Cersil : Rahasia Istana Terlarang 1 [Serial Kunci Wasiat]

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 07 Oktober 2011

Rahasia Istana Terlarang

Karya: Wo Lung-shen
Terjemahan: Tjan I.D

Jilid 1
Dalam cerita “Bayangan Berdarah” dikisahkan bahwa Siauw Ling telah turun kebawah
tebing untuk mencari jamur batu berusia seratus tahun.
Pada saat itulah tiba-tiba musuh yang amat tangguh telah menyerang datang sehingga
melibatkan si Raja obat Bertangan Keji serta Sang Pat dalam pertempuran yang amat
sengit.
Tu Kioe yang diserahi tugas untuk melayani uluran tali senar disisi gua, merasa amat
gelisah dan kuatir sekali menghadapi kejadian tersebut, apa lacur Siauw Ling yang berada
dibawah tebing tak kunjung datang juga
Sementara itu ia merasa kuatir bercampur tegang akhirnya mengambil keputusan untuk
menerjunkan diri kegelanggang pertempuran tiba-tiba tali senar yang berada
digenggamnya bergetar keras hal ini menandakan bahwa Siaw Ling telah menemukan
jamur batu tersebut dan siap naik keatas.
Tu Kioe merasa amat kegirangan, sepasang tangannya dengan kerahkan segenap
tenaga yang dimilikmya segera menarik tali senar tersebut keatas.
Rupanya Siaw Ling yang berada dibawah tebingpun mengetehui bahwa rekan-rekannya
yang berada diatas tebing telah berjumpa dengan musuh tangguh, tangan maupun
kakinya lkut bekerja keras untuk membatu mempercepat daya tarik tali senar dari Tu Kioe
Dalam pada bentrokan senjata yang berkumandang diarah belakang semakin nyaring,
jelas pertarungan yang berlangsung makin lama semakin seru dan Sang Pat mulai tak
sanggup mempertahankan diri. Sambil bertarung ia mundur terus kebelakang.

“Toako, apakah kau telah naik?” tiba-tiba terdengar Tu Kioe berseru dengan nada
girang.
“Akn telah naik keatas tebing” jawab Siaw Ling.
Kiranya Tu Kioe yang berwajah adorn sebenarnya memiliki hati yang hangar, ia tahu
Sang Pat sedang melangsungkan pertarungan sengit maka ia tak berani memandang
kearah saudaranya itu, sementara posisi Sianw Ling pun amat berbahaya. maka iapun
tidak berani memandang kearah sianak muda tersebnt.
Menanti Siauw Ling telah tiba diatas tebing dengan selamat ia baru diangkat kepala
menatap saudara tuanya ini. seraya menjura ujarnya :
“Toako, keadaanmu baik-baik saja bukan, Selesai bicara ia sambar senjata pit bajanya,
kemudian merogoh pula gelang pelindung tangannya dan melancarkan sebuah se-rangan
gencar kearah musuh.
Braaaak ! cahaya tajam berkilauan, dari sisi kalangan telah menyambar sebilah golok
menangis datangnya aucaman itu.
Tu Kioe segera putar gelang pelindung tangannya Traang traaang.. secara beruntun ia
menyapu datangnya serangan berantai dari beberapa macam senjata sajam.
Pada saat inilah Tu Kioe baru puuya ke-sempatan untuk menyaksikan keadaan situasi
dihadapannya.
Lampu lantera yang ditinggalkan kedua orang dayang itu masih memancarkan cahaya
tajam sehingga pemandangan disana dapat terlihat jelas.
Tampaklah empat orang pemuda berbaju biru dengan bersenjatakan golok, pedang.
papan baja serta tombak berdiri dengan angker-nya disitu.
Empat macam senjata dengan keistimewaan yang berbeda menyerang datang secara
berbareng diantaranya dibumbuhi kerja sama, hal ini membuat Sang Pat yang memiliki
ilmu silat amat liheypun tidak sanggup untuk menghadapi keempat orang itu sekaligus.
“Loo-jie” terdengar Sang Pat berseru, “gantikanlah posisiku, aku hendak cari peluang
untuk membalut lukaku”.
Permainan senjata pit baja ditangan kanan Tu Kioe serta gelang perak ditangan kirinya
tiba-tiba diperketat. ia disambut separuh ancaman yang menggulung datang.
Mengambil kesempatan itu Sang Pat me-loncat keluar dari kalangan dan
menghembuskan napas panjang.
Toako. apakah kau telah mendapatkan jamur batu berusia seribu tahun??” tanyanya.
“Aku telah mendapatkannya”.
Sang Pat pun segera merobek pakaian sen diri untuk membalut luka yang meuganga di
lengan sebelah kirinya.
“Apakah lukamu parah sekali??” bisik Sianw Ling seraya mengatur pernapasan.
“Lengan kamu terkena bacokan golok lawan namun tidak terlalu parah, aku rasa luka
dikaki kirikulah yang rada berat!”
Siauw Ling alihkan sinar matanya. sedikupun tidak salah kaki kiri Sang Pat penuh
berlumuran darah”, bahkan darah segar mengucur keluar tiada hentinya. Tanpa terasa ia
menghela napas dan bertanya
“Bagaimana keadaan kakimu ?”
“Harap toako legakan hati, Iuka ini tidak sampai mempengaruhi otot serta tulang”.
Sementara kedua orang itu sedang bercakap cakap tiba tiba terdengar suara dengusan
berat berkumandang datang.
Tanpa berpaling Sang Pat berkata :
“Saudara Tu telah terluka orang yang menggunakan tombak itu paling ganas dalam
melancarkan seranganuya jurus serangan yang ia miliki mempunyai perubahan yang
sangat banyak dan sukar diraba sebelumnya*’.

Siauw Ling alihkan sinar matanya ketengah, sedikitpun tidak salah diatas kaki kiri Tu
Kioa tampak muncul sebuah yang amat besar darah segar mengucur keluar tiada
hentinya, jelas luka yang ia derita amat parah sekali. “Saudara Tu. harap segera
mengundurkan din kebelakang. biarlah aku yang bendung serangan musuh” seru Siauw
Ling sambil menghembuskan napas panjang.
Ditengah bentakan keras pedang panjangnya telah diloloskan dari dalam sarung.
Tu Kioe mengerti bahwa kepandaian silat yang dimiliki saudaranya ini amat lihay sekali,
laksana kilat ia mundur dua Iangkah kebelakang, kemudian merobek secarik kain dan
membalut mulut lukanya,
“Sauw Ling getarkan tangan kanannya’ sang pedang dnringi desiran angin tajam segera
menggulung keatas, laksana kilat ia sampok miring keempat bilah senjata tajam itu.
EmpAt orang pemuda berbaju biru itu menggunakan empat macam senjata yang
berbeda tapi melakukan serangan dengan kerja sama yang luar biasa, ketika golok
tersebut kena taugkis, papan besi dengan cepat menyusnl datang. Terutama sekali adalah
senjata Lian Cu-Ciang bagaikan ular sakti menembusi gua, sering kali dengan
mengimbang serangan pemuda itu yang bersenjatakan pedang
itu menyusul datang.
Siauw Ling yang saling bergebrak sebanyak beberapa jurus melawan orang-orang itu
dapat merasakan kekuatan yang dahsyat dibalik serangan mereka, diam diam pikirnya
didalam hati.
“Tidak kalau sepasang pedang dari Ticng chiu pada terluka dibawah ujung tombak
orang itu. jurus serangan yang dia gunakan memang aneh sakti dan ganasnya luar biasa.
Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya tiba-tiba permainan pedangnya diperketat.
Dalam sekejap mata bunga-bunga pedang berhamburan diangkasa mengurung seluruh
lorong batu itu.
Telapak kirinya melancarkan ilmu telapak kilat berantai Lian Huan San Tian Ciang Hoat
ajaran Lam It Kong untuk bekerja sama dengan gerakan pedangnya, dengan demikian
serangan gencar dari keempat orang itupun berhasil dibendnng.
Terdengar suara dari si raja obat berta-ngan keji berkumandang datang.
“Sandara Tn, apakah Siauw Liang ThaihiaP telah naik??”
“Sudah?”
“Apakah berhasil mendapatkan jamur batu berusia seribu tahun!”
“Untung sekali tidak sampai mengecewakan dirimu” sahut Siauw Ling dengan cepat.
“Loohu telah berjumpa dengan musuh tangguh yang belum pernah kujumpai selama
hidupku!?.
“Bagaimana ?” sela Sang Pat. “Apakah Yok-Ongpun telah menderita luka ?”
“Cuma dua buah luka dikulit luar belakang, tidak terhitung seberapa ?”
Setelah merandek sejenak sambungnya :
“Sekalipun Loohu telah menderita luka, namun aku masih punya kemampuan untuk
melanjutkan pertarungan” .
Serangan-serangan balasan dari Siauw Ling kendati dilancarkan dengan amat
dahsyatnya tetapi berjumpa dengan serangan gencar hasil kerja sama keempat orang itu.
keadaannya berbahaya. Pihak lawan masih sanggup melancarkan serangan serangan
balasan dibalik pertahanannya yang kuat
Sementara itu setelah selesai membalut Iukanya dan mengatur napas beberapa saat.
Sepasang pedagang dari Tiong Chin kembali menggerakkan senjata tajamnya untuk
menyerang kembali kearah inusuh-musuhnya.
“Toako, ilmu silat yang dimiliki orang ini rupanya berhasil dari satu aliran yang sama,
setiap jurus yang digunakan amat kejit dan ganas,

Toako tak usah berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap diri mereka,” sernnya keras-ke
ras.
“Sedikitpun tidak salah,” pikir Siauw Ling. “Apabila aku tidah melukai beberapa orang
dalam serangan kali ini, mungkin sulit bagi kita beberapa orang untuk menerjang keluar
dari istana batu digunung Wu-san ini “
Karena berpikir demikian, jurus jurus serangan mematikanpun segera dilancarkan.
Nampak cahaya pedang yang berkilauan memegangi seluruh angkasa, laksana kilat
menyambar kearah depan,
Pemuda berbaju biru yang bersenjatakan papan baja itu mendadak melepaskan
senjatanya, sang badan mnndur beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan, dan
akhirnya ia roboh terjengkang keatas tanah.
Setelah badannya roboh keatas tanah, darah segarpun mengucur lewat mulut luka di
depan dadanya.
Kiranya dada orang itu berhasil disambar. robek oleh babatan kilat Siauw Linp yang di
lancarkan amat cepat, isi perutnya kontan hancur berantakan dau jiwanyapun melayang
saat itu juga.
Sementara itu Sepasang pedang dari Tiong Chiu sebetulnya bermaksud membantu
Siauw Ling namun tubnh mereka dengan cepat terdesak mundur kembali terkena desakan
bawa pedang Siauw Ling yang maha dahsyat.
Setelah berhasil membinasakan seorang pemuda berbaju biru. Siauw Ling membentak
keras:
“Majikan kalian telah mengadakan perjanjian dengan diriku, dalam batas waktu satu
jam la tidak akan melancarkan serangan bokongan. Sungguh tak nyana dia adalah
seorang manusia rend’ah yang tidak pegang janji” Hmmm! kalau kalian semua tidak
segera menghentikan serangan jangan salahkan kalau aku Siauw Ling akan bertindak
kejam dan telengas terhadap diri kalian semua.”
Ditengah bentakan keras gerakan pedangnya secara beruntun beberapa kali, kembali
sipemuda berbaju biru yang bersenjatakan pedang itu terluka diujung pedang Siauw Ling,
badannya terjengkang keatas tanah.
Tusukan pedang sianak muda tersebut kali mi telah menembusi dada lawannya,
tusukan maut itu seketika mencabut selembar jiwanya.
Sang Pat yang selama ini menyaksikan jalannya pertempuran dari sisi kalangan tibatiba
teringat suatu hal pikirnya,
“Beei.,.sungguh aneh sekali, kenapa tidak kedcngaran suara jeritan kesakitau dikala
tnbuh mereka termakan oleh pedang?”
Timbul rasa curiga dalam hatinya, segera bisiknya kepada diri Tu Kioe:
*’Hey Loo Jie! apakah kau menemukan puia tanda tanda aneh yang patut dicurigai?”
“Bagian mana yang tidak beres?”
“Selama beberapa orang iui melakukau pertempnran sengit melawan diri kita kecuali
terdeugar beberapa kali suara teriakan yang aneh, apakah kau pernah mendengar mereka
mengucapkan sesuatu?”
“Sama sekali tidak kedengaran.”
Serangan Sianw toako amat lihay dan dahsyat secara beruntun ia berbasil melukai dua
orang namun kedua orang itu sama sekali tidak memperdengarkan suara teriakan ataupun
jeritan ngeri, apakah hal ini tidak aneh?”
“Sedikitpnn tidak salah, kejadian ini memang patut dicurigai.,..”
Sementara kedua orang itu terlibat dalam pembicaraan yang serius, kembali seorang
pemuda berbaju biru roboh binasa termakan sambaran pedang dari Siauw Ling,

Pada saat itu diantara ernpat orang pemuda berbaju biru ada tiga orang sudah mati
binasa, kini hanya tersisa sang pemuda bersenjata tombak ssja yang masih melangsung
kan pertempuran sengit.
Setelah membunnh tiga orang, dalam Lati Siauw Ling timbul perasaan tidak tega, ia
tidak ingin membunuh lebih banyak lagi. Maka dari itu gerakan pedang ditangannya makin
diperketat, la terhadap pemuda bersenjatakan tombak itu bisa tahn diri dan segera
mengundurkan diri.
Siapa sangka orang itu benar-benar bandel dan tidak punya rasa takut, sekalipun
serangan gencar yang dilancarkan Siauw Ling te lah mcmaksa gerakan tubuhnya jadi
terkekang dan kacau tidak keruan, namun ia tetap keras kepala tak mau mengudurkan
diri.
“Toako!” Sang Pat segera berseru dengan nada lirih.” Aku 1ihat manusia yang ada
dalam istana batu digunung Wu-san ini amat kukoay sekali bukan saja mereka bersantap
binatang berbisa untuk melanjutkan hidup ilmu silat yang manunggal, aku pikir mereka
pasti bukan manusia-manusia baik. Pada saat ini keadaan kita sangat krisis dan berbahaya
sekali, harap toako jangan mengulur waktu Iebih jaah. …!”
“Ucapan saudara Sang Pat tidak salah.”
Serangan telapak ditangan kirinya makin diperketat membendung seluruh ancaman
yang datang dari ujung tombak lawan dan tangan kanannya dengan jurus In-pon-gwatkong
atau awan membuyar cahaya rembulan cemerlang membabatkan pedangnya
kedepan
“Breet ‘.” pakaian bagian dada pemuda itu robek, Siauw Ling tidak tega untuk
mendesak lebih jauh, dan ia tarik kembali serangannya.
Tampak pemuda berbaju biru itu mundur kebelakang dengan sempoyongan, tapi
secara tiba2 tombaknya digetarkan langsung mengarah ke depan lawannya.
Mimpipun Siauw Ling tidak mengira kalau ia masih sanggup melancarkan serangan
yang demikian dahsyat setelah menderita luka parah hampir saja tubuhnya termakan oleh
bokongan lawan. Tak kuasa lagi ia naik pitam, pcdangnya disapu keluar, kakinya dari
posisi Tiong Kiong mendesak kemuka setelah menyampok miring tombak berantai tadi
senjatauya langaung membabat ketubuh lawan
Terasa cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, darah segar memercik keempat
penjuru dan lengan kanan pemuda itu mental dibabat putus jadi dua bagian.
“Sampai matipun orang ini tak akan sadar, tak boleh kita biarkan dia hidup lebih Jauh.”
tukas Tu Kioe.
Senjata Pit bajanya ditotok kedepan menusuk ulu hati oraug itu, kontan pemuda
berbaju biru itupun menemui ajalnya.
“Aaai sungguh tak kusangka keempat orang ini merupakan manusia-manusia yang tak
takut mati.” keluh Siauw Ling seraya gelengkan kepalanya berulang kali.
Sang Pat mendehem ringan, sebenarnya ia mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya
ia batalkan niatnya itu.
Sekali tendang Tu Kioe menyingkirkan mayat orang tadi. serunya :
“Mari kita segera herangkat : Kita lihat bagaimana keadaan dari si Raja Obat Bertangan
Keji.” tanpa menanti jawaban orang lain lagi, ia memburu kedepan lebih dulu.
Siauw Ling dengan menenteng pedang ber-jalan ditengah, sedangkan Sang Pat
menguntil dibelakang sianak muda itu.
Setelah melewati sebuah tikungan, terdengar angin pukulan menderu-deru memenuhi
angkasa.
Tatkala mereka alihkan sinar matanya ke arah kalangan, terlihat si Raja Obat bertangan
Keji dengan tangan kosong sedang melangsungkan pertarungan seru melawan dua orang
kakek tua yang rambutnya telah beruban semua.

Kedua orang kakek tua ini, yang satu bersenjatakan Hud-tim sedang yang lain
bersenjatakan pedang, serangan serangan yang mereka lancarkan amat ganas dan lihay
Berada dibawah kurungan Hud-tim serta pedang lawan, Tok Chiu Yok Ong memberikan
perlawanan sengit, ia gunakan kepandaian merampas senjata dengan tangan kosong yaug
diinngi oleh ilmu Kie Nah Jiauw memaksakan diri untuk bertarung seimbang.
Namun bagaimanapun juga posisinya amat kritis dan berbahagia sekali sepasang
telapaknya tidak berani bergerak lambat, setiap serangan dibalas dengan serangan,
demikian repot siraja obat ini sampai-sampai ia tidak .sempat untuk menggunakan ilmu
melepaskan racunnya yang amat liehay.
“Saudaraku, avoh cepat mundur !” tiba-tiba terdengar suara Siauw Ling berseru sambil
mengayunkan pedangnya kedepan.
Selama ini Tu Kioe menaruh perasaari antipatik terhadap diri Tok Chiu Yok Ong pada
waktu itu juga ia sedang mempertimbangkan dia perlukah turun tangan membantu siraja
obat itu atau jangan. Kini mendengar seruan dari Siauw Ling, dengan cepat badannya
menyingkir kesamping.
Siauw Ling getarkan pedang panjangnya, dengan gerakan „Chan Liong Ing Hong” atau
Mennnggang Naga Memancmg burung Hong ia sambut datangnya ancaman dan senjata
Hud-tim tersebui^
“Cayhe bantu diri Yok Ong untuk menghadapi manusia manusia jahanam ini!”
Tok Chiu Yok Ong bungkam dalam seribu bahasa, sepasang telapaknya diperketat dan
dengan kerahkan segenap tenaga yang di-milikinya mcughadapi sikakek bersenjata
pedang tersebut.
Kiranya keadaan siRaja Obat Bertangan Keji pada waktu itu Sudah payah sekali. Ia
telah merasa dirinya tidak tahan untak melanjutkan pertarungan, mungkin dalam sepuluh
gebrakan lagi tubuhnya bakal terluka ditangan lawan, maka kehadiran Siauw Ling tepat
pada saatnya dan segera membantu dia untuk menghadapi kakek tua bersenjatakan Hud
tim itu, bagi Yok Ong boleh dikata me rupakan suatu bantuan yang sangat besar.
Tetapi dengan dasar wataknya yang sombong dan tinggi hatinya ia merasa berterima
kasih hanya perasaan tersebut tidak sampai di utarakannya keluar.
Siauw Ling yang membuat datangnya serangan Hud tim dan kakek tua berambut putih
itu, dengan cepat merasakan bahwa dia kehebatannya amat sederhana sekali dan seolah
olah gampang dihadapi, namun setelah saling bergebrak ia baru tahu bahwa kelihayan
lawan justru terletak pada kelembekan serat dari senjata Hud-tim iiu. benar-benar emas
yang lembek sebeatar berubah jadi keras sebentar mengembang dan sebentar merapat,
hal ini merupakan suatu aneaman yang berbahaya sekali.
Diam-diam Siauw Ling berpikir didalam hatinya:
Permaianan Hud tim orang ini begitu gampang, aku rasa ilmu silat yang di miliki sikakek
tua bersenjatakan pedang itu pun tidak jelek. Siraja Obat Bertangan Keji dapat
mempertabankan diri selama ini dibawah orang sealiran kedua orang itu, kejadian ini betul
betul luar biasa sekali.”
Otaknya berputar gerakan tangannya sama sekali tidak mengendor, tiba-tiba ia
percepat daya serangan pedangnya, dengan sikakek ber senjatakan Hud tim tersebut
dilangsungkan-uya suatu pertarungan kilat yang saling memperbutkan posisi lebih
menguntungkan.
Sejak Siauw Ling turnn tangan mengurangi daya tekanan pada dirinya, siraja Obat
Bertangan Kejipun merasakan beban yang ia pjkul semakm enteng. Ia mulai sempat putar
Otaknya untuk menghadapi serangan serangan musuh
Ia merasa apabila pertarungan cara begini dilangsungkan lebih jauh, sulit baginya
untuk menentukan siapa kalah, maka secara tiba-tiba gerakan serangannya berubah, ia
mendesak musuhnya semakin gencar dan semakin hebat,

Ditengah berlangsungnya pertarungan sengit, tiba tiba terdengar suaranya nyaring
yang mirip dengan suara suitan berkumandang datang memecahkan kesunyian. Serangan
kedua orang kakek tua itu semakin diperketat, setelah mengirim dua buah serangan
gencar tiba-tiba mereka meloncat mundur kebelakang.”
Menyaksikan tindakan mereka si Raja Obat Bertangan keji segera berpikir didalam hatinya,
“Bayangan berdarah.”
“Entah kedua orang mi sedang mempersiapkan rencana keji apa lagi mencelakai
kamu?’
Sementara ia masih berpikir, tampaklah kedua orang kakek berambut putih itu putar
badan dan berlaln dari sana, dalam sekejap bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak ber
bekas
Memandang bayangan punggung kedua orang itu yang mulai lenyap dari pandangan,
Tok Chiu Yok Ong bergnmam seorang din.
“Tidak sebarusnya mereka berdua melarikan diri dari sini dalam keadaan yang begitu
mengenaskan… “
Perkataan ini seakan akan diutarakan bagi diri, namun mirip pula sedang bertanya
kepada orang lain.
To Kioe segera tertawa dingin
“Tentu saja hal ini disebabkan mereka sadar bahwa kepandaian silat yang mereka miliki
bukan tandingan toako kami, maka melihat posisi yang tidak menguntungkan mereka
segera melarikan diri,” sambungnya cepat,
Sinar mata Sang Pat berputar memandang sekejap suasana disekiiar sana, ia melihat
ada dua orang pemuda berbaju biru menggeletak dilorong sebelah kiri. jelas sebelum
kehadiran kedua orang tua itu, kedua orang pemuda lersebut telah menyerang Tok-chiu
Yok-ong lebih dahulu namun mereka berhasil dirobohkan oleh siraja obat mi.
“Apakah kedua orang pemuda berbaju biru ini sudah modar semua?”
“Mereka belum modar cuma luka yang di derita sangat parah, sebelum kehadirau kedua
orang kakek tua itn, mereka berdua telah melancarkan serangan bokongan terhadap diri
loohu.”
“Jadi kalau begitu, mereka berdua telah terluka ditangan Yok Ong?” “Sedikitpun tidak
salah.” “Bagaimanakah keadaan luka mereka? apakah masih btsa digunakan untuk
melakukan perjalanan
“Aku rasa sudah tak mungkin lagi”.
Kedua orang kakek tadi mengundurkan diri dengan langkah tergesa gera, babkan
sepatah katapun tidak diucapkan, aku rasa mereka pasti mempunyai rencana keji yang
lain, kita tak boleb berdiam terlalu lama di sini, ayoh cepat bcrangkat,” tiba-tiba Tu Kiou
menyela.
Tanpa menunggu jawaban orang lain, ia berjalan lebih dahulu kearah depan.
Setelah melewati dua buah tikungan, tiba tiba dari arah depan herkumandang datang
suara teguran yang sangat dingin:
“Anak buahku tidak mendengarkan perintah dan melancarkan serangan bokongan
kepada kalian secara diam diam, kini cayhe telah tangkap mereka semua untuk dijatuhi
bukuman. Nah, cuwi sekalian boleh segera berlalu dari sini tanpa hadangan…”
Ia merandek sejenak, kemudian sambnng nya:
“Pada saat ini batas waktu satu jam telah habis, tetapi berhubung anak buahku
mengingkari janji dengan melancarkan serangan bokongan lebih dahulu, maka cayhepun
akan langgar kebiasaan dengan memberi perpanjangan waktu selama seengah jam buat
kalian, apabila didalam setengahjam mendatangi cuwi sekalian masih berada dalam istana
batuku, janganlah salahkan kalau cayhe terpaksa akan melancarkan serangan bokongan
untuk merobohkan kalian semua.”

“Sayang sekali sebagian besar anak buahmu telah mati binasa ditangan kami,” teriak
Sang Pat.
“Semestinya aku harus membalaskan dendam bagi mereka.” sahut orang itu dengan
suara yang dingin. “Tapi mengingat mereka turun tangan dengan melanggar peraturan,
maka anggap saja mereka memang sudah di takdirkan hams mati.”
Sementara Siauw Ling ingin buka snara, orang itu telah berkata kembali lebih jauh:
“Batas waktu yang kuberikan kepada kalian hanya setengah jam, apakah kalian suka
mendengarkan perkataan atan tidak untuk segera meninggalkan tempat ini terserah pada
keputusan sendiri, apabila kalian tidak percaya lagi, dengan menenteng pedang ia segera
berlalu dari Sana.
Dalam dugaan beberapa orang itu semua dalam perjalanan keluar dan lorong tak bisa
dihindari lagi pertarungan-pertarungan sengit pasti akan ditemui, siapa sangka apa yang
terjadi kemudian ternyata jauh diluar dugaan siapapun juga. serombongan jago jago lihay
mi berhasil keluar dari istana batn tanpa mengalami rintangan apapun juga…..
Baru saja mereka berempat melangkah keluar dari depan gua tersebut, mendadak
diiringi suara yang amat keras pintu batu itu menutup sendiri rapat-rapat.
“Aneh….suagguh sekali..” terdengar Sang Pat bergumam sambil menghembuskan
napas panjang.
“Persoalan apa yang aneh?” tanya Tu Kioe.
“Seumpama kata ia tidak mau menggerak kan alat rahasia yang ada didalam lorong itu
untuk membuka pintu batu yang menghalangi jalan pergi kita, bukankah kita bakal
terkurung?” entah apa sebabnya majikan istana batu ternyata suka melepaskan diri kita
dengan begitu gampang.”
“Mungkin saja dia adalah seorang koencu yangmemegang janji,” kata Siauw Ling mem
berikan pendapatnya.
“Haa. .haaa.. jadi toako benar-benar mempercayai perkataannya itu?”
“Apabila ia tidak mau membuka pintu batu yang amat besar itu, kita segera akan
terkurung didalam goa tersebut Tetapi apa sebabnya ia sudab membukakan pintu bagi
kita keluar? bukakah hal ini menunjukkan bahwa tiada maksud untuk menyalahi kita?”
“Kalo menurut pandangan siauwte jauh berbeda sekali,” ujar Tu Kioe. “Aku rasa
majikan istana batu itu telah melepaskan jagoan kelas wahidnya untuk bergebrak dengan
kami, dalam hasil pertarungan tersebut ia merasa bahwa kekuatan kita luar biasa sekali.
Apabila ia bersikeras menahan kita didalam istana batunya ada kemungkinan bakal
menimbulkan hawa gusar kami sekalian. Maka dari itu untuk menghindanri kebancuran
total, dengan sukarela ia telab melepaskan kita semua.
Siauw Ling ada maksud menimbrung. tiba tiba To Chiu Yok Ong mengulurkan
tangannya kedepan sambil berkata:
“Siauw heng, bukankah kau berhasil mendapatkan jamur batu berusia seribu tahun?
coba perlibatkan kepada loohu!”
Siauw Ling merogob kedalam sakunya ambil keluar segenggam jamur batu itu
kemudian diangsurkan kedepan.
Dengan cepat Si Raja Obat Bertangan Kejl I menyambut jamur batu tersebut,
diperiksanya sejenak dibawah sorotan sinar bintang yang redup, lalu serunya penuh
kegirangan:
“Aaah, sedikitpun tidak salah…memang benda inilah yang kucari cari selama ini.”
Jamur-jamur segera dimasukkan kedalam sakunya, kemudian mengulurkan tali gannya
dan bertanya :
“Masih ada ?”
“Haa haa kenapa? Apakah segenggam masih tidak cukup ?” tegur Sang Pat
sambil tertawa terbabak-bahak.

“Penyakit yang diderita puteriku sangat parah. hanya segenggam jamur batu mana
cukup untuk menyembuhkan sakitnya.”
Siauw Ling tidak mengucapkan sepatah katapun, kembali ia meraup segenggam jamur
batu dan diangsurkan kepadanya.
Tok Chiu Yok Ong menerima jamur-jamur tadi, setelah diperiksa sejenak segera
dimasukkan kedalam sakunya, kali ia tidak ulurkan tangannya untuk minta kembali.
Demikianlah mereka berempatpun segera balik kedalam perahu mereka.
Suasama dalam ruang perahu terang benderang oleh cahaya lampu, pemilik perahu
sedang menanti kedatangan mereka di dalam ruang, tatkala menyaksikan keempat orang
itu kembali , ia segera menjura dan berlalu dari situ.
“Loohu tiada maksud memperlihatkan permainan setan, aku cuma mengajak kalian
bertiga merundingkan persoalan ini “
“Baiklah ! Sekarang boleh kau utarakan bantuan apa lagi yang kau butuhkan dari
kami.”
“Sewaktu loohu sedang bekerja untuk menyembuhkan penyakit puteriku yang sudah
diderita selama banyak tahun, terpaksa perahu tuan harus kupinjam, dan kalian
hertigapun tak bisa beristirahat didalam ruang perahu ini
“Ouw kiranya cuma persoalan ini saja.”
“Harapan anda suka maafkan diri loohu, dan semoga sudi mengabulkan permintaanku
ini.”
“Berapa lama yang kau butuhkan ?” sela Tu Kioe dingin.
“Apabila dimulai sejak sekarang, maka paling cepatpun harus digunakan sampai besok
sore “
“Pada waktu itupun kami sudah akan mendarat.” sela Sang Pat.
“Apabila kalian bertiga tidak suka mengijinkan, loohu serta siauw-li segera akan
tinggalkan perahu ini untuk mencari tempat lain yang tenang serta terpencil.”
“Tak usah Yok Ong bersusah payah, silahkan pakai ruang perahu ini.” kata Siauw Ling
cepat.
Tanpa menanti jawaban ia Iangsung berjalan keluar dari ruangan. disusul sepasang
pedagang dari Tiang Chiu dibelakangnya.
Laksana kilat Tok Chiu Yok Ong menutup pintu serta jendela yang ada dalam perahu itu
mem’buat seluruh ruangan tirtutup rapat dan sedikit lubangpun tak ada.
Siauw Ling serta sepasang pedagang dari Tiong Chiu setelah keluar dari ruang perahu
segera duduk bersila diatas geladak dan pejamkan mata mengatur pernapasan.
Fajar mulai menyingsing, sinar sang sur-ya yang berwarna keemas-emasan mulai me
mancar dan ufuk timur.
Tiba-tiba tampak pemilik perahu lari menghampiri mereka seraya bertanya :
“Toa-ya sekalian, perahu ini hendak dijalankan menuju kemana ?” ^
“Angkat jangkar dan balik ketempat semula.”
“Kita kembali lagi ?” tanya pemilik perahu itu tertegun.
“Sedikitpun tidak salah.” Tu Kioe menanggapi dengan nada dingin.
Pemilik perahu itu melirik sekejap kearah ketiga orang itu, ia tidak berani berbicara lagi,
buru-buru putar badan berlalu. Perahu pun segera putar arah ditengah selat tersebnt
dengan cepat mereka berlayar keluar dari selat Sam Nia.
Sang Pat adalah seorang jagoan yang cermat, walaupun ia sedang duduk bersila di atas
geladak, namun sepasang matanya terus menerus mengawasi gerak gerik dalam ruangan.
Sedangkan pemilik perahn itu diam-diam merasa tercengang menyaksikan tingkah laku
ketiga orang itu, pikirnya ;

“Sungguh aneh sekali, ruang perahu yang nyaman ditinggalkan sebaliknva malah duduk
berkerumun diatas geladak dan membiarkan tubuhnya terhembus angin tersengat
panasnya matahari ..ketiga orang ini benar-be-nar manusia kukoay…”
Setiap kali bertemu dengan wajah Tu Kioe yang dingin bagaikan es, hatinya kebat bebit
tidak karuan, tentu saja ia tidak berani banyak bertanya.
Ketika tengah hari sudah lewat, pintu ruang perahu itu baru tampak terbuka disusul
Tok Chiu Yok Ong munculkan din dengan langkah yang amat lambat.
Seluruh tabuhnja basah kuyup oleh keringat wajahnya lesu dan kecapian seakan akan
baru saja menyelesaikan suatu pertarungan sengit, setelah tiba dihadapan ketiga orang
itu, ia segera jatuhkan diri duduk di geladak.
Tu Kioe melirik sekejap kearah Si Raja Obat Beriangan Keji, sementara dalam hati
pikirnya
“Kalau aku ingin membinasakan dirinya pada saat ini, perbuatanku ini bisa kulakukan
amat gampang sekali bagaikan membalik telapak sendiri ..”
“Yok Ong, bagaimana keadaan puterimu?” tanya Siauw Ling setelah mendebem rmgan.
“Loohu telab berhasil seluruh urat nadi dalam tubuhnya,” jawab Tok Chiu Yok Ong
seraya mengangguk lemah. “Dan kini ia telah makan obat pada saat ini pnteriku sedang
tertidur dengan nyenyaknya.”
Selesai bicara sepasang matanya dipejamkan dan mengatur pernapasan kembali.
Dalam pada itu perahu meluncur kedepan dengan lancarnya mengikuti aliran air sungai,
tampak tebing-tebing curam yang tinggi menjulang keangkasa dalam sekejap mata telah
ditinggalkan jauh dibelakang.
Sang surya makin condong kearah barat, pe rahu yang mereka tumpangi telab hampir
keluar dari selat Sam Nia.
Tenaga Iwekang yang dimiliki siraja Obat Bertangan Keji amat sempurna, setelah
mengatur pernapasan hampir satu jam lamanya seluruh tenaganya telah pulih kembali
seperti sedia kala, iapun membuka sepasang matanya menyapu sekejap ketiga orang itu
ke-rnudian ujarnya:
“Siauw-heng, loohu masih ada satu permintaan yang kurang sesuai ingin kutanyakan
kepada dirimu, entah sudikah kiranya kalian bsrtiga mengabulkannya?”
“Apabila permintaanmu kurang sesuai, lebih baik tak usah diutarakan saja sela Tu
Kioe,” Daripada kalan kami tolak nanti, Yok Ong tentu merasa bersedih hati.”
Tok Chiu Yok Ong kontan mengerutkan sepasang alisnya.
“Loohu dengan maksud baik hendak ajak kalian bertiga merundingkan satu persoalan,
katanya “kalau kalian tidak mengabulkannya, bukankah hal ini sama artinya memaksa
loohu,…
“Persoalan apa ?” sela Siauw Ling.
“Berkat bantuan obat mujarab dari Sianw Heng, keadan siauw li pun semakin membaik
dan punya harapan untuk hidup lebih jauh-Tetapi setelah menderita sakit dalam puluh an
tahun, hawa murni dalam tubuhnya boleh dibilang sudah buyar sama sekali. apabila harus
dirawat secara perlahan-lahan mungkin akan makan waktu yang lama. Meninjau situasi
Bu-lim yang amat kacau pada saat ini ingin sekali loohu pmjam perahu ini selama tujuh
hari, menanti kesehatan puteriku telah pulih kembali, kita baru mendarat. Entah
bagaimana menurut pendapat anda ?”
“Soal itu kau urusan pribadi Yok Ong sendiri, apa gunanya kau ajak kami untuk
berunding?” seru Sang Pat sambil tertawa.
“Loohu ada maksud mohon bantuan kalian bertiga, maka dari itu terpaksa aku harus
ajak kalian untuk berunding.”

“Kalau anda ingin mobon bantuan kami, lebih baik Yok Ong terangkan dulu masalah
sampai jelas kemudian akan kita tinjau dulu perlukah kembali membantu dirimu atau tidak
?”
“Umpama kata kalian bertiga tidak setuju bukankah pembicaraan loohu sia-sia belaka.”
“Jadi maksud Yok Ong, kau hendak paksa kami untuk mengabulkan permintaanmu
itu9″ Ujar Tu Kioe ketus.
Si Raja Obat Bertangan Keji tertawa kering
“Apabila kalian bertiga tidak setnju. hal ini sama artinya telah menjerumuskan kembali
puteriku kelembah kematian, usaha Siauw Thaihiap dengan menempuh bahaya
mengambil jamur batu berusia seribu tahun pun akan merupakan usaha yang sia-sia
Saja.”
Sang Pat mengerling tncnyapu sekejap ke adaan disekeliling tempat itu, Ialu sambil
tertawa ujarnya :
“Pada saat dan keadaan seperti ini lebih baik Yok Ong jangan menggunakan akal busuk
lagi untuk menipu kami, berbicara putar kayuh macam begini tiada berguna sama sekali,
lebih baik utarakan saja maksudmu secara terus terang dan blak-blakan.”
“Baiklah ! Tatkala loohu sedang mengobati puteriku, waktu itulah tiada bertenaga sama
sekali untuk menghadapi serangan apabila ada orang menaiki perahu membokong diriku
bukankah jiwa kami berdua bakal runyam maka dari itu aku harap kalian bertiga suka
bertindak sebagai pelindung kami.”
“Hm! Apa yang Yok Ong pikirkan dan lakukan semuanya demi kepentingan diri pribadi.
jengek Tu Kioe dingin. “Kami tiga bersaudara “
“Ular tanpa kepala tak akan jalan, burung tiada sayap tak akan terbang, aku rasa diantara
kalian bertiga tentu ada seorang yang bertindak sebagai pemimpin bukan?”
“Tentu saja dia adalah Liong Tauw toako kami.”
“Apabila kalian berdua sudah tahu kedudukan sendiri dan tidak pnnya kek asaa untuk
turut berbicara, lebih baik kurangi sedikit pembicaraan kalian dari pada mengacaukan
situasi serta masalah yang se-benarnya.”
“Yok Ong sedang memaksa kami ? Atau-kah mohon bantuan dari kami “” tegur Siauw
Ling.
“Pertanyaan ini sulit sekali untuk dijavvab selama hidupku belum pernah loohu
memehon kepada orang lain.”
“Kalau Yok Ong tiada maksud memohon dus berarti kau hendak menggunakan
kekerasan untuk memaksa kami, baiklah ! Akan cayhe layani sampai kemauanmu itu…,,.”
“Jadi sudah kau kabulkan permintaanku itu ? tanya Tok Chiu Yok Ong sambil tertawa.
“Tidak setuju !”
Tok Chiu Yok Ong segera menarik kembali senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Aaai Seandainya pada saat loohu sedang mengatur pernapasan tadi kalian totok jalan
darahkn, niscaya loohu sudah roboh tanpa memberikan perlawanan barang sedikitpun
jua.”
“Sekalipun kami ada maksud membinasakan dirimupun, mungkin bukan suatu
pekerjaan yang gampang.” sambung Tu Kioe tidak tahan lagi.
“Tidak salah, maka dari itulah loohu merasa sayang bagi kalian bertiga.”
“Seorang lelaki sejati tidak akan melancarkan serangan bokongan dikala orang lain
tidak siap lagipula pada saat inipun belum terhirung lambat untuk turun tangan
membinasakan dirimu.”
“Sudah terlalu lambat, seandainya ketika itu kalian bertiga turun tangan melukai diri
loohu, pada saat ini ten:u saja tiada persoalaan yang bisa dirundingkan lagi, tapi sayang
saribu kali sayang kesempatan yang sangat baik itu telah kalian buang dengan percuma”
Air muka Sang Pat berubah jadi serius.

“Kalau kudengar dari nada pembicaraan Yok Ong, agaknya kau hendak
menggunakankekerasan untuk menahan kami tetap berada disini ?”
“Kalian bertiga telah melaknkan suatu kesalahan yang amat besar, yaitn tidak
seharusnya duduk bersanding dengan diriku “
“Apa? Jadi kau telah meracuni tubuh kami bertiga ?!” tukas S auw Ling dengan mata
melotot.
“Bukankah sudah sering kali loohu memberitahnkan kepada kalian bertiga bahwa aku
mempunyai kepandaian untuk meracuni orang lewat sentuhan badan ?”
“Cayhe merasa rada kurang percaya.” sent Sang Pat.
“Kalau tidak percaya, apa sebabnya tidak kau coba sendiri benar atau tidaknya
perkataanku itu ?”
Tang Pat salurkan hawa murninya mengeIilingi seluruh badan, sedikitpun tak salah, ia
merasakan tubuhnya sudah keracuanan, hawa amarahnya langsung berkobar dalam
rongga dadanya.
“Bagus’ bagus sekali! kau telah melepaskan racnn keji kedalam tubuh kami bertiga,
jangan salahkan kalau kami bertigapun akan menggunakan tindakan yang paling keji
untuk menghadapi dirimu, Loo-jie! terjang ke dalam ruang perahu dan kita bunuh dulu
budak tersebut…”
Tu Kioe meloncat bangun senjata pit baja yang terselip pada pinggangnya segera
dicabnt keluar dan berjalan menuja kearah ruang perahu.
“Borhenti!” hardik si Raja obat bertangan “keji sambil tertawa dingin.
Tiba-tiba Sang Pat lintangkan badannya menghadang jalan pergi. Tok Chiu Yok Ong,
serunya.
“Apabila Yok Ong punya keyakinan bisa merobohkan aku orang she Sang dalam sebuah
serangan, mungkin masih ada harapan bagimu untuk menyelamaikan selembar jiwa
putrimu.”
Siauw Ling pun berseru sambil tertawa di agin.
“Sungguh tak kusangka sama sekali tabiat dan watak yok ong adalah demikian
rendahnya.
“bila yok ong berani memperlihatkan permainan setan lagi kali ini, tak usah orang lain
naik yang keatas perahu untuk membokong kalian berdua, cayhe lah akan turun tangan
lebih duluan,” ancamnya dingin.
“Loohu sama sekali tidak jeri terhadap kalian bertiga.”
Walaupun jawaban dari jawaban si Raja Obat Bertangan Keji masih kedengaran ketus
dan atos, namun ia mengerti bahwasanya kepandaian silat yang dimilikinya masih bukan
tandingan ketiga orang itu.
Tampak Sang Pat pejamkan matanya mengatur pernapasan beberapa saat lamanya,
kemudian membuka mata dan mengangguk.
“Ehmmm, tidak salah obat itu memang obat penawar?” katanya.
Secara beruntun Siauw Ling serta Tu Kioe pun masing-masing menelan sebutir pil, Ialu
salurkan hawa murninya bekerja sama dengan daya menggeram ditubuh mereka.
“Selama hidup belum pernah loohu melakukan tindakan seperti ini hari”. Terdengar Tok
Chiu Yok Ong bergumam “Setelah melepaskan racun keji, sebelum tujuannya tercapai
telah kupersembahkan obat penawaran nya.”
“Keadaan situasi yang memaksa kau harus berbuat demikian, tentu saja terpaksa Yok
Ong harus menurut,” Tu Kioe.
Tiba-tiba Tok Chiu Yok Ong berjalan masuk kedalam ruang perahu dengan langkah
lebar, setelah membopong tubuh puterinya ia berjalan keluar dari dalam ruangan. Ujarnya
sambil menatap wajah Siauw Ling tajam ta jam:

“Loohu sama sekali tidak terdesak oleh keadaan kalian bertiga, aku mempersembahkan
obat penawarnya tersebut buat kalian hal ini disebabkan semangat serta kegagalan Siauw
tayhiap yang luar biasa….”
Siauw Liang membungkam, sinar matanya perlahan lahan dialihkan keatas tubuh puteri
Si Raja Obat yang kurus kering tinggal kulit membungkus tulang itu, tiba tiba muncu1
perasaan tidak tega dari dalam hatinya. la menghela napas panjang dan berkata:
“Sandaraku berdua, kalau kita ingin menolong orang tolonglah sampai akhir, bukankah
kita sudah menolong dia untuk mendapatkan obat mujarab itu kepapa tidak sanggupi pula
untuk melindungi keselamatan mereka selama tujuh hari? entah bagaimana menurut pen
dapat kalian berdua.”
Sang Pit garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, kemudian menjawab.
“Siauw-te sekalian akan menyanggupi seluruh perintah dari toako, apabila toako me
mang merasa seharusnya kita lindungi mereka berdua selama tujuh hari, kamipun tidak
akan menolakl”
“Kalau nasib putriku tidak jelek, dan ia belum ditakdirkan untuk mati, kesempatan
untuk hidup pasti tetap ada ditangannya.
Loohn tidak berani merepotkan kalian bertiga,” sela siraja obat bertangan keji.
“Mati hidup putrimu merupakan suatu masalah yang amat besar. Yok Ong! apa
gunanya kau mengumbar napas karena persoalaan yang sepele?”
“Liong-tauw toako telah menyangupi untuk melindungi keselamatan kalian ayah dan
anak berdua selama tujuh hari, Yok Ong sekalipun kau tidak maupun harus mau,” seru Tu
Kioe pula.
* “Loohu tidak ingin kalian tolak perminta anku itu, namun loohupun tidak ingin
menerima budi kalian dengan begitu saja.”
“Jadi bagaimana menurat pendapat Yok Ong?”
“Kalau kalian bertiga benar ada maksud untuk melindungi kami ayah dan anak sela ma
tujuh hari, maka loohu harus pula memberi suatu benda sebagai balas jasa, apabila kalian
bertiga s u d i menerimanya….maka Loohu akan berdiam diatas perahu ini selama tujuh
hari, tapi kalau kalian tolak pemberian ini, sekarang juga loohu akan angkat kaki dan
berlalu dari sini.”
Mendengar ucapan tersebut, Siauw Ling jadi keheranan, pikirnya,
“Sungguh aneh tingkah laku serta tabiat orang ini, tadi kami tidak mau gunakan
kekerasan untuk memaksa, sekarang setelah kita sanggupi diapun paksa kami nntuk
menerima balas jasanya…aaai benar-benar seorang manusia kukoay.”
Berpikir sampai disitu, ia Iantas berkata:
“Baiklah, apabila Yok Ong memang ada maksnd memberi sesuatu kepada kami sebagai
balas jasa, berikanlah benda itn setelah batas waktu tujuh hari telah lewat.”
“Baik, kalau begitu kita tetapkan dengan janji demikian saja,” seru Yok Ong.
Ia lantas membopong puterinya dan berjalan masuk kembali kedepan ruang perahu.
Sepeninggalnya siraja obat bertangan keji’
Siauw Ling segera berkata lirih kepada se pasang pedang dari Tiong Chiu.
“Setelah kita menyetujui nntuk melindungi keselamatan mereka berdua selama tnjuh
hari-sudah sepantasnya kajau kita bekerja dengan sangat hati-hati, jangan punya pikiran
gega-bah atau menggantingkan urusan orang lain.”
“Toako, bukankah perahu ini sedang berlayar ditengah sungai, darimana datangnja
musuh yang akan mengganggu dirinya? Siraja obat bertangan keji itu memang terlalu
berhati-hati dalam seiiap gerak geriknya,”omel Tu Kioe, .
“Walaupun ucapanmu sekali, namun bagaimanapun juga kita harus mengadakan sedikit
persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.”

“Satu-satunya musuh yang ada kemungkinan besar datang mengganggu adalah jago
jago dari istana batu digunung….Wu san,” ujar Sang Pat memberikan peodapatnya.
“Kecuali mereka, aku rasa tak mungkin ada orang lain yang datang mencari gara-gara.”
Setelah merandek sejenak, sambungnya : “Hanya saja, apabila mereka ada maksud untuk
mengejar dan membokong kita, lain apa sebabnya merekapun sudi melepaskan kita keluar
dari istana batu itu ? Maka aku rasa hal inipnn tipis sekali kemungkinannya” Tiba-tiba
terdengar suara Tok Chin Yok Oug berkumandang datang dari dalam ruang perahu.
“Msnurut pandaugan loohu. didalam istana batu digunung Wu san telah terjadi
perubahan besar, majikan istana batu tidak akan punya banyak waktu untuk mengejar
kita sekalian.”
Itu waktu tengah hari telah menjelang, tiba-tiba sambil bergendong tangan Siauw Ling
berdiri diatas geladak memperlihatkan pemandangan disekeliling sungai, tiba-tiba si Raja
Obat Bertangan Keji muncullah dari dalam ruang perahu.
“Besok tatkala sang surya muucal diufuk timur, siauwte telah dapat meninggalkan pe
rahu itu, dan perjanjian tujuh hari yang kita tetapkan pun akan berakhir.” ujarnya.
“Kalau keadaan sakit putrimn yang belum seaibuh. diperpanjang dua tiga hari lagipun
tidak mengapa.” Siauw Ling menanggapi.
Selama beberapa hari belakangan ini, rasa permusuhan antara Tok Chiu Yok Ong
dengan Siauw Ling sudah banyak lenyap, hubungan mereka berduapun mulai terjalin
rapat.
“Tidak perlu. semua urat nadi puteriku teIah berbasil kutembusi, keadaan sakitnyapuu
sudah makin sembuh, asal loohu berhasil membawa dia untuk berdiam disuatu tempat
yang sunyi dan terpencil lalu dengan meng-gunakan segala kemampuanku serta obat
mujarab yang kumiliki akan kudidik dirinya agar makin kuat aku hendak memeeahkan
rekor dunla persilatan dengan mendidiknya jadi seorang jagoan yang paling liehay didalam
Bu-lim dalam tiga tahun mendatang.”
“Semoga harapan Yok Ong bisa terpenuhi dan cayhe pun bisa ikut merasakan hasil
karyamu itu.”
Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba tampaklah dui buah perahu cepat
meluncur datang dengan kenCangnya.
“Kehadiran kedua buah perahu cepat itu rada sedikit kurang beres, harap Siauw Taihiap
bisa bersikap lebih hati hati” seru Tek Chiu Yok Ong dengan cepat.
Sianw Ling alihkan sinar matanya kearah tepi snngai tampaklah diatas setiap perahu
cepat itu duduklah dua orang jagoan.
Seorang pegang kemudi sedang orang yang kedua berdiri diujung perahu, empat
pasang mata sama sama dialihkan kearah perahu besar.
Tampaklah kedua buah perahu kilat tadi mengelilingi perahu besar itu batu kali, tibatiba
mereka putar arah dan berlalu dari situ.
Dari gerak gerik perahu perahu itu, Siauw Ling menemukan bahwasanya keadaan
kurang beres, segera pikirnya didalam hati :
“Dalam enam hari belakangan ini beruntung sekali tak ada kejadian yang menimpa
kami, masa pada hari yang terakhir bisa ter jadi sesuafu yaug tidak -diinginkan? tempat ini
dekat sekali letaknya dengan kota Koei
Chiu, mungkinkah kedna baah perahu cepat itu adalah mata-mata yang dikirim pihak
perkampungan Pek Hoa San-cung ?”
Belum habis ia berpikir, tampaklah kedua buah perahn cepat tadi putar arah kembali
dan kali ini langsung meluncur kearah perahu besar.
Sang Pat maupun Tu Kiou rupanya sudah melihat pula akan kehadiran perahn-perahn
cepat yang tidak diundang itu, buru-buru ke dua orang itu mendekati Siauw Ling sambil
berbisik :

“Aku lihat gerak gerik kedua perahu cepat itu ada sedikit tidak beres,”
“Apabila mereka datang untuk mencari gara-gara dengan kita, loohu berharap mereka
bisa cepat-cepat turun tangan.” bisik si Raja Obat Bertangan keji.
“Mengapa ? ? “
“Sebab dua jam kemudian loohu harus bekerja keras lagi untuk melakukan pemusatan
Urat nadi putriku yang terakhir kalinya. pasta saat itu tiada kesempatan bagiku untuk
membantu kalian bertiga,”
Barn saja ucapan itu selesai diutarakan sampan kecil itu teiah mendekatiperahu me
reka
Menyaksikan perbuatan itu dalam hati Siauw Ling berpikir.
“Ditengah siang hari bolong .. besar nyali orang ini !”
Dalam pada itu tampaklah lelaki kekar tersebut dengan sepasang matanya yang tajam
perlahan lahan menyapu sekajap wajah Siauw Ling sekalian, kemudian menegur.
“Sudah lama benar perahu cuwi sekalian sauh ditempat ini !’
“Siapakah anda ? begitu tak tahn sopan dalam melakukan pembjcaraan dengan orang
lain” seru Tu Kioe.
Orang itu te tawa dingin.
“Aku sedang bertanya, bukannya menjawab siapa suruh anda balik bertanya?”
hardiknya.
“Selama hidup belum pernah kami sudi menjawab pertanyaan orang 1″
“Heee heee tapi ini hari terpaksa kalian harus melanggar kebiasaan tersebut.”
“Hemm, belum tentu demikian.”
“Bangsat. siapa kau ? besar benar bacot-mu !”
Tu Kioe pun mulai naik pitam oleh si-kap kasar itu.
“Tutup bacotmu bangsat” terlaknya. “Kalau berani banyak cingcong lagi disini, ku-usir
kau dari atas perahu ini.”
“Hooo. hooo ,…hooo…..kenapa tidak kau coba ?”
Sekonyong konyong Tu Kioe menerjang maju kedepan, telapaknya berputar siap
melancarkan serangan, namnn pada saat itulah Siauw Ling membentak keras : “Jangan
gegabah “
Tu Kioe tarik kembali hawa murninya> Sang badan yang sedang menerjang kemukapun
segera ditarik kembali keposisi semula.
Siauw Ling memandang sekejap kearah lelaki itu, lalu bertanya :
“Apa maksud kedatangan anda keperahu kami ? dapatkah anda menjelaskan ? “
Lelaki kekar itu memperhatikan sekejap tubuh Siauw Ling dari atas hingga kebawah
menyaksikan sianak muda itu gagah dan perkasa ia tidak berani memandang enteng,
buru-buru menjura dan berkata.
“Tolong tanya siapakah nama besar anda
“Siauw-te Siauw Ling.”
Lelaki itu tertegun sejenak kemudian selanya kembali.
“Sudah lama kukagumi nama besar anda sungguh beruntung ini hari kita bisa saling
berjumpa.”
Dan siapakah nama sahabat sendiri ?”
“Seorang prajurit kecil yang tidak ternama sekalipun diutarakan mungkin Siauw tayhiap
pun tidak kenal,”
Jilid 2
MENDENGAR jawaban tersebut, dalam hati Sang Pat berpikir, “Keparat cilik ini benar
benar licik. Ia telah berhasil menipu nama besar toako ia sendiri tak mau menyebutkan
namanya.”

Segera ia mendehem dan berkata, “Ditengah malam gelap pasang lampu, memukul
genta genta dengan Suara. Kepandaian sahabat betul betul luar biasa sekali.”
“Siapa anda?” sinar mata lelaki kekar itu segera dialihkan keatas wajah Sang Fat
“Loo-toa dari sepasang pedagang dari Tiong Chie, Sang Pat adanya, mereka masih
tidak takut dicemooh orang. jual beli dilakukan tiap kali secara adil selamanya yang tua
tak pernah menipu yang muda dan yang muda tidak mengganggu yang tua. Seharusnya
andapun menyebutkan nama anda sendiri.
“Hmmm…. tauke besar, sudah lama kudengar nama gede dari Tiong Chin Siang Ku
dalam melakukan perdagangan selamanya sukses dan berhasil, kekayaan yang berhasil
dikumpulkan melebihi semua negeri….”
“Hey, kami sedang bertanya siapa namamu!” tukas Tu Kioe ketus. “Kalau telingamu
Sudah kapokan, suruh orang Iain saja yang berbicara dengan kami….”
Sinar mata lelaki kekar itu beralih keatas wajah Tu Kioe kemudian membacot lagi
“Nada ucapan anda tidak sedap didengar, aku rasa kau pastilah tauke kedua dari Tiong
Chiu Siang Ku yang disebut pit besi berwa-jah dingio Tu Kioe adanya.”
“Sedikitpun tidak salah, cayhelahTu Kioe.”
“Sebatang pit baja serta sebuah gelang Perak perlindungan tangan dari tauke sudah
lama tersohor dalam dunia persilatan. sayang sekali belum sempat bagiku untuk mohon
petunjukmu.”
“Ehmm, pengetahuan anda sungguh luas sekali. tahukah kau siapa diri loohu?” sela Tok
Chiu Ong.
Lelaki itu memperhatikan sekejap wajah Si raja obat bertangan keji, kemudian
menjawab, “Walaupun tubuh sehat kurus kering dan kecil, namun jelas kau adalah
seorang jagoan yang punya nama besar dalam dunia persilatan.”
“Tak usah kau puji puji dan loohu, kalau kau tidak sanggup menyebutkau nama loohu “
Menggunakan kesempatan tatkala Tok Chiu Yok Ong sedang mengucapkan kata ka ta
itu mendadak lelaki kekar tadi berbisik Iirih ke arah diri Siauw Ling.
‘apabila cuwi sekalian sudi menolong diri cayhe, aku pasti akan membalas budi
kebaikan kalian ini.
Sekalipun ucapan tersebut diutarakan dengan nada yang amat lirih, tetapi berhubung
jarak mereka berdekatan maka balk Siauw Ling maupun sepasang pedagang dari Tiong
Chiu dapat mendengar amat jelas sekali. Pe-rnbahan yang terjadi diluar dugaan ini bukan
saja membuat Siauw Ling jadi bingung, bimbang dan berdiam melongo-longo, sekalipun
sepasang pedagang dari Tiong chiu yang sudah berkelana didalam dunia persilatan serta
mempunyai pengetahnan yang amat luaspun dibikin tertegun sehingga berdiri melongo
dengan mata terbelalak lebar, untuk beberapa saat lamanya mereka tak sangggup
mengucapkan sepatah katapun.
Tatkala lelaki kekar itn tidak mendengar jawaban dari Siauw Ling, sinar matanya segera
dialihkan keatas wajah sepasang pedagang dan Tiong Chiu dan ujarnya.
“Apabila kalian berdua suka menolong caybe rela membayar dengan suatu nilai yang
tinggi.”
“Berapa besar yang akan kau bayar?” ta nya Sang Pat tanpa sadar.
“Sebuah lukisan asli dari Malaikat Lukisan Si Thian Too.”
“Ehmm. harganya bagus sekali. terima tawaran itu….”
Berbicara sampai disitu. mendadak Si sie-poa emas menutup mulutnya kembali. ia me
rasa dirinya sudah salah bicara, maka sambil berpaling kearah Siauw Ling dan tertawa
jengah katanya, “Aaai….! Siauwte sudah berjanji tidak melakukan perdagangan lagi, tapi
setelah berjumpa dengan suatu tawaran yang tinggi tanpa sadar penyakit lamaku kambuh
lagi, harap toako jangan marah.”

“Bukankah kau sudah sanggupi permintaannya?” Pikir Siauw Ling dalam hati. “Buat apa
kau tanyakan pula persoalan itn kepada ku? Bukankah perbuatanmu ini hanya suatu
perbuatan yang tak berguna?
Walaupun dalam hati berpikir demikian diluaran ia menjawab, “Urusan sudah jadi
begini, tanyakan saja dia punya kesulitan apa
Lelaki kekar yang berdiri diatas sampan cepat Iainnya, supaya sudah melihat gelagat
yang kurang baik, tiba-tiba ia enjotkan ba-dannya melayang keatas perahu besar,
tegurnya dingin, “Kita harus berlalu?”
Tangan kanannya berkelebat mencengkeram bahu lelaki yang telah berada di atas
perahu besar duluan itu
Tahan!” Bentak Sang Pat dengan alis berkerut.
Dalam pada itu lelaki kekar yang berada diatas perahu besar duluan itu sama sekali
tidak melancarkan serangan balasan terhadap datangnya ancaman, ia berkelit kesamping:
dan mengundurkan diri kesisi tubuh sepasang pedagang dari Tiong chiu
Sang Pat melangkah dua tindak kedepan, ia lepaskan lelaki kekar yang berada diatas
perahu besar lebih duluan itu untuk bersembunyi dibeiakaog, kemudian sambil
mencengkeram lelaki yang kekar datang kebelakang.
tegurnya’
“Ditengah siang hari bolongpun kau berani turun tangan melukai orang….”
“Siapa suruh kau mencampuri urusan orang lain,” teriak lelaki itu amat gusar.
Sreeet….! sebuah totokan telah dilepaskan kedepan
Dengan keras lawan keras Sang Pat menyambut datangnya serangan itu, lalu berseru.
“Apakah anda benar-benar ada maksud hendak ajak diriku berkelahi?”….
Dari bentrokan kekerasan yang baru saja terjadi lelaki kekar itu sudah menyadari
bahwasanya ia telah berjumpa dengan musuh tangguh, bukannya melayani serangan
musuh lebih jauh, ia putar badan melayang kembali keatas perahunya sendiri
Memandang bayangan punggung lelaki kekar itu, Sang Pat berguman seorang diri.
“Aneh…. sungguh heran sekali…. aku rasa jual beli ini tidak akan beruntung dengan
begitu gampang….”
Dalam pada itu lelaki kekar itu tadi secara tiba-tiba mengusap keatas wajahnya sendiri
melepaskan sebuah topeng yang terbuat dari kulit manusia, dengan demikian wajah
aslinya segera terlihat didepan mata.
Orang itu punya sepasang mata yang gede dengan alis tebal, wajah persegi dan
mulutnya lebar, usianya kurang lebih lima puluh tabunan.
Tui-Chiu-Yok-Ong memperhatikan sekejap wajah lelaki kekar itu tiba-tiba ia berkata,
“Kembali anda akan kebobolan uangnya!”
“Apakah ada yang tidak beres?” tanya lelaki itu rada tercengang.
“Kalau kutinjau dari raut wajah, jelas menbuktikan bahwa kau telah keracunan hebat.
masa kau merasa keberatan untuk mengeluarkan sedikit ongkos guna pengobatan?
“Dari mana kau bisa tahu kalau aku keracunan hebat?” Kembali lelaki itu bertanya
dengan nada tetawa.
“Loohu menyadari bahwa sepasang mata-kn belum rabun. ababila cuma melibat tandatanda
orang yang keracunan pun tidak becus buat apa aku melakukan perjalanan lagi didal
m dunia persilatan?”
“Sebenarnya siapakah anda? Kita tidak pernah saling kenal mengenal dari mana kau
bisa tahu kalau aku telah keracunan hebat dalam sekilas pandang saja!”
“Dia bernama si Raja Obat Bertangan Keji Siauw Ling memperkenalkan. “Dialah tabib
nomor satu dalam dunia persilan ini.”
“Ouw…. kiranya kaulah yang disebut si Raja Obat bertangan Keji.”
Lelaki kekar itu menjura. “Maaf, apabila cayhe kurang hor-mat dalam sikapku tadi.

Tiba-tiba ia putar dan berkelebat masak kedalam ruang perahunya.
Sepeninggal si Raja Obat, Sang Pat tersenyum, terdengar ia berkata, “Jual beli ini telah
kami terima, tetapl siapakah diri anda? Aku rasa sudah sampai pada waktunya bagimu
untuk bicara terus terang.”
“Aai…. Cayhe bernama Si Ching….”
Tiba-tiba terdengar Siauw Ling membentak keras, ditengah berkelebatnya cahaya
pedang…. trang, sebatang asak panah telah disampok rontok.
“Suatu ilmu pedang yang amat dahsyat ” suara pujian yang sangat nyaring menggema
datang dari arah depan.
Tatkala Sang Pat mendongaK, tampak empat buah sampan cepat sedang bergerak
mendekat…. diatas ujung sampan berdirilah empat orang lelaki kekar, dua orang
mencekal senjata dan dua orang menbekal gendewa “Saudara berdua, cepat bawa dia
masuk kedalam ruang perahu.” teriak Siauw Ling.
Belum habis ia berseru, terdengarlah desiran angin tajam menderu-deru, serentetan
anak panah meluncur datang bagaikan hujan Siauw Ling segera putar pedangnya
Keempat penjuru…. trang! trang! trang ‘ keempat anak panah seketika terpukul rontok.
Sang Pat menjinjing bajunya ambil keluar sie-poa emasnya, ditengah berkelebatnya
cahaya tajam iapun berhasil memukui rontok dua batang anak panah yang berada
disisinya Tu Kioe pun ambil keluar senjata pit baja serta gelang pelindung badannya
semectara dalam hati ia berpikir: “Aku harus berusaha untuk mendapat diatas sampan
mereka, dengan demikian mere-ka baru bisa dilukai “
Siapa sangka ketika sampan sampan kecil itu tiba kurang lebih tiga tombak disisi
perahu besar, mendadak mereka berhenti bergerak dan tidak maju lebih mendekat lagi.
“Tahan!” tiba dan atas sampan kecil sebelah kanan berkumandang datang suara
bentakan.
Bersamaan dengan bergemanya bentakan tadi, hujan anak panah yang dilepaskan dari
atas sampan kecil itu segera berhenti.
Diam-diam Siauw. Ling berbisik kepada Sang Pat serta Tu Kioe.
“Mereka sudah membentuk barisan segi tiga untuk melancarkan serangan hujan panah
kepada kita, tidaklah menguntungkan bagi kita untuk melakukan perlawanan dari ujung
perahu cepat masuk kedalam ruang perahu dan cari akal untuk menghadapi mereka.”
“Entah orang-orang itu beraSal dari mana” iata Tu Kioe. “Mereka berhasil
mengumpulkan begitu banyak sampan-sampan cepat di atas permukaan sungai yang
demikian luas. serta mendatangkan begitu banyak pemanah jelas hal ini menunjukkan
bahwa mereka bukanlah jago-jago Bu-lim biasa, melainkan suatu perkumpulan perampok
yang biasanya memang beroperasi diatas sungai.”
Dalam pada itu terdengar lelaki kekar yang ada diatas sampan cepat sebelah kanan
telah membentak kembali, “Siapakah pemimpin diatas perahu?”
“Sudahkah anda menyaksikan sendiri keadaan situasi yang terbentang dewasa ini’”
Perlahan lahan sinar mata Siauw Ling ber putar memandang sekejap keempat peujuru
lalu menjawab ;
“Sudah kulihat dengan jelas sekali. Hmm cuwi sekalian tidak lebih hanya mengandalkan
beberapa orang pernah serta posisi segi tiga untuk menggertak orang belaka.”
“Hm, 8eandainya diujung anak panah aku sulut apj kemudian dipanahkan keperahu
anda, tahukah kamu semua bagaimana keadaannya pada saat itu’”
Ancaman ini membuat Siauw Ling tertegun seketika itn juga, diam-diam pikirnya,
“Sunggah Iihay ancaman yang mereka ka takan barusan, seumpama kata mereka benarbenar
memanahkan anak-anak panah berapi keatas perahu, niscaya keadaan kami bakal
runyam,”

Dalam pada itu dibawah perlindungan Sang Pat serta Tu Kioe, Si Ching telah
menngundurkan diri kedalam perahu. sedangkan Sang Pat tetap berjaga-jaga didepan
pintu ruang perahu siap menyambut Siauw Ling. Terdengar lelaki nu berkata kembali:
“Bagus! Rupanya sebelum bertemu dengan peti mati kalian tidak akan mengucurkan air
mata, akan kusuruh kalian rasakan kelihayan kami….”
“Berikan sedikit kelihayan pada mereka’”
Pemanah pemanah itu mengiakan, dari sarung panah mereka segera bersiapan
sebatang panah yang bentuknya istimewa sekali.
Seorang lelaki kekar mengambil keluar sebuah obor disulutnya keujung anak panah
tersebut, api segera berkobar diatas ujung anak panah dan diiringi desiran angin tajam
anak panah api tadi dengan cepat meluncur keatas perahu.
Anak panah itn entah terbuat dari bahan apa, sekalipun meluncur datang dengan
menembusi angkasa namun kobaran api pada ujung anak panah tersebut sama sekali
tidak padam.
Siauw Ling kebaskan pedangnya kedepan. Pletak! Anak panah berapi tadi segera
terpukul rontok ke dalam air,
Daya bakar dari api tersebut sungguh lihay sekali. sekalipun anak panah tadi sudah
terjatuh kedalam air, namun api masih ber-kobar beberapa saat lamanya diatas permuka
an air untuk kemudian baru padam dengan sendirinya.
‘Ooouw…. sungguh lihay sekali,” pikir Siauw Ling.
Terdengar lelaki kekar itu berkata kembali.
“Ditinjau dari kecepatan gerak anda dikala mencabut pedang, kemudian ketepatan
dalam merontokan anak panah tersebut, aku yakin anda pastilah seorang jagoan yang
punya nama besar dalam dunia persilatan. Tetapi seumpama kata aku perintahkan
delapan orang pemanah untuk bersama-sama melepaskan anak berapi secara beruntun
dari tiga penjuru, sekalipun anda memiliki gerakan pedang yang cepat, tak mungkin bukan
bagimu untuk merontokanseluruh anak panah berapi yang kami lepaskan kerah perahu
kalian?
asal kan salah satu saja diantara anak-anak panah berapi kami berhasil mengenai
diatas perahu anda, niscaya perahu kalian bakal terbakar dengan hebatnya dan didalam
sekejap mata. seluruh perahu akan berubah jadi lautan api kemudian perlahan lahan
tenggelam kedasar sungai.”
walaupun Siaaw Ling adalah seorang manusia yang cerdik namun berhubung apa yang
diucapkan plhak lawan adalah merupakan suatu kejadian yang masuk diakal, maka untuk
beberapa saat lamanya ia tak sanggnp mengucapkan sepatah katapun jua.
Sang Pat yang berada disana segera berbisik lirih, “Situasi yang kita hadapi sekarang
walaupun sangat bahaya, namun jangan sampai kita kalah wibawa, apabila Tok Chiu Yok
Ong suka turun tangan serentak, dengan ke kuatan kita berempat dan masing-masmg me
ngarab sebuah sampan musnh, rasanya bukankah suatu pekerjaan yang terlalu sulit untuk
menghancurkan mereka dengan gerakan yang cepat. Rupanya orang yang bicara dan atas
sampan sebelah kanan itu merupakan pemimpin dari keempat buah sampan cepat
tersebut,llmu silat yang ia milikipun tentu lihay sekali, biarlah toako yang menghadapi
dirinya, sedang Siauw-te sekalian serta Tok Chiu Yok Ong akan menghadapi manusia
manusia ynng perada diatas ketiga buah sampan lainnya.”
Perkataan tersebut diucapkan dengan suara yang amat lirih, ditambah pnla ombak
sedang menggulung keras, dan keempat buah sampan cepat itu berlabuh kurang lebih
tiga tombak dilnar perahu mereka, maka Sekalipun pihak lawan dapat menyaksikan bibir
Sang Pat berkemak kemik namun tidak kedengaran apa yang sedang ia ucapkan.
Siauw Ling pun berbisik lirih.

“Anak panah yang mereka perslapkan sangat istimewa sekali bentuknya dan
mempunyai daya bakar yang sangat kuat…. biarlah Siawte saja yang mengadakan kontak
dengan dia, kemudian akan kusampaikan kepada toako kami Nah, sahabat, silahkan kau
membuka harga agar kamipun bisa menawar dengan lebih leluasa…. asal penawar tidak
tinggi, pasti akan kami kabulkan permainan kalian!’
Lelaki itu tertawa dingin lain berseru, “Pertama, serahkan dulu penghianat yang telah
kalian lindungi itu “
“Persoaian ini gampang sekali diselesaikan. situasi yang kami hadapi amat berbahaya
sekalipun orang itn suka membayar dengan harga yang tinggi, jual bell ini sudah pasti
kamilah yang menderita rugi.
“Hemm, tak nyana kau masih sedikit tahu diri!”
Satu saja diantara anak anak panah itu bersarang diatas perahn kita, niscaya perahu
kita bakal terancam mara bahaya.”
Keadaan situasi telah berubah jadi begini terpaksa kita harus berpesan kepada Cioe
Soen sekalian agar siapkan air untuk menolong api.
“Mereka tidak kenal ilmu silat, bukankah korban yang berjatuhan akan semakin banyak.
“Sekalipun ada diantara mereka yang terpaksa jatuh korban. apa yang bisa kita
bicarakan lagi?”?”
“Baiklah akn turuti saja kemauanmn, Nah pergilah menghadap Yok ong dan rundingkan
persoalan ini dengan dirinya, coba kita lihat apakah ia punya pendapat lain atan tidak.”
“Tok Chiu Yok ong menaruh rasa hortnat terhadap dirimu, Siauw te rasa apa yang kau
ucapkan tidak akan ditampik olehnya. Urusan dalam menghadapi orang ini serahkan saja
kepada diri siauw te.
Siauw Ling termenung sejenak, akhirnya ia mengjngguk.
“Baiklah “….
ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru , cersil terbaru, Cerita Dewasa, cerita mandarin,Cerita Dewasa terbaru,Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil : Rahasia Istana Terlarang 1 [Serial Kunci Wasiat] dan anda bisa menemukan artikel Cersil : Rahasia Istana Terlarang 1 [Serial Kunci Wasiat] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/10/cersil-rahasia-istana-terlarang-1.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil : Rahasia Istana Terlarang 1 [Serial Kunci Wasiat] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil : Rahasia Istana Terlarang 1 [Serial Kunci Wasiat] sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil : Rahasia Istana Terlarang 1 [Serial Kunci Wasiat] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/10/cersil-rahasia-istana-terlarang-1.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 17 komentar... read them below or add one }

resep membuat nasi goreng mengatakan...

ceritanya imajjinatif anget

Obat Maag mengatakan...

ini ceritanya apaan sih kak? ko ane gk ngerti ngerti ya?

Obat Kanker Otak Tradisional mengatakan...

makasih atas infonya

jual bed cover murah mengatakan...

artikel yang menarik keep on sharing, .... oh iya salam kenal blooger nubie nih kunjungi balik disini

game98 mengatakan...

ini juga panjang ceritanya

Grosir Alat Bantu Sex mengatakan...

Grosiralatbantusex

Mantaf gan ceritanya seru bangus nyari yang lebih seru lagi gan

Lobangbokep

Topikpilihan

Radarterkini

Caraklik

Patromanterkini

Beritaukan

Topikkesehatan

Pilihanterbaru

perawatanmesin445 mengatakan...

cerita yang sangat menarik....keren gan

harga mesin mengatakan...

ceritanya rinci sekali

freedownloadgame5 mengatakan...

mantap gan sharingnya

Slimming Capsule mengatakan...

keren

Obat herbal kanker rahim mengatakan...

pengen deh

Obat tradisional jantung mengatakan...

manta mantap ..

toko aksesoris mobil mengatakan...

nice sharing gan...silakan mampir

pengobatan herbal leukemia mengatakan...

informasi yang lengkap

pengobatan herbal penurun kadar trigliserida mengatakan...

mantap infonya

obat keputihan herbal mengatakan...

maksih infonya,,,kunjungan baliknya saya tunggu ya ..

Harga Mobil Motor Hp mengatakan...

enak dibaca gan

Poskan Komentar