke depan, air matanya bercucuran dengan
deras. Mimik tokoh setengah umur itu nampak tawar, sudah
barang tentu tak dapat bersuara lagi.
"Suthay, oh Suthay ... sungguh tak nyana perpisahan kita
di Ho-pak tempo hari akan menjadi perpisahan untuk

871
selamanya. Oh Suthay, siapakah orang yang telah
mencelakaimu, siapakah orangnya?"
Sambil menangis Bong Thian-gak menggoncang-goncang
jenazah Keng tim Suthay.
Tiba-tiba jenazah itu miring dan roboh ke kiri, sementara
sepatu yang dikenakan pada kaki kanannya terlepas dan jatuh
ke atas tanah.
Bong Thian-gak bermata jeli, dengan cepat ia menangkap
bahwa di balik telapak kaki kanan Keng-tim Suthay tertera
jelas sederet tulisan.
Dengan perasaan bergetar, Bong Thian-gak segera
mendongakkan kepala.
Ternyata tulisan itu berbunyi:
"Sebutir pil pengembali sukma kusembunyikan di balik Hudtim,
bunuh si tabib sakti."
Bong Thian-gak berdiri termangu-mangu mengawasi kedua
baris tulisan itu, terutama sekali kata-kata terakhir, "Bunuh si
tabib sakti".
Tulisan itu membuat pikirannya bimbang dan tak habis
mengerti.
"Mengapa ia mesti membunuh si tabib sakti? Mengapa?"
Sesudah termangu-mangu sekian lama, akhirnya Bong
Thian-gak mengenakan kembali sepatu itu Keng-tim Suthay,
kemudian dengan cepat melepas pula sepatu kirinya.
Ternyata pada kaki kiri pun tertera pula kedua baris tulisan
itu.
Pada saat inilah dari luar ruangan terdengar suara
bentrokan senjata yang bergema amat keras.

872
Bong Thian-gak segera mengambil Hud-tim Keng-tim
Suthay dan menyembunyikannya di balik pakaian, lalu dengan
cepat memburu ke ruang depan.
Di ruang muka, suasana benar-benar tegang dan
mengerikan.
Hawa pedang menyelimuti ruangan, cahaya perak
berkilauan seperti sambaran petir.
Bayangan tubuh Tio Tian-seng serta Tan Sam-cing telah
terkurung rapat di balik cahaya pedang itu.
Kedua orang jago yang sangat lihai itu, masing-masing
sedang mengembangkan ilmu pedang yang dimilikinya serta
melangsungkan pertarungan mati-hidup yang amat sengit.
Pedang pendek di tangan Tan Sam-cing berputar
memercikkan bayangan pedang tajam, membacok, menyapu
dan membabat penuh dengan kedahsyatan.
Mendadak bentakan keras bergema, Tio Tian-seng
melepaskan sebuah tusukan balasan dari arah samping.
Tusukan itu dilepaskan dengan sepasang tangan
menggenggam pedang bersama-sama. Jurus serangannya
aneh, namun amat tangguh, merupakan jurus serangan lain
daripada yang lain.
Tampaknya Tan Sam-cing cukup mengetahui kelihaian
serangan itu. Sambil membentak, cahaya pedang yang semula
membentuk lingkaran bulat kini lenyap, sebagai gantinya
muncul sekilas sinar bening yang pelan-pelan mendorong ke
depan.
Bunyi gemerincing nyaring memenuhi angkasa.
Sepasang pedang Tio Tian-seng serta Tan Sam-cing telah
saling bentur.
Kali ini pedang pendek Tan Sam-cing yang tajam ternyata
tidak mampu mengurungi pedang Tio Tian-seng.

873
Setelah kedua belah pihak saling mengadu senjata
sebanyak tiga kali, kedua belah pihak tidak segera menarik
kembali senjatanya, namun mereka saling mengerahkan
tenaga mengisap pedang lawan.
Akibatnya kedua bilah pedang itu saling menempel bagai
besi sembrani.
Pantangan terbesar jago persilatan yang saling bertarung
adalah adu tenaga dalam.
Dengan saling menempelkan pedang, hakikatnya Tan Samcing
maupun Tio Tian-seng sudah melangkah menuju ke suatu
pertarungan tenaga dalam mengadu jiwa.
Berada dalam keadaan begini, kedua belah pihak samasama
tak berani mencabut pedang, bila satu pihak mencabut
pedang, maka pedang lawan akan menusuk dan langsung
menghujam ke tubuh lawan secara mematikan.
Oleh sebab itu kedua belah pihak terpaksa harus
mengerahkan tenaga dalam yang disalurkan ke batang
pedang untuk mempertahankan senjata.
Pertarungan semacam ini sukar menentukan menang-kalah
secara cepat, seringkali di saat menang kalah ditentukan,
kedua belah pihak sudah sama-sama terluka, kehabisan
tenaga dalam dan akhirnya tewas bersama.
Pada saat itulah suara benturan nyaring berkumandang.
Bong Thian-gak sudah mencabut Pek-hiat-kiam dan
secepat kilat menusuk ke tengah-tengah antara kedua pedang
yang masih saling menempel itu.
Tio Tian-seng serta Tan Sam-cing segera terpisah dan
masing-masing mundur tiga langkah.
Pedang Tio Tian-seng kembali putus sebagian, sebaliknya
pedang Tan Sam-cing masih tetap utuh. Bong Thian-gak
dengan masih memegang Pek-hiat-kiam yang memancarkan

874
sinar merah memberi hormat kepada Tan Sam-cing serta Tio
Tian-seng, lalu ujarnya dengan lantang, "Locianpwe berdua,
buat apa kalian saling bertarung mati-matian?"
Paras muka Tio Tian-seng kelihatan amat kereng dan
serius, tiba-tiba ia berkata dengan suara pelan, "Bong-laute,
tidakkah kau merasa bahwa Tan Sam-cing sangat
mencurigakan?"
"Apanya yang mencurigakan?" tergerak hati Bong Thiangak.
"Sudahkah Bong-laute periksa, telah berapa lama para
korban itu menemui ajalnya?"
"Ah! Betul, tampaknya mereka sudah tewas paling tidak
satu hari sebelumnya."
"Betul! Orang-orang itu sudah mati semalam sebelumnya,
tapi menurut Tan Sam-cing waktu musuh menyusup masuk
kemari, baru tiga jam berselang."
Sambil tertawa dingin, Tan Sam-cing segera berkata,
"Sejak kapan mereka menemui ajal? Apa hubungan serta
sangkut-pautnya dengan diriku?"
"Tentu saja besar sekali hubungannya," jawab Tio Tianseng
dingin. "Andaikata Sam-cing Koancu hanya seorang jago
lihai biasa saja, hal ini lain ceritanya. Tapi kau adalah Patkiam-
hui-hiang yang amat termasyhur, apakah tidak
mengetahui sama sekali terdapat banyak musuh tangguh yang
sudah memasuki kuilmu? Apa ini tidak lucu namanya?"
"Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak dengan kening
berkerut. "Sekalipun begitu, aku rasa masih belum cukup
alasan untuk menuduh Tan-koancu sebagai komplotan
kawanan pembunuh itu."
"Bong-sicu, sudahkah kau saksikan apa yang menyebabkan
kematian orang-orang itu?" tanya Tio Tian-seng tawar.

875
"Soal itu belum Boanpwe lihat."
"Mereka tewas akibat saling bunuh sendiri. Bila tak
percaya, silakan Bong-laute periksa dengan seksama semua
korban itu, kau akan jumpai luka di tubuh para korban sesuai
dengan kesimpulanku tadi."
Bong Thian-gak berseru tertahan, dengan cepat ia
berpaling dan ujarnya kepada Tan Sam-cing, "Tan-koancu,
bagaimanakah penjelasanmu terhadap keterangan yang
disampaikan Tio-pangcu?"
"Memang tak salah, orang-orang itu tewas karena saling
bunuh, tapi kematian Keng-tim Suthay serta kedua bocah itu
adalah disebabkan tertotok jalan darahnya oleh seseorang.
Keadaan inilah yang membuat orang bingung serta tak habis
pikir."
Setelah mendengar kata-katanya itu, mendadak Bong
Thian-gak teringat akan sesuatu, ia segera bertanya, "Cianpwe
berdua, tahukah kalian dalam Bu-lim terdapat semacam obat
pembingung sukma?"
"Bong-laute, maksudmu para korban telah dicekoki
semacam obat pembingung sukma terlebih dahulu sehingga
kejernihan otak mereka terganggu, akibatnya mereka mati
karena saling bunuh di antara rekan sendiri?"
"Boanpwe hanya ingin tahu, benarkah dalam Bu-lim
terdapat obat sejenis itu."
"Tentu saja ada."
Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, Tio-pangcu,
jika aku menduga pembunuhnya adalah si tabib sakti Gi Jiancau,
bagaimana menurut pendapatmu?"
"Aku pun menduga begitu," sahut Tio Tian-seng dengan
suara dalam. "Ada seorang jago lihai yang telah menyerbu
masuk kemari, pertama-tama ia membunuh Keng-tim Suthay
serta kedua bocah itu, kemudian mencuri obat pembingung

876
sukma milik Gi Jian-cau serta mencekokkan obat tadi kepada
kawanan jago lainnya, akibatnya terjadilah peristiwa saling
bunuh yang mengerikan ini, entah bagaimana pula menurut
pendapatmu atas dugaanku ini?"
"Tentu saja masuk akal juga," Tan Sam-cing menanggapi.
"Dan menurut dugaanku, bisa jadi si pembunuh adalah
orang-orang Sam-cing-koan."
"Betul, bisa jadi si pembunuh sudah mengenal keadaan
dalam kuil Sam-cing-koan," katanya membenarkan.
Paras muka Tio Tian-seng berubah kereng dan serius,
kembali ia berkata, "Tan-koancu, bila kau gagal menemukan
sang pembunuh, maka kau sendiri sulit untuk meloloskan diri
dari kecurigaan kami."
Tan Sam-cing tertawa dingin, "Rupanya Tio-pangcu
menuduh Pinto sebagai Hek-mo-ong?"
"Kecuali kau dapat menunjukkan siapakah Hek-mo-ong
yang sesungguhnya," sahut Tio Tian-seng sambil tertawa
dingin pula.
"Tio-pangcu, berulang kali kau menuduhku sebagai Hekmo-
ong, sesungguhnya apa yang terkandung di balik tuduhan
jahatmu itu?"
"Berdasarkan berbagai kecurigaan dan bukti yang kudapat,
Tan-koancu memang patut dicurigai sebagai gembong iblis
terkutuk itu."
"Seandainya aku adalah Hek-mo-ong, maka kalian berdua
anggap masih bisa hidup sampai sekarang?"
"Hari ini, seandainya aku memasuki kuil Sam-cing-koan
seorang diri, besar kemungkinan sudah mengalami musibah
dan terbunuh mati," kata Tio Tian-seng dingin, "tapi
sayangnya kehadiranku sekarang justru ditemani oleh seorang
jago lihai lain yakni sastrawan cacat, biarpun Hek-mo-ong

877
berkepala tiga enam lengan, belum tentu ia mampu
menghadapi diriku serta sastrawan cacat bersama-sama.
Inilah yang menyebabkan kami bisa hidup sampai sekarang
dalam keadaan selamat."
"Hek-mo-ong bisa membunuh orang tanpa menunjukkan
wujud serta bayangan tubuhnya," kata Tan Sam-cing dingin.
"Seandainya Pinto adalah Hek-mo-ong, maka kalian berdua
tak akan bisa lolos dari kuil Sam-cing-koan ini."
Sementara itu Bong Thian-gak sedang memikirkan kedua
baris kata yang ditinggalkan Keng-tim Suthay menjelang
ajalnya. Berdasarkan kedua kalimat itu, bisa jadi Keng-tim
Suthay telah menduga sebelumnya akan terjadi suatu
peristiwa di situ.
Itulah sebabnya dia menyembunyikan sebutir pil
pengembali sukma dalam Hud-timnya sebelum dia ajal, Kengtim
Suthay berpesan pula agar Gi Jian-cau dibunuh,
mungkinkah si tabib sakti adalah jelmaan Hek-mo-ong?
Tapi ada persoalan lain yang membingungkannya,
andaikata Gi Jian-cau benar-benar adalah otak di belakang
layar yang menyetir Put-gwa-cin-kau dan juga adalah Hek-moong,
lantas mengapa pula dia mesti mengolah obat
pengembali sukma?
Bong Thian-gak tidak berani mengutarakan peristiwa itu
kepada siapa pun, dia tak ingin orang lain mengetahui pesan
terakhir Keng-tim Suthay.
Menurut pendapatnya, tuduhan Tio Tian-seng kepada Tan
Sam-cing sebagai Hek-mo-ong memang terdapat pula
beberapa bagian yang mencurigakan.
Maka sekarang untuk menyingkap teka-teki siapakah
sebenarnya Hek-mo-ong, rasanya hanya bisa terungkap
setelah Hek-mo-ong muncul.

878
Apa yang dikatakan Tan Sam-cing memang benar, Hek-moong
tak akan melepaskan dia serta Tio Tan-seng begitu saja,
oleh karena itu mereka berdua tak perlu berdiam lebih lama
lagi di sini.
Bong Thian-gak menghela napas, kemudian katanya, "Tiopangcu,
sekarang jejak Gi Jian-cau masih misterius, kita tak
usah berdiam lebih lama lagi dalam kuil ini."
"Justru yang kukuatirkan adalah Gi Jian-cau masih bercokol
dalam Sam-cing-koan."
"Seandainya dia masih berada dalam kuil Sam-cing-koan,
sudah pasti Tan-koancu dapat mengatasinya."
Sementara itu Tan Sam-cing masih berdiri termenung,
seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, kemudian ia
menghela napas panjang dan beial, pelan-pelan katanya, "Hai
tua bangka, sejak hari ini Pinto akan terjun kembali ke dunia
Kangouw."
Tatkala mengucapkan kata-katanya itu, mukanya
memperlihatkan tanda sedih dan menderita yang tak
terkirakan.
Kata-katanya diucapkan sangat lambat seakan
membutuhkan dorongan kekuatan.
Sekulum senyuman segera menghiasi wajah Tio Tian-seng.
Tan Sam-cing memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng,
lalu melanjutkan, "Namun di saat Pinto mengetahui siapakah
Hek-mo-ong yang sebenarnya, maka seorang di antara kita
berdua akan mampus dan pulang ke neraka."
Tio Tian-seng tersenyum.
"Sejak dulu, pedang lurus dan pedang sesat memang tak
bisa hidup berdampingan, ibarat api dan air."
"Kalau kau sudah mengetahui akan hal itu, mengapa mesti
menggunakan berbagai akal muslihat untuk memaksaku terjun

879
kembali ke dunia persilatan?" seru Tan Sam-cing dengan
penuh kepedihan.
"Sebab untuk membunuh Hek-mo-ong, kecuali pedang
lurus dan pedang sesat bersatu, rasanya tiada yang mampu
membendungnya."
"Kalau begitu tujuanmu adalah memaksaku terjun kembali
ke dunia persilatan?"
"Selain itu masih ada satu hal lagi, yakni untuk
membuktikan benarkah kau bukan Hek-mo-ong."
"Sejak puluhan tahun berselang, Pinto sudah menduga
asal-usul Hek-mo-ong, di antara empat orang yang kucurigai,
kau Tio Tian-seng termasuk salah seorang di antaranya."
"Bagus, bagus sekali!" kata Tio Tian-seng sambil tertawa.
"Tan Sam-cing juga termasuk satu di antara empat orang
yang kucurigai."
Bong Thian-gak hanya mengetahui sedikit hal yang
menyangkut kedua orang Bu-lim Cianpwe ini, karenanya sikap
permusuhan dan bersahabat yang ditunjukkan kedua orang ini
membuatnya melongo kebingungan dan tak habis mengerti.
Setelah menghela napas panjang, kembali Tan Sam-cing
berkata, "Apakah kalian berdua hendak meninggalkan kuil
Sam-cing-koan?"
"Aku memang menunggu Tan-koancu bertindak sebagai
petunjuk jalan," sahut Tio Tian-seng.
Di bawah petunjuk Tan Sam-cing, Bong Thian-gak dan Tio
Tian-seng keluar dari gua bawah tanah dan meninggalkan kuil
Sam-cing-koan.
Di saat keduanya memasuki kuil Sam-cing-koan, waktu
mendekati senja, tatkala meninggalkan tempat itu, waktu
sudah tengah malam. Mereka berada dalam gua bawah tanah
selama tiga jam lebih.

880
Pengalaman yang dialaminya selama tiga jam lebih yang
singkat itu penuh diliputi perasaan tegang, seram, sedih,
mengenaskan serta berbagai macam perasaan lainnya.
Kematian Keng-tim Suthay membuat Bong Thian-gak sedih,
murung dan kesal atas masa depan Hiat-kiam-bun.
Hiat-kiam-bun dari tangan Keng-tim Suthay telah
diserahkan ke Bong Thian-gak. Walaupun hanya dalam tujuh
hari yang singkat, namun sejak pertarungan berdarah di kuil
Hong-kong-si, tampaknya anak murid Hiat-kiam-bun telah
menderita kerugian cukup parah, hampir separoh anggota
tewas dan terluka parah, terutama kematian Keng-tim Suthay
dan Ang Teng-sui sekalian jago-jago tangguh saat ini, Hiatkiam-
hun sedang berada di ambang kehancuran.
"Ai!" helaan napas berat dan pedih akhirnya keluar dari
mulut Hong Thian-gak.
Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng menengok sekejap ke
arahnya, lalu menegur, "Bong-laute, mengapa kau menghela
napas panjang?"
"Tidak apa-apa," sahut Bong Thian-gak sambil menggeleng.
"Entah Tio pangcu hendak pergi kemana?"
"Aku hendak pergi mengejar si tabib sakti."
"Darimana kita bisa mengetahui jejaknya?"
"Bila jejaknya sudah ketahuan, urusan akan bisa
diselesaikan dengan mudah. Bong-laute, kau hendak
kemana?"
Bong Thian-gak termenung beberapa saat lalu sahutnya
pula, "Boanpwe bermaksud berpisah dengan Locianpwe untuk
sementara waktu."
"Mau kemana? Apakah pergi ke Ho-pak?"
"Benar, aku ingin menuju Ho-pak dan memberitahu
kematian Keng tim Suthay kepada putrinya."

881
"Bong-laute, aku hendak memberitahukan satu hal
kepadamu, dalam pertarungan di kuil Hong-kong-si tempo
hari, terdapat banyak sekali jago lihai yang terluka parah,
keselamatan jiwanya terancam dan mereka sedang menunggu
kehadiran si tabib sakti Gi Jian-cau untuk mengobati lukanya.
Apakah Bong-laute bersedia meninggalkan dulu urusan
pribadimu untuk mendampingi diriku mencari si tabib sakti?"
"Ah, siapa saja yang terluka dalam pertarungan itu?" tanya
Bong Thian gak berseru tertahan.
"Mereka yang lolos dari kematian adalah Hong-kong
Hwesio, Mo Mui Thian, Han Siau-liong, To Siau-hou, tiga puluh
empat jago kami kecuali itu Khi, yang lain terkena racun jahat
yang dilepaskan Ji-kaucu sekarang keselamatan jiwa mereka
terancam."
"Ah, jika mereka gagal mendapatkan pengobatan dari si
tabib sakti, bukankah jiwa mereka akan hilang?" seru Bong
Thian-gak sangat terkejut.
"Ya, tentu saja sulit bagi mereka meloloskan diri dari
musibah itu."
"Lantas bagaimana cara kita menemukan si tabib sakti?"
tanya Bong Thian-gak sesudah temenung sebentar.
"Lebih baik kita menunggu kabar Tan Sam-cing di kota Lokyang."
"Apakah Tan Sam-cing mengetahui jejak si tabib sakti itu?"
"Si tabib sakti lenyap dalam kuil Sam-cing-koan, tentu saja
Tan Sam-cing seorang yang bisa mengejar dan mendapatkan
jejaknya."
Bong Thian-gak menghela napas panjang,
"Andaikata Tan Sam-cing tidak menyampaikan kabar itu
kepada kita?"

882
"Kecuali Tan Sam-cing adalah Hek-mo-ong atau dia enggan
terjun kembali ke dunia persilatan. Kalau tidak, dalam tiga hari
mendatang sudah pasti kita akan memperoleh kabar dari Tan
Sam-cing."
"Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak menghela napas
panjang, "aku dapat merasakan bahwa di antara kau dan Tan
Sam-cing, rasanya terjalin suatu hubungan budi dan dendam
yang rumit."
Mendadak Tio Tian-seng menghentikan langkah, jawabnya,
"Benar di antara kami berdua memang terjalin hubungan budi
dan dendam yang tak bisa disampaikan kepada siapa pun."
Tio Tian-seng berhenti, Bong Thian-gak pun ikut
menghentikan langkah, kemudian memandang sekeliling
tempat itu. Malam itu kabut sangat tebal, sejauh mata
memandang hanya warna putih menyelimuti padang rumput
itu. Suasana begitu hening, sepi, tiada angin yang berhembus,
tiada suara, rumput pun seakan-akan turut tak bergoyang.
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Tio Tianseng,
dia mengawasi hutan di hadapannya tanpa berkedip.
Tergetar hati Bong Thian-gak melihat hal ini, segera
tegurnya, "Tio-pangcu, apa yang kau temukan?"
"Bau musuh."
"Musuh?" semangat Bong Thian-gak berkobar kembali.
"Dimana mereka?"
"Tunggu dulu! Jika mataku belum kabur, aku yakin musuh
yang kita hadapi sekarang adalah tokoh persilatan yang
menakutkan."
"Kau maksudkan Hek-mo-ong?" tanya Bong Thian-gak
terkejut. Tio Tian-seng manggut-manggut.
"Ya, sebaiknya kita duduk bersila di sini menunggu
datangnya fajar."

883
Seusai berkata, Tio Tian-seng segera duduk bersila di atas
tanah.
"Benarkah kita akan menunggu sampai datangnya fajar?"
Bong Thian-gak bertanya lagi dengan kening berkerut.
"Tengah malam sudah tiba, rumah penginapan di kota
sudah tutup pintu, jangan harap kita bisa mendapatkan rumah
penginapan dalam keadaan begini. Apa salahnya kita
menginap semalam di udara terbuka?"
Mendengar jawaban itu, Bong Thian-gak segera berpikir,
"Aneh, mengapa Tio Tian-seng begitu takut terhadap Hek-moong?
Hanya angin yang menghembus rumput saja sudah
membuatnya tegang dan salah mengira sebagai kehadiran
Hek-mo-ong."
Walaupun dalam hati dia merasa geli, namun ia pun duduk
bersila di samping Tio Tian-seng.
Padahal satu jam kemudian fajar telah menyingsing
sehingga mereka tak perlu mencari tempat penginapan.
Sementara itu suara di sekeliling sana terasa begitu hening
dan sepi hingga tampak mengerikan, dua orang tokoh sakti
duduk bersila di atau tanah sambil mengatur napas. Dalam
keadaan begini, jangankan kehadiran manusia, daun rontok
pun dapat mereka dengar dengan jelas.
Namun kedua orang itu tidak mendengar sedikit suara pun,
Tio Tian seng mulai berpikir, "Ah, mungkin aku salah melihat
tadi."
Mendadak telinganya menangkap suara dengingan nyamuk
di sisi tubuhnya.
Cepat Tio Tian-seng membuka mata.
Bong Thian-gak yang berada di sampingnya sudah
menepuk wajah sendiri, jelas ia sudah menepuk mati seekor
nyamuk.

884
Pada saat itu pula Tio Tian-seng merasa pipi kanannya
digigit pula seekor nyamuk.
la segera membunuh nyamuk itu.
Perbuatan yang dilakukan kedua orang itu bersamaan
waktunya dan kebetulan sekali, tapi justru itu menimbulkan
kecurigaan Mo-kiamsin-kuh Tio Tian-seng yang banyak akal
dan matang pengalaman ini.
Perasaannya kontan bergetar keras, dengan cepat ia berkat
"Bong-laute, tidak kau rasakan datangnya kedua ekor nyamuk
tadi rada aneh."
"Di tengah padang rumput memang banyak lalat dan
nyamuk, apa yang aneh?"
"Malam ini kabut sangat tebal, udara pun lembab, darimana
bisa muncul nyamuk? Dan pula cuma dua ekor saja."
Belum habis berkata, terdengar lagi suara dengingan
nyamuk, kali ini muncul tiga ekor.
Tio Tian-seng segera mengebas ujung bajunya melepas
pukulan ke depan.
Agaknya leher Bong Thian-gak telah tergigit oleh seekor
nyamuk dia mengayun tangan dan membunuh seekor lagi.
Mendadak Tio Tian-seng berdiri, lalu serunya dengan sua
dalam, "Bong-laute, mari kita cepat pergi."
"Tio-pangcu hendak kemana?" tanya Bong Thian-gak
tertegun.
"Kita sudah terkena serangan gelap musuh," kata Tio Tiansen
dengan paras muka berubah hebat.
"Tio-pangcu, kau maksudkan beberapa ekor nyamuk tadi?"
tany sang pemuda keheranan.
"Benar, nyamuk itu adalah nyamuk beracun yang dilepas
musuh untuk menyerang kita."

885
Bong Thian-gak tersenyum.
"Bukankah Tio-pangcu telah tergigit oleh nyamuk itu?
Apakah kau merasakan sesuatu gejala aneh dalam tubuhmu?"
"Tubuhku tidak merasakan sesuatu gejala aneh, namun aku
tahu nyamuk itu bukan nyamuk biasa yang banyak terdapat di
padan rumput. Bong-laute, lebih baik turuti kata-kataku, mari
kita tinggalkan tempat ini secepatnya."
Bong Thian-gak tertawa ringan sambil berdiri, sahutnya,
"Kau hendak kemana? Harap Tio-pangcu membuka jalan!"
Tio Tian-seng mengerahkan ilmu meringankan tubuh
meluncur ke arah kota Lok-yang, Bong Thian-gak mengikut di
belakangnya dengan ketat.
Sesudah menempuh perjalanan sejauh tiga li lebih, tiba-tiba
Bong Thian-gak menjerit kaget.
Tio Tian-seng segera menghentikan langkah seraya
berpaling, tegurnya, "Kenapa kau, Bong-laute?"
"Boanpwe mulai merasa gatal dan panas sekali di sekitar
tempat yang tergigit nyamuk tadi."
Berubah hebat paras Tio Tian-seng, serunya gelisah,
"Benarkah perkataanmu itu?"
"Bukankah kau sendiri juga tergigit nyamuk? Apakah kau
tidak merasakan gejala itu."
"Oh, belum."
"Mungkin kita bukan terkena serangan musuh."
"Lebih baik kita duduk bersemedi, kita coba mendesak
keluar racun yang mengeram dalam tubuh dengan mengandal
tenaga dalam."
Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan memandang
sekejap sekeliling tempat itu, dia merasa jaraknya dengan

886
kota Lok-yang sudah tidak jauh lagi, bahkan di depan situ
sudah tampak rumah penduduk.
Maka dia pun menjawab, "Rasa gatal dan panas tidak
kurasakan, lebih baik kita berangkat ke kota Lok-yang!"
"Nyamuk itu tak salah lagi adalah nyamuk beracun.
Mumpung racunnya belum mulai bekerja, lebih baik kita coba
mendesaknya keluar dengan tenaga dalam, siapa tahu masih
belum terlambat."
Siapa tahu baru selesai dia mengucapkan perkataan itu,
mendadak dari belakang tubuh mereka terdengar seorang
menyambung, "Sayang sudah terlambat, kalian sudah tergigit
nyamuk beracun. Nyamuk itu merupakan nyamuk penghancur
darah yang berasal dari wilayah Biau. Seandainya di tempat ini
ada sinar lentera, maka kalian pasti sudah melihat kulit kalian
pucat sekali."
Mendengar perkataan itu, Tio Tian-seng dan Bong Thiangak
negera membalikkan badan.
Di belakang mereka, di bawah sebatang pohon di tepi
jalan, tampak seseorang berdiri di situ.
Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak segera membentak,
"Siapa
Kau ”
Pelan-pelan orang itu berjalan ke depan, lalu sahutnya,
"Wanita
Biau dari bukit Bong-san, Biau-kosiu!"
Begitu selesai berkata, ia sudah tiba di hadapan Bong
Thian-gak berdua.
Di bawah cahaya rembulan, tampak gadis suku Biau ini
berwajah cantik, mengenakan pakaian pendek dan sempit,
lengannya telanjang, kulit tubuhnya halus dan putih, potongan

887
badannya tinggi semampai, mendatangkan rangsangan bagi
siapa pun yang memandangnya.
Wajah bulat telur dengan mata jeli, hidung mancung dan
bibir kecil mungil, wajah yang cantik menawan hati.
Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng tertegun melihat
kemunculan gadis muda itu, dalam hati mereka merasa
keheranan.
Sesudah tertegun beberapa saat, Bong Thian-gak menegur,
"Kau yang melepaskan nyamuk-nyamuk beracun itu untuk
melukai kami?"
Gadis Biau yang cantik jelita itu mengedipkan matanya
yang jeli, kemudian setelah memandang sekejap ke arah Bong
Thian-gak, ia menggeleng, "Bukan."
"Kalau begitu kau tahu siapa yang telah turun tangan
mencelakai kami?"
"Tentu saja tahu."
"Siapakah dia? Cepat katakan."
"Mengapa aku mesti memberitahukan kepadamu?"
Tio Tian-seng menghela napas sedih, kemudian
menimbrung, "Nona mengetahui begitu jelas tentang sifat dan
kemampuan nyamuk penghancur darah, berarti nona pun
dapat menyembuhkan racun akibat gigitan nyamuk itu
bukan?" *
Biau-kosiu atau gadis Biau yang cantik jelita itu
memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng, kemudian
menyahut, "Sebagai suku Biau, jangankan aku, bocah tiga
tahun pun dapat menyembuhkan, cuma sayang nyamuk
penghancur darah yang menggigit kalian merupakan nyamuk
penghancur darah peliharaan orang lain, jadi sifat racunnya
tidak mudah disembuhkan begitu saja."

888
"Bila nona dapat menolong kami menyembuhkan gigitan
nyamuk ini, budi kebaikanmu tak akan kulupakan selamanya,"
ucap Tio Tian-seng dengan sedih.
Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka Tio Tian-seng
akan memohon pertolongan gadis itu.
"Boleh saja kutolong kalian, cuma aku tak bakal menolong
kalian berdua begitu saja," ucap si nona suku Biau dengan
suara merdu.
"Nona mempunyai syarat? Apa syaratnya?"
"Bila aku beri obat penawar racun pada kalian, besar
kemungkinan ada orang hendak turun tangan jahat kepadaku.
Oleh sebab itu aku minta kalian berdua melindungi
keselamatan jiwaku."
"Syarat ini sangat gampang, kami menyanggupi
permintaanmu itu," sahut Tio Tian-seng cepat.
"Orang persilatan paling mengutamakan pegang janji,
kalian jangan menyesal di kemudian hari."
Dengan suara lantang Bong Thian-gak segera berseru,
"Sekalipun nona tidak menghadiahkan obat kepada kami,
seandainya jiwa nona terancam oleh manusia laknat, kami
juga bersedia membantumu."
Gadis suku Biau itu menggeleng kepala berulang-kali.
"Yang kumaksudkan melindungi keselamatan jiwaku adalah
kalian berdua mesti selalu mendampingiku, mengawal aku
kemana pun aku pergi dan mengikuti perintahku."
"Ah, kalau soal ini sulit kukabulkan," ucap Bong Thian-gak.
"Kalau tidak setuju, ya sudah, selamat tinggal!" kata gadis
suku Biau itu ketus.

889
Seusai berkata, ia membalikkan badan dan segera beranjak
pergi. Dengan suara dalam Tio Tian-seng berseru, "Nona,
harap tunggu sebentar!"
"Kalian setuju?" tanya si gadis sambil berpaling.
Tio Tian-seng tertawa rawan, ia tidak menjawab
pertanyaan itu, sebaliknya bertanya, "Apakah nona membawa
obat penawar racun itu?"
"Apakah kalian berniat merampas dengan kekerasan?"
"Tidak berani, aku hanya ingin bertanya dimanakah nona
berdiam?"
"Buat apa kau tanyakan hal ini?"
"Jika suatu ketika kami berubah pendirian, kami bisa
langsung pergi mencari nona!"
"Dengan mengetahui tempat tinggalku, bukankah kalian
pun mempunyai peluang untuk mencuri."
"Nona begitu cermat, hati-hati dan cerdik. Sekalipun kami
berniat mencuri, mana mungkin akan berhasil?"
Gadis Biau itu tertawa dingin.
"Aku berdiam di rumah penginapan Ban-heng di kota Lokyang.
Selewat dua belas jam jika kalian belum juga
mendapatkan obat penawar racun itu, maka racun yang
mengeram dalam tubuh kalian tak akan terobati lagi."
Habis berkata, gadis Biau itu menggoyang pinggul dan
berkelebat pergi, bayangannya lenyap di balik kegelapan sana.
Memandang bayangan tubuhnya, Tio Tian-seng menghela
napas panjang, kemudian ujarnya, "Bong-laute, apakah kita
mesti menunggu datangnya malaikat maut mencabut nyawa
kita?"
"Kecuali memenuhi syarat yang diajukan olehnya, terpaksa
memang kita hanya bisa menunggu datangnya ajal."

890
Tio Tian-seng tertawa pedih.
"Sekarang kita cuma ada dua jalan saja yaitu
menggertaknya agar mau menyerahkan obat penawar racun
atau pura-pura menyanggupi permintaannya."
"Aku takut berbuat begitu, kita akan kehilangan pamor
sebagai umat persilatan."
Sekali lagi Tio Tian-seng tertawa sedih, "Dalam persilatan
banyak terjadi peristiwa yang merugikan pihak lain seperti ini.
Bila kita berhasil merenggut nyawanya pun, aku rasa hal ini
bukan suatu dosa besar, mengingat tindakannya berpeluk
tangan melihat jiwa orang terancam sudah melanggar
peraturan dunia persilatan."
"Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak kemudian sesudah
menghela napas sedih, "sudah kau saksikan bahwa
perempuan ini sangat cerdik, teliti dan seksama, caranya
bicaranya pun sangat diplomatis dan tajam, aku lihat dia
bukan perempuan biasa."
"Aku memang dapat merasakan, gadis ini berbeda sekali
dengan kebanyakan gadis lain, tapi kita kan tak bisa berpeluk
tangan menanti tibanya ajal bukan?"
Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas, setelah
mengangkat kepala dan memandang cuaca, dia berkata,
"Sekurangnya kentongan kelima telah tiba, lebih baik kita
berdiam dulu di rumah penginapan Banheng sambil menunggu
perkembangan situasi!"
Tio Tian-seng menyetujui usul Bong Thian-gak, maka
dengan langkah pelan berangkatlah mereka ke kota Lok-yang.
Sambil berjalan Bong Thian-gak bertanya, "Tio-pangcu,
apakah kau sudah merasakan sesuatu perubahan di dalam
tubuhmu?"
"Ya, pipiku mulai terasa panas."

891
"Ai, aku pun mulai merasa kaku pada sekeliling mulut luka
itu."
"Berarti kita benar-benar sudah terkena racun. Bisa jadi
satu jam kemudian, sekujur badan kita akan menjadi kaku dan
tidak dapat bergerak lagi, mari kita percepat perjalanan kita!"
Sambil berkata, kedua orang itu menggunakan Ginkang
menuju ke arah dinding kota.
Dalam perjalanan, tiba-tiba dari balik kegelapan sana
terdengar suara bentakan nyaring, "Kalian kawanan manusia
laknat darimana? Ayo cepat kalian sebutkan namamu!"
Bong Thian-gak menjadi tertegun mendengar suara itu,
katanya kemudian, "Tio-pangcu, nada suara ini sangat
kukenal, apakah suara gadis suku Biau itu?"
"Benar," Tio Tian-seng mengangguk, "memang suaranya,
mari kita tengok ke sana!"
Kedua orang itu segera mengubah arah dan menuju ke
sudut kota sebelah utara.
Di sisi dinding kota, di bawah beberapa batang pohon
besar, tampak delapan lelaki kekar berbaju hitam dengan
pedang terhunus sedang mengepung gadis suku Biau.
Sedang di balik kegelapan di sisi dinding kota rasanya
masih berdiri pula sekelompok orang sedang mengawasi
arena.
Sebenarnya Bong Thian-gak hendak melompat keluar, tapi
Tio Tan seng segera menarik tangannya sambil berbisik,
"Tunggu dulu, mari kita selidiki dulu asal-usul gadis suku Biau
itu!"
Mereka berdua lantas menyelinap ke balik pohon besar.
Dalam pada itu kedelapan lelaki kekar berpedang itu sudah
mulai melancarkan serangan, tiga orang pertama dengan

892
ketiga pedangnya secepat kilat melancarkan tusukan ke gadis
itu.
Dari kecepatan mereka melancarkan serangan, dapat
dilihat kepandaian silat orang-orang itu cukup hebat.
Siapa sangka baru saja ketiga lelaki itu melancarkan
serangannya, tiba-tiba bergema jerit kesakitan yang
memilukan seperti jeritan babi yang disembelih.
Ketiga orang itu tahu-tahu sudah membuang pedang
mereka dan menutup wajah dengan kedua belah tangan dan
bergulingan di atas tanah, tak lama kemudian mengejang
keras dan tak berkutik lagi untuk selamanya.
Kejadian di depan mata ini kontan membuat semua jago
lainnya berkerut kening, sebab barusan tak seorang pun di
antara mereka yang melihat bagaimana gadis Biau
melepaskan serangan.
Dengan terkejut Bong Thian-gak segera bertanya, "Tiopangcu,
sudahkah kau lihat dengan kepandaian apakah ia
melukai musuh-musuhnya?"
Tio Tian-seng menggeleng.
"Sepasang tangannya sama sekali tidak bergerak, tapi
musuh segera menjerit kesakitan. Mungkin ada orang lain
yang membantunya secara diam-diam?"
"Tempat persembunyian kita letaknya cukup strategis,
semua penjuru arena bisa terlihat dengan jelas, tapi
kenyataan kita tidak melihat kehadiran orang lain di seputar
arena yang telah membantunya."
"Aku rasa ketiga orang itu seperti tewas oleh serangan
senjata rahasia beracun yang kecil dan lembut bentuknya, bisa
jadi sebangsa jarum bunga Bwe atau sebangsanya yang
melukai mata mereka. Kalau begitu gadis itu melepaskan
senjata rahasia dengan menggunakan semburan mulut."

893
Belum selesai ia berkata, lima lelaki berbaju hitam lainnya
sudah menggerakkan pedang memainkan selapis kabut
pedang, kemudian bersama-sama melancarkan bacokan kilat
yang sangat hebat.
Kali ini gadis Biau itu melakukan putaran badan satu
lingkaran, jeritan demi jeritan ngeri yang menyayat hati sekali
lagi berkumandang.
Yang lebih mengerikan lagi adalah gadis Biau itu masih
belum juga menggerakkan tangan melancarkan serangan, tapi
hasilnya kelima orang itu sudah roboh bergulingan sambil
menjerit kesakitan, bahkan jiwa mereka melayang.
Bong Thian-gak pun berseru tertahan, lalu bisiknya,
"Perkataan Tio-pangcu memang benar, jarum beracun itu
disemburkan lewat mulut."
Dalam pada itu rombongan orang yang berdiri di sisi
dinding kota mulah menerjang tiba dengan gerakan cepat,
mereka terdiri dari delapan orang lelaki berbaju hitam pula.
Mendadak bergema suara bentakan, "Mundur!"
Kedelapan orang yang sudah menerjang ke depan tadi
serentak menghentikan langkah.
Dari balik kegelapan pelan-pelan muncul seorang, setelah
tertawa terbahak-bahak ia berkata, "Jarum beracun nona
memang lihai sekali. Malam ini aku benar-benar memperoleh
pengetahuan yang sangat berharga, rasanya di kolong langit
dewasa ini hanya satu orang yang mampu menyebarkan racun
melalui mulut, dia adalah Kui-kok Sianseng dari bukit Bongsan."
Gadis Biau itu tertawa kecil.
"Kau mampu melihat semburan jarum beracunku lewat
mulut, ketajaman matamu memang pantas disebut jagoan
persilatan. Ayo sebutkan siapa namamu!"

894
Kakek bungkuk itu kembali tertawa.
"Aku she Bu bernama Seng."
Begitu si kakek bungkuk menyebut namanya, Tio Tian-seng
segera berbisik lirih, "Ah, dia adalah si pukulan tanpa wujud
Bu Seng."
"Tio-pangcu apakah dia adalah pukulan tanpa wujud Bu
Seng yang angkat nama bersama guruku Thi-ciang-kan-kunhoan
Oh Ciong-hu pada empat puluh tahun berselang?" tanya
Bong Thian-gak.
Tio Tian-seng mengangguk membenarkan.
"Betul, kalau dibilang siapa-siapa saja yang termasyhur
dalam Bu-lim karena ilmu pukulannya, maka orang pertama
adalah gurumu Oh Hong hu almarhum, kemudian Bu Seng.
Sungguh tak kusangka Bu Seng masih hidup."
Sementara itu setelah kakek bungkuk itu menyebut
namanya, sambil tersenyum gadis Biau itu berkata, "Pukulan
tanpa wujud Bu Seng memang termasyhur dalam persilatan,
namun malam ini di sini masih hadir pula seorang yang
mempunyai nama besar lebih termasyhur daripadamu dan
orang itu sudah menjadi pengawalku sekarang."
Mendengar itu, si kakek bungkuk tertawa terbahak-bahak,
"Siapa nama besar pengawal nona itu?"
Agaknya dia belum percaya atas perkataan gadis Biau itu.
Sesungguhnya berapa orangkah yang mempunyai nama
dan kedudukan yang lebih tinggi daripada dirinya saat ini?
"Si tua Bu, rupanya kau tidak percaya perkataanku ini,"
seru gadis itu sambil tertawa. "Coba jawab, cukup tenarkah
nama besar Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng dalam dunia
persilatan?"
Mendengar kata-katanya itu, Bong Thian-gak segera
berpaling dan memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng.

895
Tampak Tio Tian-seng menggeleng kepala sambil tertawa
getir, "Wah, agaknya dia telah menganggap kita berdua
sebagai pengawalnya."
Sementara itu si kakek bungkuk sudah dibuat serba salah
oleh perkataan lawan, dengan wajah meringis katanya, "Tio
Tian-seng adalah Kay-pang Pangcu, masakah dia
pengawalmu? Benar-benar melantur dan tak bisa dipercaya."
"Hei, si tua Bu, bagaimana kalau kita bertaruh?" tantang si
gadis suku Biau itu dengan suara merdu.
"Bagaimana caranya bertaruh?"
"Seandainya Tio Tian-seng adalah benar-benar
pengawalku, kau mesti segera mengundurkan diri dan tidak
lagi mencari gara-gara kepada nonamu ini, setuju?"
Kakek bungkuk itu tertawa keras, "Hahaha, bagaimana
caramu membuktikan bahwa Tio Tian-seng adalah
pengawalmu? Apakah cuma mengandalkan bibirmu yang
pandai bicara itu?"
"Oh, soal itu mudah untuk dibuktikan. Asal aku mau, dapat
kuperintahkan Tio Tian-seng menuruti perintahku."
"Bagaimana seandainya kau yang kalah?"
"Kalau aku kalah, maka terserah kepada perintahmu, aku
tak akan melawan sedikit pun juga."
Kakek bungkuk itu memperhatikan sekejap sekeliling
tempat itu, lalu ujarnya, "Nona, kau sudah kalah."
"Mau bertaruh atau tidak, terserah pada keputusanmu
sendiri," jengek si nona Biau sambil tertawa dingin.
"Nona telah membunuh delapan orang anak buahku, aku
tak sudi bergurau denganmu lagi," tukas si kakek bungkuk itu
ketus.

896
"Aku tahu, sepasang telapak tanganmu itu lihai dan tiada
tandingannya. Sekali turun tangan, maka sudah pasti aku
akan tewas di tanganmu."
Sampai di situ, tiba-tiba ia menghentikan perkataannya.
Sudah jelas perkataan itu memang sengaja diucapkan agar
terdengar oleh Tio Tian-seng.
Pada saat itulah dengan suara lirih Bong Thian-gak
bertanya, "Tio-pangcu, bagaimana keputusanmu?"
"Tampaknya ia sudah tahu kita telah menyembunyikan diri
di sekitar sini, maksud tujuannya jelas hendak memaksa kita
menampakkan diri."
"Tio-pangcu adalah seorang terhormat dengan kedudukan
mulia, kau tak boleh memberi kesan kepada orang lain bahwa
dirimu adalah pengawalnya. Biar Boanpwe saja yang tampil
melihat keadaan."
Selesai berkata, pemuda itu segera melompat ke udara dan
melayang turun di sisi kiri gadis Biau itu bagaikan malaikat
yang turun dan kahyangan, setibanya di situ dia
membungkam.
Diam-diam si kakek bungkuk itu terkejut menyaksikan
gerakan Bong Thian-gak yang amat sempurna, diawasinya
pemuda itu beberapa saat. kemudian tegurnya, "Apakah orang
ini adalah pengawalmu?"
Dengan matanya yang jeli, gadis Biau mengerling sekejap
ke arah Bong Thian-gak, lalu dengan senyuman bangga yang
menghiasi ujung bibirnya ia menyahut, "Benar, dia adalah
pengawalku!"
"Kalau begitu biar kubunuh pengawalmu ini terlebih
dahulu," seru si kakek bungkuk sambil tertawa dingin.
Tiba-tiba si kakek bungkuk mengayun telapak tangan
kanannya ke depan, segulung angin pukulan yang tak

897
berwujud bagaikan amukan ombak di tengah samudra
langsung menggulung ke arah anak muda itu.
Bong Thian-gak tidak menyangka lawan segera melepas
serangan begitu selesai mengatakan akan turun tangan.
Sambil mendengus pemuda itu mengayun lengan tunggalnya
menyambut datangnya ancaman kakek bungkuk itu dengan
keras melawan keras.
Sementara itu dalam pikiran si kakek bungkuk ia justru
kuatir apabila Bong Thian-gak berkelit dan tak berani
menyongsong datangnya serangannya dengan kekerasan.
Maka begitu melihat lawannya menyambut ancaman itu
dengan kekerasan, ia segera berpikir sambil tertawa geli,
"Bocah keparat, kau sudah ingin mampus rupanya."
Belum habis ingatan itu melintas, dua gulung angin pukulan
tanpa wujud sudah saling bentur.
Gelombang angin pukulan yang saling bentur itu seketika
menimbulkan pusaran serta desingan angin tajam yang
mengerikan dan melontarkan pasir serta debu hingga
memenuhi angkasa.
Akibat benturan yang amat keras itu sepasang bahu kakek
itu bergetar keras hingga tak dapat dicegah lagi tubuhnya
terdorong mundur sejauh tiga langkah.
Sebaliknya Bong Thian-gak juga mendengus tertahan, lalu
secara beruntun dia mundur tiga langkah dengan
sempoyongan.
Ketika kakek bungkuk itu melihat Bong Thian-gak masih
berdiri segar bugar di tempat, paras mukanya kontan berubah
hebat, setelah tertawa dingin katanya, "Ehm, dari
kemampuanmu menyambut seranganku tadi, bisa kuduga
tenaga dalam yang kau miliki benar-benar amat sempurna."

898
Pada saat itu Bong Thian-gak harus menerima semuanya
itu tanpa menjawab, karena itu dia berlagak bisu dan tuli serta
tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Sesudah tertawa bangga, gadis suku Biau itu berkata
kembali, "He, si tua Bu, kau jangan keburu bangga dulu
dengan mengira ilmu pukulanmu sudah tiada taranya di dunia
ini. Ketahuilah pada malam ini kau telah bertemu dengan
lawan tandingmu, tentunya kemampuan yang dimiliki anak
buahku itu tidak lebih lemah daripada kemampuan yang kau
miliki bukan?"
Sebenarnya kakek bungkuk ini memang agak bergidik
dibuatnya, tapi di luar ia tetap berkata sambil tertawa dingin,
"Siapa nama besar pengawalmu ini?"
Gadis suku Biau itu tersenyum.
"Jika kusebut namanya, besar kemungkinan kau akan
terperanjat."
Sekali lagi si kakek bungkuk mengawasi Bong Thian-gak
sekejap, lalu dengan kening berkerut katanya, "Jangan kuatir,
nyaliku cukup besar, coba katakan orang ternama
darimanakah pengawalmu itu hingga rela bertekuk lutut
menjadi budak orang."
Bong Thian-gak kontan mengerut dahi, hawa napsu
membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya.
Kembali gadis suku Biau itu berkata sambil tersenyum, "Dia
adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak, pernah kau dengar
nama orang ini?"
Berubah hebat paras muka si kakek bungkuk itu, segera ia
berpaling ke arah Bong Thian-gak dan bertanya, "Benarkah
kau adalah Jian-ciat-suseng?"
"Benar, akulah orangnya," untuk pertama kalinya Bong
Thian-gak bersuara dan menjawab dengan suara hambar.

899
Tiba-tiba kakek bungkuk itu tertawa terbahak-bahak,
kemudian serunya lantang, "Aku dengar kau telah mendirikan
sebuah partai yang dinamakan Hiat-kiam-bun. Sungguh tak
kusangka malam ini kau justru mengikat hubungan dengan
perempuan liar ini, bahkan bersedia menjadi budaknya.
Peristiwa ini benar-benar tidak kusangka."
"Apa yang hendak kuperbuat, lebih baik kau tak usah ikut
campur," kata Bong Thian-gak dengan suara dingin.
"Bagaimana pun juga malam ini, Jian-ciat-suseng tak akan
mengizinkan kau melukainya barang seujung rambut pun."
Sekali lagi kakek bungkuk itu tertawa terbahak-bahak,
"Sudah puluhan tahun aku belum pernah bertemu seorang
lawan tanding. Malam ini Jian-ciat-suseng memang perlu
merasakan kemampuan sepasang telapak tanganku ini."
"Bu Seng, ilmu pukulan tanpa wujudmu meski sudah
termasyhur di seluruh kolong langit belum tentu aku bukan
tandinganmu, tapi malam ini orang yang melindungi
keselamatannya bukan cuma aku seorang. Oleh sebab itu
kuanjurkan kepada Bu-locianpwe agar segera mengundurkan
diri, kesempatan bagi kita untuk bertarung di kemudian han
masih cukup banyak."
"Siapa lagi yang berada di sini?" desak kakek bungkuk itu
cepat.
Dengan suara dalam Bong Thian-gak menjawab, "Jangan
kau tanya siapa orangnya, yang jelas dia adalah seorang
tokoh sakti dari persilatan yang memiliki ilmu silat lebih
tangguh daripada aku."
"Tahukah kau apa yang menjadi sengketa antara diriku
dengan perempuan itu?" tegur si kakek bungkuk lagi.
"Walaupun aku tak tahu, namun kuharap Bu-locianpwe sudi
memberi muka untuk kali ini saja, di kemudian hari aku pasti
akan memohon maaf kepada Locianpwe."

900
Kakek bungkuk itu tertawa terbahak-bahak, "Baiklah kalau
begitu, aku mengundurkan diri untuk sementara waktu."
Selesai berkata, dia lantas mengulap tangan, kedelapan
lelaki berbaju hitam tadi serentak menggotong jenazah rekanrekannya
dan berlalu mengikut di belakang kakek bungkuk itu.
Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap
di balik kegelapan sana.
Pada saat itulah dari bawah rindangnya pepohonan pelanpelan
berjalan keluar Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng.
Dengan suara rendah dan berat, Bong Thian-gak segera
berkata kepada gadis suku Biau itu, "Nona, sekarang aku
hendak bicara secara blak-blakan padamu. Kami bersedia
membantumu menghadapi musuh mana pun, tetapi enggan
menuruti perintah dan menjalankan tugas yang kau berikan."
"Tentunya nona tahu meskipun aku dan Tio-pangcu sudah
keracunan, namun masih memiliki kekuatan untuk bertempur
melawan musuh mana pun juga, tetapi demi keselamatan
kami berdua, besar kemungkinan kami akan berbuat
sewenang-wenang terhadapmu."
Biau-kosiu tertawa, "Kau menyebut diri sebagai pendekar,
apakah kalian benar-benar akan turun tangan keji terhadap
seseorang yang sama sekali tidak ada ikatan dendam maupun
sakit hati terhadap dirimu?"
"Nona tak sudi menolong orang yang sedang susah, tiada
setia kawan serta ingkar janji. Apakah kami pun akan
membiarkan kau bertindak sewenang-wenang untuk
keuntungan dirimu sendiri?"
Tiba-tiba Biau-kosiu menghela napas panjang, "Ai, semua
itu gara-gara aku telah cerewet sehingga membocorkan
kepada kalian bahwa aku dapat menyembuhkan racun
sengatan nyamuk penghancur darah."

901
"Bila nona bersedia membantu kami, Bong Thian-gak tak
akan melupakan budi kebaikanmu itu."
"Baiklah, aku bersedia menghadiahkan obat penawar racun
untuk kalian berdua," ucap Biau-kosiu kemudian.
"Apakah obat penawar racun berada di rumah
penginapan?"
"Ya, silakan kalian ikut aku kembali ke rumah penginapan
Ban-heng!"
Rumah penginapan Ban-heng adalah rumah penginapan
terbesar di kota Lok-yang, bangunan rumahnya bersusunsusun
dan kamarnya terdiri dari ratusan bilik, letaknya di
sebelah barat dekat dinding kota.
Oleh karena itu Bong Thian-gak, Tio Tian-seng dan Biaukosiu
menelusuri dinding kota menuju ke bagian barat,
kemudian melompati dinding benteng dan melayang masuk ke
halaman rumah penginapan Ban-heng.
Waktu itu kentongan kelima baru saja bergema, bintang
dan rembulan telah tenggelam, langit dicekam kegelapan.
Dengan gerakan tubuh yang enteng, Biau-kosiu menelusuri
halaman menuju gedung lapisan kedua dan pada akhirnya
melayang turun ke muka sebuah pintu.
Baru saja mereka muncul, dari balik gedung sudah
terdengar seorang perempuan menegur tapi penuh kasih
sayang, "Anak Siu di situ?"
Menyusul cahaya lentera menerangi ruangan kamar.
"Nenek, Siu-ji yang datang," Biau-kosiu berseru manja.
Dari balik ruangan terdengar perempuan tua itu menegur
lagi, "Siapakah kedua orang lainnya?"
Ketika mendengar teguran itu, paras muka Tio Tian-seng
dan Hong Thian-gak sama-sama berubah hebat, pikir mereka,

902
"Hebat, tajam dan cekatan benar pendengaran perempuan itu,
padahal langkah kami sudah diusahakan seringan mungkin,
sudah tidak menimbulkan sedikit suara pun, tapi anehnya
mengapa pihak lawan bisa membedakan berapa orang yang
telah datang?"
Dapatlah diduga perempuan di dalam ruangan itu adalah
seorang jagoan yang berilmu sangat tinggi.
Diam-diam Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng jadi kuatir,
andaikata Biau-kosiu ingkar janji dan tak bersedia
menyerahkan obat penawar racun, sanggupkah mereka
berdua menandingi Biau-kosiu beserta perempuan tua itu?
Dalam pada itu Biau-kosiu termenung sesaat, tidak
langsung menjawab, mendadak dari kegelapan muncul
bayangan orang, tahu-tahu ada tiga orang telah mengurung
Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng.
Ketiga orang itu terdiri dari seorang nenek berambut putih
berwajah merah, membawa toya kepala setan yang besarnya
selengan bocah dan berwarna hitam pekat.
Di sisi nenek itu adalah seorang perempuan setengah umur
yang tinggi kekar bermata tunggal berparas jelek serta
bertelanjang kaki yang bentuknya sebesar gajah.
Sedang di sebelah kanannya adalah seorang lelaki kekar
setengah umur yang hitam dan jelek, bermata tunggal dan
berperawakan tinggi kekar, dia pun bertelanjang kaki.
Pada hakikatnya kedua orang terakhir ini merupakan
pasangan yang amat serasi, baik lelaki maupun yang
perempuan sama-sama berwajah bengis, buas, bermata
tunggal dan bertelanjang kaki.
Dari kemampuan ketiga orang yang muncul tanpa
menimbulkan sedikit suara, bahkan sanggup menyelinap
dengan kecepatan tinggi, jelas kemampuan mereka sungguh
hebat dan tak bisa dianggap enteng.

903
Seketika itu juga Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng
dicekam oleh ketegangan yang luar biasa.
Sementara itu Biau-kosiu telah bersandar dalam pelukan si
nenek berambut putih itu sambil berkata dengan manja,
"Nenek, berilah dua butir pil penawar nyamuk beracun
untukku, anak Siu telah berjanji akan menghadiahkan untuk
mereka berdua."
Dengan penuh kasih sayang nenek berambut putih itu
membelai rambut Biau-kosiu, lalu katanya, "Anak Siu, siapa
kedua orang ini? Mengapa kau berjanji hendak
menghadiahkan pil penawar nyamuk beracun itu kepada
mereka?"
"Nenek janganlah bertanya terus, Siu-ji telah berjanji, tentu
saja aku tidak ingin ingkar janji. Nenek, ayolah ambil pil itu!"
Tampaknya nenek berambut putih itu sangat menyayangi
Biau-kosiu, ia segera menjawab, "Baik, nenek akan
memberikan dua butir untuk mereka."
Seusai berkata, tiba-tiba nenek berambut putih itu
mengeluarkan dua pil berwarna merah dari dalam sebuah
botol berwarna putih porselen, kemudian diserahkan ke
tangan nona itu.
Setelah menerima pil itu, Biau-kosiu segera menyerahkan
kepada Bong Thian-gak sambil ujarnya manja, "Cepat kalian
telan pil itu dan tinggalkan tempat ini secepatnya!"
Bong Thian-gak menerima pil itu, baru saja hendak
mengucapkan beberapa patah kata merendah, nona itu di
bawah bimbingan si nenek berambut putih dan diikuti
sepasang laki perempuan bermata tunggal itu sudah berlalu
dari sana.
Bong Thian-gak hanya bisa menghela napas dan
menyerahkan sebutir pil ke tangan Tio Tian-seng, kemudian
mereka menelan pil itu.

904
Begitu pil itu masuk ke dalam mulut, bau harum semerbak
memancar kemana-mana, pil segera mencair dan membaur
dengan liur mengalir ke dalam perut.
Tak lama kemudian mereka berdua merasakan
semangatnya berkobar kembali, dada terasa lapang dan
segar.
Tio Tian-seng pun menarik Bong Thian-gak untuk diajak
pergi dari situ.
"Kita hendak kemana?" tanya Bong Thian-gak.
"Mari kita memesan kamar dan tinggal di rumah
penginapan ini."
Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng pun menginap di rumah
penginapan Ban-heng, jaraknya dari situ ke gedung yang
ditempati Biau-kosiu sekalian cuma selisih sebuah beranda
lebar.
Di dalam gedung yang mereka pesan terdapat dua buah
kamar dengan bagian tengahnya merupakan ruang tamu.
Ketika Tio Tian-seng pergi meninggalkan penginapan, dalam
ruangan itu tinggal Bong Thian-gak seorang.
Perjalanan yang jauh semalam suntuk membuat Bong
Thian-gak merasa agak lelah, ketika ia bersiap-siap masuk ke
dalam kamar untuk beristirahat, mendadak dari halaman muka
bergema suara langkah kaki, lalu seseorang berkelebat dan di
muka pintu sudah berdiri seorang sastrawan berbaju putih.
Dengan terkejut Bong Thian-gak menegur, "Kau mencari
siapa?"
Tampang sastrawan berbaju putih itu ganteng, mata jeli
dan hidung mancung, mukanya putih bersih, ia menggenggam
kipas putih dan menggembol sebilah pedang di punggungnya.
Dengan sorot mata tajam ia mengawasi wajah Bong Thiangak
lekat-lekat. Sekulum senyuman yang angkuh menghiasi

905
ujung bibirnya, ia ganti menegur dengan lantang, "Kau yang
bernama Jian-ciat-suseng?"
"Benar," Bong Thian-gak manggut-manggut. "Ada urusan
apa kau datang mencariku?"
Sastrawan berbaju putih itu tersenyum.
"Aku she Liong bernama Oh-im."
Sekalipun Bong Thian-gak merasa agak bingung dan heran
atas kedatangan tamu tak diundang ini, namun ia segera
menyahut dengan nada gembira, "Oh, rupanya Liong-heng.
Silakan duduk."
Tanpa sungkan sastrawan berbaju putih Liong Oh-im
melangkah masuk ke dalam dan duduk di kursi tamu.
Bong Thian-gak menuang secangkir teh untuk tamunya,
kemudian baru bertanya lagi, "Apakah Liong-heng mencari
aku?"
"Benar," Liong Oh-im tertawa dingin. "Adapun
kedatanganku tak lain adalah menanyakan beberapa
persoalan kepada Bong-tayhiap."
"Liong-heng ada urusan apa, silakan saja utarakan secara
terus terang," jawab Bong Thian-gak tertegun.
Kembali Liong Oh-im tertawa.
"Sebenarnya kita memang tidak saling mengenal.
Karenanya bila kedatanganku telah mengganggu Bongtayhiap,
harap sudi memaafkan."
"Ah, empat penjuru adalah tetangga, empat samudra
adalah saudara."
Tiba-tiba sastrawan berbaju putih merendahkan suara,
kemudian berbisik, "Bong-tayhiap, sebenarnya persoalan yang
hendak kutanyakan adalah masalah yang menyangkut
hubungan Bong-tayhiap dengan Biau-kosiu."

906
"Kau maksudkan gadis suku Biau itu?" tanya Bong Thiangak
terperanjat.
Liong Oh-im tersenyum.
"Konon Bong-tayhiap menjadi salah satu pengawal Biaukosiu?
Apa benar kabar ini?"
Bong Thian-gak tidak langsung menjawab, ia termenung
dan berpikir beberapa saat, kemudian balik bertanya, "Ada
urusan apa Liongheng menanyakan hal ini?"
Kembali Liong Oh-im tertawa kering, "Aku hanya ingin
tahu, benarkah Bong-tayhiap sudah menjadi pengawalnya?"
"Tidak," Bong Thian-gak menggeleng dengan tegas.
"Kalau memang Bong-heng bukan pengawal Biau-kosiu,
buat apa kau tetap berada di sini untuk menyerempet
bahaya?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Dengan berdiam dalam rumah penginapan ini,
mungkinkah aku akan menjumpai ancaman maut?"
"Sudah banyak jago-jago lihai persilatan yang beranggapan
bahwa Bong-tayhiap adalah orang Biau-kosiu. Dengan tetap
berada di sini, bukankah sama artinya menjajakan diri menjadi
sasaran kemarahan orang?"
Tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya, "Apakah kau berasal
dari satu aliran dengan si pukulan tanpa wujud Bu Seng?"
"Betul, Bu Seng si tua itu tak lebih adalah panglima
andalanku."
Bong Thian-gak sangat terkejut, segera pikirnya, "Jadi dia
adalah anak buahnya? Lantas orang macam apakah Liong Ohim?"
Bu Seng adalah tokoh silat yang pernah menggemparkan
Bu-lim pada empat puluh tahun berselang, tapi sekarang dia

907
tak lebih cuma seorang anak buah Liong Oh-im yang masih
begitu muda.
Tentu Liong Oh-im adalah seorang yang mempunyai asalusul
luar
biasa.
Bong Thian-gak berpikir beberapa saat, kemudian katanya
sambil tersenyum, "Apakah kau hendak membuat perhitungan
dengan Biau-kosiu serta rombongannya?"
"Boleh dibilang begitu," sahut Liong Oh-im sambil tertawa
ringan.
Bong Thian-gak segera tertawa.
"Aku rasa Biau-kosiu bukan manusia yang mudah dihadapi,
lagi pula di sekelilingnya dilindungi oleh beberapa jago silat
berilmu tinggi. Untuk menghadapi perempuan itu, kau mesti
banyak membuang tenaga dan pikiran."
"Justru karena agak sulit dihadapi, maka aku sengaja
datang menjumpai Bong-tayhiap dan berharap kau tidak
mencampuri urusan ini," kata Liong Oh-im sambil tertawa.
Bong Thian-gak juga tertawa.
"Ah, aku cukup terang pikiran untuk membedakan mana
budi dan mana dendam. Bila ada orang melepas budi
kepadaku, aku pun akan membalas kebaikan kepadanya, tapi
bila orang memberi kejahatan padaku, aku pun bersumpah
akan menuntut balas. Jika persoalan tiada sangkut-paut
dengan budi dan dendam, maka aku pun akan berpeluk
tangan."
Liong Oh-im terbahak-bahak, "Jika Bong-tayhiap memang
benar memegang ketat perkataanmu itu, aku pun tak usah
kuatir lagi. Baiklah, aku mohon diri lebih dulu."
Selesai berkata, dia lantas berdiri, memberi hormat dan
segera membalikkan badan berlalu dari situ.

908
Bong Thian-gak mengawasi bayangan Liong Oh-im lenyap
dari pandangan, kemudian menghela napas seraya
bergumam, "Sebenarnya orang macam apakah Liong Oh-im?
Dilihat dari gerak-geriknya, dia seperti memiliki jiwa seorang
pemimpin. Mungkinkah dia benar-benar seorang tokoh
terkenal yang memiliki kedudukan tinggi?"
Belum habis ingatan itu melintas, tiba-tiba dari luar pintu
sudah muncul Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng.
Begitu memasuki ruangan, Tio Tian-seng segera bertanya,
"Bong-laute, apakah ada tamu yang telah berkunjung
kemari?"
Sekali lagi Bong Thian-gak tertegun, kemudian baru
jawabnya, "Ya, memang ada seorang tamu tak diundang yang
telah berkunjung kemari. Dia mendatangkan kebimbangan,
kecurigaan dan kemisteriusan bagiku."
"Oya? Tamu macam apakah dia?"
"Seorang sastrawan berbaju putih yang berusia dua puluh
tujuh-delapan tahun, dia mengaku bernama Liong Oh-im."
Mendengar nama itu, paras Tio Tian-seng berubah,
kemudian serunya terkejut, "Liong Oh-im? Dia adalah Giokgan-
suseng (sastrawan berwajah kemala) Liong Oh-im yang
namanya amat tersohor di seputar wilayah Se-ih."
Bong Thian-gak belum pernah mendengar tentang Giokgan-
suseng. Oleh sebab itu dia tidak terpengaruh oleh nama
ini, malah tanyanya, "Menakutkankah orang itu, Tio-pangcu?"
"Mungkin Bong-laute belum begitu mengenal dan belum
pernah mendengar tentang Giok-gan-suseng Liong Oh-im ini.
Ketahuilah, sejak delapan belas tahun berselang, nama besar
Giok-gan-suseng sudah amat termasyhur, bahkan amat
menggetarkan wilayah Se-ih."
"Delapan belas tahun berselang?" Bong Thian-gak terkejut.
"Tapi aku rasa Liong Oh-im masih berusia dua puluh delapan

909
tahunan. Ah, mana mungkin? Masakah sejak usia sepuluh
tahun sudah terkenal dan menggemparkan persilatan?"
"Bong-laute, kau salah taksir. Liong Oh-im tidak terhitung
anak muda lagi, usianya sekarang sekitar empat puluh
tahunan, tapi oleh karena dia telah memakan obat mustika
yang disebut Ho-siu-uh yang berusia seribu tahun, maka
wajahnya tetap awet muda dan menyerupai anak muda
berusia dua puluh tahun, ditambah lagi parasnya memang
termasuk tampan. Itulah sebabnya orang menyebut Giok-gansuseng
kepadanya."
"Ah, masakah di dunia ini benar-benar terdapat sejenis
obat mustika yang bisa membuat orang awet muda?" seru
Bong Thian-gak heran.
"Barusan aku telah berkunjung ke kantor cabang
perkumpulan di l.ok-yang dan mendapat tahu bahwa Lok-yang
telah dijadikan arena perkumpulan jago lihai dari seluruh
kolong langit, seakan-akan bakal terjadi suatu peristiwa yang
mengerikan di kota Lok-yang ini."
Bong Thian-gak menghela napas ringan.
"Setelah mendengar perkataan Liong Oh-im tadi, kemudian
dicocokkan dengan perkataanmu barusan, maka aku rasa
berkumpulnya para jago persilatan di kota Lok-yang ini bisa
jadi hendak mencari gara-gara kepada pihak Biau-kosiu."
Secara ringkas lantas Bong Thian-gak menceritakan apa
yang dibicarakannya bersama Liong Oh-im belum lama
berselang.
Kata Tio Tian-seng dengan suara dalam, "Bong-laute, untuk
menghadapi seorang Hek-mo-ong saja kita sudah cukup
dibuat pusing dan kewalahan. Apakah kau hendak menanam
bibit bencana lagi dengan mencari musuh baru macam Giokgan-
suseng Liong Oh-im?"

910
"Biau-kosiu telah melepas budi pertolongan kepada kita
berdua, apakah kita harus berpeluk tangan membiarkan dia
dipermainkan dan dianiaya orang lain?"
"Bong-laute," Tio Tian-seng berkata, "pernahkah kau
bayangkan siapakah sebenarnya orang yang telah menyergap
kita dengan nyamuk-nyamuk penghancur darah itu?"
"Apakah hasil perbuatan Hek-mo-ong?"
Tio Tian-seng menggeleng kepala berulang-kali.
"Aku rasa bukan Hek-mo-ong, melainkan perbuatan Biaukosiu."
"Bagaimana penjelasanmu tentang persoalan ini? Antara
kita dengan Biau-kosiu sama sekali tidak terikat dendam sakit
hati apa pun?"
"Apabila perbuatan Hek-mo-ong, maka dia pasti tidak
hanya melepaskan nyamuk penghancur darah saja dan lebihlebih
tidak akan mengizinkan Biau-kosiu menyelamatkan jiwa
kita. Sekarang kota Lok-yang sudah menjadi pusat jagoan dari
bermacam-macam aliran dan kedatangan mereka pun untuk
membuat gara-gara kepada Biau-kosiu serta rombongannya,
posisi Biau-kosiu sudah terjepit dan menghadapi ancaman dari
mana-mana. Betul, dia masih dilindungi nenek berambut putih
serta laki-perempuan bermata tunggal itu, tapi mungkinkah
baginya membendung serangan Liong Oh-im bersama
kawanan jago lihai lainnya?"
"Oleh sebab itu Biau-kosiu yang licik dan banyak tipu
muslihat itu melepas nyamuk-nyamuk penghancur darah
untuk mencelakai kita, kemudian menguntit dan memaksa kita
menjadi pengawalnya."
"Entah bagaimanakah pendapat Bong-laute tentang
keteranganku ini? Apakah masih dapat diterima?"
Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, apabila Tiopangcu
tidak mengatakan lebih dahulu bahwa Hek-mo-ong

911
bisa menyergap kita berdua, aku pun menduga seperti apa
yang baru saja kau kemukakan. Cuma peristiwa ini sudah
lewat, entah Biau-kosiu benar-benar melepas nyamuk-nyamuk
penghancur darah secara sengaja untuk mencelakai kita atau
tidak, Boanpwe sudah tidak mengingat lagi masalah itu dalam
hati."
"Bong-laute, hari ini kita masih berdiam di Lok-yang karena
menunggu kabar Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing. Kita hanya
secara kebetulan bertemu perselisihan antara golongan Biaukosiu
dengan Giok-gan-suseng Liong Oh-im. Perkataan Bonglaute
terhadap Liong Ohi m kunilai tepat sekali, kita memang
tak usah mencampuri urusan orang lain, lebih baik berpeluk
tangan menyaksikan mereka saling gontok."
"Tio-pangcu," tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya, "sekarang
aku makin bingung. Betulkah dalam Bu-lim terdapat seorang
tokoh yang disebut Hek-mo-ong?"
"Tak heran Bong-laute merasa ragu dan sangsi terhadap
peristiwa Ini. Nama Hek-mo-ong memang tidak diketahui oleh
sebagian besar umat persilatan, seperti pula keberhasilan
perkumpulan Put-gwa-cin-kau menguasai dunia persilatan. Hal
ini pun disebabkan kemisteriusan yang menyelimuti setiap
tokoh mereka."
"Tio-pangcu, kau mempunyai dugaan atas empat orang
yang kemungkinan besar adalah Hek-mo-ong, bolehkah
kuketahui keempat orang yang manakah menurut kau
kemungkinan besar adalah Hek-mo-ong ?”
Tio Tian-seng termenung dan berpikir sesaat lamanya,
kemudian buru menjawab, "Keempat orang yang
mencurigakan itu adalah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing, si
tabib sakti Gi Jian-cau, Giok-gan-suseng Liong Oh-im serta Topit-
coat-to Liu Khi," sebab hanya keempat orang inilah yang
memiliki kepandaian silat cukup tangguh untuk memegang
peranan sebagai Hek-mo-ong."

912
"Tio-pangcu, mengapa kau mencantumkan nama wakil
ketuamu, Liu Khi, dalam daftar orang-orang yang kau curigai?"
tanya Bong Thian-gak-
"Ya, setiap orang yang kucurigai sesungguhnya mempunyai
alasan dan bukti yang cukup kuat," kata Tio Tian-seng seraya
manggut-manggut. "Walaupun Liu Khi sempat memangku
jabatan sebagai wakil ketua Kay-pang, namun gerak-gerik,
ilmu silat dan kecerdasannya, rasanya lebih dari cukup untuk
memegang peranan sebagai Hek-mo-ong."
Bong Thian-gak menghela napas, "Ai, keempat orang yang
Tio-pangcu sebutkan tak begitu kukenal secara akrab. Oleh
sebab itu aku tak herani berkomentar apa-apa tentang
mereka, cuma Gi Jian-cau seorang yang hingga kini belum
pernah kulihat raut wajahnya, seperti apakah wajah si tabib
sakti Gi Jian-cau?"
"Saat-saat Hek-mo-ong tampil mungkin tidak akan terlalu
lama lagi, sebab orang yang paling dia segani satu per satu
telah disingkirkan olehnya. Pada akhirnya Hek-mo-ong yang
asli akan segera diketahui orangnya."
"Tio-pangcu," Bong Thian-gak bertanya, "hingga sekarang
aku masih belum tahu asal-usul Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Dapatkah Tio-pangcu memberi keterangan kepadaku?"
Berubah paras Tio Tian-seng, dia nampak ragu, tapi
akhirnya berkata, "Bong-laute, aku telah bersumpah takkan
membocorkan asal-usulnya selama hidup. Sebagai umat
persilatan yang memegang janji, aku tak ingin mengingkari
sumpahku sendiri. Benar, aku berdiri pada pihak yang
bermusuhan dengan dirinya, tapi aku tak bisa melanggar
sumpahku."
Bong Thian-gak tertegun, katanya, "Ai, sungguh tak
kusangka Tio-pangcu begini memegang janji."
"Harap Bong-laute sudi memaafkan," suara Tio Tian-seng
amat sedih dan pilu.

913
"Boanpwe tak akan menyalahkan dirimu, bagaimana pun
juga aku telah menyaksikan paras asli Cong-kaucu."
"Kehadiran Cong-kaucu dalam Kangouw, sedikit banyak
masih dapat menandingi gerak-gerik Hek-mo-ong. Oleh sebab
itu hingga sekarang kau belum melihat perlunya bentrokan
secara langsung pihak mereka dan di sinilah letak hubungan
yang sensitif di antara kami."
Bong Thian-gak menjadi bingung, tanyanya kemudian,
"Hek-mo-ong adalah otak di belakang layar yang mengatur
semua perbuatan dan tindakan orang-orang Put-gwa-cin-kau,
hanya Hek-mo-ong yang dapat memberi perintah kepada
Cong-kaucu. Mengapa kau mengatakan Cong-kaucu justru
merupakan biji catur yang sanggup menghadapi Hek-mo-ong
serta membatasi gerak-geriknya?"
"Keadaan ini tak ubahnya seperti keadaanku yang
mencurigai Liu Khi, biarpun Cong-kaucu hanya seorang anak
buah Hek-mo-ong, namun sesungguhnya Cong-kaucu pun
punya kemungkinan merebut jabatan pimpinan tertinggi."
Bong Thian-gak setengah mengerti arti kata-katanya itu,
katanya pula, "Sejak dulu berapa banyak menteri setia yang
akhirnya berontak terhadap kaisar dan merebut kedudukan
terhormat itu. Apabila dunia persilatan memang dipenuhi
berbagai orang yang berambisi besar, siapa bilang keadaan
demikian tak akan terjadi?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya, "Ai, ambisi
dan rasa lak puas seseorang memang tak bisa dipenuhi untuk
selamanya. Banyak peristiwa sedih dan tragis yang terjadi di
dunia selama ini, bukankah sebagian besar disebabkan oleh
watak manusia yang serakah, berambisi dan perasaan tak
puas?"
Semangat Tio Tian-seng berkobar, segera katanya, "Bila
Hek-mo-ong telah disingkirkan, aku akan segera
mengumumkan kepada seluruh umat persilatan bahwa aku

914
akan mengundurkan diri dari keramaian dan selama hidup
tidak akan mencampuri urusan duniawi lagi."
Untuk kesekian kalinya Bong Thian-gak menghela napas
panjang.
"Selama ini Boanpwe pun tidak mempunyai ambisi untuk
menjadi pimpinan besar dunia persilatan atau pun ambisi
untuk menguasai «eluruh jagat. Asal dendam sakit hati
perguruanku sudah terbalas dan Put-gwa-cin-kau bubar,
Boanpwe pun berniat mengasingkan diri di suatu tempat
terpencil dan tak akan lagi mencampuri urusan dunia ramai
lagi."
"Bong-laute, mari kita beristirahat. Kemungkinan besar kita
akan disuguhi pertunjukan bagus malam nanti, kita tak boleh
ketinggalan menyemarakkan keramaian itu."
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Benar, siang hari memang merupakan waktu beristirahat
bagi orang persilatan, mari kita beristirahat."
Maka kedua orang itu pun kembali ke kamar masingmasing
untuk beristirahat.
Bagi manusia-manusia yang berilmu tinggi seperti Tio Tianseng
dan Bong Thian-gak, duduk bersemedi pun sudah cukup
bagi mereka untuk menggantikan tidur, terutama Tio Tianseng
yang mempunyai dasar tenaga dalam yang amat
sempurna, baginya setiap hari hanya cukup bersemedi dua
jam saja untuk menggantikan tidur semalam suntuk.
Demikianlah mereka duduk bersemedi, dua jam sudah
berlalu tanpa terasa.
Waktu itu Bong Thian-gak sudah berada dalam keadaan
lupa akan segalanya, hawa murni beredar dengan lancar dan
napas berembus sangat beraturan.

915
Tiba-tiba di luar jendela muncul seseorang, seorang gadis
berbaju hijau telah menyusup masuk dari jendela.
Ilmu yang dipelajari Bong Thian-gak adalah Tat-mo-khikang.
Selama ia duduk bersemedi, indra perasaannya amat
sensitif dan tajam, sejak nona berbaju hijau muncul di luar
jendela, dia telah mengetahui kehadirannya.
Pemuda itu membuka mata, sedang si nona berbaju hijau
segera menempelkan jari tangannya di depan mulut memberi
tanda agar jangan bersuara, kemudian dia mengayun tangan
kirinya melemparkan sepucuk surat ke arah Bong Thian-gak,
setelah itu si nona melompat keluar jendela dan lenyap di
balik wuwungan rumah sana.
Bong Thian-gak tertegun, kemudian mengawasi surat yang
dilemparkan ke arahnya dengan termangu, pikirnya, "Aneh,
siapakah perempuan ini? Mengapa dia datang menyampaikan
surat untukku?"
Pemuda itu segera memungut surat itu dan membukanya,
di atas surat berwarna biru tertera tiga baris tulisan hitam,
gaya tulisannya indah dan lembut, sudah jelas tulisan seorang
wanita.
Di atas surat itu tertera tulisan:
"Ditujukan kepada Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak. Surat
ini disampaikan oleh seorang kepercayaanku. Harap setelah
menerimanya Siangkong segera berangkat keluar kota dan
menjumpai seorang perempuan berbaju hijau di sebuah kuil
dewa gunung yang terletak tiga li dari barat kota."
Selesai membaca surat itu, Bong Thian-gak merasa ragu
sejenak, kemudian setelah merobek-robek surat itu hingga
hancur berkeping-keping, ia berpikir, "Aku sudah menerima
budi pertolongan darinya, berarti aku harus membantunya."
Bong Thian-gak segera turun dari pembaringan dan menuju
ke pintu.

916
Pada saat itulah dari ruang tengah terdengar suara Tio
Tian-seng menegur, "Bong-laute, kau sudah bangun?"
"Ya, sudah bangun!" pemuda itu mengiakan. Ia membuka
pintu kamar dan menuju ke ruang tengah.
Tio Tian-seng sedang duduk di ruang tengah, dia
menengok sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu bertanya,
"Apakah Bong-laute telah menjumpai seseorang memasuki
tempat tinggal kita?"
Bong Thian-gak terkesiap, tapi buru-buru menjawab, "Oh,
dia adalah nona berbaju hijau, tapi dengan cepat telah
meninggalkan tempat ini."
Sementara itu paras muka Tio Tian-seng diliputi hawa
dingin, pelan-pelan ia mengeluarkan sepucuk surat sampul
putih dari dalam sakunya dan diserahkan kepada Bong Thiangak
sambil berkata, "Hek-mo-ong telah mengirim kartu
undangan kematian buat kita."
"Kartu undangan kematian?" Bong Thian-gak bertanya
dengan kening berkerut.
"Kartu itu berada di dalam sampul surat ini, lihatlah
sendiri!"
Bong Thian-gak membuka sampul itu dan mengeluarkan
isinya yang ternyata berupa dua lembar kartu undangan
berwarna putih pula.
Pada bagian tengah kartu itu, tertera huruf-huruf besar.
Yang satu berbunyi:
"Dipersembahkan untuk Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."
Sedangkan yang lain berbunyi:
"Dipersembahkan untuk Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng."
Tulisan itu dibuat dari tinta merah darah, sehingga
kelihatannya amat menyolok pandangan mata.

917
Bong Thian-gak membuka sampul undangan yang
ditujukan kepadanya dan membaca isinya, ternyata isinya
berupa sebuah kalimat dengan tulisan berwarna merah:
"Usia Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak akan berakhir pada
tahun Sim-cho, bulan delapan, tanggal delapan tengah hari
tepat."
Sedangkan bagian bawahnya tertera sebuah lambang
tengkorak berwarna putih.
Sambil tersenyum Bong Thian-gak segera berkata, "Tiopangcu,
apa yang tertera pada undanganmu itu?"
"Dia menetapkan usiaku akan berakhir pada bulan delapan
tanggal sembilan persis selisih sehari darimu."
Sekali lagi Bong Thian-gak tertawa, "Hari ini baru bulan
delapan tanggal lima menjelang tengah hari, wah, kalau
begitu usiaku masih ada tiga hari enam jam."
"Bong-laute, selama ini kartu kematian dari Hek-mo-ong
bukanlah gurauan," kata Tio Tian-seng serius.
"Selama puluhan tahun belakangan ini, setiap orang yang
telah menerima undangan kematian Hek-mo-ong belum
pernah dapat hidup melebihi batas waktu yang ditentukannya
di dalam kartu undangan itu."
Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak, "Kapan Tiopangcu
mendapatkan kartu undangan ini?"
"Di saat aku sedang keluar ruangan tadi, kutemukan
sampul undangan itu di atas meja."
"Kalau begitu tunggu saja sampai saatnya tiba nanti."
"Bong-laute, tampaknya kau tidak terlalu serius
menghadapi kartu undangan kematian ini?" keluh Tio Tianseng
sambil menggeleng kepala dan menghela napas.

918
"Sebenarnya kartu undangan kematian Hek-mo-ong ini
sangat kuharapkan, sebab dengan demikian aku dapat
mengenali manusia macam apakah Hek-mo-ong itu, ingin
kulihat apakah benar-benar seorang yang berkepala tiga
berlengan enam."
"Selamanya Hek-mo-ong tak perlu menunjukkan wujudnya
saat hendak membunuh orang," kata Tio Tian-seng lagi
dengan suara dalam.
"Bila kau melihat kemunculannya, berarti ajalmu sudah
berada di depan mata, oleh sebab itulah sampai sekarang
belum ada seorang pun yang mengetahui macam apakah
wajah Hek-mo-ong yang sesungguhnya."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Sekarang aku ingin keluar sebentar, tak ada salahnya Tiopangcu
memanfaatkan kesempatan ini untuk menyusun cara
guna menghadapi lawan."
"Kau hendak pergi kemana?"
"Mau jalan-jalan ke kota."
Sekali lagi Tio Tian-seng berkata dengan suara dalam, "Di
saat Hek-mo-ong mengirimkan kartu undangan kematian itu,
dia sudah lama menguntit gerak-gerik kita. Tiap saat dia
menanti datangnya kesempatan baik untuk turun tangan keji
terhadap kita. Bong-laute, bila kau tidak ada urusan yang
penting, lebih baik tak usah keluar rumah dulu."
"Maksudmu selama batas waktu yang ditentukan belum
lewat, kita harus tetap berdiam di sini dan tak boleh
meninggalkan ruangan barang selangkah pun?"
"Satu-satunya cara untuk menghadapi ancaman kartu
undangan kematian itu adalah mulai sekarang kita berdua
mengurung diri di dalam ruangan dan jangan keluar dulu
untuk sementara waktu, kita pun tak usah makan, minum atau
pun tidur sampai batas waktu yang ditentukan lewat."

919
"Ah, Boanpwe tak percaya dengan segala macam
takhayul," seru Bong Thian-gak menggeleng berulang-kali.
"Cara membunuh orang yang paling diandalkan oleh Hekmo-
ong adalah membunuh dengan jalan meracuni. Selama
puluhan tahun terakhir ini, setiap saat aku selalu putar otak
dan berdaya upaya untuk mencari jalan guna menghadapi
Hek-mo-ong, namun usahaku selama ini lak memberikan hasil
yang diharapkan."
Menyaksikan keseriusan, kekuatiran, sikap tegang dan
berat yang menyelimuti wajah Tio Tian-seng, diam-diam Bong
Thian-gak berpikir, ”Betulkah Hek-mo-ong sedemikian
hebatnya?"
Sementara itu, Tio Tian-seng segera berkata lagi sambil
menghela napas sedih, "Aku kuatir Pat-kiam-hui-hiang Tan
Sam-cing lah Hek-mo-ong. Kalau tidak, caraku menutup diri
menantikan kedatangannya ini pasti berhasil mendesak Hekmo-
ong menampakkan diri."
"Batas waktu yang ditentukan bagi kematianku masih
sehari lebih cepat ketimbang Tio-pangcu. Andai kata aku
benar-benar tewas, Tio-pangcu pun masih mempunyai waktu
satu hari satu malam untuk bersiap menghadapinya. Buat apa
kau mesti gelisah dan panik mulai sekarang?"
Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, apabila Bonglaute
tidak percaya perkataanku ini, aku kuatir kau akan
dimanfaatkan oleh Hek-mo-ong."
"Tak usah kuatir, Boanpwe pasti sanggup menghadapinya
dengan hati-hati. Bagaimana pun juga aku tak punya rencana
untuk menutup diri menantikan datangnya saat kematian. Bisa
juga sebelum batas waktu bulan delapan tanggal delapan tiba,
aku telah tewas dibunuh Hek-mo-ong."
Seusai berkata, pemuda itu segera membalik badan dan
beranjak keluar ruangan.

920
Sepeninggalnya dari penginapan Ban-heng, dia langsung
menuju ke barat kota.
Tatkala ia melangkah keluar rumah penginapan Ban-heng,
Bong Thian-gak yang cekatan dan teliti segera merasakan
bahwa dirinya sedang dikuntit seseorang.
Tapi Bong Thian-gak berlagak seolah-olah tak merasa
jejaknya diikuti, dengan langkah tetap dan tenang dia
melanjutkan perjalanan menuju ke kota bagian barat.
Tak selang beberapa saat ia sudah tiba di pintu kota
sebelah barat. Sekeluarnya dari pintu kota, Bong Thian-gak
menelusuri dinding kota menuju ke arah utara, benar juga ia
saksikan seseorang sedang mengikutinya di belakang sana.
Diam-diam ia tertawa dingin, mendadak di depan situ
muncul sebuah tikungan yang menjorok ke dalam, maka Bong
Thian-gak segera mempercepat langkahnya melewati tikungan
itu, kemudian melompat naik ke atas dinding kota, dari situ ia
berlari balik, kemudian dari dalam dia melompat keluar
dinding kota itu.
Seperti malaikat sakti yang turun dari kahyangan, dengan
tepat Bong Thian-gak melayang turun di hadapan si penguntit.
Kemunculannya yang mendadak ini tentu saja membuat si
penguntit gugup dan gelagapan, kemudian ia mundur
selangkah dan mengawasi lawannya dengan wajah kaget,
gugup, panik dan cemas.
Bong Thian-gak mengamatinya sekejap, dia adalah seorang
laki-laki setengah umur bertubuh ceking dan bertampang
seperti monyet, tidak nampak membawa senjata.
Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak menegur, "Sejak dari
rumah penginapan Ban-heng kau telah mengikuti diriku
sampai di sini. Ingin kuketahui siapa yang telah mengirimmu
untuk mengikuti diriku?"

921
Dalam anggapan Bong Thian-gak orang ini paling cuma
seorang kurcaci yang dibayar seseorang untuk mengikutinya,
oleh karenanya dia tidak segera turun tangan membekuknya.
Lelaki setengah umur berwajah monyet itu melototkan
sepasang matanya yang kecil dan memperhatikan Bong Thiangak
sekejap, kemudian tanyanya kebingungan, "Toaya, apa
kau bilang?"
"Hm, aku menuduh kau telah mengikuti diriku," dengus
Bong Thian-gak dingin.
Tiba-tiba lelaki itu tertawa cekikikan, lalu serunya, "Toaya
gemar bergurau, jalan yang kulewati kan jalan pemerintah,
memangnya orang lain tak boleh mempergunakannya selain
kau seorang?"
"Tajam benar mulut orang ini," pikir Bong Thian-gak sambil
tertawa dingin. Lalu katanya, "Kalau memang benar jalan ini
adalah jalan raya milik pemerintah. Silakan kau segera angkat
kaki dari sini!"
Ucapannya ini segera membikin lelaki itu tertegun,
kemudian sambil menggeleng kepalanya yang gundul dia pun
mengeluyur pergi ke arah utara. Bong Thian-gak masih tetap
berdiri di tempat sambil mengawasi orang itu pergi, kemudian
baru ia menyelinap ke balik tikungan dan mengerahkan
Ginkangnya menuju keluar kota.
Dengan Ginkangnya yang sempurna sekalipun lelaki itu
membalik badan dan menguntitnya lagi juga belum tentu
dapat menyusulnya.
Padahal Bong Thian-gak tidak pernah menyangka lelaki itu
sesungguhnya bukan orang sembarangan, dia adalah Jian-likau
(monyet seribu li) Cu Ciong yang amat termasyhur
namanya di Kangouw.
Di balik sebuah hutan waru yang sangat lebat, Bong Thiangak
melihat sebuah bangunan kuil kecil.

922
Kuil itu berdiri di antara bebatuan yang berserakan, daun
kering berceceran, rumput ilalang memenuhi halaman,
tampaknya kuil itu sudah lama terbengkalai dan tak pernah
dijamah manusia lagi.
Dengan langkah pelan Bong Thian-gak menuju ke ruang
kuil, dia lihat sarang laba-laba memenuhi setiap sudut
ruangan, debu menebal, dinding tembok banyak yang rontok,
sedang ruang kuil itu kosong tak nampak sesosok bayangan
pun.
Dengan kening berkerut Bong Thian-gak berpikir, "Ah, tak
mungkin Biau-kosiu sengaja mengajakku bergurau. Mungkin
orang itu Mi i m datang."
Tiba-tiba dari arah hutan terdengar suara langkah
menginjak tumpukan daun kering.
Dengan cepat Bong Thian-gak membalik badan
memandang kemuka.
Tampak seorang perempuan cantik berbaju hijau
berperawakan badan aduhai muncul di hadapannya dan
berjalan menuju ke hadapan Bong Thian-gak dengan langkah
lemah-gemulai.
Dengan suara lantang Bong Thian-gak segera berkata, "Aku
Bong Thian-gak, Biau-kosiu yang memintaku datang
menjumpai perempuan berbaju hijau, apakah kau?"
Perempuan itu tidak membiarkan Bong Thian-gak
menyelesaikan perkataannya, dengan cepat ia menukas,
"Begitu lambat kau sampai di sini, apakah sudah terjadi
sesuatu di tengah jalan?"
"Ya, karena ada persoalan pribadi aku datang agak
terlambat. Harap nyonya sudi memaafkan."
Tiba-tiba perempuan itu merogoh sakunya dan
mengeluarkan sebuah gulungan yang di luarnya dibungkus

923
dengan kain hijau, dilihat dari bentuknya mirip kitab atau
lukisan.
Dengan wajah serius perempuan itu berkata, "Tolong
serahkan benda itu kepada nona, jangan sampai hilang atau
direbut orang."
Bong Thian-gak menerima benda itu dan dipandang
sekejap, kemudian katanya, "Tampaknya bungkusan ini berisi
sejilid kitab!"
Perempuan berbaju hijau itu memandang sekejap ke arah
Bong Thian-gak, lalu ujarnya dengan suara dalam, "Cepat kau
simpan ke dalam saku. Selain nona seorang, jangan sekali-kali
kau perlihatkan kepada orang lain."
"Tak usah kuatir, aku pasti menyerahkan sendiri benda ini
ke tangan Biau-kosiu."
Dengan cepat ia masukkan gulungan kitab itu ke dalam
sakunya.
Perempuan itu memandang sekejap sekeliling tempat itu,
lalu katanya lagi, "Berdiam lebih lama di sini berarti
menambah ancaman bahaya, cepatlah kau pergi
meninggalkan tempat ini!"
"Apakah nyonya tidak mempunyai pesan-pesan lain?"
"Tidak ada."
"Kalau begitu aku mohon diri lebih dulu."
Setelah memberi hormat, ia membalikkan badan dan
berlalu dari tempat itu.
Sambil berjalan Bong Thian-gak berpikir, "Mungkin kitab
yang dititipkan padaku ini adalah kitab pusaka, tapi mengapa
Biau-kosiu tidak datang mengambil sendiri? Atau si perempuan
berbaju hijau ini mengantarkan sendiri sampai ke dalam
kota?"

924
Bong Thian-gak benar-benar tidak mengerti apa sebabnya
secara begitu misterius Biau-kosiu meminta padanya untuk
mengambil kitab itu, mendapat pesan berarti diberi
kepercayaan orang itu, maka pemuda itu berpikir lagi, "Ah,
buat apa aku memikirkan hal itu? Pokoknya kuserahkan kitab
ini ke tangan Biau-kosiu, urusan kan beres."
Tiba-tiba pemuda itu menghentikan langkah.
Ternyata di hadapannya telah muncul seseorang
menghadang jalan perginya, seorang lelaki setengah umur
bertubuh ceking, berbaju abu-abu dan bertampang seperti
monyet, ia mengawasi sambil tertawa bodoh.
Berjumpa kembali orang ini, hati Bong Thian-gak bergetar
keras, pikirnya, "Aduh celaka, barusan aku telah salah melihat,
tampaknya orang ini memiliki ilmu silat yang amat tangguh."
Bong Thian-gak mendengus dingin seraya katanya,
"Sungguh tak kusangka kita bersua kembali."
Lelaki bermuka monyet tertawa dingin, "Bumi itu bulat, aku
pun tidak menyangka kita bersua kembali di sini."
Bong Thian-gak tertawa dingin pula, "Tadi aku benar-benar
telah salah melihat, boleh aku tahu siapakah kau?"
"Cu Ciong," sahut lelaki itu sambil tertawa kering penuh
ejek.
Bong Thian-gak berseru kaget, "Ah, tak kusangka kau
adalah seorang kenamaan."
Cu Ciong tertawa seram lagi, "Di hadapan orang yang
mengerti, lebih baik bicara blak-blakan. Boleh kau tunjukkan
benda yang baru saja diserahkan kepadamu?"
Diam-diam Bong Thian-gak dibuat terperanjat, pikirnya,
"Wah, ternyata dia telah menyaksikan semua peristiwa tadi,
tapi mengapa aku tak menemukan jejaknya?"

925
Sambil tersenyum dia lantas berkata, "Aku benar-benar
tidak mengerti perkataanmu itu."
Cu Ciong menarik muka, kemudian dengan nada serius
katanya, "Kau berada di luar persoalan ini, aku tak mengerti
mengapa kau melibatkan diri?"
"Hei, semakin bicara aku semakin bingung dan tidak
mengerti perkataanmu itu."
Cu Ciong tertawa seram lagi, "Barusan nyonya berbaju
hijau telah menyerahkan bungkusan kepadamu, maka aku
cuma berharap kau mengeluarkan bungkusan itu, serahkan
padaku dan segala urusan tidak ada sangkut-pautnya lagi
denganmu."
Bong Thian-gak tahu semua sudah diketahui lawan, maka
sambil tertawa dingin katanya, "Ehm, tak kusangka kau
memiliki mata yang amat jeli, aku betul-betul merasa kagum
kepadamu. Cuma gulungan kitab itu sudah di sakuku, bila kau
menginginkannya silakan datangi kemari mengambilnya
sendiri."
Sekarang Bong Thian-gak teringat pesan wanti-wanti
perempuafll berbaju hijau itu, pikirnya kemudian, "Sekarang
dia telah mengetahui semua persoalan ini, maka aku tak boleh
membiarkan dia pergi dari sini dalam keadaan hidup."
Apalagi lawan bermaksud merampas kitab itu dengan
kekerasan, pemuda itu bertekad akan membunuhnya
bilamana perlu.
Cu Ciong memutar matanya yang bulat kecil, lalu setelah
tertawa licik, ia bertanya, "Tahukah kau benda apakah itu?"
"Aku tidak tahu dan aku pun tak ingin tahu, yang
kuketahui! hanya menyerahkan benda itu kepada orang yang
berhak."
"Kau hendak menyerahkan itu kepada Biau-kosiu rupanya?"

926
"Benar."
Cu Ciong terbahak-bahak, "Apabila kau tidak segera
menyerahkan! kitab itu kepadaku, aku yakin kau tak akan
berhasil memasuki kota Lok-yang dalam keadaan hidup.
Percaya atau tidak?"
"Aku bisa membuktikannya sendiri nanti!"
Bong Thian-gak membusungkan dada dan melangkah ke
depan.
"Berhenti!" dengan suara keras seperti guntur membelah
bumi di tengah hari bolong Cu Ciong membentak, tubuhnya
bergerak maju dan menghadang di hadapan Bong Thian-gak.
Bong Thian-gak tertawa dingin, "Di tengah hari bolong pun
kau berniat merampok aku?"
Cu Ciong tertawa seram, "Membunuh, membakar atau
merampok merupakan kejadian lumrah di dunia persilatan.
Sekarang aku hendak memberitahu kepadamu, di sekeliling
kota Lok-yang telah berkumpul ratusan jago persilatan.
Sekalipun kau berhasil melewati diriku, jangan harap kau bisa
lolos dari cegatan rombongan jago lihai lainnya."
"Kau sudah melepaskan tanda bahaya?" tanya Bong Thiangak
sambil mengerutkan dahi.
"Benar, sewaktu masih berada di hutan tadi, aku telah
melepaskan merpati pos mengabarkan kejadian yang telah
berlangsung di sini kepada mereka."
Bong Thian-gak tertawa dingin, "Sebenarnya aku tidak
berniat membunuhmu, tetapi sekarang tampaknya mau tak
mau aku harus menghabisi nyawamu."
Begitu selesai berkata, lengan tunggal Bong Thian-gak
sudah membacok ke arah depan dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat.

927
Angin pukulan yang maha dahsyat langsung menggulung
ke depan dengan sangat hebatnya, ancaman itu membuat Cu
Ciong yang kurus dan ceking terlempar ke udara bagai layanglayang
putus benang.
Ia terguling sampai tiga kali di tengah udara, namun ketika
melayang turun, ternyata tidak mengalami apa-apa, kecuali
mukanya sedikit berubah.
Gagal dengan serangan dahsyatnya, Bong Thian-gak
tertawa dingin, lalu katanya, "Aku benar-benar merasa kagum
dengan Ginkangmu yang lihai, tak nyana kau sanggup
menghindarkan diri dari sergapanku tadi."
Cu Ciong tertawa aneh, "Kedahsyatan dan kehebatan angin
pukulanmu tidak kalah dari kemampuan Bu Seng. Tapi bila
kau berniat membunuhku, ini bukan suatu pekerjaan yang
gampang bagimu."
Selesai berkata Cu Ciong menerjang maju pula dengan
kecepatan luar biasa dan langsung menyerang Bong Thiangak.
Bagi tokoh sakti yang sedang bertarung, dalam satu
gebrakan saja akan diketahui sampai dimana kemampuan
seseorang, ketika Bong Thian-gak lihat musuh bisa
menghindar dan langsung menerjang ke depan, ia segera
sadar musuh adalah seorang jago lihai yang berilmu tinggi.
Jika dia tidak melancarkan serangan mematikan, sulit rasanya
menaklukkan musuhnya itu.
Oleh sebab itu di kala Bong Thian-gak menyaksikan musuh
menerjang datang, dia sama sekali tidak menghindar atau
menyingkir.
Ditunggunya serangan lawan hingga di depan dada, saat
itulah Bong Thian-gak mencabut pedangnya serta melepaskan
babatan, pedang Pek-hiat-kiam telah menyambar.

928
Dimana cahaya pedang itu berkelebat, jerit kesakitan yang
memilukan segera berkumandang.
Tubuh Cu Ciong yang sedang melayang di udara terbanting
jatuh ke tanah dan tidak berkutik lagi, percikan darah segar
menggenangi permukaan tanah padang rumput itu.
Siapa jago di Kangouw saat ini yang paling cepat mencabut
dan melepaskan serangan?
Mungkin serangan yang dilancarkan Bong Thian-gak
barusan dapat menandingi kemampuan Liu Khi.
Ketika Bong Thian-gak selesai membacok mati Cu Ciong,
Pek-hiat-kiam telah kembali ke dalam sarungnya.
Ketika Bong Thian-gak mendongakkan kepala, Giok-gansuseng
Liong Oh-im yang berwajah kereng dan gagah sudah
berada di hadapannya.
Sepasang mata Liong Oh-im yang amat tajam sedang
mengawati genangan darah segar yang mengucur dari tubuh
Cu Ciong, kemudian katanya, "Benar-benar tak kusangka, Cu
Ciong yang termasyhur karena kehebatan Ginkangnya
ternyata tak berhasil lolos dari bacokan pedang Jian-ciatsuseng.
Peristiwa ini benar-benar mengejutkan!"
Begitu bertemu Liong Oh-im, paras muka Bong Thian-gak
segera berubah hebat.
Sementara itu Liong Oh-im itu sudah memberi hormat,
kemudian ujarnya lantang, "Bong-tayhiap, kita telah bersua
kembali, aku pun dapat melihat kecepatan dan kehebatan
permainan pedang Bong-tayhiap, aku benar-benar kagum
sekali."
Bong Thian-gak tersenyum, "Kedatangan Liong-sianseng
sungguh teramat cepat."
Liong Oh-im kembali tertawa ringan.

929
"Bong-tayhiap," katanya, "diam-diam kita pun rasanya tak
usah menyembunyikan sesuatu lagi, kedatanganku
sesungguhnya karena mendapat surat yang dikirim Cu Ciong
dengan merpati posnya."
Ketika mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak berlagak
seolah-olah terkejut, ujarnya kemudian, "Oh, tidak kusangka
Cu Ciong satu aliran dengan Liong-sianseng."
Tiba-tiba Liong Oh-im menarik muka dan berkata dengan
hambar, "Cu Ciong adalah salah seorang pengawal andalanku,
sayang sekali dia mati terlampau cepat."
"Apakah Liong-sianseng berniat membuat perhitungan
padaku atas kematiannya?"
Liong Oh-im tersenyum.
"Soal itu tergantung sikap Bong-tayhiap sendiri, aku ingin
melihat bagaimana sikapmu terhadap diriku!"
"Apa maksudmu?"
"Kematian Cu Ciong disebabkan kitab pusaka Kui-hok-khiliok,
apabila Bong-tayhiap bersedia menyerahkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok, maka kematian Cu Ciong pun tidak perlu
disesalkan lagi."
"Jadi Biau-kosiu adalah ahli waris Mi-tiong-bun?" tanya
Bong Thian-gak terkejut.
"Aku pun ahli waris Mi-tiong-bun, boleh dibilang aku dan
Biau-kosiu adalah sesama saudara seperguruan."
Sekarang Bong Thian-gak baru tahu asal-usul perguruan
mereka, tapi yang membuatnya tidak mengerti adalah sebagai
sesama saudara seperguruan, mengapa mereka berebut kitab
pusaka perguruannya.
Bong Thian-gak berkata, "Kalau Liong-sianseng berasal
satu perguruan dengan Biau-kosiu, maka bila kitab pusaka

930
Kui-hok-khi-liok ini diserahkan ke tangannya atau di tanganmu
kan sama saja, apa bedanya?"
"Aku telah menjelaskan asal-usul kami berdua, maka ingin
kuingatkan bahwa perselisihanku dengan Biau-kosiu tidak
lebih hanya perselisihan sesama anggota Mi-tiong-bun, oleh
karena itu kuharap Hong-tayhiap berada di luar garis, tak usah
melibatkan diri pula dalam persoalan ini."
"Sebagai orang luar, tentu saja aku tidak berhak
mencampuri urusan perguruan kalian, aku memang tidak
berhasrat mencampurinya."
"Kalau demikian, Bong-tayhiap harap mengambil keputusan
yang cepat dan pintar."
"Liong-sianseng, harap kau suka memaafkan kesulitan yang
sedang kuhadapi, aku tak dapat menyerahkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok ini kepadamu."
Berubah paras muka Liong Oh-im, tapi sejenak kemudian
telah pulih menjadi lembut dan ramah, katanya kemudian
dengan suari tenang dan kalem, "Rupanya Bong-tayhiap
masih belum mengetahui kitab pusaka macam apakah Kuihok-
khi-liok itu?"
"Benar, aku sama sekali tidak mengetahui tentang kitab itu,
namun aku pun tidak ingin mengetahuinya."
"Andaikata kau mengetahui kitab macam apakah Kui-hokkhi-
liok itu, kau tentu akan menyerahkannya kepadaku."
"Ah, belum tentu demikian."
Liong Oh-im menghela napas sedih, kemudian katanya,
"Apabila Bong-tayhiap menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khiliok
itu kepada Biau-kosiu, maka Mi-tiong-bun kami akan
terancam bahaya maut."
"Apa maksudmu?" tanya Bong Thian-gak dengan kening
berkerut.

931
Sekali lagi Liong Oh-im menghela napas panjang,
"Sebenarnya pesoalan ini merupakan rahasia pribadi Mi-tiongbun
kami, aku tidak ingin mengutarakan kepada orang lain."
Saat itu dalam hati Bong Thian-gak mulai muncul
kebimbanga andaikata apa yang dikatakan Liong Oh-im itu
memang sunggu sungguh dan benar, maka dia memang
seharusnya menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu
kepadanya, tapi....
Tampaknya Liong Oh-im dapat mengetahui suara hati Bo
Thian-gak, kembali dia menghela napas sedih sambil
melanjutkan "Apabila Bong-tayhiap menyerahkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu kepadaku, maka bagimu sama sekali tak
akan menimbulkan kerugian apa-apa, malah sebaliknya tanpa
kau sadari, kau telah menyelamatku jiwa banyak anggota Mitiong-
bun yang terancam maut. Budi dan jasa semacam ini
boleh dibilang tiada taranya, segenap anggota Mi-tiong-bun
pasti akan berterima kasih kepadamu dan tak akan melupakan
jasa» jasamu itu untuk selamanya."
Perkataan yang terakhir ini benar-benar mengandung daya
tarik yang amat besar, tanpa disadari Bong Thian-gak
merogoh ke dalam saku untuk mempersembahkan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadanya. Tiba-tiba terdengar
suara bentakan nyaring, "Siangkong, kau harus memegang
teguh kepercayaan orang yang meminta tolong padamu,
jangan kau serahkan kitab itu kepada orang lain."
Saat Bong Thian-gak mendongakkan kepala, dia lihat
perempuan cantik berbaju hijau sedang berlari mendekat, bau
harum semerbak berhembus, ia telah berdiri di samping anak
muda itu.
Ketika Liong Oh-im bertemu nyonya cantik berbaju hijau
ini, paras mukanya segera berubah menjadi amat tak sedap
dipandang, rasa gusar dan mendongkol menyelimuti seluruh
wajahnya. Andaikata perempuan itu tidak muncul tepat pada

932
waktunya, niscaya Bong Thian-gak telah menyerahkan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadanya.
Dengan sorot mata tajam Liong Oh-im mengawasi
perempuan itu lekat-lekat, kemudian setelah mendengus
dingin, tegurnya, "Thamcu, kau berani mengkhianati aku?"
"Aku tidak berani mengkhianati Liong-huhoat," jawab
perempuan itu merdu.
Liong Oh-im segera tertawa dingin, "Selama puluhan tahun
ini, aku telah mencari dirimu kemana-mana dan menelusuri
semua pelosok tempat, tidak kusangka ternyata kau berada di
Lok-yang."
"Apakah dikarenakan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok inilah
Liong-huhoat mencari jejakku kemana-mana?"
Dari pembicaraan kedua orang itu, Bong Thian-gak
mengambil kesimpulan bahwa kedua orang itu bukan saja
sudah saling mengenal, juga berasal dari satu perguruan yang
sama.
Bong Thian-gak benar-benar tak mengerti persoalan
apakah yang sebenarnya menjadi pangkal perselisihan mereka
sebagai sesama anggota Mi-tiong-bun?
Pikirnya kemudian, "Kalau aku terlibat dalam persoalan
semacam Ini, wah, tidak ada harganya sama sekali."
Sementara itu Liong Oh-im telah berkata sambil tertawa
dingin, ”Thamcu, sudah belasan tahun kau menghindari diriku,
tujuanmu hanya ingin melindungi kitab pusaka Kui-hok-khi-liok
agar tidak sampai aku dapatkan, tapi hari ini aku justru minta
kepadamu untuk menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok
itu kepadaku, mengerti?"
Perempuan itu tertawa cekikikan, "Sayang sekali
kedatangan liong-huhoat terlambat satu langkah, kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu sudah tidak berada di dalam sakuku lagi."

933
"Aku akan memerintahkan kepadamu untuk meminta
kembali kitab itu dari tangannya."
Perempuan itu tertawa cekikikan, "Kecuali Kui-kok Buncu
hidup kembali. Kalau tidak, tiada seorang pun yang dapat
memberi perintah kepadaku!"
"Oh, jadi kau tak percaya kalau aku sanggup memberi
perintah kepadamu?" tanya Liong Oh-im sambil tersenyum.
Selesai berkata, tiba-tiba ia mengeluarkan tongkat naga
kemala putih dari sakunya dan diangkat tinggi-tinggi,
kemudian bentaknya, "Thamcu, coba kau lihat benda apakah
ini?"
Menyaksikan tongkat kemala putih itu, gemetar keras
sekujur badan perempuan itu, tiba-tiba saja dia menjatuhkan
diri berlutut ke atas tanah dan katanya dengan suara gemetar
keras, "Benda kekuasaan Buncu ... tongkat naga kemala
putih."
Dengan perasaan ingin tahu Bong Thian-gak
memperhatikan pula tongkat kemala itu dengan penuh
perhatian, tongkat sebesar lengan anak-anak, di atas tongkat
terukir seekor naga darah kecil dalam gaya siap terbang ke
angkasa.
Sekilas pandang saja ia dapat mengetahui bahwa tongkat
naga kemala putih itu amat berharga dan tak ternilai
harganya, tapi Bong Thian-gak tidak menyangka tongkat naga
kemala itu memiliki daya pengaruh yang begitu besar
sehingga perempuan berbaju hijau itu segera menjatuhkan diri
berlutut setelah melihat tongkat tadi.
Sambil mengangkat tongkat naga itu tinggi-tinggi, Liong
Oh-im membentak, "Thamcu, sekarang kuperintahkan padamu
untuk merebut kembali kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu dari
tangannya."

934
Bong Thian-gak menjadi terperanjat, pada saat itulah
perempuan cantik berbaju hijau melompat bangun dan
mengayun telapak tangannya membabat dada Bong Thiangak.
Serangan yang dilancarkan itu amat cepat dan gencar,
benar-benar ancaman yang berbahaya.
Serta-merta Bong Thian-gak menghindar ke samping. Meski
begitu, nyaris tubuhnya termakan juga oleh bacokannya ini,
maka bentaknya, "Nyonya, benarkah kau ingin meminta
kembali kitab pusaka Kui hok-khi-liok itu?"
Nyonya itu tidak menjawab, namun wajahnya menunjukkan
penderitaan dan kegelisahan yang luar biasa, kembali telapak
tangan kirinya diayunkan ke depan menghajar Bong Thiangak.
Berada dalam keadaan begini, Bong Thian-gak benar-benar
tidak tahu bagaimana dia mesti bertindak, namun dari mimik
perempuan itu dapat diketahui bahwa dia telah didesak oleh
keadaan sehingga terpaksa dan mau tak mau harus
menyerang dirinya.
Kepandaian silat yang dimiliki perempuan itu benar-benar
lihai, jurusnya aneh tapi sakti, biarpun Bong Thian-gak
berhasil menghindar dari ketiga serangannya, namun ia dapat
melihat musuh sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh.
Pada saat itulah kembali terdengar Liong Oh-im
membentak lagi, "Thamcu, kuperintahkan padamu untuk
menaklukkan lawan hanya dalam sepuluh gebrakan saja."
"Terima perintah," jawab perempuan itu cepat.
Tiba-tiba permainan pukulannya berubah seperti kupu-kupu
yang berterbangan di antara aneka bunga, serangan demi
serangan dilancarkan secara beruntun dan tiada hentinya.

935
Dalam waktu singkat tampak bayangan telapak tangan
berlapis-lapis, begitu dahsyat dan gencarnya serangan itu,
membuat Bong Thian-gak harus mundur berulang kali.
Bong Thian-gak terkejut oleh keanehan dan kehebatan
jurus serangan lawan, dalam waktu singkat perempuan itu
sudah melancarkan sembilan serangan berantai.
Mendadak ia menghentikan gerakannya, namun sepasang
telapak tangannya disiapkan satu di muka dan yang lain di
belakang dengan posisi menyerang dan bertahan.
Bong Thian-gak memandang perempuan itu sekejap,
wajahnya yang semula cantik jelita tiba-tiba dilapisi cahaya
berkilau, sementara matanya yang jeli mengawasi wajah
pemuda itu lekat-lekat.
Sudah jelas dia sedang memberi kode agar Bong Thian-gak
secepatnya pergi meninggalkan tempat ini.
Pada saat itulah suara Liong Oh-im menggelegar kembali,
"Thamcu, kalau kau sudah menghimpun tenaga saktimu.
Mengapa tidak kau lancarkan?"
Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak membentak keras,
"Lio Oh-im, cepat suruh dia menghentikan serangannya. Bila
ada persoalan kita rundingkan secara baik-baik."
Belum selesai berkata, perempuan itu sudah mendesis dan
mengayunkan telapak tangannya.
Serangan yang dilepaskan olehnya itu dilancarkan amat
sederhana dan enteng, bagaikan segulung angin hangat yang
berhembus.
Tiba-tiba saja Bong Thian-gak merasakan sekujur badann
gemetar lemas, sepasang bahunya bergetar keras dan tanpa
terasa dan mundur selangkah.
Sebaliknya perempuan cantik berbaju hijau itu seakan-akan
kehabisan tenaga dan segenap tulang belulangnya terlepas, ia

936
terduduk di atas tanah dengan tubuh lemas tidak bertenaga,
cahaya merah yang menyinari wajahnya telah hilang, pucatpias
menghiasi mukanya.
Dalam kesepuluh jurus serangan itu, Bong Thian-gak sama
sek tidak melancarkan serangan balasan.
Sekulum senyuman bangga menghiasi wajah Liong Oh-im
di sisi arena, pelan-pelan ia berkata, "Bong-tayhiap, kau sudah
terkena ilmu pukulan Sau-yang-sin-kang."
Mendengar "Sau-yang-sin-kang", berubah paras muka Bong
Thia gak, ia mengangkat kepala memandang sekejap ke arah
perempuan berbaju hijau itu.
Sementara itu mata perempuan itu sudah dipenuhi oleh air
mata dia seperti merasa bersalah terhadap Bong Thian-gak
sehingga membu ia sedih dan pedih.
Bong Thian-gak menghela napas sedih, lalu katanya,
"Konon Sau yang-sin-kang adalah semacam ilmu pukulan yang
teramat hebat, yang khusus melukai delapan nadi penting di
tubuh manusia, korbannya tidak dapat hidup melebihi dua
belas jam. Kalau begitu, aku pun tak jauh dari lembah
kematian."
Liong Oh-im tertawa terbahak-bahak, sahutnya, "Bongtayhiap
setelah mengetahui umurmu hampir berakhir,
mengapa kau tidak mempersembahkan kitab pusaka Kui-hokkhi-
liok itu kepadaku?"
Bong Thian-gak menarik muka dan menjawab dingin,
"Apabila kuserahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu sekarang
juga, maka kematianku akan sama sekali tak ada artinya lagi."
Liong Oh-im kembali tertawa, "Memangnya kau masih
dapat lolos dari cengkeramanku?"
Sementara itu hawa membunuh menyelimuti wajah Bong
Thian-gak, katanya tiba-tiba dengan dingin, "Liong-sianseng,

937
bila kau yakin dapat merampas kitab pusaka Kui-hok-khi-liok
itu dari tanganku, silakan saja mencoba!"
Liong Oh-im berpaling dan memandang sekejap ke arah
perempuan itu, kemudian tanyanya, "Thamcu, sudahkah kau
lukai kedelapan nadi pentingnya dengan ilmu pukulan Sauyang-
sin-kang?"
"Liong-huhoat," kata perempuan cantik berbaju hijau itu
penuh penderitaan. "Kau telah memaksaku mencelakai
seseorang yang sama sekali tiada sakit hati ataupun dendam
kesumat denganku."
Liong Oh-im kembali tertawa dengan suara keras, "Thamcu
dapat membunuh Jian-ciat-suseng yang termasyhur, engkau
telah menjadi pahlawan Mi-tiong-bun. Mengapa kau malah
sedih dan menyesal?"
Sembari bicara, langkah demi langkah Liong Oh-im
menghampiri Bong Thian-gak, kemudian terusnya, "Barang
siapa sudah terhajar oleh Sau-yang-sin-kang hingga terluka
delapan nadi pentingnya, maka hawa darah dalam Mi-bun-hiat
akan pudar dan tenaga murni akan musnah. Bong Thian-gak,
kau sudah tak mampu menghimpun tenaga dalammu."
Mendadak ia mengayunkan telapak tangannya dan
langsung dibacokkan ke tubuh Bong Thian-gak.
Baru saja angin pukulannya berhembus ke depan, Bong
Thian-gak lelah melolos Pek-hiat-kiam, cahaya pedang
bagaikan bianglala dan hawa pedang bagaikan sayatan,
serentak menggulung ke muka.
Barang siapa dapat melihat hawa pedang yang terpancar
dari «erangan itu, dia akan mengetahui Bong Thian-gak sama
sekali tidak terluka oleh pukulan Sau-yang-sin-kang.
Ketika perempuan berbaju hijau melihat itu, wajahnya
segera nampak berseri dan amat gembira.

938
Sebaliknya Liong Oh-im menjerit kaget dan cepat
menerobos keluar dari lapisan hawa pedang seperti seekor
burung walet.
Setelah melayang turun, ia baru berkata, "Ilmu pedang
yang amat bagus, aku benar-benar dibikin melek dan
bertambah pengetahuan.
Gagal dengan serangan pedangnya, Bong Thian-gak
melayang turun dengan bahu agak bergetar, katanya
kemudian dengan suara dingin, "Apakah kau ingin mencoba
serangan pedangku yang kedua?"
"Oh, tentu saja," jawab Liong Oh-im sambil tertawa paksa.
Bong Thian-gak menyarungkan kembali Pek-hiat-kiam,
kemudian katanya, "Maaf."
Lalu dia melompat ke depan dan melesat cepat ke depan
sana.
Liong Oh-im tertawa terbahak-bahak, bagaikan kuda
terbang di angkasa, dia melesat ke depan dan mengejar dari
belakang dengan ketat.
Sejak awal Bong Thian-gak sudah menduga Liong Oh-im
bakal melakukan pengejaran, maka ketika berada di udara dia
melolos pedangnya, cahaya bianglala yang amat tajam
secepat kilat langsung menusuk ke tubuh Liong Oh-im.
Berada di tengah udara, Liong Oh-im mengebas ujung
bajunya ke depan, segulung angin pukulan tak berwujud yang
sangat kuat segera menyapu ke muka.
Siapa tahu serangan yang dilancarkan oleh Bong Thian-gak
cuma serangan tipuan, di saat angin pukulan Liong Oh-im
yang maha dahsyat itu menyapu tiba, dia sudah menarik
kembali senjatanya dan melompat ke muka.

939
Lompatannya atas bantuan angin serangan Liong Oh-im
yang kuat, tak heran gerakannya sangat cepat dan selisih
jarak di antara mereka pun semakin bertambah jauh.
Setelah menjejak tanah sekali lagi, Bong Thian-gak
melompat ke depan, dalam waktu singkat ia sudah puluhan
tombak di depan sana, lalu lenyap.
Menyadari dirinya tertipu oleh siasat musuh, Liong Oh-im
merasa sangat jengkel dan mendongkol sekali, dia mendepakdepakkan
kakinya berulang kali ke atas tanah, lalu serunya
sambil tertawa seram, "Bocah keparat, tidak kusangka hari ini
aku Liong Oh-im bakal dipecundangi anak muda macam kau.
Hm, ingin kulihat dengan cara apa kau hendak menyerahkan
kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepada Biau-kosiu."
Seusai berkata ia memandang sekejap ke arah perempuan
berbaju hijau, kemudian membalikkan badan dan mengejar ke
arah Lok-yang.
Sementara itu Bong Thian-gak mengerti bahwa Liong Ohim
pasti midah menyiapkan jaring dan perangkap untuk
menghalangi dirinya memasuki rumah penginapan Ban-heng,
karena itu setelah masuk ke dalam kota, ia tidak menuju ke
rumah penginapan itu, melainkan pergi ke kota sebelah
selatan.
Sesudah keluar pintu kota sebelah selatan dan tiba di tanah
pekuburan yang terpencil dan sepi, dia memeriksa sekejap
sekeliling tempat itu, lalu sambil duduk bersila, gumamnya,
"Setelah terluka oleh pukulan Sau-yang-sin-kang, mungkin
sekali jiwaku tak akan tertolong lagi. Ai, saat ini dari kedelapan
nadi pentingku, ada dua di antaranya yang secara lamat-lamat
mulai terasa sakit."
Bong Thian-gak duduk di depan sebuah batu nisan sambil
mendongakkan kepala memperhatikan awan di angkasa,
hatinya teramat masgul.

940
"Ai, sebenarnya kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu berisi
apa?"
Berpikir begitu, tanpa terasa dia mengeluarkan kitab itu
dari dalam sakunya, tapi setelah berpikir sebentar, pemuda itu
memasukkan kembali gulungan kitab itu ke dalam sakunya.
Matahari sudah tenggelam ke langit barat, Bong Thian-gak
hampir satu jam lamanya duduk di kuburan itu.
Selama satu jam dia sudah mencoba untuk mengatur
pernapasan dan menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh,
namun yang aneh sama «ekali dia tidak merasakan cidera
atau luka apa pun pada nadi-nadi penting di dalam tubuhnya,
bahkan rasa sakit yang semula mencekam tubuhnya pun
lambat-laun lenyap.
Rasa gembiranya ini membuat Bong Thian-gak segera
melompat bangun dari atas tanah dan berseru, "Aha, ternyata
aku tidak menderita luka apa pun oleh serangan Sau-yang-sinkang
itu."
Sekonyong-konyong terdengar suara dingin dan
menyeramkan di belakangnya.
"Sekalipun Sau-yang-sin-kang tidak melukaimu, namun
ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang akan merenggut
selembar nyawamu."
Ucapan itu bagaikan guntur yang membelah bumi di siang
hari bolong, dengan terperanjat Bong Thian-gak segera
berpaling ke samping.
Tapi dengan cepat dia dibuat tertegun.
Di belakang tubuhnya, di depan sebuah kuburan yang amat
besar, telah berdiri seorang perempuan cantik bagai bidadari
dari kahyangan berbaju biru.
Perempuan itu bukan lain adalah Si-hun-mo-li Thay-kun.

941
Di samping Si-hun-mo-li Thay-kun, berdiri pula seorang
berbaju hijau.
Orang berbaju hijau itu berwajah pucat-pias, dingin, kaku
dan sama sekali tiada warna darah, bahkan tiada berbau hawa
manusia.
Bong Thian-gak berkerut kening, rasanya orang berbaju
hijau itu mengenakan topeng kulit manusia sehingga menutupi
wajah aslinya. Tapi siapakah orang itu?
Bong Thian-gak kaget, tercengang, bingung dan tidak habis
mengerti. Mengapa ia bisa berada bersama Si-hun-mo-li Thaykun?
Bong Thian-gak memperhatikan sekejap sekeliling tempat
itu, cahaya matahari yang berwarna kuning keemas-emasan
menyinari tanah pekuburan itu, namun di sana tidak nampak
manusia lain kecuali mereka berdua.
Bong Thian-gak telah memperoleh sebutir pil Hui-hun-wan
dan persoalan pertama yang ingin segera diselesaikan olehnya
adalah menemukan Si-hun-mo-li dan memberi pil Hui-hun-wan
itu kepadanya agar Thay-kun bisa memperoleh kembali pikiran
dan kesadarannya seperti semula.
Sekarang Thay-kun sudah berada di depan mata, asal dia
menelan pil Hui-hun-wan, berarti usahanya akan berhasil.
Namun hal ini bukanlah perbuatan yang amat gampang.
Dia tahu untuk menyelesaikan tugas itu, kemungkinan
besar dia harus membayar mahal, bahkan bisa kehilangan
selembar nyawanya.
Orang berbaju hijau yang berada di hadapannya sekarang
terlalu menyeramkan dan menggidikkan.
Mungkinkah orang ini adalah Hek-mo-ong?

942
Berpikir sampai di sini, Bong Thian-gak segera menghimpun
pikiran dan perhatian mengawasi gerak-gerik orang berbaju
hijau itu.
Orang itu tertawa dingin, ujarnya, "Apabila kau ingin
meloloskan diri dari ancaman kematian, lebih baik serahkan
saja kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadaku."
Tertegun Bong Thian-gak, segera tanyanya, "Apa? Jadi kau
pun menghendaki kitab pusaka Kui-hok-khi-liok dari Mi-tiongbun?"
Paras muka orang berbaju hijau itu masih tetap tenang
tanpa perubahan sedikit pun, sahutnya, "Apabila kau mengerti
rahasia kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, setiap orang yang
berada di dunia ini rasanya ingin mendapatkannya."
"Siapakah kau?" tanya Bong Thian-gak sambil tersenyum.
"Kau tak perlu mengetahui siapakah aku. Yang penting
bagimu hanya memilih dua jalan yang kutawarkan kepadamu,
mau hidup atau mati, silakan segera tentukan!"
"Aku ingin mengetahui lebih dulu dengan mengandalkan
ilmu silat apakah kau hendak menghukum mati diriku?"
"Serangan Si-hun-mo-li dan sergapan mendadak yang
kulancarkan nanti!"
Bong Thian-gak kembali tersenyum.
"Yakinkah kau pasti akan dapat merenggut nyawaku?"
"Bila kau yakin dapat meloloskan diri dari cengkeraman
mautku, maka kau tak perlu mengeluarkan kitab pusaka Kuihok-
khi-liok."
Bong Thian-gak termenung dan berpikir beberapa saat,
tiba-tiba ia bertanya, "Dari kemampuanmu memberi perintah
kepada Si-hun-mo-li, tentunya kau pun dapat membuat Sihun-
mo-li jatuh tak sadarkan diri bukan?"

943
"Apa maksudmu?"
"Oh, itu rahasia pribadiku dan merupakan syarat yang
hendak kuajukan sebagai pertukaran."
"Harap kau suka memberi penjelasan secara terperinci."
"Boleh saja kuserahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok
kepadamu, namun kau harus dapat merobohkan Si-hun-mo-li
lebih dulu hingga tak sadar kan diri."
"Setelah Si-hun-mo-li tak sadarkan diri, maka kau bisa
menandingi diriku bukan?"
"Ya, terpaksa harus dicoba," Bong Thian-gak tersenyum.
"Kitab pusaka Kui-hok-khi-liok sudah berada di sakumu, aku
bisa turun tangan merampasnya dari tanganmu."
"Kau tetap harus menguatirkan sesuatu."
"Apa yang mesti kukuatirkan?"
"Kekalahan."
Orang berbaju hijau itu tertawa dingin. "Ehm, nampaknya
kau masih mempunyai sedikit otak untuk berpikir."
"Ah, seandainya tiada suatu yang dikuatirkan, sedari tadi
kau telah turun tangan merebutnya dari tanganku."
"Kau keliru besar," ujar orang berbaju hijau itu sambil
tertawa seram.
"Yang kukuatirkan justru tindakanmu menghancurkan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok sebelum penyerahan nanti, itulah
sebabnya aku tidak turun tangan hingga detik ini."
"Terima kasih banyak atas petunjukmu itu," Bong Thiangak
tertawa. "Aku benar-benar tak berpikir begitu."
Orang berbaju hijau itu mendengus dingin, "Hm, belum
pernah aku bicara sebanyak ini dengan orang lain, kau harus
mengambil keputusan secepatnya?"

944
"Aku yang mesti mengambil keputusan sendiri ataukah kau
yang menyuruh aku mengambil keputusan?"
"Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu dengan
merobohkan Si hun-mo-li hingga tak sadarkan diri, tapi pada
saat bersamaan kau harus melemparkan kitab pusaka Kui-hokkhi-
liok jauh ke sana."
"Baik, aku setuju dengan usulmu itu."
"Masih ada satu hal lagi, apakah kau sudah melihat kitab
pusakm Kui-hok-khi-liok?"
"Belum."
"Bagus sekali, sekarang aku akan menghitung sampai
angkal sepuluh dan kau harus melemparkan kitab pusaka Kuihok-
khi-liok itul ke depan sana."
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 6 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 6 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-terbaik-pendekar-cacat-6.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 6 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 6 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 6 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-terbaik-pendekar-cacat-6.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

Obat Osteoporosis mengatakan...

http://goo.gl/Pi7b7r
Terimakasih atas ingo barunya saya tunggu,,

Poskan Komentar