Cerita Silat ABG Lugu : Neraka Hitam 3 Tamat [Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala]

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Senin, 26 Desember 2011

Cerita Silat ABG Lugu : Neraka Hitam 3 [Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala]

Sim Ciau ikut tertawa seram, sahutnya, “Ciu loji,
bagaimanapun juga kalian semua sudah menjadi katak dalam
tempurung, tak akan hidup lebih lama lagi didunia ini, jika
tidak percaya, silahkan kau bertanya sendiri kepada Suma
Thiang cing setibanya di akhirat nanti!”

646
Hoa In-liong menarik napas panjang dan menekan
pergolakan emosi dalam hatinya, serunya kemudian.
“Masih ada siapa lagi? Sim Ciu, kaupun terhitung seorang
jago kenamaan dalam dunia persilatan, mengapa tidak
mengaku saja ber terus terang………?”
Gua Gi hong tertawa dingin, katanya, “Bocah keparat, kau
tak usah banyak cerewet, Gui loya mu juga mempunyai andil,
mau apa kau?”
Seng Shi sam dari Kiu-im-kau yang berada didasar lembah
segera berseru pula dengan gusar.
“Bocah busuk, kau tak usah bertanya terus menerus, Seng
kongcu mu terhitung pula punya andil!”
“Sudah semenjak dulu pun-tiamcu merasa tak leluasa
menyaksikan tingkah laku Suma Tiang cing, membunuhnya
merupakan perbuatan yang paling menggembirakan bagiku”
sambung Le Kui it pula sambil tertawa tergelak.
“Sudah tiada orang lain?” teriak Hoa In-liong lantang.
Huan Tong agak sangsi sejenak, lalu katanya.
“Pun tongcu juga termasuk ikut andil dalam peristiwa itu”
Lenghou Kiong agak ragu sejenak, ia seperti mau bicara
tapi segera membatalkan kembali niatnya, Seng To cu yang
melihat sikap tersebut dengan gusar.
“Ngo sute!”

647
Lenghou Kioang merasakan sekujur tubuhnya bergetar
keras, akhirnya dia berkata juga “Tak ada salahnya kalau
mencatat pula na ma lohu!”
Hoa In-liong segera tertawa terbahak bahak.
“Haaahh…..haahh…….haaahh……. kalau cuma kalian
beberapa orang saja yang turun tangan, meski Suma siok ya
suami istri bukan tandingan kalian, untuk menerjang keluar
dari kepungan masih ada harapan, tak mungkin mereka akan
tewas dalam semalam tanpa menimbulkan sedikit suara pun,
aku yakin dibalik kesemuanya itu pasti ada sebab-sebab
lainnya”
Sim Ciu Heng Liong dan Le Kiu-it sekalian adalah manusiamanusia
bengis yang berhati keji, ketika mendengar perkataan
itu, ternyata mereka hanya membungkam dalam seribu
bahasa.
Jin Huan tertawa dingin, katanya kemudian,
“Bagaimanapun juga Suma Tiang cing sudah mampus lama,
kalau hendak membalas dendam, hayolah turun tangan
sekarang juga, kau orang she Hoa juga tak perlu cerewet lagi”
Hoa In-liong tertawa, katanya kembali.
“Padahal sekalipun tidak dikatakan juga tahu, Yu si tentu
merupakan mata-mata yang sengaja diselunduptkan kedalam
keluarga Suma, sebagai orang dalam, sudah barang tentu ia
lebih mudah untuk turun tangan mencelakai Suma siok ya ku
suami istri, apalagi setelah bersekongkol dengan orang luar,
tak heran kalau Suma Siok ya ku su ami istri terbunuh dalam
semalam. Kemudian rupanya kalian hendak menghilangkan
jejak, maka disuruhnya kucing hitam milik Yu si meninggalkan
bekas gigitan ditenggorokan mereka dan meninggalkan hiolo
kumala hijau untuk memfitnah Hiok teng hujin. Hanya ada

648
satu hal yang masih tidak kupahami, apa sebabnya kalian
membiarkan putri Suma tayhiap melepaskan diri dari bencana
pembunuhan itu?”
Sim Ciu terkekeh-kekeh dengan seramnya.
“Hmm. Kalau dilihat tampa ngmu sih cerdik, tak tahunya
goblok seperti kerbau, sekalipun istrinya Suma setan mampus,
dibiarkan hidup juga bukan suatu ancaman buat kami apalagi
kalau suruh dia yang mengabarkan berita kematian ini kepada
keluarga Hoa, hal ini merupakan suatu tindakan yang tepat,
tentu saja kami biarkan ia hidup terus, bocah goblok, sudah
mengerti sekarang?”
Ketika berbicara sampai disini, meski seluk beluk
selanjutnya belum terungkap, namun Hoa Ngo sudah tak
sabar menahan diri lagi, dengan gusar ia membentak, “Toan
bok setan tua, rupanya kau salah seorang pembunuh terkutuk
itu, hari ini jika aku Hoa Ngo tidak berhasil menjagal dirimu,
biar kutulis namaku dengan terbalik”
Dengan girangnya ia menerjang kemuka, kemudian dengan
jurus Ku im sin ciang ia hantam musuhnya.
Toan bok See liang mengengos kesamping dan melayang
dua depa dari posisi semula, kemudian bentaknya, “Orang she
Hoa kau jangan jumawa dulu, pun thamcu akan suruh kau
mampus tanpa tempat kubur!”
Begitu Hoa Ngo turun tangan, Ciu Thian hau tak dapat
mengendalikan diri lagi, sinar matanya menyapu sekejap
sekeliling tempat itu kemudian diiringi suara pekikan nyaring
yang membetot suk ma, golok Han si to-nya disertai desingan
angin tajam langsung membacok ketubuh Lenghau Kiong
dengan kecepatan luar biasa.

649
Melihat sinar mata Ciu Thian hou yang mengkilat penuh
napsu membunuh, pun Lenghou Kiong sudah merasa terkejut,
apalagi menghadapi tubrukannya yang dahsyat, ia merasa
hatinya makin tercekat, sudah barang tentu ia tak berani
menyambut dengan kekerasan.
Tanpa memperdulikan nama baiknya lagi, ia putar badan
dan segera melarikan diri kebelakang.
Semisalnya dia putar badan untuk melakukan perlawanan,
meskipun bukan tandingan Ciu Thian hau pun, jangan harap
bisa menangkan dirinya dalam empat lima gebrakan, tapi
dengan sikapnya tersebut maka sama artinya dengan ia
mencari kematian buat diri sendiri.
“Anjing bangsat, kau bendak kabur kemana?” bentak Ciu
Thian hau dengan suara lantang.
Ditengah bentakan tersebut terdengar Lenghou Kiong
menjerit ngeri, darah segar berhamburan ke mana-mana,
tubuhnya tahu-tahu sudah terbacok golok Ciu Thian hau
sehingga kutung menjadi dua bagian, kematiannya sungguh
mengerikan.
Walaupun dalam pertarungan berdarah yang berlanggung
tadi, terdapat pula cara kematian seperti ini, tapi tadi tiada
orang yang memperhatikan maka tidak sampai terjadi apa-apa
berbeda dengan keadaan sekarang, peristiwa tersebut dengan
cepat mendatangkan perasaan ngeri dan seram bagi siapapun.
Seng To cu tidak menyangka kalau Lenghou kiong begitu
tak becus sehingga sejurus serangan dari Ciu Thian hau pun
tak sanggup dilayani, mencorong sinar gusar dari balik
matanya setetah me yaksikan peristiwa itu.

650
“Ciu Thian hau!” bentaknya dengan wajah menyeringai,
“lohu akan suruh kau mampus dalam keadaan yang serupa!”
Secepat kilat ia meluncur kemuka sambil melancarkan
tubrukan.
Ciu Thian hau bertekad untuk membunuh musuhnya dari
tingkat ilmu silat yang terendah lebih dulu, begitu selesai
membereskan Lenghou Kiong ia lantas memutar badannya
menerjang kearah Huan Tong.
Bayangan manusia berkelebat lewat. Un Yong ciau dengan
kecepatan luar biasa menerjang kemuka, lalu sebuah pukulan
dilancarakan menghantam pergelangan tangan lawan.
Huan Tong tidak ambil diam saja, sambil membentak,
kepalanya juga diayunkan ke depan.
Kebetulan Le Kiu-it berada disampingnya, dengan cepat
pula ia maju menyerang. “Criiing….!” sebuah totokkan
dilancarkan kearah iga kanan Ciu thian hau.
Serangan gabungan dari ketiga orang ini sungguh dahsyat
dan mengerikan, melihat itu Ciu Thian hau sadar bahwa ia
bukan tandingan lawan, dengan cepat tubuhnya mencelat
keudara, berputar membentuk satu lingkaran busur lalu
melepaskan diri dari kepungan keempat orang tersebut.
“Ciu lo kui, mau kabur kemana kau?” bentak Seng To cu.
Ditengah bentakan itu, sepasang ujung bajunya dikebaskan
ke depan, lalu tubuhnya mencelat ke udara dan menyusul
kearah mana perginya Ciu Thian hau.
Terdengar bentakan nyaring menggelegar berulang kali,
bayangan manusia saling menyambar, para jago dari kaum

651
lurus maupun sesat yang sebetulnya sudah menghentikan
pertarungan, kini mulai terlibat kembali dalam suatu
pertarungan yang jauh lebih seru.
Jin Hian yang berada di puncak tebing segera tertawa
dingin setelah menyaksikan peristiwa itu, sebab itulah keadaan
yang di harapkan olehnya.
“Aku tak boleh menunda lagi……”pikir Hoa In-liong
kemudian.
Dengan cepat ia mengulapkan tangannya sambil berseru.
“Turunkan tali!”
Tiba-tiba dari atas tebing sebelah timur muncul puluhan
sosok bayangan manusia, di antaranya terdapat dua
bersaudara dari keluarga Kiong, Cia In sekalian jago-jago
perkumpulan Cian li kau, Thian Ik-cu dan murid
kepercayaannya Huan Tong, Cia Yu cong serta sekawanan
jago persilatan lainnya.
Dari sekelompok manusia tersebut tampak dua orang
menggotong segulung tali temali yang beratnya mencapai
ratusan kati, begitu tiba di tepi tebing tali-tali tersebut segera
diturunkan ke bawah.
Ternyata gerak-gerik mereka tenang dan mantap, tak
sedikitpun tampak sikap gugup atan tergopoh-gopoh.
Bila dilihat pula tali yang panjangnya ratusan kaki itu, bisa
diketahui juga bahwa persediaan itu sudah disiapkan
semenjak semula, itu berarti Ho In liong telah merencanakan
segala sesuatunya dengan sempurna sebelum bertindak.

652
Sorak sorai yang gegap gempita segera berkumandang dari
dasar lembah itu, kecuali Ciu Thian hau sekalian beberapa
orang yang sedang bertarung sengit, yang lain buru-buru
kabur ke arah dinding sebelah timur.
Mendadak terdengar Kok See-piau membentak keras.
“Semua anggota Hian-beng-kau tetap berdiri ditempat
masing-masing!”
Hian-beng-kau memang terkenal sebagai suatu
perkumpulan dengan peraturan yang ketat, sekalipun berada
dalam keadaan seperti ini, tak seorangpun berani
membangkang perintahnya, maka mendengar bentak an itu
serentak mereka berhenti, kemudian dengan sinar mata yang
keheranan mereka awasi kaucunya.
Bwe Su-yok merasakan hatinya tergerak, pikirnya
kemudian.
“Tebing Ui gou peng merupakan markas besar Hian-bengkau,
sudah barang tentu Kok See-piau jauh lebih mengerti
tentang keadaan disini dari pada orang lain”
Karena berpikir demikian, ia lantas menghimpun tenaga
dalamnya sambil membentak keras, “Setiap anggota Kiu-imkau
dilarang sembarangan bergerak sebelum mendapat
perintah dari pun-kaucu!”
Karena teriakan dari kedua orang pemimpin ini, timbul
kecurigaan dalam hati setiap orang, maka serta merta mereka
pun ikut berhenti semua.
Coa hujin segera menarik tangan Coa Wi-wi, sedang Bong
pay pun mencegah Coa Cong gi, hanya sebagian kecil saja
diantara mereka yang melanjutkan gerakannya lari ke depan.

653
Tampak paras muka Jin Hian berubah hebat Kemudiaa
sambil tertawa seram serunya, “Bocah muda dari keluarga
Hoa, kau terlalu pandang rendah diri lohu.
Setelah berhenti sejenak, bentaknya, “Pasukan pemanah
Lui hwe siam (panah api geledek) bersiap sedia, bidik tebing
seberang!”
Kiranya diatas kedua puncak tebing tersebut, berdiri
puluhan jago yang masing-masing menyandang busur dan
anak panah, bentuk panah itu istimewa sekali, ujungnya tidak
tajam seperti panah biasa melainkan berbentuk bulat telur
seperti terbuat dari besi dan berwarna hitam pekat.
Hoa In-liong memiliki tenaga dalam yang amat sempurna,
walaupun jarak antara tebing timur dengan tebing barat selisih
beberapa li, namun ia dapat menyaksikan semua keadaan
tersebut dengan jelas, diam-diam hatinya merasa terperanjat.
Kepada Thian Ik-cu bisiknya, “Tootiang harap kau
mencarikan akal untuk ledakkan pinggiran telaga disebelah sisi
tebing tersebut.”
“Apakah Jia Hian mempergunakan senjata api?” tanya
Thian Ik-cu sambil mengerutkan dahinya.”
“Benar!” Hoa In-liong mengangguk, “Ciang siok ya pernah
membicarakan soal panah Lui hwe cien itu denganku”
ooooOoooo
56
Luas lembah ini cukup lebar ujar Thian Ik-cu, para jago pun
memiliki gerakan tubuh yang enteng dan lincah, ketajaman

654
matanya melebihi orang lain, ditambah pula jumlah Lui hwe
ciam tidak banyak, aku rasa tak mungkin bisa meledakkan
banyak orang.
Aku pikir Jin Hian pasti ada persiapan! kata Hoa In-liong
dengan paras muka serius.
Thian Ik-cu tidak bertanya lagi, dia memandang sekejap ke
bawah tebing kemudian memutar badannya dan berlalu dari
situ. Terdengar Jin Hian tertawa terbahak-bahak lalu berseru,
“Hoa Yang, coba kau lihat kelihayan lohu”
Tangannya lantas diulapkan, dan bentaknya, “Lepaskan
panah!”
Kawanan jago pemanah yang menarik gendewa masingmasing
itu segera mengarahkan anak panahnya ke arah
tebing sebelah timur begitu Jin Hian menurunkan perintah,
anak panah bagaikan hujan gerimis segera berhamburan ke
mana-mana.
Meskipun jarak antara tebing timur dan barat selisihnya
cukup jauh, panah Lui hwe ciam pun tidak mudah mencapai
sasaran, namun puluhan orang pemanah tersebut semuanya
merupakan kekuatan inti dari Jin Hian, tentu saja
kepandaiannya luar biasa dan tenaga bidikannya kuat, dalam
waktu singkat seluruh lembah sudah berubah menjadi bulanbulanan
anak panah mereka.
“Blaam……! Blaam…….”suara ledakan menggelegar tiada
hentinya, bumi mulai bergetar kembali, perasaan setiap
orangpun ikut menjadi tegang dan tercekat.
Diantara kilatan panah berapi yang meledak disana sini,
pepohonan bertumbangan, pasir dan batu beterbangan
memenuhi angkasa, bah kan menyusul kemudian terjadi

655
kembali ledakan dahsyat yang memekikan telinga, jilatan
angin yang kuat memancar hingga mencapai mencapai
ketinggian tujuh delapan kaki lebih.
Tak bisa disangkal lagi, dalam hutan tersebut telah ditanam
sejumlah bahan peledak yang sangat banyak, ketika terkena
panah api geledek itu maka meledaklah obat peledak tersebut.
Kobaran api yang membubung keangkasa sungguh amat
dahsyat dan sukar dilukiskan dengan kata-kata, padahal sejak
Hoa In-liong memerintahkan untuk menurunkan tali hingga
kini hanya beberapa saat saja, baru saja tali itu mencapai
ditengah jalan, hutan yang lebat itu sudah berubah menjadi
lautan api.
Dengan terjadinya perubahan yang berlangsung secara
tiba-tiba ini, mereka yang berlarian menuju ketepi tebing itu
tak sempat lagi untuk menyelamatkan diri, ditengah jeritan
ngeri yang menyatkan hati, jilatan api dahsyat menggulung
tubuh mereka dan seketika itu juga lenyaplan tubuh-tubuh
mereka.
Sebenarnya Hoa In-liong berniat mengorbankan beberapa
puluh utas talinya untuk meayelamatkau orang itu lebih
dahulu, sayang tak sempat, akhirnya dia hanya bisa menghela
napas dan menitahkan untuk berhenti menurunkan tali, dari
pada benda-benda itu terbakar dengan percuma.
Agaknya Jin Hian belum puas dengan hasil karyanya itu,
sekali lagi ia memberi tanda sambil berseru, “Separuh
mengarah lapangan batu, separuh mengarah istana!”
Sreet! Sreet! Desingan angin tajam menderu-deru, puluhan
batang panah Lui hwe cian tersebut serentak ditujukan kearah
kawanan jago yang berada dilapangan serta istana Kiu ci piat
kiong.

656
Dari sekian ribu jago persilatan yang berkumpul disitu, ada
sembilan puluh persen yang berkumpul ditengah lapangan,
tentu saja mereka enggan untuk menyerah dengan begitu
saja.
Goan cing taysu dan Cho Thian hua merupakan, tokohtokoh
persilatan yaag bertenaga dalam paling sempurna,
ketika dilihatnya panah api geledek itu tertuju semua kearah
mereka, serentak kedua orang itu melompat keudara,
kemudian telapak tangan masing-masing melepaskan sebuah
pukulan yang maha dahsyat kearah depan, tujuh delapan
batang panah Lui hwe ciam yang sedang meluncur tiba segera
terguling ke udara dan terjatuh ditengah hutan pohon siong
sana.
Para jago lainnya juga sama-sama bertindak, mereka
melompat ke udara seraya melepaskan pukulan-pukulan
dahsyat untuk menghantam panah itu dari sana, dengan
demikian hanya beberapa batang saja yang terjatuh ditengah
lapangan.
Ada pula diantaranya meski berhasil menangkap panah itu,
tapi lantaran panah Lui bwe ciam itu sendiri sudah cukup
berat, lagipula dibidikkan dari ketinggian ribuan depa, ini
membuat bobotnya puluhan kali lipat lebih besar, karena tak
tahan, akhirnya mereka ikut terjungkal pula ke atas tanah.
Ledakan-ledakan dahsyat kembali menggelegar diangkasa,
diantara percikan bunga api, asap tebal yang disertai cahaya
hitam yang beribu-ribu jalur banyaknya memancar ke empat
penjuru.
Jeritan ngeri berkumandang dari sana-sini korban api
menjilat setiap benda yang dijumpainya, mereka yang berada
dipaling depan kontan terlempar dengan tubuh hancur

657
berantakan sedang yang terluka tergeletak sambil merintih
kesakitan, pemandangan waktu itu sungguh mengerikan
sekali…….
Sementara itu, para jago yang berhasil merangkap panahpanah
itupun merasa kuatir untuk memegang terus benda
yang mudah meledak itu, tanpa diperintah, masing-masing
segera melemparkan benda itu kedalam hutan.
Dengan demikian, secara beruntun terjadi ledakan demi
ledakan dalam hutan itu, suara gerumuh yang memekikkan
telinga membuat bumi mulai bergoncang kembali, api menjilat
kemana-mana.
Pada saat yang bersamaan, istana Kiu ci piat kiong yang
indah dan megahpun ikut terjilat si jago api dan mulai
terbakar dengan hebatnya.
Dalam waktu singkat, beranda dan bangunan berlotengpun
tertelan dibalik lautan api.
Suara peletuk-peletuk yang nyaring menggema dari
sekeliling hutan, suara rintihan dan jerit kesakitan menambah
seramnya suasana.
Kobaran api yang membara telah menjulang tinggi ke
angkasa, asap tebal membuat napas setiap orang terasa
sesak, kecuali beberapa orang jago lihay yang berhasil
menyelamatkan dirinya, hampir semua orang lain menjadi
gugup gelagapan dengan sendirinya.
Kini semua hutan dan bangunan telah terjilat oleh kobaran
api, dalam keadaan demikian jika Jin Hian mengarahkan lagi
anak buahnya untuk membidik lapangan tengah, maka jangan
harap semua jago bisa lolos dari situ dalam keadaan selamat.

658
Hoa In-liong yang berdiri diatas puncak tebing
mengerutkan dahinya rapat-rapat, walau pun ia mengambil
keputusan untuk meledak kan tepi telaga untuk mengalirkan
air telaga guna memadamkan api, tapi besarnya kobaran api
dalam lembah tersebut sungguh jauh diluar dugaannya.
Diam-diam ia berpikir, “Tidak sedikit waktu yang
dibutuhkan untuk meledakkan pinggiran tepi telaga itu, kalau
dilihat dari situasi saat ini…….”
Mendadak terdengar Ci wi Siancu berteriak keras, “Liong
ji!”
Hoa In-liong tertegun, kemudian sahutnya.
“Sam kokoh ada urusan apa?”
“Jika kami telah mati nanti, aku rasa Jin Hian pun tak akan
lolos dari ujung pedang ayahmu, cuma aku minta kau yang
mem binasakan dirinya!”
“Jangan kuatir Sam kokoh” tukas Hoa In-liong, “keponakan
pasti akan berhasil untuk menyelamatkan kalian semua”
Tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata-katanya,
dengan gusar Ci wi siancu berseru kembali”
“Kau jangan menukas dulu, ingat! Kau harus memenggal
batok kepala Jin Hian untuk bersembahyang didepan pusara
kami, selain itu kau pun selanjutnya harus membasmi kaum
laknat dari muka bumi, jangan seperti ayahmu, haram!
Seandainya pada waktu itu dia bunuh habis semua cucu iblis
ini, darimana mungkin bisa terjadi bencana seperti hari ini?”

659
“Yaa, kau harus mewakili kami untuk mencaki maki
ayahmu” sambung Li Hoa siancu, “Liong ji, sudah kau dengar
belum?”
Sementara itu suara hiruk pikuk hampir menyelimuti
seluruh lembah tersebut, walaupun Hoa In-liong telah
memusatkan perhatian-nya untuk mendengarkan pembicaraan
dari Biau-nia Sam-sian, sedangkan Biau-nia Sam-sian pun
telah mengerahkan segenap tenaga nya untuk menindas
suaranya hiruk pikuk itu, namun suara mereka yang
melengking semakin membuat kacaunya suasana.
Tiba-tiba terdengar seseorang menjerit keras.
“Sobat-sobat semua, tanpa sebab kita sudah terjerumus
dalam suasana seperti ini, tahukah kalian kenapa hal ini bisa
terjadi?
“Kenapa?” seseorang bertanya dengan suara lantang.
“Coba bayangkan sendiri, seandainya Hian-beng-kau tidak
ribut mengadakan upacara peresmian, tak mungkin kita bisa
terjebak dalam suasana seperti ini?”
Begitu ucapan tersebut diutarakan, para jago merasakan
api amarah berkobar dalam dadanya, suara teriakan keras
dengan cepat berkumandang dari sana sini,
“Benar! Hian-beng-kau adalah biang keladinya semua
peristiwa ini…..!”
“Sebelum mati kita harus membunuh semua orang Hianbeng-
kau sampai mampus, kita harus membalas dendam atas
sakit hati ini”

660
“Kok See-piau manusia laknat, dia harus dicinsang sampai
berkeping-keping!”
Oleh karena semua orang tak bisa malampiaskan rasa
dendamnya kepada Jin Hian, apalagi kematian sudah berada
diambang pintu, maka rasa gusar dan dendam mereka segera
dilampiaskan kepada para anggota dari perkumpulan Hianbeng-
kau.
Untuk sesaat suasana menjadi gempar, para jago Hianbeng-
kau menjadi sasaran kemarahan orang banyak bahkan
mereka diserbu dan diserang secara membabi buta.
Diantara para penyerang itu ternyata termasuk juga para
jago dari Kiu-im-kau maupun Seng-sut-pay.
Tiga orang jago persilatan yang berilmu biasa, dalam
gusarnya ternyata tak tahu diri dan maju menyerang Kok Seepiau.
Untung saja para jago kelas satu tidak terlalu
menghiraukan masalah itu dan memusatkan perhatian mereka
untuk meloloskan diri, maka dengan begitu pihak Hian-bengkau
pun masih dapat memper-tahankan diri dari kemusnahan.
Diam-diam Coa Wi-wi berpikir.”
“Yaa, betul juga, kenapa tidak kugunakan kesempatan
yang sangat baik ini untuk membasmi Hiau beng kau dari
muka bumi?”
Dengan cepat ia menggerakkan tubuhnya siap menubruk
kearah Kok See-piau.
Tiba-tiba lengannya terasa kencang, ternyata ia sudah
dicengkeram oleh ibunya.

661
Dengan alis mata berkenyit dan senyuman paksa
tersungging diujung bibirnya, Coa Hujin berkata.
“Anak Wi, kita dari keluarga Coa tak usah melibatkan diri
dalam pertarungan masalah seperti ini, coba kau lihat para
jago lainnya, siapakah yang ikut dalam pertarungan tersebut?”
“Tidak ibu!” seru Coa Wi-wi dengan gelisah, “jika
kesempatan baik ini kita sia-siakan, kemungkinan besar Kok
See-piau akan melarikan diri dari sini”
Coa hujin segera tersenyum katanya. “Anak bodoh, kecuali
malaikat atau dewa, siapapun jangan harap bisa lolos dari sini,
aai…….!Kalau aku yang mati masih mendingan, kau dan anak
Gi tidak sepantas nya”
Setelah menghela napas panjang, tiba-tiha ia menutup
mulutnya rapat-rapat.
Coa Wi-wi segera gelengkan kepalanya berulang kali,
katanya ngotot, “Tidak ibu, aku percaya jiko pasti berhasil
menolong kita semua, tapi musuh-musuh itupun pasti akan
ikut kabur juga”
Coa hujin tertawa getir.
“Oooh….apakah ia sanggup menolong kita?” keluhnya.
“Pasti dapat!” Coa hujin mencoba untuk mengawasi
keadaan disekitar sana, kobaran api telah menjilat seluruh
penjuru lembah tersebut, bunyi peletukan yang keras
menambah seramnya susana.

662
Jilatan api tersebut telah merambat dengan cepatnya ke
depan, tampaknya sejenak kemudian seluruh tanah lapang itu
akan tertelan oleh lautan api.
Suhu udara yang panas, asap yang tebal dan napas yang
sesak membuat keadaan benar-benar menjadi amat kritis,
untung saja semua orang yang berkurung adalah jago-jago
silat yang bertubuh tangguh coba kalau tidak begitu, pasti
banyak korban yang telah berjatuhan.
Ia mencoba mendongakkan kembali matanya, ia saksikan
Hoa In-liong dergan sorot matanya yang tajam seakan-akan
sedang memperhatikan pula ke arah mereka, diam-diam ia
lantas berpikir, “Kalau dilihat keadaan tersebut, sekalipun Jin
Hian tidak manfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan
serangan, kami semua juga bakal mati terbakar, sekalipun jiko
mu ada diatas lembah, apa pula yang dapat ia lakukan?”
Akan tetapi ketika dilihatnya gadis itu menunjukkan rasa
percaya dan yakin yang tebal, ia merasa tak tega untuk
menghilangkan rasa gembiranya maka sambil tertawa ia
bertanya lirih, “Anak wi, apakah kau suka dengan jiko mu?”
Paras muka Coa Wi-wi segera berubah menjadi merah jengah,
serunya dengan wajah tersipu-sipu, “Ibu……..”
Menyaksikan wajah putrinya yang tersipu-sipu itu Coa hujin
kembali berpikir, “Aaaaaai……….tampaknya putriku telah
dewasa, sifat kekanak-kanakannya tempo hari, kini sudah
lenyap tak berbekas”
Dalam hati dia berpikir demikian, dimulut katanya sambil
tertawa, “Anak Wi, ketika empek Hoa mu kembali ke gunung,
ia menyingguug pula soal dirimu kepada kedua orang
hujinnya, bocah kau tebak apa yang ia katakan? Apa pula
yang di katakan dua orang hujin dari keluarga Hoa itu
kepadaku?”

663
“Apa yang mereka katakan?” tanya Coa Wi-wi sambil
membelalakkan matanya lebar-lebar.
Coa hujin sengaja pura-pura berpikir, kemudian jawabnya.
“Lebih baik tak usah ibu katakan, sebab setelah diucapkan
nanti kau pasti akan membuat ibu menggodamu lagi”
“Ibu, katakanlah!” rengek Coa Wi-wi dengan manja,
“Baik, baik, akan ibu katakan” jawab Hoa hujin kemudian
sambil tertawa, “empek Hoa mu tentu saja memuji-muji
dirimu, dan kedua orang hujinnya?”
Sengaja ia berhenti sebentar, ketika dilihatnya gadis itu
memandang dengan wajah cemas-cemas harap, diapun
melanjutkan.
“Kedua orang hujin dari keluarga Hoa itu sambil tertawa
lantas menuntut seseorang menantu kecil kepada ibu untuk
mereka semua!”
Paras muka Coa Wi-wi kontan saja berubah menjadi merah
padam seperti kepiting rebus, sambil menyandarkan
kepalanya dalam pelukan ibunya, ia membisik manja.
“Ibu nakal, ibu menggoda aku…….ibu nakal, ibu suka amat
menggodaku……”
“Sementara itu, kobaran api telah merajalela sampai
dimana-mana, jilatan api yang ganas membakar benda
apapun yang dijumpainya, suasana digelanggang kacau balau
tak karuan, benturan senjata jeritan ngeri menggetarkan
hampir seluruh angkasa, tapi ibu dan anak dua orang itu
bersikap seakan-akan tidak melihatnya, gelak tertawa dan

664
pembicaraan berlangsung amat santai, seolah-olah hal
tersebut berlangsung didalam rumah sendiri saja.
Ketika Kok See-piau menyaksikan semua persiapan yang
diaturnya dengan susah payah untuk menjebak segenap
enghiong dari kolong langit ternyata terbalik malah digunakan
oleh musuh, rasa gusar yang berkobar dalam hatinya sukar
dilukiskan dengan kata-kata.
Namun bagaimanapun juga memang tak malu di sebut
sebagai seorang tokoh persilatan yang berbakat, sekalipun
menghadapi situasi yang buruk, pikirannya tidak menjadi
kalut, dia tahu bila dalam keadaan demikian membunuh
musuh maka hal ini akan memancing kemarahan khalayak
umum yang akan mengakibatkan suatu keadaan yang fatal.
Maka dergan cepat ia mengebaskan ujung bajunya untuk
menotok jalan darah ketiga orang itu kemudian sambil
mendongakkan kepalanya dia berteriak keras-keras, Hoa
Yang, apakah kau ingin menolong rekan-rekanmu?”
“Kok See-piau” jawab Hoa In-liong hambar, “apa yang ingin
kau katakan, aku orang she Hoa telah menyuruh orang untuk
melakukan-nya, lebih baik jangan banyak bicara dari pada
memberi peringatan dan mempertingkat kewaspadaan
musuh!”
Mendengar perkataan itu, Kok See-piau segera berpikir,
“Bocah ini benar-benar amat pintar!”
Kecerdikan orang itu tiba-tiba menimbulkan kobaran rasa iri
yang amat besar dalam hati kecilnya, sekuat tenaga ia
berusaha me ngendalikan perasaan tersebut, kemudian
berkata, “Kau begitu cerdik dan cekatan, ini membuat pun
sinkun merasa amat berlega hati, cuma persiapanmu yang
terburu-buru tentu kurang begitu cermat, perhatikanlah

665
dibawah ada sebuah batu hijau ditepi sebatang pohon bwe
tua”
Walaupun tanya jawab diantara mereka berdua dilakukan
dengan penuh teka-teki dan tanda tanya, sehingga tak
seberapa orang yang memahaminya namun dalam
menghadapi mara bahaya, perasaan mereka memang lebih
tajam daripada biasanya, ketika bisa dirasakan bahwa jalan
keluar sudah terbentang maka sebagian besar jago yang
sedang bertarung segera ikut pula terhenti, Diam-diam Hoa
In-liong berpikir.
“Kok See-piau bisa berpikir panjang dengann
mempersiapkan bahan peledak ditepi telaga lebih dulu,
membuktikan kalau dia memang berotak luar biasa. Siapa
tahu sekali salah selangkah, kekalahan yang dihadapinya jadi
makin runyam, itulah yang disebut perhitungan manusia tak
bisa menangkan perhitungan Thian, asal………! Ingin
mencelakai orang, dirinya yang tercelaka lebih dulu, inilah
yang dinamakan senjata makan tuan”
Sementara ia masih berpikir, tiba-tiba Cia In
menghampirinya sambil berbisik, “Sim Ciu sekalian yang
berada ditebing seberang, tiba-tiba lenyap tak berbekas”
Berita ini sangat mengejutkan Hoa In-liong, ketika ia
mendongakkan kepalanya tampaklah kecuali Jin Hian yang
masih melongok keadaan sambil tiada hentinya
memperhatikan gerak geriknya, Sim Ciu, Kiong Hau serta Gui
Gi hong tiba-tiba telah lenyap tak berbekas.
Tapi setelah dipikir sejenak, ia lantas tahu apa yang terjadi,
betul juga ketika ia mencoba untuk memasang telinga, maka
terdengarlah suara bentakan dan bentrokan senjata telah
berkumandang dari tujuh delapan li dari situ, tapi berhubung
suara dari lembah amat membisingkan telinga maka tanpa

666
tenaga dalam yang sempurna memang sulit untuk menangkap
suara itu.
Dalam kejutnya ia tak berani berayal lagi, buru-buru
serunya, “Perhatikan musuh baik-baik!” Sekali melompat
dengan kecepatan luar biasa ia meluncur ke arah selatan.
Lembab bukit di Ui gou peng ini luasnya mencapai
beberapa li, pada sisi timur sampai kebarat, sedangkan dari
selatan sampai ke utara panjangnya sampai mencapai belasan
li, dimana Hoa In-liong berada sekarang terletak dibagian
tengah dari dinding selat yang agak datar permukaannya, luas
permukaan itu mencapai puluhan kaki sehingga membentuk
sebuah bukit kecil yang menonjol keluar.
Diatas puncak bukit terdapat sebuah telaga kecil, sekalipun
tidak terhitung besar, itupun mencapai setengah dari puncak
bukit itu, karena letaknya berdekatan dengan lembah maka
dinding sebelah situ terhitung paling tipis.
Ditepi telaga merupakan bukit-bukit karang yang terjal dan
naik turun tidak rata, sulit bagi orang bisa untuk melalui
tempat tersebut, sekalipun bisa melampaui tempat itu, paling
tidak satu jam lebih baru akan menyelesaikan perjalanan
tersebut.
Namun bagi Hoa In-liong yang memiliki ilmu meringankan
tubuh amat sempurna, dalam sekejap mata ia sudah berhasil
tiba ditempat tujuan.
Terlihatlah ditepi pantai telaga tersebut, Thian Ik-cu
dengan pedang terhumus sedang bertempur sengit melawan
Sim Ciu, sedangkan murid-muridnya dengan membentuk
barisan pedang Han lei kiam tin sekuat tenaga membendung
gempuran-gempuran dari Kiong Hau serta beberapa orang
kakek, sedangkan seorang tokoh setengah umur yang

667
berwajah bersih dengan senjata hud tim ditangan kiri dan
kaitan ditangan kanan, sekuat tenaga melangsungkan
pertarungan seru mela wan Gui Gi hong.
Menyaksikan kesemuanya itu, Hoa In-liong menjadi
tertegun, pikirnya.
“Ternyata ia juga sudah datang, kenapa tidak nampak
Hong giok?” Jalan tanah perbukitan tersebut menyempit pada
bagian situ, jaraknya dengan dinding bukit seberang mencapai
beberapa kaki lebar nya waktu itu dinding bukit telah merekah
sebagian sehingga air telaga memancur turun kebawah
sayang terlalu kecil air yang mengalir turun sehingga tiada
gunanya untuk mengatasi semua keadaan disana.
Disekitar dinding tersebut tersebarlah bungkusanbungkusan
yang berisi bubuk yang berwarna hitam, jelas
bubuk-bubuk hitam tersebut adalah bahan peledak.
Sim Ciu gembong iblis itu sungguh lihay sekali, ilmu Tay im
sim jiau andalannya telah dikerahkan sehingga jari tangannya
beberapa inci menjadi lebih panjang besarnya juga satu kali
lipat dari keadaan semula, setiap kali serangan dilancarkan
maka muncullah li ma gulung hawa putih yang menyelimuti
angkasa.
Thian Ik-cu dengan menganyunkan pedangnya sedang
memberikan perlawanan dengn
sepenuh tenaga, tapi ia
terdesak terus menerus sehingga harus mundur kebelakang.
Pertarungan antara Thian Siok-bi melawan Gui Gi hong
berlangsung agak seimbang, sebaliknya Bu tim tojin sekalian
belasan orang yang sedang bertarung melawan Kiong Hau
beserta enam tujuh orang kakek itu berada rada posisi yang
amat gawat.

668
Bu tim tojin sekalian sesungguhnya terhitung jago-jago
kelas satu dari dunia persilatan, dibawah barisan Kan lei kiam
tin yang tangguh, belasan bilah pedang tersebut berkelebat
silih berganti memancarkan sinar yang amat menyilaukan
mata, cahaya pedang yang tajam, hawa serangan yang
dahsyat serta perubahan barisan pedang yang luar biasa
membuat Hoa In-liong benar-benar merasakan kejadian
tersebut jauh diluar dugaan.
Namun ilmu silat yang dimiliki Kiong Hau sekalian bertujuh
pun lebih hebat lagi, di bawah serangan-serangan yang
demikian gencar, ternyata mereka sanggup mempertahankan
diri tanpa kelihatan kepayahan atau menunjukkan pertanda
kalau ngotot.
Ditinjau dari keadaan tersebut, dapatlah diketahui bahwa
andaikata Bu tim tootiang tidak tertarung secara berkelompok,
maka jika sampai berkobar pertarungan satu lawan satu tak
sampai seperminum teh kemudian mereka sudah akan mati
semua.
Dalam pertarungan sengit itu, tiba-tiba seorang kakek yang
bersenjata toya melancarkan serangan dengan jurus Heng sau
cian kun (menyapu rata selaksa prajurit) untuk memaksa
mundur dua bilah pedang, kemudian toyanya mencukil
kebawah dan sekantong obat mesiu melayang keudara
melewati batok kepala semua orang dan….. “Plung!” tercebur
kedalam telaga kemudian tenggelam kedasarnya.
Kejadian semacam ini jelas bukan hanya berlangsung satu
kali saja, anak murid Thian Ik-cu menjadi amat gelisah sekali
menyaksikan peristiwa tersebut, apalagi ketika dilihatnya
kantong-kantong berisi mesiu yang hendak digunakan untuk
menolong jiwa rekan-rekannya kian lama kian menipis tanpa
sanggup untuk mencegahnya, ini semua membuat mereka
bertambah panik.

669
Seorang tosu menjadi nekad, sambil mengerahkan segenap
kekuatan yang dimilikinya dia maju ke muka dan melancarkan
sebuah tusukan kilat ke dada kakek tersebut.
Dengan dilancarkannya serangan yang mematikan ini,
meski serangan tersebut amat dahsyat, namun pertahanan
pada dada kiri nya menjadi terbuka lebar.
Kakek bersenjata toya baja itu segera mendengus, sambil
maju badannya berputar kencang, toyanya diputar
menggetarkan pedang lawan, kemudian telapak tangan
kanannya diayunkan ke depan sambil membentak, “Pergi kau
dari sini!”
Sebuah pukulan dahysat dengan telak bersarang di dada
kiri iman tersebut.
Tosu itu meraung keras dan muntah darah segar, tubuh
berikut pedangnya mencelat sejauh beberapa kaki dan tewas
seketika itu juga.
Baru saja membunuh orang itu dan tubuhnya belum
sempat berdiri tegak tiba-tiba beberapa gulung desingan angin
dingin menyambar tiba dari belakang punggungnya.
Sambil memutar toyanya dia segera melancarkan
pertahanan, “Traaang…..!” bentrokan nyaring berkumandang
memecahkan keheni ngan, pedang-pedang lawan yang
sedang menyergap tibapun segera terpental kebelakang
semua…..
Seorang murid Thian Ik-cu yang mendendam karena
saudara seperguruannya terbunuh membentak keras, ia lupa
akan keadaan dirinya yang terancam, secara nekad tubuhnya
bergerak ke muka menusuk punggung kakek tersebut…..

670
Serangan ini betul bertenaga tangguh, tapi ia lupa bahwa
keberhasilan mereka menahan serangan Kiong Hau sekalian
adalah berkat keampuhan dari ilmu barisan tersebut, dengan
tindakan ini bukan saja barisan menjadi kalut, diapun
kehilangan peluang untuk ditolong oleh rekan-rekannya.
Terdengar seorang kakek yang bersenjatakan sepasang
gelang Cu bu siang cuan tertawa tergelak, gelangnya tiba-tiba
dilemparkan ke depan.
“Traaak!” batok kepala tojin itu segera terhajar hancur
sehingga isi benaknya berceceran ditanah, keadaannya betulbetul
mengerikan.
Pada gelang tersebut rupanyn diikat pula dengan sebuah
rantai perak, sehabis membinasakan musuhnya, kakek itu
menarik kembali tangannya dan menyimpan kembali senjata
andalannya.
Setelan rekan seperguruannya terbunuh secara berulang
kali, Bu tim tojin sekalian segera tercekam dalam perasaan
dendam yang meluap, sepasang mata mereka menjadi merah
membara, setiap orang mulai berniat untuk beradu jiwa.
Tiba-tiba terdengar Thian Ik-cu berseru, “Cing lian kalian
harus tenangkan dulu pikiran dan bertarung secara mantap…”
Baru saja berbicara sampai setengah jalan Sim Ciu telah
mendengus dingin, secara beruntun ia lancarkan tiga buah
serangan berantai.
Dalam keadaan demikian, mana mungkin buat Thian Ik-cu
untuk melanjutkan kata-katanya, terpaksa ia telan kembali
ucapan selanjutnya dan memusatkan semua perhatiannya
untuk siap menghadapi lawan.

671
Ciong Hau tidak terhitung, ketujuh orang kakek yang tidak
diketahui asal usulnya ini sungguh hebat bukan kepalang,
sekalipun Bu tim tojin sekalian bertekad untuk melakukan
perlawanan dengan sepenuh tenaga, itu pun tak lebih hanya
akan menambah melayangnya jiwa secara percuma.
Situasi menjadi amat kritis, agaknya sebentar lagi barisan
Kao lei kiam tin tersebut akan menjadi berantakan……
Andaikata barisan Kao lei kiam tin serta Thia Siok-bi, dalam
keadaan begitu, kematian orang itu hanya tinggal menunggu
waktu belaka…..
Setelah itu asal mereka musnahkan sumbu bahan peledak
yang tertanam disepanjang tepian telaga itu, sehingga air
telaga tak sampai mengalir kebawah, tak bisa disangkal lagi
para jago yang terkurung dibawah lembah pasti akan musnah
semuanya.
Tempat dimana Thian Ik-cu beserta anak muridnya dan
Thia Siok-bi bertarung melawan Sim Ciu, Kiong Hau sekalian
letaknya berada diatas sebuah bukit yang menonjol keluar, Jin
Hian yang berada diseberang dapat mengikuti semua jalannya
pertarungan itu dengan jelas, sedangkan pemandangan
dibawah tebing pun sebagian besar dapat ter lihat dengan
nyata, satu-satunya tempat yang tak bisa dilihat olehnya
justru adalah tempat dimana orang-orang Cian li kau, dua
bersaudara Kiong, Huan Tong dan Hoa In-liong berada.
Tapi jarak antara dasar lembah dengan tebing curam itu
kelewat jauh, tanpa tenaga dalam yang sempurna sulit buat
mereka untuk melihat jelas jalannya pertarungan itu,
walaupun demikian delapan sembilan puluh persen dari
kawanan jago itu berusaha juga mengikuti jalannya
pertarungan dengan seksama.

672
Bayangan manusia tampak saling berkelebat, sambaran
senjata menyilaukan mata, rupanya pertarungan yang sedang
berlangsung disana amat sengit……
Betul orang yang sedang terlibat dalam pertarungan tiada
hubungannya dengan mereka, tapi semua jago didasar
lembab sadar bahwa menang kalahnya pertarungan yang
sedang berlangsung sangat mempengaruhi mati hidup mereka
semua.
Cia In dan dua bersaudara Kiong sekalian yang ada
ditebing sebelah timur tak dapat mengikuti pula jalannya
pertarungan tersebut, dalam keadaan demikian merekapun
hanya bisa mengikuti perubahan sikap orang-orang yang
berada didasar lembah sambil menduga-duga sendiri keadaan
yang sesungguhnya.
Jin Hian yang melihat bahwa semua rencananya hampir
berhasil, tak tahan lagi segera mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak, sedang para jago diatas tebing
berubah hebat mukanya, para jago didasar lembah samasama
menjerit kaget, keadaan menjadi bertambah kalut………
Disaat yang kritis itulah, mendadak dari tempat kejauhan
sana berkumandang suara pekikan nyaring yang memekikkan
telinga, semua orang mengenali pekikan tersebut berasal dari
Hoa In-liong.
Dalam waktu singkat, gelak tertawa Jin Hian bagaikan
dipotong orang secara paksa, seketika itu juga gelak
tertawanya terhenti di tengah jalan…….
Sorak sorai dan tempik sorak segera berkumandang
kembali memenuhi seluruh lembah.

673
Kejadian ini sangat mangherankan orang-orang di tebing
sebelah timur, tapi mereka tahu, situasi tentu sudah
mengalami lagi pe rubahan yang amat besar.
Dengan cemas Kiong Gwat lam bertanya, “Cici, apa yang
telah terjadi?”
Kiong Gwat hui ulapkan tangannya sambil tertawa getir, ini
pertanda kalau dia sendiripun tak tahu.
Kiong Gwat lan kembali berpaling serunya, “Enci In!”
Cia In sendiripun tak dapat mengendalikan perasaannya
yang kalut, sambil tersenyum ia segera mendahului, “Kalau
kau bertanya kepadaku, aku musti bertanya kepada siapa?”
Kiong gwat lan menjadi panik sekali, gumamnya kemudian,
“Tempat ini betul-betul tempat seperti setan..!”
Dengan perasaan kalut ia berjalan mondar-mandir seorang
diri seperti semut dalam kuwali panas.
Semua kejadian yang berlangsung secara beruntun ini
memang panjang untuk diceritakan, pada hal sejak Hoa Inliong
pergi sampai kini, waktu hanya berlangsung beberapa
menit saja.
Hoa In-liong yang menyaksikan semua kejadian tersebut
ditebing itu menjadi naik darah, sambil berpekik nyaring ia
segera menerjang kedalam arena pertarungan.
Tubuhnya masih berada ditengah udara, pedangnya telah
diloloskan dari sarung, kemudian dengan memantulkan sinar
putih bagaikan pelangi, dia menerjang tiba dengan kecepatan
luar biasa.

674
Semua orang yang sedang bertempur menjadi amat
terperanjat ketika secara tiba-tiba menyambar datang cahaya
pedang yang menusuk pandangan serta tenaga serangan
yang kuat bagaikan tindihan bukit Taysan, baik musuh
maupun teman segera mengangkat senjata masing-masing
untuk membendung datangnya serangan itu.
Terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati
berkumandang memecahkan keheningan. Ketika cahaya
pedang sirap kembali, kakek bersenjata toya baja itu sudah
tergeletak ditanah dengan bermandikan darah segar.
Seorang pemuda tampan berjubah perlente tahu-tahu
sudah berdiri muncul ditengah arena, pedangnya menuding
kelangit dengan wajah serius, wibawanya besar sekali
bagaikan malaikat yang baru turun dari kahyangan.
Semua orang segera menghentikan pertarungan dengan
perasaan bergetar keras, dengan mata terbelalak mereka
awasi wajah Hoa In-liong tanpa berkedip.
Setelah suasana hening sejenak, Hoa In-liong baru
menatap sekejap wajah semua orang, kemudian ujarnya
kepada Tnian Ik-cu.
“Thian Ik cianpwe harap kau bongkar batu hijau ditepi
pohon bwe itu, sulutlah sumbuhnya”
Dengan semangat berkobar kembali, Thian Ik-cu
memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, benar juga
seratus kaki didepan sana tumbuh sebatang pohon bwe,
disisinya terdapat sebuah batu hijau yang besar bagaikan
baskom dan berkilat.

675
Bagi orang yang berpengalaman dalam sekilas pandangan
saja tentu akan tahu kalau sumbu mesiu terebut tentu
ditanam dibawah batu ini.
Sim Ciu adalah seorang manusia bengis yang telah terkenal
selama tiga jaman, pengalamannya luas pengetahuannya juga
cukup ketika mendengar perkataan dari Hoa In-liong tersebut
kebengisannya segera berkobar kembali, dia berpikir, “Hoa
Goan siupun sudah lohu jagal, masa seorang cucunya musti
kutakuti? Kalau cecunguk seperti inipun memecahkan nyaliku,
lebih baik aku bunuh diri saja”
Maka ketika dilihatnya Thian Ik-cu mulai bergerak, dengan
mata bengis melotot besar teriaknya seram, “Tua bangka
hidung kerbau, kau anggap pekerjaan tersebut bisa kau
lakukan seenaknya?”
Dengan kelima jari tangannya yang terpentang bagaikan
kaitan, ia cengkeram dada Thian Ik-cu.
Melihat datangnya ancaman tersebut, Thian Ik-cu berkerut
kening, pedangnya segera diputar untuk menyambut
datangnya ancaman tadi.
Tiba-tiba terdengar Hoa In-liong mendengus dingin, Sim
Ciu hanya merasakan matanya menjadi pedas karena silau
oleh cahaya merah, tahu-tahu bayangan hitam sudah melintas
didepan mata.
Dengan perasaan terkesiap ia menarik kembali
serangannya sambil melompat kesamping untuk
menghindarkan diri.
Ketika ia berdiri tegak kembali, tampaklah Hoa In-liong
dengan sikap yang tenang bagaikan tak pernah terjadi apaTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
676
apa telah berdiri kembali ditempat semula, seolah-olah
serangan tersebut bukan dia yang melancarkan.
Dalam kejut dan malunya, ia menjadi naik pitam, dengan
suara keras bentaknya.
“Bocah keparat, aku tidak percaya kalau kau memang
berilmu tinggi!….”
Sambil berpekik nyaring,ilmu Tay im sin jiau nya dengan
membawa suara pecahan bambu yang memekikkan telinga
segera menyambar ke tubuh Hoa In-liong.
Tujuh orang kakek yang lain kebanyakan bersenjatakan
senjata aneh, setelah terbunuh seorang, kini tinggal enam
orang.
Sesungguhnya merekapun sudah dibikin terkejut oleh
kelihayan Hoa In-liong, maka ketika dilihatnya Sim Ciu sudah
turun tangan, merekapun tak berani berayal, senjata masingmasing
segera disiapkan untuk menyerang anak muda itu.
“Anjing laknat!” bentak Thia Siok-bi dengan marah.
Senjata kaitan kemalanya diputar, ia siap menerjang pula
ke depan.
Gui Ci hong dengan cepat mengayunkan telapak tangannya
ke depan melepaskan sebuah pukulan hawa dingin yang
merasuk tulang, inilah pukulan Sui sim ciang (pukulan
penghancur hati) yang diandalkannya selama ini.
Barusan nyaris Thia Siok-bi tewas ditangannya oleh
pukulan tersebut, ketika dilihatnya orang itu kembali
melancarkan serangan dengan ilmu Sui sim ciang, ia
mendengus gusar, sambil berkelit ke samping, senjata hud

677
timnya menggulung ke depan dengan senjatanya mencukil
keatas melepaskan serangan balasan.
Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata,
sekali mengayunkan pedangnya seketika itu juga Hoa In-liong
telah mengu rung Sim Ciu ber-enam ke dalam lapisan hawa
pedangnya, ia segera berteriak nyaring, “Tootiang, cepat
pergi!”
Setelah menyaksikan kehebatan Hoa In-liong didalam
melancarkan serangannya Thian Ik-cu menjadi berlega hati, ia
tahu meledakkan tanggul telaga lebih penting dari segalagalanya,
maka dengan cepat ia memutar badan dan lari
menghampiri pohon bwe tersebut.
Waktu itu hanya Kiong Hau berdua yang belum turun
tangan, menyaksikan perkembangan situasi tersebut dia lantas
berpikir, “Ilmu silat yang dimiliki bocah keparat ini sungguh
lihay sekali, lebih baik lohu jangan keburu-buru
menghalanginya, aku musti mencari akal untuk
menghancurkan sumbu-sumbu mesiu tersebut”
Sebagai orang yang berakal licik dan banyak tipu
muslihatnya, setelah berpikir sejenak, dia lantas membentak,
“Thian Ik-cu hidung kerbau, sambut peluru ini!”
Diantara getaran tangannya, sebutir peluru pek lek tan
segera disambit.
Dengan ilmu silat yang dimiliki Thian Ik-cu, peluru Pek lek
tan dari Kiong Hau tidak akan menyusahkan dirinya, karena itu
sewaktu didengarnya senjata rahasia Kiong Hau tersebut tidak
menyambar kearahnya, diapun tidak mengambil perduli akan
tibanya sambaran Pek lek tan yang nyambar lewat dari
samping itu.

678
Namun setelah diketahui Pek lek tan yang dilepaskan
tersebut mengarah pada batu hijau dimana sumbu mesiu
terdapat, ia menjadi terperanjat sekali, untuk mencegah jelas
sudah tak mungkin lagi.
Anak muridnya dan Thia Siok-bi juga tak sanggup berkutik
menghadapi kejadian ini, mereka hanya terbelalak dengan hati
terkejut.
Jeritan kaget segera berkumandang memecahkan
keheningan, sementara para jago di buat terkejut oleh
peristiwa itu. Jin Hian dan konco-konconya menjadi bergirang
hati.
Dengan gemas Go Tang cuan memaki, “Thian Ik-cu, goblok
kamu!”
Dalam pada itu pedang Hoa In-liong sedang berputar
mengurung Sim Ciu beserta ke enam orang jago lainnya,
namun semua kejadian yang berlangsung seakan-akan tidak
terlepas dari pengamatannya, dalam situasi demikian, tiba-tiba
ia tertawa seraya berseru, “Kiong Hau, kau memang amat
cerdik!”
Telapak tangan kanannya segera diayunkan ke depan,
segulung tenaga pukulan angin berpusing dengan cepat
membawa serangan dari Sim Ciu sekalian nyelonong
kesamping sedangkan tangan kanannya segera diputar
mengayunkan pedangnya ke depan.
Sesungguhnya peluru Pek lak tan itu menyambar duluan ke
depan, ternyata sebelum benda tadi menghancurkan batu
hijau dan melenyapkan harapan para jago untuk meloloskan
diri, pedang Hoa In-liong sudah keburu menyambar lebih
duluan, cahaya tajam berkelebat lewat, tahu-tahu benda itu
sudah tertumbuk sehingga tercebur kedalam telaga.

679
Padahal peluru Pek lek tan adalah semacam benda yang
mudah meledak bila tersentuh, tapi entah gerakan apa yang
telah digunakan Hoa In-liong, kenyataannya meski tersentuh
oleh pedang yang menyambar cepat, benda itu sama sekali
tidak sampai meledak.
Ketika pedang itu sudah menumbuk jatuh peluru Pek lek
tan, dengan kecapatan tinggi senjata itu segera menyambar
ke depan sana dan tampaknya segera akan terjatuh kedalam
lembah yang telah be rubah menjadi lautan api.
Siapa tahu, disaat yang terakhir itulah mendadak pedang
itu berputar satu lingkaran besar dan meluncur kembali ke tepi
tebing.
Sambil tertawa nyaring Hoa In-liong melambung ke udara
dan menyambar kembali senjatanya.
Semua kejadian tersebut dapat diikuti oleh setiap orang
dengan amat jelasnya, paras muka Jin Hian segera berubah
hebat, sedangkan para jago yang berada dalam lembah
betempik sorak memuji kehebatan si anak muda itu.
Walaupun begitu, bukan berarti para jago itu bisa
mengikuti semua jalannya pertarungan dengan amat jelasnya,
diantara sekian banyak orang, boleh dibilang hanya Cho Thian
hua dan Goan cing taysu yang dapat mengikuti kejadian ini
paling jelas.
Sambaran tangan Hoa In-liong yang berhasil
mengesampingkan serangan dari Sim Ciu sekalian itu ternyata
tak lain adalah jurus Lui tiong ban wu (menggetarkan selaksa
benda) dari ilmu pukulan Su siu hua heng kang yang maha
dahsyat itu.

680
Goan cing taysu yang menyaksikan kehebatan dari
perubahan jurus itu kontan saja bersorak memuji, meski dia
adalah seorang pendeta yang beriman tebal, kenyataannya
tak dapat membendung juga luapan emosi dalam hatinya.
“Anak bagus, kau memang tidak menyia-nyiakan
harapanku!” demikian gumamnya.
Tiba-tiba paras muka Cho Thian hua berubah hebat, sambil
berpaling ia lantas berseru, “Hwesio cilik, apakah bocah muda
itu yang kau maksudkan sebagai orang yang sanggup
menandingi lohu?”
“Betul!” jawab Goan cing taysu sambil tersenyum,
“bagaimana menurut pendapat lo sicu?”
Cho Thian hua segera mendengus dingin.
“Hmmm…..! Ilmu pedangnya memang lumayan, cuma ilmu
pukulannya masih ketinggalan jauh”
Goan cing taysu hanya tertawa hambar, ia tahu dari
jalannya pertarungan tersebut gembong iblis itu telah berhasil
mengetahui kalau ilmu pukulan yang digunakan Hoa In-liong
adalah hasil pelajar annya, sebab itu sengaja dia berkata
demikian.
Sedikit banyak hati kecilnya merasa kagum juga oleh
ketajaman pandangan matanya.
Sementara pembicaraan masih berlangsung, Hoa In-liong
telah menyambar kembali pedangnya sambil melayang turun
kebawah, katanya dengan suara lantang;
“Saudara sekalian serahkan saja mereka semua kepadaku!”

681
Baru saja Thia Siok-bi hendak msnyerang dengan senjata
kaitan kemalanya, tahu-tahu Gui Gi hong telah terkurung oleh
hawa pedang Hoa In-liong, yang lebih hebat lagi, ternyata dia
yang berada dihadapannya tidak merasa bagaimana caranya
pemuda itu bertindak.
Kiong Hau serta Gui Gi hong lebih lebih kebingungan lagi,
mereka hanya merasakan serangan dari Hoa In-liong
menyambar datang, tahu-tahu tubuh mereka berdua sudah
terkurung oleh lapisan pedang lawan.
Dengan demikian Hoa In-liong seorang diri harus
bertempur melawan Sim Ciu sekalian delapan orang jago,
kenyataannya ia tak nampak ngotot ataupun tertekan, semua
gerak-geriknya bisa dilakukan dengan enteng, gesit dan
cekatan.
Ketika harus bertarung melawan Gui Gi hong tadi, Thia
Siok-bi telah merasakan tekanan yang luar biasa hebatnya, ia
cukup menyadari akan kehebatan musuhnya, maka tak heran
kalau dia menjadi terkejut sekali setelah dilihatnya Hoa Inliong
harus bertarung melawan delapan orang musuh dengan
gerakan yang santai.
Padahal dia tahu, jangankan Sim Ciu serta Kiong Hau yang
berilmu dahsyat, keenam orang kakek inipun memiliki
kepandaian tidak berada dibawah Gui Gi hong, dari
kesemuanya ini terbuktilah sudah sampai dimanakah
kelihaiyan Hoa In-liong yang sesungguhnya.
Tak kuasa lagi semua kegagahan dan semangat tempurnya
hilang lenyap tak berbekas, pikirnya, “Aaaai… mulai sekarang
lebih baik aku Thia Siok-bi tidak membicarakan soal dunia
persilatan lagi…..”

682
Dari sekian banyak jago yang terkurung didasar lembah,
pihak para pendekarlah yang paling gembira menyaksikan
adegan pertarungan itu.
Ciu Thian hau sekalian jago-jago tua merasa berlega hati
karena keturunan keluarga Hoa terbukti tangguh sekali, Hoa
Ngo berdiri dengan wajah berseri, sedangkan Bong Pay dan
Kho Thay saling berpandangan sambil tersenyum, semuanya
menyambut kehebatan pemuda itu dengan hati riang……..
“Bocah ini…..”gumam Tiang heng Tokoh.
Tiba-tiba ia merasakan kesedihan yang meluap, titik-titik air
mata segera jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Pui Che-giok maju menghampirinya sambil menggunakan
saputangan untuk menyeka air matanya, sedang tokoh
tersebut hanya berdiri kaku tanpa bermaksud
menghalanginya.
Jilid 17
Biau-nia Sam-sian paling tidak puas dengan keadaan itu,
mereka berteriak keras bersama-sama, “Anak Liong kenapa
musti sungkan-sungkan? Sikat saja sampai ludes……”
Sementara itu, ketika Hoa In-liong menyaksikan Sim Ciu
masih melakukan perlawanan dengan ganas, diam-diam
pikirnya dihati, “Tenaga dalam yang dimiliki orang ini sudah
mencapai puncak kesempurnaan, sekalipun bibi Jin berlatih
sepuluh tahun lagi juga belum tentu bisa menandinginya,
apalagi di masa lampau ia telah mencelakai kakekku, lebih
baik kubunuh saja bangsat ini!”

683
Berpikir sampai disitu, pedangnya segera diputar dan……
“Sreet!” sebuah tusukan dengan telak bersarang didada Sim
Ciu.
Termakan oleh totokan tersebut, Sim Ciu mendengus
tertahan, dalam keadaan terluka parah ini sifat buasnya
berkobar kembali, denpan sepuluh jari tangan terpentang
lebar ia menubruk ke depan sambil melepaskan cengkeraman
dengan dua belas bagian tenaga serangan Tay im ain jiau
miliknya.
Hoa In-liong mendengus dingin, tubuhnya miring ke
samping, kaki kanannya segera menyambar ke muka.
Sreeet……! Sreeet…..! Steeet…….! Tay im sin jiau dari Sim
Ciu tersebut menimbulkan sepuluh buah lubang besar diatas
tanah, tapi tubuhnya terlempar ke jurang dan terjatuh ke
dalam lautan api.
Manusia kejam yang sudah banyak melakukan kejahatan
ini, pada akhirnya tewas ditangan Hoa In-liong, dendam sakit
hati terbunuhnya sang kakek pun berhasil dituntut pula oleh
pemuda tersebut.
Coa Wi-wi paling bersemangat diantara sekian banyak
orang, mulutnya bercuwit-cuwit tiada hentinya menerangkan
situasi pertarungan seakan-akan kuatir kalau orang lain tidak
mengetahui akan kelihayan dari Hoa In-liong.
Coa Cong gi sekalian anak-anak muda pun menuding
kesana-kemari sambil berteriak-teriak memberi semangat.
Keadaan para jago di tebing sebelah timur yang paling
kocak, dasar bersifat perempuan, para jago dari Cian li kau
serta Kiong Gwat lan paling repot, sekali sebentar mereka

684
mengejek Jin Hian yang ada ditebing seberang, sebentar
memperhatikan keadaan para jago didasar lembah, sebentar
kemudian mencaci maki Hoa In-liong yang dikatakan tolol
sehingga salah memiliki tempat yang mengakibatkan mereka
tak dapat mengikuti jalannya pertarungan tersebut.
Mereka ingin pula menyusul ke medan pertarungan tapi
kuatir dihadang oleh Jin Hian dan komplotannya, sehingga
untuk sesaat mereka menjadi serba salah dibuatnya.
Cia In berusaha menasehati mereka agar tetap tenang,
ketika anjuran tersebut tidak digubris, terpaksa diapun hanya
tersenyum belaka sambil menyaksikan tingkah laku mereka.
Perasaan Bwe Su-yok paling serba salah, ketika
menyaksikan kelihayan Hoa In-liong ia merasa girang sekali,
tapi bila terbayang kembali akan tugas yang dibebankan
gurunya, dadanya kembali bergolak, ini membuat paras
mukanya berubah berulang kali.
Beribu-ribu orang jago persilatan mulai menari-nari dengan
riang gembira sedangkan para jago dari Kiu-im-kau, Hianbeng-
kau dan Seng-sut-pay hanya berdiri dengan wajah
terkejut.
Kok See-piau merasa dendam bercampur marah, diamdiam
ia menyumpah dihati,
“Bocah busuk!”
Tapi ingatan lain segera melintas kembali dalam benaknya,
dia berpikir lagi.
Kehebatan keluarga Hoa apakah benar benar melebihi aku
Kok See-piau?

685
Thian sungguh tidak adil…….heee……heee…..heeehh tapi
aku orang she Kok tak akan menyerah sampai disini saja!”
Berpikir sampai disini ia menggertak giginya kencangkencang
untuk mengendalikan golakan emosinya, rasa benci
dan dendamnya ternyata jauh melebihi Jin Hian.
Satu-satunya orang yang tidak terpengaruh oleh
kemunculan Hoa In-liong mungkin hanya Go Tang cuan
seorang, ketika dilihatnya Thia Siok-bi munculkan diri diatas
tebing, ia merasa sedih bercampur girang.
Ia gembira karena istrinya telah muncul kembali disitu,
sedih karena terbayang kembali akan musibah yang menimpa
putrinya Wan Hong giok, dengan penuh kepedihan ia berpikir.
“Anak Giok…. aku telah berbuat salah kepadamu, aku telah
membuat kau menderita.. ..
Makin dipikir ia merasa makin sedih, sehingga akhirnya ia
menundukkan kepalanya rendah-rendah.
Semua orang baik yang berada diatas tebing maupun
mereka yang berada dibawah tebing seakan akan lupa dengan
kobaran api yang sedang membara dengan hebatnya itu.
Mendadak terdengar ledakan dahyat yang memekakkan
telinga berkumandang memecahkan kesunyian, lamat-lamat
terdengar pula beberapa jeritan ngeri mengikuti ledakan
tersebut.
Dalam keadaan seperti ini, siapapun tak ada yang
memperhatikan suara jeritan tersebut hanya Kok See-piau
seorang yang segera menyumpah dihati, “Setan-setan sialan,
mampus kau!”

686
Pada tebing sebelah tenggara tampak muncul sebuah celah
sebesar puluhan kaki yang merekah lebar, air telaga berikut
batu kerikil segera mengalir ke bawah dengan derasnya
menciptakan sebuah air terjun yang sangat lebar.
Tonjolan tebing dimana Hoa In-liong sedang bertarung
melawan Kiong Hau sekalian, tiba-tiba retak dan gugur ke
bawah akibat terkena getaran oleh gempa yang dihasilkan
oleh ledakan tersebut.
Dalam keadaan demikian, baik musuh mau pun teman
sama-sama menjerit tertahan karena kaget.
Jika orang biasa yang mengalami musibah semacam itu,
tipis harapan mereka untuk meloloskan diri, berbeda dengan
kawanan jago yang berada di atas tebing sekarang, kecuali
murid murid Thian Ik-cu yang terhitung lemah, semuanya
rata-rata terhitung jagoan kelas satu dalam dunia persilatan.
Dalam keadaan kritis, serentak mereka berlompatan
keudara dan mendaki keatas tebing baru yang tidak ikut
gugur…..
Bu tim tojin serta dua orang sutenya berdiri dipaling ujung
di tebing tersebut, mereka agak terlambat untuk bertindak,
sekalipun sudah melonpat sejauh tiga empat kaki jauhnya,
jarak dengan tebing lain masih cukup jauh.
Melihat hal ini, mereka sama-sama menjerit kaget, sambil
memejamkan matanya bisiknya dihati!”
“Habis sudah riwayatku!”
Ketika itu Hoa In-liong sedang menghempit tubuh Thian Ikcu
yang berpelepotan darah dengan napas yaug lemah, ketika
menyaksikan kejadian itu, dia lantas berpikir, “Demi

687
menyelamatkan umat persilatan, Thian Ik-cu telah
mengorbankan dirinya, aku harus melindungi keselamatan
anak muridnya.
Berpikir demikian, tiba- tiba ia melemparkan tubuh Thian
Ik-cu ke atas tebing sambil berseru, “Sambutlah ini!”
“Seorang murid Thian Ik-cu segera bertindak cepat dengan
menerima tubuh gurunya.
Dengan suatu gerakan cepat Hoa In-liong segera memutar
badan dan melayang ke arah tojin lainnya.
Tindakannya yang menyerempet bahaya ini segera
menimbulkan rasa gelisah dan cemas bagi semua orang yang
ada diatas tebing maupun dibawah lembah.
Murid-muridnya Thian Ik-cu yang selamat buru-buru
berteriak, “Hoa kongcu, cepat naik keatas!”
Sekalipun mereka menyadari akan bahaya yang
mengancam saudara seperguruannya, namun mereka lebih
rela mengorbankan rekan-rekannya daripada mengorbankan
pemuda itu. Biau-nia Sam-sian serta Hoa Ngo yang berada
didasar lembahpun ikut berteriak, “Jangan urusi persoalan
orang lain!”
Sayangnya teriakan mereka tak ada yang terdengar oleh
Hoa In lioag, sebab air telaga yang mengalir kebawah itu
menimbulkan suara gemuruh yang memekikkan telinga.
Dimana air itu melanda, kobaran api segera padam
seluruhnya.
Kiu ci piat kiong, istana yang megah itu sudah terbakar
hangus sebagian besar ketika terjadi kebakaran tadi, sekarang

688
setelah diterjang oleh air bah tak bisa dicegah lagi ambruklah
bangunan yang berjuta-juta tail perak harganya itu hingga
hancur tak ber bekas.
Air bah turun dengan dahsyatnya, dalam waktu singkat
tinggi air sudah makin meningkat keatas.
Dalam keadaan demikian para jago dari golongan Hek to
maupun Pek to sama-sama bertahan diri dari gempuran air,
tapi sebagian besar masih mengikuti jalannya peristiwa
diudara dengan seksama, seakan-akan mereka tidak
menyadari akan datangnya air bah tersebut.
Tampaklah tubuh Hoa In-liong bagaikan seekor burung
raksasa menyambar ke belakang tubuh tosu itu, dengan
sebuah pukulan ia hantam kaki orang tersebut.
Ketika terdorong oleh segulung tenaga pukulan yang kuat,
tojin itu segera terlempar lagi keudara dan meluncur keatas
tebing.
Hoa In-liong putar badannya mendekati orang kedua, ia
sambar tumit orang itu dan melemparkannya lagi keudara,
dengan tenaga lemparan yang kuat iman itupun berhasil
mencapai daratan dengan selamat.
Kini Hoa In-liong menyambar bahu kanan Bu tim lojin
sambil melemparkan pula tubuhnya ke udara, ia membentak,
“Naik!”
Tubuh Bu tim lojin yang tinggi besar itu bagaikan anak
panah yang terlepas dari busurnya segera meluncur ke depan
yang mana segera ditolong oleh rekan- rekan seperguruan
nya.

689
Hoa In-liong sendiri, akibat dari usahanya menolong ketiga
orang itu, dengan sangat cepat badannya meluncur kebawah.
Sementara itu tubuhnya sudah berada sepuluh kaki lebih
dibawah permukaan tebing semua orang tahu, dengan tenaga
yang dimilikinya, tak mungkin pemuda itu akan menderita luka
meski terjatuh kebawah, tapi jika ia tidak berada diatas tebing,
maka Jin Hian pasti akan mempergunakan segala tipu
dayanya untuk mencelakai mereka semua.
Itulah sebabnya dengan perasaan kuatir dan cemas,
mereka sama-sama menantikan perkembangan selanjutnya.
Tiba-tiba Hoa In-liong mambuang pedangnya kebawah,
ujung kakinya dengan menutul diatas tubuh pedang itu,
sambil berpekik nyaring segera melambung kembali keudara.
Kejadian ini tidak seperti yang terdahulu setiap orang dapat
menyaksikannya dengan amat jelas. Mereka hanya
menyaksikan sesosok bayangan manusia berkelebat lewat,
tahu-tahu pemuda itu sudah berada kembali diatas tebing.
Peristiwa ini hanya berlangsung dalam waktu singkat,
setelah Hoa In-liong tiba diatas tebing, semua orang baru
menghembuskan napas lega.
Sementara itu air bah telah menggenangi seluruh lembah
tersebut, banyak diantara mereka yang hingga terseret jauh
dari tempat semula, hanya mereka yang berilmu tinggi saja
tetap berdiri ditempat.
Untung lembah tersebut adalah lembah bebatu, sehingga
meski terseret air hingga membentur dinding, kecuali luka
lecet mereka tak sampai menderita luka parah atau kematian,
meski keadaan boleh dibilang mengenaskan sekali.

690
Berada dalam keadaan begini, sudah barang tentu ada
yang bersorak sorai, beberapa orang yang ingin bersorak pun
mengalami nasib yang mengenaskan, karena begitu mulut
dibuka, air segera masuk kemulut.
Dalam pada itu, Siu sim jiu (tangan sakti peng hancur hati)
Gui Gi bong yang berada ditebing telah bertindak nekad,
ketika tubuh Hoa In-liong masih berada diudara, mendadak
dia mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah
pukulan.
“Bajingan laknat!” bentak Thia Siok-bi dengan gusar,
Senjata kaitan kemalanya segera disambit ke depan, dengan
membawa kilatan cahaya hijau senjata tersebut kontan saja
menyambar punggung Gui Gi hong.
Siapa tahu Gui Gi hong sudah bertekad untuk beradu jiwa,
ia sama sekali tidak ambil perduli terhadap datangnya
sergapan tersebut, sepasang telapak tangannya didorong
kemuka, gulungan angin pukulan berhawa dingin yang
dahsyat dengan cepat menghantam tubuh Hoa In-liong.
Sesungguhnya, tanpa membuang senjata pun Hoa In-liong
masih sanggup untuk naik keatas, ia sengaja berbuat begitu
karena memang berjaga-jaga atas terjadinya peristiwa ini.
Cepat sepasang telapak tangannya ditekan kemuka,
tubuhnya kembali berjumpalitan dan melayang turun setelah
melewati kepala Gui Gi hong.
Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang
memecahkan keheningan, kaitan kemala yang tajam itu tahutahu
sudah menembusi punggungnya hingga tembus di ulu
hatinya, dengan darah bercucuran tubuhnya segera roboh
terkapar ditanah.

691
Jin Hian yang berada ditebing seberang, segera menyadari
bahwa kesempatan baik baginya sudah hilang, dengan penuh
kebencian ia mendepakkan kakinya ke tanah.
Batu cadas segera berhamburan kemana-mana, sebuah
bekas telapak kaki sedalam empat lima inci segera muncul
disana dengan jelasnya.
Ia berpekik nyaring memanggil kembali semua anak
buahnya, kemudian dengan penuh kebencian berseru, “Orang
she Hoa, ku anggap kau yang menang kali ini, tapi persoalan
tak akan selesai sampai di sini, kita lihat saja perkembangan
selanjutnya….”
Sambil mengulapkan tangannya dengan memimpin sisa
anak buahnya buru- buru kabur meninggalkan tempat itu.
Hoa In-liong menghela napas panjang, ketika ia berpaling
kembali kesekeliling tempat itu dilihatnya Kiong Hau sekalian
sudah kabur tak berbekas.
Thian Ik-cu berbaring dibawah sebatang pohon, semua
muridnya sedang berdiri disekelilingnya sambil mengucurkan
air mata, melihat itu Hoa In-liong segera menjura kepada Thia
Siok-bi, kemudian tanpa mengucapkan sepatuh katapun dia
membangunkan Thian Ik-cu, menempelkan telapak tangannya
pada jalan darah Mia bun hiat serta me nyalurkan tenaga
dalam ketubuhnya.
Dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang Thian Ikcu
yang sesungguhnya sudah amat lemah itu dapat bernapas
kembali dengan lancar serta membuka kelopak matanya.
Bu tim totiang sekalian yang menyaksikan kejadian itu
segera bersorak-sorai, mereka mengira gurunya bakal
tertolong.

692
Sebaliknya Hoa In-liong sadar kalau nadi Thian Ik-cu sudah
putus, sekalipun ada Leng ci berusia seribu tahun atau benda
mestika lainnya, jangan harap jiwanya bisa tertolong,
seandainya tiada bantuan tenaga dalamnya, mungkin jiwanya
tak dapat diperpanjang beberapa saat lagi.
Maka ketika dilihatnya Thian Ik-cu telah membuka
matanya, dengan suara dalam ia lantas oerkata, “Cianpwe,
kau ada pesan apa?”
Wajah Thian lk cu ketika itu sudah berubah menjadi kuning
kepucat-pucatan, matanya redup tak bersinar, setelah
memperhatikan keadaan disitu sekian lama, pelan-pelan dia
baru dapat mengenali kembali orang-orang disekitar sana.
“Hoa kongcu!” bisiknya parau.
Bu tim tootiang sekali yang menyaksikan suhunya menjadi
begini lemah dan tak bertenaga, padahal dulunya begitu hebat
dan berilmu tinggi, tak bisa membendung air matanya lagi,
titik-titik air mata segera jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Napas Thian Ik-cu kembali memburu, agaknya ia sedang
menahan suatu penderitaan hebat, tapi senyunan segera
tersungging kembali dibibirnya, ia berkata, “Demi menolong
umat manusia, aku bersedia berkorban apapun, seharusnya
kalian ikut bergembira atas keberhasilanku ini, apalagi yang
musti ditangisi?”
“Suhu………!” bisik Bu tim tojin dengan sedih.
Ia merasa tenggorokannya seperti tersumbat sehingga
kata-kata selanjutnya tak sanggup diutarakan lagi.

693
Ketika Thian Ik-cu menyaksikan muridnya menangis
melulu, sambil menarik muka segera berkata, “Apakah murid
Thian Ik-cu begini tak berguna?”
Dia adalah bekas seorang ketua dari suatu perkumpulan
besar, kewibawaannya memang melebihi siapapun, sekalipun
sudah terluka parah dan bicaranya lemah, namun dalam
menghadapi ajalnya tersebut ia masih mampu
memperlihatkan ke wibawaannya hingga membuat orang tak
berani membangkangnya…..
Buru-buru semua anak muridnya menyeka air mata dan
berusaha menahan isak tangisnya namun kadangkala masih
terdengar juga suara sesenggukan yang menambah harunya
suasana.
Dengan perasaan apa boleh buat Thian Ik-cu menghela
napas panjang, katanya sambil berpaling, “Murid-murid pinto
memang berjiwa perempuan, harap Hoa kongcu dan toyu ini
jangan mentertawakan-nya”
Thian Siok-bi yang menyaksikan adegan tersebut tak kuasa
menahan rasa haru dihatinya, sambil tertawa paksa, ia
berkata, “Berpisah dikala masih hidup… . hal itu sudah
lumrah!”
Sebetulnya ia hendak mengatakan kalau “perpisahan untuk
selama lamanya memang suatu hal yang berat”, ketika
dirasakan perkataan itu kurang cocok, buru-buru ia menutup
kembali mulutnya.
Dengan air mata bercucuran Hoa In-liong berkata,
Sebenarnya orang yang hendak dicelakai Kok See-piau adalah
boanpwe, tidak seharusnya boanpwe suruh cingpwe yang
pergi menyulut sumbu bahan peledak tersebut, Thian Ik-cu
segara tertawa. Mati atau hidup sudah digariskan oleh takdir,

694
rejeki atau nasib semua ada ditangan Thi an, buat apa Hoa
kongcu harus menyalahkan diri sendiri?”
Setelah berhenti sejenak, dia lanjutkan, “Pinto dengan
tubuh yang lemah ini dapat mewakili konsen yang bermasa
depan cemerlang dan berjuang demi kepentingan umat
manusia untuk menerima kesemuanya itu, pinto justru merasa
amat bangga!”
Ketika mendengar perkataan itu, Hoa In-liong tak dapat
membendung air matanya lagi, Bu tim tojin sekalipun
menangis tersedu-sedu dengan sedihnya.
Thia Siok-bi dengan air mata mengembang dalam kelopak
matanya, diam-diam berpikir, “Beginilah Thong tian kaucu
yang pada dua puluh tahun berselang mempunyai nama
paling busuk dan jahat dalam dunia persilatan!”
Terdengar Thian Ik-cu telah berkata kembali. “Hoa kongcu
ada suatu hal ingin memohon bantuan mu”
“Katakan saja cianpwe, boanpwe pasti akan
melaksanakannya dengan bersungguh hati” jawabpe muda itu
serius.
Mendengar perkataan itu, Thia Siok-bi kembali berpikir,
“Aiaaah………..ternyata Thian Ik-cu mengharapkan sesuatu,
jiwa kaum sesatnya ternyata belum hilang seratus persen…..”
Sementara Thia Siok-bi masih termenung, Thian Ik-cu telah
mendongakkan kepalanya memandang langit nan biru sambil
menghem buskan napas panjang, lama, lama sekali, ia baru
berkata, Kejadian masa lalu sudah lewat bagaikan asap,
semuanya tak akan kembali lagi, meski demikian pinto tak
pernah tak dapat melupakannya, setiap kali teringat akan
perbuatan keji vang pernah dilakukan perkumpulan Tong thian

695
kau, pinto merasa hatinya bagaikan dipagut oleh ular berbisa,
sungguh, tersiksa hatiku.
Perbuatan cianpwe pada hari ini telah melenyapkan semua
kebusukan yang lama!” kata Hoa In-liong Serius, “apalagi atas
pertolonganmu, beribu-ribu lembar jiwa manusia dapat
diselamatkan, jasamu tak terlukiskan dengan kata hati.
Thian Ik-cu tertawa hambar, tukasnya, “Semuanya ini
adalah Hoa kongcu seorang, pinto tak lebih hanya melaksakan
apa yang telah ada, siapa bilang aku yang berjasa”
Ia berhenti sejenak dengan napas tersenggal.
Sebetulnya Hoa In-liong ingin mencegah tosu itu berbicara
lebih banyak lagi, tapi bila teringat kalau nyawanya sudah
berada ditepi liang kubur, ia merasa tak tega untuk memotong
pesan-pesan terakhirnya itu.
Ia hanya merasa gemas kenapa obat Yau ti wan yang
mustajab itu tinggal sebutir belaka dan itupun telah dipakai
untuk mengobati para jago yang keracunan, kalau tidak, jiwa
Thian Ik-cu pasti akan tertolong.
Telapak tangannya segera ditempelkan kembali ke atas
jalan darah Leng tay hiat ditubuh Thian Ik-cu dan
menyalurkan tenaga dalam ketubuhnya.
Setelah menerima tenaga dalam itu, Thian Ik-cu merasakan
semangatnya berkobar kembali, pelan-pelan ia berkata, “Hoa
kongcu, ilmu silat ayahmu lihay sekali, nama besarnya
bagaikan matahari disiang hari, dialah tulang punggung dari
dunia persilatan……..”
ooooOoooo

696
57
Bu Tim tojin tidak tega membiarkan gurunya berbicara
terus, tak tahan ia lantas menukas, “Setelah menyaksikan
kehebatan kongcu hari ini, bisa dipastikan kaulah harapan
dunia persilatan yang akan menegakkan keadilan dan
kebenaran di dunia ini”
“Aku tak bisa apa-apa, tootiang tak perlu membicarakan
lagi” tukas Hoa In-liong.
Thian Ik-cu menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Inilah permintaan pinto”, harap Hoa kongcu
mendengarkan dengan bersungguh-sungguh!”
Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Dalam
mengadakan pertemuan kali ini rupanya Kok See-piau berniat
membasmi semua umat persilatan yang ada di dunia ini, siapa
tahu hal tersebut telah dimanfaatkan Jin Hian, sedangkan Jin
Hian sendiri setelah kegagalan yang dihadapinya, ia pasti akan
kabur ke tempat terpencil untuk menyembunyikan diri, pihak
Kiu-im-kau dan Mo kau sukar melawan kekuatan para
pendekar.
Hian-beng-kau meski tangguh, namun setelah kekalahan
yang dideritanya hari ini tentu mengalami pukulan berat yang
mengakibatkan mereka bubar sendiri, mulai sekarang selama
ayahmu masih hidup, gembong iblis yang bagaimanapun
lihaynya tak akan berani berkutik, sehari keluarga Hoa
bercokol dalam dunia persilatan, sehari pula dunia akan
damai, anak cucu keluarga Hoa pas ti dapat selalu memimpin
dunia persilatan untuk selamanya”

697
Setelah mengucapkan sekian banyak kata-kata, meskipun
ditunjang oleh hawa murni yang disalurkan Hoa ln liong, lelah
juga tosu tua itu hingga napasnya tersengkal.
Semua perkataannya yang panjang lebar, diutarakan
secara beraturan, jelas sudah lama disusun olehnya tapi orang
yang mendengarkannya menjadi kurang begitu mengerti
dengan maksud dan tujuan yaag sebenarnya…….
Tapi Hoa In-liong memang cerdik, setelah berpikir
sebentar, ia segera memahami apa pemintaan Thian lk cu,
dengan sikap yang hormat dia berkata, “Jangan kuatir
cianpwe sejak kini asal boanpwe bertemu dengan orang jahat,
bila bukan orang yang betul-betul laknat, pasti akan kuberi
tiga kali kesempatan baginya untuk bertobat, ajaran tootiang
tak akan kulupakan untuk selamanya”
Berbicara sampai disitu, dia lantas menyembah dengan
penuh rasa hormat, katanya nyaring, “Sejak kecil aku orang
she Hoa memang binal dan berjiwa sempit, bila sejak kini ada
kemajuan, semuanya ini berkat pelajaran dari cianpwe, harap
cianpwe bersedia menerima sebuah hormatku”
“Seharusnya pinto yang musti berterima kasih kepadi
kongcu atas kebijaksanaanmu” cepat-cepat Thian Ik-cu
menjawab.
Sayang tubuhnya terlampau parah, karena ingin meronta
bangun, sekujur tubuhnya menjadi sakit sekali.
Dalam keadaan begini, tepaksa dia harus berpaling kearah
Bu tim tojin sambil berkata, “Cing lian, wakililah gurumu untuk
berterima kasih kepada Hoa kongcu……..!”
“Baik!” jawab Bu tim tojin dengan hormat, ia segera
menjatuhkan diri berlutut keatas tanah.

698
Buru-buru Hoa In-liong membimbingnya bangun sambil
berseru, “Tootiang, kau tak boleh berbuat begini!”
Thia Siok-bi tidak menyangka kalau persoalan inilah yang
diminta oleh Thian Ik-cu, diam-diam ia lantas berpikir, “Tak
kusangka aku Thia Siok-bi telah menilai kebajikan seorang
kuncu dengan jalan pikiran orang siaujin”
Karena merasa malu sendiri, tiba-tiba ia maju ke depan
sambil memberi hormat kepada tosu itu, katanya dengan
serius, “Tootiang bisa meninggalkan kejahatan untuk kembali
kejalan benar, inilah keberuntungan buat kita umat persilatan,
silahkan menerima pula sebuah hormatku!”
Karena tak bisa membalas hormat, buru-buru Thian Ik-cu
berseru kembali, “Cing lian cepat wakili gurumu untuk
membalas hormat!”
Sekali lagi Bu tim tootiang memberi hormat ke pada Thia
Siok-bi.
Dengan kening berkerut Hoa In-liong lantas berkata,
“Tootiang dengan perbuatanmu ini bukankah…” Belum habis
dia berkata, tiba-tiba sambil berpaling bentaknya, “Siapa?”
Baru saja semua orang merasa terkejut, terdengar gelak
tertawa berkumandang memecahkan keheningan, lalu seorang
berkata dengan suara parau tapi keras, “Liong ji, tenaga
dalammu benar-benar telah memperoleh kemajuan yang amat
pesat, sehingga kedatanganku pun tak berhasil mengelabuhi
dirimu…….”
Ditengah pembicaraan tersebut seseorang munculkan diri
dari balik sebatang pohon.

699
Orang itu adalah seorang kakek berjubah ungu dan
berambut uban, tapi wajahnya segar dan tampan dengan
sepasang mata yang memancarkan sinar tajam, tidak dijumpai
kerutan pada wajahnya hingga sepintas lalu seperti seseorang
yang baru berusia tiga puluh tahunan
Hoa In-liong segera berteriak kegirangan sambil
menyembah, serunya keras-keras, “Gwakong!”
Sampai disini, meskipun orang yang belum pernah
berjumpa dengan Sin-ki-pang kaucu dimasa lalu pun akan
segera mengetahui kalau pen datang tersebut adalah Pek si
hujin, atau kakek luar Hoa In-liong yang merupakan salah
seorang tokoh termashur dalam dunia persilatan, Pek Siauthian
adanya.
Sambil tersenyum Pek Siau-thian munculkan dirinya sambil
memayang bangun Hoa In-liong, katanya, “Hayo bangun,
bangun, kaupun terhitung juga jago kenamaan, kenapa masih
bersifat kekanak-kanakan?”
Sinar matanya pelan-pelan dialiakan kewajah Thian Ik-cu
kemudian berjalan menghampirinya.
Thian Ik-cu segera merasakan semangatnya berkobar
kembali, sambil tertawa katanya, “Saudara Pek, selamat
bertemu kembali!”
Ia lantas meronta dan berduduk dengan punggung
menyandar pada batang pohon, muridnya ingin
membimbingnya bangun tapi mesti sudah kritis keadaannya,
keangkuhan Thian Ik-cu masih utuh, ia segera mendorong
mereka ke samping.
Menyaksikan kejadian tersebut Pek Siau-thian tahu bahwa
saat ajalnya sudah hampir tiba, diam-diam ia berkerut kening

700
lalu katanya sambil tertawa, Hidung kerbau, sebelum bicara
sudah tertawa duluan, tampang kelicikanmu masih tetap
seperti sedia kala”
“Haaahhh…..haaa hhh…..hsaahhh……ucapan Pek heng
selalu menyudutkan orang, kau memang pantas menjadi
pentolan bajingan” sahut Thian Ik-cu sambil tertawa terbahakbahak.
Setelah saling mengejek dan mencemooh, kedua orang itu
sama-sama bertepuk tangan sambil tertawa tergelak.
Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian itu diam-diam ikut
tersenyum dihati, sedangkang Thia Siok-bi dan Bu tim tojin
sekalian malah dibikin tertegun kebingungan.
Selang sesaat kemudian Thian Ik-cu baru berkata lagi
dengan wajah bersedih hati, “Bila dalam hidupnya seorang
manusia bisa mendapatkan seorang teman akrab, maka
sekalipun mati juga tak menyesal, sudah setengah abad kita
saling bermusuhan, tak disangka Pek heng adalah sahabat
pinto, sayang disini tiada arak, kalau tidak tentu akan kuajak
Pek heng untuk minum sampai mabuk”
Pek Siau-thian ikut merasa sedih, tapi diluaran katanya
sambil tertawa terbahak-bahak.
“Haaahh…….haaahh…….haaahh……….hidung kerbau, orang
bilang tahu diri sendiri tahu orang lain maka setiap
pertarungan akan berhasil dimenangkan, aku orang she Pek
kalau memang menjadi musuh bebuyutanmu masa tidak
mengetahui tentang dirimu?”
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Baru begitu kau sudah
menantang aku untuk minum arak, tampaknya sekalipun kau

701
sudah bertapa menyucikan diri, kesucianmu masih belum bisa
dipertanggung jawabkan”
Thian Ik-cu tertawa geli oleh perkataan tersebut.
“Ucapan saudara Pek memang benar, sungguh
mengagumkan, sungguh mengagumkan!” Tiba-tiba diatas
wajahnya terlintas rasa kesakitan hebat.
In liong segera mengerutkan dahinya dan buru-buru maju
ke depan, telapak tangan nya dengan cepat ditempelkan
diatas jalan darah Hoa kay hiat ditubuh Thian Ik-cu sambil
mengerahkan kembali tenaga dalamnya.
Dengan suara lirih Thian Ik-cu segera berkata, “Pinto sudah
pasti mati, Hoa kongcu tak perlu menghamburkan tenaga
dalam dengan percuma”
“Tapi Hoa In-liong berlagak seakan-akan tidak mendengar,
hawa murninya pelan-pelan disalurkan kedalam tubun Thian
Ik-cu tanpa berhenti….
Mengunakan tenaga dalam untuk menyambung usia orang
sesungguhnya merupakan suatu perbuatan yang sangat
merugikan tenaga dalamnya, tapi dengan kemampuan yang
dimilikinya sekarang, ia tak perlu menguatirkan hal tersebut.
Tapi kenyataannya, sekalipun tenaga dalamnya sudah
tersalur ke dalam tubuhnya, seakan-akan batu yang
tenggelam didasar samudra, kekuatan tersebut seolah-olah
lenyap dengan begitu saja.
Sadarlah pemuda itu kalau Thian Ik-cu sudah tiada harapan
untuk hidup lagi, atau dengan perkataan lain, asal ia
menghentikan penyaluran hawa murninya, nyawa tosu tua itu
pasti akan melayang meninggalkan raganya.

702
Tak terlukiskan rasa sedih yang mencekam perasaan Hoa
In-liong ketika itu, sebab bagaimanapun juga keadaan yang
dialami Thian Ik-cu sekarang sebagian besar ada lah akibat
dari perintahnya.
Sementara itu terdengar Thian Ik-cu telah berkata kembali,
“Cing Lian, kalian tak boleh membalaskan dendam bagi
kematianku. kaupun tak boleh pergi mencari Kok See-piau!”
Ucapan tersebut segera membuat para murid Thian Ik-cu
sama-sama berdiri tertegun kemudian saling berpandangan
tanpa mengetahui bagaimana musti menjawab, malahan
mereka menaruh curiga kalau jalan pikiran suhunya sudah
tidak terang karena hampir mendekati ajalnya.
“Sudah jelas?” tanya Thian Ik-cu kembali.
Seorang murid Thian Ik-cu yang bernama It Tin tojin
dengan itu memberanikan diri segera bertanya, “Suhu, tecu
sekalian masih kurang begitu jelas!”
Thian Ik-cu menghela napas panjang, katanya, Sudah
banyak tahun kita bertapa mengasingkan diri rupanya kalian
masih juga tak dapat memahami jalan pikiranku.
Aaai……kematian gurumu adalah karma, jika lantaran
persoalan ini sampai kalian melakukan pembalasan dendam,
coba sayangkan sendiri berapa banyak pula korban yang telah
mati dengan perkumpulan kita selama ini? Dosaku ini tak bisa
dibayar dengan apapun, meski tubuhku tercincang sampai
hancur juga belum bisa membayarnya…bila bunuh membunuh
di langsungkan terus-menerus, sampai kapankah hal ini baru
berakhir?”
Setelah berhenti sejenak dan mengatur napas, ia
menambahkan, “Tapi jika Kok See-piau masih melakukan

703
kejahatan terus, kalian boleh mendampingi Hoa kongcu untuk
membasmi kaum laknat, dari muka bumi, mengerti?”
“Tecu mengerti!” semua murid Thian Ik-cu segera
menyahut, Thian Ik-cu manggut pelan, sambil berpaling
katanya kemudian kepada Hoa In-liong.
“Setelah pinco meninggal nanti, jika diantara anggota
perguruanku ada yang berbuat kejahatan, harap kongcu
bersedia mewakiliku untuk menghukumnya”
“Locianpwe tak usah kuatir” jawab Hoa In-liong sedih,
“urusan yang dihadapi muridmu sama halnya dengan urusan
boanpwe”
Thian Ik-cu merasa lega sekali setelah mendengar janji itu.
kekuatannya menjadi buyar dan tubuhnya makin melemah,
seketika itu juga daya tahannya menurun secara dratis,
napasnya kian melemah dan matanya mulai memejam.
Tapi secara tiba-tiba ia membuka matanya kembali,
seakan-akan teringat kembali suatu hal, serunya, “Hoa
kongcu!”
“Boanpwe siap menerima petunjukmu”
Dengan kepayahan Thian Ik-cu berkata, “Pinto merasa
berterima kasih sekali kepada ayahmu yang mana telah…….
telah memberi ke….. kesempatan bua….. buat pinto untuk
ber….. bertobat, pinto…. pinto merasa bersyukur sekali
daaa…. dapat…. per….pergi den ….. dengan hati yang tee ….
tenang…..”
Tiba-tiba sepasang matanya terpejam, kepalanya terkulai
dan berangkat meninggalkan alam semesta dengan sekulum
senyuman dibibir.

704
Suara pembicaraannya itu kian lama kian bertambah lirih
apa lagi ucapan yang terakhir, boleh dibilang bagaikan bisikan
nyamuk, coba Hoa In-liong tidak memiliki ketajaman
pendengaran yang luar biasa, tak mungkin perkataan itu bisa
didengar.
Air mata bercucuran membasahi pipi Hoa In-liong, dengan
sangat berhati-hati ia membaringkan jenasah Thian Ik-cu
diatas sebuah batu hijau, lalu setelah memberi hormat ia
mengundurkan diri ke samping.
Bu tiam tojin sekalian tertegun untuk sesaat, setelah
tersadar kembali dari lamunan, mereka segera mendekam
ditanah dan menangis tersedu-sedu, ada pula yang memukul
dada dan menyepak-nyepakkan kakinya ketanah, suasana
penuh diliputi keharuan.
Pek Siau-thian berdiri dengan wajah murung, sedang Thia
Siok-bi ikut melelehkan air mata seketika itu juga suasana
kesedihan menyelimuti hati setiap orang.
Tong thian kuncu, salah seorang dari tiga besar yarg
banyak melakukan kejahatan pada dua puluh tahun berselang,
akhirnya ia bertobat pada akhir usianya, bagaimanapun juga
akhirnya ia berhasil menebus dosa-dosanya yang telah
diperbuat pada dua puluh tahun yang lalu, boleh dibilang
kematiannya ini dilalui dengan perasaan yang tenang dan
puas.
Setelah termenung sesaat lamanya, tiba-tiba Pek Siau-thian
berkata, “Hey hidung kerbau, melepaskan golok pembunuh
kembali menjadi murid Buddha, kau betul-betul berhasil
menebus dosa-dosamu, hari ini aku orang she Pek berdua
takluk kepadamu, kau pantas menerima penghormatanku!”

705
Jago lihay dari Sin-ki-pang ini segera berlutut didepan
jenasah Thian Ik-cu dan memberi penghormatan besar.
“Semua murid Thian Ik-cu buru-buru balas memberi
hormat.
Dengar, air mata bercucuran Bu tim tojin berkata.
“Pemberian dari locianpwe sungguh merupakan suatu
kebanggaan buat perkumpulan kami.
Perlu diketahui, kedudukan Pek Siau-thian didalam dunia
persilatan tinggi sekali, orangnya tinggi hati dan tak pernah
tunduk kepada siapa pun, hampir setengah abad lamanya ia
bersama Thian Ik-cu dan Jin Hian menguasahi dunia serta
saling bermusuhan, kini se telah Thian Ik-cu wafat ternyata ia
mau berbuat demikian, meski dibilang yang mati adalah yang
besar, namun peristiwa semacam ini boleh dibilang
merupakan suatu kejadian aneh yang diluar dugaan.
Thian Siok-bi maju memberi hormat pula, murid-murid
Thian Ik-cu buru-buru balas memberi hormat lagi, tiba-tiba ia
mengebaskan hudtimnya dan membalikkan badan siap pergi
dari situ.
Hoa In-liong segera berpikir
“Dengan kepergiannya, dikemudian hari pasti akan sulit
untuk menemukan jejaknya kembali”
Berpikir demikian, ia lantas berseru, “Cianpwe, harap
tunggu sebentar!”
Sambil menarik muka, dengan dingin Thia Siok-bi menegur,
“Ada urusan apa?”

706
Hoa In-liong agak termenung sejenak, kemudian ujarnya,
“Senjata kemala milik cianpwe telah hilang, harap tunggu
sejenak, boanpwe akan suruh orang untuk mencarikan
kembali
“Tidak usah” tukas Thia Siok-bi, setelah kehilangan senjata
hari ini, pinni ada niat untuk meninggalkan dunia persilatan,
disimpan juga tak berguna, lebih baik hilang saja”
Jawaban ini diluar dugaan Hoa In Iiong, ia menjadi
tertegun ketika dilihat perempuan itu kembali bersiap-siap
akan pergi, segera serunya lagi dengan cemas, “Cianpwe,
bagaimana keadaan Hong giok sekarang?”
Thia Siok-bi tertawa dingin.
“Hmm! Kalian keluarga Hoa suka mempermainkan cinta
dan perasaan orang, buat apa kau menanyakan dirinya”
“Siapa bilang keluarga Hoa suka mempermainkan cinta dan
perasaan orang…..?” tiba-tiba Pek Siau-thian menegur.
Pelan-pelan Thia Siok-bi mengalihkan sinar matanya, lalu
menjawab dengan dingin.”
“Aku yang berkata, Pek lo pangcu bermaksud hendak
membuat apa?”
Sambil mengelus jenggotnya Pek Siau-thian tertawa
tergelak.
“Haaahhh ….haaahhh …haaahh….tampaknya kau masih
berangas sekali” katanya, aku lihat kau dengan Thian kiam sin
kau (pedang baja kaitan sakti) Thia Tay ci yang pernah
menggetarkan Tionggoan pada tiga puluh tahun berselang

707
sama-sama dari satu aliran, tolong tanya apa hubunganmu
dengannya?”
Sebenarnya Thia Siok-bi bermaksud melayani perkataan itu,
tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan
angkuh sahutnya, “Dia adalah mendiang ayahku!”
“Mendiang ayahmu?” Pek Siau-thian mengerutkan dahinya,
apakah Thia toako sudah berpulang kealam baka?”
Sesungguhnya Thia Siok-bi juga seorang perempuan yang
tinggi hati dan berangasan, ia sudah tak senang hati ketika
Pek Siau-thian muncul tanpa memandang sekejap pun
kepadanya, seandainya tidak memandang diatas wajah Hoa
In-liong dan kematian Thian Ik-cu, mungkin ia sudah angkat
kaki semenjak tadi.
Apalagi setelah mendengar perkataan Pek Siau-thian yang
angkuh, hampir meledak hawa amarah didalam dadanya.
Namun setelah mendengar ucapan yang terakhir, ia
menjadi terperanjat, pikirnya dengan cepat, “Apakah dia
adalah sahabat karib dari ayah?” Dalam hati ia berpikir
demikian, diluar ujarnya, “Mendiang ayahku belum pernah
menyinggungsoal Pek………cianpwe adakah sesuatu yang bisa
kau gunakan sebagai bukti?”
Nada ucapan dibalik perkataan itu dengan sendirinya telah
berubah menjadi lebih lunak.
Pek Siau-thian segera tertawa tergelak.
“Haaahh………haaahh……..haaahh………tak kusangka suatu
ketika aku orang she Pek dianggap juga oleh orang lain
sebagai seorang penipu…. “

708
Merah padam selembar wajah Thian Siok-bi karena jengah,
padahal diapun tahu, dengan kedudukan serta nama baik Pek
Siau-thian, tak mungkin dia akan mengaku kenal kepada
orang lain apalagi tiada suatu kepentingan baginya untuk
berbuat demikian, yang benar adalah untuk sesaat ia merasa
malu untuk mengakui orang itu sebagai sahabat ayahnya.
Terdengar Pek Siau-thian berkata kembali.
“Mungkin Thian heng terlalu dalam menyimpan rasa
sesalnya kepadaku, maka sampai mati ia tidak
memberitahukan kepadamu bahwa ia masih mempunyai
seorang sahabat semacam aku ini”
Setelah berhenti sejenak dan termenung, lanjutnya,
“Sesungguhnya tiada benda berharga yang tertinggal dari
hubungan persahabatan kami dua keluarga, yang ada cuma
sebuah giok bei belaka yang diberikan ayahku kepadanya
setelah ayahmu menolong jiwaku, aku pernah berpesan
kepadanya, bila dikemudian hari menjumpai kesulitan, asal
mengutus orang dengan membawa benda itu, sekalipun harus
terjun kelautan api aku pasti akan menyusul kesana, mungkin
benda itu belum hilang…..?”
“Macam apakah bentuk giok bei tersebut?”
Pek Siau lhian mengernyitkan alis matanya, lalu jawabnya
setelah tertawa, “Dipermukaan depan berlukiskan burung
hong dan kilin, sedangkan pada permukaan dibaliknya tertera
delapan huruf yang berbunyi Tong-sim ji lan, Ci lip toan kim.
Kau masih ada pertanyaan lain?”
Thia Siok-bi tak berani kurang hormat lagi, buru-buru
serunya sambil memberi hormat, “Tit li tidak tahu, harap
paman Pek bersedia memaafkan kesalahanku”

709
Selama ini Hoa In-liong hanya berdiri disamping tanpa ikut
berbicara, setelah melibatnya perempuan itu mengakui teman
ayahnya, diam-diam ia merasa bergirang hati.
Tiba-tiba Pek Siau-thian mengulapkan tangannya sambil
berseru.
“Liong ji, tak ada gunanya kau tetap bercokol disini, yang
paling penting adalah selamatkan orang-orang itu”
Hoa In-liong tertegun, setelah memandang sekejap jenasah
Thian Ik-cu serta murid-muridnya yang sedang menangis
kesedihan, dia berkata agak sangsi, “Gwakong, Thian Ik
cianpwe……”
“Aku yang akan menyelesaikan persoalan disini, hayo cepat
pergi! tukas Pek Siau-thian.
Hoa In-liong segera berpikir lagi.
“Dengan kehadiran gwakong disini, tak mungkin Thia Siokbi
akan pergi tanpa pamit
Maka cepat-cepat dia memberi hormat dan segera berlalu
dari situ.
Dalam waktu singkat dia sudah tiba ditempat tujuan, tapi
apa yang kemudian terlihat membuatnya tertegun.
Sebenarnya dia mengira setelah lewat sekian lama,
sebagian orang orang yang terkurung dalam lembah sudah
naik ke atas tebing, siapa tahu kecuali para anggota Cian li
kau, dan bersaudara Kiong dan huan Tong sekalian yang
sudah berada dipuncak tersebut, tak seorang manusiapun
yang naik kesitu.

710
Hoa In-liong segera menyelinap kesamping Huan Tong
seraya bertanya.
“Huan lo enghiong, apa yang terjadi?”
Huan Tong sekalian sedang memandang ke tengah lembah
dengan perasaan apa boleh buat, mendengar teguran itu ia
berpaling, betapa girangnya setelah mengetahui kalau Hoa Inliong
yang muncul.
Kiong Gwat hui cepat cepat berseru lebih dulu, “Ketika kami
lihat api telah padam, maka tali-tali kami turunkan, siapa tahu
mereka yang berkumpul dibawah tebing sama-sama ingin naik
tapi tak tega bila orang lain naik lebih dulu, akibatnya
merekapun saling menunggu disitu”
“Pada mulanya masih ada bebera orang yang berbuat
untuk naik ke atas… .” demikian Huan Tong menyambung,
tapi baru sampai di tengah jalan, mereka sudah ditimpuk
dengan senjata rahasia sehingga terjatuh dengan demikian,
orang semakin takut untuk naik ke atas”
“Kami pun sudah menganjurkan, tapi orang tidak
menggubris perkataan kami, tak seorangpun yang menurut”
ujar Cia Yu cong pula.
“Sungguh berbahaya!” pikir Hoa In-liong dalam hatinya,
“seandainya Jin Hian memanfaatkan kesempatan ini untuk
melancarkan serangan, akibat dari keteledoranku niscaya akan
banyak korban yang kembali berjatuhan……..”
Salah seorang yang bernama Yu Cing san segera
menyambung, “Kini Hoa kongcu telah datang, hal ini jauh
lebih baik lagi”

711
“Biar aku mencoba untuk membujuk mereka!” kata Hoa Inliong
kemudian sambil tersenyum.
Ia berjalan ke tepi tebing dan berseru dengan lantang,
“Saudara-saudara sekalian, marabahaya hingga kini belum
hilang, saat ini bukan waktu yang tepat untuk melangsungkan
percekcokan, persoalan terutama adalah cepat-cepat
meninggalkan lembah ini, aku orang she Hoa menjamin,
sekalipun ada seorang manusia yang berhati busuk, atau
mempunyai dendam sakit hati dengan kami tak akan kami
lancarkan sergapan untuk mencelakainya, menunggu
semuanya sudah lolos dari mara bahaya, saat itulah bila ada
permusuhan bisa di selesaikan disini atau berjanji untuk
ketemu disaat lain, aku harap kalian suka berpikir dulu tiga
kali sebelum bertindak”
Oleh karena luas lembah itu jaub melebihi luat telaga diatas
tebing, maka sampai kering air telaga tersebut, dalamnya
permukaan air dalam lembah masih belum seberapa, apalagi
daerah sekitar dinding tebing cukup tinggi, air hanya
merendam sedada mereka, dengan demikian meski seseorang
tak pandai ilmu berenang juga tak akan kuatir mati
tenggelam.
Waktu itu beribu-ribu orang jago dari golongan hitam
maupun putih yang bekumpul di bawah tebing, suasana yang
sebenarnya amat gaduh, seketika menjadi hening setelah
mendengar ucapan dari Hoa In-liong itu.
Bong Pay mengangkat tubuh Cu Tong yang terluka tinggitinggi
ke atas sehingga tak sampai terendam didalam air,
diam-diam ia berpikir, “Luka yang diderita supek amat parah
tak boleh terlalu lama berada disini”
Berpikir demikian, dia lantas berseru, “Saudara sekalian,
maaf aku orang she Hong tak bisa menunggu terlalu lama,

712
aku harus naik lebih dulu untuk menghantar yang terluka naik
ke atas”
Sekali melompat tubuhnya sudah berada lima enam kaki
tingginya ke udara, dengan cepat ia menyambar tali yang
tergantung ke bawah, mengempit tubuh Cu Tong dengan
tangan kiri dan mulai merambat naik ke atas.
Tanpa berpikir panjang lagi, Pek Soh gi segera menyusul
dari belakangnya.
Ketika Biau-nia Sam-sian melihat ada orang sudah mulai
naik, tanpa berpikir panjang lagi mereka segera melompat ke
atas, masing-masing dengan menyambar seutas tali mulai
merambat pula naik ke atas.
Orang orang Hian-beng-kau, Kiu-im-kau serta Mo kau
mengetahui bahwa mereka adalah keluarga dekat dari
keluarga Hoa, apalagi Hoa In-liong berada diatas, tak
seorangpun diantara mereka yang berani turun tangan
melakukan sergapan.
Dalam waktu singkat suasana disana menjadi amat ramai,
orang pada berteriak dan saling berebut untuk bisa naik ke
atas.
Tiba-tiba Goan cing taysu berseru memuji keagungan sang
Buddha, lalu serunya, “Saudara sekalian, harap memberi jalan
buat mereka yang terluka dan rendah ilmu silatnya untuk naik
keatas lebih dahulu”
“Betul, yang terluka harus didahulukan” sambung Cu Im
taysu.
Dengan suara nyaring Bwe Su-yok segera berseru, “Semua
murid Kiu-im-kau perhatikan baik-baik, yang terluka boleh naik

713
lebih dahulu, bila tak bertenaga boleh minta bantuan seorang
rekannya untuk menggendong ke atas, tak usah saling
berebut, naik secara teratur pun-kaucu dan para huhoat serta
Tongcu akan naik belakangan, siapa berani melanggar akan
dihukum sebagai pembangkang!”
Setelah melirik sekejap sekeliling arena dengan biji
matanya yang jeli, ia berkata lebih jauh.
“Tali-tali itu jumlah seluruhnya ada tiga puluh sembilan
buah, pihak kami hanya ber jumlah sedikit, akan kami
gunakan lima buah tali dipaling kiri, ada usul lain dari k lian?”
Cara ini memang paling baik” seru Ciu Thian hau dengan
lantang, jumlah kami banyak sekali maaf kami butuh lima
belas buah tali yang berada disebelah kanan”
Para pemimpin golongan berpikir sejenak ketika dirasakan
kalau cara ini sangat baik, masing-masing jago lantas setuju.
Seng-sut-pay mendapat bagian empat buah tali ditengah,
sedangkan pihak Hian-beng-kau mendapat lima belas buah tali
disamping golongan para pendekar.
Setelah pembagian jatah dilakukan, orang-orang dari
keempat pihakpun mulai mengirim anggotanya yang terluka
naik keatas tebing,
Tiba-tiba Ko Thay berseru, “Siapa tahu dalam lembah
masih ada mereka yang terluka parah dan belum mati,
mungkin juga mereka tak mampu datang sendiri kemari, lebih
baik kalian mengutus orang untuk pergi mencarinya daripada
mati penasaran disini”
Hong Liong mendengus dingin.

714
“Hmm, orang she Ko, ucapanmu itu seperti anak kecil saja,
jangankan sudah diterjang air bah sekalipun tidak mati juga
telah mati, berbicara dari luasnya lembah ini kemana kita
harus mencari?”
Hoa Ngo tertawa dingin, serunya cepat. Ko toako, buat apa
kau musti berbicara dengan kawanan iblis? Pokoknya masingmasing
pihak mencari rekannya sendirikan beres, mereka
enggan mencari biarkan saja rekan mereka mati penasaran”
Setelah berhenti sejenak, dengan suara lantang dia lantas
berseru, “Siapa yang bersedia untuk bersama-sama mencari?”‘
Yu Siau lam, Coa Cong gi dan Kongpeng sekalian segera
menyahut bersama, Kami bersedia!”
Setelah muncul pemimpin, maka para jago dari golongan
putih menyatakan bersedia, malah jago-jago seperti Tam Si
bin sekalian yang terluka parahpun bersedia turut serta.
Tapi hasil perundingan kemudian memutuskan bahwa
mereka yang terluka dilarang turut, mereka yang berilmu juga
tak boleh turut semua, untuk mencegah pemainan buruk dari
pihak tiga perkumpulan.
Itupun sisanya tinggal dua ratus orang lebih, maka
dipimpin oleh Cuin taysu, mereka menetapkan setengah jam
kemudian harus sudah kembali kesitu.
Dengan Suara lantang Kok See-piau berseru, “Anggota
perkumpulan kami lebih hapal dengan daerah disekitar sini,
dari sini sampai ujung selatan lembah biar dicari oleh anggota
perkumpulan kami”
Ia berlagak sosial padahal sebetulnya mempunyai maksud
pribadi, dengan menggeledah separuh bagian lembah

715
tersebut, berarti tempat itu mencakup pula tempat bekas
istana Kiu ci piat kiong berada.
Bwe Su-yok menanti sejenak, ketika dilihatnya pihak Sengsut-
pay tetap membungkam, sambil tertawa dingin ia
mengetuk tongkat kepala setannya, kemudian berseru kepada
Kek Thian tok, “Kek tengcu, kau pimpin anak murid kita
menggeledah lembah sebelah utara, bagai manapun hasilnya
sepertanak nasi kemudian harus sudah kembali ke sini”
Untuk sementara waktu pihak golongan putih dan golongan
hitam menghilangkan rasa permusuhan untuk menjadi
sahabat dan bersama-sama bekerja keras, Hanya pihak Sengsut-
pay tetap berada ditempat semula tanpa mengirim utusan
untuk turut dalam operasi ini.
Sudah barang tentu tindakan mereka ini segera memancing
caci makian banyak orang.
Kini suasana jauh lebih tertib dan teratur, suasana kalut
dimasa yang lalupun bisa teratasi.
Para jago lihay bersama-sama berdiri dibarisan belakang,
siapapun enggan untuk naik keatas lebih duluan.
Ketika Biau-nia Sam-sian berhasl mencapai atas tebing,
dilihatnya pek Soh gi sedang mempergunakan jarum-jarum
emasnya untuk mengeluarkan racun ditubuh Siau yau sian Cu
Tong sedangkan para gadis berkerumun disana sembari
menonton sembari melakukan pelindungan.
Sementara Hoa In-liong, Bong pay, Huan Tong dan Ciu Yu
cong sekalian berjaga-jaga ditepi tebing.
“Kokon bertiga baik-baikkah?” Hoa In-liong segera
menyapa.

716
“Apanya yang baik?” seru Ci wi siancu dingin “hampir saja
nyawa kami lenyap tak berbekas”
“Li hoa, Ci wi kalian berjaga-jaga diatas tebing” teriak Lan
hoa siancu lantang, “gembong iblis dari manapun yang berani
naik keatas, kita beri hadiah kabut kiu tok ciang untuk
mereka”
“Bagus sekali!” sahut Li hoa siancu “kita mampusi Cho
Thian hua dan Kok See-piau, agar dunia aman sentosa”
“Itu masih belum cukup” seru Ci wi siancu. “pokoknya
semua anggota Hian-beng-kau, Kiu-im-kau dan Mo kau tak
boleh dibiarkan hidup, walau cuma seorangpun”
Lan hoa siancu segera tertawa terkekeh-kekeh
“Ucapan Ci wi memang tepat, bibit penyakit tersebut mesti
dibasmi seakar akarnya, Li hoa! Kau hadapi orang orang Kiuim-
kau, aku dan Ci wi akan melayani Hian-beng-kau serta Mo
kau”
Hoa In-liong menjadi terkejut sekali setelah mendengar
perkataan itu, segera teriaknya, “Kokoh bertiga kalian tak
boleh berbuat demikian!”
“Aah, kau tak usah banyak ributt” tukas Ci wi siancu
“pokoknya kau membantu untuk menyikat musuh!”
Kebetulan seorang anggota Hian-beng-kau telah mencapai
atas tebing, sambil tertawa terkekeh- kekeh, Bi hoa siancu
segera berseru, “Ini dia orang pertama yang akan menghantar
kematiannya.

717
Jari tangannya segera menyentil ke depan melancarkan
bubuk Mi hun san yang memabukkan.
Anggota Hian-beng-kau itu segera menjerit kaget, dalam
keadaan tak sadar ia lepas tangan dan terjatuh ke belakang.
Untung saja pada saat yang amit kritis itu, Hoa In-liong
melompat ke depan dan menyambar tubuh orang itu sehingga
tak sampai terjatuh kembali ke dalam jurang.
Kok See-piau yang mendengar suara itu segera
mendongakkan kepalanya, kemudian teriaknya dengan
lantang, “Orang she Hoa, ucapanmu sebagai kentut busuk
atau bukan?
“Kok See-piau, pokoknya aku orang she Hoa menjamin
keselamatan kalian, tak usah kuatir.
Suara apa tadi?” bentak Kok See-piau.
“Seorang anggotamu terpeleset dan hampir jatuh, aku
orang she Hosa telah menyelamatkan jiwanya, apa keliru?”
Sekalipun Kok See-piau agak curiga, tapi keadaan yang
dihadapinya membuat ia tak banyak berkutik, maka setelah
berpikir sejenak, katanya ssambil tertawa dingin, “Moga-moga
saja kau belum lupa bahwa kalianpun masih ada orang
dibawah sini”
“Aku orang she Hoa juga berharap kalian bisa naik dengan
hati-hati!” jawab Hoa In-liong di ngin.
Mendadak terdengar Li hoa siancu membentak keras, “Hey,
mau apa kau? Mau mengacau permainan kami?”

718
Sambil membaringkan anggota Hian-beng-kau yang
semaput itu keatas tanah, Hoa In-liong berkata sambil tertawa
dingin, “Keponakan mana berani berbuat lancang, cuma
keponakan sudah terlanjur memberi jaminan kepada Kok Seepiau
untuk tidak melukai orang-orangnya, aku mana boleh
melanggar janji?”
“Yang memberi jaminan toh kau sendiri apa sangkutpautnya
dengan kami…..?” kata Ci wi siancu.
Mendengar ucapan itu, para gadis dari Ciaw li kau segera
tertawa cekikikan karena geli, sedang yang lainpun ikut
tersenyum.
Hoa In-liong betul-betul dibikin menangis tak bisa tertawa
pun sungkan, pikirnya, “Kokoh bertiga memang manusia yarg
paling tak tahu aturan didunia ini …. payah untuk berdebat
dengan mereka. Berpikir demikian, dia lantas berkata:
“Kitapun masih ada orang yang tertinggal dibawah lembah,
apakah kokoh bertiga menginginnkan mereka beradu jiwa
dengan lawan?”
“Ngaco belo, telur busuk!” damprat Lan hoa siancu.
Kepandaian beracun dari kokoh bertiga tiada tandingannya
didunia ini, siapapun tak akan mampu untuk menghindarkan
diri”
“Tak usah mengumpak. Kenapa tidak bicara terus terang
saja?” Hoa In-liong tersenyum, katanya, “Coba kokoh bertiga
pikirkan, jika pihak lawan mengetahui bahwa naik keataspun
tiada harapan untuk hidup apakah mereka bersedia untuk naik
keatas dan mengantar kematian”

719
“Bukankah hal ini lebih baik, kita kurung mereka sampai
mampus” kata Ci wi siancu.
Kembali Hoa In-liong tersenyum.
“Tapi Kok See-piau, Seng To cu dan Bwe Su-yok sekalian
tak mungkin mau mati dengan begitu saja, mereka pasti akan
menghalangi orang-orang kita untuk naik ke atas, merekapun
akan menghalangi bantuan dari atas, dengan demikian
bukankah kita akan sama-sama menderita kerugian besar?”
Biau-nia Sam-sian segera terbungkam dalam seribu bahasa,
setelah termenung sekian lama, tiba-tiba Ci wi siancu berkata,
“Liong ji, ilmu meringankan tubuhmu masih terhitung
lumayan, lebih baik setiap kali kita meracuni seorang, kau
menyeretnya naik ke tebing, asal orang dibawah sana tidak
merasa, bukankah hal ini bagus sekali?”
Hoa In-liong segera tertawa geli, sambil menggelengkan
kepalanya dia berseru, “Cara ini tidak baik. Kok See-piau
sekalian bukan orang bodoh, cara ini tak mungkin bisa
mengelabuhi mereka”
Li hoa siancu segera menggerutkan dahinya kencangkencang,
serunya kemudian, “Lantas menurut anggapanmu,
bagaimana baiknya?”
Hoa In-liong tersenyum dengan wajah serius dia berkata.
“Menurut pendapat keponakan, lebih baik biar kan saja
mereka naik kemari dengan selamat jika mereka masih
mencoba untuk melakukan kejahatan, aku rasa mereka tak
akan lolos dari tangan kita, entah bagaimana menurut
pendapat kokoh bertiga?”

720
Sementara pembicaraan berlangsung secara beruntun para
jago sudah mulai melompat naik keatas tebing.
Setelah dilihatnya tiada kemungkinan lagi bagi mereka
untuk turun tangan, dengan uring-uringan Lan hoa siancu
lantas berkata.
“Baik, kami menuruti perkataanmu, tapi kalau sampai telur
busuk itu mencelakai orang lagi setelah lolos dari sini akan
kulihat bagaimana pertanggungan jawabmu?”
Seraya berpaling serunya.
“Li hoa Ci wi mari kita pergi, lebih baik kita berpeluk tangan
belaka!”
Buru-buru Hoa In-liong memberi hormat kepada ketiga
orang itu, lalu sambil tertawa paksa, ujarnya, “Kokoh bertiga
harap beristirahat sebentar nanti keponakan tentu akan
datang lagi untuk memohon maaf”
Biau-nia Sam-sian tidak ambil peduli, dengan mendongkol
mereka segera berjalan keluar dari arena.
Dari beberapa rombongan itu pihak Seng-sut-pay paling
sedikit jumlah anggotanya, tak lama kemudian mereka telah
berkumpul semua diatas tebing.
Seng To cu melompat naik paling belakangan setelah
memandang sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia
mendengus dan melancarkan sebuah sergapan kepunggung
Hoa In-liong.
Semua orang yang berada diatas tebing serentak menjerit
kaget.

721
Selama ini Hoa In-liong cuma berdiri terus ditepi tebing
untuk melihat keadaan, mendengar datangnya serangan tanpa
berpaling telapak tanganya segera ditolak ke belakang.
Serangan ini tampaknya enteng seperti sama sekali tak
bertenaga, tapi serangan Seng To cu yang begitu dahsyatnya
seperti gulungan ombak ditengah samudra itu seakan-akan
terhadang oleh semacam kekuatan yang sangat aneh, yang
membuat tenaga serangannya terhisap dan terguling
kesamping sehingga menerjang ke arah Lenghou ber saudara
serta Hong Liong…..
Tiga orang jago itu segera membentak keras, enam buah
telapak tangan diayunkan bersama untuk menyambut
datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.
Ujung baju Hoa In-liong berkibar terhembus angin, seperti
tak pernah terjadi sesuatu apapun. Pelan-pelan ia
membalikkan badan.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Seng To cu,
ditatapnya Hoa In-liong lekat-lekat, kemudian selang sejenak
kemudian katanya, ” Bocah muda apa nama ilmu pukulan
yang kau pergunakan itu?”
Sambil tersenyum Hoa In-liong menjawab.
“Jurus serangan ini sudah pernah kau saksikan di kota Kim
leng, itulah jurus kedelapan dan ilmu pukulan Su siu huang
heng ci ang warisan Bu seng (malaikat ilmu silat) Im
locianpwe, yang dinamakan Ban wu kui kun (selaksa benda
berasal dari bumi)……..”
“Tapi Goan cing tidak mempergunakannya dengan gerakan
semacam ini!” seru Seng To cu agak tertegun.

722
“Yaa, itulah dikarenakan aku telah melakukan perubahan
dalam jurus serangan itu sahut Hoa In-liong sambil tersenyum
lagi.
Sinar mata Seng To cu segera menjadi redup, setelah
termenung sekian lama, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya
dan menghela napas panjang.
“Aai…..sudahlah! Sudahlah!”
Secara tiba-tiba usianya bagaikan lebih tua sepuluh tahun,
ia seperti merasa putus asa dan lenyap semua
kegembiraannya, sambil membalikkan badan ia memberi
tanda kepada jago-jago Seng-sut-pay seraya berkata, “Mari
kita pergi!”
Walaupun Hong Liong dan dua bersaudara Lenghau masih
tidak puas, tapi sebuas-buasnya mereka masih bukan
terhitung bodoh, mereka tahu bahwa tiada keuntungan yang
bisa diraih dalam keadaan seperti ini, maka setelah melotot
sekejap kearah Hoa In-liong dengan gemas, mereka berlalu
dari sana mengikuti dibelakang Seng To Cu.
“Song To cu, harap tunggu sebentar” tiba-tiba Hoa In-liong
berteriak keras,
Hong Liong membalikan badannya, kemudian berseru
dengan gusar, “Orang she Hoa, kau anggap Loya sekalian
benar-benar jeri kepadamu…..”
Hoa In-liong tersenyum, jawabnya.
“Yang kucari bukan kau, buat apa musti gelisah?”
Pelan-pelan Seng To cu memutar badan lalu menegur
dengan suara dingin, “Ada apa kau mencari lohu?”

723
“Seng To cu, jumlah anggota Seng sat pay yang masuk
kedaratan Tionggoan berjumlah ribuan orang, tapi menghadiri
pertemuan ini cuma seratus dua ratus orang belaka, aku tidak
percaya kalau kau tak ta hu kemana perginya Tang Kwik-siu
dengan membawa jago-jago lainnya?”
“Kau bilang apa?” Seng To cu melototkan sepasang
majanya bulat bulat.
Hoa In-liong agak tertegun, kemudian katanya lagi, Kalau
benar-benar tak tahu, anggap saja Hoa In-liong sudah salah
berbicara, tanya sendiri kepada sutemu nanti!
Hong Liong yang mendengar perkataan itu menjadi
terkejut, diam-diam pikirnya, “Anak jadah ini betul- betul
berpendengaran tajam, tampaknya persoalan itupun berhasil
diselidiki olehnya, wah, gelagatnya kurang baik…”
Tampaklah Seng To cu dengan sorot mata tajam berpaling
ke arahnya, lalu dengan suara lantang membentak, “Hong
liong, apa yang dilakukan oleh gurumu?”
Hong Liong tak berani berbohong, setelah sangsi sejenak
sahutnya, “Toa supek, sebentar tecu akan melaporkan segala
sesuatunya kepadamu, mari kita pergi dulu”
“Hoa In-liong tertawa dingin, segera ujarnya.
“Kau enggan bicara, biar aku orang she Hoa yang berkata,
rupanya sudah semenjak lama sekali kalian menyelidiki
keadaan dalam dunia persilatan sejelas jelasnya, siapa-siapa
yang berada dalam tiap partai pun sekalian selidiki dengan
jelas, menggunakan kesempatan dikala semua enghiong dari
kolong langit menghadiri pertemuan disini, Tang Kwik-siu telah
memimpin anak buahnya untuk menyergap partai-partai besar

724
didunia, pertama bertujuan agar mereka yang kembali dari
pertemuan tiduk punya tempat tinggal lagi, kedua merekapun
ingin menyandera anggota keluarganya sebagai jaminan untuk
memaksa mereka takluk.
Wahai orang she Hong, perkataanku tidak salah bukan?”
Begitu ucapan tersebut diutarakan, suasana segera menjadi
gempar.
Jilid 18
Dengan suara lantang Lan hoa siancu segera berseru,
“Bagus sekali Rupanya Tang Kwik-siu mengandung maksud
sekeji ini, sobat-sobat sekalian, hayo kita bereskan dulu nyawa
bajingan-bajingan ini, kemudian menyerbu ke Cong hay dan
membumi ratakan sarang Seng-sut-pay dengan tanah, biar
anak cucu iblis itu tersapu bersih dari muka bumi…..”
Seketika itu juga seruan itu mendapat tanggapan dari
semua orang, caci maki dan dampratan sinis berkumandang
dari mana-mana, semua jago dari Seng-sut-pay dikepung
rapat-rapat, suara senjata yang beradu memecahkan
keheningan, rupanya ada orang yang sudah mulai turun
tangan.
Tiba-tiba terdengar Bwe Su-yok berseru setelah tertawa
dingin.
“Kiranya pihak Seng-sut-pay ada niat unuk menyapu rata
daratan Tionggoan, kalau begitu maaf”

725
Sementara itu semua jago dari pihak Kiu-im-kau telah naik
keatas tebing, mereka lantas menyingkir ketepi arena dan
bersikap masa bodoh…
Seng To cu yaa kaget yaa marah setelah mengetahui
kejadian ini, ia melotot sekejap ke arah dua bersaudara
Lenghou serta Hong Liong kemudian serunya dengan gusar,
“Kenapa tidak berunding dulu dengan aku?”
Toa suheng suka ketenangan maka…maka….” Lenghou Ku
menjadi gelagapan.
Semua usaha dan perjuangan perkumpulan kami hancur
berantakan di tangan kalian semua teriak Seng To cu dengan
gemas.
Saking gemasnya sulit baginya untuk berbicara lebih lanjut,
tapi dia tahu bahwa Seng-sut-pay telah menjadi incaran setiap
orang, sekali salah bertindak bisa jadi semua anggotanya akan
tertumpas, bahkan lebih payah cousu-nya di daerah Cing hay
pun kemungkinan akan tersapu lenyap.
Maka ia tak tempat untuk menegur dua bersaudara
Lenghou serta Hong Liong lagi, sambil berpaling katanya
dengan suara dalam, “Hoa Yang, partai kami mengaku kalah,
jika kau hendak berduel, aku orang she Seng pasti akan
memberi keputusan untuk kalian, Hoa In-liong tertawa,
dengan lantang ia berseru, “Sobat-sobat sekalian, harap
jangan turun tangan lebih dulu, dengarkanlah perkataanku”
Didalam menghadapi serangan api dari Jin Huan kali ini,
seandainya tiada pertolongan dari Hoa In-liong, mungkin tak
seo rangpun diantara mereka yang bisa hidup sampai
sekarang, maka setelah ia membuka suara, serentak semua
orang menghentikan gerakkannya, hanya tiga empat orang
pemuda diantaranya yang belum juga mau berhenti.

726
Seorang kakek segera menyambar pergelangan tangan
salah seorang diantaranya, lalu berkata, Hoa kongcu pasti
dapat mencarikan keadilan untuk kita semua, kalian tak usah
turun tangan”
Tiga orang lainnya yang menyaksikan kejadian itu terpaksa
menghentikan pula tindakan mereka sambil mengundurkan
diri.
Setelah dilihatnya tiada orang yang bertarung lagi, dengan
suara lantang Hoa In-liong berkata, “Kalian semua tak usah
kuatir, Tang Kwik-siu dengan anak buahnya yang melancarkan
sergapan telah dihadang oleh jago-jago lihay, mereka tak
akan mampu melaksanakan niat busuknya lagi,
tiba-tiba terdengar seseorang berseru lantang”
“Hoa kongcu, tolong tanya apakah ayahmu telah turun
gunung?”
Hoa In-liong berpaling, sewaktu dilihatnya orang itu adalah
rekan sekampungnya Tio Ceng tang, sambil menjuara dia
lantas tertawa.
“Oooh…..rupanya Tio lo enghiong telah datang, selama
banyak tahun belakangan ini kepandaian silatmu tentu sudah
mendapat banyak kemajuan bukan?”
Tio Ceng tang buru-buru membalas hormat dengan rasa
kaget, Oh, rupanya Hoa kongcu masih teringat dengan lohu,
di masa lalu berkat kebaikan Hoa locianpwe aku berhasil
memperoleh resep rahasia dan memperoleh badan yang sehat
serta kemajuan yang pesat, tetapi soal anakku……..”

727
“Bila urusan telah selesai nanti pasti akan kusambangi
kalian lagi” tukas Hoa In-liong sambil tertawa, “sebagai
seorang putra, sudah sepantasnya kalau membantu ayah
untuk menyelesaikan kesulitan, aku tak becus dan mendapat
perintah untuk menyelesaikan persoalan ini, bagaimana
mungkin berani kuganggu ketenangan dia orang tua”
Tio Ceng tang segera mengiakan berulang kali. Terdengar
seseorang yang lain berkata kembali, “Aku rasa Hoa kongcu
pasti mempunyai persiapan yang matang, dapatkah kau
jelaskan jago-jago lihay siapa saja yang telah menghalangi
perbuatan Tang Kwik-siu itu?”
Hoa In-liong tertawa.
“Mereka adalah keturunan dari Bu seng Coa tayhiap
beserta sekawanan Bu lim cianpwe yang sebenarnya sudah
dikendalikan oleh racun jahat pihak Seng-sut-pay, diantaranya
terdapat Giok suan ni (singa kemala) Can Ki an long,
ciangbunjin keluarga Wi dari Seng ciu, Chia san it siu dan lainlainnya,
tentang soal ini kalian boleh berlega hati!”
“Hmm! Tok liong wan memabukkan perasaan Sin hui si sim
(ular berbisa menggigit hati) menguasahi badan, Kiu tok sian
ci pun di bikin kelabakan, dengan kemampuan kau si bangsat
cilik mana dapat memusnahkan kedua macam racun jahat
itu!” seru Hong Liong dengan nada seram.
Lan hoa siancu yang berada ditempat ke jauhan segera
tertawa dingin, serunya, “Orang she Hong, dengan
ketololanmu macam babi itu kauanggap kemampuan yang
dimiliki orang-orang Hu hiang kok bisa diduga dengan begitu
saja? Huuh …kepandaian beracun dari pihak Mo kau tak lebih
cuma permainan kanak-kanak”

728
Lenghou Yu segera tertawa seram, katanya pula,
“Sekalipun kau berhasil menyelamatkan setan-setan tua yang
sudah macam mayat hidup itu bila ingin menghalangi
kekuatan dari jaga-jago partai kami ibaratnya walang hendak
menahan pedati……hancur sendiri…..
“Bukan aku orang she Hoa terlalu pandang rendah
ciangbunjin kalian, seandainya Coa tayhiap tidak terlalu
memegang teguh perintah leluhurnya sehingga tidak
melakukan perlawanan, tak mungkin ia bisa disekap oleh
kalian bila sampai sungguh-sungguh terjadi pertarungan
mungkin hanya toa suhengmu seorang yang masih sanggup
menghadapinya asal dia yang memimpin jago-jago kelas satu
itu, Tang Kwik-siu sudah pasti akan menderita kekalahan
total”
“Kentut” dengus Hong liong amat gusar.
Sebelum hari ini, nama Coa Goan hau tak dikenal orang
sebaliknya kelihaiyan Tang Kwik-siu diketahui oleh setiap
orang.
Sekalipun demikian, nama besar Bu seng tampil hari ini
masih dikenal orang apalagi ditinjau dari kepandaian silat yang
dimiliki Coa hujin dan putrinya, bisa diketahui kalau kelihaiyan
Coa Goan hau tak boleh dipandang remeh.
Sedangkan Cian sat it siu, Giok suan ni, Cau kiau long
sekalian adalah nama dari jago-jago yang sudah tenar
semenjak dulu, tentu orang kenal dengan mereka.
Disamping semuanya itu, Hoa In juga mustahil kalau berani
bicara sembarangan dalam menghadapi persoalan besar ini,
maka setelah mendengar jaminan darinya, diam-diam mereka
menghembuskan napas lega.

729
Orang-orang Seng-sut-pay hanya mengatakan tak percaya
dibibir, padahal hati kecil nya sudah kemat-kemit tak karuan.
Sesungguhnya mereka beranggapan meski dalam
pertemuan besar ini menderita kekalahan total, asal Tang
Kwik-siu berhasil dengan operasinya, mereka masih tetap bisa
bercokol dalam dunia persilatan beradu kekuatan dengan
keluarga Hoa, tapi selalu urusan menjadi begini mereka jadi
putus asa dan murung sekali.
Dalam pada itu, dari pihak kaum pendekar telah tiba, pada
giliran kaum muda untuk naik ke atas tebing.
00000O00000
58
Secara lamat-lamat Coa Wi-wi ikut mendengar pembicaraan
tersebut, ketika menyinggung soal ayahnya ia menjadi
berdebar, memanjat pun dipercepat, ketika masih berada
enam tujuh kaki dari puncak tebing, tak sabar lagi dia menarik
tali dan melambung keudara, dari situ segera serunya, “Jiko
kau telah bertemu dengan ayahku?”
Bagaikan seekor burung walet dia melayang turun disisi
tubuh Hoa In-liong.
Semua orang hanya merasakan pandangan matanya silau
tahu-tahu seorang gadis cantik telah muncul didepan mata.
Diam-diam semua orang membandingkannya dengan Bwe
Su-yok segera terasa oleh semua orang bahwa kecantikan
mereka berdua seimbang meski yang satu lincah sedang yang
lain dingin.

730
Gadis itu sama sekali tidak menggubris hal-hal yang lain,
dengan sepasang biji matanya yang jeli dia perhatikan Hoa Inliong
dari atas sampai kebawah, wajahnya menampilkan
perasaan yang kuatir sekali.
Hoa In-liong memutar biji matanya dan memandang gadis
itu sekejap, lalu sambil tersenyum berkata, “Adik Wi tak usah
kuatir, empok dalam keadaan sehat wal’afiat, beberapa hari
lagi kalian tentu akan saling bersama kembali”
Mereka saling berpandangan dan tertawa, semua rasa
rindu dan kangen yang tak akan habis diutarakan dengan
beribu kata-kata, ternyata telah tertebus dalam pandangan
tertebut.
Tiba-tiba Bwe Su-yok mendengus, biji matanya yang jeli
segera dialihkan ke arah lain.
Sementara itu, Coa Cong gi, Kongsun peng dan lain-lainnya
secara beruntun telah naik ke atas dan berkumpul semua
disekeliling Hoa In-liong.
Kongsun peng sembari menyapa Hoa In-liong, tak tahan
dia berpaling uatuk mencari Kiong Gwat hui, kebetulan waktu
itu Kiong Gwat hui juga sedang memandang kearahnya,
pandangan mereka segera saling gemetar.
Dengan girang Kongsun Peng berseru, “Nona Kiong…..”
Kiong Gwat hui mendengus dingin lalu melengos.
Merah padam selembar wajah Kongsun Peng lantaran
jengah, dengan wajah tersipu-sipu dia berjalan kembali ke sisi
Hoa In-liong.

731
Hoa In-liong menyaksikan kejadian itu, hatinya lantas
tergerak, segera pikirnya.
Saudara Kongsun memang merupakan pasangan yang ideal
untuk Kiong ji moay, sekalipun di wajahnya Kiong ji moay
bersikap tak ambil perduli, jelas hatinya sudah setuju, bukan
mustahil gara-gara pertarungan di kota Si ciu, mereka
mengikat diri menjadi suami istri, aku musti mencari
kesempatan untuk menjodohkan mereka, kalau tidak bukanlah
terlalu sayang?”
Berpikir sampai disini, dia lantas berpaling ke arah Seng To
cu seraya berkata, “Harap saudara mau tunggu sebentar:
Kemudian sambil memberi hormat kepada Bong pay yang
berada dibelakanugnya ia berkata, “Paman…….”
Aku tidak ada usul lain, terserah apa yang hendak kau
lakukan!” tukas Bong Pay sambil tertawa.
“Keponakan bermaksud menunggu sampai semua cianpwe
telah berkumpul semua, kemudian baru minta usul mereka
dalam tindakan selanjutnya”
Diam-diam Bong Pay berpikir, Bocah ini masih muda tapi
berjiwa besar, kalau aku berdiam diri saja mungkin dia akan
menunjukkan sikap tinggi hati, tapi kalau aku turut campur dia
akan ragu-ragu untuk bertindak……yaa, Thian hong bisa
mempunyai seorang putra semacam dia, sesungguhnya tak
sia-sia belaka hidup didunia”
Berpikir demikian segera ujarnya. “Persoalan ini boleh kau
putuskan sendiri, aku pikir para cianpwe lainnya tak akan ada
usul lain cuma memang ada baiknya kalau menunggu sampai
semua orang naik keatas.
“Baik!” jawab Hoa In-liong dengan wajah serius.

732
Dia lantas berpaling kearah Seng To cu seraya berkata,
“Bagaimana pendapatmu?”
“Terserah keinginanmu!” jawab Seng To cu hambar.
Orang-orang Seng-sut-pay tahu bahwa usaha mereka
untuk menyerang pelbagai partai mengalami kegagalan total,
dalam keadaan demikian, Kok Se piau serta Bwe Su-yok pasti
akan berpeluk tangan belaka membiarkan piaknya dibasmi
oleh para pendekar.
Oleh sebab itu mereka bermaksud untuk menunggu saja
sambil berharap bisa terjadi perubahan situasi untuk mereka.
Dalam waktu singkat para jago dari pihak golongan putih
maupun dari golongan Hian-beng-kau telah tiba semua diatas
tebing.
Pertemuan besar yang diadakan Hian-beng-kau kali ini
berlangsung pada tengah hari Pek cun, pertemuan itu
diadakan setelah lewat tengah hari sampai malam, lalu dari
pagi sampai senja, maka saat ini waktu kembali menunjukan
tanggal tujuh bulan lima, tengah malam buta.
Setelah mengalami pelbagai musibah, dari terserang oleh
api sampai diserang air bah, pakaian yang dipakai semua
orang boleh dibilang telah basah kuyup, keadaannya
mengenaskan sekali, ada yang bajunya koyak, ada yang
mukanya hitam kena hangus, jangan di bilang lagi mereka
yang terluka…..
Demikianlah setelah keluar dari lembah, pemandangan
terasa lebih segar dan nyaman, timbul kembali rasa gembira
dalam hati masing- masing, napsu membunuh dalam hati
mereka jauh berkurang sekali.

733
Dibawah sinar rembulan, terlihatlah manusia yang
berdesakan memenuhi puncak tebing.
Para jago dari golongan putih telah mengepung rapat-rapat
para jago dari pihak Seng-sut-pay, sebelah timur penuh
berkumpul para jago dari Hian-beng-kau, waktu itu Kok Seepiau,
Cho Thian hua dan Co Tang cuan sekalian sedang
berbisik-bisik merunding kan sesuatu, sebaliknya anak murid
Kiu-im-kau berada disebelah barat.
Banyak perubahan diluar dugaan yang terjadi dalam
pertemuan kali ini, mula-mula Jin Hian meledakkan bukit
untuk menyumbat mulut lembah, lalu melepaskan panah Lui
hwe Ciam untuk mengurung para jago dengan api, setelah
terjadi pertarungan sengit antara golongan putih dengan
golongan hitam yang mengakibatkan jatuh banyak korban,
banyak pula diantara kawanan jago yang tewas diserang oleh
batu-batu karang dan api.
Dari sekian banyak jago, anak murid baju putih dari Hianbeng-
kau serta para jago yang datang menonton meramaikan
terhitung paling lemah, korban diantara merekapun paling
parah, setiap orang boleh dibilang menaruh perasaan benci
yang merasuk tulang terhadap diri Jin Hian.
Cian pek jin dari Tiam cong pay serta Im san ji koay dari
pihak Hian-beng-kau telah tewas bersama. Lau Ik liong
dengan membopong jenasah sutenya berdiri dengan wajah
sedih, Yau Tiong in yang bertarung melawan Tang Bong liang,
sebuah pukulan kipasnya telah ditukar dengan sebuah pukulan
tangan, tak enteng pula luka parah yang dideritanya,
ditambah lagi hampir separuh bagian anak muridnya mati atau
terluka dalam pertarungan tersebut.

734
Sute dari Cia Bu liang yang bertarung bersama Coa hujin
pada saat yang terakhir termakan sebuah pukulan yarg cukup
dahsyat, akibatnya sekalipun tak sampai mampus paling tidak
dia baru beristirahat selama tiga empat bulan lamanya, ia
dibopong oleh Bu Beng san.
Para bekas anggota Sin-ki-pang rata-rata berilmu tinggi dan
berpengalaman luas setelah terjadi pertarungan sengit yang
mati tak sampai sepuluh orang sedang yang terluka pun baru
dua puluh orang lebih.
Diri pihak Kim Leng ngo congcu, Si Siong-peng dan Li Poseng
paling parah menderita luka, mereka ditolong oleh Coa
Cong gi serta Yu Siau lam setelah membunuh belasan orang
musuh, mereka masih tetap tidur, hal mana benar-benar
merupakan suata kemujuran.
Coa hujin dan Goan cing taysu telah naik pula ke atas
tebing, Coa Wi-wi segera melaporkan tentang ayahnya kepada
mereka.
Sekalipun Goan cing taysu adalah seorang pendeta yang
berilmu tebal, tak urung terpengaruh juga oleh berita itu
sehingga hatinya mengalami gejala keras.
Dengan air mata bercucuran. Coa hujin berkata, “Gwakong,
anak Sian ingin segera membawa Gi dan Wi untuk pergi
berjumpa dengan Goan hau”
Goan cing taysu segera tersenyum, sahutnya, “Cepat atau
lambat kalian pasti akan saling bersua, buat apa dan musti
gelisah?”
“Tapi anak Sian sudah tak kuasa untuk menahan diri,
hatinya sama gelisah susah terkendali” seru Coa Hujin sambil
menangis sesenggukan.

735
“Anak Sian!” tukas Goan cing taysu, ajaran leluhur kita
menganjurkan agar kita lebih mengutamakan kepentingan
umum daripada kepentingan pribadi, selesai persoalan di sini
belum terlambat bagi kita untuk ke sana.
Dalam keadaan demikian, terpaksa Coa hujin harus
mengendalikan perasaannya yang gelisah untuk menunggu
selesainya persoalan disini.
Sementara itu Hoa In-liong telah berpaling kepada Seng To
cu setelah meninggalkan beberapa pesan kepada para
cianpwe, katanya, “Coa tayhiap adalah seorang ksatria yang
berjiwa besar, sekalipun hampir belasan tahun ia tersekap
didalam perkumpulan kalian, dendam sakit hati ini tak pernah
dipikirkannya dalam hati, adapun maksudnya menghalangi
Tang Kwik-siu dan murid-muridnya tak lebih hanya ingin
memberi peringatan agar mereka jangan meneruskan
perbuatannya itu, sudah barang tentu terhadap sampah
masyarakat dari daratan Tionggoan, mereka tak akan
bertindak sungkan-sungkan”
Sementara itu Kok See-piau serta Bwe Su-yok dengan
memimpin masing-masing anak buahnya berkumpul
disamping arena tanpa turut campur dalam persoalan itu,
namun mereka tidak bermaksud pergi meninggalkan tempat
itu, agaknya mereka hanya ingin menyaksikan jalannya
pertarungan antara pihak pendekar dengan golongan Sengsut-
pay.
Ci wi siancu yang mendengar perkataan dari Hoa In-liong
itu segera berpikir dalam hati, “Tidak beres, kalau didengar
dari pembicaraan tersebut, tampaknya dia bermaksud hendak
melepaskan kawanan iblis ini”

736
Berpikir demikian, dengan gusar dia lantas berseru, “Liong
ji, bagaimana dengan janji kita tadi?”
“Janji apa?” tanya Hoa In-liong tertegun
“Kita harus membasmi mereka sampai seakar-akarnya,
jangan menjadi bibit bencana lagi dikemudian hari”
Mendengar itu Hoa In-liong mengerutkan dahinya lalu
tertawa, jawabnya, “Kokoh bertiga buat apa kita musti
berbuat demikian, mengejar orang tak lebih hanya seratus
langkah”
“Cis, kau suka mengampuni orang, apakah orang lain
bersedia menggampuni dirimu” seru Ci Wi siancu dengan
gusar, “kalau perbuatan tolol semacam itu mah aku tak sudi
untuk melakukannya”
Li hoa siancu segera menyambung.
Jika kau enggan untuk turun tangan, biar kami
melakukannya bagimu!”
Dia lantas berjalan lebih dulu menghampiri para jago dari
Seng-sut-pay.
Semuaa orang segera menyingkir ke samping memberi
jalan lewat, tanpa terlibat apa yang di lakukan olehnya, tahutahu
dua orang anggota Mo kau yang mendengus tertahan,
lalu roboh ke tanah.
Menyaksikan kejadian itu paras muka Seng To cu sekalian
berubah hebat, mereka mau menuruti perkataan orang karena
didesak oleh keadaan, tapi bukan berarti mereka sudah tiada
kekuatan lagi untuk memberi perlawanan desakan dari BiauTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
737
nia Sam-sian yang bertubi-tubi ini membuat mereka menjadi
nekad.
Para jago dari pihak Mo kau segera bersiap-siap untuk
turun tangan agaknya mereka berniat untuk beradu jiwa.
Gelisah sekali Hoa In-liong menyaksikan keadaan tersebut,
segera pikirnya dalam hati, “Sekalipun anggota Mo kau banyak
melakukan kejahatan namun mereka bukan manusia
sembarangan jika dibasmi seluruhnya hal mana itu, memang
harus dihadapkan pada seorang yang tak tahu aturan pula.
Setelah Biau-nia Sam-sian diajak pergi, diam-diam ia
menghembuskan napas lega, katanya kemudian, “Seng To cu,
apa yang hendak kau katakan? Apakah berharap Tang Kwiksiu
bisa merubah keadaan ini?”
Seng To cu berpaling dan memandang sekejap kearah dua
bersaudara Lenghou serta Hong Liong, lalu katanya, “Dalam
urusan ini, ciang hujin yang berkuasa ataukah aku yang
memutuskan?”
Tentu saja toa suheng!” sahut Lenghou bersaudara dengan
cepat dan lantang.
Hong Liong agak termenung sejenak, kemudian dengan
perasaan apa boleh buat dia berkata, Selama suhu tidak
berada, memang seharusnya toa supek yang mengambil
keputusan.
Dengan pandangan dingin Seng To ci memandang sekejap
kearah Hong Liong, lalu katanya, “Sekarang aku bisa saja
mengambilkan keputusan, tapi setelah peristiwa ini apakah
suhumu mau mengikutinya?”
“Soal ini sulit, tak berani menjamin!”

738
“Kalau memang demikian, bukan semua perkataan itu
hanya ucapan yang tak berguna” seru Seng To cu dengan
suara keras.
Hong Liong menundukkan kepalanya rendah-rendah dan
tidak berbicara lagi.
Seng To cu mendengus dingin, dia lantas berpaling seraya
katanya, “Sejak kini partai kami mengundurkan diri dari dunia
persilatan, mulai sekarang, selama keluarga Hoa masih berada
dalam dunia persilatan orang-orang Seng-sut-pay tak akan
melangkah masuk ke daratan Tionggoan, Hoa Yang, puaskah
kau dengan janjiku ini?
Ucapan tersebut kontan saja membuat para jago Seng-sutpay
merasa terperanjat, dua bersaudara Lenghou
menggetarkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu tapi
segera dibatalkan kembali.
“Toa supek, hal ini terlampau berat buat kita!” teriak Hoa
liong cepat dengan suara Keras.
Bersamaan itu pula, dari kawanan jago lainnya terdengar
pula teriakan-teriakan yang amat gaduh.
Terdengar Tio Ceng tang berseru, “Kalau berbuat demikian,
hal mana terlalu keenakan buat mereka, Hoa Kongcu, kau tak
boleh menerimanya!”
Huan Tong berseru pula dengan lantang, “Apa yang
diucapkan Seng To cu belum tentu akan diakui oleh Tang
Kwik-siu, Hoa kongcu harus meminta jaminan darinya!”
“Malah ada pula yang berteriak dengan lantang, “Orangorang
Mo kau paling tak pegang janji, ucapan mereka

739
ibaratnya kentut busuk lebih baik dibunuh saja sampai
mampus!”
Menyaksikan kemarahan dari masa banyak, para jago dari
Seng sit pay menjadi murung dengan perasaan tak tenang,
meski Hong Liong terkenal karena buasnya namun dalam
keadaan demikian diapun tak berani banyak berbicara.
Seng To cu berusaha keras menenangkan hatinya, lalu
berkata, “Orang she Hoa, apakah pihak pendekar pun bisa
melakukan perbuatan rendah dengan melakukan pembantaian
secara besar-besaran?”
“Selamanya keluarga Hoa melakukan pekerjaan atas dasar
kebaikan, kami tak akan memperdulikan soal nama atau
tidak!” jawab Hoa In-liong dengan nada hambar.
Perasaan Seng To cu menjadi berat sekali, serunya.
“Kalau begitu…..
“Harap Seng ciampwe memberi jaminan dulu” tukas Hoa
In-liong, apakah janjimu” akan dituruti pula oleh Tang Kwiksiu?”
Seng To cu termenung agak lama, setelah menghela napas,
jawabnya, “Aaaai,.. . meskipun lohu sebagai Suhengnya, tapi
dia adalah seorang ciangbunjin, maaf kalau aku tak bisa
memutuskannya”
Hoa In-liong cuakup mengetahui akan keadaannya yang
serba susah, dia tak ingin menyaksikan kekuatan Seng-sut-pay
tertumpas disini, tapi perbuatan dari Tang Kwik-siu juga tak
bisa dikekang olehnya, maka setelah berpikir beberara kali, dia
mendongakkan kepalanya dan berkata dengan wajah serius,
Aku rasa dipihak sutemu itu juga tak mungkin bisa melakukan

740
banyak perbuatan lagi, memandang diatas wajah saudara,
Hoa Yang bersedia menerima usulmu itu, cuma terhadap para
jago yang sudah lama kalian sekap, paling tidak partai kalian
harus memberikan pertanggungan jawab……”
Setelah ucapan tersebut diucapkan, baik golongan putih
maupun golongan hitam sama-sama dibuat tercengang, sebab
keputusan tersebut jauh di luar dugaan mereka.
Seng To cu sendiripun agak tertegun lama lalu dia
mengganguk.
“Kalau Hoa kongcu memang bersedia mengabulkan
permohonanku itu, partai kami pasti akan memberikan
pertanggungan jawab yang secukupnya”
Dengan serius Hoa In-liong berkata lagi.
“Bila partai anda bersedia untuk melepaskan soal dendam
dan sakit hati serta memikirkan soal kepentingan umat
banyak, aku rasa kalian pun tak perlu mengurung diri,…..”
“Terima kasih banyak atas maksud baikmu, tukas Seng To
cu sambil menggoyangkan tangannya berulang kali, sayang
sekali anggota kami terlampau bodoh dan liar, sulit rasanya
untuk menerima maksud baikmu itu”
“Yaa, tiap manusia memang ada cita-cita sendiri, aku tak
ingin terlalu memaksakan ke hendakku”
Setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh dengan suara
dalam, “Bila partai kalian merasa tak puas, setiap saat pintu
gerbang keluarga Hoa di bukit In tiong san terbuka untuk
kalian, silahkan saja datang untuk mengadu kekuatan, baik
menang atau kalah keluarga Hoa menjamin tak akan
mencelakai jiwanya, tetapi bila partai kalian sampai

741
menimbulkan kembali badai darah yang mengerikan, demi te
tegaknya keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan,
terpaksa keluarga Hoa akan berkunjung langsung ke Sengsut-
pay untuk minta pertanggungan jawab”
“Soal ini, Seng To cu tentu akan berusaha keras untuk
memperingatkan anggota kami”
Hoa In-liong lalu memandang sekejap sekeliling arena,
kemudian pelan-pelan berkata.
Hoa Yang telah memberi keputusan terhadap pihak Sengsut-
pay, harap para enghiong dan cianpwe suka memaklumi,
entah adakah diantara kalian yang merasa tidak puas?”
Sekalipun semua orang merasa bahwa tindakan itu terlalu
menguntungkan orang-orang Mo kau, tapi penampilan Hoa Inliong
yang mencerminkan kegagahan serta kebijaksanaannya
ini membuat banyak orang merasa sungkan untuk
mengajukan keberatannya.
Apalagi membasmi rumput seakarnya merupakan
perbuatan yang bertentangan dengan semangat seorang
ksatria, maka oleh karena semua orang tiada cara lain yang
lebih baik lagi, tak seorangpun yang buka suara.
Untuk sesaat suasana menjadi hening dan tak terdengar
sedikit suarapun.
Hoa In-liong dapat membaca suara hati semua orang, dia
menghela napas panjang, lalu berkata, “Para enghiong,
cianpwe sekalian, aku rasa kalian pasti sudah menyaksikan
sendiri bukan bagaimanakah perbuatan ksatria dari Thian Ik
locianpwe, bekas Tong thian kaucu yang baru saja meninggal
dunia itu? Siapa yang menduga kalau Thian Ik locianpwe
bersedia me-ngorbankan jiwanya demi menyelamatkan jiwa

742
orang banyak? Sebelum ajalnya tiba, Thian Ik loci anpwe pun
masih tak lupanya berharap agar semua orang jahat didunia
ini mau bertobat atas dosa-dosanya, oleb sebab itu aku
bertindak demikian kepada pihak Mo kau agar merekapun bisa
mencontoh diri Thian Ik locianpwe dengan bertobat dari
semua kesalahannya. Aaai……! Tapi jika kalian belum juga
mau mengerti, akupun tak bisa berbuat apa-apa lagi”
Mendengar perkataan itu hati semua orang agak tergerak,
bahkan tak sedikit anggota dari tiga pekumpulan besar yang
diam-diam merasa amat terharu.
Ayah Kongsun Peng, Kongsun Yong cu dengan suara
gemetar segera berseru;
“Hoa kongcu kenapa berkata demikian? Yang ada dalam
hati kami cuma perasaan kagum, mana berani
memperlihatkan perasaan tak puas atas keputusan kongcu
itu?”
Setelah ia buka suara semua orangpun segera memberikan
tanggapan pula sehingga suasana menjadi amat ramai.
Hoa In-liong segera menjura ke empat penjuru, katanya
dengan serius, “Terima kasih banyak atas kasih sayang dari
saudara sekalian, kalau memang kalian bersedia melepaskan
pihak Seng-sut-pay maka bagaimana kalau kalian memberi
jalan lewat agar mereka bisa meninggalkan tempat ini?”
Mendengar perkataan itu semua orang yang mengepung
disekeliling arena segera menyingkir ke samping memberi
jalan lewat.
Bagaikan memperoleh pengampunan besar semua anggota
Seng-sut-pay segera angkat kaki dan melarikan diri cepatcepat,
rupanya mereka kuatir kalau para jago berubah pikiran.

743
Sebelum pergi, dengan ganas Hong Liong melotot sekejap
ke arah Hoa In-liong jelas terlihat betapa dendam dan
bencinya orang itu.
Seng To cu mendongakkan kepalanya lalu berkata, “Hoa
Yang, selama hidupku persoalan yaag paling menyesalkan
hatiku adalah bermusuhan dengan keluarga Hoa kalian”
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan. Tapi perisalan
yang paling menggembirakan hatiku juga bermusuhan dengan
keluarga Hoa kalian.
Ucapan ini membuat semua orang tertegun, mereka
merasa ucapannya yang pertama dengan kedua saling
bertentangan satu sama lainnya atau jangan-jangan
pikirannya sudah menjadi sinting atau kurang waras setelah
menderita kekalahan total?
Hoa In-liong segera menjura, sahutnya sambil tertawa,
“Akupun mempunyai perasaan yang sama, baik-baik dijalan,
maaf kalau aku tidak menghantarmu!”
Seng To cu memandang sekejap sekeliling tempat itu,
setelah menghela napas panjang dia mengebaskan ujung
bajunya dan beranjak dari sana untuk menyusul Hong Liong
sekalian.
Pada saat pihak Mo kau pergi meninggalkan tempat itu,
Kok See-piau serta Bwe Su-yok masing-masing memimpin
pula anak buahnya meninggalkan tempat tersebut.
Dengan kecepatan gerak mereka, dalam waktu singkat
bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik kegelapan.

744
Oleh karena Hoi In liong telah menjamin keselamatan
mereka semua, maka semua orang tidak ada yang
menghalangi kepergian mereka, apalagi kekuatan dari kedua
perkumpulan itu masih utuh dan tangguh, di tambah lagi
hadirnya Cho Thian hua dipihak Hian-beng-kau, maka semakin
tak berani bertindak secara gegabah.
Pertemuan besar ini sudah mendekati akhir, semua
orangpun merasa sudah tiba waktunya bagi mereka untuk
pulang ke rumah.
Tiba-tiba dari tebing seberang sana terdengar suara
teriakan dari Kok See-piau, “Hey bocah muda dari keluarga
Hoa!”
Dengan alis mata berkenyit Hoa In-liong berseru lantang,
“Mau apa Kau memanggil Hoa jiya mu?” Sambil berdiri diatas
tebing seberang, Kok See-piau berseru lagi, “Orang she Hoa,
meskipun kau yang menurunkan tali untuk menolong orang,
dan meledakkan telaga untuk memadamkan api tapi
perbuatan itupun setengahnya demi selamatkan sanak
keluargamu, coba kalau pun sinkun tidak memberitahukan
tempat disembunyikannya sumbu bahan peledak, belum tentu
kau bisa meledakkan telaga untuk memadamkan api,
seharusnya pun sinkun tidak berhutang apa-apa kepadamu
bukan?”
“Kok See-piau kau betul-betul seorang manusia yang tak
tahu malu!” teriak Hoa Ngo dengan mendongkol.
Dengan suara lantang Hoa In-liong menjawab, “Yaa kau
memang tak berhutang apa-apa ke pada aku orang she Hoa,
tapi ingat kau masih hu tang seorang dengan selembar
nyawa”

745
Kok See-piau sepera tertawa. “Selama hidupku sudah
terlalu banyak nyawa yang pun sinkun hutangkan, tak menjadi
soal untuk berhutang selembar nyawa lagi, tapi coba katakan
dulu siapa yang kau maksudkan?”
“Thian Ik-cu!”
Gelak tertawa Kok See-piau segera terhenti, sesudah
termenung sejenak ia baru berkata, “Dendam sakit hati pun
sinkun dengan keluarga Hoa kalian lebih dalam dari samudra,
sudah sepantasnya kalau diatur jebakan untuk menggebuk
dirimu, jika kau sampai mati maka hal ini cuma bisa dibilang
kau kurang waspada, Thian Ik-cu telah mewakilimu mati, hal
ini tak bisa menyalahkan orang lain, tapi kalau hendak
mencatat dendam ini atas diriku juga tak apa!”
Ko Thay segera tertawa dingin tiada hentinya. “Heeehhh..
..heehh…..heeehhh…. memutar balikkan persoalan yang
sebetulnya, mencari menangnya sendiri, apa-apaan itu?”
Kok See-piau berlagak tidak mendengar, dengan suara
keras dia berseru, “Bocah cilik dari keluarga Hoa, kalau kau
beranggapan setelah markas besar perkumpulan kami musnah
maka pun sinkun ikut kehi langan pamornya, maka dugaanmu
itu keliru besar.
“Kalau begitu, kau masih hendak menciptakan bencana
buat umat persilatan dan melakukan kejahatan lagi?”
sambung Hoa In-liong dengan suara lantang.
“Heeehhh….heeehhh…..heeehhh…..itu kan ucapan dari
kalian orang-orang keluarga Hoa dengan komplotannya, Pun
sinkun tak pernah merasa bersalah, sampai matipun aku tak
akan menyesal”
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

746
Terus terang kukatakan kantor kantor cabang perkumpulan
kami telah tersebar di mana-mana dan kini sudah didirikan
semua asal pun sinkun menurunkan perintah, dari gelapgelapan
mereka akan beralih menjadi terang terangan, dalam
waku yang bersamaan mereka bisa membuat keonaran
dimana-mana, Hmmm! Sekalipun tak mampu melenyapkan
manusia-manusia munafik macam kalian, paling tidak dunia
persilatan pasti akan kacau balau tak
karuan………heehh…….heeehh…… heeeh……. waktu itu
kewibawaan bapakmu pasti akan sangat merosot”
“Terkesiap juga Hoa In-liong setelah mendengar perkataan
itu, pikirnya dengan cepat, “Sudah hampir belasan tahun
lamanya Kok See-piau menghimpun kekuatannya, jelas
kekuatan yang dimilikinya tidak cuma dihimpun dalam markas
besarnya ditebing Ui gou peng ini, bisa jadi apa yang
dikatakan bukan cuma gertak sambal belaka”
Dalam hati ia berpikir demikian, di mulut sahutnya, “Aku
orang she Hoa bisa mengundang rekan-rekan persilatan untuk
serentak menghancurkan kantor-kantor cabangmu itu, akan
kulihat apakah kalian masih sanggup menerbitkan keonaran
atau, tidak?”
“Haaahh. …haaahhh. …haaahhh….kalau ingin menumpas,
silahkan saja menumpas” ejek Kok See-piau sambil tertawa
tergelak. “Kantor cabang Hian-beng-kau tidak terhitung
jumlahnya, aku yakin kalian tak akan bernasil menemukan
jejak mereka dalam waktu singkat, tapi suatu ketika mereka
melakukan sergapan mendadak, tanggung kalian lah yang
akan di buat kalang kabut sendiri”
“Kok See-piau sesungguhnya apa maksudmu itu dengan
mengucapkan kata-kata itu?”

747
Kok See-piau tertawa dingin. “Sama sekali tiada maksud
apa-apa, aku cuma memberi tahu saja kepada kalian. Kini Jin
Hian sudah melarikan diri terbirit-birit setelah menghinah
kami, barat selatan luasnya mencapai puluhan laksa li dengan
rakyat yang amat banyak, jejaknya sukar ditemukan kembali.
Sedang di San see ada keluargamu, di Cing hay ada Mo kau,
di lain tempat ada Hu hang kok dan Kiu-im-kau, ia sudah
menerbitkan kemarahan orang.
Mana berani mencari jalan kematian sendiri, menurut
dugaan pun sinkun, hanya ada dua jalan saja yang bisa dia
tempuh”
“Dua jalan yang mana?” tanya Hoi In liong dengan kening
berkerut.
“Yan im merupakan bekas markas besar Hong im hwee, Jin
Hian pasti masih mempunyai komplotan yang menetap disitu
dan lagi bersembunyi disitu jauh lebih leluasa daripada
ditempat lain, apalagi dari sanapun bisa langsung kabur keluar
perbatasan, sedang jalan kedua adalah menuju ke Ci san,
lantas kelaut bebas, jarak dari situ hanya dua ratus li, besar
juga kemungkinan nya dia lari ke tengah samudra.
“Bila Jin Hian memilih naik perahu menuju samudra bebas
dan selamanya tak akan kembali lagi, apakah kau juga akan
mengikuti jejaknya?” tanya Hoa In-liong.
Kok See-piau kembali tertawa dingin.
“Pun-sinkun duga dia tak akan berbuat demikian, sudah
pasti dengan melalui samudra, dia menuju ke Liau tang”
“Kalau toh saudara begitu yakin dengan dugaanmu,
mengapa tidak segara melakukan pengejaran?”

748
Tiba-tiba bayangan tubuh Bwe Su-yok yang ramping
muncul ditebing seberang sana, terdengar ia berkata dengan
suara sedingin es, “Perkumpulan kami akan segera melakukan
pengejaran bersama Kok sinkun, Hoa In-liong! Hu hoat
perkumpulan kami telah menangkap Si Leng jin dan
pelayannya, bila kau masih mengharapkan kedua orang ini
harap segera menyusul datang di Teng cin, pun-kaucu akan
meninggalkan sebuah perahu untukmu”
Mendengar seruan tersebut Hoa In-liong naik pitam, segera
bentaknya keras-keras, “Bwe Su-yok, apakah kau benar-benar
hendak mencari gara-gara terus..?”
“Kalau benar mau apa kau?”
Kemarahan Hoa In-liong makin berkobar, tapi setelah
berpikir sejenak kemarahan itu segera di padamkan, dia
segera mengangguk.
“Baiklah sampai waktunya aku orang she Hoa pasti
datang!” “Akan kutunggu kedatanganmu!” Kemudian sambil
membalikkan badan bersama Kok See-piau lenyap dibalik
tebing sana.
Tiba-tiba terdengar suara Cho Thian hua berkumandang
datang, “Goan cing taysu, aku ingin sekali beradu kekuatan
denganmu, tak ada salahnya kalau kau juga ikut datang,
sedang bocah dari keluarga Hoa, kau cukup pantas untuk
bertarung melawan lohu, tapi lebih baik lagi jika kau datang
bersama bapakmu”
Suara itu makin lama semakin jauh, dengan tenaga dalam
yang dimilikinya sepanjang mengucapkan beberapa patah kata
itu, mungkin tubuhnya sudah berada beberapa li jauhnya,

749
“Pinto pasti akan memenuhi harapan mu!” sahut Goan cing
taysu dengan ilmu menyampaikan suara.
Waktu itu Hoa In-liong telah membalikkan badan, setelah
menjura kepada semua orang, katanya.
“Saudara sekalian, walaupun kita harus berjaga-jaga
terhadap orang orang Mo kau yang mungkin akan
mengingkari janji, pasti kekua tan mereka sudah tak perlu
dirisaukan, itu pun tak lebih cuma gertak sambal, dia pasti
akan membenahi tubuh organisasinya lebih dulu. Sedang
maksudnya untuk membunuh Jin Hian rasanya bukan omong
kosong belaka, aku harus segera menyusul kesana. Bila
saudara kalian tiada urusan lain, silahkan untuk pulang ke
rumah masing-masing, mungkin juga perkataan Kok See-piau
bukan gertak sambal, maka aku mohon saudara sekalian dan
Coa tahiap bisa saling membantu untuk mencari letak kantorkantor
cabang Hian-beng-kau dipelbagai tempat”
Selesai berkata, dia lantas memberi hormat kepada semua
jago.
Tak seorangpun diantara kawanan jago itu yang bersedia
pergi, terdengar Tio Ceng tang berkata dengan lantang.
“Setiap orang kewajiban untuk membasmi iblis melindungi
kebenaran, jika Kok See-piau dan Bwe Su-yok tak mau
bertobat dan kem bali ke jalan yang benar, sepantasnya kalau
kita kejar mereka dan melenyapkannya dan muka bumi”
“Benar!” sambung Cia Yu cong keras, “bila pohon tumbang,
kera pun bubar, asal Kok See-piau kita bunuh, niscaya kantorkantor
cabangnya akan bubar dengan sendirinya”

750
Dalam waktu singkat pelbagai seruan berkumandang dalam
arena, banyak orang yang setuju untuk mengadakan
pengejaran guna membasmi kedua perkempulan itu.
Akan tetapi Hoa In-liong tidak setuju dengan pendapat
orang-orang itu, dengan perasaan menyesal dia berkata.
“Aku rasa Kok See-piau dan Bwe Su-yok bisa bersikap
demikian karena ingin mencari gara-gara dengan keluarga
Hoa kami, aku pikir sudah sepantasnya kalau persoalan ini pun
diselesaikan sendiri oleh keluarga Hoa, aku tak berani
mengganggu kalian lagi”
Belum habis ia berkata, suasana kembali menjadi gaduh,
semua orang menuduh Hoa In-liong menganggap asing diri
mereka, ada pula yang mengatakan bahwa persoalan dari
keluarga Hoa adalah persoalan dunia persilatan yang tak bisa
dipisah-pisahkan.
Tapi Ko Thay, Bong Pay dan Pek Soh gi tidak setuju dengan
pendapat tersebut, sebaliknya Tiang heng Tokoh, Pui Chegiok,
Cia giok bersama Cia lu, Hek Lotio dan anggota Cian li
kau sekalian menyingkir ke samping sambil berbisik- bisik
sendiri, mereka tidak terlalu memperdulikan urusan disana.
Dengan susah payah akhirnya Hoa In-liong berhasil juga
untuk menenangkan suasana, kemudian dia lantas berkata,
“Kesedihan saudara sekalian untuk memberi bantuan sungguh
membuat aku orang she Hoa merasa amat berterima kasih,
baiklah kita bagi saja menjadi dua rombongan yang satu
melalui Yae im sedang yang lain mengikuti samudra untuk
akhirnya kita berkumpul kembali di…..”
Tiba-tiba ia berhenti sejenak sambil melirik kearah Goan
cing taysu yang berada disisinya.

751
Goan cing taysu merenung sebentar kemudian berkata,
“Lolap pernah keluar perbatasan sekali, kota yang paling besar
diwilayah itu boleh dibilang adalah Teng liau dan Tiong wi”
Hoa In-liong segera berpaling kembali, katanya lantang,
“Kalau begitu kita akan bersua kembali dikota Teng liau, cuma
aku minta untuk rombongan yang melalui samudra harus
pandai berenang atau paling tidak pandai berjalan diatas
permukaan air sebab mara bahayanya jauh lebih besar
daripada melalui darat”
Mendengar perkataan itu, dari sekian ribu orang yang
berkumpul disitu segera saIing berpandangan. Mereka yang
datang dari pesisir laut boleh dibilang sedikit sekali jumlahnya,
apalagi kalau disebut pandai didalam ilmu berenang, boleh
dibilang sedikit sekali, sedangkan orang yang bisa berjalan di
airpun hanya jago-jago kelas satu, dari antara dua ratus orang
mungkin sulit ditemukan seorang.
Tiba-tiba Ko Thay berkata, “Liong ji, kau berani menjamin
kalau Kok See-piau bukan sedang melaksanakan siasat suara
ditimur menyergap ke barat?”
Di hari-hari biasa dia jarang sekali berbicara tapi otaknya
amat cerdas, setiap perkataannya pasti amat mengena
sasaran.
Maka dari itu Hoa In-liong segera memikirkan kembali
semua persoalan yang dihadapinya setelah mendengar
perkataan itu, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia
berkata, “Siautit pikir, kebanyakan Kok See-piau tentu hendak
menantang kita untuk berduel diatas lautan, bila dia
melakukan siasat suara ditimur menyerang ke barat, di
daratan Tionggoan ada nenek serta ayahku, jangan dilihat
ayah cuma berdiam diri belaka, sesungguhnya dia orang tua
sudah melakukan persiapan yang seksama, aku pikir sulit buat

752
Kok See-piau untuk bertingkah disitu, bila kita urusi pihak itu,
sudah pasti lebih banyak kecelenya daripada berhasil”
Ko Thay lantas manggut- manggut! “Kau hendak
menghimpun segenap kekuatan di Liau tang, itu berarti kau
percaya penuh dengan perkataan dari Kok See-piau bahwa Jin
Hiau berada disana?”
“Soal ini siautit telah mempertimbangkannya berulang kali”
jawab Hoa In-liong setelah termenung sejenak, “aku rasa
perkataan dari Kok See-piau ini bisa dipercaya”
“Dengan dasar apa kau berani mengatakan begitu?” tanya
Ko Thay sambil mengernyitkan alis matanya yang tebal.
“Pertama, Jin Hian bila ingin menyembunyikan diri hanya
tersedia dua jalan saja, sedang jalan manapun yang bakal dia
pilih akhirnya pasti akan melalui Liau tang.
Seorang jago yang bernama Nyo Ki ho tiba-tiba menyela,
“Pengetahuan Hoa kongcu amat luas, sudah barang tentu
kami tak bisa menyamainya, cuma dari Yan tio menuju
keutara, kau bisa sampai di Liau tang, bisa juga langsung
menuju ke gurun pasir”
Hoa In-liong mengalihkan sorot matanya ke wajah orang
itu, kemudian sambil mengulapkan tangannya dia berkata,
“Perkataan saudara Nyo memang ada betulnya, tapi bila Jin
Hian kabur melalui selatan, dalam tergesa gesanya sulit bagi
mereka untuk mendapat perahu, sudah barang tentu anak
buahnya tak mungkin bisa kabur semua melalui laut, itu
berarti mereka pasti berjanji akan berkumpul di Liau tang,
kemudian baru meneruskan perjalanan menuju keluar
perbatasan atau gurun pasir guna menyembunyikan diri, itu
berarti bagaimanapun juga sudah pasti mereka akan
berkumpul juga diwilayah Liau tang”

753
“Terima kasih atas petunjuk kongcu! Nyo Ki ho buru-buru
menjura.
“Hmm! Sok pintar, tukas Ko Thay tiba-tiba, “darimana kau
bisa tahu kalau Jin Hian pasti melalui lautan? Hong im hwee
adalah kelompok jago yang berasal dari utara”
“Siautit rasa Kok See-piau sudah pasti jauh lebih
memahami kebiasaan Jin Hian daripada kita, dugaannya
kebanyakan tak bakal salah lagi, sedang Kok See-piau
termaksud memancing kita menuju ke samudra dan
berencana hendak merebut kemenangan dari situ padahal
diapun enggan melepaskan Jin Hian, siapa tahu keputusan Jia
Hian kabur melalui lautan karena diantara anak buahnya
terdapat jago lihay dari atas air?”
“Menebak secara sembarangan, sudah pasti akan menemui
kegagalan total…..” kata Ko Thay.
Tiba-tiba terdengar seseorang menimbrung dengan suara
nyaring, “Hoa kongcu, dari tujuh orang kakek yang bertarung
melawan kongcu diatas tebing tadi diantaranya terdapat
manusia-manusia yang menamakan dirinya Pak hay sam hioag
(tiga oraag gagah dari lautan utara) ketiga orang ini sudah
puluhan tahun lamanya malang melintang diatas samudra
sekitar wilayah Gi dan Liau”
Hoa In-liong segera berpaling, dia kenali orang yang
berbicara itu adalah seorang jago dari sungai Huang hoa yang
bernama Huang ho ciau (ular sakti dari sungai huang ho) Cing
Siau siang.
Dulu sewaktu Hoa Thian bong mendapat perintah dari
ibunya untuk turun gunung dan bertarung melawan orangorang
Kiu-im-kau di sungai Huang ho, Cing Su siang pernah

754
membantunya dengan mati-matian, kemudian Hoa Thian-hong
pun pernah memberi petunjuk ilmu silat kepadanya sehingga
kepandaiannya mendapat kemajuan pesat, semenjak itu
hubungannya dengan keluarga Hoa boleh dibilang cukup
akrab.
Hoa In-liong segera menjura seraya berkata.
Terima kasih banyak atas petunjuk locianpwe.
“Aaaah ….mana mana……” buru-buru si ular sakti dari
sungai Huang ho ini balas memberi hormat.
“Baiklah, anggap saja jalan pemikiranmu itu benar” ujar Ko
Thay lagi sambil tertawa, “tapi menurut pendapatanmu tadi,
semua jago lihay dari pihak kita akan melalui jalan air,
beranikah kau menjamin bahwa pihak lawan tiada jago
tangguh yang melalui jalan darat?”
Hoa In-liong menjadi tertegun.
Siautit hanya menduga bahwa kekuatan inti lawan pasti
akan melalui jalan air, bukan berarti aku berani menjamin
tiada jago lihay yang melalui jalan darat”
Ko Thay segeta menarik muka, katanya, “Nah, ini
membuktikan kalau usiamu masih muda, pengalamanmu cetek
dan rencana mu kurang matang, kau masih belum mampu
untuk menanggung tanggung jawab sebesar ini, kini semua
rekan persilatan percaya padamu, tapi bila kau sampai salah
mengatur hingga terjadi kesalahan besar, dapatkah hatimu
menjadi tenteram?”
Semenjak dulu, Ko Thay gemar bersikap demikian, dalam
menghadapi setiap masalah dia selalu meneliti cara kerja Hoa
In-liong sejelas jelasnya, tapi belum pernah menegur secara

755
begini rupa, apalagi dihadapan jago-jago dari seluruh dunia,
tak bisa disangkal lagi dia memang bermaksud untuk menegur
pemuda itu agar lebih bersikap berhati-hati.
Hoa In-liong dapat memahami maksud pamannya, maka
dia hanya manggut-manggut menerima dampratan itu.
Dari sekian banyak jago yang hadir di arena, kecuali
mereka mengagumi didikan keluarga dari keluarga Hoa, tak
seorang pun yang berbicara lagi.
Sejak awal sampai sekarang Coa hujin memperhatikan
terus semua gerak-gerik dan tindak tanduk Hoa In-liong,
setelah melihat kesemuanya itu, diam-diam ia lantas berpikir,
“Enci Chin dan enci Pek semuanya mengatakan dia binal, tapi
aku rasa ia tidak binal seperti apa yang dikatakan……”
Dari kakek luarnya nyonya ini pernah mendengar pujipujiannya
atas kehebatan Hoa In-liong, dengan keluarga Hoa
pun dia mempunyai hubungan yang akrab, apalagi setelah
menyaksikan hubungan pemuda itu dengan putrinya, dalam
hati kecilnya, nyonya Coa diam-diam sudah menganggap Hoa
In-liong sebagai bakal menantunya.
Tiba-tiba Yau Tiong in menjura kepada Hoa In-liong seraya
berkata, “Mengejar musuh adalah suatu tugas yang paling
penting, Hoa kongcu aku orang she Yau hendak mohon diri
lebih dulu, kita sampai berjumpa lagi di Liau tang”
Bersama Liau Ik tiong dan sekalian murid Tiam cong pay
berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu.
Kawanan jago yang hadir sekarang, sebagian besar adalah
jago-jago yang suka berterus terang maka mereka yang tak
ingin melakukan perjalanan melalui samudra, berduyun-duyun
mohon diri untuk berangkat lebih dahulu.

756
Tiba-tiba Pek Soh gi berteriak, “Saudara sekalian, bila ada
yang terluka harap tetap tinggal disini, biar Pek Soh gi
memberi perawatan seperlunya”
Sekalipun Pek Soh gi berkata demikian, akan tetapi
kawanan jago itu kebanyakan adalah jago-jago yang perkasa,
hanya sedikit luka yang diderita, sudah barang tentu mereka
enggan merepotkan orang, kecuali lukanya terlalu parah,
kebanyakan sudah angkat kaki meninggalkan tempat itu.
Dalam waktu singkat sudah sebagian besar jago yang telah
berangkat meninggalkan tempat itu.
Pek Soh gi segera turun tangan merawat para jago yang
terluka parah di bantu oleh Bong Pay dan Biau-nia Sam-sian,
sekalipun demikian mereka dibikin repot juga hingga tiada
waktu untuk beristirahat.
Tiba-tiba Ko Thay berpaling kearah Hoa Ngo, kemudian
katanya.
“Ngo te, mari kita juga lewat jalan darat”
Sekalipun dihati kecilnya Hoa Ngo enggan, namun ia tak
berani membantah, maka dia cuma mendengus dan sama
sekali tidak beranjak.
Sambil tersenyum Haputule lantas berkata, “Aku paling
takut kalau melihat air, biar Ngo te bersama mereka, sedang
aku akan me nemanimu untuk melakukan perjalanan
bersama”
Kedua orang itupun tidak banyak berbicara lagi, mereka
lantas berlalu meninggalkan tempat itu.

757
Tiba-tiba Hoa In-liong menyaksikan Tiang heng Tokoh dan
Pui Che-giok diiringi para jago dari Cian Ii kau secara diamdiam
meninggalkan tempat itu, Cia In liong mengikuti
dibelakangnya tapi secara diam-diam berpaling sambil
mengerdipkan matanya berulang kali.
Pemudi itu menjadi amat gelisah, dengan cepat ia
menghadang dihadapan Tiang heng Tokoh Kemudian katanya
sambil tertawa paksa.
“Bibi ku, Liong ji sedang membutuhkan bantuanmu, kau tak
boleh pergi dulu”
“Ilmu silat pinto sekalian amat cekak, tetapi tinggal
disinipun tak ada gunanya” kata Thiang heng Tokoh dingin.
Mendengar itu, Hoa In-liong lantas berpikir.
“Aku harus mencari suatu akal untuk menahan disini, paling
tidak sampai kedatangan ayah dan ibu”
Berpikir demikian, dengan cepat dia lantas berkata, “Bibi
Ku, tolong tanya bagaimana dengan kepandaian cici sekalian
dalam air?”
“Bukannya kami sengaja menyombongkan diri” timbrung
Cia In tiba- tiba, “kalau soal kepandaian dalam air mah kami
terhitung nomor satu, apalagi suhu dan supek, mereka tak
usah dibicarakan lagi”
“In ji, jangan banyak bicara” bentak Tiang heng Tokoh
dengan nada tak senang.
Cia In tersenyum dan segera membungkam.

758
Seorang sumoaynya yang bernama Le ji segera
mendekatinya sambil berbisik, “Suci, kenapa kau
membantunya? Bukankah suhu selalu berkata bahwa orang
keluarga Hoa paling menggemaskan?”
Cia In tertawa hambar, sahutnya lirih. “Aku sedang
membantu supek, bukan membantunya”
“Aku tidak percaya!” seru Le ji sambil tertawa”
“Setan licik” tumpah Cia In dihati, “cerewet amat kau, kalau
caramu bicara melulu, urusan bisa bertambah berabe……..”
Dalam pada itu Tiong heng Tokoh telah berkata dengan
dingin.
“Terus terang kukatakan kepadamu, pinto tak akan
mengijinkan mereka untuk melibatkan kembali diri mereka
dalam masalah dunia persilatan”
Sesudah berhenti sejenak, tiba-tiba ia memperlunak nada
suaranya dan berkata lebih jauh.
“Lioig ji, bila kau benar-benar menganggap diriku sebagai
bibi Ku, sudah sepantasnya jika kau pun dapat memahami
kesulitan yang sedang dihadapi bibi Ku sekarang”
Hoa In-liong segera berlagak ikut sedih, katanya.
“Liong ji tidak berani, cuma…….”
“Cuma kenapa?” seru Tiang heng tokoh tanpa terasa.
Dangan dahi berkerut Hoa In-liong menghela napas
panjang.

759
“Aaaai. …. Liong ji sudah tahu kalau urusan belum selesai,
tapi tidak kusangka kalau urusan nya begini susah untuk di
selesaikan”
Kebetulan Lan Hoa siancu sedang selesai mengobati
seseorang, mendengar perkataan itu dengan gemas dia
berseru.
“Semuanya ini salahmu, kenapa tidak manfaatkan
kesempatan itu untuk turun tangan? Kalau kau menuruti
anjuran kami, mana mungkin akan kau jumpai begini banyak
kesulitan?”
Pek Soh gi yang sedang mengoleskan obat luka dilengan
seorang yang kutung lengannya, segera menimbrung, “Enci
Lan, apa yang dilakukan Liong ji sesungguhnya tepat sekali,
bagaimanapun juga sudah sepantasnya kalau kita memberi
kesempatan kepada orang lain untuk bertobat”
“Hmm…..memang tidak malu orang lain menyebut dirimu
sebagai Cu sim siancu (si dewi yang welas kasih)” dengus Lan
Hoa siancu, kalau bersikap sungkan kepada musuh, sama
artinya dengan mencelakai diri sendiri, kau tahu apa akibatnya
jika melepaskan harimau pulang ke gunung? Akhirnya yang
rugi juga kita sendiri”
“Omintohud!” sela Cu Im taysu, “Buddha adalah maha
pengasih, sekalipun menghadapi seorang yang jahatnya bukan
kepalang asal dia mau bertobat kita wajib memberi
kesempatan kepadanya untuk memperbaiki diri, mengerti
nona besar?”
“Biar Buddha maha pengasih, yang pasti aku tak akan
berbelas kekasihan kepada siapapun, jerit Lan Hoa siancu
penasaran.

760
Cu Im taysu tergelak sehabis mendengar perkataan itu,
semua orang juga tak tahan untuk tertawa terbahak-bahak.
Setelah Pek Soh gi mengambil alih pembicaraan, Hoa Inliong
menjadi gembira sekali karena tak usah buka suara lagi,
diam-diam dia mengatur siasat untuk menghadapi Tiang heng
Tokoh.
Sementara itu, Tiang heng tokoh sudah berkata kembali
sesudah termenung sebentar.
“Keadaannya tidak terlalu jelek, sekali pun bakal terdapat
beberapa kesulitan, rasanya juga tidak terlampau
menyulitkan!” Hoa In-liong tertawa getir.
“Bibi Ku, mana kau tahu? Aaai, tapi bibi Ku memang sudah
bertekad tidak mencampuri urusan ini lagi, lebih baik tak usah
ku bicarakan lagi”
Betul juga Tiang heng Tokoh segera tertipu oleh siasatnya
itu, sambil tertawa dingin katanya, “Kau tak usah tersendatsendat
kalau berbicara asal kau bisa mengemukakan alasan
yang kuat, pinto pasti akan menuruti per kataanmu’”
Diam-diam Hoa In-liong merasa girang setelah mendengar
perkataan itu, buru-buru serunya.
“Bibi Ku, tentunya kau juga mengerti, setelah berada diatas
air, itu berarti Kiu-im-kau yang pegang kuasa, siapapun
jangan harap bisa menandingi kehebatan mereka”
“Ciau li kau juga tak mampu menghadapi mereka!”
Hoa In-liong segera tertawa.

761
“Bibi Ku, kau jangan mengelabuhi diriku, kau dan bibi Pui
adalah orang yang punya tujuan, apalagi selama banyak tahun
belakangan ini melatih diri secara tekun, melatih anak murid
secara cepat, aku tahu kalau kalian sudah mempunyai rencara
yang masak”
Pui Che-giok segera mengeleng-gelengkan kepalanya
sambil tertawa.
“Bocah, kau betul-betul cerdik dan licin, rupanya dalam
persoalan apapun kita tak sanggup untuk mengelabuhi dirimu”
Dari kata-kata itu, Hoa In-liong tahu kalau Pui Che-giok
bersedia membantunya, buru-buru ia memberi hormat”
“Bibi Pui terlalu memuji!”
Sesudah berhenti sejenak, ketika dilihatnya Tiang heng
Tokoh masih membungkam diri, terpaksa sambungnya lebih
jauh, “Kok See-piau secara terang-terangan membeberkan
jejaknya, memancing kita untuk melakukan pengejaran,
sedang Bwe Su-yok menawan Si Leng jin dan pelayannya
memaksa aku menyusul ke situ….”
“Liong ji!” tiba-tiba Hoa Ngo menukas sambil tertawa,
“yang diculik oleh Bwe Su-yok kan si dayang tersebut,
darimana ia bisa tahu kalau kita pasti akan memberi
pertolongan? Bukankah budak itu mempunyai hubungan yang
erat sekali dengan Jin Hian?”
Hoa In-liong pura-pura tidak mendengar perkataan itu,
lanjutnya.
“Jelaslah sudah bahwa tujuan mereka tak lain adalah ingin
menghadang siautit ditengah jalan serta membunuhnya”

762
Tidak menanti pemuda itu menyelesaikan kata-katanya,
sambil tertawa Tiang beng Tokoh telah menukas, “Aku rasa
dayang itu tak akan tega untuk berbuat demikian!”
Merah padam selembar wajah Hoa In-liong karena jengah,
tukasnya, “Cobalah bibi Ku berpikir, dalam usaha mereka
membunuh Jin Hian, tentunya semakin rahasia semakin baik,
bila kulakukan pengejaran, para cianpwe dan sahabat pasti
tak akan berpeluk tangan belaka, mereka tentu akan
membantu diriku, padahal Kok See-piau dan Bwe Su-yok tahu
bahwa mereka tak akan berhasil meraih kemenangan dengan
pertarungan diatas daratan, maka mereka bermaksud
memindahkan medan pertempuran ke tengah lautan, menurut
dugaanku, bukan saja Bwe Su-yok sanggup membereskan
kami maupun Jin Hian, bahkan Kok See-piau pun sudah
termasuk dalam perhitungannya. Bukan Liong ji sombong, jika
orang-orang dari ke tiga kelompok ini terbasmi, sama artinya
dengan hilangnya separuh kekuatan dunia persilatan, apabila
jika berhasil menawan kami, dia pasti akan memaksa ayahku
untuk bertukar syarat, hal ini lebih mengerikan sekali kalau
dipikirkan, justru lantaran kau hadir disini, Liong ji tidak terlalu
kuatir terhadap mereka, jika kau tidak mau tahu dengan
persoalan ini, bukankah Liong ji bakal kelabakan dan tak tahu
apa yang musti dilakukan?”
Sebenarnya perkataan itu cuma diucapkan secara ngawur
saja, tapi semakin berbicara semakin beralasan dan masuk
diakal, membuat paras muka semua orangpun ikut berubah.
Pui Che-giok tertawa cekikikan setelah mendengar ucapan
itu, dia lantas berpaling sambil tertawa, “No……tootiang, coba
lihatlah! Sungguh mengenaskan bocah ini, bagaimana kalau
kita membantunya?”
Bagaimana mungkin Tiang heng Tokoh tidak memahami
maksud hati Hoa In-liong? Tapi ketika dilihatnya Pui Che-giok

763
ke bawah semuanya telah setuju, apalagi hal itupun demi
kebaikan keluarga Hoa, ia merasa terdesak dan tak dapat
menghindarkan diri lagi dari kenyataan tersebut.
Karena itu, setelah termenung lama sekali, dengan kening
berkerut dia mengangguk.
“Baiklah!”
Tak terlukiskan rasa girang Hoa In-liong mendengar hal itu,
buru-buru ia memberi hormat.
“Terima kasih banyak Bibi Ku atas kesediaanmu!”
Cu Im taysu dan Hoa Ngo sekalian yang lebih rapat
hubungannya dengan keluarga Hoa, merasa amat berlaga hati
setelah dilihatnya Hoa In-liong berhasil menahan Tiang heng
Tokoh.
Tiba-tiba Coa Cong gi berkata dengan suara lantang, “Adik
In liong, aku adalah seekor itik darat, mana tak pandai
berenang juga tak memiliki ilmu meringankan tubuh sebangsa
Teng peng tok sui, tapi justru ingin sekali mencicipi bagaimana
rasanya naik perahu menentang ombak, bagaimana baiknya
menurut pendapatmu?”
“Aku sendiri juga tak tahu” jawab Hoa In-liong sambil
berpaling dan tertawa.
Jilid 19
“Kau tidak tahu?” seru Coa Cong gi dengan mata melotot,
“kalau begitu aku akan pergi juga, walaupun bagaimanapun
juga”

764
“Anak Gi, jangan ngaco belo! ” Coa hujin segera
membentak dengan suara nyaring.
Dengan wajah serius Hoa In-liong segera menjura kepada
Coa hujin, kemudian ujarnya, “Pek bo, maaf siautit
memberanikan diri untuk berbicara, ada baiknya kalau dengan
membawa saudara Cong gi dan adik Wi berangkat ke Lok
yang untuk berjumpa dengan Pek hu.”
00000O00000
59
Padahal sedari tadi Coa hujin sudah ingin berangkat ke kota
Lok yang untuk bertemu dengan suaminya, cuma saja dia
rikuh untuk mengu-taerakannya keluar, maka setelah
mendengar perkataan itu, dia lantas berpaling ke arah Goau
cing taysu minta persetujuan.
Tampak Goan cing taysu termenung beberapa saat
lamanya, kemudian berkata, “Liong ji, mungkin kau telah
melupakan suatu hal”
“Apa lagi Kong kong?” seru Hoa In-liong setelah tertegun
beberapa
saat lamanya .
“Masalah Yu Siang tek suami istri!”
“Oooh……!.” Hoa In-liong berseru tertahan tanpa
perdulikan sikapnya yang rada gugup, dia lantas berpaling ke
arah Yu Siau lam dan berkata sambil tertawa, “Saudara Siau
lam, kau juga harus berangkat ke kota Liok yang, urusan di

765
Liau teng tak bisa kau ikuti”
“Kenapa?” tanya Yu Siau lam tertegun, bukankah
membasmi iblis menegakkan kebenaran adalah kewajiban
setiap orang?”
Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak.
“Haahhh…. haaahhh …haaahh. ..Pek hu dan Pek bo
sekarang berada di Lok yang, kau sebagai seorang putra yang
berbakti sudah sewajarnya kalau berkumpul dengan mereka,
apalagi ayah ibumu baru lolos dari bahaya”
Yu Siau lam menjadi gembira sekali sesudah mendengar
berita itu, belakangan ini dia selalu menguatirkan keselamatan
ayah ibunya, maka bisa dibayangkan betapa terharunya
pemuda itu setelah mendapat kabar tersebut, sehingga untuk
beberapa saat lamanya ia tak mampu mengu-capkan sepatah
katapun.
“Hoa kongcu, sungguhkah ini?” seru Tam Si bin pula
dengan cemas.
Tapi setelah perkataan itu diutarakan tiba-tiba ia merasa
ucapannya itu kurang tepat, maka buru-buru tambahnya,
“Sebab lohu…..”
Sambil tersenyum Hoa Ia liong menukas.
“Berhubung pihak Mo kau hendak membuat phi tok liong
wan, oleh pihak Hian-beng-kau Yu pek hu dan pek bo telah
diserahkan kepada orang-orang Mo kau, untunglah didalam
pembuatan obat-obatan tersebut Yu pek hu telah berbuat
cerdik dengan melakukan sabotase secara diam-diam, coba
kalau bukan lantaran hal itu, tak akan segampang ini boanpwe

766
berhasil menyelamatkan para jago yang tertawan, malah
besar kemungkinan boanpwe tak bisa ikut menghadiri
pertemuan besar yang diadakan oleh pihak Hian-beng-kau”
Tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah katapun Yu Siau lam
membalikkan badan dan kabur meninggalkan tempat itu.
Ketika dilihatnya pemuda itu seperti terpengaruh oleh
emosi, Hoa In-liong kuatir ia menjumpai hal-hal yang diluar
dugaan, dengan cepat tubuhnya berkelebat kemuka dan
mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Yu Siau
lam.
“Saudara Siau lam!” bentaknya, “harap tenangkan hatimu,
pek bu dan pek bo berada dalam keadaan sehat wal’afiat”
Sesungguhnya Yu Siau lam adalah seorang pemuda yang
pandai menguasai diri, sekalipun perasaannya agak tergolak
sewaktu mendengar kabar tentang orang tuanya, tapi setelah
mendengar perkataan dari Hoa In-liong itu perasaannya
seketika menjadi tenang kembali.
Kepada Hoa In-liong katanya sambil tertawa rikuh:
“Adik In liong, aku tidak apa-apa”
“Harap saudara Siau lam dapat mengendalikan diri, dengan
begitu siaute pun bisa berlega hati” kata Hoa In-liong seraya
melepaskan cengkeramannya,
Yu siau lam tertawa getir, serunya kemudian, “Hayo
berangkat!”
Tiba-tiba ia membalikkan badan dan beranjak pergi.

767
Tentu saja tindakannya itu membuat Hoa In-liong menjadi
tertegun, dengan wajah melonggo dia menegur, “Saudara
Siau Lam, mau apa kau?”
Tanpa berpaling Ya Siau lam berkata dangan tenang.
“Dengan kepandaian berenangku, tanpa berhenti aku bisa
berenang sejauh sepuluh li, tentu saja aku harus
menyumbangkan dulu tenagaku sebelum pergi menyambangi
orang tua, kalau tidak demikian dia orang tua pasti akan
mendamprat diriku sebagai egois”
Tiba-tiba Coa hujin menghela napas panjang dan ikut
berkata, “Yu hiantit bisa mendahulukan kepentingan umum
daripada kepentingan pribadi, hal mana sungguh membuat
aku yang menjadi pek bo nya merasa malu sendiri”
Ia lantas berpaling kearah Goan cing taysu sambil katanya,
“Sian ji bertekad untuk turut serta dalam rombongan menuju
ke liau tang, nama cousu tak boleh ternoda oleh perbuatan
Sian ji yang egois ini, soal Goan han, biarlah agak lambat
sedikit juga tidak mengapa”
Goan cing taysu segera manggut-manggut.
“Kalau kau bisa berbuat demikian, hal ini memang lebih
baik…….” katanya.
Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian itu segera tahu,
bahwa dibujuk terus juga tak berguna, maka ketika dilihatnya
dua bersau dara Kiong masih berada disana, sambil menarik
muka, dia lantas menegur, “Kenapa kalian belum pulang ke
gunung? Mau apa menunggu disini? Kalau terjadi sesuatu atas
diri kalian, kau suruh aku bagai mana caranya bertemu
dengan kakek kalian”

768
“Ilmu berenang yang kami miliki secara dipaksakan masih
bisa pula dipakai untuk menghadapi lawan” kata Kiong Gwat
hui.
“Tidak bisa!”
Kiong Gwat hui segera menuding kearah Kongsun Peng
seraya berteriak manja, “Dia kan belum tentu jauh lebih hebat
dari pada diriku, kenapa ia boleh ikut? Hey, Kongsun sauhiap,
bagaimana dengan ilmu berenangmu?”
Hoa In-liong segera berpaling ke arah Kongsun Peng sambil
mengerdipkan matanya maksudnya dia minta Kongsun Peng
sengaja menyombongkan ilmu berenangnya agar bisa
menyumbat mulut kakak beradik dari keluarga Kiong itu.
Siapa tahu Kongsun Peng merasa gugup sekali sudah
mendengar perkataan dari Kiong Gwat hui, hakekatnya ia
sama sekali tidak memperhatikan kerdipan mata dari Hoa Inliong
tersebut, dengan wajah merah padam seperti babi
panggang dan suara tergagap dia berseru, “Aku sendiripun tak
mampu, cuma…..
Tidak menanti ia menyelesailan kata-katanya, Kiong Gwat
hui telah tertawa cekikikan karena geli.
Hoa jiko, sudah dengar belum kata katanya itu?” serunya.
Kalau budak ini ribut terus macam begini, entah sampai
kapan selesainya……..?” pikir Hoa In-liong.
Maka diapun tidak memaksa mereka untuk pulang lagi.
Sementara itu Goan cing taysu telah berkata sambil
tersenyum.

769
“Baiklah! Siapa yang ingin ikut pergi, biarkan ikut perlu,
Liong ji juga tak usah menghalangi niat mereka lagi”
Kiong Gwat hui merasa bangga sekali dengan ucapan itu,
katanya sambil tertawa.
“Nah, sekarang apa yang hendak Kau katakan lagi?
Bagaimanapun juga Goan cing locianpwe memang lebih adil,
sedangkan Hoa jiko jahat dan kurang ajar, hmm! Jangan kau
anggap ilmu silatmu sudah melebihi orang lain, kalau ada
waktu dilain saat, aku pasti akan menantangmu uatuk berada
kepandaian”
Hoa In-liong benar-benar dibuat amat rikuh, tapi Goan cing
taysu telah berkata demikian, maka diapun merasa tidak
leluasa untuk banyak berbicara lagi.
Sementara itu dalam hati kecilnya dia mulai menyusun
rencana, dia bermaksud hendak meminta pertolongan Goan
cing taysu untuk memberi petunjuk ilmu silat kepada Kongsun
Peng sekalian, selain itu diapun ingin minta bantuan dari
orang-orang Cian li kau untuk mengawasi para jago yang agak
cetek ilmu silatnya.
Tiba-tiba terdengar Pek Soh gi berkata, “Liong ji, bukankah
kau selalu memperhatikan Kok Gi pek, apakah selama in ia tak
pernah munculkan diri?”
Hoa In-liong termenung dan berpikir sejenak, kemudian
sahutnya”
“Para Ciu Hoa juga tak seorang pun yang menampakkan
diri. Aku pikir hal ini tak perlu diherankan, sang kelinci pun
mempunyai sarang paling tidak tiga buah, sudah pasti sarang
Kok See-piau juga bukan sebuah istana Kiu ci piat kiong di
bukit Ci san ini saja, aku tahu kalau ambisinya untuk

770
menguasahi dunia persilatan amat besar, setelah menderita
kekalahan jelas mereka akan dibawa kabur ke suatu tempat
rahasia untuk menghimpun kekuatan lagi seraya menunggu
saat yang baik guna muncul kembali didalam dunia persilatan”
“Aaai……! Tampaknya kecerdasan Kok See-piau satu
tingkat jauh lebih dalam bila dibandingkan dengan kawanan
iblis lainnya” keluh Cu Im taysu sambil menghela napas.
“Kalau Thian hong mau menuruti perkataanku dan sadari
dulu menjagal si bajingan tengik yang cabul itu, sudah pasti
dia tak akan berhasil seperti sekarang ini dan menjadi bibit
penyakit untuk kita semua” kata Ciu Thian hau dengan suara
dingin.
“Tapi sekarang toh masih belum terlalu terlambat” kata Hoa
In-liong sambil tertawa paksa.
Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba ada
orang yang datang menyerahkan pedang mestika milik Hoa
In-liong yang terjatuh ke dalam lembah tadi beserta senjata
kaitan Pek giok kau milik Thia Siok-bi, buru-buru si anak muda
itu mengucapkan terima kasih.
Hari itu udara dia atas lautan amat tenang, ombakpun tidak
seberapa besar, sejauh pandangan ke depan, laut dan langit
seakan-akan berhubungan antara yang satu dengan lainnya.
Berapa titik perahu layar sedang pelan-pelan bergerak
menuju ketengah samudra yang seolah-olah tak pertepian itu.
Setelah bersembahyang untuk arwah Thian Ik-cu yang
telah tiada, Hoa In-liong sekalipun berangkat menuju keutara
dan menumpang
dalam sebuah perahu amat besar.

771
Pek Siau-thian dan Thia Siok-bi ternyata tidak turut didalam
rombongan tersebut.
Pada setiap tiang layar perahu-perahu pihak mereka,
semuanya dikibarkan selembar panji hitam yang melukiskan
seekor nasa emas yang sedang memantangkan kelima Jari
cakarnya, itulah lambang perahu dari Mu Hay yu liang (naga
sakti dari empat samudra).
Beng liong sin yang meraja lela sepanjang sungai Tiang
sang ke utara, laut kuning laut utara dan sekitarnya.
Berbicara yang sebetulnya, Su Hay yu liong Beng Tiong sin
susungguhuya berstatus setengah perampok, ia menarik pajak
dari setiap perahu nelayan dan perahu saudagar yang melalui
perairannya, cuma andaikata para nelayan itu menghadapi
persoalan, merekapun bersedia memberi bantuan dengan
melindungi nelayan-nelayan tersebut.
Adapun pajak yang harus dibayar adalah ditentukan oleh
para nelayan itu sendiri, jumlahnya tidak terhitung terlampau
tinggi dan masih boleh dibilang adil.
Sebaliknya jika terjadi perampokkan didaerah perairannya,
maka dia akan menggunakan hitam makan hitam untuk
menyikat barang rampasan perampok-perampok lain, sedang
bila ada pembesar korup atau saudagar curang yang melalui
tempat itu, diapun membegal mereka.
Untung saja sifat orang ini cukup bijaksana, selamanya dia
hanya merampas harta, tidak melukai nyawa orang, dengan
peraturan nya yang amat ketat, belum pernah anak buahnya
melakukan sesuatu perbuatan yang melanggar hukum langit.
Justru karena sifatnya itu, maka para jago dari golongan
pendekar pun tiada yang meng gubris perbuatannya itu.

772
Kali ini Hoa In-liong telah mendatangi mereka untuk
memohon bantuannya, sebagaimana diketahui, nama keluarga
Hoa sudah amat tersohor dalam dunia persilatan waktu itu,
apalagi Beng Tiong sin memang sudah menguasai penuh
daerah perairan disekitiarnya maka begitu mendapat
kunjungan Hoa jiya, buru-buru ia menyambut kedatangannya
dengan segala kehormatan.
Ketika maksudnya dikemukakan, sambil menepuk dada,
Beng Tiong sin langsung saja menyatakan kesanggupannya.
Bukan saja dia telah menyediakan lima buah perahu perang
yang terbagus, bahkan turun tangan sendiri untuk mengiringi
keberang katan mereka.
Sesungguhnya Hoa In-liong tidak bermaksud demikian, dia
hanya ingin meminjam perahu dan seorang yang hapal
dengan daerah pengairan dilaut utara saja hanya sebagai
petunjuk jalan, dia tak ingin memaksa orang itu harus
bermusuhan secara terbuka dengan pihak Kok See-piau, Bwe
Su-yok serta Jin Hian sekalian.
Seng Tiong sio ternyata bersikeras untuk turut serta
didalam pergerakan itu, sepintas lalu ia membantu seperti
karena didorong nalurinya untuk ikut menegakkan keadilan,
padahal sesungguhnya diapun memiliki suatu maksud pribadi.
Sebagaimana diketahui, Pek hay sam liong yang berpihak
kepada Jin Hian juga malang melintang dilautan utara selama
ini, belum pernah mereka memberi muka kepadanya, setiap
kali anak buahnya ketanggor mereka, selalu dihajar sampai
kocar kacir tak karuan.

773
Beng Tiong sin cukup menyadari akan keterbatasan ilmu
silatnya, maka selama ini dia hanya bisa menerima kenyataan
tersebut deegan hati kecut.
Tapi skarang kesempatan baik untuk membalas dendam
telah tiba, mungkinkah dia akan melepaskan peluang tersebut
dengan begitu saja……?
Apalagi bisa bergaul dengan orang-orang keluarga Hoa
merupakan sesuatu kejadian yang pantas dibanggakan dan
bisa menambah pamornya di mata orang, sudah barang tentu
dengan senang hati permintaan itu segera dikabulkan……
Berlayar diatas lautan sebagian besar adalah tergantung
pada hembusan angin, beberapa hari belakangan ini ternyata
angin ber- hembas sangat lemah sehingga perahupun berjalan
sangat lambat.
Diam-diam Hoa In-liong gelisah sekali menyaksikan
kenyataan itu, dia mulai menyesal mengapa harus melakukan
pengejaran lewat lautan, coba kalau melalui daratan dengan
mendahului didepan musuh, siapa tahu mereka masih memiliki
sisa waktu untuk mengadakan persiapan di wilayah Liau tang.
Tapi berulang kali Beng Tiong sin menghibur hatinya, dia
berkata bahwa rombongan Jin Hian dan dua perkumpulan
lainnya juga tiba disana belum lama, hal tersebut
sesungguhnya tak perlu dirisaukan.
Hoa In-liong juga tahu bahwa gelisahpun tak ada gunanya,
maka ia pergunukan kesempitan selama beberapa hari ini
untuk memperdalam ilmu silat sendiri.
Sementara Kongsun Peng, Yu Siau lam sekalian juga
memohon petunjuk ilmu silat dari Coan cing taysu serta Ciu
Thian hau sekalian.

774
Dengan senang hati para angkatan tua itu memberi
petunjuk sejauh mana mereka butuhkan.
Menjumpai Kesempatan yang demikian baiknya ini, sudah
barang tentu para jago muda itu menjadi bersemangat untuk
melatih diri, tiap hari mereka memohon petunjuk dan
melatihnya siaang malam dengan tekun, tak heran dalam
beberapa hari yang amat singkat ini kepandaian silat mereka
telahh mendapatkan kemajuan yang amat pesat.
Dalam pada itu, Beng Tiong sin sedang menemani Hoa Inliong
sekalian berdiri diujung geladak sambil memandang jauh
ke depan.
Tiba-tiba Hoa Ngo berkata, “Liong ji, yakinkah kau bahwa
Kok See-piau benar-benar sedang melakukan pengejaran
terhadap Jin Hian dan rombongan?”
Mereka masuk kelautan lebih duluan, kita juga sudah
mencari kabar sebelum, berangkat, apalagi ada orang yang
menyaksikan pihak Hian-beng-kau dan Kiu-im-kau telah
berangkat berlayar menyusul rombongan dari Hong im hwe,
masakah hal ini bisa salah lagi?”
Hoa Ngo segera menggelengkan kepalanya berulang kali,
dia berkata.
“Seberapa orang itu yang satu jauh lebih licik daripada
yang lain tanpa suatu ke yakinan yang kuat, tak mungkin
mereka akan masuk kelautan, siapa tahu kalau mereka henya
pura-pura berlayar, lalu setelah sampai ditengah jalan secara
diam-diam merapat kembali kedaratan……?”
Hoa In liang termenung sebentar lalu jawabnya.

775
“Jin Hian sudah tiada jalan lain yang bisa di tempuh lagi
kecuali jalan ini, dia pasti tak akan kembali kedaratan
Tionggoan secara diam-diam, sebab hal itu justru akan
membahayakan jiwanya. Dalam pertemuan besar Toan wu
hwee, seandainya Jin Hian tidak menjegal kaki Kok See-piau
dari belakang, usaha Hian-beng-kau untuk menjebak semua
jago yang hadir dalam pertemuan itu pasti telah berhasil
dengan sukses, dunia persilatanpun mungkin sudah terjatuh
ketangannya. Tapi gara-gara Jin Hian semua harapannya
buyar seperti terhembus angin, dendam sakit hati sebesar ini
tak mungkin bisa dilupakan oleh Kok See-piau, malah mungkin
dia belum akan puas sebelum mencincang dagingnya dan
menghirup darahnya, coba di pikirlah sendiri, masa dia akan
melepaskan musuh besarnya itu dengan begitu saja?”
Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan.
“Apalagi bertarung diatas lautan, pihak mereka jauh lebih
beruntung posisinya daripada orang lain”
“Kalau memang demikian, mengapa setelah kita kejar
selama beberapa hari, masih belum tampak juga jejak
mereka?” seru Hoa Ngo dengan mata melotot.
Bong Pay segera tertawa, selanya, “Ngo te apakah kau
tidak merasa terlalu terburu napsu?”
Mendadak Hoa In-liong berteriak keras, “Lihat! Didepan
sana ada perahu!”
“Yaa, besar kemungkinan perahu itu adalah perahu orangorang
Hian-beng-kau serta Kiu-im-kau.
Beng Tiong sin setengah percaya setengah tidak ketika
mendengar seruan itu sebab ia belum mendapat laporan dari
petugasnya yang berada diatas tiang, bisiknya kemudian”

776
“Aaai, benarkah itu?”
Cepat dia mengeluarkan sebuah teropong dan memeriksa
keadaan didepan sana, “betul juga, diujung laut sebelah
depan sana kelihatan ada beberapa titik hitam yang bergerakgerak
seperti perahu.
Hal mana segera mengejutkan hatinya, pikirnya kemudian,
“Heran, padahal jarak dari sini sampai ke situ masih jauh
sekali, mengapa dengan mata telanjang mereka bisa
menangkap titik se kecil itu? Pada hal aku yang melihat
dengan teropongpun memakan waktu yang cukup lama?”
Sifat kekanak-kanakan Coa Wi-wi belum hilang, ketika
dilihatnya Beng Tiong sin menempelkan matanya pada sebuah
benda lonjong untuk memandang ke tempat kejauhan, tanpa
terasa dia bertanya”.
“Eeeh. ….benda apa sih itu? Bolehkah meminjamkannya
kepadaku sebentar…..?”
Beng Tiong sin tentu saja tak berani menampik, sambil
menyerahkan teropong itu sahutnya sambil tertawa, “Benda
ini bernama Cian li king (teropong seribu li) datang dari Persia,
kegunaannya bisa mendekatkan benda yang berada ditempat
kejauhan, bila nona suka dengan benda itu, ambil saja, aku
masih memiliki beberapa buah lagi”
“Ooh…sesuatu yang luar biasa, coba aku lihat kata Coa Wiwi
tertawa.
Dia lantas menempelkan matanya pada ujung teropong dan
melongok ke depan, mendadak jeritnya, “Enci In, Enci Lian,
enci Hui, kalian cepat kemari, betul juga, kita bisa melihat
benda didepan sana dengan jelas.

777
Sesudah berhenti sejenak, katanya lagi.
“Haah, betul juga! Didepan situ ada perahunya, satu, dua,
tiga…..semuanya berjumlah delapan, diatas tiang bendera
berkibar sebuah panji dengan sulaman……”
“Haahhh…..haaahhhh….haaahhh…..pasti sulaman kepala
setan” sambung Hoa In-liong.
“Betul!” sahut Coa Wi-wi sambil manggut-manggut.
“enci In, aai….kheki betul aku, sudah dipanggil-panggil
kenapa belum datang juga?”
Menyaksikan kepolosan dan kelincahan si nona yang cantik
dan menarik itu, semua orang merasa hatinya lega dan
nyaman, tanpa terasa semua orang ikut tersenyum.
Beng Tiong sin diam-diam merasa keheranan lagi, dengan
teropong tersebut dia cuma bisa mengenali titik-titik hitam
tersebut sebagai perahu, kenapa gadis itu bisa melihat
lambang diatas panji perahu depan?
Sesungguhnya ia sudah memandang Coa Wi-wi terlalu
rendah, ia tidak percaya kalau gadis secantik ini memiliki ilmu
silat yang amat luar biasa, apalagi memiliki ketajaman mata
yang berlipat kali lebih tajam dari manusia biasa.
Tiba-tiba terdengar kelasi yang berada di atas tiang
berteriak keras, “Sebelah utara condong ketimur delapan
derajat ada perahu, kurang lebih….. “
Ngo can, tak usah berbicara lagi!” bentak Beng liong sin
keras-keras.

778
Orang yang berada diatas tiang itu segera tutup mulut
dengan ketakutan bercampur keheranan, ia tak habis mengerti
kenapa Beng liong sin gusar kepadanya.
Terdengar Beng Tiong sin berguman lagi setengah
menggerutu, “Goblok! Orang lain sudah melihat dengan jelas,
kau masih cerewet melulu. …”
Tiba-tiba Coa Wi-wi menyodorkan teropong Tian li cing
tersebut kepada Hoa In-liong, kataanya, “Jiko, kau juga
lihatlah dengan benda ini”
“Haaahh…..haaahh……haahh……tidak usah” sahut Hoa Inliong
sambil tertawa terbahak-bahak, “ketika aku ulang tahun
yang kesepuluh, ada orang menghadiahkan sebuah teropong
cian li cing tersebut untuk ku, waktu itu aku membawanya
setiap hari untuk bermain, tapi akhirnya aku menjadi jemu
sendiri”
“Huuh, tidak mau melihat yaa sudah” seru Coa Wi-wi
sambil mencibirkan bibirnya yang kecil.
Dia lantas berpaling, ketika dilihatnya Cia In sekalian
sedang keluar dari ruang perahu, ia lantas berteriak, “Enci In,
cepat kau lihat!”
Cia In tak tega untuk menampik maksud hatinya, maka
diapun menerima teropong itu dan melihat sebentar,
kemudian katanya hambar, “Ehmm, betul juga!”
Dia lantas sodorkan ke tangan Kiong Gwat hui, setelah
melirik sekejap ke arah Hoa In-liong, diapun berjalan menuju
ke buritan kapal.

779
Sementara itu gadis lainnya sedang saling berebut untuk
melihat sambil tertawa cekikikan, suara pembicaraan mereka
yang ribut membuat suasana bertambah ramai.
Coa Wi-wi malah sebaliknya, tidak tertarik lagi, dia
mengejar ke mana Cia In pergi.
Hoa In-liong melirik sekejap ke arahnya dengan mulut
membungkam, dihati kecilnya diam-diam ia menghela napas.
Mendadak ia tidak menjumpai Kiong Gwat hui hadir disitu,
segera pikirnya dalam hati, “Keramaian apapun pasti diikuti
budak ini, mengapa kali ini terkecuali?”
Sesudah termenung sejenak, ia lantas memburu ke sisi
perahu untuk mencari jejaknya, disuau tempat yang tertutup
akhirnya ia menjumpai Kiong Gwat hui dan Kongsun Peng
sedang duduk berdampingan dan bercakap-cakap dengan
suara lirih, sikap mereka kelihatan amat mesra.
Dia-diam ia merasa girang sekali setelah menyaksikan
keadaan itu, ia tidak mengganggu mereka berdua dan cepat
kembali ke geladak, kepada Beng Tiong sin katanya, “Beng
tangkah, tahukah kau sampai kapan kita baru berhasil
menyusul perahu dari pihak Kiu-im-kau itu?”
Beng Tiong sin berpaling dan memeriksa sejenak,
kemudian sahutnya.
“Paling tidak juga satu hari lagi!”
Mendengar itu Hoa In-liong lantas berpikir.
“Cuma jarak perjalanan sedekat inipun membutuhkan
waktu yang begini lama, betul-betul bikin hati orang menjadi
jemu rasanya

780
“Hoa Kongu!” terdengar Beng Tiong sin berkata lagi,
“meskipun perahu musuh sudah kelihatan, tapi jarak kita
paling tidak juga masih lima enam puluh li, bila ada angin
dalam tiga empat jam kita sudah bisa menyusul mereka, tapi
tanpa angin seperti sekarang ini, seharipun belum tentu bisa
menyusul mereka, itu menurut perhitungan dengan perahu
milik aku orang she Beng, coba kalau perahu biasa, hal ini tak
mungkin bisa dilakukan”
“Aku juga tahu kalau perjalanan di laut tidak sama dengan
perjalanan didarat” kata Hoa In-liong sambil tertawa, “aku
mah belum sampai sebodoh itu”
Tiba-tiba angin sejuk berhembus lewat, membuat orang
merasa lega dan semua kemangkelan serasa lenyap tak
berbekas.
Beng Tiong sin menjadi kegirangan serunya cepat, “Bila
hembusan angin ini tidak berhenti, tak sampai setengah
harian, kita sudah akan berhasil menyusul mereka”
Selama beberapa bari belakangan ini hanya saat sekarang
merupakan saat yang paling menggembirakan, Siau yau sian
Cu Thong yang baru sembuh dari lukanya merasa kesal
setelah mengurung diri selama beberapa hari dalam ruangan,
saat itu diapun sudah keluar dari ruangan dan bercakap-cakap
dengan Cia Thian hau serta Cu Im taysu sekalian diatas loteng
perahu.
Sementara itu Coa Wi-wi yang menyusul Cia In berhasil
menemukan gadis itu ada disisi kiri perahu sambil bermuram
durja, waktu itu ia sedang memandang hutan nan hijau
dikejauhan sana sambil termangu-mangu.
Dengan kening berkerut segera sapanya, “Enci In!

781
Cia In terkejut dan segera berpaling, “Adik wi, kau sedang
memanggil aku?” tegurnya.
Aaaii ….! Coa Wi-wi menghela napas panjang sambil
menghampirinya, kenapa sih enci In begitu murung? Sungguh
membuat aku ikut merasa sedih dan kesal!”
Cia In mersa amat terharu sekali, sambil membenahi
rambutnya yang kacau terhembus angin, ia menghela napas,
katanya, “Perhatian adik Wi sangat mengharukan hatiku,
cuma…..aaai! Darimana kau bisa mengetahui isi hatiku”
“Tidak, aku tahu, enci In tentunya disebabkan…..
“Gadis ini terlalu pintar”
Cia In segera berpikir, lebih baik jangan kuucapkan katakata
yang susah dihadap…..
Berpikir demikian, sambil tertawa dia lantas menukas, “Isi
hatiku adalah ingin melihat kau dan jiko kawin serta hidup
secara berbahagia sepanjang waktu, dengan begitu aku pun
bisa berlega hati”
Merah padam selembar wajah Coa Wi-wi karena jengah,
katanya, “Akupun tahu kalau enci In sangat baik kepadaku,
cuma isi hati enci In sudah jelas bukan…”
“Apa yang barusan kukatakan, sesungguhnya memang
benar-benar merupakan isi hati enci In, cuma,……..aku
memang masih ada isi hati lain yang belum diucapkan”
“Lantas apakah isi hatimu itu?”

782
“Enci In sudah mulai jemu dan muak menghadapi dendam
dan saling bunuh membunuh yang terjadi didalam dunia ini,
enci bertekad untuk cukur rambut menjadi pendeta, tapi budi
kebaikan guruku yang telah mendidik aku selama ini lebih
tebal dari langit, bagaimanapun juga aku merasa tak tega
untuk mengutarakannya keluar”
Coa Wi-wi menjadi tertegun sehabis mendengar perkataan
itu, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya seraya berseru, “Bibi
Ku, bibi Pui, ucapan enci In toh sudah kalian dengar, mengapa
kalian berdua tidak munculkan diri untuk membujuknya?”
Baru saja Cia In tertegun, tampak Tiang heng Tokoh dan
Pui Che-giok telah melayang datang.
Pui Che-giok segera menghela napas panjang, katanya, “In
ji, jadi kau tak mau meneruskan warisan perguruan kita ini?”
Tiba-tiba Cia In menjatuhkan diri berlutut, dengan air mata
bercucuran katanya.
“Harap suhu bersedia mengampuni dosa tecu, tecu benarbenar
ingin mengikuti supek untuk belajar agama”
Dengan kening berkerut Tiang heng tokoh berkata,
“Bertapa bukan sesuatu yang boleh dianggap sebagai bahan
permainan, belum tentu kau bisa tahan untuk hidup terpencil
dan jauh dari keramaian dunia, buat apa sih kau musti
menyiksa diri?”
“In ji pasti bisa menerima semua penderitaan tersebut,
harap supek mau mengabulkan permintaanku ini” rengek Cia
In sedih.

783
“Untuk dibicarakan memang gampang, tapi sukar untuk
dilaksanakan. Kau bangunlah lebih dulu, persoalan ini bisa kita
rundingkan kembali dikemudian hari”
Tapi Cia In tetap berlutut diatas tanah. “Supek, kumohon
kau orang tua bersedia memenuhi keinginan In ji ini”
pintanya. Tiang heng Tokoh mengerutkan dahinya, tapi
setelah berpikir sebentar, tiba-tiba ia tersenyum, sambil
membangunkan gadis itu katanya, “Keinginanmu itu supek tak
mungkin bisa memenuhinya, tapi kalau keinginanmu yang lain,
mungkin juga supek bisa mengusahakan agar berhasil…….”
Mula-mula Cia In agak tertegun, kemudian merah padam
selembar wajahnya karena jengah, dia ingin membantah tapi
kuatir semakin dibantah keadaannya semakin runyam, setelah
gelagapan sendiri, akhirnya sambil mendepakkan kaki ke
lantai, dia menyelinap masuk kedalam ruangan.
Menyaksikan kesemuanya itu, Pui Che-giok gelengkan
kepalanya berulang kali sambil bergumam dengan suara lirih.
“Aaai…..!Siapa yang terlalu romantis, akhirnya pasti akan
menanggung kekecewaan, tapi…..berapa orang didunia ini
yang bisa terlepas dari soal cinta?”
Tiba-tiba terdengar suara dari Goan cing taysu bergema
datang.
“Buddna maha pengasih datang kedunia dengan membawa
kasih dan cinta, tak mungkin dunia ini kehilangan cinta, bila
tak mampu dilakukan, janganlah terlalu memaksakan, sesuatu
yang terlalu dipaksakan akan berakibat kurang nenyenangkan,
mengerti kah kalian Heng toyu, dan Pui kaucu……?”

784
Dengan terkejut kedua orang itu berkerling, entah sedari
kapan tahu-tahu Goan cing taysu telah berdiri dibelakang
mereka.
Tiang heng Tokoh menggerakkan bibirnya seperti hendak
mengatakan sesuatu, tapi kemudian niat tersebut diurungkan.
Sedangkan Pui Che-giok hanya berdiri tertegun seperti tak
tahu apa yang mesti dikatakan.
Coa Wi-wi pun berdiri tertegun seperti mengerti seperti
juga tidak, untuk sesaat suasana menjadi amat hening.,
Setelah melakukan pengejaran hampir satu jam lamanya, Hoa
In-liong sekalian menjumpai lebih kurang dua tiga puluh li
didepan barisan perahu-perahu Kiu im kiu terdapat
rombongan perahu lain, mungkin itulah perahu yang
ditumpangi Jin Hian sekalian.
Menjelang tengah hari, perahu yang di tumpangi Hoa Inliong
sudah berada hanya sebelas dua belas li dari perahuperahu
Kiu-im-kau, sebaliknya perahu yang ditumpangi Jin
Hian sekalian tinggal sepuluh li dari perahu utama dari pihak
Kiu-im-kau.
Jauh diujung depan sana, diwilayah sebelah utara tampak
daratan nan hijau telah terbentang didepan mata, ternyata
kejar mengejar yang berlangsung selama beberapa hari ini
telah membawa ketiga pihak rombongan itu semakin
mendekati wilayah Lian tang.
Ditengah samudra yang luas, para jago dari ketiga belah
pihak mulai dapat menyaksikan gerak-gerik musuh diatas
perahu masing-masing.

785
“Diatas kelima buah perahu besar milik Beng Tiong sin
dilengkapi pula dengan meriam-meriam besar, empat diperahu
utama dan dua diperahu lainya.
Pada waktu itu belasan lelaki kekar yang bertubuh tegap
sedang menggosok meriam, mengangkut musiu, mengisi
meriam dan sibuk bekerja tampak peluh telah membasahi
tubuh orang-orang itu.
Tiba-tiba Hoa In-liong menjumpai pada setiap buritan
perahu perahu Kiu-im-kau juga dilengkapi dengan sebuah
meriam, dua orang lelaki berbaju hitam yang membawa obor
berdiri serius disisi meriam tersebut.
Menyaksikan ketenangan orang-orang itu serta bentuk
meriam yang jauh lebih besar dan menyeramkan itu, satu
ingatan segera melintas dalam benak anak muda itu, pikirnya,
“Agaknya gelagat tidak menguntungkan bila dilihat dari
keadaan mereka, rupanya pihak Kiu-im-kau telah mempunyai
rencana yang cukup matang, jauh berbeda dari pihak kami
yang menjadi repot setelah persoalan menjelang didepan
mata …”
Berpikir demikian, dia lantas bertanya kepada Beng Tiong
sin, “Beng tangkeh, meriam-meriam mu itu bisa mencapai
jarak berapa jauh…..?
Tanpa berpikir panjang Beng Tiong sin segera menjawab,
“Kurang lebih tiga li, paling jauh pun bisa mencapai empat li”
“Lantas berapa jauh jarak yang bisa dicapai oleh meriammeriam
pihak Kiu-im-kau? Apakah Beng tangkeh bisa memberi
ancer-ancernya?” Beng Tiong sin segera mengeluarkan
teropongnya dan memeriksa sebentar, dia ia merasa amat
terkejut tadi diluar, jawabnya, “Meriam diatas perahu ku ini

786
termasuk meriam kelas satu, aku pikir belum tentu meriammeriam
Kiu-im-kau bisa menandingi kami”
Hoa In-liong segera tersenyum, ujarnya kemudian, “Aku
lihat ada baiknya kita jangan beradu meriam dengan mereka,
cari saja akal lain untuk beradu kekuatan dengan mereka,
entah bagaimana menurut pendapat Beng tangkeh?”
“Tidak usah” jawab Beng Tiong sin dengan angkuh,
“sekalipun harus berduel mati-matian, aku percaya meriam
kita tak akan kalah dari meriam-meriam lawan”
Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, pengalaman yang
dimiliki Hoa In-liong sudah memperoleh kemajuan yang pesat,
melihat keyakinan orang ini, dia lantas tahu jika pembicaraan
dilanjutkan, bisa jadi orang akan salah mengira dirinya
memandang hina, oleh sebab itu dia cuma tertawa hambar
dan tidak berbicara lagi.
Sebenarnya perahu-perahu dari ketiga belah pihak berlayar
dengan cara beriring, akan tetapi setelah menemukan jejak
musuh mereka segera memerintahkan perahu di belakang
untuk menyusul ke depan dan berganti formasi menjadi
berlayar berjajar.
Hoa In-liong memperhatikan perahu-perahu di pihak Jin
Hian sana, ia menyaksikan Jin Hian telah muncul dari ruang
perahunya untuk memeriksa keadaan, tapi tidak nampak Bwe
Su-yok maupun Kok See-piau muncul dari ruang perahunya.
Melihat itu, pemuda kita lantas berpikir.
“Berada dalam keadaan seperti ini, Kiu-im-kau terpaksa
akan menghadapi dua arena pertarungan sekaligus, kenapa
Bwe Su-yok begitu gegabah tanpa munculkan diri untuk

787
melakukan pemeriksaan?” Bukankah tindakan ini kurang
cerdas?”
Baru selesai berpikir, tiba-tiba dari buritan sebuah perahu
Kiu-im-kau berjalan keluar seorang gadis berwajah dingin
yang membawa sebuah tongkat berkepala setan, orang itu tak
lain adalah Kiu in kaucu Bwe Su-yok.
Disampingnya mengikuti pula Un yong ciau, Kek tian tok
sekalian. Menyusul kemudian dari perahu sebelah kiri
kanannya segera bermunculan pula Kok See-piau, Che Thian
hua, Gi Tang cuan sekalian jago-jago dari Hian-beng-kau.
Dengan sepasang biji matanya yang Jeli, Bwe Su-yok
memperhatikan sekejap perahu yang ditumpangi Hoa In-liong
kemudian sambil tertawa dingin katanya, Hoa In-liong kenapa
kau bukan datang seorang diri, tapi mengajak begitu banyak
orang untuk mengiringi kematianmu bersama?
“Menang kalah belum ditentukan, lebih baik kau jangan
keburu bersenang hati lebih dahulu” sahut Hoa In-liong
hambar.
Setelah berhenti Sejenak, tambahnya, “Bagaimana dengan
Si Leng jin dan pelayannya?”
Tiba-tiba muncul perasaan dengki dalam hati Bwe Su-yok,
dengan dingin, ia menjawab, “Budak itu terlalu keras kepala,
tak menuruti perkataanku, karena marah aku telah membuang
mereka ke dalam lautan sebagai umpan ikan”
Meskipun tidak percaya, agak tergetar juga perasaan Hoa
In-liong setelah mendengar perkataan itu, bentaknya segera,
“Sungguhkah perkataanmu itu?”
“Tentu saja sungguh!”

788
Diam-diam Hoa In-liong segera berpikir kembali.
“Makin lama budak ini semakin sok lagaknya, aku harus
memberi pelajaran yang setimpal kepadanya, sialan!”
Tiba-tiba terdengar Kok See-piau terseru sambil tertawa,
“Bwe kaucu buat apa kau musti banyak bicara dengan
kawanan manusia yang sudah hampir mampus itu? Lebih baik
cepat-cepat dihantar pulang ke langit barat saja kan beres”
“Hmm, tidak akan semudah itu kawan!” teriak Beng tiong
Jin dengan suara lantang.
Dalam pada itu, perahu masing-masing sudah berada pada
jarak lima enam li dari perahu lawan.
Buat jago-jago lihay seperti Hoa In-liong, Kok See-piau dan
sekalian jago lainnya berbicara dalam jarak sejauh ini masih
bukan menjadi persoalan, tapi Beng Tiong sin harus
mengerahkan tenaga yang cukup besar untuk mengutarakan
kata-kata tersebut, itupun sebagian besar diantaranya buyar
terhembus angin, sehingga apa yang dia ka takan hakekatnya
tidak terlalu jelas.
Agaknya Bwe Su-yok maupun Kok See-piau berdua juga
bisa menduga kedudukannya dalam perahu, kedua orang itu
hanya menjengek sinis dan sama sekali tidak menggubris.
Tiba-tiba Lei Kiu-it dari Kiu-im-kau berseru lantang, “Seng
Tiong sin, kau tak lebih cuma seorang perampok, berani betul
berlagak sok dengan mengandalkan keluarga Hoa, Hmm!
Sebentar akan kubekuk dirimu dan suruh kau merasakan
bagaimana enaknya disiksa oleh pun thamcu, agar kolong
langit tahu bagaimana akibatnya jika ada orang berani
bermusuhan dengan Kui im kaucu”

789
Setelah Beng Tiong sin mendengar ancaman lei Kiu-it yang
menyeramkan itu, apalagi membayangkan kalau musuhnya
adalah seorang gembong iblis, andaikata pihak pendekar
membiarkan musuh terlepas seorang saja, itu berarti dirinya
akan tewas tanpa tempat kubur, tanpa sadar ia menjadi bersin
berulang kali dan membungkam dalam seribu bahasa.
Ketika para gadis dari Cian li kau menyaksikan orang itu
terbungkam setelah bersikap sok gagah menjadi geli dan
sama-sama tertawa.
Hoa In-liong segera melotot sekejap ke arah mereka,
kemudian seraya berpaling katanya lantang, “Beng Tongkeh
bersedia meminjamkan perahunya lantaran atas permintaan
dari aku orang she Hoa, Kiu-im-kau dan Hian-beng-kau adalah
kumpulan orang gagah, mereka pasti tak akan membuat
susahnya dirimu, selama keluarga Hoa masih utuh, pokoknya
partai-partai tersebut tak akan menganggu seujung rambut
Beng tongkeh, bila Lei tiamcu ada persoalan, silahkan
diutarakan secara langsung kepadaku”
Mendengar ucapan tersebut, dengan perasaan berterima
kasih, Beng Tiong sin melirik sekejap kearah Hoa In-liong.
Kok See-piau segera tertawa dingin, ujarnya, “Orang she
Hoa, kau ini ibaratnya patung dewa terbuat dari lumpur yang
ingin menyeberangi sungai, untuk melindungi diri sendiri saja
sudah sulit, apa gunanya kau musti cabangkan pikiran untuk
menguasahi keselamatan orang lain”
Sementara pembicaraan berlangsung, selisih jarak kedua
belah pihak lebih mendekati hampir satu li lagi.
Tiba-tiba Bwe Su-yok tertawa dingin, tangannya lantas
diulapkan memberi tanda.

790
Seorang lelaki kekar yang berada disisinya segera
mengeluarkan terompet keong dan meniupnya bertaut-taut.
Pekikan panjang yang berat dan kasar berkumandang
membelah angkasa, suara tersebut begitu keras hingga tersiar
sampai ditempat kejauhan.
Belum lagi suara terompet itu selesai berbunyi, tiba-tiba
dari atas perahu Kiu-im-kau melintas cahaya api, menyusul
kemudian terdengar bunyi menggelegar yang amat
memekikkan telinga.
“Celaka…bunyi meriam!” pekik semua orang dihati.
Ketika ledakan dahsyat itu menggelegar, peluru meriam
yang ditembakkan dari perahu lawan segera meluncur ke
depan dan meledak diatas air, suatu gelombang dahsyat
segera terjadi, butiran air memancar setinggi tiang dan
menyebar sampai empat lima kaki jauhnya, banyak orang
yang basah kuyup bajunya akibat kejadian itu.
Perahu yang berada disebalah barat terkena tembakan
yang mengakibatkan tiang layar mereka terjilat api,
penumpangnya menjadi panik dan bekerja keras untuk
memadamkan kebakaran yang lebih membesar, dengan susah
payah api berhasil dipadamkan, tapi dengan patahya tiang
layang utama, perahu itu menjadi melambat, untung saja
yang terkena bukan lambung perahu sehingga
keselamatannya tak sampai terancam.
Beng Tiong sin marah sekali setelah menyaksi kan kejadian
itu dia segera turunkan perintah untuk balas melancarkan
serangan dengan meriamnya, sayang waktu itu jaraknya
masih ada empat li lebih, sehingga peluru-peluru yang
ditembakkan segera terjatuh keair ketika tiba beberapa kaki

791
dibelakang sasaran, sekalipun gagal menghajar perahu
musuh, tapi akibatnya cukup membuat tim bulnya gelombang
yang amat dahsyat.
Pihak Kiu-im-kau kembali melancarkan tembakan meriam,
kali ini sasarannya adalah perahu di sayap kiri Beng Tiong sin,
perahu tersebut terkena tembakan dan meledak, tubuh
perahu merekah dan muncul sebuah lubang besar, air laut
segera masuk kedasar ruangan, ini membuat penumpangnya
harus menolong segera tergesa-gesa, sayang lubang bekas
tembakan itu terlalu besar, sekalipun disumbat dengan kain
selimut, toh akhirnya tertembus juga oleh arus air
Beng Tiong sin betul-betul merasa gusar, ia merampas
sebatang obor dan menyulut sendiri api meriamnya, kali ini
tembakan tersebut menghajar di sisi perahu Kiu-im-kau yang
mengakibatkan tubuh perahu lawan retak, tapi lubang itu
segera bisa disumbat untuk melanjutkan perjalanan.
Hoa ln liong yang menyaksikan kejadian ini segera berkerut
kening, dia tahu jika pertempuran diteruskan, kendatipun
beberapa buah perahu lawan berhasil ditenggelamkan, paling
tidak pihak mereka akan tertumpas semua, yang berilmu
tinggi mungkin saja masih bisa selamat, tapi mereka yang
rendah ilmu silatnya sudah pasti akan tenggelam berikut
perahu yang mereka tumpangi.
Maka buru-buru dia berseru, Turunkan layar utama,
kurangi kecepatan!”
Beng Tiong sin segera memerintahkan anak buahnya untuk
melaksanakan perintah itu, sebab perkataan dari Hoa In-liong
sama seperti perintah pribadinya, maka tak ada seorang
kelasipun yang berani membangkang, cepat-cepat mereka
bekerja keras dan menurunkan layar utama.

792
Dengan diturunkannya layar layar utama tersebut, gerak
laju ke empat perahu itupun semakin berkurang.
Pihak Kiu-im-kau rupanya belum puas dengan hasil yang
dicapai, tembakan-tembakan meriam mereka masih
berlangsung dengan gencar, bunyi menggelegar yang
memekakkan telinga serta muncratan air laut setinggi bukit
membuat pemandangan disana bertambah menyeramkan.
Tiba-tiba sebuah tembakan meriam ditujukan ke arah ujung
perahu yang ditumpangi oleh Hoa In-liong sekalian.
Sambaran peluru meriam itu cepatnya sukar dilukisan
dengan kata-kata, untung saja Hoa In-liong memiliki tenaga
dalam yang cukup sempurna, tangannya segera digetarkan,
sekeping uang perak segera disambit kearah depan dan tepat
mengena diatas peluru meriam tersebut lebih kurang tujuh
kaki dari sasaran.
Suatu ledakan dahsyat yang amat memekikkan telinga
menggelegar di udara, para kelasi tersebut sama-sama roboh
terjengkang keatas geladak, meskipun peluru meriam itu
meledak ditengah jalan, tapi ledakan tersebut cukup
mengakibatkan timbulnya pecahan baja yang menyebar ke
empat penjuru dengan kekuatan dahsyat.
Goan cing taysu cepat bertindak dengan mergebaskan
ujung bajunya, menyusul kemudian Ciu Thian hua, Cu Im
taysu dan Cu thong sama-sama membentak keras, enam buah
telapak tangan mereka bersama- sama diayunkan ke depan
melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang luar biasa sekali.
Dalam waktu singkat pecahan baja akibat dari ledakan
peluru meriam itu berhasil dihantam sehingga terpental ke
depan dan jatuh ke dalam lautan.

793
Anak buah Beng Tiong sin belum pernah menyaksikannya,
sekarang dalam kejut dan tertegunnya mereka semakin
menaruh hormat ke pada Hoa In-liong sekalian yang kini
dipandangangnya melebihi malaikat.
Sementara itu, Kok See-piau yang menyaksikan kejadian itu
diam-diam berpekik sayang sedangkan Cho Thian hau segera
bereru sambil tertawa terbahak-bahak,
“!Haaah….haaah……haaahh….bocah dari keluarga Hoa, Goan
cing, untung saja lohu tak jadi kehilangan dua orang lawan
tangguh seperti kalian!”
Bwe Su-yok sendiripun diam-diam mengucurkan peluh
dingin karena kaget, diam-diam ia merasa gusar sekali,
pikirnya, “Aku hanya menitahkan kepada mereka untuk
menembaki ke empat perahu yang berada di kiri kanannya,
siapa yang begitu bernyali berani melanggar perintahku?”
Bibirnya baru saja bergetar hendak menegar, tiba-tiba satu
ingatan lain melintas pula dalam benaknya, “Melepaskan
tembakan meriam dari atas perahu bukan sesuatu yang
gampang, dan lagi perahunya juga turut bergerak kian kemari,
tak bisa disangkal kalau suatu kesalahan mungkin bisa terjadi,
lebih baik aku tak usah berkaok-kaok, kalau sampai semua
orang tahu akan hal ini, urusan malah bertambah runyam!”
Berpikir demikian dia lantas menahan diri untuk tidak
berteriak lagi.
Dalam waktu singkat, selisih jarak perahu-perahu ke dua
belah pihak telah terpisah sejauh lima enam li, dalam keadaan
begini peluru peluru meriam tak bisa menjangkau.
Dalam pada itu perahu yang terkena tembakan tadi
sekarang sudah tenggelam separuh, sekalipun belum
tenggelam meluruhnya namun para penumpang perahu itu

794
memandang perahu mereka melebihi nyawa sendiri, sebelum
mendapat perintah dari Beng Tiong sin untuk meniggalkan
perahu, mereka tidak berani bertindak ssembarangan, orangorang
diperahu itu kelihatan masih sibuk berusaha
menyelamakan perahunya.
Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian segera berkata,
“Beng tangkeh, turunkan perintah agar orang-orang diperahu
itu segera menyelamatkan diri!”
Agaknya Beng Tiong sin juga merasakan bshwa perahu
tersebut tak bisa diselamatkan lagi, terpaksa dia berteriak,
“Semuanya, cepat tinggalkan perahu untuk mencari selamat,
gunakan perahu-perahu penyelamat untuk berpindah perahu,
beritahu kepada Li Tiong, tak menjadi soal biar perahu mereka
untuk bergerak pelan-pelan di belakang sana.
Dari atas perahu itu kedengaran ada orang yang
mengiakan, menyusul kemudian sampan-sampan penyelamat
diturunkan ke air, para penumpang perahu pun bersama-sama
turun ke sampan kecil itu untuk menyelamatkan diri.
Baru saja mereka selesai bekerja, perahu yang terkena
tembakan itu sudah makin tenggelam, kini tinggal tiga jengkal
saja dari permukaan air.
Menanti sampai sampan kecil itu mulai mereka dayung
pergi, perahu pertang yang besar itu tiba-tiba tenggelam ke
dasar laut dengan menimbulkan gelombang yang cukup besar,
andaikata terlambat satu detik saja niscaya sampan-sampan
kecil itu berikut orangnya akan turut tenggelam kedasar laut.
Begitu tegang dan berbahayanya suasana waktu itu,
membuat para jago yang menyaksikan turut mengucurkan
peluh dingin.

795
Tiba-tiba bunyi tembakan meriam dari armada perahu
lawan mulai berdentuman lagi, percikan api dan muncratan air
tampak berhamburan jauh di muka sana, rupanya dari pihak
Kiu-im-kau dengan pihak Hong im hwe telah terlibat dalam
suatu duel meriam pula.
Sementara itu sampan-sampan penyelamat tadi secara
terpisah bergerak menuju ketiga buah perahu besar lainya,
buru-buru Beng Tiong sin memerintahkan untuk menurunkan
tangga tali agar orang-orang didalam sampan kecil itu bisa
naik keatas perahu.
Menyaksikan kejadian tersebut, semua orang hanya bisa
mengeluh, dari lima buah perahu yang berangkat, sebuah
tertembak hingga tenggelam, yang sebuah terkocar-kacir
sampai keadaannya tertinggal jauh. Beng Tiong sin yang
melihat hal ini amat gemas dan mendendam.
Hoa In-liong segera menghibur hatinya yang risau itu,
“Beng tangkeh, buat apa kau musti marah, biarpun dalam
pertarungan babak pertama pihak mereka yang menang, toh
akhirnya siapa yang bakal menang siapa yang bakal kalah
masih belum tahu, pokoknya kalau terjadi kerugian aku semua
yang mengganti”
Mendengar itu Beng Tiong sin segera tertawa terbahakbahak.
“Haaahh…….haaahh……haaahh……Hoa kongcu terlalu
pandang rendah diriku” serunya, “betu1 aku orang she Beng
bukan orang kaya, tapi kalau cuma beberapa buah perahu sih
belum ku pandang sebelah mata pun, yang menjadi persoalan
sekarang adalah rasa mangkelku yang tak tertahan rasanya”
Bong Pay segera tertawa, katanya, “Kalah menang adalah
suatu kejadian yang lumrah dalam setiap pertempuran, apa

796
lagi bukan kepandaian asli yang diadu, kenapa kau musti
risaukan ataupun murung, cuma kau memang bertindak
terlalu gegabah sedikit, coba kalau kau turuti perkataan Liong
ji, mungkin tidak begini akibatnya”
Beng Tiong sin segera menghela napas panjang.
“Aaai ….! Betul juga perkataan itu, padahal Hoa kongcu
telah memperingatkan aku, adalah aku orang she Beng sendiri
yang terlalu keras kepala sehinnga mengakibatkan terjadinya
keadaan ini, setelah Bong tayhiap menyinggungnya, aku
menjadi bertambah malu rasanya”
Hoa Ngo memandang sekejap pertempuran meriam yang
sedang berlangsung antara Kiu-im-kau dengan Hong im hwe
didepan sana, kemudian katanya dengan suara dalam,
“Tampaknya Bwe Su-yok hendak membereskan Jin Hian lebih
dahulu kemudian baru menghadapi kita, masakah kita hanya
akan berpeluk tangan menonton keramaian belaka?”
“Sekalipun kita sudah terkena tembakan dari pihak Kiu-imkau
sehinga satu perahu kita tenggelam dan sebuah perahu
rusak berat, tapi tak seorang jago pun yang menderita luka,
kekuatan kita masih belum berkurang, hanya aku pikir bila
mendekatkan perahu kita dengan mereka, hal ini kurang
menguntungkan”
“Aaahh…,omong kosong!” seru Hoa Ngo ketus.
“Kita toh tak bisa menunggu sampai pihak Kiu-im-kau
datang menyerang kita” seru Cu Thong pula.
Hoa In-liong segera tersenyum katanya, “Tentu saja, maka
dari itu kita harus mencari akal lain, menurut pendapat boan
pwe, harap cianpwe sekalian dengan menumpang sampan
secara terang-terangan menye rang musuh, sedangkan siautit

797
dengan jalan berenang akan melakukan sergapan, entah
bagaimana menurut pendapat para cianpwe sekalian?”
“Jiko, apakah kali memiliki kemampuan untuk berenang
sejauh itu?” seru Coa Wi-wi kuatir.
Hoa ln liong kembali tertawa. “Aku rasa tidak menjadi soal!”
sahutnya. Dalam perundingan itu, semua orang merasa
rencana penyergapan tersebut terhitung juga sebagai suatu
cara yang bisa dilaksanakan, maka merekapun tidak sangsi
lagi untuk segera melaksanakamya.
Dalam pada itu pertempuran diatas laut antara Kiu-im-kau
melawan Hong im hwe telah diketahui siapa pemenangnya
dalam waktu singkat.
Bunyi tembakan meriam sudah kian bertambah jarang, tapi
jilatan api yang membumbung tinggi ke angkasa terjadi di
depan sana, keenam buah perahu Hong im hwe yang terlibat
dalam pertempuran itu, ada ju ga diantaranya yang sudah
terkena tembakan yang mengakibatkan terjadinya kebakaran
hebat.
Para penumpangnya menjadi panik dan sama-sama
berebut naik ke atas sampan penyelamat untuk
menyelamatkan diri, bahkan ada pula yang saking gugupnya
sampai tercebur ke laut, tapi dalam suasana begini siapapu
tak mau tahu urusan orang Lain.
Dari pihak Kiu-im-kau sendiri ada dua buah perahu yang
terkena tembakan dan pelan-pelan tenggelam, tapi anggota
Kiu-im-kau sudah terbiasa dalam pertempuran laut, dengan
teratur dan sama sekali tidak kacau balau, mereka bersama
menyelamatkan diri ke atas perahu lainnya.

798
Hasil dari perrempuran laut antara Hong im hwe melawan
Kiu-im-kau ini adalah tiga perahu ditukar dengan dua buah,
cukup besar kerugian yang dideritanya, dibandingkan dengan
pihak pendekar, keadaan mereka jauh lebih parah, tapi Jin
Hian kuatir musuhnya mengejar lebih ke depan, dengan
kepandaian dari Cho Thian hua jelas mereka akan kalah
hebat, karenanya tanpa memperdulikan keselamatan anak
buahnya, dia berlayar terus untuk kabur ke depan.
Bwe Su-yok yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa
sinis,ternyata ia tidak melakukan pergejaran, tangan kanannya
segera diulapkan. Bunyi terompet keong, tiga pendek dua
panjang segera berkumandang di udara.
Mendengar suara terompet tersebut, keenam buah perahu
itu pelan-pelan memutar haluan dan bergerak dengan
membelah ombak, ternyata mereka membentuk formasi
setengah busur diatas permukaan laut.
Kok See-piau menjadi tertegun menyaksikan hal itu,
serunya dengan lantang.
“Bwe kaucu, mengapa tidak kita basmi dulu Jin Hian dan
rombongan kemudian baru menghadapi keluarga Hoa?”
“Orang she Jin itu tak bakal lolos dari cengkeraman kita,
harap sinkun legakan hati” jawab Bwe Su-yok hambar.
Kok See-piau adalah seorang yang teliti dan cerdik,
terkesiap hatinya sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya,
“Bwe Su-yok berani berkata demikian, itu berarti didepan sana
masih ada jebakan, siapa tahu pihak kamipun sudah termasuk
dalam perhitungan mereka, hmm! Tiap hari memburu burung
manyar, masa aku akan membiarkan burung manyar
mematuk-matukku?”

799
Tiba-tiba terdengar Go Tong cuan berbisik dengan ilmu
menyampaikan suara.
Apakah sinkun menjumpai Bwe Su-yok seperti menyimpan
suatu rencana besar?”
Kok See-piau mengangguk, sahutnya pula dengan ilmu
menyampaikan suara.
“Tampaknya pendapat kita sama, jadi Go hu kaucu juga
merasakannya? Andaikata diatas daratan Kiu-im-kau jelas
bukan tandingannya kita, tapi selama berada diatas lautan hal
ini benar-benar amat menjemukan”
Go Tang cuan melirik sekejap kearah para anggota Kiu-imkau
yang berada disekeliling tempat itu kemudian katanya,
“Begitu melihat gelagat tidak baik, kita segera turun tangan
untuk menguasahi Bwe Su-yok, dengan begitu maka kita pun
tak usah kuatir orang-orang Kiu-im-kau main gila lagi.
“Tepat sekali sahut Kok See-piau sambil mengangguk,
“cuma jangan terlalu terburu napsu, setelah kita bereskan
keluarga Hoa, entah dia bermaksud jahat atau tidak, kita tetap
turun tangan antuk membekuknya”
Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan meriam dari Kiu-imkau
kembali menggelegar diudara, pembicaraan mereka
segera terputus sampai ditengah jalan.
Ketika mereka alihkan pandangan matanya ketengah
lautan, tampaklah peluru-peluru meriam saling berledakan di
atas air, sementara ada belasan buah sampan kecil bergerak
mendekat dengan kecepatan tinggi, ternyata sampan-sampan
itu sama sekali tidak terpengaruh oleh tembakan-tembakan
meriam yang gencar itu.

800
Orang-orang Hian-beng-kau dan Kiu-im-kau menjadi amat
terperanjat, ketika mereka amati dengan lebih seksama, maka
tampaklah diatas setiap sampan tersebut masing-masing
duduk dua orang, satu orang memegang kemudi satu orang
memegang dayung, hanya sekali mendayung sampan telah
meluncur sejauh beberapa tombak, kece patannya bagaikan
sambaran anak panah.
Ternyata penumpang-penumpang sampan itu semuanya
adalah jago-jago lihay kelas satu dari dunia persilatan, bukan
saja pengalamannya sangat luas, ketajaman mata merekapun
luar biasa, mereka cukup mengetahui akan kelihayan
tembakan meriam orang-orang Kiu-im-kau, maka sepanjang
jalan mereka selalu memperhatikan arah dari moncong
meriam itu.
Kebanyakan arah sasaran dari tembakan meriam itu bisa
diduga sebe1umnya, ini disebabkan gerakan meriam itu
lamban sedang sampan- sampan tersebut bisa bergerak lebih
lincah untuk berkelit ke sana ke mari, akibatnya tembakantembakan
meriam dari Kiu-im-kau sama sekali tidak
mendatangkan hasil apa-apa.
Sungguh amat cepat gerak laju sarapan-sampan tersebut,
dalam waktu singkat, jarak mereka sudah tinggal beberapa
puluh kaki lagi.
Ketika Bwe Su-yok menyaksikan tembakan meriam sama
sekali tidak mendatangkan hasil, dia lantas berteriak dengan
kening berkerut, “Lepaskan anak panah!”
Menyusul perintah itu, hujan panah berhamburan dari
mana-mana, dengan amat dahsyatnya panah-panah tersebut
menyambar ke arah para jago yang berada diatas sampan
kecil.

801
Pada hakekatnya ilmu silat yang dimiliki para jago diatas
sampan itu luar biasa lihaynya, mereka bisa memegang
kemudi dengan kaki sementara sepasang tangannya
diayunkan kesana kemari merontokkan panah-panah yang
tertuju ke arah mereka, sedangkan pendayungnya sama sekali
tidak ambil pusing, seakan akan mereka tidak menganggap
serangan panah dari orang-orang Kiu-im-kau itu sebagai suatu
ancaman yang serius.
Cho Thian hua yang menyaksikan kejadian itu merasa
tangannya menjadi gatal, kebetulan ia menyaksikan disisinya
ada sebuah sampan, maka ia sambar sampan itu kemudian
diceburkan ke dalam laut, sementara tubuhnya sendiri
bagaikan sambaran kilat meluncur turun ke atas sampan itu,
sambil tertawa terbahak-bahak dia mengebaskan ujung
bajunya dan menggerakkan perahunya menyongsong
sampan-sampan yang ditumpangi para pendekar.
Kebetulan sampan yang sedang ia terjang adalah sampan
yang ditumpangi oleh Hoa Ngo serta Tam Si bin, sambil
tertawa tergelak Cho Thian hua melepaskan sebuah pukulan
dahsyat ke depan.
Hoa Ngo serta Tam Si bin cepat-cepat mengayunkan pula
keempat buah telapak tangan mereka dengan menggunakan
tenaga sebesar dua belas bagian.
Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Cho Thian hua telah
diketahui oleh setiap orang, Hoa Ngo cukup cerdik, dia enggan
melakukan serangan beradu kekerasan, begitu serangan telah
dilepaskan, kakinya segera menekan ke belakang sehingga
sampan tersebut secara tiba-tiba bergerak muudur ke
belakang.
Kendatipun begitu, ketika ke dua gulung tenaga pukulan itu
saling membentur satu sama lainnya, terjadilah suatu

802
benturan keras yang mengakibatkan olengnya sampan, ombak
menggulung-gulung dahsyat, sampan kecil itupun oleng ke
sebelah kiri terpukul oleh ombak, sampan segera terbalik dan
kedua orang perempuannya tercebur ke dalam air.
Goan cing taysu segera mendayung sampannya
menyongsong ke arah Cho Thian hua.
Sambil tertawa terbahak-bahak Cho Thian hua
mengebaskan ujung baju kanannya dan segera menyongsong
kedatangannya itu.
Sementara itu pihak Kiu-im-kau telah menghentikan hujan
panah mereka setelah melihat cara itu tidak mendatangkan
hasil, jago-jago dari tingkat Tiamcu dan Tongcu serentak
turun ke air bersama jago- jago dari Hian-beng-kau, kemudian
sampan mereka di gerakkan untuk menyongsong perahuperahu
para pendekar.
Ketika perahu sudah hampir dekat, para jago dari Kiu-imkau
segera terjun kedalam air, jelas mereka berniat untuk
menghancurkan sampan musuh dari bawah air.
Dalam waktu singkat, suatu pertarungan sengit telah terjadi
diatas permukaan laut, bunyi bentakan dan bentrokan senjata
berkumandang sampai ditempat kejahuan.
Goan cing taysu maupun Cho Thian hua yang sudah
bertarung belasan jurus mulai merasakan sulitnya untuk
bertarung diatas air, sebab kekuatan mereka tak bisa
digunakan sepenuhnya, tanpa disadari perahu mereka telah
bergerak maju meninggalkan rekan-rekan lainnya.
Mendadak Hua Ngo munculkan diri dari permukaan air,
kemudian bentaknya keras-keras.

803
“Setan tua she Cho!”
Telapak tangan kanannya ditabok ke depan, segulung
pancuran air menyambar kewajah Cho Thian hau.
Cepat-cepat Cho Thian hua mengayunkan tangannya untuk
menyampok semburan air itu, dengan air memancar keempat
penjuru dan membasahi seluruh pakaiannya, ini membuat naik
darah dan segera melancarkan sebuah serangan dahsyat.
Tapi dengan cepat Hoa Ngo telah menyelam kembali ke
dalam air dan lenyap tak berbekas.
Dari pihak pendekar, meskipun jumlahnya lebih sedikit,
ternyata kebanyakan adalah jago-jago kelas satu, yang pandai
pula ilmu dalam air, karena itu meski sudah bertarung sekian
lama mereka masih tetap mempertahankan posisi masingmasing.
Kiu-im-kau berusaha menenggelamkan sampan-sampan
lawan, tapi begitu merasakan sesuatu gerakan di air, para
jago segera menyerang dengan senjata rahasia, ia membuat
para jago dari Kiu-im-kau tak berani banyak berkutik.
“Selain itu para jago dari pihak golongan putih juga
mempunyai kerja sama yang cukup erat, bila sampan mereka
tengelam maka mereka lantas melompat ke atas sampan lain,
dengan begitu untuk sesaat usaha mereka tidak
mendatangkan hasil apa-apa.
Bwe Su-yok dengan biji matanya yang jeli berusaha
mencari Hoa In-liong di antara jago-jago yang sedang
bertarung, ketika ia tidak menemukan anak muda itu dan
sedang tercengang, tiba-tiba terdengar bunyi air yang
memisah kesamping, menyusul munculnya sesosok bayangan
manusia secepat kilat.

804
Ia menjadi amat terkejut, belum sampai menghindarkan
diri, tahu- tahu pergelangan tangannya sudah dicengkeram
oleh Hoa In-liong.
Padahal Kiu im su ciat berada disekeliling Bwe Su-yok, tapi
serangan dari Hoa In-liong terlalu cepat sehingga waktu
mereka berempat hendak memberi pertolongan, keadaan
sudah terlambat dan Bwe Su-yok sudah terjatuh ketangan
lawan.
Un Yong ciau berdiri paling dekat, ia lantas berpekik
nyaring seraya menerjang ke depan, ruyung lemas berserat
emas ditangannya berputar kencang bagaikan seekor naga
sakti, dengan cepatnya sebuah sergapan dilancarkan.
Dengan cepat Hoa In-liong berputar ke samping sambil
menarik tubuh Bwe Su-yok memutar setengah lingkaran, dia
biarkan ruyung lemas berserat emas itu menyambar lewat dari
sisi telinganya, kemudian tangan kanannya menyambar ke
depan mencengkeram ujung ruyung tersebut dan
membetotnya keras-keras.
Un Yong ciau amat terkejut, sekuat tenaga dia berusaha
untuk membetotnya kembali, tapi segulung tenaga bentakan
keras membuat ruyung lemas ini terlepas dari
cengkeramannya, bahkan tubuhnya ikut maju pula dengan
sempoyongan.
Tiba-tiba desingan angin tajam menyambar lewat dari
belakang, sik Ban-cian dengan ilmu penotok jalan darahnya
menyergap tiba dengan kecepatan luar biasa.
Kiong lan tertawa seram pula, dengan jurus Ngo lui liat
leng (panca geledek menyambar puncak) dia menyerang
punggung orang secepat kilat, sedangkan Tu Cu yu dengan

805
pedang nya yang menciptakan lima enam kuntum bunga
pedang langsung menyerang jalan darah penting di pinggang
dan iga Hoa In-liong.
Sudah puluhan tahun lamanya Kiu im suciat turun tangan
bersama, boleh, dibilang mereka sudah mempunyai hubungan
batin yang erat, begitu turun tangan kerja sama mereka amat
rapat dan sempurna, hampir tiada titik kelemahan yang bisa
ditemukan.
Tapi ketiga orang itupun tahu akan kelihayan Hoa In-liong,
mereka sadar serangan tersebut sulit untuk melakukannya,
tapi paling tidak mereka berusaha untuk memaksanya agar
melepaskan Bwe Su-yok dari cengkeraman lawan.
Hoa In-liong tertawa nyaring, “Sreeet!” tiba-tiba ruyungnya
berputar menggulung senjata penotok jalan darah dari Sik
Ban-cian, sementara gagang ruyungnya lepas tangan dan
ditimpuk ke arah Tu Cu yu.
Menyaksikan datangnya serangan tersebut, Sik Ban cuan
tahu kalau dia tak akan sanggup untuk menahan serangan itu,
buru-buru tubuhnya melompat lima depa kesamping untuk
menghindarkan diri.
Tu Cu yu mendengus dingin, pedangnya disambar ke atas
ruyung lemas itu, siapa tahu dari atas ruyung itu tiba-tiba
memancar ke luar segulung tenaga yang berat bagaikan bukit
karang, “Cring!” pedangnya segera patah menjadi dua bagian,
sementara ruyung le masnya itu dengan membawa desingan
angin tajam menyambar keatas tubuhnya.
Jilid 20

806
Tu Cu yu menjadi teramat kaget, serasa sukmanya
melayang meninggalkan raganya, cepat-cepat ia menjatuhkan
diri kebelakang dengan gerak jembatan besi nyaris tubuhnya
tertembus oleh sambaran ruyung tersebut.
Akibat dari kelitannya itu, ruyung lemas tadi menghajar
diatas pinggiran perahu yang mengakibatkan terjadinya suatu
retakan yang besar sekali. Sementara itu, ketiga ruyung lemah
tadi sudah diayunkan ke depan melancarkan serangan, sambil
membalikkan badannya Hoa In-liong kembali melancarkan
sebuah pukulan dahsyat.
Pukulan itu dilancarkan amat sederhana, tapi sulit buat
Khong im untuk menghindarinya, terpaksa sambil mengertak
gigi dia mengayunkan sepasang telapak tangannya berbareng.
“Blaam…..!” suatu benturan keras terjadi, hawa darah
dalam dadanya bergolak keras dan mundur empat lima
langkah dengan sempoyongan dengan kakinya melangkah
lewat papan geladak tersebut segera hancur berantakan.
Bentrokan sebanyak beberapa gebrakan ini terjadi dalam
waktu singkat, para jago Kiu-im-kau yang berada disekitar
tempat itu sudah mengetahui akan kelihayannya, tapi kaucu
mereka terjatuh ke tangan lawan, bagaimanapun juga mereka
tak bisa berpeluk tangan belaka, bentakan keras
berkumandang tiada hentinya, serentak mereka siap maju ke
depan melancarkan serangan.
Hoa In-liong segera mengerutkan dahinya rapat-rapat,
katanya, Bwe Su-yok cepat perintahkan anak buahmu untuk
berhenti menyerang…….!”
Sambil miring ke samping menghindari serangan dari Un
Yong ciau, tangan kanannya menyambar ke depan,

807
mencengkeram tengkuk seorang ang gota Kiu-im-kau dan
melemparkannya ke laut.
Bwe Su-yok tetap berdiri tegang, ia berlagak seakan-akan
tidak mendengar ucapan itu.
Hoa In-liong menjadi naik darah, cengkeraman pada
tangan kirinya segera diperhebat, seketika itu juga gadis itu
merasakan tulang pergelangan tangannya sakit seperti
tulangnya hancur, ia tak mampu berkutik lagi, tapi sambil
menggertak gigi gadis itu tetap membungkam dalam seribu
bahasa.
Tu Cu yu merampas sebilah pedang dari anak buahnya dan
maju sambil melancarkan tusukan, bentaknya, “Hoa Yang,
kalau punya kepandaian hayo lepaskan kaucu kami, kita boleh
berduel secara jantan!”
Hoa In-liong tertawa dingin, tiba-tiba ia menggeserkan
tubuh Bwe Su-yok ke hadapannya.
Tu Cu yu menjadi amat terperanjat, cepat-cepat pedangnya
dimiringkan ke samping dan menyambar lewat disisi tubuh
Bwe Su-yok, kendatipun tak sampai melukainya tak urung
peluh dingin membasahi juga sekujur badannya.
Dengan gusar Hoa In-liong berseru, “Aku tak ingin
melakukan pembunuhan yang terlalu banyak maka aku
bermaksud baik agar semua orang menghentikan
pertarungan, bila kau tidak menurunkan perintah lagi, jangan
salahkan kalau aku bertindak kejam……”
Bwe Su-yok tetap menggigit bibir membungkam dalam
seriba bahasa, Hoa In-liong dibuat apa boleh buat sehingga
terpaksa harus mengayunkan kembali telapak tangannya
untuk melawan musuh.

808
Dengan kepandaian silat yang dimiliki Hoa In-liong,
sekalipun yang dihadapi adalah anak buah Kiu-im-kau yang
diantaranya terdapat pula Kiu im su ciat, tapi setiap serangan
yang dilancarkan kalau bukan jago-jago Kiu-im-kau itu jatuh
terbanting, tentu terlempar kelaut atau tertotok jalan
darahnya, untung saja Hoa In-liong masih memandang wajah
Bwe Su-yok sehingga tak ingin melakukan pembunuhan terlalu
banyak, kalau tidak sudah pasti akan lebih banyak anggota
Kiu-im-kau yang akan menjadi korban.
Kok See-piau sekalian juga telah mengetahui akan kejadian
tersebut, kalau bisa dia ingin menyaksikan Hoa In-liong
membunuh Bwe Su-yok, dengan alasan jaraknya terlalu jauh
dan lagi sampan-sampan mereka sudah turun ke laut semua,
mereka tidak memberikan pertolongan sebaliknya hanya
menonton belaka dari kejauhan.
Dalam pada itu, para jago Kiu-im-kau yang sedang
bertarung melawan para pendekar diatas lautan telah
merasakan juga akan terjadinya suatu perubahan diatas
perahu, dengan perasaan terkejut buru-buru mereka kembali
ke perahu.
Lei Kiu-it melompat naik keatas perahu paling duluan,
tangannya segera diayunkan ke depan melancarkan sebatang
jarum To kut teng untuk menyergap punggung Hoa In-liong.
Si anak muda itu segera menggerakkan tangan nya untuk
menyambar ke belakang, setelah menangkap jarum tersebut,
dia lantas berpikir, “Sepanjang hidupnya entah berapa banyak
perbuatan keji yang telah dilakukan Lei Kiu-it? Dia termasuk
juga salah seorang pembunuh Suma siok ya, manusia macam
ini tak boleh dibiarkan hidup lebih jauh…..”

809
Hawa napsu membunuhnya segera berkobar di dalam
dada, dia membalikkan tangannya dan segera menimpuk balik
jarum To kut ciam tersebut ketubuh Lei Kiu-it.
Sudah barang tentu Lei Kiu-it tak akan termakan senjata
rahasia sendiri, dalam gugupnya ia bekelit ke samping untuk
menghindarkan diri.
Tiba-tiba Hoa In Hong membentak keras, tubuhnya
meluncur ke depan dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Terdengar Lei Kiu-it menjerit ngeri, tubuhnya terpental
keluar dari perahu dan tercebur ke laut, semenjak itu
tubuhnya tak pernah muncul kembali ke dalam keadaan hidup.
Para jago dari Kiu-im-kau semakin keder dan pecah nyali
menyaksikan kelihyaan orang itu, namun mereka tak dapat
berpeluk tangan belaka, maka secara nekad serangan demi
serangan dilancarkan secara bertubi-tubi. Mendadak Hoa Inliong
berpikir. “Bagaimanapun juga, Bwe Su-yok adalah
seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, sudah barang
tentu dia enggan memperlihatkan kelemahannya didepan anak
buah sendiri, aku tak boleh membuatnya kehilangan muka.
Pada dasarnya pemuda ini memang seorang yang romantis,
bagaimanapun kondisinya dia tak pernah lupa untuk
memikirkan sesuatu yang baik untuk sang gadisnya, maka dia
lepas tangan sambil berkata, “Suruhlah mereka menghentikan
pertarungan, mari kita bercakap-cakap dalam ruangan “
Bwe Su-yok menguruti pergelangan tangan sendiri yang
kaku, kemudian membentak nyaring, “Kalian berhenti semua!”
Sejak tadi orang orang Kiu-im-kau sudah dibuat keder oleh
kelihayan orang itu, maka begitu perintah diturunkan,
serentak mereka menghentikan serangan.

810
Kok See-piau yang menyaksikan kejadian itu segera
berpikir.
“Sudah lama aku dengar Bwe Su-yok mempunyai hubungan
yang tidak jelas dengan kokoh itu, tampaknya mereka hendak
menyingkirkan soal permusuhan untuk bersahabat…”
Hatinya sangat risau sekali, tapi ketika terbayang bahwa
sebagian besar anak buahnya pasti membangkang bila Bwe
Su-yok be nar-benar sampai berbuat demikian, hatinya rada
lega juga”.
Dengan mata yang jeli Bwe Su-yok melotot sekejap ke arah
Hoa In-liong, kemudian sambil mengulapkan tangannya dia
membalikkan badan dan masuk ke dalam ruang perahu. Hoa
In-liong kembali berpikir, “Rupanya dia maksudkan untuk
mengundang aku berbicara dalam ruang perahu…..”
Kuatir kalau rasa harga dirinya sebagai seorang ketua
tersinggung, pemuda itu merasa rada menyesal dengan apa
yang telah dilakukan barusan………
Kiu im suciat merasa tidak berlega hati, mereka siap
mengikuti dari belakang, melihat itu sambil berpaling Bwe Suyok
menegur dengan nada tak senang, “Kalian toh tak mampu
melindung diriku, tak usah ikut!”
Dengan wajah jengah kiu im suciat sama-sama
menundukkan kepalanya dan berhenti.
Setelah masuk ke ruang perahu, Hoa In-liong mencoba
untuk memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dilihatnya
lukisan orang ternama banyak menghiasi dinding, ruangan itu
bersih dengan dekorasi yang indah, sama sekali tidak berbau
orang persilatan.

811
Seorang dayang cilik menyongsong kedatangannya sambil
memberi hormat, katanya, “Ya tay, baik-baikkah kau? Kau
tahu nona kami……
“Tak usah banyak bicara!” tiba-tiba Bwe Su-yok menukas,
“keluar dari sini!”
Hoa In-liong Segera mengenali dayang cilik itu sebagai Siau
kian, menyaksikan wajahnya yang tertegun dan tidak habis
mengerti, buru-buru dia mengulapkan tangan nya tanda tak
usah banyak adat, katanya sambil tertawa, “Nona mu sedang
kurang enak badan, perasaannya juga kurang baik, keluarlah
lebih dulu”
Agaknya Siau kian juga tahu kalau gelagat tidak beres, dia
tak berani banyak bicara lagi dan segera mengundurkan diri.
Dengan wajah dingin dan kaku Bwe Su-yok duduk seorang
diri disudut ruangan, sambil tersenyum Hoa In-liong turut
ambil tempat duduk, mereka berdua sama-sama tidak
bersuara sehingga suasana dalam ruangan itu terasa murung
dan sesak.
Tak lama kemudian Siau kian muncul menghidangkan air
teh kemudian mundur kembali, melihat Bwe Su-yok belum
juga bersuara, Hoa In-liong lantas berpikir, “Keadaan tak bisa
dibiarkan begini terus, baik buruk persoalan harus dibikin jelas
lebih dulu”
Maka dia lantas berkata, “Dapatkah aku berjumpa dulu
dengan Si Leng jin dan pelayannya”
Menyaksikan betapa kuatirnya pemuda itu atas
keselamatan Si Leng jin, Bwe Su-yok merasa hatinya menjadi
kecut dan buru-buru ber paling untuk menahan melelehnya air
mata, sementara dimulut dia menjawab dengan dingin

812
“Aku toh sudah berkata sedari tadi, ia sudah mampus!”
Diam-diam Hoa In-liong merasa amat gusar, tapi setelah
berpikir sebentar katanya lagi dengan suara dalam, “Mengapa
sampai kini kau belum juga mau sadar. Mengapa kau musti
bergaul terus dengan Hian-beng-kau. Jangan kau anggap Kok
See-piau adalah seorang yang baik”
“Aku toh bukan anak berusia tiga tahun, tak usah kau
campuri urusanku!” tukas Bwe Su-yok ketus.
Hoa In Hong mengerutkan dahinya, kemudian ia berkata
lagi.
“Apakah kau masih ingin terus menerus terkecoh oleh
orang lain tak enggan mendengarkan nasehat orang?”
“Kau itu apaku. Mengapa harus menasehati diriku?”
“Ini bukan nasehat, melainkan suatu peringatan bagimu”
kata Hoa In-liong dengan wajah serius.
Tidak sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, Bwe
Su-yok telah bangkit berdiri katanya dengan dingin, “Mmm
semua pembicaraan cuma kata-kata yang tak sedap didengar,
maaf aku hendak mohon diri”
Sambil beranjak dia lantas membalikkan badan dan pergi
meninggalkan tempat itu.
Melibat kekerasan kepala orang itu, Hoa In-liong tak kuasa
menahan amarahnya, dia lantas menubruk kemuka sambil
tertawa keras.
“Nona Bwe harap berhenti”

813
Waktu itu Bwe Su-yok telah bersiap sedia, dia pun tidak
puas karena kena dibekuk dalam satu gebrakan tadi sambil
membalikkan tangannya dia melepaskan sebuah totokan
kemuka, bersamaan itu pula kakinya melangkah dengan ilmu
Loan ngo heng mi sian tun hoat.
Baru saja badannya bergerak, tiba-tiba pinggangnya terasa
kencang dan tahu-tahu ia sadar dipeluk oleh Hoa In liang.
Sebagai seorang gadis yang angkuh dan bersifat dingin,
selama hidup boleh dibilang tak pernah berbenturan badan
dengan pria lain, bahkan bicara saling berhadapanpun jarang,
bisa dibayang kan bagaimana paniknya ketika pinggangnya
dipeluk oleh Hoa In-liong, sekarang sehingga tubuhnya boleh
dibilang bersandar diatas dada pemuda itu, bau lelaki yang
aneh membuat jantungnya berdebar keras.
Tapi dengan cepat ia dapat menguasahi diri kembali, tibatiba
timbul rasa malu dan gusar yang bercampur aduk dalam
benaknya, dia segera menjerit lengking, “Lepaskan aku!” Hoa
In-liong segera lepas tangan, katanya dengan suara dalam,
“Aku bertekad akan mencampuri urusan ini!”
Sedih dan kesal bercampur aduk dalam benak Bwe Su-yok
ketika itu, mendadak satu ingatan muncul dalam benaknya,
dengan ganas dia berkata, “Aku ingin melihat dengan cara apa
kau hendak mencampuri urusanku…..!”
Sambil membalikkan jari tangannya tiba-tiba ia menotok
jalan darah Ciat ho niat sendiri.
Hoa In-liong merasa amat terperanjat, dengan cepat dia
menangkap pergelangan tangan kanan nya dan berkata
sambil menghela napas panjang, “Su-yok mengapa kau harus
menaruh salah paham terhadap maksud baikku?”

814
Sekujur badan Bwe Su-yok gemetar keras, tiba-tiba air
matanya jatuh bercucuran dengan deras, sambil menubruk ke
dalam pelukan Hoa In-liong katanya terbata-bata, “Aku benci
kepadamu………kau tak pernah menaruh perhatian
kepadaku………aku………aku…….makanya akupun tak berani
mengutarakan rahasia hatiku…”
Kesedihan yang memuncak membuat gadis itu tak kuasa
menahan diri, ia menangis tersedu-sedu.
Dengan penuh kasih sayang, Hoa In-liong membelai
rambutnya, lalu berkata dengan lembut.
“Sekalipun demikian, kau juga tak usah berbuat demikian!”
“Aku ingin membuatmu sedih dan menderita, agar
menyesal sepanjang masa”
Timbul perasaan kasihan dan sayang dalam hati Hoa Inliong
terhadap dara itu sambil menghela napas keluhnya,
“Aaai….! Kau ini si budak dungu….. ” Tiba-tiba terdengar bunyi
suara langkah manusia berkumandang datang dari ruangan pe
rahu, sambil mengerutkan dahinya Hoa In-liong segera
berpikir.
“Mungkin Un Yong ciau sekalian yang merasa tidak
tenteram datang menjenguk!”
Berpikir demikian, dia lantas membimbing bangun Bwe Suyok
sambil berbisik, “Ada orang datang!”
Buru-buru Bwe Si yok berdiri tegak dan menyeka air
matanya, tapi sebelum kering tiba-tiba seorang gadis cantik
muncul di situ, ternyata dara itu tak lain adalah Si Leng jin.

815
Hoa In-liong menjadi tertegun menyaksikan ke munculan
dara itu, serunya tanpa sadar:
“Kau tidak mengapa?”
Si Leng jin memutar biji matanya dan segera menangkap
bekas air mata yang masih membasahi pipi Bwe Su-yok,
katanya kemudian dengan wajah tercengang:
“Enci Su-yok, kau menangis?”
“Huuss, jangan sembarangan bicara!” buru-buru Bwe Suyok
menukas dengan wajah berubah menjadi merah jengah.
Si Leng jin segera berpaling kembali, omelnya, “Engkoh
Liong, aku dengar dari Siau kian katanya kalian sedang
cekcok, maka aku buru-buru kemari, mengapa kau musti
menganiaya enci Su-yok……?”
ooooooOoooooo
60
Hoa In-liong tertawa getir dan tak bisa membantah,
sementara dalam hatinya ia berpikir, “Aneh, kalau didengar
dari perkataan Leng jin ini, tampaknya ia condong kepadanya,
agaknya hubungan kedua orang ini sudah cukup akrab, heran,
apa yang telah terjadi?”
Sementara ia masih berpikir, si Leng jin telah berkata
kembali.
“Aku tahu, sudah pasti beberapa ucapan dari enci Yok telah
menggusarkan hatimu, yaa bukan?”
Setelah berhenti sajenak, sambil tertawa dia melanjutkan.

816
“Enci Yok sangat baik kepadaku, kami sudah mengikat diri
sebagai saudara angkat, soal lain tak usah dibicarakan, namun
dalam hati enci Su-yok hanya ada satu orang, cuma orang itu
tidak memahami tindak handuk serta segala perbuatannya,
sebaliknya malah justru merata tidak berkenan dengan segala
perbuatannya, engkoh Liong coba menurut pendapatmu,
manusia semacam ini menggemaskan atau tidak?”
Mendengar ucapan itu, Bwe Su-yok merasakan hati
kecilnya tersentuh, kembali ia mengucurkan air mata dengan
sedih.
“Adikku yang baik!” cepat-cepat katanya “buat apa dia
musti tahu? Siapa suruh aku mencari penyakit buat diriku
sendiri?”
Perkataan dari Si Leng jin ini sama sekali diluar dugaan Hoa
In-liong, rasa sesal segera muncul dalam hatinya, ia menatap
wajah Bwe Su-yok, bibirnya bergerak ingin mengucapkan
beberapa patah kata minta maaf, tapi dia tak tahu darimana
harus mulai dengan perka taannya itu…..
Si Leng jin ikut terbungkam, matanya berkaca-kaca
sehingga tiba- tiba suasana dalam ruangan itu menjadi
hening.
Tiba-tiba dari luar ruangan terdengar seseorang berseru
dengan suara lantang.
“Lapor kaucu, Kaucu generasi yang lalu telah membawa
orang datang kemari!”
Diam-diam Hoa In-liong merasa terkejut, segera pikirnya,
“Kalau dilihat dari sini, jelaslah sudah bahwa mundurnya KiuTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
817
im-kaucu dengan memberikan kedudukannya kepada Bwe Suyok
tidak lebih hanya suatu siasat licik.
Bwe Su-yok sendiripun kelihatan agak tertegun, menyusul
kemudian dengan suara lirih gumamnya, “Yang bakal datang
tak akan bisa lolos, buat apa musti menghindarkan diri?
Setelah mantapkan hati dia lantas berseru kepada orang di
luar.
“Aku segera akan menyambut kedatangan dia orang tua,
harap kalian semua membuat persiapan!”
Tak lama kemudian mereka bertiga sudah tiba diatas
geladak.
Tampak matahari yang merah telah tenggelam dilangit
barat, diantara awan berwarna putih tampak pancaran sinar
ke emas-emasan yang kelihatan sangat indah memancar ke
empat penjuru.
Dari sudut utara sana muncul serombongan ar mada kapal
laut, sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa armada
itu terdiri dari suatu jumlah kekuatan yang besar sekali.
Dibawah sinar matahari, terlihat jelas panji kepala setan
dari Kiu-im-kau berkibar terhembus angin sementara tiga buah
perahu dari Jin Hian sudah tak nampak bayangan lagi.
Terkesiap juga Hoa In-liong menyaksikan kesemuanya itu,
diam-diam pikirnya, “Ternyata Kiu-im-kau selalu
menyembunyikan kekuatan mereka yang sesungguhnya,
ditinjau dari situasi saat ini, mungkin saja kesemuanya ini
adalah hasil rencana dari Kiu-im-kaucu yang memang
berhasrat menjumpai para jago ditengah lautan. aai…

818
gembong-gembong iblis ini betul-betul licik dan banyak tipu
muslihatnya”
Berpikir sampai disitiu dia lantas mengamati perahu
pertama yang makin mendekat itu, tapi setelah menyaksikan
beberapa orang yang berdiri di ujung geladak itu ia menjadi
amat tercengang, teriaknya kemudian dengan lantang,
“Toako, mengapa kau juga datang?”
Terdengar Hao Si menjawab dengan suara keras, “Ayah
dan ibu sebentar juga akan menyusul ke mari dengan
membawa serta nona Jin Jite, tahukah kau akan hal ini?”
Kejut dan gembira Hoa In-liong setelah mendengar
perkataan itu, teriaknya lagi, “Kapan mereka baru sampai
disini?”
“Paling lambat juga satu hari lagi”
“Bagaimana dengan Jin Hian? Apakah sudah berhasil
dihadang?”
“Jin Hian telah bersedia untuk mengasingkan diri ditempat
terpencil dan selama hidup tidak muncul kembali dalam dunia
persilatan, maka kami biarkan mereka pergi. Diatas darat
masih terdapat banyak rekan persilatan dari pelbagai penjuru
yang menantikan kedatangan kita, soal lain nanti saja kita
bicarakan lagi, jaraknya terlalu jauh tak enak untuk bercakapcakap.
Sementara itu para jago pun ada separuh bagian sudah
naik keatas perahu besar dan bertarung disitu, tapi setelah
dilihatnya orang-orang keluarga Hoa datang bersamaan Kiuim-
kau, dengan perasaan tercengang, masing-masing pihak
segera menghentikan pertarungan dan menengok ke depan.

819
Tiba-tiba dari antara deretan orang yang berdiri diantara
Kiu-im-kaucu itu, Coa hujin, Swan Bun sian menemukan
seorang lelaki gagah berbaju perlente, tanpa terasa dia landas
berteriak keras.
“Goan hau!”
Dengan wajah berseri dan penuh pergolakan emosi, lelaki
berbaju parlente itupun berteriak, “Bun sian baik-baikkah kau?
Apakah kakek dia orang tua juga baik? Bagaimana dengan
anak-anak?”
Menyinggung soal anak, Coa Wi-wi segera mengalihkan
pandangan matanya kearah lelaki kekar itu, ia merasa ada
suatu hubungan batin yang erat muncul dalam hatinya, segera
ditariknya ujung baju ibunya sambil berbisik.
“Ibu apakah dia ayah?”
Setelah berjumpa muka dengan suaminya yang sudah
banyak tahun tak pernah bersua, Coa hujin merasakan suatu
pergolakan perasaan yang amat hebat, mendengar perkataan
itu dia lantas mengangguk.
Sementara itu seorang kakek berwajah cerah yang berdiri
disebelah kiri Kiu-im-kaucu sedang mengamati ke sana kemari
dengan pandangan tajam, kemudian dengan lantang dia
berseru, “Anak Jin, dimana kau?” Mendengar suara itu,
bagaikan baru sadar dari impian setelah tertegun sejenak Si
Leng jin berteriak kegirangan, “Ayah, anak Jin berada disini!”
Tiba-tiba terjadi kegaduhan dalam tubuh orang-orang Hianbeng-
kau.
Ketika Kok See-piau menyaksikan orang-orang Kiu-im-kau
berubah haluan, apalagi menyaksikan kemunculan Si Seng tek

820
dan melihat ketidak siapan anak buahnya, tak terlukiskan rasa
kaget yang mencekam perasaannya, tanpa banyak berbicara
lagi, tiba-tiba ia berpekik nyaring.
Mendengar tanda rahasia tersebut, orang-orang Hian-bengkau
segera bergerak menyergap orang-orang Kiu-im-kau.
Dari delapan buah tersebut, selain perahu yang ditumpangi
Bwe Su-yok, hampir sebagian besar anggotanya adalah orangorang
Hian-beng-kau, rupanya Kok See-piau memang punya
rencana sampai kesitu, dengan mengatur jago-jagonya
sedemikian rupa.
Kendatipun Kiu-im-kau sendiri juga mengadakan persiapan
mana mungkin mereka bisa melawan musuh sebayak itu,
dalam waktu singkat ada yang mati tersergap adapula yang
mencebur kelaut dengau membawa luka, separuh bagian
diantaranya tahu-tahu sudah meninggalkan perahu.
Cepat-cepat orang-orang Hian-beng-kau memutar haluan
dan ingin membalikkan perahunya untuk kabur dari situ.
Tiba-tiba Kiu-im-kaucu membentak keras, “Kok See-piau,
kau benar-benar tak tahu diri, jika tidak menghentikan
perbuatanmu itu bila kubiarkan orang Hian-beng-kau bisa lolos
seorangpun aku segera akan bunuh diri. Lautan ini amat luas,
tak mungkin kau bisa meloloskan diri”
Kok See-piau segera tertawa dingin.
“Heeeh……..heehh…..hhheeh…..bagaimanpun juga toh
sama saja, mau beradu jiwa juga boleh”
“Tidak demikian persoalannya kata Kiu-im-kaucu dengan
suara dalam, aku tak ada minat untuk membasmi kalian diatas
lautan, telah tiba diatas daratan nanti Hoa kongcu sekalian

821
yang akan membereskan persoalan ini dengan kalian sendiri,
pihak kami mengundurkan diri dari persoalan ini”
Mula-mula Kok See-piau agak tertegun kemudian baru
mengerti, dia tahu rupanya perempuan ini membiarkan pihak
pendekar bertarung dengan pihaknya lebih dulu, sebab
bagaimanapun jua bagi Kiu-im-kau hanya ada keuntungan
tanpa kerugian.
Sebaiknya bila bertarung diatas lautan, Kiu-im-kau sudah
pasti akan bekerja sama dengan pihak pendekar, sudah pasti
Hian-beng-kau akan punah sama sekali kekuatannya,
kendatipun Cho Thian hua menunjang dirinya”
Maka setelah berpikir sejenak, terpaksa ia berteriak keras.
“Semua anggota Hian-beng-kau segera menghentikan
pertempuran!”
Mendengar teriakan itu, terpaksa para jago Hian-beng-kau
menghentikan pertarungan dan membiarkan orang-orang Kiuim-
kau untuk menjalankan perahunya untuk bergabung
dengan armada lainnya.
Dengan gerakan yang cepat, perahu dari kedua belah pihak
saling mendekat, dalam waktu singkat perahu-perahu itu
sudah beradu muka, sekali pun cepat dalam waktu namun
lama dalam penantian bagi mereka yang berharap bisa cepat
bertemu dengan rekan-rekan dekatnya.
Tiba-tiba terdangar Kok See-piau mengejek sambil tertawa
dingin, “Kiu-im-kaucu, kalian terhitung juga suatu
perkumpulan besar, tapi kenyataannya membatalkau
persekutuan ditengah jalan, bila kabar ini sampai tersiar dalam
dunia persilatan, apakah kalian tidak malu ditertawakan
orang?”

822
Kiu-im-kaucu mendengus dingin.
“Hmm! Kau berniat busuk dengan mengutus Huan Tong
untuk mencari info dipihak kami, kau anggap kami tidak tahu?
Oleh karena dihari-hari biasa dia cukup tunduk dan patuh
padaku maka aku melepaskannya untuk pergi. Tang Kwik-siu
berniat busuk menyergap partai-partai besar akhirnya toh
mereka juga kalah total. Sesungguhnya dihari ini aku telah
menyusun suatu rencana bagus untuk membasmi semua
pendekar dari golongan putih termasuk pula dirimu, tak nyana
kalau Hoa tayhiap suami istri lebih lihay, sebelum rencanaku
dilaksanakan dengan sepatah kata mereka, aku bisa
ditaklukan, maka rencana itu kubatalkan. Nah, sekarang
rasanya kita juga tak usah banyak bicara, dalam hati kita
semua tentu lebih mengerti daripada orang lain mengapa aku
musti takut ditertawakan orang?”
Jawaban itu sama sekali diluar dugaan semua orang, tapi
semakin jelas menunjuk kan betapa tangguhnya kekuatan
yang dimiliki tiga kekuatan besar dunia dan bagaimana
cerdasnya otak-otak para pemimpinnya, andaikata sampai
terjadi bentrokan kekerasan, sudah pasti darah akan
berceceran dan mayat akan menggunung, kepandaian orangorang
keluarga Hoa untuk menduga sebelum terjadinya
bencana juga mengagumkan, ini membuat mereka yang diamdiam
mengomel atas ketidak hadiran Hoa Thian-hong merasa
malu sendiri.
Tiba-tiba Hui Tong melompat ke laut untuk melarikan diri,
Un Yong cian dengan gusar membentak keras dan siap
mengejar, tapi Kiu-im-kaucu segera mengebaskan tangannya
sambilberkata: Un huhoat, tak usah di kejar, ada orang lain
yang akan membereskan dirinya.

823
Dengan wajah hijau membesi Kok See-piau segera berseru,
“Bagus, bagus, pun sinkun tidak percaya kalau kau bakal
berakhir dengan baik, kita tunggu saja perkembangan
selanjutnya!”
Sementara pembicaraan sedang berlangsung, perahu dari
kedua belah pihak telah saling melintas, Goan cing taysu,
keluarga Coa, Si Leng jin, Bwe Su-yok dan Hoa In-liong
sekalian segera berlompatan keatas perahunya Kiu-im-kaucu,
sedangkan pengemudi perahu tersebut tanpa dipesan lagi
segera memutar kemudi dan berlayar balik kearah samudra.
Pertama-tama Coa Goan hau menjumpai dahulu diri Goan cing
taysu.
Dengan suara lembut Goan cing taysu segera berkata, “Tak
usah banyak adat, jumpailah anak Sian!”
Coa hujin segera menitahkan putra putrinya untuk maju
menjumpai ayahnya, setelah memberi hormat, Coa Cong gi
menyingkir ke samping sedang Coa Wi-wi menubruk
kepelukan ayahnya.
Menyaksikan putra putrinya sudah dewasa, Coa Goan hau
merasakan hatinya bergetar keras, sambil memeluk sang putri
dan memandang istrinya, ia cuma bisa menggetarkan bibirnya
tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Agaknya suami istri berdua mempunyai beribu-ribu kata
yang menyumbat didalam dada, tapi tak sepotong katapun
bisa diucapkan, setelah termenung agak lama, Coa Goan hau
baru berbisik dengan lirih.
“Bun sian, selama ini banyak tahun kau tentu amat
menderita bukan?”

824
Bersamaan waktunya, Si Leng jin juga berpelukan dengan
ayahnya, sambil mengusap rambut putrinya dengan perasaan
menyesal, Si Seng tek berkata, “Jin ji, aku sudah membuatmu
menderita, aku merasa bersalah kepadamu”
Sedangkan Bwe Su-yok berlutut didepan Kiu-im-kaucu
sambil me ngangsurkan tongkat kepala setannya kepada
gurunya, dengan sedih ia berkata, “Yok ji tak becus, tak
pandai bekerja, harap im su menarik kembali tongkat
kekuasaan ini dan menjatuhkan hukuman kepada Ku”
Kiu-im-kaucu agak tertegun, kemudian sambil tertawa
katanya, “Yok ji, semua perbuatan mu telah kuketahui,
perbuatanmu selama ini bagus sekali, aku justru merasa
gembira karena menemukan orang yang tepat, dengan
demikian akupun bisa mengundurkan diri dengan hati yang
lega”
Tapi dengan tekad yang sudah bulat, Bwe Su-yok kembali
memohon, “Suhu, Yok ji tak sanggup memikul beban yang
sangat berat ini”
Kiu-im-kaucu segera mengerutkan dahinya sambi1
termenung sejenak, tiba-tiba dia meengganguk dan menerima
kembali tongkat berkepala setan itu, katanya dengan lembut,
“Rahasia hatimu bukamnya tidak kupahami, tapi kedudukan
seorang kaucu adalah berat dan agung, tidak mudah diganti
semaunya sendiri, aku lihat lebih baik kau menerimanya dan
melaksanakannya lebih lanjut, begini saja, untuk sementara
waktu aku akan melaksanakannya untukmu, sedang kau boleh
menggunakan kesempatan ini melatih diri, menanti
perasaanmu menjadi tenang kembali, kedudukan kaucu ini
baru kau tempati lebih jauh, bagaimana menurut
pandanganmu Yok?”

825
Bwe Su-yok tahu bahwa permintaannya tak mungkin bisa
dikabulkan, sikap gurunya sekarangpun sudah terhitung cukup
baik, ia tahu bila mendesak kelewat batas bisa jadi kehidupan
selanjutnya akan susah dipertahankan, maka dengan wajah
sedih dia memberi hormat dan kemudian bangkit berdiri serta
berdiri dibelakang Kiu-im-kaucu.
Dua bersaudara Hoa pun berdiri menonton dari samping
sambil tertawa setelah berbicara sebentar.
Pertemuan antara keluarga Coa dan keluarga Si ini jauh
sebelumnya telah berada dalam dugaan Hoa In-liong.
Ketika Hoa In-liong berhasil menyelamat kan Coa Goan hau
dan Si seng tek tempo hari, dia menghantar mereka langsung
ke keluarga Hoa.
Sesungguhnya ilmu silat Si seng tek telah punah karena
pengaruh obat pembuyar tenaga, tapi dibawah perawatan dari
Chin si hujin, kekuatannya telah dapat didapatkan kembali,
sewaktu kedua orang itu tahu kalau Hoa In-liong hendak
menghadapi Tang Kwik-siu, maka mereka segera menyusul
tiba.
Dari sekian banyak orang, hanya Bwe Su-yok seorang yang
merasa sedih bercampur murung, ia tak tahu bagaimana
perasaannya waktu itu.
Sedangkan para jago dari Kiu-im-kau juga rata-rata
tertegun oleh kenyataan didepan mata.
Angin malam yang kencang membawa perahu mereka
bergerak lebih cepat kedaratan, menggunakan kesempatan
sewaktu air sedang pasang mereka segera berlabuh dalam
sebuah teluk.

826
Diatas darat tampak rombongan manusia yang sangat
banyak berkumpul disekitar sana, ketika para jago turun dari
perahu, de ngan cepat mereka lantas menggabungkan diri.
Begitu naik ke daratan, Kok See-piau cepat-cepat
memutuskan untuk angkat kaki dari situ, dia berniat
menghimpun dulu kekua tannya kemudian baru membalas
dendam sakit hati ini dikemudian hari.
Siapa tahu teluk tersebut merupakan suatu kantor cabang
rahasia dari Kiu-im-kau, tiga penjuru berupa gunung dengan
satu arah menghadap ke lautan, situasi medannya amat
strategis dengan tiap mulut jalan dijaga oleh sejumlah
anggota Kiu-im-kau.
Dalam pada itu, para jago Kiu-im-kau yang baru naik
kedaratpun dengan cepat menutup semua jalan pergi mereka,
dengan demikian sekeliling tempat itu sudah terkepung rapatrapat.
Kok See-piau yang menyaksikan kejadian itu dengan cepat
memahami siasat busuk dari Kiu-im-kaucu, rupanya andaikata
pihak pendekar tidak membasmi mereka maka Kiu-im-kaucu
pun tak akan melepaskan pihaknya keluar dari situ dengan
selamat, karena itu diundangnya kekuatan para pendekar
untuk berkumpul disitu dan bersama-sama membasmi Hianbeng-
kau.
Tak terlukiskan rasa bencinya didalam hati, saking
gemasnya sepasang gigi sampai bergemerutukan keras,
sambil tertawa dingin teriaknya keras-keras.
“Kiu-im-kaucu, bagus sekali siasatmu ini, rupanya kembali
ingin menjadi nelayan yang mujur?”

827
Kiu-im-kaucu segera tertawa terbahak-bahak, “Haaahh
…haaahh…….haaahh……. kau ini manusia seperti apa?
Terserah apa yang hendak kaukatakan, pokoknya yang ada,
kehadiran Hian-beng-kau didunia ini tak lebih cuma
meninggalkan bibit bencana bagi umat persilatan”
Biau-nia Sam-sian paling mendendam terhadap pihak Hianbeng-
kau, terutama setelah nyaris mampus ditangan Cho
Thian hua.
Mendengar perkataan itu dengan cepat Lan hoa siancu
berseru, “Betul, demi dunia persilatan kita tak boleh
melepaskan orang orang Hian-beng-kau!”
“Liong ji!” seru Siau yau sian Cu Thong pula dengan dingin
” bila Kok See-piau sampai lolos aku akan minta
pertanggungan jawabmu!”
Si jago tua ini rupanya paling benci terhadap Kok See-piau.
Setelah menyaksikan keadaan yang dihadapinya itu,
tahulah Kok See-piau bahwa mustahil baginya untuk
meloloskan diri, dia menjadi sekad dan segera mengambil
keputusan untuk melakukan perlawanan dengan punggung
menghadap keair.
Tiba-tiba Go Tang cuan berbisik kepada Kok See-piau
dengan ilmu menyampaikan suara, “Sinkun, pihak Kiu-im-kau
bertahan diluar, bila kita harus bertarung melawan pihak
golongan putih, mustahil buat kita lolos, sebaliknya jika Kiuim-
kau juga kita paksa untuk terjun dalam suatu pertarungan
massal maka dalam kekalutan besar kemungkinan kita bisa
lolos dari sini”
Dengan cepat Kok See-piau memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, ternyata apa yang diucapkan memang

828
benar, harapannya untuk hidup segera muncul, tak tahan lagi
dia tertawa terbahak-bahak.
“Haaaaahh…..haaahhh…. hhaaahh…. Go Hu kaucu, pun
sinkun akan menggantungkan padamu!”
“Tidak berani, asal hamba pasti akan ku usahakan sedapat
mungkin…..” Kecerdasan otak kedua orang itu sangat luar
biasa, dalam keadaan terdesak pun mereka masih sanggup
untuk melihat keadaan sambil menyusun rencana..
Tiba-tiba Go Tang cuan maju ke depan dengan langkah
lebar kemuka Kiu-im-kaucu, katanya dengan dingin:
“Kiu-im-kau menghianati persekutuan, perbuatan kalian
sungguh memalukan, aku Hu kaucu dari Hian-beng-kau ingin
minta keadilan darimu!”
Kiu-im-kaucu tertawa hambar. “Jika kau ingin cepat
mampus, aku pasti akan memenuhi keinginanmu itu….”
Dia lantas mengulapkan tangannya memberi tanda, Sin
Seng sam cepat melompat ke depan sambil berkata dengan
dingin.
“Pun tongcu siap melayani dirimu!”
Go Tang cuan memang bermaksud kesitu, sambil
mendengus dingin dia lantas maju sambil melancarkan sebuah
pukulan dahsyat ke lambung lawan.
Ketika dilihatnya serangan dari Sin Seng sam tersebut
sederhana tiada sesuatu yang aneh, dia lantas bergerak maju
ke depan sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat, timbul
pandangan rendahnya atas kemampuan lawan.

829
Sambil tertawa seram, katanya, “Namanya saja seorang hu
kaucu dari Hian-beng-kau……”
Belum habis dia berkata, desingan angin tajam telah
menyambar lewat, tahu-tahu cakar musuh telah tiba diatas
dadanya, Sin Seng sam amat terkejut, peluh dingin
membasahi tubuhnya, untung saja ilmu langkah loan ngo
heng mi sian tun huat yang dimilikinya amat sempurna, dalam
keadaan kritis dia berhasil menghindari ancaman tersebut.
Terdengar Go Tang cuan tertawa nyaring, mendadak dari
antara jurus- jurus serangan-nya muncul serangkaian ilmu
pukulan yang aneh sekali.
Sin Seng sam tak sempat untuk menghindarinya, dengan
memaksakan diri ia lantas menyambut kelima buah serangan
lawan dengan keras lawan keras, akibatnya dia merasakan
darah panas didalam dadanya bergolak keras, nyaris dia jatah
terhuyung.
Sementara itu Go Tang cuan menggunakan kesempatan
tersebut menerjang maju ke muka sambil melepaskan sebuah
pukulan dahsyat ke dada lawan.
Pukalan yang dilepaskan ini sama sekali diluar kebiasaan,
sulit buat Sin Seng sam untuk meloloskan diri, terpaksa dia
harus miringkan badan sambil menjejakkan kakinya keras
keras.
“Kraaak…….” pukulan dari Go Tang cuan itu bersarang
telak diatas bahu Sin Sang sam yang membuat tulang
bahunya hancur berantakan, tubuhnya segera terlempar
sejauh dua kaki lebih.
Khong Im sangat terperanjat dan buru-baru menyambut
tubuhnya, ketika diperiksa tampak paras maka Sin Seng sam

830
pucat pias seperti mayat, ia sudah berada dalam keadaan
tidak sadarkan diri.
Jelek-jelek begitu Sin Seng sam adalah Coanto tongcu dari
perkumpulan Kiu-im-kau, kekalahan yang dideritanya dalam
waktu singkat ini meski disebabkan oleh keteledorannya,
namun semua orang lantas tahu kalau Go Tang cuan sebagai
seorang Hu kaucu pasti memiliki ilmu silat yang luar biasa
sekali.
Bukti yang tampak sekarang betul-betul diluar dugaan
siapapun, saking marahnya Kiu-im-kaucu sampai tertawa
dingin tiada hentinya, Kiu im suciat segera terjun kearena
pertarungan sedangkan dari pihak Hian-beng-kau segera
bermunculan pula Bu Beng san, Phoa Siu, Pi Cok liang dan
lain-lainnya, suatu pertarungan masal agaknya segera akan
berkobar.
Go Tang cuan yang menyaksikan siasatnya sudah hampir
berhasil segera ter tawa terbahak-bahak, tapi pada saat itulah
ia menyaksikan seorang tokoh setengah umur yang cantik
dengan tangan kirinya mencengkeram seorang nona yang
berwajah kuyu dan kurus melintas masuk kedalam arena,
begitu tahu kalau mereka adalah istrinya Thia Siok-bi dan
putrinya Go Hong giok, gelak tertawanya seketika berhenti.
Terdengar Thia Siok-bi berkata dengan nyaring, “Tang
cuan, mengapa kau tidak segera ikut kita mengasingkan diri?
Apalagi yang hendak kau nantikan?”
Go Tang cuan tertegun, sementara wajahnya masih
berubah-ubah, terdengar Go Hong giok berpekik sedih:
“Ayah!”

831
Begitu mendengar teriakan putrinya, Go Tang cuan
merasakan darah panas didalam dadanya bergolak keras,
cepat-cepat dia menjura kepada Kok See-piau sambil berkata,
“Bukan aku Go Tang cuan melarikan diri disaat bahaya, aku
harap kau sudi memaklumi keadaanku!”
Kok See-piau segera mengulapkan tangannya sumbil
menukas, “Sebelum semuanya ini terjadi, kita sudah ada
perjanjian lebih dulu, setiap saat kau boleh pergi, tak usah
banyak bicara lagi!”
“Terima kasih atas kebaikan sinkun!” Go Tang cuan segera
menjura, kemudian setelah memberi hormat keempat penjuru
dia membalikkan badan siap pergi.
Tiba-tiba terdengar Bu beng san berseru dengan penuh
kegusaran, “Penghianat yang tidak setia kawan, serahkan
selembar nyawamu!”
Sepasang telapak tangannya segera diputar lalu segelung
tenaga serangan yang maha dahsyat dengan cepat
menggulung ke muka, Go Tang cuan mendengus tertahan,
tubuhnya terpental sejauh beberapa kaki oleh sapuan tenaga
serangan itu, lalu sambil muntah darah ia mundur beberapa
langkah dengan sempoyongan, sebelum berhasil berdiri tegak.
Thian Siok-bi, ibu dan anak menjerit kaget, sementara Bu
Beng san yang berhasil melukai musuhnya secara gampang
juga tertegun tapi dengan cepat ia menggerakan badannya
menyusul ke depan sambil bersiap-siap melepaskan serangan
lagi.
Tampak Go Tang cuan membesut noda darah dari ujung
bibirnya, kemudian seraya berpaling tegurnya keren.

832
“Saudara Bu jangan keterlaluan! Sebelum masuk menjadi
anggata, aku orang She Go telah mengikat janji lebih dulu
dengan sinkun, bahwasanya setiap saat aku bisa peroleh
kebebasanku, serangan yang kau hadiahkan kepadaku tadi
sebagai petunjuk bahwa aku merasa menyesal sekali”
“Kentut busuk!” seru Bu Beng san sambil menyeringai
seram, “enak betul jalan pemikiranmu itu”
Telapak tangannya segera diayunkan lagi ke depan dan
sebuah serangan maut sekali lagi dilepaskan. Dalam keadaan
terluka parah, Go Tang cuan tak berani menerima ancaman itu
dengan keras lawan keras, dengan cepat ia menggeserkan
kaki sambil memutar badan, ia bersiap siap-siap untuk
menghindarkan diri dari ancaman itu.
Mendadak terdengar Bu Beng san menjerit kaget, tangan
kirinya segera nemegangi pergelangan tangan kanannya
sambil melayang mundur dua kaki kebelakang, kemudian
sambil menggigit bibir menahan diri serunya, “Anjing cilik”.
Hebat betul kepandaianmu untuk main sergap”
Berhasil melukai pergelangan tangan Bu Beng san, Hoa Inliong
hampir tidak ambil perduli atas omelan musuhnya,
kepada Go Tang cuan dia menjura lalu serunya, “Kami
mempunyai cara penyembuhan yang sangat jitu untuk
mengobati luka dalam yang diderita Hong giok, silahkan
pindah kemari”
Hoa Si juga turut maju sambil menjura sambungnya.
“Boanpwe dengan segala tulus hati mengundang saudara
bertiga untuk menginap selama beberapa hari dalam
perkampungan Liok sat san ceng kami….”

833
Sejak melangkah ke tengah arena tadi, Go Hong giok selalu
menga-lihkan sorot mata nya mengawasi wajah Hoa In-liong
yang tampan itu, seolah-olah sesudah itu dia tak akan
berjumpa lagi untuk selamanya.
Mendengar tawaran tersebut, tiba-tiba ia menyela, “Luka
yang kuderita tidak parah, ayah, mari kita pergi dan sini”
Ucapan itu tegas dan serius, seolah-olah gadis itu sudah
mengambil keputusan yang bulat.
Tapi, ambisi Go Tang cuan waktu itu sudah punah, apa
yang dipikirkan olehnya sekarang adalah masalah yang
menyangkut ke sehatan Go Hong giok, sudah barang tentu dia
enggan untuk menuruti perkataan putrinya itu.
Setelah termenung beberapa saat, ujarnya kepada Go Hong
giok dengan suara lembut. “Giok ji, ayah ingin memohon
sesuatu ke padamu, bersediakah kau untuk
mengabulkannya?”
“Oh ayah!” sahut Go Hong giok dengan sedih, “kau
membuat putrimu tak berani mengangkat kepala, apapun
permintaan ayah, putrimu pasti akan menurutinya”
Go Tang cuan segera menghela napas panjang sambil
berpaling, katanya kemudian, Istri dan anakku pasti akan
mengganggu beberapa hari didalam perkampungan kalian,
sekarang lohu masih ada sedikit urusan, biarlah aku lakukan
hal ini lain waktu saji”
Setelah memberi hormat dan menengok sekejap kearah
istri dan anaknya, ia membalikkan badan dan berlalu dari situ.
“Ayah!” Go Hong giok segera menjerit keras.

834
Titik air mata juga berlinang membasahi wajah Thia Siokbi,
katanya kemudian.
“Giok ji ayahmu merasa amat menyesal sekali kepadamu,
untuk menebus dosanya ia pasti berangkat ke bukit Tiang pek
san untuk mencarikan jinsom bagimu, padahal pekerjaan ini
bukan suatu pekerjaan yang gampang, mungkin belasan
tahun kemudian usaha ini baru berhasil, mungkin juga lebih
lama, tapi kau tak usah menghalangi niatnya itu, kalau tidak,
sekalipun dia tetap tinggal tersama kita, hatinya akan
menderita sepanjang masa, demi kau terpaksa akupun
bersedia untuk tunduk dan memohon bantuan orang”
Go Hong giok merasa amat terharu sekali, sebenarnya ia
memang tidak menaruh perasaan apa-apa terhadap ayahnya,
tapi ketika dilihatnya ayahnya bersedia mendaki bukit yang
tinggi, menahan siksaan hawa dingin, ancaman binatang buas
dan berusaha untuk mencari obat baginya, ia merasa, rasa
haru yang muncul dalam hatinya sungguh tak terlukiskan
dengan kata-kata.
Dengan suara lembut, Hoa In-liong segera berkata”
“Hong giok, tak usah bersedih hati lagi, kini empok telah
bertobat kembali dari jalan sesat semestinya kalau kejadian ini
perlu dirayakan, betul kepergiannya kali ini hanya sementara,
tapi hal mana bisa meringgankan siksaan dan penderitaan
dalam hatinya, kalau tidak membiarkan dia pergi menuruti
suara hatinya, mungkin sampai mati pun dia tak akan mati
dengan mata meram”
Dengan terjadinya peristiwa ini, Kok See-piau betul-betul
merasa gusar sekali, tapi Go Tang cuan memang berilmu
tinggi, lagipula mereka mempunyai perjanjian lebih dulu, bila
sampai disinggung maka hal mana justru akan mengurangi
martabat serta kekuatan sendiri

835
Maka dari itu, untuk sesaat dia menjadi apa boleh buat,
terpaksa semua kemarahannya dilampiaskan ke tubuh Hoa Inliong,
tiba-tiba bentaknya dengan geram, “Orang she Hoa, kau
tak usah berlagak sok?”
Hoa In-liong tertawa dingin, tiba-tiba ia menjura kepada Si
Seng tek.
Si Seng tek manggut-manggut lalu keluar dari rombongan,
serunya dengan suara lantang.
“Kok See-piau, bila kau belum juga mau memadamkan
pikiran sesatmu, aku orang she Si yang akan menjadi
penyerang pertama”
Kok See-piau melirik sekejap kearahnya, lalu tertawa
dingin, “Kau sendiri masih belum cukup cekatan, mana bisa
dibandingkan denganku? Sekarang, apakah kau hendak
mengandalkan keluarga Hoa sebagai tulang punggungmu
untuk datang menuntut balas?” Si Seng tek tertawa hambar.
“Sekalipun aku katakan belum tentu kau percaya,
sesungguhnya aku orang she Si ingin berterima kasih
kepadamu karena tidak sampai tertimpa musibah ini, sampai
akhirnya aku orang she Si sebelum sampai keblingar oleh
hasutanmu”
Kok See-piau tidak menjawab, dia cuma tertawa dingin
tiada hentinya.
Dengan suara hambar, Si Seng tek berkata lagi.
“Kalau toh kau belum mau juga menyesal, aku orang she Si
juga tak akan banyak berbicara lagi”

836
Dia memandang sekejap keseluruh arena kemudian
serunya dengan suara lantang, “Didalam perkumpulan Hianbeng-
kau pasti masih terdapat saudara-saudara dari aku
orang she Si dimasa lampau, bila kalian masih menginggat
dengan hubungan persaudaraan kita dimasa lalu, silahkan
datang kemari untuk mengadakan pembicaraan”
Semantara itu Hoa In-liong sedang berbisik sesuatu kepada
Hoa Si, mendengar itu Hoa Si manggut-manggut, mendadak
serunya dengan suara lantang, Dengarkanlah sahabat-sahabat
dari Hian-beng-kau, situasi yang kalian hadapi sekarang
rasanya tak perlu ku terangkan lagi, aku rasa kalian tentu juga
cukup memahami bukan? Go hu kaucu saja sudah pergi, aku
rasa kalian semua tentu mempunyai juga anak istri bahkan
orang tua, apalah artinya untuk berjuang demi yang sesat?
Kami tidak bermaksud melakukan pembatalan, kami bersedia
untuk mengikat tali persahabatan dengan kalian, siapa saja
yang ingin bersahabat dengan kami, akan kami sambut
dengan senang hati, sedang mereka yang ingin pergi juga tak
akan kami halangi, aku hanya berharap setelah kejadian ini,
janganlah kalian membantu kaum laknat lagi untuk berbuat
kejahatan, hal mana sudah terlebih dari cukup bagiku”
Seusai berkata, kembali dia menjura ke empat penjuru.
Begitu Si Seng tek menampilkan diri, anak buahnya dulu
yang kini bergabung dengan Hian-beng-kau sudah berniat
untuk lari keluar, tapi berhubung peraturan dalam Hian-bengkau
sangat ketat, salah langkah bisa jadi akan berakibat
kematian, maka sekalipun paras muka mereka telah berubah,
tak seorangpun berani bersuara.
Dengan kepergian Go Tang cuan serta ucapan Hoa Si yang
tepat pada waktunya, dengan cepat menggerakkan hati
banyak orang, pikiran mereke mulai goyah, semangat
bertempurpun sudah lenyap tak berbekas.

837
Menyaksikan pikiran anak buahnya sudah mulai goyah, Kok
See-piau segara berpikir, “Asal ada seorang saja yang berani
memimpin, niscaya akan terjadi berubahan besar,
perkumpulan kami pun akan musnah tak berbekas, aku harus
menggunakan tangan keji untuk menguasahi mereka, asal
pertarungan kembali berkobar, maka orangpun takkan
berhianat lagi”
Ia berusaha keras untuk memutar otak dan menemukan
cara yang terbaik untuk mengatasi kejadian ini, sementara
hatinya masih gelisah, tiba-tiba dari sisi kiri bukit itu
berkumandang suara panggilan yaag merdu tapi nyaring,
“Suhu!”
Mendengar panggilan itu, semua jago segera berpaling.
Waktu itu kentongan ketiga sudah lewat, rembulan masih
berada diatas awang-awang, dan menerangi jagad.
Dalam keadaan demikian, para jago dapat melihat jelas
seorang nona berbaju putih dengan membawa belasan orang
lelaki berbaju merah sedang menembusi penghadangan dari
Butim tojin suheng te beserta orang-orang Kiu-im-kau untuk
menyerbu kebawah bukit.
Begitu mengetahui kalau orang itu adalah Kok Gi pek, Hoa
In-liong segera mengerutkan dahinya seraya berpikir.
“Aaai…….! Mau apa dia datang kemari?”
Kejut dan gusar menyelimuti pula perasaan Kok See-piau,
dia segera membentak keras.
“Gi pek, kenapa kau tidak menuruti perkataanku? Apakah
kau mengharapkan partai kita kehilangan ahli waris?”

838
Sambil memutar pedang mestikanya, dengan gagah Kok Gi
pek menjawab lantang.
“Selama para suheng masih hidup, partai Kiuci tak akan
kehilangan ahli waris, tecu bersedia untuk hidup dan mati
bersama suhu”
Mendengar perkataan itu, diam-diam para jago merasa
kagum sekali atas kesetiaan dan kebaktiannya kepada guru
dan perguruan, sayang gadis secantik ini harus tersesat pada
golongan yang salah.
Sebelah kiri jalan tembus marupakan jurang yang dalam,
sebelah kanan merupakan suatu jeram, jalan setapak yang
menghubungkan tempat itu hanya seluas beberapa depa saja,
keadaannya berbahaya sekali.
Beberapa kali terjangan Kok Gi pek selalu kena dihadang
oleh para jago yang bertahan disana, kegagalan yang
berulang membuat gadis itu gelisah bercampur marah, “Sreet!
Sreeet! Sreet!” secara beruntun ia lancarkan tiga buah
serangan berantai yang ganas dan lihay.
Seorang anggota Kiu-im-kau tertusuk pedang nya, sambil
menjerit kesakitan tubuhnya segera terlempar masuk kedalam
jurang yang tak terkirakan dalamnya itu, sudah tentu
selembar jiwanya tak bisa tertolong lagi.
Mendadak terdengar Bu tim tootiang berseru dengan suara
dalam, “Nona Kok, pinto berbuat demikian demi kebaikanmu,
hari ini suhumu pasti mampus, sedang usiamu masih begitu
muda, apalah gunanya harus turut mati bersamanya?.
cepatlah pergi meninggalkan tempat ini!”

839
Kok Gi pek hanya menggigit bibir tidak menjawab, dengan
jurus Tong liong kiu ci (naga sakti berliuk sembilan kali)
pedangnya menciptakan sembilan titik cahaya putih yang
segera menyelimuti seluruh angkasa.
Seorang tojin yang sedang menggurungnya tidak berniat
untuk mencelakainya, siapa tahu gadis itu begitu lihay, karena
kurang begitu berhati-hati, bahunya segera tersambar hingga
berdarah.
Bu tim tojin menjadi amat gusar setelah menyaksikan
kejadian itu, dengan suara menggelegar bentaknya, “Kalau
toh kau begitu tak tahu diri, jangan salahkan kalau pinto tak
akan sungkan-sungkan.
Permainan pedangnya semakin diperketat dengan
menyerang semakin gencar lagi.
Kok Gi pek memutar pedangnya berahan terus dengan
gigih, sementara kakinya bergeser mundur terus berulang kali.
Tiba-tiba terdengar Hoa In-liong menjerit kaget, “Hati-hati
dengan kakimu!”
Bong pay dan pek Soh gi bersamaan waktunya berteriak
pula keras-keras, “Tootiang, ampuni selembar jiwanya”
Mendengar seruan-seruan itu, Bu tim tojin segera
mengendorkan serangannya.
Tapi sayang sudah terlambat selangkah, mendadak kaki
Kok Gi pek tergelincir, tidak sempat menjerit lagi tubuhnya
terperosok masuk ke dalam jurang yang tiada terkira
dalamnya itu.

840
Paras muka Hoa In-liong segera berubah hebat, Bong pay
suami istri menjadi sedih, sementara para jago lihay menjerit
kaget.
Kok See-piau sendiri juga tertegun untuk beberapa saat
lamanya, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan
memperdengarkan suara gelak tertawanya yang
menyeramkan, suara gelak tertawanya itu keras, penuh
kesedihan dan luapan perasaan dendam.
Dalam pada itu, Bu tim tootiang sendiri juga lagi
memandang jurang yang sangat dalam itu dengan termangumangu,
wajahnya kelihatan menyesal sekali, maka ketika
didengarnya Kok See-piau terrawa seram, tiba-tiba ia
membalikkan badannya sambil berseru dengan gemas, Kok
See-piau, kau telah kehilangan murid mu yang setia, kenapa
makin kelihatan gembira?”
Seperti sebutir peluru, tiba-tiba dia meluncur turun dari
atas bukit tersebut.
“Haaahhh…aaahhh…haaahahh…. kenapa lohu tak boleh
merasa bangga? Kenapa lohu tak boleh marasa gembira?”
sahut Kok See-piau sambil tertawa seram terus menerus.
Para pendekar kaum lurus, para jago Kiu-im-kau maupun
Hian-beng-kau sendiri sama-sama tertegun setelah
mendengar jawaban tersebut bahkan Bu tim tojin sendiripun
seketika terbungkam dengan wajah tertegun, ia menjumpai
keadaan Kok See-piau seperti orang yang tidak waras……, Hoa
In-liong yang cerdas segera merasakan sesuatu yang tak
beres, pikirnya, “Aduh celaka, jangan-jangan begitu….
Menggigil keras sekujur badannya, dengan lantang dia lantas
berseru, “Kok See-piau, apa yang kau gembirakan?” Kok Seepiau
berhenti tertawa, dengan suara menyeramkan katanya:

841
“Sekalipun tidak kau tanyakan, lohu juga akan
menggutarakannya heeehh…….heeehh………heeehhh,
akhirnya aku orang she Kok menyaksikan juga manusia
munafik yang berlagak sok mulia sok bijaksana menerima
ganjarannya”
Dia adalah seorang gembong iblis yang berotak cerdas,
ketika berbicara sampai disitu satu ingatan tiba-tiba melintas
dalam benaknya, sambil tertawa dingin katanya kemudian.
“Orang she Hoa, ketika masih berada dibukit Ci san, kau
pernah mendengar penuturan dari Jin Hian yang menceritakan
kesengsaraannya, padahal apa yang dialaminya itu masih
belum seberapa, apakah kau ingin mengetahui juga
penderitaan yang kualami selama ini?”
Hoa In lioog tertegun, tapi ia segera tahu bahwa ucapan
tersebut tentu ada sebabnya maka sambil menahan rasa sedih
dan gusar katanya.
“Kalau toh kau mempunyai kegembiraan untuk berceritera,
aku orang she Hoa akan mendengarkannya”
Sekali lagi Kok See-piau mendengarkan suara tertawa
rendahnya yang mengerikan, kemudian berkata, “Berbicara
yang sesungguhnya, hal ini tak bisa dikatakan sebagai kisah
penderitaan lohu, tapi lebih tepat kalau dikatakan sebagai
kisah bagaimana caranya lohu melanjutkan hidup selama ini”
Kiu-im-kaucu segera tertawa terbahak-bahak, serunya,
“Aku rasa kehidupanmu tentu sengsara sekali. Tapi urusan ini
tiada sangkut pautnya dengan kami, Kiu-im-kau merasa ogah
untuk mendengarkan cerita usangmu itu”
Kok See-piau tidak ambil perduli perkataan itu, katanya
kembali dengan lantang, “Orang she Hoa, tentunya kau tak

842
tahu bagaimana perasaanmu itu, demi melatih ilmu yang
sakti, lohu harus mengarang tubuh ku diatas api yang panas,
kedinginan ditengah salju yang tebal, harus menahan
penderitaan berat yang tak akan bisa ditahan oleh orang lain,
beberapa kali kegagalan yang ku alami hampir saja
membuatku untuk bunuh diri, tahukah kau, kekuatan apa
yang selama ini menunjangku sehingga dapat tahan sampai
sekarang?”
Ia berhenti sejenak, dengan sepasang mata yang merah
membara, terusnya lebih jauh, Itulah dendam kesumat, hanya
dendam kesumat yang bisa membuat lohu memiliki kekuatan
baru untuk melanjutkan hidup, bukankah kesengsaraan yang
kualami selama ini adalah pemberian dari manusia munafik
yang berlagak sok baik hati dan bijaksana? Lohu bertekad tak
akan melepaskan kalian dengan begitu saja, kalau hanya
tersiksa melulu, hal mana masih terlalu keenakan bagi kalian,
aku akan membuat kalian melakukan perbuatan yang
melanggar hati naluri manusia, aku hendak menjerumuskan
anak cucunya ke dalam neraka sehingga sepanjang masa
menderita dan tersiksa…..”
Tiba-tiba segulung awan hitam menutupi cahaya rembulan,
membuat suasana di sana menjadi gelap gulita, hawa napsu
membunuh yang mengerikan serasa menyelimuti seluruh
permukaan bumi.
Ketika semua orang mendengar suara ucapannya yang
begitu keji dan menyeramkan itu, tanpa terasa bulu kuduknya
pada bangun berdiri, dengan luapan perasaan dendam yang
sedemikian dahsyatnya itu, sudah pasti dia mempunyai
rencana yang busuk pula, malah ada yang secara lamat-lamat
sudah merasakan apa yang telah terjadi meski selalu berharap
agar kejadian itu bukan suatu kenyataan.

843
Hoa In-liong sendiripun merasakan jantungnya berdebar
keras, diam-diam pikirnya.
“Sungguh tak kusangka dia mengandung perasaan dendam
yang begitu dalam terhadap kami, tak heran kalau rasa
bencinya terhadap keluarga Hoa sudah merasuk sampai ke
tulang sungsum.
Mendadak terdengar Cho Thian hua menimbrung.
“Sute, buat apa kau musti bersedih hati karena persoalan
ini? Ih heng bersedia untuk membantumu membalas dendam”
“Lohu bersumpah sampai mati akan membantu sinkun
untuk membalas dendam, sambung Leng lam it khi.
“Terima kasih banyak atas maksud baik kalian” Kok Seepiau
segera menjura dengan wajah serius.
Tiba-tiba dengan sorot mata tajam dia menyapu sekejap
para jagonya yang bergabung dalam Hiang beng kau,
kemudian serunya dengan suara lantang.
Semua anggota yang termasuk anak buah Saudara Si,
silahkan balik keasalnya, seandainya saudara Si akan turun
tangan untuk memusuhi kami, pun-sinkun juga tak akan
menyalahkan, sedang sisanya bila ada yang ingin pergi
meninggalkan tempat ini, silahkan pergi, pun-sinkun berjanji
tak akan melacaki jejaknya, sedangkan pun-sinkun akan tetap
tinggal disini untuk berduel dengan musuh sampai titik darah
penghabisan”
Begitu ucapan tersebut diucapkan, baik jago dari golongan
pendekar maupun jago dari Kiu-im-kau dan Hian-beng-kau
menjadi tertegun, kejadian benar-benar diluar dugaan
mereka.

844
000000000
61
Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya,
Thian ki thamcu dari perkumpulan Hian-beng-kau, Beng Wi
cian tiba-tiba menjura kepada Kok See-piau sambil berkata,
“Perintah dari sinkun, Beng Wi cian tak berani membangkang,
kalau toh tidak setia kepada majikan lama, lebih susah setia
kepada majikan baru, Wi cian sekalian segera akan
mengundurkan diri dari sini, soal memusuhi tak mungkin akan
kami lakukan”
Kok See-piau tertawa hambar. “Kalau memang demikian
adanya, bila kita bersua kembali dikemudian hari kita masih
tetap bersahabat”
Beng Wi cian segera memberi hormat dan berlalu dari
sana.
Para jago bekas anak buah Si Seng tek pun berbondongbondong
memberi hormat kepada Kok See-piau dan
meninggalkan barisan.
Dalam waktu singkat seratus orang lebih anggota Hianbeng-
kau telah meninggalkan barisannya dan bersama-sama
berdiri didepan Si Seng pek sambil memberi hormat,
“Menjumpai majikan lama!”
“Si Seng tek mengulapkan tangannya seraya berkata.
Rupanya kalian semua masih belum melupakan diriku,
bagus, mundur dulu kesamping dan siap menunggu perintah
selanjutnya untuk bertempur!”

845
Beng Wi cian segera menunjukkan sikap keberatan, agak
termenung sebentar dia, kemu dian sambil memberi hormat
katanya.
“Cukong boleh menitahkan kami sekalian untuk terjun
kelautan api atau naik bukit golok, sampai matipun hamba
sekalian tak akan membangkang, tapi kami benar-benar tidak
merasa leluasa untuk menghadapi Hian-beng-kau”
Mendengar perkataan itu, Si Seng tek menjadi naik pitam,
sambil menarik muka ia siap membentak.
Tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Hoa Inliong
telah berkata lebih duluan.
“Sudah sepantasnya demikian, Beng lo enghiong sekalian
harap menonton di samping saja”
Beng Wi cian segera menjura kepada Hoa In-liong, katanya
dengan penuh rasa berterima kasih, “Terima kasih Hoa kongcu
atas kebaikan mu”
Sambil membawa orang-orangnya, mereka lantas
mengundurkan diri ke samping.
Si Seng tek mengerutkan dahinya rapat-rapat, tapi
berhubung Hoa In-liong adalah tuan penolongnya, dan lagi
diapun tahu akan hubungan pemuda ini dengan putrinya,
diapun tidak mengucapkan apa-apa.
Kepada Coa Goan hau katanya kemudian, sambil tertawa
getir, “Siaute tak becus memimpin anak buah, harap Coa heng
jangan mentertawakan” Coa Goan hau segera tersenyum.
“Aaah, mana, mana, entah dimanakah letak tujuan Kok
See-piau dengan tindakan itu, penampilan rasa setia kawan

846
yang diperlihatkan anak buah Ji heng benar-benar
mengagumkan…..”
Sesungguhnya kedua orang ini masih terhitung famili,
setelah bertemu muka dan mengetahui kalau derajat mereka
seimbang, pembicaraan yang kemudian berlangsungpun
mempererat hubungan mereka menjadi lebih akrab lagi.
Terdengar Kok See-piau berseru kembali “Masih adakah
yang hendak pergi dari sini?”
Pi Cok liong sambil menghantamkan toya bajanya ke tanah,
segera berteriak pula dengan lantang, “Hayo, mereka yang
takut mampus cepat enyah dari barisan!”
Termakan oleh ucapan Kok See-piau tersebut, semangat
para anggota Hian-beng-kau segera berkobar kembali, seru
mereka hampir bersama.
Kami semua bersedia untuk mati dan hidup bersama
Sinkun!”
Sesungguhnya perasaan hati para jago Hian-beng-kau
sudah goyah dan setiap saat kemungkinan sekuli mereka akan
memberontak, tapi dengan sikap dari Kok See-piau itu bukan
saja bekas anak buah Si Seng tek yang meninggalkan barisan
menunjukkan keengganannya untuk memusuhi
mereka,bahkan jaga-jago perkumpulannya yang mulai goyah
pikirannya pun menjadi bersemangat kembali, mau tak mau
para jago merasa kagum juga oleh kecerdasan otaknya.
Dengan kening berkerut Hoa In-liong lantas berseru, “Kok
See-piau, kau masih ada urusan lain?”
Kok See-piau tertawa dingin dengan seramnya.

847
Jilid 21
“Heeehhh…. heeehhh…… heeehhh….. kalau toh kau begitu
terburu napsu, baiklah, sekarang juga akan pun sinkun
katakan.”
Sesudah berhenti sejenak, dengan sepatah demi sepatah
katanya lagi dengan suara menyeramkan, “Terus terang
kuberi tahu kepada kalian, sesungguhnya Kok Gi pek itu bukan
lain adalah putrinya Bong pay serta Pek Soh gi!”
Begitu mendengar ucapan tersebut, Pek Soh gi menjerit
sedih dan jatuh tak sadarkan diri, buru-buru Bong Pay
memeluk tubuh istri nya, lalu dengan wajah sedih serunya
kepada Kok See-piau penuh kebencian, “Kok See-piau, kalau
kau ingin membalas dendam, cari saja kami suami istri
berdua, apa dosanya seorang gadis lemah?” Kok See-piau
menyeringai seram.
“Heehhh……heeeheeh…. heeehhhh…….lohu toh sayang dan
mencintainya, orang yang telah mencelakainya justru adalah
orangmu sendiri”
Bu tim lojin segera menghela napas panjang, katanya:
“Bong tayhiap, dosa pinto benar-benar tak terampuni!”
Tiba-tiba Ci wi siancu menukas dengan suara dingin, “Kalau
sudah tahu dosanya tak terampuni lebih baik cepat-cepatlah
bereskan nyawamu sendiri, hmmm! Sengaja berbicara begitu
padahal tujuannya hanya minta pengampunan”
sejak bertemu dengan Kok Gi pek dikota Si ciu tempo hari,
sampai sekarang Biau-nia Sam-sian masih belum tahu kalau

848
dia adalah muridnya Kok See-piau, terhadap gadis itu boleh
dibilang mereka amat menyukai dan menyayanginya.
Sekalipun hal ini mereka ketahui kemudian namun rasa
sayangnya terhadap gadis itu bukan berkurang apalagi setelah
mengetahui kalau gadis itu memang putrinya Bong pay suami
istri, mereka makin getun lagi.
Sebagai manusia-manusia yang berasal dari suku Biau, cara
kerja mereka hanya memandang pada soal baik dan buruk,
ketika dilihatnya Kok Gi pek mati ditangan Bu tim tootiang,
maka rasa benci mereka terhadap tosu itu pun boleh dibilang
merasuk sampai ke tulang sungsum.
Pada dasarnya Bu tim tootiang memang merasa sedih
bercampur menyesal atas terjadinya peristiwa itu, mendengar
perkataan tersebut dia lantas tertawa pedih, katanya, Baik,
baik!”
Mendadak ia membalikkan telapak tangan-nya dan
ditabokkan keatas ubun-ubun sendiri.
Hoa In-liong yang berada disitu tentu saja tidak
membiarkan ia menghabisi nyawa sendiri, dengan cepat ia
menyelinap ke sisi Bu tim tojin dan menangkap sikutnya,
dengan suara dalam dia berseru, “Persoalan ini tak bisa
menyalahkan tootiang, kalau ingin mencari biang keladinya
maka kita harus mencari Kok See-piau”
Sebenarnya diantara para jago ada yang telah menduga
bahwa antara Kok Gi pek dengan Bong Pay suami istri ada
hubungannya, tapi ketika mendengar kalau Koi Gi pek
mempunyai orang tua lain, lagipula banyak kejadian aneh
yang mungkin bisa terjadi didunia ini, lambat laun rasa curiga
tersebut makin menipis.

849
Siapa tahu memang demikianlah kenyataannya, hal ini
benar-benar mencengangkan semua orang.
Bagaimanapun juga Kok Gi pek adalah murid Kok See-piau,
walaupun para jago mencurigai kebenaran dari pengakuannya
itu, namun tiada bukti nyata yang bisa menerangkan semua
hal tersebut, baik Kok See-piau akan menang atau kalah yang
pasti kematian gadis itu tidak akann mempengaruhi dirinya.
Atas kelicikan dan kekejian Kok See-piau ini, hampir boleh
dibilang semua orang merasa marah dan kaget, Pek Soh gi
telah pingsan sedari tadi, sedangkan Bong Pay saking
gusarnya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Tam Si bin dan Yu Tiong in sudah tak sanggup menahan
sabar lagi, ia segera maju menerjang ke arah Kok See-piau, Ui
Sia leng dan Tang Bong liang segera maju menghalanginya,
pertarungan sengit segera berkobar dalam dua arena.
Hoa In-liong sendiripun merasa gusar sekali, baru saja dia
akan menegur Kok See-piau………..
Mendadak terdengar seorang gadis berseru dengan suara
dingin bagaikan salju, Kok See-piau, dosamu sudah
bertumpuk-tumpuk, sekalipun mampus juga belum dapat
menebus semua kekejianmu itu, sekarang aku Suma Jin akan
menuntut balas kepadamu”
Ditengah seruan tersebut, seorang gadis berpakaian
berkabung menerjang ke arah Kok See-piau sambil memutar
senjata pedangnya.
Diantara kelebatan tubuhnya itu, beberapa titik cahaya
perak meluncur ke depan dan menyebar keempat penjuru.

850
Dalam keadaan demikian Hoa In-liong enggan untuk
menghalanginya, dengan kening berkerut pikirnya, Bukankah
toako bilang ia datang bersama ayah dan ibu? Sekarang
kenapa ia datang lebih duluan?”
Terdengar Seng Sin sam meraung kesakitan, sebatang
pisau perak tahu-tahu sudah menancap diatas dadanya yang
mengakibatkan kematian bagi gembong iblis itu.
Ketika bertarung melawan Go Tang cuan tadi, ia sudah
menderita luka dalam yang cukup parah apalagi serangan
senjata rahasia yang dilancarkan Suma Jin dilakukan dari jarak
sedemikian dekatnya, sekalipun ia berniat untuk berkelit juga
tak mampu lagi.
Beng Wi cian yang mendengar akan kehadiran, putri Suma
Tiang cing sudah merasa menyesal sedari permulaan, baru
saja ia sangsi, sebatang senjata rahasia telah menghajar dada
kanannya.
Tapi ia sama sekali tak bersuara sambil menggertak gigi
dicabutnya senjata rahasia tersebut yang telah dibubuhi obat,
hanya Huan Tam seorang yang berhasil menghindarkan diri
tanpa luka.
Kok See-piau juga menggerakkan tangannya, senjata
rahasia yang mengancam tubuhnya itu seketika lenyap tak
berbekas lalu tegurnya sambil terawa dingin.
“Kau adalah putrinya Suma liang cing?”
“Benar!” jawab Suma Jin dengan gusar, “orang she Kok,
serahkan jiwa anjing mu!”
Dengan jurus Thian ho seng san(bintang buyar disungai
langit), pedangnya diputar sedemikian rupa menciptakan

851
berjuta-juta titik ca haya pedang yang menyilaukan mata, lalu
sebuah tusukan dilepaskan ke dada musuh dengan kecepatan
luar biasa.
Kok See-piau berdiri tak berkutik, menanti serangan hampir
mengenai tubuhnya dia baru menarik dadanya ke belakang
sambi1 bergeser tiga depa begitu lolos dari ancaman lawan,
kontan saja ia tertawa terbahak-bahak.
“Haaahhh….haahhh….haaahh…. budak cilik, dengan
mengandal-kan kepandaian secetek itu juga berani mencari
gara-gara, apakah kau tidak takut mampus?”
Walaupun diluar dia berkata dengan enteng padahal karena
terlalu pandang rendah kemampuan yang dimiliki Suma Jin,
hampir saja tubuhnya termakan oleh tusukan tersebut.
Diam-diam ia merasa terperanjat, akan tetapi rasa
kagetnya itu tak sampai diperlihatkan diatas wajahnya.
Suma Jin sendiri meski terperanjat, dia tahu kalau ilmu
pedang keluarga Hoa tiada tandingannya dikolong langit,
sayang kesempurnaannya belum cukup hingga belum sanggup
untuk mengapa-apakan diri Kok See-piau.
Tapi bila teringat akan dendam berdarah atas kematian
orang tuanya, apa lagi bila teringat bahwa Kok See-piau
adalah otaknya, sambil menggigit bibir mendadak ia mengejar
kemuka sambil melepaskan serangan dengan serangan yang
dahsyat.
Kok See-piau tertawa dingin baru saja dia akan turun
tangan keji, mendadak dilihatnya Hoa In-liong yang berada
beberapa kaki dari arena sedang mengawasi jalannya
pertarungan dengan sorot mata tajam.

852
Sebagaimana diketahui, semenjak pertarungan dalam bukit
Ci san, kawanan iblis dari golongan sesat hampir boleh
dibilang pada menaruh rasa jeri terhadap kelihayan Hoa Inliong,
yang paling ditakuti Kok See-piau selama ini juga dia
seorang, maka begitu melihat keadaan tersebut dia lantas
berubah pikiran.
“Meski ilmu silat yang dimiliki Goan cing amat lihay, suheng
masih mampu untuk mengatasinya” demikian dia berpikir
kemudian, “tapi bocah keparat ini….”
Sebagai seorang manusia yang berotak licik dan banyak
akalnya, dengan cepat dia berubah pikiran, serunya kemudian
dengan lantang, “Huan Tong, kau sambut budak ini!”
Mendengar perkataan itu, Huan Toag segera maju ke
depan, sepasang telapak tangannya diayunkan bersama untuk
menyambut datangnya serangan dari Suma Jin itu dengan
keras lawan keras.
“Hmm, membunuh dirimu lebih dulu juga sama saja” pikir
Suma Jin didalam hati.
Dengan kening berkerut dia lantas memperketat serangan
pedangnya, dengan meninggalkan Kok See-piau, dia
bertarung sengit me lawan Huan Thong.
Hoa In-liong tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki gadis itu
masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian
yang dimiliki Kok See-piau, maka melihat gadis itu telah
bertarung dulu melawan Huan Thong, dia lantas beranggapan
bahwa ada baiknya kalau gadis tersebut menuntut balas lebih
dahulu terhadap orang ini.
Dalam keadaan dan situasi seperti ini, jelas tak mungkin
buat Kok See-piau untuk melarikan diri, maka ia tidak

853
menggubris ketua dari perkumpulan Hian-beng-kau itu lagi,
seluruh perhatiannya ditujukan ke arah pertarungan sambil
bersiap siaga menghadapi keadaan yang tidak diinginkan.
Dalam pada itu, Kok See-piau juga telah mendapat akal
bagus, dia segera memutar biji matanya, kemudian ejeknya
kepada Kiu-im-kaucu, “Huuuh…! Sekarang kau baru tahu,
ternyata orang orang Kiu-im-kau adalah manusia yang
gampang dibunuh orang tanpa berani membalas….tak becus”
Ketika sergapan dari Suma Jin berhasil menewaskan Sin
Seng sam tadi, sesungguhnya Kiu-im-kaucu sudah merasa
amat gusar, tapi ia jeri akan kehebatan orang-orang keluarga
Hoa, maka sedapat mungkin ia berusaha untuk menahan diri.
Berbeda setelah disinggung oleh Kok See-piau sekarang,
berada dihadapan para jago dari seluruh kolong langit, sudah
barang tentu ia tak bisa berdiam diri belaka, setelah agak
merenggut sebentar, bentaknya kemudian, “Suma Jin, ibumu
dulu masih terhitung Yu ling tiamcu perkumpulan kami, berani
benar kau bertingkah dihadapanku? Hmm, katakan sendiri
sekarang, kau hendak mengakui salah atau tidak?”
Waktu itu Suma Jin yang sedang bertarung sudah berhasil
menduduki posisi diatas angin dengan ketus segera sahutnya,
“Tidak!”
Diam-diam Hoa In-liong tahu bahwa urusan bakal runyam,
tapi Suma Jin sedang menuntut balas atas dendam sakit
hatinya, padahal Kiu-im-kaucu juga terlibat dalam peristiwa
ini, bagaimanapun juga ia tak bisa menyalahkan gadis
tersebut.
Sesungguhnya perkataan dari Kiu-im-kaucu juga hampir
boleh dibilang telah memberi peluang bagi gadis itu untuk
mundur secara hormat, asal Suma Jin mau mengaku salah,

854
maka secara begitu saja dia akan sudahi masalah tersebut,
Siapa tahu Suma Jin sama sekali enggan mengaku salah, hal
mana membuat Kiu-im-kaucu segera tertawa seram saking
gusarnya.
“Bedak ingusan” teriaknya, “akan kulihat siapa yang kau
andalkan sehingga berani begitu takabur dihadapanku”
Tiba-tiba Jin Yeng ciu menimbrung.
“Budak itu sangat tak tahu sopan santun, hamba mohon
perintah untuk turun tangan memberi pelajaran kepadanya”
Dengan terjadinya peristiwa ini, suasana kembali
mengalami pergolakan besar, padahal Kiu-im-kaucu sendiri
juga tahu kalau Kok See-piau sengaja hendak mengadu
domba, diapun tahu juga akan kelihaiyan keluarga Hoa, akan
tetapi bila urusan dibiarkan begitu saja, bisa jadi nama
baikknya akan ternoda didepan orang banyak.
Untunglah disaat yang kritis itulah tiba-tiba Hoa In-liong
maju ke depan dan memberi hormat kepada Kiu-im-kaucu
sambil berkata.
“Harap kaucu jangan gusar, biasanya orang yang sedang
marah akan salah berbicara, harap kaucu suka
memakluminya”
Tiba-tiba Suma Jin berterik keras, “Kau tak usah
mencampuri urusanku”
Tapi pada saat yang bersamaan, Hoa In lioag berseru pula
dengan suara lantang.
“Bagaimana seandainya keluarga Hoa yang minta maaf?”

855
Tenaga dalam yang dimiliki pemuda ini jauh lebih
sempurna bila dibandingkan dengan Suma Jin, dengan cepat
seruan dari gadis itu tertindih sama sekali.
Walaupun Suma Jin merasa tidak rela, tapi diapun tak bisa
berbuat kelewatan, maka dia pun memperketat permainan
pedangnya serta melampiaskan seluruh hawa amarahnya ke
tubuh Huan Thong.
Menghadapi serangan yang datangnya bertubi-tubi, Huan
Thong segera terjebak dalam keadaan yang berbahaya sekali.
Tampak Kiu-im-kaucu termenung sebentar, kemudian
manggut-menggut, “Baiklah, aku juga kasihan kepadanya
karena kehilangan orang tuanya, tak akan kutarik panjang
persoalan ini”
“Kebesaran jiwa kaucu sungguh membuat aku merasa
amat berterima kasih sekali” seru Hoa In 1iong kemudian
sambil menjura.
Padahal semua orang juga tahu, berhubung pihak Kiu-imkau
merasa ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong dan Hoa
In-liong terlampau 1ihay dan jelas bukan tandingan, maka
sengaja mereka menghindari yang berat dengan memilih yang
enteng dengan tidak mempersoalkan kematian dari Le Kiu-it
serta Seng Sin sam.
Padahal ucapan Suma Jin tadi terlampau kaku dan tak enak
didengar, bila diungkap secara terus terang, bisa jadi pihak
Kiu-im-kau akan kehilangan muka.
Kok See-piau tertawa dingin, rupanya dia sudah bersiapsiap
untuk mengorek keterangan itu.

856
Mendadak Hoa In-liong berpaling ke arahnya, lalu berseru
dengan suara dalam.
“Kok See-piau, kau cerdik dan berotak tajam, jarang ada
manusia semacam dirimu, aku orang she Hoa merasa kagum
sekali, bagai mana kalau kumohon beberapa petunjukan?”
Mendengar perkataan itu, Kok See-piau menjadi terkesiap,
dia tahu kalau dirinya bukan tandingan, suruh anak buahnya
juga belum tentu ada yang berani, sementara dia masih
kelabakan setengah mati, Cho Thian hua segera tertawa,
sambil berjalan menghampiri Hoa In-liong, katanya, “Bocah
muda dari keluarga Hoa, Goan cing bilang kau mampu
menghadapi lohu, sekarang lohu ingin menjajal, apakah si
hwesio cilik itu cuma mengibul atau tidak?”
“Aku orang she Hoa tak akan membuat kau menjadi
kecewa” kata Hoa In-liong hambar.
Dalam waktu singkat, suasana dalam arena berubah
menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, setiap
orang menahan napas sambil memperhatiKan orang itu. Tam
Si bin berempat yang sedang bertarung pun untuk sementara
waktu menghentikan pertarungannya, semua orang tahu
pertempuran yang bakal berlangsung pastilah me rupakan
suatu pertarungan yang mengerikan. Hanya Suma Jin dan
Huan Tong saja yang masih bertarung sengit tanpa ada
pertanda kedua belah pihak akan mengakhiri pertempuran itu.
Sejuk pertarungan dibukit Ci san, siapa pun tahu kalau Hoa
In-liong memiliki ilmu silat yang maha sakti, cuma saja Cho
Thian hua sudah memiliki tenaga dalam sebesar seratus dua
puluh tahun hasil latihan, tentu saja kepandaian silat yang
dimiliki akan luar biasa sekali.

857
Sebelum pertempuran berkobar, siapapun tak berani
mangambil dugaan siapa yang bakal menangkan pertarungan
ini, hanya di hati kecil masing-masing orang beranggapan
bahwa Hoa In-liong bisa menangkan pertarungan ini.
Tiba-tiba terdengar suara seruan nyaring seakan-akan
berkumandang datang dari kahyangan, “Liong ji mundur, Cho
Thian hua bukankah kau selalu ingin baradu kepandaian
dengan aku orang she Hoa? Silahkan datang ke bukit ini, aku
orang she Hoa menunggu kehadiranmu ditempat ini”
Suara tersebut amat nyaring dan lantang, setiap patah
katanya serasa menggetarkan sukma, barang siapa pernah
berjumpa dengan Hoa Thian-hong, cukup mendengar dari
suaranya, mereka seakan-akan membayangkan munculnya
seorang lelaki berjubah hijau yang kekar dihadapan mereka.
Seketika itu juga sinar mata semua jago bersama sama
dialihkan keatas puncak bukit sebelah utara.
Paras muka Kok See-piau berubah hebat, para jago dari
golongan pendekar bergirang hati, jago-jago Hian-beng-kau
menjadi gaduh dan Thian heng Tokoh tampak diliputi emosi.
Setelah hening sekian lama, akhirnya Cho Thian hua
berseru dengan suara lantang, “Hoa Thian-hong, mengapa
kau sendiri tidak turun kemari?”
Terdengar dari suara Hoa Thian-hong menjawab, “Kalau
jangan bertanya dulu mengapa aku orang she Hoa tidak
turun, aku orang she Hoa ingin bertanya dulu kepadamu
apakah kau mempunyai keberanian untuk naik keatas bukit?”
Tiba-tiba Goan cing taysu berbisik kepada dua bersaudara
Hoa dengan ilmu menyampaikan suara.

858
“Mengapa ayah kalian menantangnya untuk bertarung
diatas puncak bukit dan bukannya menyelesaikan ditempat
ini?”
Dua bersaudara dari keluarga Hoa itu saling beri
pandangan sekejap kedua orang itu tampaknya sepikiran
sehati, oleh Hoa Si segera jawabnya dengan ilmu
menyampaikan suara.
“Sudah pasti ayah ingin memaksa Cho Thian hua untuk
mengasingkan diri, bila dipaksa didepan orang banyak dalam
kalahnya Cho Thian hua tentu akan merasa malu dan menjadi
gusar, bisa jadi dia akan beradu jiwa dengan ayah”
Cho Thian hua adalah seorang jagoan yang berilmu tinggi,
setelah mendengar seruan tersebut dia lantas tahu kalau
tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong sama sekali tidak
berada dibawah kepandaiannya apalagi pihak lawan berjumlah
banyak, ia merasa sulit juga untuk mengatasi keadaan, maka
tanpa terasa sinar matanya dialihkan ke wajah Kok See-piau
minta pertimbangan nya.
Sejak mengetahui akan kehadiran Hoa Thian-hong
ditempat itu, Kok See-piau sudah merasa amat terkesiap dan
takut, tapi ia berbeda dengan orang lain, sekalipun gugup
pikiran tak sampai kalut, dengan cepat dia mengambil
Keputusan didalam hatinya.
Dengan ilmu menyampaikan suara, serunya kemudian,
“Tangkap orang sebagai sandera untuk meloloskan diri dari
kepungan, selama gunung nan hijau memangnya kita takut
kehabisan kayu bakar…?”
“Agaknya aku memang harus berbuat demikian” pikir Cho
Thian hua kemudian.

859
Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa terbahak-bahak,
dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke utara, lagaknya
seperti lagi bersiap-siap untuk naik ke puncak bukit dan
melangsungkan pertempuran.
Tapi baru berjalan beberapa kaki, diincarnya Bwe Su-yok
dan Si Leng jin yang sedang berdiri tak jauh disana, kemudian
secepat sambarann kilat tubuhnya menerjang kemuka dan
mencengkeram kedua orang itu.
Dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang, sulit
bagi kedua orang gadis itu untuk meloloskan diri dari
incarannya, dalam sekejap mata Cho Thian hua telah
mencengkeram pergelangan tangan kedua orang itu.
Tiba-tiba terdengar Hoa In-liong mendengus dingin, Cho
Thian hua merasakan datangnya segulung angin pukulan yang
maha dahsyat mengancam puunggungnya.
Seandainya orang lain yang melepaskan pukulan tersebut,
sudah pasti Cho Thian hua tak akan takut untuk menerima
pukulan tersebut, tapi berbeda keadaannya bila Hoa In-liong
yang melepaskan serangan tersebut.
Dalam keadaan berbahaya dan terancam oleh serangan
tersebut, terpaksa Cho Thian hua mengurungkan niatnya
untuk menangkap orang dan buru-buru tubuhnya melejit ke
tengah udara untuk menghindarkan diri.
Dengan demikian angin pukulan yang maha dahsyat itu
segera menggulung kemuka dan tampaknya segera akan
menghajar ditubuh kedua orang gadis tersebut…..
Belum habis gelak tertawa Cho Thian hua, tahu-tahu Hoa
In-liong telah membalikkan telapak tangannya, seketika itu

860
juga hawa serangan yang maha dahsyat itu punah tak
berbekas.
Seandainya seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang
cukup sempurna, sulit baginya untuk melakukan hal itu, maka
setelah menyaksikan kelihayan si anak muda itu, kendatipun
dia adalah seorang gembong iblis yang berilmu tinggi, tak
urung dibikin terkesiap juga.
Terdengar Hoa In iiong mengejek dengan suara dingin,
“Cho Thian hua, walaupun kita saling berhadapan sebagai
musuh, sebelum kejadian saat ini, aku orang she Hoa selalu
menganggap dirimu sebagai seorang tokoh sakti yang pantas
dihormati”
Merah padam selembar wajah Cho Thian hua karena
jengah, tidak sampai ia menyelesaikan kata-katanya, dia telah
berseru lantang, “Hoa Thian-hong, tunggu saja, lohu segera
datang!” Ia segera menggerakkan badannya dan sekejap
kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan
mata.
Diantara sekian banyak jago persilatan yang hadir di arena
saat ini, kecuali Hoa In-liong dan Goan cing taysu, tak ada
orang lain yang sempat melihat jelas bagaimana caranya ia
berlalu dari situ, diam-diam semua orang merasa terkejut juga
atas kelihayan ilmu silat yang dimilikinya.
Ketika Kok See-piau menyaksikan tindakan Cho Thian hua
untuk menyergap orang itu mengalami kegagalan total bahkan
sekarang pergi sambil menanggung malu, sadarlah dia bahwa
keadaan yang membentang didepan matanya sekarang sangat
tidak menguntungkan.

861
Sambil menggigit bibir dia lantas bersiap sedia untuk
menitahkan anak buahnya agar melangsungkan pertarungan
mati-matian.
Mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara
merdu.
Kok See-piau, apakah kau masih juga tak mau sadar?”
Kok See-piau segera mendongakkan kepala nya, tapi
dengan cepat hatinya bergetar keras, termasuk juga semua
yang hadir di arena sama-sama menjerit kaget.
Entah sedari kapan, tahu-tahu ditengah arena telah muncul
tiga orang manusia. Dua orang diantaranya adalah nyonya
setengah baya yang cantik dan anggun, mereka adalah Chin si
hujin atau Chin Wan hong dan yang lain Pek si Hujin atau Pek
Kun gi yang masih digilai Kok See-piau sampai sekarang.
Gadis berbaju putih salju yang mengikuti dibelakang kedua
orang itu ternyata bukan lain adalah Kok Gi pek.
Tak terlukiskan rasa terkejut dan girang yang dialami Pek
Soh gi waktu itu, dengan langkah cepat ia memburu ke depan
dan memeluk Kok Gi pek erat-erat sambil berseru, “yu ji,
akhirnya kau kembali kepelukan ibumu!”
“Ibu….!” panggil Kok Gi pek lirih, kemudian membenamkan
diri kedalam pelukan Pek Soh gi dan menangis tersedu-sedu.
Waktu itu, kembali Kok See-piau, yang lain ayu meski dia
adalah orang yang berhati bengis, diam-diam merasa terharu
juga setelah menyaksikan adegan tersebut.
Pada saat itulah, tiba-tiba Tiang heng Tokoh meninggalkan
arena secara diam-diam.

862
“Enci Ku” Chin si hujin segera berteriak.
Mendengar teriakan itu bukan saja Tian heng Tokoh tidak
menghentikan gerakan tubuhnya malahan mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya untuk kabur lebih cepat lagi! Dalam
waktu singkat dia sudah berada ratusan kaki jauhnya dari
tempat semula.
Tiba-tiba tampak bayangan manusia berkelebat lewat,
tahu-tahu Pek si hujin telah menghadang dihadapannya.
Melihat itu, Tiang heng tokoh segera menggerakkan
senjata hud timnya siap mendesak mundur Pek si hujin dan
berusaha merebut jalan untuk kabur dari situ.
“Siapa tahu Pek si hujin sama sekali tidak menghindar
ataupun berkelit katanya dengan sedih.
“Cici, Thian heng, Hong ci dan siau moay sudah banyak
tahun memikirkan dirimu, tapi kau selalu bertega hati untuk
menghindari pertemuan dengan kami”
Dengan perakaan apa boleh buat Tiang heng Tokoh
menghentikan langkah tubuhnya sambil menarik kembali serta
hud timnya, lalu dengan hambar berkata.
“Pinto sudah melupakan kejadian dimasa lalu, harap jangan
menghalangi jalan pergiku lagi”
Sementara itu Chin si hujin juga telah memburu ke situ,
sambil menggenggam tangan Tiang heng Tokoh katanya
dengan air mata bercucuran, “Cici, Thian hong telah datang
kemari, paling tidak kau harus berjumpa dulu dengannya”
Mendengar perkataan itu, bagaikan dadanya terhantam
oleh martil berat kontan saja sekujur badan Tiang heng Tokoh

863
bergetar keras, sekuat tenaga ia berusaha untuk meronta dari
cekalan, tapi sampai mati pun Chin si hujin tak mau lepas
tangan.
Dalam keadaan begini, sikapnya secara tiba-tiba malah
menjadi tenang kembali, katanya dengan suara hambar.
“Sekalipun kau akan berbicara beribu patah kata, usahamu
itu juga akan sia-sia belaka, baiklah! Kalau tidak dicoba
mungkin kalian tidak puas, akan kutunggu berapa saat lagi
disini”
Mereka bertigapun berbalik kembali ketempat semula.
Dua bersaudara Hoa baru menghembuskan napas lega
ketika melihat hal itu, Coan Goan hau suami istri dan Si Seng
tek juga segera maju bertemu dengan Chin si hujin sekalian,
terutama Coa hujin yang rupanya sudah berniat untuk
mempererat hubungan kekeluargaan itu.
Menyusul kemudian Coa Cong gi, Coa Wi-wi dan Si Leng jin
juga maju memberi hormat.
Kepada Coa Goan hau suami istri, Pek si hujin berkata
sambil tertawa merdu, “Putra putri kalian sangat
menyenangkan sekali, tidak seperti Liong ji yang binal, bikin
hati risau saja”
Coa Goan hau tertawa terbahak bahak,
“Haaahhh……haaahhh……haaahhh….putra ku juga binal, tak
jauh bedanya dengan putra nyonya, sedang putriku lebih
condong keluar, cepat atau lambat akhirnya juga akan
diberikan orang”
“Sementara itu Chin si hujin sedang berkata kepada Si Seng
tek sambil tertawa.

864
“Putrimu begitu berbakti dan setia kawan, sudah lama Chisi
mendengar tentang hal itu, rasanya tak sia-sia jerih payah
saudara Si”
“Aaah, kesemuanya itu juga atas pemberian putra nyonya”
jawab Si Seng tek sambil mengelus jenggotnya dan tertawa.
Pek si hujin lantas melirik sekejap ke arah Bwe Su-yok,
kemudian sambil mengalihkan sorot matanya kebawah Kiu-imkaucu,
katanya seraya tertawa.
“Murid kaucu cantik dan pintar, bila tidak menyalahkan
kelancangan Pek Soh gi, dikemudian hari dia pasti akan lebih
cemerlang daripada si burung hong tua”
Mendengar perkataan itu, Kiu-im-kaucu segera tertawa
terbahak-bahak.
“Haaahh…….haaahh…..haaahh…….bisa mendapat ucapan
dari hujin tersebut, nilai Yok ji akan meningkat beratus-ratus
kali lipat”
Bwe Su-yok sendiripun buru- buru memberi hormat seraya
berkata, “Boanpwe mana berani dibandingkan dengan insu!”
Biji matanya yang jeli dengan cepat mengerling sekejap ke
arah Hoa In-liong.
Pek si hujin adalah seorang yang berpengalaman, terhadap
soal muda mudi boleh dibilang memahami sekali, sudah
barang tentu diapun dapat merasakan perasaan gadis itu.
Sesudah termenung sebentar, sinar matanya segera
diarahkan kewajah Go Hong giok.

865
Waktu itu Go Hong giok bersembunyi kebelakang tubuh
ibunya dengan perasaan rendah diri, ia merasakan takut untuk
tampilkan diri.
Thia Siok-bi yang menyaksikan keadaan putri nya diamdiam
merasa bersedih hati, tapi diapun tak tega mendesaknya
untuk maju, maka dengan wajah penuh rasa hormat diamdiam
dia perhatikan kedua orang Hoa hujin tersebut.
Tiba-tiba sepasang mata Pek si bujin yang jeli bagaikan
bintang tidur itu beralih kearahnya, kontan jantungnya
berdebar keras dan menunduk kan kepalanya rendah-rendah.
“Nona Go harap kemari….”terdengar Pek si hujin berseru
dengan suara merdu.
Go Hong giok hanya merasakan dibalik seruan dari Pek si
hujin itu seakan-akan mengandung suatu kekuatan yang tak
bisa dibantah, lagi hal itu membuatnya tanpa sadar maju
menghampiri kehadapannya.
Ketika tiba didepan pek si hujin, ia baru seakan-akan
merasa sadar dari keadaan, dengan rikuh cepat-cepat gadis
itu berusaha untuk menghindarkan diri lagi.
Tapi dengan cepat Chin si hujin menangkap pergelangan
tangannya kemudian sambil menghela napas katanya lembut.
“Semua persoalan yang menimpa dirimu sudah kami
ketahui, baik, kau masih mempunyai masa depan yang
cemerlang, perjalanan hidupmu pun masih amat panjang,
yang sudah lewat biarkan lewat, kau tak usah memikirkannya
kembali, keluarga Hoa dengan senang hati menyambut
kedatanganmu untuk tinggal dirumah kami”

866
Go Hong giok tak kuasa menahan rasa pedih dan rasa
harunya lagi, tiba-tiba ia bertekuk lutut dan memeluk kaki
Chin si hujin sambil menangis tersedu-sedu.
Thia Siok-bi yang menyaksikan kejadian itu meski agak
terhibur juga hatinya, tak urung diam-diam ia melelehkan juga
air matanya.
Pek si hujin mengerutkan dahinya rapat-rapat, dengan ilmu
menyampaikan suara bisiknya kemudian kepada Chin si hujin.
“Enci Hong, bagaimana penyelesaianya terhadap persoalan
yang menyangkut Liong ji?”
Chin si hujin tertawa, sahutnya sambil menggunakan ilmu
menyampaikan suara pula, “Anak itu kau yang melahirkan,
aku mah enggan untuk turut mencarinya”
“Aaaa……..! Aku sedang kebingungan setengah mati, bisabisanya
enci Hong mengajakku bergurau”
Chin si hujin termenung sebentar, lalu dengan wajah serius
katanya, “Thian hong sudah memberi contoh lebih dahulu
dengan beristri dua, bagaimanapun juga aku tak bisa
memaksa Liong ji untuk mengambil seorang istri saja,
disamping itu akupun tak ingin ada orang yang merasa
menyesal dan kecewa sepanjang masa, maka kalau bisa setiap
orang yang terlibat harus memperoleh bagiannya secara adil
dan merata,……………
Huuuh! Untung saja persoalan yang demikian peliknya ini
tak usah diselesaikan dengan terburu-buru, lebih baik kita
selesaikan dulu masalah yang berada didepan mata, kemudian
baru merundingkan kembali persoalan tersebut………..”

867
Pek si hujin manggut-manggut, dia lantas berpaling dan
ujarnya kepada Kok See-piau, “Kejadian manusia bagaikan
awan diangkasa, selama dua puluh tahun belakangan ini, kita
sama-sama sudah makin menanjak tua”
Semenjak perempuan itu munculkan dirinya di dalam
arena, Kok See-piau hanya membungkam diri belaka, ia
merasa bukan saja kecantikan wajah Pek si hujin pada saat ini
masih tetap seperti dulu, bahkan ia kelihatan lebih anggun
matang, berbicara yang sejujurnya, Pek Kun gi tampak jaun
lebih menarik ketimbang dulu.
Maka mendengar perkataan itu, tanpa terasa dia berseru,
Tidak, kau tampak jauh lebih cantik dan menarik daripada
dulu semasa masih muda”
Pek si hujin mengerutkan dahinya rapat-rapat, dengan
hambar dia berkata, “Perkataan yang tak berguna lebih baik
jangan disinggung-singgung lagi, ada suatu hal ingin
kutanyakan kepadamu, aku harap kau bersedia untuk
menjawab dengan sejujurnya”
62
Berhadapan dengan Pek Kun gi, sikap Kok See-piau
seakan-akan berubah menjadi lembut dan halus seperti semua
kebengisannva telah lenyap tak berbekas, katanya kemudian.
“Tanyalah,”
“Ketika putri enciku menjumpai bahaya tadi, Kami sudah
berada disekitar tempat itu, kami sengaja tidak menghalangi
dan baru menolong jiwanya setelah ia terjatuh kedalam
jurang, tujuan yang sebenarnya tak lain adalah ingin memaksa
mu untuk berbicara sejujurnya. Ternyata dugaan kami tidak
meleset, kenyataannya memang begitu. Cuma herannya,

868
ketika ayahku dan suamiku berhasil menemukan ayah ibunya
yang sekarang, bagaimanapun kami bertanya: mereka selalu
bersikeras mengatakan bahwa Kok Gi pek adalah putrinya,
malah ayahku sendiripun tidak menemukan kecurigaan apaapa
atas diri mereka yang berakibat hampir saja beliau
menjadi putus asa, yang menjadi pertanyaanku sekarang
adalah mengapa bisa sampai terjadi keadaan ini?”
Paras muka Kok See-piau berubah hebat sesudah tertawa
seram serunya, “Sungguh berotak tajam, Hoa Thian bong
akhirnya aku orang she Kok kembali harus kalah ditangan
kalian ayah dan anak berdua”
Sesudah berhenti sejenak tiba-tiba nada suaranya berubah
menjadi sangat hambar katanya.
“Kalau dibicarakan yang sebenarnya, hal itu sesungguhnya
amat sederhana, tentu saja mereka mengira Gi pek adalah
putri mereka, sebab ketika itu secara kebetulan merekapun
mempunyai seorang bayi perempuan yang berusia hampir
sebaya, malam harinya secara diam-diam aku telah menukar
bayi mereka dengan bayi ini tak heran Pek Siau-thian yang
berpengalaman sekalipun dapat memahami perasaan orang
juga tak mampu untuk membongkar teka-teki ini”
Sementara itu air mata Kok Gi pek telah jatuh bercucuran
membasahi seluruh wajahnya, untuk beberapa saat lamanya
dia tak tahu apa yang musti dilakukan,
Tiba-tiba terdengar bentakan keras menggelegar berulang
kali diikuti suatu pekikan tertahan.
Tampaklah Ciu Thian hua telah bertarung melawan Leng
lam it khi, sedang Haputule bertarung melawan Phoa Si.

869
Ditengah berkobarnya pertarungan yang amat seru itu,
tiba-tiba Huan Thong tertusuk dadanya oleh serangan pedang
lawan hingga tembus kepunggungnya, sesudah sempoyongan
beberapa waktu, tiba-tiba ia menjerit keras dan roboh
terkapar diatas genangan darah sendiri…….
Sedangkan Suma Jin dengan tangan kosong berdiri
terengah-engah disitu, Hoa In-liong berdiri dibelakangnya
sambil menempelkan telapak tangannya dipunggang gadis itu,
rupanya ia sedang menyalurkan hawa murninya untuk
membantu memulihkan kekuatan tubuhnya.
Tak lama kemudian, tenaga dalam yang dimiliki Suma Jin
telah pulih kembali seperti sedia kala, dia melirik sekejap ke
arah Hoa In-liong, kemudian tanpa berbicara lagi dia
melompat ke depan dan mencabut keluar pedangnya dari
dada mayat Hun Tong.
Setelah itu, dengan wajah sedingin es dan diliputi hawa
napsu membunuh yang menyeramkan, dia menatap wajah
Beng Wi cian tajam-tajam, tak sepatah katapun yang
diucapkan.
Rupanya Beng Wi cian juga sudah tahu kalau hal itu tak
bisa dihindari lagi, dengan langkah lebar dia maju ke depan,
setelah memberi hormat kepada Si Seng tek, katanya pelan,
“Nona suma, aku tahu bahwa dendam kesumat harus dibayar,
Beng Wi cian pasti akan memberi kesempatan kepada nona
untuk menyelesaikan tugas baktimu itu, nah, silahkan untuk
turun tangan”
Seusai berkata, sambil bergendong tangan dia lantas
mendongakkan kepalanya dan tidak berbicara lagi.
Suma Jin tertawa dingin, ejeknya.

870
“Bila kau ingin kuampuni selembar jiwa dengan bersikap
demikian, maka perhitungan mu itu keliru besar, nonamu tak
akan ambil perduli apakah kau akan memberi perlawanan atau
tidak”
“Nona Suma!” seru Beng Wi cian dengan gusar, “bila kau
ingin turun tangan, silahkan kau lakukan dengan segera,
janganlah bermaksud untuk membuat malu aku orang she
Beng, sejelek-jeleknya aku orang she Beng paling tidak aku
takkan merengek minta di ampuni darimu”
Si Seng tek yang menyaksikan kejadian itu segera
mengerutkan dahinya rapat-rapat, bibirnya bergetar seperti
hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut kemudian di
urungkan.
Hoa In-liong segera menengok kearah ibunya, tiba-tiba
Chin si hujin berkata.
“Adik keponakanku, bukannya encomu sengaja bermaksud
untuk menghalangi niatmu untuk membalas dendam, cuma
aku berharap agar kau suka berpikir tiga kali lebih dulu
sebelum melakukannya”
Paras muka Sama Jin berubah, seakan-akan dalam waktu
yarg amat singkat itu pelbagai ingatan telah berkecamuk
dalam benaknya, tiba-tiba ia mendepakkan kakinya ditanah
seraya berseru, “Aaai……! Sudahlah!”
Dia lantas membalikkan badannya dan berlalu dari situ.
Tiba-tiba Beng Wi cian berseru “Nona Suma, harap tunggu
sebentar!”
Suma Jin menghentikan langkah kakinya, kemudian tanpa
berpaling lagi, katanya dengan dingin.

871
Perkataan apa lagi yang hendak kau ucapkan?”
Beng Wi cian menjura dengan wajah serius, katanya,
“Nona, tidak membunuh juga tidak menghalangiku, hal mana
mencerminkan kau memang keturunan seorang kenamaan.
Dalam peristiwa pembunuhan terhadap Suma tayhiap, meski
lohu turut hadir namun tidak ikut turun tangan, apakah nona
mau mempercayai perkataanku?”
Suma Jin memandang sekejap ke arahnya, lalu dengan alis
mata berkenyit dia manggut-manggut.
“Aku percaya, untung saja Suma Jin tak sampai melakukan
perbuatan yang salah”
Sinar matanya segera dialihkan ke wajah Kok See-piau,
dengan sinar mata sedingin es katanya, “Kok See-piau,
sekarang tinggal kau”
Kok See-piau mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
“Haaahh…….hhaaaah……hhaaahh…….bagus, bagus sekali,
ada dendam harus dibayar dengan dendam ada darah harus
dibayar dengan darah, kita memang harus melakukan
perhitungan terakhir”
Sesudah berhenti sejenak, kepada Pek si hujin katanya,
“Walaupun kita telah saling berhadapan sebagai musuh besar,
tapi ijinkanlah aku untuk menyebutmu dengan sebutan yang
lama Hian moay (adikku), putramu benar-benar sangat lihay,
selama ia berada disini mungkin hari ini aku bakal mati, cuma
akupun bukan seorang manusia yang gampang dibereskan
dengan begitu saja, sekalipun hari ini aku harus mati, aku juga
akan perlihatkan kepadamu, meski keluarga Hoa adalah

872
enghiong, aku orang she Kok juga bukan manusia tak
berguna”
Pek si hujin menghela napas panjang, bersama Chin si
hujin dan Tiang beng Tokoh mereka mengundurkan diri ke sisi
arena.
Menanti Pek si hujin sudah mundur kesisi arena, tiba-tiba
paras muka Kok See-piau berubah menjadi amat mengerikan,
sambil menyapu sekejap sekeliling tempat itu, serunya dengan
suara keras, “Semua anggota Hian-beng-kau dengarkan baikbaik……”
Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba terdengar
seseorang berseru lantang, “Kok See-piau, benarkah kau ingin
mencari kematian dan kehancuran buat dirimu sendiri?”
Seruan itu datangnya sangat mendadak dan bernada penuh
kewibawaan, kecuali anggota keluarga Hoa, boleh dibilang
hampir semua jago lainnya merasakan hatinya bergetar keras.
Tiba-tiba dari tengah arena muncul seorang lelaki berjubah
hijau yang keren, gagah perkasa, berwibawa besar, berbaju
sederhana dan penuh keramah tamahan.
Sedari kapan ia muncul disana? Ternyata tak seorangpun
yang merasakanny, seakan-akan sedari dulu dia memang
sudah berdiri ditempat itu tanpa berkutik.
Mendengar suasana diseluruh arena berubah menjadi sunyi
senyap tak kedengaran sedikit suarapun, setiap orang berdiri
dengan wajah serius, bahkan Kiu-im-kaucu yang tak pernah
pandang sebelah mata kepada orang lain serta Kok See-piau
yang rasa bencinya sudah merasuk tulang juga dalam waktu
singkat merasakan semua kecongka-kannya punah, suatu

873
perasaan ngeri dan takut yang aneh, secara aneh menyusup
keluar dari hatinya dan menyelimuti seluruh perasaannya.
Lelaki berbaju hijau yang sederhana tapi penuh
kewibawaan ini tak lain adalah pemilik dari perkampungan
Liok soat san ceng yang tersohor diseantero jagad karena
kelihaiyan ilmu silatnya, dan merupakan tulang punggung dari
para pendekar dari golongan lurus, Thiam cu kiam (pedang
pangeran langit) Hoa Thian-hong adanya.
Suasana menjadi hening, sepi tak kedengaran sedikit
suarapun, lama sekali Hoa In-liong berdua baru maju memberi
hormat, sedang semua orang juga seperti baru mendusin dari
impiannya.
Kecuali orang-orang dari perkumpulan Hian-beng-kau, para
jago yang lain segera berdesakan maju sambil menyapa.
“Hoa tay hiap, baik-baikkah kau?”
Sambil tertawa Goan cing taysu berkata.
“Hoa tayhiap, aku pikir Cho Thian hua tentu sudah kabur
bukan setelah menyaksikan gelagat yang sedang dihadapinya
tidak menguntungkan baginya…..?”
Sambil tersenyum Hoa Thian-hong segera balas memberi
hormat.
“Aaah……! Soal kalah menang belum lagi ketahuan,
ternyata Cho Thian hua mengakhiri pertarungan sampai
ditengah jalan, katanya ia bersedia mengundurkan dari dunia
persilatan untuk melanjutkan sisa hidupnya dengan aman
tenteram”

874
Sekalipun perkataan itu diicapkan sambil lalu dan
menggunakan kata-kata yang enteng sekali, akan tetapi
semua orang tahu, seandainya Cho Thian hua tidak menderita
kekalahan atau berhasil dipecundangi, tak mungkin dia
bersedia mengundurkan diri dengan begitu saja.
Diam-diam semua orang merasa sayang sebab
pertempuran sengit yang luar biasa hebatnya itu tak sempat
disaksikan dengan mata kepala sendiri……..
Tampak Hoa Thian-hong berpaling ke arah Coa Wi-wi,
kemudian katanya sambil tersenyum.
“Coa titli, sesaat sebelum meninggalkan tempat ini, Cho
Thian hua telah menitipkan tiga biji buah merah Co ko
kepadaku agar disampaikan kepadamu, katanya benda itu
merupakan barang taruhannya yang kalah ditanganmu, harap
kau suka menerimanya”
Mendengar perkataan itu, Coa Wi-wi segera tertawa merdu,
katanya agak geli.
“Empek Hoa kau masih bisa-bisanya merendahkan diri,
jelas Cho Thian hua sudah menderita kekalahan hebat, kau
masih bilang menang kalah belum ketahuan, kalau tidak ia tak
akan mengatakan kalau dia sudah kalah bertaruh. Tak
kusangka ucapanmu yang iseng dan tidak bermaksud
suugguh-sungguh ternyata ditanggapi secara sungguhan oleh
orang tua itu……..”
Hoa Thian-hong tersenyum, sinar matanya pelan-pelan
dialihkan ke arah Kok See-piau.
Di waktu-waktu biasa kawanan gembong iblis itu selalu
memperbincangkan bagaimana membasmi keluarga Hoa,

875
bagaimana mengu asahi dunia persilatan dan menjadi jagoan
tenar.
Tapi sekarang, setelah berhadapan muka sendiri dengan
Hoa Thian-hong, mereka baru sadar bahwa kelihayan serta
kehebatan yang dimiliki Hoa Thian-hong jauh daripada apa
yang mereka pikirkan serta bayangan diwaktu-waktu biasa.
Banyak diantaranya segera menundukkan kepalanya
rendah-rendah karena merasa jengah dan malu sendiri.
Rupanya Kok See-piau masih belum mau takluk dan
mengaku kalah dengan begitu saja, tiba-tiba ia menjadi
nekad, dengan suara lantang teriaknya keras-keras, “Segenap
anggota perkumpulan Hian-beng-kau, dengarlah baik-baik!
Kuperintahkan ke pada kalian untuk maju bersama dan
bertempur sampai titik darah penghabisan, barang siapa
berani melanggar perintahku ini, akann kubunuh tanpa
ampun!”
Seketika itu juga terdengarlah suara bentakan keras yang
menggelegar di angkasa…..
Serentak para iblis dari perkumpulan Hian-beng-kau
bergerak maju kemuka gulungan air bah……
Pertarungan antara Leng lam it khi (manusia aneh dari leng
lam )melawan Ciu Thian hua serta Phoa Si melawan Haputule
yang semula terhenti, kini berkobar kembali dengan serunya.
Sisanya yang lain seperti Cu Thong segera bertarung
melawan Pi Cok bin, Ko Thay melawan Bu Beng
san……….pokoknya setiap jago lihay dari Hian-beng-kau telah
bertemu dengan tandingannya.

876
Murid-murid lainnya meski turut melancarkan serbuan pula
ke arah kawanan jago dari golongan putih serta orang-orang
perkumpulan Kiu-im-kau akan tetapi serbuan mereka segera
terbendung dan diri mereka sendiri tetap terkepung ditengah
arena, tak seorang manusiapun diantara mereka yang
sanggup meloloskan diri dari serangan.
Dari sini dapat diketahui bahwa usaha orang-orang Hianbeng-
kau untuk menerjang keluar dari kepungan,
sesungguhnya cuma suatu usaha yang tak berguna, sebab toh
akhirnya mereka bakal mampus juga ditempat itu.
Hoa Thian-hong segera mengerutkan dahinya setelah
menyaksikan kejadian itu, dengan suara yang dalam dan berat
serunya kemudian kearah gembong iblis tersebut.
“Kok See-piau, rupanya kau sudah nekad untuk bertahan
terus sampai titik darah penghabisan? Bagus, apakah
pertarungan ini akan kau langsungkan disini juga”
“Benar!” jawab Kok See-piau sambil menyeringai seram
“Hoa Thian-hong kalian ayah dan anak boleh maju bersamasama,
pun sinkun masih sanggup untuk membantai kalian
semua sehingga mampus tanpa tempat kubur”
Hoa In-liong yang mendengar perkataan itu, segera
tersenyum.
“Apalah gunanya untuk berbicara takabur dan segede
gajah? Bagus, jika kau memang sudah merasa gatal tangan
dan ingin mencoba kepandaian silatku, akan kulayani
keinginanmu itu, ingin ku lihat kau masih bertahan sebanyak
berapa gebrakan di tangan ku?”
Berbicara sampai disitu dia lantas berpaling kesamping dan
memohon ijin dari ayahnya untuk turun tangan.

877
“Dengan cepat Hoa Thian hong mengulapkan tanganya lalu
berkata dengan lembut.
“Lebih baik kau menonton disamping arena saja, sebelum
Kok See-piau bisa bertarung melawan diriku, sampai matipun
dia tak akan mati dengan mata terpejam”
Seraya berkata dia lantas maju ke depan. Diam-diam Kok
See-piau merasa kecewa sekali, tapi ingatan lain dengan cepat
melintas dalam benaknya.
“Kenapa tidak kuhadapi saja satu lawan satu? Ada satu
habisi satu, ada dua habisi dua?”
Berpikir demikian, ia lantas tertawa dingin, serunya
kemudian dengan suara lantang.
“Hoa Thian-hong, mengapa tidak kau pergunakan
pedangmu untuk menghadapiku?”
Hoa Thian-hong tertawa hambar, sahutnya.
“Seandainya aku pergunakan pedang, maka kesempatan
bagimu untuk beradu jiwa akan semakin lenyap, ku pikir
selama berapa tahun belakangan ini tentu banyak kepandaian
beracun yang berhasil kau pelajari, nah, ingin kulihat sampai
dimanakah kehebatan dari ilmu-ilmu beracun itu?”
Api kemarahan yang berkobar di dada Kok See-piau betulbetul
memuncak dan hampir tak tertahan lagi, sambil berpekik
nyaring dia menubruk ke muka sambil melepaskan sebuah
pukulan.

878
Secara tiba-tiba saja telapak tangannya itu berubah
seakan-akan panca warna yang amat menyilaukan mata,
mana cahaya warnanya tajam, menyolok lagi.
Berbareng itu, segulung bau amis yang menusuk hidung
dan amat memualkan perut menyelimuti angkasa, ini
membuat para penonton yang berada di sekitar arena
merasakan dadanya menjadi sesak dan panas bagaikan
hangus terbakar, buru-buru mereka kabur ke belakang dengan
perasaan terkesiap, tak seorangpun diantara mereka yang
merasa sanggup untuk menyambut datangnya ancaman
pukulan beracun sehebat itu.
Hoa Thian-hong tak berani berayali, sambil memutar
badan, sebuah jari tangannya menyambar ke muka
melepaskan ancaman ke atas nadi penting kepada
pergelangan tangan Kok See-piau.
Menghadapi ancaman seperti itu, buru-buru Kok See-piau
merendahkan lengannya ke bawah untuk memunahkan jurus
ancaman tersebut, kemudian secara beruntun melancarkan
serangkaian serangan berantai, semuanya dilakukan dengan
kecepatan yang luar biasa.
Sungguh hebat sekali rangkaian jurus ilmu telapak tangan
yang dipergunakan itu, selain aneh dan sakti gerakkannya,
juga ganas serta tak mengenal ampun.
Dalam waktu singkat selapis angin pukuan bagaikan puyuh
di samudra menyelimuti sekujur badan Hoa Thian-hong, tubuh
Kok See-piau sendiri seakan-akan sudah terlebur menjadi satu
dengan angin pukulan nya, mana tubuh sudah lenyap, setitik
jejak pun tidak kelihatan.
Pertempuran sengit yang berkobar ini sungguh mengerikan
dan jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan, orang

879
hanya bisa berdiri terbelalak dengan mulut melongo tanpa
tahu apa yang hendak dilakukannya pada waktu itu.
Selain dari pada itu, ilmu pukulan yang dipergunakan oleh
Kok See-piau itupun hanya Hoa In-liong seorang yang bisa
mengikutinya, dia betul kesemsem oleh gerakan-gerakan itu
sehingga tanpa disadari dia telah memusatkan segenap
perhatiannya untuk menyadap inti sari dari ilmu pukulan
tersebut.
Sesungguhnya Hoa In-liong sudah pernah mempelajari ilmu
tersebut dari catatan batas buku yang pernah diperolehnya,
cuma keterangan yang tercantum disana tidak sebagus dan
serta secermat apa yang digunakan Kok See-piau sekarang,
menjumpai kesempatan semacam ini, sudah barang tentu ia
enggan untuk melepaskannya dengan begitu saja.
Jago-jago lain sungguh merasa kejadian yang dihadapinya
itu diluar dugaan, mereka tidak menyangka kalau
kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki Kok See-piau telah
mencapai ke tingkatan sedemikian hebat, bahkan orang-orang
Hian-beng-kau sendiripun tidak menyangka kalau kaucu
mereka sesungguhnya memiliki kepandaian silat sedemikian
tingginya.
Mereka-mereka yang berilmu silat agak rendah menjadi
terkesiap sekali setelah menyaksikan kejadian ini, mereka
mengira Thian cu kiam sudah didesak di bawah angin.
Berbeda sekali dengan kawanan jago yang berilmu tinggi,
mereka tahu selihay-
lihaynya Kok See-piau jangan harap dia
bisa menandingi Hoa In-liong maupun Hoa Thian-hong, cuma
semua orang merasa agak heran apa sebabnya Hoa Thianhong
berbuat demikian?

880
Sementara itu Hoa In-liong juga sedang berpikir didalam
hatinya.
“Kok See-piau bukannya tidak tahu kalau ilmu silat yang
dimiliki ayah serta aku jauh diatasnya, mengapa dia berani
bicara besar? Jangan-jangan dia mempunyai rencana busuk?”
Setelah dipikirkan sebentar, dengan cepat pemuda itu
dapat menebak apa gerangan siasat buruk lawan itu.
Baru saja dia hendak menyampaikan peringatan kepada
ayahnya, ingatan lain segera melintas dalam benaknya, ia
merasa kecerdasan ayahnya jauh diatasnya, pengalamannya
lebih luas, mana mungkin ia tak bisa berpikir sampai kesitu?
Berpendapat demikian, dia lantas memusatkan semua
perhatiannya untuk mengikuti jalannya pertarungan itu.
Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah bertarung
mencapai beberapa ratus jurus lebih.
Ketika Kok See-piau menyaksikan segenap kepandaian
andalannya yang digunakan ternyata tidak mendatangkan
hasil seperti apa yang diharapkan, bahkan Hoa Thian-hong
masih tetap menangkis dan membendung serangannya
dengan tenang dan mantap, sadarlah gembong iblis ini bahwa
hasil latihannya selama banyak tahun masih jauh ketinggallan
bila dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki Hoa Inliong.
Menyadari akan hal tersebut diatas, sambil menggigit bibir
menahan diri dia lantas mengeluarkan sisa kepandaian sakti
yang ma sih disimpannya itu untuk mengajak musuhnya mati
bersama.

881
Mendadak terdengar Hoa Thian-hong berseru dengan suara
yang nyaring dan lantang.
“Kok See-piau, kau tidak lebih cuma memiliki kemampuan
sedemikian terbatasnya, mengapa kau begitu membikin
keonaran dalam dunia persilatan? Hati-hatilah kau sekarang,
aku orang she Hoa akan melancarkan serangan balasan”
Tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat
kemudian menerjang keluar dari kurungan bayangan telapak
tangan Kok See-piau yang rapat dan berlapis-lapis itu.
Kemudian hanya dalam beberapa perputaran badan saja,
tiba-tiba Kok See-piau mera sakan bawa iganya kesemutan
tahu-tahu jalan darahnya sudah tertotok.
Sedemikian cepatnya peristiwa itu terjadi, sampai-sampai
jurus beradu jiwa yang telah dipersiapkannya semenjak
tadipun belum sempat digunakan.
Para anggota perkumpulan Hian-beng-kau yang
menyaksikan kejadian itu menjadi sangat terperanjat tanpa
terasa mereka menghentikan serangannya dan melompat
mundur ke belakang.
Menyaksikan musuh-musuhnya mundur semua, para jago
dari golongan putih pun segera ikut menghentikan
serangannya dan mengundurkan diri, mereka tak ingin
mempergunakan kesempatan tersebut untuk menyergap
musuh-musuhnya.
Tampak Hoa Thian-hong merogoh kedalam saku Kok Seepiau
dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang terbuat
dari kulit macan tutul, kemudian katanya, “Kok See-piau,
secara diam-diam kau menyembunyikan bahan peledak dalam
sakumu, memangnya kau anggap aku orang she Hoa tidak

882
tahu kalau kau bernia menyulutnya bila kesempatan baikmu
telah tiba, sehingga kau bisa mati bersama dengan orangorang
yang berada sepuluh kaki disekelilingmu?”
Berbicara sampai disitu, dia lantas menggerakkan
tangannya untuk membebaskan jalan darah Kok See-piau
yang tertotok, katanya lagi dengan hambar.
“Pergilah kau dari sini! Aku orangg she Hoa tidak akan
membinasakan dirimu”
Kok See-piau merasa malu sekali, kalau bisa dia ingin mari
saja daripada menanggung aib tersebut.
Akhirnya sebagai pelampiasan, dia tertawa terbahak-bahak,
serunya.
Hoa Thian-hong kau tak usah pura-pura berbuat bajik, aku
orang she Kok tak akan menirukan cara pentolan tiga
perkumpulan besar serta Kiu-im-kau yang menebalkan muka
mencari kehidupan dibawah tekanan orang-orang keluarga
Hoa”
Begitu berbicara sampai disitu, mendadak dia
mengayunkan telapak tangannya menghajar keatas jalan
darah Pek bwe siat ditubuh sendiri.
Para anggota Hian-beng-kau yang menyaksikan kejadian
itu menjadi gempar…..jeritan kaget, seruan tertahan segera
berkumandang dimana-mana.
Disaat yang paling akhir, mendadak Hoa Thian-hong
menyentilkan ujung jarinya ke depan, segulung desingan
angin tajam segera meng hajar telak diatas jalan darah Ci ti
hui dibadan Kok See-piau.

883
Seketika itu juga Kok See-piau merasakan lengannya
menjadi kesemutan dan tak mampu digerakan lagi.
Ia menjadi marah bukan kepalang, dengan mata yang
merah membara bagaikan semburan api, bentaknya keraskeras.
“Hoa Thian-hong, seorang lelaki boleh dibunuh jangan
dihina, kau sudah memenangkan pertarungan ini, apa 1agi
yang hendak kau peroleh dari diriku?”
“Aku orang she Hoa sama sekali tidak berniat untuk
mencemooh atau menghinamu” ujar Hoa Thian-hong dengan
suara dalam. “aku hanya merasa heran mengapa kau bisa
begitu mendendam dan sakit hati kepada kami? Cobalah
pikirkan masalahnya dengan pikiran yang dingin dan tenang,
bagian yang manakah kami keluarga Hoa telah membuat
kesalahan kepadamu? Bagian yang mana pula telah dilakukan
umat persilatan didunia ini terhadapmu?”
sementara Kok See-piau belum sampai menjawab, tiba-tiba
terdengar Kok Gi pek berpekik dengan nada merengek,
“Biarkan aku ke sana. biarkan aku kesana… Tapi Pek Soh gi
memeluk putrinya erat-erat, dengan air mata bercucuran dia
mengeluh, “Oooah…anak Yu, apakah kau ingin melihat hati
ibumu tercabik- cabik? Bila kau menghampirinya, sudah pasti
kau akan dibunuh secara keji…..!”
Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian itu segera
berkerut kening, lalu serunya, “Bibi, biarkanlah adik misan
kesana!.. Kemudian dengan ilmu menyampaikan suara dia
melanjutkan.
“Jika kau terlalu memaksa untuk menahannya disitu, maka
bisa jadi adik misan akan menanggung rasa menyesal bahkan

884
rasa benci sepanjang masa kepadamu, tak usah kuatir,
keponakan jamin akan keselamatan jiwanya……!”
Sementara Pek Soh gi masih tertegun dan berdiri
termangu-mangu, mendadak Kok Gi pek meronta dari pelukan
ibunya, dia melompat kemuka.
Gadis itu segera lari ke depan Hoa Thian-hong kemudian
sambil menjatuhkan diri berlutut, katanya sambil menangis
tersedu-sedu dengan amat sedihnya, “Oooh…….paman,
lepaskanlah guruku! Ampunilah selembar jiwa guruku itu…..”
Hoa Thian-hong menghela napas panjang.
Sedangkan Hoa In-liong yang berada disampingnya segera
membimbingnya bangun dari atas tanah, kemudian dengan
suara yang lembut dan penuh kasih sayang dia berkata.
“Adik misanku, tenangkan hatimu baik-baik! Bukan kami
enggan melepaskan gurumu dari sini, juga bukan kami akan
melenyapkan selembar jiwanya, adalah gurumu sendiri yang
berniat busuk untuk menghabisi nyawa sendiri sambil
mencelakai orang lain”
Mendengar ucapan tersebut Kok Gi pek menjadi tertegun
dan berdiri termangu-manggu beberapa saat lamanya.
Lama, lama sekali akhirnya dia menghela napas sedih,
bisiknya dengan lirih.
“Terima kasih kakak misan, atas perhatiannya!”
Tiba-tiba ia membalikan badanya, lalu menubruk
kehadapan Kok See-piau, sambil memeluk kakinya kencangkencang,
pekiknya dengan penuh kesedihan, “Oooh…..suhu!
terbukalah sedikit jalan pemikiranmu……tecu bersedia mati

885
untukmu, tapi kumohon kabulkanlah permohonan diri tecu
ini….”
Paras muka Kok See-piau kaku tanpa emosi, dengan watak
iblisnya yang keji dan tak mengenal perasaan itu, dia benarbenar
tidak menyangka kalau sampai keadaan seperti itu pun
Kok Gi pek masih enggan untuk meninggalkannya sendirian,
bahkan rela mati deminya.
Sepanjang sejarah hidupnya, belum pernah dia dibikin
terharu seperti hari ini, untuk sesaat lamanya dia menjadi
termenungng dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
Beberapa saat kemudian, ia baru berkata dengan suara
keras dan nyaring, “Hoa Thian-hong…! Apa yang hendak kau
katakan sekarang……?”
Ketika mendengar ucapan tersebut semua orang menjadi
tertegun dan bingung, semua orang tidak mengerti apa
maksud yang sebenarnya dari Kok See-piau.
Tampak Hoa Thian-hong termenung beberapa saat
lamanya, mendadak ia mendekati Bong Pay dan menjura
dalam-dalam.
“Bong toako! Enso!”
Tadi sebelum ucapan itu dilanjutkan, Bong Pay telah
menukas.
“Diantara keluarga kita berdua tiada kau dan aku,
keputusanmu adalah keputusan dari kami suami istri berdua
pula!”
Hoa Thian-hong segera manggut-manggut, sambil
berpaling kearah Kok See-piau serunya.

886
“Dia masih tetap anak muridmu!”
“Itu mah belum cukup……” tukas Kok See-piau dengan
cepat dan lantang.
Hoa Thian-hong menjadi tertegun. Tapi sebelum ia sempat
mengucapkan sesuatu, Hoa In-liong telah menimbrung dari
samping.
“Meskipun dia misanku, harus kembali keleluhur dan bapak
ibunya sendiri, boleh saja ia menjadi anak angkatmu, nama
Kok Gi pek juga boleh dipertahankan terus sehingga keluarga
Kok tak sampai putus keturunan, aku rasa begini tentu sudah
cukup bagimu bukan?
Ketika berbicara sampai disitu, sinar matanya lantas
dialihkan ke arah ayahnya dan memandang sekejap.
Hoa Thian-hong segera manggut-manggut, dengan wajah
berseri dia melirik sekejap ke arah putranya.
Hingga detik itu, Kok See-piau baru mendongakkan
kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
“Haaahhh…..hhaaahh…..haaahhh……bagus, bagus sekali
cara kerja orang-orang keluarga Hoa, memang selamanya
amat bijaksana sehingga musuh pun mau tak mau harus
mengakui akan kebolehannya dan merasa kagum sekali”
Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling seraya berseru
dengan suara dalam, “Cu lo!”
Leng lam it khi segera mengiyakan. “Lohu siap menerima
perintah, katanya. Pelan-pelan Kok See-piau mengalihkan

887
sinar matanya dan memandang pula wajah Phoa Si, Bu Beng
san, Ui Siu ling dan Tang Bong liang, kemudian berkata.
“Phoa lo, Bu lo, Ui lo, Tang Thamcu!”
Yang dipanggil segera mengiyakan dengan perasaan
bimbang, bingung dan tidak habis mengerti, mereka tak tahu
apa tujuan Kok See-piau dan permainan apa yang sedang
dipersiapkan olehnya.
Tanpa terasa timbul perasaan ingin tahu didalam hati
mereka, dengan tenang mereka menantikan perkembangan
selanjutnya.
Tampak Kok See-piau menatap sekali lagi orang-orang
yang dipanggilnya itu, kemudian sepatah demi sepatah
berkata.
“Pun sinkun sudah mati, apakah perkumpulan kitapun akan
segera bubar sampai disini saja?”
Serentak semua orang menjawab, “Kami sekalipun pasti
akan berbakti dan membantu ahli waris dari sinkun tanpa
membangkang, sampai mati tak akan menyesal, kami hanya
bertujuan membangun kembali dasar-dasar kekuatan
perkumpulan kita”
Suara mereka lantang hingga menembusi awan, sampaisampai
orang yang berada di tempat kejahuan pun dapat
mendengar suara mereka dengan nyaring dan jelas.
Menyaksikan kejadian ini, diam-diam para jago yang berada
disekitar arena merasa kagum sekali atas kemampuan Kok
See-piau didalam mengumpulkan anak buahnya.

888
Tampak Kok See-piau manggut-manggut,kemudian
katanya, “Kalian setia dan berbakti terus sampai kini, pun
sinkun merasa terharu dan berterima kasih sekali!”
Tiba-tiba dia mengeluarkan sejilid kitab kuning dan sebuah
panji kecil dari sakunya sambil diserahkan kepada Kok Gi pek,
kembali katanya dengan nyaring, “Gi pek, sambut dulu benda
benda ini!”
Kok Gi pek bingung dan tidak habis mengerti, akan tetapi
dia menurut dan menerima juga benda-benda tersebut.
Sesudah kedua macam benda itu diterima oleh gadis
tersebut, Kok See-piau baru berkata lagi, “Gi pek, dimasa lalu
kau selalu menyebutku sebagai suhu, kini apakah kau bersedia
memanggil Gi hu (ayah angkat) kepadaku?”
“Mendengar ucapanya yang lembut serta penuh dengan
kasih sayang itu, Kok Gi pek merasa terharu sekali, tak kuasa
lagi dia berseru dengan keras, “Gi Hu!”
Teriakan itu diucapkan dengan ketulusan hati yang muncul
dari dasar hati kecilnya.
Tentu saja Kok See-piau dapat menyaksikan akan hal itu,
tanpa terasa ia tertawa lebar, kemudian dengan penuh kasih
sayang dibelainya rambut gadis itu lembut.
Beberapa saat kemudian, dia baru berseru kembali, “Gi
pek! Selanjutnya kau adalah penerus kedudukanku ini, dan
aku harap kepada saudara sekalian jangan melupakan janji
kalian sendiri!”
Kok Gi pek menjadi amat tercekat. Segera teriaknya keraskeras”

889
“Su…..Gi hu!”
Kok See-piau berpura-pura tidak mendengar, dia melirik
sekejap ke arah Pek si hujin, kemudian mendongakkan
kepalanya dan tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya,
“Haaahh……..haaahh…….haaahh………Keluarga Hoa memang
sepantasnya bercokol terus dalam dunia persilatan, tiada
orang yang bisa menandinginya lagi, aku orang she Kok
sungguh sangat benci….”
Mendadak ucapanya terhenti sampai ditengah jalan,
tubuhnya yang tinggi besar itupun pelan-pelan roboh ketanah.
Semua orang tahu bahwa ia telah memutuskan nadi-nadi
penting didalam tubuhnya sendiri.
Meskipun para pendekar rata-rata merasa benci kepada
Kok See-piau atas perbuatan yang pernah dilakukannya, akan
tetapi diam-diam pun merasa kagum atas kegagahan dari Kok
See-piau sekarang.
Kok Gi pek menjerit lengking, mendadak ia jatuh tak
sadarkan diri diatas tubuh Kok See-piau.
Para jago yang tergabung dalam perkumpulan Hian-bengkau
sama-sama tertunduk dengan wajah sedih, tanpa
mengucapkan sepatah katapun mereka bersama-sama
menjura dan memberi hormat kepada jenasah Kok See-piau
yang membujur diatas tanah itu.
Hoa Thian-hong dengan memimpin kedua orang istrinya
beserta Hoa Si dan Hoa In-liong segera memberi hormat pula
kepada jenasah Kok See-piau sambil berkata.
“Kok See-piau, entah kau seorang pentolan liok lim ataukah
seorang enghiong, aku orang she Hoa mengagumi akan

890
kegagahan mu, orang mati dendampun hilang, sambutlah
sebuah hormat dari aku orang she Hoa”
Tiba-tiba terdengar Kiu-im-kaucu tertawa tergelak,
kemudian berkata, “Hoa tayhiap, setelah Kok See-piau mati,
maka mulai sekarang jika masih ada orang yang berani
memusuhi keluarga Hoa, aku berani mengatakan jika orang
itu bukan seorang sinting, sudah pasti ia termasuk orang
bodoh”
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar para jago dan
golongan sesat segera timbul pula perasaan yang sama.
Hal ini buktan saja dikarenakan ilmu silat yang dimiliki ayah
dan anak dari keluarga Hoa ini tiada taranya didunia ini, yang
terpenting adalah kebesaran jiwa serta kebijaksanaan mereka
didalam menanggulangi setiap persoalan.
Mereka merasa bahwa penampilan dari keluarga Hoa inilah
baru benar-benar melambangkan keadilan didalam dunia
persilatan, hal mana membuat kaum mengangkat topi, mereka
merasa pecah nyali, apalagi yang paling penting lagi banyak
diantara mereka yang mengagumi kelihayan ilmu silat mereka.
Sejak peristiwa itu, secara tiba-tiba saja semua orang
merasa bahwa keluarga Hoa sesungguhnya bukan jauh tinggi
diatas, dimana jaraknya amat jauh dari mereka, sebaliknya
begitu dekat dan begitu akrab.
Sekalipun dunia persilatan itu besar, tapi kemanapun
mereka pergi, disitulah semangat keluarga Hoa berada.
“Terdengar Hoa Thian-hong berkata lagi sambil menjura,
“Keluarga Hoa berharap dunia persilatan bisa aman dan
tenteram, umat persilatan bisa hidup rukun dan damai,
ucapan dari kau cu tersebut tidak berani kuterima.

891
Setelah menjura ke empat penjuru, ia melanjutkan.
“Seng-sut-pay telah bersumpah tak akan menginjakkan
kakinya kembali di wilayah Tionggoan, Jin Hian mengasingkan
diri jauh diluar perbatasan, urusan disinipun telah selesai,
dunia persilatan akan menjadi tenang kembali untuk beberapa
waktu lamanya, aku harap saudara sekalian mau pulang ke
rumah masing-masing dengan perasaan lega, bila ada waktu
silahkan mampir di perkampungan kami di bukit Im tiong san,
setiap saat dengan senang hati keluarga Hoa akan
menyambut kedatangan kalian semua…”
Ketika semua orang menyaksikan badai pembunuhan sudah
lewat, dunia persilatan telah menjadi aman dan tenang
kembali, dengan wajah berseri dan senyum dikulum masingmasing
orang pun segera mengucapkan selamat berpisah dan
kembali ke rumahnya masing-masing.
Pihak Kiu-im-kau yang pertama-tama angkat kaki lebih dulu
dari situ, ketika Bwe Su-yok melihat keadaan memaksanya tak
bisa tinggal disana lebih lama Lagi, dengan kepala tertunduk
ia melirik sekejap ke arah kekasih hatinya, kemudian
mengikuti rombongan berlalu dari situ.
Tiba-tiba Coa Wi-wi dan Si Leng Jin mengejarnya, mereka
bertiga lantas berbisik-bisik lirih, entah apa saja yang sedang
dibicarakan oleh mereka bertiga?
Para pentolan Hian-beng-kau sebaliknya melakukan
perundingan dengan keluarga Hoa serta Bong Pay suami istri,
setelah berunding lama sekali dengan susah payah Pek Soh gi
baru mengijinkan putrinya melaksanakan pesan terakhir dari
Kok See-piau tapi dengan syarat setiap tahun Kok Gi pek
harus pulang ke rumah untuk menengok ayah ibunya.

892
Tapi pada setahun yang pertama, karena kuatir Kok Gi pek
masih diliputi kesedihan ia harus berdiam bersama orang
tuanya.
Selain itu masa remajanya tak boleh dilewatkan soal
memilih menantu semuanya adalah urusan Bong pay suami
istri dan orang-orang Hian-beng-kau tak boleh
mencampurinya.
Menhhadapi syarat-syarat semacam itu tentu saja Leng
Lam it khi sekalian harus menyanggupinya, maka setelah
mengambil keputusan merekapun mohon diri.
Hingga saat itu, Hoa Thian-hong baru mendapat waktu
luang, dia lantas berpaling kearah istrinya yang sedang
berbincang-bincang dengan Tiang heng Tokoh.
Ditatapnya Tian heng Tokoh lekat-lekat, lama sekali dia
baru memanggil dengan lirih.
“Cici!”
“Jangan panggil aku…..pinto tidak pantas menjadi cicimu
lagi” kata Tian heng Tokoh dengan cepat.
Sekalipun ucapan tersebut penuh dengan kekesalan, tapi
suaranya gemetar, pergolakan emosinya susah
disembunyikan.
Kesedihan menyelimuti pula wajah Hoa Thian-hong,
bibirnya tampak bergetar seperti hendak mengucapkan
sesuatu, tapi niat itu kemudian diurungkan.
Untuk sesaat suasana menjadi kaku dan tak enak,
membuat orang merasa susah bernapas.

893
Chin si hujin segera memberi tanda kepada Pek si hujin.
Sambil tersenyum Pek si hujin segera berseru, “Liong ji,
perlihatkan tulisan diatas telapak tanganmu itu kepada bibi
Ku!
Hoa In-liong agak tertegun, segera pikirnya, “Ooh,…..jadi
rupanya tulisan yang diukir ibu diatas telapak tanganku hanya
dimaksudkan demikian!”
Maka tanpa mengucapkan sepatah katapun dia lantas
berlutut dihadapan Tian heng Tokoh dan memperlihatkan
telapak tangannya.
Dengan cepat Tiang heng Tokoh menundukkan kepalanya
untuk memeriksa telapak tangan pemuda itu.
Ketika terbaca olehnya diatas telapak tangan itu tertera
sebuah huruf “Heng” atau benci, bagaikan disambar geledek
disiang hari bolong, sekujur badannya gemetar keras,
badannya gontai seperti mau roboh, dengan air mata
bercucuran membasahi pipinya, dia bergumam.
“Benci! Benci!”
Cia In sangat terkejut, buru-buru ia melompat ke depan
dan memayang tubuhnya.
Pek si hujin memberi tanda kepada Hoa In-liong agar
berdiri, kemudian mereka pun berdiri dengan sedih.
Beberapa saat kemudian, pelan-pelan paras muka Tiang
heng Tokoh berubah menjadi tenang kembali, agaknya dia
sudah mengambil suatu keputusan yang bulat.

894
Mendadak ia berpaling ke arah Cia In sambil bertanya, “In
ji, mau ikut aku?”
Tanpa berpikir panjang Cia In segerat menjawab, “Hal ini
merupakan pucuk dicinta, ulam tiba buat In ji mengapa harus
kutampik?”
Tiang heng tokoh segera melirik sekejap kearah Pui Chegiok.
Sambil tersenyum Pui Che-giok berkata, “In ji bisa
mempunyai rejeki sebesar ini, untuk merasa gembira pun aku
tak sempat!”
Saat itulah Tiang heng Tokoh baru berpaling kearah Hoa
Thian-hong, kemudian katanya, “Aku akan membawa In ji
menuju kepulau Si Soat to, urusan selanjutnya terserah
kepadamu sendiri, tidak jelas tanya saja kepada Hong moay
dan Kun moay bila sampai salah, jangan salahkan kalau
selama hidup aku enggan berjumpa lagi denganmu”
Selesai berkata, dengan mengajak Cia In dan Pui Che-giok,
ia segera berlalu dari situ.
Dalam pada itu, sang surya telah muncul di ufuk timur,
langit terasa terang benderang bermandikan cahaya, seakanakan
melambangkan ke jayaan dan kecemerlangan keluarga
Hoa dimasa mendatang.
Sebagaimana apa yang diucapkan Thian Ik-cu serta Kok
See-piau menjelang kematiannya sejak itu Hoa Thian-hong
dan putra putranya menjagoi seluruh dunia persilatan dan
menghormati setiap orang persilatan.
Sejarah keluarga mereka berlangsung sampai beratus-ratus
tahun lamanya, selama mereka berkuasa, dunia persilatan

895
aman tentetam tak pernah terjadi kekacaun, keadilan dan
kebenaran selalu ditegakkan.
Sedangkan mengenai perkawinan Hoa In-liong, rasanya tak
usah disinggung pun tentunya para pembaca dapat menebak
sendiri..
Sebagaimana seorang pemuda yang romantis, sekalipun
dirumah sudah punya istri-istri yang cantik, namun dia masih
saja bermain cinta disana sini…………
Tampaknya watak tersebut sudah mendarah daging hingga
tak bisa dirubah lagi.
Untung saja dia muda dan tampan, siapa lagi yang tidak
romantis bila dia berwajah tampan, gagah dan ternama lagi?
Dan dengan demikian, cerita inipun saya akhiri sampai
disini, semoga para pembaca sekalian puas adanya, terima
kasih.
TAMAT

ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru Cerita Silat ABG Lugu : Neraka Hitam 3 [Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala], cersil terbaru Cerita Silat ABG Lugu : Neraka Hitam 3 [Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala], Cerita Dewasa, cerita mandarin Cerita Silat ABG Lugu : Neraka Hitam 3 [Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala],Cerita Dewasa terbaru,Cerita Dewasa Terbaru Cerita Silat ABG Lugu : Neraka Hitam 3 [Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala], Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru Cerita Silat ABG Lugu : Neraka Hitam 3 [Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala]
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat ABG Lugu : Neraka Hitam 3 Tamat [Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala] dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat ABG Lugu : Neraka Hitam 3 Tamat [Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-abg-lugu-neraka-hitam-3.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat ABG Lugu : Neraka Hitam 3 Tamat [Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat ABG Lugu : Neraka Hitam 3 Tamat [Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala] sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat ABG Lugu : Neraka Hitam 3 Tamat [Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-abg-lugu-neraka-hitam-3.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

trica jus mengatakan...

bagus sekali saya suka

Posting Komentar