Cerita Silat : Si Pedang Tumpul 6

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 07 Agustus 2012

Cerita Silat : Si Pedang Tumpul 6 - Adalah Sebuah Cerita Silat terakhir dari beberapa cersil yang sudah diterbitkan dari awal, Baca cerita silatnya dari ke satu sampai ke lima di posting sebelumnya. Dan kini langsung saja disimak seri terakhirnya...

Ciam Giok-beng dengan cepat membela, “Adik Lok bukan
orang seperti itu, dia tidak setuju membuka perusahaan
perjalanan, dia memang marah kepada guruku, tapi dia tidak
lupa diri, dia memperalat Lim Hud-kiam untuk menghalangi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kami, supaya ilmu pedang kami bisa maju, dia malah
menyuruh Lim Hud-kiam membenarkan beberapa jurus ilmu
pedang perguruan kami.”
“Dia juga menyuruhku harus sering-sering membantu Kiankun-
kiam-pai, dari sini dapat diketahui kalau dia masih sangat
mencintai perguruannya,” kata Lim Hud-kiam.
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Kalau begitu
kalian menganggapnya orang baik?”
Lim Hud-kiam dan Ciam Giok-beng menundukkan kepala
dan tidak menjawab, sebenarnya mereka juga tidak tahu
apakah kelakukan Lok Su-hoan salah atau benar, jadi mereka
tidak bisa menjawab.
“Lim Hud-kiam, dia mengajarimu ilmu pedang, kecuali
menyuruhmu membuat perusahaan perjalanan Su-hai repot,
tugas berikutnya adalah mengurusi aku, apakah benar?”
“Bukan menghadapi dan menentangmu, tapi menghadapi
dan menentang kepada Ngo-heng-kiam, dari plakat dunia
persilatan dia mengetahui tentang ketua Ngo-heng-kiam, dan
dia tahu kalau orang itu mewariskan perguruan pedang ini
kepadamu untuk mencelakai orang, dia ingin aku membasmi
bencana ini,” jelas Lim Hud-kiam.
“Mengapa tidak dia sendiri saja yang melakukan tugas ini?”
Wong Jong-ceng tertawa dingin.
“Bukankah aku sudah memberitahu, karena dia berlatih
ilmu silat dari plakat dunia persilatan dia menjadi tersesat, dan
tubuhnya lumpuh total,” kata Lim Hud-kiam.
“Ciam Giok-beng, saat kau bertemu dengan Lok Su-hoan,
apakah kondisinya seperti itu?” tanya Wong Jong-ceng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tidak, dia sudah bisa bergerak, ini hal yang baru terjadi,
seperti dirimu, kau adalah orang yang disebutnya, kau juga
belajar ilmu silat dari plakat dunia persilatan, aku percaya kau
pun dalam waktu dekat ini baru bisa sembuh kembali,” kata
Ciam Giok-beng.
“Bukan seperti itu, ilmu silat dari plakat jilid pertama
memang akan membuat kita tersesat, tapi bukan berarti tidak
bisa disembuhkan, juga tidak akan membuat orang menjadi
lumpuh total, hanya akan tersiksa rasa sakit selama 2 jam
setiap hari, aku menemukan cara untuk mengatasi rasa sakit
ini, aku percaya dia pun sudah menemukan, kalau tidak, dia
tidak akan begitu cepat pulih dari kelumpuhan total, kedua
mata menjadi buta, semua ini hanya bohong belaka, dia
menyuruh Lim Hud-kiam mewakili dia melakukan semua ini,
pasti ada sebuah rencana busuk yang lebih besar lagi,” kata
Wong Jong-ceng.
“Rencana busuk apa?” tanya Lim Hud-kiam.
“Begitu aku naik tahta menjadi Raja Pedang, aku akan
memberitahunya kepadamu, waktu itu kau akan tahu orang ini
liciknya sampai tahap seperti apa.”
Karena tidak mau memberitahu, Lim Hud-kiam terdiam.
Wong Jong-ceng bertanya lagi kepada Ciam Giok-beng,
“Orang ke-4 dari pihakmu mungkin tidak akan muncul, kalau
tidak ada masalah lain, aku akan mulai mengumumkan kalau
aku akan menjadi Raja Pedang.” Ciam Giok-beng terdiam,
lama, lalu berkata, “Mengenai teknik ilmu silat, Tuan memang
nomor satu, aku mengakui kalau Tuan adalah Raja Pedang,
tapi bila ingin kami berlutut kepada Tuan, aku tidak setuju.”
“Apakah Tuan tidak takut kalau aku akan membunuh?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dengan suara lantang Ciam Giok-beng berkata, “Dengan
posisi sebagai Ketua aku mengumumkan, siapa yang menjadi
murid perguruanku berhak untuk memilih, ingin keluar atau
tetap di perguruan Kian-kun-kiam-pai, yang memilih tinggal di
Kian-kun-kiam-pai tidak diijinkan berlutut!”
Goan Hiong, Kie Pi-sia, dan Pui Thian-hoa bersama-sama
menjawab, “Murid akan mendukung keputusan Guru, memilih
lebih baik menjadi setan, daripada menjadi orang hidup tapi
dihina.”
Mereka bertiga dari awal sudah berunding, maka mulut
mereka bersama-sama mengucapkan kata-kata yang sama.
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Baik, kalian ingat,
setelah aku naik tahta aku akan mulai berhadapan dengan
kalian, siapa lagi yang tidak mau mengikuti aturanku?
“Aku.” Jawab Lim Hud-kiam segera.
Wong Jong-ceng mengangguk, “Apakah hanya kau sendiri?”
“Kami berdiri di posisi yang sama dengan Lim Hud-kiam.”
Wong Jong-ceng tertawa dan bertanya kepada Liu Ta-su,
“Kau lebih tua, mengapa tidak mengeluarkan pendapat, dari
tadi membiarkan anak-anak yang terus bicara? Apakah kau
selalu mendengarkan pendapat mereka dulu?”
Liu Ta-su tertawa terbahak-bahak, “Generasi muda
mempunyai sifat begitu jelas, mereka lebih baik dari kami,
untuk apa aku harus banyak bicara? Mereka punya masa
depan yang cerah, tapi mereka selalu dengan nyawa melawan
kekejaman, aku kira nyawaku yang sudah tua ini tidak perlu
dipikirkan atau disayangkan!”
“Baik, baik, siapa lagi?”
Dia bersaudara Thio dari Thian-san menjawab, “Kami!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Ayah dan ibumu sudah menjadi tawanan kami, apakah
kalian tidak peduli hidup atau mati orang tua kalian?” Tanya
Wong Jong-ceng.
Thio Siauw-hun berteriak, “Ayah dan ibu kami bertindak
seperti itu mungkin untuk keselamatan kami, maka dari tadi
mereka diam dan tidak mengemukakan pendapat, kalau kami
menjaga semangat seorang pesilat pedang, aku percaya orang
tua kami pasti setuju.”
“Dari mana kau bisa tahu?”
“Karena kami dari kecil mendapat didikan dari orang tua
seperti mereka.”
Thio In dengan hati bergejolak berkata, “Baik, anak yang
baik, kalian adalah putra putri terbaik dari lembah Lu-bwee,
aku dan ibumu pasti akan melawan dengan sisa tenaga kami
dan bahu membahu bersama kalian untuk berjuang.”
“Apakah masih ada yang lain? 5 perguruan bagaimana
dengan kalian? Kalian selalu membicarakan semangat seorang
pesilat, mengapa sekarang menjadi penakut?”
Ketua Bu-tong, Cia Hwie Cin-jin berkata, “Kami tidak takut
mati tapi juga tidak ingin membawa bencana ini kepada
murid-murid kami yang jumlahnya banyak, 10 tahun kemudian
pasti akan ada seorang pelindung bendera dan bertarung demi
kami, itu adalah perwakilan dari 5 perguruan, asalkan cara ini
tidak berhenti, semangat kami pun tidak akan mati, satu
perguruan tidak sama dengan perorangan, kadang demi
perguruan kami harus tahan dihina, kami tidak bisa hanya
memikirkan kepentingan diri sendiri, hari ini kau bisa
menaklukkan kami, tapi bukan perguruan kami, apakah kau
sadar?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kata-kata yang bagus, cara yang digunakan oleh 5
perguruan dihina tapi kelak akan balas dendam, ini adalah
semangat seorang pesilat, sekelompok anak muda menahan
gengsi sebagai seorang pesilat pedang, semua ini akan
kuberikan kepada kalian, Ban-mong, mainkan musik, paling
sedikit aku naik ke jenjang Raja Pedang, semua orang
mendukungku.”
Liu Ban-mong dengan cepat melambaikan tangan, musik
mulai dimainkan, musik yang gagah dan sangat megah, pelanpelan
Wong Jong-ceng berjalan menuju kursi yang
melambangkan kekuasaan terhadap pesilat-pesilat yang
berada di bawah, dia duduk dengan pelan dan serius.
“Apakah sekarang kau bisa membuka penutup wajahmu?”
kata Liu Ta-su terburu-buru.
Wong Jong-ceng terdiam kemudian mengangguk, dia
melihat sekeliling dan berkata, “Aku sangat berharap Hoan
Lam-huang atau Lok Su-hoan bisa berada di sini, melihat saatsaat
yang begitu berpengaruh, tapi sepertinya dia tidak akan
berani kemari.”
Sesudah itu dia membuka penutup wajahnya, munculan
seraut wajah tampan berumur sekitar 50-60 tahun, kumis di
dagunya mulai memutih, tapi dia terlihat sangat gagah dan
bersemangat, terdengar dari kerumunan orang banyak yang
berteriak.
Ooo)od*wo(ooO
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
BAB 32 Menceritakan dari awal mengenai cinta
masa lalu
Lim Hud-kiam merasa dia mengenali orang itu tapi di mana
dan kapan?
Dia melihat bibir Liu Ta-su terus bergetar dan berkata,
“Tidak mungkin.”
“Paman Liu, apakah Paman mengenalnya?” tanya Lim Hudkiam
dengan terburu-buru.
Dengan suara bergetar dia berkata, “Aku... aku
mengenalinya, tapi aku tidak percaya semua ini, karena hal ini
tidak mungkin terjadi.”
Bun Ta-cai dan Bun Tho-hoan pun terkejut mereka terus
melotot dan tidak bisa bicara.
Goan Jit-hong yang berada di sebelah sana pun, mulutnya
tampak menganga dan tidak sanggup bicara.
Wong Jong-ceng mulai membuka suara, “25 tahun memang
waktu yang sangat panjang, tapi aku yakin tidak akan
membuat semua orang melupakannya, apakah kalian
mengenaliku?”
Lim Hud-kiam terus bertanya, “Paman Liu, siapa orang itu?”
Setelah mengumpulkan tenaga Liu Ta-su baru sanggup
menjawab, “Apakah kau tidak bisa mengenalinya?”
“Aku merasa aku kenal dengannya, tapi aku tidak ingat
siapa dia. Dia hanya mengatakan dia meninggalkan Ceng-seng
25 tahun yang lalu, berarti waktu itu aku usiaku baru 4 tahun.”
“25 tahun yang lalu aku baru lahir, tapi aku juga merasa
mengenalinya, dia mirip dengan pamanmu, tapi tidak seperti
Lo Hoan yang pernah bekerja di rumahmu,” kata Liu Hui-hui.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam terpaku, “Betul, dia mirip dengan Hoan Lamhuang,
tapi rasanya tidak mungkin, aku berpisah dengan Hoan
Lam-huang baru 2 tahun yang lalu, Hoan Lam-huang lebih tua
banyak darinya.”
Tiba-tiba Yu Leng-nio berkata, “Siangkong, dia sangat mirip
denganmu.”
Lim Hud-kiam terkejut, “Mirip denganku? Tapi aku tidak
merasa seperti itu.”
Yu Bwee-nio ikut bicara, “Karena kau jarang berkaca jadi
tidak tahu wajah sendiri seperti apa, tapi kau benar-benar
mirip dengannya, hanya saja kau lebih muda.”
“Memang kalian sangat mirip, 25 tahun yang lalu saat
ayahmu meninggal, penampilannya seperti dirimu sekarang,
aku yakin dia adalah ayahmu Lim Su-kun.”
“Ayahku? Tidak mungkin, ayahku telah meninggal.”
“Begitulah, saat ayahmu meninggal kami semua berada di
sana, kami menyaksikan upacara penutupan peti lalu
dikebumikan, tapi orang itu benar-benar ayahmu, Lim Sukun.”
Wong Jong-ceng mulai bicara, “Apakah kalian kenal aku?”
Liu Ta-su dengan cepat menjawab, “Apakah kau Lim Sukun?”
Wong Jong-ceng tertawa, berkata, “Ingatan Ketua Liu
benar-benar bagus, hanya saja Ketua Liu jangan lupa, Lim Sukun
sudah meninggal.”
“Betul, kami sendiri yang menyaksikan Lim Sukun
dikebumikan, tapi aku percaya kalau kau adalah Lim Su-kun,
kecuali itu tidak ada yang lain lagi.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lama Lim Su-kun baru menjawab, “Lim Su-kun sudah mati
dan tidak pernah hidup kembali, aku adalah Wong Jong-ceng,
tidak ada yang bisa merubahnya.”
Semua orang terpaku, tiba-tiba Wong Jong-ceng dengan
senang berkata, “Hud-kiam, naiklah ke panggung, apa yang
kau rasa aneh kau boleh menanyakan dan aku akan
menjawabnya.”
Lim Hud-kiam meloncat naik karena hatinya terus
bergejolak langkahnya tidak mantap, setelah maju dua
langkah dia baru bisa berdiri tegak, hal itu membuat jaraknya
semakin dekat dengan Wong Jong-ceng.
“Kau kurang tenang, seorang pesilat pedang dalam keadaan
sesulit apa pun harus bisa menjaga ketenangan, kau harus
tenang, walaupun Tai-san akan runtuh di depan matamu kau
harus tetap tenang, apakah kau bisa? Kau harus meneruskan
posisi Raja Pedang, jadi kau harus banyak belajar,” kata Wong
Jong-ceng.
Lim Hud-kiam tidak memperhatikan apa yang dikatakan
Wong Jong-ceng, tapi Wong Han-bwee mendengarkannya, dia
ikut naik ke panggung dan berkata, “Ayah, apakah penerus
Raja Pedang adalah dia?”
“Benar, aku tetap Wong Jong-ceng, hanya terhadap dia,
aku tidak bisa menghapus masalahku karena dia adalah
putraku.”
Lim Hud-kiam terpaku, lama berkata, “Apakah benar kau
adalah ayahku?”
Dengan misterius Wong Jong-ceng berkata, “Wong Jongceng
bukan Lim Su-kun, tapi aku adalah ayahmu, ayah
kandungmu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam mengusap-usap kepalanya, “Aku benar-benar
tidak mengerti.”
“Kalau aku tidak menjelaskan, tidak ada seorang pun yang
akan mengerti, sebelum Lim Su-kun mati, dia adalah Lim Sukun,
sesudah Lim Su-kun mati aku tidak mempunyai nama,
setelah aku datang kemari baru aku menjadi Wong Jongceng.”
Akhirnya masalah ini terjawab, Wong Jong-ceng adalah Lim
Su-kun, tapi bagaimana dia bisa hidup kembali? Dan mengapa
dia bisa menjadi Wong Jong-ceng? orang semua menjadi
bingung.
Tapi keadaan tidak memberi kesempatan kepada orangorang
untuk bertanya juga tidak ada waktu bagi Wong Jongceng
untuk menjelaskannya, karena Wong Jin-jiu dan Ma Kiunio
bersamaan meloncat naik panggung, dengan marah Ma
Kiu-nio bertanya, “Tuanku, apakah Anda ingin mewariskan
kedudukan Raja Pedang kepada Lim Hud-kiam?”
“Benar, dia adalah putraku, bakatnya cukup untuk
meneruskan ilmu pedangku, apa ada masalah?” tanya Wong
Jong-ceng.
Wong Jin-jiu berteriak, “Ada yang tidak benar, Tuanku
jangan lupa, sebelum masuk ke keluarga Wong, apa yang
telah Anda janjikan yaitu usaha milik keluarga Wong tidak
akan diwariskan kepada orang luar.”
“Tidak, aku mewariskannya kepada putraku, dia bukan
orang luar,” kata Wong Jong-ceng.
“Waktu itu Tuanku tidak memberitahu kalau Tuan
mempunyai seorang putra,” tuduh Wong Jin-jiu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Waktu itu aku sendiri tidak tahu kalau aku mempunyai
seorang putra,” jawab Wong Jong-ceng.
“Tuanku masuk ke keluarga Wong baru 20 tahun ini,
mengapa Tuanku tidak tahu kalau Tuan mempunyai seorang
putra?”
“Benar, sewaktu aku meninggalkan Ceng-seng, Lim Hudkiam
sudah berusia 4 tahun, sekarang usianya 29 tahun, tapi
waktu itu aku tidak menyangka kalau dia adalah putraku.”
Lim Hud-kiam terpaku, “Ayah, apa maksudmu?”
Wong Jong-ceng tertawa kecut, “Masalah ini kau harus
tanyakan kepada Hoan Lam-huang.”
“Mengapa harus bertanya kepadanya?”
Wong Jong-ceng menarik nafas panjang, “Begini ceritanya,
30 tahun yang lalu, secara tidak sengaja ibumu menolong
seorang laki-laki yang sakit berat, dia adalah Hoan Lamhuang,
sesudah dia sembuh dari sakit berat karena ingin
berterima kasih kepada ibumu yang telah menolongnya maka
dia tinggal di rumah kita menjadi seorang pelayan, dia sangat
berbakat juga mirip denganku, aku menganggapnya seperti
saudara kandung sendiri, aku tidak menganggapnya orang
luar, dia juga sangat akrab dengan ibumu.”
“Aku mengerti, kau curiga kalau ibu jatuh cinta kepadanya,”
kata Lim Hud-kiam.
Wong Jong-ceng menarik nafas lagi, “Bukan curiga tapi ini
kenyataan sebenarnya, ibumu sendiri yang mengaku kalau dia
sangat menyukainya.”
“Kau salah paham, ibu memang menyukai Hoan Lamhuang,
tapi ini hanya sebatas perasaan murni seperti seorang
kakak kepada adik.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng tertawa kecut, “Hud-kiam, kau bukan anak
kecil lagi dan aku tahu dalam cintamu pun kau mengalami
banyak rintangan, aku pikir perasaan suka antara laki-laki dan
perempuan apakah bisa murni seperti kakak beradik?”
Lim Hud-kiam berhenti sebentar baru berkata, “Masalah ibu
dan Hoan Lam-huang, ibu pernah menceritakannya, dia
mengaku kalau dia memang mempunyai perasaan sayang
kepada Hoan Lam-huang, tapi dia juga mengerti posisinya,
dan perasaan ini selalu ditekannya supaya tidak melewati dan
melanggar aturan atau tidak melampaui batas.”
“Sekarang aku percaya, tapi mengapa dia tidak berniat
untuk menjelaskannya?” tanya Wong Jong-ceng.
“Ayah ingin ibu menjelaskan hal apa?”
“Saat kau masih berusia 4 tahun, aku pernah bertanya
kepadanya sebenarnya kau anak siapa, dia malah menyuruhku
berpikir dan menebaknya.”
Lim Hud-kiam protes, “Ayah tidak pantas bertanya seperti
itu, kau benar-benar telah menghina ibu, apakah ayah masih
tidak mengerti kesetiaan ibu?”
Wong Jong-ceng tertawa kecut, “Bila aku tidak percaya
kepadanya, aku tidak akan membiarkan Hoan Lam-huang
tinggal di rumahku selama 5 tahun, dan sewaktu kau masih
kecil, kau benar-benar mirip Hoan Lam-huang.”
“Itu tidak aneh, sebab ayah dan Hoan Lam-huang pun
memang sangat mirip, ayah tidak bisa melihat wajah ayah
sendiri, tapi berpikir yang tidak-tidak,” kata Lim Hud-kiam.
“Aku merasa aku cukup berlapang dada, kalau orang lain
mungkin 5 bulan pun tidak akan tahan, tapi aku bertahan
sampai 5 tahun,” kata Wong Jong-ceng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam merasa menceritakan masalah keluarga di
depam umum adalah hal yang kurang baik, maka dia
mengalihkan topik pembicaraan, “Lalu terakhir bagaimana?”
“Di depan ibumu aku tidak mendapatkan jawaban yang
pasti, aku bertanya kepada Hoan Lam-huang, tapi orang itu
lebih kurang ajar lagi!” kata Wong Jong-ceng.
“Apakah dia menjelekkan kesucian ibuku?” Lim Hud-kiam
mulai marah.
Weng Chang tertawa dingin, “Lebih licik dari ini, dia tidak
menjawab pertanyaanku, malah balik memarahiku dia
mengatakan aku telah menghabiskan banyak waktu untuk
berlatih ilmu silat sehingga membuat ibumu kesepian.”
“Ini memang bukti yang ada, aku pernah mendengar dari
paman, dari dulu ayah menyukai pedang, seperti sudah gila,
tiap hari bisa dikatakan terkubur bersama pedang, kecuali
pedang hal lainnya sama sekali tidak dipikirkan,” kata Lim
Hud-kiam.
“Anak, kau tumbuh besar di Ceng-seng, kau tahu
bagaimana keadaan di sana, bila ilmu pedangmu di bawah
orang lain, apa yang akan kita dapatkan? Sifatku tidak bisa
terus dihina oleh orang lain, maka aku berusaha berlatih ilmu
pedang, ingin menguasai ilmu pedang lebih tinggi dari orang
lain dan mendapatkan posisi yang lebih tinggi, apakah itu
salah? Aku percaya pada ibumu, maka aku tidak melarangnya
berhubungan dengan Hoan Lam-huang, tapi terakhir sudah
banyak gosip masuk telingaku, maka aku bertanya langsung
kepada mereka, apakah itu salah?” Wong Jong-ceng masih
menarik nafas panjang.
Lim Hud-kiam ingat sewaktu dia masih di Ceng-seng, dia
juga dihina, ternyata saat itu ayahnya pun mendapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
penghinaan, dia sangat mengerti bagaimana perasaannya,
pelan-pelan dia menarik nafas, “Aku tahu seperti apa persaan
itu, tapi ibu tidak, waktu itu ibu masih muda dia merasa
posisinya tidak sepenting pedang yang ayah latih, setiap kali
setelah ayah selesai berlatih pedang dan sedang
membersihkan pedang, dia menangis sendiri, kalau ayah bisa
memberikan 1/10 dari perhatian pedang ayah kepadanya, dia
tidak akan kesepian dan pergi mencari Hoan Lam-huang untuk
mengobrol.”
“Waktu kita masih muda, kita selalu mengejar cita-cita
setinggi langit dan tidak tahu kalau rumah tangga adalah
surga. Semua laki-laki akan seperti itu,” ucap Wong Jongceng.
“Mengapa ayah setelah meninggal bisa hidup kembali?” Lim
Hud-kiam bertanya lagi.
“Inilah salah satu kekurangajaran Hoan Lam-huang,
sesudah dia marah kepadaku, dia memberikan plakat dunia
persilatan, dia mengatakan karena aku begitu peduli pada ilmu
pedang, maka dia akan membantuku berlatih, kemudian dia
memberikan ide dan mengatakan ilmu pedang yang ada di
dalam plakat dunia persilatan adalah tidak terkalahkan, tapi
tidak diijinkan berlatih di Ceng-seng.”
“Mengapa?”
“Masa kau tidak mengerti, karena ilmu pedang Ceng-seng
dikuasai oleh keluarga Ciu, Bun dan Liu, mereka tidak ingin
ada orang yang melampaui mereka, bila aku masih di Cengseng,
belum selesai berlatih pasti mereka sudah
membunuhku.”
Liu Ta-su berteriak di bawah panggung, “Tidak seperti itu!!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Ini adalah aturan yang
kalian ciptakan.”
“Aturan itu dibuat untuk orang luar, bila masih ada di Cengseng
tidak ada aturan seperti ini, kami memberi semangat
kepada semua orang supaya bisa lebih maju lagi dalam ilmu
pedang.”
“Aku percaya Paman Liu berlapang dada seperti itu, tapi Ciu
Giok-hu tidak, jadi apa yang dikatakan Hoan Lam-huang
masuk akal juga,” kata Lim Hud-kiam.
“Betul, aku tahu semua yang ada di Ceng-seng dikuasai
oleh Ciu Giok-hu, setiap hari waktu aku berlatih pedang selalu
ada yang mengawasi, ingin menghindar perhatiannya dan
berlatih ilmu pedang yang lebih tinggi, rasanya tidak mungkin,
maka aku harus meninggalkan Ceng-seng, tapi Ceng-seng
tidak memberi ijin kepadaku untuk terus tinggal, maka aku
memilih cara dengan pura-pura mati,” jelas Wong Jong-ceng.
“Mati pura-puramu benar-benar siasat tinggi,” kata Liu Tasu.
Kata Wong Jong-ceng, “Hoan Lam-huang mempunyai obat,
sesudah memakan obat itu tubuhku akan kaku seperti orang
mati, tapi harus menunggu 7 hari kemudian baru bisa siuman
dengan sendirinya.”
“Pantas mayatmu hanya disemayamkan selama 5 hari,
kemudian dengan tergesa-gesa dikebumikan,” kata Liu Ta-su.
Dengan marah Wong Jong-ceng berkata, “Untung aku
sudah ada persiapan terlebih dulu menghadapi Hoan Lamhuang,
obat yang dia berikan kepadaku, kalau semua diminum
selamanya aku tidak akan siuman lagi.”
“Masa dia begitu jahat?” tanya Lim Hud-kiam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku hanya minum separuhnya, akhirnya hari ke-8 aku baru
siuman, untung aku sendiri yang memesan peti matiku, aku
membuka tutup peti mati, lalu diam-diam meninggalkan Cengseng
dan berkelana sampai 5 tahun, sesudah selesai berlatih
ilmu pedangku, aku tahu di dalam plakat dunia persilatan ada
catatan mengenai ketua Ngo-heng-kiam, maka aku ingin
mencari ketua Ngo-heng-kiam untuk mencoba ilmu pedangku,
akhirnya aku sampai di tempat ini.”
Lim Hud-kiam berteriak, “Keluarga Wong mewariskan
jabatan ketua Ngo-heng-kiam-nya kepadamu?”
“Ketua Ngo- sudah ada beberapa generasi, dan sudah
kehilangan nama aslinya, ilmu pedang mereka maju pesat,
aku mengandalkan ilmu pedang yang ada di dalam plakat itu
tapi aku tidak bisa menang dari mereka, keluarga Wong hanya
mempunyai seorang putri, maka mereka menyuruhku menikah
tinggal di sini lalu masuk ke keluarga Wong, setelah menikah
aku berganti nama menjadi Wong Jong-ceng.”
“Ayah melupakan ibuku!” kata Lim Hud-kiam.
Wong Jong-ceng tertawa kecut, “Jawaban ibumu, ditambah
lagi Hoan Lam-huang begitu jahat kepadaku, aku tidak
membalas dendam saja itu sudah cukup bagus, dalam
kesempatan ini aku pun berniat menjodohkan mereka, maka
sejak aku menjadi Wong Jong-ceng, aku sudah melupakan
kalau aku adalah Lim Su-kun, 15 tahun yang lalu ketika Hanbwee
lahir, ibunya meninggal setelah melahirkan, dan aku pun
menjadi keluarga Wong, saat itu aku baru ingat pada Cengseng,
dengan bersusah payah aku mencari tahu, ternyata
ibumu tidak menikah lagi, Hoan Lam-huang pun sudah
meninggalkan Ceng-seng entah pergi ke mana, aku tidak bisa
mengetahui lebih dalam lagi, maka aku mengalihkan
perhatianku membangun Lembah Raja Pedang ini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Akhirnya semuanya jelas, kata Wong Jin-jiu, “Tuanku, kami
tidak tahu ada hal seperti itu, tapi Anda harus ingat apa yang
telah Anda janjikan dulu kepada nyonya, Lembah Raja Pedang
tidak boleh diwariskan kepada orang lain.”
“Lim Hud-kiam adalah putraku.”
“Apakah Tuanku sudah bisa memastikannya?”
Lim Hud-kiam marah, “Kurang ajar, apa maksudmu?”
Tapi Wong Jong-ceng tertawa angkuh, “Sekarang aku
sangat pasti, Hoan Lam-huang hanya sedikit mirip denganku,
tapi Lim Hud-kiam jelas sangat mirip denganku, saat aku
muda dulu apa lagi sikapnya yang angkuh itu tidak dimiliki
Hoan Lam-huang, maka kecuali bisa memastikan kalau dia
adalah putraku, dia juga adalah satu-satunya penerus Raja
Pedang.”
Kata Wong Jin-jiu, “Tidak bisa, hamba dan yang lain sudah
mendapat pesan terakhir nyonya sebelum meninggal, Lembah
Raja Pedang tidak diijinkan diwariskan kepada marga lain, bila
Lim Hud-kiam ingin menjadi pemilik Lembah Raja Pedang
hanya ada satu jalan, yaitu menikah dengan nona dan masuk
ke keluarga Wong.” Liu Ta-su tertawa terbahak-bahak,
berkata, “Lim Hud-kiam, kau seperti sepotong daging yang
harum, semua orang ingin merebutmu, dulu aku memaksamu
masuk ke keluargaku dan kau menolaknya, sekarang ternyata
ada yang mempunyai ide itu lagi, Raja Pedang lebih berjaya
dari pada menjadi Ketua Ceng-seng, kau boleh pikir-pikir
dulu.”
Dengan serius Lim Hud-kiam berkata, “Paman Liu, paman
tidak perlu menggunakan kata-kata itu mengujiku, aku bukan
orang seperti itu, dulu seperti itu, sekarang pun sama.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Tapi Wong Jong-ceng mulai marah, “Jin-jiu, apakah kau
sudah gila, Hud-kiam dan Han-bwee adalah kakak beradik
satu ayah berbeda ibu, mana boleh ada aturan seperti itu?”
“Seumur hidup hamba menjadi pelayan di keluarga Wong,
adat istiadat keluarga Wong tidak boleh dirusak, ayah dan ibu
nyonya adalah kakak beradik, tapi teknik tuan besar tidak
sebagus kakak perempuannya, demi lembah ini tidak jatuh ke
tangan orang lain akhirnya kakak beradik ini menikah.”
“Pantas Koan-nio begitu lemah, menikah satu darah akan
mengganggu kepada generasi penerus berikutnya, aku tidak
menginginkan hal ini terjadi.”
“Kalau begitu Tuanku harus mewariskan kepada nona,” kata
Wong Jin-jiu.
“Dengan alasan apa kau campur tangan pada masalahku?”
Tanya Wong Jong-ceng.
“Sebab hamba pengurus keluarga Wong,” jawab Wong Jinjiu.
Lim Hud-kiam tidak menunggu Wong Jong-ceng membuka
suara lagi, dia langsung berkata, “Ayah, aku tidak ingin
menjadi Raja Pedang.”
“Masalahnya bukan kau akan menjadi Raja Pedang atau
tidak, aku menurunkan posisi ini kepadamu tapi bila kau tidak
menginginkannya kau boleh menarik diri, tapi aku harus
melakukan seperti itu, demi ilmu pedang aku meninggalkan
rumah dan istri semua itu karena aku ingin maju.”
“Han-bwee pun putrimu, wariskan saja kepadanya,
bukankah sama saja? Aku hanya berharap ayah melepaskan
cara yang selalu memaksa.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Jangan
menyangka aku sangat kejam, aku hanya menakut-nakuti
mereka dan menguji semangat mereka.”
Wong Han-bwee terkejut, “Ayah, kau mengubah rencana
yang dari awal sudah disusun?”
“Aku tidak berniat memaksa, semangat yang paling penting,
membuat seorang pesilat pedang maju, kemampuan kakakmu
tidak perlu diragukan lagi, Kian-kun-kiam-pai juga lumayan,
Thian-san Lu-bwee keluarga Thio masih bisa membuat kita
kagum, 5 perguruan memang kalah tapi mereka tidak loyo,
orang-orang seperti ini pantas disebut sebagai pesilat pedang
yang baik, orang-orang yang akan berlutut malah akan
kumusnahkan ilmu silatnya dan mematahkan pedang mereka,
serta melepaskan mereka pulang, aku mematahkan pedang
mereka karena mereka tidak pantas menggunakan pedang,
mereka juga telah menghina semangat pesilat pedang.”
“Apa arti Raja Pedang bagi kami?” tanya Wong Han-bwee.
“Kita harus menggunakan teknik pedang tinggi untuk
mendapatkan penghormatan dari pesilat-pesilat pedang sejati,
kesuksesan ini lebih berarti dibandingkan apa pun, apa lagi
kita akan membuat sebuah jaringan, menyisihkan orang yang
tidak pantas menjadi pesilat pedang, inilah usaha yang akan
sangat berarti.”
“Tapi itu bukan rencana awal dari Lembah Raja Pedang?
Cita-cita kita adalah mendirikan suatu kekuatan di mana orang
lain belum pernah melakukan-nya,” kata Wong Han-bwee.
“Sekarang aku adalah keluarga Wong, tapi aku harus
mengatakan kesalahan ibumu dan nenek moyang keluarga
Wong, mereka tidak mempunyai kekuatan yang bisa bertahan
lama, hujan lebat dan angin ribut hanya akan menyisakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
yang sangat sedikit, di dunia ini waktu terang lebih banyak,
maka tenaga angin dan hujan tidak akan pernah bisa
menaklukkannya, dunia indah penuh dengan bunga dan
burung. Anak, aku percaya, kau sendiri juga punya perasaan
seperti itu.”
Wong Han-bwee jadi tenggelam dalam pikira-nya, dia tidak
bersuara, tapi Wong Jin-jiu berkata, “Tuanku, apa pun
pandangan Anda mengenai posisi Raja Pedang, terserah Anda,
tapi Anda harus mengambil keputusan, siapa yang menjadi
penerus posisi Raja Pedang?”
“Aku sudah mengambil keputusan,” jawab Wong Jongceng.
“Lim Hud-kiam bukan keluarga Wong,” ucap Wong Jin-jiu.
“Kalian sudah melewati batas dan mengurusi masalahku!”
Wong jong-ceng mulai marah.
“Hamba hanya tahu keluarga Wong, yang lainnya tidak,”
jawab Wong Jin-jiu.
Wong Jong-ceng bertambah marah, “Kalian harus tahu satu
hal, posisi Raja Pedang yang aku dapatkan hari ini sudah
menghabiskan tenagaku, aku tidak menggunakan ilmu pedang
keluarga Wong.”
“Tuanku tidak salah, ilmu pedang Tuan diambil dari plakat
dunia persilatan, tapi bila tidak digabungkan dengan ilmu Ngoheng-
kiam milik keluarga Wong, Tuan sudah menjadi tersesat,
dan Tuan akan lumpuh, jadi keberhasilan Tuanku tetap milik
keluarga Weng, apa lagi Tuanku menggunakan Lembah Raja
Pedang milik keluarga Wong sebagai dasar, maka Anda bisa
mencapai kesuksesan seperti sekarang, ini adalah bukti yang
kuat,” kata Wong Jin-jiu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Ayah, pandangan ayah mengenai posisi Raja Pedang
sangat tepat, hal ini membuatku senang, asalkan bisa menjadi
Raja Pedang, menjaga prilaku dan lapang dada seperti yang
ayah katakan, siapa pun yang menjadi Raja Pedang sama
saja, biar keluarga Wong yang bertanggung jawab atas posisi
ini,” kata Lim Hud-kiam.
“Tidak, Koko, aku tidak bisa, pilihan dan keputusan ayah
sangat tepat, posisi Raja Pedang tidak cocok dipegang oleh
seorang perempuan, lebih baik Lim Koko yang
memegangnya,” kata Wong Han-bwee.
Lim Hud-kiam tertawa, “Adik, aku bukan keluarga Wong,
kaulah orang yang pantas menjadi pengurus Raja Pedang, bila
kau khawatir masih belum sanggup melakukannya, Kakak
akan membantumu.”
Wong Han-bwee dengan senang berkata, “Kalau begitu kau
akan tinggal di Lembah Raja Pedang?”
Lim Hud-kiam mengangguk, “Ya, di tempat lain aku tidak
mempunyai rumah, ayah berada di sini jadi aku pun akan
tinggal di sini, masih akan ada banyak orang yang akan tinggal
di sini juga.”
“Siapakah mereka?”
“Paman Liu, Cici Liu, dan 2 Cici Yu.”
Kata Wong Han-bwee, “Koko, kisah pencintaanmu aneh,
apakah 3 kakak ini adalah enso-ensoku?” Lim Hud-kiam
tertawa, “Masalahnya sudah selesai dengan sempurna, aku
kira tidak akan ada masalah lain lagi.”
Tiba-tiba Ma Kiu-nio datang bertanya, “Nona, apakah Anda
setuju?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Pastinya aku setuju, dari kecil aku tumbuh selalu di dalam
lingkungan latihan pedang yang ketat, sebetulnya aku
kesepian, sekarang tiba-tiba mempunyai seorang kakak lakilaki,
3 kakak ipar menemaniku, itu benar-benar bagus!”
Kata Wong Jong-ceng, “Han-bwee, kau jangan terlalu
senang dulu, bila kau menjadi penerus Raja Pedang, kau
harus menerima latihan yang lebih melelahkan dan lebih
ketat.”
“Aku tidak takut, aku hanya takut sesudah berlatih ilmu
silat, aku hanya akan sendiri, sampai mencari orang untuk
diajak bicara pun tidak ada,” kata Wong Han-bwee.
“Apakah kami tidak pernah menemani Nona?” tanya Ma
Kiu-nio.
“Aku tidak mau kau yang menemaniku, kau dan Wong Jinjiu
selalu cerewet dan selalu mengingatkan tanggung jawabku,
memberitahu adat istiadat dingin keluarga Wong, aku sudah
bosan,” kata Wong Han-bwee.
“Tapi Nona tetap harus mendengarkannya, selain ini masih
harus menerima tugas berat dan harus dilakukan,” kata Ma
Kiu-nio.
“Tugas apa?”
“Membunuh Lim Hud-kiam.”
“Mengapa?”
“Karena dia adalah putra tuanku, kecuali dia mau masuk ke
keluarga Wong dan menjadi suamimu, kalau tidak dia harus
mati, karena aturan Lembah Raja Pedang tidak mengijinkan
saudara lain marga.”
“Aku tidak terima, aku juga tidak mau melakukannya,”
Wong Han-bwee berteriak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Ini adalah adat istiadat keluarga Wong, bila Nona tidak
mau melakukannya, hamba akan mewakili Nona
melakukannya,” kata Wong Jin-jiu.
Wong Han-bwee segera melotot, “Kalian berani? Apa kalian
mau memberontak?”
“Kami hanya bersikap setia kepada keluarga Wong, yang
lainnya kami tidak peduli, demi adat istiadat keluarga Wong,
apa pun akan kami lakukan,” kata Wong Jin-jiu.
Wong Han-bwee mencabut pedangnya, “Aku akan
membunuh kalian!”
“Setelah tugas kami selesai, kami akan meminta
pengampunan kepada Nona, akan dibunuh atau dicincang,
terserah Nona, tapi sekarang kami akan membuat Nona tidak
enak,” kata Wong Jin-jiu.
Sesudah itu dia memberi kode pada Ma Kiu-nio, “Nenek
Tua, apa yang kau tunggu?”
Tangan Ma Kiu-nio diangkat, 30 perempuan setengah baya
yang dipimpinnya segera naik ke panggung dan mencabut
pedang.
Bersamaan waktu itu Wong Jin-jiu pun membawa
sekelompok pesilat berbaju kuning, Wong Han-bwee marah,
pedang panjang segera digerakkan, 2-3 orang yang paling
depan roboh, tapi perempuan-perempuan setengah baya yang
dipimpin Ma Kiu-nio sangat lihai, mereka sudah mengurung
Wong Han-bwee, membuat ilmu pedang Wong Han-bwee
tidak bisa berkembang, dia berteriak, “Ayah, Koko, mengapa
kalian masih berdiri, bantu aku membunuh pengkhianat ini!!”
Dengan sangat tenang Wong Jong-ceng menjawab, “Hanbwee,
mereka tidak akan melukaimu, pengkhianat sebenarnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
bukan mereka, aku harus memperhatikan gerak-gerik
mereka.”
“Siapakah mereka?” Wong Han-bwee terpaku.
Karena bicara perhatiannya terpecah, segera ada 4 pedang
datang menyerangnya, membuat pedang Wong Han-bwee
tertekan, dua perempuan dengan gerakan cepat menangkap
kedua tangannya, Ma Kiu-nio segera membentak, “Tidak
boleh, nona adalah pemilik lembah masa depan, dia sangat
mulia mana mungkin dia diserang oleh pelayan?”
Perempuan itu dengan cepat menarik kembali tangannya,
ada 2 orang yang mengikat Wong Han-bwee tidak memberi
kesempatan baginya untuk bergerak, dengan dingin Wong
Jong-ceng berkata, “Kiu-nio, kau pintar juga, orang yang kau
ajari ilmu silatnya lebih tinggi dari Han-bwee.”
“Ini adalah rahasia ilmu pedang keluarga Wong yang
bernama, 'ilmu pedang melindungi ketua', ilmu ini adalah ilmu
rahasia dari pelayan-pelayan lama, mereka harus menguasai
teknik ini, gunanya untuk menghadapi marga lain, setelah dia
menikah dan tinggal di lembah ini, bila mereka berniat
macam-macam, ilmu ini juga satu-satunya ilmu di mana
Tuanku tidak mempelajarinya,” kata Ma Kiu-nio.
Wong Jin-jiu berkata, “Hamba tidak berani, sebab Tuanku
belum lupa diri dan masih bermarga Wong, dan Anda tetap
ketua lembah, hanya saja hamba harus melakukan tugas ini
yaitu membunuh Lim Hud-kiam, maka harap Tuanku mau
membantu.”
“Kalian ingin aku membunuh putraku?” tanya Wong Jongceng.
“Tuanku tidak perlu bergerak sendiri, asal menurunkan
perintah, itu sudah cukup.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Apakah aku sudi menurunkan perintah ini?”
“Bila Tuanku tidak menurunkan perintah, hamba terpaksa
mengikuti perintah nenek moyang marga Wong untuk
melakukan semua ini, harap Tuanku jangan menghalangi
hamba, kalau tidak hamba akan melakukan hal yang tidak
menyenangkan terhadap Tuanku.”
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Apakah kalian berani?”
Tiba-tiba Ma Kiu-nio menyerang dan Wong Jong-ceng
menghalangi dengan pedang, 4 perempuan itu pun
menyerang seperti kilat, menutupi perubahan jurus pedang
Wong Jong-ceng, kemudian 2 orang lainnya ikut menyerang,
sungguh aneh, mereka ternyata dengan gampang bisa
mengikat kedua tangan Wong Jong-ceng, jurus-jurus mereka
benar-benar aneh, hanya sebentar saja bisa meringkus Raja
Pedang, Wong Jin-jiu mulai mengatur anak buahnya
menyerang Lim Hud-kiam, tiba-tiba Wong Jong-ceng berteriak,
“Tunggu sebentar, aku ingin bertanya lebih jelas, aku tidak
percaya di lembah ini semua orang adalah konco-koncomu
dan dikuasai olehmu, Ban-mong, Liu-hoan.”
Liu Ban-mong dan Heuw Liu-hoan berada di bawah
panggung dengan bersama-sama menjawab dengan hormat,
“Hamba ada di sini.”
Wong Jong-ceng berteriak, “Kalian berada di pihak mana?”
Jawab Heuw Liu-hoan, “Secara turun temurun kami adalah
pelayan Lembah Raja Pedang dan aku selalu diberi nasehat
dan diangkat oleh Tuanku, yang pasti aku akan dengar
perintah Tuanku.”
Tapi Liu Ban-mong menjawab, “Aku mendukung Nona.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Baik! Baik! Cepat bunuh 2 pengkhianat ini,” perintah Wong
Han-bwee.
Liu Ban-mong tertawa, “Yang aku dukung adalah nona anak
ketua Lembah Raja Pedang, karena itu aku tidak bisa menuruti
perintah, harap Nona memaafkan aku.”
Wong Han-bwee marah, “Kau benar-benar kurang ajar, kau
adalah orang yang diangkat ayah!”
Liu Ban-mong mengangkat bahu dan berkata, “Aku
berterima kasih kepada Tuanku yang sudah mengangkatku,
dan selamanya tidak akan melupakan budinya, tapi aku juga
tahu, minum air harus ingat mata airnya, maka aku harus
mementingkan Lembah Raja Pedang.”
Wong Han-bwee benar-benar marah, dia berteriak, “Kau
binatang lupa diri! Wong Jin-jiu dan Ma Kiu-nio adalah pelayan
ibuku, bila mereka mengkhianati ayah, masih bisa dimaafkan,
tapi kau orang kerdil yang mengikuti arus, sesudah aku
menjadi Raja Pedang, orang yang pertama kubunuh adalah
kau, aku tidak akan membiarkan orang seperti dirimu hidup di
dunia ini.”
Liu Ban-mong tertawa, katanya, “Nona, aku adalah orang
yang paling berjasa di lembah ini, kalau bukan karena aku
memberi peringatan sebelumnya, Jin-jiu Toako tidak akan bisa
membereskan semuanya dengan begitu sempurna.”
“Jin-jiu, dia memberi peringatan apa?” tanya Wong Jongceng.
“Liu Ban-mong adalah pengurus lembah, dia sangat tahu
keadaan di luar Lembah Raja Pedang, dia melihat susunan
lembah dan lain-lain sangat mirip dengan Ceng-seng, dia
menebak tuanku adalah orang yang keluar dari Ceng-seng,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
apa lagi tuanku begitu melindungi Lim Hud-kiam, maka dia
sudah bisa menebak hubungan kalian,” jawab Wong Jin-jiu.
“Sembarangan, orang-orang Ceng-seng semua tahu kalau
aku sudah mati, mengapa dia tahu kalau Lim Hud-kiam adalah
putraku?” tanya Wong Jong-ceng.
“Wajah Tuan sangat mirip dengannya, ini adalah bukti yang
paling kuat, maka aku menyuruh Kakak Jin-jiu waspada,
mungkin pengurus Raja Pedang akan berubah, ternyata
semua berada dalam dugaanku, berarti aku bukan orang
bodoh seperti yang Tuanku pikirkan,” Liu Ban-mong tertawa.
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Di dunia ini
hanya ada satu orang yang tahu aku tidak mati, dia adalah
Hoan Lam-huang, kau pasti ada hubungan dengannya, jangan
berbohong, ilmu pedang Ciu Pek-ho, kau yang ajarkan
kepadanya dengan diam-diam, Ciu Giok-hu kau bunuh untuk
tutup mulut, Tiang Leng-cu bisa menjadi saksi, kau diam-diam
ingin membuat Lembah Raja Pedang ini menjadi milikmu
sendiri.”
Liu Ban-mong berkata, “Kata-kata Tuanku hanya benar
separuh, Hoan Lam-huang pernah kontak denganku,
tujuannya hanya ingin menentang Tuan saja, aku tidak berniat
menjadi pemberontak lembah ini, aku benar-benar
mendukung nona.”
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Han-bwee hanya anak
kecil, kau punya hati serakah, ingin Lembah Raja Pedang
menjadi milikmu, Jin-jiu, begitu sikap kalian melindungi
ketua?”
“Asal bisa menjaga adat istiadat keluarga Wong, yang
lainnya aku tidak peduli,” jawab Wong Jin-jiu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kau benar ceroboh dan bodoh, caramu hanya
membantunya merebut harta kekayaan keluarga Wong dan
membuat posisi Raja Pedang menjadi milik marga Liu,” kata
Wong Jong-ceng.
Liu Ban-mong tertawa, katanya, “Adat istiadat keluarga
Wong tidak akan berubah, aku masih belum berkeluarga jadi
aku bisa melepaskan marga Liu, dan masuk menjadi keluarga
Wong.”
Wong Jong-ceng marah, “Kentut! Apakah Han-bwee mau
menikah denganmu?”
“Aku yang masuk ke keluarga Wong dan menjadi marga
Wong.”
Dengan dingin Wong Jong-ceng berkata, “Wong Jin-jiu,
apakah ini adalah rencana kalian?”
“Aku tidak bisa berbuat apa-apa terpaksa melakukan hal ini,
sebab Tuan pasti menolak Lim Hud-kiam menikah dengan
Han-bwee, apa lagi kalau kakak dan adik kandung menikah,
keturunannya akan timbul banyak masalah, maka kami
berusaha menghindari terjadinya ini,” jawab Wong Jin-jiu.
“Kurang ajar, dia lebih tua dari Han-bwee 30
tahun.”
“Umur tidak jadi masalah, sewaktu Tuanku masuk ke
keluarga Wong dan menikah dengan nyonya, nyonya baru
berusia 17 tahun, umur kalian pun jauh, tapi bukankah kalian
sangat akur dan akrab.”
“Dia serakah, wajahnya saja terlihat kalau dia cabul, apakah
dia pantas mendapatkan Han-bwee?
“Lembah Raja Pedang memilih menantu tidak pernah
berapatokan pada wajah, punya hati serakah sangat cocok
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
untuk menjadi menantu keluarga Wong, bukankah dulu
Tuanku juga serakah, maka hamba tidak memikirkan tentang
ini, aku membantu Tuan menjodohkan Han-bwee, satusatunya
syarat adalah lepaskan marga dulu dan masuk ke
keluarga Wong, dan menjadi orang Wong.”
“Apakah Han-bwee setuju?” tanya Wong Jong-ceng dengan
marah.
“Nona adalah keluarga Wong, terhadap suami yang ingin
menikah dengan mereka belum tentu setuju, tapi aku ada cara
dan cara ini selalu manjur,” kata Wong Jin-jiu.
“Siapa sebenarnya Tuan di keluarga Wong?” tanya Wong
Jong-ceng marah.
Dengan serius Wong Jin-jiu berkata, “Kalau mau jujur
bicara, tidak ada Tuan bermarga Wong, karena tuan asli
marga Wong adalah nenek moyang yang membuat semua
aturan ini, tapi beliau sudah meninggal, demi melaksanakan
perintah yang beliau tinggalkan, keluarga Wong harus
mengandalkan pelayan-pelayan setia ini untuk menjalankan
aturan secara terus menerus.”
“Kalian baru Tuan asli dari keluarga Wong,” kata Wong
Jong-ceng.
Wong Jin-jiu tertawa kecut, “Kecuali masalah ini, hamba
bisa mengambil keputusan, yang lainnya kami tetap
menghormati Tuan, hamba sudah membuat nona susah,
sesudah mereka menikah, kami sudah siap dihukum mati.”
Wong Jong-ceng tertawa, dia menoleh kepada Wong LIanbwee
lalu berkata, “Anak, saat ibumu masih hidup, hal seperti
ini sudah dia bicarakan dengan ayah, maka dia sangat
berharap bisa melahirkan seorang putra, tapi kau lahir sebagai
seorang perempuan, karena itu dia terlalu sedih dan akhirnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
meninggal, sebab itu dia berupaya supaya aku bisa merobah
aturan ini, ayah harap kau bisa memaafkan ayah.”
“Betul, ayah, aku sangat mengerti, kalau dari awal aku tahu
ada adat seperti ini, aku sudah bunuh diri,” kata Wong Hanbwee.
Wong Jong-ceng tertawa kecut, “Apa gunanya kau mati?
Mereka akan mencarikan aku seorang istri lagi dan melahirkan
anak untuk keluarga Wong, aku sudah mati rasa, maka
setelah kau lahir, aku tidak mau menikah lagi.”
“Ayah, dari dulu seharusnya kau merobah adat turun
temurun ini, ibu sudah meninggal lama, kau punya banyak
kesempatan untuk membubarkan Lembah Raja Pedang ini.”
Wong Jong-ceng menarik nafas panjang, “Aku egois, semua
ini demi kau, juga Hud-kiam.”
“Demi Koko, bukankah dulu ayah masih menganggap....”
Wong Han-bwee terkejut. Wong Jong-ceng terkejut, “Dulu aku
menganggap Hud-kiam adalah putra Hoan Lam-huang dan Innio,
dia bukan anakku tapi In-nio adalah istriku, perempuan
yang pernah kucintai, karena ibunya aku ingin menjodohkan
kalian.”
Wong Han-bwee terkejut, “Ayah ingin aku menikah dengan
kakak?”
“Kalau dia bukan putraku apa salahnya? Dan kalian berdua
sangat kusayangi, aku ingin semua ini kuwariskan kepada
kalian, maka sewaktu rapat akbar di Tai-san aku selalu
menyuruhmu bersikap lebih sungkan kepadanya dan tidak
boleh melukainya, begitu aku melihat dia dan aku tahu kalau
dia adalah putra kandungku, maka aku mengurungkan niat ini,
tapi aku tetap ingin kalian berdua menerima apa yang ada di
lembah ini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tapi ayah harus ada persiapan terlebih dulu bukan?” tanya
Wong Han-bwee.
“Aku sudah mempunyai persiapan, aku selalu menjaga sifat
serakah Liu Ban-mong, hanya sama sekali tidak menyangka
kalau Jin-jiu dan Kiu-nio sepasang orang pikun ini bisa
mengeluarkan keputusan begitu bodoh, aku benar-benar ingin
menggigit mereka,” kata Wong Jong-ceng.
Wong Han-bwee berpikir sebentar, “Ayah, tenanglah, aku
tidak akan menerima permainan ini begitu saja dan aku akan
menghukum mereka.”
Liu Ban-mong berkata, “Nona, itu sudah terlambat.”
Dengan serius Wong Jong-ceng berkata, “Belum terlambat,
kalian hanya menguasai kami berdua, kakakmu masih
sanggup membereskan mereka, kita masih cukup orang, Heuw
Liu-hoan adalah anak buahku yang setia.”
“Apa yang Tuanku pesan, aku akan melaksanakannya,”
jawab Heuw Liu-hoan.
“Liu-hoan, kau punya berapa anak buah?”
“Prajurit baju putihku berjumlah 100 orang lebih, cukup
untuk bertempur,” jawab Heuw Liu-hoan.
“Kau bawa mereka jaga di bawah panggung, untuk
membantu Ketua Liu menahan prajurit 100 lebih yang
dipimpin Liu Ban-mong, aku percaya itu sudah cukup,” kata
Wong Jong-ceng.
“Kian-kun-kiam-pai akan membantumu,” jawab Ciam Giokbeng.
“Aku tidak berani, apa yang terjadi hari ini adalah
perbuatan adik seperguruanmu, Hoan Lam-huang, kalau dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
tidak memberikan plakat dunia persilatan kepada Liu Banmong,
tidak akan membuatnya begitu sombong dan gila.”
Dengan malu Ciam Giok-beng berkata, “Mungkin Lok Sute
tidak akan bertindak begitu ceroboh!”
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Contoh lain, ilmu silat Ciu
Pek-ho maju pesat, aku tidak mau menjelekkan dia, tapi
kelicikan dia bisa dibayangkan, dia mengajar ilmu silat kepada
Lim Hud-kiam, dia juga menyuruh Lim Hud-kiam
membunuhku, dari sini sangat jelas kalau dia kerdil jahat,
serta licik.”
“Dia hanya tahu kau adalah Ketua Ngo-heng-kiam, tidak
tahu kalau kau adalah Lim Su-kun, dia hanya ingin membasmi
kejahatan demi keselamatan banyak orang,” jawab Ciam Giokbeng.
“Di dunia ini hanya dia yang tahu aku belum mati dan juga
tahu bahwa Lim Hud-kiam adalah putra kandungku, tapi
sekarang Liu Ban-mong juga tahu kalau bukan dia yang
membocorkan rahasia ini, siapa lagi? Untuk apa kau masih
terus membelanya?” tanya Wong Jong-ceng.
“Kita tidak bercerita tentang ini, Lok Sute sudah bersalah
kepadamu, biar perguruannya membantumu melawan musuh
untuk menebus kesalahannya, apakah diijinkan?” tanya Ciam
Giok-beng.
“Sisakan tenagamu untuk menjaga dirimu, kalau Liu Banmong
mendapatkan kekuasaan, dia pasti tidak akan
melepaskan kalian,” kata Wong Jong-ceng tertawa.
“Thian-san lembah Lu-bwee dengan sekuat tenaga akan
mendukung Tuan,” kata Thio In.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Cia Hwie Cin-jin pun ikut berkata, “5 perguruan dengan
sekuat tenaga akan mendukung Lim Kongcu.”
“Kalian tidak membenciku lagi?” Wong Jong-ceng tertawa.
Cia Hwie Cin-jin tertawa kecut, “Perilaku Tuan dulu
membuat 5 perguruan kami menjadi benci kepada Tuan, tapi
perubahan yang terjadi belakangan membuat kami punya
pandangan lain kepada Tuan.”
“Tidak perlu, aku memberi sedikit pelajar pada kalian
supaya perilaku kalian bisa berubah, dari perbuatan kalian
yang menitipkan plakat dunia persilatan kepada perusahaan
perjalanan Su-hai bisa terlihat kalau kalian adalah perguruan
lurus, apa lagi belakangan ini kalian mau mengeluarkan jilid
kedua plakatnya, lebih-lebih membuktikan niat baik kalian,
apakah kalian hanya berniat balas dendam, terhadap
pernghinaan Sun Soan-cu, apakah sedikit hati menjaga pun
tidak ada?”
Cia Hwie Cin-jin dengan wajah malu berkata, “Kami
memperalat perusahaan perjalanan Su-hai adalah tindakan
salah, tapi kami mengeluarkan jilid kedua benar-benar rela,
karena kalian mengatakan akan ada pembunuhan di rapat
akbar Tai-san, 5 perguruan tidak sanggup mencegahnya
hanya bisa menyerahkan jilid ke-2 kepada kalian supaya orang
yang punya jilid ke-I akan mencari kalian untuk bertarung, 2
hari menjelang pertarungan pasti akan ada yang terluka, ini
adalah satu-satunya cara untuk menjaga ketenangan di dunia
ini.”
Wong Jong-ceng tertawa, “Baik, tidak disangka, jilid ke-I
ada di tanganku, benar-benar seperti harimau ditambah
dengan 2 sayap bukan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kami kira hal ini tidak mungkin terjadi, tapi Lim Kongcu
mengenal ilmu pedang kalian sebagai jurus-jurus dari Ngoheng-
kiam, Ketua Ngo-heng-kiam dan plakat dunia persilatan
tidak bisa bekerja sama.”
“Kalian harus tahu bila hanya berlatih jilid ke-I akan
tersesat, harus mengandalkan jilid ke-2 untuk menolongnya,
kalian memberikan jilid ke-2 kepada Ketua Ngo-heng-kiam,
bukankah akan menutup jalan kalian sendiri, mana mungkin
bisa menolong bahaya dunia ini?” tanya Wong Jong-ceng.
“Memang berlatih ilmu jilid ke-I akan tersesat, tapi jilid ke-2
ada cara untuk menolongnya, kami sudah melihatnya, itu tidak
susah dengan cara lain juga bisa mendapat kembali kekuatan
sampai 90%, maka kami mengambil keputusan akan
menyerahkan plakat itu, kami percaya orang yang
mendapatkan plakat itu pasti sudah mempunyai kekuatan
90%, untuk menjadi sempurna dia masih harus menambah
10% lagi, mereka akan mencari kalian, kami yakin kau sudah
mendapatkan ilmu Ngo-heng-kiam juga plakat dunia
persilatan.”
Liu Ban-mong tertawa, katanya, “Memang Tuanku
mendapatkan jilid ke-2, dan dalam waktu singkat sudah
berlatih sisa 10% ilmu itu, tapi Anda tetap tidak bisa menahan
rahasia keluarga Wong yang dinamakan melindungi ketua,
berarti semua perubahan yang ada di dunia ini tidak bisa
ditentukan oleh manusia, Jin-jiu, Kiu-nio, kalian berdua cepat
ke sana untuk membereskan Lim Hud-kiam.”
Liu Hui-hui bersiap-siap naik panggung untuk membantu,
sepasang pelayannya Siau Ceng dan Siau Pek pun sudah
mencabut pedangnya, tapi Wong Jong-ceng malah berkata,
“Jangan kemari, Hud-kiam sendiri pun sanggup melayani
mereka.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ta-su berteriak, “Lim Su-kun, kau jangan berbuat
ceroboh lagi, kau pun sudah kalah, apa lagi Hud-kiam, dia
hanya sendiri!”
Wong Jong-ceng tertawa, “Aku bilang dia sanggup pasti dia
akan sanggup, kalau banyak orang malah sulit untuk bergerak,
kalian menjaga saja di bawah panggung, Tiang Leng-cu dan 2
bersaudara Bun satu komplotan, Kakak Liu jaga mereka,
karena ilmu pedang mereka kau lebih paham, jangan biarkan
mereka datang mengacau.”
Kemudian dia berkata kepada Lim Hud-kiam, “Anak, kau
tenanglah menghadapi mereka, jangan mengingat jurus yang
diajarkan Hoan Lam-huang, sekarang jika kau tidak mau
melukai orang, kau yang akan dibunuh.”
36 orang anak buah Ma Kiu-nio, 6 orangnya diantaranya
mengawasi Wong Jong-ceng dan Wong Han-bwee, sisanya
yang 30 orang dibagi menjadi 5 kelompok, mereka
mengelilingi Lim Hud-kiam dan mulai menyerangnya.
Tangan Lim Hud-kiam memegang pedang tumpulnya,
dengan tenang dia melawan membuat 6 pedang yang
menyerangnya tidak bisa masuk, tapi dia tetap bertahan, tidak
mau menyerang.
Dengan cemas Wong Jong-ceng berkata, “Kau tetap tidak
mau mendengar kata-kata ayah, apakah sekarang kau masih
begitu sungkan, baik kepada musuh berarti kejam kepada
dirimu.”
“Ayah, aku mengganti nama menjadi Hud-kiam (Pedang
Budha) sebenarnya adalah kehendak ibu, tidak melukai orang
itu pun ajaran ibu, aku rasa ilmu pedang penuh dengan
persahabatan, aturannya ada di sini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng menarik nafas, “Inilah rasa cinta seorang
perempuan, Liu-hoan, kau jaga di bawah panggung, orang
yang terjatuh dari panggung sekalian saja kau bunuh, tidak
boleh terlewat satu orang pun.”
Ooo)dw*de(ooO
BAB 33 Semangat pedang adalah hati penuh
damai
Heuw Liu-hoan berjalan ke bawah panggung, di atas
panggung pertarungan semakin sengit, 30 orang terbagi
menjadi 5 kelompok, bergiliran menyerang, setiap kelompok
terdiri dari 6 orang, ilmu pedang mereka benar-benar bagus,
sepertinya Lim Hud-kiam mulai kelelahan dan tidak kuat lagi.
Tiba-tiba Wong Jong-ceng berteriak, “Ciam-liong-tan-jiauw,
Ya-hwee-siau-tan!” (Naga bersembunyi menggunakan cakar,
api liar membakar langit).
Itu adalah 2 nama dari jurus ilmu pedang, Lim Hud-kiam
mengerti dan ternyata sangat pas dengan jurus-jurus
pedangnya, maka dia menggunakan jurus ini dengan tenang,
tapi dia juga mendengar ada suara senjata menyerang, maka
jurus pertama dia menghindari serangan, jurus kedua dia
mendekat dan melambaikan pedangnya, sekelompok
penyerang yang terdiri dari 6 orang bersamaan terkena
sabetan pedang di pinggangnya.
Tapi Lim Hud-kiam tidak membunuh mereka, karena
pedangnya adalah pedang tumpul, hanya memukul mereka
hingga terjatuh ke bawah panggung, Heuw Liu-hoan sudah
mengayun tangan, belum sampai ke tanah 4 orang yang
terjatuh sudah dibabatnya di bagian pinggang, yang kedua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
terjatuh ke bawah belum sempat berdiri dengan benar
kepalanya sudah dipenggal oleh Heuw Liu-hoan.
Melihat keadaan seperti itu, semua orang terkejut juga
kebingungan.
Wong Jong-ceng tertawa, “Jin-jiu, ilmu rahasia tidak bisa
membuatku takut, asal aku sudah melihatnya satu kali, aku
akan segera mencari cara mengatasinya, kalian tidak akan
bisa mencuri dan mempelajari ilmu silat Raja Pedang!”
Wong Han-bwee dengan senang berkata, “Ayah, kau begitu
hebat, mengapa ayah bisa ditaklukkan mereka?”
Wong Jong-ceng tertawa, “Ini bukan disebut ditaklukkan,
mulutku masih bisa bergerak dan masih bisa mengajari
kakakmu, hasilnya akan sama, dulu aku tidak menyangka
mereka berani menyerangku, aku salah menduga membuat
mereka bisa menangkapku, asalkan kakakmu masih bergerak
kita tetap bisa membereskan mereka.”
Orang yang tersisa hanya ada 24 orang, tapi serangan
mereka tetap sengit, Wong Jong-ceng terus melihat keadaan
itu, tiba-tiba dia berteriak, “Hui-liong-cai-thian, It-yap-cu-ciu!”
(Naga terbang di langit, selembar daun mengetahui musim
gugur).
Jurus pertama adalah jurus menjelaskan, Lim Hud-kiam
menuruti dan memperagakannya, tapi pada jurus kedua dia
mengubahnya, hanya dengan pedang menyapu ke atas udara,
menjadi 'Ciu-hong-jut-lim' (Angin musim gugur masuk hutan)
dia tidak ingin melukai orang, hanya ingin memukul jatuh
senjata mereka, tapi sesudah pedang dilayangkan 6 orang itu
tetap terguling jatuh ke bawah panggung dan mati oleh
pedang Heuw Liu-hoan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Ternyata begitu ke enam perempuan ini mendengar
teriakan Wong Jong-ceng, tahu jurus berikutnya adalah It-yapcu-
ciu jurus itu bisa menyerang kelemahan mereka, maka
mereka dengan cepat melepaskan serangan dan diam untuk
menjaga diri mereka, karena jurus pedangnya sama, cara
mereka sekarang pun sama, maka saat mereka menahan Ityap-
cu-ciu dengan pedang, mereka sama sekali tidak mengira
Lim Hud-kiam bisa mengubah jurus pedangnya, maka pedang
Lim Hud-kiam tetap masih bisa memukul kelemahan mereka,
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Hud-kiam,
sekarang kau harus mulai belajar ilmu pedang teknik tinggi,
pedang akan menyatu dengan jiwa, menaklukkan musuh
harus tahu musuh, aku bisa menebak isi hatimu juga bisa
menebak hati musuhmu, aku tahu kau tidak akan ikut katakataku
untuk mengeluarkan jurus, maka aku dengan jurus Ityap-
cu-ciu memancing jurusmu yang Ciu-hong-jut-lim,
perubahan jurus seperti yang kuinginkan.”
Karena Lim Hud-kiam terus melukai orang, hal ini sudah
berlawanan dengan kehendaknya, maka dia berteriak, “Ayah,
jangan suruh aku melukai orang lagi.”
“Tidak, yang membunuh adalah Heuw Liu-hoan.”
“Tapi kematian orang-orang itu ada hubungannya dengan
aku.”
“Maksudmu, memaafkan mereka lalu membiarkan mereka
membunuhmu, membunuhku, atau membunuh adikmu atau
bahkan membunuh semua orang?”
Lim Hud-kiam tidak bisa menjawab, lama dia baru berkata,
“Mungkin tidak akan seperti itu!'
“Kecuali kau bisa menaklukkan mereka satu per satu, kalau
tidak perempuan-perempuan gila itu sangat berbahaya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mereka dilatih untuk membunuh, apakah kau mempunyai cara
supaya mereka tidak membunuh orang?”
“Aku tidak sanggup,” jawab Lim Hud-kiam.
“Kau tidak sanggup, aku juga tidak sanggup, mereka hanya
mendengarkan kata-kata Nenek Ma, sekelompok perempuan
gila itu adalah perajurit berani mati, mereka dilatih oleh
seorang gila menjadi pembunuh, pekerjaan mereka hanya ada
dua, membunuh atau dibunuh, ingin mencegah mereka
membunuh, cara satu-satunya adalah membunuh mereka.”
Wong Han-bwee juga berteriak, “Koko, apa yang ayah
katakan benar, kedudukan 36 perempuan itu sangat istimewa,
hanya Ma Kiu-nio yang bisa memerintah mereka, ayah dan
aku pun tidak sanggup menghadapi mereka, jadi kau tidak
boleh merasa tidak tega membunuh mereka.”
Lim Hud-kiam terpaku, “Cara apa yang digunakan untuk
mengurusi Lembah Raja Pedang? Benar-benar saling bertolak
belakang!”
Wong Jong-ceng berkata, “Tidak saling bertolak belakang,
prajurit berani mati ini selalu begitu, hanya ada satu orang
yang bisa menyuruh mereka melakukan apa saja, tapi kami
yang menjadi tuan hanya bisa menyuruh mereka melakukan
satu hal, yaitu menuju kematian.” Lim Hud-kiam terpaku, “Bisa
menyuruh mereka mati, tapi tidak bisa memerintah mereka?”
“Benar, bila kita merasa tidak senang pada seseorang dan
menurunkan perintah hukum mati, kecuali hal ini, hal yang
lainnya harus diperintah oleh Ma Kiu-nio mereka baru
menurut.”
“Kalau begitu, ayah turunkan perintah suruh menghukum
mati kepada mereka, untuk apa menyuruhku menjadi
pembunuh?” tanya Lim Hud-kiam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng menarik nafas, “Saat aku masih menjadi
tuan mereka, aku mempunyai hak ini, sekarang aku dan Hanbwee
sudah jadi tawanan, tidak berhak menurunkan perintah
lagi.”
Ma Kiu-nio menjawab dengan dingin, “Bila Tuanku
melaksanakan adat keluarga Wong, kapan pun Tuanku bisa
mendapat kekuasaan, hamba pun bisa diperintah kembali oleh
Tuanku.”
“Aku tidak melanggar adat keluarga Wong,” jawab Wong
Jong-ceng.
“Tuanku bermaksud akan memberikan jabatan Raja Pedang
kepada Lim Hud-kiam ini sudah melanggar adat keluarga
Wong, kecuali Tuanku menyuruh Lim Hud-kiam menikah
dengan nona.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Aku tidak akan
mengijinkan kegilaan kalian terlaksana, walaupun aku setuju,
tapi Lim Hud-kiam tidak akan setuju, karena Lim Hud-kiam
adalah putra Lim Su-kun, bukan putra Wong Jong-ceng, aku
tidak berhak memerintah dia untuk melepaskan marganya
masuk menjadi menantu keluarga Wong.”
“Kalau begitu Tuanku harus menerima syarat kedua,
mengakui posisi Liu Ban-mong.”
“Kurang ajar, apakah putriku pantas berjodoh dengan tikus
itu!!”
“Tuanku, nona adalah putri keluarga Wong, bukan putri
Anda, hamba menghormati Anda, maka harap Anda
menyetujuinya, bila Anda tidak setuju, hamba berhak
menentukan langkah selanjutnya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Apa pendapatmu, 36
orang Lo-sat (Pembunuh perempuan) 1/3 nya sudah mati, bila
aku memberi 4 kalimat petunjuk lagi semua akan mati.”
Ma Kiu-nio menjawab dengan dingin, “Bila Tuanku tidak
menutup mulut, hamba akan berbuat salah kepada Tuan.”
Sorot mata Wong Jong-ceng berubah menjadi galak,
“Berani sekali kau menyuruhku tutup mulut?”
“Hamba tidak berani, tapi tuanku bisa menutupnya sendiri.”
“Kecuali aku mati.”
“Bila terpaksa, aku harus menjalankan tugas ini.”
Wong Jong-ceng marah, “Kau berani membunuh
pemimpinmu?”
Dengan tenang Ma Kiu-nio berkata, “Bukan hamba yang
akan membunuh Tuanku, tapi aku harus melaksanakan pesanpesan
nenek moyang keluarga Wong.”
“Kalau kau berani, coba saja!”
“Hamba sedang menunggu keputusan terakhir dari
Tuanku,” jawab Ma Kiu-nio.
“Keputusan sudah kuambil dan tidak akan berubah.”
“Kalau begitu maafkan hamba.”
Tangan Ma Kiu-nio melambai, perempuan yang memegang
pedang menjaga Wong Jong-ceng segera menyerang ke
depan, tapi baru saja pedangnya bergerak, Wong Han-bwee
dan Lim Hud-kiam bersama-sama berteriak, “Hentikan!”
Pedang berhenti melaju, kata Lim Hud-kiam, “Ayah,
putramu sudah mulai mengetahui cara-cara mereka, ayah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
tidak perlu memberi petunjuk lagi, putramu bisa
menghadapinya sendiri.”
“Tidak, Koko, kau tidak akan sanggup, hatimu terlalu baik,
kau tidak akan bisa melawan sekelompok pembunuh ini,
mereka satu selompok lebih gila dibandingkan kelompok lain,
yang paling ganas adalah orang yang menyandera kami,
mereka bisa berperang perorangan, kecuali ayah, tidak ada
yang bisa menaklukkan mereka,” kata Wong Han-bwee.
Wong Jong-ceng tertawa kecut, “Bila ada sebilah pedang di
tangan, mungkin masih bisa menahan, tapi sekarang aku
sudah jadi tawanan, hanya menunggu dibunuh atau dihina.”
“Tuanku, asal Anda tidak melanggar adat keluarga Wong,
Anda tetap ketua lembah,” jawab Ma Kiu-nio.
Tiba-tiba Wong Han-bwee berkata, “Baiklah, ibu asuh, aku
setuju menikah dengan Liu Ban-mong.”
“Adik, jangan!” Lim Hud-kiam berteriak.
“Mengapa tidak, aku adalah tuan asli dari keluarga Wong,
ayah tidak bisa mengambil keputusan, aku bisa, ibu asuh, aku
terima Liu Ban-mong menjadi suamiku, tapi aku akan tetap
menjadi ketua Lembah Raja Pedang ini.”
Ma Kiu-nio segera menjawab, “Itu pasti, Liu Ban-mong yang
akan mengganti marga masuk ke keluarga Wong, bukan Nona
yang mengikuti dia, maka Tuan yang sebenarnya tetap Nona.”
“Kalau begitu suruh mereka lepaskan aku,” perintah Wong
Han-bwee.
“Sekarang belum bisa,” jawab Ma Kiu-nio.
“Mengapa tidak bisa? Apakah aku sebagai Tuan kalian tetap
harus disekap seperti ini?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Betul, Nona harus menunggu kami menyelesaikan satu hal
baru bisa menjadi Tuan sebenarnya dan akan mempunyai hak
penuh,” jawab Ma Kiu-nio.
“Mengenai apa?”
“Membunuh Lim Hud-kiam!”
“Mengapa? Dia adalah kakakku, walau satu ayah berbeda
ibu.”
“Karena itulah dia harus mati, di langit tidak ada 2
matahari, dalam satu negara tidak bisa ada 2 raja, di Lembah
Raja Pedang hanya ada satu Tuan yang benar-benar
menguasai lembah ini.”
“Lepaskan aku, biar aku sendiri yang membunuhnya.”
“Tidak perlu, asal Nona memberi pesan kami yang akan
melaksanakannya.”
“Kurang ajar, apakah masalahku harus kalian yang atur
juga?”
“Hanya hal ini saja, sesudah Lim Hud-kiam mati, Nona
berhak penuh di sini, begitu menikah dengan Liu Ban-mong
tanggung jawab hamba pun akan selesai, apakah Nona akan
membunuh atau mencincangku, hamba tidak akan melawan.”
“Kalian begitu licik, apakah aku akan percaya kepada
kalian?”
Dengan serius Ma Kiu-nio berkata, “Kata-kata Nona terlalu
berat, membunuh Lim Hud-kiam tetap harus dilaksanakan,
walaupun Nona tidak membuka mulut tapi hal ini tetap akan
dijalankan, maka hamba minta Nona menurunkan perintah.”
“Aku tidak akan menurunkan perintah tidak normal ini!”
seru Wong Han-bwee.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Dari sini dapat diketahui bahwa kata-kata Nona tadi tidak
serius, Nona hanya ingin bebas, terpaksa hamba yang akan
mengambil keputusan sendiri.”
Kemudian dia memerintah perempuan itu, “Letakkan
pedang di leher tuan, bila dia masih memberi petunjuk kepada
Lim Hud-kiam, tusuk tenggorokannya, bukan karena kami
berniat membunuh tuan, melainkan untuk menjaga dan
melindungi adat keluarga Wong supaya tidak musnah, jadi
kami tidak akan disalahkan, kelompok 3, serang!”
Lo-sat (pembunuh perempuan) kelompok ke-3 mulai
menyerang, terpaksa Lim Hud-kiam melayangkan pedang
untuk menahan serangan, benar saja kelompok ini lebih lihai
dari kelompok tadi, angin pedang terdengar menderu dengan
kencang membuat Lim Hud-kiam sulit melawan, keadaan
semakin gawat.
Melihat keadaan seperti itu, Liu Hui-hui mulai cemas, dia
ingin membantu, tapi Wong Jong-ceng dengan cepat
berpesan, “Jangan kemari, jaga kelompok orang-orang Liu
Ban-mong!!”
Liu Ta-su berteriak, “Wong Jong-ceng, apakah kau akan
membiarkan Hud-kiam terbunuh?”
Wong Jong-ceng menarik nafas, “Dulu aku melindungi
putraku, tapi hati putraku selalu ingin menjaga kebenaran dan
keadilan, aku tidak bisa membuatnya terjebak pada hal tidak
benar, aku juga berharap semua orang akan mendukungnya,
mementingkan keamanan dunia persilatan, sisakan sedikit
kekuatan, bagaimana pun jangan biarkan Liu Ban-mong
mendapatkan kekuasaan, kalau tidak, akibatnya tidak akan
bisa kita bayangkan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku tidak tahu sebenarnya kau orang macam apa?” kata
Liu Ta-su sambil menarik nafas.
Wong Jong-ceng tertawa kecut, “Kau dan aku bukan orang
suci, kau mendapatkan seorang menantu suci, terpaksa kita
harus belajar menjadi orang suci, lihat putraku, di waktu
seperti sekarang ini dia masih tidak ingin melukai orang, apa
yang bisa kukatakan?”
Jurus Lim Hud-kiam terhadang, sebenarnya dia mempunyai
tenaga untuk membalas, tapi dia tidak ingin melakukannya dia
hanya cukup menjaga diri.
Karena itu Wong Han-bwee menangis, “Koko, apa maumu?
Mengapa kau tidak membalas?”
Dengan terengah-engah Lim Hud-kiam menjawab, “Mereka
bukan batu dan kayu, mereka juga punya perasaan, aku pasti
bisa mempengaruhi mereka sekalipun nyawaku harus hilang,
tidak apa.”
“Apakah kau bisa mempengaruhi mereka? Kau hanya
menyia-menyiakan nyawamu sendiri.”
“Aku merasakan mulai ada hasilnya.”
Wong Jong-ceng mengangguk, “Betul, bocah itu memang
mempunyai hati Budha, tadi dia sudah melakukan 6 kali
kesalahan, tapi perempuan-perempuan itu pun tidak
mengambil kesempatan membunuhnya.”
Sambil bertarung Lim Hud-kiam berteriak, “Tidak, ayah,
jumlahnya 9 kali kesalahan.”
“Aku tidak akan salah lihat, kau sudah 3 kali memberi celah
kepada mereka, tapi mereka tidak mengerti maksudmu dan
tidak berani sembarangan menyerang.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Mereka seharusnya tahu aku tidak berniat jahat,” kata Lim
Hud-kiam.
“Mereka sudah biasa curiga pada orang, maka mereka tidak
berani menaruh kepercayaan kepadamu.”
Wong Han-bwee berteriak, “Koko, apakah kau sengaja
membiarkan dirimu dibunuh mereka?”
“Betul, Adik, aku percaya kau bisa mengubah semua
keburukan di Lembah Raja Pedang ini, sekarang biang keladi
semua masalah ini adalah aku, begitu aku mati, kau tidak akan
mempunyai beban lagi.”
“Mengapa kau masih menahan diri? Taruh senjata mu
supaya kau bisa langsung dibunuh.”
Dengan serius Lim Hud-kiam menjawab, “Aku hidup dengan
pedang, maka aku harus mempunyai semangat seorang
pesilat pedang, mati dalam pertarungan adalah hal mulia aku
tidak akan menyerang, tapi tetap harus bertahan.”
Wong Han-bwee terdiam, Ma Kiu-nio mulai melihat 6 Lo-sat
menjadi kurang bersemangat, maka dia membentak, “Apakah
kalian sedang berpura-pura, aku beri patokan, dalam 10 jurus
kalian harus membereskan dia, kalau tidak, tuduhan
bersekongkol dengan musuh aku akan menghukum kalian,
biar kelompok ke-4 yang akan menggantikan kalian.”
Kata-katanya baru selesai, segera ada 3 orang dari 6 orang
menarik pedang mundur, sedangkan 3 orang lagi berhenti
dengan sendirinya, Ma Kiu-nio benar-benar marah, dia
membentak, “Apa yang kalian lakukan?”
Dengan kepala terangkat, seorang perempuan menjawab,
“Kiu-nio, kami tidak sanggup membunuhnya, karena ilmu
pedang Tuan Muda Lim lebih tinggi dari kami, sebelum dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mengeluarkan 6 kali celah, dia mempunyai 60 kali kesempatan
membunuh kami, siapa yang tega membunuh orang seperti
dia?”
Wajah Ma Kiu-nio berubah, “Apakah kalian tidak ingin
bertarung lagi?”
“Benar, silakan Kiu-nio mengganti kami dengan kelompok
lain.”
“Apakah kalian tahu, bila Lo-sat diganti dengan kelompok
lain, ada syaratnya!”
“Kami tahu, harus mati dan tidak boleh melawan.”
“Apakah kalian tidak ingin hidup lagi?”
“Benar, kami menunggu dihukum.”
“Demi orang jahat itu, kalian mau mengorbankan diri?”
“Betul, tugas kami adalah membunuh orang atau dibunuh,
kami belum pernah bertemu lawan seperti itu, beberapa kali
kami seharusnya sudah terbunuh, tapi dia tidak membunuh
kami mana mungkin kami tega membunuh orang yang tidak
tega membunuh kami?” Wajah Ma Kiu-nio berubah dengan
cepat, “Baiklah, aku akan melaksanakan kehendak kalian.”
Perempuan itu dengan santai berkata, “Kami terima
hukuman Kiu-nio karena ilmu pedang kami jauh berada di
bawah Tuan Muda Lim, seharusnya kami mati di bawah
pedangnya, tapi bila sekarang kami dihukum mati, kami kira
itu sama saja.”
Ma Kiu-nio berteriak-teriak seperti orang gila, “Kelompok 4
naik, bunuh Lim Hud-kiam.”
6 orang perempuan keluar, tiba-tiba Ma Kiu-nio berteriak,
“Bunuh pengkhianat terlebih dulu!!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Tapi keenam perempuan ini tidak bergerak, Ma Kiu-nio
berteriak histeris, “Apakah kalian juga akan menjadi
pengkhianat?”
Seorang perempuan menjawab, “Kiu-nio, aku belum pernah
belajar membunuh teman sendiri.”
“Kurang ajar, mereka bukan orang sendiri lagi, mereka
adalah pengkhianat keluarga Wong!!” Perempuan itu berkata,
“Kiu-nio, kau memang berjasa kepada keluarga Wong, tapi
kami tidak.”
Wajah Ma Kiu-nio terus berubah, kemarahan membuat
tubuhnya gemetar.
Wong Jin-jiu mendekat, “Kalian dari kecil sudah tinggal di
Lembah Raja Pedang, belajar ilmu pedang juga menikmati
semua kekayaan keluarga Wong, mengapa kalian bisa
berkata-kata seperti itu?”
“Tapi kami pun mengorbankan kehidupan kami seumur
hidup.”
“Pekerjaan kalian adalah membunuh!”
Lanjut perempuan itu, “Atau dibunuh.”
“Betul, sekarang tugas kalian adalah membunuh.”
“Kiu-nio, kami bisa menjadi pembunuh, tapi bila menyuruh
kami membunuh teman sendiri, lebih baik kami dibunuh saja,
karena selain teman sekelompok, kami tidak mempunyai
keluarga lagi.”
Karena marah, kedua kaki Ma Kiu-nio terus dihentakkan,
Wong Jin-jiu tetap lebih berpengalaman sambil menahan
emosi Ma Kiu-nio, dia menasehati, “Nenek tua, kata-kata
mereka benar, 36 orang Lo-sat dari kecil sudah berada di
lembah Lo-sat, mereka tidak berhubungan dengan dunia luar,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kehangatan yang mereka dapatkan yaitu dari teman mereka
sendiri, mana mungkin mereka akan membunuh orang
sendiri? Sudahlah, biar aku yang mengatur semuanya.”
Ma Kiu-nio berusaha menahan emosinya, “Dengan cara apa
kau akan mengaturnya?”
“Kelompok ke-3 sudah kehilangan semangat untuk
bertarung, jadi mereka tidak perlu bertarung lagi, kelompok
ke-4 yang akan meneruskan tugas ini membunuh Lim Hudkiam,
apakah kalian sanggup?”
“Kami sanggup!” jawab perempuan-perempuan itu.
“Baiklah, segera laksanakan, melawan perintah adalah
kesalahan besar, bila kalian menuruti perintah dan berhasil,
kalian bisa menghapus kekalahan kelompok ke-3.”
6 Lo-sat dari kelompok ke-4 segera mengurung Lim Hudkiam
dan mulai menyerang, serangan keenam orang itu
benar-benar hebat, tapi Lim Hud-kiam tetap menggunakan
jurus bertahan, hawa membunuh mereka terlalu kental,
karena mereka ingin menebus kekalahan kelompok ke-3,
maka Lim Hud-kiam sangat berhati-hati supaya tidak sampai
ada celah yang keluar.
Ma Kiu-nio menarik nafas, “Kakek, kau lebih pintar, aku
tidak menyangka orang yang kulatih akan menimbulkan
masalah seperti ini.”
“Jangan salahkan mereka, kau melatih mereka menjadi
pembunuh, kau lupa kalau mereka adalah manusia yang
mempunyai dasar sifat seorang manusia, karena latihan ketat
mereka bisa diperintah, tapi kalau bertemu dengan orang
seperti Lim Hud-kiam, mereka akan kebingungan dengan
keadaan yang tidak pernah mereka alami, kelak kita latih
mereka lagi, kita harus memperhatikan mengenai hal ini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tidak ada nanti, setelah aku menguasai Lembah Raja
Pedang, hal pertama yang akan kulakukan adalah
menyingkirkan orang-orang gila seperti kalian.”
Wong Jin-jiu tertawa, “Tidak apa kalau aku akan dibunuh
karena aku sudah bosan dengan pekerjaan ini, hanya karena
budi ini terlalu berat dengan terpaksa kami melaksanakannya,
hamba berharap Nona bisa mengubah adat keluarga Wong.”
Ma Kiu-nio terpaku, “Kakak, apa maksudmu? Apakah kau
juga mengagumi Lim Hud-kiam?” Wong Jin-jiu tertawa, “Aku
sudah banyak melihat, aku melayani 4 generasi tuanku, setiap
majikan yang belum mendapatkan kekuasaan selalu tidak suka
adat keluarga Wong! Tapi setelah mendapat kekuasaan
mereka tetap menjalankan adat keluarga Wong, kadangkadang
menambah kekurangan nenek moyang mereka, Nona
adalah turunan langsung keluarga Wong, Nona tetap akan
memilih jalan seperti ini, maka aku sama sekali tidak
khawatir.”
“Kita lihat saja, apa yang akan terjadi nanti!” Wong Hanbwee
tertawa dingin.
Wong Jin-jiu hanya tertawa dan tidak menjawab,
pertarungan semakin ketat, Lim Hud-kiam mulai terluka
ringan.
Dengan cemas Wong Jong-ceng berteriak, “Anak bodoh,
bila ingin mempengaruhi orang kau harus melihat seperti apa
dulu orangnya, 6 nenek ini tidak seperti kelompok tadi, apakah
kau ingin terbunuh?”
Lalu dia berteriak, “Tiang-kin-gin-coan!” (Ikan panjang
minum air sungai) Betul, lalu Thiat-soat-heng-kang (Gembok
besi mengalir horisontal).”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam mendapat jurus-jurus dari ayahnya, tapi dia
tetap tidak menyerang, tapi petunjuk Wong Jong-ceng tetap
membuat penyerangan 6 orang itu berhenti sejenak, membuat
Lim Hud-kiam bisa menghindari sabetan yang bisa
membuatnya terbunuh, Ma Kiu-nio membentak, “Tuanku, aku
sudah mengeluarkan pemintaan, kali ini jangan salahkan
hamba membunuh.”
Ujung pedang yang ada di depan tenggorokan Wong Jongceng
melaju, Wong Jong-ceng bersiul panjang, ujung pedang
berhenti di dekat tenggorokan, seperti ada tenaga besar yang
menahan dan menggetarkan, membuat ujung pedang
perempuan itu melaju ke pinggir kemudian 2 tanganya
bergerak dan bergetar, perempuan itu memegang tangannya
segera terlempar ke bawah, Heuw Liu-hoan mulai
mengayunkan senjatanya lagi dan membacok tubuh mereka
menjadi 2 bagian, kemudian dia melempar pedang ke atas
panggung dan berteriak, “Tuanku, sambut pedang ini!!”
Sebilah pedang terbang menuju atas panggung, gerakan
Wong Jiu-jiu dan Ma Kiu-nio tidak kalah cepat, yang satu
mengeluarkan pedang menahan pedang yang datang, yang
satu menyerang Wong Jong-ceng, tapi Wong Jong-ceng tidak
menyambut pedang yang dilempar Heuw Liu-hoan, dia hanya
menggulingkan tubuhnya ke bawah, dengan begitu dia bisa
menghindari serangan Wong Jin-jiu yang datang tiba-tiba,
selain itu dia bisa mengambil pedang berwarna kuning
perlambang wibawa Raja Pedang, kemudian tubuhnya
bergerak seperti angin menggulung, mengeluarkan cahaya
berkilau, Lo-sat yang sedang menyerang Lim Hud-kiam segera
terpisah kepala dan tubuhnya, Wong Jin-jiu dan Ma Kiu-nio
masih akan memerintah anak buahnya untuk menyerang, tapi
begitu melihat kegagahan Wong Jong-ceng yang memegang
pedang emas, dari wajahnya yang tampan memancarkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
wibawa yang luar biasa, mereka terpaku, Lo-sat yang mereka
pimpin berjumlah 36 orang satu kelompok telah kehilangan
semangat, hanya tinggal kelompok 4 dan 3 orang yang sedang
menjaga Wong Han-bwee, tapi wajah mereka terlihat
berobah, mereka tidak berani bergerak.
Wong Jong-ceng memegang pedang, dia tertawa terbahakbahak,
“Kalian sepasang pembunuh tua, kalian kira dengan
mengandalkan 36 Lo-sat kalian bisa menaklukkan aku? Dari
tadi aku pura-pura berhasil kalian taklukkan, aku ingin lihat
sejauh mana kalian bisa menyombongkan diri dan tidak tahu
aturan, tidak disangka kalian begitu sombong dan berani,
lempar pedang kalian dan akui kesalahan!”
Yang paling senang adalah Wong Han-bwee, dia berteriak,
“Ayah, kau sanggup mengalahkan mereka, mengapa harus
membuat dirimu jatuh dalam bahaya?”
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Apakah kau kira
ayahmu berada dalam bahaya? Kau terlalu meremehkan ayah,
memang aku terlihat berhasil mereka taklukkan, sebenarnya
aku tidak berada dalam bahaya, aku tahu jurus-jurus mereka
semua, setiap saat setiap waktu aku mempunyai kekuatan
untuk menyerang kembali.”
“Tapi Ayah tidak perlu menurunkan wibawamu, sampaisampai
kedua tangan dipegang dan dijaga dengan pedang
bukan?”
Tiba-tiba Wong Jong-ceng menarik nafas, “Ini adalah
permintaan ibumu, dia seorang perempuan sejati yang baik
hati, dia tahu adat nenek moyangnya tidak adil, tapi dia tidak
ingin menghukum sepasang pembunuh tua ini, begitu dia
melahirkanmu, dia takut kau akan terkekang dengan adat ini,
maka dia memberitahuku kelemahan jurus pelindung ketua
ini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jin-jiu terpaku, “Nyonya sama sekali tidak tahu ada
jurus-jurus pedang pelindung ketua.”
“Kalian salah besar, tubuh Koan-nio memang sangat lemah,
sama sekali tidak mempunyai keistimewaan dalam ilmu
pedang, tapi dia mempunyai bakat lain yang luar biasa, apa
yang dia telah lihat, tidak akan bisa dilupakan begitu saja, saat
dia masih kecil dia pernah melihat kalian berlatih ilmu pedang
pelindung ketua yang kalian ajarkan kepada Lo-sat, dia purapura
tidak mengerti, sebenarnya setiap jurus sudah dia ingat,
sampai-sampai cara untuk memecahkannya pun sudah dia
pikirkan, sebelum dia menghembuskan nafas terakhir, dia
memberitahuku, tapi dia juga meminta bila tidak terpaksa
jangan menggunakan jurus ini, aku memandang kebaikan
Koan-nio, selalu menelan kelakuan kalian yang tidak adil,
sekarang kalian telah memperlihatkan wajah kalian yang
ganas dan sadis.”
Wong Jin-jiu dan Ma Kiu-nio tidak bisa menjawab, Wong
Jong-ceng membentak, “Cepat berlutut, akui kesalahan,
apakah harus aku yang membunuh kalian?”
“Kakek, apa yang harus kita lakukan?”
“Nenek, kalau ini adalah kata-kata terakhir nyonya, apa
yang bisa kita lakukan? Yang penting kita sudah melakukan
hal yang terbaik bagi ketua kita.”
Ma Kiu-nio marah, “Kentut, tanggung jawab kita adalah
kepada tuan besar, sekarang dia sudah melanggar adat
keluarga Wong, maka dia bukan Tuan kita lagi, kita tidak bisa
mendengar dan menuruti perintahnya lagi.”
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Wong Jinjiu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Tiba-tiba Ma Kiu-nio membalikkan tubuh, dia menunjuk
Wong Han-bwee dengan pedangnya, “Nona, kau adalah
generasi terakhir Wong, apa rencanamu?”
“Jangan sembarangan bicara, ayah masih ada, belum
waktunya aku yang mengambil keputusan,” jawab Wong Hanbwee.
“Memang dia bermarga Wong, tapi sekarang dia sudah
kehilangan kedudukan sebagai seorang Tuan, sekarang aku
hanya mengakui nyonya sebagai majikan, asal Nona membuka
suara, semua bahaya bisa hamba atasi.”
“Dengan cara apa aku membuka suara?” tanya Wong Hanbwee.
“Setuju menikah dengan Liu Ban-mong, meneruskan adat
keluarga Wong.”
Wong Han-bwee marah, “Kurang ajar, dengan alasan apa
kalian berani mengambil keputusan untukku?”
Ma Kiu-nio menarik nafas, “Mungkin Nona menganggap Liu
Ban-mong tidak cocok untukmu, tapi ini adalah satu-satunya
cara untuk meneruskan adat keluarga Wong karena dia
mempunyai kesanggupan.”
“Matipun aku tidak akan setuju!”
Wajah Ma Kiu-nio terlihat marah, “Kalau begitu, terpaksa
hamba akan menjalankan cara terakhir, lebih baik keturunan
Wong terputus di sini saja, tapi nama tetap harus dijaga.”
Wong Han-bwee terpaku, “Apa maksudmu?”
“Terpaksa Nona harus hamba bunuh, kemudian menyuruh
Liu Ban-mong menikah dengan batu nisan Nona lalu
menyelesaikan upacara masuk keluarga Wong, dan Liu Banmong
akan meneruskan turunan keluarga Wong.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng tertawa, “Apakah ini kehendak Liu Banmong?”
“Tidak, ini adalah kehendak kami, tapi Liu Ban-mong sudah
menyetujuinya.”
Kata Wong Jong-ceng, “Kebodohan kalian benar-benar
keterlaluan dan sudah terlewat batas, terang-terangan Liu
Ban-mong memperalat kalian, apakah kau yakin sesudah dia
mendapatkan kekuasaan, dia akan menepati janjinya?”
“Aku tidak takut dia ingkar janji, sesudah kami menyusun
rencana, dia sudah meminum guna-guna yang kubuat dengan
rahasia, bila dia ingkar janji, setengah tahun kemudian racun
itu akan bereaksi dan dia akan mati.”
Wong Jong-ceng tetap tertawa, katanya, “Apakah dengan
cara ini kau bisa menaklukkan dia?”
“Guna-gunaku bukan guna-guna biasa, dia sama sekali
tidak tahu guna-guna apa yang kupakai, jadi tidak akan ada
obat penawarnya, begitu guna-gunanya mulai bekerja dia
akan tahu, tapi itu pun sudah terlambat, aku yakin aku bisa
menguasainya.”
“Sepertinya semua ini sudah kau rencanakan dengan
sempurna bukan?” tanya Wong Jong-ceng.
“Benar, demi Tuanku aku harus berbuat seperti itu dan aku
tidak berani tidak setia.”
Wong Jong-ceng marah, “Kau benar-benar kurang ajar, bila
aku setuju Han-bwee menikah dengan Hud-kiam, apa
rencanamu terhadap Liu Ban-mong?”
“Aku kira hal ini tidak mungkin terjadi, karena Lim Hud-kiam
tidak akan setuju!”
“Kalau aku bisa memaksanya supaya setuju?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Itu lebih baik, nyawa Liu Ban-mong berada di tanganku,
dia tidak akan berani macam-macam, berarti tugasku sudah
selesai.”
Wong Jong-ceng membentak, “Kiu-nio, awalnya aku masih
mengingat kalau kau selalu melindungi keluarga Wong, tapi
sekarang Han-bwee pun ingin kau bunuh, bila kau berani
membunuh Han-bwee, jangan harap bisa hidup lagi.”
Ma Kiu-nio sama sekali tidak takut, “Memang Tuanku
berilmu pedang tinggi, tapi kedua pedang kami ada di depan
nona, apa lagi kakek bisa membantu menahan serangan Tuan,
aku sendiri tidak takut mati, keinginan Tuan melindungi nona
tidak mungkin terjadi.”
Wong Jong-ceng ada beberapa meter jaraknya dari mereka,
dan Wong Jin-jiu sedang memegang pedang siap bertarung,
hal ini benar-benar membuat Wong Jong-ceng tidak berani
bergerak, dia terpaku lama, baru berkata, “Hud-kiam, aku
benar-benar tidak berkutik, apakah kau punya ide lain?”
“Aku tidak ada ide lain, masalahnya ada pada Han-bwee,”
jawab Lim Hud-kiam.
Wong Han-bwee berteriak, “Ayah, jangan pedulikan aku,
biar kau serang mereka, jangan biarkan orang begitu jahat
tetap hidup, mati pun aku rela.”
“Han-bwee sudah memberi pendapat, ayah tidak perlu ragu
lagi,” kata Lim Hud-kiam.
“Sembarangan bicara, kau tidak tega membunuh tapi kau
rela mengorbankan Han-bwee, jangan lupa, dia adalah
adikmu!”
“Tidak apa-apa, marganya Lim, sedang margaku Wong,”
kata Wong Han-bwee.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam menarik nafas panjang, “Han-bwee, kita
memang berbeda marga berbeda ibu, tapi aku selalu
menganggapmu adik kandungku, aku tidak ingin memberi
pendapat.”
“Pendapat yang tidak masuk akal,” kata Wong Jong-ceng.
“Ayah, bukan pendapatku tidak masuk akal, tapi
pendapatnya sangat benar, semenjak aku berkelana aku tidak
pernah terpikir tentang diriku sendiri, nyawaku setiap saat siap
dikorbankan untuk kebenaran.”
“Tapi adikmu tidak ingin seperti dirimu,” jawab Wong Jongceng.
“Ayah, Han-bwee sudah memberi pendapat, kalau dia
hanya memikirkan diri sendiri, aku tidak mau mengakui dia
sebagai adikku.”
“Bocah, kau anggap kau itu apa?”
“Aku tidak menganggap diriku tinggi, aku hanya ingin
menjadi seorang pesilat biasa dan pesilat pedang sejati tidak
akan dengan mudah melepaskan nyawa juga tidak takut mati,
tapi bila mati di tempat yang benar, bisa membuat dunia
aman itu tidak masalah, aku mempunyai cita-cita seperti itu,
adikku atau keluargaku pun harus mempunyai cita-cita seperti
ini!”
“Apakah aku yang jadi ayahmu juga harus belajar
kepadamu?”
“Putramu tidak berani, aku tidak berani meminta macammacam
kepada generasi tua, tapi Hui-hui, Bwee-nio. Leng-nio,
aku percaya mereka pasti mempunyai cita-cita seperti ini juga,
tidak hanya itu, teman-temanku yang ada di Kian-kun-kiampai,
seperti Nona Kie, Goan-heng, dan Pui-heng, mereka akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
menganggap kalau mati seperti pulang ke rumah, karena itu
apa yang aku minta kepada Han-bwee tidak berlebihan.”
Karena ucapan yang dikeluarkan Lin Lim Hud-kiam begitu
serius dan gagah, membuat orang yang disebut namanya
merasa darahnya bergejolak, apalagi Wong Han-bwee, dengan
gembira dia berkata, “Ayah, cepatlah menyerang, aku bangga
mempunyai kakak seperti dia.”
Wong Jong-ceng menarik nafas, “Anak, sesudah kau
mempunyai kakak, ayah ditinggalkan.”
Kata Wong Han-bwee dengan tegas, “Ayah memberiku
nyawa, aku paling-paling bisa hidup 100 tahun, tapi kakak
memberiku nyawa puluhan ribu tahun.”
Wong Jong-ceng merasa malu, “Baiklah, anak, kau yang
meminta, jangan salahkan ayah tidak punya hati, aku akan
mulai menyerang.”
Pedang melaju, tapi Wong Jin-jiu menahan, Ma Kiu-nio
maju menusukkan pedangnya kepada Wong Han-bwee,
semua terjadi begitu tiba-tiba dan singkat, tapi setiap orang
dengan jelas melihatnya tiba-tiba Lim Hud-kiam
menggulingkan tubuh maju, dia mengayunkan pedang
tumpulnya, menahan pedang emas Wong Jong-ceng,
membuat Wong Jin-jiu terhindar dari kematian, Yu Bwee-nio
dan Yu Leng-nio, 2 orang dengan 4 tangan bersamaan
melayang, 4 pisau terbang seperti petir melaju dengan cepat,
yang satu menghantam pedang Ma Kiu-nio ke pinggir, yang
satu tertancap di pergelangan tangan Ma Kiu-nio, membuat
pedangnya terjatuh, dua pisau lagi masing-masing tertancap
di pundak 2 Lo-sat yang sedang menahan Wong Han-bwee,
karena sakit mereka pun melepaskan Wong Han-bwee, waktu
itu juga Wong Han-bwee meloncat turun dari panggung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Melihat putrinya selamat, Wong Jong-ceng merasa senang,
dia mengangguk sambil tertawa kepada 2 perempuan tadi,
“Terima kasih.”
“Ayah, mereka adalah menantu-menantumu, hal ini harus
mereka lakukan, jadi tidak perlu sungkan kepada mereka,”
kata Lim Hud-kiam.
Wong Jong-ceng melotot kepadanya, “Kau benar-benar
kurang ajar, masih tidak malu lagi, kalau bukan karena teknik
pisau terbang mereka sangat bagus, Han-bwee akan mati di
tanganmu, kalau kau tidak menahan pedangku, mungkin
nenek tua itu juga akan terbabat hingga habis.”
Lim Hud-kiam tertawa, “Putramu tahu ilmu pedangmu
sangat bagus, tapi itu terlalu berbahaya, Bwee-nio dan Lengnio
sebelumnya sudah mendapat kode dariku, aku sangat
percaya pada ilmu pisau terbang mereka.”
“Kau benar-benar kurang ajar, apakah ilmu pedangku di
bawah pisau terbang mereka?”
“Aku tidak bermaksud seperti itu, ayah adalah Raja Pedang
tidak ada yang bisa menyaingi, karena itu, perhatian setiap
orang tertuju padamu tapi pisau terbang Bwee-nio tidak akan
ada yang memperhatikan, maka kita berhasil mengalahkan
mereka.”
Sebenarnya ini adalah kenyataan karena semua orang,
termasuk Ma Kiu-nio paling takut kepada pedang Wong Jongceng,
kalau tidak kedua pisau terbang itu tidak akan bisa
melukainya.
Wong Jong-ceng tidak bisa menjawab, dia tertawa,
“Penjelasanmu bisa kuterima, tapi orang ini begitu keras
kepala, dia pantas mati, mengapa kau malah menolongnya?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku ingin mereka tahu kalau mereka salah besar,” jawab
Lim Hud-kiam sambil tertawa.
Ma Kiu-nio sudah mencabut pisau yang menancap di
pergelangan tangannya, dia berkata, “Bocah tengik, kami setia
kepada majikan, mati pun tidak masalah, apakah itu salah?”
Lim Hud-kiam tertawa, “Aku menghormati caramu, memang
di dunia ini jarang ada orang yang setia seperti kalian, tapi
kalian salah besar, kalian tidak bisa melihat orang, percaya
kepada orang yang jahat hampir membuat Lembah Raja
Pedang hancur.”
“Apa maksudmu?”
“Kau kira kau bisa menguasai Liu Ban-mong dengan gunagunamu?
Untung semua ini belum terjadi, kalau tidak Lembah
Raja Pedang akan jatuh ke tangannya.”
“Kau jangan bergurau, kecuali dia tidak peduli pada
nyawanya.”
“Kalau kau tadi mati di bawah pedang ayahku, apakah
guna-guna yang dimakan Liu Ban-mong akan ada orang bisa
menolongnya?”
“Tidak ada, aku mati dia juga mati, paling-paling dia hanya
bisa hidup 6 bulan lagi!”
“Apakah Liu Ban-mong mau dia hanya bisa hidup 6 bulan
lagi?”
Ma Kiu-nio dengan aneh bertanya, “Apa yang ingin kau
katakan sebenarnya?”
“Dia tentu tidak ingin hidup hanya 6 bulan lagi, maka dia
tidak ingin kau mati, tapi tadi sewaktu kau berada dalam
bahaya, dia berada di bawah panggung, dia sama sekali tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
bereaksi, ini membuktikan kalau guna-gunamu tidak
membuatnya terancam.”
Tiba-tiba Shang Kiu-nio berteriak dengan histeris, “Si buta
marga Liu, apakah memang benar seperti itu?”
Liu Ban-mong berpikir sebentar, tiba-tiba dia tertawa sinis,
“Tidak ada yang perlu dijelaskan, sebenarnya aku ingin
bekerja sama dengan kalian, tapi kau tidak percaya kepadaku,
kau menggunakan guna-guna ingin menguasaiku, kau pikir
apakah aku adalah orang yang bisa menerima ancamanmu?”
“Apakah kau mempunyai cara untuk menawarnya?”
“Sulit dikatakan, yang penting kau percaya pada gunagunamu,
aku percaya pada obat penawarku, sebelum
mencobanya tidak ada orang yang bisa meyakinkannya
sendiri, maka aku mengambil keputusan mempertaruhkan
nyawaku sebagai modal.”
Wajah Ma Kiu-nio berubah cepat, tiba-tiba kedua tangannya
melayang, dia melemparkan sebutir pil, sesampainya di
tengah-tengah udara, pil ini pecah dengan sendirinya, dari pil
ini muncul titik-titik berwarna emas, kemudian terdengar suara
NGENG NGENG, dan terbang ke tubuh Liu Ban-mong, lengan
tangan panjang Liu Ban-mong menggulung, dari dalam lengan
bajunya keluar asap berwarna merah, titik-titik emas itu
tertutup oleh asap merah, kemudian semua terjatuh ke
bawah, Liu Ban-mong mengambil sekepal bubuk itu dan
memasukkannya ke dalam mulut segera ditelannya, dia
tertawa terbahak-bahak, “Terima kasih untuk ulat-ulat ini, kali
ini aku benar-benar bisa menawarkan racun yang ada di dalam
tubuhku.”
Wajah Ma Kiu-nio berubah, “Kau mempunyai pasir To-hoabi-
ciang?” (obat).
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong tertawa, “Kau punya tawon emas, terpaksa
aku mencari pasir To-hoa-bi-ciang untuk membuat tawon
emasmu pingsan, sesudah dimakan, bisa menawarkan racun
guna-guna yang telah kuminum.” Ma Kiu-nio marah, “Buta,
ternyata kau membohongi kami.”
Liu Ban-mong tertawa terbahak-bahak, “Nenek Ma, jangan
menyalahkan aku, cara-cara kalian pun sama, memang kita
sedang beradu kepintaran, harus mengandalkan kepintaran
sebenarnya, siapa yang lebih kejam dia bisa memakan orang
lain, jadi jangan mengeluarkan kata-kata membela keadilan,
karena kau tidak pantas mengucapkannya.”
Ma Kiu-nio mengambil pedang dari bawah, kemudian
melambaikan tangan, dia berteriak kepada sisa-sisa Lo-sat,
“Turun kalian, bunuh anjing itu!”
2 kelompok Lo-sat sangat membenci Liu Ban-mong, begitu
mendengar perintah Ma Kiu-nio, mereka segera turun
membawa pedang mereka, Wong Jin-jiu pun mengumpulkan
pasukannya bersama-sama menyerang, Wong Jong-ceng yang
berada di atas panggung berteriak, “Liu-hoan, cegat mereka!”
Jawab Heuw Liu-hoan, “Tuanku, dua kelompok orang itu
pantas mati, biar mereka saling bunuh, bukankah itu lebih
baik?
Untuk apa menghentikan mereka?”
Wong Jong-ceng menggelengkan kepala, “Aku hanya ingin
mengubah adat keluarga Wong, tidak bermaksud
menghancurkan keluarga Wong, aku tidak tega melihat
mereka mati.”
Segera Heuw Liu-hoan memerintah anak buahnya menahan
Ma Kiu-nio, tapi dia sudah kehilangan akal, dia berteriak
histeris, “Minggir, jangan cari mati!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng membentak dari atas panggung, “Kiu-nio,
apakah kau sudah gila?”
Ma Kiu-nio melotot dan berteriak, “Aku tidak gila, aku hanya
ingin meneruskan adat keluarga Wong ini adalah tanggung
jawabku.”
Wong Jong-ceng menarik nafas panjang, “Ternyata masalah
Liu Ban-mong belum membuatmu sadar, kalau bukan kami
yang memperingatkan mu, apa yang akan terjadi pada
keluarga Wong?”
Ma Kiu-nio menghentakkan kaki, “Semua yang terjadi di sini
gara-gara kau, kalau kau tidak memancing orang-orang ini
masuk ke Lembah Raja Pedang, nasib keluarga Wong tidak
akan seperti ini.”
Wong Jong-ceng marah, “Kiu-nio, tadi aku masih kasihan
kepadamu karena kau begitu setia, sekarang aku baru tahu,
kau seperti yang lain, punya hati serakah yang sangat besar,
kau hanya pura-pura dengan alasan peraturan nenek moyang
Wong untuk mencapai tujuanmu, Liu-hoan, biarkan dia ke
sana.”
Heuw Liu-hoan bergeser ke pinggir, Ma Kiu-nio buru-buru
melewatinya, Wong Jong-ceng berkata dengan serius, “Jin-jiu,
bila kau ingin mengikuti istrimu, aku tidak akan melarang, tapi
aku tidak mengijinkanmu membawa orang-orang ini, garagara
kalian mereka bisa mati, Koan-nio sudah menitip pesan
kepadaku, semua ini demi keluarga Wong yang gila, aku
sudah menikah dan diam di keluarga Wong, aku adalah
majikan keluarga Wong, maka ini adalah tanggung jawabku,
apa pendapatmu?”
Wong Jin-jiu berhenti sejenak, akhirnya dia berkata,
“Tuanku, hamba menerima pendapat anda.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Baik, bawa pasukanmu mundur,” perintah Wong Jongceng.
Puluhan Lo-sat yang dipimpin Ma Kiu-nio ikut mundur,
mereka kebingungan, Wong Jong-ceng berteriak, “Bila kalian
masih ingin menjadi anak buah Lembah Raja Pedang, berdiri
di bawah panggung untuk mendengarkan perintahku, kalau
tidak, aku akan menghukum dengan tudingan menjadi
pengkhianat.”
“Cepat kalian mundur!!” Bentak Wong Jin-jiu.
Akhirnya semua Lo-sat mundur dan berdiri di bawah
panggung, Ma Kiu-nio merasa aneh karena hanya dia sendiri
yang maju, sampai suaminya pun tidak sehati dengannya, dia
membentak, “Setan tua, apakah kau lupa pada tanggung
jawabmu?”
Dengan serius Wong Jin-jiu berkata, “Kiu-nio, kata-kata
Tuan benar, kau sudah terlalu setia, sikap ini bukan sikap
seorang pelayan.”
Ma Kiu-nio marah, “Kentut, waktu tuan besar meninggal
dan menitipkan anak yatimnya, apa yang beliau katakan
kepadamu? Adat keluarga Wong tidak boleh terputus.”
“Memang tuan besar berpesan seperti itu, tapi kau harus
lihat dulu dengan jelas situasinya, sekarang prilakumu bukan
menjaga adat keluarga Wong, tapi ingin menghancurkan
keluarga Wong.”
“Aku lebih memilih menghancurkan dan tidak memberikan
kemudahan kepada mereka.”
Dengan serius Wong Jin-jiu berkata, “Kiu-nio, kau lebih
pintar dariku, maka aku selalu menurut padamu, tapi sekarang
aku rasa pendapat Tuan benar, hatimu terlalu serakah, kau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
melakukan semua ini bukan demi tanggung jawab, melainkan
ingin menguasai semuanya, tanggung jawab yang kau maksud
hanya keinginanmu, aku tidak mau mengikutimu melakukan
kesalahan terus.”
Mata Ma Kiu-nio mulai keluar bara api kemarahan, tiba-tiba
dengan sinis dia berkata kepada Liu Ban-mong, “Liu Banmong,
asal kau setuju tidak mengubah adat keluarga Wong,
aku akan tetap mendukungmu.” Liu Ban-mong tersenyum,
“Apakah hanya kau sendiri yang akan mendukungku?”
“Aku mempunyai cara tersendiri,” jawab Ma Kiu-nio.
“Seperti apa?”
“Kau tidak perlu banyak tanya, tinggal jawab siap atau
tidak?”
“Mengapa harus siap? Aku sama sekali tidak membutuhkan
bantuanmu, aku sudah berkeyakinan 100% bisa menguasai
Lembah Raja Pedang, aku juga tidak tertarik menikah dengan
bocah perempuan itu, begitu kekuasaan sudah ada di
tanganku, perempuan cantik mana pun bisa kudapatkan,
untuk apa aku menikah dengan perempuan galak yang masih
mentah itu?”
Wong Han-bwee benar-benar marah dan ingin membunuh
Liu Ban-mong, tapi dihalangi oleh Lim Hud-kiam.
“Koko, lepaskan aku, aku ingin membunuh orang itu,
apakah kau tidak mendengar perkataannya tadi?”
“Apakah kau ingin bertarung dengannya? Apakah kau
berharap dia memujimu?”
Wong Han-bwee berhenti memberontak dan berkata, “Tapi
dia keterlaluan, dia menghinaku, aku ingin mencabut semua
giginya!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dengan tenang Lim Hud-kiam berkata, “Kalau kau bisa
membereskannya seorang diri, hal itu mudah diselesaikan, dia
berani mengucapkan kata-kata tadi, berarti dia punya bukti.”
Wong Han-bwee masih ingin mengatakan sesuatu, Wong
Jong-ceng sudah berkata, “Han-bwee, dengarkan kata-kata
kakakmu, sekarang bukan waktunya untuk balas dendam,
pengkhianatan Liu Ban-mong aku sudah tahu dari awal, aku
benci pasangan suami istri ini yang begitu bodoh, aku
menyuruh mereka berhati-hati dan berjaga-jaga, malah
bersekongkol menipuku membuat situasi menjadi seperti ini.”
Dengan malu Wong Jin-jiu berkata, “Tuanku, semua
gerakan Liu Ban-mong berhubungan langsung dengan nenek
itu, hamba sama sekali tidak tahu, karena hamba hanya orang
bodoh, hamba tidak bisa menyelesaikan pesan Tuanku.”
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Jangan teruskan
perkataanmu bila kau pintar Ma Kiu-nio tidak akan bisa
menguasai semuanya, yang salah kau terlalu percaya kepada
istrimu, dan kau masih mengira dia perempuan pintar, kau
juga menganggap Liu Ban-mong orang bodoh, maka kau
dipermainkan sampai berputar-putar.”
Wong Jin-jiu menundukkan kepala, tiba-tiba Ma Kiu-nio
bertanya, “Liu Ban-mong, kau sudah yakin bisa menguasai
semua ini, tapi mengapa masih mengajakku bekerja sama?”
“Tujuanku bukan Lembah Raja Pedang tapi posisi sebagai
Raja Pedang, sesudah aku berhasil, aku membutuhkan banyak
tenaga orang, kalian berdua menguasai separuh pesilat
tangguh di sini, aku menganggap kalian berharga untuk
diperalat, sekarang hanya tinggal kau sendiri untuk apa aku
bekerja sama denganmu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dengan marah Ma Kiu-nio berkata, “Apakah kau mengira
sesudah lepas dariku, kau pasti bisa menang?”
Liu Ban-mong menunjuk 100 orang pasukan sambil tertawa,
“100 orang itu kukumpulkan dari berbagai tempat, terimakasih
kau telah membantuku mendapatkan kepercayaan dari Wong
Jong-ceng, dia melatih mereka menjadi pesilat sangat
tangguh, pesilat yang datang dari luar tidak ada yang bisa
menang dari mereka, 100 orang ini menjadi dasar, apa yang
kutakutkan lagi?”
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Apakah kau
mengandalkan mereka untuk mengambil posisi Raja Pedang?”
Liu Ban-mong tertawa, “Itu pasti belum cukup, karena ilmu
pedang yang diajarkan olehmu untuk menghadapi orang lain
sudah cukup, kecuali kau, termasuk putrimu, tidak akan ada
yang bisa lolos dari kepungan mereka.”
“Kalau begitu, dengan cara apa kau akan berhadapan
denganku?” tanya Wong Jong-ceng.
“Aku sendiri.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Kalau kau bisa
menang dariku, kau bisa secara terang-terangan mengambil
posisi Raja Pedang, untuk apa harus pakai akal-akalan?”
“Mungkin ilmu pedangku berada di bawahmu, tapi aku
masih mempunyai satu jurus ampuh, jurus ini akan
membuatmu menyerah.”
“Aku tidak percaya kau punya jurus ampuh,” Wong Jongceng
tertawa.
Liu Ban-mong juga tertawa, “Percaya atau tidak, terserah
padamu, begitu tiba waktunya kau akan tahu sendiri, aku
tidak ingin terlalu awal memperlihatkan jurus ampuh ini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Ma Kiu-nio membentak lagi, “Liu Ban-mong, apakah kau
sudah mengambil keputusan?”
“Keputusan sudah diambil, sebetulnya aku ingin kalian
saling bunuh dulu supaya kekuatan orangku tidak perlu keluar
banyak karena aku tidak akan sekejam dirimu dalam
memperlakukan anak buah, memang 100 orang ini bukan
keluargaku, tapi aku menyayangi mereka. “
Tiba-tiba Ma Kiu-nio mengeluarkan tawa aneh, dengan
ujung pedang dia menusuk ke tanah lalu pedang diangkat,
sebuah ring besi diangkat, ring itu terhubung oleh seuntai
rantai besi kecil.
Dia menarik rantai besi itu, lalu keluar lempengan besi
berbentuk persegi, dia mengangkat lempengan besi itu, “Liu
Ban-mong, apakah kau tahu apa ini?”
Liu Ban-mong terpaku, “Apa itu?”
“Ini adalah pintu air untuk menutup air bawah tanah.”
“Kau ingin membuka pintu air dan membiarkan air
membanjiri tempat ini supaya kita mati terendam air? Kau
benar-benar sedang bercanda, tempat ini adalah tempat
tertinggi, setahuku di bawah tanah semua adalah
pertambangan batu bara yang sudah digali dan kosong, air
bawah tanah sudah tidak ada, kau ingin mengancam dengan
cara ini?”
Ma Kiu-nio tertawa dingin, “Memang air tidak akan bisa
membuat kalian mati, tapi api bisa membakar orang sampai
mati, kau sudah tahu di bawah tanah adalah pertambangan
yang telah kosong, di pertambangan ini ada semacam uap,
uap ini beracun, sesudah tercium akan membuat orang mati
karena sesak nafas, bila uap ini bertemu dengan api akan
meledak, posisi di mana kita berdiri sekarang adalah di perut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
gunung, bila meledak kita akan terbakar atau terkubur di
dalamnya.”
“Uap ini namanya gas, tapi di sini tidak ada gas,” kata Liu
Ban-mong.
“Dari mana kau tahu di sini tidak ada gas?” tanya Ma Kiunio
dengan dingin.
“Aku sudah mencari tahu dan sudah mencobanya.”
“Kau ada di sini hanya 10 tahun lebih, aku lahir dan besar di
sini, aku pasti tahu lebih jelas darimu, ini adalah rahasia
terbesar dari Lembah Raja Pedang.”
Wong Jong-ceng bertanya, “Jin-jiu, apakah semua ini
seperti yang dikatakannya?”
“Hamba tidak pernah dengar dan tidak tahu,” jawab Wong
Jin-jiu.
“Pasti kau tidak tahu, karena kau orang yang tidak berguna,
tuan besar tidak mempercayaimu, maka rahasia besar ini tidak
beliau beritahukan kepadamu.”
Wong Jong-ceng tertawa, “Di Lembah Raja Pedang ternyata
masih ada rahasia yang tidak aku tahu!”
Sikap Ma Kiu-nio menjadi sinis, “Benar, jurus melindungi
ketua bertujuan melindungi adat, rahasia ini untuk
menghadapi bahaya, begitu nasib keluarga Wong sudah tidak
tertolong, cara inilah yang digunakan untuk mati bersama.”
“Sekarang cara apa yang akan kau pakai untuk
memusnahkan semua orang di sini? Kekuatan gas tidak bisa
dilawan oleh manusia, tapi di sini tidak ada gas.”
Ma Kiu-nio tertawa terbahak-bahak, “Kata siapa tidak ada?
Kalian saja yang tidak tahu, di bawah ini ada sebuah gua, gua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
itu penuh dengan gas, gas di sini cukup banyak, asal ada api,
cukup untuk meledakkan gunung ini menjadi rata, gua ini
hanya mempunyai satu mulut, sekarang sudah ditutup dan
ditahan oleh lempengan baja, lempengan baja ditahan oleh air
bawah tanah, sekarang bila aku mencabut pintu penutup air
ini akan membuat air mengalir dengan deras, lempengan baja
akan didorong oleh kekuatan gas, bila gas bocor kita semua
akan naik ke langit.”
Wajah Liu Ban-mong berubah, “Apa yang akan kau
lakukan?”
Ma Kiu-nio tertawa sinis, “Aku sudah memberi kesempatan
padamu tapi kau melepaskannya jangan salahkan aku!
Sekarang tunggu maut menjemputmu.”
Liu Ban-mong terkejut, apa lagi orang-orang yang
dipimpinnya, beberapa orang mulai kabur dari sana, Ma Kiunio
tertawa terbahak-bahak, “Begitu aku menarik pintu besi ini
semua jalan keluar sudah tertutup jangan harap kalian bisa
kabur, ingin kabur pun tidak akan bisa lagi.”
Orang-orang yang tadi melarikan diri sudah kembali lagi,
tanya Liu Ban-mong, “Apa yang terjadi?”
Seorang anggota pasukan dengan terengah-engah
menjawab, “Jalan keluar lembah sudah ditutup.”
“Mengapa bisa ditutup?”
“Dinding mulut lembah tiba-tiba menjorok keluar dan
menutupi jalan keluar lembah.” Liu Ban-mong terkejut,
“Mengapa dinding gunung bisa tiba-tiba menjorok keluar?”
Ma Kiu-nio tertawa terbahak-bahak, “Nenek moyang
keluarga Wong memilih tempat ini menjadi markas, semua
sudah direncanakan dan semua tombol ada di bawah air,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
begitu air bawah tanah mengalir sampai habis, dinding
gunung semua akan kehilangan pertahanan dan dinding akan
ambruk sehingga menutupi jalan keluar, sekarang hanya
orang yang mempunyai sayap yang bisa keluar dari sini.”
Liu Ban-mong masih terlihat tenang, dia mengumpulkan
anak buahnya, 2 bersaudara Bun, Tiang Leng-cu, serta Lie
Hoan-tay, suami istri dari Bauw Leng, dengan suara kecil
berunding, kemudian mereka membagi jumlah mereka
menjadi 2 kelompok lalu mengelilingi panggung.
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Apa yang kalian lakukan?
Ini adalah tempat aneh, semua jalan keluar lembah sudah
tertutup, kalian tidak akan bisa kabur.”
Liu Ban-mong tidak melayaninya, dia berlari ke ujung
panggung dekat gunung, karena tadi Wong Jong-ceng keluar
dari sana maka di sana ada jalan bawah untuk keluar dari
lembah, Goan Hiong dan Lim Hud-kiam pernah menemani
Wong Jong-ceng berjalan melalui tempat itu, melihat gerakgerik
mereka, Lim Hud-kiam segera berkata, “Ayah, mereka
ingin merebut jalan keluar.”
“Biar mereka saling berebut, sementara waktu belum akan
terjadi ledakan, untuk apa kita menunggu kematian di sini?
Bila ada jalan keluar kita sama-sama keluar.”
Liu Ban-mong terlihat sangat menyayangi anak buahnya,
dia tidak berebut masuk pertama malah menyuruh anak
buahnya masuk terlebih dulu ke dalam gua.
2 bersaudara Bun, Tiang Leng-cu berlari ke mulut gua,
sewaktu mereka akan masuk, Bun Tho-hoan menarik
kakaknya, dengan sungkan dia berkata, “Silakan, biar Tiang
Toako dulu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Tiang Leng-cu adalah orang yang banyak curiga, melihat
ada yang sungkan, dia malah berhenti melangkah, “Lebih baik
suami istri itu dulu, biar aku belakangan.”
Mundurnya dia membuat semua mengira kalau di dalam
gua ada masalah, maka semua orang berhenti melangkah dan
menolak masuk, melihat keadaan itu Liu Ban-mong segera
berkata, “Lawan semua berada di luar, tidak mungkin masih
ada orang yang akan menyerang kita, bila kalian tidak ingin
keluar dari sini, aku yang akan jalan dulu.”
Lie Hoan-tay dari Huang-san mempunyai sifat tergesa-gesa,
dia menerobos masuk, suami istri Bouw Leng mengikutinya
dari belakang, tapi sewaktu mereka baru memasuki gua, dari
dalam terdengar suara senjata beradu, kemudian seseorang
berlari keluar dan terus batuk.
Dia adalah Lie Hoan-tay yang paling awal masuk, tubuhnya
ada luka tusukan pedang, pedangnya pun masih meneteskan
darah, semua orang terkejut, tanya Liu Ban-mong, “Ada apa,
Kakak Lie?”
Lie Hoan-tay masih terbatuk-batuk, dia menenangkan diri,
“Di dalam gua penuh dengan gas aku tidak bisa bernafas.”
“Apakah ada yang menyerangmu?”
“Tidak.”
“Tapi mengapa aku mendengar seperti ada pertarungan di
dalam gua, mengapa Kakak Lie bisa terluka?”
Lie Hoan-tay menghembus nafas panjang dan
berkata:”Begitu aku merasa gua penuh dengan gas, aku
segera mundur, tapi suami istri Bouw Leng menghalang
jalanku, maka kami bertarung.”
“Untuk apa?” kata Liu Ban-mong terkejut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Sewaktu baru memasuki gua belum tercium bau gas, tapi
begitu melewati belokan tercium bau gas, mungkin mereka
mengira aku adalah orang yang bersembunyi di sana.”
“Mengapa Kakak Lie tidak menyapa mereka dulu?”
“Mulutku penuh dengan gas, suaraku tidak bisa keluar!”
Liu Ban-mong menarik nafas, “Semua ini terjadi karena
salah paham, mereka tidak menyangka Kakak Lie akan
berbalik, mereka mengira ada yang bersembunyi di sana,
bagaimana keadaan suami istri itu?”
“Aku tidak tahu, mereka masing-masing menusukku sekali,
aku juga menusuk mereka.”
Liu Ban-mong memberi perintah kepada kedua anak
buahnya, “Masuklah untuk melihat keadaan, tarik mereka
keluar, gerakan kalian harus cepat, kalau terlambat, mereka
tidak akan tertolong.”
Kedua anak buah itu segera masuk, tidak lama kemudian
mereka memapah suami istri Bouw Leng keluar dari dalam
gua, pinggang suami istri itu tertusuk pedang, luka mereka
tidak parah tapi wajah mereka sudah menghitam, mulut
mereka menganga, mereka sudah banyak menghirup gas
beracun.
Ma Kiu-nio tertawa, “Aku sudah memberitahu kalian tidak
akan bisa kabur dari sini, jalan ini adalah jalan menuju pintu
keluar gas, kalau tidak mana mungkin Wong Jong-ceng diam
saja dan membiarkan kalian pergi dulu? Aku sarankan kepada
kalian, lebih baik diam di sini menunggu kematian.”
Wajah Liu Ban-mong berubah, “Nenek tua, kebaikan apa
yang kau dapatkan bila kau melakukan hal ini?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Ma Kiu-nio tertawa dengan senang:”Tidak mendapatkan
kebaikan apa pun tapi membuat kalian tidak bisa kabur dari
sini, kalian ingin lepas dari genggamanku hanya akan masuk
ke jalan kematian.”
Wong Han-bwee marah, dia terbang menyerang Ma Kiu-nio.
Gerakan Liu Ban-mong cukup cepat, dia seperti seekor
elang turun menukik dari langit untuk menyerang, dia
menahan pedang Wong Han-bwee, dengan pedangnya dia
juga mengancam Ma Kiu-nio, dia mengumpulkan anak
buahnya, “Semua mendekat, jangan biarkan mereka
mendekat!”
Seratus orang pasukan bergerak cukup cepat, dari
panggung mereka segera membentuk satu baris panjang,
mereka melindungi Liu Ban-mong yang ada di tengah-tengah.
Tiang Leng-cu, 2 bersaudara Bun, dan Lie Hoan-tay pelanpelan
masuk ke dalam formasi 100 orang pasukan itu, 100
bilah pedang setiap pedang terkandung teknik perubahan
yang tinggi, formasi ini seperti tembok besi yang kokoh, di
sebelah sana adalah orang-orang Kian-kun-kiam-pai, Thiansan
Lu-bwee keluarga Thio, dan orang-orang dari 5
perguruan, mereka bergabung dengan Wong Jong-ceng,
mereka saling berhadapan.
“Kiu-nio, dari nada bicaramu sepertinya masih ada cara
untuk keluar dari sini?” tanya Liu Ban-mong.
“Tidak ada, kita ditakdirkan mati bersama,” jawab Ma Kiunio.
“Tidak, tadi kau mengatakan bila kami mau dikuasai
olehmu, bisa lolos dari kehancuran, baiklah, kami terima
syarat darimu, kau benar-benar lihai,” kata Liu Ban-mong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Terlambat, aku bisa memang menolong kalian dari maut,
tapi aku tidak berani mencobanya karena aku tidak percaya
lagi kepada kalian.”
“Asal kau ada niat, aku mempunyai cara untuk membuatmu
percaya kepada kami,” Liu Ban-mong berteriak.
“Apa jaminanmu mau mengikuti perintahku?”
“Apa jaminanmu sehingga kami bisa lolos dari bahaya ini?”
“Sangat sederhana, kalian tidak mati, itu adalah
jaminanku.”
Liu Ban-mong terpaku, “Kiu-nio, apakah bisa lebih jelas
menceritakan hal ini?”
“Memang ada gas beracun, tapi tempat ini sangat luas dan
bukan tempat tertutup, maka gas tidak akan membuat kalian
mati, gas akan meledak bila ada api, membuat semua orang
terkubur, sekarang api masih ada di tanganku, asal aku tidak
menyalakannya, semua tidak akan mati.”
“Bagaimana cara menyalakan apinya?” tanya Liu Ban-mong.
Ma Kiu-nio tertawa, “Kau kira aku akan memberitahumu?”
Liu Ban-mong menggaruk-garuk kepala, “Kiu-nio, tujuanmu
adalah menguasai semua orang, mati bersama adalah jalan
terakhir, aku kira kau sendiri juga tidak ingin memilih jalan
itu.”
“Dari mana kau bisa tahu?”
“Karena sampai sekarang kau belum memasang api, berarti
kau masih berharap kami akan menyerah kepadamu.”
“Tapi sekarang aku tahu, kau tidak akan mau menuruti
perintahku.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tidak, Kiu-nio, kau salah, aku paling mengerti keadaan,
begitu aku tahu ada orang yang lebih lihai dariku, aku akan
paling cepat mengaku kalah.”
Ma Kiu-nio tertawa dingin, “Aku tidak akan tertipu oleh
kata-katamu yang manis itu.”
“Kali ini aku tidak berani, aku jamin,” kata Liu Ban-mong.
“Kau menjamin dengan apa pun, aku tidak akan percaya.”
“Bagaimana bila nyawaku kuserahkan kepadamu?”
“Sekarang aku sudah menguasai nyawamu!”
“Sekarang kau hanya tinggal membunuhku, jaminanku
adalah kapan pun kau bisa membunuhku, itu akan
membuatmu lebih tenang.”
Liu Ban-mong mendekat, Ma Kiu-nio berteriak, “Jangan
dekati aku!”
“Kiu-nio, apakah kau ingin semua orang mendengarkan
pembicaraan kita?” Ma Kiu-nio berteriak, “Ada rahasia apa
harus dilakukan dengan mengendap-endap?”
“Rahasia yang bisa membuatmu setiap saat bisa
membunuhku.”
“Aku tidak percaya!”
“Nyawaku masih ada di tanganmu, sesudah kau
mendengarnya kau baru bisa mengambil keputusan.”
“Baiklah, katakan!”
Wajah Liu Ban-mong terlihat sangat serius, “Kiu-nio, kau
harus mengerti, aku melakukan ini semua demi kebaikan
semua orang, bila kau ingin aku berteriak bicara denganmu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
berarti semua orang mempunyai kesempatan membunuhku,
kalau begitu lebih baik aku memilih cara mati bersama.”
Ma Kiu-nio berpikir sebentar, “Baiklah, kemari kau, tapi
senjatamu taruh dulu, jangan macam-macam, karena aku
benar-benar sudah tidak percaya kepadamu.”
Liu Ban-mong meletakkan pedangnya, dia tertawa, “Kiu-nio,
kau benar-benar banyak curiga, bila aku ingin membunuhmu,
tadi aku tidak akan menolongmu.”
Ma Kiu-nio tertawa dingin, “Apa susahnya membunuhku?
Aku mati, semua ikut mati.”
“Karena itulah, aku tidak ingin mati, apa lagi kau butuh
partner sepertiku.”
Pelan-pelan Liu Ban-mong berjalan ke sana, dia berbisikbisik
kepada Ma Kiu-nio, terdengar Ma Kiu-nio dengan nada
tidak percaya berkata, “Apakah benar ada khasiatnya?”
“Kalau tidak percaya, bisa dicoba sekarang juga, tapi jangan
aku yang jadi kelinci percobaannya.”
“Baiklah, keluarkan barang itu,” kata Ma Kiu-nio.
Dari balik baju bagian dada Liu Ban-mong mengeluarkan
sebuah bungkusan kertas tapi Ma Kiu-nio berkata, “Untuk
sementara waktu aku tidak akan membunuh, bila uji coba
sukses, aku baru berpikir apakah ini diterima atau tidak.”
“Bagaimana kalau kita mengujinya? Aku tidak bisa
sembarangan mencari orang untuk dijadikan kelinci
percobaan, orang-orang pasti akan menolaknya dan aku pun
tidak sanggup melakukannya.”
“Itu adalah masalahmu, kau sendiri yang mencari caranya,”
jawab Ma Kiu-nio.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong dengan serius berkata, “Kiu-nio, Lo-sat yang
kau latih ujung-ujungnya semua mengkhianatimu, dari sini
dapat dilihat kalau caramu menghadapi orang gagal total,
sekarang orang yang bisa aku perintahkan adalah layaknya
saudaraku, ingin aku mengorbankan mereka, aku tidak
sanggup melakukannya.”
“Bukankah kau mempunyai obat penawarnya?” Ma Kiu-nio
tertawa dingin.
“Obat penawarnya hanya ada satu bungkus, bila digunakan
oleh orang lain, aku tidak akan kebagian, karena jumlah
obatnya tepat untuk dimakan selama 20 tahun, bila ditambah
satu orang dalam waktu 10 tahun obatnya akan habis dan aku
tidak sanggup membuat obat penawar untuk kedua kali.”
“Aku tidak percaya pada kata-katamu.”
Dengan serius Liu Ban-mong berkata, “Kalau tidak seperti
itu, sulit untuk membuatnya, aku tidak akan menjadikan obat
ini sebagai jaminan, obat penawar ini berjumlah 240 butir,
setiap bulan pas dimakan untuk satu orang selama 20 tahun,
sekurang satu butir pun tidak bisa kuserahkan, karena obat
penawar kedua harus 20 tahun kemudian baru ada
khasiatnya.”
“Kalau aku menghancurkan sebagian obat penawarnya,
bagaimana?” tanya Ma Kiu-nio.
“Aku akan mati,” jawab Liu Ban-mong.
“Apakah kau tidak takut aku akan melakukan hal itu?”
“Aku sudah terpikirkan hal itu, maka obat ini hanya aku
yang menguasainya, kalau kau membunuhku anak buahku
yang berjumlah ratusan orang tidak akan melepaskanmu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mereka adalah temanku yang paling setia, kecuali aku, mereka
tidak akan dengar perkataan siapa pun.”
Ma Kiu-nio berpikir sebentar, “Baiklah, untuk sementara aku
percaya kepadamu, tidak perlu diuji coba lagi, minum racun
itu, dan berikan obat penawarnya kepadaku.”
Liu Ban-mong tidak banyak berpikir, dia membuka sebuah
bungkusan kertas, menelan obat yang ada di dalamnya,
kemudian memberikan sebuah bungkusan lagi, “Kau hitung
dulu ada 240 butir obat penawar, tidak boleh kurang satu butir
pun, aku berharap kau menyimpannya baik-baik.”
Sewaktu Ma Kiu-nio mengulurkan tangan untuk
mengambilnya, Liu Ban-mong berkata, “Tunggu, aku harus
mengambil sebutir penawarnya dulu, karena obat yang
kutelan tadi sebentar lagi akan bereaksi.”
“Apakah kau takut aku tidak akan memberikan kepadamu?”
Liu Ban-mong tertawa, “Aku harus berjaga-jaga, kalau kau
sengaja mencelakaiku, begitu obat penawar ada di tanganmu,
kau akan berbalik setia lagi kepada Wong Jong-ceng, aku
marga Liu tidak mau tertipu lagi.”
“Kentut, apakah aku akan setia kepada Wong Jong-ceng?”
“Keadaan telah membuatku curiga, mengapa kita berebut
jalan yang dia miliki, dia malah diam, membiarkan kita pergi
dulu ke sana?” tanya Wong Jong-ceng.
“Karena dia lebih pintar darimu, dia juga tahu kalau jurus
terakhirku keluar, tidak akan ada jalan keluar, dia hidup di
Lembah Raja Pedang lebih lama darimu!” kata Ma Kiu-nio.
“Aku harus menyisakan obat penawar untuk bulan
pertama,” kata Liu Ban-mong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Sisakan obat untuk bulan pertama, apakah kau tidak takut
aku membunuh orang lain, kemudian setia lagi kepada Wong
Jong-ceng?”
Liu Ban-mong tertawa terbahak-bahak, “Aku tidak takut,
karena hari ini aku sudah berniat harus mendapatkannya,
jangankan satu bulan, dalam 2 jam aku akan membersihkan
semua musuh.”
“Apakah kau yakin?”
“Kalau aku tidak sanggup, untuk apa bekerja sama
denganmu dan menerima begitu saja kau kuasai?”
“Kalau kau yakin, aku akan mencobanya, tapi kau harus
menjaga tempat ini supaya tidak terjadi sesuatu.”
“Tenanglah, hidup atau mati kau yang pegang, kau juga
boleh menunggu di sini, melihatku membereskan mereka.”
Sesudah mendapatkan jaminan ini, Ma Kiu-nio mulai
mengangguk, “Tombol peledak masih ada di tanganku, diikat
dengan seuntai rantai kecil, apakah kau mau melihatku
menariknya dengan luwes? Di bawah masih ada rantai yang
lebih kecil lagi, ini langsung berhubungan dengan api, asal aku
menariknya dengan kuat memutuskan rantai kecil ini, akan
ada api besar yang muncul, begitu tanganku dilonggarkan,
tutup yang diikat di rantai kecil itu akan turun dan tetap akan
meledak, maka jangan coba-coba berpikiran macam-macam.”
“Kalau begitu aku harus hati-hati,” kata Liu Ban-mong.
“Bawa obat penawarnya kemari, aku ijinkan kau
menyisakan satu butir, kemudian aku ingin melihatmu, apakah
kau bisa mengatasi orang-orang ini, kalau tdak bisa, aku tetap
akan meledakan gunung ini dan mati bersama.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tidak masalah, kalau kau tidak bisa, tidak perlu menunggu
kami, aku pun akan membuat gunung ini meledak, apakah
dengan menarik putus rantai ini pasti akan meledak?”
“Ditarik sampai putus atau diturunkan sama saja, yang
penting rantai kecil itu harus dalam keadaan longgar, sesudah
itu semua masalah akan beres.”
Liu Ban-mong membuka bungkusan kertas, dia mengambil
sebutir obat lalu memasukkan ke dalam mulutnya kemudian
dia membungkusnya kembali, dia berjalan ke arah Ma Kiu-nio.
“Lempar saja!” teriak Ma Kiu-nio.
“Kau benar-benar banyak curiga, bila aku berniat diam-diam
menyerangmu, saat aku tadi berbisik-bisik kepadamu, sudah
kulakukan.”
“Tadi kau belum tahu cara memancing api untuk
meledakkan gunung ini, kau tidak akan berani bertindak
gegabah, sekarang semua cara sudah kuberitahu, aku sendiri
harus berjaga-jaga, dalam jarak 1 tombak di sekelilingku, tidak
diijinkan ada yang mendekat, kalau tidak aku akan
memutuskan rantai kecil ini.”
Terpaksa Liu Ban-mong melempar bungkusan itu, Ma Kiunio
menyambutnya, Liu Ban-mong berteriak, “Hati-hati, obat
itu mudah hancur!”
Karena sebelah tangan Ma Kiu-nio memegang rantai, maka
hanya sebelah tangan yang bisa bergerak, dia tidak bisa
membuka bungkusan itu, dia hanya menimbang-nimbang,
“Begini ringan, apakah pasti berisi 240 butir pil?”
“Tidak akan salah, bukankah ada tulisan di atas bungkusan
itu, kau bisa melihatnya dengan sangat jelas, begitu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
melihatnya kau akan mengerti, mengapa harus 20 tahun baru
bisa dibuat untuk kedua kalinya,” kata Liu Ban-mong.
Di atas bungkusan itu memang ada tulisan, tapi sangat
kecil, Ma Kiu-nio tidak bisa membacanya dengan jelas,
terpaksa dia mendekatkan ke matanya, tapi belum jelas juga,
dia bertanya, “Huruf setan apa yang tertulis di atas sini?”
Liu Ban-mong menarik nafas, “Matamu benar-benar sudah
tidak berguna lagi, bukankah penciumanmu masih berfungsi,
kau bisa menciumnya, kemudian kau akan tahu obat apa yang
ada di dalamnya!”
Ma Kiu-nio menciumnya, “Sepertinya sangat wangi.”
“Tidak hanya wangi, masih ada wangi yang lain,” kata Liu
Ban-mong.
Ma Kiu-nio menggelengkan kelapa, “Mengapa aku tidak bisa
menciumnya.”
“Coba kau dengan teliti menciumnya!”
Sewaktu Ma Kiu-nio akan mengangkat tangan untuk
mendekatkan bungkusan itu ke hidung, tangannya tidak bisa
diangkat, Liu Ban-mong tersenyum, “Kau terlalu lelah, lebih
baik berbaring untuk beristirahat.”
Sambil tersenyum dia mendekat, Ma Kiu-nio berteriak,
“Jangan mendekat!”
Liu Ban-mong tertawa, katanya, “Aku sudah berubah
pikiran, dalam jangka panjang dikuasai olehmu, rasanya tidak
enak, lebih baik kau memancing api untuk meledakkan
gunung ini, biar kita mati bersama.”
Ma Kiu-nio dengan sekuat tenaga menarik rantai kecil itu,
tapi dia sendiri malah seperti besi sama sekali tidak bisa
bergerak, Liu Ban-mong tersenyum, lalu mengambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
bungkusan kertas dari tangannya, dia juga mencari rantai
yang lebih kecil yang diikat pada rantai besi itu, pelan-pelan
dia meraba ke bawah dan mendapatkan tutup yang terbuat
besi, dia segera mengambilnya, di bawah ada sebuah bola
kecil, sambil berdiri dia tertawa terbahak-bahak, “Nenek tua ini
benar-benar tidak bohong, bola kecil ini adalah bahan
meledak, bila tutup besi itu diturunkan akan membuat bola
kecil ini hancur dan memancing api, kita akan hancur semua.”
Ma Kiu-nio seperti patung berdiri di sana, hanya bola
matanya yang bergerak-gerak, mulutnya masih bisa berbicara,
tapi kaki dan tangannya tidak bisa bergerak, dia berteriak
histeris, “Si buta yang harus dicincang, kau menggunakan
akal-akalan menipu nenek tua ini, aku akan menggigitmu!!”
Liu Ban-mong tertawa terbahak-bahak, katanya, “Nenek
tua, jangan salahkan aku, salahkan dirimu, imanmu kurang
kuat, bila dari awal kau sudah bertekad hanya pelan-pelan
menarik rantai ini, semua akan hancur, tapi kau masih ingin
hidup, aku pun begitu.”
Saat mereka sedang berbincang-bincang semua orang
mendengarnya, hati mereka terus berdebar-debar, sekarang
mereka baru bisa bernafas lega, Tiang Leng-cu dengan senang
berkata, “Liu Toako, kau benar-benar pintar, dengan cara apa
kau bisa menaklukkan nenek tua ini?”
“Bukankah tadi kau melihat dengan 2 bungkus obat itu?”
kata Liu Ban-mong sambil tertawa.
“Apakah betul itu racun?” tanya Tiang Leng-cu.
“Di dunia ini, mana ada orang bodoh seperti itu, akan
membuat sebuah bungkusan racun dan meracun satu orang?
Apakah kalian percaya dengan kata-kataku tadi?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Tiang Leng-cu tertawa, “Memang sulit membuat orang
percaya, obat ini sepertinya dibuat Liu Toako untuk sendiri, di
dunia ini, mana ada racun untuk diri sendiri?”
“Tapi Nenek Ma terlalu polos, dia percaya pada kata-kataku
ini!”
Bun Tho-hoan bertanya dengan penasaran, “Liu Toako,
sebenarnya apa itu?”
Liu Ban-mong tertawa, katanya, “Obat yang kumakan
pertama adalah obat penawarnya, yang terakhir kutelan
adalah obat bius yang wangi, asal obat ini hancur, akan keluar
wangi-wangian, sesudah tercium kaki dan tangan akan kaku
dan tidak bisa bergerak, bungkusan yang aku kulempar
kepada Nenek Ma sebelumnya sudah kuhancurkan beberapa
butir dan menipu dia untuk menciumnya beberapa kali,
dengan begitu dia pun terpancing.”
“Liu Toako sungguh pintar dan bisa memperhitungkan
segalanya, sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Bun
Tho-hoan.
Liu Ban-mong berkata, “Sesuai rencana kita dari awal,
Nenek Ma sudah membantu kita menutup semua jalan keluar,
tepat bagi kita untuk memusnahkan semua musuh.”
“Apakah Liu Toako yakin bisa mengatasi musuh-musuh ini?”
tanya Bun Tho-hoan.
Dengan sombong Liu Ban-mong tertawa, “Aku yakin, dan
aku tidak perlu meminta bantuan kalian, semua musuh biar
aku sendiri yang hadapi, kalian lihat saja di pinggir, begitu aku
selesai mengatasi semuanya, kalian baru membantuku
memberi kabar ke dunia persilatan dan menendang mereka,
karena aku sudah puluhan tahun di sini, aku kurang paham
terhadap dunia luar!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tidak masalah, sekarang orang-orang dunia persilatan
yang mempunyai nama berada di sini, maka tidak perlu
khawatir akan hal ini,” Bun Tho-hoan tertawa.
“Aku tahu, tapi di sini kurang orang, aku harus berdiam di
sini untuk menjaga-jaga, kalian harus membantu aku
menyebarkan kekuatan dan wibawa Lembah Raja Pedang,
kalau mereka yang datang satu atau dua orang yang tidak
ingin bergabung, kalian harus membantuku menaklukkan
mereka, karena orang di sini masih kurang bisa membantu.”
Tiang Leng-cu segera menjawab, “Tidak masalah dengan
tenaga gabungan Seng-su-hai dan Ceng-seng, cukup
menaklukkan semua orang, bila Ciu Giok-hu masih hidup, dia
yang paling susah ditaklukkan karena dia serakah, sekarang
ayah dan anak itu sudah mati maka kekuatan Ceng-seng
berada di tangan 2 bersaudara Bun mereka akan mendukung
Liu Toako menguasai dunia persilatan!”
Liu Ban-mong tertawa keras, katanya, “Aku sudah terpikir
akan hal ini, makanya saat Tiang Toako membunuh Ciu Giokhu,
aku tidak menghalangimu, kalau tidak mana mungkin aku
akan melepaskan pembantu yang kuat?”
Tiang Leng-cu menjilat kedua pihak berkata, “Ayah dan
anak keluarga Ciu menguasai Ceng-seng, 2 bersaudara Bun
pun sering ditindas mereka, sekarang aku membantu
membasmi 2 orang itu, pertama, bisa membantu Liu Toako
menumpas orang yang tidak menurut, kedua, juga membantu
2 bersaudara Bun keluar dari tekanannya.”
Liu Ban-mong tertawa, “Aku memang bisa menumpas
semua yang menghalangiku, tapi orang yang kuandalkan
hanya seratus saudara ini, untuk menekan ke dalam tidak
masalah, tapi untuk berhadapan dengan dunia luar sangat
tidak cukup, maka setelah aku sukses, bagian luar harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mengandalkan kerja sama dengan kalian, asal kita bisa
kompak, selagi kita hidup, tidak akan ada orang yang bisa
berani membuat kekacauan terhadap kita.”
Kemenangan sudah dikuasainya, maka terhadap orangorang
yang ada di depan mata dia tidak berani terlalu
menonjolkan diri, dengan teknik sangat mulus dia membuat
mereka senang, Tiang Leng-cu dan 2 bersaudara Bun segera
terharu, sebab mereka akan didukung oleh Liu Ban-mong dan
masing-masing menguasai tempat mereka, mereka akan
mempunyai kekuasaan hebat.
Saat mereka sedang merasa senang, Liu Ta-su tertawa
dingin, “Bun Ta-cai, Tiang Leng-cu ditakdirkan menjadi orang
tidak tahu malu, aku tidak merasa aneh melihat sikapnya yang
memalukan ini, tapi kalian 2 bersaudara adalah orang yang
kuhormati, mengapa kalian jadi begini?”
Wajah Bun Ta-cai terlihat malu, tapi Bun Tho-hoan
membela diri, “Liu Toako, orang yang pintar adalah orang
yang bisa melihat situasi, saat di Ceng-seng kami selalu
ditindas oleh Ciu Giok-hu, sekarang ada kesempatan untuk
menonjol, mengapa harus menolaknya?”
“Ingin menonjol di atas semua orang harus mengandalkan
kepandaian sendiri, memang Ciu Giok-hu sering menekan, tapi
di Ceng-seng, kalian berdua berada pada posisi tertinggi, di
bawah kekuasaan Liu Ban-mong, kalian hanya akan menjadi
pelayan-pelayannya, apakah itu yang namanya menonjol di
dunia persilatan?”
Bun Tho-hoan segera menjawab, “Kau salah, kami sudah
membuat perjanjian dengan Liu Toako.”
“Perjanjian apa?” dengan nada sinis Liu Ta-su bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Bila Liu Toako sudah menjadi Raja Pedang, dia tetap
berada di sini, dunia pesilatan akan dibagi jadi beberapa
bagian dan dipimpin oleh kami.”
Liu Ban-mong menyambung, “Dulu lebih banyak orang,
sekarang hanya tinggal 2 kelompok, Lembah Raja Pedang
akan dibagi menjadi selatan dan utara, masing-masing
dipimpin oleh Tiang Toako dan 2 bersaudara Bun, ini adalah
hal yang membanggakan.”
Wajah Lie Hoan-tay terlihat dia sangat kecewa, “Kalau
begitu, apa pekerjaanku?”
Tiang Leng-cu tertawa, katanya, “Hei, sebelah selatan
dipimpin oleh 2 bersaudara Bun, sebelah utara hanya aku
sendiri, aku tidak sanggup mengurus wilayah begitu luas
sendiri, kau bisa menjadi wakilku, mana mungkin kau
ditinggalkan?”
Lie Hoan-tay benar-benar terkejut juga senang, “Aku takut
aku tidak sanggup membantumu.”
Tiang Leng-cu berkata, “Lie-heng, jangan sungkan, tadinya
dalam rencana ini termasuk suami istri Bouw Leng, kita dibagi
menjadi timur barat selatan utara, sekarang kedua orang itu
bernasib buruk dan tidak bisa menikmati hasilnya, maka
wilayah ini terbagi menjadi 2 bagian, bagian barat diberikan
kepada orang Ceng-seng, timur dan utara masing-masing kita
yang akan bertanggung jawab, kau adalah orang timur, maka
kau lebih hafal daerah sana, tentang kekuatan orang,
jumlahku lebih banyak darimu, harap kau lebih gesit.”
Lie Hoan-tay mengatakan tidak sanggup, tapi dari raut
mukanya tidak menutupi kesenangannya.
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Liu Ban-mong, aku
benar-benar kagum kepadamu, aku menciptakan nama Raja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Pedang, hanya nama saja, aku tidak berani mengancam orang
persilatan, tapi kau berani membagi-bagi daerah, sampaisampai
pelayan-pelayan pun sudah kau siapkan.”
Liu Ban-mong berkata, “Apa yang dimiliki mu, semua sudah
kurencanakan, sekarang tentu akan lebih sempurna lagi.
“Kau menyebut dirimu sendiri adalah Raja Pedang, kalau
pemimpin daerah utara dan selatan kau sebut apa? Tidak
mungkin disebut Raja Pedang juga bukan?”
Tiang Leng-cu tertawa, “Kami belum berunding, posisi Raja
Pedang dipegang Liu Toako, kami harus dibawahnya
setingkat, sebut saja kami 'Kiam-kun'.”
“Baik, baik sekali, raja adalah baginda, Kun adalah orang di
bawah raja, tapi kalian sepertinya terlalu cepat bergembira,
sebab aku adalah Raja Pedang dan aku belum mundur dari
jabatan ini.”
Liu Ban-mong tersenyum, “Jangan terlalu sibuk mengurusi
masalah ini, bila aku tidak mempunyai cara mengatasi mu,
mana mungkin aku berani mengumumkan semua rencana
kami?”
Pedang emas sudah dipegang, Wong Jong-ceng maju
selangkah, “Baik, aku ingin tahu cara apa yang akan kau pakai
untuk berhadapan denganku?”
“Aku pasti mempunyai cara dan cara ini sangat lurus,
dengan ilmu pedang mengalahkanmu, dengan cara terangterangan
mengambil kedudukan Raja Pedang darimu.”
“Apakah kau pantas?”
Liu Ban-mong tersenyum, “Bukan masalah pantas atau
tidak, tapi apakah ini perlu atau tidak, aku tidak takut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kepadamu, sebab ada satu orang yang bisa menghadapi dan
menaklukkanmu.”
Wong Jong-ceng tertegun, bertanya, “Siapa? Apakah dia
anak buahmu?”
Liu Ban-mong tertawa terbahak-bahak, “Kalau mereka bisa
mengalahkanmu dari awal aku sudah menjadi pemilik Lembah
Raja Pedang ini, untuk apa aku harus menunggu sampai hari
ini?”
“Siapakah dia?”
“Biasanya kau senang berbelit-belit, sekarang aku harus
membalasmu, maka untuk sementara aku tidak akan
mengumukankannya, bila waktunya sudah tiba, dia akan
muncul dengan sendirinya.”
Wong Jong-ceng marah, “Sembarangan bicara, semua
gerak-gerikku belum harus kau atur siapa pun orang itu, aku
tidak ingin tahu, tapi aku akan memaksanya muncul.”
Saat dia maju dan akan menyerang, Liu Ban-mong tertawa,
“Belum sampai waktunya, kau tergesa-gesa juga percuma,
lebih baik kau menunggu dengan sabar.”
Wong Jong-ceng tidak mendengar dan tetap mendekat
untuk menyerang, tapi 5 anak buah dari 100 orang sudah
datang menghadang.
Kelima orang ini dengan tenang menghadang Wong Jongceng,
tujuan mereka bukan untuk bertarung, tapi hanya untuk
menghalangi, menyerang juga bertahan, 5 orang membentuk
satu baris, mereka menutup dengan rapat, membuat Wong
Jong-ceng tidak bisa maju, hal ini membuat Wong Jong-ceng
marah, dan keluar nafsu membunuhnya, tiba-tiba dia
mengeluarkan sebuah jurus yang sangat dahsyat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Ooo)-d*w-(ooO
BAB 34 Masalah terus bermunculan di Lembah
Raja Pedang
Gerakan Liu Ban-mong sangat cepat, saat Wong Jong-ceng
mengeluarkan jurus-jurus dahsyatnya, tiba-tiba dia menyerang
dari belakang.
Terpaksa Wong Jong-ceng menarik kembali pedangnya, bila
Liu Ban-mong tidak menyerang dari belakang, dengan mudah
dia bisa membunuh 5 orang di depan yang berusaha
menghalanginya, tapi serangan Liu Ban-mong membuatnya
menarik kembali pedangnya dan memaksa Liu Ban-mong
mundur, 5 orang tadi mulai lagi menyerangnya, Liu Ban-mong
pun dengan cepat mundur.
Beberapa kali sewaktu Wong Jong-ceng akan menyerang
dan membunuh, Liu Ban-mong selalu menyerang
kelemahannya, membuat Wong Jong-ceng harus menarik
kembali serangannya.
Liu Ta-su segera berkata kepada Lim Hud-kiam, “Keadaan
tidak menguntungkan bagi Wong Jong-ceng, Liu Ban-mong
berusaha mengacaukannya, tidak ada orang lain yang datang
menolong, dia hanya melakukannya dengan cara seperti itu,
satu sisi tujuannya menghabiskan tenaganya ayahmu, di sisi
lain memancing semua jurus-jurusnya keluar supaya Liu Banmong
mengetahui ilmu silat ayahmu!”
“Tidak juga! Aku percaya nanti akan ada orang lain yang
datang, ilmu pedang orang itu belum tentu bisa mengalahkan
ayah, jadi dengan cara ini Liu Ban-mong memancing ayah
mengeluarkan jurus-jurus pedangnya, supaya orang itu bisa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
melihat dan bisa mencari jurus ampuh untuk mengatasi jurusjurus
ayah!” kata Lim Hud-kiam.
“Dari mana kau bisa tahu?” tanya Liu Ta-su.
Lim Hud-kiam menunjuk, “Orang itu bersembunyi di dalam
gua gunung di sebelah barat.”
Liu Ta-su mengikuti arah yang di tunjuk Lim Hud-kiam, dia
hanya melihat ada sehelai bendera, di atas bendera tersulam
gambar setan dan digantung di dinding gunung, dia berkata,
“Aku tidak melihat ada gua di sana, mana mungkin dinding
gunung itu bisa menjadi tempat orang bersembunyi?”
“Gua itu tertutup oleh bendera, orang itu berada di balik
bendera,” jawab Lim Hud-kiam.
“Benar, di sana memang ada gua, gua itu biasanya
digunakan untuk menyimpan berbagai macam barang,
panjangnya 50 meter, gua itu tidak ada jalan tembus,
bagaimana Koko tahu di sana ada orang yang sedang
bersembunyi?” tanya Wong Han-bwee.
“Karena aku merasa aneh, mengapa di sana ada bendera
yang digantung,” jawab Lim Hud-kiam.
“Tidak aneh, bendera itu digantung untuk menutupi mulut
gua, gua yang ada di sekeliling sini ada 10 lebih, mulut gua
selatan ditutup oleh bendera,” jelas Wong Han-bwee.
“Aku sudah terpikirkan pada hal itu, tapi bendera itu tidak
sama dengan yang lainnya, mata setan yang ada di sulaman
bendera tampak berbeda, dipasang dengan 2 butir mutiara,
bendera itu mata setannya ada 2 lubang, sangat pas untuk
melihat dari sana kemari.”
“Mungkin mutiaranya terjatuh, karena bendera semacam itu
sudah terpasang beberapa tahun lamanya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Hari ini adalah hari di mana ayah akan naik tahta menjadi
Raja Pedang, demi kesuksesan dan kemewahan, tidak
diijinkan ada kecerobohan yang terjadi bila mutiara itu sampai
terjatuh harus cepat-cepat dipasang kembali, apa lagi bila
sampai mutiara terjatuh, seharusnya bagian kain yang kosong
adalah tempat mutiara, mengapa bisa berlubang?”
Dengan cemas Wong Han-bwee berkata, “Apa yang akan
kita lakukan sekarang?”
“Lebih baik kita ganti posisi supaya ayah bisa mengeluarkan
jurus-jurus ampuh yang dia simpan untuk melawan orang itu.”
Kemudian dia mengayunkan pedang dan maju, “Ayah, biar
aku yang menghadapi mereka, Han-bwee ingin menyampaikan
hal penting kepadamu, beristirahatlah dulu!”
Wong Jong-ceng baru akan mundur, segera sekelompok
orang datang mengepungnya lagi, Liu Ta-su datang
menghadang mereka, tapi karena jumlah orang itu ratusan,
mereka terus mengepung, Heuw Liu-hoan, Liu Hui-hui, Yu
Leng-nio, Yu Bwee-nio, hingga 2 pelayan Liu Hui-hui, semua
datang membantu, terakhir semua orang Kian-kun-kiam-pai,
keluarga Thio dari lembah Lu-bwee Thian-san dan orangorang
dari 5 perguruan pun ikut serta, tapi tetap tidak bisa
melawan mereka karena jumlah mereka terlalu banyak.
Melihat Wong Jong-ceng tidak bisa melepaskan diri, Wong
Han-bwee segera memerintah, “Jin-jiu, jangan bengong lagi,
cepat bawa orangmu membantu!”
Wong Jin-jiu masih tampak ragu, tapi dia tetap membawa
sisa pesilat dan 10 orang Lo-sat ikut bertarung, akhirnya
mereka bisa membuat ratusan pesilat Liu Ban-mong mundur
dan Wong Jong-ceng bisa berhenti bertarung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Ratusan pesilat yang dilatih Liu Ban-mong memang bukan
pesilat biasa, ada yang bertarung satu lawan satu, ada yang
bertarung 2-3 orang lawan satu, membuat pesilat tinggi yang
ada di sana tidak bisa berbuat apa-apa, tapi mereka masih
bisa memberikan perlawanan, anak buah Wong Jin-jiu dan
Heuw Liu-hoan berjumlah seratus orang sangat bersemangat
dan hafal cara-cara orang Lembah Raja Pedang, maka mereka
bergerak seperti angin badai menyapu daun yang berguguran,
juga seperti harimau galak masuk ke dalam kerumunan
kambing, teriakan memilukan terus terdengar, darah terus
berceceran, mayat terus bergelimpangan, murid-murid dari 5
perguruan pun pesilat terpilih, tapi berhadapan dengan pesilat
Liu Ban-mong, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, orang yang
mati dan terluka sangat banyak.
Yang tidak ikut bertarung hanya Wong Jong-ceng, Wong
Han-bwee, Liu Ban-mong, Tiang Leng-cu, 2 bersaudara Bun
Lie Hoan-tay, pada kesempatan ini Wong Han-bwee
menyampaikan temuan Lim Hud-kiam kepada ayahnya, hal ini
membuat Wong Jong-ceng memperhatikan bendera itu.
Pertarungan masih terus berjalan, orang yang terluka dan
mati sangat banyak, anak buah Liu Ban-mong benar-benar
lihai, kecuali Tay-lo-kiam-hoat milik Ciam Giok-beng berhasil
melukai satu orang, yang lainnya tidak ada yang terluka,
karena lawan semakin sedikit maka kekuatan Liu Ban-mong
semakin meyakinkan.
Melihat keadaan seperti itu, Wong Jong-ceng berkata,
“Han-bwee, kita harus siap bertarung lagi, orang yang mati
dan terluka adalah orang-orang yang sangat setia kepada
keluarga Wong, jangan biarkan mereka mati sia-sia, aku
merasa bersalah kepada mereka.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Ayah lebih baik menunggu, aku akan ke sana untuk
memancing orang yang bersembunyi di balik bendera itu
keluar, aku ingin tahu siapa dia sebenarnya,” kata Wong Hanbwee.
Wong Jong-ceng ingin melarangnya, tapi Wong Han-bwee
sudah berlari menuju ke sana, anehnya pesilat Liu Ban-mong
tidak ada yang menghalanginya malah memberinya jalan
maka dengan lancar dia sampai di depan bendera itu, Wong
Han-bwee menarik bendera itu, benar saja ada seseorang
yang sedang berdiri memunggungi Wong Han-bwee,
kepalanya ditutup dengan sarung kepala berwarna hitam,
sarungnya panjang mencapai pundaknya.
Wong Han-bwee berteriak, “Siapa kau? Cepat keluar!”
Orang itu berdiri seperti patung, dia tidak meladeni Wong
Han-bwee, sesudah beberapa kali berteriak, orang itu sama
sekali tidak bereaksi, Wong Han-bwee mulai marah, dengan
gerak cepat menyerang orang itu dengan pedangnya, gerakan
orang itu tidak kalah cepat, saat pedang Wong Han-bwee
berada pada jarak 25 sentimeter di belakangnya, tiba-tiba dia
memutar pedang Wong Han-bwee, kemudian ujung pedang
terus melaju ke depan dada Wong Han-bwee, karena begitu
tiba-tiba membuat Wong Han-bwee tidak bisa menarik kembali
pedangnya, terpaksa dia memejamkan matanya menunggu
maut menjemput.
Tapi begitu pedang orang itu tiba di depan tubuh Wong
Han-bwee, tiba-tiba saja pedang berhenti, dia hanya memukul
pedang Wong Han-bwee dengan pedangnya hingga terjatuh
dan mendorong Wong Han-bwee, dengan suara berat dia
berkata, “Kau bukan Wong Jong-ceng, pergi dari sini!”
Orang itu begitu cepat mengeluarkan jurus-jurus, begitu dia
membalikkan tubuh, sarung menutup kepalanya sampaiTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
sampai matanya pun ditutup, Wong Jong-ceng terkejut, dia
mendekat, “Hei, siapa kau!”
Orang itu menjawab, “Wong Jong-ceng, akhirnya kau
datang juga, aku tidak akan mengijinkanmu berbuat jahat
terus, keluarkan pedang mu, serahkan nyawamu!”
Wong Jong-ceng benar-benar marah, “Kurang ajar, kau
tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang
salah, sebenarnya siapa yang berbuat jahat, bukalah matamu
lebar-lebar dan lihatlah dengan jelas!!”
Orang itu tidak meladeninya, pelan-pelan dia keluar dari
gua dia berputar untuk melihat, kemudian dengan suara berat
dia berkata, “Ciumlah bau darah di lembah ini, semua karena
dosamu.”
Karena marah Wong Jong-ceng berteriak, “Lebih baik buka
matamu lebar-lebar, siapa yang membuat lembah ini menjadi
bau darah? Tadi aku sudah melihatmu mengeluarkan sebuah
jurus, aku yakin kau adalah seorang pesilat tinggi, mengapa
kau membantu orang jahat seperti Liu Ban-mong?”
Orang itu tidak bergerak, dia hanya membawa pedang
semakin mendekati Wong Jong-ceng, melihat caranya
memegang pedang, tampak tangannya sedikit bengkok, begitu
membalikkan tubuh dalam jarak 1 tombak, sudah terasa
kekuatannya, dia tahu serangan tadi mengandung banyak
perubahan maka dia tidak berani menganggap enteng musuh
ini, pelan-pelan dia pun mundur.
Orang itu semakin maju, begitu sampai di tengah lapangan
orang itu dengan suara berat berkata, “Semua berhenti
bertarung, biar aku yang membuat perhitungan dengan Wong
Jong-ceng, bila aku menang darinya, semua harus bubar
jangan mengikuti dia, kalau aku kalah, berarti Tuhan telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
membantu orang jahat, terserah apa yang akan kalian
perbuat.”
Liu Ban-mong diam-diam memberi kode, seratus pesilatnya
segera berhenti bertarung, mereka berdiri membentuk
setengah lingkaran berjaga-jaga dan menunggu.
Karena kemunculan orang itu, Liu Ta-su dan Lim Hud-kiam
berhenti bertarung, mereka pun berdiri membentuk setengah
lingkaran berhadapan dengan orang Liu Ban-mong, mereka
mengelilingi Wong Jong-ceng dan orang yang wajahnya
ditutup, sesudah mudur sampai tempat yang tepat, Wong
Jong-ceng berhenti melangkah, pedang dipeluk di dadanya
dan berkata, “Melihat serangan pedang tadi, kau pantas
bertarung denganku, lepaskan penutup wajahmu, biar kita
bertarung dengan bebas dan puas.”
Orang itu menjawab, “Hati-hati, aku akan menyerang!”
Wong Jong-ceng terpaku, “Apakah matamu buta, dari tadi aku
sudah mencabut, hanya menunggumu melepaskan penutup
wajahmu baru kita akan bertarung.”
Wong Jong-ceng menggoyangkan pedangnya, orang itu
mundur selangkah, “Ternyata kau sudah mencabut pedangmu,
mari kita mulai bertarung!”
Dia berkata kepada dirinya sendiri, hal ini membuat Wong
Jong-ceng aneh, “Bukan hanya buta ternyata kau juga tuli.”
Liu Ban-mong tertawa, “Kata-katamu benar, dia buta dan
tuli, dan dia sangat jelek, maka wajahnya harus ditutup
dengan kain, tapi ilmu pedangnya nomor satu, benar-benar
nomor satu, jadi kau tidak perlu banyak bicara dengannya.”
Dengan aneh Wong Jong-ceng berkata, “Dari mana kau
mendapatkan orang aneh ini?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong tertawa, “Dunia sangat luas, tentu saja
banyak orang yang aneh.”
Lim Hud-kiam berkata, “Ayah, orang itu buta dan tuli, dia
tidak akan bisa bicara, dia pasti pura-pura, kita harus berhatihati.”
“Apa pun bisa dipalsukan, ilmu pedang adalah ilmu pasti,
tidak akan bisa dibuat pura-pura, ilmu pedang orang ini pantas
kita lihat,” kata Wong Jong-ceng.
“Biar putramu dulu yang bertarung dengan dia!” seru Lim
Hud-kiam.
“Tidak, pertarungan ini bukan hanya untuk memperebutkan
kemenangan, tapi juga penentuan hidup dan mati, jarak
beberapa inci saja akan membuatmu mati, teknik pedang
Budha mu hanya akan mengantarkan kematianmu, biar aku
yang menghadapinya,” kata Wong Jong-ceng.
Lim Hud-kiam masih ingin bicara, Wong Jong-ceng
membentak, “Jangan cerewet, aku harus konsentrasi
menghadapi pertarungan ini, bila aku kalah bawa semua orang
berjalan ke gua itu, itu adalah satu-satunya jalan mundur,
Han-bwee tahu jalan itu.”
Dengan terkejut Lim Hud-kiam bertanya, “Bukankah di
dalam gua itu ada gas?”
Wong Jong-ceng tertawa, “Sekarang sudah tidak ada,
sudah lama tertiup angin gunung, gas itu sudah berpencar.”
“Apakah angin gunung bisa meniup gas itu hingga bersih?”
tanya Lim Hud-kiam dengan aneh.
Wong Jong-ceng tertawa, “Lama kelamaan bila gas tertiup
angin memang akan seperti itu udara akan menjadi bersih,
jangan percaya pada kata-kata Nenek Ma.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Ma Kiu-nio yang terduduk di bawah tidak bisa bergerak, tapi
mata dan mulutnya masih bisa bergerak, dengan cepat dia
menjawab, “Sembarangan bicara, gas yang ada di bawah
tanah masih sangat banyak.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Ma Kiu-nio, coba
kau pikir, sebagai majikan di lembah ini tentu aku sangat
kenal tombol yang membuat gas di bawah tanah bisa
meledak, aku sudah tahu sejak lama dan aku sudah lama
membukanya, mungkin masih tersisa sedikit, cukup untuk
mengisi gua itu, dari tadi aku tidak mau membuka rahasia ini,
aku ingin tahu dengan cara apa kau mempermainkan kami
lagi?”
“Tuan, apakah betul demikian?” Wong Jin-jiu terkejut.
“Tentu saja benar, tadi Liu Ban-mong cemas seperti anjing
kehilangan tuan, sedikit pun aku tidak merasa tegang, apakah
karena aku tidak takut mati? Walaupun aku tidak peduli pada
diriku sendiri, tetapi aku tetap harus memikirkan kalian, kalau
aku tidak yakin, saat istrimu menggali tanah dengan
pedangnya, aku sudah membunuhnya.”
Liu Ban-mong dengan kagum berkata, “Kau benar-benar
lihai.”
“Kalau tidak lihai, apakah aku berani menerimamu? Hanya
sayangnya aku sudah salah tafsir kepadamu, aku terlalu
meremehkanmu, tidak disangka diam-diam ternyata kau
sudah membuat rencana begitu sempurna.”
Liu Ban-mong tertawa, katanya, “Hal lain aku tidak berani
memuji diri sendiri, hanya saja kau tidak menyangka dengan
keberhasilan seratus pesilat ini bukan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Sembarangan, ilmu
pedang mereka aku sendiri yang mengajarkannya, seberapa
kekuatan mereka, aku sangat tahu dengan jelas.”
“Tapi kau sama sekali tidak menyangka kalau mereka akan
mendengar perintahku saja,” Liu Ban-mong tertawa.
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Mana mungkin aku tidak
tahu? Aku ingin tanya dulu kepadamu, saat aku menyuruhmu
mengumpulkan orang-orang ini untuk dilatih, apa tujuannya?”
“Untuk menghadapi 36 Lo-sat yang dipimpin oleh Ma Kiunio,
maka kau melatih mereka begitu teliti,” jawab Liu Banmong
sambil tertawa.
Wong Jin-jiu terkejut, Wong Han-bwee pun bertanya,
“Ayah, apakah benar?”
“Benar, aku memang pernah berpikir demikian,” Wong
Jong-ceng tertawa.
“Kau sengaja memberikan kesempatan kepada Liu Banmong
untuk memimpin kelompok ini,” Wong Han-bwee
menghentakkan kakinya.
Kata Liu Ban-mong, “Orang pintar melakukan sesuatu selalu
berpikir beribu-ribu kali, tapi tetap saja ada satu kali meleset,
kau sama sekali tidak menyangka kalau Lo-sat yang dipimpin
Ma Kiu-nio memilih memihakmu, tapi seratus pesilat ini malah
menjadi pasukanku.”
Wong Jong-ceng tersenyum, katanya, “Mereka memang
pasukanmu, mereka tidak takut mati, biar mereka terus
mengikutimu.”
“Apa maksudmu?” Liu Ban-mong terkejut. “Karena kapan
pun aku bisa membunuh mereka, aku hanya membuka mulut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
untuk bicara saja, itu pun sudah cukup,” jawab Wong Jongceng.
Liu Ban-mong tertawa terbahak-bahak, “Wong Jong-ceng,
kau ingin menipu?” Dengan dingin Wong Jong-ceng berkata,
“Kata-kataku belum pernah meleset, Raja Pedang bukan raja,
tetapi tetap mempunyai wibawa tinggi, kalau kau tidak
percaya, kita bisa mencobanya, Biauw-eng, keluarlah.”
Di dalam sebuah gua yang tertutup oleh bendera muncul
seseorang, dialah Biauw-eng, ketua baru Tiang-kang-cui-cai,
dia membungkukkan tubuh memberi hormat, “Aku berada di
sini, ada perintah apa dari Raja Pedang?”
Lim Hud-kiam dan Goan Hiong tahu kalau Biauw-eng
berada di bawah pimpinan Wong Jong-ceng, mereka
mengetahuinya saat Wong Jong-ceng membawa mereka
melalui jalan bawah tanah untuk sampai di tempat sini, tapi
orang lain belum tahu, apa lagi Bun Ta-cai, dengan terkejut
dia bertanya, “Biauw-eng, mengapa kau jadi orang Wong
Jong-ceng?”
Kata Wong Jong-ceng, “Dia memang teman Ciu Giok-hu,
tapi sebenarnya dia berada di bawah kekuasaanku, aku sangat
hafal dengan Ceng-seng, semua kabar kudapatkan darinya,
kalian hanya punya taktik seperti itu tapi ingin bersaing
denganku, kalian masih jauh!”
Dengan setengah bergurau dan setengah serius Ciam Giokbeng
berkata, “Pantas Lim Hud-kiam begitu banyak akal aneh,
membuat perusahaan perjalanan Su-hai terus diputar-putar,
ternyata keturunan dari Anda, aku benar-benar kagum.”
Wong Jong-ceng tersenyum, berkata, “Ketua Ciam, masih
ada banyak hal yang sama sekali tidak kau pikirkan, Biauweng,
apakah barangmu ada di bawah?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Biauw-eng memberi hormat, “Perintah Raja Pedang, anak
buah Anda tidak berani melupakannya.”
“Baiklah, pilih 1-2 orang untuk mengujinya.”
Biauw-eng melambaikan tangan, dua titik terang berwarna
biru sangat kecil keluar dari lengan bajunya, kemudian
berputar ke kepala salah satu dari 1-2 pasukan Liu Ban-mong,
kemudian orang itu terjatuh, terdengar 2 suara teriakan
memilukan, dua orang itu terjatuh, kelima indra mereka
mengeluarkan darah, kematian mereka sangat mengenaskan.
Liu Ban-mong terkejut dan berteriak, “Benda apa itu?”
Dengan santai Biauw-eng menjawab, “Namanya adalah
Thian-lui-coan-sim-ciam (Jarum langit berpetir menembus
jantung) senjata ini khusus untuk menghukum orang-orang
Pak-kau yang tidak setia, aku menerima perintah dari Raja
Pedang, di tubuh ratusan pasukan ini aku memasukkan ilmu
gaib, asal tanganku diangkat, nyawa mereka akan melayang.”
90 lebih pesilat melihat kematian teman mereka, wajah
mereka mulai berubah, Liu Ban-mong segera berteriak, “Kalian
jangan dengar perkataannya, di dunia ini tidak ada ilmu gaib,
semua itu bohong!” Biauw-eng tertawa dingin, “Mau percaya
atau tidak, terserah, begitu tanganku diangkat akan meminta
nyawa, itu adalah bukti, apakah perlu dicoba lagi pada
beberapa orang untuk bukti.”
Liu Ban-mong tidak menjawab, Wong Jong-ceng yang
menjawab, “Tidak perlu, asal mereka sudah tahu dan takut,
itu sudah cukup, apakah kalian masih tetap akan menjual
nyawa kalian untuk Liu Ban-mong?”
Kata-kata terakhir Wong Jong-ceng ditujukan kepada
ratusan pasukan itu, 90 orang melihat Biauw-eng dulu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kemudian melihat Liu Ban-mong, tidak seorang pun yang
menjawab.
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Kalian sungguh setia, aku
tidak mau memaksa kalian, Liu Ban-mong, apakah kau masih
tetap ingin mengantarkan kematian mereka?”
Liu Ban-mong berkata, “Aku tidak percaya siluman ini
mempunyai ilmu gaib, saudara-saudara, kita bersatu
menyerang siluman ini, juga bunuh dia!”
Perintah sudah diturunkan, tapi kebanyakan tetap berdiri
tidak bergerak, mereka yang berlari ke arah Biauw-eng, sekali
Biauw-eng sekali melayangkan tangan nya, 4-5 titik terang
berwarna biru menyala lagi, dan setiap titik biru ini masingmasing
terbang ke arah anak buah Liu Ban-mong itu,
walaupun pedang mereka digerakkan untuk menahan titik
berwarna biru itu tapi sama sekali tidak berguna, beberapa
teriakan terdengar, mereka mati dengan 5 indra mengalirkan
darah.
“Bila ada yang tidak takut mati, kemarilah,” kata Biauw-eng
tertawa dingin.
“Aku kira cukup sampai di sini, lempar senjata kalian dan
berdiri di pinggir, kalau tidak semua akan dibunuh!”
Liu Ban-mong menarik nafas panjang, “Lepaskan pedang
kalian biar kita mengalah, sementara sabar menunggu, bila
aku sudah mengalahkan Wong Jong-ceng, aku pasti akan
berusaha menolong kalian.”
Pesilat yang berjumlah ratusan orang itu melemparkan
senjata mereka, tapi Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Liu
Ban-mong, kau jangan mencoba memper-alat mereka lagi,
Jin-jiu, suruh orang mengikat mereka dan kurung di dalam
gua.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong marah dan berteriak, “Tidak, anak buahku
tidak boleh ditawan!”
Wong Jong-ceng tertawa dingin dan menurunkan
perintah:”Biauw-eng, awasi mereka, siapa yang berani
melawan, segera bunuh, Jin-jiu, laksanakan tugasmu bersama
anak buahmu.”
Waktu Wong Jin-jiu dan anak buahnya siap-siap mengikat
orang-orang Liu Ban-mong, Liu Ban-mong berkata kepada 2
bersaudara Bun juga yang lainnya, “Bila kalian ingin bekerja
sama denganku, sekarang adalah waktunya bagi kalian untuk
bergerak, jangan biarkan mereka menawan orang-orangku.”
“Tapi ilmu gaib siluman itu sangat lihai!” seru Bun Ta-cai.
“Aku sudah tahu ilmu gaibnya, itu bukan ilmu gaib, cahaya
biru itu pasti semacam serangga, seperti serangga milik Nenek
Ma, hanya butuh waktu sebentar aku akan mengeluarkan sisa
obat To-hoa-bi-ciang, obat ini khusus untuk mengatasi
serangga, aku tidak takut kepadanya.”
Biauw-eng sedikit terpaku, Liu Ban-mong segera tertawa,
“Kata-kataku tidak salah, dari awal aku sudah tahu ilmu gaib
dari Pak-kau hanya untuk menipu orang, cahaya biru ini
separahnya adalah senjata rahasia separahnya lagi adalah
obat racun Pak-kau, berasal dari Si-chuan, S-u-chuan
berbatasan dengan suku Biauw, kalian belajar tekniknya bila
telah tahu kelemahannya hal ini tidak akan menakutkan
lagi....”
Bun Ta-cai dengan cepat bertanya, “Apakah Liu Toako
masih menyimpan obat yang bernama To-hoa-bi-ciang?”
“Ada, hanya saja aku tidak menyangka kalau anak buahku
akan ditaklukkan, jadi aku hanya membawa sedikit untuk
diriku sendiri, tujuanku hanya untuk berhadapan dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Nenek Ma, di tempat tinggalku masih tersimpan banyak,”
jawab Liu Ban-mong.
Sesudah mendengar perkataan Liu Ban-mong, Biauw-eng
terlihat sedikit ragu, Wong Jong-ceng segera berkata,
“Pengetahuan Liu Ban-mong memang banyak, dia sudah tahu
dasar Thian-lui-coan-sim-ciam milikmu, biarlah orang-orang ini
tidak perlu diikat, Biauw-eng, jaga baik-baik pintu gua ini,
jangan biarkan ada yang kabur, dan juga awasi orang-orang
ini, jangan biarkan mereka membantu Liu Ban-mong.”
Biauw-eng segera mundur, tapi Liu Ban-mong malah
tertawa, “Wong Jong-ceng, kau bisa mengawasi gerakan
mereka, tapi tidak bisa menghentikan kami yang belum
terkena racun, To-hoa-bi-ciang tersimpan di rak di kamar
tidurku, asal ada yang bisa mengambilnya, aku tidak takut
pada siluman ini.”
“Masalahnya, kalian tidak bisa meninggalkan tempat ini,”
kata Wong Jong-ceng tersenyum.
“Kami di sini berjumlah 5 orang, bila bersama-sama keluar,
siapa yang bisa menghalangi kami?” Liu Ban-mong tertawa
dingin.
“Kalian boleh mencobanya,” jawab Wong Jong-ceng.
Liu Ban-mong mengumpulkan Tiang Leng-cu dan lain-lain,
dia pelan-pelan memberi petunjuk, Wong Han-bwee dengan
tidak sabar berteriak, “Ayah, apa yang akan mereka lakukan?”
“Mereka ingin menyuruh orang mengambil To-hoa-bi-ciang
untuk menolong orang-orangnya, karena kelompok orang ini
menjadi dasar kekuatannya.”
“Apakah Biauw-eng bisa menguasai nyawa mereka?” tanya
Wong Han-bwee.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Pasti bisa, racun yang dipakai Biauw-eng adalah Pi-lengeng-
cong (lalat hijau beracun), serangga ini adalah serangga
beracun yang hidup di perbatasan suku Biauw, tubuhnya kecil
seperti biji wijen, tapi bila bertelur bisa mencapai ribuan butir,
telurnya membutuhkan waktu 5 tahun baru menetas menjadi
serangga, Pi-leng-eng-cong mengandung racun yang sangat
ganas, begitu telurnya matang dia membutuhkan udara positif
yang keluar dari serangga jantan, baru bisa menetas dan
keluar dari telurnya.”
“Bagaimana kalian bisa memasukan telur serangga ini ke
dalam tubuh mereka?” tanya Wong Han-bwee.
Jawab Wong Jong-ceng, “6 tahun yang lalu, sewaktu aku
mulai melatih mereka, aku pernah memberikan semacam obat
untuk memperkuat tubuh mereka, di dalam obat ini ada
seekor Pi-leng-eng-cong betina yang siap bertelur, maka dia
bertelur di dalam perut mereka, sesudah 6 tahun berlalu telur
itu sudah matang, sekarang tinggal melepaskan jantannya,
dengan naluri seekor lalat jantan, dia bisa mencari anaknya
dan akan terbang ke telur lalat yang matang, telur lalat akan
terpengaruh dan keluar dari telurnya, maka racun yang ada di
dalam tubuh mereka akan keluar, membuat kelima indra
mereka mengeluarkan darah sampai mati.”
“Apakah tidak ada cara untuk menghentikannya?”
“Ada, To-hoa-bi-ciang bisa mengatasi semua ini, To-hoa-biciang
adalah semacam udara, di perbatasan suku Biauw apa
lagi di hutannya bisa didapatkan, udara ini akan membatasi
gerakan Pi-leng-eng-cong, kalau tidak, lalat ini akan terus
bertelur, di dunia ini tidak akan ada manusia yang bisa
bertahan hidup.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Ayah mempunyai cara mengatasi pasukan ini, mengapa
mereka tidak dibunuh saja, untuk apa memberi kehidupan
pada mereka?”
Wong Jong-ceng menarik nafas, “Saat Liu Ban-mong
mengatasi racun Ma Kiu-nio dengan To-hoa-bi-ciang, aku
mengira dia sudah ada persiapan, maka aku tidak berani
mencobanya, karena tadi keadaan darurat, terpaksa aku
mencobanya, tidak disangka masih ada khasiatnya.”
“Keadaan darurat adalah saat kita bertarung tadi, ayah
tidak berusaha menghentikannya membuat orang-orang kami
banyak yang gugur, sekarang pertarungan sudah lewat,
mengapa ayah merasa kita masih berada dalam bahaya?”
tanya Wong Han-bwee.
“Apa yang kau mengerti? Ke seratus orang ini dilatih
olehku, aku sangat tahu kekuatan mereka, tapi ada aku di sisi
kalian, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa!” kata Wong
Jong-ceng sambil mengeluh.
“Tadi mereka sudah membunuh banyak orang, mengapa
ayah tidak mencegahnya?”
“Karena aku sedang menyelidiki, aku ingin melihat selain
ilmu pedang yang kuajarkan, apakah mereka masih
menguasai ilmu pedang lainnya, sekarang aku sudah
melihatnya, mereka memang diberi petunjuk oleh orang lain,
sehingga jurus pedangku sedikit berubah, tapi aku sudah
mempunyai cara untuk mengatasinya, asal aku yang bertarung
dengan mereka, dalam 1-2 jurus aku sanggup mengalahkan
mereka.”
“Kalau begitu bahaya apa yang sedang mengancam ayah?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dengan wajah serius Wong Jong-ceng berkata,
“Masalahnya, aku telah dilibat oleh orang aneh ini, tidak
mengijinkan aku berhadapan dengan orang lain.”
Dia menunjuk orang yang wajahnya ditutup yang berada
pada jarak sekitar 1 tombak dari mereka dengan mulutnya,
berkata, “Orang itu tiba-tiba muncul, aku tidak tahu dari mana
asalnya, tapi dia adalah musuh paling kuat yang kuhadapi
seumur hidupku, aku harus berkonsentrasi, bila bertarung
siapa bisa hidup atau mati aku tidak yakin, jadi aku harus
mengatur dulu keselamatan kalian dulu.”
Orang yang wajahnya ditutup itu, berdiri tapi tidak bergerak
dia seperti sebuah patung, melihat orang itu tubuh Wong Hanbwee
pun gbergetar, “Ayah, mengapa dia sama sekali tidak
bergerak?”
Wong Jong-ceng tertawa, dia maju selangkah, orang itu
ikut bergeser dan pedang diangkat bersiap-siap, Wong Jongceng
berdiri tenang, lalu tertawa, “Apakah kau sudah melihat?
Satu-satunya musuh dia adalah aku, dia tidak melihat juga
tidak mendengar, semua gerakan berdasarkan nalurinya untuk
menghadapiku, bila aku tidak bergerak dia juga tidak
bergerak, sewaktu aku bergerak gerakannya lebih cepat
dariku.”
Dengan cemas Wong Han-bwee bertanya, “Apakah ayah
bisa mengalahkannya?”
Dengan serius Wong Jong-ceng menjawab, “Sulit untuk
memastikannya, tapi kau tenang saja, dia menang atau kalah,
hidup atau mati, satu-satunya musuhnya adalah aku, bahaya
tidak akan mengancam kalian, orang yang harus kalian
perhatikan adalah Liu Ban-mong.”
“Putramu sanggup menghadap dia,” kata Lim Hud-kiam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng menarik nafas panjang, “Anak, kalau saja
kita berkumpul lebih awal, mungkin kau sanggup menghadapi
dia, tapi dengan keadaan seperti sekarang, belum tentu kau
bisa menang, untung aku berhasil menaklukkan anak
buahnya, bila benar-benar harus bertarung, kau dan Hanbwee
harus bergabung menghadapi Liu Ban-mong, mungkin
kalian masih bisa menahannya dan kalian berdua harus
melindungi semua orang keluar melalui gua itu, dan
keselamatan Biauw-eng benar-benar harus diutamakan.”
Lim Hud-kiam terpaku, “Ayah, kita mempunyai begitu
banyak orang, apakah masih tidak sanggup menahan
mereka?”
“Kita tidak cukup tenaga untuk menahan anak buah Liu
Ban-mong, mereka telah mewarisi ilmu silatku yang asli,
paling-paling kalian hanya sanggup bertarung satu lawan satu,
untung To-hoa-bi-ciang Liu Ban-mong belum semua dibawa,
Leng-eng milik Biauw-eng masih bisa menguasai 100 pesilat
itu, jadi kalian harus menjaga keselamatan Biauw-eng dan
melindungi dia, sebab hanya dia yang bisa melepaskan Lengeng
jantan,” jelas Wong Jong-ceng.
“Kalau begitu sekarang juga kita bereskan semua orang
ini,” kata Wong Han-bwee.
“Kita memang bisa melakukannya dengan cara ini, tapi aku
tidak menginginkannya, pertama, membunuh banyak orang
adalah melanggar aturan Tuhan, kedua, mereka tetap anak
buahku.”
Wong Han-bwee berteriak, “Ayah, mereka adalah
pengkhianat Lembah Raja Pedang!”
Wong Jong-ceng menggelengkan kepala, “Mereka tidak
setia kepadaku, tapi aku tidak bisa membunuh mereka, seperti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
anak buah Wong Jin-jiu dan Lo-sat yang dipimpin Ma Kiu-nio,
mereka memang pernah mengkhianatiku, tapi akhirnya
mereka bisa berbalik mengerti, jadi aku harus memberi
kesempatan kepada mereka.”
“Orang-orang seperti mereka tidak akan bisa berbalik baik
kepada kita,” kata Wong Han-bwee.
“Jangan berkata seperti itu, tadinya aku juga tidak percaya,
tapi sekelompok Lo-sat yang dipimpin Ma Kiu-nio, karena telah
dipengaruhi kakakmu mereka berbalik malah mendukung kita,
hal ini benar-benar membuatku terpengaruh, jadi aku tidak
percaya kelompok orang ini akan keras kepala.”
Semua orang terdiam, Wong Jong-ceng berkata lagi, “Masih
ada satu alasan lagi, bila dengan lalat jantan membunuh
mereka di perut mereka akan sangat banyak telur lalat, bila
dijumlahkan bisa mencapai ratusan ribu, waktu itu tidak akan
ada orang yang bisa menguasai mereka lagi, dan akan
membuat lalat-lalat racun ini berkembang biak, hasilnya bisa
dibayangkan, aku tidak ingin membuat bahaya seperti itu.”
“Raja Pedang, tidak perlu Anda mengkhawatirkan tentang
ini, lalat-lalat hijau yang beracun ini hanya cocok hidup di
gunung tinggi, bila dibawa ke dataran rendah, mereka akan
mati,” jelas Biauw-eng.
“Tapi mengapa lalat yang kau bawa bisa bertahan hidup?”
tanya Wong Jong-ceng.
“Karena aku sudah memelihara mereka dengan teliti untuk
dicocokkan dengan udara dataran rendah,” jawab Biauw-eng.
“Itulah sebabnya kau bisa membuat lalat-lalat itu cocok
dengan udara dataran rendah, anak lalat yang baru lahir lebih
gampang mencocokkan diri dengan udara di sini, karena telur
lalat ini berasal dari tempat ini, lebih baik kau perhatikan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
basmi lalat kecil yang ada di tubuh orang yang telah mati,
jangan biar wabah menyerang orang-orang, kalau tidak aku
tidak akan bisa memaafkan dosamu.”
Biauw-eng mengangguk dengan serius Wong Jong-ceng
berkata lagi, “Hari ini yang paling kusesali adalah aku salah
menafsirkan Liu Ban-mong, aku benar-benar ceroboh
membiarkan dia melakukan apa pun karena aku terlalu
meremehkan kepintarannya, aku malah membantunya melatih
pesilat-pesilat ini, sebetulnya aku masih bisa menguasainya,
aku masih mampu....”
“Bila kau masih bisa menguasainya, cepat bereskan dia!”
kata Li Ta-su.
Wong Jong-ceng tertawa kecut, “Sudah terlambat,
kemunculan orang aneh itu membuat gerakanku terbatas,
menguasai Liu Ban-mong harus dengan teknik pedangku,
kecuali ilmu pedang yang bisa menaklukkan dia, tidak ada
cara lain lagi, dengan lalat, dengan racun tidak mungkin,
karena dia sangat pintar, sedikit celah saja dia sanggup
menebaknya, dan dengan cepat dia mempunyai cara untuk
mengatasinya, hanya dengan ilmu pedang tinggi dan dalam
baru bisa membuatnya tidak berdaya melawan.”
Kata-kata Wong Jong-ceng membuat semua orang setuju,
Liu Ban-mong yang bisa merusak racun serangga milik Ma Kiunio
dan dengan cepat bisa tahu mengenai Biauw-eng yang
menaklukkan orang dengan lalat, membuktikan kalau orang
itu selain mempunyai ilmu pedang tinggi, pengetahuannya pun
luas, dia pandai meneliti, pintar, juga mantap.
Wong Jong-ceng menarik nafas lagi, “Sebelum munculnya
orang aneh itu, bila aku ingin membunuh dia seperti
membalikkan telapak tangan, karena terlalu }fakin inilah maka
membuatku terlambat membunuhnya, aku tidak segera
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
membunuhnya karena aku ingin tahu apa yang ingin dia
mainkan, tapi ada pepatah mengatakan, 'kita berpikir beribu
kali tetap akan ada melesetnya', aku tidak tahu dia sudah
mengatur biji catur warna gelap, dia mencari orang tua aneh
itu....”
Liu Ban-mong tertawa dingin, “Wong Jong-ceng, kau tidak
bisa melihat jelas siapa aku, tapi sebaliknya aku bisa
melihatmu dengan jelas, aku tahu kau terlalu percaya diri, kau
mengira bisa mengatasiku, maka kau tidak buru-buru
membunuhku, terakhir setelah mengeluarkan orang ini,
kegagalanmu sekaligus juga keberuntunganmu jadi terlihat,
kalau kau tidak mempunyai sifat seperti itu, dari tadi kau
sudah mati, aku tidak akan melakukan hal-hal berbahaya yang
mengancam nyawaku.”
“Jangan kira kau sudah berhasil, orang aneh itu belum
tentu bisa mengatasiku, aku hanya bersiap-siap saja,” kata
Wong Jong-ceng.
Liu Ban-mong tertawa, “Betul, aku kagum kepada ilmu
pedangmu aku juga mengakui kalau kau adalah pesilat
pedang terkuat, tapi aku percaya aku berada di urutan ke-3.”
Wong Jong-ceng terpaku, “Kau hanya di urutan ke-3?”
“Betul, kalau kau nomor satu, orang itu berada di urutan
ke-2, dan aku urutan ke-3, kalau kalian bertarung aku yang
akan menjadi urutan ke-I.”
“Harus menunggu aku mati baru giliranmu,” jawab Wong
Jong-ceng.
Liu Ban-mong berkata, “Tidak perlu menunggu begitu lama,
sekarang aku bisa menentukan pertarungan antara kalian
berdua, siapa yang mati atau hidup, kedua-duanya pasti akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
terluka, yang hidup pasti tidak akan mempunyai tenaga untuk
bertarung lagi denganku.”
Wong Jong-ceng melihat orang aneh yang tidak pernah
bergerak itu, dia menarik nafas, katanya, “Hud-kiam, apakah
sekarang kau mengerti bahaya yang kumaksud?”
“Putramu mengerti,” Lim Hud-kiam menjawab dengan nada
berat.
“Apa yang harus kau lakukan, apakah kau sudah tahu?”
“Aku mengerti, putramu pasti akan melindungi semua orang
dan dengan selamat meninggalkan tempat ini, asal semangat
seorang pesilat tidak patah, orang seperti Liu Ban-mong tidak
akan berhasil dalam usahanya.”
“Baik, aku benar-benar senang mempunyai seorang putra
seperti dirimu, tapi Liu Ban-mong bukan orang seperti yang
kau pikirkan yaitu begitu menakutkan, yang dia andalkan
hanya seratus pesilat pedang itu, Biauw-eng sanggup
mengatasi mereka, lalat hijau tidak akan bisa dimusnahkan,
To-hoa-bi-ciang hanya bisa menguasai lalat betina, telur lalat
selamanya akan hidup di dalam perut, bila mereka masih
membantu Liu Ban-mong melakukan kejahatan, mereka akan
mati,” kata Wong Jong-ceng.
Liu Ban-mong tertawa, katanya, “Tidak apa-apa, asal aku
bisa naik menjadi Raja Pedang, tidak membutuhkan waktu 3
tahun, aku akan melatih pesilat-pesilat pedang dengan jumlah
lebih banyak.”
“Begitu banyak orang yang mengawasimu, mereka tidak
akan mengijinkanmu memupuk kekuatan untuk kedua kali,
orang yang kau latih tidak akan bisa lebih kuat dari mereka,”
kata Wong Jong-ceng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tidak perlu sampai sekuat mereka, separuh kekuatan
mereka saja sudah cukup, sebab setelah kau mati, tidak akan
ada orang yang bisa melebihi aku.”
“Kecuali orang aneh yang kau bawa itu membunuhku
terlebih dulu, kalau tidak, asal aku masih hidup, aku akan
bicara 3 kata, ketiga kata ini akan membuatmu dari urutan ke-
3 turun sampai urutan ke-10 lebih, paling sedikit 10 orang bisa
melebihi kehebatanmu.”
“Ayah, apa ketiga kata itu?” tanya Lim Hud-kiam.
“Ketiga kata itu adalah nama tempat, di sana ada buku hasil
penelitianku seumur hidup.”
“Mengapa ayah tidak memberitahu sekarang?”
“Tidak bisa,” Wong Jong-ceng menggelengkan kepala.
“Mengapa tidak bisa?”
Wong Jong-ceng menarik nafas panjang, “Hud-kiam, jika
hari ini aku tahu kau bukan putraku, aku tidak akan
menemukan banyak masalah seperti sekarang ini, sebab aku
akan seperti Liu Ban-mong mempunyai hati serakah,
menginjak dunia, aku juga tidak akan peduli hidup atau
matinya orang lain, karena mempunyai seorang putra seperti
dirimu membuatku ingin menjadi orang baik, tapi ingin
menjadi orang baik pun tetap ada batasnya, maka kecuali kau
dan Han-bwee, aku tidak ingin ada orang ketiga yang
mengetahuinya.”
“Ayah, apa maksud ayah?” tanya Lim Hud-kiam.
“Di Ceng-seng karena tidak tahan dihina maka aku marah
dan meninggalkan Ceng-seng, sekarang setelah mencapai
posisi seperti ini, aku sudah mengorbankan banyak hal, aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
tidak ingin orang lain mendapatkan hasil jerih payahku dengan
gampang.”
“Kalau begitu ayah bisa memberitahu kepadaku dan adik.”
“Sekarang tidak bisa, bila aku memberitahu kalian, kalian
pasti tidak akan dibiarkan keluar hidup-hidup dari sini oleh Liu
Ban-mong, apa lagi belum tentu aku akan mati di tangan
orang aneh itu, bila waktunya sudah tiba aku baru akan
memberitahu kalian.”
Lim Hud-kiam masih ingin bicara, tapi Wong Jong-ceng
sudah membentak, “Hud-kiam, kau kira aku pasti akan mati,
sikapmu bukan sikap seorang anak yang mendukung
ayahnya.”
Terpaksa Lim Hud-kiam diam, Wong Jong-ceng mengeluh
lagi, “Bukan aku tidak mempunyai perasaan, sebenarnya kau
dan Han-bwee bergabung pun, sulit mengalahkan Liu Banmong,
jadi aku harus menjaga satu-satunya rahasia yang ada,
begitu aku menganggap aku tidak mempunyai harapan lagi
maka aku akan memberikan kesempatan ini kepada orang
lain, aku kira aku tidak egois bukan?”
Lim Hud-kiam berpikir sebentar, katanya, “Ayah, aku
mempunyai sebuah permintaan.”
“Apa permintaanmu?”
“Beritahu rahasia ini kepada Leng-nio, karena dia sedang
hamil, anak yang dikandungnya adalah anakku, bila kami
semua harus mati, ilmu pedangmu tidak akan musnah,” kata
Lim Hud-kiam.
Dengan gembira Wong Jong-ceng berkata, “Apa? Bocah,
ternyata kau sudah mempunyai keturunan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Laki-laki atau perempuan aku belum tahu, tapi paling
sedikit dia adalah keturunan keluarga Lim, ayah harus
menyetujui permintaanku.”
“Ya, siapakah Leng-nio? Kemarilah, supaya aku bisa
mengenalmu,” kata Wong Jong-ceng.
Yu Leng-nio maju, Wong Jong-ceng menjabat tangan Yu
Leng-nio, dia tertawa, “Baik, memang pembawaanmu tidak
seluwes gadis keluarga Lim, tapi bisa membuat keluarga Lim
mempunyai keturunan, kau cukup pantas untuk menjadi
menantuku, jaga dirimu baik-baik.”
Dia menepuk-nepuk tangan Yu Leng-nio, Yu Leng-nio pun
mundur.
Dengan cemas Wong Han-bwee berkata, “Ayah, kau belum
memberitahu rahasiamu kepadanya.”
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Jangan terlalu banyak
mengurusi masalah. Ketua Ciam!”
“Aku ada di sini, Tuan mempunyai pesan apa?” tanya Ciam
Giok-beng.
“Ketiga muridmu mempunyai ilmu silat yang bagus, suruh
mereka melindungi Leng-nio, pertama dia yang harus keluar
dari sini, kalian yang tua-tua mungkin harus bergerak cepat
untuk menahan serangan,” kata Wong Jong-ceng.
“Mengenai hal ini, aku pasti akan melaksanakan!” jawab
Ciam Giok-beng.
Wong Jong-ceng berkata lagi, “Ketua Thio, aku juga harus
memberi keturunan kepada kalian, suruh putra putrimu
mengikuti Kian-kun-kiam-pai keluar dari sini, apakah kau
setuju?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Thio In mengerti apa yang dimaksud olehnya, dia segera
menjawab, “Aku berterima kasih kepada Anda.”
Wong Jong-ceng tertawa lagi, “Leng-nio, apakah kau
mengerti?”
“Aku mengerti,” angguk Leng-nio.
“Kalau mengerti, cepatlah pergi dari sini,” kata Wong Jongceng.
Yu Leng-nio tidak berkata lagi, dia berjalan ke mulut gua,
Ciam Giok-beng memberi kode kepada Goan Hiong, Kie Pi-sia,
dan Pui Thian-hoa, mereka bertiga segera datang
menghampiri, Thio In pun memanggil Thio Siau-in dan Thio
Siau-hun berkumpul.
Begitu mereka sudah berada di depan mulut gua, Wong
Jong-ceng baru berkata, “Bila ingin mundur, mereka yang
pertama jalan, orang-orang dari 5 perguruan paling banyak
berjalan tengah, Ketua Ciam dan Ketua Thio harus terakhir,
berusaha menghadang musuh yang mengejar, bila perlu harus
bertahan dengan nyawa, biar anak-anak muda mempunyai
waktu yang cukup untuk meninggalkan tempat ini.”
Yu Leng-nio mulai berbicara dengan kelima anak muda itu,
kemudian mereka berjalan menuju mulut gua, melihat
keadaan seperti itu, Tiang Leng-cu dengan cemas berkata,
“Liu Toako, kau harus punya cara menghadang mereka.”
Liu Ban-mong tertawa, katanya, “Wong Jong-ceng sedang
berbuat ulah, dia belum memberitahu tempat rahasia itu,
begitu dia sudah memberitahu, aku mempunyai cara untuk
menghadang mereka.”
“Terlambat, mereka sudah pergi,” Wong Jong-ceng tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Yu Leng-nio sudah berada di dalam gua, kakak beradik Thio
Siau-in akan masuk ke gua, ketiga murid Kian-kun-kiam-pai
masih berada di depan mulut gua, Wong Han-bwee berkata,
“Ayah, cepatlah!”
“Aku sudah memberitahunya.”
“Apa, dari tadi aku terus memperhatikan, tapi ayah tidak
mengatakan sepatah kata pun.”
“Bila aku mengatakannya, Liu Ban-mong pasti tidak akan
melepaskan dia, maka aku menaruh peta itu ke tangannya.”
Liu Ban-mong segera berubah, dia terbang ke udara dan
terus menyerang, gerakannya sangat cepat, untung Kie Pi-sia
dan Goan Hiong sudah ada persiapan, dua pedang berbareng
diangkat menahan serangan Liu Ban-mong, tapi mereka tetap
tergetar dan mundur beberapa langkah.
Hadangan ini membuat Lim Hud-kiam yang berada di
belakang segera datang, pedang tumpulnya diayunkan, dia
menyambut serangan Liu Ban-mong, Ciam Giok-beng pun
sudah sampai di sana, sambil menyerang dia membentak, “Pisia,
Hiong-ji, cepat pergi!”
Kedua anak muda itu mengetahui kelihaian Liu Ban-mong,
mereka pun dengan cepat masuk ke dalam gua, Pui Ciauw-jin
dan Ho Gwat-ji beserta suami istri Thio In pun sudah datang,
Tiang Leng-cu dan 2 bersaudara Bun ingin membantu, tapi Liu
Ta-su dan Liu Hui-hui serta Yu Bwee-nio, Yu Long, dan Yu
Houw mencegat mereka.
Liu Ban-mong dengan cemas berteriak, “Cepat, cegat
kelompok itu!”
Anak buahnya ingin bergerak, tapi tangan Biauw-eng sudah
melayang, 4 titik cahaya biru sudah keluar, kedahyatan lalat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
hijau benar-benar aneh, kekuatannya sangat hebat, 4 orang
terdepan segera roboh dan muntah darah, hal ini membuat
yang lain jadi terkejut, Liu Ban-mong benar-benar cemas, dia
terus meloncat-loncat, pedang diayunkan lebih kencang lagi,
tapi selalu dilibat oleh pedang Lim Hud-kiam dan Ciam Giokbeng
maka dia tidak bisa melepaskan diri, waktu itu Wong Jinjiu
dan Heuw Liu-hoan sudah datang ke sana, Lo-sat yang
dipimpin oleh Wong Han-bwee pun sudah datang, maka Liu
Ban-mong terus berteriak histeris, “Bunuh, bunuh semua,
cegah sekelompok orang itu lolos!”
Dia berteriak histeris, tapi anak buahnya tidak siap untuk
maju, mereka ragu karena mereka takut kepada Biauw-eng,
tiba-tiba Liu Ban-mong berguling masuk ke kelompok anak
buahnya, dia menyerang salah satu anak buahnya lalu
membunuhnya, dia juga berteriak, “Yang tidak dengar
perintahku, akibatnya akan seperti ini!”
Karena dia menyerang orang sendiri, maka Lim Hud-kiam
dan Ciam Giok-beng tidak bisa mengejarnya, mereka tetap
menjaga mulut gua bersama yang lain, merasa membunuh
anak buahnya tetap tidak ada gunanya, Liu Ban-mong
terpaku.
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Liu Ban-mong,
dari tadi kau selalu mengatakan orang-orang ini adalah teman
dan saudaramu, tapi saat menyangkut kepentinganmu, semua
kebohonganmu terlihat jelas, kau tahu di depan adalah jalan
menuju kematian, tapi kau masih memaksa mereka ke sana
untuk mengantarkan kematian mereka.”
Ooo)0d-*-w0(ooO
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
BAB 35 Hud-kiam mengeluarkan pamornya
Merebut rahasia di dalam buku
Kata-kata ini benar-benar sangat berpengaruh, dari ekspresi
wajah anak buahnya Liu Ban-mong sadar kalau dia telah
membuat suatu kesalahan besar, selama beberapa tahun dia
berusaha menarik hati orang-orang, dan sekarang semuanya
hancur dalam sekejap, tapi dia adalah orang yang sangat licik,
dalam keadaan seperti itu, dia bisa segera tenang kembali,
wajah penuh penyesalan, dia berkata kepada seorang anak
buahnya, “Cin Su-sin, maafkan aku terlalu emosi, bila
sekelompok anak muda itu pergi usaha kita akan gagal.”
Lelaki yang bernama Cin Su-sin itu menjawab dengan
dingin, “Liu Toako, itu usahamu, bukan usaha kami.”
Liu Ban-mong terpaku, “Apa katamu, usahaku adalah usaha
kalian juga, kita adalah saudara sehidup semati!”
Cin Su-sin menunjuk orang yang baru dibunuh Liu Banmong,
“Ini adalah akibat menjadi saudaramu?”
Liu Ban-mong segera menjawab, “Tadi aku tidak bisa
menguasai emosiku.”
Cin Su-sin tertawa kecut, “Kami mengkhianati Wong Jongceng,
dia tidak marah dan tidak ingin membunuh kami, tapi
kau yang begitu emosi tega membunuh anak buahmu, hal ini
membuat kami takut, karena dulu kau sangat baik kepada
kami, maka aku tidak akan membantu yang lain untuk
melawanmu, tapi aku juga tidak ingin menjual nyawaku lagi
untukmu.”
Dia mencabut pedangnya dan mematahkan pedang itu
menjadi 2 bagian, perbuatannya diikuti oleh teman-temannya,
terdengar suara senjata berbunyi, di tanah bertumpuk
pedang-pedang yang sudah patah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Cin Su-sin berkata, “Liu Toako, pertama kalinya kami
melepaskan pedang tapi kami masih percaya kepadamu, maka
begitu kau menurunkan perintah, kami akan segera
mengambil kembali pedang untuk bertarung, tapi kali ini kami
melepaskan pedang karena kemauan kami sendiri, kami tidak
akan mendengar perintahmu lagi.”
Liu Ban-mong bengong, lama tidak bersuara, Cin Su-sin
berkata kepada Wong Jong-ceng, “Tuanku, apakah racun
serangga yang kami makan tidak bisa ditawarkan?”
Jawab Wong Jong-ceng, “Tidak bisa, tapi racun serangga ini
tidak akan jadi dengan sendirinya, asal kalian jangan pergi ke
perbatasan suku Biao, tidak akan berbahaya bagi kalian.”
Cin Su-sin tertawa kecut, “Kami orang Kang-lam, untuk apa
pergi ke perbatasan suku Biao? Kalau Tuanku ada cara, lebih
baik ilmu pedang yang Tuan ajarkan kepada kami, ditarik
kembali, biar kami pulang ke kampung halaman kami dengan
selamat dan hidup seperti orang-orang biasa.”
“Tidak perlu berpikir seperti itu, ilmu pedang yang sudah
kuajarkan kepada kalian tidak akan bisa ditarik kembali, kalian
bisa dengan ilmu yang kalian pelajari mencari pekerjaan lain,
dengan kemampuan ilmu silat kalian di dunia persilatan pasti
akan ada gunanya,” kata Wong Jong-ceng.
Cin Su-sin menggelengkan kepala, “Tidak, kami belajar ilmu
pedang pada Tuanku, tapi kami malah mengkhianatinya, jadi
kami tidak pantas memanfaatkan ilmu silat ini.”
“Kalian bisa terus tinggal di Lembah Raja Pedang ini sambil
terus mengobati racun kalian,” kata Wong Jong-ceng.
Cin Su-sin tetap menggelengkan kepala, “Tidak, kami telah
mengkhianati Tuanku demi Liu Ban-mong, sekarang kami juga
mengkhianati dia, kami benar-benar tidak bisa....”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku bisa memaafkan kalian, seperti memaafkan Wong Jinjiu,”
kata Wong Han-bwee.
Cin Su-sin masih tertawa kecut, “Kami tidak sama, kami
datang kemari demi Liu Ban-mong, bukan demi Tuanku, kami
mengkhianati Tuan, masih bisa dimengerti bila ilmu ini kami
kembalikan kepada Tuan, kami benar-benar orang kerdil,
Wong Jin-jiu adalah pelayan turun temurun keluarga Wong,
dia bisa salah jalan tapi kembali lagi, tapi nasib kami tidak
sebaik nasibnya.”
Tiba-tiba Ciam Giok-beng berkata, “Cin Su-sin, kalian sudah
bersusah payah menguasai ilmu silat tingkat tinggi, bila
dibuang itu benar-benar sangat disayangkan, mengapa kalian
tidak berpikir untuk mencari pekerjaan untuk diri sendiri?
Kalian bisa mengabdikan ilmu silat kalian kepada banyak
orang, aku mempunyai sebuah cara.”
“Cara apa itu?” tanya Cin Su-sin.
“Aku bisa memberikan kalian kesempatan bekerja pada
perusahaan perjalanan Su-hai, dengan ilmu silat yang kalian
kuasai pasti bisa membuat perusahaan perjalanan Su-hai maju
pesat.”
Lim Hud-kiam tertawa, “Ini benar-benar cara yang bagus,
kalau kalian bekerja di perusahaan perjalanan Su-hai, semua
bisnis perjalanan akan jatuh ke tangan Su-hai.”
Cin Su-sin berpikir sebentar, “Bila kami keluar dari sini dan
ingin mandiri, hanya bisa bekerja di perusahaan perjalanan,
tapi apakah Biauw-eng akan melepaskan kami?”
“Betul! Bila mereka bekerja di perusahaan perjalananmu,
saudara-saudara yang menjadi perampok akan kelaparan,
kalian harus memikirkan nasib kami juga.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Apakah kecuali merampok, tidak ada jalan mencari
makan?” tanya Wong Jong-ceng.
Biauw-eng terdiam, lama baru menjawab, “Tidak ada yang
ingin menjadi perampok, beberapa orang kami yang menjadi
kepala tidak akan kelaparan, masalahnya adalah anak buah
kami.”
“Ada berapa orang?” tanya Lim Hud-kiam.
“Hanya di daerah Tiang-kang-cui-cai saja sudah ada 100
ribu saudara, mereka berkeluarga.... “jawab Biauw-eng.
“Mereka bisa mencari jalan yang benar, cari pekerjaan yang
benar,” kata Wong Jong-ceng.
Biauw-eng tertawa, katanya, “Raja Pedang, bicara itu
gampang, 100 ribu orang ditambah keluarga mereka,
jumlahnya bisa mencapai 500 ribu orang, dan mereka tidak
menguasai kepandaian apa pun selain merampok, harus
membutuhkan biaya berapa untuk menghidupi keluarga
mereka?”
Wong Jong-ceng berpikir sebentar, “Harta di lembah ini
jumlahnya ratusan ribu tail, kalian masing-masing perguruan
pasti masih punya simpanan bila dijumlahkan, aku kira cukup
untuk dibagi-bagikan.”
“Aku masih mempunyai pertambangan emas, jumlahnya
ada 100 ribu tail, kami akan menyumbangkannya, aku kira
cukup untuk mereka,” kata Yu Long.
“Toako, bagaimana bisa warisanmu digunakan?” ta^a Lim
Hud-kiam.
Yu Long tertawa, “Adik, uang itu tadinya kami siapkan
untuk diberikan kepada kedua adikku,aku kira kau pasti tidak
mau menerima uang ini, lebih baik kita pakai untuk hal yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
tepat, apa lagi uang ini adalah uang hasil rampokan ayahku,
untuk saudara-saudara perampok yang ingin menjadi orang
baik, aku kira uang ini pantas disumbangkan, sekalian untuk
menebus dosa ayahku yang sudah meninggal.”
Dengan terharu Biauw-eng berkata, “Uang sudah cukup,
walaupun masih kurang sedikit, demi rasa terima kasih kepada
kalian, aku pasti akan memaksa mereka menerimanya.”
“Cin Su-sin, apa pendapat kalian?” tanya Wong Jong-ceng.
Jawab Cin Su-sin, “Kalian begitu baik, bila kami menolak,
kami benar-benar bukan manusia, perusahaan perjalanan Suhai
adalah usaha Kian-kun-kiam-pai, kami tidak berani
menerima pekerjaan ini, hanya berharap bisa bekerja di Suhai,
itu pun kami sudah merasa sangat puas.”
Ciam Giok-beng masih ingin mengatakan sesuatu, tapi
Wong Jong-ceng sudah menyela, “Sudahlah, kita tentukan apa
yang dikatakan Cin Su-sin masalah kecil akan kita rundingkan
nanti, Biauw-eng, hancurkan lalat hijau jantan milikmu.”
Biauw-eng masih ragu, tapi Wong Jong-ceng sudah
membentak, “Jangan melawan perintahku, hancurkan!”
Biauw-eng mengeluarkan sebuah botol terbuat dari keramik
dia menggoyang botol itu kemudian menyalakan api untuk
membakar botol itu, dari botol itu keluar bau yang menyengat,
membuat orang-orang yang ada di sekeliling terus terbatukbatuk.
Tidak lama kemudian api pun padam, baunya pun mulai
menghilang, kata Wong Jong-ceng, “Cin Su-sin, pantanganmu
sudah tidak ada, asal kalian tidak pergi ke perbatasan suku
Biao, nyawa kalian tidak akan terancam, harap kalian bisa
menjaga diri.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong tertawa, katanya, “Lalat hijau begitu lihai,
apakah hanya dengan api bisa dibakar hingga mati, ilusi ini
jangan digunakan untuk menipu.”
Wong Jong-ceng dengan marah berkata kepada Biauw-eng,
“Bukalah botol itu dan perlihatkan kepada mereka!”
Biauw-eng membuka botol itu, “Kalian boleh kemari untuk
melihatnya, botol ini adalah botol yang kubuat secara khusus,
di dalamnya terbagi lagi menjadi 100 kotak, setiap kotak
tersimpan seekor lalat hijau, bila aku menusuk tutup botol ini,
lalat akan keluar dengan sendiri, aku sudah menerbangkan 12
ekor lalat, di dalam masih ada 88 kotak, berarti di dalam 88
kotak ini ada 88 bangkai lalat, karena tadi terkena panas, lalat
hijau paling takut kepada panas yang tinggi....”
Dia memberikan botol itu kepada Cin Su-sin, sesudah Cin
Su-sin menyambutnya, dia tidak melihat malah
membantingnya ke bawah, dia berkata, “Tidak perlu dilihat
lagi, aku percaya itu bukan bohong.”
Liu Ban-mong tertawa dingin, “Cin Su-sin, kau jangan
terkena tipuan mereka, bila lalat tidak mati, nyawamu akan
selalu dikuasai mereka.”
“Kami harus menerima nasib ini,” jawab Cin Su-sin.
Liu Ban-mong dengan marah berkata, “Bila aku pergi ke
perbatasan Biao untuk mencari lalat hijau, akibat kalian
mengkhianatiku, apakah sudah terpikirkan?”
Wajah Cin Su-sin berubah, “Liu Toako, kami memang tidak
mau menjual nyawa kami kepadamu, tapi kami juga tidak mau
berseberangan denganmu, jangan terus menyudutkan kami.”
Liu Ban-mong tertawa dingin, “Bukan aku yang ingin
menyudutkan kalian, tapi aku mentertawakan kalian karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kalian terlalu bodoh, lalat hijau berasal dari perbatasan Biao,
pasti kelak akan ada orang ke sana untuk menangkapnya lagi,
kemudian digunakan untuk mengancam kalian, semua ini
hanya dibuat-buat.”
“Jangan sembarangan bicara, kau kira lalat hijau ini mudah
didapatkan? Bila tidak tahu cara menangkapnya, sarangnya
pun sulit ditemukan, walaupun bisa mendapatkannya belum
tentu bisa mempertahankan ganasnya racun mereka,” kata
Biauw-eng.
“Aku kira kau sanggup menangkapnya,” Liu Ban-mong
tertawa dingin.
“Betul, tapi aku memang sanggup, kecuali aku, tidak ada
orang kedua di dunia ini yang sanggup menangkapnya, untuk
membuat kalian percaya, aku bisa membuktikannya.”
Tangan kiri dibalik, sebuah pisau belati sudah berada di
tangannya, dan langsung ditancapkan ke arah jantung, karena
yang paling dekat adalah Cin Su-sin, saat Biauw-eng
memperlihatkan botol itu kepadanya, dia belum meninggalkan
tempat itu, dengan cepat dia merebut pisau kecil itu, “Biauw
Hujin, kau tidak perlu berbuat demikian, kami percaya
kepadamu.”
Liu Ban-mong tertawa sinis tidak mengeluarkan suara lagi.
“Dengan kematian, aku ingin menyampaikan
kesungguhanku, untuk apa kau menghalangiku?” tanya Biauweng.
“Kami sungguh-sungguh percaya kepada Hujin, tidak perlu
melakukan cara seperti ini,” kata Cin Su-sin.
Biauw-eng menarik nafas panjang, “Sejak suamiku
meninggal, karena aku adalah seorang perempuan, aku tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
dianggap oleh sesama golongan hitam, terpaksa aku
meninggalkan kampung halaman dan berpisah dengan putraputriku,
untung Raja Pedang menolongku, beliau mengajarkan
ilmu pedang kepadaku dan membantuku memperoleh kembali
kepemimpinan Tiang-kang-cui-cai, budi begitu besar, aku rela
mengorbankan nyawaku, aku hanya ingin membalas sedikit
budi ini kepada beliau....”
“Masalahnya Hujin tidak perlu sampai harus bunuh diri,
jangan sembarangan menghabisi nyawa sendiri,” kata Cin Susin.
Biauw-eng menujuk Liu Ban-mong, “Aku pernah
mengatakan di dunia ini hanya aku sendiri yang bisa
menangkap lalat hijau, tapi teknik ini aku dapatkan dari
perbatasan Miao, aku percaya dukun-dukun yang ada di sana,
mungkin ada yang sanggup melakukannya, bila nanti saatwaktu
Liu Ban-mong mendapatkan cara ini kemudian dia
berusaha mencelakai kalian dan menyalahkan aku, aku akan
terus menyandang penghinaan ini selamanya, Raja Pedang
pun akan disalahkan, maka lebih baik aku mati sekarang,
kelak tidak akan ada orang yang menyalahkan ku.”
“Apakah dia mempunyai kepandaian begitu hebat?” tanya
Wong Han-bwee.
“Dia pengkhianat, tapi dia sama sekali tidak merasa takut
sedikit pun, berarti dia sudah mempunyai rencana yang
matang, hal-hal yang akan terjadi susah untuk ditebak,” kata
Biauw-eng.
“Ayah, begitu beratkah masalah ini?” tanya Wong Hanbwee.
Wong Jong-ceng menarik nafas, “Mungkin begitu, sekarang
aku sendiri yang bisa mengalahkan dia, tapi aku sudah diincar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
oleh orang aneh itu, maka aku tidak mempunyai waktu
menghadapi dia, untung aku sudah membubarkan kaki
tangannya juga berhasil mengantarkan sekelompok orang
pergi, aku kira pasti akan ada orang yang sanggup
membereskan dia, kalian harus jaga diri baik-baik.”
Liu Ban-mong tertawa terbahak-bahak, “Wong Jong-ceng,
kau benar-benar sangat mengerti situasi, kau memang sudah
membubarkan anak buahku, membuat mereka
meninggalkanku, tapi kemenangan masih berada di tanganku,
hari ini paling-paling hanya ada beberapa orang yang lolos dari
jalaku, tapi aku masih mempunyai Ceng-seng, Huang-san, dan
Ceng-hai, ketiga tempat itu mendukungku, tidak butuh 3
tahun aku jamin dunia akan menjadi milikku lagi, ingin
mengalahkanku bukan hal yang gampang.”
Nada bicara Liu Ban-mong penuh ancaman, membuat siapa
pun yang mendengarnya merasa takut, Liu Ta-su terus
mendesak, “Bun Ta-cai, apakah kau masih belum sadar?”
Bun Ta-cai menundukkan kepala, tapi Bun Tho-hoan yang
menjawab, “Liu Toako, kami sekarang seperti naik ke
punggung seekor harimau, ingin turun sudah tidak bisa kami
terpaksa harus terus maju.”
“Anak dan bapak marga Ciu sudah mati, aku tidak akan
pulang lagi ke Ceng-seng, Ceng-seng akan menjadi milik
kalian berdua, apakah itu belum cukup?”
Liu Ta-su masih terus mencoba menasihati.
Kata Bun Tho-hoan, “Liu Toako, dulu kami puas hanya
dengan Ceng-seng, sebab kami mengira di dunia ini tidak ada
yang lebih kuat dari kami, tapi dunia terus berubah kota Cengseng
sekarang hanya bagian kecil, apakah kau mengira kami
sudah merasa puas?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ta-su marah, katanya, “Kalian kira kalau kalian
mengikuti Liu Ban-mong, kalian akan sukses?”
“Kalau melihat atas, mungkin merasa tidak cukup, tapi
kalau melihat ke bawah, ini akan terasa lebih dari cukup, jika
tidak mendapat kursi nomor satu, kursi kedua pasti akan kami
dapatkan dari pada terus mengikuti kalian,” jawab Bun Thohoan.
Liu Ta-su tertawa dingin, “Berarti kalian menganggap Liu
Ban-mong akan sukses?”
“Saat kami berada di Lembah Raja Pedang selama beberapa
hari, kami sudah melihat kehebatan ilmu pedang Liu Toako,
selain Wong Jong-ceng, kami kira tidak ada orang yang bisa
menyaingi dia.”
Liu Ta-su marah, “Kalian benar-benar tidak tahu malu, aku
sama sekali tidak menyangka kalau kalian 2 bersaudara akan
berubah menjadi seperti ini.”
Bun Tho-hoan tertawa terbahak-bahak, “Liu Toako, kau
jangan hanya bisa memarahi orang lain, sebenarnya kita
orang yang sejenis, hanya saja karena kau mempunyai
seorang putri dan dia menyukai Lim Hud-kiam kau berubah
menjadi jadi lurus, begitu pula dengan Wong Jong-ceng kalau
bukan karena dia tahu Lim Hud-kiam adalah putranya, aku
yakin dia adalah orang yang sangat jahat juga sesat, untung
kami tidak mempunyai putra atau menantu yang menjadi
orang suci, maka kami tidak perlu banyak berpikir, lebih baik
selama kita masih hidup berusaha berjuang, bila sudah tua
baru berbaring di ranjang, kalau mati hanya menjadi orang
biasa-biasa saja, kita benar-benar akan merasa bersalah
kepada ilmu pedang yang kita pelajari selama hidup kita.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ta-su benar-benar marah, dia segera mencabut
pedangnya dan ingin bertarung dengan Bun Tho-hoan, Cin Susin
mengulurkan tangan, dari salah satu anak buah Wong Jinjiu,
dia mengambil sebilah pedang dan berkata, “Liu Loenghiong,
karena kami masih punya hati nurani, maka kami
tidak akan menyerang Liu Ban-mong, tapi tidak ada larangan
terhadap konco-konco-nya, maka beri kesempatan ini kepada
kami supaya kami bisa membereskannya.”
Liu Ban-mong marah, katanya, “Cin Su-sin, apakah kau
benar-benar tidak ingin hidup lagi?”
Cin Su-sin menjawab dengan lantang, “Liu Toako, kami
tidak sepertimu, kata-kata kami bisa dijadikan jaminan, kami
jamin kami tidak akan berseberangan denganmu, harap kau
jangan memaksa kami untuk melanggarnya.”
Tiba-tiba Liu Ban-mong menyerang, untung Cin Su-sin bisa
menghindar, tapi jurus pedang Liu Ban-mong benar-benar
lihai, dia menyerang lagi, Cin Su-sin tidak bisa menghindar
lagi, untung ada 2 Lo-sat yang menahan pedang Liu Banmong,
membuat dia terpaksa menarik kembali jurusnya, lalu
pedangnya dibalikan, 2 Lo-sat itu disabetmya menjadi 4
bagian.
Tindakan Liu Ban-mong membuat orang-orang menjadi
marah, sisa Lo-sat yang berjumlah 10 orang lebih langsung
mengurung Liu Ban-mong, Liu Banmong seperti tidak
mempunyai perasaan, tubuhnya berputar, pedang melayang,
tempat di mana dia lewat tampak darah berhamburan, hanya
sebentar 4-5 orang sudah menjadi korbannya.
Wong Han-bwee dengan terkejut berkata, “Ayah,
tampaknya orang itu lebih lihai darimu.” Wong Jong-ceng
menggelengkan kepala, “Dia di bawahku sedikit, tadi saat Losat
menyerang panggungku, aku sengaja mengalah, apa lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
aku telah menganggap mereka adalah anak buahku, aku tidak
mau membunuh mereka, sebenarnya ilmu silat mereka masih
terbatas, Heuw Liu-hoan pun bisa dengan mudah membunuh
mereka, apa lagi Liu Ban-mong!”
Ada 2 Lo-sat lagi yang terbunuh, sekarang Lo-sat yang
tersisa hanya 4-5 orang lagi, mereka masih terus melawan,
Heuw Liu-hoan dan Wong Han-bwee bersama-sama mencabut
pedang ingin membantu, sekarang Wong Jin-jiu pun sudah
masuk ke dalam pertarungan ini, melihat semua orang tidak
bisa menahan serangan Liu Ban-mong, Lim Hud-kiam siap
membantu, tapi Wong Jong-ceng dengan serius berkata,
“Hud-kiam, kau lihat saja dari pinggir.” Lim Hud-kiam dengan
cemas berkata, “Ayah, bila hanya melihat terus, orang yang
mati akan terus bertambah!”
Dengan serius Wong Jong-ceng berkata, “Berapa pun orang
yang mati, kau harus menunggu sampai terakhir baru
bertarung, sesudah aku bertarung kau baru bertarung, kau
harus mengingat semua perubahan jurus pedangku, mungkin
nanti kau bisa mencari kelemahan Liu Ban-mong, kalau tidak,
Liu Ban-mong sendiri bisa menjala kalian semua, ini bukan
masalah orang banyak atau sedikit, bila ilmu pedang sudah
dilatih mencapai satu tingkatan seperti itu, satu pedangnya
bisa melawan 10.000 orang, hanya orang yang berilmu lebih
tinggi darinya yang baru bisa mengalahkannya.”
Karena Wong Jong-ceng berkata begitu serius, Lim Hudkiam
tidak berani bergerak, Lo-sat pun sudah terbunuh
semua, hanya tersisa Wong Han-bwee, Heuw Liu-hoan, dan
Wong Jin-jiu yang masih terus bertarung, Kie Tiang-lim, Pui
Ciauw-jin, Ho Gwat-ji, Goan Jit-hong, dan dari lembah Lubwee
suami istri Thio In mulai bertarung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ta-su masih mengajak 2 bersaudara Bun bertarung,
Wong Jong-ceng segera berkata, “Liu Toako, orang-orang itu
biar berhadapan dengan Cin Su-sin dan kawan-kawannya, kau
dan putrimu untuk sementara berjaga sebentar, kumpulkan
tenaga untuk menghadapi Liu Ban-mong.”
Cin Su-sin dan kawan-kawan mulai mengurung Bun Ta-cai,
Bun Tho-hoan, Tiang Leng-cu, juga Lie Hoan-tay, mereka
memungut pedang-pedang yang dijatuhkan Lo-sat, Ciam Giokbeng
berkata kepada Lim Hud-kiam, “Lim Siauya, aku sedang
memusatkan pikiran untuk mempelajari jurus-jurus pedang Liu
Ban-mong, kau pun harus lebih memperhatikan perubahan
jurus pedang ayahmu, hidup atau mati, musnah atau
bertahan, semua tergantung pada kita berdua.”
Yu Bwee-nio, Yu Long, dan Biauw-eng ingin membantu, kali
ini Liu Hui-hui yang menghalangi, “Sudah cukup banyak orang,
bila kita membantu malah akan mengganggu orang kita
sendiri, kita tunggu saja bila ada yang terluka baru kita
menggantikan mereka.”
Di sana ada 9 orang dengan 10 macam senjata, mereka
mengurung Liu Ban-mong, 8 orang di antaranya
menggunakan pedang, hanya Ho Gwat-ji yang menggunakan
sepasang golok, walaupun mereka 9 orang melawan saru, tapi
tetap berada di bawah angin, pedang Liu Ban-mong seperti
pelangi selalu berada di posisi yang menguntungkan.
Jurusnya tidak cepat juga tidak mengeluarkan tenaga besar,
tapi perubahannya sangat cepat, setiap pedang yang
menyerangnya baru saja mendekati tubuhnya, dia dengan
cepat sudah membalas, dan orang yang menyerang kalau
tidak di bantu oleh orang yang disamping, tentu orang itu
akan terluka oleh pedang Liu Ban-mong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Di pihak Cin Su-sin, mereka sudah berada di atas angin,
karena ilmu silat Lie Hoan-tay paling rendah, dia sudah mati
dibacok, 2 bersaudara Bun, Tiang Leng-cu tampak saling
memunggungi, mereka membentuk pola segitiga, masingmasing
melawan serangan dari anak buah Liu Ban-mong itu.
Terdengar teriakan memilukan, karena reflek Wong Jin-jiu
lamban, Liu Ban-mong yang pura-pura menyerang Wong Hanbwee,
memancing Wong Jin-jiu mendekat, dan pedang Liu
Ban-mong sudah menembus dadanya, dia pun roboh.
Waktu tubuhnya berguling di bawah, dia melewati Ma Kiunio
yang masih tidak bisa bergerak, dan pedangnya tepat
melewati leher Ma Kiu-nio, Ma Kiu-nio digorok dengan mata
melotot, saat dia akan mati dia hanya bisa berteriak, “Kakek
tua, tidak disangka aku mati di tanganmu....”
Sepasang suami istri ini kedua-duanya mati, Wong Jongceng
menarik nafas panjang, “Sobat, waktunya sudah tiba,
dan inilah saatnya kita mulai bertarung.”
Orang aneh itu tetap seperti patung, setelah Wong Jongceng
mengangkat pedang, dia baru bereaksi, menunggu
gerakan Wong Jong-ceng.
Saat itu, Kie Tiang-lim sudah terkena bacokan Liu Banmong
di pundak kanannya, untung gerakan Wong Han-bwee
cepat, dengan susah payah dia memaksa Liu Ban-mong
menarik kembali pedangnya, nyawa Kie Tiang-lim pun bisa
diselamatkan, tapi bajunya penuh dengan darah, saat dia
memindahkan pedang ke tangan sebelahnya lagi dan ingin
bertarung, Ciam Giok-beng memaksanya berhenti, dia berkata
kepada Liu Hui-hui yang siap mengganti posisi Kie Tiang-lim,
“Nona Liu, belum waktunya kau turun tangan, orang di sini
sudah cukup banyak, 4 orang saja sudah cukup.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng berhenti mengeluarkan jurus dan berkata,
“Kata-katanya benar, orang banyak memang bisa saling
menolong tapi bisa membuat orang sendiri sulit
mengembangkan jurus masing-masing, Han-bwee dan Liuhoan,
berhenti dulu!”
“Mengapa harus kami yang berhenti?” tanya Wong Hanbwee.
Wong Jong-ceng tertawa tipis, “Bukan aku egois, ilmu
pedang kalian Liu Ban-mong sangat hafal, dia lebih
berpengalaman dibandingkan kalian, kalau kalian berada
dalam pertarungan, dia akan sering menggunakan kekurangan
kalian untuk memancing orang lain menyerangnya, tadi Wong
Jin-jiu mati karena alasan itu, Ho Lihiap pun berhentilah dulu,
sebab kedua golokmu hanya cocok bertarung satu lawan satu,
kalau seperti bertarung seperti sekarang malah akan membuat
orang lain menjadi terganggu, sama saja dengan membantu
lawan.”
Raja Pedang benar-benar menguasai ilmu yang tinggi,
penelitian dan penjelasannya sangat masuk akal, ternyata
benar, sesudah Wong Han-bwee, Ho Gwat-ji, dan Heuw Liuhoan
mundur, yang tersisa hanya 4 orang masing-masing
menguasai satu arah, walaupun tidak bisa menang, tapi
kekuatan mereka juga tidak berkurang.
Cin Su-sin sudah berhasil membacok putus sebelah tangan
Bun Tho-hoan, tapi dia tidak kejam dan langsung membunuh
Bun Tho-hoan, hanya mengusirnya ke pinggir, tapi saat Liu
Hui-hui ingin membalut luka Bun Tho-hoan, dia malah
didorong dan berteriak, “Pergi, pergi jauh sana, aku tidak
butuh bantuanmu, aku bisa mengurus diriku sendiri!!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Paman Bun, kita memang tidak sejalan, tapi hubungan kita
dari dulu baik-baik saja, lukamu bila tidak dibalut akan
kehilangan banyak darah dan kau akan mati.”
Bun Tho-hoan tertawa sedih, “Tangan kananku sudah
putus, untuk apa mempertahankan nyawaku lagi? Nyawa
seorang pesilat pedang adalah pedang, sekarang aku tidak
bisa menggunakan pedang lagi, untuk apa bertahan hidup?”
“Kecuali pedang, Paman masih bisa melakukan banyak hal!”
kata Liu Hui-hui.
Bun Tho-hoan tertawa dingin, “Aku masih bisa melakukan
apa? Selama beberapa tahun ini aku selalu hidup di bawah
bayang-bayang orang lain, saat di Ceng-seng aku berada di
bawah bayang-bayang 3 ketua, aku tidak bisa menonjol, maka
aku pergi ke Tibet untuk belajar ilmu pedang, sesudah kembali
ke Ceng-seng aku ingin berusaha lagi, tapi kakakku terlalu
lemah, kekuasaan sudah diambil oleh Ciu Giok-hu, aku
terpaksa bersabar menunggu kesempatan datang, dengan
susah payah aku menunggu kalian marga Liu pergi dari Cengseng,
aku tinggal di Ceng-seng karena ingin dengan pelan
mengikis kekuatan Ciu Giok-hu.”
“Paman Bun, tidak disangka kau mempunyai keinginan
seperti itu!” Liu Hui-hui terkejut.
Dengan dingin Bun Tho-hoan berkata, “Kau kira aku seperti
apa?”
Liu Hui-hui tidak bisa menjawab, Bun Tho-hoan berkata
lagi, “Sejak ada perebutan plakat dunia persilatan, aku sudah
tahu kalau kesempatanku sudah datang, maka aku bergabung
dengan Tiang Leng-cu, sengaja menyuruh Ciu Giok-hu ikut,
kalau bukan karena tiba-tiba terjadi sesuatu, dari awal aku
berhasil menghancurkan kekuatan keluarga Ciu, kemudian aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
berkenalan dengan Liu Ban-mong, dan berusaha menarik Ciu
Giok-hu menggunakan bermacam kesempatan, membunuh dia
dan putranya, dan sepertinya Ceng-seng sudah berada di
dalam genggamanku, tidak di sangka sekarang terjadi hal
seperti ini, apakah nasibku sudah ditentukan, aku tidak bisa
lebih kuat dari orang lain?”
“Paman Bun, sesudah Ciu Giok-hu dan putranya mati,
Paman adalah penguasa Ceng-seng, mengapa Paman harus
membantu Liu Ban-mong?”
Bun Tho-hoan tertawa terbahak-bahak, “Pertanyaan yang
bagus, sebetulnya aku tidak ingin membantunya, tapi aku
tidak mempunyai pilihan lain, karena kalian tidak sanggup
menghadapi Liu Ban-mong aku tidak ingin kekuasaan yang
baru kudapat hilang lagi dari genggamanku.”
Liu Hui-hui terpaku, “Sampai sekarang kau masih
menganggap Liu Ban-mong akan berhasil?”
“Betul, dia berhasil mendapatkan seseorang untuk melawan
Wong Jong-ceng, maka posisinya tidak terkalahkan, jangan
merasa karena jumlah kalian lebih banyak maka berada di atas
angin, kemenangan ini tidak akan terlihat kalau belum
berakhir....”
Sesudah mengatakan ini karena terlalu banyak darah yang
keluar dia jatuh dan terduduk di bawah, karena dia terjatuh
membuat perhatian kakaknya, Bun Ta-cai terganggu, dan
pedang Cin Su-sin pun datang menembus lehernya, Bun Tacai
roboh tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, sekarang
hanya tersisa Tiang Leng-cu, dia memang berhasil membunuh
2 orang teman Cin Su-sin, tapi karena pesilat itu jumlahnya
banyak, segera yang lain datang lagi sepertinya Tiang Leng-cu
tidak akan bisa bertahan lama.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Kematian Bun Ta-cai membuat kesedihan Bun Tho-hoan
bertambah, dia berusaha duduk dan berteriak, “Liu Toako,
mengapa sampai sekarang kau masih tidak mau mengeluarkan
jurus-jurus mautmu?”
Walaupun Liu Ban-mong dikepung dan diserang oleh 4
orang, dia tetap tenang, dengan santai dia berkata, “Tidak!
Sebelum Wong Jong-ceng roboh, aku tidak akan
mengeluarkan jurus ini, sebab bila terlihat olehnya dia segera
dengan cepat akan memikirkan cara untuk mengatasinya....”
Orang aneh yang berhadapan dengan Wong Jong-ceng
karena Wong Jong-ceng berhenti bergerak, dia juga berhenti,
tidak menyerang dan diam menunggu, Bun Tho-hoan dengan
cemas berteriak, “Apa yang ditunggi orang aneh itu, cepat
suruh dia bergerak!”
Liu Ban-mong menghembuskan nafas panjang, “Aku pun
berharap dia bisa dengan cepat menyelesaikan Wong Jongceng,
tapi aku tidak bisa memberitahunya.”
Bun Tho-hoan lebih cemas lagi, dia segera berteriak, “Pasti
ada cara untuk menyampaikannya!”
“Tidak ada cara lain, dia hanya akan berhadapan dengan
Wong Jong-ceng, dia yang memilih caranya sendiri, kecuali
Wong Jong-ceng menyerang dulu dia akan bergerak, kalau
tidak, dia tidak akan mau menyerang.”
Tiba-tiba Bun Tho-hoan mengambil sebilah pedang yang
tergeletak di bawah, dengan sisa tenaga yang ada, dia
menyerang Wong Jong-ceng, tidak ada yang menyangka dia
akan melakukan hal ini, maka tidak ada yang siap
menghalanginya, Wong Jong-ceng pun tidak menyangka,
serangan itu sangat keras, terpaksa Wong Jong-ceng
mengayunkan pedang untuk menahan, tapi baru saja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
pedangnya bergerak pedang orang aneh itu ikut bergerak, dia
ikut menyerang.
Melihat situasi menjadi seperti itu, Wong Jong-ceng merasa
serangan orang aneh itu lebih kuat, tapi dia juga tidak bisa
menghindari serangan Bun Tho-hoan, dalam keadaan
terpaksa, tubuhnya mengikuti ayunan pedang, setelah
menangkis pedang Bun Tho-hoan, tangan kirinya menarik
tangan Bun Tho-hoan dan mendorongnya ke depan orang
aneh itu.
Orang aneh itu merasa tiba-tiba ada yang mendekatinya,
dia menyambut dengan pedangnya, dengan cepat tubuh Bun
Tho-hoan disabetnya menjadi 2 bagian, karena terlalu mudah
berhasil, dia segera mengerti orang tadi itu bukan Wong Jongceng,
dia berhenti sebentar, dia berteriak, “Wong Jong-ceng,
kau benar-benar kejam, kau memperalatku membunuh orang,
aku tidak akan sungkan lagi kepadamu!”
Sepertinya gara-gara salah membunuh Bun Tho-hoan, dia
jadi marah, sekarang dia tidak seperti tadi lagi, diam dan
menunggu, sekarang dia mulai bergerak menyerang Wong
Jong-ceng, cahaya pedangnya berkelebatan, serangannya
benar-benar lihai, Wong Jong-ceng jadi kerepotan, dengan
susah payah akhirnya dia bisa mengatasi keadaan, tapi sejak
orang aneh itu mulai menyerang karena serangannya gencar
membuat Wong Jong-ceng harus dengan sepenuh hati menghadapinya
dan dia pun tidak ada waktu untuk bicara.
Kedua orang itu adalah dua orang pesilat pedang tangguh,
ilmu pedang dan kehebatannya tidak terlukiskan, boleh
dikatakan sudah melewati batas yang ada.
Ilmu pedang mereka berdua saat menyerang tetap siap
bertahan, di saat bertahan bisa berubah menjadi menyerang
secepat kilat, setiap kali mengeluarkan jurus, selalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
menyerang juga bertahan, jurus pertama untuk mengatasi
serangan yang datang kemudian berusaha membalas
menyerang, hanya sebentar mereka sudah bertarung
beberapa puluh jurus.
Pertarungan terjadi di 3 tempat, yang paling menarik
perhatian adalah tempat-tempat ini, kecuali beberapa orang
yang bertarung dengan Liu Ban-mong dan Tiang Leng-cu,
mata semua orang tertuju pada pertarungan kedua orang itu,
ilmu pedang mereka hebat, membuat yang melihat
mengeluarkan pujian, memang kemampuan dan pengertian
teknik ilmu pedang setiap orang tidak sama, tapi kecuali kata
'sangat bagus' tidak ada yang sanggup mengeluarkan katakata
lain, sebab selain mereka sangat bagus, mereka tidak
bisa memberikan komentar yang lain.
Yang paling merasakannya adalah Ciam Giok-beng, dia
menarik nafas panjang, “Dari kecil aku belajar ilmu pedang
dari guruku, sampai sekarang sudah berlangsung 70 tahun,
aku merasa aku sudah mendapatkan sedikit jalan ilmu pedang,
tapi setelah melihat pertarungan ini, aku baru sadar kalau aku
benar-benar masih jauh bila dibandingkan dengan mereka,
seperti satu sendok air di tengah samudra, seperti sebutir batu
kecil di dalam Tai-san....”
Liu Ta-su ikut berkata, “Karena Wong Jong-ceng adalah
Raja Pedang, ilmu pedangnya pasti nomor satu, tapi orang itu
tiba-tiba bisa muncul, dia buta juga tuli, orang cacat yang bisa
berlatih sampai tingkat seperti ini, benar-benar tidak
terbayangkan!”
Tapi Lim Hud-kiam berkata, “Paman Liu, pengamatan Anda
tidak cukup cerdas, orang ini tidak buta juga tidak tuli, dia
buta dan tuli oleh orang lain.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Betul, dia bisa bicara, orang yang benar-benar tuli pasti
bisu, tapi karena dia tidak bisa mendengar, maka dia
kehilangan kemampuan bicara, dari sini dapat diketahui dia
pura-pura bisu dan tuli.”
Tapi Lim Hud-kiam malah menggelengkan kepala, “Hui-hui,
kau juga salah, sekarang dia benar-benar tidak bisa
mendengar juga tidak bisa melihat, dia hanya mencocokkan
pendengaran dan matanya, membuat telinga dan matanya
tidak berfungsi.”
“Mengapa harus seperti itu?” Liu Hui-hui terkejut.
“Jika ilmu pedangnya menggunakan perasaan, dia berada di
bawah ayahku, hanya dengan cara seperti itu, baru bisa
menutupi kekurangannya dan bertarung seimbang dengan
ayahku,” jelas Lim Hud-kiam.
“Aku tidak mengerti, ilmu pedang ada 'Sam-to' (3 hasil
gerakan) yaitu Gan-to (mata), Ji-to (telinga), Sim-to
(perasaan), jika mata ditutup, telinga disumbat apakah tidak
akan menajamkan perasaan?” tanya Liu Hui-hui.
“Betul, mata melihat, telinga mendengar, hanya akan
mencapai ilmu pedang biasa, awal belajar ilmu silat mata yang
menjadi penunjuk, mata melihat penuh konsentrasi,
ditingkatkan lagi bisa merasakan angin dan mengetahui
bayangan, sampai di tingkat tertinggi semua mengandalkan
perasaan saat menggunakan pedang, mengandalkan perasaan
mengetahiu gerakan dan refleks musuh, ayahku sudah bisa
mencapai tahap di mana mata tidak perlu melihat, telinga
tidak perlu mendengar, tapi orang ini masih kurang sedikit, dia
takut melihat dan telinga yang mendengar akan mengganggu
gerakannya, maka dia menutup mata dan telinganya rapatrapat
supaya tidak terganggu oleh perubahan ilusi.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ta-su berkata, “Hud-kiam, dari mana kau belajar
tentang ini?”
“Ini adalah ajaran Hoan Lam-huang, saat dia membuang
nama Lok Su-hoan dan dia sesudah mendapatkan rahasia
dalam plakat dunia persilatan.”
Ciam Giok-beng menarik nafas, “Adik Lok benar-benar
sangat berbakat dalam ilmu pedang, hanya sayang guruku
tidak mengerti sifatnya dan selalu mengekangnya, membuat
dia menjadi begitu fanatik, kalau dia tidak fanatik, dia bisa
meneliti ilmu pedang perguruan kami dan pasti akan membuat
ilmu Tay-lo meningkat menjadi lebih sempurna.”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Ciam Cianpwee, aku tidak
ingin menjelek-jelekkan Sute Anda, tapi guru Anda Siau Locianpwee
memang kurang berjiwa besar, dia tahu Lok Suhoan
berbakat luar biasa, dia iri kepada bakatnya, maka
sengaja menekan bakat-nya....”
Ciam Giok-beng tidak setuju, katanya, “Guruku bukan orang
seperti itu, dia selalu berusaha mengangkat muridnya,
mungkin karena Adik Lok selalu mempunyai hawa membunuh,
terpaksa Taylo-kiam-hoat tidak diwariskan kepadanya, di masa
tuanya guruku selalu menyesali masalah ini, apa lagi saat
beliau mewariskan Tay-lo-kiam-hoat yang tidak sempurna
kepadaku, beliau sempat berkata, “Bila Adik Lok yang
mempelajarinya, pasti akan membuat Tay-lo-kiam-hoat
bertambah maju, karena kau kurang berbakat maka hasilnya
tidak akan sempurna....”
“Berarti Siau Lo-cianpwee sampai akhir pun tidak ingin
mengajarkan Tay-lo-kiam-hoat kepadanya?”
“Itu hukumannya karena dia tidak mau mendirikan
perusahaan perjalanan, sehingga guru dan Adik Lok
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
bertengkar hebat, dia pergi tanpa pamit, dan tidak ingin
bertemu lagi dengan kami, saat guruku sakit parah dan
keadaannya gawat, beliau masih selalu berharap dia kembali,
asal dia mau kembali, guruku akan memaafkan dia, dia tahu
guru sakit parah dan sedang sekarat, tapi dia tetap tidak
pulang untuk menengok guruku, maka guruku membuat
wasiat seperti itu.”
Lim Hud-kiam tertawa, “Tapi pola pikir Lok Su-hoan bukan
seperti itu, dia takut pulang karena takut Siau Lo-cianpwee
akan mem-bunuhnya.”
Ciam Giok-beng kesal, “Kalau Adik Lok mempunyai pikiran
seperti itu, itu kurang ajar namanya!”
“Tidak juga, Lok Su-hoan mendengar perkataan itu, dia
tahu guru Anda bukan hanya akan satu kali memojokkan dia
dan menghalanginya untuk maju.”
“Bukan seperti itu,” kata Ciam Giok-beng.
“Ilmu pedang yang dia pelajari dari guru Anda sangat
sedikit, kebanyakan dia mendapatkannya dari Ciam Cianpwee,
guru Anda selalu menyuruh dia melakukan latihan yang
menghabiskan waktu dan sangat melelahkah, tapi tidak
berguna, sebuah jurus pedang yang sangat biasa selalu
berkali-kali disuruhnya berlatih,” jelas Lim Hud-kiam.
“Karena guruku ingin melatih kesabarannya, aku pun sama
seperti itu cara berlatihnya.”
“Terhadap orang pintar dan berbakat, cara belajar seperti
ini salah besar, guru Anda punya julukan Kian-kun-it-kiam, dia
takut bila dia masih hidup ada orang bisa melebihi ilmu
silatnya, dengan bakat Lok Su-hoan bila guru Anda
mengajarinya dengan tekun, tidak perlu waktu 10 tahun dia
akan segera melebihi guru Anda, guru Anda mengetahui
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
tentang ini maka beliau sengaja menyulitkan dia, sesudah Siau
Lo-cianpwee meninggal, dia pernah ke sana untuk
mengucapkan bela sungkawa, saat memandikankan
mayatnya, di dalam lengan baju guru Anda masih tersimpan
sebuah pisau belati, apakah ini benar?”
“Memang itu adalah benda yang selalu dibawa guru.”
Lim Hud-kiam tertawa, “Sebenarnya saat Siau Lo-cianpwee
sakit, Lok Su-hoan pernah pulang, dia tidak menemui guru
Anda dengan terang-terangan, dia bersembunyi dan melihat,
setiap kali saat tidak ada orang, guru Anda selalu
mengeluarkan pisau belati itu untuk melatih sebuah jurus
menusuk orang, jurus ini diciptakan untuk menghadapi Lok
Su-hoan.”
“Itu adalah salah satu jurus pedangnya, aku sering
melihatnya, Adik Lok terlalu curiga.”
“Katanya posisi untuk menusuk orang tepat berada di
depan ranjang dengan jarak sekitar setengah meter, cara
yang dipakai guru Anda adalah tangan dikeluarkan tapi tidak
dihadang, kemudian mengangkat tangan dan menyerang,
dalam jurus pedang sama sekali tidak ada jurus seperti ini,
jurus ini digunkan untuk membunuh orang berlutut di depan
ranjang, waktu itu Ciam Cianpwee dan Paman Ciu selalu
berada di depan ranjang mengurus guru Anda, jadi tidak perlu
sampai berlutut, hanya kalau Lok Su-hoan pulang dia harus
berlutut, jurus ini bukankah diciptakan oleh guru Anda untuk
menusuknya?”
Ciam Giok-beng terdiam, dalam ingatannya dia memang
pernah melihat Siau Pek berlatih jurus ini saat tidak ada orang,
hanya saja dia tidak terpikir apa maksud gurunya, sekarang
mendengar cerita Lim Hud-kiam, dia merasa semua itu sangat
mungkin, tapi sedari kecil dia sudah terbiasa menghormati
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Siau Pek, maka dia tetap tidak mau mengakuinya kalau
gurunya orang seperti itu.
Lim Hud-kiam masih terus bercerita, “Lok Su-hoan sangat
membenci guru Anda, kalau bukan karena budi Ciam
Cianpwee kepadanya, cara membalas dendamnya bukan
hanya menyuruhku mengacaukan perusahaan perjalanan Suhai
saja, untung Kian-kun-kiam-pai didirikan oleh Ciam
Cianpwee, kalau tidak, dia tidak akan mengijinkan Kian-kunkiam-
pai berdiri di dunia ini.”
Ciam Giok-beng menarik nafas, “Guruku memang sedikit
kejam kepadanya, tapi ada pepatah mengatakan, satu hari
menjadi gurunya, seumur hidup akan dianggap seperti ayah,
Adik Lok terlalu fanatik.”
“Jangan salahkan dia, sampai mati pun Siau Lo-cianpwee
tidak akan memaafkan dia, karena gurunya yang terlebih dulu
menurunkan wibawanya, dulu tidak terjadi tindakan murid
membunuh guru, dia sudah cukup bersabar, karena saat Siau
Lo-cianpwee menerimanya menjadi murid dia sudah
mempunyai keinginan tidak benar, dengan bakat Lok Su-hoan,
walaupun tidak masuk Kian-kun-it-kiam, tapi kelak Lok Suhoan
akan melebihi dia, guru Anda paling takut akan hal ini,
maka dia terpaksa menerimanya menjadi murid dan
mengekang dia untuk berkembang, sesudah Lok Su-hoan
mendapatkan rahasia plakat dunia persilatan, dia bertambah
benci kepada guru Anda, kalau bukan karena guru Anda
membawanya ke jalan yang salah, telah menghabiskan tenaga
berlatih ilmu silat yang tidak berguna, itu sudah mengkekang
kemajuannya, dia pun tidak akan tersesat.”
Ciam Giok-beng benar-benar tidak kuat lagi mendengar
orang lain menghina gurunya, dia balik bertanya dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
marah, “Apakah ini kata-kata Lok Sute? Atau Lim Siauya
sendiri yang menebaknya?”
“Tantu saja ini kata-kata Lok Su-hoan!”
“Tapi sesudah 25 tahun aku bertemu kembali dengannya,
dia tidak berkata seperti itu, dia sangat berterima kasih atas
budi perguruan, dia juga berkata, 'Sekarang aku baru
mengerti apa yang diajarkan oleh guru, sebenarnya apa yang
telah terjadi?'.”
Lim Hud-kiam terpaku, “Apakah dia berkata demikian?”
“Aku marga Ciam bukan orang yang suka sembarangan
bicara!”
“Aku pun bukan orang yang suka membuat gosip, orang ini
bicara depan dan belakang saling bertolakan, apa
maksudnya?”
Liu Ta-su yang berada di sisi berkata, “Pertarungan pedang
begitu sengit, kalian tidak melihatnya untuk apa terus
membicarakan mengenai hal ini? Hud-kiam, bukankah ayahmu
menyuruhmu melihat dengan penuh perhatian?”
“Aku sedang melihat, tapi tidak bisa terlalu perhatian,
karena perubahan mereka terlalu cepat, kalau terlalu
perhatian akan membuat diri sendiri tenggelam, dengan
begitu kita malah tidak akan mendapatkan apa-apa, aku bicara
sambil melihat, mungkin bisa ingat sedikit-sedikit.”
“Aturan sesat apa ini?” tanya Liu Ta-su.
“Paman Liu, ini adalah kenyataan, kalau tidak percaya
Paman boleh mencobanya, mereka bertarung melewati apa
yang sudah dikuasai manusia, kalau sekali-kali melihat masih
bisa mengerti, tapi kalau terus melihat karena kita belum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mencapai taraf itu, mungkin sedikit hasil pun tidak berhasil
didapatkan.”
Liu Hui-hui dengan cepat berkata, “Ayah, ini sangat masuk
akal, seperti anak kecil yang bersekolah, memulai sekolah
membaca dan mengenal huruf, tapi kalau harus mengetahui
aturan-aturan buku, mungkin seumur hidup dia tidak akan
menguasainya, pertarungan kedua orang ini ilmu pedang
mereka sudah berada di luar pengetahuan kita, kita hanya
bisa melihat, mengingat, bila harus meneliti, itu tidak
mungkin.”
Setelah dipikir-pikir oleh Liu Ta-su, semua masuk akal juga,
maka dia mengubah cara, hanya mengingat perubahan
mereka, tidak mencari tahu mengapa, setelah 10 jurus lebih
berlalu, mereka tahu perubahan ilmu pedang Wong Jong-ceng
dan orang aneh itu, ada aturan tertentu mereka tidak
sembarangan bertindak, pelan-pelan Lim Hud-kiam dan yang
lain mulai mendapatkan sedikit jalan untuk ilmu pedang
mereka, dia berkata, “Benar, Hud-kiam, kau benar-benar
pintar, apa yang kau dapatkan?”
“Tidak banyak, tapi aku sudah mengetahui arah mereka,
kelak bisa pelan-pelan dipelajari, mungkin akan mendapat
lebih banyak lagi,” jawab Lim Hud-kiam.
“Menurutmu, berapa banyak kesempatan ayahmu bisa
menang?”
Lim Hud-kiam menarik nafas, “Masih terlalu awal dijawab,
harus lebih dari seratus jurus baru bisa memperkirakannya.”
Liu Ta-su terkejut, “Apa? Belum sampai 100? Mereka
bertarung mungkin sudah ada 200-300 jurus sudah ada.”
“Betul, bertarung memang banyak gerakannya, tapi
jurusnya tidak seberapa, apa lagi mereka sering mengulang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
jurus dan dubah sedikit, untuk menguji reflek lawan,
sebenarnya jurus yang mereka pakai belum lewat dari 30
jurus.”
Orang-orang yang melihat dari pinggir merasa silau
matanya dan lelah, mereka pun mengira ratusan jurus sudah
lewat, mendengar kata-kata Lim Hud-kiam, mereka baru sadar
dan terkejut, ternyata dari tadi mereka hanya seperti
menonton sebuah pertunjukan ramai, jurus yang dipakai
kedua orang itu sama sekali tidak terlihat, mereka tidak bisa
memberikan pendapat. Liu Ta-su bertanya, “Hud-kiam, kau
sudah mengerti banyak jurus, apakah kau sanggup
mengalahkan Liu Ban-mong?”
Lim Hud-kiam melihat ke arah Liu Ban-mong lalu
menjawab, “Belum bisa!”
“Belum bisa? Aku benar-benar tidak percaya orang itu
benar-benar kuat, dia memang bisa melawan 4 pesilat tinggi,
tapi ilmu silatnya tidak terlihat sangat istimewa.”
Lim Hud-kiam menarik nafas, “Jangan mengambil
kesimpulan dari sini.”
“Dari mana kita bisa mengambil kesimpulan kalau begitu?”
“Dari sikap Liu Ban-mong, dia memang sedang bertarung,
tapi perhatiannya tetap berada di sini, sekarang dia dikepung
oleh 4 orang, tapi dia tetap tenang dan tidak terlihat kacau,
berarti dia sudah hafal dengan perubahan jurus ini.”
“Kalau begitu kita harus membuat jurus pedangnya menjadi
kacau, itu adalah celah dan kekurangannya bukan?”
Lim Hud-kiam tertawa, “Jurus pedang Liu Ban-mong
menang dari 4 orang, dia tidak akan kacau, sekarang dia
hanya menggunakan kesempatan untuk menenangkan diri,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
dan sekalian untuk melihat-melihat, bila dia tiba-tiba
menyerang dengan cepat dan ingin memenangkan
pertarungan ini, berarti pertarungan di sana ada jurus pedang
yang membuatnya menjadi perhatian.”
Liu Ta-su tertawa, “Aku mengerti sekarang, saat itu kita
harus berusaha mengacaukan dia, tidak memberi kesempatan
padanya untuk belajar.”
Lim Hud-kiam mengangguk, “Cara ini adalah cara yang
sangat bagus, tapi itu sangat berbahaya bagi Paman, karena
dia ingin cepat menang, maka dia tidak mau diganggu oleh
orang lain.”
Ciam Giok-beng berkata:”Tuan Muda Lin tidak perlu
khawatir, ayahmu sudah menyuruh murid-muridku pergi,
maksudnya adalah meminta kami untuk membantu, Kian-kunkiam-
pai sudah ada penerusnya, maka aku tidak ada
kekhawatiran lagi, dan sekarang adalah waktunya bagi kami
untuk membantu.”
Baru saja dia bicara, tiba-tiba pedang Wong Jong-ceng
menjadi cepat, dia membentak:”Hud-kiam, lihat dengan jelas
beberapa jurus ini, terutama perhatikan perubahan lawan dan
refleknya, ingin mengalahkan Liu Ban-mong, semua jurus
berada di sini.”
Wong Jong-ceng mengeluarkan beberapa jurus, jurusnya
sangat cepat, perubahannya sangat aneh, orang aneh itu
segera berada di bawah angin, sepertinya dia sulit untuk
bertahan lagi, setiap kali dia berada dalam bahaya, dia buruburu
menghindar, bajunya sobek di beberapa tempat karena
terkena angin pedang, dia juga terluka ringan, tapi dia tetap
rajin mengayunkan pedang, penjagaannya mulai minim, dia
mulai kehilangan kesempatan untuk menyerang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong mulai memperhatikan ke arah sana, tiba-tiba
jurusnya bertambah cepat, membuat Pui Ciauw-jin dan Goan
Jit-hong, juga suami istri Zhong Yuan terus mundur, Pui
Ciauw-jin dan istri Thio In terluka, yang satu terluka di tangan,
yang satu terluka di pundak, tapi Liu Ban-mong tidak
mengejar atau membunuh mereka, dengan tenang dia
meneliti jurus-juurs Wong Jong-ceng, terlihat dia sangat
senang juga terkejut.
Ciam Giok-beng dan Liu Ta-su sudah siap sedari tadi,
mereka bersama-sama maju sambil membawa pedang,
menggantikan posisi Pui Ciauw-jin dan istri Thio In, mereka
tidak memberi waktu kepada Liu Ban-mong untuk melihat lagi.
Tadinya Liu Ban-mong tidak peduli siapa orang baru yang
menggantikan orang lama, tapi sesudah beberapa jurus
berbahaya terus muncul, apa lagi serangan Liu Ta-su tiba-tiba
keras membuatnya kalang kabut, dia sedikit ceroboh membuat
pundaknya terkena pukulan.
Karena itu dia marah besar, dia benci dengan masuknya
kedua orang hingga mengganggunya perhatian kepada jurusjurus
Wong Jong-ceng, dia membentak, “Kalau kalian mencari
mati, biar aku akan membunuh kalian lebih dulu!”
Jurus pedangnya semakin kencang, dalam terpaan angin
pedang terlihat titik-titik pedang berada di sana sini, seperti di
dalam kegelapan menyalakan sebuah lampu besar, dari lampu
berpijar kembang api dengan cepat, sulit untuk mendekat
lebih-lebih sulit untuk menghindar, Liu Ta-su, Goan Jit-hong,
dan Thio In terpaksa mundur, hanya Ciam Giok-beng dengan
Tay-lo-kiam-hoat bisa menahan serangannya.
Orang aneh itu akhirnya kalah oleh jurus pedang Wong
Jong-ceng karena tidak sempat menghindar, pedang Wong
Jong-ceng menembus jantungnya, dari mulutnya keluar suara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
memilukan kemudian dia roboh, dengan senang Wong Jongceng
bersiul panjang juga dengan nada gembira dia berkata,
“Sejak aku menikah dan tinggal di Lembah Raja Pedang
mengganti nama menjadi Wong Jong-ceng, setiap hari saat
aku meneliti ilmu pedang, aku percaya aku menjadi nomor
satu di dunia ini, maka aku berani menyebut diri sendiri
sebagai Raja Pedang, dan ilmu orang ini bisa bersaing
denganku, bila saat terakhir aku tidak menggunakan jurus
andalanku, aku benar-benar tidak akan bisa mengalahkan
dia.”
Lim Hud-kiam dan lain-lain segera datang menghampirinya,
pertarungan Ciam Giok-beng dengan Liu Ban-mong karena
kemenangan Wong Jong-ceng membuat mereka mulai tidak
takut kepada Liu Ban-mong, serangan mereka mulai
melonggar, hanya dari jarak jauh mengurungnya, Tiang Lengcu
dikepung oleh beberapa pesilat anak buah Liu Ban-mong,
kemudian berhasil ditaklukkan, Cin Su-sin menotok nadinya
juga mengikat tangannya, semua orang berkumpul dan
bersyukur bahaya sudah berlalu.
Wong Han-bwee paling gembira, dia menarik kedua tangan
ayahnya, “Ayah, kau benar-benar hebat, apa lagi jurus-jurus
terakhir, benar-benar hebat!”
Wong Jong-ceng menarik nafas, “Memang beberapa jurus
pedang itu bagus, tapi bila aku tidak terpikir jurus khusus ini,
aku tetap tidak akan bisa mengalahkan dia.”
“Ayah, cara khusus seperti apa yang kau maksud?” tanya
Wong Han-bwee.
Wong Jong-ceng tertawa sambil menunjuk orang aneh ini,
“Ilmu pedangnya tidak berbeda jauh denganku, tapi dia
menutup mata dan telinganya, semua mengandalkan perasaan
seorang pesilat pedang dalam bertarung, maka dia bisa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mengambil keuntungan, karena itu dia bisa menghindari jurusjurus
palsu dan ilusiku, dia tidak akan kehilangan
konsentrasinya, dalam jurus pedangku kebanyakan adalah
jurus palsu disusul dengan jurus sebenarnya, pertama dengan
jurus palsu membuat lawan salah perhitungan, baru
mengambil kesempatan menyerang dengan jurus sebenarnya
untuk menyerang musuh cara ini sama sekali tidak
mengganggunya karena itu membuatku lelah.”
“Ayah, apa cara khususmu itu?”
Wong Jong-ceng tertawa, “Aku tahu jurus pedangku banyak
kekurangan juga tahu bila bertemu keadaan seperti ini harus
mempunyai cara tersendiri untuk mengatasinya, maka aku
berlatih beberapa jurus pedang, sementara ini dinamakan 'Bueng-
kiam-hoat' (Ilmu pedang tanpa bayangan).”
“Apa yang disebut dengan Bu-eng-kiam-hoat?”
“Dari namanya saja bisa tertebak artinya, yang pasti tidak
ada bayangan, tidak ada jejak, juga sulit diperkirakan.”
“Tapi jurus-jurus Ayah tadi terlihat ada arah ada juga yang
lainnya, hanya saja perubahannya sangat cepat.”
Wong Jong-ceng tertawa, “Beberapa jurus itu, aku
menciptakan sendiri, tidak ada dalam kamus juga tidak ada
dalam buku perguruan mana pun, saat mengeluarkan jurus,
pedang sama sekali tidak perlu mengeluarkan tenaga,
kecepatannya sangat cepat tapi caranya pelan, awalnya lawan
tidak merasakannya, begitu pedang mengenai tubuh baru
terasa, maka dia tidak siap untuk menangkis.”
“Caranya memang bagus, hanya tenaga kurang cukup...”
kata Lim Hud-kiam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng mengangguk sambil tertawa, “Benar, kau
benar-benar melihat dengan teliti, berarti kau sudah
mendapatkan jalan, jurus pedangku ini tujuannya adalah
menghancurkan pikiran musuh, bukan untuk melukai lawan,
karena itu hanya akan membuat tubuhnya terluka ringan, tapi
manfaatnya sangat besar, dia berkali-kali terluka, maka
kehilangan kepercayaan diri pada kemampuan ilmu silatnya,
membuat semangat berjuangnya hilang semua, juga hilang
ketenangan yang dari awal sudah ada, akhirnya akan muncul
celah-celahnya juga terkena tusukan menembus jantung itu.”
Melihat orang aneh yang tergeletak di bawah dari
punggungnya terus keluar darah segar, sepertinya dia sudah
tidak bernafas, Wong Jong-ceng dengan aneh berkata, “Ilmu
pedang orang ini sangat tinggi, dia juga sangat hafal dengan
jurus-jurus pedangku, aku percaya dia adalah orang yang
kukenal.”
Kemudian dia mendekati orang itu, membungkukkan
tubuhnya untuk membuka kain hitam yang menutupi
kepalanya, semua orang terkejut, karena dia sama sekali tidak
mirip manusia, kepalanya hanya seperti bola bulat putih,
hanya bagian hidungnya terdapat 2 lubang untuk bernafas dan
satu lubang untuk mulut.
Wong Han-bwee terkejut, dia berteriak, “Di dunia ini
ternyata ada orang yang begitu menakutkan!”
Wong Jong-ceng melihat dengan teliti, baru tertawa,
“Jangan takut, ini bukan wajah aslinya, dia menutupi
wajahnya dengan lilin, jadi dia tidak bisa mendengar juga
tidak bisa melihat, kita buka lapisan lilinnya nanti kita akan
tahu siapa dia.”
Dia mengelupas lapisan lilin yang ada di wajah orang aneh
itu dengan pedangnya, tenaganya sangat pas, dia membelah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
lilin tepat di tengah-tengah, kemudian mengangkat dengan
pedangnya, terlihatlah wajah asli orang itu.
Paling sedikit ada 4-5 orang bersama-sama berteriak,
“Ternyata dia!”
Suara teriakan itu termasuk Wong Jong-ceng sendiri, masih
ada Lim Hud-kiam, Ciam Giok-beng, Liu Ta-su, dan putrinya,
karena orang itu adalah orang yang mereka kenal, dia adalah
Hoan Lam-huang, adik seperguruan Ciam Giok-beng, Lamhuang-
kiam-sou Lok Su-hoan, seorang pesilat pedang
berbakat.
Tubuhnya bergerak, tiba-tiba tangannya melayang dari
balik lengan bajunya keluar sebuah pisau kecil yang berkilau,
dengan kecepatan tinggi dan dengan cara sangat aneh, dia
menusuk dada Wong Jong-ceng, gerakan Wong Han-bwee
sangat cepat, dia pun mengangkat tangannya dan pedang
menepis, tapi dia tetap kalah cepat, dia tidak bisa menolong
ayahnya, tapi berhasil membabat putus sebelah tangan Lok
Su-hoan.
Jantung Wong Jong-ceng terkena tusukan, pisau
menembus ke paru-parunya, dia berusaha menahan sakit dan
tertawa kecut, “Hoan Lam-huang, satu kali tusukan pedang
dibalas satu kali tusukan pisau, kau tetap tidak kalah dariku.”
Tangan Lok Su-hoan terbacok hingga putus, dia sepertinya
tidak merasa sakit, dengan tertawa dia berkata, “Tidak, kau
tetap jadi pemenangnya, dengan plakat dunia persilatan aku
mengusirmu dari Ceng-seng, tapi aku tidak bisa mendapatkan
istrimu, aku menyisakan bagian yang paling penting, tapi tetap
tidak bisa membuat ilmu pedangmu berada di bawahku....”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng mulai merasa kesakitan, tapi dia masih
berkata, “Apa? Kau masih menyisakan sebagian Pit-kip dan
tidak semua kau berikan kepadaku?”
Lok Su-hoan mengangguk, “Betul, aku melihat kau benarbenar
gila pada pedang dan sudah melampaui batas, aku
takut dengan pedang kau akan membuat dunia persilatan
menjadi kacau, maka jurus-jurus pedang yang ada di dalam
plakat itu, aku berusaha memikirkan dan membuat jurus-jurus
yang bisa mengatasinya, maka aku tidak takut memberikan
buku itu kepadamu, tapi pada halaman terakhir aku tidak
mengerti karena artinya terlalu dalam jadi aku tidak
memberikannya padamu, obat bius yang kuberikan kepadamu
melebihi takaran, aku hanya ingin membuatmu tertidur selama
beberapa hari, begitu aku sudah mengerti jurus-jurus yang
ada di halaman terakhir, aku baru akan mengajarkannya
kepadamu.”
Wong Jong-ceng masih bisa tertawa, “Ternyata kau berniat
seperti itu, aku kira kau ingin membunuhku dengan cara
seperti ini.”
Lok Su-hoan menggelengkan kepala, “Jangan Bergurau, aku
bukan orang seperti itu, bila aku benar-benar ingin
membunuhmu, lebih baik aku mengganti obat bius itu dengan
racun.”
“Apakah kau merasa bisa membohongiku? Obat yang kau
berikan itu melebihi dosis sebenarnya, sebelumnya aku sudah
tahu, maka aku hanya memakan separuh nya, belum sampai
pada waktu yang kau perkirakan, aku sudah siuman.”
Dengan dingin Lok Su-hoan berkata, “Bila kau sedang tidak
sadar lalu aku menusukmu dengan pedang bagaimana, aku
adalah orang yang mengatakan kalau satu itu pasti satu, aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
sudah berjanji seperti itu, tidak akan mengingkari lalu
membunuhmu.”
Wong Jong-ceng mengangguk, “Baik, untuk hal ini aku
percaya kepadamu, mengenai masalah obat bius, kita anggap
sudah jelas, tapi kau menyuruh Hud-kiam membunuhku, apa
maksudmu?”
“Itu bukan tujuanku, tapi tujuan istrimu.”
Lim Hud-kiam berteriak, “Jangan sembarangan bicara, ibu
hanya ingin aku belajar ilmu pedang padamu, karena dia
selalu percaya kalau kau adalah orang baik, maka syarat
sangat kejam yang kau keluarkan pun beliau tidak curiga dan
menyuruhku menerimanya, tapi kau ingin aku membunuh
ayah kandungku sendiri.”
Lok Su-hoan menarik nafas, “Apakah kau sanggup
membunuh dia?”
Lim Hud-kiam berteriak, “Ini masalah yang berbeda, dari
sini dapat diketahui kalau hati mu benar-benar jahat dan
banyak dosa.”
Lok Su-hoan tertawa kecut, “Hud-kiam, apa pun yang kau
pikir tentangku, yang penting aku tidak bersalah, aku
menyuruhmu menghancurkan Lembah Raja Pedang yang ingin
menelan dunia persilatan tidak akan salah, apakah perilaku
Lembah Raja Pedang tidak pantas dihalangi?”
Lim Hud-kiam ingin menjawab, tapi Lok Su-hoan masih
terus berbicara, “Waktuku tidak tersisa banyak lagi, biar aku
bicara dulu, aku menyuruhmu datang karena aku tahu
kekuatanmu tidak akan melebihi ayahmu, tujuanku adalah aku
harus menepati janjiku, ilmu pedang yang berada dalam
plakat dunia persilatan yang belum kuberikan kepada Wong
Jong-ceng, sekarang aku akan memberikan kepadanya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tidak, kau tidak perlu memberikan sesuatu untuk
disampaikan kepada ayah,” kata Lim Hud-kiam.
“Memang aku tidak memberitahumu, tapi aku sudah
mewariskannya kepadamu, aku percaya setelah Wong Jongceng
melihatnya, dia akan mengerti, jurus-jurus pedang ini
tepat bisa mengisi kekurangan dalam ilmu plakat dunia
persilatan, Wong Jong-ceng, apakah kau telah menerimanya?”
Wong Jong-ceng tertawa, “Aku tidak menerimanya, karena
aku telah menyatukan ilmu Ngo-heng-kiam dengan ilmu silat
plakat dunia persilatan dan membuat jurus-jurus lebih hebat
juga sempurna, aku tidak butuh ilmu silatmu yang kau
tambahkan terakhir.”
Lok Su-hoan menarik nafas, “Tidak masalah untukku, yang
penting aku sdah berusaha memberikannya, apa yang telah
kujanjikan, aku telah menepatinya.”
Ciam Giok-beng dengan cepat mendekat, “Sute, mengapa
kau bisa bergabung dengan Liu Ban-mong, apakah kau tahu
dia orang seperti apa?”
“Aku tahu dia serakah, tapi ilmu silatnya terbatas, aku
mengubah kekurangan 'Tay-lo-kiam-hoat', Suheng bisa
mengalahkan dia, dengan 'Kiu-su-lian-hoan', 'Jit-ji-tui-hoan',”
kata Lok Su-hoan. (9 jurus berturut-turut, 7 dan 2 saling
bertukar).
“Kau salah, kau benar-benar telah membuat kesalahan
besar,” jawab Ciam Giok-beng.
Tapi Lim Hud-kiam malah berkata, “Ciam Cianpwee, dia
tidak salah.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Ciam Giok-beng ingin bertanya, tapi Lim Hud-kiam dengan
cepat bertanya, “Katakan, apa yang kau rundingkan dengan
Liu Ban-mong?”
Suara Lok Su-hoan sudah sangat lemah, “Liu Ban-mong
berhubungan denganku, dia memberitahu keserakahan dan
keinginannya kepadaku, dengan keadaan sekarang ini tidak
ada orang yang bisa menaklukkan Wong Jong-ceng, maka Liu
Ban-mong memberi saran kepadaku untuk menutup mata dan
telinga, mungkin masih ada kesempatan menang darinya, aku
mengira cara ini bisa dicoba, maka aku menutupi kepala dan
wajahku dengan lapisan lilin....”
“Belakangan apa yang terjadi, apakah kau tahu?” tanya Lim
Hud-kiam.
“Tidak tahu dan aku tidak perlu tahu, karena tujuanku
hanyalah Wong Jong-ceng, yang lain, aku percaya kau bisa
mengatasinya,” kata Lok Su-hoan.
Ciam Giok-beng masih mau membuka suara, Wong Jongceng
menghalanginya, dia tertawa sambil bertanya, “Tusukan
terakhirmu benar-benar hebat, apakah jurus itu berasal dari
plakat dunia persilatan?”
Lok Su-hoan menggelengkan kepala, “Bukan, jurus itu
adalah, jurus guruku, Siau Pek saat beliau sakit dia
menciptakannya, sebenarnya jurus itu untuk membunuhku,
tidak di sangka, aku menggunakan kepadamu, Hud-kiam, aku
minta maaf karena aku sudah membunuh ayahmu, aku
terpaksa melakukan ini karena keserakahan Lembah Raja
Pedang harus dihentikan, keadilan di dunia persilatan harus
dengan cara damai baru bisa bertahan lama, maafkan aku,
ilmu silatmu sudah cukup kuat untuk menaklukkan Ceng-seng
dan orang-orang perbatasan Tibet yang serakah, aku serahkan
tanggung jawab ini kepadamu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Ciam Giok-beng tidak tahan lagi, dia berteriak, “Sute, kau
benar-benar ceroboh dan bodoh....”
Tapi sudah terlambat, tiba-tiba Lim Hud-kiam mengangkat
pedangnya, pedangnya memang tumpul, tapi dengan tenaga
dalam yang terkumpul pada pedang tumpul cukup untuk
memenggal kepala Lok Su-hoan.
Wong Jong-ceng menghembus nafas panjang, “Untuk apa
kau melakukan ini?”
Jawab Lim Hud-kiam, “Ayah, pertama, dia telah melukaimu,
putramu wajib membalas dendam, kedua, dia termakan tipuan
Liu Ban-mong, hati seorang pesilat tetap kita hormati, dia
tidak perlu tahu kalau dia telah melakukan kesalahan sebelum
dia mati.”
Tapi Ciam Giok-beng dengan sedih berkata, “Mengapa Adik
Lok bisa ceroboh dan tidak punya pendirian seperti itu, dengan
cara apa aku harus bertanggung jawab kepada kalian....”
Wong Jong-ceng tertawa pahit, “Sudahlah, dia sudah bukan
orang Kian-kun-kiam-pai lagi, dengan ilmu Kian-kun-kiam-pai
dia tidak akan bisa membunuhku.”
“Ayah, bagaimana lukamu?” tanya Wong Han-bwee.
“Tidak apa-apa, aku masih bisa bertarung satu kali lagi,”
jawab Wong Jong-ceng.
“Dengan siapa?” Wong Han-bwee bertanya.
Wong Jong-ceng menunjuk Liu Ban-mong, “Terhadap orang
seperti dia, bila tidak dibunuh, keamanan kalian belum bisa
terjamin, untung tusukan Hoan Lam-huang tidak begitu
dalam, masih tersisa sedikit tenaga untuk menghadapi
penjahat itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Mengenai Liu Ban-mong, aku bisa mengatasi dia!” jawab
Ciam Giok-beng.
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Ciam Tayhiap,
yang ceroboh adalah Hoan Lam-huang, bukan salah percaya
kepada Liu Ban-mong, sebelum mati dia sudah tahu kalau Liu
Ban-mong bukan orang baik, salah satunya karena dia terlalu
meremehkan ilmu silat Liu Ban-mong, kalau Hoan Lam-huang
bisa mengatasi Liu Ban-mong, dari tadi orang itu pasti sudah
kabur, apakah dia akan tetap di sini menunggu mati?”
Dengan tenang Liu Ban-mong berdiri sambil memeluk
goloknya, dia sedikit pun tidak terlihat takut, Ciam Giok-beng
merasa malu, “Jangan peduli cara Lok Sute salah atau benar,
biar aku mencobanya dulu.”
Wong Jong-ceng menjawab dengan tegas, “Jangan dicoba,
karena waktuku juga tidak banyak lagi, kau masih bisa
menunggu, tapi aku tidak, bila aku tidak sanggup
mengatasinya, kau baru bisa mencoba, tapi aku tidak bisa
menaruh harapan padamu.”
“Ayah, lukamu tidak mengijinkanmu bertarung lagi,” sambil
menangis Wong Han-bwee memohon.
Wong Jong-ceng tertawa kecut, “Anak bodoh, apakah kau
kira aku masih bisa tertolong? Tusukan Hoan Lam-huang
masuk ke paru-paruku, aku tidak roboh karena mengandalkan
tenaga dalamku, bila pisau ini dicabut, aku segera mati,
sekarang aku masih ada sedikit tenaga, demi orang-orang
dunia ini aku harus mengeluarkan tenaga terakhirku, ini juga
memberitahukan kepada semua orang bagaimana kemampuan
terakhir dari Raja Pedang.”
Lim Hud-kiam dengan cepat mendekat, “Ayah, putramu
sudah mengingat beberapa jurusmu apakah aku bisa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mewakilimu bertarung?” Wong Jong-ceng berkata, “Tidak, Liu
Ban-mong sekarang bisa seperti ini karena aku, maka aku
ingin aku sendiri yang membereskannya, seumur hidup aku
sangat cinta akan pedang, demi pedang aku sudah berkorban
banyak, demi pedang aku banyak berbuat kesalahan, untung
saat terakhir aku bisa mengerti dan berubah, seorang pesilat
pedang sejati mati di bawah pedang adalah hal yang paling
mulia, bila aku istirahat dulu, mungkin aku masih bisa
bertahan seminggu atau 2 minggu, tapi apa artinya semua ini
untukku?”
Dia memberontak keluar dari papahan Wong Han-bwee,
kemudian pedangnya diangkat, dia berjalan ke arah Liu Banmong,
sikapnya gagah dan tidak takut, membuat Liu Banmong
tanpa sadar mundur beberapa langkah.
Dengan sombong Wong Jong-ceng berkata, “Liu Ban-mong,
kau menipu Lok Su-hoan supaya berseberangan denganku, ini
adalah kesuksesan-mu, tapi kau sama sekali tidak menyangka
bukan kalau aku masih hidup sampai sekarang dan akan
menaklukkanmu?”
Liu Ban-mong terhenti langkah mundurnya, dia membentak,
“Wong Jong-ceng, aku ingin mengatakan satu kalimat adil
untuk Lok Su-hoan, aku tidak membohonginya, sebetulnya kau
pun orang sesat dan jahat, hanya karena dipengaruhi Lim
Hud-kiam, tiba-tiba kau menjadi orang baik, sebetulnya pada
kejadian hari ini semua dalam rencanamu, tapi kau
menggagalkannya sendiri kalau kau tidak secara tiba-tiba
mengubah rencana, kau pasti akan jatuh ke tanganku.”
Kata-kata Liu Ban-mong membuat Wong Jong-ceng
terpaku, pada saat dia bengong, tiba-tiba Liu Banmong seperti
angin topan menggulung masuk, menyerang dengan
pedangnya cepat seperti kilat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Tapi pedang Wong Jong-ceng pun segera diayunkan,
mereka bertarung dengan sengit, pertarungan mereka lebih
seru dibandingkan pertarungan antara Lok Su-hoan dan Wong
Jong-ceng, saat mereka berdua masih saling mencari tahu
kelemahan masing-masing dan ingin bertarung, sedang
sekarang adalah pertarungan antara hidup dan mati, kadangkadang
jurus mereka tidak memikirkan keselamatan sendiri,
asalkan bisa mendapatkan kemenangan jurusnya-jurusnya
adalah siap mati bersama.
Ilmu pedang Wong Jong-ceng berada di atas Liu Ban-mong
sedikit, tapi setelah sebuah pisau menancap di dadanya, hal
ini menganggu gerakannya, maka pertarungan berjalan
dengan seimbang.
Jurus pedang Liu Ban-mong benar-benar ganas, membuat
orang yang melihatnya merasa takut, tenaga ditangannya
terus dikeluarkan, dia ingin dengan cara keras menambah luka
Wong Jong-ceng.
Sesudah 10 jurus lebih berlalu, dada Wong Jong-ceng mulai
mengeluarkan darah, darah keluar dari balik pisau yang
menancap di dadanya, Wong Jong-ceng dengan tenaga dalam
memang berusaha menghentikan aliran darah juga menjepit
pisau itu supaya tidak membuat lukanya semakin membesar
tapi darah terus mengalir, cara seperti itu tidak bisa berjalan,
apa lagi dia harus mengeluarkan tenaga besar untuk
bertarung.
Sesudah bertarung sampai 100 jurus, tenaga Wong Jongceng
semakin kurang, jurus pedangnya pun makin kacau, Lim
Hud-kiam merasa tidak bisa membiarkan hal ini lagi, tiba-tiba
dia mengayunkan pedang tumpulnya memasuki pertarungan
dan tepat setelah dia melihat celah-celah Liu Ban-mong, jurus
yang digunakan Lim Hud-kiam adalah jurus andalan yang baru
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
dia pelajari dari Wong Jong-ceng, jurus ini tadinya digunakan
untuk mengalahkan Lok Su-hoan.
Liu Ban-mong belum mempelajari dengan dalam jurus ini
karena saat Wong Jong-ceng menyerang Lok Su-hoan, tepat
Ciam Giok-beng dan Liu Ta-su menyerangnya, maka dia bisa
tidak melihat dengan jelas.
Saat pedang menyerang, beberapa jurus memang sudah
dikeluarkan, tapi dia telah menyerang ke tempat kosong,
kemudian pedang Lim Hud-kiam sudah membacok tangan
kirinya.
Kalau pedang Lim Hud-kiam adalah senjata biasa, tenaga
dalam Liu Ban-mong bisa menahannya, tapi pedang yang
dipakai Lim Hud-kiam adalah pedang tumpul yang terbuat dari
baja asli, ditambah tenaga dalam Lim Hud-kiam terkumpul di
pedang itu, maka tenaganya bertambah besar lagi.
Dalam keadaan terpaksa, Liu Ban-mong mengayunkan
tangan untuk menyambut serangan, pedang dan tangan
beradu, terdengar suara KRAK, tulang tangannya patah, dia
pun terhuyung-huyung mundur dan hampir terjatuh.
Tapi dia tidak jatuh, tubuhnya berputar, pedang di tangan
kanannya digerakkan, pedang ini menyerang Wong Jong-ceng
yang ada di sebelah lain, pedang menancap di pinggang Wong
Jong-ceng.
Wong Jong-ceng mengeluarkan suara, dia tidak bergerak
lagi, bila pedang yang menancap ditarik oleh Liu Ban-mong,
akan membuat tubuh Wong Jong-ceng terbelah menjadi dua
bagian, Lim Hud-kiam bisa melukai musuh tapi membuat
ayahnya berada dalam bahaya, maka dia tidak berani maju.
Tidak lama kemudian, Liu Ban-mong tertawa panjang,
“Baik, baik, jurus yang baik, hanya jurus inilah yang tidak aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
lihat dengan jelas, dengan jurus ini juga kau bisa
mengalahkanku, tapi sayang, pedangmu adalah pedang
tumpul, bila pedang ini tajam, aku, Liu Ban-mong akan
mengaku kalah, tapi sekarang, yang harus mengaku kalah
adalah kalian.”
Lim Hud-kiam ingin maju tapi Wong Jong-ceng berteriak,
“Berhenti, sejurus pedang bagi pesilat seperti Liu Ban-mong
hanya ada satu kali kemenangan, kedua kali tidak akan
berguna lagi, kau tidak akan bisa mengalahkan dia.”
Liu Ban-mong tertawa dingin, “Jurus pedangmu menyerang
ketika keadaan sedang sibuk, kalau tidak, jurus ini tidak akan
membuatku terluka, jurus ini memang telah membuatku
terluka, tapi kau juga terlambat, karena Wong Jong-ceng
adalah musuhku, hei marga Wong, sekarang adalah waktunya
bagimu mengakui kekalahan, posisi Raja Pedang sudah
waktunya berpindah ke tanganku.”
Wong Jong-ceng menarik nafas panjang, dia melempar
pedang emas yang melambangkan wibawa seorang Raja
Pedang lalu berkata, “Liu Ban-mong, aku mengaku kalah, tapi
aku mempunyai sebuah permintaan, biarkan aku mati dengan
tubuh sempurna.”
Liu Ban-mong tertawa, “Kau selalu menganggap pedang
adalah nyawa keduamu, kau bisa mati di bawah pedang,
seharusnya tidak perlu disesalkan bukan?”
Wong Jong-ceng menarik nafas lagi, “Mati di bawah pedang
adalah jalan kematian seorang pesilat pedang yang terbaik,
tapi aku adalah Raja Pedang, bila mati dengan tubuh
terpotong menjadi 2, ini benar-benar penghinaan terhadap
kata 'Raja Pedang'.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong berpikir sebentar, “Baiklah, aku mengakui
kau menjadi Raja Pedang, aku tidak mau kau mati dengan
tubuh tidak sempurna, aku percaya kau tidak sanggup hidup
lebih lama lagi, asal pedangku dicabut, berdiri pun kau tidak
sanggup, apakah kau mempunyai pesan terakhir?”
“Ada, sebelum kau mencabut pedangmu, aku ingin
mencabut pisau yang menancap di dadaku, bila pisau ini
masih ada di dadaku, mati pun aku tidak rela menutup mata.”
Liu Ban-mong mengangguk, “Masuk akal juga, memang
tancapan pisau ini membuatmu terluka, tapi aku harap harus
dengan pedangku kau mengakhiri hidupmu.”
Wong Jong-ceng melihat ke kiri lalu ke kanan, dia tertawa
sedih, “Sesudah aku mati, kalian harus berjuang untuk hidup,
karena Liu Ban-mong tidak akan lepaskan kalian begitu saja.”
Kemudian dia mencabut pisau yang menancap di dada
dengan sisa tenaga terakhir, pisau tercabut dari dadanya,
darah seperti mata air menyembur keluar, menyemprot ke
wajah Liu Ban-mong.
Secara refleks Liu Ban-mong menahan dengan tangannya
tapi tangan yang sudah dibacok oleh Lim Hud-kiam sudah
putus, hal ini membuat dia kesakitan, rasa sakitnya menusuk
ke jantung, dia meraung, tapi pisau Wong Jong-ceng yang
sudah dicabut dengan kecepatan tinggi menancap ke perut Liu
Ban-mong, membuat perut Liu Ban-mong menganga lebar,
tubuhnya jatuh dengan posisi ke belakang, ususnya sudah
terburai ke bawah.
Pedang yang berada di tubuh Wong Jong-ceng tercabut
keluar, karena darah sudah keluar dari dadanya, maka luka di
pinggangnya pun membuat sedikit usus terburai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong bergulingan di bawah, kemudian diam dan
tidak bergerak lagi, Wong Jong-ceng tertawa, dia berkata,
“Han-bwee, Hud-kiam, papahlah aku, aku mau mati dengan
posisi berdiri, aku tidak pernah kalah dari siapa pun.”
Lim Hud-kiam dan Wong Han-bwee dengan cepat datang
memapah ayah mereka, melihat lukanya Lim Hud-kiam tahu
kalau hidup Wong Jong-ceng tidak akan lama lagi, dengan
suara tercekat Lim Hud-kiam bertanya, “Ayah, apakah masih
ada petunjuk lain?”
Wong Jong-ceng tertawa, “Lempar pedang tumpulmu,
ambil pedangku, posisi Raja Pedang akan kuberikan
kepadamu, karena dengan ilmu pedangmu kau pantas
menjadi Raja Pedang, tapi jika hanya mengandalkan pedang
tumpul, itu masih tidak cukup, artinya ilmu pedang ada di hati
bukan pada ketumpulannya, aku percaya sesudah kau menjadi
Raja Pedang bisa lebih kuat dariku juga akan lebih banyak
orang yang mendukungmu.”
Lim Hud-kiam tidak sanggup mengambil pedang yang
melambangkan wibawa seorang Raja Pedang, Heuw Liu-hoan
yang mengambil dan memberikan kepada Lim Hud-kiam,
orang-orang di sana terdiam, tidak ada yang keluar suara,
Wong Jong-ceng tertawa, dengan pelan dia berkata, “Yang
membuatku merasa menyesal adalah aku harus menggunakan
pisau belati milik Kian-kun-kiam-pai untuk membunuh Liu Banmong,
tapi jurus itu adalah jurus ciptaanku, aku tetap
mempunyai separuh jasa....”
Suaranya semakin melemah, kedua matanya telah terpejam
Raja Pedang telah pergi begitu saja, Lim Hud-kiam melihat
pedang emas di tangannya dan pisau tumpul yang terjatuh ke
bawah, dia terpaku seperti sebuah patung, hanya terdengar
tangisan Wong Han-bwee kemudian terdengar ledakan tangis
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
dari orang-orang di sana, sampai Ciam Giok-beng yang sudah
begitu tua pun berlutut ke bawah, mereka benar-benar
menghormati Raja Pedang yang telah gugur.
-o-dw-Tamat-kz-o-
Bandung, 22 Nopember 2008 Salam Hormat
(See Yan Tjin Djin)

Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat : Si Pedang Tumpul 6 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat : Si Pedang Tumpul 6 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-silat-si-pedang-tumpul-6.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat : Si Pedang Tumpul 6 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat : Si Pedang Tumpul 6 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat : Si Pedang Tumpul 6 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-silat-si-pedang-tumpul-6.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar