CerSil : HATI BUDHA TANGAN BERBISA 3

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Senin, 03 Oktober 2011

Terunjuk rasa kaget dan heran pada muka Thong-sian Hwesio,
katanya setelah melengak sejenak: "Luas juga pengetahuan Sicu,
ya, memang betul Sian-thian-chin-khi."
Sian-thian-chin-khi merupakan ilmu Lwekang yang tiada taranya,
sekuat besi seulet baja, kalau latihan sudah sempurna dapat
digunakan sesuka hati, sedikit pikiran bergerak cukup untuk melukai
lawan, bagi yang berkepandaian rendah tidak ambil peduli, namun
bagi pendengaran Siang-thian-ong dan lain-lain, bukan kepalang
kejut mereka.
"Jadi Taysu adalah murid keturunan Sin-ceng (paderi sakti)?"
kata orang dalam tandu pula.
Thong-sian menarik muka dan merangkap tangan, katanya:
"Betul, beliau adalah guruku almarhum. Pandangan Sicu begini luas,
sungguh mengagumkan."
"Tapi Taysu menghendaki perkumpulan kami bubar apakah
permintaan ini tidak keterlaluan?"
"Betapapun Pinceng tidak gampang mengubah keputusan."
Wi-to-hwecu segera menyela bicara: "Kita yakin tak pernah
melanggar Wi-to, Taysu begini memaksa, lebih baik kita gugur
seluruhya."
Thong-sian menepekur sebentar, katanya kemudian: "Kalau Sicu
mampu melawan tiga kali pukulanku, selanjutnya Pinceng tidak akan
mencampuri lagi urusan Kang-ouw."
"Baik, kuterima tantangan ini," jawab Wi-to-hwecu nekat.
"Jangan Hwecu," orang dalam tandu mencegah dengan suara
bimbang.
Persoalan sudah jelas, Thong-sian Hwesio telah berhasil
meyakinkan Sian-thian-chin-khi, Lweekang yang tiada taranya,
betapapun tinggi kepandaian seseorang takkan kuat menghadapi
ujung jarinya, apalagi tiga kali pukulan. Tapi kaum persilatan
memandang nama lebih berharga daripada jiwa raga, demi gengsi
mereka rela berkorban, apalagi seorang pemimpin yang harus
membubarkan perkumpulannya, sudah tentu dia lebih suka gugur
dari pada hidup mendapat malu.
Si cebol bundar Siang-thian-ong segera menggelinding maju,
serunya. " Biar Lohu dulu yang menghadapi tiga pukulanmu."
Wi-to-hwecu angkat tangan, serunya: "Ini urusanku sendiri,
harap Hou-hoat mundur dan jangan banyak bicara lagi."
"Hwecu," seru orang dalam tandu, "sebagai kepala para Hou-
hoat, biar aku yang menerima tantangan ini."
Tidak, aku ini seorang pemimpin, akulah yang harus menghadapi
ujian ini, kalau aku tidak beruntung, boleh Cong-hou-hoat segera
bubarkan perkumpulan kita ini."
Sungguh jiwa ksatria yang tak gentar menghadapi elmaut.
"Hwecu" seru orang dalam tandu, pertimbangkan kembali
putusanmu."
"Tiada yang perlu dipertimbangkan lagi, putusanku tak dapat
diubah, beberapa persoalan kita yang belum sempat kubereskan
harap kau sudi menyelesaikannya."
Lalu dia melangkah kehadapan Thong-sian, tantangnya dengan
ketus: "Silakan mulai!"
Thong sian maju beberapa langkah, jarak mereka tinggal
setombak lebih, keduanya berdiri tegak berhadapan. Suasana hening
lelap, jarum jatuhpun bisa terdengar, hawa seperti membeku,
ketegangan mencekam sanubari setiap hadirin.
Tapi begitu pandangan kedua orang saling bentrok, keduanya
sama-sama melongo dan mematung.
Dengan suara haru gemetar, tiba-tiba Wi-to-hwecu bertanya:
"Belum genap 20 tahun Taysu mencukur rambut bukan?"
Jelas Thong-sian sangat kaget, romannya berubah. "Betul"
sahutnya.
"Nama preman Taysu she Ciu?"
"Sicu, kau ......" Thong-sian mundur tiga langkah, kulit daging
mukanya gemetar, agaknya pertanyaannya yang berulang ini
membuatnya kaget dan kebingungan.
Tiba-tiba Wi-to-hwecu angkat tangan kanan, jempol dan jari
telunjuknya terangkat berkembang, sementara tiga jarinya yang lain
ditekuk turun, katanya gemetar: "Taysu sudah mengerti?"
Kembali Thong-sian menyurut mundur, suaranya tersendat:
"Kaukah ini?"
“Ya" sahut Wi-to-hwecu singkat. Teka-teki apa yang dibicarakan
kedua orang ini tiada yang tahu.
Thong sian segera merangkap tangan, lalu komat-kamit, akhirnya
bersuara: "Bagus, bagus, sungguh diluar dugaan Pinceng. Sicu,
bereskan dulu persoalan di sini."
Wi-to-hwecu mendekati Ngo-lui-kiongcu, katanya dengan suara
berat: "In-ciangbun, sekali lagi kunyatakan bahwa anak buahku pasti
tiada yang membunuh anak muridmu, yang terang memang ada
orang yang mengadu domba. Tidak sedikit jatuh korban di antara
kita, sebetulnya pihakmulah yang harus bertanggung jawab
seluruhnya, namun sesuai azas tujuan berdirinya perkumpulan kami,
biarlah persoalan ini kami anggap malapetaka yang tak terduga,
anggaplah selesai persoalan ini, bagaimana pendapatmu?”
In Ci-san tahu situasi tidak menguntungkan pihaknya, kalau tidak
mau terima saran pihak sana, memangnya dia hendak berbuat
apalagi? Setelah diam sebentar, lalu berkata dengan penuh
kebencian: "Baiklah soal ini sementara selesai sampai di sini, namun
cepat atau lambat perhitungan ini pasti akan kami tagih."
"Itu urusan kelak, bagaimana kalau tuan dan anak buahmu
mampir dulu untuk istirahat dan mengobati yang luka-luka?"
"Tidak perlu, selamat bertemu kelak," In Ci-san putar badan
memberi tanda kepada sisa anak buahnya, serunya: "Bawa mayat-
mayat teman-temanmu."
Beramai anak buah Ngo-lui-kiong bekerja cepat, cepat sekali para
korban sudah dipanggul dan dibawa turun gunung.
Pertikaian yang berlangsung secara aneh ini lekas sekali sudah
usai, namun hati semua orang dirundung awan gelap, ada hubungan
apakah sebetulnya antara Wi-to-hwecu dengan Thong-sian Hwesio?
Cukup dengan beberapa patah kata yang tidak dimengerti tadi,
dengan mudah Wi-to-hwecu dapat mengubah tekad dan pendirian
Thong-sian?
Hati Ji Bun berat seperti diganduli barang ribuan kati, niatnya
hendak menuntut balas ketika mendapat kesempatan tadi telah
lenyap, dia pikir harus selekasnya bertemu dengan ayah, setelah
jelas duduk persoalannya, barulah mereka bergabung mengambil
tindakan.
Setelah membereskan urusannya, Wi-to-hwecu mendekati Ji Bun,
katanya: "Sahabat muda, sekarang silakan."
Diam-diam Ji Bun mengertak gigi, sahutnya: "Sekarang juga kami
mohon diri, kalau ada kesempatan kelak kami pasti berkunjung
pula."
"Kenapa tergesa-gesa?"
"Banyak urusan yang harus kami bereskan," sahut Ji Bun lalu dia
memutar ke arah Thong-sian, katanya: "Taysu, terima kasih akan
pertolongan tempo hari, Wanpwe mohon diri."
Thong-sian tidak bersuara, dia hanya mengangguk sambil
merangkap kedua tangan di depan dada, namun sorot matanya
berkilauan menatap muka Ji Bun. Setelah basa-basi ala kadarnya
pula, segera Ji Bun turun gunung bersama Thian-thay-mo-ki.
8.24. Tuduhan Pembunuh dan Pemerkosa ....
Setiba dibawah gunung, Ji Bun menarik napas panjang, pikiran
masih terasa pepat, ayah berkelana di Kang-ouw tidak menentu
jejaknya, demikian pula bunda tak keruan paran, kekuatan musuh
semakin bertambah, banyak tanda tanya yang selama ini dapat
terbatas?
Tiba-tiba dia sadar, dirinya melupakan suatu hal penting, kenapa
tadi tidak sekalian mencari kabar kepada orang dalam tandu atau
kepada Wi-to-hwe tentang adik Pek-ciok Sin-ni yang bernama Toh
Ji-lan itu, tugas dan pesan orang tua di dalam jurang itukan harus
selekasnya diselesaikan.
"Dik," tiba-tiba Thian-thay-mo-ki buka suara, "apakah musuhmu
berada di Wi-to-hwe?"
Tergetar hati Ji Bun. "Kenapa Cici tanya hal ini?”
"Sorot mata dan sikapmu memberitahu padaku.
"Apa benar?"
"Waktu peresmian berdirinya We-to-hwe tempo hari sudah
kudapati perubahan sikapmu ini, aku tak berani tanya, namun
perubahan saling susul atas dirimu, watakmu yang nyentrik dulu
sudah kau buang jauh, perubahan secara dratis ini bukan
menandakan pengalamanmu yang semakin bertambah, tapi karena
adanya tekanan batin tertentu sehingga jiwamu tertekan, atau
mungkin juga hal ini memang kehendakmu sendiri karena sesuatu
hal, maaf aku bicara secara blak-blakan."
Merinding bulu kuduk Ji Bun, diam-diam ia mengagumi ketelitian
Thian-thay-mo-ki, namun diam-diam iapun semakin waspada,
disadarinya bahwa keadaan dirinya semakin ruwet, ayah sendiri
tidak mau menjelaskan peristiwa hancurnya Jit-sing-po, sejauh ini
tidak mau kerja sama dengan dirinya, tidak menunjukkan aksi lagi.
Secara langsung dia menyadari juga bahwa ayahnya telah banyak
berubah pula, sehingga hubungan mereka ayah beranak menjadi
renggang seperti dibatasi sesuatu jalur yang tidak kelihatan. Kenapa
bisa demikian?
Begitulah tanpa bersuara mereka melanjutkan perjalanan tanpa
arah. Tiba-tiba pandangan mereka terasa kabur, bayangan putih
tahu-tahu berkelebat di depan mata, seorang berbaju putih entah
kapan sudah mengadang di depan mereka, Ji Bun berdua segera
berhenti, seketika berkobar semangat Ji Bun, orang yang
mencegatnya ini ternyata Biau-jiu Siansing adanya.
"Tuan menungguku di sini?" tanya Ji Bun.
"Ya, begitulah," sahut Biau-jiu Siansing.
"Agaknya tuan dapat dipercaya."
"Omong kosong, memangnya Lohu harus ingkar janji terhadap
anak muda," ujar Biau-jiu Siansing, "banyak orang mondir-mandir di
sini, marilah kita cari tempat lain."
"Di dalam hutan sana, bagaimana?" tanya Ji Bun. Hutan yang
ditunjuk terletak disebelah kiri, dengan pepohonan yang rindang.
"Baik, namun Lohu ada pendapat."
"Pendapat apa?"
"Untuk menyelesaikan pertikaian kita, lebih baik kalau tiada orang
ketiga menyaksikan." Maksudnya mengusir Thian-thay-mo-ki secara
halus.
Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, katanya: "Biau-jiu Siansing,
hubungan kami sudah kau ketahui, aku bukan orang luar."
"Hubungan kau dipaksakan," jengek Biau-jiu Siansing terkekeh
lucu.
"Baiklah, Cici," tukas Ji Bun, "kau tunggu saja di luar hutan."
Apa boleh buat, Thian-thay-mo-ki akhirnya mengangguk,
pesannya: "Hati-hati, Dik."
"Aku tahu, Cici tidak usah kuatir."
Biau-jiu Siansing berkelebat seperti bayangan setan, tahu-tahu
lenyap kedalam hutan. Lekas Ji Bun mengudak kesana.
Waktu itu sudah mendekati magrib, cuaca dalam hutan remang-
remang gelap, namun Biau jiu Siansing mengenakan pakaian putih
bayangannya cukup menyolok.
Kira-kira puluhan tombak Ji Bun mengudak, dilihatnya bayangan
orang sudah berdiri menanti kekedatangannya. Ji bun mendekati
dalam jarak beberapa kaki, secara langsung dia buka suara: "Tuan,
tak perlu banyak omong, bagaimana anting-anting pualamku itu?"
"Kenapa kau menuduh aku yang merebut anting-antingmu itu?"
"Jadi kau mungkir?"
"Tak pernah aku merebut barangmu, bagaimana aku harus
mengaku."
"Aku tidak percaya."
"Te-gak Suseng, perlu kutanyakan dengan tegas, kalau kau
punya bukti bahwa memang aku yang melakukan, batok kepalaku
boleh kuserahkan kepadamu, kalau tidak, jangan kau melanggar
aturan Kang-ouw, menuduhku secara tidak semena-mena."
Sudah tentu mulut Ji Bun terkancing, bicara soal bukti hakikatnya
dia tidak bisa menunjukkan, hanya berdasarkan gerakan dan kebal
racun tangannya saja, maka dia menuduh Biau-jiu-Siansing.
"Kau harus lekas memberi keterangan kepada pemilik barang itu,
supaya mereka lekas bertindak, kalau tidak harta bendanya bakal
ludes dalam sekejap mata, bagaimana akibatnya, kau yang harus
memikulnya."
Memang benar, anting-anting itu milik pribadi Ciang Bing-cu, nilai
anting-anting itu sendiri mungkin tidak seberapa, namun arti dari
akibat hilangnya anting-anting itu tak terkira besarnya, kalau sampai
hal ini bocor dan diketahui keluarga Ciang, bagaimana dirinya harus
menghadapinya? Benak berpikir, namun mulutnya tetap kukuh:
"Tuan bilang hendak mempertaruhkan batok kepalamu?"
"Betul."
"Baik, soal ini sementara boleh ditunda."
"Anak muda, masih ada satu hal perlu kuperingatkan padamu,
nama gelaran Thian-thay-mo-ki terlalu buruk di kalangan Kang-ouw
.......”
"Aku tahu kau tidak usah kuatir," kata Ji Bun, "lalu bagaimana
janjimu tempo hari?"
"Janji apa?"
"Kau pernah berjanji hendak menyampaikan kabar kepada Jit-
sing-kojin, supaya selekasnya mencari aku buat menyelesaikan ......”
"Dia tidak mencarimu?" seru Biau-jiau Siansing, "aneh sekali, hal
itu sudah kusampaikan padanya, dia juga sudah berjanji hendak
menemui kau?"
"Sekarang boleh kau katakan di mana dia berada, biar aku yang
mencarinya."
"Dia tidak punya tempat tinggal yang tetap."
"Itu hanya alasan belaka, kaukan sekelompok dengan dia, di
mana jejaknya kau pasti tahu."
"Ada permusuhan apakah antara kau dengan dia?"
"Sudah tahu masih pura-pura tanya?"
"Aku betul-betul tidak tahu, sukalah kau terangkan?"
"Kau tidak perlu tahu, katakan saja alamatnya."
"Tidak bisa."
"Kenapa?" desis Ji Bun, "untuk mencapai keinginanku, tindakan
apapun bisa kulakukan."
"Kau menantang Lohu, he?"
"Kalau kau tidak terus terang, kuganyang kau."
Biau-jiu Siansing menepekur sebentar, katanya: "Berilah waktu
kepadaku, kapan dan di mana, biar dia sendiri yang mencarimu?"
"Aku tidak sabar menunggu," jawab Ji Bun.
„Lima hari lagi kita bertemu dijalan raya yang menuju ke
Kayhong, bagaimana?" tanya Biau-jiu Siansing tanpa hiraukan sikap
ketus Ji Bun.
"Baiklah, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Jelaskan asal usul Jit-sing-kojin."
"Hal itu biar dia sendiri yang menjelaskan padamu, Lohu tidak
berhak."
"Kalau kau tidak menerima syaratku, aku juga tidak terima
janjimu."
"Te-gak Suseng," desis Biau-jiu Siansing, "kau suka bertingkah,
selama hidup belum pernah Lohu diancam dan ditekan orang."
"Kalau begitu jangan harap kau bisa pergi."
"Memangnya kau mampu menahan Lohu?" lenyap suaranya
badannya tiba-tiba melesat kebelakang, Ji Bun menghardik keras,
telapak tangannya menepuk "Blang" ditengah suara gemuruh
sebatang pohon besar roboh, namun bayangan Biau-jiu Siansing
sudah lenyap.
Serasa meledak dada Ji Bun, amarahnya memuncak, cepat ia
menyelinap ke dalam hutan dan melesat seringan burung walet,
sayang hutan ini terlalu lebat, pandangannya selalu terhalang,
langkahnyapun sedikit terganggu oleh semak-semak. Tiba-tiba ia
teringat akan Ginkang berkisar dengan badan memutar mumbul ke
atas ajaran orang tua aneh di bawah jurang Pek-ciok-hong itu,
segera badannya melejit tinggi berputar mumbul ke tengah angkasa,
kakinya menutul pucuk-pucuk pohon sehingga gerakannya secepat
burung, terbang, namun ke mana pandangannya menjelajah, hanya
tampak setitik putih berkelebat di kejauhan sana, segera dia
mengudak kencang kearah bayangan putih itu.
Dengan seluruh kekuatannya dia kembangkan Ginkang yang
tiada bandingan ini, seenteng asap melayang cepat sekali dia sudah
menempuh delapan li, cuaca sudah gelap, untung bayangan itu
mengenakan baju putih sehingga Ji Bun tidak kehilangan sasaran.
Tak jauh di depan sana terlihat sinar pelita, agaknya sebuah kota
kecil, kalau orang yang dikejarnya ini sampai memasuki kota, untuk
mencarinya tentu lebih sukar, karena gugup Ji Bun tambah tenaga
dan mengejar semakin kencang, bagai segulung kabut entengnya ia
berhasil melampaui orang lalu berhenti setombak di depan orang,
mulutpun membentak: "Berhenti!"
Bayangan putih itupun segera menghentikan langkahnya.
Tapi Ji Bun seketika melongo dan berdiri kaku, ternyata bayang
putih yang dikejarnya ini bukan Biau-jiu Siansing, tapi seorang Nikoh
muda belia.
Dongkol dan merengut wajah Nikoh muda ini, serunya marah-
marah: "Apa maksud Sicu mencegatku?"
Ji Bun menjadi kikuk, ia menyengir kecut, namun dalam hati ia
memuji akan gerakan orang yang hebat, katanya tergagap: "Maaf,
Cayhe keliru, kusangka Suthay adalah orang yang tadi kukejar."
Dengan seksama Nikoh muda itu mengamati Ji Bun, katanya
dengan suara rada gemetar: "Apakah Sicu Te-gak Suseng adanya?"
"Betul, memang akulah yang rendah."
Tiba-tiba mendelik gusar mata Nikoh muda, bentaknya beringas:
"Te-gak Suseng, kau binatang yang tidak berperi kemanusiaan ini,
kalau tidak kuhancur leburkan kau kubersumpah tidak jadi manusia."
Kaget dan heran Ji Bun dibuatnya, serunya sambil mundur: "Apa
maksudmu Siau-suthay?”
Desis Nikoh muda penuh kebencian dan dendam: "Perbuatanmu
tak terampunkan."
Ji Bun bingung, tanyanya tak mengerti: "Cayhe tidak tahu apa
yang Suthay katakan."
Nikoh muda mendesis pula, sambil mengertak gigi: "Di tempat
suci kau telah berani berbuat jahat dan kotor."
Ji Bun geleng-geleng, ujarnya: "Cayhe betul-betul tidak
mengerti."
"Seorang Suciku yang soleh dan patuh pada ajaran agama,
namun kau telah memperkosa dan membunuhnya, kau ..... kau .....”
Ji Bun berjingkat, serunya gemetar, "Apa? Memperkosa dan
membunuh?"
"Ya, kau membunuh setelah memperkosa Suciku."
“Lho, berdasar apa kau menuduhku demikian?"
"Te-gak Suseng, memangnya siapa lagi kecuali kau yang
membunuh orang tanpa meninggalkan bekas?"
Ji Bun mundur selangkah lagi, teriaknya terbeliak: "Membunuh
tanpa meninggalkan bekas?"
"Betul, kau berani mungkir?"
Ji Bun berpikir, hanya Cui-sim-tok yang sanggup membunuh
orang tanpa meninggalkan tanda-tanda yang mencurigakan, dan
racun ini kecuali dirinya hanya ayahnya yang bisa menggunakan,
namun kalau bicara soal kepandaian silat dan Lwekang, tentunya
tidak sedikit jago-jago kosen yang mampu juga membunuh orang
tanpa meninggalkan bekas, maka dia membela diri dengan tenang:
"Siausuthay, jangan hanya berdasar bukti-bukti yang masih belum
jelas terus menuduh Cayhe yang melakukannya."
Sedih dan haru membuat badan Nikoh muda itu bergetar,
teriaknya menahan isak: "Kau menyangkal?"
"Ya, dengan tegas kusangkal tuduhanmu ini."
"Serahkan jiwamu!" tahu-tahu telapak tangan Nikoh itu
menggempur ke dada Ji Bun, kekuatannya sungguh amat
mengejutkan, namun sekali berkisar Ji Bun sudah berkelebat
menyingkir, teriaknya: "Siau-suthay orang yang beribadat, kenapa
begini galak dan berpandangan sempit?"
Nikoh muda itu anggap tidak dengar peringatannya, sekali
pukulannya luput, serangan kedua segera menghantam pula,
caranya nekat dan seranganpun membabi buta.
Ji Bun berkelit ke kiri dan menyingkir ke kanan, lama kelamaan ia
menjadi keripuhan juga, kalau tidak melawan atau menangkis, tentu
jiwanya bisa melayang, namun kalau tinggal pergi begini saja,
bukankah namanya bakal dicap semakin kotor, lebih celaka lagi
Nikoh ini akan lebih yakin bahwa dirinya memang seorang
pembunuh, urusanpun akan berlarut. Betapapun dia harus
menyelidiki peristiwa ini dan membongkar pembunuhan ini. Karena
itu ketika lawan menyerang lagi, sebat sekali dia menyelinap miring
terus melintangkan tangan balas menjojoh, terdengar Nikoh itu
mengerang pendek dan sempoyongan, namun Nikoh ini sudah kalap,
seperti kerasukan setan kembali ia menubruk maju dengan
serudukan dan tendangan secara keji.
Ji Bun naik pitam menghadapi serangan membabi buta ini, kalau
menuruti wataknya dulu, mungkin Nikoh muda ini sudah tak
bernyawa lagi, namun dia hanya mendengus gusar, dikala lawan
menyeruduk tiba pula, ia kerahkan tenaga di telapak tangan terus
menahan kedepan. Nikoh itu menjerit ngeri, badannya tersungkur ke
samping, darah meleleh dari mulutnya.
Ji Bun berkata dengan nada berat: "Cayhe tidak ingin melukai
Suthay, soalnya Suthay bertindak serampangan, tanpa memberi
kesempatan untuk menjelaskan."
Semakin berkobar rasa benci yang tersorot dari mata Nikoh
muda, desisnya mengertak gigi: "Te-gak Suseng, kenyataan sudah
membuktikan, kau masih berani menyangkal."
"Pandangan Suthay terlatu sempit, apa yang kau katakan
kenyataan hanya obrolan mulut Suthay sendiri, coba, kapan
peristiwa itu terjadi dan di mana?"
Nikoh muda itu menyeka darah yang meleleh di pinggir mulutnya,
sekian lama dia masih melotot gusar, katanya kemudian: "Lagakmu
seolah-olah kau tidak tahu sama sekali."
"Kenyataan memang demikian, aku tidak tahu apa-apa."
"Baik, selamat bertemu, sakit hati ini pasti akan kubalas, Thian
akan menjatuhkan hukuman setimpal atas perbuatanmu," lenyap
suaranya orangnyapun sudah berkelebat beberapa tombak jauhnya.
Ji Bun pikir, urusan ini harus selekasnya diselidiki dan dibereskan,
soal ini boleh dikesampingkan, namun tuduhan membunuh dan
memperkosa ini sungguh bukan urusan sepele, maka segera ia
angkat langkah mengejar, gerak-gerik Nikoh muda itu ternyata
cukup tangkas dan tinggi Ginkangnya, dengan mengerahkan
sepenuh tenaganya baru Ji Bun dapat menyusul dalam jarak
tertentu.
Setelah melampaui kota kecil, kembali mereka dihadang sebidang
hutan liar, cukup lama mereka harus berlari diantara semak-semak
hutan dengan naik turun bukit-bukit yang terjal, akhirnya tampak
sebuah kelenteng kecil, itulah biara yang khusus ditempati oleh
Nikoh atau biarawati. Setelah Nikoh itu menyelinap masuk ke dalam
kelenteng, barulah Ji Bun lari mendekat, dilihatnya sebuah pigura
besar cat hitam tergantung di atas pintu dengan empat tulisan emas
yang berbunyi "Ci-hang-boh-toh", kiranya sebuah kelenteng Kwan
Im, suasana hening lelap di dalam kelenteng kecil ini, pintu
kelenteng setengah terbuka setelah Nikoh muda tadi menyelinap
masuk.
Sejenak ragu-ragu, akhirnya Ji Bun memberanikan diri melangkah
maju terus menyelinap masuk juga dengan langkah enteng tidak
bersuara.
Kelenteng kecil, namun terawat baik, begitu masuk Ji Bun lantas
berada di ruang sembahyang, di samping sana adalah sebuah
halaman yang ditanami tetumbuhan, di belakang taman adalah dua
kamar yang berjajar dalam keadaan gelap. Menjurus ke kiri adalah
serambi panjang yang menuju ke belakang. Sinar pelita yang guram
menerangi ruang sembahyang yang sunyi dan tidak kelihatan
bayangan orang. Kamar di sebelah timur gelap gulita, tapi sinar
pelita menembus keluar dari kamar sebelah barat, dua sosok
bayangan orang tampak di jendela, agaknya mereka tengah bicara.
Ji Bun berpikir sebalum bertindak lebih jauh, sebagai seorang
laki-laki asing, malam-malam keluyuran di biara Nikoh, hatinya
menjadi tidak tenteram, lebih baik bersuara menyatakan maksud
kedatangannya, supaya tidak timbul salah paham dan terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan.
Namun sebelum dia buka suara, sebuah suara serak
berkumandang dari kamar sebelah barat itu, "Apakah Te-gak Suseng
Sicu yang datang? Silakan masuk!" Suara ini seperti sudah amat
dikenal, tergerak hati Ji Bun, siapakah dia? Dalam hati dia bertanya-
tanya.
Kamar di sebelah tengah segera menjadi terang, itulah sebuah
kamar tamu yang dipajang sederhana, Nikoh muda yang dikuntitnya
tadi membuka pintu terus mundur kesamping, kedua tangan
terangkap di depan dada, sambutnya dingin: "Silakan masuk!"
Ji Bun membungkuk lalu melangkah masuk ke ruang tamu,
tampak seorang Nikoh setengah umur sudah duduk di atas sebuah
kasur bundar, mukanya tampak jernih, sikapnya kereng, sinar
matanya memancar terang, membawa daya tarik yang kuat.
"Silakan duduk," sapanya setelah Ji Bun masuk.
"Terima kasih," Ji Bun duduk di sebuah kursi di depan nikoh tua
itu. Nikoh ini belum pernah dikenalnya, betapapun dia tak habis pikir
di mana dan kapan dia pernah berjumpa atau mendengar suaranya?
"Mohon tanya, siapakah nama gelaran Cianpwe?"
"Gelaran Pin-ni, Siu-yen."
"Tengah malam buta Wanpwe memberanikan diri keluyuran di
tempat suci ini, harap, Suthay memberi ampun."
"Tidak, Pin-ni memang mengharapkan kedatangan Sicu."
"Barusan murid Suthay .....”
Siu-yen angkat sebelah tangannya, dia cegah kata-kata Ji Bun
selanjutnya, katanya: "Memang muridku itu ceroboh, dia malah
salah paham kapada Sicu, hal ini tidak perlu diungkat lagi."
Ji Bun jadi melenggong, apakah pembunuhnya sudah ketangkap,
kalau tidak kenapa dikatakan salah paham.
"Kedatangan Wanpwe memang ingin bikin terang peristiwa ini,
kalau memang salah paham, baiklah Wanpwe mohon diri saja "
"Nanti dulu."
"Cianpwe masih ada petunjuk apa?”
"Sukalah Sicu memeriksa jenazah muridku dulu," lalu dia
berbangkit dan berkata kepada Nikoh muda yang berdiri di ambang
pintu: “Ngo-cin, nyalakan lampu!"
Ngo-cin segera masuk ke kamar sebelah, keluarnya sudah
membawa pelita. Siu-yen memberi tanda kepada Ji Bun, segera dia
mengikuti Nikoh tua ini melangkah keluar menuju serambi panjang
ke arah belakang. Setelah memasuki sebuah pekarangan lainnya,
mereka berhenti di sebuah kamar yang tertutup kain putih, Siu-yen
melangkah masuk, Ji Bun ikut di belakangnya, dilihatnya sesosok
jenazah berbaring diatas sebuah dipan, jenazah ini ditutupi
selempang kuning, tentu Nikoh inilah yang terbunuh setelah
diperkosa.
Wajah Siu-yen yang alim jernih tampak guram dan berkeriut,
agaknya tengah menekan perasaan haru dan sedih hatinya, jari-jari
tangannya gemetar menuding ke arah jenazah, katanya: "Inilah
muridku yang tertua, Ngo-sim, karena ada urusan Pinni sedang
keluar, Ngo-cin juga keluar memetik daun obat, hanya Ngo-sim
seorang di dalam biara, sebelum terbunuh dia sudah dinodai lebih
dulu kesuciannya, namun sekujur badannya tidak ada luka-luka atau
tanda-tanda keracunan, maka Ngo-cin mengira Sicu yang
melakukannya ....”
Berkerut alis Ji Bun, katanya: "Lalu dari mana Cianpwe bisa
mengatakan semua ini salah paham terhadap diri Cayhe?"
"Karena Pinni tahu, waktu peristiwa ini terjadi, Sicu berada di
tempat Wi-to-hwe."
"O," hambar dan hampa hati Ji Bun, dari mana Nikoh tua ini tahu
kalau dirinya berada di markas besar Wi-to-hwe?
Berkata Siu-yen Nikoh lebih lanjut: "Tempo hari, murid-murid Wi-
to-hwe juga pernah mengalami peristiwa yang sama, setelah
diselidiki dapat diketahui bahwa mereka terbunuh oleh racun Bu-ing-
cui-sim Sicu adalah orang ahli dalam bidang racun ini, maka sukalah
Sicu memeriksanya."
Tersirap darah Ji Bun, suaranya Nikoh tua yang seperti amat
dikenalnya ini, seakan-akan jelas mengenai seluk beluk dirinya,
sungguh suatu hal yang amat mengejutkan, maka dia tidak bertanya
lebih lanjut, katanya: "Biarlah Wanpwe memeriksanya, coba tolong
singkapkan tutup mukanya.”
Ngo-cin, Nikoh muda itu segera maju menyingkap kasa yang
menutupi muka Ngo-sim, tampak wajah si korban begitu halus putih
seperti orang hidup yang tidur nyenyak, kecantikannya boleh
diagulkan, namun bibirnya mengerut kencang seperti menahan sakit
dan derita, jelas dia mati membawa dendam dan kebencian yang
luar biasa. Ngo-cin berpaling, seperti tidak tega melihat wajah
Sucinya.
Dengan jari telunjuk Ji Bun singkap kelopak mata sang korban,
dengan seksama dia memeriksa, lama kelamaan jantungnya
berdetak semakin keras, memang tidak salah korban mati karena
keracunan Bu-ing-cui-sim. Kecuali mereka ayah dan anak, apakah
ada orang lain yang mampu menggunakan racun jahat ini?
Sejak dirinya berhasil meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, racun sudah
bersatu padu dalam darah dagingnya, kalau orang lain
menggunakan racun ini harus memasukkan racun ke dalam mulut si
korban baru akan membawa hasil, jelas pembunuhan ini seperti
sudah direncanakan terlebih dulu. Mungkinkah perbuatan ayahnya?
betulkah sang ayah sampai berbuat sekotor dan sehina ini? Tanpa
merasa dia bergidik sendiri.
"Bagaimana Sicu?'' Siu-yen bertanya dengan suara berat.
"Betul, memang keracunan Bu-ing-cui-sim."
"Kalau begitu kecuali Sicu yang sudah menyatu-padukan racun ini
dengan jiwa raga, siapa pula yang mampu menggunakan racun Bu-
ing-cui-sim ini."
Darah Ji Bun tersirap, namun lahirnya tenang-tenang, sahutnya:
"Untuk hal ini maaf Wanpwe tidak bisa menerangkan."
Terpancar sinar gemerlap kedua mata Siu-yen, tanyanya
mendesak: “Pin-ni memberanikan diri, harap Sicu suka
memperkenalkan perguruanmu?"
"Terpaksa Wanpwe harus menolak permintaanmu ini."
"Hm ...... adakah saudara seperguruan Sicu yang berkelana di
Kang-ouw?“
"Kukira tidak ada."
Mendadak Siu-yen mendesis beringas: "Pasti dia, kecuali dia tiada
orang lain lagi."
Serta merta berdiri bulu kuduk Ji Bun. "Dia siapa?" tanyanya.
Lama Siu-yen menatap Ji Bun dengan pandangan berkobar,
seolah-olah ingin meraba perasaan Ji Bun. Lekas Ji Bun tenangkan
diri, pura-pura bingung, sesaat kemudian baru Nikoh tua buka suara
pula: "Seorang iblis laknat yang pandai menggunakan racun."
"Tidak sedikit orang yang pandai menggunakan racun dalam Bu-
lim .......”
“Memang, tapi Pin-ni yakin dan punya alasan untuk
menuduhnya."
"Bolehkah hal ini dijelaskan?"
"Kukira Sicu tidak perlu tahu."
Karena ada maksud lain, maka Ji Bun mendesak: "Wanpwe ingin
tahu siapakah tokoh yang ahli menggunakan racun ini?"
"Urusan ini sukar diduga, kemungkinan juga meleset, sebagai
seorang beribadat tidak boleh aku sembarangan omong, untuk ini
harap Sicu maklum.”
Ji Bun terbungkam, tiada alasan dia mendesak keterangan orang,
namun dalam hati sudah menambah perhatian dan kewaspadaan,
menurut kejadian dan hasil pemeriksaannya, dia yakin kalau yang
melakukan perbuatan rendah dan kotor ini adalah ayahnya, karena
racun Bu-ing-cui-sim ini hanya bisa dibuat dari resep rahasia yang
hanya dimiliki ayahnya, sampaipun Cui Bu-tok yang mengagulkan
diri seorang ahli dalam permainan racun pun mengakui hanya tahu
nama racun ini, tapi tidak mampu menawarkan, memangnya siapa
pula dalam Kang-ouw yang bisa menggunakan racun ini?
Tapi segera dia teringat kepada beberapa orang misterius yang
kebal menghadapi racun jahatnya, pertama orang berkedok yang
menyaru ayahnya, lalu salah seorang anak buah Cip-po-hwe, Nikoh
tua di biara Siong-cu-am, Jit-sing-kojin, orang yang merebut anting-
anting pualam, serta orang yang menyamar sebagai komandan
ronda Wi-to-hwe itu, demikian pula Biau jiu Siansing, semuanya
kebal terhadap racunnya, kemungkinan sekali orang-orang yang
kebal racun ini pun pandai menggunakan racun. Maka lega dan
lapanglah dadanya, dia berdoa semoga bukan ayahnya yang
melakukan perbuatan keji dan kotor ini.
Siu-yen mengulap tangan, katanya: "Sicu, silakan minum teh di
kamar tamu."
Ji Bun pikir tak perlu lama-lama berada disini, maka dia mohon
diri: "Biarlah Wanpwe mohon pamit saja.”
"Pin-ni amat menyesal karena kesalahan paham ini.”
"Tidak apa, Wanpwepun ikut berduka cita karena peristiwa ini.”
Sedikit membungkuk segera ia mengundurkan diri langsung
keluar kelenteng. Sesaat lamanya ia berjalan dengan pikiran kosong,
tiba-tiba dia tersentak sadar. baru sekarang dia ingat kepada Thian-
thay-mo-ki yang ditinggalkan waktu mengejar Biau-jiu Siansing tadi,
waktu sudah berselang cukup lama, kemungkinan nona itu sudah
pergi, maka dia merasa tidak perlu balik menemuinya lagi,
urusannya lebih penting dan harus segera dibereskan.
Sekarang dia harus cepat menuju jalan raya yang menjurus ke
Kayhong untuk menemui Jit-sing-kojin seperti yang pernah dijanjikan
oleh Biau-jiu Siansing, di samping untuk merebut kembali anting-
anting pualam, dia juga akan mampir ke Kayhong menemui Ciang
Wi-bin untuk tanya jejak ayahnya. Malam itu juga dia menempuh
perjalanan.
Hari itu, dia tiba di Jip-seng, sebuah kota kecil yang masih cukup
jauh dari Kayhong, hari ini sudah hari keempat, namun Jit-sing-kojin
yang hendak ditemuinya itu tetap tidak kelihatan bayangannya.
Setelah ditunggu sekian lamanya, orang belum kunjung tiba juga,
lama hatinya menjadi dongkol dan penasaran, agaknya ucapan Biau-
jiu Siansing tak dapat dipercaya lagi. Karena tiada minat masuk kota,
maka dia memutar ke pintu barat serta istirahat disebuah warung
arak di luar kota.
Tengah dia menunduk menikmati hidangannya, didengarnya
pembicaraan beberapa orang tamu yang duduk di meja sebelah
sana, seorang laki bersuara serak kasar tengah berkata: "Jiya, The
Liok kali ini betul-betul terbuka matanya ........”
Orang yang dipanggil Jiya adalah seorang laki-laki bermuka
kuning, segera dia angkat alis, tanyanya: "Lo-liok, kalau bicara kau
selalu ngelantur, memangnya kau tak pernah melek?"
"Jiya, bukan aku Siau-kim-kong ini suka membual, setua ini
hidupku, baru pertama kali ini, sungguh tidak penasaran ......”
"Sebetulnya ada apa?“
9.25. Ayah Meninggal .. Dendam Makin Membara
"Ji-ya kenal Sin-eng-pangcu Ko Giok-wa tidak.”
"Sudah tentu tahu, kenapa?"
"Bagaimana kepandaian silat Ko-pangcu?”
"Hebat," puji laki-laki muka kuning sambil mengacungkan jempol,
"seorang jagoan kelas satu dalam Bu-lim.”
"Heh,” seru laki-laki bersuara serak kasar tadi sambil gebrak
meja, "semalam aku kebetulan lewat Jit-li-kang dan menyaksikan
peristiwa itu, 20-an anak murid Sin-eng-pang di bawah pimpinan Ko-
pangcu sendiri, mengobrak-abrik dan menghancurkan Thian-ong-ce,
kini gunung itu sudah mereka caplok dan dijadikan cabang Sin-eng-
pang. Dengan kemenangan gemilang itu mereka kembali lewat Jit-li-
kang, namun di sana mereka tertimpa nasib malang ........ "
"Tertimpa nasib malang bagaimana?"
"Mereka dicegat seorang laki-laki berkedok yang mengenakan
jubah sutera."
Tersirap Ji Bun mendengar kata-kata terakhir itu, segera dia
pasang kuping.
"Bagaimana selanjutnya?" tanya laki-laki muka kuning setelah
meneguk araknya.
"Agaknya orang berkedok berjubah hijau itu memang sengaja
hendak cari perkara, dia memperkenalkan diri sebagai teman pihak
Thian-ong-ce yang hendak menuntut balas bagi kematian teman-
temannya, maka terjadilah bentrokan sengit ....."
Agaknya laki-laki muka kuning tidak tertarik oleh cerita ini,
katanya tawar: "Pertikaian orang-orang persilatan umumnya
memang berbuntut panjang, tiada akhirnya."
Laki-laki suara serak kasar tadi penasaran, teriaknya: “Ji-ya,
ceritaku kan belum tamat, adegan yang lebih seram belum sempat
kuceritakan. Ketahuilah, kepandaian orang berkedok itu ternyata
hebat sekali, dalam tiga kali gebrakan saja, ya, tiga ......” dia
acungkan tiga jari sambil menyambung dengan ludah beterbangan,
"dalam tiga gebrak saja, Ko-pangcu sudah menggeletak tak
bernyawa ......''
"Hah," berubah hebat air muka laki-laki muka kuning sambil
berjingkrak berdiri, suara gemetar: "Apa betul?"
Ikut tegang hati Ji Bun, orang berkedok yang diceritakan itu
entah ayahnya atau bukan? Seluruh tamu-tamu yang ada dalam
warung arak kecil ini jadi tertarik oleh cerita orang bersuara serak
dan perhatian mereka tertuju ke arah sini.
Tahu banyak orang tertarik dan memperhatikan ceritanya,
semakin keras suara orang serak kasar: "Ji-ya, itu baru permulaan.
Orang berkedok itu betul-betul keji, setelah membinasakan Ko-
pangcu, beruntung dia melancarkan serangan ganas pula, 20 lebih
jago-jago Sin-eng-pang yang berkepandaian tinggi semua
menggeletak dibunuhnya, tiada satupun yang ketinggalan hidup."
"Siapakah orang berkedok itu?"
"Entah, setelah dia uraikan alasannya, kenapa dia menuntut balas
terus turun tangan secara kejam."
"Ehm, tentunya dia bukan sembarangan tokoh.......”
"Memangnya, Ji-ya, buntutnya ternyata lebih seram dan
menegangkan. Tahu-tahu muncul lagi seorang berkedok berjubah
pula ......"
"Apa? Jadi ada dua?"
"Ya, bentuk dan perawakan kedua orang berkedok ini persis satu
sama lain, seperti pinang dibelah dua, sukar dibedakan mana yang
datang duluan dan mana yang baru tiba, begitu berhadapan tanpa
bicara terus gerak tangan dan angkat kaki, keduanya berkelahi
dengan dahsyat dan sengit, serang menyerang dengan pukulan
mematikan, serasa terbang sukmaku waktu menyaksikan
pertempuran hebat itu ..........”
Mengencang jantung Ji Bun, darah mengalir lebih cepat, dia
sudah berdiri, namun duduk kembali sambil menenggak secangkir
arak.
Setelah istirahat sebentar, orang itu melanjutkan ceritanya:
"Pertempuran itu berlangsung selama satu jam, dari atas bukit
bergumul sampai ke bawah jurang, akhirnya mereka berhantam
sampai ke dalam hutan, kelihatannya keduanya sama kuat, namun
lama-lama kehabisan tenaga juga. Pada saat pertempuran
memuncak dan hampir berakhir tahu-tahu muncul pula seorang
berpakaian hitam, malam itu terlalu gelap, sukar dilihat macam apa
orang berpakaian hitam ini, namun kudengar dia mendengus
menggumam seorang diri. 'Ajal tua bangka ini sudah di depan mata
namun masih saling cakar dan akhirnya gugur bersama. Thian
memang murah untuk membalas kelaliman mereka, agaknya sakit
hatiku akan terbalas.' Habis berkata orang baju hitam itu menerjang
kedalam hutan .........”
“Bagaimana akhirnya," tanya laki-laki yang dipanggil Ji-ya.
“Kudengar suara gerungan dan bentakan berulang kali dari dalam
hutan, disusul dua kali jeritan yang menyayat hati, suasana lantas
sunyi senyap.”
Semua orang yang mendengarkan cerita itu sama melongo.
"Karena tertarik, diam-diam aku merayap masuk ke dalam hutan,
waktu aku melongok kesana .... Hiiii!”
"Ada apa?"
"Kedua orang berkedok itu sama-sama menggeletak di dalam
hutan, batok kepalanya hancur, mukanya rusak tak terkenali lagi,
seram dan mengerikan sekali kematian mereka."
Laksana disambar geledek kepala Ji Bun, dadanya terasa sesak,
sekali lompat dijambretnya baju si orang bersuara serak,
dicengkeramnya pundaknya, bentaknya bengis: "Apakah ceritamu
betul-betul terjadi?"
Lemas lunglai badan laki-laki itu, tenaga untuk merontapun tiada,
namun matanya melotot gusar, teriaknya: "Keparat kau, apa ......
apaan ini?”
Karena diburu emosi, rona muka Ji Bun sudah berubah, sorot
matanya liar dan buas, desisnya mengancam: "Katakan, apa betul-
betul terjadi?"
Laki-laki muka kuning tiba-tiba berdiri, telapak tangannya
menempeleng ke batok kepala Ji Bun, agaknya Ji Bun sudah
kerasukan setan pikirannya sudah pepat, secara reflek dia
melancarkan serangan balasan dengan tangan berbisa.
Dengan teriakan yang seram dan mengerikan laki-laki muka
kuning roboh menimpa meja, kaki tangan berkelejetan sebentar,
jiwapun melayang. Seluruh tamu sama terbeliak kaget dan gemetar
ketakutan.
Laki-laki suara serak ketakutan setengah mati, suaranya menjadi
lirih tertelan di dalam ombak kerongkongan: "Tuan ... tuan ini.....
Te-gak Suseng?"
"Lekas katakan sebenarnya, kalau tidak kucincang badanmu,"
ancam Ji Bun beringas.
"Memang kejadian nyata, ..... bukan bualan."
"Berapa jauh Jit-li-kang dari sini?"
"Kurang lebih 30 li ke arah barat .....”
Sambil lepas tangan Ji Bun dorong badan orang, cepat sekali dia
sudah melesat keluar warung makan dan berlari ke arah barat,
pikirannya kosong dan hambar, seolah-olah sukma sudah
meninggalkan raganya.
Lekas sekali jarak 30 li telah dicapainya, setelah dia tanya letak
Jit-li-kang kepada orang jalan, langsung dia menuju ke sana. Setiba
di atas bukit, dilihatnya keadaan memang porak peronda, seperti
pernah terjadi pertempuran sengit di sini, di bawah bukit sebelah
kanan adalah hutan lebat, begitu subur dan rimbun tetumbuhan di
sini sampai sinar matahari tak tertembus ke dalam hutan, begitulah
keadaan hutan belantara ratusan li ini. Dengan langkah
sempoyongan, Ji Bun berlari masuk ke dalam hutan.
Suara gedebukan seperti sesuatu benda berat menyentuh tanah
terdengar saling bergantian di sebelah depan. Tanpa menentukan
arah Ji Bun terus berlari ke dalam. Di tanah kosong sebelah sana,
dilihatnya dua orang petani sedang mengeduk tanah, membuat liang
lahat. Begitu melihat kedatangan Ji Bun, segera mereka menyurut
mundur dengan ketakutan. Tampak oleh Ji Bun tak jauh di sana
menggeletak dua sosok mayat yang sukar dikenali lagi bentuk
rupanya, seperti orang gila segera ia menubruk kesana. Terasa bumi
seperti berputar jungkir balik, mata berkunang-kunang, langkahnya
lemas sempoyongan dan hampir terjungkal.
Kedua mayat mengenakan pakaian yang sama, jubah sutera
warna biru, batok kepala remuk dan mukanya hancur, jelas orang
yang turun tangan memang amat keji.
Kedua petani itu berdiri berhimpitan, dengan melongo dan takut
mereka mengawasi Ji Bun.
Ji Bun kuatkan hati dan tenangkan diri, dengan badan bergoyang
gontai pelan-pelan dia berjongkok, sesaat dia melenggong, sukar
baginya menentukan yang manakah jenazah ayah kandungnya.
Terpaksa dia periksa badan jenazah yang lebih dekat, saku bajunya
kosong tiada sesuatu yang dapat menentukan asal-usulnya, lalu dia
memeriksa kantong jenazah kedua, botol obat, buntalan puyer dan
peralatan untuk meracik racun yang dibuat sedemikian mungil dan
rapi, kini menjadi jelas dan pasti bahwa jenazah kedua inilah jasad
ayahnya.
Bergegas dia berlutut menyembah berulang kali, jari-jari
tangannya meraba dan mengelus jenazah yang sudah dingin dan
kaku ini, air mata bercucuran. Terasakan segala sesuatu di dunia ini
sedang berubah, alam terasa menjadi hampa dan semuanya menjadi
serba kelabu. Dia menangis tanpa bersuara, gigi berkerutukan, air
mata tak terbendung lagi.
Kedua petani itu sebetulnya hendak mengubur mayat kedua
orang ini, kini melihat orang ini sudah mengenali jenazah familinya,
memangnya mereka takut kena perkara, terutama soal bunuh
membunuh kaum persilatan, maka secara diam-diam mereka
mengeluyur pergi.
Tetesan air hujan yang dingin menyentak sadar Ji Bun, dengan
perasasan luluh dia mendeprok di atas tanah. Pikirannya bekerja:
"Ayah telah meninggal, siapakah pembunuhnya? Orang yang
menyaru ayahnya ini juga mati, siapakah dia ini?"
Kini dia sudah meninggal, teka-teki ini takkan terbongkar untuk
selamanya. Namun dendam kehancuran Jit-sing-po betapapun harus
dibalas. Ini merupakan tugas penting yang harus dipikulnya.
Mendadak dia berdiri sambil banting-anting kaki, dia menyesali
kelemahan sendiri yang terlalu was-was dan berhati-hati, sehingga
banyak kesempatan disia-siakan, kini tibalah saatnya untuk beraksi.
Dia mendongak mengawasi mega yang bergerak, hatinya pepat
seperti dirundung mega mendung, tiba-tiba dia tertawa, geli akan
nasibnya sendiri, tawa yang mengobarkan semangat menuntut
balas.
Segera dia masukkan kedua jenazah ke dalam liang lahat yang
sudah digali kedua petani tadi, dengan batu gunung ia mendirikan
nisan serta berlutut dan berdoa semoga arwah ayahnya diterima
disisi Thian, dia memohon pula supaya arwah ayahnya memberi
bekal kekuatan lahir batin untuk menuntut balas sakit hati ini.
Setelah menyembah sekali lagi segera dia keluar dari hutan itu.
Hawa hitam di antara kedua alis yang selama ini lenyap, kini
kelihatan lagi, demikian pula tangan berbisa yang selama ini
disembunyikan dalam lengan bajunya telah dikeluarkan, kini tiada
yang perlu disembunyikan, tiada yang dirahasiakan, kini tibalah
saatnya untuk mencuci tangan ini dengan darah para musuhnya.
Pikiran tenang kepalai dingin, dia mulai menerawang langkah-
langkah yang harus dilakukan selanjutnya. Dia rasa masih perlu
untuk menempuh perjalanan ke Kayhong, soal anting-anting pualam
itu harus dibereskan, jika aksi balas mulai dilakukan, mati hidup diri
sendiri sukar diramalkan, tapi soal ini tidak boleh ditunda-tunda lagi.
Besok dia bakal berhadapan dengan Jit-sing-kojin, sesuai yang
dijanjikan Biau-jiu Siansing, kalau orang tidak menepati janji, maka
dapatlah diduga bahwa orang berkedok menyaru ayahnya itu pasti
dia adanya, kalau sebaliknya, betapapun permusuhan dirinya harus
dibereskan juga. Begitulah dengan pikiran mantap dan langkah
tenang dia menuju ke Kayhong.
Tunggu punya tunggu, tahu-tahu hari ke tujuh sudah berselang,
Jit-sing-kojin tetap tidak kunjung tiba, bayangan Biau-jiu
Siansingpun tidak kelihatan, mau tak mau Ji Bun tambah yakin
bahwa dugaannya tidak meleset. Jit-sing-kojin adalah orang
berkedok berbaju sutera yang menyaru ayahnya.
Hari itu dia tiba di Kayhong, kota kuno yang dulu pernah menjadi
ibukota ini memang angker bangunannya, kemegahan kota ini
memang jauh berbeda dengan kota-kota lain.
Keluarga Ciang adalah hartawan terkaya dan ternama di
Kayhong, tanpa menemukan kesulitan Ji Bun berhasil menuju ke
tempat yang dituju.
Pikirannya mulai bimbang pula, apa yang harus diutarakan
setelah masuk pintu dan berhadapan? Kedua keluarga mereka
memang kenalan karib, namun beberapa tahun belakangan ini tidak
saling hubungan, keluarganya kini sudah berantakan, kalau datang-
datang dia langsung minta bertemu dengan Ciang Bing-cu, tentunya
kurang pantas, bagaimana pula dia harus memberi penjelasan
kepada Ciang Wi-bin setelah berhadapan? Entah Ciang Wi-bin tahu
tidak tentang pemberian anting-anting pualam Ciang Bing-cu kepada
dirinya? la pikir biarlah nanti bertindak menurut keadaan maka
segera dia menuju ke gedung keluarga Ciang.
Seorang kakek berpakaian hitam tiba-tiba muncul dari balik pintu,
melihat dandanannya seperti seorang pesuruh, dengan nanar dia
mengawasi Ji Bun sapanya: “Kongcu cari siapa?"
Ji Bun menyahut: "Sudahkah laporan kepada majikanmu, katakan
Ji Bun ingin bertemu.”
"Wah, tidak kebetulan, majikan kami sedang keluar, belum
kembali."
“Kalau begitu .... apakah siocia ada dirumah?"
Bertolak pinggang laki baju hitam, katanya dengan menarik
muka: "Sukalah Kongcu tahu diri."
Ji Bun tertawa, katanya ramah: "Cayhe adalah kenalan lama
dengan keluarga Ciang, tolong sampaikan kepada Siocia bahwa Ji
Bun ingin bertemu."
Orang tua baju hitam mengerut kening, katanya: “Baiklah, harap
tunggu sebentar."
Tak lama kemudian, orang tua ini sudah keluar pula, sikapnya
jauh berubah, wajahnya berseri-seri, dari belakangnya memburu
keluar seorang pelayan perempuan kecil, begitu tiba dia memberi
hormat kepada Ji Bun, katanya: “Siocia tidak leluasa keluar
menyambut, harap Siangkong masuk saja.”
Ji Bun manggut-manggut, dia mengikuti pelayan cilik ini masuk
ke dalam. Gedung keluarga Ciang yang kaya raya memang teramat
besar dan luas sekali, sekian lama mereka putar kayun memasuki
beberapa pintu dan melewati beberapa pekarangan serta serambi
panjang yang berliku-liku, baru tiba di pekarangan yang dikelilingi
tembok tinggi dengan pintu bundar rembulan, tampak seorang gadis
bersolek dengan pakaian kuno melangkah keluar menyambut,
katanya dengan malu-malu: "Siangkong sudi berkunjung, silakan
duduk di dalam."
Merah dan panas muka Ji Bun, lekas dia membungkuk, katanya
likat: "Berkunjung secara sembrono, harap adik memaafkan."
"Ah, tidak apa, silakan."
Keduanya masuk kedalam sebuah rumah samping lalu duduk di
kursi marmer, seorang pelayan menyuguh teh. Ciang Bing-cu lantas
buka suara: "Ayah bilang, katanya keluarga kakak ketimpa bencana,
Siaumoay ikut berduka dan prihatin."
Pedih hati Ji Bun, katanya: "Terima kasih akan perhatian adik."
"Apakah para musuh sudah diketahui?"
"Ya, sudah ada tanda-tanda yang mencurigakan, ujar Ji Bun,
setelah berdiam sebentar segera ia menambahkan: "Adik Ciang,
kedatanganku ini hendak mohon maaf kepadamu .......”
"Mohon maaf, kenapa?"
"Anting pualam pemberian adik dulu, tak sengaja telah
kuhilangkan .....”
Berubah air muka Ciang Bing-cu, tanyanya: “Bagaimana bisa
hilang?"
Merah muka Ji Bun, katanya rikuh: "Kalau dikatakan memang aku
terlalu bodoh, waktu aku keluarkan dan kubuat main-main, tahu-
tahu diserobot orang."
“O”, Ciang Bing-cu bersuara dalam mulut.
Kuduga penyerobot itu sudah lama mengintip dan menguntit aku,
begitu ada kesempatan lantas turun tangan, yang membuatku
menyesal, selama ini aku masih belum berhasil menemukan
jejaknya, lebih malu lagi karena bentuk dan rupa orang itupun tidak
kulihat jelas."
“Kakak Ji, kejadian sudah berselang, biarlah, anting itu takkan
berguna bagi orang lain."
"Tidak aku bersumpah pasti akan mencarinya, adik sudi
memaafkan, aku merasa tidak enak. Katanja paman sedang keluar
apa betul?"
"Betul, mungkin dalam dua hari ini beliau akan pulang."
“Kedatanganku hanya mau menjelaskan soal tadi disamping
menyampaikan sembah sujud kepada paman ......."
"Urusan sekecil ini, tidak perlu diperhatikan ......"
"Baiklah, sekarang aku mohon pamit ....."
"Kakak Ji, kukira sikapmu tidak benar," kata Ciang Bing-cu,
"walau ayah tidak dirumah, tapi keluarga kita kan kenalan lama, adik
menyambut kedatanganmu sebagai tuan rumah, sukalah menginap
beberapa hari, tunggulah ayah pulang. Apakah paman dan bibi
.........”
Sedih hati Ji Bun, hampir saja dia meneteskan air mata, dia tidak
ingin menyinggung soal yang menyedihkan ini, wataknya yang keras
juga tidak ingin mendapatkan belas kasihan orang lain katanya:
"Beruntung beliau-beliau terhindar dari malapetaka."
Tidak lama mereka bicara, pelayan sudah menyiapkan sebuah
meja perjamuan. Ji Bun tak bisa menolak terpaksa dia iringi
kehendak Ciang Bing-cu makan minum. Setelah beberapa cangkir
arak dan hidangan hampir dilalap habis, tiba-tiba Ciang Bing-cu
berjingkat sadar, tanyanya heran: "Kakak Ji, maaf akan
kelancanganku, bukankah tangan kirimu .......”
Ji Bun tertawa getir, terpaksa dia ceritakan rahasia tangannya
yang berbisa.
Terbeliak kedua biji mata Ciang Bing-cu, katanya penuh haru:
"Ah, kabarnya setelah orang berhasil meyakinkan racun Bu-ing-cui-
sim-jiu, selama hidupnya takkan bisa ditawarkan lagi, apa betul?"
Ji Bun manggut-manggut dengan gerakan berat, katanya: "Ya,
memang demikian."
Besar perhatian Ciang Bing-cu, "Kenapa engkau dulu mau
meyakinkan ilmu beracun ini?"
"Ini ..... yang benar aku tidak bisa menentang kehendak ayah,
masing-masing orang memang punya nasibnya sendiri, begitulah."
"Ai," helaan napas Ciang Bing-cu mengandung putus harapan,
sedih dan rawan. Tiba-tiba Ji Bun ingat kata-kata Biau-jiu Siansing,
pikirnya, apa betul dia memang ada maksud tertentu?
"Kakak Ji, aku tak kuat banyak minum, silakan kau makan
sekenyangnya."
Ji Bun mengiakan, penasaran dan dendam selama ini yang belum
terlampias membuat pikirannya pepat, tanpa terasa secangkir demi
secangkir dia telah tenggak puluhan cangkir arak, lama kelamaan
kepala terasa berat, pandanganpun mulai kabur, setelah dia melihat
dua bayangan Ciang Bing-cu baru dia melonjak kaget, ia tahu bahwa
dirinya mulai mabok, segera ia letakkan cangkir dan bangkit berdiri
dan berkata: "Maaf akan kekasaranku ini ...... aku mohon pamit
saja."
Begitu bergerak, badannya seketika tergeliat, kaki terasa enteng
kepala amat berat, hampir saja dia jatuh tersungkur, untung Ciang
Bing-cu lantas memapahnya.
Kata Ciang Bing-cu lembut: "Kau mabok, kakak Bun."
Ji Bun ingin menolak bantuan orang, namun badan lemas dan
kaki sempoyongan, kepalapun pening, terpaksa dia mendoprok
duduk dikursinya lagi. Selama hidup baru pertama kali Ji Bun minum
arak sampai mabok, andaikata kepandaiannya setinggi langit juga
takkan mampu mengendalikan diri lagi.
"Marilah kupapah masuk kekamar istirahat,” kata si nona.
"Ma .... mana boleh, jangan, jangan kau sentuh tangan kiriku."
"Aku tahu," kata Ciang Bing-cu, dia tarik tangan kanan Ji Bun
serta memapahnya keluar villa terus menuju ke pintu rembulan di
kanan sana. Para pelayan yang meladeni di situ sama melongo dan
keripuhan, tanpa perintah mereka tiada yang berani maju
membantu.
Dengan langkah sempoyongan dan setengah terseret Ji Bun
membiarkan dirinya dipapah masuk sebuah kamar buku, begitu
rebah di atas ranjang, badan terasa lunglai tak mampu bergerak
lagi. Ciang Bing-cu segera menurunkan kelambu serta menutup
pintu dan tinggal pergi.
Waktu Ji Bun sadar dan membuka mata, matanya silau oleh sinar
lampu, malam sudah larut, namun dia bergegas bangun duduk,
kepalanya masih terasa berat, mulutpun kering, baru saja dia
bergerak hendak turun mengambil air, sebuah suara lembut berkata:
"Kakak Bun, mari minum teh"
Sebuah cangkir porselin yang berbentuk indah disodorkan ke
dalam kelambu, ternyata Ciang Bing-cu meladeni dengan tekun.
Gugup dan malu Ji Bun dibuatnya. "Ah, perhatian adik bikin aku
malu saja."
Pikirannya sedikit jernih, lalu katanya pula: "Banyak terima kasih,
sekarang waktu apa?"
"Jam empat pagi."
"Silakan adik juga istirahat saja."
"Baik, engkau juga harus tidur, keperluanmu sudah kusediakan,
silakan ambil di sini."
"Terima kasih," kata Ji Bun.
Dengan pandangan tajam Ciang Bing-cu menatap Ji Bun sekali
lagi, lalu beranjak keluar dengan langkah gemulai, tak lupa dia tutup
pintu dari luar.
Ji Bun duduk melamun dipinggir ranjang, tak tahu betapa
perasaan hatinya sekarang apakah setimpal dia mendapat pelayanan
begini? Laki perempuan ada batasnya, walau sama-sama orang
persilatan, namun batas-batas tertentu masih harus dipegang teguh,
lantas apa maksud dan sikap Ciang Bing-cu yang luar biasa ini?
Setelah menghabiskan secangkir teh, Ji Bun merebahkan diri,
rasa kantuknya sudah hilang, bayangan Ciang Bing-cu nan molek
masih terbayang-bayang, setelah gulak-gulik tak bisa tidur,
pikirannya semakin kusut, akhirnya ia bangkit dan turun dari
ranjang, langkah kakinya masih enteng seperti mengambang.
9.26. Kau .... Tidak Takut Racun ......??
Dia mondar-mandir di kamar buku itu, akhir¬nya duduk dikursi
dekat rak buku, tanpa tujuan dia memandangi koleksi buku-buku
kuno serta lukisan dari pujangga jaman dahulu. Mendadak dia
terkesiap, pandangannya terbeliak. Ternyata diantara rak buku dan
barang-barang antik sana, pada kotak kedua baris tengah, tampak
sebuah patung Budha kecil ukuran dua kaki yang terbuat dari batu
putih, tepat pada letak jantung dari patung itu berlubang sebesar
kepalan anak kecil.
Tidak salah lagi, patung Budha batu putih ini jelas adalah Sek-
hud yang pernah diperoleh Cip-po-hwecu dan akhirnya direbut oleh
Biau-jiu Siansing, seperti diketahui Sek-hud dipandang pusaka
persilatan yang diperebutkan berbagai golongan, bagaimana
mungkin tahu-tahu berada di antara rak barang-barang antik di
rumah Ciang Wi-bin?
Berapa jiwa sudah berkorban karena Sek-hud, tidak sedikit
manusia yang rela mengorbankan jiwa raga untuk merebut Sek-hud
ini. Entah cara bagaimana Ciang Wi-bin bisa mendapatkan Sek-hud
ini, mestinya dia menyimpannya di tempat rahasia, kenapa hanya
ditaruh begini saja di antara koleksi barang-barang antiknya?
Mungkinkah dia tak tahu seluk-beluk dan nilai Sek-hud ini? Tapi ini
tidak mungkin.
Sek-hud adalah barang peninggalan Pek-ciok Sin-ni, Pui Ci-hwi
adalah murid didiknya, namun Wi-to-hwe mempunyai hubungan
yang kental dengan Pui Ci-hwi, betapa banyak jago-jago silat Wi-to-
hwe yang berkepandaian tinggi, kenapa pihak mereka diam saja
tanpa mengambil tindakan? Hal ini benar-benar sulit dimengerti,
mungkin ada udang dibalik batu?
Lama sekali Ji Bun melamun mengawasi Sek-hud, martabat Ciang
Wi-bin dikenal cukup bijaksana dan suka blak-blakan, hal inipun
sukar untuk dijajaki. Selagi dia tenggelam dalam pemikiran, tiba-tiba
pintu kamar berbunyi berkeriut dibuka dari luar, waktu Ji Bun putar
badan, tampak seorang tua bertubuh tegap berjenggot kambing
melangkah masuk.
Bahwa Ciang Wi-bin kembali pada saat pagi buta begini, hal ini
betul-betul diluar dugaan Ji Bun, tersipu-sipu dia melangkah maju
memberi hormat: "Keponakan tidak berbudi memberi salam hormat
pada paman."
Ciang Wi-bing tergelak-gelak sambil mengelus jenggotnya,
katanya: "Hiantit, kebetulan sekali, syukurlah kau sudi berkunjung
kerumahku, silakan duduk."
"Paman juga silakan duduk."
"O, apakah Hiantit sedang menikmati Sek-hud ini."
Merah muka Ji Bun, sahutnya likat: "Ya, kabarnya Sek-hud ini
adalah barang pusaka persilatan .....”
"Semula memang benar, namun kini tidak.”
"Kenapa demikian?"
"Apakah Hiantit tidak melihat Sek-hud ini rada ganjil?"
"Lubang yang tepat berada dihati Sek-hud ini, maksud paman?"
"Ya, benar, kemujijatan Sek-hud terletak pada Hud-sim (hati
Budha), namun patung ini sudah tak berhati. Paman membelinya
dari tukang loak, kulihat buatannya cukup baik dan antik, maka
kubeli dengan sepuluh tahil perak."
"Dari mana paman tahu kemujijatan Sek-hud ini terletak pada
Hud-sim?"
"Setiap orang akan tahu, tiada sebuah patung manapun yang
dibuat atau diukir tanpa hati, pada lubang itu ada bekas-bekas
cukilan. Betapa tinggi nilai keantikan Sek-hud ini, bagaimana
mungkin bisa terjatuh ke tangan tukang loak?"
Sementara itu mereka sudah duduk berhadapan, wajah Ciang Wi-
bin menampilkan rasa duka, suaranyapun sedih: "Keluargamu
tertimpa bencana, paman amat menyesal tidak bisa memberi
bantuan apapun"
Pilu hati Ji Bun, air mata sudah berkaca dikelopak matanya,
namun dia tahan jangan sampai menetes, katanya: "Terima kasih
atas perhatian paman, Siautit bersumpah akan membalas dendam.”
Katanya kau sudah berhasil mencari tahu siapa-siapa musuhmu
itu?"
"Ya, tapi masih belum bisa dipastikan."
"Hiantit, hubungan keluarga kita seperti saudara kandung sendiri,
aksi apa yang hendak kau lakukan sukalah kau memberitahu
kepadaku lebih dulu."
"Baik, keponakan berjanji."
"Ai, ayahmu berwatak aneh dan menyendiri, sejak peristiwa itu
terjadi selama ini tak pernah dia muncul tentunya kau tahu dimana
jejaknya sekarang?"
Terbayang akan kematian ayahnya yang mengenaskan di hutan,
tak tertahan lagi bercucuran air matanya giginya berkerutukan
menahan gelora sakit hatinya, sorot matanyapun penuh kebencian,
wajahnya pucat pasi, ingin menerangkan, namun mengingat ini
adalah nasib jelek dirinya sendiri, segala siksa derita harus
ditanggung sendiri, maka dengan sedih ia menjawab: "Sampai
sekarang keponakan juga sedang berusaha menemukan ayah."
"Lalu bagaimana ibumu,"
"Jejak ibupun tidak diketahui,"
"Ai, agaknya takdir memang berkehendak demikian. Kuharap
keponakan tidak usah putus asa, aku sudah minta bantuan orang
untuk mencari mereka,” demikian kata Ciang Wi-bin, lalu dia
bertanya, "Kau kemari lantaran soal anting-anting pualam itu?"
"Keponakan amat menyesal ......”
"Soal ini tidak perlu dibuat risau, paman punya cara untuk
menyelesaikannya."
"Tapi keponakan tidak tenteram."
Ciang Wi-bin menepekur sebentar, katanya kemudian: "Tentunya
kau sudah tahu akan ikatan jodohmu dengan anak Cu oleh ayahmu
dulu. Anak Cu juga pernah dapat pertolonganmu dari orang-orang
Cip-po-hwe, arti dari pemberian anting-anting itu memang amat
mendalam, tapi paman tidak akan memaksakan soal ini, soal jodoh
harus sama-sama disetujui oleh kedua pihak ......."
Dia hentikan kata-katanya sambil mengawasi reaksi Ji Bun.
Ji Bun menjadi gundah dan bingung, soal ikatan jodoh ini tidak
akan dia sangkal, Ciang Bing-cu termasuk seorang gadis jelita,
namun tangan kirinya yang berbisa merupakan penghalang yang
membatasi diri untuk berdekatan dengan lawan jenisnya, apalagi
keluarganya tertimpa bencana, sebelum sakit hati terbalas,
betapapun dia pantang membicarakan jodoh, maka dia berkata:
"Tentunya paman sudah tahu akan rahasia tangan berbisa
keponakan?”
Berubah air muka Ciang Wi-bin, katanya: "Ya, ini memang soal
pelik, tapi paman akan berusaha untuk mendapat obat penawarnya
meski harus mengorbankan apapun .....”
"Kebaikan paman akan terukir dalam lubuk hati keponakan, cuma
racun ini mungkin tiada obat penawarnya."
"Thian punya kuasa manusia berusaha, asal kita mau berusaha,
tiada sesuatu persoalan yang tidak bisa dibereskan. Demikian pula
tiada racun yang tak bisa ditawarkan."
"Menawarkan racun soal gampang, sulit untuk melenyapkan
landasan Lwekangnya."
"Soal ini boleh kita tunda saja, bagaimana pendapatmu terhadap
Bing-cu?”
Serba susah bagi Ji Bun untuk memberi jawaban, gadis baju
merah Pui Ci-hwi terlebih dulu menarik perhatiannya, namun setelah
tahu orang sekomplotan dengan musuhnya, rasa cintanya ini sudah
pudar. Begitu tinggi cinta murni Thian-thay-mo-ki terhadap dirinya,
sayang kelakuannya terlalu tercela. Gadis semacam Ciang Bing-cu
memang jodoh yang setimpal dan menjadi idam-idaman banyak
orang. Dendam sakit hati keluarga belum terbalas, mati hidup diri
sendiri juga sukar diramalkan, ilmu berbisa merupakan penghalang
yang terbesar lagi, kalau tiada harapan untuk ditawarkan, sebagai
seorang laki-laki sejati mana boleh menelantarkan masa remaja
seorang gadis yang punya masa depan gemilang? Maka dengan
sungguh dia berkata: "Budi luhur dan perhatian paman tak berani
keponakan melupakan dan menampik, apalagi ada perintah orang
tua, namun keponakan sekarang belum berani menerimanya ...."
"Kenapa?"
"Selama ilmu beracun ini masih melekat pada tubuh keponakan,
betapapun keponakan tak berani menyia-nyiakan masa remaja adik
Cu."
"Memang bijaksana keputusanmu, namun Bing-cu si budak itu
sudah bersumpah dalam hati, betapapun dia tidak akan mengingkari
janji kedua keluarga yang telah menjodohkan kalian."
Ji Bun amat menyesal, katanya: “Harap paman suka membujuk
adik Cu dan menjelaskan kesulitan keponakan ini."
"Watak adikmu terlalu keras dan kukuh, tiada gunanya aku
membujuknya."
Ji Bun menunduk dengan masgul, lama dia termenung, lalu
berkata sambil angkat kepala: "Baiklah, Siautit berjanji, dikala ilmu
beracun ini dapat ditawarkan saat itulah Siautit akan memenuhi janji
perjodohan ini."
Ciang Wi-bun mengunjuk rasa serba susah, lama sekali iapun
berdiam diri.
"Agaknya paman ada kesulitan, silakan katakan saja,"
Ciang Wi-bin berdiam sesaat lamanya lagi, dengan apa boleh
buat akhirnya dia buka suara: "Adikmu mengatakan .....”
Tergerak hati Ji Bun, lebih besar keinginan untuk tahu, tanyanya:
"Paman jelaskan saja."
"Anak Cu bilang umpama tiada obat penawarnya, terpaksa ...."
"Terpaksa apa?"
"Terpaksa potong saja lengan kirimu."
Ji Bun betul-betul kaget, namun dia mengakui, memang hanya
inilah jalan satu-satunya, walau keputusan itu agak kejam, namun
kesalahan terletak, pada sang ayah yang telah menurunkan ilmu Bu-
ing-cui-sim-jiu ini padanya, kemungkinan sang ayah dulu mempunyai
perhitungannya sendiri, meski kesalahan sudah terjadi kini beliau
sudah meninggal, sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada
orang tua, apa pula yang harus dia katakan. Maksud Ciang Bing-cu
juga baik, tujuannya hanya ingin menikah dengan dirinya, tujuan
baik dan luhur ini sekaligus menandakan betapa mendalam dan suci
murni cintanya terhadap dirinya.
"Maksud adik Cu cukup mengharukan, memang cara itu boleh
dilaksanakan bila terpaksa, namun demikian keponakan akan
menjadi seorang cacad, apakah setimpal berjodoh dengan adik Cu
......”
"Hiantit, paman sudah bilang, akan berusaha mendapatkan obat
penawarnya meski harus mengorbankan apapun sekarang soal ini
boleh dikesampingkan dulu."
"Masih ada persoalan yang perlu kusampaikan kepada paman."
"Ya, katakan saja."
"Dendam keluarga betapapun harus dibalas, jejak ayah-bunda
belum terang, mati-hidup keponakan kelak sukar diramalkan, maka
usul paman ini kukira ditunda dulu."
"Ayahmu seorang luar biasa, tentu diapun punya perhitungan
yang luar biasa pula, aku percaya secara diam-diam dia pasti sudah
mengatur rencana untuk menuntut balas, kuharap di dalam, setiap
langkah-langkah keponakan harus dipikir dulu secara seksama."
Berlinang-linang air mata Ji Bun, ayahnya sudah meninggal,
rencana apa pula yang dapat dilakukan beliau, sayang dia belum
mampu menumpas para musuhnya secepat mungkin.
Ciang Wi-bin berbangkit, katanya: "Kau masih harus istirahat,
hari sudah hampir terang tanah segala persoalan bicarakan besok
saja."
Ji Bun ikut berdiri, katanya: "Setelah terang tanah, keponakan
ingin pamit ....."
"Tidak, jangan, betapapun kau harus menginap beberapa hari di
sini," habis berkata Ciang Wi-bin lantas keluar.
Perasaan pilu dan sedih yang belum pernah dirasakan oleh Ji Bun
tiba-tiba merangsang sanubarinya, masa depan masih kabur, nasib
apa yang bakal menimpa dirinya?
Api lilin sudah guram, cuaca diluar sudah mulai remang-remang
fajar telah menyingsing.
Sekonyong-konyong terdengar jengekan tawa dingin di luar
kamar buku begitu dingin dan menggiriskan sekali tawa ini. Bukan
kepalang kejut Ji Bun, dia berjingkrak berdiri, bentaknya: "Siapa?"
Sebat sekali badannya melayang keluar kamar dan hinggap di
luar pekarangan.
Gerakan Ji Bun cukup sebat, namun tiada sesuatu bayangan yang
dilihatnya. Tengah dia melenggong, kembali terdengar jengek tawa
dingin tadi, kali ini berkumandang dari arah wuwungan sebelah kiri.
Reaksi Ji Bun boleh dikata sudah teramat cepat, bagai anak panah
tubuhnya segera meluncur ke atas wuwungan, dilihatnya sesosok
bayangan abu-abu tengah kabur ke arah barat, karena gregetan,
tanpa pikir Ji Bun segera mengejar dengan kencang.
Bayangan itu sungguh sangat gesit dan cepat sekali, dalam
sekejap bayangan itu tahu-tahu sudah lenyap di balik wuwungan
rumah sekitarnya. Tahu tiada harapan menyusul lagi, dengan lesu Ji
Bun putar balik, baru saja badannya meluncur turun di pekarangan,
dilihatnya Ciang Wi-bin beserta, beberapa orang pembantunya
tengah ribut-ribut di kamar.
Bing-cu berlari keluar memapaknya, katanya: "Kakak Bun,
adakah kau lihat jejak musuh?"
“Cepat sekali gerakan orang itu, aku kehilangan jejaknya," sahut
Ji Bun. "Apa yang terjadi di dalam?"
"Sek-hud telah dicuri orang," tutur si nona.
Ji Bun menjadi kikuk dan rikuh, dia merasa dirinya teramat
bodoh, begitu gampang dikelabuhi dengan pancingan orang
meninggalkan kamar buku sehingga Sek-hud dicuri orang.
Seperti tidak terjadi apa-apa Ciang Wi-bin melangkah keluar,
katanya: "Hantit tidak usah berkecil hati, Sek-hud sudah tak
berharga lagi, hilang ya sudahlah."
Sementara itu hari sudah terang tanah, Ciang Wi-bin bersama
puterinya mengundurkan diri, Ji Bun kembali ke kamar dan
membersihkan badan, tak lama kemudian seorang kacung
membawanya ke villa yang kemarin Ji Bun bicara dengan Ciang Wi-
bin. Ciang Wi-bin berdua sudah menunggu kedatangannya, mereka
menyambut dengan hangat, walau sarapan pagi, tapi hidangan
cukup banyak ragamnya.
Setelah makan, dengan kukuh Ji Bun minta diri. Terunjuk rasa
hambar seperti kehilangan sesuatu pada wajah Ciang Bing-cu. Walau
Ciang Wi-bin sudah membujuk berulang kali, tapi Ji Bun tetap kukuh
hendak menunaikan tanggung jawab keluarga. Hari itu juga Ji Bun
lantas meninggalkan tempat keluarga Ciang.
Dengan langkah lebar Ji Bun meninggalkan Kayhong langsung
menuju ke Tong-pek-san, kini dia merasa sudah tiba saatnya untuk
beraksi, pertama dia harus menuju ke Wi-to-hwe menyelidiki jejak
Siangkoan Hong, lalu menuntut balas secara terbuka. Lwekang dan
kepandaian silatnya sekarang sudah meyakinkan untuk menuntut
balas seorang diri.
Hari itu dia tiba di tempat yang dulu untuk pertama kali dia
melihat gadis baju merah Pui Ci-hwi sehingga membatalkan niatnya
mengajukan lamaran kepada puteri keluarga Ciang, serta merta
langkahnya merandek, terbayang akan pengalaman selama ini,
cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun sejak tahu Pui Ci-hwi
adalah segolongan dengan para musuhnya, cintanya itu sudah lama
pudar, apalagi Cui Pi-hwi sekarang sudah dinodai oleh Liok Kin,
majikan muda dari Cip-po-hwe.
Tengah dia berdiri melamun, tiba-tiba bayangan merah nan
molek semampai terbayang dikelopak matanya, berdegup
jantungnya, dia kira pandangannya kabur, setelah dikucek-kucek,
jantungnya berdebar-debar setelah melihat lebih jelas lagi, kiranya
bayangan merah itu memang betul Pui Ci-hwi adanya.
Wajah Pui Ci-hwi agak pucat, badanpun rada kurus, sorot
matanya pudar menampilkan kepedihan. Lekas Ji Bun mendekatinya,
sapanya: ''Selamat bertemu nona Pui."
Pui Ci-hwi berhenti sambil berpaling, mukanya yang pucat
bersemu merah, namun cepat sekali sikapnya berubah dingin pula,
katanya tawar: “O, kiranya tuan."
"Tunggu sebentar nona Pui.” seru Ji Bun memburu maju waktu
melihat orang hendak pergi, "ada urusan yang hendak kubicarakan
dengan nona."
"Jadi kau mencari aku?" tanya Pui Ci-hwi, "ada apa?"
"Apakah nona betul murid Pek-ciok Sin-ni?" tanya Ji Bun.
Pui Ci-hwi melengak, dengan heran dia balas bertanya: "Untuk
apa tuan tanya hal ini?"
"Ada beberapa persoalan yang ingin kuketahui."
"Mengingat tuan pernah menolong aku, sebagai tamu
kehormatan perkumpulan kami pula, baiklah kujawab pertanyaan ini
secara terus terang. Aku bukan murid beliau."
"Apa?" teriak Ji Bun tertegun heran. "Kau bukan murid Sin-ni?
Lalu darimana nona bisa tahu rahasia Sek-hud itu sehingga diburu-
buru orang persilatan."
"Maaf hal ini tak bisa kujelaskan.”
Maksud Ji Bun hendak mencari tahu jejak Toh Ji-lan, adik
kandung Pek-ciok Sin-ni, perempuan yang harus ditemuinya sesuai
pesan seorang tua aneh di bawah jurang, harapan itu kini menjadi
kosong, namun dia tidak putus asa, tanyanya: "Apa betul nona tidak
hubungan apa-apa dengan Sin-ni?"
"Hubungan sih memang ada," sahut Pui Ci-hwi kaku sambil
mengerut kening.
"Syukurlah, kalau begitu Cayhe ingin mencari tahu seseorang
kepada nona."
"Mencari siapa?"
"Yaitu adik kandung Sin-ni yang bernama Toh Ji-lan."
Bergetar badan Pui Ci-hwi, air mukapun berubah, tanyanya
melongo: "Untuk apa tanya tentang beliau?"
"Cayhe mendapat pesan seseorang untuk mencari tahu jejaknya."
"Pesan siapa?"
"Seorang tua, namun Cayhe sendiri tidak tahu nama dan
gelarannya."
“Sayang beliau sudah tak berada di dunia fana ini."
"Sudah meninggal maksudmu?" Ji Bun menegas.
"Ya, sudah lama meninggal dunia."
"Tolong tanya, dimanakah pusara beliau?"
Kaget dan heran Pui Ci-hwi menatap Ji Bun, kepalanya sedikit
menggeleng, sahutnya: "Hal ini tak boleh kukatakan."
Ji Bun menarik napas panjang, pikirnya, kalau dia sudah
meninggal, biarlah kuberi kabar secara terus terang kepada orang
tua aneh itu, timbul juga rasa kasihan terhadap orang tua itu, hanya
karena ingin bertemu sekali lagi dengan kekasih, maka orang tua itu
bertahan hidup sekian puluh tahun di bawah jurang dengan siksa
derita, betapa kejam akhir dari semua ini.
Soal lain segera timbul dalam benaknya, hawa hitam yang selama
ini lenyap kini kentara pula di antara kedua alisnya, sikapnyapun
kembali kaku dingin membuat Pui Ci-hwi menyurut jeri. "Nona juga
anggota Wi-to-hwe?" tanyanya.
Pui Ci-hwi mengiakan sambil mengangguk.
Berkerutuk gigi Ji Bun, sedapat mungkin dia tekan emosinya,
namun suaranya semakin dingin kaku: "Apa nona tahu kenapa Wi-
to-hwe bermusuhan dengan Jit-sing-pangcu Ji Ing-hong?"
"Kau ..... untuk apa kau tanya hal ini?"
"Karena Cayhe ingin tahu duduknya persoalan. Nah, jawablah
nona."
"Wi-to-hwe hakikatnya tidak bermusuhan dengan Jit-sing-po."
"Akan tetapi Jit-sing-po hancur lebur?"
"Entah, aku tak tahu."
"Ji Ing-hong ditemukan mati di dalam hutan dengan
mengenaskan, siapa pula yang membunuhnya?"
"Tidak tahu."
"Nona Pui," tak tahan Ji Bun menahan rangsangan dendam dan
benci, suaranya bengis, "Hari ini kau harus menjawab pertanyaanku
sejujurnya."
"Kenapa aku harus menjawab, tidak sudi,“ sahut Pui Ci-hwi ketus.
'"Demi mencapai tujuanku aku tidak segan-segan turun tangan
secara keji."
"Kau hendak membunuhku?" teriak Pui Ci-hwi, mukanya yang
pucat menjadi merah padam.
"Untuk membunuhmu segampang membalikkan tangan, jawab
pertanyaanku. Di mana Siangkoan Hong sekarang?"
“Siangkoan Hong? Untuk apa kau mencari dia?"
Pui Ci-hwi balas bertanya: "Bukankah kau pernah menolong
jiwanya?"
"Ya tempo hari aku belum terlibat dalam urusan ini, sekarang
........”
"Soal ini boleh kau tanya kepada Hwecu saja."
"Tentu! akan kucari dia, tapi sekarang kau yang kutanyai."
"Aku tidak sudi menjawab."
Ji Bun menggeram murka, secepat kilat dia mencengkeram
pergelangan tangan Pui Ci-hwi, tangan berbisa segera terangkat
tinggi, katanya mengancam: "Untuk membunuhmu sekarang bagiku
segampang memites seekor semut."
Bergetar tubuh Pui Ci- hwi, air mukanya berubah, matanya
mendelik, tanpa bicara ia menatap Ji Bun dengan penuh kebencian.
"Lepaskan dia!" sekonyong-konyong sebuah hardikan
berkumandang dari belakang. Cepat Ji Bun menoleh, dilihatnya
seorang setengah tua berperawakan sedang, bermuka tirus bermata
sipit berdiri dua tombak di belakangnya, jubahnya hitam, rambut
kepalanya diikat kain hitam pula, dandanan demikian rada ganjil dan
aneh.
"Tuan orang kosen dari mana?" tanya Ji Bun.
“Kwe-loh-jin.”
Mendelik buas mata Ji Bun, ancamnya: “Kalau kau masih ingin
hidup, lekas enyah dari sini.”
Orang yang menamakan dirinya Kwe-loh-jin atau orang lewat di
jalanan ini tertawa menyengir, ujarnya: "Te-gak Suseng, membual
saja kepada orang lain."
Memangnya dendam dan amarah Ji Bun tidak terlampias, kata-
kata orang ini seperti api disiram minyak, membuat amarahnya
semakin berkobar, desisnya dingin: "Kau betul-betul ingin mampus?"
"Nanti dulu, aku kemari hendak membuat perhitungan dagang
dengan kau."
"Perhitungan dagang apa? Aku tidak punya minat."
"Te-gak Suseng, setelah kujelaskan, kutanggung minatmu pasti
besar."
Sebelum orang bicara habis, sebat sekali Ji Bun melepaskan
tangan Pui Ci-hwi terus menubruk ke arah Kwe-loh-jin, tangan
berbisa sekaligus menyerang dengan gerakan secepat kilat, tahu-
tahu dia sudah mencengkeramnya pula pergelangan tangan Pui Ci-
hwi dan berdiri di tempatnya semula, betapa cepat dan tangkas
gerakannya ini, sungguh luar biasa.
Tapi hasil dari serangannya sungguh di luar dugaannya, Kwe-loh-
jin yang kena serangan tangan berbisa tidak roboh binasa, orang
malah berdiri tersenyum simpul. Diam-diam Ji Bun menjadi sangsi
akan ilmu pukulan berbisa yang diyakinkannya selama ini, ternyata
Kwe-loh-jin kebal terhadap racun latihannya, apa betul masih banyak
lagi orang-orang yang tidak mempan terhadap racun jahatnya?
Seperti tidak kurang suatu apa, Kwe-loh-jin berkata: "Te-gak
Suseng, marilah kita bicarakan soal dagang itu."
Tanpa sadar Ji Bun bertanya : "Kau....tidak takut racun?"
"Bu-ing-cui-sim-jiu memang teramat jahat, namun bagiku racun
itu bukan apa-apa," ujar Kwe-loh-jin tertawa lebar.
"Siapakah kau?" tanya Ji Bun.
"Orang lewat!"
"Apa maksud dan tujuanmu?"
"Sejak tadi sudah kukatakan, untuk membicarakan soal dagang."
"Baiklah coba kau terangkan."
Sebelum bicara "orang lewat" seperti menahan perasaannya,
katanya dengan nada yang dibuat setenang mungkin.
"Bukankah kau ingin memperoleh kembali barangmu yang
hilang?"
"Barang hilang?" teriak Ji Bun, "barang apa?"
"Anting-anting pualam yang tak ternilai harganya untuk
mengambil uang di mana saja."
Seperti hendak meledak dada Ji Bun, sinar matanya liar, suaranya
mengancam gemetar: "Bagus sekali, jadi yang merebut anting-
anting itu adalah kau, berani kau bicara soal dagang segala
dihadapanku?"
9.27. Rahasia Rumah Setan di Kay-hong
"Orang Lewat" terloroh-loroh, katanya: "Te-gak Suseng jangan
kau umbar amarahmu, jangan kau harap bisa merebutnya kembali
tanpa memberikan imbalan kepadaku."
"Bukan saja anting-anting itu harus kurebut kembali, kepalamu
juga harus kupenggal, itulah yang harus kau berikan padaku."
"Baiklah, boleh coba,” tantang orang itu.
Untuk kedua kali Ji Bun melepas pegangan tangan Pui Ci-hwi,
telapak tangannya terus memukul ke arah Orang Lewat, betapa
dahsyat kekuatan pukulan bagai gugur gunung ini, tapi hanya sekali
berkelebat, tahu-tahu Orang Lewat sudah menyingkir tiga tombak
jauhnya, gerakan badan begitu gesit dan enteng, sungguh tidak
kalah dibandingkan Biau-jiu Siansing.
Gerakan seringan kapas seperti setan melayang ditambah orang
juga tidak gentar terkena pukulan beracunnya, ini lebih meyakinkan
Ji Bun bahwa orang ini memang betul adalah orang yang merebut
anting-antingnya.
Pui Ci-hwi tetap berdiri kaku di tempatnya tanpa, bergerak,
seolah-olah apa yang terjadi disekelilingnya tidak dilihat dan tak
didengar, peduli amat semua peristiwa yang tiada sangkut paut
dengan dirinya.
"Te-gak Suseng," orang lewat berseru memberi peringatan,
"kalau main pukul lagi, terpaksa kutinggal pergi saja."
"Hm, memangnya kau bisa lolos?"
"Omong kosong, sungguh menggelikan, kalau berhantam,
sepuluh atau dua puluh kali pukulanmu masih belum apa-apa
bagiku, kalau mau pergi, memangnya kau mampu merintangi?"
"Katakan, apa kehendakmu?" bentak Ji Bun dongkol.
"Gampang saja, serahkan dia kepadaku, anting-anting akan
kukembalikan padamu, nah, kita main barter."
Tergerak hati Ji Bun, tanyanya: "Dia? Kenapa aku harus serahkan
dia padamu?"
"Untuk barter, kutukar dengan barangmu yang hilang."
Mendelik gusar pandangan Pui Ci-hwi menga¬wasi "orang lewat",
tapi tetap tidak bersuara.
Memang Ji Bun ingin sekali mendapatkan anting-antingnya yang
hilang, tapi tegakah dia menyerahkan Pui Ci-hwi sebagai barang
tukaran? Apa pula maksud "orang lewat" dengan mengajukan syarat
yang tidak berperikemanusiaan ini? Maka dia mendengus dingin,
katanya: "Apa maksudmu sebenarnya?"
Tenang-tenang saja sikap "orang lewat", katanya: “Bukankah tadi
kau hendak membunuhnya? Kalau sekarang dia kutukar anting-
anting pualam itu, kan tidak merugikan kau?"
"Pernah apa kau dengan dia? Apa tujuanmu menghendaki
dirinya?" tanya Ji Bun.
"Bukan apa-apaku. Soal untuk apa aku ingin memiliki dia itu
bukan urusanmu," sahut "orang lewat". Lalu dia merogoh kantong
mengeluarkan anting-anting pualam serta ditimang-timang di telapak
tangannya, lalu segera ia menyimpannya pula. Nyata, anting-anting
itu memang betul adalah miliknya yang hilang itu.
Serasa pecah kepala Ji Bun saking murka, sekonyong-konyong
telapak tangannya menyapu ke depan, serangan ini secepat kilat
menyambar, kekuatannya bukan olah-olah hebatnya. Karena tidak
menduga dan kurang siaga, orang lewat tersampuk sempoyongan
oleh damparan angin kencang ini. Amarah Ji Bun sudah memuncak,
begitu sampukan tangan berhasil membuat orang gentayangan,
kembali pukulan kedua menyusul tiba, namun "orang lewat” sempat
melintangkan tangan menangkis, di tengah suara keras beserta
angin kencang berderai keempat penjuru, terdengar keluhan
tertahan, "orang lewat" menyurut mundur beberapa langkah.
Mendapat angin dengan kedua pukulannya, Ji Bun tidak menyia-
nyiakan kesempatan, segera ia mendesak maju, secepat kilat jari-
jarinya mencengkeram ke dada lawan. Kali ini "orang lewat”
memperlihatkan kemampuan silatnya yang luar biasa, tampak
bayangannya melejit, ke sana terus mengoget seperti ikan selicin
belut tahu-tahu orang sudah menyingkir dari cakaran tangan Ji Bun,
terdengar pula suara teriakan kaget, tahu-tahu Pui Ci-hwi menjadi
tawanan si "orang lewat".
Gerakan orang ini betul-betul diluar dugaan Ji Bun, keruan ia
melenggong.
Dengan sombong dan tertawa senang, "orang lewat" berkata:
"Te-gak Suseng, sekarang kau sudah tiada hak untuk barter lagi
dengan aku."
"Hm, kau kira bisa pergi dengan selamat?”
Sekali jinjing terus dikempit, mendadak "orang lewat" melenting
jauh ke sana. Namun sekali berkelebat Ji Bun juga sudah melejit ke
sana menghadang di depannya, sekaligus dia melontarkan serangan
mematikan, "orang lewat" dipaksa mundur ke tempatnya semula,
dengan langkah berat Ji Bun mendesak maju.
"Berani kau turun tangan, dialah yang akan mati lebih dulu!"
ancam "orang lewat" menyeringai sadis.
Ji Bun nekat, jengeknya "Kaupun tidak akan hidup, kalau
bertangan kosong, mungkin kau punya kesempatan buat lolos. tapi
dengan menggondol dia, jangan harap kau bisa pergi."
Hal ini memang betul, "orang lewat" hanya mengandal gerakan
tubuhnya yang lihay dan sedikit lebih tinggi dari Ji Bun. Bicara soal
Lwekang dia malah lebih rendah dua tingkat, kalau dia berkukuh
hendak menggondol pergi Pui Ci-hwi, betapapun gerakannya juga
kurang leluasa, dengan sendirinya permainan silatnya akan
terhalang, bagaimana mungkin dia mampu meloloskan diri?
"Kau tidak mau menukarnya dengan anting-anting, itu berarti
jiwanya tidak lebih berharga daripada anting-anting itu."
"Kau keliru, aku bisa membunuhnya, karena soal sakit hati, tapi
untuk barter, masakah aku ini manusia rendah yang sudi berbuat
sekeji itu."
"Te-gak Suseng, jangan kau membual, aku tahu kau ingin dia
hidup untuk mengorek keterangan asal-usul para musuhmu bukan?"
Diam-diam terperanjat Ji Bun, segala persoalan dirinya agaknya
sudah tergenggam di tangan orang, katanya dingin: "Dari orang
lainpun aku bisa mendapat keterangan yang kuinginkan. Lepaskan
dia!"
Agaknya "orang lewat" gentar menghadapi tekat Ji Bun yang
membara, sesaat dia berpikir, lalu katanya: "Te-gak Suseng,
anggaplah aku berhasil memungut dia tanpa sengaja, soal barter
batal saja, tapi anting-anting tetap kukembalikan padamu.”
Sebetulnya Ji Bun hampir terbujuk, namun teringat anting-anting
soal kecil, lebih penting adalah menuntut balas, hanya Pui Ci-hwi
satu-satunya sumber untuk menyelidiki para musuhnya, betapapun
dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Segera ia
menjawab: "Tidak bisa."
"Te-gak Suseng, untuk membunuhnya sekarang aku tidak perlu
mengeluarkan banyak tenaga, kalau dia betul-betul mampus
ditanganku, apa yang akan, kau peroleh?"
Memang tepat dan lihay gertakan "Orang Lewat" itu, kalau betul
dia membunuh Pui Ci-hwi terus tinggal pergi, bukankah anting-
anting itu tetap takkan berhasil diminta kembali? Namun Ji Bun juga
maklum bahwa "Orang Lewat" ini ingin membawa pergi Pui Ci-hwi
pasti punya maksud tertentu, untuk ini tidak mungkin dia berani
membunuhnya, maka dengan mendengus dia berkata: "Kau
membunuh dia, lalu aku membunuhmu, itulah akhirnya."
"Memangnya kau mampu membunuhku?" cemooh orang itu.
Ji Bun menggerung gusar, belum lenyap suara gerungannya, jari-
jari tangannya sudah mencengkeram dengan gerakan yang luar
biasa, namun "Orang Lewat" berkelit ke kiri terus menerjang ke
kanan, serangan Ji Bun tidak menjadi kendur, beruntun jari
tangannya bekerja dengan serangan lihay, karena tangannya
memegangi Pui Ci-hwi, betapa tinggi dan lihay gerakan "Orang
Lewat", lama kelamaan menyurut juga. "Cret", suatu ketika jari Ji
Bun berhasil menarik kain hitam yang mengikat rambut kepala
"Orang Lewat".
"Hah," seketika Ji Bun menjerit kaget sambil menyurut mundur,
matanya terbeliak dengan muka pucat lalu merah dan kehijauan,
mimiknya seperti orang ketakutan melihat setan iblis. Ternyata di
atas kuping sebelah kanan "Orang Lewat" kelihatan codet bekas
memanjang. Codet ini memberi kesan yang mendalam bagi Ji Bun,
begitu tajamnya seperti goresan pisau di ulu hatinya, dalam
benaknya selalu terbayang orang berkedok, berjubah sutera yang
kepalanya ada codet bekas luka, jadi antara Orang berkedok, laki-
laki muka hitam, dan "Orang Lewat” ini ternyata adalah satu orang.
Jadi dia belum mati?
Dengan kedua tangannya sendiri dia mengubur dua orang yang
sama-sama berkedok dan berjubah sutera, salah satu adalah
ayahnya, lalu siapa yang satu lagi? Mungkinkah masih ada orang
ketiga? Sungguh luar biasa, berulang kali orang ini hendak
menghabiskan jiwanya, kini hendak membawa Pui Ci-hwi kenapa?
Lekas Ji Bun tenangkan diri, waktu dia menyapu pandang
sekelilingnya, ternyata Orang Lewat dan Pui Ci-hwi sudah lenyap,
agaknya orang melarikan diri waktu dirinya linglung tadi.
"Siapa dia? Siapa dia?" tak tertahan Ji Bun berteriak-teriak seperti
orang gila. Bukan saja kejadian ini teramat aneh, juga amat
menakutkan. Diantara serangkaian kejadian ini seakan-akan
berselubung suatu teka-teki yang serba misterius, namun teka-teki
yang menakutkan ini tidak mudah dibongkar. Ji Bun tenggelam
dalam pemikirannya, sepak terjang orang seperti setan
gentayangan, dengan bentuk wajah yang selalu berubah, gerakan
badan yang terlalu hebat dan mengejutkan. Secara wajar, dia lantas
berpikir kepada Biau-jiu Siansing. Dia lebih condong menaruh curiga
kepada Biau-Jiu Siansing karena orang inipun memiliki gerakan
tubuh dan Ginkang sehebat itu, lagi tidak takut menghadapi Bu-ing-
cui sim-jiu yang amat beracun itu. Ya pasti dia, ke¬cuali dia pasti
tiada orang yang punya kemampuan seperti itu, demikian pula Jit-
sing-ko-jin bukan mustahil adalah samarannya. Teka-teki ini harus
cepat dibongkar, kalau tidak dirinya takkan hidup tenang, salah-
salah jiwa sendiri bisa melayang oleh kelicikan dan kelicinan musuh.
Gedung setan di kota Cinyang, seperti apa yang dikatakan Thian-
thay-mo-ki adalah sarang atau tempat sembunyi Biau-jiu Siansing,
katanya isteri dan seorang puteranya berdiam di gedung setan itu.
Tempo hari kalau tidak ketemu tabib keliling dan dipancing keluar
kota mungkin teka-teki ini sudah berhasil dibongkarnya.
Untuk menuju Tong-pek-san kebetulan harus lewat kota Cinyang,
setelah dipikir secara seksama, Ji Bun berkeputusan untuk mampir
ke kota Cinyang mencari Biau-jiu Siansing, segera dia keluar hutan
dan menempuh perjalanan lewat jalan raya.
Hari kelima pagi-pagi benar Ji Bun sudah sampai di kota Cinyang,
karena terlalu pagi, tidak leluasa untuk bekerja, kuatir jejaknya
diketahui pihak musuh. Supaya tidak mengejutkan pihak sana, maka
dia tidak masuk kota, tapi berputar menuju ke sebuah kota kecil di
selatan Cinyang yang jaraknya kira-kira beberapa li. Di sini dia
mencari hotel untuk melepaskan lelah dan menghabiskan waktu,
malam nanti setelah kentongan kedua baru akan mulai beraksi.
Setelah cuci muka dan ganti pakaian, dia pesan makanan,
seorang diri mondar-mandir di dalam kamar. Tak lama kemudian,
sendirian dia sudah makan minum dengan lahapnya. Tiba-tiba
pelayan masuk, katanya: "Siangkong, ada seorang tamu suruh
hamba menyampaikan sepucuk surat."
Tergerak hati Ji Bun, katanya: "Bawa kemari.”
Pelayan angsurkan surat itu, itulah secarik kertas tanpa sampul
sebesar telapak tangan. Begitu membaca tulisan di atas kertas itu,
seketika berubah air muka Ji Bun, suaranya gemetar: "Mana orang
yang membawa surat ini?"
"Sudah pergi."
"Bagaimana raut wajahnya?"
"Entahlah, agaknya seperti orang persilatan."
"Baik, tiada apa-apa, kau boleh keluar."
Dengan heran dan curiga si pelayan melirik sekejap pada Ji Bun,
lalu mengundurkan diri. Ji Bun membaca sekali lagi tulisan surat itu,
bunyinya demikian:
"Disampaikan kepada Te-gak Suseng. Kalau ingin memperoleh si
jelita tanpa kurang suatu apa dan anting-anting, lekaslah kau pergi
ke Wi-to-hwe, suruh ketuanya menukar jiwa nona itu dengan Hud-
sim. Kubatasi 10 hari, selewatnya hari yang kutentukan,
keselamatan jiwanya bukan tanggung jawabku lagi, kalau ketuanya
setuju, Hud-sim boleh diserahkan padamu, akan kujanjikan tempat
dan waktunya setelah tiba waktunya. Tertanda Kwe-loh-jin."
Gemas dan dongkol ji Bun bukan main, agaknya gerak-geriknya
selalu diintai oleh lawan, perjalanan kali ini agaknya bakal gagal lagi.
Jadi terang sekarang tujuan-tujuan "Orang Lewat" menculik Pui Cui-
hwi ternyata untuk barter dengan Hud-sim, mungkinkah "Orang
Lewat" pula yang melakukan pencurian Sek-hud di gedung keluarga
Ciang?
Musuh ditempat gelap, dirinya ditempat terang, urusan ini
memang serba sulit dan dirinya dipihak yang dirugikan. Dengan
terlongong Ji Bun mengawasi kertas ditangannya, dari gejala yang
sudah teraba secara beruntun ini, dia lebih yakin bahwa "Orang
Lewat" ini memang duplikat Biau-jiu-Siansing, mencuri, menipu,
merampas dan merebut, ditambah mengancam dan menindas.
Semua ini merupakan perbuatan kotor dan rendah yang selalu
terjadi dikalangan Kang-ouw oleh manusia-manusia rendah, hal ini
memang sudah sering terjadi dan tidak mengherankan dirinya, yang
belum diketahui hanyalah apa tujuan orang ini selalu hendak
membunuh dirinya, ia yakin dirinya belum pernah bermusuhan
dengan dia.
Apakah sekarang ia harus pergi ke Tong-pek-san dan bekerja
sesuai yang diminta "Orang Lewat" seperti yang ditulis dalam
suratnya ini? Dengan keras dia gebrak meja, sambil menengadah dia
tenggak habis secangkir arak, mulutnya menggumam: "Malam ini
harus kubongkar seluk-beluk si maling tua itu."
o0o
Kentongan kedua baru saja berkumandang, Sesosok bayangan
dengan cepat melayang ke arah "gedung setan" di kota Cinyang. Dia
bukan lain Te-gak Suseng Ji Bun adanya.
Memang sesuai betul keadaan Gedung Setan ini dengan
namanya, tidak nampak bayangan orang lewat di sini, suasana
hening mencekam, keadaan tidak berbeda dengan tempo hari waktu
pertama kali dia datang, pintu besarnya tertutup rapat, galagasi
berada dimana-mana, debu setebal beberapa mili.
Sejenak Ji Bun berdiri di atas pagar tembok menerawang
keadaan sekelilingnya, lalu berputar ke arah samping, sekali lompat
dia naik ke atas wuwungan, denah gedung ini cukup luas dan besar,
tampak rumah berderet, pekarangan berlapis-lapis, tetumbuhan tua
tersebar dimana-mana. Selayang pandang keadaan serba gelap,
hawapun terasa lembab dan menggiriskan orang. Mungkinkah ada
orang tinggal di tempat seperti ini? Ji Bun jadi terlongong bingung.
Ji Bun tidak takut setan, juga tidak percaya di dunia ini ada setan,
rumah serta tempat-tempat yang sering dikatakan keramat dan
dihuni setan hanya permainan kotor orang-orang persilatan yang
suka main-main dengan tujuan tertentu belaka.
Tapi kalau, rumah ini dihuni manusia, pasti ada sinar lampu atau
lilin, namun yang dihadapinya sekarang hanya kepekatan yang
menyeramkan. Sudah tentu Ji Bun tidak mau berhenti begini saja
dan balik dengan tangan hampa, setelah bimbang sebentar,
akhirnya dia enjot kaki dan melayang turun di pekarangan.
Malam memang teramat gelap, namun bagi orang yang
berkepandaian setinggi Ji Bun sekarang, matanya masih bisa melihat
sesuatu di tempat gelap dengan jelas. Tertampak pekarangan ini
sudah lebat ditumbuhi semak-semak rumput dan pepohonan liar,
jalur jalan kecil yang berliku-liku juga sudah penuh ditumbuhi lumut
dan rumput-rumput serta ditumpuki daun kering, bangunan rumah-
rumah disekelilingnya juga banyak yang rusak dan bobrok, jendela
dan pintunya sama runtuh, yang masih ketinggalan sedang berbunyi
berkeriut ditiup angin, bayang-bayang pepohonan mirip setan iblis
yang menjulurkan jari-jari tangan siap menerkam mangsanya.
Betapa tinggi kepandaian Ji Bun menghadapi suasana yang
seram menggiriskan ini, berdiri juga bulu kuduknya, merinding.
Dengan langkah pelan dan hati-hati dia mendekati pintu rembulan
dan menuju ke halaman kedua. Keadaan di sini tak ubahnya dengan
pekarangan pertama, hening lelap, hawa seperti membeku, seolah-
olah tiada kehidupan lagi di dunia fana ini, bau busuk merangsang
hidung. Namun Ji Bun tidak putus asa, dia membelok ke serambi
sana terus memasuki pekarangan lapis ketiga. Pemandangan di sini
jauh berubah, tanaman di sini kelihatannya teratur dan teramat baik,
seperti kebun yang selalu diatur oleh tangan-tangan manusia. Serta
merta hati Ji Bun menjadi tegang, selepas matanya memandang,
dilihatnya di antara sela pepohonan lapat-lapat kelihatan sinar pelita
yang menyorot keluar. Kalau dipandang dari wuwungan rumah,
karena teraling dan tertutup oleh bayang-bayang dedaunan yang
lebat, sinar pelita ini terang tidak akan kelihatan. Agaknya tidak sia-
sia perjalanan Ji Bun kali ini. Apa yang dinamakan gedung setan,
kiranya hanya nama kosong dan gertakan bagi yang bernyali kecil
belaka, muslihat menakuti orang dengan tujuan tertentu.
Apa yang pernah dilihat dan dialami Thian-thay-mo-ki dulu
agaknya memang kenyataan. Dengan enteng Ji Bun melayang ke
arah sinar pelita, dengan berindap dan menggeremet Ji Bun maju
semakin dekat. Kini dia sudah melihat jelas, sinar pelita, itu
menyorot keluar dari sebuah kamar yang tertutup kain gordin,
karena kain gordin kurang rapat sehingga sinar pelita ini menyorot
keluar dari sela-sela meski hanya segaris saja. Waktu Ji Bun sampai
di serambi luar kamar itu sinar pelita di dalam kamar itu mendadak
padam.
Keruan kaget berdegup hati Ji Bun, dia tahu bahwa jejaknya
sudah konangan, gedung sebesar ini kalau pihak sana sengaja mau
menyembunyikan diri, untuk mencarinya tentu sesulit memanjat ke
langit. Lalu tindakan apa yang harus dia lakukan. Atau .... kalau
Biau-jiu Siansing memang seorang tokoh yang punya gengsi dan
berbobot, bila dirinya bersuara dan memperkenalkan diri, tentu dia
tidak akan menyembunyikan diri. Maka Ji Bun lantas bersuara, "Te-
gak Suseng mohon bertemu dengan tuan rumah."
Beruntun dia berkaok tiga, kali, namun tiada reaksi apa-apa,
keruan Ji Bun naik pitam, dengan amarah yang berkobar segera dia
mendekati pintu.
"Berdiri!" sekonyong-konyong suara seorang perempuan
berkumandang di belakangnya.
Bercekat hati Ji Bun, namun dengan tabah, pelan-pelan dia putar
badan di mulut serambi sana dilihatnya berdiri seorang nyonya
berpakaian serba hijau, kedua matanya menyala terang seperti mata
harimau di malam, agaknya Lwekang dan kepandaian silatnya tidak
rendah.
Saat lain, dilihat pula sesosok bayangan kecil seringan burung
melayang turun dari atap rumah, kiranya seorang laki-laki berusia
10–an tahun.
"Bagaimana," tanya nyonya baju hijau.
Biji mata bocah itu berputar mengawasi Ji Bun sekejap. Sahutnya
dengan suara nyaring: “Ada orang menguntit, tapi sekarang sudah
pergi.”
"Baik, nyalakan lagi api di dalam kamar," perintah nyonya baju
hijau.
Bocah itu segera berlari masuk ke dalam, segera sinar lampu
menyala lagi di dalam dan kebetulan menyorot dimuka nyonya baju
hijau ini, maka jelas kelihatan raut mukanya yang sudah agak
berkeriput, agaknya usianya ada setengah abad, namun bekas-bekas
kecantikannya masih kelihatan, sayang rona mukanya menampilkan
mimik yang aneh.
"Siapakah yang mulai ini?" sapa Ji Bun lebih dulu.
Nyonya itu menuding ke dalam, katanya: "Mari bicara di dalam.”
Lalu dia mendahului melangkah masuk.
Sekilas Ji Bun melenggong, tapi dia lantas ikut masuk.
Pajangan kamar ini cukup bagus namun sederhana, suasana
terasa redup dan nyaman dibawah sinar lampu teplok, anak kecil
tadi sudah tidak kelihatan bayangannya.
Nyonya baju hijau tidak bersuara, namun dengan nanar dia awasi
muka Ji Bun, air mukanya berubah-ubah.”
Tak tahan Ji Bun buka suara pula: "Apakah engkau majikan
gedung ini?''
"Bukan, aku terhitung tamu juga disini."
"Tamu?" Ji Bun mengernyit kening.
"Kau heran bukan?”
Memang Ji Bun heran dan tak mengerti, menurut cerita Thian-
thay-mo-ki, katanya nyonya ini adalah isteri Biau-jiau Siansing atau
gundiknya. Bocah tadi adalah putera tunggalnya, namun nyonya ini
bilang dirinya hanya seorang tamu. Maka dengan dingin dia
mengejek: "Tapi kutahu bahwa engkau adalah penghuni gedung
ini?"
"Soal kecil ini tidak perlu diperdebatkan," ujar nyonya baju hijau
lesu, "kau inikah Te-gak Suseng? Apa maksud kedatanganmu?"
“Sengaja mengunjungi Biau-jiu Siansing Locianpwe," sahut Ji Bun
garang sedapat mungkin dia kendalikan rasa geramnya.
”Siapa katamu?" bentak nyonya baju hijau dengan air muka
berubah.
"Biau-jiu Siansing!" Ji Bun mengulangi dengan tegas.
“Siapakah Biau-jiau Siansing? Darimana tahu kalau dia tinggal di
gedung setan?"
"Tiada sesuatu rahasia mutlak di dunia ini."
"Berapa rahasia yang sudah kau ketahui?"
"Soal ini saja sudah cukup berlebihan."
"Kalau begitu biar kukasih tahu, disini tiada orang bernama Biau-
jiu Siansing."
Cukup sepatah kata jawabanmu ini lantas hendak mengusirku
pergi. Sebelum kutemukah dia, aku tidak akan meninggalkan gedung
ini."
"Berdasarkan apa kau yakin Biau-jiu Siansing berada di gedung
ini?"
“Berdasarkan berita yang kuperoleh,"
”Kabar dari mana?”
"Nyonya tidak perlu tahu."
“Aku. Tidak tahu apa itu Biau-jiau Siansing segala."
Ji Bun menarik muka, dia sudah berkeputusan, meski harus
menggunakan cara keji apapun juga akan mengobrak-abrik gedung
ini dan mengorek usal-usul Biau-jiu Siansing yang sesungguhnya,
maka dengan geram dia berkata dingin: "Hu-jin (nyonya) tidak akan
memaksaku untuk bertindak, bukan?"
"Kau mengancamku?”
"Bukan mengancam demi mencapai keinginan yang kuharapkan,
aku tidak segan bertindak dengan cara apapun."
"Kau berani bertingkah di sini?"
"Kalau tidak berani tidak akan kemari."
"Dengan cara apa kau hendak bekerja?”
"Sulit dikatakan. Biau-jiu Siansinglah yang mengajarkan padaku,
bukan saja dia licin dan licik malah rendah dan hina ....”
"Kentutmu! Omong kosong!"
"Jadi Hujin mengakui akan kenyataan ini? Kalau Hujin tidak kenal
dia, buat apa kau membela dia?"
Mencorong sinar mata nyonya baju hijau, bentaknya bengis:
"Biau-jiu Siansing adalah tokoh aneh di kalangan Kang-ouw,
mengandalkan apa kau berani memaki dan menghinanya?"
Ji Bun mendengus berat, jengeknya: "Tokoh aneh apa?
Memangnya dia setimpal?"
"Kenapa tidak setimpal"
"Main curi, rebut, menipu, memeras dan segala tipu kotor,
setimpalkah orang yang melakukan perbuatan serendah itu
dimanakah tokoh aneh?"
Dengan mengertak gigi nyonya baju hijau menatap Ji Bun sekian
lama, mendadak dia berkata, "Kau bernama Ji Bun bukan?”
Hati Ji Bun betul-betul tergoncang hebat, nama aslinya
selamanya belum pernah bocor di kalangan Kang-ouw, kecuali Ciang
Wi-bin dan puterinya tiada orang lain yang tahu. Namun nyonya ini
dapat menyebut namanya dengan tepat, sungguh mengejutkan dan
mengerikan, dengan gemetar dia berkata: “Dari mana Hujin tahu
aku bernama Ji Bun?"
Dingin sekali sikap nyonya baju hijau, katanya: “Malah aku juga
tahu kau ini adalah putranya Ji Ing-hong.”
Serasa meledak Ji Bun, darah seketika tersirap ke atas kepala,
beruntun dia menyurut tiga tindak, hampir saja meja kursi
diterjangnya roboh, mata terbeliak mulut melongo, lama sekali dia
mengawasi nyonya itu tanpa bersuara.
Dengan haru dan penuh emosi nyonya baju hijau berkata pula:
"Kau tahu siapa aku?"
Tergagap-gagap Ji Bun berkata: "Hujin ..... siapa?"
“Kau pernah dengar nama gelaran Khong-kok-lan So Yan?"
“Be ..... belum pernah.”
Terpencar sorot kebencian yang menyala dari kedua biji mata
nyonya baju hijau, giginya berkerutukan menahan gejolak hati, lama
kemudian baru dia berkata: "Kalau Lan Giok-tin?”
Bergetar sekujur badan Ji Bun, serunya: "Itulah ibundaku."
"Dia yang melahirkan kau?"
"Ya....dari mana Hujin tahu....."
"Dia masih hidup?" pertanyaan mendadak ini teramat menusuk,
namun Ji Bun sudah terkekang oleh suasana yang mengejutkan ini,
tanpa ragu dia menjawab: "Mati hidup ibu sampai sekarang belum
kuketahui."
"Hm, memang dia bakal mengalami hari naas."
"Hujin ..... apa maksudmu?"
"Ketahuilah, Ji Bun, aku inilah isteri Ji lng-hong yang resmi,
Khong-kok-lan So Yan."
Seperti ditusuk sembilu sekujur badan Ji Bun, seketika menjadi
linu dan pati rasa, penasaranpun terasa sesak hampir berhenti,
sungguh kejadian yang tak pernah dia bayangkan meski di dalam
mimpi, bahwa nyonya baju hijau ini ternyata adalah isteri tua dari
ayahnya. Tak heran dia bisa menyebut namanya yang merupakan
rahasia bagi orang lain. Bagaimana mungkin dia bisa berada di
gedung setan ini? Siapa pula bocah itu? Apakah adiknya dari tunggal
bapak lain ibu? Ji Bun jadi ragu-ragu, apakah gedung ini betul
adalah tempat sembunyi Biau-jiu Siansing?
Selama hidup Ji Bun belum pernah, bertemu atau melihat nyonya
ini, dia hanya tahu bahwa ibunya isteri kedua, dulu pernah dia tanya
tentang nyonya besar ini kepada ibunya, katanya sudah lama
meninggal apakah dia ini setan gentayangan? Teringat akan setan,
sementara dirinya berada di dalam gedung setan pula, seketika dia
merinding dan gemerobyos keringat dinginnya.
Berkata pula Khong-kok-lan So Yan: "Sayang sejauh ini aku
belum berhasil membunuh Ji Ing-hong dengan kedua tanganku
sendiri."
Bergidik pula Ji Bun dibuatnya mendengar kata-kata ini, entah
ada permusuhan apa pula antara ayah dan nyonya besar ini? "Taybo
.........”
“Jangan panggil aku Taybo (ibu tua), aku sudah putus hubungan
dengan Ji Ing-hong. Aku she So, terserah kau ingin panggil apa
padaku."
Apakah wanita setengah baya ini benar ibu tiri Ji Bun? Dan siapa
pula anak laki-laki itu?
Dapatkah Ji Bun mengorek rahasia mengenai Biau-jiu Siansing?
10.28. Wi-to-hwe Terima Syarat Barter
Ji Bun menelan air liur seka!i, timbul perasaan dingin dari relung
hatinya, katanya kemudian: "Apakah ada kesalahan paham?"
"Salah paham apa? Hm, yang jelas dendam berdarah!"
"Dendam berdarah?" teriak Ji Bun sembari mundur selangkah
pula, poci dan cangkir teh di atas meja sama menggelinding jatuh
keterjang pantat Ji Bun. Sungguh peristiwa yang sukar diterima oleh
akal sehat bahwa di antara suami isteri bisa terjadi dendam
berdarah? Serta merta dia teringat kepada Siangkoan Hong, dia
pernah bilang punya dendam kesumat terhadap Ji Ing-hong yang
merebut isteri dan membunuh anaknya, mungkinkah dia ..... tak
tertahan ia berteriak tanpa sadar: "Taybo kenal ...."
"Aku bukan Taybo," bentak Khong-kok-lan bengis.
Ji Bun angkat pundak, sesaat dia kememek, apa boleh buat dia
mengubah panggilan: "Apakah So-cianpwe kenal Siangkoan Hong?"
"Siangkoan Hong? Belum pernah dengar."
Ji Bun melengak, agaknya dugaannya meleset, segera dia
bertanya pula: "Bolehkah jelaskan duduk persoalan yang
sebenarnya?"
"Kau boleh tanya kepada bapakmu."
"Dia ..... beliau sudah ...... meninggal."
"Apa? Ji ing-hong sudah mampus?"
"Ya”, sahut Ji Bun, "terbunuh oleh musuh yang tidak dikenal."
Gemetar keras sekali sekujur badan Khong-kok-lan So Yan,
tanyanya: "Kapan kejadiannya?"
"Sepuluh hari yang lalu."
"Bagus sekali, memang setimpal dia mampus...."
Mendelik Ji Bun, mengingat orang adalah isteri tua ayahnya,
mulutnya tetap terkancing saja, betapapun dirinya adalah anak
muda yang harus tetap hormat terhadap orang tua, bukan mustahil
di balik peristiwa ini ada rangkaian cerita yang menakutkan? Dari
mana mungkin antara suami isteri bisa terjalin dendam berdarah?
Sayang sekali sejak kecil dirinya hidup secara terisolir, mengenai
seluk beluk keluarga sendiripun tidak jelas. Setelah dewasa dia
diperintahkan berkelana dan langsung menuju Kayhong untuk
melamar puteri keluarga Ciang. Celakanya keluarga serta seluruh
penghuni Jit-sing-po tahu-tahu telah hancur lebur, semuanya gugur
melawan para penyerbu sehingga segala sesuatu semakin kabur.
Pada saat itulah, bocah tadi tiba-tiba muncul lagi, dia masuk dari
luar kamar, mimik wajah Khong-kok-lan So Yan yang menakutkan
dirangsang oleh emosinya tadi segera lenyap begitu bocah ini
muncul, tanyanya dengan ramah dan lembut: “Siau-po, kau harus
berjaga di luar sana."
“Bayangan tadi muncul kembali. Kalau tidak salah menguntit dia,"
sahut bocah itu sambil menuding Ji Bun.
Tergerak hati Ji Bun, siapakah yang menguntit dirinya? Mungkin
Kwe-lo-jin? Kalau demikian mungkin pemilik gedung ini memang
bukan Biau-jiu Siansing, tapi .......
"Siau-po, kau jaga di luar saja."
"Untuk apa dia kemari?" tanya anak itu.
"Nanti kuberi tahu padamu."
Bocah yang bernama Siau-po memang penurut, segera ia berlari
keluar, bayangannya lenyap ditelan kegelapan, usianya masih begitu
kecil, namun gerak-geriknya amat cekatan, tak tertahan Ji Bun
bertanya: "Siapakah dia?"
"Kau tidak perlu tahu," sahut Khong-kok-lan So Yan, "kau masih
ada urusan?"
Ji Bun ingin tanya liku-liku persoalan ini supaya jelas, namun dia
juga tahu pertanyaan akan sia-sia. Nyonya ini jelas tak mau
menjelaskan, yang terang ayahnya sudah meninggal, peduli
bagaimana duduk persoalan sebenarnya, anggap berakhirlah segala
dendam kesumat, kelak kalau ibunya berhasil ditemukan dapat tanya
kepada beliau saja, namun bayangan Biau-jiau Siansing masih
melekat dalam benaknya.
"Kau boleh pergi," kata Khong-kok-lan So Yan sambil angkat
sebelah tangannya.
Ji Bun mengeraskan kepala, katanya: "Mengenai Biau-jiu Siansing
.......”
"Di sini tiada Biau-jiu Siansing. Ji Bun, kuberitahukan padamu,
kalau bukan lantaran sesuatu hal, jiwamu sudah melayang sejak
tadi, lekaslah kau pergi sebelum aku mengubah sikapku, kalau tidak
.......”
"Bagaimana?"
"Kubunuh kau!"
Ji Bun tak kuasa menahan sabar, jengeknya: "Kuhormati kau
sebagai Taybo. Tapi bukan soal gampang untuk membunuhku."
"Hm, majulah selangkah dan berpalinglah ke belakang, lihat apa
itu?"
Setengah percaya Ji Bun maju selangkah terus berpaling. "Crat,"
sebatang lembing yang runcing mengkilap tiba-tiba menjulur keluar
dari dalam dinding, tepat mengincar punggung di mana tadi dia
berdiri, karuan dia berteriak kaget sambil melompat menyingkir,
keringat dingin membasahi jidatnya. Serangan gelap macam ini,
betapapun sulit dihindarkan, susul menyusul terdengar pula suara
"ser, ser", pu!uhan batang anak panah berseliweran di depan dan
kanan kiri, semuanya menancap di dinding.
"Bagaimana?" tanya si nyonya.
Ji Bun mengertak gigi, tanpa bersuara lagi segera dia enjot kaki
melesat keluar gedung setan, waktu itu sudah mendekati kentongan
keempat, sekaligus dia berlari menuju ke hotel tempat menginap.
Tanpa mengeluarkan suara langsung dia masuk ke kamar dan rebah
di atas ranjang dan merenungkan pengalaman tadi.
Pengalaman selama dua jam ini sungguh aneh bin ajaib, dia tak
habis mengerti dan tidak mampu memecahkan persoalan ini. Baru
sekarang dia merasakan urusan keluarganya benar-benar serba
rumit, namun keluarga sudah berantakan, orang-orang yang
berkepentinganpun sudah wafat, apa pula yang harus dirisaukan?
Kecuali menuntut balas, tiada tugas apapun yang setimpal untuk
dipikirkan. Peduli bagaimana martabat ayahnya di masa hidup,
sebagai seorang anak yang harus bakti terhadap orang tua,
betapapun dia harus bekerja sekuat tenaga, soal tetek bengek tidak
usah ambil pusing.
Kini yang dia pikirkan adalah permintaan Kwe-loh-jin melalui
secarik kertasnya itu. Kalau Kwe-loh-jin benar adalah duplikat Biau-
jiu Siansing, kesempatan masih ada untuk berhadapan dengan dia.
Agaknya dia harus bekerja secara bertahap, terlebih dulu harus
membereskan persoalan yang menakutkan ini. Jika dia harus beraksi
menuntut balas, terang dirinya tak bisa minta kepada Wi-to-hwe
untuk mengeluarkan Hud-sim dan barter dengan Pui Ci-hwi, dengan
sendirinya pula rahasia pribadi Biau-jiu Siansing juga sukar untuk
dibongkar.
Biau-jiu Siansing bilang supaya Wi-to-hwe menyerahkan Hud-sim
kepada dirinya. Kapan dan di mana akan dilakukan pertukaran akan
diberitahu lebih lanjut, agaknya orang juga jeri menghadapi jago-
jago Wi-to-hwe. Hal inipun menandakan kecerdikan dan
kelicikannya.
Pihak Wi-to-hwe mau menerima syarat barter ini? Apa betul Hud-
sim terjatuh ke pihak Wi-to-hwe? Diam-diam Ji Bun bersyukur bahwa
dia tidak katakan asal usul dirinya kepada Pui Ci-hwi, kalau tidak
situasi pasti sudah jauh berubah. Kalau asal dirinya diketahui pihak
musuh, terang Wi-to-hwe akan mengerahkan seluruh kekuatannya
untuk menghadapi dirinya.
Setengah malam dia bekerja berat, namun dia lupa lelah dan
tidak kantuk, semua persoalan yang serba rumit ini satu persatu
berganti berkelebat dalam benaknya.
Hotel-hotel di kota kecil seperti ini kebanyakan dihuni oleh kaum
pedagang yang menempuh perjalanan jauh, begitu ayam jago
berkokok, suasana hotel kecil itu sudah menjadi ramai dan ribut.
Karena tidak bisa tidur, Ji Bun sekalian bangun dan cuci muka.
Setelah tangsel perut ala kadarnya, belum lagi hari terang tanah, dia
segera melanjutkan perjalanan menuju ke Tong-pek-san, untuk tiga
kali dia naik ke gunung ini.
Lekas sekali hari sudah terang tanah, sang surya memancarkan
sinarnya yang cemerlang di ufuk timur. Tengah dia mengayun
langkah, tiba-tiba sebuah tandu berhias dipikul empat orang
mendatangi. Waktu Ji Bun angkat kepala, hatinya bersorak girang,
kiranya yang mendatang adalah tandu berhias dengan orang dalam
tandu yang misterius itu, dengan kedudukan dan jabatan orang
dalam tandu di Wi-to-hwe, soal Hud-sim, tentunya dapat diajukan
kepadanya, kan dapat mengurangi tenaga supaya tidak usah jauh-
jauh pergi ke markas besarnya.
Sementara itu, tandu itupun sudah berhenti tak jauh di
depannya, Ji Bun angkat kedua tangan memberi hormat, sapanya:
"Selamat bertemu yang mulia!"
"Saudara kecil hendak ke mana?" tanya orang dalam tandu.
"Aku hendak naik gunung mengunjungi Hwecu."
"Ada urusan?"
"Ada urusan penting perlu segera kubicarakan berhadapan
dengan Hwecu sendiri."
"O, sayang Hwecu kebetulan sedang turun gunung untuk suatu
keperluan, ada urusan apa boleh kau katakan padaku, mungkin aku
bisa memberi keputusan."
Ji Bun keluarkan surat tulisan Kwe-loh-jin, katanya. "Silakan baca
surat ini."
Salah seorang laki-laki baju hitam yang memikul tandu segera
menerima surat itu dan diangsurkan ke dalam tandu. Ji Bun diam
dan menunggu reaksi dengan tenang-tenang.
Tak lama kemudian, orang dalam tandu menggeram gusar,
katanya kemudian dengan nada yang menggiriskan: "Saudara kecil,
apakah yang telah terjadi?"
"Seperti apa yang dikatakan dalam surat itu, nona Pui sudah
diculik oleh orang itu."
"Berani dia mengajukan syarat seperti ini? Siapakah Kwe-loh-jin
itu?"
"Entah, akupun tidak kenal dia."
"Lalu kenapa kau jadi penengahnya?”
"Ya, karena anting-anting pualam milikku terjatuh di tangannya,
untuk mengembalikan anting-anting itu, dia mengajukan syarat ini."
"Kepandaianmu sudah begini tinggi, masakah kau juga mau
ditekan dan diperas?"
"Banyak kejadian dalam dunia ini sukar dipertimbangkan dengan
akal sehat."
"Keparat ..... tolong saudara cilik sampaikan kepada Kwe-loh-jin,
suruh dia berhadapan langsung dengan aku .....”
"Hal itu tak mungkin dilaksanakan, hakikatnya aku tidak bisa
menemukan jejaknya."
"Kukira tidak mungkin."
Ji Bun naik pitam, katanya aseran: "Kau kira Cayhe sekomplotan
dengan Kwe-loh-jin?"
Sesaat orang dalam tandu berpikir, katanya kemudian: "Bukan
aku banyak curiga, rasanya siapapun pasti akan berpikir demikian."
"Kalau begitu anggaplah Cayhe salah alamat, selamat berpisah."
"Tunggu sebentar, saudara cilik."
"Masih ada omongan apa lagi?"
"Tahukah kau apa sebenarnya Hud-sim itu?"
"Cayhe tidak tahu, juga tidak ingin tahu." ucapannya ini terlalu
angkuh tak ubahnya seorang jago silat tulen.
"Menurut pendapatanmu, orang dari golongan manakah Kwe-loh-
jin ini?"
"Ini ...... dugaan memang ada, namun bagaimana kenyataannya
sulit dikatakan, terus terang Cayhe tidak berani sembarangan
omong."
Uutuk sekian lamanya keduanya diam saja. Akhirnya orang dalam
tandu bersuara dengan nada berat: "Saudara cilik, biarlah aku yang
tanggung untuk menerima syarat yang diajukan Kwe-loh-jin ini, tapi
.....”
Tak terduga oleh Ji Bun bahwa orang dalam tandu bakal
menerima syarat yang diajukan Kwe-loh-jin, tanyanya: "Tapi apa?"
"Aku menguatirkan keselamatan Pui Ci-hwi .....” Yang dimaksud
dengan keselamatan sudah tentu bukan hanya mati-hidup jiwanya.
maklumlah Pui Ci-hwi gadis jelita yang masih perawan. Kalau sampai
terjatuh ke tangan manusia rendah dan cabul, banyak hal yang
harus dikuatirkan. Sudah tentu Ji Bun maklum akan maksud ini,
katanya dengan menegak alis: "Malingpun mempunyai aturannya
sendiri, kukira hal-hal yang tidak penting itu tidak perlu dipikirkan
dan dikuatirkan."
"Kau tidak berani menanggung?"
"Maaf, hal ini aku tidak berani tanggung."
"Bukan aku minta pertanggunganmu, tapi aku tetap berkuatir,
maka kuharap dikala kau menukar orang, kau harus perhatikan
kekuatiranku ini."
"Baiklah. Cayhe akan bekerja melihat gelagat."
"Saudara cilik, sekali lagi kupesan wanti-wanti."
"Cayhe akan bekerja sekuat tenaga."
Di mulut dia berkata demikian, namun timbul suatu perasaan
aneh dalam relung hatinya, dia merasa kelakuannya kali ini amat
lucu dan menggelikan, malah sukar dimengerti, secara beruntun dia
bekerja untuk kepentingan pihak musuhnya, namun aksi menuntut
balas yang sudah dirancangnya sekian lama belum dilaksanakan,
selalu terhalang oleh macam-macam perubahan yang dihadapinya,
kalau dipikir dia tertawa sendiri.
"Saudara cilik hendak menunggu di mana?"
"Kutunggu di hotel Im-ping-can di kota kecil Ngo-li-cip di selatan
kota Cinyang."
"Baiklah, dalam tiga hari, aku pasti antar barang itu ke sana."
"Cayhe akan menunggu dengan sabar."
Tandu berhias itu segera putar balik ke arah datangnya tadi,
agaknya kepandaian silat keempat laki-laki pemikul tandu amat
tinggi, langkah mereka ringan dan cepat bagai terbang.
Tiga hari cukup lama bagi Ji Bun untuk menunggu di sebuah
hotel di kota sepi ini. Menurut perhitungannya, paling cepat hari ke
tiga baru barang itu akan diantar kemari, ia menjadi iseng tanpa
kerjaan. Hari itu tanpa tujuan dia jalan-jalan memasuki sebuah
jalanan. Dalam hati dia berpikir, setelah selesai barter dengan Kwe-
loh-jin, langkah pertama yang dia lakukan yaitu membongkar kedok
orang, lalu melalui Pui Ci-hwi satu persatu dia akan mulai aksinya
menuntut balas kepada para musuhnya. Dalam suasana tenang dan
pikiran jernih ini, kembali dia merangkai langkah-langkah yang lebih
sempurna untuk menunaikan tugas berat ini.
Kenapa Taybo Khong-kok-lan So Yan kedapatan berdiam di
gedung setan dalam kota Cinyang? Dendam berdarah apakah yang
terjadi antara dia dengan ayah? Siapa pula bocah yang bernama
Siau-po itu? Dengan tegas So Yan menyangkal bahwa dirinya ada
sangkut paut dengan Biau-jiu Siansing, apakah ini dapat dipercaya?"
Betulkah Kwe-loh-jin merupakan salah satu duplikat Biau-jiu
Siansing? Siapakah orang berkedok yang gugur bersama ayahnya?
Apakah Siangkoan Hong pembunuhnya? Dikala mendengar jejak
ibunya belum diketahui parannya, Taybo bilang pasti akan datang
saat naasnya, apakah maksudnya? Semakin dipikir Ji Bun merasa
persoalan ini semakin simpang siur dan ruwet.
Sang surya sudah tinggi, alam semesta terang benderang, namun
hatinya seperti diliputi mega mendung, risau dan gundah.
Tiba-tiba bayangan semampai seorang berlari mendatangi dan
langsung menubruk ke arahnya. Sekali mengegos Ji Bun
menghindar, dilihatnya seorang nona belia berusia tujuan belas
dengan rambut semerawut, pakaian kumal dan sorot mata guram,
namun berwajah molek.
Begitu tubrukan luput gadis itu lantas putar badan, katanya
sambil tertawa cekikikan, "Liok-koko, aku tahu kau pasti akan
kembali." Lalu kedua tangan terpentang terus menubruk maju pula
hendak mendekap.
Ji Bun terperanjat, lekas ia mengegos ke samping pula, rupanya
gadis ini orang sinting, demikian pikirannya.
Karena dua kali luput menubruk, gadis itu menegakkan alis,
mulut cemberut, katanya sedih: "Liok-koko, kau sudah tidak
mencintaiku lagi?"
"Aku bukan she Liok," kata Ji Bun.
"Ha ha ha ha, Liok-koko, walau menjadi abu juga tetap kukenal
kau, jangan kau menyiksaku lagi."
"Siapakah Liok-kokomu itu?" tanya Ji Bun.
Berubah air muka gadis sinting, teriaknya mendelik liar: "Liok Kin,
seluruh milikku sudah kuberikan padamu, kau justeru membuangku
begini saja, kau .... kau sungguh kejam!"
Baru sekarang Ji Bun mengerti, kiranya gadis sinting ini mengira
dirinya sebagai Liok Kin, itu majikan muda Cip-po-hwe yang
bergajul. Agaknya gadis ini dirayu oleh Liok Kin, setelah
dipermainkan dan dinodai kesuciannya terus ditinggal pergi begitu
saja. Saking marah, penasaran dan malu, sehingga gadis ini kurang
waras pikirannya.
Tempo hari Jay-ih-lo-sat hendak merobek tubuh Liok Kin, namun
gadis baju merah malah memohonkan ampun baginya. Waktu itu
Liok Kin pernah bersumpah sambil menuding langit dan bumi, bahwa
selama hidupnya hanya mencintai Pui Ci-hwi saja, Sampai sekarang
Pui Ci-wi masih dikelabui dan belum sadar bahwa dirinya hanya
dipermainkan belaka, nasibnya tidak lebih baik daripada gadis sinting
ini, mereka adalah korban permainan Liok Kin. Sungguh tak nyana
pemuda keparat ini ternyata seorang bergajul, pemuda cabul yang
suka mempermainkan anak perawan.
Gadis sinting itu tiba-tiba menutup muka sambil menangis
sesenggukan, katanya: "Liok-koko, bukankah kau pernah
bersumpah, seumpama laut kering dan batu membusuk, tapi
cintamu takkan berubah? Kau ..... kini kau tidak menghiraukan diriku
lagi?" Agaknya dia tetap anggap Ji Bun sebagai Liok Kin.
Seperti diketahui Ji Bun pernah jatuh hati terhadap Pui Ci-hwi.
Namun setelah cintanya bertepuk sebelah tangan, setelah tahu Pui
Ci-wi sehaluan dengan para musulmya, cinta itu sudah pudar.
Namun biasanya orang paling sukar melupakan cinta yang pertama,
lahirnya memang sudah buyar, namun suatu ketika kalau ada
sentuhan dari luar, rasa cintanya itu akan berkobar pula.
Demikianlah keadaan Ji Bun sekarang, namun dari cinta sekarang
dia menjadi dendam, dan dendam ini dia limpahkan kepada Liok Kin
yang tidak bertanggung jawab, tanpa sadar tiba-tiba dia
menggeram: "Liok Kin, kalau tidak membunuhmu, aku bersumpah
bukan manusia."
Gadis sinting itu tertegun dan menghentikan tangisnya, dengan
kaku dan linglung dia awasi Ji Bun, katanya: "Liok-koko apa
katamu?”
Ji Bun jadi dongkol dan gemes, serunya: "Aku bukan Liok-
kokomu.”
Sorot mata hambar gadis sinting itu terbeliak buas, air
mukanyapun beringas, selangkah demi selangkah ia menghampiri Ji
Bun.
Keruan Ji Bun gugup dan keripuhan, orang yang sudah
kehilangan pikiran waras, hakikatnya tidak bisa diurus lagi, namun
dia tidak mungkin turun tangan kepadanya, apalagi nasibnya harus
dikasihani. Kalau tinggal pergi begini saja, betapapun hatinya tidak
tega. terpaksa ia bersabar, dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa
ia mengada-ada: “Nona hendak mencari Liok Kin bukan?”
Gadis sinting lantas menghentikan langkahnya, katanya dengan
memiringkan kepala: "Apakah kau ini bukan Liok-koko?"
"Bukan, tapi aku bisa bantu kau mencarinya. Aku tidak
menipumu, siapakah namamu?"
"Aku .... aku ..... Liok-koko kan sudah tahu."
"Tapi aku tidak tahu?"
"Aku bernama Dian Yong-yong .... Yong-yong, dia memanggilku
Yong-moay."
"Nona Dian tinggal di rumah mana?"
"Rumah? Rumah? Aku sudah tidak punya rumah lagi, aku hendak
pergi ke rumah Liok-koko saja."
Ji Bun tertawa getir, katanya: "Nona Dian, kau harus pulang,
nanti ku suruh Liok Kin menjemputmu di rumah."
"Aku ..... dimanakah rumahku?"
Pada saat itulah terdengar suara kelintingan berkumandang dari
ujung jalan sana, seorang laki-laki berjubah kasar dengan jenggot
kambing, punggungnya menggendong peti obat sedang mendatangi
sambil menggoyang-goyang kelintingan ditangannya. Kiranya
seorang tabib kelilingan.
Mendengar suara kelinting segera Ji Bun berpaling, air mukanya
seketika membesi kaku, sorot matanyapun penuh nafsu membunuh.
Yang datang ini memang bukan lain adalah salah satu duplikat Biau-
jiu Siansing, tempo hari telah menyamar jadi tabib kelilingan dan
mengaku bergelar Thian-gan-sin-jiu. Dengan terkekeh dingin Ji Bun
menyapa: "Biau-jiu Siansing, selamat bertemu."
Tanpa hiraukan seruan Ji Bun, tabib keliling itu terus mendekati Ji
Bun seperti tidak ada persoalan apa-apa. Sorot matanya mengawasi
si gadis sinting, tiba-tiba ia berkata: "Hah, sakit ingatan, untung
bertemu dengan Lohu."
Ji Bun melenggong, batinnya: mungkin dia mampu mengobati
sakit gila? Tapi mengingat siapa dia sebenarnya, kesan ini seketika
lenyap, jengeknya dingin: "Kau tidak usah pura-pura, bukankah kau
mencariku?"
"Memang betul, aku mencarimu," ujar Biau-jiu Siansing terus
terang.
"Bagus sekali, akupun sedang mencari kau."
"Persoalan kita sementara ditunda dulu, Lohu harus mengobati
gadis yang sakit ingatan ini?"
"Apa betul kau mampu mengobati penyakit gila?"
"Omong kosong! Di seluruh pelosok kota Cinyang, tua-muda,
besar kecil, siapa yang tidak kenal nama Thian-gan-sin jiu?"
"Kuperingatkan jangan kau main-main terhadapku ......”
"Kalau hanya main-main buat apa aku harus mencarimu?"
"Jadi kau punya tujuan mencariku?"
Biau-jiu Siansing turunkan peti obatnya, katanya menggumam:
"Kasihan, gadis ayu dan segar bugar berubah begini rupa."
Tak sadar Ji Bun menanggapi: "Dia dipermainkan oleh Liok Kin,
majikan muda Cip-po-hwe, sayang dia tidak bisa mengatakan di
mana tempat tinggalnya."
"Lohu tahu, rumahnya ada di pusat kota Cinyang, Dian Pek-ban
yang terkenal adalah ayahnya."
"Dari kalangan Bu-lim juga?"
"Bukan, keluarga biasa yang mengukuhi adat leluhurnya, sebutir
Ya-bing-cu (mutiara yang bersinar ditempat gelap) warisan leluhur
keluarga Dian telah lenyap tercuri orang, ternyata perbuatan Cip-po-
hwe."
10.29. Salah Duga Terhadap Biau-jiu Siansing
Waktu rebutan Sek-hud di puncak Pek-ciok-hong dulu, Biau-jiu
Siansing pernah menggunakan tingkat kedudukannya yang lebih
tinggi dikalangan Kangouw untuk merebut Sek-hud dari tangan Cip-
po-hwe yang terhitung bawahannya, hakikatnya mereka segolongan.
Tanpa sadar Ji Bun menyeringai ejek, katanya: "Mencuri mestika dan
merusak paras ayu, dosa yang tidak terampunkan, bagaimana
pendapatmu akan perbuatan rendah dari golonganmu?"
Mendelik mata Biau-jiu Siansing, katanya kereng: "Keluarga
punya aturan, negara ada undang-undang, peristiwa ini merupakan
pelanggaran di dunia Kang-ouw, Lohu pasti akan bertindak menurut
aturan."
"Cayhe bersumpah pasti akan membunuh pemuda bergajul itu,"
kata Ji Bun dingin.
Biau-jiu Siansing tidak bicara lagi, beruntun dia menutuk
beberapa Hiat-to di tubuh Dian Yong-yong, seketika Dian Yong-yong
terkulai lemas,. Lalu ia membuka peti obat dan mengeluarkan
beberapa macam obat, jumlahnya sekitar 10-an butir terus dijejalkan
ke mulut Dian Yong-yong, lalu berkata: ”Sakit ingatan tidak akan
bisa diobati dengan obat saja, dia harus dibantu dengan pengobatan
tusuk jarum, disini tidak leluasa, dia harus diantar pulang dulu baru
aku bisa bekerja ........”
"Apa, kau hendak meloloskan diri?" sela Ji Bun.
Pelan-pelan dan rapi sekali Biau-jiu Siansing memasukkan botol-
botol obat ke dalam petinya pula, sesaat kemudian baru dia berdiri,
katanya: "Menolong orang seperti menolong kebakaran, terpaksa
kau harus ikut susah payah."
"Tidak bisa."
"Tidak bisa? Apa maksudmu?"
"Perhitungan kita sekarang harus dibereskan."
"Lho aneh, ada perhitungan apa di antara kita yang harus
dibereskan?"
"Aku tidak punya tempo ngobrol dengan kau, barang yang kau
kehendaki, dalam tiga hari pasti diantar ......”
Bingung, kaget dan heran sorot mata Biau-jiu Siansing, tanyanya
menegas: "Lohu menghendaki barang apa."
"Hud-sim!" bentak Ji Bun gemas.
"Hud-sim apa?"
Ji Bun acungkan telapak tangannya sambil mengancam: "Setelah
kubelah batok kepalamu, kau pasti tahu."
Lekas Biau jiu Siansing goyang tangan, katanya: “Jangan terburu
nafsu, bicaralah dulu persoalannya, tadi kau bilang apa? Hud-sim?"
Sikap dan tingkah orang betul-betul membuat Ji Bun kewalahan,
ternyata orang begini licik dan licin serta pandai main sandiwara
pula, syarat yang dulu diajukan orang dan menghendaki barang
pusaka itu, tidak mungkin dia mungkir begini saja. Sekilas ia berpikir,
lalu katanya dengan suara berat: "Tanggalkan ikat kepalamu. Aku
ingin membuktikan asal-usulmu yang sebenarnya."
"Asal-usulku kan tidak diukir di atas kepala?"
"Lebih baik lekas kau lakukan permintaanku."
Biau-jiu Siansing bergelak-gelak, pelan-pelan dia menarik ikat
kepalanya dan seketika Ji Bun berdiri melongo.
Ji Bun yakin bahwa orang-orang yang menyaru orang berkebok
berjubah sutera, laki-laki muka hitam komandan ronda Wi-to-hwe
serta Kwe-loh-jin adalah duplikat Biau-jiu Siansing, akan tetapi
kenyataan sekarang membuktikan di atas jidat kanan orang ini
ternyata tidak ada codet atau bekas luka apapun.
"Apa maksudmu memaksaku menanggalkan ikat kepala?" jengek
Biau-jiu Siansing.
Ji Bun menyengir kikuk, katanya: "Sekarang Cayhe baru
membuktikan bahwa engkau memang bukan orang yang kusangka."
"Memangnya kau kira siapa aku ini?"
"Hal ini tidak perlu kukatakan."
"Orang yaog kau bayangkan tadi apa ada sangkut pautnya
dengan Hud-sim?"
"Ya, tapi kau tidak perlu tahu."
"Anak keparat, kau terlalu angkuh, katakan, mungkin aku bisa
memberi sedikit keterangan."
Ji Bun perpikir sebentar, katanya: "Menurut apa yang kau tahu,
kecuali kau sendiri, siapa lagi yang pandai menyaru dan pintar
merias?"
Biau jiu Siansing menepekur sebentar, katanya: "Sukar dikatakan,
kukira cukup banyak orang, soalnya cuma pandai dan ahli atau
tidak."
"Menurut pendapatmu tokoh-tokoh mana saja yang termasuk ahli
dalam bidang ini?"
"Ehm .... Jian-bin-khek (tamu seribu muka), tapi orang ini sudah
puluhan tahun tidak muncul di Kangouw. Yu-ing-long-kun (Satria
bayangan) sudah lama meninggal dunia, Pek-pian-kwi-li (setan
perempuan seratus perubahan), kabarnya kini sudah jadi biarawati."
"Kecuali itu?"
"KuKira tiada lagi yang dapat dikatakan ahli."
Ji Bun berpikir: Pek-pian-kwi-li adalah perempuan, tidak perlu
dipikir, sudah meninggal, tinggal Jian-bin-kek saja, walau sudah
puluhan tahun tidak pernah muncul, siapa tahu kalau belakangan ini
dia mulai beraksi lagi? Kecuali ketiga orang ini, bukan mustahil anak
murid mereka pasti ada yang berkelana di Kangouw, namun soalnya
tetap tidak terpecahkan, yaitu, kenapa dirinya yang menjadi incaran
pembunuhan ini?
Biau-jiu Siansing berkata sambil mengawasi Yong-yong yang
menggeletak di tanah: "Lebih penting kutolong dia, Lohu boleh pergi
bukan?"
"Nanti dulu."
"Masih ada persoalan apa?"
Maksud Ji Bun ingin tanya apakah dia majikan dari gedung setan,
namun mengingat ada Khong-kok-lan So Yan disana, sedang ibu
tuanya menyangkal adanya Biau-jiu Siansing di sana, kalau soal ini
sekarang dia tanyakan berarti membocorkan rahasia ibu tuanya itu.
Mungkin dulu Thian-thay-mo-ki salah dengar, atau salah duga, maka
pertanyaan yang sudah hampir dia ajukan segera ditelan kembali,
benaknya memikirkan soal lain yang lebih penting. Katanya:
"Agaknya kau ini pelupa?"
"Pelupa? Apa maksudmu?"
"Kau pernah berjanji dalam jangka lima hari hendak
mempertemukan aku dengan Jit-sing-ko-jin ......”
"O, ini .......”
Ji Bun manyeringai, jengeknya: "Kenapa kau membual belaka?"
Biau-jiu Siansing menghela napas dengan suara berat, katanya:
"Untuk apakah kau sebenarnya ingin bertemu dengan Jit-sing-ko-
jin?"
"Jawab saja pertanyaanku, soal lain tidak perlu dibicarakan."
"Tapi Lohu ingin tahu duduk persoalannya?"
"Itu soal pribadiku, tidak perlu kau mengetahui."
Biau-jiu Siansing menunduk sedih, katanya kemudian: "Jit-sing-
ko-jin sudah mati."
"Apa katamu?" bentak Ji Bun mendelik gusar sambil mendesak
maju selangkah. "Biau-jiu Siansing, ternyata kau begini rendah dan
tidak tahu malu."
Sikap Biau-jiu Siansing tidak berubah, namun sorot matanya
menjadi tajam dan gusar, desisnya geram: "Anak muda, jangan
takabur, dalam hal apa Lohu rendah dan tidak tahu malu?"
"Ji-sing-ko-jin sekomplotan dengan kau, berulang kali kau
menjilat ludahmu sendiri, kini membual lagi."
"Siapa bilang aku membual?"
"Katamu dia sudah mampus, mana mayatnya? Buktikan?"
"Kau sendiri yang mengubur mayatnya."
"Aku?" seru Ji Bun berjingkrak kaget.
"Apakah kau sendiri tidak menemukan sesuatu di jalan raya
Kayhong?"
"Soal apa yang kau maksud?" tanya Ji Bun gemetar.
"Kau pernah mengubur dua mayat orang, benar tidak?"
Bergetar tubuh Ji Bun, dari mana orang tahu dirinya pernah
mengubur kedua mayat itu? Waktu itu hanya dua petani yang
menyaksikan, belakangan mereka lari secara diam-diam,
mungkinkah gerak gerik dirinya berada dalam genggamannya? Kalau
demikian, rahasia pribadinya tentu juga sudah diketahuinya,
sungguh menakutkan sekali.
"Darimana kau tahu aku mengubur dua mayat?"
"Kudengar dari petani, kuyakin pelajar yang dimaksudkan pasti
kau adanya, apalagi waktu itu tepat pada hari yang kita janjikan."
"Memangnya kenapa kalau benar?"
"Salah satu dari kedua mayat itu adalah Jit-sing-ko-jin.”
Melotot besar biji mata Ji Bun, umpama Jit-sing-ko-jin menyaru
ayahnya dan kepergok lalu keduanya bertempur sampai kehabisan
tenaga, orang ketiga lantas mengambil keuntungan membunuh
mereka. Akan tetapi orang berkedok yang dua kali mencelakai
jiwanya dan jidatnya terluka oleh senjata rahasia Jit-swan-hwi-jim
Thian-thay-mo-ki terang adalah duplikat Kwe-loh-jin yang misterius
itu, memangnya ada liku-liku apa yang tersembunyi di balik
rangkaian kejadian ini, Ji Bun tidak bisa memecahkan persoalan
yang rumit ini. Semula dia kira bila berhadapan dengan Biau-jiu
Siansing, maka segala soal akan terbongkar dengan sendirinya, tapi
kenyataan sekarang jauh di luar perhitungannya.
Lalu siapakah pembunuh Jit-sing-ko-jin dan ayahnya? Siapa pula
sebetulnya Jit-sing-ko-jin ini? Bahwa Biau-jiu Siansing sehaluan
dengan Jit-sing-ko-jin sudah jelas, kemungkinan orang tahu seluk
beluknya, maka ia lantas bertanya: "Kalau betul katamu, lalu
siapakah mayat seorang yang lain?”
"Ini .... aku sendiri tidak tahu."
"Baik, sekarang jelaskan, Jit-sing-ko-jin berdandan sebagai
pelajar, kenapa berubah pakai kedok dan jubah sutera?"
"Itu kan rahasia pribadinya."
"Tapi kau tahu rahasianya itu bukan?"
"Tidak tahu."
"Baik, umpama betul kau tidak tahu, sekarang kau harus
menjawab sebuah pertanyaan lagi, siapakah nama asli atau gelaran
Jit-sing-ko-jin serta riwayat hidupnya?"
Biau-jiu Siansing menggeleng-geleng. "Tidak tahu," jawabnya.
"Sekarang giliran aku bertanya apakah setiap orang yang selalu
bergaul dengan kau pasti kau ketahui riwayat dan asal-usulnya?"
Cep-klakep, Ji Bun tidak mampu bersuara lagi. Semakin dipikir,
otaknya terasa semakin tumpul, seolah-olah dia menghadapi lautan
mega yang tebal dan pekat, tiada sesuatu yang dapat dilihat dan
diraba, air mukanya berubah ganti berganti.
Ji Bun angkat tangan bergaya seperti merintangi, katanya:
"Pokoknya sebelum memberi jawaban, kau tidak boleh pergi."
"Anak muda, lain waktu kesempatan masih ada, biarlah aku
menolong jiwa gadis ini."
"Tidak bisa, sekarang kau harus jawab pertanyaanku tadi."
"Memangnya kau tega melihat gadis ini semakin parah?"
Ji Bun menjadi bimbang, matanya melirik ke arah Dian Yong-
yong, katanya kemudian dengan mengertak gigi: "Baiklah, silakan,
tapi ingat perhitungan kita belum beres."
"Anak muda, sebelum kau mencariku, mungkin aku akan
mencarimu, terus terang, kalau selama ini aku selalu mengalah dan
memberi kelonggaran padamu juga ada sebabnya."
"Sebab apa?"
"Karena Lohu sudah berjanji kepada seseorang untuk
melindungimu."
"Melindungi aku? Siapa yang suruh kau?" bentak Ji Bun kaget.
"Hartawan Kayhong, Ciang Wi-bin."
"Apa, kau mendapat pesan paman Ciang .....” kejut Ji Bun bukan
kepalang, sekian lama dia berdiri tertegun.
"Kau tidak percaya?" tanya Biau-jiau Siansing melihat kesangsian
orang.
"Ya, sukar untuk dipercaya," sahut Ji Bun. "Kau bernama Ji Bun,
putera tunggal Ji Ing-hong, benar tidak?"
Ji Bun tersentak mundur tiga langkah, matanya terbeliak, mulut
melongo, ternyata orang sudah tahu asal-usul dirinya, agaknya
memang tidak membual.
Berkata Biau-jiu Siansing lebih lanjut: "Ji Bun, Ciang Wi-bin dan
Lohu adalah dua manusia yang senyawa, puterinya itu sudah
bersumpah takkan menikah kecuali kawin dengan kau, Ciang Wi-bin
hanya punya anak satu-satunya ini, dapatlah kau bayangkan sendiri
betapa besar perhatian dan harapan yang dia limpahkan padamu."
Ji Bun bergidik tanpa kedinginan, bahwa dia berjanji akan
mempersunting Ciang Bing-cu setelah kadar racun dalam tubuhnya
dapat ditawarkan hanya alasan untuk mengulur waktu belaka,
karena ilmu racun ini hakikatnya tidak mungkin ditawarkan lagi,
betapapun ia tidak tega menyia-nyiakan masa remaja Ciang Bing-cu
yang molek itu. Maka katanya: "Kapan kau mendapat pesan itu?"
"Beberapa hari yang lalu, setelah kau meninggalkan gedung
keluarga Ciang."
"Memangnya aku ini tidak mampu mempertahankan jiwa raga
sendiri ....”
"Ji Bun, jangan angkuh dan keras kepala, Lwekangmu memang
tinggi, namun pengalamanmu terlalu cetek."
Ji Bun ragu-ragu, kecuali berhadapan dengan Ciang Wi-bin serta
membuktikan sendiri, jelas soal ini tidak bisa dibuktikan, teringat
akan janjinya dengan Kwe-loh-jin dalam 10 hari ini, ia pikir sebagai
jago silat kawakan yang luas pengalamannya, mungkin Biau-jiu
Siansing tahu asal-usul Kwe-loh-jin, semoga dia dapat memberi
keterangan, maka dia lantas berkata dengan sungguh-sungguh:
"Apakah kau kenal seorang bernama Kwe-loh-jin?"
"Kwe-loh-jin? Belum pernah dengar, macam apa dia?"
"Scorang laki-laki kekar berusia antara setengah abad."
"Sulit .... Lohu tak bisa meraba siapa dia. Tapi aku bisa
perhatikan dan mencari tahu. Untuk apa kau tanya dia?"
"Kalau kau tidak kenal dia, tidak perlu kuterangkan.”
"Jangan gegabah dan menuruti adatmu sendiri, katakanlah,
mungkin aku bisa memberi tahu apa-apa yang bermanfaat bagimu."
"Kau boleh silakan pergi saja."
Biau-jiu Siansing melengak sebentar, lalu dia kempit Dian Yong-
yong terus melangkah pergi.
Ji Bun menghela napas berat, kepalanya terasa pening dan
pikiran pepat menghadapi berbagai persoalan yang tiada
juntrungannya ini. Dia merasa kehabisan akal.
Dengan perasaan hambar dia melangkah kembali ke hotel di luar
kota Cinyang dan mengeram di dalam kamar selama tiga hari tanpa
keluar, dia menunggu utusan si orang dalam tandu yang akan
mengantar Hud-sim kemari, dengan Hud-sim ini dia akan membuat
barter dengan Kwe-loh-jin atas diri Pui Ci-hwi dan anting-anting
pualamnya itu.
Dikala orang-orang mulai menyulut pelita, seorang diri Ji Bun
mondar-mandir dalam kamarnya, dia memperhitungkan utusan
orang dalam tandu pasti akan datang pada saat-saat tak lama ini.
Tiba-tiba seorang gadis manis berpakaian anak dusun sambil
menenteng keranjang berjalan masuk, mulutnya berkaok-kaok
menjajakan dagangannya: "Kacang, kwaci, manisan!"
Setelah berputar di antara beberapa tamu, akhirnya dia berhenti
di depan pintu kamar Ji Bun yang tidak tertutup, katanya sambil
berseri tawa: "Siangkong, belilah kacang, kwaci atau manisan dan
lain-lain ........”
Ji Bun menggeleng kepala.
Mendadak gadis itu melangkah maju dan berkata sambil
merendahkan suaranya: "Siangkong inikah Te-gak Suseng?"
Tersirap darah Ji Bun, tanyanya heran: "Siapa kau?"
"Aku adalah utusan majikan tandu berhias untuk mengantar
sesuatu kepada Siangkong."
"O, silakan masuk."
“Jangan, banyak orang di sini, nanti menarik perhatian orang lain,
aku harus lekas pulang memberi laporan. Silakan Siangkong terima
barang ini,” dari bawah keranjangnya dia menarik keluar sebuah
buntalan kain terus diangsurkan kepada Ji Bun. Cepat Ji Bun
menerimanya, terasa benda ini cukup berat, belum lagi dia sempat
membuka buntalan kain itu, gadis dusun itu sudah melangkah pergi
sambil berkaok-kaok pula menjajakan dagangannya.
Lekas Ji Bun tutup pintu serta menyulut api, dia taruh buntalan
itu di atas meja. Menghadapi buntalan kain yang berisi pusaka
persilatan, napas Ji Bun terasa sesak dan rada gemetar, entah
berapa jiwa sudah berkorban karena benda ini, namun masih banyak
pula yang rela korbankan jiwa untuk merebutnya. Sekarang barang
ini diperolehnya tanpa mengeluarkan tenaga apapun. Setelah tenang
perasaannya, lalu dia buka buntalan itu, tertampak sebuah benda
putih berbentuk seperti hati.
Lama ia mengamat-amati benda itu, dipegangnya dan dibolak-
balik, ia periksa dengan teliti dan seksama. terasa oleh Ji Bun kecuali
mengkilap dan bersih, tiada sesuatu yang aneh dan mencurigakan
pada benda ini, lalu di manakah letak keajaiban batu ini? Tulen atau
palsu juga sukar diketahui. Apakah mungkin Kwe-loh-jin dapat
membedakannya?
"Tok-tok-tok!" tiba-tiba ada orang mengetuk pintu, cepat Ji Bun
bungkus lagi "Hati Buddha" itu dengan kain semula, sementara
mulutnya berseru: "Siapa?"
Terdengar suara pelayan di luar pintu: "Siangkong, inilah hamba
mengantar hidangan malam."
Lekas Ji Bun buka pintu dan berkata: "Bawa masuk!"
Pelayan itu mengiakan, setelah menurunkan beberapa macam
hidangan di atas meja, sekenanya dia dorong buntalan kain itu ke
pinggir meja, mendadak dia menjerit kaget: "Wah, berat betul!"
Ji Bun melotot kepadanya, katanya: "Keluarlah, kalau perlu akan
kupanggil."
Sebelum beranjak pergi pelayan itu merogoh-rogoh kantong baju
dan celananya, akhirnya dia keluarkan secarik kertas yang kumal
dan berkata: "Siangkong, tadi ada seorang tamu minta
menyampaikan surat ini padamu."
Tergerak hati Ji Bun, dia sudah maklum, tanpa bicara dia terima
surat itu dan ditaruh di meja, setelah pelayan keluar baru Ji Bun
makan minum seorang diri sambil membuka surat itu.
Hanya sebaris kata yang berbunyi:
"Kentongan ketiga nanti lima li ke arah barat, bawa barang itu
dan temui aku di sana. Perhatikan: jangan sampai dikuntit orang.
Kwe-loh-jin."
Ji Bun bakar surat itu, hatinya diam-diam gelisah dan was-was,
baru saja barang ini diantar kemari, namun Kwe-loh-jin sudah lantas
tahu, gerak-geriknya seperti setan yang sukar ditangkap
juntrungannya, sungguh sukar menghadapi bangkotan semacam ini.
Seorang diri dia habiskan beberapa cangkir arak untuk
menghabiskan waktu, pikirannya terus bekerja, cara bagaimana
malam nanti dia harus bekerja.
Setelah kedua pihak menukar barang-barang yang diinginkan,
secara mendadak dia harus membekuknya dan mengompes
keterangan teka-teki yang selalu menghantui sanubarirya selama ini,
soalnya apakah di dalam permainan barter ini Kwe-loh-jin bakal
menggunakan akal licik, karena sepak terjang orang selama ini
terlalu licin, hal ini harus diperhatikan. Namun dia juga tahu
betapapun dia waspada, yang jelas dirinya berada dipihak yang tidak
menguntungkan.
Kehilangan Hud-sim bagi dirinya tidak menjadi soal, keselamatan
jiwa Pui Ci-bwi juga bukan perhatiannya, yang penting hanyalah
anting-anting pualam itu dan membongkar kedok asli orang. Begini
mudah Wi-to-hwe mau menyerahkan Hud-sim, mustahil pihak
mereka tidak bertindak secara diam-diam? Betapa banyak jago-jago
silat Wi-to-hwe, masakah mereka berpeluk tangan dan mau
dirugikan, apakah mereka tidak curiga terhadap dirinya? Kalau
dirinya mau bertindak secara tamak, mencaplok Hud-sim dan tinggal
pergi, bukankah mereka akan kehilangan segalanya?
Setelah pelayan kukuti mangkok piring, Ji Bun lantas merebahkan
diri di atas ranjang, baru saja kentongan ketiga bertalu di kejauhan,
Ji Bun segera kempit buntalan Hud-sim terus melompat luar lewat
jendela.
Dengan kencang Ji Bun lari ke arah barat, sepanjang jalan dia
selalu perhatikan belakangnya kalau-kalau ada orang menguntitnya,
namun sekian jauh dia tidak melihat tanda-tanda yang
mencurigakan.
Kwe-loh-jin hanya bilang lima li ke arah barat tanpa menyebut
nama tempatnya, dari sini lebih mempertegas tindak-tanduknya
yang licik dan licin serta banyak akal. Menurut perhitungannya
sekarang, dia sudah berlari hampir lima li jauhnya. Mendadak
kumandang sebuah suara dari dalam hutan tak jauh di depan sana:
"Te-gak Suseng, sudah kau bawa barang itu?"
Ji Bun berhenti dan mendengarkan dengan seksama, dia
membedakan arah datangnya suara. Terdengar suara itu berkata
pula: "Lebih baik kau jangan bertindak serampangan, atau kau ingin
membatalkan barter ini?"
Memuncak amarah Ji Bun, serunya geram. "Kwe-loh-jin. kau
tidak berani unjuk diri?"
"Kita hanya bicara soal barter saja."
“Barang sudah kubawa, cara bagaimana menukarnya?"
"Boleh kau taruh barang itu di atas batu di sebelah kiri tempat
kau berdiri sekarang."
Dingin perasaan hati Ji Bun, agaknya rencana yang dirancangnya
tadi tak berguna lagi, katanya: "Apa maksudmu?"
"Taruh saja di tempat yang kutunjuk, Lohu akan mengambilnya
sendiri."
"Lalu mana anting-anting dan gadis itu?"
"Membelok ke timur, kau akan menemukan sebuah kelenteng
kecil, anting-anting dan gadis itu berada di dalam kelenteng."
Ji Bun mengertak gigi saking gemasnya, desisnya: "Kau tidak
ingin membuktikan tulen atau palsunya barang ini?"
Kwe-loh-jin terkekeh-kekeh, katanya: "Lohu percaya padamu."
Apa boleh buat, agaknya orang memang tidak ingin berhadapan
muka dengan dirinya, kalau kesempatan ini hilang, selanjutnya
jangan harap dirinya bisa menemukan jejak orang, diam-diam ia
perhitungkan tempat sembunyi orang serta jaraknya, ia siap
bertindak.
Tak terduga ketika suara Kwe-loh-jin berkata pula, tempatnya
sudah berpindah: "Te-gak Suseng, bekerjalah menurut petunjukku.
Terus terang, dengan kepandaian dan gerak gerikmu sekarang kau
belum mampu memaksa aku keluar, gadis pujaanmu itu kena
kututuk dengan ilmu khusus, kalau dalam satu jam tidak lekas
ditolong mungkin akan menjadi cacat."
Tidak kepalang gusar Ji Bun, teriaknya: "Keparat, licik benar kau
......”
"Umpama betul, maksud Lohu hanya untuk menyelesaikan barter
ini, tidak ada maksud lain."
"Betapapun aku tidak bisa mempercayai obrolanmu?"
"Itu terserah, kalau barter kali im gagal, Lohu masih bisa
membuat kontak dengan pihak Wi-to-hwe untuk membicarakan soal
ini, soal anting-antingmu itu, jangan harap kau bisa mengambilnya
kembali."
Serasa meledak kepala Ji Bun karena amarah yang meluap-luap,
namun ia tidak mampu berbuat apa-apa, tak mungkin dia bertindak
menurut rencananya tadi.
"Bagaimana, lekas putuskan."
"Baik," pada saat suaranya masih kumandang, secara kilat Ji Bun
menubruk ke arah datangnya suara, namun bayangan setanpun
tidak dilihatnya, kini suara itu berkumandang pula dari arah lain,
nadanya mengejek: "Anak muda, jangan kau membuang waktu
percuma, kalau nona itu menjadi cacat, bagaimana kau harus
memberi pertanggungan jawab kepada Wi-to-hwe?"
10.30. Cinta-Dendam Tak Bisa Berdampingan
Dengan uring-uringan Ji Bun putar ke tempat semua, walau
hatinya tidak rela, namun apa boleh buat, diam-diam ia sesalkan
dirinya yang terlalu angkuh dan suka membawa adatnya sendiri,
kenapa petunjuk Biau-jiu Siansing diabaikan untuk membicarakan
persoalan ini, kalau dia mau membantu secara diam-diam, jelas
Kwe-loh-jin takkan mampu menyembunyikan diri lagi, namun
menyesal sudah kasip dan tak berguna, kini dia harus mengaku
kalah, bagaimanapun anting-anting pualam itu harus segera direbut
kembali, lalu mencari tahu asal-usul lawan dari mulut Pui Ci-hwi.
Maka ia lantas keluarkan Hud-sim serta menaruh di atas batu,
serunya: "Kwe-loh-jin, anggaplah kau yang menang, nah inilah
kutaruh di sini."
Kwe-loh-jin tergelak-gelak kesenangan, serunya: "Sekarang boleh
kau pergi ambil barangmu."
Ji Bun menekan rasa gemasnya, cepat ia meluncur ke arah timur.
Jarak tiga li sekejap saja sudah dicapainya, memang di atas
gundukan tanah di tengah hutan sana bertengger sebuah kelenteng
kecil, suasana gelap dan sunyi seram.
Ji Bun kuatir ditipu, lekas dia dorong pintu terus melangkah
masuk, di bawah meja sembayang, dilihatnya meringkel sesosok
tubuh, memang dia bukan lain Pui Ci-hwi adanya. Sementara anting-
anting pualam di taruh di atas meja. Dia jemput anting-anting itu
lebih dulu, setelah diperiksa dan, tidak kurang suatu apa barulah
lega hatinya, dia simpan ke dalam kantong lalu memeriksa keadaan
Pui Ci-hwi.
Tampak wajahnya pucat dan kurus, kedua matanya terpejam,
keadaannya seperti tidur pulas, napasnyapun teratur, bertambah
lega hati Ji Bun. Di mana tutukan Hiat-to Kwe-loh-jin harus
memeriksanya dulu baru akan diketahuinya, hal ini membuatnya
ragu-ragu. Memang Pui Ci-hwi adalah musuh, dia boleh
membunuhnya, namun dia tidak berani menyentuhnya. Tapi
keadaan sekarang tidak memberi waktu kepadanya untuk bimbang.
Terpaksa dia keraskan kepala, dengan jari-jari gemetar dia pegang
urat nadi pergelangan tangan si nona tidak ada tanda apa-apa, lalu
dia bergantian meraba tempat lain, terasa empuk licin dan halus,
setelah sekujur badan orang dia raba kian kemari tetap tidak
menemukan apa-apa, ditambah bau harum gadis jelita, seketika
jantung Ji Bun berdebur keras sekali.
Memangnya dia pernah kasmaran terhadap gadis jelita ini,
namun situasi kemudian yang kejam ini telah mengubah segalanya.
Setelah dia periksa semua Hiat-to sekujur badannya, dan tidak
menemukan keanehan apa-apa, diteliti air mukanya, baru mendadak
dia sadar kemungkinan si nona terpengaruh oleh obat racun yang
menidurkan, jadi bukan lantaran Hiat-tonya tertutuk seperti apa
yang dikatakan Kwe-loh-jin.
Menawarkan racun bagi Ji Bun bukan kerja yang sulit, lekas dia
keluarkan sebutir Pit-tok-tan yang selalu dibawanya dan
dijejalkannya ke mulut Pui Ci-hwi, hanya dalam sekejap saja Pui Ci-
hwi sudah bergerak dan siuman, dengan mengeluh lirih dia
membalik tubuh.
"Hah, kau ......" teriaknya sambil merangkak bangun, agaknya dia
kaget dan heran melihat keadaan dirinya ditempat asing ini.
Sekuatnya Ji Bun tekan perasaannya yang berkobar tadi, katanya
dingin: "Nona Pui merasa tidak apa bukan?"
Sekejap Pui Ci-hwi menatap Ji Bun, tanyanya dingin: "Apa yang
telah terjadi?"
Di bawah cahaya remang bintang-bintang di langit, Ji Bun melihat
wajah si nona murung dan masgul seperti semula sebelum diculik
Kwe-loh-jin tempo hari, walau menghadapi musuh besar, namun
sedikitpun tidak gentar. Tapi Ji Bun tidak peduli akan sikapnya ini,
katanya terus terang: "Perkumpulanmu mengeluarkan imbalan yang
cukup besar untuk menolong jiwa nona melalui tanganku."
"Apa ...... apa katamu?"
"Nona sekarang sudah merdeka."
"Maksudmu dengan imbalan tadi?"
"Ya, Wi-to-hwe sudah mengeluarkan imbalannya."
"Imbalan apa?"
"Dengan Hud-sim, kau ditukar dari tangan Kwe-loh-jin."
"Hud-sim?" teriak Pui Ci-hwi keras-keras, mukanya yang semula
dingin kaku kini berubah haru dan sedih, suaranya gemetar:
“Katamu Hud-sim? Untuk menebus diriku?"
Tiba-tiba dia menjambak rambut kepalanya sendiri, badannya
terbungkuk-bungkuk dan sempoyongan, mulutnya berteriak-teriak
seperti orang kalap: "Hud-sim adalah benda yang tak ternilai
harganya, aku tidak setimpal, aku .... aku tidak .... tidak setimpal
....”
Ji Bun jadi ketarik dan ingin tahu, tanyanya: "Tidak setimpal?
Kenapa?”
Seperti orang mengigau Pui Ci-hwi berkata: "Dosaku terlalu
besar, mampuspun tidak setimpal untuk menebusnya."
Ji Bun melengak, dia tidak tahu apa arti ucapan Pui Ci-hwi, walau
dia tidak ingin mengorek rahasia orang, namun tak urung dia
bertanya pula, "Apa maksud nona dengan katamu tadi?"
Membesi muka Pui Ci-hwi, katanya sepatah demi sepatah: "Aku
ini orang yang patut mati, tidak perlu Gi-hu mengeluarkan imbalan
sebesar itu.”
"Gi-hu (ayah angkat)? Siapa ayah angkat nona?" tanya Ji Bun.
Sedikit ragu-ragu akhirnya Pui Ci-hwi berkata dengan tegas: "Wi-
to-hwecu.”
"O!" baru sekarang Ji Bun mengerti, waktu pertama kali dirinya
naik ke Tong-pek-san, Pui Ci-hwi pernah mengaku dirinya terhitung
setengah majikan di sana, kiranya dia adalah anak angkat ketua Wi-
to-hwe, tapi kenapa dia bilang dirinya patut mampus?"
Semula Ji Bun kira orang adalah murid Pek-ciok Sin-ni,
belakangan baru diketahui bahwa dugaan meleset, namun dari
terjadinya peristiwa Sek-hud tempo hari, dapatlah disimpulkan kalau
Wi-to-hwe pasti ada hubungan erat dengan Pek-ciok Sin-ni, namun
hal ini tidak perlu dia ketahui lebih lanjut. Sekarang dia alihkan
pembicaraan pada persoalan yang pokok: "Nona patut mati, apa
maksudmu?"
"Karena .... karena aku merusak diriku sendiri, juga membikin
kotor nama baik Gihu, lebih celaka lagi aku telah menyia-nyiakan
kebaikan orang-orang yang memperhatikan diriku, sekarang
ketambahan lagi kejadian ini, matipun belum setimpal menebus
dosaku."
"Cayhe tidak mengerti," ujar Ji Bun.
Tiba-tiba Pui Ci-hwi menarik muka, katanya dengan nada haru
dan tandas: "Bolehkah aku mohon sesuatu padamu?"
"Memohon kepada Cayhe ..... soal apa?"
"Sukakah kau tolong aku membunuh Liok-kin.”
Ji Bun heran dan tidak mengerti, si nona pernah jatuh cinta pada
pemuda itu, pernah ditipu, pernah pula memohonkan ampun kepada
Jay-ih-lo-sat yang hendak membunuhnya, kini dia minta padanya
untuk membunuhnya, kenapa begini? Serta merta dia terbayang
kepada Dian Yong-yong, gadis jelita yang menjadi gila karena
dipermainkan cintanya, rasanya dia menjadi paham sedikit, tanpa
terasa, dia bertanya: "Membunuh Liok-kin keparat itu? Bukankah
nona pernah menyintainya?"
Gemetar dan berkerut-kerut kulit muka Pui Ci-hwi, sorot matanya
memancarkan sinar hijau yang diliputi napsu dendam dan
membunuh, teriaknya bengis: "Ya, aku pernah mencintainya, tapi
sekarang aku ingin membunuhnya, karena dia telah menodai aku
......."
"Menodai kau?"
"Ya, dia menodai kesucianku!"
Berubah air muka Ji Bun, timbul pula perasaan aneh yang sukar
diutarakan dengan kata-kata. Maklumlah dulu dia pernah terpikat
dan mengejar gadis pujaan hatinya dengan bertepuk sebelah
tangan, namun karena keadaan situasi memaksa sehingga
belakangan berubah perasaan ini, cinta pertama yang pernah
membuat getir hatinya sudah lama terpendam, namun asmara yang
terpendam ini akan timbul bila dipengaruhi oleh sesuatu. Kini bak
sebentuk batu pualam yang semula mulus bersih dan kini telah retak
dan cacat, warnanya luntur lagi, si nona tidak sebersih dan sesuci
dulu pula.
Tak heran sekarang dia kelihatan seperti kehilangan gairah hidup,
sikapnya begitu aneh dan bertentangan terhadap Liok Kin bocah
keparat itu, serta merta terbakar rasa cemburunya, tanpa pikir
segera ia berkata: "Untuk ini aku menerimanya, sebetulnya aku
memang ingin membunuhnya."
"Siangkong," kata Pui Ci-hwi tertawa, getir, "tiada yang dapat
kuberikan untuk membalas kebaikanmu, terimalah ucapan terima
kasihku dulu."
Sebutan yang mendadak berubah ini terasa asing dan risi bagi
pendengaran Ji Bun. namun menimbulkan perasaan kecut dalam
sanubarinya, katanya tawar: "Tidak perlu nona sungkan-sungkan."
Ragu-ragu sebentar, tampak wajah Pui Ci-hwi yang kurus pucat
bersemu merah, katanya dengan tertawa getir: "Siangkong, terpaksa
aku harus berterus terang, aku tahu bagaimana perasaan dan
sikapmu dulu padaku, soalnya kesanku terlalu jelek akan, nama
gelaranmu, maka tidak kuterima maksud baikmu itu. Sekarang
segalanya sudah terlambat .....”
Habis berkata dengan sedih ia menangis sambil menunduk.
Kusut pikiran Ji Bun, perasaannya menjadi tidak karuan darahnya
bergolak, ingin juga dia melimpahkan isi hatinya. Walau sudah
terlambat, dia dapat memaafkannya. Namun dia tidak kuasa buka
suara, karena segala ini tidak mungkin terjadi. Memang cinta dan
dendam tak bisa berdampingan, apa lagi sekarang si nona bukan
gadis lagi ......”
Mendadak Pui Ci-hwi berteriak kalap, tangannya terayun terus
mengepruk batok kepalanya sendiri. Kejadian berubah amat
mendadak, tak sempat berpikir bagi Ji Bun, secara refleks tangannya
menyampuk. "Plak", Pui Ci-hwi kontan jatuh tersungkur, darah
meleleh dari mulutnya. Dia ingin buka suara, namun hanya mulutnya
bergerak beberapa kali terus jatuh semaput. Ji Bun berkeringat
dingin, dalam detik-detik yang menentukan tadi, syukur dia masih
sempat menyelamatkan jiwanya.
"Amitha Bundha!" tiba-tiba berkumandang sabda Buddha yang
keras dari samping. Dengan kaget Ji Bun membalik tubuh sambil
menyingkir ke samping, tampak seorang Hwesio kereng
berperawakan tinggi besar entah sejak kapan sudah berdiri
disampingnya.
Setelah melihat jelas baru dikenalinya bahwa yang datang adalah
Thong-sian Hwesio yang punya kemampuan luar biasa itu.
Kedua biji mata Thong-sian kelihatan berkilauan seperti mutiara
di malam gelap, sinar matanya memancar terang dan mengejutkan.
Dingin perasaan Ji Bun, katanya setelah menarik napas sambil
memberi hormat: "Cayhe unjuk hormat pada Taysu"
“Tidak usahlah, syukur barusan kau telah menolong jiwanya,"
mulut bicara kepada Ji Bun, namun sorot mata Thong-sian tertuju ke
arah Pui Ci-hwi.
Thong-sian Hwesio menggembol sebuah buntalan kain, tanpa
sadar dia menjerit kaget: "Hud-sim?"
Tubuhnya gemetar, kakipun menyurut mundur, barang ini
bukankah sudah dia serahkan pada Kwe-loh-jin, bagaimana bisa
terjatuh ke tangan Thong-sian Hwesio?
“Betul, memang inilah Hud-sim yang tadi kau bawa," ujar Thong-
sian kalem.
“Taysu ...... bagaimana bisa ......”
"Manusia culas dan tamak, mana boleh dia dibiarkan malang
melintang sesukanya?"
"Apakah Kwe-loh-jin sudah Taysu .........”
"Mungkin ajalnya belum tiba, begitu kau taruh Hud-sim di atas
batu, pinceng terburu nafsu, sebelum dia muncul, aku lantas
mengambil Hud-sim ini, agaknya dia tahu diri terus melarikan diri,
jadi sejak itu dia tidak menampakkan diri."
"O," Ji Bun baru paham. Jadi setelah orang dalam tandu suruh
orang mengantar Hud-sim kepadanya, lalu iapun mengatur rencana,
seperti walang hendak mencaplok tonggeret, tidak disadari bahwa
burung gereja juga sudah siap menerkam di belakangnya.
Betapapun licik dan licinnya Kwe-loh-jin, ternyata dia tidak mampu
berbuat apa-apa, tapi dari kejadian ini, Ji Bun yakin pula bahwa
Thong-sian Hwesio telah menjadi anggota Wi-to-hwe.
Semula dia hendak mengorek keterangan dari mulut Pui Ci-hwi,
tak terduga perkembangan belakangan ini semua berada di luar
perhitungannya, kini Thong-sian muncul, rencananya semula terang
gagal total pula, karuan hatinya menjadi masgul, patah semangat
dan penasaran pula.
Sementara itu Thong-sian sedang membungkuk memeriksa
keadaan Pui Ci-hwi, katanya: "Kasihan gadis ini tersiksa begini rupa."
Nadanya iba dan mengandung perasaan dekat. Ji Bun ikut
merasa terharu, dari sini ia dapat menarik kesimpulan bahwa Thong-
sian Hwesio pasti mempunyai hubungan luar biasa dengan Wi-to-
hwe. Dengan bertambahnya seorang Thong-sian Hwesio, terang
beban dirinya di dalam menyelusuri jejak musuh-musuhnya akan
bertambah berat. Seorang Thong-sian saja bukan tandingannya,
maka dapatlah dibayangkan betapa sukar usaha dirinya untuk
menuntut balas.
Lekas sekali Pui Ci-hwi sudah siuman dari pingsannya atas
pertolongan Thong-sian, katanya dengan hambar: "Aku ...... belum
mati? Kenapa ti ..... tidak biarkan aku mati saja ....." lambat dia
angkat kepala dan memutar biji matanya, setelah melihat jelas orang
yang menolong dirinya, seketika dia menjerit: "Taysuhu, kau .....
siapa kau?
Agaknya dia belum kenal Thong-sian Hwesio. Waktu Ngo-lui-
kiong menyerbu Wi-to-hwe dan Thong-sian Hwesio muncul tempo
hari, kebetulan dia sedang mengembara di luar, jadi tidak
mengenalnya.
"Anak manis," ujar Thong-sian welas asih, "Pinceng adalah
sahabat baik ayahmu."
"O, kau .......”
"Sekarang mari ikut aku pulang ke gunung.”
"Tidak ..... aku tidak mau, malu aku bertemu dengan siapapun.”
"Anak bodoh .......”
“Oh, tidak ...." teriak Pui Ci-hwi dengan sesambatan, tangisnya
begitu sedih memilukan, tangis seorang gadis yang menyesali
nasibnya setelah kesuciannya ternoda.
Ji Bun merasa tak perlu berada di sini lebih lama, kesannya cukup
baik terhadap Hwesio yang pernah menolong dirinya ini, maka
dengan hormat dia berkata: "Taysu, Cayhe mohon diri.”
Pada saat itulah, mendadak Pui Ci-hwi berseru melengking,
badannya mencelat ke atas terus terbanting jatuh dan berkelejetan,
buih keluar dari mulutnya dan tidak sadarkan diri.
Ji Bun kaget, dia tarik kakinya yang sudah melangkah itu. Thong-
sian Hwesio juga merasa di luar dugaan, serunya: "Apa yang
terjadi?"
Ji Bun juga tidak mengerti, kalau ada orang membokong, jangan
kata dirinya, dengan kehadiran Thong-sian di sini, nyamuk
terbangpun diketahui, masakah bisa mengelabui mereka.
Mungkinkah sampukan tangannya tadi terlalu berat, maklumlah
gerakan refleks untuk menyelamatkan jiwanya, namun setelah
diperiksa dan diobati kesehatannya sudah sembuh, ialu apa yang
terjadi?
Agaknya Thong-sian juga tidak berhasil menemukan sebab
musababnya, katanya uring-uringan: "Aneh, aneh!"
Tiba-tiba tergerak hati Ji Bun, pikirnya: "Kwe-loh-jin teramat
culas dan licin, bukan mustahil dia telah menaruh apa-apa atas
tubuh Pui Ci-hwi, segera dia berkata: "Taysu, bolehkah Cayhe
memeriksanya?"
"Ya," Thong-sian mengiakan sambil mundur.
Dengan pengalamannya yang luar biasa dalam bidangnya,
dengan seksama Ji Bun memeriksa, tiba-tiba dia menjerit kaget dan
melotot: "Racun!"
Terpancar sinar terang dari Thong-sian, katanya gemetar: "Apa
racun? Kabarnya Sicu cukup ahli dalam permainan racun, racun
apakah yang mengenai dia?"
"Entahlah," sahut Ji Bun haru dan penuh emosi, "racun ini
sebelumnya tidak pernah kulihat."
"Apa bisa ditawarkan?"
"Akan kucoba," lalu dia keluarkan tiga butir Pit-tok-tan dan
diserahkan kepada Thong-sian. Thong-sian memijat dagu Pui Ci-hwi
sehingga mulutnya terbuka, ketiga butir pil itu terus dia jejalkan ke
dalam mulut, kembali dia menutuk sekali di Ho-ciat-hiat, sehingga
ketiga butir pil tertelan ke dalam perut.
Lama ditunggu tetap tidak membawa reaksi. Tak sabar Ji Bun, ia
coba memeriksa bibir, kelopak mata dan lidahnya, akhirnya dia
berkata. "Tak berguna. Racun apakah ini, begini ganas?"
Tiba-tiba berkumandang sebuah suara yang sudah amat
dikenalnya dari luar pintu: "Itu namanya Giam-ong-ling (perintah
raja akhirat), tiada orang yang dapat menawarkannya di jagat ini."
"Kwe-loh-jin!" teriak Ji Bun. Sebat sekali ia melesat keluar pintu,
gerakannya boleh dikatakan secepat percikan api. Namun setiba di
luar, tak dilihatnya bayangan orang. Dengan menggeram segera dia
lompat naik ke atap rumah, selepas mata memandang, tiada sesuatu
yang dilihatnya, terpaksa dia lompat turun kembali ke dalam
kelenteng.
Dilihatnya Thong-sian masih berjaga disamping Pui Ci-hwi,
pikirnya, Hwesio ini amat tabah, dengan Lwekang dan
kepandaiannya, kalau dia mau tentu gerak-gerik lawan dapat diikuti.
Agaknya Thong-sian dapat meraba isi hati Ji Bun, katanya tawar:
"Dia kemari dengan maksud dan tujuan tertentu, kau tidak perlu
memaksa dia nanti dia akan keluar sendiri, kini dia ada di belakang
kelenteng."
Dalam hati Ji Bun merasa ngeri, namun iapun memuji akan
kepintaran dan pengalaman orang yang luas. Betul juga dari atap
rumah sebelah belakang segera terdengar Kwe-loh-jin bersuara:
"Thong-sian memang kau lebih pintar."
Tegak alis Ji Bun, tanyanya: "Dari mana Taysu tahu?"
"Waktu dia bicara, kata-katanya yang terakhir diucapkan
menjurus ke kiri, jadi dia bicara sudah tidak di tempatnya semula, ini
membuktikan dia berkisar dari arah kiri ke belakang, begitu habis
kata-katanya, bayangannyapun lenyap dari tempat semula, maka
percuma Siau-sicu hendak mencarinya."
Ji Bun membentak gusar: "Kalau kau berani hayo unjukkan
dirimu, kenapa malu sembunyi seperti bangsa kunyuk?"
Kwe-loh-jin terloroh-loroh, seringan daun jatuh dia melayang
turun di pekarangan. Terpancar sinar membara dari mata Ji Bun,
otot hijau menonjol di jidatnya kakinya sudah melangkah dan
hendak .....
Kwe-loh jin angkat sebelah tangannya, katanya: "Te-gak Suseng,
lebih baik jangan kau turun tangan, cukup hanya sepatah kataku
saja kau akan mampus tanpa ada liang kubur."
"Bagus, ingin aku mencobanya,” tantang Ji Bun berani.
“Anak muda," jengek Kwe-loh-jin kau tidak ingin aku
membongkar rahasia pribadimu bukan?"
Ji Bun tertegun, tanyanya gemetar: "Apa maksudmu?"
"Kalau rahasia pribadimu kubeberkan hah, kau tahu betapa
banyak orang yang menginginkan jiwamu."
Perasaan dingin menjalari sekujur badan Ji Bun. berdiri bulu
kuduknya, agaknya Kwe-loh-jin juga tahu tentang asal-usulnya, ini
sungguh menakutkan, memangnya siapa dan dari golongan
manakah dia? Ya, kalau dia pernah menyamar sebagai ayah dan
pernah membunuh dirinya, sudah tentu dia jelas mengetahui seluk-
beluk pribadinya, hal ini tidak perlu dibuat heran, namun apa
sebabnya sampai berulang kali dia berusaha membunuh aku?
Terdengar Thong-sian membuka suara dengan kalem dan
tandas: "Sicu, inikah Kwe-loh-jin? Apa tujuanmu?"
"Ah, masakah perlu ditanya lagi."
"Tujuanmu pada Hud-sim ini?"
"Ya, Hud-sim bisa kuganti dengan obat penawar?"
"Kau kira Pinceng mau terima?"
"Tentu saja, kecuali kau tidak pedulikan jiwa nona itu."
"Apa kau tidak pikir, untuk membunuh bagi Pinceng bukan kerja
berat?"
"Ha ha ha, Thong-sian. Hal ini sudah kuperhitungkan, aku yakin
kau tidak akan turun tangan terhadapku. Memangnya kau tega
melihat dia mampus."
"Dia tidak akan mati, bukan kau saja yang pandai bermain
racun."
"Betul, tapi jangan lupa, Giam-ong-ling adalah racun yang sudah
lenyap selama ratusan tahun dari Kang-ouw, kuyakin pasti tiada
orang yang mampu menawarkannya, jangan kau kira Cui Bu-tok si
keledai kurus itu mampu, ah, dia masih terpaut jauh sekali."
Thong-sian menjawab sekata demi sekata: "Jika kutukar jiwanya
dengan jiwamu, sekaligus untuk melenyapkan bencana bagi insan
persilatan bagaimana?"
Kwe-loh-jin sedikitpun tidak gentar, katanya. mantap: "Kuyakin
kau takkan berbuat demikian, kalau tidak, sejak tadi kau sudah
beraksi."
"Apakah Sicu yakin betul?"
"Sudah tentu, umpamanya kan ingin meringkus diriku untuk
paksa menyerahkan obat penawarnya, tapi obat penawarnya tidak
kubawa, jadi kau tetap tidak akan bisa menukar jiwanya dengan
obat penawar itu, soalnya aku juga hanya menjalankan perintah."
"Sicu ...... menjalankan perintah siapa?"
"Mungkinkah kujawab pertanyaan ini?"
"Pinceng yakin tiada orang yang tidak takut mati, demikian pula
kau."
"Tapi jiwa ragaku ini sudah kuserahkan kepada seseorang, aku
tidak lagi berkewajiban melindungi jiwa ragaku sendiri."
Ji Bun tidak tahan lagi, sambil menggerung dia menubruk maju,
seiring dengan tubrukan pukulannya pun dilontarkan secepat kilat.
"Blang"
Ji Bun tergentak turun ke tanah, sementara Kwe-loh-jin
terhuyung empat langkah baru berdiri tegak pula. Sedikit merandek
segera Ji Bun bergerak maju serta menyerang pula.
"Berhenti!" bentak Kwe-loh-jin sambil mengegos ke samping.
Karena serangannya luput, serta merta Ji Bun menghentikan
aksinya.
"Anak muda," ancam Kwe-loh-jin, "memangnya kau ingin
kubongkar rahasia pribadimu?"
Benci Ji Bun setengah mati, dia menjadi nekat, jawabnya:
"Katakan saja, aku tidak peduli, yang terang kau tidak akan hidup
lewat hari ini."
Kwe-loh-jin terkekeh-kekeh, serunya: "Apa kau tidak pikirkan
keselamatan jiwa ibumu?"
Seperti disamber geledek kejut Ji Bun, dengan terbeliak dia
menyurut mundur, sejak Jit-sing-po hancur, baru pertama kali ini
mendengar berita tentang ibunya, agaknya bukan saja orang tahu
jelas seluk beluk dirinya, malah ibunya yang hilang dan jejaknya
sekarang diketahui, jelas di balik batu pasti ada udang, sumber
berita ini betapapun takkan begini saja, maka dengan penuh emosi
dia berteriak: "Kau tahu jejak ibuku? Di mana beliau?
"Kini bukan waktunya ngobrol, kau paham maksudku?"
"Jangan kau bertingkah .....”
"Anak muda, persoalanmu boleh dikesamping dulu, setelah
urusanmu di sini beres baru kita selesaikan pula perhitungan lain,"
kata Kwe-loh-jin.
Apa boleh buat, demi keselamatan ibundanya, terpaksa Ji Bun
mundur setombak lebih, betapapun dia pantang melakukan
kecerobohan yang akan membahayakan jiwa ibunya, asal ibu
beranak bisa kumpul kembali, dia tidak peduli pengorbanan apapun
yang harus dia pertaruhkan.
Kwe-loh-jin bekerja atas perintah orang, memangnya siapa orang
yang berada di belakang layar itu? Waktu dia membunuh diriku
memangnya juga atas perintah? Adakah hubungannya dengan
hancurnya Jit-sing-po serta kematian ayahnya? Pikir punya pikir, Ji
Bun sampai berdiri menjublek, namun darah dalam tubuhnya masih
mendidih. Memang dalam suasana yang menegangkan ini, persoalan
begini ruwet sehingga tiada kesempatan baginya untuk berpikir.
Kini Kwe-loh-jin menghadapi Thong-sian, katanya dingin: "Thong-
sian, kau mau menyerahkan Hud-sim?”
Melotot bagai kelereng biji mata Thong-sian, tatapannya begitu
tajam dan mengerikan, katanya dengan suara berat: "Sicu harus
katakan dulu atas perintah siapa kau bekerja?"
"Hal itu terang tidak mungkin kukatakan."
"Agaknya Pinceng terpaksa harus melanggar pantangan untuk
menamatkan riwayatmu .....”
"Lohu tidak takut diancam, "jawab Kwe-loh-jin. "Thong-sian,
setengah jam lagi nona ini akan berubah menjadi cairan darah,
sampai tulang belulangnya luluh, nah boleh kau tunggu dan saksikan
sendiri."
Sekejap Thong-sian berpaling memandang Pui Ci-wi, tampak kaki
tangannya meringkel, mukanya merah legam kehitaman, matanya
terpejam, mulutnya megap-megap, agaknya amat menderita dan
tersiksa sekali.
"Mana obat penawarnya?"
"Kau mau serahkan Hud-sim?"
"Baiklah, sementara ini Pinceng mengaku kalah."
"Bagus, nah serahkan Hud-sim kepadaku."
"Sebelum obat penawar kau serahkan, masakah aku harus
percaya padamu?"
"Begini saja," ujar Kwe-loh-jin, "biarlah anak muda ini tetap
menjadi penengahnya. Hud-sim serahkan padanya, biar dia ikut aku
mengambil obat penawarnya, kau boleh tunggu setengah jam di sini,
dia pasti kembali membawa obat penawarnya, nah bagaimana?"
Thong-sian tidak bicara lagi, segera dia lemparkan Hud-sim ke
arah Ji Bun, lekas Ji Bun menerimanya. Sambil tertawa lebar Kwe-
loh-jin segera berseru: "Anak muda, marilah"
Ditengah kumandang suaranya, tubuhnya melesat ke wuwungan,
lekas Ji Bun mengikuti dengan gerakan tak kalah tangkasnya, susul
menyusul dua bayangan berlari kencang beberapa li jauhnya, di
depan adalah hutan lebat, Kwe-loh-jin langsung menerjang masuk.
Kokok ayam sudah sayup-sayup terdengar di kejauhan, cepat
sekali sinar sang surya sudah mencorong di ufuk timur, sebentar lagi
bakal terang tanah. Ji Bun ikut melesat kedalam hutan. Tiga tombak
di dalam hutan Kwe-loh-jin berhenti dan menunggu, katanya:
"Berhenti anak muda!"
Ji Bun mengerem luncuran tubuhnya, dengan dongkol dia tatap
orang, ingin rasanya dia keremus dan mencacah tubuh orang.
"Anak muda, agaknya kau ingin berbicara?" tanya Kwe-loh-jin.
"Betul, kau menyamar orang berkedok beberapa kali hendak
membunuhku, apakah aksimu itu juga atas perintah orang?"
"Kau keliru, selamanya Lohu bekerja sendiri dan atas kehendak
sendiri pula, apa yang dinamakan perintah tidak lebih hanya
muslihat untuk menipu si kepala gundul tadi."
"Kau keparat hina dina yang tidak tahu malu," maki Ji Bun
dengan murka dan gemas. "Siapakah kau sebetulnya?"
"Siapa aku, selamanya kau tidak akan tahu dan mengerti. Ingat,
jangan bertingkah terhadapku, keselamatan jiwa ibumu berada
ditanganku."
Bergidik Ji Bun dibuatnya, katanya sesaat kemudian: "Bagaimana
ibuku bisa jatuh di tanganmu?”
"Untuk ini kau tidak perlu tanya, suatu hari kau akan mengerti
sendiri."
"Bagaimana keadaan ibuku?"
"Dia baik-baik saja, asal kau tidak bersikap bermusuhan
terhadapku, kujamin dia tidak kurang suatu apa-apa."
"Kau kira bisa mengancamku. Hm, sebelum mencacah tubuhmu
tidak terlampias dendamku."
"Kalau begitu Lan Giok-tin akan mati lebih dulu."
Darah serasa hendak menyemprot dari mata Ji Bun, tapi Kwe-loh-
jin tidak peduli, katanya pula: “Ji Bun, waktu tidak dapat menunggu,
marilah kau tukar obat penawarnya,"
11.31. Hmm, ...... Tidak Tahu Malu
"Kaukah yang melakukan pembantaian di Jit-sing-po?" tanya Ji
Bun pula.
"Pertanyaan ini dapat kujawab, ibumu, Lan Giok-tin sendiri
bilang, pihak Wi-to-hwe dan anak buahnya yang melakukan."
"Apa betul?"
"Terserah padamu."
Ji Bun mengertak gigi, dia percaya, ayahnya juga pernah bilang
demikian, soal menuntut balas boleh ditunda, sebaliknya sehari saja
ibunya belum bebas dari genggaman tangan-tangan iblis, betapapun
hidupnya takkan bisa tenteram, selamanya dirinya tidak punya
permusuhan dengan orang ini, namun orang ini bilang demi
keselamatan jiwa raganya sendiri terpaksa hendak membunuhnya
serta menculik ibunya. Siapakah sebetulnya orang ini? Memangnya
ada latar belakang yang terahasia di balik semua peristiwa ini?
"Kwe-loh-jin," kata Ji Bun kemudian, "peduli siapa kau, pokoknya
asal kau bebaskan ibuku, boleh kubatalkan niatku untuk menuntut
balas terhadapmu, seluruh perhitungan dulu dapat dianggap lunas,
nah, bagaimana?"
"Saatnya belum tiba, tak usah dibicarakan," sahut Kwe-loh-jin.
"Saat apa maksudmu?"
"Urusanku sendiri, kau tidak perlu tahu, namun kau harus ingat
satu hal, jangan kau cari setori padaku, kalau tiba saatnya, kalian ibu
beranak pasti akan bertemu, kalau kau melanggar peringatan ini
sukar kukatakan apa akibatnya."
Berkerutuk gigi Ji Bun saking gemasnya dan hampir membuat
dadanya meledak.
"Hayo serahkan!" seru Kwe-loh-jin.
Ji Bun berpikir, kalau betul Wi-to-hwe adalah musuhnya buat apa
dia harus menolong para musuhnya itu, kenapa harus bicara soal
keadilan dan kebenaran segala. "Kwe-loh-jin, kita bisa bicara secara
dagang," katanya.
"Dagang bagaimana?"
"Cayhe akan menyerahkan Hud-sim sebagai imbalannya, ......"
sampai di sini mendadak ia berhenti, sebetulnya ia bermaksud
menukar keselamatan dan kebebasan ibunya. Namun setelah
kelepasan omong baru dia merasa jalan pikirannya ini kurang tepat,
dendam tetap dendam, sebagai insan persilatan yang harus teguh
berjiwa ksatria. Walau julukan Te-gak Suseng kurang sedap
didengar, namun dia yakin selama dirinya mengembara, sepak
terjangnya belum pernah melanggar kesalahan. Kalau sekarang demi
menyelamatkan ibunya dia harus ingkar janji dan melakukan
kesalahan ini, betapa dirinya takkan dipandang hina dan rendah dan
itu berarti memusuhi kaum persilatan umumnya? Apa pula bedanya
perbuatan ini dengan ketamakan, kelicikan dan kekotoran perbuatan
Kwe-loh-jin ini? Hud-sim bukan miliknya, berdasarkan hak apa dia
berani memberikan kepada Kwe-loh-jin untuk menukar keselamatan
dan kebebasan ibunya, apalagi belum tentu Kwe-loh-jin mau
menerima usulnya ini, kalau gagal dan ditolak, bukankah dirinya
sendiri yang akan malu dan ditertawakan orang?
"Tukar apa yang kau maksud?" tanya Kwe-loh-jin.
"Tak jadilah," ujar Ji Bun sambil ulap tangan, "serahkan obat
penawarnya."
Kwe-loh-jin mengerut kening, lalu dia mengeluarkan sebuah botol
porselin kecil, setelah dibuka tutupnya dia menuang sebutir pil
warna hijau pupus terus dilemparkan ke arah Ji Bun.
Ji Bun menerimanya, katanya: "Tadi kau bilang obat penawarnya
tidak kau bawa?"
Kwe-loh-jin terkekeh-kekeh, ujarnya "Anak muda, itu namanya
bekerja menurut gelagat."
"Hm, tidak tahu malu."
"Jangan cerewet, serahkan!"
Ji Bun ragu-ragu, katanya: "Apakah obatmu ini tulen?"
"Tidak usah kuatir, kali ini aku tidak menipu."
Ji Bun melemparkan buntalan Hud-sim, ingin dia bicara, namun
sekilas dia merasa sungkan, maka tanpa bersuara cepat ia berlari
kembali ke kelenteng kecil itu. Sementara itu fajar sudah
menyingsing.
Thong-sian sudah menunggu dengan tidak sabar, melihat Ji Bun
muncul segera ia tanya: "Bagaimana?"
"Obat penawarnya sudah kudapat," dingin sikap Ji Bun. Lekas ia
mendekati Pui Ci-hwi dan jejalkan pil itu ke mulutnya. Tak lama
muka Pui Ci-hwi yang sudah menghitam itu mulai berubah, lambat
laun menjadi pucat terus bersemu merah segar, napaspun mulai
teratur, denyut nadi juga semakin keras, dalam sepeminuman teh,
dia telah siuman kembali.
"Siau-sicu," ujar Thong-sian dengan sikap sungguh-sungguh,
"ada sebuah permintaan Pinceng yang mungkin agak merikuhkan."
"Silakan katakan saja."
"Mohon Sicu suka mengantarnya kembali ke atas gunung."
"Wah, ini ...." Ji Bun menjadi ragu-ragu, beruntun ia bekerja demi
kepentingan pihak musuh, lalu terhitung apa ini? Tapi pikiran lain
segera berkelebat dalam benak Ji Bun, lekas dia berkata: "Baiklah."
"Syukurlah, selamat bertemu. Pinceng bersumpah untuk
menyelidiki asal usul Kwe-loh-jin dan membongkar perbuatan
jahatnya," habis berkata dia angkat sebelah telapak tangan ke depan
dada, tahu-tahu badannya melejit ke atas bagai burung melayang ke
atas wuwungan.
Agaknya Pui Ci-hwi kehabisan tenaga, cukup lama masih belum
mampu bergerak, apa lagi berdiri. Menghadapi gadis jelita yang
pernah menjadi pujaan hatinya, Ji Bun merasa iba juga melihat
keadaan orang, namun cepat sekali perasaan iba ini lenyap, air
mukanya seketika berubah kaku dingin, katanya: "Bagaimana
perasaan nona?"
Pui Ci-hwi pandang Ji Bun dengan rasa haru dan terima kasih,
pelan-pelan meronta bangun lalu duduk bertopang kaki meja
sembahyang, katanya lemah: "Beruntung tidak apa-apa."
"Cayhe diwajibkan untuk mengantar nona pulang ke atas
gunung."
Pui Ci-hwi tertawa getir, air mata berkaca-kaca dikelopak
matanya, katanya sedih: "Siangkong, aku tidak mau pulang."
Bertaut alis Ji Bun, katanya: "Tapi Cayhe sudah berjanji kepada
Thong-sian Taysu untuk antar nona?"
Tiba-tiba sesosok bayangan abu-abu masuk kelenteng. Waktu Ji
Bun berpaling, yang datang ternyata adalah Siu-yan Nikoh, itu
kepala biara Boh-to-am, muridnya yang bergelar Ngo-sim pernah
dibunuh setelah diperkosa, dan dirinyalah yang menjadi kambing
hitam disangka membunuhnya, karena sang korban mati tanpa
meninggalkan bekas apa-apa di atas tubuhnya. Sungguh tak nyana
Nikoh tua ini bisa muncul di kelenteng kecil ini, cepat dia angkat
tangan memberi hormat: "Selamat bertemu Suthay."
Siu-yan membalas hormat, matanya tertuju kepada Pui Ci-hwi.
Berubah air muka Pui Ci-hwi, tersipu-sipu dia menyembah, air
mata tak tertahan lagi bercucuran.
"Budak binal," kata Siu-yan tegas dan bengis, "terlalu jual lagak
kau."
Dengan sesenggukan Ci-hwi berkata: "Anak Hwi memang tidak
becus, anak Hwi patut mati."
Bergetar jantung Ji Bun, apakah Siu-yan juga salah seorang
pentolan dari Wi-to-hwe? Dari nada pembicaraan kedua orang
seolah-olah mereka punya hubungan dan ikatan yang bukan
sembarangan.
Dengan marah Siu-yan Loni mengebaskan lengan bajunya,
katanya lebih bengis: "Kau masih tidak mau pulang?"
"Anak Hwi tiada muka bertemu dengan orang banyak."
"Lalu apa keinginanmu?"
"Anak Hwi hanya ..... hanya ingin ..... ingin mendapat
kebebasan."
"Besar nyalimu, tidakkah kau berpikir betapa ayah angkatmu
susah payah membimbingmu sampai sebesar ini?"
"Anak Hwi tahu matipun tidak dapat menebus dosaku," sahut Pui
Ci-hwi sesenggukan lebih keras.
"Kesalahan itu kau lakukan diluar kesadaranmu, semua orang
akan memaafkan kau."
"Harap engkau suka menerima sebuah permintaan anak Hwi."
"Soal apa?"
"Terimalah anak Hwi dan cukurlah rambutku."
"Kau ingin jadi Nikoh? Tidak boleh."
"Kalau begitu biarlah anak Hwi mati saja, biarlah dalam penitisan
mendatang kubalas kebaikan orang banyak."
Siu-yan Loni menarik napas panjang, ujarnya: "Karma, karma!
Anak bodoh, tahukah kau siapa sebenarnya ayah angkatmu itu?"
"Siapakah beliau?” tanya Ci-hwi.
"Ayah kandungmu sendiri. Riwayat hidupmu mengandung
rangkaian cerita yang membawa banjirnya air mata berdarah, dan
sekarang kau berbuat begini, apakah tidak meluluhkan hati dan
menghancurkan harapan orang tuamu?"
Terbeliak mata Pui Ci-hwi, katanya gemetar: "Jadi beliau adalah
ayah kandungku? Jadi anak Hwi bukan she Pui?"
"Bukan, kau bukan she Pui, dulu karena menghindari tekanan
dan kejaran musuh, terpaksa kau ganti she dan namamu."
"Oooo...." Ci-hwi mendekam di lantai dan pecahlah jerit
tangisnya, begitu sedih dan memilukan isak tangisnya.
Ji Bun ingin tahu seluk-beluk dan muka asli Wi-to-hwecu dari
pembicaraan kedua orang ini, namun dia amat kecewa, banyak kata-
kata yang tidak dimengerti olehnya. Pui Ci-hwi sendiri ternyata
punya riwayat hidup yang mengenaskan. Apakah yang dikatakan
hanjir air mata berdarah? Dan apa yang dikatakan musuh besar,
apakah ada sangkut pautnya dengan peristiwa pembantaian di Jit-
sing-po?
Kembali Siu-yan Loni menghela napas, suaranya berubah welas
asih: "Nak, jangan menangis lagi, segala persoalan biarlah ayahmu
sendiri yang memutuskan, bangunlah."
Pelan-pelan Pui Ci-hwi merangkak bangun, wajahnya basah air
mata bak sekuntum bunga basah oleh air embun.
Tak tahan Ji Bun bertanya: “Apakah Suthay juga anggota Wi-to-
hwe?"
Setelah melengak Siu-yan Loni menjawab: "Loni tidak
menyangkal."
"Apakah peristiwa dalam biara, tempo hari sudah Suthay
selidiki?”
Marah dan benci terbayang sekilas pada air muka Siu-yan,
katanya: "Pinni berani pastikan adalah perbuatan Jit-sing-pocu Ji
Ing-hong keparat itu, sayang ........”
Mendelu hati Ji Bun, “Ji Ing-hong?" dia menegas. "Apanya yang
sayang?"
"Sayang dia sudah mampus."
Diam-diam Ji Bun mengertak gigi, namun sikapnya pura-pura
kaget, tanyanya: "Ji Ing-hong sudah mati? Siapakah yang
membunuhnya?"
"Entahlah, Pinni sendiri tidak tahu."
Dalam pembicaraan ini sikap Siu-yan Loni tawar dan acuh tak
acuh, Ji Bun menjadi bingung dan tak habis mengerti, kalau benar
ayahnya terbunuh oleh orang-orang Wi-to-hwe, terang sikapnya
akan mengunjuk keanehan, namun sikap dingin dan tawar Siu-yan
Loni sungguh di luar dugaannya. Maka dia mendesak lebih lanjut:
"Lwekang Ji Ing-hong amat tinggi, pandai menggunakan racun lagi,
kukira tidak banyak tokoh-tokoh silat Kang-ouw yang mampu
membunuhnya? Bagaimana pendapat Suthay?"
"Tiada yang bisa kujadikan pegangan untuk menduga-duga soal
ini."
"Mungkinkah perbuatan Siangkoan Hong?"
Sama berubah air muka Siu-yan Loni dan Pui Ci-hwi, biji mata
Siu-yan Loni malah mencorong terang menatap muka Ji Bun.
seakan-akan ingin menyelami isi hatinya, lama sekali baru dia
bersuara: "Berdasarkan apa Sicu bilang demikian?"
Berputar pikiran Ji Bun, dia jadi nekat, biarlah bicara blak-blakan
saja untuk menyelidiki persoalan ini lebih terang, maka jawabnya
kereng: "Siangkoan Hong kan bermusuhan dengan Ji Ing-hong?"
"Tapi bukan Siangkoan Hong yang berbuat."
"Berdasarkan apa Suthay berani berkata demikian?”
"Sepak terjang Siangkoan Hong cukup diketahui olehku."
"Kejadian yang amat kebetulan ........”
"Apa yang kebetulan?"
"Waktu Ji Ing-hong menemui ajalnya bersama orang berkedok
lain, kebetulan Cayhe lewat ditempat kejadian, percakapan yang
kudengar dari mulut Ji Ing-hong sebelum dia terbunuh, telah
menyinggung nama Wi-to-hwe." Inilah akal yang seketika timbul
dalam benak Ji Bun, maksudnya hendak paksa orang bicara terus
terang.
Siu-yan Loni tertawa kalem, katanya: "Mungkin saja dia
menyinggung Wi-to-hwe, namun hal ini tidak bisa membuktikan
bahwa Siangkoan Hong atau jago-jago Wi-to-hwe lainnya yang
melakukan, kalau betul, Pinni malah tidak akan menyesal."
"Cayhe ingin betul berhadapan dengan Siangkoan Hong."
"Kenapa?"
"Untuk membuktikan dan membuat terang peristiwa ini."
Timbul pula sorot terang yang mencorong dari kedua biji mata
Siu-yan Loni, katanya: “Siau-sicu, mau tak mau Pinni harus minta
keterangan padamu."
Terunjuk pula mimik aneh pada muka Ji Bun, tanpa gentar iapun
balas menatap mata orang, suaranya penuh emosi: "Keterangan
apa?"
“Bukan sekali ini saja Sicu menaruh perhatian terhadap peristiwa
Jit-sing-po?"
"Memangnya kenapa?"
"Bu-ing-cui-sim-jiu yang Sicu yakinkan, bukankah satu sumber
dengan racun penghancur jantung yang menjadi kemahiran Ji Ing-
hong?"
"Untuk ini Cayhe tidak menyangkal," sahut Ji Bun.
"Kalau demikian, kau pasti ada hubungan dengan Ji lng-hong."
"Betul."
"Pernah apa Sicu dengan dia?"
Muka Ji Bun membesi hijau, kini cukup sepatah kata saja bakal
merubah situasi seluruhnya. Kalau dia berterus terang akan asal
usulnya sendiri, itu berarti dia harus mulai beraksi menuntut balas
kepada para musuhnya secara terbuka. Perlukah dia tetap
merahasiakan diri untuk beberapa lama? Sebelum mendapat
keterangan dan mengumpulkan data-data yang lengkap tidak akan
bertindak? Atau sekarang juga dia harus bekerja? Apakah waktu dan
sasaran yang harus diganyangnya sekarang tepat? Beberapa kali
pikirannya berputar, akhirnya dia berkeputusan, dikala berhadapan
langsung dengan Siangkoan Hong barulah tiba saatnya yang paling
baik untuk dia turun tangan, maka dia tekan gejolak hatinya yang
hampir meledak. Dia sengaja pura-pura penasaran, katanya:
"Hubungan kami bukan sembarangan, tapi juga tidak terlalu kenal,
keadilan Bu-lim tidak boleh diinjak-injak, betul tidak?"
"Sicu tidak bicara setulus hati bukan?" jengek Siu-yan.
Diam-diam terperanjat hati Ji Bun akan kelihayan orang, namun
lahirnya dia amat tenang, katanya pura-pura bingung: "Apa yang
Suthay maksudkan?"
"Apa betul Siau-sicu bertujuan demi keadilan Bu-lim?"
"Kukira memang demikian,"
"Sebelum bicara soal keadilan, apakah perlu membedakan salah
dan benar secara jelas?"
Ji Bun mati kutu, namun dia balas bertanya dengan pedas:
"Cayhe justru ingin tahu di mana letak salah benar dari peristiwa
besar ini.”
"Siau-sicu, kau pernah menolong jiwa Siangkoan Hong, karena
keluhuran budimu ini, seluruh Wi-to-hwe meski harus bertindak
kepadamu juga pasti memberi kelonggaran, kubisa menerima
pendirianmu dalam menyelidiki peristiwa besar namun kau sendiri
harus berterus terang menjelaskan asal-usulmu bukan."
Kembali Ji Bun gelagapan, dia merasa kehabisan kata-kata,
setelah ragu-ragu sebentar, dia, menjawab: "Cayhe harap bisa
berhadapan langsung dan bicara dengan Siangkoan Hong sendiri."
Siu-yan Loni manggut-manggut, katanya kemudian setelah
berpikir: "Boleh, kapan Sicu akan berkunjung, ke Tong-pek-san?"
"Sekarang juga boleh berangkat."
"Baik, akan kuatur supaya kau bertemu dengan dia."
"Terima kasih. Cayhe mohon diri," setelah memberi hormat Ji Bun
putar tubuh dan tinggal pergi.
Sekeluar dari pintu kelenteng Ji Bun disongsong cahaya matahari
yang terang benderang, kicau burung nan merdu berkumandang di
dalam hutan, kabut mulai menghilang, cuaca cerah cemerlang,
namun relung hatinya diliputi awan mendung yang tebal.
Dari apa yang pernah dia dengar dari cerita ayahnya, serta kata-
kata Kwe-loh-jin waktu membicarakan keselamatan ibundanya, Ji
Bun yakin bahwa pihak Wi-to-hwelah yang melakukan pembantaian
besar-besaran di Jit-sing-po, namun beberapa kejadian nyata yang
pernah dialaminya beberapa kali belakangan ini seolah-olah
melunturkan keyakinan dan dugaannya semula.
Dari pembicaraan dengan Siu-yan Loni barusan, jelas Siangkoan
Hong merupakan salah seorang tokoh yang berkedudukan penting
dan dihormati dalam Wi-to-hwe, hatinya semakin berat. Mau tidak
mau ia terbayang pula akan kematian ayahnya di jalan raya Kay-
hong yang mengenaskan itu. Peristiwa di Bok-to-am yang
mengerikan dan kejam itu betulkah perbuatannya? Jika peristiwa ini
tersiar luas di kalangan Kang-ouw, reaksi apa pula yang bakal timbul
oleh sesama kaum persilatan?
Tidak lama kemudian Ji Bun sudah tiba di jalan raya dan menuju
ke arah Tong-pek-san. Adanya kejadian yang berlainan satu sama
lain menjadikan perasaan Ji Bun berlainan pula setiap kali dia
menuju ke Tong-pek-san. Pikirnya, setelah berhadapan dengan
Siangkoan Hong, kalau dia menyangkal atau mungkin soal perbuatan
Wi-to-hwe yang melakukan pembantaian di Jit-sing-po, tidak
mengaku telah membunuh ayahnya pula, lalu tindakan apa yang
harus dia lakukan? Thong-sian Hwesio terang tidak berada di
markas, berarti mengurangi kekuatan musuh yang tangguh, namun
adanya Bu-cing-so, Siang-thian-ong dan lain-lain jago kosen, apa
lagi kalau mereka mengeroyok dirinya, yakinkah dirinya bisa
mengalahkan mereka?
Tengah dia berjalan dengan pikiran kusut, tiba-tiba sebuah suara
berkumandang dari belakangnya: "Ji-siauhiap, tunggu sebentar!"
Kejut Ji Bun bukan main, baru pertama kali ini ada orang
memanggilnya dengan nama aslinya, segera ia berhenti dan
berpaling dengan siaga, seorang laki-laki yang masih asing telah
berdiri didepannya, sorot matanya tajam, dan jelilatan mengawasi
dirinya.
Sekilas dia tatap laki-laki asing ini, lalu bertanya dengan kereng:
"Orang kosen darimana sahabat ini?"
Laki-laki tak dikenal itu bergelak tawa, ujarnya : "Tak berani
kuterima sebutan orang kosen, aku hanya seorang pesuruh saja."
"Darimana kau bisa tahu kalau aku she Ji? Siapa pula yang
menyuruhmu kemari?"
"Orang yang menguasai mati hidup ibundamu itulah."
Mendidih darah Ji Bun, otot di jidatnya seketika menegang,
wajahnya merah diliputi nafsu membunuh, bentaknya: "Kau
sekomplotan dengan Kwe-loh-jin?"
"Ji Bun," jengek laki-laki tak dikenal itu, "bicaralah dengan sopan,
kedatanganku ini membawa manfaat bagimu ........”
"Manfaat? Hm, kebetulan kau datang, ada beberapa persoalan
kau harus menjawabnya."
"Jangan terlalu banyak kau menaruh harapan pada diriku, kecuali
menjalankan perintah, segala persoalan aku tidak tahu menahu."
"Memangnya kau takkan buka mulut bila kuringkus."
"Ji Bun," kata orang itu tanpa menghiraukan ancaman Ji Bun,
"bukankah sekarang kau hendak ke markas Wi-to-hwe, untuk
menuntut balas? Kau hanya mengantar jiwamu saja."
"Mengantar jiwa saja? Apa maksudmu?"
"Dengan bekal kepandaianmu sekarang. Kau mampu melawan
keroyokan mereka?"
"Itu urusanku, tak perlu kau campur tahu."
"Masih ada, kau yakin bisa menyelamatkan diri dari Sian-thian-
cin-khi Thong-sian Hwesio yang lihay itu?”
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya disuruh menyampaikan beberapa patah kata saja
padamu."
"Siapa majikanmu? Apa pula tujuanmu?"
"Maaf, siapa majikanku tidak bisa kujelaskan, soal tujuan, ialah
meminjam tanganmu untuk menghancurkan Wi-to-hwe, dua pihak
sama-sama memungut untungnya."
"Apa? Meminjam tanganku?" teriak Ji Bun kaget.
"Betul, majikanku berjanji, setelah tugas berat ini berhasil, kau
akan diberi kesempatan menemui ibundamu dan membeber segala
persoalannya."
Memang sebuah umpan besar yang penuh daya tarik bagi Ji Bun,
apalagi menghancurkan musuh memang menjadi idamannya untuk
menuntut balas bagi seluruh warga Jit-sing-po yang telah gugur.
Diam-diam ia menimbang, kepandaian Kwe-loh-jin cukup tangguh,
gerak-gerik serta sepak terjangnya serba misterius, bukan mustahil
majikan orang ini adalah juga dia. Memangnya ia sendiri merasa
kekurangan tenaga dan tak mampu membebaskan ibunya, tak
sangka orang malah mengajak kerja sama, maka dengan nada haru
ia berkata: "Apakah janji majikanmu dapat dipercaya?"
"Apa yang diucapkan majikanku pasti dapat dipercaya?"
"Kau bilang meminjam tanganku, padahal tadi kau bilang
kemampuanku belum mencukupi untuk menghadapi jago-jago
mereka?"
"Jangan kuatir, majikanku sudah mengaturnya dengan rapi."
Bangkit semangat Ji Bun, katanya: "Rencana apa yang telah
diaturnya?"
"Jangan tergesa-gesa, belum selesai aku bicara."
"Baik, coba jelaskan."
"Tahukah kau siapa pembunuh ayahmu dan seorang berkedok
yang menyamar beliau?"
11.32. Rahasia Wi-to-hwecu
"Siapa pembunuhnya?"
"Thong-sian Hwesio."
"Apa? Dia?" teriak Ji Bun. sorot matanya seketika beringas,
memang kecuali Thong-sian Hwesio tiada tokoh lain yang punya
kepandaian tinggi dan mampu membunuh ayahnya dan orang
berkedok itu. Desisnya sambil mengertak gigi: "Siapa saksinya?"
"Majikanku."
Ji Bun melenggong, siapakah majikannya? Kenapa selalu
menyuruh Kwe-loh-jin turun tangan kepada dirinya? Kenapa
menculik ibunya? Semua ini sulit terjawab olehnya.
"Kenapa majikanmu ingin pinjam tanganku untuk
menghancurkan Wi-to-hwe?"
"Sederhana saja, karena majikanku hendak memberantas
penghalang bagi cita-citanya."
"Tapi aku sendiri tidak yakin dapat melawan mereka dan
bertahan hidup."
"Jangan kuatir, bukankah kau boleh keluar masuk markas Wi-to-
hwe, malah dipandang tamu terhormat? Maka untuk turun tangan,
kau harus mencari kesempatan yang paling baik, kau harus pilih
waktu dan saat Thong-sian dan Wi-to-hwecu hadir baru turun
tangan, kalau kedua orang ini mampus, yang lain tidak menjadi soal
lagi."
"Lalu cara bagaimana aku harus turun tangan?" tanya Ji Bun
penuh semangat.
Laki-laki tak dikenal itu celingukan sebentar, lalu mengeluarkan
sebuah kantong kecil, katanya: "Nah, kau periksa sendiri."
Ji Bun menerima dan membuka kantong itu, waktu ia melongok
ke dalam kantong, seketika ia menjerit kaget: "Ngo-lui-cu?"
Laki-laki tak dikenal itu menyeringai, katanya: "Ya, Ngo-lui-cu,
kau kan sudah tahu kekuatannya, malaikat dewatapun tak bisa lolos
dalam jarak tiga tombak."
Gemetar jari-jari tangan Ji Bun yang memegangi kantong kecil
itu, memang hanya Ngo-lui-cu saja senjata terampuh yang tepat
untuk menghancurkan musuhnya sekaligus, dengan membawa
benda peledak ini, Sian-thian-sin-kang Thong-sian Hwesio tidak perlu
ditakuti lagi, kalau dapat mengatur keadaan dengan baik, bukan
mustahil seluruh jago Wi-to-hwe juga akan dijaring dan dibunuhnya
semua.
Ji Bun betul-betul sudah dirangsang dendam dan hasrat
menuntut balas yang tebal, sehingga kepalanya terasa panas dan
pikiran butek. Tak terpikir lagi olehnya apa maksud tujuan dari
bantuan orang tak dikenal ini dengan memberikan Ngo-lui-cu, yang
terang kini tibalah kesempatan paling baik untuk dirinya menuntut
balas. Asal sakit hati terbalas dan dapat bertemu dengan ibunda,
segata pengorbanan boleh saja dilakukan. Tanyanya menegas:
"Majikanmu bilang setelah tugasku selesai, dia akan membebaskan
ibuku?".
"Ya, sekaligus hendak membeber sebuah rahasia."
"Apakah aku harus percaya demikian saja oleh obrolanmu ini?”
"Orang she Ji, kalau majikanku sengaja mau main tipu, segala
janji tetap takkan berguna. Pertama, ibumu berada di tangan kami,
kedua, kau di tempat terang dan kami di tempat gelap, ketiga,
dengan memegang rahasia pribadimu, berarti sudah menggenggam
mati-hidupmu pula."
Bergidik Ji Bun dibuatnya, apa yang diucapkan ini memang
benar, dari sini sekaligus membuktikan bahwa majikan orang itu
adalah seorang yang menakutkan. Kini Hud-sim terjatuh ke
tangannya. Kalau dia berhasil mempelajari ilmu yang tertera di
dalam Hud-sim, pasti tiada tandingannya dikolong langit. Betapa
besar ambisi orang ini dapatlah dibayangkan.
Terdengar laki-laki itu berkata pula: "Ngo-lui-cu amat dahsyat
kekuatannya, kalau kau menggunakan tepat pada waktunya, terang
kau akau berhasil dengan baik, cukup kau gunakan sedikit tenaga
untuk menimpukannya saja."
“Cara memakainya aku sudah tahu."
"Kalau begitu kudoakan semoga kau berhasil, selamat bertemu!”
tanpa berpaling tahu-tahu badannya melesat terus menghilang,
gerakannya sungguh mengejutkan.
Semula Ji Bun kira hanya Biau-jiu Siansing yang memiliki gerakan
tubuh paling gesit, agaknya dugaan ini kurang tepat lagi, orang ini
hanya seorang pesuruh. Dapatlah dibayangkan betapa hebat
kepandaian majikannya.
Dengan hati-hati Ji Bun simpan Ngo-lui-cu di ikat pinggangnya, ia
merasa semakin mantap dan terlindung, untuk kali terakhir sekarang
ia pergi ke Tong-pek-san.
****
Pos terdepan yang rusak digempur pihak Ngo-lui-kiong tempo
hari kini sudah di bangun lagi lebih mentereng dan angker. Begitu Ji
Bun tiba di depan benteng, seorang laki-laki pakaian biru segera
keluar menyambut, dia bukan lain adalah Congkoan Wi-to-hwe Ko
Ling-jin, cepat ia memberi hormat sambil berseri tawa: "Siau-hiap
tentu lelah dalam perjalanan, silakan, hamba mendapat perintah
untuk menyambut."
"Terima kasih!" kata Ji Bun.
Di belakang benteng sudah siap menunggu dua ekor kuda,
mereka naik kuda menuju ke markas. Sepanjang jalan jantung Ji
Bun berdebar keras, hatinya merancang bagaimana dirinya harus
bekerja nanti. Apakah Thong-sian Hwesio sudah kembali? Cara
bagaimana dia harus berusaha mengumpulkan pentolan-pentolan
musuh supaya lebih leluasa turun tangan?
Cepat sekali mereka sudah tiba di depan markas, seorang
penjaga maju menerima kuda tunggangan mereka. Di bawah
petunjuk dan iringan Ko Ling-jin, Ji Bun langsung menuju ke ruang
pendopo.
Wi-to-hwecu sudah menunggu dan menyongsong
kedatangannya. Setelah duduk Wi-to-hwecu berkata kepada Ko Ling-
jin: "Ko-congkoan, siapkan perjamuan, undanglah para Houhoat dan
semua tamu-tamu yang ada untuk hadir."
Ko Ling-jin mengiakan sambil memberi hormat terus
mengundurkan diri.
Diam-diam Ji Bun bersorak dalam hati, sungguh kebetulan sekali,
kesempatan bakal tiba tanpa susah payah. Cuma apakah Thong-sian
termasuk orang yang akan hadir di dalam perjamuan nanti?"
"Maksud kedatangan saudara muda sudah Lohu ketahui namun
ada suatu persoalan mohon saudara muda suka menjelaskan secara
jujur?" kata Wi-to-hwecu mulai.
Ji Bun tenangkan diri, sahutnya: "Ada pertanyaan apa?, silakan
Hwecu katakan."
Wajah Wi-to-hwecu yang kaku tidak menunjukkan perasaan apa-
apa, namun suaranya kedengaran hambar, katanya: "Siangkoan
Hong pernah mendapat pertolongan saudara muda, untuk ini dia
tidak akan melupakan selama hidup. Kalau saudara bertekad ingin
menemuinya demi menyelesaikan permusuhan dengan Jit-sing-po
atas kematian Ji Ing-hong, oleh karena itu, terpaksa aku mohon
tanya ada hubungan apakah sebetulnya antara saudara muda
dengan Ji Ing-hong?"
Berhadapan dengan musuh besar, ingin rasanya Ji Bun
mengkeremusnya, namun sekarang belum waktunya atau segala
rencananya bakal gagal total, maka ia berkata: "Apakah hal ini boleh
kuumumkan setelah berhadapan dengan Sangkoan Hong?"
Berkerut alis Wi-to-hwecu, katanya: "Tidak bisa dijelaskan dulu
padaku?"
"Belum tiba saatnya."
"Baik, aku tidak memaksa, namun ingin kuwakili Siangkoan Hong
untuk menjelaskan duduk persoalan dari permusuhan ini."
Kebetulan bagi Ji Bun, katanya: "Dengan senang hati."
Sudah lama dia mengharapkan hal ini, sayang tiada kesempatan,
yang diketahui hanya ayahnya bermusuhan dengan Siangkoan Hong
lantaran rebut isteri dan membunuh anaknya. Tentang bagaimana
persoalan yang sebenarnya tidak diketahui. Hal ini pernah dia
tanyakan kepada sang ayah, namun jawabannya juga samar-samar.
Kini Wi-to-hwecu mau mengungkat peristiwa lama ini, tentu saja
amat cocok dengan keinginannya.
Sekilas terunjuk sorot derita dan sedih pada sinar mata Wi-to-
hwecu, katanya pelan dengan suara berat: "Untuk menjelaskan
peristiwa ini harus kembali pada masa kira-kira 20-an tahun lalu.
Pada waktu itu muncul seorang perempuan cantik molek, namanya
harum terkenal di seluruh jagat. Dia bernama Cu Yan-hoa, yaitu
isteri Siangkoan Hong. Yang laki-laki tampan dan yang perempuan
jelita, entah berapa banyak sesama kaum persilatan yang iri
terhadap pasangan ini .....”
Terbayang oleh Ji Bun akan codet atau bekas luka yang membuat
buruk muka Siangkoan Hong. Kalau yang perempuan dikatakan jelita
mungkin benar, tapi kalau dikatakan yang lelaki tampan, hal ini amat
meragukan.
Setelah merandek Wi-to-hwecu melanjutkan: "Pada suatu hari,
mendadak Cu Yan-hoa lenyap tak karuan parannya. Semula
Siangkoan Hong tidak menaruh perhatian, ia sangka isterinya keluar
mengurus sesuatu. Namun setelah beruntun beberapa hari tidak
kunjung pulang barulah Siangkoan Hong menyadari urusan tidak
sederhana. Selama mereka menikah belum pernah mereka berpisah,
hal ini menandakan isterinya pasti mengalami sesuatu yang harus
dikuatirkan, apalagi waktu itu Cu Yan-hoa sedang hamil .....”
Dengan hati gelisah, masgul dan lama kelamaan putus asa,
Siangkoan Hong menjadi gelandangan Kang-ouw untuk mencari
isterinya. Betapa sedih dan tersiksa hatinya, kiranya siapapun dapat
membayangkan. Tak lama kemudian, dia mendapat kabar bahwa
isterinya, Cu Yan-hoa diculik oleh Jit-sing-pocu Ji Ing-hong ......”
Berubah air muka Ji Bun, namun sekuatnya dia menahan diri.
Tutur Wi-to-hwecu lebih lanjut dengan mengertak gigi: "Jit-sing-
pang berkuasa dan banyak tenaganya. Jit-sing-po merupakan
sebuah perkampungan angker dalam Bu-lim. Lwekang dan
kepandaian silat Ji Ing-hong teramat tinggi. Untuk menolong
isterinya dari mulut harimau, Siangkoan Hong tahu dirinya tidak
mampu, namun isterinya tercinta sedang hamil, betapapun sulitnya
juga harus berusaha menolongnya. Dalam keadaan terpaksa
akhirnya dia merusak wajah sendiri dan menyelundup ke Jit-sing-po
....”
"Bagaimana kelanjutannya?" tanya Ji Bun tak sabar.
"Setelah berada di dalam benteng perkampungan, dia berlaku
hati-hati. Setiap hari dia harus bermuka-muka dan munduk-munduk
untuk mengambil hati Ji Ing-hong. Syukurlah dia dibekali kepandaian
yang berbakat, akhirnya dia diangkat menjadi salah seorang guru
silat, duduk berdampingan dan berdiri sejajar dengan tujuh jago
kosen lainnya di dalam perkampungan, mereka dijuluki Jit-sing-pat-
ciang (delapan panglima Jit-sing)."
Nafas Ji Bun agak memburu, walau dia adalah Siau-pocu, namun
sejak kecil terisolir, dididik dalam lingkungan tersendiri, maka segala
seluk beluk dalam perkampungan sama sekali tidak diketahui. Kini
seakan-akan dia mendengar dongeng saja.
"Sekejap mata beberapa tahun telah berselang. Usaha Siangkoan
Hong memang tidak sia-sia, akhirnya ia berhasil menyelidiki bahwa
isterinya ternyata telah menjadi gundik kedua Ji Ing-hong. Ia marah
dan berduka akan nasib isterinya karena kekejian dan kekotoran Ji
Ing-hong. Sampai sekian lamanya dia tetap tak berhasil
mendapatkan kesempatan menemui isterinya. Mengingat keturunan
yang dikandung dalam perut isterinya, tekadnya menjadi besar
untuk selekasnya berhadapan dengan isteri terkasih, maka dia tidak
kenal putus asa, dia menanti dengan sabar, sabar ......”
"Apakah ini kenyataan?" tak tertahan Ji Bun bertanya.
Geram menyala sorot mata Wi-to-hwecu, penuh dendam dan
kebencian, katanya: "Sudah tentu kenyataan. Pada suatu hari,
akhirnya ia mendapat kesempatan bertemu dengan isterinya. Dari
pertemuan itu baru dia tahu bahwa isterinya bertahan hidup demi
keturunan darah daging dalam kandungannya. Iapun berharap dapat
bertemu sekali lagi dengan suaminya .......”
"Jadi ada keturunan Siangkoan Hong yang tertinggal dalam
perkampungan?"
"Semula hal ini masih teka-teki, karena setelah Cu Yan-hoa
melahirkan, anaknya segera disingkirkan. Dia sendiri tidak tahu
anaknya itu laki-laki atau perempuan, juga tidak tahu apakah
anaknya itu masih hidup atau sudah mati, untuk inilah dia bertahan
hidup. Sayang pertemuan mereka suami isteri konangan oleh Ji Ing-
hong.
"Ji Ing-hong memang manusia durjana yang kejam, dia tidak
bersikap apa-apa pada waktu itu. Beberapa hari kemudian, dia
menjamu Siangkoan Hong, dia berjanji memberi kesempatan kepada
mereka suami-isteri untuk berkumpul dan hidup rukun kembali,
iapun mengakui akan kesalahannya ...... “ sampai di sini, kulit muka
Wi-to-hwecu tampak mengencang dan gemetar, suaranyapun
menjadi serak namun dendam dan kebenciannya tetap menyala-
nyala.
Timbul perasaan ruwet dalam hati Ji Bun. Di samping merasakan
tugas menuntut balas yang kian menekan, iapun merasa malu dan
menyesal akan perbuatan ayahnya yang kotor dan hina dimasa
hidup itu.
Agaknya Wi-to-hwecu juga berusaha menekan emosinya, lama
sekali baru dia melanjutkan: "Dendam Siangkoan Hong tetap tak
berkurang karena isterinya diculik. Namun waktu itu terpaksa dia
harus tunduk pada keadaan, perjamuan itu akhirnya berlalu dalam
suasana janggal dan kurang menyenangkan. Setelah perjamuan
usai, Ji Ing-hong menyuruh tertua dari Jit-sing-pat-ciang yang
bernama Ciu Tay-lian mengantar Siangkoan Hong ke luar
perkampungan. Lahirnya saja diantar, yang benar dia menyuruh Ciu
Tay-lian membunuh Siangkoan Hong secara diam-diam ......”
"Jadi Siangkoan Hong tidak mati terbunuh?"
"Ehm, hubungan Ciu Tay-lian dengan Siangkoan Hong amat
kental, watak mereka berdua jauh berbeda dengan keenam teman-
teman sejawatnya. Iapun amat marah dan mengutuk perbuatan Ji
Ing-hong yang tidak tahu malu, akhirnya dia membongkar perbuatan
di luar perikemanusiaan itu ......”
"Perbuatan apa yang dia bongkar?"
"Ji Ing-hong sudah membunuh Cu Yan-hoa, perjamuan yang
diadakan itu menghidangkan daging Cu Yan-hoa ........" tiba-tiba Wi-
to-hwecu menggebrak meja sampai semplak sebagian, matanya
mendelik sebesar kelereng, mukanya gelap dan suaranya geram:
"Saudara muda, itulah perbuatan binatang, kalau dia manusia,
apakah dia sampai hati berbuat sekejam ini?"
Merinding dan gemetar sekujur badan Ji Bun, apakah betul
kenyataan? Betulkah ayahnya begitu jahat? Sungguh peristiwa tragis
yang belum pernah ada duanya di jagat ini, daging manusia sebagai
hidangan perjamuan ......”
Hampir melotot keluar biji mata Wi-to-hwecu, katanya dengan
nada hampir menangis :"Saudara muda, Siangkoan Hong telah
makan darah daging isterinya sendiri ......"
"Tidak mungkin," teriak Ji Bun tiba-tiba seperti orang kalap.
"Kenapa tidak mungkin?"
"Ji-pocu tidak mungkin melakukan perbuatan sekejam itu.”
"Tapi kenyataan memang demikian."
"Bagaimana kelanjutannya?"
"Sudah tentu Siangkoan Hong bersumpah menuntut balas."
"Siangkoan Hong mengumpulkan komplotan untuk menghancur
leburkan Jit-Sing-po?"
"Umpama betul dia menghancur leburkan Jit-Sing-po juga belum
terlampias dendamnya, tapi dia tidak berbuat demikian, dia hanya
mencari Ji Ing-hong saja."
"Lalu siapa yang membantai seluruh penghuni Jit-sing-po?"
"Entah, tiada yang tahu."
"Lalu siapa yang membunuh Ji-pocu di jalan raya menuju Kay-
hong?"
"Juga tidak diketahui."
Ji Bun mengertak gigi, katanya: "Lalu kemana Ciu Tay-lian, tertua
dari Pat-ciang itu?"
"Setelah dia melepas pergi Siangkoan Hong, jejaknya pun tidak
diketahui."
"Tadi Hwecu bilang keturunan Siangkoan Hong ditinggal dalam
Jit-sing-po?"
"Menurut dugaan waktu itu. Namun belakangan setelah diselidiki
baru diketahui orok yang baru lahir itupun sudah dibunuh."
"Apakah hari ini Cayhe bisa berhadapan langsung dengan
Siangkoan Hong?"
"Tentu boleh."
Tiba-tiba Ko Ling-jin melangkah masuk memberi hormat serta
memberi lapor: "Perjamuan sudah siap."
Wi-to-hwecu berdiri, katanya: "Silakan, saudara muda!"
"Tak berani," sahut Ji Bun. "Hwecu silakan.”
"Baiklah, mari bersama saja."
Perjamuan diadakan di sebuah gardu besar di luar ruang tamu
yang terbuka. Begitu Ji Bun dan Hwecu tiba, semua hadirin segera
berdiri menyambut.
Sekilas pandangan Ji Bun menyapu para hadirin. Seketika pula
jantungnya berdebur keras, Thong-sian Hwesio, Siu-yan Suthay, Bu-
cing-so, Siang-thian-ong, Jay-ih-lo-sat dan jago-jago Wi-to-hwe yang
lain sama hadir kecuali orang dalam tandu yang tidak tampak
bayangannya. Diam-diam Ji Bun bersyukur bahwa Thian agaknya
akan memenuhi keinginannya.
Perjamuan ini terdiri atas dua meja, Ji Bun duduk di tempat
tamu, paling atas adalah Wi-to-hwecu, Bu-cing-so dan Siang-thian-
ong duduk paling bawah. Jay-ih-lo-sat berhadapan dengan Ji Bun.
Sementara Thong-sian Hwesio dan Siu-yan duduk menyendiri di
meja lain yang lebih kecil, maklumlah mereka orang beribadat,
hidangan mereka berbeda dengan hidangan di meja sebelah sini.
Diam-diam Ji Bun meraba-raba dan sukar menebak maksud Wi-
to-hwecu mengumpulkan jago-jagonya dalam perjamuan ini, namun
hal ini tidak sempat dipikirkan lagi, yang terpikir hanyalah cara
bagaimana nanti dia harus menggunakan Ngo-lui-cu, supaya tiada
satupun diantara hadirin yang lolos dari reng¬gutan maut.
Situasi amat menguntungkan dirinya, sekarang persoalan hanya
terletak pada keselamatan dirinya sendiri. Sebutir Ngo-lui-cu cukup
berkelebihan untuk menghancurkan gardu ini beserta seluruh isinya,
namun cara bagaimana dirinya harus membebaskan diri? Pura-pura
minta diri meninggalkan perjamuan lalu melemparkan Ngo-lui-cu?
Tapi semua hadirin adalah bangkotan silat yang memiliki kepandaian
tinggi. Sedikit lena dan gerak-geriknya kurang wajar pasti akan
menimbulkan curiga pihak sana, semua ini bakal menggagalkan
usahanya, tapi untuk selanjutnya juga tiada kesempatan sebaik hari
sekarang ini, ia ragu dan serba salah.
Yang terpenting sebelum turun tangan, dia harus
memperkenalkan diri, supaya musuh mati tanpa penasaran. Kalau
mereka mati penasaran, arti penuntutan balas ini dirasakan kurang
setimpal. Namun demikian, apa pula resiko yang harus dihadapinya?
Beberapa cangkir arak sudah dihabiskan, namun pikiran Ji Bun
masih tenggelam dalam keraguan. Dia insaf harus segera
berkeputusan dan bertindak. Kalau kesempatan ini lenyap,
menyesalpun sudah kasep. Gugur bersama musuh merupakan
kesuksesan dalam menuntut balas ini. Tapi ibunya masih berada
dalam cengkeraman orang. Sukses atau gagal usahanya ini, bukan
saja merupakan penuntutan balas bagi para korban, juga
menyangkut keselamatan jiwa ibundanya. Kalau dirinya mati, ibu
beranak takkan berjumpa lagi, lalu bagaimana nasib ibunya kelak?
Dia tidak berani melirik ke arah Thong-sian Hwesio. Menurut apa
yang dikatakan laki-laki tak dikenal, Hwesio gede ini adalah
pembunuh ayahnya. Dia kuatir kalau terlalu banyak mengawasi
musuhnya ini takkan kuasa mengendalikan emosinya lagi. Hal ini
akan menimbulkan curiga pihak lawan.
Perjamuan ini berlangsung dalam suasana tenteram, tiada yang
buka suara, hanya suara beradunya mangkok piring dengan sumpit.
Sesosok bayangan merah secara diam-diam memasuki gardu
tanpa bersuara dan duduk di samping Siu-yan Suthay, dia bukan lain
adalah Pui Ci-hwi. Hanya beberapa hari, kelihatan dia sudah banyak
berubah, kurus dan pucat seperti sekuntum bunga yang sudah layu.
Ji Bun meliriknya sebentar, hatinya bertambah mantap, jiwa seorang
akan bertambah jadi korban dalam gardu ini. Apakah tiba saatnya
dia harus turun tangan? Terasa sesuatu tekanan yang amat berat
seperti menindih sanubarinya sehingga dia sukar bernapas. Dia tidak
berani membayangkan, sekali dia melemparkan Ngo-lui-cu, akibat
apa yang bakal terjadi. Tiba-tiba dia sadar telah melalaikan suatu
hal, segera ia buka suara: "Hwecu, agaknya masih ada seorang
tamu terhormat yang belum hadir?"
"Siangkoan Hong maksud saudara muda?" Hwecu menegas,
"sebentar lagi dia pasti datang."
Perhatian seluruh hadirin serta merta tertuju kepada Ji Bun,
laksana anak panah sama diarahkan dirinya. Namun dia anggap sepi
dan tak acuh. Beberapa kejap lagi, tiada seorangpun yang hadir ini
akan ketinggalan hidup, segalanya bakal lenyap tak berbekas lagi.
Diam-diam ia sudah berkeputusan, mati hidup sendiri bukan soal
lagi, ia sudah bertekad, hanya boleh sukses pantang gagal.
Setiap orang persilatan yang berjiwa ksatria selamanya siap
menghadapi kematian. Tapi betapapun dia adalah manusia, dan
manusia adalah makhluk yang punya daya pikir dan punya reaksi
tajam, menghadapi detik yang menentukan ini, timbul berbagai
bayangan yang berbeda dalam benak Ji Bun.
Ayahnya meninggal secara mengenaskan, ibunya tidak keruan
paran. Thian-thay-mo-ki yang lahirnya genit dan cabul, namun
mempunyai jiwa luhur. Ciang Wi-bin ayah beranak yang punya tekad
dan perhatian serta menaruh harapan terhadap dirinya. Khong-kok-
lan So-yan yang bertempat tinggal di gedung setan di kota Cinyang,
Biau-jiu Siansing, Jit-sing-ko-jin, orang tua di bawah jurang Pek-ciok-
hong. Bayangan orang-orang ini satu persatu timbul dalam
benaknya.
Mendadak Wi-to-hwe-cu berdiri serta berkata: "Saudara muda,
nah, inilah Siangkoan Hong telah datang!" Sembari bicara tangannya
mengusap ke muka sendiri, segera tertampak seraut wajah yang
bopeng sebelah dihiasi codet yang buruk sekali.
Mendidih darah dalam tubuh Ji Ban, dengan terkejut ia
berjingkrak seraya berteriak: "Kau ...... kau inikah Siangkoan Hong?"
"Ya!" sahut Wi-to-hwecu alias Siangkoan Hong sambil duduk
kembali.
Lama sekali Ji Bun mengawasi muka Wi-to-hwecu tanpa
bersuara, mimpi juga tidak pernah pikir olehnya bahwa Hwecu yang
misterius ini adalah duplikat Siangkoan Hong. Tak heran selama ini
dirinya disambut sebagai tamu terhormat.
Pandangan hadirin yang tajam semua tertuju kepadanya pula. Ji
Bun seperti tidak merasakan sama sekali, sorot matanya tetap
tertuju kepada muka Siangkoan Hong tanpa berkedip.
"Saudara muda," kata Wi-to-hwecu alias Siangkoan Hong dengan
suara berat, "cerita tentang Siangkoan Hong sudah tamat, sekarang
silakan terangkan asal usulmu."
Karena meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, tangan kiri Ji Bun amat
beracun, selama ini disembunyikan di dalam lengan baju, hal ini
diketahui oleh semua hadirin dan tidak ambil peduli. Tapi tangan
kirinya itu pelan-pelan dijulurkan keluar dari lengan bajunya yang
kosong melambai, tahu-tahu tangannya sudah menggenggam Ngo-
lui-cu.
Orang lain belum tahu dan tidak soal, namun Ji Bun sendiri amat
tegang sampai telapak tangannya basah oleh keringat dingin, karena
sekejap lagi semuanya bakal berakhir. Sudah tentu pertanyaan
Siangkoan Hong harus ia jawab dulu sebelum bertindak, maka ia
meninggalkan tempat duduknya, mukanya kaku dingin dan penuh
nafsu liar, katanya: "Aku bernama Ji Bun, keturunan Ji Ing-hong."
"Kau ...... adalah keturunan Ji lng-hong?"
11.33. Siapa Pembunuh Te-gak Suseng?
Wi-to-hwecu berjingkrak berdiri. Hadirin yang lain juga ikut
berdiri. Suasana seketika memuncak tegang, semua hadirin sama
dijalari nafsu membunuh.
Sudah tiada pilihan lain bagi Ji Bun, dalam keadaan seperti ini
hanya gugur bersama musuh, tangan kiri yang menggenggam Ngo-
lui-cu sampai gemetar, sudah tentu semua hadirin tidak tahu bahwa
elmaut sudah diambang pintu.
Agaknya perjamuan yang diadakan Wi-to-hwecu ini memang ada
sangkut pautnya untuk membongkar kedok dirinya. Tanpa jeri mata
Ji Bun melirik ke arah Thong-sian Hwesio, mata orangpun sedang
menatap dirinya. Ji Bun buka suara "Taysu, ada sebuah hal mohon
petunjukmu.”
"Katakan saja!"
"Kabarnya kematian ayahku dan seorang berkedok lain adalah
buah karya Taysu?"
Seketika mencorong sinar mata Thong-sian Taysu. "Pinceng
pembunuhnya maksudmu?" desisnya, "siapa bilang?"
"Kabarnya demikian, siapa yang bilang Taysu tidak perlu tahu.
Pokoknya ada saksi."
"Omong kosong," teriak Thong-sian.
"Taysu tidak berani mengaku?"
"Kalau benar harus diakui, kalau tidak kenapa harus mengaku,
jadi bukan soal berani atau tidak."
"Tapi tuduhan ini betulkan?"
"Tidak!"
"Ji Bun," sela Wi-to-hwecu, "apa tujuanmu?"
"Menuntut balas!" Ji Bun mengertak gigi.
Suara Siang-thian-ong yang berat laksana geledek berkata: "Anak
muda, kau sedang mimpi di siang hari? Soal menuntut balas kau
salah alamat, apalagi kau mempunyai ayah durjana, kau sendiri
harus mawas diri dan merasa malu, bicara sakit hati, kau justeru
sasaran Hwecu untuk menuntut balas atas perbuatan bapakmu ......"
"Tutup mulutmu!" bentak Ji Bun.
"Ji Bun," bentak Siu-yan Suthay bengis dan kereng. "Mengingat
kau pernah menolong jiwa Hwecu, tiada kesempatan lagi bagimu
bicara disini ....."
Ji Bun mendengus berat, jengeknya: "Semua yang hadir ini ikut
membantai penghuni Jit-sing-po bukan?"
"Kentutmu busuk," bentak Siang-thian-ong, "memangnya kau
pandang Lohu sama dengan Ji Ing-hong, manusia srigala yang
kejam itu?"
"Tua bangka, jangan memaki orang," damprat Ji Bun.
Saking marah rambut ubanan Siang-thian-ong yang jarang
sampai berdiri. Sudah tentu badannya yang serba buntak tambun itu
kelihatan lucu dan menggelikan, tapi juga cukup menakutkan,
agaknya dia sudah tak sabar lagi.
"Laki-laki sejati putus hubungan tidak akan mengeluarkan kata-
kata kotor," demikian Bu-cing-so memenyelutuk, "Sahabat muda,
kau harus membedakan salah dan benar."
"Cayhe sudab cukup membedakannya," sahut Ji Bun.
"Ji-sicu," ujar Siu-yan Suthay, "Kalau kami pandang kau sebagai
musuh, jelas kau tiada kesempatan mengundurkan diri, kau percaya
tidak? Tahukah kau kenapa selama ini Siangkoan Hwecu bersabar
dan menyembunyikan diri saja?"
"Tidak perlu tahu, kalau tempo hari aku sudah tahu siapa dia
sebenarnya, jiwanya sudah lama kuhabisi, buat apa aku
menolongnya."
"Ji Bun," ujar Wi-to-hwecu, "kau pernah menolongku, sekarang
kusilakan kau turun gunung, utang piutang kedua pihak sudah lunas
sejak kini, "
"Tidak perlu!" teriak Ji Bun beringas.
"Kau menghapus kenyataan, membual hendak menuntut balas
segala, dengan cara apa kau hendak menuntut balas?"
Ji Bun terdesak dan nekat, teriaknya kalap: "Utang darah bayar
dengan darah!"
Diam-diam genggaman tangannya kiri semakin mengencang,
kalau dia lemparkan Ngo-lui-cu di tengah perjamuan ini, pasti tiada
seorangpun di antara hadirin yang selamat.
Dengan tatapan beringas dia menyapu pandang muka seluruh
hadirin. Waktu matanya bentrok dengan pandangan Pui Ci-hwi, serta
merta timbul perasaan dalam sanubarinya, gadis jelita yang pernah
menjadi pujaannya, kini juga akan gugur bersama. Kehidupan
manusia di dunia fana ini memang tiada yang abadi, nasib sering
mempermainkan setiap orang. Kini tibalah saatnya dia turun tangan,
tidak boleh ragu-ragu. Mendadak ia keluarkan tangan kiri serta
teracung ke atas, tiada orang atau sesuatu yang dapat mengubah
lagi nasib semua hadirin?
Pada detik-detik yang gawat sebelum Ji Bun sempat menjatuhkan
Ngo-lui-cu, tiba-tiba terasa oleh Ji Bun lengan kirinya kesemutan dan
mengejang. Seluruh tenaga yang dikerahkan seketika lenyap. Lebih
celaka lagi, Ngo-lui-cu tahu-tahu sudah terlepas dari genggamannya,
lengan kirinya lantas menjulur lemas ke bawah.
Kejut Ji Bun luar biasa, serasa sukma meninggalkan raganya,
siapakah yang kebal terhadap racun di tangan kirinya, sehingga
segala usahanya menjadi gagal total?
Dalam sekejap itu. Ji Bun merasa kepala berat dan mata
berkunang, bumi terasa bergunjing, pikirannya menjadi hampa dan
kabur.
Sekali sapu ia tendang meja kursi terus melompat mundur, waktu
dia berpaling, seketika ia melenggong. Tahu-tahu dalam gardu
bertambah seorang nyonya muda, begitu molek dan rupawan
sampai Ji Bun tidak berani menatapnya terang-terangan, pakaian
yang dikenakan berwarna serba merah, tak ubahnya seperti puteri
raja. Tangannya tengah menimang-nimang Ngo-lui-cu, wajah nan
cantik membesi geram, sepasang matanya yang bening bersih
mempesona menyorotkan sinar terang.
Pandangan seluruh hadirin tertuju kepada nyonya muda ini,
begitu kereng dan penuh wibawa nyonya muda ini, meski berdiri
tidak bergerak, namun tiada orang yang berani mengawasinya lama-
lama. Hening lelap sekian lama, akhirnya Siang-thian-ong yang
bersuara: "Ngo-lui-cu!"
Serta merta pandangan hadirin berbalik ke arah Ji Bun yang
berdiri bagai patung.
Sungguh menyesal, benci dan murka dan kaget hati Ji Bun. Kalau
sejak tadi dia turun tangan, segalanya sudah berakhir. Padahal sejak
kapan nyonya muda ini berada di beiakangnya, sama sekali tidak
diketahuinya.
Bu-cing-so berdiri paling dekat dengan nyonya muda ini, segera
ia memberi hormat padanya serta menyapa: "Sejak kapan Siancu
tiba?"
"Baru saja," sahut nyonya muda baju merah, suaranya merdu
nyaring bagai kicau burung kenari, "agaknya memang sudah
kehendak Thian!"
Siancu? Siapakah dia? Ji Bun bertanya-tanya dalam hati.
“Darimana Siancu tahu ......" tanya Bu-cing-so.
Nyonya muda baju merah segera memotong: "Seorang yang
mempunyai sesuatu rencana jahat, jika menghadapi situasi yang
menegangkan dan tetap tidak tergoyahkan pendiriannya, itu berarti
dia sudah nekat dan bertekad gugur bersama musuh, agaknya kalian
lalai dalam hal ini."
Beberapa patah kata ini membuat seluruh jago-jago silat yang
hadir sama merah mukanya.
Tiba-tiba Pui Ci-hwi, seharusnya bernama Siangkoan Ci-hwi,
karena dia puteri kandung Siangkoan Hong, menjerit pelahan terus
menubruk ke dalam pelukan nyonya muda itu. Nyonya muda baju
merahpun lantas memeluknya. Lalu dia membalik tubuh dan
mengundurkan diri, masuk lewat pintu bundar yang ada di arah kiri
sana.
Siang-thian-ong menggeram bagai guntur menggelegar, serunya:
"Ayahnya srigala, puteranyapun srigala, mana boleh diantapi hidup
di dunia ini."
Ji Bun tersentak sadar dari kejut yang membuat pikirannya butek.
Mendadak ia menyadari keadaan dirinya yang serba kepepet dan
nasib apa yang bakal menimpa dirinya. Tanpa bicara mendadak dia
menubruk ke arah Siangkoan Hong, beruntun dia lancarkan
serangan dengan Bu-ing-cui-sim-jiu. Gerak tubrukannya ini secepat
kilat, mendadak lagi, siapapun yang disergap begini pasti akan
kelabakan. Tapi secara refleks Wi-to-hwecu angkat sebelah
tangannya menangkis, dia lupa bahwa Ji Bun menyerang dengan
tangan beracun yang bakal mencabut nyawanya.
"Blang", disusul suara gerungan rendah, tampak Ji Bun terpental
balik menumbuk dinding malah, begitu keras benturan ini sampai
gardu itu terasa guncang. Tapi segera tubuh Ji Bun terpental balik
dan terhuyung hampir roboh, darah menyembur dari mulutnya.
Yang menolong Siangkoan Hong ternyata adalah Thong-sian
Hwesio. Pertama kali Ji Bun merasakan kekuatan dan kehebatan
Sian-thian-cin-khi. Hampir dalam waktu yang sama, suara bentakan
dan hardikan saling susul, beberapa gelombang angin pukulan
sekaligus menerjang secara beruntun dengan dahsyat, namun hanya
terlambat sedetik saja, gempuran hebat ini semuanya mengenai
tempat kosong.
Berubah air muka Wi-to-hwecu, yang lainpun ikut pucat dan
beringas.
Ji Bun insaf usahanya sudah gagal dan entah nasib apa yang
akan menimpa dirinya, namun dia pantang menyerah, meski harus
menemui ajal dia tetap berjuang sampai titik darah terakhir.
Setelah menyeka darah diujung mulutnya, dengan niat gugur
bersama musuh, tangannya membelah ke arah Bu-cing-so yang
berdiri paling dekat. Walaupun dia sudah terluka, namun sejak
mendapat saluran Lwekang orang tua aneh di jurang Pek-ciok-hong,
kecuali Thong-sian Hwesio, kekuatannya kini tiada orang lain yang
mampu menandinginya, maka dapatlah dibayangkan betapa dahsyat
serangan yang nekat dan siap adu jiwa ini.
Bu-cing-so melayani secara tergesa-gesa dan keripuhan, keruan
ia terdesak mundur hingga keluar gardu. Di tengah bergolaknya
angin pukulan yang menderu, semua perabot yang ada di dalam
gardu sama tersapu porak peronda, tiang gardu juga berguncang
seakan-akan ambruk.
Setelah melancarkan serangannya, Ji Bun tidak pedulikan
hasilnya, sigap sekali dia putar tubuh terus menubruk ke arah Wi-to-
hwecu. "Omitohud!' ditengah sabda Thong-sian yang bergema itu
telapak tangannya cepat mengebut. Segulung angin lembut dan kuat
segera menerjang Ji Bun, kelihatan kebutan tangan ini menimbulkan
segulung angin lunak, tapi begitu Ji Bun keterjang, baru terasa
kekuatannya ternyata bukan kepalang hebatnya.
Bagai diterjang badai mengamuk seketika badan Ji Bun terpental
terguling-guling di luar pekarangan dan tak mampu bangun lagi,
lukanya bertambah berat, darah menyembur semakin banyak.
Orang-orang di dalam gardu serempak memburu keluar dan
mengurungnya di tengah.
Setelah mengatur napas, pelan-pelan dengan menahan sakit Ji
Bun merangkak bangun, teriaknya beringas: "Aku tak kuasa
mengkerumus daging kalian, matipun aku akan mencabut nyawa
kalian!" Betapa tebal kebencian yang terkandung dalam sumpahnya
ini, orang-orang yang mengelilinginya sama merasa jeri dan ngeri.
Siang-thian-ong, si cebol tua paling berangasan, badannya yang
buntak tambun seperti bola menggeser maju, bentaknya. "Anak
keparat ini memang berwatak srigala, jangan dibiarkan hidup
merajalela di dunia ini."
Di tengah bentakannya, pukulannyapun melanda ke arah Ji Bun.
Mendelik liar mata Ji Bun, sekuatnya dia himpun sisa
kekuatannya untuk menangkis. "Plak." Siang-thian-ong
menggelinding balik, sementara Ji Bun roboh terguling lagi, darah
tambah deras menyemprot dari mulutnya, mukanya pucat pias
seperti kertas. Namun dia berusaha bangun, tapi tersungkur jatuh,
beruntun tiga kali baru dia berhasil berdiri dengan langkah
sempoyongan dan badan limbung.
Siang-thian-ong menggerung seperti banteng ketaton, badannya
yang bundar tiba-tiba membal ke atas, telapak tangannya sebesar
kipas terus mengepruk. Pandangan Ji Bun berkunang-kunang,
kupingnya mendenging, jangan kata melawan, untuk berkelitpun
sudah tak kuasa lagi, terpaksa dia terima ajal saja.
Bayangan berkelebat, tahu-tahu Wi-to-hwecu maju menahan
pukulan Siang-thian-ong, katanya: “Harap berhenti dulu!"
Dengan bersungut gusar Siang-thian-ong mundur ke belakang.
Wi-to-hwecu langsung mendekati Ji Bun, katanya: "Ji Bun, kali ini
kubebaskan kau turun gunung, selanjutnya masing-masing pihak
tiada utang piutang, kalau bertemu lagi, aku pasti membunuhmu."
Ji Bun tenangkan diri, katanya dengan tegas: "Siangkoan Hong,
hari ini kau tidak membunuhku, aku bersumpah akan menuntut
balas kepadamu."
"Terserah!" ujar Wi-to-hwecu, lalu dia berpaling dan berseru
kepada Ko Ling-jin yang berdiri jauh di belakang sana: "Ko-
congkoan, antar dia turun gunung."
Ko Ling-Jin mengiakan. Dengan tatapan penuh dendam dan
kebencian Ji Bun tatap setiap orang yang hadir, lalu dengan langkah
sempoyongan beranjak keluar. Ko Ling-jin mengikuti di belakangnya.
Tiada yang dipikirkan, seperti orang yang baru sembuh dari sakit
lama, langkah Ji Bun turun naik sambil menahan derita luar biasa.
Hanya dendam dan kebencian saja yang mempertahankan dirinya,
kalau tidak mungkin dia sudah tidak sanggup angkat kaki.
Setelah keluar dari benteng terdepan, Ko Ling-jin segera kembali.
Seorang diri Ji Bun turun dari Tong-pek-san, waktu itu sudah
kentongan kedua, perjalanan yang biasanya hanya ditempuh
setengah jam, kini harus empat jam. Akhirnya ia tersungkur roboh di
pinggir jalan, tak tertahan lagi ia merintih-rintih. Rebah telentang
kira-kira semasakan air, kembali ia meronta bangun melanjutkan
perjalanan dengan jatuh bangun. Setelah fajar menyingsing baru
jalan pegunungan itu dilaluinya.
Terasa sekujur badan sakit sekali seperti habis digebuki, tulang-
tulang sama nyeri, selangkahpun ia tak kuasa lagi berjalan. Ji Bun
sadar bahwa luka dalamnya amat parah, kalau tidak lekas diobati,
mungkin bisa mendatangkan bahaya bagi jiwanya.
Maka sambil merangkak dan meronta dia merayap memasuki
hutan, akhirnya ia duduk di bawah pohon, dengan tertawa getir ia
menggumam: "Beruntung tidak mati, kelak pasti masih ada
kesempatan."
Sekonyong-konyong sebuah suara yang cukup dikenalnya
berkata: "Te-gak Suseng bagaimana hasilnya?”
Sekuatnya Ji Bun angkat kepala, laki-laki tak dikenal yang
memberikan Ngo-lui-cu itu tahu-tahu sudah berdiri di depannya.
"Gagal total," sahut Ji Bun menyengir.
“Apa gagal? Bagaimana bisa gagal?"
"Digagalkan seorang nyonya muda berbaju merah."
"Siapa dia? Mana Ngo-lui-cu itu?"
"Direbut nyonya muda itu, kalau tidak mana aku bisa gagal."
"Bagaimana kau bisa meloloskan diri?"
"Mereka melepas aku pergi."
"Lho, kenapa?"
"Apa pernah menolong jiwa Wi-to-hwecu, dia utang budi
kepadaku."
Memancar sinar terang yang mengandung nafsu membunuh dari
mata laki-laki tidak dikenal, katanya dingin: "Kau, pernah menolong
jiwanya?"
Ji Bun mengatur napas, sahutnya gusar: "Kau hendak mengorek
keteranganku?"
"Aku harus memberi laporan. Kau sudah tahu wajah aslinya?"
"Sudah, dia itulah Siangkoan Hong."
"Sejak kini kau sudah bermusuhan dengan Wi-to-hwe?"
"Memangnya perlu omong lagi?"
"Kau ingin bertemu dengan ibumu bukan?"
"Sudah tentu, tapi majikanmu .....”
Bertambah tebal nafsu membunuh laki-laki tak dikenal, katanya
menyeringai: "Majikanku sudah berpesan, kalau kau ingin bertemu
dengan ibumu, pergilah ke alam baka saja."
Hampir pecah dada Ji Bun laksana dipukul godam, mendadak dia
berdiri, serunya: "Apa maksudmu?"
"Kalau berhasil, anak dan ibu akan kumpul kembali, kalau gagal
hanya kematianlah yang harus kau tempuh.."
Ji Bun menyurut mundur membelakangi pohon, desisnya
mengertak gigi: "Siapa sebetulnya majikanmu? Bagaimana keadaan
ibuku."
"Kau akan bertemu dan melihatnya di alam baka."
Mendidih darah Ji Bun, sambil menggerung gusar dia menubruk
ke arah laki-laki tak dikenal. Karena mengerahkan hawa murni dan
menyerang dengan kalap, luka-lukanya seketika kambuh. Rasa sakit
yang luar biasa seketika membuat pandangannya gelap, badannya
yang menubruk itu seketika tersungkur kaku tak bergerak lagi.
Laki-laki tak dikenal itu menggumam: "Jangan salahkan aku,
tidak bisa tidak aku harus membunuhmu."
Tangan terangkat terus menggablok punggung Ji Bun, hanya
mengerang lirih Ji Bun tak bergerak Iagi, darah merembes dari
mulut dan hidungnya, daun-daun kering menjadi basah oleh
darahnya.
Laki-laki tak dikenal berjongkok memeriksa urat nadi dan
pernapasan Ji Bun. Setelah terbukti jantungnya berhenti bekerja,
sungguh diluar dugaan tahu-tahu dua titik air mata meleleh dari
uiung matanya, katanya menghela, napas: "Demi aku yang hidup,
maka kau harus mati, jangan salahkan aku, ini memang sudah
nasibmu."
Habis berkata, dengan telapak tangannya yang kuat dia menggali
liang lahat terus menggotong Ji Bun dan direbahkan telentang dalam
lubang serta menguburnya. Dicarinya sebuah batu besar, diatas batu
dia mengukir "Tempat abadi Te-gak Suseng". Di tengah helaan
napas laki-laki tak dikenal itu terus putar badan dan pergi.
Setelah membunuhnya, kenapa menghela napas? Kenapa
menangis pula? Siapakah sebetulnya laki-laki tidak dikenal ini?
Sang surya sudah tinggi di cakrawala, sinarnya menembus daun-
daun pepohonan menyinari pusara baru ini. Te-gak Suseng Ji Bun
sudah bersemayam dalam tanah ini untuk selamanya?
Menjelang tengah hari, dua bayangan orang berlari mendatangi
memasuki hutan itu, seorang adalah nyonya baju hijau yang
mengenakan cadar, tak diketahui usianya, seorang lagi adalah gadis
cantik.
Nyonya berkedok itu berkata: "Kau tahu pasti kalau dia pernah
kemari?"
Gadis cantik itu mengiakan.
"Memangnya laki-laki dikolong langit ini sudah mampus
seluruhnya, sehingga kau justru menujui dia?"
"Suhu luluskanlah keinginan murid."
"Budak bodoh, ada permusuhan apakah dia dengan Wi-to-hwe?"
"Entahlah, murid hanya kuatir dia dibunuh oleh gembong-
gembong silat durjana itu."
"Ah, menyebalkan. Tunggu di sini, aku masuk ke sana sebentar,"
nyonya berkedok masuk ke dalam hutan, sementara si gadis mondar
mandir. Mendadak pandangannya tertuju ke sana, pada sebuah
kuburan baru. Setelah dia melihat jelas, seketika dia memekik keras:
"Dia ... dia sudah mati!"
Cepat dia menubruk maju dan mendekam di atas pusara Ji Bun
dan jatuh semaput.
Tak lama kemudian nyonya berkedok telah katanya keras: "Ada
apa gembar gembor ..... Heh?" Cepat dia lari mendatangi, setelah
melihat tulisan diatas nisan mulutnya mengerut: "Agaknya betul
dugaan budak ini, wah celaka!" dia melangkah maju mengebas
Thian-in-hiat si gadis. Segera si gadis siuman dari pingsannya serta
menubruk kedua kaki nyonya berkedok, pecah tangisnya dengan
sedih.
Lama sekali baru si gadis menghentikan tangisnya. Ia berdiri dan
bersumpah dengan murka: "Aku akan menuntut balas!"
“Menuntut balas, memangnya siapa musuhnya?"
"Siapa lagi kalau bukan orang-orang Wi-to-hwe?"
"Budak, cara bagaimana kau akan menuntut balas?"
"Dengan cara apapun, cara yang paling keji."
Si gadis mengertak gigi dan menghampiri pusara Ji Bun, air mata
bercucuran pula, katanya sesenggukan: "Adik, aku bersumpah ....
menuntut balas kematianmu, kau ..... istirahatlah dengan tenteram,
dik, sungguh tak nyana kita akan berpisah untuk selamanya .....
takkan lama lagi, Cici pasti akan menyusulmu di alam baka,
tunggulah kedatanganku!"
"Anak bodoh, memangnya kau sudah tidak ingat kepada gurumu
lagi."
Si gadis diam saja, hatinya luluh. Siapakah dia? Ia bukan lain
Thian-thay-mo-ki adanya. Sekian lamanya dia melamun, mendadak
ia angkat kedua tangannya menggempur gundukan tanah pusara.
Lekas Nyonya berkedok menangkap tangannya, serunya: "Apa
yang kau lakukan?"
"Murid ingin melihatnya untuk terakhir kali."
"Nak, dia sudah meninggal, kau tahu bagaimana keadaannya
sekarang?"
"Kuburan ini masih baru, pertanda dia belum lama mati."
"Yang sudah mati biarlah pergi, kenapa kau mengusik jenazahnya
........”
"Tapi ..... oh ..... Dik!" Thian-thay-mo-ki menggerung-gerung
sesambatan, begitu sedih memilukan suaranya.
Nyonya berkedok diam saja, dia tidak membujuk atau
menghiburnya. Biarlah dia menangis sepuasnya untuk melampiaskan
duka citanya. Dalam keadaan seperti ini, bujuk dan hiburan akan
percuma saja.
Cukup lama baru tangis Thian-thay-mo-ki mereda. Sambil
berlutut di depan pusara Ji Bun diam-diam dia berdoa dan
mengheningkan cipta. Entah apa yang diucapkannya, bibirnya
kelihatan bergerak. Kejap lain mereka sudah berangkat menuju ke
markas besar Wi-to-hwe.
Tak lama setelah bayangan Thian-thay-mo-ki dan gurunya
lenyap, sesosok bayangan orang muncul dari balik hutan langsung
menghampiri pusara Ji Bun, katanya menghela napas: "Tuhan
menghendaki dia berpulang, apa boleh buat. Di sini bukan tempat
semayam yang cocok untuk dia, aku harus memindahkan dan
menguburnya di tempat lain dengan cara yang memadai, anggaplah
sebagai kewajiban seorang sahabat ........" maka dia bekerja
mengeduk tanah, keadaannya sudah tidak menyerupai manusia.
Jenazah digotong keluar serta dibaringkan di tanah berumput, orang
itu menyobek pakaian dengan air yang ada disungai tak jauh diluar
hutan sana, dia membersihkan muka dan kaki tangan Ji Bun.
"Siapa di situ?" ditengah hardikan nyaring sesosok bayangan
meluncur tiba. Dia adalah Thian-thay-mo-ki yang telah kembali.
Begitu melihat jenazah Ji Bun, tanpa menghiraukan siapa orang di
depannya dan bagaimana jenazahnya bisa keluar dari liang kubur,
segera dia mendekap jenazah Ji Bun serta meraung-raung.
Cepat sekali beberapa orang telah bermunculan pula, yang
terdepan adalah nyonya berkedok baju Hijau, di belakangnya adalah
Wi-to-hwecu, Thong-sian Hwesio dan empat laki-laki seragam hitam.
Mereka menyapu pandang ke arah jenazah Ji Bun lebih dulu. Lalu
perhatian tertuju kepada orang yang mengeduk kuburan.
"Sahabat, sebutkan namamu?" tanya Wi-to-hwecu kereng.
"Cayhe adalah Thian-gan-sin-jiu!" ternyata si tabib kelilingan
samaran Biau-jiu Siansing.
Mendadak Thian-thay-mo-ki berdiri, serunya menuding Biau-jiu
Siansing: "Apa maksudmu mengeluarkannya dari liang lahat?”
"Jenazahnya akan kupindah dan kukubur semestinya."
"Omong kosong, dengan alasan apa kau hendak memindah
kuburannya?”
“Karena aku pernah mendapat pesan seseorang untuk
melindunginya.”
"Pesan siapa?"
"Ciang Wi-bin dari Kay-hong."
`'Apa hubungan Ciang Wi-bin dengan dia?"
"Ciang Wi-bin adalah mertuanya."
"Siapa bilang?"
"Aku yang bilang, belum lama ini dia pernah mengikat
perjodohan dengan puteri Ciang Wi-bin di Kay-hong."
"Tak mungkin mana bisa ......”
Nyonya berkedok angkat tangan mencegah Thian-thay-mo-ki
bicara lebih lanjut, lalu berkata bengis kepada Wi-to-hwecu:
"Jenazahnya ada di sini, nyata bukan?"
"Siapakah yang membunuhnya?" tanya Wi-to-hwecu.
"Kalau bukan kau pasti anak buahmu," kata si nyonya.
"Tanpa ada perintah anak buahku takkan berani sembarangan
turun tangan."
"Kau sendiri bilang, waktu dia turun gunung sudah terluka parah,
siapapun bisa membunuhnya dengan gampang."
"Dengan kedudukan dan pribadiku aku berani menjamin anak
buahku pasti tiada yang berani berbuat di luar perintahku."
"Kau memang pandai mungkir dan berpura-pura."
Tiba-tiba Thong-sian menyelutuk: "Sicu ini kenapa begini kukuh."
Gusar dan membentak nyonya berkedok: "Kau ini terhitung apa,
berani bicara kepadaku!"
Berubah hebat air muka Thong-sian, namun dia tetap sabar,
katanya: "Pinceng pandang kau sebagai tokoh terkemuka Bu-lim
.......”
"Kau belum setimpal bicara soal ini."
Betapapun sabar Thong-sian Hwesio juga menjadi gusar,
matanya mendelik, katanya: "Sam-cai Lolo, harap kau tahu diri."
"Kau minta aku tahu diri? Ha ha ha, sudah lama aku tidak
membunuh orang .......”
"Sicu mau bunuh orang? Sicu kira Sam-cai-cui-hun tiada
bandingannya dikolong langit ini?"
Sam-cai Lolo terkekeh, katanya: "Jika puluhan tahun yang lalu
berani kau kurangajar padaku, sejak tadi kau sudah mampus."
"Locianpwe," sela Wi-to-hwecu, "bicara dulu persoalan sekarang
saja."
"Nanti akan kubereskan dengan kau," bentak Sam-cai Lolo
murka. Tiba-tiba dia gerakkan tangan kanannya, dengan jari-jari
telunjuk, tengah dan manis, sama teracung menuding Thong-sian
Hwesio, bentaknya bengis: "Kalau segera kau berlutut minta ampun,
aku boleh ampuni jiwamu."
Tanpa dihembus angin, jubah Thong-sian Hwesio yang longgar
melambai-lambai, katanya tegas: "Biar Pinceng menyambut tiga jari
sicu."
Sam-cai Lolo menggereng gusar, ketiga jarinya teracung kearah
samping, "ser, ser, ser!" tiba-tiba pohon sebesar pelukan tiga orang
setombak di sebelah kiri sana bergetar, tiga lobang yang dalam
menghiasi batang pohon yang besar itu.
Kerena memakai kedok, bagaimana reaksi dan mimik muka Wi-
to-hwecu tidak diketahui, namun sorot matanya nampak ngeri dan
jera, anak buahnya sama merinding ketakutan. Memangnya siapa
yang pernah melihat dan menyaksikan ilmu jari selihay ini,
mendengarpun belum pernah.
Hanya Thong-sian Hwesio tetap tenang-tenang dan adem ayem,
agaknya dia tidak terkejut atau gentar sama sekali.
"Hwesio cilik," kata Sam-cai Lolo, tak acuh dengan nada
menghina, "bagaimana dirimu dibandingkan dengan pohon itu?"
12.34. Te-gak Suseng Hidup Kembali .....??
Usia Thong-sian sudah lebih setengah abad, namun dipanggil
"Hwesio cilik” sungguh lucu dan menggelikan, namun dia tetap
tenang dan berkata serius: "Sicu boleh turun tangan, kalau aku tidak
kuat melawan, anggaplah Pinceng yang bernasib jelek."
"Selama hidupku belum pernah kuhadapi kurcaci seangkuh kau,
memangnya kau sudah bosan.”
"Bukan bosan hidup, tapi aku yakin dapat melawan ilmu jarimu,"
demikian tantang Thong-sian malah.
"Sambut jariku!" hardik Sam-cai Lolo, tiga larik sinar kemilau
laksana kilat sama menyambar ke arah Thong-sian Hwesio. Thong
sian berdiri tenang sekokoh gunung, bukan saja tidak melawan juga
tidak berkelit.
Terbelalak pandangan Wi-to-hwecu, berubah pula air muka
Thian-thay-mo-ki, belum pernah dia melihat gurunya gusar dan
menggunakan kepandaian mujijatnya ini.
"Cres, cres, cres", desis suara yang berubah menjadi letupan
keras beruntun tiga kali. Begitu sinar kemilau putih mengenai jubah
Hwesio seperti menumbuk dinding baja saja, seketika pecah berderai
keempat penjuru. Thong-sian Hwesio hanya tergetar mundur
setengah tindak.
"Sian-thian-cin-khi," seru Sam-cai Lolo terkejut.
Thong-sian menarik ilmu saktinya, katanya tawar: "Sicu memang
berpengalaman luas, memang tidak malu sebagai tokoh terkemuka
Bu-lim."
Pujian atau cemoohan, orang lain tidak merasakan
perbedaannya, namun bagi pendengaran Sam-cai Lolo sungguh
tidak karuan rasanya. Sejak seabad yang lalu dia sudah terkenal.
Sam-cai-sinkang selamanya belum pernah menemukan tandingan, di
mana Sam-cai-ciat muncul, golongan hitam putih sama lari
menyingkir. Sungguh tak nyana setelah puluhan tahun
mengasingkan diri, hari ini sudah kecundang habis-habisan. Karuan
gemetar sekujur badannya saking gusar dan malu, teriaknya
melengking: "Budak, hayo pergi."
Thian-thay-mo-ki melirik ke arah jenazah Ji Bun, katanya pilu:
"Suhu ......."
"Mau pergi tidak?" bentak Sam-cai Lolo.
"Locianpwe tidak mempersoalkan sebab musabab kematiannya
tanya Wi-to-hwecu dengan suara ramah.
Tanpa bicara dan tidak melirik, tahu-tahu Sam-cai Lolo berkelebat
menghilang.
Thian-thay-mo-ki sudah angkat langkah menyusul ke sana. Tapi
pada saat itulah, tiba-tiba Biau-jiu Siansing berteriak dengan suara
aneh: "Lihat ..... dia ..... dia tidak mati."
Thian-thay-mo-ki segera putar balik, teriaknya penuh emosi: "Dia
tidak bisa mati, kenapa tidak terpikir sejak tadi olehku."
Wi-to-hwecu dan lain-lain sama melenggong bingung, memang
badan Ji Bun kelihatan bergerak-gerak seperti mengejang dadanya
pun turun naik. Seseorang yang sudah mati dan dikubur masih bisa
hidup kembali, sungguh kejadian yang aneh sekali.
Mungkin karena terlalu senang, kaki Thian-thay-mo-ki sampai
lemas dan mendeprok di tanah.
Di antara tatapan semua orang yang serba aneh, kaget dan tidak
percaya, pelan-pelan tapi pasti daya hidup Ji Bun pulih kembali.
Sepeminuman teh kemudian, semua orang menanti dan
menyaksikan dengan sabar, terdengar tenggorokannya berbunyi, dia
kini betul-betul sudah hidup kembali setelah mati.
"Terima kasih kepada Thian Yang Maha Kuasa, ini berarti jiwa
seorang yang lain telah engkau selamatkan juga," demikian ujar
Biau-jiu Siansing seorang diri.
Siapakah jiwa seorang yang lain? Kata-katanya ini tidak
menimbulkan reaksi apa-apa, karena perhatian semua orang tertuju
kepada kejadian di depan mata yang aneh dan jarang terjadi ini.
Kejadian mayat hidup sering terdengar dan diceritakan oleh
orang-orang yang suka mendongeng, mayat hidup umumnya kaku,
namun mayat yang mereka lihat sekarang ini adalah lemas dapat
bergerak bebas seperti manusia biasa, bau mayat tidak tercium.
Malah suara deru napasnya terdengar dengan jelas.
Thian-gan-sin-jiu alias Biau-jiu Siansing segera berjongkok
memeriksa denyut nadi Ji Bun. Teriaknya gembira: "Betul-betul
hidup kembali, sungguh berbahaya, kalau bukan pikiranku ingin
mengebumikannya di tempat lain, mungkin dia sudah mati betul-
betul."
Tiba-tiba dia berputar ke arah Thian-thay-mo-ki dan bertanya:
“Nona tadi bilang dia tidak akan mati dan seharusnya ingat akan hal
ini ...... apakah maksud ucapanmu .......”
Sudah terpentang mulut Thian-thay-mo-ki, namun dia urung
bicara, ia geleng kepala tanpa menjawab.
Biau-jiu Siansing angkat kepala, katanya kepada Wi-to-hwecu:
"Hwecu tidak keberatan bila dia kubawa pergi bukan?"
Wi-to-hwecu menoleh kearah Thong-sian Hwesio, Thong-sian
Hwesio sedikit mengangguk, lalu Wi-to-hwecu berkata: "Boleh, tapi
beritahu kepadanya, pihak kami sudah mengalah sejauh ini, kelak
kalau bersua lagi, bergantung kepada nasibnya saja,” kembali dia
pandang Ji Bun sebentar lalu ajak Thong-sian dan lain-lain pergi.
Ji Bun merintih pelahan, namun kedua matanya masih terpejam,
agaknya daya hidupnya masih terlalu lemah.
Dengan penuh kasih sayang Thian-thay-mo-ki mengawasi dan
menunggu perkembangan selanjutnya dia berdiri lalu berkata
kepada Biau-jiu Siansing: "Tuan hendak membawanya pergi?
Kenapa?"
"Cayhe mendapat pesan dari seorang untuk melindunginya."
"Kularang kau menyentuhnya. Aku sendiri yang akan merawat
dia."
"Nona," kata Biau-jiu Siansing tergelak-gelak, "ketahuilah, dia
laki-laki yang sudah punya isteri dan keluarga?"
Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, desisnya dingin: "Berdasar
apa kau berani berkata demikian? Apa pula buktinya?"
"Ciang Bing-cu sudah berikan anting-anting pualam kepadanya
sebagai tanda pertunangan."
"Mungkin kau salah mengerti, hal ini kuketahui dengan jelas,
hakikatnya dia tidak menaruh cinta kepada Ciang Bing-cu."
"Mungkin nona betul, namun kejadian di dunia ini sering berubah.
Nanti setelah dia siuman, boleh kau tanya dia."
Kebetulan Ji Bun membuka mata, pandangannya pudar, biji
matanya berputar dengan hambar agaknya belum sadar betul-betul.
"Dik, adik," panggil Thian-thay-mo-ki iba.
Lama sekali baru timbul perubahan pada air muka Ji Bun,
akhirnya mulutnya bergerak, suaranya lirih bagai nyamuk: ''Aku .....
sudah mati?"
"Tidak, Dik, kau tidak bisa mati, kau hidup kembali!"
"Mana ..... laki-laki itu? Laki-laki yang turun tangan ....
kepadaku."
"Laki-laki? Siapa dia?''
"Cici, kaukah yang menolongku?"
"Nanti saja dibicarakan, sekarang biar kubantu kau memulihkan
tenaga."
"Jangan ...... sentuh tangan kiriku."
Bercahaya mata Biau-jiu Siansing, katanya: "Mengobati luka
menyembuhkan sakit adalah keahlianku, biarlah aku saja yang
membereskan."
"Baiklah," ujar Thian-thay-mo-ki, "bikin repot kau saja."
Pandangan Ji Bun beralih kepada Biau-jiu Siansing, tanyanya
keheranan: "Kau juga berada di sini?"
"Ji Bun," ujar Biau-jiu Siansing tertawa, "Kau .......”
"Dia bernama Ji Bun?'' tanya Thian-thay-mo-ki matanya terbeliak.
Biau-jiu Siansing diam saja, agaknya dia menyesal kelepasan
omong membongkar asal-usul Ji Bun.
Dengan penuh penyesalan Ji Bun pandang Thian-thay-mo-ki,
katanya terus terang: "Cici, maafkan kerahasiaan ini sekian lama,
adik memang bernama Ji Bun, putera tunggal Jit-sing-pocu Ji Ing-
hong."
“O,” tukas Thian-thay-mo-ki bersuara sekali, seperti hendak
bicara lagi. Namun melihat keadaan Ji Bun yang lemah, dia
urungkan niatnya, berhenti sebentar baru dia menambahkan: "Dik,
biar kubantu pengobatan dirimu."
"Nona," tukas Bian-jiu Siansing, “dia harus minum obat untuk
menambah semangat .......”
"Tidak usah," tukas Thian-thay-mo-ki ketus, tanpa menghiraukan
reaksi Biau-jiu Siansing, dia berjongkok dan duduk di samping Ji
Bun, telapak tangan menempel di Meh-kin-hiat Ji Bun, pelan-pelan
hawa murni dia salurkan ke badan orang. Cara pengobatan seperti
ini biasanya memang sering dilakukan oleh kaum persilatan.
Ji Bun pejamkan kedua mata, dengan sisa tenaganya pelan-pelan
iapun himpun hawa murni dan pusatkan tenaga, mukanya yang
pucat pelan-pelan bersemu merah. Kira-kira satu jam kemudian baru
Thian-thay-mo-ki berhenti dan menarik tangannya berdiri, wajahnya
kelihatan pucat.
Ji Bun buka mata dan bergegas berdiri, katanya tulus. "Cici,
banyak terima kasih atas pertolonganmu."
Thian-thay-mo-ki meleroknya sekali, katanya: "Terima kasih
segala, aku tidak suka mendengarnya."
"Ji Bun," timbrung Biau-jiau Siansing, apakah yang telah terjadi?"
Ji Bun mengerut alis, katanya: "Apa yang kau ketahui?"
"Pengalamanmu sampai kau dikubur di sini."
Mengawasi liang kubur dan batu nisan yang bertata nama
julukannya, berkobar amarah Ji Bun. Dia tahu dengan pengalaman
Biau-jiu Siansing yang luas mungkin tahu siapa majikan yang
dikatakan laki-laki tak dikenal itu, maka dengan sabar dia mulai
ceritakan pengalamannya. Dia menambahkan: "Tahukah kau siapa
kiranya majikan orang tak dikenal itu?"
"Kukira tidak mungkin, kecuali ......” Biau-jiu Siansing ragu-ragu.
"Kecuali apa?"
Sorot mata Biau-jiau Siansing menampilkan rona yang serba
susah, dia menengadah mengawasi langit, lama sekali baru berkata
dengan nada berat: "Liku-liku persoalan ini amat rumit, perlu waktu
cukup lama untuk menyelidikinya."
"Tuan tahu asal usul orang itu?"
"Tidak tahu."
"Tapi kau tadi bilang tidak mungkin kecuali .... apa maksudnya?"
"Itu hanya dugaan, mungkin tidak cocok satu dengan yang lain."
"Kurasakan kau tidak bicara sejujurnya."
"Ji Bun, dalam waktu sebulan pasti kuberi jawabanku,
bagaimana?"
"Apakah kau bisa menepati janji?"
"Omong kosong," ujar Biau-jiu Siansing sungguh-sungguh,
"begini saja, kau boleh ajukan persoalan ini kepada mertuamu Ciang
Wi-bin."
Tiba-tiba berubah air muka Thian-thay-mo-ki, selanya: "Dik, sejak
kapan kau mengikat pernikahan dengan puteri keluarga Ciang?"
Kikuk dan rikuh Ji Bun, sahutnya: Ah, tidak."
"Ji Bun," kata Biau-jiu Siansing dingin, "seorang laki-laki harus
menepati janji, mana boleh kau menjilat ludahmu sendiri?"
Panas muka Ji Bun, katanya: "Berapa banyak persoalan yang
tuan ketahui?"
"Semua persoalanmu tidak seluruhnya kuketahui, namun delapan
puluh persen kukira ada."
"Dik, jadi hal itu memang benar?" tanya Thian-thay-mo-ki sedih.
"Tidak!" sahut Ji Bun tegas.
"Ji Bun, soal ini tiada sangkut pautnya dengan Lohu, namun
kusaksikan sendiri dari kecil Bing-cu tumbuh dewasa, sekali-kali kau
jangan menghinanya."
"Menghina?"
"Kau menerima anting-antingnya, pernah berjanji mengikat
perjodohan pula bukan?"
"Dia sendiri yang memberikan anting-anting, waktu itupun
kuajukan syaratku."
"Mana boleh dikatakan syarat, kau lupa janji dan ikatan kedua
orang tua kalian."
"Soal jodoh ini tidak ditentukan secara adat waktu itu, kan hanya
secara lisan saja .....”
"Memangnya apa maksudmu waktu kau berjanji dihadapan
mertuamu?”
"Janji apa?"
"Kau berjanji begitu racun dalam tubuhmu bisa ditawarkan,
segera kau akan menepati janji melangsungkan pernikahan, betul
tidak?"
"Benar, tapi kenyataan telah bicara, racun ini selamanya takkan
bisa tawar."
"Siapa bilang tidak bisa ditawarkan?"
Tersirap darah Ji Bun, teriaknya: "Apakah ......"
"Ya, Ciang Wi-bin sudah memperoleh cara untuk menawarkan
racunmu, katanya, umpama dia harus mengorbankan segalanyapun
tidak akan menyesal."
Ji Bun diam, hatinya bergolak seperti ombak samudera yang
mengamuk, terbayang olehnya betapa besar perhatian dan kasih
sayang Ciang dan puterinya pada saat dirinya menghadapi jalan
buntu, sungguh tidak ternilai .....”
Pucat, muka Thian-thay-mo-ki, air mata tak tertahan bercucuran,
katanya sedih: "Dik, semoga kelak ...... berjumpa lagi!" Dengan
langkah cepat dia terus berlari pergi.
"Cici!" teriak Ji Bun serta melesat ke sana mengejar, tapi sekali
gerak Biau-jiu Siansing sudah menghadang di depannya, katanya:
"Tak usah dikejar."
"Apa tuan tidak keterlaluan mengurusi diriku?” semprot Ji Bun
gusar.
"Soalnya Lohu dipercayai orang untuk ......”
"Cayhe tidak suka ada orang mencampuri urusan pribadiku."
"Jadi kau mau ingkar janji?”
"Siapa bilang?"
"Baiklah, datanglah ke Kay-hong dan bicaralah secara langsung
dengan mertuamu."
Ji Bun tahu betapa besar dan murni cinta Thian-thay-mo-ki
terhadap dirinya. Caranya berlari pergi dengan sedih dan putus
harapan, tentu hatinya sangat menyesal. Akan tetapi dendam sakit
hati keluarga belum terbalas, mati hidup sendiri susah di ramalkan,
terutama tangan kirinya yang beracun pantang dirinya mendekati
perempuan. Apakah pantas dirinya memperoleh cinta kedua orang
gadis? Dengan tertawa getir dia merogoh keluar anting-anting
pualam dari sakunya, katanya: "Tolong tuan kembalikan anting-
anting ini kepada paman Ciang, beliau pasti maklum akan kesulitan
Cayhe."
Biau-jiu Siansing melengak, tanyanya: "Kau sudah mendapat
kembali anting-anting ini?"
"Ya, dari tangan Kwe-loh-jin."
"Ehm, tapi .... Lohu tidak berani mengurus soal ini. Dengan
setulus hati dan cintanya yang sejati Ciang Bing-cu berikan anting-
anting ini sebagai tanda mata padamu, kini kau putuskan hubungan
atau atau mau ingkar janji, kau harus bicara sendiri saja."
Ji Bun jadi serba susah, kata-kata Biau-jiu Siansing mengetuk hati
dan menusuk perasaannya. Terbayang olehnya betapa kasih sayang
Ciang Bing-cu yang menungguinya semalam suntuk di kamar buku
tempo hari, meladeninya dengan telaten, betapapun dirinya sudah
pernah berjanji.
"Ji Bun," ujar Biau-jiu Siansing, "Lohu peringatkan sekali lagi,
untuk menyembuhkan tangan kirimu ini, siang malam Ciang Wi-bin
berusaha tanpa mengenal lelah, betapapun dia berusaha mencari
obat pemunah racun tanganmu. Kini resep-resep obat yang
dibutuhkan sudah mulai terkumpul, memangnya kau anggap sepele
susah payahnya itu?"
Ji Bun percaya apa yang dikatakan orang tua aneh di dasar
jurang tentang ilmu beracun tangan kirinya memang takkan tawar
kalau ajalnya belum tiba atau tangannya ini dibuntungi, bahwa
sekarang Ciang Wi-bin katanya berhasil memperoleh obat
penawarnya, ini sungguh diluar tahunya, karena tertarik, ia
bertanya: "Resep apakah yang diperoleh paman Ciang untuk
menawarkan racun tanganku?"
"Lohu sendiri tidak tahu, kau tanya langsung padanya saja."
Ji Bun tidak bertanya lagi, kini tak terpikir pula olehnya untuk
menawarkan racun ditangan kirinya, hanya satu niat yang masih
berkobar dalam benaknya, yaitu menuntut balas. Tangan kirinya
yang beracun merupakan senjata ampuh yang menjadi andalannya,
soal lain tidak pernah terpikir lagi.
Tiba-tiba Biau-jiu Siansing unjuk rasa, heran, tanyanya: "Aneh,
bagaimana kau bisa tidak mati?"
Selama ini Ji Bun sendiri juga sedang bingung. Seingatnya belum
pernah dia makan sesuatu obat mujarab apapun, tidak pernah
meyakinkan suatu ilmu sakti. Namun beruntun dirinya pernah mati
tiga kali, tiga kali pula dirinya hidup kembali dengan segar bugar.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Memang kejadian ini merupakan
peristiwa aneh dan janggal.
Sejak dirinya luka dan terpukul mampus oleh laki-laki tak dikenal
terus dikubur, sedikitnya dirinya sudah mati selama satu jam.
Manusia biasa tentu sudah mati terpendam tanpa bisa bernapas,
masakah dirinya masih bisa hidup? Ataukah ada seseorang yang
selalu menolongnya secara diam-diam? Lalu siapakah dia? Semakin
dipikir semakin bingung dan pusing kepalanya, terasa kejadian ini
sangat aneh dan mengerikan. Sebab apakah setelah dirinya mati
bisa hidup kembali? Dengan bingung dia geleng-geleng kepala,
katanya:"Cayhe sendiri juga tak tahu persoalannya.”
Seperti ingat sesuatu, tiba-tiba Biau-jiu Siansing berkata: "Ya.
sekarang Lohu ingat, pasti dia tahu seluk beluk persoalannya."
"Dia?" tanya Ji Bun melenggong. "Siapa?"
“Thian-thay-mo-ki, dia pernah bilang sesuatu, namun Lohu tidak
perhatikan, kini kalau dipikirkan, pasti ada latar belakangnya ......”
"Ada yang dia katakan?"
"Dia bilang: “seharusnya aku ingat akan hal ini, dia tidak bisa
mati."
"O," kata Ji Bun, "apakah dia yang mengeduk Cayhe dari liang
lahat?"
"Bukan, Lohu yang mengeluarkan kau."
"Kau yang mengeluarkan aku?"
"Ya, maksudku semula hendak memindah jenazahmu dan dikubur
semestinya untuk memenuhi pesan Ciang Wi-bin. Tak nyana kau
malah hidup kembali, sungguh kebetulan sekali, kalau bukan
lantaran keinginanku itu, mungkin sekarang kau masih rebah di
bawah tanah."
Merinding Ji Bun dibuatnya, memang betul, kalau Biau-jiu
Siansing tidak mengeduk dirinya, jiwanya pasti sudah tamat. Itu
berarti dirinya utang jiwa padanya, lekas dia memberi hormat serta
berubah panggilan: "Terima kasih atas pertolongan Cianpwe, kelak
pasti kubalas kebaikan ini.”
"Ah, sudahlah," ujar Biau-jiu Siansing tertawa lebar, "anggaplah
ajalmu belum tiba, sehingga mengalami kejadian yang sangat
kebetulan. Cuma secara tulus Lohu mengharap kau tidak menyia-
nyiakan harapan keluarga Ciang kepadamu, terutama Ciang Bing-cu
yang begitu besar dan murni cintanya padamu. Sejak kau
menolongnya dari tangan orang-orang Cip-po-hwe, dia sudah
bersumpah tanpa kau dia tidak akan mau kawin dengan laki-laki lain,
umpama kau mati begini saja, kukira budak itu juga akan mencari
jalan pendek."
Tersirap darah Ji Bun, batinnya, betulkah begitu luhur dan murni
cinta Ciang Bing-cu kepadaku? Kalau betul, cara bagaimana diriku
harus menyelesaikan soal asmara ini? Lalu bagaimana pula dirinya
harus bersikap terhadap Thian-thay-mo-ki.
Teringat Thian-thay-mo-ki, pikirannya menjadi kalut, dia merasa
utang budi atas pertolongannya beberapa kali. Iapun sudah
meresapi betapa besar pula cinta orang terhadap dirinya. Sayang dia
tidak senang melihat tingkah lakunya yang genit, sepak terjangnya
tak ubahnya seperti perempuan jalang.
Melihat Ji Bun melongo saja, Biau-jiu Siansing bertanya pula: "Ji
Bun, soal menuntut balas, kuharap kau berembuk dulu dengan Ciang
Wi-bin sebelum bertindak.”
Ji Bun mengiakan dan manggut-manggut.
"Sekarang boleh langsung kau pergi ke Kay-hong. Ingat, dalam
satu bulan Lohu akan bantu kau menyelidiki siapa penculik dan
musuh yang melukai kau, tiba waktunya nanti Lohu akan mencarimu
lagi."
"Cianpwe boleh silakan dulu."
Biau-jiu Siansing geleng-geleng kepala, setelah menghela napas,
dia melejit pergi.
Pikiran Ji Bun masih kalut, hatinya risau, perasaannya campur
aduk, entah benci, dendam, kecut atau getir .....”
Dia masih mematung diam dikala sebuah bayangan tiba-tiba
meluncur turun dihadapannya, ternyata Biau-jiu Siansing putar balik
lagi.
Ji Bun bertanya : "Ada petunjuk apa lagi Cianpwe?”
"Maukah kau menutupi muka aslimu saja?"
"Kenapa?”
"Situasi sekelilingmu amat genting, keadaanmu sekarang amat
berbahaya, banyak orang menghendaki jiwamu"
"Maksud Cianpwe supaya aku menyamar?“
"Ya, disamping orang-orang Wi-to-hwecu, Kwe-loh-jin yang kau
katakan sudah tiga kali membunuhmu, walau kurang jelas
tujuannya, namun dia tetap tidak akan melepasmu. Bukan mustahil
begitu kau muncul, kau akan mengalami pembokongan lagi. Kau di
tempat terang musuh dipihak gelap. Untuk membongkar kedoknya
jelas amat sulit, jalan baik untuk meluruskan usahamu, sekarang
kuburan ini harus dikembalikan dalam bentuk semula, supaya dia
tidak mengira kalau kau telah hidup kembali."
"Tapi soal Wanpwe hidup kembali kan sudah diketahui dan
disaksikan orang lain."
"Itu tidak penting, tujuannya hanya untuk mengaburkan
pandangan musuh saja, dan lagi setelah menyamar dalam bentuk
lain, untuk selanjutnya nama Te-gak Suseng harus dihapus dari
kalangan Kang-ouw. Carilah kesempatan dan menyelidiki, Lohu juga
akan bekerja dari jurusan lain, mungkin dengan kerja sama kita akan
berhasil membongkar kedoknya."
Ji Bun berpikir sebentar, akhirnya menjawab: “Baiklah, kuterima
usul Cianpwe."
Maka kuburan Te-gak Suseng kembali ditegakkan lagi.
12.35. Orang Desa Penagih Darah
Biau-jiu Siansing keluarkan dua butir macam bundar sebesar
kelengkeng, katanya: "Yang berwarna kelabu adalah obat untuk
merias muka, gunakan air dan poleskan dimuka leher dan kaki
tangan yang terlihat dari luar, kulit badanmu akan berubah. Sedang
yang berwarna putih ini untuk pemunahnya atau untuk memulihkan
bentukmu semula. Kulitmu yang sudah berubah warna, kecuali
dipunahkan dengan obat aslinya, selamanya tidak akan luntur. Dan
satu hal lagi harus kau perhatikan, setelah kulit wajahmu berubah,
suaramu juga harus kau ganti supaya tidak konangan, dengan dasar
latihan Lwekangmu, kukira bukan soal sulit untuk mengubah
suaramu."
"Soal kecil ini pasti dapat kulakukan," sahut Ji Bun.
"Demikian pula dandananmu selanjutnya harus diganti, Lohu
kebetulan membawa bekal pakaian, nah ambillah," Biau-jiu Siansing
membuka peti obatnya, di lapisan paling bawah dia keluarkan
seperangkat pakaian dan diberikan pada Ji Bun.
Itulah satu stel baju dan celana katun warna biru, warnanya
sudah luntur dan agak kumal. Bajunya malah sudah tambalan.
Dalam hati Ji Bun membatin, dengan berdandan seperti ini entah
berubah jadi apa bentuk dirinya ini ......”
Biau-jiu Siansing panggul peti obatnya, dengan menenteng dan
membunyikan kelintingan dia beranjak pergi.
Setelah ganti pakaian, Ji Bun memendam pakaiannya yang
berlepotan darah, lalu pergi ke sungai di pinggir hutan untuk
membersihkan badan. Obat rias bungkusan kelabu dia keluarkan lalu
dicampur air sungai dan dipoleskan ke muka dan seluruh badan,
kedua lengannya kini berubah coklat legam.
Habis merias diri dia berkaca pada air sungai yang jernih.
Seketika dia tertawa geli sendiri. Pelajar yang semula ganteng kini
berubah jadi orang desa yang bermuka coklat legam, jangan kata
orang lain, dia sendiripun tak kenal lagi pada wajahnya.
Kini ke mana dia harus pergi? Ia melamun. Dendam kebencian
berkobar pula dalam hatinya. Biau-jiu Siansing menyuruhnya pergi
ke Kay-hong merembuk dengan Ciang Wi-bin, sakit hati keluarga
mana boleh menyangkut jiwa orang lain. Apalagi musuh sehebat
Thong-sian Hwesio, memang Ciang Wi-bin mampu menandinginya.
Memandang jauh ke puncak Tong-pek-san di sebelah utara sana,
darahnya yang bergolak serasa mendidih. Namun dia belum kuasa
menuntut keadilan kepada orang-orang yang katanya menjunjung
keadilan. Betapa derita dan tersiksa lahir batinnya sungguh sukar
dibayangkan.
Dengan hambar tanpa tujuan akhirnya dia keluar dari hutan
menempuh perjalanan.
Kini tugas dan kewajibannya bertambah besar, dengan
munculnya nyonya muda berbaju merah di markas Wi-to-hwe.
Dengan mudah orang merampas Ngo-lui-cu dari tangannya, jelas
Lwekangnya lebih tinggi dari Thong-sian Hwesio. Serta merta dia
bergidik. Sungguh dia tidak habis pikir, kenapa tokoh-tokoh silat
kosen di jagat ini seolah-olah berkumpul di dalam Wi-to-hwe?
Tengah ia berjalan, tiba-tiba dari sebelah atas sana terdengar
bentakan: "Berhenti!"
Ji Bun berhenti dan memandang ke sana, tampak tujuh orang
berseragam hijau berjajar di sana, seorang pemimpinnya memegang
sebuah panji kecil segi tiga dengan huruf "ronda" ditengah, agaknya
mereka ini rombongan peronda dari Wi-to-hwe. Nafsu membunuh
seketika bersemi dalam hati Ji Bun.
Sikap pemimpin ronda ini ternyata cukup ramah, setelah
mengawasi Ji Bun sekian lama baru menegur: "Orang mana kau?"
Untuk menghabisi nyawa ketujuh orang bagi Ji Bun segampang
membalik tangan. Namun setelah dipikir, sementara dia tekan
nafsunya. Terhadap kaum keroco tiada gunanya mengumbar nafsu.
Maka dengan suara serak dia berkata: "Hamba orang berdekatan
sini."
"Dimana tempat tinggalmu?"
"Ngo-li-kip di luar kota Cinyang."
"Untuk apa kau datang kemari?"
"Mencari binatang piaraan yang hilang."
"Jangan kau kira mataku ini sudah lamur sahabat, kau terang
orang persilatan?"
Walau Ji Bun sudah menyamar dan berganti dandanan, namun
dia lupa bahwa Lwekangnya tinggi, langkah kaki dan sorot matanya
tentu jauh berbeda dengan orang biasa, sekali bertemu orang tentu
segera tahu. Otak Ji Bun cukup cerdik, segera dia menyadari akan
kekurangannya ini, terpaksa harus bersabar, katanya tertawa lebar:
"Betul, aku si hitam memang pernah belajar beberapa jurus silat,
tapi bukan persilatan."
Laki-laki yang memegang panji ronda mengamatinya lagi sekian
lamanya, katanya kereng: "Saudara tahu tempat apakah ini?"
"Di bawah Tong-pek-san."
"Kau melihat tanda-tanda yang berada di sana?"
"Wah ..... hi hi hi ..... aku orang desa, buta huruf."
Seorang baju hitam yang lain tiba-tiba nyeletuk: "Thaubak
(pemimpin), di sini baru saja terjadi perkara jiwa, orang hitam ini
agak mencurigakan, lebih baik digusur ke atas gunung untuk
ditanyai keterangannya?"
Laki-laki pemegang panji manggut-manggut, katanya kepada Ji
Bun: "Sahabat, sukalah kau ikut kami ke atas gunung, kalau betul
kau penduduk sekitar sini, kami pasti tidak akan mengganggumu."
Berkerut alis Ji Bun, katanya: "Kau suruh aku naik gunung, ah,
aku tidak punya tempo."
"Sahabat, kami sudah cukup sabar dan ramah terhadapmu,
kuharap kau tidak mempersulit kami, kalau terpaksa ......"
"Terpaksa apa? Sudah kubilang tiada tempo," berkobar pula
nafsu Ji Bun.
Laki-laki pemegang panji menarik muka, katanya: "Sahabat, apa
sih artinya kalau pakai kekerasan?”
"Apa kekerasan? Jadi kau mau berkelahi? Hari ini aku tidak ingin
membunuh orang."
Kata-kata ini membuat ketujuh orang itu berubah air mukanya,
pemimpinnya, segera menjengek: "Sahabat, di wilayah Wi-to-hwe
yang terlarang tidak boleh membunuh orang."
Ji Bun memang ingin membunuh mereka, tapi sekilas dipikir, buat
apa membuat gara-gara dengan kaum kroco, katanya dingin:
"Jangan kau paksa aku membunuh kalian. Minggir!"
"Sahabat memangnya sudah gila," bentak laki-laki pemegang
panji kecil. Tiba-tiba dia menubruk maju seraya ulur tangan
mencengkeram pundak Ji Bun, serangan ini cukup lihay dan cekatan.
Agaknya dia memang memiliki kepandaian lumayan, tapi kebentur
Te-gak Suseng, kepandaian ini seperti telor menumbuk batu. Kalau
ketujuh orang ini tahu siapa yang berhadapan dengan mereka, pasti
sudah sejak tadi lari terbirit2.
"Huuuaaaah!" ditengah lolong panjang yang menyayat hati, laki-
laki pemimpin itu tiba-tiba jatuh terjengkang. Kaki tangan
berkelejetan sebentar terus tak bergerak lagi. Keruan keenam
peronda yang lain serasa copot nyalinya, mereka berdiri terpaku
dengan mata terbeliak, lawan tidak kelihatan bergerak, namun
pemimpinnya sendiri tiba-tiba jatuh mampus, sungguh kejadian
aneh.
Begitu nafsu membunuh timbul sudah tidak terbendung lagi.
Terbayang oleh Ji Bun betapa mengenaskan kematian seluruh
penghuni Jit-sing-po. Kini tibalah saatnya utang darah ditagih
dengan darah pula. Kenapa aku harus menaruh kasihan segala.
Maka tanpa berhenti segera ia melangkah maju, belum lagi
keenam peronda itu sempat menyelamatkan diri, beruntun mereka
menjerit berjatuhan saling tindih. Dalam sekejap ketujuh peronda
Wi-to-hwe ini sudah dicabut nyawanya.
Sekilas Ji Bun mengawasi mayat-mayat yang bergelimpangan itu,
lalu tinggal pergi, langkahnya tetap bergoyang gontai dan lambat.
Belum sepuluh tombak dia berjalan, sebuah suara dingin
berkumandang dari jauh: "Bocah keparat, putarlah kembali."
Ji Bun menoleh, dilihatnya tiga bayangan orang meluncur tiba
berdiri sejajar diantara mayat-mayat yang bergelimpangan. Laki-laki
muka hitam yang terdepan jelas adalah komandan ronda Wi-to-hwe
yang bernama Khu In, dua orang dibelakangnya adalah laki-laki
kekar. Agaknya bergelora dendam kesumat ketiga orang ini, sorot
mata mereka buas dan liar karena anak buahnya dibunuh.
Tiba-tiba terkiang pesan ayahnya diwaktu masih hidup: "Berantas
satu persatu!" Segera dia membalik badan dan menghampiri musuh
dengan langkah lebar.
Tampang dan dandanannya mirip benar dengan orang desa yang
bodoh. Keruan Khu In mengerut kening, mungkinkah laki-laki yang
tidak terpandang ini adalah pembunuh? Dengan bingung dan kurang
percaya Khu In mengawasi Ji Bun, katanya: "Kaukah yang
membunuh mereka?"
"Betul," sahut Ji Bun.
Khu In tetap ragu-ragu, ia tidak percaya kalau anak buahnya
terbunuh oleh orang desa ini. Kedua pengawalnya agaknya sudah
tidak sabar lagi, mereka sudah mencincing lengan baju dan
menggosok kepalan.
Ji Bun menjengek hina: "Khu In, kau tidak percaya?"
Khu In berjingkat mundur, katanya gemetar: "Sekarang aku
harus percaya, dari mana kau bedebah ini tahu namaku?"
"Memangnya ini bukan rahasia? Betul tidak?"
Muka Khu In yang hitam menjadi legam, sorot matanya bersinar
buas, bentaknya kereng: "Sebutkan nama dan gelaranmu?"
Sekilas Ji Bun mendapat ilham, segera ia menjawab dingin: "Aku
yang rendah adalah Siu-hiat-jin (penagih darah)."
"Apa? Siu-hiat-jin? Tak pernah dengar di kalangan Kang-ouw ada
nama gelaran ini?"
"Itulah karena kau cetek pengalaman dan sempit pengetahuan."
Kedua laki-laki pengawal itu betul-betul tidak sabar lagi, namun
sebelum mendapat perintah mereka tidak berani bertindak. Khu In si
komandan rondapun menjadi gusar, bentaknya; "Apa betul kau yang
membunuh mereka?"
"Perlu keterangan lagi?"
"Kenapa kau bunuh mereka?"
"Menagih darah."
"Menagih darah apa?"
"Setelah kau mampus, kau akan mengerti."
"Ringkus dia!" bentak Khu In. Memangnya perintah ini yang
ditunggu kedua pengawalnya. Serempak mereka menubruk maju
seperti harimau menerkam mangsanya, keempat tangan mereka
mencakar bersama.
"Cari mampus!" Ji Bun menggeram, tangan kiri menutul enteng,
berbareng tangan kanan menyapu keras, kontan dua jeritan
berkumandang menggema lembah pegunungan. Orang di sebelah
kiri seperti ketumbuk dinding tak kelihatan, seketika terbanting
berguling-guling tak bergerak lagi, sementara orang di sebelah
kanan terpental tiga tombak jauhnya.
Serasa pecah jantung Khu In, hardiknya: "Siu-hiat-jin, terlalu
rendah aku menilaimul"
Di tengah bentakannya, segulung angin badai seketika
menyambar ke arah Ji Bun.
Ji Bun gerakkan kedua tangan, dengan kekuatan besar dia
menahan. "Plaak!" di tengah benturan dahsyat, tanah dan rumput
terbang berhamburan. Komandan ronda Khu In mengoak tertahan
dan beruntun mundur empat langkah, mukanya yang hitam semakin
gelap, darah meleleh dari ujung mulutnya membasahi pakaiannya.
Ji Bun mendesak maju hawa nafsunya semakin bertambah,
desisnya: "Khu In, serahkan jiwamu!"
"Berhenti!" untunglah pada detik-detik yang menentukan itu,
sebuah bentakan yang cukup dikenal suaranya berkumandang dari
kejauhan.
Serta merta Ji Bun hentikan tangannya di tengah udara, waktu
berpaling, dilihatnya sebuah tandu dipikul mendatangi bagai
terbang, dalam sekejap sudah tiba di depan mereka. Begitu tandu
diturunkan, keempat pemikul tandu yang berotot segera mundur
berjajar ke belakang.
Komandan ronda Khu In segera menyongsong sambil
membungkuk memberi hormat serunya: "Menghadap Thay-siang-
hau-hoat (pelindung agung)."
"Komandan Khu tidak usah banyak adat, silakan mundur ke
samping."
Memangnya nafsu Ji Bun tak terkendali lagi. Kedatangan orang
dalam tandu amat kebetulan baginya untuk dibunuh satu persatu
dan mengurangi kekuatan musuh.
"Komandan Khu," kata pula orang dalam tandu dengan suara
dingin bengis, "periksa kematian para korban."
Khu In mengiakan, dia membalik mayat-mayat itu serta
memeriksa dengan teliti.
Pandangan tajam Ji Bun menatap ke arah tandu. Bagaimana
bentuk dan tampang orang tandu sampai sejauh belum
diketahuinya, yang terang dia adalah perempuan, Lwekang dan
kepandaian silatnya tinggi, terutama tutukan jarinya yang sakti.
Namun sejak mendapat tambahan Lwekangnya dan kepandaian
dari orang tua di dasar jurang kemampuan Ji Bun sudah berlipat
ganda. Namun belum pernah bentrok secara langsung dengan orang
dalam tandu, apakah kuat mengalahkan orang, dia belum punya
keyakinan. Diam-diam dia menerawangkan cara bagaimana harus
paksa musuh keluar dari tandu?
Khu In berdiri serta melotot kepada Ji Bun, lalu mendekati tandu,
lapornya: "Lapor Thay-siang-hou-hoat, para korban tiada bekas luka-
lukanya."
"Apa, tiada bekas luka?"
"Ya, menurut hamba, seperti ..... seperti Te-gak Suseng
membunuh orang."
"Maksudmu Bu-ing-cui-sim-jiu?"
"Mirip sekali, namun belum berani dipastikan."
"Baik kau mundur," ujar orang dalam tandu, lalu dengan suara
dingin dia tanya Ji Bun: "Siapakah sahabat ini?"
"Siu-hiat-jin."
"Siu-hiat-jin, dari mana kau?"
"Kenapa kau tidak keluar saja, memangnya malu dilihat orang?"
"Kurangajar, Siu-hiat-jin, apa alasanmu membunuh orang?"
"Menagih darah."
"Sasarannya adalah perkumpulan kami?"
"Tepat sekali."
Orang dalam tandu diam, agaknya tengah berpikir, suasana
menjadi sepi, namun tegang. Lama sekali baru orang dalam tandu
bersuara dengan nada berat: "Siu-hiat-jin, pernah apa kau dengan
Te-gak Suseng?"
Otak Ji Bun bekerja cepat, perlukah terus terang. Kalau
mengakui, arti dari penyamarannya menjadi tak berguna, padahal
lawan mengerahkan segenap kekuatan untuk menempur dirinya.
Kalau menyangkal, lawan sudah tahu akan ilmu beracunnya, terang
sukar untuk mengelabui dia. Sudah tentu, kalau sekali gebrak dia
dapat membunuh lawan tanpa seorangpun ditinggalkan hidup,
segala persoalan pun tidak perlu dikuatirkan lagi, tapi apakah dirinya
mampu bertindak, masih merupakan tanda tanya. Oleh karena itu
dia berkata samar-samar: "Hal ini kau tidak perlu tahu."
"Baik, soal ini tidak usah dibicarakan, ikutlah aku ke atas gunung
atau terpaksa aku harus turun tangan?"
"Ikut kau ke atas gunung? He he he he ....... kalian yang ada di
sini jangan harap bisa hidup lebih lama lagi."
"Keparat!" tiba-tiba segulung angin menerjang ke luar dari dalam
tandu. Ji Bun tak pernah lena, lekas dia berkisar dan sedikit jongkok,
kedua tangan menyongsong datangnya serangan dengan setakar
kekuatannya. Cara tempur dengan kekerasan merupakan adu
kekuatan Lwekang. Semakin matang latihannya semakin hebat
kekuatannya, sedikitpun tidak dapat dipalsukan dan tidak mungkin
menggunakan akal atau muslihat.
Memang dua tujuan yang memaksa Ji Bun memakai cara tempur
yang memeras keringat ini, pertama, supaya lekas berakhir dan
menentukan, kedua, untuk menyelidiki dan menjajal sampai di mana
sebetulnya kekuatan lawan.
"Blak," dua tenaga pukulan yang dasyat saling hantam
menimbulkan suara dasyat. Hawa seketika bergolak, tandu berhias
itu sampai semplak dan pecah tercerai berai. Keempat pemikul tandu
sama berubah air mukanya, mereka melompat mundur dua tombak
jauhnya. Komandan ronda Khu In yang berdiri jauh di sana juga
melongo.
Sementara itu, keadaan Ji Bun juga cukup mengenaskan. Getaran
tenaga tadi membuat kedua kakinya yang bertahan sekokoh gunung
itu lantas ambles ke dalam tanah sebatas mata kakinya. Sementara
orang dalam tandu yang selama ini bersembunyi dalam tandu
terpaksa harus mengunjuk diri, dia ternyata adalah seorang Nikoh
tua.
Hampir saja Ji Bun menjerit kaget setelah mengenali siapa
sebetulnya orang yang berada di dalam tandu ini, karena dia bukan
lain adalah ketua Boh-to-am, yaitu Siu-yan Loni. Maklumlah lantaran
dia seorang beribadat, kalau mencampurkan diri menjadi anggota
suatu persilatan di Kang-ouw mungkin bisa menimbulkan hal-hal
yang tidak di inginkan disamping bisa menjadikan cemooh dan tutur
kata orang banyak dan lagi dia akan banyak mengalami kesulitan di
dalam melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anggota suatu
perserikatan. Oleh karena itu dia selalu naik tandu berhias untuk
menyembunyikan diri, kini Ji Bun kenal Siu-yan Loni, tapi Siu-yan
Loni tidak mengenalnya lagi.
Orang dalam tandu ini pernah sekian lamanya membuat Ji Bun
bertanya-tanya dalam hati, betapa susah payahnya dia berusaha
untuk menyelidiki dan membongkar asal usulnya. Tak nyana hari ini
dengan mudah dan tanpa sengaja keinginannya itu terlaksana
dengan mudah sekali.
Agaknya Siu-yan Loni menahan gejolak perasaannya, karena
badan gemetar, kulit mukanya yang penuh keriput tampak berkerut.
Sorot matanya tajam dan menakutkan, katanya penuh emosi: "Siu-
hiat-jin, tidak lemah kepandaianmu."
Dengan menyindir jawab Ji Bun: "Ah, Suthay terlalu memuji."
"Tapi jangan kau takabur, kalau Pinni tak mampu membereskan
kau, segera aku bunuh diri dihadapanmu."
Sudah tentu tersirap darah Ji Bun mendengar ancaman ini,
bahwa Nikoh tua ini berani mempertaruhkan jiwanya, sudah tentu
bukan gertak sambal belaka. Dia cukup trampil melihat situasi,
karena daerah sekarang dia berada masih merupakan kekuasaan Wi-
to-hwe, bala bantuan musuh bukan mustahil akan menyusul tiba
secepat mungkin. Kalau ditambah dua tiga musuh bangkotan lagi,
tidak sulit diramalkan bagaimana akhir dari nasibnya. Jalan tepat
yang harus dilaksanakan sekarang adalah selekasnya mengakhiri
pertempuran. Segera ia melangkah maju, tantangnya: "Boleh kau
mencobanya lagi," Belum selesai ia berkata, pukulannya sudah
dilontarkan lebih dulu.
Dingin muka Siu-yan, kedua lengan bajunya bersilang laksana
gunting dikebaskan ke depan. Segulung angin lunak dan kuat
seketika menerpa seperti angin puyuh dasyatnya.
Seketika Ji Bun merasakan seperti diterjang kekuatan ribuan kati
beratnya, tanpa kuasa tubuhnya íkut berputar-putar, diam-diam dia
mengeluh. Sebelum dia dapat menguasai diri, Siu-yan Loni
kembalikan kedua lengan bajunya dengan gaya yang sama,
beruntun angin kebasan lengan baju menerjang secara berantai ......
Kalau Ji Bun tarik kembali pukulan dan balas menggempur,
waktunya jelas tidak sempat lagi, terpaksa dia kerahkan tenaga pada
kedua kakinya. Secepat kilat tubuhnya melenting ke samping,
ketangannya ditarik terus di dorong untuk mengurangi daya tekanan
lawan, lalu dari samping tiba-tiba dia lontarkan pukulan.
Kali ini Ji Bun memang cukup cerdik dan tepat mengambil
kesempatan. Sedetik peluang ini sudah cukup membuat Siu-yan
merasakan dirinya keterjang angin badai sehingga tubuhnya
terhuyung mundur.
Pertempuran tokoh-tokoh kosen terletak pada kesempatan
pertama dapat mendahului melancarkan serangan. Sudah tentu Ji
Bun tidak sia-siakan kesempatan yang baik ini. Sebat sekali dia maju
lagi, Bu-ing-cui-sim-jiu dengan cepat luar biasa menyerang pula ke
arah lawan.
Bu-ing-cui-sim-jiu adalah ilmu beracun tertinggi dari golongan
racun masa kini, cukup ujung jarinya saja menyentuh tubuh lawan,
sang korban akan jatuh terguling dan jiwapun melayang dalam
beberapa detik saja.
Di kala jari-jari Ji Bun hampir mengenai kulit daging lawan,
damparan angin kencang tiba-tiba menyibak datang dari arah
samping. Hebat juga terjangan ini sehingga Ji Bun yang tidak
mengira akan bokongan ini terpental miring. Serangannya luput
kesempatanpun sirna, malah Siu-yan Loni punya peluang balas
menyerang sehingga Ji Bun terpukul mundur beberapa tombak
jauhnya.
Orang yang membokong dari samping ternyata adalah komandan
ronda Khu In adanya. Sudah tentu bukan kepalang murka Ji Bun,
nafsunya pun semakin berkobar. Begitu kaki menyentuh tanah,
tangkas sekali dia jumpalitan dan lompat kembali menubruk ke arah
Khu In.
"Berani kau!" bentak Siu-yang Loni, kedua tangan serempak di
dorong ke depan, dua jalur angin kencang memecah udara menderu
ke depan.
"Bluk, ngek!" sekaligus terdengar dua suara berbeda, komandan
ronda Khu In terkapar di tengah serangan yang terakhir, sementara
Ji Bun menguak seperti sapi digorok lehernya, badannya bergoyang
dengan kaki terhuyung. Sekujur badan serasa kosong dan lunglai
karena terjangan angin pukulan Siu-yan Loni yang lihay ini.
Khu In sempat berkelejetan tiga kali, badannya seketika lemas
tak bergerak lagi.
Serasa copot sukma Ji Bun, tenaganya macet sehingga tak
mampu dikerahkan lagi, itu berarti dia harus berpeluk tangan terima
kematian. Entah menggunakan ilmu apakah Nikoh tua ini, dalam
jarak yang cukup jauh dia mampu mematahkan kekuatan lawan
hanya dalam segebrakan saja?
Siu-yan Loni melengking murka, lengan baju bergoyang telapak
tanganpun bekerja, "Blang!” diselingi jeritan keras, kembali Ji Bun
terlempar dua tombak jauhnya, darah menyembur dari mulutnya,
rebah dan tak berkutik lagi.
"Kutungi dulu lengan kirinya!" dalam murkanya Siu-yan memberi
perintah, salah seorang pemikul tandu mengiakan, "sret", ia melolos
pedang dari pinggangnya, terus menghampiri Ji Bun.
Hampir pecah biji mata Ji Bun mendelik gusar, otot hijau jidatnya
merongkol keluar, sambil mengertak gigi dia meronta bangun,
mulutnya menjerit beringas: "Berani kau!"
Mendadak darah menyemprot pula, badan limbung dan hampir
terjungkal lagi.
Laki-laki yang menenteng pedang agaknya menjadi jeri
menghadapi manusia darah yang seram dan berwibawa ini, serta
merta dia berhenti, namun hanya sekilas saja dia sudah melangkah
maju pula dalam jarak dekat. Ji Bun tidak sanggup lagi
menggerakkan tangannya, apa lagi menyerang.
Sinar kemilau berkelebat, tajam pedang yang dingin seketika
terayun menabas ke arah lengan kiri Ji-Bun. Serasa meledak dada Ji
Bun, darah menyembur pula dari mulutnya, namun kenyataan dia
tak kuasa lagi menghindari ancaman yang akan memisahkan lengan
dari tubuhnya karena tiada tenaga untuk berkelit. Namun secara
refleks Ji Bun telah menjatuhkan diri menggelundung sejauh
mungkin. Karena tabasannya luput, laki-laki itu menggeram gusar
terus memburu maju dan ayun golok pula. Kali ini Ji Bun betul-betul
mati kutu, dengan mendelong dia hanya mengawasi pedang orang
terayun ke arah lengannya tanpa dapat berbuat apa-apa.
Pada detik-detik yang gawat itulah mendadak sebuah bentakan
menghentikan gerakan pedang laki-laki itu: "Berhenti, mundur!"
Bahwa yang berseru ini adalah Siu-yan Loni betul-betul membuat
Ji Bun kaget dan heran tapi juga bersyukur, tadi memberi perintah
supaya menabas lengannya, kini mencegahnva lagi, kenapa
demikian?
12.36. Jejak Ibunda, Mulai Tercium
Dengan mendelong dia awasi orang, tampak wajah Siau-yan Loni
penuh emosi yang campur aduk, matanya menatap ke arah tanah di
sebelahnya, dengan heran Ji Bun menoleh ke arah orang
memandang. Seketika hatinya tergerak, ternyata di sampingnya
menggeletak sebentuk barang, itulah tanda pengenal pemberian si
orang tua aneh di dasar jurang di belakang Pek-ciok-hong yang
harus diserahkan kepada Toh Ji-lan. Mungkin waktu dia
menjatuhkan diri dan menggelundung tadi benda itu jatuh keluar
dari kantongnya, kenapa Nikoh tua ini begini besar perhatiannya
terhadap tanda pengenal ini, mungkinkah .......
Mendadak Siu-yan Loni melompat maju memungut benda itu, dia
bolak balik serta memeriksanya dengan teliti, katanya kemudian
dangan suara rada gemetar: "Darimana kau dapatkan barang ini?"
Ji Bun seka darah yang meleleh diujung mulutnya, tanyanya:
"Apakah Suthay kenal benda ini?"
"Bukan hanya kenal saja."
"Apakah Suthay ada hubungan dengan barang ini?" tanya Ji Bun.
Siu-yan Loni pejamkan mata sebentar seperti menenangkan
gejolak hatinya, lama sekali baru dia buka suara dengan gemetar:
"Siu-hiat-jin, bagaimana barang ini bisa berada di tanganmu?"
"Cayhe mendapat pesan seorang Cianpwe dengan tanda
pengenal ini mencari seorang untuk menyampaikan beberapa patah
kata."
"Siapa yang berpesan padamu?"
Ji Bun menyadari di balik kejadian hari ini serta melihat sikap Siu-
yan Loni pasti ada latar belakang yang menarik, maka dia balas
bertanya: “Apa maksud Suthay bertanya soal ini?"
“Siu-hiat-jin, apakah kau muridnya?"
"Muridnya siapa?”
"Giok-bin-hiap Cu Kong-tam!" Setiap patah kata diucapkan Siu-
yan dengan penuh emosi.
Ji Bun membatin: Giok-bin-hiap (pendekar wajah kemala) Cu
Kong-tam mungkin adalah orang tua aneh di bawah jurang itu. Dari
julukannya dapatlah dibayangkan dimasa mudanya dulu pasti orang
tua aneh itu adalah seorang pemuda cakap dan ganteng.
Memangnya siapa pula Nikoh tua ini? Dari mana dia tahu akan tanda
pengenal ini, tahu siapa pemiliknya dan dirangsang emosi lagi.
"Maksud Suthay pemilik barang ini? Cayhe bukan murid beliau,
namun pernah memperoleh banyak kebaikan dari beliau.”
Siu-yan melangkah maju setindak, dengan haru dan girang dia
bertanya: "Dia.. .... dia..... masih hidup? Di .... dimana dia
sekarang?”
"Harap Suthay suka jelaskan dulu siapa sebenarnya kau?”
"Pinni ...... Siu-hiat-jin, katamu kau dipesan untuk mencari
seseorang? Siapa yang kaucari?”
"Tapi konon orang itu sudah meninggal dunia.”
"Katakanlah siapa dia?”
"Adik kandung Pek-ciok Sinni yang bernama Toh Ji-lan."
Seperti kena aliran listrik tiba-tiba Siu-yan Loni berjingkat
mundur, mukanya yang berkeriput tampak berkerut-kerut, suaranya
semakin gemetar: "Katamu Toh Ji-lan? Dia sudah meninggal dunia?"
"Siangkoan Ci-hwi yang bilang demikian."
"O," terpancar cahaya pilu dan sedih sekali dari sinar mata Siu-
yan Loni, seperti bermimpi saja mulutnya mengigau: "Tidak, dia .....
masih hidup? Dia ..... belum mati? ..... Ah, tidak mungkin. Tidak
terduga, tapi ...... segalanya sudah terlambat."
Yang dimaksud "dia" adalah orang tua aneh di dasar jurang? Ini
menandakan bahwa Siu-yan ada hubungan yang intim dan luar biasa
dengan beliau. Sudah terlambat, semuanya sudah terlambat?
Memangnya Nikoh tua ini adalah ..... tapi Siangkoan Ci-hwi bilang
Toh Ji-lan sudah meninggalkan dunia yang fana ini. Maka Ji Bun
bertanya: "Siapakah nama preman Suthay?"
"Siu-hiat-jin, Pinni adalah orang yang sedang kau cari."
Ji Bun kerjingkrak berdiri dan menyurut mundur, pekiknya:
"Suthay adalah Toh Ji-lan Cianpwe?"
"Ya, memang Pinni adanya."
“Ini .... ini ..... mana mungkin?"
"Kenapa tidak mungkin?"
"Nona Siangkoan bilang bahwa To-cianpwe sudah .......“
"Apakah budak itu bilang Pinni sudah meninggal?"
"Dia bilang Cianpwie sudah meninggal dunia fana .......”
"Ya, meninggalkan dunia fana bukan berarti sudah mati, apakah
kau tidak pernah pikir seorang biarawati harus meninggalkan urusan
duniawi?"
Ji Bun melongo kesima, memang, kenapa semula ia tidak berpikir
ke arah itu. Kalau tidak secara kebetulan tanda pengenal itu jatuh,
bukankah bakal menyia-nyiakan harapan si orang tua aneh yang
sudah menunggu berpuluh tahun di dasar jurang. Ternyata beliau
adalah Giok-bin-hiap Cu Kong-tam.
"Di mana Cu Kong-tam sekarang berada?"
"Di dasar jurang di belakang Pek-ciok-hong."
"Apa, dia berada di dalam jurang?"
"Menurut cerita Cu-cianpwe, dulu Tacimu Pek-ciok Sinni Toh Ji-
hwi telah menjebloskan Cu-cianpwe ke gua rahasia untuk
meyakinkan Pi-yap-sin-kang, lalu menutupnya. Selama puluhan
tahun, Cu-cianpwe masih bertahan hidup dengan satu keyakinan,
yaitu ingin bertemu muka sekali lagi dengan Suthay."
"Taciku, dia ......" pucat pias wajah Siu-yan Loni, wibawa seorang
beribadat serta sikap yang welas asih lenyap tak membekas lagi,
rona wajahnya kini dilembari rasa benci, dendam, marah dan emosi
campur aduk.
Diam-diam terkejut juga sanubari Ji Bun, sejak jaman dulu entah
berapa banyak muda mudi yang menjadi korban cinta. Walau dia
tidak tahu bagaimana jalinan asmara kedua orang tua ini, namun
pasti banwa mereka adalah korban dari asmara juga. Hari berganti
bulan, bulan berganti tahun, sang waktu berlalu dan tak pernah
kembali lagi. Di kala kehidupan hampir mencapai akhirnya, namun
asmara itu masih kekal abadi ........
Dalam sekejap ini Siu-yan Loni tampak semakin tua, dia
menghela napas panjang yang mengandung kerawanan dan
kepedihan hati, mengandung rasa putus asa dan kecewa. Puluhan
tahun dia hidup menderita, pahit getir semuanya terkandung dalam
helaan napas ini. "Sudah terlambat, semuanya sudah berselang!"
demikian nada suaranya terdengar hambar dan hampa.
Mengingat budi kebaikan Giok-bin-hiap Cu Kong-tam yang
menolong dan mengajarkan ilmu kepadanya, betapapun Ji Bun
harus bertanggung jawab akan tugas yang harus ditunaikan, maka
dengan berat dia berkata: "Suthay, Cu-cianpwe berpesan kepada
Wanpwe bila setelah menemukan Cianpwe supaya menyampaikan
beberapa patah kata ........."
"Pesan apa, katakanlah."
"Beliau ingin bertemu muka sekali lagi dengan Suthay."
"Pinni adalah seorang biarawati ........”
"Kalau Suthay tidak sudi menemuinya, terpaksa Wanpwe harus
kembali memberi laporan dan menyampaikan kejadian hari ini."
"Pinni .... aku ...... aku pasti akan menemuinya, kalau musabab
ini tidak berakhir, Pinni takkan bisa tenteram."
"Bolehkah Wanpwe mohon penjelasan?"
"Soal apa?"
"Kenapa dulu Sin-ni menjebloskan dan mengurung Cu-cianpwe di
dasar jurang itu?"
Berkerut-kerut muka Siu-yan Loni alias Toh-ji-lan. “Karma, itulah
karma," ujarnya setengah berbisik.
"Cu Kong-tam lenyap, itu membuat Pinni benci, dendam dan
marah sehingga mencukur rambut menjadi orang beribadat. Tak
nyana .... sungguh tak nyana semua ini adalah perbuatan Taciku,
sekarang baru aku mengerti."
"Mengerti apa?"
"Taciku dulu juga mencintainya, karena tujuan tidak tercapai,
maka dia hendak membunuhnya ..... Amitha Budha! Ah, apa saja
yang telah Pinni katakan?"
Bergidik seram Ji Bun, Pek-ciok Sin-ni terpandang sebagai tokoh
yang diagungkan, tak nyana dalam lembaran hidupnya ternyata juga
pernah melakukan perbuatan rendah dan hina, manusia memang
makhluk yang luar biasa.
Tiba-tiba Siu-yan berpaling dan berkata kepada para pemikul
tandu: "Kalian boleh segera kembali ke gunung, laporkan kepada
Hwecu, katakan bahwa aku meninggalkan arena Bulim, semua
jenazah ini harus kalian bawa kembali, kebumikan sepantasnya
sebagai orang-orang persilatan umumnya."
Keempat pemikul tandu sejak tadi berdiri jauh dengan melongo,
mereka saling pandang lalu mengiakan bersama, dengan tangkas
mereka bekerja, lalu pergi dengan memanggul mayat-mayat itu.
Barulah Siu-yan Loni berpaling kepada Ji Bun katanya: "Siu-hiat-
jin, peduli apa maksud tujuanmu. Pinni ingin memberi peringatan
padamu, sebagai seorang persilatan yang hidup di arena kau harus
dapat membedakan salah dan benar. Kepandaianmu terhitung kelas
wahid, semoga kau suka berpikir, sebelum bertindak." Habis berkata
dia lantas melangkah pergi.
Tugas dan pesan si orang tua di dasar jurang boleh dikatakan
sudah ditunaikan. Pesan Siu-yan sebelum pergi memang masuk akal
namun bagi pendirian Ji Bun sekarang wejangan ini sudah tiada
artinya lagi, utang darah dia harus menagihnya dengan darah pula.
Pengalaman Siu-yan Loni dengan Giok-bin-hiap Cu Kong-tam
sudah merupakan contoh nyata bagi Ji Bun, maka dia merasa harus
segera membuat penyelesaian dengan Ciang Bing-cu. Setelah itu
tanpa ada ganjelan hati baru melaksanakan keinginan menuntut
balas secara terbuka. Mati hidup sendiri sudah menjadi tanggung
jawab awak sendiri pula, tapi dalam keadaan sudah selarut ini,
seperti apa yang dikatakan Biau-jiu Siansing bahwa Ciang Bing-cu
bersumpah hanya akan kawin dengan dirinya. Kalau hal ini tidak
dibereskan dengan baik, mungkin akan terjadi suatu tragedi yang
mengenaskan. Sekarang musuh-musuh tangguh ada dihadapannya,
mati hidup dirinya sukar diramalkan, tegakah dia menelantarkan
masa remaja seorang gadis jelita?
Cara bagaimana dia harus membereskan hal ini, sampai sekarang
dia belum mendapatkan jalan keluarnya, tapi dia sudah menempuh
perjalanan dengan tujuan Kay-hong. Karena dia sudah berubah
dandanan dan wajah, maka sepanjang jalan tidak menarik banyak
perhatian orang.
Pagi hari itu dia tiba di Bik-seng dan menuju ke Ling-eng, sudah
setengah jalan ditempuhnya. Supaya tidak malu dan dipandang hina
setiba di gedung keluarga Ciang, maka dia membeli seperangkat
pakaian dan jubah warna biru, topi kaum pelajar warna biru pula.
Setelah berganti pakaian, kelihatan dia mirip seorang pelajar
bermuka hitam.
Setelah beberapa kejadian yang menambah pengalamannya, kini
dia tidak memperlihatkan lagi sorot matanya yang tajam berkilat.
Keadaannya sudah jauh berubah, tak ubahnya seperti manusia
awam umumnya.
Tengah dia berjalan, bayangan seorang tampak menyongsong
datang: "Selamat datang Siau-hiap ini."
Ji Bun melenggong, dilihatnya orang yang menyapa ini juga
berdandan seorang pelajar, wajahnya bersih, cuma agak kurus
pucat, usianya sekitar 25-an. Orang ini terlalu asing baginya, maka
tanyanya heran: "Saudara menyapa aku?"
"Siau-hiap she Ji bukan?" tanya orang itu.
Bukan kepalang kejut Ji Bun, kecuali Biau-jiu Siansing tiada orang
lain yang tahu kalau dirinya menyamar, memangnya dari mana laki-
laki tak dikenal ini tahu she dan namanya, sungguh menakutkan.
"Siapakah saudara ini?" Ji Bun balas bertanya.
"Aku yang rendah Ui Bing, teman-teman Kang-ouw memberi
julukan Sian-tian-khek kepadaku."
"Sian-tian-khek (si kilat)?"
"Julukan yang tidak berarti. Harap Siau-hiap tidak
mentertawakan."
"Dari mana Ui-heng tahu kalau aku she Ji?"
Sian-tian-khek Ui Bing tertawa penuh arti, katanya: "Cayhe
mendapat tugas untuk menunggu Siau-hiap di sini."
"Atas perintah siapa?"
"Guruku, Biau-jiu Siansing."
"O," baru Ji Bun paham, kalau dia murid Biau-jiu Siansing, tidak
perlu heran kalau tahu siapa dirinya.
Ui Bing tertawa lebar, katanya lantang: "Guruku menaruh
perhatian besar terhadap Siau-hiap, beliau berpendapat engkau
adalah tunas muda yang berbakat tinggi selama ratusan tahun
belakangan ini."
"Ah, gurumu terlalu memuji," ujar Ji Bun kikuk.
Ui Bing miringkan kepala, katanya: "Agaknya usiaku lebih tua,
bolehkah kupanggil Hiante (adik) saja? Panggilan Siau-hiap rasanya
kurang enak diucapkan."
Melihat orang pandai bicara, timbul kesan Ji Bun, katanya
tersenyum: "Kenapa tidak boleh?"
"Kalau begitu, syukurlah. Hiante hendak pergi ke Kay-hong
bukan?"
"Betul, entah Ui-heng ada petunjuk apa?"
"Wah, jangan melantur, petunjuk segala, aku hanya mendapat
pesan guru untuk mengajakmu ke suatu tempat untuk melihat
sesuatu."
Ji Bun tak mengerti tanyanya: "Melihat apa?"
"Kau akan tahu setelah tiba di sana, sekarang belum waktunya,
marilah kita masuk kota minum arak dulu."
Memangnya Ji Bun tidak terburu-buru pergi ke Kay-hong,
terlambat beberapa hari juga tidak jadi soal maka dia memanggut,
jawabnya. "Baik, marilah."
Mereka memutar ke jalanan kecil langsung menuju ke dalam
kota, di lihatnya sebuah restoran, agaknya Ui Bing adalah langganan
lama. Pelayan menyambutnya dengan hormat, ia langsung
membawa Ji Bun ke loteng, dipilihnya meja dekat jendela yang
mengarah ke jalan raya di bawah.
Sejak kecil sudah biasa makan minum secara berlebihan,
hidangan yang dipesan Ui Bing cocok dengan seleranya. Dasar Ui
Bing suka ngobrol panjang lebar, yang dibicarakan adalah peristiwa-
peristiwa Kang-ouw dan serba serbi yang pernah terjadi. Ji Bun amat
berkesan dan mendengarkan dengan asyik.
Di kala mereka makan minum sambil berbincang, seorang
berbaju hitam tiba-tiba muncul, mukanya tampak serius, Ui Bing
berhenti bicara serta menoleh, katanya dengan muka kereng: "Ada
urusan apa?"
"Dapatkah hamba bicara?”
Ui Bing melirik Ji Bun, katanya: "Sesama dupa di dalam hiolo
tidak usah kuatir."
Ji Bun tahu kedua orang sedang bicara dengan bahasa kode,
agaknya Ui Bing minta orang baju hitam bicara saja blak-blakan dan
tidak usah kuatir karena kehadiran Ji Bun.
Orang baju hitam melangkah maju, lutut bertekuk dan badan
terbungkuk, kedua tangan terangkat tinggi di atas kepala
mempersembahkan sebuah kotak kayu, serunya lantang: "Aliran ada
aturan, rumah punya tata tertib, semua sumber dalam kalangan
maling, delapan tingkat dapat diperiksa. Gu Su, anak murid dari
tingkat huruf ‘tanah' menghadap kepada atasan."
Ui Bing mengulapkan tangan, ujarnya: "Sesama keluarga tidak
perlu banyak adat, berdirilah."
"Terima kasih," sahut laki-laki baju hitam sambil berdiri, kotak
kayu dipeluk di depan dada, sikapnya prihatin dan hormat. Lalu
menaruh kotak itu di atas meja, pelan-pelan ia membuka tutupnya.
Serta merta Ji Bun arahkan pandangannya ke kotak yang terbuka
itu, seketika dia melongo terbeliak, bulu kuduknya berdiri. Ternyata
di dalam kotak berisi sebuah lengan manusia yang masih berlepotan
darah.
Ui Bing ulur tangan mengeluarkan kutungan lengan itu dan
diacungkan di depan Ji Bun, lalu ditaruh kembali ke dalam kotak,
katanya: "Ya, bolehlah."
Cepat laki-laki baju hitam menutup kotak terus mengundurkan
diri.
Dengan heran dan tak habis mengerti Ji Bun mengawasi Ui Bing
dan ingin bertanya, namun mengingat urusan mungkin menyangkut
rahasia sesuatu perkumpulan, orang luar pantang mencampuri, tapi
kalau tidak tanya, hati terasa mengganjel sehingga sikapnya menjadi
kikuk.
Ui Bing malah buka suara: "Hiante, kau sudah melihatnya?"
"Melihat apa?"
"Kutungan tangan tadi. Khusus tangan tadi memang diperlihatkan
padamu."
"Tadi Ui-heng bilang mendapat perintah gurumu untuk melihat
sesuatu, apakah tangan tadi yang kau maksudkan?"
"Betul. Tentunya Hiante masih ingat kepada Liok Kin?"
"Ketua muda Cip-po-hwe"
"Tangan tadi adalah lengannya."
"Lengan Liok Kin?"
"Betul, anggota perkumpulan maling bercampur aduk dari segala
lapisan, namun undang-undang yang menjadi tradisi aturan
perserikatan kita cukup keras dan berdisiplin. Liok Kin mengkoleksi
harta. Hal ini memang menjadi salah satu azas tujuan perserikatan
kita. Namun dia main perempuan dan melakukan perbuatan kotor,
hal ini melanggar undang-undang. Hiante sudah paham?"
Ji Bun manggut-manggut, sahutnya: "Siaute mengerti."
Ui Bing angkat cangkir, katanya: “Marilah kita habiskan secangkir
lagi."
Cuaca sudah gelap, pelayan masuk menyulut pelita, waktu itu
memang saatnya orang-orang makan malam, tetamu memenuhi
restoran besar ini. Di antara berisik percakapan dan gelak tawa para
tamu, sayup-sayup terdengar juga suara nyanyian diiringi petikan
kim (harpa).
Takaran minum Ji Bun memang terbatas, sebanyak itu dia
minum, kini kepala sudah rada pusing, katanya: "Hayolah kita pergi
saja?"
"Habiskan dulu sepoci ini," ajak Ui Bing.
Tak enak menolak keinginan orang, maka duduk lagi.
Restoran ini memang kelas tinggi dan serba mewah, bagian
loteng ini khusus kelas satu dengan pelayanan yang serba istimewa.
Bentuknyapun serba berkotak, jadi merupakan sebuah petak atau
kamar khusus dengan meja yang muat delapan orang. Jadi
perjamuan satu sama lain para tamu itu tidak saling ganggu.
Di kala Ji Bun dan Ui Bing hendak meninggalkan perjamuan, tiba-
tiba dari petak sebelah kanan sana berkumandang irama nyanyian
yang menawan hati. Seketika Ji Bun melongo dan asyik
mendengarkan lagu ini, benaknya terbayang sebuah pemandangan
alam yang mempesona. Di dalam pekarangan yang sepi dan
dikelilingi tembok tinggi, seorang pelayan cilik perempuan
berpakaian hijau tengah duduk di atas sebuah kursi batu di bawah
pohon, di hadapannya berdiri seorang anak laki-laki berusia enam
tujuh tahun. Dia tengah asyik mendengarkan pelayan cilik itu
mengalunkan suaranya yang merdu menyanyikan sebuah lagu
perpisahan antara seorang jejaka yang meninggalkan gadis
pujaannya untuk merantau mencari nafkah demi masa depan
mereka. Begitu penuh perasaan gadis pelayan itu membawakan lagu
ini seperti dia sendiri yang ditinggal sang kekasih, bocah laki-laki itu
mendengarkan dengan mata mendelong, dia merasa bahwa lagu
yang dibawakan bujangnya sedemikian merdu ........
Itulah gambaran masa lalu di kala Ji Bun masih kanak-kanak.
Tanpa terasa berkaca-kaca mata Ji Bun mengenang masa kecilnya
dulu.
Nyanyian merdu itu kini berkumandang pula, yang dibawakan
adalah lagu sedih yang menyentuh hati. Air mata tak terbendung
lagi membasahi pipi Ji Bun, pikiran Ji Bun tenggelam di dalam
kenangan keluarga dan rumahnya yang hancur berantakan.
Kepedihan betul-betul mengetuk sanubarinya sehingga tanpa sadar
ia menangis tersedu.
Ui Bing melihat sikap Ji Bun yang aneh ini, serunya: "Hiante,
kenapa kau?"
Ji Bun masih tenggelam dalam impian masa kecilnya itu, mungkin
dia tidak mendengar pertanyaan ini, maka diam saja.
"Hiante," kata Ui Bing pula, "kenapa sih kau sebetulnya?"
Tanpa sadar Ji Bun buka suara: "Siapakah yang nyanyi itu?"
"Apa? Yang nyanyi ........?”
"Ui-heng tidak mendengar?"
"O, perempuan yang nyanyi di sebelah? Siapa dia kurang jelas,
tapi dia sudah cukup lama mencari nafkah dengan menjual suara di
daerah ini. Orang-orang dalam kota ini sama memanggilnya Ing-ing
(burung kenari)."
"Ing-ing?” seru Ji Bun berjingkrak.
“Ya, karena begitu merdu suaranya bagai kicauan burung kenari."
"Berapa usianya?"
"Kira-kira sudah tiga puluhan kenapa Hiante tanya dia?"
"Karena ......." belum habis dia bicara, tiba-tiba didengarnya
suara berdehem tertahan di kamar sebelah. Tersirap darah Ji Bun,
segera dia berdiri dan lari keluar menyingkap kerai. Tampak
bayangan punggung seseorang yang dikenalnya tengah melompat
turun dari loteng, seketika Ji Bun melenggong, entah siapa
bayangan punggung yang dikenalnya ini? "Oh, dia, Kwe-loh-jin!"
teriaknya tiba-tiba, cepat dia berlari ke arah tangga.
"Haya!" tiba-tiba didengarnya Ui Bing menjerit di sebelah sana.
Serta merta Ji Bun berhenti sambil menoleh, dilihatnya sebelah kaki
Ui Bing sudah melangkah kekamar sebelah dan berseru kepada Ji
Bun: "Hiante, dia sudah mati."
Ji Bun batalkan pengejaran terhadap Kwe-loh-jin, lekas dia
memburu masuk ke kamar sebelah. Tampak Ji Bun seorang
perempuan pakaian hitam rebah di pinggir meja, seketika dia
menjerit: "Bwe-hiang, ternyata betul kau .....”
Ui Bing ikut memburu ke sampingnya, tanyanya: "Hiante kenal
dia?"
"Dialah pelayan pribadi ibuku," sahut Ji Bun sambil memapah
perempuan baju hitam dan didudukkan di atas kursi, teriaknya
berulang-ulang: "Bwe-hiang, Bwe-hiang!"
Napas perempuan itu amat lemah, agaknya tidak jauh lagi dari
kematian, sekilas Ji Bun memeriksa keadaannya, katanya kemudian:
"Dia terkena racun."
Lekas dia keluarkan obat penawar yang yang selalu dibawanya,
tiga butir dia jejalkan ke mulut Bwe-hiang.
Ui Bing lari mengambil secangkir teh dan bantu Ji Bun mencekoki
perempuan ini, tanyanya: "Kena racun? Bisa ditolong tidak?"
"Inilah racun Giam-ong-ling, aku tidak mampu menolongnya,"
beruntun Ji Bun menutuk beberapa Hiat-to. Setelah dipijat dan urut,
pernapasan perempuan baju hitam itu bertambah kuat, sesaat
kemudian dia mulai membuka mata.
"Bwe-hiang, Bwe-hiang ....." Ji Bun memanggil-manggil dengan
suara serak, keringat membasahi jidatnya.
Berkedip biji mata perempuan baju hitam ini. lama sekali baru
membuka suara: "Kau ..... ini .... siapa? Dari mana tahu ......”
"Bwe-hiang," teriak Ji Bun penuh emosi, "kau tidak mengenalku
lagi?"
"Hiante," sela Ui Bing, "jangan lupa kau menyamar .......”
Ji Bun sadar akan kelalaian ini, segera dia berkata gugup: "Bwe-
hiang, aku adalah Ji-kongcu, aku sedang menyamar ........”
"Oooooh," perempuan baju hitam mengeluh panjang, badannya
kejang, kulit mukanya bergemetar, sekuatnya dia gigit bibir,
mukanya yang pucat menjadi merah. Dengan sekuat tenaga dia
bicara: "Kau ...... inikah Ji-kongcu?"
"Ya, betul, Bwe-hiang, kau kenal suaraku? Ibuku, di mana Ji-hujin
sekarang?"
"Aku mendengar ..... beliau ada di ..... di Lam-cau ......”
"Lam-cau ...... papilion yang ada di Se-ek itu?"
“ya ....... ya."
Ji Bun menjadi bingung, bukankah ibunya diculik dan menjadi
tawanan Kwe-loh-jin? Bagaimana bisa berada di Lam-cau, papilion
ayahnya dimasa hidupnya? Apakah rumah itu sudah diduduki
musuh?
"Apakah beliau selamat?"
"Se ..... sela .... mat."
“Kenapa kau jual suara di sini?"
"Atas perintah Ji-hujin, aku melarikan diri untuk mencari ...... Ji-
kongcu."
"Lari untuk mencariku? Ada urusan apa?"
"Ji-hujin suruh hamba ..... memperingatkan .... Ji-kongcu ........"
suaranya semakin lirih dan lemah.
Keruan Ji Bun gugup, teriaknya: "Bwe-hiang, keraskan hatimu,
memperingatkan apa padaku?"
Bibir perempuan baju hitam bergerak-gerak, namun suaranya
sudah tidak terdengar, sorot matanyapun guram.
Serasa disayat-sayat isi perut Ji Bun, keringatnya gemerobyos,
otot hijau merongkol di jidatnya. Dia goyang-goyang pundak si
perempuan sambil berteriak seperti orang kalap: "Siapakah yang
menculik Ji-hujin?"
Perempuan itu mengerahkan sisa tenaganya, namun hanya
beberapa patah kata terputus-putus yang keluar dari mulutnya: "Dia
..... dia .......”
Tiba-tiba kepalanya menjadi lemas dan miring kesamping,
napaspun berhenti.
Melotot biji mata Ji Bun, gigipun berkerutuk, tiba-tiba dia
menguak, darah menyembur dari mulutnya.
Ui Bing menjadi gugup, katanya: "Hiante, kau .... tenanglah."
Ji Bun angkat kepala, katanya menahan gejolak hati: "Ui-heng,
kita baru berkenalan, namun Siaute mohon dua kali bantuanmu
......”
"Urusan apa Hiante, katakan saja."
"Sukalah kau urus penguburan Bwe-hiang." Ji Bun keluarkan
anting-anting pualam, "selain itu tolong antar sekalian anting-anting
ini ke Kay-hong kepada paman Ciang Wi-bin. Ceritakan apa yang
terjadi hari ini, bahwa aku harus segera bertindak untuk menolong
ibu yang disekap musuh."
"Hiante hendak ke Lam-cau? Kukira lebih baik kau pargi ke Kay-
hong dulu dan berunding dengan Ciang-cianpwe."
"Siaute tak sabar lagi, harap Ui-heng suka memaklumi
perasaanku,” kata Ji Bun sambil angsurkan anting-anting pualam.
Ui Bing menjadi serba susah, katanya: "Hiante, betapapun sulit
bagiku untuk bantu mengantar anting-anting ini, apakah kau .......”
"Ui-heng jangan salah paham, hanya dendam dan sakit hati yang
terpikir dalam benakku, setiap saat aku menghadapi ancaman
elmaut, kuharap barang ini tidak terjatuh ke tangan orang lain kalau
aku gugur."
"Bagaimana kalau titip saja sementara waktu?" ujar Ui Bing.
Kukuh pendapat Ji Bun, katanya: "Tidak, tolong Ui-heng antar
kembali pada pemiliknya saja."
“Baiklah, akan kuusahakan. Harap Hiante jaga dirimu baik-baik."
Ji Bun menunduk mengawasi jenazah Bwe-hiang, dengan sedih
dia berdoa: “Bwe-hiang, aku bersumpah menuntut balas sakit
hatimu, akan kuhancur leburkan dia, kau ...... tenanglah di alam
baka."
Habis berkata ia melompat keluar dari jendela, malam itu juga dia
langsung menuju ke Lam-cau.
Rumah yang ada di Lam-cau adalah salah satu dari tiga tempat
peristirahatan Ji Ing-hong dulu, waktu kecil dulu pernah beberapa
kali Ji Bun ikut ibunya ke sana, setelah besar pernah juga pergi
sekali. Tak nyana tempat itu kini sudah diduduki musuh dan
dijadikan tempat untuk menyekap ibunya.
13.37. Pengkhianatan Kacung Keluarga
Ji Bun lupa lapar dan dahaga, tidak merasakan lelah, siang
malam dia menempuh perjalanan, hanya "dendam" yang selalu
menggejolak sanubarinya. Semakin dekat tempat tujuan hatinya
semakin tidak tenteram, dia tahu musuh pasti telah mengatur
jebakan dan muslihat untuk menyambut kedatangannya. Namun
demi keselamatan ibunya, walau dia harus menghadapi hutan golok
dan rimba pedang, lautan apipun akan diterjangnya.
o0o
Lam-cau adalah sebuah kota kecil yang ramai, di ujung jalan
yang menjurus keluar kota dari jalan raya yang menuju barat
terdapat sebuah taman hiburan yang terkenal diseluruh pelosok
kota, itulah salah satu rumah Jit-sing-pocu Ji Ing-hong.
Pagi hari itu, seorang pemuda muka hitam berjubah biru mondar-
mandlr di depan pintu taman yang tertutup rapat, dia bukan lain
adalah Te-gak Suseng Ji Bun yang datang dengan dendam kesumat
untuk menolong ibunya. Taman ini terhitung saiah satu tempat milik
keluarganya, namun sekarang dia mondar-mandir di luar seperti
orang asing, tidak berani ketok pintu atau menerobos masuk secara
langsung.
Pintu besar yang berwarna merah sudah agak luntur catnya,
gelang tembaga yang tergantung di tengah pintu juga sudah
menghijau berdebu, agaknya sudah lama tidak terjamah tangan
manusia, namun pepohonan di dalam pagar tembok tampak hidup
subur dan berkembang dengan lebat.
Lama sekali Ji Bun mondar-mandir dengan ragu-ragu, akhirnya
dia berkeputusan dan mengetok pintu.
Lama Ji Bun menunggu baru terdengar suata keresekan daun
kering yang terinjak kaki, disusul suara serak orang berseru:
"Siapa?"
Ji Bun tidak asing akan suara ini, hatinya menjadi bingung dan
heran, suara serak orang tua ini adalah si kakek berjenggot,
bukankah ibunya diculik kemati? Kenapa yang menjaga rumah dan
membuka pintu tetap penjaga lama?
"Siapa yang ketok pintu di luar?" suara serak si jenggot bertanya
pula.
Ji Bun sudah jelas dan yakin bahwa yang bertanya di dalam
memang si Jenggot adanya, hatinya bergirang, cepat ia menjawab:
"Pak jenggot, inilah aku!"
"Kau ..... kau siapa?"
"Bun-ji kongcu."
"Oooo," orang di dalam berseru kaget, agaknya di luar
dugaannya. Pintu segera dibuka separo, menongollah seraut wajah
seorang tua yang kurus kering, mukanya penuh berewok kaku, di
antara rambutnya yang awut-awutan, tampak sepasang matanya
memancarkan sinar tajam, sorot matanya mengunjuk rasa kaget dan
heran.
"Pak jenggot!" sapa Ji Bun
"Siapa kau berani mengaku sebagai .....”
"Pak jenggot, masa kau tidak kenali suaraku lagi?"
Setelah tangan memegangi pintu, si jenggot mengawasi Ji Bun
dari atas ke bawah, akhirnya ia berkata: "Wajahmu tidak mirip .......”
"Pak jenggot, aku sedang menyamar, duduk persoalannya nanti
kuceritakan."
Sinar mata si jenggot yang tajam seperti mata burung elang
menyelidik, suaranya ragu: "Apa betul ..... kau ini Ji-kongcu? Kau
..... tidak mati?"
"Apa? Mati? Bagaimana kau, bisa bilang demikian?"
Si jenggot menjadi gelagapan, katanya: O. tidak, hamba kira Ji-
kongcu ikut menjadi korban musuh."
"Memang berulang kali aku mengalami bencana, syukur aku tidak
mati. Pak jenggot, mana ibuku?"
"Ji-hujin?"
"Memangnya otakmu sudah miring, masakah orang lain yang
kutanyakan."
"Ji-kongcu," ujar pak jenggot menghela napas panjang. ''sampai
sekarang jejak Ji-hujin belum diketahui parannya."
"Apa katamu?” hardik Ji Bun beringas.
Kaget dan ketakutan pak jenggot menyurut mundur sampai
mulut melongo.
Sudah tentu Ji Bun amat penasaran, apa yang dikatakan Bwe-
hang sebelum ajal pasti tak salah, bahwa ibunya disekap di rumah
yang ada di Lam-cau ini. Kini pak jenggot bilang ibunya tak keruan
paran, bagaimana dia takkan naik pitam? Tapi iapun percaya kalau
pak jenggot inipun takkan berbohong.
Sulit dia menganalisa liku-liku persoalan yang ganjil ini, sungguh
luar biasa. "Pak jenggot, siapa pula yang tinggal di sini?" tanyanya
kemudian.
"Hanya hamba seorang saja."
"Apa, hanya kau seorang? Pernah terjadi apa-apa di sini?”
"Terjadi apa? Tidak pernah, kenapa Kongcu tanya hal ini?"
Ji Bun semakin bingung, Bwe-hiang adalah pelayan pribadi
ibunya, yang membunuhnya adalah Kwe-loh-jin, bayangan orang
dilihatnya jelas demikian pula racun Giam-ong-ling hanya dimiliki
oleh Kwe-loh-jin seorang, semua ini tidak akan palsu. Bagaimana
seluk beluk kejadian ini harus diselidiki? Maka dia tanya dengan
suara lebih keras: "Pak jenggot kau bicara dengan jujur?"
Pak jenggot menjadi gugup, sahutnya: "Ji-kongcu, hamba tidak
tahu apa yang kau maksudkan?"
"Kau masih ingat Bwe-hiang tidak?"
"Bwe-hiang? Ya, sudah tentu, budak mungil dan pandai nyanyi,
budak yang menyenangkan sekali. Kenapa dia, Kongcu?"
"Aku bertemu dengan dia?"
"O, Kongcu bertemu dia? Dia kenapa dan mana dia sekarang?"
"Dia sudah meninggal."
"Meninggal? Bagaimana mungkin ......."
"Sebelum ajalnya dia bilang bahwa ibu berada di rumah ini."
Pak jenggot mundur dua langkah, suaranya gemetar ngeri.
"Hamba menjadi bingung, bukankah dia sama menghilang bersama
Ji-hujin?"
Ji Bun melangkah masuk ke taman, lalu membalik menutup pintu.
"Hayolah bicara di dalam saja."
Suara pak jenggot kedengaran kurang wajar, katanya: "Ji-kongcu
silakan duduk di gardu saja, biar hamba buatkan makanan dan
menyediakan arak, ai ....." lalu ia mengundurkan diri menuju ke
samping rumah sebelah kiri.
Ji Bun melepas pandang ke seluruh penjuru taman yang amat
dikenalnya ini, rumput-rumput liar sama tumbuh, tanaman bunga
yang dulu teratur dan tumbuh subur sama layu bercampur dengan
rumput-rumput liar, hanya belukar melulu yang kelihatan.
Dengan mengerut alis, seorang diri dia berjalan sambil menekan
perasaan sedihnya, setelah melewati taman bunga dia masuk ke
gardu ujung, penjagaan yang ada di dalam gardu tetap seperti sedia
kala, cuma debu tebal, gelagasi terbentang di mana-mana.
Menghadapi keadaan yang serba rusak tak terurus ini, Ji Bun berdiri
kesima.
Entah berapa lamanya, baru pak jenggot muncul lagi, dia repot
membersihkan debu, mulutnya mengeluh panjang pendek. Ji Bun
duduk tenggelam dalam kedukaan. Setelah membersihkan gardu.
pak jenggot berlari pergi dan membawakan hidangan dan arak.
Katanya: "Ji-kongcu, silakan dahar seadanya."
"Ehm," baru sekarang Ji Bun angkat kepala, dalam waktu
sesingkat ini ternyata pak jenggot mampu menyiapkan delapan
macam hidangan, empat macam diantaranya malah hidangan daging
dan ikan, keruan dia heran: "Pak jenggot, agaknya kau pandai
merawat diri."
Pak jenggot melengak, tanyanya: "Apa maksud Kongcu?"
"Kau amat memperhatikan menu untuk hidupmu sehari-hari,
kalau tidak dalam waktu sesingkat ini darimana kau bisa menyiapkan
hidangan sebanyak ini?”
"O, he he he, hal ini hamba sih.. ....ai,ai!." Tersipu-sipu dia
mengisi cangkir arak Ji Bun.
"Marilah pak jenggot kau, iringi aku makan minum."
Semula pak jenggot rikuh dan tidak berani, setelah dipaksa
akhirnya duduk di depan Ji Bun, keduanya lantas makan minum
sambil ngobrol, sudah tentu yang dibicarakan hanya soal-soal yang
menyangkut keluarga dan peristiwa hancurnya jit-sing-po.
Entah berapa cangkir sudah Ji Bun menghabiskan arak yang
selalu di isi pak jenggot, lalu tanyanya: "Pak jenggot, urusannya
agak ganjil."
"Soal apa yang ganjil?"
"Sebelum ajal Bwe-hiang bilang bahwa Ji-hujin bersama
penculiknya ada di tempat ini."
Pak jenggot berjingkat berdiri, serunya mendelik: "Bagaimana
mungkin."
Pada saat itulah, mendadak Ji Bun merasakan kepala sedikit
pusing, lekas dia menahan tubuh dengan kedua tangan memegangi
meja.
Pak jenggot memburu maju dan bertanya gugup: "Ji-kongcu,
kenapa kau?"
"Beberapa hari ini aku menempuh perjalanan siang malam,
mungkin terlalu capai .....”
"He he he he ......" tiba-tiba berubah air muka pak jenggot
dengan menyeringai.
Tersirap darah Ji Bun mendengar tawa aneh ini, seketika dia
mendapat firasat jelek, baru saja dia berdiri, lekas sekali dia duduk
lemas di kursinya pula, serunya: "Pak jenggot, apa yang kau lakukan
.......”
"Ji-kongcu, terpaksa kau pasrah nasib saja, jangan kau salahkan
hamba, kau sendiri yang meluruk kemari."
Hampir meledak kepala Ji Bun, saking murka, bentaknya: "Anjing
tua, kau ...... apa katamu?"
Pak jenggot menyeringai, ujarnya: "Kuharap kau menyerah dan
terima kematian saja."
Sudah tentu bukan kepalang gusar Ji Bun, dengan melotot dia
tatap pak jenggot, darah mendidih, ingin rasanya ia merobeknya.
Namun tenaga tak kuasa dikerahkan, racun sudah menjalar ke
seluruh tubuh. Kalau dirinya harus mati demikian, sungguh
penasaran sekali. Mulutnya megap-megap seperti binatang
kelaparan, hardiknya kalap: "Tua bangka, kau ..... kau ..... berani
mencelakai aku?”
Pak jenggot menyurut takut melihat wajah Ji Bun yang beringas
seram, dia tahu Ji Bun takkan mampu berbuat apa-apa, namun
wajahnya yang beringas buas sungguh menakutkan, katanya setelah
mundur cukup jauh: "Ji-kongcu, Lwekangmu sungguh hebat, orang
lain takkan tahan terkena racun ini."
"Anjing tua, katakan ...... kau ....... kenapa...."
"Ji-kongcu, jangan salahkan aku, setelah diakhirat, kau akan tahu
siapa pembunuhmu."
Ji Bun berteriak kalap, darah menyembur dari mulutnya, kepala
pusing pandangan gelap, badannya bergoyang gontai berpegangan
meja. Apa yang dikatakan Bwe-hiang memang tidak salah, bahwa
musuh telah menduduki rumah ini, pak jenggotpun sudah menyerah
kepada musuh, sungguh sukar dipercaya. Sekuatnya dia bertahan,
setelah menarik napas, dia kuatkan hati menenangkan pikiran,
katanya sambil mengertak gigi: "Pak jenggot, siapa yang suruh
kau?"
Pak jenggot bergelak tertawa, katanya: "Lebih baik kau tidak
tahu, kau takkan meram di alam baka."
Darah yang mendidih merangsang benaknya, seketika pandangan
Ji Bun menjadi gelap badanpun tersungkur di meja, muka dan
dadanya sama basah oleh masakan. Pada detik-detik yang gawat
itulah mendadak sebuah suara bentakan berkumandang di sebelah
tubuhnya: "Pak jenggot, berani kau!"
Susah payah Ji Bun angkat kepalanya, kedua tangan
menyanggah meja, sehingga badannya melorot duduk di atas kursi
pula, mata berkunang-kunang dan tidak jelas melihat siapa orang
yang baru datang itu.
"Aduh!" terdengar pak jenggot menjerit disusul sebuah bentakan
kereng: "Keluarkan obat pemunahnya."
Sekilas pikiran jernih mengetuk benak Ji Bun, cepat tangannya
meraba kantong dan mengeluarkan beberapa butir Pi-tok-tan terus
dimasukkan mulut, dengan air ludah dia telan seluruhnya, rasa
pening segera berkurang. Namun pandangannya masih remang-
remang, lapat-lapat ia kenal siapa pendatang yang meringkus pak
jenggot itu, dia bukan lain adalah Thian-gan-sin-jiu alias Biau-jiu
Siansing.
Bahwa Biau-jiu Siansing muncul di sini tepat pada waktunya,
sungguh amat diluar dugaan. Pak jenggot yang teringkus oleh Biau-
jiu Siansing tampak pucat wajahnya.
Agaknya Biau-jiu Siansing juga terlalu emosi, napasnya
memburu, badanpun gemetar, mulutnya menggumam: "Mana
mungkin, peristiwa yang tidak mungkin bisa terjadi, kenapa ........”
Ji Bun mulai sadar, pikirannya sudah jernih, gumam Biau-jiu
Siansing tadi dapat didengarnya, namun dia masih lemas dan belum
sempat memikirkan arti kata-kata orang itu.
Terdengar Biau-jiu Siansing membentak pula dengan bengis:
"Pak jenggot, kau sadar tidak apa yang kaulakukan ini?"
Gemetar tubuh pelayan tua itu, jawabnya: "Kau orang kosen dari
mana?"
"Tak perlu kau tanya, katakan, kenapa kau melakukan semua
ini?"
"Tahukah kau bahwa mencampur tangan urusan keluarga orang
lain merupakan pantangan besar kaum persilatan?"
"Keparat, tua bangka, serahkan obat penawarnya jika tidak ingin
kukerjain kau hingga setengah mampus."
Bergidik pak jenggot dibuatnya, katanya: "Apa tuan mampu
berbuat demikian? Meski mati ditanganmu, jaagan harap kau bisa
keluar dari sini." demikian pak jenggot malah menantang.
"Anjing tua, mana obat pemunahnya?"
"Tidak. ...punya."
Jari Biau-jiu Siansing segera menutuk, kontan pak jenggot
berkuik-kuik seperti babi disembelih, keringat sebesar kacang
membasahi selebar mukanya, mukanya yang penuh keriput berubah
bentuk menahan sakit.
"Ada tidak?" bentak Biau-jiu Siansing.
Pak jenggot terus merintih-rintih, namun tetap tidak mau
menjawab.
Kembali Biau-jiu Siansing menutuk pula, pegangan tangan
dilepaskan, "Bluk", pak jenggot berguling-guling, buih meleleh dari
mulutnya, mukanya seram dan matanya melotot sambil menjerit-
jerit.
"Keluarkan obat pemunahnya," bentak Biau-jiu Siansing pula.
Meski sudah tua, ternyata pak jenggot tahan disiksa, keadaannya
sudah sepayah itu, namun dia tetap tak mau buka suara.
Dengan gusar Biau-jiu Siansing turunkan kotak obatnya lalu
mengeluarkan sebilah pisau yang biasanya dibuat operasi, teriaknya:
"Kuping kiri,” dan sekali pisaunya bergerak, daun kuping kiri pak
jenggot seketika berpisah dengan kepalanya, darah mengalir deras.
"Kuping kanan!" kembali pisau bekerja, dan kuping kanan pak
jenggot diirisnya pula.
Keruan bertambah sakit dan tersiksa keadaan pak jenggot,
namun mulutnya malah menyeringai: "Kau ..... tunggu saja, kaupun
.... akan disiksa ..... sepuluh kali lipat .... lebih menderita daripada
aku."
Biau-jiu Siansing berteriak aneh: "Sepasang mata!" pisaunya
kembali mengiris kemuka orang, betapapun pak jenggot tak berani
mengambil resiko lagi, jika mata buta, hiduppun tak berarti orang
berhati keras bagaimanapun juga kalau kedua mata diancam,
terbang juga sukmanya, maka luluhlah hatinya, teriaknya; "Baiklah
..... kuambilkan ......”
Biau-jiu Siansing tarik pisaunya, pak jenggot benar-benar sudah
kehabisan tenaga, suara rintihanpun tak terdengar lagi, seperti
mampus saja ia melingkar di lantai. "Harap bebaskan dulu
tutukanmu," pinta orang tua itu.
"Katakan dulu di mana obat pemunahnya?"
"Di ..... di .... biarlah aku yang pergi mengambil."
"Tidak, katakan saja."
"Obat pemunahnya ada .... di atas loteng yang terletak di
pekarangan barat .... di dalam laci kelima almari sebelah timur .....
botol putih .....”
Tanpa membuang waktu lagi Biau-jiu Siansing segera berlari ke
sana, seolah-olah sudah apal akan keadaan taman luas ini, dalam
sekejap saja dia sudah lari kembali, tangannya memegangi sebuah
botol porselin kecil putih, katanya sambil diacungkan ke depan pak
jenggot: "Apakah ini?"
“Ya ........”
Biau-jiu Siansing lantas membuka tutukan Hiat-to pak jenggot,
namun beruntun dia menutuk dua Hiat-to yang lain pula, katanya
dingin: "Kalau obatmu ini betul mujarab baru kupastikan nasibmu."
Segera ia menghampiri Ji Bun serta menuang sebutir pil dari
dalam botol terus dijejalkan ke mulut Ji Bun.
Kena racun berbeda dengan luka-luka parah oleh pukulan, asal
obatnya tepat dan mujarab, segera akan punah dan sembuh seperti
sediakala. Lekas Ji Bun mengunyah pil itu serta ditelan ke dalam
perut, cepat sekali keringat dingin merembes dari seluruh pori-pori
badannya, kadar racun seketika tawar dan hawa murnipun dapat
terhimpun pula. Sekali melejit dia melompat bangun terus memburu
ke sana, berbareng tangan terayun.
Biau-jiu Siansing segera berteriak mencegah: "Jangan dibunuh!"
Sayang sudah terlambat, terdengar jeritan menyayat hati, batok
kepala pak jenggot kontan hancur luluh, tamatlah riwayat budak
ayahnya yang ternyata khianat ini.
Maklumlah bukan kepalang benci dan sakit hati Ji Bun, maka dia
menyerang dengan penuh emosi. Walau dia mendengar teriakan
Biau-jiu Siansing sayang dia sudah tak kuasa mengendalikan tenaga
pukulannya. Setelah kepala orang terhantam remuk baru dia sadar,
namun menyesalpun sudah kasip.
Berkerut alis Biau-jiu Siansing: "Mestinya kau harus mengompes
keterangannya dulu."
"Ya, memang Wanpwe yang salah, "ujar Ji Bun menyesal, "terima
kasih atas pertolongan Cianpwe.”
"Lohu sudah memberi peringatan supaya sebelum bertindak kau
pergi ke Kay-hong dulu untuk merunding dengan Ciang Wi-bin
"Betul, namun hubungan ibu dan anak betapapun tidak dapat
sabar dan membuang waktu lagi, begitu mendapat sumber berita
segera aku menuju kemari."
"Tekadmu memang dapat dimengerti, Lohu sendiri juga pernah
berjanji dalam sebulan untuk bantu menyelidiki seluk beluk musuh,
kau harus menunggu, bahwa Lohu suruh kau menyamar adalah
untuk mengelabuhi pihak lawan supaya tidak terjadi sesuatu di luar
dugaan, kalau Ui Bing tak segera memberi laporan dan aku
menyusul kemari tepat pada waktunya, tentu kau bisa bayangkan
akibatnya."
Merinding Ji Bun, memang, kalau maling sakti ini tidak muncul
tepat pada waktunya, mana mungkin dirinya masih bernyawa
sekarang. Bahwa musuh berulang kali cari kesempatan hendak
membunuh dirinya, sekarang menawan ibunya sebagai sandera
pula. Apa maksud tujuannya sukar diraba, lebih celaka lagi kacung
ayahnya yang setia dulu sekarang juga menyerah dan menjadi kaki
tangan musuh hendak mencelakai jiwanya pula, sungguh suatu hal
yang mengerikan. Tapi bagaimana keadaan ibunya? Tegakah dia
membiarkan ibunya tersiksa dan menderita dibelenggu musuh?
Rencana kerja yang diatur dan dilaksanakan Biau-jin Siansing
serta tutur katanya telah menunjukkan bahwa seluk beluk musuh
sedikit banyak sudah dapat merabanya. Hanya tinggal mencari bukti
dan kenyataan, maka dia berkata dengan suara haru: "Tentunya
Cianpwe sudah tahu asal usul musuh."
"Boleh dikatakan demikian, tapi .......”
Tersirap hati Jl Bun, tanyanya mendesak. "Tapi kenapa?"
"Menurut rabaan, tidak mungkin ada kejadian-kejadian seaneh
ini, akan tetapi kenyataan justeru menyulitkan Lohu akan analisa
semula."
"Wanpwe hanya menguatirkan keselamatan ibuku."
"Dia tidak akan mengalami apa-apa."
"Berdasarkan apa Cianpwe berkata demikian?"
"Menurut keadaan yang sudah Lohu ketahui."
"Cianpwe tidak suka memberitahu seluk beluknya?”
"Bukan tidak suka, tapi belum bisa, kau harus bersabar, dalam
sebulan pasti bisa kuselidiki dengan terang, menurut pendapatku,
lebih baik sekarang juga kau harus berangkat ke Kay-hong."
Timbul rasa duka dalam hati Ji Bun, pengalaman getir yang
beberapa kali ini sungguh merupakan peristiwa yang terlalu berat
untuk dipikul dan dirasakan oleh anak semuda dirinya.
Minat untuk ke Kay-hong tiada, dalam situasi seperti sekarang,
dirinya sudah tersudut dan menghadapi jalan buntu. Sejak
meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu yang ganas, lalu mendapat saluran
kekuatan dari orang tua di dasar jurang itu, ia yakin bekal untuk
menuntut balas sudah cukup melampaui, namun di luar
perhitungannya, kekuatan musuh ternyata satu kuat dari yang lain,
dendam berdarah keluarganya entah kapan baru bisa terbalas?
Seperti memikirkan sesuatu Biau-jiu Siansing berkata: "Kita harus
segera meninggalkan tempat ini, pak jenggot sudah mati, tiada
orang hidup lain di sini. Sampai sedemikian jauh kau harus tetap
merahasiakan dirimu. Obat pemunah racun Giam-ong-ling ini boleh
kau bawa, mungkin setiap waktu bisa kau gunakan," lalu ia tuang
beberapa butir ditelapak tangannya, sisanya yang ada di dalam botol
ia serahkan pada Ji Bun.
Ji Bun menerimanya sambil mengucap terima kasih, katanya lebih
lanjut: "Waktu ayah mendapatkan Tok-keng dulu, dia mengagulkan
diri sebagai tokoh beracun yang tiada tandingan. Tak nyana gunung
satu lebih tinggi daripada gunung yang lain, racun Giam-ong-ling ini
biarpun ayah sendiripun tak mampu menawarkannya."
Terpancar sinar mata Biau-jiu Siansing yang aneh, katanya:
"Darimana kau tahu ayahmu tak mampu menawarkannya?"
13.38. Kedok dan kemunafikan Sang Ayah ....??!!
"Karena tak pernah beliau sebut-sebut nama Giam-ong-ling."
"Itu tidak bisa membuktikan bahwa dia tidak mampu
menawarkannya."
"Pi-tok-tan yang selalu Wanpwe bawa bisa menawarkan segala
macam racun, namun terhadap Giam-ong-ling ini kehilangan
khasiatnya, ini membuktikan ........”
Biau-jiu Siansing goyang-goyang tangan: "Itu belum tentu,
apakah kau sendiri pernah mempelajari Tok-keng?"
"Tidak, apa yang Wanpwe dapatkan adalah ajaran ayah secara
lisan."
"Nah, kalau begitu siapa tahu kalau racun Giam-ong-ling ini juga
tercatat di Tok-keng itu?"
"Memangnya antara ayah dan anak juga perlu main rahasia
segala?"
"Menurut aturan tidak, namun kejadian di dunia ini kadang-
kadang sukar diterima oleh akal sehat."
Ji Bun diam saja, dia tidak percaya kalau ayahnya sekikir itu dan
sengaja merahasiakan pelajaran terhadap puteranya, namun dia toh
tidak berani menyangkal adanya kemungkinan ini, Kini ayahnya
sudah meninggal, namun ada dua persoalan yang masih merupakan
tanda tanya bagi dirinya. Pertama, dirinya belum pernah membaca
Tok-keng. Kedua, ayahnya jelas tahu setelah meyakinkan Bu-ing-cui-
sim-jiu, maka selama hidup dirinya tak boleh bersentuhan kulit
dengan lawan jenisnya. Hal ini bukan saja mematahkan harapan
hidup bahagia di kemudian hari, sekaligus juga memutuskan
keturunan keluarga Ji. Dan setahunya Jit-sing-pang belum pernah
mengikat permusuhan dengan siapapun, tiada ambisi untuk
menguasai dunia, mestinya tidak perlu meyakinkan ilmu beracun
yang ganas ini, ayahpun tahu hal ini, justeru mengajarkan kepada
dirinya, mengapa?
Tiada ayah bunda di dunia ini yang tidak sayang kepada putera-
puterinya, namun tindakan ayahnya dalam hal ini jelas salah.
Sebagai putera puteri yang harus berbakti kepada orang tua, apa
yang harus dilakukannya sekarang?
Terbayang juga olehnya cerita Siangkoan Hong yang
menggiriskan itu, demikian pula peristiwa pembunuhan murid Siu-
yan Loni yang diperkosa lebih dulu. Jika betul ayahnya seorang jahat
dan bermoral bejat, bukankah dia merupakan sampah persilatan
yang patut dibunuh oleh setiap insan? Hal inilah yang betul-betul
mengetuk sanubarinya, bukan saja ia amat berduka dan menderita
lahir batin, diapun merasa malu.
"Lekaslah kita pergi!" ujar Biau-jiu Siansing pula.
Ji Bun hanya manggut-manggut, dia ikuti langkah Biau-jiu
Siansing keluar, mereka menuju ke barat terus keluar kota, mereka
tiba di tegalan yang penuh belukar. Biau-jiu Siansing berhenti,
katanya; "Kita berpisah di sini, selamat bertemu di Kay-hong."
Tiba-tiba teringat sesuatu hal yang selama ini mengganjel
hatinya, ia bertanya. "Cianpwe, apakah sudi memberi penjelasan
suatu persoalan yang mengganjel hati Wanpwe?"
"Soal apa?"
"Tentang gedung setan di kota Cinyang ..........”
Biau-jiu Siansing menepekur sebentar, katanya: "Kau pernah ke
sana bukan? Baiklah Lohu akan berterus terang padamu. Memang
gedung setan itu adalah salah satu tempatku yang dirahasiakan."
Perasaan Ji Bun menjadi bergolak, katanya: "Disana Wanpwe
bertemu dengan ......”
"Istri bapakmu yang resmi, Khong-kok-lan So Yan?" Biau-jiu
Siansing menukas.
"Wanpwe mohon penjelasan, kenapa ibu tua tampaknya amat
dendam dan benci terhadap ayah?"
"Ya, pernikahan Khong-kok-lan So Yan dengan ayahmu memang
banyak lika-likunya."
"Bolehkah Wanpwe mengetahui?"
"Ehm, baik juga kalau kau tahu akan peristiwa itu. Waktu
mudanya dulu ibu tuamu itu cukup tenar juga di kalangan Kang-
ouw, entah berapa banyak pemuda yang tergila-gila padanya,
namun dia hanya menyintai seorang muda yang bergelar Hing-thian-
kiam Gui Han-bun, keduanya sumpah setia sehidup semati. Pada
suatu malam hari terang bulan. kedua insan yang sedang memadu
kasih di puncak Siau-sit-hong di gunung Siong-san mendadak
kepergok oleh musuh. Hing-thian-kiam terpukul jatuh masuk jurang
oleh musuhnya, jenazahnya hilang tidak berbekas. Sudah tentu
Khong-kok-lan amat sedih, dia bersumpah menuntut balas
pembunuh kekasihnya. Suatu ketika jerih payahnya tidak sia-sia,
musuh berhasil ditemukan, maka kedua pihak bertarung mati-matian
........”
Anda sedang membaca artikel tentang CerSil : HATI BUDHA TANGAN BERBISA 3 dan anda bisa menemukan artikel CerSil : HATI BUDHA TANGAN BERBISA 3 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/10/cersil-hati-budha-tangan-berbisa-3.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel CerSil : HATI BUDHA TANGAN BERBISA 3 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link CerSil : HATI BUDHA TANGAN BERBISA 3 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post CerSil : HATI BUDHA TANGAN BERBISA 3 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/10/cersil-hati-budha-tangan-berbisa-3.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar