Cerita Dewasa SMA : Pusaka Negeri Tayli 1

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Kamis, 02 Agustus 2012

Cerita Dewasa SMA : Pusaka Negeri Tayli 1-Cerita Dewasa SMA : Pusaka Negeri Tayli 1-Cerita Dewasa SMA : Pusaka Negeri Tayli 1-Cerita Dewasa SMA : Pusaka Negeri Tayli 1

Jilid 1
Ang Nio-cu.
Gunung Jong san terkenal sebagai gunung batu marmar
yang indah. Luarnya meliputi beratus-ratus li.
Puncak gunung yang terletak diwilayah Hun-lam itu,
sepanjang tahun tertutup kabut. Di musim dingin, kabut itu
menjadi gumpalan salju putih. Puncak yang tertutup salju
abadi. Demikian orang menjulukinya, karena sepanjang
tahun salju itu tak pernah cair.
Negeri Tayli terletak di tengah-tengah pegunungan itu.
Karena letaknya itu maka negeri Tay-li memiliki keindahan
alam yang tiada taranya.
Negeri yang kecil mungil itu, memiliki kebudayaan
tersendiri. Istana, bangunan dan peradabannya masih
murni. Tetapi sekalipun begitu, tak terhindar juga dari
beberapa pengaruh kebudayaan luar juga.
Pendiri dari kerajaan Tayli, seorang marga Toan,
bergelar Toan Hong-ya. Dia mengangkat diri sebagai raja
yang dipertuan dari negeri Tayli.
Pada masa tahun ketiga berdirinya kerajaan Tayli,
Sippat-thian mo atau Delapan-belas iblis-langit dari daerah
Tionggoan serempak menuju ke gunung Jong san. Tujuan
mereka hendak mencari dua buah mustika pusaka kerajaan
Tayli.
Kim-cu-giok-pay atau Ikat-pinggang bertabur ratna mutu
manikam. Dan kitab Giok-Ka-kim-keng atau Kitab-emas
dalam kotak kumala, Kedua benda itu merupakan pusaka
negeri Tayli yang termasyhur dalam dunia persilatan
sebagai benda yang tak ternilai harganya.
Kitab Giok-ka-kim-keng sebuah kitab pusaka kuno yang
berisi ilmu pelajaran silat sakti. Barang siapa yang
mendapatkannya, tentu akan dapat menjagoi dunia
persilatan.
Baginda Toan Hong-ya juga gemar ilmu silat. Dalam
kerajaannya. ia mempunyai pengawal2 yang berbakat dan
berkepandaian tinggi.
Setiap kaum persilatan, se dunia persilatan menitikkan
air liur mendengar nama kitab Giok-ka-kim-keng, namun
apabila membayangkan jago2 sakti Tayli, nyali merekapun
menyurut, tiada seorangpun yang berani coba2
mengunjungi daerah selatan itu.
Sip-pat-thian-mo atau iblis langit, termasyhur sebagai
tokoh dunia persilatan di Tiong goan, tiada seorang jago
persilatanpun yang tak gemetar mendengar nama mereka.
Merekapun mendengar akan kitab Giok ka-kim-keng itu
dan berniat untuk memilikinya dan pergi ke negeri Tayli.
Namun selama berpuluh tahun lamanya, tiada
seorangpun yang mengetahui jejak mereka, seolah-olah
lenyap begitu saja.
Beberapa tahun kemudian nampak seorang padri dan
seorang imam memberanikan diri menuju ke negeri Tayli,
mereka tidak masuk kedalam kota kerajaan melainkan
langsung menuju ke gunung Jong-san.
Dalam semalaman mereka mendaki, pada hari itu,
mereka tiba di bawah sebuah jajaran batu dan kedua padri
itu saling tukar pandang.
Mata si paderi itu berkilat-kilat memandang pada jajaran
batu. Lama sekali ia dalam keadaan seperti orang
merenung.
"Benar!" tiba2 ia bertepuk tangan lalu tertawa gembira,
"Kim-toh-tin yang dirobah dari barisan Pat-tin-tho ciptaan
Cukat Su-hou!"
Kim-toh-tin artinya barisan Kunci emas.
"Gong-gong-cu menganggap tempat ini sebagai ujung
dunia. . ." kata paderi itu pula.
"Apakah kemungkinan kitab Giok-ka-kim-keng ini
berada di dalamnya?" tanya imam tua.
"Pasti begitu," sahut si paderi, " hayo kita serbu saja ke
dalam!"
Dengan kepandaiannya yang tinggi, kedua paderi dan
imam itu mulai menyerbu dari dua arah. Mereka
menghancurkan jajaran batu2 itu kemudian dengan tertawa
gembira keduanya masuk kedalam gua.
Tiba di mulut gua, imam tua berkata:
"Hud heng, barisan batu telah kita bobol, tetapi apakah
di dalam gua masih terdapat rintangan lagi?"
Baru ia berkata begitu, tiba2 dari dalam gua terdengar
letusan dahsyat. Menyusul belasan sosok bayangan
manusia berhamburan keluar.
Kejut kedua paderi dan imam itu bukan kepalang.
Mahluk2 yang keluar dari gua itu benar2 mengerikan sekali.
Tubuh mereka rata2 tak utuh lagi. Wajahnya
menyeramkan, rambut dan jenggotnya terurai memanjang.
Tiga bagian menyerupai manusia, tujuh bagian seperti
setan.
Paderi dan imam tua itu terlongong-longong. . . .
Manusia2 mengerikan itu berjumlah delapan belas orang.
Mereka mengepung kedua paderi dan imam itu di tengah.
Kemudian salah seorang dari kawanan manusia
mengerikan itu tertawa gelak-gelak dan berseru:
"Bagaimana kalau kita bagi keuntungan?" Seorang
manusia mengerikan yang lain berteriak keras mencegah:
"Jangan! Jika bukan mereka berdua yang membobolkan
barisan, tentulah kita seumur hidup takkan melihat sinar
matahari lagi. sekali ini kita beri ampun mereka!"
"Kalau begitu kita pergi saja."
"Ya, hayo pergi !"
Terdengar suara hiruk pikuk dan ke delapan belas
manusia mengerikan itupun segera lari seperti terbang.
Setelah mereka lenyap barulah si imam tua berkata:
"Hud-heng, mereka tentulah Sip-pat-thian-mo yang
termasyhur itu!"
"Omitohud." seru paderi itu, "to-heng, kita telah
menempuh bencana besar ..."
Tepat pada saat itu seorang tua berambut putih bergegasgegas
lari mendatangi. Serentak dia banting2 kaki.
"Thian-hiancu, Go-leng-cu, karena nafsu kalian yang
temaha, kalian telah menimbulkan bencana besar dalam
dunia persilatan, ah, takdir.."
Kedua paderi dan imam itu termenung diam.
"Bu-lim Sam-cu jika tak berusaha untuk mencegah
bencana ini, harus menebus dosa dengan membunuh diri"
seru orang tua berambut putih yang baru datang itu.
Imam tua mengangkat muka dan berseru: "Gong-gongcu
mengapa engkau tak lebih dulu memberi tahu bahwa
tempat ini menjadi tempat penjara bagi kawanan Sip-patthian-
mo?"
Orang tua berambut putih itu menyahut dengan nyaring:
"Jika memberi tanda dengan terang2an, bukankah anak
buah Sip pat thian mo akan mengobrak abrik kerajaan
Tayli?"
Tiba2 setiap gelombang badai melanda. Dari udara
segera berhamburan salju. Dalam waktu sekejap saja.
tempat dan sekeliling ketiga orang itu berdiri telah tertutup
salju.
Demikian pula mereka bertiga.
0dw0
Setiap musim semi tiba, alam pemandangan di wilayah
Kanglam sangat indah. Burung2 berkicau, bunga2
bermekaran, rumput2 menghijau.
Ketika matahari menjulang sepenggalah tingginya, di
jalan besar yang merentang antara wilayah Sujwan Hopak,
seekor kuda tegar tengah mencongklang pesat.
Penunggang kuda itu seorang pelajar baju putih, wajah
berseri-seri, bibir merah, alisnya yang lebat menjulang
hingga ke pelipis. Cakap dan gagah sekali. Disamping
pelana kuda, terselip sebatang pedang yang berwarna
legam.
Tiba2 pelajar pemuda itu bersenandung:
Indah nian wilayah Kanglam.
Alamnya nan selalu meriah
bunga2 bermekaran merah menyala.
Air bengawan hijau ke biru2an
Mengetuk hati selalu terkenang..."
Sehabis bersenandung, ia berkata seorang diri pula: "Ah,
perjalanan harus berganti dengan kendaraan air, betapa hati
merasa sayang tetapi kuatir ayabunda gelisah menanti. . ."
"Aha, sungguh romantis anda ini? Apakah habis pesiar di
daerah Kanglam?"
Tiba2 seorang berseru dalam nada parau. Pelajar itu
kerutkan alis dan hentikan kuda nya. Ia berpaling.
"Totiang seorang imam, mengapa tak tahu diri?" serunya
agak kurang senang.
Ternyata yang berseru dan belakang itu seorang imam
tua yang jubahnya tak keruan tetapi mukanya bersih.
Sambil mengurut-urut jenggot, imam tua itu tertawa
mengikik:
"Anda seorang pemuda yang gagah perkasa, bagaimana
aku tak mengetahui?"
Pelajar itu tertawa angkuh.
"Sudah tiga hari lamanya totiang terus menerus
membuntuti aku. Apakah maksud totiang?"
Imam tua itu mengangguk.
"Bertemu itu tandanya berjodoh. Marilah kita berbicara
soal jodoh itu..."
Dengan tertawa dingin pemuda itu menukas:
"Aku tak mengerti soal jodoh, silahkan totiang
melanjutkan perjalanan."
"Mengapa anda menolak orang yang datang dari seribu li
jauhnya?" seru imam itu.
"O. apakah totiang memang mengikuti perjalananku?"
balas pelajar itu.
"Karena pinto tak mau melewatkan "jodoh" itu begitu
saja."
Tampaknya kuda pelajar itu tak sabar lagi. Berulang kali
kuda itu melonjak-lonjak seperti minta kepada tuannya
supaya berjalan lagi.
Imam itu melesat ke hadapan pemuda pelajar yang saat
itu tengah mengemasi duduknya dengan tegak. Ketika
memandang imam itu ia berseru:
"O, kiranya totiang itu Thian-hian-cu totiang dari tiga
serangkai Bu-lim sam-cu ..."
"Ha, ha, ha, ha!" ia itu tertawa, "tajam benar
penglihatanmu, anak muda. Ya, aku memang Thian-hiancu."
"Totiang hendak memberi petunjuk apa kepadaku?"
"Engkau belum menghayati apa yang kukatakan tentu
kata "jodoh" tadi."
"Maafkan kebodohanku. Aku memang tak mengerti
maksud totiang !"
"Apakah engkau pura2 tak mengerti?"
Wajah yang cakap dan pelajar itu agak berubah
cahayanya. .
"Mengapa totiang hendak main teka-teki kepadaku?"
serunya.
Thian-hian-cu kerutkan alis.
"Anak muda . . . engkau memiliki dasar kepandaian ilmu
silat yang bagus . . ."
"Ah apa artinya ilmu silat cakar kucing semacam yang
kumiliki itu." sahut pelajar dengan nada hambar.
"boleh tahu siapa namamu?"
"Aku she Cu nama Jiang."
"Nama perguruan?"
"Ini . . . maaf tak dapat memberitahukan." Thian-hian-cu
kerutkan dahi merenung sejenak lalu berkata. "Ada sesuatu
yang hendak kukatakan kepadamu ...."
"Silahkan," kata Cu Jiang.
"Dengan bakat yang engkau miliki itu, apabila mendapat
petunjuk yang hebat, tentu akan memperoleh hasil yang
luar biasa."
Cu Jiang tersenyum.
"Aku mengerti maksud totiang."
"Mengerti bagaimana?"
"Apa yang totiang katakan "berjodoh" itu kemungkinan
bukan jodoh. Karena aku tak menginginkan hati yang luar
biasa. Sampai jumpa lagi!"
Habis berkata ia terus memacu kudanya berjalan
perlahan-lahan.
Imam Thian hian-cu tertegun. Sambil memandang
bayangan pemuda itu ia berkata seorang diri:
"Siapakah pemuda yang begitu jumawa itu? Pada
umumnya, setiap orang persilatan yang mendapat rejeki
memperoleh petunjuk dari salah seorang Bu lim Sam cu,
tentu akan girang setengah mati. Tetapi dia sedikitpun tak
tertarik. Sejenak berhenti dia berkata, lagi: "Tetapi soal itu
menyangkut masalah besar, kalau kesempatan ini terlepas
kemanakah aku harus mencari lagi? Bila perlu terpaksa aku
harus membuang gengsi!"
Sekali kebutkan lengan jubah, tubuh imam itupun segera
meluncur bagai air mengalir deras, mengejar pemuda tadi.
Walaupun tak berpaling tetapi Cu Jiang dapat merasa
bahwa imam itu mengejarnya. Ia segera mengeprak kuda
dan mencongklangkannya dengan pesat menuju ke arah
matahari terbenam.
Melintasi sebuah hutan, barulah terdapat tempat
menginap.
Tetapi tiba di muka hutan, kudanya berhenti dan
meringkik sekeras-kerasnya seraya mengangkat kaki depan
tinggi2 ke atas: Binatang itu tak mau memasuki hutan.
Cu Jiang hampir kewalahan. Ia heran. Ketika
memandang ke sekeliling, wajahnya serentak berobah.
Tampak ditengah jalan yang merentang ketengah hutan
itu terkapar tujuh delapan sosok mayat yang memenuhi
jalanan.
Cu Jiang loncat turun, mengelus-elus kepala kudanya
kemudian melangkah pelahan-lahan ke muka, menghampiri
tumpukan mayat itu.
Ternyata mayat2 itu terdiri dari orang persilatan semua.
Senjata mereka masih terselip di tubuh masing2 seperti
belum digunakan. Tetapi mereka sudah mati.
Dengan begitu jelaslah bahwa musuhnya tentu seorang
yang berilmu tinggi sekali.
Ketika memeriksa dengan seksama, ternyata wajah
mereka menunjukkan ketenangan, seperti orang yang
sedang tidur nyenyak. Juga tiada bekas2 luka pada tubuh
mereka. Hanya pada alis mereka terdapat bekas noda warna
ungu sebesar kedele.
"Jari-terbang." serentak pelajar itu berteriak kaget,
"apakah dia . . . Ang Nio-cu!"
Memeriksa ke sekeliling, ternyata dia dapat menemukan
tanda ciri pengenal dari Ang Nio-cu. Pada sebatang pohon
yang tumbuh di tepi jalan tergantung sehelai kain mantel
wanita berwarna merah. Warna yang menyolok mata
sekali.
Segera teringat dalam perjalanan pesiar ke daerah
Kanglam kali ini, ketika berada di menara Lui-hong-tha
telaga Se-ou, Iapun mengalami peristiwa pembunuhan ngeri
semacam itu.
Ang Nio cu adalah seorang Iblis atau momok wanita
dalam dunia persilatan yang paling ditakuti oleh orang
persilatan, baik dari golongan Putih maupun Hitam.
Tetapi sejauh itu, tiada seorang persilatan pun yang
pernah melihat bagaimana wajah wanita itu.
Menurut kabar, dia adalah ahli waris dari perguruan
Hiat-ing-bun atau perguruan Bayangan darah.
Setelah tertegun beberapa saat. Cu Jing pun naik kuda,
mengitari tumpukan mayat ia terus menyusup ke dalam
hutan.
Tiba2 dari arah bagian dalam dari hutan itu
berkumandang tertiup angin suara tertawa yang dingin.
Hanya suaranya, tetapi tiada tampak orangnya.
Cu Jiang tergetar. Ia menyadari bahwa melintasi tempat
yang terdapat tanda pengenal dari Ang Nio-cu, merupakan
pelanggaran besar.
Tetapi pelajar yang masih berdarah panas itu tak peduli.
Dia tak mau kembali lagi. Tiba2 terdengar suara orang
berseru: "Berani melanggar tanda pengenalku ini, rasanya
baru engkau yang pertama!"
Walaupun nadanya dingin dan bengis tetapi
kumandangnya melengking nyaring. Cu Jiang menduga
orang itu tentulah masih muda juga. Cu Jiang hentikan
kuda dan berseru: "Apakah anda ini yang bergelar Ang Niocu?"
"Benar."
"Aku tergesa-gesa menempuh perjalanan, tolong berikan
kelonggaran sekali saja," kata Cu Jiang.
"Tidak ada pengecualian!" Dalam berkata-kata itu diam2
Cu Jiang memperhatikan arah suara itu. Tetapi, arahnya
sukar di duga, seperti dari jauh tetapipun seperti dekat.
Akhirnya ia mengertek gigi, berseru:
"Lalu bagaimana maksud anda?"
"Tinggalkan jiwamu!"
"Jika aku menolak?"
"Tak ada jawaban semacam itu."
Cu Jiang loncat turun dari kudanya dan berseru dengan
angkuh.
"Aku tak mau kembali lagi!"
"Memang kalau mau kembalipun sudah terlambat!"
"Jika anda meminta nyawaku, silahkan ke mari
mengambilnya."
Cu Jiang terus siap sedia. Sekalipun begitu hatinya kebat
kebit tak keruan. Ia menyadari telah naik diatas punggung
macan. Daripada turun di makan binatang itu lebih baik ia
bulatkan tekad untuk menghadapinya.
Tapi sampai beberapa saat belum juga terjadi apa2. Cu
Jiang heran. Pikirnya: "Bagaimana kah sebenarnya wujud
momok wanita itu? Dia hendak menggunakan cara apa
untuk membunuh aku? Pertempuran nanti tentu
mengerikan sekali."
Sejenak ia melirik pada pedang pusaka yang terselip di
pelana kuda, diam2 wajahnya membesi.
Tiba2 terdengar suara Ang Nio-cu yang melengking
dingin itu pula:
"Anak kambing memang tak takut pada harimau!"
"Jangan terkebur!" sahut Cu Jiang dengan angkuh.
"Apakah engkau tak tahu bahwa barang siapa yang
bersalah kepadaku temu takkan terhindar dari kematian?"
seru Ang Nio cu pula.
"Aku tak menghiraukan soal begitu."
"Ah, engkau benar2 keras kepala seperti pelajar kutu
buku yang tolol. .. Hm, apakah engkau tak tahu akan arti
Hidup dan Mati itu?"
"Sebagai seorang persilatan, mengapa harus
memperhitungkan soal mati dan hidup?" balas Cu Jiang.
"Hai, nada bicaramu sok jagoan sekali!"
"Ang Niocu, jangan terlalu menghina kepadaku!" seru
Cu Jiang.
"Ha, ha, ha, ha . ..."
Terdengar momok yang disebut Ang Nio-cu itu tertawa
nyaring.
Cu Jiang meluap amarahnya. Dia masih muda, darahnya
masih panas.
"Ang Nio-cu, jangan sembunyikan kepala unjukkan ekor,
Kalau memang hendak mengambil jiwaku, silahkan
keluarlah!" ia menantang.
"Engkoh kecil, rupanya engkau sudah bosan hidup? Aha,
sudah berapa tahunkah engkau makan nasi?" diluar dugaan,
momok Ang Nio-cu itu masih menggodanya.
"Huh . ." Cu Jiang mendesah.
"Siapa namamu?" seru Ang Nio-cu pula.
"Tak perlu memberitahu kepadamu!"
"Namamu Cu Jiang, benar kan?" Cu Jiang terkejut.
"Kalau sudah tahu mengapa masih bertanya lagi!"
Baru Cu Jiang menjawab begitu tiba2 terdengar derap
kuda mencongklang jauh. Tiga ekor kuda lari membinal
menerobos ke dalam hutan situ.
Cu Jiang berpaling. Ia terkejut. Siapakah ke tiga
penunggang kuda yang berani melanggar tanda pengenal
Ang Nio cu itu? Adakah mereka juga tak takut terhadap
Ang Nio-cu si momok wanita itu?
Tepat pada saat itu ketiga penunggang kuda itupun tiba
dihadapannya. Mereka berhenti dengan mendadak sehingga
menimbulkan debu tebal yang melumuri pakaian Cu Jiang
sampai berobah kelabu warnanya.
Cu Jiang deliki mata ke arah ketiga penunggang kuda
itu. Mereka terdiri dari orang tua berbaju hitam yang
berwajah seram. Mata mereka mencurah ke arah Cu Jiang.
Salah seorang yang memelihara jenggot kambing segera
berseru dengan nada tak enak di dengar:
"Hai, budak, apakah engkau melihat seorang budak
perempuan lalu di tempat ini?"
"Ha, lihat, engkau belum, minta maaf atas perbuatanmu
mengotori pakaianku begini rupa!" sahut Cu Jiang.
"Apa? Ha, ha, ha, ha . . ." ketiga orang tua itu tertawa
keras.
"Ini bukan lelucon!" bentak Cu Jiang marah.
Salah seorang yang pipinya terdapat bekas luka tergurat
golok dan sikapnya seperti seorang banci, berseru:
"Kunyuk kecil, sikapmu seperti seorang yang berbakat
bagus tetapi engkau begitu tolol!"
Habis berkata ia tertawa gelak2.
Merah muka Gu Jiang mendengar kata2 si banci itu,
bentaknya keras2:
"Anda seorang tua, mengapa anda berbicara tanpa
aturan sedikitpun juga?"
"Tata cara ? tata cara apa ?"
"Silahkan pikir sendiri !" sahut Cu Jiang.
"Ha, ha. engkoh kecil, engkau belum menjawab
pertanyaanku tadi !"
"Aku tak ingin menjawab !"
"Ho, budak, rupanya engkau bosan hidup..ya?"
"Kenapa ?"
"Tahukah engkau siapa aku ini ?"
"Tidak tahu dan tak ingin tahu."
"Tak ingin tahupun tetap kuberitahu. Pernah dengar
nama Tiga harimau-Sujwan ?"
Sujwan nama sebuah propinsi.
Diam2 Cu Jiang terkejut. Tak disangkanya bahwa orang
tua itu ternyata salah seorang momok golongan hitam yang
termasyhur sebagai Tiga-harimau Sujwan.
Ketiga momok itu memang sakti tetapi ganasnya bukan
kepalang, Biasanya mereka selalu muncul bertiga,
bertempur bertiga. Setiap kaum persilatan mengatakan,
lebih suka bertemu dengan bangsa setan seribu, daripada
dengan Tiga-harimau-Sujwan."
Tetapi Cu Jiang masih muda. Darahnya masih panas.
Apalagi dia penasaran karena diperlakukan remeh.
Dia tak mempedulikan siapa orang tua itu. Seketika ia
berseru nyaring:
"Aha, sudah lama aku mendengar nama kalian yang
mengerikan!"
Orang tua jenggot kambing tadi tertawa seram:
"Budak, engkau berteriak tak tahu mati, berani ngoceh
sembarangan saja. Bagiku lebih mudah membunuh seorang
manusia daripada seekor semut. Apakah engkau sungguh2
sudah bosan hidup ?"
Orang tua bermata segi-tiga yang lainnya, ikut bersuara.
Suaranya nyaring seperti genderang ditabuh:
"Toako, perlu apa banyak bicara dengan dia? Mari kita
lekas lanjutkan perjalanan, jangan sampai budak
perempuan itu lolos .. ."
"Perlu turun tangan ?"
"Tak usah, biarkan dia menyelesaikan dirinya sendiri."
Lelaki tua yang wajahnya berhias bekas guratan golok,
memandang Cu Jiang, serunya:
"Budak, engkau dengar tidak?"
"Apa ?" sahut Cu Jiang.
"Lekas engkau bunuh diri sendiri !"
"Bunuh diri ? Mengapa ?"
"Kami bertiga tak pernah turun tangan terhadap bangsa
budak kecil!"
Dada Cu Jiang serasa meledak.
Tiba2 terdengar setiap suara tawa dingin. Datangnya dari
bagian dalam hutan.
Orang tua berjenggot kambing tertawa mengekeh:
"Ho, budak kecil, makanya engkau begitu berani mati,
kiranya engkau mempunyai tiang andalan."
"Hai, sahabat yang bersembunyi didalam hutan, silahkan
keluar!" teriak lelaki tua bermata segitiga.
Tetapi tiada penyahutan dari dalam hutan.
"Kalau keluar, kalian tentu mampus !" tiba2 Cu Jiang
mencemooh.
"Sungguh besar sekali mulutmu ! Siapakah yang berada
dalam hutan itu?"
"Ang Nio cu !" sahut Cu Jiang.
"Hai!" serempak Tiga-harimau-Sujwan itu berteriak
kaget, "apa katamu ?"
"Ang Nio cu !" Cu Jiang mengulang.
Ketiga momok itu saling bertukar pandang. Tampaknya
mereka siap hendak kabur.
"Tunggu dulu!" tiba2 orang tua bermuka bekas luka
golok berseru, "budak itu mungkin hanya mengacau saja.
Mengapa tak kelihatan pertandaannya ?"
Kedua kawannya celingukan kesana kemari. Tiba2
wajah si jenggot kambing berobah lesu. Menunjuk pada
sebatang pohon dia berteriak:
"Hayo, cepat kita pergi !"
Habis berkata si jenggot kambing terus loncat keatas
kuda dan melarikannya. Kedua kawannya terpaksa
mengikuti juga.
Kiranya si jenggot kambing tadi telah melihat mantel
merah yang tersangkut pada cabang sebatang pohon.
Cu Jiang tak mau cari perkara. Dia biarkan saja ke tiga
momok itu melarikan diri. Diam2 dia heran mengapa
sampai saat itu Ang Nio-cu belum juga menampakkan diri.
Terdengar derap kuda ketiga durjana diri Su-jwan itu
telah mencapai berpuluh-puluh tombak jauhnya.
"Aaah .... ahhh . . . aah..."
Terdengar tiga buah jeritan ngeri. Cu Jiang terkejut.
Cepat ia menceplak kudanya dan mencongklang ke muka.
Tak berapa lama ia terkesiap.
Tiga-harimau Sujwan, telah terkapar malang melintang
menjadi mayat di tanah. Pada dahi mereka terdapat sebintik
pekat warna ungu. Ah, merekapun telah mati dibawah ilmu
Hui ci atau Jari-terbang dari Ang Nio-cu.
Cu Jiang turun dari kudanya. Memang sikapnya tampak
tenang tetapi sesungguhnya hatinya berdebar keras. Ia
menyadari bahwa situasi yang dihadapi saat itu sangat
berbahaya.
Tiga - harimau Sujwan yang termasyhur dan berilmu
tinggi, dalam waktu singkat saja sudah hancur. Kepandaian
Ang Nio-cu benar2 menakjubkan sekali !
Tetapi Cu Jiang tak mempunyai pikiran untuk melarikan
diri. Dia tak takut mati. Hanya apabila dia sampai mati, dia
membayangkan betapa hancur hati kedua orang tuanya
nanti.
Dia sudah berjanji kepada orang tuanya akan pulang
menurut waktu yang dijanjikannya. Apabila dia sampai tak
pulang, betapa bingung perasaan ke dua orang tuanya
nanti?
Memikirkan keadaan orang tuanya, dia segera
mengambil kertas dan pena dari tas bukunya yang ditaruh
di pelana kuda. Segera ia menulis:
"Ayah bunda yang tercinta,
Tak disangka sangka dalam perjalanan pulang anak telah
menderita halangan. Anak belum tahu dapatkah anak
menghadapi halangan itu dengan selamat. Sebenarnya anak
merasa tak berbakti karena tak mau menghindari halangan itu.
Tetapi mengingat, anak ini keturunan keluarga ksatria, maka
anakpun tak mau bersikap pengecut dan akan menghadapinya
dengan sekuat tenaga.
Apabila dalam tiga hari anak belum pulang, berarti anak
sudah terkubur dalam sebuah hutan belantara. Mohon ampun
atas kesalahan anak yang tak berbakti.
Cu Jiang.
Setelah selesai ia membacanya sekali lagi. Serentak
terbayanglah akan wajah kedua orang tuanya yang begitu
mencintainya. Tak terasa hatinya seperti disayat sembilu.
Tetapi apa daya?
Segera ia melipat surat itu lalu dimasukkan dalam tas
bukunya. Ia mencabut pedang pusakanya, mengelus-elus
kepala kuda dan berkata:
"Hijau, untuk sementara terpaksa kita harus berpisah.
Pulanglah lebih dulu! "
Kuda yang diberi nama Hijau itu rupanya dapat mengerti
maksud tuannya. Setelah meringkik pelahan, ia
mengucapkan kepalanya ke tubuh Cu Jiang.
Melihat kesetian kuda itu berlinang-linanglah airmata Cu
Jiang. Tetapi dia harus keraskan hatinya.
"Pergilah! " ia menepuk kepala kuda itu dan
membentaknya.
Kuda itu meringkik lalu mencongklang pergi.
Setelah kuda itu lenyap dari pandangan, barulah Cu
Jiang menghela napas longgar, seolah perasaannya telan
terlepas dari himpitan batu besar.
Serentak ia menghapus segala macam keresahan dan
mulai mencurahkan pikirannya untuk mengadu kepandaian
dengan Ang Nio cu. Ia menyadari bahwa dirinya jelas
bukan tandingan dari Ang Nio-cu. Maka ia memutuskan
untuk menggunakan siasat main kucing-kucingan.
Matahari mulai condong ke barat. Hutan yang pada
tengah hari tak tertembus sinar matahari, saat itu makin
gelap suasananya.
Setelah menenangkan pikiran maka berseru dia dengan
nyaring:
"Ang Nio-cu, mari kita selesaikan urusan kita ini! "
Dari dalam hutan terdengar suara penyahutan Ang Niocu:
"Cu Jiang, sia2 saja engkau suruh kuda mengundang
bala bantuan ..."
"Huh. aku orang she Cu, tak pernah berbuat semacam
itu!"
"O, kalau begitu engkau mengirim berita kecelakaan?"
"Ang Nio-cu, hari sudah gelap. Rasanya tak perlu
membicarakan hal2 yang tiada sangkut paut dengan urusan
ini!"
"Ih, mengapa engkau begitu terburu-buru hendak pulang
ke akhirat? " seru Ang Nio-cu.
"Jangan tekebur dulu. Kan belum diketahui siapa yang
akan kalah dan menang, " sahut Cu Jiang.
"Oh" seru Ang Nio-cu, "cobalah engkau tanya pada
dirimu sendiri. Adakah engkau lebih sakti dari Tigaharimau-
Sujwan atau Delapan tikus Holam?"
Saat itu barulah Cu Jiang menyadari bahwa orang
pertama kali dilihatnya mayat2 yang malang lintang dalam
hutan itu tak lain adalah Delapan-tikus-Holam. Juga
kedelapan tikus dari propinsi Holam itu merupakan
kawanan tokoh2 Hitam yang terkenal sekali.
Dalam waktu yang sangat singkat, Ang Nio-cu telah
membunuh kawanan tokoh hitam yang ternama.
"Ang Nio-cu, harimau adalah harimau, tikus juga tikus.
Tetapi lainlah halnya dengan diriku Cu Jiang. Sudahlah,
jangan banyak bicara lagi!"
"Apakah engkau sudah benar-benar ikhlas mati?"
"Unjukkanlah dirimu! " seru Cu Jiang.
Ang Nio-cu tertawa gelak2.
"Engkau tak layak melihat diriku!"
dw
Hukum rimba.
Cu Jiang mendengus geram.
"Apakah engkau tak berani keluar untuk mengambil
jiwaku?"
"Kurobah keputusanku..."
"Engkau .... engkau hendak merobah keputusanmu?"
teriak Cu Jiang terkejut.
"Hm . . . ."
"Keputusan apa?"
"Aku tak jadi membunuh engkau !"
Ucapan Ang Nio-cu itu benar2 di luar dugaan Cu Jiang
sehingga pemuda itu terlongong-longong.
Mengapa momok wanita itu tidak jadi membunuhnya?
Apa sebabnya?
"Mengapa engkau tak jadi membunuh aku?" akhirnya ia
berseru.
Tetapi hutan sunyi senyap. Ang Nio-cu tak menjawab.
Cu Jiang seperti berada dalam lingkupan kabut. Dia tak
mengerti tindakan Ang Nio-cu yang aneh itu. Tetapi
betapapun, ia girang sekali karena terhindar dari
pertempuran maut.
Kini pikirannyapun mulai menimang-nimang, adakah
dia harus lekas melanjutkan perjalanan mengejar kudanya si
Hijau atau berjalan seenaknya saja. Tetapi rasanya dia
harus cepat2 pulang karena apabila membaca surat yang
dibawa si Hijau, kedua orang tuanya tentu gelisah sekali.
Setelah mengambil keputusan, segera ia enjot kakinya
untuk berlari kencang. Namun dia juga masih berjaga-jaga
menghadapi serangan tak terduga-duga dari Ang Nio-cu.
Tetapi sehingga keluar dari hutan, tetap ia tak
mengalami gangguan apa2. Saat itu barulah ia benar2
menghela napas lega Namun iapun tetap tak mengerti
mengapa tiba-tiba Ang Nio cu merobah keputusannya itu.
Agar dapat mengejar si Hijau, ia tak berani berayal lagi.
Dengan menggunakan ilmu lari cepat, ia teras meluncur d
sepanjang jalan.
Tetapi betapapun ia berusaha, tetap ia tak dapat
mengejar lari si Hijau. Kuda itu memang bukan sembarang
kuda tetapi seekor kuda istimewa.
Ketika senja tiba, hitung2 dia sudah berlari berpuluhpuluh
li tetapi tetap tak dapat melihat bayangan si Hijau.
Akhirnya ia lambatkan lari. Tetapi saat itu iapun terkesiap.
Rupanya dia tersesat jalan. Disebelah muka tampak Jajaran
batu karang gunung yang berserakan tinggi rendah.
Diam2 ia mengeluh. Terpaksa ia harus menempuh
perjalanan sepanjang malam. Kemudian ia mendaki karang
yang penuh ditumbuhi pohon siong.
Saat itu rembulan mulai muncul. Tetapi tempat ia
berjalan itu, tertutup oleh kabut tipis.
Tiba2 ia mendengar suara ringkik kuda. Ia tak asing
dengan suara ringkikan itu. Menurut arah suara itu, segera
itu, segera ia menyerbunya.
Ah….
Ia terkesiap. Ternyata kudanya si Hijau tertambat pada
sebatang pohon siong. Hm, aneh benar. Mengapa si Hijau
tertambat di situ ? Adakah seseorang sengaja hendak
mempermainkannya? Ataukah si Hijau itu telah tertangkap
oleh pencuri kuda dan diikat di pohon itu ?
Segera ia menghampiri kuda itu. Ternyata barang2 yang
berada di pelana kuda, tak ada yang hilang. Hanya surat
yang ditulisnya secara terburu-buru itu yang hilang. Padahal
surat itu ditujukan kepada orang tuanya. Cu Jiang benar2
tak habis herannya.
Setelah merenungkan peristiwa itu, ia menarik
kesimpulan bahwa memang ada orang yang sengaja
menambatkan si Hijau di situ dan orang itu
memperhitungkan bahwa dia tentu akan lewat di tempat
itu.
Siapakah orang itu? Apa maksudnya mengambil surat?
Cu Jiang makin puyeng. Benar2 ia tak dapat
memecahkan teka teki itu. Aneh... benar2 aneh sekali.
Katanya dalam hati seraya geleng2 kepala.
Pada saat ia hendak melepas tali pengikat si Hijau
sekonyong-konyong ia mendengar suara orang membentak
keras2. Kemudian dari arah karang pohon siong jauh di
sebelah muka, terdengar suara seorang gadis berseru dengan
nada gemetar:
"Apakah kalian benar2 hendak membunuh habishabisan?
Dulu aku tiada mempunyai dendam dengan
kalian, sekarangpun tidak bermusuhan. . ."
Seorang lelaki bernada kasar, berseru:
"Kami hanya menjalankan perintah saja, bocah ayu, tak
perlu engkau banyak bicara!"
Mendengar itu Cu Jiang kerutkan alis lalu loncat
menerjang kearah suara itu.
Dalam hutan dia melihat empat lelaki menghunus
pedang sedang mengepung seorang dara.
Dara itu berpakaian warna hijau, tangannya membawa
sebuah bungkusan kain. Umurnya di sekitar dua-puluhan
tahun. Ditingkah cahaya rembulan, tampak gadis itu
berwajah amat cantik sekali, Ia terpesona. Jarang dia bersua
dengan gadis yang memiliki kecantikan sedemikian
cemerlang.
Saat itu tampak wajah si nona menampil ketakutan dan
airmatanya berlinang linang.
Cu Jiang menghampiri. Sampai mencapai jarak dua
tombak dari nona itu, tetap keempat lelaki bersenjata
pedang itu masih belum mengetahui.
Ketika melihat gadis itu berpakaian warna hijau seketika
Cu Jiang teringat akan Tiga-harimau-Sujwan yang bertanya
kepadanya tentang diri seorang gadis baju hijau.
Kemungkinan besar tentu si jelita ini yang dimaksudkan
ketiga momok dari Sujwan itu.
"Mau kemana engkau, nona cantik ?" seru keempat lelaki
itu.
Dengan nada teriba-iba. si jelita baju hijau berkata:
"Silahkan kalian melanjutkan perjalanan, lepaskan aku,
berbuatlah dharma kebaikan untuk penitisan kalian yang
akan datang..."
Salah seorang dari keempat lelaki itu tertawa mengekeh:
"Heh, heh, penitisan yang akan datang? Apa itu?
Manisku, biarlah kami yang menggendong mu menempuh
perjalanan!"
Ucapan yang cabul itu membangkitkan kemarahan Cu
Jiang.
Salah seorang yang bernada nyaring, tiba2 berteriak:
"Hai, kawan2, tadi kuda itu bernama . .. "
Lelaki yang cabul tadi menukas:
"Persetan, siapa yang suruh dia berani menyiram air
dikepala pangeran, berani mencampuri urusan kita.
Cu Jiang tak dapat menabas diri. Dia tertawa dingin:
"Justeru aku memang hendak bertanya kepada kalian !"
"Hai, siapa itu !" serempak keempat orang berteriak
seraya berbalik tubuh. Serta melihat seorang yang tampan
dan gagah, mereka terkejut.
"Kongcu, tolonglah aku !" serentak si jelita berteriak
minta tolong kepada Cu Jiang. Cu Jiang mengerling.
Pandang matanya tertumbuk pada pandang mata jelita itu.
Seketika tersiraplah darahnya. Seorang gadis yang memiliki
kecantikan luar biasa dengan pandang mata meminta
pertolongan.
"Gadis ini benar-2 cantik sekali," pikirnya, "selama aku
berkelana di Kanglam, entah sudah berapa ratus gadis
cantik yang pernah kujumpai. Tetapi yang secantik gadis ini
baru pertama kali ini aku bertemu."
Salah seorang dari keempat lelaki yang membawa
pedang itu, rupanya yang menjadi pemimpinnya,
mengawasi lekat pada Cu Jiang.
"Engkoh kecil." sesaat kemudian dia berseru, "apakah
engkau benar2 hendak turut campur urusan kami ini ?"
"Pasti!" sahut Cu Jiang dengan nada tegas.
"Mengapa engkau menyiksa dirimu ..."
"Apa maksudmu ?" tukas Cu Jiang.
"Menilik sikapmu, engkau tentu bukan pemuda
sembarangan. Usiamupun belum berapa banyak. Bukankah
sayang kalau engkau sampai mati ?"
Meledaklah tawa Cu Jiang karena kemarahannya:
"Kebalikannya, apakah kalian juga tak sayang kalau
sampai mati?"
Keempat lelaki itu mengerut dahi. Wajah mereka sarat
dan matanya memancarkan sinar pembunuhan.
Pemimpin dari keempat lelaki itu segera berseru:
"Budak, ini berarti engkau hendak cari mati sendiri."
"Apakah anda sekalian hendak bertekad mati ?"
walaupun marah tetapi Cu Jiang masih dapat
mengendalikan diri.
"Lalu bagaimana baiknya kalau menurut pendapatmu ?"
"Lanjutkan saja perjalananmu !"
"Lalu gadis ini ?"
"Tinggalkan saja !"
"Ha, ha, ha, ha !" orang itu tertawa mencemooh, "budak,
kata-katamu lebih merdu dari orang menyanyi."
"Aku sebenarnya tak ingin membunuh orang."
"Bau pupuk kepalamu masih belum kering tetapi
mulutmu sudah sedemikian besar. Tahukah engkau siapa
kami berempat ini ?"
"Tak lebih dari kawanan tikus belaka !"
Mendengar Jawaban Cu Jiang, seketika meluaplah
kemarahan keempat orang itu. Orang yang nada suaranya
kasar tadi segera getarkan pedangnya dan berseru:
"Budak, pernahkah engkau mendengar nama Gedung
Hitam ?"
Terkejut Cu Jiang mendengar nama itu. ."Apakah kalian
ini orang dari Gedung Hitam?"
Gedung Hitam merupakan sebuah perkumpulan rahasia
dalam dunia persilatan. Pengaruh partai Gedung Hitam itu
meliputi daerah Kanglam dan Kangpak. Mereka membasmi
kaum persilatan yang bukan golongannya. Setiap orang
persilatan tentu akan gemetar mendengar nama Gedung
Hitam itu.
Tetapi di manakah letak markas Gedung Hitam itu dan
siapakah pemimpinnya, selama puluhan tahun tiada
seorangpun yang tahu.
"Ah, rupanya engkau sudah terlambat." seru lelaki yang
menjadi pemimpin kawan-kawannya itu.
Serentak Cu Jiang teringat akan pesan ayahnya ketika
dia hendak berangkat berkelana. Ayahnya pesan, selama
berkelana di dunia persilatan itu jangan sekali-kali cari
perkara dengan orang-orang Gedung Hitam. Berbahaya
sekali tentu celaka.
Tetapi apa mau dikata lagi. Saat itu dia sudah terlanjur
berhadapan dengan empat anggauta Gedung Hitam.
Sekalipun dia hendak menghindar, tentulah mereka tak
mau melepaskannya.
Seketika bangkitlah semangat Cu Jiang Sebagai putera
seorang ksatria, bagaimana dia mau ber peluk tangan
mengawasi seorang gadis lemah yang hendak diganggu oleh
kawanan anggauta Gedung Hitam?
Seketika timbullah semangat kegagahan Cu Jiang.
Serunya dengan nada datar:
"Apakah kesalahan nona itu kepada kalian?"
"Tiada seorangpun yang berani menanyakan urusan
pihak Gedung Hitam! " sahut pemimpin ke empat orang
itu.
"Tetapi kalau aku berkeras hendak bertanya?"
"Heh, heh, kematian sudah di depan mata, mengapa
engkau masih banyak tingkah." orang itu tertawa seram.
"Kongcu, jika engkau tak mau menolong, aku tentu
celaka di tangan mereka." kembali jelita Itu berteriak
dengan nada beriba.
Cu Jiang berpaling memandangnya. Seketika bulatlah
tekadnya. Keadilan dalam dunia persilatan tak boleh
diinjak-injak. Dia harus turut campur tangan dalam urusan
itu.
Tetapi tiba2 iapun ingin mengetahui, mengapa gadis
cantik itu sampai dikejar-kejar orang Gedung Hitam?
Kemudian Cu Jiang menarik kesimpulan bahwa
kawanan Delapan-tikus-Holam dan Tiga harimau-Sujwan
yang telah dibunuh Ang Nio cu itu kiranya juga anggauta
dari Gedung Hitam.
"Mengapa nona sampai berurusan dengan mereka?"
akhirnya ia meminta keterangan kepada jelita itu.
Dengan nada rawan jelita baju hijau itu berkata:
"Delapan jiwa dalam keluargaku telah dibunuh semua,
hanya tinggal aku seorang. Tetapi mereka tetap tak mau
melepaskan aku!"
"Apa sebabnya?" tanya Cu Jiang.
"Karena pemimpin Gedung Hitam itu tertarik pada
wajahku!"
"Harus dibasmi!" Cu Jiang mendengus geram.
"Budak, jangan berkentut busuk!" teriak pemimpin
kawanan lelaki itu seraya terus menusuk Cu Jiang.
Ilmu pedang orang itu memang bukan olah2. Aneh dan
ganas sekali. Sekaligus ujung pedang berhamburan
mengarah kelima buah jalan darah di tubuh Cu Jiang.
Gerakan pedangpun menimbulkan desis angin yang tajam
sekali.
Dengan tenang Cu Jiang bergerak ke samping untuk
menghindar.
"Bagus, budak, kiranya engkau mempunyai modal juga
maka engkau begitu jumawa!" seru orang itu. Dan mereka
berempat segera berpencar di empat penjuru untuk
mengepung Cu Jiang.
"Apakah kalian hendak memaksa aku harus turun
tangan? "seru Cu Jiang.
"Serahkan jiwamu!" teriak lelaki yang bersuara kasar. Ia
terus menusukkan pedang ke dada Cu Jiang. Sementara
ketiga kawannya juga serempak menyerang dari tiga arah.
Tring, iring, tring
Terdengar serentetan dering senjata yang menusuk
telinga dan seketika gerakan pedang keempat orang itu
berhenti, orangnyapun masing2 mundur sampai dua tiga
langkah.
Tampak Cu Jiang sedang memegang pedang pusakanya
yang berwarna hitam legam. Mencabut dan membabatkan
pedangnya, dilakukan dengan kecepatan yang amat tinggi
sekali. Seolah-olah pedang itu sudah melekat pada
tangannya.
Tetapi hal itu hanya penundaan sementara. Tak ada
anggauta Gedung Hitam yang tak ganas. Sudah tentu
mereka tak mau menerima begitu saja akan kekalahan itu.
Serempak mereka berempat menggembor dan menerjang
lagi. Mereka melancarkan jurus2 serangan yang buas,
seolah ingin lekas2 membelah pemuda itu.
Melihat tingkah mereka, berkobarlah kemarahan Cu
Jiang. Dengan mendengus, ia taburkan pedangnya pula.
"Huak..."
Terdengar jeritan ngeri menguak suasana. Lelaki yang
tadi buka suara besar itu rubuh, tubuhnya mandi darah.
Ketiga kawannya serentak tertegun.
"Aku dipaksanya untuk membunuh!" kata Cu Jiang pula.
"Aih . . . !" tiba2 gadis jelita tadi menjerit kaget.
Ketiga anggauta Gedung Hitam segera membungkukkan
tubuh dan terus mengundurkan diri.
Cu Jiang cepat berpaling. Tampak, entah kapan, di
tempat itu telah bertambah dengan kemunculan sesosok
bayangan raksasa. Ketika mengawasi dengan lekat, bulu
roma Cu Jiang meregang tegak dan menahan napas.
Bayangan raksasa yang ditingkah sinar rembulan itu
sepintas menyerupai bangsa setan gunung. Memakai topi
hijau dan jubahnyapun berwarna hijau.
Tangannya memegang sekeping papan. Matanya
menonjol ke luar, hidung melesak. Mengerikan mata
memandangnya. Sepintas menyerupai seorang menteri
kerajaan yang berpangkat sebagai hakim.
Dengan mata yang berkilat-kilat memancar cahaya hijau,
orang itu memandang Cu Jiang.
Siapakah orang itu? Dan gerak geriknya ketika dia
muncul tanpa mengeluarkan suara sedikit pun juga, jelas
dia tentu memiliki ilmu yang sakti.
Cu Jiang paksakan diri untuk menegur:
"Kojiu dari manakah anda ini ?"
"Hakim baju hijau dari Gedung Hitam!" sahut orang
tinggi besar itu dengan nada macam guntur yang
memekikkan telinga.
Cu Jiang belum pernah mendengar tentang diri Liokpoan-
koan atau Hakim Baju hijau. Tetapi karena dia
menjabat pelindung hukum dari Gedung Hitam, tentulah
ilmu kepandaiannya tinggi sekali.
"O, Hakim baju hijau," tanpa disadari Cu Jiang
mengulang nama itu.
Tetapi orang itu tak menghiraukan Cu Jiang. Dia
mengalihkan pandang matanya kearah gadis jelita.
Beberapa jenak kemudian baru dia berkata:
"O, benar2 memikat hati!" Kemudian dia beralih
memandang Cu Jiang lalu membentaknya: "Budak,
tahukah engkau bagaimana cara engkau akan mati?"
Cu Jiang mengertek gigi.
"Mati dengan cara bagaimana?" serunya.
"Tubuhmu akan kusempal-sempal hidup-hidupan !"
"Ah, masakan begitu mudah!"
"Belum pernah aku meninggalkan mayat korbanku
masih utuh !"
Cu Jiang menggenggam pedangnya makin kencang.
Kemudian dengan besarkan nyali, berseru:
"Soal itu harus dilihat kenyataannya !"
Liok-poan-koan atau Hakim baju hijau mengeliarkan biji
matanya beberapa kali. Kemudian tertawa seram.
"Budak, aneh, tiba2 saja aku ingin bermurah hati, tak
sampai hati untuk turun tangan..."
"Mengapa ?" seru Cu Jiang.
"Karena tulang-tulangmu bagus sekali, sebuah bahan
istimewa yang jarang terdapat dalam dunia persilatan!"
Lalu ?"
"Jika engkau masih ingin hidup, masih terbuka sebuah
jalan ...."
"Jalan yang bagaimana ?" tukas Cu Jiang.
"Menjadi muridku!"
Tak tahan Cu Jiang untuk tidak tertawa. Serentak dia
berseru:
"Anda berpikir terlalu muluk !"
Mendengar jawaban itu mata Liok-poan-koen segera
menghambur sinar hijau.
"Apa katamu? Engkau menolak?" teriaknya marah
sekali.
"Ya,"
"Coba ulangi lagi kalau berani!"
"Aku tidak mau! "
"Huh..." kerongkongan Liok-poan-koan menelan
ludahnya. Kemudian ia menyusupkan Papan-besi ke
pinggangnya lalu berseru:
"Jika begitu akan kurobek-robek tubuhmu!"
Serempak dengan kata2, tangannya yang segede kipas
bertebar dan kelima jarinya yang menyerupai cakar2 besi
segera menerkam Cu Jiang.
Walaupun tahu bahwa dirinya bukan lawan orang itu
tetapi dalam keadaan terdesak seperti saat itu, tiada lain
pilihan bagi Cu Jiang kecuali harus melawan. Dia babatkan
pedangnya dengan sepenuh tenaga. Ujung pedang
berhamburan bagai hujan mencurah deras ke arah tiga belas
buah jalan darah di tubuh lawan.
Jurus permainan pedang itu benar2 mengejutkan sekali.
"Ahhh ....!"
Entah dengan gerak bagaimana, tahu2 Cu Jiang rasakan
tangannya yang memegang pedang itu tergetar. Bukan saja
seluruh gerakan pedangnya terhalang, pun dia juga harus
menyurut mundur tiga langkah. Dan tanpa disadari dia
menjerit kaget.
Liok-poan-koan tak mau mengejar melainkan hentikan
serangannya. Rupanya dia merasa sayang.
Liok-poan-koan si manusia aneh itu tertawa aneh,
serunya:
"Budak, selama ini aku membunuh erang seperti
membunuh nyamuk saja. Tapi hari ini, kuadakan
pengecualian. Sekali lagi jawablah. Engkau mau atau tidak
menjadi muridku?"
Cu Jiang deliki mata dan menyahut dengan seram:
"Tidak bisa!"
Tangan Liok-poan koan yang diangkat ke-atas.
diturunkan pula. Kemudian berseru marah:
"Kunyuk kecil, jika aku sengaja tak memberi
kelonggaran, tak mungkin engkau mampu menerima
sebuah seranganku saja. Ketahuilah, jika engkau dapat
mewarisi kepandaianku, dalam dunia persilatan tiada yang
dapat melawanmu !"
"Tidak bisa !"
"Jika begitu akan kurobek-robek tubuhmu !" seru Liokpoan
koan seraya ulurkan tangan mencengkeram.
Ternyata Cu Jiang sudah tak berdaya lagi. Tenaganya
habis. Untuk mengangkat pedang saja dia sudah tak
mampu. Maka dia hanya pejamkan mata menunggu
kematian.
Dalam detik2 malaekat Elmaut hendak merenggut jiwa
Cu Jiang, sekonyong-konyong terdengar sebuah suara
nyaring berseru.
"Liok poan-koan, biarlah pinto yang mewakilinya
menerima seranganmu!"
Serempak muncullah seorang imam tua yang kain
kepalanya tak keruan.
Cu Jiang terbeliak. Ternyata imam tua itu tak lain adalah
Imam yang bertemu padanya di tengah jalan dan berkeras
hendak mengambilnya sebagai murid. Dia adalah Thianhian-
cu, salah seorang dari Tiga-serangkai-imam dalam
dunia persilatan.
Cu Jiang timbul pula semangatnya. Liok-poan-koan
menarik tangannya dan tertawa gelak:
"Imam Jembel. tak kira kalau engkau masih berani
keluar gunung. Apakah engkau hendak mengantar jiwamu
kemari ?"
Thian-hian-cu melemparkan sebutir pil kepada si jelita
yang tak berapa jauh dari tempatnya seraya berkata
pelahan:
"Suruh dia lekas minum lalu lanjutkan perjalanan lagi,
jangan lupa!"
Setelah memberi pesan dia terus melangkah ke muka dan
memberi anggukan kepala kepada Liok-poan-koan: "Ah,
sudah lama kita tak berjumpa !"
Tetapi Liok-poan-koan membentaknya: "Imam busuk,
jangan banyak bicara, lekas serahkan jiwamu !"
Segera dia lepaskan sebuah hantaman.
Thian hian-cu pun cepat2 mengangkat tangannya untuk
menyongsong. Bum . . . terdengar letupan dahsyat. Batu
dan pasir berhamburan, ranting dan rumput2 bertebaran.
Kedua bayangan itupun segera berpencar lagi.
Ternyata kekuatan keduanya berimbang.
Sesaat kemudian keduanya lalu maju lagi. Saat itu
cuacapun mulai gelap. Malam tiba. Rembulan dan bintang
tak tampak di cakrawala.
Setelah menerima pil, si jelita tadi segera menghampiri
Cu Jiang. Dengan tangannya yang putih mulus, ia
menyusupkan pil itu ke mulut Cu Jiang.
Cu Jiang mengangakan mulut hendak berkata apa2,
tetapi si jelita sudah mendahului untuk menyusupkan pil ke
dalam mulutnya.
Ketiga lelaki membawa pedang tadi, rupanya hendak
mencari kesempatan. Mereka memberi isyarat mata lalu
tiba2 mereka serentak menyerang maju.
"Hm, cari mampus lu!" Terdengar ketiga orang itu
menjerit ngeri dan rubuh di tanah. Ternyata yang turun
tangan adalah Thian-hian-cu.
Walaupun sedang bertempur dengan Liok-poan-koan
tetapi Thian-hiancu masih sempat untuk menghantam
ketiga lelaki berpedang itu. Suatu bukti yang jelas bahwa
nama Bu-lim sam-cu atau Tiga-serangkai-imam dunia
persilatan, memang tak bernama kosong.
Hantaman dari Thian hian-cu yang merubuhkan ketiga
lelaki bersenjata pedang itu masih membaurkan angin yang
melanda ke Cu Jiang sehingga anak muda itu sampai
terhuyung. Melihat itu si jelita buru2 memegangnya agar
jangan sampai jatuh. Dengan demikian kedua muda mudi
itu telah bersentuhan tubuh.
Seketika hidung Cu Jiang terbaur oleh bau yang harum
sedap dari tubuh dan napas si jelita.
Cu Jiang tersirap, mukanya ter-sipu2 merah. Melihat itu
si jelitapun segera lepaskan tangannya dan dengan ke
malu2an, ia bertanya:
"Kongcu, apakah engkau dapat berjalan?"
Cu Jiang seperti di ingatkan akan keadaan yang
dihadapinya saat itu. serentak ia melakukan pernapasan dan
ternyata tenaganya sudah pulih separoh.
Ia tahu bahwa pil pemberian Thian-hian-cu itu memang
hebat sekali. Serentak timbullah keperwiraan hatinya. Dia
tak mau melarikan diri. Setelah Thian hian-cu selamat, baru
dia akan pergi.
Tetapi pada lain saat, ia menyadari. Sekali pun
tenaganya sudah sembuh sama sekali, diapun tetap tak
dapat membantu Thian-hian-cu. Ia bingung dan tak tahu
bagaimana harus mengambil keputusan.
"Kongcu, mari kita tinggalkan tempat ini," si jelita
mendesaknya.
Nadanya selembut sutera, kumandangnya semerdu
burung kenari. Telinga Cu Jiang seperti mendengar
nyanyian yang mengikat jiwa. Terutama ketika jelita itu
mengucapkan kata2 kita. Ah, semangat Cu Jiang seperti
me-layang2.
Walaupun mereka berdua baru saja berkenalan dan
belum mengetahui siapa diri masing2 yang sesungguhnya,
tetapi keadaan telah mempersatukan mereka dalam nasib
yang sama.
Dan keadaan itulah yang menyebabkan mereka
menghilangkan segala rasa kikuk dan malu satu sama lain.
Keduanya seperti kawan lama yang mesra.
Di tingkah cahaya rembulan, Cu Jiang sempat pula
memperhatikan betapa sorot mata si jelita itu memancarkan
rasa bersyukur, harapan dan percikan perasaan hati yang
tersembunyi.
Dalam pada itu, ketiga lelaki bersenjata pedang telah
duduk di tanah untuk menyembuhkan lukanya.
Sementara Thian-hian-cupun masih melanjutkan
pertempuran maut dengan Liok-poan-koan. Hanya
tampaknya Thian-hian-cu lebih di atas angin.
Sejenak memandang ke arah gelanggang pertempuran
berkatalah Cu Jiang kepada si jelita:
"Nona, bagaimana kalau engkau berangkat dulu?"
"Mengapa?" tanya si jelita.
"Aku tak dapat meninggalkan imam itu .. ."
"Tetapi kongcu, imam itulah yang memberi pesan
kepadamu."
"Tetapi .... sebagai seorang ksatrya.. ."
"Kongcu, maaf kalau aku lancang bicara. Tetapi apabila
kongcu tetap berada di sini, imam itu akan bertambah
beban pikiran. Luka mu . . . ."
Merah muka Cu Jiang. "Nona, mungkin kita tak satu
jalan."
Wajah si jelita tampak sedih, ujarnya:
"Kongcu, karena engkau sudah mengulurkan budi
pertolongan kepadaku, tentulah kongcu tak tega kalau aku
sampai jatuh ke tangan orang2 jahat itu, bukan?"
Cu Jiang terkesiap, ia serba salah.
Tiba2 Thian-hian-cu berteriak:
"Hai, budak, kasak kusuk apa lagi itu? Kalau mau
bermesra-mesraan, pindahlah ke lain tempat. Jangan di sini.
Celaka kalau sampai datang poan-koan (hakim) yang lain
lagi!"
Cu Jiang terbeliak. Diam2 dia mengakui ucapan imam
itu memang benar. Jika muncul jago ko-jiu dari Gedung
Hitam lagi, menilik si jelita itu seperti orang yang tak
mengerti ilmu silat, bukankah dirinya akan celaka.
Perangai Cu Jiang yang angkuh, saat itu harus
mengendap. Ia harus mengalah. Maka berserulah ia kepada
Thian-hian-cu:
"Cian pwe, budi pertolonganmu itu kelak pasti akan
kubalas!"
Dia terus berputar tubuh dan mengajak si jelita berlalu
dari situ. Keduanya menuju ke dalam hutan.
"Kongcu, mengapa balik ke sana lagi? " tegur si jelita.
Cu Jiang hentikan langkah dan menjawab: "Kudaku
masih berada di bawah karang."
"Oh..."
"Apakah nona pernah belajar silat?"
"Ah, hanya gerakan seperti orang menari-nari saja,
masakan dapat digunakan untuk melindungi diri. Mohon
tanya siapakah nama kongcu?"
"Namaku Cu Jiang."
"O, aku . . . namaku Ho Kiong Hwa! " Kiong Hwa
artinya Bunga istana. Ah, memang wajahnya benar2
secantik bunga istana.
"Nama yang indah!: tanpa disadari Cu Jiang berseru
memuji. Kemudian ia tersipu-sipu sendiri karena tak dapat
mengendalikan perasaannya.
Ho Kiong Hwa tertawa gembira: "Ah, kongcu terlalu
memuji. "
Dalam bercakap-cakap itu mereka tiba di tempat kuda
Hijau ditambatkan. Tetapi seketika itu mata Cu jiang
melotot dan wajahnya merah padam. Dadanya hampir
meledak karena diluap kemarahan yang besar.
Kuda Hijau, kuda kesayangannya, saat itu terkapar di
tanah, kepalanya hancur, darah bercucuran ke luar.
Antara Cu Jiang dengan kuda kesayangannya itu telah
terjalin suatu hubungan yang mesra. Melihat kudanya
dalam keadaan begitu mengenaskan, diapun mengucurkan
airmata.
"Ai, temuan Liok poan-koan itu yang melakukan." seru
Ho Kiong Hwa.
"Bagaimana nona tahu?"
"Yang dapat menghancurkan kepala kuda tanpa
menimbulkan suara, siapa lagi kalau bukan makhluk aneh
itu."
"Nona benar." tukas Cu Jiang dengan geram. "Pada
suatu hari aku tentu akan memperlakukan dia seperti apa
yang dilakukan terhadap kudaku ini. Kepalanya akan
kuhancurkan juga! "
"Kongcu, bagaimana kita sekarang?"
"Terpaksa harus berjalan kaki. "
"Cu kongcu, demi menolong diriku, engkau, banyak
mengalami kesukaran apalagi engkau harus menderita
kesedihan karena kehilangan kuda kesayanganmu. Hal ini
benar2..."
"Nona Ho. sungguh menyesal. Karena kepandaianku
yang dangkal maka aku sampai mengalami penderitaan
ini!"
"Ah. kalau kongcu mengatakan begitu, hatiku makin
berat."
Di sebelah sana pertempuran masih berlangsung seru.
Suasana sunyi di pegunungan tersibak oleh hiruk pikuk
pertempuran maut itu.
"Kita tinggalkan tempat ini dulu baru nanti kita
berunding lagi."
"Terserah bagaimana kongcu hendak mengatur, aku
hanya menurut saja."
Dari pelana kudanya, Cu Jiang mengambil beberapa
benda yang penting lalu disisipkan dalam bajunya. Yang
lain2 ia tinggalkan di situ.
Setelah berjalan menyusuri pegunungan karang itu,
mereka lalu lanjutkan berjalan dengan cepat.
Malam itu rembulan bersinar indah. Tetapi Cu Jiang tak
mempunyai hati untuk menikmati keindahan malam itu.
Belum pernah ia mengalami penderitaan yang begitu berat
dan begitu menyedihkan. Sifat kegagahannya pun seolah
pudar.
Demikian keduanya menyusur di sepanjang jalan kecil
dilereng gunung. Jauh disebelah muka tampak jalan yang
lebih lebar.
Tiba2 Cu Jiang berhenti. "Nona Ho, kita terpaksa harus
berpisah !"
Si jelita memandang Cu Jiang dengan rawan, serunya:
"Berpisah ?"
Cu Jiang terkesiap.
"Akhirnya kita tak dapat terus menerus bersama-sama
...."
Ho Kiong Hwa tersenyum:
"Tetapi aku ingin terus begini !"
Percik harapan yang tertumpah pada kata2 itu. sudah
tentu Cu Jiang dapat menerima. Tetapi dia selalu memikiri
rumah dan ingin pulang.
Kedua orang tuanya karena menyingkir dari dendam
permusuhan maka mengasingkan diri ditempat yang
tersembunyi, agar jangan diketahui orang. Seingatnya,
karena tempat tinggalnya diketahui orang, maka ayahnya
telah berpindah tempat sampai empat kali.
Dia harus mentaati pesan ayahnya, supaya jangan
sembarangan menceritakan tentang dirinya dan tempat
tinggalnya. Ho Kiong Hwa, sinona jelita itu belum jelas asal
usulnya.
"Mudah jatuh pada kecantikan wanita, bukan laku
seorang ksatrya." Demikian ajaran ayahnya.
Maka ia teguhkan hatinya dan berkata: "Nona Ho, kelak
kita tentu berjumpa lagi"
Wajah si jelita kembali mengerut kesedihan. Kemudian
berkata dengan rawan:
"Cu kongcu, aku sudah sebatang kara, tiada punya
rumah, tiada sanak keluarga. Entah bagaimana jadinya
dengan diriku dalam pengembaraanku di dunia persilatan
itu. Menilik sikap dan peribadi kongcu, kongcu tentu putera
seorang keluarga yang ternama. Apakah kongcu sudi
melimpahkan budi untuk menerima diriku sebagai bujang
pelayan . . ."
Cu Jiang gelengkan kepala pelahan.
"Nona Ho, aku sendiri dari keluarga miskin."
"Ah, tak percaya."
"Terserah pada nona."
"Apakah kongcu tak kasihan padaku?"
"Nona Ho, apabila aku mengandung hati begitu,
mengapa aku harus berjerih payah mengikat permusuhan
dengan fihak Gedung Hitam. . ."
"Maafkan kongcu, aku kelepasan omong!"
"Ah, janganlah nona berkata begitu," sahut Cu Jiang.
"Budi pertolongan kongcu, kelak tentu akan kubalas."
"Ah, jangan nona berkata begitu. Apa yang kulakukan
itu tak berarti apa2."
"Meskipun kongcu tak mengharap balas, tetapi aku tentu
selalu mengingat budi pertolongan kongcu."
"Sebenarnya aku sangat memikirkan keadaan nona tetapi
aku tak berdaya hendak membantu nona, kudoakan Thian
selalu memberkahi nona."
"Terima kasih, kongcu."
"Harap nona suka menjaga diri baik2."
"Harap kongcu juga baik2 menjaga diri."
"Semoga kelak kita akan berjumpa lagi."
"Pasti . . ." Cu Jiang memberi hormat. Dengan keraskan
hati, ia terus lari menuruni gunung. Ada sesuatu yang
membuat hatinya menderita tetapi sukar untuk diucapkan.
Setelah tiba di jalan besar, ia terus menuju ke arah
selatan. Pada hari ketiga, sampailah ia di kota Li-jwan.
Setelah itu akan mencapai daerah gunung Bu-teng-san yang
tak jauh dari tempat tinggalnya
Ia segera menuju ke rumah makan yang menjadi
langganannya apabila dia tiba di kota itu.
Pemilik rumah makan itu seorang nyonya bertubuh
gemuk. Ia menyambut kedatangan Cu Jiang dengan
gembira. Sambil bertepuk tangan dia berseru:
"Ai, Kongcu. sudah setengah tahun, kita tak bertemu.
Silahkan masuk! Mana kudanya?"
"Aku jalan kaki saja," Cu Jiang tertawa.
"Ah, kongcu tentu letih, silahkan beristirahat di ruang
kebun belakang!"
"Toa-Nio, aku hanya singgah makan saja terus akan
melanjutkan perjalanan lagi."
"Sudah lama tak bertemu mengapa begitu terburuburu...."
Cu Jiang hanya tertawa dan terus masuk ke ruang
belakang.
Di belakang terdapat tiga buah halaman. Yang satu
terang dan yang dua gelap. Di tengah halaman di tumbuhi
dengan bunga2an dan di hias dengan batu. Suasananya
sunyi tenang.
Cu Jiang menuju ke ruang yang di tengah. Tak berapa
lama pelayan mengantar minuman, buah2an dan handuk
panas.
"Apakah kongcu hendak minum arak?"
"Ya, sedikit saja."
"Pakai sayur apa?"
"Biasa saja yang sering kumakan."
Jongos segera ke luar, Cu Jiang duduk merenungkan
semua pengalaman selama dalam perjalanannya. Ang Niocu,
Liok-poan-koan, si jelita Ho Kiong Hwa, Thian-hian-cu.
. .
Juga tentang suratnya yang hilang di pelana kuda. Dia
heran memikirkan hal itu. Mengapa bukan uang atau perak
yang di bekalnya yang hilang tetapi surat itu? Bukankah
surat itu hanya sekedar memberitahu kepada kedua orang
tuanya tentang keadaan dirinya waktu itu? Apa guna orang
itu mengambilnya?
Dan pula, mengapa kuda si Hijau sampai tertambat pada
pohon siong itu?
Setelah melalu lalang dalam lamunan, akhirnya
pikirannya teringat kembali kepada si jelita Ho Kiong Hwa.
seorang nona yang cantik luar biasa tetapi menderita nasib
yang malang.
Membayangkan betapa dalam waktu sesingkat itu ada
suatu perasaan yang menjalin hatinya dengan si jelita,
merahlah muka Cu Jiang.
Diam2 dia menyesal mengapa sekali sudah menolong
nona itu, ia tak mau menolong sampai akhir, membawanya
ke rumah makan di situ? Tetapi ketika teringat bahwa
rumah makan itu penuh di kunjungi dengan tetamu2 yang
pergi datang, padahal si jelita itu sedang diburu oleh orang2
Gedung Hitam, bukankah rumah makan itu akan terlibat?
Tiba2 pelayan muncul dengan membawa hidangan yang
di pesannya. Kemudian pelayan itu keluar lagi.
Kini Cu Jiang duduk minum seorang diri. Pikirannya
masih tertuju pada si jelita.
Ho Kiong Hwa benar2 seperti yang terlukis dalam
suratan nasib: "Wanita cantik kebanyakan tentu bernasib
malang . . ."
Sekonyong-konyong tirai pintu tersiak dan muncullah
seorang lelaki berpakaian biru di pinggir pintu. Dia
melangkah masuk tertawa sinis kepada Cu Jiang.
"Mau apa engkau !" bentak Cu Jiang.
Lelaki itu lemparkan sebuah benda lalu berbalik tubuh
dan melangkah keluar.
Cu Jiang menyambuti benda itu dengan sumpitnya lalu
berteriak: "Berhenti!"
Tetapi orang itu sudah menerobos keluar dan
menghilang. Cu Jiang terpaksa tak dapat mengejar. Dia
rasakan benda yang disumpitnya itu cukup berat. Ketika
diamatinya ternyata sebuah thiat pay atau papan besi warna
hitam, bagian tengahnya terdapat sebuah huruf yang
menonjol dan berbunyi MATI.
00oodwoo00
Jilid 2
Kejut Cu Jiang bukan kepalang.
"Amanat Maut !" teriaknya.
Amanat-maut merupakan pertandaan dari pihak Gedung
Hitam untuk mencabut nyawa orang. Tak beda seperti
amanat dari Giam lo-ong atau si Raja Akhirat. Barang siapa
menerima amanat itu tentu mati.
Dulu Cu Jiang hanya pernah mendengar tentang itu.
Tetapi kini dia benar2 melihat bahkan menerimanya
sendiri.
Balik kedalam ruangan, hilanglah selera Cu Jiang untuk
minum arak.
Pengaruh Gedung Hitam benar2 luas dan mengerikan.
Dalam waktu singkat saja dia sudah jatuh kedalam
cengkeraman mereka.
Bagaimana dengan si jelita Ho Kiong Hwa ? Ah, nona
itu tentu tak terhindar dan genggaman orang2 Gedung
Hitam. Entah bagaimana, walaupun dirinya sedang
menghadapi bencana maut, lebih dulu dia memikirkan diri
dan keselamatan si jelita Ho Kiong Hwa.
Pemilik rumah makan bergegas mendatangi dan berseru:
"Kongcu, orang tadi. . .."
"Menerimakan benda ini." kata Cu Jiang seraya
menunjukkan papan besi itu.
"Amanat-maut." teriak wanita itu.
"Benar, memang amanat kematian," kata Cu Jiang
dengan nada sarat.
Pipi wanita pemilik rumah makan yang besar dengan
daging itu segera mengerut. Sepasang alisnyapun hampir
meregang tegak.
"Kongcu, kenapa engkau sampai bermusuhan dengan
orang Gedung Hitam?" serunya.
"Karena menolong seorang nona."
"Aih, lalu bagaimana ?"
"Toa nio, aku segera hendak melanjutkan perjalanan
saja."
"Kemungkinan engkau tak dapat mencapai satu li saja !"
"Habis, daripada menunggu kematian !"
"Kongcu, berikan waktu kepadaku untuk ikut
memikirkan..."
"Tidak, toa nio, aku tak mau melibatkan dirimu."
Wanita gemuk itu deliki mata. "Ngaco !" teriaknya.
Cu Jiang terkesiap. Selama ini belum pernah wanita
gemuk pemilik rumah makan itu begitu keras sikapnya
terhadap dia. Seorang perempuan yang konon kabarnya tak
pernah belajar silat tetapi mengapa kenal Amanat-maut dan
Gedung Hitam ?
Aneh. Apakah wanita gemuk itu selama ini memang tak
mau unjukkan dirinya yang sesungguhnya ?
Tetapi betapapun juga, tak mungkin dia berani bertindak
menentang Gedung Hitam yang begitu besar pengaruh
kekuatannya dalam dunia persilatan.
"Toa-nio, apa yang engkau pikirkan?"
"Mencarikan jalan hidup untukmu !"
"Ah, tak perlu."
"Mengapa ?"
"Rumah tangga dan Jiwa toa nio, masakan harus ikut
menderita karena urusanku."
"Tutup mulutmu!" bentak wanita gemuk itu, "apabila
engkau mati ditangan orang Gedung Hitam, masih tak
mengapa. Tetapi Jiwa papah mamahmu juga terancam
bahaya."
Cu Jiang terkejut. Selama ini wanita gemuk itu tak
bertanya dan diapun tak pernah menceritakan tentang
keadaan ayah bundanya. Tetapi mengapa wanita gemuk itu
tahu ? Apakah wanita itu sesungguhnya orang Gedung
Hitam yang sengaja memancing-mancing ?
"Apa kata toa-nio?" Cu Jiang menegas.
"Tutup mulutmu !" bentak wanita gemuk itu pula seraya
deliki mata.
Cu Jiang terbeliak. Ia terlongong-longong memandang
wanita gemuk itu.
"Siapakah dia . .. .?"
Wanita gemuk itu tiba2 mengisar kemuka dinding lalu
menekan dinding itu sampai tiga kali. Dinding yang terbuat
daripada batu merah berkembang dan tiba2 merekah dan
terbukalah sebuah pintu.
Dibalik pintu itu merupakan sebuah titian atau undakundakan
batu yang jauh menjurus ke-sebelah bawah.
Karena ujung titian yang dapat dilihat mata, tertutup dalam
kegelapan, maka tak dapat diketahui sampai berapakah
dalamnya lorong rahasia itu.
"Kongcu, turunlah. Didalamnya terdapat cukup
persedian makanan, tiga hari kemudian engkau boleh
keluar !"
Cu Jiang terkejut.
Diam2 ia menimang. Jika ia menuruti permintaan
wanita gemuk itu dan masuk kebawah lorong rahasia,
bukankah dia akan seperti burung yang terjebak dalam
sangkar ?
Atau mungkinkah wanita gemuk itu memang benar2
mengandung maksud baik hendak menyelamatkan dirinya?
"Lekas turun !" teriak wanita gemuk itu.
"Toa-nio !"
"Kusuruh engkau turun mengapa masih banyak omong
lagi!"
Sejenak meragu, akhirnya Cu Jiang mengambil sikap.
Dalam menghadapi saat2 yang membahayakan jiwanya, ia
harus lebih dulu mendapat keterangan yang jelas dan tak
boleh begitu pasrah saja. Bukankah ia bisa mati konyol ?
"Toa nio, apakah engkau seorang persilatan?" segera ia
bertanya.
"Eh, mengapa masih banyak mulut ? Apakah engkau
benar2 ingin mati ?"
"Aku tak mengerti, mengapa toa-nio berani menempuh
bahaya untuk menolong seorang yang telah menerima
Amanat Maut dari Gedung Hitam? "masih Cu Jiang
bertanya.
"Kelak engkau tentu tahu !"
"Tetapi sekarang juga aku ingin tahu."
"Tolol . . . engkau "
"Dan lagi rupanya toa-nio tahu akan keluargaku ?"
"Anggap saja sudah tahu, lekas engkau masuk!"
"Tidak ! Toa-nio harus memberi penjelasan dulu . .. . "
"Waktunya tak keburu lagi!"
Cu Jiang makin curiga. ia berkeras menolak.
"Jika begitu, maaf, aku tak dapat menuruti perintahmu !"
Wanita gemuk itu deliki mata dan berseru bengis:
"Apakah engkau benar2 menghendaki toaniomu harus
turun tangan?"
Cu Jiang tergetar hatinya.
"Betapapun disembunyikan dalam kulit domba, rubah
(rase) tentu akan tampak juga ekornya," pikirnya.
"Toanio," ia tertawa dingin, "sungguh tak kira kalau
engkau mengerti silat."
"Masih banyak hal2 yang tak dapat engkau duga !"
"Kalau begitu toanio harus banyak2 memberi penjelasan
lagi."
“Turun !"
"Tidak !"
"Rupanya aku terpaksa turun tangan ..."
"Apa boleh buat..."
Tring, Cu Jiang terus mencabut pedang.
Wanita gemuk itupun segera singsingkan lengan bajunya
lalu siap mengangkat tangannya ke-atas.
Keduanya segera akan bertempur.
"Toa-nio," seru Cu Jiang dengan nada gemetar,
"bertahun-tahun engkau telah memperlakukan aku dengan
baik. Seharusnya tak boleh aku mencurigaimu. Tetapi hal
ini menyangkut suatu mati hidup”
Wanita gemuk itu melangkah maju dan membentak
dengan marah:
"Tak perlu engkau banyak berkentut, mau turun atau
tidak !"
"Maaf..."
"Ho, budak kecil."
Serempak dengan kata2 itu wanita gemukpun terus
ayunkan tangannya menghampiri.
Cu Jiang terpaksa menangkis dengan pedangnya.
"Ha, kepandaianmu masih jauh sekali terpautnya,
budak!"
Gerakan tangan wanita gemuk itu lebih cepat dari katakatanya.
Sementara pukulan tangan kanannya tadi masih
dilanjutkan, tangan kirinyapun menjulur maju menabas.
Hebat! Seketika itu gerak pedang Cu Jiang-pun tertutup
tak dapat berkembang. Dalam sekejap, Cu Jiangpun terkena
pukulan wanita gemuk itu. Dia sempoyongan ke belakang.
"Turun !"
Sebelum pemuda itu sempat berdiri tegak, kembali dia
sudah dilanda oleh gelombang angin pukulan dari wanita
gemuk itu. Cu Jiang kehilangan keseimbangan badan dan
diluar kehendaknya, dia tergelincir kedalam liang
terowongan.
Tetapi pemuda itu juga tidak lemah. Selekas kakinya
menyentuh tanah dibawah, cepat ia enjot tubuhnya hendak
melambung keatas lagi.
Wanita gemuk tertawa gelak2 seraya menghantam lagi.
Sudah tentu tubuh Cu Jiang tertekan kebawah dan jatuh ke
dalam terowongan pula.
Ha, ha ha terdengar wanita gemuk itu tertawa mengekeh
dan pada lain saat, pintu terowongan rahasia itupun
tertutup.
Kejut Cu Jiang bukan alang kepalang. Tak disangkanya
sama sekali bahwa wanita bertubuh gemuk seperti seekor
babi itu ternyata memiliki ilmu silat yang begitu hebat. Cu
Jiang merasa bahwa apa yang dipelajari selama ini sudah
cukup tinggi. Tetapi ternyata berhadapan dengan wanita
gemuk saja ia sudah kelabakan dan tak dapat berkutik lama
sekali.
Memandang ke arah bawah, gelapnya bukan main
sehingga ia tak dapat melihat jari2 tangannya sendiri. Ia
siapkan pedangnya menjaga setiap kemungkinan yang tak
terduga. Kemudian ia pejamkan mata dan tenangkan
pikiran.
Beberapa saat kemudian ia membuka mata dan dapatlah
dengan samar2 ia melihat keadaan terowongan rahasia itu.
ia coba mengacungkan pedangnya keatas. Tring, ternyata
ujung pedangnya telah menyentuh pintu rahasia tadi.
Pintu itu terbuat dari besi baja yang tebal sekali.
Sekalipun pedangnya itu juga sebuah pedang pusaka tetapi
sukar untuk membobolkan.
Betapapun geram dan bencinya terhadap wanita gemuk
itu tetapi Cu Jiang dipaksa oleh kenyataan. Dia tak dapat
keluar dari terowongan rahasia itu. Apa boleh buat, dia
harus berjuang untuk menghadapi apa yang akan terjadi.
Diam2 diapun mengutuk dirinya sendiri yang karena
kurang pengalaman maka sampai tertipu oleh wanita
gemuk itu.
Dengan membulatkan tekad, ia segera menuruni titian,
Lebih kurang lima tombak menurun ke bawah, sampailah
dia diujung titian yang terakhir. Kini dia berhadapan
dengan sebuah jalan yang datar.
Setelah menunggu beberapa saat dan tak terjadi suatu
apa, barulah ia melangkah maju. Sekalipun lorong
terowongan itu gelap tetapi tak berhawa lembab.
Lebih kurang dua-puluhan tombak berjalan dia
membiluk ke sebelah kiri dan tiba2 keadaannya terang
benderang. Sinar penerangan itu berasal dari untaian
mutiara yang terpancar dari dalam sebuah ruang.
Dalam ruang itu terdapat juga tempat tidur, meja kursi
dan lain2 alat perabot.
Berdiri di muka pintu, Cu Jiang masih meragu. Dia tak
tahu bagaimanakah sebenarnya maksud wanita gemuk itu
terhadap dirinya. Adakah wanita gemuk itu bermaksud baik
atau buruk kepadanya.
Sampai beberapa saat tertegun, ia tak melihat sesuatu
yang mencurigakan. Karena tiada lain pilihan lagi dan
karena ingin tahu, apapun yang akan terjadi ia harus
menghadapinya.
Dengan menghunus pedang ia segera melangkah masuk
ke dalam ruang. Ternyata kamar itu di hias dengan bersih
sekali. Di meja telah disediakan bahan makan dan
minuman. Tempat tidur pun lengkap dengan selimut dan
bantal. Juga disediakan rak buku dengan beberapa puluh
jilid buku bacaan.
Cu Jiang benar2 heran. Selama memasuki kamar rahasia
itu, dia tak menjumpai rintangan apa2. Dan keadaan dalam
kamar itu tepat seperti yang dikatakan si wanita gemuk.
Persedian makanan dan minuman disitu cukup untuk tiga
hari.
Apakah dia salah duga terhadap wanita gemuk itu?
Pikirnya.
"Tetapi mengapa dia menolong diriku?" tanya Cu Jiang
dalam hati.
Ransum makanan kering dan minuman disitu jelas
bukan baru saja disiapkan. Karena waktu dia menerima
Amanat Maut, sampai saat itu hanya berselang beberapa
saat saja.
Ah, hanya satu kemungkinan saja. Tentulah wanita
gemuk itu memang sudah siap menyediakan kamar rahasia
yang dilengkapi dengan ransum makanan untuk menjaga
kemungkinan apabila wanita gemuk itu menghadapi
bahaya.
Sekalipun ia menduga begitu namun hatinya masih
belum yakin. Saat itu dia ibarat burung yang sudah berada
dalam sangkar, setiap saat musuh tentu mudah sekali untuk
mengambil jiwanya.
Tiba2 ia teringat bahwa pintu di atas tadi terbuat dari
besi baja yang kokoh. Wanita gemuk mengatakan bahwa
tiga hari kemudian dia boleh keluar lagi Ah, bagaimana
mungkin!
Apabila persedian ransum makanan dan minuman di situ
sudah habis, bukankah dia akan mati kelaparan?
Apakah wanita gemuk itu memang sengaja hendak
membunuhnya secara pelahan?
"Ah, benar, benar," pikirnya, "wanita gemuk tadi telah
kelepasan omong, jelas dia tahu akan keadaan keluargaku."
Merenung hal itu diam2 Cu Jiang menggigil. Apa yang
di reka dalam dugaannya tadi, hapus semua. Jelas wanita
gemuk itu tentu seorang anggauta dari Gedung Hitam.
Diam2 pula Cu Jiang gelisah memikirkan keselamatan
ayah bunda dan adik2nya.
Makin merenungkan hal itu makin mendidihlah darah
Cu Jiang. Serentak ia menyambar pedang dan terus lari ke
luar lagi. Saat itu ia tiba kembali di bawah pintu baja yang
gelap tadi. Berulang kali ia berusaha untuk membacok,
menabas dan menusuk, namun pintu baja itu tak bergeming
sedikitpun juga.
Apa boleh buat, terpaksa dengan rasa kecewa ia kembali
lagi ke dalam kamar. Ia duduk termenung-menung.
Tiba2 ia mendapatkan bahwa dalam kamar itu juga
diperlengkapi dengan alat waktu atau jam model kuno,
yang dari tabung kaca yang berisi pasir.
Memang mudah ia untuk mengetahui waktu tetapi tak
tahu ia bagaimana nanti peristiwa yang akan menimpa pada
dirinya. Entah baik, entah celaka.
Mengeliar pandang ke arah rak buku, timbullah rasa
iseng untuk melihat2. Segera ia berbangkit dan
menghampiri tempat buku itu, mengambil sejilid dan
membacanya. Ia tertawa. Ternyata buku2 yang berada di
rak itu terdiri dari kitab Kim-kong-keng, Mi-io-keng dan
lain2 pelajaran agama Buddha.
"Huh, si gemuk itu rupanya hendak mempelajari agama
Buddha agar kelak dia dapat menitis lagi sebagai wanita
cantik . ."
Demikian tak terasa persedian bahan makanan telah
habis separuh dan menurut alat penghitung waktu, ternyata
saat itu sudah tiga hari lamanya dia berada di situ.
Tiga hari rasanya seperti tiga tahun. Harapan Cu Jiang
untuk keluar dari situ sudah pudar. Karena hal itu jelas tak
mungkin. Tetapi selama hayat masih di kandung badan,
manusia tentu selalu berdaya, harapan selalu tergenggam.
Saat itu dia keluar dari kamar dan menuju ke pintu di
atas tadi. Ketika mengamati dengan seksama, hampir saja
dia bersorak kegirangan.
Tapi pintu tampak bergurat lubang sehingga sinar dapat
memancar masuk. Seketika itu berobahlah pandangannya
terhadap wanita gemuk. Ternyata wanita gemuk itu
bermaksud baik kepadanya.
Diam2 ia malu sendiri mengapa menduga jelek pada
orang yang bermaksud baik. Setelah menyelipkan pedang,
dia segera mendaki ke atas. Dengan kedua tangan mulailah
ia mengisar pintu itu, ternyata pintu itu dapat bergerak.
Sejenak berhenti ia kerahkan seluruh tenaganya untuk
menarik. Pintupun berkisar lagi. Setelah untuk yang ketiga
kalinya ia mendorong, terbukalah sebuah lubang yang
cukup untuk dimasuki orang.
Girang Cu Jiang bukan kepalang. Selama tiga hari dalam
kamar rahasia di bawah tanah, tak pernah ia menduga akan
menghadapi peristiwa seaneh itu. Dia mengira pasti akan
mati kelaparan dalam kamar di bawah tanah.
Serentak ia menerobos ke luar. Tetapi ketika memandang
ke sekeliling, kejutnya bukan kepalang. Hampir ia tak
percaya apa yang disaksikan saat itu.
Bangunan rumah tiga hari yang lalu ia masuk dan
dihantam jatuh ke dalam terowongan oleh si wanita gemuk,
saat itu hanya tinggal reruntuhan puing. Dinding rubuh,
tiang dan genteng berserakan dimana-mana, hangus
terbakar.
Ah, itulah sebabnya pintu baja memancarkan guratan
sinar. Ternyata dinding dan tiang kayunya telah terbakar.
Apakah yang telah terjadi?
Apakah wanita gemuk itu yang membakar rumahnya
ataukah orang Gedung Hitam yang karena tak berhasil
menemukan dirinya ( Cu Jiang ) lalu marah dan membakar
rumah makan itu?
Jika wanita gemuk itu yang membakarnya sendiri, jelas
tak mungkin. Masakan dia akan menghancurkan rumah
makannya sendiri. Tak mungkin pula hanya karena hendak
menolong dirinya, wanita gemuk itu lantas membakar
rumah makan dan akibatnya tetangga2 yang berdekatan
ikut menderita!
Kemungkinan yang paling besar, tentulah gerombolan
Gedung Hitam yang melepas api.
Lalu ke manakah wanita gemuk dan para pegawainya?
Apakah mereka mati atau masih hidup?
Berbagai pikiran melalu lalang dalam benak Cu Jiang,
Tetapi yang jelas. rumah makan itu telah terbakar habis dan
pemiliknya, si wanita gemuk, tentu mengalami derita hebat.
Teringat akan kebaikan budi wanita gemuk kepadanya,
Cu Jiang menitikkan beberapa butir air mata.
Nadanya yang nyaring dan wajahnya yang cerah berseri
dan wanita gemuk itu, terbayang pada pelupuk Cu Jiang.
Sedih dan duka segera berubah menjadi rasa geram dan
dendam. Serentak Cu Jiang menengadah dan bersumpah:
"Selama aku masih hidup, aku tentu akan
menghancurkan Gedung Hitam, demi menghimpaskan
dendam kaum persilatan yang telah menjadi korban
keganasannya."
Apabila wanita gemuk itu karena menolong dirinya
sampai rumah-tangganya berantakan dan jiwanya
melayang, Cu Jiang merasa berhutang budi seumur hidup.
Bulat sudah keputusannya, Gedung Hitam tak perlu
disingkiri, tetapi harus dihadapi dan dihancurkannya.
Bahkan karena gejolak kemarahannya yang merangsang,
saat itu juga ia ingin bertemu dengan orang Gedung Hitam
dan mengadu jiwa.
Tetapi sesaat teringat akan ilmu kepandaiannya dan
kesaktian dari jago2 Gedung Hitam seperti Liok-poan-koan,
mau tak mau menurunlah kemarahannya.
Akhirnya ia memutuskan untuk segera tinggalkan tempat
itu karena dikuatirkan orang2 Gedung Hitam masih
berkeliaran di sekitar tempat itu. Dengan mudah mereka
pasti akan mengenali dirinya. Dan apabila mereka sampai
memergoki dan menyerangnya, bukankah dia akan mati
dengan sia2.
Dia mati sih tak apa, tetapi dendam darah dari wanita
gemuk yang telah mengorbankan jiwanya itu, tentu tak
dapat terhimpas selama-lamanya.
Setelah menutup pintu rahasia itu, ia segera
mengayunkan langkah dengan perasaan yang sukar
dilukiskan.
Tak lama ia segera berada di tengah kerumunan orang2
yang di sekeliling jalan. Ia berusaha untuk mendengarkan
berita tentang kebakaran rumah makan itu. Tetapi
pembicaraan mereka hanya simpang siur tak keruan, sukar
untuk menemukan jejak. Kebanyakan mereka tak tahu
kejadian yang sebenarnya dan hanya menduga-duga saja.
Sekonyong-konyong muncul lima penunggang kuda bulu
hitam yang dengan cepat tiba di jalan tempat orang2
berkerumun menyaksikan kebakaran itu. Yang empat
berpakaian warna hitam, membekal pedang. Sedang yang
seorang seorang baju hitam.
Orang2 itu segera menyingkir. Ketika tiba di tempat
kebakaran, kelima penunggang kuda itu berhenti.
Cu Jiang sebenarnya hendak segera melanjutkan
perjalanan. Ia telah memperhitungkan bahwa waktu yang
telah dijanjikan kepada kedua orang tuanya sudah lewat. Ia
harus buru2 pulang agar mereka jangan gelisah.
Tetapi ketika melihat kedatangan kelima penunggang
kuda itu, ia batalkan maksudnya dan tetap berada di situ. Ia
ingin tahu siapa mereka berlima dan apa yang hendak
mereka lakukan.
Tampak lelaki tua berbaju hitam berbicara asyik sambil
menuding kian kemari dengan keempat orang baju hitam.
Karena jaraknya jauh, entah apa yang dibicarakan mereka
Cu Jiang tak dapat menangkap.
Beberapa saat kemudian salah seorang penunggang kuda
baju hitam. tiba2 turun dari kudanya, mencabut pedang lalu
menabas lehernya sendiri.
Sekalian orang yang berkerumun disitu, menjerit kaget.
Darah menyembur dan rubuhlah orang itu. Sudah tentu
orang2 terkejut menyaksikan pertunjukan bunuh diri itu.
Bahkan yang nyalinya kecil terus ngacir pergi.
Cu Jiang juga terkejut. Siapa kelima penunggang kuda
baju hitam yang dandanan seperti kaum bu su (persilatan)
itu? Dan mengapa salah seorang memenggal lehernya
sendiri?
Seorang penunggang kuda yang lain lalu turun dari
kudanya, mengangkat tubuh kawannya yang bunuh diri itu
ke atas kudanya, mengusainya erat2. Setelah lelaki tua itu
memberi isyarat, mereka lalu melanjutkan perjalanan lagi.
Peristiwa itu masih meninggalkan kesan dan menjadi
pembicaraan yang ramai dari orang2 yang masih
berkerumun disitu.
Tiba2 bahu Cu Jiang ditepuk orang dari belakang. Ia
terkejut dan cepat berpaling. Seorang paderi jubah kelabu
berada di belakangnya dan tengah memandangnya dengan
mata berkilat-kilat.
Cu Jiang mengisar ke samping lalu cepat ber putar tubuh,
"Cianpwe, apa yang cianpwe hendak katakan
kepadaku?"
Paderi tua jubah kelabu itu berkata dengan suara sarat:
"Lekas ikut loni!" habis berkata paderi tua itu terus
ayunkan langkah tinggal tempat itu.
Cu Jiang meragu. Ia belum kenal dengan paderi tua itu
dan belum tahu dari aliran mana. Mengapa paderi tua itu
menyuruh dia mengikutinya ? Apakah dia juga seorang
anggauta Gedung Hitam ?
Teringat akan Gedung Hitam, seketika meluaplah
kemarahan Cu Jiang. Serentak ia menyusul.
Paderi tua Itu tak mau berpaling untuk melihat apakah
Cu Jiang mau menurut perintahnya atau tidak. Dia tetap
berjalan cepat ke muka seolah percaya bahwa Cu Jiang
tentu akan menyusulnya.
Cu Jiang mengikuti pada jarak lima tombak dibelakang
paderi tua itu.
Paderi tua itu ternyata tak mau mengambil jalan besar
melainkan menyusur jalan kecil dan gang. Tak lama tibalah
mereka disebuah tempat sepi dekat tembok kota.
Tiba2 paderi tua itu berpaling kearah Co Jiang lalu
loncat keatas tembok dan melayang turun diluar tembok.
Tempat itu merupakan bagian ujung kota Li-Jwan yang
paling sepi. Paderi tua itu tetap lanjutkan berjalan menuju
ke sebuah tempat yang lebih sepi. Cu Jiang terpaksa
mengikutinya.
Tak berapa lama mereka tiba disebuah hutan dan
barulah paderi tua itu berhenti.
Dengan hati2 Cu Jiang berhenti juga. Ia tetap menjaga
jarak lima tombak dari paderi tua itu dan bersiap-siap.
Memandang lekat kearah pemuda itu, paderi tua
menganguk-angguk kepala dan berkata.
"Benar2 seorang bahan yang sukar dicari keduanya !"
Cu Jiang terkesiap. "Mohon tanya, siapa cianpwe ini?"
serunya. "Loni adalah Go-leng-cu."
"Tokoh kedua dari Bu-lim Sam-cu?"
"Benar, pengetahuan sicu cukup luas !" sahut paderi tua
itu.
"Apakah maksud cianpwe memanggil aku kemari ?"
Wajah Go-leng-cu mengerut serius, serunya. "Siau-sicu,
engkau bernyali besar sekali."
"Apa maksud cianpwe ?" Cu Jiang terkejut.
"Tahukah sicu, apa artinya peristiwa berdarah di tanah
lapang bekas kebakaran tadi?"
Soal itulah yang menarik perhatian Cu Jiang. Dia
memang hendak mengetahui peristiwa itu. Kecurigaannya
terhadap paderi tua yang dikiranya anggauta Gedung
Hitam tetapi ternyata salah seorang tokoh dari Bu-lim Sam
cu atau Tiga-serangkai-paderi yang memakai nama gelar
Cu, kini mulai lenyap.
Iapun teringat akan Thian-hian cu yang pada beberapa
hari yang lalu telah menolong dirinya dari serangan Liokpoan-
koan, tokoh Gedung Hitam yang menjabat sebagai
Hu-hwat atau pelindung hukum dari gerombolan itu.
Thian-hian cu adalah tokoh ketiga dari Bu-lim Sam-cu,
sedang Go-leng cu yang berada dihadapannya saat itu
adalah tokoh kedua.
"Harap cianpwe suka memberi penjelasan."
"Lelaki tua berpakaian hitam tadi adalah Kho Kun
bergelar Bu-ceng-thay-swe atau Pangeran tak
berperikemanusian. Keempat penunggang kuda tadi adalah
pengikutnya yang di sebut Pengawal hitam."
"Pengawal Hitam?"
"Engkau belum pernah mendengar?"
"Belum."
"Pengawal Hitam merupakan pengawal berani mati dari
Gedung Hitam. Kepandaian mereka rata2 hebat dan
ganasnya bukan main..."
"Ho, kiranya kaki tangan Gedung Hitam." seru Cu Jiang
dengan mata melotot.
"Ko Kun si Pangeran-ganas itu adalah seorang toathaubak
(kepala) barisan Pengawal Hitam dari Gedung
Hitam . . ."
"Mengapa Pengawal Hitam tadi bunuh diri?" tanya Cu
Jiang pula.
"Karena tak dapat melakukan tugas!"
"Tugas apa?"
"Membunuhmu!"
Cu Jiang serentak loncat ke muka paderi tua itu dan
menegas: "Karena gagal membunuh aku?"
"Benar," sahut Go-leng-cu, "peristiwa itu merupakan
yang pertama kali di mana Amanat Maut dari Gedung
Hitam telah menemui kegagalan!"
"Karena tak dapat membunuh korbannya, Pengawal
Hitam itu harus bunuh diri?"
"Itu peraturan Gedung Hitam!"
"Tahukah cianpwe siapa pemimpin Gedung Hitam?"
"Ini . . . mungkin tiada seorang persilatan yang tahu."
"Mengapa rumah makan itu terbakar?"
"Api yang aneh."
"Api ajaib?" Cu Jiang mengulang.
"Benar, karena tak di ketahui siapa yang melepas api
itu."
Diam2 Cu Jiang menimang. Adakah karena hendak
menolong dirinya maka wanita gemuk itu rela membakar
rumah makannya sendiri? Jika benar begitu, ah betapa besar
pengorbanan wanita gemuk itu terhadap dirinya.
Padahal perkenalan mereka hanya sebagai langganan
saja, mengapa wanita gemuk itu sampai rela berkorban
sedemikian besar?
"Cianpwe, mengapa cianpwe tahu hal itu?" akhirnya ia
bertanya.
Dari pembicaraan kawanan Pengawal Hitam, kutahu
bahwa api itu bukan mereka yang melepas," sahut Go-lengcu.
"Tahukah pula cianpwe, siapa saja yang mati dalam
kebakaran itu?"
"Entah, loni kurang jelas."
"Mengapa cianpwe tahu akan keadaanku?"
"Dari pembicaraan mereka yang menyebut tentang
seorang pelajar baju putih, siapa lagi kalau bukan engkau?"
Cu Jiang mengangguk.
"Seluas seratus li di sekeliling daerah ini, penuh dengan
anak buah Gedung Hitam yang sedang mencarimu. Engkau
sungguh berani mati sekali karena berani mengunjuk diri . .
. . "
"Terima kasih atas petunjuk cianpwe." kata Cu Jiang.
"Tak usah, itu jodoh namanya."
Mendengar kata "jodoh" serentak teringatlah Cu-Jiang
akan Thian hian-cu yang juga mengatakan hal itu
kepadanya.
Bu-lim Sam-cu merupakan tokoh sakti yang termasyhur
pada masa itu. Banyak orang persilatan yang ingin bertemu
muka dengan mereka tetapi gagal.
Diam2 Cu Jiang merenung, apakah di balik kata jodoh"
dari Go leng cu itu mengandung maksud tertentu
kepadanya.
"Benar, memang berjodoh," katanya.
"Dari perguruan manakah sicu." tanya Go-leng-cu.
"Didikan keluarga sendiri."
"O, siapakah ayah sicu?"
"Hal ini, maaf, aku tak dapat memberitahu kan."
"Kalau memang tak leluasa, tidak apalah, tak usah
engkau katakan. Karena sicu sudah mengakui tentang
jodoh itu maka tentulah sicu akan menurutkan garis jodoh
itu."
"Garis jodoh?"
"Ya."
"Harap cianpwe suka menjelaskan."
Go-leng-cu berhenti sejenak lalu berkata dengan tandas:
"Dengan memiliki seperangkat tulang yang begitu bagus,
sicu kelak dapat menjadi jago nomor satu dalam dunia!"
Mendengar itu tahulah Cu Jiang kemana arah ucapan
paderi tua itu. Jelas paderi itu juga mempunyai maksud
sama dengan Thian-hian-cu tempo hari. Maka tanpa ragu2
lagi, dia segera tersenyum:
"Apakah di dunia ini terdapat jago nomor satu?"
Dengan wajah bersungguh Go-leng-cu menjawab:
"Sudah tentu ada. Dengan memiliki ilmu kepandaian
yang tinggi setiap orang dapat menjadi jago nomor satu.
Tetapi apa yang di sebut nomor satu itu, hanyalah berlaku
untuk satu masa yang tertentu, menunjukkan suatu
perbuatan yang cemerlang untuk menundukkan sekalian
jago2 silat."
Mendengar penjelasan itu, diam-diam Cu Jiang tertawa.
Walaupun penjelasan itu memang mempunyai landasan
tetapi tampaknya seperti dipaksakan. Ayahnya sendiri
bukankah juga jago nomor satu dalam dunia persilatan?
Mengapa sekarang harus menyingkir dari musuhmusuhnya?
Dengan begitu bukankah musuh-musuhnya itu lebih
unggul dari jago nomor satu? Jika begitu tidakkah lebih
pantas kalau musuhnya itulah jago yang nomor satu?
Lalu masih pula pemimpin dari gedung Hitam itu.
Tergolong nomor berapakah dia itu?
Walaupun dalam hati berpikir begitu tetapi Cu Jing tetap
berkata: "Ucapan cianpwe memang benar. "
"Jika begitu bukankah sicu ingin menjadi jago nomor
satu dalam dunia?" seru Go leng-cu.
"Ah, aku tak berani mengharapkan hal semacam itu."
"Bukan mengharapkan tetapi hanya tergantung sicu mau
atau tidak." seru Go-lang-cu.
"Maksud cianpwe. . ."
"Sicu dapat berjumpa dengan loni, sudah suatu jodoh
yang luar biasa," seru Go leng-cu pula.
Diam2 Cu Jiang membatin: "Dalam kalangan Bu-lim
Sam-cu, tokoh yang pertama Gong-gongcu paling tinggi
kepandaiannya. Baik dalam ilmu sastera maupun silat dan
lain2 pengetahuan, dia memang mempunyai kelebihan dari
orang lain.
Sedang kedua tokoh yang lainnya belum tentu lebih
unggul dan ayah Cu Jiang sendiri. Mampukah tokoh kedua
Go-leng cu itu menggembleng seorang murid yang kelak
akan menjadi calon jago nomor satu dalam dunia
persilatan?
Tetapi Go-leng-cu mempunyai maksud baik terhadap
dirinya. Cu Jiang tak mau membuat dia kecewa.
"Budi kebaikan cianpwe. kuterima dengan rasa terima
kasih yang tak terhingga," akhirnya ia berkata.
"Engkau . . . engkau tidak mau ?" seru Go-leng-cu.
"Bukan tak mau melainkan tak dapat."
"Mengapa ?"
"Kaum persilatan menarik garis tajam antara perguruan
yang satu dengan yang lain." sahut Cu Jiang.
"Soal itu ?" kata Go-leng-cu, "loni tiada partai merk
perguruan apa2 dan tak ada suatu ikatan sebagai guru dan
murid."
Ci Jiang sudah mengambil ketetapan.
"Karena aku sudah mendapat pelajaran dari ayahku
sendiri, aku tak berani melanggar peraturan maka dengan
menyesal terpaksa tak dapat menerima budi kebaikan
cianpwe."
Wajah Go-leng cu segera menampilkan kerut kecewa. Ia
memandang lekat2 pada Cu Jiang untuk beberapa saat,
kemudian berkata:
"Apakah sicu tak perlu mempertimbangkan lagi ?"
"Maafkan kalau aku berlaku kurang hormat kepada
cianpwe karena tak dapat menuruti perintah cianpwe !"
"Tahukah sicu bahwa dunia persilatan bakal menghadapi
kekacauan besar ?" tanya Go-leng cu.
"Apakah cianpwe maksudkan... gerombolan-2 Gedung
Hitam itu?"
"Yang kuat akan bersimaharajalela!"
"Maaf, aku tak mengerti maksud cianpwe."
"Thian telah memberkahi diri sicu dengan seperangkat
tulang yang bagus. Suatu bahan yang apabila ditempa tentu
akan berguna sekali. Dunia persilatan di Tionggoan akan
mengalami kehancuran. Maka harus ada suatu bibit baru
yang tumbuh dan bersemi agar dapat membangun lagi
sebuah dunia persilatan yang baru dan jaya lagi. Adakah
sicu bersedia untuk berkorban demi kepentingan itu?"
"Jika ada kesempatan, sudah tentu aku akan
mengerahkan tenagaku," jawab Cu Jiang.
"Mengapa sicu menolak maksudku?"
"Mohon cianpwe suka memberi maaf kepadaku."
Go leng-cu mengucap doa Omitohud, lalu berkata pula:
"Umat Buddha memandang penting soal "jodoh" itu.
Loni tetap akan menunggu saat tibanya jodoh itu dan untuk
sementara akan pergi. Sebelum pergi, loni perlu memberi
peringatan kepada sicu, sebaiknya sicu harus
menyembunyikan jejak sicu agar jangan diketahui orang."
Cu Jiang memberi hormat dan menghaturkan terima
kasih kepada paderi tua itu.
Sejenak memandang pemuda itu lagi, Go-leng-cu segera
ayunkan langkah. Setelah paderi tua itu lenyap dari
pandang mata, barulah Cu Jiang melanjutkan langkah
masuk ke hutan. Keluar dari hutan, dia berhadapan dengan
deretan puncak gunung.
Seketika wajah pemuda itu ber seri2. Ditempat belantara
yang berkabut rimba hijau itulah tempat kediaman dari
kedua orang tuanya. Kegembiraannya me luap2 laksana
burung yang terbang pulang ke sarangnya. Bahkan untuk
mencurahkan kegembiraannya, ia bersenandung.
Sesaat kumandang senandung lenyap, sesosok bayangan
melintas dan menghadang di hadapannya.
Cu Jiang terkejut dan hentikan langkah. Lebih terkejut
lagi ketika melihat orang itu.
Dari atas kepala sampai kaki, terbungkus dengan kain
hitam. Mengenakan ikat kepala kain hitam, pakaian hitam,
mantel hitam dan bahkan sepatunyapun hitam.
"Pengawal Hitam !" teriak Cu Jiang seketika. Seketika
meluaplah dendam kemarahan pemuda itu. Tangannyapun
cepat meraba tangkai pedang.
"Ho, budak, tiada seorang manusia yang mampu lolos
dari Amanat Maut !" dengus Pengawal Hitam dengan nada
seram.
Tring, Cu Jiang mencabut pedang dan menjawab dengan
geram.
"Akan kubasmi kalian kawanan anjing2 ini !" Pengawal
Hitam juga mencabut pedang dan berseru:
"Budak, jangan ngoceh tak karuan. Sekarang beritahukan
dulu asal usulmu agar dapat kuberi putusan !"
"Jangan harap ."
"Baik, engkau memilih bunuh diri atau perlu kubunuh ?"
"Jangan menggongong seperti anjing gila!"
"Akan ku belah tubuhmu . . . ." secepat kilat menyambar,
sinar pedang segera mengancam ke tubuh Cu Jiang.
Cu Jiang benci sekali kepada kawanan Gedung Hitam.
Dengan menyeringai dia segera menangkis dengan
pedangnya, Tring, tring, tiing .... denting menghambur, letik
bunga api segera disusul dengan kedua sosok tubuh yang
masing2 menyurut mundur.
Pengawal Hitam sejenak memeriksa pedangnya.
Ternyata batang pedangnya telah berhias tiga buah lubang.
Wajahnya makin seram.
"Bagus, budak, kiranya engkau hendak mengandalkan
punya pedang pusaka !"
Tetapi Cu Jiang tak mau menyahut melainkan taburkan
pedangnya menyerang lagi.
Keduanya segera terlibat dalam pertempuran yang
dahsyat. Dalam beberapa kejap saja sudah sepuluh jurus
lebih tetapi ternyata masih berimbang.
Diam2 Cu Jiang terkejut. Hanya seorang Pengawal
Hitam saja ternyata sudah sedemikian tinggi
kepandaiannya. Tak heran kalau Gedung Hitam dapat
menguasai dunia.
Diam ia malu dalam hati karena teringat akan
ucapannya hendak membasmi gerombolan Gedung Hitam.
Kata2 itu tak lebih seperti orang bermimpi disiang hari.
Tiba2 muncul pula dua orang Pengawal Hitam, Melihat
itu diam2 Cu Jiang mengeluh. Serentak ia keluarkan ilmu
permainan warisan keluarganya ...
"Aihhh" terdengar sebuah pekik ngeri dan Pengawal
Hitam itupun terhuyung mundur tiga langkah lalu jatuh
terduduk di tanah. Dadanya sebelah kiri berhias sebuah
luka sepanjang sejari. Darah merah mengucur deras.
Melihat itu, kedua Pengawal Hitam yang baru muncul
itu sempat menyerang dari kanan dan kiri.
Cu Jiang kembali menyambut dengan sebuah jurus
istimewa.
"Auhh .... " salah seorang Pengawal Hitam itu
sempoyongan ke belakang sedang kawannya terlongonglongong.
Cu Jiang sudah terlanjur mengumbar kemarahannya.
Cepat ia menusuk Pengawal Hitam yang tercengangcengang
itu.
Tiing . . . ., Pengawal Hitam itupun terhuyung
kebelakang sampai tiga langkah.
"Serahkan jiwamu !" teriak Cu Jiang seraya menyerang
dengan jurus istimewa lagi.
"Auhhhh..." terdengar jerit teriakan ngeri berkumandang
memecah kesunyian dan Pengawal Hitam itupun rubuh
mandi darah dan putus jiwanya.
Hawa pembunuh sudah berkobar dalam dada Cu Jiang.
Segera ia membabat Pengawal Hitam yang masih duduk di
tanah tadi. Dan seiring dengan jeritan ngeri, Pengawal
Hitam itupun melayang jiwanya.
Melihat itu Pengawal Hitam yang menderita luka ringan
tadi segera berputar tubuh terus melarikan diri.
Tetapi jurus yang dimainkan Cu Jiang itu telah menguras
tenaganya. Dia masih muda dan belum memiliki dasar
tenaga-dalam yang kokoh. Sehabis mengeluarkan jurus
istimewa itu, tenaganyapun habis. Dengan menyanggahkan
pedangnya ke tanah ia berdiri dengan napas terengah2. Dia
tak mampu mengejar Pengawal Hitam yang melarikan diri
itu.
"Kembali !" terdengar sebuah teriakan nyaring terdengar
dari samping Cu Jiang.
Cu Jiang terkejut dan berpaling. Kejutnya bukan
kepalang. Seorang Pengawal Hitam tua dengan dikawal
empat orang Pengawal Hitam, entah kapan datang, tiba2
muncul ditempat itu.
Pengawal Hitam tua itu bermulut runcing, mata
menonjol dan wajah seram. Menilik pakaiannya dia
tentulah golongan thau-bak dari Gedung Hitam.
Pengawal Hitam yang melarikan diri tadi segera berhenti
dan kembali menghampiri.
Pengawal! Hitam tua itu sejenak memandang Cu Jiang,
mulutnya segera menyeringai seram.
Diam2 Cu Jiang terkejut. Ia merasa tenaganya yang telah
habis itu belum dapat kembali lagi dengan cepat.
Bagaimana mungkin menghadapi kelima Pengawal Hitam
yang sakti itu. Jelas tak mungkin. Bahkan berhadapan
dengan seorang saja, mungkin dia hanya dapat bertahan
selama tiga jurus saja.
Pengawal Hitam yang lari dan di panggil kembali tadi,
dengan wajah pucat lesi menghadap Pengawal Hitam tua
dan memberi hormat.
"Hormat kepada Ong thaubak!"
"Ya."
"Budak itu memiliki kepandaian yang diluar dugaan
kami sekalian. . ."
"Tutup mulut !" bentak lelaki tua yang di panggil Ong
thau bak itu," tahu engkau melanggar pasal berapa dari
peraturan markas kita?"
"Hamba berdosa, mohon thaubak . . . . "
"Bilang, pasal ke berapa?" bentak kepala Pengawal
Hitam itu.
Bluk, anggauta Pengawal Hitam itu segera menekuk
lutut di hadapan Ong thaubak dan berkata dengan
tersendat-sendat:
"Pasal ke ... . lima!"
"Apa bunyi pasal kelima itu?"
Dahi Pengawal Hitam itu mulai mengucurkan keringat
sebesar kedelai, kemudian ia menunduk dan berkata dengan
nada gemetar:
"Mohon thaubak . . ."
"Engkau menghendaki aku supaya melindungi engkau?"
tegas thaubak yang bermulut lancip itu.
"Ah, hamba tak berani."
"Sebutkan bunyi pasal itu!"
"Takut kepada musuh . . . dan melarikan diri ... . mati!"
"Bagus, engkau sudah menentukan pilihan?"
"Thaubak . . . ."
Thaubak itu berpaling kepada Pengawal Hitam yang
berada di sampingnya. Dan Pengawal Hitam itu terus
loncat ke muka, menusuk punggung Pengawal Hitam yang
berlutut tadi.
"Auhhhh!" Pengawal Hitam itu menjerit rubuh tak
bernyawa.
Pengawal Hitam yang melaksanakan hukuman itu,
mengusapkan pedangnya yang berlumur darah ke tubuh
korbannya lalu kembali ke tempat semula, seolah tak terjadi
apa2.
Menyaksikan peristiwa itu kepala Cu Jiang berdenyut
keras. Sudah dua kali ia melihat kekejaman gerombolan
Gedung Hitam yang tak punya perikemanusian. Jika
terhadap kawan sendiri begitu kejam, apalagi terhadap lain
orang.
Thaubak bermulut lancip itu memberi isyarat: "Di sini
sudah beres, bawa mayat itu pulang!"
Keempat Pengawal Hitam mengiakan. Mereka segera
membawa mayat kawannya pergi.
Diam2 Cu Jiang heran. Mengapa si mulut lancip
mengatakan disitu sudah beres? Apa maksudnya?
Setelah pengiringnya pergi barulah thaubak atau kepala
kelompok Pengawal Hitam beralih pandang ke arah Cu
Jiang.
"Cu sauhiap, sungguh beruntung kita dapat bertemu, "
tiba2 thaubak itu memberi hormat dan berseru.
Sudah tentu Cu Jiang seperti dipagut ular kejutnya.
Bagaimana dia tahu kalau dirinya orang she Cu.
Sampai beberapa jenak ia tertegun dan tak dapat
menjawab.
Thaubak itu tertawa gelak2, serunya:
"Aku Ong Tiong Ki, menjabat thaubak dari Gedung
Hitam. Adakah ayah dan mamah sauhiap baik2 saja?"
Cu Jiang makin terbeliak.
"Aku bukan orang she Cu," akhirnya ia mendapat
pikiran untuk menyangkal.
Sekali lagi Ong Tiong Ki itu tertawa gelak2.
"Ah, mengapa siauhiap tak mau mengaku?"
"Berdasar apa anda mengatakan begitu?" balas Cu Jiang.
"Secara beruntun sauhiap telah membunuh tiga anggauta
Pengawal Hitam. Dan yang sauhiap gunakan itu adalah
ilmu pedang It-kiam-tui-hun, bukan?"
It-kiam-tui-hun artinya Pedang-pemburu nyawa.
Mendengar itu seketika berobahlah muka Cu Jiang.
Namun ia berusaha untuk menenangkan diri.
"Ilmu silat dalam dunia itu beraneka ragam tetapi tetap
tak meninggalkan sumbernya. Hampir mirip dan terdapat
banyak bagian2 yang sama.. ."
Kembali Ong Tiong Ki tertawa geli.
"Siauhiap, ilmu pedang It-kiam-tui-hun itu sudah
diketahui oleh setiap orang persilatan bahwa penciptanya
adalah Dewa-pedang Cu Beng Ko, jago nomor satu dalam
dunia persilatan.. Dan di ketahui orang pula bahwa Dewapedang
Cu Beng Ko itu tak pernah mempunyai murid.
Itulah sebabnya dengan mudah aku segera dapat mengenali
diri sauhiap!"
"Ah, mungkin anda salah duga," Cu Jiang.
"Dunia akan geli apabila si Mata-jeli Ong Tiong Ki ini
sampai salah lihat!"
Saat itu Cu Jiang rasakan tenaganya sudah agak pulih.
Apabila ia dapat mengulur waktu, tentulah ia akan lebih
kembali lagi tenaganya. Untung lawan sudah menyuruh
pergi pengiringnya. Maka ia segera tertawa datar.
"Dugaan anda seolah hampir mendekati tetapi
kenyataannya masih jauh sekali," serunya.
"Sikap dan wajah sauhiap menyerupai Dewa pedang Cu
Beng Ko, lalu apa kata sauhiap lagi?"
"Baru kali ini aku mendengar orang berkata begitu!"
sahut Cu Jiang.
"Cu sauhiap..."
"Apakah anda tetap memastikan aku ini orang she Cu?"
tukas Cu Jiang.
"Rasanya takkan salah," seru Ong Tiong Ki, "dalam
hidupku aku sangat mengagumi Dewa-pedang Cu Beng Ko,
sayang karena tiada rejeki, aku tak berjodoh untuk bertemu
muka. Tetapi rupanya keinginanku dikabulkan juga oleh
Thian karena saat ini aku dapat berjumpa dengan Cu
siauhiap. Maukah Cu siauhiap membawa aku menghadap
ayah sauhiap?"
Cu Jiang menyadari bahwa karena menghindari musuh
maka ayahnya sampai beberapa kati pindah tempat. Tak
mungkin ia terpikat oleh Ong Tiong Ki yang belum
dikenalnya.
Ia gelengkan kepala:
"Anda salah faham. Tak tahu aku bagaimana harus
memberi penjelasan kepada anda."
Tampaknya Ong Tiong Ki masih bersikap sabar. Dengan
lemah lembut ia berkata pula:
"Apakah karena aku menjadi anggauta Gedung Hitam
maka sauhiap menolak membawa aku kepada ayah
sauhiap?"
"Anda benar2 salah faham. Aku bukan putera dan
Dewa-pedang!" cepat Cu Jiang menukas.
"Lalu dari mana asal usul sauhiap ini?"
"Soal itu maaf, aku tak dapat memberi tahu." Tiba2
wajah Ong Tiang Ki mengerut gelap.
"Orang she Cu, aku Ong Tiong Ki, bukan orang yang
mudah dipermainkan!" serunya dengan bengis.
Diam2 Cu Jiang geli karena akhirnya orang itu tak dapat
menahan diri dan menampakkan dirinya yang asli. Diam2
Cu Jiang telah mengerahkan tenaga dan dapatkan bahwa
tenaganya sudah sembilan bagian pulih. Kegagahannyapun
timbul lagi.
"Anda bicara menurut seenak lidah anda sendiri saja."
serunya.
Wajah suara dari Ong Tiong Ki makin seram. "Bagus.
budak. engkau benar2 tak tahu diri:" Sambil cebirkan bibir,
Cu Jiang menyahut: "Kenal diripun tak perlu memberitahu
kepadamu!"
"Budak, engkau benar2 tak tahu diri. Berani melindungi
dara cantik yang hendak ditangkap perhimpunan Gedung
Hitam. Kemudian berani menentang Amanat-maut dan
sekarang engkau berani membunuh tiga orang Pengawal
Hitam. Tahukah engkau bagaimana engkau harus mati?"
Cu Jiang deliki mata. serunya: "Menurut anda,
bagaimana aku harus mati?"
"Tulang belulang di cacah2 dan dagingmu dijadikan
makanan anjing."
"Kentut!"
"Lihat sajalah!"
Tring, si Mata-jeli Ong Tiong Ki terus mencabut pedang.
seketika suasana penuh diliputi hawa pembunuhan.
Diam2 Cu Jiang telah menghimpun seluruh tenaganya
ke arah pedang. Dia mengharap dengan jurus istimewa
akan dapat menundukkan lawan.
Sepasang mata Ong Tiong Ki yang menonjol, tampak
memancarkan sinar yang tajam. Kemudian pedangnya
pelahan lahan di angkat ke atas. Dengan pembukaan itu
jelas dia telah memandang Cu Jiang seperti seorang lawan
yang tangguh. Tak berani ia meremehkan anak muda itu.
Cu Jiang juga tampak serius sekali. Ia menyadari bahwa
kalau tak mampu menundukkan lawan dengan ilmu pedang
simpanannya, akibatnya tentu runyam sekali.
Terdengar kedua orang itu serempak memekik keras, dan
sesaat kemudian di susul oleh dering senjata beradu.
Cepat sekali serangan itu berlangsung dan pada lain saat
keduanyapun segera mundur dua langkah ke belakang.
Terdengar napas mereka memburu keras.
Bahu sebelah kiri dari si Mata jeli Ong Tiong Ki
berlumuran darah merah. Tetapi lukanya hanya bagian luar
saja.
Cu Jiang terkejut sekali. Jurus yang dilancarkan itu,
merupakan jurus terhebat dari ilmu pedang It-kiam-tuihong.
Tetapi ternyata hanya mampu membuat musuh
terluka ringan saja.
Ong Tiong Ki tertawa menyeringai.
"Hai, budak, engkau benar2 berisi. Sayang belum
sempurna. Jika serangan tadi dimainkan oleh Dewa-pedang
Cu Beng Ko, saat ini aku pasti sudah jadi mayat !"
Apa yang dikatakan orang itu memang benar. Cu Jiang
memang belum dapat mencapai tataran yang tinggi dalam
ilmu pedang ajaran ayahnya itu. Sudah tentu kesaktian dari
ilmu pedang itu jauh berkurang sekali perbawanya.
Cu Jiang diam2 bingung. Ia merasa tenaga-dalamnya
mulai berkurang lagi. Memang tampaknya ia masih tetap
tenang2 saja agar lawan jangan mengetahui kelemahannya.
Saat itu Ong Tiong Ki mulai maju lagi.
Setelah jaraknya cukup untuk menyerang, segera ia
menggembor keras dan mulai menyerang lebih dulu.
Dengan mengertek gigi, Cu Jiang kerahkan sisa
tenaganya. Ia tetap menggunakan ilmu pedang It kiam-tuihun
untuk bertahan dan menyerang.
"Huh . . ." terdengar desah tertahan dan tubuh Cu Jiang
sempoyongan ke belakang, pedangnya hampir terlepas.
Ong Tiong Ki tertawa mengejek.
"Budak, kiranya kepandaianmu hanya begitu saja!"
serunya. Lalu menyerang lagi.
Cu Jiang sudah tak mempunyai tenaga untuk menangkis
lagi. Ia mengisar langkah kesamping untuk menghindar.
Tetapi setelah serangannya itu luput, Ong Tiong Ki tetap
mengejarnya dan menghujani lagi serangan yang lebih
gencar.
"Auh !" terdengar desuh mengerikan. Cu Jiang menderita
tiga buah luka. Bahu kiri, dan dada kiri kanan. Pakaiannya
yang putih segera berlumuran darah merah.
Ong Tiong Ki maju selangkah dan lekatkan ujung
pedang pada dada Cu Jiang. Dengan gembira ia tertawa
mengekeh.
"Ho, budak, sekarang bukankah engkau melihat
buktinya?"
Cu Jiang meraung seperti singa terluka:
"Ksatria rela dibunuh daripada dihina. Hayo bunuhlah !"
"Ah, tidak seenak itu."
"Apa maksudmu ?"
"Sebelum tahu siapa dirimu, memang engkau tentu
kubunuh. Tetapi setelah tahu engkau ini putera dari Dewapedang
Cu Beng Ko, maka lain lagi urusannya."
"Maksudmu ?"
"Sudah tujuh delapan tahun Cu Beng Ko
menyembunyikan diri. kali ini dia mau tak mau harus
keluar !"
Cu Jiang meraung lalu muntah darah.
"Budak, ayo jalan!" bentak Ong Tiong Ki.
"Tidak bisa," suruh Cu Jiang pelahan.
"Jangan engkau membawa kemauanmu sendiri !"
"Kalau mau bunuh, bunuhlah . . . ."
"Sekarang belum dapat membunuhmu. Pohcu
(pemimpin) kami tentu akan gembira sekali menyambut
kedatanganmu !"
Cu Jiang terkejut. Adakah musuh yang dihindari
ayahnya itu ternyata pemimpin Gedung Hitam ?
"Siapa poh-cu kalian itu?" tanyanya. "Engkau tak pantas
bertanya begitu !"
"Kalau aku masih dapat hidup, hinaanmu saat ini, kelak
tentu akan kubalas!"
"Hahaha," Ong Tiong Ki mengekeh," budak, rupanya
engkau bermimpi."
Tiba2 mengangkat tangan dan melentikkan jarinya. Dia
gunakan ilmu menutuk dari jarak jauh dan tepat mengenai
jalan darah Jien-ma-hiat (pelemas) pada tubuh Cu Jiang.
Anak muda itu serentak rubuh.
Ong Tiong Ki menyarungkan pedangnya lagi lalu
berseru.
"Budak, mari kita jalan !" ia terus mencengkeram tubuh
Cu Jiang.
Cu Jiang masih dapat mendengar dan melihat tetapi tak
dapat berkutik. Ia hanya deliki mata memandang Ong
Tiong Ki tetapi tak dapat berbuat apa2. Betapa kemarahan
dan penderitaan hatinya saat itu, benar2 sukar dilukiskan.
Sekonyong-konyong dari jauh terdengar suara kuda
meringkik. Ong Tiong Ki pasang telinga lalu menggeram
marah:
"Hm, setan mana yang berani mengganggu kudaku itu !"
Ia terus lepaskan tubuh Cu Jiang dan lari menuju kearah
suara itu. Baru saja orang itu pergi, Cu Jiang segera
mencium bau yang harum dan tahu2 ia rasakan tubuhnya
diangkat orang lalu dibawa lari masuk ke dalam hutan.
Saat itu tubuh Cu Jiang masih lemas. Dia tak dapat
berkutik sama sekali. Ia tahu bahwa yang menolong dirinya
itu tentu seorang gadis tetapi ia tak berdaya untuk melihat
wajah penolongnya itu.
Beberapa kejap kemudian, mereka sudah terpisah
beberapa li dari tempat tadi. Hutan itu sebuah hutan
belantara yang lebat sekali sehingga tak tertembus sinar
matahari.
Cu Jiang diletakkan diatas sebuah tumpukan daun kering
yang lembut dan sesaat kemudian terdengar suara seorang
wanita berseru:
"Siau Hui, bukalah jalan darahnya yang tertutuk itu !"
Terdengar seorang gadis yang berada dekat di
sampingnya berseru:
"Nona, mengapa engkau melakukan hal Ini ?"
"Entah, aku sendiri juga tak tahu." sahut suara yang
merdu.
"Apabila hal ini sampai tersiar..."
"Hanya aku dan engkau yang tahu, siapa yang akan
membocorkan lagi?"
"Tetapi . . ."
"Sudahlah, jangan membantah, lekas engkau bebaskan
jalan darahnya."
"Baiklah."
Setiap angin membentur tubuh Cu Jiang dan seketika itu
dia rasakan tubuhnya ringan sekali menggeliat ia terus
melenting bangun.
Ternyata dihadapannya terdapat seorang dara baju hijau,
usianya di antara enam belas tahun. Dara itu tengah
tersenyum kepadanya.
Cu Jiang buru2 memberi hormat:
"Terima kasih atas pertolongan nona."
Dara itu tertawa mengikik.
"Namaku Siau Hui, jangan berterima kasih kepadaku,
tetapi berterima kasihlah kepada nonaku." katanya seraya
menunjuk ke samping.
Menurutkan arah yang ditunjuk dara itu, Cu Jiang
berputar tubuh dan ah ia terlongong-longong seperti patung.
Tiga tombak jauhnya, tampak seorang gadis yang
dandanannya seperti seorang puteri keraton dan cantiknya
laksana bidadari turun dari kahyangan. Tubuhnya yang
langsing ramping bagaikan setangkai bunga melati yang
dihempus angin membuai.
Puteri jelita itu tengah mengulum senyum yang mengikat
jiwa. Kecantikan puteri jelita itu tak dibawah jelita Ho
Kiong Hwa yang dijumpainya beberapa hari yang lalu itu.
Jika terdapat perbedaan maka letaknya hanyalah sikap
dan cahaya muka kedua jelita itu. Ho Kiong Hwa memiliki
sifat yang lemah lembut seperti sifat kewanitaan. Tetapi
jelita yang berada di di hadapan itu, memiliki sifat
kekerasan macam sikap seorang pendekar wanita.
Si cantik itu juga gemetar hatinya ketika beradu pandang
dengan Cu Jiang. Senyumnyapun pelahan2 lenyap, berganti
dengan pipinya yang bertebar merah.
Sikap si jelita itu benar2 membuat hati Cu Jiang berdebar
keras dan semangatnya melayang.
Keduanya seperti terpukau. Tak sepatahpun keluar dari
mulut masing2.
Beberapa jenak kemudian Cu Jiang cepat tersadar. Ia
menyadari bahwa sikapnya itu kurang sopan. Segera ia
membungkuk tubuh dan berseru:
"Terima kasih atas pertolongan nona."
Wajah si cantik itu tersipu merah.
"Ah, tak usah siangkong mengatakan begitu. Siapakah
siangkong ini?"
"Namaku Cu Jiang."
"Dari perguruan manakah Cu siangkong ini?"
"Ini . . . mohon nona suka maafkan..."
"Kalau siangkong tak leluasa mengatakan, tak perlulah
siangkong memaksa diri."
"Mohon tanya siapakah nama yang mulia dari nona?"
"Aku Ki Ing."
"Ki Ing?" Cu Jiang mengulang. Ia tahu nona cantik itu
hanya mengatakan nama dan tidak menyebut shenya.
"Hm."
"Lalu bagaimana aku harus memanggil nona?"
"Panggil namaku saja."
"Apakah itu pantas , . ."
"Sudahlah, tak perlu memikirkan pantas atau tak
pantas."
"Bagaimana kalau kupanggil nona Ki?"
"Baik."
Tentulah ada sebabnya mengapa si cantik itu tak mau
mengatakan shenya. Dan Cu Jiang pun tak mau mendesak.
Demikian pula tentang asal usul si cantik itu, dia tak mau
bertanya dengan melilit. Karena dia merasa, dia sendiri juga
sedang merahasiakan dirinya.
"Bagaimana nona dapat datang ke dalam hutan belantara
sini dan menolong . . ."
"Anggap saja secara kebetulan."
Cu Jiang tahu bahwa tadi dirinya telah di bawa oleh dara
baju hijau yang bernama Siau Hui itu.
Seorang dara tampaknya begitu lemah tetapi ternyata
mampu mengangkut tubuh Cu Jiang berlari sampai
beberapa li jauhnya, bukankah suatu peristiwa yang luar
biasa? Jelas dara itu tentu bukan dara sembarangan.
Kemudian ia mengalihkan perhatiannya kepada puteri
cantik yang menyebut dirinya bernama Ki Ing. Jika
bujangnya memiliki kepandaian begitu hebat, tidakkah
nona majikannya akan lebih hebat lagi?
Merenungkan nona dan bujangnya begitu hebat
kepandaiannya. diam2 Cu Jiang malu dalam hati. Kini baru
ia menyadari betapa kecil dan rendah kepandaian yang
dimilikinya. Dunia ini benar2 penuh dengan manusia2 yang
berkepandaian tinggi, ia menganggap dirinya seperti "katak
dalam tempurung", menganggap kalau kepandaiannya
sudah hebat tetapi ternyata di luar, masih banyak orang2
yang jauh lebih sakti kepandaiannya.
"Nona, lebih baik kita lekas2 tinggalkan tempat ini." kata
Siau Hui.
Puteri cantik itu mengangguk. Sepasang bola matanya
yang bersinar terang bagai bintang kejora, sejenak mengeliar
pandang ke wajah Cu Jiang.
"Betulkah karena melindungi seorang nona jelita, Cu
siangkong terlibat permusuhan dengan orang2 Gedung
Hitam? " tanya si cantik.
Cu Jiang terkejut sekali. Mengapa puteri cantik itu tahu
peristiwa yang lalu.
"Benar." ia mengiakan.
"Karena hal itu selanjutnya dalam dunia persilatan Cu
siangkong tentu bakal menghadapi bermacam-macam
kesulitan!" kata puteri cantik itu pula.
"Benar. Tetapi aku bersumpah takkan mundur."
"Aku hendak memberikan sebuah benda kepada Cu
siangkong."
Mendengar itu bujang Siau Hui hendak membuka mulut
tetapi tak jadi bicara.
"Nona Ki hendak memberi aku sebuah benda?" tiba2 Cu
Jiang tergerak hatinya.
"Hm, hanya sebuah mainan anak2, sebagai tanda
perkenalan kita saat ini!" puteri cantik itu terus
mengeluarkan sebuah bungkusan dan dibukanya. Dengan
dua buah jari tangannya yang runcing seperti bulu landak,
ia menjepit sebuah benda berwarna hijau tua. Ternyata
sebuah pending kumala hijau.
Pending adalah hiasan pada dada atau ikat pinggang,
terbuat dari permata.
Tergetar hati Cu Jiang saat itu. Wajahnyapun merah.
"Aku sudah berterima kasih sekali mendapat pertolongan
nona, mengapa masih akan diberi benda yang begitu
berharga lagi..."
Pipi si cantik itu Juga bertebar merah tetapi dengan suara
lantang ia berkata:
"Ah, bukan benda berharga, melainkan sekedar untuk
kenang2an saja !"
Seorang gadis suci yang mirip dengan puteri keraton,
telah memberikan benda yang dipakaianya pada seorang
pemuda yang baru saja dikenalnya. Apakah artinya itu?
Naluri Cu Jiang sebagai seorang anak muda cepat dapat
menanggapi maksud si cantik. Diam2 timbul pertimbangan
dalam hatinya. Menerima atau menolak pemberian itu?
"Nona..." teriak Siau Hui.
Tetapi si cantik cepat memberi isyarat supaya bujang itu
jangan banyak bicara. Ia menyerahkan pending kumala itu
kepada Cu Jiang, katanya:
"Pending kumala ini adalah pusaka warisan keluarga.
Jika menghadapi kesulitan, Cu siangkong boleh
mengeluarkan pending ini, tentu ada manfaatnya !"
Kembali hati Cu Jiang tergetar. Siapakah sesungguhnya
puteri cantik ini? Mengapa pending pemberiannya itu dapat
mempunyai daya-guna sedemikian besar?
"Ah, nona Ki, bagaimana aku berani menerima !"
"Jika ada orang bertanya, katakan terus terang kalau aku
yang memberi. Lain2 hal tak perlu siangkong katakan." kata
puteri cantik itu pula terus maju mengangsurkan pending
itu kepada Cu Jiang.
Apa boleh buat, Cu Jiang terpaksa menyambutinya.
Si cantik Ki Ing tertawa. "Cu siangkong, kini kita telah
mengikat tali persahabatan."
Ada suatu perasaan dalam hati Cu Jiang yang sukar
diutarakan. Menerima budi dari seorang jelita, adalah yang
paling berat sendiri. Apa yang terjadi saat itu, benar2 tak
terduga sama sekali.
Apabila kedua nona dan bujang itu tak datang tepat pada
waktunya untuk memberi pertolongan, tentulah saat itu dia
sudah menjadi seorang tawanan pihak Gedung Hitam.
Entah bagaimana jadinya, ia tak dapat membayangkan.
Tetapi siapa dan bagaimana asal usul puteri cantik Ki Ing
itu, Cu Jiang benar2 tak mengerti.
"Cu siangkong, sampai jumpai." Cu Jiang buru2
memberi hormat dan membalas:
"Terima kasih nona. Budi nona kelak tentu kubalas!"
Dalam menghadapi saat2 yang mendebar hati itu,
tampak sikap dan wajah si cantik makin mempesonakan.
Dada Cu Jiang seperti tak dapat bernapas.
"Aku tak senang mendengar ucapan tentang balas budi
dan terimakasih." bergetaranlah bibir yang mungil dari si
cantik itu menghambur kata2 yang merdu.
"Bukan .... bukan hiasan bibir... tetapi apa yang
kukatakan itu memang keluar dari kesungguhan hatiku,"
kata Cu Jiang agak terbata-bata.
Si cantik Ki Ing tertawa.
"Baiklah, kuterima, sampai Jumpa!"
Sambil melambaikan tangan, tubuh yang lemah gemulai
dari puteri cantik itu segera diiring Siau Hui masuk kedalam
hutan.
Entah bagaimana, saat itu Cu Jiang merasa seperti
kehilangan sesuatu. Ia termenung-menung seperti
kehilangan semangat. Beberapa waktu kemudian baru ia
tersadar.
Luka pada bahu dan dadanya putih penuh dengan
lumuran darah merah. Untung dia berada di tengah
gunung, sehingga tiada orang tahu.
"Ah, siapakah gerangan puteri cantik itu ? Mengapa dia
muncul dalam hutan belantara ini ? Adakah secara
kebetulan saja puteri itu menolong dirinya dari
cengkeraman orang Gedung Hitam atau memang . ..." ia
berpikir dan berpikir. Tetapi makin memikirkan makin ia
tak mengerti jawabannya.
Ia teringat bagaimana Ong Tiong Ki buru2 melepaskan
dirinya karena mendengar ringkik kudanya. Ah, tak
mungkin tanpa sebab kuda itu akan meringkik-ringkik kalau
tidak diganggu orang. Dan siapa lagi pengganggunya kalau
bukan kedua nona dan bujangnya itu.
Hm, betapa akan pecah dada si Mata-Jeli Ong Tiong Kie
kalau mengetahui bahwa dia telah dikibuli oleh dua orang
gadis saja.
Dia mengusap-usap pending kumala pemberian si cantik
tadi. Teraba pending itu masih menebarkan bau harum.
Diam2 pikirannya melayang.
Kali ini mengembara ke dunia persilatan banyak sudah ia
bertemu dengan wanita2 cantik. Tetapi selama itu tak
pernah hatinya terpikat. Tak terduga selama dalam
perjalanan pulang, ia telah bertemu dengan dua orang gadis
cantik yang sangat meninggalkan kesan dalam hatinya...
Saat itu cuaca dalam hutan makin gelap, pertanda
matahari sudah mulai kelam. Kembali ia teringat akan
rumahnya. Maka iapun segera ke luar dari hutan dan
melanjutkan perjalanan.
Saat itu dia berada di tengah pegunungan. Jalan yang di
tempuhnya bukan jalan umum. Ia berjalan pada tempat2
yang dapat di lalui dengan tujuan ke suatu arah tertentu.
Dia tak merasa lelah. Pikirannyapun hanya ingin lekas2
pulang, bahkan kenangannya pada wajah si jelita Ho Kiong
Hwa dan puteri cantik Ki Ing juga terhapus.
Teringat akan keadaan dirinya, ia agak bingung
bagaimana nanti memberi penjelasan kepada ayahnya.
luka-lukanya melihat pun tentu akan menghujani
pertanyaan.
Tiba2 ia melihat pada puncak gunung di sebelah depan
tampak beberapa sosok bayangan manusia yang berlari-lari
mendatangi kearahnya. Makin lama makin dekat. Karena
cuaca gelap, ia tak dapat melihat jelas, apakah bayangan itu
manusia atau binatang.
Tetapi pada lain saat segera ia merasa ada sesuatu yang
tak beres. Jika binatang, tentu bukan begitu caranya berlari.
Tetapi jika bangsa manusia, bagaimana mungkin di daerah
belantara yang begitu sepi terdapat manusia, apalagi saat itu
tengah malam. Darimanakah mereka itu ?
Adakah kawanan anak buah Gedung Hitam yang
hendak mengejar jejaknya ?
Buru2 Cu Jiang percepat larinya dan menjelang terang
tanah tibalah dia disebuah lembah buntu. Berhenti sejenak
mengawasi, ia melihat lembah itu merupakan sebuah hutan
yang lebat sekali.
Karena saat itu kabut masih belum lenyap maka sukarlah
untuk masuk kedalam lembah hutan itu. Terpaksa ia
berhenti beberapa waktu.
Tiba2 ia bernyanyi sebuah lagu yang sering dinyanyikan
ayahnya. Lagu itu ciptaan raja terakhir dari ahala Tong
yang telah kehilangan negerinya.
Cu Jiang sengaja menyanyikan lagu itu agar terdengar
oleh ayahnya bahwa dia sudah pulang. Tetapi ternyata
tiada suatu reaksi apa2.
Lembah buntu itu terpisah dengan sebuah jurang. Untuk
mencapai tepi karang yang di seberang harus menggunakan
tali. Dan biasanya tali itu harus dilempar dari tepi seberang
dan ditarik dari sana.
Cu Jiang menunggu munculnya tali itu. Dan jalan itu
merupakan jalan pendek. Kalau tidak dia harus mengitari
lagi sampai sepuluhan li jauhnya baru dapat mencapai
rumahnya.
Kembali ia mengulang nyanyian lagi dengan nyaring,
Tetapi tetap tiada penyahutan apa2. Sunyi senyap
disekeliling lembah itu.
Tiba2 ia seperti merasakan satu firasat yang tak enak.
Serentak ia teringat akan beberapa sosok bayangan yang
dilihatnya semalam. Ia bingung dan gelisah.
Terpaksa ia mengambil jalan melingkar yang agak jauh
itu. Ketika matahari naik sepenggalan tingginya barulah dia
tiba di sebuah rumah penduduk yang tinggal di gunung itu.
Ditempat rumah penduduk itulah dia biasanya menitipkan
kuda apabila dia turun dan naik gunung.
Tempat itu di huni oleh dua orang suami isteri yang
menjadi keluarganya. Mereka mempunyai seorang anak
perempuan yang sering bersama dengan orang tua Cu
Jiang.
Dari tempat itu hingga ke rumahnya, Cu Jiang harus
menempuh perjalanan delapan li lagi. Jika tidak biasa dan
tidak mempunyai kepandaian yang tinggi, sukar orang
untuk melintasi daerah yang berbahaya keadaannya seperti
tempat itu.
"Paman Liok!" segera Cu Jiang berteriak memanggil
penghuni rumah. Biasanya apabila dia datang yang
menyambutnya tentu dua ekor anjing pemburu yang
dipelihara oleh penghuni rumah itu. Tetapi aneh, saat itu
keadaan rumah itu sunyi senyap saja.
Cu Jiang terkesiap. Apakah yang terjadi? Apakah benar2
telah terjadi peristiwa yang tak diharapkan?
Serentak ia enjot tubuh dan lari menuju ke rumah
pondok itu.
Krak.... pintu pondok yang terbuat dari papan kayu
segera berderak terbuka. Ah .... kedua ekor anjing pemburu
yang besar dan galak, ternyata sudah terkapar dalam
kubangan darah.
Saat itu Cu Jiang makin yakin bahwa sesuatu telah
terjadi dalam rumah pondok itu. Selekas ia melangkah
masuk, hidungnya segera terbaur hawa yang anyir baunya.
Dan ketika matanya memandang, hai.... ia menjerit,
pandang matanya terasa berbinar-binar, bumi dirasakan
seolah berputar-putar terasa ....
Di lantai telah terkapar dua sosok mayat yang sudah tak
utuh keadaannya. Kedua sosok mayat itu terendam dalam
kubangan darah yang sudah mengental. Mereka tak lain
adalah kedua suami isteri Liok So.
Seketika dinginlah tubuh Cu Jiang. Kedua suami isteri
itu telah ikut pada keluarganya sejak berpuluh tahun. Kini
mereka telah dibunuh orang secara begitu keji.
Siapakah yang membunuh mereka? Dan di manakah
Siau Hiang. anak perempuan kedua suami isteri itu? Ia
mencari kian kemari di sekeliling pondok tetapi tak melihat
anak itu.
Kemudian ia menuju ke kamar sebelah barat. Astaga !
Kembali ia menjerit keras dan serentak terhuyung
sandarkan diri pada pintu. Hampir saja ia rubuh terduduk!.
Ganas, ngeri benar. Di atas pembaringan tampak tubuh
seorang dara yang telanjang. Wajahnya menampilkan kerut
ketakutan dan ketakutan yang hebat. Seumur hidup Cu
Jiang takkan melupakan wajah itu.
Entah sampai berapa waktu, barulah Cu Jiang tenang
hatinya. Dia mencucurkan air mata. Dengan mengerut
geraham ia menghampiri kepembaringan dan berseru
dengan sedih:
"Cici Siau Hiang." ia menyambar selimut dan ditutupkan
pada tubuh mayat itu. Juga diketahuinya bahwa dara itu
telah mati menjadi korban perkosaan manusia terkutuk.
"Bunuh ! Bunuh !" ia menjerit kalap seraya mencabuti
rambutnya sendiri. Airmatanya mulai bercampur darah.
Saat itu hanya ada satu tujuan dalam hatinya. Bunuh
dan mencincang tubuh manusia yang telah mengganas
kedua suami isteri dan Siau Hiang. Ia hendak meminum
darah dan memakan daging pembunuh keji itu.
Perasaan dendam yang membara telah menghanguskan
dada Cu Jiang dan terkulailah di lantai dibawah ranjang itu.
Dia mengharap kesemuanya itu hanya suatu Impian
buruk. Tapi ah, ia menggigit bibir dan sakit. Jelas itu bukan
impian melainkan kenyataan.
Beberapa saat kemudian ia mulai sadar. Bahwa
kesemuanya itu suatu kenyataan yang harus dihadapi.
Semangatnya serentak bangkit. Segera ia membuat sebuah
liang untuk mengubur kedua suami isteri dan anaknya.
Kemudian dia berlutut di hadapan gundukan makam
dan berdua, dengan sedih:
"Paman Liok, bibi Liok dan taci Hiang. Selama aku Cu
Jiang masih bernyawa, aku bersumpah untuk membalaskan
dendam ini.”
Selesai dengan penguburan itu, segera ia bergegas
menuju ke rumah. Ingin sekali ia mengetahui bagaimana
keadaan rumah tangganya.
Ia lari menerobos ke dalam hutan. Langkahnya
sempoyongan dan pakaiannya compang camping terlanggar
duri. Badannya letih sekali.
Tengah hari tampaklah sudah pondok kediamannya.
"Pah. mah, aku sudah pulang !" teriaknya dengan penuh
ketegangan.
Tetapi tiada penyahutan sama sekali. Cepat ia pesatkan
larinya dan ketika tiba dimuka pintu, ia rasakan kedua
kakinya amat berat sekali. Terpaksa ia berhenti untuk
memulangkan napas yang tersengal-sengal.
Dia tak berani membayangkan apa yang akan
ditemuinya dalam rumah itu. Hanya dia berdoa. Dia
mengharap pondok yang kosong itu. tidak terjadi sesuatu,
melainkan hanya seperti yang sudah2, setiap kali
kediamannya diketahui orang, ayahnya tentu segera pindah
ke lain tempat.
Kali ini mudah-mudahan juga begitu. Dia percaya, tokoh
seperti ayahnya yang diagungkan sebagai Dewa-pedang
tentu dapat mengatasi segala bencana. paling tidak, dapat
menjaga diri.
Demikian dia berusaha untuk menghibur diri, tetapi tak
urung hatinya masih berdebar-debar, keringat dinginpun
mulai mengucur. Bahkan karena cemas, ia hampir tak
berani masuk ke dalam pintu pondok itu. Karena hanya dua
kemungkinan yang didapatnya. bila rumah itu kosong,
tentu keluarganya telah pindah ke lain tempat atau tentu
sudah..."
Ia tak berani melanjutkan dugaannya. Kematian dua
suami isteri Liok dan anaknya, kembali terbayang di
pelupuknya. Segera ia menyadari betapa lemah dan tak
berguna dirinya itu. Sebenarnya ia tak percaya kepada
segala malaekat dan lain2, tetapi entah bagaimana saat itu
ia berdoa agar malaikat benar2 membantu dan melindungi
keluarganya.
Saat itu matahari bersinar tetapi baginya, sekeliling
tempat itu tampak remang2 seperti terbungkus halimun.
Ia ulurkan tangan hendak mendorong pintu tetapi tidak
ditariknya kembali. Dia kembali tegak mematung di depan
pintu.
Tiba2 di udara terdengar seekor burung gagak terbang
melintas dan berbunyi seram sehingga menggigillah hati Cu
Jiang. Bulu romanyapun meremang tegak.
Sebenarnya bunyi burung gagak itu sudah biasa ia dengar
selama tinggal di hutan itu. Tapi entah bagaimana saat itu
hatinya merasa seram sekali.
Nasib merupakan sesuatu garis hidup yang tak dapat di
robah. Dan sesuatu yang sudah menjadi kenyataan tak
dapat dia menghindarinya.
Akhirnya ia menyadari hal itu. Dengan mengertek gigi,
ia segera mendorong pintu dan melangkah masuk. Hatinya
berdebar keras, darahnya serasa berhenti...
Alat2 dalam ruang pondok itu masih tampak seperti
biasa, tiada yang kacau dan porak poranda. Juga tak
tampak bekas2 pertempuran. Dia menghela napas longgar
lalu memegang ujung meja. Ia berusaha untuk
menenangkan ketegangan hatinya dan mengusap peluh
yang membasahi kepala.
Beberapa saat kemudian baru ia melangkah ke dalam
untuk memeriksa. Semua alat dan perlengkapan dalam
ruang itu masih seperti sediakala. Hanya suasananya sepi
sekali. Ketegangannya pun ber angsur-2 menyurut.
Apakah artinya itu? Apakah yang telah terjadi dalam
rumahnya itu?
Jika pindah tentulah paling tidak orang tuanya akan
membawa kasur dari dalam rumah itu, seperti adat
kebiasaannya yang lalu, tentu diberi sebatang obor untuk
pertandaan.
Dia kembali ke ruang muka dan mengadakan
pemeriksaan yang teliti. Ia mengharap akan dapat
menemukan suatu jejak. Ketika memandang ke dinding
tembok di mana biasanya ayahnya menggantung
pedangnya, ia terkejut. Ternyata pedang ayahnya itu sudah
tak tampak lagi. Ia tahu pedang itu sebuah pedang pusaka,
pedang yang telah mengangkat nama ayahnya sebagai
tokoh Dewa-pedang yang termasyhur dalam dunia
persilatan.
Dia jatuhkan diri duduk terkulai di kursi. Sesaat ia tahu
apa yang harus dilakukan.
Tiba2 ia teringat akan sebuah guha rahasia yang terletak
di ujung lembah. Mungkin kedua orang tuanya ke pintu
sana. Maka tanpa berayal lagi ia terus lari ke luar menuju ke
tepi lembah. Tepi lembah merupakan sebidang tanah
karang yang luas. Disela-sela karang tumbuh rumput2 yang
tinggi.
"Hai, darah . . . !" serentak ia menjerit kaget dan tertegun
berhenti.
Penemuan itu telah membuat hatinya menggigil.
Memandang ke muka ia melihat sepanjang tanah penuh
dengan tetesan darah, ia menuju menurutkan arah bekas2
noda darah itu.
Jelas menunjukkan bahwa tempat itu habis menjadi
ajang pertempuran. Hanya bagaimana kesudahan
pertempuran itu, tak diketahui.
Di antara kubangan darah, tampak dua buah kutungan
jari tangan. Seketika kepala Cu Jiang pusing sekali. Ia
membungkuk, menjemput kedua kutungan jari itu.
Dilihatnya jari itu terpapas dengan rata sekali sehingga
dapat diketahui kalau terbabat oleh senjata yang amat tajam
sekali. Dan jari itu menunjukkan jari tengah dan jari manis.
Kulitnya kasar, jelas tentu milik orang lain, bukan jari
ayahnya.
Memandang agak jauh ke muka ia melihat sebuah
kutungan lengan tangan. Dengan mengerut geraham, ia
melempar jari itu dan menghampiri ke tempat kutungan
lengan. Menilik dari lengan bajunya, jelas kutungan lengan
itu berasal dan lain orang.
Ia mendapat kesan bahwa pertempuran yang telah
berlangsung di tempat itu tentu seru dan dahsyat sekali.
Siapakah musuh yang mengganggu ayahnya itu? Apakah
orang Gedung Hitam? Menurut dugaannya, kecuali pihak
Gedung Hitam, dalam dunia persilatan rasanya tiada lain
tokoh yang berani me musuhi ayahnya. Tetapi mengapa
ayahnya bermusuhan dengan pihak Gedung Hitam!
Selama ini belum pernah ayahnya menceritakan tentang
peristiwa itu. Cu Jiang makin bingung dan tak dapat
merangkai dugaan apa2.
Teringat akan sikap dan ucapan Ong Tiong Ki, jelas
bahwa pihak Gedung Hitam memang sedang giat mencari
jejak ayah Cu Jiang. Dengan begitu, yang bertempur
dengan ayahnya di tempat itu tentulah orang Gedung
Hitam.
Ia lanjutkan maju ke muka. Di tepi lembah pada
segerumbul batu2 karang runcing, samar2 seperti kelihatan
sehelai kain ujung baju.
Serentak jantung Cu Jiang berdebar keras. Dengan
memeriksa baju itu dapatlah ia mengetahui siapa yang
menjadi korbannya, musuh atau keluarganya sendiri.
Dengan pesat ia segera melesat maju.
"Hai..."
Cu Jiang menjerit dan rubuh ke tanah . . ..
-ooo0dw0ooo-
Jilid 3
Musibah.
Entah berapa lama Cu Jiang pingsan tak ingat diri itu.
Apa yang disaksikan saat itu telah menghancurkan hatinya.
Pandang matanya berbinar-binar. Dunia ini serasa gelap
baginya. Dan dia tak ingat apa2 lagi.
Ketika sadar, dengan lesu dia duduk memandang ke
muka. Empat sosok mayat yang terbentang di hadapannya
itu, membuat hatinya hancur berantakan.
Keguncangan besar telah menimbulkan penderitaan
hebat dalam sanubarinya sehingga ia tak dapat menangis
melainkan mengucurkan airmata saja.
Ayah, ibu, adik lelaki dan adik perempuannya telah mati
dibunuh musuh. Tangan ayahnya masih mencekal pedang
Seng-kiam, sekujur tubuhnya penuh luka2 sehingga
menyerupai manusia darah.
Adik lelaki dan adik perempuannya juga mengenaskan
keadaannya. Kaki dan tangan mereka lenyap. Sedang
mamahnya lebih ngeri lagi keadaannya. Telanjang, tangan
dan kakinya diikat pada empat buah tiang. Jelas mamahnya
itupun telah dirusak kehormatannya sebelum dibunuh.
Nasibnya seperti Siau Hui, anak perempuan dari bujang
Liok.
Oh, dunia ....
Adakah dunia ini terdapat perbuatan yang lebih keji dari
itu?
Cu Jiang seperti orang gila. Semangatnya seperti terbang
dari dalam tubuhnya. Hatinya seperti dicacah-cacah melihat
adegan saat itu.
Tak tahu dia apakah dia masih pantas hidup di dunia ini?
Adakah dia masih berhak disebut manusia lagi?
Kedukaan yang hebat telah menghancurkan kesadaran
pikirannya. Tiba2 ia tertawa keras. Nadanya macam burung
hantu mengutuk di tengah kuburan. Kumandangnya
memenuhi empat penjuru lembah.
Beberapa saat kemudian ia berhenti tertawa. Suasanapun
kembali diliputi hawa pembunuhan yang sunyi.
Sepasang biji mata Cu Jiang seperti pecah dan
mengucurkan airmata darah. Wajahnya pucat lesi seperti
mayat.
Dia berdiri, sempoyongan. Mencabut pedang terus
hendak di tikam ke dadanya....
"Uh. . ." tiba2 ia menjerit kaget ketika dadanya terkena
ujung pedang. Sakit. Dan serentak ia tersadar dan
kelimbungannya.
"Tidak! Aku tak boleh mati! Pengecut kalau aku bunuh
diri. Itu hanya menghindari tanggung jawab saja!"
Dan pedangnyapun terkulai.
Tiba2 terdengar suara orang berseru seram dan sinis:
"Hm, siapa bilang engkau tak boleh mati? Engkau, budak
kecil, harus mati juga, ha, ha, ha...."
Cu Jiang cepat berputar tubuh. Tiga tombak jauhnya,
entah kapan, telah muncul tiga manusia aneh. Mereka
bertubuh tinggi besar semua. Yang berdiri di tengah,
akhirnya mempunyai benjolan daging besar. Sedang yang
berdiri di sebelah kiri wajahnya pucat seperti mayat hidup.
Yang sebelah kanan, berwajah menyeramkan. Mukanya
penuh brewok, giginya merongos, matanya cekung ke
dalam dan berkilat2 menakutkan. Hidungnya bengkok
seperti paruh burung kakak tua.
Orang yang berwajah pucat seperti mayatpun berseru
dengan suara seram:
"Ah, tidak sia2 kita menunggu. Akhirnya kita
memperoleh kelinci kecil ini, Lekas bereskan saja.
Membabat rumput harus mencabut sampai akarnya!"
"Membabat rumput tidak mencabut akarnya, begitu
musim semi tiba, tentu akan tumbuh lagi." si hidung
bengkok menyambuti.
Lelaki yang dahinya tumbuh benjolan daging, tertawa
mengekeh:
"Soal ini memang telah di duga lotoa. lekas kerjain saja
dan lekas kita pergi!"
Darah Cu Jiang saat itu serasa beku. Matanya merekah
mengucurkan darah. Dadanya hampir meledak karena di
luap dendam kemarahan yang hebat. Dengan kalap ia
segera menerjang.
Uh . . . ternyata Ketiga manusia aneh itu sudah terpencar
dalam tiga tempat.
"Ha, ha, ha. ha ...."
"Heh, heh, heh, heh . . . ."
"Huh, hun, huh, huh . . . . "
Tiga macam nada tawa yang menyeramkan
berhamburan menusuk telinga Cu Jiang.
Tetapi saat itu Cu Jiang sudah tak menghiraukan segala
apa. Adakah kepandaiannya kalah dengan lawan, dia tak
ambil pusing lagi. Dia ingin benar mencincang ketiga
manusia aneh itu.
"Sebutkan nama kalian!" teriaknya dengan kalap.
Lelaki yang dahinya tumbuh daging benjolan, berseru
seram:
"Engkau belum pantas menanyakan diri kami!"
"Kawanan anjing Gedung Hitam?"
"Anak jadah!" lelaki berwajah pucat meraung marah.
Mengangkat tangan terus menghantam.
Kedua kawannyapun hampir berbareng, juga
menghantam. Tiga gelombang angin pukulan yang dahsyat
segera melanda Cu Jiang.
Anak muda itu hampir tak sempat lagi menangkis
ataupun menghindar. Tubuhnya segera mencelat ke udara
dan melayang ke bawah lembah. Pedangnyapun terlepas
jatuh.
"Mudah sekali, ha, ha, ha, ha ... "
"Heh, heh, heh, heh .... "
"Huh, huh, huh, huh .... "
Ketiga manusia aneh itupun segera lari pergi. Dan
lembah sunyi senyap seperti semula.
Cu Jiang memiliki dasar latihan silat yang cukup kokoh.
Ketika terlempar ke udara, ia menyadari kalau dirinya akan
jatuh ke dasar lembah. Tentu tulang belulangnya akan
hancur berantakan.
Segera dia mengempos semangat dan meringankan
tubuh, dengan sekuat tenaga ia bergeliatan ke dinding
lembah.
Tetapi pukulan ketiga manusia aneh itu terlalu sakti
sekali. Angin pukulan mereka menderu tubuh Gu Jiang
terpisah jauh dari dinding lembah. Dan dinding lembah
itupun licin sekali, tak mungkin ia dapat hinggap di situ.
Memang dengan mengerahkan tenaga tadi, Cu Jiang
berhasil mendekati dinding lembah, tetapi ia terkejut dan
mengeluh. Begitu menyentuh dinding lembah, tubuhnya
malah meluncur deras ke bawah...
"Habis sekarang riwayatku ..." diam2 ia mengeluh dalam
hati.
Mungkin hanya ingatan itu yang masih sempat singgah
dalam benaknya. Setelah itu ia terus dicengkam oleh rasa
ngeri membayangkan kematian.
Duk....
Terasa tubuhnya bergetar keras. Kemudian dia tak ingat
apa2 lagi.
Gelap sudah dunia ini.
Rasa kesedihan, nafsu hendak membalas dendam, tak
dapat dirasakan lagi.
Adakah kematian itu sesuatu yang sedap dan nikmat?
Bukankah mati itu sudah terbebas dari segala derita hatin
dan derita hidup?
Ada kalanya orang ingin mati tetapi tidak mati. Tetapi
orang yang takut mati bahkan malah dikejar kematian.
-ooo0d-w0ooo-
Pada tanah karang di puncak lembah, tampak sesosok
bayangan merah sedang berjalan mondar-mandir. Sebentarsebentar
kedengaran menghela napas.
Mantel warna merah yang tersangkut pada lehernya, ber
kibar2 tertiup angin sehingga tampak tubuhnya yang
langsing itu makin tambah gemulai.
Siapakah dia?
Di ujung tanah lapang dekat pada hutan, tampak
segunduk kuburan yang baru. Sedang batu nisan yang
tertulis di situ, berbunyi:
Tempat peristirahatan yang terakhir dari Dewa-pedang
Cu Beng Ko, isteri dan putera puterinya.
Persembahan: Ang Nio Cu.
Walaupun saat itu sudah senja hari tetapi sosok
bayangan merah itu masih berada di tempat itu. Mulutnya
berkemak kemik:
"Sebenarnya nasibnya tidak harus berumur pendek,
tetapi . . . "
Malampun menebarkan kabut hitam. Bumi hitam kelam
dan gunung2 bagaikan gunduk2 raksasa hitam.
Entah kapan, bayangan merah itupun lenyap. Siapakah
dia?
Siapakah yang tertanam dalam makam itu? Benarkah
Giok-siu-lo Lamkiong Hau, isteri dan kedua putera
puterinya?
Dan pada batu nisan itu tertera nama Ang Nio Cu yang
mempersembahkan. Adakah Ang Nio Cu yang mengubur
dan membuatkan batu nisan itu?
Mengapa?
Apakah hubungan Ang Nio Cu dengan Lam kiong Hau?
Adakah Ang Nio Cu yang membunuh mereka lalu
timbul perasaan menyesal dan mengubur jenasah
korbannya itu?
Ah, sungguh misterius sekali.
Suatu aliran hawa panas yang menyengat tubuh, telah
membuat Cu Jiang tersadar. Ia membuka mata dan ah . . .
ternyata dia berada dalam sebuah gua.
Di dekatnya terdapat setumpuk kayu yang tengah
menyala. Suatu perapian. Asap putih yang mengepul ke
atas, membuat puncak langit gua putih.
Lama baru Cu Jiang pulih kesadaran pikirannya.
"Apakah tidak mati?" ia mulai heran.
"Tidak, engkau masih hidup!" tiba2 sebuah suara parau
terdengar menyahut.
Cu Jiang terkejut dan mengangkat kepala, ia hendak
bangkit ....
"Jangan bergerak!" suara parau dari seorang tua itu
berseru mencegah.
"Aduh," Cu jiang mengerang kesakitan ketika tubuhnya
bergerak. Ia rubuh kembali.
Ia keliarkan pandang ke dalam guha itu tetapi tak
melihat barang seorang manusiapun. Kemanakah orang tua
yang bicara tadi?
Ia berpikir kemungkinan orang itu tentu berada di ujung
sebelah belakang tempat ia berbaring. Dan suara itu di
pantulkan dapat kumandang dalam guha sehingga sukar
baginya untuk menentukan arahnya.
Jatuh ke dalam dasar jurang yang begitu curam, tentulah
tubuh akan hancur lebur. Tetapi ternyata ia masih hidup.
Benarkah itu? Ia hampir tak percaya pada dirinya sendiri.
Jiwa manusia memang aneh. Kadang lemah tetapi
kadang ulet sekali.
"Apakah locianpwe yang menolong jiwaku?" serunya.
"Bukan, jiwamu memang belum di takdirkan hilang.
Engkau jatuh di rumpun rotan mencelat ke atas, baru jatuh
ke tanah. Jika tidak begitu, meskipun tubuhmu dari besi,
tetap akan hancur lebur."
Saat itu Cu Jiang jelas memperhatikan bahwa orang yang
bicara itu berada di belakangnya. Tetapi sayang dia tak
dapat berputar tubuh.
"Budi kebaikan locianpwe menolong jiwa ku, pasti
takkan kulupakan seumur hidup . . ."
"Budak, kau hanya karena jodoh saja."
"Mohon tanya siapakah nama locianpwe?"
"Ini . . . sudah lama aku membuang namaku. Panggil
saja Ko-tiong-jin!"
"O . . . " seru Cu Jiang.
Ko-tiong-jin artinya Orang-dari-lembah. "Engkau ini
bagaimana sih?"
Peristiwa ngeri yang di alaminya ketika di atas lembah,
sejenak terbayang dalam benak Cu Jiang. Ia mengerang lalu
muntah darah.
"Budak, engkau tak mati itu sudah merupakan kejadian
yang ajaib. Jangan engkau mengeluarkan kemarahan atau
luka-dalam tubuhnya akan merekah lagi dan kalau terjadi
begitu, dewapun tak mampu menolong jiwamu lagi."
Cu Jiang mengucurkan airmata campur darah. Lama
sekali baru dia dapat terbebas dari kedukaan.
"Buyung, siapakah namamu?"
"Wanpwe bernama Cu Jiang."
"Murid perguruan mana?"
"Dari keluarga sendiri. Ayahku bernama Cu Beng Ko . .
."
"Engkau . . . putera dari Dewa-pedang?"
"Ya. Apakah locianpwe kenal padanya?"
"Berpuluh tahun yang lalu pernah bertemu satu kali.
Engkau mengatakan mendiang ayah tadi, apakah dia. . ."
Cu Jiang pejamkan mata. Hatinya bergolak2. Kemudian
baru berkata:
"Ayah, ibu dan adik perempuan serta adik laki2, terpaksa
harus menyingkir ke puncak lembah untuk menghindari
musuh..."
"Oh, makanya tiap kali aku melihat sosok2 bayangan
berkelebatan di puncak lembah ini. Kiranya keluargamu
menjadi tetanggaku. Hayo ceritakan lagi..."
"Ketika pulang dari berkelana, keluargaku satu rumah
semua telah di bunuh mati secara mengerikan. Bahkan aku
sendiripun telah di hantam pembunuh itu hingga terlempar
kebawah jurang ini."
"Siapakah musuh itu?"
"Soal itu wanpwe tak tahu."
"Tapi menghantam engkau jatuh ke sini?"
"Tiga manusia aneh yang tak diketahui namanya.
Kesaktiannya luar biasa sekali ..."
"Bagaimana ujudnya?"
"Yang seorang, dahinya tumbuh benjolan daging. Yang
kedua, wajahnya pucat seperti mayat. Dan yang ketiga,
bibirnya sumbing sehingga giginya tampak menonjol
keluar, mukanya penuh brewok..."
"Hah. . . apa senjata mereka?"
"Tangan kosong!"
"Hanya tiga orang saja ?"
"Rasanya tentu masih ada lagi tetapi yang muncul hanya
tiga orang itu."
"Bukankah perawakannya tinggi besar?"
"Benar..."
"Rasanya mirip dengan Sip-pat thian-mo..."
"Sip pat-thian-mo?" Cu Jiang berteriak kaget.
"Hanya dugaan, tetapi tak mungkin."
"Mengapa?"
"Sudah berpuluh-tahun kedelapan belas momok dunia
itu menghilang dari dunia persilatan. Dan menilik
umurnya, tak mungkin mereka mempunyai permusuhan
dengan orang tuamu."
"Aku bersumpah hendak menuntut balas!"
"Buyung, jangan bersedih, mungkin...."
"Mungkin bagaimana..."
Ko-tiong-jin atau Orang tua-dari-lembah menghela napas
dan berkata pelahan-lahan:
"Cu Jiang, engkau harus tabah untuk menghadapi
ketentuan nasib yang menimpa pada diri mu. Nasib yang
malang. . ."
Cu Jiang tergetar, serunya: "Nasib malang bagaimana?"
Ko-tiong-jin merenung dan menimang2 bagaimana dia
harus memberi keterangan kepada anak muda itu. Sampai
lama baru dia berkata:
"Sungguh suatu nasib yang luar biasa bahwa engkau tak
sampai mati. . ."
"Wanpwe takkan melupakan budi pertolongan
locianpwe," tukas Cu Jiang.
"Cu Jiang, dengarkanlah. Kini engkau menjadi seorang
pemuda cacat!"
Mendengar itu seketika Cu Jiang terlongong-longong
seperti orang kehilangan semangat. Cacat!
Suatu nasib yang mengerikan, lebih malang dari yang
malang. Segala harapan dan cita2nya akan lenyap bagai
awan di hembus angin. Menuntut balas dan segala macam
sumpah, pun akan ikut amblas.
"Thian sungguh tak adil. Malaekat sungguh jahat.
Mengapa aku tak mati saja!" serentak dia berteriak kalap.
Ko tiong-jin menghela napas.
"Aku sudah berusaha sekuat tenaga tetapi hanya dapat
menyelamatkan jiwamu, tak dapat menolong engkau dari
derita cacat!"
Air mata darah bercucuran dari mata Cu Jiang, Dengan
suara beriba2 ia berseru:
"Locianpwe, apakah aku masih berharga untuk hidup?"
"Mengapa tidak? Adakah engkau begitu memandang
enteng pada jiwamu? Nasibku jauh lebih mengerikan dari
engkau tetapi aku tetap bertahan hidup," sahut Ko-tiong-jin.
"Tetapi aku sudah cacat, tidakkah lebih baik mati
daripada hidup?"
"Ilmu kepandaian masih tetap ada."
"O. tenagaku masih?"
"Ya."
"Lalu bagai mana cacat tubuhku ini?"
"Tidak lututmu sebelah kanan hancur. Walaupun dapat
kusambung tetapi sekarang lebih pendek sedikit dari
semula..."
Mendengar itu timbullah harapan Cu Jiang serunya:
"Apakah hanya cacat begitu?"
"Masih ada lagi . . . . "
"Apa?"
"Engkau telah kehilangan wajahmu yang tampan."
"Hai . . . mukaku?"
"Hm, wajahmu penuh dengan bekas2 noda hitam!"
Tanpa disadari Cu Jiang terus merabah air-mukanya.
Memang kini kulit mukanya tidak sehalus yang lalu
melainkan terdapat bintik2 yang kasar. Separoh muka
bagian kiri, penuh dengan noda2 bekas luka. Sedang
sebagian dari tulang pipi sebelah kanan melesak. Hanya
kedua matanya yang masih utuh tak kurang suatu apa.
Tiba2 dia tertawa nyaring. Nadanya penuh kerawanan
dan kehampaan.
"Muka tampan atau buruk, aku tak memikirkan! "
serunya.
"Bagus, buyung. Engkau harus dapat menerima apa saja,
penderitaan maupun kegembiraan. Barang siapa dapat kuat
menerima coba derita yang orang biasanya tak dapat
menerima, barulah dia akan menjadi manusia unggul dari
manusia lainnya."
"Saat ini aku masih belum dapat bergerak."
"Engkau telah pingsan selama delapan hari delapan
malam! "
"Hah?"
"Benar, " kata Ko-tiong-jin, "untung aku mengerti sedikit
tentang ilmu pengobatan dan beruntung dapat
menyembuhkan lukamu.
"Locianpwe seperti melahirkan aku..."
"Sudahlah, jangan membicarakan soal itu. Telah kupetik
beberapa ramuan daun obat dan kujadikan pil. Setelah
minum, besok pagi engkau tentu dapat bangun. Sekarang,
beristirahatlah dulu, besok kita sambung bicara lagi."
Plak .... sebutir pil melayang jatuh ke samping kepala Cu
Jiang.
Diam2 Cu Jiang heran. Kalau sudah mau menolong
dirinya mengapa orang aneh yang menyebut dirinya dengan
nama Ko tiong-jin itu tak mau unjuk diri?
Ia tak mau mengambil pil itu, melainkan bertanya:
"Locianpwe, dapatkah aku melihat wajah locianpwe? "
"Minum obat dulu, jangan bicara yang tak berguna!"
"Tetapi aku tetap merasa ...."
"Engkau curiga?"
"Ah, tidak, locianpwe. Hanya ingin mengenangkan
wajah penolongku yang budiman itu. "
"Lekas minum obat itu dulu! "
Cu Jiang terpaksa menurut. Ia mengambil bungkusan
dan membukanya. Isinya sepuluh butir pil sebesar buah
kelengkeng. Sebutir demi sebutir dia terus menelannya. Ia
tak peduli bagaimana pahit rasanya.
"Buyung, di sisi bantalmu telah tersedia air."
Cu Jiang berpaling. Memang di sisi bantalnya terdapat
semangkuk air. Iapun mengambil dan meminum untuk
pengantar pil.
Beberapa saat kemudian, ia rasakan segumpal hawa
panas mulai meluap dari perut terus ke dada, kemudian
pelahan lahan mengalir ke kaki dan lengan. Makin lama
makin hebat sehingga tubuhnya terasa seperti digodok.
Keringatpun bercucuran deras seperti hujan. Dan
terakhir pikirannya mulai limbung, gelap dan tak ingat apa2
lagi ....
Ketika membuka mata ia tak merasa sakit lagi. Tak tahu
ia berapa lama telah pingsan tadi.
Perapian di samping tempat tidurnyapun telah ditambah
pula dengan kayu yang baru. Asap berkemelut
menyesakkan napas.
Ia mencoba untuk duduk dan ternyata tak apa2. Tetapi
ketika berdiri, tubuhnya agak sempoyongan dan hampir
rubuh ke dalam unggun api.
Saat itu baru dia menghayati betapa penderitaan seorang
yang cacad itu. Kakinya sebelah kiri bukan saja lebih
pendek, pun sukar untuk dijulur-turutkan, kaku sekali.
Betapa sedih hati Cu Jiang, sukar dilukiskan lagi
Tetapi hal itu suatu kenyataan. Tak mungkin dapat ia
tolak. Bahwa jatuh dari atas jurang yang sedemikian tinggi
tidak sampai mati memang sudah merupakan suatu
kemujijadan. Kalau hanya cacad tubuh dan wajahnya, tentu
sudah sewajarnya.
Segera ia alihkan pikirannya. Ia ingin melihat siapakah
yang telah menolong jiwanya itu.
Memandang ke muka, ia melihat pintu gua pada jarak
lima tombak jauhnya. Di sebelah luar gua, berkabut tebal
sehingga tak kelihatan apa2.
Memandang ke sebelah dalam gua itu, ternyata di
sebelah dalam masih terdapat sebuah gua lagi.
Ia tak berani sembarangan masuk tetapi lebih dulu ia
berseru dengan nada hormat:
"Locianpwe ....!"
"Bagaimana keadaanmu sekarang ini?" tiba2 terdengar
Ko tiong-jin menyahut.
"Obat pemberian lo cianpwe memang mustajab sekali.
Kini aku sudah sembuh. "
"Bagus. Apa engkau hendak bicara kepadaku? "
"Aku hendak menghadap locianpwe. "
"Engkau .... apa sungguh harus bertemu muka dengan
aku? "
"Benar, locianpwe."
"Sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya aku tak pernah
melihat wajah manusia lain. "
"Aku hendak menghaturkan terima kasih yang setulus
hati kehadapan locianpwe"
Sampai beberapa jenak tak terdengar suara apa2 dari Kotiong-
jin. Rupanya dia tengah merenung.
"Baiklah," akhirnya ia berkata, "kululuskan engkau
melihat wajahku. Mungkin ada manfaatnya bagimu.
Masuklah!"
Berdebar-debar Cu Jiang ketika dengan langkah yang
terseok-seok masuk kegua bagian dalam.
Gua itu diterangi dengan penerangan yang redup.
Pertama yang dilihatnya, yalah sebuah meja dan sebuah
kursi terbuat dari pokok kayu yang dibelah. Bentuknya
kasar.
Diatas meja buatan Ko-tiong-Jin itu penuh dengan buahbuahan.
Bahan makanan yang menjadi ransum orang itu.
Disebelah dalam tampak sebuah tempat tidur yang
beralas tumpukan rumput kering.
Dan ketika pandang mata Cu Jiang berkeliar lebih lanjut,
hai
Menjeritlah mulut pemuda itu dengan serentak. Dia
gemetar. Jantungnya serasa copot. Benar2 dia tak
menyangga sama sekali, bahwa perwujudan dari Ko-tiong
jin itu sedemikian rupa.
Diatas tempat tidur yang berada didinding gua, duduklah
seorang mahluk yang aneh. Tubuhnya penuh dengan bulu,
kumis dan Jenggotnya melingkar-lingkar lebat. Matanya
hanya satu dan memancarkan sinar yang berapi-api.
Pakaiannya compang camping, hampir tidak menyerupai
pakaian lagi. Bagian bawah dari pakaiannya amblong
karena kedua kakinya hilang.
Ko-tiong-jin tertawa gelak2.
"Buyung, engkau masih jauh lebih baik dari diriku,
bukan ?"
Sesaat Cu Jiang tersadar akan dirinya. Buru2 ia berlutut
dan menghaturkan hormat.
"Harap locianpwe memaafkan karena wanpwe kurang
tata."
"Bangun dan duduklah di kursi!"
Setelah memberi hormat lagi barulah Cu Jiang duduk di
kursi yang terbuat dan belahan pokok pohon. Sesaat tak
tahulah bagaimana ia hendak bicara.
"Makanlah buah-buahan Itu untuk pengisi perut," seru
Ko-tiong-jin pula.
Seperti diingatkan, Cu Jiang baru teringat bahwa
perutnya memang lapar sehingga pandang matanya
berbinar-binar. Tanpa sungkan lagi ia terus mengambil dan
memakannya. Diantaranya terdapat buah yang sebenar
mangkok. Ketika digigit, mengucurkan air yang banyak dan
manis. Ia belum pernah makan buah semacam itu.
"Lo cianpwe, buah apakah ini ?"
"Namanya buah tasusu, dapat menambah tenaga. Jarang
terdapat dalam dunia. Tetapi didasar lembah ini banyak
sekali."
"Buah tasusu?"
"Ya," kata Ko-tiong-jin, "selama pingsan delapan hari
delapan malam, hanya dengan sari air buah itu, dengan
cepat engkau dapat pulih lagi tenagamu."
"O."
"Bagaimana kesanmu setelah melihat wajah ku ini ?"
"Lo cianpwe tentu menderita suatu peristiwa yang amat
menyedihkan sekali."
Ko-tiong-jin menengadahkan kepala dan tertawa gelak2.
"Musibah yang menimpa diriku itu tak kalah mengerikan
dari penderitaanmu."
"Maukah locianpwe menceritakan kepadaku."
"Ah, hidupku yang sekarang ini sudah habis. Tak perlu
ku uraikan peristiwa itu."
Keduanya lalu diam. Hanya dalam hati masing2 yang
masih bicara. Setelah makan tiga biji buah tasusu, rasa
panas pada tubuh Cu Jiang hilang. Semangatnya mulai
agak segar lagi. Tetapi apabila teringat akan peristiwa yang
menimpa dirinya, ia hendak menangis tetapi airmatanya
sudah kering.
Lebih dulu Ko-tiong-Jin yang memecah keheningan
suasana, katanya:
"Buyung, besok pagi2, keluarlah engkau dari lembah !"
Tergetar hati Cu Jiang seketika. Pertama, berat rasanya
atas budi pertolongan orang tua itu. Dan kedua, ia merasa
kasihan sekali atas nasib yang diderita Ko-tiong-jin.
"Dan locianpwe sendiri ?"
"Akan layu bersama rumput2 disini."
"Aku akan menemani locianpwe disini sampai akhir
hayat locianpwe."
"Ha, ha, ha, ha!" Ko tiong-Jin tertawa, "nak,
kesungguhan hatimu memang mengesankan. Tetapi aku
sudah tak mempunyai selera lagi terhadap manusia hidup.
Hanya...."
"Hanya apa, locianpwe?"
"Masih mempunyai sebuah keinginan yang belum
terlaksana. Tetapi keinginan itu juga sukar untuk
dilaksanakan. Tetapi . . . tetapi . . . ah, perasaanku sudah
mati. jiwaku masih hidup, belum dapat meninggalkan
ragaku yang sudah tak keruan ini. Apa boleh buat!"
Sebutir airmata menitik dari ujung pelupuk orang tua itu.
"Dapatkah aku membantu lo cianpwe?" tanya Cu Jiang
dengan sungguh2.
“Tidak !"
"Mengapa locianpwe harus menderita sendiri?"
"Nasib menentukan begitu. Tidak mau menderita lalu
mau apa?"
"Bukankah tadi lo cianpwe mengatakan masih
mempunyai suatu masalah yang belum terselesaikan?"
"Sampai pada saat itu, tidak selesaipun sudah selesai
sendiri."
"Silahkan locianpwe memberi pesan kepadaku, agar aku
dapat membantu untuk menyelesaikannya."
"Tak usah."
"Dengan sungguh hati aku. . ."
"Tetapi aku tak mau menerima budimu."
"Mengapa lo cianpwe memiliki pikiran begitu?"
"Memang watakku tak senang menerima budi orang."
"Jika begitu aku yang telah menerima pertolongan
locianpwe, akan tak punya kesempatan lagi untuk
membalas budi locianpwe itu?"
"Nak, bersiap2lah besok engkau akan tinggalkan tempat
ini."
"Jika lo cianpwe tak memberi kesempatan kepadaku
untuk membalas budi, seumur hidup aku pasti menderita
hatin."
"Nak, kesungguhan hatimu itu, sudah lebih dari cukup . .
."
Cu Jiang jatuhkan diri berlutut seraya berkata dengan
tegang:
"Apabila locianpwe tak mau meluluskan, akupun takkan
berbangkit."
Butir airmata yang tertahan di ujung pelupuk Ko-tiongjin
akhirnya menitik keluar juga.
"Bangunlah ..." serunya. "Locianpwe meluluskan?"
"Ah, nak, kululuskan engkau. Tetapi aku masih meminta
kepadamu agar jangan menganggap itu sebagai batas budi
kepadaku. Ikutilah garis takdir, berhasil atau gagal tak usah
engkau hiraukan . . ."
"Baiklah, locianpwe . . . , " kata Cu Jiang seraya
berbangkit dan duduk di kursi pula.
Mata yang tinggal sebuah dari Ko-tiong-jin tampak
berkaca2 memancar sinar sedih dan marah. Beberapa saat
kemudian baru dia berkata:
"Aku hendak minta kepadamu melakukan sebuah hal ..."
"Harap locianpwe segera memberitahu." kata Cu Jiang
dengan sigap.
Agaknya tegang sekali hati orang tua itu sehingga
napasnya ter-sengal2. Setelah menenangkan diri beberapa
saat, ia berkata:
"Soal ini merupakan soal yang terkandung dalam hatiku.
Karena soal itulah maka aku tetap bertahan hidup
walaupun sudah bukan layak di sebut manusia lagi..."
"Wanpwe akan ingat dengan sungguh2."
"Tahukah engkau apa sebab aku sampai menjadi cacat
begini rupa?"
"Mohon locianpwe suka memberitahu."
"Aku dicelakai oleh seorang sahabat yang dekat
hubungannya dengan aku ..."
"Sahabat yang paling dekat?"
"Benar. Seorang kawan akrab yang pura2 bersikap taat
dan baik."
"Siapa?"
"Sebun Ong yang bergelar Bu-lim-seng-hud."
Cu Jiang melonjak kaget. Bu-lim-seng-hud atau Buddhahidup
dunia-persilatan Sebun Ong termasyhur dalam dunia
persilatan. Di kalangan aliran Pek-to (putih) dia termasuk
tokoh yang terkemuka.
Tokoh itu seorang penegak keadilan, menjunjung
kebenaran dan pembasmi kejahatan. Semasa hidupnya,
mendiang ayah Cu Jiang pernah memuji tokoh itu. Tetapi
tadi Ko-tiong-jin menyebutnya sebagai kawannya yang
akrab dan mencelakai dirinya.
Cu Jiang benar2 heran.
"Locianpwe mengatakan Sebun Ong?" ia menegas pula.
"Engkau tak percaya?"
"Bukan tak percaya, melainkan. . ."
"Terpengaruh oleh namanya yang termasyhur?"
"Memang namanya terkenal sebagai tokoh yang baik."
"Itulah mengapa kukatakan dia seorang manusia jahat
yang pura2 bersikap baik."
"Apakah locianpwe kenal baik sekali dengan dia?"
"Ya."
"Jika demikian tentulah locianpwe juga seorang tokoh
yang termasyhur dalam dunia persilatan?"
"Ah, tak perlu dikata lagi. Engkau bantu aku mencarikan
seseorang ..."
"Siapa?"
Tiba2 nada suara Ko-tiong-jin berobah bengis sekali,
serunya:
"Ho-hou Tio Hong Hui!"
"Ratu kembang Tio Hong Hui . . ."
"Hm."
"Wanita cantik nomor satu dalam dunia persilatan itu?"
"Benar."
"Dia mempunyai dendam permusuhan dengan
locianpwe?"
"Dia adalah isteriku."
"Jika begitu," seru Cu Jiang dengan nada tergetar,
"locianpwe ini tentulah tokoh pendekar-besar dari
Tionggoan Cukat Ong yang pernah menggetarkan dunia
persilatan pada beberapa puluh tahun yang lampau!"
"Benar. Engkau tak kecewa sebagai putera dari Dewapedang,
pengetahuanmu luas benar."
Hati Cu Jiang tegang sekali. Ia tak menyangka bahwa
seorang pendekar besar bakal menderita nasib begitu
mengenaskan.
"Locianpwe hendak mencari Tio cianpwe..."
"Jangan menyebutnya cianpwe. Wanita itu tak layak
mendapat kehormatan disebut cianpwe!" teriak Ko-tiong-jin
dengan bengis.
Cu Jiang terkesiap.
"Aku tak mengerti persoalannya."
Mata Ko-tiong-jin bersinar tajam, memancarkan dendam
yang menyala-nyala. Dengan mengerut geraham dia
berkata pula:
"Dengarkan. Delapan belas tahun yang lalu, aku dan
Sebun Ong bersama-sama menemui seorang gadis. Tetapi
akhirnya gadis itu memilih aku. Setelah itu akupun
hentikan petualanganku dalam dunia persilatan. Aku
menikah dan menuntut penghidupan yang tenang."
"Se-bun Ong masih bersikap baik. Tampaknya dia tak
sakit hati dan hubungan kita masih seperti sediakala dan
akupun tak mengandung kecurigaan apa2 kepadanya.
Bahkan aku memuji peribadinya."
"Apakah gadis itu bukan Ratu kembang Tio Hong Hui ?"
karena tak dapat menahan diri, Cu Jiangpun menyeletuk.
"Ya, memang dia. Tahun kedua dari pernikahanku, dia
telah melahirkan seorang bayi perempuan yang kucintai
bagaikan mutiara..."
"Ah," desuh Cu Jiang.
"Tahun ketiga, anak perempuanku itu genap berusia
setahun. Ketika itu aku sedang mencari daun obat ke
pegunungan. Tak kusangka sangka Sebun Ong menyusul.
Dengan terus terang dia mengaku bahwa dia tak dapat
melupakan rasa cintanya terhadap Tio Hong Hui. Dan
bahkan diapun mengaku bahwa dia telah melakukan
perbuatan terlarang dengan Tio Hong Hui."
"Apakah locianpwe percaya ?"
"Sudah tentu tidak percaya. Tetapi dia dapat
mengunjukkan bukti."
"Bukti?"
"Benar. Sebuah bungkusan Ho-pau (kantong uang) yang
selalu berada ditubuh wanita hina itu. Sebun Ong
menerangkan bahwa Tio Hong Hui tak senang pada diriku
karena aku tak suka bercumbu rayu, tidak mempunyai
selera untuk mengadakan hubungan kelamin, hanya
mencurahkan waktu dan perhatian untuk belajar silat.
Memang benar, aku memang begitu dan terpaksa mau
tak mau harus percaya keterangannya...."
"Lalu?"
"Sebun Ong mengakui kesalahannya dan menyatakan
penyesalannya yang tak terhingga karena telah berbuat yang
hina, menghianati kawan sendiri. Dia minta supaya aku
membunuhnya . .. ."
"Oh..."
"Saat itu tergerak hatiku. Aku menghela napas dan
mengatakan bahwa memang nasibku yang jelek. Aku akan
mengasingkan diri jauh dari dunia keramaian."
"Lalu ?"
"Ah, tak kusangka sama sekali bahwa Sebun Ong itu
seorang binatang yang berjiwa manusia. Seorang manusia
yang berhati binatang. Pada saat aku tak berjaga jaga, tiba2
dia menyerang aku. Setelah aku rubuh, dengan buas ia
menghancurkan sebelah mataku. Karena dia menyerang
cepat dan dahsyat, aku tak sempat membalas.
Kepandaiannya memang lebih tinggi dari aku apalagi dia
menggunakan pedang memapas kedua kakiku lalu
menendang tubuhku kedalam jurang ini . .."
"Jahanam !" teriak Cu Jiang serentak. Ko tiong-jin
mengertak gigi. "Adalah karena belum ditakdirkan mati,
tubuhku tersangkut pada gerumbul rotan sehingga tubuhku
tak hancur. Dan ternyata tumbuh-tumbuhan dalam dasar
jurang ini merupakan daun2 obat yang mujarab sehingga
selamatlah jiwaku. Begitulah kisah hidupku mengapa aku
berada disini. ."
"Bukankah locianpwe suruh aku mencari Tio Hong Hui .
. ."
"Dia adalah biang keladinya. Bunuhlah dia!"
"Baik, aku tentu akan melakukan pesan locianpwe! "
"Masih ada sebuah lagi. Apabila bertemu dengan anak
perempuanku, lindungilah dirinya. Kini dia tentu sudah
berumur 17 tahun . . ."
"Semua pesan lo cianpwe pasti akan kulakukan! "
"Ah. sekarang aku baru dapat mati dengan meram. Ini
memang kehendak Yang Kuasa. Di dasar jurang yang
begini dalam, ternyata engkau datang. Apa yang semula tak
pernah kuharapkan, kini ternyata akan terlaksana ..."
"Sebaiknya locianpwe tinggalkan tempat ini nanti akan
kuusahakan tempat tingaal yang sesuai untuk locianpwe.
Begitu pula setelah bertemu dengan puteri locianpwe, tentu
akan kuajak datang agar merawat locianpwe..."
"Tidak, buyung, aku tak mau bertemu muka dengan
manusia lain lagi?"
"Termasuk puteri lo cianpwe?"
"Kenapa?"
"Aku tak mau menyiksa batinnya ..."
"Tetapi walaupun locianpwe cacat, semangat locianpwe
masih penuh . . . " Ko-tiong-jin tertawa hambar.
"Batin dan raga telah hancur. Hanya mengandalkan
obat. Memang obat dapat menolong jiwa tetapi tidak dapat
menyambung umur. Aku pernah belajar soal ilmu obat2an
maka tahu jelas tentang hal itu."
Mendengar itu ber-linang2lah airmata Cu Jiang.
"Jika locianpwe menginginkan begitu...."
"Sudahlah, jangan banyak omong. Tubuhku sudah tak
utuh dan hatiku ingin sekali agar wanita hina itu mati, baru
aku dapat mati dengan meram. Tetapi baik atau buruk,
anak itu dia yang melahirkan. Cinta ayah kepada anak dan
cinta ibu kepada anak, sama2. Bagaimana aku dapat
bertemu muka dengan anak perempuanku itu?"
Mendengar itu barulah Cu Jiang tahu alasan yang
sebenarnya dari Ko-tiong-jin. Sebagai seorang pemuda yang
cerdas, cepatlah Cu Jiang dapat menyadari hal itu. Dia tak
mau memaksakan hal2 yang tak di inginkan orang tua itu.
Diam2 ia memutuskan. Kelak apabila berhasil
menemukan puteri Ko tiong-jin, dia akan mengajaknya
berunding lagi.
"Siapa nama puteri locianpwe itu?" tanyanya.
"Waktu kecil kuberi nama Beng Cu. Tetapi dia ikut
ibunya yang hina, namanya tentu berganti."
"Lalu cara bagaimana aku dapat mengenalinya?"
"Apabila bertemu dengan wanita yang cabul, tentu dapat
diketahuinya."
"Baik. "
"Dua buah benda ini akan kuberikan kepadamu ..." kata
Ko-tiong jin lalu mengambil sebuah kantong uang dan
sebuah kantong kecil, diberikan kepada Cu Jiang.
"Kantong uang ini adalah lima belas tahun yang lalu
dibawa Sebun Ong sebagai bukti tentang penyelewengan
Tio Hong Hui. Untung sampai sekarang masih kusimpan.
Apabila bertemu dengan perempuan hina Tio Hong Hui itu,
serahkanlah kantong itu. Tak perlu engkau turun tangan . .
."
"Tak perlu turun tangan?" ulang Cu Jiang heran.
"Dalam kantong uang itu berisi benda yang amat
beracun sekali. Barang siapa menyentuhnya tentu mati. Di
dunia tak ada obatnya lagi. Racun itu hasil buatanku selama
bersusah payah mempelajari sampai sepuluh tahun. Ingat,
jangan sekalikah engkau membuka kantong itu."
Gemetar Cu Jiang mendengar pesan itu.
"Di dalamnya berisi racun ganas?"
"Dengan begitu sama artinya akulah yang turun tangan
membunuhnya sendiri."
"Dan kantong kecil ini?"
"Apabila bertemu dengan anak perempuanku, serahkan
kantong kecil itu. Katakan, di dalamnya terdapat pesanku .
. ."
Cu Jiang menyambuti dengan kedua tangan. Ia masih
ngeri membayangkan kantong uang itu.
"Juga kantong kecil, jangan engkau buka. Kecuali anak
perempuanku, jangan sampai kantong kecil itu jatuh ke
tangan orang lain!"
"Baik, aku ingat semua pesan locianpwe."
"Nak, apakah permintaanku itu terlalu berlebihan?"
"Ah, mengapa locianpwe mengatakan begitu, " cepat2
Cu Jiang berseru, "jiwaku ini adalah locianpwe yang
memberi. Soal begini saja tentu tak berarti bagiku."
"Beristirahatlah di gua luar. Hari segera terang tanah dan
engkau dapat ke luar dari jurang ini."
"Apakah terdapat jalan yang tembus keluar."
"Ada. Kuketemukan jalan itu setahun yang lalu ketika
aku mencari daun obat. Menuruni jurang ini kira2 lima li
jauhnya, akan tiba di sebuah aliran air yang melintas
gunung. Karena saat ini sedang musim kering, airnya tentu
juga kering dan dapat di gunakan orang untuk melintasi
gunung."
"Oh."
"Pergilah!"
Serentak Cu Jiang menghaturkan hormat yang penuh
khidmat dan haru. Kemudian ia menuju ke gua luar. Api
unggun hanya tinggal sedikit. Dia menambah kayu bakar
lalu duduk bersandar pada dinding gua.
Pikirannyapun mulai melalu lalang memikirkan berbagai
peristiwa. Musuh yang membunuh ayah bunda, adik lelaki
dan adik perempuannya. Dan terutama jenasah ibunya
yang telanjang, benar-benar meledakkan dadanya.
Ia ingin menangis, meraung, menjerit dan ngamuk agar
dapat melampiaskan dendam hatinya.
Di amuk dendam kemarahan itu, ia tak dapat tidur. Ia
mencabuti rambut kepalanya Segenggam demi segenggam
di lemparnya dalam api yang menyala. Dengan perbuatan
itu agaknya ia dapat meredakan kedukaan dan dendam
hatinya.
Tetesan darah mengucur turun dari mukanya tetapi dia
tak merasakannya.
Api di perapian pun padam. Angin berhembus dingin
dari luar, menyusup kedalam gua Namun dia tetap duduk
bersandar pada dinding gua. sedikitpun tak bergerak.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan hitam, menerjang
masuk dari luar gua. Cu Jiang terbelalak kaget dan cepat
ayunkan tangannya.
"Jangan!" tiba2 terdengar suara bentakan Dan nada
suaranya adalah nada Ko-tiong-jin.
Mendengar itu cepat Cu Jiang menghentikan tangannya.
Memandang dengan teliti gunduk bayangan hitam itu, ia
baru mengetahui kalau seekor kera besar yang membawa
buah-buahan. Kera itu menyeringaikan mulut,
memperlihatkan giginya yang tajam dan memandang Cu
Jiang dengan marah.
Saat itu Ko-tiong Jin sudah melayang ke samping Cu
Jiang lalu menggapaikan tangannya:
"Toa Hek. kemarilah. Ini kawan sendiri."
Rupanya kera besar itu mengerti bahasa manusia.
Dengan langkah pelahan-lahan ia berdiri dihadapan Ko
tiong-Jin. Beberapa jenak memandang tajam kepada Cu
Jiang lalu melangkah masuk ke gua dalam.
"Itulah kera hitam yang kupelihara," kata Ko tiong-jin
"sifatnya yang buas masih belum hilang sama sekali. Dia
memiliki tenaga yang kuat sekali. Jago silat yang tidak
tinggi kepandaiannya tentu sukar mendekatinya. Dia
mempunyai rasa setia kepada tuannya."
Cu Jiang mengangguk.
Setelah beberapa kali memandang ke luar gua, Ko-tiongjin
berkata pula:
"Nak, sekarang engkau boleh berangkat!"
Berat rasa hati Cu Jiang untuk berpisah dengan orang tua
yang bernasib malang itu. Walaupun hanya berkumpul
dalam waktu yang singkat, tetapi ia menganggap orang tua
itu sebagai seorang cianpwe yang baik budi. Juga ia merasa
kasihan serta simpati atas keadaan diderita olehnya,
seorang yang pernah harum namanya dalam dunia
Cu Jiang tak pernah melupakan budi pertolongan Kotiong-
jin yang telah menyelamatkan jiwanya dari kematian.
Tahu bahwa saat itu ia akan berpisah, Cu Jiang tak dapat
berkata apa2. Hanya wajahnya amat berduka dan
airmatanya berlinang-linang.
Ko-Tiong jin tertawa gelak2.
"Nak, perjalanan hidupmu masih panjang. Penuh
dengan kepahitan dan derita. Engkau harus berlatih
meneguhkan batinmu."
Airmata Cu Jiang bercucuran deras.
"Terima kasih locianpwe." Katanya dengan suara parau
dicengkam keharuan.
"Bagaimana rencanamu setelah keluar dari lembah ini ?"
"Mencari jejak musuh."
"Dengan kepandaian yang engkau miliki sekarang ini ?"
Ko-tiong-jin menegas.
Semangat Cu Jiang segera menurun. Memang ia
menyadari bahwa dengan kepandaiannya saat itu, tak
mungkin dia hendak melakukan pembalasan. Ibarat hanya
seperti telur beradu dengan ujung tanduk.
Sedang mendiang ayahnya yang begitu sakti pun
akhirnya dapat dicelakai orang, apalagi dirinya yang terpaut
jauh sekali dari ayahnya.
Cu Jiang menundukkan kepala. Ko tiong-jin bergeliat
dan menepuk bahu anak muda itu, serunya:
"Nak, jangan putus asa. Manusia wajib berusaha. Adalah
karena aku merasa kepandaianku masih kalah dengan
mendiang ayahmu maka aku tak dapat membantu apa2
kepadamu. Tetapi aku hendak menghaturkan sebuah kata
nasehat padamu "untuk melakukan pembalasan, sampai
tiga tahun pun belum terlambat". Carilah seorang guru
kenamaan untuk belajar ilmu silat yang lebih tinggi, barulah
nanti engkau lakukan pembalasan itu. Tetapi .... guru yang
sakti itu memang sukar ditemukan. Kesemuanya itu
tergantung pada jodoh dan rejekimu!"
Cu Jiang mengangguk dalam2.
"Akan kuukir dalam sanubariku semua pesan
locianpwe."
"Jika mendiang ayahmu yang begitu sakti dalam ilmu
pedang dapat dicelakai musuh, Jelas bahwa musuhmu itu
tentu bukan tokoh sembarangan. Engkau harus berhati-hati,
jangan sampai mengalami kehancuran yang sia2...."
"Baik."
"Walaupun tiada hubungan dengan mendiang ayahmu,
tetapi aku sekaum dengan dia. Dan aku mengagumi
peribadinya. Ayahmu mengalami bencana dan aku
mendapat musibah begini, bukan disebabkan karena
perjuangan kami membela kebenaran dan keadilan tetapi
memang karena suatu peristiwa yang menyedihkan
sekali..."
"Aku kurang jelas akan maksud locianpwe." kata Cu
Jiang.
"Sewaktu masih hidup, pernahkah ayahmu menceritakan
tentang musuhnya ?"
"Tak pernah."
"Jika begitu, tentu sukar engkau melakukan
penyelidikan."
"Pada waktu itu aku melihat beberapa hal yang dapat
kujadikan pegangan untuk mencari jejak si pembunuh.
Pada saat itu kutemukan dua buah kutungan jari, sebuah
lengan. Dengan bukti itulah akan kucari musuh itu. "
"Oh..."
"Dan masih ada lagi . . . . "
"Apa? "
"Orang Gedung Hitam ketika menyelidiki asal usul
diriku pernah berusaha menekan aku supaya
memberitahukan tempat ayahku. Itulah sebabnya maka
keras dugaanku bahwa orang Gedung Hitamlah yang
melakukan pembunuhan itu ... "
"Gedung Hitam? Aku tak pernah mendengar nama itu! "
"Gerombolan Gedung Hitam mengacau dunia
persilatan, kemungkinan terjadi pada waktu locianpwe
mendapat musibah ..."
"Ya, mungkin begitu. Bagaimana gerombolan itu?"
"Begitu muncul mereka melakukan pembunuhan besarbesaran
di kalangan kaum persilatan, seluruh dunia
persilatan di Tionggoan diancam oleh bayang2 kecemasan
dan kegelisahan!"
"Siapakah pemimpin mereka?"
"Tak seorangpun yang tahu!"
"Oh, dunia persilatan memang banyak sekali urusannya.
Aliran Ceng-pay dan Shia-pay, timbul tenggelam silih
berganti. Demikian kehidupan dunia persilatan dari masa
ke masa. Tetapi ada sebuah dalih yang menjadi kenyataan
bahwa Kejahatan itu akhirnya harus menyerah pada
Kebaikan. Golongan Shia-pay tentu kalah dengan golongan
Ceng-pay!"
"Benar."
"Nak, engkau memiliki kecerdasan dan bakat yang bagus
sekali. Mungkin dalam dunia persilatan jarang terdapat
orang yang bertulang sebagus engkau. Sayang engkau
menderita musibah sedemikian menyedihkan, sebelah
kakimu cacad. Hal itu mungkin akan mempengaruhi
kemajuan dari latihan ilmu silatmu. Tetapi jangan kecewa.
Semua itu sudah digariskan Thian. Jangan putus asa dan
teruskanlah usahamu dengan hati lapang!"
"Baik, lo cianpwe."
"Nah, sekarang engkau boleh berangkat."
Dengan rasa yang berat, Cu Jiang berbangkit lalu
memberi hormat:
"Selamat tinggal, locianpwe. Mudah-mudahan kita akan
lekas berjumpa kembali."
"Ya, ya, mudah-mudahan aku masih hidup sampai
waktu itu. Per.... gilah! "
"Harap locianpwe baik2 menjaga diri. "
"Dan lagi . . . ."
"Oh, apakah lo cianpwe hendak memberi pesan lagi?"
"Dua buah hal yang perlu kupesan kepadamu. Pertama,
sembunyikan dirimu jangan engkau mengatakan asal
usulmu. Demi menjaga tindakan musuh yang hendak
membasmi seluruh keluargamu. Kedua, apabila Thian
mengabulkan harapanku dan engkau berhasil menemukan
anak perempuanku itu, jangan mengatakan kalau aku masih
hidup. Katakan saja . . . aku sudah berada di alam baka . . ."
Dalam mengatakan ucapan yang terakhir itu, suara Kotiong
jin agak sember. Air matanyapun berlinang-linang.
Cu Jiangpun ikut terharu sekali.
"Akan kuingat semua pesan locianpwe itu."
Ia terus berbangkit, memandang sejenak kepada Kotiong-
jin lalu dengan langkah tertatih-tatih ia melangkah ke
luar.
Suasana di luar guha masih gelap tertutup kabut pagi
sehingga ia tak dapat melihat jelas keadaan di sekeliling. Cu
Jiang menuruni lembah. Dicobanya untuk menggunakan
ilmu meringankan tubuh. Tetapi karena kakinya cacad, ia
tak leluasa berlari. Dengan tertatih-tatih dia berlari, hanya
lebih cepat sedikit dari orang biasa.
Teringat akan keadaan itu, kemarahannya memuncak
lagi.
Dengan susah payah barulah ia berhasil keluar dari
barisan karang tajam dan tiba di saluran air seperti yang
dikatakan Ko-tiong jin.
Saluran air itu terletak di bawah batu karang, berasal dari
sebuah gua. Karena musim panas, saluran air itupun hanya
sedikit airnya. Kalau musim hujan, tentu tak mungkin
orang dapat menggunakannya untuk berjalan menembus
gua.
Cu Jiang segera merangkak masuk ke dalam terowongan
gua itu. Sekonyong-konyong ia berteriak kaget sekali.
Dia terlongong-longong di tepi kubangan air yang
merupakan sebuah telaga kecil.
Di permukaan air ia melihat sesosok bayangan yang
mengerikan sekali. Rambut terurai kusut, wajahnya penuh
dengan noda hitam, pakaian compang camping penuh
berlumuran bintik2 percikan darah. Siapapun tentu akan
ketakutan apabila melihat bayangan itu.
Cu Jiang tenangkan semangatnya. Memandang keempat
penjuru. Tetapi tak tampak barang seorang manusia
lainnya. Kembali memandang ke permukaan air, ia masih
melihat bayangan yang mengerikan itu.
Tiba2 ia tersadar dan serentak lemas lunglailah kakinya.
Ia terkulai duduk di tanah lalu ia berteriak kalap:
"Inilah aku! Ya, aku sendiri, Cu Jiang!"
Habis berteriak kalang kabut, ia tertawa seram. Nadanya
penuh dendam dan kedukaan. Air matanya bercucuran.
Untuk pertama kali di permukaan air itu ia dapat melihat
roman mukanya. Dan raut mukanya itu ternyata jauh lebih
mengerikan dari apa yang di bayangkan.
Adakah manusia seperti diriku sekarang ini layak
bertemu muka dengan orang?
Ia bertanya dan bertanya pada dirinya sendiri. Sebagai
jawaban, meluaplah dendam kebenciannya. Seluruh
pikiran, semangat dan raganya, terbakar hangus oleh
dendam kesumat. Dia tak suka kepada segala apa di dunia
ini lagi. Dia benci pada dunia.
Dendam kesumat telah menghancur leburkan hati
nuraninya.
Dendam kesumat, seolah telah menyebabkan jiwanya
meninggalkan raga.
Dendam kesumat telah membuat dirinya menjadi
manusia yang berobah wataknya. Ia merasa langit telah
berubah, bumi berganti dan dirinyapun juga berobah.
"Cu Jiang yang sekarang, bukan Cu Jiang yang dulu
lagi," ia meratap dan memberingas.
Akhirnya ia bangkit, meraung raung seperti seekor
binatang buas dan dengan langkah terhuyung-huyung ia
melintasi terowongan itu, menurutkan aliran air. Beberapa
tombak jauhnya, keadaannya gelap sekali sehingga tak
dapat melihat tangannya sendiri. Namun ia tetap kalap.
Dengan jatuh bangun ia terus lari.
Tubuh Cu Jiang berlumuran darah akibat terbentur
dengan dinding terowongan gunung.
Tetapi dia telah mati rasa. Dia tak memikirkan rasa sakit
lagi. Hanya lari, ya, lari terus sejauh kakinya masih kuat...
Tiba2 disebelah muka merekah penerangan. Ternyata
telah tiba disebuah lorong atau jalanan lembah. Karena
kehabisan tenaga dia jatuh di saluran air, napasnya
tersengal-sengal keras.
Hampa. Hampa diluar hampa didalam. Pikirannya
sehampa langit yang luas.
Tak lama kemudian sang surya mulai memancarkan
sinarnya ke penjuru lembah. Awanpun berarak-arak di
puncak lembah.
Tanpa terasa karena merendam diri di saluran air, noda
darah pada lukanya tercuci bersih, tetapi sebagai gantinya
luka itupun memberinya rasa sakit. Dan rasa sakit itu
pelahan-lahan menyadarkan pikirannya lagi. Dia segera
meninggalkan saluran air. Sinar mentari pagi
menghangatkan pula tubuhnya. Pelahan-lahan
semangatnyapun segar kembali.
Peristiwa berdarah dalam rumah tangganya kembali
terlintas dalam benaknya ....
Paman Liok, Siau Hiang anak perempuan satu-satunya
dari paman Liok, bibi Liok . .. ayahnya, mamah, adik
perempuan .... mereka telah dibunuh secara kejam oleh
musuhnya.
Darah mereka telah menumpah. Darah mereka hanya
tinggal dalam dirinya. Dia adalah satu-satunya darah
mereka yang masih hidup. Jika dia mati, habislah
semuanya.
Tidak !
"Aku tak boleh mati!" Jika aku mati dendam darah itu
pasti tak dapat kubalas." kata hatinya. Dam bulatlah sudah
keputusannya. Dia harus hidup untuk menuntut balas atas
kematian kedua orang tua, adiknya dan kedua bujang Liok
serta anaknya itu.
Setelah semangat hidupnya bangkit, dia segera menuju
ke arah yang dikehendakinya. Sejam kemudian tibalah dia
di tempat pondok paman Liok.
Memandang pondok ditengah hutan belantara yang
sunyi senyap itu, dia menghela napas.
"Ah, yang mati, sudah mati. Tetapi yang hidup ini ?"
Dia melangkah masuk kedalam pondok. Dihadapan abu
ketiga anak beranak itu. dia tegak berdoa. Setelah itu ia
segera melintasi hutan dan menuju ke tempat tinggal ayah
bundanya.
Pondok dan segala isi rumah masih sama seperti
beberapa hari yang lalu. Hanya ia terkejut ketika melihat
sebuah makam. Segera ia menghampiri makam itu.
"Hai, siapakah yang membuat makam ini?"
"Ang Nio cu!" ia berteriak kaget setelah membaca tulisan
pada batu nisan itu.
"Mengapa Ang Nio-cu datang kemari? Dan mengapa dia
mendirikan makam untuk ayah bundaku ?" keheranan Cu
Jiang makin menjadi2.
Ang Nio cu, momok wanita yang membunuh jiwa
manusia seperti membunuh nyamuk, mengapa mau
mendirikan makam untuk ayah bunda Cu Jiang.
Aneh! Benar2 aneh. Cu Jiang tertegun dalam kehilangan
faham.
Ketika melintasi hutan dan melihat pertandaan dari Ang
Nio cu, ia segera mendengar suara momok wanita itu
mengancam hendak membunuhnya. Tetapi tiba2 wanita itu
merobah keputusannya. Adakah Ang Nio-cu memang
mengikuti jejaknya hingga tiba di situ? Jika benar, apakah
dia mengetahui tentang peristiwa yang terjadi di sini?
Cu Jiang benar2 bingung.
Dia berlutut dan menelungkupi makam. Ketika tersadar,
matahari sudah terbenam. Malam itu dia tidur di makam
orang tuanya.
Keesokan harinya, ia berlutut pula di depan nisan
makam dan berdoa:
"Ayah, mah, adikku berdua. Aku bersumpah akan
membalaskan dendam berdarah ini. Sejak saat ini aku tak
mau mengucurkan air mata lagi."
Habis bersembahyang, dia berbangkit. Tak berapa jauh
dari tempatnya, ia melihat sebatang pedang yang kutung
berkilau-kilauan tertimpa sinar matahari. Dikenalinya
pedang itu adalah milik ayahnya. Dihampirinya pedang itu
lalu di bungkusnya dengan robekan lengan baju dan di
simpannya dalam dada bajunya.
Pedangnya sendiri tiga hari yang lalu telah hilang ketika
dia di tendang jatuh ke dasar jurang oleh ketiga mahluk
aneh itu.
Setelah itu ia kembali berlutut di depan makam dan
menghaturkan hormat yang penghabisan kali. Kemudian ia
berbangkit dan menuju ke pondok kediamannya.
Dia mencari lemari untuk berganti pakaian. Dengan
mengenakan pakaian dari kain kasar dan caping, kini dia
berobah menjadi seorang manusia baru. Orang tentu tak
kenal lagi bahwa dia adalah Cu Jiang, putera dari Dewapedang
Cu Beng Ko yang termasyhur.
Selesai berpakaian ia mengambil cermin. Ah, ternyata
dia sendiripun tak kenal dengan dirinya yang baru itu.
Dia tak mau bersedih lagi. Yang ada dalam hatinya
hanyalah "dendam kesumat". Dia telah bersumpah di
hadapan makam kedua ayah-bundanya bahwa sejak saat itu
dia tak mau mengucurkan airmata lagi.
Setelah mengemasi bekal yang perlu, dia segera
tinggalkan rumah yang penuh kenangan pahit itu.
Racun yang tersimpan dalam kantong pemberian Kotiong-
jin, memberi peringatan kepadanya. Bahwa untuk
membalas dendam, tak mungkin dengan mengandalkan
ilmu kepandaian tetapi harus dengan akal. Tak peduli
apapun caranya yang penting dendam itu cepat terhimpas.
Soal mencari guru sakti dan berguru menuntut ilmu
kepandaian yang sakti, memang hanya tergantung dari
jodoh tetapi tak dapat diharapkan dengan pasti.
Kemanakah dia harus mencari guru sakti ? Dan sampai
berapa tinggikah ukuran ilmu-silat yang sakti itu? Jika
musuhnya itu benar pemimpin Gedung Hitam, siapakah
tokoh dalam dunia persilatan yang mampu melebihi
kesaktiannya? Karena jika ada tokoh yang lebih unggul dari
pemimpin gerombolan Gedung Hitam, tak mungkin
gerombolan Gedung Hitam dapat merajalela dalam dunia
persilatan.
Demikian untuk belajar silat hingga mencapai tataran
yang tinggi, bukan suatu pekerjaan yang dapat dilakukan
dalam setahun dua tahun, tetapi harus bertahun-tahun
bahkan belasan tahun. Lalu kapankah dendam itu akan
dapat terbalas?
Akhirnya tibalah Cu Jiang di sebuah kota kecil. Dia agak
takut. Dia kuatir orang akan takut melihat wajahnya. Pun
juga hal itu dapat mengundang peristiwa-peristiwa yang
sangat tak diharapkan.
Tetapi dia tak dapat terus menerus mengasingkan diri
dan tak mau bertemu orang. Untuk membalas sakit hati ia
harus melakukan penyelidikan dan hal itu berarti bahwa ia
harus bertemu dan bergaul dengan orang.
Akhirnya ia keraskan hati dan berjalan tertatih-tatih ke
arah kota itu.
"Hai..." tiba2 seorang perempuan menjerit, menutupi
muka dan lari ketakutan ketika melihat wajah Cu Jiang.
Cu Jiang hentikan langkah. Betapa sedih rasa hatinya
saat itu, sukar dilukiskan dengan kata-kata. Dulu setiap
mata gadis tentu akan berusaha untuk selalu
memandangnya. Tetapi kini mereka tentu akan membuang
muka.
Dendam kesumat makin tebal dalam sanubarinya.
Beberapa waktu kemudian baru ia timbul keberaniannya
untuk melanjutkan masuk ke dalam kota.
Sepanjang jalan banyak orang yang menjerit dan
berteriak kaget. Ada yang menghindar, ada pula yang
mengikuti untuk melihatnya lebih jelas. Bahkan anak2 yang
nakal melemparinya batu.
Ingin sekali dia membunuh mereka. Tetapi mereka
rakyat yang tak berdosa dan diapun tak mungkin dapat
membunuh habis mereka. Maka ditekannya perasaannya.
Dengan sabar ia berjalan.
Pada saat ia masuk yang pertama kali ke dalam sebuah
rumah makan, jongos segera deliki mata dan
membentaknya:
"Hai, berhenti . . . mau apa engkau!"
Darah Cu Jiang meluap, namun dengan mengertek gigi
ia balas bertanya:
"Apa perlunya kalian membuka pintu?"
"Di sini rumah makan, sudah tentu kami menjual
makanan dan minuman."
"Kalau begitu setiap orangpun berhak membeli di sini."
"Carilah lain rumah makan saja!"
"Apa maksudmu?"
"Dikuatirkan tetamu yang makan di sini akan muntah
melihat engkau."
Hawa pembunuhan serentak meluap sehingga sepasang
mata Cu Jiang berkilat-kilat memancarkan api, ketika
memandang jongos itu.
Jongos itu ketakutan dan menyurut mundur, seorang
lelaki pertengahan umur segera melangkah maju. Rupanya
dia pemilik rumah makan itu. Dia berhenti dihadapan Cu
Jiang dan mengawasinya dengan alis berkerut.
"Apa engkau orang dari desa ?"
Memang pakaian dari kain kasar yang dikenakan Cu
Jiang saat itu, biasanya dipakai orang desa.
"Jangan urusi aku orang desa atau orang kota. Aku bisa
membayar apa yang kumakan dan minum. Apakah tidak
boleh ?"
"Silakan engkau cari lain rumah makan saja."
"Tidak ! Aku hendak makan disini."
Lelaki pertengahan umur itu deliki mata lalu
membentak:
"Manusia cacat, disini bukan tempatmu main gila !"
Ribut2 itu telah mengundang perhatian tetamu2 lain.
Mereka serempak datang melihat. Begitu melihat wajah Cu
Jiang, berobahlah cahaya muka mereka. Ada yang muak,
ada pula yang kasihan.
"Engkau menghina aku orang cacat?" teriak Cu Jiang.
"Apa salah? Apakah engkau ini lelaki yang tampan ?"
Kata2 pemilik rumah makan itu menimbulkan gelak
tawa dari sekalian tetamu.
Kata2 itu benar2 telah menikam perasaan hati Cu Jiang.
Dia tak dapat menahan kesabarannya lagi. Dangau deliki
mata ia membentak:
"Apakah engkau pemilik rumah makan ini?"
"Ya."
"Rumah makan yang engkau usahakan ini menjual
makanan kepada orang atau tidak ?"
"Ya, tetapi tidak kepadamu."
Saat itu diluar rumah makan telah banyak orang yang
iseng melihat ribut2 itu. Mereka juga ikut
memperbincangkan wajah Cu Jiang.
"Apa engkau tak menyesal ?" Cu Jiang menegas geram.
"Orang cacat, enyahlah, jangan membuat naik darahku !"
bentak pemilik itu.
Wajah Cu Jiang yang seram makin mengerikan ketika
memancarkan hawa pembunuhan. Dengan mendengus dia
menggeram.
"Hm, engkau sendiri yang minta mati !" Secepat kilat
tangan kanannya menyambar. Walaupun kaki yang kiri
cacat, tetapi tenaga kepandaian Cu Jiang masih tetap tak
hilang.
Sambarannya itu hebat sekali, tak sembarang jago silat
dapat menghindari.
"Auh...!" pemilik rumah makan itu menjerit ngeri ketika
tubuhnya diangkat seperti anak kecil. Kelima jari Cu Jiang
menyusup kedalam daging tubuhnya sehingga darah
bercucuran deras.
Sekalian orang menjerit kaget. Mereka tak kira bahwa
orang desa yang berwajah buruk dan cacat kakinya itu
ternyata memiliki kepandaian yang sedemikian hebat.
Jongos segera mengajak kawan-kawannya untuk
menyerbu. Ada yang membawa pentung, serok api dan
pisau.
"Aduh .. . aduh” Cu Jiang mengangkat tubuh pemilik
rumah makan yang diayun-ayunkan sebagai senjata.
Kawanan jongos itu tak berani turun tangan dan mereka
sendirilah yang mundur karena terbentur dengan senjata
istimewa dari Cu Jiang.
"Tuan, ampunilah jiwaku. Aku punya biji mata tetapi tak
dapat melihat gunung Thaysan !" pemilik rumah makan
menjerit jerit minta ampun.
"Sahabat, jangan !" tiba2 terdengar suara yang
menggetarkan telinga Cu Jiang.
Mengangkat muka memandang kedepan, Cu Jiang
melihat seorang tua berjenggot putih dan pakaian putih,
tengah melangkah masuk. Sikapnya amat berwibawa sekali.
"Lotiang, kojiu dari mana ?" tegur Cu Jiang dengan
masih marah.
Dengan pelahan tetapi penuh kekuatan, orang tua
berjenggot putih itu menyahut:
"Dengan ilmu kepandaian sahabat yang begitu hebat,
masakah sembabat hendak menuruti nafsu kepada
penduduk biasa ?"
Mendengar itu Cu Jiang terkesiap. "Aku seorang cacat
yang hina!" Orang tua jenggot putih itu tertawa gelak-gelak:
"Mengapa sahabat merendah diri. Lepaskanlah dia !"
"Apakah lotiang hendak memintakan ampun untuknya?"
"Bila sahabat suka memberi muka kepadaku, akan
kusuruh mereka segera mempersiapkan hidangan untuk
menghaturkan maaf."
"Ya, aku akan menghaturkan maaf!" teriak pemilik
rumah makan yang seperti ayam hendak disembelih.
Cu Jiang lepaskan cengkeramannya, bluk . . pemilik
rumah makan itu jatuh ke lantai dan merintih-rintih
kesakitan.
Setelah memandang beberapa jenak pada Cu Jiang,
orang tua jenggot putih itu mengangguk, katanya:
"Sahabat, maukah engkau menemani aku minum arak?"
Cu Jiang sudah mengetahui bahwa ia sedang berhadapan
dengan seorang tua yang bukan sembarangan. Serentak ia
mengangguk:
"Biarlah aku yang mengundang lotiang!"
Orang tua jenggot putih itu segera menarik tangan Cu
Jiang diajak masuk ke dalam. Dia memilih sebuah tempat
di ujung ruang yang sepi.
Setelah ditolong oleh jongos, pemilik rumah makanpun
berteriak-teriak:
"Lekas siapkan hidangan . . . menghaturkan maaf."
Dengan wajah cemberut, jongospun segera menyiapkan
hidangan. Tetamu2pun kembali ke tempat duduknya lagi.
Hanya pandang mereka senantiasa mencurah ke arah Cu
Jiang.
Setelah duduk, Cu Jiang segera bertanya nama orang tua
itu.
"Aku orang she Gong."
"Gong?"
"Ya Apakah engkau belum pernah mendengar she itu?"
"Baru pertama kali ini."
"Dan siapakah namamu?"
Cu Jiang teringat akan pesan Ko-tiong-jin agar jangan
membuka rahasia dirinya. Maka ia segera memberi
keterangan:
"Karena sejak kecil menderita nasib yang malang dan
terlunta lunta, she-ku sudah tak pernah kupakai lagi. Yang
hanya menyebutku sebagai Gok ji. "
"Gok-ji?" ulang orang tua berjenggot putih. Gok-ji
artinya Anak sengsara. "Ah, Gok-ji memang suatu nama
yang istimewa dan dalam sekali artinya."
Tergetar hati Cu Jiang mendengar kata2 orang tua itu. Ia
tahu bahwa orang tua itu tentu seorang yang aneh juga.
Saat itu jongos datang membawa hidangan makanan dan
arak. Kedua orang itupun segera makan.
Entah apa yang sedang dipikir orang tua itu. Diam2 Cu
Jiang merasa heran akan kemunculan orang tua itu yang
secara tiba2- Dia tak tahu siapa sebenarnya orang tua itu
dan apa tujuannya. Jika dia seorang musuh, baiklah ia
berhati-hati menghadapinya.
Takaran minum orang tua itu hebat benar. Setiap habis
dia tentu mengisi lagi cawannya dan terus diteguknya
sehingga poci arak yang dibawakan jongos itu habis isinya.
Diam2 Cu Jiang semakin waspada. Setelah meneguk
secawan, ia minta maaf dan mulai makan nasi. Tetapi
orang tua itu terus saja minum arak. Delapan poci yang
dibawa si jongos berturut-turut, telah diludaskan semua.
Sekalian tetamu leletkan lidah karena heran.
Setelah kenyang. Cu Jiang letakkan mangkuknya
demikian pula orang tua itu.
"Mari kita pergi!" kata orang tua itu.
Cu Jiang terbeliak, serunya: "Pergi? Ke mana? "
Rupanya dengan mengucapkan ajakannya tadi, orang
tua itu sudah berbangkit dan terus ngeloyor. Ia berpaling,
sahutnya:
"Pindah ke lain tempat!"
Cu Jiang makin tergetar hatinya. Dia belum tahu asalusul
orang tua itu dan baru saja ia mengenalnya di rumah
makan situ.
Orang tua itu hanya menyebutkan orang she Gong,
tetapi tak mengatakan siapa namanya. Pada hal dalam
dunia ini, tak ada orang yang menggunakan she Gong.
"Aneh, mengapa dia mengajak aku pindah ke tempat
lain? Untuk apa? Bercakap-cakap? Apa yang
dipercakapkan? Aku tak kenal kepadanya, " diam2 Cu Jiang
membatin. Kemudian ia merangkai dugaan andaikata orang
tua itu tertarik perhatiannya kepada dirinya? Ah tak
mungkin. Dia membantah pikirannya sendiri. Masakan
pemuda berwajah seperti dirinya, dapat menarik perhatian
orang.
"Adakah dia bermaksud jahat?" pikirnya pula. Tetapi dia
membantah lagi, "Ah, tak mungkin. Bukankah dia sudah
berganti wajah? Tak mungkin orang akan mengenali bahwa
aku adalah pemuda Cu Jiang yang tampan dulu. "
Saat itu orang tua sudah tiba di ambang pintu. Akhirnya
timbullah pikiran Cu Jiang untuk mengetahui siapakah
orang tua itu dan apakah maksudnya mengajak dia.
Dia serentak berbangkit, mengambil sekeping hancuran
perak dan diletakkan di atas meja sebagai pembayarannya.
"Tidak usah, tuan. Majikan kami mengatakan memang
sengaja hendak menghidangkan makanan dan arak selaku
permohonan maaf kepada tuan, " jongos bergegas
menghampiri.
Cu Jiang deliki mata.
"Tak perlu ! "
Dia terus melangkah menyusul si orang tua. Keduanya
melangkah ke luar. Sepanjang jalan, setiap orang yang
melihat Cu Jiang tentu terkejut ngeri.
Sampai di sebuah tempat sepi di luar kota, Cu Jiang
hentikan langkah dan berseru:
"Apakah yang lotiang hendak katakan kepadaku?"
Orang tua itupun berhenti, berpaling dan tegak
berhadapan dengan Cu Jiang.
"Sahabat, apakah engkau benar bernama Gok ji?"
"Benar. Mengapa lotiang bertanya begitu?"
"Dengan tujuan apa sahabat merusakkan tubuhmu
sendiri?" tanya si orang tua.
"Aku .... tak mengerti."
"Pada jaman dahulu, Ong Cu telah mengutungi
lengannya sendiri kemudian pura2 menyerah pada bangsa
Kim. Tujuannya tak lain ialah hendak membebaskan Liok
Ban Liong, putera dari menteri negeri Kim yang setia tetapi
terkena fitnah. Ong Cupun menggunakan nama Gok-jin.
Apakah sahabat juga hendak mencontoh cerita itu ?"
Mendengar itu Cu Jiang tertawa gelak2.
"Sungguh kebetulan sekali. Itu hanya kebetulan saja
sama. Lotiang terlalu jauh membuat penilaian."
"Katakan hal itu memang secara kebetulan sama," kata
orang tua Itu dengan nada tegang, "tetapi kata2 sahabat itu
tidak sungguh2, mudah sekali diketahui. . ."
"Bagaimana lotiang mudah mengetahuinya?"
"Kesatu, pakaianmu dengan tindakan kata-katamu tidak
sepadan. Kedua, sinar matamu juga berkilat kilat tajam,
menandakan ada sesuatu yang terkandung dalam hatimu.
Ketiga, gerakan tanganmu tadi bukan main hebatnya. Bagi
orang yang ahli, jelas tentu mengetahui bahwa engkau tentu
memiliki ilmu silat yang hebat, Keempat, melihat tingkah
lakumu, jelas baru saja. Entah karena apa, tetapi yang jelas
bukan pembawaan sejak kecil. Dan tak mungkin sejak kecil
engkau diberi nama Gok-ji. Bagaimana pendapatmu,
salahkah penilaianku ini?"
Karena isi hatinya di buka, keringat dingin pun
bercucuran membasahi tubuh Cu Jiang. Tajam sekali
pandang mata orang tua itu sehingga sekali lihat dia sudah
dapat mengetahui tentang diri nya.
"Ah, kalau musuh juga dapat menilai begitu, tentu
sukarlah aku menyembunyikan diriku," diam-diam ia
mengeluh.
Seketika timbul keinginannya untuk mengetahui siapa
sesungguhnya orang tua itu.
"Kalau menurut pendapat lo-tiang sendiri, bagaimana?"
ia balas bertanya.
"Sahabat tentu berasal dari keluarga yang ternama dan
sahabatpun mempunyai bahan tulang yang bagus sekali.
Sebab apa sahabat menyembunyikan muka sahabat yang
sesungguhnya?" kata orang tua itu pula.
"Apakah aku boleh menyangkal pandangan lo-tiang?"
"Aku tak bermaksud menyelidiki urusan peribadi orang
Benar atau salah dugaanku tadi, bukan soal yang penting
bagiku."
"Tetapi lotiang memanggil aku kemari, tentu akan
memberi suatu petunjuk, bukan?"
"Tentu."
"Silahkan lotiang memberitahu."
"Aku hendak mencari seorang pewaris yang lain dari
yang lain . . ."
"Lotiang menjatuhkan pilihan padaku?"
"Benar."
Cu Jiang tertawa keras. "Mengapa lotiang memilih diriku
seorang yang cacat begini?"
"Aku tertarik sekali dengan bahan tulangmu!" Seketika
teringatlah Cu Jiang akan paderi Thian-hian-cu dan imam
Go-leng-cu yang juga ingin mengambil murid kepadanya
dengan alasan begitu juga.
"Apakah lotiang hendak menjadikan diriku seorang jago
yang mampu menandingi selaksa orang?"
"Ada kemungkinan begitu." Cu jiang terkejut. Jika
demikian tentu orang tua itu seorang yang sakti sekali.
"Sahabat, apakah engkau tak pernah mendengar bahwa
warna hijau itu berasal dari biru dan lebih tua dari biru . . ."
Memang dalam hati Cu Jiang sudah memutuskan untuk
mencari jalan melaksanakan pembalasan dendam
keluarganya. Sudah tentu tidak begitu mudah dia terpikat
oleh kata2 dari seorang yang belum dikenalnya. Serentak ia
memberi hormat dan berkata:
"Ai, aku tak berharga buat lotiang. Terima kasih sekali
atas perhatian lotiang!"
Seketika berobah cahaya wajah orang tua itu, serunya:
"Janganlah sahabat melewatkan kesempatan yang jarang
terdapat ini."
Tanpa ragu Cu Jiang menjawab: "Seorang cacat seperti
diriku, bagaimana berani memiliki harapan besar.
Maafkanlah apabila aku tak dapat memenuhi harapan
lotiang."
Habis berkata ia segera melangkah pergi. Orang tua itu
mengejarnya. "Apakah sahabat menganggap aku membual?
Ingin bukti ?"
Makin orang itu penasaran, makin Cu Jiang ingin lekas2
menghindarkan diri.
"Ah, tak usah," katanya menjawab pertanyaan orang tua
yang hendak mengunjukkan bukti.
Orang tua itu menghela napas dan berkata seorang diri:
"Bahan yang bagus memang sukar diperoleh. Tak
berjodoh memang menjengkelkan."
Namun walaupun mendengar, Cu Jiang tetap lanjutkan
langkah. Dia sudah mempunyai ketetapan takkan
mengunjukkan jejak dirinya agar jangan diketahui musuh.
Diam2 ia geli terhadap orang tua itu. Ia heran mengapa
banyak sekali orang yang ingin mengangkatnya sebagai
murid.
Kalau dulu dia memang mungkin tertarik. Tetapi
sekarang, cita2nya tak banyak lagi. Dia sudah putus asa,
sudah dapat melakukan pembalasan kepada musuhnya.
OooodwoooO
Jilid 4
Balas dendam!.
Ya, memang mudah di ucapkan tetapi melakukannya
sukar bukan kepalang. Siapa musuhnya itu, pun dia tak
tahu. Maka dia gentayangan ke mana2 tanpa suatu tujuan
yang tertentu.
Sekarang wajahnya hanya menimbulkan rasa seram dan
ejekan orang tetapi tidak menarik perhatian mereka.
Setelah mendengar nasihat orang tua tadi, diapun harus
menyesuaikan diri, sebagai orang biasa, orang desa yang
sesuai dengan keadaannya saat itu. Dengan demikian tentu
dapat menghapus kecurigaan orang.
Tengah dia berjalan. Beberapa kuda hitam
mencongklang pesat dari sampingnya. Penunggangnya
mengenakan pakaian hitam, mukanya di tutup kain
kerudung dan pakai mantel warna hitam.
"Pengawal hitam" diam2 Cu Jiang berteriak dalam hati.
Cepat ia kerahkan tenaga dan lari mengejar.
Tetapi karena kaki kirinya cacat, beberapa saat
kemudian, ia sudah kehilangan jejak mereka. Terpaksa ia
hentikan pengejarannya.
Tetapi baru ia berhenti dari arah belakang terdengar
lengking tertawa.
Cu Jiang cepat berputar tubuh. Ah.... seperti disambar
kilat, mulutnya segera menganga hendak berteriak tetapi
tiba2 ia mengatupkannya lagi. Suara yang hendak
diluncurkannya ditelannya kembali.
Dari belakang tampak dua orang penunggang kuda.
Yang satu, seorang puteri keraton yang cantik gilang
gemilang. Dan yang satu seorang dayang cantik dalam
pakaian warna biru.
Kedua dara dan bujang itu tak lain adalah kedua gadis
yang telah menolong dirinya dari ancaman kelak kelompok
Pengawal Hitam yang bernama Mata-sakti Ong Tiong Ki.
Ki Ing demikian nama menurut pengakuan puteri jelita
itu telah memberinya pending (giok-pwe) kumala hijau tua.
Benda itu masih dipakaianya.
Kini dia merasa malu sendiri. Yang lalu biarlah lalu. Dia
berusaha untuk menekan perasaan hatinya, walaupun
hatinya seperti disayat-sayat.
"Nona, cobalah lihat wajahnya itu . ." tiba2 Siau Hui
dikejutkan suara bujang dara berseru. Ki Ing tak
menanggapi kata2 bujangnya, tetapi memandang kearah Cu
Jiang.
"Apakah engkau tadi mengejar rombongan itu?"
tegurnya.
Cu Jiang masih tertegun, terlongong-longong dalam
kerisauan hatinya. Ia tak menjawab apa2.
"Hai, nona aku bertanya kepadamu !" teriak Siau Hui.
Cu Jiang gelagapan dan berpaling. "O.. .. bertanya
kepadaku?" katanya tersendat-sendat.
Puteri cantik itu tertawa lalu mengulang pertanyaannya
tadi:
"Apakah engkau mengejar rombongan penunggang kuda
yang tadi ?"
"Mengejar .... ah, tidak mengejar siapa-siapa," kembali
Cu Jiang menyahut dengan nada tergetar.
"Bukankah engkau hendak mengejar rombongan
penunggang kuda yang tadi?" masih puteri cantik itu
menegas.
Hati Cu Jiang seperti disayat sembilu. Ia lantas
menjawab dengan kata2 yang tolol:
"Ah. aku ... hanya iseng saja !"
"Apakah engkau pernah belajar silat ?"
"Heh, heh ... hanya belajar beberapa hari saja."
"Engkau tahu siapa rombongan penunggang tadi !"
"Tidak.... tidak tahu. Hanya tampaknya garang sekali."
"Tolol! Lain kali engkau harus hati2, jangan sampai
kehilangan jiwa tanpa mengetahui apa2."
Dampratan "tolol" itu. bagaikan duri yang menusuk ulu
hati Cu Jiang. Tetapi dia harus belajar sabar. Ia tidak marah
melainkan tertawa dan miringkan kepala.
"Apakah sekedar iseng2 mengejar saja, bila kehilangan
jiwa ?"
"Kuberitahu kepadamu, engkau juga tak mengerti.
Cukup ingat sajalah. Lain kali kalau bertemu dengan
rombongan Pengawal Hitam yang berkuda, engkau lebih
baik menyingkir saja."
Dalam berkata itu bau tubuh si jelita bertebaran
dihembus angin. Nadanya bagai burung kenari, berkicau.
Diluar kesadaran, Cu Jiang memandang wajah si jelita yang
pernah menghadiahkan pending kumala kepadanya.
Dari kata-katanya itu, ia dapat mengetahui akan
kehalusan budi jelita itu. Tetapi oh, nasib . .. . dia merasa
tak layak lagi menerima budi kebaikan jelita itu.
Cu Jiang terlongong-longong. Pikirannya melayanglayang
Rupanya bujang Siau Hui tak sabar, serunya.
"Nona, mari kita balik saja."
"Balik ?"
"Disekitar tempat ini telah kita jelajahi semua, tetapi
jejaknya tidak dapat kita ketemukan ..."
Jejaknya? Siapakah yang dimaksud dengan dia itu ?
Kembali hati Cu Jiang seperti tersayat-sayat...
"Aku harus menemukan dia !" seru si jelita.
"Ah, Janganlah nona terlalu merindukan dia."
"Tutup mulutmu!" bentak si Jelita," dia tentu juga belum
meninggalkan tempat ini. . ."
"Apakah tidak terlalu berbahaya nona menghadiahinya
pending kumala itu? Apabila loya tahu."
"Tutup mulutmu ?" kembali si jelita membentaknya lagi.
Saat itu hati Cu Jiang seperti ditusuk ujung pedang. Jelas
yang hendak dicari si jelita itu bukan lain adalah dirinya.
Oh, apakah dia masih sesuai menjadi pasangan jelita itu
?
Tidak ! Tidak ! Seribu kali tidak ! Dia menyadari bahwa
saat itu dia bukanlah Cu Jiang beberapa hari yang lalu. Kini
dia seorang manusia yang cacad.
Ah, betapa perasaan Jelita itu apabila tahu bahwa
pemuda yang hendak dicarinya itu ternyata kini adalah si
muka buruk yang tengah bicara dengannya. Tidakkah hati
jelita itu hancur berantakan . . . .
Ah, tidak! Dia harus menderita segala kehancuran hati
itu. Janganlah gadis jelita itu ikut menderita. Biarlah dalam
hati jelita itu tetap bersemayam suatu kenangan yang indah.
Cu Jiang merasa bahwa dia harus lekas pergi. Sesaat
lebih lama berhadapan dengan puteri jelita itu, sesaat lebih
lama lagi kehancuran hatinya. Mungkin dia akan gila.
Maka dengan kuatkan hati, tanpa berkata sepatahpun
juga, dia terus ayunkan langkah. Dia tak berani lagi
berpaling memandang jelita itu. Juga tak sepatahpun kata
selamat tinggal, dia tak berani mengucapkan.
"Nona, orang itu sungguh tak tahu aturan sekali . . ."
Siau Hui melengking.
"Ah, orang desa apalagi cacat," jawab si jelita," jangan
engkau salahkan dia. Aku lebih merasa kasihan kepadanya
daripada menyesali dia tak tahu aturan!"
Mendengar itu hati Cu Jiang bercucuran darah . . .
Terdengar kuda kedua gadis itu mulai berderap, makin
lama makin jauh...
Cu Jiang jatuhkan diri diaduk di tepi jalan. Dia bagaikan
seorang yang baru sembuh dari penyakit berat. Kini hanya
rasa pedih yang mencengkram hatinya. Dia bagaikan
seorang yang terlempar ke dalam lautan penderitaan. Makin
lama makin tenggelam dan tenggelam . . .
Lama sekali dia berjuang dalam laut penderitaan itu.
Sampai pada suata saat dapatlah ia tegak lagi.
"Cu Jiang, ah, Cu Jiang! Beban hidupmu masih berat
dengan tugas dendam berdarah. Kini engkaupun telah
cacat. Mengapa engkau masih tenggelam dalam lamunan
asmara? Hapuslah segala perasaan asmara itu.
Kuburlah apa yang engkau pernah rasakan terhadap
jelita itu. Hanya dengan bersikap secara jantan itu, barulah
engkau dapat menyelesaikan beban hidupmu yang maha
berat itu!" katanya seorang diri.
Serentak dia melonjak bangun. Kini dia seolah terlepas
dari himpitan beban yang berat. Sambil tundukkan kepala,
ia melanjutkan langkahnya dengan kakinya yang pincang,
Kini dia hendak menuju ke Kui-ciu lagi.
Dia tetap hendak menyembunyikan dirinya agar jangan
sampai menarik perhatian orang. Maka diapun berjalan
biasa tak mau gunakan ilmu berlari cepat.
Maka sampai matahari condong ke barat, dia masih
belum mencapai kota Kui-ciu walau pun sudah tampak di
depan mata.
Tak berapa lama awanpun mulai mengabur gelap disusul
dengan suara kilat sambar menyambar dan tak lama
kemudian hujan mulai mencurah.
Karena tiada tempat tujuan yang tertentu dan tak
terburu-buru mencapai suatu tempat maka Ciu Jiangpun tak
tergesa-gesa. Karena hujan terus tiada hentinya, dia segera
cari tempat meneduh. Memandang ke sekeliling penjuru ia
melihat segerumbul hutan pohon siong. Dia duga tentu
merupakan perumahan orang atau mungkin sebuah kuil.
Karena tiada orang, dia segera menggunakan ilmu lari
cepat menuju ke arah hutan pohon siong itu.
Tiba di tengah hutan dia sudah basah kuyup. Walaupun
tak sampai kedinginn tetapi juga tak enak rasanya.
Memandang ke muka ternyata memang di situ terdapat
sebuah biara. Ia girang dan terus lari menuju ke pintu biara.
Biara itu sunyi senyap, tiada orang dan tiada asap
pedupaan. Suasananya agak menyeramkan. Cu Jiangpun
melangkah masuk.
Tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan berkelebat di
lorong serambi. Ketika memandang dengan lebih seksama
ternyata sosok tubuh itu bergelantungan di atas tiang
penglari, kedua kakinya terangkat di atas lantai.
Cu Jiang terkejut sekali. Jelas orang itu tentu bunuh diri.
Segera ia lari menghampiri.
Uh ... ia menjerit tertahan ketika hampir tergelincir jatuh.
Ternyata kakinya telah menginjak kubangan darah yang
masih basah memenuhi lantai, Ketika memandang ke arah
orang yang mati gantung diri itu, ia menjerit kaget.
"Hai..."
Korban itu bertubuh tinggi besar dan mengenakan jubah
warna hijau. Lehernya terjirat seutas tali yang tergantung
pada tiang penglari. Sebuah cempuling besi menancap dada
tembus sampai ke punggungnya. Cempuling itu masih
mengucurkan darah merah . . .
"Hakim Hijau!" teriak Cu Jiang ketika mengenali korban
itu sebagai Hakim Hijau dari Gedung Hitam yang berilmu
tinggi.
Thian-hian-cu, salah seorang tokoh dari Bu-lim Sam-cu
atau tiga-tokoh dunia persilatan yang termasyhur, pun tak
mampu mengalahkan Hakim Hijau itu.
Siapakah yang mampu membunuh dan
menggantungnya?
Siapakah yang berani membunuh seorang tokoh
terkemuka dari Gedung Hitam itu?
Menilik noda darah yang masih belum kering, jelas
pembunuhan itu belum lama terjadinya.
Sekonyong-konyong dari arah pintu biara terdengar
suara ringkikan kuda. Cu Jiang terkejut. Pada lain saat
terdengar suara orang bicara. Dan beberapa sosok tubuh
segera lari masuk kedalam ruang biara.
Walaupun suasana gelap tapi Cu Jiang dapat melihat
bahwa orang2 yang tengah lari menyerbu kedalam biara itu
sama mengenakan mantel hitam.
"Ah, Pengawal Hitam," serunya dalam hati.
"hm,rupanya aku beruntung dapat bertemu dengan
mereka!"
Cepat ia mendapat pikiran. Serentak ia melesat kedalam
ruang dan bersembunyi dibelakang cekungan tempat
patung.
Dia tak takut berhadapan dengan kawanan Pengawal
Hitam itu dari Gedung Hitam itu. Tetapi demi
melangsungkan rencananya, dia tak boleh bertindak secara
gegabah.
Dia memang belum tahu pasti apakah orang Gedung
Hitam itu yang membunuh kedua orang tua dan kedua
adiknya. Tetapi ia tahu jelas bahwa mereka memang
bernafsu sekali hendak menangkap dirinya.
Empat orang Pengawal Hitam segera menerjang masuk
ke dalam ruang sembahyang.
"Hai . . . hai . . . . ! " mereka berempat menjerit kaget
sekali ketika melihat mayat Hakim Hijau yang
bergelantungan pada tiang penglari. Mereka tersurut
mundur dengan wajah pucat seperti melihat hantu.
Tempat Cu Jiang bersembunyi tepat menghadap ke
ruang sembahyangan maka dia dapat melihat jelas apa yang
terjadi di ruang itu.
Menyusul masuklah dua orang Pengawal Hitam dengan
mengempit seorang pemuda yang berlumuran darah. Di
belakangnya mengikut seorang lelaki tinggi besar yang
mengenakan jubah putih, wajahnya berbentuk bundar dan
putih seperti kertas.
"Hai, mengapa ribut2 itu ! " bentak orang berjubah putih
itu.
Salah seorang dari keempat Pengawal Hitam yang kaget
dicekik setan tadi segera berseru dengan terbata-bata:
"Hatur hormat kepada Hu-hwat, Liok . . . Liok Hu-hwat
. . . . "
"Liok hu hwat bagaimana?"
"Dibunuh orang!"
"Apa?" orang berjubah putih itu memekik kaget. Entah
dengan gerakan apa, tahu2 dia sudah melesat di serambi
ruang besar.
Cu Jiang menduga-duga. Menilik pakaiannya yang
istimewa, hampir serupa dengan pakaian Hakim Hijau
hanya warnanya yang berbeda, kemudian sebutannya juga
hu-hwat (pelindung hukum), Cu Jiang menduga orang itu
tentulah Pek poan-koan atau Hakim Putih.
Siapa nama Hakim Hijau, tiada seorang anak buah
Gedung Hitam yang tahu. Demikian pula dengan Hakim
Putih itu. Yang diketahui mereka hanya menyebut
jabatannya. Jika yang berjubah hijau disebut Hakim Hijau
maka yang berjubah putih itupun dipanggil Hakim Putih.
Melihat keadaan Hakim Hijau seketika Hakim Putih
menjerit-jerit aneh. Wajahnya pucat lesi, mata mendelik
seperti orang dicekik setan.
"Bagaimana peristiwa itu?" serunya.
"Ketika hamba beramai ramai masuk, Hek-poan-koan
sudah dalam keadaan begitu." sahut salah seorang
Pengawal Hitam.
Kedua Pengawal Hitam yang mengepit seorang pemuda
itu, ketika masuk ke dalam ruang juga tertegun.
Bum....
Tiba2 Hakim Putih menggentakkan kakinya ke lantai.
Seketika ruang itu berguncang keras. Debu campur guguran
tembok berhamburan rontok.
Diam2 Cu Jiang bercekat dalam hati. Rupa2nya Hakim
Putih itu lebih sakti dari Hakim Hijau.
"Turunkan!" perintahnya.
"Baik," seru anak buahnya. Dua orang Pengawal Hitam
segera maju. Yang seorang memeluk tubuh Hakim Hijau
dan yang seorang mencabut pedang lalu melonjak menabas
tali. Mayat Hakim Hijau dibaringkan dilantai.
Hakim Putih segera memeriksanya.
"Pembunuhan ini baru terjadi setengah jam yang lalu.
Lekas sebar orang dan tangkaplah setiap orang yang
mencurigakan dalam daerah sekeliling lima puluh li !"
"Baik " seorang Pengawal Hitam segera lari keluar.
Memandang mayat Hakim Hijau itu, tubuh Hakim Putih
gemetar keras sampai gerahamnya bergemeretukan.
"Hm, ternyata ada orang yang berani terang-terangan
bermusuhan dengan Gedung Hitam!" geramnya.
Dari celah2 tempat persembunyiannya, Cu Jiang dapat
mengintai jelas bahwa pemuda yang dibawa oleh kedua
Pengawal Hitam tadi, tubuhnya mandi darah dan wajahnya
menyeramkan.
Jelas sebelumnya dia tentu melakukan pertempuran
hebat melawan orang2 Gedung Hitam. Menilik wajahnya,
dia baru berumur dua puluhan tahun.
Memandang ketiga Pengawal Hitam, orang berjubah
putih atau Hakim Putih memberi perintah:
"Siapkan semua keperluan dan bawalah jenasah pulang
!"
Ketiga Pengawal Hitam itu mengiakan lalu memberi
hormat dan mengundurkan diri.
Saat itu hujanpun sudah berhenti. Ruang itu kini
bertabur kabut malam. Hakim Putih melangkah masuk,
berdiri membelakangi arca lalu berseru nyaring:
"Bawa masuk !"
Pemuda itu segera digusur kedalam.
Dalam pada itu hati Cu Jiang kebat kebit tak keruan.
Jika saja dirinya sampai diketahui Hakim Putih itu, tentulah
akan menghadapi bahaya besar. Dia tak kenal siapa
pemuda itu dan apa sebabnya sampai diringkus orang
Gedung Hitam.
Sambil menatap pemuda itu, berserulah Hakim Putih
dengan nada seram:
"Budak, dengarkan. Engkau tulis sepucuk surat untuk
orang tua keras kepala itu. Suruh dia dalam waktu sepuluh
hari harus menyerahkan kitab Sin-hong pit kiok untuk
menukar dengan jiwamu ..."
"Tidak !" seru pemuda itu dengan keras.
"Engkau kepingin mati ?"
"Seorang lelaki berani hidup mengapa harus takut mati?"
seru pemuda itu dengan gagah.
"Heh, heh, heh," Hakim Putih tertawa mengekeh,
"sungguh mempunyai pambek yang perwira. Tetapi apabila
engkau mati, bukankah si tua keras kepala itu akan mati
dengan mata terbuka . . ."
"Tutup mulutmu!"
"Baiklah," kata Hakim Putih, "sekarang aku hendak
pinjam sebuah lenganmu untuk barang bukti. Apabila si tua
keras kepala itu tetap tak mau menyerahkan kitab, tiap tiga
hari sekali, dia akan menerima kiriman sepotong anggauta
badanmu. Dan yang terakhir batok kepalamu!"
Dengan mata berkilat2 memancar api kemarahan,
berserulah pemuda itu:
"Hakim Putih, iblis durjana, engkau tentu akan
membayar apa yang engkau lakukan!"
Mendengar itu Cu Jiang makin membenarkan
dugaannya bahwa orang yang berjubah putih Itu adalah
pek-poan-koan atau Hakim Putih.
"Aku tak pernah menarik kembali kata2ku," seru Hakim
Putih, "lekas potong lengan kirinya!" Salah seorang
Pengawal Hitam serentak mencabut pedang. Tetapi pemuda
itu tak takut.
Dengan mengernyut geraham ia memandang Pengawal
Hitam itu dengan berapi2. Sikapnya benar2 menunjukkan
seorang ksatrya yang tak gentar menghadapi maut.
"Sekali lagi aku hendak bertanya," seru Hakim Putih,
"maukah engkau menulis surat itu?"
"Huh, apa engkau kira ayahku mau menyerahkan buku
itu?" dengus si pemuda.
"Apakah sebuah kitab lebih berharga dari putera
tunggalnya?"
"Seumur hidup ayah tak pernah tunduk kepada orang."
sahut si pemuda.
"Tetapi hal ini tentu lain ..."
"Ayahku tentu akan menuntut balas!"
"Justeru kebenaran sekali kalau dia mau ke luar dari
sarangnya. Mudah untuk di urus!" sambut Hakim Putih.
"Coba sajalah!"
"Potong lengannya." teriak Hakim Patih. Pengawal
Hitam yang sudah siap dengan pedang itupun segera
mengangkat senjatanya ....
Cu Jiang terpukau tak tahu apa yang harus di lakukan, Ia
menyadari kalau dirinya bukan tandingan Hakim Putih itu.
Jika ia nekad keluar, bukan saja tak dapat menyelamatkan
pemuda itu pun bahkan dia sendiripun tentu celaka.
Pada hal dia harus hidup demi melaksanakan tugasnya.
Karena tegang, tanpa disadari dia telah menimbulkan suara.
Hakim Putih cepat memberi isyarat supaya Pengawal
Hitam yang menabas dulu. Kemudian dia berseru bengis:
"Hai. siapa itu, hayo lekas keluar !" Cu Jiang terkejut
sekali. Tetapi karena jejaknya sudah ketahuan dia harus
unjuk diri saja. Maka dengan mengertak gigi dia segera
merangkak keluar dari lubang tempat arca.
"Budak jorok, mengapa engkau disitu?" setelah terkejut
melihat wajah Cu Jiang yang buruk, Hakim Putih segera
menegur.
"Aku .... meneduh disini," sahut Cu Jiang dengan
membawa sikap seperti orang tolol.
"Meneduh ?"
"Ya."
"Siapa yang membunuh korban diluar ruang itu ?"
"Tak .... tak tahu !"
Mata Hakim Putih berkilat-kilat memandang Cu Jiang.
Rupanya dia meneliti. Tetapi dia mendapat kesan bahwa
Cu Jiang itu tak lain seorang anak desa yang cacat tubuh
dan muka.
"Engkau melihat apa saja selama disini ?"
"Tidak tidak melihat apa2 kecuali, tubuh yang
bergelantungan itu."
"Ho, karena ketemu aku, engkaupun harus menyerahkan
jiwamu. Bereskan dia dulu !"
Mendengar itu Pengawal Hitam tadi segera lepaskan
lengan si pemuda lalu menyelinap maju membacok Cu
Jiang.
Cu Jiang terkejut dan terus menghindar ke samping.
Walaupun karena kakinya cacat gerakannya agak kaku
tetapi tetap tak dapat mengelabuhi mata Hakim Putih
bahwa pemuda itu mengerti ilmu silat.
Pengawal Hitampun melongo karena tak menyangka
bahwa tabasannya luput. Seketika merahlah mukanya.
Pada saat ia hendak menyerang lagi tiba2 Hakim Putih
sudah mendahului bertindak menyambar pergelangan
tangan Cu Jiang.
Sedemikian cepat sekali gerakan Hakim Putih itu
sehingga Cu Jiang tak sempat berbuat apa2 lagi.
"Budak, engkau pandai benar menyelubungi dirimu.
Lekas beritahu siapa engkau yang sebenarnya!" dengus
Hakim Putih.
Cu Jiang tahu bahwa saat itu dirinya seperti ikan yang
berada dalam jaring. Jika tak menggunakan akal, tentu ia
mati.
Tiba2 Ia teringat akan pending kumala pemberian si
jelita. Kata jelita itu, pada saat menghadapi bahaya supaya
mengeluarkan pending itu, tentu dapat menolong.
Teringat hal itu seketika timbullah pikiran Cu Jiang.
"Lepaskan !" bentaknya dengan garang.
Hakim Putih tertawa mengekeh.
"Heh, heh, engkau bermimpi !"
"Aku hendak memperlihatkan sebuah benda kepada
anda."
"Benda apa ?"
"Lepaskan dulu tanganku."
"Huh, masakan takut engkau mampu terbang ke langit."
Hakim Putih segera lepaskan cekalannya.
Cu Jiangpun segera merogoh giok-pwe atau pending
kumala yang tersimpan dalam bajunya. Kemudian
disongsongkan kemuka Hakim Putih seraya berseru:
"Apakah anda kenal akan benda ini ?"
"Piagam Hitam !" tiba2 salah seorang dari Pengawal
Hitam itu memekik kaget. Wajahnya pun pucat seketika.
Ketegangan hati Cu Jiang agak menurun. Ia tak tahu apa
Piagam Hitam itu tetapi yang Jelas rasanya tentu akan
membawa perobahan.
Sejenak Hakim Patih terlongong kesima memandang
benda di tangan Cu Jiang itu. Ia menyambutnya,
memeriksa sebentar lalu mengembalikan lagi kepada Cu
Jiang.
"Dari mana engkau memperoleh benda itu ?"
Nyali Cu Jiang makin besar.
"Tak perlu anda bertanya soal itu," sahutnya dengan
hambar.
"Silahkan engkau mau kemana," akhirnya Hakim Putih
menyerah.
Seorang iblis durjana yang ganas, seorang hu-hwat atau
Pelindung hukum dari Gedung Hitam, ternyata tunduk
pada sebuah pending kumala.
Cu Jiang benar2 tak menduga sama sekali. Dia makin
heran akan diri si dara jelita Ki Ing.
Pemuda tadi juga menyaksikan peristiwa itu. Dia
memandang wajah Cu Jiang dengan ngeri. Jika Cu Jiang
juga orang Gedung Hitam, bukankah akan lebih ganas lagi.
Tiba2 Cu Jiang menuding kearah pemuda itu dan
berseru:
"Lepaskan dia !"
Pemuda itu terkejut bukan kepalang. Ia terlongonglongong
memandang Cu Jiang.
"Apa katamu ?" Hakim Putih deliki mata. "Kukatakan,
bebaskan dia !"
"Lepaskan dia ?"
"Ya, benar!"
"Atas dasar apa?"
"Piagam Hitam ini !" sahut Cu Jiang.
Mata Hakim Putih berkilat-kilat penuh kecemasan
memandang wajah Cu Jiang.
"Hal itu tak dapat kulaksanakan!" akhirnya dia berseru.
Sudah terlanjur maju, Cu Jiang pantang mundur lagi. Ia
segera mendesak:
"Apakah engkau berani membantah amanat Piagam
Hitam?" serunya dengan garang.
Seketika wajah Hakim Patih pucat lesi.
"Apakah yang dipertuan dari Piagam Hitam yang
menyuruh engkau melakukan hal itu ?" serunya. Nadanya
sudah jauh berkurang bengisnya.
Sesungguhnya Cu Jiang tak mau menjual nama si jelita
untuk membereskan persoalan disitu. Tetapi bagaimana
lagi. dia tak dapat melihat pemuda itu akan mati disiksa
oleh kawanan Pengawal Hitam. Apabila pihak Gedung
Hitam berhasil mendapatkan buku Sin-hong-pit-kiok dari
ayah pemuda itu, jelas tentu akan mempersukar langkah Cu
Jiang untuk melakukan pembalasan.
"Ya, benar !" akhirnya ia menyahut tegas.
Dia tahu bahwa dengan menjawab begitu dia telah
melibatkan diri si Jelita Ki Ing. Walaupun pending kumala
itu si jelita yang memberinya tetapi belum tentu Jelita itulah
pemiliknya.
"Apakah semua akibat pemilik Piagam Hitam itu yang
menanggung jawab ?" seru Hakim Putih.
Cu Jiang ibarat naik dipunggung harimau.
Jika turun, dia tentu akan diterkam. Lebih baik dia naik
terus, kemungkinan akan terjadi perobahan yang tak
terduga-duga.
"Sudah tentu!" sahutnya tanpa ragu2 lagi. Se-olah2 dia
sudah mendapat kuasa penuh dari pemilik Piagam Hitam
untuk memberi jawaban begitu.
"Bagaimana engkau tahu kalau aku dan rombongan akan
tiba di biara ini?" tanya Hakim Putih pula.
"Hanya secara kebetulan saja. Tetapi dengan mengambil
jalan ini akhirnya tentu akan berjumpa juga, benar tidak?"
"Dimana tuan dari Piagam Hitam saat ini?" tanya Hakim
Putih pula.
"Berada seratus li dari tempat ini!"
Sambil gentakkan kakinya ke tanah, Hakim Putih cepat
berseru memberi perintah: "Lepaskan dia!"
Dua orang Pengawal Hitam segera membebaskan
pemuda itu. Pemuda itu agak terhuyung2. Dia hendak
membuka mulut tetapi Cu Jiang cepat mendahului maju,
menyambar tangan pemuda itu dan diajaknya pergi:
"Hayo, kita jalan!"
Kedua pemuda itu segera melangkah keluar dan
menyusup dalam kegelapan.
Hujan sudah reda dan awanpun lenyap. Bintang-bintang
mulai bermunculan.
Tak berapa lama Cu Jiang dan pemuda itu tiba di jalan
besar. Sambil memberi hormat, pemuda itu berkata:
"Terima kasih atas budi pertolongan saudara! "
Sambil memandang ke sekeliling, Cu Jiang menjawab:
"Ah, tak usah banyak peradatan."
"Tak cukup hanya menghaturkan terima kasih tetapi
budi saudara itu akan kuukir dalam hatiku selama-lamanya
..."
"Tak usah. "
"Tolong tanya, siapakah tuan dari Piagam Hitam itu?"
"Soal ini . . . maaf, aku tak dapat memberi tahu."
"Mengapa saudara menolong aku?"
"Anggap saja sebagai suatu hal yang kebetulan. "
"Mohon tanya siapakah nama mulia dari " saudara? "
"Sebaiknya lekas saja engkau melanjutkan perjalanan
"Ah, harap saudara suka memberitahu "
"Ah, perlu apa soal nama. Cukup ingat saja masakan
damai dunia persilatan terdapat manusia yang begini buruk
wajahnya seperti aku!"
Pemuda itu diam beberapa saat.
"Baiklah, " akhirnya dia berkata, "mudah2an lain kali
kita dapat berjumpa lagi . . . namaku Bun Cong Beng."
"Saudara Bun, lekaslah engkau melanjutkan
perjalananmu, " kata Cu Jiang dengan tawar.
Bun Cong Beng tak tahu bagaimana isi hati orang yang
cacad dan buruk muka itu. Terpaksa ia menghaturkan
hormat untuk meminta diri.
Sambil memandang bayangan pemuda itu lenyap dalam
kegelapan, Cu Jiang menghela napas panjang.
"Untung . . . , " katanya. Ia tak menyangka bahwa giokpwe
atau pending kumala itu ternyata dapat
menyelamatkan dua buah jiwa.
Dia juga meneruskan perjalanan. Tiba di kota Kwiciu,
hari sudah malam. Jalan2 sudah tak banyak orang. Lampu
menyala di setiap rumah dan pintu kotapun sudah tutup.
Pikir Cu Jiang memang hendak mencari rumah
penginapan dalam kota. Tetapi mengingat hari sudah
semalam itu dan lagi wajahnya yang buruk tentu
menimbulkan kemuakan orang maka ia putuskan lebih baik
tidur di luar kota saja.
Sambil berjalan di sepanjang jalan, dia melihat-lihat
keadaan kota saat itu. Rumah2 penginapan banyak yang
sudah tutup, demikian dengan rumah-rumah makan dan
kedai2.
Memang rumah penginapan dan losmen di kota kecil itu
hanya sebagai pondokan dari pedagang-pedagang yang
malam hari singgah dan pagi2 sudah berangkat lagi.
Keadaannya kurang bersih.
Tengah Co Jiang enak2 berjalan, tiba2 sesosok tubuh
tinggi besar tampak berjalan menghampiri ke arahnya.
Tampaknya pelahan saja dia mengayunkan langkah tetapi
ternyata jalannya cepat sekali. Dalam beberapa kejab saja
sudah tiba di muka Cu Jiang.
Dari penerangan lampu jalan, dapatlah Cu Jiang melihat
wajah orang itu. Dan hampir saja dia menjerit kaget. Wajah
orang itu pucat seperti mayat, tubuhnya kurus kering, hanya
seperti tulang terbungkus kulit. Pakaiannya jubah warna
biru.
Tiba2 orang aneh itu berhenti dan memandang Cu Jiang.
Cu Jiang merasa sebal, buru2 dia berputar tubuh terus
hendak berjalan.
"Berhenti!" tiba2 orang itu berseru dan tahu2 sudah
menghadang di depannya.
"Mau apa?" bentak Cu Jiang.
Masih orang tinggi aneh itu mengawasi Cu Jiang seperti
seorang nyonya tengah meneliti calon menantu
perempuannya. Kemudian tertawa gelak2.
"Bagus, tulangnya hebat, wajahnya juga luar biasa!"
Mendengar itu mau tak mau Cu Jiang meringis. Tetapi
melihat sikap orang tinggi itu, tampaknya sangat serius,
bukan seperti orang yang berolok-olok. Diam2 Cu Jiang
heran.
Melihat sikapnya, Cu Jiang mendapat kesan bahwa
orang tinggi itu tentu bukan manusia baik. Tetapi menilik
sinar matanya yang begitu tajam, jelas orang itu tentu
memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
"Hai, inilah yang dibilang rejeki." orang tinggi itu berkata
seorang diri, "mungkin memang peruntunganku besar."
Cu Jiang tak mengerti apa yang diucapkan orang itu. Dia
berseru:
"Apa maksudmu ?"
Orang aneh itu tertawa gelak2:
"Melihat aku tak ketakutan, nyalimu memang hebat
sekali. Tentulah engkau juga punya simpanan kepandaian."
Habis berkata dia terus menerkam.
Sudah tentu Cu Jiang terkejut sekali. Terkaman orang
aneh itu tak memberi kesempatan dia untuk menghindar
lagi. Belum sempat ia mencari akal tahu2 tangannya sudah
dicengkeram orang tinggi itu. Arus hawa lunak segera
memancar dari ujung kuku jari orang itu.
Pada lain saat Cu Jiang rasakan tubuhnya lemas tak
bertenaga lagi, Ia hendak bicara tetapi mulut hanya
menganga saja tak dapat bersuara. Dalam keadaan seperti
itu tiada lain daya kecuali hanya pasrah nasib saja.
"Apa maksud orang aneh ini ? Mengapa dia mencelakai
diriku ?" pikirnya. Diam2 ia harus mengakui kebenaran dari
kata orang bahwa dunia persilatan itu penuh dengan hal2
yang aneh, berbahaya.
Tiba2 orang aneh itu mengangkat tubuhnya lalu
dipanggul diatas bahu terus dibawa lari secepat terbang. Tak
berapa lama tibalah dia disebuah bangunan gedung besar.
Cu Jiang sempat memperhatikan bahwa bangunan itu
merupakan sebuah gedung yang sudah kosong dan tak
terurus, halamannya penuh dengan rumput dan sarang
gelagasi.
Orang aneh itu bersuit keras lalu melambung keatas,
melayang turun ke dalam gedung dengan gerakan yang
seperti orang terbang.
Pada lain kejap tampak sebuah ruang besar yang terang
benderang. Sesosok2 tubuh manusia berhilir mudik tetapi
tak terdengar suara apa2.
Bum....
Cu Jiang dibanting di tanah sehingga tulangnya seperti
patah, mata bekunang. Tetapi karena menderita tutukan
yang aneh, dia tak dapat bersuara merintih apa2.
Orang aneh itu menendangnya dan terbukalah jalan
darahnya yang tertutuk itu.
Cu Jiang terus berdiri. Begitu memandang ke sekeliling,
semangatnya serasa terbang dan bulu romanya meregang
berdiri semua, keringat dingin membanjir keluar.
Di atas lantai rebah empat sosok mayat yang sudah rusak
dan menyiarkan bau amat busuk. Di kedua samping, berdiri
enam orang aneh yang wajahnya menyeramkan. Setiap
orang aneh itu masing-2 menyeret seorang pemuda yang
berumur sekitar dua puluhan tahun. Menilik dandanannya,
keenam pemuda itu berasal dan keturunan yang berbedabeda.
Hanya suatu ciri yang sama yalah mereka rata2
berwajah cakap.
Keenam pemuda itu pucat lesi. Tubuhnya menggigil
keras.
Di tengah ruang duduk seorang tua berjubah hitam,
wajahnya berwibawa tetapi dahinya memancarkan cahaya
yang menyeramkan.
Sesaat orang tua itu membuka suara, nadanya seperti
bukan suara manusia hidup.
"Lo-jit, engkau yang datang terakhir ?" Orang aneh yang
membawa Cu Jiang tadi segera menyahut:
"Hampir saja tak dapat menyerahkan apa-apa."
"Engkau membawa mahluk aneh semacam itu?"
"Lo toa, budak ini mempunyai bahan tulang yang luar
biasa. Wajahnya? lo-toa, apakah tidak memenuhi syarat ?"
sahut orang aneh yang membawa Cu Jiang itu.
Mata orang tua berjubah hitam itu memandang Cu Jiang
sehingga Cu Jiang sampai menggigil. Sinar mata orang
berjubah hitam itu benar2 luar biasa tajamnya sehingga
terasa seperti menembus ke ulu hati.
"Ho, ho," orang tua Jubah hitam itu mengangguk2
seraya memuji.
Cu Jiang benar2 tak tahu apa yang dihadapi itu.
Orang tua jubah hitam berpaling kearah kedua samping
dan berseru:
"Tidak pakai semua !"
Serentak keenam orang aneh itu menghantam keenam
pemuda tawanannya. Terdengar jeritan ngeri ketika tubuh
keenam pemuda itu hancur lebur.
Melihat perbuatan yang sekeji itu hampir dada Cu Jiang
meledak. Sepasang matanya seperti akan memancarkan
darah.
Baru pertama sepanjang hidupnya ia melihat perbuatan
yang sekejam itu. Kiranya mayat2 yang berhamburan di
lantai itu tentulah juga mengalami nasib serupa dengan ke
enam pemuda itu.
"Iblis keparat!" tanpa sadar, Cu Jiang berteriak memaki.
Sepasang mata orang tua jubah hitam itu mendelik
seperti mau menelan orang. Tiba2 dia tertawa gelak2:
"Benar2 bernyali besar. Lo-jit, pilihanmu tepat sekali.
Bahan macam itu baru layak menjadi pewaris kita
bersama!"
Mendengar itu barulah Cu Jiang tahu. Ternyata
kawanan manusia aneh itu sedang mencari calon murid
yang akan dijadikan ahli waris mereka. Hanya caranya
memang kejam sekali. Kasihan sekali ke enam pemuda itu.
Mereka harus mati tanpa dosa.
Setelah beberapa saat memandang Cu Jiang, orang tua
jubah Imam itu berkata pula:
"Datanglah ke hadapanku sini!"
Cu Jiang menyadari bahwa dirinya saat itu berada dalam
genggaman orang2 jahat yang buas. Tak mungkin dia dapat
lolos. Maka dengan kuatkan hati dia segera maju ke
hadapan orang tua berjubah hitam.
"Oh, orang cacat!" ke enam manusia aneh itu serempak
berteriak
Orang tua jubah hitam tertawa aneh:
"Lebih baik. Ciri itu dapat mewakili ciri khas kita!"
Habis berkata ia ulurkan tangan dan menjamah tubuh
Cu Jiang. Tiba2 dia tertawa girang sekali.
Setelah berhenti tertawa, orang tua jubah hitam itu
berpaling memandang kepada ke enam orang aneh yang
berada di samping kanan dan kiri.
"Saudara2, kita harus cepat melaksanakan rencana kita.
Kamu berenam, yang dua menuju ke markas Bu-tong-pay,
yang dua ke vihara Siauw-lim dan yang dua ke perguruan
Thay-kek-bun. Sekarang juga berangkatlah. Paling lama
sebulan harus sudah kembali lagi ke sini."
Ke enam orang aneh itu mengangguk lalu berbondong2
pergi.
Kemudian orang tua jubah hitam itu berpaling kepada
Cu Jiang, serunya:
"Budak, peruntunganmu besar!"
"Peruntungan apa?" Cu Jiang menggeram.
"Kami bertujuh akan menggemblengmu menjadi jago
nomor satu di dunia!"
"Ah, sukar melaksanakan."
"Apa? Engkau tak suka?"
"Tak perlu kupikir lagi!"
"Ho, masakan engkau boleh semaumu sendiri? Lo-jit . . "
Orang aneh yang membawa Cu Jiang tadi segara
menyahut:
"Apakah toako hendak memberi pesan?"
"Kukembalikan dia supaya engkau harus.... Tetapi
jangan sampai terjadi apa2."
"Takkan meleset," seru orang aneh seraya terus menutuk
tubuh Cu Jiang, seketika Cu Jiang rasakan tenaganya
lenyap bahkan berdiri saja tak kuat.
"Hm, kalian buang tenaga percuma saja!" serunya geram.
"Jangan ngaco belo!" orang aneh itu menyambar tubuh
Cu Jiang terus dibawa lari ke dalam. Setelah melalui
halaman yang tak terawat, mereka tiba di sebuah kamar
yang hanya di terangi oleh sinar cuaca dari celah2 jendela.
Di situ seperti terdapat tempat tidur dan selimut.
"Untuk sementara waktu, engkau boleh pinjam tempat
kediamanku di sini!"
Bum .... Cu Jiang di lempar ke atas pembaringan,
kemudian orang aneh itu keluar lagi dan menutup pintunya.
Sambil tidur terlentang memandang ke atas, Cu Jiang
tertawa hambar terhadap peristiwa2 aneh yang di alaminya
selama ini.
"Bagaimana aku dapat lolos dari cengkeraman iblis itu?"
Cu Jiang mulai menimang2.
Dia turun dari pembaringan tetapi tenaganya masih
lemas sekali Namun dia paksakan diri juga walaupun
langkahnya masih sempoyongan sehingga dia jatuh ke
pembaringan lagi. Dia menghela napas putus asa.
"Ah, untuk lolos dari tempat ini rasanya lebih tukar dari
naik ke langit. Siapakah manusia2 aneh itu?" pikirnya.
Tiba2 ia teringat akan pelajaran yang diberikan ayahnya
tentang ilmu membebaskan diri dari tutukan.
Segera ia duduk di pembaringan dan mulai menyalurkan
pernapasan. Tetapi astaga. Ternyata sama sekali dia tak
mampu melakukan pernapasan lagi. Jelas ilmu tutuk dari
manusia aneh itu memang bukan olah2 hebatnya.
Harapannyapun bagai awan tertiup angin.
Akhirnya ia memutuskan lebih baik tidur di pembaringan
saja. Pikirannyapun mulai melayang. Memang untuk
melakukan pembalasan, harus menempuh dengan cara apa
saja. Seperti keadaannya saat itu. Jelas dia sudah tak
berdaya. Jika ia tetap berkeras kepala, tentulah tak mungkin
dapat melaksanakan pembalasan dendamnya itu.
Ah, lebih baik menurut saja bagaimana kehendak
manusia2 aneh itu. bahkan ia akan memanfaatkan ilmu
kesaktian yang diterimanya dari mereka untuk kelak
melaksanakan rencananya.
Jelas kawanan manusia aneh itu memiliki ilmu kesaktian
yang hebat. Jika dia berhasil menyerap kepandaian mereka,
bukankah ia akan menjadi seorang tokoh yang hebat.
Dengan begitu masakan dia tak mampu menuntut balas.
Tetapi diapun masih ingat. Bahwa sejak dulu sampai
sekarang, perbuatan Jahat dan Baik itu takkan tegak
berjajar. Dia sebagai putera seorang jago pedang yang
termasyhur, apabila sampai ikut pada aliran Hitam,
tentulah arwah kedua orang tuanya takkan meram di alam
baka.
Dia menduga lebih lanjut. Bahwa tindakan kawanan
manusia aneh itu tentu mempunyai tujuan tertentu. Dia
mau menerima pelajaran ilmu silat dari mereka atau tidak,
tentu tetap akan dikuasai mereka.
"Piagam Hitam!"
Tiba2 ia teringat akan benda itu. Serentak semangatnya
bangkit kembali. Piagam Hitam itu mempunyai pengaruh
besar sekali atas anak buah Gedung Hitam. Apakah piagam
itu juga dapat memberi pengaruh kepada kawanan manusia
aneh itu supaya tunduk? Ah, mungkin saja.
Pikirannya seraya longgar dan tak lama kemudian ia
jatuh pulas.
Ketika bangun, sinar matahari sudah menerobos masuk
dari jendela. Di atas meja terdapat beberapa makanan
bakpao daging sapi. Juga disediakan minuman teh.
Pikir Cu Jiang, makan dulu baru nanti cari pikiran lagi.
Ia segera duduk di pinggir pembaringan dan mulai makan.
Hampir setengah jam lamanya ia makan. Setelah itu ia
segera meronta turun dari pembaringan. Tetapi ia tak
mampu membuka pintu. Apa boleh buat, terpaksa dia harus
buang hajat ditempat itu. Seumur hidup baru pertama kali
itu ia mengalami hal yang seperti itu.
Kembali ia duduk diatas pembaringan. Tiba-tiba orang
aneh tadi membuka pintu dan masuk, memandang
kepadanya dan tertawa menyeringai:
"Budak, seleramu makan hebat juga !"
Walaupun bernada tertawa, tetapi sikapnya tertawa itu
membuat orang gemetar.
Cu Jiang segera mengeluarkan pending kumala lalu
disongsongkan:
"Apakah engkau kenal benda ini ?"
Manusia aneh itu menyambuti lalu memeriksanya dan
terus dikembalikan pada Cu Jiang lagi.
"Barang mainan perempuan dan cewek2. Hm, apakah
pikiranmu sudah limbung ?" serunya.
Cu Jiang seperti diguyur air dingin. Ternyata pending
kumala yang begitu ditaati oleh anak-buah Gedung Hitam,
sedikitpun tak mempunyai pengaruh apa2 kepada manusia
aneh itu.
"Budak, sabarkanlah hatimu. Engkau akan tinggal disini
sebulan lamanya. Sesudah itu dunia ini milikmu. Hai,
mengapa engkau berak disini ? Baiklah, pintunya tak
kututup. Kalau mau buang air, engkau boleh keluar."
"Hm..." Cu Jiang mendesus sebagai penyaluran.
Orang aneh itu keluar dan kembali Cu Jiang rebah di
pembaringan. Kini dia merasa sudah tiada harapan untuk
lolos lagi. Karena itu diapun tak perlu tergesa-gesa mengejar
waktu.
Malam tiba. Orang aneh itu muncul membawa
makanan. Tanpa berkata apa2, dia terus keluar lagi. Cu
Jiangpun tak mau banyak pikir. Kalau di suruh makan
diapun makan. Dia memang tak mau mati kelaparan. Dia
harus hidup terus sampai rencananya selesai.
Memang yang menjadi cita2 hidupnya, tak lain hanya
menuntut balas dendam kematian ayah-bunda dan kedua
adiknya. Hanya itu. Dia tak mengandung cita2 lain lagi.
Habis makan, dia duduk lagi di dekat jendela.
Memandang keluar jendela, bintangpun sudah rebah ke
barat. Malam sudah larut.
Tiba2 ia mendengar suara kelinting yang tajam. Suara
kelinting sebenarnya biasa saja, tetapi di tempat dan
suasana seperti itu mau tak mau Cu Jiang merasa aneh
juga.
Bermula Cu Jiang merasa meragukan telinganya. Tetapi
setelah mendengarkan dengan seksama memang ia
mendengar suara kelinting itu kedengaran seperti dari jauh
tetapi dekat sekali. Sebentar dari arah barat tetapi sebentar
lagi dari arah timur.
Yang membuatnya heran ialah suara kelinting itu
terdengar nyaring sampai menusuk telinga. Dan juga
berirama mengalunkan kerawanan musim rontok dan
gemercik air mencurah dari gunung.
Tanpa disadari, Cu Jiang terpikat perhatiannya.
Akhirnya ia terbenam dalam alunan suara kelinting itu.
Beberapa saat kemudian ia rasakan hatinya terang.
Seolah seperti suatu tenaga aneh yang bertebaran dalam
hatinya. Pelahan-lahan dia mulai turun dari pembaringan,
melangkah ke luar, menuju ke arah suara kelinting itu.
Setelah melintasi halaman, dia berhadapan dengan pintu.
Dia merasa tubuhnya melayang ke atas dan melampaui
pintu itu dan tiba2 suara kelintingpun lenyap. Tahu2 ia
dapatkan dirinya berada di luar halaman.
Apakah aku bermimpi? Tanyanya dalam hati. Ia
menggigit jari tangannya. Ah, masih sakit. Jelas dia tak
bermimpi, ia memandang ke sekeliling penjuru. Dalam
kegelapan malam, sayup2 dia melihat sebuah hutan.
Apakah artinya itu? Apakah ada orang sakti yang
membantunya? Ah, tak mungkin.
Buru2 dia salurkan pernapasan. Ah, ternyata darahnya
telah lancar. Uratnya yang tertutukpun sudah bebas.
Tenaganya kini pulih lagi.
Dia terlongong-longong heran.
Beberapa waktu kemudian baru dia berkata: "Orang sakti
siapakah yang menolong aku ini?"
Tiada penyahutan apa2. Sunyi senyap di sekeliling
tempat itu.
Se konyong2 dia mendengar suara bentakan yang
nadanya seperti tak asing lagi:
"Bagus. Kim Leng hujin, ternyata engkau masih hidup!"
Cu Jiang tahu bahwa suara itu adalah suara orang tua
berjubah hitam. Tetapi siapakah yang di sebut Kim Leng
hujin atau nyonya Kelinting Emas itu?
Mengapa suara kelinting itu dapat membebaskan jalan
darahnya yang telah tertutuk oleh manusia aneh? Apakah
Kim Leng hujin itu memang sengaja datang hendak
menolongnya?
Tiba2 terdengar suara si manusia aneh yang menawan
Cu Jiang itu:
"Mengapa nyonya hendak memusuhi kami bersaudara
lagi?”
Terdengar suara seorang wanita tua menyahut:
"Tian Heng, akupun tak menyangka bahwa kalian
bangsa yang suka menghindar dari kesukaran, ternyata juga
masih hidup!"
"Kim Leng hujin, jangan melukai perasaan orang!"
Kim Leng hujin tertawa gelak2.
"Ha ha, sebenarnya apa yang kukatakan itu hanyalah hal
yang wajar."
Kini Cu Jiang tahu bahwa orang tua jubah hitam yang
menjadi pimpinan dari kawanan manusia itu, bernama Tian
Heng.
"Tak perlu adu lidah tajam. Apakah maksud
kedatanganmu ini?" seru Tian Heng pula.
"Aku sedang mencari orang?"
"Mencari orang? Siapa?"
Tergerak hati Cu Jiang. Ia segera pasang perhatian.
"Putera dari Lau Toa Hu di Seng-tou."
"Ha, ha, sungguh heran. Kim Leng hujin yang tak dapat
didekati orang, ternyata menjadi..."
"Tutup mulutmu!" bentak Kim Leng hujin, "anak itu
adalah cucu keponakanku jauh."
"Oh, makanya. Tetapi mengapa engkau mencari
kemari?"
"Kudengar kalian telah menangkap seorang pemuda
yang berbakat bagus!"
Saat itu baru Cu Jiang tahu bahwa wanita yang disebut
sebagai Kim Leng hujin itu ternyata hendak mencari
cucunya, bukan hendak menolong dia.
Memang peristiwa dalam dunia ini sering kali terjadi
secara kebetulan yang tak terduga-duga. Kim Leng hujin
mencari cucunya dan membunyikan kelinting dan dialah
yang menerima manfaatnya, jalan darahnya yang tertotok
telah terbuka.
Iapun teringat akan sepuluhan anak muda yang menjadi
korban pembunuhan kawanan manusia aneh kemarin itu.
Kemungkinan salah seorang tentulah putera dari Lau Toa
Hu dari kota Seng-tou itu.
"Di sini tak ada orang itu!" tiba2 Tian Heng pemimpin
kawanan manusia aneh berseru.
"Benar tidak ada?" Kim Leng hujin menegas.
"Masakan bohong."
"Tian Heng, kalau kelak aku dapat membongkar
peristiwa itu?"
"Aku menurut saja apa keputusanmu."
"Baik," katanya.
Karena merasa bahwa pembicaraan kedua orang itu
tiada sangkut pautnya dengan dirinya, Cu Jiang segera
mengambil keputusan untuk melarikan diri. Dia tak berani
mengambil jalan besar. Juga tak mau kembali ke kota Kuiciu.
Ia tahu kawanan manusia aneh itu tentu tak mau
melepaskan dirinya begitu saja. Mereka tentu akan tetap
mencarinya kemanapun saja.
Maka dia tak mendengarkan lagi pembicaraan mereka
dan terus lari masuk ke dalam hutan belantara. Menjelang
terang tanah, dia sudah mencapai berpuluh2 li jauhnya.
Andaikata dia tak cacat, mungkin sudah mencapai ratusan
li.
Saat itu dia berada di perbatasan Hin-san.
Di sebelah timur adalah deretan pegunungan Keng-san.
Dia segera mengambil jalan besar. Setelah berhenti di
sebelah kedai, ia melanjutkan perjalanan lagi.
Tetapi kemanakah dia harus pergi? Ah, dia tak punya
tujuan tertentu.
Tak berapa lama ia mendengar bunyi kelinting kaki kuda
berlari. Buru2 dia tundukkan kepala dan menyingkir ke tepi
jalan. Tetapi kuda itupun berhenti juga di sebelahnya.
Sudah tentu Cu Jiang tak enak hati.
"Nona, itulah dia!" tiba2 terdengar suara seorang gadis.
Longgarlah perasaan hati Cu Jiang tetapi saat itu juga
dia tegang sekali. Itulah suara dari Siao Hui bujang dari si
jelita Ki Ing.
Cu Jiang teringat bahwa dia pernah menggunakan
Piagam Hitam atas nama jelita itu. Tak tahu ia bagaimana
nanti akan memberi pertanggungan jawab kepada nona
jelita itu.
Pada saat itu nona cantik yang berada diatas kuda,
berpaling ke arah Cu Jiang. Ah, siapa lagi kalau bukan si
jelita Ki Ing.
Jelita itu hentikan kudanya dan menegur:
"Benarkah engkau mempunyai pending dari kumala
hijau?"
Cu Jiang terkejut dan menyahut dengan gelagapan:
"Benar, nona... tetapi bagaimana nona tahu hal itu?"
"Hai, kiranya engkau pandai berpura-pura. Hampir tak
dapat mengenali engkau."
"Apa kata nona ?" Cu Jiang tegang sekali.
"Dari mana engkau memperoleh giok-pwe itu ?"
Cu Jiang sudah mendapat akal. Dengan wajah serius ia
menjawab:
"Bukankah nama nona ini nona Ki Ing ?"
"Bagaimana engkau tahu ?" balas si jelita.
"Panjang juga kalau diceritakan ..."
"Panjang atau pendek harus engkau ceritakan!"
"Sungguh nona," kata Cu Jiang, "apabila nona tak
bertanya, hampir saja aku lupa."
"Ceritakan yang jelas."
"Cerita itu harus mulai dari awal..."
"Lekas!"
"Aku seorang desa. Kadang aku berburu ke hutan.
Belum lama ini ketika berada di gunung Thian san aku telah
berjumpa dengan seorang kong cu yang tampan . . ."
Ki Ing serentak loncat turun dari kudanya dan berseru
tegang:
"Seorang pemuda berbaju putih?"
"Benar, nona," Cu Jiang mengangguk.
"Teruskan..."
"Tetapi kongcu itu telah menderita kecelakaan yang tak
terduga...."
Seketika berobah cahaya wajah jelita itu dan serentak ia
berseru dengan nada gemetar: "Menderita kecelakaan
bagaimana?"
"Menderita luka parah sekali !"
"Luka parah ?"
"Ya."
"Lalu ?"
Cu Jiang segera mengambil pending kumala dari dalam
bajunya dan berkata:
"Dia minta tolong kepadaku untuk menyerahkan
kembali kumala ini kepada nona. Dan dia bilang ...."
Air mata si jelita mulai berlinang-linang hendak menetes.
"Bilang apa?" serunya nada beriba-iba.
Hati Cu Jiang seperti disayat-sayat rasanya. Namun
kuatkan perasaannya.
"Kongcu itu mengatakan," katanya, "dia kuatir takkan
dapat hidup lebih lama di dunia. Benda itu tak boleh
sampai jatuh ke lain orang, jika Thian masih memberi umur
panjang kepadanya, belum tentu dapat berjumpa lagi
dengan nona. Namun kalau memang ditakdirkan sampai
disitu saja hidupnya maka cinta kasih nona itu pasti akan
dibawanya ke akhirat dia bersumpah, kelak pada penitisan
yang akan datang, tentu akan melaksanakan tali asmara
dengan nona."
Jelita Ki Ing tak tahan lagi untuk membendung air
matanya yang berderai-derai menumpah ke tanah. Dengan
suara sedih dia berseru:
“Tidak... dia takkan mati... dia takkan..."
Bujang Siau Huipun mengucurkan airmata. Buru2 ia
mengusapnya dengan ujung baju.
Menghadapi keadaan seperti itu, hampir saja Cu Jiang
pingsan. Jelas sudah betapa besar dan suci kasih si jelita itu
tertumpah kepadanya. Betapa ingin saat itu dia memeluk si
jelita dan mengatakan: “Ing, kekasihku, engkau tak tahu
betapa besar cintaku kepadamu...."
Tetapi ah, nasib. Kini dia telah berobah menjadi seorang
pemuda yang buruk wajah. Tidakkah si Jelita itu akan
hancur hatinya apabila mengetahui keadaan dirinya saat
itu?
"Tidak ! Biarlah aku yang menderita sendiri!"
"Tidak ! Bukan nasib, tetapi manusia gila itu yang
membuat diriku begini sengsara. Tuhan tidak menakdirkan
aku harus berwajah begini buruk. Ke dua orang tuaku pun
melahirkan aku dengan wajah yang cakap.
Hanya manusia jahanam itu yang telah merusak
wajahku. Merekalah yang harus ku balas. Mereka harus
mengalami penderitaan yang lebih hebat dari diriku."
Setelah terjadi pergolakan dalam hatinnya, dapatlah Cu
Jiang menemukan letak dirinya. Dia huras kuatkan hati.
Dia harus hidup. Dia membuang kesamping segala
penderitaan dalam asmara. Dia masih mempunyai tugas
besar untuk menghimpas dendam berdarah dari keluarga
dan dirinya sendiri.
Kini dia telah menyerahkan kembali pending kemala itu
kepada pemiliknya. Berarti dia telah menyelesaikan salah
satu dari sekian rencananya.
"Lalu apa katanya lagi ?" tiba2 Jelita itu bertanya.
"Tidak ada lagi."
"Bagaimana engkau tahu akan kegunaan giok pwe ini ?"
tanya si Jelita pula.
"Kongcu itu yang memberitahu kepadaku. Dia kuatir
aku tak berhasil menyampaikan benda itu kepada nona."
Ki Ing menyambuti pending kumala pengikat asmara itu
Air matanya bercucuran....
"Nona." kata Siau Hui dengan lemah lembut, "orang
baik tentu akan dilindungi Tuhan. Jangan nona kelewat
bersedih sehingga dapat mengganggu kesehatan nona."
Ki Ing memandang tajam2 kepada Cu Jiang serunya:
"Engkau menggunakan pending ini untuk menolong
seseorang ?"
"Ya."
"Apa hubungannya orang itu dengan dirimu ?"
"Tak ada hubungan apa2, hanya karena belas kasihan
saja."
"Engkau sungguh bernyali besar...."
"Mengapa ?"
"Engkau tahu siapa yang menangkap orang itu ?"
"Menurut kata2 yang kudengar, mereka adalah dari
Gedung Hitam..."
"O, engkau mengacau sekali. Sudah cukup kalau engkau
tunjukkan benda ini untuk menolong jiwa orang, tetapi
mengapa engkau masih mendesak mereka supaya
melepaskan orang itu."
Diam2 Cu Jiang merasa bahwa perbuatannya itu
memang keterlaluan. Tetapi karena hal itu sudah terlanjur
dan ia merasa bahwa sebagai seorang pemuda yang berjiwa
kesatria harus berani bertindak menentang kelaliman, maka
diapun harus berani mempertanggung jawabkan.
Untung sekarang wajahnya telah tertutup dengan bekas2
noda hitam sehingga orang sukar untuk mengenalinya lagi.
Beberapa saat kemudian ia meminta maaf:
"Mohon nona suka memberi maaf."
"Hm, sudahlah, karena sudah terlanjur, tak perlu
diungkit lagi."
"Sungguh tak kusangka.... bahwa giok-pwe yang begitu
kecil ternyata mempunyai daya perbawa yang begitu hebat.
Mohon tanya, apakah nona pemilik dari giok-pwe itu ?"
"Soal ini.... tak perlu engkau tanyakan. Apakah kongcu
itu mengatakan namanya kepadamu ?"
"Tidak."
"Dimana dia mendapat luka?"
"Di tengah gunung Bu-leng-san, kira2 perjalanan sehari
dari Li jwan."
"Siapa yang melukainya ?"
"Kongcu tak mengatakan."
"Apakah engkau tak berusaha untuk memberi
pertolongan kepadanya ?"
Cu Jiang membuat gerakan tangan seperti orang yang
putus asa.
"Kongcu itu aneh dan keras wataknya. Setelah
menyerahkan giok-pwe ini dia terus suruh aku lekas pergi.
Katanya, musuh masih berkeliaran disekeliling tempat itu.
Dan katanya, lukanya itu luka dalam, tak sembarang tabib
dapat mengobati."
Walaupun terpaksa harus merangkai kata2 kosong, tetapi
dapatlah alasan2 itu diterima akal. Dan dibawakan dengan
cepat dan lancar, mau tak mau Ki Ing percaya juga.
Sekalipun begitu perasaan Cu Jiang seperti di iris dengan
pisau. Dia terpaksa harus berbohong demi menjaga agar
nona itu jangan sampai hancur hatinya.
Ki Ing menghela napas rawan.
"Siapakah namamu?" tiba2 ia bertanya.
"Ah, aku tak memakai nama lagi. Orang2 memanggil
aku si Gok-jin-ji."
"Gok-jin-ji?"
"Ya."
Gok-jin-ji artinya Anak sengsara. "Apakah karena
khusus hendak mengantarkan benda ini lalu engkau turun
gunung?"
"Boleh di kata begitu."
"Kalau begitu, silahkan engkau kembali ke gunung lagi."
Cu Jiang gelengkan kepada, "Tidak, aku takkan pulang
ke gunung lagi."
Ki Ing kerutkan alis. "Kenapa?"
"Aku sudah sebatang kara dan hidup sengsara. Tak
punya sanak keluarga tak punya tempat tinggal dan masih
cacat begini. Sering aku menerima hinaan dan cemoohan
orang. Maka aku hendak mengembara saja untuk cari
sesuap nasi."
"Ah, kurasa tak perlu," kata Ki Ing, "antarkanlah aku ke
tempat engkau bertemu dengan kongcu tempo hari. Setelah
itu selesai kucarikan tempat untukmu menetap dengan
tenang."
"Ah, terima kasih atas kebaikan nona," sahut Cu Jiang.
"O, kalau begitu, bagaimana kalau kuberimu uang untuk
modal berdagang saja ?"
"Terima kasih, kongcu sudah memberi tak sedikit uang
kepadaku."
"Apakah engkau tak mau menunjukkan jalan ?"
"Bukan tak mau, nona. Tetapi aku sudah bersumpah
takkan kembali ke gunung lagi."
"Kalau kuwajibkan engkau menunjukkan jalan ?"
"Sekalipun nona membunuh aku, aku tetap tak mau
melanggar sumpahku."
Seketika wajah si Jelita Ki Ing berobah. Tetapi pada saat
itu terdengar gemuruh derap kaki kuda berlari. Pada lain
kejap tampak empat ekor kuda mencongklang tiba.
Ternyata mereka empat orang Pengawal Hitam.
Melihat mereka seketika meluaplah kemarahan Cu
Jiang.
Ketika melalui tempat Cu Jiang bertiga dua orang
Pengawal Hitam agak melambatkan kudanya, kemudian
memacunya lagi kencang2. Mereka seolah tak
menghiraukan ketiga anak muda itu.
Cu Jiang merasa heran. Apakah kawanan Pengawal
Hitam itu jeri akan Piagam Hitam? Sesaat Cu Jiang merasa
makin heran akan diri si jelita Ki Ing yang tak diketahui
riwayatnya itu.
"Apakah nona itu..." Tiba2 timbul pikirannya untuk
menyelidiki, katanya.
"Dunia persilatan mengatakan bahwa kawanan
Pengawal Hitam itu suka malang melintang mengunjuk
keganasan. Tetapi rasanya kenyataannya lain."
"Kenapa ?" Ki Ing bertanya dengan dingin.
"Tidakkah nona tadi menyaksikan sikap kedua Pengawal
Hitam yang memandang kita dengan pandang meremehkan
?"
"Mungkin kita tak salah apa2."
"Tetapi kurasa tidak..."
"Lalu ?"
"Karena mempunyai hubungan dengan nona."
"Dengan aku? Hubungan apa?"
"Karena nona sebagai pemilik Piagam Hitam, mereka
tak berani..."
"Engkau keliru." kata Ki Ing tetapi terus tak mau
melanjutkan kata-katanya.
Cu Jiang melanjutkan usahanya untuk menyelidiki.
"Adakah tiada seorangpun dalam dunia persilatan yang
tahu jelas akan keadaan Gedung Hitam ?"
Ki Ing menatap sejenak pada Cu Jiang lalu menyahut
dingin.
"Mungkin."
"Apakah nona juga tak tahu ?"
"Ai, benar2 sangat rahasia sekali..."
"Bagaimana, engkau mau menunjukkan jalan atau tidak
?"
Cu Jiang tundukkan kepala lalu menyahut: "Aku tak
mau melanggar sumpahku sendiri, mohon nona sudi
memaafkan."
"Baik, mengingat engkau telah melakukan
permintaannya dengan baik untuk memberikan giok-pwe
ini kepadaku, akupun tak mau menyusahkanmu !" habis
berkata si jelita terus loncat keatas kuda dan mengajak Siau
Hui pergi.
Ooo0dw0ooO
Jilid 5
Cu Jiang terlongong-longong memandang bayangan si
jelita itu Hanya dengan kekerasan hatinya untuk menuntut
balas dan mengingat wajahnya yang rusak, baru dia dapat
menindas nyala api asmaranya.
Tetapi dia tak mungkin dapat melupakan cinta kasih
asmara dari dara jelita. Walaupun pada kehidupannya yang
sekarang tak mungkin dia dapat bersanding dengan jelita itu
tetapi kelak dalam penitisannya yang akan datang ia
bersumpah akan memenuhi janji terhadap jelita itu.
Bayangan Ki Ing lenyap dan lenyap pula percik asmara
yang membara dalam hatinya. Kini perasaan hatinya
hampa, sehampa cakrawala yang luas.
"Bagus, budak! Engkau berani menolak rejeki besar? Ho,
masakan engkau mampu terbang ke langit?"
Tiba2 terdengar suara orang berseru dan seketika
terbanglah semangat Cu Jiang. Cepat ia berputar tubuh. Ah,
siapa lagi kalau bukan si manusia aneh yang berwajah
seperti mayat itu.
"Jika lo-toa tidak memilih engkau, saat ini tentu
kuhancur leburkan tubuhmu!" seru manusia aneh itu.
Nadanya yang seram, meregangkan bulu roma.
Cu Jiang tahu bahwa sia2 saja untuk meloloskan diri.
Melawanpun juga percuma. Maka ia bersikap tenang dan
menyahut:
"Hendak engkau apakan diriku ?"
"Kubawa pulang!"
"Itu tergantung aku suka atau tidak."
"Ha, ha, ha." manusia aneh itu tertawa gelak2, "budak,
engkau bermimpi disiang hari. Masakan engkau bebas
berbuat sesuka hatimu."
"Kalau aku melawan sampai mati. . ."
"Matipun sukar bagimu. Kalau memang kami
menghendaki jiwamu, tak mungkin engkau dapat lari,
sekalipun engkau mau bersembunyi ke liang semut !"
"Apakah di dunia ini terdapat cara mengambil murid
dengan paksaan?"
"Kami memang lain dari yang lain."
"Paling tidak, kalian harus memberitahu kepadaku siapa
sebenarnya kalian ini."
"Apabila sudah tiba waktunya, tentu. Sekarang Jangan
banyak bicara yang tak berguna."
Cu Jiang tertawa hambar. Ia tertawa mengejek nasibnya
yang buruk.
"Hayo, berangkat!" tiba2 manusia aneh itu membentak.
Tetapi pada saat itu juga terdengar suara kelinting
menusuk telinga. Asalnya dari tengah hutan yang tak jauh
dari tepi jalan.
Cu Jiang tergerak hatinya. Ia tahu bahwa yang datang itu
tentulah Kim Leng hujin.
Manusia aneh keliarkan pandang ke sekeliling lalu
menggeram marah:
"Hai, nenek itu memang sengaja membentur kita
bersaudara."
Cepat ia berputar tubuh terus menyambar Cu Jiang tetapi
pada saat itu juga terdengar suara orang melengking:
"Ong Sip Bo. engkau hendak lari?" menyusul sesosok
bayangan berkelebat menghadang Jalan. Manusia aneh
terpaksa berhenti.
Cu Jiang mengangkat muka dan melihat seorang wanita
tua tegak dua tombak disebelah muka. Wajahnya dingin
sekali. Cu Jiang segera menduga wanita tua itu tentulah
Kim Leng hujin.
Kim Leng hujin menyebut itu dengan nama Ong Sip Bo.
Mungkin namanya memang begitu.
"Hujin hendak memberi petunjuk apa kepadaku?" seru
Ong Sip Bo si manusia aneh.
Kim Leng hujin berseru dingin:
"Ong Sip Bo, apakah engkau hendak melakukan
perbuatan yang melanggar peraturan Thian? Dari mana
engkau menangkap anak itu?"
"Dia bakal menjadi pewaris kami bersama."
"Pewaris dari kalian bersama?"
"Benar."
"Setan yang mengatakan begitu!" karena marah Cu Jiang
berteriak.
Manusia aneh marah. Ia keraskan kepitannya sehingga
Cu Jiang meringis kesakitan karena tulangnya seperti patah.
"Lepaskan anak itu!" tiba2 Kim Leng hujin berseru.
"Kenapa?"
"Tak boleh merusak tunas dunia persilatan!"
"Kalau aku tak mau?"
"Engkau Ong Sip bo, belum layak untuk mengucap kata2
tidak di hadapanku."
"Apakah hujin benar-2 bermaksud hendak memusuhi
kami bersaudara?"
"Urusan di antara kita masih belum selesai.
"Aku akan menyelidiki di mana putera dari Lan Tay Hu
itu sampai ketemu. Apabila kalian yang mencelakainya,
kalian harus mengganti kerugian."
"Ya, tak usah membicarakan hal itu. Yang sekarang
saja."
"Sekarang kusuruh engkau lepaskan dia!"
"Tidak bisa."
"Coba katakan sekali lagi!"
"Mau turun tangan?"
"Jika perlu."
"Kim Leng hujin, ketahuilah. Kami bersaudara selama
ini tak pernah tunduk pada siapa saja. . ."
"Aku tak peduli."
"Jangan kira aku hanya seorang diri . . ."
"Lepaskan dia!" seru Kim Leng hujin dengan tegas dan
keras seraya mengangkat tangan kanannya ke dada. Pada
lengannya tampak sebuah kelinting emas sebesar cawan
arak. Warnanya kuning emas.
Ong Sip Bo menyurut mundur selangkah.
"Hujin, setiap dendam, kami bersaudara pasti akan
membalasnya!" serunya dengan suara getar-getar seram.
Kim Leng hujin tertawa dingin.
"Itu urusan besok. Sekarang engkau lepaskan anak itu."
"Kalau aku tak meluluskan?"
"Tanganku ini akan memberi jawaban!"
"Baik, jangan kira aku Ong Sip Bo takut kepadamu."
Terdengar suara orang tertahan. Tubuh Cu Jiang
terlempar sampai empat tombak jauhnya dan terbanting di
tanah. Sebelum melemparkan, lebih dulu Ong Sip Bo sudah
menutuk jalan darahnya.
Kim Leng hujin memandang ke arah Cu Jiang. Ia
kerutkan alis. Mungkin saat itu baru dia mengetahui betapa
buruk wajah Cu Jiang.
Cu Jiang mempunyai kesan baik kepada wanita itu. Ia
merasa berterima kasih. Memang kemarin tak sengaja
wanita tua itu dalam mencari cucunya, tanpa sengaja telah
menolong dirinya. Tetapi sekarang mungkin lain lagi
artinya.
Tanpa berkata apa2, Ong Sip Bo terus menerkam Kim
Leng hujin. Karena merasa kepandaiannya kalah dengan
wanita tua itu maka dia hendak turun tangan lebih dulu
selagi orang belum siap.
Terkaman yang di lakukan dengan kedua tangan itu
cepatnya bukan kepalang, dahsyatnya bukan main dan
ganasnya bukan olah2.
Diam2 Cu Jiang leletkan lidah. Ia merasa, sekalipun
waktu dirinya belum cacat tak mungkin dia mampu
menghindari terkaman manusia aneh Ong Sip Bo itu.
Diam2 tak habis herannya. Mengapa pada waktu akhir2
ini dia selalu bertemu dengan tokoh2 yang sakti.
Tepat pada saat tubuh Ong Sip Bo bergerak, tubuh Kim
Leng hujinpun sudah berkisar ke samping. Reaksinya
ternyata cepat sekali.
"Kelinting . . . ting ..."
Kelinting emas yang berada pada lengan wanita tua itu
segera berbunyi tajam. Suaranya seperti menusuk telinga,
Beda dengan bunyi kelinting yang didengar Cu Jiang
semalam. Jika semalam nadanya amat menyegarkan
semangat dan sedap di dengar, saat itu seperti menusuk
telinga dan penuh dengan hawa pembunuhan.
Wajah yang pucat seperti mayat dari Ong Sip Bo tampak
membeku, kedua kakinyapun melentuk setengah berlutut.
Sepasang tangannya di taruh di dada dan telapaknya
menghadap ke muka . . .
Bagi ahli persilatan tentu segera tahu bahwa dia sedang
melangsungkan pertempuran tenaga-dalam yang dahsyat.
Cu Jiang baru pertama kali itu mengetahui bahwa suara
kelinting dapat menghamburkan tenaga-dalam untuk
menyerang orang.
Diam2 Cu Jiangpun mengharap agar seperti semalam,
Kim-Leng hujin mau membebaskan jalan darahnya yang
tertotok. Tetapi dia harus menggigit jari.
Tak berapa lama tampak Ong Sip Bo gemetar. Keringat
sebesar kedelai bercucuran dari dahi dan kepalanya. Jelas
tenaga dalamnya masih kalah setingkat dengan Kim Leng
hujin. Dan siapa yang akan kalah atau menang sudah dapat
diduga.
Tiba2 terdengar suara mengerang pelahan dan Ong Sip
Bo pun segera sempoyongan ke belakang sampai lima enam
langkah. Mulutnya menyembur darah. Rupanya dia telah
menderita luka dalam yang tak ringan.
Tiba2 suara kelinting berhenti
Semangat Cu Jiangpun tiba2 menyala. Ia mempunyai
harapan lagi untuk tertolong.
"Perhitungan ini kelak kita selesaikan lagi. Apa sekarang
engkau masih hendak mengatakan apa2 lagi?" seru Kim
Leng hujin dengan nada dingin.
Ong Sip Bo tertawa menyeringai:
"Aku selalu dapat membedakan antara budi dan
dendam."
Sambil mengangkat tangan memberi isyarat, Kim Leng
hujin berseru:
"Sekarang silahkan engkau pergi. Tiap saat aku siap
menyambut kedatangan kalian. "
"Aku masih mempunyai sebuah permintaan bahwa
budak itu adalah pewaris dari kami bersaudara."
"Benar? "
"Ya."
"Apakah dia suka?"
"Soal itu bukan urusanmu!"
"Haa. baik, " dengus Kim Leng hujin, "silahkan engkau
pulang. "
"Baik, kelak jangan engkau menyesal, " seru Ong Sip Bo
terus melesat pergi.
Kim Leng hujin menghampiri ke tempat Cu Jiang. Ia
gerakkan tangan menampar ke udara dan tahu2 Cu Jiang
dapat bergerak. Serentak pemuda itu melenting bangun lalu
memberi hormat sedalam-dalamnya di hadapan Kim Leng
hujin:
"Terima kasih atas budi pertolongan locianpwe"
"Tak usah," kata Kim Leng hujin, "siapa namamu?"
"Aku ... ah, wanpwe bernama Gok-jin-ji. "
"Gok-jin ji?"
"Benar. "
"Apakah engkau benar menjadi pewaris dari kawanan
manusia iblis itu?"
"Tidak, lo cianpwe.. Aku telah ditawan mereka."
"Ya, kutahu. Itulah sebabnya kutolong engkau. Apakah
engkau tahu keadaan pemuda2 yang senasib dengan
engkau?"
"Dengan mata kepala sendiri wanpwe menyaksikan
mereka telah membunuh sepuluh pemuda ..."
"Di mana?"
"Gedung tua yang lo cianpwe pernah datang itu...."
"Apakah diantaranya terdapat putera Lau Tay Hu dari
Seng-mui?"
"Soal itu wanpwe tak tahu. Apakah sebelum kesepuluh
pemuda itu masih terdapat korban lainnya, juga wanpwe
tak tahu. Apabila locianpwe dapat menemukan mayatnya,
mungkin locianpwe dapat mengenali..."
"Bagus !" seru Kim Leng hujin tetapi tiba2 ia mendengus
dan kerutkan alisnya yang sudah putih, "Aah, salah."
Cu Jiang terkejut.
"Apa yang salah, locianpwe?"
"Apakah ilmu tenaga-dalammu sudah mencapai tataran
dapat menyatukan darah dengan hawa dalam tubuh?"
"Ya, sudah dapat walaupun dipaksakan."
"Cobalah engkau salurkan tenaga-dalammu ke arah jalan
darah Ing-joan dan bu it, bagaimana keadaannya?"
Cu Jiang terkejut. Segera ia kerahkan tenaga-dalam
untuk melancarkan ke arah kedua jalan darah itu. Begitu
mencoba seketika wajahnya berobah.
"Benar, locianpwe, dalam jalan darah itu seperti terdapat
suatu benda yang bergerak-gerak menusuk dengan tajam. .
."
"Iblis yang ganas sekali!"
"Apakah Ong Sip Bo itu telah menyusupkan sesuatu ke
dalam tubuh wanpwe?"
"Benar," kata Kim Leng hujin, "tampaknya dia hanya
menutuk jalan darahmu. Tetapi diam2 dia telah
melancarkan tangan ganas Im-sat-tui-beng-ci."
"Im-sat tui-beng-ci?" ulang Cu Jiang.
Im-sat-tui-beng-ci artinya ilmu Jari-penghancur nyawa.
"Ya, apa engkau pernah dengar?"
"Belum pernah."
"Ilmu jari itu telengas sekali. Kecuali mereka, tiada
seorangpun tokoh persilatan lain yang mampu memberi
pertolongan."
"O, tiada orang lain yang mampu menolong?"
Kim Leng hujin mengangguk. Ia menghela napas.
"Gok-jin ji, saat ini engkau hanya mempunyai sebuah
jalan . . ."
"Bagaimana?" seru Cu Jiang tegang sekali.
Kim Leng hujin mengerut dahi lalu berseru dengan nada
tegas:
"Engkau harus kembali kepada mereka !"
"Tidak bisa, locianpwe."
"Jika begini engkau tentu mati."
Semangat Cu Jiang serasa terbang mendengar kata2
wanita sakti itu. Namun dia tetap sekokoh batu karang
pendiriannya.
"Locianpwe," serunya dengan nada gemetar: "Mati
biarlah mati, tetapi wanpwe tak mau menggabung pada
Mo-to (aliran Jahat)."
Kim Leng hujin berkata dengan rawan:
"Ah, tak kira kalau engkau benar2 seorang anak yang
berpambek tinggi. Setengah jam kemudian, tenagamu
sudah lenyap. Dan besok pagi pada saat ini... darahmu akan
bergelimpangan. Suatu siksa penderitaan yang tak dapat
dibayangkan ngerinya. Maka lebih baik engkau ikut mereka
dulu, pelahan-lahan mencari daya lagi. Jangan kuatir, aku
selalu membantumu."
Cu Jiang menghela napas. Dengan perasaan yang sedih
dia berkata:
"Apabila locianpwe mempunyai keperluan lain, silahkan
locianpwe melanjutkan perjalanan."
"Tetapi engkau . . ."
"Akan kuserahkan nasibku kepada Allah !"
"Nak, jangan berkeras kepala. Rasanya tiada jalan lain
lagi kecuali itu."
"Nasibku sudah kenyang dengan penderitaan. Mati
hidup tiada artinya bagiku."
Kim Leng hujin merenung sejenak lalu berkata:
"Baiklah, engkau tunggu saja disini. Kalau lawan
memang tak mau melepaskan engkau, mereka tentu akan
datang kemari mencarimu. Aku perlu lekas mencari jejak
cucuku yang hilang itu, terpaksa aku pergi dulu."
Sebelum pergi kembali Kim Leng hujin memandang Cu
Jiang dan berseru:
"Kawanan Iblis itu senang sekali dengan bahan tulangmu
yang bagus...."
"Mohon tanya, siapakah mereka itu ?"
"Durjana iblis yang telah termasyhur dalam dunia yaitu
Kiu-te-sat !" habis memberi keterangan Kim Leng hujin
terus melesat pergi.
Seorang diri Cu Jiang masih termangu-mangu diam. Dia
tak mengira bahwa kawanan iblis itu tak lain adalah Kiu-tesat
atau Sembilan iblis neraka.
Saat itu dia merasa tenaganya mulai hilang persis seperti
yang dikatakan Kim Leng hujin tadi. Pada kedua jalan
darah di punggungnya terasa sakit sekali.
Walaupun perangainya amat tinggi hati dan didepan
Kim Leng hujin menyatakan tak menghiraukan soal mati
atau hidup, tetapi setelah berada seorang diri, dia
menyadari bahwa mati hidup merupakan soal penting
baginya.
Dia bukan takut mati tetapi bila ia mati, dia tentu tak
dapat melaksanakan angan-angannya untuk membalaskan
dendam berdarah dari keluarganya. Dengan begitu dia tentu
akan jadi setan penasaran.
Cita-cita hidupnya hanya melakukan pembalasan. Jika
hal itu sudah terlaksana, mati bukan soal lagi baginya. Dan
untuk melaksanakan hal itu seharusnya dia tak
menghiraukan lagi masuk menjadi murid dari perguruan
apapun juga.
Hm, apabila dia dapat menghisap ilmu kesaktian dan
tentulah dia dapat melaksanakan pembalasan itu.
Semasa hidupnya, mendiang ayahnya bergabung dalam
aliran Cing-pay sehingga mendapat gelar agung Kiam-seng
atau Nabi-pedang. Tetapi akhirnya bagaimana jadinya?
Tiba pada kesimpulan itu pandangannya pun mulai
mengalami perubahan. Perasaannyapun agak longgar.
Maka dia lalu beralih ketepi jalan hutan itu. Menurut
perhitungannya, Ong Sip Po tentu akan mencarinya.
Setengah jam kemudian ternyata tiada orang yang
datang, baik Ong Sip Po maupun kawan-kawannya.
Dendamnya makin menebal.
Dengan menahan rasa sakit yang sukar ditahan, dia
segera rebahkan diri dibawah pohon dan mengerang-erang.
Tiba2 sesosok bayangan berkelebat tiba dihadapannya.
Ketika Cu Jiang memandangnya makin terperanjat.
Kiranya yang datang itu bukan Ong Sip Po melainkan
manusia aneh yang berwajah mengerikan, kepala lancip,
brewok, Hidung besar, bibir tebal, kumis kuning yang
jarang, mata runcing seperti tikus.
Cu Jiang diam saja.
"Hai budak, mengapa nenek itu tak membawamu pergi
?" tegurnya.
Yang dimaksud nenek tua itu tentulah Kim Leng hujin.
Tiba2 Cu Jiang teringat akan cerita mendiang ayahnya
dulu tentang diri kesembilan iblis Kiu-te-cat itu.
"Kiranya anda tentulah Song-bun sat Pik Thay Koan."
serunya.
"Hai, budak, siapa yang memberitahu engkau!" teriak
manusia buruk itu.
"Secara tiba2 saja aku teringat."
"Benar, memang aku ini Song-bu sat Pik Thay Koan,"
akhirnya manusia buruk wajah itu mengaku.
"Lalu anda akan bertindak bagaimana terhadap aku ?"
"Engkau tentu sudah mengetahui riwayat kami
bersaudara. Sekarang aku hanya ingin bertanya sebuah
pertanyaan . . ."
"Silahkan!"
"Engkau sudah mempertimbangkan atau belum ?
Bagaimana, apakah engkau suka menjadi murid kami?"
Setelah diam beberapa jenak, akhirnya Cu Jiang
menyahut dengan mengertak gigi.
"Baik. aku suka..."
"Dengan sungguh hati?"
"Tentu."
"Tetapi jangan coba2 melarikan diri," kata Pik Thay
Koan lalu menotokkan delapan jari tangannya ke tubuh Cu
Jiang, Setelah itu dia tertawa mengekeh dan berseru:
"Budak, bangunlah !"
Rasa sakit pada tubuh Cu Jiang lenyap seketika.
Tenaganyapun pulih. Cepat ia meloncat bangun.
Pik Thay Koan meliriknya dan mengangguk: "mata Lo-
Jit nampaknya tajam sekali. Memang benar2 sebuah bahan
yang bagus!"
Sekonyong-konyong mata Cu Jiang tertumbuk pada
pemandangan yang mengejutkan. Ia melihat tangan kiri Pit
Thay Koan hilang jari tengahnya.. Seketika teringatlah dia
akan pemandangan yang menyayat hati ditempat kedua
orang tua dan adiknya dibunuh dahulu.
Dia telah menemukan dua jari tangan dan sebuah
lengan. Kedua jari itu, jari tengah dan jari telunjuk mungkin
jari kelingking. Dia belum dapat memastikan adakah kedua
jari dan sebuah lengan itu milik seorang atau beberapa
orang.
Dia telah melihat kesembilan iblis Kiu te-sat itu semua.
Diantara mereka tiada terdapat ketiga manusia aneh yang
telah menganiaya dan melemparkan dirinya kedalam jurang
itu.
Tetapi kalau menurut keadaan medan pertempuran itu,
kemungkinan bukan hanya kesembilan iblis Kiu-te-sat itu,
pun tentu terdapat juga ketiga manusia aneh dan mungkin
masih ada beberapa orang lain lagi yang melakukan
pengeroyokan kepada kedua ayah bundanya.
Dia harus menyelidiki hal itu sampai jelas. Dan sungguh
kesempatan yang menguntungkan sekali karena lawan telah
menyukai dirinya.
Dan sengajalah dia pura-pura jual mahal, serunya:
"Ah, tetapi sayang, bahan itu sudah tiada gunanya lagi . .
."
"Budak, jangan memandang rendah dirimu sendiri.
Kami bersaudara pasti akan memberimu kepandaian sakti.
Tak perlu kecewa karena cacad tubuh !"
"Apakah sekarang kita akan berhasil ke gedung tua itu
lagi?"
"Tidak, kita sudah mendapat tempat lain yang lebih
rahasia."
"Di mana?"
"Nanti engkau tentu tahu sendiri. Mari, akan kubantumu
dalam perjalanan supaya dapat menghemat waktu, " kata
manusia buruk itu terus mengangkat Cu Jiang dan
mengepitnya lalu lari kencang. Dia tak mengambil jalan
besar, melainkan melintasi hutan menuruni ke luar kota.
Song bun-sat atau Iblis-pintu-neraka Pek Thay Koan
memang hebat sekali kepandaiannya. Dua jam terus
menerus lari secepat angin, tetapi dia tak lelah.
Di sebelah muka merupakan deretan gunung yang
berlapis-lapis. Sukar untuk mencari jalan tetapi Song-bunsat
Pek Thay Koan dapat melintasinya seperti berjalan di
tanah datar.
Tak berapa lama mereka masuk ke dalam sebuah
lembah. Pohon2 tumbuh tinggi, daunnya yang rindang,
menutupi sinar matahari. Menilik batu2 berobah hijau
terbungkus pakis dan tanah. tertimbun tumpukan daun2
yang tebal, jelas sudah lama tiada orang yang datang ke
lembah itu.
Meletakkan Cu Jiang, Pek Thay Koan berkata:
"Budak, sudah tiba, berjalanlah sendiri perlahan-lahan. "
Walaupun kaki kirinya cacad tetapi kepandaian Cu Jiang
masih cukup baik. Dia dapat berloncatan memasuki hutan.
Setengah jam kemudian baru tampak sinar matahari
memancar pada sebuah tanah lapang. Rupanya sebuah
tempat yang baru saja dibuat orang.
Tanah lapang itu lebih kurang seluas setengah bahu. Padi
ujung yang menempel batu karang, tampak beberapa rumah
batu yang dikelilingi rumput dan pohon2 rotan. Suasananya
menyeramkan.
Song-bun sat Pek Thay Koan mengajak Cu Jiang masuk.
Di dalam ternyata sudah menunggu dua orang. Yang satu si
orang tua jubah hitam Tian Heng.
Kini Cu Jiang sudah dapat mengetahui bahwa Tian
Heng ini adalah kepala dari Kiu-te-sat dan bergelar Te-lengsat
atau Iblis-penunggu-bumi. Dan yang satu adalah Ong
Sip Po atau orang yang jatuh pada urutan ketujuh, bergelar
Tui-beng sat atau Iblis-pemburu nyawa.
"Toako ini orangnya sudah datang!" seru manusia buruk
Pek Thay Koan.
"Ah, bikin cape engkau saja, ji-te." sahut Te-leng-sat,
tokoh kesatu dan Kiu-te-sat.
Cu Jiang masih bersikap angkuh. Dia berdiri seperti
patung. Tak mau memberi hormat dan tak sudi bicara.
Karena kaki kirinya agak pendek sedikit maka berdiri dia
miring ke sebelah kiri.
Dalam rumah itu telah disiapkan sembilan buah kursi.
Di tengah satu dan kanan kiri masing2 empat kursi.
Song-bun-sat Pek Thay Koan duduk di sebelah dari kursi
pertama. Sedang Tui-beng-sat Ong Sip Po duduk pada kursi
kedua.
Rupanya kesembilan durjana itu mempunyai disiplin
yang baik sekali. Mereka menghormati kedudukan
masing2.
Sejenak memandang Cu Jiang, berserulah jubah hitam
Tian Heng:
"Budak, aku hendak bertanya kepadamu dengan
sungguh2. Maukah engkau menjadi murid pewaris dari
kami bersembilan saudara?"
Dalam hati Cu Jiang tak sudi tetapi karena keadaan dan
demi tujuannya, maka terpaksa dia mengangguk dan
menyatakan kesediannya.
"Apa yang menyebabkan engkau berobah pendirian?"
"Nama besar dari anda bersembilan !"
"Hm, dengarkanlah. Setelah persiapan2 selesai kami
lakukan, barulah nanti diadakan upacara penerimaan
murid."
"Ya."
"Dalam dunia persilatan tiada yang disebut benar atau
salah. Yang lemah tentu dimakan yang kuat. Kekerasan
merupakan keadilan. Engkau tak membunuh, tentu akan
dibunuh. Mengertikah engkau? Apa yang disebut Ceng dan
Shin ( putih dan Hitam ), sukar ditentukan. Mereka yang
menepuk dada sebagai jagoan aliran Ceng-to, diam2
mereka merupakan manusia yang buas melebihi binatang.
Dan yang dianggap sebagai kawanan aliran Hitam, belum
tentu semua hitam . . ."
Wejangan yang berdasar atas pandangan diri sendiri itu,
membuat tubuh Cu Jiang gemetar. Tetapi diam2 diapun
mengakui bahwa apa yang dikatakan kepala Kiu-te-sat itu
tidak semua salah. Misalnya, mendiang ayahnya sendiri,
tak membunuh orang tetapi akhirnya dibunuh orang.
Tetapi Kiu-te-sat pun telah melakukan penjagalan
terhadap belasan pemuda, hal itu takkan dapat dilupakan
Cu Jiang, Adakalanya Baik dan Buruk itu sukar dibedakan
tetapi ada kalanya memang menyolok sekali perbedaannya.
Tokoh golongan Putih, betapapun jahatnya, tentu takkan
melakukan perbuatan yang sedemikian ganas.
Demikian tak terasa waktu berjalan cepat sekali. Sudah
sepuluh hari Cu Jiang berada di pondok dalam lembah
belantara itu. Sehabis makan pagi, dia bersama ketiga iblis
itu duduk bercakap-cakap di ruang tengah.
Tiba2 sesosok tubuh lari terhuyung-huyung. Mereka
berempat serempak berbangkit.
"Lo-ngo! " seru Song-bun-sat Pek Thay Koan.
Blum.... tubuh orang itu membentur pintu dan terus
rubuh ke lantai.
Tubuh hitam Thian Heng cepat melesat ke muka:
"Lo-ngo, kenapa engkau!" teriaknya.
Tempat duduk Cu Jiang kebetulan dekat sekali dengan
orang yang rubuh itu. Dia dapat melihat dengan jelas
keadaannya. Tubuh orang itu berlumuran darah, sehingga
napas menjadi lemah, mulut mengucur darah.
Dia adalah lo-ngo atau urutan yang kelima dari sembilan
durjana Kiu losat, Memakai gelar nama Toan-beng-sat atau
iblis-pencabut nyawa.
Song-bun-sat dan Tui beng-sat serempak membungkuk
dan memeriksa nadi Toan-beng-sat itu. Seketika wajahnya
berobah. Mereka mengangkat kepala dan berkata dengan
nada tergetar kepada Te-leng-sat.
"Toako, tiada.... tiada harapan lagi. Urat jantungnya
sudah putus."
Wajah Te-leng-sat Tian Heng, kepala dari kesembilan
momok durjana membesi wajahnya. Sepasang matanya
membara merah. Dan giginyapun terdengar bercaterukan.
"Kasih sedikit hawa murni, aku hendak bertanya
kepadanya."
Tui-beng-sat atau Iblis-pemburu nyawa segera lekatkan
jari tengahnya pada punggung Toan-beng-sat atau Iblispencabut
nyawa. Tak berapa lama Toan-beng-sat dapat
bernapas lagi dan pelahan-lahan membuka mata.
Bibirnya tampak bergerak-gerak seperti hendak berkata
tetapi tak bersuara.
"Lo-ngo, kuatkan dirimu, bilanglah apa yang telah terjadi
?" teriak ketua kesembilan momok durjana itu.
Setelah berusaha beberapa waktu, barulah orang kelima
dari kawanan momok itu dapat berkata dengan lemah.
"Aku... dengan Pat te.... tiba di markas .. . Thay kek
bun... pulangnya. . . ."
"Apakah kitab Thay-kek-sin-hwat-ciang sudah dapat
engkau ambil?"
"Ya ... sudah .. . tetapi dirampas ..... pat-te..."
Pat-te artinya adik seperguruan yang kedelapan, atau
tokoh nomor delapan dari kawanan mo sat.
"Lo-pat bagaimana ?"
"Dia dicelakai ?"
"Lo-pat dicelakai ?"
"Ya..."
"Siapa yang berani mencabut kumis harimau?"
“Siapa dia ?"
"Sip... sip ..."
"Apa?"
"Sip-pat. . . hui-thian . . ."
Habis berkata, kepala momok kelima itu terkulai
melentuk dan jiwanyapun putus.
Song-bun-sat dan Tui-beng-sat lepaskan tangannya.
Mereka jatuhkan diri di tanah, matanya memancar ganas.
Sambil mendeburkan kaki pada lantai, Te-leng-sat ketua
dari kesembilan momok durjana itu berteriak.
"Sungguh tak kira kalau lawan berani turun tangan lebih
dulu !"
Siapakah lawan mereka? Tanpa disengaja, Cu Jiang
memperoleh suatu berita yang penting. Lawan kesembilan
momok durjana itu tak lain adalah Sip-pat ( delapan belas ),
Hui thian (terbang ke langit). Tetapi karena kata itu terputus
dan tidak dirangkai dengan urut, Cu Jiang tak dapat
mengetahui jelas apa sebenarnya yang dimaksudkan.
Hanya satu yang dapat dijadikan kesimpulan bahwa
tokoh yang mampu membunuh anggauta Kiu-te-sat itu
tentulah orang tokoh yang hebat sekali kesaktiannya.
Memang durjana2 macam Kiu-te-sat, harus di basmi dari
dunia. Mereka berlumuran darah korban2 yang entah sudah
beratus-ratus jumlahnya. Dia membunuh manusia seperti
membunuh nyamuk, sedikitpun tiada mempunyai rasa perikemanusian.
Toan-beng-sat serta apa yang disebut pat-to (adik
seperguruan nomor delapan) yakni Tho ling-sat (Iblisbunga-
tho), adalah kedua anggauta Kiu-te-sat yang
mendapat perintah dari ketuanya untuk menuju ke markas
Thay-kek-bun, Bu-tong-pay dan Siau-lim.
Toan-beng-sat atau momok nomor lima ketika sudah tiba
di markas Thay-kek-bun telah berhasil mendapatkan kitab
pelajaran Thay-kek-sim-ciat-hwat dari perguruan itu. Tetapi
entah bagaimana dia telah melakukan tindakan yang
ganas...
"Toako, rencana kita..." baru Song-bun sat atau momok
kedua dari Kiu-te-sat berkata begitu, toako atau ketuanya
sudah menukas.
"Tetap dijalankan, kalau tidak kita tak dapat menghadapi
lawan !"
"Tetapi bagaimana dengan pat-te.... mudah-mudahan dia
tidak berjumpa dengan . ."
"Sudahlah, jangan berkata apa2 lagi !" kata Te-leng-sat
ketua sembilan-momok.
Tiba2 Tui-beng-sat atau momok ketujuh yang bernama
Ong Sip Po seperti tersentak kaget, serunya:
"Celaka !"
Te ling-sat ketua Sembilan-momok deliki mata
kepadanya:
"Mengapa celaka ?"
Tui-beng-sat memandang keluar pondok dan berkata.
"Ngo-ko pulang dengan membawa luka parah. Tentu
musuh akan mengikuti jejaknya. Mungkin saja saat ini
tempat kita sudah di ..."
Song-bun-sat atau momok nomor dua serentak melonjak
berdiri:
"Lalu bagaimana kita harus menghadapi?"
Dengan geram Te-ling-sat atau ketua Sembilan-momok
menggeram:
"Jika musuh hanya seorang, kita bertiga dapat
menghadapinya!"
Wajah yang pucat dari Tui-beng-sat Ong Sip Po
berkerenyitan, serunya.
"Kalau lawan tidak hanya seorang?"
Te-ling-sat ketua mereka, merenung sejenak lalu berkata:
"Selama gunung masih menghijau, masakan takut tak
mendapat kayu bakar. Untuk sementara waktu kita
menyingkir dulu. Apabila rencana kita sudah selesai, kita
jalankan lagi."
Mendengar mereka menyebut-nyebut tentang rencana,
diam2 Cu jiang terkejut. Apakah rencana mereka? Oh,
mungkin menyangkut dirinya. Benarkah itu? Namun dia
tak mau ikut bicara melainkan mendengarkan pembicaraan
mereka dengan penuh perhatian.
Tiba2 terdengar sebuah suitan nyaring. Nadanya mirip
bunyi burung hantu, pun seperti lolong serigala. Tajam dan
mengerikan telinga.
Song-bun-sat Pik Thay Koan, momok kedua terperanjat,
serunya:
"Ah, dugaanku tak meleset, mereka benar2 datang!"
"Kita masuk ke dalam hutan dan jalankan alat perkakas."
kata Te-ling-sat, ketua momok dengan geram.
Sambil menunjuk pada Cu Jiang, Tui-beng sat Ong Sip
Po berseru.
"Bagaimana dengan dia ?"
"Masukkan kedalam ruang rahasia," seru Te-ling-sat
kemudian berpaling dan mengajak momok kedua Songbun-
sat Pek Thay Koan, "jite. mari kita berangkat dulu."
Kedua momok itupun segera melesat keluar. Dan Tuibeng-
sat Ong Sip Po segera menyambar tubuh Cu Jiang
terus dibawa lari masuk ke belakang.
Dibagian belakang rumah itu, merupakan karang kaki
gunung. Ada sebuah bagian dari karang itu yang menonjol,
lebarnya seperti sebuah meja kecil.
Ong Sip Po menekan dengan tangannya dan batu nonjol
itu segera berkisar, terbuka sebuah lubang guha. Sebelum
sempat berbuat apa2, tahu2 Cu Jiang sudah dilempar
kedalam lubang guha lalu ditutupnya lagi.
Dilempar kedalam tempat yang begitu gelap, Cu Jiang
tak dapat berbuat apa2 lagi. Dia terlempar jatuh ke lantai
gua, kemudian bergeliat bangun dan duduk bersandar pada
dinding gua. Dia bersemedhi menenangkan pikiran.
Beberapa saat kemudian ia membuka mata dan mulai
dapat melihat keadaan guha itu secara remang2.
Tak berapa dalam. Mungkin hanya lima tombak.
Sebelah luar sempit tetapi makin kedalam makin lebar. Gua
itu kosong, tentu merupakan tempat persembunyian Kiu tesat
apabila menghadapi ancaman bahaya. Atau kalau tidak,
mungkin digunakan untuk berlatih ilmu.
Sambil duduk bersandar pada dinding gua, dia merenung
lebih lanjut. Siapa gerangan musuh yang mampu
merontokkan nyali kawanan momok Kiu-te-sat itu ?
Memang menilik nada suitan yang begitu nyaring,
dapatlah dia menduga bahwa orang itu tentu seorang tokoh
yang hebat. Dia cenderung untuk menduga bahwa tokoh itu
tentu bukan dari aliran Ceng to (putih) melainkan juga
seorang durjana besar.
Adakah pendatang itu yang telah membunuh Toan-bengsat
dan Tho hoa-sat ?
Banyak hal yang melalu lalang dalam benaknya, tetapi
dia hanya merangkai dugaan2 saja. Dia tak dapat berbuat
apa2. Juga siapa yang menang diantara kedua pihak
durjana itu baginya tiada keuntungan apa2.
Rasanya sudah lama sekali, entah tak tahu dia sudah
berapa lama berada dalam gua itu. Saat itu dia mulai
gelisah. Kemanakah gerangan ketiga durjana tadi? Kalau
mereka juga mengalami nasib seperti kedua kawannya
Toan beng sat dan Tho hoa-sat, berarti dia harus berusaha
sendiri untuk keluar dari gua situ.
Serentak dia berbangkit dan mulai meraba-raba batu
besar penutup gua itu. Ia mengharap mudah-mudahan akan
menemukan alat pembuka pintu itu. Pintu batu itu memang
berbentuk sedemikian rupa, hingga pas sekali, merapat
seperti pintu.
Karena sampai sekian lama tidak juga berhasil
menemukan pintu, akhirnya ia merenungkan ketika Tuibeng
sat melemparkan dia kedalam gua dan menutup gua
itu.
Setelah membayangkan gerak dan posisi Tui-beng sat
Ong Sip Po, dan mulai lagi untuk mencari tombol itu. dan
menekan-nekan dengan jarinya.
Cu Jiang memang cerdas. Dengan cara itu akhirnya
berhasillah dia. Ketika menekan pada suatu bagian, batu itu
melesak kedalam dan pintu batu itu pun pelahan-lahan
mulai berkisar kemuka. Sinar matahari nampak memancar
ke dalam dan seketika itu guapun tampak terang.
Karena sudah beberapa waktu berada dalam tempat
gelap, maka dia menjadi silau melihat sinar matahari yang
keras. Ia cepat2 menutupi kedua matanya. Beberapa saat
kemudian barulah ia dapat membuka tangannya.
Tapi tiba2 dia berteriak kaget ketika melihat ketiga
durjana Kiu te-sat duduk bersila tak jauh dari pintu guha.
Menilik kerut wajahnya, jelas mereka menderita luka parah.
"Bagaimana kalian bertiga ini ?" tegur Cu Jiang.
Tian Heng atau kepala dari kawanan durjana Kiu-te-sat
berseru dengan nada gemetar:
"Lekas bawa kami bertiga kedalam gua !" Sejenak Cu
Jiang mengeliarkan pandang ke sekeliling. Setelah melihat
tiada seorangpun yang tampak, baru dia bertindak. Lebih
dulu dia mengangkat Te-ling sat Tian Heng kedalam gua.
Ke dua Song bun sat Pek Thay Koan dan Tui-beng-sat Ong
Sip Po.
"Tutup pintunya," kata Tui-beng-sat Ong Sip Po dengan
lemas.
Cu Jiang terkesiap. "Bagaimana cara menutupnya?"
"Mengapa tadi engkau dapat membuta ?"
"Hanya secara kebetulan saja aku menekan-nekan pintu
batu."
"Hm. tekanlah sebelahnya !" Cu Jiang menurut. Begitu
menekan, pintu batu itupun segera mengatup kembali.
"Musuh itu ?"
"Sudah ngacir pergi."
"Apakah anda terluka?" tanya Cu Jiang.
"Jangan banyak tanya, tunggu perintah saja !" hardik Tui
beng-Sat Ong Sip Po.
Cu Jiang memandang durjana itu tajam2, dia tak mau
bicara lagi.
Tiba2 Song bun-sat Pek Thay Koan berkata dengan nada
sinis.
"Budak, kalau saat ini engkau hendak turun tangan
kepada kami bertiga, memang kami tidak berdaya lagi ..."
Cu Jiang terkesiap tetapi cepat ia menjawab:
"Aku tak punyai keinginan begitu. Dan lagi akupun tak
mau menghantam orang yang sedang terluka."
"Kalau mau pergi, engkaupun dapat juga!"
"Aku tak mempunyai rencana begitu."
"Bagus, budak, sesungguhnya aku senang sekali
kepadamu, tetapi sayang .... ah . . ."
"Sayang bagaimana ?"
"Semua sudah hilang !"
Mendengar itu Te-leng-sat Tian Heng cepat menukas:
"Lo-ji, Jangan menghamburkan tenaga yang tidak perlu.
Lekas kerahkan tenaga untuk mempersiapkan penyerahan
yang perlu."
Ketiga durjana itu serempak pejamkan mata.
Kata2 terakhir dari ketua Kiu-te-sat untuk
mempersiapkan penyerahan yang terakhir itu, benar-2
mengherankan perasaan Cu Jiang..
Apakah maksud durjana itu sesudah menderita luka
yang membahayakan jiwanya ? Orang yang mampu
mengalahkan ketiga durjana itu jelas tentu bukan kepalang
hebatnya.
Alam pikiran dari kawanan durjana itu memang kadang
berlainan dengan orang biasa. Seperti Song-bun-sat Pek-
Thay Koan. Durjana itu mengajukan pertanyaan yang aneh
tadi kepada Cu Jiang.
Memang jika Cu Jiang mau meninggalkan tempat itu,
memang mudah. Ketiga durjana itu tak dapat berbuat apa2.
Pun jika dia mau turun tangan menghancurkan mereka
bertiga, juga semudah orang mematahkan ranting pohon.
Ketiga durjana itu tak sudah tak berdaya sama sekali.
Tetapi pemuda itu tak mau berlaku begitu, dia tak punya
keinginan begitu. Dia bersandar pada dinding gua dan
menunggu perkembangan selanjutnya.
Te ling-sat Tian Heng tertawa rawan.
"Budak, sebenarnya kami bersaudara hendak menjadikan
engkau seorang jago tiada tandingannya dalam dunia
persilatan. Sayang... Thian tak mengabulkan . . ."
"Apakah maksudmu ?" Cu Jiang heran.
"Kami bertiga sudah tiada gunanya lagi."
"O, apakah .... menderita luka?"
"Benar."
"Sampai begitu parah ?"
"Ya, memang."
"Dengan kesaktian anda bertiga, apakah tak mampu
mengobati?"
"Tak ada seorangpun yang mampu."
"Bagaimanakah luka itu?"
Sepasang mata dari Te-leng-sat Tian Heng mendelik. Ia
marah tetapi pada lain kejap matanyapun redup lagi.
"Budak, tahukah engkau siapa yang datang itu ?"
Hal itulah yang akan ditanyakan Cu Jiang, maka cepat2
ia berseru "Siapakah mereka ?"
"Coba engkau renungkan. Siapakah tokoh dalam dunia
persilatan yang mampu melukai Kiu-te-sat ?"
Cu Jiang gelengkan kepala dan menyatakan tak tahu.
"Hanya tenaga seorang saja mampu melukai kami
bertiga, didunia ini kiranya hanya satu orang . . ."
"Siapa ?"
"Engkau pernah dengar yang disebut Sip-pat-thian-mo ?"
"Sip pat thian-mo ?" ulang Cu Jiang.
"Ya."
Cu Jiang tergetar hatinya.
"Kabarnya Sip-pat- thian-mo itu sudah meninggal dunia.
Belasan tahun yang lalu terkubur didaerah Tian-hong. Anak
buahnya pun sudah bubar . . ."
"Sumber dari kabar burung, belum cukup meyakinkan.
Tetapi bahwa mereka telah lenyap selama belasan tahun,
memang benar."
"Mengapa mereka lenyap secara tiba2 ?"
"Hal itu memang belum diketahui pasti. Yang Jelas hari
ini kawanan Sip-pat-thian-mo telah muncul. Pemimpin
mereka yang disebut Hui-thian-sin-mo, paling sakti
kepandaiannya."
"Hui-thian-sin-mo ?"
"Kecuali dia, rasanya dalam dunia persilatan ini tiada
seorang tokohpun yang mampu dengan seorang diri dapat
melukai kami bertiga."
"Oh..."
Mata Song-bun-sat Pek Thay Koan berkilat-kilat
memancar ke empat penjuru, kemudian berseru tegang:
"Toako, waktu sangat berharga, lebih baik
membicarakan hal yang penting saja."
Sambil mengertek gigi, Te-ling-sat Tian Heng
menggeram:
"Memang aku bersalah karena tak kuasa menahan
kemarahan. Seharusnya aku tak turun mengunjukkan diri.
Ah, Sekarang menyesalpun sudah terlambat . . ."
"Toako, karena sudah begini, tak perlu harus bersedih.
Lawan tak mungkin akan kasihan kepada kita."
"Walaupun lawan juga menderita luka tetapi dia takkan
mati. Sedang kita, telah berturut-turut lima saudara. . ."
Tui-beng-sat Ong Sip Po yang berwajah pucat tampak
berkerenyitan dan menggeram:
"Sungguh2 mati dengan meram..." Te-ling-sat Tian Heng
berpaling, kemudian berkata kepada Cu Jiang.
"Budak, dengarkanlah. Sepuluh tahun yang lampau,
kami ke sembilan saudara telah diagungkan oleh dunia
persilatan dengan gelar Kiu-te-sat. Kiu-te-sat saling
bermusuhan dengan Sip-pat-thian-mo. Mereka hendak
melenyapkan Kiu te-sat tetapi tak berapa lama kemudian,
mereka telah lenyap tanpa berita apa2 lagi. Tetapi akhir2 ini
Sip-pat-thian-mo muncul lagi. Oleh karena itu kami
sekalian hendak mencari seorang yang bertulang bagus
untuk kami didik dan gembleng agar dapat menghadapi
kawanan Sip-pat-thian-mo. Tetapi sayang, rupanya Thian
tak meluluskan, rencana kami itu berantakan "
Cu Jiang terkejut dan menyapukan pandang kearah
ketiga durjana itu. Saat itu dia baru tahu akan rencana dari
Kiu-to-sat.
"Kami bertiga saudara, telah terkena ilmu Jari Thian mo
ci dari Kui-thian-sin-mo, luka yang kami derita sekalipun
dewa juga tak mampu mengobati. Setelah berunding, kami
bertiga telah memutuskan sebuah rencana..."
"Rencana bagaimana ?"
"Dengan sisa2 tenaga yang kami miliki, kami bertiga
akan memindahkan tenaga murni kami kedalam
tubuhmu...."
"Memberikan tenaga-sakti kepadaku?" Cu Jiang berseru
kaget.
"Ya, dan tak perlu terikat suatu hubungan apa2."
"Tanpa ikatan apa-apa?"
"Tanpa."
"Tetapi pakai syarat, bukan ?" tanya Cu Jiang.
"Budak, Jangan engkau memukul genderang terlalu
keras. engkau memang cerdik maka tak berani kami
menyodorkan syarat, cukup suatu permintaan saja."
"Bagaimana, harap lekas mengatakan."
"Gabungan tenaga sakti kami bertiga yang akan kami
berikan kepadamu itu, ditambah pula dengan tenaga dalam
yang sudah engkau miliki, rasanya dalam dunia persilatan
jarang terdapat tokoh setingkat engkau kesaktiannya.
Permintaan kami yang pertama ialah, kami harap engkau
dapat membalaskan sakit hati kami."
Setelah merenung beberapa jenak, Cu Jiang-pun berkata
dengan nada berat:
"Baik. soal itu aku berjanji akan melaksanakannya
dengan sekuat tenaga."
"Yang kedua," kata Tian Heng, "masih ada empat orang
saudaraku yang kusuruh ke vihara Siauw-lim dan Bu-tongsan
hingga kini belum kembali. Kuminta engkau mencari
mereka. Mereka tentu dapat membantu untuk
menyempurnakan kepandaianmu ..."
"Ya, baiklah..."
"Hanya dua buah permintaan itu saja."
"Jika begitu, akupun hendak mengajukan permintaan . .
." kata Cu Jiang.
"Permintaan apa ?"
Sambil menatap Song bun sat Pek Thay Koan, Cu Jiang
berkata:
"Aku hendak mohon tanya sebuah hal kepada anda !"
Song-bun-sat Pek Thay Koan deliki mata dan berseru:
"Katakan !"
"Jari anda yang kutung itu . . ."
"Apa? Jari kutung ?"
"Benar."
"Perlu apa engkau menanyakan hal itu ?"
"Itu persoalanku sendiri."
Dengan mengertek gigi. Song-bun-sat Pek Thay Koan
berseru:
"Engkau minta aku menceritakan kembali peristiwa yang
penuh dendam itu ?"
"Aku harus meminta keterangan yang jelas," sahut Cu
Jiang dengan tegas.
"Hm. dengarkanlah. Peristiwa itu terjadi pada sepuluh
tahun yang lalu. Jari itu telah terpapas kutung oleh tokoh
nomor 16 dan kawanan Sip-pat-thian-mo yang bernama
Cui-mo si Iblis pemabuk."
"Peristiwa dari sepuluh tahun yang lalu ?"
"Ya."
"Benarkah itu ?"
"Budak, apa maksudmu?"
"Ah, tak apa2. Hanya setelah tahu jelas soal itu barulah
aku mau menerima perjanjian anda sekalian."
"Kenapa ?"
"Maaf, aku tak dapat mengatakan hal itu.”
Tiba2 Te leng-sat Tian Heng mengangkat tangan dan
bertanya:
"Budak, apakah engkau masih hendak bertanya lagi ?"
"Tidak."
"Baik, duduklah dihadapan kami sini."
Cu Jiang meragu sejenak tetapi ia terus melakukan
perintah dan duduk bersila dihadapan ketiga durjana itu.
"Apa yang kuminta engkau supaya melakukan dua buah
hal tadi, engkau masih ingat, bukan ?" kata Te-ling-sat Tian
Hong pula.
"Ingat dan aku tentu akan melakukannya dengan sekuat
tenaga," kata Cu Jiang.
"Bagus sekarang pejamkanlah matamu dan bersiaplah
untuk menerima curahan tenaga-sakti kami."
Cu Jiang tegang sekali menghadap suasana yang berobah
secara begitu besar dan mendadak. Dia tahu bahwa apabila
ketiga durjana itu tak mau memberikan tenaga saktinya,
tentulah tenaga-sakti mereka akan ikut lenyap dengan
kematian mereka.
Ketiga durjana itu melekatkan telapak tangannya
menjadi satu, kemudian tangan kanan Te-ling-sat Tian
Heng melekat pada ubun2 kepala Cu Jiang.
Ah. ternyata tokoh2 durjana itu juga faham akan ilmu
Gui-ting tay-hwat dari sumber perguruan agama.
"Awas, sambutlah !" seru Tian Heng dan segera
memancar dari kepala Cu Jiang.
Tubuh Ci Jiang menggigil. Buru2 dia kerahkan
semangatnya untuk menggabungkan hawa murni dalam
tubuhnya, menyambut pancaran aliran hawa panas itu dan
menyalurkan kearah seluruh jalan darahnya. Setelah itu
dihimpunnya pula ke atas lagi.
Aliran hawa panas itu makin lama makin keras dan
deras. Sedikit saja Cu Jiang lengah untuk menaruh
perhatian, dia pasti akan terjerumus kedalam keadaan apa
yang disebut Co-hwe Jip-mo ("darah berjalan sesat").
Artinya, jika tidak mati urat nadinya putus, dia tentu akan
cacat seumur hidup.
Saat itu Cu Jiang seperti dibakar api. Panasnya bukan
kepalang. Sesaat kemudian seperti dibenam dalam
kubangan salju, dinginnya sampai menggigit tulang.
Satu-satunya yang membikin kecewa hatinya, pancaran
hawa panas dan dingin tak dapat menyalur ke bawah lutut
di bagian betisnya yang pincang itu.
Terakhir, hawa panas itu menghimpun jadi suatu aliran
panas yang menerobos ke jalan darah Seng-si-hian-koan.
Sekali.... dua kali . . . .Tiga kali ....
Seperti terkena stroom listrik, bagian aliran darah Jin dan
Tok pada punggung, serentak terbuka dan seketika itu Cu
Jiangpun terlelap dalam kenyenyakan yang hampa.
Pada saat dia tersadar, ia merasa dalam gua itu terang
sekali. Ia menyadari bahwa hal itu berkat tenaga-dalamnya
telah bertambah sakti.
Kemudian dia berpaling. Ah. kejutnya bukan kepalang.
Dilihatnya ketiga durjana duduk mematung. Entah kapan,
ternyata mereka sudah melayang jiwanya.
Setelah tertegun sejenak, Cu Jiang berbangkit, memberi
hormat kepada ketiga durjana itu sampai tiga kali.
Dalam anggapannya, sekalipun kejahatan ketiga durjana
itu setinggi gunung dan sekalipun tidak ada ikatan sebagai
guru dan murid tetapi Cu Jiang tetap menghargai budi
bantuan mereka yang telah menyalurkan tenaga sakti
kepadanya.
Habis memberi hormat dan hendak berbangkit tiba2 ia
melihat didepan mayat Te-ling sat Tian Heng terdapat
beberapa lukisan yang aneh diatas tanah.
Cu Jiang tak mengerti apa maksud tulisan yang
diguratkan pada tanah itu. Adakah tulisan lama atau baru
saja dibuat oleh Te ling sat Tian Heng waktu meninggal
tadi.
Guratan2 huruf itu masuk cukup dalam ke tanah. Jelas
bahwa tulisan itu dibuat oleh jari tangan orang yang
bertenaga dalam tinggi.
Karena tak mengerti Cu Jiangpun tak mau mempelajari
lebih lanjut. Dia segera berbangkit. Diam2 ia mendapat
kesan bahwa gua itu memang sebuah tempat
persembunyian yang baik sekali.
Ia membuka pintu lalu menuju ke pondok dan
mengangkut mayat Toan-beng-sat kedalam gua rahasia itu.
Setelah itu ia menekan alat rahasia untuk menutup pintu
gua.
Saat itu sudah petang hari, Dia kembali lagi kedalam
pondok. Besok pagi2 dia akan melanjutkan perjalanan.
Setelah makan sisa hidangan, dia segera duduk
bersemedhi memulangkan tenaga.
Kini dia sudah mendapat tenaga-sakti dari ketiga
durjana. Menurut keterangan Te ling-sat Tian Heng, setelah
menerima saluran tenaga-sakti mereka, maka tenaga-dalam
Cu Jiang tentu akan mendapat tambahan sama nilainya
dengan berlatih selama tenaga-dalam yang dimilikinya
semula, kemungkinan sekarang dia sudah memiliki tenagadalam
seperti orang yang berlatih selama tiga puluh tahun.
Dengan begitu tentulah dia mampu memainkan ilmu
pedang warisan dari mendiang ayahnya yaitu It-kiam-tuihun
atau Sebatang-pedang-mengejar nyawa.
Tempo hari ketika ia memainkan ilmu pedang warisan
ayahnya itu, pedangnya telah terlepas. Tetapi kini setelah
memiliki tenaga-dalam yang begitu kokoh, tentulah dia
takkan mengalami lagi hal seperti itu.
Dan dengan ilmu pedang ciptaan mendiang ayahnya
yang hebat itu, barulah dia mampu untuk menghadapi
musuhnya.
Berpikir sampai disitu, serentak terbayang pula wajah
ayah, ibu dan kedua adiknya serta paman Liok dan anak
perempuannya yang telah menderita kematian begitu
menyedihkan.
Dengan menahan dendam kesumat, dia mengangkat
kepala, meraba kutungan pedang Seng-kiam yang selalu
disimpan di dada bajunya. Gerahamnya bergemerutuk
keras. Hutang darah harus bayar darah, hutang jiwa ganti
jiwa. Sekaranglah saatnya ia akan muncul untuk mencari
balas.
Keesokan harinya dia segera berangkat tinggalkan
lembah itu. Walaupun kaki kirinya cacat tetapi berkat
tenaga-dalamnya telah mencapai tataran yang sedemikian
hebat maka waktu ia gunakan ilmu meringankan-tubuh
untuk lari, ternyata ringan dan cepat sekali. Kakinya yang
timpang sebelah itu, tak menjadi halangan.
Tiba diluar lembah ia berhenti sejenak.
Tengah dia merasakan kelonggaran hati dapat melihat
sinar matahari lagi tiba2 matanya tertumbuk pada suatu
pemandangan disebuah batu karang besar. Seketika
matanya mendelik dan bulu romanya meregang tegak.
Diatas batu karang itu berjajar empat biji batang kepala
manusia, gigi rompal bibir robek dan matanya melotot
keluar sehingga tampak menyeramkan sekali.
Melihat wajahnya, Cu Jiang serasa kenal mereka dan
ketika diseksamakan, menggigillah tubuhnya.
Keempat kepala manusia itu tak lain adalah keempat
durjana Kiu-te-sat yang diperintah ketuanya untuk menuju
vihara Siau-lim dan Bu-tong-san.
Ternyata keempat anggauta Kiu te-sat itupun mengalami
nasib yang sama. Yang membunuh mereka tentulah tokoh2
dari Sip-pat thian-mo. Dengan kematian keempat orang itu,
praktis segenap anggauta Kiu te-sat akan terhapus dari
dunia persilatan untuk selama-lamanya.
Mengapa pembunuhnya menaruhkan kepala keempat
durjana itu diatas batu karang? Apakah maksudnya ?
Yang jelas baginya, karena keempat durjana itu sudah
terbunuh musuh, maka Cu Jiang pun telah bebas dan
kesanggupannya untuk melakukan permintaan yang kedua
dari Te ling-sat Tian Heng.
Demikian akhir riwayat dari seorang durjana besar
macam To ling-sat. Dan kematian yang diterimanya
memang sesuai dengan dosa yang telah dilakukannya.
Demi kemanusian, Cu Jiangpun segera hendak
menanam keempat batang kepala itu. Ia membuat sebuah
lubang. Tetapi tiba2 terdengar suara tawa yang keras.
Cu Jiang terkejut. Ketika memandang ke muka, dari
balik batu besar itu telah muncul seorang manusia aneh
yang berjubah kuning emas, Tingginya lebih dari dua meter.
Mulutnya lebar dan matanya lebih banyak bagian hitam
dari yang putih, memancarkan sinar yang berkilat-kilat.
Cu Jiang menduga bahwa orang itu tentu salah seorang
tokoh dari kawanan Sip-pat-thian-mo. Apakah dia tokoh
Hui thian sin mo yang telah melukai Te-ling-sat Tian Heng
dan kedua durjana lainnya itu?
Habis tertawa, orang aneh itu segera menghamburkan
kata yang memekakkan telinga:
"Hai, budak kecil, engkau pernah apa dengan kawanan
Kiu-te sat itu?"
Cu Jiang berdebar-debar. "Bukan apa-apa!" sahutnya.
Manusia aneh itu kerutkan dahi. Rupanya dia muak juga
melihat wajah Cu Jiang yang buruk. Kemudian berkata
pula:
"Apakah engkau murid Kiu te-sat ?"
"Bukan!"
"Lalu siapakah engkau ini?"
"Setan keluyuran dalam dunia persilatan."
"Heh, heh, mengapa engkau hendak mengubur keempat
kepala manusia itu?"
“Itu demi peri-kemanusian, setiap orang tentu memiliki."
"Hm."
"Apakah anda yang membunuh ke empat orang itu?"
"Anggaplah begitu."
"Siapakah nama anda?"
"Engkau belum layak bertanya soal itu."
Cu Jiang mendengus. "Lalu apa maksud anda?"
Manusia aneh jubah emas itu memandang Cu Jiang
beberapa jenak lalu tertawa aneh:
"Aku telah khilaf tak dapat melihatmu. Sekarang telah
mencapai tingkat yang berisi. Mungkin memang benar,
dengan ilmu kepandaian cakar kucing yang dimiliki
kawanan Kiu-te-sat itu, tentu tak mampu menggembleng
bahan seperti dirimu.”
"Tetapi bagaimana?"
"Engkau tentu mempunyai hubungan dengan Kiu te sat."
"Kalau ya lalu bagaimana?"
"Kalau begitu engkau harus menyusul mereka. . . ."
Meluaplah kemarahan Cu Jiang. Dia memang sudah
berjanji sanggup membalaskan sakit hati Kiu te-sat. Dan
saat itu peluang yang baik. Tetapi diam2 ia cemas apakah
dia mampu menandingi kesaktian manusia aneh ini.
Sekali bertempur, manusia aneh dari sip pat-thian-mo itu
tentu takkan berhenti sebelum dapat membunuhnya.
"Maksud anda hendak membunuh habis-habisan?"
serunya.
Manusia aneh itu tertawa menyeringai, serunya:
"Itu sudah menjadi peraturanku."
Cu Jiang mengertek gigi.
"Dalam kalangan Sip-pat-thian-mo, anda menempati
kedudukan nomor berapa?"
Tampak manusia aneh itu agak terkesiap.
"Ho, budak kecil, kata-katamu itu makin menunjuk jelas
bahwa engkau mempunyai hubungan dengan Kiu-te-sat.
Kalau tidak bagaimana engkau tahu tentang diriku?"
"Apakah aku menyangkal?"
"Ho, engkau mengaku?"
"Aku juga tak mengaku!"
"Jawab pertanyaanku !"
"Pertanyaan apa?"
"Apalah Kiu te-sat itu masih ada yang hidup?"
"Aku takkan menjawab sebelum anda menyebut diri
anda dulu.”
Sekali menggeliat, manusia aneh itupun sudah melayang
di hadapan Cu Jiang.
"Engkau tak berhak untuk tawar menawar dengan aku."
Dengan tak gentar, Cu Jiang menyahut.
"Ah, masakan begitu..."
"Dalam dunia persilatan belum pernah ada orang yang
berani berkata begitu kepadaku ..."
"Anggaplah kali ini memang suatu pengecualian!"
"Ha, ha, ha . . . menggelikan! " dalam tertawa itu tiba2
terdengar suara ledakan keras. batu karang besar yang
mempunyai garis tengah setombak, sekali manusia aneh itu
gerakkan tangannya, segera meledak hancur lebur.
Diam-2 hati Cu Jiang menggigil tetapi dia tetap
mempertahankan keangkuhannya. Sedikit pun dia tak
berkedip mata.
Manusia aneh itu mengangguk-angguk.
"Bagus budak, menilik nyalimu yang begitu besar,
bolehlah aku memberi pengecualian. Dengarlah ! Apabila
engkau sanggup menerima tiga buah pukulanku, akan
kuberitahu namaku dan kulepaskan engkau pergi?"
Cu Jiangpun dengan angkuh menjawab: "Silahkan
mencobanya!"
Walaupun mulut mengatakan begitu tetapi dalam hati
sebenarnya Cu Jiang cemas juga. Ia tak tahu apakah
mampu menyambuti tiga buah pukulan momok itu.
Tetapi apa boleh buat. Dalam menghadapi saat seperti
ini, terpaksa dia harus menghadapi. Apabila memang
berbahaya, dia akan lari.
Sambil ayunkan tangannya, manusia aneh itu berseru:
"Awas, inilah pukulan pertama!" Seiring dengan
kata2nya, tangannyapun segera mendorong ke muka.
Sudah tentu Cu Jiang tak berani lengah. Dia kerahkan
tenaga-dalam dan menyambutnya.
Bum...
Terdengar letupan keras disusul dengan batu dan debu
yang beterbangan keempat penjuru. Kumandangnya jauh
menggema di seluruh lembah.
Cu Jiang terhuyung-huyung mundur sampai tiga
langkah. Darahnya kontan bergolak keras.
Manusia aneh itu masih tetap tegak di tempatnya. Hanya
kakinya makin melesak ke dalam tanah.
"Ha ha, ha sungguh menyenangkan sekali. Tak kira
kalau budak semacam engkau ternyata mampu menyambut
sebuah pukulanku!"
Setelah menenangkan semangatnya, Cu Jiang pun
menyahut:
"Masih ada dua buah pukulan lagi!"
Saat itu pikirannya sudah tak dapat menilai adakah
lawannya itu musuh dari Kiu-te-sat yang harus dia balas.
Dia menyadari bahwa kepandaiannya masih belum mampu
untuk menghadapi manusia aneh itu.
Sudah beruntung kalau dia tak mati dalam menerima
tiga buah pukulan manusia aneh itu. Jelas lawan memukul
dengan sederhana dan terang-terangan. Apabila dia
menggunakan jurus ilmu pukulan, bukankah dirinya sudah
hancur?
"Pukulan kedua! " tiba2 manusia aneh itu berseru pula.
Sebuah gelombang macam gunung rubuh segera
melanda. Cu Jiang segera menghimpun dua belas bagian
tenaga-dalamnya untuk menyambut.
Kembali terdengar ledakan yang lebih keras dari pukulan
pertama tadi. Cu Jiang terhuyung-huyung sampai tujuh
langkah ke belakang dan hampir rubuh. Dengan sekuat
tenaga, dia menelan darah yang hendak muntah dari
mulutnya.
Tetapi manusia aneh itupun juga tersurut ke belakang
sampai tiga langkah. Tubuhnya berguncang-guncang dua
kali.
Cu Jiang tahu bahwa dirinya telah menderita luka
dalam. Tetapi dia berusaha keras untuk menahan diri dan
tetap tak mengunjuk sikap lemah.
Manusia aneh itu memandang lekat2 pada Cu Jiang
sekian lama. Kemudian ia tertawa keras. Lama dan panjang
sekali.
"Sungguh tak tersangka, bahwa dalam dunia persilatan
jarang sekali orang yang mampu menerima dua buah
pukulanku, tetapi budak kecil ini benar-benar hebat. Hai.
budak, apakah kau masih sanggup menerima pukulanku
yang ketiga." serunya.
Dengan nada sarat, Cu Jiang menjawab:
"Tiga pukulan itu adalah anda sendiri yang
mengatakan!"
"Benar, tetapi aku bersedia untuk memberi pengecualian
kepadamu. "
"Mengapa?"
Daging muka yang menonjol dari manusia aneh itu
tampak berkerenyutan. Dan setelah matanya yang hitam itu
berkeliaran sejenak, dia berseru:
"Karena dengan pukulan yang ketiga itu engkau pasti
mati!"
Diam2 tergetar hati Cu Jiang, namun ia tetap bersikap
angkuh dan menjawab.
"Ah, belum tentu!"
"Budak, sepanjang hidupku baru engkaulah satu-satunya,
orang yang berani bersikap congkak kepadaku."
"Hm..." dengus Cu Jiang.
"Baik, sambutlah pukulanku yang ketiga ini!"
Serentak momok itu gerakkan kedua tangannya tetapi
tak terdengar mengeluarkan suara apa2. Sekalipun begitu
Cu Jiang tak berani memandang rendah.
Dia tahu bahwa saat itu dia tengah menghadapi ujian
mati atau hidup. Serentak diapun kerahkan seluruh tenagadalam
untuk membalas.
Adu tenaga-sakti yang berlangsung saat itu telah
menimbulkan ledakan yang amat dahsyat sekali.
Bagaikan dihantam dengan berpuluh-puluh godam, Cu
Jiang tertatih-tatih ke belakang. Pandang matanya gelap,
kepala berbinar-binar dan tulang belulangnya serasa lolos
dari sendi persambungan, kaki dan tangannya seperti patah
berantakan.
"Tidak, aku tak boleh rubuh. Tak boleh rubuh !" dengan
kekuatan yang sekeras baja ia berusaha sekuat tenaga untuk
mempertahankan diri supaya tidak rubuh.
Hanya dengan kemauan yang keras, akhirnya dapatlah ia
pertahankan tubuhnya tak sampai jatuh.
Rupanya manusia aneh baju kuning emas itu terkejut
sekali sehingga ia tercengang beberapa saat.
"Bagus! Bagus! Aku akan menetapi janjiku. Aku adalah
yang bergelar Gong Mo (Iblis Gila) yang menduduki urutan
ke 10 dan Sip pat thian-mo. Ingat baik2, budak. Ha, ha. ha,
ha..."
Dengan membawa tawa yang keras, iblis itu pun segera
melesat pergi.
"Benar, nama itu sesuai dengan tingkah lakunya. bahkan
nada tawanyapun seperti tawa orang gila."
Pada saat iblis gila itu lenyap, tubuh Cu Jiangpun
berguncang-guncang dan bluk... akhirnya dia rubuh dan
muntah darah.
"Aku . . . apakah akan mati ?" pikirnya. Benda
disekelilingnya tampak remang2, pikirannyapun mulai
kabur.
Dia ingin melakukan pernapasan untuk mengetahui
bagaimana keadaan jalan-darahnya tetapi tenaganya lemas
sekali.
"Habis riwayatku ..." pikirnya. Ia merasa tentu akan
mati.
Darah masih bercucuran dari mulut dan api
semangatnyapun makin padam.
Mati. Dia tak merasa penasaran karena dia telah mampu
menerima tiga pukulan dari salah seorang iblis Sip-patthian-
mo yang menggetarkan seluruh dunia persilatan.
Bahkan kawanan durjana Kiu-te-sat, tak seorang pun
yang hidup menerima pukulan iblis itu.
Tetapi kebanggaan itu tertumbuk dengan kenyataan yang
pahit karena dia belum dapat melaksanakan tugas
membalas sakit hati. Bahkan siapa musuhnya, pun dia tak
sempat menyelidiki lagi. Ah, tidakkah kematian itu suatu
kematian yang tak terelakannya ?
Samar2 dalam pandang matanya yang kabur itu dia
seperti melihat sesosok bayangan hitam muncul dan makin
lama makin bergerak mendekati ke tempatnya.
Dia berusaha untuk mengetahui siapakah pendatang itu
tetapi gagal. Pandang matanya seperti tertutup kabut. Dia
mencoba untuk berseru tetapi kerongkongannya serasa
tersumbat oleh suatu benda sehingga tak dapat bersuara
apa2.
Apakah pendatang itu si Iblis Gila yang datang lagi
hendak mengambil jiwanya ?
Hatinya tergetar dan kesadaran pikirannya-pun agak
terang, tetapi pandang matanya tetap masih pudar.
Tiba2 bayangan hitam itu seperti lenyap dari pandang
matanya.
Sebagai gantinya ia rasakan tubuhnya seperti diserang
berpuluh aliran angin gerakan jari. Aneh.
Kesadaran pikirannyapun makin terang dan tenaganya
juga makin pulih.
Cepat dia hendak menggeliatkan tubuh berpaling ke
belakang tetapi tiba2 terdengar suara seorang wanita berseru
melarangnya:
"Jangan bergerak dulu !"
Cu Jiang tersentak kaget. "Siapa engkau ?"
Wanita itu berkata pula:
"Aku hendak bertanya beberapa patah kata kepadamu..."
"Sukalah memberitahukan dulu nama anda."
"Kuharap engkau Jangan bertanya soal itu. Dengarkan,
bukankah engkau pernah melakukan pertolongan kepada
seorang pemuda baju putih untuk mengantarkan Piagam
Hitam ?"
Cu Jiang terkejut seperti dipagut ular. Soal itu hanya
puteri Jelita Ki Ing dan pelayannya yang tahu. Tetapi nada
suara wanita yang bertanya kepadanya itu, jelas bukan
suara si Jelita Ki Ing.
Juga bukan pelayannya yang bernama Siau Hui. Tetapi
mengapa dia tahu peristiwa itu? Mengapa dia menanyakan
soal itu? Ia sudah puluhan hari berada dalam lembah
rahasia tempat persembunyian kawanan Ku-te-sat,
mengapa orang itu dapat mencarinya kesitu ?
00odwo00
Jilid 6
Banyak sekali yang mengherankan pikirannya sehingga
ia lupa untuk memberi jawaban.
"Apakah engkau tak menjawab apa yang ku tanyakan ?"
wanita itu mengulang pertanyaannya.
"Dengar...."
"Jawablah, apakah betul begitu ?"
"Ya, tetapi . . ."
"Tetapi bagaimana ?"
"Bagaimana engkau tahu hal itu?"
"Apakah itu sukar ? Apakah kalau engkau bicara dengan
orang, tak boleh orang yang berada di dekat situ
mendengarkan ?"
“Oh, kiranya wanita itu telah mendengar percakapannya
dengan jelita Ki Ing tempo hari. Tetapi mengapa wanita itu
menanyakan hal itu ?"
"Mengapa engkau menanyakan soal itu itu ?" serentak
Cu Jiang bertanya.
"Jangan hiraukan hal itu. Kutanya lagi, bukankah
engkau mengatakan bahwa pemuda baju putih itu terluka
dan berada di gunung ?"
"Ya."
"Engkau bohong!" seru wanita itu dengan nada sedingin
es.
"Aku .... bohong?"
"Kini, orang telah menyelidiki sekitar tempat itu sampai
seratus Ii, tetapi tak menemukan suatu jejak apa2, engkau
telah merangkai suatu cerita bohong, rupanya tentu
terdapat sesuatu apa2 di situ. Harap engkau berkata
sebenarnya!"
"Apa yang kukatakan itu memang sungguh!"
"Jangan pura2. Bahwa engkau sanggup menerima tiga
buah pukulan dari Iblis Gila, jelas engkau lebih sakti dari
pemuda baju putih Cu Jiang ..."
Kejut Cu Jiang bukan alang kepalang.
"Engkau tahu.... dia bernama Cu Jiang?" serunya dengan
gemetar.
"Tentu saja tahu."
"Siapakah engkau ini?"
"Aku yang bertanya kepadamu, lekas jawab!"
"Aku tak mempunyai keterangan lain lagi kecuali seperti
itu."
"Kalau begitu engkau memang kepingin mati!"
Cu Jiang mengeluh dalam hati. Adakah dia harus
membuka rahasia dirinya sendiri? Tetapi siapakah
pendatang itu?
"Apakah hubungan anda dengan Cu Jiang?" akhirnya ia
mencari akal untuk menyelidiki.
Rupanya wanita tak dikenal itu marah. Dia melengking
tinggi:
"Jangan banyak bicara! Di mana dia?"
"Ditengah-tengah gunung Bu leng san."
"Bohong!"
"Ah, anda terlalu menghina orang."
"Hm, jika engkau tak mau mengatakan sejujurnya, akan
kusuruh engkau mati secara perlahan-lahan."
"Apa yang harus kukatakan?"
"Kutanya lagi. Apakah hubungan antara puteri cantik itu
dengan pemuda baju putih?"
"Soal itu tak dapat kuberitahukan."
"Apakah engkau benar2 menghendaki supaya aku turun
tangan?"
Nada dan irama kata2 wanita itu serentak mengingatkan
Cu Jiang pada seseorang.
"Bukankah anda ini Ang Nio-cu? " tiba2 ia berseru.
"Hai, mengapa engkau tahu?" wanita itu tersentak kaget.
Cu Jiang sendiri juga ikut terkejut, ia menyadari bahwa
pertanyaan itu salah sekali. Dengan begitu tanpa disadari
dia telah membuka rahasia dirinya sendiri.
Ang Nio-cu telah membuat makam untuk mengubur
jenasah ayah bunda dan kedua adiknya. Budi itu takkan
dilupakan Cu Jiang. Seharusnya saat itu dia mengaku saja
siapa sesungguhnya dirinya itu.
Tetapi tiba2 ia teringat bahwa bagaimana keadaan
wanita itu yang sebenarnya, ia belum tahu. Yang
diketahuinya, wanita itu disohorkan dunia persilatan
sebagai momok perempuan yang ganas, ia tak tahu
bagaimana hubungan Ang Nio cu dengan kedua orang
tuanya dahulu semasa kedua orang tuanya itu masih hidup.
Mengingat hal2 itu, diam2 menggigillah hati Cu Jiang. Ia
menyadari bahwa apabila sampai menimbulkan kemarahan
wanita itu, tentulah wanita itu akan bertindak
menghancurkan dirinya.
Mengingat pula bahwa wanita itu telah membuatkan
makam untuk kedua orang tuanya, ia duga Ang Nio-cu itu
tentu mempunyai maksud baik, jika ia sampai bertengkar
dengan Ang Nio-Cu bukankah berarti dia tak ingat pada
budi orang yang telah memberi kebaikan kepada kedua
orang tuanya?
"Andapun pernah membuatkan makam untuk Seng
kiam." akhirnya ia mendapat pikiran dengan mengajukan
pertanyaan.
Ternyata Ang Nio-cu memang makin terkejut.
"Engkau tahu juga hal itu. Engkau ini... sebenarnya
siapa?"
Sejenak berdiam, akhirnya Cu Jiang menemukan suatu
perjanjian.
"Bagaimana kalau kita sama2 membuka rahasia diri kita
masing-2 ?"
"Apa yang engkau kehendaki?"
"Anda menerangkan hubungan anda dengan Seng-kiam
dan akupun akan menerangkan peristiwa yang sebenarnya
kuketahui!"
"Jika aku tak mau mengatakan?"
"Kalau begitu kitapun sama2."
"Tetapi jiwamu saat ini berada dalam tanganku!"
"Aku sudah tak menghiraukan lagi soal mati hidup." kata
Cu Jiang dengan dingin.
"O, tak ada tanda-2 yang kulihat bahwa engkau memiliki
tekad begitu. Apakah engkau hendak mencoba tanganku?"
"Ah, masakan aku berani mengatakan begitu, bahkan
mendengar nama anda saja aku sudah mengagumi sekali."
Ang Nio-cu terdiam beberapa saat. Kemudian tertawa.
"Anggaplah engkau berhasil menawarkan perjanjian tadi.
Kali ini Ang Nio-cu akan melanggar pantangan. Aku hanya
mengagumi kepribadian Seng-kiam saja!"
"Tempat persembunyian Seng-kiam tiada orang yang
tahu. Bagaimana anda dapat tiba ditempat itu ?"
"Pemuda baju putih itu yang menunjukkan jalan sendiri
!"
"O, anda mengikutinya secara diam2."
"Engkau sudah terlalu banyak bertanya. Sekarang
giliranmu yang harus memberi keterangan."
Terlintas sesuatu dalam benak Cu Jiang dan dengan nada
gemetar dia berseru.
"Ijinkan aku bertanya sepatah lagi .. . hanya sepatah saja
. . ."
"Katakan !"
"Siapa pembunuh Seng-kiam sekeluarga?"
"Pertanyaan itu bukan pertanyaan yang sepele. Dan
perlu apa engkau menanyakan hal itu ?"
"Ada sebabnya."
"Tetapi sikapmu terhadap puteri jelita Itu, seharusnya
engkau tak mengajukan pertanyaan semacam itu ?"
"Dulu dan sekarang memang lain."
"Engkau tidak ketolol-tololan lagi?"
"Hai."
"Dengarkan. Aku terlambat datang setindak sehingga tak
menyaksikan peristiwa itu. Tetapi kelak tentu dapat
menyelidiki."
Cu Jiang mengeluh kecewa. Tetapi ucapan Ang Nio-cu
yang terakhir yang menyatakan bahwa kelak tentu dapat
menyelidiki, menimbulkan rasa terima kasihnya terhadap
Ang Nio-cu.
Setelah merenung sejenak, barulah dia berkata pula.
"Aku yang jelek ini tak lain adalah pemuda baju putih
Cu Jiang itu sendiri!"
Kejut Ang Nio cu lebih dari disambar petir.
"Apa . . ." serunya gemetar, " engkau .. . engkau ini ... .
Cu Jiang ....?"
Dengan mengertak gigi, Cu Jiang berkata dengan nada
sedih:
"Ya, memang benar."
"Engkau.... engkau.... meskipun nada suaramu memang
mirip tetapi siapakah yang mau percaya .... "
"Aku sendiri juga tak percaya. Tetapi aku harus
menerima kenyataan pahit ini!"
"Apakah engkau.... menggunakan ilmu merobah muka."
"Tidak!"
"Wajahmu .... kakimu ... . "
"Inilah musuh yang mencelakai diriku sampai begini! "
"Ai . . . . sungguh menyeramkan sekali."
Sungguh di luar dugaan bahwa seorang momok wanita
seperti Ang Nio cu ternyata dapat mengeluarkan kata2 yang
begitu penuh rasa kasihan dan simpati.
"Benar2 suatu hal yang sukar dipercaya."
Seketika ia teringat akan anggapan "Te-ling-sat Tian
Heng.”. kepala dari kawanan Kiu- te-sat yang mengatakan,
bahwa apa yang disebut aliran Putih dan Hitam dalam
dunia persilatan itu memang sukar ditentukan.
Ada tokoh yang dicap sebagai momok ganas, tetapi dia
juga seorang manusia yang mempunyai hati kebaikan,
masih ada setitik budi nuraninya yang baik.
Seperti dia sendiri, kelak kalau melakukan pembalasan
tentu akan mengadakan pembantaian hebat. Adakah
tindakannya itu kelak dapat dianggap sebagai tindakan
seorang dari aliran putih ataukah Hitam !
"Aku telah memberi keterangan, apakah anda
memerlukan petunjuk lagi?" akhirnya ia berkata kepada
Ang Nio-cu itu.
Dengan nada gemetar, Ang Nio-cu meminta penegasan:
"Cu Jiang, bagaimana sesungguhnya peristiwa itu
terjadi?"
"Ketika itu aku hendak pulang ke gunung. Kudapati
keluargaku sudah dibantai habis-habisan. Tiba2 aku
diserang oleh tiga manusia aneh lalu dilempar ke dalam
jurang sehingga tubuhku jadi cacad begini."
"Apakah engkau tahu siapa yang melakukan
penganiayaan itu?"
"Tidak tahu."
"Bagaimana wajah mereka?"
"Apabila bertemu tentu dapat mengenali."
"Bagaimana keadaan tubuhmu sekarang?"
Pertanyaan Ang Nio cu itu telah menyadarkan Cu Jiang,
dia tahu kalau menderita luka dalam yang parah. Apabila
terlambat mendapat pengobatan tentu jiwanya melayang.
Tetapi apa daya, tenaganya masih belum pulih dan tenaga
dalamnya masih tak dapat dihimpun. Jelas tak mungkin dia
akan melakukan pengerahan tenaga-dalam untuk
mengobati lukanya itu.
"Tenaga-murni sukar kuhimpun !"
"Begitu parah lukamu itu?"
"Kukira aku tentu. . . ."
"Pejamkan mata, jangan sekali-kali engkau mencuri lihat
aku. Akan kuperiksa lukamu !"
Berdebar keras hati Cu Jiang. Ia tahu wanita itu tak mau
dilihat orang. Ia merangkai kesimpulan bahwa wanita itu
tentu tak mengandung maksud buruk kepadanya. Kalau
memang hendak membunuhnya tentu saat itu dia dapat
melakukannya.
Akhirnya Cu Jiang memutuskan. Terpaksa ia menurut
perintah wanita aneh itu.
"Hm." ia mendesah lalu pejamkan mata.
Sesaat kemudian terasa dari belakangnya berhembus
angin lemah dan segera ia rasakan jalan darah tubuhnya
digerayangi oleh jari orang.
Beberapa saat kemudian tiba2 Ang Nio-cu mendesis
kaget.
"Hai ...!"
Cu Jiang terkejut dan tanpa disengaja membuka mata.
Sesosok bayangan merah cepat menghilang dari pandang
matanya.
"Hai, mengapa engkau membuka mata?" teriak Ang Niocu
dari jarak beberapa tombak jauhnya.
"Maaf, aku tak sengaja," Cu Jiang meminta maaf.
"Engkau telah terkena pukulan Thian-kong sat dari Iblis
Gila, dan pukulan itu telah menyusup kedalam jalan darah
tubuhmu ..."
"Thian-kong-sat?"
"Ya."
"Lalu bagaimana?"
"Saat ini aku tak berdaya menolongmu."
Cu Jiang tertawa hambar. "Aku pasrah saja."
"Tidak!" teriak Ang Nio-cu.
Cu Jiang terkesiap. Apa maksud kata2 Ang Nio-cu itu?
Dia tak tahu bagaimana harus berkata. Sesaat suasanapun
hening. Sebenarnya dia tak ingin mendapat bantuan orang
tetapi ia merasa ada beberapa hal yang harus ia nyatakan
kepada wanita itu.
"Atas budi kebaikan anda yang telah mengubur jenazah
ayah bunda dan kedua adikku, sebelum mau mati, aku
tentu akan membalas budi itu, " katanya.
"Hm, siapa yang mengharap belas budi dari engkau,"
desah wanita itu dengan nada dingin.
"Benar, tetapi kita masing2 mempunyai pendirian dan
kepentingan sendiri."
"Engkau tak boleh mati..."
Kembali Cu Jiang tergetar mendengar ucapan itu dan
serentak dia cepat menukas: "Aku tak boleh mati?"
"Tidak boleh !"
"Kenapa?"
"Akan kubiarkan supaya engkau hidup terus."
"Kenapa?"
"Jangan bertanya!"
Cu Jiang tutup mulut tetapi hatinya tetap heran atas
tingkah laku momok wanita yang begitu aneh.
Beberapa saat kemudian baru terdengar Ang Nio-cu
berkata lagi:
"Saat ini aku hanya dapat menolong untuk sementara
waktu, tingkat dapat hidup sampai setengah bulan . . ."
"Setengah bulan?"
"Apakah engkau mempunyai tempat persembunyian. ?"
Sejenak merenung. Cu Jiang berkata:
"Ada. Di dasar jurang, bekas tempat persembunyian Kiute-
sat.".
"Baiklah, engkau tunggu saja di sana sampai setengah
bulan."
"Menunggu anda datang lagi"
"Hm, aku hendak meminta obat ke suatu tempat, tetapi. .
."
"Bagaimana?"
"Biar bagaimana juga, aku harus berusaha supaya
engkau hidup."
Hati Cu Jiang tegang sekali.
"Mengapa engkau bersikap begitu kepadaku?" serunya
dengan gemetar.
"Kelak engkau tentu tahu sendiri. "
"Sebenarnya aku tak berani menerima budi kebaikan
anda yang sedemikian besar."
"Tutup mulut! Aku, Ang Nio-cu, akan melakukan apa
yang kuinginkan!"
Cu Jiang tertawa getir dan tak bicara apa2 lagi. Ia
merenungkan tindakan wanita itu mendirikan makam
untuk kedua orang tua dan adiknya. Karena sudah terlanjur
menerima budi orang, mengapa ia akan menolak lebih
lanjut.
"Pejamkan mata dan ngangakan mulutmu!" tiba2 Ang
Nio-cu berseru pula.
Cu Jiang menurut. Baru membuka mulut, beberapa butir
pil telah menyusup ke dalam kerongkongan dan turun
kedalam perut. Pil berbau harum sekali, entah apa
namanya.
Kemudian ia rasakan beberapa jalan darah pada
tubuhnya telah disengat oleh angin dari gerak tutukan jari.
"Sampai jumpa setengah bulan lagi!" Kata2 yang terakhir
itu terdengar jauh sekali. Jelas Ang Nio cu sudah lenyap.
Begitu masuk ke dalam perut, pil itu segera
memancarkan hawa hangat yang mengembang ke dada lalu
mengalir ke seluruh tubuh. Bagian2 yang sakitpun terasa
longgar tetapi tenaga murninya masih belum dapat
dihimpun.
Cu Jiang bangkit berdiri. Ada suatu perasaan hampa
yang membuatnya terlongong2.
Ia teringat akan peristiwa ketika dibawa Song bun sat
turun ke dasar jurang dan akhirnya mendapat saluran
tenaga sakti dari ketiga durjana Kiu te sat. Tetapi kini dia
kembali lagi seperti orang biasa, orang yang tak memiliki
ilmu silat.
Mengingat bahwa kaki kirinya timpang, diam2 ia ngeri
juga. Karena tak punya tempat tujuan terpaksa ia kembali
ke dalam gua persembunyian Kiu te sat untuk menunggu
Ang Nio cu yang akan datang setengah bulan lagi.
"Siapakah sebenarnya Ang Nio cu itu?" Bagaimana
wajahnya dan berapa usianya? Mengapa dia tak mau
mengunjukkan wajahnya ? Kemanakah dia hendak mencari
obat ?
Kesemuanya itu merupakan teka teki dalam pikiran Cu
Jiang. Teka teki yang tak dapat dipecahkannya.
Akhirnya ia gelengi kepala dan tersenyum hambar lalu
dengan tertatih-tatih ia mulai menuju ke lembah lagi.
"Berhenti !" sekonyong-konyong terdengar sebuah
bentakan bengis.
Cu Jiang terkejut dan hentikan langkah lalu berputar
tubuh.. . Ah. semangatnya serasa terbang ketika melihat
sesosok manusia aneh dalam jubah warna putih. Siapa lagi
orang itu kalau bukan Pek-poan koan atau hakim Putih dari
Gedung Hitam. Tak jauh dibelakangnya tampak dua orang
Pengawal Hitam.
Dengan menyeringai, Hakim Putih itu memandang Cu
Jiang lalu berseru sinis:
"Budak buruk, bagus ya, engkau berani mati menjual
nama pemilik Piagam Hitam dan memaksa aku supaya
melepaskan tawanan penting, sehingga aku harus
mempertanggung jawabkan. . ."
Cu Jiang menelan ludah dan membantah: "Apakah
Plakat Hitam itu palsu?"
"Tidak palsu ! Tetapi pemilik Piagam Hitam tak pernah
memberi perintah kepadamu supaya tawanan penting itu ku
lepaskan."
"Lalu anda hendak mengapakan diriku ?"
"Merobek-robek tubuhmu !"
Cu Jiang menggigit bibir kencang2 dan menyahut:
"Silahkan, aku takkan melawan."
Apabila tak terkena pukulan Thian-kong-sat dari Iblis
Gila. tentulah Cu Jiang mampu menghadapi hakim Putih
dari gerombolan Gedung Hitam.
Tetapi saat itu keadaan dirinya tak lebih dari seorang
pemuda biasa yang tak mengerti ilmu silat.
Ah, apabila Ang Nio-cu agak terlambat sedikit perginya
atau kalau dia tadi lekas2 turun ke lembah, mungkin akan
lain keadaannya.
Hakim Putih melesat maju dan dengan mudah sekali dia
sudah dapat mencengkeram tubuh Cu Jiang.
Kecuali meramkan mata menunggu kematian, Cu Jiang
tak dapat berbuat apa2 lagi.
Tiba2 salah seorang dari Pengawal Hitam itu berkata
kepada Hakim Putih:
"Lapor pada hu-hwat bahwa Bak-hu cu-jin (tuan dari
Piagam Hitam) telah memesan kami bahwa kita dilarang
mengganggu Jiwa anak ini."
Cu Jiang terkesiap. Diam2 ia merangkai dugaan siapa
pemilik Piagam Hitam itu.
Rasanya tak mungkin kalau dia itu si jelita Ki Ing,
karena tampaknya nona Itu tak dapat menguasai kawanan
Gedung Hitam. Kebanyakan tentulah ayah atau salah
seorang pamannya yang menjadi pemilik Piagam Hitam
atau yang dipertuan dari Gedung Hitam.
"Kapan dia mengatakan pesan itu ?" tanya Hakim Putih.
"Belum lama ini."
"Karena berani menjual nama pohcu (pemilik Gedung
Hitam) maka pohcu amat marah sekali dan memerintahkan
aku supaya membawa budak itu menghadap. Bukankah
begitu ?"
"Tetapi..."
"Pedomanku hanyalah titah dari pohcu !"
"Ya."
Hakim Putih menatap Cu Jiang lalu tertawa mengekeh:
"Budak cacad itu telah punah kepandaiannya, entah
siapa yang mencelakainya. Aku juga segan turun tangan !"
dia terus mengangkat tubuh Cu Jiang dan dilemparkan
kearah sebuah batu besar yang terpisah beberapa tombak
jauhnya.
Serasa terbanglah semangat Cu Jiang. Jelas dia tentu
hancur lebur apabila membentur batu besar itu. Tetapi dia
tak mampu berbuat apa2 lagi
"Ha, ha, ha, ha..."
Serempak Cu Jiang merasa seperti meluncur turun dan
disambut dalam tangan orang. Cepat ia berpaling dan
melihat wajah seorang Sastrawan pertengahan umur.
"Ih.,.." Hitam Putih mendesah hebat.
Setelah diletakkan di tanah barulah Cu Jiang dapat
mengetahui jelas bahwa yang menolong dirinya itu seorang
lelaki berdandan seperti seorang sasterawan, usianya
diantara empat puluhan tahun.
Wajahnya berseri-seri, ramah dan tamah sekali. Tetapi
ketika tertumbuk dengan pandang matanya, Cu Jiang
terkesiap. Mata sastrawan im memancar tajam sekali,
seperti ujung belati yang menusuk ulu hati.
Pada saat Cu Jiang hendak mengucapkan terima kasih
tetapi Hakim Putih sudah membuka mulut:
"Lim congkoan, engkau juga datang....!"
Mendengar nama Lim congkoan, semangat Cu Jiang
makin menurun. Jelas pendatang itu sekaum dengan Hakim
Putih.
Congkoan adalah kepala pengurus. Sudah tentu
pengurus dari Gedung Hitam.
Kata2 yang sudah di ambang bibir, terpaksa ditelan
kembali oleh Cu Jiang.
Sastrawan pertengahan umur yang disebut Lim
congkoan itu segera berkata:
"Karena tokoh dari Sip pat thian-mo telah muncul di
tempat ini, kita tak boleh main2."
Hakim Putih menunjuk pada Cu Jiang:
"Budak cacad ini ...."
"Untung aku cepat datang," tukas Lim congkoan, "Pohcu
kita menghendaki tawanan hidup agar dapat ditanya!"
Cu Jiang menahan napas. Kepala dari Gedung Hitam
hendak bertanya kepadanya sendiri. Ah, rupanya ia bakal
mempunyai kesempatan berhadapan dengan momok
misterius dalam dunia persilatan yang amat termasyhur itu.
"Apakah tahu tujuan dari gerombolan Sip-pat-thian-mo
yang muncul di sini?" tanya sasterawan pertengahan umur
itu pula.
Hakim Putih gelengkan kepala.
"Tidak."
"Pohcu memberi pesan kepadaku supaya disiarkan
kepada anggauta kita. Sedapat mungkin berusaha
menghindari jangan sampai bentrok dengan mereka!"
"Oh..."
"Apakah budak ini dapat kubawa?"
"Silahkan."
Sasterawan pertengahan umur itu segera mengangkat
tubuh Cu Jiang, mengempitnya dan terus dibawa lari.
Cu Jiang tak dapat berbuat apa2 kecuali pasrah nasib.
Apakah orang ini hendak membawanya ke hadapan kepala
Gedung Hitam?
Kalau benar, ah, sungguh kebetulan sekali, ia tentu
mempunyai kesempatan untuk menyelidiki, apakah
pembunuh dari orang tuanya itu memang gerombolan
Gedung Hitam.
Tetapi ketika teringat bahwa dirinya telah terkena racun
pukulan Thian-kong-sat dari si Iblis Gila dan pil pemberian
Ang Nio Cu itu hanya dapat mempertahankan jiwanya
setengah bulan saja, semangatnyapun dingin pula.
Pikir2, memang sudah nasibnya dia harus mati dan pil
dari Ang Nio Cu itu hanya menambah hutang budi pada
orang.
Sorenya mereka tiba di sebuah kota kecil. Sasterawan
setengah tua melepaskan Cu Jiang dan keduanya segera
berjalan masuk kedalam kota.
Sekalipun kota didaerah pegunungan, tetapi cukup ramai
perdagangannya. Sasterawan itu mengajak Cu Jiang masuk
kedalam sebuah rumah penginapan. Dia suruh jongos
membelikan seperangkat pakaian.
Setelah menyuruh Cu Jiang ganti pakaian, keduanya
segera menunjukkan perasaan lega. Cu Jiang tampak seperti
seorang sastrawan berwajah buruk. Tetapi dia tak peduli. Ia
duga sasterawan setengah tua itu tentu akan menghapus
perhatian orang.
Memang setiap orang yang berpapasan tentu akan
terkejut dan memandang wajah Cu Jiang dengan perasaan
seram tetapi pemuda itu kini sudah tak kaget lagi. Dia
tenang2 saja.
Setelah keluar dari kota, sastrawan setengah tua itu
mengepit tubuh Cu Jiang lagi untuk dibawanya lari.
"Engkoh kecil, siapakah namamu ?" tiba? orang itu
bertanya.
Cu Jiang tetap memberi jawaban seperti yang sudah2:
"Tiada she tiada nama, cukup panggil si Gok-Jin-Ji saja."
"Engkau tidak seperti pemuda desa!"
"Mengapa ?"
"Kulit dan sinar matamu, mengatakan engkau bukan
berasal dan keluarga sembarangan. Dan lagi engkau
mengerti ilmu silat, cerdas dan memiliki seperangkat bahan
tulang yang bagus sekali. Penyamaranmu, hanya dapat
mengelabui orang biasa."
"Uh.." Cu Jiang segan membantah,
"Maukah engkau Memberitahukan asal usul dirimu ?"
"Maaf. tak dapat."
"Engkau tahu apa yang bakal engkau hadapi dalam
perjalanan kali ini ?"
"Ah, paling2 mati."
"Engkau congkak sekali tetapi sikapmu itu tak berguna.
Tiada didunia ini orang yang sengaja hendak cari mati !"
Cu Jiang tersenyum getir. Dia hanya dapat hidup
setengah bulan, perlu apa2 harus banyak pikiran.
"Mungkin diriku lain," katanya.
Sasterawan setengah tua itu tertawa gelak2: "Apa sebab
engkau harus lain ?"
"Aku tak dapat mengatakan."
"Wajahmu tentu tidak begitu buruk sebelumnya."
"Tentu."
"Menilik bekas-bekasnya, tentu baru terjadi lebih kurang
setahun. . . ."
Cu Jiang tergetar hatinya. Mata sasterawan setengah tua
yang bernama Lim congkoan nu sungguh tajam sekali.
"Anggaplah begitu."
"Mengapa engkau kehilangan tenagamu ?"
"Belajar silat tidak sempurna."
"Siapa yang melukaimu ?"
Tiba2 Cu Jiang tertarik perhatiannya.
"Entah, siapa orang itu."
"Mengapa engkau berada di tengah gunung belantara?"
"Mengapa anda bertanya begitu melilit ?"
"Karena ingin tahu sejelas-jelasnya."
"Maaf, aku tak dapat menjawab."
"Engkoh kecil, kalau dihadapan pohcu engkau bersikap
begitu, jelas hendak cari mati . . ."
"Mengapa anda memperhatikan jiwaku?"
"Hm, baiklah. Sampai disini saja pembicaraan kita."
Menjelang malam mereka tiba disebuah kota kecil lagi.
Seperti yang lalu, Sasterawan itu melepaskan Cu Jiang lagi
berjalan sendiri.
"Malam ini terpaksa kita harus beristirahat dikota ini,"
katanya.
Mereka masuk kesebuah warung arak dan memesan
hidangan. Tetamu2 terkejut melihat wajah Cu Jiang yang
buruk.
"Songcu, ci-hwa, kwaci, kacang." tiba2 terdengar orang
menjajakan jualannya.
Cu Jiang seperti kenal dengan suara orang itu. Cepat ia
berpaling. Seorang wanita gemuk tengah membawa rantang
masuk ke dalam warung arak itu.
"Pergi ! Pergi! Kelain tempat saja, Jangan disini!" pemilik
warung arak menghalaunya.
Tetapi wanita gemuk itu tak menghiraukan dan tetap
berteriak-teriak menjajakan jualannya.
Tiba2 sasterawan setengah tua itu menggapainya . "Hai,
penjual liongcu, kemari !"
Wanita gemuk itu deliki mata kepada pemilik warung
lalu melangkah ketempat sasterawan setengah tua itu:
"Tuan mau beli apa ?"
Ketika melihat wanita penjual itu, serentak tergetarlah
hati Cu Jiang. Ia hendak menegurnya tetapi tiba2 tak jadi.
Perempuan gemuk itu tak lain adalah pemilik rumah
penginapan di Ei-jwan yang karena menolong dirinya,
rumah makan itu telah dibakar oleh orang Gedung Hitam.
Ternyata perempuan gemuk itu masih hidup. Tetapi
mengapa dia berada di kota situ?
Perempuan itu tentu tak kenal lagi kepadanya karena Cu
Jiang yang dulu, jauh berlainan dengan yang sekarang,
iapun tak berani menegurnya karena dikuatirkan
perempuan itu akan mengenali suaranya. Akibatnya tentu
berbahaya sekali.
Sambil menyerahkan sekeping perak hancur Lim
congkoan itu berkata: "Ambilkan untuk teman arak!"
"O, tuan .... tak punya kembalinya."
"Tak usah kembali, ambillah!"
"O, terima kasih. Kupujikan tuan banyak rejeki, panjang
umur," kata perempuan gemuk seraya membungkuskan
kwaci dan kacang lalu diletakkan di meja.
Hati Cu Jiang tak keruan rasanya. Dialah yang
menyebabkan perempuan itu sampai merana dan menjual
kacang. Tetapi karena Lim congkoan berada di situ,
terpaksa dia tak berani berkata apa2.
Entah bagaimana, perempuan gemuk itu berpaling ke
arah Cu Jiang.
"Aih . . .." ia menjerit kaget sehingga kacang dan
kwacinya tumpah keluar. Buru2 dia memberi hormat dan
menghaturkan maaf kepada Lim congkoan, lalu
membungkukkan lagi.
"Tak apa," kata Lim congkoan, "memang wajah
sahabatku ini sering mengejutkan orang !"
"Sudahlah, sudahlah," katanya kemudian, "cukup begitu
saja."
"Tetapi uang tuan tadi cukup untuk pembeli sepuluh
keranjang daganganku . ."
"Telah kukatakan," kata Lim congkoan, "ambillah !"
Kembali wanita gemuk itu menghaturkan terima kasih.
"Jika daganganmu ingin maju, engkau harus jualan ke
lain kota yang besar. Di kota pegunungan yang sekecil ini,
mana bisa tutup ongkos . . . ."
"Tuan, selain cari makan, sebenarnya aku sedang
mencari jejak seorang anakku yang hilang."
Cu Jiang terkejut. Ia tahu wanita gemuk itu tak punya
anak, bahkan belum bersuami. Tentulah dia hanya cari
alasan saja untuk mengetuk rasa kasihan orang.
"Oh, anakmu hilang ?" seru Lim congkoan.
"Benar tuan," kata wanita gemuk. "dia adalah puteraku
tunggal."
Melihat perempuan itu berlinang-linang airmata, diam2
Cu Jiang geli. Pandai benar wanita gemuk itu bersandiwara.
Jika tahu bahwa pembelinya itu adalah musuhnya, entah
bagaimana sikap wanita itu.
Menilik wanita gemuk itu memiliki ilmu silat yang
tinggi, tentulah ada maksudnya dia berjualan kacang itu.
Lim congkoan mencelupkan jari kedalam arak lalu
menulis beberapa huruf diatas meja.
Cu Jiang tak memperhatikan tulisan itu.
"Jika begitu engkau tentu orang yang bernasib malang ?"
seru Lim congkoan pula.
Wajah wanita gemuk itu berobah dan air matanyapun
segera bercucuran.
"Dengarkanlah, walaupun aku hidup menderita begini,
tetapi aku tak putus asa. Puteraku itu bukan seorang yang
berumur pendek, dia tentu masih hidup. Dia. .. apabila
sampai . . . tak dapat ku ketemukan orangnya .. . tetapi aku
tetap akan mencari tulangnya !"
Rupanya Lim congkoan merasa kasihan. Ia menghela
napas:
"Kasihan, semoga Tuhan memberkahi agar kalian
mamah dan anak dapat bertemu kembali!"
Diam2 Cu Jiang membatin bahwa Lim cong-koan itu
seorang yang baik hati, beda dengan kaum durjana
umumnya, Diam2 iapun memuji kepandaian wanita gemuk
bermain sandiwara.
Kemudian wanita gemuk itu mohon diri dan
menghaturkan terima kasih. Dia terus keluar. Rupanya dia
tak mau melanjutkan berjualan lagi.
Sejenak termangu, Lim congkoan berkata pula:
"Engkoh kecil, setelah makan kita lanjutkan perjalanan
lagi."
Karena tenaga kepandaiannya punah, maka walaupun
dikempit Lim congkoan selama menempuh perjalanan, dia
tetap merasa lelah.
"Apakah malam hari juga tetap berjalan?" tanyanya.
"Ya."
"Sebenarnya . . ."
"Tutup mulutmu!"
Terpaksa Cu Jiang tak berani berkata. Setelah makan
mereka berangkai lagi. Tiba di luar kota di tempat yang
sepi, seorang berpakaian hitam menuntun dua ekor kuda
menyambutnya.
Cu Jiang heran tetapi Lim congkoan sudah mendahului
berkata:
"Terpaksa engkau harus menderita lagi." Dia terus
menutuk jalan darah Cu Jiang dan anak muda itupun
segera pingsan. Ketika siuman dan membuka mata, ia
merasa dingin sekali dan sekelilingnyapun gelap gulita
sampai tak dapat melihat jari2 tangannya sendiri.
Ketika ia meraba-raba ternyata dirinya berada di atas
sebuah lantai batu.
"Tempat apakah ini?" pikirnya, "apakah aku sudah
berada di Gedung Hitam. Kalau benar, jelas tempat ini
tentu merupakan suatu kamar tahanan."
Dia terus duduk. Serempak pada saat itu terdengar suara
dari Lim congkoan berseru:
"Perhatikan, jawablah pertanyaan pohcu dengan terus
terang!"
Tergetar hati Cu Jiang. Ternyata dia memang berada
dalam Gedung Hitam. Tetapi mengapa tempatnya begitu
gelap sekali.
“Tempat apakah ini?" serunya.
"Tak boleh bertanya! " tukas Lim congkoan.
Menyusul sebuah suara yang menggetarkan hati segera
mengumandang: "Siapa namamu?"
Cu Jiang duga yang bertanya itu tentulah kepala dari
Gedung Hitam. Setelah meragu sejenak ia menyahut:
"Gok-jin-ji !"
"Dari keluarga mana?"
"Tak punya keluarga."
"Engkau kenal dengan pemilik Piagam Hitam?"
"Hanya... hanya kenal dengan seorang nona. Entah
apakah dia itu pemilik Piagam Hitam."
"Dari mana engkau mendapatkan Piagam Hitam itu ?"
"Menerima permintaan tolong orang untuk
menyerahkannya kepada nona itu."
"Siapa yang meminta tolong itu."
"Seorang pemuda yang menderita luka parah."
"Siapa namanya ?"
"Entah."
"Apakah bukan seorang pemuda pelajar yang cakap
tampangnya?"
Diam2 Cu Jiang tergetar hatinya, namun ia mengiakan.
"Apakah keteranganmu itu dengan sejujurnya ?"
"Ya."
"Luka apa yang diderita pemuda pelajar itu?"
"Soal itu . . . tak tahu. Tetapi tubuhnya berlumuran
darah, napas terengah seperti tak kuat hidup lagi."
Diam2 Cu Jiang heran mengapa orang itu bertanya
begitu melilit tentang hal itu.
Menilik tempo hari kepala Pengawal Hitam si Mata-sakti
Ong Tiong Ki Juga mendesaknya untuk menceritakan
tentang kedua orang tuanya, Cu Jiang makin keras
dugaannya bahwa yang bertanya kepadanya saat itu,
tentulah orang Gedung Hitam juga. Serentak timbullah
dendam kesumat hatinya.
"Aku tak boleh mati, aku harus hidup. Aku harus
menghimpaskan dendam ini !" hatinya menjerit-jerit.
Tetapi dapatkah dia hidup? Ang Nio Cu sedang berusaha
untuk mencarikan obat, tetapi kini dia jatuh kedalam
tangan orang Gedung Hitam lagi. Karena semua
kepandaiannya sudah lumpuh, tak mungkin dia dapat lolos.
Tetapi kalau harus mati di tangan orang2 Gedung
Hitam, dia sungguh penasaran sekali !
"Pertanyaan selesai !" tiba2 suara orang yang diduga Cu
Jiang sebagai kepala Gedung Hitam itu pun berseru pula.
"Mohon menurunkan perintah bagaimana harus
mengurusnya." seru sastrawan setengah tua atau Lim
congkoan tadi.
"Dia tahu terlalu banyak, seharusnya..."
Mendengar itu, tiba2 timbul pikiran Cu Jiang, cepat ia
berseru menukas:
"Pohcu, aku mempunyai perjanjian dengan pemilik
Piagam Hitam itu !"
"Apa ? Engkau mempunyai perjanjian dengan pemilik
Piagam Hitam ?"
"Ya."
"Perjanjian apa? "
"Penting sekali, aku harus bertemu dengan dia!"
"Heh, heh, heh ... mungkin engkau harus ingkar janji . .
."
"Ah, tiada guna pohcu akan menyusahkan diriku seorang
kerucuk yang tak bernama. "
"Jangan banyak mulut!"
Cu Jiang menggigit gigi, serunya: "Pemilik Piagam
Hitam itu baru puas hatinya apabila sudah bertemu lagi
dengan aku!"
"Kenapa?"
"Dia hendak menyuruh aku melakukan sebuah urusan. "
"Urusan apa?"
"Hendak suruh aku menunjukkan tempat jenasah
pemuda pelajar baju putih itu."
"Jenasah? Apakah engkau yakin pemuda itu tentu mati?"
"Waktu bertemu, kulihat keadaannya sudah tiada
harapan lagi."
"Oh."
Setelah diam beberapa jenak, terdengar ketua Gedung
Hitam berseru:
"Untuk sementara, tangguhkan dulu hukuman!"
Suasana hening pula.
Cu Jiang menghembus napas longgar. Saat itu hatinya
segelap ruangan yang ditempatinya.
Diam2 ia merenungkan letak Gedung Hitam itu. Setelah
meninggalkan kedai arak, lalu ditutuk jalan darahnya oleh
Lim congkoan, dia memang kehilangan arah.
Tetapi ia menarik kesimpulan bahwa orang yang
menyediakan kuda itu berada di sebelah timur kota, tak
mungkin akan kembali menuju kearah barat lagi.
Perjalanan Cu Jiang itu hanya menuju ketiga arah,
timur, timur laut atau tenggara.
Sejak dalam perjalanan itu hingga sekarang Cu Jiang
masih belum merasa lapar. Jelas perjalanan itu tentu tak
sampai seratus li. Dengan begitu dapatlah ditarik
kesimpulan bahwa tempat yang dia berada sekarang ini
tentulah di tengah2 gunung Keng san.
Demikian karena sudah beberapa saat berada di ruang
yang gelap itu, samar2 ia dapat melihat keadaan ruangan.
Empat penjuru dari ruang itu, terbuat dari dinding batu.
Tiada pintu atau jendelanya sehingga tak dapat diketahui
saat apakah sekarang itu. entah siang entah malam.
Sekonyong-konyong ia mendengar suara orang
mengerang pelahan. Ia terkejut. Masakah dalam ruang yang
gelap gulita itu masih terdapat lain orang lagi kecuali
dirinya ?
Ia kerahkan pandang matanya untuk meneliti sekeliling
tempat itu. Ah, hampir ia menjerit kaget ketika melihat dua
sosok hitam menggunduk di ujung ruangan.
Setelah menenangkan perasaannya, barulah pelahanlahan
beringsut mendekati.
Ternyata kedua sosok hitam itu dua orang lelaki yang
telentang di tanah. Cu Jiang berjongkok dan menegur
mereka:
"Siapakah kalian ini ?"
Sosok tubuh itu tampak bergeliat dan mengerang
kesakitan. Nadanya lemah, tentu menderita luka yang
parah.
"Siapa engkau ?" orang itu balas bertanya.
Cu Jiang tertegun.
"Seorang budak tak ternama, disebut Gok-Jin-ji,"
sahutnya.
"Budak tak ternama tak mungkin kemari...."
"Ah, lebih baik jangan kita berdebat. Siapakah
sesungguhnya sahabat ini ?"
"Aku Go-leng-cu !" t
Terkejut Cu Jiang bukan kepalang.
"Apa? Cianpwe ini salah seorang dari bu-lim samcu yang
bernama Go leng cu ?" serunya gemetar.
"Benar, sahabat kecil, menilik nada suaramu ... . engkau
tentu masih muda."
"Umurku belum mencapai 20 tahun."
"Oh . ."
"Dan yang seorang ini . . . ."
"Thian hian-cu !" sahut orang yang kedua,
Cu Jiang makin terperanjat. Paderi dan imam itu
merupakan tokoh yang menggetarkan dunia persilatan, baik
golongan Hitam maupun Putih.
Mereka berdua itu, berturut-turut hendak mengambilnya
sebagai murid. Mau menggemblengnya menjadi seorang
jago yang sakti. Tetapi mengapa mereka berdua berada
dalam penjara Gedung Hitam?
Iapun masih ingat bahwa Thian-hian cu pernah memberi
sebutir pil kepadanya. Ia hendak memberitahukan siapa
dirinya tetapi tiba2 pada lain saat, ia batalkan maksud itu.
Kalau sampai terdengar orang Gedung Hitam, akibatnya
tentu gawat.
"Bagaimana cianpwe berdua bisa berada disini?"
akhirnya ia mengajukan pertanyaan.
"Tempat apakah ini ?"
"Apa?" Cu Jiang terkejut, "apakah cianpwe tak tahu
tempat ini ?"
"Tidak tahu !"
"Tempat ini adalah ruang penjara dari Gedung Hitam !"
"Hai. Gedung Hitam . ."
"Maukah cianpwe memberitahu mengapa sampai berada
disini ?"
Setelah berdiam diri beberapa jenak, terdengar Go-lengcu
berkata dengan nada gemetar.
"Siau-sicu, apabila engkau dapat keluar dari tempat ini
dengan selamat, maukah engkau melakukan sebuah...
sebuah hal untukku ?"
"Boleh.... tetapi harapan untuk keluar dengan masih
bernyawa, tipis sekali."
"Itu soal lain. Tetapi apakah sicu mau meluluskan
permintaanku ?"
"Ya."
"Budha bersifat pemurah. Semoga memberkahi sicu
sehingga dapat keluar dari tempat ini tak kurang suatu apa
...."
"Cianpwe menghendaki aku melakukan apa?" tukas Cu
Jiang.
"Dengarkan penuturanku secara ringkas."
"Silahkan."
"Menurut kabar dalam dunia persilatan, aku dengan
Thian cu toyu ini, dalam pelawatan ke negeri Tayli, telah
berhasil mendapatkan pusaka dari negeri itu yang berupa
kitab Giok-kah-kim-keng. . ."
"Giok-kah-kim-keng ?"
"Ya, sebuah kitab pusaka yang berisi ilmu pelajaran
sakti."
"Lalu..."
"Padahal tidak. Tetapi kabar2 di dunia persilatan itu
begitu gencar dan karena itu kami telah tertimpa bahaya."
"Masakan cianpwe berdua yang berkepandaian begitu
sakti sampai . . . ."
"Kata Siau-sicu tadi aku mengerti. Yang turun tangan tak
lain adalah kepala Gedung Hitam sendiri..."
"Begitu hebatkah kepandaian dari kepala Gedung Hitam
itu?" Cu Jiang terkejut.
"Sukar diukur tingginya!"
"Apakah cianpwe maju berdua, masih . . . "
"Aku dan Thian-hian cu toyu memang susul menyusul
ditangkapnya."
Melihat Thian-hian cu tak bergerak, Cu Jiang bertanya.
"Mengapa Thian-hian cu cianpwe tak bergerak?"
"Omitohud!" seru paderi Go-leng cu dengan rawan,
"Thian hian toyu segera akan bebas!"
"Thian-hian cianpwe tiada harapan lagi?"
"Omitohud!"
"Ini . . . ini . . . "
"Tenaga kepandaianku dan Thian hian toyu telah punah
dan kini menderita siksa yang menyedihkan sekali . . ."
Dengan mengertak gigi Cu Jiang berseru: "Jika aku tak
mati, kelak tentu akan mencuci Gedung Hitam dengan air
darah . . . . "
Kemudian dengan gemetar Cu Jiang menegaskan pula:
"Soal apakah yang cianpwe hendak suruh aku
mengerjakan itu ?"
Terdiam sejenak, Go-leng-cu berkata dengan nada
tenang:
"Jika dapat ke luar dengan selamat dari tempat ini, harap
kau pergi mencari Gong gong-cu .. . "
"Ketua dari Bu lim Sam cu?"
"Benar. Walaupun kami berdua diagungkan orang sejajar
dengan Gong-gong sicu. tetapi dalam hal kepandaian dan
siasat, semua itulah jauh sekali dengan Gong-gong sicu.
Katakan kepadanya, bahwa karena keliru langkah telah
melakukan kesalahan besar. Dan sekarang harus menerima
akibatnya."
"Kesalahan apakah yang cianpwe lakukan itu?"
"Salah ucap. Gong-gong sicu pernah menasehati ..."
"Ah, mengapa cianpwe terlalu menyesali diri cianpwe
sendiri!"
“Harap dengarkan cerita dulu. Tanpa saling mengajak,
aku dan Thian hian toyu, telah menemukan seorang tunas
yang mempunyai tulang luar biasa bagusnya. "
"Oh..."
"Seorang pelajar berpakaian putih."
Mendengar itu tergetarlah hati Cu Jiang. Bukankah yang
dimaksudkan itu dirinya sendiri.
"Seorang pelajar baju putih?" ia menegas.
"Ya."
"Siapa namanya?"
"Mungkin sama orangnya dengan yang sicu bicarakan
dengan ketua Gedung Hitam tadi."
"Jika demikian pelajar baju putih itu adalah pewaris dari
cianpwe berdua?"
"Tidak, dia belum meluluskan. Tetapi bahan tulang dari
pemuda itu memang jarang sekali terdapat di dunia. "
"Tetapi dia kemungkinan besar sudah mati."
"Tidak!"
"Cianpwe maksudkan..."
"Sedikit-dikit aku mengerti tentang ilmu ramal, Ku lihat
muka pemuda itu tidak menunjukkan dia berumur pendek,
tentu akan selamat dari bahaya!"
Diam2 Cu Jiang terkejut, Tetapi dia kagum atas ilmu
ramal padri itu.
"Apakah cianpwe dapat memastikan?" ia menegas.
"Tentu." kata Go-leng-cu, "kaum Budha pantang
berdusta. "
"Cianpwe menghendaki apalagi kecuali pesan itu?"
"Supaya Gong-gong sicu berusaha sekuat tenaga untuk
mencari pelajar baju putih itu sampai ketemu, agar soal
mula dapat dihimpaskan."
"Apakah soal yang mula itu?" Cu Jiang meminta
keterangan.
"Maaf, aku tak dapat mengatakan. Tetapi maukah sicu
meluluskan permintaanku itu?"
"Apabila aku dapat melihat sinar matahari lagi, aku
bersumpah akan melaksanakan pesan cianpwe."
"Omitohud, lebih dulu aku menghaturkan terima kasih
kepada sicu."
"Harap cianpwe jangan mengatakan begitu, anggap saja
soal itu soal kecil, hanya saja..."
"Bagaimana?"
Cu Jiang menghela napas, ujarnya: "Dikuatirkan sukar
untuk melaksanakan janjiku itu."
“Mendengar nada kata2 kepala Gedung Hitam tadi,
rupanya dia membatalkan maksudnya hendak membunuh
sicu . . ."
"Bukan itu yang kumaksudkan . . . . "
"Lalu apa?"
"Apa yang Sip pat-thian-mo berikan kepadaku ...."
"Apa? Engkau mengatakan Sip pat-thian-mo..."
"Ya, aku telah terkena pukulan Thian-kong-sat dari Iblis
Gila dan hanya dapat hidup belasan hari lagi."
"Ah Thian-kong-sat .. . siau-sicu, apabila engkau cepat2
dapat menemukan Gong-gong sicu, dia tentu dapat
menolongmu. Bahkan engkau tidak minta tolong, pun dia
juga akan menolongmu."
Dunia begini luas, bagaimana aku dapat mencarinya?
Dan lagi apakah aku mampu keluar dari penjara Gedung
Hitam ini, ini, Juga masih tanda tanya . . .
Kemudian cepat ia alihkan pada persoalan lain,
tanyanya:
"Aku hendak mohon tanya sebuah hal."
"Apa ?"
"Tahukah cianpwe siapa yang menyerahkan Pending
Kumala sebagai lambang kepercayaan itu?"
"Soal itu aku tak tahu."
Tiba2 dari ujung ruang terdengar Lim congkoan berseru:
"Gok-Jin-Ji, kemarilah!"
Cu Jiang segera menghampiri. Tetapi tak dapat melihat
barang seorangpun juga. Suara itu tentu dipancarkan
melalui alat istimewa.
"Ada apa ?" seru Cu Jiang. "Aku hendak bertanya
kepadamu."
"Apakah keteranganku masih kurang jelas?"
"Tidak. Yang akan kutanyakan saat ini adalah soal
pribadi."
"Pribadi?"
"Ya."
"Tanyalah."
"Pelajar baju putih itu apakah benar2 mengalami nasib
begitu?"
"Benar," sahut Cu Jiang sambil mengertek gigi.
"Engkau memastikan dia tentu mati ditengah gunung itu
?"
"Besar kemungkinannya."
"Apakah pemilik Piagam Hitam itu sudah mengadakan
perjanjian dengan engkau untuk mencari jenasah pelajar itu
?"
"Ya."
"Apa hubungan antara pemilik Piagam Hitam dengan
pelajar baju putih itu ?"
"Entah."
"Sepertinya engkau tidak bicara dengan sungguh2."
"Percaya atau tidak, terserah kepadamu"
Setelah diam beberapa saat, kembali Lim congkoan
berkata pula.
"Apakah engkau tahu tentang diri pemilik Piagam Hitam
itu ?"
Sejenak meragu, Cu Jiang menjawab: "Tidak tahu,
apakah anda dapat memberitahu ?"
"Tidak dapat."
"Sungguh tak nyana ucapan anda ini . . "
“Jika bukan karena pemegang Piagam Hitam itu, saat ini
engkau sudah mati, tahu !"
"Ya, aku memang sudah menduga begitu."
"Dimana engkau berjanji hendak bertemu dengan
Pemilik Piagam Hitam itu ?"
"Ditengah lembah dimana aku telah anda tangkap itu."
"Kapan pertemuan itu ?"
"Berapa lama aku ditangkap ini ?"
"Dua hari."
"Jika begitu masih ada tiga belas hari. Tetapi mungkin
dia akan datang lebih pagi. Kami berjanji akan tunggu
dalam setengah bulan lagi."
"Apakah engkau dapat menerangkan lebih jelas tentang
keadaan pelajar baju putih itu?"
Cu Jiang mendapat kesan bahwa pihak Gedung Hitam
itu menaruh perhatian besar sekali terhadap dirinya.
"Apa yang kuketahui hanya begitu," akhirnya ia
menjawab.
"Atas nama peribadi kuminta engkau memberi
keterangan tetapi engkau tetap tak mau memberi
keterangan."
"Sama saja."
"Kalau kusertakan dengan perjanjian."
Tergerak hati Cu Jiang mendengar kata2 itu. Ia heran
mengapa pelajar setengah tua yang disebut sebagai Lim
congkoan itu, begitu menaruh perhatian atas dirinya ketika
masih belum cacad seperti saat itu ?
Orang itu menjabat sebagai congkoan dari Gedung
Hitam, sudah tentu mempunyai hubungan baik dengan
kepala Gedung Hitam dan tentu akan membela kepentingan
majikannya. Mengapa dia hendak mengajukan perjanjian?
Ah, tentulah suatu siasat saja. Pikir Cu Jiang.
Juga ia teringat bahwa betapapun halnya dia tak harus
memberitahu tentang keadaan dirinya.
Tetapi karena orang itu sudah bicara, ingin juga ia
mengetahui lebih lanjut, apa sebenarnya maksudnya.
"Perjanjian bagaimana," serunya.
"Apakah engkau mengharap hidup?"
"Sudah tentu, setiap manusia tentu mengharap hidup,"
teriak Cu Jiang.
"Bagaimana kalau soal itu dijadikan perjanjiannya ?"
Cu Jiang menduga bahwa orang itu hanya mengumbar
janji2 manis saja. Sekalipun dengan janji2 yang lebih muluk
lagi, tak perlu kiranya dia mempertimbangkannya.
Andaikata ia menerima pun orang itu secara diam2 tentu
akan mengikuti perjalanannya.
Lain halnya apabila ditengah jalan bertemu dengan Ang
Nio Cu, tentulah dapat menolong nya.
"Ah, sayang..." Ia sengaja menghela napas.
"Sayang apa ?"
"Aku tak dapat menerima perjanjian itu ?"
"Kenapa ?"
"Karena aku tak dapat memutar balikkan kenyataan."
"Gok jin-ji perjanjian itu tidak mengikatmu dan bukan
siasat kosong . ."
"Mungkin."
"Pasti, tidak mungkin lagi. Aku akan menjamin demi
kehormatan !"
Diam2 Cu Jiang geli. Kehormatannya untuk jaminan?
Anak kecilpun tahu kalau itu hanya membual saja.
"Kuserahkan saja nasibku kepada Thian. Apalagi yang
kuketahui memang hanya begitu."
"Apa engkau tak setuju untuk tukar menukar ?"
"Tidak setuju."
"Tahukah engkau bahwa setelah engkau dilepas untuk
bertemu dengan pemilik Piagam Hitam, orang yang
ditugaskan untuk mengikuti jejakmu tak lain aku sendiri ?"
"Oh!"
"Mati hidupmu adalah ditanganku."
Karena dengan cara halus gagal, orang itu mulai
menggunakan dengan kekerasan. Cu Jiang menghela napas.
"Walaupun aku mempunyai seratus kesempatan untuk
hidup, tetapi aku tetap tak mau memenuhi permintaanmu."
"Baik, pembicaraan kita sampai disini dulu. Mudahmudahan
engkau mau mempertimbangkan lagi."
Suara itupun segera lenyap.
Cu Jiang masih duduk bersandar pada dinding ruang.
Dendam dan kebencian itu cepat melalu lalang dalam
benaknya sehingga darahnya bergelora keras dan hampir
saja ia tak dapat menguasai diri.
Dari segala segi kesimpulan, ia mendapat kesan bahwa
Gedung Hitam itulah musuhnya. Kini diapun sudah
menjadi tawanan musuh. Tenaganya lumpuh. Ia tak
berdaya sama sekali.
Harapannya hanya bergantung dengan Ang Nio Cu.
Tetapi itupun belum pasti kalau Ang Nio Cu akan berhasil
membawa obat untuknya.
Tiba2 Go leng-cu buka suara dari ujung ruang dimuka.
Suaranya masih lemah.
"Siau-sicu siapakah yang bicara tadi ?"
"Congkoan dari Gedung Hitam, orang she Lim."
"Siau sicu . . . mengapa tak . . . mau menggunakan
kesempatan itu ?"
"Siau-sicu, Thian hian toyu sudah bebas."
Cu Jiang terkejut sehingga tubuhnya menggigil.
"Thian-hian cianpwe sudah meninggal ?"
"Ya. saat ini."
Walaupun hal itu sudah dapat diduga, tetapi kematian
yang begitu menyedihkan dari seorang tokoh yang
termasyhur, benar2 menimbulkan kemarahan hati.
Cu Jiang segera berlutut memberi hormat. Karena tempo
hari mendiang imam itu pernah menolongnya. Jika tiada
pertolongan Thian-hian-cu, kemungkinan dia tentu sudah
mati ditangan Hakim Hijau.
Suasana dalam ruang penerangan itu sungguh
menyedihkan sekali. Seorang yang sudah setengah mati dan
seorang yang sudah mati.
Karena tak dapat menahan kemarahannya, Cu Jiang
segera menghantam dinding tembok.
"Mati ....!" teriaknya kalap.
Teriakannya itu menimbulkan kumandang yang keras.
Seketika terdengar bunyi berderak-derak dan sesaat
kemudian dinding tampak merekah sebuah pintu.
Dalam sinar remang2 yang memancar ke bawah,
dapatlah Cu Jiang melihat sebuah tangga titian yang
menjulang keatas.
Tak lama dua orang Pengawal Hitam turun ke ruang itu.
"Kenapa berteriak!" seru salah seorang.
"Ada orang mati !"
"Siapa ?"
"Imam ini."
Seorang baju hitam itu segera menghampiri dan
memeriksa pernapasan Thian-hian-cu. Kemudian berseru
dingin:
"Makin lekas mati makin bebas. Perlu apa berteriakteriak
tak keruan ? Go Sam, Lekas lapor pada congkoan !"
Kawannya segera naik keatas dan lama sastrawan
setengah tua atau Lim congkoan itupun datang. Setelah
memeriksa tubuh Thian-hian-cu, Lim congkoan berkata
kepada Go-leng-cu:
"Paderi, engkau tahu sendiri. Jika orang sudah tak
bernyawa walaupun mendapat benda pusaka yang
bagaimana hebatnya pun tak berguna. Mengapa engkau tak
mau menyerahkan kitab pusaka Giok-kah-kim-keng dan
segera engkau akan bebas melihat langit yang biru lagi ?"
Dengan lemah Go-leng-cu menghela napas.
"Pinceng telah mengatakan dengan sejujurnya.
Bagaimana harus menyerahkan kitab Giok kah-kim-keng
itu ?"
Sasterawan setengah tua atau Lim cong-koan tak mau
bicara lebih lanjut.
"Angkut keluar dan kubur !" perintahnya kepada kedua
orang baju hitam.
Kedua orang itu segera mengiakan. Yang bernama Go
Sam membawa sebuah karung besar. Jenasah Thian-hiancu
segera dimasukkan kedalam karung itu.
Melihat tindakan yang tak kenal perikemanusian itu, Cu
Jiang menggeram.
"Apakah sama sekali tak disediakan peti mati ?"
Go Sam tertawa mengekeh.
"Cui-pat koay, ini saja masih enak. Besok kalau engkau
yang mati, karungpun takkan kusediakan."
Kemudian dia terus berkata kepada kawannya:
"The Put Ko, kita isi perut dulu baru nanti bekerja lagi,
bagaimana ?"
Yang dipanggil The Put Ko mengiakan.
Demikian keduanya segara keluar lagi dan tinggalkan
karung itu didalam ruang.
Tiba2 mata Go-leng cu berkilat-kilat terang dan terus
menggeliat duduk.
"Nak, engkau bakal tertolong!"
Cu Jiang terkesiap, serunya : "Bagaimana cianpwee?"
"Hud cou benar2 melimpahkan berkah. Thian telah
memberi kesempatan..."
"Aku tak mengerti maksud cianpwe."
"Ini merupakan cara bergulat dengan maut."
"Tetapi semua itu tergantung dari keputusanmu...."
"Bagaimanakah caranya?" akhirnya Cu Jiang mulai
tertarik juga.
"Engkau tukar tempat dengan Thian-hian-cu toyu !"
Cu Jiang terbeliak beberapa saat. Kemudian baru dia
dapat mengerti rencana paderi Go-leng-cu itu.
"Maksud cianpwe supaya aku yang masuk kedalam
karung itu dan jenazah Thian hian-cianpwe dipindah keluar
?"
"Tepat !"
"Tetapi hal itu bukankah berlaku tak hormat kepada
yang mati ?"
"Ah, tak perlu mengurusi soal tata cara begitu. Yang
penting engkau dapat lolos dari sini."
Cu Jiang tegang sekali!
"Tetapi bagaimana dapat mengelabuhi mereka?"
"Ruang penjara ini gelap sekali. Pandang matapun tak
dapat jelas. Dan merekapun tentu tak mengira bakal terjadi
peristiwa semacam begitu. Lekas engkau lepaskan baju dan
pakaikan kepada Thian-hian toyu lalu sandarkan dia pada
dinding ditempat itu. Mereka tentu akan mengira engkau
sebagai Thian-hian cu dan Thian-hian-cu dikira sebagai
engkau."
"Ini..."
"Melepaskan kesempatan baik ini. akibatnya tentu sangat
disayangkan."
"Tetapi kalau dikubur, tentulah aku tak dapat keluar lagi.
Bagaimana cianpwe hendak suruh aku berbuat begitu. . ..
Apakah cianpwe masih punya lain cara lagi ?"
"Kesempatan mati dan hidup sama2 lima puluh persen.
Apakah engkau bersedia untuk melakukan cara yang
berbahaya itu ?"
"Daripada menunggu mati dijagal, lebih baik aku
berjuang menentang maut. Ya, aku bersedia !"
Go-leng-cu mengangguk: "Baik, jangan membuang
waktu yang berharga. Nak, dengarkan . . . ."
"Silahkan, cianpwe."
"Ketika berkelana ke negeri Thian-tok (India) dahulu
pinceng bertemu dengan seorang sakti yang memberi
pinceng sebutir pil Kui-si-wan . . . ."
"Kui-si-wan ?" Cu Jiang menegas. Kui-si-wan artinya pil
Napas-kura2.
"Ya, mungkin engkau belum pernah mendengar. Pil itu
tetap kusimpan, belum pernah kugunakan. Apabila minum
pil itu akan dapat menutup napas sampai dua belas jam.
Sepintas pandang tampak seperti orang mati. Dua belas jam
kemudian, akan hidup lagi seperti sediakala . . ."
"O, yang kudengar hanya ilmu Kui-si-tay-hwat (ilmu
pernapasan kura2), tetapi belum pernah . . .."
"Sudahlah, waktu amat berharga sekali!" cepat Go lengcu
menukas.
"Tetapi tenagaku sudah punah, kalau sampai dikubur,
bagaimana dapat keluar ?"
"Itulah yang kumaksud menempuh bahaya. Menurut
perhitunganku, mereka tentu tak membuat liang yang
dalam untuk menguburmu. Mungkin hanya ditimbuni
dengan tanah dan semak. Hal itu tentu mudah engkau
dorong keluar. Bahkan kemungkinan mereka mungkin
hanya melempar ke semak belantara saja. Itu lebih baik
lagi!"
Paderi Go - leng - cu segera mengeluarkan sebutir pil
sebesar buah kelengkeng.
"Segala hal itu sudah digariskan kodrat, minumlah!"
Gemetar tangan Cu Jiang ketika menyambuti pil itu.
Kali ini dia benar2 mempertaruhkan nyawa. Mati atau
hidup tergantung pada nasib. Kalau orang Gedung Hitam
itu mengubur secara sembarangan saja, dia tentu dapat ke
luar. Tetapi kalau mereka mengubur dalam tanah yang
dalam apalagi kalau ditimbuni batu, tentulah dia mati...
"Pending Kumala hijau bukankah si pemilik Piagam
Hitam seperti yang engkau katakan tadi?"
"Ya."
"Oh. apakah engkau bukan..."
"Aku tak dapat memastikan apakah akan dapat bertemu
dengan orang yang kumaksudkan itu!" cepat Cu Jiang
menukas.
Go leng-cu merenung sejenak lalu berkata pula:
"Pinceng belum pernah mendengar tentang apa yang
disebut pemilik Piagam Hitam. . . ."
Tiba2 dari atas terdengar bunyi berderak-derak.
"Jangan bicara, penjaga datang mengantar makanan!"
cepat Go leng cu berkata.
Sebuah lubang merekah dan memancarlah sinar remang
dari bawah. Dari lubang di atas langit ruangan itu, dapatlah
diketahui bahwa dinding tembok langit2 ruangan tebalnya
lebih kurang dari satu meter. Sekalipun memiliki
kepandaian yang bagaimanapun sakti, tetap tak mungkin
mampu menjebolkan penjara itu.
Dan pada saat sinar itu mencurah ke bawah, Cu Jiang
menggunakan kesempatan untuk memandang ke arah Go
Leng cu. Ah... hampir ia menjerit.
Ternyata keadaan paderi Go leng-cu itu sudah berobah
sama sekali. Sepertiga mirip manusia, tujuh bagian seperti
setan. Jika tadi tak mengadakan percakapan tentulah dia
takkan mengenali lagi paderi itu sebagai Go-leng cu.
Memandang ke arah Thian-hian-cu. Cu Jiang makin
ngeri lagi.
Imam itu yang termasyhur itu kini sama dengan mayat
orang jorok yang terlantar menggeletak di tepi jalan.
Dari jubahnya yang penuh berlumuran darah dapatlah
diduga bahwa imam itu tentu menderita siksaan yang luar
biasa hebatnya.
Saat itu dari lubang di atas, meluncur sebuah rantang,
berisi tiga buah bakpau dan sebotol air.
Go-leng cu mengambil bakpau dan botol berisi air itu
lalu menaruhkan botol kemarin yang sudah kosong, tali lalu
ditarik ke atas lagi. Lubang tertutup dan keadaan ruang itu
gelap gulita pula.
"Benar-benar sebuah neraka! " teriak Cu Jiang.
Go-leng-cu hanya menghela napas dan menyuruh Cu
Jiang makan.
Walaupun dengan menahan perasaan geram, Cu Jiang
menurut juga. Diam2 ia berpikir.
Dengan minum pil dari Ang Nio Cu, dia hanya dapat
bertahan sampai lima belas hari. Tetapi dia telah
membohongi pimpinan Gedung Hitam, mengatakan kalau
mempunyai janji dengan pemilik Piagam Hitam.
Nanti apabila ia meninggalkannya, mereka tentu diamdiam
akan mengikuti. Dan lekas mengetahui bahwa hal itu
hanya bualan kosong yang dibuat2nya, tentulah orang
Gedung Hitam akan membunuhnya.
Dari pada mati konyol, lebih baik ia nekad berjudi
dengan maut. Apabila berhasil ia tetap hidup. Tetapi
apabila gagal dia pasti mati. Tetapi betapapun hal itu masih
mengandung suatu kemungkinan untuk dapat hidup.
"Baiklah, aku bersedia untuk menghadapi bahaya ini, "
akhirnya ia memutuskan.
"Harap jangan lupa pesan pinceng." kata Go leng cu. .
"Tentu takkan lupa!" kata Cu Jiang Bahkan saat itu
sebenarnya dia hendak mengaku siapa dirinya tetapi tak
jadi. Ia kuatir tembok disitu mempunyai telinga. Kalau
sampai terdengar orang, tentu habislah riwayatnya.
"Nak, lekaslah bertindak, " Go leng-cu mendesak.
Cu Jiang segera bekerja. Ia mengeluarkan jenasah Thian
hian-cu dari karung, dipindah ke ujung ruang, pakaiannya
dibuka dan diganti dengan pakaiannya sendiri. Ia memakai
jubah imam itu. Setelah memberi hormat tiga kali, ia
kembali ke dekat Go-leng-cu.
"Cianpwe, sudah beres semua! "
"Lekas masuk ke dalam karung, " kata Go-leng-cu.
Tiba2 Cu Jiang teringat sesuatu.
"Cianpwe, soal ini kurang pantas . . . ."
"Mengapa? " Go leng-cu terkejut.
"Karena masih mempunyai perjanjian dengan pemilik
Piagam Hitam, aku masih mempunyai kesempatan hidup.
Tetapi cianpwe sendiri tak punya kesempatan apa2 lagi.
Seharusnya cianpwelah yang menggantikan tempat Thianhian
cianpwe ini agar dapat lolos dari neraka di sini!"
"Ah, tak mungkin . . . . " kata Go leng-cu.
"Mengapa?"
"Kesatu, karena pinceng telah berbuat suatu kesalahan.
Tiada muka lagi terhadap sesama ksatrya didunia. Kedua,
ilmu kepandaian pinceng sudah punah, menderita siksaan
hebat sehingga tak dapat bergerak sama sekali. Ketiga,
sebagai salah seorang dari Bu-lim Sam cu, telah kena
diperangkap oleh seorang kerucuk, kemana lagi mukaku
harus kusembunyikan . . ."
"Apabila cianpwe dapat lolos dari bahaya disini,
bukankah cianpwe akan dapat melakukan sesuatu . . .."
"Nak, aku sudah kehabisan hawa dan darah.... tak
mungkin dapat hidup . . . dua hari lagi!"
"Cianpwe . . . . "
"Nak.... lekas atau sesal kemudian tiada gunanya !"
Cu Jiang tak dapat berbuat apa2. Serta merta dia berlutut
memberi hormat kepada paderi Go-leng-cu.
"Aku akan melakukan perintah cianpwe," katanya
dengan nada penuh haru. Lalu cepat dia masuk kedalam
karung. Dengan menggunakan sisa tenaganya, Go-lengcupun
segera mengikat lagi itu.
"Nak, minumlah pil itu !" serunya.
Dengan kuatkan hati, Cu Jiangpun terus menelan pil
Kui-si-wan itu.
Terdengar pintu berderak derik dan suara langkah orang.
Tetapi kesadaran pikiran Cu Jiang makin pudar dan
akhirnya tak ingat apa2 lagi.
O000od-wo000O
Jilid 7
Entah berapa lama ketika ia sadar, ia rasakan dirinya
seperti diseret di tanah yang lekak-lekuk tak rata. Tulang
belulangnya serasa copot dari persambungan.
Apakah dia hendak dikubur ? Kalau benar, matilah aku.
Ternyata pil Kui-si-wan tak dapat bertahan lagi. Saat itu dia
sudah sadar. Dia akan dikubur, pasti dia akan dikubur
hidup-hidupan.
Teringat akan hal itu, ngerilah hatinya. Dikubur hiduphidupan
merupakan suatu kematian yang paling
mengerikan.
Tetapi beberapa saat kemudian, Ia merasa ada suatu
kelainan. Yang menyeret tubuhnya itu, sebentar berhenti
sebentar berjalan. Dan terdengar juga napas yang terengahengah.
Jelas orang itu bukan seorang persilatan.
Cu Jiang tahankan segala penderitaan. Dia tak berani
berkutik. Tak lama kemudian, tubuhnya terasa berhenti
diseret. Tetapi sebagai gantinya dia mencium bau yang luar
biasa busuknya, bau mayat yang membuat perutnya mual
dan muntah. Menyusul seperti ada suatu benda yang
merayap di jubahnya. Napasnya mendesas-desis
ditelinganya.
Cu Jiang cukup lama tinggal di hutan. Dia faham akan
keadaan isi hutan. Serentak timbullah suatu bayang2 yang
mengerikan. Dan gemetarlah dia.
Breet. .. terdengar bunyi robekan dan karung itupun
jebol. Sebuah kepala serigala yang penuh berbulu, matanya
yang berapi-api dan lidah marah yang menjulur panjang,
tengah memandang kedalam lubang karung yang telah
dirobeknya itu.
"Ah, mati aku sekarang." pikir Cu Jiang Tetapi sudah
menjadi naluri setiap mahluk hidup, tentu akan berjuang
untuk menghadapi maut. Demikianpun Cu Jiang.
Tiba2 ia teringat akan kutungan pedang Seng kiam yang
masih disimpan dalam bajunya. Ya, hanya itu satu-satunya
senjata yang dimiliki. Serentak dia mencabut dan
disorongkan lewat lubang karung.
Tiba2 serigala itu meraung keras sehingga jantung Cu
Jiang hampir copot.
Cu Jiang pejamkan mata. Jika sekali tusuk tak dapat
membunuh serigala itu, dia sendirilah yang mati.
Detik2 yang tegang itu segera meledak. Dengan dahsyat,
secepat itu Cu Jiang kerahkan segenap sisa tenaganya maka
Cu Jiang segera menusuk tenggorokan serigala itu,
Terdengar lolong dahsyat disusul dengan gerakan dari
serigala yang meloncat-loncat dan berguling-guling
meregang jiwa. Seolah-olah ditempat itu sedang
berlangsung pertempuran dahsyat.
Sepeminum teh lamanya barulah suara dahsyat itu mulai
reda dan akhirnya tak terdengar lagi.
Cu Jiang menghela napas longgar. Ia tahu bahwa
tusukannya telah berhasil. Maka dia lalu melongok keluar
dari lubang karung itu Seketika tegaklah bulu romanya.
Seekor serigala yang besarnya sama dengan seekor anak
kerbau, rebah terkapar didalam genangan darah. Binatang
itu belum mati. Mulutnya menelan tangkai pedang, sedang
ujung pedang menembus pada tenggorokannya.
Dua ekor serigala kecil tengah mengerumun di dekatnya
dan menjilat2 darah serigala besar itu. Rupanya serigala
besar itu seekor serigala jantan. Tak lama lagi yang betina
tentu akan datang.
Cu Jiang cepat bekerja. ia membuka tali pengikat karung
lalu merangkak ke luar.
Ketika melihat suatu mahluk yang aneh, kedua anak
serigala itu ngangakan mulut seperti hendak menerkam Cu
Jiang.
Cu Jiang segera mencabut pedang dari mulut serigala
besar lalu membunuh kedua serigala kecil itu.
Sarang serigala itu dalamnya tiga tombak. Merupakan
sebuah gua alam. Di dalamnya penuh tumpukan tulang2
manusia. Bahkan ada yang masih terdapat dagingnya.
Baunya jangan ditanya lagi.
Setelah tahu dirinya lolos, orang2 Gedung Hitam tentu
akan bertindak mencarinya. Lebih baik dia cepat2
tinggalkan tempat itu.
Ia terus berbangkit dan hendak pergi tetapi tiba2
matanya melihat sebuah botol kecil di antara tumpukan
tulang itu. Cepat ia mengambil dan terus ke luar.
Ternyata tempat di sekeliling situ penuh dengan gunduk2
kuburan yang tak keruan timbunannya. Tentulah mereka
korban-2 yang telah dimakan serigala lalu dikubur
sekenanya saja.
Ia menyadari bahwa tempat itu masih berada di
lingkungan kekuasaan Gedung Hitam. Lebih dulu dia harus
lolos dari cengkeraman mereka. Soal menuntut balas, saat
itu belum waktunya.
Serentak ia lari dan dalam beberapa kejab ia sudah
mencapai sepuluhan li. Letihnya bukan kepalang sehingga
kakinya terasa berat sekali.
Tak jauh disebelah muka, dilihatnya sebuah lembah.
Rupanya lembah itu jarang didatangi orang. Dengan
kuatkan diri, ia lari menuju ke lembah itu. Ia mencari
tempat yang rapat lalu berbaring diri.
Siang itu, hari kedua siang dari jarak dia lolos,
Kemudian ia mengambil botol kecil tadi. Sehelai kertas
yang bertuliskan tiga huruf, melekat pada botol itu. Tiga
huruf itu berbunyi Hwe-thian-tan.
Diam2 Cu Jiang merenung. Karena dinamakan Hwethian
atau kembali dari langit, tentulah pil itu suatu obat
yang mujijad. Tetapi dia tak tahu, dapatkah pil itu
mengobati luka dari pukulan Thian-kong-sat yang
dideritanya.
Ia membuka sumbat dan menuang isinya. Tiga butir pil
hijau sebesar Kacang hijau. ia tahu apakah khasiat dari pil
itu. Tetapi ia yakin, pil itu tentu obat yang hebat. Tanpa
banyak pertimbangan lagi. ia terus menelannya.
Perutnya terdengar berkeruyukan, rasanya panas sekali.
Seketika badannya seperti dibakar, urat2 mengkeret. Suatu
ciri seperti orang yang terminum racun.
Tiba2 ia muntah darah.
"Ah. mati aku ....!" dia terus terguling-guling di tanah,
merangkak-rangkak. Sakitnya sukar dilukiskan.
Akhirnya ia kehabisan tenaga, ia merasa lunglai.
Tubuhnya serasa ringan sekali seperti daun bertebaran di
udara. Rasa sakitpun hilang.
"Ah, aku tentu segera mati !" ia mengeluh. Dan beberapa
saat kemudian dia tak ingat apa2 lagi.
Entah berselang berapa lama, pikirannya mulai sadar
lagi. Dia tak merasa sakit lagi bahkan tubuhnya terasa enak
sekali. Girangnya bukan kepalang, ia mencoba untuk
mengerahkan tenaga-dalam, ah, penuh dan memancar
dengan lancar sekali.
Ia melonjak bangun. Girangnya melebihi orang yang
putus lotre sehingga sampai beberapa jenak ia tak tahu apa
yang harus dilakukan.
Jelas pil Hwe-thian-tan itu dapat menghilangkan racun
pukulan Thian kong-sat. Sungguh dia tak pernah
memimpikan hal itu.
Tentulah pemilik pil Hwe thian-tan itu dilontarkan
sebagai makanan serigala tetapi dia masih meninggalkan pil
itu sehingga tertolonglah jiwanya.
Teringat akan nasib paderi Go-leng cu. ia berlinang air
mata. Tentulah paderi itu telah meninggal.
Tiba2 angin berkesiur dan dua sosok bayangan hitam
muncul di sebelah luar.
Itulah Pengawal Hitam, seru Cu Jiang dalam hati. Ia
memandang gerak gerik kedua orang itu dengan lekat.
Salah seorang dari dua Pengawal Hitam itu berkata:
"Lihatlah ! Benar tidak kataku tadi supaya masuk ke
dalam lembah . . ."
"Engkau memang serigala! " seru kawannya.
Pengawal Hitam yang pertama tadi segera berseru
kepada Cu Jiang:
"Hai, budak jelek, karena engkau minggat, pohcu telah
mengerahkan beratus-ratus ko-jiu untuk mencarimu. Hayo,
lekas ikut kami!"
Cu Jiang tak mau menjawab. Tetapi diam2 dia sudah
bersiap.
"Budak, walaupun dunia ini luas, tetapi jangan harap
engkau mampu lolos! " seru pula Pengawal Hitam yang
seorang.
"Apa yang kalian kehendaki?" seru Cu Jiang dengan
dingin.
"Huh, budak cacad, sudah tentu akan membawamu
pulang, perlu apa bertanya lagi!"
"Coba saja! "
"Huh, engkau hendak melawan?" habis berkata
Pengawal Hitam terus ulurkan tangan menyambar.
Karena mengira Cu Jiang tentu masih lemas tak
bertenaga, maka santai2 saja Pengawal Hitam itu
menerkamnya.
Bum, bum .... terdengar dua buah jeritan ngeri. Pengawal
Hitam yang menerkam itu terpental sampai tiga tombak
jauhnya, tulang-tulangnya remuk dan darah berhamburan
memerah tanah. Sedang yang seorang menggeletak di
tempatnya tak berkutik lagi.
Tenaga Cu Jiang sudah pulih kembali. Karena Pengawal
Hitam itu tak bersiap, sudah tentu mereka hancur lebur.
Pengawal Hitam yang menggeletak di tempatnya itu
masih dapat merintih-rintih tapi tak dapat berkata apa2.
Cu Jiang menghampiri dan mencengkeram Pengawal
Hitam itu, bentaknya:
"Jawab pertanyaanku. Di mana letak Gedung Hitam
itu?"
Hidung dan mulut Pengawal Hitam itu masih terus
mengalirkan darah. Mukanya berkerenyutan.
Cu Jiang benci sekali. Ia memelintir lengan orang itu lalu
mencabut pedangnya.
"Kalau tak mau bilang, akan kuiris-iris tubuhmu! "
"Silahkan!"
"Engkau tetap tak mau bilang?"
"Tidak! Sekalipun engkau mempunyai sayap, tak
mungkin engkau mampu lolos dari cengkeraman gedung
kami!"
"Auhhh ..." orang itu menjerit karena dadanya tertembus
pedang. Namun dia tetap mengertek gigi dan tak mau
bilang.
"Engkau mau bilang atau tidak! " Cu Jiang mengulangi
lagi.
Dengan suara menantang Pengawal Hitam itu
menjawab. "Tidak!
Krakkk, Cu Jiang memelintir lengan orang itu hingga
patah. Orang itu merintih ngeri.
"Hayo, bilang tidak!"
Tubuh Pengawal Hitam itu menggeliat ke atas, Hoak . .
muntah darah lalu terkulai.
Cu Jiang terkejut. Ia tak tahu mengapa tiba2 Pengawal
Hitam itu mati. Tetapi pada suat itu dia melihat sesosok
bayangan muncul dari belakang pohon yang tak jauh
jaraknya.
Kejut Cu Jiang bukan kepalang. Jelas yang muncul itu
adalah sasterawan setengah tua atau Lim congkoan dari
Gedung Hitam. Apakah dia yang turun tangan membunuh
Pengawal Hitam itu?
Tetapi pengawal Hitam itu tetap tak mau mengaku.
Sebenarnya tak perlu dilenyapkan.
Bagaimana cara Lim congkoan membunuh orang itu?
Jaraknya jauh, tentu dia menggunakan senjata rahasia.
Tetapi senjata rahasia itu sama sekali tak mengeluarkan
suara apa2.
Lim congkoan tegak di depan Cu Jiang dengan mata
berkilat-kilat. Cu Jiang agak gentar juga.
"Ah, tak kira kita akan bertemu di sini." kata Cu Jiang.
Lim congkoan tersenyum.
"Sahabat ternyata engkau licin bagai belut!"
"Ah, jangan anda memuji."
"Kita dapat membicarakan sesuatu."
"Apa yang harus dibicarakan?"
"Sudah tentu ada."
Cu Jiang lepaskan tangannya dan mayat Pengawal
Hitam itupun melongsor ke tanah.
"Apakah anda yang turun tangan?" tanya Cu Jiang.
"Anggap saja begitu."
"Kenapa. . ?"
"Tak perlu engkau bertanya, sudah tentu ada alasannya!"
tukas Lim congkoan.
Menggigil hati Cu Jiang. Jika orang itu turun tangan
kepadanya, bukankah dia akan mati tanpa mengetahui
bahwa orang membunuhnya?
"Kalau mau bicara, silahkan !" katanya.
"Sebenarnya aku ingin mengetahui asal usulmu yang
sesungguhnya."
Serentak Cu Jiang menolak.
"Ah, maafkan." ia menolak.
Wajah orang itu agak berobah. Beberapa saat kemudian,
baru dia berkata pula:
"Aku hendak bertanya satu lagi, harap engkau memberi
jawaban yang sejujurnya . . . . "
"Silahkan. "
"Sebenarnya pelajar baju putih itu sudah mati atau masih
hidup?"
"Maaf. tak bita memberi keterangan."
"Sahabat, saat ini engkau sudah berada dalam kekuasaan
Gedung Hitam . . ."
"Belum tentu. "
"Asal kulepaskan pertandaan rahasia, sekali pun engkau
mempunyai sayap . ..."
Cu Jiang mengertek gigi dan tertawa dingin: "Mengapa
engkau tak melepas pertandaan itu?"
Sasterawan setengah tua itu kerutkan alis, sahutnya:
"Akan kutukar jiwanya dengan keteranganmu yang
jujur."
Pada saat itu tiba2 sesosok bayangan melayang tiba.
Ternyata dia adalah si Mata-sakti Ong Tiong Ki, kepala
anak buah Pengawal Hitam.
Melihat kedua mayat Pengawal Hitam, Ong Tiong Ki
bertanya:
"Congkoan, apakah budak cacad itu yang membunuh
mereka?"
Lim congkoan hanya mendesah.
"Masakan budak itu memiliki kepandaian yang begitu
hebat ?" seru Ong Tiong Ki pula.
Lim congkoan balik bertanya dengan nada sinis:
"Kalau menurut anggapan Ong thaubak ?"
"Waktu dijebloskan dalam penjara, bukankah
kepandaian budak itu sudah punah?"
"Mungkin saat ini dia sudah pulih lagi."
"Apakah congkoan tak dapat mencegahnya ?"
"Aku datang terlambat."
Mulut Ong Tiong Ki yang runcing berkomat kamit
seolah tak percaya akan keterangan Lim congkoan. Setelah
berdiam beberapa saat dia berkata.
"Apakah perlu membawanya kehadapan pohcu?"
Tampaknya Ong Tiong Ki sudah mencuri dengar apa
pembicaraan Lim congkoan dengan Cu Jiang tadi.
Wajah Lim congkoan bertebaran hawa pembunuhan.
"Ong thaubak menganggap tindakanku ini tak layak ?"
"Ah, masakan aku berani mengatakan begitu. Aku hanya
bertanya saja."
"Baik, bawalah dia!"
Ong Tiong Ki segera berjongkok untuk memeriksa mayat
kedua Pengawal Hitam.
Tiba2 Lim congkoan mengangkat tangannya dan
serentak Ong Tiong Kipun mengerang pelahan. Seperti
digambar pasir, tubuhnya rubuh telentang ke belakang.
Dia masih dapat menunjuk pada Lim congkoan dan
berseru dengan tersendat-sendat:
"Engkau.... engkau ..."
Tetapi dia tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi:
Kepalanya terkulai dan nyawanyapun putus.
Bukan kepalang kejut Cu Jiang. Sastrawan setengah tua
itu adalah congkoan dari Gedung Hitam tetapi mengapa dia
membunuh orangnya sendiri?
Apa yang terjadi tadi, dia sempat melihat juga. Ketika
mengangkat tangan, dan tangan Lim congkoan itu segera
memancar selarik benang perak yang amat halus sekali dan
tak mengeluarkan suara sedikitpun juga.
Jelas benda itu tentu sebuah senjata rahasia. Tetapi
senjata rahasia apakah itu ? Atau apakah semacam pukulan
tenaga-dalam dari aliran Hitam ?
"Mengapa anda membunuhnya ?" akhirnya karena tak
tahan, Cu Jiang bertanya.
"Karena dia sendiri yang cari mati," sahut sasterawan itu
dengan nada dingin.
"Apakah anda tak takut melanggar aturan Gedung
Hitam ?"
"Soal itu tak perlu engkau hiraukan."
"Anda masih akan memberi pesan apa kepadaku ?"
"Kuulangi permintaanku yang tadi. Kuharap engkau
suka mengatakan dengan sejujurnya tempat dimana pelajar
baju putih itu berada !"
Tiba2 tertarik juga hati Cu Jiang. Setelah merenung
sejenak ia bertanya:
"Dalam kedudukan apakah anda ingin mengetahui hal
ini ?"
"Pribadi!"
"Apa sebabnya ?"
"Sahabat, jika ingin kubunuhmu, sekali mengangkat
tangan saja sudah beres."
"Mengapa tak mau terus melakukannya ?"
"Karena aku memerlukan sepatah kata dari mulutmu."
"Jika aku tak mau memberikan ?"
"Akan kujadikan engkau kawan mereka bertiga itu !"
"Tidak membawa aku kembali ke Gedung Hitam ?"
"Pertanyaanmu itu terlalu berkelebihan. Kulihat engkau
bukan orang tolol. Perlukah engkau kubawa kembali ke
Gedung Hitam agar urusanku pribadi berantakan?"
Cu Jiang terbelalak. Dia benar2 tak mengerti apa maksud
yang sebenarnya dari sasterawan setengah umur itu. Tetapi
ada suatu kesan yang dapat ditangkapnya. Bahwa
sasterawan yang menjabat sebagai congkoan dari Gedung
Hitam itu ternyata tak setia kepada Gedung Hitam.
Jika begitu, mengapa dia mengejar jejak ku begitu matimatian
? pikirnya.
"Anda hendak membunuh orang untuk melenyapkan
mulutnya ?" akhirnya ia bertanya.
"Sudah tentu."
"Lalu apa tujuan anda berbuat begitu ?"
"Engkau hanya menjawab, jangan bertanya."
"Kalau begitu, anda tentu punya hubungan baik dengan
pelajar baju putih itu ?"
"Ya, memang. Dalam dunia persilatan ini, yang ada
hanya dua macam. Jika bukan Budi tentulah Dendam. Tak
ada lainnya lagi."
"Sungguh pernyataan yang tepat !"
"Sudahlah, Jangan buang waktu, harap engkau
mengatakan sejujurnya."
"Anda mengatakan, bahwa keteranganku ini akan
mendapat Imbalan aku akan dibebaskan dari kematian ?"
"Benar."
"Apakah anda tak takut kalau ku bocorkan rahasia
pembicaraan kita ini ?"
"Tidak. Tak mungkin engkau akan memberitahu kepada
pihak Gedung Hitam. Mereka tak mungkin mempercayai
engkau."
"Aku sungguh tak mengerti. . .."
"Apa yang tak mengerti ?"
"Anda adalah congkoan dari Gedung Hitam. . ."
"Itu persoalan lain !"
"Dapatkah anda memberitahu tentang maksud anda
yang sebenarnya ?"
"Tak perlu!"
"Nama anda ?"
"Ho Bun Cai !"
Cu Jiang merenung sejenak lalu berkata.
"Aku hanya dapat memberitahu sepatah kata kepada
anda, tetapi janganlah anda bertanya lebih lanjut,
bersediakah anda menerima syaratku ini ?"
Sasterawan setengah tua itu mengangguk: "Boleh."
"Pemuda pelajar baju putih itu belum mati," tiba2 Cu
Jiang berkata.
"Apa ? Dia belum mati ?"
"Ya, dia masih hidup."
"Jika begitu keteranganmu dulu itu bohong?"
"Setengahnya bohong, setengahnya memang sungguh."
"Apa maksud perkataanmu itu?"
"Dia menderita luka parah, itu memang sungguh. Tetapi
dia mati itu, tidak benar."
"Lalu kemanakah tujuannya ..."
"Tadi anda telah sanggup untuk tidak bertanya lebih
lanjut !"
Sasterawan itu menghela napas dan berkata menyerah:
"Ya, aku harus menepati janji. Takkan bertanya lebih
lanjut, tetapi .. .."
"Tetapi bagaimana ?"
"Tetapi yang tak menyangkut diri pelajar baju putih
itukan boleh ditanyakan ?"
"Itu .... boleh. Mana yang kuanggap dapat kujawab tentu
kuberi keterangan."
"Perjanjianmu dengan pemilik Piagam Hitam itu
mungkin juga hanya karanganmu sendiri saja."
"Juga setengah benar, setengah tidak."
"Apa artinya ?"
"Janji itu memang benar ada. Tetapi pihak yang kuajak
berjanji itu, belum tentu dia orangnya."
"Pada waktu menunjukkan Piagam Hitam, bukankah
tujuanmu supaya engkau hidup ?"
"Wajar kalau setiap orang memburu hidup itu."
"Lalu siapa yang engkau ajak berjanji itu?"
"Maaf, soal ini tak dapat kuberi jawaban."
"Apakah engkau tetap akan pergi memenuhi janji itu ?"
"Mungkin."
"Lebih baik jangan."
"Kenapa ?"
"Terus terang kuberitahu kepadamu. Karena engkau
lolos maka pohcu marah sekali dan mengerahkan seluruh
ko-jiu dengan perintah harus dapat menangkap engkau.
Tempat engkau akan mengadakan pertemuan dengan orang
yang engkau janjikan itu, tentu sudah dikepung rapat oleh
jago2 Gedung Hitam. Juga semua anak buah Gedung
Hitam disebar ke mana-mana untuk memata-matai gerak
gerik mu. Selangkahpun engkau sukar hendak bergerak."
Cu Jiang menghela napas. Dan merasa kata2 sasterawan
itu memang benar.
"Tetapi tak dapat selamanya aku harus bersembunyi
saja!"
"Hal itu lihat suasana dan nasibmu !"
"Bagaimana dengan keadaan imam tua dalam penjara
itu?"
"Mati."
"Sudah mati ?"
"Pada saat engkau lolos !"
Diam2 hati Cu Jiang seperti disayat sembilu. Dia berdoa
dalam hatinya.
"Semoga cianpwe berdua beristirahat dengan tenang di
alam baka. Wanpwe bersumpah akan menuntut balas untuk
cianpwe berdua . .. ."
Cu Jiang tak mau bertanya lebih lanjut tentang kedua
tokoh Thian-hian-cu dan Go-leng-cu. Mereka toh sudah
mati. Ia alihkan pembicaraan.
"Anda hendak memberi petunjuk apa lagi kepadaku ?"
tanyanya.
"Pada malam hari engkau harus menuju kearah utara,
lebih mudah untuk lolos dari sergapan mereka."
Arah utara itu, berlawanan dengan arah tempat dia
berjanji dengan Ang Nio Cu. Walaupun saat itu, tanpa
diduga-duga ia dapat menemukan pil Hwe-thian tan
sehingga luka dari pukulan Thian-kong-sat telah sembuh.
Tetapi karena dia berjanji dengan Ang Nio Cu. dia tak
enak hati kalau tak menetapi janji itu. Bukankah dengan
kesungguhan hati Ang Nio Cu hendak mencarikan obat
untuk dia ? Kalau dia tak menepati janji, bukankah dia
malu terhadap wanita itu?
Dalam pada itu, sasterawan itu telah menghantam tanah
sehingga menimbulkan sebuah liang. Mayat ketiga anak
buah Gedung Hitam segera ditanam dalam liang itu. Agar
tak menimbulkan kecurigaan orang, maka kuburan itu
ditimbuni dengan daun dan ranting kering. Kemudian
berkata kepada Cu Jiang:
"Sahabat, akan kutepati janjiku untuk membebaskan
engkau, sampai jumpa !"
Tiba2 Cu Jiang teringat sesuatu.
"Harap anda tunggu sebentar !"
Sasterawan Ho Bun Cai berputar tubuh.
"Engkau mau bilang apa lagi ?"
"Aku hendak mengajukan permohonan sedikit."
"Soal apa ?"
"Kedua Jenasah dari Bu-lim Sam-cu itu supaya dikubur
baik2 dan dibuatkan batu nisan."
"Dikubur sih boleh tetapi batu nisannya tak dapat."
"Kenapa ?"
"Engkau harus mengerti bahwa tindakan Gedung Hitam
itu tak boleh diketahui orang luar."
Cu Jiang merenung sejenak.
"Bagaimana kalau diberi tanda?"
"Tanda yang bagaimana ?"
"Asal mudah diketahui..."
"Apa maksudmu ?"
"Karena kedua cianpwe itu pernah sama2 sependeritaan
dengan aku."
"Baik, akan kuusahakan."
Habis berkata dia terus melesat lenyap.
Cu Jiang beralih tempat duduk. Ia memikirkan diri
sasterawan setengah tua yang aneh sepak terjangnya itu.
Yang jelas orang itu tak setia kepada Gedung Hitam. Tetapi
mengapa dia begitu ngotot hendak mencari Jejak pelajar
baju putih yang tak lain adalah dirinya sendiri ?
Menilik ucapannya dan caranya menetapi janji, rupanya
orang itu tentu seorang bu-su atau pendekar.
Janji dengan Ang Nio Cu, harus dipenuhi. Tetapi jelas
bahwa Gedung Hitam tentu sudah menyiapkan penjagaan
ketat disekitar tempat itu. Tokoh2 Gedung Hitam yang
memiliki kepandaian seperti sastrawan Ho Bun Cai, tentu
tidak sedikit jumlahnya.
Kemudian ia memperhitungkan kekuatannya sendiri.
Walaupun ilmu tenaga-dalamnya kini sudah mencapai
tataran yang tinggi, tetapi dalam ilmu silat jelas dia masih
dibawah lawan. Apabila dia sampai tertangkap lagi,
kemungkinan besar tak mungkin dia dapat lolos lagi.
Disamping itu masih banyak janji2 yang harus ia penuhi.
Pesan Go-leng-cu kepada Gong-gong-cu itu, harus
disampaikan.
Gedung Hitam tak dapat diragukan lagi, adalah musuh
dari mendiang ayahnya. Tetapi apakah Gedung Hitam itu
yang menjadi pembunuhnya, masih perlu diselidiki dulu.
Dengan mendapat gangguan dan ancaman dari pihak
Gedung Hitam, memang sukar sekali baginya untuk
melakukan penyelidikan itu.
Selama itu, ia hanya mendapat sedikit keuntungan
bahwa samar2 ia dapat mengetahui letak Gedung Hitam.
Ia merenungkan lebih lanjut dan mendapat kesimpulan
bahwa sasterawan Ho Bun Cai itu merupakan suatu
jembatan yang berharga untuk menyelidiki keadaan
Gedung Hitam.
Tetapi bagaimana ia harus bertindak untuk mempererat
hubungannya dengan sasterawan itu?
Cepat sekali hari berjalan. Saat itu malampun kembali
tiba dengan membawa selimut hitam yang menebar di
seluas alam.
Lembahpun gelap gulita sehingga tak dapat melihat jari
tangannya sendiri. Saat itu Cu Jiang mulai bergerak. Dia
lari keluar lembab. Dia bertindak dengan hati2 sekali agar
jangan sampai ketahuan oleh orang Gedung Hitam.
Ketika terang tanah dia sudah mencapai seratusan li
jauhnya, Dan pada waktu melihat kepulan asap dari sebuah
perumahan desa, ia mulai tegang.
Ia menyadari bahwa wajahnya yang buruk itu tentu akan
menimbulkan rasa kejut dan seram pada orang. Dan karena
orang Gedung Hitam sudah mengenal ciri wajahnya yang
rusak itu, maka tentulah jejaknya akan cepat diketahui
mereka.
Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan
pada malam hari dan pada siang hari, ia beristirahat.
Ia membeli ransum kering di desa itu serta seperangkat
pakaian. Pakaiannya yang lalu, dipakaikan pada mayat
Thian-hian-cu.
Ia memutuskan tetap akan memenuhi perjanjiannya
dengan Ang Nio Cu. Ia tak peduli harus menghadapi
bahaya apapun juga.
Ia terus melanjutkan perjalanan dan kurang dua hari dari
waktunya, ia sudah tiba di tempat perjanjian.
Cu Jiang mencari sebuah tanah tinggi. Ia mencari tempat
persembunyian yang rapat dan dari situ memandang ke
seluruh penjuru.
Setelah sampai setengah hari tak melihat sesuatu yang
mencurigakan, barulah dengan menutup tubuh pakai
daun2, hati2 sekali ia masuk kedalam lembah.
Sepanjang jalan dia tak melihat sesuatu gerakan apa2.
Tetapi ia menyadari bahwa orang Gedung Hitam tentu tak
mau melepaskannya. Maka makin sunyi suasananya, makin
tegang dan menyeramkan.
Tak lama dari sela2 gerumbul pohon, Ia melihat gua
rahasia yang menjadi tempat persembunyian kawanan Kiute-
sat dahulu, sudah tampak disebelah muka. Dia
menunggu dulu sampai beberapa waktu. Setelah tak melihat
suatu gerakan apa2, dengan mengambil jalan melingkar ia
maju menghampiri.
Apa yang berada disitu, masih tetap serupa dengan
ketika ia tinggalkan tempat itu tempo hari. Bedanya
hanyalah, sekarang gua itu menyiarkan bau lembab.
Memandang kearah sembilan buah kursi, timbullah
kenangan Cu Jiang pada kesembilan tokoh Kiu-te-sat yang
rata2 berwajah seram.
Setelah memeriksa pondok rumah batu itu ia mendapat
kesan bahwa keadaannya masih tetap sama seperti dulu. Ia
heran. Pada hal tak mungkin Gedung Hitam tak mengirim
jago2 yang sakti untuk menjaga tempat itu.
Apakah Gedung Hitam sudah menghentikan
pengejarannya ? Ah, tak mungkin. Kemungkinan yang
paling mungkin tentulah mereka belum tiba ditempat itu.
Kembali ke ruang muka tiba2 ia teringat akan ruang
rahasia dibagian belakang. Bukankah itu tempat
persembunyian yang paling bagus ? Dia sudah membekal
ransum kering, cukup untuk menunggu sampai beberapa
hari.
Segera ia mencari botol dan diisi dengan air bersih
kemudian melangkah kebelakang pondok.
Ketika hampir tiba di ruang rahasia itu, kejutnya bukan
kepalang.
Enam sosok mayat bergelimpangan ditanah. Menilik
pakaiannya jelas mereka tentulah Pengawal Hitam. Dan
setelah memeriksa lebih lanjut, pada alis setiap mayat itu
terdapat bekas titik merah.
"Bekas noda Jari-terbang." teriak Cu Jiang. Dengan
begitu Ang Nio Cu sudah datang tentu.
Tetapi menunggu sampai beberapa saat, belum juga
terdengar suara Ang Nio Cu.
"Apakah dia pergi lagi ?" pikirnya. Ia ingat dengan jelas
bahwa waktu perjanjian itu adalah lima belas hari. Dan saat
itu masih kurang dua hari, Tetapi mengapa Ang Nio Cu
pergi sebelum bertemu dengan dia ? Taruh kata wanita itu
gagal mendapatkan obat, paling tidak tentu harus bertemu
muka dan memberi keterangan.
Ia yakin wanita seperti Ang Nio Cu tentu akan pegang
janji. Ah, mungkin Ang Nio Cu mengira dia tentu tak
datang karena mendapat halangan.
"Ya, memang mungkin begitu," akhirnya Cu Jiang
menarik kesimpulan, "karena akulah yang membuat janji
kepada Ang Nio Cu akan menunggunya di gua rahasia
situ."
Ia bimbang, menunggu atau pergi. Akhirnya ia
memutuskan akan menunggu sampai waktu yang telah
dijanjikannya itu.
Dengan keputusan itu, ia lanjutkan langkah ke ruang
rahasia di belakang pondok.
"Siapa?" tiba 2 terdengar lengking teguran seorang anak
perempuan.
Sudah tentu Cu Jiang terkejut sekali. Dia mundur
beberapa langkah dan dari sinar yang memancar di dalam
ruang batu itu, ia melihat sesuatu yang mengejutkan lagi.
Seorang dara baju hijau atau si dara cantik Ho Kiong
Hwa itu.
Benar-2 suatu hal yang tak terduga sama sekali.
"Engkau adalah..."
Hampir saja mulut Cu Jiang berkata "engkau adalah
nona Ho." Tetapi seketika itu ia teringat akan wajahnya
yang sudah rusak maka buru2 ia menelannya kembali.
"O, engkau Gok-jin ji" seru Ho Kiong Hwa.
"Ya." Cu Jiang tertegun, "bagaimana nona tahu?"
"Engkau akan menepati janji dengan Ang Nio Cu?"
"Ya . . . entah..."
"Masuklah dan tutup pintunya!" seru dara baju hijau Ho
Kiong Hwa.
Nada suaranya yang merdu dan wajahnya yang memikat
hati benar-2 menggetarkan hati Cu Jiang. Peristiwa nona itu
dikejar jago pedang dari Gedung Hitam dahulu, kembali
terbayang dikalbunya ....
"Masuklah dan kita omong2 di sini." kembali dara cantik
itu berseru pula.
Setelah memeriksa empat penjuru tiada tampak suatu
apa, barulah Cu Jiang melangkah masuk dan menutup
pintu batu. Seketika ruang itu gelap gulita sekali sehingga
tangannya sendiripun tak dapat dilihatnya.
Cu Jiang tetap masih berdiri di ambang pintu. Rasa
heran telah menimbulkan keragu-raguannya sehingga ia
hanya tertegun saja.
Beberapa saat kemudian barulah matanya dapat lebih
mengenal keadaan ruang yang gelap itu. Dilihatnya mata si
dara Ho Kiong Hwa tengah berkilat-kilat memandang
kepadanya.
"Siapa nama nona?" Cu Jiang sengaja bersikap seperti
belum kenal.
"Namaku Ho Kiong Hwa."
"Oh, mengapa nona Ho dapat datang ke mari?"
"Duduk dan marilah kita bicara dengan tenang."
Cu Jiang mengiakan lalu duduk. Berkata dara itu dengan
nada rawan: "Ketika berada di sekitar gunung ini, aku telah
dihadang musuh lagi . . ."
"Apakah orang Gedung Hitam..."
"Ih, bagaimana siauhiap mengetahui ?"
Cu Jiang tersadar kalau kelepasan omong. Cepat dia
menyusuli kata:
"Karena melihat mayat2 diluar ruang gua ini tadi maka
aku menduga begitu."
"Ai, siauhiap cerdik benar," Ho Kiong Hwa tertawa.
"Silahkan nona melanjutkan," kata Cu Jiang walaupun
tergetar perasaannya.
Dara itu hentikan tawa lalu dengan wajah serius berkata:
"Ketika aku dikejar orang2 itu hingga terdesak,
untunglah Ang Nio Cu muncul dan menolong aku . . ."
"Bagaimana nona dapat datang ke tempat puncak
gunung yang begini sunyi ?"
"Aku bermaksud hendak mencari guru sakti, belajar ilmu
silat untuk membalas dendam !"
"Oh," seru Cu Jiang, "lalu bagaimana?"
"Setelah menolong aku, Ang Nio Cu mengatakan bahwa
dia sedang menunggu janji dengan seseorang di lembah ini .
. ."
"Oleh karena itu dia membawa nona kemari juga ?"
"Ya, begitulah."
"Lalu ?"
"Waktu mencari orang yang dijanjikan itu secara tak
sengaja dia menemukan gua rahasia ini dan
menyembunyikan aku disini."
"Kemudian?"
"Belum orang yang dinantikan itu yang datang tetapi
beberapa anak buah Gedung Hitam "
"Lalu dibunuhnya ?"
"Benar."
"Lalu kemanakah dia sekarang ?"
"Karena ada suatu keperluan, dia pergi dulu. Tetapi dia
meninggalkan pesan kepadaku supaya menunggu seorang
yang bernama Gok-jin-ji, yalah siauhiap sendiri."
"O, apakah dia meninggalkan pesan ?"
"Ya."
"Apa pesannya ?"
"Sebenarnya dia habis pergi kedaerah Han-tiong mencari
seorang tokoh bernama Hwe-thian-jiu Ih Hwa untuk
meminta pil mujijad hwe-thian-tan."
"Pil hwe-thian-tan ?" Cu Jiang terkejut.
"Benar. Menurut katanya, hanya dengan pil Itu dapatlah
luka yang siauhiap derita disembuhkan, tetapi sayang ..."
"Bagaimana ?"
"Tokoh Ih Hwa itu sedang keluar rumah dan tak jelas
kemana tujuannya."
Serentak teringatlah Cu Jiang aku peristiwa yang dialami
digua sarang serigala itu. Secara tak sengaja dia telah
menemukan pil Hwe-thian-tan. Jika begitu bukankah Hwe
thian-Jiu Ih Hwa itu sudah mati dibunuh orang Gedung
Hitam dan mayatnya dimakan serigala itu ?
Ah, sungguh besar sekali rejekinya. Ternyata Ang Nio
Cu juga akan mencari pil itu.
"Lalu bagaimana ?" ia bertanya kelanjutannya.
"Dia terpaksa kembali dengan tangan hampa."
"Ah."
"Rupanya luka dari pukulan Thian-kong-sat yang
siauhiap derita itu sudah sembuh ?"
"Benar, itu hanya secara kebetulan saja dan rupanya
memang berkah Thian."
"Bagaimana?"
"Tanpa sengaja aku telah menemukan pil mujijad dan
kini sudah sembuh."
"Aih, sungguh luar biasa ! Jika tahu begitu dia tentu tak
bingung...."
"Apakah dia bingung ?"
"Sudah tentu," kata Ho Kiong Hwa. "dia mengatakan
apabila tidak mendapatkan pil itu, dalam waktu lima belas
hari engkau tentu meninggal."
"Aku sungguh berterima kasih sekali atas budi
kebaikannya."
"Tetapi mengapa siauhiap tidak menepati permintaannya
supaya menunggu di lembah ini ?"
"Aku tertimpa bahaya yang tak terduga-duga dan setelah
berhasil lolos dari cengkeraman maut, aku datang lagi
kemari untuk memenuhi janji."
"Bahaya apakah yang telah siauhiap alami?" Dengan
geram Cu Jiang berkata: "Kalau kuceritakan tentu akan
menimbulkan kepiluan hati, lebih baik tak kukatakan saja."
"O," Ho Kiong Hwa hanya mendesah tetapi tak mau
mendesak lebih jauh.
"Nona menjelajahi gunung dan sungai hanya perlu
hendak mencari guru yang sakti ?" Cu Jiang alihkan
pembicaraan.
"Ya."
"Apakah sudah berhasil mendapatkan?"
"Belum."
"Sebenarnya nona sudah berhadapan dengan guru yang
nona idam-idamkan itu mengapa tidak..,.."
"Siapa?"
"Ang Nio Cu !"
"Oh, dia? Dia tak mau menerima murid !"
"Mengapa ?"
"Entah."
"Ah, benar. Tahukah nona dimana beberapa sosok
mayat yang berada dalam gua ini ?"
"Telah dibawa keluar dan ditanam oleh Ang Nio Cu."
"Apakah dia akan balik kemari lagi ?"
"Ya."
"Dia menyembunyikan nona disini dan meninggalkan
pesan kepada nona, apakah dia tahu kalau aku pasti datang
kemari ?"
"Kurasa begitu. Dia mengatakan, kecuali tertimpa
bahaya, siauhiap pasti takkan ingkar janji."
Cu Jiang mengangguk. Diam2 ia tak menduga bahwa
Ang Nio Cu begitu mempunyai kepercayaan penuh
kepadanya.
"Ang Nio Cu juga meninggalkan barang ini supaya
diserahkan kepada siauhiap," tiba-tiba Ho Kiong Hwa
berkata pula.
"Barang apa ?"
Ho Kiong Hwa menyulut korek dan seketika teranglah
ruang gua itu. Ia mengambil sebuah bungkusan kertas dari
bajunya dan diserahkan kepada Cu Jiang.
"Inilah."
Merasa wajahnya buruk, Cu Jiang menundukkan kepala
dan berkata pelahan:
"Harap lemparkan kemari." Sambil menyulut jelita
didekatnya Ho Kiong Hwa tertawa dan berseru:
"Sebagai seorang kelana dalam dunia persilatan,
mengapa siauhiap masih malu2 ? Sambutilah !"
Ia terus melemparkan bungkusan kertas itu kepada Cu
Jiang.
Sebenarnya bukan itu yang dimaksud Cu Jiang. Dia
merasa rendah diri karena menyadari bahwa wajahnya
rusak dan menyeramkan, tak sedap dipandang mata.
Diam2 Cu Jiang memuji akan kecermatan Ang Nio Cu
mempersiapkan rencana, Dalam gua yang gelap itu telah
disediakan juga sebuah pelita.
Dengan rasa heran, ia segera membuka bungkusan kertas
itu.
Selesai membaca Cu Jiang menjerit dan tubuhnya
gemetar keras.
Dalam bungkusan Itu tiada terdapat suatu benda lain
kecuali sehelai surat pendek macam karcis. Dan karcis itu
adalah karcis yang berisi pesan keluarganya dan yang telah
hilang ketika ia taruhkan pada pelana kuda. Kudanya
dibunuh orang, barang2 bekalannya tiada yang hilang
kecuali karcis itu.
Benar2 ia tak menduga bahwa karcis itu akan jatuh di
tangan Ang Nio Cu.
Ketika mengamati karcis itu ternyata terdapat beberapa
tambahan tulisan berbunyi:
Pohon kumala dilanda badai kehancuran, bunga cantik
bertebaran gugur. Karcis ini menjadi saksi. Jodoh sudah
ditentukan Thian.
Membaca itu Cu Jiang terkejut. Baris pertama dari kata2
itu menunjukkan tentang nasib dirinya yang tertimpa
kemalangan. Baris kedua yang menyebut tentang bunga
cantik itu tentulah menunjuk Ho Kiong Hwa. Jelas Ang
Nio Cu hendak menjodohkan dirinya dengan nona Ho itu
... .
Tanpa disadari ia memandang nona itu sejenak. Ah,
merahlah mukanya. Bunga cantik, ya benar, memang
Kiong Hwa benar2 bagaikan sekuntum bunga cantik.
Tetapi dirinya sendiri? Ah, betapa menyayat hati. Dia
tak lebih hanya seorang mahluk cacad yang wajahnya telah
rusak.
Tiba2 Ho Kiong Hwa tertawa riang. "siauhiap, apakah
sepucuk surat?"
"Ya."
"Apakah isinya?"
"Tidak apa2, " sahut Cu Jiang.
Hoa Kiong Hwa hentikan tawa dan merentang mata
lebar-2, serunya setengah tak percaya:
"Dengan wanti2 Ang Nio Cu pesan kepadaku supaya
menunggumu untuk menyerahkan barang itu. Masakan tak
ada isinya?"
Pilu hati Cu Jiang. Ia tertawa rawan.
"Nona Ho, isinya tak lain hanya beberapa pesan
pribadi."
"Pesan pribadi? Apakah tak boleh dikatakan kepada lain
orang?"
"Tak boleh. "
"Tak percaya!"
"Apa? Nona tak percaya?"
"Karena . ... oh Ho Kiong Hwa tundukkan kepala,
mukanya tersipu-sipu merah.
"Karena apa?" Cu Jiang tertarik untuk mendesak
keterangan.
"Dia memberitahu kepadaku." kata Ho Kiong Hwa,
"setelah menyerahkan surat itu kepadamu, engkau tentu
akan mengatakan apa2 kepadaku..."
Cu Jiang menyadari bahwa dirinya yang sudah cacad
begitu rupa masakan sesuai menjadi pasangan nona cantik
itu. Dia memang tak menduga bahwa Ang Nio Cu akan
mengatur perjodohan itu. Terpaksa dia akan
mengecewakan harapan Ang Nio Cu.
Ia tak dapat membayangkan bagaimana reaksi Ho Kiong
Hwa apabila dia mengemukakan isi surat itu.
"Ah, aku takkan mengatakan apa2, " akhirnya ia kuatkan
hati.
Wajah Ho Kiong Hwa menampil keheranan. Ia kerutkan
alis dan berkata:
"Apakah sungguh begitu?"
"Ya."
"Apakah Ang Nio Cu membohongi aku?"
"Ini . . . . , " Cu Jiang benar2 sulit untuk mengatakan,
"dia tak membohongi engkau ..."
"Kalau dia tak bohong dan siauhiap tak mengatakan
apa2 kepadaku, aku merasa bingung."
Setelah merenung beberapa jenak, Cu Jiang tiba2
menggigit jari tengahnya dan menulis di atas karcis itu.
"Engkau mau apa itu?" teriak Ho Kiong Hwa terkejut.
Selesai menulis, Cu Jiang mengangkat muka dan
menjawab:
"Ah, tidak apa2."
Seketika wajah Ho Kiong Hwa tampak pucat dan
dengan suara gemetar ia berseru:
"siauhiap, tampaknya engkau terlalu tak menghiraukan
aku."
Sejenak Cu Jiang memandang pula pada enam huruf
yang ditulis dengan darah pada karcis itu, berbunyi.
Burung Hong mana setimpal dengan burung gagak
buruk?
kemudian ia berkata dengan nada serius:
"Nona Ho, apakah engkau anggap aku layak?"
"Layak apa?"
"Layak tak menghiraukan orang ?"
"siauhiap, aku ... tak mengerti maksudmu ..."
Cu Jiang membungkus karcis itu lagi lalu diserahkan
kepada Kiong Hwa.
"Tolong nona berikan surat ini kepada Ang Nio Cu.
Katakan bahwa budi kebaikannya terukir dalam hati
sanubariku. Kelak pasti kubalas."
Dengan tak berkedip nona itu memandang Cu Jiang. Dia
tak menyambuti bungkusan karcis itu melainkan berseru
keras:
"siauhiap, paling tidak engkau harus memberitahu
kepadaku apa yang dikatakan Ang Nio Cu dalam surat itu."
Cu jiang tertegun. Beberapa saat kemudian ia lemparkan
bungkusan kertas itu kepada Ho Kiong Hwa.
"Nona Ho, silahkan lihat sendiri!"
Habis berkata ia berputar tubuh dan menekan alat
rahasia pintu gua.
"siauhiap, apakah maksudmu?" teriak Ho Kiong Hwa
dengan gemetar.
Saat itu pintu terbuka. Walaupun dengan hati seperti
disayat sembilu, tetapi Cu Jiang keraskan hati dan terus
melesat keluar. Dengan langkah yang tertatih-tatih ia segera
lari.
Dia terus lari tanpa berpaling kebelakang dan tak berapa
lama sudah keluar dari lembah itu.
Ia menghela napas longgar. Wajah Ho Kiong Hwa yang
secantik bidadari masih terbayang di pelupuk matanya.
Dia merasa bahwa tindakannya itu paling tepat.
Bagaimana ia sampai hati untuk mempersunting bunga
yang secantik itu ? Dan lagi itu hanya kemauan Ang Nio
Cu sendiri. Belum tentu Ho Kiong Hwa juga setuju.
Bukankah lebih baik dia sendiri yang menderita daripada
harus membuat nona itu ikut menderita ?
Tiba2 di udara terbang melayang seekor burung bangau.
Dia terbang seorang diri dan memperdengarkan bunyi
berkaok-kaok yang sedih.
Bukankah burung itu seperti dirinya ? Tanpa terasa Cu
Jiang mengucurkan air mata.
Beberapa saat ia tertegun. Ia merasa seperti kehilangan
sesuatu. Setelah itu baru ia melanjutkan perjalanan lagi.
Dia sendiri tak tahu hendak menuju kemana. Pokok asal
lari membawa kepiluan hatinya.
Saat itu tak terasa haripun sudah petang. Ia baru
mengetahui kalau dirinya masih dalam lingkungan daerah
gunung, jauh dari pedesaan dan warung. Akhirnya ia
memutuskan untuk bermalam dalam gunung saja.
Memandang ke sekelilingnya, melihat sebuah puncak
batu yang tak begitu banyak ditumbuhi gerumbul pohon.
Segera ia menuju ke tempat itu.
Puncak itu penuh dengan batu2 besar, merupakan
tempat yang gersang dan cocok untuk tempat bermalam.
Ia membaringkan diri disebuah batu besar. Pikirannya
masih terbayang wajah Ho Kiong Hwa.
Beberapa saat kemudian bayangan Ho Kiong Hwa itu
berobah menjadi bayang2 wajah Ki Ing, puteri jelita yang
telah memberinya Piagam Hitam. Jelita Ki Ing dan
bujangnya yang karena ia bohongi, tentu menuju ke gunung
Bu-leng-san untuk mencari pemuda pelajar berbaju putih.
Diam2 Cu Jiang menghela napas rawan.
Tiba2 dari arah samping terdengar sebuah suara parau
menegur:
"Hm, budak, mengapa menghela napas tak keruan
sehingga mengganggu mimpiku !"
Cu Jiang terkejut sekali. Ia tak mengira di puncak
sesunyi itu terdapat seorang manusia lain. Mengapa dia tak
mengetahuinya ?
Serentak ia menggeliat duduk. Di bawah sinar bintang
yang remang, ia melihat diatas sebuah batu besar yang
terpisah tiga tombak jauhnya, melingkar sesosok bayangan
hitam.
Tubuh dan wajahnya tak kelihatan jelas. Hanya menilik
suaranya yang parau, dia tentu seorang tua.
"Siapa cianpwe ini ?" seru Cu Jiang.
"Budak kecil, engkau berani mengganggu aku ?" seru
bayangan hitam marah.
Cu Jiang tertegun. Dia merasa bertanya dengan sopan
mengapa dianggap mengganggu ?
Bayangan hitam itu berkata seorang diri pula: "Di dunia
ini benar2 tiada tempat yang tenang. Baru mau tidur saja
sudah tidak bisa."
Cu Jiang tertawa meringis. Dia duga orang tua itu tentu
seorang manusia aneh. Lebih baik tidak usah ia pedulikan
saja. Dia segera rebahkan diri lagi.
Beberapa saat kemudian tiba2 orang tua aneh itu buka
suara lagi:
"Budak, perangaimu yang aneh itu cocok sekali dengan
aku."
Kata2 itu memang kasar tetapi makin menandakan
wataknya yang aneh.
Sebenarnya Cu Jiang seorang pemuda yang berwatak
terus terang dan ramah. Dia menyahut dengan tertawa:
"Benarkah ?"
"Budak mengapa engkau tidur di atas gunung begini ?"
"Mungkin sama dengan cianpwe."
"Engkau sama dengan aku orang tua ini? Ngaco belo!
Bau pupukmu belum hilang, masakah engkau juga jemu
pada dunia."
"Hampir begitulah."
"Hm, siapa namamu?"
"Gok-jin- ji."
"Hai, siapa?" teriak orang tua itu seraya menggeliat
duduk.
"Gok-Jin-ji," Cu Jiang mengulangi.
Orang tua itu tertawa gelak2.
"Bagus, bagus, kucari-cari ke seluruh pelosok dunia tidak
berhasil, kiranya sekarang secara tak terduga-duga bisa
bertemu !"
Cu Jiang tergetar hatinya. Apakah orang tua aneh itu
orang Gedung Hitam yang sedang mencari dirinya? Celaka,
keluhnya lalu diam2 dia bersiap-siap.
"Apakah artinya ucapan cianpwe ?" serunya.
"Aku memang justeru hendak mencarimu, budak
buruk..."
Tiba2 dalam posisi masih duduk, orang aneh itu
melambung ke udara dan melayang ke tempat Cu Jiang.
Cu Jiangpun cepat menghantam dengan kedua
tangannya. Tenaga-dalamnya memang hebat sekali dan saat
itu dilancarkan dengan penuh. Orang tua aneh itupun
melayang balik ke tempatnya semula lagi.
"Hai. budak, mengapa engkau menghantam aku ?" teriak
orang tua aneh itu. Saat itu dia berdiri diatas batu.
Saat itu baru Cu Jiang dapat melihat bahwa orang tua
aneh itu tingginya hanya satu meter, gemuk seperti bola dan
rambutnya yang putih seperti perak, memanjang hingga
limbung dengan jenggotnya.
Dia mengenakan baju warna hitam yang memanjang
sampai menutupi lutut sehingga tampak tubuhnya makin
bundar.
Melihat perawakan orang yang begitu ku koay, hampir
Cu Jiang tak dapat menahan geli tetapi dia tak berani
lengah. Bahwa hantaman yang dilancarkan dengan sepenuh
tenaga itu ternyata hanya dapat melemparnya kembali ke
tempatnya semula tetapi sedikitpun tidak sampai terluka.
Cu Jiang menyadari orang kate itu memiliki ilmu
kepandaian yang menakjubkan sekali.
"Apa yang tidak benar?" seru Cu Jiang. "Tak mungkin
engkau memiliki tenaga-dalam yang begitu hebat!"
"Kenapa ?"
"Tenagamu yang semula, hanya tak ada separuhnya dan
sekarang ini!"
Cu Jiang tertegun.
"Dengan dasar apa cianpwe mengatakan begitu ?"
Orang tua kate itu mengelus-elus jenggot dan berseru:
"Sudah tentu apa yang kuketahui, habis dengan dasar
apa lagi?"
"Tadi cianpwe mengatakan hendak mencari aku,
bukan?"
"Benar."
"Apa maksud cianpwe ?"
"Soal itu nanti dulu, sekarang kita bereskan sebuah
persoalan ..."
"Persoalan apa?"
"Mengapa tadi engkau menghantam aku?"
"Karena cianpwe tak memberitahu siapa diri cianpwe
ini."
"Aku orang tua yang hidup sudah seratus tahun masakan
harus lebih dulu memberi tahu asal usulku kepada seorang
anak?"
"Saat ini wanpwe sedang dikejar musuh, maka..."
"Baik, soal itu tak perlu dibicarakan lagi. Tetapi engkau
tadi telah mengirim sebuah pukulan kepadaku, bagaimana
harus menyelesaikan perhitungannya ?"
Cu Jiang tertawa. Dia pikir orang tua itu masih seperti
anak kecil. Menilik sikapnya, dia tentu bukan orang
Gedung Hitam.
"Lalu bagaimana cara menghitungnya ?" ia berbalik
tanya.
Dengan wajah bersungguh, orang tua aneh itu berkata:
"Akupun harus mengembalikan sebuah pukulan
kepadamu !"
Cu Jiang pelahan-lahan berbangkit dan bertanya pula:
"Tetapi bagaimana cara mengembalikannya itu?"
"Bersiaplah untuk menerima !"
"Baik," sahut Cu Jiang. "tetapi apakah cian-pwe akan
memukul dari tempat cianpwe semula?"
"Tentu."
"Ah, apakah itu sudah adil?"
"Budak, kata2mu itu menandakan bahwa hatimu jujur,
terimalah !"
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Dewasa SMA : Pusaka Negeri Tayli 1 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Dewasa SMA : Pusaka Negeri Tayli 1 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-dewasa-sma-pusaka-negeri-tayli-1.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Dewasa SMA : Pusaka Negeri Tayli 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Dewasa SMA : Pusaka Negeri Tayli 1 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Dewasa SMA : Pusaka Negeri Tayli 1 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-dewasa-sma-pusaka-negeri-tayli-1.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar