Cerita Dewasa SMP : Pusaka Negeri Tayli 3

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Kamis, 02 Agustus 2012

Cerita Dewasa SMP : Pusaka Negeri Tayli 3-Cerita Dewasa SMP : Pusaka Negeri Tayli 3-Cerita Dewasa SMP : Pusaka Negeri Tayli 3-Cerita Dewasa SMP : Pusaka Negeri Tayli 3-Cerita Dewasa SMP : Pusaka Negeri Tayli 3


"Sungguh berbahaya!" diam2 ia berseru. Karena
didorong, Ji Ji terpelanting jatuh telentang. Dia menjerit
kaget:
"Koko. engkau kenapa ?"
"Kita tak boleh melakukan begitu !"
"Kenapa ?"
"Soal yang menyangkut kepentingan seumur hidup,
masakan diselesaikan karena secara kebetulan ?"
"Tetapi .... aku sudah menjadi milikmu!"
"Itu persoalan lain !"
Ji ji tetap tak mau bangun dan mulai menangis seraya
berseru rawan:
"Koko, apakah engkau tak mau lagi kepadaku ?"
Dengan mengertek gigi, Cu Jiang menjawab: "Aku tak
mengatakan kalau tak menghendaki engkau."
"Tetapi engkau memperlakukan begitu!"
"Nona Pui . . ."
"Mengapa tak mau memanggil namaku saja?"
Cu Jiang terpesona lagi tetapi untung dia dapat menahan
diri.
"Ji ji . . ."
"Ehm..."
"Kalau kita mau menikah, harus ada yang menjadi
perantara dan saksi."
"Langit yang menjadi perantara, sungai menjadi saksi.
Apakah itu tidak cukup?"
"Tidak, Ji ji, harus tunggu sampai lain waktu."
"Lalu aku.... seorang gadis yang sudah sebatang kara dan
mengembara di dunia persilatan, apakah Gedung Hitam
mau membiarkan saja?"
Memang betul. Gedung Hitam pasti takkan
membebaskan dia. Lalu bagaimana baiknya? Dia sendiri
pun sudah sebatang kara. Tiada rumah tiada keluarga.
"Ji-ji, apakah engkau punya keluarga yang dapat engkau
ikuti?" serunya.
"Oh, engkau hendak menghindari aku . . ."
"Bukan begitu. Aku masih mempunyai banyak persoalan
besar yang harus kukerjakan. Engkau harus mempunyai
tempat tinggal yang aman."
"Lalu besok bagaimana?"
"Setelah urusanku selesai, aku tentu akan mengambilmu
sebagai isteri."
"Memperisteri diriku? Engkau... belum beristeri?"
"Belum."
"Kekasih?"
Serentak terkilas bayang2 Ki Ing dan Ho Kiong Hwa
dalam benak Cu Jiang. Walaupun kedua jelita itu memang
menaruh hati kepadanya, tetapi belum dapat digolongkan
sebagai kekasih. Maka dia pun gelengkan kepala dan
menyahut: "Tidak punya."
"Ah, aku sungguh beruntung sekali." Ji-ji tertawa cerah,
Secerah bunga di pagi hari.
Namun hati Cu Jiang kecut. Pada suatu saat apabila dara
itu tahu wajahnya yang rusak, apakah dia akan tetap
merasa bahagia ?
"Tak mungkin engkau bahagia !" katanya dengan
hambar.
"Mengapa ?" Ji-ji heran.
"Bukan saja takkan bahagia, pun engkau bahkan akan
kecewa !"
Sambil menyiak rambutnya yang terurai Ji-ji deliki mata.
"Mengapa?"
"Aku seorang cacat!" Cu Jiang tertawa masam.
"Kakimu pincang?"
"Masih ada yang lebih hebat lagi."
"Bagaimana hebatnya?"
"Wajahku .... sudah rusak !"
"Itu lebih baik!"
"Apa maksudmu ?"
"Aku tak kuatir engkau direbut orang."
"Ah, itu nanya omongan iseng saja."
"Koko, aku menginginkan hatimu, tak peduli engkau ini
cacat bagaimana saja."
Memang kebaikan seorang Jelita itu sukar sekali ditolak
dan Cu Jiangpun tergerak mendengar pernyataan itu. Ia
memeluk Ji Ji dan berkata dengan nada tegang:
"Ji Ji, aku tak berharga untuk cintamu yang begitu
besar."
Ji-Jipun rebahkan kepala di dada Cu Jiang dan berbisik:
"Koko, Jangan berkata begitu. Jiwaku adalah engkau
yang telah menghidupkan."
"Oh. engkau dasarkan pada membalas budi?"
"Sebagian, tetapi yang penting..."
"Apa ?"
Ji ji menggeser kepalanya menyusup kedada pemuda itu
dan dengan manja berkata:
"Engkau sudah tahu tetapi pura2 tak tahu biar aku
malu..."
Cu Jiang mengusap-usap bahu si dara. “Ji ji, aku cinta
kepadamu." katanya.
"Ah, koko, aku seperti bermimpi mendengar ucapanmu
itu. Matipun aku puas."
Cu Jiang tak berkata lagi. Ia benar2 tenggelam dalam
lautan asmara yang menghanyutkan. Kepasrahan Ji-ji
dengan wajahnya yang cantik, senyum menggiurkan dan
tubuh yang putih mulus membias keharuman itu, telah
melelapkan kesadaran Cu Jiang.
Dia sudah tak dapat menguasai diri lagi dan
tangannyapun mulai melepaskan pakaian si dara dan...
"Toan-kiam jan-jin, engkau cari mati!" tiba2 dalam saat
yang gawat. Cu Jiang mendengar lengking seruan orang
dari atas geladak.
Tidak keras tetapi cukup menusuk telinga. Jelas orang itu
tentu memiliki tenaga-dalam yang kuat ?
Cu Jiang terkejut. Nafsunya hilang seketika dan serentak
dia loncat keluar ke geladak. Tetapi diluar hanya gerumbul
rumput ilalang yang menggunduk di sekeliling dan debur
arus sungai, tak tampak barang seorang manusiapun jua.
"Koko, ada apa ?"
Cu Jiang berpaling dan suruh dara itu tetap berada dalam
ruang bawah. Setelah mengeliarkan pandang ke sekeliling
penjuru, lalu berseru dengan sarat.
"Sahabat dari mana itu ? Mengapa tak mau unjuk diri?"
"Toan-kiam Jan-jin, engkau cari mampus. Bukan
begitukah caranya ?"
Suara itu berasal dari balik pohon. Nadanya suara
seorang wanita yang tak asing lagi. Cu Jiang tegang sekali.
Orang itu tak lain adalah yang hendak ditemuinya tetapi ia
takut bertemu, ialah Ang Nio Cu. Apakah semua yang
terjadi dalam perahu itu telah diketahui semua olehnya ?
"Bukankah anda ini Ang Nio Cu ?"
"Ho, kiranya engkau masih mengenal!"
"Hendak memberi pesan apa?"
"Engkau sudah mati dua kali."
Cu Jiang terkejut.
"Bagaimana aku sudah mati sampai dua kali?"
"Tidak percaya?"
"Bukan tidak percaya, tetapi tak mengerti."
"Engkau ternyata juga romantis sekali sehingga tak tahu
mati...."
"Apa maksud anda ?"
"Tanya sendiri kepada dirimu !"
Wajah Cu Jiang merah tetapi dia terus menjawab:
"Aku tak melakukan perbuatan seperti yang anda
katakan itu."
Ang Nio Cu tertawa sinis.
"Masih menyangkal?"
"Tak perlu."
"Apakah engkau anggap aku terlalu usil mencampuri
urusanmu?"
"Aku tidak menganggap begitu."
"Lalu mengapa tak mau mengakui?"
“Ya, memang aku telah menolong seorang nona."
"Dan perahu itu memang sebuah tempat in-de-boy yang
asyik ...."
"Hanya agar dapat tenang mengobatinya."
"Dan untuk mengantar jiwamu."
"Mengapa anda tak mau berkata terus terang?"
Tiba2 dari bawah ruang perahu terdengar Ji-ji berseru
terkejut:
"Koko, aku takut."
"Tak perlu," kata Cu Jiang, "orang itu tak bermaksud
jahat."
Ang Nio Cu tertawa dingin "Toan-kiam jan-jin, engkau
sungguh tak tahu atau hanya pura2 saja?"
"Benar2 aku tak mengerti ucapan anda, " seru Cu Jiang.
"Engkau akan mengerti. Bawalah siluman rase itu ke
darat sini!"
"Apa? Siluman rase . . ."
"Ya, jangan sampai dia dapat lolos!"
Dari ruang perahu terdengar pula Ji-ji berseru gemas:
"Koko, engkau percaya pada omonganku atau dia?"
Cu Jiang agak bingung.
"Aku tak mengerti bagaimana sebenarnya urusan ini? "
"Sederhana sekali."
"Sederhana?"
"Benar. Hanya wanita yang tahu jelas hati wanita, " kata
Ji ji.
"Bagaimana?" tanya Cu Jiang.
"Dia mungkin mencintaimu!"
Tergetar hati Cu Jiang mendengar kata2 Ji-ji itu. “Ang
Nio Cu tak mungkin mencintai dirinya. Tetapi wanita itu
memang menjadi jomblang untuk menjodohkan dirinya
dengan Ho Kiong Hwa. Tetapi apakah kata2 Ji-ji itu benar .
. ."
"Atas budi pertolongan anda kepadaku, aku pasti takkan
melupakan . . . . " serunya kepada Ang Nio Cu.
"Itu soal lain. " sahut Ang Nio Cu, "aku hendak
menangkap siluman rase itu."
"Mengapa?"
"Apa engkau tergila-gila kecantikannya?"
"Aku bukan manusia semacam itu!"
"Kalau tidak, lekaslah lakukan permintaanku tadi."
"Aku mohon penjelasan dulu."
"Segera engkau akan tahu.”
"Apakah anda tak mau memberi keterangan?"
"Tidak!"
"Ini . . . apakah tidak berani anda mencelakai orang?"
"Kecuali kalau engkau memang sudah tak ingin hidup
lagi"
"Harap anda jangan membuat teka teki ..."
"Tahukah engkau dia itu siapa?"
"Dia bernama Pui Ji ji, dicelakai oleh gerombolan
Gedung Hitam . . ."
"Dan engkau percaya?"
"Aku melihat dengan mata kepala sendiri."
"Seluruh peristiwa?"
Cu Jiang terbeliak.
"Dia menggeletak di tengah jalan dan kutolong . . ."
"Seorang ksatrya akan dikelabuhi dengan cara
keksatriyaan. Toan kiam-jan jin, masih banyak hal2 yang
perlu engkau pelajari. Ilmu silat bukan suatu jaminan dapat
mengatasi segala apa.
"Apakah dia . . ."
"Dia memainkan perannya dengan sempurna sekali. Dan
ini memang keistimewaan dari wanita2 yang telah dilatih."
"Dia menjalankan peran?"
Tiba2 dari ruang perahu Ji-ji melengking keras:
"Biar aku mengadu jiwa dengan dia ..."
"Ji-ji, tenanglah, jangan keluar!" cegah Cu Jiang.
"Tetapi koko .... apakah engkau mampu melindungi
keselamatanku?"
"Bila perlu, tentu."
"Tetapi koko fitnah itu amat berbisa. Dia pandai
mengada-ada untuk merangkai fitnah . . ."
"Sudahlah, jangan bergerak."
"Tetapi . . . aku . . . toh sudah tak menghiraukan soal
mati hidup lagi!" serunya dengan nada marah dan putus
asa.
Dan arah daratan terdengar Ang Nio Cu berseru pula:
"Toan kiam-jan-jin, pernahkah engkau mendengar nama
Hoa Goet?"
Tergetar hati Cu Jiang seketika. Baru beberapa hari saja
dia menghadapi peristiwa gerombolan wanita2 cabul itu.
Sudah tentu dia tahu.
"Tahu," Cu Jiang menggeram, "mereka perempuan2 hina
yang harus dilenyapkan."
"Bagus, bunuhlah lebih dulu siluman dalam perahu itu!"
"Dia .... juga . . ."
Cu Jiang berputar tubuh memandang Ji ji.
"Apakah engkau benar perempuan jalang dari
gerombolan Hoa-gwat bun?" tegurnya dingin. Karena benci
sekali kepada pemimpin Hoa gwat-bun yang telah
bersekongkol dengan Sebun Ong untuk menipunya, maka
begitu bicara dia terus gunakan kata2 yang kasar.
Wajah Ji-ji berobah seketika.
"Aku tak tahu apa itu Hoa gwat-bun. Fitnah itu benar2
merupakan siasat busuk dari orang Gedung Hitam!"
serunya tak kalah keras.
Cu Jiang tahu bahwa Ang Nio Cu merupakan musuh
bebuyutan dengan Gedung Hitam.
"Tak usah menyinggung-nyinggung Gedung Hitam.
Bilang terus terang!" bentaknya.
"Aku matipun tak apa, karena manusia semacam diriku
yang bernasib jelek tentu tetap jamak," Ji-ji mengertek gigi,
lalu melesat keluar.
"Hai, mau apa engkau," Cu Jiang cepat menghadangnya.
"Koko, engkau dan aku, dalam kehidupan sekarang tak
dapat terangkap sebagai suami isteri, biarlah kelak dalam
penitisan yang akan datang kita berjumpa lagi! " seru Ji ji
dengan kalap.
"Jangan sampai dia lolos!" teriak Ang Nio Cu.
Tetapi pada saat itu Ji ji sudah loncat ke dalam air. Cu
Jiang ulurkan tangan hendak menyambar tetapi saat itu
lengannya terasa kesemutan seperti terkena tusukan.
Terpaksa dia lepaskan cekalannya, blung. Tubuh Ji-Jipun
tercebur dalam air dan tak lama lenyap ditelan arus.
Cu Jiang memandang terlongong-longong kearah sungai.
"Ai, dia nekad mengubur diri dalam sungai," pikirnya.
Sampai lama tak terdengar suara Ang Nio Cu. Cu Jiang
mulai curiga, pikirnya: "Dia mendesak orang sampai mati,
apakah terus ngacir ?"
"Mengapa anda tak berkata lagi?" serunya.
Tak ada penyahutan. Cu Jiang mulai gelisah. Apakan
benar2 Ang Nio Cu memang hendak memfitnah Ji-ji
supaya mati? Kalau tidak mengapa sekarang dia diam saja ?
Pikir dia tiba pada suatu kesimpulan Bahwa oleh karena
kepentingan peribadi, Ang Nio Cu tak segan untuk
memfitnah seorang dan sehingga mati secara begitu sia-sia.
Diam2 ia merasa bertanggung jawab akan kematian Ji ji.
Mengapa dia begitu saja mau percayai omongan Ang Nio
Cu.
Tiba2 ia rasakan lengannya yang terkena tusukan tadi
mulai menyerang ke atas bahunya. Ketika memeriksanya
pada tempat bekas tusukan ia telah memupuk sebuah
lingkaran darah warna merah hitam.
"Racun!" seketika ia terkejut sekali. Segera dia kerahkan
tenaga-dalam untuk menghentikan peredaran racun itu.
Kini dia harus merombak semua pikirannya tadi. Pada
waktu hendak mencebur ke dalam sungai dan dicekalnya, Ji
ji telah menusuknya dengan benda beracun. Jelas apa yang
dikatakan Ang Nio Cu itu benar semua.
Sebun Ong menggunakan Cian Su Nio ketua Hoa gwatbun
dan muridnya yang bernama Soh-hun li untuk
menyamar sebagai Ratu kembang Tio Hong Hui dan anak
gadisnya, telah terbongkar rahasianya. Mungkin mereka
hendak menggunakan siasat racun untuk membunuhnya.
Kepala Cu Jiang mulai terasa pusing, pandang
matanyapun berkunang-kunang. Dia duduk bersandar pada
dinding geladak. Kesadaran pikirannya mulai kabur.
Entah sampai berapa lama, ketika membuka mata, ia
masih dapatkan dirinya berada diatas perahu. Tetapi sudah
berbaring diatas tempat tidur kayu dalam ruang perahu.
Diatas geladak duduk seorang wanita yang mukanya
ditutup dengan kain merah. Siapa lagi kalau bukan Ang Nio
Cu.
Cu Jiang coba untuk menyalurkan tenaga dalam, ia
rasakan agak lancar. Hanya lengannya yang terluka tadi,
seolah-olah tak ada atau mati-rasa.
"Apakah aku . . . terkena racun?"
"Ya." Ang Nio Cu menjawab dingin. "racun yang ganas
sekali Racun Toan-bun tok dari perkumpulan Hoa-gwatbun!"
"Toan bun-tok?"
"Hm. racun yang tiada obatnya lagi. Sedang yang punya
racun sendiri juga tak punya obat penawarnya. Kecuali
terhadap musuh besar atau lawan yang harus dilenyapkan
jiwanya, racun itu tak sembarangan digunakan.”
Serasa terbang semangat Cu Jiang mendengar
keterangan itu.
"Kalau begitu, aku .... pasti mati, " katanya dengan nada
getar.
"Mungkin!"
Tiba2 Cu Jiang mendengar suara orang merintih
pelahan. Ternyata dibawah kolong geladak yang terletak di
muka tempat tidur itu menggeletak seorang dara yang basah
kuyup. Hai, Pui Ji ji!
Dengan mengertek gigi, Cu Jiang menggeliat bangun dan
berseru geram:
"Akan kubunuhnya . . ."
"Jangan bergerak dulu." cegah Ang Nio Cu, "sudah
kuminumkan pil tik-tok wan kepadamu. Tetapi dayanya
hanya dapat melindungi jiwa dalam waktu yang terbatas.
Jika engkau marah maka racun itu akan berkembang dan
menyerang ulu hatimu. Biarlah sekarang dia merasakan
buah yang di tanamnya."
Cu Jiang memandang ke arah Ji ji yang ternyata seekor
ular berbisa Gadis itu tengah memandangnya dengan sorot
mata memohon kasihan.
"Engkau bernama Rase Kumala! " bentaknya.
"Ya..."
"Murid dari Hoa gwat-bun?"
"Hm."
"Mengapa engkau mencelakai aku?"
"Menjalankan perintah atasan."
"Perintah dari Ciam Su Nio?"
"Ya."
"Mengapa?"
"Entah."
"Engkau . . . jalang hina, sampah dunia persilatan.
Engkau bermain sandiwara dengan bagus sekali. Sekarang
tamatlah riwayatmu."
"siauhiap .... aku berbuat begitu lantaran terpaksa . . ."
"Hm, benar, karena terpaksa. Entah berapa banyak jiwa
yang melayang karena perbuatanmu yang terpaksa itu. Aku
terpaksa harus mencincang mu . . ."
Ang Nio Cu melesat ke muka.
"Siluman ini pura2 membuang diri ke dalam sungai
tetapi sebenarnya dia hendak meloloskan diri. Ketika aku
menyelam ke dalam air ternyata dapat membekuknya."
Kemudian ia alihkan mata memandang berkilat2 kepada
Rase Kumala, serunya.
"Rase kecil, engkau bunuh dirimu sendiri saja!"
"Ang cianpwe." Rase Kumala merintih-rintih. "mohon
suka mengampuni jiwaku seorang perempuan hina ini."
"Seorang pendekar pedang yang menyinari dunia
persilatan, saat ini sedang menghadapi kematian. Apakah
engkau berharap hidup?"
Tahu bahwa sia2 saja ia memohon hidup, Rase Kumala
nekad. Mencabut tusuk kundai pada sanggulnya ia terus
menusuk sikunya sendiri. Hanya dalam beberapa kejap saja,
dari ketujuh lubang tubuhnya mengalirkan darah. putuslah
jiwanya.
"Apakah yang digunakan untuk menusuk tangannya juga
tusuk kundai itu? " seru Cu Jiang.
"Ya, memang benda itu," kata Ang Nio Cu. "dinamakan
Toan hun-emn. Cobalah renungkan, betapa besar
kesempatan yang diperolehnya untuk membunuh engkau?"
Cu Jiang terkejut dan diam2 menyesal. Teringat akan
adegan2 yang romantis itu, wajahnya makin merah.
Memang benar, pada saat pikirannya limbung dirangsang
nafsu, mudah sekali bagi Rasa Kumala untuk
membunuhnya.
Jika Ang Nio Cu tak keburu datang, dia tentu sudah
mati. Dia makin mendapat pengalaman, betapa ganas, licik
dan keji insan2 dalam dunia persilatan itu.
Menurut Ang Nio Cu. racun Toan-bun tok itu tiada
obatnya. Dengan begitu jelas dia tentu mati. Mati dia tak
masalah. Tetapi kalau harus mati di tangan perempuan
jalang semacam gerombolan Hoa-gwat-bun, dia benar2 tak
rela.
"Masih ingat perjanjian tempo hari?" tiba2 Ang Nio Cu
menegurnya.
"Masih."
"Lalu bagaimana keteranganmu?"
"Saat ini aku sudah terkena racun Toan hun tok. Aku
tentu mati. Apa guna aku harus memberi keterangan?"
"Tidak! Seorang ksatrya harus pegang janji. Selama
engkau masih dapat bicara, harus melaksanakan janji itu!"
Cu Jiang tertawa meringis.
"Lalu . . . apa yang harus kukatakan?"
"Cukup mengatakan, engkau suka atau tidak suka
mengambil Ho Kiong Hwa sebagai isteri?"
Sukar untuk mengatakan perasaan hati Cu Jiang saat itu.
Dia ingin membuka kain penutup muka Ang Nio Cu. Ingin
ia melihat bagaimana wajah yang sebenarnya dari wanita
yang misterius itu. Masakan tahu dia pasti mati karena
racun itu, masih tetap didesak untuk memberi jawaban
tentang pernikahan dengan Ho Kiong Hwa.
"Apakah anda tak memikirkan kepentingan nona Ho?"
tanyanya.
"Kepentingan apa?"
"Aku tak lama tentu mati. Apakah hal itu tidak
menelantarkan hidupnya . . ."
"Itu lain persoalan."
"Anda tetap hendak menjadi jomblang untuk nya?"
"Benar, semua aku yang memutuskan!"
"Aku sungguh tak mengerti ..."
"Tak usah banyak pikir, engkau suka atau tidak?"
Cu Jiang kewalahan. Pikirnya: "Aku toh pasti mati. Dan
karena menjaga gengsi maka Ang Nio Cu sampai bertindak
begitu. Ia pun merasa bahwa dirinya tak sembabat menjadi
jodoh Ho Kiong Hwa”
Setelah merenung beberapa saat. akhirnya ia
mengangguk :
"Baik, aku menurut."
"Tetapi apa keluar dari ketulusan hatimu?"
"Tentu. Masakan dalam persoalan yang begitu penting,
aku hanya berolok-olok ?"
"Baik, ini sudah menjadi keputusan," kata Ang Nio Cu,
lalu mengambil sebuah benda dan dilemparkan Cu Jiang,
katanya:
"Terimalah, itu tanda pengikat dari fihak isterimu."
Cu Jiang menyambuti dan memeriksa. Sebuah kantong
kecil sulaman. Dia tertegun. Sebenarnya dia sembarangan
saja menyetujui karena toh tak dapat hidup lama. Tak kira
Ang Nio Cu begitu serius dan menyerahkan tanda panjar
pengikat perjodohan.
"Bukalah, mengapa terlongong saja?" seru Ang Nio Cu
pula.
Cu Jiang meringis. Ia melakukan perintah. Ternyata
kantong itu berisi sepasang anting-anting dari kumala hijau.
"Engkau menyerahkan apa?*
"Aku .... tak punya apa?."
"Kalau begitu, pakai pedang ini saja," dari bajunya
merah yang gerombyongan, dia mencabut sebatang pedang.
"Memakai pedang anda sebagai pengikat?" Cu Jiang
heran.
"Pedang ini milikmu .. ."
"O . . .. benar, milikku .. ."
Ang Nio Cu mencabut pedang dari kerangkanya dan
bertanya:
"Apa masih mengenali ?"
"Thiat-kiam." teriak Cu Jiang. Dia tak menyangka
bahwa pedang thiat-kiam (besi) miliknya akan jatuh
ditangan Ang Nio Cu. Kini baru dia teringat. Ketika dia
dihantam dan dilempar ke dasar jurang oleh ketiga tokoh
Sip-pat thian-mo, pedang itupun jatuh entah dimana.
Tentulah Ang Nio Cu menemukannya disekitar lembah
buntu itu.
"Bagaimana ?" tegur Ang Nio Cu.
"Baik," kata Cu Jiang.
"Ingat baik-baik! Sejak saat itu nona Ho Kiong Hwa itu
adalah calon isterimu yang resmi!" kata Ang Nio Cu
dengan tandas.
Cu Jiang meringis. Ia merasa seperti bermimpi. Kini dia
sudah mempunyai isteri. Apabila racun itu tak dapat
disembuhkan, bukankah Ho Kiong Hwa akan menjadi Ong
bun-koa atau janda yang belum dikawin.
Setelah menyimpan pedang thiat-kiam, berkata pula Ang
Nio Cu :
"Mari kita berunding mencari jalan menyembuhkan
racun itu."
Cu Jiang terkesiap.
"Bukankah anda mengatakan bahwa racun Toan-bun-tok
itu tiada obatnya lagi?"
"Benar. Tetapi ada seorang yang mungkin dapat
menyembuhkannya."
"Siapa ?"
"Dia berwatak nyentrik sekali, sukar diajak kenal. Tetapi
demi menolong jiwa, terpaksa harus menempuh jalan itu..."
"Siapakah dia itu?"
“Ban Yok ih yang bergelar Kui-Jiu sin-Jin atau manusia
sakti bertangan setan"
"Kui-Jiu-sin Jin Ban Yuk Ih.. ..rasanya aku pernah
mendengar nama itu."
"Kepandaiannya dalam ilmu pengobatan, dalam dunia
ini tiada yang melawan. Tetapi wataknya angkuh dan
menjengkelkan sekali. Kecuali dia suka menolong sendiri,
tak mungkin dia dipaksa untuk memberi obat kepada orang
sekalipun akan diancam bunuh ...."
"Apakah dia benar2 mampu menyembuhkan racun
dalam tubuhku ?"
"Kemungkinan besar."
"Berapa lama aku dapat hidup?"
"Aku mempunyai sepuluh butir pil Bi-tok-wan, dapat
membekukan racun itu supaya jangan menjalar. Kalau tiap
hari makan sebutir, engkau pasti mampu bertahan hidup
sampai sepuluh hari..."
"Sepuluh hari!"
"Ya."
"Di mana tempat tinggal Kui-jiu-sin-Jin Bun Yok Ih itu?"
"Didalam lembah dibelakang puncak Sin li hong gunung
Busan."
Sejenak memperhitungkan perjalanannya, Co Jiang
berkata:
"Masih keburu, tetapi..."
"Tetapi bagaimana?"
"Apakah dia mampu menyembuhkan racun itu masih
menjadi pertanyaan, Dan apakah dia mau memberi obat,
juga masih menjadi soal."
"Asal mampu menyembuhkan saja. suka tak suka, mau
tak mau, dia harus mengobati"
"Memakai kekerasan ?* tanya Cu Jiang.
"Cara apapun dihalalkan asal dapat mencapai tujuan."
"Kalau begitu harap tunjukkan jalannya."
"Aku akan menemanimu."
Cu Jiang terkesiap. Ia tak nyana Ang Nio Cu yang
dimasyhurkan dunia persilatan sebagai seorang momok
ganas, ternyata baik sekali kepadanya.
Dengan nada singkat Cu Jiang menyatakan bahwa dia
tak berani merepotkan Ang Nio Cu.
"Sudahlah, jangan banyak cakap. Apakah engkau dapat
mendayung perahu?" tukas Ang Nio Cu.
"Ya."
"Mari kita berangkat dengan perahu." Sejenak merenung
Cu Jiang menyatakan bahwa hal itu kurang leluasa.
"Mengapa?"
"Dengan naik perahu tentu sukar untuk
menyembunyikan jejak. Dan akupun tak pandai berenang.
Apabila musuh menyerang, tentu sukar untuk menghadapi.
"Ya, benar juga. Kalau begitu kita masing2 mengambil
jalan sendiri. Dan nanti bertemu di Busan, bagaimana?"
Cu Jiang setuju.
"Ingat, tiap hari harus minum sebutir pil Bik-tok wan itu,
dan jangan marah!" Ang Nio Cu memberi peringatan lagi.
"Ya, aku akan mengingat hal itu."
Ang Nio Cu berkata sambil botol dilemparkan kepada
Cu Jiang:
"Itulah pil Pik-tok-wan hanya tinggal sembilan butir,
dapat memperpanjang usiamu sembilan hari. Hati2
menjaganya."
Sambil menyambuti, Cu Jiang menghaturkan terima
kasih.
"Kita berjalan berpisah, tenggelamkan saja perahu ini,"
kata Ang Nio Cu terus loncat ke darat dan tak berapa kejab
sudah lenyap.
Dengan gemas Cu Jiang memandang mayat Rase
Kumala. kemudian dia menghantam papan lantai perahu,
setelah itu loncat ke daratan. Perahu mulai menyelam dan
tak lama sudah tenggelam.
Karena buru2 menuju ke Busan, terpaksa ia putar
kembali ke Kui-ciu. Tak sampai setengah li ia melihat
sebuah tandu warna hijau dipikul oleh empat lelaki gagah,
berjalan seperti terbang.
Dalam sekejab saja sudah tiba. Jelas keempat lelaki
pemikul tandu itu tentu bangsa kaum persilatan.
Cu Jiang tak mau cari perkara. Ia menyingkir ke pinggir.
Dan tandu itupun cepat sekali sudah berlalu.
Tiba2 telinga Cu Jiang terngiang ia sebuah suara lembut
sekali. Mungkin orang lain tentu tak mungkin dapat
mendengar.
"Itulah si pembunuh besar, lekas, jangan cari gara2
kepadanya! " ngiang suara lembut itu.
"Apa dia Toan- kiam jan jin?"
"Benar, memakai penutup muka, kakinya pincang,
masakan ciri2 itu masih belum cukup jelas!"
Cu Jiang berpaling memandang, Ia terkejut ketika
melihat pada bagian belakang tandu itu terdapat pertandaan
dari keempat kojiu dari Tayli yang mengikuti perjalanannya
selama ini. Tanda rahasia itu berbunyi: "Tolong orang
dalam tandu."
O0oood0wooo0O
Jilid 15
"Berhenti!" serentak Cu Jiang berteriak dan dengan
beberapa loncatan dia sudah berada di depan tandu.
Keempat pemikul tanda Itu berhenti dan letakkan tandu.
Wajah mereka berobah tegang.
"Siapa di dalam tandu? " seru Cu Jiang.
Keempat pemikul itu saling bertukar pandang. Tiba2 dari
dalam tandu terdengar lengking seorang wanita:
"Siapa yang menghadang jalan itu?"
Cu Jiang terkejut. Keempat Tay-li-ko-jiu tak mungkin
keliru meninggalkan pertandaan bahaya. Tetapi nada
perempuan dalam tandu itu seperti bukan orang yang
membutuhkan pertolongan.
Sejenak meragu, Cu Jiang segera mengambil keputusan.
Betapapun halnya, dia harus memeriksa lebih dulu.
"Toan kiam-jan-jin." serunya dengan nada tergetar.
"Oh, Toan kiam-jan jin, sudah lama tak berjumpa.
Mengapa menghadang jalan?" seru wanita dalam tandu.
Cu Jiang gelagapan tetapi dia tetap berkeras, serunya :
“Tandu ini agak mencurigakan, aku akan
memeriksanya!"
"Apa? Mau memeriksa?"
"Ya."
"Apakah engkau hendak melanggar peraturan?"
"Katakanlah begitu. Lekas buka pintu!"
"Toan-kiam-jan jin, ilmu silat mempunyai tata peraturan
silat, masakan hendak digunakan untuk menggertak!"
"Aku tak peduli!"
"Aku seorang wanita baik, harap anda tahu aturan,
jangan berbuat yang tak senonoh . . ."
Cu Jiang sudah terlanjur bertindak dan dia malu untuk
mundur.
"Apakah menghendaki aku turun tangan?"
Keempat pemikul tandu itu tampaknya memang orang
persilatan tetapi semua takut kepada Toan-kiam jan jin.
kecuali mengeluh kejut, mereka tak berani ikut bicara.
Pintu tandu terbuka dan tampaklah seorang wanita
muda yang cantik tengah duduk dalam tandu.
Cu Jiang makin bingung. Keempat kojiu dari Tayli itu
tak mungkin akan berolok-olok dengan dia tetapi mengapa
mereka meninggalkan pertandaan rahasia di tandu itu?
Ternyata dalam tandu itu kecuali seorang wanita muda
yang cantik tak terdapat sesuatu yang mencurigakan lagi.
Adakah karena diancam maka nyonya muda itu tak
berani bergerak?
"Harap beritahukan nama." akhirnya ia berseru.
Dengan tertawa secerah musim semi, nyonya itu berkata:
"Apakah perlu harus begitu?"
Suara tawa itu amat memikat hati. Tetapi Cu Jiang
sudah tak mau kena pengaruh lagi.
"Tentu." sahutnya tegas.
"Apa engkau kenal aku? Kalau aku memberi keterangan
yang palsu, apakah engkau dapat membedakan?"
Cu Jiang terbeliak.
"Ya, mungkin benar. Sekarang silakan turun saja."
Nyonya cantik itu kerutkan alis. "Aku harus turun?"
serunya.
"Ya."
"Mengapa?"
"Tak perlu tanya. "
" Kalau aku tak mau?"
"Apa yang kukatakan, tentu kulakukan."
"Apakah anda hendak membunuh aku?"
"Mungkin."
"Sungguh tak ada aturannya. Engkau berjalan sendiri
dan akupun naik tandu sendiri . . ."
"Ah, terlalu banyak bicara, turun!"
"Tetapi engkau harus memberi alasan!"
"Aku hendak memeriksa tandu ini"
"Aneh, kitakan belum saling kenal, mengapa engkau
hendak mengganggu kami ...."
"Lebih baik engkau turut perintah saja."
Terpaksa nyonya cantik itu turun dari pintu. Cu
Jiangpun menghampiri ke pintu dan memandang ke dalam
tandu. Ternyata tandu itu kosong melompong. Diam2 ia
menghela napas dan meringis dalam hati.
"Sudahkah?" nyonya cantik itu tertawa mengejek.
"Pergilah!" terpaksa Cu Jing mundur teratur. Dengan
tertawa nyonya cantik itupun segera melangkah masuk ke
dalam tandu lagi.
Tiba2 sekonyong-konyong dari dalam tandu terdengar
suara orang bernapas.
Telinga Cu Jiang yang tajam segera dapat menangkap
suara itu dan terus membentak:
"Tunggu!"
Nyonya cantik Itu terkejut. Berputar tubuh dan
menyurut mundur beberapa langkah.
"Toan kiam Jan-jin, apa maksudmu?"
"Apa yang berada dibawah dudukan itu ?" seru Cu Jiang.
Seketika wajah nyonya cantik itu berobah dan menyurut
mundur lagi. Keempat pemikul tandu itupun ikut mundur.
Cu Jiang tak mau membuang tempo. Dia menghantam
atas tandu dan mengangkat papan. Kejutnya bukan alang
kepalang ketika melihat seorang manusia yang lebih
menyerupai seorang manusia darah, berada dibawah
tempat duduk.
Orang itu telah dimasukkan kebawah tempat duduk
sehingga tak kelihatan.
Setelah tempat duduk dibongkar, barulah orang itu dapat
terlihat. Seketika Cu Jiang terkejut demi melihat orang itu:
"Dia !"
Orang itu tak lain adalah Ho Bun Cai, congkoan dari
Gedung Hitam yang mengaku sebagai suhengnya. Saat itu
napasnya lemah sekali.
Melihat kepandaian Ho Bun Cai, tentu yang
merubuhkan dan memasukkannya kebawah tempat duduk
tandu itu, memiliki kepandaian yang sakti.
Begitu rahasianya terbongkar, wanita cantik dan keempat
pemikul tandu itu terus melarikan diri.
Ketika Cu Jiang menyadari, mereka sudah jauh sekali.
Sebenarnya dia mampu mengejarnya tetapi menilik
keadaan Ho Bun Cai yang sudah begitu payah, terpaksa dia
harus menolongnya dulu.
Ternyata tubuh Ho Bun Cai penuh berhias sabetan
pedang sehingga dagingnya murmur.
"Suheng, suheng !"
Ho Bun Cai hanya bergerak sedikit tetapi tak memberi
jawaban apa2.
Cu Jiang segera mengangkat tubuh Ho Bun Cai dan
dibawa kedalam hutan. Meletakkannya di tempat yang
sunyi. Waktu ia memeriksanya, Cu Jiang makin lemas
hatinya.
Bukan saja urat-uratnya malang melintang tak karuan,
pun urat nadi bagian hati telah putus. Jelas luka bagian
dalam lebih parah dari bagian luar.
Siapa yang telah melukainya sampai begitu hebat ?
Cu Jiang getun sekali karena tak dapat membekuk
wanita cantik itu. Lalu bagaimana dia harus bertindak ?
Amarahnya berderai-derai membanjir. Satu satunya
murid dari ayahnya, ternyata tak dapat ditolong
Sesosok tubuh berkelebat dan muncullah seorang tua
bongkok, Cu Jiang segera mengenalinya sebagai salah
seorang dari Empat-kojiu Tayli. Namanya Ko Kun.
"Apakah engkau yang membuat tanda rahasia itu ?"
tegur Cu Jiang.
"Ya."
"Bagaimana peristiwanya ?"
"Hamba mendapatkan korban itu menggeletak dipintu
sebuah kuil di tepi sungai. Mulutnya menyebut Toan-kiam-
Jan-jin. Itulah sebabnya hamba terus meninggalkan
pertandaan rahasia. Tetapi pada saat itu muncul beberapa
orang yang membawa tandu. Korban juga diangkut
kedalam tandu. Oleh karena telah menerima titah baginda
bahwa hamba sekalian tak boleh turun tangan, demi
melaksanakan amanat baginda dan demi menjaga
keselamatan negara serta ciangkun sendiri, maka diam2
hamba mengikuti tandu itu untuk mencari kesempatan
meninggalkan pertandaan rahasia pada tandu itu."
"Oh..."
"Apakah masih dapat ditolong ?"
"Sukar," sahut Cu Jiang dengan sedih.
"Ini...."
"Aku harus berusaha supaya dia dapat bicara !"
Ko Kun membungkuk dan memeriksa urat-nadi. Sesaat
ia gelengkan kepala:
"Kecuali terjadi keajaiban, tak mungkin dia dapat
ditolong lagi !"
"Akan kusaluri tenaga-murni kedalam tubuhnya."
"Mungkin tak dapat bahkan kebalikannya akan
mempercepat kematiannya."
"Tetapi aku perlu bertanya banyak sekali kepadanya."
"Ciangkun...."
"Jangan menggunakan sebutan itu."
"Baiklah," kata Ko Kun, "hanya dengan memberikan
saluran tenaga-murni secara pelahan-lahan, Mungkin saja
dapat menyadarkannya."
"Akan kucoba."
"Demi menjaga rahasia diri, maaf, terpaksa aku harus
pergi. ."
"Silakan."
Ko Kun terus lari dan menyusup kedalam hutan. Saat itu
Cu Jiang seperti mau menangis. Pertama karena
mendapatkan suhengnya tak tertolong jiwanya dan kedua
karena dia masih mempunyai banyak sekali pertanyaan
yang belum diketahui. Kalau suheng itu mati. rahasia
itupun ikut lenyap.
Rahasia diri ketua Gedung Hitam. Musuh-musuh
mendiang orang tuanya dan sebab2 mengapa dirinya
sampai dianiaya oleh orang.
Kesemuanya itu masih merupakan teka teki besar yang
belum terpecahkan. Bibinya, wanita gemuk itu, mungkin
tahu semua peristiwa itu. Tetapi dia berada jauh di negeri
Tayli.
Sementara saat itu suhengnya menghadapi kematian dan
dia sendiripun terkena racun sehingga tak dapat berbuat
suatu apa. Merenungkan hal itu semua teringatlah ia akan
suhunya, Gong gong-cu. Jika suhunya berada disitu,
tentulah mudah bila diajak berunding...
Ah... tiba2 ia teringat. Bukankah dia saat itu sedang
menuju ke gunung Busan untuk mencari Kui jiu-sin-jin Bun
Yok Ih yang kabarnya mempunyai kepandaian mengobati
orang yang sudah mati dapat hidup lagi.
Jika demikian apabila dia membawa suhengnya kesana,
tentulah ada harapan jiwanya tertolong. Tetapi ah ... .
Busan sedemikian jauh dan keadaan suhengnya sedemikian
parah, apakah hal itu dapat tercapai.
Setelah merenung sekian saat, ia memutuskan untuk
memberi pertolongan sendiri. Dengan tangan kiri melekat
ke pusar suhengnya, ia menyalurkan tenaga-murni.
Kemudian tangan kanannya menutuk ketiga belas jalan
darah tubuh suhengnya.
Beberapa waktu kemudian barulah tampak mulut Ho
Bun Cai mulai bergerak-gerak dan napaspun mulai
mendengus, kemudian membuka mata. Tetapi sinar
matanya tampak kuyu.
"Suheng, suheng. apakah kenal kepadaku?" serunya
tegang.
Setelah mengulang berapa kali tampak bibir Ho Bun Cai
mulai bergetar tetapi tetap terkatup. Rupanya dia hendak
berkata tetapi tak dapat bersuara. Sikapnya mengunjukkan
penderitaan yang hebat.
Perasaan Cu Jiang makin rawan. Dia memperkeras
saluran tenaga murninya sembari berseru memanggil:
"Suheng, suheng."
Dengan susah payah akhirnya mulut Ho Bun Cai dapat
juga mengucap beberapa patah kata.
"Bu-lim .... seng-hud . . . Sebun. . . Ong . . . balas
dendam . .." dia hendak melanjutkan kata-katanya tetapi tak
kuat. Matanya melotot dan seketika putuslah nyawanya.
Cu Jiang memeluk tubuh suhengnya dan menangis
tersedu-sedu. Sanak saudaranya dalam dunia ini, satu demi
satu telah meninggalkannya. Betapapun keras hatinya
namun hancur juga kesedihannya.
Bu-lim-seng-hud si Buddha-hidup Sebun Ong itu si
manusia agung yang palsu itu. Mengapa dia membunuh Ho
Bun Cai? Apakah karena Ho Bun Cai itu congkoan dari
Gedung Hitam.
Tetapi apa bedanya Sebun Ong dengan ketua Gedung
Hitam? Bukankah mereka setali tiga uang, sama2 manusia
jahat?
Apakah Ho Bun Cai tak dapat meloloskan diri dari
genggaman Gedung Hitam?
Dengan menilai beberapa kesan itu akhirnya Cu Jiang
menyimpulkan bahwa wanita cantik dalam tandu itu
tentulah salah seorang anak buah gerombolan Hoa-gwatbun.
Sungguh tak terduga bahwa Sebun Ong dapat menguasai
gerombolan perempuan2 jalang itu.
Hm jika tak dapat membuka kedok manusia Sebun Ong,
dunia persilatan tentu tak mau percaya bahwa apa yang
mereka agungkan sebagai ksatrya berbudi luhur seperti
Buddha-hidup ternyata seorang manusia jahanam.
Cu Jiang teringat pula akan peristiwa ketika Ho Bun Cai
ditantang oleh Tio Pit Bu. murid dari Hun-kong kiam Go
Siok Ping. Ho Bun Cai mengatakan bahwa dia tak mau
menggunakan jurus ilmu pedang yang dahulu itu.
Dia duga yang dimaksudkan Ho Bun Cai itu tentulah
sejurus ilmu pedang It kiam-tui-hun ajaran mendiang
ayahnya.
Ah, jika pada malam itu dia tak ikut campur dan
membiarkan Tio Pit Bu mendesak Ho Bun Cai, tentulah dia
segera dapat mengetahui diri Ho Bun Cai. Dan tentulah dia
akan memperoleh banyak keterangan dari suhengnya itu.
Dan mungkin peristiwa sedih seperti saat itu takkan terjadi.
Tetapi kesemuanya itu sudah terjadi dan tak mungkin
dirobah. Sesal kemudian tak berguna. Suhengnya telah mati
dengan mengenaskan sekali.
"Sebun Ong! Sebun Ong!" ia menggeram dengan penuh
dendam kesumat. Kemudian ia mencari sebuah tempat di
tepi sungai untuk mengubur Jenazah Ho Bun Cai. Ia
mencari batu untuk nisan dan dengan jarinya ia menggurat
beberapa patah kata:
Makam Ho Bun Cai, murid Dewa-pedang.
Karena menulis itu dia harus menggunakan tenagadalam
dan saat itu dia rasakan badannya kurang enak.
Tetapi dia tak menghiraukannya. Kesedihan dan
kemarahan yang meluap-luap telah menegangkan uratsyarafnya.
Selesai penguburan, dia memberi hormat yang terakhir
dan siap hendak tinggalkan tempat itu. Sekonyong-konyong
terdengar sebuah suara orang berseru dengan nada dingin:
"Toan kiam-jan jin, tempat ini bagus sekali alam
pemandangannya. Tepat kalau menjadi tempat
peristirahatanmu selama-lamanya."
Cu Jiang terkejut dan cepat berputar tubuh. Dua tombak
jaraknya, tegak seorang yang berpakaian hitam dan
mukanya bertutup kain hitam.
Ah, orang itu adalah tokoh misterius yang paling
termasyhur dalam dunia persilatan dewasa itu, yaitu ketua
Gedung Hitam.
Seketika meluaplah darah Cu Jiang, serunya geram:
"Pohcu, selamat bertemu! "
Ketua Gedung Hitam tertawa gelak2.
"Toan kiam jin jin, apakah engkau pernah sesumbar
hendak menghancurkan Gedung Hitam?"
"Benar."
"Mampukah engkau?"
"Tentu!"
"Ha, ha, ha, ha! Jangan keliwat tak tahu diri!"
"Kenyataan nanti yang akan membuktikan!"
"Aku harus bersyukur kepadamu karena engkau mau
merawat mayat congkoan kami Ho Bun Cai," seru ketua
Gedung Hitam.
"Hm," Cu Jiang mendengus.
"Mengapa engkau tahu bahwa dia itu murid dari Dewa
pedang?"
"Tak perlu engkau tahu." baru berkata begitu tiba2 Cu
Jiang terkesiap. Congkoan dibunuh orang mengapa ketua
Gedung Hitam itu tidak menanyakan sebab2 pembunuhan
itu kebalikannya mengalihkan pembicaraan pada lain soal?
Sungguh mengherankan!
Saat itu Cu Jiang hendak bertanya tentang peristiwa
pembunuhan kedua orang tuanya tetapi pikir2, sebelum ada
bukti tentulah ketua Gedung Hitam itu akan menyangkal.
Dan kalau mengemukakan peristiwa pembunuhan itu,
bukankah dirinya sendiri tentu akan ketahuan. Saat itu dia
sedang terkena racun, belum tahu bagaimana nanti
nasibnya.
"Toan-kiam jan-jin." tiba2 ketua Gedung Hi tam berseru
pula, "jangan2 engkau ini juga pewaris dari Dewa-pedang
Cu Hong Ko?"
"Kalau betul begitu, lalu bagaimana?" balas Cu Jiang.
"Engkau sesumbar hendak menghancurkan Gedung
Hitam," kata ketua Gedung Hitam, "atas dasar perhitungan
apa?"
"Perhitungan darah!"
"Dalam peristiwa yang mana?"
"Seharusnya engkau Sudah tahu jelas.”
"Banyak sekali aku berhutang kepada orang. Silakan
engkau mengatakan sendiri!"
Cu Jiang merenung. Jika mengatakan pada saat itu,
tentulah dirinya akan ketahuan. Saat itu masih belum
waktunya, lebih baik dia tak mengungkat peristiwa itu, Jika
musuhnya bukan hanya terbatas ketua Gedung Hitam itu
sendiri, bukankah mereka akan terkejut dan tahu lalu
bersiap-siap?
Serentak dia teringat akan pesan Ang Nio Cu bahwa
selama dalam perjalanan untuk mencari obat ke Busan itu,
sekali-kali jangan marah dan jangan berkelahi dengan orang
karena hal itu akan mengakibatnya racun segera bekerja
keras.
"Aku tak mau membereskan hutan darah itu sekarang,"
seru Cu Jiang.
"Kenapa ?"
"Itu urusanku."
"Tetapi aku justeru hendak mengambil batang
kepalamu!"
"Coba saja kalau mampu!"
Tiba2 dari dalam hutan berhamburan keluar belasan
sosok bayangan manusia. Cu Jiang mengerling pandang ke
sekeliling dan melibat dua diantara orang2 itu terdapat dua
orang tua yang tak asing baginya.
Kedua orang itu adalah kedua jago silat yang menjadi
pengawal Kopuhoa anak raja Biau waktu meminang puteri
baginda Tayli dahulu.
Kini jelas bagi Cu Jiang, bahwa anak raja Biau itupun
sudah ditunggangi ketua Gedung Hitam untuk dijadikan
alat memburu kitab pusaka Giok kah- kim-keng.
Cu Jiang kenal dengan kedua kojiu itu tetapi sebaliknya
mereka tak mengenali dirinya. Waktu di Tayli, dia
mengenakan kedok sebagai panglima Tia-tin-ciang-kun.
Dan dia pun tidak menggunakan pedang kutung seperti
sekarang.
Ha, kini makin jelas bahwa Gedung Hitam itu ternyata
sangat bernafsu sekali untuk mendapatkan kitab Giok-kahkim-
keng. Thian-hian-cu dan Go-leng-cu, berturut-turut
telah menjadi korban mereka.
Saat itu Cu Jiang tak dapat melanjutkan renungannya
lebih lanjut karena bayangan orang2 itu makin
menyempitkan kepungannya hingga hanya terpisah jarak
lima tombak.
Cu Jiang menyadari bahwa pertempuran berdarah tak
dapat dihindari lagi. Bagaimana nanti akhirnya, ia tak dapat
membayangkan.
"Heh, heh, Toan-kiam-jan-jin." ketua Gedung Hitam
tertawa mengekeh, "mengapa engkau tak mau
memberitahukan asal usul dirimu lebih dulu ?"
"Tak perlu!"
"Bagaimana kalau engkau bunuh diri saja?"
"Jangan mimpi!"
"Kalau bertempur, engkau tentu akan mati lebih
mengenaskan . . ."
"Mungkin engkau ?"
"Hm, mari kita lihat saja . .."
Belum habis ucapan itu tiga Pengawal Hitam serentak
maju dari tiga arah. Cu Jiang terkesiap. Ia mendapat kesan
bahwa kesemuanya itu tentu sudah diatur lebih dulu.
Gedung Hitam hendak menggunakan siasat bertempur
secara bergilir untuk menghabiskan tenaganya. Dan yang
terakhir baru ketua Gedung Hitam itu sendiri yang akan
turun tangan.
Saat itu dia masih terkena racun. Menurut Ang Nio Cu,
dia tak boleh menggunakan tenaga dalam. Karena apabila
dia menggunakan tenaga, racun itu tentu akan bekerja.
Jika saat itu tidak hendak meloloskan diri, memang tidak
sukar. Dengan ilmu langkah Gong-gong-poh-hoat, dia tentu
mampu lolos dari kepungan musuh. Tetapi karena masih
berdarah panas, dia tetap tak takut.
Dan terutama nanti apabila menghadapi ketua Gedung
Hitam, dia akan bertempur mati-matian. Sekalipun dia
harus mati, asal durjana itu juga tewas, dia sudah puas.
"Hm, apakah anda tak berani turun tangan sendiri?"
serunya sambil memandang tajam kepada ketua Gedung
Hitam.
"Siapa bilang?"
"Mengapa harus suruh mereka mengantar jiwa lebih
dulu?"
"Untuk melatih kepandaian mereka."
"Ucapan yang indah. Tetapi tidakkah anda bermaksud
hendak menggunakan siasat bertempur secara berantai?"
"Andaikata begitupun tidak apa. Asal bisa mengambil
nyawamu."
"Anjing yang tak tahu malu..."
Saat itu ketiga pengawal Hitam sudah maju dengan
serangan pedang. Ditilik dari kehebatan serangan mereka
tentulah mereka itu termasuk jago2 pilihan dari Gedung
Hitam.
Pelahan-lahan Cu Jiang melolos pedang keluar. Matanya
memancarkan sinar berkilat-kilat buas. Dalam keadaan
seperti saat itu, hanya tinggal satu pilihan, membunuh atau
dibunuh.
Suasana dalam ruanganpun segera berobah tegang
regang, penuh dengan hawa pembunuhan.
Ketua Gedung Hitam mundur sampai empat lima
langkah. Serentak terdengar tiga buah aum pekik yang
dahsyat dari ketiga Pengawal Hitam yang menyerbu dari
tiga arah.
Dengan menggigit gigi, Cu Jiang segera lancarkan jurus
Thian te-kiau-toay atau langit bumi-saling-terangkap.
Huak buk ....
Terdengar jeritan ngeri dan sinar merah darah. Dua
orang pengawal Hitam segera rubuh ke tanah. Sedang yang
seorang terhuyung-huyung mundur dengan berhias tiga
empat tusukan pedang.
Seluruh anak buah Gedung Hitam yang berada di
gelanggang situ, pucat seketika. Serentak tiga lelaki tua baju
hitam masuk kedalam gelanggang. Salah seorang adalah
jago yang menyamar sebagai pengawal putra raja Biau
tempo hari. Jelas bahwa ketiga lelaki tua baju hitam itu
lebih sakti dari kawanan Pengawal Hitam.
Saat itu Cu Jiang rasakan kepalanya agak pusing?, Ia
menyadari dirinya akan tertimpah malapetaka. Diapun
sudah membulatkan tekad. Sebelum dia rubuh, mudahmudahan
dia dapat membunuh kepala Gedung Hitam itu.
Ketiga lelaki tua baju hitam itu dengan menudingkan
ujung pedang, pun sudah maju menghampiri.
Yang menyerang lebih dulu, akan memiliki kesempatan
lebih kuat. Cu Jiang teringat akan ajaran itu. Saat itu bukan
menguji kepandaian tetapi sedang beradu jiwa. Kalau salah
langkah, pasti akan mati dibawah ujung pedang musuh.
Suatu hal yang membuat hatinya penasaran. Matipun
dia tentu takkan meram, Bagaimana nanti dia harus
mempertanggung jawabkan dirinya kepada raja Tayli,
kepada Gong gong-cu dan kepada kawan-kawan yang telah
mati terbunuh oleh keganasan musuh...
Tiba2 ia mengembangkan ilmu langkah Gong-gong poh
hwat Sekali menggeliat, dia terus melenyapkan diri dari
hadapan ketiga lawan.
Huak, huak, huak
Terdengar tiga buah jeritan ngeri dan diatas tanah segera
bertambah dengan tiga sosok mayat lagi.
Ketua Gedung Hitam terkesiap. Seluruh anak buah
Gedung Hitampun tercengang menyaksikan peristiwa luar
biasa itu.
Tetapi saat itu Cu Jiangpun terhuyung-huyung.
Kepalanya makin pening. Sebelah tangannya mulai mati
rasa. Dia menyadari bahwa keadaannya sudah makin gawat
sekali. Jika tidak segera bertindak, tentulah dia akan mati
dengan membawa dendam penasaran.
Serentak dia melompat ke tempat ketua Gedung Hitam
seraya membentak:
"Cabut pedangmu!"
Gerakan Cu Jiang itu memang diluar dugaan dan diluar
dugaan pula ketua Gedung Hitampun mundur selangkah.
Tiga jago pedang segera loncat menyerang Cu Jiang dari
belakang. Tanpa berpaling, Cu Jiang mengayunkan
pedangnya ke belakang.
Terdengar dering yang tajam dan tiga butir kepala
manusia terlempar jatuh. Yang dua orang tangannya juga
putus.
Tetapi Cu Jiang makin pening. Bahkan pandang
matanya sampai berkunang-kunang, perutnya mual mau
muntah, Itulah gejala dari bekerjanya racun. Namun dia
tetap mengertek gigi dan bertahan berdiri tegak.
Dia merasa bahwa ketua Gedung Hitam itu memang
tengik sekali. Tak mau melayani tantangannya tetapi terus
main mundur dan menyuruh anak buahnya yang maju
dulu. Jika demikian, sia-sialah harapannya. Dia mati tanpa
dapat menyentuh ketua Gedung Hitam yang dibencinya itu.
Tiba2 ketua Gedung Hitam yang mundur sampai tiga
tombak jauhnya.
"Mundur !" serunya. Sekalian anak buahnya yang siap
hendak menerjang Cu Jiang, serempak mundur dan
tinggalkan tempat itu.
Cu Jiang diam2 menghela napas longgar dalam hati. Ah,
kalau saja ketua Gedung Hitam itu tahu akan keadaan
dirinya saat itu, tak mungkin dia mau memberi perintah
mundur kepada anak-buahnya.
Sesaat Cu Jiang tertegun. Dia merasa seperti kembali
dari akhirat. Diapun mulai merenungkan tindakan ketua
Gedung Hitam tadi Apakah ketua Gedung Hitam itu takut
kehilangan banyak sekali jago-jagonya ?
Atau sebab karena merasa tak mampu melawan musuh,
mereka agar jangan kehilangan pamor di hadapan anak
buahnya, ketua Gedung Hitam itu lalu memerintahkan
mereka mundur ?
Tiba2 iapun teringat akan keadaan dirinya. Bukankah
akan berbahaya sekali apabila musuh bersembunyi dan
masih mengawasi dirinya ?
Diam2 Cu Jiang menggigil terus ayunkan langkah
menuju ke jalan besar. Tetapi baru berjalan beberapa belas
langkah, masih belum keluar dari lingkungan medan
pertempuran tadi, ia rasakan pandang matanya gelap,
kepalanya berat dan tubuhnya kaku sehingga dia tak kuat
menggerakkan kaki lagi. Tubuhnyapun terhuyung huyung
akan jatuh.
Dalam keadaan antara sadar tak sadar, sekonyongkonyong
ia melihat sesosok bayangan orang berkelebat di
hadapannya.
"Mati aku .. . ." hati mengeluh, tangan pun segera
menyambitkan pedangnya ke muka dan orangnya terus
rubuh. Pada waktu ia rubuh, ia masih sempat mendengar
sebuah suara yang dikenalnya. Tetapi siapa orang itu atau
bagaimana kelanjutannya dia tak mampu mengetahui lagi
karena saat itu dia terus pingsan.
Waktu dia membuka mata, ia dapatkan dirinya rebah di
atas sebuah ranjang yang beralas jerami dan diterangi oleh
sebuah pelita.
Di manakah dia saat itu? Mengapa dia tak mati? Siapa
yang menolongnya? Mengapa, bagaimana dan kenapa
menghujam benaknya.
"Adik kecil, apakah engkau masih kenal aku?" tiba2
terdengar sebuah suara.
"O. lo koko." serentak Cu Jiang mengenal siapa orang itu
dan berseru sambil bangkit.
Kini dia baru mengetahui bahwa Thian-put thou Ciok
Yau liu duduk di samping ranjangnya.
"Bagaimana yang engkau rasakan? " tanya Ciok Yau Je
pula.
Cu Jiang berusaha hendak bangun tetapi tenaganya
lunglai sekali. Ia mencoba pula untuk mengerahkan tenagamurni,
juga tak mampu. Keadaan itu sama dengan orang
yang tak dapat ilmu silat. Ia tertawa hambar.
"Lo-koko, aku mungkin sudah tak berguna!"
"Siapa bilang!" teriak Thian-put-thou dengan keras,
"bagaimana engkau tak berguna lagi..."
"Tetapi ilmu kepandaianku sudah lenyap!"
"Ah, apakah yang telah terjadi pada dirimu?"
Cu Jiang segera menuturkan semua yang di alaminya.
Setelah terkena tusukan beracun dari anak buah Hoa-gwatbun,
dia telah dikepung anak buah Gedung Hitam.
Lalu terjadi pertempuran berdarah yang menyebabkan
racun dalam tubuhnya berkembang sehingga dia rubuh.
Thiau-put thou kerutkan dahi.
"Ah, kutahu engkau memang terkena racun. Tetapi aku
tak menduga kalau engkau terkena racun Toan bun tok
yang ganas itu..."
"Lo-koko, tempat apakah ini?"
"Rumah pondok Bulu-ayam. Kupilih rumah penginapan
kecil ini agar tidak menarik perhatian orang."
"Bagaimana lo-koko secara kebetulan sekali dapat
berjumpa dengan aku?"
"Ha, ha, memang suatu kebetulan yang jarang terjadi.
Aku sedang mondar mandir di Kai-ciu, tak terduga telah
berjumpa dengan sesosok tubuh yang menggeletak di tepi
jalan. Ternyata dia adalah Gong Beng taysu, seorang
tianglo dari vihara Siau lim yang telah menjadi sahabat
baikku. Dia tak dapat menjawab pertanyaanku. Setelah
kuperiksa ternyata dia terkena pukulan beracun Ngo tok
ciang dari Ngo tok-mo, iblis ke tujuh dari gerombolan iblis
Sip-pat-thian-mo. Segera kubawa ia menyingkir lalu aku
nekad mencuri obat penawar racun di markas cabang Thian
tong-kau di Kwi ciu.”
"Apakah Ngo-tok mo itu ketua cabang Thian-thong kau
di Kwi-ciu?"
"Benar."
"Lalu ?"
"Dengan susah payah akhirnya aku berhasil mencuri
sebutir pil Hui-lok wan. Ketika aku tiba ditempat
persembunyian. ternyata Gong Beng sudah meninggal.
Terpaksa dengan hati masygul aku melanjutkan perjalanan
lagi. Secara kebetulan kulihat engkau terhuyung-huyung
rubuh. Aku bergegas lari menghampiri tetapi engkau terus
melontarkan pedangmu kepadaku."
"Maaf. lo-koko, kukira musuh yang datang.."
"Ah, tak apa. Waktu kuperiksa nadi pergelangan
tanganmu kudapatkan engkau tak menderita luka tetapi
terkena racun. Maka pil Ho tok-wan yang sedianya hendak
kuberikan kepada Gong Beng taysu itu, kuminumkan
kepadamu..."
"Oh, lo-koko, benar2 suatu kebetulan yang luar biasa !"
"Tetapi Hoa tok-wan itu hanya mampu menahan racun
Toan bun tok itu untuk sementara waktu tetapi tak dapat
menghapus racun itu!"
"Aku hendak ke gunung Busan untuk menemui Ang Nio
Cu."
"Ang Nio Cu?"
"Ya"
"Bagaimana engkau bersahabat dengan momok wanita
itu?"
"Aku banyak berhutang budi kepadanya."
"Momok wanita itu memang misterius sekali. Kabarnya
dia itu anak murid dari perguruan Hiat-ing-bun (bayangan
darah). Siapakah sesungguhnya dia ?"
"Maaf, lo koko. Walaupun aku bersahabat dengan dia,
tetapi aku sungguh2 tak tahu bagaimana wajahnya yang
asli."
"O, begitu."
"Dia hendak mengajak aku ke puncak Sin li-hong untuk
meminta obat kepada Kui Jin-sin Jin."
"Siapa? Kui-Jiu-sin jin?"
"Ya. Apakah lo-koko kenal padanya?"
Thian-put-thou kerutkan alis, katanya.
"Mungkin hal itu sukar terlaksana."
"Mengapa ?"
"Kui jiu sin-jin itu seorang manusia yang terkenal aneh
sekali wataknya. Sifatnya yang nyentrik, mungkin tiada
keduanya di dunia ini. Dia tinggal di lembah Mo-jin-koh . .
. ."
"Apa ? Mo jin koh !"
"Ya. Mo jin kok atau Lembah-emoh-manusia."
"Mengapa memakai nama itu ?"
"Hm, dia sendiri yang menamakan tempat itu. Lembah
itu merupakan sebuah tempat yang buntu, hanya terdapat
sebuah jalan yang menuju ke lembah buntu itu. Lalu dia
memperlengkapi lembah itu dengan bermacam-macam Ki
bun (barisan aneh). Disebelah luar di tanami rumput dan
bunga2 beracun. Tanpa mendapat ijinnya, tiada seorangpun
yang boleh masuk. Itulah makanya disebut Mo Jin koh."
"Tetapi kecuali ke sana aku tiada lain daya lagi."
"Baiklah, aku bersedia menemanimu kesana."
"Ah, hanya merepotkan lo-koko saja ...."
"Jika engkau begitu, aku akan pergi."
"Ya. ya, akan kubantu saja."
"Juga tidak boleh." Cu Jiang tertawa lalu mengiakan.
"Apakah engkau tak dapat jalan ?" tanya Thian-put-thou.
"Hm . .. rasanya begitu."
"Pada hal banyak sekali musuh2 yang menghendaki
jiwamu."
"Memang aku sedang mengalami kemalangan yang tak
terduga."
"Jika aku terang-terangan membawamu kesana, tentu
akan timbul kesulitan
Cu Jiang tertawa hambar dan mengiakan.
Thian-put thou merenung sejenak. Tiba2 ia menepuk
paha, serunya.
"Ada ! Kita berdua minta nasi!"
"Minta nasi?" Cu Jiang terbeliak.
"Hm. kita berdua berganti dengan pakaian pengemis.
Aku mempunyai beberapa kedok muka dan kita lalu
menyamar sebagai pengemis. Tentu orang takkan tahu dan
takkan mengganggu perjalanan kita."
"Kalau mempunyai kedok muka, mengapa harus
menyaru sebagai pengemis?"
"Adik kecil, kakimu yang pincang itu tentu paling
menarik perhatian orang. Jika menyaru sebagai pengemis
dan berjalan dengan sebatang tongkat, tentu dapat
mengelabuhi mata orang."
"Kita berjalan siang malam. Kalau siang engkau berjalan
sendiri, kalau malam baru engkau ku panggul."
"Ah, lo-koko !"
"Sudahlah, jangan banyak ini itu lagi."
Cu Jiang bersyukur sekali dalam hati. Jika tidak bertemu
dengan raja copet Thian put thou, dia tentu mengalami
nasib yang mengenaskan sekali.
Demikianlah dengan menyaru sebagai pengemis mereka
lalu menempuh perjalanan. Dan selama dalam perjalanan
itu mereka tak menemui gangguan apa2, tiba dengan
selamat di gunung Busan.
Diperhitungkan bahwa saat itu Cu Jiang sudah tujuh hari
berpisah dengan Ang Nio Cu. Walaupun tiap hari makan
sebutir pil Pit-tok wan, tetapi keadaannya makin payah.
Adakalanya dia seperti tak sadar pikirannya dan hampir tak
dapat melanjutkan perjalanan lagi. Untunglah Thian-putthou
memberi bantuan kepadanya.
Walaupun sudah tiba di gunung Busan tetapi untuk
mencapai puncak Sin-li hong, merupakan suatu jarak
perjalanan yang cukup sukar. Dalam penyamarannya
sebagai pengemis itu, tentulah Ang Nio Cu sukar untuk
mengenal mereka.
Rupanya Thian-put-thou menyadari hal itu maka dia
segera mencopot penyamarannya dan ganti pakaian seperti
semula lagi.
Dengan susah payah akhirnya dapat dia membawa Cu
Jiang ke bawah kaki puncak Sin-li-hong dan
menempatkannya di sebuah tempat yang cukup aman.
Ia mengeluarkan ransum kering tetapi Cu Jiang sudah
tak sadarkan diri dan tidak dapat makan dan minum lagi.
Menunggu sampai setengah hari, masih belum juga Ang
Nio Cu muncul. Thian put-thou mulai gelisah. Waktu
sudah amat mendesak sekali.
Kalau tak lekas mendapat pertolongan, Cu Jiang tentu
mati. Sedang dia sendiri tak tahu bagaimana cara memasuki
lembah itu. Dengan begitu jelas dia tak mungkin dapat
mencari manusia aneh Kui-Jiu-sin jin.
Saat itu mentari mulai condong ke balik gunung,
cuacapun mulai meremang petang. Sayup2 terdengar lolong
kawanan serigala dan binatang buas. Tak mungkin dia
paksakan diri membawa Cu Jiang ataupun dia sendiri,
menuju ke lembah Mo-jin koh.
Akhirnya, dalam keputusan daya. Thian-put-thau
melepaskan harapannya kepada Ang Nio Cu. Besok pagi
terang tanah, dia akan membawa Cu Jiang untuk mencapai
lembah Mo Jin koh.
Hawa malam di gunung itu terasa dingin sekali.
Terpaksa Thian-put thou menyalakan api unggun untuk
menghangatkan badan. Disamping itu api unggunpun dapat
mengenyahkan bangsa ular dan serangga.
Maka dia terus keluar dari gua tempat persembunyian itu
untuk mencari rumput kering dan kayu bakar. Tetapi sekitar
tempat itu merupakan sebuah pegunungan karang yang
tandus. Yang tumbuh hanya jenis pakis dan beraneka
rumput.
Apabila hendak mencari kayu bakar harus turun kedalam
hutan yang jaraknya sepuluhan tombak dibawah.
Tetapi dia tak enak kalau meninggalkan Cu Jiang yang
masih pingsan itu seorang diri. Setelah memikir bolak balik,
akhirnya ia memutuskan tetap akan mencari kayu bakar
kehutan itu. Api unggun itu perlu untuk menghangatkan
dingin. Asal dia cepat pergi dan cepat pulang, rasanya Cu
Jiang tak perlu harus dikuatirkan keselamatannya.
Maka diapun terus turun kebawah dan setelah
mengumpulkan beberapa ranting kering, ia terus bergegas
kembali lagi. Tiba di mulut gua, ia seperti tersambar geledek
kagetnya.
Cu Jiang sudah lenyap !
Setelah agak terang, dia mulai memeriksa keadaan gua
dan sekitar. Dia tak melihat barang suatu jejak dan telapak
kaki binatang ataupun bekas2 tubuh yang diseret keluar.
Jelas Cu Jiang tentu bukan dimakan binatang buas
melainkan oleh seseorang. Dan menilik peristiwa itu tak
meninggalkan suatu bekas apa2, jelas orang itu tentu
memiliki ilmu kepandaian yang sakti.
Karena kalau tidak, tak mungkin kehadiran orang itu
dapat mengelabuhi pendengaran dan penglihatannya.
Apalagi dia hanya sebentar saja meninggalkan gua itu.
Lalu siapakah orang itu ?
Ang Nio Cu ?
Mungkin. Dan mudah-mudahan saja dia. Tetapi kalau
bukan dia, ah. celaka. Kalau saja Cu Jiang jatuh ketangan
musuh, dia pasti akan mati ....
Baru pertama kali sepanjang hidupnya, Thian put-thou
merasa gelisah sekali. Pada hal biasanya dia terkenal
sebagai manusia yang tak acuh segala apa di dunia ini.
Kemanakah dia harus mencari Cu Jiang dalam malam
yang segelap itu? Jangankan mencari, sedangkan berjalan
saja sukar untuk melihat jalan.
Tetapi bukanlah Thian-put-thou atau si Pencuri-sakti,
apabila dalam menghadapi situasi begitu menjadi
kelabakan. Dia memang cerdik. Dalam menghadapi
kekacauan seperti itu. yang pertama-tama dilakukan adalah
menenangkan pikirannya dulu.
Setelah tenang, barulah dia mulai mengadakan analisa
tentang peristiwa itu dan siapa2 yang patut dicurigai.
Yang paling keras diduganya adalah Ang Nio Cu.
Mungkin karena tetap hendak menjaga gerak geriknya yang
serba misterius itu, Ang Nio Cu tak mau tindakannya
diketahui orang.
Maka diam2 dia mengikuti perjalanan Cu Jiang dan
menggunakan kesempatan Thian-put-thou sedang turun
kebawah mencari ranting kering Ang Nio Cu terus
menyambar dan membawa Cu Jiang pergi.
Kemungkinan yang kedua, jatuh pada fihak Gedung
Hitam. Tetapi kemungkinan itu memang tipis. Karena
setelah menyamar sebagai pengemis, kalau orang2 Gedung
Hitam itu memang sudah mengetahui, tentu ditengah
perjalanan mereka sudah turun tangan. Tak perlu
menunggu sampai ditempat itu.
Kemungkinan ketiga, diarahkan kepada musuh2 Cu
Jiang yang secara tak sengaja ialah berpapasan di tengah
jalan. Mereka segera menggunakan kesempatan untuk
turun tangan. Sudah tentu kemungkinan ini yang paling
tipis sendiri...
Dengan begitu jelas bahwa kemungkinan pertama itu
yang paling besar. Betapapun saktinya tetapi Ang Nio Cu
itu seorang wanita. Dengan memanggul tubuh Cu Jiang
tentulah langkahnya agak tak leluasa.
Asal dia terus menyusul ke arah lembah Mo Jin koh,
tentulah akan dapat menemui mereka. Dan apabila tiba di
lembah itu ternyata tak menemui mereka, Jelas kalau Cu
Jiang tentu tertimpah suatu peristiwa yang tak diharapkan.
Setelah puas menganalisa, Thian-put thau lari menuju
kearah lembah Mo-Jin-koh.
Dalam malam segelap itu sukar untuk mencari jalan.
Thian-put-thou hanya lari dengan berpedoman pada arah
letak lembah itu. Jika memang Ang Nio Cu tidak sengaja
menyembunyikan diri, tentulah dia akan dapat menyusul.
Dan Thian put-thou mempunyai keistimewaan yang
dapat diandalkan yakni pendengaran dan penglihatannya,
luar biasa tajamnya.
Melintasi puncak Sin li hong, dia mendengar gemericik
suara air dari sebuah parit yang terbentang dihadapannya.
Ditengah parit itu. penuh dengan batu2 menonjol yang
aneh bentuknya. Besar kecil seperti bayangan setan.
Betapapun besar nyali si Thian-put thou itu, tetapi dia
meremang juga bulu-romanya.
"Haha..." tiba2 dari tengah parit itu terdengar suara tawa
dingin tetapi tak ada orangnya.
Tetapi Thian-put-thou malah bangkit semangatnya.
Paling tidak dia telah bertemu orang entah kawan entah
lawan. Dia tak mau bergegas mencari tahu tempat
persembunyian orang itu melainkan hentikan langkah dan
batuk2 lalu berseru.
"Siapa ?"
"Anda seharusnya dapat mengenali." sahut suara orang
itu. Dan nadanya jelas seorang wanita.
Girang Thiau-put-thou bukan alang kepalang. Ia merasa
seperti terlepas dari himpitan batu besar.
"Bukankah anda ini Ang Nio Cu ?" serunya.
"Benar. Tengah malam buta anda berkeliaran ditengah
lembah pegunungan yang sunyi, sungguh suatu kegemaran
yang luar biasa..."
"Hi, hi, haha sama-sama."
"Apakah sebenarnya yang anda cari ?"
"Papan merk ku jatuh !"
"Apa ?"
"Merk namaku jatuh."
"Mengapa ?"
"Kecuali hanya langit, segala apa dalam dunia ini dapat
kucuri semua. Tetapi malam ini aku justeru kecurian."
"Benda apa ?"
"Seorang bocah besar!"
"Pencuri tua, Jangan bergurau. Urusan ini gawat sekali."
"Urusan apa ?"
"Lekas usahakan supaya si maniak aneh dalam lembah
ini keluar untuk mengobati Toan-kiam-jan-jin."
"Ah, dimana dia ?"
"Keadaannya gawat sekali."
"Apakah engkau bukan manusia ?"
"Hm."
"Mengapa engkau tak mau melakukannya sendiri tetapi
menyuruh aku si tua ini ?"
"Bukan menyuruh tetapi meminta. Aku, Ang Nio Cu,
baru pertama kali ini dalam hidupku meminta pertolongan
kepada orang . . ."
"Mengapa ?"
"Anda tentu tahu bahwa mahluk aneh itu paling
membenci kaum wanita. Kalau aku yang datang, tentu akan
runyam."
"Hm, beralasan juga .... tetapi..."
"Tetapi apa?"
"Ini berarti suatu tugas."
"Bukankah dia itu adik kecilmu?"
"Heh, heh. sudah tentu. Kalau tidak begitu, aku si
pencuri tua ini tentu tak sampai begini kalap keluyuran ke
tempat semacam ini !"
"Sudah, kita putuskan begitu. Aku akan membantu
secara bersembunyi."
"Tetapi bagaimana kalau mahluk aneh itu berkeras tak
mau keluar?"
"Dengan kecerdasan yang anda miliki, anda tentu dapat
mencari akal..."
"Sukar dikata lebih dulu."
"Kalau perlu boleh pakai segala cara ..."
"Cara bagaimana?"
"Sampai saatnya baru kukatakan. Sekarang silahkan !"
habis itu terus diam tak ada suara terdengar lagi.
Dengan tertawa kecut, Thian-put-thou geleng-geleng
kepala. Karena Cu Jiang sudah berada ditangan Ang Nio
Cu, Ia tak perlu cemas lagi. Biar nanti setelah terang tanah,
baru dia mulai bekerja. Dari situ ke lembah Mo-Jin koh
hanya terpisah beberapa li saja. Lebih baik ia tidur dulu
untuk memulangkan semangat.
Ia segera mendaki keatas sebuah batu besar lalu
rebahkan diri tidur.
Begitu bangun matahari sudah menjulang di timur. Dia
membasuh muka di saluran air lalu makan ransum kering
dan setelah itu baru turun, lari menuju ke lembah.
Setengah jam kemudian, hari sudah terang benderang.
Dia terus lari menuju kemulut lembah.
"Lokoko . . ." tiba2 terdengar sebuah suara memangginya
sehingga Thian-put thou melonjak kaget. Memandang
kearah suara itu, dia terkejut girang.
Di bawah sebatang pohon, tampak Cu Jiang rebah
dengan tanpa memakai kain penutup muka sehingga
wajahnya yang buruk itu tampak jelas.
Thian put-thou segera lari menghampiri.
"Adik kecil, bagaimana engkau sudah sadar ?" serunya
gembira.
Cu Jiang menghela napas panjang.
"Ang Nio Cu-lah yang telah menolong aku. Sungguh
merepotkan kalian."
"Adik kecil, sudahlah. Jangan omong begitu. Mari kita
mulai bergerak."
"Aku tak bisa jalan."
"Tak apa. Kita sedang meminta pertolongan orang, harus
memakai peradatan. Biarlah aku yang akan mengundang
tuan rumah." ia terus menghadap ke mulut lembah dan
setelah mengumpulkan tenaga lalu berseru nyaring:
"Thian-put thou Ciok Yan Je mohon menghadap pada
tuan pemilik lembah ini !"
Setelah menunggu beberapa saat. Thian-put-thou
mengulang lagi teriakannya. Tetapi tetap tanpa suatu
jawaban. Sampai sepeminum teh lamanya, keadaan tetap
sunyi senyap.
Thian-put-thou tahu bahwa kalau dengan menggunakan
tata cara yang layak, tentu tak mungkin dapat bertemu
dengan tuan rumah. Dia berpaling ke arah Cu Jiang.
"Aku hendak memaki orang itu!"
"Oh, harus dimaki ?" Cu Jiang tertawa.
"Kalau tidak dimaki tentu tidak berhasil. Mahluk tua itu
memang lain wataknya dengan orang biasa."
"Setelah dimaki dan keluar, apakah akan di ajak
berkelahi?"
"Tidak! Aku mempunyai siasat yang bagus. Hanya
dikuatirkan dia tetap tak mau keluar walau pun dimaki
kalang kabut. "
"Maki sajalah!"
Setelah membasahi kerongkongan dengan ludah, ia
menyeringaikan muka lalu mulai berteriak-teriak:
"Ho, tolol, apakah begini caramu menyambut tetamu?"
Menunggu sebentar, Thian-put-thou berseru lagi:
"Hai, orang she Bun, engkau tak memandang mata
kepada aku si pencuri tua ini? Bagus. Mari kita mengadakan
perjanjian mati. Kalau tak bertemu muka, takkan pergi dari
sini. Engkau tak berani keluar, aku yang masuk mencarimu.
Jangan kira dengan mengandalkan permainanmu seperti
anak kecil ini, dapat merintangi aku ..."
Melihat sikap dan kerut wajah Thian-put-thou, diam2
Gu Jiang tertawa geli.
Karena tak diacuhkan, Thian put-thou naik pitam. Dia
memaki sekeras-kerasnya:
"Bun Yok Uh, kalau engkau tetap seperti kura2 yang
menyembunyikan kepala, terpaksa akan kubuka borokmu!"
Rupanya ucapan itu membawa hasil. Dari dalam lembah
segera terdengar suara penyahutan yang dingin:
"Pencuri tua, jangan berkaok-kaok di sini. Apa sih
borokku yang hendak engkau buka itu?"
Thian-put thou tertawa gelak2.
"Aku sih hanya bergurau, Bun lote, karena kuatir engkau
menutup pintu tak mau terima tamu, mata sengaja kubikin
panas hatimu!"
"Silahkan bikin panas, toh ada2 saja. Aku tak mau
menerima orang luar!"
"Tidak mau mengingat betapa jerih payahku jauh2
datang kemari?"
"Itu urusanmu, akukan tidak mengundang."
"Bun lote, jangan begitu getas, dong. Kalau engkau
benar2 mengundang, belum tentu aku mau datang."
"Tentu saja. Kalau tidak mau minta tolong kepadaku,
masakan engkau datang kemari .. ."
"Orang yang pintar tentu sudah mengerti. Ya, engkau
benar. "
"Lebih baik engkau pulang saja, aku tak ada tempo."
"Apakah engkau sungguh2 menolak seorang tetamu
yang datang dari ribuan li?"
"Terserah anda mau mengatakan apa saja. Aku orang
she Bun, memang begini watakku. Banyak bicara tiada
guna . . ."
Thian put thou tertawa dingin:
"Jika begitu, langit sungguh tak kenal orang!"
"Apa maksudmu?" seru Kui jiu sin jin.
"Seorang tabib itu tentu mempunyai budi welas asih
untuk menolong orang. Langit seharusnya tak memberkahi
engkau dengan kepandaian ilmu pengobatan."
"Heh, heh, heh, heh, omong kosong semua!"
"Bun Yok Uh, apakah engkau benar2 tak mau bertemu
orang?"
"Siapapun aku tak mau bertemu."
"Hanya kaum perempuan dan manusia kerdil yang sukar
dipelihara. Engkau memang seorang manusia kerdil," teriak
Thian put thou.
"Orang semacam dirimu, tak berhak menilai orang."
"Pencuripun mempunyai tata susila. Orang she Bun, aku
bukan manusia yang malu berhadapan dengan orang.
Tetapi engkau?"
"Silahkan, aku tiada waktu untuk adu lidah dengan
engkau . . . . "
"Bajingan tua..."
Cu Jiang terkejut mengapa lo kokonya itu dapat memaki
orang. Tetapi Thian put thou memberi kedipan mata
kepadanya agar dia tenang saja.
Sekonyong-konyong sesosok tubuh berkelebat dan
muncul di mulut lembah. Seorang tua yang sudah berusia
lanjut dengan berpakaian jubah yang hanya menutupi di
bawah dengkulnya sehingga kakinya yang telanjang
kelihatan.
Sedang tangannya memegang susuk untuk menyerok
obat. Wajahnya pucat ke biru-biruan dan memandang
Thian put thou dengan penuh kemarahan.
Thian put thou malah tertawa gelak2. "Bun lote,
maafkan perkataanku yang kotor tadi!"
Dengan mengertek gigi, Kui jiu sinjin berteriak: "Aku
hendak mengambil jiwamu!"
"Aku sih sudah tua, matipun tak sayang." sahut Thian
put thou dengan masih tertawa meringis, "kalau minta
nyawaku, sih boleh2 saja. Tetapi lebih dulu engkau harus
mengobati adikku yang kecil ini, bagaimana?"
"Jangan ngimpi, engkau!"
"Apakah engkau benar2 tak mau melakukan?"
"Mengapa aku harus melakukan ?"
Thian put-thou menyeringai.
"Engkau minta imbalan apa ?"
"Engkau tentu tak dapat membayar!"
"Gila, katakanlah!"
"Jiwamu yang tua itu !"
"Ambillah."
Kui-jiu-sin-jin berseru dingin:
"Pencuri tua, jangan engkau tertawa kegirangan,
menghambur namun makian, mengejek orang sesuka
hatimu. Seluas satu li dari lembah ini, telah kutaburi dengan
racun aneh. Barang siapa masuk masuk kedalam lembah
sampai setengah li dan dalam setengah jam tak keluar, tentu
akan kemasukan racun itu. Dalam sehari tentu akan lenyap
tenaganya. Kalau tak percaya, cobalah engkau salurkan
hawa-napasmu!"
Baik Thian-put thou maupun Cu Jiang terkejut dan
serempak menyalurkan napas. Ah, ternyata tenagamurninya
telak mengumpal tak dapat disalurkan lagi.
"Bun Yok Uh," teriak Thian-put-thou marah sekali, "tak
kira engkau telah tersesat kedalam aliran iblis! Dengan cara
yang licik dan keji engkau telah mencelakai orang."
Tiba2 seorang wanita yang mukanya bertutup kain
kerudung muncul.
"Orang she Bun, saat kematianmu sudah dekat!"
"Siapa engkau?" seru Kui Jiu sin jin dengan suara
tergetar.
"Ang Nio Cu !"
"O, Ang Nio Cu, tenaga kepandaianmu sudah banyak
yang hilang. Engkau paling lama berada ditempat ini dan
masih ada tiga orang anak-buahmu lagi ! Ha, ha, ha . . .."
Ang Nio Cu mendegus dingin
"Kui-jiu sin-jin," serunya, "telah kusiapkan beratus-ratus
kati obat pasang pada kedua puncak dikedua samping
lembah ini. Cukup untuk menimbuni lembahmu ini !"
Wajah Kui-Jin sin-jin pucat seketika.
"Engkau berani menghancurkan tempat tinggalku?"
serunya.
"Engkau berani meracuni orang, mengapa aku tak berani
menghancurkan serangan ?" balas Ang Nio Cu.
"Kita mati bersama-sama !" seru Kui-Jiu-sin-jin.
"Apakah sampai mati engkau tetap tak mau mengobati
orang?"
"Tidak!"
Dada Cu Jiang hampir meledak. Sayang saat itu dia tak
dapat berkutik. Dia merasa menyesal dalam hati karena
orang2 yang hendak menolong dirinya itu malah berbalik
tertimpah bencana sendiri. Dia mati, memang sudah
selayaknya. Tetapi lo koko dan Ang Nio Cu itu ? Bukankah
mereka harus korban untuk darinya?
"Kui-jiu-sin-Jin," seru Ang Nio Cu dengan nada tergetar,
"apakah engkau tak kecewa kalau mati ?"
"Tidak !"
"Asal aku memberi tanda, obat pasang itu pasti
meledak!"
"Silahkan! Aku masih mempunyai cukup waktu untuk
membunuhmu lebih dulu!"
"Belum tentu."
"Kalian sudah terkena racun. Andaikata bisa lolos, toh
tetap akan menjadi cacat seumur hidup. Apalagi kalian tak
mempunyai kesempatan untuk lolos !"
"Aku ingin supaya engkau yang mati lebih dulu!"
Ang Nio Cu segera mengeluarkan sebuah benda sebesar
genggam tangan. Warnanya hitam kelam. Lalu berseru:
"Kui-Jiu-sin-Jin. kenalkah engkau dengan benda ini?"
Wajah Kui Jiu-sin jiu berobah, tetapi suaranya masih
tetap dingin:
"Tak ada yang harus diherankan dengan peluru Bi lik tan
semacam itu!"
"Tentu lebih dari cukup untuk menghancurkan tubuhmu,
bukan?"
"Kan aku sudah bilang, kita bakal mati bersama-sama ?"
Kui jiu-sin-jin benar2 manusia yang aneh wataknya.
Sekalipun menghadapi maut, dia tetap keras kepala tak mau
tunduk.
Menilik gelagatnya, rupanya tiada lain jalan kecuali
harus sama-sama mati.
Tiba2 dengan kerahkan sisa tenaganya, Cu Jiang berseru:
"Sudahlah, saudara berdua. Mati hidup itu sudah ada
garisnya. Aku tak ingin melihat peristiwa yang
mengenaskan hati.. . ."
"Bun Yok Uh." tiba2 Thian-put thou tergerak
hatinya,"biarlah dalam penitisan besok engkau menjelma
menjadi kerbau yang akan disembelih dengan pisau dan
dikuliti urat-uratmu."
Kui-Jiu-sin Jin hanya mendengus tetapi tak mau
menyahut.
Karena tak mempan, Thian put-thou melanjutkan
makiannya lagi:
"Orang she Bun, Isterimu Cium Ngo Nio itu kelak dalam
penitisannya tentu masih menjadi wanita cabul yang
mempermainkan kaum lelaki. Dan engkau hanya menjadi
binatang Kerbau yang akan disembelih dan dijadikan
hidangan mereka !"
Bukan kepalang kejut Cu Jiang. Kiranya Cian Ngo Nio,
ketua gerombolan Hoa-goat-bun itu adalah isteri Kui-jiu-sin
jin. Itulah sebabnya maka Thian-put-thou mengatakan
bahwa Kui jiu sin jin itu paling benci kepada wanita.
Muka Kui jiu tin jin merah seperti kepiting direbus.
Uratnya berkerut-kerut dan tubuhnya gemetar. Matanya
memancar sinar pembunuhan yang berkobar-kobar.
Kata2 Thian put thou benar2 telah menyinggung
perasaannya. Dan karena Kui jiu sin jin menggunakan
racun untuk mencelakai orang, Thiau put thoupun terpaksa
menyemprot dengan kata2 setajam itu.
Ang Nio Cu mengangkat pelor Bik li tan dan berseru
nyaring :
"Orang she Bun, untuk yang terakhirnya jawablah.
Engkau mau atau tidak mengobati racun yang telah
mengendap ke dalam tubuh kita itu?"
"Tidak bisa." cepat Kui jiu sinjin menjawab.
"Terpaksa akan kulontarkan!"
Dengan mengertek gigi, Kui jiu sin jin menyambut
ancaman itu:
"Lemparkanlah, tak nanti aku tunduk!"
Ibarat sudah naik di punggung macan, Ang Nio Cupun
terpaksa harus melakukan apa yang diucapkan itu.
Pada saat malaekat elmaut hendak menaburkan
keganasan, tiba2 sesosok bayangan melesat ke luar dari
dalam lembah dan saat itu muncullah seorang pemuda
gagah berpakaian hitam di sisi Kiu-jiu sin jin.
"Mengapa engkau tak mau mendengar perintahku
supaya jangan keluar?" tegur Kui jiu sin jin dengan nada
tergetar.
Sejenak pemuda itu memandang Thian put thou dan
Ang Nio Cu lalu berkata kepada Kui jiu sin jin:
"Yah, hancurkan mereka!"
"Bagus kiranya kalian bapak dan anak sealiran. Tentu
tidak kesepian, ya! "
Mata pemuda itu memandang ke arah Cu Jiang yang
menggeletak di samping. Tiba2 ia menjerit:
"Ih, engkau!" serentak dia terus melesat menghampiri.
"Mau apa engkau?" Thian put thoupun melesat dan
membentak.
Pemuda itu deliki mata kepada Thian put thou:
"Jangan cengeng! saat ini anda tak kuat menerima
tamparan sebuah jariku saja!"
Thian put thou mendengus:
"Hai, budak kecil, keadaanku bukan seperti yang engkau
duga!"
Melihat pemuda itu, Cu Jiang seperti sudah pernah
bertemu tetapi lupa entah dimana.
Pemuda itu tak menghiraukan Thian put thou melainkan
menuding Cu Jiang.
"Apakah saudara masih ingat padaku?" tegurnya.
Cu Jiang kerutkan alis, sahutnya: "Seperti sudah pernah
ketemu tetapi tidak ingat."
"Aku adalah Bun Cong Beng!"
"Bun . . . Cong . . . Beng .... o, benar . . . . " segera Cu
Jiang terkenang akan peristiwa beberapa waktu yang
lampau ketika ia tengah meneduh hujan ke dalam sebuah
kuil di luar kota Kui-cu, dia berjumpa dengan rombongan
anak buah Gedung Hitam yang dipimpin Pek poan-koan
atau Hakim Putih yang meringkus seorang pemuda.
Hakim Putih itu telah memaksa pemuda itu untuk
menyerahkan kitab Sin-liong po-tian sebagai penukar
jiwanya. Saat itu karena tak tahan melihat perbuatan yang
sewenang-wenang, Cu Jiang lalu menggunakan lencana
Hek-hu pemberian dara Ki Ing untuk mendesak Hakim
Putih melepaskan pemuda itu....
"Apakah saudara sudah ingat?"
"Ya. sekarang ingat."
"Rupanya saudara sedang mengalami kesulitan? "
"Benar, aku telah terkena racun Toan-bun-tok dan
hendak mohon pertolongan ayahmu mengobati racun itu .."
Bun Gong Ban bergegas lari kepada ayahnya dan
mengucapkan beberapa patah kata.
"Setitik menerima budi orang, harus dibalas dengan
curahan pertolongan. Bawa dia masuk!" seru Kui jiu-sin jin
keras2.
Thian put-thou memandang kepada Ang Nio Cu dan
geleng2 kepala:
"Ah, sungguh2 tak terduga!"
Bun Cong Beng kembali ke tempat Cu Jiang dan
mengajaknya masuk ke dalam lembah.
"Bun-heng, bukan aku bermaksud hendak meminta lebih
dari apa yang layak kudapatkan tetapi dapatkah kiranya
anda mengobati dulu racun yang bersarang pada tubuh
kedua kawanku itu?"
"Akan kubicarakan dengan ayah!"
Rupanya Kui-jiu-sin-jin sudah mendengar perkataan
puteranya maka cepat2 dia menanggapi: "Aku hanya
berhutang budi seseorang!"
Saat itu dengan dipimpin Bun Cong Beng, Cu Jiang
sudah tiba di hadapan Kui jiu sin-jin.
"Bun Cianpwe, tak dapat mengabulkan permohonan
wanpwe? "
"Aku selalu membedakan budi dan dendam tak mau
sembrono." sahut Kui jiu-sin jin.
"Baik," kata Cu Jiang, "kalau cianpwe tak mau
mengobati racun pada mereka, wanpwe pun tak mau
menerima pengobatan cianpwe."
"Engkau pernah menolong Cong Beng. Aku hendak
membayar hutang budimu. Selama hidup aku tak mau
menolong orang, juga tak suka berhutang budi kepada
orang."
"Kedatanganku kemari bukan hendak meminta budi juga
tidak akan memberi budi dan mengharap balas. Tentang
asal usul putra cianpwe itu, sebelumnya aku tak tahu.
Hanya secara kebetulan saja hal itu kuketahui setelah dia
muncul tadi."
"Uruslah urusanmu sendiri. Sejam kemudian engkau
pasti takkan tertolong lagi ..."
"Wanpwe tak menghiraukan soal mati atau hidup !"
"Kalau begitu, mengapa datang kemari ?"
"Keadaannya berbeda. Sebelum mati berpantang ajal,
sudah menjadi sifat manusia. Tetapi kini setelah
berhadapan dengan dua hal: kebajikan atau kepentingan
diri sendiri, aku tetap memilih yang tersebut dulu dan tak
menghiraukan lagi soal mati atau hidup."
"Pandangan biasa."
"Lalu apakah pandangan cianpwe itu melebihi orang
biasa."
"Jangan berlidah tajam."
"Karena kepentingan peribadi dan kehilangan kawan,
aku lebih baik menolak."
"Setelah kusembuhkan engkau, anggaplah sebagai
pembayar budimu. Kelak walaupun engkau mengucapkan
kata yang setinggi langit dan minta dengan mati-matian,
aku tak peduli lagi." kata Kui-jiu sin-jin.
Memang aneh sekali watak orang tua itu. Thian-put thou
memandang Bun Gong Beng lalu Cu Jiang, Ia
menghentakkan kaki ke tanah dan berseru:
"Bun Yok Ih, kalau engkau anggap kata-kataku
menyinggung perasaanmu, aku pencuri tua bersedia
mengaturkan maaf. . ." ia terus menjurah memberi hormat
kepada Kui-jiu-sim-jin.
Sudah tentu tak enak sekali hati Cu Jiang. Dia tahu
bahwa orang persilatan itu lebih baik mati daripada tunduk.
Mengapa lo-koko mau berbuat begitu merendah kepada Kui
Jiu sin jin tentu karena mengingat kepentingannya (Cu
Jiang).
Ah, budi sebesar itu entah bagaimana kelak ia dapat
membalasnya.
Dari kemasyhuran nama, Thian-put-thou tak kalah dari
Kui-jiu-sin-Jin. Dari kedudukan tingkat, bahkan lebih tinggi
setingkat dari Kui jiu sin jin itu, tetapi menghadapi
peristiwa semacam itu mau tak mau luluh juga hatinya.
Apalagi, Cu Jiang itu pernah menolong jiwa Bun Cong
Beng,
Seketika wajahnya berobah lalu akhirnya mengeluarkan
sebuah botol kecil dan menuang lima butir pil. serunya:
"Obat ini masih baru, ambil dan tinggalkan gunung ini!"
Thian-put-thou terpaksa menelan kemengkalan. Dia
maju menerima pil itu lalu menunjuk ke arah Cu Jiang:
"Lalu dia?"
"Tak perlu engkau urus!"
"Dia terkena racun ganas Toan-bun-tok."
"Tahu."
"Orang she Bun, aku hendak berkata lebih dulu. Dia
kuserahkan kepadamu. Jika racun itu tak dapat diohati dan
kalau sampai terjadi sesuatu pada dirinya, aku pencuri tua
tentu akan menuntutmu."
"Silahkan !" habis berkata Kui jiu-sin Jin terus lari masuk
kedalam lembah.
Bun Cong Bengpun lekas menggandeng tangan Cu Jiang
diajak menyusul ayahnya.
Thian-put thou memandang Ang Nio Cu, tertawa kecut:
"Engkau Ang Nio Cu, apakah baru pertama kali ini
tunduk pada orang?"
Ang Nio Cu menjawab dingin:
"Demi menolong orang, kalau tidak mau tunduk, habis
bagaimana?"
Thian-put-thou melemparkan empat butir pil kepada Ang
Nio Cu seraya berkata.
"Bagaimana langkah kita sekarang ?"
"Aku hendak menunggunya di gunung ini."
"Aku juga."
"Tetapi kita tak boleh bersama...."
"Sudah tentu." sahut Thian-put-thou, "mari kita jalan
sendiri2 !"
Sekali loncat, Ang Nio Cu terus melesat lenyap. Thianput-
thoupun Segera ayunkan langkah tinggalkan lembah
itu.
Sementara Cu Jiang digandeng Bun Cong Beng masuk
kedalam lembah, disepanjang jalan dia berpikir:
"Karena Ciam Ngo Nio ketua Hoa goat-bun itu isteri
dari Kui-Jiu-sin-jin, maka racun Toan-bun tok yang
digunakan itu tentu racun yang diperoleh dari suaminya.
Dengan begitu Kui-jiu-sin-jin tentu mudah mengobatinya.
Jika dikatakan bahwa racun itu sejenis racun ganas yang
tiada obatnya, mungkin dimaksudkan Ciam Ngo Nio
memang tak mengerti cara mengobatinya."
Tak berapa lama mereka tiba dimuka sebuah rumah batu
yang dikelilingi oleh pohon2 hijau. Alam pemandangan
disitu, tenang dan meresapkan perasaan.
Setelah dibawa masuk kedalam rumah, Bun Cong Beng
membaringkan Cu Jiang diatas sebuah ranjang kayu.
"Cu heng, akan kuminta ayah untuk menyembuhkanmu
dulu baru nanti kita makan," kata Bun Cong- Beng.
“Ah, terima kasih. Bun-beng," sahut Cu Jiang.
"Ai, Cu heng telah memberi budi besar kepadaku,
mengapa mengucapkan kata2 begitu."
"Hal itu sebenarnya hanya secara kebetulan saja. Aku tak
bermaksud hendak memberi budi apa2."
"Beristirahatlah, sebentar ayah tentu datang," baru Bun
Cong Beng mengucap begitu, Kui-jiu-sin-jinpun sudah
muncul dengan membawa sebuah peti obat.
Tanpa berkata apa2, dia terus menusuki seluruh jalan
darah pada tubuh Cu Jiang. Kemudian mengambil lima
butir pil yang berlain-lain warnanya, dimasukkan kemulut
Cu Jiang.
Begitu masuk kedalam perut, serentak timbullah suatu
aliran panas yang tersebar ke seluruh tubuh. Terakhir
mencurah ke lengan kanan Cu Jiang.
Linu, kesemutan, sakit dan gatal, serempak bertukaran
dalam tubuh Cu Jiang sehingga dia tak tahan dan
mengerang-erang. Beberapa saat kemudian rasa sakit yang
sukar ditahan itu pelahan-lahan mulai mengalir kebawah
lengan, ke siku lalu ke pergelangan tangan, Dan terakhir
mengumpul di Jari telunjuk. Ketika Cu Jiang memandang
ke tempat itu, ia terkejut.
Ternyata jari tengahnya bengkak sampai lipat dua
besarnya dan berwarna hitam.
Kui-Jiu- sin-jiu mengambil sebuah pisau tajam lalu
memegang tangan Cu Jiang. Sementara Cong Beng
mengambil sebuah baskom kumala ditaruh dibawah. Begitu
pisau membelek jari tengah maka darah bercampur air
hitam segera mengucur keluar.
Dan Cong Beng lalu menampung kucuran darah hitam
kedalam baskom.
Setengah jam kemudian, Jari tengah itupun pulih
bentuknya seperti semula dan Kui-jiu-sin-Jin lalu berkata:
"Sudah selesai !"
Keringat Cu Jiang membanjir keluar. Rasa sakit reda
tetapi orangnyapun pingsan.
Ketika sadar, lampu sudah menyala. Cu Jiang rasakan
badannya segar. Turun dari ranjang, meja didepan ranjang
sudah tersedia nasi dan lauk pauk. Sedang Cong Beng
tampak berdiri dibelakang meja dan tertawa:
"Cu heng kau tentu lapar. Silahkan makan seadanya..
Kami hanya dapat menyediakan masakan kasar, harap
jangan marah."
Cu Jiang mengucapkan terima kasih atas budi kebaikan
kedua ayah dan puteranya itu.
Selesai makan. Cu Jiang memperhatikan agaknya Cong
Beng hendak berkata tetapi ragu2.
"Bun - heng, silahkan apabila hendak berkata kepadaku."
"Aa, hanya suatu keinginan yang gila karena hendak
mengetahui rahasia orang. Tetapi kalau memang tidak
leluasa, tak perlu anda menceritakan..."
"Tak apa, katakanlah."
"Tempo hari karena tergopoh-gopoh berpisah, sampai
lupa menanyakan nama anda."
"Namaku Cu Jiang, ayahku adalah mendiang Dewapedang
Cu Beng Ko.. ."
Bun Cong Beng melonjak bangun dari duduknya dan
berseru kaget:
"O. anda ini putera dari Dewa-pedang. Ah, maaf aku
perlakuanku kurang hormat."
"A., janganlah Bun-heng mengatakan begitu."
"Pada waktu akhir2 ini dunia persilatan digemparkan
dengan munculnya seorang tokoh Toan-kiam-jan-jin,
apakah..."
"Memang aku sendiri."
"Oh," Cong Bun makin terkejut penuh rasa kagum, "Cu
heng, apakah ayahmu sudah meninggal ?"
"Ya," Cu Jiang menyahut sedih, "telah dicelakai oleh
musuh. Seluruh keluarga habis terbunuh, hanya tinggal aku
seorang."
"Ah, maafkan kelancanganku sehingga menyinggung
perasaan Cu-heng..." baru Cong Bun berkata begitu, tiba2
sesosok tubuh berkelebat dan tahu2 muncullah Kui-Jiu sin-
Jin.
"Ho. engkau anak dari Cu Beng Ko?"
Cu Jiang gopoh2 memberi hormat dan mengatakan.
"Kabarnya Cu Beng Ko sudah mengundurkan diri dari
dunia persilatan dan hidup ditempat yang sepi. Lalu
bagaimana peristiwa itu?"
"Ayah menyembunyikan diri karena hendak
menghindari musuh. Tetapi musuh tetap mencarinya "
"Siapa musuh ayahmu?"
"Sedang wanpwe selidiki."
"Sebelum dia menyembunyikan diri, aku pernah bertemu
muka dengan ayahmu.... berapa orang saudaramu ?"
"Wanpwe mempunyai seorang adik lelaki dan seorang
adik perempuan. Tetapi keduanya juga ikut dibunuh
musuh."
"Engkau putera yang sulung?"
"Ya."
"Berapa umurmu sekarang?"
"Hampir dua-puluh."
Kui Jiu-sin jin terkejut.
"Kuingat jelas waktu engkau masih kecil wajahmu amat
tampan. Mengapa sekarang berobah begitu rupa ?"
Cu Jiang mengertak gigi. Dia lalu menuturkan semua
peristiwa yang telah dialaminya. Mendengar kisah yang
menyedihkan itu Kui jiu sin Jin sampai menitikkan dua
butir airmata.
"Walaupun berwatak aneh, tetapi orang tua ini
sebenarnya seorang yang halus perasaannya," diam2 Cu
Jiang membatin.
"Mari kita duduk," kata Kui-Jiu sin Jin. Mereka bertiga
lalu duduk.
"Aku dan ayahmu mempunyai tali persahabatan yang
karib. Boleh dikata hanya dialah satu-satunya orang yang
tahu akan perangaiku. Sungguh tak nyana kalau dia sampai
tertimpa nasib semalang itu, Tak apa, aku akan
memberikan bantuan sekuat kemampuanku untuk
memulihkan wajahmu kembali seperti sediakala!" kata Kuijiu-
Sin-Jin.
O0odwo0O
Bukan kepalang kejut Cu Jiang saat itu. Dia hampir tak
percaya akan pendengarannya saat itu. Suatu hal yang tak
pernah ia mengimpikan, bahkan mengharappun tak pernah
terlintas dalam benaknya.
"Mengembalikan wajahku seperti bermula?" ia
mengulang dengan nada gemetar.
"Ya."
"Tetapi.... sudah begini cacad .... "
"Engkau percaya kepadaku atau tidak ?"
"Wanpwe . .. hanya ... hanya . .. keliwat tak menduga."
"Apakah nama Kui - Jiu - sin - Jin itu hanya gelar kosong
saja ?"
Kui-Jiu sin-jin artinya Manusia-dewa-bertangan-setan.
"Ya, ya, maafkan wanpwe," Cu Jiang tak dapat berkata
apa2 lagi karena diluap oleh rasa girang yang tak terhingga.
"Wajah dan kaki kirimu itu harus dikerjakan lagi dengan
ilmu pembedahan."
"Pembedahan ?"
"Benar," kata Kui-jiu-sin-jin, "tulang yang patah dapat
disambung tetapi muka yang rusak itu harus diganti dengan
kulit daging yang diambilkan dari tubuhmu."
"Ah," Cu Jiang mendesah penuh keheranan. Baru
pertama kali itu dia mendengar tentang ilmu pembedahan
yang begitu mengagumkan.
"Dan untuk menyelesaikan pembedahan itu harus
memerlukan waktu seratus hari," kata Kui-jiu-sin jin pula.
"Wanpwe .... entah dengan kata apa harus
menghaturkan terima kasih ...."
"Tak perlu. Anggap saja bahwa aku telah melakukan
sesuatu terhadap sahabatku lama."
Demikian dengan ilmu pengobatannya yang sakti, Kuijiu-
sin-Jin mulai membedah wajah Cu Jiang. Semua bekas
noda dan luka, dihilangkan kemudian ditambal dengan
kulit dan daging pada bagian lain dari tubuh anak muda itu.
Kakinya yang pincangpun mengalami operasi dan
sambung tulang. Selama mendapat pengobatan itu, tiada
lain pekerjaan bagi Cu Jiang kecuali hanya tiduran. Dan
waktu2 beristirahat itu dipergunakan untuk merenungkan
dan memecahkan bagian terakhir dari kitab Giok kah-kimkeng
yalah bagian pelajaran kim kong-sin-kang-lip-bun.
Tenaga sakti Kim-kong-sin-kang itu tak dapat
diselesaikan dalam latihan sehari dua hari tetapi harus
menggunakan waktu yang lama, perhatian yang tekun dan
latihan2 yang giat.
Demikian tak terasa seratus hari telah lewat. Pada hari
itu Kui Jiu sin Jiu membuka kain pembalut muka Cu Jiang.
Entah bagaimana gemetar juga tangan orang tua itu.
Rupanya tabib sakti itu juga merasa kasihan atas
nasibnya dan kagum atas kegagahannya menghadapi segala
bahaya dan musuh-musuh yang ganas itu.
Cong Beng memberikan sebuah cermin dan suruh Cu
Jiang melihat wajahnya. Waktu berkaca, Cu Jiang menjerit
kaget, heran dan gembira. Wajahnya yang semula penuh
bintik dan noda2 luka yang menyeramkan pandang mata,
kini telah berobah halus dan tampan seperti dulu lagi.
Air matanya berderai-derai dan tubuhnya gemetar keras.
Serentak memandang kearah Kui Jiu sin-jin dia terus
berlutut:
"Terima kasih atas budi besar yang cianpwe limpahkan
kepada wanpwe."
Kui jiu sin-jin mengangkatnya bangun.
"Tak usah mengatakan begitu. Selama hidup aku hanya
melakukan pekerjaan yang kusenangi dan juga tak pernah
meminta pertolongan orang. Tetapi..."
"Mohon cianpwe suka memberi petunjuk."
"Setelah turun gunung, lakukan suatu pekerjaan
untukku."
"Baik, mohon cianpwe katakan apa yang harus wanpwe
lakukan nanti."
"Bunuhlah Ciam Su Nio "
Cu Jiang teriak kaget. Ia memandang Bun Cong Beng
lekat2. Dilihatnya pemuda itu juga mengeretak geraham.
Cu Jiang bingung Betapapun tidakkah ketua Hoa Gwat
bun yang bernama Cian Su Nio itu ibu dari Bun Cong Beng
? Betapapun bencinya, tetapi mereka tetap terikat suatu
hubungan darah.
Cu Jiang merasa bahwa peristiwa dalam dunia ini,
memang aneh dan penuh dengan segala kemungkinan yang
tak mungkin..
Tionggoan-tay-hiap Cukat Giok minta tolong kepadanya
untuk membunuh istri dan mencari anak perempuannya.
Kini Kui-jiu sin-jin juga minta tolong kepadanya supaya
membunuh isterinya. Kedua tokoh itu sama dikhianati oleh
istrinya yang menyeleweng.
Melihat Cu Jiang diam saja, Kui-Jiu sin jin segera
menegur:
"Sama sekali bukan karena pernah menolong kepadamu
maka aku terus minta tolong padamu. Aku takkan
memaksa. Kalau engkau tak mau, pun tak mengapa."
"Bukan begitu maksud wanpwe."
"Lalu bagaimana?"
"Tetapi bukankah Ciam Su nio itu .... isteri cianpwe
sendiri?"
"Ha, ha, ha, ha .. . isteriku yang pertama sudah
meninggal ketika melahirkan Cong Beng. Itu waktu aku
belum berhasil mempelajari ilmu pengobatan, jika tidak,
tentulah dapat menyelamatkan jiwanya . . .."
"O, begitu. Baik, wanpwe akan melakukan perintah
cianpwe."
"Bukankah engkau ingin lekas2 tinggalkan tempat ini?"
Merah muka Cu Jiang, sahutnya.
"Maaf, cianpwe. Memang wanpwe masih banyak
urusan”
"Tak perlu mengemukakan alasan," sahut Kui-jiu-sin-Jin,
"akupun takkan menahan engkau. Tetapi . . . pintu Mo jinkoh
ini selalu terbuka untukmu. Setiap saat engkau boleh
datang kemari!"
Cu Jiang membungkukkan tubuh dan menghaturkan
terima kasih.
"Cu heng, kuminta engkau datang lagi supaya kita dapat
bercakap-cakap dengan puas," kata Cong Beng.
Cu Jiang mengiakan.
"Silahkan berangkat." kata Kui jiu sin jin. Kemudian dia
suruh Ceng Beng mengantarkan ke luar. sambil berkata dia
terus masuk ke dalam.
Setelah mengambil barang-barangnya dan pedang
kutung, Cu Jiang lalu mengajak Cong Beng menuju ke luar
lembah.
Karena waktu dalam keadaan tak sadar dan dibopong
Cong Beng, ia tak tahu jelas keadaan lembah itu.
Kini barulah dia sempat melihatnya. Ternyata lembah itu
penuh dengan batu2 yang berbentuk aneh. Juga pohon2
aneka warna yang diantarnya Cu Jiang tak tahu namanya.
Tetapi dia tahu bahwa batu dan pohon2 itu merupakan
barisan yang melindungi lembah.
Sedangkan bunga2 yang menonjol warnanya itu
mengandung racun. Orang luar yang berani gegabah
masuk, tentu akan mati.
Cong Beng memberikan sebutir pil.
"Harap Cu heng telan pil penawar racun ini. lembah ini
penuh dengan hawa dan tanaman beracun. Kelak kalau
datang kemari, harap Cu Jiang berseru memanggil aku."
Cu Jiang mengiakan dan menelan pil itu.
Memang dunia ini penuh dengan segala keanehan. Jika
waktu masuk dia seorang pemuda yang berwajah buruk dan
rusak, kakipun pincang, tetapi kini dia kembali utuh lagi
sebagai pemuda yang berwajah tampan dan tidak pincang.
Sedemikian tegang perasaan Cu Jiang saat itu sehingga
dia tak dapat berkata-kata.
"Bun-heng, berkat budi pertolongan dari ayah Bun-heng
yang dengan kepandaian sakti telah dapat memulihkan aku
sebagai seorang manusia yang dapat berjalan tegak di
dunia, aku sungguh tak mengerti bagaimana kelak aku
harus membalas budinya."
Bun Cong Beng tertawa:
"Hendaknya jangan Cu heng mengatakan begitu. Jika
Cu-heng tempo hari tidak menolong aku, bagaimana
mungkin saat ini aku masih hidup di dunia? Maaf ada
sedikit pertanyaan yang ingin ku ketahui. Tetapi tak tahu
apakah layak pertanyaan itu kuajukan kepada Cu-heng?"
"O. silakan. Tak perlu sungkan!"
"Mengenai benda yang mempunyai daya kekuasaan
besar sehingga begitu Cu heng memperlihatkan, hu hwat
dari Gedung Hitam itupun menurut perintah. Sebenarnya,
benda apakah itu ?"
"Oh. itu hanya pemberian dari seorang nona yang
bernama Ki Ing. Aku sendiri sampai sekarang belum jelas
asal usul nona itu."
"Baiklah, tak perlu kita bicarakan soal itu," kata Cong
Beng yang sementara itu sudah dimulut lembah. Dia
berhenti.
"Cu-heng, maaf, aku tak dapat mengantar lebih jauh.
Harap Cu-heng menjaga diri baik2 dan sampai jumpa lagi !"
Keduanya saling memberi hormat perpisahan. Setelah
mengantar pandang Cu Jiang beberapa jenak, barulah Cong
Beng kembali kedalam lembah.
Pelahan-lahan Cu Jiang berjalan. Hatinya penuh
kegembiraan yang tak dapat dilukiskan. Kini dia dapat
berjalan seperti orang biasa lagi.
Tiba2 matanya tersentak sebuah pemandangan yang
mengejutkan, Diantara rumput belukar tampak beberapa
sosok mayat, ia maju menghampiri dan memeriksa. Ah,
ternyata korban2 itu mengenakan pakaian hitam.
Diantaranya ada dua orang yang memakai mantel hitam
dan seorang orang biasa. Tak terdapat suatu luka apapun
pada tubuh mereka kecuali hanya sebuah bekas warna
merah pada alis mereka.
"Telapak Jari terbang!" teriak Cu Jiang. Apakah Ang Nio
Cu masih belum meninggalkan lembah ini ? Jelas korban2
ini dia yang membunuhnya. Demikian ia menimangnimang.
Anak buah Gedung Hitam datang ke lembah ini. Apakah
tujuan mereka ?
Cu Jiang segera teringat akan peristiwa Gedung Hitam
menangkap Bun Cong Beng dan memaksanya supaya
menyerahkan kitab pusaka Sin-long-po-lian milik Kui jiusin
jin. Tidakkah kedatangan mereka ke lembah itu juga
karena hendak memburu kitab pusaka itu?
Ia merasa telah menerima budi pertolongan besar dan
Kui jiu-sin jin Sudah tentu dia tak dapat berpeluk tangan
mengawasi peristiwa itu.
Sekonyong-konyong ia mendengar debar pakaian tertiup
angin. Cepat iapun menyelinap bersembunyi di balik batu
karang. Dan saat itu juga berhamburanlah bayang2 yang
bergerak seperti hantu cepatnya.
"Hai ....!" terdengar teriakan dari sosok tubuh itupun
serempak berhenti. Mereka terdiri dari lima orang Pengawal
Hitam dan empat orang tua berbaju hitam. Rupanya
keempat orang baju hitam itu mempunyai kedudukan tinggi
dalam Gedung Hitam.
Cu Jiang memandang dengan seksama. Keempat orang
baju hitam itu yang tiga bertubuh tinggi besar, agaknya dia
pernah melihat wajah mereka. Sedang yang seorang
bertubuh pendek.
Salah seorang dari lelaki tua baju hitam itu segera
berseru.
"Mati semua, hah, hah, heh, Kui-jiu-sin jin berani
menggunakan tangan beracun..."
"Bukan makhluk tua itu yang turun tangan." Seru salah
seorang kawannya.
"Lalu siapa ?"
"Ang Nio Cu. wanita iblis yang selalu memusuhi itu !"
"Hah ! ilmu Jari-terbang! Ya, benar, memang wanita
busuk itu..."
"Mengapa dia juga muncul disini ?"
Dalam pada itu Cu Jiang mengingat-ingat untuk
mengenal kembali mereka. Tiba2 ia tersadar dan tahu siapa
ketiga orang baju hitam itu.
Seketika hawa pembunuhan meluap, darah bergolakgolak
seperti meledakkan dadanya. Ketiga orang itu bukan
lain adalah manusia aneh yang dulu telah menghantam dia
sampai terlempar kedasar jurang.
Cepat ia mengenakan kedok muka dan terus muncul dari
balik karang.
"Ada orang !"
"Hai, siapa itu !"
"Ah, Toan-kiam-jan-Jin!"
Hiruk pikuk ucapan dan teriakan kaget itu segera diiring
dengan menumpahkan berpuluh mata kearah diri Cu Jiang.
Cu Jiang memutuskan bahwa dia tetap hendak
mempertahankan diri dalam wajah Toan-kiam jan-jin.
Dengan kaki terpincang-pincang ia maju menghampiri.
"Tak kira kalau si invalid ini juga berada di sini." gumam
si tua pendek dengan gemetar.
"Kita bersama-sama kerjai dia," seru orang tua baju
hitam yang pertama tadi.
Dengan mata berkilat-kilat, Cu Jiangpun sudah tegak
berhadapan dengan mereka. Kelima Pengawal Hitam
serempak menyingkir tetapi tetap siapkan pedangnya.
Keempat orang tua baju hitam itu segera berpencar dan
membentuk formasi setengah lingkar busur. Kecuali hanya
si tua pendek yang menggunakan pedang, yang tiga orang
tetap bertangan kosong.
Cu Jiang curahkan pandang kepada ketiga lelaki tua
tinggi besar. Dendam kesumat yang menyusup sampai ke
tulang sunsum, membuat Cu Jiang seperti bara api yang
panas.
Ketiga lelaki tinggi besar itu sampai gentar dan menyurut
selangkah.
"Toan kiam jan jin, sungguh beruntung kita berjumpa
lagi." salah seorang berseru.
Dengan tegas, Cu Jiang berseru sepatah demi sepatah:
"Mulai saat ini, setiap orang yang termasuk anak buah
Gedung Hitam, harus membayar lunas semua dosadosanya!"
Salah seorang lelaki tinggi besar itu tertawa aneh:
"Toan kiam jan jin, jangan bermulut besar. Hari ini
engkaulah yang pasti mati!"
"Lekas beritahukan nama kalian!" bentak Cu Jiang.
"Ha, ha, ha, ha ..... " keempat lelaki tua bertubuh tinggi
besar itu serempak tertawa keras. Mereka lalu berkisar
langkah untuk menduduki tempat masing2.
Tiba2 Cu Jiang teringat akan nasehat Thian put thou
tempo hari. Apabila berhadapan dengan musuh harus
memperhatikan beberapa hal:
"Jangan kasih kesempatan pada lawan. Jangan ragu2
turun tangan . . . ."
-oo0dw0oo-
Jilid 16
SAAT itu, dia akan mematuhi nasehat Thian put thou.
Dia takkan membiarkan musuh musuhnya itu sampai lolos.
Serentak ia menggembor dan terus menyerang. Antara
mencabut pedang dan menyerang itu hampir terjadi pada
waktu yang serempak. Keempat lelaki tua bertubuh tinggi
besar itu benar2 tak mempunyai kesempatan lagi untuk
bergerak.
"Huak " terdengar jeritan ngeri disusul dengan darah
yang muncrat ke empat penjuru. Si tua pendek itu lengan
putus kepalanya terbang lalu rubuh seketika.
Ketiga lelaki bertubuh tinggi besar meraung dan
serempak menghantam. Cu Jiang menahan dengan pedang
kutungnya.
Ketika angin pukulan dan pancaran hawa pedang saling
beradu, terdengarlah letupan yang keras. Cu Jiang masih
juga tegak berdiri di tempatnya, tetapi ketiga lelaki tinggi
besar itu terdorong mundur selangkah.
Kerut wajahnyapun berobah, matanya memberingas
buas. Sementara kelima Pengawal Hitam yang berada di
luar gelanggangpun sudah pucat mukanya.
"Masih ingat akan peristiwa berdarah di gunung Bu leng
san dulu?" seru Cu Jiang.
Ketiga lelaki tinggi besar itu menggigil. Salah seorang
berteriak.
"Siapakah engkau ini sesungguhnya ?"
"Pelajar baju putih yang pernah kalian hantam sehingga
terlempar ke dasar jurang dulu !"
"Engkau pelajar baju putih itu ?" ketiga lelaki tinggi besar
itupun serempak menjerit kaget.
"Siapa diriku sudah kuterangkan." Kata Cu Jiang. "kalau
kalian mati tentu sudah tak penasaran. Kuharap kelak kalau
kalian menitis jadi manusia, supaya jangan lagi tersesat ke
jalan yang gelap..."
"Serbu !" serempak ketiga lelaki tinggi besar itupun, maju
menyerang..
Sinar pedang berkelebat dan terdengarlah pekik jeritan
ngeri. Salah seorang dari ketiga lelaki tinggi besar itu rubuh
ke tanah.
Cu Jiang juga menderita bahunya berguncang-guncang
keras karena dilanda angin pukulan ketiga lawannya. Tetapi
dia tak mau memberi ampun lagi. Ia taburkan pedangnya
kepada lawan yang berada di sebelah kanan.
Dia menyerang dengan penuh dendam kesumat dan
menggunakan seluruh tenaganya. Jurus Thian-te-kau-thay
atau ilmu pedang Langit-bumi-terangkap, dilancarkan
dengan hebat.
"Huaakk"
Terdengar pula jeritan ngeri dan lelaki tua yang berada
disebelah kanan, tanpa sempat mengeluarkan suara terus
rubuh bermandi darah.
Melihat gelagat berbahaya, lelaki yang disebelah kiri
terus loncat mundur dan melarikan diri.
"Hai, hendak lari kemana engkau !" teriak Cu Jiang
seraya loncat menaburkan pedang. Tubuh lelaki baju hitam
itupun terhuyung jatuh terduduk, tubuhnya berkubang
darah segar.
Melihat peristiwa sengeri itu, kelima Pengawal Baju
Hitam pecah nyalinya. Mereka serempak lari.
Karena kakinya sudah sembuh maka Cu Jiang dapat
bergerak dengan leluasa sekali. Percuma saja kelima
Pengawal Hitam itu akan melarikan diri. Susul menyusul
terdengar jeritan ngeri dari tubuh2 yang rubuh dan terpental
sampai dua tiga tombak.
Cu Jiang hentikan kejaran dan kembali ketempat
keempat lelaki tua tadi. Dan empat orang yang mati tiga
dan yang terluka satu. Memang Cu Jiang sengaja hendak
menyisakan seorang untuk ditanya keterangan.
Menghampiri ketempat orang tua yang tak dapat berdiri
itu, Cu Jiangpun membentaknya:
"Kuharap engkau mau menjawab dengan terus terang
beberapa patah pertanyaanku ini!"
Lelaki tua itu mengangkat muka dan memandang Cu
Jiang dengan deliki mata, serunya:
"Apakah engkau benar pelajar baju putih dulu ?"
"Benar, putera dari Dewa-pedang !"
"Engkau tidak mati ?"
"Anggaplah belum ditakdirkan mati! Karena kalau aku
mati, keadilan dan kebenaran, dalam dunia persilatan tentu
akan hancur lebur ditangan manusia2 seperti engkau !"
"Bagus . . . budak kecil, aku menyerah, lekas bunuhlah
aku ..."
"Tidak seenak itu !"
"Lalu engkau hendak mengapakan aku ?"
"Beritahu namamu lebih dulu!"
"Ya, tak apa. Aku dan kawan-kawanku itu adalah
pengawal dan istimewa dari Gedung Hitam . . ."
"Pengawal Istimewa ?"
"Ya."
"Siapakah yang menjadi biang keladi dari peristiwa
berdarah di gunung Bu-leng-san dahulu. Berapa orang yang
ikut dalam peristiwa itu ?"
"Engkau kira aku mau memberitahu ?"
"Tentu !"
"Engkau mimpi . . ."
"Yang ngimpi mungkin engkau !" tiba2 Cu Jiang
jentikkan jari, menutuk jalan darah orang itu. Dia meraung
keras, wajahnya pucat lesi.
"Sekarang engkau mau memberi keterangan atau tidak.
Tak mungkin engkau akan bunuh diri," kata Cu Jiang
dengan bengis.
Tetapi lelaki tua itu rupanya memang nekad, teriaknya
kalap:
"Walaupun engkau siksa aku dengan cara apa saja,
akhirnya akupun toh akan mati. Tetapi ketahuilah, budak
kecil, engkaupun takkan hidup lama didunia. Gedung
Hitam pasti akan membereskan engkau . . ."
"Kehancuran Gedung Hitam sudah di depan mata!"
"Budak, engkau ngimpi. Gedung Hitam itu sekokoh
gunung baja, penuh dengan jago2 sakti. Dengan
mengandalkan...."
"Jangan banyak mulut, lekas jawab pertanyaanku !"
bentak Cu Jiang.
"Tidak !"
"Engkau menginginkan mati dengan dikerat sepotongsepotong
?"
"Terserah!"
Cu Jiang ulurkan tangan kiri lalu mencengkeram bahu
orang, diangkat dan dibentak. "Engkau mau bilang atau
tidak !"
Walaupun Menghadapi kematian tetapi wajah orang tua
itu tetap tak berobah. Dia mengertek gigi dan menjawab
tandas.
"Tidak !"
Cu Jiang marah sekali, Ia keraskan cengkeramannya
sehingga daging orang itu remuk. Tetapi lelaki tua itu tetap
tak mengerang, melainkan hanya deliki mata.
Cu Jiang geregetan sekali. Ia mencabut pedang kutung
dan berseru:
"Apakah engkau benar2 tak mau bilang?"
"Tidak !"
Cu Jiang mendengus geram. Ia tusukkan pedangnya
pelahan-lahan menembus tulang bahu orang itu. Orang itu
mengerang ngeri. Mukanya tak ubah seperti binatang buas
yang sedang menderita.
"Bilang atau tidak ?"
Cu Jiang memutar pedangnya. Betapapun kuatnya orang
tua itu tetapi setelah ilmu kepandaiannya dihancurkan, dia
tentu tak tahan lagi menderita siksaan yang sedemikian
hebat.
"Bunuh.... bunuhlah .... aku ....!"
"Tidak seenak itu!"
"E.... uh auh . .. ."
Percuma engkau mengerang dan merintih.
“Aku akan menyuruhmu mati secara perlahan, seiris
demi seiris, akan kusayati tubuhmu."
Karena menahan kesakitan yang tak tertahan, mata
orang tua itu sampai melotot ke luar.
"Bilang," bentak Cu Jiang. "siapa saja yang ikut pada
peristiwa berdarah di gunung Bu-leng san dahulu. Apa
maksud mereka? biang keladinya jelas tentu ketua Gedung
Hitam, majikan kalian itu!"
Namun orang tua itu tetap mengatupkan mulut kencang2
dan tak mau berkata apa2.
Akhirnya Cu Jiang memutuskan percuma saja ia
menekan orang itu. Hanya membuang waktu saja. Karena
jelas musuh utamanya adalah ketua Gedung Hitam. Sekali
ia putar pedang, tubuh orang itu pun terbelah menjadi
beberapa potong.
Setelah membasmi anak buah Gedung Hitam itu semua,
ia berdiri tegak dan acungkan pedang lurus ke muka seraya
memanjatkan doa:
"Ayah dan mamah yang berada di alam baka, harap
menyaksikan anak akan mulai melakukan pembalasan!"
Setelah memasukkan pedang, ia menengadah
memandang matahari. Saat itu matahari sudah mulai
condong ke barat. Akhirnya ia memutuskan untuk
melanjutkan perjalanan agar besok pagi sudah keluar dari
gunung.
Tetapi pada saat ia berputar tubuh, tiba2 terdengar
sebuah suara melengking:
"Ih, puas ya melakukan pembunuhan?"
Cu Jiang segera dapat mengenali suara itu sebagai Ang
Nio Cu Cepat dia berputar menghadap kearah pendatang
itu.
"Mengapa anda masih belum meninggalkan gunung Busan
ini?"
"Tentu saja aku tak mau bekerja kepalang tanggung,
setelah menyerahkan engkau kepada Kui jin-sin jin terus
angkat kaki begitu saja!"
"Anda tentu menunggu sampai tiga bulan?"
"Hm, kiranya engkau dapat menghitung waktu dengan
tepat!"
Tak tahu Cu Jiang bagaimana hendak menyatakan rasa
terima kasihnya kepada wanita itu.
"Budi anda sampai akhir hayatku kiranya masih belum
dapat kuhimpaskan." katanya dengan nada gemetar.
Ang Nio Cu tertawa.
"Tak ada orang yang mengharap pembalasan budi
darimu. Dan tak perlu mengucapkan tentang budi
pertolongan segala. Asal kelak engkau mencintai isterimu
Ho Kiong Hwa, berarti engkau sudah membalas budi
kepadaku. Dapatkah engkau melakukan hal itu?"
Tergerak hati Cu Jiang mengapa Ang Nio Cu begitu
memperhatikan sekali si dara baju hijau Ho Kiong Hwa.
Apa hubungan kedua wanita itu?
Ia termenung-menung memikirkan. Bahwa kali ini
andaikata dia tak mendapat obat dan mati karena racun itu,
bukankah Ho Kiong Hwa menjadi seorang janda yang
belum dinikah.
Diam2 ia menggigil dan serentak menyahut. "Tentu!"
"Kuhaturkan selamat atas pulihnya kembali kakimu yang
pincang dan wajahmu yang cacad."
"Oh apakah anda tahu?"
"Anak dari makhluk aneh itu yang mengatakan. Kalau
tidak masakan aku bersabar menunggu sampai seratus
hari."
"Oh, lalu lo-koko . . ."
"Dia juga masih berada di gunung ini menunggu
engkau!"
"Di mana dia sekarang?"
"Di gua hati puncak Sin li hong."
"Jika begitu, aku harus menemuinya." teriak Cu Jiang.
"Tunggu dulu!"
"Anda mau menugaskan apa lagi? "
"Jika mayat2 ini tidak disingkirkan, tentu akan memberi
akibat yang hebat kepada si mahluk tua apabila dia
menerima pembalasan . . ."
"Ah, benar. Aku hampir melupakan hal itu. Akan
kusingkirkan mereka ..."
"Tak usah. biar kusuruh anak buahku yang mengurus
mereka."
"Ah, mana aku berani membikin repot..."
"Tak usah mengatakan begitu. Tetapi bolehkah aku
melihat wajahmu yang sekarang?"
Walaupun bertukar pembicaraan tetapi saat itu Ang-Nio
Cu tidak menunjukkan diri dan bersembunyi di balik
sebuah batu pada jarak tiga tombak dari tempat Cu Jiang.
"Mengapa tak boleh." seru Cu Jiang terus membuka
kerudung mukanya.
"Aa, sungguh tak bernama kosong mahluk aneh itu
digelari sebagai Kui-jiu-sin jin. Dia seperti dewa yang dapat
merobah kodrat alam. Benar2 wajahmu sama seperti dulu
sebelum rusak! " Ang Nio Cu berteriak terkejut.
Cu Jiangpun menutup kembali kain kerudung. Lalu ia
meluapkan kata2 yang sudah lama tersimpan dalam
sanubarinya:
"Apakah aku boleh melihat wajah anda?"
Rupanya Ang Nio Cu sudah menduga hal itu.
"Tidak bisa." serunya cepat.
"Ini . . . apakah adil?"
"Harap engkau bersabar. Kelak pada suatu hari engkau
pasti tahu. Sekarang belum waktunya."
"Mengapa?"
"Sudah tentu aku mempunyai kesulitanku sendiri."
"Baiklah, sekarang tak perlu dibicarakan. Tetapi aku
hendak mohon tanya sebuah hal..."
"Silahkan bilang. "
"Apakah hubungan anda dengan Ho Kiong Hwa?"
"Hem." Ang Nio Cu mendehem lalu merenung.
Beberapa saat kemudian baru berkata lagi, "erat sekali
hubungannya tetapi belum waktunya memberitahu
kepadamu."
"Di manakah dia sekarang?"
"Engkau hendak bertemu kepadanya?"
Merah wajah Cu Jiang.
"Atas bantuan anda untuk merangkapkan perjodohan
ini, aku . . . seharusnya menanyakan tentang keadaannya . .
."
Ang Nio Cu tertawa.
"Rupanya sekarang baru engkau memperhatikan
dirinya?"
"Aku..." suara Cu Jiang tersendat-sendat, “sekalipun . .
memperhatikan juga ..."
"Dia sehat tak kurang suatu apa." tukas Ang Nio Cu.
"harap engkau jangan kuatir. Meski-pun dia bertubuh lemah
tetapi berbudi luhur. Dia tak seperti muda-mudi yang selalu
ingin bercumbu rayu. Saat ini diapun tak mengharap
bertemu dengan engkau. Silakan engkau melanjutkan apa
saja yang menjadi tujuanmu."
"Aku berterima kasih atas pengertiannya."
"Tak usah."
"Masih ada sebuah hal lagi yang rasanya kurang layak
...."
"Kalau tahu kurang layak, mengapa hendak engkau
katakan!"
"Karena terpaksa . . ."
"Katakanlah !"
"Kepada anda aku harus menggunakan sebutan apa yang
sesuai ?"
"Oh, engkau maksudkan hal itu .. . Ai, menyebut anda,
apakah tidak sesuai ?"
"Kurang tepat dan tak sesuai!"
"Kalau begitu, panggil saja toa-ci !"
"Toaci !" Cu Jiang diam2 terkejut. Dengan begitu
tentulah Ang Nio Cu itu masih muda.
"Bagaimana ? Apakah kurang tepat ?"
"Bagus sekali!"
"Dan akupun memanggil sebagai siaute:"
“Terserah saja kepada toaci."
"Ha. ha, ha, ha " Ang Nio Cu tertawa gembira. Cu Jiang
memperhatikan bahwa nada tawa Ang Nio Cu itu lebih
cerah dan bening dari apabila dia berkata-kata. Dengan
begitu jelas pada waktu berbicara, Ang Nio Cu tentu
menggunakan tenaga-dalam untuk merobah nada suaranya.
Suara itu jelas bukan suaranya yang aseli. Dengan begitu
dapatlah Cu Jiang menduga bahwa sebenarnya Ang Nio Cu
masih seorang nona muda.
"Kabarnya toaci adalah murid pewaris dari perguruan
Hiat-ing-bun ?"
"Soal itu aku tak menyangkal."
"Hiat ing-bun merupakan perguruan yang paling rahasia
dalam dunia persilatan di daerah Tiong goan. Selama ini
tak pernah ikut serta dalam pergerakan apa saja dari partai2
persilatan. Maka tentu ada sebabnya toaci bergerak
melawan kekuatan Gedung Hitam."
"Tentu! Orang tidak mengganggu aku. aku pun takkan
mengganggu orang. Demikian pendirian perguruan kami . .
."
"Lalu apa sebabnya toaci sampai bertindak melawan
Gedung Hitam ?"
Tiba2 nada suara Ang Nio Cu berobah sember dan
rawan.
"Ketua perguruan kami yang dulu bersama dua orang
murid, telah dicelakai oleh ketua Gedung Hitam maka
akupun hendak menuntut balas !"
"Jika begitu toaci mempunyai dendam permusuhan yang
sama seperti aku."
"Soal itu sudah kuketahui ketika engkau bertukar jawab
dengan pengawal istimewa Gedung Hitam tadi !"
"Apakah toaci pernah tahu bagaimana wajah yang
sesungguhnya dari ketua Gedung Hitam?"
"Tidak tahu. Durjana itu memang hebat sekali. Tidak
mudah untuk mengetahui wajahnya yang aseli."
"Setelah turun dari gunung ini, aku terus hendak menuju
ke Gedung Hitam."
"Engkau tahu dimana letak Gedung Hitam?"
"Kudengar terletak di tengah gunung Keng-san, tentu tak
sukar untuk mencarinya."
"Ditengah gunung Keng san ?"
"Ya."
"Tak mungkin engkau dapat mencarinya!"
"Kenapa?"
"Kepergianmu ini tentu sudah diketahui musuh dan
merekapun tentu sudah bersiap-siap menghadapi engkau!"
"Ya, benar."
"Lebih baik serahkan pekerjaan itu kepadaku saja."
"Tetapi toaci tak tahu jelas keadaan dan letak markas
mereka yang tepat. Keng-san itu amat luas sekali, tentu
memakan waktu lama sekali untuk mencarinya. Aku akan
menempuh perjalanan pada waktu malam dan kalau siang
beristirahat. Juga penyelidikan akan kulakukan secara
rahasia."
"Baiklah, aku akan membantumu secara bersembunyi. "
"Jika begitu aku ingin menemui lo-koko lebih dulu. "
"Silahkan. Urusan di sini akan kusuruh orang ku
mengurusnya."
"Terima kasih atas bantuan toaci. "
Setelah kakinya sembuh maka Cu Jiangpun dapat
melakukan gerakan yang sebelumnya dia tak mampu
karena terhalang kakinya yang pincang. Sekali ayunkan
tubuh, dia terus meluncur dan lenyap dalam hutan.
Naik ke puncak Sin li hong, haripun sudah malam.
Bulan pudar, bintangpun samar. Sekeliling penjuru hanya
gunduk2 puncak. Cu Jiang diam2 mengingat-ingat Ketika
lo koko membawanya ke sebuah gua di gunung Bu-san.
Tetapi saat itu dia sedang terluka parah, ingatannya tak
terang sehingga tak dapat mengingat jelas letak gua itu.
Berbagai peristiwa terkenang dalam benaknya. Terutama
pengalaman yang diperolehnya di gunung Bu-san itu.
Kemudian diapun teringat bahwa diantara keanehan yang
aneh itu. tentang pertunangannya dengan Ho Kiong Hwa.
Ia sudah bertunangan tetapi ia tak merasakan hal itu.
Pikirannya tertumpah ruah pada dendam, kewajiban
untuk menuntut balas atas kematian ayah bundanya.
Ah, apabila toa suhengnya Ho Bun Cai masih hidup dan
menjabat congkoan dalam Gedung Hitam, dia tentu akan
mendapat bantuan berharga untuk menyingkap tabir
rahasia dari ketua Gedung Hitam dan komplotannya.
Yang membunuh Ho Bun Cai adalah Buddha-hidup
Sebun Ong. Apa tujuannya?
Dia heran mengapa seorang tokoh yang berilmu tinggi
seperti toa suheng Ho Bun Cai, sampai tak dapat membela
diri atau lolos dan harus menderita luka parah yang
menyebabkan harus menemukan kematian yang begitu
mengenaskan ?
Dendam kebenciannya terhadap Sebun Ong tak kalah
hebatnya terhadap ketua Gedung Hitam. Sungguh tak kira
bahwa ksatrya yang diagungkan sebagai Buddha hidup
dalam dunia persilatan itu ternyata seorang durjana besar.
Seekor harimau yang berselimut kulit domba.
Tengah dia melamun, tiba2 terdengar suara tawa yang
parau.
"Lo-koko !" serentak Cu Jiang berseru girang.
Thian put thou loncat ke hadapan Cu Jiang.
"Adik kecil, siang malam aku berada di puncak untuk
menunggu. Akhirnya engkau datang juga."
"Lo koko, aku sungguh berterima kasih . . ."
"Ai, kebetulan aku sedang memanggang dua ekor ayam
hutan dan mempunyai sebotol arak. Hayo, kita makan
minum untuk menghangatkan badan . . ."
Mendengar itu seketika timbullah rasa lapar Cu Jiang.
Dia segera mengikuti Thian-put-thou lari turun gunung.
Tak berapa lama mereka tiba di gua tempat mereka berhenti
dulu.
Dua ekor ayam sedang terpanggang di unggun api,
menyiarkan bau yang menggelitik perut. Setelah menambah
kayu bakar, hawa dalam gua itupun terang dan hangat.
Cu Jiang mengatakan bahwa dia lupa dan tak dapat
menemukan gua itu sehingga tadi dia berdiri termenungmenung
di puncak.
Thian-put-thou tertawa lalu mengambil dua buah
mangkuk dan guci arak.
"Adik kecil, hayo engkau seekor aku seekor, kita
ganyang sampai habis!"
"Dari mana lo-koko memperoleh arak?" Cu Jiang
terkejut.
"Ini harus berterima kasih kepada Ang Nio Cu. Dialah
yang mengirim," Thian put-thou tertawa.
"Ah," kata Cu Jiang lalu membuka kain penutup
mukanya.
"Hai...!" Thian-put-thou melonjak kaget dan menjerit
sehingga arak dalam mangkukpun tertumpah.
Cu Jiang juga ikut kaget tetapi cepat dia segera
menyadari hal itu,
"Lo koko, wajahku sudah pulih kembali seperti dulu!"
segera dia memberi penjelasan.
Thian put-thou menatap wajah Cu Jiang sampai
beberapa saat.
"Ho, si Pencuri-tua ini sudah hidup sampai begini tua
tetapi belum pernah mendengar peristiwa seaneh ini. Wajah
yang rusak dapat diperbaiki dan pulih lagi. Kui Jiu sin-Jin
benar2 manusia hebat sekali. Hayo, minumlah tiga cawan
yang kuhaturkan untuk memberi selamat kepadamu !"
"Lo koko, silakan duduk saja" Cu Jiang tertawa geli
melihat tingkah Thian put-thou yang bertubuh kecil pendek
dan berloncatan seperti seekor kera.
Demikian keduanya lalu duduk dan menikmati arak.
Baru pertama kali itu Cu Jiang meneguk arak keras.
Kemudian mereka mengganyang ayam panggang.
Selama makan dan minum itu Cu Jiang menuturkan
tentang pengobatan yang dilakukan Kui-jiu-sin-Jin
kepadanya. Thian-put-thou tak habis herannya.
Sekonyong-konyong mereka mendengar suara harpa
berkumandang dari kejauhan.
"Aneh, di tengah malam pada tempat yang begini sepi
mengapa terdapat orang yang memetik harpa," kata Cu
Jiang.
Tetapi Thian-put-thou tak menyahut. Rupanya
semangatnya sedang terpikat oleh irama harpa itu.
Cu Jiang juga begitu. Dia rasakan semangatnya
melayang-layang dan hidungnyapun mulai basah.
Tiba2 Thian-put-thou menutup telinganya dan berseru:
"Celaka, harpa iblis!"
Mendengar itu Cu Jiang tersentak kaget dan
semangatnya yang melayang itupun sadar kembali. "Apa?
Harpa iblis?" teriaknya.
Thian-put-thou melepaskan tangannya.
"Itulah irama harpa iblis dari Bu san sin li." serunya.
"Apa? Bu-san sin-li?"
"Engkau tak pernah mendengar namanya?"
Cu Jiang tertawa nyaring.
"Apakah lo-koko hendak bercerita tentang dongeng raja
jin bertemu dengan bidadari dari gunung Bu-san . . . . "
"Sin-li itu bukan bidadari dalam dongeng yang itu! "
"Lalu apa? " Cu Jiang kerutkan alis.
Wajah Thian-put-thou mengerut tegang dan
tangannyapun menutup telinganya lagi.
"Kalau bidadari itu masih hidup, umurnya tentu sudah
lebih dari seratus tahun. Barang siapa mendengar suara
harpanya, pasti akan mati. Adik kecil, ilmu tenagadalammu
memang hebat sehingga tak merasa apa2. Tetapi
aku lo koko ini ... . tak kuat bertahan diri . . . . "
Habis berkata dia terus pejamkan mata mengerahkan
tenaga murni untuk menahan daya-kesaktian suara harpa.
Saat itu suara harpa deras seperti kuda besi
mencongklang di medan peperangan. Penuh dengan hawa
pembunuhan. Cu Jiangpun merasa berdebar hatinya,
darahnya mulai bergolak. Dia terkejut lalu buru2 tenangkan
semangat. Diam2 ia ingin mengetahui siapa gerangan
wanita yang disebut Bu-san-sin-li itu.
Serentak dia keluar dari gua. Sejenak mendengarkan, ia
merasa bahwa suara harpa itu seperti berasal dari puncak
tempat dia mencari Thian-put-thou tadi.
Harpa melengking nyaring macam ujung pisau yang
menusuk ulu.hati. Karena menderita debar yang keras
terpaksa Cu Jiang mendekap telinganya.
Berapa saat kemudian suara harpa itu lenyap. Cu
Jiangpun segera lari menuju ke puncak. Tetapi apa yang
disaksikan di situ, benar2 mengejutkan hati.
Belasan sosok mayat malang melintang di tanah dengan
mulut, hidung, mata, telinga berlumuran darah. Jelas mayat
itu tentu mati karena suara harpa tadi.
Menilik pakaiannya, mereka adalah anak buah Gedung
Hitam untuk membantu rombongan anak buahnya yang
lebih dulu masuk ke dalam lembah itu.
Dengan begitu jelas sudah, bahwa anak buah Gedung
Hitam banyak sekali yang dikirim ke lembah Mo jin-koh.
Pada saat itu tiba2 tampak sosok bayangan yang
bergerak. Ternyata dua lelaki tua tengah berbangkit berdiri
dari tanah.
Cu Jiang terkejut. Jika kedua orang itu tak mati terserang
suara harpa, tentulah mereka memiliki kepandaian yang
sakti. Kedua orang itupun melihatnya.
"Sahabat dari mana ini? " tegur orang itu.
"Apakah kalian ini dari Gedung Hitam?" Cu Jiang balas
bertanya.
"Benar," sahut yang seorang, "sahabat dari mana? "
"Hm, aku mempunyai peraturan! "
"Peraturan apa?"
"Begitu memberitahu namaku tentu akan mengalirkan
darah! "
"Ha, ha. ha, budak kecil, siapakah engkau ini
sebenarnya? "
"Toan-kiam jan-jin!" baru mengucap begitu Cu Jiang
terkejut sendiri karena teringat bahwa saat itu dia tak
mengenakan kerudung muka. Adalah karena bernafsu
sekali untuk membasmi setiap anak buah Gedung Hitam
maka dia sampai lupa.
Kedua orang itu terkejut dan menyurut mundur dua
langkah seraya berteriak:
"Toan-kiam-jan jin?"
Cu Jiang melesat ke hadapan mereka berdua. Dalam
cuaca malam yang gelap gulita, sepasang matanya tampak
berkilat-kilat seperti harimau melihat korban.
"Lekas cabut pedang dan bertempur!"
Kedua lelaki tua harus segera mencabut pedang mereka.
"Toan-kiam jan jin, tentunya engkau mempunyai alasan
untuk bertempur ini! " seru salah seorang dari lelaki tua itu.
"Tentu saja!"
"Apa alasanmu?"
"Membalas dendam berdarah!"
"Dendam berdarah yang mana? "
"Aku adalah putera dari Dewa Pedang Cu Beng Ko,
mengerti?" seru Cu Jiang seraya sudah mempersiapkan
pedang.
Kedua orang itu menyurut selangkah lagi.
"Engkau .... anak dari Dewa-pedang?" seru salah
seorang.
"Ya."
Sekilas sinar pedang berkelebat dan terdengarlah pekik
teriakan ngeri. Sebelum kedua orang itu sempat bergerak,
mereka sudah rubuh di tanah.
Cu Jiang masukkan pedangnya dan memandang ke
sekeliling. Tetapi tiada terdengar suara apa2.
"Apakah Bu san-sin-li sudah pergi? Sebatang harpa dapat
membunuh sekian banyak jiwa . . ." pikirnya.
"Toan-kiam-jan-jin, Sin-li mengundangmu!" tiba2
terdengar lengking suara wanita.
Cu Jiang terkejut dan memandang ke arah tempat suara
itu. Seorang dara baju hijau tampak berdiri tiga tombak
jauhnya.
"Apa? Sin li mengundang aku?"
"Ya."
"Hendak memberi petunjuk apa?"
"Silahkan ikut aku."
Karena heran dan ingin tahu, Cu Jiangpun segera
ayunkan langkah mengikuti dara itu. setelah melintasi
sebuah hutan yang gelap gulita mereka tiba di sebuah
tempat yang penuh dengan batu2 aneh.
"Harap berhenti dulu." tiba2 dara itu berpaling.
Kemudian dia terus menyusup lenyap ke hutan batu itu.
"Apakah engkau yang bernama Toan kiam jan jin?" tiba2
terdengar suara seorang wanita dari balik batu. Merdu dan
lembut sekali nada suaranya, seperti mengandung daya
pikat yang kuat.
"Siapakah wanita itu? Menurut keterangan lo-koko, Busan-
sin li itu sudah berumur seratusan tahun. Tak mungkin
memiliki nada suara yang begitu merdu. Apabila dia
menggunakan ilmu tenaga dalam, paling2 hanya mampu
memperbesar atau memperkecil nadanya saja tetapi tak
dapat mengubah kelembutan dan kemerduannya."
"Ya," sahutnya.
"Tetapi engkau tidak cacad," kembali suara yang merdu
memikat itu terdengar pula.
Cu Jiang terperangah. Dia tergesa-gesa ke luar tanpa
memakai kerudung muka dan berjalan dengan tegak,
sehingga tidak sesuai lagi sebagai Jan jin atau manusia
invalid.
"Mungkin tetapipun belum tentu !" sahutnya.
"Apa artinya ?"
"Itu soal peribadi, harap jangan mendesak lebih lanjut."
"Engkau congkak, ya ?"
"Tidak."
"Tenaga-dalam dan ilmu pedangmu, hebat sekali.
Engkau benar2 seorang tunas yang sukar didapat keduanya
. . ."
"Ah, harap jangan memuji."
"Dibawah alunan suara harpa dalam lagu Panggilan-
Jiwa engkau masih dapat bergerak dengan leluasa, sungguh
baru pertama kali ini aku bertemu."
Cu Jiang terkejut. Menilik kata-katanya wanita itu
tentulah Bu-san sin-li, Seorang wanita yang berumur
seratusan tahun tetapi dapat melantangkan nada suara
seperti seorang dara, sungguh hebat bukan kepalang.
Lagu Panggilan-Jiwa ? Uh, betapa seram nama lagu itu.
"Adakah anda ini Bu-san-sianli ?" akhirnya Cu Jiang
serunya.
"Benar, pengetahuanmu luas sehingga kenal juga
namaku sebuah nama yang sudah lama hilang dalam dunia
persilatan."
"Apakah maksud anda memanggil aku ?"
"Sebenarnya aku sudah mengasingkan diri dari dunia
ramai. Tetapi sungguh menjengkelkan orang2 yang datang
mengganggu ketenanganku itu. Karena jengkel aku sampai
memetik harpa lagi. Tak kukira kalau dapat menarik
perhatianmu seorang jago muda. Engkau tidak terkecoh
dengan suara harpa itu maka kuundang engkau datang
kemari."
"Apakah hanya begitu maksud anda ?"
"Ha. ha, ha, ha . . . ." terdengar wanita itu tertawa
gemerincing bagai untaian mutiara tertumpah di pinggang
kumala. Menusuk telinga tetapi memikat hati.
Cu Jiang buru2 tenangkan pikiran.
"Harap anda segera mengatakan apa yang anda hendak
pesan kepadaku," katanya.
"Tunggu dulu. Apakah engkau mau mendengarkan
sebuah lagu Selendang-pelangi lebih dulu?"
Tergerak hati Cu Jiang. Ia tahu wanita itu hendak
menguji kepandaiannya. Hal itu tak beda seperti bertanding
dengan tangan, hanya caranya berlainan.
Menurut keterangan lo-koko, jelas wanita tokoh
sembarangan. Dengan kata2 itu Sin-li hendak
menantangnya. Ah, mengapa dia harus mengunjuk
kelemahan. Biar dia terima tantangan itu sekalian untuk
menguji sampai di mana tingkat kepandaiannya yang
dimiliki saat itu.
"Sayang aku tak mengerti seni musik! " sahutnya.
Kembali Bu-san-sin li menghambur tawa yang mengikat
jiwa.
"Kecuali engkau seorang tolol, tentulah engkau mengerti
tentang seni suara. Paling tidak engkau tentu dapat
menikmatinya."
"Yah, kalau begitu, aku menurut saja."
"Jangan berdiri, duduklah yang santai."
"Hm," Cu Jiang terus duduk bersila di atas sebuah batu.
Dia tahu bahwa ujian yang akan dihadapinya itu bukan
olah-olah hebatnya.
Tung . . . tung . . . tung .
Tiga dentang suara yang nyaring bergemerincing. Setelah
itu tak kedengaran suara apa2 lagi. Sampai lama baru
terdengar suara yang halus dan lembut berkumandang.
Terasa bagai sekawan bidadari yang melayang turun dari
langit.
Pelahan-lahan suara harpa itu makin deras dan cepat.
Dan dalam perasaan Cu Jiang seolah dia melihat
sekelompok bidadari dalam pakaian warna-warni macam
warna pelangi mulai menari-nari sehingga pandang mata
menjadi kabur dan silau.
Di luar kesadaran, tiba-tiba Cu Jiang berdiri dan bergerak
gerak menari menurut urutan irama lagu itu. Uh tiba tiba
dia tergelincir jatuh ke bawah dan kesadaran pikirannyapun
pulih kembali.
"Berbahaya." serentak dia duduk lagi diatas batu.
Menghening semangat dan cipta mengumpulkan perhatian
dan pikiran. Dan lenyaplah bayang2 itu. Tetapi suara harpa
itu masih tetap melengking-lengking.
Tetapi saat itu dia sudah tak terpikat oleh suara harpa Itu
lagi.
Memang indah merdu nian suara harpa itu Cu Jiang
hanya merasakan tetapi tak terpikat apa-apa.
Ilmu tenaga dalam Kim-kong-sin-kang yang
dipelajarinya telah memberikan dia kekuatan yang hebat
sehingga mampu menolak segala gangguan dari luar.
Suara harpa tiba2 berobah menjadi lunak bagaikan suara
dara2 yang tengah mendambakan musim semi atau seorang
isteri yang tengah mengharapkan suaminya pulang.
Hati Cu Jiang kembali tak tenang. Tetapi cepat ia
menyadari maka buru2 ia gunakan tenaga-dalam untuk
menolaknya.
Begitu irama harpa itu berobah-robah, lagu demi lagu
berganti dan kepala serta dahi Cu Jiang pun mulai
bercucuran keringat.
Taaanngg.....
Tiba2 harpa berhenti dan terdengarlah Bu-san sin-li
berteriak:
"Hebat sungguh tenagamu sehingga mampu
mendengarkan lagu Selendang pelangi sampai habis !"
Cu Jiang tertawa gelak2 lalu berbangkit.
"Sin li sungguh pandai bermain harpa !" serunya memuji.
"Ah, tak nyana hari ini aku bertemu dengan seorang ahli
musik . . . . "
"Ah, mana aku patut disebut ahli. Kepandaianku cetek,
sama sekali hampir tak mengerti keindahan seni musik. "
"Jangan merendahkan diri."
"Memang benar."
"Apakah anda mau mengunjungi ke istana kami?"
Tergerak hati Cu Jiang. Dalam keinginan tahu, dia terus
menyambut undangan itu dengan serentak.
"Harap Pengawal Hijau menunjukkan jalan!" seru Bu san
sin li dan dara baju hijau itu segera muncul lalu menggapai
kepada Cu Jiang:
"Sauhiap, harap ikut aku."
“Mungkin dara baju hijau itu adalah Pengawal Hijau
yang dimaksud Bu san sin li"
Cu Jiangpun ikut di belakang dara itu. Mereka menuju
ke barisan batu. Walaupun tampaknya tidak teratur tetapi
sebenarnya merupakan barisan aneh. Cu-Jiang tahu akan
hal itu.
Setelah belok kian kemari, mereka tiba di muka sebuah
gua. Pada puncak gua terdapat tiga buah ukiran huruf
berbunyi: Sin-li-kiong atau Istana Sin-li.
Di mulut pintu gua tampak empat dara baju hijau tegak
berjajar pada kedua samping. Diantara senyum memikat
dan mata penuh pesona tengah memandang Cu Jiang.
Tetapi anak muda itu tak balas memandang mereka
melainkan terus mengikuti si dara baju hijau masuk ke
dalam gua.
Gua itu bersih dan datar, Puncak langit gua berhias
mutiara yang memancarkan sinar terang benderang,
berjalan lebih kurang lima puluh tombak, pemandangan
tampak makin terang.
Tampak beberapa ruang yang semua terbuat daripada
batu kumala putih. Sayup2 terdengar suara harpa dan tawa.
Burung2 seriti beterbangan kian kemari. Benar2 merupakan
sebuah kerajaan yang indah.
Cu Jiang terkejut. Tak kira kalau ditempat alam
pegunungan yang begitu sepi, ternyata terdapat sebuah
tempat yang begitu indah. Bau harum yang bertebaran
dibawa angin, benar2 menyegarkan semangat.
Setelah melalui beberapa bangunan, tampak sebuah
ruang besar yang gilang gemilang. Di muka ruang itu penuh
berhias dengan pohon bunga dan jalan yang terbuat dan
batu putih.
"Harap tunggu sebentar." setelah tiba di muka ruang,
tiba-tiba dara baju hijau itu berseru dengan hormat kepada
Cu Jiang.
Kemudian dia membungkuk tubuh dan berteriak
menghadap ruang.
"Tetamu sudah tiba, sedang menunggu di luar ruang.”
Dari dalam ruang terdengar suara seorang dara
menyahut:
"Silakan tetamu masuk !"
Dara baju hijau berpaling, tersenyum kepada Cu Jiang:
"Silakan."
Cu Jiang segera ayunkan langkah. Tetapi alangkah
kejutnya ketika kakinya seperti berat pada saat ia
memandang kearah ruang. Kejutnya bukan kepalang.
Di tengah ruang tampak dua orang dara cantik yang
tegak berdiri di kanan kiri mengapit seorang gadis cantik
berpakaian seperti puteri keraton.
Apakah dia itu Bu-san-sin-li ? Apakah dia yang dianggap
sebagai Sin-li yang berumur seratusan tahun ?
Apakah dia Sin-li yang memikat hati orang itu?
"Mengapa tidak masuk ?" terdengar sebuah suara yang
penuh pesona.
Cu Jiang seperti kehilangan semangat. Ia segera
menyadari kalau dirinya telah terlongong2 karena kagum
akan kecantikan Sin-li itu.
Diam2 merahlah wajah Cu Jiang. Melangkah ke muka
lagi dia berhenti kira2 empat lima langkah dari tempat
wanita itu lalu memberi hormat:
"Terimalah hormatku . . .."
"Ah, tak usah banyak peradatan, silakan duduk." kata
wanita itu.
Ketika Cu Jiang mengangkat muka dan pandang
matanya beradu dengan mata wanita itu, dia terkejut sekali.
Betapa bola mata wanita itu tampak bersinar-sinar penuh
mengandung daya pesona. Bola mata yang sedemikian,
bagaimana layak mau jadi milik seorang wanita yang
berumur seratusan tahun?
Dara baju putih itu mengisar sebuah kursi dari samping
dan mempersilahkan Cu Jiang duduk. Cu Jiangpun duduk
disebelah bawah.
"Toan kiam jan-jin," seru Bu-san-sin-li. “tentunya engkau
mempunyai nama yang aseli."
"Tentu."
"Siapakah namamu itu ?"
"Maaf, belum dapat kuberitahukan."
"Kalau aku tetap menghendaki tahu supaya engkau
memberi tahu ?"
Cu Jiang agak tertegun lalu menjawab: "Siapapun tiada
hak untuk memaksa orang harus mau mengatakan hal yang
dia tak suka bilang."
"Engkau congkak benar !"
"Ah, tidak !"
"Apa maksud kedatanganmu ke gunung ini ?"
"Minta obat."
"Apa sudah mendapat."
"Ya."
"Menilik ilmu pedangmu yang hebat, engkau tentu
pernah berguru atau bertemu dengan sesuatu yang luar
biasa."
"Ya, aku tak-menyangkal."
"Engkau kira aku berwajah jelek ?"
Cu Jiang terbelalak mendengar pertanyaan itu. Tetapi
diapun dapat menyahuti:
"Cantik dan Jelek hanya perasaan orang yang
memandangnya. Jelek atau cantik itu hanya lahiriah, sama
sekali tak mewakili buruk atau baiknya hati. Sekalipun
cantik seperti Se Si jaman dulu, tetapi kalau hatinya seperti
ular berbisa, apa gunanya ?"
"Hebat, hebat, sungguh suatu uraian yang hebat!"
"Sin li memanggil aku kemari, sebenarnya apakah yang
Sin-li kehendaki?"
Bu-san-sin li tertawa.
"Yang datang itu sebagai tetamu, ijinkan aku
mengunjukkan sikap dan penyambutan sebagai tuan rumah
!" habis berkata dia terus bertepuk tangan tiga kali.
Karena sudah terlanjur berada disitu, Cu-Jiangpun
terpaksa harus menunggu lebih lanjut.
Tetapi bagaimana dengan lo-koko. Karena dia pergi dan
tak balik, tentulah lo-koko itu akan bingung mencarinya.
Tak berselang berapa lama, sekelompok dara baju hijau
muncul dan mempersiapkan hidangan pada kedua lorong
besar itu. Setelah mereka mundur maka beberapa dara baju
hijau muncul lagi dengan membawa hidangan.
"Ah, betapa mewah Bu-san-sin li hendak mengadakan
penyambutan ini. Dia benar2 menikmati kehidupan yang
mewah." pikir Cu Jiang.
Paling akhir, dua orang dara baju putih keluar dengan
membawa poci perak. Keduanya berdiri setengah berlutut
di tepi meja.
Sambil berbangkit Bu-san-sin-li mempersilakan Cu Jiang
duduk ke ruang perjamuan.
Kedua duduk persis saling berhadapan. Cu Jiang sempat
memperhatikan peralatan makan yang tersedia di meja
perjamuan itu.
Cawan dari kumala hijau, sumpit seperti dari gading,
makanan bersih dan beraneka warna.
Dara baju putih menuang arak. Setiup hawa harum
berhamburan menebar ruang.
Tiba2 Bu-san-sin-li mengusapkan lengan bajunya
kewajahnya dan seketika itu mata Cu Jiang-pun silau.
"Aahhh," mulut pemuda itu mendesah kecil.
Bu-san sin-li yang tampak mengerikan dengan kedok
muka yang buruk, begitu kedok muka diusap diusap maka
tampaklah sebuah wajah seorang nona Jelita yang cantik
sekali.
Sedemikian cantik nona yang umurnya baru duapuluhan
tahun itu sehingga Cu Jiang terlongong-longong
seperti orang kehilangan semangat.
Apakah dia menggunakan ilmu sihir?
Tetapi cepat Cu Jiang menyadari bahwa Bu-san-sin li itu
memang memakai kedok muka. Oleh karena itu baik kulit
maupun nada suaranya memang tak menyerupai seorang
wanita tua. Dan wajah yang tampak saat itu tentulah
wajahnya yang asli.
Tetapi mengapa lo-koko mengatakan bahwa umur
wanita itu sudah mencapai seratusan tahun. Tidakkah Sin-li
yang dihadapinya itu seorang nona yang berumur duapuluhan
tahun lebih ?
Bu-san-sin-li tertawa merdu. "Kaget ?"
Cu Jiang merah mukanya.
"Ya, memang tak menduga sama sekali."
"Demi menyambut kehadiran seorang tetamu terhormat,
akupun mengunjukkan wajahku yang aseli."
"Ah, aku sungguh tak berani menerima pujian Sinli yang
begitu tinggi!"
"Benarkah?"
"Aku hendak mohon bertanya."
"Silakan."
"Kabarnya Sinli sudah terkenal sejak dahulu ..."
"Siapa yang bilang?"
"Seorang cianpwe."
"Omongan orang bagaimana dapat dipercaya? Mari, kita
minum habis arak ini." kata Sin li terus mengangkat cawan.
Karena jawaban Sin-li itu menyimpang dari pertanyaan
maka tahulah Cu Jiang bahwa Sin-li tentu tak mau
menerangkan sebenarnya. Diapun lantas mengangkat
cawan dan menghaturkan terima kasih kepada Sin-li.
Harum dan lezat sekali arak itu. Cu Jiang tak tahu nama
arak itu.
"Di pegunungan belantara sesunyi ini, tak ada hidangan
yang lezat dapat kuhaturkan. Mari kita minum arak lagi."
"Ah. Sin-li terlalu merendah diri. Kulihat hidangan
semua terdiri dari hidangan kelas satu yang mahal. Kecuali
di istana dan di rumah pangeran2, rasanya jarang orang
menghadapi hidangan semacam ini."
"Marilah, kita minum lagi . . ."
Setelah beberapa kali meneguk arak, Cu Jiang pun
bertanya pula:
"Apabila Sin-li hendak memberi pesan, harap
mengatakan. Maaf, aku tak dapat lama2 mengganggu
waktu Sin-li."
"Sejak seratus tahun ini, hanya lima orang yang pernah
diundang ke Sin li kiong !"
"Jika begitu sudah seharusnya aku merasa bangga karena
mendapat kehormatan besar !"
"Apakah engkau merasa rendah memasuki tempat ini ?"
"Sama sekali aku tak punya perasaan seperti itu."
"Lalu mengapa hendak buru2 meninggalkan tempat ini?"
"Karena aku masih mempunyai urusan penting yang
harus kuselesaikan, Dan lagi ada seorang kawan yang
menunggu aku."
"Baiklah, sekarang mari kita bicara dengan serius."
"Silahkan."
"Kuminta engkau mengobati seseorang !"
"Tetapi aku sama sekali tak mengerti ilmu pengobatan,"
Cu Jiang terkejut. "kedatanganku ke Bu-san ini juga
bermaksud berobat. Kui-Jiu-sin-Jin juga tinggal didaerah
ini, mengapa Sin-li tak mau minta pertolongannya ?"
Sin-li gelengkan kepala.
"Makhluk tua itu tiada gunanya!"
Cu Jiang tertawa.
"Kui-jiu-sin Jin Bun Jok Ih, dapat mengobati segala
penyakit. Kepandaiannya seperti dewa masakan dia tak
berguna. Aku. . ." tiba2 Cu Jiang hentikan kata-katanya:
"Memang benar." kata Sin li. "tetapi harus dilihat dulu
siapa yang sakit."
"Apa maksud Sin-li ?"
Bu-san-sin li kerutkan alis, katanya:
"Penyakit yang menyerang orang itu bukan penyakit
biasa melainkan penyakit hati. Diseluruh penjuru dunia
mungkin sukar mencari orang yang dapat mengobatinya.
Tetapi engkau, Toan-kiam-Jan jin adalah tabib yang tepat
untuk mengobatinya. .. ."
"Aku ?" Cu Jiang terkejut.
"Ya. Penyakitnya itu penyakit linglung. Jika engkau mau
turun tangan tentu dapat menyembuhkannya."
"Ah, harap Sinli Jangan bergurau."
"Pernahkah engkau mendengar nama seorang pendekar
yang bergelar Coat-ceng-kiam-khek?"
Cu Jiang terkesiap, merenung. Coat-ceng-kiam-khek
artinya Pendekar pedang Patah-hati.
"Ya," ia mengangguk, "memang pada waktu kecil,
mendiang ayahku pernah menyebut nama orang itu.
Pendekar Patah-hati merupakan cianpwe yang sakti pada
beberapa puluh tahun yang lalu. Dengan sebatang pedang
dia telah malang melintang dalam dunia persilatan. Setiap
lawan tentu tak kuat menghadapi dua jurus serangannya.
Tetapi sudah lama sekali beliau menghilang dari dunia
persilatan. Entah mengapa tiba2 Sin-li mengatakan tentang
dirinya?"
"Dia masih hidup! "
"Ah...."
"Dan berada di istana sini!"
Kejut Cu Jiang bukan kepalang.
"Benarkah itu?" serunya.
"Dialah yang kukatakan penderita penyakit linglung itu!"
"Oh ..... " Cu Jiang mendesuh, " tetapi aku benar2 tak
mengerti ilmu pengobatan."
"Engkau bisa!"
"Ah, Sin-li berolok-olok. "
"Tidak, aku memang bersungguh-sungguh."
"Ini .... "
"Terus terang kuberitahu kepadamu, Coat-ceng kiamkhek
itu adalah suamiku."
Untuk yang kesekian kalinya Cu Jiang seperti dipagut
ular kejutnya. Benar2 ia seperti orang bermimpi. Pendekar
Patah-hati itu menurut umurnya tentu sudah seratusan
tahun.
Menurut keterangan mendiang ayah Cu Jiang, waktu
Pendekar Patah-hati muncul di dunia persilatan ayah dari
Cu Jiang itu masih belum belajar silat. Sedang Bu-san-sin-li
itu tampaknya begitu muda, belum ada tiga puluh tahun
umurnya. Mengapa menjadi isteri dari Pendekar Patahhati?
"Aku benar2 semakin bingung, " katanya.
Bu-san-sin li tertawa, katanya:
"Suamiku itu adalah si Pedang gila ..."
"Pedang-gila?"
"Benar, karena mempelajari ilmu pedang, dia sampai jadi
gila dan dari gila menjadi linglung."
"Aih."
"Selama lima tahun dia berkelana di wilayah Kanglam
dan Kangpak dan selama itu belum pernah berjumpa
dengan lawan yang mampu menandinginya. Oleh karena
itu dia masygul dan berobah perangainya ...."
"Aneh sekali. Kalau tak mendapat lawan berarti ilmu
pedangnya sudah mencapai tingkat sempurna. Seharusnya
gembira mengapa malah kecewa?"
"Soal2 dalam dunia ini memang ada kalanya tak dapat
dipikir dengan nalar sehat. Bermula karena kuatir kalah
dengan orang, giat dan tekun belajar. Setelah mencapai
kepandaian yang tinggi lalu tak mendapat lawan dan
kecewa, sedih, masygul ...."
"Apakah selama berpuluh tahun itu benar2 tak mendapat
lawan?"
"Ya, memang tak ada."
"Misalnya seorang tokoh yang bergelar Dewa-pedang Cu
Hong Ko itu?" sengaja Cu Jiang mengajukan pertanyaan.
Sin-li tertawa tawar.
"Mendiang ayahmu, bukan?"
Cu Jiang meringis dan merahlah wajahnya. Kiranya
waktu dia berbicara dengan kedua Pengawal Hitam tadi,
diam2 Bu-san-sin-li telah mendengarkan. Terpaksa ia
mengiakan.
"Aku hendak berkata terus terang, harap engkau jangan
kecewa. Ayahmu belum dapat menjadi tandingannya! "
kata Bu-san-sin-li.
o0-dw-0o
Mau tak mau Cu Jiang tersinggung juga perasaannya.
Ayahnya telah digelari kaum persilatan sebagai Dewapedang.
Kalau dia tak mampu menerima dua jurus
serangan pedang dari Pendekar Patah hati, bukankah gelar
ayahnya itu hanya sebuah nama kosong belaka?
"Apakah sinli anda sudah pernah bertempur dengan
mendiang ayahku?" akhirnya ia berseru dengan nada serius.
"Belum,"
"Lalu dari sudut manakah Sin-li mengadakan penilaian
tadi?"
"Sudah tentu ada alasannya. Masakan aku hanya omong
sembarangan saja."
"Mohon Sin-li suka memberi keterangan."
"Ai, agaknya harus dimulai dari permulaan," kata Bu san
sin-li, “suamiku hanya lima tahun lamanya malang
melintang di dunia persilatan. setelah itu lalu kukurung dia
di istana ini. Tak kuijinkan dia muncul di dunia perbuatan
lagi.
"Kenapa?"
"Selama bertahun2 tak ada lawan yang mampu
menerima dua buah jurus ilmu pedangnya, kuibaratkan
sebagai pohon. Makin tinggi pohon itu tentu makin sering
dilanda badai. Makin termasyhur makin terancam. Musuh
yang terang mudah dihadapi tetapi musuh yang gelap sukar
dijaga. Sesungguhnya dia hanya tergila-gila pada ilmu
pedang, sama sekali bukan karena hendak mengajar nama .
.. ."
"Hm, tetapi adakah suami Sin-li itu menurut saja?"
"Sudah tentu tidak," sahut Bu-san-sin-li "aku mempunyai
cara tersendiri. Setiap tahun kusuruh seorang murid untuk
turun gunung dan menyelidiki apakah saat itu di dunia
persilatan terdapat seorang Jago pedang baru. Jika ada,
maka suamiku tentu akan muncul untuk menantangnya . “
"Apakah selama bertahun-tahun demikian ?"
"Ya."
"Kalau begitu tentu tak terhindar akan berhadapan
dengan mendiang ayahku?"
"Belasan tahun tahun yang lalu, ayahmu sudah
mengangkat nama. Namanya termasyhur di seluruh
Tionggoan. Pada tahun itu akupun mengutus seorang anak
murid. Kebetulan melihat ayahmu sedang memuji
kepandaian dengan seseorang. Dalam sepuluh jurus,
ayahmu dapat mengalahkan orang itu. Kemudiam anak
murid yang kuutus itu segera mencari orang yang
dikalahkan ayahmu dan mendatanginya. Dalam delapan
jurus, anak muridku dapat mengalahkannya. Dari hal ini
engkau tentu jadi jelas."
Tergetar hati Cu Jiang, pikirnya: "Jika ayah dapat
mengalah dalam sepuluh jurus tetapi murid yang diutusnya
itu mampu mengalahkah dalam delapan jurus: jelas jauh
sekali perbedaannya . . ."
Tetapi segera Cu Jiang teringat bahwa jika tidak sangat
terpaksa memang mendiang ayahnya tak mau
mengeluarkan jurus It kiam tui hun yang diandalkannya itu.
"Masih meragukan, " serunya.
Wajah Busan sinli berobah, serunya:
"Apa maksudmu?"
"Mendiang ayahku masih tak mau mengeluarkan seluruh
ilmu kepandaiannya. "
"Bagaimana engkau tahu?"
"Setelah menciptakan sebuah ilmu pedang sakti, jika tak
terpaksa ayah tak mau menggunakannya. "
"Ketahuilah, bahwa selama melancarkan sepuluh jurus
serangan itu, masakan ayahmu tak menggunakannya?"
"Menurut dugaan memang tidak,” jawab Cu Jiang,
"karena setiap kali jurus itu digunakan tentu lawan terluka
atau binasa. Dan pula ayah mengingat karena pertempuran
itu hanya semacam menguji kepandaian bukan suatu
pertempuran antara musuh. Tentu ayah tak mau
menggunakan jurus maut itu."
Bu san sin li mengangguk.
"Mungkin engkau benar," katanya, "mari, kita minum
lagi." Habis berkata dia terus mengangkat cawan dan saling
beradu cawan dengan Cu Jiang.
Beberapa saat kemudian kembali Bu-san-sin li berkata
serius:
"Kalau menurut keteranganmu tadi, bukankah
penilaianku pada waktu dulu itu salah ?"
"Mungkin."
"Apakah engkau juga mampu menggunakan Jurus ilmu
pedang sakti ciptaan ayahmu itu ?"
"Dapat."
"Bagaimana tingkat penguasaanmu kalau di banding
dengan ayahmu dulu ?"
"Aku berlatih dengan susah payah."
"Ketika tadi ia membunuh kedua lelaki tua baju hitam
itu apakah juga menggunakan jurus ilmu pedang itu."
"Bukan."
"Hm, maka kuduga ilmu kepandaianmu bukan berasal
dari dunia persilatan Tionggoan tetapi dari suatu sumber
yang aneh . . .."
"Ya, kutahu," tiba2 wajah Cu Jiang terkesiap menyadari
sesuatu.
"Apa yang engkau ketahui ?"
"Sin li meminta aku mengobati penyakit suami Sin-li,
bukankah tak lain dan bertanding ilmu pedang ?"
"Tepat," seru Bu-san sin-li, "inilah maksudku
mengundang engkau ke dalam keraton sini."
"Lalu bagaimana yang harus kulakukan?"
"Tundukkan dia agar nafsunya untuk mencari orang
yang dapat mengalahkan dirinya, dapat padam."
Darah muda Cu Jiangpun serentak berkobar. Demi
menjaga nama baik ayahnya, dia harus meluluskan
permintaan Bu san sin li.
"Apakah aku mampu?" tanyanya.
"Mungkin mampu, tetapi . . ."
"Apakah masih ada petunjuk lagi?"
"Akan kuterangkan lebih dulu kepadamu. Kalau engkau
sanggup, terserah apa saja yang hendak engkau lakukan. "
"Apa maksud Sin-li?"
"Selama berpuluh tahun menyembunyikan diri, perangai
suamiku berobah aneh sekali. Begitu turun tangan mungkin
dia tak peduli lagi siapa musuhnya . . ."
"Apakah harus sampai berdarah?"
"Mungkin begitu. Kalau engkau tak sanggup
menghadapi bahaya, silahkan pergi."
Cu Jiang tertawa nyaring.
"Bukan soal menghadapi bahaya tetapi soal pertempuran
itu. Aku yang berlumur darah atau suami anda."
Wajah Bu san sin li mengerut.
"Aku hendak mengajukan permohonan yang kurang
layak. "
"Apakah itu?"
"Kalau ilmu pedangmu memang lebih tinggi dari
suamiku, harap membatasi diri untuk menutuknya saja."
Permintaan itu memang kurang layak dan lebih banyak
dipengaruhi dengan kepentingan peribadi. Cu Jiang tertawa
hambar:
"Kalau suami Sin li lebih sakti, aku tetap harus
berlumuran darah?"
Merah muka Bu san-sin-li.
"Itulah sebabnya maka lebih dulu kukatakan bahwa
permohonanku itu kurang layak. Tetapi, aku tentu akan
berusaha untuk menghentikan adegan-adegan yang
mengerikan itu."
"Baik." sahut Cu Jiang dengan wajah serius, "kuterima
permintaan Sin-li."
Bu san-sin-li mengangkat cawan arak dan berseru:
"Lebih dulu kuhaturkan arak terima kasih kepadamu."
Setelah minum, Cu Jiangpun tinggalkan tempat
perjamuan itu dan duduk kembali di tempat semula.
Demikianpun Bu-san-sin li. Beberapa dayang baju hijau lalu
membenahi meja perjamuan.
Bu-san sin-li membisiki beberapa patah kata kepada
dayang yang berada di sampingnya dan dayang itupun lalu
bergegas ke luar. Tak berapa lama dia kembali lagi dan
memberi laporan kepada Bu san-sin-li bahwa semua telah
dipersiapkan.
Dari luar tiba2 tampak penerangan yang terang sekali.
Dua orang dara membawa galang yang ujungnya diberi
mutiara cemerlang tegak di ujung ruang.
"Cu sauhiap, apakah sudah siap ?" tegur Bu-san-sin-li.
"Aku tak mempunyai persiapan apa2." kata Cu Jiang.
"Baik, Jika begitu silahkan menuju keluar ruang !"
Sepanjang lorong serambi telah disediakan tempat
duduk. Cu Jiang dan Bu-san-sin-li lalu duduk di kursi yang
sudah disediakan.
Sesungguhnya Cu Jiang merasa tak enak hati. Demi
menegakkan keharuman nama mendiang ayahnya, dia
telah menerima adu ilmu pedang dengan syarat yang aneh
itu.
Pendekar Patah-hati itu seorang tokoh aneh pada Jaman
seratusan tahun yang lalu. Dapatkah ia menghadapinya
nanti, sama sekali belum diketahuinya.
Begitu pintu disudut terbuka maka muncullah seorang
jago pedang pertengahan umur dengan mengenakan
pakaian yang gemilang.
Kecuali kerut wajahnya agak gelap, semangat dan
tampangnya menunjukkan bahwa dia seorang pria yang
cakap.
Cu Jiang benar2 heran tak mengerti, inikah yang disebut
Pendekar Patah Hati itu? Apakah dia sudah berumur
seratusan tahun ?
Pada saat Cu Jiang sedang mengambang renungan, jago
pedang setengah tua itupun pelahan-lahan melangkah ke
tanah lapang yang berada di muka ruang.
Cu Jiang mengalihkan pandang matanya kearah Bu-sansin-
li.
"Dialah suamiku, silakan turun ke lapangan" suaranya
agak tegang.
Setelah memberi hormat, Cu Jiangpun segera menuju ke
tanah lapang. Ia tak sempat lagi untuk melontarkan
pertanyaan2 yang terkandung dalam hatinya.
Saat itu si jago pedangpun sudah tiba di tengah dari
persilangan jalan dari taman bunga yang berbentuk bundar.
Dengan pandang berkilat-kilat tajam ia menatap Cu Jiang.
Tetapi anak muda itu tenang2 saja melanjutkan langkah
dan tegak di hadapannya.
"Beritahukan namamu!" sampai beberapa lama baru Cu
Jiang membuka mulut. Nadanya dingin sekali.
"Putera tunggal dari Dewa Pedang yang bernama Cu
Jiang." Sahut Cu Jiang dengan nada yang tak kalah dingin.
"Ha, ha, ha, ha! Dewa-Pedang, berani benar
menganggap diri sebagai Dewa !"
"Itu kaum persilatan yang memberikan nama Gelar
bukan suatu kebanggaan !"
"Tetapi apakah pedang itu mempunyai Dewa?"
"Ilmu sastra setara dengan ilmu silat, berbeda tetap sama.
Beberapa tokoh jaman dulu yang disanjung sebagai dewa,
tentu takkan mengecewakan namanya."
"Tetapi sudah berpuluh tahun aku tak bertemu dengan
lawan yang mampu mengalahkan, lalu bagaimana
katamu?"
"Dalam dunia ini banyak tunas2 berbakat dan manusia2
yang luar biasa. Soalnya hanya belum dapat berjumpa
dengan mereka saja."
"Apakah engkau merasa bangga sebagai putera Dewapedang?"
"Ah, tidak. Aku hanya sekedar melakukan sesuatu yang
tidak mengecewakan harapan orang tuaku."
"Lalu engkau bersedia hendak mengukur kepandaian
denganku?"
"Hanya sekedar tukar menukar pengetahuan saja."
"Berapa umurmu?"
"Dua puluh."
"Tahu berapa umurku ?"
"Kemampuan tak menghiraukan soal umur2"
"Kalau begitu aku tak berguna hidup seratusan tahun ?"
"Aku tak bermaksud mengatakan begitu."
"Kalau engkau menyandang nama tanpa kenyataan,
tahukah engkau bagaimana akibatnya."
"Aku tak meresahkan soal mati atau hidup."
"Belum sampai pada tingkat itu."
"Lalu bagaimana?"
"Aku hendak membasmi semua jago2 pedang ternama
dalam dunia ini."
Cu Jiang mendengus. "Hm, Janganlah anda kelewat
bernafsu besar!"
Sijago pedang setengah tua itupun mendesus dan
memandang Cu Jiang tajam2.
"Takkan kubiarkan kawanan berandal tak berguna itu
menggunakan keluhuran nama Dewa."
"Lalu apa tujuan anda belajar ilmu pedang ?"
"Mengembangkan ilmu pedang."
"Tetapi dengan cita2 hendak membunuh semua jago
pedang di dunia ini, apakah tidak menghancurkan
kemajuan ilmu pedang?"
"Ngaco!"
"Aku berkata secara wajar."
"Hm, kalau engkau hanya bernama kosong tak ada
buktinya, engkaulah yang pertama akan mati!"
"Kalau aku berhasil dapat menerima beberapa jurus ilmu
pedang anda ?"
"Sejak saat ini nama Pendekar Patah - hati akan hapus
dari dunia persilatan !"
Rupanya Jago pedang itu terpengaruh oleh emosi. Cu
Jiangpun tertawa hambar.
"Ah, tak perlu harus begitu. Sesungguhnya dalam dunia
ini tiada terdapat jago pedang yang tak ada tandingannya.
Ilmu silat itu tiada batasnya. Jika anda memang tidak
mengejar nama dan tidak memburu keuntungan melainkan
hanya bertujuan hendak memajukan ilmu pedang, mengapa
harus mempertaruhkan kehormatan nama?"
"Huh, engkau belum layak memberi nasehat kepadaku !"
Cu Jiang hendak berkata tetapi tak jadi. Berdebat dengan
seorang yang dirangsang emosi tiada gunanya.
"Bagaimana kalau sekarang kita segera mulai?" serunya.
Dan Cu Jiang mencabut pedang kutung.
"Hai. engkau menggunakan pedang kutung?" Pendekar
Patah-hati berteriak kaget.
"Ya"
"Engkau berani memandang rendah aku?"
"Memang inilah senjata yang kupakai!"
"Apa engkau tahu bahwa, panjang pendeknya senjata itu
akan menentukan kemenangan ?"
"Tahu."
"Disini kita menyediakan pedang, engkau boleh tukar
mana yang engkau sukai."
"Tak usah !"
Sejenak Pendekar Patah-hati merenung lalu pelahanlahan
menghunus pedang, serunya.
"Kalau begitu, bersiaplah menyambut seranganku."
"Lebih dulu aku hendak berkata."
"Silakan."
"Entah menang entah kalah, mati atau hidup, aku hanya
melakukan serangan satu jurus saja, takkan sampai dua
jurus..."
"Ha ha, bagus, bagus! Jika kesaktianmu sebesar mulutmu
yang sombong itu, hari ini aku benar2 bertemu dengan
seorang jago pedang yang sejati!"
"Dan..." kata Cu Jiang pula, "sejurus permainan pedang
yang kulakukan nanti adalah ajaran dari almarhum ayahku.
Hal ini perlu kukatakan lebih dulu. "
"Ho, rupanya engkau mabuk dengan nama gelar Dewa
pedang dari ayahmu?"
"Menjadi anak orang harus melanjutkan cita2 ayahnya."
"Ha, ha, ha, hi, sungguh besar sekali nyali mu.
Bersiaplah!"
"Silakan."
Keduanya segera pasang kuda2, saling berpandangan
dengan penuh perhatian. Suasana hening sunyi tetapi penuh
ketegangan.
Berpuluh dara baju hijau dan putih tegak ber jajar2 di
sekeliling tepi lapangan. Satupun tak ada lelaki. Tentulah
kawanan dara itu tak mau melewatkan kesempatan untuk
menyaksikan pertandingan in pedang yang jarang terdapat
dalam dunia persilatan seperti itu.
Cu Jiang telah menghimpun dan memusatkan segenap
semangat perhatiannya. Seolah-olah dirinya sudah
menunggal dengan pedang.
Pendekar Patah-hati juga seperti patung. Matanya tak
berkedip sama sekali.
Dua buah hawa pedang yang seram mulai bertebaran
membawa bayang2 maut. Bu-san-sin-li segera berbangkit
dan berdiri di titian. Dia tampak tegang sekali.
Memang dapat dimengerti. Cu Jiang adalah orang yang
diundangnya sedang yang menjadi lawan adalah suaminya
sendiri. Mungkin pertandingan itu akan berakhir dengan
suatu kesedihan.
"Benarkah tindakanku ini?" ia bertanya dalam hati.
Tetapi keadaan sudah seperti itu, sukar untuk dibatalkan
lagi.
Detik demi detik berjalan tegang. Kedua belah pihak
sama2 menyadari bahwa kali ini mereka berhadapan
dengan lawan yang paling berat yang pernah dihadapinya.
Mati hidup, menang dan kalah, hanya tergantung pada
perobahan setiap saat.
Setengah jam, lalu satu jam telah berlalu. Bagi yang
bertempur, setengah dan satu jam, seperti tak terbuang sia
sia. Tetapi bagi yang melihat, mereka merasa menunggu
satu tahun lamanya!
Ketegangan suasana menyebabkan orang sampai tak
berani bernapas. Bagaimana nanti akhir pertempuran itu
tiada seorang yang dapat membayangkan.
Cuacapun makin terang. Bintang2 mulai pudar sinarnya.
"Hait hait..."
Tiba2 dua buah suara gemboran keras memecah
kesunyian. Entah siapa yang bergerak lebih dulu. Yang
tampak hanya sinar pedang memancar lalu padam lagi.
Tampak orang merapat lalu berpencar lagi.
Pertarungan antara dua buah pedang yang berdering
nyaring, benar2 merontokkan hati orang. Sinar pedang
berhamburan memenuhi sekeliling, daun dan ranting
berguguran dan kawanan dara yang menyaksikan
disekeliling tepi lapangan itupun pucat seketika.
Bu-san-sin-li menutup mukanya dengan ujung lengan
baju. Ia tak berani melihat akhir pertempuran itu.
Tampak pedang Patah-hati berkerenyutan wajahnya.
Pedangnya ditekan ke tanah untuk menyanggah tubuhnya
yang bergemetar keras.
Sedangkan Cu Jiang masih memegang pedang yang
terangkat keatas. Pedang miring tetapi tak sampai jatuh.
Wajahnya membesi.
Beberapa waktu kemudian tiba2 Pendekar Patah-hati
memekik keras:
"Aku kalah. kalah sejurus . . ." kemudian dia tertawa
nyaring. Nadanya panjang menggemuruh bagai ombak
menyapu.
Bu-san-sin li membuka ujung lengan bajunya dan
menghela napas panjang.
Cu Jiang pelahan-lahan menyarungkan pula pedang
kutungnya. Walaupun sikapnya tampak tenang tetapi
sesungguhnya hatinya berguncang keras.
Kemenangan yang direbutnya itu benar2 tak mudah.
Hanya karena ia memiliki tenaga dalam yang hebat berkat
mendapat rejeki luar biasa mempelajari kitab pusaka negeri
Tayli, maka dapatlah ia memenangkan sebuah gerak dalam
jurus permainannya.
Memang apa yang digunakan Cu Jiang saat itu bukan
ilmu pedang Thian-te kau thay yang terdapat dalam kitab
pusaka Giok-kah-kim-keng dari negeri Tayli.
Apabila Cu Jiang menggunakan jurus Thian-te-kau thay
dalam kitab pusaka Giok-kah-kim-keng, pendekar Patahhati
tentu bukan hanya kalah satu jurus tetapi pasti akan
mengalami akibat yang mengerikan yaitu kalau tidak mati
tentu terluka parah.
Tetapi demi menjaga martabat nama Dewa-pedang dari
mendiang ayahnya, Cu Jiang tetap memakai jurus It-kiamtui-
hun. Memang berbahaya tetapi dia sudah
memperhitungkan akibatnya.
"Ah, anda mengalah," seru anak muda itu dengan nada
dingin.
Pendekar Patah-hati memegang pedang dengan tangan
kiri lalu tangan kanannya menekuk. trang . . . pedang
kutung menjadi dua.
Sekalian orang yang berada di gelanggang pertempuran
itu seketika pucat wajahnya.
Diam2 Cu Jiangpun menyesal. Dia mengakui pendekar
Patah hati itu memang seorang jago pedang yang sukar
dicari tandingnya. Jika dirinya tak mendapatkan sesuatu
rejeki yang luar biasa, tak mungkin dia mampu
mengalahkan jago pedang itu.
Setelah melemparkan kutungan pedang ke tanah,
pendekar Patah hati tertawa nyaring.
"Sejak saat ini aku takkan membicarakan ilmu pedang
lagi. Toan kiam jan-jin, sejak seratus tahun ini, engkaulah
sesungguhnya jago pedang nomor satu dalam dunia
persilatan!" serunya.
Ia berputar tubuh lalu berjalan pelahan-lahan dan lenyap
di ujung pintu.
"Oh, terima kasih Bumi dan Langit, inilah penyelesaian
yang menggembirakan sekali." terdengar Bu-san-sin li
berseru dengan tegang.
Cu Jiang berputar tubuh menghadap ke arah Sin-li,
serunya:
"Maaf atas kekurang-ajaranku!"
"Penyakit suamiku sudah sembuh sama sekali. Sungguh
aku berterima kasih kepadamu." seru Sin-li.
"Ah, janganlah Sin-li mengucap begitu."
"Cu sauhiap, apakah permintaanmu?"
"Tak ada, hanya akan mohon diri." Cu Jiang tertawa
hambar.
"Apa tidak ada lain lagi?"
"Tidak .... kecuali .... ada sedikit pertanyaan yang
hendak kumohonkan penjelasan Sin-li."
"Katakan."
"Menurut kata orang, Sin li sudah berusia seratusan
tahun . . ."
Bu san sin li tertawa cerah.
"Semua penghuni dalam keraton ini, tak ada yang
umurnya kurang dari lima puluh."
"Ah, bagaimana mungkin? " Cu Jiang terkejut.
"Ini suatu rahasia," kata Bu san sin li dengan wajah
bersungguh, "harap setelah meninggalkan tempat ini, Cu
sauhiap suka menyimpan rahasia."
"Baik."
"Istana Sin li kiong itu menembus sampai ke pusar
gunung. Di situ mengeluarkan suatu sumber air Giok ciok
leng lu (susu dari batu kumala). Semua penghuni istana itu
minum susu itu dapat ternyata dapat membuat kita awet
muda."
Cu Jiang terkejut.
"Jika begitu bukankah usianya akan abadi bersama
dengan bumi dan langit." serunya. Bu san sin li tertawa.
"Mustika langit dan bumi memang mampu menentang
takdir alam. Dapat membuat wajah takkan tua selamalamanya.
Tetapi umur manusia tetap terbatas. Mana
mampu menyamai bumi dan langit. Paling2 hanya lebih
lama dari manusia kebanyakan. "
Memandang ke arah kawanan gadis2 cantik yang
berseliweran itu, timbullah rasa heran dalam hati Cu Jiang.
Masakan dara2 yang muda belia itu ternyata sudah
berumur lima puluh tahun lebih. Apabila tidak mendengar
keterangan dari Sin li sendiri, sudah tentu dia takkan
percaya!
Dunia yang seluas ini ternyata memang penuh dengan
segala macam keanehan.
"Ya, itu memang benar," akhirnya dia mengangguk
membenarkan keterangan Sin li.
Saat itu cuaca sudah terang. Dia dapat memperhatikan
bahwa istana Sinlikiong itu terletak di tengah cekung perut
gunung. Empat kelilingnya merupakan dinding karang yang
curam. Sedang istana itu menempati sebuah dataran seluas
satu bahu lebih. Sungguh merupakan sebuah gua langit
yang istimewa.
Lembah Mo jin koh tempat tabib sakti Kui Jiu sin jin
merupakan sebuah taman firdaus atau tempat kediaman
dewa. Tetapi kalau dibanding dengan istana Sin li kiong
masih tetap kalah.
Bu san sin li berbisik-bisik memberi pesan kepada gadis
di belakangnya dan gadis itupun segera mengundurkan diri.
Cu Jiang teringat akan Thian put thou dan Ang Nio Cu.
Dia ingin lekas2 menemui mereka maka diapun segera
pamit.
"Harap tunggu sebentar." kata Sin li.
"Apakah Sin li masih mempunyai pesan lagi?"
"Ya, sedikit."
"Harap suka memberitahu."
"Engkau dapat masuk ke dalam istana dan membantu
urusanku, jelas hal itu merupakan suatu jodoh. Ada sebuah
barang yang hendak kuberikan kepadamu sebagai kenangkenangan."
"Oh, ini . . . . aku tak berani menerima, terima kasih. "
"Tunggu, sebentar lagi tentu datang."
Tak berapa saat gadis itupun muncul dengan membawa
sebuah kotak emas. Dengan kedua tangan dia
menghaturkan kotak itu kepada Bu san sin li.
Setelah menerima kotak, Bu san sin lipun ayunkan
langkah turun ke titian menghampiri ke tempat Cu Jiang,
membuka kotak emas itu.
"Ini sebuah mustika Thian ju cu, mustika yang
mempunyai khasiat memunahkan racun. Jika engkau bawa,
engkau bebas dari terkena segala macam racun. Dan
apabila bertemu dengan orang yang terkena racun, asal
engkau tempelkan pada mulutnya dalam sekejap saja tentu
racun itu akan tawar. Akan kuberikan kepada sauhiap
sebagai tanda kenang2an dari istana Sin li kiong."
Melihat mustika Thianjucu itu hanya sebesar buah
kelengkeng dan berwarna putih kemilau, Cu Jiang tak
berani memandang remeh.
"Ah, bagaimana aku layak menerima pemberian yang
begini berharga..."
"Tak perlu siauhiap sungkan. Mustika itu tentu berguna
sekali dalam perkelanaanmu di dunia persilatan."
"Jika begitu, akupun menurut perintah Sinli."
"Silakan menyimpannya."
Cu Jiang mengambilnya dengan jari lalu disimpan dalam
baju. Ia menghaturkan terima kasih dan terus pamit.
"Jika engkau memang hendak tergesa-gesa, silakan," kata
Sin-li lalu berpaling seraya memberi perintah kepada gadis
yang memegang kipas, "antarkan Cu sauhiap keluar."
Gadis itu segera serahkan kipas kepada seorang gadis
lain lalu berpaling kepada Cu Jiang, "Silakan ikut aku."
Setelah memberi hormat lagi kepada Sin-li, Cu Jiang lalu
mengikuti gadis itu melangkah keluar seperempat jam
kemudian barulah mereka keluar dari barisan batu.
"Cu sauhiap, harap suka membawa aku," tiba2 gadis itu
berkata.
Sudah tentu Cu Jiang terkejut. "Apa? Membawamu
pergi?" serunya. Gadis itu menghela napas sedih dan
mengiakan.
"Apakah engkau tak kembali ke dalam istana?"
"Tidak, aku sudah jemu dengan kehidupan dalam neraka
itu."
"Tempat dewa yang tiada taranya di dunia, dapat
membuat orang awet muda, masakan engkau katakan
sebagai neraka?"
"Berbulan-bulan, bertahun-tahun hidup didalam perut
gunung yang tak kena sinar matahari, apakah bukan neraka
namanya?"
"Apakah masih kurang baik?"
"Manusia," kata gadis itu, "harus menuntut kehidupan
sebagai layaknya manusia. Walaupun tetap awet muda
tetapi tak mungkin lari dari kematian. Mengapa tidak hidup
wajar menurut kodrat alam sebagaimana lazimnya
manusia?"
Rupanya Cu Jiang dapat mengerti isi hati gadis itu. ia
mengangguk.
"Jika begitu, apakah kawan-kawanmu yang berada di
istana itu hanya lahirnya saja tampak bahagia?"
"Ya."
"Kalau memang begitu, mengapa tak tinggalkan tempat
itu saja ?"
"Tak mungkin dapat."
"Kenapa?"
"Kami telah dipaksa untuk menelan pil beracun. Tiap 3
hari sekali, kami harus menelan obat penawar racun itu.
Jika kami tinggalkan tempat itu dalam tiga hari pasti mati!"
Kejut Cu Jiang bukan alang kepalang. Dia tak
menyangka bahwa Bu san-sin li yang tampaknya seperti
seorang dewi, ternyata menggunakan cara sekejam itu
untuk menekan anak-buahnya.
"Kalau engkau pergi, bukankah engkau akan mati?"
"Bukankah Sin li telah memberikan Thian-ju cu yang
dapat menawarkan racun itu ?"
"Oh kiranya engkau mengincar benda itu.”
"Mohon sauhiap sudi meminjamkan untuk menolong
jiwaku," nona itu setengah mengharap.
"Ini . . ."
"Apakah sauhiap menolak?"
"Tetapi bukankah hal itu bertentangan dengan Sin-li ?
Mustika ini dia yang memberi !"
"Dayang2 dalam istana berjumlah puluhan, bukan hanya
aku seorang."
"Tetapi tindakanmu menyalahi kebaikan Sin-li."
Dengan berlinang-linang airmata, nona itu memandang
Cu Jiang,
"Kalau memang demikian nasibku." katanya dengan
sedih. "lebih aku mati asal mati di luar."
Habis berkata dia terus lari. Cu Jiang terkejut dan cepat
mengejarnya.
"Sudahlah, ambil saja benda ini." katanya seraya
menyerahkan mustika Thian-ju-cu itu.
Bercucuran air mata nona itu ketika memandang Cu
Jiang.
"Budi sauhiap, sungguh tak dapat kubalas," katanya lalu
menyambuti mustika itu terus dikulum kedalam mulut.
Beberapa waktu kemudian ia muntahkan mutiara itu lagi.
wajahnya tampak ceria dan berlinang-linang airmata
kegirangan. Ia mengembalikan mutiara itu kepada Cu Jiang
lagi.
"Namaku Tang Yin Yin. berasal dari daerah Han. Lima
puluh tahun yang lalu aku telah diculik dan dibawa
kedalam istana. ..."
"Lima puluh tahun yang lalu?"
"Ya."
"Lalu sekarang engkau . . . "
"Enam puluh delapan tahun."
"Enam puluh delapan?"
"Ya."
"Ah, sungguh sukar dipercaya."
"Apakah sauhiap mengira kehidupan dalam istana itu
bahagia ?"
"Ai, sungguh sukar dipercaya."
"Apakah sauhiap masih mengira kehidupan dalam istana
Sin li-kiong itu menyenangkan."
"O, tidak! Apakah engkau tetap hendak kembali ke
daerah Han?"
Tang Yin Yin tertawa getir.
"Tidak. Ketika meninggalkan rumah, aku masih muda
belia dan kini sudah menjadi seorang wanita berumur lebih
dari setengah abad. Banyak orang yang sudah tak kenal lagi
siapa diriku. Bahkan keluargaku tentu sudah banyak yang
mati. Dengan wajahku seperti sekarang ini, orang tentu
gempar. Dan juga Sinli tentu akan memerintahkan orang
untuk mengejar aku, maka . . ."
"Bagaimana?"
"Walaupun wajahku masih cantik tetapi umurku sudah
tua, sukar untuk diterima sebagai budak atau pelayan demi
untuk membalas budi sauhiap. Maka aku hendak mohon
diri, kelak apabila masih ada rejeki tentu dapat berjumpa
lagi."
"Baik, silakan pergi agar jangan diketahui orang Sin likiong."
Sehabis menghaturkan terima kasih dan hormat, wanita
itu terus melesat lenyap dari pandangan.
Cu Jiang masih tertegun. Peristiwa yang di alami malam
itu, sungguh seperti impian. Menilik gerakan Tang Yin Yin
tadi, sudah jelas dia memiliki ilmu kepandaian setingkat
dengan jago kelas satu dalam dunia persilatan.
Kini wanita itu sudah bebas dari penghidupan seperti
neraka. Tetapi bagaimana dengan kawanan nona yang
masih berada di Sin li-kiong itu?
"Hai, adik kecil, kukira engkau mendapat kesulitan, ah.
membuat bingung hatiku saja!" seru Thian-put-thou yang
berlarian menyongsong kedatangan Cu Jiang.
Cu Jiang amat bersyukur sekali. Manusia thian-put-thou
yang tak peduli segala apa di dunia, bahkan apabila langit
ambruk diapun takkan mempedulikan, ternyata begitu
menaruh perhatian besar kepada dirinya.
"Lo-koko, maafkan aku," serunya.
"Apa yang terjadi ?"
"Aku memburu suara harpa itu."
"Hm, sungguh besar sekali nyalimu. Lalu bagaimana
hasilnya?"
Cu Jiang tak dapat membohongi lo-kokonya itu tetapi
diapun harus menepati janji kepada Bu-san-sin-li untuk
tidak menyiarkan rahasia Sin-li-kiong.
"Lo-koko, semalam aku memang bertemu dengan
peristiwa yang luar biasa," akhirnya ia berkata. "tetapi aku
sudah berjanji kepada orang itu untuk tidak
memberitahukan kepada lain orang."
"O, kalau begitu, akupun takkan bertanya lagi." kata
Thian put-thou.
"Apakah semalam lo koko tidak tidur ?"
"Engkau kira aku dapat tidur pulas?"
"Ah, kalau begitu aku yang salah."
"Sudahlah, mari kita kembali ke gua untuk
menghabiskan makanan. Setelah itu baru kita turun
gunung."
Selama kembali kedalam gua merekapun masing2
habiskan sisa arak dan makanan setelah itu turun gunung.
Cu Jiang masih mengenakan kerudung penutup muka.
Keluar dari daerah Busan, haripun sudah petang.
Perkampungan masih jauh.
"Lo-koko, kita cari tempat beristirahat atau lanjutkan
perjalanan pada malam hari ?" tanya Cu Jiang.
"Jalan terus."
"O, benar Lo-koko, tolong pinjam kedok muka itu lagi."
"Apa engkau masih mau menyamar ?"
"Ya, kalau tidak jejak kita tentu akan diketahui musuh."
"Disebelah muka sana terdapat perumahan orang, kita
siapkan perbekalan."
Setelah lari beberapa saat mereka memang melihat
beberapa perumahan orang. Thian-put-thou hentikan
langkah.
"Tunggu dulu, aku hendak pinjam beberapa barang."
"Apa lo-koko kenal dengan mereka?"
"Hi, hi, dengan siapa saja aku tentu kenal."
Cu Jiang tersadar, serunya : "O, mencuri ?"
"Katakan pinjam, jangan pakai istilah mencuri, kurang
sedap didengar."
Pada saat mengucapkan kata2 yang terakhir diapun
sudah melesat pergi. Tiba2 dari sebuah perumahan itu
terdengar suara anjing menyalak. Tetapi hanya sebentar
terus sepi lagi.
Dan beberapa saat kemudian Thian-put-thou sudah
kembali dengan tertawa mengikik seraya membawa sebuah
bungkusan.
"Hasil ?" Cu Jiang menegur tertawa.
"Adik kecil, untuk seperangkat pakaian baru ini akupun
telah meletakkan setahil perak sebagai gantinya, adil
bukan?"
"Terlalu banyak," seru Cu Jiang.
"Hayo, lekas engkau ganti pakaian," Thian-put-thou
membuka bungkusan. Isinya seperangkat baju pendek
warna biru, sepasang sepatu yang butut dan sebuah topi
yang berlubang. Diapun mengeluarkan kedok muka dan
diberikan kepada Cu Jiang.
Dalam pakaian Itu Cu Jiang berobah menjadi seorang
pemuda desa. Pedang kutungnya dibungkus dengan
bajunya sendiri dan dipanggul dibahu belakang. Kemudian
mereka melanjutkan perjalanan lagi.
"Lo-koko, apakah Ang Nio Cu masih berada digunung
itu ?"
"Entah."
"Sejak turun gunung kita tak pernah..."
"Sudah kutinggalkan tulisan pada batu di luar gua."
"Ah lo-koko sungguh cermat."
"Apa langkah pertama yang harus kita lakukan
sekarang?"
"Cari ketua Gedung Hitam untuk membuat
perhitungan!" sahut Cu Jiang.
"Tidak mudah untuk mencarinya .... "
"Kalau tak sampai berjumpa dengan anak buah Gedung
Hitam, kita masih punya cara lagi."
"Apakah bersama-sama berjalan dengan engkau, aku
tidak mengganggu?"
"Tidak," sahut Cu Jiang. "dengan pengalaman lo-koko
yang luas, sungguh suatu bantuan yang amat berharga
sekali kepadaku. Tetapi hal ini menyangkut musuh
keluargaku, aku hendak menyelesaikannya seorang diri.
Harap lo-koko jangan salah mengerti,"
"Baik, kalau begitu kita bercerai saja."
"Maaf, lo-koko, ini sungguh terpaksa sekali."
"Kutahu."
"Apakah lo koko tahu letak markas besar dari
perkumpulan Hoa-gwat bun ?"
"Itu merupakan suatu rahasia penting dari mereka. Aku
belum pernah dengar."
“Jadi untuk mencari ketua Hoa-goat-bun, hanya secara
untung-untungan saja ?"
"Tidak sukar." jawab Thian-put-thou, "anak murid
mereka kebanyakan berada ditempat pelesiran. Dapat
diselidiki jejaknya."
"Dan Bu-lim seng-hud Sebun Ong itu?"
"Tempat tinggal orang itu tak tentu, tak pernah terdengar
orang menceritakan tentang rumah-tangganya."
Demikian mereka berpisah dan beberapa hari kemudian
tibalah Cu Jiang di jalan besar yang menuju ke kota
Kengso. Dalam dandanan seperti seorang pemuda dekil, tak
seorangpun yang menaruh perhatian kepadanya.
Tak ada yang menyangka bahwa dia adalah Toan-kiam
Jan Jin yang termasyhur itu.
-oo0dw0oo-
Jilid 17
Menjelang tengah hari, dia tiba ditempat ketika toa
suhengnya, mendiang Ho Bun Cai, tempo hari
membawanya masuk ke Gedung Hitam. Ialah sebuah kota
kecil dimana dia pernah bertemu dengan wanita gemuk
yang ternyata adalah bibinya atau adik dari ayahnya.
Ia segera masuk ke sebuah kedai minum. Kebetulan
tempat yang dulu pernah ia duduki, masih kosong. Dia
segera duduk disitu.
Seorang pelayan menghampiri, mengawasi Cu Jiang
beberapa jenak.
"Mau makan apa ?" tegurnya dengan dingin.
Sudah tentu Cu Jiang marah terhadap tingkah pelayan
yang begitu kasar. Dia hendak berbangkit tetapi pada lain
saat ia teringat bahwa saat itu dia sedang dalam
penyamaran. Terpaksa dia mengekang kemarahannya dan
pura2 bersikap ketolol-tololan seperti seorang desa.
"Aku mau minum arak apa?" katanya.
"Ya, mau minum arak apa?" sahut pelayan.
"Arak putih saja."
"Hidangannya?"
"Apa saja."
Pelayan itu tertawa gelak2.
"Bung, kami tak jual hidangan "apa saja " ! "
Cu Jiang tetap menahan kemarahannya dan berkata
pula:
"Seekor ayam, terserah mau dimasak apalah!"
"Baik, harap tunggu." kata pelayan terus ngeloyor.
Kedai makan itu termasuk yang paling mewah di kota
kecil itu. Orang desa pada umumnya tak berani masuk ke
situ dan Cu Jiang termasuk yang paling gengsi.
Beberapa waktu kemudian barulah pelayan
membawakan hidangan yang dipesan Cu Jiang. Sambil
makan Cu Jiang teringat akan peristiwa dahulu ketika ia
bersama toa-suheng Ho Bun Cui yang masih menjabat
sebagai congkoan Gedung Hitam.
Saat itu dia masih menganggap Ho Bun Cai sebagai
musuh. Kini toa suhengnya itu sudah meninggal, sedang
bibinya, si wanita gemuk, berada di negeri Tayli.
Membayangkan hal itu, hatinyapun rawan sehingga
selera makannya turut hilang.
Tengah dia melamun tiba2 hidungnya terbaur setiup
angin yang harum, ia memandang ke muka dan terkesiap.
Seorang dara yang berpakaian seperti puteri keraton
melangkah masuk dengan diiring oleh seorang gadis
pelayan. Dara itu tak lain adalah Ki Ing beserta bujang
pelayannya.
Pemilik rumah makan gopoh menyambut sendiri dan
memberi hormat.
"Ah, sungguh suatu kehormatan besar kami dapat
menerima kunjungan siocia. Tetapi maaf, persedian
hidangan kami terdiri dari hidangan yang kasar2."
Tetapi Ki Ing tak menghiraukan pemilik rumah makan
itu. Ia terus berjalan menuju sebuah tempat duduk di dekat
jendela.
Melihat itu pemilik rumah makan bergegas
membersihkan kursi dengan lengan bajunya.
"Disini mungkin tak sesuai, silakan siocia duduk di
dalam." katanya.
"Tak usah, disini sajalah." bujang baju hijau menyahut.
Pemilik rumah makan itu tersipu-sipu mengiakan dengan
hormat.
"Siocia minum arak atau dahar nasi?" kembali pemilik
rumah makan bertanya.
"Minum arak." Kembali bujang baju hijau yang bernama
Siau Hui menyahut.
"Mohon suka memberi pesanan hidangannya."
"Beberapa yang enak."
"Baik, baik." pemilik rumah makan itu terus
mengundurkan diri.
Ki Ing tak mengacuhkan Cu Jiang. Ia tak menyangka
bahwa orang desa yang tengah makan disitu itu adalah Cu
Jiang.
Diam2 Cu Jiang memikirkan diri nona itu. Mengapa
mereka datang ke kota didaerah gunung yang jelas
merupakan wilayah kekuasaan orang Gedung Hitam. Dan
mengapa pemilik rumah makan begitu menghormat sekali
kepada nona dan bujangnya itu ?
Cu Jiang serentak teringat akan lencana Hek-hu yang
pernah diberikan nona itu kepadanya. Dengan lencana itu
ternyata Pek poan-koan atau Hakim Putih dari Gedung
Hitam tunduk. Dengan begitu nona ini tentu mempunyai
hubungan dengan Gedung Hitam. Lalu apakah
hubungannya? Siapakah sesungguhnya dara cantik itu?
Walaupun Ki Ing seperti bidadari cantiknya dan
bujangnya Siau Hui itu juga cantik, tetapi tetamu2 yang
berada di rumah makan itu hanya berani mencuri pandang
ke arah mereka. Itupun dilakukan secara diam2. Tak
seorangpun berani mengganggunya. Hal ini makin
membuat Cu Jiang heran dan curiga.
Teringat akan tindakan Ki Ing yang telah memberinya
lencana Hek hu dan mencari mayat si pelajar baju putih (Cu
Jiang), pemuda itu diam2 dapat menilai akan isi hati Ki Ing.
Tetapi dia sudah terikat janji dengan Ang Nio Cu untuk
mengawini Ho Kiong Hwa. Dengan demikian sekarang dia
sudah beristeri. Ah, biarlah peristiwa yang pernah terjadi
antara dia dengan sidara Ki Ing itu merupakan suatu
kenangan yang indah saja.
Bukankah pelajar baju putih yang didambakan Ki Ing itu
sudah lenyap tak berbekas?
Setelah menenangkan perasaannya, Cu Jiang melirik ke
arah dara itu. Tampak Ki Ing sedang bertopang dagu,
termenung-menung Dalam keadaan seperti itu, Ki Ing
makin tampak cantik.
Serentak hati Cu Jiangpun bergolak. Buru2 dia menarik
pandang matanya tak melihatnya lagi.
Tak lama kemudian pemilik rumah makan
mengantarkan sendiri hidangan. Alat2 hidangannya, bagus
sekali. Berbeda dengan yang diberikan kepada tetamu lain.
Kedua nona dan bujang itu menikmati hidangan dengan
diam. Suasananya tampak rawan.
Tiba2 Ki Ing menghela napas panjang. "Siau Hui,
apakah engkau rasa pelajar baju putih itu masih hidup di
dunia?" tiba2 ia bertanya dengan bisik2.
Seketika darah Cu Jiang mendebur keras dan jantungnya
serasa melonjak. Jelas dara cantik itu tetap mengenang
dirinya, masih tercengkram merindukan kasihnya.
Serentak ingin dia hendak terbang kesana dan membuka
kedok mukanya. Tetapi serentak kesadaran pikirannya
mencegah agar dia jangan bertindak begitu.
Untuk menyalurkan luapan perasaannya, ia segera
meneguk dua cawan arak. Mabuk, ya, biarlah mabuk akan
menghilangkan keresahan pikirannya saat itu.
Ki Ing bicara pelahan sekali. Kecuali orang memiliki
tenaga-dalam yang tinggi seperti Cu Jiang memang sukar
untuk menangkap pembicaraan mereka.
"Sudah tentu masih hidup," sebut Siau Hui dengan agak
geram.
"Bagaimana engkau tahu ?"
"Omongan si Gok-Jin ji itu bohong semua. Menilik
tindakannya menggunakan lencana Hek-hu yang siocia
berikan, untuk mendesak Pek hu hwat membebaskan
seorang tawanan, tentulah Gok Jin-Ji itu bukan orang
sembarangan. Memang tampaknya dia seperti orang yang
minta dikasihani tetapi kurasa dia tentu berisi. Kalau tidak
bagaimana mungkin dia mampu lolos dari penjara Gedung
Hitam. Menurut perasaan hamba, pelajar baju putih itu
bukan seorang pemuda yang setia tetapi manusia yang suka
mengecewakan hati orang.”
"Engkau lihay sekali Siau Hui." seru Cu Jiang dalam
hati. Dia gemetar dan tak dapat bicara. Dia merasa bukan
seorang manusia yang suka memainkan hati gadis, tetapi
kenyataan memang demikian.
"Hamba rasa siocia menyiksa perasaan siocia sendiri
sehingga menderita hatin," kata Siau Hui pula.
"Sudahlah, lalu bagaimana baiknya kalau menurut
pandanganmu?" tanya Ki Ing.
"Tetapi aneh sekali, mengapa Gok-jin-ji itu-pun lenyap."
"Aku curiga pada Toan-kiam Jan-Jin itu ..."
"Apanya yang siocia curigai ?"
"Jangan2 Toan-kiam-jan-jin itu penyaruan dari Gok Jin
ji!"
"Kalau dapat menemukan orang itu lalu bagaimana
siocia hendak bertindak ?"
"Akan kulucuti dirinya supaya dapat diketahui wajahnya
yang aseli."
"Tidak mudah..."
"Kenapa ?"
"Kabarnya Toan-kiam jan-jin itu tinggi sekali ilmu
silatnya, Dan orangnya pun angkuh dan dingin sekali.
Sukar untuk dihadapi."
"Kalau tak dapat menyelidiki mati hidup-hidupnya
pelajar baju putih, aku tak tenang!"
"Ah, mengapa siocia harus begitu?"
"Engkau tak mengerti."
"Siocia, hamba rasa baiklah siocia lupakan saja dia!"
"Tidak!" Ki Ing menolak.
Cu Jiang mengangkat cawannya lagi tetapi sudah tak
Ada araknya. Cepat dia berseru:
"Hai, minta tambah arak lagi!"
Pelayan gopoh menghampirinya.
"Hai, bung. jangan berteriak-teriak. Kami sedang
menerima tetamu agung!"
"Tambah satu poci besar lagi." Cu Jiang deliki mata
kepada pelayan itu.
Pelayan cepat ngeloyor dan datang lagi dengan
membawa poci besar.
"Hati-hati, bung, jangan sampai mabuk!"
"Apa pedulimu, pokok aku bayar!"
"Ya, sudahlah, engkau minta sampai puas," pelayan
terus ngeloyor pergi.
Siau Hui memandang kian kemari lalu melanjutkan
pembicaraannya tadi.
"Siocia, siocia telah melupakan sebuah soal besar."
"Soal besar apa?"
"Apabila asal usul diri pelajar baju putih itu telah
dibuktikan dengan betul . . ."
"Aku tak peduli," tukas Ki Ing.
Mendengar percakapan itu kecurigaan Cu Jiang mulai
bangkit. “Mengapa mereka hendak mencari tahu asal usul
diriku." pikirnya.
Sebenarnya Cu Jiang ingin membuka kedok mukanya
dan menjelaskan semua rahasia itu. Tetapi ia teringat
bahwa tempat itu merupakan daerah kekuasaan Gedung
Hitam. Apabila dia menuruti keinginan hati. mungkin akan
menelantarkan urusannya yang penting.
Tiba2 ia mendapat akal. Jika Ki Ing dan bujangnya itu
hendak menuju ke Gedung Hitam, bukankah mereka dapat
dijadikan penunjuk jalan yang tepat?
Walaupun tindakan itu memang agak kurang layak
tetapi apa boleh buat. Ia harus menggunakan segala macam
cara agar dapat melakukan balas dendam.
Saat itu Ki Ing dan bujangnyapun sudah berbangkit dari
tempat duduk dan melangkah keluar tanpa membayar
rekening apa2. Bahkan pemilik rumah makan itu gopoh
mengantarkan sampai ke-pintu. Sikapnya amat
menghormat sekali.
Cu Jiangpun segera memanggil pelayan untuk membayar
rekening, kemudian bertanya:
"Siapakah kedua nona cantik tadi ?"
"Jangan usil mulut, bung," pelayan deliki mata.
Cu Jiang menyengir. Ia anggap pelayan itu tak layak
diajak berbantah. Mungkin dia mengerti tetapi tak berani
mengatakan. Diapun segera melangkah keluar.
Tampak Ki Ing dan Siao Hui sudah naik kuda dan
berada jauh diujung jalan. Terpaksa Cu Jiang menyusul
dengan berjalan kaki.
Tak berapa lama dia sudah keluar dari kota itu. Tetapi ia
merasa ada sesuatu yang tak benar. Ternyata kedua nona
majikan dan bujang itu tidak menuju kearah gunung tetapi
mengambil jalan yang keluar dari gunung. Cu Jiang kecele.
Beberapa saat ia tertegun. Akhirnya ia memutuskan
untuk tidak melanjutkan langkah menyusul kedua nona itu.
Tujuannya ke tempat itu adalah hendak mengobrak-abrik
Gedung Hitam, menghimpaskan dendam darah
keluarganya. Kalau gagal membuntuti kedua nona itu. dia
harus cari jalan lain.
Ia memandang bayangan kedua nona majikan dan
bujang itu lenyap di ujung jalan. Ada sesuatu yang terasa
hilang dalam hati Cu Jiang.
Sekonyong-konyong seorang lelaki tua muncul dari
muka dan berjalan lewat disampingnya. Lelaki itu
berpakaian seperti seorang sasterawan miskin. Bajunya dari
kain kasar, kotor dan berlubang. Kopiahnyapun sudah
butut.
Melihat dandanan dan gerak langkah orang itu tahulah
Cu Jiang kalau dia itu Ki Siau Hong salah seorang dari Sutoa-
ko-Jiu atau empat Jago sakti yang mengawal Cu Jiang.
Munculnya Ki Siau Hong ditempat itu, tentu ada
sesuatu. Cu Jiang pun terbatuk-batuk lalu mengucapkan
kata2 sandi:
"Burung alap2 walaupun sakti, tetapi tak menang
melawan gadis merah."
Mendengar itu Ki Siau Hong cepat berpaling dan
berbalik tubuh.
"O, kiranya ciangkun, hamba sampai tak mengenali."
bisiknya.
"Jangan menggunakan sebutan begitu."
"Baik, siau hengte (kakak) gelisah mencari lo-te (adik).
Entah kemana saja lote selama ini."
"Terserang penyakit ringan, lalu berobat !"
"Ah. tidak menjadi soal bukan ?"
"Ya, tidak apa2. Lalu hendak cari apa?"
"Aku sedang mengikuti majikan kemari!"
"Siapa ?"
"Majikan ketiga. Long-sim ... ."
Cu Jiang terkejut sekati. Tokoh nomor tiga dari kawanan
Sip pat thian-mo yakni Long-sim mo, mengapa datang ke
gunung situ ?
"Apa tujuannya datang kemari ?"
"Belum jelas."
"Lalu dia dimana ?"
"Sedang beristirahat di tepi jalan sebelah muka."
"Bagaimana rupanya?"
"Seperti seorang dusun yang tua."
"O. tahu. Aku segera menemuinya !" habis beristirahat
Cu Jiang terus lari menuju ke depan. Melintasi lereng
gunung, ia melihat Ki Ing dan Siau Hui masih menyusur
jalan.
Setelah terpisah pada jarak sepuluhan tombak, Cu Jiang
mulai menimang-nimang. Adakah ia akan melampaui
kedua nona itu untuk mencari Long-sim-mo atau...
Tiba2 terdengar suara orang memaki: "Apa engkau tak
punya mata ?"
Itulah suara Siau Hui. Cu Jiang memandang kearah
mereka. Ternyata seorang tua baju hitam sambil memikul
sebuah kotak kayu, berdiri menghadang didepan kuda
kedua nona itu.
Seketika terkejutlah Cu Jiang, Jelas orang lelaki seperti
penjual itu adalah Long-sim-mo atau Iblis-berhati Serigala.
Mengapa dia menghadang jalan kedua nona itu ?
Cepat Cu Jiang gunakan gerak langkah Gong gong-poh
untuk menyelinap masuk kedalam sebuah hutan ditepi
jalan. Dia bersembunyi disitu.
Penjual itu bertubuh tinggi besar, gagah perkasa, tulang
mukanya menonjol malang, mata memancarkan sinar
berkilat-kilat. Dia tertawa galak2.
"Apakah kalian tak mau melihat barang baik?" serunya.
"Enyahlah !" teriak Siau Hui.
"Aku membawa bermacam-macam dagangan, pupur,
gincu, minyak wangi, bedak, jarum sulam segala ukuran,
handuk dan macam2 model sepatu. Apakah nona tidak
memerlukan?"
Siau Hui mendengus dingin.
"Hm, tak usah pura2. Bilang siapa engkau ini!"
Lelaki tua itu tertawa seram. Ho Ho, kalau menilik nada
ucapanmu, engkau tentu orang persilatan. "
"Anggap saja begitu."
"Dan siocia ini tentu juga bukan siocia biasa?"
"Apa maksudmu? "
"Kuminta nona berdua suka ikut aku!"
"Buat apa?"
"Tidak apa2. Karena sahabatku tak mau mengunjuk diri
maka kuminta tolong nona berdua suka menjadi petunjuk
jalan. "
"Siapa sahabatmu itu? "
"Disini tak leluasa bicara, mari kita pergi cari lain
tempat."
"Hai, jangan engkau cari penyakit! " teriak Siau Hui.
"Heh, heh, heh, heh," lelaki tua itu tertawa mengekeh,
"belum tentu begitu."
"Harap anda suka memberitahu nama anda dulu." saat
itu baru Ki Ing kedengaran membuka mulut.
"Kerucuk tak ternama, rasanya lebih baik tak perlu
memberitahu namanya."
"Lebih baik anda lekas lanjutkan perjalanan sendiri!"
"Kenapa?"
"Kalau anda memang masih ingin hidup, lebih baik anda
lekas pergi."
"Pergi sih boleh saja tetapi harus bersama kalian berdua!"
"Engkau cari mati?"
"Ih, jangan nona begitu galak, nanti tak bisa mendapat
mertua. "
Merah pipi Ki Ing. segera ia memberi perintah: "Siau
Hui, kerjai dia!"
Siau Hui mengiakan. Dia ayun tubuhnya ke udara lalu
berjumpalitan dan menukik turun dalam gerak yang indah
sekali.
"Ah, terhadap nona yang begini cantik, aku siorang tua
ini benar2 tak sampai hati turun tangan! " seru orang tua itu
seraya menampar dengan tangan kanan.
Wut...
Segulung tenaga yang dahsyat melanda ke arah Siau Hui
sehingga Siau Hui mendesuh kejut dan serentak dengan
bunyi yang keras, tubuh Siau Huipun mendesus ke belakang
sampai tiga tombak gantinya. Tetapi dengan cepat, Siau
Huipun melenting bangun. Dia memang tak menderita luka
apa2, tetapi wajahnya tampak pucat lesi.
"O, anda menghina aku," seru Ki Ing seraya loncat turun
dari kudanya.
Lelaki tua itu turunkan pikulannya. Kedua tangan
mendorong ke muka dan seketika terdengarlah jeritan ngeri.
Ke-dua ekor kuda dari Ki Ing dan Siau Hui rubuh
menggelepar di tanah, putus nyawanya
Melihat itu diam2 Cu Jiang terkejut. Ilmu tenaga-dalam
dari iblis itu benar2 telah mencapai tataran yang tinggi
sekali.
Wajah si cantik Ki Ing berobah membesi dan sepasang
matanyapun memancarkan kilat pembunuhan.
"Tikus, engkau berani menghina aku!" teriaknya seraya
tebarkan jari tangannya untuk menyerang orang desa itu.
Namun walaupun menghadapi jurus serangan yang luar
biasa ganas dan dahsyat, lelaki desa itu tak gentar, ia
menggurat-guratkan kedua tangannya dan lekas serangan
Ki Ing yang dahsyat itupun terhapus seketika.
"Kalau ayahnya hebat, puterinyapun jempol. Cukup
menggairahkan seranganmu, sayang masih kurang
mantap!"
Ki Ing hentikan serangannya dan berseru:
"Harap anda memberitahukan diri anda!"
"Telah kukatakan." sahut lelaki tua itu dengan tak acuh,
"disini bukan tempat yang sesuai. Kita cari lain tempat."
Cu Jiang menarik kesimpulan bahwa agaknya iblis Long
sim mo itu tahu akan asal usul Ki Ing. Itulah sebabnya
maka dia mengatakan "ayah lihay, puterinya tentu jempol".
Lalu siapakah ayah dari Ki Ing itu? Apakah pemilik dari
lencana Hek-hu itu?
Sekonyong-konyong terdengar derap kuda
mencongklang gemuruh dan pada lain kejap muncul
delapan penunggang kuda baju hitam. Yang tiga orang,
berjajar lurus. Jelas mereka itu kawanan Pengawal Hitam.
"Lekas kemarilah," bisik penjual itu seraya loncat masuk
ke dalam hutan di tepi jalan.
Aneh dikata. Entah bagaimana Ki Ing dan Siau Huipun
segera ikut menyusup ke dalam hutan itu.
Cu Jiang terkejut. Hendak memainkan siasat apakah iblis
Long sim-mo itu?
Setelah masuk ke dalam hutan. Long-sim mo tidak
melanjutkan langkah masuk lebih dalam. Ki Ing dan Siau
Hui tegak termangu-mangu di samping iblis itu. Mereka
sama membisu Wajahnya tegang sekali seperti melihat
hantu.
Tempat ketiga orang itu bersembunyi hanya terpisah tiga
tombak dari tempat Cu Jiang. Cu Jiang terpaksa menahan
napas dan tak berani bergerak.
Pada saat ketiga orang itu masak ke dalam hutan, empat
orang penunggang kuda pun tiba. Salah seorang berbaju
hitam itu lalu mengangkat tangan ke atas dan keempat
penunggang kuda serempak berhenti.
"Hai, celaka, inilah kuda tunggangan milik siocia .. ."
teriak orang baju hitam itu.
Mendengar Itu Cu Jiang segera menyadari. Ki Ing itu tak
lain adalah puteri dari ketua Gedung Hitam. Memang
waktu itu Ki Ing hanya memberitahukan nama tanpa
menyebut shenya karena kata she akan menyangkut nama
ayahnya.
Begitu pula lencana Hek hu yang diberikannya itu
banyak berpengaruh terhadap lingkungan anak buah
Gedung Hitam. Lain2 orang persilatan tak kenal.
Ah, dia ternyata puteri dari musuhnya yang paling
dibenci. Sesaat Cu Jiang tertegun dalam kelongongan yang
menghanyutkan segera ia berpikirnya.
Iblis Long sim-mo dengan menyaru sebagai orang desa
hendak mencari ketua Gedung Hitam tentulah mempunyai
rencana.
Keempat penunggang kuda itupun loncat turun dan
memencar ke sekitar tempat itu.
"Ji Bing, lekas lepaskan pertandaan untuk memberitahu
kepada pohcu !" seru Pengawal Hitam yang tua.
"Baik," salah seorang menyahut lalu mengambil panah
berapi dan pelana kuda.
"Ha, ha, ha, ha . . ." tiba2 terdengar suara orang tertawa
gelak2 dan seram, seorang lelaki desa tua muncul dan
menghampiri mereka.
"Berhenti." teriak orang tua baju hitam, "ko-jiu dari
manakah anda ini ?"
Namun lelaki desa itu tetap berjalan seraya menyahut:
"Apa-apaan sih segala macam ko-jiu ? Seorang penjaja
barang2 yang menjual segala macam jarum dan alat2
kecantikan wanita, sedang lewat digunung ini."
Orang tua baju hitam mendengus dingin: "Hm, sahabat,
beritahukan namamu!"
Lebih kurang empat tombak dari tempat kawanan baju
hitam itu, barulah si penjual berhenti. Memandang kearah
Pengawal Hitam yang sedang memegang panah berapi, dia
berseru: "Tak perlu begitu !"
"Jadi peristiwa disini engkau yang melakukan ?" seru
orang tua baju hitam pula.
"Peristiwa apa ?"
"Engkau mengapakan kedua nona itu?"
"O, tidak kuapa-apakan, masih tetap seperti sediakala."
Tiga orang Pengawal Hitam serentak melolos pedang
dan berpencar mengepung penjual tua itu. Tetapi penjual
barang2 itu tenang2 saja.
"Sahabat, tahukah engkau siapa nona yang seperti puteri
keraton itu ?"
"Apakah bukan puteri dari Gedung Hitam?"
"Kalau sudah dapat menduganya, jelas engkau memang
sengaja . . ."
"Anggap saja begitu !"
"Apa maksudmu ?"
"Tak perlu bertanya. Percuma saja kalian tahu. Kalian
berempat tinggal saja disini."
"Maju !" serentak orang tua baju hitam itu berteriak
marah.
Tiga batang pedang segera berhamburan melayang dari
tiga Jurusan. Cepat dan dahsyatnya bukan kepalang. Tetapi
waktu penjual itu kebaskan lengan bajunya, ketiga pedang
itupun tersiak semua.
Suatu peristiwa aneh telah terjadi. Ketiga Pengawal
Hitam itu tidak menyerang lagi. Pedang mereka terkulai
dan orangnyapun tegak seperti palang.
Orang tua baju hitam terbelalak lain membentak sekeraskerasnya:
"Engkau pakai racun..." baru dia berkata begitu tiba2
diapun tertegun diam.
Cu Jiang terkejut sekali. Kiranya Long-sin-mo dapat
menguasai Ki Ing dan Siau Hui kemudian keempat anak
buah Gedung Hitam itu bukan dengan ilmu sihir tetapi
dengan kekuatan racun. Jelas suatu jenis racun yang luar
biasa, tidak bersuara dan tidak berwujud, tetapi tahu2 orang
telah kehilangan kesadaran dirinya.
Tiba2 dia mendengar suara orang tertahan berturut-turut.
Ternyata keempat anak buah Gedung Hitam itu telah
dibantai Long-sim-mo. Iblis itu mencakar hancur batok
kepala mereka. Menilik caranya yang ganas itu, tepatlah
kalau dia dijuluki sebagai Long-sim-mo atau Iblis-berhatiserigala.
Setelah membunuh keempat orang itu, Long-Sim-mo
masuk kedalam hutan lagi. Sambil memandang Siau Hui,
dia bergumam:
"Kalau kubawa, sebenarnya memang merepotkan. Tetapi
kalau kuhancurkan, juga sayang sekali. Jarang sekali bisa
mendapatkan Cewek2 seperti mereka berdua. Kalau
kubuang bukankah suatu kehilangan besar? Hm, biarlah
kunikmati dulu baru nanti melanjutkan perjalanan lagi."
Habis berkata dia terus menggapai: "Mari jalan lagi !"
Entah bagaimana kedua nona itu amat mendengar kata
sekali, Disuruh jalan terus jalan. Mengikuti Long sim-mo
masuk lebih dalam kedalam hutan.
Timbul pertentangan hatin Cu Jiang. Haruskah ia
menolong kedua nona itu. Tetapi Ki Ing adalah puteri dari
musuh besarnya. Ah, seorang lelaki harus dapat menarik
garis antara budi dan dendam. Dia pernah menerima
kebaikan dari nona itu.
Dan bagaimanapun juga, dia masih dapat merasakan
curahan hati Ki Ing. Dan lagi Long-sim-mo itu juga salah
seorang musuh yang dibasmi. Tentu takkan dilepaskan
begini saja.
Setelah mengambil keputusan, diapun segera mengikuti
jejak mereka. Kira2 satu li jauhnya, jalanan mulai sukar
dilalui. Long sin-mo berhenti di sebuah tempat. Dia
menarik Siau Hui ke bawah pohon.
"Kalau engkau dapat melayani dengan baik, aku tentu
akan membawamu dalam perjalanan," katanya dengan
mata memancarkan nafsu binatang yang menyala-nyala.
Dia menerkam lengan Siau Hui, sedang sebelah
tangannya mengelus-elus pipi dara itu.
"Heh, heh, manis, mari kita menikmati kesenangan yang
memuaskan!" ia tertawa mengekeh. Namun Siau Hui tetap
tertegun seperti patung. Demikian pula Ki Ing yang berada
disebelah, juga tak mengadakan reaksi suatu apa.
Melihat itu seketika terbayanglah ingatan Cu Jiang akan
peristiwa yang lampau dimana mamahnya, anak
perempuan dari paman Liok telah diperkosa. Seketika
meluapkan hawa pembunuhan. Serentak dia membuka
kopiah lalu mengenakan kerudung muka dan mengenakan
pakaian sebagai pelajar.
Saat itu Long-sim-mo memondong Siau Hui diletakkan
di atas tumpukan daun kering.
"Lekas buka pakaianmu, bukalah..."
Siau Hui memang benar2 kehilangan kesadarannya. Dia
menurut saja perintah orang dan mulai membuka sabuknya.
Long-sim mo menunggu dengan tertawa menyeringai.
Pada saat itu Cu Jiangpun melesat muncul. Memang tak
kecewa Long sim-mo menjadi anggauta Sip-pat thian-mo.
Cepat dia berputar tubuh dan tertegun ketika melihat Cu
Jiang.
"Engkau mau cari mati? " bentaknya.
Cu Jiang hanya memandang tajam2 dan tidak menyahut.
Rupanya Long sim mo seperti teringat sesuatu.
"Ho, apakah engkau ini bukan Toan kiam jan jin itu?"
bentaknya.
"Benar, memang aku." sahut Cu Jiang dengan nada
dingin.
Long sim mo menyurut mundur selangkah. Dahinya
berkerunyutan hawa pembunuhan yang seram.
"Bagus, budak, memang aku hendak mencarimu!"
serunya gemetar.
"Long sim mo, saat kematianmu sudah tiba!"
"Akan kucincang tubuhmu untuk membalas dendam
saudara-saudaraku."
"Huh, mampukah engkau?"
"tring,” pedang kutungpun serentak dicabutnya.
Tanpa tampak bergerak tahu2 tubuh Long sim mo sudah
melayang ke muka Cu Jiang dan terus kebutkan kedua
lengan bajunya.
Cu Jiang rasakan hidungnya terbaur hawa harum
sehingga kepalanya agak pening tetapi pada lain kejap
sudah segar lagi. Dia tahu bahwa Long sim mo mulai
menebarkan racun wangi tetapi karena dia menyimpan
mustika Thian ju cu pemberian dari Busan sinli, maka
diapun kebal terhadap segala racun. Tetapi saat itu dia
pura2 terhuyung agar dikira terkena racun.
Benar juga, Long sim mo segera tebarkan jari tangannya
dan maju menerkam. Saat itu tak disia-siakan oleh Cu
Jiang. Sekali membabatkan pedang, huakkkk .... terdengar
jeritan ngeri dari mulut Long sim mo. Lengan kiri iblis itu
telah kutung dan jatuh di tanah, darah menyembur seperti
air mancur.
Tetapi iblis itu memang luar biasa. Walaupun menderita
luka parah tetapi dia tetap gesit. Selekas kehilangan
lengannya, dia terus enjot tubuhnya loncat ke belakang dan
melarikan diri.
"Berhenti! " tetapi baru dia hendak lari Cu Jiang sudah
melesat dan menghadang di depannya. Sudah tentu kejut
iblis itu bukan kepalang. Namun dia masih berusaha untuk
bersikap tenang.
"Budak kecil, engkau berani mengganggu aku? " serunya
dengan garang.
"Benar, aku hendak membunuhmu!" sahut Cu Jiang
dingin.
Saat itu Long-sim-mo sudah menutuk lengannya untuk
menghentikan pendarahan. Ia mundur beberapa langkah
dan membentak:
"Engkau . . . tidak takut racun?"
"Racun? Huh, apa racun itu? Bukankah hanya mainan
orang persilatan saja?"
"Budak, engkau .... sebenarnya siapa?"
"Toan-kiam jan-jin, menerima perintah dari suhuku guna
membereskan kawanan Sip pat-thian mo!"
"Siapa suhumu?"
"Gong-gong cu, tahu?"
"Engkau .. engkau murid Gong-gong-cu ..."
"Serahkan jiwamu!" Cu Jiang ayunkan pedang dan
terdengar lagi jeritan ngeri dari Long-sim-mo disusul
dengan tubuhnya yang rubuh dalam genangan darah.
Setelah membereskan iblis itu, Cu Jiang berputar tubuh.
Seketika darahnya mendebur keras sekali. Buru2 dia
berbalik diri lagi.
Ternyata saat itu Siau Hui sudah membuka seluruh
pakaiannya sehingga menimbulkan pemandangan yang
mengerikan hati Cu Jiang.
Pemuda itu pejamkan mata. Setelah berhasil
menenangkan gejolak darahnya, dia tidak berani berbalik
tabuh lagi melainkan terus menghampiri ke tempat Ki Ing.
Menghadapi dara yang menjadi puteri musuh besarnya,
Cu Jiang benar2 kehilangan faham. Dia mengeluh mengapa
nasib telah menggariskan keadaan yang sedemikian
kejamnya. Antara suara hati dengan tugas.
Tetapi bagaimanapun halnya, dia telah bertunangan
dengan Ho Kiong Hwa. Dengan demikian segala pertalian
hati yang tak dikehendaki akan putus itu tetap putus juga.
Ki Ing memandangnya dengan terlongong-longong.
Wajahnya tak menampilkan suatu reaksi apa2. Sikapnya
yang ceria pun tak tampak sama sekali.
Cu Jiang mengambil mustika Thian-Ju-cu dan
diserahkan kepada dara itu.
"Kulumlah dalam mulut!"
Ki Ing menyambuti dan terus memasukkannya ke mulut.
Beberapa saat kemudian tampak matanya mulai bersinar.
Sikapnya yang kakupun mulai bersemangat lagi.
Melihat itu Cu Jiang memerintahkan supaya si dara
memuntahkan mustika dalam mulutnya.
Ki Ing membuka mulut hendak berkata dan meluncurlah
mustika itu keluar. Cu Jiang cepat menyambutinya,
menyurut mundur beberapa langkah untuk melihat
bagaimana perkembangan dara itu.
Tak berapa lama wajah Ki Ing tampak mengerut rasa
heran dan kejut.
"Siapakah anda?" akhirnya ia berseru.
Sebelum Cu Jiang menyahut, pandang mata Ki Ingpun
sudah terbentur pada Siau Hui yang telanjang bulat.
Serentak berobahlah cahaya wajah dara itu:
"Binatang, aku hendak membunuhmu !" teriaknya seraya
menyerang Cu Jiang dengan jurus maut.
Cu Jiang beringsut dengan gerak langkah Gong-pongpoh-
hwat. Diam2 Cu Jiang memuji ilmu kepandaian yang
dimiliki Ki Ing memang hebat sekali.
Serangannya luput, Ki Ing cepat mengganti Jurus.
Setelah memperhatikan arah tempat Cu Jiang dia tentu
tebarkan lengan bajunya. Dari jarinya mendesis angin yang
gencar kearah Cu Jiang.
Itulah ilmu Lau-hoa-hud-hian-jiu atau Tamparan jalandarah
yang sudah Jarang terdapat dalam dunia persilatan.
Ci Jiang menghindar dan berseru:
"Nona, harap tahan dulu."
"Aku harus menghancurkan tubuhmu !" teriak Ki Ing
dengan menyala-nyala kemarahannya.
"Seharusnya nona bertanya dulu tentang peristiwa ini."
"Perlu apa harus bertanya lagi, bukti sudah jelas didepan
mata."
"Apakah nona tak dapat mengingat lagi peristiwa yang
terjadi beberapa saat tadi ! Cobalah lihat, mayat siapa yang
menggeletak ditanah itu?"
Ki Ing memandang kearah mayat Long-sim-long dan
seketika dia seperti teringat sesuatu.
"Apakah penjual tua itu anda yang membunuhnya ?"
serunya.
"Ya."
"Oh. kalau begitu aku..."
"Dia bukan seorang penjual biasa melainkan Iblis ketiga
dari Sip-pat-thian mo yang bergelar Long-sim-mo !"
"Hai, Long-sim-mo? Siau Hui . . ."
"Kalau terlambat sedikit aku muncul, entah bagaimana
keadaannya."
Ki Ing merah wajahnya.
"Siau Hui, mengapa tak lekas berpakaian ?" ia meneriaki
bujangnya.
Tetapi Siau Hui hanya memandang nona majikannya
lalu mengenakan pakaiannya lagi. Tetapi gerakannya
lambat sekali.
"Nona berdua telah terkena racun penghilang kesadaran
dari Long-sim mo. Racun dalam tubuh nona sudah hilang
tetapi dia belum."
"O, benar," teriak Ki Ing terkejut, "mustika yang engkau
bawa tadi, apakah bukan ..."
"Bukan, itu mustika untuk menghilangkan racun !"
"Jika begitu, andalah yang menolong kami berdua. Aa,
aku bersikap kurang pantas, harap anda memaafkan dan
terima kasih."
"Tak usah."
"Tolong tanya anda . . ."
"Mengapa tidak menolong dia dulu ?"
Merah muka Ki Ing, serunya:
"Kalau begitu terpaksa akan merepotkan anda sekali
lagi."
Cu Jiang segera menyerahkan mustika Thian-ju cu
dengan pesan agar Siau Hui mengulum dimulut.
Pada saat Ki Ing mengobati Siau Hui, Cu Jiang yang
berdiri dibelakang mereka masih sibuk menimang-nimang.
Apakah ia akan menanyakan tentang letak Gedung Hitam
kepada Ki Ing. Demikian juga tentang asal usul ketua
Gedung Hitam itu?
Tetapi teringat akan curahan kasih serta budi
pertolongan dara itu, Cu Jiang bersangsi. Budi dan dendam
harus dipisahkan agar dia tidak mengecewakan diri sebagai
seorang persilatan.
Saat itu Ki Ing dan Siau Huipun sudah menghampiri dan
menyerahkan mustika Thian-Ju-cu serta tak lupa
mengucapkan terima kasih kepada Cu Jiang.
Tiba2 Siau Hui berteriak:
"Siocia, dia ...."
"Dia kenapa ?" Ki Ing kerutkan alis.
"Dia adalah Toan-kiam-jan-jin."
"Ah !" Ki Ing berteriak kaget dan terus menyurut mundur
tiga langkah, memandang dengan penuh kejut kepada Cu
Jiang. katanya, "Apakah anda benar Toan kiam-jan-jin ?"
"Benar," sahut Cu Jiang.
"Kali ini kami berdua keluar dari rumah pun perlu
hendak mencari..." tiba2 dara itu merasa kelepasan bicara
dan berhenti. Tetapi apa maksudnya sudah jelas.
"Nona meninggalkan Gedung Hitam secara diam2,
apakah karena diriku ?" cepat Cu Jiang menyambung.
"Apakah anda sudah tahu asal usul diriku?"
"Ya."
Tiba2 wajah Ki Ing tampak muram. "Tetapi anda tetap
menolong kami berdua !"
"Itu lain soal."
"Apakah anda mempunyai dendam permusuhan hebat
terhadap keluargaku ?"
"Memang benar seperti yang nona katakan."
Wajah dara itu menampilkan kedukaan, katanya dengan
rawan:
"Sampai kapankah bunuh membunuh itu akan berakhir?"
"Sampai yang harus mati itu sudah mati." sahut Cu Jiang
dengan nada dingin.
"Mengerikan sekali!"
"Kurasa tak tepat kalau aku membicarakan soal itu
dengan nona."
Mendengar itu Ki Ing tundukkan kepala. Beberapa saat
kemudian dia baru mengangkat muka.
"Aku hendak minta tanya sebuah hal kepada anda."
"Silahkan."
"Apakah Gok Jin-Ji seperguruan dengan anda?"
Cu Jiang tak mengira kalau Ki Ing akan mengajukan
pertanyaan begitu. Dia tergetar hatinya.
"Aku tak kenal dengan Gok jin-Ji," setelah merenung
beberapa jenak akhirnya ia menjawab.
"Benarkah itu?" Ki Ing kerutkan alis.
"Tentu," Jawab Cu Jiang. "dalam dunia persilatan
manakah terdapat seorang tokoh yang bernama Gok-jin-ji?"
Sejenak Ki Ing keliarkan pandang kontak Siau Hui, lalu
bertanya pula:
"Aku hendak bertanya lagi tentang seseorang !"
"Siapa ?"
"Pelajar baju putih !"
Lagi2 hati Cu Jiang mendebur keras. Tetapi dengan nada
dingin dan hambar ia menjawab.
"Siapakah dia?"
Wajah Ki Ing makin tegang dan matanyapun bersinar.
Kemudian menggigit lidah seperti telah mengambil
keputusan penting. Lalu dengan suara yang sarat ia berkata:
"Mungkin dia adalah putera tunggal dari Dewa pedang
Cu Beng Ko."
"Oh." Cu Jiang pura2 terkejut, "mungkin saja! Apakah
nona belum merasa pasti ?"
"Hampir dapat memastikan."
"Siapa namanya?"
"Cu... Jiang."
Sengaja Ki Ing menyuarakan nama itu dengan panjang
sambil memperhatikan wajah Cu Jiang. Dia ingin melihat
bagaimana reaksi pemuda itu. Tetapi karena Cu Jiang
mengenakan kain kerudung muka maka Ki Ingpun hanya
dapat melihat sinar mata pemuda itu yang berkilat-kilat
memancarkan dendam kebencian. Namun buat Ki Ing hal
itu sudah cukup menjadi bukti bagi Ki Ing.
Memang karena masih berdarah panas, Cu Jiang sukar
untuk menyembunyikan luapan perasaannya sehingga
terpancar dari sinar matanya.
"Apakah hubungan nona dengan dia ?" tanya Cu Jiang.
"Harap anda menjawab dulu, kenal atau tidak
kepadanya?"
Untuk menghindari desakan si nona dan sekalian hendak
mengetahui apa maksud tujuan nona itu, maka Cu
Jiangpun menjawab:
"Memang pernah bertemu beberapa kali."
"Tentu tidak hanya itu saja ?"
"Terserah nona percaya atau tidak."
"Baik, untuk sementara aku percaya. Lalu di mana dia
sekarang ?"
"Dunia begini luas, sukar mengatakan."
Ki Ing menggigit bibirnya lagi, lalu berkata dengan nada
gemetar:
"Apakah anda tak mau memberitahu ?"
"Tetapi nona belum mengatakan pertanyaannya," sahut
Cu Jiang.
Tiba2 Siau Hui menyelutuk:
"Terus terang saja, siocia kami memang menaruh hati
kepadanya ..."
Merah muka Ki Ing. Dia buru2 tundukkan kepala.
Dengan kuatkan hati, Cu Jiang berkata: "Lebih baik
nona hentikan pemikiran itu..."
Ki Ing merentang kedua matanya.
"Apa maksud kata-katamu ?" serunya membelalak.
Cu Jiang berusaha untuk menekan perasaannya dan
berkata dengan nada tenang.
"Seharusnya nona tahu sendiri."
"Aku tak mengerti !"
"Ah, nona terlalu mendesak."
"Mengapa tak anda katakan yang terang ?"
"Tak perlu kukatakan tentulah nona sudah menyadari
sendiri."
Wajah Ki Ing berobah pucat dan berseru dengan
gemetar:
"Anda maksudkan permusuhan antara kedua belah
pihak?"
"Benar."
"Dendam itu mudah dinyatakan, sukar dihapus. Kurasa
...."
"Dendam itu memang tak dapat dihapus!"
Wajah Ki Ing makin tak sedap dipandang dan terhuyung
mundur selangkah. Ditatapnya Cu Jiang dengan tajam.
"Sukalah anda memberitahu jejak pelajar baju putih
itu..!" serunya.
"Aku tak dapat memberitahukan."
"Harap anda suka membuka penutup muka anda."
"Nona, tahukah nona bahwa soal itu tak dapat
kulakukan?"
"Kalau kukatakan . . ."
"Mengatakan apa?"
"Bahwa anda inilah pelajar baju putih itu!"
Gemetar tubuh Cu Jiang. Kemudian dia tertawa nyaring
sampai lama. Setelah berhenti tertawa baru dia berseru:
"Bagaimana tiba2 nona timbul anggapan begituan ?"
"Tidak aneh."
"Lalu?"
"Maukah anda membuka penutup muka anda?"
"Tidak dapat !"
Tiba2 Siau Hui menyelutuk.
"Kalau aku jadi pelajar baju putih itu, aku takkan
menyembunyikan diri dengan mengatakan kalau sudah
mati. Budi atau dendam, harus ada suatu penyelesaian yang
jelas!"
Diam2 Cu Jiang mengakui bahwa omongan bujang itu
memang tepat sekali. Seharusnya ada penyelesaian.
Dia teringat ketika hendak memasuki gunung, apabila
tidak mendapat pertolongan nona dan bujangnya itu jelas
dia tentu mati ditangan musuh. Dan waktu turun gunung,
apabila tidak mendapat pemberian lencana Hek hu, juga
sukar untuk lolos dengan selamat.
oee-dw-eeo
Tetapi dendam berdarah dari keluarga, harus
dihimpaskan. Jika tidak membunuh Ki Ing dan Siau Hui,
itupun sudah termasuk membalas budi kebaikan keduanya.
Demikian pikiran Cu Jiang menimang-nimang suatu
penyelesaian dan akhirnya ia memutuskan bahwa
penyelesaian itu baiklah ditangguhkan sampai terdapat
suatu kesempatan yang baik di kemudian hari.
Setelah mengambil keputusan dia segera memberi
hormat:
"Maaf, aku hendak mohon diri!"
"Tunggu dulu!" Ki Ing berteriak dan melesat
menghadang.
"Nona masih hendak memberi pesan apa?" seru Cu
Jiang.
Sepasang biji mata dara cantik itu merah membara dan
berseru dengan penuh dendam.
"Engkau sungguh kejam sekali!"
"Ah, nona salah duga."
"Pelajar baju putih, Gok jin-ji, Toan-kiam-jan jin, semua
adalah satu orang yalah engkau sendiri!"
"Ha, ha, ha, ha..."
"Tak ada yang harus ditertawakan. Mari kita bicara
dengan sesungguhnya."
"Apa lagi yang harus dibicarakan?"
"Engkau benar2 seorang manusia yang tak punya
perasaan hati."
Sebenarnya dalam hati Cu Jiang tergerak akan
pernyataan Ki Ing yang begitu tulus mencintainya. Tetapi
bagaimanapun, dia harus teguhkan hati untuk melakukan
balas dendam.
Dia akan membasmi ketua Gedung Hitam. Jika dia
berhati lemah, akibatnya tentu celaka. Maka sengaja dia
berkata dengan dingin:
"Kukatakan sekali lagi, aku bukanlah insan yang anda
impikan itu."
Bercucuran air mata Ki Ing mendengar kata itu, serunya
setengah meratap:
"Aku bukan akan mengemis cintamu, hanya . . ."
Sampai disitu Ki Ing tak melanjutkan kata-katanya.
"Aku melakukan pertolongan hanya sekedar memenuhi
kewajiban sebagai seorang persilatan. Kalau tidak..."
"Kalau tidak, bagaimana?"
"Tiada alasan mengapa aku harus menolong."
"Toan kiam jan jin," teriak Ki Ing dengan menggigit
bibirnya, "tak peduli siapa sesungguhnya dirimu itu. Kita
tak mempersoalkan hal2 yang lain hanya aku hendak
bertanya kepadamu. Apakah tujuanmu datang kemari
karena hendak menuntut balas.?"
"Benar, apakah nona sudah puas?"
"Engkau tahu apa akibat dari tindakanmu itu?"
"Nona sendiri menganggap bagaimana?"
"Akibatnya tentulah pertumpahan darah, kematian,
entah fihak yang mana. "
"Benar, memang demikianlah yang akan ku lakukan."
"Engkau tahu siapa diriku tetapi engkau tak mau
membunuh bahkan menolong, mengapa?"
"Seorang persilatan tahu bagaimana harus bertindak dan
bagaimana tidak harus bertindak. Lain kali mungkin saja !"
"Mengapa tidak sekarang ?"
"Itu menyalahi pendirianku semula !"
"Sampai berapa jauh engkau hendak membalas dendam
nanti?"
Dengan mata berkilat-kilat memancar api, berkatalah Cu
Jiang penuh kemantapan:
"Gedung Hitam akan kucuci dengan darah."
Menggigil tubuh Ki Ing mendengar ucapan dendam
kesumat anak muda itu. Ia menyurut mundur dan berseru:
"Kalau sebelum dapat melaksanakan tujuanmu engkau
keburu meninggal, lalu bagaimana ?"
"Itu terserah pada nasib," sahut Cu Jiang tanpa ragu2.
"Nasib itu ditanganmu sendiri. Pada detik2 dimana
engkau akan menentukan pilihan, mengapa engkau tak mau
merubah nasib ?"
"Nona tak perlu berkering lidah untuk mempengaruhi
aku !"
"Engkau senang pertumpahan darah ?"
"Dalam dunia persilatan Gedung Hitam sudah
termasyhur sebagai sumber kejahatan, pertumpahan darah
dan pembunuhan. Setiap orang persilatan yang mempunyai
rasa kesatryaan, tentu akan membencinya. Mengapa nona
menuduh aku senang menumpahkan darah?"
"Yang hendak engkau tuntut itu pembalasan dendam
peribadi atau untuk kepentingan umum?"
"Kedua- duanya."
"Tak dapat dihentikan?"
"Tidak mungkin bisa!" habis berkata Cu Jiang terus
gunakan tata - langkah Gong - gong poh-hwat menyelinap
lenyap.
Ki Ing menghela napas panjang.
"Ah, jika tahu begini, mengapa kita dulu berjumpa ?"
Siau Hui menghampiri.
"Siocia, apakah engkau sudah menyadari?"
"Tidak !"
"Apakah siocia menganggap memang dia orangnya ?"
"Benar."
"Jika begitu mari kita pulang, rasanya tiada gunanya kita
keluar rumah."
"Tidak !"
"Apakah siocia masih . . ."
"Kurasa tak perlu aku hidup di dunia ini!"
Mendengar itu Siau Hui terkejut sekali.
"Mengapa siocia berkata begitu ?" serunya dengan
cemas, "Satu sama lain tak terikat suatu pertalian hubungan
yang akrab, tetapi hanya..."
"Engkau tak mengerti."
Saat itu Cu Jiang belum berapa jauh. Dia tengah ganti
pakaiannya penyamaran lagi. Sudah tentu dia dapat
mendengar pembicaraan kedua nona itu. Tetapi soal itu tak
dapat menggoyahkan pendiriannya untuk menuntut balas.
Sekonyong-konyong empat sosok bayangan menyiak
ranting dan semak, menerobos kedalam hutan. Melihat Ki
Ing dengan Siau Hui, mereka terkejut dan gopoh memberi
hormat.
"Atas titah pohcu, mohon siocia suka pulang ke gedung,"
salah seorang berseru.
Ki Ing deliki mata.
"Aku tidak pulang, pergilah kalian !"
Keempat orang itu adalah Pengawal Gedung Hitam.
Orang yang berbicara tadi memberi hormat lagi dan
berseru:
"Siocia, kami mendapat perintah dari ayahanda siocia .."
"Enyah !" bentak Ki Ing.
Tepat pada saat itu sebuah suara terdengar menyambuti:
"Moay-moay, toako datang menjemputmu !" dan
serentak muncullah seorang pemuda dalam pakaian seorang
bu-su warna kuning emas.
Siau Hui cepat menggamit ujung baju nona majikannya
namun Ki Ing tetap bersikap manja, serunya:
"Toako, aku tak ingin pulang."
"Engkau hendak kemana?" sambil berkata pemuda itu
menghampiri maju.
"Dalam gedung terlalu sempit perasaanku. Aku hendak
keluar mencari hiburan."
Di tempatnya, Cu Jiang diam2 gembira karena putera
dari ketua Gedung Hitam muncul disitu.
Pemuda baju kuning emas itu tertawa:
"Ah, moay-moay, engkau tak tahu keadaan..."
"Mengapa tak tahu ?"
"Saat ini waktu apa?"
"Hampir petang hari."
"Bukan itu yang ku maksudkan !" kata pemuda itu pula
"saat ini merupakan saat2 yang gawat bagi gedung kita.
Thong-thian-kau tetap akan berusaha untuk merebut
kedudukan kita dari dunia persilatan. Anak buah kita
banyak yang sudah menjadi korban. Sedang diluaran
bertambah lagi dengan munculnya Toan-kiam-Jan jin . ..
hai, siapakah yang mati itu ?"
"Salah seorang dari kawanan Sip-pat thian-mo yang
bergelar Long sim-mo !"
Seketika wajah pemuda itu berobah. "Long-sim-mo ?" ia
mengulang,
"Benar."
"Ah, kiranya lawan sudah berani menyusup masuk
kedalam pusat daerah kita. Mungkin beberapa korban yang
berada di jalan sebelah luar hutan itu dia yang
membunuhnya."
"Siapa lagi kalau bukan dia !"
"Moay moay yang membunuhnya ?"
Agak ragu Ki Ing hendak menjawab tetapi akhirnya ia
berkata:
"Hampir saja aku terkena tangan beracunnya."
"Lalu siapa yang membunuhnya ?"
"Toan kiam-jan jin!"
"Toan-kiam jan jin ?" pemuda baju kuning emas itu
berteriak kaget, wajah berubah dan mundur selangkah lalu
berseru. "kalau begitu dia tentu juga sudah menyusup
kemari."
"Itu sudah dapat diduga,"
"Tetapi mengapa tak ada laporan dari para penjaga ?"
“Dengan kepandaiannya yang tinggi rasanya para
penjaga itu tentu sukar untuk mengetahui jejaknya."
"Mengapa dia membunuh Long-sim-mo ?"
"Menolong aku dan Siau Hui."
"Dia tahu siapa dirimu?"
"Tidak tahu."
"Apa saja yang kamu bicarakan."
"Tidak ada pembicaraan apa2. Dia dingin sekali. Muncul
dan lenyap secara tiba2"
Pemuda itu berpaling kearah keempat Pengawal Hitam,
serunya:
"Lekas kalian kembali ke gedung dan beritahu bahwa
Toan-kiam-jin Jin sudah masuk kedaerah ini. Perkuat
penjagaan!"
Keempat Pengawal Hitam itu mengiakan lalu melesat
pergi. Cu Jiangpun segera melesat keluar hutan. Dari Jarak
beberapa tombak, ia lepaskan tutukan-dari Jarak Jauh.
Seorang Pengawal Hitam itu mendengus dan rubuh.
Ketiga kawannya kaget. Tanpa sebab mengapa
kawannya itu mendadak rubuh. Setelah saling bertukar
pandang, mereka bertiga terus lari. Cu Jiang melepaskan
tutukan - Jari lagi dan seorang Pengawal Hitam rubuh lagi.
Yang dua orang makin ketakutan sehingga kakinya
lunglai.
Seorang lelaki desa muncul dari gerumbul pohon.
Melihat itu kedua Pengawal Hitam segera mengangkat
pedang dan berseru:
"Hei, sahabat darimana ?"
"Mengambil nyawa." Baru berkata begitu, lelaki desa itu
sudah melambung dan hantamkan kedua tangannya. Tak
sempat lagi kedua pengawal Hitam itu menggerakkan
pedangnya, tubuh mereka mencelat membentur pohon.
Terdengar erang tertahan mereka. Cu Jiang menyusuli
dengan dua buah tutukan jari dan melayanglah jiwa kedua
orang itu.
Setelah membunuh empat orang Pengawal Hitam dia
masih belum puas. Dia lari kembali ke tempatnya tadi.
Tiba2 dia melihat Ki Ing dan Siau Hui lari menuju ke
arahnya. Buru2 dia bersembunyi ke pinggir. Setelah ketiga
orang itu lewat diam2 dia mengikutinya.
Saat itu timbul berbagai pertimbangan dalam hati Cu
Jiang. Apakah dia harus membunuh putera dari ketua
Gedung Hitam saat itu atau tidak.
Akhirnya ia memutuskan, untuk sementara dia takkan
membunuhnya melainkan akan menggunakannya sebagai
penunjuk jalan.
Sekeluar dari hutan mereka tiba di jalan besar. Karena
takut akan diketahui mereka, Cu Jiang bersembunyi dengan
hati2. Tiba di puncak gunung, matahari sudah condong ke
barat.
Ki Ing bertiga masuk lagi ke rumah makan tadi. Jelas
rumah makan itu tentu mempunyai hubungan dengan
Gedung Hitam. Ki Ing tak mau minum arak juga tak mau
bicara. Dia hanya makan dengan gegas. Pemilik rumah
makan melayani sendiri dengan sikap yang menghormat.
Cu Jiang yang juga masuk ke rumah makan itu,
mendahului keluar dan menunggu di luar kota. Tak berapa
lama tiga ekor penunggang kuda mencongklang keluar dari
kota itu.
Haripun mulai malam. Malam di pegunungan lebih pagi
datangnya dari di kota. Cu Jiang lalu gunakan ilmu
meringan-tubuh untuk menyusul.
Setelah melintasi beberapa puncak, tampak sebuah biara
kecil disebelah depan. Mereka bertiga hentikan kuda dan
pemuda baju kuning emas itu bersuit. Sesosok bayangan
muncul dari tempat gelap.
"Menghaturkan hormat kehadapan sau-pohcu!"
"Ya. Bawa perintahku, sampaikan kepada mereka agar
penjagaan lebih diperlipat gandakan !"
"Baik." kata orang itu terus mengundurkan diri.
"Moay moay, mari kita masuk kedalam bersama, aku
hendak bicara tentang sedikit soal kepadamu."
"Bicara sambil berjalan apakah tidak leluasa?"
"Tidak. Itu penting sekali tak boleh didengar orang lain."
"Nanti kalau pulang ke gedung kita bicarakan lagi."
"Juga kurang leluasa kalau bicara di gedung."
"Ah, jangan koko jual rahasia. Kitakan engkoh adik,
masakan tak bisa omong2 dalam rumah . . ."
"Nanti engkau tentu tahu sendiri." habis berkata dia
berpaling kepada Siau Hui, "pulanglah dulu untuk memberi
laporan. Siocia segera akan menyusul, agar pohcu dan hujin
(nyonya majikan) tidak gelisah."
"Baik," Siau Hui terus mencongklangkan kudanya.
Diam2 Cu Jiang bingung. Akan mengikuti Siau Hui atau
tetap mengikuti gerak-gerik kedua engkoh dan adik
perempuannya itu. Akhirnya ia memutuskan untuk tetap
mengikuti Ki Ing saja. Betapapun ia ingin juga mendengar
apa yang akan dibicarakan kedua saudara itu.
Ki Ing dan engkohnya menuju ke biara kecil. Dalam
pada itu Cu Jiangpun menyadari bahwa saat itu dia berada
di daerah yang gawat. Penjagaan didaerah itu tentu sangat
ketat. Maka dia harus berhati-hati sekali. Sepanjang
berjalan mengikuti kedua engkoh adik itu, dia selalu
menggunakan tata-langkah Gong-gong-poh-hwat.
Seorang thaubak atau kepala kelompok segera muncul
menyambut kedatangan Ki Ing dan engkohnya. Setelah
turun, keduanya menyerahkan kuda-kudanya kepada
thaubak itu.
"Suruh anak buah dalam biara keluar semua. Walaupun
terjadi apa saja, mereka dilarang masuk ke dalam biara,"
pemuda baju kuning emas itu memberi perintah.
Thaubak mengiakan lalu membunyikan pertandaan
rahasia, setelah itu dia masuk kedalam hutan disamping
biara.
Seperti bayangan setan, Cu Jiang menyelinap masuk ke
biara itu. Biara itu tak berapa besar? Kecuali pintu besar,
didalamnya hanya terdapat tiga buah ruang. Ruang muka
merupakan ruang besar, sedang dua ruang yang lain tampak
gelap. Tak ada penerangannya dan sunyi senyap.
"Lekas bilanglah, koko," rupanya Ki Ing tak sabar.
"Kita masuk ke ruangan," sahut engkohnya.
Setelah masuk kedalam ruang gelap itu, pemuda baju
kuning emas itu duduk diatas sebuah kursi bundar
kemudian mempersilahkan Ki Ing duduk di kursi yang di
sebelah muka.
Dengan ragu2, duduklah Ki Ing. Tetapi sekonyongkonyong
dia menjerit terus rubuh ke lantai.
Dari sela2 dinding disebelah luar ruang itu, Cu Jiang
mengintai kedalam. Walaupun gelap sekali tetapi berkat
matanya yang tajam dapatlah ia melihat keadaan dalam
ruang itu.
Pada saat Ki Ing duduk, cepat sekali pemuda itu sudah
menutuk Jalan darah nona itu.
Kejut Cu Jiang bukan kepalang. Mengapa tiba2 pemuda
itu menutuk Ki Ing. Bukankah keduanya engkoh dan adik ?
Karena jalan darahnya tertutuk, Ki Ing masih dapat
bicara tapi tak dapat berkutik.
"Koko," serunya gemetar. "apakah artinya ini?"
Pemuda baju kuning emas itu tertawa riang: "Moaymoay,
aku cinta padamu."
Seketika mendidihlah darah Cu Jiang. Hampir dia tak
percaya akan pendengarannya. Bukankah pemuda itu
engkoh dari Ki Ing? Mengapa dia mengucapkan kata2
begitu.
"Apa katamu ?" teriak Ki Ing tak kalah kejutnya.
Pemuda itu cepat mendekap pipi Ki Ing dan berkata
dengan bisik-bisik.
"Aku cinta padamu, aku akan memiliki engkau selamalamanya."
"Apa engkau gila!" teriak Ki Ing.
"Tidak, aku tidak gila."
"Lalu mengapa engkau berkata begitu ?"
"Karena aku cinta kepadamu. Bukan sehari dua hari
tetapi sudah bertahun-tahun, kutunggu sampai engkau
dewasa ..."
"Engkau . . . engkau ... benar2 sudah gila . . . "
"Aku tetap waras."
"Engkau mau apa?"
"Adik yang baik, kawinlah dengan aku . .."
"Engkau . . . engkau ..." Ki Ing bercucuran airmata.
Tetapi pemuda baju kuning emas itu malah tertawa
gembira.
"Moay-moay, saat ini marilah kita jadikan hari baik kita
itu ... "
"Engkau . . . berani?"
"Aku cinta kepadamu, takkan kubiarkan engkau jatuh ke
tangan lain orang."
"Engkau manusia atau binatang?"
"Sudah tentu aku seorang manusia."
"Aah, kalau ayah dan mamah tahu, engkau tentu
dibunuh!"
"Jangan kuatir, mereka takkan melakukan itu."
Mendengar pembicaraan itu seketika meluaplah
kemarahan Cu Jiang. Benar-2 dia tak menduga bahwa di
dunia terdapat manusia yang lebih rendah martabatnya dari
binatang. Pada saat ia hendak bertindak . . .
"Sebenarnya engkau bukan adikku!" tiba2 terdengar
pemuda itu berkata.
Cu Jiang tertegun dan hentikan langkah.
Ki Ingpun seperti disambar kilat kejutnya. "Aku bukan
adikmu?" serunya gemetar.
"Bukan !"
"Engkau ngaco!"
"Kalau tak percaya tanyakanlah pada mamahmu!.."
"Mamahku ? Apakah mamahku bukan mamah mu?"
"Bukan !"
"Mamahku sudah lama meninggal dan aku ikut ayah."
"Engkau hanya ngaco belo .. .."
"Dengar! Ini bukan ngaco belo, tetapi memang sungguh.
Waktu engkau masih kecil, engkau datang ke gedung
bersama mamahmu."
"Benarkah itu?"
"Aku bersumpah."
"Lalu siapa ayahku ?"
"Tanya pada mamahmu."
"Ah !"
Ki Ing benar2 terpagut rasa kejut yang tak terhingga
ketika mendengar asal-usul dirinya. Bahwa menurut
keterangan pemuda yang dianggap sebagai engkohnya
sendiri, ternyata antara dirinya dengan engkohnya itu
ternyata bukan saudara.
Engkohnya itu adalah anak dari ketua Gedung Hitam
dengan mamah yang lain. Dan ia sendiri adalah anak dari
mamahnya yang berasal dari papahnya yang sudah
meninggal.
Jelasnya ketua Gedang Hitam itu seorang duda dengan
seorang anak, menikah dengan seorang Janda yang juga
sudah membawa anak.
"Lepaskan aku." teriak Ki Ing setelah menyadari keadaan
saat itu.
"Moay moay, engkau tentu tahu bahwa permintaanmu
tentu tak dapat kulakukan," sahut pemuda baju kuning
emas.
Ki Ing menjerit kalap.
"Bunuhlah aku !"
Tetapi pemuda itu tak menghiraukan. Dia alihkan
tangan mulai membuka pakaian Ki Ing seraya berbisik:
"Moay-moay, apakah aku sampai hati membunuhmu?"
"Sekalipun kelak aku jadi setan, aku tetap takkan
mengampuni mu."
"Moay-moay, sejak kecil kita bermain-main bersama dan
sama2 berangkat dewasa."
"Huh!"
"Moay-moay.."
Rasa malu, marah gugup dan geregetan meluap dari
dada Ki Ing. Ia menguak memuntahkan darah segar lalu
pingsan ....
Saat itu Cu Jiang tak dapat menahan diri lagi. Cepat ia
melesat keluar...
Tetapi hampir berbareng dengan langkahnya itu, dalam
ruang itu terdengar suara orang mengerang. Cu Jiang
hentikan gerakannya. Tampak pemuda baju kuning emas
Itu menggelepar di tanah. Ternyata punggungnya telah
tertancap sebatang pedang pendek yang menyusup masuk
hingga tinggal tangkai saja yang kelihatan.
Kejut Cu Jiang bukan kepalang. Pembunuhnya itu cepat
dan lipat sekali gerakannya. Tetapi siapakah gerangan
orang itu ? Kecuali ketua Gedung Hitam, siapakah yang
memiliki keberanian untuk membunuh siau-pohcu?
Kalau bukan ketua Gedung Hitam tetapi orang luar,
mengapa sama sekali tak terdengar suaranya memasuki
ruang itu?
Jelas tadi pemuda itu telah memerintahkan kepada
semua anak buah Gedung Hitam yang berada dalam kamar
keluar semua. Dengan begitu tak mungkin terdapat orang
yang bersembunyi dalam ruang itu.
Karena tak dapat memecahkan pertanyaan itu, Cu Jiang
mementang mata dan memandang tajam ke sekeliling ruang
itu. Tetapi dia tak melihat suatu apa.
"Sahabat dari manakah yang telah turun tangan ini,
harap suka unjuk diri," akhirnya ia berseru.
Tetapi sampai diulang beberapa kali tetap tiada jawaban.
Dengan perangainya yang keras kepala, bukan mundur
tetapi kebalikannya Cu Jiang malah ingin mengetahui
peristiwa aneh itu. Cepat ia melesat masuk.
Tiba2 terpencarlah sepercik penerangan dan seketika
ruang itu telah terang benderang. Cu Jiang terkejut, mundur
tiga langkah. Entah kapan datangnya, ternyata di muka
arca dalam ruang itu telah berdiri seorang wanita
pertengahan umur yang cantik.
Sedang di atas meja terletak sebutir mutiara besar.
Mutiara itulah yang memancarkan sinar penerangan.
Wanita itu memiliki kecantikan yang cemerlang sekali
sehingga orang takut untuk menatapnya.
Dahulu ketika masih muda, tentulah dia merupakan
seorang Jelita yang jarang terdapat tandingannya.
"Adakah wanita cantik Itu yang membunuh pemuda
atau siau-pohcu itu ?"
Setelah memandang beberapa jenak pada Cu Jiang,
berkatalah wanita itu dengan lembut:
"Dari manakah sahabat ini ?"
"Berburu dan kesasar tiba disini," sahut Cu Jiang.
"Berburu orang atau berburu binatang ?"
Cu Jiang tertegun,
"Sudah tentu berburu binatang, masakan berburu
manusia ?"
"Tetapi di gunung ini tiada jenis binatang yang berharga
diburu."
"Baru pertama kali ini aku datang kemari."
"Sahabat, didepan area sang Buddha, Jangan menyulut
dupa palsu. Gunung ini merupakan daerah pangkalan
Gedung Hitam yang penting. Penuh dengan penjagaan
sehingga burungpun sukar terbang melintasi gunung ini.
Aku sungguh kagum atas nyali dan kepandaianmu . . ."
"Rasanya tak perlu kujelaskan lagi," kata Cu Jiang.
Wanita itu tertawa, ujarnya:
"Mengingat-ingat kau hendak menolong puteriku tadi,
akupun takkan bertanya lebih lanjut tentang asal-usulmu ..."
Cu Jiang terperanjat. Ia tak menyangka bahwa wanita
cantik itu adalah isteri dari ketua Gedung Hitam.
"Adakah nyonya yang membunuh sau pohcu tadi ?"
serunya agak heran.
"Benar, karena dia sendiri yang cari mati," Menilik nada
ucapan wanita itu, apa yang diceritakan pemuda baju
kuning emas Kepada Ki Ing tadi memang benar. Rupanya
antara nyonya itu dengan si pemuda, tak ada hubungan
darah apa2.
"Kuperingatkan kepadamu!" kata wanita itu pula.
"lekaslah engkau tinggalkan gunung ini. Engkau dapat
datang tentu mampu pergi juga."
Apa boleh buat, Cu jiang terpaksa tak mau bertindak
dulu sebelum ia mengetahui jelas siapa dan bagaimana
keadaan ketua Gedung Hitam itu.
Serentak ia memberi hormat dan menghaturkan terima
kasih atas nasehat wanita itu. Kemudian dia berputar tubuh
dan melesat keluar dengan tata-langkah Gong gong-pohhwat.
Tetapi cepat ia membiluk lalu dengan hati2
menyelundup masuk lagi.
Dilihatnya wanita cantik dan Ki Ing berdiri berhadapan.
Air mata. Ki Ing bercucuran dan mulutnya mengertek lagi.
"Ma, engkau sudah lama berada dalam biara ini, tetapi
mengapa engkau membiarkan saja binatang ini . . ."
"Anakku, serigala yang berhati buas, sudah lama
kuperhatikan. Tak kira dia berani bernyali besar. Beruntung
ditengah jalan aku bertemu dengan Siau Hui. Dia
mengatakan bahwa engkau diajaknya kedalam biara ini.
Aku seperti mencium gelagat tak baik dan bergegas datang
kemari. Aku masih menunggu kalau2 dia sadar dan dapat
menghentikan perbuatannya yang gila itu tetapi ternyata
tidak. Maka akupun terpaksa turun tangan membunuhnya."
"Apakah keterangannya itu benar semua?"
"Ini .... hanya sebagian yang benar."
"Bagaimana jelasnya?"
"Dia memang ikut ayahnya tetapi engkau adalah anak
kandungku."
"Ayah ?"
"Nak, perlu apa engkau tanyakan? Kabarnya Toan-kiam
jan-jin pernah menolongmu dari tangan Long-sim-mo ?"
"Ya."
"Apa engkau tak dapat mengenali dirinya?" Sejenak
wanita itu merenung lalu berkata : "Nak, mari kita pulang."
"Mayat itu ?"
"Kita bawa pulang. Jangan sampai diketahui anakbuahnya,
habis berkata dia terus menarik kain tirai dimuka
arca, dibungkusnya tubuh sau-pohcu lalu dijinjingnya,
setelah menyimpan mutiara, ia segera mengajak Ki Ing
pergi.”
Keduanya naik kuda dan tinggalkan biara itu. Diam2 Cu
Jiang tetap mengikuti. Lebih kurang sepuluhan li, haripun
sudah terang tanah. Disebelah muka penuh dengan Jajaran
puncak gunung, setelah melintasi jalan-setapak pada dua
buah puncak, kedua ibu dan puterinya itu masuk kedalam
lembah dan lenyap.
Cu Jiang terkejut sekati. Jaraknya dengan ke dua orang
itu hanya sepuluhan tombak. Dia dapat melihat bayangan
kedua ibu dan puterinya itu. Tetapi mengapa tiba2 mereka
lenyap ?
Cepat ia mengejar akan tetapi tetap tak mendapatkan
kedua wanita itu. Tampak disebelah muka karang gunung
yang berbentuk menonjol dan menurun kebawah, Jalan
bersilang selisih ruwet sekali. Sejenak Cu jiang berhenti. Ia
teruskan pengejarannya atau berhenti disitu saja.
Beberapa saat kemudian ia memutuskan akan
melanjutkan langkahnya mengejar mereka, ia memutuskan
untuk mengambil jalan yang agak besar Tetapi setelah lari
sekian saat, ternyata dia kembali lagi ditempat semula tadi.
Saat itu baru ia menyadari kalau dirinya sedang
terkurung dalam sebuah barisan yang aneh. Pada hal dia tak
mengerti sama sekali akan ilmu barisan yang aneh2. Kalau
dia nekad melanjutkan lari menyusuri jalan2 hal itu tentu
sia2 saja. hanya membuang tenaga. Bahkan kemungkinan
akan diketahui musuh. Akhirnya ia memutuskan mencari
sebuah tempat untuk beristirahat.
Ia merenung memikirkan keadaan yang dihadapi saat
itu, Bertahun-tahun Gedung Hitam dapat menjaga
rahasianya sehingga tak dapat diketahui oleh orang
persilatan, ternyata memang memiliki keistimewaan.
Sebelumnya dia tak sampai berpikir begitu. Lalu bagaimana
langkahnya sekarang?
Diam2 ia menyesal mengapa ketika di negeri Tayli dulu,
dia tak mau belajar tentang ilmu barisan kepada gurunya?
Mungkin saat itu jejaknya sudah diketahui musuh.
Terlambat, ia mengeluh. Kalau tadi dia terus bertindak
tegas untuk menangkap kedua wanita itu dan menyuruh
mereka menunjukkan jalan mungkin lain keadaannya.
Tiba2 terdengar derap langkah orang berjalan dari arah
gua. Tidak hanya seorang tetapi beberapa, Cu Jiang mulai
tegang.
Saat itu kiranya sudah fajar hari tetapi keadaan di tempat
itu masih tetap remang. Seketika timbul suatu pikiran.
Benar, kalau mereka datang, asal dia dapat menangkap
salah seorang dan memaksanya untuk menunjukkan jalan,
tentulah dia dapat lolos dari tempat itu.
Tetapi tindakan itu tentu akan menimbulkan suara
berisik. Kemungkinan akan mengundang kedatangan
beberapa bala bantuan mereka. Padahal Gedung Hitam
mempunyai banyak sekali jago2 ko-jiu yang sakti.
Tak berapa lama langkah kaki orang itu berhenti tak
berapa jauh, ditengah barisan. Kalau ia diam saja, tentulah
mereka takkan melihat, Setelah menentukan siasat, dia
segera berteriak.
"Setan keparat, masakan orang berburu engkau sesatkan
begini ?"
Tetapi tetap ada tiada penyahutan, kembali ia
mengulang:
"Biar, masakah setelah hari terang toaya tak dapat keluar
dari sini!"
"Ha, ha, ha, ha . ..." tiba2 tiga sosok bayangan manusia
muncul di muka. Dua orang berpakaian ringkas dan
seorang berpakaian hitam, umurnya diantara tiga-puluh
tahun.
Cu Jiang segera dapat mengenali bahwa yang berpakaian
hitam itu tentu seorang thaubak (Kepala kelompok).
Mereka tentu sedang bertugas menjaga barisan.
Cu Jiang pura2 melonjak kaget dan berseru kepada
mereka:
"Tuan-tuan sekalian, tempat apakah ini ?"
Lelaki berpakaian hitam itu memandang Co Jiang
dengan tajam.
"Engkau tak tahu tempat apa ini ?" tegurnya dengan
nada dingin.
"Kalau aku tahu takkan kemari !"
"Tetapi bagaimana engkau masuk kesini ?"
"Mengejar binatang yang hendak kuburu dan akhirnya
tersesat disini."
"Ngaco ! Jelas engkau tentu seorang persilatan . , . . "
"Heh, heh, aku sebenarnya bukan orang persilatan tetapi
aku pun pernah berlatih beberapa gerakan silat."
"Hm, tiga puluh li sekeliling tempat ini, burungpun tak
dapat masuk. Sahabat, engkau hebat juga !"
"Tuan tuan. aku benar2 seorang baik2. Sudah beberapa
keturunan aku mencari nafkah sebagai pemburu."
Lelaki berpakaian hitam itu tiba2 melangkah maju,
menebarkan kelima jari tangannya dan secepat kilat
menerkam pergelangan tangan Cu Jiang. Cu Jiang memang
sudah siap. Ia sengaja tak mau melawan.
"Aduh !" ia pura2 menjerit kesakitan dan terus
berjongkok.
"Bawa dia !" perintah lelaki baju hitam itu. Kedua anak
buahnya segera menyeret Cu Jiang.
Diam2 Cu Jiang gembira. Dengan membiarkan dirinya
diseret begitu, bukankah suatu cara yang mudah untuk
dapat masuk kedalam Gedung Hitam. Namun ia pura2
menjerit-jerit.
"Hai, apa-apaan kalian ini? Kalian bukan pembesar
negeri juga bukan penguasa..."
"Bungkam mulutnya !" teriak lelaki baju hitam itu.
Hanya dalam beberapa kejap, cuaca sudah terang
benderang lagi. Kiranya mereka sudah keluar dari barisan
dan saat itu haripun sudah terang.
Dengan menyeret Cu Jiang kedua anak buah Gedung
Hitam itu berlari. Diam2 Cu Jiang memperhatikan tempat2
yang dilalui. Kiranya dia dibawa kembali kearah biara kecil
yang didatanginya semalam.
"Hai. tuan2 hendak membawa aku ke mana ?" teriak Cu
Jiang. Sebenarnya mudah sekali dia membunuh ketiga
orang itu tetapi ia memutuskan untuk tetap bersikap pura2.
Ia hendak melihat lebih jauh apa yang akan dilakukan
ketiga orang itu.
Sepeminum teh lamanya, tibalah mereka dimuka biara
kecil. Kedua anak buah itu berhenti didepan pintu biara
sedang lelaki baju hitam terus melangkah masuk kedalam
biara. Tak berapa lama terdengar orang berseru memberi
perintah.
"Bawa masuk !"
Suara orang itu menyengat telinga. Bukan seperti suara
orang laki tetapi Juga bukan suara orang perempuan.
Kedua anak buah itu segera menyeret Cu Jiang masuk
kedalam biara. Sunyi senyap tiada orangnya. Dan salah
seorang dari kedua anak buah itupun segera berseru.
"Orangnya sudah kami bawa!"
Sejenak bertukar pandang, kedua anak buah itu segera
melangkah kedalam ruang besar. Tetapi tiba dipintu,
keduanya menjerit kaget dan tegak seperti patung.
Cu Jiang merentang mata memandang kedalam ruang
besarku. Seketika bulu kuduknyapun ikut meregang dan
semangatnya terasa terbang.
Ternyata dalam ruang besar itu telah berjajar lebih dari
lima puluh sosok mayat manusia. Dijajar rapi sekali! Juga
lelaki baju hitam yang baru masuk tadi, pun ikut terbujur
dalam jajaran mayat itu.
"Huak, huak..." tiba2 kedua anak buah itu menjerit dan
rubuh ke lantai. Sementara karena dilepas, Cu Jiang
terhuyung-huyung hampir jatuh.
Kini di hadapannya telah muncul dua orang wanita
muda berpakaian warna merah. Mereka memandang Cu
Jiang lalu tersenyum.
Saat itu baru Cu Jiang menyadari. Kiranya Ang Nio Cu
juga ada disitu. Dan semuanya itu adalah perbuatannya.
Kedua manusia baju merah itu menyeret mayat kedua
anak buah Gedung Hitam dan dijajarkan pada jajaran yang
lain.
Cu Jiang cepat melesat masuk, serunya:
"Toaci, engkau juga datang kemari?"
Sesosok bayangan merah darah, melesat keluar dari
belakang arca.
"Ai, siaute, aku memang lebih dulu dari engkau. "
"Oh, taci sudah lebih dulu datang? Mendapat penemuan
apa saja?"
"Lekas kita tinggalkan gunung ini! "
"Kenapa?"
"Bukankah engkau terjebak dalam barisan? Itulah yang
akan menjadi soal . . . . "
"Soal?"
"Benar. Gedung Hitam itu terletak di tengah barisan
Apakah engkau tahu akan ilmu barisan?"
"Ti . . .dak. "
"Itulah makanya engkau terperangkap."
"Mengapa toaci tak mau membiarkan salah seorang dan
mereka hidup untuk kita korek keterangan?"
"Soal itu tak perlu engkau ingatkan. Apa yang harus
dikerjakan tentu kulakukan. Tetapi mereka lebih suka mati
daripada membuka mulut. Dan sesungguhnya, kecuali
beberapa tokoh yang mempunyai kedudukan, para thaubak
dan anak buah itu memang tak mengerti keadaan markas
mereka.
Barisan itu dijaga sendiri oleh orang kepercayaan ketua
Gedung Hitam. Tanpa ijin, siapapun tak boleh masuk ke
markas. Berani melanggar tentu dihukum mati."
Tiba2 Cu Jiang membanting-banting kaki.
"Celaka, aku telah melepaskan kesempatan yang baik!"
serunya.
"Kesempatan apa ?"
"Sebenarnya aku sedang mengikuti jejak isteri ketua
Gedung Hitam dan puterinya. Kalau tahu begini, lebih baik
mereka kutangkap saja .. "
"Percuma."
"Kenapa ?"
"Engkau tetap tak dapat pergi dari tempat itu, Begitu
masuk kedalam barisan, engkau tentu kehilangan faham.
Bentuk luarnya, barisan itu menyerupai barisan Kiu-kiongpat-
kwa. Tetapi dalamnya merupakan barisan Bi-hun-toatin
(barisan besar Penyesat nyawa). Aku sendiri pernah
menyusup masuk jauh ke dalam. Andaikata tak lekas2
menyadari gelagat, mungkin aku tentu sudah terperangkap
didalamnya."
"Karena sudah tahu akan nama barisannya, toaci
tentu..."
"Yang kuketahui hanya kulit luarnya saja. Tetapi
bagaimana perobahan2 didalamnya, hanya lawan yang
tahu. Juga belum diketahui apakah di luar barisan itu masih
terdapat lain batuan bay-Taok (barisan pendam).
Taruh kata engkau dapat menangkap seorang lawan
yang berkedudukan penting, pun begitu masuk kedalam
barisan Bi-hun tin, pikiranmu akan kacau dan tentu
tertangkap. Bukankah itu akan sia2 saja?"
"Lalu bagaimana langkah kita sekarang ?"
"Mencari seseorang."
"Siapa ?"
"Seorang aneh yang sudah lama mengasingkan diri dari
dunia persilatan, bergelar Ih-se lojin..."
“Ih-se lojin ?" Cu Jiang mengulang heran.
"Ya, pernah dengar ?" tanya Ang Nio Cu.
"Belum."
“Gelarnya Ih-se lojin, siorang tua yang meninggalkan
keduniawian, sudah tentu tak mau campur dengan manusia
lagi. Perangainya aneh, tak kalah dengan tabib Kai-Jiu-sinjin
itu."
"Perlu apa mencarinya ?"
"Dalam dunia persilatan Jaman ini, kecuali dia seorang
yang mahir akan segala ilmu barisan aneh, masih ada
seorang lagi yakni Gong-gong cu . . ."
"O, mencarinya unjuk memecahkan barisan di Gedung
Hitam ?"
"Benar, minta petunjuknya.”
"Dimana tempat kediamannya ?"
"Ada dua buah jalan yang dapat kita telusuri. Menurut
kabar, ada orang yang pernah melihatnya berada di gunung
Tay-pa-san. Dan yang kuketahui, dia tinggal di gunung
Bok-nia. Kedua gunung itu Jaraknya amat jauh sekali. Satu
di utara, satu di selatan. Kita berpencar mencarinya. Kita
tentukan kapan bertemu lagi. Bagaimana pendapatmu?"
Sesaat meragu, Cu Jiang menyahut: "Mengapa kita tak
nantikan kesempatan lain lagi."
"Siaute," kata Ang Nio Cu dengan lembut, "rasanya
hanya itulah jalan satu-satunya untuk mengatasi keadaan.
Menunggu kesempatan, tiada kepastian waktunya. Dan lagi
setiap waktu tentu terjadi perobahan yang sukar diduga.
Mencari orang tua itu dan meminta petunjuknya cara
memecahkan barisan, merupakan cara penyelesaian yang
terbaik."
"Baik, aku menurut saja."
"Bagus, adikku."
Cu Jiang merah mukanya lalu menanyakan Ang Nio Cu
hendak menuju ke gunung mana.
"Aku lebih paham keadaan gunung Bok nia. Engkau
yang pergi ke gunung Tay-pa-san. Empat-puluh hari kita
bertemu di rumah penginapan Naga-hijau dikota Tongyangshia."
"Baik, tetapi bagaimana ciri2 dari Ie-se lojin itu?"
"Ih. benar. Hampir saja aku lupa memberitahukan.
Orang itu selalu mengenakan jubah warna kuning telur,
tidak memakai kain kepala juga tidak bersepatu. Diantara
kedua alisnya terdapat sebuah tahi lalat merah. Kalau
bertemu tentu mudah mengenalinya ..."
Tiba2 dari arah jauh terdengar suara burung hantu. Dan
Ang Nio cepat segera memberi isyarat tangan:
"Ada orang datang, kita harus lekas2 tinggalkan tempat
ini. Siaute, hati-hatilah dalam perjalanan !"
"Sampai Jumpa, toaci," kata Cu Jiang. Sekali bergerak
dia sudah melesat keluar dan lenyap.
Suara burung hantu Itu memang dari anak buah Ang
Nio Cu. Sekeluar dari biara, Cu Jiang melihat
segerombolan bayangan manusia yang berlari mendatangi
dari arah jauh. Empat penjuru biara itu sunyi senyap.
Semua penjaga tempat itu sudah dibereskan Ang Nio Cu,
Kawanan pendatang itu tentulah penjaga2 yang akan
mengganti giliran.
Ia menuju keutara. Satu-satunya jalan singkat mencapai
gunung Tay-soat san harus mengitari gunung Tay-hong-san.
Kesanalah dia menuju.
Hari itu dia tiba di kota Ih-shia, sebuah kota bandar yang
ramai. Bagian hulu terdapat kota Siang-yang dan bagian
muara kota An-liok. Setelah melintas sungai Han cui.
gunung Tay-hong-san sudah tak berapa jauh lagi.
Selama dalam perjalanan itu Cu Jiang tetap memakai
kedok muka. Hanya pakaiannya berganti seperti seorang
pedagang. Dia menginap di rumah penginapan Gwa lay ti
tua.
Dia memesan beberapa hidangan dan arak. Tengah dia
hendak menikmati hidangan, tiba2 pintu kamarnya dibuka
orang.
"Jangan berisik, kalau keperluan nanti kupanggil," seru
Cu Jiang mengkal. ia kira tentu pelayan.
"Ki Siau Hong, Ko Kun!" terdengar suara orang diluar.
"Oh, silakan masuk."
-oo0dw0oo-
Jilid 18
DUA orang lelaki masuk. Seorang sasterawan tua dan
seorang tua bungkuk. Keduanya tak lain dari Ki Siau Hong
dan Ko Kun, dua dari keempat pengawalnya.
"Silakan duduk, akan kusuruh pelayan menambah gelas,
kita minum bersama .. ."
"Tak usah."
Cu Jiang terkejut mendengar nada mereka yang kaku.
Kedua orang itu mengambil kursi dan duduk disebelah Cu
Jiang.
"Ciangkun, kami hendak bicara dengan sungguhsungguh
!" kata Ki Siau Hong.
"Soal apa ?"
Sejenak memandang kearah wajah membesi dari Ko
Kun. Ki Siau Hong berkata dengan tegas.
"Ciangkun, maafkan hamba berlaku kurang hormat.
Walaupun kedudukan ciangkun lebih tinggi, tetapi kami
juga sama2 menjadi menteri dan sama2 mengemban tugas
dari Kok-su, agar diam2 membantu ciangkun. Dalam hal
ini ciangkun tak berhak membunuh . .. ."
"Apa katamu ?" teriak Cu Jiang kaget.
"Apakah ciangkun tak tahu?"
"Jangan menyabut ciangkun !"
"Tidak, ini menyangkut urusan dinas."
"Aku benar2 tak mengerti. Katakanlah yang jelas."
Tiba2 Ki Siau Hong berbangkit dan dengan deliki mata
berseru dalam nada getar:
"Bagaimana kesaktian ciangkun, kami semua sudah
mengetahui, kami bukan tandingan . ... "
Cu Jiang benar2 bingung. Tetapi melihat sikap orang
yang begitu serius dan tegang, dia anggap urusan tentu
serius sekali. Diapun berbangkit dan berseru:
"Sebenarnya apakah yang telah terjadi ?"
Ko Kun juga berbangkit dan menyeletuk: "Kenapa ?"
"Sia-sia kami antarkan jiwa di Tionggoan, mati tanpa
alasan apa2."
Cu Jiang memandang kedua orang itu dengan tajam lalu
berkata dengan sarat : "Aku tak jelas apa yang kalian
katakan ...."
"Asal ciangkun mengerti sajalah."
"Kalian takut mati. Memang tugas ini penuh
mengandung bahaya. Baiklah, kalian boleh pulang."
"Sebagai seorang biasa, tak mungkin takut mati. Tetapi
mati harus yang jelas dan harus yang berharga." Ki Siau
Hong menyelutuk.
"Berharga bagaimana?"
"Kami memberanikan diri hendak mohon tanya kepada
ciangkun." kata Ki Siau Hong, "apakah kesalahan Ong
Kian sehingga menimbulkan kemurkaan ciangkun dan
ciangkun lalu membunuh nya?"
Mendengar itu gemetarlah Cu Jiang.
"Apa katamu?" serunya keras.
"Mohon tanya apa kesalahan Ong Kian sehingga
ciangkun menghukumnya mati?"
"Apa? Engkau .... mengatakan aku membunuh Ong
Kian?"
"Apakah ciangkun menyangkal?"
"Ini . . . ini . . . apa buktinya?"
"Silakan ciangkun lihat ini." Ki Siau Hong mengeluarkan
sebuah benda dan menyerahkan kepada Cu Jiang. Tangan
Ki Siau Hong gemetar keras. Sedang Ko Kun yang
menyaksikan dari sampingpun juga tegang sekali wajahnya.
Dahinya berkerenyutan keras.
Cu Jiang menyambuti dan memeriksa. Ternyata barang
itu seperangkat pakaian dan diatasnya tertulis huruf dari
darah, berbunyi: "Ciangkunlah yang membunuh aku."
"Tulisan ini adalah tulisan tangan Ong Kian. Pada saat
hendak kami kuburkan, baru kami menemukannya." kata
Ki Siau Hong.
Dada Cu Jiang bergolak keras. Dia membuka kedok
muka dan menunjukkan wajahnya yang aseli. Tampak
kerut wajahnya membesi dan dahinya berkerenyutan, bum .
. . . "
"Siapa yang membunuh Ong Kian?" dia menghantam
meja sekeras-kerasnya.
Kedua pengawal itu tergetar dan saling bertukar
pandang.
"Ciangkun, ijinkanlah kami pulang lebih dahulu ke
Tayli. "
Pikiran Cu Jiang penuh dengan berbagai persoalan. Dia
marah dan sedih atas peristiwa itu.
"Dimana Ong Kian dibunuh?" tanyanya.
"Diluar kota Hok yang-shia."
"Bagaimana kalian dapat menemukannya?"
"Karena kami mendengar bahwa ciangkun muncul di
pintu kota itu maka kamipun buru2 menyusul."
Mendengar itu Cu Jiang tahu bahwa persoalan itu
memang tak wajar. Jelas dia tak melalui kota Hok yang
shia. Tetapi sesaat dia tak dapat memberi penjelasan.
"Dan kalian menemukan Ong Kian sudah dibunuh
orang?"
"Benar, tubuhnya menderita delapan belas buah tusukan
pedang. Bekas luka2 itu menunjukkan kalau dari tusukan
pedang kutung milik ciangkun."
"Apakah tulisan darah itu dia yang menulis?"
"Ciangkun, sekarang bukan saatnya berdebat . . ."
"Kenapa ?"
"Orang luar tentu tak menyebut "ciangkun" kepada
ciangkun"
Diam2 Cu Jiang mengeluh dalam hati. Peristiwa
memang benar2 aneh sekali.
"Ciangkun, kami mohon diri."
"Tunggu dulu.."
Wajah kedua orang itu berobah lalu mereka diam2
bersiap-siap.
Cu Jiang menghela napas.
"Atas kematian Ong Kian, aku benar2 sedih sekali.
Tetapi aku mengatakan dengan sungguh2. bahwa aku tak
membunuhnya. Dan memang tiada alasan untuk
membunuhnya. Harap kalian tenang dan marilah kita
bicara dengan baik2."
Dari kerut wajah kedua orang itu, tampak mereka tak
mau percaya begitu saja kepada Cu Jiang. Empat huruf
yang ditulis dengan darah itu menjadi bukti yang berbicara.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan menerjang masuk
dan terus menyerang Cu Jiang. Karena tak menduga dan
berlangsung dalam waktu secepat kilat, Ki Siau Hong dan
Ko Kun menjerit kaget. Tetapi Cu Jiang lebih cepat
reaksinya.
Ia condongkan tubuh dan menyambar pedang yang
menyerang nya. Ah. ternyata penyerangnya itu tak lain
adalah Song Pak Liang yang menyaru jadi penjual obat
tempo hari.
Dengan mata penuh bawa pembunuhan dan tubuh
menggigil keras. Song Pek Liang memandang Cu Jiang
dengan penuh dendam kebencian.
"Juara Jago pedang, kalau engkau mau bunuh Song Pek
Liang, bunuhlah !" serunya penuh dendam sinis.
Cu Jiang tahu bahwa orang itu sedang dirangsang
dendam kemarahan yang timbul karena salah faham.
Percuma kalau mau membunuhnya. Ia dapat memaafkan
tindakan orang.
"Song-heng, tenanglah, soal ini tentu akibat salah
faham," akhirnya ia turunkan pedang dan berkata dengan
ramah.
Tetapi Song Pek Liang tetap penasaran.
"Salah paham? Adakah orang mati itu pada saat2
terakhir dapat meninggalkan tulisan untuk memfitnah
orang?" serunya sinis.
"Memang itu yang menjadi pokok persoalan," kata Cu
Jiang dengan menahan perasaan.
"Kami ingin mendengar penjelasan ciangkun." seru Song
Pak Liang.
Sejenak menenangkan perasaannya, Cu Jiangpun segera
berkata kepada Ko Kun:
"Ko-heng, harap engkau menjaga diluar."
Sejenak memandang kearah kedua rekannya, dengan
kepala menunduk Ko Kun segera melangkah keluar.
Setelah itu barulah Cu Jiang berkata dengan tandas:
"Dengan mengesampingkan peraturan, Kok-su telah
menerima aku sebagai murid. Baginda Tonghongyapun
telah berkenan memberikan kitab pusaka sehingga aku
berhasil memperoleh ilmu kepandaian.
Tugasku yang utama yalah membereskan kawanan Sippat-
thian-mo. Dalam rangka melaksanakan tugas itu
saudara berempat telah memberi bantuan. Soal Jabatanku
sebagai Tin-tian-ciang-kun adalah dikarenakan harus
menghadapi tantangan dari putera raja Biauw tempo hari.
Dalam hal ini kuharap saudara jangan terlalu menyanjung
diriku ... "
"Ucapan baginda itu bukan kata2 kosong. Dan lagi telah
disaksikan oleh sekalian menteri, tidak boleh dianggap
sepele," kata Song Pak Liang.
Cu Jiang tertawa hambar.
"Saudara Song. baiklah, aku takkan membicarakan soal
itu. Mengenal kematian Ong Kian, aku benar2 tak pernah
datang ke Hu-yang.. ."
"Lalu bagaimana dengan tulisan darah itu?"
"Marilah kita mempelajarinya dengan tenang, untuk
mencari sebabnya."
"Ciangkun, tetapi urusan bukan hanya yang itu saja."
"Masih ada yang lain lagi ?" teriak Cu Jiang terkejut.
"Apakah aku harus mengatakan satu demi satu ?"
"Silakan memberi keterangan."
"Song-heng, kesabaranku ada batasnya. Sekali lagi
kuminta engkau bersikap tenang."
Dahi Song Pek Liang berkerenyut.
"Biarlah aku yang mulai bicara," kata Ki Siau Hong,
"kantor pengiriman barang Han Tiong dikota Hu-yang pada
suata hari telah menerima pekerjaan untuk mengirim
barang gelap yang harganya semahal pembelian sebuah
kota. Barang itu terdiri dari sebuah barang permainan dari
batu permata yang tak ternilai indahnya. Tetapi sebelum
sempat berangkat mengirim, kepala perusahaan itu dan
seluruh keluarganya besar kecil berjumlah delapan orang,
telah mati dibunuh orang.. ."
"Oh..."
"Siau-lim Sam-lo Juga dibunuh di Kwiciu."
"Siapa lagi ?"
"Ketua partai Heng-san-pay mati dicincang puterinya
diperkosa."
"Lalu ?"
"Masih ada lagi, tetapi tak perlu kami terangkan. Pokok,
banyak sekali terjadi pembunuhan2 yang amat keji !"
"Semua itu Toan-kiam-jan-Jin yang melakukan?" Cu
Jiang mengertek gigi.
"Ciangkun," kata Song Pek Liang dengan nada tergetar,
"menurut beritanya memang begitu. Dan banyak sekali
saksinya. Kamipun pernah melihat sendiri bukti itu."
"Pernahkah Song heng membayangkan bahwa
kemungkinan ada orang yang menyamar sebagai diriku ?"
"Tetapi Ong Kian tak mungkin salah melihat diri
ciangkun ?"
"Seratus hari lamanya aku berobat di gunung Busan,"
kata Cu Jiang, "seturun gunung, aku tak menyamar menjadi
Toan-kiam-Jan Jin lagi. "
"Soal itu hanya ciangkun sendiri yang tahu."
Sejenak berpikir, Cu Jiang menatap Ki Siau Hong,
serunya.
"Yang menyampaikan berita tentang diri Long sim-mo
itu adalah Ki-heng, pada waktu itu bagaimana keadaan
diriku?"
"Peristiwa itu terjadi pada waktu ciangkun belum muncul
di kota itu," jawab Ki Siau Hong.
"Mengapa waktu itu engkau tak memberitahukan?"
"Sudah sebulan lamanya kami mengikuti Long-sim-mo.
Pada waktu itu belum begitu jelas tentang peristiwa itu !"
"Belum ada sebulan aku turun dari gunung Busan. Ang
Nio Cu dan- Thian put thou menjadi saksinya . . ."
"Ong Kian terbunuh lima hari yang lalu!"
Mendengar jawaban itu Cu Jiang benar2 tak dapat
membantah, ia kerutkan alis tak berkata apa2.
"Ciangkun, kami hendak kembali ke Tayli dulu untuk
memberi laporan kepada Kok-su." kata Song Pek Liang,
"Untuk sementara jangan kalian pergi dulu."
"Mengapa ?"
"Tunggu sampai peristiwa ini jelas."
"Bagaimana tindakan ciangkun untuk membereskan soal
itu ?"
"Mencari orang yang memalsu diriku."
"Song-heng menganggap tentu aku sendiri ?"
"Karena bukti memaksa kami tak dapat menduga yang
lain,"
"Hm," Cu Jiang menahan kemarahannya, "tindakan
musuh itu Jelas mengandung siasat yang licik. Tujuannya
tentu hendak membangkitkan kemarahan kaum persilatan
terhadap diriku. Tentu musuh takkan berhenti sampai
disitu. Kalau kita menyelidiki dengan sungguh2, pasti akan
dapat menemukan jejaknya.”
Agaknya Ki Siau Hong lebih sabar maka dia segera
membujuk kawannya. Song Pek Liang.
"Song-heng. karena ciangkun mengatakan begitu,
bagaimana kalau kita ikut menyelidiki ?"
"Aku tak ingin mengubur tulangku di tanah Tionggoan,"
sahut Song Pek Liang dengan tegang.
Mendengar sikap Song Pek Liang begitu kukuh, Cu
Jiang mendongkol sekali serunya:
"Kalau aku memang seperti yang kalian duga, perlu apa
aku harus berbanyak kata. Bukankah saat ini juga aku dapat
membereskan kalian bertiga?"
Kata2 itu penuh mengandung keterbukaan hati dan
kemarahan yang tertahan sehingga kedua orang itu
terkesiap. Memang benar, jika mau, dengan mudah Cu
Jiang tentu dapat membunuh mereka bertiga.
Akhirnya Song Pek Liang agak kendor. Setelah
merenung beberapa saat, ia berkata:
"Ciangkun. mudah-mudahan hal itu benar2 suatu
kesalahan faham."
"Memang sebenarnya suatu rencana busuk sekali. "
"Kira2 siapakah yang melakukan rencana itu?"
"Siapa lagi kalau bukan orang Gedung Hitam. "
"Lalu bagaimana tindakan kita?"
"Kita berpencar menyelidiki. Hanya apabila kalian
menemukan sesuatu, jangan sekali-kali menunjukkan diri
biarlah aku yang membereskan sendiri. Karena berani
melakukan pemalsuan itu, musuh tentu memiliki
kepandaian hebat dan lagi tentu dikawal oleh anak
buahnya."
"Baiklah, kami akan mohon diri "
"Ei, mengapa tak minum dulu?"
"Lain waktu saja." Ki Siau Hong dan Song Pek Liang
segera menghaturkan hormat lalu melangkah keluar.
Cu Jiang masih termenung dikursinya. Dia benar2 tak
menyangka kalau musuh akan melakukan rencana begitu.
Memikirkan peristiwa itu, dia pun tak punya selera makan
lagi.
Dia memanggil pelayan, membayar rekening lalu
tinggalkan rumah makan itu.
Saat itu jalan sudah ramai. Lampu2 menerangi seluruh
jalan, orang tak putus-putusnya berjalan hilir mudik.
Ramainya bukan kepalang.
Dengan dandanannya sebagai seorang pedagang Cu
Jiang berjalan pelahan-lahan. Tengah dia berjalan, tiba2 dia
melihat pertandaan-rahasia yang di tinggalkan oleh Su-tayko-
jiu.
Semangatnya bangkit serentak. Apakah dalam waktu
singkat mereka sudah mendapatkan jejak musuh?
Segera dia menurutkan pertandaan rahasia itu. Akhirnya
dia tiba di ujung jalan yang sepi. Seorang sasterawan tua
segera menyongsong kedatangannya, memberi hormat.
"Laute." seru sasterawan tua itu. "sungguh beruntung
dapat berjumpa. Tampaknya laute berseri-seri tentu
mendapat kemajuan dalam kehidupan. Sebaliknya aku ini
tetap sasterawan yang tak berguna, nasib buruk . . . .
Sasterawan tua itu tak lain adalah Ki Siau Hong. Dan Cu
Jiangpun balas memberi hormat.
"Ki-heng, sudah bertahun-tahun tak berjumpa tetapi
sikap Ki-heng masih tetap gagah seperti dulu!"
"Gagah ? Ha, ha, ha, ha ... aku sih begini rudin."
“Tetapi adakah..."
"Tinggal di luar kota, entah apakah laute suka
berkunjung kesana?"
"Ai, tentu,"
"Baiklah, laute. Mari kita ke sana."
Demikian keduanya segera berjalan menuju keluar kota,
Tiba diluar kota yang sepi, barulah Ki Siau Hong berkata.
"Kita bicara di pondok petani itu."
"Hm."
Setelah berada digerumbul pohon bambu dibelakang
pondok, Cu Jiang terus bertanya:
"Apakah mendapat penemuan?"
"Dikedai minum telah tersiar berita besar," kata Ki Siau
Hong dengan semangat.
"Berita besar apa ?"
"Waktu malam terang bulan, dibiara Kang-sin-bio kira2
lima li diluar kota, Toan-kiam-Jan-jin akan menantang
ketua Gedung Hitam."
"Bagus! Kiranya kedua manusia itu sama2 muncul!" seru
Cu Jiang dengan gembira.
"Ciangkun." kata Ki Siau Hong, "Toan-kiam-jan-Jin dan
ketua Gedung Hitam itu merupakan tokoh2 yang paling
menonjol dalam dunia persilatan dewasa ini. Kedua belah
pihak sama2 memberi pengumuman itu, tentu ada
maksudnya. Harus menjaga akal muslihat jahat mereka. Ko
Kun dan Song Pek Liang sudah ke tempat itu untuk
menyelidiki kebenarannya . . ."
"Sekarang masih kurang berapa hari dari bulan
purnama?"
"Tujuh hari."
Cu Jiang memperhitungkan waktunya. Perjanjiannya
dengan Ang Nio Cu yalah dalam empat puluh hari akan
bertemu di kota Hu-yang. Apalagi harus membuang waktu
tujuh hari, memang temponya terlalu mendesak sekali.
Tetapi peristiwa pertempuran antara Toan-kiam jan-jin
dengan ketua Gedung Hitam juga sangat penting. Akhirnya
ia memutuskan, akan menunggu pertandingan itu baru
kemudian berangkat ke gunung Tay pa san.
"Baiklah, aku akan menunggu selama tujuh hari di kota."
"Sebaiknya ciangkun jangan pergi kemana-mana, agar
setiap waktu kita dapat bertemu ... "
"Ya, aku tetap berada di rumah penginapan Gwat-lay
tiam. "
Setelah itu mereka berpisah. Semalam ia tak dapat tidur
karena memikirkan siapakah orang yang memalsu dirinya
itu. Apa maksudnya? Dia menantang ketua Gedung Hitam
untuk bertempur di biara Kang sin-bio. Juga perlu diselidiki.
Adakah yang bertempur itu benar ketua Gedung Hitam
yang aseli atau palsu?
Ayam berkokok, baru Cu Jiang tidur. Ketika bangun
haripun sudah siang. Sehabis mandi, dia pesan makanan.
Menunggu, suatu hal yang menyiksa. Apalagi Cu Jiang
harus menunggu sampai tujuh hari. Bagaimanakah ia harus
melewatkan tempo selama tujuh hari itu ?"
Jika dalam pertempuran pada bulan purnama nanti,
ketua Gedung Hitam yang asli benar2 muncul, memang itu
akan merupakan suatu kesempatan bagus untuk menuntut
balas. Tetapi dia curiga, jangan2 hal itu hanya suatu siasat
dari Gedung Hitam saja.
Hanya satu hal yang membuatnya girang ialah dengan
perkembangan peristiwa yang begitu cepat, dapatlah
kesalah-fahaman Ki Siau Hong dan kawannya hilang.
Andaikata ketiga pengawal itu benar2 pulang ke Tayli,
entah bagaimana nanti reaksi baginda dan Gong-gong cu
terhadap dirinya.
Teringat akan tulisan darah Ong Kian pada bajunya. Cu
Jiang heran tetapi masih belum dapat memecahkan rahasia
itu. Dengan cara bagaimana mereka dapat membinasakan
Ong Kian ? Padahal Ong Kian itu cerdas dan
berkepandaian tinggi, masakan dia tak dapat mengenali
Toan-kiam jan-jin itu palsu atau asli.
Kemungkinan satu-satunya ialah, Toan-kiam-jan-jin
palsu itu sebenarnya tak mengenal Ong Kian. Karena
menilik peristiwa pembunuhan ini seolah-olah Ong Kian
tak diberi kesempatan untuk bicara. Dengan demikian Ong
Kian tentu mengira bahwa Toan kiam jan jin itu tentulah
dirinya (Cu Jiang). Dan jelas pula bahwa Toan kiam jan jin
palsu itu seorang tokoh yang sakti sekali.
Kamar Cu Jiang itu terletak disebelah belakang dari
bagian rumah makan. Dan kebetulan merupakan
pertemuan antara dua buah kamar yang gelap dengan dua
buah kamar yang diberi penerangan.
Didepannya terdapat sebuah lorong yang mencapai
ujung pekarangan. Bersih dan tenang.
Sekonyong-konyong pintu gang dibuka dan muncullah
seorang lelaki.
"Tuan, maaf, hendak mengganggu."
"Siapa?"
"Aku, pemilik rumah penginapan."
"Ada urusan apa?"
"Hm, hendak berunding dengan tuan."
"Masuk..."
Seorang lelaki setengah tua mengenakan pakaian warna
biru. masuk kedalam ruangan Cu Jiang. Ia memberi hormat
lalu tertawa.
"Tuan. sesungguhnya tak harus aku berkata begini
kepada tuan. Tetapi keadaan memaksa."
"Katakanlah !"
"Maaf. bagaimana kalau tuan kami minta pindah ke lain
kamar?"
"Apa? Suruh aku pindah ?"
"Ai, ini .... tetapi ruang gudang sebelah barak itu juga
bersih dan tenang dan masih terdapat sebuah kamar yang
terang serta dua kamar lagi."
"Mengapa aku engkau minta pindah?"
"Maaf, karena tetamu yang hendak menginap di sini."
"Tetamu?"
"Ya, tetamu wanita."
"Apa wanita tak dapat tinggal disebelah sana?"
"Maaf, karena tetamu itu rupanya hendak melahirkan,
mungkin kurang leluasa maka terpaksa aku minta maaf
kepada tuan. Kamar di sebelah luar juga . . ."
Cu Jiang mempertimbangkan. Karena ada tamu wanita
yang hendak melahirkan, memang kurang leluasa kalau
pakai kamar sebelah luar. Tetapi bagaimana nanti dengan
Ki Siau Hong. Bukankah dia sudah berjanji kalau akan
tinggal dikamar yang sekarang."
"Baik, aku akan pindah." akhirnya ia berkata.
Pemilik rumah penginapan itu serentak menghaturkan
hormat:
"Terima kasih atas kemurahan hati tuan. Harap jangan
terburu-buru, silakan makan dulu. sebentar mereka tunggu
juga tak apa. "
"Hm..." dengus Cu Jiang.
Dia tak membawa barang apa2. Hanya sebuah buntalan
dan sebatang pedang kutung. Selesai makan, lebih dulu dia
membuat tanda sandi pada ujung pintu kamar itu, setelah
itu ia memang pelayan supaya mengantarkan kamar yang
disebelah barat.
Tepat pada waktu Ci Jiang pindah kamar, sebuah tandu
yang digotong oleh beberapa bujang perempuan turun di
ujung pintu gang. Seorang nyonya yang berpakaian mewah
turun lalu dengan kepala menunduk masuk ke pintu.
Menilik gerak geriknya dia tentu seorang wanita kaya atau
isteri dari orang berpangkat.
Cu Jiang tak tahu rombongan wanita itu. Dia memakai
sebuah ruangan besar yang terdiri dari tiga kamar.
Tiga hari kemudian, datanglah Ki Siau Hong dengan
membawa berita bahwa dari dalam dan luar kota, telah
bermunculan banyak sekali orang persilatan. Ada yang tak
diketahui asal usulnya. Saat itu kota Ih-shia benar2 menjadi
kandang dari harimau dan naga.
Hari keempat dan kelima, yang datang makin banyak.
Selama itu Cu Jiang tetap berada di rumah penginapan. Dia
tak mau keluar.
Hari keenam atau malam purnama kurang sehari, tetap
belum mendapat hasil penyelidikan, siapa sesungguhnya
Toan kiam-jan jin dan ketua Gedung Hitam itu.
Karena kesal, timbullah keraguan dalam hati Ki Siau
Hong, Song Pak Liang dan Ko Kun bahwa sebenarnya
tokoh Toan-kiam-jan-jin itu tak lain memang Cu Jiang
sendiri.
Cu Jiang sendiri tak kurang gelisahnya. Mengapa sampai
sekian lama menyelidiki tetap belum memperoleh hasil
suatu apa.
Setelah makan2 dan minum arak untuk menghibur
kekecewaan hatinya, Cu Jiang lalu berjalan mondar mandir
di sepanjang lorong gang. Dia sedang menimang-nimang
bagaimana besok akan bertindak.
Dalam rumah penginapan itu juga banyak tetamu orang
persilatan tetapi mereka tak memperhatikan diri Cu Jiang
karena menilik pakaiannya Cu Jiang itu lebih menyerupai
seorang pedagang daripada seorang persilatan.
Ciri dari orang persilatan adalah sepasang matanya yang
berkilat kilat tajam. Tetapi apabila sudah mencapai tataran
tinggi dalam ilmu tenaga dalam, dapatlah ia
menyembunyikan sinar matanya sehingga tampak seperti
orang biasa saja. Demikianlah yang dilakukan Cu Jiang
untuk menghapus perhatian orang.
Tiba2 dari balik sebuah jendela diujung gang terdengar
suara seorang wanita yang dikenalnya. Cu Jiang terkejut.
Tetapi dia pura2 diam saja lalu menyelinap ke arah jendela
itu untuk mendengarkan lebih lanjut. Dengan hati2 ia
menghampiri jendela dan mengintai melalui celah celahnya.
Dari sinar penerangan dalam ruang itu tampak seorang
wanita cantik dalam pakaian sutera sehingga dadanya
tampak menonjol.
Bukankah itu yang dikatakan rombongan tetamu wanita
oleh pemilik rumah penginapan? Mengapa dia tidak akan
melahirkan? Hm, jelaslah sekarang.
Karena hendak mengambil muka pada wanita cantik
maka pemilik rumah penginapan itu meminta dia pindah
lain kamar dengan merangkai alasan kalau wanita itu
hendak melahirkan.
Tiba2 wanita yang menghadap ke sebelah sana, berputar
tubuh menghadap ke arah Cu Jiang. Melihat wajah wanita
itu, hampir saja Cu Jiang berteriak. Untung dia cepat dapat
menekan perasaan dan hanya mundur beberapa langkah.
Darahnya bergolak keras.
Wanita cantik itu tak lain adalah Tiam Su Nio, ketua
dari perkumpulan wanita cabul Hoa-gwat-bun.
Jika musuh lama bertemu, sudah tentu mata menjadi
marah. Cu Jiang tak sangka bahwa dia bakal bertemu lagi
dengan wanita cabul di situ. Mungkin sudah takdir. Malam
ini dia takkan memberi ampun lagi.
Dia kembali ke dalam kamar dan menutup pintu lalu
duduk bersemedhi menenangkan pikiran. Jelas bahwa Bulim-
seng-hud Sebun Ong itu berkomplot dengan ketua Hoagwa-
bun.
Jika wanita cabul itu berada disini, tentulah Sebun Ong
juga berada disini, Jika benar Sebun Ong datang, ah, Allah
maha pemurah dan arwah toa-suhengnya memang memberi
restu.
Diapun mempertimbangkan untuk segera turun tangan
ataukah tunggu setelah Sebun Ong sudah muncul.
Tetapi karena menjaga gengsi dan Sebun Ong tak mau
datang pada wanita itu, bukankah malam itu dia akan
kehilangan kesempatan baik untuk membasmi wanita cabul
itu ?
Teringat betapa dulu ia hampir saja mati ditangan wanita
cabul itu, mendidihlah darah Cu Jiang. Bunuh saja wanita
itu. Akhirnya ia mengambil keputusan.
Tetapi mereka terdiri dari beberapa pengikut. Kalau
dibunuh dalam rumah penginapan itu tentu akan
menimbulkan kegemparan para tamu lain. Sedang tetamu2
yang menginap disitu kebanyakan orang2 persilatan semua.
Cu Jiang agak bingung memikirkan. Sampai lama belum
juga ia menentukan cara yang tepat. Karena kalau ia tetap
bertindak dan akhirnya ketahuan siapa dirinya, tentulah
kemungkinan dapat mengakibatkan peristiwa besok malam
yang lebih penting, karena siapa berani tanggung bahwa di
antara tetamu2 yang menginap disitu, tak ada orang2 pihak
Gedung Hitam ?
Tiba2 pintu diketuk orang.
"Siapa ?"
"Laote, aku."
"O, Ki-heng, silahkan masuk."
Yang datang itu Ki Siau Hong. Setelah duduk
berhadapan maka Cu Jiang menanyakan maksud
kedatangannya.
"Ah, tidak ada sesuatu yang penting hanya ingin saja."
kata Ki Siau Hong lalu tertawa. Kemudian dengan berbisik
berkata, "besok malam kalau kedua pihak tak muncul,
terpaksa kami akan kembali ke Tayli."
Cu Jiang terkesiap, Ia dapat menyelami arti kata2 Ki
Siau Hong. Jelas Ki Siau Hong dan kawan-kawannya
menyangsikan dirinya. Mereka menduga besok pagi kedua
belah pihak tentu takkan muncul karena jejak Cu Jiang
sudah ketahuan.
Dengan demikian masih berlaku tuduhan bahwa Cu
Jiang yalah Toan kiam-jan jin yang membunuh Ong Kian.
"Ki-heng, kalau kalian memang hendak pulang akupun
tak dapat memaksa. Tetapi sebaliknya peristiwa ini dapat
dibikin terang dulu. Tetapi kalau memang mereka tak mau
muncul karena hendak mengatur siasat, silakan Ki-heng
kembali ke Tayli."
"Kami juga mengharap agar peristiwa ini dapat segera
dibereskan."
"Apakah ada perkembangan lain ?"
"Tidak ada, kedua pihak sama2 diam. Orang yang ingin
menyaksikan pertempuran itu makin lama makin banyak.
Bahkan ada yang datang dari tempat yang jauh. Memang
kedua tokoh itu sangat menarik perhatian seluruh umat
persilatan."
"Apakah sesungguhnya rencana mereka?"
"Belum jelas."
"Apakah Ki heng pernah melihat Bu-lim-seng hud Sebun
Ong muncul disini. Mestinya dalam peristiwa sebesar ini
dia tentu datang . . ."
"Tidak."
"Aku bahkan menemukan sesuatu."
"Apa?"
"Yang tukar kamar dengan aku ternyata ketua Hoa-goatbun
Tiam Su Nio."
"Ah, lalu apakah laute akan bertindak?"
"Tentu, tetapi kuatir akan mengejutkan tetamu-tetamu
yang lain sehingga mengakibatkan acara besok malam itu."
"Awasi dia, setelah besok malam selesai, baru bertindak."
"Yah .... terpaksa memang harus begitu."
"Aku hendak pamit. Kalau tiada suatu perubahan apa2,
maka aku tak datang kemari lagi."
"Baik."
Ki Siau Hong sengaja bicara sekerasnya: "Laute, besok
dalam pertemuan partai kita di ruang Tang hun-kheng,
harap datang!"
"Tentu," sahut Cu Jiang dengan suara keras juga.
Setelah Ki Siau Hong pergi, Cu Jiang kembali merenung.
Yang dia kuatirkan kalau gerombolan Hoa-goat-bun itu
sampai lolos lagi. Untuk mencari mereka tentu makan
waktu yang lama.
Saat itu sudah menjelang tengah malam. Cu Jiang
memadamkan lampu dan membaringkan badannya. Dia
memutuskan apabila sampai terjadi keributan, dia hendak
tinggalkan rumah penginapan itu dan sembunyi di luar kota
hingga sampai besok malam.
Dengan gunakan gerak Gong-gong-poh, dia melompati
tembok dan menyelinap ke ujung halaman. Ruang disitu
masih menyala penerangannya sehingga dari tirai jendela ia
dapat melihat ketua Hoa goat-bun tidur terlentang di atas
ranjang. Tubuhnya yang menarik, tentu menyengsamkan
setiap lelaki yang memandangnya.
Cu Jiang batuk-2.
"Siapa?" terdengar teguran dari dalam ruang dan pada
lain kejap muncullah seorang dara baju biru. Melihat Cu
Jiang, dia terkejut.
Menyusul muncul lima orang lelaki dan perempuan.
Seorang lelaki setengah umur, maju ke hadapan Cu Jiang,
mengawasi lekat2 lalu menegurnya.
"Mengapa sahabat berani sembarangan masuk kemari?"
"Aku hendak menemui majikanmu." sahut Cu-Jiang
dingin.
"Majikan kami tak ada, hanya rombongannya yang ada.
Sahabat dari mana?"
"Mencari hiburan."
"Apa ?"
"Tetamu iseng."
Sekalian anak buah Hoa-goat-bun berobah mukanya dan
lelaki itu deliki mata, membentak.
"Disini keluarga pembesar, rasanya engkau memang
bosan hidup . .. ."
"Keluarga pembesar ? Kapankah kiranya ketuamu yang
terhormat itu menjadi keluarga pembesar negeri ?"
Mendengar kata2 "ketua", wajah lelaki itu terperanjat
dan berseru dengan menggigil.
"Sahabat, sebutkan dirimu siapa ?"
"Apakah kata-kataku tadi tidak benar ?"
"Jika begitu jangan harap engkau dapat pergi dari sini
dengan membawa nyawamu."
"Apabila bertemu dengan ketuamu, aku dapat memberi
penjelasan."
"Tidak !"
"Tidakpun harus bisa !" cepat Cu Jiang gunakan gerak
langkah Gang-gong-poh melesat kian kemari lalu gunakan
ilmu jari Hui-ci-tiam, sess, sesss, dua orang lelaki dan tiga
wanita segera rubuh.
"Ha, ha, ha. sahabat sungguh lihay sekali !" entah kapan
tahu2 ketua Hoa goat bun telah muncul dipinggir pintu.
Melihat itu mata Cu Jiang berkilat-kilat memancarkan
hawa pembunuhan. Tetapi ketua Hoa-goat-bun tenang saja.
"Bagaimana kita bicara didalam," katanya menggeliat
dengan wajah menghormat.
Sedangkan gadis yang seorang lagi melontarkan senyum
berani kepada Cu Jiang lalu membuka kain tirai. Gadis itu
tak lain adalah Soh-hun-li yang pernah bersama ketua Hoagoat-
bun menyaru sebagai Tiong Hong Hui dan puterinya.
Diam2 Cu Jiang gembira karena sekaligus dia akan dapat
membasmi dua ekor rase. Segera ia melangkah masuk,
diikuti ketua Hoa-goat-bun. Ia duduk disebuah kursi dan
mempersilakan Cu Jiang duduk di kursi yang lain.
Cu Jiang tak mau sungkan lagi terus duduk tak berapa
jauh. Bau yang harum bertebaran tetapi hati anak muda itu
tetap masuk. Sedang Soh-hun li berdiri di belakang ketua
Hoa-goat-bun.
"Malam2 datang kemari tentulah sahabat mempunyai
urusan penting?" ketua Hoa goat-bun mulai membuka
pembicaraan.
"Ya."
"Tadi sahabat mengatakan hendak cari hiburan."
"Hm," Cu Jiang merah mukanya. "Sukalah memberi
tahu nama sahabat ini."
"Ini... tak perlu ..."
"O. apakah kita pernah bertemu?" ketua Hoa goat-bun
tertawa genit.
"Ya, tidak hanya sekali saja."
Ketua Hoa-goat-bun kerutkan alis, ujarnya:
"Kapan dan di mana."
Cu Jiang tak mau banyak berbelit belit. Dia terus
langsung berkata:
"Kedatanganku kemari adalah karena atas permintaan
seorang sahabat."
"Atas permintaan orang?" ketua Hoa goat-bun mulai
agak berobah cahaya mukanya.
"Benar."
"Siapa?"
"Kui jiu sin Jin Bun Yak Ih?"
Ketua Hoa goat bun seperti terpagut ular. Dia melonjak
dari kursinya. Wajahnya pucat.
"Engkau mengatakan Ban Yak Ih? "
"Benar."
"Lalu dia minta tolong apa saja kepada sahabat?"
"Sebelum kukatakan hal itu, aku hendak mohon tanya
sebuah hal."
"Soal apa?"
"Dimanakah saat ini sahabatmu yang bernama Bun lim
seng hud Sebun Ong itu?"
"Apa? Sahabatku? Engkau salah, aku tak punya
hubungan apa2 dengan Sebun Ong."
"Benar?"
"Masakan tidak!"
Cu Jiang menggeram. Tetapi diapun tak dapat berbuat
apa2 karena ia masih tak mau mengatakan siapa dirinya.
"Baik, kalau anda tak mengaku, tak perlu dibicarakan
lagi. "
"Sahabat, sekarang katakanlah, apa permintaan Bun Yak
Ih kepadamu?"
"Adakah anda ini hujin (isteri) dari Bun cianpwe?"
"Memang pernah menjadi isterinya."
"Dan sekarang tidak lagi?"
"Apa katanya?"
"Membunuh engkau!"
Wanita itu terkejut tetapi sesaat kemudian tertawa
nyaring. Soh-hun-li juga ikut tertawa seperti mendengar
sebuah lelucon,
"Tiam Sa Nio, apa yang engkau tertawakan?" tegur Cu
Jiang.
Ketua Hoa goatbun hentikan tawanya dan melirik:
"Bun Yak Ih belum meninggal, mengapa urusan suami
isteri harus diserahkan kepada lain orang?"
"Mempunyai isteri begitu macam, dia malu bertemu
dengan kaum persilatan!"
"Kenapa diriku? adakah seorang ketua sebuah
perkumpulan itu menghina namanya?"
"Hinaan saja masih belum cukup. "
"Lalu bagaimana?"
"Membuat dia tak dapat mengangkat muka untuk
selama-lamanya."
"Benar."
"Sahabat, apakah engkau mampu melakukan."
"Pasti."
Kembali ketua Hoa-goat-bun itu tertawa. Tiba2
serangkum bau harum bertebar menusuk hidung Cu Jiang.
Dia tergetar hatinya dan segera menyadari bahwa wanita
itu tengah melepas siasat busuk... racun.
Tetapi karena dia membekal mustika Thian-Ju-cu maka
diapun tak kena apa2.
Melihat pemuda itu tak kurang suatu apa, diam2 ketua
Hoa-goat-bun terkejut tetapi ia masih bersikap tenang.
"Sahabat, engkau memang hebat. Adalah kami yang
kurang cermat. Karena melakukan permintaan Ban Yak Ih,
sebetulnya engkau tentu sudah menyiapkan penolak racun."
"Asal engkau sudah tahulah."
Ketua Hoa-goat-bun itupun berdiri, berjalan dua langkah
dan berseru:
"Sahabat, harap menyebut dirimu dulu, maukah ?"
"Ah, tak perlu."
"Tidak ! Dapat membunuh ketua Hoa-goat-bun dan
sebelumnya memberitahuku dulu, tentu bukan tokoh
sembarangan."
"Salah ! Aku tak lain hanya seorang kerucuk tak ternama
dalam dunia persilatan."
Ketua Hoa-goat-bun terkesiap, tertawa.
"Bagaimana engkau hendak turun tangan ?"
"Saat ini ditempat ini juga !"
"Waktunya sudah keliwat lama mengapa tak lekas turun
tangan ?"
Cu Jiang tertawa dingin. Ia meletakkan buntalannya
keatas kursi lalu pelahan-lahan membukanya. Ketua Hoagoat-
bun dan Soh-hun-li heran melihat tingkah laku
pemuda itu.
Setelah lipatan buntalan kain itu dibuka maka tampaklah
sebuah kerangka pedang yang bertebar mutiara. Suasana
saat itu segera berobah tegang penuh dengan hawa
pembunuhan.
Tiba2 Cu Jiang tertegun. Kalau dia mencabut pedang itu,
jelas dirinya akan ketahuan. Maka dia harus berhasil untuk
membasmi semua gerombolan Hoa-goat-bun. Tak boleh
ada seorangpun yang di biarkan hidup.
Dengan tangan kiri memegang kerangka dan tangan
kanan memegang tangkai pedang, pelahan-lahan dia berdiri
dan berhadapan dengan Tiam Sa Nio.
Tiba2 Soh-bun-li melengking lain secepat kilat menerjang
Cu Jiang. Dia mendahului menyerang untuk mengetahui
sampai dimana kesaktian anak-muda itu.
Tampak pedang berkilat, terdengar erang pelahan disusul
dengan tubuh Soh-hun-li yang rubuh berlumuran darah.
Karena menjaga jangan sampai membuat suara sehingga
mengejutkan lain tetamu, maka Cu Jiang bergerak cepat
sekali. Yang diarah bagian tenggorokan sehingga Soh hun li
tak sempat menjerit lagi.
Tampak wajah ketua Hoa goat bun pucat dan mulutnya
segera memekik kaget:
"Toan kim jan jin!"
"Bagus, engkau tentu dapat mati dengan mata meram . ."
Tiba2 tubuh ketua Hoa goat bun bergeliat dan
terdengarlah letupan keras disusul dengan gulungan asap
yang menebar menggelapkan pandang mata.
"Celaka!" diam2 Cu Jiang mengeluh. Setelah
menentukan arah tempat lawan, dia terus menabas tetapi
ternyata tempat kosong.
Karena ruang itu tak berapa besar maka kepulan asappun
segera memenuhi seluruh ruang sehingga gelap sekali. Cu
Jiang terpaksa loncat keluar. Beberapa saat setelah asap
menipis, ternyata dalam ruang itu sudah kosong. Tiam Su
Nio sudah lolos dari jendela.
Marah Cu Jiang bukan kepalang. Dirinya sudah
diketahui tetapi dia tetap belum dapat membasmi wanita
itu. Tidakkah hal itu akan menambah kesulitan lagi
baginya?
Diam2 dia menyesal mengapa membuang waktu bicara
begitu lama. Kalau dia terus turun tangan secepatnya,
tentulah wanita itu tak dapat lolos.
Berpaling ke belakang dilihatnya kelima anak buah Tiam
Su Nio yang masih tak dapat berkutik.
Mereka banyak melakukan kejahatan, lebih baik
dilenyapkan. Dia segera menutuk jalan darah kematian
mereka.
Untuk mengejar wanita itu tentu sukar dan makan waktu
lama. Tiam Su Nio tak mengerti bahwa dia menginap disitu
juga dan peristiwa tadi ternyata tak mengejutkan lain
tetamu. Maka diapun segera kembali ke kamarnya lagi.
Tanpa menyalakan lampu dia terus menutup pintu dan
tidur.
Ketika bangun matahari sudah bersinar, ia tak
mendengar suara apa dari sebelah kamar mereka. Dengan
begitu peristiwa semalam tentu belum didengar orang lain.
Ketika turun dari pembaringan, hampir dia menjerit.
Ketua partai Hoa-goat-but ternyata muncul di atas meja.
Waktu dia merentang mata memandangnya ternyata yang
berada di meja itu adalah batang kepala Tiam Su Nio.
Cu Jiang cepat menghampiri dan memeriksa kepala
manusia itu. Siapakah yang membunuh ketua Hoa-goatbun.
Dan mengapa dikirim kedalam kamarnya? Adakah Ki
Siau Hong yang melakukan? Ah, tak mungkin. Gong-gongcu
telah memberi pesan, melarang keempat pengawal itu
untuk turun tangan. Lalu siapa?
Mengapa orang itu tahu tentang dirinya lalu membunuh
Tiam Su Nio dan mengirim kepalanya kedalam ruang
kamarnya.
Sepasang mata wanita itu masih terbelalak dan wajahnya
pucat tetapi masih tampak seperti orang hidup.
Tiba2 ia melihat secarik kertas di meja itu Buru2
diambinya. Tulisannya indah dan lemas, tentu tulisan
seorang wanita. Bunyinya:
"Tak sengaja bertemu disini. Tahu bahwa anda menghendaki
jiwa wanita beracun ini. Maka dengan ini kupersembahkan
kepalanya sebagai balas budi anda dahulu kepadaku.
Yin-yin.”
Yin-yin ? Siapakah Yin-yin itu ? Dia coba berusaha
untuk menggali ingatannya. Ya, ia agaknya kenal dengan
nama itu Tang Yin-yin, oh .... dia adalah anak murid dari
Bu-san-sin-li itu!
Ya, benar dia telah menolong wanita itu minggat dari
cengkeraman Bu-san sin-li.
Ah, sungguh kebetulan sekali peristiwa ini. Tetapi diam2
diapun berdebar. Kiranya dirinya telah diketahui orang.
Padahal dia sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak
mengadakan gerakan apa2 dan menyembunyikan diri.
Kemudian diapun berterima kasih atas bantuan Yin-yin.
Dengan terbunuhnya Tiam Su Nio, tentulah dapat dicegah
akibat lebih luas dari tindakan Tiam Sunio untuk
menyiarkan tentang diri Toan-kiam-Jan Jin.
Tiba2 terdengar langkah kaki orang mendatangi dan
pada lain saat terdengar pintunya diketuk: "Tuan hendak
pesan makanan apa?"
"Sejam lagi kirimkan hidangan dan arak. Dobel porsi
sekali." kata Cu Jiang.
"Baik."
"Dan juga carikan beberapa helai kertas minyak,
beberapa utas tali kecil. Masukkan dalam rekening."
"Baik, tuan."
Setelah pelayan itu pergi, Cu Jiang lalu menaruhkan
kepala orang itu diatas ranjang kemudian membersihkan
meja. Pada saat itu pelayanpun datang dengan membawa
kertas dan tali.
Setelah pelayan pergi, Cu Jiang lalu membungkus kepala
Tiam Su Nio itu dengan kertas minyak dan diikat dengan
tali lalu dibungkus lagi dengan buntalan kain. Dengan
begitu tentu takkan menimbulkan kecurigaan orang.
"Pembunuhan !" tiba2 dari gedung sebelah terdengar
orang berteriak dan tak lama ramailah orang mengerumuni.
Cu Jiang tenang2 saja berada dalam kamar. Dia tak mau
ikut menonton karena kuatir akan ketahuan dirinya.
Sampai siang masih ramai orang mendatangi rumah
penginapan itu. Diantaranya terdapat pembesar daerah
yang memeriksa.
Siang itu Song Pek Liang datang membawa berita bahwa
di belakang biara Kang sim-bio, didekat tepi sungai telah
didirikan sebuah panggung.
Tetapi tak diketahui siapa yang memerintahkan.
Pekerja2 yang membangun panggung itu hanya memberi
keterangan bahwa mereka menerima pesanan dari seorang
lelaki yang tak dikenal.
Dengan tak sabar Cu Jiang menunggu siang berganti
malam. Setelah malam baru dia menuju ke tempat itu. Dia
telah mempergunakan dandanan sebagai seorang saudagar.
Pedang kutung dibawanya sedangkan kepala Tiam-su-nio
disimpan dalam kamar dan dikuncinya.
Sepanjang jalan banyak sekali rombongan2 orang
persilatan yang berbondong-bondong menuju tempat itu.
Toan-kiam jan-jin menantang ketua Gedung Hitam
memang merupakan berita yang paling menggemparkan
dalam tahun ini.
Tampak ditempat itu dibangun sebuah panggung setinggi
satu tombak, luas dua tombak lebih.
Dimuka dan kanan kiri panggung itu dipagari dengan
pagar bambu diberi jalan seluas tiga tombak. Orang yang
melihat hanya dapat dari luar pagar bambu.
Cu Jiang menyusup diantara penonton. Tak lama Ki
Siau Hong, Song Pek Liang dan Ko Kun bermunculan.
Mereka memberi salam melalui kicupan mata.
Dikanan kiri panggung dipasang dua buah obor besar
sehingga suasana panggung terang benderang. Di bawah
panggung orang penuh sesak seperti melihat pasar malam.
Tetapi sampai lama sekali belum juga tampak acara
dimulai, bahkan seorangpun tak muncul diatas panggung.
Lama menunggu penonton tak sabar dan mereka bersungutsungut
berisik sekali.
Cu Jiangpun juga gelisah. Kalau kedua orang itu benar2
tak muncul dan hanya suatu siasat, tentulah Ki Siau Hong
dan kawan- kawannya makin mencurigai dirinya.
Sampai menjelang tengah malam masih tetap panggung
itu kosong melompong, Song Pek Liang menghampiri ke
sisi Cu Jiang dan berkata seorang diri:
"Ah, rasanya Toan-kiam jan-Jin malam ini tak berani
unjuk muka."
Apa maksud kata2 itu, Cu Jiang sudah dapat
menangkap. Sekonyong-konyong sesosok bayangan
manusia melayang ke udara dan melayang turun keatas
panggung dengan gerakan yang indah sekali.
Hiruk pikuk para penonton lenyap seketika. Kini mereka
mencurah pandang pada pendatang itu.
Cu Jiang terkejut juga. Tetapi ketika ia memandang ke
arah panggung ternyata yang muncul itu seorang lelaki
muda berumur 30-an tahun, mengenakan pakaian
berkabung dan membawa pedang.
Wajah memberingas dan membungkuk tubuh memberi
hormat kearah penonton, serunya.
"Aku yang rendah, Ong Cu Bo dari gunung Hong san,
sengaja naik ke panggung untuk menantang Toan kiam Jan-
Jin!"
Terdengar suara hiruk di bawah panggung. Bahwa ketua
Hong-san-pay dibunuh dan puterinya dinodai
kehormatannya telah diketahui seluruh dunia persilatan.
Maka munculnya Ong Cu Bo tidaklah mengherankan
mereka.
Perasaan Cu Jiang benar2 sakit sekali. Orang telah
memalsu dirinya dan telah membunuhi beberapa tokoh
persilatan yang terkenal. Dengan demikian kaum persilatan
tentu membenci kepada Toan-kiam jan jin.
Sedangkan Song Pek Liang hanya tertawa dingin
sehingga hati Cu Jiang makin tertusuk.
"Toan-kiam jan-jin, hayo keluarlah! Apa engkau takut
mati ! Binatang, mengapa engkau menyembunyikan diri
seperti kura-kura .. . ."
Geraham Cu Jiang bergemerutuk keras tetapi apa daya?
Dia memutuskan, jika tak mampu membekuk orang yang
memalsu dirinya itu, untuk selama-lamanya dia tak mau
memakai nama Toan-kiam jan-jin lagi. Tetapi bagaimana ia
harus menjelaskan kepada Ki Siau Hong bertiga?
Sekonyong-konyong sesosok bayangan mendesak
kesamping Cu Jiang bahkan membenturnya lalu berkata :
"Bagaimana ini ?"
Cu Jiang berpaling. Ternyata disampingnya seorang tua
bertubuh pendek dengan sepasang mata yang berkilat-kilat
tajam. Siapa lagi kalau bukan si orang aneh Lam kek-soh
sahabat kental dari guru Cu Jiang, Gong gong-cu.
Cu Jiang tertawa meringis dan gelengkan kepala:
"Tunggu sampai Toan-kiam-jan-Jin muncul di atas
panggung !"
Lam kek-soh mendengus tak berkata apa2. Kembali
sesosok tubuh melesat keatas panggung.
"Itu dia!" teriak sekalian orang.
"Hai. bukan dia !" sesaat kemudian seorang lain berseru
terkejut.
Ong Cu Bo yang sudah lintangkan pedang tiba2 pun
julaikan pedangnya ke bawah lagi.
Yang naik ke panggung itu seorang tua berambut merah,
gagah perkasa dengan memegang sebatang tongkat thengciang
(rotan). Dia memandang kearah sekalian penonton
lalu berseru dengan dingin:
"Toan-kiam jan-jin, hendak kucincang tubuhmu. Kini
engkau tak berani keluar, terang engkau memang kutu
busuk !"
"Cianpwe, siapakah dia ?" tanya Cu Jiang kepada Lam
ki-soh.
"Belum pernah melihatnya," Lam-ki-soh gelengkan
kepala.
Ong Cu Bo pun memandang orang tua gagah itu dengan
tercengang. Tetapi orang tua gagah itu tertawa mengekeh
dan berkata seorang diri:
"Toan - kiam jan jin mengandalkan ilmu pedangnya
untuk berbuat sekehendak hatinya. Sekarang hendak
kucincang tubuhnya, kubeset kulitnya. Ternyata malam ini
kedua belah pihak sama2 tak muncul. Rupanya ketua
Gedung Hitam itu juga bangsa kura2 tua!"
Sudah tentu ucapan itu menimbulkan gelak tawa
sekalian penonton. Sementara Cu Jiang masih belum habis
herannya, siapakah gerangan orang tua yang berani
menantang Toan-kiam-jan-jin itu? Bahkan berani juga
memaki ketua Gedung Hitam sebagai bangsa kura2.
Siapakah dia?
Tiba2 melayang pula sesosok bayangan ke belakang
kedua orang itu. Tiada seorangpun yang tahu kapan dan
bagaimana dia berada di panggung. Seolah-olah dia
memang sudah berada disitu.
"Toan kiam jan jin! " terdengar sorak gegap gempita dari
sekalian penonton.
Seketika gemetarlah Cu Jiang. Benar, memang yang
muncul di atas panggung itu adalah orang yang mirip
dirinya waktu masih menjadi Toan kiam jan jin.
Mengenakan baju sasterawan warna biru dan kerudung
kepala serta muka warna biru juga. pinggangnya tergantung
sebuah kerangka pedang, tangkai pedang berhias mutiara.
Song Pek Liang dan Lam ki soh berpaling ke arah Cu
Jiang dan memandangnya dengan heran.
Cu Jiang memandang lekat2 ke panggung. Rupanya Ong
Cu Bo dan lelaki tua gagah itu merasa lalu serempak
berputar tubuh. Begitu melihat Toan-kiam-jan-jin sudah
hadir di situ, mereka berteriak kaget dan bersiap-siap.
Dengan wajah mengerut dendam kemarahan Ong Cu Bo
segera menegur:
"Apakah anda ini Toan-kiam-jan-jin?"
"Benar, siapa engkau?"
"Putera dari ketua Heng san pay, Ong Cu Bo!"
"Mau apa engkau?"
"Menagih hutang darah kepada anda."
Cu jiang sudah mulai mengisar langkah tetapi Lam ki
soh cepat membentaknya:
"Peristiwa aneh sekali, jangan sembarangan bergerak!"
Cu Jiang terpaksa menurut.
Dengan langkah tertatih tatih pincang, Toan kiam jan jin
menghampiri dan berseru:
"Lawanku malam ini adalah ketua Gedung Hitam. Yang
lain lainnya tidak sepadan!"
"Cabut pedangmu!" teriak Ong Cu Bo.
"Engkau hendak menjadi orang pertama yang berlumur
darah?" seru Toan kiam jan jin.
"Cabut pedangmu!"
"Engkau tak berharga menghadapi aku!"
"Aku hendak mencincang tubuhmu!" Ong Cu Bo terus
menyerang.
Sekali bergerak, sudah dapat diketahui seorang jago itu
sungguh berisi atau kosong. ilmu pedang dari Jago muda
Heng-san-pay itu memang hebat sekali. Juga tenaga
dalamnya amat tinggi.
Apalagi dia menyerang dengan penuh dendam kesumat,
sudah tentu gerakannya maut sekali.
"Huakkkk..." terdengar Jeritan ngeri dan tubuh Ong Cu
Bopun terhuyung-huyung dua kali lalu rubuh. Sekalian
penonton terlongong menyaksikan permainan ilmu pedang
Toan-kiam jan- Jin.
Kecuali Cu Jiang seorang, tak ada lain orang lagi yang
dapat melihat bagaimana cara Toan-kiam-Jan jin bergerak
tadi.
Diam2 Cu Jiang menyesal. Kalau dia muncul ke atas
panggung tentulah dia dapat menyelamatkan jiwa putera
dari ketua Heng-san-pay itu.
Kemudian Toan-kiam Jan-jin menghadap lelaki gagah
berambut merah, serunya.
"Apa kata anda ?"
Wajah lelaki tua berambut merah itu pucat dan belum
beberapa lama tak kedengaran dia membuka suara. Tahu2
dia terus melayang turun ke bawah panggung.
Kini diatas panggung hanya tinggal Toan-kiam Jan-Jin
seorang. Suasana penuh diliputi ketegangan yang
menyeramkan.
Beratus-ratus jago2 silat yang berkumpul di bawah
panggung, tak seorangpun tahu bagaimana gerak pedang
Toan-kiam-jan-jin, apa nama jurus ilmu pedang itu, hanya
pernah mendengar namanya tetapi belum pernah melihat
kenyataannya. Kini apa yang mereka saksikan, benar2
membuat mereka kesima.
Tetapi dibalik rasa kagum, terpencarlah rasa ngeri dalam
hati setiap orang. Karena dengan munculnya seorang tokoh
semacam itu, Jelas dunia persilatan akau menjalani hari
kiamat.
Sementara saat itu Toan kiam jan-jinpun menyimpan
pedangnya dan dengan suara tandas berseru:
"Apakah ketua Gedung Hitam benar2 tak mau keluar
menyambut tantanganku ?"
Sejak berpuluh tahun tak pernah terdapat manusia yang
berani menantang ketua Gedung Hitam, apalagi menantang
secara terang-terangan di depan umum.
Setiap jago silat yang berada di tempat itu sangat ingin
sekali melihat ketua Gedung Hitam muncul. Mereka ingin
tahu bagaimana wujud ketua Gedung Hitam, tokoh yang
selama ini merupakan tokoh misterius dalam dunia
persilatan.
Sekalian orang menahan napas. Apakah ketua Gedung
Hitam berani keluar ? Jelas bahwa tokoh misterius itu tentu
sudah berada diantara orang2 yang hadir ditempat itu.
Siapakah sesungguhnya yang lebih Sakti, ketua Gedung
Hitam atau Toan-kiam-jan-Jin ?
Malam makin larut. Toan-kiam-jan-Jin masih berdiri
tegak diatas panggung, bagaikan seorang malaikat pencabut
nyawa. Sayang tak tampak bagaimana wajah yang
sebenarnya dibalik kain kerudung yang menutupi mukanya
itu.
Sekonyong-konyong dari samping panggung sesosok
bayangan melayang keatas panggung. Ternyata seorang tua
kurus berjubah hitam. Tangannya membawa sebuah
buntalan kain.
Begitu berada dipanggung terus melontarkan buntalan
itu kelantai panggung lalu berdiri dengan mendekap kedua
tangan.
“Ketua Gedung Hitamkah itu ?" Pikir Cu Jiang. Tetapi ia
melihat perawakannya tidak mirip.
Toan-kiam-jan-Jin berputar tubuh dan menghadap orang
tua itu menegur dingin:
"Siapakah anda ?"
Walaupun bertubuh kurus tetapi nada suara orang tua itu
amat besar dan nyaring.
"Aku pemimpin pengawal pribadi dari ketua Gedung
Hitam. Namaku Ki Gai Kah."
Toan-kiam-Jan-Jin tertawa dingin. "Ki Gai Kah,
bukankah engkau ini Thian lan pohcu ? Mengapa engkau
menjadi anjing penjaga ketua Gedung Hitam?" serunya.
"Peliharalah lidahmu yang baik," Ki Gai Kah
mendengus dingin.
"Orang she Ki, perlu apa engkau naik ke panggung.?"
"Mewakili pohcu !"
"Yang kutantang bertempur adalah pohcu sendiri."
"Pohcu kami akan muncul nanti."
"Kalau begitu perlu apa engkau keluar ?"
"Untuk mengadakan pemeriksaan."
"Apa ?"
"Memeriksa diri anda yang sebenarnya."
Ucapan itu telah menimbulkan berbagai bisik-bisik
dikalangan penonton, Cu Jiang tahu bahwa sebentar lagi
bakal terjadi pertunjukan yang menarik.
Mata Toan-kiam-Jan-jin berkilat-kilat memancarkan
hawa pembunuhan dan dengan suara gemetar berseru:
"Ki Gai Kah, apa maksud omonganmu?"
"Pohcu kami sangsi, apakah anda ini benar Toan-kiamjan
jin yang aseli."
"Ha, ha, ha, apakah perlu harus memalsu diri ?"
"Berhati-hati terhadap orang, memang yang paling baik.
Dalam pertemuan besar ini, banyak sekali hal2 yang harus
dicurigai."
"Bagaimana kalau engkau menyambuti barang sejurus
saja dari pukulan untuk membuktikan palsu atau tidaknya
diriku?"
"Tunggu, kita harus bicara yang jelas . . ."
"Katakan !"
"Menurut penilaian pohcu kami terhadap perangai Toankiam-
Jan-jin, ada beberapa hal yang perlu ditanyakan."
"Tanyakanlah !"
"Pertama. Toan-kiam-Jan-jin itu seorang manusia yang
suka menyendiri dan angkuh. Tak mungkin mau
menantang bertempur diatas panggung terbuka seperti ini.
Kedua, sinar mata anda kurang pancaran dendam dan
keganasan. Ketiga, perawakan anda juga kurang tinggi
sedikit, begitu pula suara anda. Keempat, cara anda
mencabut pada pedang tidak sama seperti dulu. Dan
kelima, dalam peristiwa pembunuhan yang terjadi pada
akhir2 ini, jelas Toan-kiam-jan-Jin tak bersangkut ..,."
"Masih ada lagi?!
"Rasanya sudah cukup."
Cu Jiang diam2 terkejut. Ia tak mengira ketua Gedung
Hitam ternyata memiliki pengetahuan yang cermat
terhadap dirinya. Juga sekalian penonton terdengar hiruk
pikuk.
Seluruh mata penonton tertumpu pada diri orang yang
diduga sebagai Toan-kiam jan Jin palsu itu.
Toan-kiam jan jin yang berada diatas panggung
terdengar mendengus geram.
“Si Gui Kah, aku tak sudi melayani ocehanmu. Yang
akan kubunuh yaitu ketua Gedung Hitam. Kalau engkau
mau menjual jiwa antiknya, lekas copot nyawamu dan
letakkan dipanggung ini!" serunya.
"Nanti dulu." Si Gui Kah memberi isyarat tangan,
"masih ada yang hendak kukatakan."
Tetapi Toan-kiam jan jin sudah mencabut pedang
kutungnya dan membentak:
"Jangan banyak mulut, lekas engkau bunuh dirimu . . ."
"Apakah anda tak ingin melihat dua barang yang berada
dalam bungkusan ini." kata Si Gui Kah seraya menunjuk
pada buntalan yang berada di tengah panggung.
Toan-kiam-jan-jin tampak tertegun. "Apa sih barang itu?"
serunya.
"Anda mau melihat?"
"Jangan coba main-main . ."
"Bukti apa?"
"Bukti dari dirimu."
Sekalian orang yang berada disekeliling gelanggang yang
semua dicengkam rasa tegang saat itu berobah heran.
Rupanya Toan-kiam jan-jin juga terkejut. Ia memandang
kearah buntelan kain itu. serunya:
"Si Gui Kah, engkau hendak coba2 membuka rahasia
diriku?"
"Tak perlu aku yang mengatakan, buntalan itu sudah
berbicara sendiri."
"Apakah sebenarnya buntalan itu?"
"Kepala manusia !"
"Apa? Kepala orang?"
"Benar, memang sebutir kepala orang ?"
"Batang kepala siapa ?"
"Batang kepala dari hu-hwat perkumpulan Thong thiankau
cabang kota Siang-yang, yaitu yang bergelar Ang mokim-
kong!"
Toan kiam-Jan jin terkejut. Tiba2 dia menyahut.
"Hal itu tiada sangkut pautnya dengan diriku ?
Dengarkan, kalau malam ini ketua Gedung Hitam tak
berani keluar, dalam beberapa hari dia harus membubarkan
Gedung Hitam dan seluruh anak buahnya. Sejak itu nama
Gedung Hitam hapus dari dunia persilatan! "
Si Gui Kah tertawa gelak2.
"Dengan begitu dalam dunia persilatan hanya ada
Thong-thian-kau, bukan?"
Mendengar itu tiba2 Cu Jiang seperti tersadar.
"Hai, kutahu kiranya urusannya begitu." Song Pek Liang
yang berada di sampingnya, berkata seorang diri.
Cu Jiang berpaling dan mengangguk.
Sebelum Toan-kiam jan jin sampai menyatakan sesuatu,
sekonyong-konyong Si Gui Kah sudah loncat turun dari
panggung dan lenyap dibalik kerumunan orang.
Toan-kiam jan-jin gemetar karena marah.
"Ketua Gedung Hitam, aku hendak membunuhmu. Di
hadapan jago2 dari segenap pelosok dunia persilatan,
beranikah engkau naik ke panggung?"
Saat itu hati Cu Jiang sudah tenang. Dia sudah dapat
menduga apa yang telah terjadi.
Tiba2 diantara kerumun penonton, terdengar seseorang
berseru nyaring.
"Toan kiam jan jin, bukalah buntalan itu!"
Entah karena ingin tahu, entah karena marah
dipermainkan orang, Toan kiam jan jin memang terus
mengambil buntalan itu dan membukanya.
"Astaga...!"
Terdengar pekik teriak terkejut dari sekalian penonton.
Ternyata isi buntalan itu memang sebutir kepala orang.
Kepala dari lelaki tua berambut merah yang barusan naik ke
panggung lalu terbirit-birit melarikan diri itu!
Karena memakai kain cadar yang menutup mukanya
maka tak dapat diketahui bagaimana perubahan wajah
Toan kiam jan jin saat itu. Tetapi dari sorot matanya yang
memancarkan cahaya berkilat, jelas dia tentu juga kaget.
Tetapi hanya sebentar dan sorot mata kaget itu segera
berganti dengan pancaran sinar pembunuhan yang buas
Karena gemas, dia lalu membanting kepala orang itu ke
lantai panggung, bum ....
Terdengar ledakan keras dan disusul asap yang
bergulung-gulung dan suara orang menjerit ngeri. Seluruh
penonton terkejut dan panik. Mereka tak menduga bahwa
kepala manusia itu ternyata berisi bahan peledak.
Sebelum orang2 tenang kembali dan asap reda, beberapa
sosok bayangan telah berhamburan loncat ke atas
panggung. Terdengar beberapa ledakan keras lagi.
Asap hitam membumbung tinggi, keping2 kayu meledak
bertebaran dan sekalian penontonpun kacau balau. Mereka
berdesak-desak menyingkir ke empat penjuru. Pekik dan
erang memenuhi tempat itu.
"Mari kita pergi," Lam-kek soh menggapai kearah Cu
Jiang, "tak ada apa apanya lagi disini."
Cu Jiang meragu, ia menyatakan hendak mencari ketua
Gedung Hitam.
"Kalau dia berada disini, lawan tentu sudah
mencarinya," kata Lam-kek soh.
Untuk menghindarkan kecurigaan orang, Cu Jiang
pulang seorang diri. Saat itu sudah tengah malam. Begitu
masuk ke kamar, Ki Siau Hongpun sudah mengikuti juga.
Dengan penuh rasa sesal pengawal dari Tayli itu segera
menghaturkan maaf.
"Atas nama kawan bertiga, aku menghaturkan maaf atas
segala kesalahan terhadap ciangkun." katanya.
"Ah, itu hanya salah faham tak dapat menyalahkan
kamu bertiga, duduklah."
Tanpa memasang lampu, keduanya duduk bercakapcakap.
"Apakah ciangkun sudah dapat menduga peristiwa itu?"
"Ya, siasat dari Thong thian kau."
"Benar. Tahukah ciangkun siapa yang menyaru jadi
Toan kiam jan jin itu?"
"Siapa?" Cu Jiang balas bertanya.
"Kiu-kio Thian-mo, jago nomor lima dari kawanan Sip
pat thian mo. Dia cerdik dan cermat sekali. Jika orang
mempunyai tujuh lubang dia memiliki sembilan lubang.
Itulah sebabnya dia bergelar kiu-kio atau sembilan lubang
..."
"Oh !"
"Dia adalah kepala dari Thong-thian-kau cabang Siang
yang."
"Bagaimana saudara Ki begitu jelas?"
"Sedang lelaki tua berambut merah adalah hu-hwat dari
cabang Thian long kau itu. Setelah turun dari panggung dia
terus dibekuk orang Gedung Hitam, dipaksa supaya
mengaku dan diapun segera menerangkan semua yang telah
terjadi .."
"Bagaimanakah sebenarnya peristiwa itu?"
0dw0
Ki Siau Hong mengisar kursinya ke dekat jendela untuk
menjaga apabila ada orang yang mencuri dengar.
"Tujuan Thian thong kau untuk menggunakan siasat itu
tidak lain untuk memancing ketua Gedung Hitam dan
ciangkun supaya tampil keluar. Karena ciangkun dianggap
sebagai musuh mereka yang utama sedang Gedung Hitam
merupakan saingan mereka dalam rencana mereka untuk
menguasai dunia persilatan."
"Apakah rencana mereka semula menghendaki supaya
aku dan ketua Gedung Hitam keluar ke atas panggung?"
"Benar. Mereka sudah mempersiapkan obat peledak di
bawah panggung. Asal ciangkun naik ke panggung, mereka
segera akan meledakkan panggung "
"Ah."
"Karena tak tampak seseorang naik panggung maka
mereka lalu memutuskan untuk menampilkan diri sebagai
Toan-kiam jan-jin. Agar ketua Gedung Hitam mau keluar.
Tetapi ternyata ketua Gedung Hitam memang cerdik dan
licin.
Sebelumnya dia sudah menyebar anak buahnya di
sekeliling tempat itu untuk mengikuti perkembangan
keadaan. Begitu lelaki berambut merah itu loncat turun dari
panggung, mereka terus menangkapnya.
Kepala lelaki berambut merah itu dipotong, dibuntal
dengan kain, disebelah dalam dari kepala itu diisi dengan
bahan peledak lalu diletakkan di panggung.
"Siasat itu sungguh ganas sekali!" seru Cu Jiang.
"Dan rencana kedua. anak buah Gedung Hitam itu telah
mendahului untuk menguasai barisan pendam anak buah
Thian thong-kau, lalu menyulut api."
"Jika begitu toh telah Kiu-kio Thian-mo sudah mati?"
"Tentu. Dia tentu sudah hancur berkeping-keping
bersama beberapa anak buahnya."
Menggigil hati Cu Jiang mendengar penuturan itu.
Diam2 ia merasa ngeri membayangkan jika tadi dia tak
dapat menguasai diri dan terus loncat keatas panggung,
tentulah saat itu dia sudah menjadi mayat yang hangus.
Dari pengalaman itu ia dapat menarik kesimpulan bahwa
hubungan antara Thong-thian-kau dengan Gedung Hitam
sudah gawat sekali.
"Apakah saat itu ketua Gedung Hitam berada disitu?
tanyanya.
"Jika ada, tentu dia menyamar sehingga sukar dikenali."
"Lalu bagaimana akibat dari peristiwa itu?"
"Hubungan kedua pihak bagaikan air dan api"
"Apakah kalian bertiga tetap hendak pulang ke Tayli?"
"Tidak ! Karena salah faham sudah beres, hamba bertiga
tetap akan melakukan titah Kok-su untuk membantu
ciangkun. Sungguh beruntung kami mendapat bantuan dari
Lam kek-soh..."
"Apa yang terjadi dengan dia ?"
"Adalah karena memandang muka Kok-su maka dia
mau membantu kita."
"Lalu bagaimana dengan Ong Kian?"
"Mayatnya telah kami bakar, abunya kelak akan kami
bawa pulang dan dikubur dengan upacara yang layak."
Cu Jiang mengangguk.
"Lalu bagaimana langkah engkau selanjutnya ?" tanya Ki
Siau Hong.
"Saat ini aku hendak menuju ke gunung Tay-pa-san
untuk menemui seorang sakti yang aneh."
"Siapa ?"
"Ih Se lojin."
"Untuk apa ?"
"Meminta petunjuk kepadanya tentang ilmu yang dapat
untuk menghancurkan Gedung Hitam."
"Oh..."
"Sebelum kemudian aku akan kembali kekota Huyang
dan akan bertemu dengan Ang Nio Cu dirumah penginapan
Naga Hijau."
"Apakah ciangkun masih ada pesan lagi ?"
"Tidak."
"Jika begitu hamba hendak mohon diri."
"Silakan,"
Ki Siau Hung berbangkit, dengan hati2 ia membuka
jendela lalu loncat keluar dan lenyap dalam kegelapan.
Cu Jiang teringat akan batang kepala dari Ciam Su Nio
yang masih disembunyikan dibawah ranjang. Pikirnya. Jika
wanita itu muncul di situ, tentulah Bu lim-seng hud Sebun
Ong juga akan datang.
Mengapa dia tak mau menggunakan batang kepala itu
untuk memikat agar Sebun Ong mau unjuk diri ?
"Hem." serunya dalam hati, "aku harus membalaskan
sakit hati toa-suheng."
Dia tak jadi tidur. Setelah mengemasi barangnya dan
meninggalkan sekeping perak diatas meja, dia lalu
menjinjing bungkusan kepala orang itu dan terus loncat
keluar.
Saat itu kota sunyi senyap. Kecuali kentongan ronda,
seluruh penjuru tak terdengar suara apa2 lagi.
Ia memilih sebuah tiang lentera penerangan jalan lalu
memancang kepala orang itu diatas tiang. Setelah itu dia
bersembunyi ditempat gelap.
Malam cepat sekali berlalu. Menjelang terang tanah, di
jalan mulai muncul orang2 yang gempar melihat kepala
orang diatas tiang lampu jalan.
Cu Jiang juga keluar dan berjalan mondar-mandir. Kini
makin lama makin banyak orang berkerumun untuk
menyaksikan peristiwa itu. Mula2 mereka hiruk pikuk
menduga-duga siapa kepala dari wanita secantik itu.
Bagi kaum persilatan, peristiwa itu tidak mengherankan
tetapi bagi kaum awam, sudah tentu mereka menganggap
hal itu sebagai sesuatu yang menggemparkan.
Sekonyong-konyong sesosok tubuh melayang ke udara,
melampaui tiang lampu dan pada lain kejap orang itupun
sudah lenyap. Cepat sekali gerakannya sehingga orang2 tak
sempat untuk berteriak.
Saat itu Cu Jiang berada pada jarak lima enam tombak
dari tiang lentera tetapi dia juga tak mampu melihat siapa
bayangan orang itu. Cepat ia melesat, loncat ke atas
wuwungan rumah dan mengejar.
Lari orang itu memang cepat sekali. Dalam beberapa
kejap dia sudah melampaui tembok kota, Cu Jiangpun
segera tancap gas, mengejar keluar kota.
Diluar kota, orang makin banyak. Ada yang mau masuk
kota dan ada yang keluar dari kota. Cu Jiang gemas sekali.
Dia mengingat ingat perawakan, pakaian dan gerak-gerik
orang itu. Kemudian dia berhenti di tepi jalan sambil
memperhatikan setiap pejalan yang lewat.
Sampai setengah jam menunggu, ia merasa kecewa. Dia
tak melihat seorang yang menimbulkan kecurigaan.
Akhirnya ia memutuskan, lebih baik tak melanjutkan
pengejaran yang sia-sia itu.
Teringat akan waktu perjanjiannya dengan Ang Nio Cu,
ia harus lekas2 menuju ke Tay pay san. Soal jalanan, ia sih
kenal. Tetapi ia tak tahu berapa lama ia dapat kembali dari
gunung itu.
Ia bergegas mencari tempat yang sepi untuk berganti
pakaian, menyamar sebagai seorang pemuda desa. Dengan
begitu, dia tentu tak banyak menimbulkan perhatian orang.
Setelah melintasi sungai Han cui, dia lalu mengarahkan
perjalanan ke timur laut. Dalam beberapa waktu dia sudah
mencapai seratusan li. Menjelang tengah hari, tiba disebuah
kota kecil.
Setelah berhenti makan dan membeli bekal rangsum
kering, ia melanjutkan perjalanan lagi. Petang hari dia
bermalam ditempat seorang penduduk desa. Keesokan
harinya dia berangkat dan sorenya dia sudah berada
didaerah gunung Tay-hong-san.
Dia hanya menentukan arah tetapi tak mau mengambil
jalan di gunung. Dengan begitu memang dia banyak
menghemat waktu. Tetapi untuk memotong jalan naik bukit
turun lembah, jika tidak memiliki kepandaian silat yang
tinggi, tentu sukar.
Pada saat bintang2 muncul di angkasa, dia mendaki
sebuah puncak, mencari tempat yang bersih dan duduk
menikmati bekal makanannya.
Puncak gunung yang jauh disebelah muka, menggunduk
hitam seperti raksasa. Kukuk burung hantu dan lolong
serigala, menimbulkan suasana seram.
Tetapi Cu Jiang seorang pemuda yang bernyali besar.
Dia tak gentar. Beberapa saat kemudian terdengar letupan2
keras macam petir. Datangnya dari puncak jauh disebelah
muka.
Dia terkejut dan heran. Malam itu bintang
bergemerlapan di angkasa, langit tak mendung tetapi
mengapa terdengar suara petir?
Tiba2 suara letupan petir itu terdengar lagi. Dia makin
heran. dimalam yang terang terdengar petir, sungguh aneh.
Lebih aneh lagi ketika ia memperhatikan bahwa walaupun
ia dengar suaranya tetapi dia tak melihat pancaran sinar
petir.
Pada waktu terdengar bunyi petir yang ketiga kalinya,
Cu Jiang tak dapat menahan keinginan tahunya lagi.
Serentak ia lari menuju ketempat itu.
Puncak itu hampir boleh dikata gundul. Hanya
ditumbuhi beberapa batang pohon siong saja. Rumput dan
semak2 tak ada sama sekali.
Cu Jiang berdiri diatas sebuah batu yang tinggi. Ia
memandang kesegenap penjuru tetapi tak melihat barang
sesuatu yang menimbulkan keheranan.
"Bu m m m . . . !"
Ledakan keras terdengar, dekat sekali dari tempat Cu
Jiang berdiri sehingga pemuda itu melonjak kaget.
Menyusur pandang kearah asal suara itu, kejutnya bukan
kepalang.
Dibawah dua pohon siong yang saling berhadapan,
tampak duduk seorang lelaki dan seorang wanita. Mereka
terpisah pada jarak dua tombak. Keduanya saling
menjulurkan telapak tangan kemuka.
Jelas mereka sedang melakukan pertempuran mengadu
tenaga dalam. Tetapi dengan ilmu apakah yang mereka
pancarkan itu sehingga dapat menimbulkan daya tenaga
yang sedemikian dahsyatnya?
Siapakah mereka? Mengapa mereka mengadu Ilmu
kepandaian pada saat tengah malam buta dan ditempat
pegunungan yang sunyi senyap?
Ketika memandang dengan seksama, Cu Jiang dapatkan
bahwa kedua insan itu sudah sama2 berambut putih. Yang
lelaki bertubuh kurus, sepasang matanya cekung kedalam,
dahi penuh keriput.
Pada saat Cu Jiang masih melekatkan pandang, tiba2
lelaki tua itu menarik kedua tangannya dan berseru:
"Nenek tua, ada orang yang melanggar larangan!"
Nenek tua itupun menarik pulang tangannya lalu berseru
dengan nada dingin: "Seorang lelaki desa."
Cu Jiang terkejut. Kiranya mereka sudah mengetahui
kedatangannya. Tetapi apa maksud mereka mengatakan
kalau dia melanggar larangan itu?
Kakek tua mendengus.
"Nenek tua, jangan membuang waktu, bereskan lalu kita
menyelesaikan urusan yang penting!" serunya.
Nenek itu mengangkat muka memandang Cu Jiang
dengan mata berapi-api, serunya.
"Budak kecil, kemari engkau!" Cu Jiang loncat turun dan
pelahan-lahan menghampiri. Kira2 terpisah satu tombak
dari tempat mereka, dia berhenti.
"Budak kecil, penggallah kepalamu sendiri agar tidak
merepotkan aku!" tiba2 nenek tua itu berseru.
Bukan kepalang kejut Cu Jiang.
"Suruh aku bunuh diri sendiri?" serunya. "Mengapa ?"
"Engkau berani melanggar larangan!"
"Melanggar larangan? Larangan apa ?"
"Apa engkau tak membuka lebar2 matamu !" Cu Jiang
terkesiap lalu mengeliarkan pandang kesekeliling. Saat itu
baru dia melihat pada gundukan batu yang terpisah
beberapa tombak jauhnya, tertancap sebatang panji
berbentuk segi tiga dan berlukiskan sebuah tengkorak putih.
Seram tampaknya.
Tiba2 Cu Jiang teringat akan cerita dalam dunia
persilatan tentang sepasang iblis besar. Seketika
menggigillah hatinya.
"Apakah kalian ini Pek Kut song-sian?"
Kakek tua itu tertawa keras.
"Ho, budak, kiranya engkau juga tahu kebesaran nama
dari kami berdua suami isteri !"
Cerita dunia persilatan mengenai sepasang suami isteri
iblis itu, memang menyeramkan. Mereka gemar membunuh
dan setiap membunuh tentu takkan membiarkan mayatnya
utuh. Tanda pengenal mereka adalah sebatang panji
Tengkorak.
Setiap orang berjumpa dengan panji itu, jangan harap
dapat hidup. Tetapi ada keistimewaan Juga. Orang yang
melihat panji itu terus melarikan diri, sepasang suami isteri
iblis itu tak mau mengejar.
Sudah berpuluh tahun sepasang iblis itu tak muncul
dalam dunia persilatan. Kabarnya, mereka sudah dibasmi
oleh pendekar dan golongan putih. Tetapi ternyata mereka
masih segar bugar dan berada di gunung yang sepi itu.
"Budak kecil, aku tak punya waktu melayani engkau,
lekas bereskan dirimu!" teriak nenek Tengkorak.
Cu Jiang menyahut sinis:
"Tetapi aku masih senang hidup, bagaimana?"
"Budak, suruh engkau bunuh diri, sudah suatu
kemurahan besar bagimu. Kalau sampai aku turun tangan,
mayatmu tentu berantakan!"
"Tetapi aku tak minta kemurahan begitu !" Jawab Cu
Jiang dengan masih bersikap dingin.
"Hih, malam ini baru yang pertama dalam sepanjang
hidupku, ada orang berani bicara begitu kepada kami
berdua suami isteri .. . ."
"Akupun juga baru pertama kali ini disuruh orang
supaya bunuh diri." sahut Cu Jiang.
"Engkau benar2 tak tahu diri. Kakek tua, bagaimana
akan mengurusnya ?"
Kakek Tengkorak bertepuk tangan, serunya: "Ada !
Mengapa tak menjadikan dia benda percobaan diri ilmu
pukulan Ngo-lui ciang !"
"O, bagus sekali," sambut nenek Tengkorak dengan
gembira.
Diam2 Cu Jiang menimang. Kiranya saat itu kedua
suami isteri iblis sedang melatih Ngo-lui ciang atau pukulan
halilintar. itulah sebabnya tadi ia mendengar beberapa
letusan seperti petir.
Ilmu pukulan sakti itu sudah lama hilang dari dunia
persilatan. Entah dari mana sepasang suami isteri iblis itu
dapat menemukan pelajaran ilmu sakti itu.
Diam2 Cu Jiangpun teringat bahwa ada sebuah pukulan
dalam kitab Giok-kah-kim-keng yang belum sempat ia
gunakan. Ilmu pukulan itu dinamakan Mo-kiat-ciang atau
pukulan Angin pusing.
Entah bagaimana kalau ilmu pukulan itu diadu dengan
pukulan Ngo-lui-ciang.
"Kebetulan sekali," pikir Cu Jiang. "mereka hendak
mencoba ilmu pukulan yang sedang dilatih, akupun juga
demikian."
Maka dengan tenang2 dia berseru: "Apakah kalian
hendak mengadu pukulan dengan aku ?"
Nenek Tengkorak tertawa mengikik. "Benar, pukulan
Ngo-lui ciang itu dapat membuat alat pekakas dalam dada
orang pecah berantakan tetapi tubuhnya tak kurang suatu
apa. Sejak dilatih belum pernah dicobakan pada orang.
Budak, sungguh kebetulan sekali engkau datang kemari."
Cu Jiang balas tertawa dingin.
"Oh, itu sungguh kebetulan sekali. Akupun juga berlatih
sebuah ilmu pukulan. Lawan yang menerima pukulan itu,
apabila dia makin tinggi kepandaiannya, perbawa
pukulanku itu akan makin hebat. Sungguh beruntung sekali
malam ini aku dapat berjumpa dengan kalian berdua untuk
mencoba ilmu baruku itu !"
Sepasang suami isteri iblis itu terkesiap. Mereka tak tahu
apakah kata2 pemuda desa itu sesungguhnya ataukah
hanya berolok-olok saja.
Tetapi menilik sikap Cu Jiang yang begitu tenang mereka
menduga tentulah pemuda itu memang berisi.
Kakek Tengkorak tertawa mengekeh.
"Nenek, apakah didunia terdapat kebetulan yang begitu
aneh ?"
"Kakek, nasib kita berdua sungguh sial," tiba2 nenek
Tengkorak berseru.
"Apa maksudmu itu ?"
"Coba engkau ingat2, apakah selama ini terdapat orang
yang berani bicara begitu terhadap kita ?"
"Rasanya tak ada."
"Tetapi agaknya sekarang ada."
"Nenek, apakah budak itu gila?"
"Tampaknya tidak."
"Kalau begitu tergolong anak kambing yang baru lahir."
"Bukan, dia tak layak sebagai anak kambing, lebih tepat
sebagai anak anjing."
"Ha, ha, setelah mencoba harus membelah dadanya
untuk diperiksa, sayang .... aku tak dapat melihat . . ."
"Nenek tua isteriku, akan kuceritakan nanti kepadamu."
"Bagus, mari kita mencobanya."
Kedua suami isteri tua itu serempak berdiri. Ternyata
tubuh mereka lebih tinggi dari ukuran orang biasa. Belum
turun tangan, orang tentu sudah ketakutan setengah mati
melihat perwujudan mereka yang menyeramkan.
Cu Jiang segera menghimpun segenap tenaga-dalam ke
lengannya. Diam2 Ia merasa gelisah karena belum merasa
yakin, mampukah pukulannya nanti menyambut pukulan
dari kedua suami isteri iblis itu.
Pek Kong Song sian, merupakan dua momok yang
menggetarkan nyali setiap orang persilatan pada masa
berpuluh tahun yang lampau.
"Nenek, siap?"
"Ya."
"Eh, budak itu sama sekali tak takut."
"Aku tak dapat melihat."
"Hm, memang aneh."
"Mulailah!" seru nenek Tengkorak.
"Ya, mari," sahut kakek Tengkorak. Dan kedua suami
isteri iblis itu lalu menghantam dari dua arah pada Cu
Jiang.
Saat itu Cu Jiangpun serentak menyongsong dengan
ilmu pukulan Mo kiat-ciang yang belum pernah digunakan.
Bum . . . bum. . .
Terdengar ledakan sedahsyat gunung rubuh. Batu karang
pecah bertebaran, dahan2 pohon siong berhamburan.
Sampai mirip gempa yang terjadi di sekeliling tempat itu
batu reda.
Sepasang suami isteri iblis itu mundur sampai dua meter
dari tempatnya semula.
Tubuh Cu Jiang berguncang-guncang mau rubuh. Darah
bergolak keras, matanya berkunang-kunang. Diam2 ia
bersyukur dalam hati karena dapat menyambut pukulan
Ngo-lui-ciang yang dilepas kedua suami isteri iblis itu.
Menurut penilaian sebenarnya kedua suami isteri Pek
Kut song-sian kalah setingkat.
Kejut nenek Tengkorak itu bukan kepalang sehingga
matanya mendelik dan mulut melongo.
"Nenek, bagaimanakah ini ?" seru kakek Tengkorak.
"Kita kalah."
"Apa? Kalah?"
"Benar."
"Bagaimana mungkin terjadi?"
"Kakek, apakah engkau tak merasakan?"
Kelopak mata kakek Tengkorak yang cekung kedalam
nampak berkerenyutan beberapa kali. Lama baru dia
membuka mulut:
"Ah, tak kira kalau Pak Kut Song-sian hari ini jatuh
ditangan seorang anak muda!"
Tiba2 nenek Tengkorak itu deliki mata dengan buas.
Sambil melangkah maju dia membentak.
"Budak, beritahukan namamu!"
"Seorang kerucuk, tak pantas menyebut namanya!" sahut
Cu Jiang.
"Kecongkakanmu memang boleh sekali."
"Ah. jangan memuji."
Nenek itu berpaling kearah suaminya.
"Kakek, jangan melanggar peraturan kita," serunya.
"Nenek, jangan melanjutkan latihan Ngo-lui-ciang lagi, "
seru kakek tengkorak.
"Kenapa?"
"Karena terhadap seorang budak kecil saja kita tak
mampu merubuhkan . . ."
"Kakek, jangan putus asa. Peristiwa ini hanya secara
kebetulan saja."
"Lalu bagaimana maksudmu?"
"Lenyapkan dia!"
"Oh, terserah kepadamu."
Nenek Tengkorak kebaskan kedua lengan bajunya dan
segulung kabut putih segera berhamburan keluar.
Cu Jiang gunakan tata-langkah Gong gong-poh-hwat,
berkisar tubuh berganti tempat. Tetapi ruang lingkup kabut
itu luas sekali dan cepat sekali bertebaran. Mau tak mau
hidung Cu Jiang terhisap bau mayat yang busuk. Diam2 ia
terkejut sekali.
"Nenek tua, bagaimana?" seru kakek Tengkorak.
"Kakek! Dia ... dia ..."
"Bagaimana?"
"Dia tak takut racun!"
"Tidak mungkin! Dia juga manusia."
"Tetapi buktinya dia tak kena apa2."
Kakek tengkorak menggigil dan berseru dengan nada
gemetar:
" Apakah dia sudah menguasai ilmu kebal Kimkong puthoay?"
Wajah yang bengis dari nenek itupun lenyap Seketika
berganti dengan kejut ketakutan. "Mungkin saja," serunya
gemetar.
"Kuharap kalian berdua jangan suka membunuh orang
lagi. Jika tetap melakukan perbuatan begitu, hukum karma
tak mungkin kalian hindari lagi." seru Cu Jiang dengan
tandas.
"Budak, apakah engkau datang dari luar daerah?" kakek
Tengkorak terpaksa bertanya.
"Bagaimana dapat diketahui?"
"Dalam dunia persilatan di Tionggoan tak terdapat ko
Jiu seperti engkau."
"Salah !" sahut Cu Jiang "tokoh yang lebih sakti dari
diriku banyak sekali di Tionggoan, hanya anda belum
pernah bertemu saja."
"Ngaco! Menurut omonganmu, dengan begitu Pak Kong
song sian itu tak berharga lagi dalam dunia persilatan!"
"Bukan begitu artinya."
Kakek Tengkorak tak dapat menjawab. Tiba2 nenek
Tengkorak menampar dahinya sendiri dan berseru tegang:
"Kakek, dahulu kita pernah belajar ilmu apa itu,
sekarang aku mendapat akal . .."
"Akal bulus apa uh ?"
"Bagaimana kalau kita serahkan urusan kita itu kepada
engkoh kecil ini?"
-oo0dw0oo-
Jilid 19
Tergerak hati Cu Jiang ketika mendengar sebutan kepada
dirinya yang semula "budak kecil" menjadi "engkoh kecil".
Diam2 ia menduga-duga, hendak berbuat apakah kedua
suami isteri iblis ini kepadanya ?
"Bagus! itu tepat sekali!" seru kakek Tengkorak seraya
bertepuk tangan.
Kemudian nenek Tengkorak berkata kepada Cu Jiang:
"Sahabat, ada sebuah urusan yang hendak minta
bantuanmu .. ."
"Suruh membunuh orang?" tegur Co Jiang.
"Hampir seperti itu "
"Pek Kut tong-sian hendak membunuh orang lain
menggunakan algojo, sungguh ganjil sekali berita ini !"
"Sahabat, engkau menerima?"
"Coba terangkan dulu bagaimana urusannya.”
"Kami berdua suami isteri mempunyai musuh. Tetapi
dia selalu menyembunyikan diri tak akan muncul. Kami
berlatih pukulan Lima-petir ini, tujuannya yalah hendak
menghancurkan gua si kura2 tua. Dari pukulan mu yang
engkau tunjukkan tadi apabila engkau mau membantu,
urusan ini tentu berhasil."
"Siapakah musuhmu ?"
"Seorang makhluk tua yang aneh. Dia telah menawan
putera tunggal kami."
"O, kalian hendak menolong putera?"
"Benar."
"Ah, tak kira dalam dunia ini terdapat manusia yang
berani menculik putera dari Pek Kut song sian, Bagaimana
peristiwa itu dapat terjadi ?"
"Sahabat, lebih baik engkau tak perlu mengusut asal usul
peristiwa itu."
Diam2 Cu Jiang geli. Tentulah mengenai hal2 yang tak
boleh diketahui orang, mungkin yang membuat malu
kepada kedua suami isteri itu, maka keduanya tak mau
menerangkan.
"Lalu dengan alasan apa aku akan membantu anda
berdua?" tanyanya.
"Ada imbalannya." seru kakek Tengkorak.
"Ada imbalannya ? Imbalan apa ?"
"Tentu !"
"Apa imbalannya?"
Sejenak memandang kepada isterinya, kakek Tengkorak
merenung beberapa saat.
"Sebuah kitab pusaka!" katanya kemudian.
"Kitab pusaka mengenai ilmu apa saja?" Cu Jiang mulai
tertarik.
"Cara memecahkan ilmu barisan aneh."
"Pemecahan ilmu barisan ?" Cu Jiang terkejut.
"Hm, kitab itu berisi rahasia dan segala macam ilmu
barisan dari jaman dahulu sampai sekarang. Disebut Kibun-
cong-thai."
Terkejut hati Cu Jiang, Ia ke gunung Tay-pa-san mencari
tokoh aneh Ie Se lojin, tujuannya juga minta petunjuk
tentang ilmu barisan. Tetapi kemungkinan akan mendapat
hasil tipis sekali.
Sekarang dia secara tak sengaja telah bertemu dengan
sepasang suami isteri iblis yang memiliki simpanan kitab
pusaka tentang ilmu barisan. Jika berhasil mendapatkan
kitab pusaka itu, tak perlu lagi kiranya dia harus ke Tay-pasan.
Tetapi siapakah musuh mereka ? Jika sepasang tokoh
seperti Pek Kut song-sian tak mampu mengalahkan dan rela
menyerahkan kitab pusaka yang tak ternilai harganya
sebagai imbalan untuk bantuan itu, tentulah musuh mereka
tokoh yang luar biasa.
"Siapakah musuh anda?" akhirnya ia meminta
keterangan.
"Sahabat, soal itu jangan engkau tanyakan."
"Lalu bagaimana caraku memberi bantuan ?"
"Cukup meminjam tenaga pukulanmu untuk
menghancurkan kunci dari sebuah barisan. Cukup begitu
saja."
"Tak perlu membunuh orangnya?"
"Jika engkau tak mau, tak perlu begitu."
"Baik, aku menerima tawaran ini. Lalu kapan dan
dimana akan memulainya?"
"Tempatnya di gunung Tong-pek-san. Kalau terus
menerus menempuh perjalanan dalam tiga hari tentu sudah
tiba disana."
"Dan kitab itu kapan akan diserahkan ?"
"Setelah urusan selesai."
"Apakah aku boleh melihatnya ?" Sejenak merenung
kakek Tengkorak mengiakan. Dia mengambil keluar sejilid
kitab yang dibungkus dengan sutera dari dalam bajunya.
Kulit kitab itu sudah kuno sekali. Dia melemparkan kepada
Cu Jiang.
"Kakek !" nenek Tengkorak menjerit kaget.
Cu Jiang tahu bahwa nenek itu tentu kuatir kalau dia
akan menghancurkan kitab itu.
"Takut kalau kuhancurkan?" serunya mengejek.
Kedua iblis itu diam. Membalik lembaran pertama. Cu
Jiang melihat beberapa huruf kuno yang berbunyi Ki bunceng-
ciat oleh Gak Bu cu orang dari Gui.
Ah, memang benar sebuah kitab kuno ditulis oleh Gak
Bu cu dari negeri Gui pada jaman Jun Jiu.
Membuka lembaran selanjutnya, memang terdapat
beberapa gambaran. Setelah itu ia lemparkan kembali
kepada kakek Tengkorak dan berseru:
"Baik, aku menerima tawaran anda!"
"Mari kita berangkat sekarang," kata kakek Tengkorak
itu.
Demikian mereka bertiga dengan gunakan ilmu lari cepat
segera berangkat menuju ke gunung Tong-pek san.
Ringkasnya, mereka telah tiba disebuah lembah yang
terletak dibelakang gunung Tong pik-san.
Lebih kurang setengah li memasuki lembah, mereka
berhadapan dengan sepasang puncak yang tegak menjulang
tinggi tetapi merapat satu sama lain sehingga jalannyapun
sempit sekali, hanya selebar dua tiga tombak.
Ditengah jalan sempit itu tegak tiga gunduk batu karang
yang aneh bentuknya. Setiap batu karang besarnya
sepemeluk dua orang, sehingga menyumbat jalan.
"Sudah sampai," seru kakek Tengkorak.
Sejenak mengeliarkan pandang ke sekeliling Cu Jiang
menegasi apakah benar tempat itu.
"Ya, memang disini."
"Batu itu aneh sekali bentuknya, " kata Cu Jiang.
"Itulah pintu barisan.” sahut kakek Tengkorak, "kalau
batu itu tak dihancurkan, tak mungkin masuk kedalam
barisan."
"Apakah musuh anda berada dalam barisan itu?"
"Ya."
"Itukah sebabnya maka anda berdua lalu berlatih ilmu
pukulan Lima petir?"
"Benar."
"Apakah selama ini anda tak pernah memikirkan untuk
menggunakan bahan peledak, atau . ."
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Puteraku itu ditawan tak berada jauh dari pintu barisan.
Kalau diledakkan sudah tentu puteraku yang akan hancur
lebih dulu."
"Oh, begitu hebat akal orang itu!"
"Ketiga gunduk batu itu harus serempak sekaligus
dihancurkan kalau tidak keadaan barisan tentu berobah."
"Barisan apakah itu namanya?"
"Hian li ki bun!"
"Apakah akan dimulai sekarang?"
"Ya."
"Apakah tak perlu memanggil orang itu lebih dulu?"
"Percuma, dia akan pura2 tuli."
"Setelah menghancurkan pintu barisan?"
"Aku dan isteriku cukup untuk menghadapinya. "
"Mari!"
"Tunggu dulu." teriak kakek Tengkorak, "kami berdua
harus melepaskan pukulan dari jarak dua tombak. Dalam
lingkaran dua tombak, tak boleh orang mendekati. Sahabat,
engkau menghancurkan batu yang tengah, aku berdua akan
menghancurkan batu yang kanan dan kiri. Ingat, ini bukan
bermain-main, harus menggunakan sepenuh tenaga!"
"Baik, " sahut Cu Jiang.
Mereka bertiga lalu mundur kira2 dua tombak dan lalu
mulai menghimpun tenaga-dalam menyalurkan kearah
tangan.
Tiba2 kakek Tengkorak mengembor dan serempak
mereka bertiga melontarkan hantaman. Tiga gulung tenaga
pukulan yang dahsyat segera menerjang, bum, bum, bum
....
Terdengar tiga kali suara ledakan yang dahsyat, ketiga
batu itu pecah berhamburan. Tiba2 kedua Pek Kut Songsian
itu melesat masuk kedalam lembah.
"Tahan dulu!" teriak Cu Jiang seraya loncat mengejar,
"bagaimana pertanggungan jawab ucapan anda itu?"
Kakek Tengkorak tertawa.
"Pertanggungan jawab bagaimana?"
"Soal Ki-bun ceng-ciat."
"Setelah selesai akan kuberikan kepadamu. . . ."
"Sebelumnya, bagaimana janjimu?"
"Budak, engkau tunggu saja."
Mendengar itu marah Cu Jiang bukan kepalang.
"Kuhancurkan kalian setan busuk!" bentaknya seraya
mengangkat kedua tangan. Tetapi secepat itu Pak Kut Song
sian sudah melesat lenyap.
Cu Jiang penasaran. Ia terus mengejar. Tetapi alangkah
kejutnya ketika ia memandang kemuka. Ternyata
keadaannya sudah bukan jalanan lembah seperti tadi.
Serentak ia tersadar bahwa dirinya telah terlibat dalam
sebuah barisan aneh. Setelah pintu barisan pecah, kedua
iblis itu dapat masuk dengan leluasa. Walaupun barisan
belum pecah tetapi karena kedua iblis itu mempunyai kitab
Ki-bun-cong-ciat, mereka tentu dapat memasuki dengan
lancar.
Tetapi dia sendiri sekarang terkurung dalam barisan itu,
Ah, benar2 ia tak menyangka kalau akan terjebak dalam
tipu muslihat yang busuk.
Kanan kiri merupakan batu yang menonjol dan sebelah
muka hanya hutan batu semua. Bahkan arahpun Cu Jiang
tak dapat mengenal lagi.
Cu Jiang pernah terkurung dalam barisan di Gedung
Hitam sehingga ia tak mampu keluar. Maka saat itu dia tak
mau sembarangan bergerak dan tenangkan diri.
Dia marah dan penasaran tetapi diam2 dia pun geli
menertawakan dirinya sendiri. Bukankah sepasang suami
isteri Pek Kut song sian itu sudah terkenal sebagai momok
yang jahat dalam dunia persilatan?
Mengapa ia masih mau percaya pada omongan mereka?
Bukankah itu kebodohannya sendiri?
Iapun segera membayangkan bahwa tokoh yang menjadi
musuh kedua suami isteri itu tentulah tokoh golongan
Ceng-pay (Putih). Mengapa ia menyanggupi membantu
kedua suami isteri untuk melawan tokoh itu?
Makin merenung makin geram. Makin memikirkan
makin penasaran sekali.
Siapakah sesungguhnya tokoh yang berada dalam
lembah Itu?
Entah sampai berapa lama Cu Jiang masih tercengkram
dalam kebimbangan itu. Tiba2 ia rasakan pinggangnya
kesemutan dan terus rubuh.
Seorang lelaki tua kurus, dengan wajah murka tegak
dihadapannya dan tahu2 menjinjing tubuh Cu Jiang terus
dibawa lari. tak berapa lama, cuaca terang dan keduanya
sudah berada diluar gua.
Lelaki tua itu melemparkan tubuh Cu Jiang ke tanah.
Dia tegak bersidekap tangan. Matanya berkilat-kilat
memancarkan kemerahan.
Pikir Cu Jiang, adakah dia berhadapan dengan tokoh
dalam lembah itu? Dengan susah payah ia mengangkat
muka.
Ia sempat melihat lelaki tua itu berwajah terang, bukan
dari golongan Sia-pay atau jahat. Diam2 Cu Jiang kerahkan
tenaga dalam, ah, jalan darahnya sudah terbuka...
Tiga sosok bayangan berkelebat melesat keluar dari
mulut tempat itu. Yang dua jelas kedua suami isteri Pek Kut
song sian, sedang yang seorang lelaki muda berwajah
seram. Tentulah putera dari kedua suami istri iblis itu.
"Berhenti !" teriak orang tua itu.
Ketiga orang itupun serempak berhenti. Kakek
Tengkorak tertawa congkak.
"Oh, mahluk tua, kukira engkau sudah ngacir pergi?"
"Tinggalkan kitab Ki-bun-congciat!" seru orang tua itu
pula.
"Mau apa engkau ?"
"Jika sembarangan akan kubunuhnya!"
"Siapa yang hendak engkau bunuh ?"
"Kawanmu ini." seru orang tua itu menuding pada Cu
Jiang.
Nenek Tengkorak berpaling kearah suaminya. "Pak tua,
sungguh kebetulan sekali hal ini. Kalau budak itu tak
dilenyapkan, kelak tentu menimbulkan bahaya..."
"Ya, biarlah mahluk tua itu membunuhnya."
"Masih belum meyakinkan. Lebih baik kita saksikan dia
membunuhnya."
Orang tua itu tertegun mendengar percakapan kedua
suami isteri iblis. Tetapi pada lain saat ia seperti menyadari
sesuatu.
"Jangan main gila, jika tak mau memberikan kitab Kibun-
cong-ciat itu, lebih dulu akan kubunuhnya." serunya.
Kakek Tengkorak mengangkat bahu. "Silakan turun
tangan..." Tampak lelaki muda kerutkan alis dan bertanya.
"Yah, siapakah dia ?"
"Ha, ha, na, anakku, Jika tidak dia yang membantu
menghancurkan pintu barisan, engkau tentu belum dapat
keluar .
"O, kalau begitu kita harus menolongnya."
"Tidak perlu !"
"Kenapa ?"
"Dia seorang yang berbahaya."
Orang tua dari lembah itu menukas: "Apakah kalian
memperalat dia ?"
Dalam kegirangan, nenek Tengkorak telah kelepasan
bicara. Ia menyahut serentak:
"Ya, memang begitu, lekas engkau bunuh dia !"
Orang tua dari lembah itu menggigil karena marahnya.
Tiba2 lelaki muda itu ayunkan tubuh ke muka Cu Jiang,
serunya:
"Dalam beberapa hari ini aku hampir mati karena
terkurung. Sekarang biarlah kuhibur tangan ku yang gatal
ini."
Dia berhadapan dengan orang tua dari lembah,
sementara Cu Jiang berada di tengah2 mereka berdua.
Orang tua itupun juga melangkah maju.
"Membantu orang jahat, juga bukan manusia baik,
bunuhlah!" serunya kepada lelaki muda.
Lelaki muda atau putra dari kedua suami isteri Pek Kut
song sian, tertawa mengekeh:
"Begitu baru kata2 yang tepat!" habis berkata ia
mengangkat tangan dan diayunkan kearah kepala Cu Jiang.
Bum ....
Terdengar lengking jeritan ngeri dan sesosok tubuh yang
mencelat ke atas sampai beberapa tombak. Tubuhnya
menghambur hujan darah.
Kedua suami isteri iblis menjerit kaget dan cepat melesat
kearah tubuh itu. Ternyata yang mencelat ke udara itu
tubuh lelaki muda, anak dari sepasang suami isteri iblis.
Sedang Cu Jiang berbangkit pelahan-lahan.
Orang tua dari lembah itu terlongong-longong. Pemuda
desa itu jelas telah ditutuk jalan darahnya dan tak berkutik.
Mengapa dalam waktu sekejab saja dia sudah dapat
membebaskan diri.
Nenek Tengkorak memondong tubuh lelaki muda dan
menjerit kalap:
"Pak tua, dia mati !"
"Mati ?" teriak kakek Tengkorak.
"Hancur leburkan bangsat kecil itu . . ."
"Baik!" seru kakek Tengkorak terus loncat kemuka Cu
Jiang. Ia memandang pemuda itu dengan wajah
memberingas seram.
Tiba2 Cu Jiang teringat sesuatu. Ia terus membuka
buntalan kain dan mengambil pedang kutung. Tangan kiri
memegang sarung pedang, tangan kanan pedang kutung,
lalu berseru dingin.
"Iblis tua. lekas serahkan kitab Ki-bun ceng-ciat dan akan
kuampuni jiwamu !"
"Bangsat, belum puas hatiku kalau belum meremukkan
tulangmu !" teriak kakek Tengkorak seraya ayunkan
sepasang tangannya, menghantam kepala dan menusuk
dada Cu Jiang.
Cu Juang keluarkan gerak langkah Gong-gong poh untuk
menghindar seraya berseru:
"Kuberimu kemurahan satu kali!"
Kakek Tengkorak cepat menarik tangan dan berputar
kearah Cu Jiang.
"Bangsat kecil, aku harus membunuhmu."
Cu Jiang mendengus, sahutnya:
"Selama ini kejahatan anda sudah melewati batas, entah
sudah berapa banyak jiwa yang mati ditangan anda. Maka
kalau hari ini anda harus mati, sudah selayaknya, bahkan
masih murah."
Cu Jiang melintangkan pedang kutung.
“Pedang kutung !" kakek Tengkorak itu berteriak gentar.
"Apakah dia tokoh Toan-kiam-Jan-Jin yang akhir2 ini
menghebohkan dunia persilatan?" seru nenek Tengkorak.
"Benar, memang aku," sahut Cu Jiang.
Wajah orang tua dari lembah itupun tampak berobah
cahayanya. Dia Juga tahu akan nama besar dari Toankiam-
Jan jin.
Kakek Tengkorak tebarkan jubah dan dari lengan
Jubahnya meluncur sebuah benda aneh. Benda itu tak lain
adalah dua batang tulang lengan. Sebelah tangan kanan dan
kiri masing2 mencekal tulang itu, dia berseru:
"Toan-kiam-Jan-Jin, engkau harus mengganti jiwa
puteraku !"
Cu Jiang bingung. Apakah daya khasiat dari sepasang
tulang belulang?
Tiba2 orang tua dari lembah mundur tiga langkah seraya
berseru ngeri.
"Pek-kut-cau-bon !"
Cu Jiang tak mengerti apa arti kata2 itu tetapi ia
menduga tentulah merupakan benda yang amat beracun.
“Jangan memberi kesempatan bergerak kepada lawan.”
Kata2 itu cepat mengiang dalam telinga Cu Jiang.
"Mundur, Jangan coba menangkis tulang." berteriak
orang tua dari lembah. Dan dia sendiripun turut loncat
mundur sejauh tiga tombak.
Cu Jiang juga mengadakan reaksi yang cepat. Selekas
memindah pedang ke tangan kiri, dia terus melepaskan
hantaman sembari terus loncat mundur setombak jauhnya.
Ternyata tindakan Cu Jiang itu berhasil. Sebelum kakek
Tengkorak sempat melancarkan serangan, tubuhnya sudah
terpental mundur sampai lima langkah. Melihat itu Cu
Jiang tak mau memberi kesempatan lagi. Dia lepaskan
hantaman yang kedua ....
Kali ini Kakek Tengkorakpun memutar tubuh untuk
menyambut pukulan itu.
"Lekas mundur!" teriak orang tua dari lembah pula.
Bang…!!
Terdengar letupan keras ketika Cu Jiang tepat sudah
loncat mundur beberapa tombak. Seketika dari udara seperti
muncrat berhamburan air hitam seluas dua tombak.
Dan selekas jatuh ketanah maka terdengarlah bunyi
mendesis-desis di susul dengan asap hitam yang bergulanggulung
membumbung.
Ketika memandang dengan seksama, kejut Cu Jiang
bukan kepalang. Ternyata rumput2 ditanah itu hangus
semua, bahkan sampai tanahnyapun ikut berwarna hitam.
Batu yang dekat tempat itupun penuh berhias lubang2.
Benar2 sejenis racun yang maha hebat. Jika batupun
sampai berlubang, tidakkah tubuh manusia apabila terkena
tentu akan hancur lebur ?
Cu Jiang cepat memeriksa pakaiannya. Ternyata
celananya juga penuh dengan lubang kecil-kecil.
Melihat Cu Jiang tak kurang suatu apa. kejut kakek
Tengkorak itu bukan alang kepalang. Tetapi bukannya jera.
dia malah kalap. Dengan memekik sekeras-kerasnya dia
terus loncat menerjang. Tetapi serempak dengan itu. Cu
Jiangpun sudah membabatkan pedangnya.
"Auahhh..."
Terdengar lengking jeritan ngeri yang berkumandang
memenuhi angkasa. Kakek Tengkorak rubuh, kepala
terpisah menggelinding sampai beberapa langkah dari
tubuhnya.
Cu Jiang menghela napas. Ia berpaling tetapi ternyata
nenek Tengkorak sudah lenyap entah kemana.
"Engkau sudah terkena racun penghancur tulang !" seru
orang tua dari lembah dengan nada getar.
Cu Jiang terkejut. Saat itu dia memang merasakan,
beberapa bagian dari tubuhnya terasa panas seperti
terbakar. Hampir ia tak dapat menahan rasa sakitnya.
Buru2 ia membuka bajunya dan memeriksa. Badannya
terdapat tujuh delapan buah gunduk hitam sebesar buah
kelengkeng.
"Barang siapa tercemar racun itu, tentu segera akan luluh
jadi cairan air. engkau . . . bagaimana?"
Cu Jiang teringat akan mustika Thian-ju cu. Segera ia
mengambil dan menempelkan pada noda2 hitam itu. Aneh
tetapi nyata, noda2 hitam pada kulitnya itu segera hilang
demikian rasa sakitnya.
Setelah tahu dirinya tak kurang suatu apa, dia terus
berjongkok untuk mengambil kitab Ki-bun-ceng ciat dari
tubuh kakek Tengkorak. Kemudian dia mengangkat muka
memandang kearah orang tua dari lembah.
Sejak tadi dia memang belum sempat memperhatikan
wajah orang tua dari lembah itu. Kini begitu
memandangnya, dia terlongong-longong kaget.
Orang tua itu mengenakan jubah yang menutup tubuh
sampai kebatas lutut. Kepala gundul, tidak memakai sepatu.
Ditengah alisnya terdapat sebuah tahi-lalat merah.
Tidakkah orang itu yang dikatakan Ang Nio Cu sebagai
Ih Se lojin?
Ah, Cu Jiang menghela napas. Jika dia benar2 menuju
ke gunung Tay-pa san yang jauh, tentulah akan sia2 saja
karena tokoh yang hendak dicari itu ternyata berada di
gunung Tong-pek-san.
Peristiwa dengan Pek Kut song sian itu ternyata
membawa rejeki. Dan jelas Ang Nio Cu tentu membuang
tenaga sia2.
Mata orang tua itu memandang lekat2 pada kitab yang
dipegang Cu Jiang lalu berkata dengan nada sarat:
"Toan kiam jan jin, apakah engkau pernah melihat kitab
pusaka itu?"
Cu Jiang terkejut.
"Apakah kitab ini milik cianpwe?"
"Benar."
"Bagaimana dapat jatuh ditangan kedua suami isteri iblis
itu?"
"Dia merebut dari seorang muridku yang celaka."
"Oh."
"Karena hendak merebut kembali kitab itu aku terpaksa
menggunakan siasat menculik anak lelakinya agar kita
dapat tukar menukar . . ."
"Oh, kiranya begitu. "
"Engkau . . . mempunyai kemampuan untuk terhindar
dari racun?"
Cu Jiang tertawa. Tanpa menjawab pertanyaan itu ia
menyerahkan kitab Ki bun ceng ciat.
"Karena milik lo cianpwe, harap suka menerimanya,"
kata Cu Jiang.
Orang tua dari lembah itu terbeliak. Dia tak mau cepat2
menerima, melainkan kerutkan alisnya yang putih.
"Lapang sekali hatimu. Setitikpun engkau tak
mempunyai keinginan untuk memiliki kitab pusaka yang
jarang terdapat dalam dunia."
"Karena kitab ini memang bukan milikku."
"Engkau hendak mengajukan perjanjian apa?"
"Perjanjian?" Cu Jiang terbeliak.
"Ya, aku tak mau menerima dengan cuma2."
Seketika itu timbullah rasa kagum dalam hati Cu Jiang.
Walaupun memang aneh sikap orang tua itu tetapi tindakan
itu memang patut dihargai.
"Tak ada perjanjian apa2," serunya.
"Baik, tetapi aku akan mencatat budimu ini," kata orang
tua dari lembah seraya menyambuti kitab.
"Mohon tanya, siapakah gelaran yang mulia dari
cianpwe?"
"Ah, sudah lama tak kupakai nama gelaranku."
"Bukankah gelaran yang mulia dari cianpwe itu Ih Se
lojin?"
"Ho, engkau .... bagaimana dapat mengetahui?"
"Jika begitu lo cianpwe memang benar Ih Se lojin?"
"Anggap saja engkau berkata benar. "
"Wanpwe justeru hendak mohon bertemu."
"Hah, engkau hendak mencari aku?"
"Ya. Sebenarnya wanpwe hendak menuju ke Tay-pa-san
mencari locianpwe. Tak terduga wan pwe tertipu oleh Pek
Kut song sian tetapi justeru malah dapat bertemu dengan lo
cianpwe."
Tiba2 nada Ih Se lojin berobah dingin:
"Perlu apa engkau hendak mencari aku?"
Saat itu bukan kepalang gembira Cu Jiang, namun ia
tetap bersikap tenang.
"Akan mohon petunjuk pada lo cianpwe. "
"Soal apa?"
"Mohon petunjuk cara memecahkan sebuah barisan."
"Tidak bisa."
"Apakah lo cianpwe tak mau memberi petunjuk?"
"Aku sudah mengikrarkan sumpah, tak mau
berhubungan dengan manusia di dunia lagi."
Sebagai seorang ksatrya, dengan tulus Cu Jiang
menyerahkan kembali kitab pusaka yang sehebat itu. Tak
terduga Ih Se lojin masih bersikap begitu ketus.
"Apakah tak dapat memberi kelonggaran?" tanyanya
dengan marah.
"Tidak bisa! "
"Kalau tadi wanpwe tak menyerahkan kembali kitab
pusaka itu dan wanpwe terus mempelajarinya sendiri,
bagaimanakah kesudahannya?"
"Itu persoalan lain lagi."
"Apakah lo cianpwe tetap mengukuhi pendirian itu ?"
"Tentu, tetapi.. ."
"Tetapi bagaimana ?"
"Jika hal itu engkau anggap sebagai perjanjian dari
tindakanmu menyerahkan kitab pusaka kepadaku tadi, aku
memang tak dapat berkata apa2. Karena seumur hidup aku
tak mau menerima budi orang. Begini sajalah, bagaimana
kalau permintaanmu itu kau anggap sebagai syarat dari
penyerahan kitab itu ?"
"Tidak!" sahut Cu Jiang dengan angkuh, "ucapan
seorang lelaki harus ditepati. Aku sudah mengatakan kalau
penyerahan kitab itu tanpa suatu syarat apa, masakan aku
hendak menjilat ludahku lagi ?"
"Hii, watakmu hampir sama dengan aku ... ."
"Ah, lo cianpwe memuji."
"Akupun juga begitu. Apa yang telah kukatakan, takkan
kulanggar."
"Dalam keadaan bagaimana cianpwe dapat memberi
kelonggaran?"
"Tak ada kemungkinannya:"
"Kalau kuminta cianpwe supaya mengajukan syarat
supaya cianpwe dapat memberi kelonggaran ?"
"Juga tidak mungkin, kecuali ...."
"Kecuali bagaimana?"
"Mengandalkan ilmu kepandaianmu !"
Cu Jiang terpaksa menyeringai. Rasanya tiada manusia
yang lebih nyentrik wataknya dari orang tua ini. Itulah
sebabnya maka Ang Nio Cu mengatakan bahwa Ih Se lojin
itu lebih nyentrik lagi dari tabib Kui jiu sinjin.
"Maksud lo cianpwe agar aku mengeluarkan ilmu
kepandaian silat?" ia menegas.
"Benar." Sahut Ih Se lojin dengan nada bengis, "pada
saat aku sudah tak dapat melawan lagi, barulah aku dapat
memberi kelonggaran. Kuanggap hal itu tidak melanggar
sumpahku."
"Apakah itu satu-satunya jalan?"
"Tidak ada lainnya lagi."
"Jika begitu terpaksa aku hendak mencoba."
"Hm, kuharap ilmu kepandaianmu tidak tinggi."
"Lo cianpwe," seru Cu Jiang. "maaf jika aku hendak
mengucapkan kata2 yang sombong. Sejak turun dari
perguruan, selama ini aku belum pernah bertemu lawan
yang dapat lolos dari pedang kutungku itu !"
"Engkau terlalu mengandalkan dirimu!"
"Ah, tidak, tetapi kenyataan memang begitu."
"Ilmu silat itu bukan hanya dari satu sumber. Tidak bisa
karena memiliki sebuah aliran lalu sudah berbangga diri. . ."
"Bukan maksudku hendak membanggakan diri."
"Kalau begitu, engkau boleh mulai."
"Sebenarnya aku tak ingin berlaku kurang hormat
terhadap cianpwe."
"Jika begitu. silahkan engkau pergi saja."
Cu Jiang merasa bahwa berputar-putar lidah tiada
gunanya. Jelas orang tua itu tak mau merobah
pendiriannya. Pelahan-lahan ia maju ke hadapan orang tua
itu.
"Maaf, wanpwe terpaksa berlaku kurang hormat,"
serunya.
"Mulailah!"
"Harap hati-hati !"
Dalam berkata-kata itu Cu Jiangpun sudah mencabut
pedang kutung dan terus menyerang. Dia hanya gunakan
setengah bagian dari tenaga dalamnya karena ia anggap
orang tua itu bukan musuh melainkan hanya menguji saja.
Sekalipun begitu jurus Thian-te-kau thay yang dimalukan
itu menghamburkan sinar pedang yang dahsyat.
Tetapi apa yang didapatinya, sungguh diluar dugaan.
Baru dia melancarkan jurus serangannya, bayangan orang
tua itupun sudah lenyap.
Terpaksa setengah jalan ia hentikan serangannya.
Dilihatnya Ih Se lojin tegak disebelah kanan lebih kurang
dua meter jauhnya. wajahnya mengulum tawa.
Cu Jiang merah mukanya. Ia menyerang lagi dengan
delapan bagian tenaganya. Namun hasilnya tetap serupa. Ih
Se lojin bagaikan sesosok bayangan setan yang menghilang
dan pindah tempat.
Diam2 Cu Jiang sempat memperhatikan bahwa Ih Se
lojin menggunakan gerakan yang mirip dengan geraklangkah
Gong gong-poh hwat.
Setelah merenung, Cu Jiang diam2 mengangguk.
"Kalau sampai serangan yang ketiga masih gagal, engkau
harus pergi." seru Ih Se lojin tertawa gembira.
"Baik, Jika kali ini masih gagal, aku segera tinggalkan
tempat ini." sahut Cu Jiang dengan nada tandas.
"Bagus,.
"Harap locianpwe hati-hati..." pedang kutung segera
ditaburkan.
Ih Se lojin masih tetap menggunakan gerak-langkah
semula. Secepat terayun tubuh, dia sudah lenyap, Tetapi
ternyata serangan Cu Jiang itu hanya suatu gerak
menggertak saja. Dia tetap mengikutkan pandang mata
pada orang tua itu.
Sesaat Ih Se lojin melesat pergi, diapun cepat melesat
mengikutinya.
Sampai delapan kali Ih Se lojin melesat untuk
menghindar tetapi Cu Jiang dengan gerak-langkah Gonggong-
poh-hwat tetap dapat membayanginya. Bahkan dia
lebih cepat bergerak diri orang tua itu.
Pada saat gerakan Ih Se lojin agak kendor, tahu2 ujung
pedang kutung sudah melekat pada dadanya.
"Lo cianpwe, maaf, aku berlaku kurang hormat!" pada
lain saat terdengar Cu Jiang berseru.
Sepasang mata Ih Se lojin melotot.
"Engkau menggunakan gerak langkah apa?" serunya
dengan nada gemetar.
"Hanya langkah kucing menangkap tikus yang tak berarti
dan tak berharga dikatakan."
"Bilang!"
"Harap lo cianpwe suka melaksanakan janji."
"Katakan dulu, gerak langkah apa yang engkau lakukan
tadi?"
Karena terus menerus didesak, akhirnya Cu Jiang
mengaku:
"Gong gong-poh hwat."
"Hai, Gong-gong-poh-hwat?" - teriak Ih Se lojin terkejut.
"Benar."
"Gong-gong . . . Gong gong .... apakah engkau murid
pewaris dari Nyo Wi itu?"
Diam2 Cu Jiang terkejut. Jarang sekali orang persilatan
yang kenal akan riwayat Gong-gong-cu. Tetapi orang tua
itu dapat menyebut nama aseli dari Gong-gong-cu. Apakah
dia sahabat baik dan suhuku, pikir Cu Jiang.
"Apakah lo cianpwe kenal akan suhuku? " akhirnya ia
bertanya.
"Apakah engkau benar2 murid dari Nyo Wi?"
"Benar."
"Dan kau datang kepadaku untuk meminta petunjuk
tentang ilmu barisan?"
"Benar."
Seketika berobah cahaya muka Ih Se lojin.
"Enyah!" teriak dengan bengis.
Cu Jiang tertegun. Adakah orang tua itu mempunyai
dendam permusuhan dengan gurunya?
"Lekas engkau pergi dari sini!" bentak Ih Se lojin pula.
"Apa artinya ini?" seru Cu Jiang dengan nada dingin.
"Kusuruh engkau pergi!"
"Baik, tetapi harus ada alasannya."
"Tidak ada! Lekas engkau enyah dan tanyakan sendiri
pada Nyo Wi! "
"Apakah locianpwe mempunyai ganjelan terhadap
suhuku?"
"Engkau tidak berhak tanya. Selanjutnya kalau engkau
berani menginjak tempat ini lagi, aku tentu akan
membunuhmu!"
Saat itu makin keras dugaan Cu jiang bahwa Ih Se lojin
tentu mempunyai ganjelan hati terhadap suhunya, Ia tahan
kemarahannya.
"Tetapi tidakkah lo cianpwe merasa karena tidak
menetapi janji?" serunya.
Ih Lo lojin tertawa dingin.
"Tindakanku Ini sudah cukup baik, " sahutnya.
"Jika tidak?"
"Aku..." kata2 selanjutnya tak diucapkan lagi. Ih Se lojin
menyadari bahwa pemuda yang berdiri dihadapannya lebih
tinggi kepandaiannya dari dia.
Cu Jiang sendiri juga kehilangan faham. Untuk
mendapat petunjuk dari orang tua aneh itu, jelas tak
mungkin lagi. Tetapi barisan dalam Gedung Hitam harus
dihancurkan. Apabila ia mengirim orang untuk meminta
petunjuk pada guru di Tayli, tentu memakan waktu lama.
Apabila dia merebut saja kitab pusaka dari tangan Ih Se
lojin, juga tidak enak. Ah, tetapi apa daya kecuali harus
menggunakan kekerasan. Bukankah orang tua itu juga
menghendaki cara begitu...
"Locianpwe. kita tak perlu panjang lebat bicara. tekadku
datang kemari, kalau tak mendapat apa yang kuinginkan,
aku takkan kembali."
"Engkau bermimpi."
"Jangan salahkan kalau aku terpaksa berani berlaku
kurang adat."
"Mau pakai kekerasan? Ha, ha, ha . . ." tiba2 Ih Se lojin
melesat dan terus lenyap kedalam mulut lembah.
Sudah tentu Cu Jiang terkejut sekali. Orang tua itu cepat
sekali gerakannya, tak mungkin dia dapat menahan.
Padahal lembah itu disusun dalam bentuk barisan aneh. Dia
tadi sudah merasakan tak dapat keluar. Lalu bagaimana?
Dia tegak termangu-mangu di tempat itu. Mayat kakek
Tengkorak yang tiada kepalanya, masih membujur di tanah.
Dia tersenyum tawar. Belum setengah hari saja dia sudah
mengalami peristiwa yang tak terduga duga. Jika bermula
dia mengira beruntung karena dapat bertemu dengan Ih Se
lojin, ternyata keberuntungan itu cepat lenyap seperti awan
terhembus angin.
Jika dia teras tinggalkan tempat itu, sebenarnya dia
masih penasaran. Tetapi akan kemanakah ia ayunkan
langkahnya?
Menilik gerak gerik langkah yang dimiliki Ih Se lojin,
kecuali suhunya Gong gong cu, rasanya dalam dunia
persilatan tak ada yang menandingi lagi.
Tetapi apakah yang terjadi diantara suhunya dengan Ih
Se lojin? Menilik betapa geram sikap Ih Se lojin terhadap
Gong gong-cu, tentulah dia mempunyai dendam yang
hebat.
Tiba2 sesosok bayangan meluncur datang. Ketika
memandangnya, girang Cu Jiang bukan kepalang. Ternyata
pendatang itu tak lain adalah sahabat baik dari gurunya
yakni Lam ki soh. Dia benar-tak menyangka kalau tokoh itu
datang ke gunung Tong peksan juga. Cepat ia maju
menyambut dan memberi hormat:
"Cianpwe, terimalah hormat wanpwe."
"Hai, mengapa disini?" ternyata Lam ki sok juga terkejut.
Cu Jiang lalu menuturkan peristiwa yang dialami disitu.
Lam-ki-soh mengangguk-angguk.
"O, kukira engkau sudah menuju ke Tay-pa-san."
"Lalu maksud kedatangan cianpwe kemari?"
"Kalau tidak untuk kepentinganmu, apalagi!" sahut Lamki-
soh.
"Urusan wanpwe?" Cu Jiang heran.
"Waktu mendengar cerita dari Ki Sau Hong, aku segera
mengejarmu, Kalau sebelumnya engkau memberitahukan
maksudmu kepadaku, aku tentu dapat membawamu
menemui Ih Se lojin itu kemari."
"Apakah, cianpwe memang sudah tahu kalau dia diam
disini?"
"Tidak tahu," sahut Lam ki soh, "baru akhir2 ini setelah
menerima berita dari suhumu di Tayli, baru kuketahui hal
itu . .. karena tak dapat mengejarmu, maka kuputuskan
untuk datang sendirian kemari. Tak kira kalau engkau
sudah bertemu dengan dia, sungguh kebetulan sekali .. ."
"Suhu mengirim berita?"
"Hm, dia minta aku menguruskan sebuah urusan
untuknya."
"Urusan apa ?"
"Dengan Ih Se lojin"
Cu Jiang tertarik hatinya, Dia lalu menceritakan
pengalamannya dengan Ih Se lojin. Begitu dia mengaku
bahwa Gong gong cu itu suhunya, kontan Ih Se lojin
membuat reaksi keras.
"Sesungguhnya apa saja yang telah terjadi antara suhu
dengan Ih Se lojin?" tanyanya.
Lam-ki-soh tersenyum misterius, katanya:
"Nanti engkau pasti tahu sendiri, mari kita menemuinya
..."
"Jalanan lembah ditutup dengan barisan yang aneh,"
kata Cu Jiang.
"Ya, tahu, kupanggilnya supaya keluar. "
"Dia belum tentu mau keluar ..."
"Ah, ikuti aku saja.! "
Keduanya menuju ke batu yang dihancurkan Cu Jiang
tadi. Batu itu merupakan pintu barisan. Lam-ki-soh
kerahkan tenaga-dalam lalu berseru sekeras-kerasnya:
"Co King Yap, Gong cu-wi datang menemuimu!"
Tetapi tiga kali dia mengulang seruannya, tetap tak ada
penyahutan. Saat itu Cu Jiang baru tahu bahwa nama asli
dan Lam-ki-soh itu Gong cu wi dan nama dari Im Se lojin
itu Co Keng Yap.
Beberapa saat kemudian, Lam ki soh berseru pula:
"Orang she Co, apakah engkau benar tak memandang
muka kepada aku orang she Gong ini?"
Namun tetap tiada jawaban. Lam ki soh berpaling
kepada Cu Jiang, tertawa:
"Aku hendak memaki-makinya!"
Dia berbatuk-batuk untuk membasahi kerongkongan lalu
menggembor sekuat tenaganya.
"Hai, Co keng Yan, apa sih engkau ini, berani
memandang hina orang. Apakah engkau minta aku masuk
untuk meringkusmu!?"
Tiba2 sesosok bayangan berkelebat dan Ih Se lojinpun
muncul keluar dari barisan. Sejenak memandang dingin
kepada Cu Jiang dia terus membentak Lam ki soh:
"Hai, orang she Gong, jangan berteriak teriak seperti
orang gila! "
Lam ki soh tertawa gelak2.
"Loheng, engkau dan aku segera akan masuk kedalam
kuburan, mengapa watakmu masih begitu berangasan?"
"Mau apa engkau kemari?" tegur Ih Se lojin dingin.
"Sudah tentu ada urusan, masa kalau tak ada urusan aku
datang kemari? Engkau kira aku senang gentayangan naik
gunung seperti ini?"
"Aku orang she Co sudah tak mau mengurusi urusan
manusia di dunia lagi!"
"Urusanmu sendiri engkau mau menanyakan atau
tidak?"
"Urusanku sendiri?"
Lam-ki-soh berpaling ke arah Cu Jiang dan
menggapainya:
"Nak, mari, haturkan hormat kepada toa-supeh !"
Cu Jiang termenung seketika. Mengapa Lam ki-soh
mengatakan Ih Se lojin itu sebagai toa supehnya (paman
guru). Ia teringat tatkala upacara pengangkatan guru. Gonggong-
cu pernah mengatakan bahwa Cu Jiang itu termasuk
murid angkatan pertama. Apakah artinya itu.
"Orang she Gong, jangan soal itu...." tiba2 Ih Se lojin
deliki mata.
Tetapi Lam-ki-soh seperti tak mengacuhkan berseru
kepada Cu Jiang:
"Budak kecil, engkau dengar atau tidak omonganku
tadi?"
Lam-ki-soh merupakan sahabat baik dari suhunya,
seorang tokoh yang termasyhur, tentu tak mau omong
sembarangan. Kata-katanya itu tentu ada dasarnya maka
segera Cu Jiangpun membungkuk tubuh dihadapan Ih Se
lojin.
"Menghaturkan hormat kepada toa-supeh !"
Sepasang alis Ih Se lojin tegak keatas. Jelas dia sedang
marah besar. Cepat dia berputar tubuh kearah Lam-ki soh
dan berteriak keras2.
"Gong Cu-wi, enyah dari hadapanku !"
Cu Jiang meringis, mukanya merah.
"Co Keng Yap, engkau benar2 bukan manusia!" Lam kisoh
balas berseru marah.
Tetapi Ih Se lojin tak mengacuhkan. Berputar tubuh dia
terus ayunkan langkah....
"Berhenti !" bentak Lam-ki-soh dengan marah. "aku
hanya akan mengatakan sepatah kata saja."
Entah bagaimana, Ih Se lojin pun berhenti dan berbalik
tubuh, serunya: "Bilanglah !"
Lam-ki-soh tenangkan kemarahannya lalu berkata
pelahan-lahan:
"Jika tak menyanggupi permintaan orang, tak mungkin
aku sudi bicara dengan bahasa manusia pada kerbau.
Dengarkan ! Dibawah arca kakek guru perguruanmu,
terdapat sebuah benda. Lihatlah sendiri. Kutunggu engkau
setengah Jam. Cukup pergilah !"
Ih Se lojin terbeliak tercengang-cengang memandang
Lam-ki soh. Tanpa berkata apa2, dia terus berputar tubuh
dan masuk kedalam lembah.
"Cianpwe, apakah artinya ini semua ?" Cu Jiang tak
dapat menahan keheranannya.
"Dia memang toa-supehmu !"
"Hal ini .. . tak pernah suhu menceritakan.."
"Sudah tentu dia tak menceritakan. Soal itu menyangkut
urusan perguruannya belum dibereskan, suhumu tak diakui
oleh perguruan."
Cu Jiang makin tertarik, serunya: "Dapatkah cianpwe
memberi keterangan?"
Sambil mengajak Cu Jiang duduk pada segunduk batu
didekat situ. Lam-ki-soh mulai melanjutkan ceritanya lagi.
"Suhumu mengirim berita kepadaku agar aku
menyelesaikan urusan itu . .."
"Mohon cianpwe suka menerangkan sejelasnya."
"Sebenarnya suhumu itu saudara seperguruan dengan si
tua kepala batu itu. Mereka berguru pada Bu Ya Siangjin.
Karena Cu Keng Yang lebih dulu yang menjadi murid,
maka suhumu yang masuk belakangan menyebutnya
sebagai suheng.."
"Oh, maka gerak tubuhnya mirip sekali. Walaupun
suhumu mengadakan beberapa perobahan tetapi sumber
dasarnya tetap tak meninggalkan perguruan."
"Lalu ?"
"Suhumu berbudi luhur, memiliki bakat yang bagus, oleh
karena itu paling disayang oleh gurunya. Sudah tentu hal
itu menimbulkan rasa iri dan benci dalam hati supehmu.
Dia tak akur dengan suhumu . . ."
"Oh!"
"Kala itu kakek gurumu mempunyai rencana untuk
menyerahkan kedudukan ketua perguruan kepada gurumu .
. ."
"Mendudukkan yang pertama dan mengangkat murid
yang kedua, apakah hal itu tidak bertentangan dengan
peraturan dunia persilatan ?"
"Itu hanya suatu peraturan saja. Setiap partai perguruan
mempunyai peraturan sendiri tidak harus mengangkat
murid yang pertama. Seorang calon pengganti ketua harus
dinilai dari perbawa, peribadi dan tingkah laku serta ilmu
kepandaian .... Apabila semua2 itu sudah dipenuhi barulah
dapat diangkat sebagai pewaris ketua."
"Tetapi apakah nama dari perguruan kami?"
"Thay hi bun !"
"Thay hi bun ? Rasanya belum pernah mendengar nama
itu.. ."
"Ya, memang. Thay-hi-bun itu sebuah perguruan
rahasia, tidak ikut dalam kancah dunia persilatan dan tidak
menghimpun pergolakan dunia...."
"Lalu seterusnya ?"
“Pusaka dari perguruan Thay hi-bun itu merupakan
sebuah kitab pusaka yang disebut Thay-hi keng- Kecuali
ketua, lain2 murid tak boleh mempelajari isinya. Kakek
gurumu telah menyerahkan kitab itu kepada suhumu.
Dengan begitu berarti secara diam2 dia telah memberi
isyarat bahwa kelak suhumulah yang akan diangkat sebagai
penggantinya."
"Lalu mengapa ..."
“Setelah mengetahui hal itu, supehmu menuduh kakek
gurumu berat sebelah. Dan sejak itu dia makin membenci
sekali kepada suhumu. Tetapi hanya karena penyerahan
kitab itu belum cukup sebagai hak untuk mengganti
kedudukan ketua."
"Makanya bukan begitu cara pengupasannya. Manusia
bukan dewa, iri dan marah merupakan sifat kelemahan
setiap orang. Sebenarnya supehmu itu, kecuali wataknya
yang keras dan aneh, dalam segala hal dia berimbang
dengan suhumu."
"Kemudian lalu?"
"Akhirnya kedua saudara seperguruan itu bertempur.
Suhumu berhasil melukai suhengnya. Dia bersalah karena
tak mau mendengar nasehat gurunya. Dia melanggar
peraturan perguruan dan harus diusir dari perguruan dan
untuk selama-lamanya tak diakui sebagai murid Thay-hi
bun . . ."
"Ah . . ."
Tepat pada saat itu muncullah Cu Keng Yap dengan
wajah yang muram durja. Setelah beberapa saat
memandangnya, baru Lam-ki-soh bertanya: "Bagaimana?"
Wajah Ih Se lojin berkerenyutan sampai beberapa saat,
baru kemudian berkata dengan nada tegang:
"Silahkan masuk !"
"Bersama dengan anak ini ?"
Ih Se lojin mengangguk. Dia yang berjalan sebagai
penunjuk jalan dimuka. Diam2 Lam-ki-soh menyeringaikan
wajah kepada Cu Jiang. Geli. Cu Jiang hanya mengikuti
saja.
Setengah li kemudian, tibalah mereka dimuka sebuah
gedung yang indah. Empat orang lelaki yang berumur
sekitar 30 an tahun, sudah siap disitu untuk menyambut.
Dengan hati tak keruan rasanya, Cu Jiang ikut masuk.
Setelah Lam ki-soh dipersilakan duduk, dia tetap berdiri
disampingnya. Keempat lelaki yang dimuka pintu tadi tak
ikut masuk.
Ih Se lojin menghela napas pajang.
"Karena salah langkah telah mengakibatkan dendam
kebencian yang mengerikan." ujarnya.
Berkata Lam ki soh dengan wajah serius:
"Ciang-bun-jin, peristiwa itu sudah lama lampau, Bahwa
sekarang hal itu dapat dihapus, benar2 merupakan
kebahagian dalam perguruanmu. Tak perlu engkau sesali
lagi . . ."
"Tidak, kedudukan ciang-bun-jin ini, akan kuberikan
kepada sute . . ."
"Engkau salah, itu bukan maksud Nyo Wi."
"Apakah aku masih mempunyai muka untuk menduduki
jabatan ini."
"Co toako, engkau adalah ketua yang diangkat atas titah
ketua yang telah lalu. Sudah tentu pengangkatan itu resmi
dan sah."
"Tidak, memang kesalahanku sehingga ketua yang
terdahulu salah angkat . . ."
"Sutemu kini sudah menjabat kok-su di negeri Tay-li,
tentu takkan kembali ke Tionggoan lagi."
"Aku akan kedaerah selatan untuk menemui dan
menghaturkan maaf kepadanya."
"Tak perlu," kata Lam-ki soh, "maksudnya apabila anak
ini dapat diterima kedalam perguruan, maka diapun tak ada
maksud lainnya lagi."
"Sute rela menderita diusir dari perguruan, sungguh
suatu penderitaan yang menusuk hatiku selama-lamanya.
Segala itu adalah terjadi karena perbuatanku. Jika aku tak
diberi kesempatan untuk menghaturkan maaf, bagaimana
kelak aku dapat bertemu dengan arwah kakek guru di alam
baka."
"Penderitaan yang dialami saudara Nyo selama ini,
hanyalah berdasar karena menghormat saudara tua maka
dia rela menggunakan cara itu. Maka apabila kali ini
kembali menduduki jabatan ketua lagi, tentulah
perasaannya tersinggung. Maka dalam hal itu tak perlu
dipersoalkan lagi. Yang penting sekarang ini ialah untuk
menerima anak itu masuk kedalam perguruan.”
Habis berkata dia berpaling kepada Cu Jiang.
"Buka kedok mukamu dan berilah hormat kepada
ketua!"
Hati Cu Jiang tegang sekali. Saat itu dia sudah dapat
merangkai suatu dugaan. Segera ia melakukan perintah,
membuka kedok mukanya.
Melihat wajah Cu Jiang, Ih Se lojin mendesah kaget. Cu
Jiang membereskan pakaiannya. Pada saat dia hendak
menghaturkan hormat...
"Tunggu!" tiba2 Ih Se lojin mengangkat tangan
mencegahnya.
Cu Jiang terkejut dan hentikan langkah.
"Kalian masuk kemari." seru Ih se lojin kepada keempat
penjaga. Mereka berempat masuk dan setelah memberi
hormat kepada Ih Se lojin mereka tegak berjajar disamping.
Saat itu Lam ki-soh pun memberi kicupan mata kepada
Cu Jiang dan anak itupun segera melangkah kehadapan Ih
Se lojin lalu berlutut menghaturkan hormat.
"Murid Cu Jiang, mohon menghadap ciang-bun supeh!"
"Bangun," seru Ih Se lojin, "kenalkan dengan keempat
suhengmu!"
Cu Jiang bangun. Secara berturut-turut Ih Se lojin lalu
memperkenalkan:
"Itulah ji suhengmu yang bernama Ko Kun, sam-suheng
Siong Ci Beng, si-suheng Gak Ong dan ngo suheng Ih Kim
Gan!"
Cu Jiang memberi hormat kepada keempat suheng itu.
Tetapi terhadap toa-suhengnya, ia mempunyai kesangsian.
Mengapa yang ada hanya keempat suheng? Ke manakah
toa-suheng atau suheng yang pertama?
Setelah memberi hormat, Cu Jiang kembali ketempatnya
semula. Keempat suheng itu agaknya terkejut dan heran
atas pertemuan yang tiba2 itu.
"Toa-suhengmu yang bernama Go Wi Jin, pada sepuluh
tahun yang lalu terpaksa pulang ke desanya untuk merawat
mamahnya yang sudah tua. Dia hanya pada musim rontok
datang sekali kemari, Besok kalau ada kesempatan tentu ku
perkenalkan engkau dengan dia, " kata Ih Se lojin pula.
Kemudian kepada keempat muridnya, dia
memperkenalkan Cu Jiang sebagai murid dari paman guru
(susiok) Nyo Wi. Kemudian dia memerintahkan supaya
malam itu diadakan perjamuan untuk merayakan persatuan
kembali dari perguruannya.
Cu Jiang tak mengira bahwa ia akan mengalami
peristiwa semacam itu. Kini dia tahu lebih jelas tentang
asal-usul suhunya, Gong-gong-cu yang selama ini selalu
dirahasiakan.
Setelah keempat murid itu mengundurkan diri maka Ih
Se Lojin berkata pula kepada Cu Jiang.
"Pada waktu suhumu diusir dari perguruan sucou (kakek
guru) lupa untuk meminta kembali kitab Thay hi keng.
Sucoumu mengira kitab itu tentu dibawa pergi suhumu
yang setelah meninggalkan perguruan terus lenyap tak
diketahui rimbanya. Dua tahun kemudian, sucou-mu telah
meninggal dunia. Dan tiga tahun kemudian dalam dunia
persilatan telah muncul tiga tokoh yang disebut Bu lim Sam
cu. Tetapi ku tak tahu bahwa diantara ketiga tokoh yang
bernama Gong gong-cu itu ternyata adalah suhumu. Baru
tahun yang lalu, toa-suhengmu datang membawa berita
kalau Gong-gong-cu itu adalah paman gurunya, Nyo Wi,
yang telah diusir dari perguruan itu.Sebenarnya aku hendak
mencarinya untuk meminta kembali kitab Thay-hi-keng itu,
tetapi masih belum sempat. Ai, tak kira ..."
Dia berhenti sejenak lalu melanjutkan. "Dia tak
membawa kitab pusaka Thay-hi-keng dan
menyembunyikan kitab itu dibawah arca cousu. Disamping
itu dia telah meletakkan sepucuk surat, ambil dan bacalah
sendiri!" ia mengeluarkan sehelai kertas dan diserahkan
kepada Cu Jiang.
Serentak Cu Jiang maju menyambut. Surat itu berbunyi:
Dihaturkan toa-suheng,
Kedudukan ketua, seharusnya diserahkan kepada toa-suheng.
Tetapi perintah suhu tak dapat kubantah. Maka terpaksa kuambil
siasat supaya aku dikeluarkan dari perguruan. Mohon setelah
membaca surat ini, toa-suheng sudi memohon ampun atas segala
kesalahan dan terima kasih atas semua budi kebaikannya. Setelah
toa-suheng menerima kedudukan ketua, aku tentu akan pulang ke
gunung untuk mohon hukuman. Nyo Wi."
Tak terlukiskan perasaan Cu Jiang saat itu. Dia benar2
sangat mengagumi dan menghormat sekali akan
kepribadian suhunya. Kemudian ia menyerahkan kembali
surat itu seraya mengatakan bahwa selama ini suhunya tak
pernah bercerita apa2 tentang hal itu.
"Jika suhumu tak mau datang kemari untuk menerima
jabatan ketua, aku benar2 tak punya muka untuk
menghadap arwah para sucou. . ." kata Ih Se lojin.
Sebagai angkatan yang lebih muda. sudah tentu Cu Jiang
tak dapat memberi tanggapan ini ituu apa tentang urusan
dalam perguruan. Dia diam saja.
"Dia takkan meluluskan," kata Lam-ki-soh dengan nada
tandas, "Jika engkau tetap memaksa dia supaya menerima
berarti engkau menutup pintu agar dia tak datang ke
gunung sini lagi”
Beberapa saat kemudian murid kedua Ko Kun
menghadap untuk menyampaikan laporan bahwa hidangan
sudah siap. Maka Cu Jiangpun diajak Ih Se lojin masuk.
Setelah menghadap arca dari kakek guru. mereka kembali
lagi ke ruang.
"Engkau mengatakan hendak meminta petunjuk untuk
memecahkan barisan apakah itu?" tanya Ih Se lojin.
Dengan mata merah penuh dendam kemarahan,
berkatalah Cu Jiang:
"Tentang gerombolan Gedung Hitam yang banyak
mencelakai dunia persilatan, apakah supeh sudah mendapat
berita yang lengkap ?"
"Hai," desuh Ih Se lojin.
"Dan ketua Gedung Hitam itu adalah musuh besar dari
keluarga murid."
"Ah, asal usul dirimu ..."
"Almarhum ayah murid adalah Cu Beng Ko."
"O, engkau putera dari Dewa-pedang ?"
"Engkau mencari guru dengan sudah mempunyai bekal
kepandaian ?"
"Ya."
"Ah, makanya ilmu pedangmu .. ."
"Tetapi itu bukan ajaran Keluargaku."
"Apa ? Bukan ilmu warisan keluargamu ? Tetapi Jelas
ilmu pedang yang engkau gunakan itu bukan dari
perguruan ku."
d00w
Dengan terus terang Cu Jiang lalu menuturkan semua
peristiwa yang dialaminya ketika ia mendapatkan ilmu
pedang itu.
"Luar biasa," seru Ih Se lojin, "kelak engkau tentu
mampu mempelajari kitab pusaka Thay hi-keng itu. Dengan
menggubahnya sendiri, pastilah kelak ilmu silat perguruan
kita akan cemerlang dalam dunia persilatan."
"Terima kasih, supeh."
"Bagaimana persoalanmu dengan Gedung Hitam ?"
"Selama ini tiada seorang persilatan yang mampu
menyelidiki markas besar Gedung Hitam di gunung Kengsan
karena markas besar itu dibentuk dalam barisan yang
aneh."
"Barisan apa ?"
"Menurut keterangan seorang sahabat, barisan itu
dibentak antara gabungan barisan Kiu-kiong pat kwa
dengan ti-hun-im."
"Mestinya itu barisan Thay ho-tin .. ."
"Thay-ho tin ?" Cu Jiang menegas.
"Ya, kalau menurut keterangan, barisan itu mestinya
disebut Thay-ho-tin. Tetapi barisan Thay-ho-tin itu
merupakan salah satu barisan dari tiga barisan besar yang
terdapat dalam kitab pusaka Ki-bun-ceng ciat. Mengapa dia
bisa menyusun barisan itu?"
Tiba2 Cu Jiang teringat.
"Kitab Ki-bun-ceng ciat diwaktu hilang dan jatuh ke
tangan Pek kut song-sian...?"
"Tidak mungkin, kedua iblis itu singkat sekali waktunya
mendapatkan kitab pusaka itu, hanya dalam seratus hari."
"Mohon tanya, bagaimana kitab itu bisa hilang ?"
"Gara2 sam-suhengmu yang mempelajari kitab itu. Tidak
seharusnya waktu keluar lembah, dia membawa kitab itu
sehingga ketahuan kedua iblis dan direbutnya. Untung anak
dari suami isteri iblis itu dapat kutawan sebagai sandera."
"Ya, murid telah mengetahui."
"Tetapi apakah benar barisan di markas Gedung Hitam
itu merupakan Thay-ho-tin. Jika tidak, tentulah akan
membuang waktu sia-sia." kata Lam-ki soh yang sejak tadi
diam saja.
Ih Se lojin kerutkan dahi.
"Jika kusuruh murid untuk memeriksa, berarti akan
mencampuri urusan dunia persilatan. Suatu hal yang
bertentangan dengan pendirian perguruan ku," katanya.
"Tetapi sekarang saja Cu Jiang sudah masuk menjadi
murid Thay-hi bun. Apakah hal itu berarti dia tak boleh
melakukan gerakan apa2."
"Itu lain lagi persoalannya, pertama, karena dia
mampunyai dendam berdarah untuk keluarganya. Dan
kedua, dia telah mendapat perintah dari suhunya ...."
"Kalian telah bersumpah untuk mengasingkan diri tak
mau mencampuri urusan dunia, adakah dalam soal budi
dendam dari murid. Juga tak mau memberi bantuan?" tegur
Lam-ki-soh.
"Peristiwa budi dendam yang menyangkut dirinya
dahulu sebelum masuk kedalam perguruan, perguruan kami
takkan mengurus."
Kuatir kedua tokoh tua itu akan terlibat dalam
perdebatan yang sengit, buru2 Cu Jiang berkata:
"Supeh, murid hanya mohon petunjuk bagaimana cara
untuk memecahkan barisan Thay-ho-tin saja. Jika tak
berhasil, kelak murid akan menghadap kemari lagi untuk
mohon petunjuk."
"Kalau begitu sih boleh," kata Ih Se lojin "tetapi ingat,
selama engkau bergerak di dunia persilatan tak boleh
engkau mengaku sebagai murid perguruan Thay-hi-bun !"
"Murid akan ingat baik"
"Masih ada satu lagi. Jika benar barisan itu barisan Thayho-
tin, engkau harus menyelidiki siapakah yang
membuatnya."
"Baik."
Sementara itu kelima murid Ih Se lojin, masuk dengan
melaporkan bahwa hidangan dan arak sudah siap semua.
Sembari berbangkit, Ih Se lojin mengajak Lam-ki-soh
makan bersama. Tetapi tokoh itu menolak dan mengatakan
dia cukup akan makan bekalnya sendiri.
"Gong-heng, menganggap aku orang she Co ini benar
seorang manusia yang tak kenal perasaan?"
"Ai, hanya bergurau saja. Kan merepotkan saudara. "
Demikian mereka lalu bersama-sama duduk di meja dan
menikmati hidangan malam. Selesai makan haripun sudah
malam. Ih Se lojin lalu membuat sebuah lukisan peta dan
diserahkan kepada Cu Jiang dengan memberi penjelasan2
seperlunya. Juga mengenai barisan dalam lembah itu, Ih Se
lojinpun memberitahu kepada Cu Jiang.
Keesokan harinya, Cu Jiang bersama Lam-ki-soh pamit.
Dengan masih mengenakan kedok muka, Cu Jiang keluar
dari lembah itu. Setelah tiba di kaki gunung Tong-pik-san,
Cu Jiang berpisah dengan Lam-ki-soh.
Jika menuju ke Hu-yang untuk menemui Ang Nio Cu, di
perhitungkan waktunya masih belum tiba, mungkin Ang
Nio Cu tentu belum kembali.
Apabila dia bertindak sendiri untuk menggempur
Gedung Hitam, dia merasa telah melanggar janji dengan
Ang Nio Cu. Ah, akhirnya ia memutuskan, baiklah ia
pelahan-lahan menuju Huyang agar waktunya menunggu
disana tak usah terlalu lama.
Demikianlah dengan cara santai itu, setengah bulan
kemudian barulah dia tiba di kota Huyang. Terpaut dengan
waktu berangkat ke gunung Tay-pa san sudah hampir satu
bulan. Menurut perjanjian dengan Ang Nio Cu, ia lalu
mencari dan menginap di hotel Naga Hijau, sebuah hotel
besar yang terletak dipusat kota.
Untuk tidak menarik perhatian orang. Cu Jiang
menyamar jadi seorang anak sekolah. Tetapi menunggu
sampai tiga hari belum juga Ang Nio Cu muncul. Dia mulai
gelisah. Menurut perhitungan waktunya, seharusnya Ang
Nio Cu sudah datang.
Karena tak dapat menemui Ih Se lojin, seharusnya Ang
Nio Cu cepat kembali ke Huyang. Saat itu sudah menjelang
keempat puluh hari, mengapa dia belum muncul juga?
Seorang diri dia menikmati arak dalam kamar.
Pikirannya melayang-layang. Kalau sampai hari yang
keempat puluh, Ang Nio Cu tetap belum muncul, terpaksa
dia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia harus
menggempur Gedung Hitam sendiri.
Sekonyong-konyong dari arah luar kamar terdengar
suara wanita bersungut-sungut:
"Dia sudah mengatakan dalam empat puluh hari lagi
akan datang ke rumah penginapanmu ini . . ."
"Eh. siapakah sesungguhnya yang nona hendak cari itu?"
kata jongos hotel.
"Bukanlah sudah kukatakan kalau aku hendak mencari
seorang anak keponakanku yang jauh?"
"Nona, tetapi dia tentu mempunyai nama, kalau engkau
hanya bersungut-sungut dan marah2, tentu akan
mengganggu lain2 tamu. . ."
Cu Jiang terkesiap. Cepat ia beranjak dan mengintai
kearah luar Di halaman tampak seorang wanita tengah
memandang kian kemari sedang seorang jongos
menyeringai di sampingnya.
Wanita itu tergolong sudah pertengahan umur, karena
mengenakan baju merah maka cepat Cu Jiang dapat
mengenalinya sebagai salah seorang dari Empat wanita baju
merah yang menjadi pengawal Ang Nio Cu.
"Aku disini, " seru Cu Jiang.
Nona itu deliki mata kepada si jongos: "Tuh, apa
bukan?"
"O, Allah, mengapa nyonya tadi2 tak bilang kalau tuan
muda itu?" seru jongos. Namun nyonya itu tak
mengacuhkannya dan terus masuk ke dalam kamar Cu
Jiang.
"Silahkan duduk toanio." Kata Cu Jiang.
"Jangan memanggil begitu, namaku Soh Tan Hong."
"O, Soh toanio."
Jongos datang membawa minuman lalu menanyakan Cu
Jiang mau pesan apa lagi.
"Bawakan bebek panggang dan arak wangi," kata Cu
Jiang.
Setelah jongos keluar, Cu Jiang menuangkan arak ke
cawan dan mulai menanyakan tentang Ang Nio Cu.
"Dia tak dapat datang memenuhi janji dan
memerintahkan aku kemari . . ."
"Mengapa dia tak dapat datang?"
"Dia menderita luka parah, jiwanya terancam . . ."
Kejut Cu Jiang bukan kepalang. Seketika wajahnyapun
berobah.
"Dimana dia sekarang?" serunya gemetar.
"Di sebuah biara tua diluar kota Keng-ciu."
"Dimana dia menderita luka?"
"Waktu di belakang puncak Kiu-kiongsan!"
"Siapa yang mencelakainya?"
"Entah. Mungkinkah Ih Se lojin?"
"Tidak mungkin! "
"Bagaimana sauhiap memastikan begitu?"
"Karena aku sudah dapat menemukan Ih Se lojin itu."
"Di gunung Tay pa-san?"
"Hm," Cu Jiang hanya sembarangan mendengus karena
dia tak mau sembarangan memberitahukan tempat
perguruannya. "bagaimana lukanya?"
"Menderita luka dalam yang parah sekali, sehingga tak
sadarkan diri. Waktu kutinggalkan sudah lima hari
lamanya, entah..." ia tak dapat melanjutkan kata2 karena
tersendat isak air matanya.
"Toanio, silahkan makan dulu, nanti kita segera
berangkat."
"Aku . . . tak dapat makan."
"Tetapi engkau harus makan agar tenagamu tak lemas.
Mari minum dulu..."
"Tidak."
Begitulah keduanya terus makan. Cu Jiang sendiri juga
tak ada selera makan. Setelah membereskan rekening, dia
bersama Soh Tan Hong terus tinggalkan Hu yang.
Karena siang malam menempuh perjalanan, pada hari
keempat pagi mereka tiba di kota Keng-ciu. Soh Tan Hong
membawanya menuju ke sebuah biara bobrok yang terletak
tujuh delapan li dari kota.
"Mengapa tak memilih tempat yang layak?" tegur Cu
Jiang ketika menyaksikan alam sekeliling tempat itu sunyi
senyap.
Soh Tan Hong tertawa hambar.
"Majikan kami banyak musuh, dan lagi dalam keadaan
luka parah, dia tak dapat membuat gerakan yang
menimbulkan perhatian orang."
"Oh, begitu." Kata Cu Jiang.
Keadaan biara tua memang mengenaskan sekali.
Dindingnya banyak yang gompal dan rumput tumbuh liar
tak dirawat. Biara itu sendiri amat besar, dulu tentu
merupakan tempat ziarah yang ramai.
Memasuki ruang kedua, muncul seorang wanita lain lagi.
"Bagaimana dengan majikan?" tegur Soh Tan Hong
kepada kawannya itu.
Wanita itu menghela napas panjang: "kita harus
bersyukur kepada Langit dan Bumi bahwa majikan tak
sampai terancam malapetaka. Tetapi dia masih
memerlukan istirahat untuk memulangkan tenaga . . ."
Apa sudah mau makan?"
"Hanya sedikit."
"Bicara?"
"Secara memaksakan diri."
Kemudian wanita itu berkata kepada Cu Jiang.
"Sungguh tepat kedatangan sauhiap ini. Waktu sadar,
pertama yang disebut oleh majikan kami ialah nama
siauhiap."
"Apakah aku boleh menengoknya?"
"Tentu saja boleh, silahkan."
Melintasi halaman yang penuh ditumbuhi rumput liar,
mereka tiba di muka sebuah ruang yang bersih. Dan wanita
yang menjadi penunjuk jalan itu berseru nyaring:
"Cu sauhiap hendak menghadap majikan!"
"Lekas silahkan masuk." terdengar suara wanita
menyahut dari dalam.
Cu Jiang amat tegang. Mengikuti kedua wanita itu
masuk, ia melihat sebuah ranjang kayu yang diberi alas
dengan rumput jerami dan diatasnya rebah tubuh dari tokoh
misterius dalam dunia persilatan yakni Ang Nio Cu. Dia
masih mengenakan kain kerudung muka.
"Toaci, aku datang menjengukmu," seru Cu Jiang
dengan nada tegang.
Sepasang mata Ang Nio Cu berkaca-kaca, dengan suara
lemah ia menyahut:
"Ah, adik, membikin repot engkau saja."
"Taci, bagaimana dengan lukamu?"
"Rasanya tentu mati."
"Sudah minum obat?"
"Aku hanya mengandalkan tenaga dalam untuk
menyembuhkan, mungkin masih perlu waktu setengah
bulan lagi untuk beristirahat."
"Apakah yang dapat kulakukan?"
"Tak usah, aku dapat mengatasi sendiri. Adik,
bagaimana hasilmu ke gunung Tay pa san?"
"Beruntung tak sampai mengecewakan perintah taci."
"Engkau.... dapat menemui Ih Se lojin."
"Ya !"
"Dia mau memberi petunjuk kepadamu cara
memecahkan barisan?"
"Ya."
"Ah."
"Taci, bagaimana engkau sampai terluka?"
"Biar... Go Kiau yang memberitahu kepadamu."
Wanita yang menjaga di samping, mengangkat sebuah
meja kaki tiga.
"Harap Cu siauhiap duduk, aku akan bercerita pelahanlahan."
Cu Jiangpun duduk.
Wanita yang bernama Go Kiau itupun mulai menutur:
"Aku dan Soh suci bertiga mengikuti... majikan kami tiba
di belakang gunung Bok-tok-san. Tujuan kami pertama
yang mencapai lembah Ki lin koh yang berada di belakang
puncak gunung Kiu kiong san. Karena Ih Se lojin pernah
muncul disitu. Kami sangka dia tentulah penghuni lembah
itu. Tiba di mulut lembah, majikan memerintahkan kami
supaya menunggu di luar dan dia terus masuk ke dalam
lembah..."
Cu Jiang mengangguk.
"Lebih kurang seperminum teh lamanya, majikan keluar
dari lembah membawa luka. Dia suruh kami cepat2
membawanya pergi dari tempat itu, dan beberapa saat
kemudian diapun pingsan tak sadarkan diri lagi..."
"He, lalu..."
"Kamipun segera meninggalkan mulut lembah masuk ke
dalam daerah pedalaman untuk mencari persembunyian.
Kami bertiga berusaha menyalurkan telaga dalam dan
setengah hari kemudian barulah majikan kami siuman.
Dia terus menitahkan supaya diantar ke Hu yang. Kami
berusaha menggunakan kendaraan darat dan air. tetapi
sampai ditempat ini keadaan majikan sudah tak kuat lagi.
Terpaksa menggunakan biara tua ini untuk tempat
meneduh dan menyuruh Soh suci memberitahu Cu
sauhiap..."
"Apa hanya begitu ?"
"Masih ada lagi. Setelah keadaan majikan agak tenang,
dia mengatakan bahwa ketika di lembah Ko Min ton, yang
menyerangnya adalah seorang lelaki tua aneh yang pada
tengah dahinya tumbuh sebuah tahi lalat. Tak diketahui
nama dan asal usulnya. Begitu bertemu terus menyerang.
Hanya dalam lima gebrak, majikan sudah terluka parah dan
meloloskan diri. Untung masih dapat lolos, kalau tidak,
malah bagaimana jadinya..."
Cu Jiang berpaling kearah Ang Nio Cu. "Taci, apakah
engkau dapat menduga siapa orang tua itu ?"
Ang Nio Cu pejamkan mata, ujarnya.
"Tak dapat kuketahui asal usulnya. Yang jelas ilmu
kepandaian teramat sakti. lebih tinggi dari ketua Gedung
Hitam."
Sejenak berdiam diri Cu Jiang berkata.
"Taci, engkau perlu harus beristirahat."
"Ya, paling sedikit setengah bulan."
"O itu lebih baik. . ."
"Mengapa lebih baik?"
"Aku hendak menuju ke Kiu-Kiong-san "
"Mengapa ?"
"Taci, dendam darah kita itu, harus kutagih kepada
mereka."
"Ah, adik Jiang, sudahlah, tak usah kita bicarakan lagi,"
seru Ang Nio Cu.
"Tidak! Betapapun aku harus dapat melihat siapa
sebenarnya orang itu ! Masakan dunia memperkenankan
manusia yang lebih buas dari binatang, setiap bertemu
orang tentu membunuhnya."
"Apakah engkau benar2 hendak kesana ?"
"Tentu, setelah aku kembali dari sana, luka tacipun tentu
sudah baik."
"Hati-hatilah."
"Harap jangan kuatir, aku dapat membawa diri dan
kuharap taci dapat menjaga diri baik-baik agar lekas
sembuh. Sekarang aku mohon diri. ."
"Sekali-kali jangan kau memandang rendah pada lawan.
Bertindaklah menurut gelagat."
"Baiklah."
"Akan kusuruh menyediakan makanan dan arak.
Beristirahatlah dan besok engkau boleh berangkat."
"Tak usah."
"Adik Jiang . .. engkau harus meluluskan pesanku tadi
untuk berhati-hati... jangan membuat hatiku cemas. Engkau
harus mengetahui bahwa masih ada sebuah kebahagian
hidup seseorang yang diserahkan kepadamu..."
Cu Jiang tergetar perasaannya. Secara resmi ia telah
menjadi suami isteri dengan Ho Kiong Hwa tetapi tak
pernah ia memikirkan diri nona itu...
"Taci, aku akan melakukan segala pesanmu."
"Bagus."
"Sekarang aku mohon diri."
"Baik2 engkau menjaga diri, adik Jiang."
Sedemikian akrab bahkan mesrah Ang Nio Cu bersikap
terhadap Cu Jiang. Seolah-olah seperti seorang taci
terhadap adik kandungnya.
Dengan perasaan gembira dan berterima kasih, Cu Jiang
keluar dari biara itu. Saat itu masih siang, ia tak mau masuk
ke kota lagi melainkan terus melanjutkan perjalanan.
Agar tidak putus hubungan dengan rombongan Ki Siau
Hong, disepanjang jalan ia selalu meninggalkan tanda
rahasia.
Ketika tiba di lembah Ki lin koh gunung Kiu Kiong san,
Cu Jiang berganti menyaru sebagai tokoh Toan kiam jan jin
lagi. Ia sengaja berjalan dengan langkah pincang dan
pinggang menyelip pedang kutung bertebar mutiara.
Lebih kurang empat puluh tombak memasuki lembah
tiba2 ia melihat sebuah ciok pay atau papan batu yang
bertulis empat buah huruf yang besar, berbunyi:
"Masuk lembah pasti mati."
Cu Jiang tertawa dingin, Brak, ia menghantam hancur
papan batu itu. Kemudian ia melanjutkan langkah.
Jalanannya berbahaya sekali, penuh karang dan batu2 aneh
yang malang melintang, Sepintas memang tampak seperti
seekor kilin yang muncul.
Diantara batu2 yang aneh bentuknya itu, terdapat pula
tulang belulang yang menyeramkan pandangan mata.
Tentulah tulang2 itu berasal dan orang yang berani
memasuki tempat itu.
Dari kesan itu, dapat disimpulkan bahwa orang yang
berada dalam lembah tentu seorang manusia yang ganas.
Krak, krak, setiap langkah Cu Jiang menimbulkan bunyi
yang menyeramkan karena kakinya menginjak hancur
tulang2 manusia.
Tiba2 sesosok bayangan berkelebat dan tahu2 seseorang
telah menghadang jalan. Cu Jiang hentikan langkah
Memandang kemuka, terpaku ia terkesiap. Yang muncul di
muka itu seorang manusia yang menyeramkan, lebih tepat
dikatakan makhluk yang aneh.
Matanya hanya satu, punggung bungkuk menjungkai
keatas, bibir sumbing sehingga giginya yang besar2
menonjol keluar. Rambut kaku dan tangan mencekal
sebatang Joan pian atau ruyung lemas.
Mahluk seram itu memalingkan kepala memandang Cu
Jiang sejenak lalu tertawa aneh:
"Hai, bocah cilik, engkau berani menghancurkan papan
larangan di mulut lembah itu? siapakah engkau bagaimana
nanti engkau harus mati ?"
"Coba saja katakan, bagaimana cara kematian yang
harus kuterima ?" Cu Jiang menyahut sinis.
"Lebih dulu akan kubeset urat2 mu lalu kulitmu, setelah
itu engkau akan kurendam dalam air garam, nah, coba
bayangkan bagaimana rasanya nanti ?"
"Bagus, bagus, sungguh nikmat sekali. Tetapi asal
engkau mampu melakukan !"
Sring.... ruyungpun segera menggeletar di udara dan
secepat kilat menyambar.
"Aku hendak bertemu dengan yang menjadi pemilik ini,"
seru Cu Jiang.
Makhluk aneh itu tertawa lagi. Nadanya jauh lebih
menyeramkan dari serigala melolong.
"Jangan mimpi !"
"Kalau tak salah beberapa waktu yang lalu disini
kedatangan seorang wanita yang mukanya memakai
kerudung. Apakah kalian yang melukainya ?" seru Cu
Jiang.
"Dia belum mati ?"
"Tak mungkin dia akan mati !"
"Ah ah. engkau komplotannya ?"
"Ya, memang, aku memang khusus datang kemari
hendak membuat perhitungan."
"Heh. heh, bagus, bagus. Sungguh tak pernah kuduga
kalau ada orang yang berani datang kemari hendak
membuat perhitungan."
"Jangan heran, yang lebih bagus lagi akan terjadi nanti !"
"Budak kecil, aku tak punya waktu adu lidah dengan
engkau," habis berkata dia terus ayunkan cambuk joan-pian
nya.
Cu Jiang menghindar hilang. Manusia aneh itu menjerit
kaget dan cepat menarik pulang cambuknya.
"Hai, budak kecil, engkau hebat sekali!"
Setelah mengambil arah, dia segera ayunkan lagi
cambuknya, tar, tar . . . . seketika bayangan cambuk itu
mengembang seperti selembar layar hitam yang melingkupi
seluas dua tombak.
Cu Jiang tetap gunakan gerak langkah Gong gong pohhwat
untuk menghilang lenyap.
"Rupanya aku terpaksa harus membunuhmu lebih dulu!"
Dua kali serangan cambuk ruyungnya luput, rambut
manusia aneh itu meregang tegak. Matanya yang bundar
kecil seperti mata ular, berkeliaran buas. Mulut menganga
sehingga gigi-giginya yang panjang tampak membersitbersit.
Cu Jiang mencabut pedang kutung.
"Engkau Toan kiam jan jin ?" teriak orang aneh itu.
"Benar !"
"Bagus! Tak kira kalau engkau mengantarkan jiwamu
kemari sendiri . ." kata2 itu ditutup dengan ayunan cambuk
yang menimbulkan bunyi menggeletar sekeras-kerasnya
menyambar.
Tetapi Cu Jiang sudah siap. Ia memutar pedang. Tiba2 ia
rasakan tangannya kesemutan dan tahu2 pedang kutung
telah terlilit cambuk.
"Heh, heh, heh, heh . . ." terdengar manusia aneh itu
tertawa mengekeh dan Cu Jiang serentak merasakan dari
ujung cambuk orang itu telah memancar aliran tenagadalam
yang keras.
Cepat anak muda itu mengerahkan tenaga dalam untuk
mencekal pedangnya erat2. Lalu mulai balas mendesak.
Ternyata tenaga-dalam orang aneh itu bukan main
hebatnya sehingga ia masih mengimbangi Cu Jiang. Pada
saat Cu Jiang mengerahkan segenap tenaga dalamnya,
tampak biji mata orang aneh itu seperti melotot keluar,
urat2 dahinya melingkar-lingkar dan keringat bercucuran
sebesar kedele. Tetapi dia tetap ngotot untuk bertahan.
Tenaga dalam yang dimiliki Cu Jiang sudah menjadi
tataran hampir sempurna. Dengan begitu dapat diduga
betapa hebat tenaga dalam dari manusia aneh yang mampu
bertahan terhadap serangan Cu Jiang. Jelas dia lebih unggul
dari kawanan Sip pat Thian-mo.
Tetapi betapapun toh daya pertahanan manusia aneh itu
bobol juga. Dengan aliran tenaga-dalam yang dahsyat dan
tak henti-hentinya seperti ombak mendampar, akhirnya Cu
Jiang mengerahkan seluruh tenaga dan tiba2 mengibaskan
pedangnya.
Hai terdengar orang tertahan dan cambuk ruyung dari
manusia aneh itu terlepas, kaki terhuyung tiga langkah ke
belakang, mulutnya mengucur dua tetes darah.
Cu Jiang mengentak jatuh batang ruyung lalu melesat
maju. tak mau kasih kesempatan kepada musuh, demikian
terlintas kata2 itu dalam benaknya.
Huakkk... terdengar jerit ngeri, tubuh manusia aneh itu
bergemetaran, dadanya berlumur darah merah.
Tetapi pada saat itu, orang anehpun sempat
menghantam Cu Jiang sehingga anak muda itu terpental
selangkah ke belakang.
Cu Jiang benar2 heran tak terkira, mengapa jurus ilmu
pedang Thian-te kay thay tak berhasil merobohkan lawan.
Tiba2 orang aneh itu berputar tubuh terus lari masuk
kedalam lembah.
"Hai, berhenti dahulu!" teriak Cu Jiang seraya
mengacungkan pedang kutung ke atas kepala.
Gigi orang aneh itu terdengar berkemerutukan. Tiba2 dia
ngangakan mulut dan beberapa benda mirip bintang segera
menyembur keluar.
Cu Jiang cepat menghindar tetapi betapapun, tetap dia
kalah cepat dengan semburan yang tak terduga-duga itu.
Jaraknya begitu dekat dan senjata rahasia itu disemburkan
dengan mulut.
Lengan dan bahunya telah termakan beberapa biji
senjata rahasia itu. Untung tak mengenai jalan darah
penting. Kalau sampai terkena pada bagian jalan darah
penting, dia tentu mati.
"Huakkkk..."
Terdengar pekik ngeri menembus udara. Tubuh orang
aneh itu telah terbabat kutung menjadi dua oleh pedang Cu
Jiang.
Sebelum kumandang jeritan ngeri itu lenyap tiba2
terdengar suara mengembor keras.
"Hai, manusia liar dari mana yang berani membunuh
anak buahku yang bertugas menjaga mulut lembah !"
Selesai kata2, orangnyapun sudah muncul. Seorang laki2
tua berambut putih tetapi tubuh masih segar kekar.
Cu Jiang terperanjat. Ketika memandang, ia
memperhatikan pada tengah2 dahi orang tua itu terdapat
sebuah tahi lalat yang besar seperti mata.
Diam2 Cu Jiang girang. Inilah orang yang
dikehendakinya. Pemilik lembah yang telah melukai Ang
Nio Cu itu, pikirnya. Yang dibunuhnya tadi hanyalah anak
buah, dan Kalau anak buah saja sudah begitu hebat
kepandaiannya, majikannya tentu lebih dahsyat lagi, Mau
tak mau Cu Jiang tergetar juga hatinya.
Orang tua pendatang yang dahinya seperti mempunyai
sebuah mulut lagi (tahi lalat besar), tampak memandang
kearah mayat manusia aneh tadi. Tubuhnya yang tinggi
besar tampak gemetar. Tentulah dia sangat marah sekali.
Cu Jiang mencekal pedangnya erat2, siap menghadapi
segala kemungkinan. Sesaat orang tua itu mengangkat
muka, sepasang matanya berkilat2 tajam memandang
kearah Cu Jiang.
Cu Jiang merasa seperti dipancari sinar tajam yang
membuat bulu2 tubuhnya meremang tegang.
"Engkau .... Toan-kiam-jan Jin?"
Cu Jiang terkejut mendengar pertanyaan itu. Sekati
membuka mulut, orang itu sudah mengenal dirinya. Diam2
Cu Jiang menyadari bahwa ciri2 dirinya sebagai pemuda
pincang dengan pedang kutung ternyata sudah termasyhur
dan dikenal oleh setiap orang persilatan.
"Ya !" sahutnya ringkas.
"Heh, heh, budak kecil, engkau bakal mati tak berkubur!"
"Siapakah nama anda ?"
"Aku Sam Bok thian-cun!"
Cu Jiang tertegun. Dia tak pernah mendengar nama
tokoh persilatan semacam itu. Tetapi ia percaya, orang itu
tentu seorang tokoh angkatan tua yang ternama.
"Belum lama ini apakah anda melukai seorang nona
yang makanya memakai kain cadar ?" serunya pula.
"Melukai ? Apakah dia tak mati ?" Sam Bok thian-cun
atau Malaikat bermata-tiga mengulang. Dan kata2 itu tepat
seperti yang diucapkan manusia aneh tadi.
Setiap orang yang diserang, tentu mati. Aneh sekali
kalau hanya menderita luka dan tak sampai mati. Suatu hal
yang menunjukkan betapa ganas dan buas mereka.
"Apakah tentu harus mati ?" ulang Cu Jiang.
"Yang berharga untuk menerima serangan tanganku,
tidak banyak jumlahnya. Tetapi tak pernah ada yang
hidup."
"Tetapi kali ini memang suatu pengecualian!" sambut Cu
Jiang.
"Toan-kiam-jan-Jin, bagaimana asal usul dirimu ?"
"Tak perlu bertanya, aku takkan memberitahu! "
"Tak kubiarkan engkau menurut sekehendakmu sendiri.
Aku harus menyelidiki sampai jelas !"
"Untuk apa ?"
"Mencabut rumput harus sampai pada akarnya !" nada
Sam bok thian cun sangat menyerampak sekali.
Cu Jiang mendengus dingin:
"Sam Bok thian-cun, tak usah banyak bicara yang tak
berguna, Anda harus membayar semua perbuatan anda
selama ini."
"Membayar? Ha, ha, rasanya dalam dunia ini hanya
engkau seorang yang berani menagih pembayaran
kepadaku."
"Anda heran ?"
"Heran sekali !"
"Akupun baru pertama kali ini mendengar ucapan yang
begitu tekebur seperti anda."
"Ho, apakah arti budak semacam engkau ini."
"Dan engkau sendiri juga makhluk macam apa?" balas
Cu Jiang.
"Ha, ha. entah bagaimana harus kucincang tubuhmu
supaya hatiku puas nanti..."
"Sama-sama, bung !" sahut Cu Jiang.
"Budak, Jika engkau bukan Toan-kiam Jan jin, tak nanti
aku mau banyak bicara."
"Oh, terima kasih."
Sepasang mata Sam Bok thiancun membara merah
sehingga wajahnya makin menyeramkan. Ke dua
tangannya pelahan-lahan mulai diangkat...
Tiba2 Cu Jiang menyarungkan pedangnya.
"Pukulan harus disambut dengan pukulan. Biar engkau
mati dengan puas!" serunya dengan nada beku.
Sam Bok thiancun tertawa menyeringai.
"Hebat engkau !" serunya.
Seiring dengan bentakan yang dahsyat, serentak
keduanya mengayunkan kedua tangan, bum . . terdengar
letupan keras yang- menggetarkan seluruh lembah. Batu
dan pasir beterbangan ke udara.
Cu Jiang mundur tiga langkah. Darahnya serasa
bergolak-golak keras. Tetapi Sam Bok thian cun juga
tersurut ke belakang tiga empat langkah. Rambutnya awutawutan.
Ke-dua2nya tak membuka mulut tetapi hati masing2
sudah tahu bahwa kali itu mereka benar2 bertemu dengan
lawan yang tak boleh dianggap enteng.
Cara mereka berhantam tadi yalah keras lawan keras.
Tak memakai gerak jurus ilmu silat apa2, melainkan secara
jujur beradu kerasnya tulang dan tingginya tenaga. Siapa
yang lemah tentu binasa.
Setelah sama2 memulangkan napas, merekapun mulai
bergerak kembali ketempatnya semula tadi.
Tangan mulai di angkat, tenaga dihimpun dan hampir
serempak mereka mengayunkan lagi tangannya.
Buuummm.....
Terdengar ledakan hebat lagi dan keping2 hancuran
karang, yang mencurah dari udara seperti hujan.
Kali ini keduanya terpental ke belakang sampai tujuh
delapan langkah. Napas mereka memburu keras seperti
kerbau habis bekerja.
Hampir sepeminum teh lamanya baru mereka bergerak
maju ke tempatnya tadi. Saat itu merupakan babak
penentuan mati atau hidup. Keduanya sama2 mengerahkan
seluruh tenaga-dalam lalu mengayunkan tenaganya untuk
babak yang ketiga.
Kali ini yang terhebat sendiri. Hamburan karang dan
debu serta ranting2 dan daun bertebaran memenuhi lembah
sehingga suasana amat gelap.
Setelah terhuyung-huyung beberapa langkah, rubuhlah
Cu Jiang ke tanah. Segumpal darah meluap kearah
tenggorokan tetapi ia paksakan diri untuk menelannya
kembali. Tulang belulangnya seperti remuk.
Pandang matanya berkunang-kunang. hawa murni
tubuhnya sudah habis. Kali ini tamatlah riwayatku,
pikirnya.
Beberapa saat setelah suasana tenang dan terang, dia
melihat Sam Bok thiancun juga jatuh terduduk ditanah.
Rambutnya yang putih berwarna merah dan tubuhnya
menggigil keras.
"Dia terluka lebih hebat dari aku," kata Cu Jiang dalam
hati.
Sekarang ia harus cepat bertindak untuk mendahului
lawan. Siapa yang turun tangan lebih dulu, dialah yang
akan menang.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Dewasa SMP : Pusaka Negeri Tayli 3 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Dewasa SMP : Pusaka Negeri Tayli 3 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-dewasa-smp-pusaka-negeri-tayli-3.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Dewasa SMP : Pusaka Negeri Tayli 3 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Dewasa SMP : Pusaka Negeri Tayli 3 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Dewasa SMP : Pusaka Negeri Tayli 3 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-dewasa-smp-pusaka-negeri-tayli-3.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar