Cersil : Budi Ksatria 7 [Seri Kunci Wasiat Pendekar Siauw Ling]

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 07 Oktober 2011

Gak Siau cha termenung dan berpikir sebentar, kemudian
katanya.

“Kendatipun semua perkataan yang kau ucapkan adalah
kata-kata yang sejujurnya toh ia belum pernah menyatakan
rasa cinta kasihnya kepadaku, sekalipun pernah, aku rasa
cinta yang diutarakan kapadaku juga tak lebih hanya cinta
seorang adik terhadap kakaknya.”
“Ia tak berani berbuat kurangajar, sebab ia takut cici jadi
marah dan tidak akan memperdulikan dirinya lagi !”
Gak Siau cha tersenyum simpul, dengan lembut ia
membereskan rambutnya yang kusut, lalu berkata:
“Didunia ini sebenarnya cuma ada satu orang yang bisa
membantu aku hanya aku tidak tahu sanggupkah ia memberi
bantuannya ?”
“Siapakah orang itu?”
“Kau!”
“Aaah, cici jangan terlalu menyanjung diriku, aku tahu
bahwa aku tak becus, lagipula aku ingin sekali lebih lama
berada di samping cici, selain minta banyak petunjuk akupun
ingin banyak belajar dari kau, cici ! Bila engkau tidak muak
terhadap diriku, siau moay suka menjadi istri muda dan selalu
mendampingi cici.”
“Bilamana semua pekerjaanku bisa berlangsung dengan
lancar dan aman, kemungkinan besar apa yang kau inginkan
bisa terwujub sela Gak Siau cha cepat “tapi sebelum dendam
ibuku terbalas, terpaksa aku minta adiklah yang menggantikan
kedudukanku”
“Aaah,cici ini bagaimana toh? bicara pulang pergi kok
engkau lebih menitik beratkan untuk melakukan perjalanan
seorang diri. Walaupun belum lama aku kenal dengan cici, tapi
rasa kagumku terhadap cici muncul dari dasar hati nuraniku,
urusanmu berarti pula urusan toako dan urusan siau-moay,
tunggulah sampai toako berhasil membinasakan Shen Bok

Hong. kemudian kita akan bekerja sama untuk balaskan
dendam bagi ibu cici!”
Gak Siau cha mengerutkan dahinya dan termenung
beberapa saat lamanya, setelah itu katanya :
“Aaai.. berbicara lebih banyak juga tak berguna, rupanya
cici memang tak bisa menaklukkan hatimu !”
“Cici engkau jangan salah paham!” teriak Pek li Peng
dengan gelisah, “ maksud siau-moay..”
“Aku dapat memaklumi perasaan hatimu itu, bukankah
engkau berharap agar aku seringkali berkumpul dengan
kalian?!”
“Siau moay memang bermaksud demikian”
“Tahukah engkau bahwa encimu sedang berada pada posisi
terjepit, dan senantiasa terancam oleh bahaya maut?!”
“Kalau soal ini, siau moay sama sekali tidak tahu!”
Gak Siau cha menghela napas panjang.
“Aaii.! Engkau harus beristirahat sebaik-baiknya,
pembicaraan selanjutnya kita teruskan besok saja”
Pek-li Peng masih ingin melanjutkan kata-katanya, tapi Gak
Siau cha sudah beranjak dari tempat duduknya dan berlalu
dari ruang tenda tersebut.
Malam itu berlalu tanpa terjadi sesuatu hal yang penting
ketika fajar menyingsing keesokan harinya, belum sempat Pek
li Peng bangun dari tempat duduknya, dari luar ruang tenda
berkumandang suara sapaan dan It-bun Han-to:
“Nona, engkau sudah bangun ?”
“Sudah, ada urusan apa It bun sianseng?”
“Gorden disingkap orang, dan muncullah It bun Han to
masuk kedalam ruangan itu.

Paras muka It bun Han-to amat serius, ia masuk dengan
membawa dua pucuk surat ujarnya:
“Kedua pucuk surat ini ditinggalkan nona Gak untuk nona!”
“Lho..lantas kemana perginya nona Gak?!” tanya Pek-li
Peng dengan wajah tertegun.
“Ia sudah pergi sedari tadi !”
“Ia pergi kearah mana? Hayo kita cepat menyusulnya..!”
“Percuma, tak mungkin bisa disusul lagi! sahut It bun Han
to sambil gelengkan kepalanya berulang kali, nona Gak sudah
berangkat dua jam berselang!”
“Waduh., lalu bagaimana baiknya sekarang?!” seru Pek li
Peng sambil mendepakkan kepalanya keatas tanah karena
mendongkol
“Mungkin nona telah sampaikan berita tentang masih
hidupnya Siau Ling kepada nona itu?!”
“Aaai..! Aku dipaksa oleh keadaan, mau tak mau terpaksa
harus kuberitahukan kejadian ini kepadanya”
“Sekarang nasi sudah menjadi bubur, gelisah juga tak ada
gunanya, harap nona tak usah ribut-ribut lagi. Nah, terimalah
dua pucuk surat yang ditinggalkan nona Gak ini, yang satu
untuk nona dan yang kedua untuk Siau Ling pribadi,
bagaimana kalau nona baca dulu isi suratnya kemudian kita
baru rundingkan lagi masalah ini?!”
Apa boleh buat terpaksa Pek li Peng menerima dua pucuk
surat itu dan memeriksa sampulnya.
Pada sampul pertama, tertera beberapa huruf yang
berbunyi
Mengharapkan bantuan adik Peng untuk menyampaikan
surat ini kepada Siau Ling pribadi.

Membaca tulisan “pribadi” itu. Pek li Peng tahu isi surat itu
pastilah bernada pribadi mereka berdua, maka dia lantas
masukkan kedalam sakunya.
Ketika membaca sampul surat yang kedua disitu tertulis
jelas beberapa hurup yang berbunyi
“Ditujukkan kepada nona Pek li pribadi”
Sambil menyobek sampul surat itu, Pek li Peng kembali
bertanya.
“Bagaimana dengan Thio kongcu itu?”
“Nona maksudkan Giok siau long-kun?” tanya It bun Han to
“Benar, apakah ia sudah pergi?”
It bun Han to mengangguk tanda membenarkan.
“Semuanya nona Gak tinggalkan tiga pucuk surat, satu
untuk Giok siau long-kun dan surat itu telah kusampaikan dulu
kepada orangnya, sedangkan dua pucuk surat ini untuk nona”
“Apa yang ditulis enci Gak dalam suratnya yang ditujukan
kepada Giok-siau long kun?”
“Apa isi surat itu aku kurang tahu sebab tidak kulihat tapi
yang jelas sehabis membaca surat itu, bagaikan orang kalap
rnendadak ia kabur dan berlalu dari sana”
Pek-li Peng tidak banyak bertanya lagi, ia membuka surat
itu dau membaca isinya.
“Adik Peng yang tercinta”
“Ketika tersiar berita tentang kematian adik Siau, aku
sedang berangkat menuju perguruan untuk memberikan
pertanggungan jawab, berita yang kuterima itu memaksa aku
batalkan niatku dan segera melakukan perjalanan siang
malam menuju kemari.”

“Semula, aku berniat untuk balaskan dendam bagi Siau
hengte dan bertempur melawan Shen Bok Hong, sekalipun
harus berkorban hatiku juga merasa puas.”
“Dalam kenyataan orang budiman dilindungi Thian,
ternyata saudara Siau ataupun adik Peng selamat dari bahaya,
aku lantas berpendapat, tetap tinggal ditempat inipun nama
sekali tak ada gunanya, malahan mungkin akan
mendatangkan banyak kerepotan bagi saudara Siau.
Coba bayangkanlah jika saudara Siau munculkan diri
tengah hari besok Thio Cun pasti akan berubah pikirannya dan
akan musuhi dirinya mati-matian. Kalau sampai terjadi begitu,
bagaimana jadinya? Bukankah sama artinya aku telah
mengundang hadirnya seorang lawan tangguh bagi saudara
Siau?
Setelah kupertirnbangkan beberapa lama akhirnya aku
mengambil keputusan untuk tinggalkan tempat ini. Aku
percaya dengan kecerdikan yang dimiliki It bun sian seng dia
pasti memiliki pelbagai akal muslihat yang bisa membantu
saudara Siau!
Ketahuilah, keadaanku betul-betul terjepit dan kobaran
dendam tak mungkin bisa menghalangi niatku untuk tetap
mendampingi saudara Siau. Aku minta engkau bisa
memaklumi keadaanku dan hiburlah saudara Siau sebisanya.
Semoga adik Peng baik-baik jaga diri, bila Thian masih
mengijinkan moga-moga kita masih punya kesempatan untuk
berjumpa kembali tertanda: Gak Siau cha”
Selesai membaca sarat itu. Pek li Peng tak dapat
membendung rasa sedih dalam hatinya lagi. matanya
terbelalak lebar dan tidak tahan butiran air mata jatuh
bercucuran membasahi pipinya.
“Nona Pek li....!” tiba-tiba It bun Han to menyapa setelah
mendehem ringan.

Pek li Peng menyeka air matanya dengan ujung baju,
kemudian menghela napas panjang, bisiknya.
“Apa yang ditulis enci Gak dalam suratnya tak lebih hanya
rahasia pribadi antara kami berdua..”
“Aku memahami..” sahut It bun Han to sambil
mengangguk.
---oo0dw0oo---
Jilid: 38
SETELAH berhenti sebentar, ia melanjutkan kembali katakatanya
:
“Nona tak usah bersedih hati lagi, aku harap engkau bisa
tenangkan pikiran sambil menyimpan tenaga, setelah
kepergian Giok siau longkun dan nona Gak maka situasipun
kembali mengalami perubahan hebat. Siau tayhiap sebagai
seorang pendekar berjiwa besar dengan sendirinya akan
tampilkan diri ketengah gelanggang, dengan kemunculannya
dus berarti suatu pertarungan seru tak dapat dihindari lagi,
nona! Sebagai seorang jago yang berilmu tinggi, tenagamu
sangat kami butuhkan guna menanggulangi segala kesulitan,
aku minta engkau suka menjaga diri dengan sebaik-baiknya.
Tidak keberatan bukan?”
Pek li Peng mengangguk.
“Perkataanmu memang masuk diakal, akan kusimpan katakatamu
itu didalam hati!”
“Baik, kalau memang begitu silahkan nona baik-baik
beristirahat, aku hendak mohon diri lebih dahulu!”
Sesudah memberi hormat, ia putar badan dan berlalu dari
ruang tenda tersebut.

“It bun sianseng .!” tiba-tiba Pek li Peng menegur dengan
suara amat lirih.
It bun Han to segera menghentikan langkah kakinya.
“Apakah nona masih ada pesan-pesan lain?”
“Dalam suratnya enci Gak sangat memuji kecerdasan
otakmu, katanya engkau pasti dapat membantu Siau tayhiap
untuk melawan Shen Bok Hong, aku harap engkau benarbenar
berusaha dengan sekuat tenaga sehingga tidak sampai
menyia-nyiakan harapan kami semua!”
“Aaah”.! Nona Gak terlalu menyanjung diriku padahal aku
tak becus dan tidak memiliki kepandaian apa-apa..!”sahut It
bun Han to sambil tersenyum;
“Aaai. ! It bun sianseng, engkau tak usah merendah lagi”,
bisik Pek li Peng sambil menghela napas panjang, “baik enci
Gak maupun toako semuanya memuji akan kecerdasanmu
serta kehebatanmu, aku percaya engkau benar-benar memiliki
kemampuan tersebut!”
“Siau tayhiap terlalu memuji dan mempercayai
kemampuanku, tapi., akupun takkan menyia-nyiakan
kepercayaan itu, aku pasti akan berusaha dengan sekuat
tenaga untuk membantu dirinya.
“Aku tahu ilmu pengetahuanmu sangat luas, otakmu brilian
dan kecerdasanmu luar biasa tapi apakah dalam hal lain
engkau juga memiliki kemampuan yang tak kalah hebatnya??”
“Maksud nona, engkau hendak membutuhkan
bantuanku??”
“Benar!” Pek 1i Peng mengangguk “pikiran ku kalut dan
perasaan hatiku gundah, aku tak tahu bagaimana harus
mengatasi keadaanku ini. karena itu aku mohon beberapa
petunjuk dari sianseng!”

It bun Han to tidak langsung menjawab ia termenung dan
berpikir sebentar, kemudian baru sahutnya:
“Mungkin aku tak dapat meringankan kegalauan hatimu itu,
akan tetapi jika nona bersedia mempercayai aku silahkan
utarakanlah kesulitan hatimu itu kepadaku asal aku mampu
pasti akan kuberikan penjelasn yang seterang-terangnya
kepada nona!”
“Engkau pandai melihat raut wajah dan garis hidup
seseorang?!”
“Mengetahui sedikit-sedikit saja”
“Coba lihatlah apakah Siau toako adalah seorang manusia
yang berumur pendek?!”
Tertawa geli It bun Han to sehabis mendengar pertanyaan
itu, jawabnya dengan senyum dikulum :
“Siau tayhiap tidak termasuk manusia yang berumur
pendek, karena itu sewaktu tersiar berita yang mengatakan ia
mati terbakar di dalam hutan, dalam hati kecilku sama sekali
tidak percaya, tapi karena bukti yang ada sudah terlalu banyak
dan kenyataan menunjukkan bahwa ia sudah mati maka mau
tak mau aku harus mempercayainya juga, meski dihati kecil
aku hanya setengah percaya setengah tidak!”
“Selanjutnya, apakah ia bakal menemui bauyak kesulitan
dan mara bahaya lagi?!”
“Tentang soal ini aku tak berani memastikan sebelum
kuteliti lagi garis muka Siau tayhiap dengan lebih seksama,
aku hanya merasa bahwa kesuksesan yang berhasil diraih
Stau tayhiap terlampau cepat, lebih cepat kesuksesan
tercapai lebih besar pula bahaya yang mengancam jiwanya,
kesulitan dan pelbagai kejadian hebat sudah tentu akan sering
dijumpainya di hari -hari kemudian, walau begitu aku dapat
memastikan bahwa ia bukan tergolong manusia yang berumur
pendek”

“Oooh, aku sudah mengerti sekarang, maksudmu
dikemudian hari dia masih harus menemui banyak kesulitan
dan mara bahaya lagi?”
“Untuk mencapai kesuksesan dalam suatu pekerjaan dan
mengangkat nama sendiri ke puncak kecemerlangan bukanlah
suatu pekerjaan yang mudah, itu membutuhkan perjuangan
dan keuletan untuk bergerak terus naik ketangga tertinggi”
“Bagaimana pula pandangan sianseng terhadap enci Gakku
itu? Apakah dia termasuk seorang manusia yang berumur
pendek ?!”
Lama sekali It bun Han-to termenung dan berpikir keras,
akhirnya ia menjawab:
“Mengenai nona Gak, aku tak dapat memberikan penilaian
yang lebih seksama!”
“Kenapa begitu?!”
“Nona Gak terlampau keren dan serius terhadap orang lain,
dia jarang bicara dan jarang tertawa, namun orang lain rata
rata menaruh hormat kepadanya dan tak berani mendekati
dirinya, walau begitu ada pula sementara orang yang
gampang terpikat oleh dirinya, jatuh cinta kepadanya hingga
rela berkorban demi cinta, keadaan tersebut seolah-olah
memperlihatkan bahwa mereka lebih rela mati daripada tak
berhasil menangkan senyum manisnya.”
“Perkataan sianseng memang tepat sekali aku sendiripun
mempunyai perasaan yang aneh terhadap dirinya.”
“Diantara satu juta orang belum tentu bisa kita jumpai
seorang manusia macam dia dan yang tak beruntung lagi
ternyata dia dilahirkan sebagai seorang putri persilatan. Aaai..!
Andaikata dia dilahirkan dirumah seorang petani, maka paling
banter kehadirannya disitu hanya akan mengakibatkan
hebohnya satu dusun dan satu daerah, tapi sekarang..lantaran

dia, beberapa orang jago persilatan harus saling bunuh
membunuh demi mendapatkan dirinya !”
“Mungkinkah hal ini dikarenakan paras muka enci Gak yang
terlampau cantik ?”
“Menurut perhitungan garis muka, raut wajahnya itu
termasuk type gadis yang memiliki kecantikan tapi tidak
kentara, sekilas pandang ia tidak terhitung seorang gadis yang
cantik dan menawan hati, tapi setiap laki-laki yang berjumpa
dengannya merasa mau tak mau harus mendekatinya dan
berusaha menarik perhatiannya, dan begitu mereka menaruh
perhatian maka semakin dipandang mereka akan semakin
kesemsem, semakin terpikat sehingga akhirnya tak mampu
melepaskan diri lagi dari belenggu cinta itu”
“Ooh..kiranya begitu!”
“Untungnya nona Gak pandai membawa diri, mukanya
selalu dingin, kaku dan tidak menunjukan perubahan emosi,
andaikan ia berbuat lebih genit dan murah senyuman., waah .!
Dunia pasti akan kacau, lebih banyak orang yang akan
terpesona, terpikat dan saling membunuh lagi guna
memperebutkan hatinya..”
Ia berhenti sebentar, kemudian sambung nya lebih jauh :
“Aku rasa perkataan kita cukup sampai di sini lebih dahulu,
dan aku harap engkau jangan sampai menyiarkan apa yang
telah kita bicarakan sekarang kepada orang lain”
“Akan kuingat selalu ucapan dari It-bun sianseng ini .!”
sahut Pek li Peng seraya mengangguk.
“Legakanlah hatimu nona dan bersikaplah lebih terbuka
dalam menghadapi masalah ini “ ujar It bun Han-to lagi, baikbaik
beristirahat dan manfaatkanlah waktu yang sangat
berharga ini untuk menghimpun tenaga, apabila Shen Bok
Hong telah datang nanti, akan kukirimkan orang untuk
mengundang dirimu”

Tidak menunggu jawaban dari Pek-li Peng lagi, ia lantas
putar badan dan berlalu dari sana.
Menanti It bun Han to sudah berlalu, Pek li Peng lantas
duduk bersila diatas pembaringan dan mengatur pernapasan,
tapi ia tak mampu pusatkan perhatiannya sebab pelbagai
pikiran serasa berkecamuk menjadi satu didalam benaknya.
Dalam lamunannya entah berapa lama sudah lewat tanpa
terasa, tiba-tiba dari luar ruang tenda berkumandang suara
langkah manusia..
Ia membuka matanya kembali, tampaklah seorang dayang
berjalan masuk kedalam ruangan sambil membawa sebilah
pedang dan seperangkat pakaian ringkas warna hitam,
ujarnya dengan suara lirih :
“It-bun sianseng mengharapkan nona tukar pakaian ini
serta membawa senjata tajam, kemudian segera menuju
keruang perabuan!”
Pek li Peng mengiakan, buru-buru ia tukar pakaian,
menggembol pedang dan lari keluar.
Sementara itu It bun Han to, Bu wi to tiang dan Sun Put
shia sekalian telah berkumpul dibelakang mimbar meja
perabuan waktu itu mereka sedang bercakap-cakap dengan
suara lirih.
“Apakah Shen Bok Hong sudah datang?” tanya Pek li Peng
sambil menghampiri mereka.
“Sebentar ia akan tiba” sahut It bun Han to, “harap nona
segera menyembunyikan diri kemari dan turuti perkataanku,
sebelum ada perintah aku harap nona menahan diri.”
Pek-li Peng mengangguk, ia menuju kebelakang mimbar
dan duduk disana.

Ruang perabuan tersebut diatur It bun Han to dengan
seksama sekali, banyak pikiran dan tenaga telah dibuang
untuk membangun tempat itu.
Rupanya ruang dibelakang mimbar perabuan sengaja
dibangun dengan sinar yang agak redup, dalam keadaan
demikian sekalipun seseorang memiliki ketajaman mata yang
luar biasa, belum tentu dia dapat memperhatikan orang-orang
yang berada dibelakang mimbar tersebut dengan seksama,
sebaliknya orang yang berada dibelakang mimbar dapat
menyaksikan semua pemandangan dihalaman depan dengan
terangnya.
Sementara itu It bun Han to telah berkata lagi dengan
suara yang amat lirih :
“Gak Siau cha serta Giok siau long kun telah pergi dari sini,
aku rasa acara selanjutnya terpaksa harus diisi oleh Sun
Locian pwe, bila Shen Bok Hong ternyata menolak tantangan
locianpwe untuk berduel, maka.”
“Jangan kuatir, aku sipengemis tua toh sudah berjanji,
selanjutnya akan kuturuti semua perkataanmu” sambung Sun
Put shia dengan cepat,
“Sekalipun Shen Bok Hong menerima tantangan untuk
berduel, aku minta Sun locianpwe berhati-hati sekali
melepaskan bahan peledak Poh san sin lui tersebut”
“Dalam soal ini, aku sipengemis tua kuatir kalau aku
kesalahan tangan atau mungkin terburu karena keadaan yang
terdesak, karenanya aku minta bantuan dari kalian semua
agar diam-diam memberi kisikan kepada jago-jago kita agar
mundur agak jauhan.
“Jangan kuatir, akan kubereskan persoalan itu.” jawab It
bun Han to setelah berhenti sebentar dia alihkan sorot
matanya ke atas wajah Bu wi totiang, kemudian sambungnya
lebih lanjut.

“Aku lihat lebih baik totiang saja yang tampilkan diri untuk
berhadapan dengannya tapi jangan sekali-kali engkau berdiri
terlalu dekat dengan dirinya, kuatir kalau ia melancarkan
serangan secara tiba-tiba..”
Sementara pembicaraan masih berlangsung sampai disitu,
tiba-tiba terdengar suara dari Coh Kun san berkumandang
datang:
“Shen cungcu dari perkampungan Pek hoa san ceng telah
tiba”
Bu wi totiang segera menyingkap gorden dan selangkah
demi selangkah tampil kegelanggang.
Pek li Peng mengintip keluar, ia lihat Shen Bok Hong
disertai empat orang pengiringnya berjalan masuk kedalam
gelanggang.
Keempat orang jago yang mengiringi gembong iblis
tersebut, kecuali Kim hoa hujin dan Lan Giok tong, orang
ketiga adalah seorang hwesio gede berjubah lhasa warna
merah darah dengan membawa sepasang senjata kencengan
terbuat dari tembaga.
Sedangkan orang keempat adalah seorang pemuda
berjubah hijau yang bermuka pucat ia bertangan kosong
belaka tanpa membawa senjata tajam apa-apa..
Bu wi totiang maju ke depan dan memberi hormat,
kemudian sapanya.
“Shen toa cungcu, tampaknya engkau memang seorang
jago yang pegang janji..”
“Kedatangan aku orang she Shen agaknya jauh lebih
pagian..” kata Shen Bok Hong.
Sorot matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian sambungnya lebih jauh.
“Kenapa nona Gak tidak kelihatan? Dia berada dimana??”

“Apakah Shen toa cungcu bersikeras untuk bertempur
melawan nona Gak?” tanya Bu wi totiang sambil tertawa ewa.
Shen Bok Hong tersenyum.
“Bagi aku orang she Shen sih tiada pendapat lain cuma
beberapa orang sahabatku ini sama-sama mengharapkan bisa
berjumpa dengan nona Gak!”
Bu wi totiang alihkan sorot matanya ke arah pemuda
bermuka pucat itu, setelah memandang sekejap ia berkata
“Apabila kalian semua ingin berjumpa dengan nona Gak,
maka terpaksa kalian harus menunggu lebih dahulu!”
Sebelum Shen Bok Hong sempat baka suara, tiba-tiba Lan
Giok tong menimbrung dari samping:
“Sebenarnya Gak Siau cha berada disini atau tidak?”
“Sewaktu nona Gak mengadakan perjanjian dengan kalian
semua, toh waktu itu aku tidak menjadi saksi atau
penanggung jawab, kalau kalian minta orang kepadaku
apakah tidak merasa bahwa perbuatan kamu semua itu
keterlaluan ?”
Tiba-tiba Sun Put-shia munculkan diri dari belakang
mimbar, sambil menghampiri gembong iblis itu dia menegur
dingin:
“Hey, Shen Bok Hong masih kenal dengan aku si pengemis
tua?”
Shen Bok Hong tertawa ewa.
“Tianglo perkumpulan Kay pang adalah seorang pendekar
besar, masa aku tidak tahu?”
“Bagus-bagus aku si pengemis tua sudah peyot dan loyo
bosan rasanya kalau disuruh hidup beberapa tahun lagi
didunia ini, sebelum mati aku ingin melakukan perbuatan baik

bagi umat persilatan disungai telaga, agar nama harumku
selalu terkenang dihati mereka..”
“Apa yang hendak saudara Sun lakukan?” tukas Shen Bok
Hong
“Bagaimanapun juga toh bukan engkau yang ingin bertemu
dengan nona Gak, maka aku si pengemis tua hendak
menantang kau Shen toa cungcu untuk melangsungkan suatu
pertarungan sengit satu lawan satu, apakah engkau berani
menerina tantangan duelku ini?”
Shen Bok Hong tidak langsung menjawab, ia termenung
dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian berkata.
“Jadi Sun heng hendak mengajak aku untuk berduel?”
“Betul, dan siapapun tidak boleh membantu pihak manapun
dalam pertarungan ini, sebelum salah satu pihak mampus
pertarungan tidak akan dihentikan!”
Berkilatlah sepasang mata Shen Bok Hong ia menyapu
sekejap seputar ruangan itu, lalu berkata.
”Ehmm! Aku merasa kagum sekali dengan kegagahan serta
keberanian Sun heng!”
“Oooh..! Jadi engkau menyetujuinya ?”
“Tidak ! Aku belum menyetujui tantanganmu itu..” jawab
Shen Bok Hong sambil menggeleng.
“Kenapa?” tanya Sun Put-shia gelisah.
“Sebab engkau sudah pasti bukan tandinganku !”
“Mengapa engkau tak berani menerima tantanganku untuk
berduel ini ?” pengemis tua itu makin gusar.
Shen Bok Hong tertawa dingin tiada hentinya.
“Gampang sekali jawabanku, tantanganmu ini sangat tidak
wajar dan berbeda sekali dengan keadaau di hari-hari biasa,

segala yang tak wajar menandakan bahwa dibalik kejadian
tersebut tentu ada rencana busuk, bila Sun heng bersikeras
ingin turun tangan, biarlah siaute mengutus seorang jago
untuk mengiringi kehendakmu itu.”
Sebelum Sun Put shia menjawab, ia sudah berpaling kearah
hwesio baju merah itu seraya berkata
“Taysu, tolong engkau yang hadapi orang itu !”
Padri berbaju merah itu segera mengia-kan, dengan
langkah lebar dia maju ke depan dan menghadang dihadapan
Shen Bok Hong, katanya sambil tertawa.
“Bukankah tanganmu sudah gatal dsn ingin bertempur?
Hayo majulah pinceng akan layani keinginanmu.”
Tertegun Sun Put Shia menghadapi kejadian tersebut,
dalam hati dia lantas berpikir.
“Waah.. kalau begini caranya sudah pasti aku si pengemis
tua yang bakal kalah dalam taruhan itu, Aaai, It bun Han to
memang pintar dan pandai melihat gelagat, ternyata semua
tebakan dan dugaannya tak meleset..”
Walaupun dalam hati ia berpikir demikian, tapi Pengemis
tua yang memiliki nama besar dalam dunia persilatan ini tak
sudi menyerah dengan begitu saja, ia masih coba berusaha
untuk memancing kemarahan musuhnya dengan kata-kata
yang sinis.
“Hey, Shen Bok Hong! Katanya kau seorang jagoan yang
hebat dan punya ambisi untuk jagoi kolong langit, kenapa
nyalimu kecil seperti tikus busuk? Huuh, kalau tidak berani
menerima tantanganku ini lebih baik pulang kandang saja dan
hidup tenang dirumah, daripada perbuatanmu ini ditertawakan
orang persilatan”
“Haahh. haahh. haahh. engkau tak perlu memanasi hatiku,
seorang laki-laki yang pintar adalah mereka yang pandai
melihat gelagat dan menomor satukan urusan yang lebih

penting, apa gunanya menuruti emosi dan angkara murka
karena urusan yang tak penting?!”
Sementara itu Padri baju merah itu sudah memutar senjata
kencengan tembaganya sambil berkata dengan dingin :
“Hey, pengemis busuk ! kalau ingin menantang duel Shen
toa cungcu, lebih baik layani dahulu serangan dari pinceng
ini!”
Tiba-tiba ia bergerak kedepan dan menerjang musuhnya,
diantara bergeraknya telapak tangan kiri, sekilas cahaya emas
memancar keluar dari senjata kencengan tembaga itu dan
langsung menyambar tubuh lawan dengan kecepatan
bagaikan sambaran petir.
Betapa terperanjatnya Sun Put shia menghadapi serangan
tersebut, cepat ia bergerak mundur dua langkah kebelakang.
Hwesio baju merah itu tertawa dingin, ia memburu
kedepan dan menerjang lawannya habis-habisan, sepasang
kencengan tembaganya diiringi sambaran cahaya yang
menyilaukan mata menyergap kiri kanan musuh.
Sungguh tajam serangan senjata kencengan yang
dilancarkan oleh padri itu. Sinar yang terbias keluar membuat
mata jadi silau tak dapat dipentangkan lebar.
Secara beruntun Sun Put Shia melancarkan dua buah
berantai kedepan, dua gulung angin pukulan yang keras dan
hebat langsung menggulung kedepan dan menghadang
datangnya dari padri itu, kemudian menggunakan kesempatan
baik ini tubuhnya bergerak mundur dua langkah kebelakang.
“Tahan” bentaknya keras-keras.
Padri berbaju merah itu menghentikan serangan mautnya,
lalu mengejek dengan suara dingin.

“Hmmm! Sudah lama aku dengar akan nama besarmu,
sungguh tak nyana engkau tak lebih hanya manusia tak becus
yang takut mati, benar-benar bikin hati kecewa!”
Betapa gusarnya Sun Put shia setelah mendengar ejekan
itu, namun ia berusaha keras untuk mengendalikan perasaan
hatinya itu, dengan dingin katanya :
“Hmm..! Engkau tak usah mengejek dengan kata-kata yang
begitu tajam, seperti apa yang telah dikatakan Shen toa
cungcu tadi engkau tidak pantas untuk bertarung melawan
aku si pengemis tua!”
“Kurangajar, pengemis busuk, engkau jangan tekebur dulu,
sebelum omong besar, kalahkan dulu permainan senjataku
ini!” seru Padri baju merah itu dengan gusar.
Sun Put shia tidak berani bertindak gegabah, sebab dalam
sakunya saat itu masih tersimpan bahan peledak Poh san sin
lui yang hebat, ia kuatir benda peledak itu tersentuh oleh
senjata lawan sehingga meledak, bila sampai terjadi begitu,
bukan saja Shen Bok Hong gagal dibunuh malahan dia
sendirilah yang akan korban bukankah peristiwa itu sana sekali
tak ada harganya ?
Dalam keadaan demikian ia tak ingin bertarung lebih lama
lagi, sambil putar badan pengemis tua itu segera kembali
kebelakang mimbar.
Tentu saja padri baju merah itu tak sudi melepaskan
musuhnya dengan begitu saja, melihat Sun Put shia berlalu
dari gelanggang, senjata tajamnya tiba-tiba diputar kemudian
dengan disertai kilatan cahaya yang menyilaukan mata
langsung menyergap punggung musuh.
Bu wi totiang tidak berpeluk tangan belaka, dia putar
tangan kanannya untuk cabut keluar pedangnya, setelah
membuat gerakan perputaran diudara ia tangkis datangnya
serangan tersebut.

“Traaang .!” dentingan nyaring berkumandang memekikan
telinga, diiringi percikan bunga api senjata padri tersebut
segera terpental dan meluncur kearah lain.
Cepat padri berbaju merah itu putar tangan kirinya, dengan
begitu perputaran senjata tajamnya segera berhasil dikuasahi
kembali
Begitulah, dalam bentrokan tersebut kedua belah pihak
sama-sama mendemonstrasikan kelihayanna, diam-diam para
jago yang hadir diruangan itu sama merasa kagum.
“Engkau yang bernama Bu wi totiang?” tegur padri berbaju
merah itu dengan suara yang ketus.
“Benar” jawab Bu wi totiang sambil maju kedepan, “pinto
adalah Bu wi, bolehaku tahu nama gelar dari taysu?”
“Hmmm! pinto tak mempunyai tempat tinggal tetap, lebih
baik kau tak usah tahu nama gelarku..”
Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan.
“Aku dengar diantara jago yang ada da1am perguruan Butong
pay, ilmu pedang totiang terhitung paling tinggi pinceng
ingin minta beberapa petunjuk darimu”
“Ilmu kencengan terbang yang taysu miliki amat hebat, aku
lihat permainannya mirip sekali dengan ilmu hwe-swan bui pa
(kencengan terbang berpusing) dari gereja Siau lim si .”
“Heehhh hehh hehhh memangnya kecuali gereja Siau lim
si, dikolong langit selebar ini tidak memiliki kepandaian silat
lain?” tukas padri berbaju itu sambil tertawa dingin, “to tiang,
silahkan saja turun tangan!”
Tentu saja Bu wi totiang tak dapat memaksa lawannya
untuk mengakui sebagai murid gereja Siau lim-si, setelah padri
menolak pengakuannya, sambil membalingkan pedangnya ia
berkata :

“Kalau toh taysu keberatan untuk mengungkap sama
besarmu, terpaksa kita harus menentukan menang kalah kita
dalam ilmu silat!”
Selangkah demi selangkah ia bergerak maju kedepan.
Dari serangan dahsyat yang telah dilancarkan padri baju
merah itu Bu wi totiang sadar kalau ia sudah bertemu dengan
musuh tangguh, tentu saja imam tua itu tak berani bertindak
gegabah, dengan langkah yang berat dan mantap dia maju
kedepan, hawa murninya diam-diam dihimpun kedalam
sekujur badannya kemudian perhatiannya dipusatkan menjadi
satu dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang
tidak diinginkan.
Dalam waktu singkat selisih jarak kedua belah pihak telah
makin mendekat sehingga akhirnya tinggal kurang lebih tiga
langkah saja.
Dengan cekatan padri berbaju merah itu menyilangkan
sepasang kencengan tembaganya didepan dada, iapun tak
berani bertindak gegabah menghadapi musuh tangguh yang
merupakan ciangbunjin dari perguruan Bu tong pay ini.
Ujung pedang Bu wi totiang diangkat ke depan, inilah jurus
serangan pertahanan dari ilmu pedang Tay-kek hui-kiam yang
tersohor itu.
Sudah tentu kedua belah pihak sama-sama memahami
kekinian lawan, karenanya hawa murni yang dimilikinya
segera dihimpun menjadi satu, dengan begitu, bila serangan
dilancarkan niscaya serangan tersebut merupakan suatu
ancaman maut yaug benar-benar menggetarkan hati.
Suasana menjadi kritis, setiap pertarungan akan
berlangsung, dalam keadaan itulah tiba-tiba mendengar suara
pujian kepada sang Buddha berkumandang memecahkan
sesunyian

“Omitohud..! Totiang harap tahan, dan silahkan mundur
lima langkah kebelakang!”
Dengan posisi yang sama sekali tidak berubah, perlahanlahan
Bu wi totiang mundur lima langkah kebelakang.
Ketika ia berpaling, tampaklah seorang padri tua berusia
antara enam puluh tahunan dengan memakai jubah warna
abu-abu dan bersenjatakan golok telah tampilkan diri ditengah
gelanggang.
Orang itu tak lain adalah padri saleh dari gereja Siau lim si,
Ceng kong taysu adanya;
“Taysu. apa yang hendak kau lakukan?” tegur Bu wi totiang
dengan suara lirih.
“Seperti apa yang totiang katakan, pinceng merasa
permainan kencengan dari taysu itu mirip sekali dengan ilmu
hwe swan hui pa dari gereja Siau lim si kami. Karena itu
pinceng terpaksa harus mengganggu pertarungan totiang
untuk menemui taysu ini.”
“Kalau memang begitu, pinto mengalah buat taysu! “
Ceng kong taysu menyiapkan goloknya di depan dada, lalu
dengan langkah yang perlahan maju kedepan.
Kiranya It bun Han to yang bersembunyi dibelakang
mimbar telah mengatur rencana tersebut, setelah dia amati
situasi dalam ruang perabuan tersebut dan mendengar dari Bu
wi totiang bahwa permainan kencengan padri baju merah itu
berasal dari gereja Siau lim si, dia segera mengutus Ceng
kong taysu untuk menggantikan kedudukan Bu wi totiang.
Sementara itu, Sua Put shia telah masuk keruang belakang,
ia serahkan kembali bahan peledak Poh-san-sin lui tersebut
ketangan It-bun Han to lalu ujarnya dengan lirih:
“Sianseng memang lihay dan pandai melakukan penilaian
terhadap segala persoalan, aku sipengemis tua benar-benar

merasa kagum mulai sekarang, akan kuturuti semua
perkataan dari sianseng!”
Dengan hormat dia angsurkan bahan peledak tersebut.
It-bun Han to tersenyum, setelah menerima bahan peledak
Poh san-sin lui itu katanya dengan lirih
“Aku rasa dalam pertarungan yang berlangsung hari, kita
tidak membutuhkan benda ini lagi, Siau tayhiap rupanya
sudah masuk kedalam ruang perabuan !”
“Dimana dia ? Kenapa aku si pengemis tak tidak
melihatnya?” tanya Sun Put shia keheranan.
“Bila tebakanku tidak keliru, kakek baju kuning yang berdiri
didepan pintu ruangan itu tak lain adalah hasil penyaruan dari
Siau tayhiap !”
Sun Put shia segera alihkan sorot matanya kedepan pintu
ruangan, memang tak salah ucapan It bun Han to, disana
berdiri seorang kakek baju kuning yang berusia enam puluh
tahunan. sebuah tongkat bambu terpegang dalam
genggamannya
“Darimana engkau bisa tahu?” tanya Sun Put shia dengan
perasaan tidak puas
“Sederhana sekali jawabannya, bukankah kita bisa
mengetahui hal ini dari tongkat bambunya?”
Dengan sorot mata yang tajam Sun Put shia mengawasi
tongkat bambu itu. Tapi tiada sesuatu yang berhasil
ditemukan ia merasa bambu itu hanyalah sebatang bambu
yang amat biasa.
Lalu darimana It bun Han to bisa tahu kalau orang itu
adalah penyaruan dari Siau Ling? Toh bambu yang dipakai
sama sekali tiada keistimewaannya?
“Kenapa dengan tongkat bambu itu?” tak kuasa lagi dia
bertanya

“Tongkat bambu itu masih baru dan tampaknya belum
lama dicabut dari kebun bambu. bila tongkat itu sudah sering
kali dipakai maka warnanya pasti akan berubah, Siau tayhiap
memang cerdik sayang ia agak teledor, semoga saja Shen Bok
Hong tak akan mengetahui akan keteledorannya itu”
“Benar juga perkataannya ini”, pikir Sun Put shia dalam
hati, “padahal gampang sekali cara pemecahannya, tapi aku si
pengemis tua toh tak dapat menebaknya, aaai, dari sini
dapatlah diketahui bahwa dalam hal kecerdikan aku si
pengemis tua masih kalah satu tingkat jika dibandingkan It
bun Han to..”
Berpikir sampai disini, ia lantas tertawa dan mengangguk.
“Kecerdikan sianseng memang hebat benar benar bikin hati
orang jadi kagum”
Mendadak sepasang alis matanya berkernyit, ujarnya lagi
dengan kuatir.
“Mungkinkah Shen Bok Hong akan mengetahui juga
persoalan ini?”
“Aku rasa ia tak akan menduga sampai disitu!”
“Kalau begitu kecerdasan Shen Bok Hong masih kalah satu
tingkat jika dibandingkan sianseng?”
“ Ooh.. bukan begitu maksudku!”
“Kalau bukan demikian, kenapa sianseng dapat
menemukan keteledoran Siau tayhiap sedangkan Shen Bok
Hong tidak mengetahuinya?”
“Karena kita sudah tahu lebih dahulu kalau ini hari Siau
tayhiap bakal muncul di sini. sebaliknya Shen Bok Hong sama
sekali tidak tahu?”
Tertegunlah Sun Put-shia sesudah mendengar jawaban
yang sangat tepat ini, akhirnya dia mengangguk dan keluar
dari tempat itu.

Rupanya si pengemis tua ini masih kurang puas dengan
kekalahan yang dideritanya, maka dia berusaha putar otak
untuk mengajukan satu pertanyaan sulit yang kira-kira tak
akan mampu dijawab It bun Han to.
Siapa sangka It-bun Han to memang cerdik dan
pengetahuannya sangat luas, bukan saja pertanyaanpertanyaannya
gagal untuk menyulitkan lawan, malahan
setiap jawabannya terasa amat tepat.
Tentu saja Sua Put shia jadi gelagapan sendiri, akhirnya ia
merasa benar-benar takluk dengan kehebatan rekannya ini.
Dipihak lain Ceng kong taysu telah berkata setibanya
dihadapan padri berbaju merah itu :
“Partai Siau lim adalah tulang punggung masyarakat
persilatan yang mengutamakan keadilan dan kebenaran,
sepanjang sejarah sudah beribu-ribu orang-orang yang jatuh
korban demi kebenaran didunia persilatan, mengapa engkau..”
“Heehhh. heehhh. heehhh itukan urusan pribadi gereja Siau
lim si, apa sangkut pautnya dengan pinceng?! tukas padri
berbaju merah sambil tertawa dingin.
“Hmm! Bila engkau berani melepaskan topeng kulit
manusia yang menutupi raut wajahmu, pinceng yakin bisa
menyebutkan nama julukanmu !” kata Ceng kong taysu
dengan serius.
“Sejak dilahirkan pinceng sudah memiliki paras muka yang
dingin dan kaku seperti ini, aku rasa taysu tak usah
menguatirkan tentang diriku!”
“Omitohud..! Walaupun demikian, yang pasti ilmu
kencenganmu itu toh berasal dari gereja Siau lim si?!”
“ Hehhhh. heehhh. heehhh enak benar kalau bicara,
memangnya setiap ilmu silat yang ada didunia ini bersumbar
dari Siau lim si ? Toh engkau sendiri juga tahu, kebanyakan
orang beragama selalu memakai senjata sian cang atau golek,

atau senjata kencengan, padahal permainan ilmu toya dan
ilmu kencengan tidak jauh berbeda, heeeh heeeh heeehh
taysu. engkau telah menunjuk kuda sebagai menjangan, aku
jadi ingin tahu apa tujuanmu bersikeras menuduh aku sebagai
murid gereja Siau lim si”
Ceng kong taysu tertawa hambar.
“Kalau engkau bukan seorang padri yang berasal dan
gereja Siau li si maka kau pun rasanya, tak perlu memberikan
penjelasan yang demikian mendetil kepadaku !”
Agak tertegun padri baju merah itu, akhirnya dengan gusar
ia berteriak keras :
“Peduli amat pinceng berasal dari perguruan mana, lebih
baik menangkan dulu permainan sepasang kencenganku ini...”
Selesai berbicara, sepasang kencengan yang berada
ditangannya langsung dibacok kedepan, diiringi dua kilatan
cahaya tajam, sepasang senjata kencengan itu langsung
menyergap kiri kanan tubuh Ceng kong taysu.
Menghadapi datangnya ancaman tersebut Ceng kong taysu
tertawa dingin, tiba-tiba dengan jurus Tee lau kim lian
(mencabut teratai emas dari tanah) goloknya berkelebat
kemuka balas membacok dada sang padri baju merah itu.
Tercengang kawanan jago yang hadir dalam ruangan itu
sesudah menyaksikan serangan tersebut, pikir mereka hampir
berbareng:
“Macam apaan jalannya pertarungan ini? Kalau diteruskan,
bukankah kedua belah pihak akan sama-sama mampus?”
Bila bacokan golok dari Ceng kong taysu itu dilanjutkan
kedepan, niscaya dada padri baju merah itu akan terbacok,
sebaliknya pada saat yang bersamaan pula sepasang senjata
kencengan padri itu akan menghajar pula tubuh Ceng kong.

Jangan orang lain, Bu wi totiang sendiripun tertegun
sesudah menyaksikan jalannya pertarungan.
“Memangnya hwesio ini akan beradu jiwa” pikirnya dalam
hati.
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya.
tiba-tiba padri baju merah itu sudah menarik kembali
sepasang senjata kencengannya dan secepat petir mundur
dua langkah kebelakang, dengan muadurnya ia ke belakang
maka dengan sendirinya bacokan golok yang dilancarkan Ceng
kong taysu juga mengena pada sasaran yang kosong.
Ceng kong taysu segera tertawa dingin, ejeknya.
“Hemmm . sekalipun engkau bukan murid gereja Siau lim
si, tapi yang pasti ilmu kencengan yang kau gunakan
bersumber dari perguruan kami..”
Bu wi totiang kembali berpikir dalam hati:
“Aiiih.. rupanya ia memang sudah punya perhitungan yang
masak kalau begitu bacokan tolok tersebut justru merupakan
kunci yang paling tepat untuk memecahkan serangan
kencengan tembaga dari padri berbaju merah itu..”
Dalam pada itu, sang padri baju merah sudah tidak
berbicara lagi. Ia menerjang maju kedepan sepasang senjata
kencengannya diputar bagaikan baling-baling kemudian
melepaskan serangkaian serangan berantai yang maha
dahsyat.
Terasalah cahaya emas berkilauan memenuhi seluruh
angkasa, bayangan kencengan silang menyilang dengan
gencarnya, serangan berantai itu benar-benar merupakan
serangan yang maha dahsyat.
Ceng kong taysu tak mau mengalah dengan begitu saja
goloknya segera diputar dan melancarkan serangkaian
serangan balasan yang tak kalah hebatnya.

Dalam waktu singkat, berlangsunglah suatu pertempuran
yang amat seru ditengah gelanggang.
Walaupun sekilas pandang, orang akan mengira padri baju
merah itulah yang menguasai gelanggang dengan permainan
sepasang senjata kencengannya yang berputar ke sana
kemari, sebaliknya permainan golok dari Ceng kong taysu
hampir boleh dikata tenggelam ditengah kepungan lawan, tapi
dalam kenyataan justru permainan golok dari Ceng kong taysu
lah yang telah mengendalikan terus gerak laju sepasang
kencengan tembaga lawan.
Bagi kawanan umat persilatan yang lain, mungkin tak
seorangpun yang mengetahui duduknya perkara, lain halnya
dengan Bu wi totiang, ia dapat melihat jelas semua kejadian
tersebut.
Dari pertarungan yang berlangsung selama ini, imam tua
itu dapat menarik kesimpulan bahwa Ceng kong taysu rupanya
sudah menguasai penuh gerak perubahan dari permainan
senjata kencengan itu, karena sudah hapal maka semua
serangan yang dilancarkan selalu telak hingga memaksa
musuhnya tak mampu mengembangkan permainannya
semaksimal mungkin.
Sudah tentu keadaan yang sangat tidak menguntungkan
pihaknya ini tak akan lolos dari pengamatan Shen Bok Hong,
sepasang dahinya kontan berkerut, tiba-tiba hardiknya dengan
suara berat:
“Tahan. .!”
Mendengar bentakan itu, hwesio baju merah itu segera
memutar sepasang senjatanya sedemikian rupa...Traang !
Traaang secara beruntun ia tangkis beberapa buah serangan
golok dari Ceng kong taysu, kemudian cepat cepat mundur ke
belakang,
“Kenapa tidak dilanjutkan pertarungan ini?” kata Ceng kong
taysu dengan wajah serius.

“Kekuatan kamu berdua seimbang dan susah untuk
menentukan siapa lebih unggul” jawab Shen Bok Hong “bila
pertarungan ini dilanjutkan lebih jauh niscaya kamu berdua
akan sama-sama terluka parah...”
““Hmm ! Apakah penglihatan dari Shen toa cungcu tidak
melantur ? Ketahuilah keuntungan sudah berada ditangan
pinceng “ sambung Ceng koug taysu dengan ketus.
Shen Bok Hong segera menengadah dan tertawa ter bahakbahak.
“Haaah hasah haaaahh.. aah, masa iya ? Kenapa aku tidak
melihat tanda-tanda itu ?”
Ceng-kong taysu mendengus dingin dan tidak menggubris
ocehan gembong iblis itu lagi, dia alihkan sorot matanya
keatas wajah padri baju merah itu, lalu ujarnya:
“Perguruan Siau lim pay selalu dihormat dan disanjung tiap
umat persilatan didunia untuk menegakkan keadilan dan
kebenaran sejak dahulu kala hingga kini entah sudah berapa
ribu sucou kita yang mati sebagai pahlawan, dimana jerih
payah mereka justru ditukar dengan nama besar gereja Siau
lim si sekarang ini, Hmm ! Sunggah tak nyana”
“Lan si-heng” tiba-tiba Shen Bok Hong menyela dengan
suara dingin, “temuilah taysu dari gereja siau lim si ini!”
Lan Giok tong mengiakan, ia cabut senjatanya dan
langsung menghampiri hwesio itu ujarnya dengan dingin:
“Aku Lan Giok tong, ingin sekali minta petunjuk ilmu silat
taysu yang lihay!”
Sepasang dahi Ceng kong taysu langsung berkerut setelah
dilihatnya musuh yang akan dihadapinya adalah seorang
pemuda yang masih kecil.
“Engkau akan bertarung melawan pinceng?!” tegurnya.

“Tentu saja, harap taysu ber-hati-hati !” sebagai penutup
kata. Lan Giok tong memutar pergelangan tangan kanannya
dan... Sreeet! Sreett! secara beruntun ia lepaskan dua
bacoksan kilat.
Dimana ujung pedangnya berkelebat muncullah dua
kuntum bunga pedang yang langsung menusuk jalan darah
penting di tubuh Ceng kong taysu.
Tak berani Ceng kong taysu menghadapi serangan
pedangnya yang cepat, ganas dan mengerikan itu, buru-buru
dia mundur dua langkah kebelakang lalu sambil memutar
goloknya ia sambut datangnya ancaman lawan.
Setelah merebut posisi yang lebih menguntungkan dengan
dua bacokan kilatnya tadi, Lan Giok tong segera melepaskan
kembali serangkaian serangan kilat yang amat hebat, dimana
ujung pedangnya berkelebat disitulah dia meagancam jalan
darah penting di tubuh lawannya.
Ceng kong taysu keteter hebat, meskipun goloknya sudah
diputar dan dibabat dengan gencarnya dengan harapan
berhasil merebut posisi yang lebih menguntungkan, akan
tetapi perubahan jurus serangan yang dilepaskan Lan Giok
tong memang benar-benar tangguh, semua ancamannya
ditujukan pada hiat to penting, ini menyebabkan Ceng kong
taysu tak sanggup melancarkan serangan balasannya yang
lebih hebat.
Pertarungan yang berlangsung sekarang jauh lebih sengit,
golok dan pedang saling menyergap titik kelemahan musuh
dalam sekejap mata lima puluh gebrakan sudah lewat.
Lan Giok tong memang hebat, serangan yang dilancarkan
olehnya ibarat gulungan ombak sungai tiang-kang yang tiada
habisnya, dalam keadaan begitu Ceng kong taysu amat
terdesak hingga sama sekali tak berkemampuan untuk
melancarkan serangan balasan.

Setelah bersusah payah mempertahankan diri sebanyak
lima puluh gebrakan, ia mulai kehabisan tenaga dan keringat
pun mulai mengucur keluar membasahi wajahnya.
It bun Han to yang bersembunyi dibelakang mimbar dapat
mengikuti jalannya pertarungan itu dengan jelas, dengan
setengah berbisik segera ujarnya kepada Pek li Peng:
“Ceng kong taysu masih kalah jauh bila dibandingkan Lan
Giok tiong, dan lagi iapun tak sanggup membendung serangan
pedang lawannya yang tajam, ganas dan dahsyat itu, bila
tidak diganti orang lain dua puluh gebrakan lagi dia pasti akan
terluka oleh tusukan pedang pemuda she Lan itu..”
“Apakah aku sanggup menghadapi dirinya?” tanya Pek li
Peng dengan suara lirih.
“Siau tayhiap mengikuti pula jalannya pertarungan ini dari
sisi gelanggang, kalau toh akupun bisa menyaksikan posisi
Ceng kong taysu yang keteter hebat dengan sendirinya Siau
tayhiap sendiripun mengetahui juga akan hal ini, padahal ia
tidak berkutik sama sekali itu artinya dia masih mempunyai
rencana lain maka lebih baik engkau jangan turun tangan
lebih dahulu!”
“Dia harus menghadapi Shen Bok Hong tentu saja tak
mungkin baginya untuk turun tangan secara sembarangan biar
aku saja yang menggantikan kedudukan Ceng kong taysu.”
“Kepandaian silat yang dimiliki Bu wi totiang masih cukup
untuk menandingi ilmu silat Lan Giok tong aku rasa sudah tiba
waktunya bagi dia untuk tampilkan diri.”
Betul juga tebakan It bun Han to, baru saja ia
menyelesaikan kata-katanya terdengar Bu w i totiang
membentak keras:
”Taysu berhenti!”
Sementara itu Ceng kong taysu sedang di teter terus oleh
permainan pedang Lan Giok tong yang gencar sehingga

mundur terus ke belakang berulang kali, mendengar bentakan
dari Bu wi totiang ia siap melompat ke belakang.
Siapa tahu Lan Giok tong; bertindak lebih cepat, sambil
tertawa dingin katanya.
”Mau lari ?? Heehh heehhh heehh tidak segampang itu!”
Ditengah bentakan yang nyaring, tiba-tiba ia keluarkan satu
jurus simpanannya yang tangguh setelah berhasil
menyingkirkau golok Ceng kong taysu, pedangnya langsung
berkelebat kedepan dan menusuk lengan kiri hwesio itu.
Darah segar segera memancar keluar dari mulut luka itu
dan membasahi seluruh tubuhnya.
Bu wi totiang mendengus dingin, ia menerjang maju
kedepan, pedangnya segera dikembangkan sedemikian rupa
menciptakan selapis cahaya tajam yang amat menyilaukan
mata.
Jurus serangan tersebut merupakan jurus pedang yang
tangguh dari perguruan Bu tong pay, yakni jurus seng ho to
kwa (sungai bintang tergantung diatas awan) dari ilmu pedang
Tay kek hwe kiam.
Muncullah berpuluh-puluh titik cahaya tajam bagaikan
rontoknya bintang dari langit, serangan tersebut benar-benar
merupakan suatu jurus serangan yang sangat tangguh.
Lan Giok tong tak berani bertindak gegabah, dengan jurus
bay si seng lo (bangunan kota ditengah samudra) pedangnya
berputar kencang menciptakan selapis cahaya pedang untuk
melindungi badan.
Trang traang traaang secara beruntun terjadilah benturan
keras yang menimbulkan suara dentingan nyaring.
Cahaya tajam segera sirap dan muncullah bayangan
manusia dari kedua belah pihak.

Ketika semua orang amati keadaan diri kedua orang itu,
maka tampaklah pakaian yang dikenakan Lan Giok-tong telah
robek tersambar oleh cahaya pedang ysng tajam i tu.
Kontan saja Shen Bok Hong tertawa dingin, serunya
dengan nada setengah mengejek:
“Huuuh..! Namanya saja seorang ketua dari perguruan Bu
tong pay, tak tahunya yang bisa dikerjakan hanya menyergap
orang secara diam-diam engkau tidak malu ditertawakan
orang banyak?”
Bu wi totiang tertawa dingin pula:
”Heehh..... heehh.... heeeh... jangan sok mengejek orang,
bagaimana dengan engkau sendiri? Bukankah engkau juga
memerintahkan Lan Giok tong untuk menghadapi lawannya
secara bergilir, apakah perbuatanmu itu juga pantas?”
Sepasang mata Shen Bok Hong memancarkan sinar yang
tajam, ia memandang sekejap sekeliling gelanggang,
kemudian memandang sekejap pula kearah kakek baju kuning
bersenjata tongkat bambu yang berdiri didepan pintu, lalu
ujarnya kembali kepada Lan Giok tong.
”Lan siheng, bagaimana keadaan lukamu?”
“Hanya pakaianku saja yang robek, untung tidak sampai
melukai badan, aku masih berkemampuan untuk melanjutkan
kembali pertarungan ini..”
Berbicara sampai disitu tiba-tiba ia maju dua langkah
kedepan, sambil menuding Bu wi Totiang dengan pedangnya
ia menantang.
“Totiang, beranikah engkau melangsungkan suatu
pertarungan seru satu lawan satu dengan aku orang she Lan
?”

“Heeeh heeeh heeeh engkau benar-benar akan menantang
pinto untuk bertarung satu lawan satu ?” Bu wi totiang
menebaskan sambil tertawa dingin.
“Benar, kalau totiang tidak berani menerima tantangnnku
untuk berduel, aku minta engkau lebih baik menyingkir saja
diri sini dan persilahkan nona Gak untuk tampil ke depan.”
Bu wi totiang tertawa ewa ;
“Rupanya tujuan kedatanganmu kemari adalah berharap
bisa berjumpa dengan nona Gak, sayang sekali nona Gak tidak
sudi ber jumpa lagi dengan dirimu !”
“Kenapa?”“ teriak Lan Giok tong dengan gusarnya.
Bu wi totiang segera tertawa dingin tiada hentinya.
“Heeeh heeeh heeeehh kalau nona Gak bersedia untuk
menjumpai dirimu, maka ia tak akan tinggalkan tempat ini !”
“Jadi nona Gak benar-benar sudah pergi dari sini?” Lan
Giok tong menegaskan dengan paras muka berubah hebat.
“Mungkin ia pergi dari sini lantaran masih ada urusan yang
jauh lebih penting dari perjanjiannya dengan kalian, mungkin
juga lantaran ia tak sudi berjumpa lagi dengan dirimu, maka ia
segera tinggalkan tempat ini, pokoknya yang pasti ia sudah
tak berada ditempat ini lagi”
“Mana Giok siau long-kun!” tanya Lan Giok-tong dengan
cepat.
“Ia juga sudah pergi, bilamana Giok-siau long kun masih
berada disini, maka dia tak nanti akan membiarkan engkau
menantang sona Gak untuk berduel!”
“Apakah Giok-Siau long kun pergi bersama-sama nona
Gak?!” tanys Lan Giok tong lagi dengan gelisah.
“Tentang soal ini.. Aku merasa kurang begitu jelas!”

Sampai disitu Lan Giok Tong lantas berpaling dan
memandang sekejap kearah Shen Bok Hong, katanya dengan
lesu :
“Toa cungcu, nona Gak telah meninggalkan tempat ini!”
Shen Bok Hong segera tertawa hambar dan menanggapi :
“Ucapan kaum perempuan memang paling tak dapat
dipercayai buat apa Lan si heng musti terlalu pikirkan
persoalan ini didalam hati?!”
Betapa sedih dan kesalnya Lan Giok tong seketika itu juga
semangat tempurnya lenyap tak berbekas, niatnya untuk
menantang duel Bu wi totiang pun ikut lenyap dengan begitu
saja.
Setelah melirik sekejap kearab Bu-wi to tiang, perlahanlahan
ia mengundurkan diri kebelakang.
“Lan si heng !” Shen Bok Hong segera menimbrung sambil
tertawa ewa, “bukankah engkau telah menantang Bu wi
totiang untuk berduel?!”
Perlahan-lahan Lan Giok tong putar badannya dan
memandang sekejap kearah Shen Bok Hong, kemudian
ujarnya :
“Pertarungan yang berlangsung hari ini bukan pertarungan
mencari nama atau kedudukan seperti pada umumnya, aku
rasa tidak menjadi kewajibanku bukan untuk bertarung matimatian
melawan Bu wi totiang?”
Shen Bok Hong tertawa ewa;
“Aku memangnya totiang, cuma saja Lan si heng toh sudah
terlanjur mengutarakan tantanganmu itu, sekalipun engkau
ada minat untuk batalkan niatmu ini. sepantasnya kalau
mencari suatu alasan yang lebih tepat dulu sebelum
mengundur lagi.”

“Shen toa Cungcu, sebelum melakukan kerja sama kita kan
sudah saling menyetujui syarat-syarat yang diajukan masingmasing
pihak, Aku memancing Siau Ling masuk perangkap
sedang Shen toa cungcu membantu aku menawan nona Gak,
sekarang Siau Ling sudah terpancing dan mati terjebak dalam
kebakaran sebaliknya engkau belum penuhi janjimu. Kemarin
Gak Siau cha toh telah datang ke mari, mengapa kau tak mau
dengarkan perkataanku dan menawannya seketika itu juga.
Sekarang ia dan Giok siau long kun telah kabur dari sini. Itu
berarti pula Shen toa cungcu sama sekali tidak menepati
janjimu!”
Setajam sembilu sorot mata yang terpancar keluar dari
sepasang mata Shen Bok Hong, segera sambutnya dengan
dingin:
“Sampai sekarang mayat Siau Ling belum ditemukan,
apakah dia telah mati atau masih hidup susah diramalkan,
sebaliknya Gak Siau-cha kan masih hidup didunia ini, apakah
Lan siheng tidak merasa bahwa perkataanmu kau utarakan
terlalu pagi ?”
Dengan gusar bercampur mendongkol Lan Giok tong
tertawa dingin.
“Heebhh. heehhb. Heehhh, kalau kudengar dari
pembicaraan Shen toa cungcu, tampaknya engkau sama sekali
tidak menaruh perhatian atas janjimu dengan aku orang she
Lan, kalau toh memang begitu rasanya aknpun tak usah jual
nyawa bagimu lagi!”
“Kalau toh Lan si heng mengatakan begitu, aku orang she
Shen tidak berani terlalu memaksa dirimu lagi” tukas Shen Bok
Hong sambil mengulapkan tangannya, “ bila engkau tak minat
untuk mencampuri urusan ini lagi, silahkan saja engkau segera
berlalu dari tempat ini!”
Lan Giok tong mendengus dingin, ia tidak berkata-kata lagi.
Selangkah demi selangkah dihampirinya meja abu Siau Ling,

kemudian setelah berdiri depan wajah serius dia berkemak
kemik seperti sedang mengatakan sesuatu, namun apa yang
didoakan tak seorangpun yang tahu.
Betapa gusar dan mendongkolnya Shen Bok Hong
menghadapi kejadian ini. Api amarah telah berkobar dalam
dadanya, tapi sebisa mungkin ia berusaha untuk
mengendalikan perasaannya itu. Ia lantas berpaling kearah Bu
wi totiang dan berkata.
“Kalau toh Lan Giok tong tak berani bertarung melawan
totiang, bagaimana kalau aku saja yang melayani engkau
sebanyak beberapa jurus?”
Tentu saja Bu wi totiang sadar bahwa kepandaian silatnya
bukan tandingan lawan, akan tetapi ia merasa tak leluasa
untuk menampik tantangan orang, terpaksa sambil keraskan
hati dia menjawab.
“Sudah tentu pinto harus melayani keinginan Shen toa
cungcu bilamana engkau sudah tertarik dengan diriku!”
“Baik, aku orang she Shen akan melayani permainan
senjatamu dengan tangan kosong!”
Bu wi totiang menghembuskan napas panjang ia silangkan
pedangnya didepan dada, kemudian bersiap siaga untuk turun
tangan.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring
berkumandang memecah kan kesunyian.
“Totiang, jangan turun tangan!” It bun Han to dengan
langkah yang lambat tapi tetap, setindak demi setindak
munculkan diri dari belakang mimbar.
Menjumpai kemunculan jago lihay ini Shen Bok Hong
segera menegur dengan suara dingin:

“Hmm ! Telah kuduga bahwa engkau pasti berada disini
dan mengepalai semua persiapan ditempat ini, ternyata
dugaanku sama sekali tidak keliru..!”
It bun Han to tertawa ewa.
“Oooh... ternyata Shen toa cungcu masih ingat dengan aku
It bun Han to, rupanya kesan Shen toa cungcu terhadap diriku
cukup mendalam, aku jadi kikuk sendiri rasanya.”
Shen Bok Hong tertawa dingin.
“Hmm ! Cukup kutinjau dari segala persiapan yang terdapat
disini, aku sudah menduga kalau engkaulah yang mengatur
segala sesuatunya. Heeeh heeeh heeeh sepantasnya kalau
kubunuh dirimu sedari dulu...”
“Aku tahu bahwa Shen toa cungcu selalu bermaksud untuk
membinasakan diriku, sayang engkau tak dapat mencari
kesempatan yang paling baik untuk melakukan hasratmu itu.”
Ketika ada diluar istana terlarang, Siau Ling telah
selamatkan jiwamu” kata Shen Bok Hong setengah mengejek,
“tapi sekarang Siau Ling telah tewas, didunia ini sudah tak ada
orang lagi yang mampu menyelamatkan jiwamu, kendatipun
engkau licik dan banyak akal muslihatnya jangan harap
engkau bisa lolos pada hari ini dalam keadaan selamat”
It bun Han to tertawa hambar.
“Akupun sangat berharap agar apa yang Shen cungcu
harapkan benar-benar bisa terwujud pada hari ini “ jawabnya.
“Heehhh, heebhh. heehhh.. apakah It bun heng merasa
bahwa aku orang she Shen tidak memiliki kemampuan untuk
membereskan jiwamu itu !”
“Tentu saja aku percaya bahwa Shen toa cungcu memiliki
kemampuan untuk berbuat begitu, sebab aku percaya
sebelum datang kemari engkau sudah pasti telah membuat

persiapan yang matang, tapi akupun telah melakukan segala
persiapan..”
Tiba-tiba Shen Bok Hong bergerak maju kedepan dan
mendekati It-bun Han to sambil maju kemuka katanya :
“Aku jadi ingin tahu persiapan apakah yang telah It-bun
heng lakukan selama ini, dan sampai dimana pula kehebatan
dari persiapanmu itu!”
Bukannya menghindar atau mundur ke belakang, It bun
Han to malahan memapaki kedatangan Shen Bok Hong dia
segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
“Haahhh. haahhh. haahhh, batok kepalaku telah kusiapkan
di hadapanmu, bilamana Shen toa cungcu merasa mempunyai
keberanian untuk memetiknya silahkan saja untuk memetik
kepalaku ini”
Shen Bok Hong memang seorang manusia yang besar
sekali kecurigaannya, ia tahu bahwa kepandaian silat yang
dimiliki It bun Han to cetek sekali, tak mungkin ia sanggup
menahan sebuah pukulannya.
Ternyata orang itu bukan saja tidak menghindar diri
malahan menyongsong kedatangannya, bila tiada sesuatu
yang tak beres, jelas hal ini tak mungkin bisa dilakukan
olehnya.
Satu ingatan segera melintas dalam benaknya, tiba-tiba
gembong iblis ini menghentikan langkah kakinya.
It bun Han to segera tersenyum ejeknya
“Shen toa cungcu, mengapa engkau tak jadi turun
tangan?!”
Setajam sembilu sorot mata Shen Bok Hong diawasinya It
bun Han to dari atas kepala hingga keujung kakinya,
kemudian ia berkata dengan nada sinis :

“Selamanya engkau berjiwa pengecut dan takut mampus,
aku jadi heran, mengapa pada saat ini engkau jadi seorang
pemberani?!”
It bun Han to tertawa ewa.
“Jadi seorang manusia adalah jamak kalau senantiasa
mengalami perubahan, baik dalam watak maupun keberanian,
dahulu aku memang benar-benar takut mati. tapi sekarang
aku tidak lagi berjiwa pengecut, kupandang suatu kematian
bagaikan pulang kerumah saja. Aku tahu ilmu silat yang
dimiliki Shen toa cungcu sangat lihay, hanya sekali pukulan
saja nicaya isi perutku akan hancur dan selembar nyawaku
akan melayang, hmm..! Sungguh menggelikan sekali, ternyata
engkau masih banyak curiga dan tak berani melakukan
serangan terhadap diriku”
Bu wi totiang terhitung seorang jago yang cerdik tentu
saja ia dapat meraba maksud hati It bun Han to, rupanya ia
telah mempunyai niat seperti Sun Put shia tadi, yakni
memancing amarah Shen Bok Hong sehingga sebuah
pukulannya akan meledakkan Poh san sin lui yang berada
dalam sakunya, asal bahan peledak itu meletus niscaya ia dan
Shen Bok Hong akan tewas seketika itu juga;
Setelah memahami maksud dan tujuan rekannya ini imam
tua dari perguruan Bu tong pay ini jadi kagum dan salut atas
kesediaannya untuk berkobar demi kepentingan umum
Shen Bok Hong yang lihay dan hebat ternyata benar-benar
memiliki ketenangan yang jauh melebihi siapapun ia tidak
gusar tapi melirik sekejap kearah Bu wi totiang lalu sambil
tertawa ewa katanya :
“It bun Han to, aku telah memahami sampai dimanakah
karaktermu, engkau tak lebih adalah seorang pengecut yang
takut mampus, orang yang takut mati mendadak jadi seorang
pemberani, haah. haahh..haah.. sekalipun seorang manusia
paling bodoh juga tahu kalau engkau telah siapkan suatu

perangkap busuk untuk menjebak aku, sayang selama
hidupku aku paling mengutamakan ketenangan dan pikiran
yang tetap dingin, aku rasa jerih payah It bun sianseng
kembali akan sia-sia belaka!”
Sementara pembicaraan berlangsung, sepasang matanya
dengan tajam mengawasi terus perubahan It bun Han to, dia
berharap bisa temukan sesuatu pertanda yang mencurigakan
hati.
---o0dw0o---
Shen toa cungcu, ku akui engkau memang seorang jago
yang pintar!” puji It bun Han to sambil tertawa, “Cuma aku
yakin, sekalipun engkau peras keringat habis-habisan, belum
tentu akan kau temukan alasannya mengapa secara tiba-tiba
aku It bun Han to tak takut mati dan memandang suatu
kematian bagaikan pulang kerumah!”
Shen Bok Hong mendengus dingin, tiba-tiba ia berpaling ke
arah Kim hoa hujin seraya berkata.
“Hujin apakah engkau bawa serta ular Pek Sian ji mu itu?”
“Ada dalam sakuku!” jawab Kim hoa hujin.
“It bun Sianseng adalah seorang ahli dalam ilmu racun,
apakah Pek Sian ji milikmu mampu untuk melukainya?”
“Apakah Shen tos cungcu hendak mencoba kepandaian
silatku?” sahut Kim hoa hujin sambil tertawa.
“Benar aku jadi curiga dengan It bun Han to setelah
menyaksikan tingkah lakunya yang luar biasa dan takut mati
itu. Kalau dugaanku tak meleset, dibalik peristiwa ini tentu ada
hal-hal yang tidak beres, jangankan dia bukan seorang
pemberani, kendatipun dia mempunyai keberanian yang
terpuji, belum tantu ia rela mati diujung telapakku, maka
lantas menduga bahwa ia telah siapkan rencana busuk untuk
menjebak diriku”

“Rencana busuk apa?”
“Tampaknya ia berhasrat untuk beradu jiwa dengan diriku!”
Kim hoa hnjin memandang sekejap kearah It bun Han to,
kemudian sambil tertawa ewa katanya.
“Kenapa aku tidak melihatnya? Dengan cara apa dia akan
beradu jiwa dengan dirimu??”
“Kelicikan dan kecerdikan It bun Han to tak bisa ku anggap
sebagai suatu permainan, bagiku lebih baik sedia payung
sebelum hujan dari pada harus menyesal sesudah nasi
menjadi bubur” ujar Shen Bok Hong memberikan pendapatnya
“siapa tahu kalau dalam sakunya telah ia siapkan bahan
peledak yang sangat berbahaya? Kalau aku bertindak secara
gegabah, dan bahan peledak itu sampai tersentuh olehku
sehingga meledak, siapa yang bakal rugi?”
Setelah tertawa tergelak, dia melanjutkan
“Haaah... haaah... haaah... yang penting bagi kita sekarang
bukanlah persoalan intrik dan rencana keji apakah yang
sedang dia siapkan asalkan kita lepaskan pek Sian ji yang
sangat beracun itu untuk menghadapinya, maka urusan akan
menjadi beres dengan sendirinya.
Terhadap diri Kim hoa hujin pada hakekatnya Shen Bok
Hong memang memberikan perlakuan yang istimewa, akan
tetapi perintah dari gembong iblis itu tak berani dibangkang
Kim hoa hujin dengan begitu saja.
Maka perempuan suku Biau ini segera merogoh kedalam
sakunya dan mengambil keluar sebuah tabung bambu, sambil
dipegangnya dia berkata dengan nada dingin:
“It-bun heng, tentunya engkau sudah memahami bukan
sampai dimanakah kehebatan racun yang dikandung ular Pek
sian ji ini, aku rasa tak perlu aku jelaskan secara khusus lagi
kepadamu!”

Sementara itu Bu wi totiang dan Sun Put shia yang
mendampingi It bun Han to ditepi gelanggang merasa benarbenar
kagum dengan kecerdasan otak gembong iblis ini.
Sekarang mereka baru tahu bahwa Shen Bok Hong bukanlah
seorang musuh yang empuk. Segera pikirnya dihati,
“Banyak orang menceritakan bagaimana kejam dan liciknya
Shen Bok Hong, sesudah bertemu hari ini kenyataan memang
membuktikan bahwa dia sangat teliti dan berotak brilian,
manusia macam begini sukar sekali rasanya untuk dihadapi.”
Di pihak lain, It bun Han to telah berkata dengan dingin
“Hujin, Pek sian ji milikmu itu lebih bernilai dari nyawamu
sendiri, aku lihat lebih baik janganlah kau gunakan secara
sembarangan!”
“Haahhh. Haaahhh. Haaahhh. Apa boleh buat? Aku
memang ingin menyimpannya kembali tapi perintah dari Shen
toa cungcu siapa yang berani membantah? Saudara It bun,
lebih baik berhati-hatilah uutuk menghadapi serangan pek
Sian ji!” kata Kim hoa hujin sambil tertawa terkekeh kekeh.
Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, dia segera
ayunkan tangan kanannya kemuka. Sekilas cahaya putih
dengan kecepatan bagaikan petir langsung menyambar
ketubuh It bun Han to.
Bu wi totiang yang telah bersiap siaga segera bertindak
cepat, bersamaan waktunya Kim hoa hujin melepaskan Pek
Sian ji dia pun menerjang kemuka sambil melepaskan satu
babatan kilat, desiran angin tajam segera membelah angkasa.
Tertahan oleh desiran angin kuat itu, Pek Sian ji tergetar
diudara dan meluncur kebawah, disitu Bu wi totiang telah
memakai dengan pedangnya. Duuuk! Dengan telak bacokan
itu bersarang ditubuh Pek Sian ji.
Pekikan nyaring mengeletar membelah angkasa, bukannya
tersayat kutung oleh bacokan itu, tiba-tiba Pek Sian ji

melingkarkan tubuhnya menjadi satu, kemudian dengan ketat
pedang Bu wi totiang dibelenggu dengan badannya.
Pedang panjang yang digunakan Bu wi to tiang itu
sekalipun belum terhitung sebagai pedang mustika yang
sangat ampuh, namun terbuat dari baja murni yang tajamnya
luar biasa, ujung rambutpun akan tersayat kutung dalam
sekali bacokan.vAkan tetapi ular pek-sian-ji sama sekali tak
jeri untuk membelenggu pedang itu dengan badannya,
malahan makin melilit semakin kencang, sedikitpun badannya
tak tampak terluka atau cedera.
Shen Bok Hong yang ada disisi kalangan segera tertawa
dingin dan ber olok-olok
“Heeeh.. heeeh.. heeeh.. bagus, bagus sekali perbuatan
kalian, Huh ! Kalau mengakunya sama seorang pendekar
sejati yang menegakkan keadilan dan kebenaran, eeeh tak
tahunya tianglo dari Kay pang dan ketua dari Bu tong pay
harus bekerja sama untuk menghadapi seorang perempuan
lemah...memalukan sungguh memalukan !”
“Hmm ! Engkau tak perlu mengolok-olok yang kuhadapi
bukan orangnya tapi makhluk beracun itu .” jawab Sun Put
shia dengan dingin.
Dia melompat maju kedepan seraya melepaskan sebuah
pukulan dahsyat, tantangnya lagi:
“Shen toa cungcu, kalau engkau mengaku jantan dan
berilmu tinggi, beranikah engkau menerima tantanganku
untuk berduel ?”
Shen Bok Hong melepaskan sebuah pukulan udara kosong
untuk menangkis datangnya ancaman, lalu jawabnya :
“Mau menantang aku untuk berduel ? Hmm.. Pengemis tua,
dengan andalkan sedikit kepandaianmu itu, engkau akan
mengajak aku untuk berkelahi??”

Ketika dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat itu
saling membentur satu sama lainnya segera terjadilah suatu
ledakan yang memekikkan telinga, pasir dan debu
beterbangan memenuhi saluran angkasa.
Shen Bok Hong telah bersiap siaga menghadapi serangan
tersebut, setelah melancarkan sebuah pukulan dahsyat, tibatiba
ia meleset dan mundur dua kaki kebelakang.
Dalam bentrokan itu, Sun Put shia merasakan sekujur
badannya tergetar keras, kejadian ini membuat hatinya
terkesiap.
“Sungguh hebat dan luar biasa tenaga dalam yang dimiliki
gembong iblis ini “ pikirnya dihati “aku tak boleh memandang
terlalu enteng atas dirinya!”
Selama ini Shen Bok Hong sendiri masih, menaruh curiga
atas keberanian Sun Put shia menantang dirinya untuk
berduel, dia bermaksud untuk membongkar rencana busuk
apakah yang terselip dibalik tantangan itu.
Dalam perkiraannya jika ada suatu tipu muslihat, niscaya
setelah menerima pukulan itu maka akibatnya akan ketahuan.
Akan tetapi apa yang terjadi kemudian? Sedikitpun tidak
terjadi perubahan pada diri pengemis tua itu.
Baik Sun Put-shia maupun Bu wi totiang tidak berani
bersungguh-sungguh melukai ular pek sian ji milik Kim hoa
hujin, mereka kuatir kalau perempuan dari suku biau ini tak
lain adalah mata-mata yang diutus Siau Ling untuk mencari
informasi didalam perkampungan Pek hoa san cung, maka dari
itu dikala ular tersebut membelenggu ujung pedangnya,
segera Bu wi to tiang menggetarkan pergelangannya sehingga
ular tadi terjatuh keatas tanah.
Menyaksikan ularnya terjatuh keatas tanah. Kim hoa hujin
segera maju kemuka dan menjemput kembali ular Pek sian
jinya itu untuk dimasukan kedalam saku.

It bun Han to sendiri dengan wajah yang serius dan keren
tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, sinar matanya
yang tajam mengawasi terus pemuda baju hijau yang
bertangan kosong itu dengan seksama.
Sejak munculkan diri, pemuda baju hijau itu tak pernah
mengucapkan sepatah katapun. Sikapnya tenang dan santai.
Terhadap pertarungan yang sedang berlangsung ditengah
gelanggang sama sekali tidak tertarik ataupun melirik barang
sekejappun.
Dalam pada itu, kakek baju kuning yang berdiri disamping
pintu gerbang mendadak mengseserkan tubuhnya., dengan
demikian ia segera berdiri menghalang jalan keluar orang
yang ada disitu.
Shen Bok Hong dengan penuh curiga menyapu sekejap
ruangan itu, mendadak ia menemukan bahwa gelagat tidak
menguntungkan pihaknya, bagaimanapun juga posisi pihaknya
sudah kalah separuh, timbullah niat untuk mengundurkan diri
dari situ,
Tanpa membuang banyak waktu, segera bisiknya lirih :
“Mari kita pergi dari sini!”
---oo0dw0oo---
JILID 39
TIDAK menanti jawaban, dia melangkah lebih dahulu
menuju keluar. Pada waktu itu orang yang berdiri didepan
pintu keluar sangat banyak, kebanyakan adalah jago-jago
persilatan yang datang untuk menyaksikan jalannya
pertarungan.
Ketika mereka saksikan Shen Bok Hong berjalan
menghampiri kearah mereka, orang orang itu segera
menyingkirkan diri ke samping.

Dalam waktu singkat hanya kakek berbaju kuning saja yang
masih berdiri di depan pintu tanpa bergerak.
"Shen Bok Hong!' tiba-tiba It bun Han-to membentak
dengan suara dalam.
Mendengar namanya disebut It bun Hao too secara
langsung, kontan saja Shen Bok Hong mengerutkan dahinya
dengan penuh kegusaran, segera hardiknya:
“It-bun Han too! Aku lihat nyalimu kian lama kian
bertambah besar, agaknya engkau sudah bosan hidup?”
"Toa congcu !” sahut It bun Han-to dengan ketus, pada
saat ini aku orang she It bun sudah bukan tamumu lagi.
sekarang kita berdiri dalam posisi saling bermusuhan, Hmm!
Jangan toh cuma menyebut nama Shen Bok Hong belaka,
sekalipun mencaci maki dirimu dengan kata-kata yang lebih
tak sedap pun engkan tak dapat berbuat apa-apa!"
Betapa marahnya Shen Bok Hong sukar dilukiskan dengan
kata-kata, ia segera menengadah dan tertawa terbahakbahak.
"Haahhh. haahhh. haahh. bagus, bagus sekali perkataamu
itu. nah, apa yang hendak engkau katakan?!”
Sudah lama It-bun Han-to bergaul dengan Shen Bok Bok
Hong, tentu saja diapun tahu bahwa kemarahan dari gembong
iblis itu sudah mencapai pada puncaknya, hanya saja ia masih
berusaha nengendalikan secara paksa sehingga kemarahan itu
tak sampai terlampiaskan keluar.
"Sampai detik ini mati hidup Siau tayhiap masih merupakan
suatu tanda tanya besar, aku rasa dikolong langit dewasa ini
tidak banyak jago yang sanggup berduel satu lawan satu
dengan dirimu.." ia berhenti sebentar untuk tukar napas,
kemudian melanjutkan.

"Oleh sebab itu untuk menghadapi seorang jago tangguh
macam engkau mau tak mau aku harus mempersiapkan suatu
siasat yang tepat pula"
"Hmml Kalau ingin berkelahi, silahkan saja kamu semua
maju bersama-sama?”
It bun Han tio tertawa lebar.
"Shen toa cungcu mengatakan bahwa pedoman hidupmu
selama ini adalah ketenangan dan ketelitian, tapi sayang
menurut pendapatmu pedoman tersebut sudah ditinggalkan
oleh Shen toa cuncu!
"Maksudmu?” teriak Sheo Bok Hong sambil menarik muka.
"Dalam perkiraanmu hanya cukup membawa empat orang
jago lihay maka kami semua sudah bisa kalian taklukkan, tapi
bagaimana kenyataannya sekarang? Hmm! Pada hakekatnya
semua orang yang ada dikolong langit telah bermusuhan
dengan dirimu, mereka semua telah bertekad untuk beradu
jiwa dengan engkau, tak nanti orang-orang itu sudi bertekuk
lutut dan jeri kepadamu lagi, tahukah engkau mengapa bisa
terjadi perubahan yang seratus delapan puluh derajat ini??”
Soen Bok Hong mendengus dingin dan tetap
membungkam.
It bun Han to menatap sekejap ke arah lawannya dengan
pandangan tajam, kemudian ujarnya lebih jauh:
''Perubahan ini terjadi setelah Siau tay hiap celaka
ditanganmu, perbuatanmu yang rendah pengecut dan
terkutuk itu telah mengetuk hati mereka semua, berbondongbondong
mereka datang kesini dari pelbagai daerah untuk
beradu jiwa dengan engkau.. Hmm! Ketahuilah dalam sekitar
ruangan ini sekarang sudah siap tiga ratus orang jago,
diantaranya ada empat lima puluh orang yang merupakan
jago tangguh...."

Shen Bok Hong tertawa tergelak, sebelum ucapan itu
selesai dia segera menukas.
"Jadi engkau hendak mengerahkan mereka untuk
mengerubuti aku?”
"Main kerubut adalah cara yang sering kali kau praktekkan
untuk menghadapi jago silat yang tangguh, cuma bedanya
kalau jago-jagomu terpaksa harus setia dan berbakti
kepadamu lantaran terpengaruh oleh obat racun, sebaliknya
jago-jago kami bersedia untuk berjuang sampai titik darah
yang penghabisan dengan kerelaan hati masing-masing”
"Kawanan anjing yang banyak tak akan mampu mengurung
beberapa ekor harimau, memang jumlahmu lebih banyak dari
jagoku akan tetapi untuk meloloskan diri dari sini bukanlah
sesuatu pekerjaan yang menyulitkan.”
"Dewasa ini aku rasa Lan Giok tong sudah tak mungkin bisa
kau gunakan lagi tenaganya, sebab kebobonganmu sudah
ketahuan mula2 engkau menipu dirinya dengan mengatakan
akan menangkap Gak Siau cha dan mengawinkan dirinya
dengannya, tapi dalam kenyataan engkau cuma membohongi
dirinya belaka..haahha, haahhaa, memangnya ia sudi menjual
nyawa lagi untukmu?”
"Omong kosong!" teriak Shen Bok Hong dengan gusar,
kalian sengaja menyembunyikan Gak Siau cha sehingga tidak
memberi kesempatan kepadaku untuk menangkapnya, mana
bisa dikatakan kejadian ini sebagai suatu kebohongan?
Pemuda berbaju hijau yang selama ini membungkam terus
tiba-tiba menyela dengan dingin:
"Shen toa cungcu, benarkah engkau telah berjanji dengan
Lan Giok tong untuk menangkapkan Gak Siau cha dan
mengawinkan, kepadanya??”
Shen Bok Hong tertegun, kemudian sahutnya terbata-bata :
"Tentang soal ini., tentang soal ini...”

Dengan dahi berkerut, pemuda berbaju hijau itu
meneruskan kembali kata-katanya :
"Shen toa cungcu, apabila engkau bukan seorang yang
pelupa, tentunya masih ingat bukan bahwa engkaupun pernah
berjanji demikian kepadaku?!
Shen Bok Hong yang licik benar-benar ketanggor batunya.
Ia jadi riku, dan tersipu-sipu, untuk sesaat paras mukanya
berubah merah padam.
Setelah mendeham beberapa kali, akhirnya ia menjawab :
"Perempuan cantik didunia ini banyak sekali jumlahnya, aku
jadi heran dan tak habis mengerti, apa sebabnya kalian semua
pada menaruh hati terhadap diri Gak Siau cha?!”
Pemuda berbaju hijau itu mengerutkan dahinya, dengan
hambar ujarnya kembali :
"Aku tidak mempersoalkan yang lain, aku hanya ingin
bertanya keapada Shen toa-cungcu, pernahkah engkau
berjanji seperti itu kepadaku?!”
Kendatipun iman Shen Bok Hong sudah dilatih mencapai
puncak kesempurnaan, akan tetapi setelah tipu muslihatnya
terbongkar, paras mukanya tak urung berubah juga.
Dengan sepasang mata yang berkilat ia menyabut;
"Sekalipun aku orang she Shen pernah mengatakan
demikian, itupun bukan kesalahanku bagaimanapun juga Gak
Siau cha toh cuma seorang, sedangkan kalian sama-sama
berebutan minta bantuanku untuk menangkap Gak Siau cha,
apa yang bisa kulakukan kecuali memenuhi semua permintaan
kalian..?”
"Hmm! Seorang Kuncu, seorang laki-laki sejati tidak akan
memberikan janjinya secara sembarangan, aku rasa
kedudukan Shen toa-cungcu dalam dunia persilatan sangat

tinggi dan terhormat, apakah engkau tidak takut kalau
perbuatanmu itu akan ditertawakan orang?”
Cukup pedas dan tajam sindiran tersebut, paras muka Shen
Bok Hong kontan saja berubah hebat, tapi dasar licik dan
banyak akal muslihatnya, dalam kegelisahan tiba-tiba terlintas
satu akal dalam benaknya, dengan cepat dia berseru:
"Bukannya aku main janji tanpa bukti pada hakekatnya
sudah kupikirkan suatu cara yang jitu untuk mengatasi
kesulitan ini! ”
"Bagaimana caramu itu?"
”Apabila aku berhasil menangkap Gak Sian-cha. oleh sebab
dia cuma satu saja maka apabila ingin memperolehnya
menjadi istri. terpaksa kalian berdua harus menentukan
dergan mengandalkan kepandaian silat masing-masing, siapa
yarg menang maka dialah yang berhak memperistri Gak Siaucha
!”
"Memang sangat bagus cara Shen toa cungcu ini, tapi
masih kurang sempurna, bagai mana kalau turuti saja dengan
caraku?" kata pemuda baju hijau itu dengan ketus.
”Bagaimana dengan caramu itu??”
”Apabila sekarang juga kubinasakan Lan Giok tong lebih
dahulu, bukankah kita tak usah memikirkan soal-soal yang lain
lagi??”
Shen Bok Hong tertawa ewa.
"Haaah haaah haaah tentang soal ini aku sih tak dapat
mengambil keputusan bagimu !”
Apa yang dimaksudkan dengan perkataan itu sudah cukup
jelas, yakni ia tidak menampik kemungkinan si anak muda
berbaju hijau untuk membunuh musuh rivalnya di saat itu
“Kalau toh Shen toa cungcu tidak akan mengurusi pesoalan
ini, berarti urusan ini terserah pada kemauanku sendiri. Nah,

sebelum kulakukan sesuatu, terlebih dahulu ingin kuajukan
satu pertanyaan kepadamu!"
"Apa yang ingin kau tanyakan? Katakanlah! '
“Setelah kubunuh Lan Giok-tong sampai mati, apakah
masih ada orang lain yang akan berebutan Gak Siau cha
dengan diriku?”
“Menurut apa yang kuketahui, dalam dunia persilatan
memang masih terdapat orang yang mengincar Gak Siau cha,
cuma saja orang-orang itu sama sekali tak ada sangkut
pautnya dengan aku orang she-Shen, oleh karena itu bila
sampai terjadi sesuatu hal, dengan sendirinya aku orang sha
Shen akan berpihak kepadamu.”
”Akan tetapi aku justru kuatir kalau masih ada seseorang
yang akan berebutan dengan aku.”
”Apakah dia adalah salah seorang diantara anggota
perkampungan Pek hoa-sen cung?”
”Begitulah!”
”Siapakah orang itu??”
Pemuda baju hijau itu tertawa ewa, sahutnya.
”Akan kubunuh Lan Giok tong lebih dahulu, kemudian baru
kuberitahukan kepada Shen toa cungcu siapakah orang yang
kumaksudkan itu!"
Selesai berkata dia melangkah maju menghampiri Lan Giok
tong.
Dalam pada itu Lan Giok tong hanya berdiri didepan meja
abu Siau Ling dengan wajah termangu-mangu, tampaknya ia
merasa malu dan menyesal sekali atas semua perbuatan yang
telah dilakukan selama ini. Terhadap tanya jawab dari Shen
Bok Hong dan pemuda baju hijau itu bukan saja tidak
memperhatikan, bahkan menggubrispun tidak.

Sementara itu kawanan jago persilatan yang berkerumun
disekitar ruangan untuk menyaksikan jalannya pertarungan
makin lama semakin banyak ketika dilihatnya jago-jago musuh
yang datang menyatroni ternyata saling bunuh sendiri, mereka
jadi ngeri dan seram tapi ada pula yang segera menunjukkan
wajah berseri.
Melihat pemuda baju hijan itu maju menghampiri Lan Giok
tong. dengan cepat. It bun Han too mundur tiga langkah ke
belakang. dengan begitu jalan lewat bagi pemuda itupun jadi
lebih lebar.
Lan Giok tong sendiri masih tetap berdiri termangu didepan
meja abu Siau Ling, badannya tak bergerak bahkan sama
sekali tidak merasa bahwa keselamatan jiwanya terancam.
It-bun Han-to segera mendehem, tegurnya:
"Lan Giok-tong, hati-hati!"
Pemuda berbaju hijau itu segera tertawa dingin, ejeknya :
”Engkau tak usah kuatir, untuk menghadapi nanusia
sebangsa Lan Giok-tong, tak nanti aku gunakan cara
menyergap !”
Benar juga perkataannya itu, ketika mencapai jarak tiga
depa dibelakang Lan Giok tong, ia segera berhenti seraya
berkata:
“Lan-heng, sedari tadi engkau hanya berdiri termangu di
depan meja abunya Siau Ling apakah engkau merasa
menyesal karena telah memancingnya masuk kedalam
perangkap??”
Pada hakekatnya Lan Giok tong sudah bersiap sedia ketika
mendengar peringatan dari It bun Han too tadi, cuma ia tetap
berdiri serius ditempat semula, tanpa bergerak barang
sedikitpun.

Menanti pemuda berbaju hijau itu menegur, perlahan-lahan
Lan Giok tong baru putar badannya sambil menjawab :
"Perkataanmu memang benar, kini aku merasa menyesal
mengapa kupancing Siau-Ling masuk perangkap!"
"Haahhh .haahhn .haahhh. bukankah dia adalah musuh
cintamu? Bila Siau Ling tidak mampus, maka untuk selamanya
jangan harap engkau bisa mempersunting Gak Siau-cha! '
"Benar, selamanya aku memang tak bisa. mempersunting
nona Gak, akan tetapi engkau sendiripun jangan harap bisa
mendapatkannya pula. Gak Siau cha adalah seorang gadis
yang cantik jelita bak bidadari dari khayangan, apabila ingin
mencari seorang pemuda yang pantas mendampinginya, maka
orang itu sepantasnya adalah Siau Ling, bukan engkau juga
bukan aku!"
Kontan saja pemuda berbaju hijau itu tertawa dingin.
"Heehhh. Heehhh..heehhh sekalipun begitu toh saat ini
Siau Ling sudah mampus, maka sepantasnya kalau ada satu
orang di antara kita yang akan mempersunting Gak Siau cha
sebagai istrinya”
“Memang benar, ada orang yang akan mempersunting
nona Gak sebagai istrinya, cuma sayang orang itu bukan
dirimu!”
"Lantas memangnya kau ? " ejek pemuda berbaju hijau itu
sambil tertawa sinis.
"Juga bukan aku!" sahut Lan Giok tong lagi sambil
gelengkan kepalanya berulang kali.
“Kalau bukan engkau juga bukan aku, lalu siapakah orang
itu??”
“Orang itu? Dia sudah tidak berada didunia ini lagi...”
Pemuda berbaju hijau itu mendengus gusar. Tiba-tiba dia
ayun tangan kanannya kemuka seraya berseru :

"Hati-hatilah dengan seranganku ini!"
Serentetan cahaya kilat langsung meluncur kemuka dia
menotok dada Lan Giok-tong.
Meskipun pemuda itu memberi peringatan kepada
musuhnya, pada hakekatnya peringatan itu diucapkan
sementara serangannya telah dilancarkan.
Lan Giok tong bertindak cekatan, tangan kanannya segera
berkelebat kebelakang dan tahu-tahu ia sudah loloskan
pedangnya guna menangkis ancaman tersebut.
Cahaya kilat berkelebat dan...Trang ! dengan jitu ia
menyampok rontok cahaya kilat yang dilepaskan pemuda
berbaju hijau itu.
Setelah berhasil mematahkan serangan pertama, Lan Giok
tong segera menekan pergelangan tangan kanannya ke bawah
menyusul mana secepat sambaran kilat ia lancarkan dua buah
serangan berantai ke arah musuhnya.
Cahaya tajam berkilauan membelah angkasa, dengan
menciptakan dua kuntum bunga pedang secara terpisah ia
tusuk dua jalan darah penting ditubuh pemuda baju hijau itu.
Memang ampuh pemuda tersebut, sekalipun menghadapi
ancaman yang berbahaya, dia sama sekali tidak gentar, tanpa
menggeserkan kedudukan kakinya tahu-tahu ia sudah, berkelit
ke samping dan terhindar dari ancaman pedang lawan.
Cahaya kilat kembali melintas memenuhi angkasa,
bayangan pedang berlapis-lapis menyilaukan mata, diiringi
desiran angin tajam ancaman muncul tiba dari empat arah
delapan penjuru.
Dalam waktu singkat, pemuda berbaju hijau itu sudah
terkurung didalam lapisan pedang lawan.

Memang cepat dan tajam serangan pedang dari Lan Giok
tong, begitu cepatnya serangan itu sampai-sampai sukar
untuk diikuti dengan pandangan mata.
Tampaklah diantara lapisan pedang yang mengepung
seluruh angkasa, dua sosok bayangan manusia saling
menyambar ke sana ke mari dengan gencarnya..
Banyak sekali jago persilatan yang menonton jalannya
pertarungan itu dari samping gelanggang, akan tetapi jarang
mereka saksikan pertarungan seru dengan babatan pedang
secepat petir. Untuk sesaat semua orang tertegun dan berdiri
menjublak dengan mata terbelalak mulai melongo.
Di tengah berlangsungnya pertarungan yang amat sengit,
tiba-tiba terdengar jerit kesakitan berkumandang memecahkan
kesunyian, menyusul mana bayangan manusiapun saling
berpisah.
Ketika semua orang alihkan sorot matanya, tampaklah Lan
Giok-tong mundur ke belakang dengan sempoyongan,
akhirnya sambil melepaskan pedangnya ia roboh terkapar di
atas tanah.
Pemuda berbaju hijau itu memandang sekejap ke arah Lan
Giok-tong, kemudian perlahan-lahan berjalan balik ke samping
Shen Bok Hong, ujarnya sambil tertawa :
"Sungguh beruntung aku bernasib baik!.”
„Tapi aku tidak berharap sampai terjadinya peristiwa
semacam ini !” kata Shen Bok Hong dengan dahi berkerut,
Pemuda berbaju hijau itu segera tertawa.
"Sekalipun Shen toa-cungcu tidak mengharapkan terjadinya
peristiwa ini, toh engkau sama sekali tidak melarang aku
berbuat demikian bukan? Bagaimanapun juga dia adalah
seorang penghianat dari perkampungan Pek hoa san cengl”

"Benar, dia adalah seorang penghianat" sahut Shen Bok
Hong sambil tertawa ewa, ”dan siapa yang berani menghianati
aku, dia tak akan hidup bahagia didunia ini.”
Sekalian jago persilatan yang mengikuti jalannya
pertarungan dari sisi kalangan tak ada yang melihat
bagaimana caranya Lan Giok tong dilukai musuhnya, bahkan
sampai pemuda baju hijau itu sudah meninggalkan korbannya
pun mereka masih tak tahu luka apa yang telah diderita
pemuda she Lan itu, dari sini terbuktilah bahwa ilmu silat yang
dimiliki pemuda baju hijau itu memang benar-benar sangat
tangguh.
Sementara itu Shen Bok Hong sudah mendehem ringan dan
berkata:
"Andaikata aku berhasil menangkap hidup-hidup Gak Siau
cha, nona itu tentu akan kuberikan kepada Wu heng sebagai
istrimu"
"Cayhe ucapkan banyak terima kasih atas kesediaan dari
Shen toa cungcu..!" cepat pemuda baju hijau itu memberi
hormat, setelah itu dia ulurkan tangan kanannya ke depan.
"Apa-apaan kamu ini?" tanya Shen Bok Hong dengan
sangsi.
Pemuda baju hijau itu tertawa ewa, sahutnya:
“Aku hendak mengajak Shen toa cungcu untuk bertepuk
tangan sebagai tanda angkat sumpah, semoga saja setelah
memberikan janjimu pada hari ini, Shen toa cungcu tidak akan
mengingkarinya lagi dimasa mendatang.”
Shen Bok Hong termenung sebentar, akhirnya dia ulurkan
tangannya kedepan seraya berkata:
“Sepanjang hidup, belum pernah aku bertepuk tangan
dengan orang sebagai tanda mengangkat sumpah, tapi hari ini
adalah pengecualian, untuk pertama kalinya aku harus
menuruti permintaan orang.”

Pemuda baju hijau itu tersenyum.
"Wah...! Kalau begitu, Shen toa-cungcu memang
memandang tinggi diriku ini!"
Dengan gerakan yang cepat ia ulurkan tangannya dan
menepuk sekali telapak tangan gembong iblis itu.
Tiba-tiba paras muka Shen Bok Hong berubah hebat,
sepasang matanya memancarkan cahaya kilat yang
menggidikkan hati, diawasinya wajah pemuda baju hijau itu
tanpa berkedip.
Secara lapat-lapat tampaklah hawa napsu membunuh yang
amat tebal menyelimuti wajahnya. Dari sini dapatlah ditarik
kesimpulan bahwa gembong iblis yang biasanya cerdik dan
licik ini telah kena diselomoti oleh pemuda ingusan tersebut.
Dipihak lain, dengan suatu gerakan tubuh yang cepat
pemuda berbaju hijau itu sudah mundur dua langkah ke
belakang. Tegurnya sambil tertawa lebar, tertawa yang penuh
dengan ejekan:
“Beberapa hari berselang, bukankah toa-cungcu telah
melakukan sesuatu diatas badanku??”
“Melakukan sesuatu apa??
Tiba-tiba paras muka pemuda berbaju hijau itu berubah
hebat. senyuman yang semula menghiasi bibirnya tiba-tiba
lenyap tak berbekas, dengan dingin dan ketus katanya:
“Bukankah engkau telah menotok sabuah urat nadi
anehku??
Mendengar perkataan itu, Shen Bok Hong segera
menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haahhh..haaah... haaahhh, selama hidup aku paling
kagum dan menaruh hormat kepada orang yang brilian dan
berotak encer, dan kenyataan membuktikan bahwa engkau
mampu mengecundangi aku tepat di hadapan khalayak umum

padahal aku selalu waspada dan bertindak cukup berhati-hati,
tapi toh akhirnya kena diselomoti juga olehmu, kehebatan dan
kelihayanmu ini sangat mengagumkan hatiku”
Pemuda berbaju hijau itu segsra mendengus dingin.
"Hhmmm! Shen toa cungcu terlalu memuji, berbicara yang
sesunguhnya akulah yang pantas merasa kagum oleh
kehebatan cungcu!"
Beberapa patah kata tanya jawab itu sebentar diucapkan
dengan nada bersahabat, sebentar lagi bernada bermusuhan,
kontan saja membuat kawanan jago persilatan yang berada di
sekitar gelanggang jadi melongo dan berdiri menjublak.
Sampai-sampai Bu wi to tiang dan Sun Put shia yang
berpengalaman pun terkesima dibuatnya..
Hanya It bun Han to seorang yang masih tetap bersikap
tenang, ia sama sekali tidak tertarik oleh kejadian itu, sebab
dalam pandangannya peristiwa tipu menipu, sergap
menyergap sudah merupakan kejadian yang umum, sedikitpun
tiada sesuatu yang menarik hatinya lagi.
Dalam waktu singkat ketenangan dari Shen Bok Hong telah
pulih kembali seperti sedia kala, ia tertawa ewa dan berkata :
"Wu-heng, bolehkah aku mengajukan suatu pertanyaan
kepadamu?!”
"Aaah, perkataan diri Shen toa-cungcu terlalu serius,
apabila toa-cungcu ada sesuatu pesan, silahkan diutarakan
saja secara terus terang!"
“Bolehkah aku tahu racun keji apakah yang telah digunakan
Wu-heng untuk menyelomoti diriku barusan?!”
"Oooh.. sederhana sekali racunnya, sewaktu bertepuk
tangan tadi secara diam-diam aku telah sembunyikan
sebatang jarum beracun di antara sela-sela jari tanganku,
maka ketika saling bertepuk tangan tadi, secara otomatis
jarum itu sudah menusuk di tangan Shen toa-cungcu”

“Tentang soal ini aku sudah tahu. aku hanya ingin bertanya
kepadamu sampai kapankah racun diujung jarummu itu baru
akan bereaksi?”
"Jarum beracun milikku itu bernama Jit lok ciam, apabila
yang tertusuk bukan tempat yang mematikan maka tujuh hari
kemudian racun itu baru akan bereaksi, apabila sari racun
telah menyerang kedalam jantung maka sekalipun ada obat
dewa juga jangan harap bisa selamat. Sebaliknya apabila
sebelum batas waktunya habis racun itu bisa ditawarkan,
tentu saja engkau akan selamat tanpa cidera!"
"Jadi Wu-heng membawa obat pemunahnya?"
"Ooh .! Terlalu berbahaya membawa obat perawar itu
dalam saku, apalagi orang yang harus kuhadapi adalah
manusia cerdik seperti Shen toa cungcu. Membawa obat
penawar dalam saku sama halnya dengan perbuatan manusia
goblok?"
"Lalu engkau simpan di mana obat penawar tersebut?"
"Aku sembunyikan di dalam tubuh seekor ular beracun!"
"Sungguhkah perkataanmu itu?” tanya Shen Bok Hong
dengan wajah agak tertegun.
"Selama hidup aku tak pernah bicara bohong!”
“Andaikata ular beracan itu sampai dibunuh orang,
bagaimana jadinya..?!’
‘Oooh soal itu tak perlu kuatir, aku toh hapal dengan
resepnya, kalau obat itu hilang maka segera kita bikinkan obat
penawar yang baru!"
“Berapa lama yang dibutuhkan untuk membuat obat
dengan resep baru ini..?!” tanya Shen Bok Hoag sesudah
berpikir sebentar.
“Kurang lebih yaa.. tiga hari begitulah !”

"Waah. kalau begitu masih cukup waktu bagiku untuk
menunggu sampai engkau buatkan obat penawar yang baru
kepadaku?!”
“Asalkan aku masih hidup dengan segar bugar. dan Shen
toa-cungcu juga bersedia menepati janji, tentu saja engkau
tidak akan sampai mati.."
Setelah berhenti sebentar untuk tukar napas, sambungnya
kembali :
“Akupun ingin mengajukan satu persoalan kepada Shen toa
cungcu, aku harap cungcu bersedia untuk menjawabnya pula.”
“Soal apa?!”
“Mengenai ilmu apakah yang telah dipergunakan Shen loacungcu
menotok diriku?”
“Bukan Wu-heng telah menjawab sendiri pertanyaan itu?
Aku telah menotok sebuah urat anehmu!"
"Aku lihat caramu menotok jalan darah tersebut sangat
istimewa sekali, aku telah mencoba mengerahkan tenaga
untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan itu, tapi
walaupun telah dicoba selama dua jam pun tiada manfaat
apa-apa!”
"Tentu saja saudara Wu tak akan berhasil memecahkan
totokanku itu, sebab jalan darah anehmu itu sudah kutotok
dengan suatu cara penotokan hiat-to yang aneh dan
istimewa!”
"Sampai kapankah penyakit yang timbul akibat totokan dari
Shen toa cungcu itu akan kambuh?”
"Kurang lebih setengah bulan lamanya apabila aku tidak
memberikana pertolongan maka setengah bulan kemudian
luka itu akan mulai kambuh dan bekerja, sehingga akhirnya
engkau akan muntah darah dan tewas"

“Ooh.. tidak menjadi soal, itu berarti racun yang mengeram
dalam tubuh Shen toa cungcu bekerja jauh lebih cepat dari
padaku, dan aku percaya jiwaku tak sampai melayang!”
Shen Bok Hong tertawa dan mengangguk.
"Tentu saja aku tak akan membiarkan saudara Wu tewas
ditangan orang mulai detik ini juga aku orang she Shen harus
memberi perlindungan khusus kepadamu.”
“Sudah selesaikah pembicaraan kalian berdua?" It-bun Han
to menyela dari samping.
"Apakah saudara It-bun hendak mengatakan sesuatu?"
tegur Shen Bok Hong sambil tertawa ewa.
”Merurut pengelihatanku, Lan Giok-tong sudah hampir
menemui ajalnya, apakah kalian tidak akan memberikan
pertolongan kepadanya??”
Shen Bok Hong melirik sekejap kearah Lan Giok tong yang
sekarat di atas tanah lalu sahutnya:
“Serangan dari saudara Wu biasanya lihay dan luar biasa,
aku pikir orang biasa tak nanti bisa menyelamatkan jiwanya!”
It bun Han too tertawa hambar ucapnya:
“Sekalipun antara aku dan Lan Giok tong berdiri pada posisi
saling bermusuhan, akan tetapi aku tak ingin membiarkan dia
mati konyol ditempat ini !”
“Haaah haaahh haaahh heran, sungguh mengherankan,
sedari kapankah saudara It-bun berubah jadi seramah dan
semulia ini?.”
“Seorang manusia kadangkala memang perlu melakukan
perubahan atas perbuatan sendiri, biasanya orang yang baik
akan berubah jadi jahat dan orang jahatpun banyak yang
berubah jadi baik.”

"Hmml Kalau kudengarkan pembicaraanmu itu, rupanya
engkau ada maksud hendak selamatkan jiwanya?”
"Begitulah maksudku!”
''Engkau sanggup untuk selamatkan jiwanya?”
"Manusia akan berusaha dan Thianlah yang menentukan!”
Kontan saja Shen Bok Hong tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeehhh. heeehhh. heehhh. saudara It bun, kalau engkau
bersedia merawat jenasah seseorang yang tak kau kenal,
perbuatanmu ini benar-benar suatu perbuatan yang mulia,
siapa tahu nama besarmu akan dikenang selalu di hati setiap
pendekar!”
It bun Han to sama sekali tidak menggubris sindiran Shen
Bok Hong yang sangat tak sedap didengar itu, dengan suara
lantang ia segera berseru:
"Gotong saudara itu kedalam dan berikan pertolongan
pertama!”
Dari belakang layar meja abu muncullah dua orang laki-laki
berbaju ringkas warna hitam, dengan cepat mereka
menggotong Lan Giok tong untuk mengundurkan diri dari situ.
Pemuda berbaju hijau itu mendengus dingin, ditatapnya
sekejap paras muka It bun Han to dengan sorot mata tajam,
kemudian katanya:
“Menurut berita yang kudengar, katanya dimasa lampau
engkau juga pernah berbakti untuk pihak perkampungan Pek
hoa sancun?”
“Benar, seperti pula dirimu, aku ditipu oleh janji-janji manis
yang muluk dari Shen toa-cungcu!"
“Aku dengar kepandaian silatmu sangat hebat selain itu
ilmu pengetahuanmu juga hebat, bukan saja pernah membaca
sepuluh laksa jilid kitab, ilmu perbintangan, ilmu meramal,

ilmu pertabiban dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya hampir
dikuasai semua olehmu, benarkah kabar berita itu semua?!”
Dari sinar mata musuhnya yang berkilat, It bun Han to bisa
menebak bahwa musuhnya ini bermaksud tidak beres, maka
walau pun diluaran dia layani pembicaraan orang, sementara
diam-diam hawa murninya disalurkan keseluruh badan untuk
bersiap dia menghadapi segala kemungkinan yang tidak
diinginkan.
“Engkau terlalu memuji !” sahutnya.
Pemuda baju hijau itu menjengek dingin, kembali katanya :
“Aku tidak bermaksud memuji engkau, tapi ingin coba
memuji engkau sampai dimanakah kepandaian dan
pengetahuan yang kau miliki!”
“Apa yang hendak kau tanyakan?!”
“Apakah engkau menyaksikan bagaimana caraku melukai
Lan Giok tong ?” tanya pemuda itu sambil menatap lawannya
tajam-tajam.”
Dengan cepat It-bun Hion-to menggeleng.
“Aku tidak melihatnya, akan tetapi aku dapat menduga
bagaimana caranya engkau lukai korbanmu!"
Ucapan tersebut sangat mengejutkan semua jago
persilatan yang hadir disekitar tempat itu, sampai-sampai Sun
Put-shin sendiripun segera berpikir dengan dahi berkerut :
“'Masa ketajaman penglihatannya jauh lebih hebat dari aku
si pengemis tua..? Sungguh mencengangkan!"
Tapi ingatan lain kembali melintas dalam benaknya, siapa
tahu kalau secara diam-diam ia telah mengadakan persiapan
dan memperhatikan dengan seksama saat ketika Lan Giok
tong terluka, maka rasa heran pun jauh lebih berkurang.
Pemuda baju hijau itu segera tertawa dingin, ejeknya:

"Kalau engkau bisa menduganya dengan tepat itulah
menandakan kamu memang hebat, tapi aku masih kurang
percaya., boleh kah aku tahu dengan benda apakah kulukai
lawanmu?”
“'Ia bukan terluka oleh ilmu silatmu yang tinggi, tapi roboh
karena terkena sergapanmu yang licik!”
"Dalam suatu pertarungan apabila bukan terluka maka
seseorang pasti mati, melukai orang dengan senjata rahasia
toh bukan sesuatu kejadian yang luar biasa?”
"Tapi aku yakin senjata rahasia yang kau gunakan jauh
berbeda dengan senjata rahasia biasa!”
Paras muka pemuda berbaju hijau itu kontan berubah
hebat.
"Dimana letak perbedaannya?” ia berseru.
"Senjata rahasia itu bukan saja kecil dan lembut bahkan
bukan sebangsa jarum beracun atau paku beracun, senjata
rahasia yang kau gunakan adalah sebuah senjata rahasia yang
hidup!”
"Heeeh heeeh heeeeh engkau tahu enak mahluk apakah
yang telah kugunakan?" seru pernuda itu lagi sambil tertawa
dingin tiada hentinya.
It-bun Han-too tersenyum:
“Aku cuma tahu kalau binatang itu bukan ular beracun,
melainkan jenis binatang beracun yang kecil dan lembut,
apakah nama binatang itu maaf .... aku tak bisa menebaknya.”
"Jadi kalau begitu, tebakanmu hanya bisa dibenarkan
separuh saja!" kata pemuda tadi.
Tiba-tiba dia ayunkan tangan kanannya kedepan, sekilas
cahaya hitam segera meluncur keluar dari balik ujung bajunya.

Kali ini It-bun Han to telah bersiap sedia, dengan cekatan
dia mengigos ke samping sementara telapak tangan kanannya
segera melancarkan sebuah babatan kilat.
Selisih jarak antara kedua orang itu sangat dekat, meskipun
It bun Han to telah bersiap sedia, tidak urung terlambat juga
waktu menghindarkan diri tak ampun mahluk hitam tersebut
segera menempel diujung bajunya.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara bentakan merdu
berkumandang memecahkan kesunyian:
“It bun sianseng, jangan bergerak !”
Di tengah bentakan nyaring, tampaklah cahaya perak
berkelebat lewat dan langsung menyambar keujung baju Itbun
Han to.
Makhluk hitam yang menempel diujung baju It bun Han to
itu segera bergetar keras akhirnya rontok ke atas tanah.
Kiranya makhluk hitam itu tidak lebih adalah seekor
kelabang yang panjangnya tiga cun, waktu itu kelabang
tersebut sudah menggeletak di tanah dengan badannya
tertembus oleh sebatang jarum perak, sesudah berkelejit
setentar akhirnya matilah binatang itu.
Pemuda berbaju hijau itu memandang sekejap kearah
kelabangnya yang telah mati kemudian katanya :
"Sungguh keji dan beracun jarum perak ini!"
It-bun Han-to ikut menengok pula kearah jarum perak
diatas tanah, tentu saja dia pun kenali jarum itu sebagai jarum
beracun Han tok peng pok ciam dari Pak hay, atau dengan
perkataan lain Pek li Peng lah yang telah menyelamatkan
jiwanya.
Dalam hati segera pikirnya :
"Syukur ada nona Pek-li yang telah selamatkan jiwaku,
kelabang tersebut sudah pasti adalah seekor makhluk yang

sangat beracun, setelah ia menempel diujung bajuku, tidak
gampang untuk membuangnya keatas tanah. Aai..! Untung
racun keji dari Han tok peng pok ciam adalah racun keji yang
mampu membinasakannya, bila aku sampai tergigit oleh
kelabang beracun itu, entah bagaimana jadinya?!”
Sementara itu pemuda berbaju hijau itu telah berkata
dengan dingin :
“Siapakah nona itu? Untung ada nona itu yang
menyelamatkan jiwamu, kalau tidak selembar jiwamu sudah
pasti akan melayang ditangaaku !”
Dengan suara yang lantang ia segera ber seru:
“Siapakah yang telah melepaskan jarum beracun hingga
membinasakan kelabang beracunku? Beranikah engkau
unjukkan diri?'.
Dipihak lain Pek-li Peng merasa tidak tentram setelah
melepaskan jarum beracun Han tok-deng-pok-ciamnya untuk
selamatkan jiwa It-bun Han-to. dalam hati segera pikirnya:
“Kalau Shen Bok Hong kenali jarum han-tok-peng-pok ciam
milikku ini, sudah pasti dia akan tahu bahwa aku masih hidup
di kolong langit, masih mendingan kalau cuma rahasiaku
ketahuan, kalau sampai membuat toako jadi marah kan
berabe...?”
Karena pendapatnya inilah maka ia tidak menggubris
tantangan dari pemuda berbaju hijau itu, kendatipun
lawannya berkaok-kaok dengan kata yang pedas, ia tetap
tidak mau unjukkan diri.
Sementara Pek li Peng masih termenung dengan perasaan
gelisah, tiba-tiba terdengar Shen Bok Hong menjerit tertahan:
"Haaah..?! Jarum Han-peng ciam dari Pak hay.."
Suaranya begitu kaget, seakan-akan dipagut ular beracun
secara mendadak.

"Benar, jarum itu adalah Han tok peng pok ciam dari Pak
hay" sabut It bun Han to dengan tenang, "Sungguh luas
pengetahuan Shen toa cungcu sehingga jarum andalan dari
Pak hay juga kau kenali!"
Hebat sekali perubahan wajah dari Shen Bok Hong.
"Jadi.. jadi kalau begitu. Pek li Peng masih hidup di dunia
iri?" serunya agak tergagap
Bukannya menjawab. It-bun Han-to malahan balik
bertanya:
“Tampaknya engkau amat takut untuk berhadapan dengan
Pak thian Cuncu??”
"Benarkah Pek li Peng masih hidup?" seru Shen Bak Hong
lagi sambil menatap wajah It bun Han to tanpa berkedip.
“Kalau dia masih hidup, kami semua akan bersyukur dan
bergembira ria, kalau dia mati...Pak thian Cuncu hanya
mempunyai seorang putri, sudah pasti dia akan datang
membuat perhitungan dengan dirimu.”
Jawaban ini sangat diplomatis, bukan saja sama sekali tidak
menerangkan apakah Pek li Peng masih hidup atau sudah mati
bahkan sepintas lalu kedengarannya menunjukkan sesuatu,
tapi setelah dipikir kembali ternyata tak tahu apa yang
dimaksudkan.
Shen Bok Hong yang cerdas dan berotak brilian dibuat
kebingungan juga oleh jawaban tersebut, dengan wajah
tertegun dan tidak habis mengerti ujarnya:
"Jadi maksudmu, pihak istana salju dari Pak hay telah
mengutus jago lihaynya ke mari?”
It bun Han to tertawa dingin.
"Kita berdiri dalam posisi saling bermusuhan, aku rasa tidak
menjadi kewajibanku bukan untuk memberi keterangan yang
jelas kepada kau Shen toa cungcu.”

"Aku dengar suara perempuan yang memberi peringatan
tadi tak lain adalah orang yang melepaskan jarum beracun,
perempuan itu pastilah Pek li Peng adanya!”
"Kalau nona Pek li masih hidup di dunia ini, sudah pasti
Siau Ling pun masih hidup segar bugar di sekitar tempat ini!”
sambung It bun Han to sambil tertawa ewa.
Tiba-tiba Shen Bok Hong menengadah dan tertawa
terbahak-bahak.
“Haaahhh haaahhh haaahhh dari orang orang istana salju
di Pak hay, toh bukan Pek li Peng seorang yang mampu
menggunakan jarum beracun Han tok peng-pok-ciam secara
jitu !.”
“Jarum Han tok peng pok ciam merupakan senjata rahasia
khusus dari istana salju di Pak hay, tentu saja setiap anggota
Pak hay kiong sanggup mempergunakan senjata rahasia itu.
Semua orang sudah mengetahui akan hal ini, aku rasa Shen
toa cungcu tak usah memberikan penjelasan lagi.”
“Oooh ..! Jadi kau maksudkan, asal orang yang berada di
balik meja abu itu adalah anggota istana salju dari Pak hay,
maka ia sanggup melepaskan jarum Han tok peng pok ciam
tersebut??”
It bun Han to kembali tertawa hambar.
“Terserah apa yang hendak Shen toa cungcu pikirkan! Mau
kau anggap Pek li Peng masih hidup juga boleh mau anggap
dia sudah mati terbakar oleh siasat busukmu juga boleh, tapi
bila engkau ingin menyelidiki kabar berita dari mulutku, lebih
baik tunggu saja sampai fajar menyingsing dari arah barat!”
"Hmmm ! Ternyata engkau benar-benar licik dan banyak
akalnya”
“Aaah, sama sama....sama sama... kita toh ibaratnya setali
tiga uang, sedikitpun tidak ada bedanya.”

Shen Bok Hong menggubris musuhnya lagi, ia berpaling
kearah Kim hoa hujin dan tanyanya dengan lirih:
"Berapa macam binatang beracun yang kau bawa?“
"Tiga macam?
"Bagus! Apabila ada orang berani menghalangi jalan pergi
kita, gunakanlah ketiga jenis binatang beracun itu sekaligus.."
Setelah berpesan kepada perempuan suku Biau itu,
gembong iblis tersebut berpaling pula kearah pemuda baju
hijau seraya menambahkan:
"Demikian pula dengan saudara Wu, apabila mendapat
perintahku nanti, harap semua jenis binatang beracun yang
dibawa dilepaskan semua secara bersamaan waktunya.”
Pemuda berbaju hijau itu mengalihkan pandangannya ke
samping dan memandang sekejap kearah Kim hoa hujin, lalu
ucapnya:
"Aku dengar orang mengatakan bahwa hu jin pandai sekali
menjinakkan pelbagai macam binatang beracun,
bagaimanakah caramu melepaskan serangan maut itu? Hari ini
akan kupentang mataku lebar-lebar untuk menyaksikan
kehebatanmu itu!”
Perlahan-lahan Kim hoa hujin membereskan rambutnya
yang kusut, lalu sambil tertawa ia menjawab :
"Sampai sekarang aku masih belum tahu sebenarnya
engkau adalah sahabat ataukah musuh, tapi perduli amat
siapakah engkau, apa maksudmu berkata demikian
kepadaku?!”
Pemuda berbaju hijau itu tertawa ewa.
“Hal ini kulakukan oleh karena aku sendiri pun sedikit
memahami bagaimana caranya melepaskan serangan dengan
makhluk beracun. Ingin kusaksikan apakah cara orang

Tionggoan melepaskan serangan dengan binatang beracun
punya kesamaan dengan cara kerja orang suku Biau"
"Aaah. ! Soal itu gampang sekali untuk diselesaikan,
selewat hari ini kita bisa mencari suatu tempat untuk saling
menjajal sampai dimanakah kemampuan yang dimiliki masingmasing
pihak, dengan begitu menang kalah kan bisa segera
kelihatan!"
“Bagus... bagus sekali usul ini, setelah aku munculkan diri
kedalam dunia persilatan, akupun tidak mengharapkan ada
orang lain yang pandai pula menggunakan bintang beracun.
Siapa yang unggul dialah yang berhak untuk menguasai
daratan Tionggoan.. baik akan kunantikan sampai tibanya saat
itu”
Diam-diam kawanan jago persilatan yang hadir di sekitat
ruang abu itu merasa bergidik oleh kekejian kaum iblis itu.
Terbayang betapa ngeri dan seramnya pertarungan antara
binatang beracun melawan binatang beracun, tanpa terasa
bulu kuduk mereka pada bangun berdiri, hampir saja mereka
muntah-muntah saking mualnya.
Dengan wajah yang amat serius, Shen Bok, Hong berkata
kembali:
“Saudara Wu, engkau adalah tamu terhormat dari aku
orang she Shen, sedangkan dalam situasi seperti ini keadaan
kita boleh dibilang senasib sependeritaan, aku harap dalam
keadaan yang sangat kritis ini janganlah sampai terjadi
perpecahan lebih dahulu, diantara kekuatan sendiri!"
Pemuda berbaju hijau itu tersenyum.
"Shen toa cungcu tak usah kuatir, mesti pun pertandingan
adu racun sudah kami tetapkan, akan tetapi saat
berlangsungnya pertarungan tersebut masih amat lama"
“Persoalan yang akan dilangsungkan di kemudian hari lebih
baik dibicarakan dikemudian hari saja, kini Gak Siau cha toh

sudah meninggalkan tempat ini, tak ada gunanya bagi kita
untuk berdiam terlalu lama lagi di sini ...!”
Pemuda berbaju hijau itu tidak langsung menjawab.
Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ia baru dapat
berkata:
"Kenapa kita musti buru-buru pergi dari sini? Aku justru
merasa bahwa disaat dan keadaan seperti ini adalah
merupakan saat yang paling tepat bagi Shen toa cungcu untuk
membuat perhitungan dengan diriku!”
"Apa maksudmu dengan perkataan itu??” tanya Shen Bok
Hong agak tertegun.
"Sangat sederhana, sudah lama aku ingin menerangkan
beberapa persoalan kepada diri Shen toa cungcu, tapi oleh
sebab saatnya belum tiba sehingga dikatakan juga tiada
manfaatnya, dan lagi belum-belum Shen toa cungcu sudah
menohok sebuah jalan darah anehku lebih dahulu, membuat
aku jadi terdesak posisinya dan terpaksa musti menahan diri,
maka kutunggu kesempatan yang baik sampai sekarang ini.”
Setelah berbeati sebentar, ia melanjutkan:
Kini Shen toa cungcu sudah tertusuk oleh jarum beracunku,
dan berarti keadaan kembali berubah, sekalipun posisinya
masih tak menguntungkan diriku, paling sedikit keadaan kita
tetap seimbang, apabila kesempatan sebaik ini tidak
kumanfaatkan sebaik-baiknya, bukankah itu berarti bahwa aku
telah menyia-nyiakan suatu peluang baik??”
Sebisa mungkin Shen Bok Hong menahan hawa amarah
yang berkobar dalam dadanya ia berkata:
''Baik, syarat apakah yang hendak kau ajukkan? Hayo
segera utarakan keluar, aku Shen Bok Hong yakin masih
sanggup untuk memenuhinya!"
“Pertama, mengenai soal kedudukanku dengan kedudukan
Shen toa cungcu adalah sederajat dan seimbang, maka dalam

sebutanpun kita adalah berada di satu tingkatan yang sama
pula.”
Shen Bok Hong segera mengangguk.
“Tentang soal ini tentu saja ! Kan selama ini aku tak pernah
menganggap saudara Wu sebagai anak buahku??”
“Kedua, kesediaanku membantu kau untuk menghadapi
Siau Ling dan orang gagah di seluruh kolong langit bukanlah
didasarkan karena aku memuji kehebat dan kelihayan Shen
toa-cungcu. sebaliknya hanya disebabkan karena Gak Siaucha.
Asalkan Gak Siau cha munculkan dirinya sekali lagi, maka
Shen toa cungcu harus menggunakan semua tenaga yang kau
miliki untuk membantu aku menawannya hidup-hidup.”
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh.
“Sekali lagi kuterangkan kepadamu, aku berharap agar
engkau menangkap Gak Siau cha dalam keadaan hidup-hidup,
tidak boleh membuat ia jadi cedera ataupun terluka. Mungkin
saja untuk melaksanakan tugas tersebut banyak sekali jagojago
dari perkampungan Pek hoa san cung akan terluka atau
tewas !”
"Tentu saja, asal saudara Wu membantu aku, dengan
sendirinya akupun akan menangkap Gak Siau cha sebagai
balas jasaku atas bantuan dari saudara!''
Memang mengenaskan sekali keadaannya waktu itu, Shen
Bok Hong yang gagah perkasa dan selalu dihormati orang,
ternyata harus menyerah kalah dan menuruti permintaan
seorang pemuda yang masih ingusan, apabila bukan
disaksikan mata kepala sendiri, siapapun tak akan
mempercayainya.
Sementara itu pemuda berbaju hijau tersebut telah
tersenyum dan berkata lagi:
"Tadi bukankah pernah kukatakan bahwa dalam
perkampungan Pek hoa sancung masih terdapat seseorang

yang mungkin merupakan sainganku untuk mendapatkan Gak
Siau cha. apakah Shen toa cungcu masih ingat?”
"Masih ingat, siapakah orang itu?”
"Engkau, Shen toa cungcu!”
Mula-mula Shen Bok Hong tertegun, akhirnya sambil
mengelus jenggotnya ia tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh haaahhh haaahhh aku kan sudah tua dan peyot,
masa aku punya minat untuk berebutan dengan angkau?
"Mungkin saja orang lain bisa kau kibuli, akan tetapi jangan
harap bisa mengelabuhi aku dengan gampang.”
Shen Bok Hong gelengkan kepalanya berulang kali.
“Apa yang harus kulakukan, sehingga membuat engkau jadi
percaya?!” tanyanya kemudian.
“Aku tidak mengharapkan buktimu, kubongkar rahasiamu
ini di hadapan umum. Tujuanku tak lain agar engkau tahu
bahwa aku sudah mengadakan persiapan untuk menghadapi
engkau. Apabila kau mempunyai ingatan tersebut maka lebih
baik dilenyapkan saja mulai sekarang, daripada nantinya
menghadapi kesulitan dan banyak kerepotan bagi diri sendiri.”
Betapa gusarnya Shen Bok Hong sukar dilukiskan dengan
kata-kata, dengan mata melotot besar dan muka merah
padam menahan emosi, ia membentak nyaring:
"Saudara Wu, selama hidup belum pernah aku mengalah
kepada orang lain, baru pertama kali ini aku bersedia
mengalah kepadamu. Aku harap engkau janganlah bertindak
kelewat batas!"
"Haahhh..haahhh..hhh.." pemuda berbaju hijau itu tertawa
terbahak-bahak, dia segera alihkan pembicaraan ke soal lain.
"Bukankah kita akan berlalu dari sini ? Biar akulah yang
membukakan jalan untukmu!"

Dengan langkah lebar ia segera berjalan menuju ke pintu
gerbang di depan ruangan itu.
Shen Bok Hong memandang sekejap ke arah It bun Han to,
kemudian ujarnya dengan nyaring:
"Aku hendak mohon pamit, bagaimana menurut pendapat
saudara It bun?'
"Lihat saja nasib kalian, mujur atau sedang sial!” jawab Itbun
Han to hambar.
Shen Bok Hong mengerutkan dahinya. Ia tidak banyak
berbicara lagi, mengikuti di belakang pemuda berbaju hijau itu
mereka segera berjalan menuju ke luar.
It bun Han to alihkan sorot matanya ke arah pintu ruangan.
Ia temukan kakek baju kuning yang bersenjata toya bambu itu
masih berdiri tak bergerak ditempat semula.
Kelihayan pemuda berbaju hijau itu, terutama
kemampuannya melukai orang dengan senjata rahasia
makhluk hidup telah menggetarkan hati kawanan jago. Ketika
semua orang menyaksikan kedatangannya, kebanyakan lantas
menyingkir ke samping dan membuka jalan baginya, hanya
kakek berbaju kuning itu masih tetap berdiri tak bergerak dari
tempat semula.
Shen Bok Hong dan Kim hoa hujin telah tiba di depan pintu
ruangan menyusul di belakang pemuda berbaju hijau itu.
“Lotiang, aku lihat usiamu sudah tua!” tegur pemuda
berbaju hijau itu dengan dingin.
Kakek berbaju kuning itu tetap berdiri tak berkutik di
tempat semula, begitu kaku badannya ibarat sebuah patung
arca, bukan saja tidak menggubris perkataan pemuda itu,
bahkan melirik pun tidak.
Pemuda berbaju hijau itu segera tertawa dingin, cepat
tangan kanannya mengambil keluar seekor kelabang

sepanjang tiga cun yang berwarna merah dari dalam sukunya,
kemudian sekali timpuk, kelabang itu lemparkan keatas wajah
kakek baji kuning tadi.
Dalam hati kecilnya It-bun Han to telah menduga bahwa
kakek berbaju kuning itu kemungkinan besar adalah
penyaruan dari Siau Ling, akan tetapi mengingat betapa keji
dan beracunnya kelabang tersebut, sedikit banyak ia merasa
kuatir juga bagi keselamatan jiwanya, apalagi setelah
dilihatnya kakek itu tetap tenang menghadapi datangnya
ancaman tersebut.
Siapa tahu dikala kelabang itu hampir mengena di
hidungnya, mendadak kakek berbaju kuning itu menyampok
ke muka dan kelabang tersebut sudah ditangkap dengan
tangannya, menyusul mana sekali timpuk dia mengembalikan
kelabang itu kaarah tubuh Shen Bok Hong.
DaIam hal ilmu silat kemampuan Shen Bok Hong memang
sangat lihay, akan tetapi ia tak berani menerima datangnya
ancaman tersebut dengan sambutan tangan seperti apa yang
dilakukan kakek berbaju kuning itu.
Cepat ujung bajunya dibebaskan ke depan. Segulung angin
pukulan yang tajam segera menyapu rontok kelabang
tersebut.
"Maaf..maaf., sungguh tak nyana engkau adalah seorang
tokoh lihay dalam menghadapi binatang beracun..!” terdengar
pemuda berbaju hijau itu memuji dengan suara nyaring.
Ia maju ke muka, secepat sambaran kilat tangan kanannya
meluncur ke depan dan mencengkeram pergelangan tangan
kanan sang kakek baju kuning yang memegang toya bambu
itu.
Sungguh cepat serangan itu, akan tetapi ketenangan yang
dimliki kakek baju kuning itupun Iuar biasa, ditunggunya
sampai kelima jari tangan kanan pemuda itu hampir
menempel di atas urat nadi pada pergelangan kanannya

sebelum tiba ia berkelit ke samping dan tahu-tahu toyanya
sudah disodok ke depan dan menghajar telak persendian
tulang sikut di tangan pemuda itu.
Gerak serangan yang digunakan kakek berbaju kuning itu
sangat sederhana, bahkan boleh dibilang tiada sesuatu yang
luar biasa, akan tetapi ancaman itu sama sekali tak mampu
dihindari oleh pemuda berbaju hijau itu..
Sebelum ia sempat berkelit, tahu-tahu sodokan toya itu
sudah menghajar sikut lengan kanannya.
Sungguh dahsyat tenaga yang dipancarkan keluar dari
sodokan toya itu, setelah terkena serangan seketika itu juga
pemuda berbaju hijau itu merasakan lengan kanannya jadi
kaku dan kesemutan buru-buru dia melompat mundur tiga
langkah ke belakang.
Kakek berbaju kuning itu sama sekali tidak mengejar
musuhnya, ia tetap berdiri kaku di tempat semula.
Sementara itu pemuda berbaju hijau tadi sudah mundur
tiga langkah ke belakang, lengan kanannya tampak
tergantung lemas ke bawah dari situ dapatlah ditarik
kesimpulan bahwa luka yang diderita pada lengan kanannya
itu cukup parah.
Penuda baju bijau itu berpaling dan memandang sekejap ke
arah Shen Bok Hong, kemudian ia berdiri tak berkutik di
tempat itu. Diam-diam hawa murninya dihimpun menjadi satu
dan berusaha untuk melancarkan kembali peredaran darah di
atas lengannya.
Sekilas rasa kaget dan tercengang berkelebat di atas wajah
Shen Bok Hong. Selangkah demi selangkah ia maju mendekati
pintu gerbang, kemudian sesudah memandang sekejap ke
arah kakek baju kuning itu dengan pandangan dingin,
tegurnya :
"Siapakah namamu?!”

Dengan sepasang sorot matanya yang tajam bagaikan
sembilu kakek berbaju kuning itu menatap wajah Shen Bok
Hong tak berkedip, mulutnya tetap membungkam dalam
seribu bahasa.
Shen Bok tetawa dingin, kembali ujarnya:
“Aku rasa englau jarang sekali melakukan perjalanan dalam
dunia persilatan??”
“Benar !”
Tampaknya kakek itu sangat takut kalau terlalu banyak
berbicara, maka jawaban tersebut sangat singkat tapi jelas.
Shen Bok Hong tersenyum, ujarnya lebih jauh:
“Kalau toh engkau jarang sekali melakukan perjalanan di
dalam dunia persilatan, dus berarti pula tiada ikatan dendam
atau sakit hati dengan diriku, lalu apa maksudmu menghalangi
jalan pergiku??
"Sudah lama kudengar perbuatan busukmu, ternyata kabar
berita itu bukan kabar bohong!"
Suara jawabannya sangat aneh seakan-akan setiap patah
kata yang diucapkan keluar harus dipantulkan lebih dahulu
dengan lidahnya hingga kedengarannya jadi kaku.
Shen Bok Hong mengerutkan dahinya.
“Jadi kalau begitu, perbuatanmu kau lakukan karena
perasaan tidak puas??”
Kakek berbaju kuning itu mendengus dingin tanpa
menjawab.
"Heeehhh heeehhh heeehhh apakah aku boleh tahu siapa
namamu?” tanya gembong iblis itu sambil tertawa dingin.
“Tidak boleh!”

Tiba-tiba Shen Bok Hong angkat tangan kanannya dan
melancarkan sebuah pukulan gencar ke arah depan.
Kakek berbaju kuning itu sama sekali tidak berkelit ataupun
menghindar, dengan telapak tangan kirinya dia sambut
datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaaang..!" suatu benturan keras yang memekikkan telinga
segera menggelegar di angkasa, sepasang telapak tangan itu
saling beradu satu sama lainnya.
Sekujur badan Shen Bok Hong gemetar keras, sedangkan
kakek baju kuning itu terdorong mundur dua langkah ke
belakang.
Dalam benturan keras lawan keras yang barusan
berlangsung ini, kedua belah pihak sama-sama menggunakan
tenaga dalamnya yang paling sempurna, tentu saja hebat juga
akibatnya.
Shen Bok Hong segera tertawa dingin ujarnya:
'"Tidak aneh kalau engkau tekebur dan jumawanya luar
biasa, ternyata punya juga kepandaian yang diandalkan. Nah,
sambutlah kembali sebuah pukulanku ini!"
Di tengah bentakan nyaring, kembali dia lancarkan sebuah
babatan tajam dengan menggunakan tangan kanannya.
Angin pukalan yang dihasilkan oleh pukulan itu luar biasa
dahsyatnya, sebelum serangan Itu tiba di tempat sasarannya,
seluruh ruang abu itu sudah bergoncang keras akibat
terhembus oleh pukulan dahsyat tadi.
Kakek berbaju kuning itu sama sekali tidak mau mengalah
kepada musuhnya, dengan keras lawan keras kembali ia
sambut pukulan tersebut dengan telapak tangan kanannya.
Kali ini kakek berbaju kuning itu sudah melakukan
persiapan, dalam bentrokan yang kemudian terjadi, dia hanya
terdorong mundur satu langkah belaka.

Sekalipun begitu, pada hakekatnya serangan yang
dilancarkan Shen Bok Hong kali ini boleh dibilang beberapa
kali lipat lebih dahsyat daripada serangannya yang pertama
tadi.
Shen Bok Hong segera mengerutkan dahinya rapat-rapat,
sekali lagi dia melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke depan.
Agaknya kakek berbaju kuning itu sudah tahu akan
kelihayan musuhnya, untuk ketiga kalinya ini dia tak berani
menyambut pukulan itu dengan tangan kirinya, cepat toya
bambunya dilepaskan dan menyambut datangnya ancaman
tersebut dengan tangan kanannya.
Secara beruntun Shen Bok Hong telah melepaskan tiga
buah pukulan dahsyat, akan tetapi kakek berbaju kuning
itupun telah menyambut ketiga buah serangannya dengan
keras lawan keras. Kontan saja kejadian ini mencengangkan
semua jago yang hadir di sekitar gelanggang rata-rata
mereka lantas berpikir dalam hatinya:
"Entah siapakah jago lihay ini, ternyata ia mampu
menerima ketiga buah pukulan dahsyat dari Shen Bok Hong
dengan keras lawan keras, tapi yang pasti dia adalah seorang
jago yang amat tangguh!"
Sesudah melancarkan tiga buah serangan secara beruntun
tadi, Shen Bok Hong tidak melakukan penyergapan lagi, ia
tarik kembali telapak tangannya dan mundur ke belakang,
katanya dengan dingin :
"Engkau sanggup menerima tiga buah pukulan dari aku
orang she Shen secara keras lawan keras, hal ini menunjukkan
bahwa engkau memang seorang jago yang tangguh."
Kakek berbaju kuning itu sama sekali tidak menggubris apa
yang sedang diucapkan Shen Bok Hong, denjan suara yang
amat dingin ia malah berseru :

“Sesudah diberi kalau tidak dibalas rasanya kurang sopan.
Nah, berhati-hatilah!”
Tongkat bambunya diputar kencang, kemudian secara
beruntun dibalas melancarkan tiga buah serangan.
Dengan pertahanan yang ketat dan bersusah payah
akhirnya Shen Bok Bok Hong berhasil juga menghindari ketiga
buah serangan berantai itu. Mendadak dengan sorot mata
yang sangat tajam dia menatap wajah kakek berbaju kuning
itu tanpa berkedip, sepatah demi sepatah kata serunya:
"Engkau adalah Siau Ling, engkau belum mati bukan?"
Kakek berbaju kuning itu tertawa dingin tiada hentinya, ia
tidak mengaku pun tidak menyangkal. Toya bambunya
kembali disapu ke depan dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat.
Shen Bok Hong sama sekali tidak menghindar telapak
tangan kirinya segera didorong ke muka untuk menyambut
datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
Pertarungan semacam ini bukan saja sama sekali di luar
dugaan para jago yang hadir di dalam gelanggang, bahkan
kakek berbaju kuning itu pun kelihatan tertegun oleh kejadian
tersebut.
"Plaaaak!"' dengan telak serangan tongkat bambu itu
menghajar diatas pergelangan tangan Shen Bok Hong.
"Peletak..!" sayatan bambu berhamburan, memenuhi
seluruh angkasa, tiba-tiba tongkat bambu yang berada di
tangan kakek itu tersayat kutung satu ruas.
Menyaksikan kedahsyatan dari gembong iblis itu, kembali
kawanan jago persilatan yang hadir di sekitar gelanggang
berpikir dengan perasaan hati yang tercekat:
"Setelah menyaksikan caranya bertarung benar-benar
terbukti bahwa ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong telah

mancapai puncak kesempurnaan yang luar biasa, malahan
tubuhnya sudah dilatih menjadi kebal bagaikan baja, kalau
orang lain yang terhajar pergelangan tangannya oleh
sambaran toya itu kalau tidak terluka paling sedikit akan
kesakitan, tapi dia...bukan saja tidak menunjukkan wajah
kesakitan, malahan berhasil mematahkan toya bambu itu,
benar-benar seorang jago yang hebat.”
Kalau orang lain terperanjat maka Kakek berbaju kuning itu
sama sekali tidak kaget atau keheranan. Dia putar
pergelangan tangan kanannya dan menarik kembali tongkat
bambu itu, kemudian setelah berputar satu lingkaran ia
menyodok ke alis mata musuh.
Kali ini dia menyerang dengan menggunakan toya bambu
itu sebagai senjata tombak.
Sekali lagi Shen Bok Hong melontarkan telapak tangan
kirinya ke depan ..plaak! Untuk kedua kalinya toya bambu iiu
kena dipentalkan ke samping, menggunakan kesempatan itu
ia segera menerjang maju ke depan.
Untuk kali ini para jago dapat mendengar suara benturan
itu dengan amat jelas, sudah pasti benturan itu adalah suara
benturan dari bambu yang beradu dengan besi baja,
kenyataan ini semakin menggetartan perasaan hati mereka.
Kiranya pada bentrokan yang pertama kali tadi. kawanan
jago itu sudah mendengar suara aduan itu, tapi mereka
mengira salah mendergar maka untuk kali ini perhatian
mereka benar-benar ditujukan kesitu, maka jelaslah sudah
bahwa bunyi benturan besi memang bukan pendengaran yang
keliru.
Haruslah dikelahui, seseorang memang bisa melatih
badannya jadi kuat dan kebal seperti baja, tapi melatih diri
sehingga menimbulkan suara bentutan seperti baja belum
pernah terjadi di dunia ini andaikata Shen Bok Hong benarbenar
bisa mencapai ke taraf seperti itu, maka peristiwa

tersebut boleh dibilang merupakan peristiwa yang paling aneh
di dunia inri...
Rupanya It bun Han-to dapat membaca perasaan hati para
jago untuk menghilangkan rasa panik dan curiga diantara
jago-jagonya, ia segera berderu dengan suara lantang :
"Kalian tak perlu heran, sepasang pergelangan tangan Shen
toa cungcu telah dipasangi gelang baja yang amat kuat, tentu
saja suara benturan yang kedengaran adalah suara benturan
besi dan bambul"
Sering kali dijumpai dalam dunia persilatan bahwasanya
orang-orang silat menggunakan gelang besi pada pergelangan
tangannya untuk melindungi diri dari bacokan senjata, gelang
besi itu persis seperti borgol bentuknya cuma lebih lebar
sedikit karena dipakai di balik ujung baju maka siapapun tidak
akan mengetahuinya.
Pada mulanya semua orang dibuat terperanjat oleh
keampuhan ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong, tapi
setelah diberi penjelasan oleh It bun Han to, maka semua
orang pun jadi mengerti akan duduk perkara yang sebesarnya.
Ketika sinar mata para jago dialihkan kembali ke arah
gelanggang, tampaklah Shen Bok Hong sudah mendekati ke
sisi tubuh kakek berbaju kuning itu, tiba-tiba telapak tangan
kanannya ditekan ke bawah kemudian melancarkan sebuah
bacokan kilat.
Sementara itu toya bambu milik kakek baju kuning itu
sudah tertangkis hingga miring kesamping. Menghadapi
sergapan yang dilakukan pihak musuh ini, jangan toh bambu
itu tak sempat ditarik kembali, sekalipun bisa ditarik kembali
pun, bambu yang panjang itu sama sekali tak bermanfaat
digunakan uniuk melakukan pertarungan jarak dekat.
Tampaklah kakek berbaju kuning itu ayunkan tangan
kanannya ke depan dan menyambut datangnya pukulan itu
dengan kekerasan.

Shen Bok Hong mendengus dingin, tiba-tiba ia berkelit ke
samping dan mundur tiga depa ke belakang.
Sementara itu kakek berbaju kuning tadi sudah membuang
tongkat bambu itu kini dalam genggaman tangan kanannya
telah be tambah dengan sebilah pedang pendek yang sangat
tajam.
Seketika itu juga paras muka Shen Bok Hong berubah jadi
amat serius, dengan dingin serunya:
"Aaah, tak salah lagi, rupanya memang engkau! Siau
Ling...:"
Kakek berbaju kuning itu tertawa dingin ia tetap
membungkam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Taktik membungkam yang dipraktekkan kakek berbaju
kuning itu kontan saja membuat Shen Bok Hong yang licik
bagaikan rase tua jadi kelabakan sendiri, ia merasa hatinya
sangat tidak tenang.
Setelah termenung dan terpikir sebentar ujarnya lebih jauh:
''Siau Ling adalah seorang enghiong hoo han yang tak sudi
mengganti namanya sendiri, kalau engkau tak berani
mengakuinya, itu berarti bahwa engkau bukan Siau Ling!”
Dengan pedang tersoren kakek baju kuning itu pejamkan
matanya rapat-rapat paras mukanya amat serius. Bukan saja
ia tidak memberi komentar atas perkataan dari Shen Bok Hong
itu, menggubrispun tidak.
Sikap yang aneh dan luar biasa ini tidak mendatangkan
perasaan apa-apa bagi orang lain, tapi bagi Shen Bok Hong
yang berilmu tinggi segera merasakan keadaan yang tidak
beres.
Ia kenali sikap tersebut sebagai jurus permulaan dari ilmu
pedang terbang, suatu kepandaian ilmu pedang tingkat tinggi
yang luar biasa dahsyatnya, tercekat perasaan batinya.

Ia tak berani bertindak lebih jauh, segera hardiknya dengan
suara dalam:
''Hayo kita cepat pergi!"'
Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, tiba-tiba
badannya melambung ke udara, tangan kanannya segera
diayun ke atas merobek atap kain yang menyelubung tempat
itu. kemudian bagaikan seekor burung rajawali dia menerobos
keluar dari lubang robekan tadi dan kabur dari situ.
Kim-hoa hujin mengikuti pula jejak Shen-Bok Hong. Dia
menjejakkan kakinya dan kabur lewat atap ruangan.
Waktu itu, pemuda berbaju hijau tersebut sedang mengatur
pernapasan untuk menolong diri, tampaknya dia tak
menyangka kalau Shen Bok Hong bakal kabur melalui atap
ruangan.
Begitu menyadari bahwa gelagat tidak menguntungkan,
tanpa memperdulikan keadaannya lagi, cepat dia mengepos
tenaga dan ikut kabur dari tempat itu.
"Engkau tak usah pergi" tiba-tiba terdengar kakek berbaju
kuning itu membentak keras.
Di tengah bentakan nyaring, tubuhnya melambung ke
depan dan menutup jalan pergi di atas atap tersebut.
Dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat sama-sama melambung ke atas atap ruangan
itu dan saling berebut untuk menerobos keluar dari robekan
kain terpal tersebut.
Tapi akhirnya gerak tubuh kakek berbaju kuning itu jauh
lebih cepat satu tindak, telapak tangannya langsung dibacok
ke bawah.
"Blaang. !” suatu benturan keras yang memekakkan telinga
terjadi di angkasa, kedua orang itu telah saling beradu tenaga
sebanyak satu kali.

Termakan oleh hawa tekanan yang dilancarkan kakek
berbaju kuning itu dari arah atas, pemuda baju hijau itu tak
sanggup mempertahankan diri lagi, ia segera jatuh terkapar di
atas tanah.
Sebaliknya kakek barbaju kuning itu sendiri dengan
menggunakan ilmu langkah Pat poh teng gong segera
melayang satu kaki jauhnya dari tempat semula sebelum
akhirnya melayang kembali ke atas tanah.
Dengan cepat It-bun Han-to memburu ke muka. Sekali
ayun jari tangannya, ia telah menotok jalan darah pemuda
berbaju hijau.
Diantara empat orang pembantu yang dibawa Shen Bok
Hong, kecuali Kim hoa hu jin seorang yang berhasil
meloloskan diri, Lan Giok-tong menderita luka parah. Pemuda
berbaju hijau itu terluka di ujung telapak tangan kakek
berbaju kuning dan tertotok jalan darahnya oleh sentilan jari lt
bun Han to, tinggal hweesio berbaju merah yang bersenjata
kencrengan tembaga saja yang masih berada dalam keadaan
segar bugar.
Bu wi totiang segera meloloskan pedangnya dan
menghadang jalan pergi hweesio berjubah merah itu, serunya:
“Taysu, engkau akan menyerahkan diri ataukah hendak
melangsungkan pertarungan adu jiwa??”
Ucapan tersebut diucapkan dengan tajam dan penuh hawa
napsu membunuh.
---ooo0dw0ooo---
Jilid: 40
DENGAN ketajaman mata yang luar biasa. padri berjubah
merah itu menyapa sekejap sekitar gelanggang, ketika

dilihatnya jalan maju dihadang oleh Bu wi totiang dengan
pedang terhunus, sedang jalan mundur dicegat oleh Ceng
kong taysu dengan golok terlintang di dada, sadarlah padri ini
bahwa harapannya untuk melepaskan diri dari kepungan
sudah boleh dibilang musnah.
Dalam keadaan demikian, tiada pilihan lain lagi baginya
kecuali bunuh diri ia jadi nekad, sambil menggigit bibir
mendadak senjata kencrengannya itu digorok ke atas lehernya
sendiri.
Darah segar segera berhamburan menggenangi seluruh
permukaan tanah, dengan kepala hampir kutung dari
badannya, robohlah padri itu dalam keadaan tak bernyawa.
Tatkala hwesio berjubah merah itu menggerakkan senjata
kencrengannya tadi, dalam sangkaan Bu-wi totiang ia bakal
disergap dengan gencar, hawa murninya telah dihimpun ke
dalam pedangnya siap menghadapi segala kemungkinan yang
tak diinginkan, siapa tahu bukan serangan yang dilalukan
malahan ia menggorok leher sendiri, ingin mencegah sudah
tak sempat lagi, apa boleh buat? Terpaksa ia membiarkan
musuhnya bunuh diri tepat di hadapan matanya.
Setelah hwesio itu menggeletak dalam keadaan tak
bernyawa lagi, Ceng kong taysu melepaskan goloknya dan
menghampiri jenasah orang itu. Perlahan-lahan ia membuka
topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya.
Apa yang kemudian dilihat olehnya membuat padri saleh
dari gereja Siau-Iim-si ini menghela napas panjang, ujarnya
dengan sedih :
"Aaai..! Ternyata tebakanku memang tidak keliru, ia benarbenar
adalah saudara perguruanku sendiri"

Bu-wi totiang ikut menghela napas panjang, selanya dari
sisi kalangan :
''Bukan saja dalam gereja Siau lim si telah muncul murid
durhaka, dalam perguruanku sendiripun muncul penghianatpenghianat
penjual perempuan. Aaai..! Manusia yang sudah
mati tak mungkin bisa hidup kembali, asal taysu merawat
jenasahnya secara baik-baik, anggap sajalah perbuatanmu ini
suatu penghormatan yang terakhir dari sesama saudara
perguruan"
Ceng kong taysu menghela napas, tanpa banyak bicara lagi
ia membopong mayat hwesio itu dan berlalu dari sana.
Menanti bayangan punggung dari Ceng-kong taysu sudah
lenyap dari pandangan mata, kakek berbaju kuning itu baru
menghela napas panjang, tiba-tiba ia berjalan menuju ke balik
meja abu.
Baik Sun Put shia maupun Bu wi totiang sudah tahu kalau
kakek berbaju kuning itu kemungkinan besar adalah
penyaruan dari Siau Ling, akan tetapi sebelum membuktikan
dengan mata kepala sendiri, mereka tak berani menegur
secara gegabah, untuk sesaat lamanya dua orang jago lihay
itu jadi kelabakan dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Dengan langkah yang cepat It bun Hin to mendahului
kakek berbaju kuning itu, katanya dengan lirih :
“Aku akan membawa jalan untuk saudara.”
"Terima kasih!" jawab kakek berbaju kuning itu dengan
nada yang singkat dan lembut.
It-bun Han to membawa kakek tua itu memasuki sebuah

ruang kosong yang sepi. Di situlah dia menjura dan memberi
hormat seraya menyapa:
“Siau tayhiap!"
Kakek baju kuning itu tersenyum, ia melepaskan
penyaruannya dan pulihkan kembali wajahnya menjadi raut
wajah yang asli dan dia memang bukan lain adalah Siau Ling
yang lolos dari bencana kebakaran.
Terdengarlah suara langkah kaki manusia berkumandang
memecahkan kesunyian, menyusul mana Sun Put-shia, Bu wi
totiang dan Pek-li Peng sekalian memasuki pula ruangan itu.
Dengan langkah lebar San Put shia menghampiri si anak
muda itu, sambil menggenggam tangannya dengan hangat, ia
berseru:
“Saudara Siau, kiranya engkau benar-benar masih hidup,
syukur ke hadirat Thian yang maha pengasih, akhirnya
pendekar besar kita dapat lolos dari bahaya maut.”
"Engkoh tua, baik-baikkah engkau selama ini?” sahut Siau
Ling sambil memberi hormat.
"Haahhh haaahhh haaahhh baik, sangat baik, apalagi
setelah menyaksikan engkau lolos dalam keadaan segar bugar
apanya lagi yang tidak baik?’
Beberapa patah kata itu kedengarannya memang
sederhana tanpa embel apa-apa, tapi pada hakekatnya
mengandung perasaan persaudaraan dan perhatian yang
sangat mendalam.
Betapa taruhannya Siau Ling menghadapi kenyataan

tersebut.
"Terima kasih banyak engkoh tua, atas perhatianmu!”
katanya.
Bu wi totiang yang berada disisinya segera melanjutkan:
“Dua jilid kitab yang Siau tayhiap titipkan kepada Teng ji
hiap dan suteku untuk diserahkan kepada pinto, telah pinto
terima dengan selamat, sebentar akan kuserahkan kembali
kepada Siau tayhiap!”
"Sudah totiang baca isinya?” tanya Siau Ling dengan cepat.
"Pinto hanya melihat nama kitab tersebut, isi buku itu sama
sekali tidak kubaca!”
Siau Ling mengangguk.
“Kenapa tidak totiang baca isinya??”
“Pinto sudah tua dan tak ada gunanya, lebih pantas kalau
kitab tersebut dibaca oleh generasi muda, dan lagi situasi
yang kita hadapi toh sedang kritis pinto tidak punya
kesempatan untuk membaca isi kitab tersebut.”
Sekali lagi Siau Ling mengangguk.
“Totiang berjiwa besar dan berpandangan jauh ke depan,
boanpwe merasa kagum sekali dengan tindakanmu ini.”
Pek-li Peng yang selama ini membungkam di samping, tibatiba
maju ke depan dan berkata: "Toako, aku mengaku salah!"
"Dalam soal apa kau merasa bersalah?'' tanya si anak muda

itu sambil tersenyum.
“Toako berpesan kepadaku agar tidak membocorkan
rahasia kehidupanmu kepada orang lain tapi tanpa
persetujuan dari toako aku telah membocorkan rahasiamu itu
!”
“Aaah! Tidak menjadi soal, aku dapat memahami kesulitan
yang sedang kau hadapi pada hakekatnya kendatipun tidak
kau katakan rahasia inipun tak mungkin bisa kelabuhi It bun
sianseng!”
"Siau Tayhiap terlalu memuji diriku!” cepat-cepat It bun
Han to menimbrung.
"Didalam peristiwa ini saudara Siau tak boleh menyalahkan
nona Pek li.” Tiba-tiba Sun Put shia berseru, “kalau engkau
akan menyalahkan maka tegurlah aku si pengemis tua, sebab
akulah yang memaksa nona Pek li untuk mengaku!”
"Siau-te sama sekali tidak bermaksud menyalahkan
siapapun, harap engkoh tua jangan salah paham!”
Sin Put shia tertawa.
"Aku tahu, sudah pasti engkau akan memberi muka kepada
aku si engkoh tua ini...”
Tiba-tiba Pek li Peng menghela napas panjang, katanya
setengah berbisik:
"Toako, sudah kau dengar semua bukan pembicaraan yang
berlangsung di ruang abu tadi?”
"Mendengar soal apa?”

“Enci Gak telah pergi dari sini!”
"Jadi ia benar-benar sudah pergi dari sini?” seru Siau Liug
dengan wajah tertegun.
"Aku sudah membicarakan banyak masalah dengan enci
Gak, bahkan aku bersikeras memaksa dia agar jangan
tinggalkan tempat ini tapi toh akhirnya ia pergi tanpa pamit.”
Sekilas cahaya merah melintas diatas wajah Siau Ling, ia
segera tertawa ewa, katanya:
"Kalau sudah pergi yaa sudahlah, enci Gak memang suka
pergi kesana kemari menuruti suara hati sendiri, siapa yang
mampu membatalkan niatnya untuk pergi?”
Ketika menyaksikan lintasan cahaya merah diatas wajah si
anak muda itu, sepasang mata It bun Han to bernilai tajam,
tiba-tiba ia menyapu sekeliling tempat itu kemudian serunya:
"Sun heng, totiang nona Pek li, aku ingin mengajukan satu
permintaan kepada kalian semua.”
Ketika didengarnya nama mereka bertiga disebutkan
semua, tiga orang jago itu agak tertegun kemudian tanyanya:
"Ada persoalan apa?”
"Aku mempunyai suatu persoalan yang sangat penting
untuk dibicarakan dengan Siau tayhiap dibawah empat mata,
entah bagaimanakah menurut pendapat kalian bertiga??”
"Dalam hal ilmu silat, aku si pengemis tua paling
mengagumi saudara Siau, sedangkan dalam hal kecerdikan,
aku si pengemis tua mengagumi It-bun sianseng, silahkan saja

kaIau mau berbicara!" kata Sun Put shia dengan cepat.
It-bun Han to segera memberi hormat ke pada semua
orang, lalu ujarnya dengan lembut:
“Siau tayhiap. mari kita berbicara di ruang sebelah situ
saja!”
Dengan berjalan mengikuti di belakang It-bun Hin-to,
akhirnya sampailah si anak muda itu dalam sebuah ruang lain,
disana pemuda itu segera bertanya:
“It bun sianseng, ada persoalan apa engkau mengundang
kedatanganku ke sini??”
“Muntahkan keluar gumpalan darah yang berada dalam
dadamu, tahanlah hawa murnimu dan paksakan dengan
segala kemampuanmu!”
Dengan sorot mata yang amat tajam Siau Ling menatap
sekejap paras muka It-bun Han to, kemudian dia pejamkan
matanya dan muntahkan keluar segumpal darah kental dari
mulutnya.
Setelah itu sambil menghela napas panjang katanya :
"It bun sianseng, engkau benar-benar sangat lihay. Tak
kusangka engkau tahu kalau aku sudah menderita luka!"
“Luka yang kau derita tidak terlalu parah, gumpalan darah
yang menyumbat dalam dadamu itu sebagian besar
disebabkan karena masalah Gak Siau cha, nona Gak.."
“It-bun heng, darimana engkau bisa yakin bahwa
pendapatmu Itu tidak keliru?!” sela Siau Ling dengan

sepasang alis matanya berkenyit.
It-bun Han to tersenyum.
"Siau tayhiap, berkat penghormatanmu atas diri aku It bun
Han to lah maka aku berhasil melepaskan diri dari jalan yang
sesat, untuk itu akupun harus menggunakan segala
kemampuan yang kumiliki untuk membalas budi kebaikan ini.
Aku tahu masalah yang menyangkut tentang hubungan Siau
tayhiap dengan nona Gak adalah urusan aku harus memberi
komentar kepadamu...!"
Sesudah rahasia hatinya terbongkar, Siau Ling tidak
berusaha untuk mengingkari lagi, terpaksa dia menghela
napas panjang.
“Petunjuk apakah yang hendak Saudara lt-bun berikan
kepadaku...?!” tanyanya.
”Baik Lan Giok-tong, Giok siau-long kun maupun Wu
kongcu dari perguruan Ngo tok bun semuanya telah terpesona
oleh kecantikan Gak Siau cha, padahal orang itu terhitung jago
muda yang berwatak tinggi hati baik tampang wajahnya
maupun kepandaian silatnya terhitung kelas satu di dunia
persilatin, manusia macam mereka sebenarnya saja tak perlu
kuatir kalau tak mendapatkan jodoh, tapi kenyataan
membuktikan bahwa mereka semua terpikat oleh nona Gak.
Nah, di sinilah letak kunci dari semua peristiwa ini, dan aku
hendak mengajak engkau untuk membahas; apakah
alasannya sehingga terjadi kesemuanya ini"
"Alasan apa?"
“Alasan tentang sebab musabab sehingga, mereka jadi
terpikat kepada nona Gak!"

“Menurut penglihatanku, Nona Gak adalah seorang gadis
yang sopan santun dan tak pernah menunjukkan gerak-gerak
yang genit atau menimbulkan rangsangan bagi orang lain,
dalam kasus ini Giok Siau Long kun memang beralasan untuk
mencintai nona Gak, sebab bagaimanapun juga ia pernah
bergaul selama banyak tahun dengan nona itu. Tapi kalau
dibilang Lan Giok tong serta Wu kongcu dari Ngo tok bun juga
jatuh hati kepadanya, aku jadi heran dan benar-benar tak
habis mengerti, sebab menurut penilaianku mereka tak pernah
berhubungan dengan enci Gak ku itu, malahan boleh dibilang
berbicarapun jarang.”
It bun Han to termenung sebentar, kemudian katanya:
“Siau tayhiap, apakah engkau dapat merasakan bahwa
nona Gak mempunyai sesuatu yang lain daripada orang-orang
biasa?”.
Siau Ling menggeleng.
"Aku tidak pernah mempunyai perasaan seperti itu!"
sahutnya.
“Coba bayangkan secara seksama, bukankah setiap kali
setelah berjumpa dengan dirinya maka engkau merasa
mempunyai kesan yang lebih dalam mengenai dirinya ?. Dan
semakin mendalam kesan tersebut maka seakan-akan kesan
itu sudah melekat dalam hatimu, baik dicuci atau dibersihkan
dengan cara apapun kesan itu tak bisa hilang malahan
bagaikan bayangan saja selalu mengikuti didalam hatimu?.”
Siau Ling menghembuskan napas panjang.
"Dahulu aku sama sekali tidak mempunyai perasaan seperti
itu, tapi setelah bertemu kali ini…”

Berbicara sampai disitu, mendadak ia membungkam dan
tidak meneruskan lagi kata-katanya.
"Bukankah engkau merasakan suatu perasaan yang aneh
dan lain daripada yang lain?'' sambung It bun Han to dengan
cepat.
"Begitulah!"
"Dahulu usiamu masih kecil dan engkau sama sekali belum
mengenal apa artinya cinta asmara, tentu saja kecantikan dan
daya pikat yang dimiliki Gak Siau cha sama sekali tidak
berpengaruh apa-apa bagimu, tapi setelah kau bertemu lagi
dengannya, waktu itu kau sudah dewasa, tentu saja kesan
yang diperolehpun jauh berbeda.”
Siau Ling menghela napas panjang.
"Aaai..! Mungkin apa yang kau katakan memang tidak
keliru, tapi bagaimanapun juga daya pikat adalah timbul dari
dalam tubuh seseorang, dalam hal ini enci Gak tak bisa
disalahkan!"
"Terlepas dari salah atau tidak, menurut pengamatanku
menurut ilmu raut wajah, maka garis-garis muka Gak Siau cha
menunjukkan bahwa dia memiliki suatu kekuatan daya pikat
yang tersembunyi, dan daya pikat tersembunyi itu luar biasa
besar pengaruhnya, selama seribu tahun belum tentu ada
seorang gadis dilahirkan dengan ciri semacam itu"
“Itu kan bukan salahnya?!” cepat Siau Ling menimbrung
dengan sepasang mata berkedip.
“Nona Gak tidak salah. Lan Giok tong dan Gak-siau- long
kun sekalipun tidak salah, yang salah adalah alam yang telah

menciptakan dirinya dengan daya pikat yang maha hebat,
membuat penampilannya di manapun membuat dunia jadi
heboh, membuat banyak jago terpikat dan tergila-gila
kepadanya"
"Aai..! Dari dulu sampai sekarang, perempuan cantik adalah
bibit bencana, ternyata peri bahasa ini sedikitpun tak salah !"
It bun Han to termenung dan berpikir sejenak, kemudian
sahutnya :
“Ucapanmu ini boleh juga dikatakan benar, tapi pada
hakekatnya dibalik kesemuanya itu masih tersimpan suatu
rahasia yang maha besar dan rahasia itu belum bisa
dipecahkan oleh siapapun, Apa yang diucapkan Wu kongcu
tadi memang benar, bukan dia saja yang terpikat oleh daya
tarik nona Gak, malahan Shen Bok Hong sendiripun sudah
mulai terpesona dibuatnya.”
Perasaan hati Siau Ling kontan bergolak keras, paras
mukanya sebentar berubah jadi merah sebentar lagi jadi
pucat; jelas dalam batinnya sedang terjadi suatu pergolakan
yang keras.
Lama…, lama sekali, pemuda itu baru menghela napas
panjang, ujarnya kemudian :
"It bun sianseng, kalau memang demikian keadaannya,
maka apa yang musti kita lakukan untuk selamatkan jiwa enci
Gak ku itu dari ancaman bahaya?!”
“Biarkan dia mangasingkan diri di tempat terpencil dan
kurangi kesempatannya untuk bertemu dengan orang lain.
Biarlah ia hidup di sebuah dunia yang lain dan jauh dari
pergaulan manusia. Asalkan masa mudanya telah berlalu dan

usia lanjut mulai merongrong wajahnya, saat itulah daya
pikatnya yang luar biasa itu akan lenyap dan musnah dengan
sendirinya.”
"Jikalau ia tak mau berdiam di suatu tempat yang terpencil
dan terasing dari pergaulan masyarakat, masa kita harus
menyekapnya di dalam ruangan khusus?”
"Masih ada satu cara lain untuk menanggulangi kesulitan
itu. Asal dia kenakan sebuah topeng kulit manusia sehingga
daya pikatnya itu tertutup maka dia akan bebas bergerak ke
mana-mana tanpa kuatir membikin heboh lagi!"
"Ehmm..! Aku rasa cara ini memang sangat jitu.”
''Sudah cukup lama kita bercakap-cakap, aku rasa
pergolakan darah di dada Siau tayhiap pun telah menjadi
tenang kembali, sekarang silahkan duduk untuk mengatur
pernapasan”.
Siau Ling sendiripun tentu saja tahu bila tidak duduk
bersemedi pada saat seperti ini, niscaya hawa murninya akan
mengalami kerugian besar, maka sahutnya:
"Terima kasih atas peringatan dari It bun heng!"
“Masih ada beberapa lagi kita bicarakan sehabis engkau
bersemedi nanti. Nah! Aku mohon diri lebih dahulu".
Perlahan-lahan ia mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Menanti sesudah bayangan punggung dari It-bun Han-to
lenyap dari pandangan mata, Siau Ling baru duduk bersila dan
mulai mengatur pernapasannya.

Ketika ia menyelesaikan semedinya, tampaklah Pek li Peng
sedang duduk di sisinya sambil tersenyum.
Waktu itu dia sudah berganti dengan dandanan seorang
perempuan, alisnya yang cantik, bibirnya yang merah
bagaikan delima merekah serta hidungnya yang macung,
membuat gadis itu tampak lebih cantik dan mempersonakan
hati.
"Toako, apakah engkau baik-baik saja?!” tegurnya dengan
suara yang amat lembut.
Siau Ling segera mengangguk.
"Ehem ! Aku sangat baik'*
''Menurut It bun sianseng, di kala toako sedang adu tenaga
melawan Shen Bok Hong tadi engkau telah terluka semua
orang sangat menguatirkan kesehatan badanmu.”
"Aaah! Tidak menjadi soal, cuma sedikit luka enteng saja!”
sahut Siau Ling sambil tersenyum.
Dari sakunya Pek li Peng ambil keluar sepucuk surat sambil
diangsurkan ke muka, katanya:
"Sebelum pergi tinggalkan tempat ini enci Gak telah
meninggalkan dua pucuk surat yang satu ditujukan kepadaku
sedang yang lain untukmu pribadi!”
Siau Ling segera menerima simpul surat itu dan dilihat
tulisannya, tampaklah tulisan diatas sampul itu berbunyi
demikian:
"Mohon bertuan adik Peng untuk diserahkan kepada Siau

Ling pribadi"
Gaya tulisannya sangat indah dan kuat, tak salah lagi inilah
tulisan dari Gak Siau cha.
Cepat si anak muda itu merobek sampulnya dan membaca
isi surat itu.
"Buat saudaraku Siau Ling yang tersayang : Dalam
surat wasiatnya mendiang bibi Im mu telah menjodohkan
cici kepadamu. Tentunya apa yang telah kukatakan
sewaktu ada di ruang abu telah kau dengar semua
bukan?
Kendatipun rahasia tersebut tak pernah kubeberkan
kepadamu, akan tetapi sejak dahulu aku telah
menganggap engkau sebagai suamiku.
Bila engkau sudah mati, maka sebagai seorang istri
sudah menjadi kewajikanku untuk membalaskan dendam
bagi kematian suaminya, tapi dari mulut adik Peng dapat
kuketahui bahwa engkau belum mati.
Maka dalam keadaan begini situasipun ikut berubah,
setelah engkau hidup maka sekarang menjadi kewajiban
cici untuk membalaskan dendam bagi kematian bibi Im
mu.
Kini cici sudah menemukan jejak dari pembunuh bibi
Im mu itu, asalkan bukti sudah kuat maka segera akan
kulakukan pembalasan dendam.
Aaai.! Bagaimanakah nasibku di kemudian hari? Sukar
untuk diramalkan mulai sekarang, mungkin juga
dikemudian hari kita tak terjodoh untuk bertemu muka lagi

apa pula aku sudah mengakibatkan banyak kehebohan.
Sebagai seorang perempuan yang telah bersuami, aku
merasa malu dan menyesal atas semua peristiwa yang
telah terjadi ini.
Aku lihat adik Peng adalah seorang dara yang suci
bersih dan menarik hati, semoga engkau bila merawatnya
dengan penuh kasih sayang, apalagi ia telah melepaskan
cinta yang begitu mendalam kepadamu, sudah sewajarnya
kalau engkaupun membalas cintanya.
Jika engkau masih mau menganggap diriku ini sebagai
istrimu, turutilah permintaanku ini, menyayangi adik Peng
seperti pula menyayangi aku, sebab dialah pasanganmu
yang paling setimpal.
Banyak perkataan yang sukar kutuliskan dalam surat
ini, tentunya engkaupun dapat memahami betapa gelisah
dan kusutnya perasaanku sekarang, semoga adik Siau
bisa memaklumi kesusahanku ini.
tertanda: Gak Siau cha"
Selesai membaca surat peninggalan dari Gak Siau cha itu,
Siau Ling merasakan pikirannya jadi kusut. Perasaan hatinya,
bercampur aduk! dan sukar dilukiskan dengan kata-kata. Ia
tak tahu apakah musti cinta atau kah harus benci.
Tiba-tiba Pek li Peng menegur dengan suara yang lembut:
“Toako, apa yang ditulis enci Gak dalam suratnya itu??”
"Dia suruh aku baik-baik merawat dan menyayangi dirimul"
jawab Siau Ling sambil menarik napas panjang.

Pek li Peng tampak tertegun, tiba-tiba air matanya jatuh
berlinang membasahi pipinya.
Dengan penuh rasa sayang Siau Ling menggenggam
sepasang lengan dara itu, kemudian tanyanya:
“Peng-ji, mengapa menangis??”
“Aku juga tak tahu musti bersedih hati atau gembira, aaai !.
Bicara sesungguhnya enci Gak lah merupakan pasangan yang
paling setimpal bagimu!.”
Siau Ling tersenyum.
*'Peng ji!" ucapnya "bukankah Lan Giok tong pernah
berkata, enci Gak adalah seorang gadis yang amat cantik jelita
bak bidadari dari khayangan siapakah manusia di bumi ini
yang pantas mendampinginya?”
Dengan hati yang sedih Pek-li Peng tundukkan kepalanya
rendah-rendah, ia berbisik :
"Toako, apakah engkau bisa memahami perasaan hati enci
Gak yang sebenarnya??”
"Kenapa?!”
“Pada hakekatnya enci Gak sangat mencintai dirimu, cuma
saja dia tidak seperti aku, semua persoalan yang dihadapi
selalu tercermin diatas wajah..!”
Siau Ling menghela napas panjang, sesudah hening
beberapa saat lamanya tiba-tiba ia bertanya :
"Apa saja yang dibicarakan enci Gak dengan dirimu?!”

"Banyak sekali yang telah kami bicarakan. Tapi bicara
pulang pergi toh bahan pembicaraan itu berkisar pada urusan
dua orang, yang satu adalah engkau sedang yang lain adalah
aku!"
"Apa yang dikatakan enci Gak tentang diriku?!”
"Dia suruh aku menasehati dirimu agar baik-baik menjaga
diri, janganlah memikirkan keselamatannya lagi"
"Tentang soal ini aku sudah tahu, sebab dalam suratnya
yang diberikan kepadaku, dengan jelas Enci Gak sudah
membicarakan persoalan itu.”
"Walaupun enci Gak mengatakan begitu, masa kita benarbenar
harus berpeluk tangan belaka tanpa membantu
usahanya untuk membalas dendam?”
Siau Ling termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
kemudian sahutnya:
"Situasi pada saat ini amat kritis, mungkin kita memang
benar-benar tak mampu membantu dirinya.”
"Masa toako tidak mau tahu dan sama sekali tidak
menggubris tentang usaha enci Gak untuk membalaskan
dendam bagi ibunya?” desak Pek li Peng lebih jauh.
Siau Ling tertawa ewa.
"Ambisi Shen Bok Hong untuk menguasai seluruh kolong
langit sudah terbongkar sementara It bun sianseng telah
memanfaatkan kesempatan dikala aku tersiar mati untuk
mengundang kehadiran seluruh orang gagah di dunia ini untuk
berkumpul disini, aku rasa suatu perang massal sudah tak

dapat dihindari lagi, bagaimanapun juga tak mungkin bagi
diriku untuk meninggalkan tempat ini sebelum semua urusan
di tempat ini menjadi beres!'
“Aaai.! Pek-li Peng menghela napas panjang, betul juga apa
yang diucapkan toako. Persoalan di tempat ini pun tak kalah
pentingnya, apalagi toako adalah pemimpin yang
mempengaruhi jalannya pertarungan, tentu saja tak mungkin
bagimu untuk meninggalkan tempat ini."
“Peng-ji, pergilah ke ruang samping sana dan undanglah
kemari It-bun siangseng, Sun locianpwe serta Bu wi totiang.
Aku hendak mengajak mereka untuk merundingkan beberapa
persoalan. Baru saja Shen Bok Hong mengalami kekalahan
total, maka kalau kita bisa mendahului mereka dan lebih baik
lagi kalau berhasil menawannya hidup?!"
Pek li Peng segera mengiakan, ia putar badan dan berlalu
dari raungan itu.
Sepeninggalnya gadis tersebut, Siau Ling menengadah dan
menghembuskan napas panjang, perlahan-lahn ia duduk
diatas sebuah kursi. Dengan menggunakan segala kesabaran
yang dimilikinya, ia berusaha untuk menenangkan kembali
perasaan hatinya.
Selang sesaat kemudian, Sun Put shia, Bu wi totiang serta
It bun Han to telah muncul dalam ruangan itu. Pek li Peng
menyusul dipaling belakang.
"Saudara-saudaraku, silahkan duduk”, seru Siau-Ling
sambil bangkit berdiri.
Setelah beberapa orang itu duduk sambil tersenyum It bun
Han to bertanya:

"Ada urusan apakah sehingga Siau tayhiap mengundang
kedatangan kami semua kemari?”
"Secara tiba-tiba saja aku telah teringat akan suatu
persoalan, maka kuundang kedatangan kalian untuk
merundingkannya.”
"Ada urusan apa toh saudaraku?” timbrung Sun Put shia
dengan lantang, “katakan saja secara blak-blakan, caramu
main sembunyi sangat tak sedap dipandang!”
Siau Ling tersenyum.
"Masalah yang hendak kurundingkan adalah soal mengenai
Shen Bok Hong. Siau te ingin membekuknya sebelum ia
bersiap sedia!”.
"Kalau ingin menang dan sukses maka semua rencana
harus disusun dengan sebaik-baiknya" kata It bun Han to.
“Siau tayhiap apakah engkau bisa membeberkan rencanamu
itu?”
“Maksudku, gerakan ini lebih baik lagi kalau dilakukan
dengan secepat-cepatnya. Selesai berunding nanti, kita segera
menghimpun segenap kekuatan yang ada dan kita langsung
menyerbu ke dalam sarangnya Shen Bok Hong agar mereka
jadi kalut dan kelabakan!"
Sinar matanya dialihkan keatas wajah It bun Han to,
kemudian sambungnya lebih jauh :
"Apa yang kukatakan hanyalah berupa suatu idee belaka,
tentang rencana yang lebih cermat maka terpaksa musti
merepotkan It-bun heng untuk menyusunkan bagi kita!"

It bun Han to termenung| sebentar, lalu jawabnya :
“Memang, sangat banyak jago persilatan yang berkumpul di
tempat ini sekarang, akan tetapi jago yang benar-benar bisa
diminta batuannya tidak banyak jumlahnya, apabila suasana
rencana kita kurang cermat maka pertarungan itu boleh
dibilang merupakan suatu pertarungan adu kekerasan,
berbicara tentang kekuatan masing-masing pihak, maka
kekuatan kita masih belum sanggup untuk menandingi
kekuatan dari perkampungan Pek-hoa-san cung!”.
“Aku akan menghadapi Shen Bok Hong, sedangkan yang
lain menghadapi jago-jago dari perkampungan Pek-hoa-san
cung. Apakah mereka tak mampu menandinginya??”
“Soal ini masih merupakan suatu tanda tanya besar, apalagi
Siau tayhiap sendiri toh belum mempunyai keyakinan untuk
menangkan Shen Bok Hong, maka menurut penilaianku dalam
pertarungan ini menang ataupun kalah kita masing-masing
sama-sama memegang kans lima puluh persen lawan lima
puluh persen.”
“Jadi kalau begitu kita tak boleh melangsungkan
pertarungan dengan keras lawan keras??”
“Akibat dari perang tanding tersebut sukar dilukiskan
dengan kata-kata, bukan saja menang kalah belum bisa
ditentukan, bahkan akhirnya kedua belah pihak sama-sama
menderita kerugian beesar !”
Siau Ling segera mengerutkan dahinya rapat rapat.
“Kalau kudengar dari perkataan It-bun hang, agaknya lebih
banyak kalahnya buat pihak kita daripada menangnya .?”

It-bun Han to segera mengangguk.
"Begitulah maksudku…”
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan kembali katakatanya:
“Tapi apabila kita dapat mengetahui sampai dimanakah
kekuatan yang sebenarnya dimiliki Shen Bok Hong dewasa ini,
kemudian menyusun suatu rencana yang jitu, kemungkinan
besar kita bisa menangkan pertarungan itu…”
Siau Ling menghela napas panjang.
"Aaaai..! Kalau begitu, terpaksa aku harus turun tangan
sendiri untuk mencari kabar dari mulut Kim hoa hu jin!”
"Apa perlunya bersusah payah mencari Kim hoa hujin?”
sahut It bun Han to mendadak. Lan Giok tong kini sudah
sadarkan diri siapa tahu kalau dari mulutnya kita berhasil
mencari tahu sedikit banyak latar belakang kekuatan dari Shen
Bok Hong?”
"Bagus sekali, apakah sekarang ia sudah bisa berbicara?
"Sekarang belum, mungkin dua jam lagi dia akan sadar
betuI dan sanggup berbicara.”
"Siapakah yang telah mengobati luka beracunnya itu?”
“Kecuali It-bun sianseng, siapa lagi yang mampu
melakukan pekerjaan tersebut?” sahut Bu wi Totiang yang ada
di samping sambil tersenyum.
“Kalau dibicarakan sesungguhnya sangat memalukan, pada

hakekatnya aku sendiripun tidak memiliki kepandaian apa-apa,
aku hanya bekerja secara adu untung tak tahunya pengobatan
tersebut malahan mendatangkan hasil yang lumayan!"
“Saudara Siau," tiba-tiba Sun Put shia berseru dari
samping, "aku si sipengemis tua ingin menanyakan beberapa
hal kepadamu. Apakah engkau bersedia untuk menjawabnya?"
"Silahkan toako katakan, Siau te akan memperhatikannya
dengan seksama..”.
“Secara tiba-tiba engkau ingin membinasakan Shen Bok
Hong dalam waktu singkat, bahkan keputusanmu ini jauh
diluar dugaan siapapun, apakah dibalik rencanamu itu masih
terdapat sebab-sebab yang lain?"
“Alasannya amat sederhana, barusan saja ia menderita
kekalahan total, maka siau-te ingin manfaatkan kesempatan
yang sangat baik ini untuk membasmi kekuatannya sampai ke
akar-akarnya asalkan dia bisa kita singkirkan maka dunia pun
akan jadi aman, dan kita tak usah merasa kuatir terus
menerus.”
“Hanya itu saja alasannya??”
“Apabila kita mengulur waktu, memang banyak persiapan
yang bisa kita lakukan, tapi pihak lawan toh juga bisa
mempersiapkan diri ? Dan lagi, kecuali beberapa orang yang
ada sekarang ini, siau-te tak dapat berpikir siapa lagi yang
akan membantu kita untuk menumpas kekuatan Shen Bok
Hong !”
"Ehmm, masuk di akal juga alasan ini, cuma aku si
pengemis tua tetap merasa bahwa selain alasan tersebut
sebetulnya engkau masih mempunyai tujuan lain!"

Siau Ling tertawa jengah, karena didesak terus terpaksa ia
mengakui juga secara terus terang.
“Siau-te ingin cepat-cepat membinasakan Shen Bok Hong,
bila urusan disini telah selesai maka siau-te harus segera
tinggalkan tempat ini untuk membantu seseorang dalam
usaha pembalasan dendamnya.”
“Siapa yang akan kau bantu??”
"Gak Siau cha, nona Gakl"
Sun Pat shia segera tersenyum.
“Sudah aku duga, urusan ini pasti ada hubungannya
dengan nona Gak, ternyata dugaanku tidak keliru.”
Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan kembali katakatanya:
“Siapakah musuh besar nona Gak??”
“Aku sendiripun tak tahu, sebab dalam suratnya ia tidak
menyebutkan nama orang itu.”
“Dia tinggal dimana??”
Sekali lagi Siau Ling menggelengkan kepalanya.
"Tentang soal ini, siau-te sendiripun tak tahu!" sahutnya.
Sun Put shia segera tertawa;
“Dunia bukanlah selebar daun kelor, kemana engkau akan
mencari dirinya ? Kalau toh siapa orang itu dan tinggal

dimanakah orang itu tidak diketahui olehmu pencarian
tersebut ibaratnya mencari jarum di tengah samudra,
sekalipun mencari selama dua tiga tahun belum tentu
menemukan jaga.”
Siau Ling pada dasarnya memang tak pandai berbohong,
maka sesudah didesak Sun Put shia. akhirnya dia utarakan
juga rahasia hatinya secara terus terang.
Sun Put shia mendehem ringan, kembali katanya:
“Begini saja, biar aku si pengemis tua mengutus orangorang
dari pihak Kay pang untuk mencarikan jejak dari nana
Gak, begitu beritanya ketahuan maka segera akan
kuberitahukan kepadamu !”
"Alangkah baiknya kalau pihak Kay pang mengutus pula
beberapa orang jago lihaynya untuk membantu nona Gak
secara diam-diam!", sambung It bun Han-to dengan cepat.
Sun Put shia mengangguk:
"Aku si pengemis tua segera laksanakan tugas ini!"
katanya, ia segera bangkit dan menuju keluar
Siau Ling menggerakkan bibirnya seperti mau mencegah
kepergian pengemis tua itu tapi dikala kata-kata itu melucur
sampai di ujung bibirnya, mendadak dia membatalkan
maksudnya.
It bun Hao to segera bangkit berdiri seraya berkata.
“Akan kutengok bagaimanakah keadaan luka yang diderita
Lan Giok-tong, jikalau ia sudah mampu berbicara, maka akan
kuundang kedatangannya kemari agar kita bisa bercakapTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
cakap lebih jauh!"
Mengikuti di belakang Sun Put shia, dia pun berlalu dari
situ.
Kurang lebih seperminum teh kemudian It bun Hanto telah
muncul kembali dalam ruangan itu seraya berkata dengan
suara lirih:
"Lan Giok tong telah sadarkan diri, ketika ia mengetahui
bahwa Siau tayhiap ingin bercakap-cakap dengannya, ia
kelihatan bersemangat sekali”
"Baik ! Kita saja yang pergi kesitu..!” ujar Siau Ling
kemudian sambil bangkit berdiri.
“Biarlah aku yang membawa jalan !” ucap It bun Han to, ia
melangkah lebih dahulu tinggalkan ruangan tersebut.
Dengan mengintil di belakangnya, sampailah Siau Ling
berdua dalam sebuah ruangan lain.
Dalam ruangan itu hanya terdapat sebuah pembaringan,
Lan Giok tong yang pucat pias seperti mayat berbaring diatas
pembaringan tersebut, mukanya layu dan sinar matanya
sangat redup.
Ketika Siau Lirg melangkah rrasuk ke dalam ruangan Lan
Giok tong segara meronta bangun sambil menyapa:
"Siau tayhiap…"
Cepat Siau Ling memburu ke depan dan membaringkan
kembali Lan Giok tong ke atas kasur bisiknya dengan lirih:

"Lan heng, jangan banyak bergerak, berbaringlah disitu!”
Lan Giok tong menghembuskan napas panjang.
"Aaaaii ! Sudah berapa kali aku mencelakai diri Siau
tayhiap, tapi Siau tayhiap tak pernah menaruh sikap
permusuhan atau dendam terhadap diriku, ini sungguh
membuat aku jadi kecewa dan malu dengan sendirinya..!”
Siau Ling tersenyum.
"Kejadian yang sudah lewat, kenapa musti kita ungkapungkap
lagi? Sudah sepantasnya kalau kita bicarakan
persoalan yang kita hadapi sekarang ini, bukankah begitu?”
“Kebesaran jiwa Siau tayhiap sangat mengecewakan diriku,
aku Lan Giok tong benar-benar merasa malu dan tak punya
muka lagi untuk berjumpa dengan dirimu.”
"Bukankah sudah kukatakan, persoalan yang sudah lewat
biarkanlah lewat…”
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan:
"Lan heng, aku ingin mengajukan satu pertanyaan
kepadamu, apakah engkau bersedia untuk memberikan
jawabannya?”
''Asalkan persoalan itu aku ketahui, sudah tentu akan
kujawab sejujurnya, apa yang ingin Siau tayhiap tanyakan?
Katakan lah secara terus terang !”
"Sebenarnya berapa banyak jago silat yang dimiliki Shen
Bok Hong dewasa ini? Dan sampai dimanakah kekuatan yang
mereka miliki?

"Shen Bok Hong adalah seorang manusia licik, seekor rase
tua yang sangat lihay. Tidak pernah ia siarkan rahasia yang
menyangkut kekuatan pihaknya, kecuali dia pribadi aku rasa
tiada orang kedua yang benar-benar mengetahui kekuatan
yang dimilikinya dewasa ini.."
Sesudah berbatuk ringan, sambungnya lebih jauh.
"Walaupun begitu, menurut apa yang kuketahui hampir
semua perguruan dan partai-partai persilatan yang ada di
dunia ini telah digunakan olehnya, oleh karena itulah kecuali
kekuatan yang telah berkumpul dalam perkampungan Pek hoa
san cung dewasa ini, sebetulnya dia misih memiliki pula
kekuatan tersembunyi yang menyusup dalam tubuh
perguruan-perguruan silat itu !”.
Siau Ling sagera menganggukkan kepalanya berulang kali.
”Soal itu aku sendiripun sudah tahu, aku rasa tak perlu Lanheng
terangkan lagi…!”
Ia berhenti sebentar, kemudian sambung nya lagi :
“Yang kumaksudkan, apakah Lan heng dapat menerangkan
kecuali jago-jago silat biasa, apakah Shen Bok Hong berhasil
menghimpun pula jago-jago silat lain yang kelihatannya
istimewa dan luar biasa sekali, misalnya tokoh-tokoh silat lama
yang telah lama mengasingkan diri..”
“Kecuali jago-jago silat yang sejak semula sudah terhimpun
di dalam perkampungan Pek hoa san cung, memang ada jagojago
lain yang mendapat perlakuan istimewa dari Shen Bok
Hong. Yang agak dihormati adalah Wu Kongcu yang berhasil
melukai aku tadi, selain itu terdapat pula seorang jago tua
yang bernama Hui huang kiam ( pedang walang terbang ) aku

sendiripun kurang tahu jago tua ini berasal dari mana, akan
tetapi kalau kutinjau dari sikap Shen Bok Hong yang begitu
menghormati jago tua tersebut dapatlah kutarik kesimpulan
bahwa jago tua itu benar-benar memiliki ilmu silat yang
sangat lihay!”.
“Hui huang kiam?" bisik It bun Han to
“Betul, dia bernama pedang walang terbang !”
Agaknya Siau Ling tidak begitu tertarik oleh jago tua yang
bernama pedang walang terbang itu, segera ujarnya kembali:
“Aku dengar beberapa waktu belakangan ini Shen Bok
Hong pernah mengadakan pertemuan dengan seorang
hweesio. Apakah Lan heng mengetahui akan soal ini??”
Lan Giok. tong segera mengangguk.
“Tentu saja tahu, cuma saja belum pernah kami semua
sempat berjumpa muka dengan hweesio itu.
“Pernah mendengar nama atau julukannya?”
-oo0dw0oo-
“KAMI semua cuma tahu kalau dia pergi menjumpai
seorang tokoh persilatan yang amat sakti, dan katanya Shen
Bok Hong sedang berusaha untuk membujuk orang itu agar
bersedia masuk menjadi anggota perkampungan Pek hoa-san
cung. Siapa namanya kami kurang jelas, tapi yang pasti jago
lihay itu bukan manusia sembarangan sudah pasti dia adalah
seorang tokoh sakti yang disegani oleh Shen Bok Hong

sendiri.”
Mendengar keterangan tersebut, dalam hati kecilnya Siau
Ling segera berpikir:
"Waah..! Kalau begini caranya, sekalipun kuajukan pelbagai
pertanyaan lagi juga percuma saja, belum tentu aku bisa
peroleh jawaban yang memuaskan hati"
Berpikir sampai disitu, diapun lantas mengalihkan pokok
pembicaraan ke soal lain, katanya kemudian:
"Saudara Lan, masih ada satu persoalan lagi yang kurang
kupahami, apakah engkau mengetahuinya?!”
“Dalam soal apa?!”
"Masalah yang menyangkut tentang diri Kim hoa Hujin,
perempuan yang berasal dari wilayah Biau itu?!”
"Kim-hoa hujin? ada apa dengan perempuan beracun itu?”
tanya Lan Giok tong keheranan.
“Berulang kali Kim hoa hujin menolong dan membantu
pihakku, bahkan kadangkala bantuannya diberikan secara
blak-blakan, masakah Shen Bok Hong sama sekali tidak
mengetahui akan perbuatannya ini?!”
"Aku rasa gembong iblis itu tahu.."
Setelah menghembuskan napas panjang, lanjutnya lebih
jauh :
"Suatu hari, ketika semua jago berkumpul dalam suatu
ruangan, termasuk pula akupun hadir di situ, secara terangTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
terangan Shen Bok telah menyindir dan mengejek diri Kim-hoa
Hujin, katanya pagar makan tanaman, tidak tahu budi dan tak
tahu malu, bahkan diapun mentertawakan Kim hoa hujin yang
umurnya sudah tua, katanya dengan usia setua itu dia lebih
mirip menjadi …..”
Berbicara sampai di situ mendadak ia melirik sekejap ke
arah Siau Ling kemudian membungkam.
Siau Ling tertawa ewa.
"Jangan kuatir, bagaimanapun juga toh perkataan itu
bukan engkau yang ucapkan melainkan kata-kata dari Shen
Bok Hong, utarakan saja saudara Lan seperti aslinya!”
“Kalau memang begitu aku mohon maaf lebih dahulu bila
ucapan tersebut amat menyinggung perasaan hatimu,
menurut Shen Bok Hong katanya usia Kim hoa hujin lebih
mirip menjadi neneknya Siau Ling, masa dia masih kesemsem
dan tertarik oleh ketampanan Siau tayhiap, malahan ia
menasehati perempuan itu agar cepat-cepat padamkan api
asmaranya yang pasti akan sia-sia belaka itu"
It bun Han to yang ikut mendengar perkataan itu segera
tersenyum, cepat sambungnya:
“Sedari tadi sudah kuduga, Shen Bok Hong pasti akan
memaki dengan kata-kata seperti itu ternyata dugaanku
memang tidak meleset!”
Setelah berhenti sebentar ia menambahkan:
"Rupanya Shen Bok Hong memang.. .”
"Memang kenapa?” sela Siau Ling.

“Rupanya Shen Bok Hong memang menaruh rasa cinta
kepada Kim hoa hujin. karena rasa cintanya inilah maka
kendatipun ia sudah dihianati sampai beberapa kali namun
gembong iblis itu masih tetap membungkam diri, bahkan
setahuku dalam menghadapi persoalan apapun ia selalu
mengalah tiga bagian kepadanya.”
"Apakah Kim hoa hujin sendiripun mengetahui akan hal
ini?”
"Tentu saja tahu, oleh karena dia tahu maka ia jadi
semakin berani…!”
"Perduli bagaimanapun juga, yang pasti Kim hoa hujin
sudah berulang kali menyelamatkan jiwaku, kenyataan ini
membuat hatiku jadi tidak tenteram..aaaai! Entah bagaimana
caraku untuk membalas budi kebaikannya ini?”
"Bukan Siau tayhiap seorang yang merasa berhutang budi
kepadanya, berbicara sesungguhnya semua orang di kolong
langit ini yang merasa bermusuhan dengan Shen Bok Hong,
sepantasnya kalau merasa berterima kasih kepadanya.”
Siau Ling bangkit berdiri dari tempat duduknya, lalu
berkata:
"Saadara Lan, luka yang kau derita belum sembuh, aku
merasa kurang leluasa untuk mengganggu lebih jauh
selewatnya hari ini bila kesehatan saudara Lan telah sembuh
kembali, aku akan datang untuk bercakap-cakap lagi dengan
engkau!”
Berbicara sampai disitu ia lantas beranjak dari tempat
duduknya dan menuju ke pinlu ruangan.

"Siau tayhiap..!” tiba-tiba Lan Giok tong menyapa setelah
menghela napas panjang.
Waktu itu Siau Ling sudah tiba di depan pintu mendengar
panggilan tersebut ia segera berhenti seraya berpaling.
"Ada urusan apa lagi saudara Lan?”
"Ada satu persoalan… rasanya kurang leluasa sebelum
kuutarakan keluar!”
“Persoalan mengenai apa??”
“Mengenai diri Gak Siau cha…”
“Kecantikan wajah nona Gak ibaratnya bidadari dari
khayangan, setiap orang mencintai dirinya, tentang soal ini
siau-te sudah memahaminya" sela Siau Ling cepat.
Lan Giok-tong segera gelengkan kepalanya.
“Yang kumaksudkan adalah keadaannya pada saat ini,
persoalan yang kupkirkan sekarang...”
“Apa yang Lan heng pikirkan??”
“Tampaknya Siau tayhiap sama sekali tak menaruh rasa
cinta terhadap nona Gak!...”
Siau Ling tertegun setelah mendengar perkataan itu.
“Sudah lama kami berkenalan, hubungan kami erat
bagaikan saudara kandung sendiri siapa bilang aku tidak
menyayangi dirinya?”

“Yang kumaksudkan bukan sayang menyayang sebagai
sesama Saudara, tapi rasa Cinta kasih sebagai kekasih dan
calon istri, sebab menurut jalan pikiranku hanya manusia
seperti Siau tayhiap saja yaag pantas untuk mendampingi
nona Gak sedangkan aku, Giok siau-long kun serta Wu kongcu
itu sama sekali tidak pantas, karenanya aku……”
“Saudara Lan !” tukas Siau Ling dengan cepat. ”Nona Gak
bukan seorang gadis yang bodoh, ia cerdas dan ia mempunyai
pendirian sendiri, maka segala keputusan terletak di
tangannya pula, apa yang hendak dia lakukan kita semua tak
mungkin bisa menghalangi atau menentangnya, bukankah
begitu..? “
“Apa yang Siau tayhiap katakan memang tidak keliru,
persoalan pribadi dari nona Gak lah yang berhak untuk
memutuskan, kita semua tak mungkin bisa mengambilkan
keputusan baginya..!”
Ia menghela napas panjang, kemudian sambungnya lebih
jauh:
“Aaai..! Kalau dipikir kembali, persoalan ini sebetulnya
gampang sekali untuk dipecahkan, tapi sudah bertahun-tahun
Iamanya aku berpikir namun tidak berhasil juga untuk
memahaminya.. "
“Siapa yang terlibat dia akan kebingungan, saudara Lan !
Bila sekarang engkau sudah sadar kembali, aku rasa belum
terlalu lambat,” begitu timbrung In bun Han to.
Kembali Lan Giok menghela napas panjang.
“Siau tayhiap, tiba-tiba aku teringat akan satu persoalan,
apakah Siau tayhiap bersedia untuk mengabulkan

permintaanku ini?"
"Asalkan permintaanmu itu pantas, tentu saja tiada alasan
bagiku untuk menolaknya"
“Bila luka-lukaku telah sembuh nanti, aku ingin sekali
berbakti kepada Siau tayhiap dan menyumbangkan tenagaku
untuk menegakkan keadilan dan kebesaran bagi umat
manusia!"
“Kata berbakti tidak berani kuterima, akan tetapi bila Lan
heng bersedia untuk menyumbangkan tenaganya untuk
bersama-sama melawan kelaliman Shen Bok Hong, dengan
senang hati siau-te menerima uluran tanganmu itu!"
“Jika Lan heng bersedia membantu pihak kami, berarti pula
kekuatan pihak kita akan bertambah kuat lagi!” ujar It bun
Han to pula dari samping kalangan.
“Saudara sekalian dapat memaklumi keadaanku bahwa
menerima pula aku ke dalam pihak kalian, kesediaan ini
sangat mengharukan hatiku.."
“Beristirahatlah dengan tenang di tempat ini”, kata Siau
Ling kemudian, “siau-te tidak akan mengganggu lagi…”
Perlahan-lahan dia melangkah keluar dari ruangan itu.
It-bun Han-to segera menyusul di belakangnya.
Tiba-tiba Siau Ling teringat kembali akan diri Wu kongcu,
segera bisiknya dengan lirih: ”Bagaimana keadaan dari Wu
kongcu??”
“Ilmu silat yang dimiliki orang ini sangat lihay, sekujur

badannya penuh dengan binatang beracun, aku tidak berani
membiarkan keempat anggota badannya bergerak dengan
bebas.”
“Jadi engkau telah membelenggu sekujur badannya??”
“Aku hanya menotok jalan darah dikeempat buah anggota
badannya, serta mengutus orang untuk menjaga dirinya,
asalkan ia tidak dapat mengerahkan hawa murninya untuk
menembusi jalan darahnya yang tertotok niscaya diapun tak
mungkin bisa lolos.”
"Apakah engkau sudah mengajak orang itu untuk bercakapcakap?”,
tanya Siau Ling lagi.
It bun Han to menggeleng, “Belum!” sahutnya, “orang itu
terlalu sadis, dingin dan keras kepala, aku lihat susah rasanya
untuk menaklukan hatinya, menurut pendapatku lebih baik
orang itu didesak saja selama beberapa waktu, asal sudah
tersiksa lahir batinnya mungkin saja wataknya akan
mengalami banyak perubahan,."
“Mari kita tengok keadaannya !”
“Baik, Tapi Siau tayhiap harus waspada selalu dan berjagajaga
terhadap serangan gelapnya, orang amat keji dan licik,
kekejiannya sedikitpun tidak berada di bawah Shen Bok
Hong".
“Soal ini aku sudah tahu, sewaktu kecil tempo dulu aku
pernah dihajar olehnya sampai terjatuh ke dalam jurang, tapi
untungnya karena celaka aku malahan mendapat rejeki dan
sempat mencicipi rasanya jamur batu yang berusia seribu
tahun, pertemuanku pada hari ini merupakan pertemuanku
yang ke tiga kalinya"

“Cayhe akan membawa jalan..!” It-bun Han to berebut
maju ke depan, dengan membawa Siau Ling ia menuju ke
sebuan ruang lain.
Didalam ruangan itu, Wu kongcu tampak duduk bersila di
atas pembaringan, di samping pembaringan tersebut masingmasing
berdirilah seorang laki-laki bersenjata pedang, empat
buah mata yang tajam menatap terus diatas wajah Wu kongcu
tanpa berkedip.
Sepasang mata Wu kongcu terpejam rapat-rapat, sekalipun
ia mendengar suara langkah kaki memasuki ruangannya
namun sepasang matanya itu masih tetap terpenjam rapat.
Setibanya dalam ruangan, Siau Ling segera mendehem
ringan, lalu tegurnya dengan nyaring :
"Wu heng baik-baikkah engkau?!”
Wu kongcu membuka kembali matanya, setelah melirik
sekejap ke arah Siau Ling sahutnya dengan dingin :
“Bukankah kakek baju kuning yang bentrok dengan aku
tadi tak lain adalah penyaruan dari engkau Siau Ling?!”
“Benar, terima kasih atas kesediaanmu mengalah
kepadaku tadi..!”
Wu kongcu tertawa dingin.
"Heehh. heehh. heehh. sejak tadi aku telah menduga akan
dirimu".
Siau Ling tertawa ewa, katanya kemudian:

“Kejadian yang sudah lewat tak perlu dibicarakan lagi,
kedatanganku kemari sekarang ini tak lain adalah ingin
mengajak saudara Wu untuk membicarakan urusan setelah
hari ini.”
“Urusan apa??”
“Menjenai rencana Wu heng selanjutnya”.
“Apa yang hendak Siau tayhiap lakukan terhadap diriku ?",
seru Wu kongcu dengan ketus.
“Sampai sekarang, aku masih belum memikirkan cara apa
yang hendak kulakukan terhadap diri Wu heng !”.
"Kalau begitu sekarang engkau boleh pikirkan lebih dulu,
sebelum memberi jawaban kepadamu, ingin kuketahui lebih
dahulu tindakan apa yang hendak kau lakukan atas diriku ini"
“Apa tindakannya tergantung bagaimanakah sikap Wu-heng
selanjutnya. Andaikata Wu heng bersedia untuk bekerja sama
dengan kami dan bersama-sama menghadapi kelaliman Shen
Bok Hong, maka dengan senang hati akan kami terima
sumbangan tenagamu itu, tapi sebaliknya apabila Wu-heng
tidak bersedia untuk bekerja sama dengan kami, tentu saja
keadaanpun akan jauh berbeda.”
Wu kongcu segera menggelengkan kepalanya berulang kali,
"Aku rasa sulit bagiku untuk bekerja sama dengan kalian”,
katanya lantang.
"Kenapa ?”
"Karena syaratnya tidak cocok!”

"Syarat apa yang hendak kau ajukan kepada pihak kami?”
"Sederhana saja, syaratku hanya Gak Siau cha untuk
dikawinkan dengan aku, maka akupun akan membantu
dirinya!”
Hebat sekali perubahan wajah Siau Ling.
"Masalah tentang nona Gak tak bisa diputuskan oleh
siapapun”, katanya, “akan tetapi kalau engkau yakin bahwa
engkau dapat membuat Gak Siau cha jatuh cinta kepadamu,
itu adalah urusan pribadimu. Kecuali orang tua, siapapun tidak
berhak untuk menentukan perkawinan seseorang, apakah
engkau tidak merasa bahwa permintaanmu itu kelewat batas?"
Wu kongcu tertawa dingin.
"Kalau engkau tidak bersedia juga boleh, tapi engkau harus
menyetujui pula sebuah permintaanku yang lain.”
"Asalkan permintaanmu itu masuk di akal tentu saja aku
akan berusaha untuk memenuhinya.”
"Apakah masuk diakal atau tidak aku tidak tahu, tapi aku
yakin engkau pasti dapat melakukannya !”.
"Coba katakan !”
"Aku minta engkau membatalkan ikatan perkawinanmu
dengan Gak Siau chi, detik ini juga!”
"Tapi antara aku dengan nona Gak tak pernah mengikat diri
dalam suatu perkawinan.”
“Walaupun begitu, dalam surat wasiat mendiang ibunya, ia

telah menjodohkan Gak Siau cha kepadamu.."
Sesudah menghembuskan napas panjang, tambahnya,
"Ketahuilah, aku bukannya sengaja mencari ribut tanpa
didasari oleh alasan yang kuat…”
"Memaksa orang untuk membatalkan ikatan perkawinannya
adalah suatu perbuatan yang tercela, kalau kejadian macam
inipun tidak bisa dianggap sebagai perbuatan yang tercela,
tolong tanya perbuatan macam apa baru bisa dihitung sebagai
perbuatan yang tercela ?”, sambung It bun Han to dari
samping.
“Sebelum meninggal dunia, ayah Gak Siau cha telah
menjodohkan putrinya kepadaku, pembicaraan tersebut
dilakukan diantara ayahnya dengan ayahku, cuma aku tak bisa
membuktikan bahwa kejadian ini benar-benar telah terjadi..!"
“Kalau kejadian itu tak bisa dibuktikan, siapa tahu kalau Wu
kongcu sengaja mengarang cerita begitu untuk membohongi
aku?”
“Ayah Gak Siau cha sudah lama meninggal dunia, ayahku
juga sudah menghembuskan napas penghabisan, andaikata
ibu Gak Siau cha masih hidup mungkin saja ia bisa bertindak
sebagai saksi, sayang diapun telah menemui ajalnya".
“Bila ibu nona Gak mengetahui akan perjodohan ini, mana
mungkin ia menjodohkan lagi putrinya kepada Siau Ling ?!”
tangkis It bun Han to dengan nyaring.
Wu kongcu mendengus dingin.
“Hmm! Aku tak mau tahu apakah kalian bersedia

mempercayai perkataanku ini atau tidak, semua yang
kuucapkan adalah kata-kata yang disampaikan ayahku sendiri
kepadaku sebelum ajalnya tiba, dan menurut pendapatku apa
yang dikatakan sudah pasti tak bakal keliru…. Tapi urusan itu
tidak ada pengaruhnya apa-apa, yang penting toh bagaimana
caranya menghadapi Shen Bok Hong bukankah begitu?”
“Engkau sanggup menghadapi Shen Bok Hong?” tanya It
bun Han to kurang percaya.
"Benar! Aku mempunyai kemampuan untuk menaklukan
Shen Bok Hong. Walaupun ia telah meracuni atau menotok
jalan darah aneh di setiap tubuh anak buahnya, tapi aku telah
menggunakan taktik yang sama untuk mengecundangi dirinya,
bukankah kalian saksikan dengan mata kepala sendiri
bagaimana kutusuk telapak tangannya dengan jarum beracun?
Selain dia, akupun telah meracuni pula beberapa orang anak
buahnya.”
"Engkau benar-benar amat licik dan berbahaya!” seru It
bun Han to dengan perasaan gegetun.
"Demi menjaga keselamatan sendiri mau tak mau aku
harus gunakan akal cerdikku untuk berjaga diri. Kalau orang
lain yang kugauli mungkin masih mendingan, tapi yang jelas
Shen Bok Hoig bukanlah seorang manusia yang boleh
dianggap mainan!”
“Ada satu hal aku harap engkau bisa memhaminya, saat ini
engkau sudah terjatuh ke dalam cengkeraman kami, setiap
saat kami mampu untuk membinasakan dirimu!”
Wu kongcu tertawa ewa. "Aku tahu tentang soal itu, tapi
yang pasti kalian tak akan mampu menghadapi Shen Bok
Hong”.

“Sekalipun engkau tidak bersedia untuk bekerja sama
dengan kami, toh akhirnya Shen Bok Hong akan mati
keracunan.”
"Oleh karena itulah aku percaya bahwa dia akan
mempertaruhkan segalanya untuk datang kemari
menyelamatkan jiwaku!"
”Andaikata sekarang juga kami membinasakan dirimu,
sekalipun ia berhasil datang ke mari, paling toh dia cuma
selamatkan sesosok mayat belaka!”
Tiba-tiba Wu kongcu menengadah dan tertawa terbahakbahak.
“Haaah haaaah haaaaahh kalian terlalu pandang rendah
diriku, memangnya kalian anggap aku adalah seorang
manusia tak berguna??”
“Apa maksudmu??”
“Apabila kalian membinasakan diriku maka Shen Bok Hong
tidak jadi mati, sebab sebelum kesemuanya ini berlangsung
aku telah menyerahkan obat pemunah itu kepada seorang
anak buahku yang paling setia, jikalau dia tahu kalau aku
sudah mati maka serta merta obat penawar itu akan
diserahkan kepada Shen Bok Hong. bahkan beberapa orang
anak buahnya yang keracunanpun akan memperoleh pula
obat penawar tersebut, dan itulah harga yang harus kalian
bayar jika berani membunuh aku. Sebaliknya apabila kita bisa
berunding secara baik-baik, maka bukan saja pertarungan
dapat dihindari, malahan beberapa hari kemudian Shen Bok
Hong serta beberapa orang pembantu intinya akan mati
keracunan!''

“Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu, tampaknya
engkau merasa yakin bahwa rencanamu itu pasti berhasil !”
kata It-bun Han to sambil menatap tajam wajah musuhnya.
Wu kongcu tertawa hambar.
"Apabila aku tidak merasa yakin bahwa rencanaku ini pasti
berhasil, mau apa tetap duduk di tempat ini sambil menunggu
saat kematianku tiba..?"
"Sampai dimanakah kelihayan yang dimiliki Nio tok bun
memang pernah kudengar dari pembicaraan orang, sekalipun
begitu aku tetap tak habis mengerti dengan cara apakah
engkau dapat membebaskan diri dari pengaruh totokan serta
melarikan diri dari tempat ini.”
Berkedip sepasang mata Wu koogcu.
"Kalau kalian tidak percaya dengan kemampuanku, baiklah!
Akan kubuktikan kepada kalian bahwa aku masih mampu
untuk berlalu dari tempat ini.”
Baik Siau ling maupun It bun Han to segera menunjukkan
wajah tidak percaya, sepasang mata mereka dengan tajam
menatap wajah Wu kongcu tanpa berkedip.
Sementara itu Wu kongcu sendiri pejamkan matanya rapatrapat,
lama sekali tidak tampak suatu gerakan apapun seakanakan
ia sudah tertidur pulas saja.
Sementara It bun Han to akan menegur, tiba-tiba terdengar
dua kali jeritan kaget berkumandang memecahkan kesunyian,
menyusul mana dua orang laki-laki bersenjata pedang itu
serentak roboh terjungkal ke atas tanah.

Ketika semua orang alihkan perhatiannya ke arah dua
orang laki-laki itu, maka tampaklah di atas wajah dua orang
laki-laki bersenjata pedang itu masing-masing merangkak
seekor kelabang berwarna hijau, saat itu paras muka mereka
telah berubah jadi hijau kebiru-biruan, jelas mereka roboh
sebagai korban kelabang beracun itu.
Sambil tertawa Wu kongcu membuka matanya kembali lalu
berkata:
"Kedua ekor kelabang hijau itu sangat beracun, mereka
merupakan senjata rahasia yang mematikan!”
Mimpipun Siau Ling tak pernah mengira kalau dalam
keadaan demikian, ia masih berani melepaskan makhluk
beracunnya untuk melukai orang, kendatipun ia sudah bersiap
sedia dengan mengenakan sarung tangan kulit ular, namun
untuk sesaat pemuda itu tak berani menyentuh makhluk
tersebut dengan tangannya.
It bun Han to segera tertawa dingin tegurnya:
"Apakah mereka berdua sudah tewas?
"Bila tidak memperoleh pertolongan dalam waktu
sepertanak nasi maka mereka tak bisa diselamatkan lagi
jiwanya!"
“Engkau mempunyai obat penawarnya ?”
"Obat penawar memang ada, cuma kalian tak akan mampu
untuk mempergunakannya!"
“Kenapa??”

“Sebab obat penawarnya adalah hidup, untuk
memusnahkan racun yang mengeram dalam tubuh mereka,
kita harus menggunakan racun untuk memusnahkan racun.”
“Jadi maksudmu, untuk menyelamatkan jiwa mereka maka
jalan darahmu harus dibebaskan lebih dulu??”
Wu kongcu segera tersenyum:
“Tepat sekali. It bun sianseng memang sangat cerdik dan
pandai meraba suara hati orang lain.”
It bun Han to tidak berbicara, dia segera berpaling dan
memandang sekejap ke arah Siau Ling untuk minta
pertimbangannya.
Siau Ling termenung beberapa saat lamanya. kemudian
sahutnya :
“Menolong orang lebih penting dari segala-galanya,
bebaskan jalan darahnya yang tertotok!"
It bun Han to bertindak cepat, tangan kanannya segera
diayun ke depan untuk membebaskan jalan darah Wu kongcu
yang tertotok.
Sementara Siau Ling sendiri menggunakan kesempatan itu
segera mundur dekat pintu, diam-diam sarung tangan kulit
ularnya dikenakan.
Setelah jalan darahnya yang tertotok dibebaskan. Wu
kongcu bangkit berdiri serta melemaskan ototnya yang kaku
kemudian perIahan-lahan turun dari pembaringannya sambil
bergumam lirih.

Ketika tangan kanannya diulurkan ke depan. maka sekali
lompat kelabang hijaunya itu melompat ke atas tangannya
dan masuk ke dalam ujung bajunya.
Setelah itu dia baru ambil sebuah kotak kumal dari dalam
saku.
Ketika kotak itu dibuka maka muncullah dua ekor laba-laba
raksasa yang bermuka bengis, kedua ekor laba-laba itu
diletakkan di dekat mulut luka dua orang yang tergigit
kelabang tadi.
Dengan sorot mata yang tajam Siau Ling mengawasi kedua
ekor laba-laba tersebut, ia lihat binatang itu besarnya seperti
telur itik, tubuhnya berwarna hitam pekat dengan di atas
kepalanya terdapat sebuah titik warna putih.
Paras muka dua orang laki-laki yang semula berwarna hijau
kebiru-biruan kian lama kian menghilang, selang sesaat
kemudian warna hijau itu sudah lenyap sama sekali, dengan
begitu muka merekapun berubah jadi memerah kembali.
Wu koagcu menyimpan kembali laba-laba itu ke dalam
kotaknya dan masukkan ke dalam sakunya, kemudian
mengambil dua biji obat dan dijejalkan ke dalam mulut kedua
orang itu katanya:
“Tidak sampai sepeminum teh kemudian mereka akan
sadar kembali dari pingsannya kalian tak usah menguatirkan
keselamatan mereka berdua lagi. Bagaimana kalau kita
lanjutkan kembali perundingan kerja sama kita.."
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh:
"Akan kubunuh Shen Bok Hong beserta beberapa orang

pembantu andalannya jikalau Siau tayniap menyetujui pula
membatalkan ikatan perkawinanmu dengan Gak Siau cha!
Siau Ling tidak langsung menjawab, dalam hati pikirnya.
“Sampai detik ini, perjuanganku melawan Shen Bok Hong
masih belum punya pegangan untuk menang, apabila secara
tiba-tiba Shen Bok Hong mati keracunan maka kematiannya ini
akan mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi dunia
persilatan, tapi Wu kongcu bersedia meracuni Shen Sok Hong
sampai mati apabila aku membatalkan ikatan perkawinanku
dengan enci Gak. Persoalan ini benar-benar merupakan suatu
masalah yang amat memusingkan kepala….”
Sementara itu Wu kongcu telah melanjutkan kembali katakatanya:
“Seseorang tidaklah mungkin untuk sekaligus
mendapatkan Hi sit dan Ham-ciang, sekarang namamu sudah
tersohor di seluruh kolong langit, semua jago silat
memandang engkau sebagai bintang penolong, hasil karyamu
sudah hampir mencapai pada puncaknya, masa engkau tak
rela untuk mengorbankan hubungan perkawinan itu demi
suksesnya kariermu..?!
"Gak Siau cha telah pergi meninggalkan tempat ini,
percayakah engkau dengan perkataanku ini?” kata Siau Ling
dengan ketus.
Wu kongcu tertegun lalu jawabnya:
“Apabila ucapan ini diutarakan oleh orang lain sudah pasti
aku tidak percaya, tapi kalau Siau tayhiap yang
mengatakannya terpaksa mau tak mau aku musti
mempercayainya !”

“Terima kasih atas kepercayaanmu atas diriku nona Gak
benar-benar sudah pergi tinggalkan tempat ini, dalam
suratnya yang ditinggalkan kepadaku, ia mengatakan akan
pergi membalaskan dendam bagi ibunya !”
"Apakah Siau tayhiap tahu siapakah musuh besar dari nona
Gak itu ? " tanya Wu kongcu kemudian.
Siau Ling gelengkan kepalanya berulang kali.
“Dalam suratnya ia tidak menyebutkan nama orang itu,
diapun tidak menyebutkan akan pergi ke mana!"
-ooo0dw0ooo-
Jilid: 41
WU KONG CU termenung dan berpikir kemudian tanyanya:
"Benarkah apa yang kau ucapkan adalah kata-kata yang
sejujurnya?”
"Setiap patah kata yang kukatakan betul-betul adalah
ucapan yang sejujurnya!”
"Dia pergi seorang diri?”
"Dua orang dayangnya yang telah dianggap bagaikan
saudara sendiri itu mengiringi kepergiannya.”
"Masih ada satu orang yang mengejar kepergiannya itu,”
tiba-tiba It bun Han to menambahkan dari samping.
"Siapakah orang itu..?” cepat Wo kongcu bertanya dengan
paras muka berubah hebat.
"Giok Siau long kun!"
Kontan saja Wu kongcu mendengus dingin.

“Hmm! Cepat atau lambat akhirnya toh dia akan menerima
keadaan seperti yang di dalam Lan Giok-tong!"
“Kenapa dengan Lan Giok-tong?!” diam-diam Siau Ling
berpikir dalam hatinya, “toh dia belum mati?!”
Setelah berpikir sebentar, ia urungkan maksudnya untuk
memberitahukan keadaan tersebut.
Tiba-tiba Wu kongcu menengadah, sepasang matanya
dengan sinar yang setajam sembilu menatap wajah Siau Ling
tak berkedip, ujarnya lagi:
“Urusan tentang Lan Giok-tong lebih baik tak usah
dibicarakan lagi, aku cuma ingin tahu bagaimanakah
keputusan dari Siau tayhiap?. Harap engkau suka memberikan
jawaban yang meyakinkan"
“Pertanyaan semacam itu sepantasnya kalau engkau ajukan
kepada nona Gak pribadi," sahut It bun Han to dengan cepat,
"sebab hanya dia seorang yang berhak untuk memberikan
keputusannya. Sekalipun Siau tayhiap menyetujui toh tidak
berpengaruh apa-apa dalam masalah tersebut"
"Heehh… heehh... heehh... tampaknya pembicaraan
diantara kita berdua tak bisa dilanjutkan lebih jauh!"
Siau Ling pun tertawa dingin.
"Apakah engkau bersiap sedia akan melukai orang dengan
menggunakan, binatang beracunmu?" ejeknya.
“Engkau adalah penghalang yang terbesar dari hubunganku
dengan Gak Siau-cha, kecuali menyingkirkan dirimu dari muka
bumi, rasanya memang tiada jalan lain yang lebih baik lagi.”
Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, tiba-tiba
dia mengayunkan tangannya ke depan, sekilas cahaya hijau
segera meluncur ke depan langsung menyergap tubuh Siau
Ling.

Dengan cekatan Siau Ling mengangkat taegan kanannya ke
atas untuk menerima datangnya kelabang berwarna hijau itu.
Begitu tertangkap ia segera meremasnya dengan sekuat
tenaga.
“Kraaass..!'* kelabang yang mengerikan itu seketika
tergencet sampai putus menjadi tiga bagian, sambil
membantingnya keatas tanah ujarnya dengan dingin:
“Masih berapa banyak binatang beracun yang kau miliki ?
Hayo keluarkan semua sampai habis!”.
W u kongcu tertawa dingin.
“Heeeh heeeh heeeeh bila penglihatanku tidak keliru,
agaknya engkau mengenakan sarung tangan kulit ular yang
merupakan salah satu diantara tiga buah benda mustika
dalam dunia persilatan, bukankah begitu??”
Siau Ling agak tertegun dalam hati pikirnya:
"Luas sekali pengetahuan orang ini..!"
Sebelum dia sempat menjawab, terdengar Wu kongcu telah
meneruskan kembali kata-katanya:
“Ketika ayahku masih hidup dulu, beliau pernah beritahu
kepadaku bahwa ia pernah menderita kerugian besar oleh
sarung tangan kulit ular ini, katanya ia terluka oleh ilmu jari
Siu-lo-sin ci nya Lia sian cu”.
Tiba-tiba suaranya diperkeras, sambungnya:
“Apa hubunganmu dengan manusia yang bernama Liu Sian
cu itu??”
“Dia adalah salah seorang guruku, apabila engkau hendak
membalaskan dendam bagi ayahmu, maka akupun bersedia
untuk mewakili guruku untuk menerima pembalasanmu!”
"Sikap ayahku kurang lebih baik, sebab jikalau ia tidak
menghalangi niatku maka sejak enam tahun berselang,

selembar jiwamu sudah kubikin mampus, asal engkau sudah
mampus sedari dulu, maka ini haripun aku tak akan dibuat
kerepotan oleh tindak tandukmu"
“Enam tahun berselang engkau telah mendorong aku
sehingga tercebur ke dalam jurang, apabila nasibku tidak
mujur, memangnya aku masih bisa hidup sampai sekarang.."
Wu kongcu mendengus dingin, tukasnya :
“Apabila ayahku tidak menghalangi perbuatanku, maka
akan kusuruh engkau mampus digigit oleh binatang
beracunku, asal engkau sudah tergigit oleh binatang
beracunku, memangnya engkau bisa hidup sampai
sekarang?!”
It bun Han to yang mengikuti jalannya pembicaraan
tersebut, tiba-tiba berkata dengan suara lantang :
“Apabila manusia semacam ini dibiarkan hidup di kolong
langit, itu berarti kita telah bertambah dengan seorang musuh
tangguh, daripada meninggalkan bibit bencana dikemudian
hari, alangkah baiknya kalau kita sudahi jiwanya sampai di sini
saja."'
Mendengar ancaman tersebut, diam-diam Wu kongcu
menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap sedia.
Siau Ling menghembuskan napas panjang, katanya :
"Dimasa lampau, ayahmu pernah melepaskan budi
pertolongan kepadaku, maka sebagai balasannya hari ini
akupun akan melepaskan engkau satu kali, Nah! Sekarang
engkau boleh pergi dari sini”.
Tampaknya keputusan dari Siau Ling ini sama sekali diluar
dugaan Wu kongcu, ia tampak tertegun dan berdiri menjublak,
tapi sesaat kemudian ia sudah melangkah pergi dari situ.
Dengan suara lirih Siau Ling berbisik kepada It-bun Han to
yang berdiri disampingnya :

"Saudara It bun, tolong beritahukan kepada saudarasaudara
kita semua agar jangan menghalangi jalan pergi Wu
kongcu ini?"
It-bun Han to mengangguk, sorot matanya segera dialihkan
ke atas wajah Wu kongcu, kemudian katanya :
“Ketahuilah, Siau tayhiap adalah seorang pendekar sejati
yang berjiwa besar, meskipun ia hanya menerima setetes budi
kebaikan akan tetapi balasannya tak terkirakan, keputusannya
barusan tentu berada di luar dugaanmu bukan? Aku harap
engkau bisa tahu diri.”
Beberapa patah kata itu memang sengaja diutarakan
dengan mengandung maksud yang sangat mendalam, apalagi
artinya kalau bukan memperingatkan Wu kongcu bahwasanya
Siau Ling jauh lebih baik jika dibandingkan dengan diri Shen
Bok Hong.
Wu kongcu sama sekali tidak berbicara, dengan mulut
membungkam dalam seribu bahasa ia segera melangkah
menuju keluar ruangan itu…
Siau Ling dan It bun Han to segera mengikuti di belakang
Wu kongcu dan menghantarnya sampai di luar pintu gerbang.
Menunggu ia sudah berlalu dari sana dengan selamat,
barulah kedua orang itu masuk kembali ke dalam ruangan.
Setelah berada dalam ruangan kembali, It bun Han to
mendehem ringan, kemudian tegurnya:
“Siau tayhiap, apakah engkau sudah menyiapkan suatu
rencana besar dalam hal ini??”
"Maksudmu, setelah kulepaskan Wu kong-cu dengan begitu
saja ?" tanya Siau Ling sambil berpaling dan memandang
sekejap ke arah rekannya, It-bun Han-to.
Jago yang berotak berlian itu mengangguk.

“Wu kongcu adalah seorang manusia yang licik, kejam dan
tak kenal perikemanusiaan kekejamannya sedikitpun tidak
berada di bawah Shen Bok Hong sendiri, jikalau Siau tayhiap
melepaskan dirinya dengan begitu saja, bukankah sama
artinya ibarat melepaskan harimau pulang gunung ? Akhirnya
toh dia akan membuat keonaran kembali”.
Siau Ling termenung beberapa waktu lamanya sesudah
memutar otaknya diapun berkata:
“Engkau tak usah menguatirkan tentang soal Wu kongcu
itu, sebab, dikala hatiku memutuskan akan melepaskan Wu
kongcu untuk berlalu dari sini, pada saat itulah aku telah
memutuskan untuk menantang Shen Bok Hong guna
melakukan suatu pertarungan mati-matian melawan diriku,
gembong iblis itu akan kutantang untuk melakukan suatu duel
satu lawan satu !”
“Apakah Siau tayhiap punya rencana untuk secara langsung
menantang Shen Bok Hong untuk berduel ?“.
“Begitulah maksud hatiku! Agar rencanaku ini berhasil
mencapai kesuksesan aku harap It-bun sianseng bersedia pula
memberikan bantuannya, tugasmu cukup sederhana, cukup
engkau siarkan berita ini hingga tersebar luas ke seluruh dunia
persilatan, bila semua orang di dunia ini sudah tahu kalau aku
menantang gembong iblis itu untuk berduel, niscaya Shen Bok
Hong tak dapat menghindarkan diri lagi. Dalam keadaan
begitu mau tak mau terpaksa ia harus menyambut
tantanganku ini!"
“Untuk memaksa Shen Bok agar munculkan diri dan
menerima tantanganmu itu bukanlah suatu pekerjaan yang
menyulitkan; tapi…ia sebelum itu aku ingin bertanya dulu akan
satu hal kepadama!"
"Apa yang hendak It bun sianseng tanyakan?!”
"Apakah engkau yakin bisa menandingi kepandaian silat
yang dimiliki Shen Bok Hong ? Atau paling sedikit mampu

mempertahankan diri sehingga tidak sampai menderita
kekalaHan total?”.
"Tentarg soa! itu kiranya sudah kupikirkan secara masakmasak,
aku tahu di dalam soal tenaga dalam mungkin saja ia
lebih sempurna bila dibandingkan dengan tenaga Iwekang ku,
tapi di dalarn hal ilmu silat serta jurus serangan aku lebih
hebat dan lebih banyak perubahannya dari pada dia. Selain itu
usianya pada saat ini sudah meningkat lebih tua, sedikit
banyak dalam soal phisik ia sudah banyak mengalami
kemerosotan sekali pun badannya masih tangguh toh faktor
umur jua ada pengaruhnya. Dia sudah tua sedarg aku masih
muda, bagaimanapun juga kan yang muda jauh lebih kuat dan
daya tahannya lebih tangguh. Maka menurut pendapatku bila
pertarungan itu bila dilangsungkan agak lama, apalagi jikalau
aku sanggup memaksa gembong iblis itu untuk bertempur
sebanyak ribuan jurus, aku yakin dia pasti akan kehabisan
tenaga dan roboh dengan sendirinya!”.
Mendengar keterangan tersebut, It bun Han to tidak
langsung menjawab ia termenung dan berpikir beberapa
waktu lamanya setelah itu baru jawabnya:
"Semua keterangan serta alasan yang diutarakan Siau
tayhiap menang benar, dan bisa diterima dengan akal sehat.
Akan tetapi aku rasa tindakan tersebut terlalu membawa
resiko yang amat besar, pada hal sebagaimana kau ketahui
sendiri situasi dalam dunia persilatan dewasa ini lambat laun
sudah semakin condong untuk menguntungkan pihak kita.
Cukup berbicara menurut keadaan dewasa ini, bukankah
keadaan posisi kita lebih menguntungkan daripada posisi
musuh? Aku rasa bilamana tidak terlalu terdesak, jalan ini
alangkah baiknya tak usah ditempuh"
"It bun sianseng,. secara beruntun Shen Bok Hong telah
menderita kekalahan total di tangan kita, pada saat dan
keadaan seperti ini semangat serta keberaniannya sudah
banyak berkurang bila dibandingkan di masa-masa lampau.

Saat ini merupakan saat yang paling suram dan gelap baginya
sejak dia muncul kembali untuk kedua kalinya di dalam dunia
persilatan, apabiia kita bisa manfaatkan kesempatan yang
sangat baik ini dengan sesempurna-sempurnanya, terutama
bila kita bisa menangkan dirinya secara meyakinkan, maka
bukan saja nama besar, kedudukan serta pengaruhnya akan
mengalami pukulan yang sangat besar. Wibawa
kepimpinannya akan bertambah merosot dan anak buahnya
akan mulai membangkang perintahnya. Asal keadaan sudah
berubah jadi begitu maka kekuasaannya akan tumbang
dengan sendirinya, kekuatan pihak merekapun akan semakin
Iemah. Siapa tahu kalau justru dengan tindakan seperti itu,
kita malahan bisa selamatkan dunia persilatan dari suatu
pembantaian secara besar-besaran?”
"Apa..? Menyelamatkan dunia persilatan dari suatu
pembantaian secara besar-besaran?” tanya It bun Hun to
dengan wajah keheranan, sepasang alis matanya berkenyit.
“Benar, kita akan selamatkan dunia persilatan dari suatu
badai pembantaian secara besar-besaran" jawab Siau Ling
sambil mengangguk.
Sesudah menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh :
“Aaai….! Menurut hasil penyelidikanku Shen Bak Hong telah
menetapkan tanggal lima belas bulan ini sebagai saat
perjuangannya untuk menumpas semua kekuatan suci dan
kekuatan murni yang ada di dunia ini, pada tanggal itu
serentak dia akan lepaskan burung merpatinya untuk
menggambarkan kepada semua mata-matanya yang
menyelinap ke dalam tubuh tiap partai besar dan perguruan
agar mulai turun tangan. Target mereka akan merampas
pucuk pimpinan perguruan-perguruan tersebut kendatipun
sebagai pembayarannya mereka harus melakukan
pembantaian secara besar-besaran!”.
Betapa terperanjatnya It-bun Han-to setelah mendengar
kabar itu, segera serunya dengan kaget :

“Waaaduuh.... bisa berbahaya kalau rencana busuknya itu
berhasil diwujudkan, bagaimanapun juga kita harus
melakukan tindakan pencegahan sehingga maksud dan
tujuannya itu menemui kegagalan total..! “
“Aku sendiripun mempunyai keinginan untuk mencegah
jangan sampai rencana busuknya itu terwujud, oleh sebab
itulah sebelum tanggal lima belas bulan ini, aku harus sudah
melangsungkan pertarungan satu lawan satu dengan dirinya.”
"Kalau memang begitu, bagaimanapun juga recana ini
harus segera dilaksanakan dengan sebaik-baiknya….” seru Itbun
Han to kemudian.
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan kembali katakatanya
lebih jauh :
“Kalau dihitung dengan jari, maka selisih jarak mulai hari ini
sampai tanggal lima belas nanti tinggal lima hari belaka, itu
berarti kita harus bekerja secara kilat agar semuanya sudah
rampung sebelum saatnya tiba.”
Siau Ling mengangguk tanda membenarkan.
“Apa boleh buat ? Terpaksa kita memang harus berbuat
begitu, oleh sebab itulah aku minta bantuan dari It bun
sianseng untuk, mencarikan akal dan susunkan rencana agar
Shen Bok Hong bisa terdesak keluar untuk melangsungkan
duel satu lawan satu didalam satu dua hari mendatang ini.”
"Baik ! Kalau memang situasi dalam dunia persilatan telah
berubah jadi sangat gawat, aku akan berusaha dengan segala
kemampuan yang kumiliki!"
“Dalam dua hari mendatang akupun akan beristirahat serta
memelihara tenagaku dengan sebaik-baiknya, apabila tiada
sesuatu kejadian yang terlalu serius atau mendesak sifatnya,
harap semuanya diputuskan dan diatasi oleh It-bun sianseng,
engkau tak perlu mencari diriku lagi!”

"Tak usah kuatir, silahkan Siau tayhiap beristirahat dengan
setenang-tenangnya.”
Siau Ling menghela napas panjang, bibirnya bergetar
seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi niatnya itu dibatalkan
lagi, dengan langkah yang enteng dihampirinya kamar
istirahat dari Pek li Peng.
Waktu itu Pek li Peng sudah berdandan sebagai seorang
perempuan, ketika Siau Ling melangkah masuk kedalam
kamarnya ia sedang menyisir rambut, ketika menyaksikan
kemunculan si anak muda itu, ia segera bangkit berdiri seraya
berkata :
“Toako, coba lihatlah! Apakah aku benar-benar sudah
menginjak dewasa..?"
Siau Ling tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Kalau perempuan sudah menginjak usia enam belas tahun,
ia sudah dianggap dewasa, memang gadis yang sudah
menginjak dewasa, makin dipandang makin menarik hati..!”
Ia berhenti sebentar, tiba-tiba paras mukanya berubah jadi
amat serius, sambungnya kembali :
“Peng-ji, selama dua hari mendatang kita harus beristirahat
sebaik-baiknya, kita harus manfaatkan kesempatan yang amat
sedikit ini untuk menambah kekuatan lwekang kita serta
memperdalam jurus silat yang kita miliki, sekalipun hanya
bertambah dengan satu dua jurus ini lebih baik daripada tidak
memperoleh tambahan sama sekali.”
"Ada urusan apa toh?” tanya Pek li Peng dengan paras
muka berubah amat serius.
“Dua hari kemudian, aku hendak melangsungkan
pertarungan satu lawan satu dengan Shen Bok Hong, bahkan
dalam pertarungan nanti bagaimanapun juga aku harus
berhasil menentukan siapa yang lebih unggul di antara kami
berdua!”.

"Apakah Shen Cok Hong bersedia untuk menerima
tantanganmu itu? Aku kuatir dia akan menolak tantangan
tersebut!”
"Aku telah minta bantuan dari It bun sianseng agar
mengaturkan segala sesuatunya bagiku, mungkin dengan
kecerdikannya Shen Bok Hong berhasil dipaksanya untuk
menerima tantanganku ini, kendatipun dengan perasaan hati
yang terpaksa!”
"Toako! Mengapa kau tantang dia untuk berduel pada saat
sekarang? Apakah engkau sudah mempunyai keyakinan untuk
menangkan gembong iblis itu?”
Siau Ling gelengkan kepalanya berulang kali,
“Aaaai…, Berbicara terus terang, aku sama rekali tidak
mempunyai keyakinan untuk bisa menangkan pertarungan
tersebut, yaa ..tapi apa boleh buat?”
"Toako. kalau memang engkau tidak mempunyai keyakinan
untuk menangkan pertarungan tersebut, mengapa kau paksa
diri Shen Bok Hong untuk muncuIkan diri dan menerima
tantangan untuk melangsungkan suatu duel sengit satu lawan
satu?”
Mendengar pertanyaan itu, Siau Ling menghela napas
panjang.
"Aaaai..! Sudah kukatakan tadi, keadaan yang memaksa
aku harus berbuat demikian apa boleh buat? Waktu dan
keadaan tidak mengijinkan diriku untuk mengulur waktu lebih
jauh, bilamana kita tidak berharap datangnya bencana besar
yang akan menimpa kita semua!”
"Kenapa bisa begitu?”
"Shen Bok Hong telah menetapkan bahwa pada tanggal
lima belas belas ini, semua mata-mata yang disusupkan ke
dalam tubuh tiap perguruan besar yang ada di dunia ini agar

menggunakan segala tindakan yang paling keji dan paling
sadis untuk merebut kedudukan ciang bunjin perguruanperguruan
itu. Bila semua partai sampai terjatuh ke
tangannya, maka dengan mudah seluruh kolong langit akan
terjatuh ke tangannya?”
“Oleh sebab alasan itu, maka sebelum tanggal lima belas
bulan ini toako harus membinasakan Shen Bok Hong terlebih
dulu?" sambung Pek li Peng dengan cepat.
“Memang begitulah maksudku, pokoknya yang penting kita
harus mencegah agar perintahnya itu jangan sampai keburu
disiarkan ke seluruh kolong langit.”
“Tapi toako cuma seorang diri, dengan kekuatanmu yang
begitu minim belum tentu bisa menandingi kehebatan dan
kedahsyatan Shen Bok Hong, bukankah keadaanmu jadi
berbahaya sekali??”
"Justru karena aku merasa kekuatanku seorang terlalu
minim, maka kuharapkan bantuanmu!"
Mendengar jawaban tersebut. Pek li Peng ketawa manis,
bisiknya dengan mesra:
“Benar, kita memang sepantasnya sehidup semati, kalau
ada kegembiraan kita nikmati bersama, kalau ada kesusahan
kitapun pikul berbareng, bukankah begitu toako??”
“Perkataanmu memang sangat tepat, oleh karena itulah
kita harus gunakan segala kemampuan yang kita miliki untuk
benar-benar manfaatkan keselamatan selama dua hari ini
sebaik-baiknya. Selain menambah kekuatan kita, akupun
hendak mewariskan pula sedikit ilmu silat kepadamu, agar
bekalmu dalam melakukan pertarungan nanti jauh lebih
banjak dan luas."
“Baiklah! Siau moay memang sangat berharap agar aku
bisa mati bersama-sama toako kesempatan yang tersedia
pasti akan kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya."

Begitulah sejak detik itu, mereka berdua mengurung diri di
dalam ruangan tersebut!.
Waktu berlalu dengan cepatnya bagaikan kilat yang
menyambar tengah angkasa, dalam sekejap mata dua hari
sudah berlalu tanpa terasa.
Selama dua hari ini, Siau Ling dan Pek li Peng mengurung
diri di dalam sebuah ruangan. Pekerjaan mereka hanya
memperdalam ilmu silat masing-masing sebagai bersiapan
untuk menghadapi pertarungannya melawan Shen Bok Hong.
Selama hari hari itu, boleh dibilang sepasang muda mudi ini
putus hubungannya dengan dunia luar. Bukan saja menolak
orang yang berkunjung ke tempat itu, merekapun tak pernah
melangkah keluar dari ruangan tersebut barang setengah
langkah pun.
Seluruh tenaga pikiran maupun perhatian mereka
dicurahkan dalam ilmu silat, tiada pikiran lain yang
mengganggu konsentrasi mereka berdua selama itu.
lt-bun Han to sendiri sibuk dengan tugas-tugas yang
menumpuk diatas bahunya, bukan saja dia harus menyambut
tamu-tamu terhormat yang berkunjung kesitu, diapun harus
mengatur dan mempersiapkan tantangan Siau Ling untuk
mengajak Shen Bok Hong satu lawan satu.
Bisa dibayangkan betapa repotnya jago tua ini.
Tengah hari menjelang hari ketiga, Siau Ling dan Pek li
Peng telah menyelesaikan latihan mereka, dengan langkah
yang santai kedua orang itu muncul kembali di luar ruangan.
It bun Han to, Sun Put shia dan Bu-Wi totiang sekalian
dengan hormat menyambut kemunculan mereka berdua.
Begitu si anak muda tersebut munculkan diri dari
ruangannya, It bun Han to segera maju sambil menjura
katanya :

“Sungguh kebetulan. sekali kemunculan Siau tayhiap, sebab
kami semua sedang menuju ke situ untuk memanggil diri
tayhiap.”
“Ada urusan apa ? Apakah semua rencana sudah kau
aturkan dengan sebaik-baiknya??”
“Sungguh beruntung perintah tayhiap telah kulaksanakan
dengan sebaik-baiknya, tengah hari besok pertarungan itu
dimulai dan sudah diatur tempatnya yakni di atas bukit Pek
sek poh !”
“Bukit Pek sek poh itu ada dimana ? Jaraknya dari sini
kurang lebih berapa li ?”
"Kurang lebih lima belas li!" jawab Sun Pot-shia dengan
cepat, " It bun sianseng telah mengutus orang-orangnya
untuk pergi kesana melakukan persiapan!"
"Oooh, kitanya begitu?" seru Pek li Peng.
"Bagus sekali!" ujar Siau Ling pula "kebetulan masih ada
beberapa jurus ilmu pedang yang belum berhasil diyakini oleh
aku dan nona Pek li. Mumpung masih ada waktu yang
tersedia, kami akan gunakan kesempatan yang ada ini untuk
melatihnya hingga sempurna.”
"Eeeh eeeh saudara Siau. tunggu sebentar!" tiba-tiba Sun
Put shia berseru dengan gelisah.
'Apa yang hendak toako katakan lagi..?” tanya Siau Ling
sambil tersenyum.
"Dalam pertarungan besok siang, apakah saudara Siau
akan bertarung melawan Shen Bok Hong seorang diri?”
"Kecuali berbuat demikian, siau-te merasa kehabisan akal
untnk mencari cara lain yang bisa memaksa Shen Bok Hong
untuk melangsungkan pertarungan mati-matian melawan
pihak kita!”
Sua Put shia segera mengangguk.

"Saudara Siau ada beberapa patah kata ingin kukatakan
kepadamu, aku harap kata-kataku ini engkau dengarkan
dengan seksama dan selain kau ingat dalam hati…."
"Apa yang hendak engkoh tua katakan?”
"Saudara Siau, engkau masih muda dan tenagamu masih
sangat dibutuhkan oleh umat persilatan di dunia ini, ketahuilah
selama beberapa puluh tahun mendatang engkaulah yang
harus memikul tanggung jawab untuk melenyapkan iblis dari
dunia persilatan. Oleh karena itulah jangan sekali-kali kau
pandang kematianmu sebagai suatu kejadian yang enteng,
bilamana engkau merasa bahwa kekuatan yang kau miliki
masih belum sanggup umuk menandingi kehebatan dari Shen
Bok Hong, aku harap segeralah mengundurkan diri dari
gelanggang pertarungan. It-bun sianseng telah
mempersiapkan suatu akal yang jitu untuk menghadapi Shen
Bok Hong, mengerti.."
“Apa yang telah kalian atur untuk menghadapi Shen Bok
Hong..?!” tanya Siau Ling keheranan.
"Pokoknya kami telah mengatur suatu rencana yang sangat
rapi untuk melenyapkan gembong iblis itu dari muka bumi!"
It-bun Han to yang berada di sampingnya segera
menyambung pula :
“Beberapa hari belakangan ini, tempat kita telah
kedatangan pula beberapa ratus orang jago persilatan yang
berdatangan dari segala penjuru dunia, ketika mereka
mengetahui bahwa Siau tayhiap berhasil meloloskan diri dari
kepungan kebakaran tanpa mengalami cedera apapun, rata
rata kawanan jago persilatan itu menunjukkan wajah yaag
sangat kegirangan, mereka bersyukur karena tayhiap masih
hidup dan tetap akan memimpin mereka menumbangkan
kelaliman Shen Bok Hong!"
“Kalau toh kedatangan mereka semua ada!ah untuk
menunjang kekuatan kita dalam perjuangannya

menumbangkan kekuasaan dan kelaliman Shen Bok Hong, itu
berarti pula bahwa mereka semua adalah tamu-tamu
kehormatan kita, aku harap It bun sianseng dan Sun locu
sekalian suka menyambut dan melayani mereka dengan
sebaik-baiknya.”
“Di hadapan para jago persilatan yang telah berhimpun di
tempat ini, aku telah mengumumkan tekad Siau tayhiap untuk
melindungi kebenaran dan keadilan bagi umat persilatan serta
berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menumpas
Shen Bok Hong besert a begundalnya, dari muka bumi,
serentak mereka bersorak kegirangan serta menyatakan
keseriusannya untuk menyokong perjuangan tayhiap.”
“Bagus... bagus ... Kalau memang umat persilatan di dunia
ini telah bangun dari tidurnya serta mempunyai semangat
juang yang begitu menyala-nyala, dalam pertarunganku
melawan Shen Bok Hong besok siang ajak pula mereka semua
untuk ikut menyaksikan jalannya pertarungan itu. Sedikit
banyak kehadiran mereka disitu akan mendorong semangat
juangku dalam pertarungan tersebut!”.
“Ooh iya..!” tiba-tiba It bun Han to berseru kembali, ada
seorang Kulo sianseng yang datang dari kota Tiong Ciu
berharap dapat menjumpai Siau tayhiap, apakah engkau
bersedia untuk menjumpainya?”
"Harap sianseag suka mewakili diriku untuk menyatakan
rasa terima kasihku kepadanya! Bukan berarti aku Siau Ling
sok jual mahal dan tak sudi untuk bertemu dengan orang lain,
berbicara sesungguhnya pertempuran yang akan berlangsung
besok siang benar-benar merupakan suatu pertarungan yang
penting sekali artinya, agar jangan sampai dikalahkan oleh
musuh secara mengenaskan, mau tak mau terpaksa aku harus
melakukan persiapkan dengan seksama lagi!”
ooooo0dw0ooooo

IT BUN HAN TO tersenyum setelah mendengar perkataan
itu, ujarnya dengan lembut:
"Menurut Ku lo sianseng, katanya ia mempunyai urusan
yang penting sekali artinya sehingga bagaimanapun juga dia
harus berjumpa muka dengan diri tayhiap, tahun ini usianya
sudah mencapai delapan puluh tahun lebih rambut maupun
jenggotnya telah berubah jadi putih semua, rasanya kurang
leluasa bila kita tampik permohonannya dengan begitu saja!”
Siau Ling termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
kemudian iapun mengangguk.
"'Baiklah! Mari kita pergi temui orang itu tua itu”.
"Saat ini Ku lo sianseng sedang menunggu di ruang tengah,
silahkan Siau tayhiap pergi ke sana!”
Sambil melangkah maju ke depan, Siau Ling bertanya lagi:
“Yang engkau maksudkan ruangan tengah apakah ruangan
yang semula digunakan untuk ruang abu itu??”
"Benar, tempat itulah yang dimaksudkan.”
Siau Ling tidak berbicara lagi, ketika ia melangkah masuk
ke dalam ruangan itu tampaklah beratus ratus orang jago
persilatan dari segala pelosok dunia berkumpul semua di
dalam ruangan itu, rupanya mereka adalah jago-jago yang
khusus datang kesitu untuk menghadiri kebaktian bagi arwah
Siau Ling.
It bun Hao-to langsung tampil kedepan, sesudah
mengulapkan tangannya hingga suasana dalam ruangan yang
semula gaduh tiba-tiba berubah jadi sepi kembali, ia
memperkenalkan diri, katanya :
“Inilah Siau tayhiap yang sedang kalian nanti-nantikan!”.
Siau Ling segera menjura kepada semua jago yang hadir
dalam ruangan itu, katanya:

“Karena urusan aku orang she Siau, kalian harus
melakukan perjalanan jauh tergesa-gesa berkunjung kemari,
kejadian ini sungguh membuat siau-te merasa tidak tentram.”
“Siau tayhiap adalah bintang penolong dari dunia
persilatan, pelita dalam kegelapan yang mencekam seluruh
jagad, sekalipun harus menempuh perjalanan jauh untuk
berkunjung kemari, apa artinya jarak sedekat ini bagi kami?
Harap Siau tayhiap jangan pikirkan persoalan ini didalam hati!”
sahut kawanan jago persilatan yang hadir dalam ruangan itu
hampir berbareng.
Terdengar salah seorang jago diantara yang hadir berseru
lantang dengan suaranya yang kasar dan nyaring :
“Orang budiman selalu dilindungi oleh Thian, tatkala berita
kematian dari Siau tayhiap tersiar luas ke seluruh dunia
persilatan, aku sudah merasa tidak percaya… haaah
..haahh..haaha. ternyata tebakanku tidak meleset!"
Suara lain yang tinggi melengking sigera menyambung pula
dengan cepatnya :
“Demi selamatkan jiwa kita semua dari ancaman
penindasan dan penganiayaan, Siau tayhiap harus menempuh
bahaya dan mempertaruhkan jiwa raganya demi kita semua,
karena kami Siau tayhiap musti bersusah payah lari kesana lari
kemari, menguras otak dan tenaga untuk berjuang, pada hal
tiada sesuatu balasan apapun yang bisa kita berikan
kepadanya, sepantasnya apabila kita memberikan suatu
penghormatan yang besar untuk kebesaran jiwa Siau tayhiap
kita!”.
Berbareng dengan seruan tersebut, suasana jadi sangat
gaduh kawanan jago persilatan lainnya segera menyatakan
akur. Maka berbondong-bondong kawanan jago persilatan
yang jumlahnya mencapai ratusan orang itu serentak jatuhkan
diri dan berlutut diatas tanah dan memberikan penghormatan
yang besar.

Menyaksikan kesemuanya itu Sun Put shia menghela napas
panjang bisiknya dengan suara terharu:
"Sejak jaman dahulu kala sampai detik ini belum pernah
ada seorang jago persilatan yang pernah mendapatkan
penghormatan setinggi dan semulia ini dari kawanan umat
persilatan lainnya kecuali saudara Siau ku ini….”
"Aaaai...! Saudara Siau memang seorang pendekar besar
yang luar biasa sekali, seorang pendekar sejati yang berjiwa
besar dan bijaksana, sudah sepantasnya kalau jago
sebijaksana ini memperoleh penghormatan besar ini…syukur
umat persilatan telah bangun dari tidurnya. Asal mereka telah
sadarkan diri, kelaliman Shen Bok Hong pun sudah tiba
saatnya untuk tumbang!”
Sementara itu Siau Ling dibuat tertegun sampai tak mampu
berkata-kata menghadapi kejadian yang sama sekali tak
terduga olehnya itu, selang sesaat kemudian tiba-tiba ia
menjatuhkan diri berlutut pula ke atas tanah, katanya dengan
lantang :
“Saudara-sadaraku sekalian, perbuatan kalian ini bukankah
sama artinya membuat susah aku orang she Siau? Silahkan
bangun.. silahkan bangun semua!"
It bun Han to yang berada di sampingnya, segera
menanggapi dengan suara nyaring :
“Saudara-saudara sekalian, silahkan bangun berdiri semua!.
Siau tayhiap bukanlah seorang pendekar yang gila hormat, dia
adilah seorang laki-laki luar biasi di dunia ini. Justru karena
sikap kalian yang berlebih-lebihan membuat tayhiap kita jadi
rikuh dan serba salah, maka untuk menghindari segala
kekikukkan, harap kalian semua bangun berdiri"
Bentakan tersebut cukup mendatangkan hasil yang manjur,
serentak kawan jago persilatan yang jumlahnya mencapai
ratusan orang itu bersama-sama bangun berdiri.

Setelah suasana menjadi tenang kembali seorang kakek tua
berjenggot putih sepanjang dada, dengan memakai baju yang
amat sederhana perlahan-lahan munculkan diri dari
rombongan para jago.
Setibanya dibadapan Siau Ling, kakek tua itu segera
merangkap tangannya memberi hormat, lalu menyapa:
“Siau tayhiap !”
Buru-buru Siau Ling balas memberi hormat.
“Apakah cianpwe adalah Ku-lo locianpwe yang hendak
berjumpa dengan diriku??”
Kakek tua berjenggot putih itu segera mengangguk.
"Betul !, Aku adalah Ku Kong to.." sahutnya.
"Ada urusan penting apakah Ku locianpwe datang kemari
dan ingin bertemu dengan aku yang muda ini?" tanya Siau
Ling kemudian sambil tersenyum.
“Aaaai I Sudah puluhan tahun lamanya aku menanti dan
menanti terus, hampir saja aku tak sabar untuk menantinya
lebih jauh, untung akhirnya saat yang kutunggu datang juga
di depan mata ….. takdir, inilah yang dikatakan takdir”.
Semua orang tertegun, termasuk juga Siau Ling yang
sedang diajak berbicara.
Bagaimana tidak heran? Beberapa patah kata yang
diucapkan kakek tua itu bukan saja tiada ujung pangkalnya,
bahkan tidak dipahami pula apa yang dimaksudkan dengan
ucapannya itu.
Suasana jadi hening dan sepi, sorot mata serta perhatian
para jago tanpa sadar bersama-sama dialihkan keatas wajah
Ku-lo sianseng yang sudah banyak berkeriput itu,
"Ku locianpwe apa yang hendak kau katakan kepadaku?”
tanya Siau Ling kemudian setelah termangu sejenak, "bila

engkau ingin menyampaikan sesuatu katakanlah secara
berterus terang, dengan senang hati aku orang she Siau akan
mendengarkan semua penataanmu itu!.”
"Yaaa .! Apa yang barusan kukatakan memang teramat
sederhana, tak heran kalau Siau tayhiap tak dapat menangkap
arti sebenarnya dari ucapanku itu."
Setelah berhenti sebentar, Ku Kong to meneruskan kembali
kata-katanya :
“Aku telah mendapat titipan dari seorang manusia aneh
yang meminta kepadaku agar menyimpankan sebuah benda,
pesannya aku minta untuk mewakili dirinya untuk mencarikan
seorang pendekar yang benar-benar sejati di dunia ini,
kemudian menghadiahkan kepadanya sebuah benda yang
kusimpan itu. Tapi sudah puluhan tahun lamanya aku mencari
dan mencari terus tanpa hasil, sekarang murcullah Siau
tayhiap di dunia ini. Aku lihat Siau tayhiap adalah seorang
pendekar yang benar sejati, maka kuputuskan bahwa cuma
Siau taybiap seorang yang pantas memperoleh benda
tersebut..!"
Berkilat sepasang mata Situ Ling setelah mendengar
perkataan itu dia lantas bertanya:
"Benda mustika apakah yang locianpwe simpan?"
Ku Kong to merogoh kedalam sikunya dan mengambil
keluar sebuah bungkusan kain kuning, sahutnya :
“Benda tersebut hanya sebilah pedang yang terbuat dari
emas, pedang ini khusus digunakan untuk menyapu iblis
membersihkan hawa siluman serta menegakkan keadilan dan
kebenaran bagi seluruh dunia persilatan.”
Berbicara sampai disitu, dengan sikap yang sangat hormat
dia angsurkan bungkusan kuning tadi ketangan Siau Ling.
Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini. tak mungkin
bagi Siau Ling untuk menampik pemberian itu, apa boleh buat.

Terpaksa ia menerima bungkusan kain kuning itu dengan
kedua belah tangannya.
Ketika kain kuning tersebut dibuka, tampaklah sebuah
sarung pedang yang memancarkan cahaya keemas-emasan.
Panjang senjata tersebut hanya dua depa diatas sarung
pedang tertera tujuh butir mutiara sebesar mata kucing,
mutiara tersebut membiaskan serertetan cahaya lembut yang
amat menyilaukan mata.
Jangankan melihat pedang emas itu, cukup ditinjau dari
sarung pedangnya sudah dapat diketahui bahwa benda itu
adalah sebuah benda mustika yang tak ternilai harganya.
Menyaksikan kesemuanya itu, Siau Ling segera berseru:
"Pedang ini terlalu berharga sekali aku tak berani untuk
menerimanya.. .!"
“Pedang mustika sudah sepantasnyalah kalau dihadiahkan
untuk seorang pendekar sejati" ujar Ku kong to dengan cepat.
“Siau tayhiap, apa salahnya kalau engkau mencabut dahulu
pedang tersebut”.
Siau Ling tidak banyak bicara lagi, ia tekan tombol pada
gagang pedang tersebut dan…. ''Criinngg... ! di tengah
dentingan yang amat nyaring, pedang itu segera tercabut ke
luar.
Serentetan cahaya tajam yang disertai dengan gulungan
hawa dingin segera berhembus lewat menggigilkan badan, tak
kuasa lagi si anak muda itu memuji tiada hentinya:
"Pedang bagus.!! Pedang bagus.!''
Di tengah hembusan angin dingin yang menggidikkan hati,
meluncurlah serentetan cahaya tajam berwarna kuning emas.
Kiranya di tengah-tengah tubuh pedang yang lebarnya satu
depa delapan cun itu, terdapatlah sebuah jalur garis emas
yang memancarkan cahaya tajam.

It bun Han to yang selama ini membungkam tiba-tiba ikut
angkat bicara katanya:
“Tiga ratus tahun berselang, Hu mo kim kiam (pedang
emas penakluk iblis) pernah muncul satu kali di dalam dunia
persilatan, dalam suatu amukan yang hebat sekaligus pedang
tersebut telah menjagal enam puluh empat orang gembong
iblis, membuat dunia persilatan selama delapan puluh tahun
lamanya menjadi tenang dan damai, tak pernah terjadi
keributan kembali, sungguh tak nyana ini hari pedang Hu mo
kim kiam yang maha sakti itu telah muncul kembali di dalam
dunia persilatan!"
“Perkataan sianseng sangat tepat sekali!” jawab Ku Kong to
dengan cepat! “ini menunjukkan bahwa pengetahuan sianseng
benar-benar sangat luas. Sejak Hu mo kim kiam menjagal
gembong-gembong iblis dan membuat dunia persilatan
menjadi tentram kembali, pedang itu memang telah lenyap
dari peredaran dunia persilatan, ada orang yang mengatakan
bahwa pedang mustika ini telah tenggelam ke dasar samudra
yang amat dalam, ada pula yang mengatakan bahwa pedang
itu terbang ke langit sembilan, tapi pada hakekatnya pedang
tersebut masih tetap berada di dalam dunia kita ini.”
“Entah bagaimana ceritanya, suatu ketika pedang tersebut
telah didapatkan oleh seorang sahabat karibku, sahabatku itu
menyadari bahwa kemampuan serta watak yang dimilikinya
masih belum pantas untuk mempergunakan pedang itu, maka
selama berpuluh-puluh tahun lamanya pedang tersebut hanya
disimpan terus tanpa pernah digunakan barang sekalipun, dia
berharap agar suatu ketika pedang ini bisa dihadiahkan
kepada seorang pendekar besar yang benar-benar berjiwa
mulia dan bersedia menumpas kejahatan dari dunia ini.”
Berbicara sampai disitu. kakek tua itu menghembuskan
nafas panjang, selang sejenak kemudian baru sambungnya
lebih jauh.

“Aaaai ! Sayang sekali, sahabatku itu tidak kuat untuk
menunggu lebih lima, dia telah pergi mendahului diriku.
Sesaat sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan
ia serahkan pedang itu kepadaku dengan pesan carikan
seorang pendekar sejati yang telah tinggi ilmunya dan mulia
budi pekertinya, agar senjata tersebut bisa dimanfaatkan
untuk menegakkan keadilan serta kebenaran bagi umat
persilatan.”
"Didalam dunia persilatan ini, hanya Siau tayhiap seorang
yarg pantas memakai pedang itu. Sepantasnya kalau pedang
tersebut dihadiahkan kepada tayhiap!” teriak para jago
persilatan dengan cepat.
Seorang bersuara yang lain segera menanggapi, dalam
waktu singkat hampir seluruh jago silat yang hadir di situ
menganjurkan Siau Ling untuk menerima pedang mustika
tersebut.
Betapa terharunya Siau Ling menghadap keadaan tersebut,
serunya dengan cepat:
"Kebajikan dan kemampuan apakah yang dimiliki aku orang
she Siau? Tidaklah pantas aku memperoleh perhatian serta
cinta kasih dari saudara-saudara sekalian”.
"Siau tay-hiap, engkau tak usah menampik lagi!” ujar Ku
Kong to kembali, "sudah kupikirkan persoalan ini sebanyak
tiga kali aku merasa hanya Siau tayhiap seorang yang pantas
menerima hadiah padang ini, harap Siau tayhiap sukalah
menerima pemberianku ini!”
Siau Ling benar-benar dibuat apa boleh buat setelah
didesak berulang kali, akhirnya ia menjawab:
"Baiklah apabila memang begitu biarlah aku yang mewakili
Ku locianpwe untuk simpankan pedang mustika ini!”

Setelah pedang Hu mo kim kiam tersebut diterima oleh
Siau Ling, tiba-tiba Ku Kong to menengadah lalu tertawa
terbahak-bahak, suaranya amat keras hingga menggetarkan
seluruh ruangan.
"Haaahhh… haaahhhh…. haaahhh … karena pedang ini,
sudah puluhan tahun lamanya jiwaku merasa tertekan, hampir
boleh dibilang untuk bernapas lega dan beristirahat pun tak
bisa akhirnya pedang itu sudah menemukan majikannya,
harapanku pun telah selesai, aku tidak malu untuk bertemu
kembali dengan sahabatku yang telah berangkat lebih dahulu
itu..!”
Sehabis berkata, tiba-tiba ia tertawa tergelak kembali
dengan kerasnya....
Mendadak suara tertawanya itu putus di tengah jalan
menyusul mana tubuhnya terjengkang dan roboh terkapar ke
atas tanah.
Buru-buru Siau Ling memburu ke depan dan memayang
bangun kakek tua itu sambil serunya berulang kali.
"Locianpwe…. locianpwe….. kenapa kau ? Locianpwe
kenapa kau?"
Akan tetapi ketika denyut jantungnya diperiksa, ternyata
kakek tua yang bernama Ku Kong to itu sudah
menghembuskan napasnya yang penghabisan, dia neninggal
dunia dengan senyum masih tersungging di ujung bibirnya.
It bun Han to menghela napas panjang, katanya:
"Apa yang dia cita-citakan dan harapkan telah selesai,
sekalipun harus mati ia dapat mati dengan mata meram, coba
lihatlah senyum manis yang masih tersungging di ujung
bibirnya, ini semua menunjukkan bahwa hatinya sangat
gembira, dia mati dengan hati yang tenang dan perasaan yang
riang gembira!”.

Mendengar perkataan itu, kawanan jago-jago yang berada
dalam ruangan itu bersama-sama alihkan sinar matanya
keatas mayat Ku Kong to, apa yang diucapkan It bun Han to
memang tak salah, senyuman manis yang tersungging di
ujung bibir kakek tua itu masih jelas membekas di bibirnya.
Siau Ling berdiri termangu beberapa saat lamanya,
kemudian ia berpaling ke arah It ban Han-to dan ujarnya
dengan lirih:
“Sianseng, uruslah layonnya dan kuburkan locianpwe ini
dengan segala upacara serta penghormatan yang besar!”.
"Aku sudah tahu..!” sahut It-bun Han to dengan cepat.
Sorot matanya berputar dan menyapu sekejap ke seluruh
ruangan, kemudian dengan suara lantang serunya:
"Saudara-saudara sekalian, tentunya sudah kalian saksikan
sendiri bukan bagaimanakah saudara Ku ini menempuh
perjalanan sejauh ribuan li datang kemari untuk
menghadiahkan pedang mustika tersebut kepada Siau tayhiap.
kemudian setelah pedang itu diterima oleh Siau tayhiap, ia
tertawa tergelak hingga akhirnya menghembuskan napasnya
yang penghabisan, semua peritiwa ini dapatlah kita jadikan
sebagai suatu tanda bukti, bukti bahwa Thian adalah maha
kuasa dan maha tahu. Ia telah melimpahkan rakhmat serta
hidayatnya untuk Siau tayhiap, atau dengan perkataan lain
sudahlah tiba saatnya bagi dunia persilatan untuk
menumbangkan kelalaminan Shen Bok Hong beserta para
begundal-begundalnya, untuk itu marilah kita bersatu dan
berjuang untuk menegakkan keadilan bagi dunia kita !”.
Seruan penuh semangat ini segera mendapat sambutan
yang hangat dari kawanan jago yang berada dalam ruangan
itu, suasana jadi gegap gempita dan ramai sekali.
Sesudah berhenti sebentar, terdengar It-bun Han to
melanjutkan kembali kata-katanya:

"Besok siang, Siau tayhiap akan melangsungkan
pertempuran penentuan dengan Shen Bok Hong di bukit Hek
sek po. Pertarungan tersebut sangat mempengaruhi nasib kita
umat persilatan di dunia ini, tentunya rasa kuatir dan
perhatian yang saudara-saudara perlihatkan dalam
pertarungan besok sedikitpun tidak berada di bawah
keprihatian Siau tayhiap sendiri bukan.,?”
Serentak para jago yang berada didalam ruangan itu
menjawab:
“Kami semua berharap agar dalam pertarungan yang
berlangsung besok siang, Siau tayhiap berhasil menumpas
gembong iblis itu dari muka bumi serta memulihkan kembali
ketenangan serta kedamaian dalam dunia peisilatan !”
It bun Han to mengangguk, katanya lagi:
"Asalkan saudara-saudara sekalian bisa memberikan
pengertian yang mendalam tentang betapa pentingnya
pertempuran yang akan berlangsung besok siang, Siau tayhiap
sudah merasakan hati lega dan berterima kasih sekali.. Akan
menambah semangat juang Siau tayhiap di dalam usahanya
menumpas segala bentuk kejahatan dan kelaliman yang telah
ditrapkan Shen Bok Hong selama ini di dalam dunia persilatan.
Aku harap saudara-saudara sekalian bersedia untuk
menghadiri pertarungan itu besok siang, kedatangan saudara
sekalian sebagai suporter akan membangkitkan semangat
juang yang lebih besar dalam hati Siau tayhiap. Tentunya
saudara sekalian bersedia bukan? Nah, sekarang Siau tayhiap
harus banyak beristirahat untuk menghimpun tenaganya, agar
dalam pertarungan besok bisa memperoleh tenaga yang
segar, maafakanlah dia apabila tak bisa menemani saudara
sekalian lebih lama lagi!".
"Siau tayhiap tak usah menemani kami semua, silahkan
beristirahat dan baik-baik menghimpun tenaga serta
mempersiapkan diri!" jawab para jago silat itu berbareng.

"Bagus..! Bagus sekali..I Sungguh tak sangka saudara
sekalian sudi menunjukkan pengertian yang mendalam dalam
persoalan ini, biarlah siau-te yang akan mewakili Siau tayhiap
untuk menemani saudara sekalian minum secawan arak,
anggaplah secawan arak ini sebagai rasa terima kasih kami
atas kehadiran saudara sekalian!".
Siau ling seadiripun merasa amat terharu sekali
menyaksikan perhatian yang begitu besar dari para jago
terhadap dirinya, ia merasa perasaan hatinya lebih berat dan
murung:
Sesudah memberi hormat kepada orang itu, katanya :
"Silahkan saudara sekalian minum arak dan bersantap
sendiri, maafkanlah daku apabila aku orang she-Siau tak dapat
menemani kalian semua lebih lanjut!".
"Semoga Siau tayhiap bisa baik-baik menjaga diri!" sahut
kawan-kawan persilatan sambil balas memberi hormat.
Setelah mengangguk kepada semua yang hadir disana,
Siau Ling putar badan dan mengundurkan diri dari ruangan
itu.
Setibanya di dalam ruangan latihan, Pek-li Peng berbisik
dengan suara yang lirih:
“Toako, sekarang engkau telah disanjung dan dihormati
umat persilatan dari seluruh penjuru dunia, peristiwa ini belum
pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah persilatan, aaai..!
Nama besarmu pasti akan dikenang orang sepanjang masa!".
Siau Ling tertawa getir sesudah mendengar perkataan itu.
"Sekalipun aku dihormati dan disanjung oleh semua umat
persilatan yang ada didunia ini, tahukah engkau betapa
beratnya beban dan tanggung jawab yang harus kupikuI
sekarang? Semakin besar mereka percayakan keselamatan
jiwanya kepadaku, semakin besar pula tanggung jawab yang
harus kupikul bagi mereka.. Aaaai, padahal aku sendiripun

tidak mempunyai keyakinan untuk berhasil dengan tugasnya
ini !”.
“Orang kuno sering bilang, semakin tersohor seseorang
dalam pandangan orang banyak semakin repot pula urusan
yang harus dihadapinya. Setelah kurenungkan sekarang,
ternyata memang kuakui bahwa perkataan tersebut sedikupun
tak salah. Yaaah… Aku tak bisa berkata lain terhadap beratnya
beban yang toako pikul saat ini, aku hanya ikut berdoa
semoga dalam pertarungan yang akan berlangsung besok
siang. Toako berhasil mengalahkan Shen Bok Hong serta
mengenyahkan gembong iblis itu dari muka bumi, asalkan iblis
itu sudah ditumpas dan begundal-begundalnya ikut tersapu
lenyap, bukan berarti pula bahwa tugas toako telah selesai
juga?”
“Aaaai..! Apabila Shen Bok Hong seorang yang menjadi
pokok kita, maka aku tak akan terlalu merisaukan, tapi aku
merasa bahwa selain gembong iblis itu sebenarnya masih ada
seorang jago lihay lain yang akan murupakan musuh besarku,
dan didalam pertarungan yang akan berlangsung besok siang,
orang itulah yang harus kuhadapi!”.
"Siapakah orang itu toako?” tanya Pek li Peng dengan
cepat.
"Aku sendiri pun tidak tahu siapakah orang itu. aku hanya
mempunyai firasat demikian, dan firasat ini akan terbukti
setelah saatnya telah tiba besok siang!”.
Berbicara sampai disitu, ia lantas merogoh kedalam
sakunya dan mengambil keluar kitab catatan ilmu silat serta
kitab doa yang dimilikinya seraya diangsurkan ke hadapan Pek
li Peng sambungnya lebih jauh:
"Peng ji, baik-baiklah menyimpan benda ini apabila dalam
pertarungan yang akan berlangsung besok nasibku ternyata
jelek dan aku musti tewas di tangan musuh maka aku harap

engkau bawalah beberapa jilid kitab catatan ilmu silat ini
untuk diserahkan ke pada enci Gak!"
Pek-li Peng memandang beberapa jilid kitab ilmu silat itu,
namun sama sekali tidak diterimanya, seraya gelengkan
kepalanya ia menjawab:
“Toako, lebih baik serahkan saja kitab tersebut kepada
orang lain. Siau moay tidak mau menerimanya”.
“Kenapa??”
“Kita sudah berkumpul cukup lama, masakah engkau masih
belum memahami perasaan hatiku? Kalau engkau tewas
dalam pertarungan, apakah aku dapat hidup sendirian di dunia
ini?”.
Siau Ling tersenyum sesudah mendengar perkataan itu.
“Peng ji, tentu saja aku dapat memahami perasaan hatimu
terhadap diriku, akan tetapi bagaimanapun juga kita toh harus
sedia payung sebelum hujan, bukankah begitu? Apabila aku
harus bertempur satu lawan satu melawan Shen Bok Hong,
maka harapanku untuk menangkan pertarungan ini besar
sekali, sekalipun begitu kita harus mempersiapkan diri pula
terhadap segala kemungkinan yang paling jelek, enci Gak
berotak berlian dan berbakat bagus untuk belajar silat, hanya
sayang ia terbelenggu oleh persoalan cinta sehingga
pikirannya tak bisa terpusat dan hatinya tak bisa tenang.
Sekarang aku sudah dapat meresapi bahwa apa yang
dikatakan Toa jin taysu memang tidak keliru, kalau ingin
berilmu tinggi maka pelajarilah ilmu silat yang tercantum di
dalam kitab doa ini, dan cuma ilmu silat inilah satu-satunya
harapan yang bisa digunakan untuk membalaskan dendam
bagi kematianku, kalau tidak kuserahkan kitab yang sangat
berharga ini kepada orang yang paling kupercayai harus
kuserahkan kepada siapakah kitab-kitab tersebut ?”.
Pek-li Peng dibuat tertegun dan berdiri melongo sesudah
mendengar perkataan itu, lama sekali ia baru menjawab:

"Toako, boleh saja apabila kau menginginkan agar
kusimpankan kitab catatan ilmu silat itu, tapi engkaupun harus
menyanggupi dahulu sebuah permintaanku!”
“Apakah permintaanmu itu??”
“Setelah kuserahkan kitab ilmu silat itu kepada enci Gak,
maka aku akan kembali ke depan kuburanmu dan...”
"Membangun rumah di situ serta menemani sukmaku
sepanjang masa!" sambung Siau Ling dengan tertawa.
Dengan cepat Pek-li Peng gelengkan kepalanya berulang
kali, sahutnya dengan wajah amat serius.
"Tidak, aku tak mau membangun gubuk disitu untuk
menemani sukmamu, setelah kembali ke depan kuburanmu,
akan kubongkar kuburan tersebut kemudian menggorok leher
dan bunuh diri. Aku ingin mati dalam satu liang bersama
engkau!"
Betapa terharunya perasaan hati Siau Ling darah panas
segera bergulak dengan hebatnya dalam rongga dada pemuda
itu, tapi di luaran ia tetap mempertahankan ketenangannya.
Selang sesaat kemudian, si anak muda itu baru
mengangguk, sahutnya:
"Baiklah! Sekarang, simpan dulu kitab catatan ilmu silat
tersebut!"
Pek li Peng tidak membantah lagi. Setelah menyimpan kitab
pusaka tersebut katanya:
“Toako, walaupun aku sudah berusaha untuk peras otak
tapi ada satu hal tetap tak kupahami, apakah toako bersedia
memberi jawabannya?”
“Apa yang tidak kau pahami??”
“Mengapa engkau mengharuskan aku yang menghantarkan
kitab itu buat enci Gak..? Masa orang lain tak dapat

melaksanakan tugas ini ? Aku ingin selalu mendampingi toako
saja.
“Orang lain tak mungkin bisa melaksanakan tugas ini,
sebab mereka tak mungkin akan menjumpai enci Gak!"
“Kenapa??”
“Enci Gak belum tentu bersedia untuk menjumpai laki-laki
lain !”
“Ehmm, Benar juga perkataanmu itu, aaai enci Gak
memang patut dikasihani, setiap lelaki yang bertemu
dengannya segera akan terkesima dibuatnya hingga akhirnya
tergila-gila”.
Setelah memandang cuaca sebentar, ia menambahkan:
“Waktu sudah amat siang, sekarang engkau harus pergi
beristirahat lebih dahulu”.
Siau Ling mengangguk.
“Aku hendak mengasingkan diri sambil mempelajari
beberapa jurus ilmu silat yang maha sakti, aku minta engkau
jangan mengganggu ketenanganku selama ini”.
"Baik-baiklah melatih diri!" Sahut Pek Ii Peng seraya
manggut, "aku akan keluar sebentar!"
“Engkau hendak pergi kemana ?”
“Banyak persoalan yang tidak kupahami meskipun sudah
kucoba untuk memecahkannya sendiri, aku berharap bisa
membicarakan pelbagai masalah tersebut dengan diri It-bun
sianseng “.
Mula-mula Siau Ling agak tertegun sesudah mendengar
perkataan itu, kemudian katanya:
"Peng-ji, engkau musti ingat, terdapat banyak persoalan
yang lebih baik jangan diketahui oleh orang yang terlalu
banyak!"

“Aku mengerti, aku hanya akan mengajak It bun sianseng
seorang untuk membicarakan persoalan ini. Akan kuserahkan
pula tugas perlindungan bagi keselamatanmu kepada mereka,
selesai bercakap-cakap aku segera akan kembali kesini !”
Tidak menunggu jawaban dari Siau Ling lagi, ia segera
melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Sekilas pandangan, Siau Ling dapat menyaksikan betapa
murungnya gadis itu, sepasang alis matanya berkenyit dan
wajahnya kesal sekali tampaknya, tanpa terasa dia lantas
berpikir di dalam hati :
“Selama beberapa waktu belakangan, ia selalu bergaul
dengan aku, mengikuti aku kemanapun pergi, dan belum
pernah kubuat ia merasa benar-benar gembira dan senang
aaai...! Yang harus dialaminya setiap hari cuma murung,
menguatirkan diriku dan merasa tegang dan serius
menghadapi semua persoalan..Ia memang patut dikasihani!"
Memandang bayangan punggungnya yang berlalu dari
ruangan itu, suatu perasaan tidak tentram yang sukar
dilukiskan dengan kata-kata terlintas dalam benaknya.
Akan tetapi setelah teringat kembali bahwa pertarungan
sengit yang harus dihadapinya besok siang, mempunyai arti
yang sangat penting bagi kesejahteraan umat persilatan,
pemuda itu memaksakan diri untuk bersikap tenang, perasaan
hatinya dibikin tentram kembali, lalu sambil pejamkan
matanya mulai memecahkan jurus pedangnya yang ampuh.
Sementara itu, Pek-li Peng sudah berada di ruang tengah,
ia lihat meja perjamuan telah disiapkan dalam ruangan yang
sangat luas itu. It bun Han to, Bu wi totiang serta Sun Put shia
hadir semua dalam perjamuan itu untuk menemani kawanan
jago persilatan lainnya yang telah berkumpul semua di sana.
Suatu perbedaan yang sangat kontras antara suasana
dalam ruang ini dengan ruang kecil dimana Siau Ling melatih
diri.

Kalau ruang depan sangat ramai dengan dipenuhi gelak
tertawa dan suara pembicaraan manusia, maka ruang
belakang sunyi senyap tak kedengaran sedikit siarapun, begitu
sepinya sampai debaran jantung sendiripun kedengaran nyata.
Setibanya di dekat pintu ruangan Pek-li Peng hentikan
langkah kakinya, ia cuma menengok sekejap tanpa
meneruskan kembali perjalanannya, sesudah menghela napas
panjang akhirnya ia putar badan dan berlalu dari sana.
Gadis ini merasakan hatinya sangat murung dan kesal,
perasaannya amat tertekan hingga sedih dan bingung, ingin
sekali dia melampiaskan suara hatinya itu kepada orang lain,
tapi ia tak mampu berbuat begitu, bisa dibayangkan
bagaimanakah keadaan Pek-li Peng ketika itu.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara langkah kaki
manusia yang berat berkumandang memecahkan kesunyian.
Ketika dara itu berpaling, tampaklah It-bun Han to dengan
langkah cepat sedang memburu kearahnya.
Pek-li Peng menghentikan langkahnya dan menundukkan
kepalanya rendah-rendah.
Dengan cepat It bun Han-to memburu ke depan, tanyanya:
"Nona. engkau sedang mencari diriku??”
Pek li Peng mengangguk, tak kuasa lagi air matanya jatuh
bercucuran membasahi pipinya.
Menyaksikan gadis itu menangis, It-bun Han-to jadi sangat
terperanjat, dia segera bertanya:
"Nona, persoalan apakah yang sedang kau hadapi ?
Katakan saja kepadaku secara terus terang!"
“Ada..ada sedikit persoalan ingin kuajukan kepadamu,
apakah engkau bersedia untuk menjawabnya??”

“Asalkan apa yang nona tanyakan mampu kujawab pasti
akan kujawab sebisanya, katakan saja nona!"
"Tapi tapi aku sendiri pun tak tahu persoalan ini harus
kubicarakan dari mana?" kata Pek-li Peng dengan ragu.
Untuk sesaat It-bun Han-to termenung dan berpikir,
kemudian diapun berkata:
“Apakah persoalan yang hendak kau bicarakan dengan
diriku itu menyangkut teatang diri Siau tayhiap??”
Dengan cepat Pek-li Peng mengangguk tanda
membenarkan.
“Tentu saja persoalan ini ada sangkut pautnya dengan diri
toako.”
“Apakah nona menguatirkan pertarungan melawan Shen
Bok Hong besok siang??”
“Benar ! Menurut pengakuannya, dalam pertarungannya
yang akan berlangsung besok siang, kecuali Shen Bok Hong
masih ada seorang musuh lain yang katanya jauh lebih
tangguh daripada Shen Bok Hong sendiri!”
Untuk sesaat lamanya It bun Han to berdiri tertegun,
selang sesaat kemudian ia ba ru bertanya:
"Siapakah orang itu? Apakah nona mengenalnya?”
"Aku tidak tahu, sebab toako tak mau memberi tahukan
tentang orang itu kepadaku!”
Untuk sesaat It bun Han to jadi termenung, lama sekali dia
baru berkata lagi:
"Apabila Siau tayhiap harus bertempur satu lawan satu
dengan Shen Bok Hong, menurut pandanganku dalam
pertarungan tersebut Siau tayhiap tidak akan sampai
menderita kekalahan, memang besar kemungkinannya tenaga
dalam yang dimiliki Siau tayhiap masih kalah setindak jika

dibandingkan dengan tenaga dalam dari Shen Bok Hong, akan
tetapi Siau tayhiap memiliki pelbagai macam ilmu silat yang
beraneka ragam macamnya. Bahkan setiap kepandaiannya itu
mempunyai kesempurnaan yang khusus, hal ini memaksa
Shen Bok Hong harus pecahkan perhatiannya untuk berjagajaga
terhadap segala kemungkinan yang tidak dinginkan. Aku
sebenarnya yakin bahwa kemenangan pasti berada di pihak
kita apalagi kita sudah mempersiapkan diri dengan sebaikbaiknya.”
“Ya... menurut teori kita memang menang tapi keadaan
yang kita hadapi sekarang sama sekali berbeda jauh," sela
Pek-li Peng dengan muka murung "kecuali Shen Bok Hong kita
harus berhadapan dengan seorang musuh yang jauh lebih
tangguh, hal ini membuat keadaanpun ikut mengalami
perubahan besar.”
“Aaaai….! Kalau memang Siau tayhiap tidak bersedia
memberikan keterangannya, sudah tentu kitapun tak dapat
memaksa dia untuk mengatakannya kepada kita, satelah
kuketahui persoalan itu, pastilah akan kuusahakan dengan
segala kemampuan yang kumiliki untuk mengadakan
persiapan, bilamana perlu….”
Berbicara sampai disitu, mendadak dia membungkam.
Pek-li Peng jadi amat gelisah, cepat dia bertanya:
“Bilamana perlu bagaimana?”
“Siau tayhiap adalah lambang keadilan juga kebenaran bagi
dunia persilatan, baik Bu wi totiang, Sua Put sha locianpwe
serta aku mempunyai suatu perasaan yang sama yakni kami
tak boleh membiarkan dia mati konyol ditangan musuh !”
“Sekalipun perkataanmu itu benar, akan tetapi siapakah
yang mampu mewakili dirinya untuk berduel satu lawan satu
dengan Shen Bok Hong??”
It-bun Han-to segera tersenyum.

“Bilamana perlu kami telah bersiap sedia untuk mewakili dia
mati, pokoknya kami tidak akan membiarkan toakomu
menderita luka barang sedikitpun juga.”
"Akulah yang sepantasnya mewakili dirinya untuk
menerima kematian!"
It bun Han-to tertawa tergelak, dengan suara tercengang
serunya dengan lantang:
“Nona, engkau kan masih masih muda dan segar, kenapa
gadis secantik engkau segan untuk hidup di dunia??”
"Aku merasa sangat murung, hidupku terasa amat kosong
dan penuh kekesalan, bila mana aku bisa mati demi dirinya,
itulah jalan terbaik yang ingin kutempuh.”
It bun Han to kembali termenung sambil berpikir keras, lalu
ujarnya dengan nada yang sangat hati-hati:
“Apakah kemurunganmu itu disebabkan oleh karena nona
Gak..?”
"Tak bisa kukatakan kalau urusan ini sama sekali tak ada
hubungannya dengan enci Gak" sahut Pek li Peng dengan
cepat, “tapi separuhnya adalah disebabkan karena harapanku
sendiri, bila aku sudah mati demi Siau tayhiap maka
selamanya diriku ini akan terkenang di hati mereka berdua,
bukankah begitu?”
Mendengar jawaban tersebut paras muka It-bun Han to
berubah jadi amat serius.
"Nona Gak memang memiliki daya pikat yang sukar dilawan
dengan cara apapun juga. Kecantikan alamiah yang dimiliki
setiap perempuan di dunia ini tak mungkin bisa melawan daya
pikatnya itu. Apabila dikatakan Siau tayhiap sama sekali tidak
tertarik oleh daya pikatnya, akupun tidak akan
mempercayainya."

"Benar, mereka ibaratnya Kilin dan burung Hong. Sepasang
sejoli yang amat serasi sekali, sedangkan aku, aaai, aku tak
lebih cuma seekor burung walet yang patut dikasihani di
bawah pohon liu. Aku hidup di antara celah-celah hubungan
mereka yang erat. Bila Siau toako menaruh beberapa bagian
rasa suka kepadaku, maka rasa sukanya itu tak lebih cuma
berupa rasa kasihan daripada arti cinta yang sesungguhnya?"
"Nona, perkataanku tadi belum selesai kuucapkan” seru It
bun Han to sambil gelengkan kepalanya.
"Oooh.. maaf, hatiku benar-benar terasa amat kalut!"
It-bun Han to mendehem ringan, kemudian katanya :
“Sekalipun demikian, kuakui juga bahwa Siau tayhiap
memiliki kelebihan yang tidak kita jumpai pada orang lain, ia
berjiwa ksatria, berjiwa pendekar sejati dan rela berkorban
demi orang lain membuat perangainya jauh berbeda dengan
manusia pada umumnya. Manusia semacam ini tidak mudah
memberikan rasa cintanya kepada orang lain, tapi ia
memandang berharga rasa cinta yang telah timbul dalam
hatinya. Selama ini engkau selalu mendampinginya baik siang
maupun malam, jarang sekali saling berpisah satu sama
lainnya, kecuali suami istri manakah ada muda-mudi yang
berkumpul terus siang maupun malam tanpa berpisah?.
Dengan watak yang dimiliki Siau tayhiap, dia pasti akan
mengatur semua batas-batas pergaulannya secara ketat, tapi
ia tidak memberikan batasan-batasannya kepadamu, itu
menunjukkan bahwa sedari dulu dia telah menganggap dirimu
sebagai calon istrinya, maka pembatasan-pembatasan dalam
pergaulan sama sekali tidak diperhatikan olehnya!"'
Terbelalak sepasang mata Pek-li Peng, ia berdiri tertegun
dengan wajah kurang percaya.
"Sungguhkah perkataanmu itu?!” katanya.

"Aku toh belum pernah membohongi dirimu? Apabila nona
tetap tidak percaya, biarlah kubuktikan dengan suatu
kejadian.”
"Boanpwe akan mendengarkan buktimu itu dengan
seksama !” sahut Pek li-Peng dengan cepat, senyum manis
mulai menghiasi ujung bibirnya.
It -bun Han to tersenyum.
"Engkau tak perlu berlaku sungkan-sungkan.''
Sesudah mendehem ringan, sambungnya lebih jauh :
"Ketika berada di ruang abu tempo hari, dengan mata
kepala sendiri ia mendengar semua isi hati yang diutarakan
Gak Siau-cha di depan meja abunya, bahkan telah
memandang pula dirinya sebagai suaminya, jikalau ia tidak
menaruh rasa cinta kepadamu, mengapa sampai sekarang ia
masih tak mau tinggalkan dirimu? malahan setiap saat
berkumpul terus dengan engkau? Dewasa ini jago-jago
persilatan dari seluruh kolong langit telah berkumpul disini,
untuk menghadapi pertarungan yang amat sengit itu, dia
harus mengasingkan diri untuk mempelajari beberapa macam
ilmu silat sebagai bekalnya, mengapa ia tidak minta salah
seorang jago silat yang lihay untuk mendampingi dirinya
berlatih, tapi sebaliknya malahan suruh engkau yang
menemani dirinya? Aku tidak percaya kalau engkau benarbenar
sanggup untuk memecahkan persoalan yang
memusingkan kepalanya..!"
-ooo0dw0ooo-
Jilid: 42
PEK LI PENG segara tertawa: "Aku memang benar-benar
tidak becus, bila dibandingkan dirinya maka baik dalam hal
kecerdasan maupun pengalaman, akan masih kalah sangat
jauh sekali!"

"Nah itulah dia, lalu apa sebabnya justru engkaulah yang
diminta untuk mendampingi dirinya selama ini? Apakah
engkau bisa menjawab alasannya ini?!”
Dengan wajah merah karena jengah, Pek li Peng
menggeleng, sahutnya sambil tertawa: "Entahlah, aku tak bisa
menjawab!"
“Kalau engkau tak bisa menjawab, maka biarlah aku yang
menerangkan kepadamu, dengan hadirnya engkau di sisi
tubuhnya, maka dalam semangat juangnya itu ia peroleh
ketenangan dan hiburan, pada hakekatnya boleh dibilang ia
sudah tak dapat hidup tanpa engkau, bayanganmu sudah
demikian membekas dalam benaknya sehingga tak mungkin
bisa dihapus lagi, karena itulah dia minta engkau
mendampingi di sisinya baik siang maupun malam padahal
waktu itu engkau sudah berdandan sebagai seorang
perempuan kembali apakah Siautayhiap tak bisa berpikir
bagaimanakah pandangan orang lain terhadap dirimu
bilamana ia sudah tidak menganggap engkau sebagai
istrinya?”
Pek li Peng segera tertawa manis sesudah mendengar
perkataan itu, pujinya:
"It bun sianseng, engkau memang benar-benar luar biasa
sekali, bukan saja pandai mengatur siasat peperangan,
bahkan memahami pula perasaan hati antara muda mudi
engkau memang patut dijuluki sebagai Khong Beng nya jaman
ini. bukan saja dapat menerangkan apa yang belum pernah
dilihat bahkan bisa menjelaskan pula apa yang tak diketahui
orang!"
Tersenyum ewa It bun Han to mendengar pujian tersebut.
"Aku tidak pintar, cuma mereka yang terlibat langsung
biasanya lantas dibikin kebingungan dengan sendirinya,
sebaliknya mereka yang menyaksikan dari samping dapat
menemukan semua kesalahan tersebut dengan amat jelas.!"

Pek li Peng tersenyum, ia putar badan dan berjalan
beberapa langkah ke depan, tiba-tiba gadis itu berhenti lagi
sambil sapanya:
"It bun sianseng .! Ada urusan apa lagi?!”
"Aku masih mempunyai suatu masalah lagi. cuma aku tak
tahu apakah masalah ini pantas diberitahukan kepadamu atau
tidak?”
"Lalu menurut pendapat nona, patutkah persoalan itu
diberitahukan kepadaku?"
“Bagiku, aku rasa persoalan ini sepantasnya kalau
kuberitahukan kepadamu, akan tetapi Siau toako suruh aku
pegang rahasia, kata nya persoalan ini tak boleh diberitahukan
kepada siapapun!”
"Dalam segi manakah persoalan tersebut?!”
“Persoalan ini menyangkut pula tentang diri toako,
tampaknya ia tidak mempunyai keyakinan untuk menang
dalam pertarungan yang akan berlangsung esok siang, oleh
sebab itu... oleh sebab itu…."
Teringat bahwa persoalan itu belum memperoleh
persetujuan dari Siau Ling, akhirnya gadis itu membungkam
dan tak berani berbicara lagi.
Paras muka It bun Han to berubah jadi serius sekali,
ujarnya dengan nada bersungguh-sungguh:
"Aku pikir urusan itu pasti penting sekali artinya,
sepantasnya kalau nona memberi tahukannya kepadaku!"
"Persoalan ini menyangkut soal persiapannya bilamana
sampai terjadi sesuatu hal tentang dirinya!”
''Apa yang telah ia persiapkan??”
"Catatan-catatan ilmu silatnya telah diserahkan semua
kepadaku, ia berpesan kepadaku, bilamana dalam

pertarungannya besok siang ternyata nasibnya kurang mujur
sehingga menemui kematian, maka aku diwajibkan mencari
enci Gak serta serahkan semua catatan ilmu silat itu
kepadanya!”
It bun Han to segera termenung dia berpikir keras,
kemudian jawabnya sambil mengangguk:
'Aaaai..! Apa yang telah diatur olehnya memang sangat
tepat sekali, sebab apabila Siau tayhiap sampai gugur didalam
pertarungannya kali ini, maka Gak Siau-cha lah satu-satunya
orang yang mampu membalaskan dendam baginya!"
"Lalu apa yang musti kulakukan sekarang?”
Paras muka It-bun Han-to berubah jadi serius sekali, dia
menengadah dan berpikir beberapa waktu, kemudian
sahutnya :
“Persoalan ini benar-benar merupakan suatu masalah yang
sangat besar, sebelum berbicara dengan nona, akupun sudah
pernah berpikir sampai ke situ. Andaikata Siau tayhiap benarbenar
sampai tewas dalam pertarungannya besok siang,
sudah pasti dunia persilatan akan jadi kacau balau tak karuan.
Aaaai! Dewasa ini Siau tayhiap sudah menjadi tonggak dari
dunia persilatan, dialah lambang keadilan dan kebenaran,
dengan hubungan kami yang begitu erat, sudah seharusnya
kalau kita semua mengusahakan perlindungan bagi
keselamatan jiwanya, bagaimanapun juga dia toh seorang
manusia yang terdiri dari darah dan daging, Manusia bajapun
akan harus berantakan, apalagi manusia biasa?"
“Perkataan sianseng memang benar tetapi apakah sianseng
sudah berhasil menemukan suatu cara untuk melindungi
keselamatan jiwa Siau toako ku itu??”
“Didalam persoalan ini, aku telah mempunyai suatu
rencana bagus yang dapat dipercaya kasiatnya, akan tetapi
kamipun memaklumi bahwa Shen Bok Hong bukan manusia
sembarangan. Aku pikir sebelum melakukan pergerakan, dia

sendiripun telah menyusun suatu rencana yang amat
sempurna, karena itulah pertarungan-pertarungan yang akan
berlangsung esok siang, bukan saja merupakan suatu
pertarungan adu tenaga, bahkan juga merupakan gelanggang
adu kecerdasan.”
Dia melirik sekejap ke arah Pek li Peng kemudian
sambungnya lebih lanjut :
“Sedangkan mengenai tindakan Siau tayhiap menyerahkan
kitab ilmu silatnya kepada nona, andaikata apa yang
diramalkan ternyata benar-benar terjadi dan dia tewas dalam
pertarungan itu, maka mengutus engkau untuk menemui nona
Gak merupakan suatu tindakkan yang mempunyai maksud
amat mendalam, andaikata nona Gak menerima kitab catatan
ilmu silatnya, maka itu berani bahwa ia telah menerima tugas
berat yang dipikul Siau tayhiap selama ini, padahal nona Gak
sudah pergi tinggalkan dirinya, jelas gadis itu ada niat untuk
mengasingkan diri di tempat terpencil. Tapi rencana dari Siau
tayhiap ini bagaikan sebuah borgol tak berwujud yang segera
akan membelenggu hati Gak Siau cha, membuat ia tak
mungkin bisa mengasingkan dirinya lagi.”
"Oooh... kiranya di balik kesemuanya itu masih terdapat
banyak latar belakang yang tidak kupahami.." kata Pek li Peng
sambil anggukkan kepalanya berulang kali.
Tiba-tiba It bun Han to tersenyum, ujarnya kembali:
"Tapi aku percaya bahwa akhir dari pertarungan esok siang
tak mungkin bisa terjadi seperti apa yang ia bayangkan,
semua persiapan yang dilakukan Siau tayhiap ini tak Iebih
hanya tindakan menjaga diri belaka. Yaa… angpaplah sebagai
suatu tindakan sedia payung sebelum hujan!”
"Kalau toh sianseng sudah mengatakan begitu. akupun bisa
berlega hati….”
"Beristirahatlah nona! Besok kita akan bertindak sesuai
dengan keadaan yang terbentang di depan mata. Aku percaya

bahwa segala persiapan kita tak nanti akan kalah dari
persiapan yang diatur oleh Shen Bok Hong!"
Pek li Peng tersenyum dan mengangguk, perlahan-lahan
dia melangkah masuk ke dalam ruangannya.
Pada saat itu Siau Ling telah memejamkan matanya rapatrapat.
Paras mukanya amat serius tangan kanannya
digunakan sebagai pedang dan digoyangkan ke sana ke mari
tiada hentinya.
Dengan langkah kaki yang sangat berhati-hati, Pek-li Peng
kembali ke tempat duduknya, sepasang matanya terbelalak
lebar dan mengawasi semua gerak-gerik Siau Ling dengan
seksama, pikirnya di dalam hati:
“Kalau dilihat dari keadaannya, ia benar-benar sudah dapat
meleburkan seluruh konsentrasi dan pikirannya ke dalam jurus
pedang yang sedang dipecahkan, moga-moga saja apa yang
dilakukan selama ini mendatangkan hasil yang memuaskan.”
Kurang lebih seperminuman teh lamanya pemuda itu
menggerakkan pedangnya kesana kemari, akhirnya dia
hentikan gerakannya itu.
Walaupun gerakan tangannya telah berhenti, namun
sepasang matanya tak pernah dibuka, bahkan boleh dibilang
ia sama sekali tak tahu kalau Pek li peng telah masuk kembali
ke dalam ruangan.
Pek-li Peng sendiri dengan pandangan yang amat tajam
memperhatikan terus semua gerak gerik kekasihnya, ia lihat
kulit wajah Siau Ling berkerut kencang, seakan-akan ia
sedang memikirkan suatu persoalan, tapi gayanya itu mirip
pula seperti seseorang yang sedang mengatur tenaga dalam
dan melakukan semedi.
Pek li Peng tak berani bergerak ataupun menimbulkan
suara, ia kuatir mengacau konsentrasi kekasihnya itu, maka

sepanjang malam gadis itu cuma duduk kaku tanpa berani
bergerak.
Malam itu berlalu dengan cepatnya, keesokan harinya
cuaca amat jelek, awan tebal menyelimuti seluruh angkasa,
hujan rintik-rintik turun sepanjang hari membuat permukaan
tanah jadi basah.
Ketika Siau Ling menyelesaikan latihannya dan muncul
dalam ruang tengah, tampaklah It-bun Han to dan Sun Put
shia sekalian telah menanti disana.
Kecuali Sun Put shia, Bu wi totiang dan It-bun Han to yang
berada dalam ruangan itu. Suasana amat hening dan sepi,
begitu heningnya sampai tak kedengaran sedikit suarapun,
sungguh suatu perbedaan yang kontras dengan suasana
gaduh dan ramai kemarin hari.
Sebelum si anak muda itu menanyakan sesuatu, dengan
cepat It bun Han to telah berkata :
"Nama besar Siau tayhiap benar-benar telah menggetarkan
seluruh kolong langit, banyak jago persilatan yang
berdatangan lagi ke tempat ini, sampai kini sudah ada seribu
orang lebih yang berkumpul disini!”
"Dimanakah orang-orang itu?.”
“It bun sianseng telah membagi mereka menjadi dua puluh
kelompok!” sahut Sun Put shia dengan cepat. “Tiap kelompok
terdiri dari lima puluh orang, kini mereka sudah menuju ke
lapangan pertarungan!"
"Shen Bok Hong tersohor karena kekejian serta
kelihayannya, apakah tidak terlalu berbahaya bila mengutus
mereka pergi kesana lebih dahulu? Kalau sampai disergap oleh
pihak Shen Bok Hong, bukankah orang-orang itu bisa celaka?"
“Siau tayhiap tak usah kuatir!” ujar Bu-Wi totiang. “Segala
sesuatunya sudah diatur oleh It bun sianseng. Dua puluh
kelompok bertugas saling membantu pihak yang menghadapi

mara bahaya, bahkan dari tiap kelompok dibagi pula menjadi
regu-regu. Tiap regu terdiri dari lima orang dan diantara
kelima orang itu harus terdiri dari campuran jago-jago yang
pandai ilmu pukulan, ilmu senjata, ilmu totokan, ilmu senjata
rahasia dan ilmu pengobatan. Selain itu It bun sianseng telah
memilih pula beberapa orang murid perguruanku
mendampingi 'Tiongciu siang ko, Tiong lam ji hiat, Ceng sute,
Suma Kan, Coh Kim san, Tong Bun ki serta Liok Kui ciang.
Beberapa orang jago yang berilmu silat agak tangguh dengan
jalan menyaru mengawasi seluruh gelanggang. Dengan posisi
semacam ini maka kendatipun Shen Bok Hong turun tangan
sendiripun, dia harus menggunakan tenaga yang amat banyak
sebelum berhasil melukai beberapa oraag kita…”
“Dan aku yakin Shen Bok Hong tidak akan mengorbankan
tenaga murninya dengan begitu saja dalam keadaan seperti
ini" sambung It bun Han to dengan cepat.
Tiba-tiba terdengar Sun Put shia menghela napas panjang,
kemudian ujarnya:
"Saudara Siau, aku si pengemis tua benar-benar takluk dan
kagum kepadamu!
"Kagum dalam urusan apa?”
"Kagum atas kejelian matamu serta kepandaianmu memilih
orang. Pilihanmu kepada It bun sianseng untuk memimpin
perjuangan kita melawan Shen Bok Hong benar-benar
merupakan pilihan yang paling tepat!”
"Aaaah… ! Engkoh tua terlalu memuji!” seru Siau Ling
sembari tersenyum.
"Bicara terus terang walaupun tempo dulu engkau pandai
mengatur stasat serta menganalisa siasat orang lain tapi aku
si pengemis tua sama sekali tidak kagum dan takluk
kepadanya tapi setelah kusaksikan bagaimana caranya ia
membentuk kelompok demi kelompok dari sekian ratus jago
yang berkumpul. Bahkan dari pengelompokannya itu membuat

kekuatan yang terhimpun dari tiap regu yang terdiri dari lima
orangpun sudah menjadi begitu hebat apalagi kalau sampai
seluruh kelompok bergabung jadi satu betapa luar biasanya
kekuatan tersebut, aku jadi benar-benar merasa takut!”
"Aaah... locianpwe suka memuji!" kata It bun Han to tetap
berusaha untuk merendahkan diri.
"Aku tidak berusaha untuk memuji, tapi setiap patah kata
yang muncul dari mulut aku si pengemis tua merupakan katakata
sejujurnya yang timbul dari hati sanubariku!"
It bun Han to mendehem ringan, cepat dia alihkan pokok
pembicaraan ke soal lain, ujarnya:
“Sekarang waktu sudah cukup siang, tak ada gunanya kita
buang waktu di tempat ini untuk mengobrol belaka,
bagaimana kalau sekarang juga kita lakukan perjalanan
menuju ke gelanggang pertarungan??”
"Baik, hayo kita berangkat sekarang juga”, sahut Siau Ling.
Dia segera melangkah keluar lebih dahulu dari situ.
Sun Put shia, Bu-wi totiang, It bun Han to serta Pek-li Peng
segera menyusul di belakang si anak muda itu, mereka
lakukan perjalanan cepat di bawah rintiknya hujan.
Semua orang tahu bahwa pertarungan kali ini menyangkut
mati hidupnya dunia persilatan, oleh karena itu sepanjang
perjalanan suasana amat hening dan serius.
Kelima orang jago itu melanjutkan perjalanan dengan
cepatnya, sekejap mata lima enam Ii sudah dilewati tanpa
terasa. Sepanjang jalan semua orang membungkam dan tak
seorangpun yang pernah membuka suara untuk memecahkan
kesunyian.
Sudah tentu dalam keadaan demikian baik Sun Put shia, It
bun Han to maupun Bu wi totiang tak mampu berbicara !agi,
perasaan hati mereka seakan-akan tertindih oleh suatu beban
yang amat berat. Di hati kecilnya mereka memang ingin

mengucapkan sepatah dua patah kata yang bisa menghibur
hati Siau Ling, tapi mereka tahu pembicaraan tersebut harus
dimulai dari mana?
Bagaimana dengan Siau Ling sendiri? Sepanjang perjalanan
menuju kegelanggang pertempuran, otaknya masih berputar
terus memikirkan pemecahan jurus pedang yang dipelajarinya
selama ini, tentu saja ia segan untuk membicarakan persoalan
lain yang sama sekali tak ada gunanya.
Dalam hati kecilnya dia hanya berharap dapat
melangsungkan suatu pertarungan satu lawan satu secara
jujur dengan Shen Bok Hong, dan didalam pertarungan
tersebut ia berhasil mengalahkan gembong iblis itu.
Sebab bila ia berhasil memenangkan pertarungan itu,
niscaya rasa percaya pada diri sendiri di hati para jago
persilatan akan tumbuh kembali, secara otomatis keadilan dan
kebenaranpun bisa ditegakkan kembali dalam dunia persilatan.
Dua puluh li bukan satu jarak yang terlampau jauh apalagi
yang sedang melakukan perjalanan adalah sekawanan jago
persilatan yang berilmu tinggi, maka hanya dalam sekejap
mata saja mereka sudah tiba di tempai tujuan.
Bukit Pek sek po adalah sebuah bukit gundul yang gersang
dan terdiri dari tanah berbatu karang yang amat tajam, tapi
hari ini suasana di tempat itu ramai sekali, meskipun hujan
rintik-rintik masih turun tiada hentinya, namun kawanan jago
yang berkumpul di sekitar tempat itu banyaknya tak
terkirakan.
Seperti dengan sebutannya yakni Pek sek po, batu-batu
yang berserakan di sekitar bukit rata rata berwarna putih.
Di atas serakan batu-batu patih itulah berdiri manusia
persilatan baik itu yang tinggi, pendek, gemuk atau kurus
dengan pelbagai dandanan yang berbeda, tapi satu
bersamaaannya yakni kebanyakan mengenakan pakaian
ringkas yang ketat serta menggembol senjata tajam.

Hujan masih turun rintik-rintik, meskipun tidak terlalu deras
namun cukup membasahkan seluruh permukaan tanah ini
membuat pakaian yang dikenakan kawanan jago persilatan itu
menjadi basah kuyup seperti ayam tercebur kolam.
Di tengah keheningan yang mencekam seluruh bukit itulah,
tiba-tiba terdengar seorang berseru dengan lantang:
"Siau tayhiap telah datang!”
Seruan itu segera memperoleh tanggapan yang serentak,
kawanan jago persilatan yang sedang berkumpul di tengah
gelanggang, bersama-sama alihkan pandangan matanya ke
arah samping, dimana Siau Ling sedang meluncur tiba dengan
cepatnya.
Seribu pasang mata bersama-sama ditujukan ke atas wajah
si anak muda itu, untuk sesaat suasana menjadi gaduh,
kawanan jago persilatan itu pada merangkap tangannya dan
memberi hormat.
Sambil melangkah masuk ke tengah gelanggang, Siau Ling
merangkap tangannya balas memberi hormat kepada kawankawan
jago persilatan tersebut, katanya:
"Saudara-saudara sekalian, tak usah banyak peradatan, aku
orang she Siau tak kuat menerima penghormatan ini!”
Baru saja si anak muda itu menyelesaikan kata-katanya,
mendadak sekilas cahaya tajam berkelebat menembusi
angkasa dan langsung meluncur ke arah dada Siau Ling.
Meskipun tidak menyangka akan datangnya sergapan dari
lawan, ancaman tersebut tidak membuat Siau Ling jadi gugup
atau gelagapan, sedikit mengegos ke samping, telapak
tangannya segera direntangkan kedua belah arah, menyusul
mana tangan kanannya diraut ke depan dan senjata rahasia
yang sedang meluncur ke arahnya itu berhasil dicengkeram
secara jitu.

Dengan kilatan sinar tajam anak muda itu memeriksa
senjata rahasia rampasan itu ternyata benda tersebut tidak
lebih hanyalah sebuah pisau terbang yang berbentuk tipis dan
amat beracun.
“Ada pembunuh gelap....!” Jerit kaget berkumandang dari
mulut kawanan jago di sekitar sana.
Suasana kontan jadi gempar, sinar mata kawanan jago
persilatan yang berkumpul di empat penjuru bersama-sama
menyapu sekelilingnya untuk menemukan si penyergap gelap
itu.
Kawanan jago persilatan yang hadir di atas bukit Pek sek
poo pada saat ini, sebagian besar adalah jago-jago silat yang
berdatangan untuk menghadiri upacara kebaktian bagi arwah
Siau Ling. Hanya dalam semalaman saja It-bun Han to telah
mengatur mereka sedemikian rupa sehingga bukan saja gerak
gerik mereka jadi sangat teratur dan tidak sembarangan,
selain menjadi suporter bagi pertarungan Siau Ling nanti,
merekapun dipersiapkan untuk menanggulangi bahaya yang
mengancam dari pihak perkampungan Pek hoa san cun.
Andaikata kawanan jago dari pihak musuh telah
menyiapkan pertarungan massal dengan mengirimkan seluruh
jagoannya, maka serentak kekuatan yang telah terbentuk
inilah yang akan bertugas untuk membendungnya..
Bisa diketahui betapa teraturnya organisasi mereka,
tidaklah heran bahwa barisan dari kawanan jago itu sama
sekali tidak kacau sekalipun sedang menghadapi peristiwa
penyergapan.
Kawanan jago silat itu tetap berdiri pada posisinya masingmasing
tanpa bergerak, hanya sorot mata mereka yang tajam
saja berkeliaran kesana kemari mencari orang yang dicurigai
itu.
Sun Put-shia yang menyaksikan kesemuanya itu kembali
menghela napas panjang, pikirnya:

"Aaai… Tak bisa dibantah lagi It-bun Han to memang
seorang manusia luar biasa yang berkepandaian tinggi, hanya
dalam semalaman saja pengelompokan jago-jago persilatan ini
berhasil dilaksanakan, bahkan dia pun berhasil membuat
mereka jadi begitu tenang dan berdisiplin tinggi, aaaii...!
Rasanya hasil yang dicapainya ini tak kalah dengan
kedisiplinan jago-jago silat yang telah dilatih selama banyak
tahun"
Setelah mengamati sekejap pisau terbang tersebut, Siau
Ling membuangnya ke atas tanah, kemudian ia mengerling
sekejap ke arah seorang pemudi berpakaian ringkas yang
berdiri kurang lebih satu kaki di sampingnya, sambil
tersenyum katanya:
"Aaah...! Soal sergap menyergap sudah merupakan
kejadian yang sangat biasa begitu, bukan baru sekali ini
kujumpai peristiwa semacam ini tapi sudah berkali-kali.
Untungnya nasibku selalu mujur dan jiwaku selalu dapat lolos
dari ujung jarum, harap saudara sekalian tak usah
menguatirkan keselamatanku! "
Habis berkata dengan langkah lebar ia melanjutkan kembali
langkahnya menuju ke depan.
Dari sikap serta gerak-geriknya yang begitu tenang dan
wajar, seakan-akan menunjukkan bahwa pemuda itu tak
pernah menjumpai suatu kejadian apapun.
Sikap yang amat tenang, santai seolah-olah tak pernah
terjadi urusan apa-apa dari Siau Ling ini semakin
mengagumkan hati kawanan jago persilatan yang hadir
disana. Mereka tak menyangka kalau si anak muda itu bukan
saja berjiwa besar bahkan mencerminkan pula sikap seorang
pendekar sejati.
Baru saja Siau Ling berjalan sejauh belasan tindak, tiba-tiba
dari arah belakang terdengar seseorang berseru dengan suara
yang berat:

"Benar-benar seorang pendekar besar yang berjiwa ksatria,
walaupun mengetahui akulah yang melakukan penyergapan
yang gagal, namun tak sudi turun tangan untuk melakukan
pembalasan. Aku betul-betul merasa sangat kagum!"
Ketika kawanan jago persilatan yang hadir disitu
mengalihkan sinar mata mereka ke arah mana berasalnya
suara itu, terlihatlah seorang pemuda berusia dua puluh
empat lima tahunan yang berpakaian ringkas berdiri tegak
dengan sebilah pisau belati menembusi dadanya.
Tatkala ucapan tersebut telah selesai diucapkan, ia segera
mencabut keluar pisau belatinya dari atas dada, darah segar
memancar keluar dengan derasnya. Tidak selang sesaat
kemudian tubuhnya sudah terkapar di atas tanah dalam
keadaan tak bernyawa lagi.
Menyaksikan peristiwa itu, Siau Ling menghela napas
panjang, katanya :
"It-bun heng, tolong urusi jenasahnya dan kuburlah secara
baik-baik.”
It bun Han-to segera mengiakan, dia merintahkan dua
orang laki-laki yang berada di sisinya untuk bekerja, dua orang
laki-laki kekar itu segera mengangguk dan menggotong pergi
jenasah pemuda berpakaian ringkas itu.
Setelah mayat pemuda itu digotong pergi, barulah Siau
Ling menghembuskan nafas panjang. sinar matanya dialihkan
kembali ke arah depan.
Kurang lebih lima kaki di hadapannya terdapat sebuah
tanah daratan berbatu yang datar, sebuah panggung kayu
setinggi lima depa dibangun di atas daratan yang datar tadi.
Panggung kayu itu tak beratap, empat penjuru sekelilingnya
juga tidak diberi alas ataupun benda lain untuk menutupinya.
Dari gaya bangunan itu dapatlah diketahui kalau panggung
kayu itu dibangun dengan tergesa-gesa.

Siau Ling berpaling dan memandang sakejap ke arah Sibun
Han to, kemudian tanyanya:
“Saudara It-bun, apakah panggung kayu ini kita yang
bangun??”
"Benar,” jawab It-bun Han-to sambil mengangguk, "akulah
yang mengirim orang untuk membangun panggung ini"
“Apa gunanya engkau membangun panggung kayu
semacam ini ? Toh bagi kita sama sekali tak ada gunanya??”
“Panggung kayu ini dibangun sangat sederhana, itupun
disebabkan karena tujuan kita membangun panggung itu
hanya satu. Coba Siau tayhiap perhatikan, bukankah tempat
dimana panggung itu dibangun adalah tanah datar yang agak
tinggi letaknya dibandingkan dengan tanah di sekitarnya?”
“Nah, bilamana kita tempatkan orang di atas panggung itu,
maka daerah di sekitar tempat ini akan berada di bawah
pengawasan kita, semua gerak gerik musuh dapat kita ikuti
dengan seksama. Dalam keadaan demikian, bilamana Shen
Bok Hong hendak menggunakan siasat licin untuk
memperdaya kita, maka setelah menyaksikan kita dirikan
panggung tersebut, maka sedikit banyak dia harus berpikir
tiga kali lagi sebelum bertindak.. bukankah panggung ini
sangat bermanfaat sekali?"
"Oooh..! Kiranya begitu..." ujar Siau Ling sambil tertawa, ia
mengangguk tiada hentinya.
Kiranya secara diam-diam It bun Han to, Sun Put shia serta
Bu wi totiang beberapa orang telah menyusun suatu rencana
yang rapi dan matang. Mereka telah mempersiapkan tindakan
drastis bilamana dalam kenyataan nanti Siau Ling bukan
tandingan Shen Bok Hong.
Oleh karena itulah sepanjang perjalanan mereka
memutuskan untuk tidak membicarakan soal pertarungan
tersebut dengan diri Siau Ling, bahkan sikap mereka seakanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
akn tidak menaruh perhatian khusus atas berlangsungnya
pertarungan itu.
Dengan begitu, tentu saja Siau Ling sendiripun merasa tak
enak hati untuk mengajak mereka membicarakan masalah ini.
Sementara semua orang masih termenung tiba-tiba
terdengar seseorang berseru lantang:
"Shen Bok Hong telah datang!”
Dengan suatu tindakan yang cekatan Siau Ling melompat
naik ke atas panggung kayu itu, jauh memandang ke arah
depan terlihatlah beberapa puluh ekor kuda sedang
dikaburkan dengan cepatnya menuju ke arah gelanggang
pertarungan.
Menyaksikan kedatangan musuh-musuhnya si anak muda
itu segera berbisik kepada Pek li Peng:
"Peng ji. Ingatlah baik-baik pesan yang telah kusampaikan
kepadamu itu.!"
"Akan kuingat selalu, toako tak usah kuatir”, sahut Pek li
Peng seraya mengangguk.
Sinar mata Siau Ling yang tajam dialihkan kembali kepada
It bun Han to ujarnya pula:
"Saudara It bun, andaikata nasibku kurang mujur dan
menemui ajalnya dalam pertempuran kali ini, engkau tak usah
membalaskan dendam bagiku tapi lindungilah Pek li Peng
untuk meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat!”
"Siau tayhiap tak usah kuatir. Shen Bok Hong sudah bukan
tandinganmu lagi. Dalam pertarungan yang akan berlangsung
nanti, pihak kaum iblis pasti akan tertumpas dari muka bumi,
sedang keadilan dan kebenaran agak tertegakkan dalam dunia
persilatan. Harap Siau tayhiap tak usah menguatirkan tentang
masalah lain.”
Siau Ling tersenyum.

"Semoga saja yang kau ucapkan akan berubah menjadi
kenyataan!”
Sorot matanya segera dialihkan ke sekitar gelanggang,
ketika tidak ditemuinya sepasang pedagang dari kota Tiong
ciu, Suma Kan Be Bun Hui serta rekan-rekan lain yang
dikenalnya, tak tahan lagi dia lantas bertanya:
"It bun sianseng ! Kemana perginya saudara Sang serta
saudara Tu ? Mengapa mereka tak terlihat diantara para jago
yang hadir ditempat ini?"
"Oooh. ! Mereka sedang kuutus untuk melalukan beberapa
tugas penting.." sahut It-bun Han to cepat.
Siau Ling mengangguk, dan dia tidak banyak bicara lagi.
Sementara pembicaraan itu masih berlangsung, Shen Bok
Hong dengan beberapa puluh orang jago telah mendekati
panggung kayu tertebut.
Dengan suatu pemandangan yang seksama Siau Ling awasi
rombongan yang dibawa Shen Bok Hong, ternyata dugaannya
tak meleset, di belakang gembong iblis itu tampaklah seorang
hwesio tinggi besar yang memakai jubah lhasa berwarna
merah darah.
Siapa padri itu ? Dia tak lain adalah hwesio sakti yang
pernah bertempur melawan ayah angkatnya ketika ia masih
belajar silat di dalam lembah Sam seng-kok tempo hari.
Ketika tangan kiri hwesio berjubah merah itu diamati pula
dengan teliti, maka tampaklah jari manis serta jari
kelingkingnya telah terpapas kutung oleh senjata.
Menyaksikan kesemua itu, tanpa terasa ia berpikir di hati:
"Tenaga dalam yang dimiliki ayah angkatku Lam It-kong
amat sempurna, tapi dalam kenyataan ia bukan tandingannya,
guruku Cung San-pek yang bertarung dengan mengeluarkan
ilmu pedang terbang pun cuma berhasil memapas kutung dua

buah jari tangannya, aku rasa selama berapa tahun
belakangan ini ilmu silatnya pasti telah mendapat kemajuan
yang amat pesat., aaii.,! Jika dalam pertarungan yang akan
berlangsung nanti aku harus berhadapan muka dengan padri
itu., yaa! Itu berarti harapanku untuk rebut kemenangan
semakin tipis, tidak aneh kalau tantanganku hari ini berani
diterima oleh Shen Bok Hong dengan begitu saja, rupanya dia
memang memiliki tulang punggung yang benar-benar bisa
diandalkan!"
Dalam hati kecilnya si anak muda itupun mengerti,
andaikata ia tak mampu menandingi kedahsyatan ilmu silat
yang dimiliki hwesio berbaju merah itu, niscaya kawanan jago
lainnya yang berada di sekitar gelanggang tak mungkin bisa
membantu dirinya, bila ia mati maka merekapun pasti akan
dibasmi oleh Shen Bok Hong beserta begundalnya.
Sekalipun dalam hati kecilnya pemuda ini merasa sangat
kualir, akan tetapi kekuatirannya itu tidak sampai diutarakan
keluar dia kuatir bila kekuatirannya itu diungkap maka
suasana akan bertambah kacau dan posisinya akan bertambah
lemah.
Sorot matanya kembali beralih untuk mengamati beberapa
orang jago yang mengikuti di belakang hwe-sio berbaju merah
itu.
Tampaklah selain Wu kongcu dari perguruan Ngo tok bun,
Kim hoa hujin, bayangan darah dari Shen Bok Hong, dipaling
belakang adalah Tiam Lun yang pernah beradu kepandaian
dengannya sewaktu ada dilembah tempo hari.
Tampaknya semua kekuatan inti yang dimiliki pihak
perkampungan Pek hoa san cung telah dikerahkan semua ke
tempat itu.
Walaupun demikian, dari pihak para pendekar dunia
persilatan suasana tetap tenang dan teratur tiada perasaan
jeri atau ngeri yang terpancar keluar dari wajah mereka,

seakan-akan kawanan jago itu sudah merasa yakin pasti dapat
menanggulangi setiap penyerbuan yang dilancarkan pihak
lawan.
It-bun Han to, Sun Put-shia, Bu wi totiang serta Pek li Peng
yang mendampingi Siau Ling pun tetap membungkam dalam
seribu bahasa, sinar mata mereka ditujukkan ke arah lawan
namun paras muka mereka tetap tenang dan penuh
kewibawaan.
Dalam pada itu rombongan yang dipimpin Shen Bok Hong
sudah tiba di bawah panggung kayu itu. Dengan cekatan
gembong iblis itu melompat turun dari kudanya, disusul
kawanan jago lainpun ikut melompat turun dari kudanya
masing-masing.
Shen Bok Hong yang selama ini angkuh sombong dan
tinggi hati, ternyata sikapnya kali ini jauh berbeda dari
keadaan biasanya. Dengan sikap yang amat menghormat
bahkan mendekati sikap munduk-munduk, dia memberi
hormat kepada hwesio berbaju merah itu, kemudian bisiknya
dengan lirih:
"Taysu, silahkan turun!"
Padri berbaju merah itu tersenyum, ujarnya:
“Engkau adalah tuan rumah sedang pieceng tak lebih cuma
seorang tamu belaka. Sebagai tamu yang tahu diri tidak
sepantasnya kalau unjukkan kekuatan dihadapan tuan rumah.
Bila engkau sanggup membinasakan Siau Ling, maka seluruh
kolong langit dengan sendirinya akan terjatuh ke bewah
telapak kakimu, tapi kalau engkau tak mampu menangkan
dirinya, biarlah aku yang akan membikinkan perhitungan
bagimu!”
Sebagian besar kawanan jago persilatan yang hadir dalam
gelanggang, waktu itu tak ada yang kenal dengan asal-usul
padri berbaju merah itu, maka kehadirannya di sana sedikit
pun tidak menimbulkan kegemparan mereka cuma merasa

tercengang dan keheranan ketika dilihatnya sikap Shen Bok
Hong yang begitu munduk-munduk.
Lain halnya dengan Sun Pat shia. Begitu menyaksikan
kemunculan padri berbaju merah itu, kontan paras mukanya
berubah hebat.
Sekalipun pengemis tua ini sudah mengetahui asal usul
padri tersebut, akan tetapi ia telap membungkam dalam seribu
bahasa, tampaknya ia menguatirkan sesuatu sehingga tak
berani memberitahukan asal-usul lawannya ini kepada orang
lain.
Dalam pada itu, Shen Bok Hoag sudah mengalihkan sorot
matanya ke arah Siau Ling, katanya dengan perlahan:
"Shen Bok Hong telah datang memenuhi janji!”
"Kalau toh Shen toa cungcu sudah datang kemari, apa
salahnya kalau silahkan engkau naik ke atas panggung ini?”
Shen Bok Hong mendengus dingin, saat ini ia tidak
menguatirkan apabila musuhnya menggunakan siasat untuk
menjebak dirinya menerima tantangan tersebut tidak tampak
dengan gerakan apakah dia melompat, hanya tahu-tahu dia
sudah berada di atas panggung.
Siau Ling tertawa dingin, katanya:
"Pertarungan yang akan berlangsung pada saat ini adalah
suatu pertarungan yang menentukan mati hidup kita berdua,
sebelum salah seorang menemui ajalnya aku harap
pertarungan ini jangan diakhiri dahulu ! Nah, Shen toa cungcu,
silahkan cabut keluar senjatamu!”
Shen Bok Hong tidak langsung menjawab dengan
pandangan tajam ia menyapu dahulu kawanan jago persilatan
yang berkumpul di bawah punggung kayu itu. Ketika
dilihatnya hampir delapan puluh persen kawanan jago yang
hadir disana adalah jago-jago yang di bawah Siau Ling,
perasaan hatinya langsung saja tercekat.

Dengan jantung berdebar keras pikirnya di hati:
"Sepuluh tahun sudah aku berusaha dan berjuang matimatian,
menggunakan berbagai cara untuk menarik pengikut
sebanyak-banyaknya, akan tetapi usahaku untuk memaksa
kawanan jago tersebut berbakti kepadaku selalu mengalami
kegagalan, tapi Siau Ling baru dua tahun munculkan diri
dalam dunia persilatan, kenapa ia bisa menarik begitu banyak
simpatisannya, untuk jauh-jauh datang ke mari hanya untuk
membantu pihaknya belaka?”
Berpikir sampai disitu, tangan kanannya segera merogoh
kedalam sakunya dan mengambil keluar sebuah benda yang
mirip pedang tapi bukan pedang dan berwarna hitam pekat,
panjangnya kurang lebih dua depa.
Berbareng itu juga tangan kirinya mencabut pula sebilah
pedang pendek yang memancarkan sinar gemerlapan, katanya
dengan dingin :
"Sudah belasan tahun lamanya aku orang she Shen tak
pernah bertempur melawan orang dengan menggunakan
senjata tajam, ini hari adalah untuk pertama kalinya
kugunakan senjata lagi!"
“Oooh.. kalau begitu aku merasa berbangga hati karena
memperoleh penghormatan tersebut!” seru Siau Ling.
Perlahan-lahan diapun mencabut keluar sebilah pedang
berwarna kuning emas, sementara sepasang matanya
mengawasi benda hitam yang mirip pedang tapi bukan
pedang di tangan kanan lawannya itu.
Dipihak lain, Shen Bok Hong kelihatan agak terperanjat
setelah menyaksikan bentuk pedang emas di tangan Siau Ling,
dengan paras muka berubah hebat serunya tertahan:
"Haahh..! Pedang emas penakluk iblis.."
"Tepat sekali ucapanmu, pedang ini memang Hu mo kim
kiam, apakah toa cengcu kenal dengan pedangku ini?”

Air muka Shen Bok Hong berubah jadi amat serius, lama…
lama sekali dia baru menghela napas panjang, katanya
kemudian:
"Aaai..! Pedang ini sudah lama sekali tidak pernah muncul
di dalam dunia petsilatan."
"Tampaknya Shen-toa cungcu amat jeri terhadap pedangku
ini?" kata Siau Ling dengan cepat.
Shen Bok Hong segera tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeeh heeeh heeeehh memang kuakui bahwa pedang
mustika itu sangat tajam kendatipun demikian hebat atau
tidaknya pedang itu tergantung pada si pemakai pedang itu
sendiri… Saudara Siau, aku lihat lebih baik engkau berhati-hati
sedikit dalam pertarungan ini!"
Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, tangan
kirinya segera ditekan ke bawah menyusul mana tampaklah
serentetan cahaya perak yang amat menyilaukan mata
langsung menusuk ke arah dada Siau Ling.
Menyaksikan datangnya ancaman tersebut dengan cekatan
si anak muda itu mengembang kan pedang Hu mo kim
kiamnya untuk menangkis.
Serentetan cahaya emas segera meluncur ke udara dan
langsung menangkis pedang perak yang sedang meluncur tiba
itu.
"Trraaanngg !”
Diiringi benturan nyaring yang memekikan telinga, pedang
perak di tangan Shen Bok Hong kena ditangkis sehingga
miring sasarannya.
Siau Ling bertindak cekatan, sebelum gembong iblis itu
sempat merubah jurus pedangnya, setelah menangkis
serangan musuh ia menubruk maju ke depan, pedangnya
gantian mengancam dada musuh.

Shen Bok Hong tetap berdiri tak berkutik di tempat semula,
menanti ujung pedang lawan hampir tiba di depan badannya,
benda hitam dalam genggaman tangan kirinya segera
diangkat ke atas dan didorong sejajar dengan dada..
Mengikuti datangnya dorongan benda hitam itu, Siau Ling
merasakan munculnya segulung tenaga hisapan yang sangat
kuat membetot ke arah pedangnya itu, karena tidak
menyangka, ujung pedangnya kena tersedot sampai arahnya
miring ke samping .
Peristiwa ini seketika menggetarkan perasaan hatinya,
dengan hati tercekat pemuda itu melompat mundur ke
belakang. Sekarang ia baru memahami kiranya benda hitam
yang dipakai Shen Bok Hong sebagai senjata itu tak lain
adalah sebuah besi semberani yang mempunyai tenaga
hisapan yang amat kuat.
Sekalipun tenaga hisapan yang terpancar keluar dari besi
semberani itu cukup kuat untungnya Siau Ling bukan anak
kemarin sore yang berilmu cetek, dalam waktu singkat ia
berhasil menguasai kembali gerak miring pedangnya itu.
Haruslah diketahui, baik Shen Hong mau pun Siau Ling
kedua duanya adalah jago-jago silat yang paling top dewasa
ini. Pertarurgan diantara mereka, berdua boleh dibilang samasama
berlangsung dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Dalam keadaan begini pihak manapun tak boleh membuat
kesalahan, sebab hanya suatu kesalahan yang kecil saja maka
akibatnya bisa menimbulkan keadaan yang fatal.
Demikian pula keadaannya dengan Siau Ling. meskipun
detik itu juga dia berhasil menguasai kembali gerak
pedangnya, tapi peluang yang amat baik itu segera
dimanfaatkan pula oleh Shen Bok Heng secara jitu.
Tampaklah gembong itu miringkan badannya ke samping,
pedang perak di tangan kirinya dengan kecepatan luar biasa

meluncur ke depan dan langsung menusuk jalan darah Ciao
keng hiat di bahu sebelah kiri si anak muda itu.
Sekilas pandangan, jurus serangan yang dipergunakan
Shen Bok Hong itu tampaknya amat sederhana tanpa sesuatu
yang hebat, tetapi para jago yang berada di deretan terdepan
dari panggung kayu itu seketika merasakan hatinya bergetar
keras, mereka tak tahu dengan cara apakah Siau Ling akan
menghindarkan diri dari babatan pedang musuhnya.
Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata,
tampaklah Siau Ling membuang bahunya ke belakang,
menyusul mana tubuhnya melangkah mundur satu tindak ke
belakarg.
"Sreeet..!" cahaya perak segera berkelebat lewat
menyambar baju yang dikenakan Siau Ling. darah segar
memancar ke empat penjuru dan tak bisa dihindari lagi bahu
kiri si anak muda itu kena tersambar hingga terluka.
Cepat Siau Ling menggetarkan ujung pedangnya
bersamaan itu pula dia berpekik nyaring, tubuhnya
melambung ke udara, dari situ pedangnya berputar kencang
dan melepaskan dua rentetan cahaya tajam yang sangat
menyilaukan mata.
Shen Bok Hong membentak keras, dia ikut melambung ke
udara kemudian menyongsong datangnya cahaya pedang
yang tercipta dari senjata tajam musuhnya.
Dia gulung bayangan manusia saling bergumul menjadi
satu di udara, diantara kelebatnya cahaya pedang terjadilah
suatu benturan-benturan nyaring yang memekakkan telinga.
Cahaya kilat memancar ke empat penjuru dan bayangan
manusiapun muncul kembali didepan mata. Duuk! Duuk. ! Dua
benturan keras mengiringi robohnya Siau Ling dan Shen Bok
Hong dari atas panggung kayu itu.

Ketika semua orang alihkan sorot matanya ke arah wajah
dua orang jago lihay itu, terlihatlah Siau Ling masih berdiri di
tempat dengan wajah serius, sebaliknya air muka Shen Bok
Hong berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, matanya
jelalatan tak menentu, jelas dalam bentrokannya barusan
gembong iblis itu telah menderita kerugian yang cukup besar.
Bagaimanakah keadaan yang sebenarnya? Tak seorangpun
yang sempat mengikuti, sebab pertarungan yang berlangsung
antara kedua orang itu diliputi oleh cahaya pedang yang
berkilauan, karenanya biasan cahaya yang memancar ke
empat penjuru membuat semua orang merasakan matanya
menjadi silau.
Suasana hening untuk beberapa saat lamanya, suatu ketika
Siau Ling membentak nyaring, sekali lagi ia melompat ke
depan dan melancarkan serangan maut.
Shen Bok Hong putar badan sambil menangkis, suatu
pertarungan sengitpun segera berlangsung kembali.
Jurus-jurus serangan yang dilancarkan Siau Ling amat
dahsyat dan sangat mengerikan, perubahan yang tak
terhitung banyaknya terselip diantara serangan-serangannya
itu, pokok serangan yang diandalkan adalah jurus ilmu pedang
dari Tam Ia cing, tokoh silat dari perguruan Hoa san pay.
Saking dahsyat dan gencarnya serangan itu, bukan saja
musuhnya dibikin kalang kabut tak karuan, sampai-sampai
kawanan jago persilatan yang menyaksikan jalannya
pertarungan dari bawah panggung pun merasakan pandangan
matanya jadi kabur.
Tampaknya Shen Bok Hong telah ditekan oleh jurus
serangan pedang yang dilancarkan Siau Ling, dia keteter
hebat sampai tak bertenaga lagi untuk melakukan perlawanan.
Kendatipun demikian, gembong iblis tersebut tak sudi
menyerah dengan begitu saja. Ia berusaha menggunakan
segala kemampuan yang dimilikinya untuk membela diri.

Setiap saat besi semberaninya diputar kesana kemari untuk
menghalau pergi ancamn yang tiba. terutama sekali tiap kali
ujung pedang Siau Ling mengancam jalan darah pentingnya,
ia segera manfaatkan kelebihan yang dimilikinya pada besi
semberani itu untuk menghalau.
Pertarungan berjalan kembali dengan sengitnya, seratus
gebrakan sudah lewat tapi menang kalah masih belum dapat
ditentukan.
Dalam keadaan begitu, serangan-serangan pedang yang
dilancarkan Sua Ling kian lama kian bertambah dahsyat
bahkan boleh dibilang pemainan pedangnya itu sudah
mencapai pada puncaknya. Menghadapi ancaman seperti ini
sekalipun Shen Bok Hong memiliki besi semberani juga tak
ada manfaatnya malahan lambat laun ia makin keteter sampai
tak sanggup mempertahankan dirinya lagi.
Keadaan jadi sangat kritis, bahaya akan mengancam
datang setiap saat..
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar hwesio berjubah merah
itu membentak nyaring:
“Shen toa cungcu, untuk sementara waktu minggirlah
dahulu, aku hendak membuat perhitungan dahulu dengan
bocah keparat itu!"
Shen Bok Hong memang sudah merasa keteter hebat
sehingga tak sanggup mempertahankan diri lebih jauh.
Mendengar seruan itu dengan sekuat tenaga ia melancarkan
dua buah serangan gencar, maksadnya dia akan mendesak
mundur si anak muda itu Iebih dahulu sebelum melompat
mundur dari gelanggang.
Tentu saja Siau Ling tak sudi melepaskan lawannya dengan
begitu saja, dia memburu maju ke depan. Serangan demi
serangan dilancarkan semakin gencar, bagaikan bayangan
badan saja ujung pedangnya menyambar kian kemari
mengikuti kemana perginya gembong iblis itu.

Betapa terperanjatnya Shen Bok Hong menghadapi
kejadian seperti ini, ia mempergencar serangannya dengan
harapan bisa mendesak mundur anak muda itu..
Siapa tahu perhitungannya sama sekali meleset, bukan saja
serangannya tidak berhasil mendatangkan hasil, malahan ia
semakin terdesak hebat oleh serangan gencar musuhnya.
Suatu ketika Siau Ling membentak keras "Shen Bok Hong,
engkau hendak kabur ke mana..?"
Permainan pedangnya diperketat, secara beruntun dia
melancarkan tiga buah serangan berantai.
Bersamaan waktunya ketika pedang itu melepaskan tiga
buah serangan berantai, diam-diam tangan kirinya
melepaskan pula sebuah serangan maut dengan ilmu tan ci
sin kang.
Kebetulan pada waktu itu Shen Bok Hong sedang
mengangkat tangan kanannya dan menusuk ke arah pedang
Sian Ling dengan senjata besi semberaninya itu..
Belum sempat serangannya mencapai sasaran, mendadak
segulung desingan angin serangan telah meluncur tiba dan
menghajar telak ke atas sikut kanannya.
"Aduuh…!" Shen Bok Hong menjerit tertahan.
Tidak ampun lagi sekujur lengan kanannya jadi kaku,
kelima jari tangannya jadi mengendor dan besi semberani
itupun terlepas dari genggamannya.
Kesempatan yang sangat baik itu tidak di sia-siakan oleh
Siau Ling dengan begitu saja. Begitu senjata besi semberani
itu terlepas dari genggaman lawan, dia segera memburu ke
depan, pedangnya langsung diayun dan membacok ke arah
lengan musuh.
Shen Bok Hong semakin terperanjat sebelum ingatan kedua
sempat melintas dalam benaknya, ancaman itu telah tiba.

Didalam gugupnya dia berusaha untuk menghindarkan diri
dengan jalan melompat ke samping, sayang usahanya itu
terlambat satu tindak.
"Kraaas…!" tak ampun lagi lengan kanannya tersambar
hingga kutung jadi dua bagian.
Darah segar bagaikan pancaran air mancur segera
menyembur keluar dengan derasnya, dalam waktu singkat
seluruh pakaian serta permukaan tanah telah dinodai oleh
darah segar.
Tidak puas dengan keberhasilannya ini, Siau Ling memburu
ke depan lebih jauh. Pedang emasnya kembali berputar sambil
melancarkan sebuah bacokan maut dari arah samping,
maksudnya hendak mencabut nyawa gembong iblis yang
sudah terluka itu.
Tapi sayang sebelum usahanya itu berhasil tiba-tiba dari
arah belakang menggulung tiba segulung argin pukulan yang
sangat keras.
Desingan angin pukulan itu dahsyat sekali ibaratnya ombak
yang sedang mengamuk di tengah samudra, hal ini memaksa
Siau Ling mau tak mau terpaksa harus berkelit ke samping.
Bayangan manusia berkelebat lewat di depan matanya,
tahu-tahu hwesio berbaju merah itu naik ke atas panggung'
Sun Put shia yang telah bersiap siaga di sisi gelanggang
segera membentak keras:
"Hwesio bajingan, mau apa kau? Ingin bertempur secara
bergilir yaa??”
Sekali menjejak permukaan tanah, ia segera melompat naik
ke atas punggung sambil melancarkan sebuah pukulan yang
tak kalah dahsyatnya.
Hwesio berbaju merah itu segera mendengus dingin:
"Hmmm! turun kau.." bentaknya.

Telapak tangan kirinya diputar kencang di depan dada
kemudian melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan.
"Blaaang ...!” sebuah benturan keras menggelegar di
angkasa, sepasang telapak tangan tahu-tahu sudah beradu
satu sama lainnya.
Tubuh Sun Put shia yang sedang melayang maju ke depan
segera terhajar sampai mencelat, sesudah berputar dua kali di
udara, ia terjungkal kembali ke atas permukaaa tanah.
Dalam pada itu Siau Ling telah menggunakan kesempatan
yang sangat baik itu untuk menghimpun kembali tenaga
murninya. Pedang Hu mo-kim kiam disilangkan di depan dada
untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang
tidak diinginkan.
Setelah berhasil menghajar mundur Sun Put shia hwesio
berbaju merah itu mengalihkan pandangannya ke atas tubuh
Siau Ling, kemudian tegurnya dengan dingin:
“Heeeh heeeh heeeh bila tebakanku tak keliru, bukankah
engkau adalah muridnya Cung San Pek??”
"Tebakanmu memang tepat sekali ! Dan akupun pernah
bertemu muka dengan engkau.”
“Bagus bagus sekali ! Kalau begitu, andai kata kubunuh
engkau pada saat ini, tentunya engkaupun bisa mati dengan
mata meram bukan??”
Siau Ling mendengus dingin.
“Hmm! Sebelum pertarungan di antara kita berdua
dilangsungkan, siapa menang siapa kalah masih merupakan
suatu tanda tanya besar. Apakah taysu tidak merasa bahwa
ucapanmu itu tak terlalu tekebur??”
“Sungguh besar lagakmu..Huuuh ! Kendati pun Cung San
pek dan Lam It kong sendiri belum tentu mereka berani
menantang aku untuk berduel satu lawan satu ! Bocah

keparat, aku lihat nyalimu terlalu besar bahkan mendekati tak
tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. Engkau akan
menyesal nanti karena berani berbicara sombong seperti itu?"
Siau Ling sama sekali tidak menggubris ucapan musuhnya
lagi, seluruh pikiran dan tenaganya telah dihimpun menjadi
satu di atas pedangnya.
Menyaksikan si anak muda itu paras muka hwesio berbaju
merah itu kontan berubah hebat, kembali ia berseru :
"Bagus! Bagus sekali, tampaknya ilmu pedang terbang milik
Cung San-pek juga telah berhasil kau pelajari"
Siau Ling tetap membungkam dalam seribu bahasa, hawa
murninya ketika itu sudah disalurkan ke dalam pedang emas
yang berada dalam genggamannya itu.
Sementara itu, di pihak lain Shen Bok Hong serta Sun Put
shia yang terluka telah digotong pergi oleh jago-jago
pihaknya.
Seketika itu juga tampaklah manusia berkeliaran di sekitar
panggung itu, suasana jadi gaduh dan kacau balau.
It-bun Han-to sendiri berjalan hilir-mudik kesana kemari,
seakan-akan sedang memberi petunjuk kepada anak buahnya.
Tetapi semuanya itu sudah tidak terlihat lagi oleh Siau Ling.
Semua tenaga, pikiran serta perhatiannya telah terhimpun
menjadi satu di atas pedang emasnya itu.
Tiba-tiba hwesio berbaju merah itu tertawa dingin, sambil
membentak keras ia melompat ke depan dan langsung
menerjang ke arah Siau Ling yang masih berdiri tegak.
Dalam waktu singkat tampaklah cahaya pedang dan
gumpalan bayangan merah itu bergabung menjadi satu dan
saling bergumul dengan serunya.
Siapa pun tak sempat menyaksikan bagai mana terjadinya
bentrokan yang berlangsung di tengah udara itu, semua orang

hanya sempat melihat bagaimana setelah bentrokan itu
terjadi. Tubuh Siau Ling terlempar dari udara dan terbanting
jatuh di atas panggung kayu tersebut.
Sedangkan hwesio berbaju merah itu berpekik panjang,
tubuhnya secepat sambaran kilat melejit ke udara kemudian
diiringi kilatan cahaya merah dia telah kabur menuju ke arah
timur..
Dua titik gumpalan darah segar menodai permukaan
tanah..
Beberapa sosok bayangan manusia segera melompat naik
ke atas panggung kayu itu dan menyambar tubuh Siau Ling
yang terluka, setelah itu sekali menjejak badan mereka telah
melayang mundur lagi ke arah belakang.
Mereka tak lain adalah It bun Han-to serta Pek-li Peng dua
orang.
"Blaaangg..!" suatu ledakan keras kemudian menggelegar
memekikkan telinga, batu kerikil, batu cadas, pasir dan kayu
beterbangan memenuhi angkasa, asap hitam yang tebal
menyelimuti permukaan tanah, tahu-tahu panggung kayu
tersebut sudah hancur menjadi ber keping-keping..
Entah berapa lama sudah berlalu, perlahan-lahan Siau Ling
sadar kembali dari pingsannya.
Ketika ia membuka kembali matanya, tampaklah tubuhnya
berbaring di atas sebuah pembaringan yang empuk, lt bun
Han to, Pek-li Peng, Sang Pat, Tu Kiu serta Lan Giok tong
duduk berjajar di hadapannya.
Paras muka beberapa orang itu kelihatan sedih, murung
dan kesal, tetapi setelah menyaksikan Siau Ling sadar kembali
dari pingsannya, semua kesedihan dan kemurungan yang
menyelimuti wajah mereka segera tersapu lenyap.
Pek li Peng membelakakan sepasang matanya Iebar-lebar,
dia tarik napas panjang kemudian bisiknya:

"Syukur..syukur. Terima kasih Thian, terima kasih Tee..
akhirnya toako sadar kembali dari pingsannya. Oooh..!
Sungguh berbahagia hatiku!”
Siau Ling menyapu sekejap wajah rekan rekannya,
kemudian meronta dan berusaha untuk bangun.
Dengan cepat It bun Han to memburu ke muka serta
memegang tubuhnya, ia berbisik:
"Siau tayhiap, luka dalam yang kau derita amat parah sekali
jangan duduk lebih dahulu, berbaring sajalah disana, toh kita
adalah orang-orang sendiri!”
Siau Ling mengangguk dengan pandangan berterima kasih,
setelah berbaring kembali ia memandang lagi ke arah rekanrekannya
lalu tanyanya dengan lirih:
"Sudah berapa hari aku berbaring disini?”
"Engkau telah berbaring selama tujuh hari tujuh malam..!"
jawab Pek li Peng sambil menghembuskan napas panjang.
Siau Lingpun tarik nafas panjang-panjang.
"Aku sudah berbaring selama tujuh hari tujuh malam
lamanya?" pemuda itu masih rada sangsi.
It bun Han-to tersenyum seraya mengangguk.
“Benar, untung ilmu pertabiban yang dimiliki Tok jiu yokong
( raja obat bertangan keji ) amat dahsyat, ternyata dia
berhasil juga menyelamatkan jiwa Siau tayhiap.”
“Apakah Tok jiu yok ong juga telah datang??”
"Benar ! Yaa..pertemuan besar yang terselenggara kali ini
benar merupakan suatu pertemuan besar yang tak pernah
dijumpai dalam seratus tahun belakangan, bukan saja
beratus-ratus orang ciangbunjin dari pelbagai perguruan dan
partai yang ada di kolong langit telah berdatangan semua ke
tempat ini, bahkan ketua dari gereja Siau lim si, ketua dari

Hoa san pay, Go bi pay, Kun-lun pay serta Seng pangcu dari
Kay Pang telah berkumpul pula disini!"
Siau Ling mengangguk tanda mengerti, tiba-tiba ia
celingukan kesana kemari, setelah itu tanyanya:
“Eeeh, kemana perginya Sun lo ko? Kenapa ia tidak
nampak hadir di tempat ini?"
Belum sempat It-bun Han to memberikan jawabannya,
tiba-tiba terdengar gelak tertawa yang amat nyaring
berkumandang datang.
"Haaahh…. Haaahh… haaahh…. engkau mencari aku si
pengemis tua? Haaahh. haaahh. engkoh tuamu tak bakal
mampus!"
Cepat si anak muda itu alihkan sorot matanya ke arah
mana berasalnya suara itu, tampaklah Sun Put shia dengan
jalan yang pincang dan harus ditunjang oleh sebatang tongkat
perIahan-lahan sedang menghampiri ke arahnya.
Ketika tiba di hadapan pemuda itu, segera tegurnya :
"Saudaraku, bagaimana keadaanmu sendiri?"
Siau Ling tertawa ewa.
"Aku rasa tidak akan sampai mampus!"
Sua Put shia menyengir, ujarnya lagi :
“Ketika engkau menderita luka dalam yang amat parah, It
bun sianseng berusaha memberikan pertolongannya dengan
ilmu pertabiban yang dia miliki, tapi sayang usahanya itu tidak
mendatangkan hasil apa-apa. Semua orang jadi sedih dan
berduka hati waktu itu engkoh tuamu juga berada dalam
keadaan setengah sadar setengah tidak. Walaupun begitu aku
yakin bahwa engkau tak bakal mati, kusuruh mereka semua
agar tenangkan hati dan tak perlu kuatir."

Pek li Peng yang berada di sampingnya segera
menyambung dengan cepat:
"Andaikata Tok-jiu Yok ong locianpwe tidak datang tepat
pada waktunya dan memberikan pengobatan yang seksama,
toako tak mungkin bisa sadar secepat ini!”
"Aku harus pergi menjumpai Lam kiong locianpwe untuk
menyampaikan rasa terima kasihku atas pertolongannya ini!"
seru Siau Ling kemudian kepada Pek li Peog serunya.
"Tak usah berterima kasih kepadaku” tiba-tiba serentetan
suara jawaban yang amat dingin menggema memecahkan
kesunyian.
Ketika Siau Ling berpaling. tampaklah Tok jiu Yok ong
sedang menghampiri ke arahnya dengan langkah lebar,
datangnya ia membawa sebuah botol yang terbuat dari
porselen.
Setibanya di hadapan si anak muda itu ujarnya lebih jauh:
“Didalam botol ini semuanya terdapat tujuh butir obat,
setiap hari makanlah sebutir, bila ketujuh butir obat itu sudah
selesai kau makan maka lukamu itu kendatipun belum sembuh
benar, paling sedikit keadaan nya sudah lumayan.”
Kembali ia berhenti sebentar untuk menarik nafas panjang,
lalu katanya lagi:
"Setelah lukamu sembuh nanti, aku harap engkau bersedia
mengabulkan satu pemintaankul"
Botol porselen tadi segera diletakkan di sisi bantal anak
muda itu.
"Katakanlah apa permintaanmu itu loocianpwe!" seru Siau
Ling cepat, "asal boan-pwe dapat melaksanakannya, pasti
akan kulakukan dengan sepenuh tenaga?"
“Ooooh..l Permintaanku ini pasti dapat kau lakukan, setelah
lukamu sembuh tolong datanglah kebukit Kiu kiong-san untuk

berjumpa dengan putriku, sekarang dia sedang berlatih ilmu
silat makanya tak dapat ikut diriku untuk berkunjung ke mari.
Hanya itu permintaanku, kau pergi atau tidak terserah pada
kebijaksanaan Siau tayhiap!"
Tidak menunggu jawaban dari Siau Ling lagi, dia segera
putar badan dan berlalu dari situ, dalam sekejap mata
bayangan punggungnya sudah lenyap tak berbekas.
Memandang kepergian Tok-jiu Yok ong, Siau Ling
menghela napas panjang, ia tetap membungkam dalam seribu
bahasa.
Untuk sesaat suasana jadi bening..sepi., tak kedengaran
sedikit suarapun.
Akhirnya It bun Han to mendehem ringan memecahkan
kesunyian yang mencekam ruangan itu, ujarnya :
"Siau tayhiap, beristirahatlah dengan hati yang tenang!
Kawanan jago persilatan dari seluruh kolong langit telah
terharu oleh pengorbanan yang dilakukan Siau tayhiap selama
ini. Sekarang mereka telah sadar kembali dari kesilafannya,
bahkan ketua dari sembilan partai persilatan serta Seng
pangcu dari pihak Kay-pang telah bertekad untuk melanjutkan
perjuangan Siau tayniap dalam melenyapkan kaum durjana
dari muka bumi.”
"Bagaimana dengan Shen Bok Hong?" tanyanya kemudian.
“Dia beserta puluhan orang anak buahnya telah tewas
semua oleh ledakan peluru sakti Po san sio lui !. "
"Apakah Kim hoa hujin ikut tewas?
"Benar, perempuan itu ikut tewas pula dalam ledakan
tersebut, waktu itu suasana tegang dan amat kritis kami tak
sempat memberi kabar lebih dahulu kepadanya!”
"Apakah engkau telah menyaksikan mayat-mayat mereka?

Sang Pat yang selama ini membungkam, tiba-tiba
menjawab.
"Akibat dari ledakan Po San sin lui, daging dan darah
berserakan dimana-mana hancuran tubuh bercampur aduk
menjadi satu hingga sukar untuk mengenali jenasah mereka
semua, tapi menurut penilaianku seratus persen Shen Bok
Hong sudah tewas seketika itu juga!”
"Shen Bok Hong sudah terlalu banyak melakukan
kejahatan" sambung Pek li Peng. untuk dosa-dosanya itu dia
harus menerima kematian dalam keadaan mengenaskan,
itulah ganjaran yang paling cocok bagi manusia durjana
seperti dia!”
Siau Ling termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
kemudian tanyanya lagi:
"Bagaimana dengan hwesio berjari delapan itu?”
"Ia sudah terkena tusukan pedang dari Siau tayhiap”, sahut
It bun Han to, sekali pun berhasil melarikan diri namun luka
yang dideritanya cukup parah, sepanjang jalan darahnya
berceceran terus kalau bisa selamatkan jiwanya sudah
terhitung sangat mujur..!”
Ia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lebih jauh:
"Sembilan partai besar dan pihak Kai pang masing-masing
telah mengutus sepuluh jago lihaynya yang bekerja sama
dengan para enghiong hoohan dari seluruh kolong langit
untuk melakukan pembersihan ke seluruh wilayah Tionggoan.
Selain itu merekapun berusaha mencari berita tentang
keadaan Hwesio berjari delapan, aku rasa tak lama lagi kabar
beritanya tentu akan kita ketahui!”
"Kalau pohon sudah tumbang monyetpun akan
membuyarkan diri!” ujar Sun Put shia. Setelah kematian Shen
Bok Hong, segenap kekuatannya di perkampungan Pek hoa
san cung pun ikut runtuh tak berwujud lagi, urusan-urusan

yang kecil itu tidak perlu engkau pikirkan lagi. Baik-baiklah
merawat lukamu disini, seratus orang lebih ciangbunjin dari
pelbagai perguruan telah memutuskan untuk menghadiahkan
tiga lembar lencana hui-liong-pay untukmu, di mana lencana
itu muncul maka semua orang gagah di kolong langit akan
bersama-sama mentaati perintahmu!”
"Aaah ! Tentang soal itu, lebih baik kita bicarakan setelah
lukaku ini telah sembuh!" kata Siau Ling sambil tertawa getir.
Tiba-tiba dari arah pintu terdengar seseorang berseru
dengan suara lantang :
“Saudara Siau, rupanya engkau telah sadar kembali !”
Be Bun hui dengan langkah lebar menghampiri ke sisi
pembaringan, sambungnya lebih jauh:
"Suma Kan, Tong Goan ki, serta Liok Kui siang telah kuutus
untuk menjemput ayah ibumu, dalam tiga lima hari
mendatang mereka tentu sudah tiba disini!"
Siau Liag mengangguk dan tersenyum.
“Terima kasih banyak atas bantuan saudara Be dan
saudara-saudar lainnya !”
"Siau tayhiap silahkan beristirat dengan tenang" bisik It bun
Han-to lirih, "sembilan partai besar dan Seng pangcu telah
memutuskan untuk membantu Gak Siau cha dalam usahanya
untuk membalas dendam !"
Siau Ling mengangguk dan tersenyum.
“Nah ! Beristirahatlah dengan tenang.." bisik It bun Han to
lagi, ia ulapkan tangannya dan segera mengundurkan diri dari
ruangan itu diikuti para jago lainnya.
Lima hari kemudian; Suma Kan, Tong Goan ki serta Liok
Kui ciang telah muncul kembali disana sambil mengiringi
kedua orang tua Siau Ling.

Siau tayjin serta Siau hujin yang selama ini mengalami
banyak penderitaan, saat itu kelihatan segar dan sehat-sehat
belaka, sementara Kim Lan dan Giok Lan dua orang dayang
yang selama ini mendampingi kedua orang tua itu kelihatan
lebih dewasa dan cantik.
Pertemuan ini tentu saja sangat menggembirakan semua
orang, terutama Siau Ling yang telah sembuh kembali dari
lukanya lebih cepat dari waktu yang diramalkan. Saking
terharunya tak tertahankan lagi air matanya jatuh berlinang
membasahi pipinya.
Dari pembicaraannya dengan Suma Kan bertiga yang
bertugas menjemput ayah bundanya, dapat diketahui olehnya
bahwa mereka telah berjumpa dengan Gak Siau cha di tempat
itu.
Menurut Suma Kan, katanya Gak Siau-cha telah mengambil
keputusan untuk mengasingkan diri setelah berhasil
membalaskan dendam ibunya.
Mendengar berita tersebut, Siau Ling menghela nafas
sedih, gumamnya seorang diri:
“Aaaai. ! Kasihan enci Gak, rupanya dia lebih suka
mengorbankan diri daripada menyusahkan orang lain, sayang
aku tak tahu ke mana perginya enci Gak pada saat ini??”
Melihat kesedihan yang menyelimuti wajah si anak muda
itu, kawanan jago lainnya yang ikut hadir dalam ruangan
tersebut berusaha menghibur hatinya.
Terdengar Sun Put shia berseru:
"Hey, saudaraku, apa gunanya engkau menyedihkan
keputusan nona Gak yang tampaknya lebih suka
mengasingkan diri itu? Daripada memikirkan urusan orang
lain, lebih baik pikirkan saja urusanmu sendiri!"
“Urusan apa yang lo-koko maksudkan?” tanya Siau Ling
dengan wajah keheranan.

Sun Put shia tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh. haaahh. haaahhh-. urusan apa lagi? Tentu saja
perkawinanmu dengan nona Pek-li!"
Mendengar ucapan tersebut, merah padam selembar wajah
Siau Ling maupun Pek-li Peng, sementara jago-jago lainnya
ikut tertawa tergelak sambil mengawasi sepasang muda-mudi
yang kemalu-maluan dibuatnya itu.
Setengah tahun kemudian suasana di desa Tan kwi cung
yang biasanya sepi dan hening terjadi kesibukan yang luar
biasa.
Gedung tempat tinggal keluarga Siau tampak dihiasi
dengan indah dan menterengnya, beratus-ratus orang jago
silat dari pelbagai penjuru dunia berkumpul semua di desa,
yang keciI dan tenang tadi.
Rupanya malam itu adalah perkawinan dari Siau Ling dan
Pek li Peng.
Di tengah berlangsungnya ucapan perkawinan yang
semarak dan amat meriah itulah tersiar berita bahwa Gak
Siau-cha berhasil membalaskan dendam ibunya dan kemudian
menghilang di suatu bukit yang terpencil dan jauh dari
keramaian dunia.
Sementara Giok Iong kun yang tak berhasil mendapatkan
hati Gak Siau cha, dalam kecewanya ternyata mengambil
keputusan untuk mencukur rambut dan menjadi pendeta, di
sebuah kota kecil.
Mendengar berita itu, semua orang hanya bisa menghela
napas sedih..apa mau dikata lagi apabila suratan takdir telah
menentukan demikian?
Manusia manakah yang mampu merubah suratan takdir
tersebut..?

Begitulah sejak itu hari Siau Ling dan Pek-li Peng hidup
berbahagia di desa Tan kwei cun yang sepi, mendampingi
orang tuanya yang telah lanjut usia.
Sementara dunia persilatanpun menjadi aman dan tentram
kembali sejak kematian Shen Bok Hong dan bubarnya
kekuatan dari perkampungan Pekk-hoa-cung.
Yaaa..! Begitulah kehidupan manusia, barang siapa berani
berbuat kejahatan, dia akan dihajar oleh dosa dan hukuman
yang setimpal. Barang siapa berbuat kebaikan dan kebajikan,
dia akan hidup bahagia di alam ini..
Dengan demikian maka kuakhiri pula cerita "Budi ksatria"
ini sampai disini saja, sampai jumpa dalam kesempatan lain.!
TAMAT
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil : Budi Ksatria 7 [Seri Kunci Wasiat Pendekar Siauw Ling] dan anda bisa menemukan artikel Cersil : Budi Ksatria 7 [Seri Kunci Wasiat Pendekar Siauw Ling] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/10/cersil-budi-ksatria-7-seri-kunci-wasiat.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil : Budi Ksatria 7 [Seri Kunci Wasiat Pendekar Siauw Ling] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil : Budi Ksatria 7 [Seri Kunci Wasiat Pendekar Siauw Ling] sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil : Budi Ksatria 7 [Seri Kunci Wasiat Pendekar Siauw Ling] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/10/cersil-budi-ksatria-7-seri-kunci-wasiat.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar