Cersil : Rahasia Istana Terlarang 6 [Serial Kunci Wasiat]

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 07 Oktober 2011

“Menurut siauwte, lebih baik kita selidik dahulu apa maksud tujuan Kiam Bun Siang Ing
datang kemari.”
“Kalau tidak kita tangkap mereka berdua, mana bisa kita ketahui maksud kedatangan
mereka?”
“Itu sih tak usah, diam2 kita bisa menyelidikinya.”
“Menyelidikinya secara diam2?”

“Bagus sekali” seru Siauw Ling. “Kita bisa membagi diri jadi beberapa kelompok untuk
mengawasi dirinya, biarlah cayhe berangkat lebih dahulu….”
“Cayhe rasa lebih baik aku saja yang berangkat lebih dulu” tukas Ceng Yap Chin, dia
lantas bangkit berdiri dan siap berlalu.
“Nanti dulu, nanti dulu….” buru2 Sang Pat mencegah. “Toako serta Ceng heng tak usah
repot2 pergi sendiri, dengan dandanan kamu berdua pada saat ini usia kalian telah
melewati setengah abad, tetapi tingkah lakunya tidak mirip dengan seorang kakek tua,
jangan dikata dalam pandangan Kiam Bun Siang Ing bisa mengetahui penyaruan kalian,
sekalipun seorang manusia biasapun tidak sulit untuk menemukan kelemahan dalam
penyaruan kalian itu.”
“Lalu bagaimana kita sekarang?”
Sie poa emas Sang Pat tersenyum.
“Pekerjaan semacam ini tidak pantas dilakukan kita semua, menurut siauwte dikolong
langit dewasa ini hanya ada dua orang yang bisa melakukannya dengan sempurna.”
“Siapakah mereka?”
“Yang satu adalah segulung angin Peng In dari Kay pang sedang yang lain adalah
pencuri sakti Siang Hoei, kecuali mereka berdua anak murid Kay pang pun merupakan
pencari berita yang cekatan, hanya sayang Soen Put shia belum tiba, dia adalah Tiang loo
Kay pang. Aku rasa bila dia tampilkan diri untuk turunkan perintah maka para anggota Kay
pang dikota Ooh Chioe pasti akan membantu dirinya.”
“Meskipun ucapan tidak salah, tapi Kiam Bun Siang Ing tidak nanti akan menunggu
hingga Soen Loocianpwee tiba disini baru pergi dalam keadaan situasi demikian terpaksa
kita harus berusaha sendiri.”
“Baiklah” kata Sang Pat setelah termenung sejenak. “Kalian berdua berjaga2lah disini,
cayhe akan melakukan pemeriksaan sejenak ditempat luaran!” ia berpaling kearah Tu Kioe
dan tambahnya, “Toako serta Ceng heng jarang sekali melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, kau harus berhati2 jangan sampai pihak kita yang malahan diawasi orang.”
“Jangan kuatir, kau boleh berangkat dengan hati lega.”
Sang Pat segera putar badan dan berlalu dari ruangan, jangan dilihat perutnya yang
buncit dan gede, namun gerak geriknya lincah sekali.
Tu Kioe segera menutup pintu dan berkata dengan suara lirih, “Kalian berdua harap
berada didalam kamar saja, biar aku yang berjaga diluar.”
Tiba2 terdengar seseorang berseru keras, “Sayur dan arak telah datang.”
Tu Kioe membuka pintu dan menerima sayur serta arak itu, ujarnya, “Setelah
melakukan perjalanan seharian penuh, pada saat ini kami merasa amat lelah mangkuk
dan sumpit harap diambil besok pagi saja.”

Pelayan itu tertegun namun akhirnya dia mengangguk.
“Baiklah!” dengan cepat diapun berlalu.
Tu Kioe membawa sayur dan kedalam kamar, pesannya, “Cepatlah kalian bersantap,
setelah itu padamkan lampu lentera.”
Meskipun diluar Siauw Ling tidak bicara namun didalam ia menggerutu tiada hentinya.
“Hu…. hidup macam apakah ini? sungguh menyesakkan dada.”
Mereka bertiga cepat2 bersantap kemudian Tu Kioe membereskan mangkuk dan sumpit
kemudian padamkan lampu, setelah pintu dan jendela diperiksa semua iapun duduk
bersila didalam ruangan.
Satu jam lewat dengan cepat tetapi Sang Pat tak kunjung datang Siauw Ling mulai
kuatir pikirnya, “Karena sudah begitu lama dia belum juga kembali? jangan2 telah
menemui kesulitan….”
Tak tahan lagi dia menghela napas dan bergumam, “Seharusnya Sang heng telah
kembali.”
Dalam pada itu suasana diruang depan sudah radaan hening, suara ribut dan hiruk
pikuk yang membisingkan telingapun telah banyak berkurang.
Tu Kioe mendehem ringan dan menjawab, “Toako, kau tidak tahu, meskipun diluar
wajahnya Sang Loo jie kelihatan halus dan ramah tetapi rasa ingin tahu dalam hatinya
sangat tebal, dibalik gelak tertawanya yang haha…. hihi, dia mempunyai watak yang tak
terima sebelum tujuannya tercapai, setelah ia pergi sebelum duduknya perkara dibikin
jelas tak nanti ia akan kembali.”
Mendengar itu Siauw Ling menghela napas panjang, bibirnya bergerak seperti mau
mengucapkan sesuatu namun akhirnya dibatalkan.
Tu Kioe melirik sekejap kearah Siauw Ling lalu berkata kembali, “Toako tak usah selalu
menguatirkan keselamatannya asal dia tak ada minat untuk berkelahi, sekalipun bertemu
dengan musuh tangguh nomor wahid tidak nanti ia bisa terkurung.”
“Semoga saja ia dapat kembali dalam keadaan sehat walafiat tanpa kekurangan
sesuatu apapun.”
“Lebih baik kita tunggu satu jam lagi.” usul Ceng Yap Chin. “Apabila dia belum juga
kembali, maka kita harus berusaha menemukan Soen Loocianpwee serta suhengnya untuk
merundingkan masalah ini.”
Kiranya Soen put shia serta Siauw Ling sekalian telah berangkat dengan kelompok yang
terpisah, mereka telah berjanji kecuali keadaan situasi yang terlalu mendesak perduli
dalam menginap, melakukan perjalanan atau bertemupun dilarang bercakap2 sehingga
menarik perhatian orang lain.

Sementara beberapa orang itu masih berunding, tiba2 pintu kamar terbuka dan sesosok
bayangan manusia menerjang masuk kedalam.
“Siapa?” hardik Tu Kioe.
Ditengah bentakan badannya berkelebat kedepan menghadang didepan pintu ruangan.
“Aku!” jawab orang itu lirih. “Cepat pasang lampu!”
Tu Kioe segera kenali suara saudaranya, buru2 dia cari korek api dan memasang
lampu.
Tampaklah air muka Sang Pat telah berubah jadi hijau membesi. Ketika itu dia berdiri
dengan tangan kanan ditumpangkan keatas lengan kirinya, darah segar membasahi
seluruh baju bagian kirinya.
Siauw Ling jadi terperanjat, buru2 ia mendekati Sang Pat segera menegur, “Saudara
Sang, parahkah luka yang kau derita?”
“Tidak mengapa, hanya sedikit luka luar, siauwte masih sanggup bertahan, asal diberi
obat luka niscaya sudah sembuh.”
Dari dalam sakunya Ceng Yap Chin segera ambil keluar sebuah bungkusan, serunya,
“Obat penahan sakit Ci Hiat Ci Thong San dari partai Bu tong kami rasanya pernah Sang
heng dengar bukan?”
“Tidak salah, memang sangat terkenal” jawab Tu Kioe sambil menerima bungkusan itu,
dia ambil bubuk obat tadi dan ditebarkan diatas luka, kemudian sambil membalut lengan
tersebut serunya seraya gelengkan kepala berulang kali. “Sungguh berbahaya, sungguh
berbahaya, satu mili saja lebih kedalam, tulangmu pasti sudah terluka.”
“Oooh, jadi luka itu tidak sampai mengenai tulang lenganku?”
“Tidak, tapi nyaris sekali hampir terkena….”
“Heee, heee…. semula aku kira lengan kiriku pasti akan jadi cacad, sungguh tak nyana
masih bisa ketolong….”
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tegur Siauw Ling.
“Aaaai…. tatkala siauwte tiba siruang tengah, kebetulan Kiam Bun Siang Ing sedang
menyelesaikan notanya dan berlalu.”
“Kau terlalu banyak kehilangan darah, jangan banyak bicara singkatnya saja!”
Sang Pat mengangguk.
“Kuikuti dari belakang mereka melewati beberapa buah jalan, akhirnya sampailah kami
disebuah tempat yang amat ramai, lampu teng2an tergantung dimana2, orang yang

berlalu lalang saling berdesakan kedua belah sisi jalan adalah bangunan rumah yang
tinggi besar….”
“Tempat apakah itu? kok begitu ramai?” jago muda dari Bu tong pay menyela.
“Tempat itu bukan lain adalah sarang pelacuran yang tersohor dikota Ooh Chioe ini.”
“Mau apa Kiam Bun Siang Ing pergi kesitu? apakah mereka berduapun orang2 yang
suka main perempuan?”
“Mula2 akupun merasakan tercengang, seandainya Kiam bun Siang Ing memang ada
maksud melepaskan hajatnya ditempat itu sepantasnya kalau mereka ganti pakaian dulu,
apa sebabnya mereka berangkat dengan tergesa2? karena itu kecurigaan siauwte makin
bertambah, aku segera mengejarnya kedalam.”
“Oooh jadi Djen Bok Hong telah mendirikan pos mata2nya didalam sarang pelacuran
itu?” tanya Ceng Yap Chin.
“Menurut dugaanku bukan saja tempat itu merupakan sarang mata2nya, bahkan dari
situ pula semua komando dikirimkan….”
Ia merandek sejenak, kemudian terusnya, “Ketika kulihat mereka masuk kedalam
rumah pelacuran yang memakai merek gedung Sam Kang Soe It akupun segera ikut
masuk kedalam….”
“Lalu kenapa kau bisa terluka?”
“Apakah Kiam Bun Siang Ing hendak membinasakan dirimu dihadapan umum?”
sambung Tu Kioe.
Sang Pat menggeleng.
“Perubahan yang kemudian berlangsung banyak liku2nya, ketika aku mengejar hingga
kedalam gedung Sam Kang Soe It tampaklah orang hilir mudik disini banyak sekali,
perabot yang ada disitupun boleh dibilang sangat mewah, didepan ada kolam serta
gunung2an dikedua belah samping penuh dengan jendela berhorden, boleh dibilang
dagangannya laris dan untung besar.”
Sebagian kebiasaan seorang pedagang membicarakan soal untuk maka Sang Pat pun
jadi lupa keadaan dan ngecipris terus tiada hentinya.
“Teruskan!” seru Siauw Ling dengan alis berkerut.
“Heeee…. heee…. penyakit lamaku memang selamanya sukar dirubah….” Sang Pat
mendehem ringan dan terusnya. “Ketika siauwte melihat Kiam Bun Siang Ing menuju
kebelakang gunung2an dan menuju kehalaman belakang maka aku segera menyusulnya
pula, siapa tahu dibelakang gunung2an situ terdapat sebuah pintu dan pintu tadi dijaga
dua orang pelayan kurang ajar benar kedua orang pelayan tadi, mungkin dipandangannya
pakaian siauwte pakaian amat kasar maka kepergianku segera dihalangi. Sebetulnya
siauwte hendak paksa menerobos kedalam tapi aku takut sudah mengejutkan Kiam Bun

Siang Ing, maka terpaksa aku mengundurkan diri setelah kuperiksa keadaan disekeliling
tempat itu, kucari sebuah tempat yang gelap dan loncat kedalam ruang belakang gedung
Sam Kang Soe It tersebut….”
“Dihalaman belakang penuh ditanami pepohonan bunga, lampu lentera digantung pada
setiap penjuru membuat suasana disekeliling sana jadi terang benderang bagaikan siang
hari, beberapa ruangan tampak tertutup oleh kain horden yang tebal. Sekilas memang
siauwte telah sadar bahwa halaman itu sudah diatur oleh orang lihay, peduli kau ada
disudut manapun sulit untuk menghindarkan diri dari sorotan cahaya lampu. Hal ini
memaksa siauwte harus berdiam beberapa saat diatas atap tanpa sanggup loncat
kehalaman belakang.”
Teringat akan lukanya yang belum lama menderita, Siauw Ling tak ingin saudaranya
terlalu banyak bicara tak tahan selanya, “Saudara Sang, persingkat saja ceritamu!”
“Obat luka dari Bu tong pay benar2 sangat manjur, pada saat ini rasa yang siauwte
derita sudah banyak berkurang.”
“Baiklah, kalau begitu perlahan sedikit suaramu agar jangan sampai menggetarkan
mulut lukamu!”
Sang Pat tersenyum.
“Siauwte tengok kesana tengok kemari tetapi belum berhasil juga menemukan dari
mana aku harus meloncat turun, tetapi aku pun tahu kalau harus begitu teruspun bukan
jalan yang tepat, akhirnya aku lantas mengambil keputusan untuk kembali dahulu dan
tukar pakaian….”
Begitu masuk kedalam ruangan Siauw Ling sekalian hanya repot membubuhi lukanya
dengan obat, kini setelah mendengar perkataan tersebut mereka lantas perhatikan
bajunya, ternyata Sang Pat telah tukar sebuah jubah berwarna hitam yang amat panjang.
“Dari mana dapat pakaian ini?” tanya Ceng Yap Chin.
“Kucari seseorang yang mempunyai potongan badan yang rada sama dengan
perawakanku, diam2 kutotok jalan darahnya, melepaskan pakaiannya, setelah
meninggalkan sedikit uang lantas masuk kembali kedalam gedung Sam Kang Soe It.”
Ia berhenti sebentar untuk tukar napas.
“Sedikitpun tidak salah, dengan dandananku sekarang ternyata kedua orang pelayan itu
sama sekali tidak menghalangi jalan pergiku dan biarkan aku masuk kedalam.”
“Apakah halaman belakang sana merupakan tempat perkumpulan anak buah Djen Bok
Hong?”
“Dihalaman belakang terdapat banyak sekali serambi serta lorong yang berliku2,
perabot disitu jauh lebih mewah dari pada halaman depan, diantaranya hanya ada dua
deret kamar yang tertutup, karena tak tahu Kiam Bun Siang Ing telah masuk kekamar

yang mana, maka diam2 siauwte hitung kamar yang ada disana, semuanya ada dua belas
pintu dan dari tiap kamar menyorot keluar cahaya lampu.”
Kembali dia berhenti sebentar, setelah tukar napas sambungnya lebih jauh, “Tidak
salah, setelah kulintasi semua loteng itu satu kali dan tidak berhasil menemukan jejak
Kiam Bun Siang Ing. Diam2 aku mulai merasa bahwa diriku telah terjerumus kedalam
suasana yang penuh dengan mara bahaya.”
“pada bagian mana yang tidak beres?”
“Waktu aku mula2 masuk kedalam masih tidak merasakan apa2, tetapi setelah
mengitari tempat itu satu kali aku baru merasakan keadaan yang sedikit tidak beres,
ternyata letak kedua belas buah pintu itu secara diam2 mengandung unsur barisan Pat
Kwa, jelas tempat itu bukan satu tempat pelacuran biasa, setelah kusadari bahwa keadaan
terjerumus dalam keadaan bahaya buru2 aku mengundurkan diri dari situ. Pada saat aku
belok pada tikungan tiba2 terdengar sambaran angin menyapu lewat dari sisi tubuhku,
meski dalam hati aku pasti waspada namun aku tak pernah mengira kalau dibalik tikungan
telah ada seseorang yang menantikan kedatanganku, untuk saat sulit bagiku untuk
meloloskan diri, maka tak ampun lagi lengan kiriku termakan oleh sebuah bacokan….”
“Apakah kau berhasil melihat raut wajah orang itu?” tanya Tu Kioe.
Dia sadar akan kelihayan ilmu silat yang dimiliki Sang Pat, meskipun ada orang secara
mendadak melancarkan serangan bokongan kepadanya, sukar juga untuk bikin jago kate
ini terluka.
Sang Pat menggeleng.
“Aku tidak berhasil menyaksikan raut wajahnya dan pula tidak sempat bagiku untuk
memeriksa. Sebab sambaran golok yang menerjang diriku menyapu datang dengan
cepatnya, masih untung aku cuma termakan sebuah bacokannya saja, dalam keadaan
begitu aku tak berani menerjang kedalam lebih jauh, sambil mengempos tenaga badanku
segera melayang keatas atap rumah. Ketika itulah puluhan titik cahaya tajam meluncur
secara berbareng kearahku berdiri, daerah seluas delapan depa telah terkurung oleh
serangan senjata rahasia yang rapat, bila aku tidak berhasil mempertahankan rasa
dongkolku untuk melancarkan serangan balasan, niscaya aku telah mati dibawah serangan
senjata rahasia itu.”
“Aaah, persiapan yang demikian ketatnya jelas bukan disiapkan untuk menghadapi
siauwte seorang” seru Siauw Ling. “Sebaiknya memang sejak dahulu telah dipersiapkan
untung Sang heng punya akal yang panjang hingga tidak sampai terbokong oleh lawan.”
“Ada satu perakalan siauwte merasa kurang paham.”
“Persoalan apa?”
“Aku maksudkan bacokan golok yang berhasil melukai lenganku, tatkala untuk pertama
kalinya aku lewat pada jalan tersebut, telah perhatikan dengan seksama siauwte yakin
disitu tak ada orang, kemudian akupun sudah perhatikan lagi suasana disekitar sana yang
bebas dari manusia, lalu dari manakah datangnya sambaran golok tersebut….?”

Siauw Ling termenung sebentar, lalu ia menjawab, “Seandainya dibelakang dinding
terdapat sebuah alat rahasia yang bisa bergerak secara otomatis, dengan sendirinya
serangan golok itupun bisa muncul tanpa diduga.”
“Baach benar! siauwte tidak sampai berpikir kesitu. Oooh…. suatu persiapan yang
benar2 sangat keji! sekalipun bacokan golok itu tidak sampai membinasakan diriku, tetapi
serangan senjata rahasia berikutnya benar2 luar biasa. Sekalipun seorang jago kelas
satupun belum tentu dapat menyelamatkan diri dengan selamat. Masih untung nasib
siauwte rada baik dan segera loncat keatas atap, dengan demikian jiwaku berhasil
diselamatkan.”
“Waah…. kalau cayhe yang harus menghadapi kejadian seperti itu, aku pasti bakal
terluka diujung senjata rahasia itu” komentar Ceng Yap Chian.
“Setelah kau melarikan diri keatas atap rumah, apakah ada orang yang mengejar
dirimu?”
“Bangunan tersebut letaknya dekat dengan halaman depan lagi pula para tamu yang
berkunjung kesana amat banyak, ditambah pula gerakanku cepat sekali tiba2 sudah
menyelinap kedalam gerombolan manusia.”
“Kalau begitu gedung Sam Kang Soe It memang radaan kukoay!”
“Djen Bok Hong telah menyebarkan anak buahnya keseluruh dunia untuk mencelakai
Siauw heng kenapa kita tidak obrak abrik pula beberapa markas besarnya agar dia tahu
rasa?’
“Perkataan Ceng heng sedikitpun tidak salah, baiklah malam ini kita beristirahat sehari
besok malam kita baru pergi menengok keadaan Sam Kang Soe It.”
“Toako, alangkah baiknya kalau kita mengadakan kontak dahulu dengan Boe wie
Tootiang, Soen Loocianpwee, kemudian baru melakukan suatu tindakan” Sang Pat
mengusulkan.
“Tapi entah suheng cayhe berdiam pula didalam rumah penginapan Lak Hoo ini atau
tidak.”
“Mereka sudah menginap disini, ketika siauwte keluar tadi diam2 telah kuperiksa tanda
rahasia yang mereka lepaskan, suhengmu serta Soen loocianpwee telah berada disini
semua. Hanya kita tidak tahu mereka menginap dikamar mana?”
“Mata2 Djen Bok Hong sangat lihay, malam ini kita harus membagi tugas jaga malam.”
Malam ini berlalu tanpa menemui kejadian apapun juga, ketika keesokan harinya fajar
baru menyingsing, secara beruntun Boe Wie Tootiang serta Soen Put shia telah
menggabungkan diri dengan mereka.”

Siauw Ling memang ada maksud mengundang kedatangan kedua orang itu, begitu
melihat mereka berdua sudah datang maka cepat2 ia sampaikan kisah peristiwa yang
telah dialami Sang Pat kemarin malam.
“Rupanya kita sudah tak dapat menghindarkan diri dari bentrokan langsung dengan
pihak Djen Bok Hong” ujarnya Boe Wie Tootiang selesai mendengarkan cerita itu.
“Menghancurkan sebuah markas rahasianya berarti kita sudah mencukil sebuah matanya.
Dewasa ini meskipun anak buah Djen Bok Hong telah ditempatkan dikota Ooh Chioe tetapi
ia tak bakal pusatkan segenap tenaga serta kekuatannya disini, pinto rasa meskipun
bertemu sendiri dengan dirinya, kita masih mampu untuk mempertahankan diri.”
“Ia dirikan markas besarnya didalam sarang pelacur, perbuatannya ini benar2 sangat
lihay” kata Soen Put shia pula. “Sudah kujelajahi hampir segala penjuru dunia, tapi belum
pernah kutemui kejadian seperti ini. Aku sipengemis tua rasanya harus ikut berangkat
untuk menambah pengalamanku.”
“Berangkat sih kita harus berangkat, cuma kita harus berangkat dengan suatu susunan
rencana yang ketat dan sempurna.”
“Tootiang kau pintar dan banyak akal, aku pengemis tua rasa dalam hatimu tentu
sudah punya rencana bukan?”
Boe wie Tootiang tersenyum.
“Rencana sih memang ada tetapi pinto tak tahu bisakah digunakan dengan cepat,
setelah pinto utarakan nanti seandainya ada bagian yang terasa kurang tepat harap kalian
suka memberi komentar.”
Segera dia beberkan rencananya dan menjelaskan hingga bagian2 yang paling
mendetail.
“Bagus, bagus!” puji Soen Put shia kemudian. “Kita kacaukan dahulu perhatian musuh,
kemudian baru menerobos masuk!”
Klootaak….! mendadak sebutir batu terjatuh didalam halaman.
“Cuwi sekalian harap berhati2″ bisik Boe wie Tootiang sambil ulapkan tangannya.
“Apa yang sudah terjadi?”
Boe wie Tootiang goyangkan tangannya memberi tanda agar Siauw Ling jangan
berbicara.
Lewat beberapa saat kemudian dari luar kamar berkumandang lagi dua suara yang
nyaring, saat itulah Boe wie Tootiang baru bangkit berdiri sembari berkata, “Pinto telah
sebarkan anak buahku untuk berjaga2 disekeliling tempat ini, suara nyaring yang
berkumandang tadi menandakan adanya orang mencurigakan mendekati tempat kita.”
“Oooh, jadi suara beruntun dua kali barusan menandakan kalau orang yang
mencurigakan itu sudah pergi?”

“Tidak salah!” toosu itu bangkit berdiri dan menambahkan. “Pinto akan pergi lebih
dahulu.”
“Aku sipengemis tua pun mencari beberapa orang pembantu, aku berpisah pula lebih
dahulu.”
Murid Kay pang tersebar dimana2, Kota Ooh Chioe sebagai sebuah kota tentu saja
terhindar dari jelajahan murid2 Kay pang. Soen put shia sebagai seorang Tiangloo tentu
saja tidak sukar untuk mendapatkan bala bantuan.
Setelah beberapa orang itu berlalu, Boe wie Tootiang baru memandang sekejap kearah
Sang Pat sambil berkata, “Walaupun luka yang diderita hanya luka luar belaka, tapi kau
sudah terlalu banyak kehilangan darah, lebih baik beristirahatlah selama beberapa hari.”
“Siauwte rasa beristirahat setengah haripun rasanya sudah lebih dari cukup.”
Ketika sore hampir menjelang, Siauw Ling dengan membawa serta Tiong Cho Siang Ku
serta Ceng Yap Chin berangkat meninggalkan rumah penginapan Lak Hoo dan menuju
kelenteng Koen Eng Loe.
Koen Eng Loo adalah rumah makan terbesar dikota Ooh Chioe, ketika Siauw Ling
sekalian tiba disana, Boe wie Tootiang serta Suma Kan sekalian telah duluan.
Kali ini Boe wie Tootiang menyaru sebagai seorang kakek berjubah hijau yang sangat
angker. Seandainya tidak berjanji lebih dahulu mungkin Siauw Ling tidak akan mengenali
dirinya kembali.
Suma Kan tetap berdandan sebagai seorang tukang ramal.
Saat itu sore belum tiba, tamu yang ada diatas loteng pun hanya enam bagian Siauw
Ling putar biji matanya menyapu sekejap kesekeliling sana kemudian melangkah masuk
kesebuah kamar.
Didalam kamar sana telah menanti dua orang toosu muda yang membawa sebuah
buntalan.
Siauw Ling segera tukar pakaian, membersihkan wajahnya dari obat penyaruan dan
memulihkan kembali wajah aslinya. Setelah itu dia baru munculkan diri dan mencari
tempat duduk.
Tempat yang dipilih Siauw Ling strategis letaknya, barang siapa pun yang naik keatas
loteng tentu akan menjumpai wajahnya.
Dalam pada itu Sang Pat, Tu Kioe serta Ceng Yap Chin menyebar disekeliling meja
Siauw Ling untuk melindunginya secara diam2, enam buah sorot mata tiada hentinya
mengawasi gerak gerik setiap tamu dengan hati tegang.

Siapapun tidak tahu serangan keji apakah yang telah direncanakan Djen Bok Hong
untuk mencelakai Siauw Ling, mereka takut sedikit melengah mengakibatkan si anak
muda itu terbokong.
Tidak selang beberapa saat Siauw Ling duduk disana, mendadak dari sudut timur laut
berdiri seseorang dan segera turun kebawah.
“Hati2 dengan keparat itu” bisik Sang Pat cepat.
Tu Kioe mengangguk, dengan tajam ia perhatikan terus gerak gerik orang itu.
Tampak orang itu berhenti sejenak dimulut loteng, kemudian berpaling dan
memperhatikan lagi diri Siauw Ling, setelah itu baru turun dari loteng dan berlalu.
Beberapa saat kemudian muncul seorang pelayan dan membawa nampan sayur, ia
bagikan dahulu sayur itu pada empat meja tamu, kemudian menghampiri Siauw Ling
sambil menyapa, “Khek koan, kau hendak pesan sayur apa?”
Siauw Ling sebutkan dua macam sayur dan sepoci arak, pelayan itu segera berlalu.
Beberapa saat kemudian pelayan tadi telah muncul kembali menghidangkan sayur
pesanan.
Pelayanan yang dilakukan sang pelayan dengan cepatnya ini segera mencurigakan hati
Sang pat, kembali bisiknya kepada Tu Kioe, “Aku rasa keadaan rada tidak beres….”
“Bagaimana yang kurang beres?”
“Baik dalam rumah makan besar maupun dalam rumah makan kecil sudah menjadi
kebiasaan perilakunya suatu peraturan dimana yang datang duluan dilayani lebih dahulu,
tapi coba kau lihat pelayan tersebut kenapa ia melayani Liong tauw toako kita melampaui
batas? kau harus hati2 memperhatikan gerak geriknya.”
Sementara itu pelayan tadi sudah mendekati Siauw Ling, diam2 Tu Kioe mengepos
tenaga melakukan persiapan, asal pelayan itu menunjukkan tingkah laku yang
mencurigakan dengan suatu gerakan secepat kilat dia akan melancarkan seragan
mematikan.
Tetapi pelayan itu tidak melakukan sesuatu gerakanpun, setelah meletakkan sayur dan
arak tadi keatas meja dia segera mengundurkan diri.
Diam2 Tu Kioe bernapas lega pikirnya, “Sang Loo jie terlalu berhati2, sekalipun Djen
Bok Hong telah sebarkan mata2nya dimana2, tidak mungkin dia bisa mengutus anak
buahnya jadi pelayan dalam rumah makan Koen Eng Loo ini….”
Dalam pada itu pelayan tadi sudah mendekati Ceng Yap Chin, setelah menanyakan
pesanan sayur dan arak diapun berlalu.

Perlahan2 Siauw Ling angkat cawan araknya hendak diteguk, tapi sebelum cawan
tersebut menempel dibibirnya serentetan suara berbisik yang amat lembut telah
menyusup kedalam telinganya.
“Jangan kau teguk arak itu, dan jangan kau sentuh sayur yang dihidangkan!”
Bukan saja suara itu kedengaran asing sekali bahkan tidak mirip nada pria, dengan
cepat Siauw Ling menyapu sekejap sekeliling tempat itu, menanti dilihatnya diatas loteng
tiada seorang perempuanpun ia baru berpikir dengan hati tercengang, “siapakah orang
itu? kenapa dia memberi peringatan kepadaku….”
Beberapa saat telah lewat, pelayan tadipun muncul kembali seraya memperhatikan
sayur dan arak dimeja Siauw Ling mendadak tegurnya, “Eeeei…. Khek Koan kenapa kau?
apakah arakanya kurang panas?”
“Ooooh bukan….”
“Apakah sayurnya kurang sedap?”
“Juga bukan!”
“Kalau memang sayur dan arak kami lezat, kenapa Khek Koan tidak bersantap?” tanya
pelayan tadi sambil memandang sekejap sayur dan arak dimeja.
Mendengar teguran tersebut, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Siauw
Ling.
“Seorang pelayan, kenapa dia begitu suka mencampuri urusan orang lain?” pikirnya.
Setelah berkelana beberapa waktu dalam dunia persilatan, pengalamannya sekarang
telah makin bertambah, kendati dalam hatinya telah timbul rasa curiga namun diatas
wajahnya sama sekali tidak diutarakan perasaan tersebut ia tersenyum hambar.
“Cayhe tidak bersantap karena secara lapat2 aku mencium suatu bau yang sangat aneh
dalam sayur serta arak ini….” bisiknya.
“Aaah, Khek Koan pandai benar bergurau!”
“Kalau kau tidak percaya nah coba minumlah sendiri, silahkan…. silahkan….”
Sembari berkata tangannya bergerak cepat, tangan kanannya laksana kilat menotok
jalan darah Hong Hu dikaki kanan pelayan itu sementara tangan kirinya yang membawa
cawan dengan disaluri tenaga kweekang segera mencekokkan arak tadi kedalam
mulutnya.
Gerakan yang dilakukan si anak muda ini cermat sekali, meskipun dia memaksa pelayan
itu untuk meminum arak dalam cawan, tetapi para tamu yang ada diatas loteng tak
seorangpun yang tahu.

Sambil meletakkan cawan arak tadi keatas meja perlahan2 Siauw Ling bangun bediri, ia
tabok punggung pelayan tadi hingga arak dalam mulutnya terteguk kedalam perut,
setelah itu sambil melepaskan jalan darahnya yang tertotok katanya, “Loo heng, semoga
kau tetap sehat walafiat!”
Begitu jalan darahnya terbuka pelayan itu cepat2 lari turun kebawah, tetapi berhubung
racun yang mengeram dalam perutnya sangat keji maka baru saja tiba dimulut loteng ia
sudah jatuh terjungkal dan muntah darah segar.
Hanya dalam sekejap mata darah telah mengucur keluar dari kelima inderanya, setelah
berkelejit sebentar tamatlah riwayat pelayan tersebut.
Diam2 Siauw Ling merinding setelah melihat betapa kejinya racun yang dipersiapkan
untuknya, bilamana tidak ada orang yang memberi peringatan kepadanya, arak tadi
niscaya telah diteguknya kedalam perutnya.
Sementara itu suasana diatas loteng jadi gaduh dan menarik perhatian banyak orang.
Pada saat itulah berdiri seorang tamu dari tempat duduknya, laksana kilat dia sambar
jenasah pelayan tadi dan kabur turun dari loteng.
“Aaah, dalam rumah makan ini tentu masih terdapat banyak sekali jago-jago lihay
perkampungan Pek Hoa San cung yang mencampur baurkan diri dengan para tamu” pikir
Siauw Ling didalam hati. “Musuh dalam kegelapan sedang aku ada ditempat yang terang,
tak baik aku berdiam terlalu lama disini.” setelah meletakkan beberapa pecahan uang
perak keatas meja ia segera bangkit berdiri dan turun dari loteng.
Tu Kioe segera berbisik kepada Sang Pat, “Sungguh tak disangka Djen Bok Hong telah
siapkan jebakan maut dalam rumah makan, ayoh kita berangkat!”
Tanpa banyak bicara ia turun lebih dahulu dari atas loteng.
Ceng Yap Chin menyapu sekejap kesekelilingnya, mendadak ia berteriak keras, “Aduh
celaka, dalam sayur dan arak ada racunnya, hati2….”
Robohnya sang pelayan tanpa sebab barusan telah memancing perhatian banyak
orang, setelah mendengar teriakan pula dari Ceng Yap Chin, suasana berubah makin
kalut.
Menggunakan kekalutan itu buru2 Ceng Yap Chin meloloskan diri dari atas loteng.
Dalam pada itu Siauw Ling telah turun dari atas loteng dan segera lari kearah luar,
tetapi baru saja ia tiba didepan pintu suara yang lembut halus tadi kembali berkumandang
disisi telinganya.
“Hati2 dengan serangan bokongan.”
Siauw Ling menoleh, tapi orang itu tidak ditemukan juga, ia lantas berpikir, “Ia tak mau
munculkan diri, berarti belum saatnya ia bersedia untuk menjumpai diriku.”

Jilid 23
Jarum2 beracun itu halus bagaikan bulu kerbau, meskipun ada dua orang mati binasa
tanpa diketahui oleh sebabnya namun orang2 yang berada disekitarnya sama sekali tidak
mengerti apa sebabnya mereka bisa mati secara tiba2.
Siauw Ling benar2 naik pitam menyaksikan kekejian orang, dengan sorot mata
bagaikan elang dia periksa setiap manusia yang berada disekitar situ, tapi sayang
berhubung jumlah orang yang terlalu banyak sulit baginya untuk menemukan sang
pembokong tersebut.
Dalam pada itu sepasang pedagang dari Tiong Chiu serta Ceng Yap Chin telah turun
dari atas loteng menyaksikan jenasah dua orang yang mulai menghitam tadi, mereka
kaget buru2 mereka loncat keluar dari rumah makan.
Pada saat ini kemarahan berkobar dalam dada Siauw Ling betul2 telah memuncak ia
berdiri didepan pintu sambil menyapu kesana kemari dengan mata melotot, saking
gusarnya hingga si anak muda itu lupa menyingkir dari sana.
“Toako, cepat menyingkir!” buru2 Sang Pat berseru sambil berlalu dari sisinya.
Siauw Ling tersentak kaget dan segera sadar akan keadaan disekelilingnya, teringat
bahwasannya masih ada masalah besar yang harus diselesaikan ia segera berlalu
mengikuti dibelakang Tiong Cho Siang Ku, pikirnya, “Cara Djen Bok Hong mengutus
orang2nya untuk melancarkan serangan bokongan terhadap diriku betul2 tak diduga
sebelumnya, dikemudian hari aku harus bertindak lebih hati2.”
Ceng Yap Chin mengikuti dari kurang lebih lima enam depa dibelakang Siauw Ling.
Perhatiannnya dipusatkan pada empat penjuru dan diam2 ia melakukan perlindungan
terhadap keselamatan si anak muda itu.
Hawa amarah yang berkobar dalam dada Siauw Ling belum juga padam, diam2 iapun
waspada dan mepersiapkan diri asalkan orang membokong dirinya ditemukan maka dia
siap menghajar orang itu tanpa ampun.
Setelah melewati dua buah jalan raya sampailah mereka disebuah perempatan jalan,
tampaklah disepanjang tepi jalan penuh dengan penjual kaki lima yang menjajakan
barang dagangannya kepada para pelewat.
Siauw Ling alihkan sinar mata kesekeliling sana, ia jumpai kira2 lima tombak disebelah
kiri terdapat sebuah lorong yang agak sepi, pikirnya, “Melewati jalan yang ramai dan
penuh sesak dengan orang, bahaya yang mengancam semakin besar, sebab ditempat
yang seperti inilah serangan bokongan paling mudah dilancarkan.
Sementara ia ada maksud menyapa Sang Pat dengan ilmu menyampaikan suara, tiba2
tampaklah seorang pengemis setengah baya datang menghampiri dirinya sementara
sepasang matanya mengawasi terus wajahnya tanpa berkedip.

Suatu ingatan berkelebat dalam benak si anak muda itu, kembali dia berpikir, “Sudah
lama kudengar bahwasannya anak murid Kay pang tersebar luas diseluruh penjuru dunia,
orang itu mengawasi terus diriku jangan2 dia telah mendapat perintah dari Soen put shia
untuk menyampaikan pesan padaku.”
Belum habis ingatan tadi berkelebat dalam benaknya, pengemis setengah baya itu
sudah tiba kurang lebih tiga empat depa dihadapannya, terdengar orang itu menegur lirih,
“Apakah Siauw thayhiap?”
“Tidak salah, apakah Heng thay adalah anggota Kay pang….”
Belum habis dia berkata mendadak pengemis itu ayunkan sepasang tangannya, tangan
kanan melepaskan segenggam jarum beracun sedangkan tangan kirinya mencabut keluar
sebilah pisau belati dan langsung ditusukan kearah ulu hati si anak muda itu.
Didalam jarak yang sedemikian dekatnya serangan bokongan paling gampang
memperoleh hasil, sebab kendati tusukan pisau belati itu dapat dihindari namun ancaman
jarum beracun sukar dielakkan.
Untung Siauw Ling telah mempersiapkan diri setelah berulang kali mendapat serangan
bokongan, meskipun dia bercakap2 dengan pengemis tadi namun kewaspadaannya sama
sekali tidak dikendorkan, tatkala dilihatnya orang itu ayunkan sepasang telapaknya, ia
segera mengirim satu pukulan dahsyat diikuti badannya berjumpalitan kebelakang dan
bergeser tiga depa dari tempat semula.
Dalam keadaan yang amat terdesak tak mau Siauw Ling harus keluarkan gerakan
jembatan gantung untuk meloloskan diri dari datangnya ancaman jarum beracun itu.
Ilmu silat yang dimiliki pengemis setengah baya itu tidak lemah, tatkala dilihatnya
Siauw Ling menghindar kesamping dengan gerakan yang cepat kemudian mengirim satu
pukulan dahsyat kearah dadanya, iapun segera mengigos dua langkah kesamping. Tangan
kiri digetarkan pisau belati itu segera meluncur kearah si anak muda itu.
Kemudian ia putar badan dan melarikan diri kearah barat.
Terdengar beberapa jeritan ngeri berkumandang ditengah keramaian, empat lima
orang sama2 roboh binasa terhajar jarum beracun itu.
Melihat ada beberapa orang jatuh korban karena termakan jarum beracun tersebut,
kegusaran Siauw Ling yang tadi telah mereda kini berkobar kembali. Dengan cepat ia
sambut datangnya bidikan pisau belati itu, kemudian ia loncat ketengah udara dan ayun
pula senjata tadi kedepan.
Ilmu melepaskan senjata rahasia dari Liuw Sian Cu tersohor akan lihaynya, serangan
yang dilancarkan Siauw Ling dalam keadaan gusar bida dibayangkan betapa hebatnya,
mengiringi satu desiran tajam yang memekikkan telinga senjata tadi meluncur kearah
depan.
Gerakan tubuh pengemis setengah baya itu cepat tapi serangan balasan dari Siauw
Ling datangnya jauh lebih cepa lagi.

Sementara itu pengemis tadi tela berada kurang lebih dua tombak jauhnya, sewaktu ia
tak mendengar suara kejaran dari si anak muda itu tanpa sadar pengemis itu telah
berpaling kesamping.
Disaat ia menoleh itulah pisau belati tersebut telah menyambar tiba tampak cahaya
putih berkelebat lewat, tidak sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri dari pisau
tersebut dengan telak telah menghujam diatas batok kepalanya dan amblas hingga tinggal
gagangnya belaka.
Pengemis itu sungguh cekatan, sekalipun batok kepalanya sudah tertembus oleh pisau
belati namun dia masih sanggup untuk mencabutnya keluar, kemudian setelah melihat
beberapa tombak lagi ia baru roboh keatas tanah dan mati.
Suasana ditengah jalan itu segera berubah jadi gaduh, suara teriakan2 kaget
berkumandang dimana2.
“Aduh celaka, ada orang mati terbunuh…. ada orang mati terbunuh….”
Suasana jadi kacau balau suara hirup pikuk menggema ditengah jalan, orang pada lari
bersiuran mencari perlindungan….
Sang Pat cepat mendekati saudara angkatnya. Sambil menarik ujung baju si anak muda
itu bisiknya, “Ayoh cepat menyingkir, ikutilah dibelakang siauwte!”
Dengan sedih Siauw Ling menghela napas tanpa mengucapkan sepatah katapun ia
berlalu mengintil dibelakang sie poa emas.
Pada saat itu baik Sang Pat maupun Tu Kioe telah memahami situasi disekitar mereka
dewasa ini, meskipun orang2 dari perkumpulan Pek Hoa San cung menyaru jadi pelbagai
corak ragam manusia dan siap melancarkan serangan bokongan namun sasaran yang
dituju hanyalah Siauw Ling seorang, diam2 mereka berdua telah berunding masak2, maka
dengan memisahkan diri satu didepan yang lain dibelakang mereka dilindungi Siauw Ling
mengundurkan diri dari situ.
Setelah membelok masuk kedalam sebuah gang yang sunyi, Sang Pat menyelinap
kebalik pintu loteng yang tinggi dari sakunya dia ambil keluar sebuah topeng dan ujarnya
sambil serahkan benda itu kepada Siauw Ling.
“Toako, cepat kenakan topeng kulit ini!”
Siauw Ling kenakan topeng tadi, sementara itu Tu Kioe telah mempersiapkan sebuah
jubah hijau sambil dikenakan pada tubuh saudaranya iapun menambahkan, “Toako,
setelah kau kenakan jubah ini maka tak akan mengetahui akan dirimu lagi.”
Siauw Ling terima pakaian tadi dan cepat2 dikenakan, sementara Ceng Yap Chin pun
telah menyusul tiba, terdengar ia berkata dengan suara gelisah.
“Suasana dijalan raya sangat kacau, para petugas hukum sebentar lagi bakal tiba
disana siauwte rasa tempat ini tak boleh ditinggali terlalu lama, mari kita cepat berlalu!”

Empat orang secara beruntun melewati beberapa buah gang yang sepi dan akhirnya
muncul kembali dijalan besar lainnya.
“Lebih baik kita pura2 saling tidak kenal, tetapi jangan berpisah terlalu jauh” usul Sang
Pat. “Dengan begitu kita bisa saling bantu membantu.”
Selanjutnya beberapa orang itu tidak mendapat serangan bokongan lagi, ketika
dilihatnya waktu sudah tidak pagi maka Siauw Ling berjalan masuk kedalam sebuah
rumah makan.
Ruangan rumah makan tidak terlalu luas, rupanya khusus digunakan untuk melayani
kaum pedagang kecil dan pekerja besar apalagi waktu makan sudah lewat, yang berada
didalam ruangan hanya tinggal tiga empat orang belaka.
Mereka berempat segera masuk kedalam kedai dan masing2 mengambil tempat duduk
yang terpisah.
Kecuali beberapa macam sayur tiada masakan lain yang lebih lezat, terpaksa Siauw
Ling sekalian pesan arak dan perlahan2 bersantap.
Baru saja sayur dan arak dihidangkan, dari luar kedai tiba2 muncul empat orang lelaki
kekar.
Dalam kedai itu semuanya hanya ada tujuh buah meja, setelah Siauw Ling sekalian
menempati empat buah meja ditambah pula sisanya tiga meja sudah diisi orang maka tak
ada meja kosong lagi yang sedia.
Keadaan empat orang lelaki itu memakai pakaian ringkas semua, orang pertama
menggembol senjata Giam Ong Pit, suatu senjata berbentul istimewa sedangkan sisanya
tiga orang menggembol sebilah golok.
Siauw Ling dengan tajam memperhatikan keempat orang itu, ia jumpai pada pinggang
masing2 orang tergantung sebuah kantung piauw, kantung itu menonjol tinggi sekali,
siapapun yang melihat segera akan mengetahui isi kantung itu penuh sekali dengan
senjata rahasia.
Tampak lelaki pertama bersenjatakan Giam Ong pit tadi langsung berjalan kearah
Siauw Ling dan duduk dihadapannya.
Sedangkan sisanya bertiga masing2 duduk semeja dengan Sang Pat, Tu Kioe serta
Ceng Yap Chin.
Baik Tiong Cho Siang Ku maupun Ceng Yang Chin telah menyaru semua dengan
dandanan lain, dalam keadaan begini meskipun seseorang yang kenal dengan merekapun
belum tentu mengetahui akan asal usulnya.
Dalam pada itu lelaki bersenjata Giam Ong Pit tadi sudah duduk dihadapan Siauw Ling,
ia perhatikan sejenak wajah si anak muda itu kemudian secara tiba2 merampas poci arak

yang berada dihadapannya, tanpa minta persetujuan dari sang pemiliknya lelaki itu angkat
poci arak tersebut dan segera diteguk isinya.
Sungguh hebat takaran minum orang itu, bukan saja gerak geriknya cepat bahkan
rakus dalam waktu singkat arak dalam poci tadi sudah disikatnya hingga tak terasa.
Dalam hati Siauw Ling merasa tidak senang dengan tingkah laku orang itu namun dia
paksakan diri untuk bersabar.
Selesai menghabiskan isi poci arak tadi, lelaki tersebut mendorong balik poci kosong itu
kehadapan Siauw Ling.
Pemuda kita mnghembuskan napas panjang. Ia tetap membungkam dalam seribu
bahasa.
Terdengar lelaki yang duduk semeja dengan Tu Kioe tiba2 berseru dengan suara
lantang, “Sebentar lagi kalau terjadi suatu peristiwa diluar dugaan, harap cuwi sekalian
tetap duduk tak berkutik dimejanya masing2. Dari pada nantinya mengalami nasib malang
atau terluka parah diujung senjata!”
Siauw Ling terperanjat, pikirnya, “Dalam ruangan ini kecuali aku serta kedua orang
saudaraku hanya ada Ceng Yap Chin serta dua orang kakek tua bongkok, apakah mereka
sudah tahu akan asal usul dari kami berempat….”
Belum habis dia berpikir tiba2 pintu kedai dibuka orang, dan muncullah seorang kakek
tua berjubah panjang.
Kakek itu memperhatikan sekejap sekeliling ruangan berjalan kehadapan Sang Pat
katanya, “Bolehkah cayhe minta sedikit tempat duduk?”
Disekitar meja Sang Pat telah ditempati seorang lelaki bersenjata golok tunggal, kiri
ditambah pula dengan kakek berjubah hijau itu maka jumlahnya berubah jadi tiga orang.
Sie poa emas Sang Pat sudah lama berkelana didalam dunia persilatan, membicarakan
soal ilmu silatnya boleh dibilang jagoan nomor wahid dalam dunia kangouw, kecerdikan
yang dimilikipun melebihi orang lain kendati ia merasa curiga atas kehadiran kedua orang
itu namun ia tetap bersabar diri, hanya saja secara diam2 diperhatikan sekejap raut wajah
kedua orang itu.
Tampak kakek berjubah hijau itu mempunyai sepasang kening yang menonjol tinggi
keluar, jelas dia adalah seorang jagoan kweekang yang lihay, sedangkan lelaki bersenjata
golok tadi meskipun jauh lebih kekar dan kuat tapi kalau dibandingkan dengan kakek
berbaju hijau itu jelas masih terpaut jauh.
“Entah siapakah orang2 itu?” pikir Sang Pat dengan perasaan tercengang. “Tapi kalau
ditinjau keadaan mereka, rupanya bukan sengaja ada maksud memusuhi kami.”
Diantara keempat orang rombongan Siauw Ling, Ceng Yap Chinlah yang mula2 tidak
kuat menahan diri. Menyaksikan orang itu duduk seenaknya disitu tanpa permisi hatinya
merasa amat mendongkol bercampur gusar, beberapa kali dia hendak mengumbar napsu

tetapi ketika dilihatnya Siauw Ling sekalian tidak menunjukkan suatu gerakan apapun,
terpaksa diapun bersabar diri.
Lewat beberapa saat kemudian lelaki bersenjata Giam Ong Pit itu tak sanggup
mempertahankan diri, dia bangkit mendekati kakek berjubah hijau itu lalu menjura
dengan penuh hormat, ajarnya, “Cungcu, aku lihat mereka tak akan datang!”
“Tidak mungkin” sahut kakek berjubah hijau itu seraya menggeleng. “Setelah mereka
menjanjikan suatu pertemuan ditempat ini, tak mungkin orang2 itu ingkar janji, kita
tunggu saja beberapa saat lagi!”
“Oooh, kiranya mereka ada janji dengan orang” pikir Siauw Ling didalam hati. “Cuma
entah apa sebabnya mereka memilih tempat ini?”
Sang Pat sendiri dalam hatipun secara lapat2 merasa rada kenal dengan kakek
dihadapannya, cuma untuk sesaat dia merasa lupa siapakah orang itu.
Karena ingin tahu tanpa sadar dia memperhatikan beberapa saat raut wajah kakek
berjubah hijau itu.
“Hey, apanya yang bagus dipandang?” tegur lelaki disisinya sambil tertawa dingin.
Sang Pat terperanjat, buru2 ia melengos kesamping.
Tiba2 lelaki bersenjata Giam Ong Pit itu menaruh curiga, dipandangnya Sang Pat
dengan dingin lalu tegurnya, “Siapa saudara?”
“Hamba cuma seorang kusir kereta!”
Tiba2 silelaki itu melancarkan sebuah serangan mencengkeram pergelangan Sang Pat.
Sie poa emas mengerti asal ia menghindar kesamping maka kedudukannya segera akan
terbongkar, maka ia tetap tenang saja membiarkan pergelangannya dicengkeram orang.
“Jangan banyak bikin onar!” seru kakek berjubah hijau seraya ulapkan tangannya.
Lelaki bersenjata Giam Ong Pit itu rupanya menaruh rasa sangat hormat dan segera
lepas tangan.
Bruk….! tiba2 pintu kedai didorong orang, seorang lelaki muda berusia dua puluh lima
enam tahunan dengan memakai pakaian ringkas berwarna biru masuk kedalam ruangan.
Begitu melihat siapa yang datang Siauw Ling terperanjat segera pikirnya, “Akh….!
ternyata Djen Bok Hong pun sudah tiba dikota Ooh Chioe! aku harus lebih waspada.”
Ternyata orang yang baru saja munculkan diri itu bukan lain adalah Tang Hiong Chang
murid tertua dari Djen Bok Hong.
Begitu tiba dalam ruangan Tan Hiong Chang kerlingkan biji matanya menyapu sekejap
sekeliling tempat itu, lalu menegur, “Apakah kau adalah Coe Loo Ya cu?”

Perlahan2 kakek berjubah hijau itu bangkit berdiri.
“Sedikitpun tidak salah, cayhe adalah Coen Boen Ciang dari kota Lok yang….”
“Sudah lama kudengar akan namamu sungguh beruntung kita bisa berjumpa muka
pada hari ini.”
“Terima kasih, terima kasih, lalu bagaimana pula sebutan Heng thay?”
“Cayhe she Tan bernama Tan Hiong Chang disini ada selembar undangan harap Coe
loocianpwee suka memeriksanya.”
Coen Boen Ciang menerima surat undangan itu, setelah dilihatnya sekejap ia berkata,
“Bagaimana pula keadaannya dengan Djen Cungcu?”
“Bagus, tolong sampaikan kepada suhumu dan katakanlah kalau loolap akan
mengetahui janji pada saatnya.”
“Lalu bagaimana pula dengan Chin, Yoe, Kho tiga orang loocianpwee? apakah
merekapun akan memenuhi janji?”
“Tan heng tak usah kuatir!”
“Bagus, kalau begitu boanpwee akan segera mohon diri.”
“Silahkan, maaf kalau loolap tidak akan menghantar!”
Tidak lama setelah Tan Hiong Chang berlalu. Coen Boen Ciangpun bangkit berdiri dan
berjalan keluar dari ruangan dengan langkah lebar.
Lelaki bersenjata golok itupun segera bangkit berdiri dan berlalu dari sana.
Arak dalam poci serta cawan Siauw Ling telah dihabiskan lelaki tadi, menanti beberapa
orang itu berlalu ia baru panggil pelayan untuk mengganti poci serta cawannya.
ketika pelayan itu mengambil cawan arak tiba2 ia berseru, “Ooooh ada uangnya!”
Siauw Ling menoleh, sedikitpun tidak salah disisi cawan telah tertera sekeping uang
perak, dia tahu bahwa uang itu tentunya lelaki tadi yang meninggalkannya disana, diam2
pikirnya, “Walaupun orang itu kelihatan goblok, rupanya dia bukan termasuk manusia
yang suka minum tanpa membayar….”
Tampak Sang Pat mendongak dan bergumam seorang diri, “Coe, Chin, Yoe, kho
mereka pastilah Bulim Su Tay Hian atau empat pujangga besar dari dunia persilatan.”
Siauw Ling bangkit berdiri menghampiri sisi saudara angkatnya, lalu bertanya, “Saudara
Seng, apakah aku kenal dengan kakek berbaju hijau tadi?”

“Sudah lama kudengar akan nama besar dari Coe Boen Ciang yang berasal dari kota
Lok yang, diantara Coe, Chin, Yoe, Kho, Coe Boen Cianglah yang bertindak sebagai
pemimpin. Sungguh tak nyana Djen Bok Hong telah mencari gara2 dengan empat
pujangga besar yang tak pernah mencampuri dunia persilatan ini.”
“Bagaimana dengan ilmu silat mereka?”
“Menurut kabar yang tersiar katanya ilmu silat yang dimiliki empat pujangga dunia
persilatan sangat lihay, hanya saja disebabkan kehidupan mereka teramat sederhana dan
tidak suka mengadakan hubungan dengan orang2 Bulim, tak mau bergelimpangan
diantara pembunuhan dan tidak kemaruk nama dan pangkat jarang sekali ada orang yang
mengetahui keadaan mereka sedalam2nya.”
“Mereka mengasingkan diri dari keramaian Bulim hal tersebut sebenarnya merupakan
kebebasan mereka pribadi, tetapi kalau keempat orang itu memiliki ilmu silat lihay lagi
pula mengetahui kalau dunia kangouw sedang dijelajahi iblis berambisi besar namun
mereka tak mau juga tampil kedepan, perbuatan itu tidak bisa terhitung sebagai suatu
tindakan seorang enghiong.”
“Ucapan toako tepat sekali.”
“Rupanya Djen Bok Hong telah muncul pula dikota Ooh Chioe” ujar Siauw Ling sambil
bangkit berdiri. “Jejak kita sudah ketahuan, rasanya tiada berpaedah kalau kita lebih lama
berdiam disini, ayoh kita pergi” selesai membereskan rekening dia lantas berlalu.
Waktu itu Siauw Ling mengenakan sebuah topeng kulit manusia yang berwarna hijau
kekuning2an, pada pipi kanan terdapat sebuah bulu hitam yang panjang. Sepintas lalu
wajahnya nampak jelek sekali.
Sang Pat berjalan berdampingan dengan Siauw Ling, sedangkan Tu Kioe bersama Ceng
Yap Chin menggunakan kesempatan itu mereka meninjau keadaan situasi dikota Ooh
Chioe dan diingat2nya didalam hati.
Menanti senja telah menjelang tiba, mereka berempat baru masuk kedalam sebuah
kedai penjual tahu.
Dua orang anggota Bu tong pay telah menanti disitu. Siauw Ling sekalian segera
melepaskan topeng dan mengganti saruan mereka.
Kali ini Ceng Yap Chin memakai jubah warna hijau dan berdandan sebagai seorang
kongcunya yang perlente. Setelah wajahnya sedikit dimake up maka wajah aslinya segera
tertutup.
Sang Pat memakai jubah panjang topi bundar, kemudian memakai pula mantel warna
hitam. Wajahnya ditutupi topeng, dia berdandan jadi seorang pengusaha gedung
hartawan.
Tu Kioe pun mengenakan topeng kulit berjanggut cabang tiga, menggantungkan golok
dipinggang dan menyaru sebagai seorang pengawal.

Siauw Ling berdandan jadi seorang kacung kecil pengiring Ceng Yap Chin, dia pakai
baju hijau, topi kecil dan mengenakan topeng berwajah kekanak2an.
Selesai keempat orang itu menyaru, seorang anggota Bu tong pay segera menjura dan
berkata, “Ciangbunjien kami serta Soen loocianpwee telah berjanji perduli kejadian
apapun yang telah berlangsung pada kentongan kelima semua orang harus sudah
berkumpul disini.”
“Baik!” Siauw Ling mengangguk. “Kalian baik2lah melindungi tempat ini.”
Anggota Bu tong pay yang lain mendekati Ceng Yap Chin dan berbisik dengan suara
lirih, “Susiok, kedudukanmu sekarang adalah putra kedua dari Jan Tay jien pembesar
tinggi daerah kanglam yang bernama Jan Kie Cheng!”
“Baik, akan kuingat selalu” sahut Ceng Yap Chin sambil tersenyum, ia menoleh kearah
Siauw Ling dan menambahkan, “Siauw thayhiap bagaimana kalau untuk sementara waktu
siauwte panggilkan dengan nama Jan Leng?”
“Suatu nama yang sangat bagus?”
Begitulah meminjam kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, keempat orang
itu keluar dari lorong terpencil dan menuju kejalan besar, dimana sebuah kereta
berkerudung hitam telah disiapkan.
Seorang anggota Bu tong pay yang menyaru sebagai kusir loncat turun dari kereta
menyongsong kedatangan mereka ujarnya, “Soen loocianpwee sedang menanti didalam
kereta!”
Keempat orang itu segera naik kedalam kereta tampaklah Soen put shia telah
memulihkan wajahnya dengan raut wajah asli. Pakaian yang dikenakanpun pakaian butut
seorang pengemis.
“Loocianpwee, apakah kau berhasil menemukan anggota perkumpulanmu??” tanya
Siauw Ling seraya menjura.
Soen put shia tersenyum.
“Aku sipengemis tua tidak terbiasa untuk menyaru jadi ini jadi itu, aku rasa lebih baik
kugunakan wajahku yang asli saja….”
Ia merandek sejenak, kemudian terusnya, “Aku sipengemis tua telah berhasil
menemukan beberapa orang pengemis cilik yang siap mendengarkan perintahku, cuma
semua gerakan telah diatus oleh Boe Wie Tootiang. Aku sipengemis tua hanya ada
sepatah kata hendak kusampaikan kepada kalian, setelah masuk kedalam gedung Jam
kam Soe It janganlah kalian berlaku sungkan2 lagi. Menurut laporan dari anggota Kay
pang, Djen Bok Hong telah tiba dikota Ooh Chioe bahkan jago lihay yang mengiringi
dirinya sangat banyak, seandainya sampai terjadi pertempuran kalian harus turun tangan
keji, telengas dan tidak kenal ampun….”
“Mungkin kami bisa berjumpa dengan Djen Bok Hong pada malam nanti???”

“Seandainya dia tahu kalau kau Siauw Ling akan pergi kesitu, kendati dia sedang
menghadapi masalah yang bagaimana besarpun pasti akan disingkirkan untuk sementara
waktu….”
Ia merandek sejenak, kemudian ujarnya lagi, “Katanya ilmu silat yang dimiliki
perempuan2 dalam gedung Sam Kang Soe It sangat lihay semua, kalian harus berhati2,
jangan sampai kamu terbokong oleh serangan mereka karena terbuai oleh rayuan maut
mereka.”
“Loocianpwee tak usah kuatir!”
“Aku sipengemis tua beserta anggota Kay pang akan menyambut kalian diluar….” sinar
matanya beralih keatas wajah Ceng Yap Chin dan menambahkan. “Suhengmu betul2 lihay
dan berakal cerdik, buka saja sempurna rencananya tindak tanduknyapun amat cekatan,
dia betul2 manusia yang berbakat.”
Sedang hati Ceng Yap Chin mendengar suhengnya dipuji orang, buru2 serunya,
“Loocianpwee terlalu memuji!”
“Dengan dandanan aku sipengemis tua rasanya tidak pantas untuk ikut masuk kedalam
sarang pelacuran, kita berpisah sampai disini dahulu….!” sepasang pundak bergerak dan
ia sudah loncat keluar dari dalam kereta.
Sementara itu kereta sudah berlari kencang, putaran roda bergetar ditengah jalan yang
ramai.
Siauw Ling segera berbisik kepada Ceng Yap Chin, “Kalau keadaan tidak terlalu
mendesak lebih baik jangan turun tangan, agar supaya otak yang diutus Djen Bok Hong
untuk mengatur semua rencana kejinya dikota Ooh Chioe tidak sampai keburu melarikan
diri dari sini.”
Dalam pembicaraan itu mendadak kereta yang mereka tumpangi berhenti berlari,
kiranya mereka sudah mendekati gedung Sam Kang Soe It.
Tu Kioe menyingkap horden mengintip keluar, tampaklah manusia yang berlalu lalang
disitu amat penuh dan saling berdesak2an. Lampu lentera bergantungan dikedua belah
sisi jalan, saking penuhnya lautan manusia yang ada disana hingga kereta mereka tak
dapat bergerak lebih jauh.
Tu Kioe segera loncat turun dari atas kereta, bentaknya dengan suara gusar, “Hey,
ayoh pinggir…. pinggir…. cepat menyingkir dari sini!”
Tangannya direntangkan kesamping, tujuh delapan orang disekelilingnya segera
terdorong hingga mundur terhuyung2 kebelakang.
Meskipun dandanannya sederhana dan cuma memakai baju hijau topi hijau, tapi
goloknya yang tersoren dipinggang serta gerak geriknya yang kasar dan buas membuat
siapapun mengira kalau dia adalah tukang pukul bayaran.

Orang2 yang kena didorong Tu Kioe sebenarnya merasa sangat tidak puas, tetapi
setelah menyaksikan dandanannya serta melihat pula kemegahan kereta kuda
dibelakangnya, siapapun tidak berani buka suara, terpaksa mereka bersabar diri dan
menyingkir kesamping.
Sang Pat segera menyingkap horden melangkah keluar lebih dulu. Disusul Siauw Ling
serta Ceng Yap Chinpun turun meninggalkan kereta.
Dengan Tu Kioe sebagi pembuka jalan, mereka langsung masuk kedalam gedung Sam
Kang Soe It dengan langkah lebar.
Gedung Sam Kang Soe It merupakan rumah pelacuran yang termegah dan paling
tersohor dikota Ooh Chioe, bukan saja nona2 pelacur disitu pandai melayani para tetamu
raut wajah merekapun rata2 cantik jelita, karena itu dalam rimba pelacuran gedung Sang
Kang Soe Itlah yang paling banyak pengunjungnya.
Tingkat laku Ceng Yap Chin perlente dan agung, begitu melangkah masuk kedalam
gedung Sam Kang Soe It, segera tampil dua orang pelayan menyambut kedatangannya.
Tu Kioe cepat2 menghadang didepan pelayan tadi, serunya ketus, “Hey, cepat
menyingkir, jangan sampai mengejutkan Jie Kongcu!”
Kedua orang pelayan itu mengiakan dan segera berhenti.
Sang Pat yang berdandan sebagai pengurus rumah tangga segera tampil kedepan,
dengan logat bangsawan dia berseru, “Sudah lama Jie Kongcu kami mendengar akan
nama harum gedung Sam Kang Soe It, ini hari sengaja beliau datang kemari untuk
melakukan peninjauan, bila ada ruang tamu yang terbaik cepat bawa Jie Kongcu kami
merasa gembira dengan pelayanan kalian pasti ada uang persenan buat kalian.”
Sang Pat pandai menggunakan logat pelbagai daerah maupun tingkatan, ucapan yang
dia utarakan benar2 kedengaran seperti sesungguhnya.
Diam2 Siauw Ling perhatikan sekejap dandanan kedua orang pelayan itu, dia lihat
meskipun pakaiannya sederhana tapi raut wajahnya menunjukkan kesombongan dan sifat
tak mau tunduk kepada siapapun, ketika mendengar perkataan Sang Pat barusan mereka
cuma berdiri tertegun tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Jelas dalam gedung Sam Kang Soe It telah diadakan penjagaan yang ketat kedua orang
pelayan tadi jelas merupakan penyaruan dari jago Bulim yang berkepandaian tinggi.
Kembali Tu Kioe mendengus dan berseru, “Hey, Su ya kami sedang berbicara dengan
kalian, apakah kamu berdua tidak dengar?”
Kedua orang pelayan itu saling berpandangan sekejap, akhirnya orang yang ada
disebelah kiri menjawab, “Bila hamba kurang hormat, harap Koan ya jangan marah….”

Ia tuding pintu kamar disebelah utara yang tertutup kain horden lalu katanya lagi,
“Disebelah sana masih ada sebuah kamar kosong, silahkan cuwi Koan ya duduk dalam
kamar itu, hamba segera akan menyiapkan nona untuk melayani cuwi sekalian.”
“Eeeei…. mana bisa, mana bisa” seru Sang Pat sambil geleng kepala. “Kalian anggap
kongcu kami adalah manusia apa? mana boleh ia bersenang2 ditempat semacam itu?”
“Tempat apakah dibelakang gunung2an itu?” seru Tu Kioe sambil mendongak.
“Sana adalah halaman belakang, tapi malam ini sudah penuh….”
Kedua orang pelayan itu merupakan jago-jago yang tidak terbiasa dengan pekerjaan
seperti itu mereka tahu apa yang harus dikerjakan dan hanya berdiri termangu2 disitu.
Ceng Yap Chin segera tertawa.
“Hmm…. hmmm…. rupanya gedung ini sudah tidak pingin dibuka lagi….”
“Jie kongcu, kau adalah putra bangsawan, tak usahlah marah2 dengan manusia rendah
macam mereka besok pagi biarlah hamba yang menulis surat pengaduan dan dikirm
kegedung pemerintahan kota Ooh Chioe. Hmm, kita saksikan saja pertunjukkan bagus
ini.”
Pandai sekali dia bersandiwara, meskipun kedua orang pelayan gadungan itu adalah
jago Bulim yang banyak pengaruh namun akhirnya terselimut juga. Mereka mengira
benar2 telah bertemu dengan orang dari kalangan pemerintahan dengan kepala tertunduk
buru2 kedua orang itu mengundurkan diri.
“Bagus sekali” pikir Ceng Yap Chin didalam hati. “Selama baru kali ini aku memasuki
sarang pelacur. Kulihat kedua orang keparat itupun baru kali ini menyaru jadi pelayan,
sedikitpun tidak pantas penyaruannya.”
Sementara berpikir demikian ia sudah bergerak mengintil dibelakang Tu Kioe.
Dari pembicaraan Sang Pat kemarin malam sepintas lalu Tu Kioe sudah dapat
membayangkan keadaan dihalaman tersebut, maka dengan langkah lebar dia langsung
menuju kepintu bulat dibelakang gunung2an, sambil menggendor pintu bentaknya, “Hey,
lekas buka pintu!”
Ternyata pintu bulat itu terkunci rapat2.
Kreeek….! pintu terbuka dan muncul seorang lelaki setengah baya berbaju hijau
menghadang didepan pintu, tegurnya dengan suara dingin, “Kau hendak mencari siapa?”
“Kurang ajar, sudah tentu mau cari lonte!”
Orang berbaju hijau itu memperhatikan sekejap diri Tu Kioe lalu menyahut, “Kamar
dihalaman belakang sudah penuh, lebih baik besok kau kembali lagi!” sambil bicara ia mau
tutup pintu lagi.

Sekali tendang Tu Kioe merentangkan kembali pintu tadi, serunya, “Kurang ajar, cepat
kau usir tamu2 yang ada didalam, Jie kongcu kami sengaja datang kemari untuk cari
kesenangan, kau berani mengganggu kegembiraannya?”
Orang berbaju hijau itu mau mengumbar hawa amarahnya, tapi pada saat itulah Ceng
Yap Chin serta Siauw Ling telah menyusul datang.
Melihat kedua orang itu hampir saja terjadi bentrokan, buru2 Ceng Yap Chin berseru,
“Orang ini sangat cepat membuka pintu buat kita, beri hadiah selembar daun emas
untuknya.”
Sang Pat mengiakan dari sakunya dia ambil keluar selembar daun emas dan segera
disodorkan ketangan orang itu.
“Ayoh cepat ucapkan terima kasih atas persen dari Jie kongcu!”
Orang berbaju hijau itu melirik sekejap daun emas ditangannya sementara dalam hati
ia berpikir, “Kecuali keluarga raja atau keluarga bangsawan, tidak nanti akan memberi
hadiah sebesar ini.”
Ceng Yap Chin kembali tersenyum dan berkata, “Simpan saja benda itu sebagai hadiah
atas cepatnya kau bukakan pintu buat aku” tanpa menunggu lagi melangkah masuk
kedalam.
Orang berbaju hijau itu ada maksud menghalangi, tetapi menyaksikan dandanan orang
yang perlente dan agung, sedikitpun tidak mirip orang Bulim yang sedang menyaru, niat
tadi akhirnya dibatalkan.
Dengan Tu Kioe sebagai pembawa jalan kembali mereka berjalan empat lima langkah
jauhnya dan tiba disebuah tikungan, seorang lelaki setengah baya munculkan diri
menghalangi perjalanan mereka.
“Koan ya apakah kau sudah pesan kamar?”
“Kami inginkan sebuah kamar yang paling bagus dan paling besar!”
Orang itu termenung sejenak, lalu katanya, “Hamba akan membawa jalan buat cuwi
sekalian!”
Meminjam kesempatan itu Siauw Ling perhatikan sekejap sekeliling tempat itu,
sedikitpun tidak salah suasana terasa terang benderang bagaikan disiang hari saja.
Pemandangan dihalaman belakang jauh berbeda dengan halaman depan, kalau pada
halaman depan kamar yang tersedia terang benderang oleh cahaya lampu dan dihiasi
dengan sebuah lampu lentera, suara nyanyian serta gelak tertawa menggema keluar dari
balik tirai yang tertutup, sebaliknya kama2 halaman belakang mempunyai corak yang
berbeda, lampu menerangi seluruh halaman sebaliknya serambi kamar tidak tampak
sebuah lenterapun setiap kamar ditutup dengan tirai yang tebal tidak nampak cahaya
lampu yang menyorot keluar suara gelak tertawapun hanya menggema keluar secara
lapat2.

Jelas kamar dihalaman belakang telah dibangun dengan suatu perencanaan yang amat
sempurna.
Lelaki setengah baya itu mebawa Siauw Ling sekalian melewati serambi kecil tadi
hingga sampai pada ujungnya, disana dia buka sebuah kamar sambil berkata, “Silahkan
cuwi sekalian duduk didalam kamar, hanya segera akan menyiapkan para nona untuk
melayani cuwi semua.”
“Keparat ini membawa kami datang ketempat ini, mungkin dia tidak bermaksud baik.”
pikir Tu Kioe. “Aku harus perhatikan gerak geriknya!”
Berpikir demikian dia lantas menegur, “Apakah didalam kamar ada orangnya?”
“Kalau ada orangnya, hamba tak akan membawa cuwi sekalian datang kemari!”
“Bagus, kau masuklah dan pasang lampu!”
Lelaki itu mengiakan dan segera masuk kedalam kamar.
Tu Kioe berdiri didepan pintu sambil diam2 mempersiapkan diri, ia tidak ingin
menempuh bahaya masuk lebih dahulu kedalam kamar itu.
Tampak cahaya api berkelebat, ruangan itu segera terang benderang bermandikan
cahaya.
Setelah lampu dipasang, Tu Kioe baru melangkah masuk kedalam.
Ruangan itu merupakan sebuah ruang tamu yang luasnya mencapai dua tombak
persegi, empat penjuru dilapisi permadani berwarna merah tua, baik meja, kursi serta
benda2 yang ada disitu kebanyakan merupakan benda yang mewah dan indah.
“Hamba segera akan mengundang beberapa orang nona buat cuwi Koan ya….!” kata
lelaki itu kemudian.
“Tak usah tergesa2, kongcu kami adalah keturunan bangsawan. Cayhe sebagai petugas
keamanan bagaimanapun juga harus bertindak hati2″ dengan cepat ia mengitari dahulu
seluruh ruangan itu, kemudian baru berkata lagi, “Sekarang kau boleh pergi! cepat suruh
mereka siapkan arak yang paling bagus serta nona yang paling bagus untuk melayani
kongcu kami minum arak, kalau kongcunya kami ada minat mungkin saja bakal menginap
disini, kalau sampai begitu kalian pasti akan mendapat rejeki.”
“Yaya sekalian bukankah berempat? kenapa cuma minta dua orang nona….?”
“Bagus!” batin Tu Kioe. “Kau hendak suruh mereka satu lawan satu….” tidak gampang.”
Diluar serunya ketus, “Kongcu kami berada disini, kau dilarang bicara tidak karuan.”
Lelaki setengah baya itu tidak bicara lagi dia segera putar badan dan berlalu.

Ceng yap Chin dengan membawa Siauw Ling segera masuk kedalam ruangan,
sedangkan Sang Pat tetap tinggal diluar.
Bisik Siauw Ling setelah berada didalam ruangan, “Dari pintu depan hingga ruang tamu
ini semuanya terdapat dua buah pintu yang besar dan tebal, bangunan semacam ini sama
sekali tidak mirip dengan sebuah sarang pelacuran.”
“Siauwte telah periksa sekeliling ruangan ini paling sedikit dibalik tirai ada musuh yang
bersembunyi.”
“Mengingat loteng Wang Hoa Loo diperkampungan Pek Hoa San cung pun telah
dipasang alat jebakan yang berlapis2 seandainya gedung Sam Kang Soe It ini benar2
merupakan markas dari Djen Bok Hong, aku rasa dalam ruangan inipun telah
diperlengkapi dengan alat jebakan, kalian harus lebih berhati2.”
Tiba2 terdengarsuara dehem Sang Pat berkumandang datang dari luar ruangan.
“Ooow, nona yang amat cantik!”
Meskipun ucapannya itu rendah namun dipancarkan dengan disertai hawa kweekang.
Ceng Yap Chin yang ada didalam ruangan tersebut telah dapat mendengarnya dengan
sangat jelas, buru2 dia ambil tempat duduk sedang Siauw Ling berdiri disisinya dan Tu
Kioe berdiri serius dibalik tirai.
Terdengar suara langkah kaki berkumandang datang, tirai disingkap dan masuklah
empat orang gadis berwajah cantik.
Gadis pertama memakai baju berwarna putih, diatas sanggulnya yang tinggi tertancap
sebuah bunga merah, dandanannya sederhana dan pupurnya sangat tipis.
Gadis kedua memakai baju warna hijau pada pakaian bagian dadanya bersulamkan
bunga teratai, dandanannyapun amat sederhana.
Sebaliknya gadis ketiga dan keempat berdandan sangat tebal dan menyolek, mereka
memakai baju berwarna merah.
Seorang kacung berusia dua puluh tahunan dan berwajah bersih ikut masuk kedalam,
setelah menjura katanya, “Keempat orang ini adalah empat medali emas dari gedung Sam
Kang Soe It kami….”
“Hadiahkan selembar daun emas buat mereka!” seru Ceng Yap Chin sambil menuding
dua gadis berdandan sederhana yang ada didepan.
Sementara itu Sang Pat telah berdiri dibelakang kacung cilik tadi, dari sakunya dia
segera ambil keluar semebar daun emas dan diberikan kepada kacung tadi, katanya,
“Terimalah persenan dari kongcu ya kami, tinggalkan dua orang nona yang ada didepan.”
Kacung itu tertegun, setelah menerima daun emas tersebut segera bisiknya kepada dua
orang gadis berbaju merah itu, “Mari kita pergi!”

Dua orang nona berbaju merah itu memandang sekejap kearah Ceng Yap Chin lalu
mencibirkan bibirnya yang kecil setelah itu baru berlalu mengintil dibelakang kacung tadi.
Sepeninggal mereka, Ceng Yap Chin baru menengok sekejap kearah kedua orang nona
itu dan berkata, “Nona, silahkan duduk!”
Siauw Ling yang berdiri dibelakang Ceng Yap Chin diam2 memperhatikan gerak gerik
kedua orang gadis itu, tampak mereka mengucapkan terima kasih dan segera ambil
tempat duduknya masing2.
Sejak kecil Ceng Yap Chin dibesarkan digunung Bu tong san, belum bernah ia duduk
berdampingan dengan kam gadis. Kini setelah berhadapan dengan dua orang gadis cantik,
meskipun hanya berlagak sandiwara saja agar orang lain jangan menaruh curiga, namun
untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus diucapkan.
Lewat beberapa saat kemudian ia baru teringat akan suatu pertanyaan, maka ujarnya,
“Siapakah nama nona berdua?”
Nona berbaju putih tersenyum.
“Aku yang rendah bernama Pek Bwee sedang dia adalah Liok Hoo moay2!”
“Sudah lamakah nona bedua berdiam digedung Sam Kang Soe It ini….?”
“Nasib kami yang rendah sangat jelek tetapi baru tiga bulan kami terjerumus kedalam
pekerjaan ini.”
Mendengar jawaban mereka lancar dan luwas, diam2 Ceng Yap Chin lantas berpikir,
“Perempuan ini pandai sekali mengucapkan kata2 semacam itu, mungkin mereka bukan
orang baik2….”
Sementara dia masih berpikir, sayur dan arak telah dihidangkan.
Kacung penghantar sayur itu melirik sekejap kearah Tu Kioe serta Sang Pat lalu
bertanya lirih, “Apakah yaya berdua juga mau mencari nona untuk bersenang2?”
“Waaah…. sudah tua, tak berguna lagi.” sedang Tu Kioe menjawab ketus, “Berada
didepa kongcu ya kau berani bicara tidak karuan, rupanya sudah bosan hidup.”
Kacung kecil itu menjulurkan lidahnya dan buru2 mengundurkan diri.
Pek Bwee segera mengambil poci arak dan memenuhi cawan Ceng Yap Chin dengan
arak tanyanya halus, “Tolong tanya, Kongcu ya she apa?”
“Cayhe she Jan!”
“Sungguh beruntung aku yang rendah dapat bertemu Jan kongcu, kuhormati dirimu
dengan secawan arak” kata Pek Bwee sambil memenuhi cawan sendiri dan diteguknya
hingga habis.

Ceng Yap Chin tempelkan arak dibibirnya lalu dicium sebentar, setelah itu katanya,
“Terima kasih atas penghormatan dari nona sayang cayhe tidak terbiasa minum arak.”
“Kalian kongcu memang tidak bisa minum arak, silahkan mencicipi sedikit sayur” kata
Liok Hoo kemudian sambil mengambil sumpit didepan Ceng Yap Chin dan menjepit
sepotong daging ayam, terusnya, “Kami kakak beradik berdua merasa amat berterima
kasih sekali atas perhatian yang telah kongcu limpahkan kepada kami. Kalau memang
kongcu tidak biasa minum arak aku yang rendah sekalian tentu saja tak akan memaksa,
bagaimana kalau kami persilahkan kongcu mencicipi sedikit sayur?”
Daging ayam ditangannya segera diangsurkan kesisi bibir Ceng Yap Chin.
Jago muda dari partai Bu tong ini jadi serba salah, dia merasa sangsi untuk menerima
suapan tersebut namun diapun merasa seandainya tidak diterima suapan tadi hal tersebut
sedikit banyak sudah melanggar adat kesopanan. Sementara dia masih sangsi tiba2
sebuah tangan meluncur datang, dengan kedua jari tengah dan telunjuknya orang itu jepit
sumpit ditangan Liok Hoo lalu tegurnya, “Kau anggap kongcu kami adalah manusia apa?
kenapa nona bersikap begitu tak tahu diri?”
Ceng Yap Chin berpaling dilihatnya orang yang barusan turun tangan bukan lain adalah
Siauw Ling. Dia lantas tersenyum dan membiarkan si anak muda itu bertindak lebih jauh.
Diam2 Siauw Ling salurkan hawa kweekangnya dengan melewati sepasang sumpit
menyerang tubuh Liok Hoo.
Dan tingkah laku Pek Bwee serta Liok Hoo yang tidak mirip dengan perempuan pelacur
pada umumnya, sejak semula Siauw Ling sudah menaruh curiga. Dia ada maksud
menggunakan kesempatan itu hendak menjajal apakah kedua gadis tersebut memiliki ilmu
silat atau tidak.
Jilid 24
Tampak sepasang mata Liok Hoo bersinar tajam, dia melirik sekejap kearah Siauw Ling
kemudian secara tiba-tiba menjerit lengking dan melepaskan cekalannya.
Setelah berkelana selama ini didalam dunia kangouw, pengalaman yang dimiliki Siauw
Ling tidak seperti dahulu lagi, dalam hati dia segera berpikir, “Kendati tenaga kweekang
yang kusalurkan tidak terlampau berat tetapi kalau dia tak mengerti akan ilmu silat,
serangan ini pasti akan membuat wajahnya berubah jadi pucat pasi, darah panas dalam
rongga dadanya bergolak kencang. Maka bisa menjerit semacam itu? lagi pula saluran
hawa kweekangku menyerang tubuhnya dengan sangat cepat. Jelas perempuan ini sama
sekali tidak menderita luka oleh seranganku tadi namun sengaja dia lepaskan sumpit dan
berpura-pura kaget. Jeritannya jelas ada maksud memberi tanda kepada
komplotannya….”
Karena berpikir begitu, dia lantas menjengek dengan suara dingin, “Nona, pandai benar
kau berlagak, dan bagus sekali perbuatanmu!”

“Kongcu” seru Liok HOo sambil berpaling kearah Ceng Yap Chin. “Kenapa kacungmu ini
begitu tak sopan….”
Ceng Yap Chin tertawa hambar.
“Apakah dia telah melukai diri nona?”
“Sekalipun aku yang rendah tidak sampai terluka, tetapi hatiku dibikin amat
terperanjat.”
“Ia tak pernah bersentuhan dengan jari tangan nona, kulit tubuhpun tak pernah
bersenggolan, dari mana ia bisa mengejutkan hati nona?”
Sepasang biji mata Liok Hoo yang tajam menatap wajah Ceng Yap Chin dalam-dalam,
kemudian balik tanyanya, “Benarkah kongcu tidak menyaksikan kejadian barusan?”
“Aku tidak melihatnya.”
Perlahan-lahan Liok Hoo bangkit berdiri serunya, “Kendati aku yang rendah
berkecimpungan didalam pekerjaan seperti ini tetapi sejak kecil aku sering membaca buku
pelajaran mengenai kesusastrawan, lagi pula perbuatanku memakai adat kesopanan
Kongcu menaruh perhatian kepadaku hal ini merupakan suatu kebanggaan dari aku yang
rendah, sekalipun kongcu yang pandang rendah diriku, itupun tak mengapa. Tetapi
kongcu telah membiarkan seorang kacung kecil berkesiap begitu tak tahu adat kepada aku
yang rendah, hal ini sungguh keterlaluan sekali….”
“Adikku, cepat duduklah” buru-buru Pek Bwee menarik Liok Hoo agar duduk kembali.
“Jan siangkong adalah orang yang ramah dan agung, sudah tentu dia punya asal usul
yang besar, kenapa adik boleh bersikap begitu tak tahu sopan dihadapan siangkong.”
Meminjam kesempatan itulah Liok Hoo melepaskan diri dari rasa malu, dan perlahanlahan
duduk kembali kekursinya.
Setelah itu Pek Bwee baru berpaling lagi kearah Ceng Yap Chin dan berkata, “Harap
kongcu jangan marah, tabiat dari adikku ini selamanya memang begitu. Aaai…. oleh sebab
itu entah sudah membuat salah terhadap beberapa banyak tetamu, ada pepatah yang
mengatakan orang besar tidak akan menyalahkan orang kecil. Kongcu adalah berasal dari
keluarga ningrat, tentunya tidak akan marah terhadap kami kaum pelacur bukan? aku
yang rendah hormati secawan arak untukmu.”
Dia angkat cawan dan keringkan isinya hingga habis.
“Bagus sekali!” pikir Siauw Ling dihati. “Putar kesana putar kemari mereka selalu
berusaha mencari kesempatan untuk meloloh dia dia minum arak atau makan sayur.
Rupanya dalam arak dan sayur ini benar-benar ada yang tidak beres.”
Ceng Yap Chin angkat cawan menunjukkan gerakan merandek hendak ikut meneguk,
namun sebelum arak menempel bibir ia sudah letakkan kembali cawan itu keatas meja.

Pek Bweepun tidak memaksa lebih lanjut, ia berpaling kearah Siauw Ling dan ujarnya,
“Siauw Koan kia, ini hari adik Liok Hoo datang kemari adalah atas undangan dari
siangkong kalian, didalam peraturan kami maka orang lain tak boleh mengganggunya asal
dalam ini siangkong kalian tidak membawanya pergi tidur, maka Siauw Koan kia ada
kegembiraan datanglah lagi besok malam, undanglah adik Liok Hooku ini. Maka saat itu
meski Siauw Koan kia akan mengapakan dirinya, dia tidak akan marah.”
Siauw Ling bungkam dalam seribu bahasa. Sepasang pipinya terasa panas dan jengah,
seandainya ia tidak mengenakan topeng diwajahnya niscaya semua orang akan melihat
pipinya yang telah berobah jadi semu merah itu.
Sang Pat yang sudah berpengalaman dalam hal rayuan kaum pelacur, takut kalau Ceng
Yap Chin serta Siauw Ling terpikat oleh kedua orang gadis itu, ia segera maju
menghampiri sambil berkata, “Siauw Koan kia ini walaupun hanya seorang kacung dari
kongcu kami tapi sejak kecil kedua orang itu main bersama, sehingga hubungan mereka
boleh dibilang erat sekali.”
“Suya, ucapanmu ini rada keliru” tukas Pek Bwee sambil geleng kepala.
“Bagian mana yang keliru?”
“Kalau menurut pandanganku aku yang rendah, usia kongcu paling sedikit ada dua
puluh tiga empat tahunan, sedang Siauw Koan kia ini kendati mempunyai potongan badan
yang hampir mirip kongcu tetapi wajahnya yang masih kekanak-kanakan menunjukkan
kalau umurnya paling banter baru lima enam belas tahunan, usia mereka berdua terpaut
delapan sembilan tahun, mana mungkin mereka dibesarkan bersama?”
“Sungguh lihay budak ini” pikir Sang Pat, namun ia tetap tersenyum dan menjawab,
“Nona, kau tidak tahu, kacung dari kongcu kami ini selamanya paling tidak suka
memikirkan hal yang bukan-bukan, oleh sebab itu walaupun telah berusia dua puluh tahun
tetapi wajahnya masih kelihatan seperti kekanak-kanakan.”
Mendadak dari luar kamar berkumandang datang suara seruan, “Pek Bwee, Liok Hoo,
terima tamu!”
Pek Bwee serta Liok Hoo segera bangun berdiri, katanya, “Kongcu, harap tunggu
sebentar, setelah aku yang rendah terima tamu seger akan balik kemari lagi.”
Ceng Yap Chin belum pernah memasuki rumah pelacuran, melihat kedua orang ia
bangun hendak berlalu, dia tak tahu apa yang harus dilakukan.
Sang Pat segera lintangkan badannya menghadang jalan pergi mereka, serunya, “Nona
berdua akan pergi kemana?”
“Kami hendak menerima tamu sebentar!”
“Hmm, selama berada diibu kota kongcu kami sudah berjumpa dengan pelbagai pelacur
kenamaan, tetapi selamanya kami larang mereka untuk pergi menjumpai tetamu lain,
berapa sih harga kalian berdua? bukalah harga dan kami akan mengepoolnya semalam
suntuk.”

“Peraturan dari gedung kami memang begini, sekalipun kongcu kalian mempunyai
banyak emas, kami berduapun tidak berani terlalu kemaruk sebab kami tak berani
melanggar peraturan.”
“Tahukah kalian siapakah kongcu kami?”
“Tidak tahu!”
“Dia adalah Jie Kongcu dari Jan tayjien pembesar tinggi daerah Kang lam! Hmmm….
siapapun mengenal dirinya.”
Liok Hoo tertawa hambar.
“Sekalipun putra raja yang datang sendiripun, kami tak dapat melanggar peraturan.”
Sang Pat tertawa dingin.
“Malam ini, kalian berdua jangan harap bisa berlalu dari sini….” ia menoleh kearah Tu
Kioe dan perintahnya, “Undang masuk pelayan itu.”
Tu Kioe mengiakan dan segera keluar dari ruangan dengan langkah lebar, sesaat
kemudian dia telah masuk kembali mengiringi seorang lelaki berbaju hijau bertopi kecil.
Sang Pat memandang sekejap wajah lelaki itu, kemudian tegurnya, “Apakah kau yang
bertugas malam?”
“Sedikitpun tidak salah, ada pesan apa?”
“Berapapun harga dari kedua orang nona ini kongcu kami suruh ambil keputusan untuk
pemborongnya. Mereka tak usah menjumpai tetamu lain lagi….”
Pelayan berbaju hijau itu melirik sekejap wajah Pek Bwee serta Liok Hoo kemudian
dengan wajah serba salah termenung sejenak akhirnya dia berkata, “Kedua orang nona ini
adalah nona yang paling top didalam gedung Sam kang Soe It kami ini, langganan mereka
kebanyakan adalah kaum bangsawan serta kaum ningrat daerah sekitar sini, saking
banyaknya tamu yang harus mereka layani sehingga mereka berdua terpaksa harus digilir.
Bilamana kongcu hendak memborong mereka berdua, hamba takut kalau malam ini
gedung Sam Kang Soe It bakal terjadi kegaduhan!”
“Bangsawan serta kaum ningrat disebuah kota kecil macam Ooh Chioe masih belum
terhitung seberapa. Setelah kongcu kami tertarik pada kedua orang nona ini,
bagaimanapun juga mereka harus tetap tinggi disini.”
“Begini saja!” akhirnya pelayan itu berkata sambil tertawa paksa. “Hambaakan
membawa kedua orang nona ini pergi menemui para tetamu lebih dulu, setengah jam
kemudian kami pasti akan menghantarkan kembali mereka berdua.”
“Orang ini bicaranya tak tahu adat” seru Ceng Yap Chin ketus. “Dia ada maksud
melenyapkan kegembiraanku, kasih hadiah tempelengan satu kali!”

Tu Kioe mengiakan, dia segera maju mengirim satu babatan.
Melihat datangnya babatan, buru-buru pelayan itu berkelit kesamping.
Tapi serangan dari Tu Kioe cepat laksana sambaran kilat, baru saja orang itu berhasil
menghindarkan diri dari ancaman tangan kiri tiba2 telapak kanan Tu Kioe telah menyusul
tiba.
Plok! dengan telak serangan tadi bersarang diatas pipinya.
Berat sekali gaplokan tersebut, tubuh pelayan itu segera mundur sempoyongan dan
hampir saja roboh keatas tanah.
Merasakan dirinya digaplok pelayan itu naik pitam, hardiknya dengan suara keras,
“Eeei…. kenapa kau sembarangan memukul orang?”
“Hmm kalau kau berani menggusarkan hati kongcu kami lagi, hati-hati kutebas batok
kepalamu!”
Sambil meliuw-liuwkaan pinggangnya yang ramping, dengan cepat Pek Bwee maju
menghampiri Tu Kioe, pujinya, “Ehmm, cepat benar seranganmu!”
Melihat pihak mereka sudah turun tangan dan suatu pertempuran mungkin bakal
berlangsung, Sang Pat ambil tindakan kilat dari gerakan menghindar diri pelayan tadi ia
telah menyadar, bahwa pihak lawan bukan manusia sembarangan, maka laksana kilat
badannya menghadang jalan keluar ruangan tersebut.
Sang Pat yang telah memotong jalan pergi Pek Bwee, seraya berkata, “Nona, harap kau
segera kembali ketempat dudukmu!”
Pek Bwee menghela napas panjang.
“Sekalipun putra raja yang melanggar hukum, dosanya sama berat dengan rakyat
jelata, serangan dari orang itu apakah tidak merasa rada keterlaluan?”
Menggunakan kesempatan dikala Pek Bwee mengajak Sang Pat bercakap-cakap itulah,
diam-diam pelayan itu mengatur pernapasan.
“Kedua orang budak ini sombong dan binal” bisik Siauw Ling lirih. “Kalau tidak kita beri
sedikit pelajaran, mungkin sulit untuk menundukkannya.”
Ceng Yap Chin mengangguk, mendadak ia bangun berdiri. Tangan kanannya segera
diayunkan mencengkeram urat nadi Pek Bwee, bentaknya dengan nada gusar, “Budak
busuk, kau berani kurang ajar.”
Menyaksikan datangnya serangan orang amat dahsyat, Pek Bwee tidak berani berlagak
pilon, cepat badannya mengigos kesamping.
“Kenapa?” ia berseru.

“Oooh, kiranya nonapun memiliki gerakan tubuh yang demikian cepatnya, tidak aneh
kalau kau jadi binal dan tak mau tunduk.”
Sembari berbicara tangannya bergerak cepat, dalam sekejap mata ia telah melancarkan
tiga buah serangan berantai.
Ketiga buah serangan itu rata-rata merupakan jurus sakti dari ilmu Bian Ciang, bagi Boe
su biasa untuk menghindari salah satu jurus serangan itupun susah tapi dengan gampang
Pek Bwee berhasil menghindarkan diri dari ancaman.
“Suatu gerakan yang sangat indah” puji Sang Pat, tangan kanannya bergerak
mencengkeram lengan gadis itu.
Pek Bwee doyongkan badannya kemuka lalu laksana kilat berputar, dengan suatu
gerakan yang manis kembali dia berhasil menghindarkan diri.
“Nona, rupanya ilmu silatmu luar biasa sekali” seru Sang Pat dengan alis berkerut.
Sepasang telapaknya segera bekerja cepat melancarkan empat buah serangan dengan
ilmu Kie Nah Ciu.
Pek Bwee bukan manusia sembarangan kembali ia berhasil meloloskan diri dari
keempat buah ancaman tersebut.
Selama menghindarkan diri dari ancaman Ceng Yap Chin serta Sang Pat, gadis itu sama
sekali tidak melancarkan sebuah serangan balasanpun.
Siauw Ling yang menyaksikan kehebatan orang diam-diam jadi terperanjat, pikirnya,
“Andai kata dayang ini adalah anggota perkampungan Pek Hoa San cung ilmu silat yang
mereka miliki jelas jauh diatas Kiem lan serta Giok Lan. Entah apakah mereka?”
Pek Bwee sendiri meskipun secara beruntun berhasil meloloskan diri dari serangan
berantai Ceng Yap Chin serta Sang Pat, namun dalam hati diapun sadar bahwa ia telah
bertemu dengan seorang jago lihay.
Sehabis mengelak dari serangan Sang Pat segera tegurnya dengan suara perlahan,
“Sebenarnya siapakah kalian? orang-orang dari kalangan pemerintahan tak mungkin
terdapat manusia-manusia lihay macam kalian.”
“Gerakan tubuh nona sendiri walaupun sakti dan lihay namun pengetahuanmu
mengenai dunia persilatan masih kurang….”
Pek Bwee tertawa dingin.
“Kita masing-masing pihak telah saling memahami keadaan lawannya, aku rasa
kamupun tak usah merahasiakan asal usul kalian lagi.”
“Dengan kepandaian silat yang nona miliki rasanya kalian berduapun bukan lonte
penghuni sarang pelacuran, dapatkah kau sebutkan asal usul kamu berdua?”

Mengikuti garis pakaian yang ia kenakan Pek Bwee guratkan jari tangannya kebawah
seolah-olah dibabat dengan golok jubah luar yang ia kenakan mendadak terbelah rata
sekali, diikuti badannya bergetar pakaian luar itu rontok keatas tanah hingga tinggal
seperangkat pakaian ringkas yang ketat.
Bersamaan itu pula tangan kirinya menyentil, gaun rontok kebawah tinggal celana
merah yang membungkus tubuh.
Dalam pada itu Sang Pat telah menghadang didepan pintu. Ceng Yap Chin berdiri
didepan meja perjamuan sedangkan Siauw Ling tetap berdiri dibelakang jago muda dari
Bu tong pay.
Liok Hoo tetap memakai jubah luar serta gaun panjang, dengan tenang ia duduk
dikursinya tanpa berkutik.
Pek Bwee dengan seperangkat pakaian ringkas ditengah-tengah antara Sang Pat serta
Ceng Yap Chin. Pada pinggangnya terikat sebuah angkin putih, pada sisi angkin tersoren
empat bilah pisau belati yang tajam.
Biji matanya yang jeli perlahan-lahan menyaru sekejap kearah Sang Pat serta Ceng Yap
Chin kemudian ujarnya, “Kalian telah terperangkap didalam suatu daerah yang ketat
dengan penjagaan, alangkah baiknya kalau sekarang juga mengaku terus terang asal usul
kamu sekalian, kalau kalian tetap membangkang. Hmm….! kalau menolak arak
kehormatan terpaksa akan kusuguhkan arak hukuman.”
“Besar benar lagak nona, entah apakah kedudukanmu dalam perkampungan Pek Hoa
San cung?” tegur Sang Pat.
Pek Bwee rada tertegun, kemudian serunya, “Oooow…. rupanya cuwi sekalian telah
menyelidiki dengan jelas asal usul kami?”
“Apa nona anggap gedung Sam Kang Soe It benar-benar amat rahasia letaknya hingga
sukar diketahui orang?”
Pek Bwee tidak menyahut, ia berpaling kearah Liok Hoo dan berkata, “Adik Liok Hoo
rupanya beberapa orang ini telah menyusup kemari dengan jalan menyaru, walaupun
wajah mereka yang sebenarnya dapat dirahasiakan tetapi mereka semua merupakan jagojago
Bulim kelas satu cici rasa tenagaku seorang masih sulit untuk menghadapi mereka
bagaimana kalau moay-moay terpaksa harus kuminta pertolongannya untuk membantu?”
Liok Hoo tertawa hambar, perlahan-lahan ia lepaskan jubah serta gaunnya hingga
kelihatan pakaian ringkasnya yang berwarna hijau dengan ikat pinggang putih serta empat
pisau belati yang tajam seperti halnya dandanan Pek Bwee.
Sang Pat menyapu sekejap wajah kedua orang itu, menyaksikan letak senjata mereka
segera ujarnya, “Ilmu silat kedua orang dayang ini berasal dari satu aliran, asal kita
berhasil menemukan titik kelemahan dari salah satu diantara mereka, rasanya tidak perlu
sulit untuk membereskan kedua orang itu.

“Hmm, jangan sombong dulu, kalau mau omong besar, jajal dahulu kepandaian kami!”
seru Liok Hoo, sepasang tangannya diangkat dan tahu-tahu masing-masing tangan sudah
mencekal sebilah pisau belati.
“Setelah Liok Hoo menjerit tadi, kemudian pelayan ini kami tahan disini mungkin pihak
lawan sudah mendapat kabar dan bersiap sedia” pikir Siauw Ling. “Jangan-jangan suasana
tenang pada saat ini merupakan saat bagi mereka untuk melakukan persiapan.”
Terdengar Sang Pat telah menyahut, “Baiklah, biar aku yang coba menjajal kepandaian
sakti nona dalam permainan empat bilah pisau belati.”
“Tak usah merepotkan dirimu….” sela Siauw Ling sambil memutar kehadapan si sie poa
emas.
Kemudian ia berpaling kearah Liok Hoo dan berkata, “Bukankah nona menaruh rasa
dendam terhadap diri cayhe? nah saat inilah kesempatan paling baik bagimu untuk
menuntut balas atas sakit hati itu.”
“Heeeh…. heeeh rupanya kau sudah bosan hidup” jengek Liok Hoo sambil tertawa.
Sepasang telapaknya tiba-tiba bergerak, dua jalur cahaya tajam segera berkelebat
menusuk tubuh Siauw Ling.
Dibawah sorot cahaya lampu, tampaklah dua bilah pisau belati itu dengan menciptakan
selapis cahaya yang sangat tajam mengancam beberapa buah jalan darah penting
didepan dada si anak muda itu.
Disebelah sini dia melancarkan serangan dipihak lain Ceng Yap Chin serta Sang Pat
merasa terkesiap, pikir mereka, “Sungguh cepat gerakan tubuh dayang ini, jurus serangan
yang digunakanpun lihay dan sangat ampuh….” pikiran ini seketika melenyapkan perasaan
memandang rendah pihak lawan.
Siauw Ling mengempos tenaga, dengan kaki tanpa menekuk ia mundur satu langkah
kebelakang, dengan manis dan sedikit menyerempet bahaya pemuda itu meloloskan diri
dari ancaman.
“Hey, sebenarnya siapakah kau dan apa kedudukanmu?” tegur Liok Hoo dengan nada
melengak.
“Aku cuma seorang kacung.”
“Hmm, kepandaian silat yang kau miliki rupanya tidak berada dibawah kepandaian
kongcu kalian.”
“Terima kasih atas pujianmu!” sementara dalam hati pikirnya, “Kepandaian silat yang
dimiliki kedua orang budak ini betul-betul tidak lemah, kalau tidak cepat-cepat kutaklukan
mereka hingga musuh tangguh keburu datang…. waah kita bisa berabe….”

Dalam pada itu pelayan berbaju hijau terluka tadi mendadak meloncat bangun dan
langsung menubruk kearah Sang Pat, cahaya tajam berkelebat lewat, tahu-tahu sebilah
pisau belati telah mengancam tiba.
Sang Pat mendengar dingin, dengan tangan kiri menotok jalan darah kepada
pergelangan kanan orang itu, tangan kanannya mengirim satu pukulan mematikan kearah
dada lawan.
Serangan itu datang cepat dan dahsyat bahkan memiliki pertahanan yang ketat.
Terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati menggema diseluruh angkasa. pelayan
itu mundur dua langkah kebelakang dan roboh terjengkang keatas tanah, darah segar
muncrat keluar dari mulutnya. Sesudah berkelejit sebentar akhirnya orang itu mati
seketika itu juga. Rupanya Sang Pat masih teringat akan dendamnya karena dibacok
kemarin malam, maka serangan yang dilancarkan saat ini bukan saja cepat dan dahsyat
bahkan telengas dan keji.
Selesai membinasakan pelayan itu, tangannya segera berputar merampas pisau belati
yang ada ditangannya.
Pek Bwee terperanjat tatkala menyaksikan Sang Pat berhasil membinasakan orang itu
dalam sekali hantaman, segera pikirnya, “Beberapa orang ini benar-benar merupakan
jagoan kelas wahid, rupanya tidak gampang untuk membereskan mereka.”
Menyaksikan kematian dari orang itu, baik Liok Hoo namun Pek Bwee tetap tenang dan
serius, sedikitpun tidak terlihat rasa kaget atau tercengang atau sedih.
Meminjam kesempatan dikala kedua orang gadis tadi sedang memperhatikan jenasah
pelayan itulah, diam-diam Siauw Ling mengenakan sarung tangan kulit naganya.
Ceng Yap Chin memandang sekejap jenasah pelayan itu, lalu ujarnya dengan suara
dingin, “Kalau nona berdua tak mau buru-buru bertobat, pelayan ini adalah contoh yang
paling tepat bagi kalian berdua.”
“Hmmm belum tentu!” jawab Pek Bwee ketus. Tiba-tiba ia loncat keatas, telapak kiri
dan kanan masing-masing dengan mencekal sebilah pisau belati bergerak menerjang Sang
Pat.
Disaat Pek Bwee melancarkan tubrukan, Liok Hoopun ikut meloncat kedepan menubruk
Siauw Ling, pisau belati ditangan kanannya segera berkelebat menusuk dadanya.
Dalam hati Siauw Ling sudah ada perhitungan, menyaksikan datangnya babatan maut,
dengan cepat dia ayun tangan kanannya mencengkeram belati tersebut.
“Hmm pisau belatiku ini tajamnya luar biasa” pikir Liok Hoo didalam hati. “Sekalipun
kau telah melatih ilmu pukulan Thiat Sah Ciang, sama juga akan terluka oleh pisau belati
ini.”

Karena berpikir demikian sengaja dia perlambat gerakan pisaunya dan membiarkan
Siauw Ling menangkap senjata tersebut, kemudian diam-diam mengerahkan tenaga dan
berputar kekiri kanan.
Dalam pikirannya asal ia putar pisau belati itu, niscaya kelima jari Siauw Ling akan
terbabat putus dan mengucurkan darah segar, siapa tahu peristiwa yang kemudian
berlangsung jauh ada diluar dugaan orang, bukan saja telapak lawan sama sekali tidak
terluka, sebaliknya pisau belati sendiri malah tak berkutik sama sekali seolah-olah dijepit
oleh sebuah jepitan besi yang kuat.
Diam-diam Liok Hoo salurkan tenaganya makin besar dan berputar semakin kencang,
namun sia-sia belaka usaha tersebut sebab pisau belatinya tetap gagal ditarik kembali.
Sekarang dia baru sadar bahwasanya ia telah berjumpa dengan musuh tangguh yang
belum pernah dijumpainya selama hidup. Hatinya terasa amat terperanjat, tangan kiri
diayun dan segera menghantam pergelangan kanan Siauw Ling.
“Budak ini benar-benar amat keji” pikir si anak muda itu dalam hati. “Aku harus
memberi sedikit pelajaran kepadanya.”
Hawa murninya segera disalurkan keluar, tiba-tiba ia tarik telapaknya kemuka dan
merampas pisau belati dari tangan dayang itu.
Dalam pada itu telapak kiri Liok Hoo kebetulan sedang membabat kebawah. Plook….!
dengan telak bersarang dilengan kanan sendiri.
Begitu tepat Siauw Ling menggunakan tenaganya sehingga tatkala telapak Liok Hoo
membabat kebawah tiba-tiba pisau belatinya menyongsong keatas, angin pukulan yang
dahsyat tak mungkin ditarik kembali, tak ampun lagi senjata telah makan tuan dan
bersarang ditubuh sendiri.
Walaupun begitu ilmu silat yang dimiliki ternyata tidak lemah, pada detik terakhir yang
sangat berbahaya ia tahan angin pukulan sehingga kendati sang telapak bersarang diatas
lengan kanan sendiri namun tidak sampai menimbulkan luka.
Cepat Siauw Ling tarik kembali tangan kirinya kemudian laksana kilat mencengkeram
persendiran sikut kiri Liok Hoo, tangannya disendat dan gadis itu tiba-tiba merasakan
tulangnya amat sakit seperti retak. Seluruh tenaganya lenyap dan ia tak sanggup
melancarkan serangan balasan lagi.
Setelah berhasil si anak muda itu baru berpaling kearah kalangan lain. Tampaklah Pek
Bwee serta Sang Pat sedang melangsungkan suatu pertempuran yang amat seru, dua
bilah pisau belati Pek Bwee menyambar kesana kemari dengan jurus-jurus yang cepat dan
kilat, semua serangannya mengancam jalan darah penting ditubuh lawan. Sebaliknya
Sang Pat membalas dengan serunya pula.
Walaupun Sang Pat membalas dengan serangan yang aneh namun Pek Bwee cukup
cekatan dan cerdik, saudara angkat dari Siauw Ling ini tidak berhasil juga mencengkeram
pergelangan lawan yang selalu diincarnya itu, namun sebaliknya serangan-serangan maut
dari Pek Bweepun tak bisa mengapa-apakan diri Sang Pat pula.

Menjumpai situasi pertarungan itu, Siauw Ling segera berpikir, “Sepuluh gebrakan lagi
Sang Pat pasti akan berhasil menguasai keadaan dan dua puluh gebrakan lagi ia dapat
merampas pisau belatu ditangan Pek Bwee, tapi situasi pada saat ini amat kritis, mengulur
waktu bukan saja tidak menguntungkan bahkan akan merepotkan, biarlah secara diamdiam
kubantu diri Sang Pat.”
Diam-diam ia salurkan hawa murninya dan segera melancarkan sebuah totokan dengan
ilmu Siuw Loo Sin ci.
Pek Bwee merasakan jalan darah dikaki kanannya tiba-tiba terhantam oleh sejalur hawa
serangan yang tak berwujud dan bersuara, seketika itu juga sekujur badannya jadi kaku.
Dengan lenyapnya tenaga perlawanan Pek Bwee maka ketika serangan Sang Pat
meluncur tiba, dengan gampangnya ia berhasil merampas senjata gadis itu.
Dengan pengalamannya yang luas, begitu senjata lawan berhasil dirampas ia lantas
menyadari bahwasanya Siauw Ling mungkin telah membantu dirinya secara diam-diam.
Pek Bwee sendiri merasakan serangan yang mengena dikakinya sangat berat hingga
sama sekali tak ada tenaga perlawanan, ia biarkan dirinya ditotok oleh Sang Pat
sementara matanya berpaling kearah Siauw Ling serta Ceng Yap Chin sambil bertanya,
“Siapa diantara kalian yang telah membokong diriku?”
“Cayhe, kenapa sih?” sahut Siauw Ling sambil tertawa hambar.
“Ilmu silat apa yang kau gunakan?”
“Djen Bok Hong tahu kalau aku pernah belajar ilmu Siauw Loo Sin ci dari Liuw Sian cu”
pikir si anak muda itu. “Aku tak boleh memberitahukannya kepada budak ini.”
Maka segera sahutnya, “Kepandaian satu jari yang aku gunakan!”
Pek Bwee tiak bertanya lagi, ia berpaling kearah Liok Hoo dan bertanya, “Adikku,
parahkah luka yang kau derita?”
Dasar watak Liok Hoo memang keras kepala, meskipun persendian tangannya yang
terlepas terasa amat sakit hingga merasuk ketulang namun ia tetap membungkam dalam
seribu bahasa. Menanti Pek Bwee bertanya ia baru geleng kepala dan menyahut, “Siauw
moay sama sekali tidak terluka. cuma saja persendianku tercengkeram sehingga sukar
untuk berkutik.”
Tiba-tiba Sang Pat mengambil pisau belati itu dan digerak-gerakan diatas wajah Pek
Bwee, ancamannya, “Nona, bila aku masih menyayangi selembar wajahmu yang cantik
jelita ini. Jawablah semua pertanyaan yang cayhe ajukan.”
“Apa yang kau ingin tanyakan?”
“Apakah kalian berasal dari perkampungan Pek Hoa San cung?”
“Tidak salah.”

“Sekarang Djen Bok Hong berada dimana?”
“Jejak Djen toa cungcu amat misterius dan sukar diikuti, darimana kami bisa tahu
dimanakah sekarang dia berada? mungkin saja secara tiba-tiba dia bisa muncul dalam
ruang ini.”
Setelah mendesak sejenak ujarnya kembali, “Kalian menyusup kemari dengan jalan
menyaru, aku duga kamu pasti datang dengan membawa maksud-maksud tertentu. Apa
tujuan kalian?”
Meskipun diluar ia tetap tegang dan seolah-olah rela wajahnya dirusak namun
sebenarnya dalam hati gadis itu merasa amat takut.
Meskipun diluar ia berlagak ketus dan dingin, seakan-akan merasa tidak sayang kendati
wajahnya mau disayat-sayat, namun dalam kenyataan hati kecilnya merasa cemas dan
takut.
Kembali Sang Pat berkata sambil tertawa hambar, “Nona manis, andaikata wajahnya
yang begini cantik jelita bagaikan bidadari sampai teriris oleh senjata cayhe hingga
tersayat dan jadi jelek. Oooh…. sungguh suatu kejadian yang patut disayangkan!”
“Menurut anggapanmu pada malam ini apakah kalian masih punya kesempatan untuk
meninggalkan gedung Sam Kang Soe It ini?” jengek Pek Bwee sambil tersenyum.
“Justru aku sedang bertanya kepada nona.”
Belum habis ia berkata, mendadak dari luar ruangan berkumandang datang suara
bentakan gusar.
“Terimalah sebuah pukulan lagi!”
Ucapan itu membawa nada yang dingin dan ketus, bukan lain dilancarkan oleh Tu Kioe.
Ceng Yap Chin segera melepaskan jubah luarnya sambil meloloskan pedang yang
tersoren dipinggang serunya, “Biar aku yang sambut diri Tu heng” seraya berkata dengan
langkah lebar ia berjalan keluar.
Suara bentrokan senjata tajampun berkumandang masuk dengan nyaringnya, jelas
pertarungan yang telah berkobar disitu telah berlangsung dalam keadaan yang amat seru.
“Ehmm, rupanya pihak lawan sudah mulai melancarkan serangannya” ujar Sang Pat
dengan alis berkerut. “Bagaimana kita harus membereskan kedua orang dayang itu?”
“Setiap manusia yang berkecimpungan dalam perkampungan Pek Hoa San cung
kebanyakan sudah terlalu banyak melakukan kejahatan” jawab Siauw Ling dengan wajah
serius. “Meski demikian kedua orang dayang itu sudah tiada tenaga untuk melawan,
janganlah membunuh mereka yang tak berdaya.”

Sang Pat mengangguk, tiba-tiba pisau belati ditangannya diguratkan keatas pipi kiri Pek
Bwee sehingga muncul sebuah luka panjang yang mengucurkan darah, katanya lagi
dengan nada dingin, “Hmm apakah nona anggap aku tidak tega untuk turun tangan
terhadap dirimu? ayo cepat jawab, apakah Djen Bok Hong sudah tiba dikota Ooh Chioe?”
Tiba-tiba Pek Bwee pejamkan matanya, titik air mata jatuh berlinang membasahi
pipinya.
“Mau bunuh mau merusak wajahku silahkan kau laksanakan dengan sesuka hatimu
tidak nanti aku sudi membuka mulut!”
Wajahnya kelihatan patut dikasihani, namun giginya tetap digigit kencang tanpa
mengucapkan sepatah katapun.
Akhirnya Siauw Ling menghela napas panjang.
“Kita tak bisa menyalahkan mereka. Peraturan dalam perkampungan Pek Hoa San cung
memang terlalu ketat, sebagai manusia yang sudah banyak tahun hidup dibawah
kekuasaan Djen Bok Hong tak bisa disalahkan kalau dalam hati kecil mereka telah timbul
rasa takut yang tak terhingga terhadap cungcunya meskipun kau bunuh mereka juga tak
berguna lebih baik totok saja jalan darah mereka.”
“Perkataan toako sedikitpun tidak salah” dua buah jalan darah diatas tubuh Pek
Bweepun segera ditotok.
Mendadak kain horden tersingkap kesamping sekilas cahaya tajam laksana kilat
meluncur kedalam langsung mengancam punggung Siauw Ling.
Dalam pada itu Siauw Ling sedang menggerakkan sikut kirinya untuk menotok jalan
darah Liok Hoo merasakan datangnya ancaman tangan kirinya dengan sebat meraup
kebelakang, sekali sambar ia sudah tangkap batang piauw yang mengancam tubuhnya itu.
Diikuti tangan kanannya digetarkan, pisau belati yang berhasil dirampas dari tangan
Liok Hoo tadi segera ditumpuk kebalik horden.
Dengusan berat berkumandang datang dari balik horden, rupanya sang pembokong
telah terkena timpukan pisau belati itu dengan telak.
Sang Pat menggerakkan tangannya menyambar horden itu lalu ditariknya sekuat
tenaga. Kraaak! horden tadi segera robek sebagian.
Dibalik robekan horden itu tampaklah seorang lelaki berbaju serba hijau berdiri kaku
didekat dinding, diatas dadanya tertancap sebilah pisau belati yang menembusi ulu
hatinya hingga sebatas gagang rupanya orang itu sudah putus jiwanya.
Dibalik dinding terdapat sebuah pintu rahasia.Waktu itu pintu tadi belum sempat
tertutup.
“Hati-hati” bisik Sang Pat. “Dalam ruangan ini pasti telah diatur alat rahasia.”

“Lebih baik kita terjang saja keluar dari sini” Siauw Ling mengusulkan tanpa menanti
jawaban lagi ia segera menggerakkan tubuhnya menerjang lebih dahulu keluar dari
ruangan.
Tampak cahaya pedang berkilauan memenuhi angkasa, Ceng Yap Chin sambil
menggerakkan pedangnya sedang bertarung dengan sengitnya melawan seorang lelaki
berbaju hijau.
Rupanya Tu Kioe berhasil didesak hingga mundur ketengah halaman, sementara Ceng
Yap Chin menghadang didepan pintu.
Sekali berkelebat Siauw Ling lewat disisi Ceng Yap Chin, tangan kirinya diulur kemuka
dan segera menyambar pedang ditangan lelaki berbaju hijau itu.
Karena tangannya mengenakan sarung tangan kulit naga yang kebal terhadap pelbagai
macam bacokan senjata, bagi orang yang tak mengetahui rahasia ini rata-rata mereka
ngeri bercampur kaget tatkala melihat ia rampas pedang orang dengan tangan kosong.
Tatkala pedangnya berhasil dicengkeram Siauw Ling, orang itu tertegun dan
menghentikan gerakkannya. Pada saat yang bersamaan itulah tusukan pedang Ceng Yap
Chin telah meluncur datang menembusi dadanya.
Mengikuti gerakan tadi Siauw Ling merampas pedang tersebut, kemudian dengan cepat
menerjang keluar dari ruangan.
Ketika dia alihkan pedangnya ketengah kalangan, tampaklah olehnya Tu Kioe sedang
dikurung rapat-rapat oleh empat orang lelaki, pertarungan sudah berjalan mendekati
babak terakhir.
Suasana disekeliling sana terang benderang bagaikan ditengah hari, rupanya ditengah
halaman entah sejak kapan telah tergantung beberapa buah lampu lentera yang
menerangi sekeliling sana.
Ilmu silat yang dimiliki empat orang lelaki itu benar-benar amat lihay, dua orang
menggunakan pedang dan dua orang yang menggunakan golok saling bekerja sama
dengan eratnya, serangan-serangan mereka gencar dan dahsyat membuat Tu Kioe harus
putar senjata pit serta gelang peraknya sedemikian rupa untuk melindungi keselamatan
sendiri, kendati begitu posisinya tetap berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan.
Siauw Ling mengepos napas dan menerjang keatas, pedangnya diobat abitkan kekiri
kanan menghalau pergi datangnya tusukan dua bilah pedang.
Tatkala Tu Kioe menjumpai kehadiran Siauw Ling yang datang membantu dirinya,
semangatnya segera berkobar kembali, gelang peraknya dengan cepat menghalau
datangnya sepasang golok, sementara senjata pit bajanya dengan suatu jurus serangan
yang aneh menotok bahu kiri seorang lelaki bersenjata golok.
Creeeet! bahu orang itu segera tertembus oleh tusukan pit kip dari Tu Kioe, dalam
keadaan terluka parah buru-buru ia mundur kebelakang.

Siauw Ling yang kebetulan berada didekat sana segera mengirim satu tendangan
menghajar lutut kiri lelaki tadi. Duuuk! tulang kakinya seketika patah jadi beberapa
bagian.
Luka parah yang dideritanya secara beruntun sebanyak dua kali membuat orang itu tak
sanggup mempertahankan diri lagi, ia mundur dengan sempoyongan dan akhirnya roboh
terjengkang diatas tanah.
Disaat Siauw Ling melancarkan serangan tadi, pada saat yang bersamaan pula pedang
ditangan kanannya dibabat kesamping. Sreet! sebuah lengan kiri lelaki yang bersenjata
pedang terbabat kutung jadi dua.
Dalam sekejap mata empat orang yang mengepung Tu Kioe sudah ada dua orang
roboh terluka, sisanya yang dua orang jadi terkesiap dan ketakutan setengah mati, dalam
keadaan begini mereka tak berani bertempur lebih jauh setelah mengirim dua serangan
gencar tubuhnya buru-buru mengundurkan diri kebelakang.
“Heeh…. heeh…. kalian masih ingin lari?” jengek Siauw Ling sambil tertawa dingin.
Sambil enjotkan badannya ia tubruk kearah lelaki bersenjata pedang itu.
Sementara itu dengan hati ketakutan setengah mati lelaki tadi sedang melarikan diri
terbirit-birit dari situ, mendadak ia dengar ada ujung baju tersampok angin menubruk
datang, dengan cepat ia menoleh.
Tampaklah Siauw Ling sambil menyekal pedangnya sedang menubruk datang,
gerakannya cepat laksana sambaran kilat.
Ia jadi terperanjat, pikirnya, “Sungguh lihay gerakan tubuh orang ini…. aku harus
segera menghindarkan diri!”
Pedangnya buru-buru diangkat keatas menyongsong datangnya tubrukan lawan.
Siauw Ling mendorong telapak kirinya melancarkan sebuah serangan…. duuk. Dengan
telak bersarang diatas pedang orang itu, sedangkan pedang ditangan kanannya
membabat kebawah menebas lengan orang tadi.
Ternyata orang itu kuat dan punya daya tahan yang hebat, meskipun lengannya telah
terbacok kutung namun ia masih sempat mendengus dingin sambil melanjutkan larinya
kedepan.
Siauw Ling menjengek dingin, tangan kirinya segera disentil kedepan melancarkan
sebuah totokan dengan ilmu Siauw Loo Sin ci.
Criiit….! segulung angin tajam berdesir kemuka dan telak bersarang diatas punggung
lelaki itu.
Setelah lengannya kutung sekarang termakan pula oleh hajaran ilmu jari Siauw Loo Sin
ci, tentu saja tak sanggup baginya untuk mempertahankan diri. Ditengah jeritan tertahan
yang mengerikan orang itu terjungkal keatas tanah dan menemui ajalnya saat itu juga.

Napsu membunuh mulai berkobar dalam dada Siauw Ling, disaat yang bersamaan
pedang ditangan kanannya disambit kedepan, sekilas cahaya tajam segera berkelebat
menembusi angkasa langsung menghajar tubuh lelaki bersenjata golok itu.
Ketika mendengar datangnya desiran angin tajam dari arah belakang, buru-buru lelaki
itu putar badan sambil melepaskan satu babatan.
Siapa sangka timpukkan pedang dari Siauw Ling ini disertai dengan tenaga serangan
yang maha dahsyat, baru saja lelaki itu membabaskan goloknya kebawah, pedang itu
sambil miring sedikit kesamping langsung menyambar padanya.
Duuus….! tanpa ampun lagi dadanya jebol tertembus pedang tadi, diiringi jeritan tajam
mayatnya roboh terjungkal diatas tanah.
Setelah berhasil membereskan kedua orang itu, Siauw Ling berpaling kembali
kebelakang dia lihat dua orang yang telah terluka tadipun sudah dihabisi pula jiwanya oleh
Tu Kioe.
Yang aneh setelah kematian lima orang itu ternyata tidak nampak ada orang lain yang
munculkan diri, suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit
suarapun.
Ketika mendingak keatas terasa cahaya lampu memancar dengan terangnya, seluruh
atap bangunan disekitar sana berada dalam keadaan terang benderang.
“Toako apa yang harus kita lakukan sekarang?” terdengar Tu Kioe bertanya sambil
datang menghampiri Liong Tauw toakonya.
“Kelihatannya aneh sekali, atap rumah diterangi oleh cahaya lentera sehingga terang
benderang bagaikan ditengah hari, apa sebabnya dibawah wuwungan rumah gelap
gulita?”
Dengan langkah lebar Ceng Yap Chin datang berkumpul, sahutnya, “Pertarungan yang
telah berlangsung disini jelas sudah menggemparkan seluruh gedung Sam Kang Soe It.
Ditinjau dari tak adanya musuh tangguh yang muncul lagi disini jelas mereka sedang
menyusun rencana busuk lainnya.”
“Tidak salah” sahut Siauw Ling membenarkan sambil mengerling sekejap sekeliling
tempat itu. “Kita harus bertindak lebih hati-hati lagi jangan sampai terbokong oleh
mereka.”
“Aaaach benar” tiba-tiba Tu Kioe berseru. “Bukankah kita bisa mengompres kedua
orang dayang itu? coba kita tanyai permainan setan apakah yang sedang mereka
persiapkan.”
Sementara pembicaraan masih berlangsung mendadak dari balik ruangan disebelah
selatan berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat sinis disusul seseorang
berseru, “Kalian sudah berada dibawah kepungan kami sekalian, senjata rahasia telah
dipersiapkan diempat penjuru dan semuanya berupa benda kecil yang sangat beracun

apabila aku turunkan perintah maka keempat penjuru akan mulai bergerak untuk
menghamburkan senjata rahasia kearah kalian. Hmm…. meskipun kepandaian silat kalian
sangat lihay, jangan harap bisa meloloskan diri dari ancaman beribu-beribu batang senjata
tajam yang lembut bagaikan grimis. Kendati kalian bergerak dengan cara apapun, niscaya
senjata rahasia akan ditubuh kamu semua.”
Siauw Ling tidak ingin memperhatikan asal usulnya, maka kepada Ceng Yap Chin ia
berbisik, “Ceng heng, ajaklah dia bicara, diam-diam siauwte akan perhatikan situasi
disekitar sini.”
Ceng Yap Chin mengangguk, dengan suara lantang segera serunya, “Siapakah anda
sekalian?”
“Kalian tak usah bertanya siapakah diri loohu, yang jelas mati hidup kamu semua telah
berada ditangan loohu….”
Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya lagi dengan suara keras, “Dalam keadaan
seperti ini hanya ada dua jalan yang dapat kau tempuh, yaitu melepaskan senjata tajam
dan menyerah kepada kami, atau mati dibawah serangan hujan senjata rahasia.”
Ucapan ini membuat Ceng Yap Chin merasa sangat tidak puas, pikirnya, “Hmm,
congkak amat perkataannya meskipun ada berlaksa buah gendewa yang melancarkan
serangan berbarengpun belum tentu bisa membinasakan kami sekalian….”
Tapi teringat bahwa perkataan yang kurang pantas kemungkinan besar bisa
memancing datangnya serangan bokongan dari mereka, maka untuk beberapa saat ia
membungkam dalam seribu bahasa.
Ketika tidak memperoleh jawaban, orang itu segera tertawa dingin dan berkata lagi,
“Dalam ruangan, halaman serta kamar-kamar itu sudah kusembunyikan jago-jago lihay,
bahkan jaraknya sangat dekat sekali dengan kalian, boleh dibilang daerah disekeliling
kalian tak ada sejengkalpun yang merupakan daerah aman. Kalau kalian ingin melawan
kekuatan kami dengan andalkan ilmu silat, itu berarti kamu semua mencari kematian buat
diri sendiri.”
Ceng Yap Chin mengerutkan dahinya, kepada Siauw Ling segera bisiknya, “Siauw heng,
apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Kalau ditinjau dari keadaan disekeliling tempat ini rupanya apa yang ia utarakan sama
sekali bukan gertak sambel belaka, seandainya apa yang dia katakan adalah kata yang
sebenarnya waaah…. kita memang terancam dalam keadaan bahaya satu-satunya cara
yang bisa kita tempuh saat ini adalah berusaha untuk mengundurkan diri kembali kekamar
dimana telah disiapkan perjamuan tadi, kemudian berusaha memancing mereka
melepaskan senjata rahasia dan kitapun rundingkan bagaimana caranya menghancurkan
pertahanan musuh.”
Dari dalam ruangan terdengar suara Sang Pat berkumandang datang, “Lebih baik kalian
berdua sedikit tahu diri. Selamanya loohu tidak pernah kenal mengasihani kaum wanita!”

Ketika Siauw Ling sekalian berpaling kebelakang, tampaklah Sang Pat dengan tangan
kiri mencekal Pek Bwee, tangan kanan mencekal pergelangan Liok Hoo dengan langkah
lebar berjalan mendekati.
“Loo jie, cepat mundur kembali kebelakang” seru Tu Kioe.
Sang Pat menggeleng.
“Kamar itu tak bisa dipergunakan lagi!”
“Kenapa?”
“Seandainya mereka lepaskan asap beracun, bukankah kita bakal mati konyol dalam
ruangan tersebut?”
“Hmm, kalau begitu mereka memang sengaja memaksa kita kembali kedalam kamar,
agar bisa merobohkan kita dengan asap racun.”
Sementara berbicara Sang Pat telah tiba dihadapan beberapa orang itu.
“Sekeliling halaman ini telah disembunyikan jago yang lihay melepaskan senjata
rahasia” bisik Ceng Yap Chin. “Pada saat ini kita sudah terjerumus kedalam barisan
senjata rahasia mereka yang lihay.”
Biji mata Sang Pat berputar memperhatikan sekejap daerah disekeliling tempat itu.
terasa olehnya halaman ditengah bangunan itu merupakan sebidang tanah datar, kecuali
tanah berumput boleh dibilang tiada tempat lain untuk menyembunyikan diri, tanpa terasa
alisnyapun berkerut kencang.
“Seandainya mereka melepaskan senjata rahasia, terpaksa kita harus menggunakan
tubuh kedua orang nona ini sebagai tameng” katanya.
Mendadak terdengar dari ruangan sebelah utara berkumandang datang suara
seseorang dengan nada yang dingin.
“Rupanya sebelum berjumpa dengan peti mati kalian tak mau mengucurkan air mata,
kalian tidak kudemontrasikan kelihayan kami, mungkin kamu semua tidak mau percaya.”
“Empat penjuru terdapat ancaman senjata rahasia” bisik Siauw Ling memperingatkan.
“Kita semua tak boleh gegabah, masing-masing perhatikan hal satu arah!”
Sambil bicara tiba-tiba meloncat lima depa kedepan, disambarnya sesosok mayat
kemudian meloncat balik ketempat semula.
Gerakannya datang dan pergi dilakukan dalam sekejap mata, kecepatannya benarbenar
sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Dari arah utara kembali terdengar suara tertawa dingin.

“Aku akan mendemontrasikan sedikit kelihayan kami, agar mata kamu semua terbuka
lebar….” ia merandek sejenak. “Lepaskan burung elang!”
JILID 25
Dua ekor burung elang segera dilepaskan dari jendela dan meleset ketengah udara.
Baru saja kedua ekor burung elang itu terbang melewati atap rumah, mendadak
terdengar suara desiran tajam memekikkan telinga dibawah sorot lampu terlihat beriburibu
buah jalur cahaya perak yang amat menyilaukan mata melesat ketengah udara
menyambar kedua ekor burung elang tadi.
Jelas senjata rahasia itu bukan saja rapat bagaikan hujan, bahkan telah dipolesi dengan
racun yang amat keji.
Dari dalam ruangan sebelah utara kembali berkumandang suara teguran yang dingin,
“Diantara kamu semua siapakah yang bernama Siauw Ling?”
Siauw Ling tertegun, untuk sesaat lamanya ia tidak mengerti harus mengaku atau tidak.
Dikala ia masih sangsi, Sang Pat telah tertawa terbahak-bahak.
“Haah…. haah…. haah…. diantara rombongan kami tiada yang bernama Siauw Ling,
seandainya Siauw thayhiap berada disini, mungkin sedari tadi kamu semua sudah mati
diujung pedang serta telapaknya.”
Tu Kioe sambar tubuh Pek Bwee dan dihadangkan dihadapannya, lalu berseru, “Pada
bagian selatan dan utara masing-masing bersembunyi musuh tangguh. Mari kita terjang
kedalam ruangan tersebut, mungkin saja dengan menjebol dinding kita masih punya
kesempatan untuk menyelamatkan diri.”
Sang Pat yang selalu punya akal dan berotak cerdik, pada saat ini sama sekali tak bisa
menggunakan kelebihannya itu untuk memecahkan persoalan, dengan wajah serius dia
bungkam dalam seribu bahasa.
Walaupun begitu dalam hati kecil keempat orang itu sama-sama mengerti, seandainya
kerapatan senjata rahasia yang dipancarkan dari empat penjuru ruangan adalah sama,
maka sulitlah bagi mereka untuk menerjang keluar dari sana.
Yang aneh setelah terjadi tanya jawab tadi, ternyata tiada pembicaraan lain yang
berlangsung, ditengah kegelapan masing-masing pihak saling menanti dengan mulut
membungkam.
Lama sekali Sang Pat baru berbisik dengan suara lirih, “Toako, rupanya mereka sedang
menanti orang, waktu bagi kita tidak menguntungkan. Aku lihat dalam keadaan seperti ini
satu-satunya jalan hanya mundur kembali kedalam ruangan. Diantara kita berempat
hanya toakolah yang harus tetap hidup dikolong langit, oleh sebab itu toako tak usah
memusingkan keselamatan kami lagi….”

“Serangan senjata rahasia mereka rapat bagaikan hujan badai, burungpun sukar untuk
melewati daerah sekitar sini. Siauwte rasa akupun tiada keyakinan untuk berhasil
meloloskan diri dari tempat ini….”
“Maksud Sang Loo jie?” sambung Tu Kioe. “Adalah diantara kita berempat, tiga orang
boleh mati karena kematiannya tidak akan mempengaruhi perkembangan dunia
persilatan, sebaliknya mati hidup toako sangat mempengaruhi keselamatan Bulim pada
umumnya, maka dari itu seandainya diantara kita berempat andaikata ada seseorang bisa
hidup maka orang itu haruslah diri toako.”
“Tidak bisa jadi, tidak bisa jadi” tampik Siauw Ling sambil gelengkan kepalanya. “Kita
masing-masing orang mempunyai kesempatan untuk mempertahankan hidup, kenapa
diantara kita berempat hanya aku seorang yang harus hidup?”
Ceng Yap Chin menghela napas panjang.
“Aaai, mungkin Siauw thayhiap masih belum memahami maksud hati dari Tiong Chiu
Siang Ku maksud mereka berdua adalah dalam keadaan yang bagaimana gawatpun kita
sekalian bisa berusaha dengan segala kemampuan kami untuk melindungi keselamatan
jiwa Siauw thayhiap.”
“Bagaimana cara kalian hendak melindungi diriku? senjata rahasia toh tak bermata.
Apakah benda-benda itu bisa menghindari aku orang she Siauw….”
“Bila keadaan memaksa kita bertiga bisa bersatu padu untuk melindungi keselamatan
Siauw thayhiap, meskipun tubuh kami bertiga ditembusi oleh senjata-senjata rahasia itu,
kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindarkan diri Siauw thayhiap dari
ancaman tersebut.”
“Hmm, perkataan macam apakah itu?” tegur Siauw Ling dengan alis berkerut. “Mati
hidup kita berempat harus sama-sama dipertahankan. Sudahlah kalian tak usah banyak
bicara lagi, cayhe yang akan membuka jalan buat kalian semua. Ayo kita terjang dulu
keruang sebelah utara, disitu baru kita membuat perundingan lagi.”
Sinar matanya berputar, tiba-tiba ia saksikan Pek Bwee melototkan matanya bulat-bulat
memandang kearahnya, seakan-akan dara itu ada sesuatu perkataan yang hendak
disampaikan kepadanya.
Satu ingatan berkelebat dalam benak si anak muda itu, seraya ujarnya, “Saudara Sang,
apakah kau telah totok jalan darah bisunya….?”
“Benar karena aku takut kedua orang dayang berteriak yang bukan-bukan, maka aku
sudah totok jalan darah bisu mereka.”
“Bebaskan jalan darah ditubuh nona Pek Bwee ini!”
Selamanya Sang Pat selalu menuruti setiap perkataan dari Siauw Ling, tanpa banyak
bertanya lagi ia segera tepuk jalan darah Pek Bwee.

Dayang itu menghembuskan napas panjang kemudian sambil memandang kearah
Siauw Ling bisiknya lirih, “Apakah kau adalah Siauw thayhiap?”
“Sedikitpun tidak salah, cayhe adalah Siauw Ling.”
“Apakah kau kenal dengan seorang nona yang bernama Giok Lan?”
Teringat nasib Kiem Lan serta Giok Lan yang lenyap berikut orang tuanya, Siauw Ling
merasa bersedih tapi ia segera mengangguk.
“Tidak salah, apakah nona juga kenal dengan nona Giok Lan?”
“Aku dengan Giok Lan sudah lama bersahabat, hubungan kami sudah bagaikan saudara
sendiri….”
Mendadak ia memperendah suaranya.
“Kalian tak boleh menerjang kesebalah utara sebab dibawah kurungan senjata rahasian
yang rapat bagaikan hujan badai, tiada kesempatan bagi kalian untuk meloloskan diri.”
“Apakah nona mempunyai akal bagus?” tanya Siauw Ling setelah tertegun sejenak.
“Aku mempunyai satu akal, cuma…. apa Siauw thayhiap mau mempercayai diriku?”
“Apa akalmu itu?”
“Lepaskan aku serta adik Liok Hoo….”
Mendengar permintaan itu Sang Pat segera tertawa dingin.
“Budak licik benar akalmu…. Sudah berulang kali aku si Sang Loojie mengalami
gelombang dahsyat disamudra luas, apa kau suruh aku terjungkal dari perahu dalam
selokan yang dangkal.”
“Kalian takkan mempunyai kesempatan lain kecuali berbuat demikian….”
“Kami akan menahan kamu berdua sebagai sandera, agar mereka dikala melepaskan
senjata rahasia jadi lebih was-was dan ragu.”
Dengan cepat Pek Bwee gelengkan kepalanya.
“Kalau begitu kau masih belum memahami bagaimanakah watak serta tabiat dari Djen
Bok Hong, jangan dikata nasib dua orang dayang seperti kami, sekalipun seseorang yang
mempunyai kedudukan sepuluh kali lipat lebih tinggi dari kamipun akan tetap dikorbankan
demi kesuksesan cita-citanya. Mereka tak nanti akan memikirkan nasib kami yang kalian
jadikan sandera….”
“Sang heng te!” bisik Siauw Ling dengan suara lirih. “Bebaskan jalan darah mereka, dan
lepaskan mereka pergi!”

“Kita benar-benar akan melepaskan mereka?” tanya Sang Pat melengak.
“Tentu saja sungguh-sungguh!”
Sang Pat tidak banyak bicara lagi, dia segera membebaskan jalan darah ditubuh Pek
Bwee, kemudian tanyanya, “Apakah nona Liok Hoo juga kita lepaskan?”
“Eehm, sekalian lepaskan semua!”
Sang Pat menurut, setelah membebaskan jalan darah kedua orang dayang itu ia
berkata, “Nah, sekarang kalian sudah bebas dan silahkan berlalu dari sini!”
“Tidak bisa kalau cuma begini saja!” seru Pek Bwee.
“Lalu apa yang kalian inginkan?”
“Kalian tak bisa lepaskan kami dengan begini saja sehingga mereka tahu kalau kami
dilepaskan oleh kalian dengan begitu saja.”
“Apakah kalian mau pura-pura meronta dari cekalan kami kemudian melarikan diri?”
jengek Tu Kioe dengan suara dingin.
“Sedikitpun tidak salah, untuk mengelabui mereka maka terpaksa aku harus
merepotkan kalian berdua untuk bergebrak beberapa jurus dengan kami berdua.”
“Baiklah…. mengantar Budha harus diantar sampai langit barat, bila kalian telah
berjumpa dengan mereka, katakanlah agar mereka lepaskan senjata rahasia yang lebih
banyak kepada kami.”
Sreeet! sie poa emas dari Tiong Chiu ini segera melepaskan satu pukulan dahsyat
kearah Pek Bwee.
Dengan gesit dayang itu mengigos kesamping bisiknya, “Siauw thayhiap, bila kau
mendengar jeritan lengking dariku maka segeralah menerjang keruang sebelah utara!”
“Baik, akan kuingat selalu.”
“Perkataan orang perempuan tak boleh dipercaya seratus persen” seru Sang Pat
memperingatkan, sepasang telapak menyerang lebih gencar lagi, secara beruntun dia
lepaskan empat buah serangan berantai.
Serangkaian pembicaraan tadi dilangsungkan dengan suara yang amat lirih, sudah
tentu orang-orang yang bersembunyi disekitar sana tak dapat mendengarkan dengan jelas
apa yang sedang mereka bicarakan.
Dalam pada itu Liok Hoo sudah ayunkan telapaknya menyerang Ceng Yap Chin,
ujarnya, “Beranikah kau melawan sebuah seranganku dengan keras lawan keras….?”
Ceng Yap Chin tertawa dingin, dia ayunkan telapaknya menyambut serangan itu
dengan keras lawan keras.

Rupanya dalam hati kecil jago muda dari Bu tong pay ini merasa amat tidak puas
dengan tindakan Siauw Ling melepaskan kedua orang dayang itu, tetapi setelah melihat
Sang Pat bertindak menuruti kemauan si anak muda itu, ia merasa sungkan untuk
menghalanginya. Meski demikian hawa gusar dan dongkolnya masih terpendam dalam
hati.
Kini menyaksikan Liok Hoo melancarkan sebuah serangan kearahnya, hawa gusar serta
rasa dongkol yang mengganjal dalam dadanya segera disalurkan keluar kearah dayang
tersebut.
Telapak kanannya dengan cepat diayun melancarkan sebuah serangan dengan sepenuh
tenaga.
Blaaam….! bentrokan keras itu menimbulkan suara getaran yang memekikkan telinga.
Liok Hoo berseru tertahan, badannya tergetar mundur empat lima langkah kebelakang.
Pek Bwee segera meloncat mundur kebelakang sambil menegur dengan suara keras,
“Adikku, apakah lukamu parah?”
Sambil berkata ia segera mengundurkan diri keruang sebelah utara.
“Siauw heng, tindakanmu melepaskan kedua orang dayang itu benar-benar hebat
sekali” terdengar Ceng Yap Chin menjengek dengan suara sinis. “Keramah tamahan serta
belas kasihanmu membuat siauwte merasa sangat kagum!”
Siauw Ling mengerti bahwasanya jago muda dari Bu tong pay ini pasti merasa tidak
puas karena dia telah melepaskan kedua orang dayang itu, maka ia cuma tersenyum
belaka tanpa menanggapi ucapannya.
“Cuma saja…. kelicikan serta kejahatanmu sudah merajalela dikolong langit” ujar jago
muda dari Bu tong pay itu lebih jauh. “Kebajikan serta welas kasih dari Siauw thayhiap itu,
sama sekali tidak sesuai bagi tindakan seorang calon pemimpin Bulim.”
“Walaupun kita tetap menahan kedua orang dayang itupun tiada gunanya, bahkan
mereka hanya bakal merepotkan kita saja, apa salahnya kalau dilepaskan saja?” ujar
Siauw Ling.
“Siauw heng mengasihani musuh belum tentu pihak lawan mengasihani dirimu
melepaskan kedua orang dayang itu bukanlah berarti melepaskan harimau pulang
gunung….”
Belum habis dia berkata tiba-tiba terdengar suara jeritan melengking berkumandang
datang.
“Cepat terjang kesana!” seru Siauw Ling sambil menerjang lebih dahulu. Ceng Yap
Chin, Sang Pat serta Tu Kioe tidak bisa berbuat lain kecuali mengikuti dari belakang
menerjang keruang sebelah utara.

Terdengar suara desiran tajam berkumandang datang dari ruang sebelah selatan
senjata rahasia bagaikan hujan badai meluncur ketengah lapangan.
Siauw Ling seger putar mayat yang berada ditangannya sebagai tameng teriaknya,
“Cepat terjang kedalam!”
Gerak gerik keempat orang cepat laksana kilat, dalam sekejap mata mereka sudah jauh
meninggalkan daerah jangkauan yang sanggup dicapai senjata rahasia yang dilepaskan
dari arah selatan itu. Meskipun serangan senjata rahasia masih tiada hentinya namun
sudah tidak seberapa lagi.
Siauw Ling segera putar mayat ditangannya untuk membendung senjata rahasia itu,
sedangkan Ceng Yap Chin sekalian dengan meminjam kesempatan itu naik keatas undakundakan
batu.
Dalam keadaan begini seandainya dari dalam ruangpun melepaskan senjata rahasia
dalam jarak tidak mencapai satutombak itu sekalipun ilmu silat Siauw Ling sekalian
lebihpun niscaya akan terluka dibawah serangan senjata rahasia beracun itu.
Tapi suasana dalam ruangan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, tak
sebatang senjata rahasiapun yang disambit keluar. Setelah membendung datangnya
senjata rahasia itu, Siauw Ling cepat-cepat ikut meloncat naik keatas undak-undakan.
Tampaklah Sang Pat, Tu Kioe serta Ceng Yap Chin dengan senjata terhunus masingmasing
berdiri sejajar ditepi ruangan.
“Kenapa cuwi sekalian tidak segera masuk kedalam ruangan?” tegur Siauw Ling.
“Kami menanti diri Siauw thayhiap!”
Si anak muda itu tidak membuang waktu sekali lagi, ia tendang jebol pintu ruangan itu
dan segera menerobos masuk kedalam.
Terdengar suara bisikan seorang gadis yang lirih dan lemah berkumandang datang,
“Silahkan cuwi sekalian masuk kedalam!”
Suara itu dipancarkan oleh Pek Bwee tapi lirih dan lemah, jelas ia sudah menderita luka
parah.
Dengan telapak kiri disilangkan didepan dada Siauw Ling segera menyelinap masuk
kedalam ruangan, diikuti Sang Pat serta Tu Kioe dibelakangnya.
Tu Kioe segera membuat obor untuk menerangi suasana dalam ruangan tersebut.
Tampaklah empat orang lelaki berpakaian ringkas menggeletak mati ditengah ruangan
sekujur tubuh Liok Hoo pun tertancap jarum-jarum beracun, napasnya telah berhenti
sejak tadi, sedangkan Pek Bwee menggeletak disisinya, iapun berada dalam keadaan
kritis.

Pandangan yang terbentang didepan mata saat ini benar-benar mengenaskan sekali,
kedua orang dayang itu telah menggunakan jiwa serta darahnya untuk menyelamatkan
jiwa Siauw Ling berempat.
Dengan cepat Siauw Ling berjongkok keatas tanah untuk membopong tubuh Pek Bwee,
ujarnya, “Nona, parahkah luka yang kau derita?”
“Aku sudah tak berguna” jawab pek Bwee sambil gelengkan kepala. “Aku harap Siauw
thayhiap tak usah memikirkan diriku, dikemudian hari aku hanya berhadap kau bisa
membinasakan Djen Bok Hong untuk membalaskan dendam sakit hatiku.”
Siauw Ling menghela napas panjang.
“Aaai…. andaikata nona tidak membantu kami sekalian tidak nanti kau menderita luka
yang demikian parahnya, aku orang she Siauw pasti akan membantu dengan segenap
tenaga untuk menyelamatkan jiwa nona.”
Kembali Pek Bwee menggeleng.
“Tak ada gunanya…. aai. alat rahasia yang dipasang dalam ruangan ini sudah
kuhancurkan semua. Kalian larilah dari jendela belakang dan berjalanlah mengikuti
serambi samping, jangan sampai tersorot oleh cahaya lampu diluar. Asal kalian telah
sampai diujung serambi dan melewati tembok penghalang, maka jiwa kalian pasti
selamat.”
Bicara sampai disana ia berhenti. Sementara napasnya makin tersengkal-sengkal.
Melihat gadis itu sudah pejamkan matanya rapat-rapat, seolah-olah sudah tak sanggup
mempertahankan diri lagi, ia segera salurkan hawa murninya lewat punggung dara
tersebut. Segulung aliran panas dengan cepat menerjang masuk ketubuh Pek Bwee lewat
jalan darah Beng Boen Hiatnya.
Pek Bwee menghembuskan napas panjang.
“Benarkah kau adalah Siauw Ling, Siauw thayhiap?” tiba-tiba ia bertanya kembali.
“Sedikitpun tidak salah.”
“Bolehkan aku menyaksikan wajah Siauw thayhiap yang asli sebentar?”
“Tentu saja!” sambil berkata si anak muda itu segera melepaskan topeng yang ia
kenakan diwajah.
Pek Bwee mengepos segenap tenaganya untuk memandang beberapa saat wajah
Siauw Ling kemudian bisiknya lirih, “Baik-baiklah menjaga adik Giok Lan ku itu!”
Habis berkata badannya melayang mengejang kencang…. diikuti matanya terpejam dan
melayanglah jiwa dara itu kembali keakherat.

Dengan sedih, Siauw Ling menghela napas panjang, ia baringkan jenasah Pek Bwee
keatas tanah kemudian berkata, “Setelah menerjang masuk kedalam ruang ini, ia pasti
telah melancarkan serangan mautnya secara tiba-tiba. Dua orang itu berhasil dia hadapi
sekalian sementara dua orang lainnya tentu sudah melepaskan tabung senjata rahasianya
untuk melukai Liok Hoo, dalam keadaan luka kedua orang itu berhasil dibunuh dayang tadi
sehingga akhirnya dia sendiri mati karena keracunan, sedang Pek Bweepun terluka parah
dalam pertarungan itu….”
“Kegagahan nona berdua amat mengagumkan hati aku orang she Sang” kata Sang Pat
secara tiba-tiba. “Disini aku ucapkan banyak terima kasih atas budi yang telah kalian
lepaskan untuk menolong jiwa kami.”
Habis berkata ia segera jatuhkan diri berlutut didepan jenasah kedua orang dayang tadi
kemudian menjalankan penghormatan besar.
Ceng Yap Chin melirik sekejap kearah Siauw Ling rasa jengah dan sesal terlintas diatas
wajahnya, beberapa saat kemudian ia baru berkata, “Siauwte telah salah memandang
perbuatan mulia nona bedua, atas pertolongan kalian berdua disini aku minta maaf dan
ucapkan banyak terima kasih” kepada kedua sosok jenasah itu, diapun memberi hormat
dalam-dalam.
ooooo0ooooo
Perlahan-lahan Siauw Ling menghela napas panjang.
“Suatu saat kita berhasil membinasakan Djen Bok Hong, harap kalian berdua jangan
lupa bersembahyang untuk arwah kedua orang nona itu….!”
“Siauwte akan mengingatnya selalu.”
“Aaai, mari kita berlalu, kita tak boleh menyia-nyiakan pertolongan dari kedua orang
nona itu yang mana telah mengorbankan jiwanya!”
Habis berkata ia segera berlalu lebih dahulu.
Demikianlah beberapa orang itu segera membuka jendela belakang sesuai dengan
pesan terakhir dari Pek Bwee, disana mereka benar-benar menjumpai sebuah serambi
panjang.
Dengan mengerahkan hawa murninya Siauw Ling menjebol terali besi diatas jendela itu
kemudian bergerak menuju kearah barat.
Ketika tiba disudut ruangan, mendadak terasa sekilas cahaya tajam menyambar
datang, tahu-tahu sebilah golok telah membabat kearah tubuhnya.
Dengan cepat Siauw Ling ayun tangan kanannya menyambar golok tadi,sekali betot
bersama orangnya segera diseret keluar dari tempat persembunyiannya.
Ceng Yap Chin yang ada didekat si anak muda itu cepat mencabut keluar pedangnya
sekali tebas lengan kanan orang itu seketika tertebus kutung jadi dua bagian.

Orang itu menjerit kesakitan cepat-cepat badannya berputar dan menubruk kearah
dinding…. duk, dinding tadi berputar dan mendadak bayangan tubuhnya lenyap tak
berbekas.
Rupanya dibalik dinding tersebut terdapat sebuah alat rahasia yang bisa memutar
dinding tadi.
Sekarang Sang Pat baru jadi paham duduknya perkara, ia lantas berseru, “Oh kiranya
begitu, tidak aneh kalau lenganku terbacok oleh senjata lawan tanpa kujumpai musuhnya,
ternyata mereka mengirim bacokan dari balik dinding rahasia….”
Sementara berbicara mereka sudah tiba diujung ruangan, Siauw Ling segera enjotkan
badan melayang keluar dari dinding pemisah.
Tampaklah diluar dinding tadi merupakan sebuah kebun bunga yang tenang dan indah.
Bayangan manusia berkelebat lewat, Sang Pat, Tu Kioe serta Ceng Yap Chin pun secara
beruntun telah melayang keluar.
“Ehm, tempat ini agak kurang beres” bisik Sang Pat. “Lebih baik kita segera berlalu dari
sini.”
Dengan menempel disisi dinding ia lantas bergerak menuju kearah barat.
“Kalau ditinjau keadaan dari kebun ini jelas kebun bunga milik seorang hartawan atau
orang berpangkat” batin Siauw Ling. “Tapi…. apa sebabnya ia bertetangga dengan
gedung Sam Kang Soe Gie? sungguh aneh.”
Setibanya diujung tembok sebelah barat mereka segera melayang keluar, tampak
cahaya lampu terang benderang. Orang yang berlalu lalang masih ramai sekali, ternyata
mereka sudah tiba kembali didepan gedung Sam Kang Soe Gie tersebut.
Dalam beberapa kali loncatan beberapa orang itu sudah tiba disisi kereta berkerudung,
dengan cepat mereka berloncatan masuk kedalam, sementara kereta itupun cepat-cepat
berlalu meninggalkan tempat itu.
“Kita mau pergi kemana?” ditengah jalan Siauw Ling bertanya.
“Mereka akan kemana?” keempat orang itu sama-sama tak bisa menjawab.
Perubahan yang terjadi digedung Sam Kang Soe Gie jauh berada diluar dugaan
keempat orang itu, maka rencana yang telah disusun sebelumnyapun rasanya tak bisa
dipergunakan lagi.
Setelah hening kurang lebih seperminum teh lamanya, Ceng Yap Chin baru berkata,
“Sekarang kita telah dapat membuktikan bahwa gedung Sam Kang Soe Gie adalah markas
dari Djen Bok Hong untuk mengumpulkan mata-matanya, menurut pendapat siauwte lebih
baik kita berjumpa dahulu dengan Soen Loocianpwee sekalian kemudian baru singkirkan
gedung Sam Kang Soe gie ini dari permukaan bumi.”

“Walaupun dalam gedung itu telah dipasang alat rahasia, tidak terlalu sulit untuk
menghancurkannya” sahut Siauw Ling. “Yang jadi persoalan bagi kita sekarang adalah
andaikata gedung tersebut kita hancurkan. Apakah Djen Bok Hong tidak dapat
membangun lagi sepuluh buah gedung seperti Sam kang Soe gie? orang itu licik dan
berbahaya, perbuatannya jauh diluar perikemanusiaan, maka satu-satunya jalan adalah
berusaha melenyapkan gembong iblis itu dari permukaan bumim setelah dia lenyap
rasanya tidak sulit bagi kita untuk membasmi anak buahnya.”
“Memang tepat sekali ucapanmu itu, tapi gampangkah kita melawan apalagi
membinasakan Djen Bok Hong?”
Mendadak Sang Pat melancarkan sebuah totokan kilat kearah lelaki yang bertindak
sebagai kusir itu.
Ceng Yap Chin dapat mengikuti gerakan itu dengan jelas, ia jadi terperanjat, buru-buru
tangan kanannya menyapu kearah urat nadi Sang Pat, bentaknya, “Sang heng, apa
maksudmu?”
Tampak lelaki itu putar badan melancarkan sebuah pukulan kilat, kemudian sekali
genjot badan melayang ketengah udara dan lenyap dibalik kegelapan.
“Oooh sayang…. sayang….” seru Sang Pat sambil geleng kepala.”
Ceng Yap Chinpun sudah menyadari apa yang telah terjadi, ia jadi melengak.
“Orang itu adalah….”
“Anggota perkampungan Pek Hoa San cung yang menyaru sebagai kusir.”
“Aah, kalau begitu murid partai kami yang menyaru sebagai kusir tentu sudah
mengalami bencana?”
“Sekalipun tidak mati, paling sedik jalan darahnya telah tertotok!”
“Aaai…. pengalaman Sang heng benar-benar amat luas, siauwte merasa menyesal dan
malu sendiri….”
Sang Pat tidak menanggapi ucapan tersebut ia kirim satu pukulan menghajar lubang
penutup kereta setelah itu serunya, “Ayoh kita segera berangkat keluar dari kereta ini”
sambil berkata ia loncat lebih dulu.”
Siauw Ling, Tu Kioe serta Ceng Yap Chin secara beruntun ikut meloncat keluar.
Tampaklah kereta tadi dengan cepatnya masih meneruskan larinya menuju kearah
depan.
Memandang bayangan sang kereta yang lepas ditengah kegelapan, Sang Pat menghela
napas panjang.

“Setelah kukatakan keluar sebenarnya banyak titik kelemahan yang kita dapatkan, bila
Ceng heng perhatikan lebih seksama maka kaupun akan menemukan pula tanda-tanda
yang mencurigakan….”
“Bagi siauwte rasanya kecuali memberikan raut wajahnya dengan cermat untuk
mengetahui siapakah dia, rasanya tiada cara lain untuk menemukan tanda-tanda yang
mencurigakan.”
“setelah kita naik kedalam kereta, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia sudah kabur
kekereta, hal ini merupakan kecurigaan yang pertama, kemudian siauwte melihat rute
yang diambil adalah jalan gunung yang sepi, dalam hati aku lantas punya dugaan bahwa
delapan puluh persen dia pasti mata-mata, maka aku lantas melancarkan serangan
totokan, siapa tahu Ceng heng telah menghalangi tindakanku itu.”
“siauwte merasa amat menyesal atas kesalahanku itu.”
“Seandainya Ceng heng tidak menghalangi. Rasanya cayhe pasti akan menghalangi
perbuatan saudara Sang” sela Siauw Ling. “Kesalahan yang tak disengaja ini apa gunanya
disesalkan.”
Dalam pada itu Tu Kioe telah memeriksa keadaan disekeliling tempat itu. Ia jumpai
tempat mana bukan saja sunyi dan sepi, bahkan dari kejauhan secara lapat-lapat
terdengar deburan ombak menggulung ketepian, alisnya kontan berkerut.
“Aku rasa orang itu melarikan keretanya datang kemari. pasti bukannya tanpa disadari
oleh alasan.”
“Benar, dia pasti mempunyai suatu maksud yang tertentu!”
Mendadak…. dari arah depan jalan berkumandang datang suara langkah manusia.
“Ada orang datang!”
Ceng Yap Chin segera mencabut keluar pedangnya.
“Mungkin orang itu telah balik kembali sambil membawa bala bantuan, bila kita berhasil
tangkap merek. Aku rasa duduknya tidak sukar untuk diketahui.”
Rupanya setelah merasa menyesal karena ia menghalangi tindakan Sang Pat untuk
menotok jalan darah mata-mata itu, sekarang ia berharap bisa memberi jasanya untuk
menawan kembali orang tadi.
Tampak dua sosok bayangan manusia dalam waktu singkat telah tiba dihadapan
beberapa orang itu.
Sekilas memandang Siauw Ling segera mengenali beberapa orang itu sebagai anggota
perkumpulan Kay pang, sebab mereka memakai pakaian pengemis dan masing-masing
membawa sebuah toya.

Setelah mengalami pengalaman pahit tempo dulu, Siauw Ling jauh lebih waspada
terhadap setiap orang. Walaupun orang-orang itu memakai pakaian pengemis namun
kewaspadaannya sama sekali tidak kendor.
Tampak pengemis yang ada disebelah kiri menegur, “Apakah kau adalah Siauw
thayhiap?”
Sebelum si anak muda itu menjawab, Sang Pat telah tampil kedepan sambil bertanya,
“Ada urusan apa?”
Pengemis itu memperhatikan diri Sang Pat kemudian sahutnya, “Aku sipengemis kecil
mendapat perintah dari Soen tiangloo untuk mengundang Siauw thayhiap pergi menolong
seseorang.”
“Menolong siapa?” tanya Siauw Ling tertegun.
“Empat pujangga besar dunia persilatan terjebak dalam perangkap Djen Bok Hong
karena keadaan yang sangat memaksa Soen tiangloo serta Boe Wie Tootiang telah
berangkat kesana untuk memberi bantuan, tapi karena takut kekuatan mereka tidak
memadahi, maka kami segera diutus pergi kegedung Sam Kang Soe Gie untuk kabarkan
kepada Siauw thayhiap agar segera pergi memberi bantuan!”
“Oooh, ternyata telah terjadi perubahan diluar dugaan” batin Sang Pat didalam hati.
“Tidak aneh kalau tak seorang manusiapun datang menyambut kami….!”
Dalam pada itu terdengar Ceng Yap Chin telah menegur dengan nada dingin,
“Bukankah kalian berdua diperintahkan untuk pergi kegedung Sam Kang Soe Gie? kenapa
kamu sekalian tahu kalau kami berada disini.”
Setelah keteledorannnya mengakibatkan mata-mata musuh terlepas, kali ini jago muda
dari partai Bu tong pay ini bertindak jauh lebih berhati-hati.
Pengemis berusia setengah baya itu tersenyum jawabnya, “Sewaktu kami tiba diluar
gedung Sam Kang Soe Gie telah berjumpa dengan seorang tukang ramai, dialah yang
memberi petunjuk kepada kami untuk menyusul kemari.”
“Ooh, orang itu pastilah Suma Kan” batin Siauw Ling. “Jelas mereka tidak berbohong”
maka segera tanyanya, “Sekarang mereka berdua dimana?”
“Dalam kuil keluarga Loo sie!”
“Baik, harap kalian berdua suka membawa jalan buat kami.”
Kedua orang pengemis itu segera menggerakkan badannya berkelebat menuju kearah
sebelah tenggara.
Begitulah keempat orang itupun dengan kerahkan ilmu meringankan tubuh menyusul
dari belakang.

Setelah berjalan kurang lebih tujuh delapan li, mendadak kedua orang pengemis tadi
berhenti.
Orang yang ada disebelah kiri segera menuding kearah bangunan rumah disebelah
depan katanya, “Itulah kelenteng keluarga Loo sie!”
“Kalian tidak sekalian ikut kesitu?”
“Kami harus segera kembali keloteng Oen Hok Loo untuk menjalankan perintah lain”
jawab kedua orang pengemis itu dengan hormat. “Lagipula Soen tiangloo telah melarang
lami untuk ikut masuk kedalam kuil tersebut.”
Tanpa menanti jawaban dari Siauw Ling lagi, mereka segera berlali dari sana.
“Bagaimana? apakah kita perlu masuk kedalam?” tanya Siauw Ling kemudian.
“Rasanya kita harus masuk kedalam kuil itu, dan pakaian-pakaian pernyaruan kitapun
rasanya sudah tak berguna lagi.”
Maka para jagopun melepaskan pakaian luar mereka kemudian meneruskan
perjalanannya menuju kebangunan rumah itu.
Setelah menaiki undak-undakan yang terdiri dari tujuh tingkat, sampailah mereka
didepan pintu kuil yang tertutup rapat, suasana dalam kuil itu sunyi senyap tak
kedengaran sedikit suarapun, hal ini membuat hati mereka jadi tercengang, segera
pikirnya, “Aneh, kenapa suasananya sepi? jangan-jangan empat pujangga besar dari dunia
persilatan telah dicelakai orang?”
Berpikir demikian pintu kuil segera didorongnya kebelakang.
Kraak….! pintu besar itu terbuka lebar, dibalik pintu adalah sebuah halaman yang
ditumbuhi oleh rumput ilalang, keadaannya kotor dan sama sekali tidak terawat.
Setelah melewati tanah ilalang itu sampailah mereka didepan sebuah ruangan dengan
dua pintu.
Sang Pat segera berebut berjalan lebih dahulu didepan Siauw Ling, katanya, “Keadaan
disini sedikit tidak beres, harap toako suka bertindak lebih hati-hati!”
Sambil berkata telapaknya bergerak menghantam pintu kayu dihadapannya…. duuk!
serangan yang dilancarkan dengan sekuat tenaga ini membuat pintu itu terpentang lebar.
Suasana dalam ruangan gelap gulita, namun tidak terlihat juga tanda-tanda yang
mencurigakan.
“Toako!” bisik Sang Pat. “Menurut laporan pengemis anak murid perkumpulan Kay pang
tadi, Soen loocianpwee serta Boe Wie Tootiang telah tiba disini, kenapa sampai sekarang
belum juga nampak gerak gerik mereka, lagipula empat pujangga besar dunia persilatan
sudah lama mengasingkan diri dari dunia persilatan, meski tak pernah mencampuri urusan
keduniawian namun ilmu silat mereka jauh lebih sempurna, sekalipun Djen Bok Hong

berhasil mengurung mereka belum tentu dapat membinasakan mereka sekaligus, apa
sebabnya merekapun tak kedengaran?”
“Benar, keadaan ditempat ini memang sangat mencurigakan….” sahut Siauw Ling
dengan alis berkerut.
Setelah merandek sejenak ujarnya lagi, “Harap cuwi sekalian suka menanti sejenak
disini, biarlah cayhe masuk kedalam lebih dahulu.”
“Biarlah siauwte yang akan membukakan jalan bagi toako!” sambung Tu Kioe cepat,
tanpa menunggu persetujuan dari Siauw Ling lagi, ia berjalan lebih dahulu kedalam
ruangan.
Siauw Ling tahu bahwa tindak tanduknya itu tidak lain lalu demi keselamatannya, ia
tidak tega untuk menghalangi maksud baik orang, maka dengan cepat diapun menyusul
dari belakang.
“Delapan depa setelah mereka berlalu kita baru menyusul” bisik Ceng Yap Chin. “Hatihati
dengan serangan senjata rahasia.”
Sesudah mengalami pertempuran sengit digedung sam Kang Soe Gie, Sang Pat telah
menyadari bahwa musuh tangguh yang mereka hadapi sekarang adalah manusia-manusia
sadis yang kejam, tidak berperikemanusiaan berakal cerdik serta berkepandaian silat
tinggi. Tentu saja ia tak berani bertindak gegabah, dari dalam sakunya dia merogoh keluar
senjata sie poa emasnya.
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil : Rahasia Istana Terlarang 6 [Serial Kunci Wasiat] dan anda bisa menemukan artikel Cersil : Rahasia Istana Terlarang 6 [Serial Kunci Wasiat] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/10/cersil-rahasia-istana-terlarang-6.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil : Rahasia Istana Terlarang 6 [Serial Kunci Wasiat] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil : Rahasia Istana Terlarang 6 [Serial Kunci Wasiat] sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil : Rahasia Istana Terlarang 6 [Serial Kunci Wasiat] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/10/cersil-rahasia-istana-terlarang-6.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...