Cersil : Budi Ksatria 1 [Seri Kunci Wasiat Pendekar Siauw Ling]

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 07 Oktober 2011

Budi Kesatria

Karya : Wo Lung-shen Diceritakan oleh Tjan ID

Jilid 1
DALAM kisah “MISTERI ISTANA TERLARANG” diceritakan
bahwa Shen Bok Hong didesak oleh It-bun Han Too untuk
menelan buah beracun sebagai syarat bagi dibukanya pintu
istana terlarang.
Shen Bok Hong ketua dari perkampungan Pek Hoa Sanceng
yang terdesak akhirnya menyanggupi permintaan itu dan
masukkan buah beracun tadi ke dalam mulutnya.
Ciu Cau Liong yang menyaksikan kejadian itu jadi amat
terperanjat, ia segera berseru, “Toa Cungcu…..”
Shen Bok Hong tertawa dingin. Pada detik terakhir sebelum
buah beracun itu masuk ke dalam mulutnya, telapak kanan
telah diayun menotok dada Ciu Cau Liong bagian depan, tapi
sebelum serangan itu mengenai sasaran, totokan tadi
mendadak berputar ke arah samping.
Segulung angin desiran tajam segera meluncur ke tengah
udara menyerang jalan darah “Ek-Hu” di tubuh It-bun Han
Too.
Jarak antara kedua orang itu saling berdekatan, meskipun
It-bun Han Too amat licik tak urung ia melengak juga
menyaksikan serangan Shen Bok Hong yang tahu-tahu
mengancam tubuhnya, untuk menghindar sudah tak sempat
lagi, tahu-tahu jalan darahnya sudah termakan oleh serangan
totokan itu.
Gerakan tubuh Shen Bok Hong amat cepat, tangan kanan
ia lancarkan totokan sementara tangan kirinya berkelebat
mencengkeram pergelangan tangan kiri It-bun Han Too.
Jalan darah Eng jie di tubuh It-bun Han Too kembali
tertotok, ia tertawa dingin lalu berkata.

“It-bun heng, siapa suruh kau tampik arak kehormatan
mencari arak hukuman, apa boleh buat, terpaksa aku musti
bertindak keji.”
Ia berpaling ke arah Ciu Cau Liong lalu menambahkan,
“Jite, cari obat racun yang tersembunyi di dalam mulutnya!”
Ciu Cau Liong terima perintah dan merenggangkan mulut
It-bun Han Too, di antara celah-celah gigi ia benar-benar
berhasil temukan sebutir pil berwarna hitam.
Shen Bok Hong memandang sekejap pil hitam itu, lalu
berkata kembali, “Orang ini tersohor karena kelicikan serta
banyak akal bulus. Menghadapi manusia semacam ini kita tak
boleh bertindak terlalu gegabah, coba carilah lagi dengan lebih
seksama, mungkin dalam mulutnya masih terdapat pil racun
yang lain.”
Ciu Cau Liong mengiakan. Kembali ia mencari dengan teliti.
Sedikitpun tidak salah, di antara bawah lidah kembali ia
temukan sebutir pil berwarna hitam.
Pada waktu itu pada dua jalan darah penting di tubuh Itbun
Han Too telah tertotok. Ia tak berkutik maupun bisa
berbicara, karena itu Ciu Can Liong bisa bertingkah
sekehendak hatinya.
Dalam pada itu Siauw Ling dapat mengikuti jalannya
pertarungan adu otak itu dengan amat jelas, dalam hati ia
menghela napas dan berpikir, “Kelicikan serta kebusukan hati
orang-orang dunia persilatan memang luar biasa sekali.”
Tampak Shen Bok Hong kembali ayunkan tangan kanannya
membebaskan It-bun Han Too dari pengaruh totokan.
kemudian sambil tersenyum ujarnya, “It-bun heng, sekarang
kau masih ada akal apalagi untuk digunakan menaklukkan aku
orang she-Shen?”
It-bun Han Too menghembuskan napas panjang-panjang.

“Toa Cungcu, kau boleh hancurkan tubuhku jadi
berkeping-keping, tapi jangan harap bisa memaksa aku untuk
membuka pintu Istana terlarang!”
“Hmm! Urusan telah berubah jadi begini, apakah It-bun
heng masih ingin bersitegang dengan diriku?”
“Aku sudah bertekad untuk mati, kenapa musti putar otak
untuk mencari kehidupan?”
Shen Bok Hong tertawa hambar.
“Jarak antara kau dengan aku hanya terpaut beberapa
depa, aku yakin kau tidak ada kesempatan untuk melakukan
bunuh diri.”
“Haaah…. haaah…dibacok juga mati, disiksa juga mati. Apa
bedanya antara cara yang satu dengan yang lain?”
“It-bun heng, jalan pikiranmu terlalu enteng,” kata Shen
Bok Hong sambil menggeleng, “seandainya kau benar-benar
tak sudi bekerja sama dengan diriku, maka aku orang she
Shen akan gunakan cara yang paling keji untuk memaksa kau
turuti kehendak hatiku!”
Ia merandek sejenak lalu tambahnya, “Cuma, aku tidak
ingin berbuat begitu.”
Dalam keadaan begini It-bun Han Too benar-benar
terdesak, terpaksa ia harus terima keadaan dan mencari
kesempatan untuk pertahankan kehidupannya lebih jauh,
segera tanyanya, “Andaikata aku bisa membuka pintu istana
terlarang, bagaimana sikap Toa Cungcu terhadap diriku?”
“It-bun heng cerdik dan berpengetahuan amat luas, di
kemudian hari aku masih membutuhkan tenagamu, sudah
tentu tak mungkin kubinasakan dirimu. Sekalipun kau tak ingin
bekerja sama dengan diriku, rasanya kaupun tak akan
memusuhi aku orang she-Shen. Asal kau suka undurkan diri
dari dunia persilatan dan tidak membantu Siauw Ling untuk

memusuhi diriku, tentu saja kau bebas melanjutkan sisa
hidupmu dengan tenang.”
It-bun Han Too termenung dan berpikir sebentar, kemudian
berkata, “Walaupun kau berjanji demikian, tapi aku masih
tetap tidak percaya.”
“Apa yang musti aku lakukan hingga kau suka percayai
diriku?”
“Kecuali kau angkat sumpah berat.”
Shen Bok Hong termenung sejenak, lalu berkata,
“Andaikata kau telah membantu aku Shen Bok Hong membuka
pintu istana terlarang, sehingga seluruh isi benda dalam istana
tadi jatuh di tanganku, bilamana kubunuh dirimu maka aku
akan mendapat celaka.”
“Baik! untuk kali ini aku suka mempercayai perkataanmu.”
Shen Bok Hong tertawa hambar.
“Sikapku terhadap diri It-bun heng sama sekali tiada
maksud jahat, justru sikap banyak curiga dari It-bun heng lah
yang telah menimbulkan kesalahpahaman ini…..”
Ia merandek sejenak lalu menambahkan, “Bilakah It-bun
heng akan membuka pintu istana terlarang?”
“Paling cepat tiga hari, atau paling lambat tujuh hari lagi?”
Shen Bok Hong mengempos tenaga muntahkan kembali
buah tak berbiji itu dari dalam mulutnya, kemudian berkata
lagi, “Baiklah, kuturuti kehendakmu itu, cuma.. seandainya
batas waktu itu telah habis dan istana terlarang belum berhasil
juga dibuka, apa yang harus kulakukan terhadap dirimu?”
“Kecuali istana terlarang tidak berada di dalam Selat ini.”
“Menurut apa yang kuketahui, istana terlarang benar-benar
berada di dalam selat ini”

“Baiklah, bila aku gagal untuk membuka pintu istana
terlarang, terserah Toa Cungcu mau jatuhi hukuman apa
kepadaku!”
“Hahaah…. haaaah… haaaaah… It-bun heng, harap, kau
jangan pikirkan yang bukan-bukan!” seru Shen Bok Hong
sambil menepuk bahu orang itu, “meskipun It-bun heng gagal
membuka pintu istana, asal kau telah usahakan dengan
segenap tenaga aku tetap akan berterima kasih kepada
dirimu!”
Perlahan-lahan ia angsurkan buah tak berbiji tadi ke tangan
It-bun Han Too, ujarnya kembali, “Buah ini merupakan sebuah
benda yang sangat langka di kolong langit, lebih baik It-bun
heng simpan secara baik-baik.”
It-bun Han Too terima kembali buah tak berbiji itu dan
masukkan ke dalam peti emas, kemudian ia duduk bersila dan
pejamkan matanya.
Shen Bok Hong pun segera alihkan sorot. matanya ke atas
wajah Ciu Cau Liong, serunya ketus.
“Ji Cungcu!”
Air muka Ciu Cau Liong kontan berubah hebat, buru-buru ia
bangkit berdiri dan memberi hormat, tanyanya, “Toa Cungcu
ada urusan apa?”
“Kau kurang bisa menyesuaikan diri di dalam tugasmu
sehingga mengakibatkan timbulnya kesalahpahaman antara
aku dengan It-bun heng. Coba katakanlah sendiri apa yang
musti kulakukan terhadap kesalahanmu itu?”
“Aku tahu salah, terserah Toa Cungcu mau jatuhi hukuman
apa terhadap diriku.”
Shen Bok Hong berpikir sejenak kemudian menjawab,
“Untuk kali ini kesalahanmu hanya akan dicatat, bila lain kali
berbuat kesalahan lagi maka kau akan kuhukum.”

“Terima kasih buat kemurahan dari Toa Cungcu!”
Shen Bok Hong angkat kepala dan alihkan sorot matanya
ke arah Siauw Ling serta Pek-li Peng, lalu bertanya, “Siapakah
kedua orang itu? mau apa dia berada disini?”
“Kedua orang ini adalah pilihan It-bun heng dari antara
kawanan pekerja untuk membantu dirinya.”
“Ooh…kalau begitu suruh mereka lepaskan baju pekerja itu
dan tetap tinggal di sini untuk mendengarkan perintah.”
Ia merandek sejenak dan tanyanya kembali, “Kamar ini
semula milik siapa?”
“Milik hamba!” jawab Phoa Liong sambil memberi hormat.
“Berikan ruangan ini untuk It-bun heng!”
“Hamba terima perintah!”
Shen Bok Hong alihkan kembali sinar matanya ke arah Itbun
Han Too, dan ujarnya lebih jauh, “It-bun heng, barusan
aku telah mendapat kabar bahwa kecuali Lan Giok Tong si
Siauw Ling gadungan itu sudah sembunyikan sekawanan jago
lihay di sekitar selat ini, masih ada pula beberapa rombongan
jago lihay yang berduyun-duyun datang kemari, aku harus
periksa dulu daerah sekitar sini untuk bikin persiapan, maka
dari itu maaf bila aku terpaksa akan berlalu lebih dahulu.”
“Toa Cungcu tak usah sungkan2, silahkan!” sahut It-bun
Han Too sambil membuka matanya.
Begitulah Shen Bok Hong diikuti Ciu Cau Liong sekalian
segera undurkan diri dari ruangan batu.
Suasana dalam ruangan tiba-tiba berubah jadi sunyi
senyap, begitu hening sampai dengusan napaspun
kedengaran dengan nyata.

Waktu itu, dalam ruangan batu kecuali terdapat Siauw Ling
serta Pek-li Peng hanya Phoa Liong seorang yang masih tetap
berada di dalam ruangan.
Terdengar orang itu buka suara memecahkan kesunyian,
“It-bun sianseng. apakah kau masih membutuhkan tenagaku?”
“Tidak….” jawab It-bun Han Too, ia sapu sekejap wajah
Siauw Ling serta Pek-li Peng kemudian melanjutkan.
“Ambilkan dua stel baju baru untuk mereka berdua, dan
bawakan air bersih biar mereka cuci muka!”
“Baik! aku segera membawa mereka pergi ganti pakaian.”
“Mereka tak usah pergi, tolong Phoa-heng ambilkan saja
dua stel pakaian untuk mereka berdua.”
Phoa Liong mengiakan, dengan, langkah lebar ia segera
berlalu dari ruangan.
Ditatapnya bayangan punggung orang she Phoa itu hingga
lenyap dari pandangan, kemudian It-bun Han Too menggape
ke arah Siauw Ling berdua sambil ujarnya, “Coba kemarilah
kalian berdua.”
Siauw Ling termenung sejenak kemudian bangkit dan maju
ke depan.
“Sudah lama kalian berdua bekerja di sini?” tanya It-bun
Han Too sambil menatap wajah mereka berdua tajam-tajam.
“Lama sekali!”
“Kalau dibicarakan, bekerja sebagai tenaga kasar jauh
berbeda kalau dibandingkan bekerja dengan diriku.”
“Pinter amat orang ini,” batin Siauw Ling. “Sekarang ia
berada dalam posisi yang terdesak dan sebatang kara,
rupanya ia pingin cari teman lama membantu usahanya. Aaai!
dengan kedudukannya yang begitu tinggi, ternyata sudah
mencari hubungan dengan seorang pekerja yang rendah

kedudukannya, keadaan yang dialami orang ini memang
mengenaskan sekali….”
Dalam hati berpikir namun di luaran ia menyahut, “Kalau
dibandingkan sudah tentu bekerja mengikuti sianseng jauh
lebih enak dari pada musti bekerja kasar!”
It-bun Han Too tersenyum.
“Dewasa ini di dalam selat boleh dibilang kalian berdualah
sahabat karibku….tidak sulit buat kalian ingin tinggalkan
tempat ini, asal kamu berdua mau bekerja sama dengan diriku
dan mendengarkan perkataanku, maka dengan amat mudah
kalian bisa segera berlalu dari sini.”
“Kalau memang begitu, kami berdua akan menantikan
bantuan sianseng!”
“Baik! setelah ganti pakaian nanti, tunggu saja di sisi
tubuhku, asal kalian setia kepadaku maka aku pasti akan
bantu kalian untuk tinggalkan selat ini.”
“Terima kasih sianseng!” setelah menjura ia pun
mengundurkan diri ke sudut ruangan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Pek-li Peng
mengikuti di belakang tubuh Siauw Ling kembati ke tempat
semula.
Sementara itu It-bun Han Too mendongak memandang
cuaca, setelah menghela napas, Ia pejamkan kembali
matanya.
Selama ini Siauw Ling selalu mengawasi tingkah laku dari
It-bun Han Too, ditinjau dari wajahnya yang murung, kesal
bercampur sedih, satu ingatan segera berkelebat di dalam
benaknya, diam-diam ia berpikir, “Kekejaman serta kekejian
Shen Bok Hong rupanya sudah bikin hatinya keder, bila saat
ini kuutarakan asal usulku mungkin kita bisa bekerja sama,
asal dia sudah menyanggupi maka dengan perlindungannya

Peng-ji bisa kuutus naik ke puncak untuk mengundang
kehadiran sepasang pedagang dari Tiong-ciu.”
Berpikir sampai disitu ia segera bangkit berdiri dan berjalan
menghampiri It-bun Han Too.
Kewaspadaan It-bun Han Too ternyata sangat tinggi, begitu
mendengar suara langkah kaki dia segera buka matanya
lebar-lebar dan menatap wajah si anak muda itu dengan sorot
mata tajam, tegurnya, “Ada urusan apa?”
Sebenarnya Siauw Ling hendak menerangkan asal usulnya
dan ajek dia untuk bekerja sama, tetapi setelah menyaksikan
kelicikan yang menyelimuti wajahnya, dalam hati pemuda itu
merasa amat terperanjat, pikirnya, “Orang ini licik dan banyak
akal, mungkin bukan seorang manusia yang dapat diajak
bekerjasama……”
Karena mempunyai pikiran begitu, sambil berdehem
sahutnya, “Aku telah teringat akan satu urusan dan ingin
kulaporkan kepada diri sianseng.”
“Urusan apa?” nada suaranya jauh lebih lunak.
Ucapan tadi sebenarnya hanya suatu kata spontan yang
diucapkan Siauw Ling untuk menutupi. rahasianya, setelah
didesak terpaksa ia keraskan kepala dan menjawab, “Aku
hendak membicarakan persoalan tentang selat ini, apakah
sianseng suka untuk mendengarkan?”
“Baik, katakanlah berapa banyak yang kau ketahui katakan
semua kepadaku, semakin banyak semakin baik.”
“Kedudukanku di dalam selat ini amat rendah, urusan yang
kuketahui juga ada batasnya, mungkin apa yang ingin
kukatakan sudah diketahui sianseng lebih dahulu.”
“Perkataan ini diucapkan untuk mengulur waktu sementara
otaknya bekerja keras untuk memikirkan soal apa yang harus
dikatakan.

Air muka It-bun Han Too berubah semakin merah lagi,
katanya, “Tidak mengapa, jangan kau perduli apakah aku
sudah tahu atau belum, utarakan saja sejelasnya.”
““Aku…aku mau berbicara mengenai soal istana
terlarang…!” seru Siauw Ling dengan paniknya.
“Sstt…perlahan sedikit. Kenapa?”
“Aku…aku pernah menyaksikan seorang pekerja
menemukan sebuah gelang emas di tepi telaga yang ada di
bawah bukit situ!”
“Sekarang gelang emas itu berada di mana?
“Orang itu sudah serahkan kepada mandor kami,
bagaimana selanjutnya aku sendiri pun tidak tahu.”
“Kau kenal dengan orang itu?”
“Kenal!”
“Bagus sekali, pergi dan ambil benda itu lalu serahkan
kepadaku. Mungkin gelang emas itu akan memberikan
bantuan yang besar untuk membuka istana terlarang.”
Satu ingatan berkelebat dalam benak Siauw Ling, pikirnya,
“Kenapa aku tidak gunakan kesempatan ini untuk mengutus
Pengji pergi menghubungi sepasang pedagang dari Tiong
ciu?”
Karenanya ia lantas berkata, “Walaupun aku kenal orang itu
tapi hubungan kami tidak begitu rapat, cuma Pekli heng sudah
lama bergaul dengan dirinya, lebih baik utus saja saudara ini.”
“Bagus sekali, bisa dicuri usahakanlah curi atau kalau tidak
bisa dicuri minta saja terang2an.”
“Kalau begitu biar kusampaikan pesanmu ini kepada Pek-1i
heng, tapi untuk sementara waktu dia musti kembali dulu ke
dalam rombongan para pekerja….”

Ia merandek sejenak, lalu menambahkan, “Nanti
seandainya mandor atau Ciu ji Cungcu menanyakan tentang
dirinya, apa yang harus kami katakan?”
“Jangan kuatir, aku punya akal untuk menghadapi mereka,
cepat suruh dia pergi!”
Siauw Ling mengiakan, sekembalinya ke sudut ruangan
dengan ilmu menyampaikan suara segera pesannya, “Peng-ji,
usahakanlah pulang ke puncak gunung melalui jalan semula,
beritahu sepasang pedagang dari Tiong-ciu agar mereka
masuk ke dalam selat ini lewat jalan rahasia dan untuk
sementara sembunyi dahulu di balik semak belukar.”
Bicara sampai disitu, sengaja ia perkeras suaranya dan
melanjutkan, “Pek-li heng, setelah mendapatkan gelang emas
itu cepat-cepatlah balik kemari, lebih baik dicuri saja.”
Pek-li Peng mengangguk dan segera melangkah keluar.
Sementara itu Phoa Liong dengan membawa dua setel
pakaian sedang berjalan masuk ke dalam, melihat Pek-li Peng
mau keluar dari ruangan itu nampak tertegun dan tidak habis
mengerti.
It-bun Han Too mendehem dan berebut bicara lebih dulu.
“Aku suruh dia pergi mencari sesuatu benda, untuk
sementara waktu tak usah tukar pakaian dulu.”
Phoa Liong taruh pakaian itu di atas meja dan berkata,
“Aku mendapat perintah dari Toa Cungcu untuk tetap tinggal
di sini melayani sianseng, bila kau ada keperluan silahkan
perintah diriku saja .. …..”
---ooo0dw0ooo---
“Melayani? heheh…. heeeh…. heeh mungkin sedang
mengawasi diriku. bukan begitu?” ejek It-bun Han Too sambil
tertawa dingin. “Tentang soal ini aku tak berani.”

“Hmm, bekerja menurut perintah orang. kebebasanmu
sudah tak ada sama sekali, meskipun kau ditugaskan untuk
mengawasi aku pun tak nanti menyalahkan dirimu.”
“Perintah dari Toa Cungcu memang benar-benar suruh aku
datang kemari melayani keperluan sianseng.”
“Kalau memang begitu, tolong sampaikan kepada Toa
Cungcu! selama aku putar otak memikirkan cara untuk
membuka pintu istana, dua orang pekerja itu sudah cukup
menolong diriku, Phoa-heng lebih baik tak usah repot-repot.”
Siauw Ling yang mendengar pembicaraan itu di dalam hati
segera pikirnya, “Seandainya ia tahu kalau Phoa Liong telah
mengkhianati perkampungan Pek Hoa Sanceng, mungkin
tawarannya itu tak akan ditampik.
Tampak Phoa Liong melengak dan segera memberi hormat.
“Kalau begitu aku mohon diri lebih dahulu!” katanya
kemudian sambil melangkah ke luar.
“Setelah orang ini kuusir, ia pasti akan mengadu
kejelekanku di hadapan Shen Bok Hong,” pikir It-bun Han Too,
“Dewasa ini keadaan amat mendesak, lebih baik aku tak usah
menyalahi dirinya…”
Ingin sekali ia panggil kembali mandor itu, tapi akhirnya
keinginan itu ditahan kembali.
Waktu berlalu dengan cepatnya. siang pergi dan malampun
menjelang tiba..
Selama ini She Bok Hong tak pernah mengutus orang untuk
menyambangi It-bun Han To lagi, kecuali pelayan yang
menghidangkan makanan lezat serta sebuah lampu
penerangan.
Rupanya It-bun Han Too sudah menaruh kepercayaan
terhadap diri Siauw Ling, ternyata pemuda itu diundarg untuk
bersantap bersama-sama diriinya.

Dalam hati Siauw Ling amat menguatirkan Pek-li Peng.Ias
kehilangan nafsu tuakan dan hanya menghabiskan semangkok
nasi belaka.
Suatu ketika terdengar It-bun Han Too menghela napas
panjang, tegurnya, “Bagaimana dengan ilmu silat yang kau
miliki?”
“Ilmu silat yang dimiliki hanya bisa dianggap sebagai biasa
saja, tiada kehebatan apa pun yang bisa ditonjolkan.”
“Di kemudian hari, aku bisa memberi petunjuk ilmu silat
kepadamu!”
“Terima kasih It-bun sianseng!”
It-bun Han Too angkat kepala memandang sekejap dinding
rumah, lalu gumamnya kembali.
“Saudara Pek-li sudah lama perginya.”
“Benar,” sahut Siauw Ling yang sedang merindukan pula
keselamatan Pek-li Peng. Ila sudah pergi delapan jam,
semestinya sekarang sudah kembali ke sini!”
“Gelang mas itu amat penting artinya, semoga ia berhasil
mendapatkannya.”
“Huuh…. sekalipun dia datang, belum tentu ada gelang mas
tersebut……” batin Siauw Ling.
Ia menyadari bahwa kecerdasan maupun
ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong amat luar biasa,
kewaspadaannya melebihi orang biasa, bila rahasia Pek-li
Peng ketahuan maka keselamatannya pasti terancam. Karena
berpikir begitu, maka dia pun lantas bangkit berdiri.
“Ei….apa yang hendak kau lakukan?” tegur It-bun Han Too
terperanjat.
“Aku ingin mencari jejak saudara Pek-li.”

“Baik, cepat-cepatlah kembali!”
Siauw Ling mengangguk, ia putar badan dan keluar dari
gua batu tersebut.
Waktu itu malam telah tiba, suasana dalam gua gelap gulita
tapi dengan ketajaman mata si anak muda itu, dengan amat
mudah ia berhasil keluar dari dalam gua.
Pintu baja tertutup rapat, ketika ia keluar dari sana
terlihatlah bintang bertaburan di angkasa, rembulan
bersembunyi di balik awan dan ketika itu waktu sudah
menunjukkan kentongan ketiga.
“Andaikata Peng-ji serta Tiong-Chiu Siangku tidak tertawan,
mungkin mereka masih tetap bersembunyi di mulut gua
tersebut,” pikir pemuda itu di dalam hati, “Sekarang kebetulan
sekali rembulan berada di balik awan, inilah kesempatan yang
paling baik bagi mereka untuk bertindak. Baiklah aku tunggu
sejenak lagi.. .”
Baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat di dalam
benaknya tampak dua sosok bayangan manusia laksana
sambaran petir telah meluncur datang.
Siauw Ling hendak menyembunyikan diri ke balik gua tapi
terlambat.
Laksana kilat kedua sosok bayangan manusia tadi sudah
berada kurang lebih empat lima kaki di hadapan Siauw Ling,
empat buah mata yang tajam menatap wajah pemuda itu
tanpa berkedip.
Siauw Ling diam-diam perhatikan pula pihak lawan. Ia lihat
orang yang berada di sebelah kiri berbadan tinggi berjenggot
hitam dengan sebilah pedang tersoren di punggung,
sedangkan orang di sebelah kanan berwajah bersih tanpa
jenggot, sebilah pedangpun tersoren di atas punggungnya.
Dandanan mereka berdua tak berbeda jauh semuanya
mengenakan pakaian ringkas berwarna abu-abu. Kiranya

mereka adalah Kiam bun Siang-Ing, sepasang pendekar dari
Kiam bun, yakni Tiu Hong Kiam, si pedang pengejar angin Pay
Pek li serta Pu In Kiam, si pedang tanpa bayangan, Tham
Tong.
“Siapa kau?” Pay Pek-li segera menegur sambil menatap
wajah lawannya tajam-tajam.
“Hamba she Gak……”
“Kau bekerja di dalam selat ini?”
“Betul. Hamba bekerja di bawah pimpinan mandor Phoa,
sekarang ditugaskan melayani keperluan It-bun sianseng.”
Pay Pek-li termenung sejenak, kemudian tanyanya lagi,
“Baik-baikkah It-bun sianseng?”
“It-bun sianseng baik sekali, sekarang ia sedang
bersemedi.”
“Saudara,” ujar Pay Pek-li sambil melirik sekejap ke arah
Tham Tong, “Bagaimana kalau kita jenguk It-bun sianseng?”
“Baiklah, berhati-hati memang tak ada salahnya.”
Pay Pek-li segera ulapkan tangannya.
“Ayoh ajak kami temui It-bun sianseng!”
“Sepasang pendekar dari Kiam-bun ini sudah menaruh rasa
tidak puas terhadap diri Shen Bok Hong,” batin Siauw Ling
dalam hati.
“Agaknya pada saat ini mereka sudah tidak puas terhadap
junjungannya,” Pemuda itupun menyadari, bila rahasianya
ketahuan maka ia akan tersudut dan tak akan sanggup
menghadapi serangan gabungan antara Shen Bok Hong
dengan para jago-jagonya. Karena itu terpaksa ia menahan
sabar dan masuk kembali ke dalam goa.

Tindak tanduk Kiam-bun Siang-ing ternyata sangat berhatihati,
dengan Siauw Ling mereka tetap mempertahankan jarak
sejauh tiga langkah.
Setibanya di mulut gua, peronda itu berhenti dan berseru,
“It-bun sianseng, ada orang datang menjenguk dirimu!”
Dengan ilmu silat yang dimiliki It-bun Han Too. tentu saja
suara langkah kaki manusia itu tak akan lolos dari
pendengarannya, tapi ia pura-pura berlagak pilon, setelah
mendengar seruan dari Siauw Ling ia baru angkat kepala
sambil bertanya
“Siapa?”
“Kiang bun Siang-ing datang menjenguk It-bun sianseng?”
kata Pay Pek-li sambil melangkah masuk ke dalam.
It-bun Han Too melirik sekejap ke arab Pay Pak-li serta
Tham Tong, kemudian ia baru menyahut, “Ooh…kiranya Payheng
serta Tham-heng. Entah ada urusan apa kalian berdua
datang kemari!”
“Maaf, kalau kedatangan kami telah mengganggu
ketenangan It-bun sianseng…”
“Hmm, aku mendapat perintah dari Toa Cungcu untuk
memikirkan cara membuka pintu istana terlarang, andaikata
kalian berdua tidak ada urusan….harap silahkan!”
Perintah pengusiran terhadap tetamu yang diucapkan
dalam pertemuan yang baru saja berlangsung ini jauh di luar
dugaan Kiam-bun siang-ing. tanpa sadar mereka jadi tertegun.
Si pedang tanpa bayangan Tham Tong mendehem ringan,
katanya, “Kalau tak ada urusan kamipun tak akan datang
mengganggu ketenanganmu, kami hanya ingin menanyakan
satu persoalan kepada diri It-bun sianseng!”
“Urusan apa?”

Tham Tong berpaling ke arah Siauw Ling dan serunya,
“Apakah pekerja ini bekerja menurut perintah dari It-bun
sianseng?”
“Sedikitpun tidak salah, Ciu ji Cungcu yang telah pilihkan
pembantu ini untuk membantu diriku, apakah kalian berdua
ada pendapat lain?”
“Ooohh…tidak, kami cuma merasa curiga atas tindak
tanduknya yang mencurigakan, lagipula memakai baju
pekerja. Maka dari itu sengaja kami hendak mengusut urusan
ini dari mulut It-bun sianseng.”
“Bukankah sekarang sudah kalian tanyakan?”
“Bila kami telah mengganggu ketenangan sianseng, harap
kau suka memaafkan….” buru-buru Pay Pek-li berseru, sambil
menarik ujung baju Tham Tong mereka segera mengundurkan
diri dari ruang batu itu.
Menanti kedua orang itu mengundurkan diri agak lama. Itbun
Han Too baru berbisik kepada Siauw Ling, “Mereka sudah
pergi?”
“Sudah!”
“Kau ditangkap dimana?
“Ketika berada di mulut gua tadi, kebetulan mereka sedang
meronda maka setelah bertemu dengan aku mereka lantas
paksa aku untuk balik kemari….”
“Sudah berjumpa dengan saudara Pek-li?”
“Belum kelihatan!”
It-bun Han Too segera mengerutkan dahinya.
“Sudah begini lama ia juga belum kembali, mungkin
keadaannya lebih banyak bahaya dari pada keberuntungan.”
Mendadak tampak bayangan manusia berkelebat lewat,
tahu-tahu Pek-li Peng munculkan diri di dalam ruangan.

“Sungguh cepat gerakan tubuhnya,” puji It-bun Han Too
dengan nada tercengang.
Siauw Ling sendiripun merasa terkejut, pikirnya, “Aduuuh
celaka, kali ini It-bun Han Too pasti akan menaruh curiga
terhadap kami berdua…..”
Rupanya Pek-li Peng menyadari akan kekhilafannya,
sengaja ia terengah2 sambil serunya, “Pekerja yang
menyimpan gelang emas itu tidak ada.”
“Pergi kemana?”
“Aku tak tahu!”
Dengan sorot mata yang tajam It-bun Too menatap wajah
Pek-li Peng tak berkedip, ujarnya kembali, “Ilmu meringankan
tubuh yang kau miliki sungguh tidak jelek!”
“Penjagaan di luar ruangan sangat ketat, orang yang
melakukan perondaan berlalu lalang tiada hentinya, barusan
hamba bersembunyi di belakang batu besar di depan ruangan
sana. Untung kedua orang itu sedang bercakap2 dengan
sianseng dan tidak sampai memperhatikan diriku.”
“Barusan kau meloncat dari mana?”
“Dari pintu luar!”
It-bun Han Too memandang sekejap cuaca gelap di luar
ruangan, kemudian katanya, “Ehmm. jarak delapan depa……”
“Hamba bisa kerahkan segenap tenaga yang ada untuk
meloncat masuk ke dalam ruangan!”
“Ehmm. Kau mempunyai dasar ilmu meringankan tubuh
yang bagus, bila dilatih lebih rajin niscaya akan peroleh
kemajuan yang pesat.”
“Harap sianseng suka memberi petunjuk ketika hamba
belajar ilmu silat tempo dulu suhuku sering memuji hamba
yang katanya lebih cocok belajar ilmu meringankan tubuh.”

“Perawakanmu kurus kecil, potongan semacam inilah yang
paling ideal untuk belajar ilmu meringankan tubuh…..” ia
merandek sejenak.
“Sana, pergilah tukar pakaian!”
Pek-li Peng memberi hormat, bersama-sama Siauw Ling
mereka segera mengundurkan diri ke sudut ruangan.
It-bun Han Too padamkan lampu lentera dan duduk
bersemedi.
Siauw Ling tetap duduk tenang, ditunggunya sampai napas
It-bun Han Too makin lama semakin kecil, kemudian dengan
ilmu menyampaikan suara, ujarnya, “Peng jie, Sepasang
pedagang dari Tiongchiu sudah ditemukan?”
“Sudah, mereka telah masuk ke dalam selat dan seperti
yang toako pesankan tadi, aku suruh mereka
menyembunyikan diri ke dalam semak belukar, tapi mereka
bersikeras hendak menyatu sebagai pekerja dan
mencampurkan diri ke dalam rombongan pekerja itu.”
“Kemudian?”
“Kemudian aku bilang pesan toako untuk bersembunyi di
dalam semak, akhirnya apa boleh buat merekapun
bersembunyi di semak tersebut.”
“Bagus sekali. Apakah kau sudah menjanjikan tanda kode
kepada mereka?”
“Sudah.”
Ia merandek sejenak, kemudian terusnya, “Aku sudah silaf
hingga terlalu cepat meloncat masuk ke dalam ruangan,
mungkin It-bun Han Too sudah merasa curiga terhadap kita
berdua seandainya karena urusan ini hingga rencana toako
gagal….. Aaaiiii. bagaimana baiknya?.., “
---ooo0dw0ooo---

Siauw Ling termenung sebentar lalu menjawab, “Tak usah
kuatir, meskipun ia sudah menaruh curiga tapi kalau ditinjau
dari perubahan wajahnya mungkin ia punya rencana lain,
mungkin juga ia hendak menggunakan kita untuk
mewujudkan cita citanya, dalam keadaan begini tak nanti ia
ungkap masalah ini kepada Shen Bok Hong. Asal ia tidak
berbicara dengan gembong iblis itu maka kita pun tak usah
kuatir.”
Perlahan-lahan Pek-li Peng sandarkan tubuhnya ke atas
dada Siauw Ling, bisiknya lagi, “Asal toako tidak marah,
akupun bisa berlega hati!”
Ia pejamkan mata dan lantas tertidur.
Dalam ruangan yang begitu gelap sebenarnya Siauw Ling
ingin mendorong tubuh gadis itu, tapi setelah mendengar
napasnya yang begitu teratur, jelas sudah tertidur pulas ia jadi
tak tega membangunkannya.
Waktu berlalu dengan cepatnya, secara beruntun It-bun
Han Too sudah tiga hari tiga malam berdiam dalam ruangan
itu.
Selama tiga hari ini Shen Bok Hong tak pernah datang
menjenguk kecuali mengutus orang untuk menghantar sayur
dan arak.
Siauw Ling dan Pek-li Peng terpaksa harus menggunakan
kesabaran yang paling besar untuk menahan diri selama tiga
hari.
Hari keempat menjelang tiba, sampai tengah hari It-bun
Han Too belum juga memperlihatkan gerak-gerik apapun,
lama kelamaan Siauw Ling tak sabar lagi, segera pikirnya,
“Seandainya hari ini ia belum menunjukkan gerakan apa-apa
lagi, terpaksa aku harus totok jalan darahnya dan mengajak
Peng ji tinggalkan tempat ini.

Belum habis ingatan itu berkelebat lewat, mendadak
terdengar suara langkah kaki yang ramai berkumandang
datang.
Ketika ia angkat kepala, tampaklah Shen Bok Hong diiringi
Ciu Cau Liong, Tang Hiong Ciang, Kim Hoa hujin serta Tong Lo
Thay-thay yang bercelana hijau, berambut putih dan
membawa tongkat kepala burung hong berjalan masuk ke
dalam.
Kemunculan Kim Hoa hujin tidak begitu mengherankan,
tapi kemunculan Tong Lo Thay-thay dari keluarga Tong yang
tersohor sebagai ahli senjata rahasia dari propinsi Sucwan ini
sangat mencengangkan hati pemuda kita.
Tampak Shen Bok Hong dengan wajah penuh senyuman
menghampiri diri It-bun Han Too, tegurnya lirih.
“It-bun heng!”
“Ooh…. Shen Toa Cungcu,” sahut It-bun Han Too sambil
buka matanya lebar-lebar. “Ada urusan apa?”
“Ini hari adalah hari keempat, apakah It-bun heng sudah
berhasil menemukan jalan keluar?”
“Sudah!” jawab It-bun Han Too sambil mengangguk.
Jawaban ini bukan saja jauh di luar dugaan Shen Bok
Hong, bahkan Siauw Ling pun jadi tercengang.
Setelah tertegun beberapa saat lamanya, Shen Bok Hong
berkata lagi, “Maksudku, apakah It-bun heng telah
menemukan cara untuk membuka istana terlarang?”
“Kalau istana terlarang betul-betul berada di lembah ini aku
percaya pintu istana tersebut pasti dapat ditemukan,
sanggupkah aku membuka pintu istana, baru bisa kukatakan
setelah pintu itu kutemukan.”

“Kecerdasan It-bun heng benar-benar luar biasa, tak
seorangpun diantara kami yang bisa menandingi
kecerdikanmu….”
Sorot matanya menyapu sekejap wajah Siauw Ling serta
Pek-li Peng, kemudian tambahnya, “Kedua orang pekerja itu
bodoh dan lamban, mereka tak akan bisa melayani keperluan
It-bun heng. Sengaja aku telah pilihkan dua orang dayang
cantik untuk melayani dirimu….”
Bicara sampai disitu ia lantas menoleh ke luar pintu,
serunya, “Kalian boleh masuk, cepat temui tuan It-bun!”
Dua orang dayang cantik dengan mengenakan gaun
berwarna hijau segera melangkah masuk ke dalam ruangan,
usia mereka di antara delapan sembilan belas tahunan,
matanya bulat dengan alis yang tipis, raut wajah mereka
berdua amat cantik.
“Menemui tuan It-bun….” seru mereka berbareng sambil
memberi hormat kepada orang itu.
It-bun Han Too yang selama hidupnya amat suka bermain
perempuan, saat ini dengan wajah dingin melirik sekejap ke
arah mereka berdua, lalu ujarnya ketus, “Kalian berdua
silahkan bangun….” Kepada Shen Bok Hong, serunya, “Aku
merasa tiada keberuntungan untuk menikmati kecantikan
mereka. Lebih baik Toa Cungcu gunakan sendiri! Aku pikir
kedua orang pekerja itu sudah cukup untuk melayani diriku.”
Shen Bok Hong jadi tertegun, ia tak mengira It-bun Han
Too yang biasanya amat senang main perempuan sekarang
telah menampik suguhannya, tapi sejenak kemudian setelah
ditampik suguhannya tapi sejenak kemudian ia telah
tersenyum kembali.
“Aah ….mungkin raut wajah kedua orang dayang ini kurang
cantik, hingga tidak memenuhi selera It-bun heng?”

It-bun Han Too tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya
malah balik bertanya, “Sekarang jam berapa?”
“Mendekati tengah hari!”
“Urusan tak boleh terlambat lagi. Satu jam kemudian aku
akan mulai turun tangan mencari pintu masuk Istana
Terlarang.”
Dalam hati Shen Bok Hong merasa amat girang tapi rasa
gembiranya itu tidak sampai diutarakan di atas wajah, sambil
tertawa hambar, katanya, “Kenapa musti terburu-buru? besok
saja toh tidak jauh berbeda……”
“Lebih baik cepat-cepat turun tangan dan temukan letak
Istana Terlarang, dengan begitu aku pun bisa cepat-cepat
tenangkan hatiku……” Ia marah sejenak, lalu menambahkan,
“Harap Toa Cungcu suka siapkan dua puluh orang pria yang
kekar dan sehat untuk menunggu perintah.”
“Baik!” Shen Bok Hong mengangguk, “It-bun heng masih
membutuhkan apa? Katakan saja.”
“Tak usah, aku masih harus memperhitungkan satu
persoalan, bila Toa Cungcu tak ada urusan lagi, silahkan pergi
beristirahat.”
“Kalau memang begitu, akupun tak akan mengganggu lebih
lanjut” perlahan-lahan ia mendekati Siauw Ling serta Pek-li
Peng lalu terusnya dengan nada ketus, “Sungguh luar biasa
sekali, tak nyana kalian berdua bisa peroleh perhatian dari Itbun
sianseng. Baik-baiklah melayani tuan ini, di kemudian hari
tentu ada kebaikan bagi kalian berdua.”
Siauw Ling serta Pek-li Peng sama-sama memberi hormat
menyatakan terima kasihnya, sikap maupun gerak-geriknya
menunjukkan rasa hormat yang amat tebal.
Shen Bok Hong melirik kembali ke arah It-bun Han Too,
kemudian diiringi Ciu Cau Liong sekalian mengundurkan diri
dari ruangan.

Menanti bayangan tubuh beberapa orang itu sudah
menjauh, It-bun Han Too baru berdiri, serunya sambil
menggape ke arah Siauw Ling, “Kau! coba kemari…”
“Orang ini tua-tua keladi, otaknya tajam dan licik luar biasa.
entah apa yang sedang dipikirkan olehnya?” batin Siauw Ling.
Ia segera maju kedepan sambil bertanya, “Sianseng ada
urusan apa?”
“Apakah pintu batu itu bisa ditutup?”
“Di dalam terdapat rantai besi, pintu itu bisa dikunci dari
dalam.”
“Untuk memasuki ruangan batu ini, apa cuma sebuah jalan
tembus ini saja?”
“Tidak salah, hanya ada satu jalan tembus ini saja?”
“Bagus sekali, pergilah kesitu dan rantai pintu tengah.”
Siauw Ling melirik sekejap ke arah Pek-li Peng lalu dengan
langkah lebar keluar dari ruangan, merantai pintu dan balik
lagi ke dalam ruangan.
Tampaknya It-bun Han Too masih duduk di dalam ruangan
tengah, dengan wajah serius ujarnya, “Coba kalian berdua
datanglah kesini.”
Pek-li Peng serta Siauw Ling bersama-sama maju ke depan.
It-bun Han To menatap tajam wajah kedua orang itu,
kemudian ujarnya, “Pada saat ini dalam kamar tiada orang lain
kecuali aku seorang, tidak nanti aku ada niat untuk mencelakai
kamu berdua, harap kalian utarakan asal usulmu yang
sebenarnya.”
“Orang ini tersohor karena liciknya,” pikir Siauw Ling dalam
hati. ”Seandainya ia tahu asal usulku yang sebenarnya, sukar
dibayangkan apa yang hendak dilakukan terhadap diriku.”
Keadaan amat mendesak, biar kubohongi dirinya saja.

Apa yang dipikirkan memang bagus, sayang pemuda yang
tak pernah berbohong ini jadi kebingungan apa yang musti
dikatakan. Untuk sesaat ia jadi berdiri melongo.
Pek-li Peng sendiripun tak tahu mesti berbuat apa untuk
menghadapi keadaan itu, ia cuma memandang ke arah Siauw
Ling sambil membungkam.
Terdengar It-bun Han Too berkata, “Secara diam-diam aku
telah mengawasi terus gerak-gerik kalian berdua, jelas kamu
bukanlah pekerja dari lembah ini. Bila dugaanku tidak salah
maka kalian berdua sudah agak lama menyusup kemari, Phoa
Liong si mandor itu kalau bukan komplotanmu pastilah sudah
kau taklukkan dengan suatu cara yang jitu, maka dari itu dia
selalu berusaha untuk melindungi keselamatan kalian.”
Kebetulan Siauw Ling sedang kelabakan dibuatnya.
Mendengar perkataan itu hatinya jadi tergerak, jawabnya,
“Pengamatan sianseng memang sangat tepat. Aku memang
mendapat tugas menyusup ke dalam selat ini.”
“Mendapat perintah dari siapa?”
“Aku harus mencari nama seseorang yang ditakuti olehnya.
pikir pemuda itu. Dengan demikian baru ia tak berani
menyatroni orang itu!”
Berpikiran demikian ia lantas menyahut, “Seorang jago
yang bernama Lan Giok Tong, entah sianseng kenal atau
tidak?”
“Oooh…. apakah orang yang pernah menyaru sebagai
Siauw Ling gadungan itu?”
“Tidak salah, memang Lan kangcu itu.”
It-bun Han Too menunduk dan berpikir sejenak, kemudian
tanyanya lagi, “Mau apa dia utus kalian berdua datang
kemari?”

Dengan pengalamannya yang semakin bertambah, Siauw
Ling tahu bila semua jawaban diberikan maka pihak lawan
malahan akan menaruh curiga. maka ia lantas berkata,
“Tentang soal ini? maaf aku tak bisa mengatakannya. Cuma
yang penting aku berdua tidak menaruh maksud jahat
terhadap sianseng.”
Air muka It-bun Han Too berubah hebat, serunya dingin,
“Dalam hati kalian berdua musti tahu, pada saat ini asal
kukatakan sepatah kata saja maka kalian berdua akan
terkubur disini.”
“Andaikata ia benar-benar berbuat demikian,” pikir Siauw
Ling. “Terpaksa aku harus menggunakan cara yang sama
ketika menghadapi Phoa Liong tempo dulu untuk menghadapi
dirinya….”
Ia menoleh dan tampaklah Pek-li Peng sedang mengawasi
dirinya dengan mata melotot besar. Di antata sorot matanya
jelas memperlihatkan bahwa ia sedang menantikan petunjuk
dari pemuda itu.
It-bun Han Too sendiri walaupun pernah menyaksikan
sendiri betapa gesitnya gerakan tubuh Pek-li Peng, tapi Ia
yakin dengan ilmu silatnya yang amat lihai masih dapat
mengatasi kedua orang ini. Tentu saja ia tak pandang sebelah
matapun terhadap mereka berdua.
“Gila kalian berdua ingin pertahankan kehidupan, aku
mempunyai cara bagus yang dapat kalian tempuh.”
“Apa caramu itu?”
“Mulai sekarang, baktikanlah seluruh pikiran dan tenagamu
untuk membantu diriku.”
Untuk sesaat Siauw Ling tak berhasil menemukan jawaban
yang tepat. Ia bungkam dalam seribu bahasa.
Tampak It-bun Han Too membuka peti emasnya dan ambil
keluar dua butir pil berwarna hijau, tambahnya, “Kalau kalian

berdua mau takluk kepada loohu, telanlah kedua butir pil ini
secepatnya, aku pasti akan melindungi keselamatan kamu
berdua.”
Dalam hati Siauw Ling merasa gusar, pikirnya, “Kekejaman
dan kelicikan orang ini tidak berbeda jauh dengan Shen Bok
Hong, ia hendak menggunakan bahan obat untuk menguasai
kesadaran orang hingga tenaga kami bisa digunakan
sekehendak hatinya, manusia semacam ini musti diberi
pelajaran……”
Ia berusaha keras menekan hawa amarah yang berkobar
dalam hatinya, lambat-lambat ujarnya, “Tadi sianseng
berusaha menggunakan pengaruh obat untuk menguasai Shen
Bok Hong tapi niat itu tak terwujud, rupanya ingatan semacam
itu masih saja berkecamuk dalam pikiranmu.”
“Setiap orang kangouw licik dan banyak akal, mau tak mau
aku musti melakukan persiapan, dalam keadaan begini seluruh
pikiranku harus dicurahkan dalam istana terlarang, aku tak
ingin pecahkan pikiran untuk menghadapi kalian berdua,maka
dari itu kedua pil tersebut kamu suka menelannya.”
Siauw Ling terima sebutir pil diantaranya lalu bertanya,
“Setelah seorang menelan pil ini, bagaimana perasaan serta
reaksinya?….”
“Kesadaran hilang dan lupa dengan kejadian masa
lampau.”
“Apakah ada obat pemunahnya?”
“Tentu saja ada.”
Laksana kilat Siauw Ling putar telapak kirinya
mencengkeram pergelangan kanan It-bun Han Too. Tangan
kanannya diayun dan pil warna hijau dalam tangannya itu
segera dimasukkan ke dalam mulut orang.
Semua gerakan itu dilakukan dengan cepat dan hampir
bersamaan waktunya, menanti It-bun Han Too menyadari

akan bahaya yang mengancam dirinya, keadaan telah
terlambat.
Menggunakan kesempatan itulah Pek-li Peng
menghadiahkan suatu pukulan ke atas tenggorokan It-bun
Han Too, memaksa mulutnya membuka dan menelan pil yang
dilemparkan Siauw Ling tadi ke dalam mulut.
Setelah pihak musuh menelan pil tadi, Siauw Ling baru
lepaskan cekalannya sambil mengejek!
“It-bun sianseng, sekarang kau boleh ambil obat
pemunahmu untuk punahkan daya pengaruh racun itu!”
It-bun Han Too merasa amat gusar, sepasang tangannya
direntangkan mencengkeram tubuh kedua orang itu,
bentaknya, “Kurang ajar, menggunakan kesempatan di kala
aku tidak siap…..”
Siauw Ling geserkan tubuhnya mengegos ke samping,
telapak kanannya berputar dan menggunakan satu gerakan
yang manis ia berhasil mencengkeram kembali pergelangan
orang she It-bun itu. Sambungnya, “Kali ini It-bun sianseng
toh sudah bikin persiapan?”
Pek-li Peng sentilkan jari tangannya ke muka, segulung
desiran angin tajam segera meluncur ke depan menghantam
pergelangan kiri It-bun Han Too.
Jago lihay itu mendengus berat dan buru-buru tarik kembali
sepasang lengannya ke belakang.
Tapi lengan kanannya masih dicekal kencang oleh Siauw
Ling. Ia gagal untuk menarik diri. Sekarang orang itu baru
sadar bahwa dua orang manusia berpakaian pekerja yang
berada di sisinya itu bukan lain adalah jago lihay kelas satu
dalam Bulim.
It-bun Han Too adalah seorang manusia yang licik dan
banyak akal, setelah berpikir sebentar ia lantas tarik napas

dan memuji, “Tidak nyana ilmu silat yang kalian miliki sangat
lihay, sungguh hebat, sungguh luar biasa.”
Siauw Ling tertawa dingin.
“It-bun sianseng,” katanya, Lebih baik telan dulu obat
pemunahnya, daripada setelah racun itu bekerja kau tak
tertolong lagi.”
“Jangan kuatir, obat yang kubuat itu merupakan obat yang
berdaya kerja lambat, dua jam kemudian obat itu baru akan
menunjukkan reaksinya….”
“Siapa suruh kau tolak arak kehormatan memilih arak
hukuman? sekarang akulah yang akan mengajak sianseng
membicarakan seal kerja sama ini….”
“Baik, katakanlah!”
“Kami minta It-bun sianseng bisa menyanggupi dahulu
untuk dua hal!”
“Dua hal apa saja? kalian musti katakan dulu!”
“Pertama. It-bun sianseng harus menyanggupi dahulu
untuk melindungi jejak kami, rahasia ini tidak boleh
dibocorkan kepada siapapun.”
“Yang kedua?”
“Bawalah selalu kami di sisimu, termasuk dalam perjalanan
memasuki istana terlarang nanti.”
“Kedudukan kalian berdua toh cuma kuli kasar, mana
mungkin bisa ikut masuk ke dalam istana terlarang?”
“Maka dari itu. kami ingin minta bantuan dari It-bun
sianseng.”
“Sekalipun aku setuju, belum tentu Shen Bok Hong
menyetujui usulku itu!..,”

“Sebelum memasuki istana terlarang, Shen Bok Hong pasti
akan mengabulkan permintaanmu itu. apalagi kalau sianseng
ngotot dengan permintaanmu.”
“Hm! kalian terlalu rendah menilai pribadi Shen Bok Hong,
bisa aku bersikap keras memaksakan pendirianku maka
kemungkinan besar jiwa kalian berdua akan terancam bahaya
maut, sekalipun ia tak pernah mengira kalau kamu berdua
adalah musuh tangguh yarg menyusup ke dalam sini, dalam
perkiraan kalian berdua telah berhasil kusuap, ia tentu saja tak
inginkan akibat yang fatal.”
Siauw Ling merasa perkataan itu sangat masuk diakal,
untuk beberapa saat lamanya tak tahu musti menjawab apa.
It-bun Han Too tertawa hambar, ujarnya kembali.
“Menurut apa yang diketahui, di dalam dunia persilatan
dewasa ini hanya seorang saja yang sanggup menandingi
Shen Bok Hong, hanya seorang saja yang bisa bikin hatinya
jeri.”
“Siapakah orang itu?”
“Kecuali Siauw Ling. Di kolong langit tak ada kedua orang
lagi yang bisa mengederkan hatinya.”
“Hm, orang yang ada dihadapanmu itu toh Siauw Ling?
goblok…” pikir Pek-li Peng.
Sementara itu Siauw Ling telah bertanya, “Kenapa?
menurut apa yang kuketahui Siauw Ling toh cuma seorang
bocah kecil yang masih bau kencur?”
It-bun Han Too gelengkan kepalanya berulang kali.
“Di balik persoalan ini masih ada suatu alasan yang amat
bagus, selama Shen Bok Hong bermusuhan dengan Siauw
Ling, berulang kali dia peroleh kekalahan total, hal itu bukan
berarti Siauw Ling lebih mampu atau lihay. Tapi karena
nasibnya yang bagus dan waktu yang tepat sehingga tiap kali

dia berhasil merebut kedudukan di atas angin. Mungkin hanya
Siauw Ling seorang saja yang benar-benar amat lihay dengan
nasib yang selalu bagus….” naib yang selain bagus:…”
Ia merandek sejenak, kemudian ujarnya kembali, “Perduli
bagai manapun hanya Siauw Ling seorang yang bisa membuat
hati Shen Bok Hong jadi keder.”
“Sayang pada saat ini Siauw Ling tidak berada disini, apa
gunanya kita bicarakan persolan ini….” tukas Siauw Ling
mendadak dengan suara dingin dan tegas tambahnya, “It-bun
sianseng belum memberikan jawaban terhadap syarat yang
kami ajukan.”
“Aku toh sudah menjawab sejujurnya? syarat yang pertama
bisa kuterima, tapi syarat yang kedua hanya bisa kujalankan
menurut keadaan serta situasi waktu itu, darimana kau bisa
menyanggupi?”
“Aaai….rasanya dewasa ini hanya berbuat begini saja paling
tepat, pikir si anak muda itu. Tapi orang ini terlalu licik dan
pikirannya sukar diduga. aku tak bisa gunakan akal yang sama
seperti menghadapi Phoa Liong tempo dulu untuk menghadapi
dirinya…..
Berpikir demikian iapun lantas berkata, “KaIau begitu
baiklah, kami akan menurut kehendak sianseng. Tetapi
kamipun harus memberikan jaminan agar kamipun bisa
berlega hati.”
“Kalian benar-benar tak tahu diri, dalam keadaan seperti ini
mana aku bisa berikan jaminan?”
“Bila It-bun sianseng memang bermaksud sungguhsungguh,
semestinya kau dapat ajukan suatu jaminan yang
paling baik.”
“Aku tak berhasil menemukan, coba kalian saja yang
terangkan.”
“Seorang manusia dapat mati berapa kali?”

“Satu kali.”
“Kalau begitu aku akan gunakan kematian sianseng sebagai
jaminan! seandainya It-bun sianseng berubah pikiran atau
mengkhianati kami, maka sianseng sendiripun tak akan
mampu melanjutkan hidupmu, dan kami pun tak akan mampu
masuk ke dalam istana terlarang, bukankah jaminan ini sangat
adil?”
It-bun Han Too segera kerutkan dahinya, “Sebenarnya
siapakah kau?”
“Seorang prajurit tak bernama di dalam dunia persilatan.”
Dengan tajam dan seksama It-bun Han Too
memperhatikan raut wajah Siauw Ling kemudian ujarnya lagi,
“Kau mengenakan topeng kulit manusia?”
“Sedikitpun tidak salah!”
“Dapatkah kau lepaskan topeng itu sehingga aku bisa
menyaksikan raut wajahmu yang sebenarnya?”
“Untuk sementara waktu tak perlu, tapi kalau It-bun
sianseng suka mengabulkan permintaan kami, suatu saat kau
pasti dapat menyaksikan raut wajahku yang sebenarnya.”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang amat santar
berkumandang datang memutuskan pembicaraan mereka
berdua.
It-bun Han Too segera tersenyum, ujarnya, “Ada orang
datang, mungkin Shen Bok Hong sendiri yang telah
berkunjung kemari!”
“Orang ini licik dan luar biasa sekali, menghadapi orang
semacam ini aku harus menggunakan cara yang paling tegas,”
pikir Siauw Ling.
Tangan kanannya segera mengerahkan tenaga, telapak kiri
diayun menotok dada It-bun Han Too.

Orang she It-bun itu bukanlah manusia sembarangan,
sedari tadi ia sudah bikin persiapan, melihat datangnya
ancaman dia mengigos ke samping menghindarkan diri dari
totokan yang langsung mengancam dadanya, tangan kanan
diobat-abitkan berusaha keras melepaskan diri dari cekalan
musuh pada pergelangannya.
Tetapi Siauw Ling sudah menambah tenaganya berlipat
ganda, kelima jari tangannya mencengkeram pergelangan
lawan semakin kencang bagaikan jepitan besi.
It-bun Han Too yang merasa pergelangannya terlepas dari
cekalan orang, kaki kanannya segera diayun melancarkan satu
tendangan kilat menghajar pusar si anak muda itu..
Siauw Ling tekan tangan kirinya ke bawah bagaikan tombak
menotok tumit musuh.
Pek-li Peng yang berada di sisi kalangan segera mendengus
dingin, tangan kanannya secara tepat menotok tiga buah jalan
darah It-bun Han Too.
Meskipun It-bun Han Too tahu bahwa kepandaian silat
yang dimiliki kedua orang itu sangat 1ihay, tapi mimpipun ia
tidak menyangka kalau gerakan tubuh orang sedemikian
tepatnya, sebelum ia sempat berbuat sesuatu tiga buah jalan
darahnya sudah terkena totokan.
Gerakan tubuh Siauw Ling sangat cepat. tangan kirinya
kembali bergerak menotok jalan darah bisu di tubuh orang itu,
kemudian bisiknya, “Terpaksa aku musti membuat sianseng
tersiksa….”
Ia tekuk kaki orang hingga duduk bersila, kemudian
berjalan keluar ruangan.
Beberapa saat kemudian ia telah kembali lagi ke dalam
ruangan dan menotok bebas jalan darah bisu dari It-bun Han
Too, katanya, “Shen Toa Cungcu telah persiapkan dua puluh

orang lelaki kekar untuk bekerja, mereka bertanya kapan tuan
akan mulai turun tangan?”
“Siapa yang menyampaikan perintah ini?”
“Murid tertua dari Shen Bok Hong, Tang Hiong Ciang!”
It-bun Han Too menghela napas panjang.
“Aaaaai… andaikata Shen Bok Hong datang sendiri, ia pasti
akan merasakan keadaan yang kurang beres….”
Ia merandek sejenak, lalu sambungnya, “Agaknya kau
mengenal setiap orang dan persoalan dalam perkampungan
Pek Hoa Sanceng dengan amat jelas!”
Siauw Ling tertawa dingin.
“Waktu sudah tak banyak lagi, bagaimana pendapat
sianseng? seharusnya kau cepat-cepat mengambil keputusan.”
“Andaikata aku tak mau menerima ancamanmu?”
“Didesak oleh keadaan. terpaksa kami harus membinasakan
It-bun sianseng lebih dulu.”
“Sebaliknya kalau aku menyanggupi?”
“Akan kutotok jalan darah aneh di tubuh sianseng, bila di
dalam dua belas jam tidak peroleh pembebasan. maka luka itu
secara otomatis akan bekerja sehingga mengakibatkan
kematian!”
“Baiklah aku turuti kemauan kalian.”
Siauw Ling segera menotok sebuah jalan darah aneh di
tubuh It-bun Han Too, dan membebaskan ketiga buah totokan
lainnya, katanya kemudian, “Sekarang mati hidup kita bertiga
telah ditentukan. dengan keselamatan It-bun sianseng ditukar
dengan keselamatan kami berdua, rasanya hal ini adil sekali.”
It-bun Han Too tidak menjawab perkataan dari si anak
muda itu, ia buka peti emasnya dan ambil keluar sebutir pil

untuk kemudian ditelan, katanya, “Setelah jalan darahku
ditotok. apakah ilmu silatku masih bisa dipertahankan?”
“Walaupun pengaruhnya tetap ada, tetapi tidak begitu
besar.”
“Bagaimana setelah dua belas jam kemudian?
Bagaimanakah keadaanku waktu itu?”
“Aku akan bebaskan totokan itu untuk kemudian menotok
sebuah jalan darah aneh yang lain, dengan begitu kau bisa
lanjutkan hidupmu selama dua belas jam lagi”
“Seandainya begitu terus keadaannya. bukankah berarti
pula bahwa keselamatanku untuk selamanya akan
tercengkeram di tanganmu?”
“Asal sianseng bisa pegang janji, sesaat sebelum berpisah
aku pasti sembuhkan dulu diri sianseng dari pengaruh
totokan.”
It-bun Han Too termenung berpikir sejenak, akhirnya ia
mengangguk, “Baiklah, mari kita berangkat…”
Dengan langkah lebar ia berjalan keluar dari ruangan itu.
Pek-li Peng mengikuti terus di belakang Siauw Ling, dengan
ilmu menyampaikan suara tanyanya, “Toako, sungguhkah itu?
dua belas jam kemudian ia bisa mati karena pengaruh totokan
itu?”
“Guruku pernah berkata begitu, benar atau tidak aku
sendiripun tak berani memastikan….” ia merandek sejenak lalu
tambahnya lagi, “Ingat, sebisanya kita harus berada di sisi
tubuh It-bun Han Too, makin dekat jaraknya dengan dia
semakin baik.”
Sementara itu It-bun Han Too telah membuka pintu batu
dan keluar dari ruangan di situ ia jumpai Shen Bok Hong
dengan diiringi Cau Liong serta Tong Lo tay-tay sekalian telah
menanti di situ.

Dengan wajah penuh senyuman Shen Bok Hong berkata,
“Dua puluh orang pria kekar telah berkumpul semua, mereka
siap menantikan perintah dari It-bun heng!”
It-bun Han Too menoleh dan melirik sekejap ke arah Siauw
Ling kemudian menyahut, “Aku terdesak oleh keadaan,
terpaksa musti bekerja dengan sepenuh tenaga….”
Perkataan ini mengandung dua arti, Shen Bok Hong tentu
saja tak tahu duduknya perkara. ia segera tertawa jengah.
“It-bun heng,” serunya “Asal kau sungguh-sungguh dapat
membawa aku masuk ke dalam istana terlarang. jasamu itu
pasti akan memperoleh imbalan yang setimpal.”
It-bun Han Too tidak berbicara lagi, dengan langkah lebar
ia maju ke arah depan.
Pek-li Peng mengingat terus pesan dari Siauw Ling, dengan
kencang dia ikuti terus di belakang tubuh It-bun Han Too.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka di tepi telaga
kecil yang terdapat pancuran airnya itu.
Terlihatlah Phoa Liong serta dua puluh orang pria kekar
telah menunggu disitu.
It-bun Han Too memeriksa sekejap situasi di sekeliling
tempat itu kemudian perlahan lahan ia berjalan ke tepi dinding
tebing dekat telaga kecil itu. dari peti emasnya dia ambil
sebutir batu bulat berwarna putih dan menggurat sebuah
lingkaran seluas lima depa lebih. katanya, “Cangkullah daerah
yang telah kulingkar itu sedalam tiga depa!”
Dua puluh orang pekerja kekar di bawah pimpinan Phoa
Liong segera bekerja keras, suara sekop dan cangkul
bergeletar memenuhi angkasa.
Rupanya Shen Bok Hong menaruh harapan yang besar
terhadap usaha dari It-bun Han Too ini, sambil bergendong
tangan ia awasi usaha penggalian itu.

Menggunakan kesempatan di saat semua orang pusatkan
perhatiannya pada penggalian itu, Siauw Ling berbisik kepada
Pek-li Peng, “Nenek tua yang berdiri di sisi Shen Bok Hong itu
pandai sekali mempergunakan senjata rahasia beracun. ia
adalah ketua dari keluarga Tong di propinsi Sujwan yang amat
tersohor itu, andaikata rahasia kita ketahuan sehingga kita
harus bertempur, kamu musti perhatikan baik-baik Tong Lo
Thay-thay itu!”
Meskipun Pek-li Peng pintar dan cerdas tetapi sifat
kekanak-kanakannya belum hilang, apalagi sejak kecil dimanja
dan disayang oleh orang tuanya membuat dia selalu manja
kepada siapapun. Sekarang melihat Siauw Ling begitu
memperhatikan dirinya, ia jadi kegirangan dan tersenyum
manis hingga sebaris giginya nampak putih bersih.
Siauw Ling terkejut, buru-buru ia melengos ke samping dan
tak berani memandang lagi ke arah gadis itu, hawa murninya
segera dihimpun siap menghadapi segala kemungkinan yang
tak diinginkan. Untung senyuman tadi tak diketahui oleh
siapapun.
Sementara itu It-bun Han Too yang pusatkan seluruh
perhatiannya mengawasi jalannya penggalian itu, mendadak
membentak keras, “Tahan!”
Duapuluh orang pria kekar itu segera berhenti dan mundur
beberapa langkah ke belakang.
Waktu itu dinding tebing yang berhasil digali baru mencapai
kedalaman setengah depa.
Shen Bok Hong segera mendehem ringan, tegurnya, “Itbun
heng, apakah kau telah menemukan sesuatu?”
“Apakah Toa Cungcu tidak mendengar kalau suara yang
dipantulkan keluar sedikit rada kurang beres?”
Dalam hati Shen Bok Hong merasa kegirangan. tapi
diluaran ia tetap mempertahankan ketenangannya.

“Mana yang kurang beres? Aku tidak mendengarnya sama
sekali?”
Dari tangan seorang pekerja It-bun Han Too mengambil
sebuah cangkul lalu mendekati dinding tebing itu dan
dicangkul keras-keras.
“Toa Cungcu. sudah kau dengar?”
Ucapan ini diutarakan amat keras, rupanya sengaja ia
biarkan Siauw Ling sekalian ikut mendengar pula.
Shen Bok Hong segera mengangguk.
“Ehm….. memang rada berlainan. rupanya di balik dinding
tebing ini terdapat ruangan kosong.”
“Kita tak boleh berpikir begitu enteng. mungkin saja
ruangan itu ada hubungannya dengan gerakan air di bawah.”
Dia angkat kepala memandang air mancur yang memancar
dengan derasnya itu. lalu berkata kembali, “Gerakan air di
bawah tanah yang terdapat disini luar biasa dahsyatnya.
seandainya sampai tercangkul hingga pecah aku rasa tak
seorangpun yang akan sanggup meloloskan diri dari bencana
air bah yang luar biasa itu.”
“Kalau begitu kau musti lebih berhati-hati lagi dalam
pekerjaan ini!….” ujar Shen Bok Hong sambil tertawa ewa.
It-bun Han Too angkat cangkulnya dan mengetuk dinding
batu lebih dahulu, kemudian bergeser di sebelahnya, secara
teruntun ia ketuk beberapa tempat kemudian lepaskan
cangkul sambil berkata, “Baik! kamu semua boleh lanjutkan
pekerjaan ini…”
“It-bun heng, sungguh luar biasa dirimu ini… aku rasa
kaulah satu-satunya orang yang paling luas pengalamannya di
kolong langit…”
“Toa Cungcu terlalu memuji, mungkin rencana serta
perhitunganku tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya.”

“Andaikata It-bun heng sendiripun tak sanggup membuka
istana terlarang, dalam kolong langit dewasa ini siapa lagi
yang mampu membuka istana tersebut?”
It-bun Han Too tertawa ewa, ia tidak berbicara lagi.
Siauw Ling yang berdiri di sisi kalangan, dalam hati segera
berpikir, “Kalau dilihat dari sikap It-bun Han Too saat ini,
rupanya ia sudah memiliki keyakinan untuk membuka istana
tersebut, kalau memang benar demikian bukankah berarti
anak kunci istana terlarang sudah tak ada nilainya lagi….”
Berpikir sampai disitu, ia perhatikan lebih seksama lagi.
Terlihatlah batu dinding bukit itu kian lama kian bertambah
keras, sekop serta cangkul yang mengena di atas dinding
segera memancarkan percikan bunga api, yang gugurpun
hanya beberapa bagian kecil saja.
Sesaat kemudian, mendadak terdengar It-bun Han Too
berteriak cemas, “Tuan! tahan….cepat tahan”
“It-bun heng, apakah ada yang tidak beres?” bisik Shen
Bok Hong lirih.
Sambil gelengkan kepala It-bun Han Too menghela napas
panjang.
“Aaaiii, si ahli bangunan bertangan sakti Pau It Thian
benar-benar seorang jago yang luar biasa.”
“Aku tidak paham, apakah It-bun heng bisa menerangkan
lebih jelas lagi?”
“Seandainya aku yang membangun istana terlarang di selat
ini, maka pintu untuk menuju istana pasti akan kubangun di
tempat ini.”
“Dan sekarang?”
“Ternyata Pau Thian tidak membuat pintunya di tempat
ini.”

Shen Sok Hong mendehem ringan.
“Seandainya istana terlarang memang benar-benar berada
di sini, bukankah kita bisa tembusi dinding untuk menerobos
masuk ke dalam?”
“Kecuali kalau kita semua sudah bosan hidup.”
“Aaah, masa begitu serius?”
“Tidak salah, kalau penggalian ini dilanjutkan maka
bencana yang tragis segera akan terjadi di tempat ini.”
“Apakah nadi air dalam bukit ini pecah?” bisik Shen Bok
Hong.
“Itu sih bukan.”
“Kecuali itu masih bisa mengakibatkan bencana apa lagi?”
“Menurut penilaianku dari getaran sekop serta cangkul
yang menimpa dinding tebing itu, bila pekerjaan tidak segera
dihentikan maka beberapa orang penggali pasti akan
mendapatkan bencana kematian”
“Cuma begitu saja?”
“Menurut penilaianku sih begitu, apakah Toa Cungcu tidak
percaya?”
“Kepandaian yang dipelajari It-bun heng adalah kepandaian
khusus, sudah tentu aku mempercayainya. Tetapi kalau
memang kematian dari beberapa orang pekerja itu bisa
membuktikan dugaan dari It-bun heng. Apa salahnya kalau
suruh mereka mencoba?”
---oo0dw0oo---
Jilid 2
MAKSUD dari ucapan itu sudah jelas sekali, atau dengan
perkataan lain gembong iblis ini hendak menggunakan

keselamatan beberapa orang pekerja untuk membuktikan
kebenaran dari dugaan It-bun Han Too.
Tentu saja jago dari kawakan macam It-bun Han Too dapat
menangkap maksud orang maka iapun berkata, “Bila Cungcu
ingin membuktikan kebenaran dari dugaanku tak ada salahnya
kalau dicoba, cuma….. lebih baik perintah itu diturunkan
sendiri oleh Toa Cungcu.“
Shen Bok Hong tersenyum, ia berpaling memandang
sekejap ke arah Ciu Cau Liong sambil serunya, “Suruh mereka
lanjutkan penggalian!
Ciu Coa Liong mengiakan, ia segera sampaikan perintah itu
kepada para pekerja. Puluhan orang pria kekar itupun
melanjut kan kembali penggaliannya mencangkul dinding
tebing.
Selama ini Siauw Ling takut jejaknya ketahuan Shen Bok
Hong, ia tak berani mendekat terlalu rapat dengan orangorang
itu, karenanya apa yang dibicarakan antara Shen Bok
Hong dengan It-bun Han Too tak sempat terdengar olehnya.
Dalam pada itu Shen Bok Hong telah pusatkan
perhatiannya mengawasi para pekerja itu. ia tahu setiap saat
kemungkinan terjadi perubahan yang tak disangka-sangka,
maka ia awasi dengan seksama.
Suatu ketika mendadak suara benturan cangkul di atas
dinding berhenti bergema, puluhan orang pekerja itu tanpa
mengeluarkan Sedikit suarapun roboh terjengkang ke atas
tanah.
Perubahan yang sama sekali diluar dugaan ini bukan saja
sangat mengejutkan Shen Bok Hong, bahkan It-bun Han Too
sendiripun agak kelabakan dibuatnya.
Orang yang berada pada jarak agak jauh atau tidak
menaruh perhatian, sama sekali tidak tahu kalau di tempat itu
sudah terjadi peristiwa yang tragis, puluhan orang pekerja itu

tanpa menjerit kesakitan ataupun merintih segera
menggeletak di atas tanah.
Shen Bok Hong sendiri walaupun merasa terkesiap, tapi air
mukanya masih tetap tenang seperti sediakala, ia tertawa
hambar.
“It-bun heng, sebenarnya apa yang telah terjadi?”
“Apa yang telah terjadi? aku sendiripun tak tahu,” pikir Itbun
Han Too dalam hati, “Tapi kalau aku terus terang
kepadanya, dia pasti akan pandang rendah diriku….”
Berpikir demikian, ia lantas berkata, “Bukankah sudah
kukatakan sedari tadi, kenapa Toa Cungcu tak mau
mendengarkan nasehatku….”
Shen Bok Hong tertawa hambar.
“Aku sama sekali tak ada maksud menegur It-bun heng,
cuma aku ingin tahu apa sebabnya mereka menggeletak mati
tanpa menimbulkan sedikit suarapun?”
It-bun Han Too terdesak oleh keadaan, terpaksa perlahanlahan
ia maju ke muka, ujarnya, “Di sekeliling istana terlarang,
tentu sudah diatur suatu jebakan yang sangat mengerikan”
“Mungkinkah sebangsa asap beracun…”
It-bun Han Too tidak menjawab, ia semakin dekati jenazah
yang bergelimpangan di atas tanah itu, cuma langkahnya
makin lama semakin lambat.
Ia ingin sekali mendengar Shen Bok Hong mencegah
perbuatannya itu sehingga menggunakan kesempatan itu dia
bisa turun dari keadaan yang serba runyam ini, siapa tahu
Shen Bok Hong tetap berlagak pilon. seakan akan ia tak
melihat kalau ada orang sedang memasuki daerah yang
berbahaya.
Terdesak oleh keadaan, akhirnya It-bun Han Too
mendekati sisi jenazah seorang pekerja.

Dengan tangan gemetar ia balik jenazah itu kemudian
diperiksanya dengan seksama.
Tampaklah empat lima jarum kecil yang amat lembut
menancap di atas wajah pria itu. sekeliling mulut luka
membengkak dan berwarna merah kehitam-hitaman, jelas
jarum kecil itu telah direndam di dalam cairan beracun.
It-bun Han Too segera bangkit berdiri, sambil menggapai
serunya, “Toa Cungcu, coba kemarilah!”
Shen Bok Hong memandang sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian maju kedepan.
“Apakah It-bun heng berhasil menemukan sesuatu yang
aneh?” tanyanya lirih.
Tapi setelah sorot matanya terbentur dengan jarum
beracun di atas wajah jenazah itu, dia jadi tertegun, ujarnya
kemudian, “Ooooooh….rupanya mereka terkena bidikan jarum
lembut yang mengandung racun keji!”
“Diantara tebing dinding yang terjal serta batu gunung
yang keras, dari mana munculnya jarum beracun?”
“Hal ini membuktikan bahwa istana terlarang memang
benar-benar terletak disini” jawab Shen Bok Hong sambil
tertawa hambar.
“Dan membuktikan pula kalau di sekeliling istana terlarang
telah diatur jebakan-jebakan maut yang mengerikan!”
sambung It-bun Han Too.
Sekilas senyum menyeringai terlintas di atas wajah Shen
Bok Hong, tapi hanya sebentar saja sudah lenyap tak
berbekas, ujarnya, “It-bun heng, apakah kau sudah temukan
jarum beracun itu berasal dari arah mana?”
“Dan Toa Cungcu sendiri? apakah sudah menemukan?”
“Kalau aku berhasil melihatnya, kenapa musti ditanyakan
lagi kepada It-bun heng?

“Tak usah dilihat akupun sudah tahu cara mereka
memasang alat rahasia ini, bukan saja cara tersebut amat keji
bahkan gampang sekali menyesatkan pikiran orang. membuat
orang salah mengira mereka telah temukan tempat yang
penting, sekalipun orang itu adalah Shen Toa Cungcu sendiri
juga tak akan terhindar dari bencana ini “
Mula-mula Shen Bok Hong tertegun, kemudian sambil
tertawa tawa katanya, “Tentang soal ini, aku ingin mohon
petunjuk dari It-bun heng!”
“Di atas dinding batu ini telah dilobangi beberapa puluh
lubang tabung kecil, dalam tabung dipasang alat penembak
yang kuat, kemudian jarum beracun tadi dipasang dalam alat
tembak tadi….”
“Oooh, kemudian mulut tabung ditutup oleh selapis batu
pualam begitu?”
“Benar, asal batu pualam yang berada di mulut tabung itu
pecah, maka jarum beracun itu segera akan memancar keluar,
siapa terkena tentu akan mati binasa seketika”
Shen Bok Hong memandang sekejap dinding batu itu,
kemudian katanya, “Si ahli bangunan bertangan sakti Pau It
Thian memasang alat penembak senjata rahasia di sekitar
dinding tebing, tujuannya pastilah untuk melindungi istana
terlarang”
“Kalau kau sampai mempunyai jalan pikiran demikian,
maka kau akan terjebak oleh siasatnya”
“Kenapa?”tanya Shen Bok Hong tercengang.
“Seandainya Pau It Thian membangun pintu istana di
lembah ini, tidak nanti ia hanya mengatur alat jebakan
semacam itu saja”
“Jadi menurut penilaian It-bun heng. pintu mana tidak
berada di tempat ini?”

“Sedikitpun tidak salah!”
“It-bun heng. bukankah tempat ini berhasil kau temukan
setelah memperhitungkan lama sekali?”
“Sedikitpun tidak salah”
“Tapi akhirnya It-bun heng berhasil juga menghitung tepat
letak pintu istana tersebut!”
“Itulah sebabnya kepandaian Pau It Thian dalam hal ilmu
bangunan jauh lebih lihay daripada diriku, maka aku gagal
menemukannya.”
Wajah Shen Bok Hong berubah hebat, rupanya ia hendak
mengumbar nafsu amarah tapi akhirnya perasaan tersebut
dapat ditekan kembali. Ia tertawa tawa dan berkata, “Tidak
menjadi soal, silahkan Kau berpikir beberapa saat lagi dengan
lebih seksama, aku percaya dengan kecerdasan serta
pengetahuan yang dimiliki It-bun heng tidak sulit untuk
menemukan pintu masuk Istana Terlarang.”
“Ooooooo… aku sudah teringat akan Satu urusan,
bagaimanapun juga terpaksa harus kujelaskan dulu kepada
Sheng Toa cungcu,” ujar It-bun- Ban Too tiba-tiba.
“Apa yang hendak kau katakan?”
“Sekalipun kita berhasil masuk pintu Istana Terlarang,
tanpa adanya anak kunci untuk membuka istana tersebut, tak
mungkin bagi kita semua untuk memasukinya.“
“Kenapa? dahulu It-bun heng belum pernah membicarakan
tentang persoalan ini!”
“Sebelum mengalami penyerangan oleh senjata rahasia
jarum beracun, aku memang belum pernah berpikir sampai
kesitu, tapi sekarang mau tak mau terpaksa aku harus berpikir
sampai kesitu.“
“Apa sebabnya? harap kau suka menjelaskannya!”

“Andainya si ahli bangunan bertangan sakti Pau it Thian
telah memasang sejenis alat rahasia di depan pintu masuk
Istana Terlarang, tanpa tersedianya anak kunci untuk
membuka pintu istana tersebut, dari mana kita sanggup untuk
membuka alat rahasia tersebut..:..”
“Kita toh bisa menggunakan tenaga pekerja untuk menggali
gunung dan masuk ke dalam dengan menjebol pintu itu?”seru
Shen Bok Hong dengan cepat.
“Menurut dugaanku alat rahasia itu pastilah suatu alat yang
sangat lihay, bila kita merusaknya secara gegabah terutama
kalau kita jebol dengan tenaga manusia, kemungkinan besar
alat rahasia tadi akan hancur dan berantakan, bila demikian
keadaannya mungkin sekali seluruh pintu batu itu akan
tersumbat”
Shen Bok Hong tertawa tawa.
“Kau ini lucu amat It-bun heng, andaikata anak kunci istana
terlarang sedari dulu sudah tersedia dalam sakuku, buat apa
aku musti undang kehadiran It-bun heng guna membantu
usahaku ini? Kenapa istana tersebut tidak kubuka dan
kumasuki sendiri?”
“Bukannya begitu Cungcu! sesudah melihat semburan
senjata rahasia dari atas dinding tadi, barulah kusadari bahwa
Pau It Thian bukan saja amat lihay dalam soal bangunan,
pikirannya pun picik dan hatinya kejam, merusak pintu secara
gegabah mungkin akan mengakibatkan musnahnya seluruh
istana terlarang”
Menghadapi kenyataan seperti ini, Shen Bok Hong terpaksa
harus termenung dan berpikir keras…sesaat kemudian ia
berkata kembali, “It-bun heng, sekarang pintu masuk ke
dalam istana terlarang belum berhasil kau temukan,
bagaimana kalau kita rundingkan lagi masalah ini setelah pintu
itu berhasil kita temukan?”

It-bun Han Too pun tidak banyak bicara lagi, ia duduk di
atas batu membuka peti emasnya dan mulai menghitung
kembali di atas secarik kertas.
Diam-diam Shen Bok Hong mengintip isi kertas tadi, tapi
yang terlihat hanyalah tulisan2 kecil yang lembut dan rapat,
sulit baginya untuk memahami isi kertas tersebut.
Dalam pada itu Ciu Cau Liong telah mendekati sisi kepala
kampungnya, lalu berbisik lirih, “Toa Cungcu, untuk sementara
waktu silahkan beristirahat dulu. Setelah kehadiranmu disini
aku pikir ia Tak akan berani pikirkan yang bukan-bukan…..”
Shen Bok Hong mengangguk, setelah berpikir sebentar
diapun berbisik lirih, “Orang ini paling gemar main perempuan
bila bertemu dengan anak perempuan hatinya akan terasa
lega. Cepat undang Kim Hoa Hujin datang kemari dan suruh
dia amati orang itu secara diam!”
Habis berkata ia putar badan dan segera berlalu.
Ciu Cau Liong melirik sekejap ke arah It-bun Han Too.
kemudian memburu kesisi tubuh Shen Bok Hong sambil
berbisik kembali, “Kim Hoa Hujin lihay dalam soal ilmu
beracun, kepandaian silatnya luar biasa, kepandaian
bicaranyapun tiada tandingan. Memang paling tepat kalau dia
yang ditugaskan mengawasi gerak-gerik It-bun Han Too!”
“Beritahu pada Kim Hoa Hujin, kalau bisa pilihkan sejenis
binatang yang paling beracun untuk digigitkan ke tubuh It-bun
Han Too, kemudian berikan obat penawarnya kepada dia,
dengan begitu dia akan jadi tidak tenang dan hatinya tertindih
perasaan ngeri tapi ingat jangan sampai mempengaruhi
pekerjaannya!”
“Tapi….Cungcu, seandainya kita berbuat demikian,
pekerjaannya tentu akan kacau dan pikirannya akan
bercabang!”

“Tidak mungkin begitu! It-bun Han Too adalah seorang
jago yang amat cerdik, tetapi diapun takut sekali menghadapi
kematian asal kita beri satu kesempatan hidup baginya
niscaya dia tak akan memilih jalan kematian tersebut….”
Ia merendak sejenak, lalu ujarnya kembali, “Tapi… kau
harus ingat! pekerjaan ini harus dikerjakan dengan sungguhsungguh,
waspada dan berhati-hati, jangan sampai membuat
dia sadar bahwa perbuatan itu adalah suatu kesengajaan dari
pihak kita”
“Aku tentu akan sampaikan pesan ini ke pada Kim Hoa
Hujin!”
Shen Bok Hong mengangguk, dengan langkah lebar ia
segera berlalu dari situ.
Dalam pada itu Siauw Ling yang duduk di tepi kalangan,
otaknya bekerja keras memikirkan persoalan yang amat pelik
pikirnya dalam hati, “Saat yang dijanjikan enci Gak terhadap
Giok Siau-long-kun dalam sekejap mata akan tiba, aku tak
boleh menanti terus di tempat ini, dalam waktu singkat aku
harus berusaha keras Untuk memasuki Istana Terlarang
dengan anak kunci yang telah tersedia dalam sakuku,
persoalannya sekarang adalah dimanakah letak pintu masuk
Istana tersebut.
Setelah ingatan tadi berkecamuk dalam hatinya, ia tak
dapat mengendalikan emosinya lagi, sambil bangkit berdiri ia
langsung berjalan menghampiri It-bun Han Too.
Pek-li Peng jadi amat gelisah, segera tegurnya, “Toako kau
hendak kemana?”
“Kita harus secepatnya memasuki istana terlarang,
sekarang aku hendak memberitahukan hal ini kepada It-bun
Han Too. Tunggu sajalah disitu jangan sampai menimbulkan
kecurigaan orang terhadap kita!”

Pek-li Peng yang selalu penurut tidak banyak bicara lagi. ia
tersenyum dan duduk kembali di atas tanah.
Dengan langkah lebar Siauw Ling berjalan menghampiri
jago tua itu. segera bisiknya, “It-bun sianseng! Ada urusan
apa?
“Sudah kau temukan pintu masuk Istana Terlarang itu?”
“Rupanya kau terburu nafsu?”
“Keadaan di tempat ini amat berbahaya, aku harus
secepatnya memasuki istana terlarang dan secepatnya pula
tinggalkan tempat ini”
“Huuuh! setelah masuk ke dalam istana terlarang kau
anggap bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup?”
“Bagus sekali,“ pikir Siauw Ling dalam hati, ”rupanya kau
memang sengaja hendak mengulur waktu!”
Berpikir demikian ia lantas berkata, “Kenapa aku tak dapat
tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup?”
“Bila kita telah memasuki istana terlarang, berarti kita pula
telah kehilangan posisi yang amat berharga” sahut It-bun Han
Too sambil tertawa dingin, ”Aku sudah, mengenal jelas
bagaimanakah tabiat dari Shen Bok Hong, dia tak nanti akan
melepaskan kita dengan begitu saja”
“Bukankah ia telah menujui untuk tidak membinasakan
dirimu?”
“Seandainya dia kurung diriku dalam sebuah ruang rahasia
bawah tanah yang gelap dan sepanjang hari tidak melihat
matahari, bukankah siksaan itu jauh lebih hebat daripada
kematian?”
“Oooh…”jadi kalau begitu, sianseng memang sengaja
sedang mengulur waktu?”

“Bukannya begitu, maksudku sekalipun pintu masuk istana
terlarang berhasil kutemukan, belum tentu aku mampu untuk
masuki pintu masuk tadi!”
It-bun Han Too,bicara terus terang kalau aku dapat untuk
membuka pintu istana itu….?”
Air muka It-bun Han Too berubah amat serius. katanya
sungguh-sungguh, “Andaikata di kolong langit betul-betul
terdapat seseorang yang sanggup membuka pintu istana
terlarang, maka orang itu tentu jauh lebih lihay daripada
diriku, atau kecuali orang itu…..”
“Orang Itu kenapa?”
“Kecuali orang itu memiliki anak kunci Istana Terlarang?”
“Darimana sianseng mengetahui kalau aku tidak memiliki
anak kunci Istana Terlarang?”
Mula-mula It-bun Han Too agak tertegun kemudian
serunya dengan hati kurang senang, “Selama hidup aku paling
benci kalau ada Orang pandai berbohong atau omong
kosong.”
“Sianseng tak usah kuatir,“ sela Siauw Ling, cepat, “Asal
sianseng berhasil menemukan letak pintu masuk Istana
Terlarang, anak kunci itu segera kutunjukkan…..”
It-bun Han Too tertawa dingin
“Sahabat tahukah kau berapa banyak anak kunci Istana
Terlarang yang terdapat di kolong langit?” tiba-tiba ia
bertanya.
Siauw Ling melengak, untuk beberapa saat ia tak sanggup
menjawab pertanyaan itu.
Sebab ia sendiripun tak tahu berapa banyak anak kunci
Istana terlarang yang beredar di kolong langit.

It-bun Han Too tertawa dingin, kembali ujarnya, “Menurut
hasil penyelidikan yang kulakukan, tempo dulu si ahli
bangunan bertangan sakti Pau It Than semuanya telah
membuat sepasang anak kunci, yang satu ditinggal dalam
dunia persilatan sedang yang lain tetap digembol olehnya ikut
terjebak di dalam Istana Terlarang, kecuali seseorang berhasil
temukan jenazah darimana anak kunci itu dapat ditemukan….”
“Tapi di dalam dunia persilatan toh masih tersisa sebuah?”
kata Siauw Ling cepat.
---ooo0dw0ooo---
It-bun-HAN TOO tidak berbicara, sepasang matanya
dengan tajam mengerling sekejap sekeliling tempat itu.
Disana ia lihat kecuali delapan orang pria kekar yang
berada beberapa tombak jauhnya dari tempat dimana ia
berada, Shen Bok Hong, Ciu Cau Liong serta Tong Lo-tay
sekalian telah lenyap tak berbekas, sampai kesepuluh mayat
yang menggeletak di bawah dinding tebingpun sudah diangkut
pergi semua.
“Sianseng tak usah kuatir, sedari tadi mereka telah berlalu
dari Sini….” ujar Siauw Ling cepat.
“Heeem! rupanya kau awasi terus gerak-gerik mereka!”
Siauw Ling tidak menanggapi, ia mendesak lebih jauh,
“Sianseng, waktu bagi kita sudah tidak terlalu banyak, lebih
baik kita bicarakan urusan yang sebenarnya”
“Sahabat! aku berani menjamin bahwa kau bukanlah anak
buah dari Lan Giok Thong, bila dugaanku tidak salah
kemungkinan besar kau adalah Lan Giok Thong pribadi,
bukankah begitu?”
“Jangan kau perdulikan Siapakah aku, cepat jawab dulu
pertanyaan yang kuajukan!“

It-bun Han Too sangsi sebentar, lalu sahutnya sambil
geleng kepala, “Aku tidak percaya kalau kau benar-benar
memiliki anak kunci Istana Terlarang.”
Keadaan kita adalah senasib sependeritaan, buat apa aku
mengajak gurau dirimu?”
Sementara It-bun Han Too hendak menjawab, dari tempat
kejauhan terlihatlah Kim Hoa Hujin dengan gerakan tubuh
yang cepat laksana sambaran kilat sedang meluncur datang.
Dari kejauhan perempuan itu telah berseru sambil tertawa
merdu, “It-bun sianseng. apakah kau telah berhasil
menemukan pintu masuk Istana Terlarang?”
Melihat kehadiran perempuan itu, Siauw Ling melirik
sekejap ke arah Kim Hoa Hujin lalu memberi hormat dan purapura
berkata, “Bila sianseng tak ada perintah lain, hamba
mohon diri lebih dahulu!:…”
“Pergilah!“ sahut It-bun Han Too sambil ulapkan
tangannya, ia berpaling dan menatap wajah Kim Hoa Hujin
tajam-tajam, kemudian ujarnya pula, “Aku belum berhasil
menemukan pintu itu, ada apa sih?”
Sementara itu Siauw Ling yang takut suaranya dikenali Kim
Hoa Hujien, dalam mengutarakan kata-katanya tadi sengaja ia
serakkan suaranya agar tidak dikenal.
Siapa tahu Kim Hoa Hujien betul-betul amat teliti, ia tetap
menaruh curiga dan segera mengawasi pemuda itu sambil
membentak keras, “Hey. kamu…. berhenti!”
“Hujin ada perintah apa?” tanya Siauw Ling terpaksa
berhenti.
“Rupanya kau kenal dengan diriku?”
“Hamba baru pertama kali ini bertemu dengan nyonya!”
“Apakah kau adalah anak buah It-bun sianseng?” tanya Kim
Hoa Hujin sambil menoleh ke arahnya.

It-bun Han Too menggeleng.
“Aku sih tidak mempunyai kegagahan macam hujin yang
pergi datang selalu diiringi pelayan dan dayang. Bagiku sudah
terbiasa pergi datang seorang diri. Kau tanyakan tentang
orang ini? dia sih diutus oleh Ciu Cungcu untuk melayani
kebutuhanku….”
Berbicara sampai disini. ia mendongak dan tertawa
terbahak-bahak lalu tambahnya, “Mungkin diapun
mengandung maksud lain seperti halnya dengan kedatangan
hujin untuk mengawasi gerak-gerikku”
Jawaban ini amat tepat sekali dan melenyapkan kecurigaan
Kim Hoa Hunjin, sambil ulapkan tangannya perempuan itu
berseru, “Baik kalau begitu pergilah…..”
Siauw Ling putar badan dan berlalu, sambi berjalan kembali
Otaknya bekerja keras.
“Kim Hoa Hujin menaruh sikap yang sangat baik terhadap
diriku, bila kukatakan asal usulku yang sebenarnya, bisakah
dia membantu usahaku ini….?” Ia berpikir di dalam hati.
Saat itu ia merasakan kekuatan terlalu minim, pikirnya
andaikata perempuan itu dapat membantu dirinya maka
keadaan tersebut tentu akan jauh lebih baik.
Setibanya disisi Pek-li Peng, ia lantas duduk mendeprok di
atas tanah.
“Siapa sih perempuan itu?” bisik Pek-li Peng dengan suara
lirih.
“Oooh….! dia adalah Kim Hoa Hujin, seluruh badannya
penuh dengan binatang beracun, dahulu dia adalah seorang
jago lihay dalam wilayah Biau, setelah masuk ke daratan
Tionggoan sebenarnya dia bercita2 untuk menjagoi dunia
persilatan, sayang akhirnya kena ditarik oleh Shen Bok Hong
untuk membantu pihak perkampungan Pek Hoa Sanceng….”

Ia menghela napas panjang, setelah berhenti sejenak
sambungnya kembali, “Shen Bok Hong benar-benar memiliki
kemampuan yang amat luar biasa, cuma sayang akalnya
terlalu kejam dan tidak berperikemanusiaan, terutama
ambisinya yang besar dan hendak merajai seluruh kolong
langit. Aaai andai ia dapat berjalan di atas rel yang benar atau
ia membuka perguruan dan mendirikan partai dalam Bu-lim,
niscaya keampuhannya akan disegani dan dihormati banyak
orang”
“Hmm! aku merasa mendongkol dan muak melihat tingkah
laku dari Kim Hoa Hujin itu “seru Pek-li Peng.
“Bagus sekali!” pikir si pemuda dalam hati, “Aku sudah
setengah harian diajak dia berbicara, ternyata ia tidak
dengarkan sepatah katapun….”
Segera tanyanya, “Kenapa kau tidak senang?”
“Coba libat tingkah pola yang genit dan tengik, dari situ aku
bisa menduga kalau dia adalah seorang perempuan yang tak
genah. Huuuh, aku harus memberi sedikit .pelajaran yang
pahit kepadanya…”
Siauw Ling terkejut, segera pikirnya, “Ilmu silat yang
dimiliki Kim Hoa hujin sangat lihay, bila Peng ji turun tangan
membokong dirinya, niscaya jejak kita akan ketahuan olehnya,
bila sampai terjadi kejadian itu … waah! urusan bisa semakin
berabe… aku harus cegah niatnya itu!”
Berpikir demikian ia lantas berseru dengan hati gelisah.
“Peng-ji, dalam keadaan serta situasi ini janganlah kau
mencari gara-gara yang tak berguna. Kita harus bisa tahan uji
dan tahan hinaan, pikir dan ingatlah terus bahwa tujuan kita
adalah memasuki istana terlarang janganlah disebabkan
urusan kecil! mengakibatkan tujuan kita jadi terbengkalai.”
Pek-li Peng mengerling sekejap ke arah Siauw Ling, lalu
tersenyum.

“Yaah sudahlah….kalau memang toako sudah mintakan
ampun baginya, untuk sementara waktu kuampuni selembar
jiwanya?”
“Aduuh…… sombongnya,” batin Siauw Ling, “seandainya
benar-benar sampai bentrok, belum tentu kau bisa
menandingi kelihayannya….”
Tentu saja perkataan semacam ini tidak sampai diutarakan
keluar hingga mengakibatkan kegusaran dara ayu itu.
Menanti dia angkat kepala kembali tampaklah It-bun Han
Too telah sibuk lagi dengan kertas corat-coretnya, Kim Hoa
Hujin sama sekala tidak ia gubris.
Mungkin Kim Hoa Hujin merasa tidak kerasan hanya duduk
seorang diri, ia bangkit dan segera mendekati ke arah Siauw
Ling.
Pek-li Peng kerutkan dahinya melihat hal tersebut, ia
melengos dan memandang ke arah air telaga yang bening.
Setibanya di hadapan si anak muda itu, Kim Hoa Hujin
segera menegur, “Sudah lama kau bekerja di perkampungan
Pek Hoa Sanceng?”
“Selamanya hamba bekerja dalam lembah ini!”
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sepasang pisau
belati, ia tatap wajah Siau-Ling beberapa saat lamanya,
kemudian berkata lagi, “Kau mengenakan topeng kulit
manusia! bukankah begitu?”
“Sungguh tajam penglihatannya, perempuan ini tak boleh
dipandang enteng……” pikir Siauw Ling dalam hati.
Diluaran ia segera menjawab, “Sejak dilahirkan hamba
sudah memiliki seraut wajah yang berpenyakitan, harap hujin
memakluminya “
“Tadi, apa yang dibicarakan It-bun Han Too dengan
dirimu?”tiba-tiba perempuan itu bertanya lirih.

“Oooh kita membicarakan Soal tentang pencarian pintu
masuk istana terlarang…..”
“Apa yang dia katakan?”
“Ia bilang pekerjaan ini hanya dapat dilakukan dengan
menggunakan segenap kemampuan yang dimilikinya,
keyakinan sih tidak ada?”
“Ciu ji-Cungcu mengutus kalian berdua melayani
kebutuhannya, apakah ia pernah pesan kalian untuk
mengawasi pula gerak-geriknya?”
Siauw Ling merasa serba salah untuk menjawab
pertanyaan itu, terpaksa ia tertawa hambar dan membungkam
dalam seribu bahasa
Melihat sikap orang itu, Kim Hoa Hujin segera tersenyum.
“Bagus sekali kau pandai sekali menyimpan rahasia…”
serunya.
Tiba-tiba tangan kanannya laksana kilat berkelebat ke
depan mencengkeram raut wajah si anak muda itu.
Siauw Ling sangat terkejut. Cepat ia mengingos ke samping
melepaskan diri dari ancaman tersebut, serunya, “Hujin apa
maksudmu?”
“Kau berhasil menghindarkan diri dari serangan yang
kulancarkan secara mendadak» hal ini membuktikan bahwa
kau termasuk jago lihay kelas satu di dalam dunia persilatan,”
sahut perempuan itu sambil tersenyum, telapak kirinya segera
berkelebat kembali mencengkeram raut wajah si anak muda
itu
Siauw Ling tarik napas panjangi dan loncat mundur dua
langkah ke belakang, serunya, “Hujin, kau toh sudah tahu
kalau aku adalah anggota perkumpulan Pek Hoa Sanceng,
kenapa kau mempermainkan diriku dengan cara begini rupa?”

Setelah seringkali melakukan perjalanan bersama Tiongciu-
siang, sepasang pedagang dari Tiong ciu, sedikit banyak
pengetahuan yang dimiliki pemuda ini telah peroleh banyak
kemajuan.
Sedikttpun tidak salah, ucapan tersebut segera memberikan
reaksi yang amat besar.
Kim Hoa Hujin tidak melancarkan serangan kembali, sambil
tertawa hambar ia cuma bertanya
“Ayoh mengaku dulu, benarkah kau mengenakan topeng
kulit di atas wajahmu….?”
“Setelah hujin mengetahui rahasia itu, apa gunanya kau
mendesak diriku terus menerus?”
“Huuuh….! kau terlalu pandang rendah orang she It-bun
itu, aku saja bisa mengetahui rahasiamu itu apalagi dia….”
Mendadak terdengar It-bun Han Too berteriak kesakitan,
lalu berseru keras, “Kim Hoa Hujin, apakah Shen Bok Hong
yang suruh kau melakukan perbuatan ini?”
Tatkala semua orang angkat kepala, tampaklah di tangan
It-bun Han Too telah bertambah dengan seekor kelabang
yang panjangnya mencapai setengah depa lebih.
Kim Hoa hujin tertawa hambar, ia maju menghampiri orang
itu sambil ujarnya, “Jangan kuatir, asal minum sebutir pil
pemunah milikku niscaya racun itu akan musnah dengan
sendirinya- walaupun kadar racun kelabangku ini amat hebat,
dengan tenaga lwekang It-bun sianseng yang sempurna
rasanya kau masih mampu untuk bertahan setengah jam lagi.
Kenapa musti kuatir sampai begitu rupa?”
Menanti It-bun Han Too menekan Cekelan tangan
kanannya, tampak kelabang itu dalam keadaan hancur
berkeping-keping rontok ke atas tanah.

Kiranya ia baru menyadari akan bahaya setelah tubuhnya
tergigit oleh kelabang tersebut, tangannya segera sambar
binatang tadi dan hancur lumatkan jadi beberapa bagian.
”Sungguh keji hati perempuan ini!” seru Pek-li Peng dengan
nada gusar.
Siauw Ling kuatir gadis itu menerbitkan ke onaran, cepatcepat
ia maju kedepan dan menghadang dihadapan Pek-li
Peng, bisiknya, “Peng ji mari kita duduk sambil menyaksikan
perubahan, tunggu saja sampai munculnya kesempatan baik”
Dalam pada itu sikap It-bun Han Too masih tetap tenang
seperti sedia kala, katanya, “Hujin kau adalah seorang
kenamaan, aku rasa kaupun tak usah membohongi diri ku….”
Dengan suara yang diperkeras ia lanjutkan, “Betulkah Shen
Bok Hong yang memerintahkan Hujin untuk melepaskan
binatang beracun dan melukai diriku?”
Kim Hoa Hujin tertawa.
“Kau tak perlu menyinggung tentang Shen Toa Cungcu!”
serunya cepat. “Kau toh terluka oleh kelabangku? nah!
terimalah obat penawar ini…..”
Sambil berkata ia merogoh sakunya dan ambil keluar
sebutir pil warna hijau, kemudian diangsurkan kedepan.
It-bun Han Tco menerima obat penawar tadi, tanpa berpikir
panjang ia telan ke dalam perut. Kemudian dengan suara
dingin ujarnya kembali, “Hujin, kau tidak membiarkan diriku
mati tergigit oleh kelabang racunmu itu, apakah kau tidak
takut meninggalkan bibit bencana bagimu di kemudian hari?”
“Haaah…-haaah….haaah….!” Kim Hoa Hn jin tertawa
cekikikan dan menggeleng, “Kalau cuma bermusuhan dengan
It-bun Han Too sih masih bukan bencana besar bagiku!”
It-bun Han Too tertawa dingin, ia tidak berbicara lagi.
Sambil duduk bersila orang itupun mengatur pernapasan.

Kim Hoa Hujin kembali tertawa terkekeh kekeh.
“It-bun heng,” ejeknya, “Memang paling bagus kalau kau
segera atur pernapasan dan coba memeriksa keadaan seluruh
tubuhmu, siapa tahu kalau masih ada sisa racun kelabang
yang tertinggal di dalam tubuhmu?”
It-bun Han Too sama sekali tidak menggubris sindiran serta
ejekan lawan, dengan mu lut membungkam dan mata
terpejam ia tetap duduk bersila bagaikan seorang paderi.
Setengah jam sudah lewat dalam suasana hening, selama
ini It-bun Han Too sama sekali tidak buka suara ataupun
menggubris perempuan itu, lama kelamaan Kim Hoa Hu jin
jadi jemu sendiri, tiba-tiba ia putar badan dan berlalu dari situ.
Menanti bayangan tubuh Kim Hoa Hujin telah lenyap tak
berbekas, It-bun Han Too baru buka matanya dan menggapai
si anak muda itu.
“It-bun sianseng, ada urusan apa?” tanya Siauw Ling
sambil maju menghampiri dirinya.
“Aku tak mau ambil pusing siapakah kau sebenarnya,
dalam hati aku telah ambil ke-putusan untuk mempercayai
dirimu serta bekerja sama dengan dirimu!”
“Bagus sekali! kalau kekuatan kita tercerai berai memang
sulit untuk meramalkan nasib sendiri, berbeda kalau kita mau
bekerja sama. sedikit banyak harapan kita untuk melanjutkan
hidup jauh lebih besar “
“Sekarang aku telah berhasil menemukan letak istana
terlarang, tolong tanya benarkah kau sungguh-sungguh
memiliki kunci Istana terlarang.“
“Dalam keadaan serta Situasi semacam ini apa gunanya
aku membohongi diri sianseng?

“Baik! kalau memang begitu kita tetapkan saja bila malam
telah menjelang tiba nanti kita buka pintu istana terlarang,“
ujar It-bun Han Too dengan wajah serius.
“Sianseng, apakah kau yakin pintu tersebut berhasil kita
temukan?”
“Aku rasa delapan puluh persen tak baka! salah lagi…” ia
berhenti sebentar Untuk tukar napas, kemudian ujarnya lagi,
“Satu-satunya harapan kita untuk hidup adalah meminjam
kehebatan alat rahasia di dalam istana tersebut untuk
menghadapi serbuan Shen Bok Hong sekalian.”
“Bagaimana dengan luka racun yang sianseng derita?”
“Tidak menjadi soal, sebelum Istana Terlarang dibuka Shen
Bok Hong tak mungkin akan cabut jiwaku!”
“Menurut dugaanku, setiap gerak-gerik dari sianseng pada
saat ini mungkin telah berada dalam pengawasan mereka, aku
rasa tidak leluasa bagiku untuk berbicara lebih jauh dengan
diri sianseng”
Perlahan-lahan ia balik kembali ke tempat duduknya
semula.
Senja menjelang tiba, sang surya mulai tenggelam di langit
sebelah barat……
Pada saat itulah Shen Bok Hong munculkan diri dengan
langkah tergopoh-gopoh, setibanya dihadapan It-bun Han Too
segera berseru, “It-bun heng. baru saja siaute selesai
bersemadi. aku dengar kau telah dilukai oleh binatang racun
milik Kim Hoa Hujin, bagaimana dengan keadaan lukamu
sekarang,”
“Aaiii…! keadaanku sudah rada baikan apa lagi setelah
menelan obat penawar serta duduk bersemedi, raganya luka
itu Sudah sembuh kembali sedia kala. Apalagi Kim Hoa Hujm
toh tidak Sengaja melepaskan binatang beracun itu untuk
menggigit diriku. tidak menjadi soal, tidak menjadi soal….”

“Hari sudah hampir malam, silahkan It-bun heng kembali
ke ruang batu untuk beristirahat, soal pintu masuk Istana
Terlarang kita bicarakan besok pagi saja”
“Tak usah!” tolak It-bun Han Too sambil menggeleng,
”siaute merasa masih ada sisa racun kelabang yang masih
mengeram dalam tubuhku, mungkin saja duduk di udara
terbuka akan menambah kesegaran otakku, untuk
menentukan letak pintu istana terlarang”
“Selama ini aku selalu merepotkan Saudara It-bun heng.
hal ini sungguh membuat orang she-Shen merasa tidak
tenteram.”
“Aaah… kau tak perlu sungkan2, setelah mendehem ringan,
ia melanjutkan, “Toa Cungcu, lebih baik perintahkan anak
buahmu untuk menyingkir dari tempat ini, kalau aku tak ada
urusan penting janganlah orang-orang ganggu
ketenanganku.”
“Baik akan aku laksanakan keinginanmu It-bun heng!
perhatikan baik-baik kesehatanmu, jangan sampai terlampau
lelah”
“Haaah… haah…. kau capkan banyak terima kasih atas
perhatian Toa Cungcu yang begitu mendalam atas
kesehatanku!”
Shen Bok Hong tidak banyak bicara lagi, ia putar badan dan
berlalu dengan langkah lebar.
Dengan pandangan tajam It-bun Han Too perhatikan
hingga bayangan punggung Shen Bok Hong lenyap dari
pandangan» kemudian ia pejamkan mata dan bersemedi, kian
lama kian gelap, pemandangan di sekeliling tempat itupun
mulai tertelan oleh kegelapan yang mencekam seluruh jagad.
Siauw Ling tahu detik2 seperti inilah merupakan Waktu
yang paling penting, dia harus mempergunakan kesabaran
yang paling besar Untuk menantikan datangnya kesempatan

ba ik. kendati hatinya amat gelisah hingga sukar terkendalikan
namun ia tetap duduk tak berkutik.
Pek-li Peng yang duduk disisi Siauw Ling, kendati harus
berada di udara terbuka yang amat dingin namun wajahnya
tetap masih tetap tenang-tenang saja, bahkan senyuman
manis seringkali tersungging di ujung bibirnya.
Kentongan pertama dengan cepat berlalu, kentongan
keduapun telah tiba, pada saat itulah perlahan-lahan It-bun
Han Too bangkit berdiri, sebagai orang yang berpengalaman
dan berotak tajam, setelah bangkit sambil bergendong tangan
ia pura-pura berjalan bolak-balik di sekitar situ seakan akan
seseorang yang sedang memikirkan sesuatu.
Menanti ia sudah yakin bahwa di sekitar situ tak ada orang,
didekatinya sisi tubuh Siauw Ling sambil berbisik.
“Kita boleh turun tangan sekarang juga”
Padahal Siauw Ling sudah mengawasi terus gerak-gerik
orang itu, tetapi ia pura-pura seperti baru bangun dari
tidurnya, sambil mengucek mata segera bertanya, “Jam
berapa sekarang?”
“Kentongan kedua!”
“Apakah sianseng telah berhasil menemukan letak pintu
masuk Istana terlarang?”
It-bun HanToo tidak menjawab, ia malah balik bertanya,
“Sekarang anak kunci istana terlarang itu berada dimana? “
“Berada dalam sakuku?
“BaWa kemari! ujar orang she It-bun itu sambil angsurkan
tangan kanannya ke muka.
Siauw Ling tidak menanggapi perkataan itu ia angkat
kepala dan memeriksa cuaca sebentar, lalu berkata, “Oo Oh
aku sudah akan teringat sesuatu sekarang semestinya aku
harus mengganti sebuah totokan yang lain di tubuh sianseng,

sebab aku takut bila sampai terjadi sesuatu perobahan dan
aku lupa untuk membebaskan jalan darah aneh itu. ada
kemungkinan kejadian itu malah akan merusak kesehatan
badan sianseng!”
Sambil berbicara tangan kanannya berkelebat menotok
kembali sebuah jalan darah aneh di tubuh It-bun Han Too,
kemudian membebaskan pula Jalan darah aneh yang tertotok
sebelumnya»
It-bun Han Too tetap berdiri tak berkutik di tempat semula,
menanti Siauw Ling telah menyelesaikan pekerjaannya ia baru
berkata, “Sahabat, kau jangan lupa saat ini kita sedang
bekerja sama.”
Tak usah kuatir, setelah masuk ke dalam istana terlarang
aku pasti akan bebaskan jalan darah di tubuh sianseng itu!”
“Sahabat, aku hendak memberitahukan pula sesuatu
kepadamu, Shen Bok Hong pura-pura bersikap besar jiwa dan
menarik semua orang yang mengawasi kita di sekitar tempat
ini, tindakannya itu bukan berarti kita telah terlepas dari
pengawasannya, asal kita lakukan suatu gerakan niscaya
laporan itu dengan cepat akan disampaikan ke dalam
telinganya!”
“Aku mengerti” Siauw Ling mengangguk, “justru karena
itulah kerja sama diantara kita harus dipererat, kita hadapi
setiap mara bahaya secara bersama dengan begitu semua
kesulitan baru bisa kita atasi.“
“Waktu yang tersedia bagi kita tidak terlalu banyak, kalau
kau tidak memiliki anak kunci istana terlarang maka gerakan
kita ini sama artinya memberitahukan kepada Shen Bok Hong
letak pintu masuk istana tersebut.”
“Sianseng tak usah kualir, usai tempat yang kau temukan
tidak salah maka anak kunci itu pasti akan kuambil keluar.”

It-bun Han Too tidak mendesak lebih lanjut, ia berpaling ke
arah Pek-li Peng dan ujarnya lagi, “Bagaimana dengan nona
ini? apakah dia juga ikut?…”
“Sungguh lihay orang ini” pikir Siauw Ling,”Rupanya dia
sudah tahu kalau Peng-ji adalah perempuan yang menyaru
sebagai lelaki…”
Sekalipun terkejut, diluar ia tetap bersikap wajar,
jawabnya.
“Sudah tentu dia ikut serta bersamaku.”
Pek-li Peng tersenyum, ia tetap membungkam.
It-bun Han Too segera putar badan dan berlalu, sambil
berjalan ia berkata, “Jika terjadi perubahan yang ada diluar
dugaan sehingga kita semua tertawan oleh Shen Bok Hong,
sudah pasti kalian berdua bakal menemui kematian secara
mengerikan”
“Dan kau sendiri? masa Shen Bok Hong suka melepaskan
dirimu dengan begitu saja?”
“Tentu saja aku tidak akan dilepaskan, tapi paling sedikit
aku tak akan dibunuh pada detik itu juga, itu berarti aku
masih punya peluang besar untuk tetap hidup di kolong langit”
“Kalau sianseng memang berpendapat demikian.
seharusnya kau bisa berlega hati bukan?”
Sementara pembicaraan masih berlangsung mereka telah
tiba di bawah tebing dekat telaga jernih.
“Bila dugaanku tidak salah kata It-bun Han Too, “Pintu
masuk istana terlarang pastilah berada di bawah pancuran air
ini.“
Mendengar perkataan itu, Siauw Ling segera teringat
kembali akan pemandangan burung elang serta ular melingkar
yang terpantul di bawah sorot sang surya, ia merasa
kemungkinan besar apa yang diduganya adalah benar.

Maka ia lantas menjawab; Semoga saja apa yang diduga
sianseng sedikitpun tidak salah!”
“Aku pikir semestinya tak bakal salah lagi.”
“Kalau memang begitu aku akan mendaki ke atas untuk
periksa keadaan di sekeliling situ, harap kalian berdua suka
menanti sejenak di bawah “
“Tunggu sebentar!” tiba-tiba It-bun Han Too berseru.
“It-bun sianseng, apa yang hendak kau katakan lagi?”
“Bila kita hanya berdiri di tempat ini saja, sekalipun
diketahui Shen Bok Hong masih ada alasan yang dapat kita
jawab, sebaliknya kalau kau sampai mendaki ke atas dan
ditemukan olehnya, apa yang harus kita jawab?”
“Aku rasa sianseng tetap punya akal untuk memberi
jawaban, tentu saja kecuali kalau sianseng tak sudi memberi
jawaban”
“Aku rasa sekalipun kau mendaki ke atas juga tak ada
gunanya” sambung It-bun Han Too cepat,”Belum tentu pintu
masuk istana dapat kau temukan, apa gunanya kau musti
buang tenaga dengan percuma?”
“Lalu bagaimana menurut pendapat sianseng?”
“Serahkan anak kunci istana terlarang itu kepadaku, biarlah
aku yang periksa keadaan situ!”
“Bagaimana kalau kita naik bersama-sama?”
“Baiklah,” jawab It-bun Han Too, dengan kerahkan ilmu
cecak jago tua itu mulai merayap naik ke atas.
“Toako, bagaimana dengan aku?” bisik Pek-li Peng.
“Ayo ikut, mari kita naik bersama-sama”
Pek-li Peng segera kerahkan tenaga dan ikut mendaki ke
atas tebing.

Haruslah diketahui dinding tebing itu bukan saja tegak lurus
bagaikan pinggir pisau, lagipula banyak ditumbuhi lumut hijau
sehingga membuat sekitar tempat itu sangat licin, kecuali
mempergunakan ilmu Cakar merayap jangan harap seseorang
dapat mendaki ke atas.
Kurang lebih lima tombak kemudian, It-bun Han Too mulai
kepayahan. Napasnya tersengal2 dan tenaganya makin surup.
Siauw Ling segera mengerahkan segenap tenaganya
mempercepat gerakan mendakinya ke atas, dalam waktu
singkat ia berhasil mendekati It-bun Han Too.
Rupanya pemuda ini ada maksud mencari tempat berpijak
yang kuat lebih dahulu kemudian baru membantu It-bun Han
Too mendaki ke atas, tangannya bekerja cepat meraba kesana
kemari.
Mendadak tangan kanannya menemukan suatu celah
kosong, rupanya sebuah lekukan tebing yang menjorok masuk
ke dalam.
Kelima jari tangannya segera mencengkeram lekukan
tebing tadi dan menekan sekuat tenaga, tubuhnya dengan
cepat terangkat ke atas dan berhasil mencapai lekukan tebing
tadi.
Dalam pada itu napas It-bun Han Too kian bertambah
berat, ia makin tersengkal2 serta kehabisan tenaga. Siauw
Ling tak sempat memeriksa celah lekukan tebing tadi lebih
jauh lagi, dengan sepasang kaki tergantung pada ujung
lekukan tebing tadi, ia jatuhkan badannya ke bawah dan
menyambar baju It-bun Hno Too, sekali sentak ia sudah
angkat tubuh orang itu ke atas tebing.
Sementara itu Pek-li Peng pun telah tiba di atas lekukan
dinding tebing tersebut.
Menyaksikan kelihayan dua orang lawannya, It-bun Han
Too menarik napas panjang2. Sambil menatap Siauw Ling

berdua dalam batin pikirnya, “Entah siapakah kedua orang Ini?
rupanya ilmu silat yang mereka miliki jauh dia tas
kepandaianku, napasnya tetap berjalan normal dan sama
sekali tak kedengaran tersengal2.”
Menggunakan kesempatan itu Siauw Ling pun mengawasi
pemandangan di sekelilingnya di tengah kegelapan sulit
baginya untuk melihat jelas keadaan di dasar lembah,
menurut perkiraannya dimana mereka berada saat itu kurang
lebih enam tombak dari permukaan.
“Aaah…! rupanya begitu” terdengar It-bun Han Too
bergumam seorang diri.
“Ada apa?” cepat si anak muda itu bertanya.
“Aku pernah berpikir, andaikata pintu masuk istana
terlarang benar-benar terletak disini maka seharusnya di dekat
pintu masuk harus ada sebuah tempat untuk berpijak kaki!”
“Jadi maksud sianseng, pintu masuk istana terlarang
pastilah berada di sekitar tempat ini?”
“Aku rasa dugaanku tak bakal salah!”
Ia raba dinding tebing di sekitar tempat itu. lalu
sambungnya, Lekuk dinding itu dalamnya tak sampai setu
depa dan tingginya paling banter tujuh depa, luas
permukaanpun hanya enam depa paling lebih sedikit, itupun
berarti tempat berpijak tersebut hanya mampu menampung
tiga lima orang belaka, lagi pula orang itu harus memiliki ilmu
silat yang sangat lihay. Menurut dugaanku tempat ini pasti
bukan tempat alam, melainkan hasil karya dari seseorang”
“Tapi apa maksud orang Itu membuat sebuah lekukan
tebing diantara dinding bukit yang terjal?”tanya Siauw Ling.
“Tentu saja tempat berpijak kaki Untuk membuka pintu
masuk Istana Terlarang”

“Jadi maksud sianseng, pintu itu pasti berada di sebelah kiri
atau kanan kita?”
“Sedikitpun tidak salah…” dia ulurkan tangan kanannya ke
muka dan menambahkan.
“Bawa kemari!”
“Apanya yang bawa kemari?”
“Anak kunci istana terlarang!”
Dari dalam saku Siauw Ling ambil keluar anak kunci itu, lalu
ujarnya, “Sianseng dapatkah kau beritahu kepada ku dimana
letak pintu masuk Istana Terlarang tersebut?”
“Malam sangat gelap, dari mana aku bisa melihatnya….”
Ia berhenti sejenak dan menambahkan, “Seandainya aku
bisa melihat dari bentuk kunci itu, mungkin saja aku dapat
mempergunakan gambaran itu untuk mencari lubang kuncinya
di sekitar tempat ini.“
Kalau ia bersungguh hati akan mengajak kami berdua
masuk ke dalam istana terlarang, tentu saja tak ada salahnya
kalau kunci itu kuserahkan kepadanya,“ pikir Siauw Ling,
“Sebaliknya kalau dia bermaksud menipu diriku, waah….
terlalu bahaya kalau kunci tadi kuserahkan kepadanya….”
Berpikir sampai disitu ia lantas berseru dengan suara
hambar, “Kunci berada di tanganku harap sianseng perhatikan
dengan seksama….”
Dengan pandangan tajam It-bun Han Too perhatikan
bentuk kunci tadi, lalu ujarnya, “Dalam keadaan seperti ini,
masa kau masih belum percaya terhadap diriku:…?”
“Aku tak ingin terlalu mempercayai orang lain. apalagi
percaya terhadap sianseng…”
Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba dari arah
tebing berkumandang datang suara teriakan Shen Bok Hong

yang serak-serak basah, “It-bun heng, sudah kau temukan
belum pintu masuk Istana Terlarang?…..”
Suaranya nyaring dan tajam, persis bergema dari bawah
tebing dimana beberapa orang itu berada.
It-bun Han Too melirik sekejap ke arah Siauw Ling dengan
pandangan dingin, lalu tanyanya setengah berbisik, “Siapakah
sebetulnya dirimu?”
“Kita hadapi dulu Shen Bok Hong! setelah pintu istana
terbuka aku pasti akan memberitahukan namaku yang
sebenarnya!”
It-bun Han Too tidak terlalu mendesak, ia segera menyahut
dengan suara keras, “Pintu masuk belum berhasil kutemukan,
harap Shen Toa Cungcu tak usah kuatir!”
“Hati hatilah It-bun heng, jangan sampai tergelincir dan
jatuh ke bawah!….”
“Tempat ini aman sekali, Toa Cungcu tak perlu
menguatirkan keselamatanku.”
“Perlulah aku turunkan perintah untuk memasang lampu?”
“Tidak usah. aku cuma ingin menyelidiki letak yang
sebenarnya dari pintu masuk Istana Terlarang, lebih baik Toa
Cungcu jangan mengganggu perhatianku lagi “
Berbicara sampai disitu, ia segera pusatkan perhatiannya ke
arah dinding tebing dan mencari dengan sungguh hati.
Cahaya lampu berkilauan mengusir kegelapan yang
mencekam seluruh jagad, rupanya di bawah tebing telah
dipasang sebuah obor raksasa yang terbuat dari bahan
khusus, setelah obor tadi dipasang maka terlibatlah lidah api
berkobar mencapai dua depa lebih daerah sekitar puluhan
tombak seketika terang benderang bagaikan di siang hari saja
Di bawah tebing berdirilah tujuh delapan orang jago lihay.

Orang pertama bukan lain adalah Shen Bok Hong sedang
disisi tubuhnya berdirilah Tong Lo Thay-thay dari propinsi
Suchuan, Kim Hoa Hujin, Ciu Cau Liong. Liong-bun Siang Eng
serta Phoa Liong salah seorang dari empat mandor selat itu.
Enam tujuh depa disisi beberapa orang itu berdiri seorang
pria kekar yang berperawakan tinggi besar, orang itulah yang
mencekal obor raksasa tersebut.
Dengan ketajaman mata Shen Bok Hong serta bantuan
sorot cahaya obor raksasa tadi, ia berhasil melihat jelas
pemandangan di atas tebing tersebut, segera serunya lantang,
“Tempat kalian bertiga berpijak saat ini adalah sebuah celah
tebing yang sama sekali tak terlindung, bila aku orang she-
Shen turunkan perintah untuk menyerang kalian dengan
senjata rahasia, mungkin sukar bagi It-bun Heng untuk
mempertahankan diri “
Terperanjat hati It-bun Han Too setelah mendengar
ancaman itu, pikirnya di dalam hati, “Perkataannya sedikitpun
tidak salah seandainya ia menyerang kami dengan anak panah
atau senjata rahasia maka sulit bagi ku untuk
mempertahankan diri…… apa yang harus kulakukan
sekarang?”
Sekalipun batinnya Sangat ketakutan, di luaran ia tetap
mempertahankan ketenangannya, setelah termenung sejenak
segera jawabnya, “Sebelum aku berhasil temukan letak pintu
masuk istana terlarang, aku harap Toa Cungcu jangan terburu
nafsu dan pikirkan yang bukan-bukan……”
Beberapa patah kata itu amat sederhana, tapi justru karena
kesederhanaan jawaban i tu segera memancing rasa curiga
Shen Bok Hong yang licik, untuk beberapa saat lamanya ia tak
dapat menduga kebenaran dari jawaban lawannya.
Lebih-lebih Siauw Ling, pada saat ini ia benar-benar merasa
sangat kuatir, ia takut Tong Lo Thay-thay menyerang mereka

dengan senjata rahasia beracun, sebab andaikata terjadi
begini maka sulitlah baginya untuk menghindarkan diri.
Maka dari itu seluruh perhatiannya segera dipusatkan ke
bawah tebing dan mengawasi setiap gerak-gerik dari Shen Bok
Hong.
“Bawa kemari!” seru It-bun Han Too tiba-tiba. Suaranya
lirih dan rupanya ia takut ke tahuan gembong iblis itu.
Dalam keadaan Siauw Ling tak dapat berpikir panjang lagi,
ia ambil kunci tersebut dan Segera diserahkan ke tangan Itbun
Han Too.
Dalam pada itu dari bawah tebing, mendadak terdengar
jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang
memecahkan kesunyian.
Tampaklah tubuh Phoa Liong salah seorang diantara empat
orang mandor itu meluncur ke tengah udara dan menumbuk
di atas dinding tebing, diiringi suara nyaring kepalanya hancur
berantakan dan melayanglah jiwa orang itu seketika itu juga.
Jelas Shen Bok Hong telah mencurigai asal usul dari Siauw
Ling serta Pek-li Peng, ketika di tanyakan kepada Phoa Liong
ternyata jawabannya tidak betul, dalam gusarnya Shen Bok
Hong segera melemparkan tubuhnya ke arah dinding tebing.
Setelah membinasakan mandornya yang berkhianat, Shen
Bok Hong rentangkan lengannya dan melayang naik ke atas
dinding tebing, dalam waktu singkat tubuhnya yang tinggi
besar itu telah berada dua tombak da ri atas permukaan.
Pada saat yang bersamaan, Kim Hoa Hujin serta Tong Lo
Thay-thay pun mengerahkan ilmu cecak merayap mendekati
ke atas dinding tebing itu.
Perlu diketahui tempat berpijak dimana Siauw Ling sekalian
berada saat itu berada pada jarak enam tombak dari atas
permukaan, sekalipun seseorang memiliki ilmu meringankan

tubuh yang amat sempurna juga tak sanggup mencapai
tempat itu dalam sekali lompatan.
Situasi dalam sekejap mata berubah hebat suasana
berubah jadi tegang dan diliputi nafsu membunuh, setiap saat
pertarungan sengit mungkin saja akan terjadi…..
Siauw Ling yang menghadapi situasi semacam ini segera
menyadari bahwa pertarungan sengit tak dapat dihindari,
segera berkata, “Sianseng! pusatkan saja seluruh perhatianmu
untuk menemukan letak pintu masuk Istana Terlarang,
serahkan saja orang-orang itu kepadaku….”
Ia berhenti sebentar, lalu tambahnya, “Pek-ji, hati-hati
dengan senjata rahasia beracun dari Tong Lo Thay-thay,
perhatikan pula binatang beracun milik Kim Hoa hujin!”
Sementara pembicaraan masih berlangsung Kim Hoa Hujin
serta Tong Lo Thay-thay telah berada pada ketinggian tiga
tombak da ri permukaan, jaraknya dengan tempat pijakan
tersebut tinggal dua tombak lagi.
Di bawah sorot cahaya obor yang terang benderang, kedua
belah pihak dapat memperhatikan raut wajah masing-masing
dengan jelas.
Laksana kilat Pek-li Peng merogoh ke dalam sakunya
mempersiapkan jarum perak Han Peng Gin-Ciam, hawa mumi
dihimpun ke dalam telapak kiri dan siap melancarkan serangan
dahsyat.
Nona cilik yang sedari kecil hidup manja di bawah kasih
sayang kedua orang tuanya ini mungkin sudah merasakan
pula buruknya situasi yang sedang mereka hadapi,
berhadapan muka dengan musuh tangguh kelas satu dari
dunia persilatan ia tak berani bertindak gegabah, seluruh
perhatiannya dipusatkan ke arah lawan.
It-bun Han Too sendiri, setelah mencekal kunci wasiat di
tangan kirinya ia segera periksa seluruh dinding tebing itu

dengan seksama, perhatiannya tidak terpecahkan oleh
kehadiran musuh tangguh di tempat itu, sebab ia tahu hanya
inilah kesempatan yang paling baik baginya untuk menemukan
pintu masuk istana terlarang dan memasuki istana tersebut.
Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay segera semakin
mendekati beberapa orang itu dari sayap kiri dan kanan,
meskipun mereka belum tahu siapakah sebenarnya Siauw Ling
serta Pek-li Peng, tapi ditinjau dari kemampuan mereka untuk
mendaki ke atas tebing curam tersebut, bisa di duga kalau
kedua orang itu bukan manusia sembarangan.
Karena itu mereka tak berani mendekati.
Pada jarak satu tombak lebih empat lima depa diri ketiga
orang itu, Tong Lo Thay-thay segera menghentikan gerakan
tubuhnya, tangan kiri merogoh ke dalam saku ambil keluar
sebelah pisau belati dan ditancapkan di atas dinding tebing,
sambil berpegang pada gagang tersebut, serunya dingin, “Itbun
sianseng, siapakah kedua orang pekerja gadungan itu?
ayoh jawab!”
“Kemungkinan besar dalam beberapa saat lagi aku akan
berhasil menemukan letak pintu masuk istana terlarang, harap
Lo-hujin jangan memecahkan perhatianku!” seru It-bun Han
Too sambit meneruskan pemeriksaannya di sekitar dinding
tebing itu.
Siauw Ling sendiripun mengetahui bahwa makin lama
mereka berhasil mengulur waktu semakin besar kesempatan
mereka untuk menemukan letak pintu masuk istana terlarang,
bila keadaan tidak teria lu mendesak.
ia bermaksud berdiam diri saja, dengan suara berbisik
segera dibisikinya Pek-li Peng, “Peng-ji bila mereka turun
tangan, lebih baik kita jangan turun tangan terlebih dahulu”
Gadis itu berpaling dan tersenyum sehingga tampaklah
sebaris giginya yang putih dan rapih, rupanya ia sama sekali

tidak kuatir dan takut menghadapi ancaman bahaya yang
berada di depan mata.
“Sungguh hebat gadis ini” puji Siauw Ling di dalam hati,
“Meskipun usianya masih muda ternyata keberaniannya luar
biasa sekali…”
Ketika ia menoleh ke arah lain, tampaklah Kim Hoa Hujin
dengan tangan kiri menempel di atas dinding, tangan
kanannya mengambil keluar sebuah kotak kumala dan
membuka kotak tadi.
Siauw Ling kenali isi kotak tersebut sebagai binatang
kesayangan Kim Hoa Hujin yang dikenal sebagai ular Pek-sianji,
rupanya perempuan itu menyadari akan situasi bahaya yang
sedang terjadi. Diancam jiwanya, maka ia bersiap sedia
menggunakan ular beracun itu untuk menghadapi lawan.
Dan menanti ia melongok pula ke bawah, terlihatlah Shen
Bok Hong yang sedang mendaki ke atas sudah berada
beberapa tombak di bawah kakinya.
Rupanya ketiga orang itu tak berani terlalu mendekat ke
atas karena belum tahu siapakah sebenarnya Siauw Ling serta
Pek-li Peng, sikap mereka masih sangat hati-hati dan diliputi
rasa sangsi.
Cahaya api yang memancar dari bawah tebing kian lama
kian bertambah terang benderang, beberapa obor raksasa
baru telah disiapkan disitu. sementara enam tujuh orang pria
dengan membawa tali temali sedang berlari mendatang,
agaknya mereka sedang mempersiapkan tangga kayu untuk
mempermudah pendakian tersebut-
Siauw Ling segera berpikir kembali setelah meninjau situasi
itu, “Sebelum tangga mereka persiapkan bisa digunakan, jelas
tidak leluasa bagi mereka untuk bertempur sambil tangan
sebelah mengerahkan ilmu cecak merayap untuk
bergelantungan di atas dinding tebing, atau dengan perkataan
lain situasi pada saat ini masih menguntungkan bagi pihakku:

Meskipun luas lekukkan tebing ini cuma beberapa depa,
bagaimanapun merupakan tempat berpijak yang kuat, tapi
senjata rahasia dari Tong Lo Thay-thay serta binatang beracun
dari Kim Hoa Hujin sangat berbahaya serangan yang mereka
lancarkan berpuluh2 kali lipat lebih berbahaya dari serangan
sesungguhnya. Yaaah…. satu-satunya jalan yang harus
kulakukan sekarang hanyalah berusaha mencegah Kim Hoa
Hujin melepaskan binatang beracunnya, dengan begitu sedikit
banyak aku telah mengurangi tekanan yang terlampau
berat….”
Berpikir sampai disitu dia segera kerahkan ilmu
menyampaikan suaranya dan berseru kepada Kim Hoa Hujin,
“Cici baik-baikkah selama perpisahan, siaute adalah Siauw
Ling! …”
Di bawah cahaya lampu obor yang terang benderang,
terlihatlah sekilas rasa kaget berkelebat di atas wajah
perempuan itu, kemudian ia tersenyum dan memandang
sekejap ke arah pemuda kita.
Dari senyuman yang begitu halus dan hangat, Siauw Ling
tahu bahwa Kim Hoa Hujin masih menaruh rasa persahabatan
dengan dirinya, itu berarti pula ia tak akan melancarkan
serangan mematikan ke arahnya sedikit banyak ia bisa berlega
hati. Seluruh perhatiannya sekarang tinggal dicurahkan untuk
menghadapi serangan dari Shen Bok Hong serta Tong Lo
Thay-thay
Kepada It-bun Han Too bisiknya, “It-bun sianseng, sebelum
tangga yang mereka buat selesai maka situasi masih
menguntungkan bagi kita, aku dapat menghadapi setiap
serangan mereka jauh lebih enteng. Sebaliknya kalau tangga
yang mereka telah siap. hingga mereka punya tempat untuk
berpijak maka sulitlah bagi kita untuk menghadapi gempuran
mereka. Karena itu alangkah baiknya bila sianseng berhasil
menemu Kan pintu masuk istana terlarang sebelum mereka
selesaikan tangga-tangga itu “

Sebelum It-bun Han Too sempat menjawab suara dari Shen
Bok Hong telah berteriak lantang kembali, “It-bun heng,
Sudah kau temukan pintu masuk istana terlarang?”
It-bun Han Too berpaling, ia lihat dimana Shen Bok Hong
berada saat ini hanya tinggal satu tombak jauhnya dari tempat
ia berada saat ini, dengan kesempurnaan tenaga dalamnya
serangan telapak atau serangan totokan yang ia lancarkan
masih mampu mengenai tubuhnya, itu berarti suatu ancaman
bahaya maut baginya.
Karena terperanjat, tanpa terasa jawabnya, “Belum berhasil
kutemukan?”
Tiba-tiba Shen Bok Hong mengepos tenaga tubuhnya
meluncur naik lagi sejauh beberapa depa, hingga jaraknya
dengan tempat berpijak itu tinggal satu tombak kurang.
Satu Ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Siauw
Ling, secara tiba-tiba ia berhasil menangkap maksud tujuan
Shen Bok Hong yang sebenarnya, agaknya ia hendak
meminjam kesempatan selagi bercakap-cakap tubuhnya
berusaha semakin mendekat tempat berpijak itu. dengan
kesempurnaan ilmu silatnya, andaikata ujung jari jago
tersebut berhasil mencapai tepi tempat lekukan tadi, maka
sulitlah baginya untuk memaksa gembong iblis itu turun ke
bawah.
Merasakan betapa berbahayanya situasi itu, tanpa banyak
berbicara lagi dia himpun tenaga dalamnya dan segera
melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke bawah.
Segulung desiran angin tajam dengan cepat meluncur ke
bawah tebing dan mengancam tubuh gembong iblis itu.
Shen Bok Hong kepala kampung dari perkampungan
seratus bunga ini memang luar biasa hebatnya, begitu
menyaksikan gerakan tangan Siauw Ling batinnya segera
menyadari akan mara bahaya yang sedang mengancam ke
selamatan jiwanya, cepat-cepat ia bergeser ke arah samping.

Sekalipun cukup cepat reaksi yang diperlihatkan, tak urung
ujung bajunya termakan pula oleh hembusan angin pukulan
lawan Sekujur tubuhnya segera bergoncang keras.
Andaikata ia tidak cepat-cepat menggeserkan tubuhnya ke
samping, pukulan dari
Siauw Ling itu niscaya telah berhasil memaksa tubuhnya
terpukul jatuh ke bawah tebing.
“Siapa kau?” hardik Shen Bok Hong kemudian setelah
berhasil meloloskan diri dari ancaman.
Siauw Ling tertawa dingin, ia tetap membungkam.
Melihat hal itu Shen Bok Hong naik pitam, ia segera
berpaling ke arah Tong Lo Thay-thay serta Kim Hoa Hujin
sambil teriaknya, “Serang mereka dengan cara keji apapun!”
Tong Lo Thay-thay mengiakan, telapak kanannya segera
diayun ke muka, tiga titik cahaya tajam laksana kilat meluncur
ke arah lekukan tebing tersebut….
Siauw Ling ayun telapak kanannya melancarkan sebuah
pukulan udara kosong menghantam tubuh Tong Lo Thay-thay,
pada saat yang bersamaan pula dia meraup ke depan, telapak
kirinya diayun ke muka menyambar datangnya ketiga buah
titik bintang tersebut.
Diantara jago-jago lihay dunia persilatan memang tidak
sedikit terdapat jago
yang pandai menangkap senjata rahasia. Walaupun begitu
kepandaian mereka hanya terbatas di dalam menangkap
senjata rahasia yang agak besar sebangsa anak panah dan
lainnya jarang di antara mereka mampu menangkap senjata
rahasia kecil seperti paku» atau jarum, apalagi yang dihadapi
adalah Tong Lo Thay-thay cakal bakal keluarga Tong yang
tersohor akan ilmu senjata rahasianya.
Sreeeet…! Sreeeet …… Sreeeeet…..!

Di tengah suara dentingan nyaring, ketiga batang cahaya
bintang itu tahu-tahu sudah berhasil dipukul rontok oleh Siauw
Ling.
---oo0dw0oo---
Jilid 3
MENYAKSIKAN senjata rahasianya berhasil dipukul rontok
pihak musuh dengan gunakan tangan kosong, Tong Lo Thaythay
segera tertawa dingin, teriaknya lantang, “Ketiga batang
peluru pengejar nyawaku itu berujung tajam dan berduri
lembut di sekujur tubuhnya, pada ujung duri telah terkandung
racun keji yang maha hebat, siapa terkena senjata itu segera
akan muncul bin tik merah pada mulut lukanya, sepeminuman
teh kemudian kadar racun akan bekerja dan setengah jam
kemudian seluruh tubuh akan jadi lemas, segenap kekuatan
untuk melawan hilang lenyap tak berbekas, tiga jam kemudian
jiwanya akan melayang, kecuali obat penawar keluarga Tong
kami di kolong langit tak ada orang yang mampu mengobati
luka itu….”
Rupanya sedari tadi Siauw Ling telah mengenakan sarung
tangan kulit ular yang kebal terhadap senjata. meskipun
senjata rahasia dari keluarga Tong sangat lihay, sama sekali
tidak ambil pusing.
Setelah berhasil memukul rontok senjata rahasia itu, Siauw
Ling segera mengundurkan diri kesisi It-bun Han Too.
“Siapa kau?” kembali Shek Bok Hong membentak keras.
Siauw Ling menyadari bahwa kepandaiannya menyampok
jitu senjata rahasia, mungkin telah memancing kecurigaan
Shen Bok Hong terhadap dirinya, tapi terdesak oleh keadaan
terpaksa ia musti bertindak demikian.
Iapun mengerti, terlalu banyak bicara di saat seperti ini
berarti semakin besar kemungkinan rahasianya ketahuan,

satu-satunya tindakan yang tepat adalah tidak perdulikan
tegur Shen Bok Hong sambil pejamkan mata pura-pura,
sedang mengerahkan tenaga untuk melawan racun senjata
rahasia.
Terdengar Tong Lo Thay-thay berseru kembali.
“Ia sudah terluka oleh racun keji yang tepat di ujung
senjata rahasiaku, beberapa saat lagi dia pasti akan mati
keracunan, saat ini kita tak perlu menyerang dengan jalan
menempuh bahaya”
Sebenarnya Shen Bok Hong masih curiga, tetapi setelah
mendengar seruan dari Tong Lo Thay-thay, kemudian melihat
pula sikap Siauw Ling seolah-olah benar keracunan, rasa
curiga yang semula berkecamuk dalam benaknya kontan
lenyap tak berbekas.
Kim Hoa Hujin pentangkan matanya lebar2 mengawasi diri
Siauw Ling, hatinya tetap sangsi dan ia tak tahu benarkah
pemuda itu terluka oleh serangan senjata rahasia beracun itu.
Pek-li Peng yang paling kuatir diantara beberapa orang itu,
ia segera mendekati pe muda itu sambil tanyanya dengan
suara setengah berbisik, “Toako, parahkah luka yang kau
derita?”
Siauw Ling tidak tega menyaksikan gadis kesayangannya ini
gelisah tak karuan, terpaksa dengan ilmu menyampaikan
suara ia menjawab, “Aku sama sekali tidak terluka, mengulur
waktu pada saat ini paling menguntungkan bagi posisi kita,
karena itu aku akan tetap berpura-pura terluka”
Shen Bok Hong bukan seorang yang bodoh, selama ini dia
awasi terus setiap gerak-gerik dari Siau Leng, melihat bibirnya
bergerak lirih tahulah gembong iblis itu bahwa lawannya
sedang bercakap2 dengan ilmu menyampaikan suara, rasa
curiga yang semula telah lenyap kini berkecamuk kembali da
lam benaknya.

Sementara itu Pek-li Peng merasa lega setelah mengetahui
Siauw Ling sama sekali tidak terluka, dengan gemas ia pelototi
sekejap nenek tua itu, pikirnya, “Hmm! cepat atau lambat
akan kusuruh kau rasakan lihaynya jarum perak Han-peng ginciam
milikku!”
Tiba-tiba dari celah tebing berkumandang suara gemuruh
yang amat keras, seluruh belahan dinding tebing itu
mendadak mulai bergeser ke arah samping.
Dengan terkejut Siauw Ling berpaling dan memandang
sekejap ke arah It-bun Han Too, serunya, “Sianseng….”
It-bun Han Too tak dapat mengendalikan rasa girang serta
luapan emosinya lagi, ia mendongak dan tertawa terbahakbahak.
“Haaaa…… haaaaah …. haaaah …. aku berhasil membuka
pintu masuk istana terlarang…. aku berhasil membuka pintu
itu ….”
Beberapa patah kata itu bagaikan guntur yang membelah
bumi di siang hari bolong, membuat sekujur badan Shen Bok
Hong gemetar keras, hampir saja ia tak sanggup
mengerahkan tenaganya dan terjatuh ke bawah tebing.
Tong Lo Thay-thay segera mengerahkan tenaganya
menjejak diri di atas tebing, tubuhnya bagaikan burung elang
segera menerjang ke arah celah tebing tadi sambil
melancarkan pukulan dahsyat.
Pek-li Peng geserkan badannya ke samping, telapak kiri
berkelebat balas melancarkan pula sebuah serangan.
Meskipun usia Tong Lo Thay-thay sudah tua, rambutnya
telah berubah semua tapi ilmu silatnya benar-benar sangat
ampuh, ditambah pula pengalamannya yang sangat luas,
tentu saja orang muda tak bisa menangkan dirinya.

Melihat datangnya serangan dari Pek-li Peng, ia segera
mengepos tenaga dan tubuhnya secara mendadak melayang
turun ke bawah.
Tentu saja nenek tua ini tak mau menyambut datangnya
serangan itu dengan keras la wan keras, terutama sekali
selama tubuhnya masih terapung di tengah awang2.
Ia mengepos tenaga dan segera melayang ke bawah
semakin cepat.
Dengan tindakan itu maka serangan yang dilancarkan Pek-li
Peng segera mengenai sasaran kosong, angin pukulan yang
maha hebat tadi menyambar lewat tepat di atas batok kepala
Tong Lo Thay-thay
Dalam pada, itu baik Shen Bok Hong mau pun Kim Hoa
Hujin semuanya dengan gerakan secepat kilat telah
menerjang naik ke atas dinding tempat pijakan kaki itu.
Siauw Ling kuatir It-bun Han Too setelah masuk ke dalam
Istana Terlarang ia tutup kembali pintu istana tersebut,
seluruh perhatiannya ditujukan ke arah orang itu dan tak
sempat baginya untuk perhatikan keadaan sekelilingnya lagi.
Dengan begitu hanya Pek-li Peng seorang diri yang harus
menghalangi serbuan beberapa orang itu, Setelah pukul
mundur Tong Lo Thay-thay tadi, gadis itu segera putar telapak
siap menghalangi yang masuk Shen Bok Hong. siapa tahu
belum sempat ia berbuat sesuatu mendadak terasalah
segulung angin pukulan yang maha dahsyat telah menerjang
ke arah dadanya.”
Pek-li Peng kaget dan segera berpaling, tampaklah orang
yang melancarkan serangan bukan lain adalah Tong Lo Thaythay
.
Kiranya ketika tubuh nenek tua itu meluncur ke bawah
tanah, ia telah putar badannya menggunakan peluang
tersebut, sepasang kakinya bergelantungan pada ujung tebing

sementara telapaknya didorong ke muka menyerang Pek-li
Peng yang sementara itu sudah tidak menahan perhatian lagi
kepadanya.
Bertarung di atas lekukan tebing yang sempit terutama
sekali kedua belah pihak adalah sama-sama jago kelas satu,
merebut posisi baik adalah masalah yang paling penting.
Serangan yang dilancarkan Tong Lo Thay-thay barusan
sangat mempengaruhi mati hidupnya, karena itu bisa
dibayangkan betapa hebat dan kejinya serangan tersebut.
Pek-li Peng yang sedang siap menyerang Shen Bok Hong,
setelah merasakan datangnya serangan ancaman secara tibatiba
dari Tong Lo Thay-thay , terpaksa ia putar badan untuk
menyambut datangnya ancaman tersebut.
Tong Lo Thay-thay bukanlah manusia sembarangan, dari
dahsyatnya serangan gadis itu, ia tahu bahwa musuhnya amat
tangguh.
Dalam keadaan begini ia tak berani menyambut datangnya
serangan tersebut dengan keras lawan keras. tiba-tiba
telapaknya menekan ke bawah. jari tangan kanannya laksana
tombak segera menotok jalan darah Kee Bun di tubuh Pek-li
Peng, sementara tangan kirinya mencengkeram tubuh Siauw
Ling.
Jalan darah Kee Bun adalah salah satu jalan darah penting
di tubuh manusia, bila mana sampai tertotok jalan darah
tersebut maka orang itu kalau tidak mati akan menderita luka
parah.
Terdesak oleh keadaan, terpaksa Pek-li Peng harus
geserkan badannya meloloskan diri dari datangnya ancaman
itu.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah Tong Lo
Thay-thay mengepos tenaga dan meloncat naik ke atas
lekukan celah.

Siauw Ling segera menyadari akan bahaya yang
mengancam, ia putar badan dan melancarkan sebuah
pukulan.
Sebelum nenek tua itu sempat berdiri tegak, tahu-tahu
serangan yang dilancarkan Siauw Ling telah tiba di depan
mata.
Tidak sempat baginya untuk berpikir panjang lagi. dengan
cepat kilat ia mendorong kakinya pula untuk menyambut
datangnya ancaman tersebut…..
Kedudukan Siauw Ling jauh lebih beruntung, sebelum Tong
Lo Thay-thay sempat berpikir tegak tahu-tahu sepasang
telapak saling membentur satu sama lainnya.
Meskipun Tong Lo Thay-thay telah berusa ha keras untuk
mempertahankan tubuhnya, tak urung ia kewalahan juga
menghadapi da tangnya terjangan angin pukulan yang begitu
dahsyat kakinya terasa jadi enteng dan tubuhnya segera
terjatuh ke dalam jarang.
Di bawah sorot cahaya obor. tampaklah raut wajah Tong Lo
Thay-thay yang diliputi rasa terkejut, bayangan bersama nona
Sam seketika terbayang kembali dalam benak pemuda ini.
Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia cengkeram
tangan kiri si nenek tua itu kemudian menyentaknya ke atas,
tubuh Tong Lo Thay-thay yang semula sudah terjatuh ke
dalam jurang itupun segera terangkat kembali naik ke atas
tebing.
Tindakan Siauw Ling itu seketika membuat Tong Lo Thaythay
berdiri tertegun, ia tidak mengira kalau jiwanya bakal
diselamatkan oleh pemuda tersebut.
Setelah angkat naik tubuh Tong Lo Thay-thay tadi, Siauw
Ling segera putar badan sambil melancarkan sebuah pukulan
tangan kiri ke arah Shen Bok Hong…..

Dalam pada itu Shen Bok Hong sudah hampir tiba diantara
lekukan celah tersebut sejengkal lagi tangannya bakal
menempel pada ujung celah tadi, tapi serangan yang di
lancarkan Siauw Ling keburu tiba.
Shen Bok Hong yang licik rupanya sengaja suruh Kim Hoa
Hujin naik ke atas tebing dahulu, Pek-li Peng yang
menyaksikan kehadiran perempuan itu segera menyambut
dengan sebuah serangan, menggunakan kesempatan baik
itulah gembong iblis itu sekuat tenaga “berusaha naik ke atas
celah2 dinding bukit tadi.
Dalam pada itu merasakan datangnya serangan tangan
yang dahsyat, Shen Bok Hong segera mengepos tenaga
dalamnya, tangan kiri lak sana kilat mencengkeram ujung tepi
celah bukit tersebut, sementara telapak kanan di ayun ke atas
menyambut datangnya serangan yang dilancarkan Siauw Ling.
Dalam suatu benturan yang sangat keras, ia rasakan
betapa dahsyatnya daya tekanan yang menghajar tubuhnya,
hampir saja cekalan pada ujung tebingnya terlepas, sekarang
ia baru sadar bahwa lawannya terlalu tangguh.
Dengan ilmu jari Kim-Kong Ci ia tancapkan kelima jari
tangan kirinya di atas tebing baru, tubuhnya miring ke
samping dengan cara bergelantungan dengan begitu ia
punahkan sebagian dan tenaga ancaman pemuda itu.
Pada saat yang bersamaan tubuh Kim Hoa Hujin terhajar
oleh sebuah pukulan yang dilancarkan oleh Pek-li Peng, kuda
kudanya gempur dan tubuhnya segera terlempar ke dalam
jurang.
Sorot mata Siauw Ling berkilat, dengan tangan kanan ia
cengkeram urat nadi Tong Lo Thay-thay, badannya melangkah
maju setindak ke muka, kakinya diangkat dan segera
menginjak tangan kiri Shen Bok Hong yang menancap di atas
karang.

Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Siauw
Ling, andaikata injakan tersebut berhasil mengenai tangan kiri
Shen Bok Hong, maka bisa dibayangkan tulang tangan
gembong iblis itu pasti akan hancur berantakan ….
Tapi Shen Bok Hong bukanlah seorang manusia bodoh,
setelah menyabut datangnya serangan dari Siauw Ling tadi,
iapun menyadari bahwa musuhnya terlalu tangguh, dalam
keadaan begini ia harus menempuh bahaya untuk rebut naik
ke atas celah dinding itu.
Maka hawa murni yang dimilikinya segera disalurkan semua
ke tangan kiri. tubuhnya mendadak melayang naik ke atas.
Menanti kaki kiri Siauw Ling yang diinjakkan ke tangan
Shen Bok Hong tiba disasaran, bayangan iblis itu telah
tinggalkan batu karang dan loncat naik ke atas.
Hanya terpaut beberapa mili saja. injakan Siauw Ling
mengenai sasaran yang kosong.
Dalam pada itu suara gemuruh yang berkumandang dari
lambung bukit telah berhenti, dari lekukan celah dinding
dimana beberapa orang itu berada muncullah sebuah pintu
gua setinggi beberapa tombak dengan lebar tiga depa.
It-bun Han Too tanpa menggubris rekan-rekan lainnya
segera tundukkan dan menerobos masuk lebih dahulu ke
dalam pintu istana.
Siauw Ling jadi amat gelisah, buru-buru teriaknya, “Peng ji!
cepat menerobos masuk ke dalam istana!”
Dimana Pek-li Peng berdiri saat itu tepat menghalangi
antara Siauw Ling serta Teng Lo Thay-thay dengan pintu
istana, tidak menanti si anak muda itu menyelesaikan katakatanya,
ia sudah menerobos masuk lebih dahulu ke dalam
istana.
Tong Lo Thay-thaypun ikut terseret oleh Siauw Ling masuk
ke dalam pintu istana terlarang.

Sejak Siauw Ling menyelamatkan jiwa nenek tua itu dari
ancaman bahaya, ia merasa tidak leluasa untuk melepaskan
Tong Lo Thay-thay ini dengan begitu saja, karenanya tanpa
berpikir panjang terpaksa ia bawa ser ta nenek tadi masuk ke
dalam pintu.
Suasana dalam gua gelap gulita susah melihat kelima jari
tangan sendiri, bayangan tubuh dari It-bun Hat Too telah
lenyap tak berbekas.
“Oooh…. toako, kau ada dimana?“ terdengar seruan Pek-li
Peng yang lembut berkumandang datang.
Padahal jaiak antara mereka berdua hanya terpisah
beberapa depa saja, namun karena gelap, suasana dalam goa
itu membuat Pek-li Peng tak dapat mengetahui dimana Siauw
Ling berada.
“Peng-ji, aku berada disini cepatlah kemari!”
Pek-li Peng segera lari menghampiri berasalnya suara tadi.
“Tong Lo Thay-thay……” bisik Siauw Ling, sebelum ucapan
itu selesai diutarakan tiba-tiba terasa desiran angin tajam
menyambar lewat, kembali sesosok bayangan manusia
menerobos masuk ke dalam istana.
Dari perawakan tubuhnya yang tinggi besar serta gerakan
tubuhnya yang cepat, siapapun akan tahu bahwa orang itu
bukan lain adalah Shen Bok Hong, kepala kampung dari
perkampungan Pek Hoa Sanceng.
Siauw Ling dengan cepat menotok dua buah jalan darah
dari Tong Lo Thay-thay, sementara dia siap mengejar Shen
Bok Hong, Pek-li Peng yang berada di sisinya telah lancarkan
dulu dua serangan senjata rahasia…..
Selama ini kendati Shen Bok Hong belum tahu asal usul
yang sebenarnya dari kedua orang itu, tapi ia tahu bahwa
mereka berdua sangat lihay, karena itu sebelum menerobos

masuk ke dalam pintu hawa murninya telah dipersiapkan lebih
dahulu.
Tatkala Pek-li Peng ayunkan tangan kanannya tadi. ia
segera merasakan datangnya bahaya, telapak kanan diayun
ke muka dan ke dua batang jarum perak tadi disampok jatuh
ke tanah.
Dengan ketajaman mata Siauw Ling, ia dapat melihat
bahwa dalam genggaman Shen Bok Hong telah bertambah
dengan sebilah pedang pendek yang memancarkan cahaya
tajam.
Pemuda tidak banyak bicara, sepasang telapaknya diayun
ke muka melancarkan dua buah serangan dahsyat.
Shen Bok Hong tertawa dingin, dia ayun pula tangan
kanannya untuk menyambut da tangnya serangan tersebut,
kemudian tegurnya dingin, “Sebenarnya siapakah kau?”
“Hmmm! diantara kita berdua toh tiada hubungan apa-apa,
rasanya kau tak usah tahu siapakah daku!”
Sesosok bayangan manusia kembali berkelebat masuk ke
dalam ruangan istana, dia bukan lain adalah Kim Hoa Hujin
Melihat akan hal isi, pemuda kita segera berpikir dalam
bati: . “Kalau pintu istana tidak segera ditutup. orang-orang
dari perkampungan Pek Hoa Sanceng yang masuk kemari kian
lama akan kian bertambah banyak, bila sampai begini
keadaannya….wah! bisa berbenih….”
Kim Hoa Hujin yang terlempar jatuh ke bawah bukit kiranya
secara kebetulan telah diterima oleh Ciu Cau Liong sehingga
sama sekali tidak terluka, dengan cepat ia merambat naik lagi
ke atas bukit.
Karena tiada orang yang menghadang jalan perginya lagi,
maka dengan cepat sekali ia berhasil mendaki sampai ke atas
celah bukit tadi dan masuk ke dalam Istana Terlarang.

Shen Bok Hong terbahak-bahak, suaranya bagaikan
amukan banteng membuat seluruh ruang gua itu mendengung
keras.
Siauw Ling segera mengumpulkan tenaga dalamnya di
sekujur badan, setelah menotok dua buah jalan darah di
tubuh Tong Lo Thay-thay kemudian meletakkan tubuh si
nenek tua itu di atas tanah, dia tarik tangan Pek-li Peng sambil
bisiknya lirih, “Peng-ji, ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong
sangat lihay dan luar biasa ampuhnya, dan tak boleh
menerima setiap pukulannya dengan keras lawan keras,
serang saja dengan pukulan-pukulan jarak jauh, mengerti”
Rupanya pemuda ini bisa menyelami perasaan gadis
tersebut, Pek-li Peng yang selalu dimanja oleh kedua orang
tuanya sedari kecil, terutama dengan kedudukannya sebagai
putri dari istana es tentu akan merasa tidak tenang hati
menghadapi kecongkakan Shen Bok Hong ia takut gadis ini tak
dapat menahan diri dan melangsungkan pertarungan sengit
melawan gembong iblis tersebut, andaikata sampai terjadi hal
demikian maka keadaan pasti akan bertambah runyam.
Pek-li Peng segera merasakan tangannya yang digenggam
Siauw Ling terasa hangat dan nyaman hingga merasuk ke
seluruh tubuhnya, dalam hati ia merasa malu bercampur
girang, segera sahutnya dengan suara lembut.
“Aku akan turuti perkataan toako, aku tentu tak akan
menyerang dirinya dengan gerakan keras lawan keras….”
Kraaak… Kraaak… Kraaak…! mendadak terdengar suara
denyitan nyaring bergeletar memecahkan kesunyian, tatkala
semua orang berpaling maka terlihatlah pintu masuk Istana
Terlarang yang semula terbentang lebar, pada waktu itu
perlahan-lahan merapat kembali.
Sorot cahaya lemah yang semula memancar masuk lewat
pintu depan dan menerangi empat dinding kuat dalam lorong

itu seketika lenyap tak berbekas, gua itu kian terasa
bertambah gelap gulita.
Terdengar suara It-bun Han Too berkumandang keluar dari
dalam gua, Sepuluh tokoh sakti dunia persilatan yang tempo
dulu terkurung di dalam Istana Terlarang tak seorangpun
berhasil meloloskan diri dari kurungan ini, bisa dibayangkan
betapa kuat dan kokohnya pintu tersebut”
Cahaya api berkilauan dari balik lorong, seketika muncullah
sebuah obor yang segera menerangi seluruh gua tersebut.
Siauw Ling berpaling ia melihat, It-bun Han Too berada
kurang lebih dua tombak dari tempat dimana ia berada saat
ini. tempat itu persis merupakan persimpangan jalan.
Kiranya lorong di belakang tubuh It-bun Han Too tersebut
terbagi menjadi dua bagian, satu berbelok ke sebelah kiri dan
yang lain berbelok ke sebelah kanan.
Shen Bok Hong berada kurang lebih satu tombak di
belakang Siauw Ling, sedangkan Kim Hoa Hujin berdiri disisi
tubuh gembong iblis lihay tersebut.
Siauw Ling segera melepaskan genggamannya pada tangan
Pek-li Peng, dalam hati ia cepat ambil perhitungan, pikirnya,
“It-bun Han Too tahu bahwa Shen Bok Hong dengan sangat
mudah dapat membinasakan dirinya, iapun tahu bahwa dirinya
masih bukan tandingan dari Peng ji, tapi dalam keadaan begini
ternyata ia berani memasang obor penerangan, jelas ia pasti
sudah meyakinkan akan sesuatu hal…..”
Sementara itu Shen Bok Hong telah melirik sekejap ke arah
Tong Lo Thay-thay yang menggeletak di atas tanah, lalu
berkala dengan nada dingin, “It-bun Han Too kau berani
mengkhianati diriku, dan mengingkari janji kita semula, itu
berarti bahwa kekuatan perjanjian tersebut telah musnah
sama sekali, setiap saat aku dapat turun tangan untuk
membinasakan dirimu!…..”

“Haaaah…. haaah…. haaaah, suasana dalam gua ini gelap
gulita, bagi aku orang she It-bun gampang saja kalau ingin
melarikan diri dari hadapanmu, tahukah kau mengapa aku
musti unjukkan diri kembali? itu tidak lain karena aku tak takut
terhadap ancamanmu itu!” sahut It-bun Han Too sambil
tertawa terbahak-bahak.
Shen Bok Hong segera tertawa dingin.
“Apa kau anggap aku orang she-Shen benar-benar tidak
berani membinasakan dirimu?” ancamnya sengit.
It-bun Han Too gelengkan kepalanya.
“Sekalipun aku orang she It-bun benar-benar menepati
janji dan bekerja sama dengan dirimu, masa sehabis perkara
di dalam istana terlarang, kau Shen Bok Hong tak akan
membereskan jiwaku? aku sudah memahami sampai
dimanakah tabiat jelekmu itu. sekarang juga mati dan lain
kalipun juga mati, kenapa aku musti mandah dibelenggu
tanpa berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri?”
“Pada detik inipun setiap saat saku bisa menyelesaikan jiwa
anjingmu, apa kau mampu untuk membendung niatku
tersebut?”
“Aku percaya selembar jiwa Shen Toako Cungcu jauh lebih
berharga daripada jiwaku, bukan begitu?” jawab It-bun Han
Too tenang diiringi senyuman manis.
“Heeeh…… heeeh….. heeeh…. aku tidak mengerti akan
maksud ucapanmu itu!”
“Aku memang mengakui bahwa Shen Te-cungcu adalah
seorang pemimpin besar dari dunia persilatan, tapi
bagaimanakah kemampuanmu itu dibandingkan dengan
sepuluh tokoh sakti pada masa yang silam? dengan tenaga
gabungan mereka bersepuluh pun tidak mampu keluar dari
Istana Terlarang, apalagi kalau Cuma tenaga kau Shen Bok
Hong seorang?”

“Bagaimana dengan kau sendiri?”
“Aku? Haaah….. haaaa…. haaah…. sudah tentu aku bisa
pergi datang sekehendak hatiku sendiri, kalau kau bunuh aku
It-bun Han Too, maka berarti pula suatu ketika kaupun bakal
mati kelaparan di dalam Istana Terlarang ini, bukankah
keadaannya hanya terpaut lima puluh langkah dengan seratus
langkah belaka?”
“Bagus sekali pikir Siauw Ling di dalam hati, “Setelah kau
bohongi kunci istanaku dan membuka pintu istana terlarang,
sekarang kau berani omong besar dihadapanku …. sungguh
kurangajar!”
Sekalipun dalam hati berpikir demikian, ucapan tersebut
tidak sampai diutarakan keluar, sebab itu menyadari betapa
berbahayanya situasi di dalam Istana Terlarang dewasa ini,
kesiapsiagaan It-bun Han Too terhadap Shen Bok Hong jauh
melebihi perhatiannya terhadap dia sendiri.
Tetap mempertahankan kakek tua yang li cik dan banyak
akal ini berarti pula suatu keuntungan besar bagi dirinya,
sebab dimanapun juga It-bun Han Too masih mampu untuk
beradu kecerdikan dengan gembong iblis tersebut.
Sementara itu Shen Bok Hong telah berkata kembali
dengan nada dingin, “Apakah kau tidak takut kubunuh dirimu
setelah keluar dari Istana Terlarang?”
“Oooh, kalau itu sih urusan belakangan nanti, memohon
orang lebih baik memohon pada diri sendiri, sampai waktunya
siapa tahu kalau aku telah berhasil menemukan cara yang
tepat untuk menghadapi Shen Toa Cungcu?”
Yang penting adalah saat ini, aku ingin membicarakan lebih
dulu masalah di depan mata sekarang diri Toa Cungcu!”
“Baik! apa yang ingin kau bicarakan? cepat utarakan
keluar…” dari nada ucapan ini bisa diketahui bahwa Shen
Bong Hong sudah kena terdesak oleh keadaan.

It-bun Han Too memandang sekejap diri Siauw Ling serta
Pek-li Peng, kemudian tanyanya, “Siapakah kedua orang ini?
apakah Toa Cungcu kenal dengan mereka berdua?”
Shen Bok Hong menggeleng.
“Mereka berdua bukan anggota perkampungan Pek Hoa
Sanceng kami, tentu saja aku tidak kenal, akupun tak tahu
siapakah mereka berdua!”
“Bagaimanakah pendapat Toa Cungcu mengenai ilmu silat
yang mereka miliki?”
“Terhitung lihay, hebat dan ampuh!”
It-bun Han Too tertawa hambar.
“Jadi kalau begitu Toa Cungcu telah turun tangan
bergebrak melawan mereka berdua?” tanyanya.
“Betul, aku telah beradu pukulan dengan mereka!”
“Kalau begitu bagus sekali, posi si kita sekarang adalah
terbagi dalam tiga bagian dengan sudut segi tiga. bagaimana
menurut pendapat kalian semua?”
Siauw Ling tidak buka suara dan tetap membungkam sebab
ia telah mengambil keputusan dalam hati, bila tidak terpaksa
oleh keadaan ia tak akan buka suara.
Tampak Shen Bok Hong memandang sekejap ke arah
Siauw Ling, lalu balik bertanya, “Jadi maksud It-bun Heng, kita
enam orang hanya terbagi dalam tiga rombongan saja?”
“Sedikit pun tidak salah, Tong Lo Thay-thay, Kim Hoa
Hujin Shen Toa Cungcu terdiri dari satu rombongan, mereka
berdua terdiri dari satu rombongan dan aku sen diri? tentu
saja terhitung pula sebagai satu rombongan!”
“Heeeeh…. heeeeeh…. heeeeeh …. sekarang aku dapat
mengerti maksud hatimu,” ejek Shen Bok Hong sambil tertawa
dingin, “It-bun heng menyebut dirinya sebagai satu

rombongan, bukankah itu berarti pula bahwa kau seorang diri
berhak mendapatkan sepertiga dari barang peninggalan di
dalam Istana Terlarang? sedangkan kami lima orang harus
puas dengan dua pertiga sisanya, It-bun heng! apakah kau
tidak merasa sedikit keterlaluan dalam pembagian ini?”
Sekalipun posisiku jauh lebih menguntungkan daripada
kalian semua, toh keadaan itu jauh lebih baik daripada mati
konyol di dalam Istana Terlarang ….? aku tidak percaya kalau
kesepuluh tokoh sakti da ri dunia persilatan itu mampu hidup
selama beribu2 tahun di dalam lambung bukit yang gelap
gulita ini”
“Betul!” pikir Siauw Ling dalam hati, “Sekalipun ilmu silat
yang kita miliki sampai dimana libaynya pun. tidak mungkin
aku harus hidup sepanjang tahun di dalam lambung bukit
yang gelap gulita ini, lagipula janjiku dengan enci Siau Cha
tinggal tiga bulan …. aku harus berusaha keras tinggalkan
tempat ini …”
Sementara itu terdengar It-bun Han Too telah berseru pula
dengan suara keras, “Seandainya saudara sekalian ada yang
tidak setuju dengan pendapatku ini, harap secepatnya
mengajukan pendapat serta alasan ya!”
Siauw Ling yang teringat akan janjinya dengan Gak Siau
Cha sudah terlalu mendesak hingga tak mungkin baginya
untuk berdiam terlalu lama dalam Istana Terlarang, dengan
cepat anggukan kepalanya lebih dahulu tanda setuju.
Melihat si anak muda itu telah anggukkan kepala tanda
setuju. Shen Bok Hong segera tertawa dingin, ujarnya,
“Sekalipun kau anggap aku orang she-Shen telah menyetujui
usulmu itu, tapi aku rasa kaupun belum tentu mempunyai
kemampuan untuk melindungi benda yang berhasil kau
dapatkan itu”

“Aaah ..! itu toh urusan belakangan nanti, atau paling
sedikit sebelum kita tinggalkan Istana Terlarang, maka
kedudukan kita bertiga adalah seimbang dan sederajat”
Tiba-tiba Shen Boa Hong berdiri tertegun, ia cekal tubuh
Tong Lo Thay-thay lalu menepuk bebas beberapa buah jalan
darahnya yang tertotok.
Tong Lo Thay-thay membuka matanya dan tarik napas
panjang-panjang, sorot matanya melirik sekejap ke arah
Siauw Ling sedang bibirnya bergetar seperti mau
mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat tersebut dibatalkan,
perlahan lahan dia undurkan kiri ke belakang tubuh Shen Bok
Hong.
Ketika itulah sambil membawa obor It-bun Han Too maju
mendekati, serunya dengan suara lantang, “Dewasa ini
diantara ketiga rombongan yang ada boleh dibilang kekuatan
di pihak Shen Toa Cungcu yang dianggap paling kuat, dan
jumlah anggotanyapun paling banyak, tetapi bila kau hendak
menggunakan kelebihan kekuatanmu itu untuk memaksa
diriku…maka terpaksalah, posisi kita akan berubah jadi tiga
lawan tiga!”
Sambil berkata ia segera berjalan menghampiri tubuh
Siauw Ling.
Pada saat yang bersamaan obor yang dipegang dalam
genggamannya habis terbakar, cahaya api seketika padam
dan suasana dalam gua itupun berubah jadi gelap gulita.
Blaaam ..! Blaaam…! di tengah kegelapan terdengar dua
benturan keras yang memecahkan kesunyian, segulung
desiran angin pukulan yang sangat kuat mengibarkan ujang
baju yang dikenakan It-bun Han Too.
Kejadian ini segera mencemaskan hati jago tua itu. dengan
perasaan gelisah ia loncat mundur tiga langkah ke belakang,
Sebuah obor baru kembali telah dipasang.

Menanti ia berpaling ke arah para jago lihay, tampaklah
semua orang telah berdiri kembali pada posisi semula.
Kiranya Shen Bok Hong yang jengkel terhadap It-bun Han
Too sangat mengharapkan dapat menangkap orang itu dalam
keadaan hidup-hidup, kemudian baru menghadapi Siauw Ling
berdua dan membinasakan mereka, setelah musuh berhasil
disingkirkan barulah memaksa kembali It-bun Han Too untuk
menuruti kehendak hatinya.
Karena itu sejak tadi ia telah bersiap sedia bila obor di
tangan It-bun Han Too padam, secepat kilat dia akan turun
tangan menawan dirinya hidup?.
Siapa tahu walang kadung mencaplok orong-orong di
belakangnya telah mengintai burung jalak, Siauw Ling yang
sudah curiga terhadap tingkah laku Shen Bok Hong telah
mengawasi terus setiap gerak-geriknya. Ia tahu gembong iblis
tersebut hendak turun tangan keji terhadap It-bun Han Too,
maka hawa murni segera disiapkan ke seluruh badan.
Sedikitpun tidak salah, ketika cahaya api padam Shen Bok
Hong segera menerjang maju ke depan dengan gerakan
secepat kilat, serangannya langsung menyambar ke arah
tubuh It-bun Han Too.
Sejak tadi ia telah mengincar incar letak posisinya yang
baik, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut.
Tapi Siauw Ling telah bertindak lebih dahulu, tatkala Shen
Bok Hong sedang menerjang ke muka, dia segera lintangkan
tubuhnya ke depan dan menghadang jalan perginya.
Tapi disebabkan cahaya api baru saja padam, kedua belah
pihak belum mampu memandang dalam kegelapan, semua
serangan terpaksa harus digantungkan dengan jalan da ya
ingatan serta ketajaman pendengar belaka.
Dalam kegelapan itulah masing-masing pihak telah saling
beradu tenaga sebanyak dua kali .

Shen Bok Hong terkejut juga merasakan kelihayan
musuhnya, dalam hati ia segera berpikir, “Siapakah orang ini?
sungguh lihay ilmu silat yang dimilikinya….aku tak boleh
pandang enteng orang ini!”
Mengetahui bahwa ia tak berhasil meneruskan rencananya,
maka dengan cepat ia mundur kembali ke tempat semula.
Menanti It-bun Han Too telah memasang obor baru, kedua
orang itu telah kembali pula ke tempat semula.
Air muka It-bun Han Too berubah hebat, sambil mengamati
sekejap diri Shen Bok Hong serta Siauw Ling ujarnya penuh
kemarahan, “Bila kalian semua tidak pingin mati konyol di
dalam Istana Terlarang, lebih baik hindarilah keinginan kalian
untuk mencelakai jiwaku!”
Ia mendehem ringan, dan menambahkan, “Aku segera
akan membawa jalan, harap kalian mengikuti di
belakangku….”
Tidak menanti jawaban lagi, dengan langkah lebar ia
segera berjalan masuk ke dalam lorong, Siauw Ling, Pek-li
Peng, Shen Bok Hong. Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay
segera mengikuti di belakang orang itu masuk ke dalam
lorong.
Ketika tiba di persimpangan jalan, tiba-tiba It-bun Han Too
berbelok ke samping kiri. Terpaksa Siauw Ling sekalianpun
ikut berbelok ke arah kiri dan meneruskan perjalanannya
menembusi lorong itu.
Puluhan tombak kemudian, pemandangan yang muncul di
depan mata tiba-tiba berubah.
Lorong batu yang semula lebarnya cuma beberapa depa,
mendadak semakin melebar hingga akhirnya muncullah
sebuah tanah lapang yang datar seluas empat lima tombak
persegi.

Dari dalam sakunya It-bun Han Too ambil keluar kembali
sebatang lilin, dengan demikian suasana terasa bertambah
terang benderang, dengan ketajaman mata beberapa orang
itu baik suasana maupun pemandangan di sekeliling sana
dapat terlihat dengan mata jelas.
“Orang ini betul? banyak pengalaman dan teliti” pikir Siauw
Ling dalam hati, ”Ternyata dalam sakunya telah tersedia pula
lilin yang begini terang.
Memandang empat penjuru sekeliling tempat itu. terlihatlah
di atas dinding lorong terdapat banyak sekali ruang batu,
ketika diam-diam dihitung ternyata jumlahnya mencapai enam
buah.
Di depan setiap ruang batu itu terlapis sebuah pintu terbuat
dari baja, tiga buah pintu baja tertutup rapat dan tiga pintu
baja yang lain setengah tertutup.
Shen Bok Hong mendehem ringan, tiba-tiba ujarnya
memecahkan kesunyian yang mencekam, “It-bun heng,
beberapa buah ruangan batu itu mungkin dibangun oleh si
Ahli bangunan bertangan sakti Pau It Thian untuk tempat
tinggal sepuluh Tokoh sakti dunia persilatan itu?”
“Sebelum masuk ke dalam ruang itu serta memeriksa
keadaan di dalam situ, aku tak dapat menerangkan keadaan
yang sebenarnya, harap Shen Toa Cungcu sudah bersabar
diri!”
Ia berhenti sebentar, lalu sambungnya kembali.
“Ada satu hal sebelumnya terpaksa harus kuterangkan lebih
dahulu. Istana Terlarang adalah hasil karya yang teragung dan
terhebat dari Ahli bangunan bertangan sakti Pau It Thian,
bukannya aku sengaja menakut-nakuti kalian semua, perlukah
kuterangkan lebih dulu bahwa pada setiap sudut Istana
Terlarang ini kemungkinan besar telah dipasang alat rahasia
yang

sangat lihay, satu kali kita bertindak kurang hati-hati,
mungkin kita akan terjebak di dalam kurungan alat rahasia
tersebut. Oleh sebab itu alangkah baiknya bila gerak-gerik
kalian semua mengikuti saja di belakangku!”
“Seandainya di ruangan ini terdapat benda berharga yang
tak ternilai harganya, It-bun heng tentu akan mengambilnya
lebih dulu bukan? sedang sisanya baru akan dibagi rata oleh
kami sekalian?” seru Shen Bok Hong.
It-bun Han Too mendengus dingin.
“Hmm. kalau berbicara dari ilmu silat, aku memang bukan
tandingan dari kalian semua…..!”
“Tapi It-bun heng pandai dalam hal alat-alat rahasia ilmu
bangunan serta menguasai pintu masuk keluar Istana
Terlarang ini, karena itu kau memaksa kami tersudut dan
terpaksa harus mendengarkan perintah dari It-bun heng,“
sambung Shen Bok Hong cepat.
“Kau tak usah kuatir, aku telah ambil ke putusan untuk
bertindak secara adil dan merata, ketiga belah pihak samasama
mendapat bagian sesuai dengan bagiannya, aku tidak
nanti akan berbuat licik macam tingkah laku Shen Toa
Cungcu!”
“Seandainya di dalam Istana Terlarang benar-benar
kedapatan benda berharga, aku rasa nilai berharganya satu
dengan lain barang tak akan sama, aku ingin tahu bagaimana
caranya kau bagi barang! yang tak sama nilainya itu secara
adil dan merata?”
Meskipun Siauw Ling tidak ikut angkat sua ra, tapi dalam
hati ia setuju dengan pertanyaan yang diajukan Shen Bok
Hong itu, pikirnya, “Perkataan itu sedikitpun tidak salah, nilai
dari Satu benda tak sama satu sama lainnya, secara
bagaimana ia bisa membaginya secara adil dan merata”?”

Rupanya It-bun Han Too juga menduga bahwa Siauw Ling
pun memikirkan persoalan itu, sorot matanya perlahan lahan
menyapu sekejap ke atas wajah Shen Bok Hong serta Siauw
Ling, kemudian katanya.
“Aku rasa apa yang kalian semua pikirkan saat ini tidak
akan jauh berbeda dengan apa yang sedang dipikirkan oleh
Shen Bok Hong, memang benar benda yang tertinggal dalam
Istana Terlarang tidak sama nilainya satu sama lain, kamu
semua tentu ingin tahu bukan bagai mana caranya aku bagi
benda-benda tadi secara adil diantara kami bertiga?”
Siauw Ling mengangguk tapi mulutnya tetap
membungkam.
“It-bun Heng, bila kau tiada pendapat, bagaimana kalau
dengarkan dulu cara yang akan kuusulkan ini?” sela Sheng
Bok Hong.
“Baik, silahkan Shen Bok Hong utarakan usulmu itu!”
“Kita letakkan saja benda yang kita dapatkan itu di suatu
tempat tertentu, kemudian bukankah It-bun Han Too telah
membagi kita berenam menjadi tiga kelompok? Nah! dari
masing-masing kelompok kita utus seorang wakil kemudian
dari jarak yang sama kita kasih komando lalu kita sama-sama
berebutan mendapatkan benda itu, bagai mana menurut
pendapatmu?….”
Mendengar usul tersebut, It-bun Han Too mendongak dan
segera tertawa terbahak bahak.
“Haah…. haaaah….. haaaaa…… ilmu silat yang dimiliki Shen
Toa Cungcu jauh lebih lihay daripada diriku, saudara yang
tidak ingin mengunjukkan diri inipun memiliki ilmu silat yang
jauh lebih hebat dari kita, apalagi Shen Toa Cungcu dibantu
oleh Tong Lo Thay-thay serta Kim Hoa Hujin. sedangkan
saudara inipun mempunyai teman pembantu, bagaimana
dengan aku? hanya sebatang kara tanpa teman, bukan saja

dalam posisi aku kalah dalam kekuatanpun aku kalah, adilkah
usulmu itu?”
“Hmm…kalau begitu aku tak usah banyak bicara lagi,
silahkan It-bun heng utarakan usulmu itu!“ seru Shen Bok
Hong sambil tertawa dingin tiada hentinya.
“Maksudku lebih baik kita tak usah beradu tenaga ataupun
beradu kecerdikan, marilah kita dapatkan benda itu menurut
rejekinya masing-masing”
Siauw Ling tidak habis mengerti apa yang dimaksud oleh Itbun
Han Too dengan usulnya itu, tapi ia tetap menahan sabar
dan membungkam dalam seribu bahasa.
“It-bun heng. aku harap kau bisa memberi penjelasan lebih
jauh, agar kami semua dapat menangkap apa yang kau
maksudkan!” kata Shen Bok Hong dengan cepat.
“Usulku ini tidak jauh berbeda dengan apa yang diusulkan
Shen Toa Cungcu barusan, cuma aku harus menanti sampai
tiga macam benda berharga berhasil kita temukan barulah
barang-barang itu kita letakkan di suatu tempat tertentu,
kemudian aku akan menggunakan tiga biji mata uang sebagai
undian siapa yang berhasil menembak jumlah biji paling
banyak dialah yang pertama-tama memilih lebih dahulu ketiga
macam benda berharga itu, kemudian giliran kedua jatuh pada
orang yang berhasil mendapat jumlah biji mata uang lebih
sedikit dari orang pertama, sedang mereka yang mendapat
jumlah biji mata uang paling sedikit— ayah, apa boleh buat
lagi, terpaksa dia harus puas dengan benda berharga yang
masih tersisa itu….”
“Tidak? aku tidak setuju dengan caramu itu….!” seru Shen
Bok Hong sambil gelengkan kepalanya.
“Mana yang kurang baik?”

“Di dalam dunia persilatan hanya ada orang beradu
kecerdikan serta kekuatan belum pernah ada orang adu nasib
seperti yang kau usulkan barusan”
“Ada satu hal lagi aku harus terangkan lebih dahulu kepada
kalian semua, keadaan dari kita berenam saat ini adalah hidup
bersama mati pun bersama, ada rejeki kita nikmati berbareng
ada bencana kita tanggulangi serentak, perduli siapapun bila
ada maksud mencelakai diriku, maka sisa yang lain tak akan
keluar dari istana terlarang ini dalam keadaan hidup, sekalipun
berhasil mendapatkan semua benda berharga yang ada di sini,
tapi apa gunanya?”
Shen Bok Hong tertawa.
“Bila caramu ini tidak adil, sekalipun aku orang she-Shen
tidak membinasakan dirimu, kau anggap orang lain dapat
mengampuni dirimu?”
“Dalam posisi segi tiga ini bukan saja kelompokku yang
paling minim jumlahnya, ilmu silat yang kumilikipun paling
lemah, perduli dari golongan manapun yang akan turun
tangan aku pasti akan menemui ajalnya seketika itu juga. Tapi
kecuali diriku seorang, kamu semua tak seorangpun yang
mampu membuka pintu Istana Terlarang, dan inilah kekuatan
yang paling kuandalkan untuk membendung penindasan dari
kalian semua. Karena itu kecuali kalau kamu semua ingin
terkubur hidup-hidup dalam Istana Terlarang, lebih baik
janganlah punya pikiran lain terhadap diriku”
“It-bun Han Too!” teriak Kim Hoa Hu-jin dengan gusar,
“Kami tak akan segoblok itu dengan membinasakan dirimu
detik ini juga. meskipun maut tidak menakutkan tapi siksaan
hidup merupakan suatu kejadian paling menakutkan, aku tidak
percaya kalau tubuhmu terdiri dari otot kawat tulang besi yang
tak takut disiksa….”
Siauw Ling merasa amat gelisah melihat sikap dari
perempuan itu, tapi ia takut Shen Bok Hong kenali suaranya

hingga asal usulnya berhasil diketahui, terpaksa ia tetap
membungkam terus.
Sementara itu Shen Bok Hong sendiripun sedang
memperhatikan diri Siauw Ling serta Pek-li Peng, pikirnya
dalam hati, “Entah siapakah kedua orang ini? besar amat rasa
sabar mereka, hingga kini tak sepatah katapun yang
diucapkan keluar …….”
Karena berpikir demikian, ia lantas berkata, “Baik! aku
orang she Shen menyetujui usulmu itu……”
Habis berkata ia lantas berpaling ke arah Siauw Ling,
pikirnya lagi, “Ayoh, kali ini terpaksa kau harus buka suara!”
Siapa tahu Siauw Ling masih tetap mengangguk dan sama
sekali tidak buka suara.
“Baik!” kata It-bun Han Too kemudian. “Kalau memang
kalian semua telah setuju dengan usulku ini. maka kitapun
akan mendapatkan benda-benda berharga tadi dengan
andalkan rejeki, nasib serta pengetahuan masing-masing…..“
Selesai berkata ia segera berjalan memasuki sebuah
ruangan yang pintu bajanya setengah terbuka.
Shen Bok Hong segera miringkan tubuhnya dan berebut
menguntit lebih dahulu di belakang It-bun Han Too.
Siauw Ling tak mau unjukkan kelemahannya, buru-buru ia
maju ke depan dan mengikuti pula di belakang It-bun Han
Too.
Melihat lawannya berdesakan dengan dia, Shen Bok Hong
segera mengerahkan tenaga dalamnya mengangkat kaki dan
menjejak jalan darah Hong-Si-hiat di kaki kiri Siauw Ling.
Ia selalu melihat lawannya yang satu ini tetap
membungkam dalam seribu bahasa, hatinya merasa amat
curiga dan dalam hati ia berharap bisa memaksa dirinya untuk
buka suara.

0000O000
Siauw Ling yang merasa dirinya diserang tangan kirinya
dengan cepat menekan ke bawah, segulung angin desiran
tajam memencar keluar dari ujung jarinya menotok jalan
darah Hiat hay di kaki kanan Shen Bok Hong. sedang kaki
kirinya yang melangkah ke depan tetap dilanjutkan seperti
rencana semula.
Andaikan Shen Bok Hong tidak takut terluka dan
melanjutkan tumbukannya pada jalan darah Hong-si di kaki
Siauw Ling, maka totokan si anak muda itu yang bersarang di
jalan darah Hiat-haynya kemungkinan besar akan membuat
kaki kanannya cacad.
Mengetahui ancaman yang merugikan posisinya itu. Shen
Bok Hong tak berani ambil resiko besar, terpaksa ia putar kaki
kanannya untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Siauw Ling menempuh bahaya cari kemenangan, maksud
Shen Bok Hong terpaksa harus tank kembali kakinya dan
menyingkir ke samping. Dengan kejadian ini maka sebaliknya
Siauw Ling lah yang berhasil merebut posisi lebih
menguntungkan, kaki kirinya tiba lebih dahulu mengikuti tepat
di belakang It-bun Han Too.
Tapi gerakan tubuh Shen Bok Hong cukup cepat, selelah
menghindarkan diri dari ancaman totokan lawan ia berebut
kembali menerjang ke muka.
Selisih mereka berdua hanya terpaut beberapa mili saja,
pada saat yang hampir bersamaan mereka berdua Sama-sama
membuntuti di belakang It-bun Han Too.
Ketika tiba di depan pintu baja yang setengah terbuka itu,
mendadak It-bun Han Too berhenti, ujarnya, “Sekarang kita
harus memilih satu orang untuk membuka pintu baja itu dan
masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan dalam ruangan
tersebut”

“It-bun heng kenapa kau tidak lakukan sendiri pekerjaan
tersebut….?”
“Haaah… haaah…. haaah…. kau adalah salah seorang yang
berhak mendapatkan sepertiga dari barang pusaka yang
tertinggal dalam Istana Terlarang ini, seandainya di atas pintu
ada racunnya hingga membuat aku mati karena keracunan,
bukankah kejadian ini justru akan menguntungkan kalian
semua?”
“Jadi maksud It-bun heng?” tanya Shen Bok Hong
menegaskan.
“Dari kalian dua kelompok harus diutus seorang wakil untuk
membuka pintu baja itu”
“Menurut pendapat It-bun heng, kelompok mana yang
harus mengirimkan wakilnya lebih dahulu?”
“Jumlah anggota kelompok di pihak Shen Toa Cungcu
paling banyak, bagaimana kalau dari pihakmu lebih dahulu
mengirimkan seorang wakil?”
Shen Bok Hong melirik sekejap ke arah Tong Lo Thay-thay.
kemudian katanya, “Nyonya tua, tolong bukalah pintu baja
yang setengah terbuka itu!”
Tong Lo Thay-thay mengiakan, ia berjalan mendekati pintu
baja tadi lalu diperhatikan dengan seksama, tiba-tiba dari
sakunya dia ambil keluar sebuah sarung tangan terbuat dari
kulit menjangan, setelah dikenakan di tangan kanan ia tarik
pintu baja itu hingga terbuka.
“Di atas pintu apa ada racunnya?” tanya Shen Bok Hong
kemudian setengah berbisik.
“Perduli ada racun atau tidak, tak ada salahnya bukan kalau
aku bertindak lebih berhati hati dengan mengenakan sarung
tangan?” jawab Tong Lo Thay-thay.

Dengan tangan kiri membawa lilin, It-bun Han Too segera
melongok ke dalam ruangan itu. Disitu ia lihat sesosok tubuh
manusia yang memakai baju perlente merangkak di atas
pembaringan batu dengan sebilah pedang pendek tertancap di
atas punggungnya.
Mendadak Shen Bok Hong menyerobot masuk ke dalam
ruang batu itu dengan gerakkan sangat cepat, ketika
tangannya meraba tubuh manusia tadi, jubah perlente yang
dikenakan segera hancur dan berguguran ke atas tanah
sehingga tinggal seperangkat tulang manusia yang putih.
Pedang pendek tadi menembusi jauh ke dalam kerangka
manusia itu, di bawah sorot cahaya lilin tampak kilatan cahaya
tajam yang menyilaukan mata.
“Orang ini pastilah salah satu diantara sepuluh tokoh sakti
dari dunia persilatan, setelah punggungnya tertusuk pedang ia
melarikan diri ke dalam ruang batu ini, dalam lukanya yang
parah ia tentu bersandar di pembaringan batu ini hingga
menemui ajalnya. Pedang pendek tersebut puluhan tahun
lamanya terbengkalai tanpa karatan, aku duga benda itu
pastilah sebuah benda yang sangat berharga,“ kata It-bun
Han Too.
Shen Bok Hong sambar gagang pedang tadi dan cabut
keluar pedang pendek tersebut kerangka manusia yang masih
berbentuk utuh tadi segera hancur dan berantakan di atas
lantai setelah senjata tadi dicabut keluar It-bun Han Too
mendehem berat, katanya lagi, “Shen Toa Cungcu, pedang
pendek itu termasuk salah satu diantara benda peninggalan
dalam Istana Terlarang!”
“Apakah harus kuserahkan kepadamu untuk disimpan lebih
dahulu?” jengek Shen Bok Hong ketus.
“Kalau Toa Cungcu ingin membawanya lebih dahulu juga
boleh….”

Ia berhenti sejenak, lalu terusnya dengan suara keras,
“Meskipun kita tidak tahu siapakah orang ini, tapi yang pasti
dia adalah salah satu d antara sepuluh tokoh sakti dunia
persilatan yang masuk ke dalam Istana Terlarang, bukti ini
rasanya tak usah diragukan lagi. Sesudah kita temukan orang
ini, gambaran garis besarpun bisa kita peroleh, pastilah jagojago
lihay lain yang terjebak dalam istana terlarang telah mati
semua di tempat ini”
Shen Bok Hong tetap bungkam dalam seri bu bahasa ia
permainkan pedang pendek tadi dan tiba-tiba… cahaya tajam
berkilauan, bagaikan menusuk tahu pintu baja yang amat
keras tadi telah ditembusi oleh pedang pendek itu hingga
tinggal gagangnya belaka.
“Pedang bagus! Pedang bagus!” puji Siauw Ling dalam hati.
”Sungguh tajam dan luar biasa senjata mustika itu…….”
Terdengar Shen Bok Hong tertawa terbahak-bahak dan
berkata, “Haaah…. haaaah…. haaaaah…. It-bun heng,
sekalipun pintu besar Istana Terlarang terbuat dari baja murni
atau baja campuran, aku pikir kekuatannya tak akan melebihi
ampuhnya pintu baja ini. Dengan senjata tajam di tangan
rasanya aku tak usah menerima ger tak sambal dari It-bun
heng lagi untuk tetap menuruti perkataanmu!”
Dengan cermat Siauw Ling perhatikan pedang pendek itu,
ia lihat panjangnya hanya mencapai enam cun, dalam hati
lantas berpikir kembali, “Entah pedang itu milik siapa? dan apa
namanya? sudah empat puluh tahun lamanya benda itu
terpendam di dalam Istana Terlarang….”
Dalam pada itu It-bun Han Too telah berkata dengan suara
dingin, “Seandainya pedang mustika itu dapat di gunakan
untuk merusak pintu depan Istana Terlarang, mengapa
kesepuluh tokoh sakti dunia persilatan itu mudah terkurung di
dalam Istana ini dan tidak coba menggunakan ketajaman
pedang tadi untuk menjebol pintu?”

Tong Lo Thay-thay yang berdiri di sisi Shen Bok Hong, tibatiba
buka suara dan berkata, “Menurut apa yang kuketahui,
diantara sepuluh tokoh sakti dunia persilatan yang terkurung
di dalam istana terlarang, semuanya terdapat dua bilah
pedang mustika yang dibawa kecuali pedang pendek ini pasti
masih ada pedang lainnya lagi
“Bagi seorang jago yang ahli dalam ilmu pedang,“ pikir
Siauw Ling, “bila ia berhasil mendapatkan bantuan dari sebilah
pedang mustika yang demikian tajamnya, keadaannya tentu
ibarat harimau tumbuh sayap……”
Sementara itu Shen Bok Hong dengan sorot mata yang
tajam sedang menyapu sekejap seluruh ruangan itu untuk
mencari sarung pedang tersebut, karena tidak ditemukan ia
lantas tertawa keras.
“It-bun heng!“ serunya, “ bila kau memaksa aku orang she
Shen terus menerus, jangan salahkan kalau aku terpaksa
harus coba menempuh bahaya sendiri……..”
Air mukanya berubah jadi dingin menyeramkan,
tambahnya, “Andaikata It-bun heng terlalu memaksa diriku,
siapa tahu terpaksa aku orang she-Shen akan coba
mengandalkan ketajaman pedang pendek ini untuk
merobohkan pintu masuk Istana Terlarang “
Maksud ucapan itu sudah amat jelas seka li, seolah-olah
pedang itu sudah menjadi miliknya sedang janji yang mereka
ucapkan tadi dianggap sebagai angin lalu belaka.
It-bun Han Too segera alihkan sorot matanya memandang
sekejap ke atas wajah Siauw Ling kemudian tanyanya,
“Apakah kau masih siap memegang janji yang telah kita
ucapkan tadi?…”
Siauw Ling mengangguk dan tetap membungkam dalam
seribu bahasa.

Shen Bok Hong segera mengerutkan dahinya, dengan nada
tidak senang ia menegur, “Hey, saudara apa kau bisu dan tak
dapat berbicara?”
Siauw Ling melotot sekejap ke arah Shen Bok Hong, tapi ia
tetap membungkam dan tak berbicara.
“Shen Toa Cungcu!” ujar It-bun Han Too kembali, “Bila kau
tak mau menuruti janji yang telah kita tetapkan tadi, itu
berarti kau hendak paksa diriku untuk bergabung dengan
saudara ini. atau dengan perkataan lain posisi kita akan
berubah jadi tiga lawan tiga….”
Ia menyapu sekejap wajah Siauw Ling, kemudian
menambahkan, “Asal saudara ini mampu untuk menghadapi
Shen Toa Cungcu, maka andaikata sampai terjadi
pertarungan, siapa menang siapa kalah masih susah
diramalkan mulai sekarang.”
“Shen Bok Hong pada saat ini terlalu jumawa dan angkuh,“
pikir Siauw Ling dalam hati, “kalau aku tidak berusaha untuk
menjerikan batinnya, ia pasti tak mau tunduk pada janji
semula…”
Belum habis ia berpikir, terdengar Shen Bok Hong telah
tertawa terbahak bahak.
“Haaah… haaah… haaaah… kau maksudkan saudara ini?
mungkin saja ia memang tandinganku, tapi sebelum
kusaksikan sendiri kelihayan yang sebenarnya dari saudara ini,
aku tidak rela mempercayainya dengan begitu saja.
Siauw Ling tidak banyak bicara. tiba-tiba ia maju dua
langkah ke depan dan lancarkan sebuah pukulan ke atas pintu
baja tersebut..
Blaam…! ditengah suara getaran keras yang memekikkan
telinga, di atas pintu baja segera muncullah lima buah bekas
telapak tangan yang tertera sangat dalam.

Siauw Ling mengenakan sarung tangan kulit ular sakti dan
tidak takut terluka, apalagi serangan tersebut dilancarkan
dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, meskipun di atas
pintu baja segera muncul bekas tela pak yang dalam, tapi
Siauw Ling sendiri merasakan pula lengan kanannya jadi linu
dan laku. wajahnya berubah menjadi merah dan napasnya
agak tersengal.
Untung dia kenakan topeng kulit manusia sehingga orang
lain tidak melihat perubahan tersebut. Setelah atur napas
sebentar, perlahan lahan ia undurkan diri kembali ke
belakang.
Selama ini ia selalu membungkam, tapi baik Shen Bok Hong
maupun It-bun Han Tco tahu bahwa dia bukan seorang bisu,
dalam hati diam-diam mereka merasa amat kagum atas
kesabarannya.
Dengan langkah lebar Shen Bok Hong maju ke muka,
setelah meneliti sekejap bekas telapak tangan di atas pintu
baja itu katanya, “Sungguh hebat tenaga pukulan yang dimiliki
saudara itu!”
“Tidak salah” kata It-bun Han Too pula setelah ikut meneliti
pula bekas telapak tangan di atas pinta baja tersebut, ”Shen
Toa Cungcu, tolong tanya apakah kau memiliki kemampuan
pula untuk berbuat yang sama?”
Siauw Ling mati-matian tak mau bicara karena dia takut
Shen Bok Hong mengetahui siapakah sebenarnya dia, tapi hal
ini justru membuat It-bun Han Too secara otomatis dan tanpa
berpikir panjang telah berpihak kepadanya.
Terdengar Shen Bok Hong mendongak dan tertawa
terbahak-bahak.
“Haaah….. haaah……. haaah….. bekas telapak ini
dihasilkan oleh daya kekuatan sebesar seribu kati, aku orang
she Shen percaya masih mampu untuk melakukan hal yang
sama”

“Mengapa Shen Toa Cungcu tidak mencobanya pula?” ejek
It-bun Han Too cepat, “Aku orang she-Shen tidak ingin
membuang tenaga sebesar itu dengan percuma.”
“Toa Cungcu!” ujar It-bun Han Too kemudian sambil
angsurkan tangannya ke depan, “harap kau suka serahkan
pedang pendek itu kepadaku, agar aku bisa menyimpannya
untuk sementara waktu, setelah kita berhasil mengumpulkan
tiga macam benda mustika barulah benda itu kita bagi
menurut perjanjian”
Shen Bok Hong termenung dan berpikir sejenak, akhirnya
dia angsurkan pedang mustika itu ke tangannya sambil
berkata diiringi tertawa, “Baiklah, disimpan dulu oleh It-bun
heng pun sama saja!”
Setelah menerima pedang pendek tersebut, It-bun Han Too
kembali berkata, “Shen Toa Cungcu, semoga kau dapat sela lu
pegang janji sehingga kita semua bisa mengundurkan diri dari
Istana Terlarang dalam keadaan hidup dan selamat”
Untuk sesaat suasana diliputi keheningan, tiba-tiba Kim Hoa
Hujin buka suara memecahkan kesunyian, katanya setelah
memandang sekejap tulang manusia yang berserakan di atas
lantai itu.
“Entah siapakah orang ini? ditinjau dari pakaian perlente
yang ia kenakan, semasa hidupnya ia tentu seorang jago yang
terpandang dan terkemuka”
“Benar, rupanya ia seorang yang terkemuka,“ sambung Itbun
Han Too, “sayang kita tiada waktu lagi untuk
membicarakan asal-usul orang itu!”
Dengan tangan kanan memegang pedang, tangan kiri
memegang lilin ia segera berjalan menuju ke pintu baja
lainnya yang setengah terbuka.
Para jago segera mengikuti di belakang tubuhnya.

Ketika tiba di depan pintu baja kedua, kembali It-bun Han
Too menghentikan langkahnya, sambil berpaling memandang
sekejap ke arah Siauw Ling ujarnya, “Kesempatan yang
kuberikan selalu adil dan merata, kali ini tiba giliran pada
rombonganmu untuk mengirim wakil guna membuka pintu
baja ini…..”
Siauw Ling dengan langkah lebar segera maju ke depan,
sambil membuka pintu baja tadi pikirnya di dalam hati.
“Sekalipun di atas pintu sudah dipolesi racun keji, aku juga
tak perlu takut!”
Dalam perkiraan beberapa orang itu, setelah di dalam
ruang yang pertama mereka temukan mayat, dalam ruang
batu ini tentu ada mayat atau kerangka manusia pula.
Siapa tahu kenyataannya jauh diluar duga siapapun juga,
ternyata di dalam ruang batu kedua mereka tidak menemukan
sesuatu benda apapun.
It-bun Han Too menyinari seluruh ruangan itu dengan
cahaya lilinnya, setelah diperhatikan beberapa saat dan tidak
ditemukan juga sesuatu yang aneh, mendadak ia bergumam
sendiri, “Aaaa! benar …. benar …”
“It-bun heng, apa yang sedang kau gumamkan seorang
diri?” tegur Shen Bok Hong cepat.
“Kecuali kerangka manusia berbaju perlente yang kita
temukan dalam ruang batu pertama tadi, kemungkinan besar
kita tak akan temukan lagi mayat lain yang menggeletak
sendirian ditempai lain”
“Mengapa?”
“Andaikata dugaanku tidak salah, sesaat sebelum menemui
ajalnya kesepuluh tokoh sakti yang terkurung di dalam Istana
Terlarang ini tentu berkumpul jadi satu dan merundingkan
cara keluar dari kurungan istana ini….”

“Lalu siapakah orang berbaju perlente itu? mengapa ia mati
sendirian di tempat lain?”
“Kemungkinan besar orang itu adalah Ahli Bangunan
bertangan sakti Pau It Thian, dia adalah orang yang dibenci
oleh semua jago, oleh sebab itu orang she-Pau tadi mati
sendirian di tempat lain”
“Orang ini benar-benar amat cerdik.”
Seandainya jalan hidupnya bisa condong ke arah yang
benar, pastilah dia akan dihormati serta dikagumi seorang
sebagai pendekar luar biasa.
Tampak Shen Bok Hong mengangguk tanda membenarkan.
“Benar, perkataan dari It-bun heng memang sangat
beralasan,” katanya.
Ia mendongak dan tertawa tergelak, lalu tambahnya lagi,
“Sekarang aku orang she Shen baru merasa bahwa aku telah
bertambah lagi dengan seorang musuh tangguh”
“Aaah, Shen Toa Cungcu terlalu memuji diriku”
“Ehmmm… memang akulah yang teledor sehingga
melupakan diri It-bun heng sebagai seorang sarjana yang luas
sekali pengetahuannya…..”
Ia berhenti sejenak, lalu terusnya, “Apakah kita akan
memeriksa pula ruang pintu batu lain yang pintunya setengah
terbuka itu?
“Shen Toa, Cungcu tak usah kuatir, setiap perkataan yang
telah kuucapkan pasti akan kupegang teguh bagaikan
kokohnya bukit baja.”
Dengan langkah lebar ia dekati pintu baja yang setengah
terbuka itu, kemudian dengan kaki kirinya ia jejak pintu tadi
hingga terbuka lebar.

Ketika para jago menengok keadaan dalam ruangan itu,
ternyata ruangan itupun kosong melompong tiada sesuatu
benda apapun.
Shen Bok Hong mendehem ringan, ujarnya kemudian,
“Sekarang, kita harus berusaha untuk membuka ketiga buah
ruangan yang pintu bajanya tertutup rapat itu. Bagaimana
pendapat mu It-bun Heng?”
“Kalian tak usah gelisah,” sahut It-bun Han Too sambil
ayunkan pedang pendek di tangannya, “Dengan pedang
mustika yang amat tajam ini, tidak sulit bagi kita untuk
membuka ketiga buah pintu baja yang tertutup rapat itu!”
Dengan langkah lebar ia dekati pintu baja pertama yang
tertutup rapat, pedangnya segera bekerja membacok pintu
baja itu.
Pedang pendek ini benar-benar tajamnya luar biasa, sekali
babat kunci baja di atas pintu segara kutung jadi beberapa
bagian dan rontok ke atas tanah.
“It-bun heng, berhati-hatilah” teriak Shen Bok Hong
setengah menyindir, seandainya dalam ruangan terdapat
jebakan hingga melukai dirimu, maka semua kita akan ikut
terkurung dan mati di dalam Istana Terlarang ini!”
It-bun Han Too tertawa dingin.
“Seandainya kau benar-benar terluka oleh jebakan yang
sengaja diatur oleh Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It
Thian, aku rasa peluang bagi kalian semua untuk tinggalkan
tempat mi memang tidak terlalu besar……”
Sambil berkata kakinya segera mengait dan menarik pintu
baja itu hingga terpentang lebar.
Ketika semua orang menengok ke dalam, terlihatlah
ditengahi ruang batu terdapat sebuah pembaringan terbuat
dari batu di atas pembaringan batu tadi terletaklah sebuah

tongkat sian-ciang serta sebuah kotak yang terbuat dari kayu
cendana.
Tiba-tiba Shen Bok Hong melesat ke depan, bagaikan
burung walet kembali ke sarang dia loncat masuk ke dalam
ruangan batu itu dan tangan kanannya segera menyambar
kotak kayu cendana tersebut.
Kali ini Siauw Ling telah bikin persiapan dia pungut dua biji
batu dan digenggam da la m tangan, menanti Shen Bok Hong
ulurkan tangan kanannya hendak menyambar kotak kayu itu,
sebiji batu segera disambit Siauw Ling dengan kecepatan
bagaikan kilat.
Meskipun hanya sebutir batu gunung, tapi disentil di bawah
pengaruh tenaga lweekang Siauw Ling yang amat dahsyat,
sambaran batu tersebut jauh lebih dahsyat dari pada titiran
bintang yang jatuh dari langit, bahkan disertai pula desiran
angin tajam.
Shen Bok Hong segera menyadari akan bahaya yang
mengancam dirinya, dengan cepat tangan kanannya ditarik
kembali ke belakang.
Batu gunung tersebut segera menghantam dinding batu
dengan kerasnya….
Ploook! hancuran batu bermuncratan keempat penjuru dan
rontok ke atas tanah.
Setelah melepaskan serangan batu tadi, tubuh Siauw Ling
dengan cepat ikut menerjang masuk pula ke dalam ruangan
batu, dengan tangkas ia hadang di depan tubuh Shen Bok
Hong.
Menyaksikan usahanya digagalkan lagi oleh lawannya yang
seorang ini, nafsu membunuh seketika menyelimuti seluruh
wajah kepala kampung dari perkampungan Pek Hoa Sanceng
ini, dia tertawa dingin, sebuah pukulan yang maha dahsyat
segera dilancarkan ke muka.

Siauw Ling berkelit dengan tangkas, kepalannya didorong
ke muka balas mengirim pula satu pukulan, angin tajam
menderu deru dan terbukti betapa dahsyatnya ancaman
tersebut.
---oo0dw0oo---
Jilid: 4
Shen Bok Hong segera putar telapak kanannya melakukan
pembabatan, ujung tangannya langsung memenggal urat nadi
di atas pergelangan lawan.
Siauw Ling tarik kembali telapak tangan kanannya ke
belakang, telapak kiri bekerja keras menghajar dada orang.
“Tahan!” bentak It-bun Han Too mendadak sambil
menerjang masuk ke dalam ruangan itu.
Selama ia lari masuk ke dalam ruangan, antara Siauw Ling
serta Shen Bok Hong telah melangsungkan empat jurus
serangan, kedua belah pihak sama-sama menggunakan
gerakan yang paling ampuh dan paling cepat untuk berusaha
merobohkan lawannya.
Setelah It-bun Han Too campur tangan sambil
mengayunkan pedang pendeknya yang tajam, terpaksa Siauw
Ling serta Shen Bok Hong meloncat mundur ke belakang.
Rupanya dalam beberapa gebrakan barusan Shen Bok
Hong telah dikejutkan oleh kesaktian, keganasan serta
kecepatan gerak serangan musuhnya dengan pandangan
tajam ia tatap wajah Siauw Ling tanpa berkedip kemudian
tegurnya, “Siapakah sebenarnya dirimu?”
Siauw Ling tertawa dingin, ia tetap tidak mau bicara.
“Hmm! Hebat betul daya tahanmu, tetapi aku orang she
Shen suatu ketika pasti akan berhasil memaksa kau untuk
buka suara,“ jengek Shen Bok Hong mendongkol.

Sementara itu It-bun Han Too telah memungut kotak kayu
serta tongkat sian-ciang tersebut, ujarnya, “Aku minta
sebelum kita berhasil keluar dari Istana Terlarang, lebih baik
janganlah terjadi perpecahan diantara kita sendiri, kita harus
bekerja sama untuk menanggulangi semua bencana yang
bakal kita hadapi..”
Ia undurkan diri terlebih dahulu dari ruangan itu, kemudian
sambil letakkan kotak kayu, tongkat sian-ciang serta pedang
pendek itu ke atas tanah ujarnya, “Sekarang kita telah berhasil
mendapatkan tiga macam benda mustika, sudah tiba
waktunya pula bagi kita untuk membagi hasil dari penemuan
ini!….”
“Apa?! masa tongkat hwesio itupun kau masukkan sebagai
salah satu barang taruhan?” protes Shen Bok Hong dengan
alis berkerut.
“Kenapa tidak? pertaruhan ini toh tergantung nasib dan
rejekinya masing-masing, siapa yang mendapatkan tongkat
hwesio tersebut, maka dia harus salahkan pada nasib sendiri
yang kurang mujur!”
“It-bun heng, kalau dilihat tampangmu seolah olah kau
punya kepercayaan untuk menangkan taruhan ini…….”
“Ooooh…. jadi Shen Toa Cungcu tidak percaya dengan
kejujuranku?”
“Hmm!” Shen Bok Hong mendengus dingin, “Kalau kau
berani main gila dalam pertarungan ini, sekalipun aku ada
maksud membereskan jiwamu, aku rasa saudara itu pun tak
akan menghalangi niatku untuk cabut keluar jiwa anjingmu
itu”
Sambil berkata ia tatap wajah Siauw Ling seolah olah dia
sedang menantikan jawaban dari lawannya.
Siauw Ling tetap membungkam, ia pandang sekejap ke
arah It-bun Han Too kemudian mengangguk.

Disinilah letak kelihayan dari hubungan segi tiga tersebut,
masing-masing pihak sebentar berkawan sebentar
bermusuhan, siapapun berusaha untuk menjatuhkan
musuhnya dengan akal.
It-bun Han Too tertawa terbahak-bahak, dari sakunya dia
ambil keluar tiga biji mata uang sambil digenggam dengan
tangan kanannya, “Kalau memang kalian berdua tidak
mempercayai diriku, baiklah! Terserah siapa yang mau pegang
mata uang ini”
Shen Bok Hong melirik sekejap ke arah Siauw Ling, lalu
menerima ketiga mata uang tersebut, ujarnya, “Aku
mempunyai satu usul, entah bagaimana menurut pendapat
kalian berdua..?”
It-bun Han Too sengaja membungkam, rupanya ia hendak
paksa Siauw Ling buka suara.
Siapa tahu si anak muda itu tetap membungkam seribu
bahasa.
Kedua belah pihak sama-sama membungkam hingga lama
sekali, akhirnya It-bun Han Too tak kuat menahan diri dan
bertanya
“Apa usulmu itu?”
“Menurut pendapatku, kenapa barang-barang ini tidak kita
bagi setelah semua barang yang ada di dalam Istana
Terlarang berhasil kita temukan semua?”
It-bun Han Too segera menggeleng!
“Ketika sepuluh orang tokoh sakti itu memasuki Istana
Terlarang tempo dulu, dalam hati mereka tahu semua bawa
pertarungan ini sangat mempengaruhi mati hidup mereka,
karena itu senjata tajam yang dibawa masuk merupakan
senjata mustika yang paling dahsyat. Menurut apa yang
kuketahui di dalam istana ini paling sedikit ada dua bilah

pedang kenamaan, sedang apakah benda yang lain siapapun
tak ada yang tahu.”
Ia tuding kotak kayu cendana yang ada di atas lantai itu,
kemudian meneruskan, “Ambil contoh saja dengan ketiga
macam benda mustika yang berada di depan mata kita saat
ini, kalau dilihat memang pedang mustika yang amat tajam itu
merupakan benda yang paling berharga tatapi pedang itu
kalah misteriusnya dengan kotak kayu cendana. Karena itu
sulitlah bagi kita untuk memilih benda manakah yang paling
bagus diantara ketiga benda itu, kita harus berpikir secara
mendalam dan matang, sebab setiap benda yang dibawa
masuk ke dalam Istana Terlarang tentu patut disebut sebagai
berharga contohnya tongkat hwesio itu, sepintas lalu benda
itu memang merupakan suatu benda biasa, dimanapun dalam
dunia persilatan gampang untuk mencari tongkat semacam
itu, tetapi setelah benda itu berada dalam Istana Terlarang
maka keadaannya jadi berbeda. Siapa tahu kalau tongkat
hwesio itu justru merupakan benda yang paling berharga
diantara benda-benda mustika yang lain?”
“Pandai sekali orang ini berbicara, begitu menarik dan tepat
alasannya membuat orang jadi sulit untuk membedakan mana
yang sungguhan dan mana yang palsu. ….” batin Siauw Ling .
Tampak It-bun Han Too angkat kepalanya dan tertawa
tergelak, kemudian ujarnya kembali, “Mungkin kalian semua
tak sudi mempercayai perkataanku bukan ….?”
“Ucapan dari It-bun heng mengandung arti yang sangat
mendalam, sulit bagi orang untuk menangkap arti yang
sebenarnya, bila kau bisa menjelaskan lebih jauh tentu saja itu
jauh lebih baik!” sahut Shen Bok Hong.
It-bun Han Too termenung sejenak kemudian berkata.
“Benarkan tujuan kita masuk ke dalam Istana Terlarang
hanya ingin mendapatkan pedang-pedang berharga itu?”

“Kecuali itu, masa kedatangan kita adalah untuk
menyambangi layon para jago lihai tersebut?
It-bun Han Too tersenyum.
“Aku akan mengambil satu contoh yang amat jelas bagi
kalian, misalnya isi kotak cendana tersebut, benda itu adalah
suatu kitab suci yang paling berharga dari negeri Thian tok
bagi pandangan mata para pendeta Buddha, tetapi bagi Shen
Toa Cungcu belum tentu kau suka menerima kitab semacam
itu”
It-bun heng sangat gemar membaca buku tapi aku rasa
kau belum tentu tidak menyukai kitab suci semacam itu!”
It-bun Han Too tersenyum.
“Seandainya tongkat hwesio itu adalah milik seorang
paderi sakti dari kuil Siauw-lim-si, setelah ia tahu bahwa
jiwanya sukar untuk lolos dari Istana Terlarang, maka ia
segera mencatat seluruh ilmu silatnya di atas tongkat itu, aku
ingin tanya mana yang lebih berharga antara ketiga macam
benda itu? Kitab suci dalam kotak? pedang mustika ataukah
tongkat hwesio itu?
“Andaikata demikian keadaannya, tentu saja aku pilih
tongkat hwesio itu!” jawab Shen Bok Hong dengan cepat.
Tapi sayang kitab suci itu belum tentu adalah kitab suci
sungguhan, di atas tongkat hwesio pun belum tentu ada
catatan ilmu silatnya, tolong tanya bagaimana caranya kita
membagi ketiga macam benda mustika itu?…”
Tong Lo Thay-thay yang selama ini membungkam, tiba-tiba
menghela napas panjang, pujinya, It-bun sianseng, kau benarbenar
seorang terpelajar yang lihai, aku merasa sangat kagum
dengan kecerdikanmu!”
“Ooh, Tong Lo Thay-thay terlalu memuji….!”

Sorot matanya beralih kembali ke atas wajah Shen Bok
Hong, lanjutnya.
“Itulah yang dikatakan orang siapa yang merasa menang
belum tentu menang, siapa yang merasa kalah belum tentu
kalah, kesemuanya hanya takdir dan nasiblah yang
menentukan!”
“Kalau kudengar dari pembicaraan It-bun heng barusan,
apakah kau beranggapan bahwa ketiga macam benda mustika
itu lebih baik jangan dibagi dulu?”
“Aku rasa dibagi lebih baik, daripada, setelah barang yang
kita temukan kian lama kian bertambah banyak membuat
mata kita berkunang-kunang dan pikiran jadi bingung untuk
membaginya, kan urusan jadi merepotkan sekali….”
“Baiklah kalau begitu!” ujar Shen Bok Hong, ia segera
menyembunyikan kedua belah tangannya ke belakang
punggung. Kemudian sambil mengacungkan kepalan
kanannya ia berseru.
“Nah, tebaklah berapa jumlah mata uang di dalam
genggamanku?!”
It-bun Han Too menoleh ke arah Siauw Ling dan katanya,
“Lebih baik kau tebak dulu!”
Kali ini Siauw Ling tidak dapat membungkam lagi, terpaksa
ia menjawab dengan suara lantang, “Dua biji”
Hanya itu yang dikatakan, selanjutnya pemuda itu
membungkam kembali seribu bahasa.
“Hmmm! Aku kira kau tak bisa bicara? Tebakan mu tepat
sekali!…” seru Shen Bok Hong . Sambil berkata ia acungkan
tangannya kedepan dan membuka genggamannya, disitu
terlihat dua biji mata uang yang tergenggam.

“Saudara ini telah menangkan pertandingan, maka sesuai
dengan peraturan ia boleh memilih lebih dahulu” kata It-bun
Han Too.
“Setelah ia pilih benda yang disukainya kita baru saling
menebak lagi?”
“Tak usah, aku persilahkan Shen Toa Cungcu memilih
terlebih dahulu, biar aku yang paling belakang!”
“It-bun heng, apakah kau tidak dirugikan dengan cara itu?”
ejek Shen Bok Hong.
“Jago menang belakangan, siapa tahu justru akulah yang
paling beruntung?”
Ketika ia berpaling lagi ke tengah kalangan, terlihatlah
Siauw Ling sedang bungkukkan badan hendak mengambil
pedang pendek itu. Jelas pemuda ini sudah tertarik oleh
pedang yang sangat tajam ini.
Dikala ujung jarinya hampir menyentuh pedang itu tiba-tiba
terdengar Pek-li Peng berteriak, “Ambil kotak kayu itu.”
Siauw Ling tertegun dan segera berpaling ke arah gadis itu,
sorot matanya diliputi penuh tanda tanya.
“Maukah kau turuti permintaanku hanya kali ini saja?” pinta
Pek-li Peng dengan nada setengah merengek. “Ambillah kotak
kayu itu!”
Siauw Ling tidak tega menolak permintaan gadis itu,
apalagi membuat dirinya kecewa. Maka ia pungut kotak kayu
tersebut dan meloncat mundur ke belakang.
Sekarang giliran Shen Bok Hong yang maju ke muka,
sambil melangkah ke depan ujarnya lagi, “It-bun heng
benarkah kau mengalah kepadaku?”
“Perkataan seorang lelaki sejati berat bagaikan bukit, tentu
saja aku benar-benar mengalah kepadamu!”

“Kalau memang It-bun heng berlaku demikian sungkan
terhadap diriku, yaah…. apa boleh buat, biarlah aku tinggalkan
sebuah benda yang terbaik untukmu!”
Sambil berkata kepala kampung dari perkampungan Pek
Hoa Sanceng ini segera mengambil tongkat hwesio yang
tersandar di tepi lantai.
Tongkat itu merupakan senjata biasa yang sering kali
digunakan oleh para pendeta, bukan saja bentuknya kasar
bahkan besar dan berat. Tindakan Shen Bok Hong memilih
benda tersebut sungguh diluar dugaan Siauw Ling sekalian.
It-bun Han Too tersenyum sambil mengambil pedang
pendek yang tersisa ia berseru, “Andaikata isi kotak kayu itu
adalah kitab doa, dan andaikata di atas tongkat hwesio itu
tidak ada catatan ilmu silatnya maka pedang pendek milikku
ini merupakan benda yang paling berharga!”
“Perkataan It-bun Heng memang tidak salah, tapi itu
terserah pada nasib dan rejekinya masing-masing…….” ujar
Shen Bok Hong.
Setelah berhenti sebentar ia berkata lagi, “Sekarang bendabenda
berharga telah kita bagi secara adil, apakah tindakan
kita selanjutnya?”
“Menurut pengamatanku, bila kita lanjutkan perjalanan
menyusuri lorong rahasia ini, maka kemungkinan besar kita
akan temukan alat jebakan yang telah disiapkan oleh ahli
bangunan bertangan sakti Pau It Thian!”
“It-bun Heng, kau bukan sedang menakut-nakuti kami
bukan?”
“Haa…. haa.. haaa…. lalu apa yang harus kita lakukan?
Masa kita harus beristirahat di tempat ini?”
“Sedikitpun tidak salah, aku membutuhkan banyak waktu
untuk memeriksa keadaan di sekitar tempat ini, dengan begitu

mungkin kita dapat menemukan suatu cara yang membuat
kita semua tak usah membuang tenaga terlalu banyak….”
Meskipun dalam hati kecilnya Shen Bok Hong merasa
diliputi pelbagai hal yang mencurigakan hatinya, tapi ia tidak
banyak bertanya, sambil mundur lima langkah ke belakang
bisiknya kepada Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay, “Mari
kita gunakan sedikit waktu ini untuk duduk beristirahat!”
Dalam pada itu setelah mengambil kotak kayu tadi, Siauw
Ling segera mengundurkan diri kesisi Pek-li Peng, bisiknya,
“Peng ji, pedang pendek itu tajam dan luar biasa, buat apa
kotak kayu ini?
Pek-li Peng tersenyum.
“Tidak salah, pedang pendek itu memang tajam dan luar
biasa, tetapi benda yang terdapat di dalam kotak kayu ini
mungkin jauh lebih berharga beberapa kali lipat daripada
pedang pendek itu, coba kau lihat bentuknya yang kecil
mungil dan indah. Bisa kuduga isinya pasti luar biasa sekali.
….”
Dengan seksama Siauw Ling memperhatikan bentuk kotak
kayu itu, sedikitpun tidak salah bentuknya memang indah dan
menarik ia lantas bertanya, “Bagaimana kalau kita buka kotak
ini untuk melihat isinya?”
Pek-li Peng sambut kotak kayu itu dan siap membuka
penutupnya, tapi Siauw Ling segera merampasnya kembali
sambil berbisik, Biar aku saja yang membuka kotak ini!”
Rupanya ia takut kalau di atas penutup kotak itu ada
racunnya, dengan sarung tangan yang dikenakan ia tak takut
terhadap serangan racun, maka pemuda itu memutuskan
untuk membuka sendiri kotak itu.
Pada ujung samping kotak kayu itu terdapat sebuah
gembokan tenaga yang kecil, Siauw Ling segera mematahkan
dengan tenaga dalamnya.

Ketika kotak tersebut dibuka maka tampaklah sejilid kitab
dengan lapisan kulit kambing tertera di dalam kotak itu.
Sampul kitab kulit kambing itu tiada tulisan apapun ini
membuat mereka tidak tahu apa sebenarnya isi kitab tersebut.
Sementara itu baik Shen Bok Hong maupun It-bun Han Too
sama-sama memperhatikan tingkah laku Siauw Ling, mereka
berharap bisa mengetahui apa isi kotak itu.
Perlahan-lahan Siauw Ling ambil kitab kulit kambing tadi
dari dalam kotak, ketika dibuka lembaran buku tersebut maka
yang terbaca hanyalah tulisan2 ular yang terdiri dari huruf
sanksekerta, melihat akan hal itu pemuda kita segera kerutkan
alisnya sambil berbisik, “Peng ji, coba kau lihat tulisan apa
yang tertera di atas kitab ini?…”
Pek-li Peng melirik sekejap isi kitab tersebut kemudian
menggeleng
“Aku juga tidak mengerti!”
Siauw Ling segera tutup kembali kitab itu dan dimasukkan
ke dalam kotak, katanya kemudian, “Rupanya delapan puluh
persen isi kitab tersebut hanya sebangsa kitab doa belaka….”
Haruslah diketahui suasana di dalam gua itu sangat gelap,
semua penerangan hanya tergantung pada sebatang lilin yang
berada disisi tubuh It-bun Han Too untung tenaga dalam yang
dimiliki beberapa orang itu sangat sempurna sekalipun redup
cahaya lilinnya tapi mereka dapat melihat tingkah laku
lawannya dengan jelas.
Terdengar Shen Bok Hong tertawa dingin, ejeknya,
“Dugaan It-bun Heng memang tepat sekali, rupanya isi kotak
kayu itu adalah sebangsa kitab suci yang tak berguna”
“Mungkin juga isinya ilmu silat, siapa tahu?” sambung Itbun
Han Too sambil tersenyum.

“Peng ji, jangan perdulikan mereka, biar mereka tak bisa
menduga keadaan yang sebenarnya” bisik Siauw Ling cepat.
Pek-li Peng menghela napas panjang .
“Aaaai……! akulah yang telah mencelakai diri toako. Tahu
begini mestinya aku suruh kau pilih pedang pendek itu saja!”
“Jangan sedih, itu toh urusan kecil” hibur Siauw Ling sambil
tertawa.
Selama ini meskipun Shen Bok Hong serta It-bun Han Too
pasang telinga dan berusaha curi dengar pembicaraan mereka
berdua, tetapi berhubung Siauw Ling berbicara dengan suara
lirih maka sulit bagi kedua orang jago itu mengetahui
pembicaraan tersebut.
Kim Hoa Hujin yang jarang berbicara, tiba-tiba buka suara
memecahkan kesunyian ujarnya.
“Toa Cungcu, masih ada dua buah kamar yang belum kita
kunjungi, semestinya kita jebol dulu sisa kamar yang lain siapa
tahu kalau di dalam ruangan itu terdapat barang peninggalan
dari sepuluh jago bulim?”
“Perkataan Hujin memang benar….” sahut Shen Bok Hong
sambil mengangguk, dia segera pertinggi suaranya sambil
melanjutkan It-bun Heng bukankah masih ada dua buah
ruangan yang belum kita kunjungi? Bagaimana kalau kita
periksa dulu keadaan disitu?”
It-bun Han Too segera bangkit berdiri.
“Aku telah mendapat bagian pedang mustika yang amat
tajam, baiklah! akan kubongkar pintu2 besi itu,” katanya.
“Bagaimana kalau kubantu usaha It-bun Heng itu” kata
Shen Bok Hong sambil ikut bangkit berdiri.
It-bun Han Too tertawa hambar.

“Aku telah menemukan satu cara baik untuk maju ke
dalam, cuma aku tak tahu apakah cara itu bisa digunakan atau
tidak. Baiklah setelah kita periksa kedua buah kamar ini
barulah cara itu kita coba!”
Dengan langkah lebar ia dekati pintu besi ruangan kedua,
pedang pendeknya bekerja cepat dan gembokan yang
mengunci pintu baja itu segera terpotong jadi beberapa
bagian.
Ketika semua orang melongok ke dalam ruangan,
tampaklah disitupun terdapat sebuah pembaringan terbuat
dari batu, keadaannya persis seperti dalam ruangan-ruangan
lain.
Di atas pembaringan batu itu terdapatlah sebuah botol
porselen yang tinggi dan besar.
Kecuali botol porselen tadi tiada benda lain yang terdapat
di dalam ruangan itu.
Shen Bok Hong menoleh dan memandang sekejap ke arah
Siauw Ling, lalu dengan langkah lebar berjalan masuk ke
dalam ruangan dan ambil botol porselen tad.
Ketika ia melongok ke dalam botol, tampaklah di dalam
botol porselen itu tersimpan seekor ikan kumala yang
bentuknya mirip ikan Lei-hi tapi tubuhnya serba putih
bagaikan salju dengan sepasang mata berwarna merah darah,
bentuknya istimewa sekali.
Kali ini Shen Bok Hong tidak bermaksud mengangkangi
benda itu lagi, sambil membawa keluar botol kumala dengan
ikan kumalanya tersebut katanya, “It-bun Heng, di dalam
botol porselen itu tersimpan seekor ikan kumala, bila benda ini
terhitung sebagai benda peninggalan dalam Istana Terlarang,
maka dalam pembagian nanti botol porselen dengan ikan
kumala ini akan dihitung sebagai satu benda atau dua macam
benda?”

It-bun Han Too menerima botol porselen dengan ikan
kumala itu, setelah diawasi sejenak tiba-tiba wajahnya
nampak berubah hebat, tetapi sesaat kemudian ia telah
menjadi tenang kembali, sahutnya, “Botol porselen itu adalah
tempat untuk menyimpan ikan kumala tersebut, tentu saj
harus dianggap satu macam!”
“Kenapa? berhargakah ikan kumala ini?”
“Aku sendiripun tidak begitu kenal dengan asal usul ikan
kumala ini” kata It-bun Han Too sambil menggeleng, “Shen
Toa Cungcu, bukankah pengetahuanmu sangat luas, mungkin
kau bisa kenali asal usul ikan kumala itu?”
“Walaupun aku tidak tahu asal usul dari ikan kumala
tersebut, tapi aku rasa benda itu pasti sangat berharga, aku
pikir kesepuluh jago itu tak mungkin membawa benda yang
tak berharga masuk ke dalam Istana Terlarang! ….”
“Perkataan Shen Toa Cungcu memang benar, ikan kumala
ini pasti bukan benda sembarangan ….” ia berhenti sejenak,
“Tapi aku rasa itupun tidak lebih hanya benda perhiasan yang
indah”
Selama ini Siauw Ling hanya mengawasi gerak-gerik It-bun
Han Too dari samping, ia dapat melihat sikap tercengang dan
kaget orang itu ketika pertama kali melihat ikan kumala
tersebut, setelah melihat pula sikapnya yang berlagak pilon
saat ini, pemuda kita segera mengetahui bahwa orang itu
pasti sudah mengenali asal usul ikan kumala itu, Cuma ia
sengaja tidak mau mengucapkannya keluar.
Meskipun demikian Siauw Ling pun tetap pura-pura
berlagak tak tahu.
Sementara itu terdengar Shen Bok Hong telah berlata, “Itbun
Heng, untuk sementara waktu simpanlah lebih dulu botol
porselen dengan ikan kumala ini”

Sambil berkata ia angsurkan botol besar itu ke tangan Itbun
Han Too.
Tetapi jago tua yang licik dan cerdik ini tidak mau
menerima, malah ia segera berkata “
“Masih ada sebuah pintu baja yang belum kubuka, biar
kujebolkan dulu pintu ini”
Dengan langkah lebar ia segera berjalan menuju ke pintu
besi yang terakhir.
Melihat tindakan tersebut Kim Hoa Hujin segera berkata,
“Toa Cungcu, kalau kau memang tak mau membawa botol itu,
bagaimana kalah serahkan saja kepadaku?”
Shen Bok Hong berpikir sebentar, lalu mengangguk.
“Baik!” dia angsurkan botol tadi ke tangan perempuan itu.
Sementara Kim Hoa Hujin menerima botol porselen tadi. Itbun
Han Too telah berhasil membuka pintu baja yang terakhir.
Di atas pembaringan batu dalam ruangan tersebut,
terdapatlah, sebuah hioloo kuno yang kecil dan berwarna
hitam pekat, tingginya satu depa dengan lebar tidak sampai
lima cun.
Kali ini Shen Bok Hong tidak berbuat masuk ke dalam
ruangan lagi untuk mengambil hioloo kuno itu.
It-bun Han Too memandang sekejap hioloo kuno dengan
tutupnya dari emas diantaranya itu karena tak tau apa isi
hioloo tadi maka sambil berpaling ke arah Siauw Ling katanya,
“Bagaimana kalau hioloo kuno itu kau yang bawa?”
Siauw Ling termenung sebentar lalu kemudian melangkah
masuk ke dalam ruangan membopong hioloo kuno itu, terasa
hiooloo tersebut berat sekali dan entah apa isinya?

Tiba-tiba Shen Bok Hong menggerakkan tangan kanannya
berusaha menyambar penutup hioloo tersebut, tapi dengan
tangkas pemuda kita berhasil menghindarinya.
Rupanya gembong iblis dari perkampungan Pek Hoa
Sanceng ini, walaupun tidak ingin mengambil hioloo kuno itu,
tapi rasa ingin tahunya belum lenyap dari benak jago ini, dia
ingin melihat apakah gerangan isi hioloo kuno itu.
Terdengar It-bun Han Too mendehem ringan dan berkata,
“Seandainya di dalam hioloo itu masih tersimpan suatu benda
yang bisa dianggap benda yang tersendiri, ada baiknya bendabenda
itu kita bagi rata saja, daripada merepotkan sekali”
Siauw Ling tahu apa yang dimaksudkan, maka pemuda itu
segera menghentikan langkah kakinya.
It-bun Han Too segera mengulurkan tangan kanannya dan
membuka tutup hioloo tersebut, tampak isi dari hioloo tadi
ternyata adalah serbuk halus berwarna putih yang
menebarkan bau harum semerbak.
It-bun Han Too yang banyak pengetahuan lama sekali
mengamat-amati bubuk putih di dalam hioloo itu, ia tak
mengerti juga apa sebenarnya isi dari hioloo tersebut,
akhirnya sambil menutup kembali penutup hioloo itu ujarnya.
“ Rupanya hioloo kuno ini hanya bisa dianggap sebagai
semacam benda berharga saja!”
Bila Shen Bok Hong, Siauw Ling dan It-bun Han Too
ditandingkan. Maka ilmu silat dari orang she It-bun lah yang
paling lemah, tetapi diantara jago yang lain kecerdasan serta
pengetahuannya melebihi yang lain. Oleh sebab itu ia tetap
merupakan pucuk pimpinan diantara para jago tersebut.
Sementara itu Shen Bok Hong telah melotot sekejap ke
arah Siauw Ling dengan pandangan gusar.
Kiranya ia merasa mendongkol karena Siauw Ling tidak
memperbolehkan dia melihat isi hioloo kuno itu, sebaliknya

membiarkan It-bun Han Too memeriksanya. Kejadian ini
sangat menyinggung perasaan jago dari perkampungan Pek
Hoa Sanceng ini, dia ingin sekali menghajar lawannya sampai
mati.
Tetapi karena ilmu silat yang dimiliki Siauw Ling sangat
lihai, ditambah topeng kulit manusia yang dikenakan membuat
dia sangsi, maka untuk beberapa lamanya Shen Bok Hong
tidak berani melakukan tindakan secara gegabah.
Sementara It-bun Han Too telah melirik sekejap ke arah
Shen Bok Hong sambil berkata, “Sayang seribu kali sayang,
benda mustika yang berhasil kita temukan baru dua macam,
kalau bertambah sebuah lagi tentu kita dapat membaginya
sekarang juga.”
Sambil menahan rasa gusar yang berkecamuk di dalam
hatinya Shen Bok Hong tertawa hambar.
“Sekarang keenam ruangan batu itu sudah kita buka
semua, It-bun Heng tak usah jual lagak lagi, seharusnya kita
selidiki bagian dalam dari Istana ini”
“Bila kita masuk ke ruang yang lebih dalam itu berarti kita
segera akan membuka rahasia Istana Terlarang yang telah
terselubung selama puluhan tahun lamanya, tanpa terasa
keadaan kitapun kian lama kian bertambah bahaya….”
“It-bun Heng, kalau kau merasa sayang untuk
mengorbankan jiwamu, lebih baik sekarang juga kau
tinggalkan Istana Terlarang.
“Bagaimana maksud serta pendapatmu?” tanya It-bun Han
Too sambil menoleh ke arah Siauw Ling. ”Kita lanjutkan
penyelidikan ini atau segera mengundurkan diri?”
“Tentu saja lanjutkan penyelidikan ke dalam!” jawab si
anak muda singkat.
Ia sengaja memperserak suaranya agar Shen Bok Hong
tidak mengenali suaranya.

“Saudara, kalau kau memang ada maksud untuk lanjutkan
penyelidikan ini ke dalam, maka seharusnya penuhi dahulu
janjimu!”
Mula-mula Siauw Ling tertegun, kemudian ia mengiakan
dan meletakkan hioloo hitam itu ke atas tanah, kemudian di
atas tubuh It-bun Han Too dia tepuk dua kali.
Menyaksikan hal itu Shen Bok Hong segera tertawa
terbahak-bahak.
“Haaah….haah…. rupanya It-bun Heng telah tertotok jalan
darahnya. Tidak aneh kalau kau selalu memusuhi diriku
seorang!”
“Hmmm! Saudara ini sih masih boleh kupuji sebagai
seorang lelaki sejati yang selalu pegang janji,“ kata It-bun Han
Too sambil mendengus dingin, “andaikata Shen Toa Cungcu
yang menotok jalan darahku, mungkin aku tak akan
dibebaskan dengan begini gampang!”
Shen Bok Hong tertawa dingin, ia tidak berbicara lagi.
Setelah jalan darah anehnya dibebaskan It-bun Han Too
merasa hatinya tambah lega, dia segera bertindak mendekati
dinding tebing yang menghadang jalan pergi mereka. Lalu
tangannya mulai mengetuk di sekitar dinding tersebut.
Kiranya ketika perjalanan diteruskan ke dalam, mereka
telah menemui jalan buntu, sebuah dinding tebing yang lebar
telah menghalangi jalan pergi mereka semua.
Terdengar It-bun Han Too tertawa terbahak-bahak dan
berkata, “Haaah…. haaaah…. haaah…. ternyata begini,
sedikitpun tidak meleset dari dugaanku semula:….”
Sambil putar pedang pendeknya ia tusuk dinding tebing
tersebut secepat kilat, kemudian sambil loncat mundur ke
belakang ia jatuhkan diri bertiarap.

Baik Shen Bok Hong maupun Siauw Ling mereka semua
menaruh perasaan was2 yang tebal atas diri It-bun Han Too,
menyaksikan orang itu jatuhkan diri bertiarap, tanpa banyak
bicara merekapun segera ikut menjatuhkan diri bertiarap di
atas tanah.
Terdengar suara gemuruh yang amat nyaring bergeletar
memecahkan kesunyian, mendadak sebagian dari dinding batu
itu roboh ke atas tanah, diikuti desingan senjata rahasia dan
anak panah berhamburan keempat penjuru dengan kecepatan
laksana sambaran kilat.
Untung beberapa orang itu telah bersiap sedia dengan
menjatuhkan diri bertiarap di atas tanah, seluruh desingan
senjata rahasia dan anak panah itu menyambar lewat di atas
kepala mereka dan berhamburan jauh di belakang tubuh
mereka.
Setelah serangan senjata rahasia, suasana pulih kembali
dalam kesunyian yang mencekam seluruh ruangan.
Sambil bangkit berdiri ujar It-bun Han Too dengan suara
perlahan, “Sebenarnya di atas dinding batu ini terdapat
sebuah pintu rahasia dan diluar dinding terdapat sebuah
tombol rahasia yang menghubungkan alat penggerak dengan
pintu tersebut, cuma sayang tombol tadi letaknya amat sulit
dicari, daripada buang tempo dengan percuma, aku telah
meminjam ketajaman pedang ini untuk memotong rantai yang
menghubungkan pintu dengan alat penggeraknya, sekarang
rahasia tersebut akan hilang manfaatnya”
Shen Bok Hong serta Siauw Ling membungkam dan tidak
bicara, tapi dalam hati kecil mereka merasa amat kagum
dengan kecerdikan orang, pikirnya, “Pengetahuan serta
kecerdasan orang ini sangat mengagumkan, sulit untuk
menemukan manusia kedua macam dia di kolong langit”
Tidak menunggu kedua orang itu buka suara, sambil
tertawa hambar It-bun Han Too berkata kembali, “Sejarang

ruang batu telah terbuka, entah apakah diantara kita semua
yang bersedia untuk bertindak sebagai pembuka jalan?”
“Kami semua toh tidak paham terhadap letak alat-alat
rahasia tersebut, lebih baik It-bun Heng saja yang menjadi
pembuka jalan bagi kami” sahut Shen Bok Hong dengan
cepat.
“Tidak, itu kurang cocok! Lebih baik satu diantara kalian
saja yang bertindak sebagai pelopor pembuka jalan”
“Bagaimana kalau aku yang membawa jalan?” sela Tong Lo
Thay-thay mendadak sambil majukan diri ke depan.
Tidak menantikan jawaban lagi sambil membawa tongkat
Sian Ciang dengan langkah lebar ia masuk lebih dahulu ke
dalam ruangan itu.
Shen Bok Hong, Kim Hoa Hujin, Siauw Ling, Pek-li Peng
serta It-bun Han Too segera menyusul dibelakangnya.
Dibalik pintu batu tadi merupakan sebuah lorong yang
sempit dan panjang. Lebarnya hanya mencapai dua depa dan
paling banter hanya cukup memuat dua orang belaka.
Sambil melangkah masuk ke dalam lorong itu, terdengar Itbun
Han Too berkata lagi, “Andaikata Ahli Bangunan
bertangan sakti Pau It Thian telah mengatur alat jebakan yang
mengerikan dibalik lorong sempit ini, bisa kalian bayangkan
apakah kita semua dapat meloloskan diri dari jebakan
mautnya itu…?”
Sengaja ucapan itu diutarakan dengan suara tinggi dan
keras, membuat para jago yang mendengar perkataan itu jadi
merinding dan berdiri semua bulu kuduknya.
Suasana di dalam lorong itu amat gelap lagi lembab,
dengan daya pandang Tong Lo Thay-thay ia hanya mampu
melihat pemandangan sekitar tiga depa di depan matanya.

Kurang lebih setelah mereka melalui lorong sempit itu
sejauh dua puluh tombak lebih, akhirnya tibalah beberapa
orang itu di ujung lorong. Dihadapan mereka terbentanglah
suatu daerah yang lebih luas dan lebar.
Terasa hawa dingin berhembus lewat udara terasa segar
nan nyaman, jauh berbeda dengan udara lembab dan sesak
selama masih berada dalam lorong sempit tadi.
“Oooh..! rupanya tempat ini berhubungan dengan dunia
luar….!” seru Shen Bok Hong cepat, “Sejak dulu tahu begini,
aku tak usah payah mencari letak pintu masuk istana
tersebut!”
“Hmm! Lubang hawa itu tersedia setelah melalui beberapa
puluh tikungan dan lekukan” sambung It-bun Han Too cepat,
“Kalau Pau It Thian sengaja membuat lobang hawa yang
berhubungan langsung dengan dunia luar, ia tak pantas
dinamakan Ahli Bangunan bertangan sakti.”
Shen Bok Hong segera putar matanya memperhatikan
sekejap sekeliling tempat itu, sedikitpun tidak salah disana ia
tak jumpai cahaya dari luar, bahkan pemandangan di sekitar
tempat itupun tak dipahami olehnya.
It-bun Han Too mendehem berat ujarnya lagi. “Aku
semuanya membawa dua batang lilin, tadi kita telah habiskan
sebatang dan kini tinggal sisa sebatang lagi, bila lilin inipun
terbakar habis, maka kita harus meraba di tengah kegelapan “
Sembari berkata dia ambil korek dan memasang lilin
tersebut.
Di bawah sorot cahaya lilin yang terang benderang,
pemandangan di sekeliling tempat itu segera dapat terlihat
dengan jelas.
Pada ujung sebelah Timur terdapatlah sebuah ruang besar
dengan pintu rangkap, sedang tiga belah penjuru yang lain
merupakan dinding batu yang tinggi dan datar.

“Tiga penjuru merupakan dinding batu, rupanya kita hanya
bisa meninjau ruang tengah itu saja?” gumam Shen Bok Hong.
“Tidak salah, hanya ruang tengah itu saja yang bisa kita
tuju, harap kalian semua suka berhati hati”
Dengan tangan kiri membawa lilin, tangan kanan mencekal
pedang dia segera melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
Shen Bok Hong bertindak cepat, dengan langkah lebar dia
mengikuti di belakang jago lihai tadi.
Sebenarnya pintu depan ruang besar itu terpentang lebar,
tetapi ketika It-bun Han Too sekalian berjalan mendekati
ruangan tersebut, tiba-tiba pintu yang terbentang lebar tadi
menutup dengan sendirinya.
Shen Bok Hong segera menghentikan langkanya sambil
berseru, “Aaaah! Diluar pintu ruangan inipun telah dipasang
alat rahasia….! Sungguh luar biasa….”
It-bun Han Too berpaling dan tertawa.
“Sedikitpun tidak salah, seharusnya sejak tadi Shen heng
dapat menduga sampai disitu. ….”
Ia berhenti sebentar lalu sambungnya kembali.
“Andaikata Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It Thian
memasang sebuah alat rahasia jebakan di atas dinding langitlangit
tepat di atas batok kepala kita, maka aku pikir sulitlah
bagi kita semua untuk meloloskan diri dalam keadaan hidup
dari wilayah seluas dua tombak persegi ini….”
Mendengar perkataan itu tanpa sadar Shen Bok Hong serta
Siauw Ling sama-sama angkat kepala dan memandang
sekejap dinding di atas kepala mereka.
“Pintu ruangan telah tertutup, satu satunya jalan kehidupan
hanyalah lorong sempit tadi” pikir Siauw Ling dalam hati, “Tapi
lorong tersebut bukan saja sempit, dan kecil bahkan gelap

susah untuk memperhatikan keadaan di sekitarnya, tempat itu
justru merupakan daerah yang paling berbahaya”
Shen Bok Hong pun telah berkata sambil mendengus
dingin, “Hmm! Sekarang kita tergantung alat rahasia yang
telah dipasang Pau It Thian di atas kepala kita?”
“Anggap saja benda itu adalah sejenis racun beracun,
apakah Shen Toa Cungcu merasa yakin punya keselamatan
untuk meloloskan diri?”
“Kalau aku tak mampu meloloskan diri aku percaya kamu
semua pun tak ada yang berhasil lolos dalam keadaan hidup”
It-bun Han Too tertawa hambar.
“Kalau kami semua yang mati itu sih lumrah. Tapi
bagaimana kalau Shen Toa Cungcu yang menemui ajalnya?
Masa kau rela?
Shen Bok Hong tahu bahwa perkataan itu penuh
mengandung nada sindiran yang pedas tapi Shen Bok Hong
tetap menahan sabar dan tidak banyak bicara lagi. Meskipun
demikian ia telah menghentikan langkahnya dan diam-diam
menghimpun tenaga bersiap siaga, dengan seksama diawasi
terus tingkah laku dari orang she It-bun itu.
Siauw Ling pun mengawasi pula gerak-gerik Shen Bok
Hong dengan seksama, sebab dalam keadaan begini ia harus
melindungi keselamatan dari It-bun Han Too, walaupun orang
itu bukan musuh pun bukan sahabat tapi dalam posisi yang
sangat berbahaya ini justru dialah yang mempertahankan
keseimbangan keadaan, dengan pengalaman serta
pengetahuannya yang luas ditambah kecerdikan yang luar
biasa, seringkali kelicikan serta rencana busuk yang disusun
Shen Bok Hong berhasil ia bongkar.
Demikianlah, dengan langkah lambat It-bun Han Too
berjalan ke depan ruangan itu, sambil angkat tinggi2 lilin itu ia
berpaling ke belakang, katanya, “Harap kalian berdua suka

bersama diriku masuk ke dalam ruangan ini seandainya terjadi
sesuatu yang aneh kita bisa menanggulanginya secara
bersama”
“Bagaimana pendapatmu?” tanya Shen Bok Hong sambil
berpaling ke arah Siauw Ling.
Si anak muda itu mengangguk, ia serahkan hioloo hitam
tadi ke tangan Pek-li Peng kemudian melangkah maju ke
depan, dengan gerak-gerik ia menyatakan pendapatnya
biarpun mulut tetap membungkam.
Shen Bok Hong mengerutkan dahinya, kepada Kim Hoa
Hujin serta Tong Lo Thay-thay segera pesannya, “Kalian
berdua baik baik berjaga disini!”
Dengan langkah lebar diapun mendekati pintu ruangan.
“Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It Thian memang lihai,
dan semua perhitungannya memang sangat tepat, tapi ia
telah melupakan akan sesuatu!!..”
“Melupakan pedang pendek yang tajamnya luar biasa ini
“sahut It-bun Han Too sambil acungkan pedang pendeknya, “
Ia tidak menyangka kalau dirinya bakal mati di ujung pedang
pendek ini, seandainya sesaat sebelum ajal menghabiskan
riwayatnya ia sembunyikan dulu pedang pendek ini, maka
tanpa bantuan senjata tersebut kita akan pusing kepala dan
menemui jalan buntu untuk menghancurkan alat-alat
rahasianya yang ampuh dan kuat itu….”
“Dan yang lebih hebat lagi ternyata pedang pendek itu
justru terjatuh ke tangan It-bun Heng, seandainya pedang itu
jatuh ke tanganku maka tanpa bantuan senjata tajam belum
tentu It-bun Heng berhasil menerjang masuk Istana Terlarang
ini secara begitu mudah….”
Bicara sampai disitu, seakan akan ia teringat akan sesuatu
urusan, yang amat penting segera serunya kembali, “Oooh….

barusan aku sudah teringat akan satu urusan, harap It-bun
Heng suka menjelaskan!”
“Apa yang hendak Shen Toa Cungcu tanyakan?”
“Bukankah kesepuluh tokoh sakti yang terkurung di dalam
Istana Terlarang memiliki senjata mustika yang begitu tajam,
mengapa mereka tidak berusaha untuk menjebol dinding
untuk keluar dari tempat ini, tapi malahan mandah saja
terkurung mati di dalam Istana Terlarang?”
“Benar, masalah ini sulit untuk dipecahkan,….” pikir Siauw
Ling dalam hati.
“Bagus sekali pertanyaanmu itu!” seru It-bun Han Too
sambil tersenyum,”meskipun pedang tajam ini tak dapat
menggali dinding bukit setebal ratusan tombak, semestinya
bisa digunakan untuk membuka pintu untuk keluar, mengapa
mereka mati terkurung disini?”
“Kesepuluh tokoh sakti yang terkurung di tempat ini ratarata
merupakan jago-jago amat cerdik, sekalipun mereka tidak
paham dengan ilmu bangunan atau alat rahasia, semestinya
mereka gunakan ketajaman pedang itu untuk menerjang
keluar dari tempat ini, mengapa mereka tidak lakukan hal itu?”
“Pertanyaan dari Toa Cungcu ini telah menyulitkan diriku,
sekarang aku memang tidak sanggup menjawab, tapi aku
memang tak sanggup menjawab, tapi aku rasa dibalik
kejadian itu pastilah ada sebab sebabnya, mungkin juga dari
dulu Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It Thian telah
menduga akan hal itu!”
“Hmmm..! aku mengira segala sesuatunya It-bun Heng
telah mengetahui, rupanya kau sendiripun tidak paham “ ejek
Shen Bok Hong sambil tertawa dingin.
“Setelah masuk ke dalam ruangan ini, mungkin aku bisa
mendapatkan jawabannya!”

Dengan lilin di tangan ia periksa pintu besar yang tertutup
rapat itu dengan seksama, kemudian ia letakkan itu di atas
tanah dan ia sendiri meloncat mundur ke belakang.
It-bun Han Too mengundurkan diri terus sehingga
mencapai tempatnya semula. Disitu ia baru menghentikan
langkahnya. Dengan cepat Shen Bok Hong serta Siauw Ling
pun mundur ke tempat semula
Kraaak…..! Kraaak…..! Kraaak…..! Diiringi denyitan nyaring,
pintu ruangan yang semula tertutup rapat itu, perlahan lahan
terbentang lebar ke arah samping.
Sekarang Shen Bok Hong serta Siauw Ling baru memahami
maksud It-bun Han Too meletakkan lilin ke atas tanah tadi.
Rupanya setelah pintu ruangan itu terpentang lebar,
dengan meminjam sorot cahaya lilin yang berada ditepi pintu
tadi, pemandangan diseluruh isi ruangan tersebut dapat
terlihat dengan amat jelas.
Ruangan dalam lambung bukit itu sangat luas, lebar dan
dalam. Cahaya pancaran lilin hanya sempat menyoroti sebuah
meja yang terbuat dari batu, di atas meja batu tadi terletaklah
pelbagai macam senjata tajma, senjata itu diatur sangat rapi
dan rajin hal ini membuktikan bahwa senjata2 tersebut
diletakkan dengan hati yang tenang dan sama sekali tidak
diliputi rasa gugup atau takut.
Dalam pandangan sekilas pandangan Siauw Ling dapat
melihat sebuah seruling kumala putih serta sebilah pedang
panjang diletakkan secara berdampingan, dalam hati segera
pikirnya, “Benarkah seruling kumala itu merupakan barang
peninggalan dari Raja seruling Thio Hong?”
Sementara itu terdengar Shen Bok Hong telah berkata,
“Ooooh…..! Sekarang aku sudah mengerti, rupanya di atas
tanah antara kita dengan pintu batu itu terpasang sebuah alat
rahasia yang mengatur buka tutupnya pintu ruangan itu,
sedemikian tajamnya alat pengontrol tadi sehingga membuat

tiap injakan kaki manusia di atas alat rahasia tersebut segera
menggerakkan pula pintu tadi secara otomatis:…. buka begitu
It-bun Heng?”
“Benar! Alat rahasia ini sudah dibangun sejak puluhan
tahun berselang, tapi hingga kini alat otomatis tersebut masih
dapat berjalan sebagaimana mestinya, ini menunjukkan
betapa dahsyat dan hebatnya arsitek pembangunan tempat
ini!”
“Antara tempat ini dengan pintu ruangan itu hanya terpaut
satu tombak belaka, bagaimana kalau kita loncat masuk ke
dalam ruangan itu tanpa menginjak permukaan tanah di
sekitar tempat ini? Dengan demikian bukankah alat rahasia itu
tidak sampai kita pijak?”
“Caramu memang bagus, tapi aku ingin bertanya,
andaikata setelah kita masuk ke dalam ruangan dan pintu itu
secara tiba-tiba menutup sendiri tanpa bisa kita buka kembali,
apa yang hendak kau lakukn pada waktu itu?”
Shen Bok Hong jadi tertegun, untuk beberapa saat lamanya
ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun, sesaat
kemudian baru ia berkata, “Tentang soal ini…. bila aku tahu
rahasianya, mungkin sejak dulu kala It-bun Han Too heng
sudah terluka atau menemui ajalnya di ujung telapakku”
“Shen Toa Cungcu, lebih baik batalkan saja niatmu untuk
membinasakan diriku…..” seru It-bun Han Too sambil tertawa
hambar.
Shen Bok Hong tahu bahwa ia sudah terlanjur berbicara,
buru-buru sambungnya, “Tentu saja, sebelum keluar dari
Istana Terlarang, aku orang she Shen tak mungkin
membinasakan dirimu”
It-bun Han T oo tersenyum, ia tidak memperdulikan
gembong iblis itu lagi, hanya katanya, Sambil berkata ia maju
ke arah depan.

Baru saja berjalan empat lima langkah, mendadak pintu
ruangan itu secara otomatis menutup kembali.
It-bun Han Too segera berjongkok ke atas tanah, pedang
pendeknya bergerak kian kemari, rupanya ia hendak
menggunakan ketajaman senjata itu untuk menggali lapisan
tanah berbatu itu serta menemukan letak alat pengontrol yang
mengendalikan gerakan tutup buka pintu ruangan itu….
Siapa tahu baru saja dua tusukan, ia telah menghentikan
gerakannya itu dan loncat mundur ke tempat semula.
“It-bun Heng, apakah permukaan tanah berbatu itu terlalu
keras dan kau takut pedang mustikamu rusak?” seru Shen Bok
Hong cepat.
Air muka It-bun Han Too berubah amat serius, ia tidak
memperdulikan sindiran dari gembong iblis itu cuma
menggeleng serunya, “Sungguh lihai….. Sungguh lihai…..”
Dengan cepat Shen Bok Hong dapat pula merasakan
seriusnya persoalan itu, dengan suara berat ia bertanya, “Itbun
Heng apa yang tidak beres?”
“Kelihaian dari Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It Thian
sungguh luar biasa sekali, aku merasa takluk dan tak mampu
menandingi dirinya”
“Sebenarnya apa yang telah terjadi?” sela Kim Hoa Hujin
dengan nada gusar, “Hey orang she It-bun lebih baik kau
jangan main gila dihadapan kami semua”
“It-bun Heng, aku hendak memberitahukan satu hal
kepadamu” sambung Shen Bok Hong pula, “Seandainya kau
sampai bentrok dengan Kim Hoa Hujin atau Tong Lo Thaythay
sehingga menjadi pertarungan, itu bukan urusanku lho….
aku tak mau ambil perduli!”
“Baiklah beritahu kepada kalianpun tak menjadi soal, agar
kalianpun ikut merasakan bahwa keadaan kalian semua pada
saat ini teramat berbahaya….”

Ia berhenti sejenak, kemudian sambungnya, “Tepat di
bawah permukaan ruangan ini merupakan aliran sungai bawah
tanah yang sangat deras, sekali salah bertindak maka air bah
akan menyapu habis seluruh isi ruangan ini, dan kita semua
bakal mati tenggelam dalam Istana Terlarang”
“Sungguhkah itu!“ seru Shen Bok Hong dengan air muka
berubah hebat.
“Kalau kau tidak percaya, silahkan dengarkan suara di
bawah tanah ini”
Shen Bok Hong segera pasang telinga baik-baik, sedikitpun
tidak salah dari bawah permukaan ia dengar suara aliran air
yang amat deras berkumandang bagaikan suara guntur,
hatinya seketika jadi tercekat dan bulu romanya pada bangun
berdiri.
It-bun Han Too perhatikan kembali sekeliling tempat itu,
lalu berkata, “Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It Thian
sanggup mendirikan Istana Terlarang di atas aliran air bawah
tanah yang begitu deras, perhitungannya yang begitu
sempurna dan tepat benar-benar mengagumkan sekali…..”
Ia berhenti sejenak, lalu sambungnya, “Bila dugaanku tidak
keliru, di dalam Istana Terlarang kemungkinan besar terdapat
pintu rahasia yang berhubungan langsung dengan sungai di
bawah tanah, bila tindakan kita terlalu gegabah sehingga
menyentuh pintu rahasia tersebut, maka air bah akan
memenuhi seluruh ruangan di tempat ini, sedang kita semua
akan mati konyol!”
“Jadi maksud It-bun Heng, kau memiliki sebilah pedang
mustika yang amat tajam, namun senjata itu tak dapat
digunakan untuk membobol bangunan Istana Terlarang?”
“Benar! Andai kata watak Pau It Thian lebih kejam dan licik
daripada apa yang kubayangkan semula, mungkin di suatu
tempat yang penting ia telah memasang pula sebuah alat
rahasia yang langsung berhubungan dengan pintu air, asal

kita sentuh alat rahasia tadi, pintu air itu secara otomatis akan
terbuka dan air bah akan memenuhi tempat ini”
“Manusia she It-bun, semakin berbicara kau semakin
menakut-nakuti kami semua, seakan-akan tiap jengkal tanah
dalam Istana Terlarang adalah jebakan maut, setiap langkah
merupakan ancaman kematian, bila demikian adanya
mengapa kau tidak mengundurkan diri saja dari tempat ini?
Omel Kim Hoa Hujin
“Bila dalam keadaan begini ada yang mohon pamit untuk
keluar dari Istana Terlarang, aku pasti tak akan menghalangi
keinginannya itu…..”
“Bagaimana dengan It-bun Heng? Apakah kau juga akan
mengundurkan diri dari tempat ini?” sela Shen Bok Hong.
“Bagi diriku kalau tidak masuk ke gua macan darimana bisa
mendapatkan anak harimau? Setelah berada di dalam Istana
Terlarang tentu saja aku akan mengadu nasib, soal kematian
atau maut sudah tak terpikirkan sama sekali dari benakku”
Berada dalam keadaan begini, kepala kampung
perkampungan Pek Hoa Sanceng yang selalu pandang tinggi
diri sendiri tak urung tunduk kepala juga, ujarnya kemudian,
“Baik! Kami semua akan mengikuti It-bun Heng untuk
mengadu untung….”
“Haaah…. haaah…. haaah.. Toa Cungcu mengapa secara
tiba-tiba kau bersikap sungkan kepadaku?” sindir It-bun Han
Too sambil tertawa tergelak.
“Seorang lelaki sejati dapat bertindak menurut keadaan,
begitu barulah tepat dikatakan sebagai orang yang mengerti
gelagat!”
“Sekarang, kita harus memikirkan bagaimana caranya
memasuki ruangan itu, semula aku bermaksud merusak alat
rahasia yang mengendalikan pintu itu, tapi sekarang terpaksa
aku harus batalkan niatku itu!”

“Biar kucoba!” ujar Shen Bok Hong sambil tarik napas
panjang dan melangkah maju ke depan, Dengan tenaga
dalamnya yang sempurna, sekali tarik napas tubuhnya
bagaikan burung walet terbang ke angkasa segera melayang
ke arah pintu ruangan tersebut. Kali ini pintu itu benar-benar
menutup kembali.
Setibanya di depan pintu Shen Bok Hong tidak berani
masuk ke dalam, ia hanya melongok saja sekejap ke arah
ruangan itu, kemudian berseru, “Saudara2 sekalian mari kesini
semua!”
Mendengar perkataan itu para jago segera mengepos
tenaga dan sama-sama mendekati tempat itu.
Pada dasarnya beberapa orang itu adalah jago kelas satu,
dengan gerakan tubuh yang enteng mereka segera melayang
ke depan dan hinggap di depan pintu.
Setibanya dimuka pintu ruangan, It-bun Han Too ambil
kembali lilinnya yang ada di tanah kemudian berseru, “Mari
ikuti diriku!”
Sambil berkata ia berjalan lebih dulu menuju ke dalam.
Di bawah sorot cahaya lilin, tampaklah luas ruangan itu
mencapai empat tombak, lebarnya dua tombak empat lima
depa, bentuknya sempit tapi memanjang, kecuali meja batu
berbentuk panjang dimulut masuk itu tiada perabot lain yang
kelihatan.
Shen Bok Hong mendehem ringan, ujarnya, “Apa yang
telah terjadi? Masa di dalam ruangan inipun hanya terdapat
meja panjang dengan isi senjata tajam belaka?”
It-bun Han Too membungkam dalam seribu bahasa.
Dengan tangan kiri membawa lilin ia berjalan mengikuti
sepanjang dinding ruangan. Ia berharap dari situ dapat
temukan pintu lain.

Siauw Ling pada saat ini hanya memikirkan janji Gak Siau
Cha dan Giok Siau long-kun adalah keturunan dari Raja
Seruling Thio Hong, maka tujuannya memasuki Istana
Terlarang saat itu adalah mencari tahu soal Raja Seruling
tersebut.
Berpikir demikian tangannya tanpa terasa telah menyambar
seruling kumala putih itu.
Di saat pemuda itu hampir menyentuh seruling tadi, Shen
Bok Hong segera bekerja cepat membacok pergelangan kanan
Siauw Ling dengan telapak kanannya.
“Saudara lebih baik jangan kau sentuh setiap benda yang
berada di dalam ruangan ini!” serunya.
Siauw Ling menekan pergelangan kanannya ke bawah dan
secepatnya meloncat mundur ke belakang untuk
menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Serangan yang dilancarkan Shen Bok Hong cepat laksana
kilat, Siauw Ling yang pusatkan perhatiannya untuk
menghadapi serangan itu jadi lupa bahwa dibelakang
tubuhnya adalah pintu batu …. Blaam! Punggungnya segera
menumbuk di atas dinding tersebut.
Setelah berhasil melepaskan diri dari ancaman Siauw Ling
putar telapaknya siap melancarkan serangan balasan, tetapi
sebelum tindakan tersebut dilakukan tiba-tiba terdengarlah
suara gemerincing yang amat nyaring berkumandang
memecahkan kesunyian.
Perubahan yang sama sekali berada diluar dugaan ini
mengejutkan setiap orang yang berada di dalam ruangan itu,
membuat Siauw Ling serta Shen Bok Hong lupa pula terhadap
bentrokan yang baru saja berlangsung, mereka bersiap sedia
untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak
diinginkan….”

Dari balik dinding sebelah kiri mendadak terbuka sebuah
pintu rahasia, dari balik pintu tadi segera muncullah sebuah
kereta beroda dimana kereta itu perlahan lahan bergerak
menuju ke tengah ruangan.
Di atas kereta beroda duduk seorang padri tua berjubah
abu-abu dan memejamkan matanya, pada dada paderi itu
tergantung sebuah tasbeh terbuat dari kayu cendana.
“Siapa?” bentak Shen Bok Hong sambil ayunkan telapak
kanannya siap melancarkan serangan.
“Toa Cungcu, jangan bertindak gegabah!” buru-buru It-bun
Han Too berseru menghalangi niat orang.
“Kenapa?”
“Istana Terlarang sudah puluhan tahun lamanya tertutup,
tidak mungkin ada manusia hidup dalam istana ini”
“Tapi hwesio itu tidak mirip orang mati, seandainya ia telah
menemui ajalnya maka setelah tubuhnya diperam selama
puluhan tahun dalam Istana Terlarang , sekalipun tenaga
dalam yang mereka miliki bagaimana sempurnapun
seharusnya kulit dan daging mereka telah lapuk, yang tersisa
hanya tulang-belulangnnya belaka”
“Inilah suatu rahasia yang sukar dipecahkan, sebelum
kutemukan duduk perkara yang sebenarnya sulit bagiku
menjawab pertanyaan Shen Toa Cungcu”
Diluaran meskipun Shen Bok Hong ngotot melakukan
pembantahan, tapi dalam hatinya diapun sudah merasa bahwa
keadaan dari padri itu sedikit tidak beres, ditinjau dari kulit
serta dagingnya yang kaku bagaikan patung, jelaslah sudah
bahwa hwesio itu sudah lama berubah jadi mayat.
Tampaklah kereta beroda itu berhenti tepat ditengah
ruangan, sementara hwesio tua di atas kereta tersebut tetap
duduk disitu sama sekali tak berkutik.

Dengan pedang pendek melindungi badan perlahan-lahan
It-bun Han Too berjalan menghampiri hwesio tua itu, lilinnya
didekatkan pada wajah padri tadi dan diawasinya beberapa
waktu raut wajah orang itu.
Hwesio tua itu beralis putih bersih, kulitnya penuh dengan
kerutan dan wajahnya tidak jauh berbeda dengan orang
hidup, tapi jelas dari napasnya yang telah berhenti serta
tubuhnya yang kaku, paderi tua itu sudah lama menemui
ajalnya
It-bun Han Too mendehem, kepada Shen Bok Hong
serunya, “Toa Cungcu tahukah kau diantara jago yang masuk
ke dalam Istana Terlarang terdapat berapa orang hwesio
diantaranya?”
“Menurut apa yang kuketahui, semuanya berjumlah dua
orang hwesio tua!..”
“Yang satu adalah Bu siang taysu dari kuil Siau-lim, sedang
yang lain siapakah dia?”
Shen Bok Hong termenung sebentar, kemudian menjawab,
“Menurut apa yang kuketahui orang itu bukan berasal dari kuil
Siau-lim, gelarnya adalah Cian Jin!”
“Aahh! Kalau begitu tak bakal salah lagi menurut ingatan
yang agak samar, hwesio lain yang ikut masuk ke dalam
Istana Terlarang pada waktu itu memang bernama Cian Jin.
Kalau begitu kemungkinan besar hwesio itu yang berada di
atas kereta beroda ini adalah Bu siang taysu dari kuil Siaulim?”
Ia berhenti sejenak kemudian lanjutnya.
“Bagaimana caranya kalau membuka alat rahasia di atas
dinding itu sehingga menyebabkan munculnya layon dari taysu
ini?”

“Tentang soal ini, kau harus bertanya kepada saudara ini”
sahut Shen Bok Hong sambil melirik sekejap ke arah Siauw
Ling.
It-bun Han Too berpaling ke arah pemuda itu, segera
tanyanya.
“Bagaimana caranya kau menggerakkan alat rahasia itu?”
Siauw Ling termenung dan berpikir sejenak kemudian
sahutnya.
“Ketika itu diserang oleh Shen Toa Cungcu, untuk
menghindari serangannya itu akau mundur ke belakang dan
punggungku menumbuk di atas dinding ruangan ini…..”
Ucapan itu tetap dipancarkan dengan nada yang dibuat,
meskipun Shen Bok Hong serta It-bun Han Too tahu bahwa
suara itu bukan berasal dari suara aslinya, tapi merekapun tak
mampu untuk menebak asal usul sebenarnya.
“Saudara dalam keadaan dan situasi seperti ini aku rasa
kau tidak perlu menyembunyikan asal usulmu lagi” seru Shen
Bok Hong dengan suara mengejek.
It-bun Han Too sambil maju menghampiri berkata pula,
“Benar, saudara ini pastilah seorang rekan yang kita kenali,
oleh sebab itu sengaja ia kenakan topeng manusia untuk
mengelabui orang serta berbicara dengan nada sengaja dibuat
buat….”
Disindir dan dipanasi hatinya oleh kedua orang ini, Siauw
Ling jadi naik pitam, tangannya segera meraba ke atas wajah
sendiri siap melepaskan topeng manusia itu.
Sepasang mata Shen Bok Hong serta It-bun Han Too samasama
dialihkan ke atas wajahnya dengan pandangan tajam,
rupanya mereka sedang menanti dipecahkannya teka teki
yang selama ini menyelimuti diri orang itu.

Siauw Ling tertawa dingin, tangan kanannya yang sudah
menempel di atas wajah tiba-tiba diturunkan kembali lalu
menyingkir ke samping
Pada waktu itu It-bun Han Too hendak berjalan menuju ke
pintu batu, ketika menyaksikan Siauw Ling hendak
melepaskan topeng kulit manusia di atas wajahnya ia segera
hentikan langkahnya untuk melihat.
Siapa tahu ditengah jalan pemuda itu telah batalkan
niatnya, terpaksa sambil tertawa hambar ujarnya, “Saudara
tempat mana yang kau tumbuk barusan?”
“Itu disini!” sahut Siauw Ling sambil menuding sebuah
dinding batu didekatnya.
It-bun Han Too berjalan mendekati dinding tersebut, ia
lihat dinding itu licin dan halus sekali, sama sekali tiada
berbeda dengan tempat lain, hal ini membuat ia menghela
napas dan berkata, “Kecerdasan Ahli Bangunan bertangan
sakti memang luar biasa sekali, dinding tembok di tempat ini
tak ada beda sama sekali dengan tempat lain, andai kata kau
tidak menumbuk di tempat itu secara tak sengaja sulit bagi
kita untuk menemukan letak alat rahasia yang mengendalikan
pintu batu itu”
Sembari berkata ia lantas mengetuk dinding batu itu
beberapa kali.
Tapi beberapa pukulannya sama sekali tidak menunjukkan
reaksi apapun jua, hal ini mencengangkan hati It-bun Han
Too, ia segera menoleh sekejap ke arah Siauw Ling sambil
bertanya, “Betulkah di tempat ini?
“Benar!”
Sekali lagi It-bun Han Too menghantam dinding tebing itu,
kali ini setiap pukulan disertai dengan tenaga dalam yang
dahsyat, suara pantulan yang nyaring bergema diseluruh
ruangan.

Ketika ia menghantam dinding tembok itu untuk ketiga
kalinya, dari dinding sebelah timur segera terjadilah suatu
perubahan
Kraaak…. Kraaak…. Kraaak…. dari dinding tembok tersebut
terbuka kembali sebuah pintu rahasia, sebuah kursi roda
perlahan lahan muncul pula dari balik pintu itu.
Di atas kursi roda itu duduk seorang kakek tua berbaju
hijau dan berjenggot panjang terurai sedada.
Agaknya kursi kereta itu dikendalikan oleh suatu kekuatan
dari bawah tanah, ketika mendekati ruang tengah tiba-tiba
kursi itu berhenti dengan sendirinnya, Kakek tua itu duduk
dengan sepasang tangan diletakkan di atas lutut, kepalanya
tertunduk ke bawah sehingga sulit bagi para jaga untuk
melihat jelas raut wajahnya.
Lama sekali It-bun Han Too mengawasi kakek tua itu
dengan wajah tertegun, kemudian ia mengangguk dan
bergumam seorang diri, “Aku mengerti sekara ng…..aku
mengerti….”
“It-bun Heng, kau mengerti apa?” tegur Shen Bok Hong.
“Shen Toa Cungcu, bukankah pengetahuanmu selamannya
amat luas? Apakah kau dapat meraba kejadian yang
berlangsung pada masa silam dari letak tempat dudukan
mayat-mayat ini?”
Dengan seksama Shen Bok Hong mengawasi mayat kakek
tua berbaju hijau serta Bu Siang taysu beberapa saat lamanya,
ketika ditemuinya bahwa tak ada sesuatu aneh yang perlu
diperhatikan dia segera menggeleng.
“Aku tidak berhasil menemukan sesuatu apapun, harap Itbun
Heng suka menjelaskan!”
“Haaah…. Haaah…. Haaah…. dengan kecerdasan yang
dimiliki Shen Toa Cungcu semestinya kau dapat meraba

kejadian sebenarnya. Cuma kau segan mempergunakan
otakmu untuk memikirkan masalah ini….”
“Aku benar-benar tak dapat memecahkan persoalan ini, Itbun
Heng suka menerangkan!”
Diluar ia berkata demikian, dalam hati pikirnya dengan
penuh kebencian, “Kurang ajar, perkataannya saja ia memuji
diriku padahal yang benar ia sedang mengejek ketololanku….
manusia ini betul-betul menjengkelkan sekali, sekeluarnya dari
Istana Terlarang aku harus siksa dirinya habis2an biar tahu
rasa….”
Terdengar It-bun Han Too berkata kembali, “Bukankah aku
telah menyuruh Shen Toa Cungcu perhatikan tempat duduk
kedua orang ini? Asal kau perhatikan lebih cermat maka
dengan cepat kau akan memahami bahwa selain dua orang itu
disekelilingnya tentu masih ada kursi yang lain..”
“Jumlah para jago sakti yang masuk ke dalam Istana
Terlarang semuanya ada sepuluh orang, kecuali Ahli Bangunan
bertangan sakti Pau It Thian semestinya masih ada sembilan
orang, setiap orang di kolong langit mengetahui hal ini,
andaikata yang dimaksudkan It-bun Heng adalah persoalan
ini, rasanya hal itu tak perlu diherankan lagi!”
“Tapi apakah Shen heng bisa memberikan penjelasan
secara terperinci….?”
Tentang soal ini …. tentang soal ini ….” untuk beberapa
saat lamanya Shen Bok Hong berdiri tertegun.
“Kalau berbicara tentang ilmu silat aku sadar bahwa diriku
masih bukan tandingan dari Shen Toa Cungcu, tetapi dalam
urusan ini, aku percaya kemampuanku jauh lebih hebat
daripada dirimu, andaikata Shen Toa Cungcu merasa tak
mampu untuk menerangkan persoalan ini, lebih baik
sementara waktu tutup mulut saja”

Beberapa patah kata sindiran yang pedas ini seketika
membuat air muka Shen Bok Hong terasa amat panas, tetapi
ia tak dapat mengumbar hawa amarahnya, terpaksa perasaan
itu harus ditelan mentah2 ke dalam perutnya……
“Menurut dugaanku diantara beberapa buah kursi roda ini
tentu terdapat sebuah meja bundar, aku tak berani
memastikan mereka sedang minum arak atau membicarakan
sesuatu, tapi yang jelas mereka pasti sedang duduk
mengelilingi sebuah meja bundar…..”
Dengan seksama Siauw Ling perhatikan jarak antara kursi
roda kedua sosok mayat itu, dia merasa perkataan itu
sedikitpun tidak salah, dalam hati segera pikirnya, “Sebelum ia
terangkan duduknya perkara, persoalan ini memang
kedengaran janggal dan sukar ditebak makna sebenarnya, tapi
setelah diterangkan ternyata hanya suatu urusan yang amat
sederhana sekali…. rupanya orang ini memang paling lihai
pengetahuannya diantara kami sekalian, kecerdasan otaknya
jauh di atas kami semua ….
---oo0dw0oo---
Jilid: 5
TERDENGAR It-bun Han Too melanjutkan kembali katakatanya,
Enci cara apa yang telah dipergunakan Si Ahli
Bangunan bertangan sakti Pau It Thian terhadap orang-orang
itu, ternyata ia mampu mendudukkan orang-orang itu di atas
kursi
roda sebelum tiba saat ajalnya. bahkan membuat pula
kematian mereka berada dalam ketenangan, kejadian ini
sangat membingungkan hatiku…”
Shen Bok Hong menggerakkan bibirnya seperti mau
mengucapkan sesuatu, tapi dia takut salah berbicara sehingga

disindir lagi oleh It-bun Han Too setelah sangsi akhirnya dia
batalkan maksud itu.
“Shen Toa Cungcu bagaimana kalau tolong kau bawakan
sebentar lilin ini…” Ujar It-bun Han Too tiba-tiba sambil
angsurkan lilin tersebut ke tangannya.
Shen Bok Hong segera mendengus dingin.
“Hmm! selama hidup aku orang she-Shen belum pernah
mendengar perintah dan orang lain!
“Toa Cungcu” jawab It-bun Han Too sambil tersenyum.
Apabila kau ingin mengadu untung d tengah kegelapan, aku
segera akan melemparkan lilin ini ke atas tanah!”
“Bagaimana kalau aku yang membawa lilin tersebut?”seru
Kim Hoa Hujin sambil merebut maju ke depan.
“Perduli siapapun yang akan membawa bagiku sih sama
saja “jawab It-bun Han Too sambil menyerahkan lilin itu ke
tangan Kim Hoa Hujin, kemudian balik lagi kedepan dinding
batu dan menghantam dinding tersebut keras2.
Siapa tahu meskipun ia telah memukul puluhan kali di atas
dinding tadi, gerak-gerik apapun tidak terjadi, suasana tetap
diliputi oleh keheningan.
Melihat hal 1tu Shen Bok Hong segera tertawa dingin,
sindirnya, “It-bun heng, rupanya kau ingin bikin rata dinding
itu?”
It-bun Han Too tidak gubris omongan orang ia hampiri
kedua kursi roda itu kemudian diperiksanya dengan seksama.
Rupanya Shen Bok Hong tak mau melepaskan setiap
kesempatan untuk menyindir lawannya, kembali ia tertawa
dingin dan berkata, “It-bun heng, tempat dimana kau berada
saat ini adalah persis letak meja bundar. Jika kau salah
menginjak alat rahasia sehingga meja itu secara tiba-tiba

meluncur naik ke atas, bukankah batok kepalamu bakal
menumbuk langit-langit ruangan?”
Rupanya seluruh perhatian dan It-bun Han Too telah
dicurahkan dalam pemeriksaan tersebut, terhadap sindiran
dan Shen Bok Hong dia tetap membungkam dan tidak ambil
perduli.
Tiba-tiba ia berjongkok ke bawah, tangannya menghantam
perlahan kursi beroda yang ditempati layon Bu Siung taysu itu.
Kreeeek….! diiringi denyitan nyaring secara otomatis kereta
roda itu menyusup masuk ke dalam pintu batu, sedang pintu
tadi secara otomatis menutup dengan sendirinya setelah
kereta roda tadi lenyap dibalik pintu.
Perlahan lahan It-bun Han Too berjalan mendekati ke arah
dinding dimana kursi beroda tadi melenyapkan diri, setelah
diperiksa beberapa saat ia balik lagi ke tempat semula sambil
berkata, “Berikan lilin itu kepadaku!”
Kim Hoa Hujin berikan lilin itu kepadanya. lalu bertanya,
“It-bun heng, sudah menemukan sesuatu?”
It-bun Han Too tidak menjawab, dia angkat tinggi-tinggi
lilin itu kemudian berputar mengelilingi dinding itu satu kali.
Gerak-geriknya sangat hati-hati, setiap langkah kakinya
dilakukan dengan cermat dan tidak gegabah.
“It-bun heng, apa yang berhasil kau temukan setelah
mengitari ruangan ini?” tegur Shen Bok Hong.
“Aku berhasil menemukan bahwa dalam ruangan ini
terdapat beberapa buah pintu rahasia!”
“Bisa kau lihat pintu itu?”
Meskipun pintu rahasia itu merapat sekali dengan dinding,
tapi aku temukan pula bekas2nya yang lirih!”

“Tanpa kulihat sendiri akupun bisa menebak jumlah pintu
rahasia itu. Bila si ahli bangunan bertangan sakti tidak
mencantumkan pula dirinya maka dalam ruangan ini
Semestinya terdapat sembilan pintu rahasia, bukankah begitu
It-bun heng?”
“Tebakan Shen Toa Cungcu kali ini salah besar, menurut
pengamatanku yang seksama dalam ruangan ini ternyata
hanya terdapat bekas2 dari enam pintu rahasia”
“Bukankah jumliah orangnya ada sembilan? darimana pintu
rahasia itu cuma enam buah?”
“Tentang soal itu sih terpaksa kita musti pecahkan menurut
kecerdikan serta jalan pikiran kita masing-masing!”
Shen Bok Hong memperhatikan Sekejap api lilin di tangan
It-bun Han Too yang terbakar tinggal separuh, kemudian
ujarnya, “Lilin yang berada di tangan It-bun heng mungkin
hanya bertahan satu jam lagi lamanya!”
“Betul. dan waktu itu kita terpaksa harus meraba ditengah
kegelapan..!”
Shen Bok Hong tertawa dingin.
“Bila kutinjau keadaan disini, mestinya terdapat sebuah
lampu lentera yang terang benderang, bila It-bun heng suka
menenangkan pikiran dan berunding dengan kami sekalian
rasanya inilah tindakan pertama yang harus kita lakukan”
“Bila kudengar pembicaraan Shen Toa Cungcu, rupanya kau
telah mempunyai keyakinan dalam hal ini?”
“Ruangan ini bila tidak diterangi oleh cahaya alam, pastilah
diterangi oleh lampu lentera, meskipun tenaga dalam yang
dimiliki kesepuluh tokoh sakti pada masa yang silam amat
sempurna. rasanya kehebatan merekapun tak akan lebih
hebat dan kita semua. masa mereka bakal melakukan
pertemuan ditengah kegelapan?”

“Jadi menurut pendapat Shen Toa Cungcu semestinya
dalam ruangan ini terdapat sebuah lampu lentera yang
bercahaya terang!”
“Sedikitpun tidak salah, bila dugaan It-bun heng tadi tidak
keliru. maka setelah ada sebuah meja bundar semestinya
terdapat pula sebuah lampu lentera”
“Sayang sekali aku tidak tahu dimanakah letak alat rahasia
yang mengontrol meja bundar itu. sulit bagiku untuk
menemukannya”
.Menurut dugaanku meja bundar itu kalau tidak berada di
atas langit2 pastilah tersembunyi di bawah tanah, tidak
mungkin meja tadi disembunyikan di atas dinding sekeliling
ruangan ini”
“Pendapat dari Shen Toa Cungcu memang tepat sekali tapi
permukaan tanah ini licin dan halus sedikitpun tiada tanda2
yang mencurigakan bagaimana aku harus turun tangan?”
Tiba-tiba Shen Bok Hong mendongak dan tertawa
terbahak-bahak.
“Haaah…. haaaah It-bun heng, maka dari itu lain kali tak
usahlah pamer kepintaran dihadapan kami semua!”
Dengan langkah lebar ia berjalan ketengah ruangan, hawa
murninya disalurkan ke dalam kaki kemudian perlahan lahan
berjalan pulang pergi di sekitar tempat itu.
Rupanya ia teringat oleh tumbukan Siauw Ling di atas
dinding yang tanpa sengaja telah menggerakkan alat rahasia
dan kursi roda itu, ia pikir seandainya dalam ruangan betulbetul
terdapat sebuah meja bundar maka alat rahasia yang
mengendalikan meja itu pastilah berada di bawah tanah
ruangan tersebut
Tiba Shen Bok Hong merasakan tanah pijaknya jadi lunak
diikutt suara gemuruh yang memekakkan telinga. sebuah batu
raksasa meluncur jatuh dan atas langit2 ruangan.

Shen Bok Hong telah bikin persiapan sejak semula
tangannya dengan diliputi hawa murni penuh segera
menyambut jatuhnya batu raksasa tersebut..
Bentuk dari batu raksasa itu ternyata memang persis
seperti meja bundar. Empat kaki mejanya besar dengan
ketebalan satu depa lima cun, beratnya paling sedikit
mencapai seribu kati. dengan kesempurnaan tenaga dalam
yang dimiliki Shen Bok Hong ternyata ia agak ngotot juga
untuk menahan beratnya meja itu.
Shen Bok Hong yang menahan meja raksasa itu dengan
sekuat tenaga segera berpaling dan memandang sekejap ke
arah It-bun Han Too serta Siauw Ling, ketika dilihatnya kedua
orang itu tetap berdiri tegak di tempat semula dan sedikitpun
tiada maksud untuk membantu, ia jadi naik pitam serunya,
“Kalian berdua anggap batu raksasa ini sanggup mencelakai
jiwa aku orang she Shen?”
Hawa murninya segera disalurkan ke dalam badan diiringi
bentakan keras sepasang telapaknya sekuat tenaga didorong
ke atas.
Batu raksasa yang beratnya mencapai seribu kati itu
seketika terdorong oleh tenaganya hingga mencelat beberapa
depa ke angkasa, menggunakan kesempatan itulah Shen Bok
Hong meloncat balik keluar kalangan.
Blaaam….! terdengar suara benturan keras yang amat
nyaring, meja batu bundar itu segera terjatuh ke atas
permukaan tanah.
Percikan bunga api bermuncratan di empat penjuru
hancuran batu itu beterbangan dimana2.
Para jago yang berada di dalam ruangan itu segera bersiap
sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan
tapi tak seorangpun diantara mereka yang bergeser dari
tempat semula.

Suatu perubahan yang sangat aneh serta diluar dugaanpun
segera terjadi dalam ruangan itu.
Dari dinding batu di empat penjuru ruangan tersebut pada
saat yang bersamaan segera muncullah lima buah pintu
rahasia, termasuk kursi roda yang diduduki layon Bu Siang
taysu, lima buah kursi roda bersamaan waktunya muncul dan
balik pintu rahasia itu dan bergerak menuju ke arah meja
bundar.
Rupanya permukaan tanah tepat berada di bawah meja
bundar itu bukan lain adalah letak alat kontrol yang
mengendalikan semua alat rahasia dalam ruangan itu.
Bersama dengan kursi roda dari kakek baju hijau yang
sudah muncul sejak pertama kali tadi, kini jumlah kursi roda
itu tepat telah mencapai enam buah.
Siauw Ling segera mengamat-amati raut wajah mayat2
yang lain, diantara keenam orang itu kecuali Bu Siang Taysu
serta kakek baju hijau tadi, terdapat pula seorang hweesio
yang memakai jubah Ihama berwarna merah darah, alisnya
tebal matanya besar, di atas batok kepalanya terdapat codet
pantangan sebanyak sembilan buah, orang ini bukan lain
adalah Cin jin taysu yang disebut oleh Shen Bok Hong sekalian
tidak lama berselang.
Orang keempat adalah seorang kakek berjenggot putih
sepanjang dada memakai kopiah emas di kepala dan memakai
jubah lebar yang bersulamkan benang emas.
Orang kelima seorang kakek kecil kurus bermata kecil,
beralis pendek berjubah biru dan memakai topi kulit binatang,
raut wajahnya, amat halus dan ramah.
Sedangkan orang terakhir adalah seorang kakek bertopi
lebar berpakaian perlente dan lagaknya seperti hartawan disisi
kursi roda tampak tergantung sebuah kantong huncwee
sepanjang dua depa.

Pada saat ini sekalipun kedudukan Siauw Ling termasuk
diantara salah satu jago lihay dalam dunia persilatan, tapi
pengetahuannya tentang jago2 angkatan tua tidaklah begitu
banyak, dari suhunya Cung San Pek memang ia pernah
peroleh penjelasan, tapi karena keterangan yang didapat jauh
berbeda dengan keadaan mayat2 itu, maka untuk beberapa
saat lamanya ia tak dapat mengenali mereka satu persatu.
Perubahan yang sangat mengejutkan hati ini segera
memadamkan hawa gusar yang telah berkobar dalam dada
Shen Bok Hong, untuk sesaat diapun telah melupakan
kejadian yang barusan berlangsung.
Semua jago yang hadir disitu rata2 berdiri tertegun karena
kaget dan heran oleh pemandangan dihadapannya, suasana
jadi hening dan tak kedengaran sedikit suarapun.
LAMA sekali… It-bun Han Too baru menghela napas
panjang sambil berseru, “Luar biasa….. sungguh luar biasa….
kehebatan bangunan ini tiada tara di kolong langit!”
Hawa gusar yang berkobar dalam dada Shen Bok Hong pun
dibikin reda dan bahkan lenyap tak berbekas oleh kejadian
dalam ruangan, diapun berkata sambil menghela napas
panjang, Kau bisa menduga bahwa dalam ruangan ini terdapat
sebuah meja bundar, meskipun kehebatanmu belum dapat
menandingi kelihayan Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It
Thian namun kehebatanmu juga tidak terpaut terlalu jauh!”
It-bun Han Too segera menggeleng.
“Aku bisa menduga kalau dalam ruangan ini ada meja
bundarnya dari letak kedua buah kursi roda yang telah muncul
itu, jelas hal ini bukanlah suatu hasil pemikiran yang luar
biasa, asal orang yang sedikit tahu akan Ilmu bangunan maka
mereka pasti akan punya pikiran sampai kesitu.
Yang paling luar biasa adalah letak alat kontrol yang berada
di bawah tanah persis di bawah meja bundar itu, mimpipun
aku tak pernah menyangka kalau disitulah terletak alat rahasia

yang mengendalikan keenam buah pintu rahasia tersebut.
Aaai…! semula aku tidak begitu kagum dengan kemampuan
Pau It Thian, tapi sekarang mau tak mau ku harus takluk
seratus persen!”
“Sayang di dalam ruangan ini tidak terdapat lampu lentera”
gerutu Shen Bok Hong.”Sedang api lilin di tangan It-bun heng
pun sudah hampir terbakar habis. bila lilin itu padam
bukankah seluruh ruangan akan berubah jadi gelap gulita?
waktu itu terpaksa kita harus meraba ditengah kegelapan.
Seandainya dalam ruangan ini masih terdapat rahasia lain,
bukankah itu berarti bahwa peluang bagi kita untuk lolos
dalam keadaan hidup tipis sekali?”
“Dugaan Shen Toa Cungcu tak bakal salah lagi!” sahut Itbun
Han Too sambil tersenyum. “Semestinya di tempat ini
harus ada sebuah lampu lentera, cuma aku tak berani
menduga masih ada minyaknya atau tidak lentera tersebut”
“Kalau betul ada lampu lenteranya, kenapa benda itu belum
juga kelihatan?”
It-bun Han Too melirik sekejap ke arah lilin ditangannya
yang hanya tinggal satu itu, kemudian sambil berjalan
mendekati meja bundar itu ujarnya, “Biar aku coba2 untuk
temukan lampu tersebut, semoga saja dugaanku tidak
meleset”
Sementara berbicara ia sudah berada di depan meja
bundar tersebut, setelah ditelitinya beberapa saat ia segera
menekan permukaan meja sebelah tengah dan
menggeserkannya kekiri serta kekanan.
Sedikitpun tidak salah permukaan meja sebelah tengah
segera bergeser ketika It-bun Han Too mencoba untuk
memutar ke arah lain, dan muncullah sebuah lubang sebesar
mangkuk, ketika ía merogoh keda1am lubang tadi maka
diambillah sebuah lampu lentera model cupu2 yang terbuat
dan perak putih.

Ketika lampu itu diperiksa lagi, ternyata persediaan minyak
dalam tangki lampu itu masih sangat banyak. It-bun Han Too
segera berkata, “Shen Toa Cungcu tak usah kuatir persediaan
minyak dalam lentera ini masih cukup untuk kita pergunakan
selama dua hari”
Mendengar keterangan itu semangat Shen Bok Hong
bangkit kembali.
“Asal dalam ruangan ini ada lentera yang menerangi, maka
sekalipun ada alat jebakan rasanya kitapun tak usah merasa
jeri!” katanya.
It-bun Han Too memasang lampu lentera itu dan
memadamkan lilin sendiri, kemudian ujarnya pula, “Diluar
ruangan rahasia ini kita telah menemukan sesosok mayat
berbaju perlente, dan dalam ruangan ini terdapat pula enam
sosok mayat, bila perkataan orang didunia persilatan tidak
salah, maka diantara kesepuluh tokoh sakti yang masuk ke
dalam Istana Terlarang masih ada tiga sosok mayat lainnya
yang belum berhasil kita temukan”
“Mungkin saja dalam ruangan ini masih terdapat tiga buah
ruangan rahasia lainnya”
“Sekalipun perhitunganku salah, tapi aku rasa pusat alat
kontrol yang mengendalikan alat2 rahasia itu tak bakal salah
lagi kalau letaknya berada disini….”
Sinar matanya berputar memandang sekejap keenam sosok
mayat yang berada di atas kursi roda itu, kemudian lanjutnya.
“Meskipun di sekitar meja bundar ini bisa muat sepuluh
orang, tetapi kalau kita tinjau dari jarak masing-masing kursi
roda itu jelas menunjukkan bahwa hanya enam buah kursi
saja yang muat ditempatkan di sini. Ini membuktikan pula
bahwa Ahli Bangunan bertangan sakti hanya menyiapkan
enam buah kursi pula sewaktu mempersiapkan tempat ini.
Dari itu kita bisa menarik kesimpulan andaikata berita dalam

Bulim tidak keliru maka tiga orang yang lain pasti sudah pergi
ke tempat lain”
“Aku mempunyai satu masalah yang rasanya
membingungkan sekali pikiranku boleh aku tanyakan kepada
It-bun heng?” sela Tong Lo Thay-thay secara mendadak.
“Asal persoalan itu kupahami, tentu saja akan
kuterangkan!”
“Beberapa orang ini sudah puluhan tahun lamanya mati di
dalam Istana Terlarang. apa sebabnya jenazah mereka tidak
membusuk dan hancur?”
“Mungkin suhu udara di dalam Istana Terlarang dapat
membuat jenazah tidak membusuk dan hancur!”
“Ketika hendak masuk ke dalam istana tadi bukankah kita
juga menemukan sesosok jenazah berbaju perlente? mengapa
jenazah orang itu membusuk dan hancur?”
“Tentu saja dibalik persoalan ini terdapat hal-hal yang amat
penting, seperti apa yang kuketahui dalam kolong langit
terdapat banyak sekali bahan obat-obatan yang dapat
mempertahankan keutuhan jenazah manusia hingga tidak
sampai membusuk, lagipula ditinjau dan kemampuan para
jago yang mati terkurung dalam Istana Terlarang rata-rata
sangat hebat, siapa tahu kalau mereka berhasil menemukan
sesuatu kepandaian khusus tentang tersebut? sebelum
mendapat bukti yang nyata aku tak berani menduga secara
serampangan!”
“Kenapa sih orang-orang ini hanya membicarakan terus
masalah yang tidak berguna” pikir Siauw Ling dengan hati
gelisah, “Semoga mereka dapat menemukan jenazah raja
seruling Thio Hong dengan cepat, agar aku bisa tahu garis
besar Ilmu silat warisannya hingga dalam memenuhi janjiku
dengan enci Gak dapat membantu dirinya untuk menghadapi
Giok Siau Long Kun beserta keluarganya….”

Terdengar Shen Bok Hong menghembus napas panjang dia
berkata lagi, “It-bun heng, aku rasa dalam keadaan serta
situasi seperti ini kita harus secara terus terang saling
mengutarakan isi hati masing-masing agar dengan begitu
percekcokan yang tidak berguna dapat kita hindari!”
“Tepat sekali, akupun mempunyai maksud demikian!”
tanggap It-bun Han Too cepat.
“Bagaimana dengan saudara?” tanya Shen Bok Hong sambil
berpaling ke arah Siauw Ling.
“Asal tujuan kalian adil dan merata tentu saja aku akan
menyetujui.”
“Baik! kalau begitu, aku akan berbicara terlebih dahulu….”
Sorot matanya menyapu sekejap ke arah enam sosok
mayat yang duduk mengelilingi meja bundar, lalu terusnya.
“Tujuanku masuk ke dalam istana terlarang bukanlah untuk
memperebutkan barang barang peninggalan dari sepuluh
orang manusia sakti, tujuanku tidak lain hanya berharap dapat
memperoleh ilmu silat peninggalan jago2 sakti itu”
“Tujuankupun demikian, aku rasa saudara itupun punya
tujuan yang sama pula bukankah begitu?” ujar It-bun Han Too
sambil tersenyum.
Sorot mata kedua orang jago itu segera dialihkan ke arah
Siauw Ling untuk menantikan jawabannya.
Selama ini pemuda tersebut selalu berusaha untuk
menghindari pembicaraan yang tak berguna, Ia segera
mengangguk tanda membenarkan.
Shen Bok Hong mendehem ringan lalu berkata kembali.
“Sebe1um masuk ke dalam Istana Terlarang aku selalu
beranggapan bahwa sepuluh jago I i h a y yang terkurung
dalam istana tersebut tentulah sudah hidup beberapa lama
disitu, agar ilmu silatnya tidak sampai hilang maka orangTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
orang itu pastilah akan berusaha untuk meninggalkan ilmu
silatnya di atas dunia. Tapi….sungguh tak nyana setelah
berada di dalam istana aku baru tahu bahwa keadaan dalam
Istana Terlarang ternyata jauh berbeda dengan keadaan yang
sebenarnya”
“Maksud Shen Toa Cungcu, mereka mati terlalu cepat dan
dugaan semula?”
“Tidak salah oleh karena itulah harapan bahwa mereka
telah tinggalkan ilmu silatnya dalam istana ini terlalu kecil
sekali!”
“Aku percaya apa yang barusan kau ucapkan benar-benar
timbul dari hati sanubarimu, tetapi aku percaya Shen Toa
Cungcu belum sempat mengatakan cara untuk menyelesaikan
persoalan itu”
“Bila kita berhasil menemukan sebuah catatan ilmu silat di
dalam Istana Terlarang maka benda itu boleh dibilang sangat
berharga sekali. Tapi siapakah yang berhak untuk
mendapatkannya? jika kita gunakan cara bertaruh maka ekor
kejadiannya tentu akan panjang sekali. Berbicara terus terang
saja, andaikata kitab tersebut jatuh ketangan salah seorang
diantara kalian berdua, maka akulah yang pertarna2 yang
akan berusaha untuk merebutnya, pertumpahan darah pasti
tak akan terhindar. Siapa lemah akan mati siapa menang akan
hidup. Jelas cara bertarung yang diusulkan It-bun heng tadi
tak dapat dilakukan lagi”
“Shen Toa Cungcu sudah setengah hari lamanya kau
berbicara namun belum juga kau utarakan cara penyelesaian
masalah
ini!”
“Maksudku perduli siapapun yang berhasil mendapatkan
catatan ilmu silat. ia tidak berhak mengangkanginya seorang
diri kitab itu harus diperlihatkan kepada semua orang dengan
andalkan daya ingat serta kecerdasan masing-masing kita

harus hafalkan ilmu silat yang termuat dalam catatan tersebut,
siapa berhasil menghafal banyak tentu saja dia yang akan
lebih lihay!”
“Kalau ditinjau dan takaran minyak yang masih tersedia
dalam lentera ini paling banter kita hanya bisa berdiam selama
tigapuluh jam dalam Istana Terlarang, tolong tanya bila kita
akan tinggalkan tempat ini maka catatan ilmu silat itu akan
dimiliki siapa?”
Sebelum kita tinggalkan Istana Terlarang catatan ilmu silat
itu kita bakar musnah siapapun dilarang untuk membawanya
keluar dan istana ini!”
“Bila perkataan dari Shen Toa Cungcu bisa dilaksanakan
dengan sungguh hati, tentu saja aku mengatakan setuju”
“Bagaimana pendapatmu?” tanya Shen Bo Hong kemudian
sambil berpaling ke arah Siauw Ling.
“Dia pasti mengandung maksud2 tertentu. Pikir si anak
muda itu dalam hati . “Biasanya ia selalu kemaruk akan ilmu
silat, tidak suka tunduk kepada orang dan mengagulkan diri
sendiri sekarang manusia semacam itu dapat mengusulkan
rencana begitu, sudah pasti ia bermaksud lain….”
Berpikir demikian dia lantas berpaling ke arah It-bun Han
Too dan bertanya
“It-bun sianseng, percayakah kau dengan Shen Toa Cungcu
ini?”
“Aku? Tentu saja tidak percaya” jawab It-bun Han Too
sambil tersenyum ewa.
Siauw Ling tarik napas panjang dan tidak berbicara lagi.
Sepasang mata Shen Bok Hong melotot bulat, rupanya ia
mau mengumbar amarahnya.

Tetapi akhirnya perasaan tersebut ditahan kembali sambil
tertawa tergelak katanya, “Haaah…. Haaah…. Haaah….
rupanya diantar kita memang tidak bisa diajak berkompromi!”
“Aku rasa seandainya Shen Toa Cungcu bisa menunjukkan
sikap terlebih dahulu hingga membuat kami semua takluk dan
kagum, urusan mungkin saja jauh lebih berbeda dengan
keadaan sekarang”
Shen Bok Hong tertawa hambar.
“Kalau kamu berdua memang tak mau menerima usul
kompromi ini, yaah….. Apa boleh buat kita harus maju
selangkah bicara selangkah….”
Ia berhenti sejenak setelah menyapu sekejap ke arah enam
sosok jenazah itu tambahnya lagi, “Dewasa ini masih ada satu
persoalan penting yang harus kita selesaikan, aku rasa kalian
berdua tidak akan menampik untuk bekerja sama bukan?”
“Persoalan apa?”
“Mengenai asal usul dari keenam sosok mayat ini, menurut
kabar yang tersiar dalam dunia persilatan katanya ada sepuluh
orang jago terkurung di dalam Istana Terlarang, tapi aku rasa
belum tentu kesepuluh orang jago itu semuanya berada disini,
mungkin saja ada yang berotak cerdas dan tak sudi
menempuh bahaya maka diutusnya seorang wakil untuk
datang kemari, mungkin juga masih ada jago lihai lainnya
diantara kesepuluh jago itu yang ikut menyusup ke dalam
Istana Terlarang karena rasa ingin tahunya, kenyataan yang
sebenarnya toh tak seorangpun yang tahu….”
Dia angkat kepala dan tertawa tergelak terusnya,
“Bukankah dalam dunia persilatan sudah tersiar kabar yang
mengatakan aku Shen Bok Hong telah mati? Tapi hingga detik
ini aku toh masih hidup segar bugar dihadapan kalian?”
“Perkataan Shen Toa Cungcu sedikitpun tidak salah” sahut
It-bun Han Too cepat, “Sebelum kita pergi mencari buku

catatan ilmu silat yang ditinggalkan kesepuluh jago sakti itu,
kita memang harus menyelidiki dahulu asal usul mereka,
waktu kematian mereka serta sebab musababnya seandainya
mereka semua mati dengan cepat setelah berada di dalam
Istana Terlarang itu berarti tak ada gunanya bagi kita untuk
mencari catatan ilmu silat yang mereka tinggalkan!”
Shen Bok Hong segera alihkan sorot matanya ke atas wajah
Bu Siang taysu, setelah diamatinya sejenak ia berkata,
“Meskipun wajah orang hidup dan wajah orang mati agak
berbeda, tapi aku rasa orang ini tak bakal salah lagi pastilah
Bu Siang taysu dari kuil Siau-lim.
“Aku memang pernah mendengar nama besar Bu Siang
taysu, tapi tiada berjodoh untuk berjumpa muka dengan
dirinya, kalau memang Shen Toa Cungcu merasa yakin bahwa
padri ini adalah Bu Siang taysu dari kuil Siau-lim, aku pikir
dugaanmu tak bakal salah lagi.”
Sorot mata Shen Bok Hong dialihkan ke atas wajah hwesio
berlhasa merah dan bercodet di atas jidatnya itu, kemudian
melanjutkan, “Menurut apa yang kuketahui, diantara
kesepuluh jago yang masuk ke dalam Istana Terlarang ada
dua orang padri gundul, yang satu Bu Siang taysu dari kuil
Siau-lim sedang yang lain bernama Cian Jin, aku pikir hwesio
ini mungkin adalah Cian Jin taysu!”
It-bun Han Too mengangguk.
“Aku rasa kedua orang padri itu tak bakal salah lagi ….”
sorot matanya dialihkan ke arah kakek berkopiah emas
berjubah lebar dengan sulaman bunga emas itu, lalu
sambungnya.
“Ditinjau dari dandanannya yang istimewa serta kopiah
emas yang dikenakan di atas kepalanya, orang ini mirip sekali
dengan To Ong si raja golok Ma Tha..”
“Tidak salah akupun berpendapat demikian. Ma Tha
dengan dua belas jalan ilmu golok penghancur langitnya

merajai kolong langit dan menangkan julukan sebagai Raja
Golok, ia suka memakai kopiah emas, jubah hijau dengan
sulaman bunga emas, rasanya di kolong langit tiada orang lain
yang punya kegemaran seperti dia lagi”
“Shen Toa Cungcu apakah kenal dengan orang ini?” tanya
It-bun Han Too kemudian sambil tuding kakek baju hijau
berjenggot putih itu.
Dengan alis berkerut Shen Bok Hong berpikir keras, lama
sekali ia baru berkata, “Pakaian yang dikenakan orang ini
sederhana sekali, wajahnya tiada keistimewaan sulit bagiku
untuk mengenali dirinya”
“Dia adalah seorang tokoh sakti dari aliran Hoa San pay,
coba bayangkan bukankah Tam In Cing suka berdandan
macam begini?”
“Sedikitpun tidak salah, Tam In Cing memang gemar
memakai baju hijau, sederhana tapi bersih dan rajin. Tetapi si
Raja Seruling Thio Hongpun gemar memakai baju hijau, siapa
tahu kalau orang ini adalah orang she Thio itu?”
“Siapakah kakek tua ini aku tidak tahu” sela Tong Lo Thaythay
secara mendadak, ”Tapi yang pasti dia bukanlah Raja
Seruling Thio Hong!”
“Tong hujin bisa berkata demikian apakah lantaran
ditangannya tidak terdapat seruling?” tanya Shen Bok Hong.
Tong Lo Thay-thay menggeleng.
“Bukan…. bukan begitu. Ketika aku masih kecil dahulu
suatu kali secara kebetulan pernah berjumpa muka dengan
Raja Seruling Thio Hong, karena aku sangat kagum dengan
nama besarnya maka ketika itu kuperhatikan beberapa kejap
wajahnya, hingga kini kesan tersebut masih tertera sangat
jelas dalam benakku!”
“Tong Hujin, kalau bisa kau terangkan pula keistimewaan
di atas wajah Raja Seruling Thio Hong, agar kami bisa

mempercayai kalau orang ini bukanlah orang she Thio itu “
seru It-bun Han Too.
“Di atas kening Thio Hong terdapat sebuah tahi lalat besar
berwarna hitam, sedang orang ini tidak punya!”
“Orang yang sudah mati puluhan tahun kulit serta
dagingnya mati pasti akan menyusut siapa tahu kalau
wajahnya sudah berubah….”
“Tak bakal salah” tukas Tong Lo Thay-thay dengan cepat,
“Aku masih teringat jelas hingga kini”
“Baiklah, untuk sementara waktu kita anggap saja orang ini
adalah Tam In Cing dari partai Hoa san!”
Selama beberapa orang itu membicarakan soal identitas
dari beberapa jago lihai itu Siauw Ling sendiri tetap
membungkam dalam seribu bahasa ia tidak ikut memberi
komentar juga tidak buka suara.
Tiba-tiba Shen Bok Hong berpaling, sambil memandang
wajah Siauw Ling tanyanya?
“Bagaimana dengan pendapat saudara ini,?”“
“Aku toh tidak pernah bertemu atau mendengar tentang
orang-orang ini, darimana aku bisa tahu siapakah dia?” batin
pemuda itu di dalam hati.
Tapi diluaran ia tetap bersikap tenang seolah-olah tiada
pendapat lain ia menjawab.
“Menurut pendapatku orang ini bukan Raja Seruling Thio
Hong.”
Shen Bok Hong mengerutkan dahinya, tapi ia tidak
berbicara lagi.
Soro mata It-bun Han Too segera beralih ke atas wajah
kakek kurus kecil, bermata kecil, berbaju biru, dan memakai
topi bulu itu, tanyanya, “Shen Toa Cungcu kenal orang ini?”

“Dia adalah Kanglam It Sin kakek sakti dari wilayah
Kanglam Sio Ke Jin!..”
“Pendapatkupun demikian!” It-bun Han Too mengangguk,
ia lantas tuding ke arah orang terakhir sikakek bertopi bambu
dan membawa kantong huncwee Itu, ujarnya, “Orang ini
adalah Cu-Lip-Ang kakek topi bambu Pek San Tong!”
“Ehmm topi bambu serta kantong huncwee adalah ciri khas
dari orang ini, delapan puluh persen tak bakal salah lagi”
“Bila para jago yang memasuki Istana Terlarang berjumlah
sepuluh orang, kita sudah menemukan enam mayat disini
ditambah sesosok mayat dan Ahli Bangunan bertangan sakti
Pau It Thian jumlahnya telah mencapai tujuh orang ini berarti
masih ada tiga sosok mayat yang belum ditemukan!”
Kim Hoa Hujin yang selama ini selalu membungkam, tibatiba
menyela dari samping.
“Jikalau tiga sosok mayat yang lain sudah hancur jadi
tanah, bukankah selama hidup kita tak akan menemukannya
kembali?”
“Sekalipun mayat mereka telah hancur jadi tanah, sedikit
banyak pasti ada sisa jejak yang ditinggalkan….”
Mendadak ia seperti teringat akan suatu urusan penting,
sambil ayunkan pedang pendek di tangannya, ia berkata.
“Pedang pendek ini kecil tapi tajamnya luar biasa, jelas
senjata ini merupakan sebilah pedang kenamaan! Shen Toa
Cungcu bukankah memiliki pengetahuan yang amat luas,
tahukah kau siapa pemilik pedang pendek ini….?”
Shen Bok Hong termenung beberapa waktu lamanya,
kemudian menjawab.
Menurut apa yang kuketahui, diantara keenam orang ini
kecuali Tam In Cing dari partai persilatan Hoa-san yang
menggunakan pedang, sisanya yang lain tidak memakai

senjata tersebut. Tapi siapakah pemilik yang sebenarnya dari
pedang pendek ini aku sendiripun kurang tahu”
“Aaah! kalau begitu sayang…. .. sayang sekali….”
“Apa yang disayangkan?”
“Bila kita bisa mengetahui siapa pemilik yang sebetulnya
dari pedang pendek ini, maka kita dapat membuktikan suatu
kejadian yang maha besar”
“It-bun heng, kau tak usah jual mahal lagi. Tidak cukup
waktu bagi kita untuk bersantai disini, lebih baik katakan saja
isi perutmu itu secara blak2kan.
“Maksudku pemilik dari pedang pendek ini bukan lain
adalah orang yang telah membinasakan Pau It Thian!”
Shen Bok Hong segera alihkan sorot matanya memandang
sekejap ke arah keenam sosok mayat itu. kemudian katanya
lagi, “Gaya dari keenam orang ini duduk di kursi persis satu
sama lainnya, menurut pendapatku orang yang telah menusuk
punggung Pau It Thian hingga menemui ajalnya itu pastilah
bukan salah satu diantara keenam orang ini”
“Kalau memang demikian adanya, maka aku dapat pula
membuktikan suatu kejadian..”
“Persoalan apa?”
“Kecuali keenam orang ini dalam Istana Terlarang masih
ada orang lain, hanya kita belum berhasil temukan jejak dari
orang itu”
Shen Bok Hong termenung dan berpikir sebentar lalu
menjawab, “Sekalipun dalam istana Terlarang masih terdapat
orang lain, paling banter yang bakal kita temukan cuma
sesosok mayat belaka Aku rasa persoalan paling penting yang
harus kita lakukan sekarang adalah bagaimana caranya
menemukan ilmu silat yang mereka tinggalkan”

“Aku takut harapan dari Shen Toa Cungcu itu sukar untuk
terwujud!” kata It-bun Han Too sambil menggeleng.
“Tujuan kita masuk ke dalam Istana Terlarang toh sama,
bukan hanya aku orang she Shen seorang yang ingin
menemukan ilmu silat peninggalan dari sepuluh tokoh maha
sakti tersebut.”
“Shen Toa Cungcu, kau telah salah paham maksudku bukan
begitu, aku hanya berkata bahwa sebelum kita berusaha
mencari ilmu silat peninggalan dari tokoh-tokoh maha sakti itu
terlebih dahulu kita musti buktikan apakah mereka punya
waktu untuk tinggalkan ilmu silatnya atau tidak, setelah itu
baru menyelidiki dimanakah tempat-tempat yang mungkin
digunakan orang-orang itu untuk meninggalkan ilmu silatnya”
Shen Bok Hong tersenyum.
“Ucapan It-bun heng memang benar, baiklah aku akan
dengarkan dahulu pendapat dari It-bun heng!”
Kembali It-bun Han Too termenung beberapa saat
lamanya, kemudian dia berkata, “Peredaran darah serta
daging dari keenam tokoh maha sakti itu sudah mengering
kerontang kalau dihitung jangka waktu kematiannya mungkin
sudah mencapai puluhan tahun lamanya orang yang ikut
menyaksikan terjadinya peristiwa itu mungkin sudah tiada
yang hidup lagi di kolong langit, teka teki ini sungguh
merupakan suatu tanda tanya besar yang sukar untuk
dipecahkan terpaksa kita harus mengandalkan kecerdasan
sendiri untuk meraba duduk perkara yang sebetulnya”
“Setelah menyapu sekejap wajah Shen Bok Hong serta
Siauw Ling sekalian dia melanjutkan, “Menurut penilaianku
setelah meneliti keadaan dari enam tokoh maha sakti ini, bisa
kutarik kesimpulan bahwa disaat kematian menjelang tiba
perasaan di hati mereka adalah tenang dan sama sekali tidak
terpengaruh oleh perasaan2 lain”

“Tidak salah” Jawab Shen Bok Hong sambil mengangguk
“Andaikata mereka mengetahui bahwa Ahli Bangunan
bertangan sakti Pau It Thian telah mencelakai mereka, tak
mungkin keenam orang inipun bisa duduk di kursi roda
dengan wajah yang begitu tenang, mereka pasti akan
berjuang dengan segenap tenaga untuk menentang
datangnya elmaut, dari suasana dalam ruangan inipun tak
akan sehening serta setenang ini”
“Kalau menurut pandanganku rasanya jauh berbeda
dengan pendapat kalian…” tiba-tiba Tong Lo Thay-thay
menyela…
“Pendapat yang bersatu mampu mendirikan kota saat ini
kita sedang berusaha untuk memecahkan teka teki yang
menyelubungi tentang kematian tokoh2 maha sakti tersebut
dengan kecerdasan satu dua orang rahasia ini pasti tak
mungkin berhasil dibongkar, Tong hujin! apa pandanganmu?
silakan diutarakan keluar!”
“Pandanganku amat cetek dan belum tentu jitu mengenai
sasaran, tapi baiklah aku lempar batu bata untuk
mendapatkan kumala. siapa tahu pandanganku ini akan
membuka kecerdasan dari kalian semua…”
Dengan seksama ia awasi kembali keenam sosok mayat
tersebut, kemudian melanjutkan.
“Merurut pandanganku, kemungkinan besar ketika mereka
berenam memasuki ruangan ini, secara diam-diam Ahli
Bangunan bertangan sakti telah turun tangan meracuni
mereka sehingga ketika keenam orang itu menyadari bahwa
dirinya keracunan keadaan sudah terlambat mereka segera
mengerahkan tenaga dalam mereka yang sempuma untuk
mendesak keluar racun yang mengeram di dalam tubuhnya,
siapa sangka racun itu hanya berhasil didesak ke suatu sudut
dan daya kerjanya untuk sementara bisa dicegah….. tapi
rupanya takdir sudah menentukan lain, sebelum mereka

berhasil mendesak keluar racun keji itu keenam orang tokoh
maha sakti tadi sudah keburu mati lantaran keracunan hebat”
“Andaikata aku yang berada dalam keadaan demikian, tak
nanti aku suka berpeluk tangan belaka “kata Shen Bok Hong “
aku pasti akan kerahkan segenap kekuatan yang kumiliki
untuk melancarkan serangan balasan, mungkin dengan
kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki keenam orang ini
mereka bila bersabar diri”
“Dalam keluarga Tong kami terdapat puluhan macam
senjata rahasia beracun yang kadar racunnya masing-masing
berbeda, banyak diantaranya merupakan racun keji yang amat
ganas, sekalipun korbannya adalah seorang jago bulim kelas
satu yang maha sakti, setelah keracunan maka ia akan
kehilangan kemampuannya untuk melancarkan serangan
balasan!”
“Dalam soal menggunakan racun caranya berbeda-beda
dan macamnya beraneka ragam” kata Kim Hoa hujin pula,
“Diwilayah Biau terdapat sejenis ilmu melepaskan racun yang
menggunakan sari racun ulat sutera emas, racun itu boleh
dihilang racun diantara racun. Meskipun aku tidak begitu
memahami ilmu tentang melepaskan racun tetapi sangat
menguasai ilmu melepaskan racun keji. Andaikata beberapa
orang ini terkena racun keji asal wilayah Biau tersebut, maka
aku yakin mereka tak akan memiliki daya kekuatan untuk
melakukan perlawanan lagi”
Beberapa patah kata ini seketika mencekatkan hati semua
orang yang hadir di kalangan, tanpa terasa bulu kuduk mereka
pada bangun berdiri, pikirnya, “Seandainya perempuan ini
secara diam-diam melepaskan racun kejinya tatkala perhatian
kami sedang bercabang…. waah! bisa celaka, kami pasti akan
menuruti segala kemauannya…..”
“Karena berpikir demikian tanpa terasa mereka alihkan
sorot matanya ke arah perempuan itu.

Terdengar Shen Bok Hong mendehem ringan, lalu berkata
“Aku pernah mendengar ucapan dari seorang ahli
menggunakan racun dewasa ini yakni Tok-jiu Yok-ong katanya
orang yang terkena racun keji asal wilayah Biau bukanlah
berarti sama sekali tak dapat tertolong lagi!”
Kim Hoa hujin angkat kepala dan tertawa terkekeh2.
“Haaah…. haah…. haah, kalian tak perlu kuatir, aku tak
akan nanti melepaskan racun keji ke tubuh kalian semua!”
serunya.
It-bun Han Too mendehem ringan, ia menyela.
“Hujin andaikata kau benar-benar melepaskan racun keji
maka orang pertama yang tak akan mengampuni dirimu
adalah Shen Toa Cungcu sendiri”
Dia mendongak dan tertawa tergelak kemudian
melanjutkan, “Kalau aku sih tidak setuju dengan pandangan
dari Tong Lo Thay-thay barusan!”
Aku akan mendengarkan petunjukmu!”
“Andaikata keenam orang ini merasakan dirinya keracunan
hebat, toh belum tentu mereka harus duduk di atas kursi roda
untuk bersemedi dari berusaha mendesak keluar racun yang
mengeram dalam tubuh mereka!”
“Tidak mungkinkah Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It
Thian yang mendudukkan tubuh mereka di atas kursi roda
setelah mereka mati akibat keracunan?”
“Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It Thian hampir pada
saat yang bersamaan tertusuk pundaknya oleh pedang
panjang, untuk menolong diri saja ia tak mampu. masa dia
masih punya kegembiraan untuk berbuat demikian?”
“Siapa tahu kalau di atas kursi roda itu telah dipasang
semacam alat rahasia, hingga mereka yang telah duduk di

atas kursi tersebut tak bisa bangun lagi?” tiba-tiba Pek-li Peng
menyela.
Perkataan ini seketika membuat para jago berdiri tertegun,
tanpa sadar mereka alihkan perhatian ke atas kursi roda itu.
“It-bun heng, kau toh ahli sekali dalam ilmu bangunan
maupun ilmu alat rahasia?”
Seru Shen Bok Hong kemudian harap kau teliti kursi roda
itu dengan seksama mungkin di atas kursi itu benar-benar
sudah dipasangi alat rahasia?”
It-bun Han Too termenung dari berpikir sebentar kemudian
menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Itu tak mungkin terjadi sekalipun andaikata di atas kursi
roda benar-benar terdapat alat rahasia belum tentu alat
tersebut mampu membelenggu tokoh2 silat yang maha sakti
itu. Menurut penilaianku ilmu silat yang dimiliki keenam orang
itu sudah mencapai puncak kesempurnaan yang tak terhingga
setiap pukulannya memungkinkan sebuah batu karang hancur
berantakan, apalagi menurut tinjauanku di atas kursi roda ini
sama sekali tiada alat rahasia apapun juga”
“Kalau begitu percuma kan kita bicarakan persoalan ini
selama setengah harian lebih, hasilnya tetap nihil dari sedikit
hasil pun tidak berhasil didapatkan”omel Shen Bok Hong.
Sebaliknya Siauw Ling juga berpikir di dalam hati kecilnya,
“Apa yang dibicarakan beberapa orang ini masuk diakal semua
dan sangat beralasan sekali, sungguh heran kenapa keenam
orang itu menemui ajalnya sambil duduk di atas kursi roda?
rupanya untuk memecahkan teka teki serta rahasia ini
teramatlah sulit”
Walaupun dalam hati ia ingin tahu, namun mulutnya tetap
membungkam dalam seribu bahasa.
Terdengar It-bun Han Too berkata, Mungkin di dalam
istana terlarang masih terdapat seseorang yang tidak mati

bersama-sama mereka, dan orang itulah yang telah turun
tangan mengatur beberapa orang ini di atas kursi roda….”
“Tapi siapakah orang itu?” tanya Shen Bok Hong.
“Entahlah mungkin dia adalah salah satu diantara sepuluh
tokoh maha sakti yang masuk ke dalam Istana Terlarang,
pokoknya hingga kini masih ada tiga orang yang belum
ketemu.
“It-bun heng. mungkinkah ada diantara jago lihay itu
berhasil lolos dari istana terlarang?” tanya ketua dari
perkampungan Pek Hoa Sanceng itu dengan wajah serius.
“Aku tak berani mengatakan pasti tak ada, tetapi
kemungkinan terlalu kecil”
“Andaikata kita gagal untuk menemukan sebab2 kematian
keenam orang itu di atas kursi roda, maka itu berarti bahwa
setelah kejadian ada orang yang sengaja memindahkan
mayat2 dari keenam orang itu ke atas kursi roda. Tetapi
siapakah orang itu jelas dia bukanlah Ahli Bangunan
bertangan sakti Pau It Thian”
“Kalau memang begitu, maka kemungkinan besar orang itu
adalah salah satu diantara tiga orang tokoh maha sakti yang
belum berhasil kita temukan mayatnya!”
“Sebaliknya bila kesepuluh orang tokoh maha sakti itu mati
pada saat yang bersamaan, maka hanya ada satu jawaban
untuk teka teki ini, yakni sebelum kedatangan kita semua ke
dalam Istana Terlarang, telah ada orang lain yang pernah
berkunjung kemari.”
“Tentang soal ini…. tentang soal ini..” It-bun Han Too
berdiri tertegun
Rupanya pikiran jago lihay ini terasa amat kalut dan tidak
tenang, setengah harian lamanya dia gelagapan namun tak
sepatah katapun sanggup diutarakan keluar.

Padahal yang merasakan getaran keras itu bukan cuma Itbun
Han Too seorang, setiap jago yang hadir dalam ruangan
itu semuanya merasa pundak mereka seakan akan ditindihi
dengan beban seberat ribuan kati, mereka merasa suatu
kemurungan dan kekesalan yang aneh berkecamuk dalam
batin kecil mereka.
Seandainya dugaan itu tidak meleset dan benar-benar ada
orang yang memasuki Istana Terlarang mendahului mereka,
maka kemungkinan besar buku catatan ilmu silat yang
ditinggalkan kesepuluh tokoh silat maha sakti itu sudah
diambil pergi oleh orang itu atau dengan perkataan lain usaha
mereka untuk memasuki Istana Terlarang dengan pertaruhkan
jiwa raga itu hanyalah suatu pekerjaan yang sia-sia belaka.
Lama sekali kawanan jago lihay itu berdiri sambil
membungkam akhirnya It-bun Han Too lah yang pertamatama
buka suara ujarnya, “Kegagalan kita untuk mencari tahu
sebab-sebab kematian dari keenam orang ini di atas kursi roda
dalam keadaan tenang memang merupakan suatu hambatan
yang besar bagi kita tetapi kita janganlah keburu putus asa.
Sebelum kita temukan tiga sosok jenazah yang lain, belum
bisa kita pastikan bahwa ada orang lain yang benar-benar
telah memasuki Istana Terlarang mendahului kita!”
Tiba-tiba Shen Bok Hong berjalan kehadapan mayat Cianjin
Taysu, sekali cengkeram dia angkat mayat taysu itu dari
tempat semula.
Ketika jari tangannya menyentuh tubuh mayat tersebut,
hancuran pakaian segera beterbangan diangkasa, jubah lhasa
warna merah yang dkenakan Cian-jin Taysu hancur berkepingkeping
dan rontok di atas tanah.
Haruslah diketahui pakaian yang dikenakan padri itu sudah
berusia puluhan tahun lamanya karena termakan usia baju itu
sudah lapuk dan rusak, karena itu ketika jari tangan Shen Bok
Hong menyentuh pakaian tersebut hancurlah seketika jadi
bubuk.

Ketika semua orang alihkan sorot matanya ke arah kursi
roda itu, tampaklah kursi tadi halus lagi mengkilap, sama
sekali tidak dilengkapi dengan alat rahasia.
Ketika memandang kembali ke arah jenazah Cian Jin Taysu
maka tampaklah kulitnya sudah mengering dari berkerut,
terkurung selama puluhan tahun lamanya dalam istana
terlarang membuat mayat itu sama kali kering kerontang.
Shen Bok Hong turunkan jenazah Cian Jin taysu ke bawah.
lalu perlahan-lahan berkata, “Ada satu persoalan sekarang
bisa ditentukan, yakni sebelum mereka duduk di atas kursi
roda ini, keenam orang tokoh maha sakti tersebut belum
pernah melakukan pertarungan”
It-bun Han Too mengangguk, setelah termenung sebentar
dia berkata
“Persoalan yang harus kita lakukan dengan segera adalah
berusaha untuk menemukan tiga sosok jenazah yaug lain”
“Ruang istana terlarang hingga disini sudah menemui jalan
buntu sedang diantara kita semua hanya It-bun heng seorang
yang memahami ilmu bangunan, apakah dalam ruangan ini
masih ada pintu rahasia lain atau tidak, terpaksa kaulah yang
harus turun tangan”
.Maksudku, lebih baik kita periksa dahulu ruangan2 batu
dimanakah keenam buah kursi roda ini
berasal!”
“Aku rasa memang itulah satu-satunya jalan yang dapat
kita tempuh!”
Perlahan-lahan It-bun Han Too alihkan sorot matanya ke
atas wajah Shen Bok Hong serta Siauw Ling dari menyapanya
sekejap, kemudian katanya
“Disini terdapat enam buah kursi roda sedang kitapun
berjalan enam orang bila kita geserkan keenam sosok mayat

itu dari atas kursi dari kita bersama-sama duduk di tiap kursi
ini, maka dalam waktu singkat bukankah kita bisa memeriksa
keadaan dari enam buah ruangan itu tanpa harus membuang
banyak waktu dan tenaga”
“Cara ini kurang begitu baik”seru Kim Hoa Hujin sambil
menggeleng.
“Apanya yang kurang baik?”
“Seandainya sekarang kau telah menemukan alat rahasia
yang mengendalikan seluruh pintu masuk ruangan batu itu,
kemudian menanti kami semua sudah masuk ke dalam ruang
batu tiba-tiba kau menutup pintu tersebut bukankah kami
semua bakal mengikuti jejak keenam orang tokoh sakti itu dan
harus mati dalam Istana Terlarang dengan duduk di atas kursi
roda?”
“Pendapatmu itu bagus sekali!“ seru Shen Bok Hong sambil
melirik sekejap ke arah Kim Hoa Hujin,”It-bun heng, meskipun
belum tentu kau mempunyai pikiran demikian tapi kami mau
tak mau harus berjaga2…. bukankah pepatah kuno pernah
mengatakan: sedialah payung sebelum hujan?”
Mendengar perkataan itu. It-bun Han Toa segera tertawa
terbahak-bahak.
“Haaah…haaah….haah… kalau memang kamu berdua takut
dijebak olehku, terpaksa rencana ini harus kita batalkan. Lebih
baik kita tak usah memeriksa keadaan dari ruangan batu itu
lagi”
“Kalau kita musti tinggalkan ruangan2 itu tanpa diperiksa,
aku rasa sayang sekali siapa tahu dalam ruangan itu justru
kita akan menemukan suatu pertanda yang berharga?”
“Kalau memang begitu demikian saja! jika kalian semua
percaya dengan diriku, biar toh aku seorang diri masuk ke
dalam ruangan untuk melakukan pemeriksaan, bila
menemukan sesuatu pertanda yang berharga maka aku akan

beritahukan kepada kalian untuk dirundingkan bersama,
setuju atau tidak?”
Shen Bok Hong termenung sebentar, kemudian
mengangguk.
“Baiklah! aku setuju dengan usulmu itu”
Dia lantas berpaling ke arah Siauw Ling dan melanjutkan,
“Apakah saudara juga setuju dengan usul ini?”
Siauw Ling mengangguk, namun mulutnya tetap
membungkam dalam seribu bahasa.
It-bun Han Too melirik sekejap ke arah Tan In Cing, lalu
berkata, “Tan heng, selamanya aku paling kagum dengan
keberhasilanmu, semula ilmu pedarig aliran Hoa-san.pay tidak
memiliki kesaktian apapun juga, tetapi Tan heng berhasil
menciptakan pelbagai variasi yang menyebabkan serangkaian
ilmu pedang biasa berobah menjadi maha sakti dari membuat
kedudukanmu sejajar dengan sepuluh tokoh lainnya.
keberhasilanmu itu luar biasa sekali. Biarlah hari ini aku duduki
kursi dimana Tan Heng menempatinya semula….!”
Setelah memberi hormat ia bopong turun jenazah Tan In
Cing dari atas kursi, sedang ia sendiri segera naik ke atas kursi
roda itu. Kaki kanannya menginjak tempat pijakan di atas
kursi roda tersebut segera bergerak ke arah belakang.
Baik Shen Bok Hong maupun Siauw Ling sama-sama tidak
memperlihatkan tempat manakah yang dipijak jago pintar itu.
Dalam pada itu ketika kursi roda hampir tiba di depan
dinding, pintu rahasia tadi segera membuka untuk kemudian
menutup kembali setelah kursi tadi menerjang masuk ke
dalamnya.
Menanti bayangan punggung dari It-bun Han Too sudah
lenyap dari pandangan, Shen Bok Hong segera berbisik
kepada Siauw Ling, “It-bun Han Too adalah seorang manusia
licik yang sangat berbahaya, mau tak mau kita musti waspada

dan siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak
diinginkan, apakah heng tay masih ingat dengan alat rahasia
yang mengendalikan kursi roda dimana Tan In Cing berada
tadi?”
“Hmm….! Rupanya ia selalu berusaha aku banyak bicara….
aku justru tak mau menuruti kehendakmu, coba lihat apa yang
bisa kau lakukan?” batin Siauw Ling dalam hati.
Berpikir demikian ia lantas mengangguk sedang mulutnya
tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Melihat perbuatan pemuda itu Shen Bok Hong segera
tertawa dingin, serunya, “Kesabaran serta kemampuan
saudara untuk tetap membungkam benar-benar
mengagumkan sekali, andaikata It-bun Han Too
mempertunjukkan permainan setan untuk mengurung kita di
tempat ini, maka kaupun takkan terhindar dari kematian.”
Dalam hati Siauw Ling sudah ambil keputusan untuk tetap
membungkam kendati pihak lawan menyindir atau mengejek
dirinya, maka dari itu sekalipun Shen Bok Hong berulang kali
mengejek dirinya tetapi ia tetap membungkam dalam seribu
bahasa.
Suasana dalam ruangan itu mendadak jadi sunyi senyap….
hening dan tak kedengaran sedikit suarapun.
Kurang dari sepertanak nasi lamanya sudah lewat, namun
belum nampak juga It-bun Han Too munculkan diri dari balik
ruang rahasia tersebut.
Setelah bersabar beberapa saat akhirnya Shen Bok Hong
tak dapat menahan diri lagi ia berteriak keras.
“It-bun Heng, rahasia apakah yang terdapat dalam ruangan
itu? Sepantasnya kalau kau telah selesai melihatnya….”
Teriakan itu diulangi sampai beberapa kali, tetapi jawaban
dari It-bun Han Too tak kunjung datang juga, sedang
bayangan tubuhnya juga tak nampak munculkan diri.

Kejadian ini dengan cepat membuat Shen Bok Hong jadi
tak sabar dan gelisah, bahkan Siauw Ling pun ikut curiga.
Akhirnya Shen Bok Hong berpaling ke arah Siauw Ling
sambil ujarnya.
“Sedikitpun tak salah ternyata dugaanku tidak meleset,
rupanya It-bun Han Too sudah berhasil menemukan rahasia
dari ruangan ini, tapi diluaran ia tetap berlagak pilon dan
meminjam kesempatan ini masuk ke dalam ruang rahasia.
Hmmm.! Orang ini benar-benar licik, harap saudara segera
membuka alat rahasia yang mengendalikan kursi roda…..!
Siauw Ling tarik tangan Pek-li Peng dan bersama-sama
mengundurkan diri ke sudut ruangan, dengan mengandalkan
daya ingatannya ia hantam dinding batu tersebut, ketika
mencapai pukulan keempat tombol rahasia itu baru terkena
pukulannya.
Kraak….. Kraak….. di tengah denyitan suara yang mengerit,
pintu rahasia sebelah tenggara perlahan-lahan membuka dan
kursi roda itu muncul kembali dalam ruangan, hanya saja kursi
itu sudah kosong melompong, bayangan tubuh dari It-bun
Han Too entah sudah lenyap dimana.
Melihat kejadian itu dengan gusar Shen Bok Hong
menyambar toya sian-ciang tersebut dari tangan Tong Lo
Thay-thay, bentaknya, “It-bun Heng, kau tak mau unjukkan
diri?”
Tangan kanannya bekerja cepat, dengan bersenjatakan
toya tersebut ia hajar pintu rahasia tersebut keras2.
Blaam….! Dentingan nyaring bergeletar memenuhi seluruh
ruangan, walaupun terhajar keras namun yang terjadi
hanyalah beberapa keping hancuran batu yang berguguran di
atas tanah, pintu Itu sendiri masih tetap utuh seperti sedia
kala.

Bagaimanapun juga Shen Bok Hong adalah seorang jago
sakti yang punya nama hanya sebentar saja kemarahan sudah
sirap dari wajahnya pulih kembali dalam ketenangan, sambil
berpaling ke arah Siauw Ling ujarnya.
“Kita semua sudah tertipu It-bun Han Too satu-satunya
jalan yang terbaik saat ini adalah masuk ke dalam ruangan
batu untuk mencari jejaknya…”
Pada saat itu keadaan situasi sangat mendesak, Siauw Ling
sendiripun merasa batinnya amat tegang, terpaksa ia bertanya
dengan suara lirih.
“Bagaimana cara kita untuk mencari jejaknya?”
“Dengan kekuatan yang dimiliki kita berdua rasanya masih
sanggup untuk membereskan dirinya, kalau kau tak mau pergi
maka akulah yang akan pergi .!”
Siauw Ling berpaling dan melirik sekejap ke arah Pek-li
Peng, kemudian pikirnya.
“Shen Bok Hong adalah seorang manusia yang sangat
berbahaya. jika aku masuk ke dalam ruangan batu maka
Peng-ji seorang diri tak akan mampu menghadapi dirinya…”
Berpikir demikian, lantas berkata, “Lebih baik kau saja yang
pergi!”
Dalam sangkaan Shen Bok Hong semula, Sian Ling tentu
akan mengucapkan kata kata mengalah atau termenung
sambil membungkam, ia tidak menyangka kalau pemuda itu
justru menuding dirinya secara terus terang untuk beberapa
saat lamanya ia jadi tertegun.
Karena tak dapat menampik lagi terpaksa ketua dari
perkampungan Pek Hoa Sanceng ini keraskan kepala dan
berpesan kepada Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay
“Kalian berdua harus berhati-hati….”
Sambil berkata Ia duduk di atas kursi roda itu.

Maksud dari perkataannya itu jelas sekali ia sedang
memperingatkan kepada kedua orang itu untuk bekerja sama
menghadapi diri Siauw Ling.
Kim Hoa Hujin Segera tersenyum dan menyahut, “Toa
Cungcu tak usah kuatir, semoga kau bisa cepat-cepat temukan
jejak dari It-bun Han Too”
Shen Bok Hong adalah seorang manusia yang licik
meskipun ia sudah duduk di atas kursi roda tetapi otaknya
berputar terus makin dipikir ia merasa semakin menyesal ia
merasa tidak seharusnya dia pergi menempuh bahaya dengan
memasuki ruangan rahasia tersebut.
Sebab bagaimanapun juga jalan keluar dari Istana
Terlarang ini toh hanya satu. It-bun Han Too yang tak
membawa bahan makanan serta cahaya lampu dalam ruangan
yang cuma bertahan dua hari saja tak mungkin akan
membiarkan dirinya berada dalam ruangan itu selama puluhan
jam andaikata tidak menemui mara bahaya.
Ia merasa seharusnya da tak usah pergi menempuh
bahaya, sebaliknya duduk berjaga dalam ruangan itu sambil
bersemedi, dengan demikian bukan saja ia bisa mengirit
tenaga bahkan tak usah pula pergi menempuh bahaya.
Karena itulah setelah duduk di atas kursi roda, Shen Bok
Hong merasa menyesal sekali. Sampai duduk di kursi ia
pejamkan matanya tak berbicara lagi.
Siauw Ling melirik sekejap ke arah Shen Bok Hong,
kemudian tegurnya, “Eeei…kenapa kau cuma duduk saja tan.
pa bergerak?”
“Sewaktu It-bun Han Too menginjak alat rahasia pada
tempat berpijak kursi beroda itu, aku toh tidak
memperhatikannya dari mana aku bisa tahu letak tombol
rahasia tersebut?”

Siauw Ling segera maju mendekati kursi itu, kakinya
menginjak beberapa kali tempat berpijak dari kursi tadi tapi
kursi roda itu masih tetap berhenti di tempat semula.
Rupanya terpaksa kita harus menunggu It-bun Han Too di
tempat ini!” ujar Shea Bok Hong sambil perlahan lahan bangkit
berdiri
Pada saat ia bangkit berdiri itulah, tanpa sengaja kakinya
telah menyentuh alat rahasia yang mengendalikan kursi
tersebut, dengan cepatnya kursi roda itu bergerak ke arah
belakang.
Sementara itu Shen Bok Hong belum bangkit benar-benar,
dengan bergeraknya kursi roda itu tanpa sadar diapun duduk
kembali ke atas kursi.
Pintu rahasia di atas dinding itu walaupun gumpil beberapa
bagian termakan oleh babatan toya dari Shen Bok Hong tadi,
tetapi alat rahasianya sama sekali tidak rusak, terlihatlah
tubuh Shen Bok Hong di atas kursi roda tadi dengan cepatnya
menerjang masuk ke dalam pintu rahasia dimana pintu
tersebut secara otomatis menutup kembali setelah kursi roda
itu tenggelam dibalik dinding.
Memandang pintu batu yang telah menutup kembali,
bagaikan sedang bertanya kepada Siauw Ling terdengar Kim
Hoa Hujin bergumam seorang diri
“Apakah dalam pintu batu itu terdapat pula alat rahasia
yang mengendalikan untuk membuka pintu rahasia itu?”
“Aku rasa dibalik ruangan itu semestinya harus ada tombol
rahasia yang mengendalikan pintu rahasia tersebut “ jawab
Siauw Ling tanpa ragu-ragu setelah Shen Bok Hong tak ada di
depan mata, “cuma saja aku rasa belum tentu mereka akan
berhasil menemukannya!”

“Ehmmm…! lalu bagaimana dengan It-bun Han Too itu
sendiri? ia sengaja bersembunyi dalam ruang rahasia itu dan
tak mau keluar? ataukah dikarenakan ia terkurung di dalam
ruangan tersebut?”
“Tentang soal ini sulit untuk diduga, cuma andaikata It-bun
Han Too sengaja menyembunyikan diri di dalam ruangan itu,
aku rasa setelah Shen Bok Hong masuk ke dalam ruangan
maka ia akan merasakan suatu siksaan yang hebat!”
“Sebaliknya kalau kedua orang ini sama-sama terkurung di
dalam ruang rahasia tersebut hingga tak bisa keluar lagi,
mungkin kitapun sulit untuk lolos dari Istana Terlarang
“sambung Kim Hoa hujin kembali.
Pertanyaan ini sangat menggetarkan hati Siauw Ling,
setelah termenung beberapa saat lamanya ia berkata kembali,
“Kendati seseorang telah memiliki ilmu silat yang sangat lihay
hingga tiada tandingnya di kolong langit. diapun tak akan
mampu untuk hidup dalam Istana Terlarang, kecuali kalau
orang itu benar-benar telah mencapai keadaan seperti dewa
yang tak perlu makan atau minum”
“Kau bisa berkata demikian karena di tempat ini tak ada
makanan serta minuman “sela Kim Hoa hujin.” sebaliknya bila
ada persediaan rangsum dari air minum di tempat ini,
bukankah kita bisa juga hidup dalam Istana Terlarang
sebagaimana kehidupun biasa”
“Benar udara di tempat ini amat tidak terlalu sesak dan
panas, udara selalu mengalir dan tetap segar. Andaikata ada
rangsum dan air minum di tempat ini, aku rasa bukan suatu
kejadian aneh bila kita mampu hidup selama tiga lima tahun
dalam Istana Terlarang”
“Perempuan apa sih dia itu? kenapa selalu ajak toako
berbicara? sungguh menjemukan!” pikir Pek-li Peng dalam
hati.

Karena jengkel bercampur mendongkol, ia segera maju
kedepan dari berdiri tepat ditengah antara Kim Hoa Hujin
dengan Siauw Ling.
Perempuan yang berasal dari wilayah Biau ini tidak tahu
kalau Pek-li Peng adalah perempuan yang menyaru sebagai
pria, tentu saja ia tak bisa menduga pula apa yang sedang
dipikirkan gadis tersebut, setelah melirik sekejap ke arah Pek-li
Peng, ia berpaling dan ujarnya kepada Tong Lo-thay.thay,
“Seandainya Shen Toa Cungcu benar-benar terkurung di
dalam ruang rahasia itu, apa rencana Tong Lo hujin
selanjutnya?”
“Menurut aku lebih baik kita menanti sejenak lagi,
kemudian baru mengambil keputusan,” jawab Tong Lo Thaythay.
Rupanya Kim Hoa Hujin dapat menebak isi hati rekannya
yang masih takut terhadap Shen Bok Hong dari tak berani
mengutarakan isi hatinya itu, sambil tersenyum ujarnya
kembali.
“Tong hujin kau hendak menanti berapa lama lagi? kau
musti tahu bahwa di tempat ini sama sekali tiada persediaan
bahan makanan, untuk tinggalkan Istana Terlarang mungkin
kita masih harus mengorbankan banyak tenaga dari pikiran,
kalau mau tunggu janganlah terlalu lama”
Mendengar perkataan Itu, dengan sorot mata tajam Tong
Lo Thay-thay segera menatap wajah Kim Hoa Hujin tajamtajam,
beberapa saat kemudian serunya.
“Andaikata Shen Toa Cungcu benar-benar terkurung dalam
ruang rahasia ini. para jago lihay yang hampir mendekati
ribuan banyaknya dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng itu
entah hendak mendukung siapa untuk meneruskan
kedudukannya yang kosong itu?”

Pertanyaan ini diajukan terlalu mendadak dari sama sekali
berada diluar dugaan, hal ini membuat Siauw Ling maupun
Kim Hoa Hujin jadi tertegun dibuatnya.
Siauw Ling segera berpikir di dalam hati, “Sejak aku
tinggalkan perkampungan Pek boa sanceng, entah bagaimana
keadaan dari para jago Bulim yang berkumpul di dalam
perkampungan tersebut?”
Kim Hoa Hujin adalah seorang perempuan binal yang sukar
disetir dan ditundukkan, tetapi entah bagaimana caranya ia
bisa berpihak kepada perkampungan Pek Hoa Sanceng.
Terutama sekali Tong Lo Thay-thay, dia adalah ciangbunjin
dari suatu perguruan besar namun dengan sukarela tenaganya
dipergunakan oleh Shen Bok Hong, kejadian ini betul-betul
aneh dari mencurigakan sekali…”
Berpikir sampai disini, tanpa terasa ia pusatkan
perhatiannya untuk mendengarkan dengan lebih seksama.
---oo0dw0oo---
Jilid: 6
TERDENGAR Kim Hoa hujin berkata kembali, “Kalau
menurut pendapatmu, siapakah yang lebih cocok untuk
meneruskan kedudukan Shen Bok Hong sebagai kepala
perkampungan yang berkuasa penuh?…..”
Tong Lo Thay-thay mendehem ringan, setelah berpikir
sebentar dia menjawab, “Ciu Ciau Liong bukan seorang jago
yang berbakat bagus, sulit baginya untuk meneruskan karier
Shen Bok Hong sebagai kepala perkampungan Pek Hoa
Sanceng ….”
Ia berhenti sebentar, kemudian terusnya, “Tang Hiong
Ciang walaupun merupakan murid tertua dari Shen Bok Hong
sayang sekali usianya masih terlalu muda dan susah untuk
memikul tanggung jawab ini…..”

“Heeeh……. heeeh….. heeeh… ini tidak cocok, itu tidak
pantas. Aku lihat mungkin hanya kau Tong Lo Thay-thay yang
pantas menduduki jabatan tinggi tersebut,“ ejek Kim Hoa
Hujin sambil tertawa terkekeh2.
Mendengar sindiran tersebut, Tong Lo Thay-thay kontan
tertawa dingin.
“Aku lihat sikap Shen Toa Cungcu terhadap dirimu tidak
jelek, setiap hari berhadapan dengan urusan penting pasti
mengajak serta dirimu, dikemudian hari aku rasa kaulah yang
paling punya harapan untuk meneruskan kedudukan sebagai
kepala perkampungan Pek Hoa Sanceng…”
Kim Hoa Hujin tertawa dingin tiada hentinya, jelas dia
hendak berang tapi akhirnya dengan sekuat tenaga berusaha
untuk menyabarkan diri katanya.
“Tong hujin, aku lihat kau sangat mencurigai diriku?”
“Terhadap setiap manusia yang berasal dan perkampungan
Pek Hoa Sanceng aku tak berani mempercayainya, sebab
setiap manusia yang berasal dari sana adalah manusiamanusia
yang berbahaya”
Kim Hoa Hujin tertawa hambar.
“Keluarga Tong yang berasal dan propinsi Su-chuan adalah
suatu perguruan besar yang selamanya berdiri tersendiri
dalam dunia persilatan, jarang sekali perguruanmu itu
berhubungan dengan perguruan lain dalam wilayah Tionggoan,
tapi kenapa sekarang tunduk dan mudah diperintah oleh
pihak perkampungan Pek Hoa Sanceng?”
“Aaaah…sungguh kebetulan sekali” batin Siauw Ling yang
berada disisi kalangan, “apa yang sedang diributkan oleh Kim
Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay justru merupakan masalah
yang ingin kuketahui. ..”
Karena itu walau melihat kedua orang itu sedang cekcok
mulut, namun pemuda itu tetap membungkam seribu bahasa.

Terdengar Tong Lo Thay-thay menjawab.
“Tua muda puluhan lembar jiwa dari keluarga Tong kami
telah terjatuh ke dalam cengkeraman Shen Toa Cungcu, aku
tak tega menyaksikan keturunan keluarga Tong mati konyol
semua ditanganku maka dengan menahan penderitaan serta
penghinaan kuturuti perintahnya serta melaksanakan titahnya

Ia berhenti sebentar, kemudian terusnya kembali, “Kalau
Hujin, apakah kau memang rela diperintah dan
menyumbangkan tenaga bagi Shen Toa Cungcu?”
“Meskipun Shen Bok Hong telah melepaskan racun keji ke
dalam tubuhku sehingga mati hidupku dikuasai olehnya, tetapi
hal itu bukankah alasan utama bagiku untuk tetap berdiam di
daratan Tionggoan” sahut Kim Hoa hujin.
“Lalu apa sebabnya kau masih tetap tinggal disini?”
Kim Hoa bujin mendongak dan segera tertawa terkekeh2.
“Haaah…… haaah……. haaah….kenapa aku masih tetap
tinggal di daratan Tionggoan? bukan lain karena aku ingin
membantu seorang saudaraku!!
“Oooh…! jadi kau masih ada saudara di daratan
Tionggoan?”
“Saudara sekandung sih tak ada, tapi aku punya seorang
saudara angkat….”
“Siapakah saudara angkatmu itu?”
“Dia adalah seorang pendekar besar yang mempunyai
nama tersohor di kolong langit, setiap umat manusia yang
mengenali dan mengetahui akan dirinya…..”
“Hujin,” sela Tong Lo Thay-thay cepat, ”aku lihat lebih baik
kau tak usah jual mahal lagi, katakan keluar!”

“Baiklah, akan kusebutkan nama saudaraku itu sekalipun
kau beritahukan kepada Shen Bok Hong aku juga tidak takut,
saudaraku itu bukan lain adalah Siauw Ling!”
“Siauw Ling? Siauw Ling yang pernah menjadi Sam Cungcu
dan perkampungan Pek Hoa Sanceng?”
(Untuk mengetahui kisah tersebut silahkan membaca:
Rahasia Kunci Wasiat.)
“Sedikitpun tidak salah!” sahut Kim Hoa Hujin sambil
mengangguk.
“Aku pernah berjumpa dengan dirinya dia memang satusatunya
musuh tangguh yang berani menentang kekuasaan
Shen Bok Hong pada saat ini!”
“Benar!” kata Kim Hoa hujin sambil tertawa,” saudaraku itu
berjiwa ksatria dan bernyali baja. Ia memiliki ilmu silat yang
maha sakti. Setiap kali Shen Bok Hong bertemu dengan
dirinya, ía tentu dibikin pusing tujuh keliling…. cuma ada satu
hal yang kurang bagus pada dirinya, tetapi wajahnya terlalu
tampan hingga membuat setiap perempuan yang berjumpa
dengan dirinya tentu akan terpesona dan terpikat olehnya, aku
dengar Tong Sam Kau juga pernah ada hubungan dengan
dirinya, benarkah itu?”
“Ngaco belo…” diam-diam Pek-li Peng memaki di dalam
hati, “Toako aku bukan manusia semacam itu ….”
Sementara itu Tong Lo Thay-thay telah menjawab,
“Aaah…! mereka hanya pernah mengenal satu sama lainnya
saja, yang benar sama sekali tak ada hubungan apa apa…..”
Tiba-tiba Kim Hoa Hujin tarik kembali senyuman di atas
wajahnya. dengan sikap serius ia berkata, “Andaikata secara
tiba-tiba Siauw Ling munculkan diri di dalam Istana Terlarang
dan terjadi pertarungan melawan Shen Bok Hong, kau bakal
berpihak kepada siapa….”

“Aaah! Siauw Ling tak mungkin bakal muncul dalam Istana
Terlarang secara tiba-tiba” tukas Tong Lo Thay-thay, kenapa
aku musti buang banyak tenaga untuk memikirkan persoalan
itu?”
“Segala perbuatan yang tak mungkin dilakukan orang lain
kemungkinan besar dapat dilakukan Siauw Ling, siapa tahu
kalau dia sudah masuk ke dalam Istana Terlarang dan
sekarang berdiri di sekitar kita”
Meskipun Tong Lo Thay-thay tahu bahwa Kim Hoa Hujin
hanya bergurau saja dengan dirinya tetapi tak urung ia
berpaling juga untuk menyapu sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian baru katanya.
“Aaah! hal ini sama sekali tak mungkin terjadi…. . .”
Kim Hoa Hujin tertawa terkekeh2, suaranya keras dan
nyaring sehingga menggetarkan seluruh ruangan tersebut.
Tong Lo Thay-thay yang ditertawakan olehnya jadi bingung
dan tak habis mengerti tak tertahan lagi ia bertanya,
“Eeeey…..apa yang sedang kau tertawakan? Apa yang telah
salah kukatakan?”
“Rahasia dari Siauw Ling tak boleh kubocorkan pada saat
ini” pikir Kim Hoa Hujin di dalam hati. Lebih baik aku tetap
memegang rahasia saja….”
Karena berpikir demikian, sambil tersenyum sahutnya,
“Aaah…… aku mana berani mentertawakan Tong Hujin?”
Dalam pada itu Pek-li Peng yang mendengar gelak tawa
Kim Hoa Hujin yang dianggapnya jalang itu jadi tak senang
hati, pikirnya dalam hati, “Kenapa gelak tawa dari perempuan
ini begitu jalang? Dia tentulah seorang perempuan cabul yang
berbahaya, aku tak boleh membiarkan toako berdiri terlalu
dekat dengan dirinya….”
Karena berpendapat demikian, ia segera tarik lengan kanan
Siauw Ling dan diajak mengundurkan diri ke sudut ruangan.

Tindak tanduknya yang sangat aneh ini bukan saja seketika
membuat Kim Hoa Hujin jadi keheranan, sekalipun Siauw Ling
sendiri juga kebingungan setengah mati, dengan suara lirih
segera bisiknya, “Peng ji, apakah yang hendak kau lakukan?”
Pek-li Peng mengerling sekejap ke arah Kim Hoa Hujin, lalu
sahutnya, “Aku muak dan benci sekali dengan gelak tawa dari
Kim Hoa Hujin….”
Siauw Ling tersenyum, pikirnya, “Oooh….! Kiranya begitu,
tindak tanduk Kim Hoa Hujin memang terlalu binal dan terlalu
terbuka, perbuatannya sama sekali tidak menuruti adat
istiadat bangsa Han yang masih kolot…. tapi hal ini tidak bisa
salahkan dirinya yang sedari kecil sudah dididik secara adat
suku Biau.”
Setelah berada di sudut ruangan, pemuda merasa tidak
enak hati kalau hanya berpeluk tangan belaka, maka ia segera
dekati dinding batu dan meraba raba sekitar dinding tadi.
Kiranya ia takut kalau Kim Hoa Hujin mengetahui akan
sikap dari Pek-li Peng itu sehingga membuat perempuan
tersebut merasa sakit hati, maka sengaja ia perlihatkan sikap
tadi dimana dalam pandangan orang lain seolah olah
kepergiannya ke sudut ruangan adalah untuk mencari sesuatu
alat rahasia yang mencurigakan disitu.
Peristiwa yang di kolong langit kadang-kadang memang
sama sekali diluar dugaan, It-bun Han Too telah melakukan
pemeriksaan yang seksama di seluruh dinding ruangan itu,
walau sudah bekerja keras beberapa waktu namun tak ada
hasil yang berhasil didapatkannya. Sebaliknya rabaan Siauw
Ling kali ini yang sebetulnya sama sekali tidak bermaksud
kebetulan sekali dengan telak mengena di atas tombol rahasia
tersebut.
Pemuda itu segera merasakan dinding ruangan dimana
tangannya sedang meraba itu mendadak bergerak ke
belakang, dan tahu-tahu muncullah sebuah pintu rahasia yang

lebarnya beberapa depa, pada permukaan pintu rahasia tadi
tampak sebuah gelang pegangan yang terbuat dari batu
kumala.
Perubahan yang terjadi diluar dugaan ini segera menarik
perhatian Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay, mereka
berdua dengan cepat merudung kedepan.
Entah apa gunanya gelang kumala yang terdapat di atas
pintu rahasia ini….” pikir Siauw Ling kembali, tanpa banyak
bicara ia segera tarik gelang tersebut ke belakang.
Kraaak……! Kraaak……! diiringi suara gemericikan yang
nyaring, tiba-tiba seluruh ruangan bergoncang keras, diikuti
ruangan itu mulai bergeser ke arah samping.
Siauw Ling segera pusatkan seluruh perhatiannya ke arah
pintu rahasia tadi sambil secara diam-diam melakukan
persiapan, andaikata ruangan itu menunjukkan gejala
berbahaya maka ia akan himpun segenap tenaganya untuk
melakukan penghadangan agar ketiga orang perempuan itu
sempat lolos terlebih dahulu dari mara bahaya.
Siapa tahu dugaannya sama sekali meleset setelah
berkumandangnya suara gemericikan nyaring tadi,
pemandangan yang berada dihadapan mereka tiba-tiba
berubah sama sekali.
Pada dinding batu yang semula halus licin dan mengkilap
itu, kini secara tiba-tiba muncul sebuah lorong rahasia yang
mampu dilalui dua orang secara berbareng.
Siauw Ling berpaling sekejap ke belakang dia lihat Kim Hoa
Hujin serta Tong Lo Thay-thay ketika itu sedang berdiri
menjublak dengan mata mendelong….”
Jelas perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam
ruangan itu telah membuat mereka terpesona dan terkesiap….

Siauw Ling perhatikan lorong itu dengan seksama, dia lihat
dalam lorong rahasia itu mencapai puluhan tombak, dimana
lorong tadi kemudian berbelok ke arah sebelah kiri. Ujarnya.
“Aku akan melakukan pemeriksaan sebentar ke dalam
lorong rahasia ini, harap kalian bertiga suka menanti diluar,
sebelum ada seruanku harap jangan bertindak secara
gegabah….”
“Tidak, aku hendak ikut serta dengan dirimu!” seru Pek-li
Peng
Seruan ini segera membuat Kim Hoa Hujin jadi tertegun,
pikirnya, “Kalau ditinjau dari nada suaranya serta tingkah laku
dari orang ini, rupanya dia adalah seorang gadis yang sedang
menyaru sebagai kaum pria, tapi siapakah dia?”
Satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya tanpa
sadar ia berseru dengan suara lantang.
“Kau adalah Kim Lan!”
Pek-li Peng tidak tahu siapakah yang bernama Kim Lan,
melihat sepasang mata Kim Hoa Hujin menatap dirinya
dengan tajam tanpa berkedip ia merasa sangat tidak puas
sambil mendengus dingin tertegun, “Apa yang kau lihat?”
Siauw Ling takut sekali kalau kedua orang itu sampai terjadi
pertarungan buru-buru dia menarik lengan Pek-li Peng dan
diajak menerobos masuk ke dalam lorong rahasia.
Terdengar Kim Hoa Hujin mengoceh kembali.
“Jika kau adalah Kim Lan atau Giok Lan dua orang dayang,
sikapnya tak akan sekurang ajar itu terhadap diriku…. jelas
kalau bukan kedua orang dayang itu, kau pastilah Gak Siau
Cha!”
Sementara itu Siauw Ling serta Pek-li Peng baru saja
berbelok ke arah kiri tampaklah sebuah mutiara
bergelantungan disitu. Meski cahaya mutiara itu tidak seterang

cahaya lentera, namun secara samar2 pemandangan di sekitar
sana dapat dilihat jelas.
“Toako” bisik Pek-li Peng dengan suara lirih. “Nama Gak
Siau Cha sangat ku kenal sekali, agaknya pernah kudengar
ada orang yang menyebutnya….”
“Dia adalah seorang pendekar wanita yang tersohor sekali
dalam dunia persilatan tentu saja kau pernah mendengarnya!”
“Hmm!” seru Pek-li Peng sambil tersenyum, “Kim Hoa Hujin
telah menganggap diriku sebagai Gak Siau Cha “
Tiba-tiba ia menghentikan langkah kakinya dan mencekal
lengan Siauw Ling erat-erat, tanyanya, “Toako, kau kenal
dengan Gak Siau Cha?”
Siauw Ling terkesiap, segera pikirnya, “Pikiran bocah
perempuan ini terlalu sempit dan cupat, sedang sekarang pun
aku tak punya waktu untuk memberi keterangan kepadanya,
terpaksa untuk sementara waktu aku harus membohongi
dirinya lebih dahulu….. “
Karena berpikir demikian, ia lantas menjawab.
“Setiap jago Bu lim sering kali melakukan perjalanan di
daratan Tionggoan pasti akan mengetahui siapakah Gak Siau
Cha itu, sedangkan siauheng? Tentu saja pernah berjumpa
dengan dirinya.“
“Oooh…..! Kiranya begitu, rupanya Gak Siau Cha bukanlah
seorang pendekar yang benar-benar luar biasa “
“Kenapa?”
“Bukankah Gak Siau Cha adalah seorang gadis?”
“Sedikitpun tidak salah!”
“Kim Hoa Hujin toh tidak tahu siapakah aku sebenarnya?
tetapi ia mengetahui bahwa Gak Siau Cha kemungkinan besar
dapat melakukan perjalanan bersama-samamu, hingga salah

menganggap diriku sebagai Gak Siau Cha. Hmmm!… aku sih
tak akan berbuat sembarangan macam nona Gak itu….”
Siauw Ling merasa amat tidak tenteram hatinya sewaktu
mendengar ucapannya melukai martabat Gak Siau Cha, tetapi
diapun merasa kesulitan jika memberi penjelasan lebih lanjut
kepadanya, karena itu dengan berlagak pilon ia mendengus.
Sementara itu mereka telah tiba di ujung lorong rahasia itu,
Siauw Ling segera mendorong sebuah pintu batu hingga
terbuka.
Setelah memasang obor Siauw Ling menyapu sekejap ke
arah ruangan itu, ia lihat kamar tersebut mirip sekali dengan
sebuah kamar baca. Sebuah lampu lentera yang masih
nampak persediaan minyaknya terletak di atas sebuah meja
tulis.
Pemuda itu segera mendekati lampu tadi dan menyulutnya
suasana dalam ruangan seketika berubah jadi terang
benderang.
Tampaklah di belakang sebuah meja batu dan di atas
sebuah kursi kayu duduk sesosok kakek tua berwajah penuh
welas asih yang berjenggot sepanjang dada, walaupun
matanya terpejam namun senyuman manis masih menghiasi
bibirnya orang itu kelihatan segar seolah-olah seseorang yang
sedang tidur.
Suara langkah kaki manusia berkumandang memecahkan
kesunyian, ketika ia berpaling terlihatlah Kim Hoa Hujin serta
Tong Lo Thay-thay secara beruntun muncul pula dalam
ruangan itu.
“Mungkinkah orang ini adalah Raja Seruling Thio Hong?”
pikir Siauw Ling dalam hati sambil menatap wajah kakek itu.
Apa yang dipikirkan oleh pemuda tersebut pada saat ini
hanyalah satu yakni berusaha keras untuk menemukan Raja
Seruling Thio Hong serta berharap bisa meraba ilmu silat

seruling kumalanya hingga dalam janji di dasar tebing Toan
hun gay tiga bulan kemudian, ia dapat membantu diri Gak
Siau Cha
“Tong Hujin,“ terdengar Kim Hoa Hujin bertanya, “ apakah
orang ini adalah Raja Seruling Thio Hong?”
“Ditengah jidat Raja Seruling Thio Hong terdapat sebuah
tahi lalat berwarna hitam jika orang ini punya tahi lalat maka
dia tentulah Raja Seruling Thio Hong.
“Bodoh amat diriku ini!“ pikir Siauw Ling dalam hati,
“sewaktu berada dalam ruangan tadi bukankah Tong Lo Thaythay
pernah berkata di atas jidat Raja Seruling Thio Hong
terdapat tahi lalat berwarna hitam? kenapa aku tidak ingat?”
Sewaktu ia perhatikan raut wajah kakek itu, tampaklah jidat
orang itu bersih dan sama sekali tidak tampak tahi lalatnya.
Siauw Ling segera tertegun, gumamnya seorang diri, “Kalau
begitu orang ini juga bukan Raja Seruling Thio Hong!”
Sementara itu Kim Hoa Hujin telah memperhatikan kembali
raut wajah Pek-li Peng makin dilihat ia merasa semakin yakin
bahwa lawannya adalah seorang gadis yang sedang menyaru
sebagai pria, hanya saja ia tak dapat menebak siapakah
gerangan orang itu.
Sorot matanya berputar, tiba-tiba ia temukan di bawah
meja batu itu terdapat laci yang tidak tertutup rapat, satu
ingatan segera berkelebat dalam benaknya.
Dengan cepat ia melangkah maju ke depan, setelah
mengitari Siauw Ling serta Pek-li Peng, ia tarik kursi kayu itu
kemudian menggeserkan jenazah dari kakek tua berjenggot
panjang tadi.
Pada dasarnya Pek-li Peng sudah menaruh rasa tak senang
terhadap Kim Hoa Hujin, melihat perempuan itu mendahului
mereka seperti hendak mencari sesuatu, hawa amarahnya

segera memuncak. Bentaknya dengan suara dingin, “Jangan
bergerak!”
Sambil membentak telapak tangannya laksana kilat
membabat ke arah depan dengan dahsyatnya….
“Entah siapakah orang ini?” batin Kim Hoa Hujin dalam
hati. “Hmmm! Coba kujajal menyambut pukulannya itu….”
Berpikir demikian, tangan kanannya segera diluruskan
sejajar dada, ia sambut datangnya serangan tersebut dengan
keras lawan keras
Blaaam….! Ditengah benturan keras, kedua belah pihak
merasakan lengan kanan masing-masing jadi tergetar keras
dan kaku, ternyata dalam benturan itu masing-masing pihak
berada dalam posisi yang seimbang, siapapun tidak berhasil
merebut keuntungan.
“Sungguh hebat ilmu orang ini!” pikiran tersebut segera
terlintas dalam benak kedua orang itu.
Pek-li Peng yang menyaksikan Kim Hoa Hujin masih tetap
berdiri di tempat semula walaupun sudah menyambut
serangannya dengan keras lawan keras, hawa amarahnya
semakin berkobar.
Sambil meletakkan kotak kayu dalam bopongannya ke atas
tanah, ia segera menerjang maju kedepan.
Gerak-geriknya ini dilakukan sangat cepat bagaikan
sambaran kilat, menanti Siauw Ling hendak mencegah sudah
keadaan terlambat.
Kim Hoa Hujin menyadari bahwa ia telah berjumpa dengan
musuh tangguh. Karenanya dengan sekuat tenaga ia sambut
datangnya serangan lawan, perempuan ini tak berani
bertindak secara gegabah.
Pek-li Peng sangat bernafsu sekali, serangan gencar
dilancarkan secara bertubi-tubi semua ancaman ditujukan ke

tempat-tempat berbahaya di tubuh Kim Hoa Hujin namun
walaupun sudah mengirim dua belas jurus serangan berantai,
sayang kesemuannya berhasil dipunahkan Kim Hoa Hujin.
Sebenarnya Siauw Ling ingin turun tangan untuk melerai
pertarungan ini, tetapi setelah menyaksikan rasa benci Pek-li
Peng terhadap Kim Hoa Hujin maka ia batalkan niatannya
tersebut. Pemuda itu berharap agar pertarungan itu bisa
menyalurkan rasa dongkol yang selama ini mencekam dalam
hatinya, ia merasa jika situasi sudah kritis barulah ia akan
melerai.
Karena berpendapat demikian, maka pemuda itupun segera
undurkan diri k esamping sambil berpeluk tangan belaka.
Dalam pada itu situasi dalam gelanggang pertarungan telah
berubah, setelah Pek-li Peng melancarkan serangan bertubitubi,
maka kali ini giliran Kim Hoa Hujin lah yang melancarkan
serangan balasan, ilmu pukulan jari dilancarkan dengan
sempurna dan dahsyatnya.
Pukulan-pukulan berantai yang lembut tapi mengandung
ancaman yang besar ini dilancarkan dengan gencar oleh Kim
Hoa Hujin dalam waktu singkat limabelas jurus telah berlalu
namun kedua belah pihak belum kelihatan ada tanda-tanda
untuk meredakan pertarungan.
Menyaksikan kejadian itu Siauw Ling segera mengetahui
jika ia tidak keburu turun tangan maka di bawah serangan
gencar Kim Hoa Hujin yang tiada hentinya ini, sulit bagi Pek-li
Peng untuk rebut posisi baik dan lama kelamaan mungkin
sekali gadis itu akan terluka.
Karena berpikir demikian tiba-tiba ia menerjang masuk ke
dalam gelanggang pertempuran, telapak kanannya diayun
menciptakan selapis bayangan telapak yang kuat untuk
membendung serangan dari Kim Hoa Hujin, bentaknya,
“Tahan!”

Kim Hoa Hujin mengiakan dan segera mundur tiga langkah
ke belakang, tegurnya?”
“Apakah kau adalah saudara Siau?”
“Tidak salah aku adalah Siauw Ling!” jawab si anak muda
itu sambil melepaskan topeng kulit yang menutupi wajahnya.
“Aaaah! Siau Tayhiap!“ seru Tong Lo Thay-thay seolah-olah
baru menyadari akan sesuatu, “Sepantasnya kalau sedari tadi
aku telah menduga akan dirimu!”
Dalam ingatan boanpwee, Tong locianpwee adalah musuh
yang paling gigih dalam usaha menentang kekuasaan serta
penindasan dari Shen Bok Hong sungguh tak nyana peristiwa
yang terjadi di kolong langit kadang-kadang diluar dugaan,
beberapa bulan tak berjumpa ternyata locianpwee telah
bekerja sama dengan Shen Bok Hong “ kata Siauw Ling sambil
bongkokkan diri memberi hormat.
Tong Lo Thay-thay menghela napas sedih setelah
mendengar perkataan itu, sahutnya, Apa boleh buat? aku
didesak oleh keadaan dan mau tak mau harus berbuat
demikian…..“
“Saudara Siau,“ ujar Kim Hoa Hujin pula, “puluhan lembar
jiwa keluarga Tong terancam oleh mara bahaya, mati hidup
mereka telah berada dalam cengkeraman Shen Bok Hong,
andaikata Tong Lo Thay-thay tak mau menerima perintah dari
Shen Bok Hong maka kemungkinan besar keluarga Tong di
propinsi Su chuan bakal lenyap dari permukaan bumi.“
“Perbuatan serta tindak tanduknya dari Shen Bok Hong
memang terlalu keji dan tak tahu aturan, tentu saja dalam
kejadian ini tak dapat menyalahkan Tong cianpwee. “
“Meskipun mati hidup keluarga Tong kami berada dalam
kekuasaan Shen Bok Hong tetapi akupun tak ingin terlalu lama
dikuasai olehnya….“ sambung Tong Lo Thay-thay

Mendadak ia berhenti bicara dan tidak melanjutkan kembali
kata-katanya
Kim Hoa Hujin melirik sekejap ke arah Pek-li Peng, tiba-tiba
ia bertanya, “Saudaraku siapa sih nona ini?”
Siauw Ling tidak langsung menjawab, kepada Pek-li Peng
katanya, “Tong Lo Thay-thay serta Kim Hoa Hujin bukan orang
luar, hapuslah angus yang melekat di atas wajahmu itu dan
temuilah mereka dengan wajah aslimu!…..”
“Dalam Istana Terlarang tidak terdapat angus lagi, jika
kuhapus angus ini kemana aku harus mencari lagi untuk
memulihkan penyaruanku ini?” jawab Pek-li Peng.
“Kalau nona ini tak mau bertemu dengan kami dengan raut
wajah aslinya, sudahlah jangan terlalu dipaksa,“ kata Kim Hoa
Hujin, “Saudara Siau beritahu saja asal usulnya yang
sebetulnya!”
“Jangan beritahukan kepadanya!” seru Pek-li Peng
Siauw Ling gelengkan kepalanya berulang kali, pikirnya
dalam hati, “Sedari kecil ia sudah terbiasa dimanja oleh ayah
dan ibunya, apa saja kemauannya selalu dituruti hingga lama
kelamaan membuat tabiatnya berubah jadi kasar dan cari
menang sendiri, kalau aku tidak berusaha untuk memadamkan
kesombongannya, entah berapa banyak orang lagi yang akan
disalahi olehnya….”
Berpikir demikian, ia lantas berkata, “Peng-ji, Kim Hoa
Hujin sudah beberapa kali melepaskan budi pertolongan
kepadaku andaikata tiada bantuan serta pertolongannya
mungkin tulang belulang toako pada saat ini sudah
mendingin……..”
Mendengar ucapan itu, Kim Hoa Hujin tertawa terkekehkekeh.
“Haaah…. haaah…. haaah…. saudaraku kalau berbicara
janganlah terlalu sungkan-sungkan.

Dalam pada itu ketika Pek-li Peng melihat Siauw Ling
berbicara dengan wajah serius ternyata benar-benar tak
berani mengumbar wataknya lagi, ia bungkam dalam seribu
bahasa.
Siauw Ling melirik sekejap ke arah Pek-li Peng, kemudian
berkata, “Berada dihadapan Tong locianpwee serta cici aku
tidak berani mengelabui atau berbohong, nona ini bukan lain
puteri dari Pek thian Cungcu yang bernama Pek-li Peng….. “
“Oooh…..! Kiranya tuan puteri dari istana Pak Peng Kiong!”
Kim Hoa Hujin berseru tertahan.
Setelah mengetahui bahwa Kim Hoa Hujin beberapa kali
pernah menolong jiwa Siauw Ling, sebenarnya di dalam hati
Pek-li Peng telah berjanji tak akan menyulitkan perempuan itu
lagi, tetapi setelah menyaksikan sikapnya yang genit dan
jalang, hawa amarahnya segera berkobar kembali, jengeknya
dengan suara dingin, “Kalau benar mau apa?”
Kim Hoa Hujin tertawa hambar, ia tidak menanggapi seruan
tersebut sebaliknya sambil berpaling ke arah Siauw Ling
katanya, “Saudaraku mau tak mau cici merasa kagum
terhadap dirimu “
Siauw Ling tahu bahwa kata-kata selanjutnya tentu tak
enak didengar, buru-buru sambungnya, “Selama berada
dihadapan Shen Bok Hong mau tak mau terpaksa siaute harus
berlagak tidak kenal dengan kalian berdua, bila aku telah
melakukan kesalahan harap kalian berdua suka memaafkan”
Habis berkata ia segera memberi hormat.
“Kau bisa menyaru sebagai pekerja kasar untuk menyusup
masuk ke dalam lembah bukit yang ketat sekali penjagaannya,
kemudian berhasil pula menerobos masuk ke dalam Istana
Terlarang kecerdasan serta keberanian yang kau tunjukkan
benar-benar membuat orang merasa sangat kagum” sambung
Kim Hoa Hujin dengan cepat, “Cukup meninjau dari hal ini, tak
salah lagi jika seluruh umat bulim di kolong langit sama-sama

menyanjung dirimu sebagai pahlawan yang berani menentang
kekuasaan Shen Bok Hong!”
“Betul,” kata Tong Lo Thay-thay pula, Shen Bok Hong tidak
takut langit, tidak takut bumi, seluruh umat persilatan yang
ada di kolong langit dewasa ini tak seorangpun yang
dipandang olehnya, tetapi kalau setiap kali menyebut Siau
Tayhiap, wajahnya pasti berubah dan kepalanya pening tujuh
keliling.
Tiba-tiba Kim Hoa Hujin mundur dua langkah ke belakang,
ujarnya, “Saudara Siau, di bawah meja batu terdapat laci yang
tidak tertutup rapat, mungkin sekali di dalam laci tersebut
terdapat barang berharga, saudaraku! cepatlah buka laci
tersebut dan periksa isinya!”
“Laci itu ditemukan cici, jika dalam laci itu terdapat barang,
sepantasnya jika barang-barang itu menjadi milik cici!” ujar
Siauw Ling setelah melirik sekejap ke arah meja batu itu.
Kim Hoa Hujin tertawa.
“Meskipun Shen Bok Hong merasa rada pusing terhadap
diriku, tetapi dia masih tetap menguasai hidup matiku, setiap
saat mungkin jiwaku dapat dibereskan olehnya. Andaikata
dalam laci itu benar-benar terdapat kitab ilmu silat yang
ditinggalkan sepuluh tokoh sakti itu, benda tersebut juga tiada
gunanya bagi cici!”
“Aaaai….! Selama siaute masih bisa hidup di kolong langit,
aku pasti akan berusaha untuk melepaskan belenggu yang
dipasang Shen Bok Hong di tubuh para jago bulim di kolong
langit”
Pek-li Peng yang selama ini membungkam terus, tiba-tiba
merasa agak simpati terhadap Kim Hoa Hujin. Ia merasa
walaupun tingkah laku perempuan itu agak terbuka dan binal
tetapi jiwa ksatrianya belum padam.

Terdengar Tong Lo Thay-thay berseru pula dengan nada
cemas.
“Siau Tayhiap! jika kau hendak turun tangan maka cepatlah
turun tangan, jalan masuk menuju ke ruang rahasia ini belum
tertutup, setiap saat kemungkinan besar Shen Bok Hong serta
It-bun Han Too bakal menyusul kemari….”
Siauw Ling menyadari akan pentingnya masalah tersebut,
tanpa sungkan-sungkan lagi dengan langkah lebar ia maju
mendekati meja batu itu, laci yang tidak tertutup rapat tadi
dibuka dan tampaklah isinya hanyalah selembar kertas putih
belaka.
Dengan cepat ia ambil kertas itu, terbacalah di atas kertas
itu tertera beberapa huruf yang berbunyi demikian,
“Semua barang yang berada dalam Istana Terlarang telah
kubawa pergi, jika perjalanan kalian terasa sia-sias…. yaaah
apa boleh buat? Maaf….maaf….”
Diujung bawah kertas tadi sama sekali tidak tertera nama
seseorang atau lambang yang menunjukkan seseorang.
Siauw Ling berdiri menjublak setelah membaca tulisan
tersebut, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup
mengucapkan sepatah kata apapun.
Kim Hoa Hujin mengerti akan bahasa Han sehabis
membaca isi surat tersebut kontan ia berteriak, “Aaah…. tak
masuk akal perkataan orang ini tak dapat dipercaya!”
“Kenapa?” tanya Siauw Ling sambil meletakkan surat tadi
ke atas meja batu.
“Menurut analisa serta dugaan It-bun Han Too serta Shen
Bok Hong, orang yang ikut masuk ke dalam Istana Terlarang
semuanya berjumlah sepuluh orang, bila jenazah ini dihitung
juga maka kita baru menemui delapan sosok jenazah, itu
berarti masih ada dua sosok mayat lagi yang belum
ditemukan.

Sementara itu Tong Lo Thay-thay juga membaca isi surat
tadi, ia segera menyambung, “Pendapatku persis seperti
pendapat Kim Hoa Hujin, kemungkinan besar salah satu
diantara sepuluh orang tokoh sakti inilah yang menulis surat
tersebut untuk menggoda kita”
“Tidak mungkin! Sepuluh tokoh maha sakti itu adalah
manusia yang jujur dan luar biasa tak mungkin mereka akan
membohongi diri kita. Lagipula tulisan di atas surat itu nampak
masih baru….”
“Jadi kalau begitu, kau yakin ada orang yang pernah
mengunjungi tempat ini sebelum kehadiran kita?”
“Menurut dugaanku memang demikian lah keadaannya….”
sahut Siauw Ling, setelah berhenti sebentar, lanjutnya, “jika
dugaanku tidak salah maka apa ditulis di atas kertas putih itu
baru berusia tidak sampai tiga bulan lamanya”
“Maksud toako, orang itu baru tiga bulan berselang
meninggalkan Istana Terlarang?” seru Pek-li Peng.
“Sedikitpun tidak salah….. “ sorot matanya menyapu
sekejap wajah Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay,
kemudian meneruskan.
“Umat bulim yang ada di kolong langit semuanya
mengetahui bahwa terdapat sepuluh tokoh maha sakti yang
terjebak di dalam Istana Terlarang, sebagian besar diantara
mereka hanya punya angan-angan untuk mendapatkan
pusaka peninggalan sepuluh tokoh maha sakti itu tanpa
menunjukkan gerakan yang nyata, tetapi ada sebagian kecil
orang yang telah mengorbankan seluruh kekuatan serta
pikirannya untuk menemukan jejak Istana Terlarang. Puluhan
tahun berlalu bagai sehari, tak pernah mereka kendorkan
perjuangan untuk mencapai apa yang dicita-citakan, sekalipun
hanya sebagian kecil saja tapi kalau dihitung jumlahnya
hampir mencapai ratusan orang banyaknya, diantara mereka

terdapat pula manusia-manusia yang cerdas serta memiliki
ilmu silat maha sakti”
“Sekalipun orang itu cerdas dan berilmu tinggi, tetapi selam
ia tak menguasai ilmu bangunan tak mungkin orang itu
mampu memasuki Istana Terlarang” sela Tong Lo Thay-thay.
“Seseorang membutuhkan waktu selama dua puluh tahun
untuk berhasil ilmu silat yang maha sakti, jika ia membuang
waktu selama duapuluh tahun lagi untuk mendalami pelajaran
ilmu bangunan, maka kepandaian tersebut tak mampu
dikuasai olehnya?”
Untuk beberapa saat lamanya Tong Lo Thay-thay, Kim Hoa
Hujin serta Pek-li Peng tak sanggup mengucapkan sepatah
katapun, mulut mereka terbungkam dalam seribu bahasa.
Lama sekali…. Kim Hoa Hujin baru menyambung kembali,
“Kalau demikian keadaannya,maka kita harus menantikan
kedatangan dari Shen Bok Hong serta It-bun Han Too untuk
bersama-sama mencicipi bagaimana rasanya bersama-sama
mencicipi bagaimana rasanya orang yang dirundung kecewa
dan putus harapan.“
“Benar!”dan orang yang akan merasakan pukulan paling
hebat adalah Shen Bok Hong, sebab untuk menemukan letak
Istana Terlarang serta berusaha untuk membukanya, entah ia
sudah membuang berapa banyak pikiran, tenaga serta
kemampuan untuk mengusahakannya…..hasil yang pahit ini
pasti akan terasa sekali olehnya!”
“Siau Tayhiap, jika dugaan ku tidak salah maka orang yang
mampu mendahului kita masuk ke dalam Istana Terlarang ini
pastilah lihai dan jauh melebihi It-bun Han Too” kata Tong Lo
Thay-thay, “Aaai…. orang itu mampu masuk keluar Istana
Terlarang dan membawa pergi semua barang penting yang
ada disini tanpa tinggalkan bekas, kehebatannya benar-benar
luar biasa sekali”

Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba
terdengar suara bergemerincingan menggema datang.
Dengan cepat Siauw Ling kembali mengenakan topeng kulit
manusianya, hawa murni dihimpun ke dalam tubuh dan siap
menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
“Mungkin Shen Bok Hong serta It-bun Han Too berhasil
temukan tempat ini….” usik Kim Hoa Hujin.
“Jika Shen Bok Hong berhasil temukan tempat ini, aku
harap kalian berdua tetap menjaga keadaan seolah-olah
diantara kita tak pernah kenal satu sama lainnya”, pesan
Siauw Ling, “ sebab dalam keadaan serta situasi semacam ini,
aku tidak ingin membiarkan Shen Bok Hong serta It-bun Han
Too mengetahui akan asal usulku!”
Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thay-thay saling
berpandangan sekejap, namun mereka tetap membungkam
dalam seribu bahasa.
Suara gemerincingan itu kembali bergema memecahkan
kesunyian, kurang lebih sepeminuman teh kemudian suara itu
berhenti.
Namun meja batu itu perlahan-lahan bergeser kesamping,
dan dari permukaan tanah muncullah sebuah mulut gua.
Pek-li Peng melirik sekejap ke arah mulut gua itu, kemudian
bisiknya lirih, “Oooh..! toako, lain kali kau harus berhati-hati,
rupanya dalam ruangan ini penuh berisikan alat rahasia….”
Belum habis ia berkata, tiba-tiba sesosok bayangan
manusia berkelebat lewat, tampaklah It-bun Han Too
pertama-tama munculkan diri lebih dahulu dari mulut gua tadi.
“Oooh…. rupanya tujuan hanya satu” pikir Siauw Ling,
meskipun mereka masuk lewat pintu rahasia tapi akhirnya
sampai juga ke tempat ini….. “

Belum habis ingatan itu berkelebat, Shen Bok Hong
menyusul dibelakang It-bun Han Too telah muncul pula dari
balik gua.
Rupanya kedua jago lihai itu sama sekali tidak mengira
Siauw Ling sekalian tiba di tempat itu selangkah lebih dahulu
dari mereka, tanpa terasa mereka berdua berdiri tertegun.
Siauw Ling tetap berdiri tak berkutik di tempat semula,
sepasang matanya yang tajam tiada hentinya menyapu wajah
mereka berdua.
Suasana hening untuk beberapa saat lamanya, terdengar
It-bun Han Too mendehem ringan, tegurnya, “Bagaimana
caranya kalian bisa sampai di tempat ini?”
“Kami selangkah demi selangkah masuk kemari!“ jawab
Kim Hoa Hujin dengan cepat.
It-bun Han Too melirik sekejap ke arah lorong rahasia itu,
kemudian bertanya kembali, “Apakah lorong rahasia ini
berhubungan dengan ruang tengah?”
“Siapakah yang berhasil temukan pintu rahasia untuk
masuk ke dalam ruangan ini?” tanya It-bun Han Too sambil
berpaling ke arah Tong Lo Thay-thay.
“Akulah yang menemukannya” sahut Siauw Ling cepat.
“Bagaimana caranya kau temukan pintu rahasia itu?”
“Kuhantam dinding batu dengan telapakku dan pintu itu
secara otomatis membuka sendiri….” Ia angsurkan kertas
putih tersebut ketangannya dan melanjutkan aku rasa lebih
baik kau periksa dulu isi surat ini!”
It-bun Han Too menyambut surat itu dan dibaca isinya,
kemudian ia bertanya kembali, “Kau dapatkan kertas putih itu
dimana?”
“Dalam laci di bawah meja batu itu!”

“It-bun heng” seru Shen Bok Hong dengan suara dingin,
“andaikata yang ditulis dalam kertas putih itu merupakan
kenyataan bukankah usaha kita untuk memasuki Istana
Terlarang selama ini hanya sia-sia belaka?….”
It-bun Han Too tidak menanggapi seruan lawannya itu, ia
menyapu sekejap wajah Kim Hoa Hujin serta Tong Lo Thaythay
kemudian ujarnya, “Apakah hujin berdua ikut masuk ke
dalam ruangan ini tepat dibelakang tubuhnya?”
“Sedikitpun tidak salah” jawab Tong Lo Thay-thay, “kami
masuk ke dalam ruangan ini dengan membuntuti dibelakang
tubuhnya.
“Apakah kalian berdua melihat pula dia ambil keluar kertas
putih itu dari dalam laci?”
“Pertama-tama akulah yang menemukan terlebih dahulu
kalau laci itu tidak tertutup rapat” sahut Kim Hoa Hujin,
“sementara aku hendak melakukan pemeriksaan siapa tahu
enghiong ini jauh lebih cepat dari gerakanku, dia buka laci
tersebut dan ambil keluar surat itu”
Dengan teliti It-bun Han Too memeriksa kembali isi surat
tersebut, kemudian ujarnya, “Kalau ditinjau dari tulisan di atas
kertas ini, jelas usianya baru beberapa bulan, andaikata surat
ini tidak palsu maka tiga bulan berselang sebelum kita semua
masuk ke dalam Istana Terlarang, telah ada orang yang
masuk mendahului kita bahkan membawa pergi semua barang
yang berada di dalam Istana Terlarang ini….”
Shen Bok Hong menyapu sekejap wajah Siauw Ling tibatiba
sindirnya, “Atau mungkin diantara kita beberapa orang
terdapat seorang jago yang benar-benar cerdik, dimana pada
beberapa bulan berselang ia menulis dahulu sepucuk surat
kemudian disembunyikan di dalam saku, setelah itu surat itu
dipergunakan setelah berada di dalam Istana Terlarang….”
“Hmm! Surat ini aku dapatkan dari dalam laci, mau percaya
atau tidak terserah pada kalian berdua sendiri,” dengus Siauw

Ling dengan nada dingin dan ketus, “aku rasa kalian tak usah
menilai orang dengan pikiran yang picik!”
Dengan sorot mata yang tajam Shen Bok Hong menyapu
sekejap empat dinding dalam ruangan itu, kemudian meneliti
pula meja batu itu, akhirnya sambil menghela napas panjang
katanya, “Aku percaya bahwa surat itu bukanlah surat palsu
yang sengaja dibuat, dan aku percaya pula tidak ada orang
yang sedang mempermainkan kita, tetapi peristiwa itu
merupakan suatu kejadian yang sungguh-sungguh telah
terjadi….”
“Akupun percaya bahwa isi surat itu merupakan suatu
kejadian yang nyata” ujar It-bun Han Too pula sambil
mengembalikan kertas putih itu ketangan Siauw Ling, “Dan
sembilan puluh persen kejadian itu benar-benar sudah
berlangsung.
“Ooooh….! Jadi kalau begitu It-bun heng masih ada
sepuluh persen tidak percaya? Sela Shen Bok Hong.
“Tegasnya kita masih ada satu hal yang patut dicurigai dan
itu merupakan satu-satunya pengharapan, asal kita dapat
membuktikan kecurigaan tersebut maka kita dapat segera
mengundurkan diri dari Istana Terlarang, sedang pengharapan
itu tergantung pada nasib serta rejekinya masing-masing”
“Apa kecurigaanmu itu? Dan apapula pengharapannya?
Berada dalam keadaan situasi seperti ini aku rasa It-bun heng
tak perlu jual mahal lagi..!”
“Kecurigaan itu adalah mengenai jumlah jenazah yang
berhasil kita temukan berikut jenazah yang ditemukan dalam
ruang baca ini kita baru menemukan delapan sosok mayat,
padahal menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan
mengatakan bahwa ada sepuluh tokoh sakti yang masuk ke
dalam Istana Terlarang, itu berarti masih ada dua sosok mayat
yang belum berhasil kita temukan, jika kedua sosok mayat
yang lain berhasil kita temukan, maka anggaplah kita berhasil

membuktikan bahwa dalam Istana Terlarang memang benarbenar
pernah berkumpul sepuluh tokoh sakti.”
“…. Ehmm! Kecurigaan ini memang masuk diakal” sahut
Shen Bok Hong sambil mengangguk, “Tapi apapula satu
bagian pengharapan itu?”
“Pengharapanku adalah semoga orang itu tidak ambil
bersih seluruh barang yang berada di dalam Istana
Terlarang….”
“Jadi maksudmu di tempat ini masih ada barang berharga?”
sela Shen Bok Hong dengan sorot mata berkilat….
“Aku tak berani menegaskan secara yakin aku hanya
berharap bisa terjadi peristiwa tersebut”
“Baiklah, barusan aku serta It-bun heng telah menempuh
perjalanan yang penuh dengan mara bahaya, berkat
kecerdasan serta kelihayan dari It-bun heng kami berhasil
lolos dari semua marabahaya, sekarang aku harap It-bun heng
tetap mengepalai rombongan untuk menemukan dua sosok
mayat yang lain!”
Rupanya ketika Shen Bok Hong berhasil mengejar masuk
ke dalam ruang rahasia itu dengan duduk di atas kursi roda,
sampailah ia di depan sebuah lorong batu yang menjorok
masuk kedalam, tanpa pikir panjang ia terus menerjang
masuk kedalam.
Sebab hanya itulah satu-satunya jalan yang ada,
berhubung tiada pilihan lain terpaksa dia menerobos masuk
kedalam.
Lorong itu berliku-liku dan dari bawah naik ke atas,
bentuknya mirip sekali dengan sebuah tangga.
Shen Bok Hong dengan perawakannya yang tinggi besar
harus melewati, lorong rahasia yang makin ke dalam makin
sempit, akhirnya tanpa disengaja ia telah melanggar tombol

rahasia yang menyebabkan tubuhnya segera terjebak dalam
perangkap.
Untung It-bun Han Too mendengar suara berisik itu dan
memburu datang, dengan pedang mustikanya ia berhasil
menghancurkan alat rahasia tersebut dan menyelamatkan jiwa
Shen Bok Hong.
Meskipun diluaran ketua perkampungan Pek Hoa Sanceng
ini tidak menyatakan rasa terima kasihnya, tetapi setelah
kejadian itu rasa permusuhannya terhadap It-bun Han Too
sudah jauh berkurang.
Demikianlah, kedua orang itu segera meneruskan
perjalanannya menyusuri lorong rahasia tadi, pelbagai
rintangan yang membahayakan jiwa harus mereka alami,
siapa sangka mereka muncul kembali di sudut lain dari
ruangan tengah.
Sementara itu Siauw Ling serta Kim Hoa Hujin sekalian
telah masuk ke dalam kamar baca rahasia, melihat itu Shen
Bok Hong serta It-bun Han Too segera menyusul kesitu.
Tampak It-bun Han Too pejamkan matanya termenung
sebentar, lalu ujarnya, “Bila dugaanku tidak keliru, maka
Istana Terlarang seharusnya berhenti sampai di ruangan ini
saja!”
“It-bun heng kau dapat berkata demikian tentu didasari
oleh alasan yang kuat bukan? Apa alasan mu itu?” tanya Shen
Bok Hong.
“Setelah kuselidik keadaan disekeliling ruangan ini, segera
timbul satu pendapat dalam benakku bahwa tidak mungkin
lagi bagi kita untuk meneruskan ke arah lebih depan lagi.
“Kenapa?”
“Sebab sekeliling Istana Terlarang sudah berada sangat
dekat sekali dengan letak sungai bawah tanah yang punya
daya alir yang luar biasa derasnya itu, kendati Ahli Bangunan

bertangan sakti Pau It Thian memiliki kepandaian luar biasa,
mau tak mau dia mesti memperhitungkan pula daya tekanan
yang ditimbulkan oleh aliran deras sungai bawah tanah
tersebut!”
“Apa yang diucapkan It-bun heng memang masuk diakal,
tetapi sebelum menyaksikan sendiri bukti yang nyata, sungguh
membuat hati sukar percaya..”
“Jika kita berhasil menemukan dua sosok jenazah yang lain,
maka kitapun dapat membuktikan kebenaran dari ucapan Itbun
sianseng” sambung Tong Lo Thay-thay cepat.
“andaikata berita yang tersiar dalam dunia persilatan tidak
keliru dan benar-benar terdapat sepuluh tokoh maha sakti
yang masuk ke dalam Istana Terlarang, menurut dugaan ku
dua sosok jenazah yang lain kemungkinan besar berada di
dalam ruang baca ini pula!”
“Jadi menurut dugaan It-bun heng, disamping ruangan
batu ini masih terdapat ruang cadangan lainnya?” seru Shen
Bok Hong dengan sepasang alis berkerut.
“Betul!”jawab It-bun Han Too sambil mengangguk,
sekalipun otak Ahli Bangunan bertangan sakti Pau It Thian
amat cerdik, bangunan Istana Terlarangnya amat luar biasa
dan ruang cadangannya rumit sekali, tetapi aku yang
kesemuanya itu pasti berada dalam radius sepuluh tombak
dari sekeliling tempat ini….”
Ia tempelkan telinganya di atas dinding batu, setelah
memeriksa dengan seksama katanya kembali, “Ruang batu ini
tak mungkin menjorok lebih ke dalam lagi, sebab satu tombak
setelah lapisan dinding ruangan merupakan dasar sungai
dalam permukaan bumi yang deras sekali aliran airnya”
“Sungguhkan perkataanmu itu?”

“Jika Toa Cungcu tidak percaya apa salahnya kau
tempelkan pula telingamu di atas dinding ruangan dan coba
melakukan pemeriksaan sendiri?”
“Aaah! Aku takut tiada hasil yang dapat kutangkap….!” seru
kepala kampung perkampungan Pek Hoa Sanceng ini,
walaupun demikian tubuhnya maju juga kedepan dan
telinganya segera ditempelkan ke atas dinding.
Sedikitpun tidak salah, suara gemuruh air yang santer
bagaikan guntur membelah bumi secara lapat-lapat
berkumandang datang…..
“Sudah kau dengar Shen Toa Cungcu?” tegur It-bun Han
Too
“Sudah”
“Dan kau sudah membuktikan bukan kalau ucapanku sama
sekali tidak berbohong.
Siauw Ling yang selama ini membungkam terus, tiba-tiba
menyela, “Kemungkinan besar para jago yang masuk ke
dalam Istana Terlarang hanya delapan orang, persoalan paling
penting yang harus kita lakukan sekarang adalah berusaha
untuk mengenali lebih dahulu siapakah orang ini, dengan
begitu kita pun jadi tahu dua sosok jenazah yang belum
ditemukan adalah jenazah siapa, dari kedudukan orang itu
kitapun bisa menilai apakah mereka sungguh-sungguh berani
datang ke Istana Terlarang atau tidak”
Perkataan ini diutarakan mantap dan seolah-olah ucapan
dari seorang jago kawakan yang sangat hapal sekali dengan
keadaan dunia persilatan, hal ini membuat Shen Bok Hong
serta It-bun Han Too semakin tak mampu menduga asal
usulnya yang sebenarnya.
Dengan sorot mata tajam bagaikan pisau belati, Shen Bok
Hong menatap wajah Siauw Ling tanpa berkedip, ujarnya,

“Bukankah kau yang masuk ke dalam ruangan ini terlebih
dahulu? Apakah telah kau perhatikan jenazah ini?”
“Tentu saja sudah kuperhatikan!”
“Lalu siapakah dia?”
“Waah..! pertanyaan ini sungguh bikin kepalaku jadi
pusing” pikir Siauw Ling dalam hati, “Terhadap para tokoh
sakti yang masuk ke dalam Istana Terlarang kebanyakan
hanya kudengar dari pembicaraan orang saja, mana mungkin
aku sanggup mengenali siapakah orang ini? Jika aku sudah
tahu, buat apa musti bertanya kepada kalian lagi!”
Berpikir sampai disitu, ia lantas menjawab, “Aku lihat orang
ini bukan Raja Seruling Thio Hong!”
“Siapa bilang dia adalah Thio Hong? orang itu bukan si Raja
Seruling” sahut It-bun Han Too cepat.
“It-bun heng, kalau didengar dari ucapanmu rupanya kau
kenal dengan orang ini?”
“Ehmm! Menurut pengelihatanku, orang ini semestinya Hoa
sim Loojin kakek perubah wajah Say Thian Gie!”
“Kakek perubah wajah?”
“Benar! kepandaiannya menyamar diri sangat lihai dan
beraneka ragam, walaupun sudah puluhan tahun lamanya
berkelana di dalam dunia persilatan namun tak seorang
manusiapun yang pernah melihat raut wajah aslinya, termasuk
juga para tokoh maha sakti yang terjebak di dalam Istana
Terlarang!”
“Kalau sepuluh tokoh maha sakti yang berada dalam Istana
Terlarang pun tak ada yang kenal dengan raut wajah
sebenarnya dari Kakek perubah wajah, darimana kau bisa
tahu kalau dia adalah Kakek perubah wajah Say Thian Gie?”
pikir Siauw Ling dalam hati.

Terdengar It-bun Han Too melanjutkan kembali katakatanya,
“Katanya dalam berkumpul dan berjumpa dengan
siapaun dalam satu hari Kakek perubah wajah Say Thian Gie
pasti akan muncul dan bertemu dengan dirimu dalam tiga
macam raut wajah yang berbeda satu sama lainnya, siapapun
tak bisa menduga raut wajah aslinya, karena itulah meski
sahabat karib yang telah berhubungan selama puluhan tahun
dengan dirinya pun sulit untuk membedakan mana raut wajah
asli dan mana raut wajah palsu”
“Jika orang ini Say Thian Gie mungkin raut wajah yang
sekarang ini adalah raut wajah aslinya?” tanya Shen Bok
Hong.
“Raut wajah yang asli atau palsu aku tak berani
memastikan”
“Kalau kau memang tak berani memastikan, darimana pula
kau bisa mengatakan jika orang ini adalah Kakek perubah
wajah Say Thian Gie?” sela Kim Hoa Hujin.
“Gampang sekali untuk membedakan soal ini, kalau dia
memang bukan Raja Seruling Thio Hong ataupun orang lain,
maka pastilah sudah bahwa orang ini adalah Kakek perubah
wajah Say Thian Gie”
Siauw Ling yang mendengar sampai disitu, dalam hati
kecilnya segera berpikir kembali, “Seseorang yang telah
melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan selama
puluhan tahun namun tak seorang manusiapun yang mampu
mengenali wajah aslinya, kemampuannya itu sungguh luar
biasa dan mengagumkan sekali.
Berikut ia membayangkan nasib dari kakek misterius yang
memilliki ilmu silat maha sakti itu, hanya disebabkan nama
serta kedudukan akhirnya dia harus menemui ajalnya dalam
Istana Terlarang.
Terdengar Shen Bok Hong berkata pula.

“Aku orang she Shen merasa amat kagum dengan
pendapat It-bun heng yang begitu tinggi, kalau memang
begitu delapan puluh persen orang ini pastilah Kakek perubah
wajah Say Thian Gie”
It-bun Han Too menghela napas panjang.
“Aaaai.. Senyum sebelum layu, welas sebelum ajal, kecuali
Say Thian Gie seorang siapa lagi yang dapat menampakkan
senyuman seramah ini sesaat sebelum ajalnya?”
“Aku sudah lama sekali mendengar serta mengagumi nama
besar Kakek perubah wajah tapi hingga kini belum pernah
menyaksikan raut wajahnya, mungkinkah wajahnya sekarang
adalah raut wajah aslinya? Ujar Tong Lo Thay-thay dari
samping.
“Sahabat karibnya yang telah berhubungan selama puluhan
tahunpun tak pernah menyaksikan raut wajah aslinya,
darimana kita bisa tahu jika raut wajah ini yang asli atau yang
palsu?”
“Tetapi dia toh sudah mati?” sambung Kim Hoa Hujin
dengan suara dingin, “Seseorang yang telah mati tak mungkin
bisa merubah raut wajahnya lagi!”
“Oooh..! jado maksud hujin, sekarang kita boleh merusak
penyamarannya itu untuk melihat bagaimanakah raut wajah
aslinya?”
“Bukankah ucapan itu muncul dari mulut It-bun sianseng
sendiri? Aku rasa kau tak usah mengembalikan lagi ucapan
tersebut kepadaku!”
It-bun Han Too segera menggeleng.
“Selama hidupnya loocianpwe ini selalu berusaha keras
untuk melindungi serta merahasiakan raut wajah aslinya
hingga tidak sampai diketahui orang lain, kini dia telah
meninggal dunia, kenapa kita musti merusak penyaruannya

untuk melihat raut wajah aslinya? Aku rasa lebih baik tak
usahlah kita lakukan!”
“Bagus sekali” pikir Siauw Ling dalam hati. “aneh, kenapa
secara tiba-tiba It-bun Han Too berubah jadi begitu welas asih
dan tahu diri?…”
“Aku tidak berani menyamakan diri dengan pendapat dari
It-bun sianseng….” ujar Kim Hoa Hujin kembali, “coba pikirlah,
selama hidup tak seorang manusia pun yang pernah
menyaksikan raut wajah asli Kakek perubah wajah, sampai
matipun raut wajah aslinya tidak diketahui oleh umum. Dalam
hati ia pasti akan merasa tersiksa sekali, meskipun bila kita
rusak penyamarannya pada saat ini merupakan suatu tindakan
yang kurang menghormat, tetapi tindakan kita yang
membongkar penyaruannya itu bagi dirinya merupakan suatu
perbuatan yang baik, siapa tahu dengan perbuatan itu kita
justru telah mengurangi siksaan batinnya dialam baka…..”
Ia berpaling ke arah Shen Bok Hong dan menambahkan,
“Bagaimana pendapat Shen Toa Cungcu tentang pendapatku
ini?”
“Apa yang diucapkan kalian berdua sama-sama beralasan
dan masuk diakal, sulit bagiku untuk mengambil pertimbangan
yang jitu”
It-bun Han Too segera berpaling ke arah Siauw Ling dan
bertanya, “Apa pandanganmu mengenai persoalan ini?”
“Aku rasa tak ada salahnya jika kita lihat raut wajah
aslinya….”
Mendengar perkataan itu, Kim Hoa Hujin segera tertawa
terkekeh-kekeh, serunya, “Pendapat umum berharap
demikian, It-bun sianseng! Apa yang hendak kau katakan
lagi?”
“Kalau memang begitu, akupun tak akan kukuh dengan
pendirian ku lagi”

Sambil berkata jago cerdik she It-bun itu segera
mengundurkan diri dua langkah ke belakang
Kim Hoa Hujin segera menghampiri jenazah kakek tua itu,
sambil mengangkat tangan kanannya ia berkata.
“Akan kuperiksa dulu apakah di atas wajahnya mengenakan
topeng kulit manusia atau tidak?”
Sementara tangan Kim Hoa Hujin hampir menyentuh raut
wajah kakek tua baju hitam itu, mendadak It-bun Han Too
berseru, “Tunggu sebentar”
Kim Hoa Hujin berpaling dan memandang sekejap ke arah
It-bun Han Too, kemudian katanya, “It-bun sianseng,
permainan setan apakah yang berhasil kau dapatkan sehingga
mampu menakuti hatiku dan merasa aku batalkan niat ini?”
“Ada satu persoalan mau tak mau harus kuutarakan lebih
dahulu sebelum kau bertindak!”
“Persoalan apa? Cepat katakan!!”
“Kakek perubah wajah adalah seorang jago budiman, ia
telah menggunakan pelbagai macam cara untuk membuat
wajahnya sama sekali berubah hingga orang lain sulit untuk
mengenali kembali wajah aslinya, hal ini pastilah dilakukan
karena ia mempunyai kesulitan sendiri. Menurut pikiranku,
setelah dia ada maksud melindungi raut wajah aslinya dengan
pelbagai macam cara, maka disaat melakukan penyaruan
tersebut ia pasti memikirkan pula pelbagai macam cara untuk
melindungi penyaruannya itu”
“Oooh….! Jadi maksudmu disaat aku turun tangan merusak
penyamarannya ini kemungkinan besar bisa ketimpa bencana
yang sama sekali tidak terduga?..
“Apa yang kuucapkan hanya merupakan dugaan pribadiku
sendiri, sedangkan mengenai benar atau tidaknya aku tak
berani memastikan….”

Sebenarnya pikiran Kim Hoa Hujin sangat lapang dan
perasaan hatinya sama sekali tidak tercekam oleh rasa takut
atau kuatir, tetapi sesudah mendengar perkataan It-bun Han
Too ini rasa curiga segera menyelimuti benaknya, untuk
beberapa waktu lamanya ia hanya berdiri menjublak saja
tanpa berani melakukan pekerjaan gegabah.
Shen Bok Hong segera berbatuk ringan, ujarnya, “It-bun
heng, apakah Kakek perubah wajah gemar menggunakan
racun atau binatang berbisa?”
“Sekalipun dia gemar menggunakan racun masa wajah
sendiri dipolesi dengan bisa?” batin Siauw Ling.
Tampak It-bun Han Too menggeleng dan menyahut,
“Apakah dia gemar menggunakan racun? Rasanya belum
pernah kudengar ada orang yang membicarakannya!”
Tiba-tiba Kim Hoa Hujin mengambil keluar sebatang tusuk
konde berwarna emas, ujarnya, “Peduli amat dia gemar
menggunakan racun atau tidak, aku harus bersiap-siap
menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan”
Sambil berkata dengan tusuk konde emasnya itu ia gurat
raut wajah Kakek perubah wajah.
Siapa tahu ketika ujung tusuk konde emas itu menyentuh
di atas wajah Kakek perubah wajah, terasalah ujung benda itu
seolah-olah menyentuh di atas sebuah batu karang yang keras
sekali.
“Oooh….! Sungguh keras wajahnya….” seru Kim Hoa Hujin
dengan suara keras.
Sekalipun wajahnya tidak mengenakan obat penyaru,
setelah mati sekian banyak tahun kulit serta tubuhnya juga
telah mengeras….” sela It-bun Han Too
Namun Kim Hoa Hujin segera menggeleng, bantahnya,
“Dalam perasaanku, yang tersentuh oleh ujung tusuk konde
bukanlah wajah yang terdiri dari kulit dan daging…”

“Coba berikan tusuk konde itu kepadaku,“ ujar Shen Bok
Hong.
Setelah menerima tusuk konde tersebut dari tangan Kim
Hoa Hujin, ia segera mengetuk wajah Kakek perubah wajah
beberapa kali, setelah itu ujarnya pula, “Aaah! Benar memang
bukan kulit tubuh.”
Orang ini sangat licik dan banyak akal, ia tak mau
menanggung resiko dicap sebagai orang yang merusak
penyamaran Kakek perubah wajah, setelah mengetuk
beberapa kali tusuk konde itu diserahkan kembali ketangan
Kim Hoa Hujin.
Perempuan ini segera menyambut tusuk konde tadi, setelah
hawa murni disalurkan ke dalam tubuh, ujung tusuk konde
dengan tajamnya menembusi kerak kulit penyaruan diwajah
kakek itu.
Kraaak….! Ujung tusuk konde menembusi setengah cun ke
dalam kerak keras tersebut, kemudian sambil menarik kembali
senjatanya dia berseru, “Saudara sekalian harap membantu
aku periksa wajahnya apakah kulit tubuhnya sudah mengering
dan layu atau belum?”
Siauw Ling sekalian segera alihkan sorot matanya, ke arah
wajah kakek baju hijau tadi, secara lapat lapat mereka
temukan beberapa buah retakan.
Jelas di atas wajahnya Kakek perubah wajah telah
membubuhi obat penyaru yang sangat tebal, dengan begitu
membuktikan pula bahwa raut wajah yang dapat dilihat oleh
para jago saat ini, bukanlah raut wajah aslinya.
“Aaaah….! Bukan raut wajah yang sebetulnya….” seru Shen
Bok Hong.
“Baik! Akan kudongkel kerak keras di atas wajahnya ini
hingga kalian dapat melihat wajah aslinya “seru Kim Hoa

Hujin, sambil berkata hawa murninya disalurkan ketangan
kanan dan segera dicongkel keluar.
Sedikitpun tidak salah, kerak keras selapis demi selapis
rontok ke bawah dan hancur berantakan dilantai.
Dengan cepat Kim Hoa Hujin menggerakkan tusuk konde
emasnya, dalam waktu singkat seluruh obat penyamar yang
telah mengeras itu sudah bersih dari raut wajahnya hingga
tampaklah wajah asli dari Kakek perubah wajah
Meskipun ujung tusuk konde telah melukai wajah kakek itu,
tetapi garis besar raut wajahnya masih dapat terlihat dengan
nyata.
Ketika mereka perhatikan dengan seksama, tampaklah raut
wajah Kakek perubah wajah kurus kering dan berkeriput,
hidungnya entah kenapa hanya tinggal separuh bagian saja,
bila dibandingkan dengan raut wajah diluar tadi sungguh jauh
berbeda.
Menyaksikan hal itu Kim Hoa Hujin menghela napas
panjang, katanya, “Rupanya rasa suka akan keindahan tak
terlepas dari setiap manusia, walaupun Kakek perubah wajah
sudah berumur lanjut dan punya nama besar, namun ia masih
belum dapat menghilangkan perasaan tersebut, hanya
disebabkan kekurangan sebagian dari hidungnya sepanjang
masa ia tak sudi bertemu orang dengan wajah aslinya.
Tiba-tiba It-bun Han Too maju kehadapan kakek perubah
wajah, kemudian dengan dengan hormat sekali ia memberi
hormat, ujarnya, “Budi luhur yang telah locianpwee
perlihatkan sungguh patut dipuji dan dihormati”
“It-bun heng seru Shen Bok Hong sambil berbatuk ringan,
aku rasa belum pernah mendengar ada orang berkata bahwa
Kakek perubah wajah pernah melakukan pekerjaan ksatria
yang patut dipuji dan dihormati…. kenapa sikapmu terhadap
dirinya begitu menghormat sekali? apa sebabnya kau sampai
berbuat demikian?”

“Bila kita tinjau dari keahliannya dalam ilmu menyaru
wajah, bagi dia orang tua menyamar jadi seorang pemuda
tampan yang mempesonakan hati bukanlah suatu pekerjaan
yang terlalu susah, tetapi ia tak sudi berbuat demikian malah
sebaliknya menyamar sebagai seorang kakek tua yang
rambutnya telah beruban dan suka mengasingkan diri dari
dunia persilatan, perbuatannya itu apakah tidak pantas
disebut sebagai tindakan seorang kuncu yang patut
dikagumi?”
“Benar, pikir Siauw Ling dalam hati, rupanya ia maksudkan
andaikata kakek perubah wajah menyamar menjadi seorang
pemuda tampan yang romantis, dengan kepandaiannya yang
sangat lihai, pastilah ia sanggup menciptakan suatu peristiwa
yang romantis menggetarkan seluruh dunia persilatan….”
Walaupun berpikir demikian, tetapi ia tetap membungkam.
“Maksudmu, seandainya dia menyamar jadi seorang
pemuda tampan yang mempesonakan hati, maka dunia
persilatan pasti akan dibikin gempar oleh tindak tanduknya
itu?”ujar Kim Hoa Hujin.
“Nyonya berasal dari wilayah Biau dan tidak tahu tentang
persoalan dalam daratan Tionggoan kami….” seru It-bun Han
Too dengan suara dingin.
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Akan
kukisahkan sebuah cerita untuk nyonya, nanti kau akan
menyadari bahwa terdapat perbedaan antara adat istiadat
serta tata kesopanan antara manusia di daratan Tionggoan
dengan penduduk pribumi di wilayah Biau…”
“Baik akan kudengarkan kisahmu itu!”
“Kurang lebih seratus tahun berselang, di daratan
Tionggoan khususnya dalam dunia persilatan telah muncul
seorang pendekar pedang, ilmu silatnya yang dimiliki orang itu
tak begitu tinggi tetapi perbuatan telah mengobrak abrik

seluruh dunia persilatan, setiap peristiwa yang terjadi pasti
mempunyai sangkut pautnya dengan seorang perempuan….”
Dia alihkan sorot matanya ke arah Shen Bok Hong dan
melanjutkan, “Aku rasa Shen heng tentu tahu bukan dia
adalah iblis cinta yang tersohor itu”
“Ehmm! Akupun pernah mendengar orang berbicara
tentang peristiwa itu….. “
“Di jaman itu, dia merupakan kekasih yang diidam-idamkan
dan diimpi-impikan oleh setiap gadis muda….
Kim Hoa Hujin segera tertawa, serunya, “Kejadian itu toh
sudah berlangsung pada seratus tahun berselang, urusan
yang sudah lewat buat apa hubungannya pula dengan
persoalan yang kita hadapi sekarang?”
“Heeeh…..heeeh..heeeeh.. aku toh sudah bilang nyonya
yang berasal dari wilayah Biau picik sekali pengetahuannya,
ternyata dugaanku sedikitpun tidak salah”
Kim Hoa Hujin mengerutkan alisnya setelah mendengar
perkataan itu, dia membantah, “Walaupun aku dibesarkan
dalam wilayah Biau, tetapi sudah banyak kitab bangsa Han
yang kubaca…..”
It-bun Han Too mendongak dan tertawa terbahak-bahak
“Haaah….haaah….haaah…. kalau berbicara tentang
membaca buku, di kolong langit dewasa ini aku rasa jarang
sekali terdapat manusia yang sanggup mengalahkan aku Itbun
Han Too….”
---oo0dw0oo---
Jilid 7
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Apakah nyonya
merasa tidak puas? Meskipun peristiwa mengenai Iblis cinta

itu sudah berlalu tetapi ada orang yang telah menyusun kitab
untuk menyebarkan cerita itu ke dalam masyarakat. Menurut
apa yang kuketahui cerita mengenai iblis cinta ini sudah
menyebar luas dalam tubuh masyarakat, bahkan banyak sekali
kaum gadis muda yang menggunakan kitab tadi sebagai
barang hadiah yang diberikan kepada satu sama lainnya. Jika
dalam kitab itu hanya berisikan tulisan saja masih mendingan,
kecuali tulisan dihiasi pula dengan gambaran2 yang gampang
serta penjelasan. Itulah sebabnya walaupun iblis cinta sudah
lama tiada tetapi sukmanya belum buyar seandainya kakek
pengubah wajah menyaru pula sebagai iblis cinta tersebut,
dengan ilmu silatnya yang lihay serta kecerdasannya yang luar
biasa, kegemparan yang ditimbulkan olehnya pasti jauh
melebihi iblis cinta tersebut….”
Dalam hati diam-diam Siauw Ling berpikir, “Rupanya It-bun
Han Too menaruh rasa hormat dan kagum yang luar biasa
terhadap kakek perubah wajah. Bila berbicara dari wataknya
itu peristiwa ini benar-benar luar biasa sekali….”
Dalam pada itu Siauw Ling tetap berkata, “Di kolong langit
siapa yang tak tahu jika It-bun heng paling banyak membaca
buku, tetapi situasi yang kita hadapi sekarang, walaupun tak
dapat dikatakan sangat keritis dan berbahaya tapi tiada
banyak waktu bagi kita untuk tetap tinggal disini, persoalan
kau bicarakan toh sama sekali tiada hubungannya dengan
persoalan ini, buat apa sih kau bicarakan terus….”
“Benar!” sambung Tong Lo Thay-thay pula. Persoalan
paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah
berusaha untuk menemukan dua sosok jenazah yang lain.
Menurut cerita yang tersiar dalam Bu lim maka aku rasa sisa
dua sosok mayat yang belum ditemukan adalah jenazah dan
Raja Seruling Thio Hong serta seorang pendekar sakti dan
partai Bu-tong. pay …..”
“Bila dua sosok jenazah itu berhasil ditemukan maka itu,
berarti tujuan kita memasuki Istana Terlarang sudah selesai.

Waktu itu kitapun bisa memikirkan pula bagaimana caranya
mengundurkan diri dari Istana ini….” kata Shen Bok Hong lagi.
It-bun Han Too segera tersenyum.
“Shen Toa Cungcu bukankah tujuanmu datang kemari
adalah untuk mendapatkan kitab catatan ilmu silat yang
ditinggalkan kesepuluh tokoh maha sakti itu….?” kalau cuma
melihat beberapa sosok mayat saja kau lantas hendak
mengundurkan diri dari istana Terlarang, bukankah
harapanmu itu akan tersia sia belaka?”
“Hmmm! kalau memang It-bun heng pingin bertanya
akupun tidak ingin mengelabuhi dirimu lagi”
“Apa yang hendak Shen Toa Cungcu katakan? silahkan
diutarakan keluar…”
“Aku hanya ingin secepatnya tinggalkan Istana Terlarang!”
bicara sampai disini tiba-tiba ia tutup mulut dan tidak
berbicara lagi.
Para jago tidak mengerti apa sebab ia tiba-tiba berubah,
pikiran semuanya pusatkan perhatian ke arah gembong iblis
tersebut.
Dengan sorot matanya yang tajam bagaikan kilat. Shen Bok
Hong perlahan-lahan menyapu sekejap raut wajah para jago,
kemudian melanjutkan, “Andaikata tulisan yang ditinggalkan
itu tidak palsu dan orang yang mendahului kita mengambil
pergi benda-benda pusaka peninggalan kesepuluh orang tokoh
maha sakti tersebut maka itu berarti tiada yang bisa kita
harapkan lagi di tempat ini. Kalau kulihat dan tulisan itu jelas
belum lama orang itu tinggalkan tempat ini. Aku rasa dalam
waktu singkat tak mungkin ia sanggup mempelajarii seluruh
kepandaian silat tersebut….”
“Aaah…! benar,”seru It-bun Han Too,”Bukankah Shea
toaCungcu ingin cepat-cepat keluar dan Istana Terlarang

untuk mengejar orang yang telah membawa pergi barang
pusaka itu?”
“Sedikitpun tidak salah!”
“Tentang usahamu dibidang ini, aku menyadari bahwa
kemauanku tak mungkin bisa memadahi diri Shen Toa
Cungcu!”
Shen Bok Hong tertawa hambar.
“Asal dia masih hidup di kolong langit, aku yakin suatu saat
pasti berhasil menemukan dirinya. paling lama satu tahun dan
paling cepat setengah tahun bukan aku orang she Shen
sombong atau omong besar, jejak orang itu pasti telah
berhasil kutemukan. Aku percaya di dalam hal ini hanya aku
Shen Bok Hong seoranglah yang mempunyai kemampuan
tersebut”
“Aku sudah tahu kalau mata2 dan Shen Toa Cungcu sudah
tersebar diseluruh kolong langit, hanya saja ada satu
persoalan aku merasa kurang begitu paham”
“Persoa1an apa?”
“Persoalan mengenai Siauw Ling ….”
Mendengar ucapan tersebut, Tong Lo Thay-thay serta Kim
Hoa Hujin tanpa sadar bersama-sama melirik ke arah si anak
muda itu.
“Kenapa dengan Siauw Ling?” tanya Shen Bok Hong.
“Bukankah kau sangat membenci dirinya hingga merasuk
ketulang sumsum? kenapa tidak cepat-cepat kau basmi saja
orang itu sehingga bibit bencana bisa disingkirkan?”
“Suatu hari aku pasti akan membinasakan Siauw Ling
dengan ujung telapakku sendiri!”sahut Shen Bok Hong dengan
wajah berubah menjadi hitam membesi.

Pek Ii Peng yang mendengar perkataan itu diam-diam jadi
sengit. makinya dihati, “Ngaco belo… pintarnya cuma
mengibul dan mengigau disiang hari bolong..”
Perlahan-lahan It-bun Ha Too alihkan sorot matanya melirik
sekejap ke arah Siauw Ling, kemudian ujarnya kembali.
“Menurut kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan.
katanya kepandaian silat yang dimiliki Siauw Ling telah
memperoleh kemajuan yang amat pesat sekali. Katanya
sekarang ia sudah mampu untuk menentang kekasaan Shen
Toa Cungcu, entah benarkah berita tersebut?”
“Kabar berita kosong dalam dunia persilatan kebanyakan
hanya isapan jempol belaka, apakah kau mempercayainya?”
“Perduli apakah ilmu silat yang dimiliki Siauw Ling sudah
mampu digunakan untuk melawan diri Shen Toa Cungcu atau
tidak, tetapi seluruh umat Bu-lim telah memandang dirinya
sebagai bintang penolong…”
Shen Bok Tong mendengus dingin, ia tidak menanggapi
perkataan itu.
Rupanya It-bun Han Too menyadari bahwa ia sudah
terlanjur salah berbicara, buru-buru pembicaraan dialihkan
kepersoalan lain, katanya, “Maksudku sebagian umat Bu-lim
yang ada dalam dunia persilatan dewasa ini telah
menganggap bahwa Siauw Ling merupakan satu-satunya jago
yang mampu menantang kekuasaanmu, hanya dialah yang
sanggup memimpin seluruh umat Bu-lim untuk bangkit
melawan dirimu serta menumbangkan kekuasaanmu..”
Ia angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak, setelah
berhenti sebentar lanjutnya, “Padahal persoalan paling penting
yang harus dikerjakan oleh Shen Toa Cungcu pada saat ini
bukanlah pergi mengejar orang yang berhasil mengondol pergi
seluruh barang pusaka dari Istana Terlarang yang benar
adalah mengerahkan segenap kekuatanmu untuk membunuh
mati Siauw Ling!”

“Manusia yang bernama It-bun Han Too ini benar-benar
licik, kejam dan berbahaya,“ batin Siauw Ling di dalam hati,
“Apakah ia sudah mengetahui akan asal usulku?”
“Aku rasa persoalan itu merupakan masalah setelah
maninggalkan Istana terlarang”
Terdengar Shen Bok Hong menjawab, ”persoalan paling
penting yang harus kita lakukan sekarang adalah berusaha
untuk menemukan dua sosok mayat lainnya”
Tiba-tiba It-bun Han Too angkat kepala dan tertawa
terbahak-bahak. suaranya keras dan nyaring hingga
menggema diseluruh ruangan…. begitu kerasnya sampat
telinga terasa bergetar keras.
Shen Bok Hong adalah seorang manusia licik yang pandai
membawa diri. Walaupun begitu setelah mendengar gelak
tertawa It-bun Han Too yang begitu keras dan nyaringnya, tak
urung wajahnya berubah hebat juga. Dengan nada gusar
tegurnya, “It-bun heng, apa yang kau tertawakan?”
Tiba-tiba It-bun Han Too menghentikan gelak tawanya.
dengan langkah cepat ia berjalan menuju kemulut pintu batu.
“Berhenti!” Tong Lo Thay-thay segera nembentak keras,
”Jika kau berani mundur ke belakang, akan kusuruh kau
rasakan bagaimana hebatnya pasir seratus langkah pencabut
nyawaku!”
Sambil mengancam tangan kanannya laksana kilat
mengenakan sarung tangan kulit menjangan, dan sakunya ia
menggengam segengaman pasir beracun….
Satu genggaman pasir beracunnya mencapai jumlah
ratusan butir, bila disebarkan di dalam ruang batu itu maka
bukan saja sulit bagi It-bun Han Too untuk menghindarkan diri
dan ancaman, bahkan kemungkinan besar setiap manusia
yang hadir dalam ruangan itu sulit untuk melepaskan diri dan

bencana tersebut, untuk beberapa saat lamanya setiap orang
segera mengerahkan tenaga dan bersiap-siap diri.
Shen Bok Hong dengan cepat ulapkan tangannya
menghadang di depan Tong Lo thaythay, serunya.
“It-bun heng, aku tiada maksud untuk membinasakan
dirimu, lagipula barusan kau telah menyelamatkan selembar
jiwaku, tetapi jika kau sampai memancing kegusaranku maka
akupun tak dapat menolong keselamatanmu lagi…”
It-bun Han Too tentawa dingin.
“Kau ingin berjumpa dengan Siauw Ling?” ejeknya.
“Sekarang Siauw Ling berada dimana….”
“Bila dugaanku tidak keliru, maka kedua orang pembantu
setia yang Shen Toa Cungcu bawa masuk ke dalam istana
terlarang. TongLo Thay-thay serta Kim Hoa Hujin telah
menghianati dirimu”
Kau adalah Siauw Ling?” tiba-tiba Shen Bok Hong
menyadari akan sesuatu dan segera berpaling ke arah si anak
muda itu.
Setelah rahasianya terbongkar, Siauw Ling merasa tidak
perlu untuk merahasiakan diri lagi, ia segera melepaskan
topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya sambil
menjawab, “Sedikitpun tidak salah, aku adalah Siauw Ling!”
Untuk beberapa saat lamanya Shen Bok Hong berdiri
tertegun, kemudian dia baru bergumam, “Semestinya sedari
tadi aku sudah harus menduga akan dirimu!”
“Aku rasa sekarangpun masih belum terlambat!”
Melihat Siauw Ling telah unjukkan wajah aslinya, Pek-Li
Peng pun segera menghapus angus di atas wajahnya dan
perlihatkan wajah sebenarnya.

“Shen Toa Cungcu!” kembali It-bun Han Too bereru, “jika
kau bemiat membinasakan Siauw Ling, saat inilah merupakan
kesempatan yang terbagus bagimu untuk turun tangan”
Shen Bok Hong tertawa dingin.
“Heeeh….heeeeh.. heeeeh…. It-bun heng, sejak kapan kau
mengetahui akan asal usulnya?” ia menegur.
“Belum lama berselang….. “
Sorot matanya perlahan lahan menyapu sekejap wajah
Tong Lo Thay-thay serta Kim Hoa Hujin, kemudian
melanjutkan, “Tetapi menurut dugaanku kedua orang
pembantu setiamu itu sudah mengetahui akan rahasia Siauw
Ling sejak tadi-tadi, hanya satu hal yang membuat aku merasa
tak habis mengerti, kenapa mereka tidak memberitahukan
rahasia ini kepadamu Shen Toa Cungcu?”
Air muka Shen Bok Hong berubah hebat, tapi hanya
sebentar saja telah pulih kembali dalam ketenangan, katanya
“It-bun heng. kau benar-benar amat cerdas!”
Dalam pada itu Kim Hoa Hujin sudah merogoh ke dalam
pinggangnya ambil keluar sebuah kotak kecil terbuat dari
kayu, dari kotak tersebut ia tangkap seekor ular berbisa dan
digenggamnya di tangan kiri, kemudian ujarnya dengan suara
menyeramkan, “It-bun sianseng, darimana kau bisa menuduh
bahwa kami mengetahui rahasia Siauw Ling jauh lebih dahulu
daripada dirimu?”
Sejak It-bun Han Too berhasil membongkar rabasia Siauw
Ling, dalam hati kecilnya Shen Bok Hong telah menaruh curiga
terhadap Tong Lo-thayhay serta Kim Hoa Hujin tetapi sebagai
seorang pemimpin besar yang berotak cerdas setelah
termenung berpikir sebentar ia tidak langsung menegur kedua
orang pembantunya itu, ia takut teguran yang terlalu pedas
kemungkinan besar malah akan menimbulkan niat berontak
dalam tubuh mereka, oleh sebab itulah kendati dalam hati

merasa mendongkol namun perasan tersebut tidak sampai
diutarakan keluar.
Dan sekarang mendengar Kim Hoa Hujin menegur It-bun
Han Too, dimana pertanyaannya justru merupakan. apa yang
sedang ia curigai, Shen Bok Hong semakin membungkam diri.
Terdengar It-bun Han Too menjawab, “Untuk itu kalian
berdualah yang berjasa dan telah membantu diriku andaikata
kalian berdua bisa menahan diri dan tidak menunjukkan sikap
yang mencurigakan, meskipun dalam hati aku merasa curiga
namun takkan membuat diriku tadi yakin bahwa dia adalah
Siauw Ling!”
“Harap kau terangkan lebih jauh!”
Ketika kusebut tentang diri Siauw Ling, tanpa sadar sorot
mata kalian berdua sama-sama dialihkan ke atas wajah Siauw
Ling yang mngenakan topeng kulit manusia itu, ditambah pula
setiap kali berbicara ia sengaja merubah suaranya untuk
merahasiakan diri. Hal ini menunjukkan bahwa dia adalah
seseorang yang dikenal oleh kita semua, ditinjau pula dari
ilmu silatnya yang maha sakti dan maha lihay maka
berdasarkan beberapa kesimpulan itulah aku segera menduga
bahwa dia adalah Siauw Ling, dan yang paling penting kalian
berdua sedari tadi sudah mengetahui rahasianya terlebih
dahulu. “
Tong Lo Thay-thay agak berang mendengar ucapan itu, dia
tak sanggup menguasai diri, sorot matanya memancarkan
cahaya kilat dan rupanya sebentar lagi akan melancarkan
serangan.
Sikap Kim Hoa Hujin masih tenang-tenang saja mendadak
dia angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak serunya.
“It-bun Han Too, saking pintarnya kau sampai agak
kebelinger, dan perkataamu barusan bukankah dengan jelas
membuktikan pula bahwa kau sudah mengetahui rahasia
tentang Siauw Ling sejak semula? bukankah kau sendiri yang

tak mau mengutarakan rahasia tersebut sebaliknya malah
secara diam-diam bekerja sama dengan dirinya untuk
menghadapi kami”
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil : Budi Ksatria 1 [Seri Kunci Wasiat Pendekar Siauw Ling] dan anda bisa menemukan artikel Cersil : Budi Ksatria 1 [Seri Kunci Wasiat Pendekar Siauw Ling] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/10/cersil-budi-ksatria-1-seri-kunci-wasiat.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil : Budi Ksatria 1 [Seri Kunci Wasiat Pendekar Siauw Ling] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil : Budi Ksatria 1 [Seri Kunci Wasiat Pendekar Siauw Ling] sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil : Budi Ksatria 1 [Seri Kunci Wasiat Pendekar Siauw Ling] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/10/cersil-budi-ksatria-1-seri-kunci-wasiat.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar