Cersil : Bayangan Berdarah 2

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Senin, 03 Oktober 2011

Peta yang terlukis oleh Cung San Pek hanya menjelaskan jalan untuk turun gunung saja
setelah lukisan peta tersebut terputus, maka tak ada jalan lagi bagi Siauw Ling untuk
melakukan perjalanan sekenanya.
Ketika itulah terasa bau harum tersiar datang menusuk hidung.
Bau harum tersebut memancing rasa lapar dari sang pemuda, maka dengan tiada
perduli lagi segala urusan Siauw Ling segera berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.
Suasana di dalam rumah makan itu amat ramai sekali hampir seluruh meja telah
dipenuhi dengan tamu.
Keadaan Siauw Ling saat ini benar-benar luar biasa pakaiannya yang telah lama dan
kumal sangat tidak cocok dibadan, kakinyapun hanya memakai seperangkat sepatu
rumput keadaan pada saat ini jauh lebih jelas dari pakaian seorang pekerja kasar.
Tanpa perdulikan keadaan sendiri pemuda itu langsung naik keataws loteng.
Siapa tahu setibanya diloteng dia jadi rada tertegun karena tampaklah tempat itu
tersusun dengan amat rapi serta bersih hanya saja tak terlihat sesosok manusiapun
sehingga tak terasa hatinya jadi keheranan.
“Sungguh aneh sekali suasana di bawah loteng begitu ramainya sehingga kekurangan
tempat, kenapa di atas loteng ini tak terlihat seorang manusiapun?”
Selagi ia berdiri keheranan itulah tampak seorang pelayan berlari mendatangi dengan
cepatnya.
“Toa ya apakah kau adalah tetamu yang diundang oleh Ciu Jie ya?” tegurnya kembali
memperlihatkan keadaan Siauw Ling.
Dandanan yang sangat aneh dari Siauw Ling segera mendatangkan rasa ragu-ragu bagi
pelayan itu hal ini membuat dia jadi tal berani berlaku gegabah.
“Ciu Jie ya?” seru Siauw Ling sambil kerutkan alisnya rapat-rapat. “Ciu Jie ya yang
mana?”
“Apa kau tidak kenal dengan Ciu Jie ya?” teriak pelayan itu sambil melototkan matanya.
“Bocah cilik kiranya kau hendak memancing diair keruh, ayo cepat menggelinding pergi
dari sini… Kenapa?”
Sang pelayan yang melihat dandanan Siauw Ling amat aneh kotor dan dekil semula
menganggap dia orang adalah jagoan kangouw yang diundang oleh Ciu Jie ya, tetapi
setelah mengerti dia bukanlah tetamu yang diundang dalam hatinya lantas menduga kalau
pemuda itu tentulah seorang pengembala kerbau dari desa.
Maka dengan amat gusarnya segera membentak

“Kau, bangsat cilik mau menggelinding pergi tidak?”
Sembari berteriak tangannya dengan cepat menghantam dada Siauw Ling.
Kepandaian silat yang dimiliki pemuda tersebut pada saat ini benar-benar telah luar
biasa, sekalipun tidak usah mengerahkan tenaga dalamnyapun dari kulit tubuhnya sudah
memantulkan suatu tenaga yang besar.
Ketika pukulan pelayan tersebut dengan tepat menghajar dada Siauw Ling, ia segera
merasakan kepalannya seperti menghantam baja yang amat keras sehingga
mendatangkan rasa sakit yang luar biasa.
Bukan begitu saja bahkan terasalah segulung tenaga pantulan dengan cepat
menggetarkan badannya sehingga membuat ia jatuh terjungkal dan menubruk meja yang
telah diatur dengan mangkuk serta cawan.
Pentalannya kali ini benar-benar membuat sang pelayan terjatuh keras. Wajahnya
bengkak-bengkak dan mengucurkan darah segar.
Dengan cepat ia merontak bangun dan buru-buru menjura.
“Toa ya, kau orang sungguh pandai menyembunyikan diri!” serunya gugup. “Hamba
ada mata tak berbiji dan tidak mengenal tingginya gunung Thay-san. Biarlah sewaktu Ciu
Jie ya nanti datang harap kau orang jangan mengungkap kembali soal ini, kau duduklah,
biar aku sediakan air teh panas buat dirimu.”
Siauw Ling yang melihat sikapnya yang kasar cepat sudah berubah dalam hati merasa
amat geli, belum sempat ia menerangkan kalau dirinya sama sekali tidak kenal dengan Ciu
Jie ya yang dimaksudkan itu sang pelayan ngeloyor pergi.
Tak terasa lagi sembari memandang bayangan punggung dari sang pelayan turun dari
loteng pemuda berpikir “Ciu Jie ya itu kalau bukannya kaum pembesar tentulah jagoan
Liok Lim setempat, dan untuk mencari jejak dari enci Gak aku harus banyak bergaul
dengan jagoan Bulim, apalagi perutku sangat lapar dan tak punya uang biar aku makan
lebih dulu.”
Sejurus kemudian terlihatlah pelayan itu dengan kepala yang dibalut kain putih berjalan
mendatang sambil tuangkan secangkir teh lalu membersihkan mangkuk yang pecah,
sikapnya hormat sekali.
Siauw Ling tidak ambil gubris terhadap semua itu. Perlahan-lahan ia memilih tempat
duduk yang dekat jendela dan memandang ke arah manusia-manusia yang sedang
berjalan di bawah loteng, otaknya berpikir cara bagaimana dapat mencari jejak dari Gak
Siauw-cha serta Tiong Cho Siang-ku. Sekonyong-konyong terdengar suara langkah
manusia memecah kesunyian. Waktu ia menoleh ke belakang tampaklah kakek tua
berambut putih dan berperawakan tinggi kekar bertindak naik keatas loteng dengan
membawa seorang dara cantik berbaju hijau, gadis berbaju hijau itu hanya berusia lima
enam belas tahun, tetapi wajahnya amat murung yang penuh diliputi oleh kesedihan.
Tetapi langkahnya amat mantep dan serius sekali sehingga wajahnya yang sangat
adem.

Kakek tua itu mempunyai sepasang alis yang tebal. Matanya bulat besar, wajahnya
persegi panjang dengan mulut yang lebar, semangatnya tinggi dengan wajah berwarna
merah bersinar.
Saat ini sepasang matanya dengan amat tajam menyapu sekejap ke arah Siauw Ling
kemudian duduk berhadapan dengan pemuda tersebut.
Gadis berbaju hijau itupun duduk disisi orang tua tersebut sinar matanya memandang
ke arah hidung sendiri tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sang pelayan yang melihat bentuk serta gerak-gerik kedua orang itu tidak berani
banyak bicara lagi buru-buru ia menuangkan secawan teh ke arah orang tua itu sambil
ujarnya, “Heee, heee Loo-ya apakah juga tetamu dari Ciu Jie ya?”
Orang tua itu hanya mendengus dingin dan mulutnya tetap membungkam.
Semula nyali pelayan itu sudah dibikin pecah oleh tindakan Siauw Ling, kini melihat
sikap orang tua rada tidak beres buru-buru memberi hormat dan mengundurkan diri.
Sepasang mata dari si orang tua itu kembali dialihkan keatas wajah Siauw Ling dan
memandang dengan rasa dingin.
Lama kelamaan pemuda itu merasa sungkan sendiri, tak kuasa lagi ia melengos keluar
jendela. Terdengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat, kiranya si orang tua itu
sambil mencekal secawan air teh telah berjalan mendekati ke arah pemuda tersebut.
“Saudara cilik, siapakah namamu?” tegurnya.
“Cayhe adalah Siauw Ling, tootoa…”
Dia sebetulnya hendak menyebut Locianpwee kepada orang tua itu, tetapi ketika
diucapkan sampai di tengah jalan mendadak teringat kembali olehnya akan pesan dari Gie
hunya yaitu tidak perduli telah bertemu dengan jagoan Bulim bagaimanapun juga harus
menyebutnya dengan tingkatan yang seimbang karena itu buru-buru gantinya.
“Entah Loo heng ada maksud apa?”
Mendengar disebutnya nama tersebut air muka si orang tua itu kontan berubah hebat,
sekalipun dara berbaju hijau yang semula memejamkan matanya kembali dan memandang
sekejap ke arah Siauw Ling.
“Dikolong langit banyak orang yang menjuluki nama kembar, apakah Siauw Ling ini
mungkin sama dengan Siauw Ling itu?” terdengar si orang itu bergumam seorang diri.
Siauw Ling yang mendengar perkataan tersebut hatinya terasa rada tergerak.
“Apakah Loo heng pernah bertemu dengan seorang yang bernama Siauw Ling?”
tanyanya.
“Walaupun loohu belum pernah bertemu muka tetapi sudah lama mendengar nama
besarnya.”

“Ooouuw! Ada urusan semacam ini?”
“Ehmmm! loohu adalah Pat So Sin Liong atau sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok
Ceng!”
“Toan Bok Loo heng!” sapanya.
Dalam hati diam-diam pemuda itu merasa amat malu, pikirnya, “Sungguh memalukan
sekali, kiranya aku sudah lupa menanyakan nama orang lain!”
Perlahan-lahan si orang tua itu meletakkan cawan tehnya keatas meja dan ulurkan
tangan kanannya ke depan.
“Ini hari bisa bertemu muka dengan Siauw Tayhiap benar-benar membuat loohu amat
merasa bangga.”
Siauw Ling yang melihat tangan kanannya itu sudah mendekati dadanya terpaksa iapun
angkat tangannya untuk menyambut tangan kanan tersebut.
“Lain kali masih mengharapkan banyak petunjuk dari Toan Bok Loo heng” buru-buru
sahutnya.
Terasalah kelima jarinya jadi mengencang kiranya tangan si orang tua itu sudah
mencekal tangannya erat-erat.
Selama ia sama sekali tak pernah memiliki pengalaman di dunia kangouw barang
sedikitpun, sehingga sewaktu berjabatan tangan dengan si orang tua itu dia sama sekali
tidak mengadakan persiapan.
Terasalah telapak tangan dari si orang tua yang mencekal tangannya semakin lama
semakin mengejang, waktu itulah ia baru merasakan kalau keadaan kurang beres. Maka
diam-diam tenaga murninya dikerahkan kemudian disalurkan ke arah tangan kanannya.
kelima jari si orang tua yang mencekal tangan pemuda tersebut segera merasakan
tangannya mulai dari lunak jadi keras dan akhirnya atos bagaikan baja, hal itu membuat
hatinya jadi terperanjat.
“Siauw Ling baru munculkan dirinya di dalam Bulim, tidak lebih satu tahun lamanya,
setidaknya nama besarnya bukanlah nama kosong belaka,” pikirnya diam-diam.
************http://ecersildejavu.wordpress.com/***************
Sehingga dengan cepat ia mengendorkan tangannya kemudian tertawa terbahakbahak.
“Haaa… haaa… nama besar dari Siauw heng, benar-benar bukan nama kosong belaka,
Loolap sudah melayani dirimu!” serunya.
Jelas sekali kalau nada ucapannya jauh lebih menghormat lagi.

“Akh! mana, mana, tenaga dalam dari Toan Bok heng tidak berada di bawah tenaga
dalam siauwte!”
Sekalipun mulutnya pemuda tersebut menjawab demikian tetapi hatinya amat murung
pikirnya, “Ia memanggil diriku dengan sebutan Siauw Thayhiap. Tentu orang tua ini sudah
salah menganggap aku adalah Siauw Ling yang satunya.”
Si orang tua itu mengambil kembali cawan tehnya dan putar badan siap meninggalkan
tempat itu.
Mendadak Siauw Ling merangkap tangannya menjura sambil berkata, “Loo heng
tunggu sebentar, cayhe ada urusan yang ingin minta pengajaran!”
Mendengar perkataan tersebut sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok Ceng lantas
menghentikan badannya dan perlahan-lahan putar badan.
“Siauw heng ada keperluan apa?” tanyanya sambil tertawa.
“Siauwte belum pernah berkelana di dalam Bulim, ini kali adalah pertama kali
menerjunkan diri ke dalam kangouw.”
“Siauw heng sedang bergurau dengan Loolap? Atau benar-benar memberitahu?” tanya
Toan Bok Ceng melengak.
“Aku benar-benar sedang memberitahukan kepada Loo heng. Bagaimana perkataan ini
bisa dikatakan sebagai bergurau?”
“Kalau begitu Siauw heng benar-benar bukanlah Siauw Ling yang aku maksudkan?”
“Siauwte adalah Siauw Ling yang asli, aku rasa Siauw Ling yang kau maksudkan itu
sengaja menyaru namaku.”
Dengan menggunakan sepasang matanya yang amat tajam Toan Bok Ceng
memperhatikan diri Siauw Ling dari atas sampai ke bawah, lama sekali baru ia menghela
napas.
“Bilamana kalian berdua bukanlah satu orang yang sama, maka Loolap sendiripun jadi
kebingungan,” katanya kemudian.
“Tolong tanya apakah sebab-sebabnya?”
“Menurut kabar yang tersiar di dalam dunia kangouw, Siauw Ling adalah seorang
pemuda yang amat tampan dan berkepandaian sangat tinggi. Usianya sama dengan Siauw
heng tetapi jejaknya misterius. Jikalau Loolap tinjau dari Siauw heng pada saat ini,
walaupun kau memakai pakaian yang dekil dan sepatu rumput tetapi tak bisa menutupi
wajahmu yang tampan serta sikapmu yang gagah.”
Sedang berbicara disitu sekonyong-konyong terdengarlah suara derapan kaki yang
amat ramai berkumandang datang, agaknya ada orang yang amat banyak bersama
sedang naik keatas loteng.

“Urusan ini biarlah kita bicarakan dikemudian hari saja,” ujar Toan Bok Ceng buru-buru
sambil menjura.
Sehabis berkata dengan cepat ia berkelebat kembali ke tempat duduknya semula.
“Hm, ilmu meringankan tubuh dari si orang tua ini benar-benar sangat sempurna,” puji
Siauw Ling diam-diam.
Hanya di dalam sekejap mata di depan pintu loteng sudah muncul sepuluh orang.
Dandanan mereka sangat aneh ada yang memakai jubah panjang, ada pula yang
berpakaian singsat. Dari sepasang mata mereka pada memancarkan cahaya yang amat
tajam.
Sekali pandang saja bisa diketahui kalau mereka adalah jagoan dari Bulim.
Melihat munculnya orang-orang itu dengan cepat Pat So Sin Liong miringkan tubuhnya
kesamping, agaknya dia sengaja menghindarkan diri dari pandangan orang.
Berpuluh-puluh pasang sinar mata yang sangat tajam serentak manyapu ke arah Siauw
Ling, sinaga sakti berlengan delapan serta dara berbaju hijau itu.
Kecuali Siauw Ling, baik Toan Bok Ceng maupun sidara berbaju hijau itu tiada hentinya
miringkan tubuh menghindarkan diri dari pandangan orang-orang itu.
Mendadak tampaklah seorang lelaki berusia pertengahan munculkan diri dari dalam
rombongan dan langsung mendekati diri Siauw Ling.
“Siapakah saudara?” tegurnya dengan suara yang amat dingin dan tawar. “Apakah kau
orangpun sudah menerima undangan dari Jie Cungcu dari perkampungan kami?”
Perlahan-lahan Siauw Ling alihkan sinar matanya keatas wajah orang itu dan terlihatlah
bentuk kepalanya yang lancip serta dahi yang lebar dalam hati sudah menaruh rasa
antipati.
“Siauw Ling!” jawabnya singkat.
Kedua patah kata itu benar-benar mendatangkan pengaruh yang amat besar sekali,
seketika itu juga si orang laki-laki berusia pertengahan itu mundur dua langakah ke
belakang dan merangkap tangannya menjura.
“Oooouw… kiranya Siauw thayhiap, maaf!”
Dalam hati Siauw Ling semakin keheranan pikirnya lagi “Bagus sekali! nama Siauw Ling
kiranya begitu gagah, seram dan berpengaruh!”
“Hmm! terima kasih” jawabnya dingin.
Sekali lagi sambil menjura dengan hormatnya lelaki berusia pertengahan itu tertawa.

“Heee… heee… Jie Cungcu kami sama sekali tidak mengetahui jejak dari saudara
karena itu tidak dapat mengirim undangan buat dirimu, harap Siauw thayhiap suka
memaafkan kesalahan tersebut.”
“Soal itu sih tidak perlu.”
Terdengar suara langkah kaki kembali berkumandang datang dan tampaklah seornag
pemuda berdandan sangat perlente dengan didampingi dua orang bocah cilik bertindak
naik keatas loteng dengan gagahnya.
“Entah siapa lagi orang ini?” batin sang pemuda di dalam hati. Si lelaki berusia
pertengahan yang baru saja berbicara dengan Siauw Ling itu sewaktu melihat munculnya
sang pemuda berpakaian perlente itu buru-buru berjalan mendekat dan membisikan
sesuatu dengan suara yang sangat perlahan.
Semula pemuda berbaju perlente itu mengerutkan alisnya rapat-rapat tetapi akhirnya
mengangguk dan tersenyum lalu berjalan ke arah Siauw Ling.
Pada jarak lima langkah dihadapan Siauw Ling pemuda itu menghentikan langkahnya
dan menjura.
“Siauwte Ciu Cau Liong. Maaf, karena siauwte tidak tahu akan kedatangan dari Siauw
heng sehingga tidak mengadakan penyambutan yang semestinya.”
Orang itu berwajah bersih dan tampan pakaiannnya perlente dan gagah. Jika dengar
dari nada suaranya mungkin sekali dialah Ciu Jie ya yang dimaksudkan oleh pelayan itu,
maka dengan cepat ia bangun berdiri.
“Perkataan Ciu heng terlalu berlebih-lebihan siauwte baru untuk pertama kalinya…”
Ia rada merandek sebentar kemudian sambungnya lagi, “Siauwte baru pertama kalinya
menginjak tempat ini sehingga kurang paham…”
Tidak menanti Siauw Ling menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba Ciu Cau Liong
menyambar pergelangan tangan kanan pemuda itu dan mencengkeramnya kencangkencang.
Siauw Ling sudah merasakan pahit getir di tangan sinaga sakti berlengan delapan Toan
Bok Ceng, karena itu sekalipun pemuda she Ciu itu menyambar dengan gerakan yang
sangat cepat tetapi Siauw Ling sudah mengadakan persiapan.
Maka dengan cepat ia menyalurkan tenaga dalamnya kelengan sebelah kanan sedang
sikapnya sama sekali tidak berubah maupun menghindar.
Dimana pergelangan tangan siauw Ling yang kena dicengkeram Ciu Cau Liong bukan
lain adalah urat nadi kematian. Kiranya di dalam hati pemuda itu benar-benar adalah
Siauw Ling, maka ia tentu berusaha untuk menghindarkan diri dari cengkeraman tersebut,
bilamana dia bukan Siauw Ling maka cengkeramannya ini akan membinasakan dirinya.
Siauw Ling yang baru pertama kali munculkan diri ke dalam dunia kangouw sudah tentu
tidak mengetahui kelicikan serta berbahayanya Bulim, ternyata dia sama sekali tidak
menghindarkan diri dari cengkeraman itu.

Hanya saja karena ilmu tenaga dalamnya amat sempurna, apalagi ilmu khie kang, Khun
Cing Khie Kang nya sudah ada tujuh bagian kesempurnaan, sekali salurkan tenaga dalam,
maka seluruh urat nadi serta jalan darahnya sudah terlindung dengan sendirinya.
Ciu Cau Liong hanya merasakan tangannya seperti lagi mencekal sebuah besi baja yang
sangat atos bahkan secara samar-samar bisa merasakan aliran murni dibalik kulit Siauw
Ling hatinya jadi terperanjat.
“Sungguh dahsyat tenaga dalam dari bangsat cilik ini,” pikirnya.
Buru-buru ia lepaskan tangan dan tertawa.
“Nama besar dari Siauw heng sudah lama siauwte ketahui, hanya saja tidak jodoh
untuk bertemu muka. Ini hari bisa berkenalan dengan saudara benar-benar merupakan
keuntunganku,” katanya.
Sembari menggandeng tangan Siauw Ling dengan cepat ia ulapkan tangannya ke arah
jago lainnya.
“Saudara sekalian silahkan ambil tempat duduk.”
“Tetapi Kiam Bun Jie Eng serta nona ketiga dari keluarga Tong belum tiba,” kata si
lelaki berkepala lancip itu dengan sangat hormat.
“Kalau begitu tidak usah menunggu mereka lagi.”
Si lelaki itu lantas memperlihatkan wajah yang serba salah, bisiknya kembali,
“Perkataan yang Jie Cungcu adakah pada ini hari adalah khusus untuk menyambut
kedatangan mereka bertiga.”
“Haaa… haaaa… kalau begitu perayaan ini hari diganti saja untuk menyambut
kedatangan dari Siauw heng!” sambung Ciu Cau Liong sambil tertawa.
“Hidangkan arak!” katanya.
Perjamuan sudah tersedia, sebentar saja arak serta sayur sudah dihidangkan.
Ciu Cau Liong segera menggandeng Siauw Ling untuk ambil tempat duduk, lalu sambil
angkat cawan ujarnya tertawa, “Jejak Siauw heng misterius bagaikan naga sakti yang
kelihatan kepala tak kelihatan ekornya. Ini hari dengan melihat sedikit paras mukaku suka
memperkenalkan diri. Hal ini membuat siauwte merasa amat berterima kasih sekali.”
Walaupun di dalam hatinya Siauw Ling bermaksud untuk menerangkan kejadian yang
sebetulnya tetapi iapun merasa keruwetan dan kekacauan di dalam urusan ini sehingga
membuat dirinya tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun dan terpaksa iapun
angkat cawannya.
“Ciu heng, kau terlalu bersikap sungkan,” sahutnya.
Tetapi pikirnya dengan cepat berputar terus dihatinya.

“Orang itu sudah menyaru dengan menggunakan namaku, kini bilamana aku meminjam
pula kecermelangannya hal inipun tidak bisa keterlaluan. Apa lagi pada saat dan keadaan
seperti ini sekalipun diterangkan dengan beribu-ribu patah perkataan tidak bakal bisa
dijelaskan kembali duduknya perkara!”
Terpikir sampai disitu, hatiku terasa lebih lega.
Agaknya Ciu Cau Liong ada maksud untuk mengikat tali persahabatan dengan Siauw
Ling karena nada ucapannya selama perjamuan selalu menyanjung dirinya, bahkan
dengan penuh kehormatan dan perasaan kagum ia melayani pemuda tersebut.
Para jago lainnya yang melihat sikap dari Ciu Cau Liong ini segera pada berebut
menghormati pemuda tersebut sehingga membuat Siauw Ling terangkat sampai surga
tingkat ketiga belas angker.
Siauw Ling yang baru untuk pertama kalinya menerjunkan diri ke dalam dunia kangouw
dan menerima penghormatan yang demikian luar biasanya, kendati ia adalah seorang
yang cerdik tidak urung kena terpengaruh juga ia merasa orang-orang itu sangat baik
sekali terhadap dirinya membuat ia merasa amat sungkan.
Ditambah pula Ciu Cau Liong adalah seorang yang pandai berbicara setiap
perkataannya tentu membuat Siauw Ling sipemuda yang baru saja terjunkan diri ke dalam
dunia kangouw ini menjadi kegirangan.
Di tengah ramainya suasana pesta sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok Ceng serta
sidara berbaju hijau itu tetap menyepi dipojokan keadaan mereka amat aneh dan misterius
sekali.
Kiranya sejak tadi Ciu Cau Liong telah memberi tanda kepada anak buahnya untuk
jangan menyelidiki asal usul dari kedua orang tua serta gadis tersebut, karenanya sampai
saat itu tak seorangpun yang pergi mengganggu kedua orang itu.
Walaupun begitu secara diam-diam Ciu Cau Liong selalu memperhatikan keadaan dari si
orang tua serta sidara berbaju hijau itu. Keadaannya penuh diliputi oleh keragu-raguan.
Bilamana Siauw Ling adalah seorang yang pernah berkelana di dalam dunia persilatan
pasti akan bersikap lebih waspada lagi, karena ia tentu akan menemukan bagaimanakah
sikap dari Ciu Cau Liong ini terhadap si orang tua serta dara berbaju hijau itu.
Tetapi pada saat ini Siauw Ling sudah dikerumuni oleh sikap yang hormat dari para
jago lainnya ditambah pula Ciu Cau Liong dapat bertindak sangat hati-hati sekali, hal ini
sudah tentu membuat sang pemuda jadi lupa daratan.
Di tengah kegembiraan perjamuan itu mendadak tampaklah seorang lelaki berpakaian
singsat yang seluruh tubuhnya telah basah dengan keringat lari naik keatas loteng
kemudian menjura dengan hormatnya kepada Ciu Cau Liong.
“Lapor Jie ya. Kiam Bun Siang Eng telah tiba diluar kota Koie Cho!” katanya.
“Sudah tahu!” jawab Ciu Cau Liong sambil ulapkan tangannya lelaki berpakaian singsat
itu segera menjura kembali dan putar badan meninggalkan tempat itu.

Tidak lelaki tersebut berlalu kembali terlihatlah seorang lelaki dengan pakaian yang
basah oleh keringat dan wajah penuh dengan debu lari naik keatas loteng.
“Lapor Jie ya!” serunya sambil menjura.
“Tandu dari nona Tang Sam dari daerah Su Cehuan telah tiba tiga lie diluar kota.”
“Hahaha… baik! Segera aku pergi menyambut kedatangan mereka.”
Dengan perlahan ia menoleh ke arah Siauw Ling dan berkata kembali sambil
tersenyum, “Sebentar kemudian biarlah Siauwte perkenalkan Siauw heng dengan
beberapa orang Toa enghiong dari Bulim.”
Ia berhenti sesaat sambil tertawa terbahak-bahak sambungnya kembali, “Sekalipun
beberapa orang ini adalah jagoan-jagoan lihay dari Bulim, tetapi dibandingkan dengan
nama besar Siauw heng, masih terpaut sangat jauh sekali.”
“Pujian dari Ciu heng ini bagaimana mungkin siauwte berani menerimanya.”
Belum habis perkataannya mendadak terdengarlah suara helaan napas yang rendah
dan berat berkumandang.
Mendengar suara tersebut Siauw Ling lantas menoleh dan tampaklah sidara berbaju
hijau itu sudah bangun berdiri. Diantara ayunan ujung bajunya tampaklah tiga rentetan
cahaya putih yang amat menyilaukan sedikit suarapun telah mengancam tiga buah jalan
darah penting pada punggung Ciu Cau Liong.
Melihat kejadian tersebut Siauw Ling jadi sangat terperanjat tanpa berpikir panjang lagi
tangannya segera diayunkan melancarkan satu pukulan keras bersamaan itu pula
mulutnya segera berteriak keras.
“Ciu heng, hati-hati!”
Mendengar suara peringatan itu Ciu Cau Liong jadi tersadar buru-buru tubuhnya
melayang sejauh tiga depa ke depan kemudian baru putar badannya.
Kejadian ini berulang amat cepat sedang gerakan pukulan dari Siauw Ling amat aneh
menanti Ciu Cau Liong telah berputar badannya ketiga rentetan cahaya putih itu sudah
kena dipukul miring oleh angin pukulan dari Siauw Ling.
Ketika melihat ketiga bilah pisau terbang beracunnya kena dipukul mental sejauh lima
depa oleh angin pukulan dari Siauw Ling itu dalam hati sidara berbaju hijau segera merasa
terkejut bercampur gemas. Terkejut karena melihat kedahsyatan angin pukulan dari Siauw
Ling.
Gemas karena ia suka mencampuri urusan orang lain.
Di tengah suara tertawa dingin yang memekikkan telinga kembali ujung bajunya
dikebutkan ke depan, empat rentetan cahaya putih dengan cepatnya menyambar ke
depan.

Dua bilah mengancam dada Siauw Ling dan dua bilah menyambar ketubuh Ciu Cau
Liong.
Siauw Ling dengan cepat mendorongkan sepasang tangannya ke depan, diantara
ulapan tangannya tahu-tahu rentetan cahaya keemas-emas tersebut sudah tercekal
ditangannya.
Sebaliknya Ciu Cau Liong tidak berani menempuh bahaya. Tangan kanannya
dilemparkan ke depan. Di tengah berkelebatnya cahaya hijau cahaya keemas-emasan
yang menerjang ketubuhnya sudah berhasil dipukul jatuh.
Siauw Ling segera tundukkan kepalanya melihat kedua buah benda keemas-emasan
yang ada ditangannya.
Kiranya kedua benda tersebut bukan lain adalah dua bilah pedang pendek yang sisinya
bergerigi, di atas ujung gergaji tersebut secara samar-samar memancarkan cahaya kebirubiruan,
jelas kalau pisau tersebut telah dipolesi dengan racun.
Hatinya jadi amat terkejut.
Waktu itu di tengah suara benatakn yang amat keras para jago yang ada di atas loteng
itulah pada bangun berdiri dan hendak menubruk ke arah Toan Bok Ceng serta sidara.
“Siauw heng!” terdengar Ciu Cau Liong berbisik sambil menghela napas panjang.
“Kepandaian silatmu sungguh tinggi nyalipun besar hal ini benar-benar membuat siauwte
merasa amat kagum. Kedua bilah pedang ini mempunyai ujung-ujung bergerigi yang telah
dipolesi oleh racun ganas sekalipun orang yang pernah berlatih ilmu Thian San Ciang pun
tentu tidak akan kuat untuk menerimanya, tadi Siauw heng ternyata sudah berlaku
gegabah dengan menjepit pedang tersebut dengan kekuatan jari.”
Ia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya kembali, “Lain kali lebih baik jangan
menempuh bahaya.”
Diam-diam Siauw Ling merasa amat malu sendiri maka dengan perlahan-lahan
meletakkan pedang emas itu keatas meja dan menoleh ke arahnya.
Dan tampaklah di tangan kanan Ciu Cau Liong pada saat ini telah mencekal sebuah
senjata Toei Giok Ci yang panjangnya ada satu depa dua coen secara samar-samar dari
senjatanya memancarkan cahaya kehijau-hijauan.
Tidak menanti Siauw Ling bertanya Ciu Cau Liong sudah berkata lebih dulu.
“Senjata Coei Giok Ci dari siauwte ini sekalipun tidak bisa dikatakan sebagai senjata
pusaka , tetapi senjata ini terbuat dari pualam dingin yang telah berusia ribuan tahun
lamanya, kerasnyapun laksana baja dan tidak akan putus oleh bacokan pedang maupun
golok. Bilamana siauw heng suka, biarlah siauwte hadiahkan senjata pualam ini buat
Siauw heng.”
“Haaa, haaa, bagaimana siauwte berani menerimanya?” buru-buru tolak Siauw Ling
sambil goyangkan tangannya.

Sekonyong-konyong terdengarlah suara dengusan berat berkumandang datang yang
disusul dengan rubuhnya sang tubuh keatas lantai dengan cepat, mereka pada menoleh
ke arah kalangan pertempuran.
Terlihatlah para jago sedang mengerubuti sinaga sakti berlengan delapan serta sidara
berbaju hijau itu kini sudah ada empat lima orang berhasil dirobohkan.
Tenaga dalam dari si Pat So Sin Liong sangat sempurna setiap pukulannya dahsyat
laksana menggulungnya ombak di tengah samudra walaupun para jago menyerang dari
empat arah delapan penjuru, tetapi tetap tak berhasil juga untuk mendekati tubuhnya.
Dengan pandangan yang dingin Siauw Ling menyapu sekejap ke arah sidara berbaju
hijau itu. Ketika melihat wajah yang serius dari Toan Bok Ceng pada saat ini memancar
rasa mangkel serta gusar yang bukan kelapang. Ditambah pula sepasang matanya yang
melotot lebar-lebar dan mengandung penuh kebencian itu membuat hati sang pemuda
merasa tergetar amat keras.
Ketika menoleh kembali ke arah Ciu Cau Liong waktu itu ia kelihatannya sedang
memandang ke arah jalannya pertempuran dengan wajah penuh tersungging senyuman.
Melihat begitu Ciu Cau Liong sama sekali tidak bergerak, agaknya ia sama sekali tidak
mau mengurusi orang-orangnya yang mati maupun terluka di tangan si orang tua itu.
Siauw Ling yang melihat korban-korban semakin lama semakin numpuk hatinya jadi
tidak tega, maka tubuhnya mendadak bergerak maju mendekati ke tengah kalangan.
Begitu ia turun tangan, maka dengan cepat terlihatlah empat orang lelaki kasar pada
menyingkir kesamping memberi jalan buatnya.
Melihat datangnya serangan Siauw Ling, sepasang mata Toan Bok Ceng yang semula
telah diliputi penuh kebencian kini kontan berubah jadi merah berapi-api, dengan gusarnya
ia membentak keras.
“terimalah serangan dari loohu!”
Dengan disertai sambaran angin yang tajam menghantamkan sepasang tangannya
sejajar dada.
Siauw Ling yang baru saja untuk pertama kalinya bergebrak dengan orang lain, sama
sekali tidak memiliki pengalaman sedikitpun maka ketika melihat datangnya serangan yang
begitu dahsyat ia tak berani menerimanya dengan keras lawan keras.
Tangan kanannya dengan cepat membabat ke depan, kelima jarinya diayunkan
mengancam urat nadi dari Toan Bok Ceng.
“Aaah! Ilmu menotok jalan darah Lan Hoa Hu Hiat So!” teriak si orang tua dengan
kagetnya, buru-buru ia mengundurkan diri dua langkah ke belakang.
“Sedikitpun tidak salah!” sahut Siauw Ling.

Mendadak tampaklah serentetan cahaya keemas-emasan kembali berkelebat datang
menusuk ke arah iga kirinya. Senjatanya belum tiba, angin serangan yang dingin telah
menyambar terlebih dulu.
Siauw Ling jadi amat terperanjat, tubuhnya miring kesamping balas melancarkan satu
babatan.
“Plaaak! dengan disertai suara bentrokan yang amat nyaring sebilah pedang emas
terpental udara disusul tubuh sidara berbaju hijau itu mundur dua langkah ke belakang.
Tangan kirinya mencekal pergelengan tangan kanannya sedang air mata bercucuran
keluar dari kelopak matanya jelas dia telah menderita luka yang tidak ringan.
Kiranya serangan babatan dari Siauw Ling tadi dengan tepat berhasil menghajar
pergelangan tangan kanan si dara berbaju biru itu.
Siauw Ling rada tertegun, dalam hati dia kepingin mengucapkan beberapa patah kata
yang meminta maaf, tetapi belum sempat ia membuka mulutnya mendadak tampaklah
sinaga sakti berlengan delapan sudah mengebutkan ujung jubahnya ke depan.
Serentetan cahaya keperak-perakan dengan cepat memenuhi seluruh angkasa
mengurung seluruh tubuhnya.
“Siauw heng hati-hati terhadap senjata rahasia,” terdengar suara Ciu Cau Liong
berkumandang masuk ke dalam telinga.
Toan Bok Ceng mempunyai julukan sebagai sinaga sakti berlengan delapan, tentunya di
dalam ilmu menyambit senjata rahasia sangat lihay serta menjagoi seluruh Bulim.
Hanya di dalam sekali kebutannya saja, pisau terbang, panah pendek, jarum perak,
piauw ganas serta berpuluh-puluh macam lagi senjata rahasia laksana curahan hujan
bersama-sama mengancam kesepuluh jalan darah terpenting di atas tubuh Siauw Ling.
Melihat serangan yang demikian dahsyatnya itu Siauw Ling jadi sangat terperanjat.
“Sekali melancarkan serangan ia bisa menyambitkan senjata rahasia yang sedemikian
banyaknya, hal ini benar-benar merupakan berita yang belum pernah aku dengar!”
Maka tangan kanannya buru-buru melancarkan satu pukulan ke depan sedang
tubuhnya meloncat ke arah belakang.
Segulung hawa pukulan yang maha dahsyat tiada hentinya mengalir keluar, senjatasenjata
rahasia yang sedang meluncur datang itu laksana terhalang oleh sebuah tembok
yang tak berwujud dengan cepatnya terpental dan jatuh kesamping.
Melihat kedahsyatan lawannya mendadak Toan Bok Ceng menghela napas panjang.
“Bocah mari pergi!” serunya.
Tangan kirinya dengan cepat menyambar tubuh sidara berbaju hijau itu kemudian
dengan cepatnya mereka menerjang keluar melalui jendela.

Siauw Ling segera enjotkan badannya untuk mengejar dari arah belakang.
Dan tampak pula bayangan hitam berkelebat tahu-tahu Ciu Cau Liong pun sudah
mengejar dari arah belakang.
“Siauw heng ada pepatah mengatakan penjahat miskin tak usah dikejar, biarkanlah
mereka pergi!”
Sebetulnya Siauw Ling tidak bermaksud untuk mengejar orang itu, ia hanya kepingin
melihat Toan Bok Ceng dengan menggendong seseorang apakah bisa meloncati loteng
yang demikian tingginya.
Tampaklah tangan kanan Toan Bok Ceng menekan ujung jendela sehingga dengan
meminjam tanaga pantulan tersebut tubuhnya segera meloncat kebangunan rumah yang
ada dihadapannya hanya di dalam sekejap saja telah lenyap dari pandangan.
Melihat kehebatannya itu diam-diam Siauw Ling menghembuskan napas panjang
tanyanya sambil menoleh, “Ciu heng sebetulnya kau dengan mereka berdua mempunyai
ganjalan sakit hati apa?”
“Dendam sakit hati yang terjadi di dalam dunia kangouw sudah sangat biasa,” sahut Ciu
Cau Liong sambil tersenyum. “Terhadap kedua orang itu siauwte sama sekali tidak kenal,
kenapa mereka hendak turun tangan terhadap siauwte aku sendiripun tidak tahu. Untung
saja hari ini Siauw heng suka turun tangan menolong siauwte. Kalau tidak mungkin saat
ini aku sudah terluka di tangan mereka.”
“Heeei, enci Gak, kau sama sekali tidak ada ikatan dendam maupun sakit hati dengan
orang-orang Bulim, tetapi karena mereka menginginkan anak kunci istana terlarang, tanpa
sungkan lagi telah menggunakan berbagai cara yang licik untuk menyusahkan enci Gak”
katanya.
Segera ia menghela napas panjang ujarnya, “Perkataan dari Ciu heng sedikitpun tidak
salah, peristiwa yang terjadi dalam dunia kangouw memang sangat susah untuk ditebak
sebelumnya.”
Pada waktu itulah terdengar suara seseorang yang rendah dan berat berkumandang
datang.
“Lapor Jie ya, Kiam Bun Siang Eng telah tiba di bawah loteng!”
“Ehmm, cepat kalian singkirkan orang-orang yang terluka turun dari loteng” perintah
pemuda she Ciu itu dengan cepat.
Kemudian sambil menggandeng tangan kanan Siauw Ling sambungnya, “Ayo jalan
saudara Siauw, biarlah aku kenalkan dirimu dengan Kiam Bun Siang Eng, berkenalan
dengan beberapa orang tidaklah mungkin akan mendatangkan bencana.”
Dalam hati sebetulnya Siauw Ling tidak ingin untuk berkenalan dengan beberapa orang
itu, tetapi berhubung tangannya sudah digandeng ia mengikuti pula diri Ciu Cau Liong
turun dari loteng.

Baru saja mereka tiba di depan pintu kedai tampaklah dua ekor kuda yang tinggi besar
telah berhenti diluar pintu.
Di atas kuda tersebut duduklah dua orang lelaki kasar yang memakai pakaian singsat
berwarna abu-abu dengan mantel berwarna kuning.
Buru-buru Ciu Cau Liong melepaskan cekalan pada tangan Siauw Ling dan merangkap
tangannya menjura.
“Baru saja siauwte bertemu dengan pembunuh gelap sehingga tidak dapat menyambut
kedatangan saudara berdua dari tempat kejauhan, harap kalian suka memaafkan!”
serunya.
“Ciu heng terlalu sungkan, apakah pembunuh gelapnya sudah berhasil ditangkap!”
serempak sahut kedua orang itu sambil meloncat dari kudanya.
“Pembunuh gelapnya sudh melarikan diri. Terima kasih atas perhatian kalian berdua.”
Salah seorang diantara mereka berdua yang usianya rada lanjut dan mempunyai
jenggot warna kuning pada janggutnya, segera maju ke depan dan berkata, “Sayang
sekali kedatangan kami berdua terlambat satu langkah, kalau bisa datang dari tadi
mungkin mereka tidak akan berhasil melarikan diri!”
“Siapakah sebetulnya orang itu? ternyata berani bertindak kurang ajar dengan Ciu
heng!” sambung lelaki yang dibelakangnya.
“Orang itu memiliki kepandaian silat yang sangat lihay berturut-turut ia berhasil melukai
tujuh orang Loohan dari perkampungan kami,” sahut Ciu Cau Liong sambil tertawa.
Sinar matanya dengan perlahan dialihkan keatas tubuh Siauw Ling dan sambungnya,
“Bilamana bukannya Siauw heng yang keburu turun tangan menolong mungkin pada saat
ini siauwte sudah menemui ajalnya di bawah serangan pisau terbang beracun dari
pembunuh gelap itu.”
“Akh, ada peristiwa semacam ini? Sungguh luar biasa sekali!” teriak si lelaki yang
mempunyai jenggot berwarna kuning.
Sinar matanya segera dialihkan keatas wajah Siauw Ling dan ujarnya “
“Lalu saudara ini adalah…”
“Hahahaha… hampir-hampir saja siauwte sudah lupa untuk memperkenalkan kalian
berdua dengan diri Siauw heng.”
Sambil menuding pemuda tersebut sambungnya “Dia bukan lain adalah Siauw
Thayhiap, Siauw Ling heng yang namanya mulai terkenal diseluruh dunia persilatan.
Walaupun usianya dari Siauw heng masih muda, tetapi kepandaian silatnya sangat luar
biasa sekali, sejak semula ia sudah menjadi manusia penting di dalam kalangan
persilatan.”

Dengan pandangan yang kurang percaya si lelaki kasar itu memperhatikan Siauw Ling
dari atas ke bawah, dari bawah keatas, akhirnya sambil merangkap tangannya menjura
katanya, “Telah lama aku kagumi nama besarmu.”
“Mana… mana…” buru-buru Siauw Ling merangkap tangannya balas memberi hormat
oia hanya merasa nada suara dari orang itu sangat dingin dan tawar sekali, tetapi ia belum
merasakan kalau pihak lawan sebenarnya sama sekali tidak memandang sebelah matapun
kepadanya.
Ciu Cau Liong segera menuding ke arah si lelaki kasar berjenggot kuning itu ujarnya,
“Dia adalah Loo toa dari Kiam Bun Siang Ing, Tui Hung Kiam atau sijagoan pedang
pengejar angin Pei Pek Lie.”
Ia mandek sejenak untuk kemudian sambil menuding ke arah si orang lelaki berjenggot
putih itu sambungnya, “Dia adalah Loo jie Boe Im Kiam atau sijagoan pedang tanpa
bayangan Than Tong!”
“Dikemudian hari aku masih membutuhkan banyak petunjuk dari saudara berdua,” ujar
Siauw Ling sambil menjura kembali.
“Hm! kami dua bersaudara tidak berani menerimanya,” kata Pei Pek Lie dingin.
“Kalian berdua datang dari tempat kejauhan tentunya sangat lapar” sela Ciu Cau Liong
sambil kerutkan dahinya. “Di atas loteng ada arak dan nasi. Silahkan saudara berdua naik
keatas loteng.”
Selesai berkata sambil menggandeng tangan Siauw Ling lantas menyingkir kesamping
memberi jalan buat tetamunya itu.
Pie Pek Lie yang melihat keakraban Ciu Cau Liong dengan Siauw Ling hatinya tak terasa
jadi bergerak pikirnya, “Selamanya Ciu Cau Liong bersifat pengecut dan selalu
mementingkan diri sendiri. Kini ia suka bersikap akrab dengan bangsat cilik itu, jelas Siauw
Ling bukanlah manusia sembarangan,” kiranya Ki Bun Siang Ing sudah ada tiga tahun
lamanya mengasingkan diri dari pergaulan guna mempelajari semacam ilmu pedang
gabungan yang amat lihay.
Jilid 17
Karena peristiwa munculnya Siauw Ling yang menggemparkan seluruh dunia kangouw
belum sampai terdengar oleh mereka berdua, tetapi setelah berpikir begitu dengan
langkah lebar kedua orang itu segera bertindak masuk ke dalam rumah makan juga.
Than Tong dengan cepat mengikuti dari belakang tubuh Pei Pek Lie. Menanti sewaktu
ada disisi tubuh Siauw Ling mendadak ia menyentilkan jari tangannya.
Segulung angin serangan dengan dahsyatnya menyambar ke arah jalan darah “Yang
Kwan hiat” pada lutut kirinya.
Siauw Ling sama sekali tak menduga bila ia bisa membokong secara demikian liciknya
untuk beberapa saat lamanya ia jadi gelegapan dan menyingkir ke belakang.

“Siauw heng sungguh cepat ilmu menghindarmu,” ejek Than Tong sambil tersenyum.
Jelas kalau nada ucapannya mengandung nada sindiran yang sangat tajam.
Sebenarnya dengan kepandaian silat yang dimiliki Siauw Ling pada saat ini asalkan ia
menutup seluruh pernapasan dan jalan darahnya dengan keras lawan keras maka bisa
menahan datangnya serangan jari tersebut tetapi hanya saja dikarenakan pemuda ini
sama sekali tidak memiliki pengalaman di dalam menghadapi musuh maka melihat
datangnya serangan tersebut ia jadi kebingungan sendiri.
Ciu Cau Liong takut Siauw Ling dalam keadaan gusar balas melancarkan serangan ke
arah lawan-lawannya buru-buru dengan ilmu untuk menyampaikan suaranya, “Siauw heng
dengan memandang di atas wajah siauwte harap kau jangan marah, kedua orang ini
sudah terbiasa bersikap sombong terhadap orang lain bilamana ada kesempatan tidak ada
halangannya.”
“Siauw heng memperlihatkan beberapa macam kepandaian sakti buat mereka lihat
dengan demikian dikemudian hari pasti mereka berdua tidak akan berani bersikap
sombong lagi terhadapa dirimu.”
Sebenarnya Siauw Ling kepingin mengumbar hawa amarahnya, tetapi setelah
mendengar nasehat dari Ciu Cau Liong ini ia jadi rada sungkan dan dengan paksaan diri
menahan kemangkelan dihatinya.
Perjamuan kembali dihidangkan. Menggandeng tangan Siauw Ling segera duduk satu
meja dengan Kiam Bun Siang Ing.
“Siauw heng,” ujar Pei Pek Lie secara tiba-tiba sambil berdiri dan memenuhi cawan,
arak pemuda tersebut. “Kita orang baru bertemu muka untuk pertama kalinya biarlah
Siauw heng hormati secawan arak buat dirimu.”
Saat itu Siauw Ling sudah mengadakan persiapan, perlahan-lahan iapun bangun.
Sewaktu tangannya hendak menerima angsuran cawan arak itu tiba-tiba terdengalah
suara desiran yang sangat tajam sebatang jarum perak yang memancarkan cahaya kebirubiruan
telah menancap di dalam cawan arak itu.
Disusul berkumandangnya suara tertawa yang amat merdu dari seseorang.
“Bagus sekali tetamu belum pada berdatangan kalian sudah mau mulai minum arak aku
mau lihat siapa yang bernyali untuk meneguk habis arak yang ada dicawan itu.”
Ketika semua orang menoleh ke arah berasalnya suara tersebut, tampaklah seorang
gadis muda yang memakai baju berwarna merah telah berdiri dimulut loteng dan ia
tertawa cekikikan.
Maka dengan cepat Ciu Cau Liong bangun berdiri sambil menjura.
“Nona Sam sungguh lihay ilmu meringankan tubuhmu,” pujinya dengan suara keras. “Di
bawah pandangan berpuluh-puluh pasang mata kita ternyata tak seorangpun yang
berhasil melihat sejak kapan nona Sam tiba di atas loteng.”

Sekonyong-konyong dara berbaju merah itu menarik kembali senyumannya dan dengan
wajah yang sangat dingin katanya, “Ciu Jie Cungcu mengirim surat undangan untuk
mengundang aku datang kemari, tetapi ternyata saat ini bersikap begitu lamban,
bukankah terang-terangan kau yang tidak memandang sebelah mata kepada aku Tang
Sam Kauw?”
“Nona Sam bagaimana kau bisa berkata demikian!” seru Ciu Cau Liong sambil tertawa
paksa. “Siauwte sudah sangat lama mengagumi ilmu sakti dari keluarga Tang di daerah Su
Tuan. Bukannya sengaja kami bertindak lamban di dalam penyambutan atas kedatangan
nona Sam, hanya saja dikarenakan baru saja siauwte menemui utusan yang berada diluar
dugaan, maka tidak bisa jauh-jauh menyambut kedatanganmu nona, harap kau suka
memaafkan.”
“Peristiwa apa yang berada diluar dugaan.”
“Siauwte telah menemui pembunuh gelap!”
Alis mata Tang Sam Kauw melentik, kemudian setelah menyapu sekejap ke arah Kiam
Bun Siang Ing, ujarnya, “Ada dua orang jagoan pedang yang terkenal di tempat ini. Aku
rasa pembunuh gelap itu tentunya kalau tidak mati sudah pasti terluka di tangan mereka.”
Sejak semula Pei Pek Lie sudah merasa tidak puas atas perbuatan Tang Sam Kauw
yang menyambitkan sebatang jarum beracun ke dalam cawan araknya, hanya saja dengan
memandang wajah Ciu Cau Liong ia merasa tidak leluasa untuk mengubernya keluar.
Siapa tahu kini kembali Tang Sam Kauw menyindir dirinya, tak terasa lagi ia sudah
tertawa dingin tiada hentinya.
“Hmmm, heeee… ilmu menyambit senjata rahasia dari keluarga Tang di daerah Tzuang
sudah lama menggetarkan seluruh dunia persilatan. Tentang hal ini sudah lama cayhe
mendengarnya. Ini hari dapat melihat dengan mata kepala sendiri atas kelihayannya nona
menyambit jarum beracun ke dalam cawanku. Hal ini benar-benar sudah membuka mata
kami.”
“Heee… heee… bagus-bagus apakah dalam hati kau merasa tidak terima?” ejek Tang
Sam Kauw lagi sambil tertawa hambar.
Pei Pek Lie yang mendengar perkataannya belum habis diucapkan kembali terpotong
olehnya, dalam hati merasa semakin gusar lagi, maka air mukanya segera berubah sangat
hebat.
“Senjata rahasia beracun dari keluarga Tang di daerah Su Tzuan walaupun sangat
beracun, tetapi kami Bun Siang Ing tidak akan memandangnya dihati.”
“Woouu, kiranya begitu?” seru gadis itu sambil melangkah maju dengan perlahan.
“Bilamana kau tidak percaya bagaimanakah sejata rahasia keluarga Tang kami
sekarangpun tiada halangannya untuk menghabiskan arak yang ada di dalam cawanmu
itu!”

Perlahan-lahan Pei Pek Lie menundukkan kepalanya sewaktu melihat arak di dalam
cawannya telah berubah jadi hitam gelap hatinya terasa agak bergidik walaupun begitu
paras mukanya masih tetap tenang saja.
“Heee. heee sekalipun meneguk arak obatmu belum tentu bisa membuat aku orang she
Pemati keracunan,” serunya sambil tertawa dingin.
“Heee, heee, heee kenapa tidak kami coba sekarang juga!” ejek Tang Sam Kauw tawar.
Diam-diam Pei Pek Lie kerahkan hawa murninya yang disalurkan keatas cawan
mendadak arak beracun yang ada di dalam cawan tersebut dengan membentuk suatu air
mancur yang dahsyat menyemprot tinggi tiga depa kemudian langsung menghajar ke arah
bibir kecil dari gadis tersebut.
“Kau memberi penghormatan kepadaku lebih cayhe hormati dulu nona Sam Kauw
dengan secawan arak!” balasnya dingin.
Para jago hadir di atas loteng sewaktu melihat kedahsyatan tenaga dalamnya ini diamdiam
merasa amat terperanjat bercampur kagum.
Tang Sam Kauw sama sekali tidak jadi gugup menanti muncratan arak tersebut hampir
mendekati bibirnya mendadak ia meniup dengan perlahan arak beracun yang semula
meluncur ke arah bibirnya kini secara mendadak berbalik dan meluncur kembali ke dalam
cawan di tangan Pei Pek Lie.
Cara demonstrasi tenaga dalam yang dipamerkan kedua orang untuk saling lempar
melemparkan arak beracun itu benar-benar luar biasa sekali hal ini membuat para jago
yang hadir disana pada membelakan matanya mulut melongo.
Melihat semakin bertanding suasana semakin seru dan bila diterskan mungkin semakin
genting, akhirnya sambil tersenyum Ciu Cau Liong turun tangan melerai.
“Tenaga dalam kalian berdua benar-benar luar biasa hebatnya. Kalian tak usah
bertanding lagi! Sehingga tidak sampai terjadi cekcok.”
Cawan di tangan kirinya mendadak diangkat keatas sedang telapak kanannya
bergoyang keras, arak beracun yang semula sedang meluncur ke arah cawan di tangan
Pei Pek Lie kini berbalik memenuhi cawannya sendiri tanpa menetes keluar barang
sedikitpun.
Diam-diam Pei Pek Lie merasa terperanjat sekali pikirnya, “Ilmu silat Tang Sam Kauw
benar-benar luar biasa dahsyatnya aku tidak boleh terlalu pandang rendah dirinya
terutama sekali senjata rahasia keluarga Tang di daerah Su Tzuan sangat terkenal karena
beracunnya!”
Tang Sam Kauw sendiripun diam-diam merasa sangat terperanjat oleh kesempurnaan
tenaga dalam pihak lawan pikirnya dalam hati, “Tidak aneh Kiam Bun Siang Ing
memperoleh penghormatan dari Ciu Cau Liong kiranya mereka berdua bukan memiliki
nama kosong belaka di dalam Bulim. Orang hanya menyiarkan kesempurnaan dari
permainan ilmu pedangnya saja, tidak disangka tenaga dalamnyapun ternyata begitu
sempurna!”

Akhirnya dari terperanjat rasa saling menghormat muncul didasar lubuk mereka berdua,
sikap bermusuhanpun lantas lenyap tak berbekas.
Setelah saling bertukar pandangan dan tertawa mereka bersama-sama ambil tempat
duduk.
Sebaliknya Siauw ling yang melihat cara berdua memakan arak beracun itu meluncur ke
tengah udara dengan kerahkan hawa murninya yang sempurna dalam hati takut merasa
kaget.
“Apakah akupun bisa berbuat seperti mereka dengan tenang calon yang aku miliki saat
ini?” pikirnya.
Terdengar Ciu Cau Liong dengan suaranya yang lantang berkata, “Cayhe akan
perkenalkan seorang kawan lagi kepada nona Sam Kauw.”
“Siapa? coba kau sebutkan dulu orangnya.”
“Kauw, haa, haaa orang itu mempunyai nama yang sangat terkenal. Tentunya nona
Sam Kauw sudah pernah mendengar nama besarnya itu.”
Sambil menuding ke arah Siauw Ling sambungnya, “Sambil ini adalah Siauw Ling Siauw
Thayhiap yang namanya sangat terkenal di dalam dunia persilatan!”
Biji mata Tang Sam Kauw yang jeli berputar dan menyapu sekejap seluruh tubuh Siauw
Ling, walaupun pada saat ini pemuda tersebut mengenakan pakaian yang butut dan kuno,
wajahnya penuh dengan debu, tetapi tak dapat menutupi akan ketampanan wajahnya
yang sangat menarik itu.
tak kuasa lagi gadis itu tersenyum.
“Siauw Ling yang tersiar diseluruh dunia kangouw kayanya berwajah tampan dan
bertindak tanduk misterius, ini hari sesudah bertemu muka sendiri aku baru merasa kalau
apa yang dikabarkan banyak betulnya. Hiii cuma sayang pakaian yang dikenakan kurang
perlente bahkan terlalu butut.”
Siauw Ling yang kena dipuji oleh seorang gadis dihadapan orang banyak dalam hati
segera merasa amat malu, pipinya kontan saja berubah jadi merah padam menahan
jengah dihatinya.
“Akh Siauw heng orangnya tidak suka menonjol” buru-buru Ciu Cau Liong menyahut
sambil tertawa. “Dengan pakaian seperti ini memang jauh lebih leluasa untuk bergerak di
dalam dunia kangouw.”
Siauw Ling yang mendengar perkataan itu cuma tertawa tawar saja, mulutnya tetap
membungkam dalam seribu bahasa.
Pikirnya dalam hati, “Omongan mereka sungguh enak sekali, yang untuk bersantappun
aku tidak punya dari mana datangnya yang lebih untuk membuat pakaian.”
“Kiam Bun Siang Ing sudah pernah mengajak kepandaian silat dari Tang Sam Kauw dan
dirasanya memang benar-benar luar biasa lihaynya. Tetapi terhadap Siauw ling itu

manusia bernama besar yang tak diketahui bagaimanakah kepandaiannya, bukan saja
memperoleh penghormatan dari Ciu Cau Liong, bahkan Tang Sam Kauwpun bersikap
begitu mesra terhadap dirinya dalam hati mulai merasa amat tidak puas.”
Kendati begitu berhubung Siauw Ling jarang angkat bicara dan selalu saja berdiam diri
maka bagi kedua orang itu untuk beberapa saat lamanya tak berhasil mendapatkan akal
untuk cari gara-gara dengan dirinya.
Tampak Tang Sam Kauw perlahan-lahan bangun berdiri dan mengambil teko arak
untuk mengisi penuh sebuah cawan setelah itu sambil tertawa merdu ujarnya, “Siauw
siangkong bisa tinggalkan kemewahan untuk menutupi asal usul sendiri tindakan ini patut
dianggap sebagai sifat seorang gagah. Siauw moy hormati dirimu dengan satu cawan arak
sebagai tanda minta maafku.”
Di depan orang banyak gadis itu bertindak sangat mesra terhadap sang pemuda
agaknya ia menganggap disisinya sendiri cuma sekali tak ada seorang manusiapun.
Siauw Ling jadi gelagapan dibuatnya, dalam hati sebenarnya ia ada maksud untuk
mengucapkan beberapa kata merendah kemudian menolak penghormatan arak tersebut.
Tiada sangka tindak tanduknya ternyata merupakan kebalikan dari apa yang dipikir
dalam hatinya perlahan-lahan ia bangun sendiri dan menerima angsuran cawan arak
tersebut.
“Nona Tang terlalu memuji!” serunya.
Tanpa banyak cakap lagi ia teguk habis cawan tersebut.
Tang Sam Kauw sendiripun mengikuti jejaknya menghabiskan isi arak yang ada
dicawannya sendiri.
Menanti kedua orang itu selesai saling memberi hormat, Ciu Cau Liong baru tersenyum
dan angkat cawan araknya sendiri.
“Kalian berdua bersusah payah suka melakukan perjalanan sejauh ribuan li untuk
datang memberi muka kepada siauwte disini. Aku hormati dulu kalian dengan secawan
arak.”
Manusia ini berhati licik, setiap saat ia memperhatikan situasi di sekeliling tempat itu.
Sewaktu-waktu dilihatnya paras muka Than Tong berubah hebat karena takut terjadi
banyak keributan lagi maka buru-buru ia angkat cawannya untuk memberi hormat.
Terpaksa Kiam Bun Siang Ing angkat cawannya sendiri untuk menerima penghormatan
tersebut.
Sifat dari Tang Sam Kauw selama ini mengikuti perasaan hatinya sendiri, pakaian butut
serta compang camping dari Siauw Ling sebetulnya sangat tidak sedap dipandang. Pada
mulanya Tang Sam Kauw tidak memandangnya dihati tetapi sesudah diperhatikan lebih
teliti, jantungnya terasa mulai berdebar keras.

Ia menemukan kalau pemuda itu bukan saja berwajah tampan bahkan memiliki sikap
yang sangat gagah semangat kependekaran, apalagi sepasang biji matanya yang jeli
laksana bintang timur benar-benar amat mempesonakan sekali.
Sejak kecil gadis itu dibesarkan dalam keluarga Tang yang punya nama besar di dalam
dunia persilatan. Selama ini ia bersikap binal dan ingin menang sendiri baik dalam rumah
maupun sewaktu berkelana.
Orang-orang Bulim kebanyakan mengalah tiga bagian terhadap dirinya karena takut
mengikat permusuhan dengan keluarga Tang, selama puluhan tahun ini sifatnya itu makin
berubah jadi suatu sikap yang congkak dan mirip dengan kuda binal yang terlepas dari
kandang, setiap kemauannya tak bakal bisa dicegah oleh orang lain.
oo0oo
Kini ia sudah menaruh rasa simpati terhadap Siauw Ling. Sekalipun berada dihadapan
orang banyak gadis itupun tidak malu untuk geserkan tempat duduknya kesisi pemuda
tersebut.
Si jagoan tanpa bayangan Than Tong dengan dinginnya memandang sekejap ke arah
Tang Sam Kauw. Lalu perlahan-lahan ia bangun berdiri.
“Siauw heng! Akupun ingin menghormati dirimu dengan secawan arak” katanya.
Sembari berkata tangan kanannya mengambil cawan araknya lalu diangsurkan ke
depan.
Siauw Ling yang masih ingat akan persilatan menyentil jari, menotok jalan darahnya
tadi dalam hati lantas mempunyai dugaan kalau penghormatan araknya kali inipun tentu
mengandung maksud tidak baik.
Sinar matanya berkilat diam-diam ia kerahkan hawa khiekang Kan Cing Kang hanya
untuk melindungi seluruh badan.
Baru saja ia ada maksud untuk menerima angsuran cawan arak tersebut mendadak
tampaklah sebuah tangan yang halus putih dan lembut melintang dihadapannya disusul
suara tertawa merdu dari Tang Sam Kauw.
“Hiii, hiii… arak ini kau tidak usah minum biarlah aku yang wakili dirimu!” katanya.
Kelima jari sijagoan pedang tanpa bayangan Than Tong yang mencekal cawan diamdiam
sudah disalurkan hawa kweekang, ia bermaksud menunggu Siauw Ling menerima
angsuran cawan araknya, maka secara diam-diam segera melancarkan satu serangan kilat
menotok urat nadinya.
Siapa sangka dari tengah jalan muncul seorang penghalang Tang Sam Kauw ternyata
hendak turun tangan ikut campur di dalam urusan itu. Bukan begitu saja bahkan ia sudah
wakili pemuda itu untuk minum arak tersebut.
Gerakannya itu dilakukan sangat cepat bagaikan sambaran kilat dimana pergelangan
tangannya yang halus menyambar lewat cawan arak tersebut tahu-tahu terjatuh
ketangannya.

Siauw Ling yang melihat Tang Sam Kauw telah mewakili dirinya untuk merebut cawan
arak itu dalam hati lantas merasa bila ia bermaksud baik terhadap dirinya terpaksa ia
duduk kembali tak bergerak.
“Nona Sam Kauw!” teriak Than Tong dengan dingin. “Bilamana kau orang ada maksud
untuk adu minum arak dengan cayhe sekalipun harus bertaruh nyawa aku orang she Than
akan melayani dirimu. Terus arak ini adalah penghormatan cayhe terhadap Siauw heng,
kenapa kau sudah turun tangan merebutnya? Hmm! Apakah nona Sam Kauw ada maksud
hendak membuat malu diriku?”
“Hmm! perduli bagaimanapun secawan arak ini bakal diminum manusia siapa yang
minumkan sama saja!” Potong gadis itu ketus selesai bicara ia meneguk isi cawan itu
hingga habis.
Air muka Than Tong berubah hebat tetapi akhirnya ia menahan rasa gusar dihatinya.
Tenaga dalam yang sudah dikumpulkan ke dalam kelima jarinyapun segera batal
melancarkan serangan.
Ciu Cau Liong yang melihat situasi semakin lama berubah semakin menegang. Bilamana
diteruskan lebih lanjut keadaan akan bertembah semakin parah, barulah bangun berdiri.
“Toa Cungcu masih menantikan kedua tangan saudara sekalian di dalam
perkampungan seharusnya kita cepat-cepat pulang” teriaknya.
Tidak menanti Kiam Bun Siang Ing memberi komentar ia sudah ulapkan tangannya.
“Kembali ke dalam perkampungan,” perintahnya.
Para jago yang ada di sekeliling tempat itu segera pada bangun berdiri dan turun dari
loteng.
Dengan wajah dingin dan kaku Kiam Bun Siang Ing pun terpaksa ikut bangun
meninggalkan tempat duduknya.
Paras muka Tang Sam Kauw masih penuh dihiasi dengan senyuman manis sambil
mengikuti dari sisi Siauw Ling ia turun dari loteng tersebut.
Setibanya di depan pintu rumah makan, sejak semula sudah ada orang yang menuntun
sudah menanti kedatangan mereka.
************http://ecersildejavu.wordpress.com/***************
Ciu Cau Liong sebagai majikan dengan hormatnya mempersilahkan Kiam Bun Siang Ing
naik keatas kuda terlebih dulu, kemudian sambil menoleh ke arah sang gadis ujarnya,
“Tandu dari nona Sam Kauw sudah dipersiapkan.”
“Tidak, aku mau naik kuda!” potong gadis itu cepat.
“Haa, haa, haa… untung saja Siauwte sudah sediakan kuda lebih, nona Sam Kauw!
Silahkan naik kuda.”

Tang Sam Kauw tidak langsung meloncat naik keatas kudanya, sebaliknya kepada
Siauw ling ia berbisik, “Eeei, kau harus waspada agaknya Kiam Bun Siang ing ada maksud
hendak mencelakai dirimu.”
Ia merandek sejenak kemudian sambungnya, “Tapi kau jangan takut aku akan selalu
jalan bersama-sama dirimu.”
Ia menerima angsuran tali les kuda dari tangan Ciu Cau Liong untuk kemudian
diserahkan kepada Siauw Ling, sedang ia sendiri meloncat naik keatas punggung kuda
yang lain.
Menanti Siauw Ling pun telah naik keatas pelana Ciu Cau Liong baru berjalan
mendekati mereka.
“Nona Sam Kauw, Siauw heng berjalan perlahan-lahan Siauwte akan berangkat terlebih
dulu,” katanya.
“Jie Cungcu silahkan berangkat terlebih dulu,” jawab Tang Sam Kauw cepat. “Oh yaa
sekalian nasehati pada Kiam Bun Siang Ing lebih baik jangan cari penyakit buat dirinya
sendiri.”
“Haaa… haaa… jangan kuatir setelah tiba diperkampungan Pek Hoa Sanceng kami. Aku
berani tanggung mereka timbulkan banyak urusan.”
Tali kudanya disentak, ia melakuakn perjalanan terlebih dulu meninggalkan sepasang
muda mudi itu dibelakang.
“Kitapun harus berangkat” seru Tang Sam Kauw kemudian sambil menoleh sekejap
kerah sang pemuda itu lalu tertawa.
Telapak tangannya menghajar perlahan keatas pantat kuda yang ditunggangi Siauw
Ling. Di tengah suara ringkikan kuda yang amat keras, mereka bersama-sama
melanjutkan perjalanan ke arah depan.
Lari kuda laksana terbang, hanya di dalam sekejap mata mereka sudah melalukan
perjalanan sejauh enam tujuh li.
“Eeei, apa yang kau pikirkan?” tiba-tiba terdengar Tang Sam Kauw menegur sambil
tertawa geli sewaktu dilihatnya Siauw Ling duduk terpekur di atas kuda, agaknya dia
sedang memikirkan sesuatu yang membingungkan hatinya.
“Aku sedang memikirkan seseorang.”
“Siapa?” tanya gadis itu dengan alis yang dikerutkan rapat-rapat. “Lelaki atau
perempuan?”
Yang dipikirkan Siauw Ling pada saatini bukan lain adalah Gak Siauw-cha. Diam-diam
batinnya.
“Aaakh, bilamana gadis yang melakukan perjalanan bersama-sama pada saat ini bukan
lain adalah enci Gak yang aku pikirkan siang dan malam, sungguh hal ini merupakan satu
kejadian yang sangat menyenangkan.”

Mendengar pertanyaan tadi perlahan-lahan ia menoleh kesamping sewaktu dilihatnya
wajah gadis tersebut sangat cemas dan sedang menanti jawabannya, dasar sang pemuda
yang tidak biasa berbohong apa yang ia pikirkan tanpa terasa sudah diucapkan keluar
dengan sejujur-jujurnya.
“Aku sedang pikirkan seorang gadis” sahutnya tanpa terasa.
Paras muka Tang Sam Kauw kontan berubah hebat, tetapi sebentar kemudian ia sudah
tertawa tawar.
“Gadis itu tentunya seorang gadis yang sangat cantik sekali bukan?” ujarnya. “Aku tahu
gadis yang kau pikirkan tentu tidak bakal sejelek wajahku.”
“Ehmm, kau sangat cantik” kata Siauw Ling sambil memperhatikan gadis itu tajamtajam.
“Cuma tak ada keluwesan dan kehalusan budi seperti enciku.”
“Ooouuw jadi kau sedang memikirkan encimu?” teriak Tang Sam Kauw kegirangan,
rasa cemburu yang semula meliputi wajahnya seketika itu juga tersapu lenyap.
Belum sempat Siuaw Ling memberikan jawabannya terdengarlah suara derapan kuda
yang ramai bergema datang memecahkan kesunyian, tampak Ciu Cau Liong sambil
tersenyum dan merangkap tangannya menjura datang menghampiri.
“Maaf… maaf siauwte telah mengganggu pembicaraan kalian berdua!” serunya nyaring.
“Ada urusan apa?” tanya sang pemuda.
“Akh… tidak! cuma urusan kecil, ada beberapa orang kawan Bulim yang mencari garagara
di dalam perkampungan kami, maka dari itu harap kalian berdua suka melakukan
perjalanan perlahan-lahan. Siauwte akan pulang dulu ke dalam perkampungan. Heeei,
heee maaf, maaf, sebetulnya di dalam urusan ini siauwte tidak ingin mengganggu kalian
berdua, cuma takut kalian sewaktu masuk ke dalam perkampungan sudah salah anggap
siauwte tidak menyambut maka itu terpaksa aku orang beri tahu dulu urusan ini kepada
kalian.”
Sehabis berkata ia sentak tali les kudanya siap hendak meninggalkan tempat itu.
“Jie Cungcu, tunggu sebentar!” tiba-tiba terdengar gadis itu berteriak.
“Nona Sam Kauw ada urusan apa?”
“Jie Cungcu! tahukah kau orang jagoan dari aliran manakah yang sudah mencari garagara
ke dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng?”
“Ooouw… heee heee! Siauwte baru saja mendapatkan kabar jadi belum begitu jelas.”
“Kalau memang ada orang yang berani mencari gara-gara ke dalam perkampungan
seharusnya cayhe sekalian berangkat bersama-sama, ada kemungkinan malah bisa
membantu Ciu heng?” tiba-tiba Siauw Ling menimbrung.

“Aaakh… cuma urusan kecil, siauwte mana berani mengganggu Siauw heng serta nona
Sam Kauw?”
“Membantu sahabat memang suah seharusnya.”
“Walaupun begitu, hanya urusan kecil tempat merepotkan kalian berdua. Hal ini benarbenar
membuat hati Siauwte merasa kurang tenteram.”
“Sudah… sudahlah!” potong Tang Sam Kauw kurang sabaran. “Menolong orang seperti
menolong api, kita harus cepat-cepat berangkat.”
Tidak menanti jawaban lagi ia menyentak tali les kudanya kemudian melanjutkan
perjalanan terlebih dulu.
Tiga ekor kuda dengan kecepatan bagaikan kilat berlari tiada hentinya di atas jalan raya
yang terbuat dari batuan gunung itu.
Orang yang melakukan perjalanan dijalan raya itu amat sedikit sekali, tetapi
bangunannya amat lebar dan luas. Dikedua belah sisi jalan ada pohon Liuw amat rindang.
pemandangan disana benar-benar sangat menarik.
Seteloah mengitari sebuah bukit batu yang menonjolkan keluar pemandangan
mendadak berubah.
Beratus-ratus macam bunga yang beraneka warna dan menyiarkan bau harum tumbuh
memenuhi permukaan tanah bahkan menghalangi perjalanan selanjutnya.
Baru saja mereka bertiga samapi disana dari balik gerombolan bunga-bunga yang
beraneka warna itu muncullah beberapa orang pemuda berbaju hijau dengan sikap yang
sangat menghormat.
“Haaa, haa, kita sudah tiba diperkampungan,” seru Ciu Cau Liong sambil tertawa dan
meloncat turun dari atas punggung kudanya.
Tang Sam Kauw serta Siauw Ling pun bersama-sama meloncat turun dari punggung
kuda, beberapa orang pemuda berbaju itu segera menerima tali les ketiga ekor kuda itu
lalu menuntunnya ke arah sebelah kanan dari gerombolan bunga-bunga itu dan lenyap tak
berbekas.
Siauw Ling yang pernah belajar ilmu dari Cung San Pek selama beberapa tahun
lamanya, bukan saja berhasil memperoleh seluruh kepandaian silatnya bahkan
mempelajari pula berbagai macam barisan aneh yang ada di dalam kolong langit. Kini di
dalam sekali pandang ia bisa menangkap bila tumbuhan bunga-bunga yang berada warna
itu diatur sesuai dengan barisan Ngo Heng, tak kuasa lagi sambil tersenyum ujarnya, “Ciu
heng barisan Ih Khie Tin yang terkendung di dalam kumpulan bunga ini benar-benar luar
biasa sempurnanya.”
Di atas wajah Ciu Cau Liong terlintaslah suatu perasaan terkejut, tetapi sebentar
kemudian sudah lenyap tak berbekas, ia tersenyum.
“Suatu permainan anak kecil harap Siauw heng jangan mentertawakannya.”

Siauw Ling pada saat ini tak ada arah tujuan, sedang Ciu Cau Liong pun selalu
memanjakan dan bersikap baik terhadap dirinya bagaimana mungkin pemuda hijau yang
baru saja terjunkan dirinya ke dalam dunia persilatan ini tidak terjatuh ke dalam
perangkapnya?”
Tampak ia setelah menyapu sekejap kesekeliling tempat itu lalu sambungnya lagi,
“Eeehmm perubahan aneh yang ditimbulkan oleh barisan ini kita atur pula sebuah barisan
kebalikan dari Ngo Heng Jin, maka kesempurnaannya akan jauh lebih dahsyat lagi.”
Mendengar perkataan tersebut Ciu Cau Liong semakin terperanjat lagi pikirnya, “Usia
pemuda ini masih sangat muda tetapi kepandaian silatnya benar-benar luar biasa
dahsyatnya. Bahkan pengetahuannya sangat luas untung saja menerjunkan diri ke dalam
dunia persilatan dan belum mengerti akan kelicikan dan kekejaman dari persoalan dunia
kangouw, jika tunggu beberapa tahun lagi ia tentu akan jadi seorang jagoan berbakat
alam nomor wahid di dalam Bulim, aku harus menggunakan dirinya sekarang juga atau
bilamana gagal dia harus cepat dibunuh.”
Siauw Ling yang lama sekali tidak mendengar suara pembicaraan serta tertawa dari
Cungcu kedua perkampungan Pek Hoa Sanceng ini dalam hati masih mengira kritiknya
barusan ini sudah menyinggung perasaan orang itu buru-buru tambahnya lagi, “Aaakh,
harap Ciu heng jangan marah, jadi siauwte lagi berpikir bagaimanakah caranya untuk
menahan Siauw heng beberapa hari lagi disini sehingga siauwte punya kesempatan untuk
minta beberapa petunjuk dari dirimu.”
Demikianlah mereka berdua mulai membicarakan kesempurnaan serta kelihayan dari
barisan-barisan bunga yang ada disana serta bagaimanakah hebatnya bilamana dijalur
barisan Ngo Heng Tin, selama ini Tang Sam Kauw tidak pernah ikut ambil bicara.
Dengan sifatnya yang sombong, jika pada hari-hari biasa mungkin sejak semula ia
sudah tinggalkan tempat itu. Tetapi pada saat ini ia sangat jinak dan dengan kalem dan
halusnya mengikuti terus disisi Siauw Ling.
Setelah melalui barisan bunga seluas puluhan kaki sampailah mereka disebuah butan
bambu yang bergoyang dan melambai tertiup angin pemandangan segera berubah.
Bayangan loteng serta bangunan megah mulai bermunculan.
Dua belah pintu besar berwarna hitam pada saat itu sudah terpentang lebar-lebar. Dua
belas orang berpakaian singsat dengan menggembol senjata golok tunggal berdiri dikedua
belah sisi pintu besar.
Perlahan-lahan Siauw Ling alihkan pandangannya ke arah orang-orang itu, tampaklah
kedua belas orang berbaju hitam tersebut mempunyai perawakan yang sama besarnya.
Mereka rata-rata merupakan pemuda kekar yang baru berusia dua puluh dua, dua puluh
tiga tahunan.
Kepalanya terbungkus dengan kain sutera hijau. Kakinya memakai kain pembalut putih
pada ujung gagang golok berkibarlah sebuah jambul merah sepanjang dua depa.
Melihat hal tersebut pemuda itu jadi tertegun, pikirnya, “Orang-orang ini memakai
pakaian singsat dan pada menggembol golok, lagaknya seperti lagi menantikan
kedatangan musuh tangguh. Sebetulnya apa maksud mereka?”

“Haaayaa…!” tiba-tiba terdengar Tang Sam Kauw berteriak sambil tertawa merdu. “Jie
Cungcu! kau telah menggunakan cara penyambutan yang demikian besarnya untuk
menyambuti kedatangan kita, kami bagaimana berani untuk menerimanya?”
“Aaakh… sungguh memalukan sekali.” diam-diam Siauw Ling berteriak jengah, kiranya
mereka hanya sedang menyambut kedatangan tamu, untung saja aku tidak bertanya.”
“Haaa haaa Siauw heng baru datang mengunjungi perkampungan kami untuk pertama
kalinya. Sudah seharusnya aku menggunakan cara penyambutan yang lengkap untuk
menyambut kedatangannya,” sahut Ciu Cau Liong tertawa.
Mendadak ia merasa perkataannya melupakan diri Tang Sam Kauw sigadis tersebut
buru-buru sambungnya pula, “Walaupun nona Sam Kauw sudah lama berkenalan dengan
siauwte tetapi kedatanganmu kali inipun justru dikarenakan hendak memenuhi undangan
siauwte, ada seharusnya pula aku menyambut kedatanganmu dengan penyambutan
besar!”
“Akh… menyambut dirinya juga sama saja!” kata gadis itu tersenyum.
Mendengar perkataan tersebut sambil tertawa Ciu Cau Liong menoleh dan memandang
sekejap ke arah gadis tersebut.
Waktu itulah Tang Sam Kauw baru merasa bila perkataannya ini ada sedikit penyakit,
wajahnya jadi terasa panas dan berubah merah padam saking jengahnya.
Sebaliknya Siauw Ling sama sekali tidak merasa. Dengan langkah lebar ia melanjutkan
langkahnya kedalam.
Ketika mendekati pintu besar mendadak kedua belas orang lelaki itu menggerakkan
golok ditangannya secara serempak.
Tampak cahaya golok berkelebat menyilaukan mata, jambul merah yang ada pada
ujung gagang golok berkibar menari-nari tertiup angin, dengan cepat posisi kedua belas
orang itupun berubah seratus persen.
Golok di tangan kanannya kini menunjuk keatas permukaan tanah sedang tangan
kirinya disilangkan di depan dada, badan membungkuk kepala menunduk, sikapnya sangat
menghormati sekali.
Untuk beberapa saat lamanya Siauw Ling jadi kebingungan. Apa yang harus diperbuat
untuk balas menghormat terhadap orang-orang itu, tanpa terasa lagi langkahpun jadi
berhenti.
Dengan langkah lebar Ciu Cau Liong segera menyusul kesisi tubuhnya dan menarik
tangan sang pemuda itu untuk diajak masuk.
“Siauw heng silahkan masuk!” serunya.
Setelah memasuki pintu besar, suara irama yang merdu mulai berbunyi memenuhi
ruangan. Dia belas orang gadis berpakaian warna warni dengan membawa berbagai
macam alat-alat musik perlahan-lahan munculkan diri sambil memperdengarkan suara
nyanyian yang merdu.

Ciu Cau Liong buru-buru menyingkir mempersiapkan Siauw Ling melangkah masuk ke
dalam terlebih dulu, setelah melewati sebuah jalan kecil yang terbuat dari batu pualam
putih sampailah mereka di dalam suatu ruangan yang amat besar.
Keadaan di dalam ruangan itu amat mewah sekali, lantainya tertutup dengan
permadani berwarna merah darah, dindingnya terbuat dari pualam-pualam putih sedang di
atas meja tersusun berbagai macam barang antik yang mahal harganya, di atas dinding
tergantung pula lukisan orang-orang kenamaan dari skala yang telah lewat.
Empat orang dayang cantik berbaju sutera putih dengan membawa nampan dari batu
pualam perlahan-lahan maju menyambut kedatangan mereka.
“Kalian berdua silahkan duduk sebentar!” ujar Ciu Cau Liong kemudian dengan
hormatnya “Siauwte akan undang Toa Cungcu untuk bertemu dengan kalian.”
“Aaah…. jangan….. jangan!” cegah Siauw Ling dengan cepat. “Penyambutan yang
demikian mewahnya sudah membuat hati siauwte jadi kurang tenang. Sekarang aku orang
mana berani mengganggu ketenagan dari Toa Cungcu kalian.”
sebaliknya di dalam hati ia mulai menaruh rasa curiga.
“Selama dalam perjalanan datang tadi aku sama sekali tidak melihat jejak apapun. Apa
mungkin orang yang datang ke dalam perkampungan adalah kawan-kawan dari
perkampungan Pek Hoa Sanceng?? Sedang orang yang mengirim berita kurang tahu
utusan sehingga salah melapor??” pikirnya dalam hati.
“Terus terang saja siauwte beritahu kepada Siauw heng serta nona Sam Kauw,” ujar
Ciu Cau Liong lagi. “Saudara angkat dari siauwte ini selamanya paling jarang menemui
tamu, tetapi Siauw heng adalah seorang thayhiap yang namanya sudah terkenal diseluruh
dunia persilatan, sedang nona Sam Kauw pun merupakan putri kesayangan dari keluarga
Tang yang sangat terkenal, tidak seharusnya kalau siauwte tidak undang Toa Cungcu
untuk menemui kalian.”
Sehabis berkata ia putar badan dan berlalu. Tetapi baru saja berjalan beberapa langkah
mendadak ia menghentikan kembali langkahnya.
Kiranya secara mendadak ia sudah teringat sesuatu jika dia telah pergi dan Siauw Ling
menanyakan keadaan yang sebenarnya dari perkampungan Pek Hoa Sanceng sehingga
Tang Sam Kauw tanpa bisa dicegah sudah membocorkannya, bukankah hal ini akan
menjadikan urusan kurang leluasa baginya???
Perkenalannya dengan Siauw Ling pada saat ini belum terlalu lama, terhadap
sifatnyapun pemuda itu belum mengerti jelas. Jikalau gadis tersebut sampai membocorkan
rahasianya dan Siauw Ling lantas pamit pergi bukankah rencana yang sudah disusun
selama ini akan tersia-sia belaka??
Karena itu buru-buru ia memanggil seorang pelayan berbaju putih untuk dibisiki
beberapa patah kata.
Pelayan cantik itu dengan cepat berlalu dari sana sedang ia sendiri lantas kembali ke
tempat semula.

“Jika siauwte pergi sebenarnya terasa olehku ada kurang leluasa di dalam penyambutan
terhadap kalian,” ujarnya sambil tersenyum.
“Aaakh tak mengapa. Ciu heng silahkan berlalu!” seru Siauw Ling dengan cepat.
“Tidak perlu, tidak perlu, siauwte sudah suruh orang lain untuk mengundang Toa
Cungcu datang. Hii, Jie Cung dari perkampungan Pek Hoa Sanceng bisa menyambut
kedatangan tetamunya dengan memakai segala macam upacara kebesaran aku baru
melihat untuk pertama kalinya,” kata Tang Sam Kauw sambil tertawa cekikikan.
“Walaupun siauwte baru kenalan untuk pertama kalinya dengan Siauw heng, tetapi
persahabatan kita terasa berjalan semakin kuat, semoga saja Siauw heng bisa pula
menganggap aku orang she Ciu sebagai kawan akrab.”
“Sudah tentu, sudah tentu, siauwte bisa menerima penghargaan dari Ciu heng. Dalam
hati sudah merasa sangat beruntung sekali,” potong Siauw Ling dengan cepat.
Ketika itulah tampak tiga orang pelayan cantik berbaju putih dengan membawa
nampan pualam putih berjalan mendekat sambil menyuguhkan secawan teh wangi.
Siauw Ling lantas menerima cawan air teh itu dan diminumnya seteguk.
“Waaah teh bagus, teh wangi,” pujinya setelah merasakan wanginya air teh itu.
Ia sudah ada lima tahun lamanya tinggal di atas gunung. Selama ini yang diminum
adalah teh kasar, yang dimakan adalah nasi tawar. Kini sesudah mencicipi teh kenamaan
sudah tentu segera merasakan kenikmatan yang berlipat ganda.
Ciu Cau Liong sewaktu melihat sikap serta tindak tanduk dari pemuda itu sekali lagi
bukan pura-pura, diam-diam hatinya merasa kegirangan.
“Aaakh haaa agaknya tanpa bersusah payah aku bakal berhasil menjebak dirinya untuk
bantu pihakku,” pikirnya dalam hati.
Dalam hati ia berpikir demikian, diluar ia menjawab dengan lantang.
“Teh ini adalah teh Kiok Swie Siang yang ditanam dalam perkampungan kami. Siauw
heng bisa menebak benar teh tersebut dalam sekali tebakan. Jelas menunjukkan kalau
pengetahuanmu amat luas” katanya.
Siauw Ling yang sudah disanjung terus oleh Ciu Cau Liong tanpa terasa ia mulai
menaruh rasa simpati terhadap dirinya.
Mendadak Tang Sam Kauw melototkan matanya bulat-bulat dan menyapu sekejap
kesekeliling tempat itu.
“Perkampungan kalian tidak tampak tanda-tanda kesiap siagaan apakah orang yang
mencari gara-gara di dalam perkampungan ini sudah pergi?” tanyanya.
“Walaupun bentrokan-bentrokan dengan orang Bulim sulit untuk dihindari tetapi
mengikat permusuhan rasanya bagi perkampungan kami.”

“Hmm, di dalam Bulim siapa yang tidak memutuskan tahu sifat kalian dua bersaudara.”
Ciu Cau Liong mendehem keras-keras memutuskan perkataan selanjutnya.
“Walaupun kali ini nona Sam Kauw diundang datang oleh siauwte sehingga harus
melakukan perjalanan jauh, tetapi bisa berkenalan dengan Siauw Thayhiap rasanya boleh
dikata perjalananmu tidak sia-sia belaka,” ujarnya cepat. “Bilamana dikemudian hari kalian
berdua bisa bersama-sama, berkelana di dalam Bulim enghiong serta gadis cantik bisa
berpadu menjadi satu berita itu dengan cepat pasti akan menggemparkan seluruh dunia
persilatan.”
Mendengar perkataan tersebut hati Tang Sam Kauw terasa jadi hangat, ia menoleh ke
arah Siauw Ling dan tersenyum manis.
“Aku rasa mungkin aku orang tak ada rejeki yang sedemikian besarnya,” ujarnya
perlahan.
Dalam hati agak Siauw Ling juga merasakan sesuatu hanya saja ia tak begitu paham
apa maksud perkataan yang sebenarnya dari Ciu Cau Liong tadi, sehingga sikapnya agak
tertegun.
“Mana, mana,” katanya.
Selagi pemuda itu dibuat gelagapan mendadak tampaklah seorang pelayan cantik
berbaju putih dengan langkah tergesa-gesa dan amat gesit berlari mendekati ketiga orang
itu jelas ia memiliki ilmu silat yang lumayan juga.
“Toa Cungcu menantikan kedatangan tamu terhormat di atas loteng Wang Hoa Loo,”
lapornya sambil membungkuk memberi hormat.
“Bagus sekali,” sahut Ciu Cau Liong sambil ulapkan tangannya ia segera bangun berdiri
dan menjura ke arah Siauw Ling katanya, “Silahkan Siauw heng suka melalukan perjalanan
naik keatas loteng…”
“Sudah ada seharusnya siauwte menyambangi diri Toa Cungcu.”
Dengan dipimpin oleh Ciu Cau Liong mereka bertiga melewati dua buah ruangan yang
lebar kemudian berjalan menembusi sebuah halaman yang sangat luas.
Akhirnya sampailah mereka bertiga di depan sebuah loteng tinggi yang terbuat dari
batuan hijau dengan dikelilingi oleh pohon siong serta beraneka warna bunga yang
menyiarkan bau semerbak.
Tinggi loteng itu ada sembilan kaki lebih. Arsitek pembangunannya sangat menarik
megah dan kokoh sekali.
Dengan dihantar Ciu Cau Liong mereka berdua menaiki sebuah anak tangga yang amat
panjang sekali untuk naik keatas puncak loteng tersebut.
Loteng batu itu seluruhnya berjumlah tiga belas tingkat. Setiap tingkat dijaga oleh
seseorang yang semakin keatas usia semakin besar. Ketika tiba pada tingkat yang kedua

belas, orang yang menjaga pintu loteng itu adalah seorang kakek tua yang rambut serta
jenggotnya sudah pada memutih semua.
Mulai tingkat pertama sampai tingkat ketujuh orang-orang penjaga pintu itu masih
menaruh rasa hormat terhadap diri Ciu Cau Liong tetapi semakin meningkat sikap penjaga
pintu itu semakin dingin dan tawar.
Menanti setelah tiba ditingkat yang kesepuluh penjaga pintu itu sama sekali tidak
menghalangi, ia melanjutkan perjalananpun sudah terasa sangat beruntung.
Melihat seluruh kejadian itu dalam hati Siauw Ling mulai berkecamuk berbagai pikiran.
“Sebetulnya macam apakah Toa Cungcu mereka ini? Sungguh besar sekali ambisinya!”
batinnya dalam hati.
Pada waktu itulah mereka betiga sudah tiba di atas loteng tingkat ketiga belas.
Ciu Cau Liong berebut maju satu langkah ke depan lalu dengan hormatnya menjura.
“Siauwte Ciu Cau Liong memberi hormat buat Toako,” sapanya.
Ia menyincing pakaian siap-siap menjatuhkan diri berlutut.
“Ciute tak usah banyak adat!” cegah orang yang ada dalam balik ruangan dengan
suaranya yang serak dan kasar.
Ketika Siauw Ling menoleh ke arah dalam ruangan loteng tampaklah di atas sebuah
kursi kebesaran yang bersandar dekat dinding sebelah utara duduklah seorang siucay
bungkuk berusia pertengahan dengan jenggot hitam sepanjang dada dan memakai jubah
potongan sastrawan.
Wajahnya berwarna merah padam keningnya menonjol tinggi alisnya tebal dengan
mulut yang lebar sikapnya amat gagah dan membuat setiap orang merasa jeri.
Bilamana dia tidak bungkuk maka sikapnya tentu akan jauh lebih mengerikan lagi.
Ciu Cau Liong perlahan-lahan bangun berdiri lalu dengan sangat hormatnya berdiri
disisi orang itu.
“Saudara ini adalah Siauw Ling, Siauw thayhiap yang baru saja mengikat tali
persahabatan dengan siauwte,” ujarnya sambil menuding ke arah pemuda tersebut.
“Eehmm jagoan jaman sekarang memang benar-benar luar biasa sekali,” puji si siucay
bongkok itu sambil mengangguk.
Siauw Ling yang mendengar nada ucapannya amat sombong, ia segera ulapkan tangan
kanannya.
“Siauwte Siauw Ling adanya, tolong tanya siapakah nama besar dari Loo heng”
sapanya.

Mendengar perkataan itu air muka Ciu Cau Liong berubah hebat. Dalam hati ia merasa
sangat kuatir sekali bilamana Toanya secara tiba-tiba mengumbar hawa marah, kemudian
mengusir tetamunya dari loteng tersebut.
Dia yang sudah mengetahui bagaimanakah sifat dari Toakonya, sudah tentu mengerti
pula peristiwa yang bakal dilakukan olehnya.
Siapa sangka urusan sudah terjadi diluar dugaan, tampak si siucay bongkok itu cuma
tersenyum.
“Cayhe adalah Jen BoK Hong dengan julukan Hiat Im Ci atau sibayangan berdarah kau
puas bukan?” sahutnya.
“Ooow kiranya Jen heng, selamat bertemu!”
Sebaliknya Tang Sam Kauw yang ada disisinya merasakan badannya gemetar amat
keras. Walaupun mengetahui nama besar dari perkampungan Pek Hoa Sanceng yang
ditakuti oleh setiap jagoan Bulim, tetapi ia sama sekali tidak mengetahui kalau Toa Cungcu
dari perkampungan Pek Hoa Sanceng tersebut sebenarnya bukan lain adalah sibayangan
berdarah yang ditakuti oleh semua orang.
Dengan cepat ia majukan diri untuk menjura.
“Siauwli sering mendengar nenekku membicarakan tentang Jen Loocian.”
Sebenarnya ia hendak mengucapkan kata-kata “Jen Locianpwee”, tetapi sewaktu
teringat kalau tingkatan dirinya adalah setingkat dengan Ciu Cau Liong sedang sibayangan
berdarah itu adalah kakak angkatnya sudah tentu tidak seharusnya dan tidak sepatutnya
ia menyapa siucay bungkuk tersebut dengan sebutan Jen Locianpwee.
Maka dari itu perkataan yang sudah diucapkan sampai di tengah jalan mendadak
terpotong putus.
Agaknya Jen Bok Hong mengerti kesulitan dalam hatinya, ia tertawa tawar.
“Cayhe dengan Tang Loo Thay memang pernah bertemu beberapa kali,” sambungnya.
“Tetapi dalam Bulim dalam tingkatan tua atau muda, kita masing-masing mengikat
persahabatan sendiri-sendiri saja.”
“Perkataan ini sedikitpun tidak salah” sambung Siauw Ling secara mendadak.
“Cayhepun selamanya paling setuju bilamana mengikat persahabatan dengan orang lain
dalam tingkatan yang sama.”
Selama ini ia selalu mengingat-ingat pesan wanti-wanti dari Lam Ih Kong yang
memerintahkan padanya supaya memanggil mau menegur siapapun dalam tingkatan yang
sama, baik itu terhadap sastrawan maupun terhadap jagoan Bulim macam apapun.
“Heee suatu persahabatan dalam tingkatan sama yang amat bagus” seru Jen Bok Hong
sambil menghela napas.
Mendadak ia bertepuk tangan beberapa kali.

Diiringi suara yang amat keras dari atas dinding loteng disisinya secara tiba-tiba
membuka sebuah pintu yang amat besar disusul munculnya empat orang gadis cantik
berbaju merah yang ditangannya membawa sebuah bangku batu yang amat indah sekali.
Dengan langkah yang amat gesit gadis-gadis cantil itu berjalan kesisi beberapa orang
itu kemudian meletakkan bangku batu tersebut keatas lantai.
“Saudara berdua, silahkan duduk!” ujar Jen Bok Hong sambil tersenyum.
Dengan sikap yang sangat gagah Siauw Ling pertama-tama geserkan badan untuk
ambil tempat duduk.
Tang Sam Kauw tersenyum iapun ikut mengambil tempat duduk disisi pemuda tersebut.
“Jie te. kaupun duduklah,” ujar Jen Bok Hong kemudian sambil menoleh sekejap ke
arah Ciu Cau Liong.
“Terima kasih atas kebaikan Toako!”
Dengan sikap yang amat hormat ia berjalan mendekati bangku batu tersebut lalu duduk
dengan sikap yang gagah.
Melihat tindak tanduk dari kedua orang itu dalam hati Siauw Ling mulai berpikir,
“Walaupun kedua orang ini menyebut dan menyapa satu sama lainnya dengan sebutan
kakak beradik, tetapi rasa hormat dari Ciu Cau Liong terhadap sibayangan berdarah Jen
Bok Hong sangat berlebihan, bahkan melebihi sikap hormat dari seorang murid terhadap
gurunya sungguh aneh dan mengherankan sekali.”
Sewaktu ia lagi berpikir mendadak dari balik pintu batu dibalik dinding loteng kembali
muncul empat orang gadis berbaju hijau yang di atas tangannya menyungging sebuah
nampan yang berisikan cawan antik.
Sambil berjalan ke depan keempat gadis cantik itu bersama-sama dan serempak
menjatuhkan diri berlutut di atas tanah dan diangkat tinggi secara nampan pualam itu
jauh melebihi kepalanya sendiri.
“Hmm, sungguh hebat sekali penyambutan dari Jen Bok Hong ini,” pikir sang pemuda
dalam hati. Ia mengangkat cawan antik itu, kemudian membuka tutupnya, terasalah
segulung bau harum yang semerbak menusuk ke dalam hidunganya.
Ketika ia memperhatikan lebih teliti lagi maka tampaklah isi dari cawan tersebut bukan
lain adalah semacam cairan kental berwarna hijau tua yang entah apa namanya.
Bentuk mirip arak tetapi bukan arak, mirip teh tetapi tidak mirip pula dengan teh.
Selagi ia rada kebingungan tampaklah Jen Bok Hong sambil menyapu sekejap ke arah
mereka berdua ujarnya, “Karena aku orang tidak tahu akan kehadiran kalian beruda di
dalam perkampungan sehingga tidak sampai menyediakan makanan lezat untuk
menyambut kedatangan kalian, harap kalian berdua suka mencicipi teh Siong Sang Teh
yang sudah berusia ribuan tahun ini sebagai pertanda penyambutan cayhe terhadap
kalian.”

Selesai berkata pertama-tama ia meneguk habis dulu isi cawannya.
Perlahan-lahan Siauw Ling baru mengambil cawan tersebut, tetapi sewaktu dilihatnya
gadis cantik itu masih juga berlutut di atas tanah dengan hati penuh keheranan tegurnya,
“Eeeei nona silahkan bangun.”
Gadis berbaju hijau itu dongakkan kepalanya tersenyum, tetapi ia sama sekali tidak
bergerak.
“Siauw heng silahkan minum teh” seru Ciu Cau Liong dari samping sambil tertawa.
Dengan alis yang dikerutkan rapat-rapat Siauw Ling lantas menerima cawan air teh itu
dan meneguknya sampai habis menanti setelah ia meletakkan kembali cawannya di atas
nampan pualam tersebut sang gadis baru bangun berdiri dan berlalu dari sana.
Perlahan-lahan Jen Bok Hong mengalihkan sinar matanya keatas wajah Siauw Ling.
“Siauw Loote belum lama munculkan diri dalam dunia persilatan tetapi dengan
cepatnya berhasil memperoleh nama besar, cayhe rasa tentunya kau orang memiliki
kepandaian silat yang luar biasa lihaynya bukan?” katanya.
Selagi Siauw Ling hendxak mengakui kalau Siauw Ling yang sangat terkenal di dalam
Bulim sebenarnya adalah orang lain dan bukan dirinya, terdengar Jen Bok Hong sudah
melanjutkan kembali perkataannya, “Siauw Loote, sukakah kau orang memamerkan
beberapa macam kepandaian silatmu untuk cayhe lihat??”
“Kepandaian silat dari Siauw heng siauwtepun pernah melihatnya sendiri. Sudah
seharusnya kau menyanggupi permintaan Toako kami untuk pamerkan satu dua macam
kepandaian untuk kita lihat” sambung Ciu Cau Liong pula.
“Aku menyaru sebagai Siauw Ling, walaupun pernah membantah dihadapan Ciu Cau
Liong tetapi akupun belum pernah mengakui, bilamana pada saat ini secara tiba-tiba
membantah, rasanya urusan ini rada sedikit keterlaluan,” pikir pemuda itu dalam hati.
Terdengar Jen Bok Hong berkata kembali, “Cayhe tentu tak akan membuat Siauw Loote
merasa rugi, akupun pasti akan mengawasi dirimu memamerkan satu dua macam
kepandaianku.”
Siauw Ling mulai merasakan hatinya berdebar-debar sinar matanya menyapu sekeliling
tempat itu sedang dalam hati merasa bingung apa yang harus dipamerkan dihadapan
beberapa orang itu.
“Siauw Loote apakah kau membutuhkan sesuatu??” tanya Jen Bok Hong sewaktu
dilihatnya pemuda itu termenung. “Kalau hendak minta sesuatu katakan saja cayhe tentu
akan perintahkan orang untuk mempersiapkannya!”
Sinar mata Siauw Ling berputar mendadak matanya berhenti di atas tubuh keempat
orang gadis berbaju merah yang berdiri sejajar didekat dinding, secara mendadak dalam
hatinya telah teringat kembali dengan sebuah ilmu kepandaian “Hwee Sian Sin Ci” atau
ilmu jari berputar dari Liuw sian Ci yang pernah dilatih selama puluhan tahun lamanya itu.
Segera ia menggape ke arah salah seorang gadis berbaju hijau.

“Tolong pinjamkan cawan antik yang ada di atas nampan pualam nona itu!” katanya.
Dara berbaju hijau itu memandang sekejap ke arah Jen Bok Hong kemudian dengan
langkah yang perlahan berjalan mendekati sisi tubuh Siauw Ling berlutut dan
menyungging nampan itu keatas.
“Bilamana Siauwte gagal harap sandang sekalian jangan mentertawakannya,” ujar
Siauw Ling sembari mengambil cawan antik tersebut.
Walaupun perkataan ini bernadakan merendah saja, padahal merupakan kenyataan
sekalipun pemuda ini berhasil memperoleh pelajaran ilmu silat dari Lam Ih Kong, Cung
San Pek serta Liuw Sian Ci, tetapi kesempurnaannya tidak lebih cuma beberapa bagian
saja. Dalam hati ia masih ragu-ragu terhadap apa yang berhasil ia capai.
“Haaa… haaa… Siauw heng tidak usah merendah lagi,” potong Ciu Cau Liong sambil
tertawa. “Siauwte sekalian akan mengamati kehebatan dari permainan Siauw heng ini.”
Tang Sam Kauw yang melihat ia mengambil cawan antik diam-diam dalam hati merasa
amat cemas, tak kuasa lagi ia berbisik lirih, “Saudara Siauw, Jen Bok Hong adalah jagoan
yang mempunyai nama besar di dalam dunia persilatan. Bilamana kau mempunyai
kepandaian yang aneh lebih baik disembunyikan saja.”
Tetapi urusan sudah mirip dengan anak panah yang dipentangkan di atas busur, mau
tak mau harus dipanahkan juga.
Sekalipun dalam hati Siauw Ling tidak punya pegangan. Pada saat ini terpaksa juga ia
harus keraskan kepala untuk melakukannya.
Perlahan-lahan ia bangun berdiri mengerahkan hawa kweekangnya lalu menggetarkan
pergelangan tangannya ke depan cawan antik itu dengan menimbulkan suara desiran
tajam segera melesat keluar melalui jendela.
Melihat kejadian itu Tang Sam Kauw cuma bisa menghela napas panjang.
“Heeei, cara menyambit senjata rahasia yang amat kasar inipun, dia berani pamerkan
dihadapan orang lain. Sungguh memalukan sekali,” pikirnya.
Dalam hati gadis ini sudah menaruh rasa cinta terhadap Siauw Ling terhadap
kehormatan serta kecemerlangannyapun ia sangat menaruh perhatian. Kini melihat
pemuda itu menyambitkan cawan antik tersebut dengan cara yang amat sederhana, dalam
hati tak terasa lagi merasa rada sedih sekali.
Cawan antik yang meluncur keluar dari jendela, bagaikan batu yang dilemparkan ke
tengah samudra lenyap tanpa bekas.
Pada paras muka Ciu Cau Liong terlintaslah suatu perasaan keheranan, ia melirik
sekejap ke arah Siauw Ling.
Sedangkan sikap dari Jen Bok Hong tetap keren dan serius, dengan sifatnya yang licik.
Ornag lain sulit untuk mengetahui bagaimanakah perasaannya pada waktu itu sebetulnya,

sedang gusar atau girang! Sampai adik angkatnya sendiri Ciu Cau Liong yang mengikuti
selama puluhan tahunpun sukar untuk menebak perasaan hatinya.
Suasana di atas loteng Wang Hoa Loo berubah jadi sunyi senyap saking tenangnya
sampai kedengaran suara denyutan jantung-jantung setiap orang.
Siauw Ling yang melihat ilmu silatnya tidak memperlihatkan hasil dalam hati mulai
merasa cemas pikirnya, “Aduuuh celaka apa mungkin aku sudah salah kerahkan tenaga
dalam sehingga cawan antik itu terbang lurus atau mungkin tenaga yang aku kerahkan
kurang, sehingga arah yang dituju meleset dan di tengah jalan sudah terbentur dengan
sesuatu sehingga hancur?? Waaah kali ini aku akan perlihatkan kejelekanku dihadapan
orang lain.”
Selagi hatinya merasa sangat cemas mendadak air muka Jen Bok Hong berubah hebat,
tubuhnya buru-buru menyingkir kesamping menghindari jendela disisinya.
Sreeet…! Sesosok bayangan putih menyambut lewat dari belakang tubuh Jen Bok Hong
dan langsung menerjang ke arah Siauw Ling.
Melihat datangnya sambaran benda putih itu Tang Sam Kauw segera menjerit kaget
sewaktu ia siap-siap ayunkan senjata rahasia tahu-tahu tangan kanan dari pemuda
tersebut sudah mencekal erat-erat tangannya yang halus itu.
“Nona Sam Kauw! jangan kaget, benda itu hanyalah cawan antikku tadi.”
Gadis tersebut dengan cepat menoleh ke arah Siauw Ling, sedikitpun tidak salah benda
yang ada di tangan pemuda tersebut bukan lain adalah cawan antik yang disambit keluar
jendela tadi.
Suasana di dalam ruangan loteng kembali berubah jadi sunyi senyap, hanya kesunyian
kali ini sunyi yang diliputi oleh perasaan terkejut.
Beberapa saat kemudian Ciu Cau Liong baru bangun berdiri dan menjura ke arah
pemuda tersebut.
“Nama besarmu benar-benar sesuai dengan kenyataan,” pujinya. “Kepandaian ilmu silat
dari Siauw heng benar luar biasa dahsyatnya, sehingga membuat semua orang merasa
terperanjat! Baru kali ini siauwte benar-benar merasa mataku terbuka lebar-lebar.”
Tang Sam Kauw pun menghembus napas panjang, di atas pipinya yang halus
tersunginglah satu senyuman manis.
“Keluarga Tang kami terkenal sebagai ahli senjata rahasia nomor wahid, tetapi belum
pernah aku melihat cara menyambit cawan dengan cara sedemikian sempurnanya!”
“Eeehmm… sedikitpun tidak salah,” ujar Jen Bok Hong pula sambil mengangguk. “Pada
puluhan tahun yang lalu, di dalam dunia persilatan pernah ada seorang pendekar
perempuan yang sangat lihay dalam ilmu meringankan tubuh, senjata rahasia maupun
ilmu lari Siauw Loo Sin Ci orang itu bernama Liuw Sian Ci yang mempunyai gelar sebagai
Bulim Sam Ciat. Sungguh sayang cayhe rada terlambat beberapa tahun sewaktu
munculkan diri di dalam dunia persilatan, sehingga tidak pernah melihat kedahsyatan dari
Liuw Sian Ci tersebut. Tetapi setelah melihat cara menyambit senjata rahasia Hwee Sian

Sin Ci dari Siauw heng kali ini, cayhe rasa sekalipun Liuw Sian Ci munculkan dirinya
kembali di dalam di dunia persilatannya belum tentu bisa mencapai sehebat ini.”
Dihadapan Tang Sam Kauw, simanusia bungkuk ini tidak suka memuji kehebatan dari
ilmu senjata rahasia keluarga Tang secara samar-samar hal ini sudah menunjukkan akan
kesombongan hatinya.
Ketika itu Tang Sam Kauw lagi ikut meras girang atas keberhasilan dari Siauw Ling
sekalipun ia mendengar pula perkataan dari Jen Bok Hong tetapi tidak sampai dipikir
dalam hati.
Sebaliknya Siauw Ling yang mendengar perkataan tersebut dalam hati berpikir,
Jilid 18
“Hmm! Justru cara menyambit senjata rahasia ini berhasil aku pelajari dari Liuw Sian Ci
kecuali dia dikolong langit pada saat ini yang bisa mengalahkan keanehan serta kelihayan
dalam menyambit senjata rahasia?”
Diluarnya ia tetap merendah.
“Saudara terlalu memuji!” katanya tersenyum. Perlahan-lahan ia meletakkan kembali
cawan cantik keatas nampan pualam.
Cawan teh yang sangat antik itu walaupun sudah disambit keluar dari jendela depan
dan berputar untuk kemudian masuk kembali dari jendela belakang, sama sekali tidak
rusak sedikitpun.
Jen Bok Hong segera menggape memanggil sidara berbaju hijau yang membawa
nampan pualam itu untuk mendekati dirinya, gadis itu dengan langkah cepat segera
berjalan ke arahnya.
Dari tangan gadis itu Jen Bok Hong mengambil kembali cawan antik tersebut lalu
dicekalnya pada tangan kanan.
“Cayhepun akan menggunakan cawan antik ini hendak memperlihatkan sedikit
kecelakaan,” katanya.
Perlahan-lahan ia mengangkat tangan kirinya untuk ditekankan keatas cawan antik
tersebut.
Orang ini kecuali berbadan bungkuk serta wajahnya penuh dengan jenggot boleh dikata
sangat tampan sekali. Jari-jari tangannya panjang halus dan putih bagaikan salju.
Tampak kelima jari tangannya yang berwarna putih salju semakin lama berubah jadi
semakin merah sejurus kemudian telah berubah jadi merah darah.
Cawan cantik yang ada di dalam gengamannyapun makin lama berubah jadi merah
darah.

Kurang lebih seperminum teh kemudian warana merah pada jari tangan Jen Bok Hong
mulai lenyap dan berganti menjadi putih bersih kembali.
Sebaliknya cawan antik yang semula berwarna putih kini berubah menjadi keabu-abuan
dimana Jen Bok Hong meniup perlahan cawan antik yang ada ditelapak tangannya
mendadak hancur bagaikan abu dan melayang memenuhi lantai.
Siauw Ling merasakan hatinya sangat terperanjat pikirnya, “Ilmu kweekang macam
apakah ini sungguh amat dahsyat.”
“Hahaha… maaf” teriak Jen Bok Hong sambil tertawa nyaring ia lantas ulapkan
tangannya memerintah.
“Hidangkan arak!”
Ciu Cau Liong semula rada tertegun tetapi sebentar kemudian ia sudah tersenyum.
Kepada Siauw Ling diam-diam bisiknya perlahan, “Siauw heng, kau sungguh beruntung
sekali loteng Wang Hoa Loo ini merupakan tempat kediaman dari Toa Cungcu. Orang
biasa sangat sulit untuk naik selangkahpun kemari apa lagi mengadakan perjamuan untuk
menyambut tetamu semakin tidak pernah terjadi lagi jelas Toa Cungcu kami sangat
menyanjung dari Siauw heng.”
“Bisa mendapatkan pelayanan yang demikian besarnya, bagaimana hal ini bisa
membuat hati siauwte jadi tenang?” seru sang pemuda merendah dalam hati diam-diam ia
berpikir.
“Hmmm! Apanya yang patut diharapkan sehingga kau bicara begitu tegang? kakakmu
tidak lebih cuma seorang Cungcu…”
Tiba-tiba terdengar suara yang amat cantik dengan langkah yang amat mempesonakan
berjalan keluar dari balik pintu dengan membawa sayuran serta arak yang segera
dihidangkan keatas meja.
Perlahan-lahan Jen Bok Hong bangun berdiri, diam-diam Siauw Ling merasa amat
terperanjat sekali sewaktu dilihatnya perawakan orang itu ternyata tinggi besar.
Tinggi tubuhnya ada sembilan depa bilamana tidak bungkuk mungkin tinggi badannya
mencapai satu kaki lebih.
“Siauw heng silahkan ambil tempat duduk dimeja perjamuan,” kata Ciu Cau Liong.
“Aaah, siauwte mana berani.”
“Haaaa, haaaa, Siauw heng jangan sungkan-sungkan lagi,” sambung si siucay bungkuk
itu dengan cepat. “Sejak perkampungan Pek Hoa Sanceng didirikan boleh dikata Siauw
merupakan orang pertama yang pernah mengadakan perjamuan di atas loteng Wang Hoa
Loo ini diantara tetamu terhormat lainnya dari aku orang she Jen.”
“Kalau begitu siauwte patut merasa bangga,” jen Bok Hong tersenyum.

“Kita tidak lagi membicarakan tingkatan kedudukan masing-masing pihak saudara
Siauw silahkan sembarangan ambil tempat duduk” katanya ramah.
Siauw Ling tertawa tawar ia ambil tempat duduk, disusul Tang Sam Kouw duduk
disisinya.
Jen Bok Hong serta Ciu Cau Liong mendampingi kedua orang itu dengan masingmasing
duduk disebelah pojokan.
Sayur yang dihidangkan rata-rata merupakan masakan lezat yang sangat jarang
ditemui luaran. Siauw Ling sudah tentu belum pernah mencicipinya.
Walaupun dia dilahirkan dalam keluarga pembesar dan pernah merasakan makanan
yang aneh-aneh, tapi hidangan dalam perjamuan kali ini kebanyakan belum pernah dilihat
maupun didengar olehnya. Oleh sebab itu semakin bersantap ia merasa semakin nikmat
sehingga akhirnya tanpa sungkan-sungkan lagi sudah menyikat seluruh hidangan yang
ada.
Setelah perjamuan selesai, Jen Bok Hong bangun mengantar tetamu kepada Siauw Ling
sambil menjura ujarnya tertawa, “Karena badan cayhe belum betul betul sembuh, maaf,
aku orang tidak bisa mengantar dirimu sampai di bawah loteng.
“Bagaimana aku orang berani mengganggu diri Jen Heng?” seru Siauw Ling buru buru
sambil ulapkan tangannya, ia putar badan lalu dengan langkah lebar berlalu dari sana, Cos
Cau Liong pun buru buru mendampingi terus di sisinya.
Ketika berada di tengah jalan sambil menghela napas ujarnya, “Heee…. ilmu Hwee Sian
Ci dari Siauw heng tadi benar-benar sangat mengagumkan sekali! Bahkan baru kali ini
Siauwte bisa melihat bilamana Siauw heng tidak menampik. Bagaimana kalau dikemudian
hari kau suka banyak memberi petunjuk kepadaku, bilamana ada waktu senggang….”
Dalam hati Siauw Ling merasa serba salah, untuk sesaat ia tak sanggup untuk
memberikan jawaban, kepandaian tersebut merupakan hasil karya dari Liuw Sian Ci
setelah bersusah payah selama puluhan tahun lamanya, sudah tentu ia tidak suka
menyerahkan dengan begitu saja kepada orang lain.
Selagi ia merasa serba salah, Tang Sum Kauw yang ada disisinya sudah menyambung
dengan cepat.
“Ilmu silat yang berasal dari perguruannya bagaimana mungkin bisa diberikan kepada
orang lain dengan begitu saja? Sebelum Siauw heng mendapatkan ijin dari suhunya,
sudah tentu ia takkan berani mewariskan ilmu kepandaiannya kepada orang lain.”
“Haaa….. haaa…..siewie cuma bergurau saja, buat apa Siauw heng menganggapnya
sungguh-sungguh?” kata Tijioe Cau Liong kemudian sambil tersenyum.
Siauw Ling merasa semakin tidak enak. “Bilamana Ciu heng benar-benar ingin belajar
sudah tentu siawte….”
Pada waktu ini hati Tang Sam Kauw sudah benar benar kepincut atas ketampanan
wajah Siauw Ling, takut pemuda itu keburu menyanggupi sehingga dikemudian hari tak
dapat me

narlk kembali kata katanya, dengan cepat ia mendehem berat untuk untuk memotong
perkataan sang pemuda yang belum selesai.
“Sungguh aneh sekali!” teriaknya keras. “Kenapa selama ini tidak melihat Kiam Bun
Siang Ing?”
Kendati dalam hati Ciu Cau Liong merasa gemas terhadap tindakan sang gadis yang
sudah menggagalkan maksud hatinya, tetapi dihadapan Siauw Ling ia tidak ingin banyak
ribut.
“Kiam Bun Siang Ing sudah Siauwte hantar untuk beristirahat dihalaman belakang,”
sahutnya sambil tersenyum paksa. “Apakah nona Tang bermaksud untuk menemui
mereka?”
Haruslah diketahui ilmu jari Hwee Sian Sin Ci dari Siauw Ling merupakan ilmu
menyambit senjata rahasia yang jarang sekali ditemui dalam Bu lim, sebetulnya Ciu Cau
Long ingin meminjam kesempatan sewaktu ia terpengaruh oleh air kata kata, hendak
memaksa ia menyanggupinya sehingga dikemudian hari tak dapat mungkir lagi.
Siapa sangka Tang Sam Kauw sudah menggagalkan maksudnya, hal ini sudah tentu
membuat hatinya merasa semakin mendongkol lagi terhadap gadis tersebut.
“Hm….Siapa yang sudi menemui mereka?” seru gadis tersebut sambil mencibirkan
bibirnya.
Mendadak teringat kembali kalau pada waktu yang lalu ia pernah berbicara besar
hendak melindungi Siauw Ling, kini sesudah mengetahui kalau ilmu silat yang dimiliki
pemuda itu luar biasa dahsyatnya, bahkan jauh melebihi kepandaian sendiri, dalam hati
timbullah perasaan amat malu, pipinya yang putih halus kontan berubah jadi merah
padam. Setelah melirik sekejap ke arah pemuda tersebut, perlahan lahan ia menundukkan
kepalanya.
Dengan dipimpin oleh Ciu Cau Liong, Siauw Ling serta Tang Sam Kau akhirnya tiba di
dalam sebuah halaman yang mempunyai pandangan sangat indah.
Perkampungan Pek Hoa Sanceng ini berdiri di sebuah tanah yang sangat luas, setiap
bangunan tentu terhalang oleh suatu halaman yang amat luas dipandang sepintas lalu,
maka tampaklah dimana mana merupakan bangunan berloteng serta gardu gardu yang
indah serta megah.
Halaman luas ini dikelilingi oleh pohon yang sangat lebat, diseling berbagai bunga
beraneka warna yang menyiarkan bau yang sangat harum.
Beratus ratus pot bunga yang beraneka warna, sebuah bangunan beratap mungil dan
indah, temboknya berwarna merah dengan pintu warna hijau sehingga kelihatannya
sangat mentereng.
Dua orang pelayan cilik berbaju hijau muda sejak semula sudah menanti kedatangan
mereka di depan pintu, melihat munculnya Siauw Ling sekalian dengan cepat mereka
jatuhkan diri berlutut.

Terburu buru Siauw Ling membalas hormat dari kedua orang pelayan itu.
“Nona berdua, harap cepat bangun berdiri!” cegahnya, “penyambutan dengan segala
kehormatan ini membuat cayhe benar benar merasa kurang tenteram.
Ciu Cau Liong tersenyum.
“Siauw heng, katanya bangunan ini adalah bangunan Tan Ho Cing Si yang merupakan
tempat peristirahatan dari para tetamu terhormat, entah sukakah Siauw heng dengan
tempat ini?”
Sembari berkata ia melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Sebenarnya, aku Siauw Ling memiliki kelebihan apa toh sehingga mendapatkan
perjalanan yang sedemikian istimewanya? Hal ini benar benar membuat siauwte merasa
tidak tenang.”
“Ahh….. Siauw heng terlalu merendah, bisa mendapatkan perhatian dari saudara
siauwte sudah merasa sangat beruntung,” sahut Jie Cung Ca dari perkampungan Pek Hoa
Sanceng ini, dia merandek sejenak, kemudian sambungnya lagi.
“Selama di dalam perjalanan, Siauw heng tentu merasa amat lelah bukan? Seharusnya
kau cepat-cepat beristirahat.”
Sinar matanya menyapu sekejap ke arah dua orang pelayan cilik tersebut kemudian
katanya, “Baik baiklah kalian melayani siauw ya, bila mana berani kurang hormat atau
terlambat melayani tetamu terhormat, nyawa kalian bakal terancam bahaya!”
“Budak sekalian turut perintah,” jawab ke dua orang pelayan itu dengan hormat.
“Ehmm, segala yang ada di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng ini benar benar luar
biasa, sampai peraturan para pelayanpun sangat keras,” pikir pemuda itu diam diam.
“Bilamana Siauw heng membutuhkan sesuatu, katakan saja kepada kedua orang
pelayan itu,” ujar Ciu Cau Liong kemudian sambil merangkap tangannya menjura. “Siauw
te mohon diri terlebih dahulu.”
“Akh…. Ciu heng silahkan!” Perlahan lahan Ciu Cau Liong melirik sekejap ke arah Tang
Sam Kauw.
“Tempat tinggal nona Tang ada di sebelah Barat dari bangunan Lan Hoa Cing Si, mari
biar siauw te tunjukkan jalan!” katanya,
Dengan pandangan penuh kemesraan Tang Sam Kauw memandang sekejap ke arah
pemuda tersebut kemudian tersenyum manis,
“Siauw heng, kau baik-baiklah beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh,” jawab
Siauw Ling sambil menjura.
Ciu Cau Liong segera membawa Tang Sam Kauw meninggalkan bangunan Lan Hoa
Cing Si untuk kemudian dengan melalui sebuah jalan kecil berbatu menuju ke loteng Bwee
Hoa Ke.

Sesuai dengan namanya Loteng ‘Bwee Hoa Ke’ ini penuh ditumbuhi dengan bunga
bunga Bwee yang beraneka warna, di samping menyiarkan bau harum yang semerbak,
pemandangannya pun sangat indah
Di tengah tumbuhan bunga Bwee yang lebat berdirilah sebuah loteng yang sangat
megah dua orang pelayan perempuan berbaju putih sejak semula sudah menanti
kedatangan mereka diluar pintu.
Walaupun bangunan mungil Lan Hoa Cing Si dengan loteng Bwee Hoa Ke saling
berdempetan tetapi disebabkan adanya sebuah halaman yang sangat luas membentang
ditengahnya membuat jarak bangunan mungil serta loteng terpaut puluhan kaki jauhnya.
Ciu Cau Liong membawa Tang Sam Kauw memasuki loteng tersebut, setibanya di
dalam ruangan mendadak terdengar ia mendehem beberapa kali, “Nona Sam Kauw!”
tegurnya. “Bagaimana dengan sifat serta tindak tanduk dari Siauw Ling?”
Tam sam Kau yang sering berkelana di dalam dunia kangouw, walaupun badannya
merupakan seorang gadis yang biasanya kemalu-maluan sudah lama lenyap tak berbekas,
mendengar pertanyaan itu ia lantas tersenyum.
“Eeehmm, tampan gagah, meanrik mempesonakan, bila dibandingkan dengan kau Ciu
Jie Cungcu jauh berbeda bagaikan langit dan bumi,” jawabnya.
“Aaaa, haaa, haaa, kau sudah salah menduga!” seru Ciu Cau Liong tertawa tawar.
“Selamanya siauwte tidak mangandung maksud seperti ini terhadap diri nona Sam Kauw.”
“Kalau begitu sangat bagus sekali. Bilamana kau benar-benar ada maksud begitu maka
kepingin sekali aku menyuruh kau orang merasakan bagaimanakah rasanya racun yang
dahsyat dari kedelapan belas macam senjata rahasia dari keluarga Tang kami.”
“Lalu nona sendiri sudah mempelajari berapa macam dari antara kedelapan belas
macam senjata rahasia yang beracun itu?”
“Jikalau Ciu heng tidak mentertawakan diriku, Siauw moay sih hanya berhasil
mendapatkan dua belas macam saja!”
“Sungguh luar biasa, dua belas macam senjata rahasia beracun sudah cukup untuk
menjagoi seluruh kolong langit tetapi entah bagaimanakah jika cara menyambit senjata
rahasia dari keluarga Tang jikalau dibandingkan dari sinaga sakti berlengan delapan Toan
Bok Ceng?”
Tang Sang Kauw tersenyum.
“Walaupun aku orang belum pernah menemui sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok
Ceng tetapi jika didengar dari perkataan ibuku ia memperoleh julukan sinaga sakti
berlengan delapan justru dikarenakan kelihayannya dalam menyambit senjata rahasia.”
“Jika keduanya dijadikan satu kau rasa mana yang lebih lihay?”
“Bilamana membicarakan soal cara menyambit senjata rahasia, masing-masing orang
mungkin mempunyai kelihayannya masing-masing. Tapi bilamana membicarakan soal

melukai musuh, bagaimana mungkin Toan Bok Ceng bisa menangkap kelihayan dari
keluarga Tang kami?” kata Tang Sam Kouw sambil tertawa.
“Silahkan nona memberi penjelasan lebih lanjut!”
“Diantara kedelapan belas macam senjata rahasia beracun dari keluarga Tang kami ada
sembilan macam merupakan benda kecil yang sewaktu disambit keluar tidak
mengeluarkan sedikit suarapun. Sekali sambit bisa mencapai ratusan batang bahkan
sangat beracun. Kena tubuh pasti binasa. Aku rasa Toan Bok Ceng tidak bakal bisa
manandinginya.”
“Huuu sungguh hebat sekali,” puji Ciu Jie Cungcu. wajahnya mendadak berubah amat
serius sambungnya, “Setelah nona Sam Kauw menerima surat undangan kami dan
menyanggupi untuk datang mengunjungi perkampungan Pek Hoa Sanceng, hal ini
merupakan suatu penghormatan yang amat besar. Tetapi siauwte punya satu persoalan
yang merasa tidak enak jika diucapkan keluar, harap nona Sam Kauw suka
mendengarkannya.”
Sewaktu berbicara sikapnya berubah jadi amat serius dan keren sekali.
“Apakah soal Siauw Ling?” tanya Tang Sam Kauw sesudah termenung sebentar.
“Nona cuma berhasil menebak benar sepertiga saja.”
“Apa maksud dari perkataanmu itu?” tanya sang gadis heran. Tetapi sewaktu dilihatnya
sikap Ciu Cau Liong dingin serius, tak terasa iapun diam-diam salurkan hawa murninya
untuk mengadakan persiapan.
“Urusan ini bukan saja mempunyai hubungan dengan Siauw Ling bahkan
mempengaruhi pula terhadap diri nona sendiri, dan menyangkut tentang kedudukan cayhe
di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng ini. Oleh karena itu seperti perkataan dari cayhe
nona berhasil menebak benar sepertiganya saja.”
“Kau bicaralah, aku akan mendengarkan dengan telinga terbuka lebar-lebar” kata gadis
setelah berdiam sebentar.
“Siauwte ingin mengadakan suatu kerja sama dan saling bertukar syarat dengan nona
Tong!”
“Urusan apa?”
“Persoalan pribadi antara nona Sam Kauw dengan sepenuh tenaga akan membantu
hingga berhasil…”
Walaupun Tang Sam Kauw adalah seorang gadis kangouw tetapi sehabis mendengar
perkataan dari Ciu Cau Liong yang blak-blakan dan langsung menusuk ke bawah,
pembicaraan ini tidak urung membuat wajahnya menjadi merah padam juga.
“Coba kau katakan kau ingin aku berbuat apa?” serunya buru-buru.
“Gampang sekali asalkan nona Sam Kauw tidak suka membicarakan seluruh persoalan
tentang perkampungan Pek Hoa Sanceng kepada Siauw Ling, itu sudah lebih dari cukup.”

Tang Sam Kauw segera mengerutkan alisnya, lama sekali ia termenung berpikir keras.
“Jika ia bertanya kepadaku, aku harus berbuat bagaimana?” katanya kemudian. “Aku
tidak ingin membohongi dirinya, dan akupun tidak bisa berkata kalau aku sama sekali tidak
tahu menahu.”
“Padahal apa yang nona Sam ketahui sampai saat inipun tidak lebih hanya seperseratus
saja dan kebanyakan berhasil kau dengar berita-berita yang tersiar di dalam dunia
kangouw. Bilamana Siauw Ling misalnya benar-benar menanyakan persoalan ini padamu
kau boleh berusaha untuk jatuhkan semua tanggung jawab ini kepada siauwte, suruh saja
dia orang bertanya langsung kepadaku.”
“Lalu bila semisalnya memberitahukan urusan ini kepadanya, apa yang hendak kau
lakukan?”
Dari sepasang mata Ciu Cau Liong memancarkan cahaya berkilat, ia kerutkan alisnya
rapat-rapat.
“Sudah tentu siauwte akan membicarakan banyak omongan jelek tentang dirimu
dihadapan Siauw Ling.”
“Tapi aku tidak punya apa-apa yang bisa dikatakan jelek?” teriak gadis she Tang
dengan cemas.
“Sekalipun nona Sam Kauw tidak memiliki bahan omongan jelek, tapi seharusnya
kaupun tahu berita sensasi dan omonngan kosongpun kadang-kadang bisa tepat
mengenai sasarannya. Siauwte bisa mengarang sesuatu cerita bahwa buat dia dengar,
sudah tentu ia akan menganggap semua perkataanku adalah sungguh-sungguh.”
Lama sekali Tang Sam Kauw termangu-mangu akhirnya ia menghela napas panjang.
“Baiklah!” sahutnya kemudian. “Kita tetapkan demikian saja.”
Mendengar gadis itu telah menyanggupi Ciu Cau Liong baru merangkap tangannya
menjura.
“Nona Tang silahkan istirahat, siauwte mohon diri dulu,” katanya kemudian.
Dengan langkah lebar ia segera berjalan keluar dari bangunan loteng tersebut.
Kita balik pada Siauw Ling yang memandang bayangan kedua orang itu hingga lenyap
dari pandangan. Setelah itu dengan langkah yang kalem ia putar badan berjalan masuk ke
dalam bangunan mungil tersebut.
Belum sempat ia ambil duduk, seorang pelayan cilik berbaju hijau sudah menyuguhkan
air teh kepadanya.
“Aaakh, merepotkan nona saja!” seru pemuda itu sambil menerima cawan air teh
tersebut. Sidayang cilik itu tersenyum manis.

“siauw ya harap jangan memanggil kami dengan sebutan itu,” ujarnya sambil memberi
hormat. “Bilamana samapai kedengaran Cungcu tentu kami akan dimarahibahkan dipukul.
Budak bernama Giok Lan dan dia bernama Kiem Lan, selanjutnya harap Siauw ya sudah
memanggil dengan sebutan nama kami saja!”
“Baiklah” sahut pemuda ini setelah meneguk air tehnya dan tertawa. “Kalau memang
demikian aku akan ikuti saja permintaan kalian itu.”
“Aakh Siauw ya terlalu merendah, budakmu tidak berani untuk menerima!” seru Giok
Lan sambil tertawa dan menutupi bibirnya dengan tangan.
“Air panas sudah disediakan, Siauw ya! Apakah kau hendak mandi dulu?” sambung
Kiem Lan dari samping.
Siauw Ling yang teringat selama melakukan perjalanan sudah ada dua hari belum
mandi, segera mengangguk.
“Bagus sekali, harap kalian suka bawa jalan. Cayhe memang seharusnya membersihkan
badan dulu,” sahutnya tertawa.
Kiem Lan lantas putar badan dan berlalu dengan gesitnya.
Mereka berjalan melalui sebuah ruangan tamu, kemuidan masuk ke dalam kamar untuk
mandi. Ternyata sedikitpun tidak salah air panas yang masih mengepulkan asap panas
sudah tersedia disana.
Giok Lan ikut berjalan masuk sekalian menutup pintu ruangan tersebut itu tangannya
mulai membantu Siauw Ling membukakan pakaian.
“Eeeei,eei, kalian mau apa?” tanyanya Siauw Ling terperanjat, tubuhnya buru-buru
mundur dua langkah ke belakang.
“Siauw ya hendak mandi apakah tidak buka pakaian?” balik bertanya Giok Lan sambil
tertawa geli.
“Ooouw jangan… jangan…” seru sang pemuda sambil goyangkan tangannya berulang
kali. “Kalau kalian tidak keluar bagaimana aku bisa copot pakaian?”
“Budakmu sekalian sudah siap untuk bantu Siauw ya membersihkan badan,” kata Kiem
Lan tertawa.
“Hal ini mana boleh jadi? Aku bukannya seorang bocah berumur tiga tahun. Kalian
cepat keluar!”
“Jikalau kami berdua tidak baik melayani Siauw ya kemungkinan sekali Cungcu akan
menegur dan menghukum kami,” kata Giok Lan.
“Lelaki dan perempuan selamanya tidak boleh bercampur dan terpisah oleh batas-batas
tertentu apalagi soal mandi, kalian cepatlah mengundurkan diri dari sini.”
Kedua orang dayang itu saling bertukar pandangan sambil tertawa, akhirnya mereka
bersama-sama memberi hormat.

“Kalau demikian adanya budakmu mohon diri dulu,” katanya berbareng.
“Ehmm…? kalian cepat-cepatlah pergi.”
Menanti kedua dayang itu sudah mengundurkan diri dari kamar mandi, Siauw Ling baru
menutup pintu, melepas pakaian dan mandi.
Selesai membersihkan badan, kedua orang dayang itu sudah menanti dipintu luar,
kemudian membawa pemuda itu ke kamar tidur.
Ruangan kamar itu sangat mewah dengan perabot yang menarik sekali, pembaringan
beralaskan seprei dari kain sutra yang halus dengan ukiran naga emas. Hal ini membuat
pemuda tersebut rada tercengang dibuatnya.
“Siauw ya?” kata Liem Lan kemudian sambil mengangsurkansatu stel pakaian baru.
“Cungcu memberi pesan kepada budakmu agar Siauw ya suka berganti dengan pakaian
ini. Harap Siauw ya suka mencobanya dulu pas dengan badan atau tidak!”
“Ehmm! kalian keluarlah, aku bisa mencoba sendiri!” kata Siauw Ling setelah
memandang sekejap ke arah pakaian yang baru diangsurkan ke arahnya itu.
Kedua orang budak tersebut mengerti bila pemuda itu masih kolot. Karenanya tanpa
banyak cakap lagi mereka sama-sama mengundurkan diri.
Baru saja Siauw Ling berganti pakaian. Giok Lan sudah masuk kembali ke dalam kamar
sambil membawa semangkok kuah teratai bercampur jinsom, ujarnya sambil tertawa,
“Siauw ya setelah berganti pakaian baru kelihatan semakin ganteng, budakmu sekalian
merasa sangat beruntung sekali bila melayang diri Siauw ya.”
Siauw Ling adalah seorang pemuda yang berasal dari keluarga kaum pembesar sejak
kecil ia sudah terbiasa dengan pelayanan kaum dayang.
Karenanya sewaktu mendengar perkataan tersebut tak tertahan lagi tertawa geli.
“Eeeei, kau sungguh pandai berbicara!” serunya.
“Bukankah budakmu hendak mencari muka dihadapan Siauw ya,” kata Giok Lan sambil
tertawa. “Kebanyakan tamu terhormat yang mengunjungi perkampungan Pek Hoa
Sanceng ini merupakan manusia-manusia yang tidak genah sekalipun ada beberapa orang
yang merupakan pemuda-pemuda tampan dan gagah, tetapi bilamana dibandingkan
dengan Siauw ya waaah sangat jauh berbeda seperti langit dan bumi?”
Bukan saja kedua orang dayang itu mempunyai raut muka yang cantik menarik dengan
perawakan tubuh yang langsing dan padat bahkan setiap perkataan yang diucapkan
sangat menarik hati.
Agaknya mereka sudah memperoleh pendidikan yang sangat keras dan ketat selama
suatu masa yang amat panjang sehingga sikapnya bisa begitu luwes dan menarik hati
setiap orang.

Mendengar kata pujian tadi, Siauw Ling segera menoleh dan memandang sekejap ke
arah Giok Lan.
“Perkampungan Pek Hoa Sanceng kalian bukan saja berpandangan sangat indah
bahkan bangunan rumahnya besar, megah, dan sangat mewah mirip dnegan kemegahan
dari istana kaisar” pujinya sambil tertawa.
“Cuma budakmu sekalian yang sudah sejak kecil menginjak dewasa diperkampungan
Pek Hoa Sanceng ini lama kelamaan merasa rada bosan dengan pemandangan disini,” sela
Giok Lan tertawa.
Perlahan-lahan Siauw Ling mengangguk.
Setelah lama berada di dalam kamar yang penuh dengan bunga melati. Lama kelamaan
memang tidak lagi merasa harumnya bunga.
“Siauwte usiamu bukan saja masih muda dan berwajah tampan bahkan baik
kepandaian Bun mau Boe mempunyai kesempurnaan, tidak aneh kalau Cungcu kami
sangat menghormati dirimu,” kata Kiem Lan sambil tertawa cekikikan. “Bangunan Lan Hoa
Cing Si ini selamanya paling jarang digunakan untuk menerima tamu sehingga budakmu
selama beberapa tahun ini cuma tiga kali saja digunakan.”
“Jika demikian adanya, ruangan menerima tamu yang ada di dalam perkampungan Pek
Hoa Sanceng ini tentu amat banyak sekali bukan?”
“Menurut apa yang budakmu ketahui”, sambung Giok Lan sambil tertawa. “Kecuali
bangunan Lan Hoa ini masih ada loteng Bwee Hoa Khek, pagoda Tu Tan Teng yang
beserta ruangan mungil Ciu Cau Sian tiga tempat. Perkampungan Pek Hoa Sanceng kami
sepanjang tahun selalu penuh dengan tamu-tamu terhormat yang datang silih berganti,
tetapi bangunan Lan Hoa ini sepanjang tahun selalu kosong dan jarang ada tamu yang
menginap disini tetapi tahun ini sudah digunakan dua kali untuk menyambut tamu
terhormat. Hal ini benar-benar merupakan suatu hal yang istimewa sejak tempat ini
didirikan.”
Mendengar perkataan tersebut mendadak Siauw Ling merasakan hatinya rada bergerak
pikirnya, “Jika didengar dari perkataannya itu. Setiap orang yang bisa berdiam di dalam
bangunan Lan Hoa ini merupakan tamu terhormat yang dipandang oleh orang Pek Hoa
Sanceng sedang aku dengan Ciu Cau Liong pun tidak lebih hanya perkenalan biasa saja
dan belum lama berkenalan, mengapa mereka bersikap begitu menghormat terhadap
diriku? Sungguh aneh sekali.”
Sekalipun di dalam hati ia berpikir demikian tetapi dimulut ia berbicara lain.
“Apakah nona berdua sering sekali berdiam di dalam ruangan Lan Hoa ini?”
Agaknya kedua dayang tersebut merasakan sangat cocok sekali dengan kepribadian
Siauw Ling setiap pertanyaan yang diajukan oleh pemuda tersebut tentu memperoleh
jawaban yang memuaskan hati.
Tampak Kiem Lan tersenyum manis.

“Sedikitpun tidak salah” serunya. “Setiap tamu yang tinggal di dalam ruangan Lan Hoa
Cing Si ini tentu dilayani oleh kami kakak beradik berdua demikian pula dengan ruangan
lain yang ada di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng. Setiap kamar tentu ada orang
yang khusus melayani tempat itu.”
“Lalu masih ingatkah kalian tamu terhormat siapakah yang tempo dulu pernah bertemu
di dalam ruangan Lan Hoa Cing Si ini?”
Kedua orang dayang itu segera termenung lama sekali baru terdengar Giok Lan berbisik
dengan suara yang amat lirih.
“Sebenarnya hal ini termasuk rahasia. Perkampungan kami dan budakmu berdua tidak
berani banyak berbicara. Tetapi Siauw ya adalah seorang lelaki sejati yang berbeda
dengan orang-orang lain, tentu kami tidak berani mengecewakan hati Siauw ya. Tetapi
sebelum itu harap Siauw ya suka mengabulkan satu syarat yang kami ajukan lebih dulu.
Setelah itu kami kakak beradik berdua baru mau memberitahukan hal itu.”
“Urusan apa? cepatlah kalian katakan?”
“Sebenarnya bukan satu urusan yang besar, asalkan Siauw ya tidak menceritakan apa
yang kita bicarakan pada malam ini kepada orang lain sudahlah cukup.”
Perasaan ingin tahu dan keheranan semakin meliputi benak pemuda tersebut, tetapi
akhirnya ia mengangguk juga.
“Baiklah aku berjanji tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun,” ujarnya.
“Pada tiga bulan yang lalu, tetamu yang berdiam di dalam ruangan Lan Hoa Cing Si
inipun mendapatkan penghormatan yang luar biasa dari Cungcu kami dia adalah Ih Bun
Han To adanya.”
“Ih Bun Han To? kenal benar dengan nama ini,” bisik Siauw Ling di dalam hati.
Waktu itu Kiem Lan sudah tersenyum dan menyambung kembali perkataan dari
saudaranya Giok Lan.
“Kecuali Ih Bun Han Toaya itu ruangan Lan Hoa Cing Si inipun pernah ditinggali satu
kali oleh seorang tamu terhormat, cuma saja waktu itu usia budakmu sekalian masih kecil
sehingga tidak teringat lagi siapakah nama dari orang itu.”
Selama ini Siauw Ling hanya merasa bilamana Ih Bun Han To ini terasa sangat dikenal
olehnya cuma saja tidak teringat lagi kapankah dia orang pernah bertemu dengan orang
ini.
Giok Lan yang melihat Siauw Ling termenung seperti sedang memikirkan sesuatu, tak
tertahan lagi sudah berseru, “Eeee… Siauw ya! kau lagi pikirkan apa?”
“Oooohw…” Siauw Ling segera tersadar kembali dari lamunannya . “Manusia macam
apakah Ie Bun Han To itu?”

“Usianya kurang lebih empat puluh tahunan dandanannya mirip seorang sastrawan
jenggot hitamnya terurai sepanjang lambung, bagaimana? Apakah Siauw ya kenal dengan
dirinya?” kata Kiem Lan memberi keterangan.
“Ehmm… nama ini rasanya sangat kekenal…”
“Ih Bun Han To itu mempunyai suatu keistimewaan yang mudah sekali untuk diingat”
sambung Giok Lan. “Satu harian penuh entah pergi kemanapun ia selalu membawa
sebuah peti yang terbuat dari emas benda itu tidak pernah terpisah setengah coenpun dari
sisi tubuhnya seperti di dalam peti itu sudah tersimpan suatu benda yang sangat berharga
sekali. Bahkan tidurpun digunakan sebagai bantal, sewaktu bersantap diletakkan disisi
tubuhnya. Hmmm! Seperti takut ada orang yang hendak mencuri baranganya itu.”
Sehabis mendengar perkataan tersebut di dalam benak Siauw Ling mendadak
berkelebatnya satu ingatan. Peristiwa yang terjadi dikuil Sam Yen Koan lima tahun
berselang kembali terbayang di dalam benaknya, hal ini membuat hatinya tergoncang
keras, sehingga lama sekali ia bungkam diri.
“Siauw ya!” tegur Kiem Lan sambil tertawa cekikikan. “Agaknya kau mempunyai banyak
urusan yang mengacaukan pikiranmu. Apakah perlu budakmu sekalian menyaksikan
sebuah lagu?”
“Tidak berani merepotkan kalian berdua. Kalian boleh pergi beristirahat!” kata Siauw
Ling tersenyum.
Kedua orang dayang tersebut tukar pandangan mendadak di atas pipi mereka terlintas
warna merah jengah diiringi senyuman malu-malu.
“Kalian ada urusan apa lagi?” tegur Siauw Ling keheranan, ketika dilihat kedua orang
gadis itu belum juga berlalu.
Giok Lan tersenyum jengah, dengan malu-malu dan kepala yang ditundukkan rendahrendah
ujarnya, “Siauw ya! bilamana kau membutuhkan pelayanan kami kakak beradik
silahkan memberitahu saja.”
“Soal ini aku sudah tahu, sekarang kalian pergilah beristirahat?”
Kedua orang dayang itu segera memberi hormat dan mengundurkan diri dalam kamar.
Menanti mereka sudah berlalu Siauw Ling segera menutup pintu kamarnya rapat-rapat
dan duduk bersemedi untuk mulai mengatur pernapasan.
Siapa sangka berbagai persoalan rumit yang sedang bergolak di dalam benaknya terasa
sudah untuk ditenangkan kembali. Walaupun ia sudah berusaha untuk membuang semua
persoalan keluar dari benaknya tidak urung semedinya kali ini sama sekali tidak mencapai
hasil.
Sang pemuda yang sama sekali tidak memiliki pengalaman sedikitpun tentang soal
yang menyangkut dunia persilatan, walaupun dalam hati merasa keadaan di dalam
perkampungan Pek Hoa Sanceng ini rada tidak beres tetapi mengetahui bagian manakah
yang terasa tidak beres itu.

Cuaca perlahan-lahan semakin menggelap, pintu kamar kembali terbuka dan tampaklah
Giok Lan dengan membawa sebatang lilin merah berjalan masuk ke dalam kamar.
Setelah meletakkan lilin itu keatas meja ujarnya dengan suara amat halus.
“Siauw ya hari mau hujan deras, apakah kau hendak beristirahat? mari biar aku bantu
bukalah pakaianmu.”
“Tidak perlu.”
Giok Lan mengetahui pemuda ini sangat disiplin, karenanya ia tidak berani terlalu
memaksa setelah melepaskan kelambu ia lantas mengundurkan diri dari kamar.
Sinar kilat menyambar-nyambar diikuti suara halilintar yang bergema membelah bumi,
hujan turun dengan amat derasnya serasa dituangkan dari langit.
Siauw Ling lantas kebutkan tangannya memadamkan api lilin kemudia merebahkan
dirinya keatas pembaringan.
Pikirannya mulai melayang memikirkan apa yang sudah didengar dan dilihatnya selama
seharian ini semakin dipikir ia merasa keadaannya semakin tidak beres.
Beberapa patah perkataannya sudah banyak yang sudah membocorkan asal usulnya
sendiri, agaknya Ciu Cau Liong itupun sudah mengetahui bila dirinya bukan Siauw Ling
yang telah menggetarkan seluruh dunia kangouw.
Di atas pagoda Wan Han Hoa Loo-yang terdiri dari tiga belas tingkat itupun agaknya
sudah dipasangi dengan alat rahasia di sekelilingnya, penjagaan disanapun sangat ketat
sekali, sepertinya setiap saat bakal ada orang yang melancarkan serangan bokongan
terhadap mereka saja.
Semakin melamun pikirannya semakin kacau sehingga sukar untuk memejamkan mata
tidak terasa lagi kentongan kedua sudah berlalu.
Suasana terasa amat sunyi, kecuali suara rintikan air hujan di tempat luaran sedikitpun
tidak kedengaran suara lain.
Perlahan-lahan pemuda itu bangun dari pembaringannya memakai pakaian membuka
pintu dan berjalan menuju kehalaman depan.
Karena takut sampai mengejutkan kedua orang dayang tersebut maka setiap
langkahnya dilakukan sangat ringan sekali.
Terasa angin dingin bertiup kencang membuat badan terasa dingin pikirannyapun
tersadar kembali dari segala persoalan.
Ketika ia mendongakkan kepalanya memandang keatas loteng Wang Hoa Loo, maka
tampaklah tempat itu masih terang benderang, agaknya Jan Bok Hong pun waktu itu
belum beristirahat.
Di tengah sambaran kilat dan menerangi seluruh permukaan bumi, mendadak
tampaklah sesosok bayangan manusia berjalan mendatang dari kejauhan.

Walaupun Siauw Ling mempunyai ketajaman mata yang melebihi orang lain, waktu
itupun tidak lebih cuma dapat menangkap bila bayangan manusia itu berperawakan kecil
langsing buru-buru ia menarik hawa murninya panjang-panjang tubuhnya bergeser
beberapa depa kesamping dan menempelkan dirinya keatas dinding.
Tampaklah orang ternyata sama sekali tidak menghindarkan diri atau bersembunyi
dengan langkah perlahan ia berjalan menuju ke arahnya.
Siauw Ling sebagai seorang pemuda yang baru saja menerjunkan diri ke dalam dunia
kangouw hatinya masih sukar untuk bersabar tak kuasa lagi bentaknya lirih.
“Siapa?”
“Aku!” jawab orang itu sambil menghentikan gerakannya. Apakah kau orang adalah
Siauw Ling?”
Suaranya empuk, lunak dan nyaring, sedikitpun tidak salah lagi berasal dari mulut Tang
Sam Kauw.
“Di tengah malam buta seperti ini bukannya tidur ada apa kau datang kemari?” tegur
pemuda tersebut sambil maju menyongsong kedatangannya.
“Sttt… perlahan sedikit suara pembicaraanmu!” seru Tang Sam Kauw dengan suara
lirih.
“Jangan sampai mengejutkan kedua orang budak itu, orang-orang yang ada di dalam
perkampungan Pek Hoa Sanceng kebanyakan mempunyai pendengaran serta pandangan
yang tajam.”
Tidak menunggu Siauw Ling memberikan jawabannya, ia sudah berebut menegur
kembali, “Lalu mengapa kaupun tidak tidur?”
“Aku tidak bisa pejamkan mata, karenanya kepingin jalan-jalan cari angin di bawah
curahan hujan malam hari.”
“Akupun tak bisa tidur” kata Tang Sam Kauw sambil tertawa karena itu aku datang
mencari kau untuk diajak ngomong-ngomong.”
“Di tengah malam buta yang gelap dan sunyi apalagi kau merupakan seorang gadis
perawan dan aku seorang pemuda jejaka, bukankah terasa agak canggung jika kita
ngomong-ngomong? Ada urusan bukankah sama saja bila kita bicarakan esok pagi?”
“Tidak malu kau disebutnya seorang Enghiong Hoohan seorang lelaki sejati, aku saja
tidak takut apa yang perlu kau takuti?”
“Walaupun di dalam hati kita tiada terkandung suatu maksud cabul maupun maksud
jahat. Tetapi bagaimana antara lelaki dan perempuan ada batas-batasnya, jika sampai
terlihat orang lain bukankah hanya memberi bahan pembicaraan yang bukan buat mereka
saja?”

“Kita adalah orang keluaran Bulim peraturan semacam itu sudah tidak berlaku lagi buat
kau dan aku bilamana aku diharuskan mengikuti adat istiadat seperti kaum gadis lainnya
lalu buat apa? Aku orang melakukan perjalanan di tempat luaran.”
“Ehmm perkataannya sedikitpun tidak salah” pikir Siauw Ling diam-diam. “Kita semua
adalah orang-orang Bulim, adat istiadat kesopanan itupun sudah tak dipertahankan lagi
terhadap kita…”
Tang Sam Kauw yang melihat pemuda itu tidak berbicara dalam hati lantas mengerti ia
sudah ditaklukan oleh kata-katanya tak terasa lagi ia tersenyum.
“Bagaimana kalau kita bersama-sama jalan-jalan di bawah curahan hujan?” ajaknya.
Ketika itu dalam hati Siauw Ling lagi murung oleh berbagai persoalan yang
membingungkan kepalanya, mendengar ajakan tersebut diam-diam pikirnya kembali,
“Walaupun dia adalah seorang gadis muda tetapi kelahirannya dari keluarga Bulim tentu
memiliki pengetahuan yang sangat luas, mengapa aku tidak menanyakan semua
persoalan-persoalan yang rumit dan membingungkan kepadanya?”
Tak terasa lagi iapun ikut berjalan menuju kehalaman yang penuh ditumbuhi bungabunga
itu.
Tang Sam Kauw yang berjalan kemari di bawah curahan hujan tadi, pakaian yang
dikenakan Siauw Ling masih kering tak terasa lagi sambil menarik pergelangan tangan kiri
pemuda itu serunya, “Kita menuju ke bawah tumbuhan bunga-bunga itu saja, jangan
sampai pakaianmu ikut basah.”
“Siauw Ling mengerti ia bermaksud baik terhadap dirinya, karena itu dalam hati merasa
tak enak untuk menolak, terpaksa ia membiarkan dirinya digandeng menuju ke depan.
Awan gelap menutupi seluruh angkasa membuat malam itu semakin gelap bilamana
kedua orang itu bukannya memiliki tenaga dalam yang amat sempurna kemungkinan
sekali dengan ketajaman, pandangannya sulit untuk melihat benda yang ada tiga depa
dihadapan mereka.
Baru saja kedua orang itu tiba di bawah tumbuhan bunga, mendadak cahaya merah
yang menyilaukan mata berkelebat memenuhi angkasa setinggi tujuh delapan kaki dan
meledakan serentetan bunga api.
Diikuti berpuluh-puluh buah lentera merah tersebut sedang bergerak keatas ke bawah
dengan tiada hentinya.
Melihat kejadian tersebut diam Tang Sam Kauw menarik ujung baju pemuda tersebut.
“Ada orang sudah menyelundup masuk ke dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng!”
bisiknya lirih. “Jikalau tidak mencari gara-gara dengan kita lebih baik kita orang tidak usah
ikut campur urusan ornag lain.”
“Tetapi kita sebagi tamu orang-orang perkampungan Pek Hoa Sanceng apakah harus
berpeluk tangan tidak menggubris?”

“Dengarkanlah perkataanku hal ini tidak bakal salah lagi! bilamana kita ikut campur
sesuka hati kita bukan saja tidak akan menerima rasa terima kasih dari Ciu Cau Liong,
bahkan gerak-gerik kita akan dicurigai oleh mereka.”
“Kenapa?” tanya pemuda itu keheranan.
“Ia tidak memperkenankan kita orang terlalu banyak mengetahui rahasia yang
menyangkut perkampungan Pek Hoa Sanceng mereka.”
“Eeehmm pendapat dari nona Sam sedikitpun tidak salah!” akhirnya Siauw Ling berseru
perlahan.
Ketika sinar matanya dialihkan kembali ke tengah udara maka tampaklah lentera merah
itu masih bergerak naik turun, kekanan kekiri tiada hentinya di bawah curahan hujan deras
tetapi sedikit suarapun tidak kedengaran.
Ketika Tang Sam Kauw gerakan lentera merah tersebut lama sekali bergoyang tiada
hentinya, kembali ia berbisik kepada Siauw Ling, “Orang yang datang menyelundup ke
dalam perkampungan memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi kelihatannya untuk
beberapa saat sulit untuk dipukul mundur.Ehmm? benar orang-orang ini tentunya sudah
pernah datang kemari pada siang hari tadi sehingga terhadap penjagaan yang diatur
dalam perkampungan walaupun belum bisa memahami seperti melihat jari sendiri, tetapi
sebagian besar sudah berhasil mereka ketahui.”
Agaknya gadis itu ada maksud hendak memperlihatkan kepada Siauw Ling bahwa dia
memiliki pengetahuan yang amat luas sekali, setelah merendek sejenak sambungnya
kembali, “Agaknya orang itu ada maksud hendak menyerang loteng Wang Loo tersebut.”
Ketika Siauw Ling memperhatikan keadaan di sekelilingnya dengan lebih teliti lagi maka
sedikitpun tidak salah, ia menemukan bila lentera merah itu perlahan-lahan berkumpulan
dari mengarah keloteng Wang Hoa Loo tersebut.
Ketika itu cahaya lampu yang semula menyinari loteng Wang Hoa Loo pada saat ini
sudah padam sama sekali.
Siauw ya mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara panggilan
dengan suara panggilan dengan nada amat cemas.
Mendengar suara sapaan tersebut Siauw Ling segera mengerutkan alisnya rapat-rapat
dan dengan langkah lebar berjalan keluar dari antara pepohonan tersebut.
“Apakah Giok Lan?” tanyanya.
“Benar” sahut seseornag diiringi suara langkah kaki yang amat ramai sekali.
Baru saja perkataan tersebut diucapkan tampaklah Giok Lan serta Kiem Lan dengan
rambutnya yang terikat secarik kain hijau pakaian singsat dan menggembol pedang sudah
lari mendatang.
Ketika dilihatnya Tang Sam Kauw pun berada disana, Kiem Lan lantas berseru, “Akhh…!
kebetulan sekali nona Sam ada disini. Hal ini jauh lebih kebetulan.”

“Ehmm aku baru saja sampai.”
Giok Lan tersenyum manis.
“Baru saja budakmu sekalian memperoleh perintah lisan dari Jie Cungcu, apakah kalian
berdua ada maksud untuk melihat keramaian atau tidak, bilamana tertarik maka kami
berdua segera akan menunjuk jalan buat kalian dan semisalnya tidak tertarik maka
dipersilahkan kalian berdua cepat-cepat beristirahat.”
Beberapa patah perkataan ini di dalam pendengaran Siauw Ling yang mendengar
perkataan tersebut dalam hati merasa amat terperanjat.
Maksud dari perkataan kedua orang budak itu sudah jelas sekali menunjukkan bila
gerak-gerik mereka berdua secara diam-diam sudah diawasi terus.
Siauw Ling yang melihat lampu lentera berwarna merah itu mendadak merosot ke
bawah semua sehingga tinggal sebuah saja yang bergerak tiada hentinya di tengah tiupan
angin kencang serta curahan hujan deras, dalam hatinya timbul perasaan ingin tahu.
Kalau memang Ciu Jie Cungcu mengundang kita, seharusnya kita orang pergi
menengok sebentar katanya.
“Jika Siauw ya memang tertarik kami akan berjalan lebih dulu selangkah untuk
menunjuk jalan buat kalian berdua!” seru Giok Lan dengan cepat.
“Tidak usah keburu!” sembari berseru Siauw Ling lantas berlari masuk ke dalam
kamarnya untuk mengambil barang yang dibawa olehnya kemudian mengikuti kedua
orang dayang tersebut berangkat ke tempat kejadian.
Secara diam-diam ia mulai memperhatikan gerak-gerik kedua orang dayang tersebut, ia
merasa gerakan tubuh mereka sangat gesit dan lincah sehingga tak terasa lagi diam-diam
ia merasa kagum.
Tidak kusangka seorang dayang yang ada di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng
pun memiliki kepandaian silat yang sangat lihay pikirnya diam-diam.
Gerakan dari kedua orang budak tersebut amat tepat sekali, terhadap keadaan
disanapun sangat hapal tampaklah tubuh mereka berjalan kesana kemari mengitari pohon
dan hanya di dalam sekejap saja sudah tiba di bawah loteng Wang Hoa Loo.
Ketika Siauw Ling mendongakkan kepalanya maka tampaklah seorang lelaki kasar
berperawakan tinggi besar yang memakai pakaian singsat sedang mencekal sebuah lampu
lentera berwarna merah tinggi-tinggi Ciu Cau Liong masih tetap mengenakan pakaian yang
perlente dengan tangan kosong, tetapi di belakang tubuhnya berbarislah serentetan lelaki
berpakaian singsat dengan senjata terhunus.
************http://ecersildejavu.wordpress.com/***************
Gerakan tubuh Giok Lan serta Kiem Lan semakin cepat lagi, di dalam dua tiga lompatan
mereka sudah tiba dihadapan Ciu Cau Liong.

“Jie Cungcu! Siauw ya serta nona Sam telah tiba!” ujarnya sambil menjura memberi
hormat.
Ciu Cau Liong segera putar badan menyambut.
“Kembali Siauwte mengganggu ketenangan kalian berdua hal ini membuat hatiku
merasa tidak tentram,” ujarnya sambil tertawa.
“Ciu heng terlalu merendah, dimana orang yang sudah mengacau perkampungan??”
seru Siauw Ling sambil berlari mendekat.
“Mereka telah berada diats loteng Wang Hoa Loo!”
“Lalu mengapa Ciu heng tidak menghalangi gerakan mereka?”
“Mereka ngotot hendak menerjang keatas loteng Wang Hoa Loo ini. Bilamana aku tidak
memberi kesempatan kepada mereka untuk mencoba, maka sekalipun mati mereka pasti
tidak akan meram” sahut Ciu Cau Liong sambil tertawa.
Perkataan itu diucapkan dengan sangat tenang sedikitpun tidak gugup maupun cemas.
Seperti di tempat itu sama sekali belum pernah terjadi sesuatu.
Tampak cahaya lampu berkelebat dari atas loteng Wang Hoa Loo tingkat ketiga belas
kembali jadi terang benderang bermandikan cahaya lampu.
Perasaan Siauw Ling pada waktu ini sangat murung sekali. Diam-diam pikirnya,
“Sungguh aneh sekali pihak musuh hendak menyerbu kemari, mereka lantas membiarkan
mereka datang kemari. Hal ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang belum pernah
terjadi.”
“Bagaimana??” tegur Ciu Cau Liong sambil tertawa. “Apakah Siauw heng serta nona
Sam ada maksud hendak naik keloteng untuk melihat jalannya pertempuran??”
Saat ini Siauw Ling benar-benar tak dapat menguasai perasaan ingin tahunya.
“Bilamana boleh Siauwte memang kepingin sekali naik keatas loteng untuk melihat
jalannya pertempuran!”
Jie Cungcu dari perkampungan Pek Hoa Sanceng ini lantas menoleh ke arah Kiem Lan
serta Giok Lan yang berdiri disisinya.
“Kalian kembalilah kebangunan Lan Hoa Cing Si!” perintahnya.
Kedua orang dayang itu segera memberi hormat lantas putar badan dan berlalu.
Setelah kedua orang budak itu berlalu, sinar matanya kembali berputar memandang
sekejap ke arah si lelaki kasar berpakaian singsat yang mencekal senjata terhunus itu,
sambungnya, “Kalian berjaga-jagalah di bawah loteng bilamana orang-orang yang naik
keatas loteng itu dapat turun kembali dalam keadaan utuh. Hantar mereka keluar dari
perkampungan dan jangan menahan mereka lagi.”

Siauw Ling yang mendengar perkataan terakhir dari Jie Cungcu ini diam-diam lantas
mangangguk.
“Sikap dari Ciu Cau Liong benar-benar luar biasa sekali,” pujinya dihati.
Ciu Cau Liong sehabis mengatur seluruh persoalannya kemudian baru merangkap
tangannya menjura ke arah mereka berdua.
“Siauw heng, nona Sam? Silahkan!” serunya sambil tersenyum.
Sebenarnya Tang Sam Kauw ada maksud hendak manampik tetapi sewaktu dilihatnya
Siauw Ling dengan langkah lebar sudah memasuki loteng Wang Hoa Loo tersebut,
terpaksa iapun ikut melangkah masuk mengikuti dari belakang tubuh Siauw Ling.
Ciu Cau Liong sambil bergendong tangan mengiringi dari belakang.
“Ketika itu pengawal yang berjaga diloteng tingkat pertama dengan wajah yang pucat
pasi bersandar di atas dinding senjata golok bergerigi ditangannya dengan lemas
menggeletak di atas tanah lengan kanannya sudah basah kuyup oleh darah yang
mengucur keluar bagaikan air ledeng agaknya ia sudah menderita luka yang amat parah.”
“Bagaimana?” ujar Ciu Cau Liong kepada pengawal yang terluka itu sambil tertawa
tawar mereka sudah naik ketingkat kedua.
Nada ucapan tersebut sama sekali tidak mengundang maksud menghibur maupun
membantu untuk mengobati lukanya itu.
Lelaki kasar tersebut sedikit menggerakkan badan dan membuka matanya kembali.
Hamba tidak becus, musuh-musuh tangguh tersebut tidak berhasil hamba tahan
katanya tak bertenaga.
“Ooow…. tidak mengapa,” potong Ciu Cau Liong cepat.
Sambil menggandeng tangan Siauw Ling ia lantas melanjutkan langkahnya menuju
keloteng tingkat dua.
Pengawal yang berjaga di depan pintu loteng tingkat kedua inipun sedang duduk
bersemedi di atas tanah di depan tubuhnya menggeletak sebilah senjata yang berbentuk
sangat aneh Ban Ci Bwee Hoa Tauw pada ujung kelopak mata serta ujung bibirnya
kelihatan terluka hebat, darah segar mengucur keluar dengan sangat derasnya.
“Dimana pengacau-pengacau itu?” tanya Ciu Cau Liong dengan nada berat alisnya
dikerutkan.
“Hamba terkena satu pukulannya sehingga terluka dalam mereka sudah berhasil
menerjang keatas.”
“Siauw heng mari kita menengok ketingkat ketiga,” ajak Jie Cungcu kemudian sambil
menoleh ke arah pemuda tersebut.

Tanpa menanti jawaban lagi ia lantas menarik tangan Siauw Ling untuk berlari
ketingkat tiga.
Suasana diloteng ketigapun kacau balau akibat pertempuran yang baru saja terjadi,
lelaki penjaga loteng tersebut sambil mencekal lambungnya bersandar di atas meja dan
rubuh keatas tanah.
Kali ini Ciu Cau Liong tak menanyai pengawal yang terluka itu lagi, ia langsung
membawa Siauw Ling menuju keloteng tingkat keempat.
Di bawah sorotan sinar lilim yang menerangi ruangan tersebut tampaklah lelaki
pengawal ruangan tersebut menggeletak di atas lantai dengan empat, lima bekas luka
guratan pedang di atas dadanya, darah segar masih mengucur keluar dengan derasnya.
Suara bentrokan senjata tajam yang amat ramai saat itu dapat didengar berkumandang
datang dari loteng tingkat kelima.
“Siauw heng! musuh sudah tiba diloteng tingkat kelima, mari kita cepat pergi melihat”
ajak Ciu Cau Liong kembali.
Siauw Ling yang melihat pengawal loteng tersebut menggeletak di atas tanah dalam
keadaan terluka berat. Bahkan darah segar masih mengucur keluar dengan sangat
derasnya, sehingga bilamana tidak keburu ditolong menghentikan aliran darah tersebut
nyawanya akan terancam, dalam hati merasa rada tidak tega.
Dengan paksaan diri ia meronta dan melepaskan diri dari cekalan Ciu Cau Liong.
“Orang ini terluka parah kita harus berusaha untuk menolong dirinya terlebih dulu,”
katanya.
Ciu Cau Liong hanya tersenyum, ia sama sekali tidak turun tangan mencegahi.
Tang Sam Kauw lantas berebut maju, dari sakunya ia mengambil keluar sebuah botol
obat luar untuk kemudian dibubuhkan keatas keempat bekas luka tersebut.
Sedang Siauw Lingpun dengan gerakan yang amat hebat lantas menotok keempat buah
jalan darahnya.
“Terima kasih atas bantuan saudara sekalian”, buru-buru lelaki berpakaian singsat itu
meronta untuk bangun dan menjura.
Di dalam satu jam mendatang lebih baik kau jangan terlalu banyak bergerak” seru
Siauw Ling memberi peringatan.
Ketika itulah suara bentrokan senjata tajam yang berkumandang keluar dari loteng
tingkat kelima terdnegar semakin bertambah santar, jelas pertempuran sengit tersebut
sudah tiba pada saat-saat yang kritis dan tegang.
Siauw Ling tidak memperdulikan lagi perkataan dari lelaki itu tubuhnya lantas meloncat
bangun dan berlari keatas loteng tingkat kelima.

Di atas ruangan loteng tingkat kelima sedang berlangsung suatu pertempuran yang
amat sengit dan ramai, bunga-bunga pedang berterbangan memenuhi angkasa, cahaya
golok berkelebat laksana salju, mendadak muncullah dua sosok bayangan manusia.
Orang yang berdiri di depan mulut tangga loteng adalah seorang kakek tua yang
rambutnya sudah memutih dengan di atas tangannya mencekal sebuah tongkat besi,
sedang orang yang berusia tiga puluh tahunan dengan sebilah pedang terlintang di depan
dada.
Kakek tua itu bersikap sangat heran, ia cuma melirik sekejap ke arah Ciu Cau Liong
serta Siauw Ling, air mukanya sama sekali tidak berubah.
Sebaliknya lelaki itu rada tidak sabaran pedangnya segera digerakkan menghalangi
jalan dari ketiga orang itu.
Melihat sikapnya ini Ciu Cau Liong lantas tersenyum.
“Heng thay jangan kuatir, kami tidak ada maksud untuk turun tangan,” katanya.
“Heee, heee tidak kusangka kaupun mengetahui kekuatanmu sendiri!” seru sikakek tua
itu dengan nada yang amat dingin.
Siauw Ling adalah orang pertama yang tiba di dalam ruangan loteng tingkat kelima itu,
karenanya ujung pedang dari si lelaki kasar itupun digerakkan mengancam dada pemuda
tersebut kurang lebih setengah coen dari pakaian luarnya.
Melihat sikapnya ini pemuda tersebut merasa rada benci.
“Minggir” bentaknya dingin.
Tangan kirinya segera disentilkan ke depan, secara diam-diam ia sudah mengerahkan
ilmu jari Siauw Loo Sin Cienya menyentil keatas pedang tersebut.
Triiing… dengan menimbulkan suara yang amat nyaring, pednag di tangan lelaki kasar
itu mendadak tersentil lepas dari cekalannya dan menimpuk dinding loteng.
Melihat kejadian tersebut air muka sikakek berambut putih itu kontan saja berubah
hebat.
“Heng thay ilmu jari It Cie Sian Kang-mu sangat mengejutkan sekali!” serunya sambil
memandang wajah Siauw Ling tajam-tajam.
“Cayhe sama sekali tidak menggunakan ilmu jari It Cie Sian Kang.”
Air muka kakek tua itu seketika itu juga berubah jadi merah jengah, kepalanya
ditundukkan rendah-rendah.
Siauw Ling adalah seorang bocah yang belum berpengalaman ia sama sekali tidak tahu
bila perkataannya barusan ini sudah menghilangkan gengsi kakek tua itu.
Orang-orang yang hadir dikalangan pada saat ini tak seorangpun yang tak dibuat
terperanjat oleh kejadian ini tangan pemuda tersebut hanya menyentil dengan perlahan

berhasil mementalkan senjata dicekal erat-erat oleh pihak lawannya, kecuali ilmu jari It Cie
Sian Kang dari aliran Siauw lim pay, dikolong langit pada saat ini jarang sekali kedengaran
ilmu jari yang demikian dahsyat ini.
Lelaki kasar tersebut setelah pedangnya terpukul pental oleh sentilan jari Siauw Ling,
dalam hatinya merasa terperanjat, kaget, malu dan kecewa sehingga untuk beberapa saat
lamanya berdiri termangu-mangu di tempat semula tanpa bisa mengucapkan sepatah
katapun.
Lama sekali ia baru menghela napas panjang dan mengundurkan diri kesisi kakek tua
itu.
Mendadak tampaklah si orang tua berambut putih itu mengetukkan tongkat besinya
keatas tanah.
“Tahan!” bentaknya keras.
Suara bentakannya ini sangat dahsyat sekali laksana halilintar membelah bumi
membuat semua orang merasakan telinganya berdengung.
Cahaya pedang bayangan golok lantas berpisah dan munculah dua sosok bayangan
manusia.
Seorang pemuda tampan berusia du puluh tahunan dengan memakai pakaian singsat
dan mencekal sebilah pedang segera mengundurkan dirinya ke belakang.
Lawannya adalah seorang lelaki kasar yang memakai pakaian tingkas dengan sebilah
golok berkepala setan yang tebal dan tajam disilangkan di depan dada.
“Suhu? kau ada petunjuk apa?” tanya pemuda itu sambil menjura.
“Heeei perkampungan Pek Hoa Sanceng merupakan sarang naga gua macan aku rasa
selama hidup kita kali ini sulit untuk berhasil membalaskan dendam sakit hati ayahmu,”
ujar sikakek tua sambil menghela napas panjang.
Dari kelopak mata pemuda itu tak kuasa lagi mengucurkan dua titik air mata, serunya,
“Sebagai seorang putra bila tak berhasil membalaskan sakit hati orang tuanya dengan
tangan sendiri, aku tidak punya muka lagi untuk tancapkan kaki di atas permukaan bumi.”
air muka si orang tua tersebut segera berubah hebat tangannya buru-buru diayunkan
ke depan. Segulung hawa pukulan yang amat tajam segera menerjang ke depan
menghantam jalan darah Cie Tie Hiat pada iga sebelah kanan pemuda tersebut.
Pemuda itu hanya merasakan ketiaknya jadi kaku pedangnya tak bisa dicegah lagi
terlepas dari tangannya.
“Heee… heee… bagus sekali!” teriak kakek tua itu sambil tertawa dingin tiada hentinya.
“Kau ingin suhumu melihat kau mati haaa?”
“Tecu… tecu… tecu sekalipun bernyali pula tak akan berani punya maksud demikian!”
seru pemuda tampan itu sambil menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.

Di atas paras muka sikakek tua itu segera terlintaslah suatu perasaan yang amat sedih
sekali, ia menghela napas tiada hentinya.
Jilid 19
“Heeeeiii…! Bocah, pungut senjatamu, kita pergi dari sini…!” serunya.
Pemuda itu tidak berani membangkang lagi, setelah memungut pedangnya lantas
mengundurkan diri kesisi kakek tua itu.
Siauw Ling yang melihat kejadian ini jadi kebingungan setengah mati, ia benar-benar
tidak mengerti peristiwa apakah yang sudah terjadi disekitar tempat itu.
Perlahan-lahan sikakek tua itu menoleh dan merangkap tangannya menjura ke arah
Siauw Ling.
“Tolong tanya siapakah nama Heng thay.” tanyanya.
“Cayhe Siauw Ling!”
Semula sikakek tua itu rada tertegun, akhirnya ia berseru, “Ooouuw… kiranya Siauw
Thay hiap Loo lap mengucapkan banyak terima kasih atas nasehat yang diberikan saudara
ini hari, gunung nan hijau tak akan berubah, sungai nan jernih tetap mengalir kita
berjumpa lain kesempatan…”
Ia menoleh dan memandang sekejap ke arah kedua orang anak muridnya kemudian
sambungnya kembali, “Bocah mari kita pergi!”
Sambil mengetukkan tongkat besinya keatas tanah ia lantas berlalu dari tempat itu
tanpa menoleh lagi.
Si lelaki kasar serta pemuda itu jadi kebingungan setengah mati di atas wajah mereka
terlintaslah perasaan keberatan, tetapi melihat suhu mereka berlalu dalam keadaan gusar,
terpaksa merekapun mengikuti dari belakang tubuhnya.
Ciu Cau Liong buru-buru menyingkir kesamping memberi jalan.
“Kalian bertiga silahkan berlalu siauwte tidak menghantar lebih jauh lagi,” katanya
sambil merangkap tangannya menjura.
“Hmm, bilamana Loohu tidak mati, di dalam tiga tahun mendatang tentu akan kembali
lagi!” seru si orang tua dengan dingin.
“Haaaa… haaaa siang maupun malam perkampungan Pek Hoa Sanceng selalu terbuka
untuk kalian, siauwte setiap waktu akan menantikan kedatangan kalian.”
Air muka si orang tua itu penuh diliputi oleh kesedihan, sinar matanya kembali dialihkan
keatas wajah Siauw Ling.

“Loolap sudah hampir sepuluh tahun lamanya belum pernah berkelana di dalam dunia
kangouw, kali ini sewaktu turun gunung loolap sudah ,mendengar nama besarmu, tak
disangka ini hari kita bisa berjumpa di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng.”
“Ooouw tolong tanya siapakah nama besar dari Loo heng thay?” ujar Siauw Ling sambil
menjura.
Sinar mata si orang tua itu berkilat.
“Si orang prajurit tak bernama di dalam dunia kangouw sekali diberitahu juga percuma
karena Siauw Thayhiap tentu tidak kenal dengan nama loolap ini,” katanya.
“Cayhepun baru saja munculkan dirinya di dalam dunia kangouw, pengetahuanku masih
sangat cetek.”
“Haaa, haa seorang yang berpengetahuan cetek” teriak si orang tua itu sambil tertawa
terbahak-bahak dengan seramnya.
Ia lantas putar badan dan berlalu dari ruangan loteng itu.
Gerakan dari tiga orang itu benar-benar sangat cepat sekali, hanya di dalam sekejap
mata mereka sudah lenyap tak berbekas.
“Ciu heng siapa sebenarnya ketiga orang ini?” tanya Siauw Ling dengan alis yang
dikerutkan.
“Di dalam dunia kangouw terlalu banyak terdapat manusia-manusia sombong, buat apa
Siauw heng mengurusi manusia-manusia semacam itu?” kata Ciu Cau Liong coba
menghindar.
Si orang tua itu agaknya mirip dengan si Poo Hiat atau pendekar pincang Ciang Toa
Hay… tiba-tina Tang Sam Kauw menimbrung dari samping.
Dengan pandangan yang sangat dingin Ciu Cau Liong segera melototi diri gadis
tersebut.
“Mengapa siauwte belum pernah mendengar nama orang ini?” serunya berlagak pilon.
Tang Sam Kauw segera tersadar kembali buru-buru ia menutup mulutnya rapat-rapat.
“Sipendekar pincang Ciang Toa Hay adalah seorang pendekar yang gagah perkasa
sudah tentu dia bukan seorang manusia bajingan,” kata Siauw Ling dengan cepat.
Tang Sam Kauw yang teringat akan perjanjiannya dengan Ciu Cau Liong lantas
tersenyum.
“Akupun cuma mendengar ibuku pernah membicarakan orang ini, tetapi benarkah dia
orang atau bukan, aku rada kurang jelas” katanya.
“Nama besar Siauw heng sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan,” sela Ciu Cau
Liong. “Mereka bertiga bisa mengetahui keadaan dan cepat-cepat mengundurkan diri
hitung-hitung mereka masih bernasib baik.”

“Aaakh mana, mana Ciu heng terlalu memuji.”
“Disebabkan pengacauan ketiga orang itu maka istirahat kalian berdua sudah
terganggu kini waktu sudah tidak pagi lagi seharusnya Siauw heng serta nona Sam pergi
beristirahat.”
Selesai berkata ia lantas mengantarkan Siauw Ling kebangunan Lan Hoa Cing Si
kemudian baru berpamit untuk mengundurkan diri.
Sejak semula Kiem Lan serta Giok Lan sudah menanti kedatangannya di dalam kamar,
melihat Siauw Ling sudah kembali buru-buru mereka berlutut melepaskan sepatu kaus kaki
dari pemuda tersebut.
“Siauw ya malam-malam begini kau ingin makan apa?” tanyanya sambil tertawa.
“Tidak usah tidak usah. Kalian pergilah tidur.”
Kiem Lan tersenyum tanpa banyak bicara ia lantas mengundurkan diri dari ruangan
tersebut sedangkan Giok Lan lantas duduk di atas sebuah kursi.
Siauw Ling yang melihat gadis itu tidak berlalu dalam hati merasa heran belum sempat
ia menanyakan sesuatu Giok Lan sudah berebut berkata, “Siauw ya silahkan beristirahat,
budakmu akan berjaga disini untuk menantikan perintah-perintah selanjutnya.”
“Aaah jangan, jangan lelaki dan perempuan ada batasnya apa lagi malam nan panjang
ini, bagaimana mungkin kita erdua boleh berada di dalam satu kamar yang sama?” seru
Siauw Ling sambil menggoyangkan tangannya berulang kali. “Tak bisa jadi, cepatlah kau
orang mengundurkan diri dari sini, jika kau masih duduk disana akupun tidak akan tidur.”
Perlahan-lahan Giok Lan bangun berdiri wajahnya kelihatan amat sedih sekali, sepasang
matanya memancarkan perasaan murungnya yang amat sangat, bibirnya yang bergerak
hendak mengucapkan sesuatu mendadak dibatalkan, kemudian dengan bungkam seribu
bahasa lantas mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Siauw Lingpun tidak ingin banyak berbicara dengan dirinya lagi, walaupun ia dapat
menangkap air mukanya sangat aneh tetapi pemuda ini tidak ingin banyak bicara.
Setelah menutup pintu dan merebahkan diri keatas pembaringan, pikirnya di dalam
hati, “Kedua orang budak ini agaknya bersikap rada tidak beres, besok pagi biar aku
beritahukan hal ini kepada Ciu heng untuk minta ganti dua orang budak lain.”
Berpikiran akan hal itu ia lantas pejamkan matanya untuk tidur, sebentar kemudian ia
sudah tidur pulas tak sadarkan diri.
Tidurnya kali ini hari sudah terang tanah.
Dengan cepat ia bangun dan membuka pintu kamar tampaklah Kiem Lan dan Giok Lan
dengan membawa sarapan pagi sudah menanti diruangan depan.
Kedua orang dayang tersebut pada saat ini memakai pakaian berwarna merah keperakperakan
yang sangat menyolok sikapnya ramah dan penuh senyuman.

Melihat pemuda tersebut munculkan diri mereka berdua buru-buru membungkuk
memberi hormat.
“Siauw ya selamat pagi,” ujarnya manja.
“Tidak usah banyak adat lagi, peraturan di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng
kalian benar-benar amat banyak sekali,” ujar Siauw Ling tertawa.
“Bilamana pelayanan kami kurang baik maka Jie Cungcu tentu akan memakai dan
menghukum kami,” kata Giok Lan. “Asalkan Siauw ya bisa merasa senang hati, sekalipun
mati kami sudah merasa puas.”
Siauw Ling tidak ingin banyak berbicara dengan kedua orang dayang itu lagi, katanya,
“Aku mau jalan-jalan sebentar diluar kamar, kalian tidak usah ikuti aku lagi.”
Selesai berkata ia lantas berjalan keluar dari dalam kamar.
Tampaklah bunga-bunga beraneka warna menyiarkan bau harum semerbak yang
menusuk hidung, perasaannya jadi semakin leluasa dan lapang dengan amat lambat sekali
disekitar tempat itu sambil menikmati keindahan bunga-bunga tersebut.
Awan hitam yang menyelubungi angkasa kemarin malam kini sudah buyar tak berbekas
cahaya sang surya laksana emas memancarkan sinarnya keempat penjuru dan menyinari
butiran-butiran embun di atas bunga sehingga memancarkan panca warna yang amat
indah di atas permukaan tanah.
Pemandangan yang demikian indahnya ini segera membuat pemuda tersebut jadi
kesemsem.
Karena pikirnya menjadi segar kembali, maka berbagai persoalan yang mencurigakan
hatinyapun mulai mengalir dan memenuhi benaknya kembali.
Ia merasa bahwa dibalik keindahan yang meliputi perkampungan Pek Hoa Sanceng
agaknya tersembunyi pula suatu rahasia yang amat besar, suasana disana terasa begitu
aneh begitu misterius Jan Bok Hong, itu Toa Cungcu dari perkampungan Pek Hoa Sanceng
walaupun diluaran menyebut Ciu Cau Liong sebagai kakak beradik tetapi mengapa sikap
Jie Cungcu ini begitu menghormat sehingga jauh melebihi hubungan antara guru dan
murid??
“Kiem Lan serta Giok Lan kedua orang budak itu kelihatannya amat cantik jelita dan
menarik hati mengapa sikap serta gerak-gerik amat cabul dan merangsang.”
Selagi ia berpikir keras itulah mendadak terdengar suara tertawa yang amat nyaring
berkumandang datang.
“Siauw heng kenapa kau tidak tidur lebih lama lagi? Apakah pelayanan dari kedua
orang budak kurang memuaskan hati?” sapanya.
Siauw Ling segera menoleh tampaklah Ciu Cau Liong dengan memakai jubah berwarna
hijau sedang berjalan menghampiri dirinya dengan perlahan.

Terpaksa ia maju menyongsong sambil menjura memberi hormat.
“Kedua orang itu terlalu banyak adat” katanya sambil tertawa.
Tetapi mendadak sinar matanya menangkap kedua orang budak itu sedang berdiri
sejajar kurang lebih beberapa kaki dari dirinya. Alis mereka dikerutkan kencang-kencang
wajahnya amat murung sedang dari sinar matanya memancarkan perasaan kaget dan
takut setengah mati.
Melihat akan hal itu, perkataan yang sebenarnya hendak mengatakan bila kedua orang
budak itu terlalu banyak adat sehingga dirinya merasa tidak terbiasa dan minta Ciu Cau
Liong ganti dengan dua orang budak yang lain mentah-mentah ditelan kembali.
“Siauwte bisa mendapatkan pelayanan yang demikian baiknya, dalam hati malahan
merasa kurang tentram” katanya buru-buru.
“Haaa… haaa… siauwte merasa sangat cocok sekali dengan Siauw heng dalam hatiku
malah takut pelayanannya kurang sesuai.”
“Bilamana Siauw heng berkata demikian bukankah sudah terlalu memandang asing
diriku,” ujar Ciu Cau Liong sambil tertawa terbahak-bahak.
Ia rada merandek sejenis, kemudian sambungnya lagi, “Toa Cungcu kami merasa
sangat berterima kasih sekali atas tindakan Siauw heng kemarin malam dimana kau sudah
mewakili dirinya untuk mengundurkan musuh yang datang menyerang, karena sekarang
sengaja ia memerintahkan siauwte untuk mengundang Siauw heng agar suka berbicara di
atas loteng Wang Hoa Loo karena siauwte merasa takut sudah mengganggu impian baik
dari Siauw heng maka sengaja aku orang tidak berani datang terlalu pagi.”
“Bilamana ia benar-benar merasa sangat berterima kasih kepadamu, mengapa tidak
datang sendiri kemari sebaliknya malah suruh aku naik keloteng untuk berbicara sungguh
aneh sekali,” pikir Siauw Ling di dalam hati.
Kendati ia berpikir demikian diluar ia menjawab dengan sangat ramah sekali.
“Oooouw kalau begitu harap Ciu heng suka menunggu sebentar, siauwte akan cuci
muka dan berdandan sebentar.”
Dengan langkah lebar ia lantas berlari masuk ke dalam ruangan.
Waktu itu kedua orang budak tersebut sudah menyiapkan air terburu-buru Siauw Ling
cuci muka dan berdandan kemudian mengikuti Ciu Cau Liong berangkat menuju keloteng
Wang Hoa Loo.
Ciu Cau Liong yang berpikiran cermat sekali pandang air muka Siauw Ling ia sudah
berhasil menduga apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda tersebut karena itu ia tidak
menanti dia mengucapkan sesuatu buru-buru sudah katanya, oo0oo oo0oo
“Kesehatan Toa Cungcu kami lagi terganggu, dan belum benar-benar segar kembali
karena tidak dapat datang sendiri untuk menjenguk diri Siauw heng, oleh itu ia sudah
perintahkan siauwte untuk memanggil dirimu, harap kau suka memaafkan kecerobohan
ini.”

Dengan demikian Siauw Ling malah merasa sangat tidak enak dihati.
“Ciu heng! kau terlalu merendah” katanya.
Ciu Cau Liong tersenyum.
“Sejak Toa Cungcu kami beristirahat untuk menyembuhkan penyakitnya di atas loteng
Wang Hoa Loo selamanya belum pernah menerima tamu tidak disangka kini ia bisa
menaruh sikap yang demikian menghormat terhadap diri Siauw heng. Hal ini benar-benar
merupakan suatu peristiwa yang tak pernah terjadi selama ini,” katanya.
“Ciu heng, tahukah kau ada urusan apa Toa Cungcu mengundang cayhe?”
“Soal ini setelah Siauw heng bertemu muka dengan Toa Cungcu, kau bisa paham
dengan sendirinya.”
Sewaktu mereka sedang bercakap-cakap itulah loteng Wang Hoa Loo sudah berada
dihadapannya.
Bekas-bekas pertempuran yang ditinggalkan kemarin malam pada saat ini sudah
dibersihkan sama sekali, beberapa orang penjaga pintu yang terlukapun kini sudah diganti
dengan pengawal-pengawal yang baru.
Dengan memimpin diri Siauw Ling, Ciu Cau Liong itu Cungcu kedua dari perkampungan
Pek Hoa Sanceng langsung berjalan naik hingga keloteng tingkat ketiga belas.
Sejak semula Jan Bok Hong dengan penuh senyuman telah menanti kedatangan
mereka di depan pintu loteng.
Melihat Toa Cungcu tersebut sudah menantikan kedatangannya buru-buru Siauw Ling
merangkap tangannya menjura.
Entah Toa Cungcu mempunyai maksud tujuan apa mengundang siauwte datang
kemari, katanya, “Tindakanmu kemarin malam dengan mewakili diriku mengundurkan
serangan musuh tangguh, cayhe merasa sangat berterima kasih sekali.”
“Hanya satu peristiwa kecil, buat apa dipikirkan terus menerus.”
Sinar matanya lantas berputar, ia merasa keadaan dari loteng ini jauh berbeda pada
kemarin hari.
Kiranya pada dinding sebelah timur pada saat ini sudah tertutup dengan sebuah horden
warna kuning yang selembar delapan depa.
Setelah mempersilahkan para tamunya mengambil duduk, barulah Jan Bok Hong
berkata, “Kemarin malam Ciu Jie telah membicarakan soal Siauw heng, ia merasa sangat
kagum baik terhadap sifatmu maupun kepandaian silat yang Siauw heng miliki. Arti dari
perkataannya ini ada maksud hendak mengangkat diri Siauw heng tinggi-tinggi.”
“Urusan apa?” tanya Siauw Ling kebingungan.

“Toa Cungcu kami merasa bakat Siauw Heng-sangat bagus sekali dan merupakan
seorang manusia aneh yang sukar ditemui selama ratusan tahun ini,” sambung Ciu Cau
Liong lebih lanjut. “Karena itu ia ada maksud untuk mengangkat saudara dengan dirimu
entah bagaimana maksud dari Siauw heng sendiri?”
Siauw Ling yang mendengar perkataan itu jadi melengak dibuatnya.
“Soal ini bagaimana mungkin siauwte berani menerimanya, kedudukanku tidak bisa
dibandingkan dengan kalian berdua aku tidak lebih cuma seorang pemuda yang baru saja
tamatkan pelajaran,” katanya.
“Tempo dulu Kwan Thio Kauw angkat saudara dan bersama-sama merasakan
penderitaan, mencicipi kebahagiaan sehingga menjadi pujian dan buah tutur banyak orang
Siauwte tidak becus sudah tentu tidak ingin menandingi seperti mereka itu,” sambung Jie
Cungcu dengan cepat.
“Secara mendadak mereka berdua pergi memandang tinggi diriku entah apakah
maksud tujuannya?” pikir Siauw Ling diam-diam dalam hatinya. “Apakah sungguh
dikarenakan kepandaian silatku yang amat tinggi??”
Walaupun memperoleh pendidikan yang amat keras dari tiga orang manusia aneh,
tetapi sampai kini ia masih belum mengerti sampai tingkat manakah ilmu silat yang
dimilikinya ini dan dirinya dianggap jagoan kelas berapa bilamana berkenalan di dalam
dunia kangouw??
Ciu Cau Liong mendadak mengulapkan dan menarik lepas horden kuning yang berada
disebelah timur itu.
Maka tampaklah lukisan pemandangan sewaktu Lauw Kauw serta Thio angkat saudara
dikebun Tauw Yen tertempel di atas dinding di depan lukisan tersebut tersedialah sebuah
meja sembahyang yang diatasnya sudah disiapkan empat macam buah-buahan serta
semangkokan besar arak, dua buah lilin berwarna merah berdiri dikedua belah sisi lukisan.
Kelihatannya asalkan Siauw Ling sudah menyetujui mereka segera akan dilakukan
sembahyang untuk mengangkat saudara.
Sepasang mata Ciu Cau Liong tanpa berkedip, ujarnya kembali perlahan-lahan, “Apakah
Siauw heng suka memandang wajah kami bersaudara? harap kau orang suka memberi
jawaban yang jelas.”
“Tentang soal ini biarlah siauwte berpikir sebentar kemudian baru bisa memberikan
jawaban,” ujar Siauw Ling setelah termenung sebentar.
Air muka Jan Pek Hong segera berubah hebat.
“Peristiwa mengangkat saudara semacam ini bagaimana boleh terlalu dipaksakan?”
serunya keras. “Bilamana Siauw heng tidak suka angkat saudara dengan kita sudahlah.”
Situasi diruangan tersebut pada saat ini benar-benar serba susah, empat buah sinar
mata yang amat tajam dari Jan Bok Hong serta Ciu Cau Liong bersama-sama dialihkan
keatas tubuh Siauw Ling.

Dari sinar mata Ciu Cau Liong secara samar-samar kelihatan mengandung maksud
memohon yang amat sangat, sebaliknya air muka Jan Bok Hong sangat tawar sehingga
sulit buat orang lain untuk mengetahui bagaimanakah maksud hatinya.
Siauw Ling mendehem perlahan, akhirnya ia bangun berdiri.
“Kalian berdua bisa memandang begitu tinggi terhadap siauwte bilamana aku tolak hal
ini tentu kurang pantas,” ujarnya.
“Jadi Siauw heng sudah menyetujui?” seru Ciu Cau Liong kegirangan.
“siauwte tidak mengerti banyak urusan dikemudian hari masih menghadapkan saudara
berdua suka banyak memberi petunjuk” sahut pemuda itu samnil mengangguk.
Usianya yang masih muda ditambah pula pengalamannya yang amat cetek, sekalipun
dalam hati ia merasa munculnya urusan ini terlalu mendadak sehingga sulit bagi dirinya
untuk menghadapi di dalam keadaan serba salah akhirnya ia menerima juga.
Di atas air muka Jan Bok Hong yang amat tawar mulai terlintaslah satu senyuman.
“Siauw heng harap suka berlega hati,” katanya cepat. “Setelah kita mengangkat
saudara mulai saat ini juga diantara kita akan saling bantu membantu atau bersama
bilamana saudara membutuhkan akan adanya tenaga kami berdua, hendak pergi keair
kami segera berangkat keair mau keapi kita lantas menerjang api.”
Perlahan-lahan berjalan ketepi meja sembahyang tersebut dan menepuk tangannya dua
kali.
Tampaklah pintu rahasia di atas dinding segera terbuka dan muncullah dua orang gadis
berbaju halus yang langsung menyulut lilin itu kemudian mengundurkan dirinya kembali.
Pertama-tama Jan Bok Hong lah yang maju membakar hio tersebut disebuah tempat
abu yang terbuat dari emas kemudian menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.
“Jan Bok Hong tahun ini empat puluh delapan tahun ini hari bersama-sama dengan Ciu
Cau Liong serta Siauw Ling mengatakan saudara mulai saat ini kita akan saling bantu
membantu di dalam kesusahan mati hidup bersama-sama bilamana ada yang berhati
nyeleweng maka ia akan memperoleh akhir yang sekarat” katanya.
Setelah itu ia baru bangun berdiri mengambil pisau belati sudah tersedia di atas meja
dan merobek jari tangannya sendiri.
Darah segar segera menetes keluar jatuh di dalam cawan yang berisikan arak.
Ciu Cau Liong serta Siauw Ling pun lantas menggunakan cara yang sama masingmasing
mengangkat sumpah di depan lukisan Lauw Kwan serta Thio itu kemudian
meneteskan darah di dalam cawan arak.
Menanti semuanya sudah selesai Jan Bok Hong baru mengangkat cawan arak tersebut
masing-masing menegur satu tegukan.

Dua orang gadis yang berwajah cantik buru-buru berjalan keluar lagi membereskan
meja sembahyangan tersebut menurun lukisan serta hordeng kuning kemudian
mengundurkan dirinya kembali dari sana.
Agaknya Jan Bok Hong itu Cungcu dari perkampungan Pek Hoa Sanceng merasa sangat
gembira sekali.
“Siauwte,” ujarnya kemudian sambil tersenyum. “Mulai sekarang kita adalah saudarasaudara
angkat yang mati hidup bersama-sama bilamana kau mempunyai urusan yang
terasa amat menyulitkan dirimu katakan saja secara terus terang…”
Mendadak Siauw Ling teringat kembali akan diri Gak Siauw-cha, enci Gak nya.
“Saat ini Siauwte memang mempunyai suatu urusan yang menyulitkan entah dapatkah
Toako memberi bantuan?”
“Urusan apa? Asalkan Toako mu melakukan sudah tentu akan kubantu dengan sepenuh
tenaga.”
“Sebenarnya bukan suatu urusan yang amat penting. Aku cuma ingin mencari tahu
jejak dua orang” kata Siauw Ling tertawa.
“Siapa?” tanya Ciu Liong sambil tersenyum pula, “Coba kau sebutkan namanya, biar
Toako uruskan pekerjaanmu ini.”
Orang ini pandai berbicara dan pintar sekali mencari hati hal ini membuat setiap orang
yang dimadu olehnya tentu merasa kegirangan.
“Aku ingin mencari Tiong Cho Siang-ku!”
Menurut ingatannya di dalam kolong langit pada saat ini hanya Tiong Cho Siang-ku dua
orang saja yang mengetahui jejak dari Gak Siauw-cha maka ia harus menemukan terlebih
dahulu diri Tiong Cho Siang-ku.
Lama sekali Jan Bok Hong termenung akhirnya jawabannya pula dengan perlahan,
“Lima tahun berselang secara mendadak Tiong Cho Siang-ku lenyap dari dunia persilatan
dan sejak itu jejaknya lenyap tak berbekas kebanyakan orang-orang kangouw
menganggap dirinya sudah mati atau disebabkan harta kekayaan mereka sudah banyak
lantas mengundurkan diri dari keramaian dunia tetapi mereka tal bakal berhasil lolos dari
penglihatan Siauw heng yang tajam bukan saja mereka berdua belum mati bahkan bukan
sedang mengasingkan dirinya dari keramaian dunia.”
“Mereka tetap bergerak dan berkelana di dalam dunia kangouw cuma saja wajah
mereka sudah dirubah sedemikian rupa sehingga tak seorang manusiapun yang mengenali
mereka kembali.”
“Tiong Cho Siang-ku adalah manusia-manusia jagoan yang telah mempunyai nama
besar sejak puluhan tahun yang lalu,” sambung Ciu Cau Liong dari samping. “Mengapa
mereka tidak suka berkelana di dalam dunia kangouw dengan wajah dan kedudukan
mereka yang sebenarnya, sebaliknya menutupi asal usulnya sendiri dan berusaha
melenyapkan jejaknya di dalam dunia kangouw?”

“Haaa… haaa… kedua orang ini terlalu rakus dengan harta kekayaan, dan biasanya
paling suka menggunakan cara menipu yang paling halus untuk membohongi barang
berharga milik orang lain. Harta kekayaan mereka yang berhasil dikumpulkan saking
banyaknya sehingga tak habis dipakai untuk tujuh turunannya, ada pepatah mengatakan
sungai dan gunung mudah diubah, sifat pribadi mudah diubah asalkan mereka berdua
sehari hidup dikolong langit sudah tentu pekerjaan itupun tidak pernah dihentikan kini
sengaja mereka menyembunyikan asal usul dan bergerak di dalam dunia kangouw. Hal ini
tentunya sedang mencari sesuatu benda? Atau mungkin karena sudah menderita kerugian
yang amat besar sehingga merusak nama baik mereka merasa malu untuk tancapkan
kembali dirinya di dalam Bulim maka kedua orang itu terpaksa menggunakan cara
menyaru untuk menutupi wajah aslinya, lalu secara diam-diam melakukan perjalanan di
dalam dunia kangouw untuk menyelidiki jejak musuhnya.”
“Tiong Cho Siang-ku dengan pihak perkampungan Pek Hoa Sanceng kita apakah
mempunyai hubungan?” tanya Cung Cau Liong.
“Tempo dulu kita sih pernah berjumpa satu kali tetapi disebabkan jalan yang diambil
antara kita adalah berbeda maka selama ini air sumur tidak mengganggu air kali.”
“Toako, lalu tahukah kau orang pada saat ini Tiong Cho Siang-ku berada dimana?”
sambung Siauw Ling dari samping.
Perlahan-lahan Jan Bok Hong menghela napas panjang.
“Selama dua tahun ini aku selalu berada di atas loteng Wang Hoa Loo untuk
menyembuhkan sakitku, sehingga belum pernah meninggalkan perkampungan Pek Hoa
Sanceng barang selangkahpun. Hal ini sudah tentu membuat aku merasa sulit untuk
mengetahui jejak dari Tiong Cho Siang-ku pada saat ini, tetapi Siauw heng akan berusaha
keras untuk mencari jejak mereka sehingga tidak sampai membuat aku orang kecewa.”
Dalam hati Siauw Ling benar-benar dibuat terharu oleh kata-kata tersebut.
“Terima kasih Toako.”
Jan Bok Hong segera goyangkan tangannya mencegah Siauw Ling melanjutkan katakatanya.
“Siauwte?” sambungnya kembali, “Sebentar ada urusan apakah sehingga kau merasa
begitu tergesa-gesa untuk mendapatkan Tiong Cho Siang-ku?”
“Urusan ini menyangkut keselamatan dari enci Gak beserta anak kunci Cing Kong Ci
Yau tersebut” pikir Siauw Ling dihati. “Lebih baik aku jangan beritahukan urusan ini secara
terang.”
Tetapi ia tidak bisa berbohong oleh karenanya walaupun sudah termenung sangat lama
tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar.
Terdengar Jan Bok Hong tertawa ringan.
“Bilamana siauwte merasa tidak leluasa untuk memberitahukan urusan ini, tidak
usahlah kau ucapkan?” katanya, “Siauw heng berusaha keras untuk bantu menyelidiki
jejak dari Tiong Cho Siang-ku tersebut di dalam lima hari aku pasti akan memberi kabar.”

“Kalian turunlah dari loteng akupun harus bersemedi kembali…”
Ciu Cau Liong dan Siauw Ling buru-buru bangun berdiri untuk mohon pamit setelah
meninggalkan loteng Wang Hoa Loo Jie Cungcu ini langsung menghantarkan Siauw Ling
kembali kebangunan Lan Hoa Ling si terlebih dulu kemudian baru mohon diei.
Sekembalinya ke dalam kamar Siauw Ling lantas jatuhkan diri berbaring di atas
pembaringan, semakin dipikir ia merasa keadaan di sekeliling tempat ini semakin tidak
benar diam-diam ia mulai memaki dirinya sendiri.
“Perkampungan Pek Hoa Lan cung yang seram bagaikan sarang naga gu8a macan ini
agaknya terkandung suatu keadaan yang sangat misterius sekali sebelum dirimu
mengetahui jelas sifat dari Jan Bok Hong serta Ciu Cau Liong bagaimana mungkin boleh
angkat saudara seenaknya dengan mereka? kini urusan sudah nyata bilamana dikemudian
hari kau menemukan kedua orang saudara angkatmu adalah manusia-manusia jahat
bukankah dirimu akan melanggar kata-kata sumpah yang pernah kau ucapkan.”
Tetapi teringat pula sikap mereka berdua yang amat baik sekali terhadap dirinya di
dalam keadaan semacam itu bilamana ia menolak hal ini benar membuat kedua orang itu
akan merasa malu turun dari panggung.
Kedua buah persoalan yang saling terbentur satu sama lainnya ini dengan tiada
hentinya berkelebat di dalam benak. Sebenarnya ia tidak ingin memikirkan urusan
tersebut, tetapi semakin berusaha dibuang dari pikirannya persoalan itu semakin
berkelebat dengan amat nyata di dalam benaknya.
Giok Lan dan Kiem Lan berdiri dipojokan ruangan dengan bungkamkan diri melihat
pemuda itu sedang termenung berpikir keras seperti ada sesuatu yang sedang
membingungkan hatinya, mereka tidak berani mengganggu secara diam-diam kedua
dayang itu lantas mengundurkan dirinya dari dalam ruangan.
Peristiwa di atas loteng rumah makan dikota Koe Cho dimana sifat So Sin Liong Toan
Bok Ceng melakukan pembokongan terhadap diri Ciu Cau Liong kembali terbayang di
dalam benaknya sikap yang amat dingin dari gadis tersebut, sebelum pergi sinar matanya
yang mengandung kebencian serta wajahnya yang amat gusar benar-benar tertera
dengan nyata di dalam hatinya.
“Masih ada lagi sipendekar pincang Ciang Toa Hay beberapa orang agaknya merekapun
bukan manusia-manusia jahat, tetapi mengapa sudah mengikat dendam sedalam lautan
dengan perkampungan Pek Hoa Sanceng?”
Beberapa buah persoalan yang sangat membingungkan ini segera berubah jadi rasa
curiga yang semakin menebal.
Selagi dia berpikir keras itulah mendadak pintu kamar terbuka disusul munculnya Tang
Sam Kauw dari luar.
Buru-buru Siauw Ling meloncat bangun dari atas pembaringan.
“Kamar tidur ini tidak bisa ditinggali bagaimana kalau kita bicara diruangan depan
saja?” katanya.

Tang Sam Kauw lantas menggeleng dan tersenyum.
“Buat apa kau orang menggunakan banyak adat yang tidak sedap didengar maupun
dipandang itu!” serunya. “Diruangan dalam atau ruangan muka bukankah sama saja.”
Walaupun pada luaran ia berkata demikian tetapi tubuhnya menurut saja
mengundurkan diri dari kamar tidur tadi.
Siauw Lingpun segera ikut berjalan dari kamar menuju keruangan depan.
“Eeei… tadi kau pergi keloteng Wang Hoa Loo?” tanya Tang Sam Kauw kemudian
memecahkan kesunyian.
“Benar! bagaimana kau bisa tahu? Apakah Giok Lan serta Kiem Lan yang
memberitahukan hal ini kepadamu?”
Tang Sam Kauw segera menggeleng.
“Mereka tidak akan berbicara, tadi dengan mata kepalaku sendiri aku melihat kau naik
keloteng Wang Hoa Loo entah apakah maksud Jan Toa Cungcu mengundang kau kesana?”
katanya.
“Di atas loteng Wang Hoa Loo itu mereka sudah menyediakan meja sembahyang dan
minta aku suka mengangkat saudara dengan mereka,” sahut Siauw ling setelah
termenung sebentar.
Di atas paras muka Tang Sam Kauw segera terlintaslah suatu perubahan yang sulit
untuk dilukiskan, entah hatinya sedang merasa girang ataukah sedang murung.
Lama sekali akhirnya ia baru menghela napas.
“Sudah kau setujui belum?”
“Mereka terus menerus mendesak aku untuk menerima, terpaksa aku tak dapat
menampik ajakan yang datangnya bertubi-tubi itu.”
“Jadi kau sudah menyetujuinya?”
“Benar!”
“Tahukah kau bahwa di dalam dunia kangouw paling memandang tinggi soal tingkatan?
hubungan antara guru dan murid sama-sama hubungan antara ayah dan anak, kau sudah
angkat saudara dengan mereka hal ini berarti pula selama hidup kau harus menghormati
dan mendengar setiap perkataan dari toako-toakomu! kini kau sudah angkat saudara
dengan Jan Toa Cungcu serta Ciu Jie Cungcu maka hal ini berarti pula bahwa sejak hari ini
setiap perkataan serta perintahnya harus kau lakukan dengan sepenuh tenaga.”
Siauw Ling yang di dalam hatinya sedang diliputi oleh perasaan curiga yang semakin
menebal akhirnya tak bisa menahan diri lagi, ia menghela napas panjang.

“Bilamana pekerjaan yang mereka perintahkan aku untuk berbuat bukan suatu
pekerjaan yang baik aku bisa menolak dan menyuruh mereka tarik kembali perintah
tersebut” katanya.
Sinar mata Tang Sam Kauw berkilat, setelah memandang sekejap keempat penjuru
ujarnya mendadak, “Jikalau kau disuruh pergi membinasakan seseorang apakah kau akan
menurut perintah?”
“Soal itu tergantung orang yang hendak dibunuh itu orang baik ataukah orang jahat
bilamana orang itu adalah seorang manusia jahanam yang banyak melakukan kejahatan
dan membunuh dirinya berarti pula melenyapkan bencana buat semua orang, mengapa
tidak kau lakukan?”
“Lalu bila dia seorang baik” bisik Tang Sam Kauw kembali dengan lirih.
Siauw Ling jadi melengak untuk sesaat lamanya pemuda ini merasa tak sanggup untuk
menjawab pertanyaan ini sebelum ini di dalam hatinya belum pernah sekalipun untuk
memikirkan urusan ini, oleh sebab itu setelah mendengar pertanyaan tadi ia jadi
gelagapan.
“Bilamana kau tidak tahu bahwa dia adalah seorang baik atau seorang jahat? lalu apa
yang hendak kau lakukan?” sambung Tang Sam Kauw lebih lanjut.
Siauw Ling merasakan hatinya berdebar-debar semakin keras ia tetap sanggup untuk
memberi jawaban.
Tang Sam Kauw tersenyum.
“Kita adalah orang sudah saling mengenal dan saling berkawan. Coba kau lihat aku
adalah orang baik ataukah orang jahat” katanya lagi.
“Cayhe belum lama berkawan dengan nona karena itu tak berani berbicara
sembarangan.”
“Jika semisalnya saat ini kedua orang saudara angkatmu memerintahkan kepadamu
bahwa di dalam satu jam mendatang kau harus berhasil mendapatkan batok kepalaku,
apa yang hendak kau lakukan?” sekali lagi gadis tersebut mendesak dengan
pertanyaannya.
“Soal ini belum pernah cayhe pikirkan selama ini……” mendadak Tang Sam Kauw
bangun berdiri dan berjalan bolak balik di dalam ruangan sinar matanya tiada hentinya
berputar menyapu kesekeliling tempat itu agaknya ia hendak meminjam kesempatan
sewaktu berjalan bolak balik mengawasi keadaan di sekelilingnya apakah ada orang yang
sedang mencuri dengar atau tidak.
************http://ecersildejavu.wordpress.com/***************
Sejak semula di dalam hati Siauw Ling memang sudah tersembunyi perasaan curiga
yang semakin menebal saat ini hatinya benar-benar terpukul. Ia tak dapat menahan sabar
lagi dan secara mendadak bangun berdiri.
“Biar aku tanyakan urusan ini hingga jelas” serunya.

“Eeeei… tak bisa jadi? Apa yang hendak kau tanyakan kepada mereka?” seru Tang Sam
Kauw cemas.
Mendadak menempelkan jari tangannya keatas bibir lalu bisiknya lirih, “Sttt…! Ada
orang datang, cepat duduk.”
Iapun cepat-cepat mengambil tempat duduknya semula.
Ketika Siauw Ling mendongakkan kepalanya, maka tampaklah segerombolan lelaki
kasar yang berpakaian singsat lima warna dengan langkah tegap berjalan ke arah
bangunan Lan Hoa Cing Si tersebut.
Beberapa orang itu pada menggembol senjata tajam semua agaknya mereka hendak
melakukan suatu perjalanan yang sangat jauh.
Melihat kejadian itu Siauw Ling merasakan hatinya kebingungan, tak tertebak olehnya
apakah maksud tujuan orang-orang itu mendatangi bangunan Lan Hoa Cing Si nya ini.
Tampaklah lelaki-lelaki kasar berpakaian singsat yang terbagi menjadi lima warna itu
menghentikan langkahnya di depan bangunan Lan Hoa Cing Si tersebut. Setelah berbaris
menjadi lima bagian dengan masing-masing bagian terdiri dari lima orang, jadi lima kali
lima dua puluh lima orang dengan dipimpin oelh rombongan yang pertama melanjutkan
perjalanannya kembali ke arah ruangan yang ditinggalkan Siauw Ling.
Ketika itu Siauw Ling sedang merasakan hatinya sangat murung ia lantas menoleh dan
memandang sekejap ke arah Tang Sam Kauw.
“Eeeei coba kau lihat apakah maksud tujuan orang-orang itu datang kemari??”
“Kau tidak usah merasa begitu tegang, yang pasti mereka bukan datang kemari untuk
menangkap kau, buat apa kau merasa cemas? duduklah dulu dan dengarkan apa yang
hendak mereka katakan kepadamu?”
“Eeehm…! perkataan ini sedikitpun tidak salah” pikir Siauw Ling kemudian. “Dengarkan
dulu apa yang hendak mereka katakan kemudian baru memikirkan satu cara untuk
menghadapi mereka!”
Karenanya iapun lantas duduk keatas kursi untuk menanti.
Kelima rombongan lelaki kasar dengan lima warna yang berbeda itu setelah tiba di
depan pintu ruangan Lan Hoa Cing Si lantas berdiri berjajar dengan sikap yang sangat
menghormat.
Si lelaki berbaju merah yang berada dipaling depan perlahan-lahan melangkah masuk
ke dalam ruangan dari tempat kejauhan ia sudah menjura memberi hormat.
“Hamba sekalian mendapat perintah datang kemari untuk melaporkan diri dari pada
Sam ya!” katanya.
“Ada urusan apa?” seru Siauw Ling melengak.

“Kami sekalian menerima peritah untuk sejak ini mengikuti diri Sam ya terus dan
menerima serta melaksanakan setiap perintah yang diucapkan Sam ya.”
“Seumur hidup mengikuti aku terus? Apa sebabnya?” pikir pemuda itu jadi keheranan.
Buru-buru tanyanya kembali.
“Kalian menerima perintah siapa untuk datang kemari?”
“Jie Cungcu menyampaikan perintah dari Toa Cungcu agar hamba sekalian suka datang
menghadap Sam Cungcu.”
Siauw Ling benar-benar merasa rada kebingungan dibuatnya oleh kejadian ini, ia
melirik sekejap ke arah Tang Sam kauw kemudian baru ulapkan tangannya.
“Kalian mundurlah dulu setelah bertemu dengan Jie Cungcu aku baru mengambil
keputusan kembali,” katanya.
Si lelaki berbaju merah itu segera mengia dan mengundurkan diri setelah menutup
pintu luar, mereka mengundurkan diri dari bangunan Lan Hoa Cing Si tersebut.
Menanti orang-orang yang memakai baju aneh warna itu telah pergi jauh Siauw Ling
baru menoleh ke arah Tang sam Kauw sambil bisiknya, “Nona Sam apakah maksud tujuan
orang itu??”
“Urusan sangat jelas sekali,” jawab gadis tersebut sembari tersenyum. “Kau sudah
menjadi Cungcu dari perkampungan Pek Hoa Sanceng ini sudah tentu kaupun harus
memiliki pengawal pribadi yang akan bekerja untukmu. Tadi aku sudah wakili dirimu untuk
memeriksakan beberapa orang itu orang-orang yang memakai pakaian aneh warna diluar
ruangan semuanya tidak jelek.”
“Apa yang tidak jelek?”
“Ilmu silat mereka berlima adalah jago-jago lihay yang memiliki tenaga kweekang
sangat dahsyat!”
Sambil bungkamkan diri Siauw Ling menundukkan kepalanya rendah-rendah, dalam
hari ia merasa sangat kebingungan sehingga untuk sesaat tidak tahu apa yang harus
dilakukan.
Tang Sam Kauw segera bangun berdiri dan berjalan kesisi tubuh Siauw Ling.
“Apakah kau merasa rada…”
Mendadak terdengar suara mendehem yang perlahan memutuskan perkataan Tang
Sam Kauw yang belum selesai itu.
Ketika ia mendongakkan kepalanya, tampaklah Kiem Lan tengah membawa cawan air
teh sudah berdiri di depan pintu, sepasang matanya sedang memandang diri Tang Sam
Kauw tajam, dari air mukanya jelas menunjukkan sikap permusuhannya terhadap gadis
tersebut.

Tang Sam Kauw pura-pura berlagak pilon ia tertawa tawar dan menyambung kembali
kata-katanya, “Bilamana kau merasa rada menyesal karena terlalu cepat menyanggupi
diriku, maka lebih baik kau tidak usah ikut aku lagi.”
Dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara ia manambahkan, “Eeei, budak
itu sudah menaruh perasaan curiga terhadap diriku, mari kita pura-pura berikut sebentar
agar dia tak berhasil untuk mendengarkan sesuatu dari mulut kita.”
Diam-diam dalam hati Siauw Ling merasa sangat keheranan, sewaktu untuk pertama
kalinya ia bertemu muka dengan Tang Sam Kauw terlihatlah olehnya sikap yang amat
congkak dari gadis tersebut bahkan terhadap Ciu Cau Liong pun tidak memandang sebelah
matapun.
Tetapi sejak pertempurannya dengan sibayangan berdarah Jan Bok Hong sikapnya
mendadak berkurang beberapa bagian, agaknya secara mendadak ia menaruh rasa jeri
terhadap orang-orang perkampungan Pek Hoa Sanceng ini.
Terlihatlah dengan langkah yang lemah gemulai Kiem Lan berjalan masuk ke dalam
ruangan.
“Samya mau minum teh?” tanyanya perlahan.
“Aaaakh haa bagus sekali?” seru pemuda itu di dalam hatinya “Ternyata seluruh
anggota perkumpulan Pek Hoa Sanceng ini dari atas sampai ke bawah sudah mengetahui
peristiwa dimana aku telah mengangkat saudara dengan Cungcu mereka.”
“Eeeei mengapa kaupun memanggil aku dengan sebutan Samya?” tegurnya kemudian
sambil menerima cawan air teh itu.
“Semua orang yang berada di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng sudah pada
mengetahui peristiwa dimana Siauw ya sudah angkat saudara dengan Cungcu dari
perkampungan Pek Hoa Sanceng kami,” kata Kie Lan sambil tertawa.
Siauw Ling segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, belum sempat ia membuka mulut
Kiem Lan sidayang cantik itu sudah menyambung kembali, “Jie ya sudah mengirim Kiem
Hoa Leng atau perintah bunga emas untuk menyiarkan peristiwa ini kepada semua orang
perkampungan Pek Hoa Sanceng, kami akan mengadakan suatu pesta besar-besaran
dengan mengundang seluruh jagoan berkepandaian tinggi dari Bulim untuk memberi
selamat kepada Siauw ya atas pengangkatannya menjadi Sam Cungcu kami.”
“Tapi peristiwa ini buat apa harus dirayakan?” tanya Siauw Ling keheranan.
“Haa… haa… haaa peristiwa yang demikian besarnya ini mengapa tak harus dirayakan,”
mendadak dari tempat luaran berkumandang datang suara tertawa gelak yang amat
nyaring.
Dengan langkah lebar Ciu Cau Liong sudah berjalan masuk ke dalam ruangan.
Buru-buru Siauw Ling bangun berdiri untuk menyambut kedatangannya.
“Oouw Jie ko! Silahkan duduk, silahkan duduk!” serunya.

“Samte. Toako kami betul-betul menghargai dirimu!” seru Ciu Cau Liong sambil
tertawa. “Bukan saja perkampungan Pek Hoa Sanceng kita akan dihias untuk merayakan
peristiwa yang maha besar ini bahkan akan mengundang pula beberapa tokoh Bulim yang
sangat terkenal dikolong langit pada saat ini di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng
kita akan mengadakan suatu pertempuran para enghiong secara besar-besaran dengan
demikian nama Samte pun di dalam sekejap mata akan terkenal dan diketahui oleh setiap
Enghiong Hoohan yang ada di dalam Bulim.”
“Tapi apakah kesanggupan Siauwte sehingga Toako hendak mengadakan kesemuanya
ini?”
“Perintah dari Toako tak terbantahkan, kita yang menjadi adiknya terpaksa hanya
mengekor saja!” seru Ciu Cau Liong sambil tersenyum.
Sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke arah Tang Sam Kauw kemudian ujarnya,
“Nenek nona Sam pun ikut terdaftar sebagai tamu undangan kami!”
“Jan Toa Cungcu bisa menghargai keluarga Tang kami. Hal ini boleh dikata merupakan
kebanggaan keluarga kami.”
“Sampai waktunya masih mengharapkan nona Sam suka datang bersama-sama dengan
nenekmu untuk menghadiri perayaan tersebut” tambah Ji Cungcu kembali sambil tertawa
hambar.
“Jadi Ciu heng sedang mengusir cayhe dari sini!” seru Tang Sam Kauw sambil tertawa
sinis.
“Aaah mana, mana nona Sam terlalu banyak pikir.”
“Kalian kakak beradik kemungkinan ada urusan yang hendak dirundingkan aku mohon
diri dulu!”
“Kalau begitu cayhe menghantar lagi,” sambung Ciu Cau Liong dengan cepat sambil
menjura.
“Hmm, mana berani merepotkan dirimu.”
Dengan langkah cepat dan perasaan gemas gadis tersebut lantas berlalu dari ruangan
Lan Hoa Cing Si.
Menanti bayangan dari Tang Sam Kauw sudah lenyap dari pandangan Ciu Cau Liong
baru mengambil tempat duduk kembali.
“Samte,” ujarnya sambil tertawa, “Tempo dulu dikarenakan Toako harus mempelajari
semacam ilmu silat yang amat dahsyat secara tidak beruntung ia sudah mengalami jalan
api menuju neraka sehingga terpaksa harus mengundurkan diri dari keramaian dunia
kangouw, hingga kini sudah ada tujuh tahun lamanya pada waktu ini agaknya penyakit
tersebut sudah sembuh sedang kepandaian silat yang dilatihnyapun telah mencapai
kesempurnaan, kini memperoleh pula bantuan dari Samte. Hal ini boleh dikata merupakan
suatu peristiwa besar yang patut dirayakan oleh semua orang terutama kita sebagai
anggota perkampungan Pek Hoa Sanceng.”

“Kepandaian silat Toako berhasil mencapai kesempurnaan hal ini boleh dianggap
sebagai suatu peristiwa yang menggembirakan tetapi ikut sertanya siauwte ke dalam
keanggotaan perkampungan Pek Hoa Sanceng boleh dianggap sebagai peristiwa macam
apa?”
“Samte jangan terlalu memandang rendah kepandaian silatmu sendiri!” seru Jie Cungcu
cepat. “Dikolong langit pada saat ini boleh dikata amat sulit untuk memperoleh beberapa
orang musuh yang datang menandingi.”
Mendadak terdengar suara langkah manusia yang amat gaduh berkumandang datang
disusul munculnya seorang lelaki kasar berbaju merah dengan membimbing seornag lelaki
berbaju hitam berlari masuk ke dalam bangunan Lan Hoa Cing Si.
Si orang berbaju merah itu tidak berani langsung menerjang masuk ke dalam ruangan
sebaliknya sambil mencekal tubuh lelaki berbaju hitam itu berdiri menanti di depan pintu.
“Jie Cungcu serta Sam Cungcu ada di dalam ruangan semua kau masuklah sendiri,”
ujar orang itu kepada lelaki berbaju hitam tersebut.
Lelaki berbaju hitam itu bagaikan seornag yang dimabok oleh air kata-kata dengan
sempoyongan menerjang masuk ke dalam ruangan.
Siauw Ling segera bangun berdiri sedikit pundaknya bergerak tahu-tahu tubuhnya
sudah tiba di depan pintu sambil membimbing tubuh lelaki berbaju hitam itu.
Ketika matanya memandang lebih tajam ke arahnya maka tampaklah lambang orang
itu sudah terbacok sangat lebar dengan darah yang sudah membeku. Agaknya luka
tersebut sudah agak lama dan melalui sesuatu perjalanan yang sangat jauh sehingga
kesadarannya pada saat ini rada berkurang.
Selama ini Ciu Cau Liong tetap duduk tak bergerak dari tempatnya semula.
“Samte! lepaskan dirinya agar ia bisa beristirahat sebentar” sahutnya dengan nada
berat.
“Tapi luka orang ini amat parah sekali agaknya sulit untuk pulih sedia kala,” ujar Siauw
Ling dengan cemas.
Telapak tangan kanannya segera ditempelkan keatas punggung orang itu, segulung
tenaga panas yang amat kuat dengan cepat mengalir masuk melalui jalan darah “Ming
Bun Hiat” nya.
Setelah memperoleh bantuan tenaga kweekang yang amat kuat dari Siauw Ling
sehingga membantu melancarkan peredaran di dalam tubuhnya, wajah yang semula pucat
perlahan-lahan berubah memerah kembali sedang kesadarannya pun sudah mulai pulih.
Dengan membelalakan matanya lebar-lebar orang itu memandang Ciu Cau Liong tajamtajam,
bibirnya bergerak beberapa saat lamanya, terakhir ia baru bisa berseru, “Jie
Cungcu!”
“Ehmm! kau sudah terluka?” seru Ciu Cau Liong dengan nada dingin, seram, air
mukanya sangat serius.

Agaknya orang berbaju hitam itu sudah merasa rada sulit untuk berbicara, bibirnya
bergerak beberapa saat lamanya tetapi tak sepatah katapun yang diucapkan.
Akhirnya dengan susah payah keluar juga beberapa patah kata, “See sewaktu aaaa
daaa ada ditepi… sungai hamba kena ditusuk orang sehingga terluka parah.”
“Aku sudah tahu kalau lukamu sangat parah sehingga sulit untuk diselamatkan
nyawanya, cepat ceritakan apa yang sudah menimpa dirimu,” potong Ciu Cau Liong
dengan cepat.
“Orang itu bertanya kepadaku aaaa apakah aku adalah ornag perkampungan Pek Hoa
Sanceng lalu ia bertanya pula Toa Cungcu kita apakah benar sibayangan berdarah Jan Bok
Hong.”
“Hmm, apakah kau sudah beritahukan hal ini kepadanya.”
“Hamba masih ingat dnegan berapa peraturan perkampungan Pek Hoa Sanceng itu
sekalipun menemui siksaan yang bagaimana beratnyapun tiii tidak akan men menceritakan
keadaan dari perr perkampungan kiii kita.”
“Ehmm bagus sekali lanjutkan kisahmu,” ujar Ciu Cau Liong mengangguk.
“Daaa dalam hati hamba mee merasa gusar karena perkataannya yang tidak tahu
sopan maka hamba lantas memakai beberapa paaa patah kata kepadanya siapa tahu
orang itu lantas mencabut keluar pedangnya dan menuduk lambungku.”
“Hmm memangnya kau orang mati?? kenapa kau biarkan badanmu ditusuk olehnya?”
“Gerakan pedangnya terrr terlalu cepat seee sehingga membuat orang sulit
mengadakan persiapan. Aku cuma merasakan cahaya peee pedang berkelebat lewat tahutahu
lambungku suu sudah tertusuk.”
Mendengar perkataan tersebut sampai disana air muka Ciu Cau Liong segera berubah
hebat.
“Dia cuma melancarkan satu serangan saja kau lantas kena dilukai?” tanyanya.
“Tidak saam sampai satu jurus, hamba cuu cuma melihat tangan kanannya mencekal
gagang pedang diii diikuti berkelebatnya cahaya tajam, hamba lantas terluka sebelum
berhasil melihat secara bagaimana ia menyambut pedangnya itu.”
“Lalu apakah kau masih ingat dengan raut mukanya?”
“Raut mukanya yang benar ham hamba sudah tidak ingat lagi haa hanya usianya
sangat muda gerakan pedangnya sangat cee cepat.”
Ketika berbicara sampai disitu ucapannya sudah tidak jelas lagi. Yang kedengaran saat
ini cuma suara huuhuu haahaa yang tidak diketahui maksudnya.

Mendadak Ciu Cau Liong meloncat bangun dan menyambar cangkir teh yang ada
disisinya, dimana tangannya mengayun air teh tersebut segera disiramkan keatas wajah si
orang berbaju hitam itu.
“Siapakah nama orang itu? Apakah kau tahu?” bentaknya keras.
Setelah terguyur oleh air teh tadi, kesadaran si orang berbaju hitam itupun jadi sedikit
tersadar.
“Hamba kuu kurang jelas aaa agaknya bernama Siauw Siauw Ling.”
“Ia bernama Siauw Ling?” teriak Siauw Ling dengan perasaan tertegun.
Tampak tubuh si orang berbaju hitam itu gemetar sangat keras, matanya dipejamkan
dan menghembuskan napas yang terakhir.
Air muka Ciu Cau Liong amat serius sedikit menunjukkan perasaan terharu.
“Samte, lepaskan dirinya ia sudah mati,” katanya.
Perlahan-lahan Siauw Ling meletakkan mayat si orang berbaju hitam itu keatas tanah
setelah mengusap butiran keringat yang membasahi kening ujarnya, “Bilamana Jie ko
bukannya bertanya terlalu cepat sehingga tidak memberi kesempatan baginya untuk
mengatur pernapasan dengan bantuan hawa murni yang siauwte salurkan ke dalam
badannya tadi ada kemungkinan orang ini masih tertolong atau paling sedikit tidak mati
dengan sedemikian cepatnya, dengan begitu kitapun bisa mengetahui urusan yang lebih
banyak lagi.”
“Haaa… haaa… haaa…. setelah ia menderita luka parah dan melakukan perjalanan
jauh, darah di dalam badannya sudah banyak berkurang kesempatan untuk hidupnya
sangat tipis sekali bilamana semisalnya kita tak berhasil menolong nyawanya bukankah
beberapa perkataan tadi tidak berhasil kita ketahui??” ujar Ciu Cau Liong tertawa tergelak.
Mendengar perkataan terebut Siauw Ling terpaksa membungkam, sedang dalam hati
pikirnya, “Saudara angkatku ini kelihatan halus berbudi dan terpelajar, mengapa hatinya
sedemikian kejam dan telengasnya?? cuma ingin mengetahui beberapa patah perkataan
saja sudah tidak sayang-sayangnya mengorbankan nyawa orang itu.”
“Haaa… haaa… haaa bagaimana,” mendadak terdengar suara tertawa yang amat keras
dari Ciu Cau Liong berkumandang masuk ke dalam telinganya. “Apakah Samte merasa
tindakanku terlalu kejam dan telengas…”
Ia merandek sebentar kemudian sambungnya kembali, “Heee…! Samte orang-orang di
dalam dunia kangouw yang bertujuan mencari nama serta pahala kebanyakan tentu
memiliki sifat kejam dan telengas.”
“Ada pepatah mengatakan bernyali kecil bukan orang budiman tidak bersifat kejam
bukan lelaki sejati kata-kata nyali dan kejam masing-masing mempunyai arti yang sangat
mendalam. Hal ini tergantung cara penggunaan dari setiap kepandaiannya masingmasing.”

“Heee, Jieko siauwte ada beberapa patah kata yang terasa menganjal di dalam
tenggorokan bila tak diucapkan keluar rasanya kurang enak” kata Siauw Ling sambil
menghela napas panjang.
“Oouw, silahkan Samte untuk mengucapkannya keluar, Siauw heng tentu akan pentang
telinga mendengarkan setiap perkataanmu itu.”
“Tadi Siauw Ling yang disebut orang berbaju hitam itu kemungkinan sekali adalah
Siauw Ling yang mempunyai nama sangat terkenal diseluruh Bulim.”
“Kalau begitu nama Siauw Lingmu itu adalah nama samaran yang sengaja kau pinjam
dari kepopulerannya?”
“Soal ini sih bukan, nama siauwte memang Siauw Ling, orang itupun bernama Siauw
Ling, entah apakah maksud hatinya?”
“Dikolong langit memang banyak orang yang mempunyai she serta nama yang sama
hal ini tidak terhitung suatu hal yang aneh Samte tak usah memikirkannya dihati.”
“Bukan begitu, aku ingin pergi mencari dirinya untuk menanyakan mengapa ia
menggunakan nama Siauw Ling ku ini!”
Ciu Cau Liong cuma tersenyum saja tidak menjawab.
“Siauwte ingin menengok ketepi sungai aku mau lihat apakah orang itu masih ada
disana atau tidak?” sambung Siauw Ling kembali.
“Kau tidak usah pergi kesana lagi, dia pasti ada disana.”
“Apakah kita biarkan ia berlalu dengan selamat setelah melukai orang kita?” seru Siauw
Ling kembali sambil melirik sekejap ke arah mayat si orang berbaju hitam itu.”
“Lalu maksud Samte?”
“Pergi cari orang itu dan minta pertanggungan jawabnya.”
“Ehmmm baiklah akan kuturuti pendapat dari Samte ini,” sahut Ciu Cau Liong kemudian
sesudah termenung beberapa saat lamanya.
Ia lantas bertepuk tangan nyaring si orang berbaju merah yang berdiri dengan
angkernya di depan pintu terburu-buru lari masuk ke dalam ruangan setelah memberi
hormat ia berdiri dengan sikap sangat menghormat.
“Mayat ini cepat seret keluar dari sini untuk dikuburkan setelah itu siapkan kuda buat
aku serta Samya?” ujar Ciu Cau Liong sambil menuding mayat si orang berbaju hitam itu.
Si orang berbaju merah itu menyahut, sambil membopong mayat orang itu ia lantas
mengundurkan diri dari sana.
“Jika, apakah kaupun hendak ikut?” tanya Siauw Ling kemudian.

“Kepandaian silat yang dimiliki Samte sudah amat dahsyat dan tiada tandingannya
dikolong langit cuma saja pengalamanmu di dalam dunia kangouw sangat cetek sehingga
masih sulit mengahdapi orang-orang licik, siauw heng memang ada maksud pergi
bersama-sama sehingga bilamana terjadi sesuatu bisa cepat kasih pertolongan.”
Ketika mereka berbicara sampai disitu, si orang berbaju merah tadi sudah balik lagi ke
dalam ruangan.
“Silahkan Cungcu berdua melakukan perjalanan,” katanya sambil menjura.
Gerak-gerik dari orang-orang perkampungan Pek Hoa Sanceng ini benar-benar amat
cepat sekali, diam-diam pikir Siauw Ling di dalam hati.
“Ia mana tahu kalau setiap urusan yang ada di dalam perkampungan ini khusus ada
orang yang mengurusinya, karena itu sekali beri perintah maka sebentar saja semua
urusan sudah beres.”
Ciu Cau Liong pertama-tama yang berjalan meninggalkan ruangan itu.
“Samte kau hendak menggunakan senjata apa?” tanyanya sambil tertawa. “di dalam
perkampungan kami sudah tersedia berbagai macam senjata, asalkan memberi perintah
mereka segera akan mempersiapkannya.”
“Siauwte menggunakan pedang.”
Ciu Cau Liong lantas mengulapkan tangannya kepada orang berbaju merah tadi.
“Siapkan sebilah pedang pusaka untuk Sam Cungcu!” perintahnya.
Orang berbaju merah tadi segera menyahut dan mengikuti jalan kecil di tengah kebun
ia berlari cepat ke depan.
Demikianlah dengan dipimpin Ciu Cau Liong Siauw Ling lantas berjalan melewati
tanaman bunga dan menuju keluar perkampungan Pek Hoa Sanceng tersebut.
Diluar pintu perkampungan ketika itu sudah berbaris puluhan orang lelaki berpakaian
singset yang pada menggembol senjata, melihat munculnya orang itu mereka lantas
memberi hormat dengan sangat hormatnya.
Perlahan-lahan Ciu Cau Liong mengulapkan tangannya, lima orang lelaki yang masingmasing
memakai pakaian berwarna merah, kuning, biru, putih serta hitam lantas maju
menyongsong memberi hormat, sikapnya sangat hormat.
“Samte,” ujar Ciu Cau Liong kemudian kepada Siauw Ling sambil tertawa. “Perduli
kepandaian silat, seseorang sangat lihaypun masih harus membutuhkan tenaga bantuan
orang lain. Kelima orang ini dengan memakai lima buah pakaian yang beraneka warna
menandakan kedudukan Ngo Heng, setiap rombongan lima orang jadi jumlah seluruhnya
lima puluh lima orang mereka semua merupakan pengawal-pengawal gagah perkasa
pilihan Toako yang sudah dipilih dengan susah payah, cuma saja selama ini belum pernah
munculkan dirinya di dalam dunia kangouw. Setelah Samte menggabungkan diri dengan
kami. Toako merasa sangat girang sekali, terus terang saja aku katakan selama ini belum
pernah siauwte melihat Toako merasa begitu gembiranya karena itu sengaja ia

menyerahkan kedua puluh lima orang itu untuk Samte pimpin dan sejak kini menjadi
pengawal pribadi bilamana kau bisa mengangkat nama dalam Bulim dengan mendapatkan
bantuan kedua puluh lima orang itu maka untuk menjagoi seluruh kolong langit rasanya
mudah sekali seperti membalik tangan sendiri.”
Belum sempat Siauw Ling mengucapkan sesuatu Ciu Cau Liong sudah menyambung
kembali kata-katanya, “Masih ada satu urusan yang belum Siauw heng sampaikan kepada
Samte perkampungan Pek Hoa Sanceng kami ini perduli lelaki maupun perempuan
semuanya bisa bermain silat walaupun Siauw lin sie disebut orang sebagai sumber segala
ilmu silat dan semua orang hweesionya yang pandai bermain silat, tetapi perkampungan
Pek Hoa Sanceng kita tak mau kalah dengan mereka.”
“Kiem Lan serta Giok Lan adalah manusia berpikiran cerdik dan berwajah cantik
diantara dayang-dayang lainnya kepandaian silat mereka paling baik, Toako sudah
menurunkan perintah untuk menyerahkan mereka berdua.”
“Sebagai dayang pribadi dari Samte, mungkin sekali Samtepun bisa melihat bagaimana
lumayannya kepandaian silat mereka, di samping itu merekapun banyak akal cerdik dan
pintar, dikemudian hari mereka bisa mengiringi Samte untuk bantu pecahkan persoalan,
menghilangkan kemurungan.”
Mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang ramai berkumandang datang disusul
munculnya seekor kuda jempolan yang tinggi besar berlari mendekat.
Di atas punggung kuda itu tertelungkuplah seorang lelaki berbaju hitam yang langsung
menerjang datang ke arah orang itu.
Ciu Cau Liong segera mengulapkan tangannya.
“Coba kalian periksa, apakah orang itu sudah putus nyawa atau belum.”
Jilid 20
Lelaki berbaju merah itu lantas putar badan menyongsong datangnya kuda itu.
Dimana tangan kirinya menyambar tahu-tahu tali les kuda tersebut sudah tercekal
olehnya kemudian dengan kencang-kencang ditahannya.
Kuda yang sedang berlari mendatang dengan sangat cepatnya itu segera berhenti
sambil meringik panjang lelaki berbaju merah itu kembali menyambar rambut si lelaki
berbaju hitam yang ada di atas panggung untuk diperiksa dengan teliti.
“Lapor Cungcu orang ini sudah putus nyawa,” ujarnya kemudian.
“Dimanakah letak lukanya?”
“Di atas kening terbabat mati oleh sekali babatan pedang.”
“Eemmm! Lepaskan dia pulang keperkampungn kita segera melakukan perjalanan.”

Si lelaki berbaju merah itu kembali mengia. Dia segera melepaskan tali les kudanya dan
menepuk pantat kuda tersebut.
Dengan membawa mayat lelaki berbaju hitam itu kuda tersebut segera berlari kencang
menuju ke dalam perkampungan.
Ketika itu sinar mata Siauw Ling sudah memutar memandang sekeliling tempat tersebut
setelah dilihatnya kedua puluh lima orang itu telah naik keatas kudanya masing-masing
tak tertahan lagi, ujarnya, “Jie ko kita pergi ketepi sungai bukan lain cuma ingin mencari
orang dapat menemukan orang itu masih susah untuk diduga bilamana kita membawa
orang yang demikian banyaknya seperti hendak menghadapi penyerbuan musuh yang
tangguh saja bukankah hal ini bakal dibuat lelucon oleh pihak lawan yang mentertawakan
kita bernyali kecil dan beraninya mengandalkan jumlah yang besar untuk mencari
kemenangan?”
“Kalau begitu kita kurangi saja jumlahnya,” kata Ciu Cau Liong kemudian.
Ia lantas menoleh ke arah lima orang lelaki berpakaian warna warni yang berada
disisinya katanya kemudian, “Kalian adalah pemimpin dari kelima kelompok itu baiklah biar
aku bawa kalian berlima saja.”
Kelima orang itu segera mengiakan masing-masing lantas mengangkat tangannya
mengundurkan kembali anak buahnya.
“Samte, ayo kita segera berangkat” seru Jie Cungcu cepat. “Orang itu kembali melukai
anggota perkampungan kita tentunya ia berada disekitar tempat ini.”
Dua orang berpakaian hijau muncul dari balik tumbuhan bunga dengan masing-masing
menuntun seekor kuda jempolan.
“Jie ko silahkan,” kata Siauw Ling sambil meloncat naik keatas punggung kudanya.
“Kita berangkat bersama saja.”
Kedua ekor kuda itu lantas disentakan dan dilarikan bagaikan terbang ke arah depan
hanya di dalam sekejap saja tujuh delapan li sudah dilalui.
“Samte tunggu sebentar” mendadak Ciu Cau Liong menghentikan kudanya.
Mendengar perkataan tersebut Siauw Ling buru-buru menahan tali lesnya dan
menghentikan lari kudanya. “Jieko ada urusan apa?”
“Disana ada mata-mata yang dikirm perkampungan kita untuk mencari berita mungkin
dia adalah urusan penting yang hendak dilaporkan kepada kita.”
Ketika Siauw Ling mengangkat kepalanya maka tampaklah seorang nelayan yang
memakai caping lebar dengan pakaian yang sederhana dengan langkah lebar berjalan
mendekat.
Nelayan tersebut langsung berjalan kesisi tubuh mereka berdua, lalu bisiknya perlahan,
“Orang itu ada diteluk Sam Liuw Wan.”

Kemudian orang itu buru-buru berlalu kembali, agaknya ia takut jejaknya berhasil
diketahui oleh orang lain.
Caping yang menutupi orang itu dikenakan sangat rendah sekali, Siauw Ling cuma
melihat jenggot kambingnya saja, bagaimanakah dengan raut wajahnya ia sama sekali
tidak dapat melihat jelas.
“Mari kita berangkat keteluk Sam Liuw Wan,” bisik Ciu Cau Liong cepat sambil
menyentakkan tali les kudanya.
Tujuh ekor kuda berlari cepat di atas jalanan dihadapan sudah terputus dan kini tinggal
tanah berbatu cadas serta samar-samar terdengar suara deburan ombak disungai yang
amat santer.
Ringkikkan kuda memanjang, derapan kaki kuda menimbulkan berisik yang
membisingkan telinga. Dengan berlari di atas lumpur yang becek beberapa ekor kuda itu
tetap melanjutkan perjalanannya ke arah depan.
“Samte! Itulah teluk Sam Liuw Wan,” kata Ciu Cau Liong kemudian sambil menuding ke
arah bayangan pohon yang berada di tempat kejauhan. “Tempat tersebut adalah sebuah
tepi sungai yang amat sunyi sekali. Entah mengapa orang itu bisa tiba di tempat
tersebut?”
Ketika Siauw Ling mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk, sedikitpun tidak
salah! Tempat tersebut adalah sebuah tempat yang liar dan amat sunyi, batuan kerikil
serta lumpur yang amat becek beberapa lie tak terlihat sesosok bayangan manusiapun.
Tiga batang pohon Siuw itu terletak sebuah meja kayu di depan meja tersedia sebuah
tungku dan dari tungku tadi asap tebal mengebul memenuhi angkasa kemudian menyebar
keempat penjuru tertiup angin kencang.
Bau harum secara samar-samar menerjang masuk ke dalam hidung membuat badan
terasa nyaman.
Sayur serta arak yang dihidangkan di atas meja masih panas hal itu membuktikan bila
sayur itu tidak lama baru saja dihidangkan.
“Entah sidia orang sedang sembahyang terhadap siapa”, gumam Siauw Ling.
Ketika ia memandang lebih tajam lagi maka tampaklah di atas salah satu sebatang
pohon Liuw tua dari ketiga batang pohon lainnya tergantunglah sebuah papan nama yang
terukir kata-kata dengan sangat indah sekali.
Di atas papan nama itu terukir beberapa huruf kira-kira berbunyi demikian, “Tempat
abu adik almarhum Siauw Ling.”
Dibawanya tertulis kata-kata ” Toan Hun Jien memberi hormat.”
Siauw Ling segera merasakan hatinya tergetar sangat keras, pikirnya, “Dikolong langit
sebenarnya ada berapa banyak orang yang bernama Siauw Ling? Ada seorang yang sudah
punya nama besar di dalam Bulim aku baik-baik berdiri disini, dan kini muncul pula

seorang yang sedang bersembahyang terhadap arwah Siauw Ling yang berada di bawah
pihon Liuw tua itu. Sebenarnya urusan apa yang telah terjadi?”
“Samte apa yang sudah terjadi?” Ciu Cau Liong berseru memandang sekejap ke arah
adik angkatnya Siauw Ling.
Kiranya walaupun Siauw Ling sudah diangkat saudara dengan Jan Bok Hong serta Ciu
Cau Liong tetapi belum pernah orang menceritakan asal usulnya kepada mereka berdua.
Sekalipun Ciu Cau Liong adalah seorang yang berpikir cerdik dan banyak akal tidak
kurang untuk beberapa saat terasa tidak paham juga terhadap peristiwa yang sudah
terjadi dihadapannya sekarang ini.
Karena itu terasa perkataan tersebut sudah meluncur keluar dari mulutnya menanti ia
tersadar kembali kata-kata tadi sudah diucapkan keluar.
“Aku sendiripun tidak paham apa yang telah terjadi coba jelaskan papan nama itu biar
aku periksa,” ujar Siauw Ling dengan kebingungan.
“Samte, kau jangan berlaku gegabah kita harus waspada terhadap kelicikan serta
kekejaman dari dunia kangouw?” cegah Ciu Cau Liong sambil menahan gerakan tubuh dari
Siauw Ling.
“Mengapa? Apakah dibalik papan nama tersebut sudah tersembunyi senjata rahasia?”
“Soal ini Siauw heng sendiripun sulit untuk memberi keputusan tetapi berhati-hati
bukanlah suatu pekerjaan yang salah.”
Ia lantas meloncat turun dari kudanya dan dengan langkah yang amat lambat berjalan
menuju ke bawah pohon Liuw tua itu.
“Siauwte? orang itu menggantung papan nama tadi dengan benang putih agaknya
benda tersebut akan diambil kembali,” bisiknya kepada pemuda tersebut dengan suara
lirih.
“Ehmm, kemungkinan juga kedatangan rombongan kita yang amat besar ini sudah
mengejutkan mereka sehingga buru-buru melarikan diri.”
Ciu Cau Liong berdiam diri beberapa saat lamanya untuk termenung berpikir keras
mendadak tubuhnya meloncat ke depan menyambar papan nama yang tergantung di atas
pohon Liuw tua tadi.
“Jangan bergerak” baru saja Ciu Cau Liong menggerakkan badannya mendadak dari
samping berkumandang datang suara bentakan yang amat nyaring disusul meluncurnya
serentetan cahaya yang gemerlapan menyambar datang.
Sewaktu hendak menyambar papan nama tadi secara diam-diam Ciu Cau Liong sudah
mengadakan persiapan, mendengar suara bentakan yangn amat nyaring tersebut hawa
murninya lantas dikerahkan mengelilingi sekujur tubuhnya yang meluncur turun ke bawah
permukaan tanah kemudian tangan kanannya disambar ke arah depan.

Serentetan cahaya hijau yang menyilaukan mata dengan kecepatan laksana sambaran
kilat lantas meluncur ke arah datangnya sambaran sinar tajam tadi.
Kiranya orang itu bukan lain adalah seorang bocah berbaju hijau yang berusia lima
enam belas tahunan, dengan wajah yang tampan sinar mata yang dingin, tajam
menyeramkan. Pedangnya sudah dicabut keluar dari sarungnya dan saat ini sedang
memandang ke arah beberapa orang itu dengan sikap yang sombong. Sedikitpun tidak
merasa jeri terhadap mereka.
Kelima orang lelaki kasar yang memakai pakaian beraneka warna itu dengan gesitnya
lantas menyebarkan diri membentuk sebuah kepungan sangat rapat di sekeliling tempat
itu senjata tajam sudah diloloskan dari sarung dan siap-siap melancarkan serangan ke
arah musuhnya.
Asalkan Ciu Cau Liong memberikan perintah mereka segera akan menyerang secara
bersama-sama. Siauw Ling yang melihat papan nama itu, mendengar pula deburan ombak
yang terjadi beberapa tahun yang lalu secara mendadak terbayang kembali di dalam
benaknya.
Dia ingat kembali kejadian dimana tubuhnya kena disapu oleh angin pukulan Sang Pat
sehingga tercebur ke dalam sungai. “Jie ko jangan bergerak” mendadak bentaknya keras.
Di tengah suara bentakan yang amat keras itu tubuhnya sudah meloncat ke depan
menyambar papan nama yang tergantung di atas pohon liuw tua tersebut.
“Jangan mengganggu papan itu!” terdengar sibocah berbaju hijau itu membentak
keras.
Tangan kanannya segera diayunkan ke depan, tiga rentetan cahaya yang amat tajam
dan menyilaukan mata secara berbareng menyambar datang mengancam tubuhnya yang
sedang menubruk keatas pohon liuw itu. Sedang pedangnya dengan menimbulkan
berkuntum-kuntum bunga pedang meluncur diantara sorotan sinar sang surya.
Dalam hati Siauw Ling sudah mengadakan persiapan, telapak kirinya segera dibalik
mengirim sebuah babatan yang amat tajam ke arah depan sedang tangan kanannya
setelah berhasil menyambar papan nama tadi lantas meloncat sejauh satu kaki dari tempat
semula.
Padahal tak perlu ia turun tangan sendiri Ciu Cau Liong sudah mewakili dirinya untuk
menahan datangnya serangan dari sang bocah berbaju hijau itu.
Senjata Coei Giok Cie di tangan kanannya diputar sedemikian rupa menangkis
datangnya senjata rahasia yang disambit oleh bocah tadi dengan menimbulkan suara yang
amat nyaring ketiga batang pisau terbang tadi kena tertangkis hingga mencelat
kesamping.
Siapa sangka bocah berbaju hijau itu setelah melancarkan senjata rahasia iapun ikut
menubruk mendatang sambil mengirim sebuah tusukan kilat.
Untuk meloncat kesamping sudah tak sempat, untung saja pada saat yang bertepatan
angin pukulan yang dikirim Siauw Ling sudah menyambar datang.

Bocah cilik berbaju hijau itu setelah terkena pukulan yang dilancarkan oleh Siauw Ling
tadi tubuhnya mundur sempoyongan.
Setelah Siauw Ling berhasil menurunkan papan nama tadi, maka terlihatlah di belakang
papan nama di atas pohon liuw itu terukir pula beberapa patah kata, “Tahun Jan Hoa
kesebelas, bulan dua tanggal dua Siauw Ling terjatuh ke dalam sungai di tempat ini.”
Tertanda Tiong Cho Siang-ku.
Beberapa patah kata tulisan tersebut terukir dengan amat nyata sekali di atas pohon itu
setiap patah kata tertera dua cun dalamnya sehingga barang siapapun yang melihat
tulisan tadi tentu merasakan bila orang yang menulis kata tadi memiliki tenaga dalam yang
luar biasa sekali.
Diam-diam Siauw Ling mulai menghitung waktunya sesaat terjatuh ke dalam sungai
tempo dulu, ia merasa waktu yang tertera di atas pohon tersebut sangat cocok dan
bertepatan dengan waktu dirinya terjatuh di dalam sungai masa yang lalu.
Walaupun peristiwa terjatuhnya ia ke dalam sungai masih teringat sangat jelas, tetapi
dibagian sungai yang sebelah manakah dia jatuh sudah tak teringat olehnya.
Kini setelah melihat tulisan yang ditinggalkan Tiong Cho Siang-ku dalam hatinya merasa
tidak ragu-ragu lagi bila orang itu tentu sedang datang kemari bersembahyang buat
arwahnya. Tetapi siapakah si orang Toan Hun Jien atau manusia putus nyawa itu?
Mengapa ia datang bersembahyang terhadap arwahnya, ketika sibocah berbaju hijau
tadi dengan mencekal pedangnya kembali menerjang ke depan tetapi segera kena
terhadang oleh permainan senjata Ciu Giok Ce dari Ciu Cau Liong yang sangat dahsyat.
Melihat dirinya kena dicegat bocah berbaju hijau itu segera membentak gusar
pedangnya dengan sangat ganas berturut melancarkan sepuluh buah serangan gencar ke
arahnya mengancam tempat-tempat berbahaya diseluruh tubuh Ciu Cau Liong.
Dengan cepatnya antara mereka berdua sudah terjadi suatu pertempuran yang amat
sengit hanya di dalam sekejap mata ratusan serangan berbahaya sudah dikerahkan keluar.
“Jie ko untuk sementara jangan bergebrak dulu Siauwte ada pertanyaan yang hendak
ditanya kepadanya?”
Bentak Siauw Ling dengan suara yang keras seperti samberan geledek dalam hati Ciu
Cau Liong pada saat ini sedang merasa terperanjat dan kaget oleh keganasan serta
ketelengesan dari jurus pedang yang digunakan bocah cilik berbaju hijau itu.
Mendengar suara benatakan Siauw Ling yang sangat keras tadi ia lantas berkelit dan
menyingkir kesamping.
Sambil melintangkan pedangnya di depan dada bocah berbaju hijau tersebut dengan
amat gusarnya sudah meloncat kehadapan Siauw Ling cepat kembalikan papan nama itu
kepadaku teriaknya keras.
Siauw Ling yang melihat sikapnya mengandung hawa gusar yang sukar ditahan dalam
hati lantas mengerti bila papan nama itu sangat berharga bagi dirinya.

Ia lantas tersenyum.
“Untuk mengembalikan papan nama ini kepadamu sulit asalkan kau suka menjawab
beberapa pertanyaanku.”
“Hmm soal itu harus dilihat pertanyaan apa yang kau ajukan kepadaku.”
“Siauw Ling yang tertera di atas papan ini apakah kaupun kenal dengan dirinya?”
“Tidak kenal” jawab bocah berbaju hijau.
“Kalau memangnya kau tidak kenal dengan dirinya buat apa kau bersembahyang buat
arwahnya?”
“Kau bukan aku yang bersembahyang.”
“Bukan kau? lalu siapa?”
“Siangkong kami!”
“Sekarang dia berada dimana?”
Sang bocah berbaju hijau itu jadi sangat gusar sekali. “Kau orang sungguh cerewet
sekali, bertanya terus tiada hentinya, cepat kembalikan papan nama itu.”
Tangan kirinya laksana sambaran kilat menyambar ke depan mengancam papan nama
yang ada di tangan Siauw Ling.
Sedikit pundaknya bergerak tahu-tahu pemuda tersebut telah mundur tiga langkah ke
arah belakang.
Sibocah berbaju hijau itu sewaktu melihat sambarannya terhadap papan nama itu
mengalami kegagalan pedang di tangan kanannya mendadak dibabat ke depan
gerakannya sangat cepat laksana sambaran kilat, hanya di dalam sekejap saja sudah
meluncur datang.
Siauw Ling sama sekali tidak menduga bila bocah yang masih amat muda itu bisa
melancarkan serangan sedemikian cepatnya, hampir-hampir tubuhnya kena tertusuk oleh
pedang.
Buru-buru hawa murninya ditarik panjang-panjang tubuhnya menyingkir tiga depa
kesamping, dengan amat tepat ia berhasil menghindarkan diri dari datangnya serangan
pedang itu.
“Samte hati-hati, serangan pedang orang ini sangat aneh dan ganas susah dihadapi,”
kata Ciu Cau Liong.
Sewaktu Jie Cungcu dari perkampungan Pek Hoa Sanceng mengucapkan kata-katanya
itu, bocah berbaju hijau itu berturut-turut sudah melancarkan empat buah tusukan
dahsyat.

Setelah berhasil menghindarkan diri dari datangnya empat buah serangan itu
mendadak Siauw Ling meloncat ke belakang.
“Sudah, sudahlah. Kita tak usah bergebrak lebih lanjut. Nih, aku kembalikan papan
namamu!” serunya sambil tertawa.
Si bocah cilik berbaju hijau yang baru saja melancarkan empat buah serangan kilat
terhadap musuhnya tetapi bisa dihindari. Dalam hati merasa amat terkejut bercampur
ngeri, pikirnya, “Jumlah mereka amat banyak setiap orangpun memiliki kepandaian silat
yang sangat tinggi, aku tidak mungkin berhasil menangkan mereka.”
Kini mendengar Siauw Ling hendak mengembalikan papan nama tersebut kepadanya
dengan cepat iapun menghentikan serangan pedangnya.
“Hm! cepat lemparkan kemari!” teriaknya keras. “Bilamana kalian tidak suka
mengembalikan benada tersebut kepadaku urusan tak akan selesai dengan demikian
gampang, sekalipun aku bakal kena dimaki akan kubunuh dulu diri kalian.”
“Haaa, haaa, haaa, papan nama inipun bukan sebuah benda yang berharga buat apa
aku harus merebut benda tersebut?” seru Siauw Ling sambil tertawa terbahak-bahak dan
menyodorkan papan nama itu ke depan.
Sebaliknya Ciu Cau Liong mendengar perkataan tersebut segera tertawa dingin tiada
hentinya.
“Hmm, sungguh besar sekali omonganmu!” serunya.
Setelah berhasil menerima kembali papan nama tadi agaknya rasa gusar di dalam hati
bocah berbaju hijau itu agak rada reda.
“Kalian suka mengembalikan papan nama itu kepadaku sudah tentu akupun tak ada
perkataan yang bisa dibicarakan lagi,” ujarnya sambil tersenyum. “Nanti sewaktu
siengkiong kami kembali tak akan kuceritakan hal ini kepadanya.”
Jika ditinjau dari nada ucapannya jelas dia menaruh rasa yang amat menghormat dan
percaya terhadap kepandaian majikannya itu.
“Jie ko,” ujar Siauw Ling tiba-tiba. “Di dalam peristiwa ini masih banyak mendapat halhal
yang mencurigakan. Siauwte ingin menanyakan beberapa persoalan kepadanya.”
Ciu Cau Liong pun sudah menaruh rasa ingin tahu dan curiganya terhadap bocah
berbaju hijau tersebut setelah melihat serangan pedangnya yang amat ganas dan telengas
itu ia ingin menyelidiki asal usul serta nama pihak lawannya. Karena itu setelah
mendengar perkataan dari adik angkatnya dia lantas mengangguk.
“Samte boleh tanya sesukanya kepada bocah ini,” katanya.
Ketika Siauw Ling menoleh lagi ke arah bocah tersebut maka tampaklah bocah berbaju
hijau itu sambil mencekal papan nama tadi sedang putar badan meninggalkan tempat itu.
Hatinya jadi cemas, bentaknya keras, “Eei, saudara cilik, berhenti. Aku ada pertanyaan
yang hendak kutanyakan kepadamu.”

Bilamana ia tidak berteriak masih mendingan mendengar teriakannya itu mendadak
sibocah berbaju hijau itu berlari semakin cepat, hanya di dalam sekejap ia sudah berada
empat lima kaki jauhnya dari tempat semula.
“Kau bisa meloloskan diri?” bentak Siauw ling gusar dengan cepat iapun melakukan
pengejaran. Ciu Cau Liong dengan kencang ikut mengejar dari belakang Siauw Ling.
Sedang kelima orang lelaki pengiring itupun ikut mengejar.
Ternyata ilmu meringankan tubuh dari sibocah berbaju hijau sangat sempurna sekali,
laksana seekor burung walet dengan gesit dan lincahnya ia melayang ke depan.
Setelah melakukan pengejaran sejauh seratus kaki jarak Siauw Ling dengan sibocah
tinggal dua tiga depa saja. Ciu Cau Liong yang berada dibelakangnya masih bisa mngikuti
dengan paksakan diri. Sebaliknya kelima orang lelaki pengiring tersebut sudah ketinggalan
dua kaki jauhnya.
Terlihatlah bocah berbaju hijau itu dengan mengikuti aliran sungai kembali melakukan
perjalanan sejauh empat lima li.
Mendadak tubuhnya meloncat naik keatas sebuah sampan yang berhenti ditepi sungai
tangannya dengan cepat mengangkat jangkar dan mulai mendayung sampannya tersebut
ke tengah sungai.
Di dalam ruangan perahu kembali berkelebat sesosok bayangan manusia tahu-tahu
muncul seorang bocah berbaju hijau lainnya yang secara langsung menggerakkan galanya
menjalankan perahu kecil itu melarikan diri ke arah sungai.
Saat ini jarak antara Siauw Ling dengan bocah berbaju hijau itu ada dua kaki jauhnya
walaupun gerakan menaikkan jangkar dilakukan sangat cepat tidak urung membuang
sedikit waktu juga.
Ketika perahu kecil itu mulai bergerak ke tengah sungai Siauw Ling telah tiba ditepi
pantai, tubuhnya segera dienjotkan melayang keatas sampan tersebut.
Melihat itu sibocah berbaju hijau yang memegang gala itu segera menggerakkan
bambunya itu melancarkan serangan ke depan dengan menggunakan jurus Heng Sauw
Cian Kien atau membabat habis ribuan tentara.
Tubuh Siauw Ling mendadak merendah ke bawah ketika bambu itu menyambar lewat
dari atas kepalanya tangan kiri laksana sambaran kilat segera menyambar ke arah atas
mencengkeram bambu tersebut.
Merendah ke bawah melancarkan serangan mencekal bambu musuh semuanya ini
dilakukan dalam waktu yang amat singkat kecepatannya membuat orang lain sulit untuk
melihat jelas.
Mendadak bocah tersebut menggerakkan pergelangan tangannya ke arah depan
ternyata bambu yang ada ditangannya sudah dilemparkan ke arah tengah sungai.

“Samte! cepat kembali, mereka tak akan lolos dari sini,” saat itulah terdngar Ciu Cau
Liong yang berada ditepi sungai sudah berteriak keras.
Siauw Ling yang mencekal bambu tersebut untuk berganti napas pada mulanya ada
maksud meminjam tenaga pantulan dari bambu itu melayang masuk ke dalam perahu
kecil.
Siapapun duga bocah cilik berbaju hijau itu ternyata melemparkan bambu tersebut ke
tengah sungai sedang perahu itu menerjang ombak mendadak miring kesamping.
Dengan kejadian ini maka jarak antara diri Siauw Ling dengan perahu tersebut dengan
terpaut lebih jauh lagi.
Walaupun Siauw Ling memiliki ilmu kepandaian silat hasil didikan tiga orang aneh tetapi
dia orang sama sekali tidak memiliki pengalaman di dalam menghadapi musuh, perubahan
yang dilakukan kurang gesit.
Menanti bambu tersebut hampir jauh ke dalam air ia baru menggerakkan tangan
kanannya menghisap tenaga daya luncur dari gala bambu itu.
Kemudian meminjam kekuatan dari bambu tadi kakinya menutul keatas permukaan air
dan dengan gesitnya melayang ke arah tepi sungai.
Ketika itu jaraknya dengan tepi sungai ada enam kaki jauhnya dengan ditambah pula
tenaga pantulan dari bambu tersebut ada batasnya, ketika tubuhnya dekat tepi mendadak
daya luncurnya habis dan tubuhnya pun lantas melayang turun kembali keatas permukaan
air.
“Samte terimalah ini”, mendadak terdengar Ciu Cau Liong membentak keras.
Seutas angkin putih dengan cepat dilempar ke arahnya Siauw Ling cepat menyamber
angkin putih tersebut sedang kakinya waktu itu sudah jatuh keatas permukaan air.
Dengan sekuat tenaga, menyentak angkin tersebut ke arah belakang meminjam
kekuatan itulah Siauw Ling dengan cepatnya berhasil melayang turun keatas tepi sungai.
Ketika ia menoleh lagi ke arah perahu sampai tadi maka tampaklah perahu itu pada
saat ini sudah jauh berada puluhan kali dari tepi sungai tak terasa lagi ia menghela napas
panjang.
“Heeeei, tidak kusangka usianya yang masih muda ternyata memiliki kelicikan yang luar
biasa,” katanya.
“Di dalam dunia kangouw memang banyak terdapat peristiwa-peristiwa yang berbahaya
dan licik lain kali kau harus jauh lebih berhati-hati lagi.”
Kembali Siauw Ling mengalihkan pandangannya ke arah perahu sampan yang telah
pergi menjauh itu agaknya di dalam hati ia merasa kurang terima.
“Jie ko apakah kau punya cara untuk melakukan pengejaran???” tanyanya kemudian
sambil menghela napas.

Ciu Cau Liong termenung kemudian baru jawabnya, “Kepandaian mendayung dari
bocah-bocah cilik itu sangat bagus sekali bahkan sampan mereka bisa bergerak cepat aku
rasa tiada waktu lagi untuk menyandak mereka. Lebih baik kita kembali dulu ke dalam
perkampungan. Asalkan mereka belum meninggalkan daerah Koei Cho sejauh seratus li
maka paling banyak di dalam waktu satu hari satu maam kita dapat berhasil memperoleh
berita tentang jejaknya.”
Dengan termangu-mangu Siauw Ling memperhatikan bayangan perahu yang lenyap di
tengah gulungan ombak di tengah sungai dalam hatinya kembali bertambah dengan
beberapa persoalan yang mencurigakan, siapakah sebenarnya orang yang melakukan
sembahyang terhadap arwahnya itu masih ada lagi. Kedua orang bocah berbaju hijau itu
mempunyai ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna ditambah pula tenaga
pergelangannya sewaktu melemparkan bambu itu kesamping tali amat kuat, jelas sejak
kecil mereka sudah dididik oleh seorang jagoan lihay yang memiliki ilmu kweekang sangat
dahsyat, tetapi orang itu mengapa datang ketepi sungai yang amat sunyi ini untuk
bersembahyang terhadap arwahnya sendiri?
Ketika secara diam-diam dia menghitung waktu terjatuhnya ke dalam sungai dan
cocokkan pula dengan waktu yang ditinggalkan Tiong Cho Siang-ku di atas pohon Liuw itu
maka ia merasa ini harilah waktu yang tepat sewaktu ia terjatuh ke dalam sungai.
Dikolong langit kemungkinan sekali terdapat beberapa orang Siauw ling, namun belum
tentu ada orang yang sama-sama tercebur di dalam sungai ini.
Orang itu datang bersembahyang kemari hal ini menunjukkan bila dia ada maksud
tujuan, namun yang membuat Siauw Ling tidak paham adalah dikolong langit pada saat ini
sedikit sekali yang dikenal olehnya, lalu siapa yang sudah datang ketepi sungai yang amat
sunyi ini untuk bersembahyang untuk arwahnya?
Ketika ia menoleh, maka tampaklah Ciu Cau Liong pun sedang menundukkan kepalanya
berpikir, jelas diapun dibuat terperanjat oleh kedahsyatannya serta kesempurnaan dari
kepandaian silat kedua orang bocah berbaju hijau itu.
Lama sekali ia baru mendonggakkan kepalanya kembali memandang ke arah Siauw
Ling.
“Siauwte! Siauw Ling tertera di atas papan nama itu apakah dirimu?” tanyanya
perlahan.
“Benar tulisan yang ditinggalkan Tiong Cho Siang-ku membuktikan kalau nama itu
memang nama siauwte!”
Mendadak sinar mata Ciu Cau Liong berkilat.
“Siauwte, coba pikirkan dengan teliti di dalam Bulim pada saat ini kemungkinan sekali
ada jagoan mana yang datang bersembahyang terhadap arwahmu?” tanyanya.
Siauw Ling termenung dan menundukkan kepalanya lama sekali ia bungkam diri.
“Siauwte sebenarnya soal ini mudah sekali untuk dipikir,” ujar Ciu Cau Liong kembali
sambil tersenyum. “Kemungkinan sekali kau banyak kenal dengan jago-jago Bulim tetapi
orang yang memiliki kepandaian silat sedemikian tingginya tentu sedikit sekali jumlahnya

bukan? Terutama sekali dari usia kedua orang bocah berbaju hijau itu masih kecil tetapi
jurus pedangnya sangat ganas sekali. Hal ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang
jarang sekali terjadi di dalam dunia kangouw bilamana semisalnya tempo dulu kau pernah
bertemu dengan mereka tentu masih teringat jelas-jelas.”
Siauw Ling lantas menggeleng dan tertawa pahit. “Aku belum pernah bertemu muka
dengan mereka, dan tak teringat olehku siapakah orang-orang yang sudah datang
bersembahyang buat arwahku itu.”
Mendadak di dalam benaknya teringat akan sesuatu buru-buru sambungnya, “Jieko
kedua orang bocah berbaju hijau itu apakah mungkin anak murid dari perguruan Bu-tongpay??”
Ilmu pedang dari Bu-tong-pay walaupun sudah terkenal diseluruh kolong langit tetapi
tidak bisa menandingi keganasan serta ketelengasan dari ilmu pedang bocah berbaju hijau
itu.
Mendadak ia tertawa terbahak-bahak.
“Haaaa… haaa haaa… siauwte tidak usah kita pikirkan lagi mari kita cepat-cepat
kembali ke dalam perkampungan!”
Sambil menggandeng tangan Siauw Ling mereka lantas lari kembali ke dalam
perkampungan Pek Hoa Sanceng.
Jalan raya menghubungkan tempat liar dengan perkampungan Pek Hoa Sanceng yang
biasanya amat sunyi mendadak diramaikan dengan mondar mandirnya kuda yang lewat
suasananya terasa amat menegangkan sekali.
Melihat kejadian itu Siauw Ling segera merasakan hatinya keheranan.
“Jan ko apakah di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng kita sudah terjadi sesuatu
peristiwa?” tanyanya lirih.
Ciu Can Liong segera tertawa dan menggeleng.
“Sakit yang diderita Toako selama banyak tahun kini sudah sembuh kembali ditambah
pula Samte sudah ikut menerjunkan diri ke dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng kita
maka Toako yang ada maksud mempopulerkan nama Siauwte di dalam Bulim sengaja
sudah mengirim seluruh anak buah yang ada untuk menyebarkan surat undangannya
kepada jago-jago kenamaan di dalam Bulim agar mereka sama-sama bisa menghadiri
perayaan yang diadakan di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng kita pertama untuk
merayakan masuknya Samte sebagai anggota dan kedua merayakan kesehatan Toako
yang sudah pulih serta kepandaian silatnya yang telah sempurna dan yang terakhir hendak
mengumumkan seluruh Bulim bahwa sibayangan berdarah Jan Bok Hong akan munculkan
dirinya kembali ke dalam dunia kangouw.”
“Ouw, kiranya begitu!” seru pemuda itu.
Ia rada merandek sejenak kemudian sambungnya “Jikalau demikian adanya tentu pada
tempo dulu Toako mempunyai nama besar yang sangat terkenal di dalam dunia rimba
persilatan.

“Kini kita sudah menjadi saudara angkat yang sehidup semati,” kata Ciu Cau Liong
sambil tertawa. “Rahasia yang menyelimuti perkampungan Pek Hoa Sancengpun agaknya
tak perlu dirahasiakan lagi terhadap dirimu.”
Sepasang matanya yang amat dingin perlahan-lahan menyapu sekejap ke arah wajah
Siauw Ling kemudian sambungnya, “Siauwte, nama besar Toako kami jauh terkenal
sepuluh kali lipat dari nama jagoan manapun pada sepuluh tahun yang lalu, asalkan Toako
munculkan dirinya, tentu akan terjadi suatu gelombang yang akan menggemparkan
seluruh Bulim sekalipun jago-jago Bulim yang sangat terkenalpun pada waktu itu rata-rata
mengalahkan tiga bagian terhadap dirinya.”
“Lalu selama beberapa tahun ini Toako mengundurkan diri dari keramaian dunia
kangouw dan tidak mencampuri urusan Bulim lagi. Ini apakah dikarenakan ia sedang
menyembuhkan penyakitnya.”
“Tenaga dalam Toako amat sempurna, bagaimana mungkin ia sungguh-sungguh bisa
sakit,” ujar Ciu Cau Liong lirih.
“Aaah benar tentunya Toako sedang menghindari pertemuannya dengan semua orang
karena hendak berlatih suatu ilmu kepandaian yang maha dahsyat.”
Agaknya terhadap diri Siauw Ling, Jie Cungcu Ciu Cau Liong merasa sangat percaya
terdengar ia tertawa tawar.
“Samte kau cuma berhasil menebak btul separuh bagian saja. Toako mengasingkan diri
dari keramaian dunia kangouw selain hendak berlatih suatu ilmu kepandaian yang maha
dahsyat sehingga takut diganggu orang hal yang sebenarnya menggunakan kesempatan
itu ia sedang menyembuhkan luka dalam yang amat parah.”
“Mengobati luka dalamnya yang parah? Toako kena dilukai siapa?”
“Urusan ini terjadi pada puluhan tahun yang lalu, biar Toako kena dilukai orang tapi
Toako kalah dnegan bangga.”
“Apakah Toako terkena serangan bokongan orang lain?”
“Kepandaian silat Toako sangat sempurna, ia sudah memiliki tenaga khiekang yang
melindungi seluruh tubuhnya bagaimana mungkin orang bisa melukai dirinya dengan
sangat gampang.”
“Lalu bagaimana ia bisa kalah?”
“Di dalam pertempuran itu jago-jago lihay yang ikut serta mengeroyok sangat banyak
sekali. Diantara sembilan partai besar, ada empat orang ciangbunjin yang ikut serta
mengeroyok, di samping itu masih ada lagi berpuluh-puluh orang Cay cu Pangcu serta
Kiuw cu sekalian dari perkumpulan di dalam Bulim berturut-turut Toako berhasil
menangkan tiga belas kali pertempuran dan mengalahkan Loo Han Sam Cung atau tiga
orang loohan dari Siauw Lim pay Im Yang Cung dari Bu-tong-pay.”
“Tiong Lam jie Hiap serta Cangbunjien dari Go bie pay. Hal ini benar-benar merupakan
suatu kejadian yang sangat menggemparkan sekali.”

“Akhirnya Toako berhasil dikalahkan oleh Si Phoa Thaysu itu Hongtiang dari ruangan
Tat Mo Yen dikuil Siauw Lim Sie Si Phoa Thaysu tersebut boleh dikata merupakan hweesio
yang paling terkuat dari seluruh partai Siauw Lim. Coba kau pikir bukankah walaupun
Toako kalah tetapi kalah dengan bangga?”
“Sering aku dengar orang berkata partai Siauw Lim adalah partai lurus dari Bulim” pikir
Siauw Ling diam-diam “Jan Toako ternyata bermusuhan dengan partai Siauw Lim,
mungkin dia orang baik-baik.”
Terasa olehnya berbagai persoalan yang membingungkan hatinya ikut berkelebat di
dalam benaknya. Ia tidak ingin berpikir lebih lanjut dengan cepat ia berlari ke depan
meninggalkan kelima orang lelaki pengiringnya jauh ke belakang.
Keadaan di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng repot dan tegang, disetiap sudut
diseluruh barisan bunga itu tersebar penjagaan-penjagaan ketat dari lelaki-lelaki yang
berbaju hitam yang menggembol senjata tajam keadaannya sangat serius sekali seperti
sedang menghadapi serangan musuh tangguh.
Ciu Cau Liong setelah menghantarkan Siauw Ling kembali ke dalam bangunan Lam Hoa
Cing Si ia lantas mohon pamit dan mengundurkan diri.
Kiem Lan serta Giok Lan sejak semula sudah menanti kedatangannya diluar kamar
melihat Siauw Ling sudah kembali sambil tersenyum mereka lantas datang menyambut
membawa teh menyediakan air pokoknya mereka kelihatan sangat sibuk sekali.
Giok Lan dengan membawa sepasang sendal lantas berlutut dihadapan pemuda
tersebut membantu dirinya melepaskan sepatu yang dikenakan.
“Sam ya,” ujarya merdu. “Budak serta Kiem Lan cici menerima perintah dari Toa
Cungcu untuk sejak ini menjadi budak pribadi dari Sam ya.”
“Ehmm, soal ini aku orang berani menerimanya. Aku serta enci Kiem Lan merasa
sangat girang sekali setelah mendengar berita tersebut” sambung Giok Lan lebih lanjut
sambil tersenyum.
“Mulai saat ini kami bisa selalu ikut serta disisi Sam ya untuk membereskan
pembaringan, mengiringi kemana saja Sam Ya hendak pergi, kami tidak usah melayani
para tamu lagi diruangan Lan Hoa Cing Si ini, bilamana Sam ya suka menerima kami. Hal
ini benar-benar merupakan rejeki dari kami kakak beradik.”
Wajahnya penuh dengan perasaan mohon yang patut dikasihani hal ini membuktikan
bila perkataan tersebut benar-benar diucapkan dari dasar hatinya.
Perlahan-lahan Siauw Ling menghela napas panjang.
“Heeei! kalian berdua suka memperhatikan diriku sedemikian rupa, cayhe benar-benar
merasa sangat berterima kasih sekali,” katanya.
Dengan gugup kedua orang budak itu bersama-sama menjatuhkan diri berlutut, air
mata mulai jatuh berlinang membasahi pipinya.

“Sam ya sudah setuju?” tanyanya.
Perlahan-lahan Siauw Ling mengangguk sambil tertawa. Dengan cepat dia membimbing
bangun kedua orang dayang tersebut.
“Kalian cepatlah bangun,” katanya.
“Terima kasih atas kebaikan Sam ya!” seru kedua budak itu sambil meloncat bangun.
Dalam hati Siauw Ling pada saat ini sedang memikirkan peristiwa papan nama yang
baru saja terjadi siang tadi, ia sama sekali tak ada niat untuk banyak berbicara.
“Aku hendak kembali ke kamar untk beristirahat, bilamana tak ada urusan penting
janganlah mengganggu diriku,” pesannya kemudian.
Malam itu kentongan kedua baru saja lewat, Siauw Ling dengan memakai pakaian
ringkas berwarna hitam setelah mengenakan sarung tangan terbuat dari kulit naga Cian
Nian Ciauw Pih So Tauw hadiah pemberian Liuw Sian Ci dengan tangan kosong lantas
meloncat keluar dari kamarnya dengan gerakan sangat hati-hati.
Siapa nyana kedua dayang tersebut sangat memperhatikan gerak-gerik Siauw Ling baru
saja berjalan keluar dari pintu kamar kedua orang dayang itu sudah menanti diluar dengan
menggembol pedang.
“Sam ya perlukah budakmu mengiringi dirimu?” tanya Kiem Lan lirih.
Aaaah… Siauw Ling tertegun “Tidak perlu keadaan di dalam perkampungan Pek Hoa
Sanceng penuh diliputi bahaya ada baiknya Sam Ya mengambil senjata tajam,” ujar Giok
Lan pula memberi peringatan seraya melepaskan pedang yang menggembol pada
punggungnya.
“Tidak perlu, tidak perlu! Aku cuma jalan-jalan sebentar saja!” dengan langkah lebar ia
berjalan meninggalkan bangunan Lam Hoa Cing Si melewati kebun bunga dan menuju
keluar perkampungan.
Walaupun di dalam kebun bunga ada para peronda malam, kebanyakan mereka sudah
mengenali Siauw Ling adalah Sam Cungcu dari perkampungan Pek Hoa Sanceng, siapapun
tak ada yang berani menghalang-halanginya.
Siauw Ling dongakkan kepala menentukan arah sejenak, tiba-tiba hawa murninya
disalurkan mengelilingi seluruh tubuh dan berkelebat menuju keteluk Sam Liuw Wan.
Malam ini adalah suatu malam yang tidak berbulan, cahaya bintang dilangit berkelipkelip
membuat suasana terasa hampa teluk Sam Liuw Wan sunyi senyap membuat hati
orang terasa pilu.
Dengan setengah membongkok Siauw Ling meloncat dan mendekati ketika batang
pohon liuw itu lalu enjotkan badan meminjam tenaga jumpalitan ia bersembunyi dibalik
dedaunan yang lebat. Waktu ia melongok ke bawah meja itu masih berada di tempat
semula. Hioloo emaspun masih terpancang di depan, hanya saja dari Hioloo tadi tak
kelihatan asap dupa yang mengepul memenuhi angkasa. Hal ini membuktikan bila dalam
waktu ini tak seorangpun yang pernah datang kesana.

Ombak sungai menderu-deru angin bertiup kencang. Di tengah malam yang buta
sungai yang berliku-liku kelihatan mirip seutas ikat pinggang berwarna putih keperakperakan.
Siauw Ling yang bersembunyi dibalik dedaunan pohon liuw tidak juga melihat sesuatu
walaupun sudah ada satu kentongan ia menanti. Akhirnya pemuda she Siauw ini menghela
napas panjang.
“Heei, agaknya malam ini tak bakal ada orang yang datang kemari.”
Belum saja ia meloncat turun tiba-tiba terdengar suara dayung menyampok air
berkumandang datang semakin lama semakin mendekat tanpa terasa hatinya rada
tergerak.
Buru-buru ia berpaling, di bawah sorotan cahaya bintang tampak sesosok perahu
sampan dengan cepat meluncur mendekat dan di dalam waktu singkat telah mendekati
tepian sungai.
Tiga sosok bayangan manusia meloncat ketepian dari dalam perahu dan gerakan
mereka rata-rata gesit dah hebat.
Siauw Ling memperhatikan lebih teliti lagi, jantungnya terasa berdebar-debar keras dan
diam-diam pikirnya, “Hei, jika tadi aku jadi meninggalkan tempat ini, maka sulitlah bagiku
untuk berjumpa dengan mereka lagi.”
Kiranya orang pertama yang berjalan dipaling depan adalah sibocah berbaju hijau yang
pernah ditemui siang tadi.
Di atas punggungnya bocah itu menyoren pedang panjang dan sepasang tangannya
mencekal sebuah medali Leng pay.
Ornag yang mengikuti kencang di belakang tubuhnyapun merupakan seorang bocah
cilik berbaju hijau dengan ditangannya membawa sebuah Khiem yang kelihatannya
sangatlah antik.
Orang terakhir yang mengikuti di belakang kedua orang bocah cilik itu adalah si orang
pemuda berjubah biru kaus putih dan ditangannya membawa sebuah kipas.
“Siapakah kedua orang itu? Asing benar wajah mereka,” diam-diam pemuda she Siauw
yang bersembunyi di atas pohon Liuw berpikir keras.
Sibocah berbaju hijau itu dengan hebat meloncat keatas menggantungkan Leng Pay
berisikan nama Siauw Ling keatas pohon, lali mengeluarkan tiga batang hio dan disulutnya
kemudian ditancapkan keatas hioloo emas.
Mengikuti berkelebatnya cahaya api dapat dilihat orang berbaju biru itu baru berusia
dua puluh tahunan, wajahnya ganteng dengan alis yang melenting tidak malu disebut
seorang lelaki tampan.
Si orang berbaju biru itu meletakkan kipasnya keatas meja, lalu menjinjing jubahnya
dan menjura dengan hormat di depan meja sembahyang.

“Pada tahun yang lalu sewaktu siauwte lewat disini dan melihat nama Siauw heng
terukir di atas pohon timbullah rasa ingin tahu dihatiku sekarang siauwte telah minjam
nama Siauw heng untuk berkelana dalam dunia Bulim harap sukma Siauw heng dialam
baka suka memaafkan dosa ini,” katanya lirih.
Oouw kiranya begitu diam-diam Siauw Ling menghembuskan napas panjang, “Aku
masih mengira dalam kolong langit sungguh ada dua orang yang bernama Siauw Ling.”
Terdengar si orang berbaju biru itu melanjutkan kembali kata-katanya, “Walaupun
siauwte telah meminjam nama besar Siauw heng untuk berkelana dalam Bulim tapi
siauwte percaya tidak bakal merusak ataupun memalukan nama besar Siauw heng.”
“Oouw tidak mengapa,” kembali Siauw Ling membatin di dalam hatinya. “Asalkan kau
tidak melakukan perbuatan jahat gunakan saja namaku sepuas mungkin.”
Kembali si orang berbaju biru itu menyambung kata-katanya, “Siauwte menerima pesan
seseorang untuk membawa Leng Pay ini menyambangi Siauw heng dengan membawa
Leng Pay ini akan berlalu dari sini untuk diserahkan kembali kepada sipenitip pesan
tersebut semoga saja malam ini Siauw heng bisa tunjukkan sedikit keajaiban agar
sekembalinya siauwte bisa menceritakan kepada orang itu apa yang kau ingini. Heee
Siauw heng, walaupun kau sudah mati tapi dikolong langit masih ada seorang gadis cantik
yang menangisi nasibmu siang dan malam selalu bersembahyang selalu melelehkan air
mata dihadapan Leng Paymu jika dibandingkan siauwte keadaan Siauw heng jauh lebih
kuat berpuluh kali lipat. Sukma Siauw heng dialam baka tentunya tahu segala sesuatu
harap kau bisa tenang disana.”
Siauw Ling yang mendengar perkataan itu hatinya merasa amat kesal kembali pikirnya,
“Waaah, payah orang ini mengoceh terus tidak karuan, mana mungkin aku punya gadis
yang menangisi diriku terus menerus.”
Orang berbaju biru itu dengan lantang kembali berkata memutuskan jalan pikiran
pemuda she Siauw itu.
“Gadis kecintaanmu itu telah membuat serangkaian irama lagu untuk mengenangkan
dirimu. Malam ini siauwte akan mainkan lagu tersebut di samping menghibur sukma Siauw
heng dialam baka.”
Tampak sibocah berbaju biru itu meletakkan Khiem antik tadi di atas meja dan si orang
berjubah biru itu masukkan kembali kipasnya ke dalam saku lalu tangan kanannya mulai
disentil mainkan senar khiem tersebut memecahkan kesunyian di tengah malam buta.
Diikuti serangkaian lagu yang memilukan hati berkumandang memenuhi angkasa.
Nadanya amat sedih membuat setiap orang yang ikut mendengar merasakan hatinya risau
dan pedih.
Hati kecil Siauw Ling kena tersinggung, ia tak dapat menahan kepedihan dari irama
musik tersebut sehingga tanpa terasa ikut melelehkan air mata.
Mendadak terdengar suara gemerincing yang keras diikuti berhentinya irama musik
tersebut.

Dua orang bocah berbaju hijau dengan hebat mencabut keluar pedangnya dan
meloncat kedua belah sisi, sambil memperhatikan suasana disekitar sana dengan tajam.
Kiranya sewaktu si orang berbaju biru itu mainkan irama lagunya mencapai puncak
kesedihan, tiba-tiba senar khiem tersebut putus jadi dua bagian.
Terdengar orang itu menghela napas panjang. “Mungkinkah sukma Siauw heng dialam
baka bisa ikut mendengarkan lagu ini.”
Perlahan-lahan ia mengusap air mata yang mengucur keluar, sambungnya lebih lanjut,
“Dalam keadaan sedih dan berduka hati gadis pujaanmu itu telah menciptakan sebuah
irama lagu Liuw Swie Tuan Hun ini, setiap suara setiap kata semuanya diiringi isak
tangisnya yang memilukan hati. Oouw Siauw heng, jikalau sukmamu dialam baka mengerti
tegakah kau orang membiarkan dia merasa sedih sepanjang hidup?”
Siauw Ling yang mendengar perkataan itu hanya ikut merasa terharu.
“Ehmm orang ini tidak jelek juga! ia cuma mendapat titipan orang lain, tapi
kesetiaannya benar-benar terpuji.”
Tiba-tiba terdengar si orang berbaju biru itu berubah nada pembicaraannya,
sambungnya lebih lanjut, “Ia merasa sedih dan berduka untukmu, sudah seharusnya
Siauw heng pun ikut memikirkan buat dirinya. Jikalau sukma Siauw heng bisa mendengar
perkataanku ini tunjukkan bantuanmu agar siauwte berhasil merebut kepercayaannya.
Siauwte tidak becus tadi rela selama hidup tunduk di bawah kakinya, dan menghibur
kesedihan hatinya sepanjang hari.”
Ketika itulah Siauw Ling tertegun untuk beberapa saat.
“Aaakh bagus sekali! kiranya kau mohon kepadaku agar aku suka menunjukkan
bantuanku membantu kau sukses dalam merayu kekasihmu.”
Mendadak si orang berbaju biru itu berlutut keatas tanah tanpa perduli diaas tanah
penuh dengan lumpur yang kotor.
“Siauwte telah meminjam nama besar Siauw heng, aku berjanji dengan seluruh
kekuatan yang kupunyai akan menggemparkan nama besar Siauw heng dalam seluruh
Bulim agar semua orang menghormati dirimu dan nama besarmu terkenal sampai ratusan
tahun selama hidup siauwte akan selalu menjadi bayangan dari Siauw heng.”
“Hmm, aku tahu kau berbuat demikianpun bukan sungguh-sungguh dan ikhlas karena
aku,” pikir pemuda she Siauw ini.
“Jikalau Siuaw heng suka menyetujui permintaan dari siauwte ini harap kau suka
menunjukkan kesetiaanmu,” tambah orang itu.
Ketika itu kedua baju hijau itu selesai melakukan pemeriksaan di tempat itu, satu dikiri
dan satu dikanan berdiri disisi orang berbaju biru tadi.
“Hmm, apa perlunya kalian cabut pedang seperti menghadapi musuh besar saja?” tegur
si orang berbaju biru sambil menyapu sekejap kekiri kanannya. “Bukankah tindakan kalian
ini akan mengejutkan sukma dari Siauw heng? Ayo cepat simpan pedang kalian.”

Kedua bocah berbaju hijau itu menurut dan memasukkan pedangnya ke dalam sarung,
melihat majikannya berlutut merekapun disisinya.
Tapi sungai yang sunyi senyap telah pulih kembali pada keheningan yang terdengar
hanyalah deburan ombak menumbuk tepian yang berbunyi tiada hentinya.
Siauw Ling yang berada di tempat ketinggian dapat melihat seluruh kejadian itu dengan
sangat jelas tampak olehnya si orang berjubah biru itu pejamkan sepasang matanya,
muka menghadap Leng pay dan mulutnya kemak kemik seperti sedang berdoa. Untuk
beberapa waktu ia ragu-ragu ada baiknya munculkan diri atau tidak, sebenarnya dia ada
maksud untuk menanyakan siapakah gadis tersebut? Sebelum keputusan sampai diambil,
mendadak dari tempat kejauhan tampak datangnya sesosok bayangan manusia yang
bergerak tanpa menimbulkan sedikit suarapun.
Gerak-gerik orang itu ringan bagaikan daun, walaupun berjalan di atas tanah berlumpur
tapi tak kedengaran sedikit suarapun.
Agaknya si orang berbjau biru serta kedua orang bocah berbaju hijau itu sedang
menenti munculnya sukma Siauw Ling dengan penuh kepercayaan. Seluruh perhatian
mereka terpusatkan menjadi satu dan sama sekali tak merasa munculnya mara bahaya
yang mengancam.
Di bawah sorotan cahaya bintang dapat dilihat bayangan manusia itu tinggi kurus
bagaikan lidi ia sudah tiba kurang lebih beberapa tombak di belakang tubuh orang berbaju
biru itu.
Tiba-tiba gerakan orang itu semakin perlahan agaknya ia menaruh rasa jeri terhadap
orang berbaju biru itu. Tindak tanduknya makin berhati-hati dan sepertinya takut
menimbulkan suara sehingga mengejutkannya.
Siauw Ling mulai merasa tegang dibuatnya ia tidak tahu seharusnya turun tangan
menolong si orang berbaju biru itu atau tidak.
Di tengah kesunyian yang mencekam secara samar-samar membawa hawa nafsu
membunuh yang amat tebal, setiap kali bayangan hitam tinggi kurus itu melangkah satu
tindak kemuka hawa membunuh yang mencekampun semakin menebal satu lapis.
Mendadak dari tengah sungai berkumandang datang suara dayung yang menyampok
air sesosok sampan dengan cepat meluncur datang.
Bayangan tinggi kurus yang sedang bergerak maju itupun dibuat terkejut oleh
datangnya suara dayung tadi dengan cepat ia menghentikan gerakannya.
Perubahan yang terjadi secara mendadak ini membuat Siauw Ling semakin tegang
dengan cepat ia menoleh.
Dilihatnya dari atas sebuah sampan kecil melayang turun sesosok bayangan manusia
yang kecil ramping dan dengan hebat meluncur mendekat. Bayangan itu adalah bayangan
seorang gadis yang memakai baju ringkas dengan sebilah pedang tersoren di atas
punggungnya. Begitu sepasang kaki menempel tanah ia langsung melayang ke arah si
orang berbaju biru.

Dalam sekejap mata itulah bayangan manusia tinggi kurus yang semula telah berada
beberapa tombak dari si orang berbaju biru itu kini sudah lenyap tak berbekas.
Menanti Siauw Ling memeriksa dengan teliti ia baru menemukan bila orang itu telah
menjatuhkan diri berbaring di balik semak. Tentunya karena kemunculan gadis berbaju
ringkas itu terlalu cepat membuat bayangan hitam tadi tak sempat menghindarkan diri lagi
sehingga ia cuma jatuhkan diri tertelungkup di atas tanah.
Sigadis berbaju ringkas tadi setelah melayang turun kesisi meja sembahyang ia
langsung mengeprak meja keras-keras.
“Aku pergi mencari kau kemana-mana kiranya kau ada disini!” teriaknya keras. “Eei,
apa kerjamu bersembunyi disini?”
Orang berbaju biru itu perlahan-lahan bangun berdiri, nada suaranya hambar dan ketus
sedikitpun tak menunjukkan sifat persahabatan.
“Karena gangguanmu sukma Siauw Ling jadi terkejut lari ketakutan aku sudah
bersembahyang setengah harian lamanya, belum sampai maksudku terpenuhi kau sudah
mengganggu lagi kau membuat usahaku jadi gagal dan sia-sia belaka.”
“Hmm! darimana bisa muncul sukma gentayangan, aku lihat kau sudah dipengaruhi
daya hayalmu sendiri!” teriak gadis berbaju ringkas itu dengan gusar.
“Sekalipun aku sudah dipengaruhi daya hayalku apa pentingnya kau ikut mengurusi?”
Gadis berbaju ringkas itu berdiri tertegun akhirnya menangis tersedu-sedu kakinya
langsung melancarkan tendangan ke arah meja serta hioloo emas terpental sejauh dua
tiga tombak jauhnya.
Melihat cara gadis itu melancarkan tendangan Siauw Ling merasa hatinya bergerak
pikirnya, “Ilmu kepandaian silat perempuan ini tidak lemah cuma sayang wataknya sangat
kasar.”
Sejak permulaan kedua orang bocah berbaju hijau itu sudah dibuat ketakutan setengah
mati, apalagi melihat khiem antik kesayangan majikannya terpental jatuh. Mereka semakin
kebingungan dibuatnya.
Lama sekali bocah yang membawa khiem antik tadi baru berseru gelagapan, “Kongcu
khiem antik itu…”
“Cepat ambil kembali kita segera pergi.”
Bocah berbaju hijau itu menyahut buru-buru ia lari ke depan pungut kembali khiem
antik tersebut.
“Kongcu?” seru pula bocah berbaju hijau itu. “Perlukah Leng pay dari Siauw Ling
dibawa serta?”
“Hmm. Jika Leng pay itu sampai hilang. Kaupun jangan harap bisa hidup lebih lanjut”
teriak orang berjubah biru itu teramat gusar.

Diam-diam bocah berbaju hijau itu amat terperanjat.
“Tidak kusangka Leng pay dari Siauw Ling ini jauh lebih penting daripada khiem antik
kesayangan kongcu,” pikirnya.
Dengan cepat ia meloncat naik keatas pohon liuw tua yang ada di tengah dan
melepaskan Leng pay tersebut.
“Leng pay apa itu coba bawa kemari biar aku periksa,” tiba-tiba gadis berbaju ringkas
itu membentak keras.
Agaknya gadis inipun mempunyai kedudukan yang sangat tinggi. Hal ini membuat
sibocah berbaju hijau jadi serba salah dan berdiri di tempat semula dengan termangumangu.
“Bagus, bagus sekali kiranya kalianpun berani menganiaya diriku?” teriak gadis itu
semakin kalang kabut.
“Nona jangan salah paham. Soal ini mana hamba berani. Hanya sebelum memperoleh
ijin dari kongcu hambapun tidak berani ambil keputusan sendiri.”
Dimulut bocah itu berbicara sedang matanya dengan cahaya mohon dikasihani
dialihkan ke arah si orang berbaju biru itu.
Pemuda berbaju biru itu termenung sejenak akhirnya ia menyahut dengan nada dingin.
“Serahkah kepadanya.”
Bocah itu menyahut dan kemudian serahkan Leng pay tadi ketangan gadis tersebut.
“Siapa yang bernama Siauw Ling?” tanya gadis berbaju ringkas itu setelah melirik
sekejap ke arah Leng pay tadi.
“Soal ini hamba kurang jelas harap nona tanyakan sendiri kepada kongcu ya.”
Sreet, tiba-tiba gadis berbaju ringkas itu mencabut keluar pedangnya seraya tertawa
dingin tiada hentinya.
“Hmm perduli Siauw Ling atau Toa Ling akan kubuat ini jadi berkeping-keping.”
“Aakh! nona jangan kau hancurkan!” teriak bocah berbaju hijau itu gelagapan.
“Hmm, cepat beritahu kepadaku, Siauw Ling adalah seorang lelaki atau perempuan?”
“Nona, jika kau hancurkan Leng pay itu maka kongcu tak bakal melepaskan hamba.
Perkataan dari kongcu tadi bukankah nona sudah mendengar sendiri?”
“Aku bertanya Siauw Ling seorang lelaki atau perempuan? Siapa yang suka mendengar
segala urusan tetek bengek?”
“Siauw Ling adalah seorang lelaki.”

Dengan gemas gadis berbaju ringkas itu membanting Leng pay tadi keatas tanah.
“Hmm, lelaki busuk. Apa gunanya dianggap sebagai barang pusaka?” bocah berbaju
hijau itu buru-buru memungut kembali Leng pay tadi dibersihkan dari lumpur dengan
ujung bajunya kemudian perlahan-lahan mengundurkan diri kesisi orang berjubah biru itu.
“Kiam Tong!” tegur sipemuda berbaju biru itu seraya mengambil kembali Leng pay
tersebut. “Kau tidak becus melindungi Leng pay tahukah kau apa hukumannya!”
Pada mulanya Kiam Tong tertegun tapi dengan cepat ia bongkokan badannya menjura.
“Hamba rela menerima hukuman.”
“Bagus sekali! tabok sendiri mulutmu.”
Kiam Tong ayunkan tangannya memerseni beberapa tabokan keras-keras mulut sendiri.
Walaupun ia sedang menabok mulutnya sendiri tapi tabokan tadi dilakukan dengan
sangat berat, dalam beberapa saat lamanya sepasang pipinya sudah membengkak besar.
Gadis berbaju ringkas itu makin melihat semakin merasa tidak enak, akhirnya ia
membentak, “Tahan?” Kiam Tong berhenti dan melirik sekejap ke arah gadis tersebut tapi
sebentar kemudian ia melanjutkan kembali tabokannya keatas mulut sendiri. Dari mata
gadis itu jadi gusar, sembari menudingkan pedangnya ia berteriak seraya menangis
tersedu-sedu.
“Bagus sekali! bukan saja kau menganiaya diriku bahkan suruh Khiem Kiam Jie Tong
menganiaya pula diriku?”
“Sudah, sudah, tidak usah ditabok lagi,” akhirnya si orang berjubah biru itu ulapkan
tangannya. Kiam Tong berhenti menabok, tapi sepasang pipinya sudah bengkak sangat
besar, darah segar mengucur keluar dari ujung bibirnya.
Gadis berbaju ringkas itu menangis seperminum teh lamanya, tapi orang berjubah biru
itu tetap tidak ambil gubris, tidak menghibur juga tidak membentak suruh ia berhenti.
Siauw Ling yang melihat peristiwa itu dari atas pohon Liuw tua, diam-diam merasa
sangat kegelian, pikirnya, “Kelihatannya antara sepasang laki perempuan ini mempunyai
hubungan yang sangat erat, entah mengapa sikap orang berjubah biru itu ternyata sangat
dingin. Heee walaupun watak gadis ini rada kasar dan berangasan, tapi sikap lelaki inipun
terlalu dingin dan ketus.”
Gadis berbaju ringkas yang menangis beberapa saat tidak kelihatan juga orang berbaju
biru itu melerai atau menghibur. Agaknya ia merasa malu untuk turun dari panggung.
Tangisnya makin lama makin keras semakin melengking. Sembari menangis makinya
penuh kegusaran?
“Apa yang kalian lihat disini? Ayo cepat enyah jauh dari sini!” sipemuda berjubah biru
itu tidak bergerak maupun bertanya, justru yang ditunggu-tunggu adalah ucapan tersebut
ia segera tertawa dingin tiada hentinya.

“Heee heee heee, bagus kau sendiri yang suruh aku enyah dari sini!”
Sembari membawa Leng pay dari Siauw Ling ia berlalu dari sana dengan langkah lebar.
Khiem Kiam kedua orang bocah itupun dengan kencang mengikuti dari belakangnya
melindungi pemuda berbaju biru itu naik keatas sampan sebentar kemudian terdengar
suara dayung menyampok air perahu sampan tersebut dengan cepat meluncur
meninggalkan tepian dan sebentar kemudian lenyap dari pandangan.
Jilid 21
Ketika sang gadis berbaju ringkas itu mendengar suara perahu sampan telah pergi jauh
agaknya ia benar-benar merasa kesedihan suara tangisnya semakin meraung-raung.
Suara tangis yang diperdengarkan tadi adalah sengaja dikeluarkan maka suaranya
tinggi melengking menusuk telinga tetapi suara tangisnya saat ini sungguh-sungguh
ditumpahkan keluar dari lubuk hatinya suara sesenggukkannya begitu memilukan hati
membuat orang merasa ikut terharu.
Tiba-tiba didasar hati Siauw Ling muncul perasaan iba diam-diam pikirnya dihati, “Gadis
ini sungguh patut dikasihani boarlah aku turun dan menghibur dirinya dengan beberapa
patah kata.”
Belum sempat ia melakukan sesuatu mendadak bayangan tinggi kurus yang semula
berbaring di atas tanah tadi tiba-tiba bangun berdiri dan berjalan mendekati gadis
tersebut.
Pada waktu itu gadis berbaju ringkas itu sedang menangis meraung-raung, ketajaman
maupun mendengarnya sudah kehilangan reaksinya. ketika bayangan tinggi kurus itu
sudah tiba empat lima langkah dari badannya ia masih belum merasa.
Siauw Ling yang melihat kejadian itu hatinya terasa amat tegang, pikirnya, “Perduli
gadis ini orang baik atau jahat tidak seharusnya seorang lelaki melakukan serangan
bokongan terhadap seorang gadis dalam waktu itu ia tak bersiap sedia, orang ini tentu
seorang pengecut aku Siauw Ling tidak boleh duduk sambil berpeluk tangan.”
Dipatahkannya sebatang ranting pohon Liuw lalu dipatah-patahkan kembali jadi tiga
bagian dan dicekal di tangan dengan disalur hawa kweekang! Asalkan bayangan tinggi
kurus tadi melancarkan serangan bokongan maka ia akan melancarkan serangan pula
dengan potongan ranting pohon Liuw itu dalam gerakan Sam Yen Lian Tie.
Siapa nyana ternyata urusan bayangan luar dugaan Siauw Ling ketika bayangan hitam
itu tiba kurang lebih lima depa dari gadis itu mendadak berhenti.
“Nona, kau jangan menangis lagi,” hiburnya lirih.
Walaupun ia berusaha keras untuk mendatarkan suara tapi kedengaran di dalam telinga
membawakan nada dingin kaku yang tak sedap didengar.

“Aakh suara orang ini radanya seperti ku kenal!” tiba-tiba Siauw Ling merasa hatinya
rada bergerak dengan cepat ia pertajam pandangannya.
Bagai dipagut ular bisa seketika itu gadis berbaju ringkas menghentikan suara
tangisnya meloncat bangun.
Mengikuti perputaran badan pedangpun sudah dicabut keluar melindungi depan dada.
“Siapa kau?” bentaknya dingin sembari melototi bayangan tinggi kurus itu tajam-tajam.
“Cayhe tidak bermaksud jelek.”
Sembari berkata kembali orang itu maju dua langkah ke belakang.
Gadis berbaju ringkas itu dengan cepat gerak pedangnya membentuk selapis cahaya
tajam yang menyilaukan mata.
“Cepat enyah dari sini jika kau berani maju selangkah lagi. Hmm, jangan kau salahkan
pedang nonamu tak bermata.”
Mendengar ancaman tersebut bukannya jeri sebaliknya orang itu mendadak tertawa
tergelak.
“Haaa… haaa… apa yang dialami nona malam ini berhasil cayhe lihat dengan mata
kepala sendiri didengar dengan telingaku sendiri.”
“Kendati kau sudah melihat sudah kau dengat lalu apa gunanya?” kembali bayangan
tinggi kururs itu tertawa tergelak.
“Sikap orang itu terhadap nona memang keterlaluan.”
“itu soal kami sendiri, tidak perlu orang lain ikut campur!”
“Tapi orang itu sudah tidak pandang nona sebagai orang sendiri. Haaa… haaa… jikalau
cayhe ceritakan apa yang aku lihat malam ini keseluruh dunia kangouw maka dikemudian
hari nona tak akan punya muka untuk berkelana di dalam dunia persilatan lagi.”
“Kau berani?” bentak gadis itu amat gusar.
“Kenapa tidak berani? Seorang nona perawan merengek-rengek di depan seorang pria
dan ternyata orang lain tidak menggubris rengekanmu itu bahkan ditinggal pergi, peristiwa
ini sungguh-sungguh menggelikan sekali haaa… haaa…”
“Tutup bacotmu!” teriak gadis itu sangat murka, “Kau berani mengejek aku dengan
kata-kata yang kotor, jangan salahkan aku orang akan turun tangan membinasakan
dirimu.”
Siauw Ling yang melihat peristiwa itu diam-diam membuat perbandingan di dalam
hatinya.
“Pria itu berwatak dingin, licik kecil dan banyak akal berusaha menggunakan berbagai
macam cara untuk mendesak dan memjirat gadis tersebut. Tindakan ini memang sangat

terkutuk jikalau gadis itu sampai muncul niatnya untuk membinasakan dirinya tindakan
inipun tidak terlalu telengas.”
Pada waktu itu si orang berbaju hitam itu sedang tertawa dingin.
“Aku takut nona masih bukan tandingan cayhe.”
“Omong kosong” teriak gadis itu gusar.
Pedangnya dengan sepenuh tenaga langsung ditusukan ke depan.
Dengan sebat si orang berbaju hitam itu berkelit kesamping menghindarkan diri dari
datangnya serangan balasan, sambungnya lebih lanjut, “Jikalau nona suka mendengarkan
perkataan cayhe dan bekerja sama dengan diriku, bukan saja kau bisa menggaet kembali
kekasihmu jauh telah berubah hati bahkan dapat pula menyalurkan kemangkelanmu di
dalam dunia persilatan, membuat semua orang merasa gusar dan cemas.”
Diketahui rahasia hatinya gadis berbaju ringkas itupun menarik kembali pedangnya
yang sedang melancarkan tusukan.
“Kita harus bekerja sama dengan cara yang bagaimana??” tanyanya dengan nada jauh
lebih ramah.
“Asalkan nona suka mendengarkan perkataan cayhe dan menyaru nama seorang yang
sudah mati dan melakukan beberapa pekerjaan yang mengejutkan hati maka sukseslah
sudah kerja sama kita.”
Agaknya gadis berbaju ringkas ini telah tertanam rasa cinta yang sangat mendalam
terhadap sipemuda berbaju biru itu, buru-buru tanyanya, “Kau suruh aku menyaru sebagai
apa? Siauw Ling?”
Siauw Ling yang sedang bersembunyi di atas pohon Liuw tua itu kembali merasakan
hatinya bergetar keras.
“Bagus sekali tidak kusangka namaku Siauw Ling benar-benar laku keras seperti kacang
goreng” pikirnya dihati. “Bukan saja si orang berbaju biru itu sudah menggunakan
namaku, bahkan orang lain pula memaksa gadis ini menggunakan namaku.”
“Siauw Ling?” terdengar gadis itu berbisik lirih.
“Siauw Ling yang namanya tercantum di atas Leng pay tadi.”
“Tidak salah orang itu menyaru nama Siauw Ling justru hendak.”
“Siapa yang kau maksud orang itu?”
“Pemuda berjubah biru tadi?”
“Oooow dia bernama Lan Giok Tong!”

“Benar Lan Giok Tong menyaru sebagai Siauw Ling justru bertujuan hendak memancing
munculnya seorang gadis cantik inilah sebabnya ia jatuh cinta pada gadis itu dan
melupakan yang lama tidak cinta dirimu lagi.”
“Cantikkah gadis itu?” tanya gadis tersebut cemas.
Dengan pandangan tajam si orang berbaju hitam itu meneliti tubuh gadis tersebut dari
atas hingga ke bawah, lalu jawabnya, “Menurut penglihatan cayhe, jikalau kalian berdua
dibandingkan maka seharusnya keindahannya mirip Coen Lan Ciu Kiok masing-masing
mempunyai keistimewaannya sendiri cuma di dalam pandangan Lan Giok Tong, orang itu
jauh lebih cantik beberapa bagian dari pada nona.”
“Kau bukan dirinya, bagaimana bisa tahu pandangannya?”
“Sebetulnya urusan sudah tertera sangat jelas. Jikalau Lan Giok Tong merasa nona jauh
lebih menarik dari pada gadis tersebut iapun tak bakal melepaskan nona untuk mencintai
orang lain.”
Saking khekinya gadis itu sampai melototkan sepasang matanya bulat-bulat dan
mendengus dingin.
“Hmm! Aku pasti mencari gadis itu dan akan kulihat apakah kecantikannya melebihi
diriku?”
“Kepandaian silat yang dimiliki nona itu sangat tinggi sekalipun kau berhasil menemui
dirinya belum tentu bisa menandingi dirinya apalagi kaupun tak bakalan bisa temukan dia
orang.”
“Soal ini bagaimana kau bisa tahu?”
“Nona belum menjawab pertanyaan cayhe?”
“Dengan cara begini aku pergi mencari dirinya sama saja mengapa harus menyaru
nama Siauw Ling yang sudah mati, aku tidak mau.”
“Baiklah jikalau nona tidak suka cayhepun tidak akan memaksa lebih lanjut kita
berpisah dulu sampai disini.”
Ia putar tubuh dan melangkah pergi dengan tindakan lebar.
Melihat orang itu betul-betul berlalu gadis berbaju ringkas itu jadi gelisah.
“Berhenti!” teriaknya keras.
Si orang berbaju hitam itu berhenti.
“Kau belum selesai berbicara siapakah namanya? dan aku harus pergi kemana untuk
menemui dirinya?”
“Heee hee ia berada jauh diujung langit diluar dunia dilingkungan dewa selama hidup
jangan harap kau bisa temui dirinya!” teriak si orang berbaju hitam itu sambil tertawa

dingin. Kemungkinan juga ia berada beberapa depa disisimu, setiap saat bisa muncul di
sampingmu.”
Gadis berbaju ringkas itu menunduk akhirnya ia bungkam dalam seribu bahasa.
“Nona jika kau suka mendengar perkataan cayhe dan bekerja sama dengan diriku,
maka kita masing-masing akan mengambil keuntungan sendiri-sendiri,” sambung orang itu
lebih lanjut.
“Apa maksudmu mengambil keuntungan sendiri-sendiri?” tanya gadis itu rada
tercengang.
Ia merandek sejenak kemudian menyambung, “Ooow benar karena gadis itu berwajah
sangat cantik maka kau ada maksud mengincar dirinya.”
“Kesukaan cayhe sangat banyak tapi justru paling benci main perempuan dugaan nona
salah besar” potong orang itu cepat.
“Lalu apa yang kau inginkan?”
“Cayhe hanya menginginkan semacam barang dari sakunya. Sisanya boleh aku
serahkan semua untuk nona urusi sendiri.”
“Barang apa yang kau inginkan?”
“Heee hee hee… nona, apakah pertanyaan kau tidak terlalu banyak??” potong orang
berbaju hitam itu sambil tertawa dingin. “Hm! mau atau tidak cepat katakan cayhe masih
harus pergi mencari orang lain tak ada waktu untuk menemui dirimu lebih lama lagi.”
Tiba-tiba gadis berbaju ringkas itu menghela napas panjang.
“Baiklah aku setuju tapi kau tidak boleh mengingkari janji, kau harus serahkan orang itu
kepadaku mau bunuh siksa itu hakku semua!”
“Hal ini sudah tentu selama hidup cayhe selalu bekerja menggunakan otak dan apa
yang pernah dijanjikan selamanya tak akan diingkari kau boleh berlega hati.”
“Kau tunggu sebentar aku pergi mencari barang-barang keperluan.”
“Tunggu ada suatu urusan cayhe harus menjelaskan terlebih dahulu dan nona boleh
pikir masak-masak yaitu sebelum menemukan gadis tersebut maka harus mendengarkan
segala perintah cayhe.”
“Baik… baiklah… aku menurut saja.”
Gadis itu segera putar badan meloncat naik keatas sampannya dan buru-buru
mendayung pergi.
“Nona kau harus cepat pergi dan cepat balik cayhe tak dapat menunggu terlalu lama.”

“Aku mau pergi keatas perahu besar yang kutumpangi,” gadis itu menggeleng berulang
kali. “Terutama hendak mengambil barang keperluan dan kedua hendak perintahkan
mereka berangkat terlebih dahulu dan tak usah menunggu aku lagi.”
Perkataan terakhir baru saja meluncurkan keluar, sampan kecil itu sudah lenyap dari
pandangan.
Perlahan-lahan si orang berbaju hitam itu berjalan ketepi sungai dan memandang ke
tempat kejauhan dengan termangu-mangu.
Diam-diam Siauw Ling tarik napas panjang-panjang tanpa menimbulkan sedikit
suarapun ia meloncat turun dari atas pohon dan tepat berdiri di belakang si orang berbaju
hitam itu.
Pada saat ini jikalau ia ada maksud membokong si orang berbaju hitam itu cukup sekali
tabok mau tangkap mau bunuh bukan suatu pekerjaan yang terlalu susah.
Haruslah diketahui deruan angin serta ombak yang sangat keras sangat memekikkan
telinganya apalagi si orang berbaju hitam itu punya urusan di dalam hatinya walaupun ia
memiliki kepandaian silat yang amat bagus ketajaman pandangan mata serta
pendengarannya melebihi orang lain tapi dalam keadaan seperti ini susah juga baginya
untuk bekerja normal.
Apalagi ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Siauw Ling memperoleh warisan dari Liuw
Sian Ci, melayang berkelebat tanpa menimbulkan sedikit suarapun sudah tentu orang itu
tak bakal merasa.
Agaknya orang berbaju hitam itu merasa amat gelisah sikapnya tidak tenang dan
pikirannya ruwet mendadak ia putar badan hendak berlalu.
Tapi sewaktu melihat Siauw Ling telah berdiri dihadapannya dengan sikap angker ia jadi
sangat terperanjat bukan main, tapi pengalamannya dalam menghadapi musuh tangguh
membuat ia memiliki daya reaksi yang luar biasa.
Telapak tangan disilangkan di depan dada badanpun berturut-turut mundur tiga depa
ke belakang.
“Siapa kau?” tegurnya dingin.
“Siauw Ling…”
“Apa…?” orang berbaju hitam itu merasakan hatinya tergetar sangat keras.
“Siauw Ling yang benar-benar merupakan barang tulen harga asli, jikalau aku ingin cari
aku lebih baik tak usah suruh orang lain menyaru sebagai aku lagi.”
“Hal ini tidak mungkin terjadi!” seru si orang berbaju hitam itu sembari berusaha
menenangkan hatinya. “sejak dulu Siauw Ling sudah mati, dikolong langit tidak mungkin
masih ada Siauw Ling yang asli apalagi peristiwa itu cayhe lihat dengan mata kepala
sendiri, kau tak bakal membohongi diriku lagi?”

“Hmm! Aku kira siapa, kiranya kau!” seru Siauw Ling sambil tertawa dingin. “Bagus,
bagus sekali! inilah yang dinamakan mencari sampai sepatu hancur tidak ditemukan,
akhirnya diperoleh tanpa buang tenaga.”
Makin lama si orang berbaju hitam itu merasa semakin terkejut bercampur tercengang.
“Kau tahu siapakah aku??”
“Leng Bian Thiat Pit atau si Pit besi berwajah dingin Tu Kiu, Loo jie dari Tiong Cho
Siang-ku! Hmmm! kau boleh menyaru ataupun berubah wajah tapi selamanya tak bakal
bisa mengubah suaramu!”
“Benarkah kau adalah Siauw Ling yang terjatuh ke dalam sungai lima tahun berselang?”
tanya si orang berbaju hitam itu tertegun.
“Berkat lindungan Thian yang maha pengasih, cayhe beruntung tidak sampai mati!”
“Kalau begitu sangat bagus sekali!” teriak si orang berbaju hitam itu sambil melepaskan
kain hitam pengikat kepalanya. “Cayhe memang Tu Kiu adanya, jikalau kau belum mati
maka cayhepun tidak perlu menyaru lagi dan menyembunyikan wajah yang asli.”
“Hmmm! Selamanya Tiong Cho Siang-ku tidak pernah berpisah bagaikan tubuh dan
bayangan, sekarang kau berada disini, tentunya Sang Pat pun ada disekitar sini bukan?”
tegur Siauw Ling dingin.
“Sedikitpun tidak salah.”
“Bawa aku pergi temui dirinya.”
“Untuk temui dia orang tidak susah, tapi selamanya Tiong Cho Siang-ku tidak pernah
menerima perintah orang-orang lain apalagi benarkah kau adalah Siauw ling belum
berhasil cayhe buktikan dengan jelas?”
“Harus diketahui sewaktu Siauw Ling terjatuh ke dalam sungai waktu itu ia baru berusia
dua, tiga belas tahunan badannya menderita penyakit aneh dan perawakannya kurus
lemah sebaliknya Siauw Ling yang sekarang tinggi besar kekar dan tampan perubahan
selama lima tahun bagaikan perbedaan dua orang saja.”
Tidak aneh kalau Tu Kiu yang berpengalamanpun susah utnuk mengenali kembali.
“Secara bagaimana kau baru suka mempercayai diriku?”
“Ceritakan kisahmu sewaktu terjatuh ke dalam sungai tempo hari?”
oo0oo oo0oo
“Apa susahnya untuk menceritakan kisahnya tempo dulu?” seru Siauw Ling sambil
tertawa. Iapun segera menceritakan kisahnya sewaktu tempo hari terjatuh ke dalam
sungai dengan teliti dan cermat!
Akhirnya setelah mendengar kisah tersebut dengan teliti kembali Tu Kiu memeriksa
seluruh tubuh Siauw Ling dari atas hingga ke bawah.

“Aaah ternyata kau benar-benar orang! karena kau kami dua bersaudara sudah
menyaru dan menyembunyikan nama kami selama hampir lima thun lamanya. Haaa…
haaa… tapi mulai hari ini kau tidak perlu menyembunyikan diri lagi terhadap orang-orang
kangouw.”
“Cepat bawa aku menemui Sang Pat!” kembali Siauw Ling berseru.
“Heee…heee… buat apa kau merasa gelisah??” ujar Tu Kiu sambil tertawa dingin.
“Cepat atau lambat bukankah sama saja?”
Siauw Ling jadi gusar, tiba-tiba bentaknya, “Hatiku gelisah bagaikan anak panah yang
berada di atas busur, tidak bisa ditunggu lagi kau mau berangkat tidak?”
“Hmm, selama lima tahun ini tentu kau sudah memperoleh penemuan-penemuan aneh
bukan?” sindir Tu Kiu dengan nadanya yang dingain kaku.
“Kau ingin mencoba?” tantang sang pemuda dengan alis melentik.
“Sudah seharusnya dicoba!”
“Kalau begitu cobalah sebuah bogem mentahku ini,” kata Siauw Ling sambil angkat
telapak kanannya lalu perlahan-lahan didorong ke depan.
Ia tak tahu bagaimanakah hasil latihannya selama lima tahun ini, tapi dalam benaknya
ia masih ingat bahwa kepandaian silat yang dimiliki Tiong Cho Siang-ku sangat lihay.
Oleh karena itu dalam serangannya kali ini walaupun telapak tangan didorong sangat
lambat tapi tenaga pukulan sudah disalurkan mencapai seluruh bagian.
Dengan cepat Tu Kiu angkat telapak kanannya dan didorong pula kemuka. Sepasang
telapak berbetur jadi satu. Siauw Ling segera salurkan hawa kweekangnya melalui telapak
tangan.
Di dalam benturan tadi Tu Kiu sudah merasakan keadaan sedikit tidak beres tapi belum
sempat ia menghindarkan diri pukulan sudah tiba terpaksa diterimanya serangan tersebut
dengan keras lawan keras.
Terasa segulung angin pukulan yang sangat kuat dan maha dahsyat menubruk datang
membuat hatinya tergetar dan tanpa terasa lagi tubuhnya mundur tiga langkah ke
belakang.
“Bagaimana? Sekarang boleh pergi mencari Sang Pat?” tanya Siauw Ling seraua
menarik kembali serangannya.
Tu Kiu tarik napas panjang-panjang ia tarik hawa murninya dari pusar menekan
golakan darah dalam rongga dada.
“Thian yang maha kasih ternyata tak menyusahkan orang budiman, kau sungguh telah
menjadi murid Pak Thian Coen cu.”

Ia putar badan dan segera berlalu dari sana.
Siauw Ling yang ingin cepat-cepat berjumpa dengan Sang Patpun malas banyak bicara
lagi mengikuti dari belakang Tu Kiu ia berlalu dari sana.
Tu Kiu makin lama semakin mempercepat langkahnya tidak selang sepertanak nasi
kemudian mereka sudah tiba di depan sebuah rumah gubuk yang berdiri sendiri.
Pintu gubuk tertutup rapat-rapat dalam ruangan tidak kelihatan cahaya lampu.
“Toako apakah kau ada didalam?” seru Tu Kiu sambil mendehem setibanya di depan
pintu.
Pintu kayu terbuka dan muncul seorang kakek tua berjenggot putih yang memakai
caping bambu baju model nelayan.
“Toako,” seru Tu Kiu sambil menyulut api dan memasang lampu. “Sejak ini hari kita tak
perlu menyembunyikan wajah kita lagi. Siauw Ling dia, dia belum mati.”
Mendadak si lelaki kurus kering ini muntah darah segar dan roboh keatas tanah.
“Kau benar, benarkah Siauw ling yang jatuh ke dalam sungai lima tahun berselang”
tegur sinelayan berambut putih itu sambil melototi seluruh tubuh Siauw Ling dengan
sepasang mata yang tajam.
Pemuda she Siauw ayunkan jari tangannya menotok jalan darah Tu Kiu sedang dimulut
ia menyahut, “Sedikit tidak salah cayhe adalah Siauw Ling.”
Mendadak sinelayan berambut putih itu mengusap wajah sendiri sehingga samarannya
lepas semua dan muncullah selembar wajahnya yang bulat.
“Kau yang pukul luka dia orang?” tegurnya.
Lembaran wajah yang bulat ini meninggalkan ingatan yang mendalam bagi Siauw ling
karena dia bukan lain adalah Kiem Siepoa Sang Pat.
“Sewaktu berada ditepi sungai tadi cayhe saling bertukar satu pukulan dengan dirinya.”
“Hanya sekali pukulan kau berhasil melukai dirinya?” tanya Sang Pat dengan wajah
menunjukkan sikap kurang percaya.
“Sebetulnya luka yang ia derita tak terlalu besar dan tidak suka atur pernapasan pada
waktu itu juga apalagi harus melakukan sesuatu yang dikata perjalanan pula, golakan
dada di dalam dada sukar merata maka akhirnya ia muntah darah!”
Sang Pat berjongkok membimbing Tu Kiu.
“Menolong orang jauh lebih penting kita berbicara nanti saja?”
“Setelah berjumpa dengan kalian, akupun tidak takut kau melarikan diri,”
Dengan teliti Sang Pat memeriksa seluruh tubuh Tu Kiu dari atas hingga ke bawah.

“Kau bisa melancarkan totokan diudara kosong.”
“Apa yang perlu diherankan dengan kepandaian?”
Sang Pat tidak banyak bicara lagi, ia urut beberapa urat nadi disekitar badan Tu Kiu lalu
menjejalkan sebutir pil ke dalam mulutnya, setelah itu ia baru ujarnya lirih, “Jiete, kau
aturkan pernapasanmu sebentar aku ingin bicara sebentar dengan Siauw heng ini!”
“Cara berpikir yang berbeda tak mungkin bisa bersekongkol aku lihat kitapun tidak usah
banyak berbicara lagi,” sambung Siauw Ling dingin. “Teringat lima tahun berselang aku
pernah berkata bahwa aku tak akan membinasakan kalian berdua sekarang cepat beritahu
kepadaku dimana enci Gak sekarang berada?”
Sang Pat tersenyum.
“Kepandaian silat yang Siauw heng miliki walaupun tidak jelek tapi untuk
membinasakan diriku rasanya belum tentu bisa.”
Sepasang alis Siauw Ling melentik, sepasang matanya memancarkan cahaya tajam dan
melirik sekejap ke arah Sang Pat dengan pandangan dingin. “Persoalan ini sih tidak perlu
diperebutkan, aku cuma ingin bertanya kepadamu dimanakah enci Gakku sekarang
berada?”
“Entahlah aku sendiripun kurang tahu,” Sang Pat menggeleng. “Sejak kau terjatuh ke
dalam sungai dan kami kakak beradik mengingkari janji dengan diri Gak Siauw-cha lantas
tidak punya muka lagi untuk menemui dirinya jika dihitung dengan jari sudah ada lima
tahun kami tidak pernah berjumpa dengan gadis itu.”
Selintas perasaan sedih dan kesal berkelebat di atas wajah Siauw Ling lama sekali ia
termenung dan akhirnya berkata kembali dengan nada dingin.
“Jikalau enci Gak ku terdapat sesuatu hal yang tidak beres, sekalipun aku berhasil
mencegah badan kalian berdua jadi hancurpun sukar menghilangkan rasa dendam yang
terpendam dihatiku.”
Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya, “Enci Gak ku pernah kalian kurung
disuatu tempat, tuduhanku ini bukannya tiada beralasan?”
“Tidak salah, nona Gak memang sudah kami bawa untuk disembunyikan disuatu tempat
yang aman tapi kami kakak beradik telah menyanggupi untuk membawa Siauw heng
menemui dirinya untuk ditukar dengan kunci istana terlarang tidak beruntung kau lenyap
terjatuh ke dalam sungai dan kami kakak beradik yang melakukan pencarian disekitar
sepuluh li dari permukaan sungai tidak menemukan bayangan Siauw heng, karena
peristiwa ini Tiong Cho Siang-ku tak dapat menancapkan kaki dalam dunia kangouw lagi
dan memperoleh kepercayaan dari kawan-kawan Bulim apalagi untuk pergi menemui Gak
Siauw-cha.”
“Ia berada dimana, cepat bawa aku pergi temui dirinya!” potong Siauw Ling cemas.
Perlahan-lahan Sang Pat menggeleng.

“Ruang rahasia yang kami gunakan untuk sekejap nona Gak sudah tersedia bahan
makanan untuk setengah tahun lamanya. Kami kakak beradik tidak berhasil menemukan
Siauw Siangkong dan walaupun tidak punya muka untuk menemui dirinya lagi tapi kami
tak membiarkan dia mati. Karena lima bulan setelah Siauw heng terjatuh ke dalam sungai
kami kakak beradik dengan menyaru secara diam-diam telah pergi kesana untuk mengirim
bahan makanan.”
“Hmm! ternyata kalian berdua masih berperikemanusiaan juga,” Si Siepoa emas Sang
Pat mendehem ringan, sambungnya, “Tapi sewaktu kami kakak beradik tiba diruangan
rahasia tersebut, ternyata nona Gak sudah memutuskan terali besi dan meloloskan diri dari
sana jejaknya tidak ketahuan kami kakak beradik sudah banyak tahun berkelana diseluruh
penjuru dunia tapi tidak berhasil juga menemukan kabar beritanya.”
“Heee… heeee… sebelum berhasil menemukan kabar berita mengenai enci Gak,
tanggung jawab kalian berdua belum selesai!” seru Siauw Ling tertawa dingin. “Lebih baik
kalian berdua iktui diriku saja.”
“Kemana?”
“Perkampungan Pek Hoa Sanceng, kita berjanji dengan batas waktu tiga tahun jikalau
dalam tiga tahun ini aku berhasil menemukan enci Gak sudah tentu kalian berdua akan
kami lepaskan.”
“Apa? perkampungan Pek Hoa Sanceng?” mendadak Tu Kiu berteriak kaget. Sepasang
matanya terbelalak lebar-lebar.
“Tidak salah dan inipun tidak berharga untuk dibuat kaget” ia merandek, lalu
tambahnya, “Jikalau dalam batas waktu tiga tahun kabar berita enci Gak belum juga
didapatkan maka kalina berdua akan kubunuh.”
Tenaga kweekang yang dimiliki Tu Kiu amat sempurna apalagi memperoleh bantuan
obat mujarab setelah beristirahat sebentar kekuatannya sudah pulih kembali seperti sedia
kala.
Sembari meloncat bangun serunya, “Tadi salah cayhe sendiri terlalu pandang rendah
pihak lawan sehingga kena kau pukul luka tapi aku masih belum puas dan takluk benarbenar.”
“Jadi kau pingin coba-coba lagi? Sudah tentu.”
Sinar mata Siauw Ling berputar mengamati sebentar ruangan di dalam rumah itu
kemudian menggeleng.
“Ruangan ini terlalu sempit dan kecil mau bertanding ada baiknya kita coba di tempat
luaran saja.”
Tunggu sebentar tiba-tiba Sang Pat menyambar lengan kirinya dan mencegah Tu Kiu
meloncat keluar dari ruangan, “Sekalipun mau gebrak ada baiknya kita bicarakan dulu ini
hingga jelas. Ada perkataan apa cepat diutarakan.”
“Kau kenal dengan sibayangan berdarah Jen Bok Hong.”

“Dia adalah Toako ku,” sahut Siauw Ling setelah termenung sebentar, “Mengapa ia
tidak menerima kau sebagai muridnya?”
“Soal ini kau tidak usah ikut campur” teriak sang pemuda gusar.
“Kau belajar ilmu silat dari bayangan berdarah Jen Bok Hong sudah tentu kepandaian
silatnya luar biasa waktu lima tahun tidak terhitung panjang jikalau memperoleh didikan
yang cermat rasanya dengan kecerdikan yang kau miliki bisa peroleh seluruh ahli
warisnya, tapi di dalam hal tenaga kweekang belum tentu bisa hebat melebihi kami kakak
beradik, jikalau satu lawan satu ada kemungkinan kau bisa mencuri andaikan kelincahan.
Apalagi jurus-jurus serangan dari sibayangan berdarah banyak yang aneh dan lihay,
mungkin juga kita bertarung seimbang dan keadaan setali tiga uang alias sama saja, tapi
jikalau kami kakak beradik bekerja sama maka kau pasti akan menderita kalah. Sekalipun
sibayangan berdarah Jen Bok Hong datang sendiripun belum tentu bisa menangkan kami
Tiong Cho Siang-ku dalam jurus” sambung pula si pit berwajah dingin Tu Kiu.
Mendengar ucapan tersebut diam-diam Siauw Ling merasakan hatinya rada bergerak,
pikirnya, “Jika didengar dari nada ucapan kedua orang itu agaknya terhadap Toako
angkatku Jen Bok Hong menaruh rasa jeri. Kelihatannya nama besar Toako benar-benar
sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan sungguh luar biasa…”
Tidak menanti Siauw ling berbicara, si Kiem Siepoa Sang Pat kembali berebut bicara,
katanya, “Coba kau tinjau dulu situasi pada saat ini apa yang cayhe ucapkan setiap patah
kata sejujurnya.”
“Dari siapa aku belajar ilmu silat rasanya kalian berdua tidak perlu mencari tahu jikalau
aku punya maksud mencelakai kalian berdua, tadi sewaktu berada ditepi sungai Tiang
Kang, Tu Kiu sudah menggeletak mati dengan darah berceceran.”
Walaupun diluaran Tu Kiu tidak buka suara tapi diam-diam pikirnya:
“Perkataan ini sedikitpun tidak salah, jikalau tadi ia melancarkan beberapa jurus
serangan dalam keadaan terluka parah aku pasti tak akan tahan dan kemungkinan besar
akan menggeletak ditepi sungai.”
“Ada orang datang” tiba-tiba Sang Pat berseru.
Tangannya langsung diayun memadamkan lampu lentera membuat suasana di dalam
ruang gubuk itu jadi gelap gulita susah melihat lima jari tangan sendiri.
Diam-diam Siauw Lingpun salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh siap
menghadapi serangan bokongan dari Tiong Cho Siang-ku, sepasang matanya yang tajam
menyapu tiada hentinya di sekeliling ruangan.
Tampak Sang Pat mengunci kembali pintu besar dan melalui celah kayu ia mengintip
keluar.
Tu Kiu dengan punggung menempel ditembok besar badannya mendempet terus di
atas satu-satunya lembaran jendela.

Terdengar suara langkah kaki berkumandang datang dari kejauhan semakin lama
berjalan semakin mendekat lalu menjauh dan akhirnya lenyap dari pandangan.
Menanti orang itu sudah berlalu sambil putar badan Sang Pat menghembuskan napas
panjang.
“Siapa yang datang?” tak tertahan lagi Siauw Ling bertanya.
“Pay cu dari Sin Hong Pay secara mendadak muncul disini, entah apa sebabnya?” jawab
Tu Kiu.
“Mungkin sedang mengejar Siauw Ling” sambung Sang Pat.
“Mengejar aku.”
“Dalam persoalan ini sih bukan kau yang dimaksudkan yang ia kejar adalah Siauw Ling
palsu itu,” sambung Tu Kiu cepat.
Sang Pat mendehem berat.
“Siauw Ling palsu itu bisa menipu kami dua bersaudara, rasanya orang yang tak bisa ia
tipupun hanya beberapa selintir saja.”
“Orang-orang itu pada mengejar Siauw Ling palsu, apakah tujuan merekapun
disebabkan kunci istana rahasia???”
“Sehari istana rahasia tidak terbuka maka sehari pula Siauw Ling tak bisa hidup
tenteram. Sejak Gak Siauw-cha lenyap dari pendegaran maka seharusnya Siauw ling
adalah satu-satunya jalan untuk mengejar kunci istana rahasia tersebut.”
Pemuda she Siauw itu tertawa dingin tiada hentinya mendengar perkataan tersebut.
“Tetapi justru cayhe sekarang yang sedang memaksa kalian dua bersaudara untuk
menunjukkan tempat persembunyian enci Gak ku.”
“Sungguh sayang kami berdua tidak tahu,” kata Tu Kiu dingin.
“Bagaimanapun pokoknya cayhe minta pertanggung jawab kalian berdua dalam soal ini
jikalau kalian tidak suka memberitahukan jejak enci Gak ku maka terpaksa kamu semua
harus ikut aku pergi keperkampungan Pek Hoa Sanceng.”
“Jika kami berdua tidak mau ikut?” tantang Sang Pat tiba-tiba.
“Kalian berdua tidak berhak untuk menentukan persoalan ini.”
“Ooow sungguh besar lagakmu!” Sang Pat tertawa geli. “Kami Tiong Cho Siang-ku
sudah ada puluhan tahun berdagang dan tidak mudah untuk menciptakan merek nama
emas sekali hancur membuat kami harus bergelandangan selama lima tahun di dalam
Bulim dengan keadaan menyaru jual beli ini benar-benar sangat merugikan sekali dan kini
kau masih ingin menagih uang muka.”

“Baik uang pokok maupun uang bunga aku tetap ingin menagihnya kembali pokoknya
tidak berhasil menemukan enci Gak berarti dua lembar nyawa kalian harus kurenggut
untuk mengganti selembar nyawanya.”
“Orang berdagang kebanyakan tergantung modal bocah cilik apa yang kau andalkan?”
“Aku andalkan sepasang telapak tanganku itu.”
“Bagus sekali kalau begitu siauwte berduapun harus melayani permintaanmu itu.”
“Ruangan ini terlalu sempit dan kecil, rasanya tidak leluasa jika harus bergebrak disini.”
“Tiga empat li disebelah utara ada sebuah kuil bobrok yang terpencil bagaimana kalau
kita disana saja. Urusan tak boleh diundur-undur lagi, sekarang juga kita pergi.”
“Baik, biar siauwte tunjuk jalan,” Sang Pat segera melompat keluar dari ruangan gubuk
tersebut.
Tiga sosok bayangan manusia dengan amat cepat berkelebat menuju ke arah utara dari
gubuk tadi.
Sedikitpun tidak salah setelah berjalan kurang lebih empat li tibalah mereka disebuah
kuil besar yang susah bobrok dan tidak terpakai lagi.
Di bawah pimpinan Sang Pat mereka meloncat masuk ke dalam kuil melewati ruang
besar dan tiba disebuah pekarangan yang besar tapi menyeramkan.
Luas halaman belakang kuil itu ada dua hektar lebih. Alang-alang tumbuh setinggi lutut,
empat penjuru penuh ditumbuhi pepohonan waru yang tinggi besar, hanya di tengah
pekarangan seluas tiga empat kaki saja merupakan sebidang tanah yang bersih dari
gangguan alang-alang. sembari menuding ke arah deretan barak sebelah timur tiba-tiba
Sang Pat berkata, “Di dalam deretan barak itu terdapat dua buah peti mati kosong jika tak
beruntung kami dua bersaudara terluka dan mati ditanganmu, harap kau suka sedikit
repot memasukkan mayat kami berdua ke dalam peti mati itu kemudian dikubur di tengah
lapangan ini.”
Siauw Ling tertegun, tetapi sebentar kemudian ia berkata “Jikalau siaiwte yang tidak
beruntung mati, berharap kalian berdua suka sedikit repot menyelesaikan layonku.”
“Asalkan kami bisa lakukan tentu akan dilaksanakan tanpa membantah.”
“Dikemudian hari jika kalian beruda berjumpa kembali dengan enci Gak maka tolong
jangan kalian katakan kalau aku mati karena pertarungan disini.”
“Tidak bisa jadi!” potong Tu Kiu tiba-tiba. “Tiong Cho Siang-ku tidak pernah bicara
bohong.”
Di dalam hati Siauw Ling mengerti bila kepandaian silat yang dimiliki Tiong Cho Siangku
amat lihay.
Jikalau mereka berdua turun tangan bersama-sama maka baginya memang kurang
punya pegangan untuk merebut kemenangan ia tertawa hambar.

“Setelah aku titipkan pesan terakhirku sudah tentu ucapan kalian bukan omongan
bohong.”
“Baiklah” kata Sang Pat kemudian manggut. “Kita tetapkan saja demikian.”
“Kalian hendak turun tangan bersama-sama? Ataukah seorang demi seorang?”
“Biar cayhe menghadapi dirimu seorang diri terlebih dulu,” sahut Sang Pat setelah
memandang sekejap ke arah Tu Kiu. “Jikalau kau benar-benar bisa mengalahkan diriku
nanti kami berdua baru turun tangan berbareng bagaimana?”
“Jika aku Siauw Ling takut kalian Tiong Cho Siang-ku turun tangan berbareng, saat
inipun tidak akan berani datang kemari untuk melayani tantangan kalian.”
“Kalau begitu silahkan kau turun tangan jumlah kami lebih banyak maka ada baiknya
mengalah tiga jurus dulu buatmu.”
“Tunggu sebentar ada satu persoalan, aku barus membicarakan agar jelas.”
“Cayhe tentu pentang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan perkataanmu itu.”
“Karena kalian berdua ingin mempertahankan nama baik kalian dalam dunia kangouw
maka sekarang telah bulatkan tekad hendak melakukan suatu pertempuran adu jiwa, tapi
siauwte benar-benar tiada maksud untuk membinasakan kalian berdua jikalau aku
beruntung berhasil menangkan kalian berdua aku harap kalian bantu aku pergi mencari
jejak enci Gak.”
“Ha haa… kelihatannya keinginan Siauw heng untuk menangkan kami berdua begitu
kukuh dan kuat” Sang Pat tertawa terbahak-bahak habis mendengar ucapan pemuda
tersebut ia merandek sejenak lalu sambungnya serius, “Jika kami dua saudara sama-sama
menderita kalah ditanganmu maka selama hidup akan mendengarkan perintahmu tapi
jikalau beruntung kami dua bersaudara yang menang? kaupun harus menyetujui satu
permintaanku urusan apa?”
“Setelah bertemu dengan enci Gak mu kau harus bantu kami mintakan kunci istana
terlarang untuk kami.”
“Baiklah, sekarang kalian harus berhati-hati.”
“Sreeet” telapak tangannya mendadak dibabat keluar keras-keras.
Sang Pat menyingkir kesamping dengan gerakan Huan Bauw Lan Wie atau berganti
jubah menyingkir tempat loloskan dari datangnya serangan tersebut.
Terasa angin pukulan yang tajam dan kuat melayang lewat dari sisi tubuhnya membuat
jubah yang dikenakan berkibar keras tak terasa lagi ia merasa sangat terperanjat.
“Bangsat cilik! Sungguh dahsyat sekali ilmu pukulannya,” diam-diam ia berpikir di dalam
hati. Siauw Ling yang melihat serangannya tak mencapai sasaran, sang badanpun
mendesak maju ke depan, sepasang telapak dirapatkan jadi satu lalu dihantam kemuka.

Serangan ini datangnya meninggalkan sedikit suarapun, kekuatanpun tidak memancar
keluar dari ujung telapak.
Sang Pat dengan gerakan tubuh Ih Si Huan Wie atau bergoyang badan berpindah
tempat badannya berputar satu lingkaran besar meloloskan diri dari datangnya serangan
tersebut.
Terasa bayangan manusia berkelebat lewat, telapak Siauw Ling bagaikan bayangan
mengajar terus dari belakang, kali ini pemuda she Siauw tersebut telah menggunakan ilmu
menangkap yang jitu kelima jari tangannya mengancam pergelangan kanan Sang Pat.
Diam-diam Sang Pat merasa terperanjat pikirnya, “Amat cepat gerakan tangannya
hampir saja aku terhajar oleh serangannya.”
Buru-buru dengan menggunakan jurus Hong Hwie Yi Liuw atau angin menyambar
pohon Liuw ujung kakinya sedikit ditekan badanpun melayang lewat meloloskan diri dari
datangnya serangan tersebut.
Walaupun ia berhasil menghindarkan diri dari ketiga buah serangan lawan, tapi
tubuhnya sudah kena terdesak satu tombak dari tempat semula.
“Kali ini seharusnya kau balas melancarkan serangan kepadaku!” seru pemuda she
siauw itu sambil berhenti menyerang.
“Soal ini kau tidak kuatir.”
Tubuhnya menerjang maju ke depan, telapak kanan dihantam meyongsong dadanya
dan sewaktu serangannya hampir mendekati tubuh lawan mendadak kelima jarinya
dipentangkan mencengkeram pundak pemuda itu dengan jurus Sin Liong Tan Cau atau
naga sakti pentangkan cakar.
Siauw Ling buang pundak kesamping, dan tetap berdiri di tempat semula sedangkan
telapak kanan tiba-tiba membalik jari tengah jari telunjuk digurat ke tengah udara
membabat urat nadi pihak lawan.
************http://ecersildejavu.wordpress.com/***************
Dengan ketakutan Sang Pat mengundurkan diri ke belakang.
“Aaaakh…! ilmu menotok jalan darah Lan Hoa Hu Hiat So!” teriaknya tertahan.
“Sedikitpun tidak salah! Tidak kusangka pengetahuanmu betul-betul sangat luas.”
Telapak kiri mencowok ke depan lima jari setengah ditekuk setengah ditonjolkan
membabat pundak lawan.
Sang Pat sudah tentu tidak berani berlalu gegabah tangan kanannya dengan jurus Cing
To Lie An atau ombak besar menghajar pantai melancarkan satu babatan gencar ke arah
luar.
Saat ini Siauw Ling sudah kerajingan untuk bergebrak tangan kanannya menyambut
datangnya serangan lawan dengan keras lawan keras sedang tangan kiri dengan jari

tengah serta jari telunjuk menyentil perlahan ke tengah udara mengancam jalan darah Cit
Ing Im Bun serta Tiong Hu tiga buah jalan darah penting.
Jurus Lan Siang Su Sih atau harum bunga memancar empat penjuru ini merupakan
sebuah jurus yang sangat lihay diantara kedua belas jurus ilmu menotok Lan Hoa Hu Hiat
So.
Walaupun Sang Pat sudah mempunyai pengalaman yang sangat luas dalam
menghadapi musuh tangguh tak urung dibuat kelabakan juga menghadapi perubahanperubahan
jurus pihak lawan apalagi telapak tangannya sedang beradu tenaga dengan
telapak Siauw Ling baginya untuk meloloskan diri tidak mungkin lagi.
Dalam keadaan terburu-buru ia tarik napas panjang-panjang pundak kiri ditekan ke
bawah secara mendadak menekuk lima coen lebih ke bawah.
Walaupun perubahan yang dilakukan cukup cepat, tapi tak urung terlambat juga satu
tindak jalan darah Tiong Hu nya kena tersentil oleh jari tangan Siauw Ling.
Tu Kiu yang melihat saudaranya Sang Pat menderita kerugian dan di dalam dua tiga
jurus saja sudah menderita kalah ia tidak sempat turun tangan menolong lagi.
“Terimalah satu seranganku!” mendadak bentaknya dingin.
Padahal bentakan tersebut sudah terlambat diucapkan, belum sampai kata-kata itu
meluncur keluar serangannya sudah menyambar datang.
Siauw Ling membentak keras semangat berkobar-kobar sepasang telapaknya berturutturut
dilancarkan ke depan dengan serangan berantai, dalam sekejap mata ia sudah
melangsungkan suatu pertandingan sengit melawan sepasang Tiong Cho Siang-ku.
Tiong Cho Siang-ku yang harus bergabung dalam menghadapi Siauw Ling makin
bertempur hati mereka semakin terkejut tampak jurus serangan yang dilancarkan Siauw
Ling mempunyai perubahan yang sangat cepat dan kebanyakan merupakan gerakangerakan
yang belum selesai ditemui selama ini.
Satu jurus belum selesai digunakan jurus kedua sudah menyambung datang, kejadian
ini membuat pandangan setiap orang terasa berkunang-kunang dan susah melayani.
Kiranya rangkaian ilmu pukulan yang digunakan Siauw Ling ini adalah ilmu Lian Huan
Sun Tien Cieng Hoat atau ilmu pukulan berantai kilat menyambar andalan ayah angkatnya
Lam Ih Kong sewaktu angkat nama di dalam Bulim dalam jurus serangan terdapat jurus,
dalam pukulan terdapat pukulan perubahan lama belum selesai timbul perubahan baru,
bahkan saja membuat orang susah melayani bahkan perhatian yang terpusatpun kadangkadang
dibikin kacau sehingga membuat gerakan sendiri jadi kacau balau.
Setelah bergebrak sebanyak tiga puluh jurus, Tiong Cho Siang-ku mulai terdesak di
bawah angin oleh desakan angin pukulan yang dilancarkan pemuda itu mereka hanya bisa
menangkis dan memperhatikan diri belaka tanpa berhasil mendapatkan kesempatan untuk
balas menyerang serangan.

Sebaliknya Siauw Ling makin bertempur semakin gembira, ternyata ia mencampur
adukan ilmu menotok Cap Jie Hoa Hu Hiat So nya ke dalam gerakan-gerakan ilmu pukulan
kilat menyambar.
Keadaan Tiong Cho Siang-ku kebalikan dari diri Siauw Ling, makin bergebrak mereka
semakin terkejut pertama-tama Tu Kiu yang terpengaruh terlebih dulu oleh kecepatan
gerak ilmu telapak Siauw Ling tiba-tiba tangan kanannya didorong ke depan mengunci
datangnya serangan lawan dengan jurus Pit Bun Tui Gwat atau tutup pintu mendorong
rembulan.
Siapa nyana tangan kiri pemuda she Siauw ini mendadak meyelonong masuk dari sisi
tangannya langsung menghantam dada.
Pintu pertahanan Tu Kiu kena terbohol satu lubang. Kelihatan telapak lawan bakal
mampir di depan dada, terburu-buru ia mengundurkan diri ke arah belakang.
Siapa nyana telapak tangan Siauw Ling yang ditabok ke arah dada itu mendadak ditarik
kembali, telapak dibalik dengan ilmu menotok Lan Hoa Hu Hiat So, ia menyambar lengan
kanan lawannya. Tu Kiu segera merasakan jalan darah Pit Nau Siau Lok, dua buah jalan
darah penting jadi kaku sebuah lengan kanannya kontan kaku dan mati tak bisa digunakan
lagi.
Dalam keadaan terperanjat tiba-tiba Sang Pat maju ke depan melancarkan serangan
dengan jurus Pek Nio Cau Hong atau ratusan burung menyembah burung Hong, telapak
tangannya berubah jadi berpuluh-puluh bayangan serangan bersama-sama mengurung
seluruh kepala pemuda tersebut.
Siauw Ling sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam menghadapi musuh, melihat
telapak tangan lawan mengurung seluruh badannya ia jadi gugup, tubuh diputar siap
untuk menghindar, sedang tangan kanannya dengan menggunakan jurus Man Thian Seng
To atau seluruh jagat penuh bintang menangkis datangnya serangan tersebut.
Sedikit ragu-ragu itulah gerakannya rada terlambat angin pukulan Sang Pat sudah
bersarang di atas pundak kanannya.
Dari Cung San Pek pemuda she Siauw ini pernah memperoleh pelajaran ilmu kweekang
Kan Cing Khie kang yang khusus berguna untuk melindungi badan, dan sekarangpun
sudah ada hasilnya.
Serangan Sang Pat yang tepat menghajar di atas pundaknya segera terpental balik
keatas hal ini membuat sigemuk she Seng ini menjadi terkejut bercampur ngeri.
“Aaah! ilmu khie kang pelindung badan!” jeritnya tak tertahan lagi. Dalam keadaan
terhajar oleh serangan pihak lawan kembali Siauw Ling sentil tangan kirinya ke depan
dengan ilmu jari Siauw Lo Sin Cie angin tajam mendesir keluar jalan darah paling penting
Thian Tie pada Hu buin Sang Pat sudah kena terhajar.
Kontan seluruh tubuh Sang Pat bergoyang dan mundur dengan sempoyongan
kemudian roboh terjengkang keatas tanah.
Melihat saudaranya roboh, Tu Kiu merasa sangat terkejut.

“Toako,” teriaknya cemas sang tubuh dengan cepat menubruk ke depan.
Tangan kanannya sudah terluka susah digerakkan terpaksa dengan tangan kiri ia
sambar badan Sang Pat.
“Pundak kanan Siauw Ling yang terhajar oleh pukulan Sang Pat tadipun telah
menimbulkan rasa sakit seperti diiris-iris walaupun ia memiliki ilmu khie kang berlindung
badan tapi kekuatan tiga bagian hawa khie kangnya mana mungkin bisa menahan hajaran
Sang Pat yang kuat dan menggunakan tenaga besar itu.
Dalam pertarungan ini mereka bertiga sama-sama menderita luka. Hanya saja soal
Siauw Ling pun ikut terluka Tiong Cho Siang-ku sama sekali tidak tahu.
Haruslah diketahui ilmu Sian Bun Khie kang merupakan ilmu sakti yang tertinggi dalam
hal ilmu silat di dalam pandangan Tiong Cho Siang-ku setelah Siauw Ling berbhasil
memiliki ilmu khie kang pelindung badan sudah tentu ia tak bakal terluka oleh pukulan
apapun.
Diam-diam Siauw ling gertak gigi menahan rasa sakit ditulang bentaknya berat, “Jangan
goyangkan dirinya ia sudah terhajar oleh ilmu jari Siuw Loo Sin Ci. Jika tidak tahu cara
menolongnya bukan saja membantu bahkan akan mencelakai selembar jiwanya.”
“Apa? ilmu jari Siauw Loo Sin Ci?” seru Tu Kiu dengan air muka berubah hebat.
Buru-buru ia letakkan badan Sang Pat keatas tanah kemudian mengundurkan diri
kesamping.
Siauw Lingpun segera salurkan hawa murninya menahan rasa sakit dibadan, di samping
itu iapun menggunakan ilmu membebaskan jalan darah menunggal yang dipelajari dari
Sang Pat dari totokan jalan darah.
Walaupun akhirnya ia berhasil membebaskan diri Sang Pat dari pengaruh totokan tapi
ia sendiripun saking sakitnya keringat mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Tu Kiu yang menonton dari samping dalam hati masih mengira pemuda itu kelelahan
sehingga mengucurkan keringat karena harus menyembuhkan Sang Pat dari pengaruh
totokan, diam-diam dalam hatinya merasa sangat berterima kasih sekali.
Setelah Sang Pat merasakan jalan darahnya bebas, ia segera loncat bangun dan
memandang Siauw Ling dengan mata terbelalak lama sekali ia baru menghela napas
panjang.
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil : Bayangan Berdarah 2 dan anda bisa menemukan artikel Cersil : Bayangan Berdarah 2 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/10/cersil-bayangan-berdarah-2.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil : Bayangan Berdarah 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil : Bayangan Berdarah 2 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil : Bayangan Berdarah 2 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/10/cersil-bayangan-berdarah-2.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...