Cerita Ngentot Perawat Silat : Pendekar Bloon 6

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 03 Agustus 2012

Cerita Ngentot Perawat Silat : Pendekar Bloon 6-Cerita Ngentot Perawat Silat : Pendekar Bloon 6-Cerita Ngentot Perawat Silat : Pendekar Bloon 6-Cerita Ngentot Perawat Silat : Pendekar Bloon 6-Cerita Ngentot Perawat Silat : Pendekar Bloon 6


”’Rupanya besok di gunung Thay-san pasti akan terjadi
suatu peristiwa yang menggemparkan. Walaupun belum pasti
tetapi diantara orang2 aneh yang kita jumpai selama dalam
perjalanan ini, tentu ada pula yang berfihak kepada kita.
Tetapi ada juga yang menjadi lawan,” kata Ceng Sian suthay.
Mereka memutuskan untuk tetap beristirahat di kuil itu.
Besok pagi baru melanjutkan perjalanan lagi.
Keesokan harinya ketika melanjutkan mendaki, mereka
bertemu pula dengan rombongan jago2 persilatan, baik yang
merupakan perguruan, pang (perhimpunan) maupun
perseorangan, Pun mereka kebanyakan berasal dari daerah
utara timur, antara lain dari wilayah Hopak, Shoatang dan
Hulam bahkan jauh ke utara sampai ke propinsi Hek-liongkiang.
Diam2 keempat tokoh itu terkejut atas kewibawaan dari
Kim Thian-cong yang bersemayam di gunung Thay-san.
Mereka menduga tentu masih banyak lagi yang akan
menghadiri undangan.
Setelah melalui perjalanan mendaki yang cukup memeras
tenaga, akhirnya mereka tiba disebuah lapangan di puncak
gunung. Lapangan itu cukup luas. Sekeliling lapangan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
merupakan dinding karang yang menjulang tinggi. Sepintas
pandang lapangan itu menyerupai sebuah lembah kosong.
Pada ujung lapangan, dibangun sebuah bangsal yang besar
dan dihias mewah. Rupanya upacara peresmian penerimaan
menjadi anggauta perkumpulan Thian-tong-pay akan
dilakukan di lapangan itu.
Lapanganpun telah penuh dengan orang2 persilatan dari
berbagai daerah dan tempat. Mereka telah diatur dengan rapi
sekali.
Dimuka bangsal agung itu merupakan sebuah panggung
luas. Di tengah panggung diletakkan sebuah kim-ting atau
bejana berkaki tiga yang terbuat daripada emas.
Rombongan Hoa Sin, Ceng Sian suthay, Hong Hong tojin
dan Pang To Tik diberi tempat pada deretan muka. Keempat
tokoh itu tak mengerti apa maksud daripada persiapan2 yang
dihadapinya itu. Mereka menunggu dengan penuh
kewaspadaan.
Saat itu jatuh pada bulan delapan tanggal empat belas.
Bulan bersinar terang benderang dan malam purnama raya.
Sekalian jago2 silat yang berada di lapangan itu tak merasa
kalau sedang berada di puncak gunung Thay-san yang tinggi.
Mereka merasa seperti berada disebuah upacara yang meriah,
megah dan agung.
Setelah lampu2 teng warna warni dan lilin besar dinyalakan
maka mulailah terdengar genderang berbunyi.
Tak lama kemudian muncullah seorang lelaki berpakaian
indah di atas panggung, diiring dengan puluhan barisan musik,
Begitu tiba di tengah panggung maka rombongan musik yang
mengiringnya itu segera berpencar tegak berjajar pada kedua
belah samping.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
”Para hohan sekalian, tetamu2 dan saudara2 yang
terhormat,” tiba2 orang itu mulai angkat bicara.
”Atas nama perkumpulan Thian tong pay dan ketua Kim
Thian-cong kaucu peribadi, aku menghaturkan selamat dalang
kepada saudara2 sekalian. Demikian pula atas nama
perkumpulan Thian tong pay, mengucapkan terima kasih atas
kehadiran saudara2 pada malam peresmian berdirinya
perkumpulan Thian-tong-pay dan penerimaan anggauta.”
Orang itu berhenti sejenak. Ternyata dia merupakan juru
bicara dari perkumpulan Thian-tong-pay.
”Sebentar lagi Kim kaucu akan hadir, harap saudara2
sekalian suka berdiri selaku memberi hormat kepada kaucu
kita” kata jurubicara itu pula.
Terdengar suara berisik dari beratus-ratus, hadirin. Suara
itu jelas bernada desuh yang geram karena mendengar kata2
yang congkak dari jurubicara itu.
”Bagaimana acara2 selanjutnya, nanti Kim kaucu yang akan
mengumumkan,” jurubicara menutup kata-katanya.
Penutup pidato itu segera dimeriahkan oleh genderang dan
terompet yang bergema riuh.
Para jago silat yang berada dalam lapangan saling kasakkusuk
dengan kawan-kawannya. Dari nada pembicaraan
mereka, jelas kalau mereka tak puas dengan kesombongan
orang Thian-tong-pay. Tetapi mereka tak mau berbuat
sesuatu dan ingin melihat bagaimana perkembangan
selanjutnya.
”Kim kaucu yang mulia dan gagah perkasa akan tiba, harap
sekalian saudara berdiri memberi hormat !” tiba2 pengacara
tadi berseru pula dengan nyaring.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dan serempak terompetpun mengalun tinggi diiring dengan
genderang yang riuh. Yang pertama muncul adalah
serombongan anak laki2 berpakaian merah, membawa
penampan berisi buah-buahan. Kemudian rombongan gadis2
cantik berpakaian indah dengan membawa penampan berisi
bunga. Rombongan ketiga terdiri dari duapuluh lelaki
berpakaian merah dan rombongan keempat juga lelaki yang
berpakaian putih.
Setelah rombongan demi rombongan muncul akhirnya
sebuah tandu bercat merah dan bersalut warna kuning emas,
dipanggul oleh duabelas lelaki bertubuh kekar, muncul
ketengah bangsal.
”Kim kaucu, banswe !” teriak si pengacara yang terus diikuti
oleh rombongan2 pengawal tadi
Tandu emas diturunkan dan seorang pengawal segera
membukakan pintu. Beratus-ratus pasang mata dari hadirin
segera tertumpah ruah kepada tandu. Mereka hendak melihat
bagaimanakah wujut dari orang yang mengaku sebagai Kim
Thian-cong dan mendirikan perkumpulan Thian tong-pay atau
perkumpulan Nirwana itu.
Apa yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Seorang
lelaki berumur Iebih kurang limapuluh tahun keluar dari pintu
tandu. Seluruh barisan pengawal dan rombongan2 tadi serta
merta membungkukkan tubuh memberi hormat.
Tandupun segera diangkut ke samping oleh keduabelas
pengawal yang tak mengenakan baju.
Orang yang menamakan diri sebagai Kim Thian-cong itu
dengan tenang segera melangkah menuju ke kursi kebesaran
yang sudah disediakan di tengah bangsal. Setelah duduk,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
iapun menghadap ke arah hadirin yang berada di bawah
bangsal.
Walaupun jaraknya tak kurang dari tiga empatpuluh tombak
namun para hadirin yang terdiri dari jago2 silat itu dapat
melihat juga raut wajah Kim Thian-cong.
Seorang lelaki yang berwajah putih bersih, beralis tebal dan
mata tajam, memelihara kumis tipis dan jenggot pendek.
Mengenakan kopiah seorang sasterawan. Bajunya berwarna
kuning, bagian dada disulam dengan lukisan bunga terate
merah. Dalam pakaian seperti itu, makin menonjollah
kewibawaannya. Sepintas pandang Kim Thian-cong itu
menyerupai dengan kaisar.
Dua orang gadis cantik segera menghampiri dan berdiri di
belakang Kim Thian-cong, memekarkan kipas dari bulu merak
dan mulai mengipasi ketua Thian-tong pay itu.
Sekalian yang hadir baru tahu jelas susunan di atas
bangsal. Kim Thian-cong duduk di atas kursi kebesaran yang
beralas bulu harimau. Di bawah kakinya terdapat dua ekor
harimau yang mendekam disebelah kanan dan kiri kaki kursi.
Di samping kanan kiri, dua orang gadis cantik tengah
menggoyang-goyang kipas bulu merak untuk mengipasi Kim
Thian-cong.
Beberapa meter dari kursi kebesaran, pada samping kanan
dan kiri, berjajar dua kelompok gadis2 cantik. Kelompok di
sebelah kanan, terdiri dari duabelas gadis cantik berpakaian
kuning. Kelompok sebelah kiri juga terdiri dari duabelas gadis
cantik berpakaian hijau.
Kemudian lapisan kedua, tampak berjajar dua buah barisan
yang tegak di kanan dan kiri. Baris di kanan terdiri dari
duapuluh lelaki berpakaian merah. Sebelah kiri juga duapuluh
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
orang berpakaian putih. Tetapi wajah mereka tertutup oleh
kain cadar sehingga tak dapat tampak bagaimana raut
mukanya.
Lapisan yang paling terdepan terdiri dari dua belas anak
lelaki berpakaian biru. Masing2 dibagi menjadi dua. Sebelah
kanan enam anak, sebelah kiri enam anak.
Dari tempat kursi kebesaran sampai kemuka panggung
merupakan sebuah jalan yang direntang dengan permadani
merah.
Pengarah acara atau juru bicara tadi tegak di depan
panggung. Di atas panggung terpampang kain yang bertulis
huruf2 besar.
Thian-tong-kau gui mo seng tian le.
Artinya, Upacara peresmian besar dari perkumpulan Thiantong-
kau.
Berbagai tanggapan dalam hati para tokoh yang memenuhi
lapangan. Ada yang diam2 terkejut karena menyaksikan
persiapan yang begitu mewah dan megah dari Thian-tongkau.
Ada pula yang tersenyum sinis dalam hati dan
menganggap hal itu hanya suatu gertakan kosong untuk
memamerkan kekuatan Thian-tong-kau.
”Thian-tong-kau kaucu yang mulia, sudilah kaucu
menurunkan perintah kepada hamba agar hamba dapat
memberitakan kepada para hadirin,” seru pengacara itu.
Kim Thian-cong mengangkat tangan kanan, memberi
isyarat supaya seluruh hadirin tenang, Ke mudian dengan
suara yang lantang ia berseru :
”Beritahukan kepada para hadirin bahwa menjelang bulan
purmana di tengah langit, akan diadakan upacara
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sembahyangan untuk meresmikan berdirinya perkumpulan
Thian-tong-kau !” serunya ”Hamba segera akan melaksanakan
titah kaucu,” seru pengacara itu yang terus berputar tubuh
menghadap ke panggung.
”Para hohan dan tetamu2 sekalian, Thian-tong-kau kaucu
telah menurunkan titah bahwa nanti pada tengah malam
dikala bulan purnama berada di tengah langit, akan diadakan
sembahyangan suci untuk meresmikan berdirinya
perkumpulan Thian-tong-kau”.
Berhenti sejenak pengara itu berseru pula.
”Berdirinya Thian-tong-kau akan merupakan berkah bagi
kaum persilatan khususnya dan umat manuasia umumnya.
Karena Thian-tong-kau akan mengayomi keselamatan dan
kesejahteraan lahir dan batin, akan membahagiakan
kehidupan didunia dan Thian-tong (Nirwana). Thian-tong-kau
tak mempunyai tujuan lain kecuali akan mempersatukan kaum
persilatan yang sepanjang abad tak pernah mengeyam
ketenangan dan kebahagiaan. Di bawah panji Thian-tong-kau,
dunia persilatan akan membuka lembaran sejarah baru.
Semua kaum persiltan tanpa membedakan aliran, daerah,
perguruan dan tujuan, akan dilebur dalam satu wadah Thian
tong-kau.”
Kembali pengarah itu berhenti sejenak untuk mencari tahu
sampai dimanakah tanggapan para hadirin atas pidatonya itu.
Memang terdengar suara berisik dari para hadirin. Suara itu
terdengar merata tetapi pelahan sehingga sukar didengar.
”Agar upacara sembahyangan itu berlangsung dengan
khidmat dan benar2 dapat dihayati oleh para hadirin maka
kepada para hadirin, sebelumnya akan diminta untuk memberi
pernyataan masuk menjadi anggauta Thian-tong- kau”.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kembali terdengar suara berisik dari para hadirin. Bahkan
kali ini agak keras. Kebanyakan bernada geram dan
bersungut-sungut penasaran.
Setelah membiarkan suara itu bergemuruh beberapa waktu,
pengacarapun berseru pula ;
”Sekarang untuk tata tertib rapat besar ini, akan kami
sebutkan nama dari tokoh2 yang kami undang. Diminta agar
namanya yang disebut supaya berdiri agar para saudara2 yang
lain dapat mengenal”.
Kemudian pengacara itu mengeluarkan sebuah buku
panjang berisi nama2 dari tokoh yang diberi undangan. Lalu
dia mulai membaca :
Kepala perguruan gereja Siau-Iim-si dari gunung Siong-san
yang termasyhur. Hui Gong taysu ... ,
Pengacara berhenti dan memandang ke bawah panggung.
Tetapi sampai beberapa jenak tak tampak orang berdiri, la
kerutkan dahi.
”Ataupun wakilnya !” serunya mengulang. Tetapi juga tak
mendapat sambutan. Ia mendengus dan memberi tanda pada
bukunya.
”Ketua partai Bu-tong-pay. Ang Bin tojin,” seru pengacara
pula.
Tetapi seperti yang pertama tadi. Juga panggilan yang
kedua itu tak mendapat sambutan. Tak seorangpun tampak
berdiri untuk menyambut panggilan itu.
”Atau wakilnya !” masih pengacara itu mengulang. Namun
sia2. Kembali untuk yang kedua kalinya ia mendengus dan
memberi tanda dalam bukunya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Siau-lim-si dan Bu-tong-pay merupakan dua partai
persilatan besar yang termasyhur. Dengan tidak hadirnya
ketua atau wakil dari kedua partai persilatan itu, hadirin
gempar.
”Ketiga” kata pengacara pula, ”adalah ketua dari partai
persilatan Kun-lun-pay, Ceng Sian suthay ... ”
Gemuruh pula segenap hadirin ketika melihat seorang rahib
berdiri diantara tokoh2 yang duduk di deretan muka.
”Ya,” seru Ceng Sian suthay.
”Terima kasih, silahkan duduk,” seru pengacara dengan
wajah gembira.
“Yang keempat, ketua partai Go-bi-pay, Hong Hong tojin ...

Seorang imam serentak berdiri sambil mengiakan,
“Yang kelima ketua dari Kong-tong-pay”
Namun tiada yang berdiri.
“Ataupun wakilnya “ seru pengacara.
Serentak Pang To Tikpun berdiri dan mengangkat
tangannya : “Ya, aku wakil Hoa-san-pay”.
“Yang keenam, ketua dari partai Kong tong pay,” seru
pengacara.
Tak ada yang berdiri.
“Ataupun wakilnya,” pengacara mengulang.
Tetap tak ada yang berdiri. Setelah menunggu beberapa
saat, pengacara mendengus dan menulis pada bukunya.
”Yang ketujuh, ketua dari partai Kay-pang.” Seru
pengacara.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tak ada yang berdiri.
”Ataupun wakilnya !”
Juga tetap tak ada orang berdiri. Pengarah kerutkan alis
dalam2, wajahnya tampak suram:
”Adakah disini tak ada anggauta Kay-pang?
Tiba2 Hoa Sin berdiri, sahutnya: ”Ada. Akulah!”
”Siapakah tuan dan apakah jabatan tuan dalam Kay-pang ?”
seru pengacara.
”Aku ketua dari perhimpunan Kay-pang !” sabut Hoa Sin.
Pengacara terkesiap, serunya : ”Mengapa kau cu tak berdiri
waktu kusebut nama kaucu ?”
”Engkau menyebut apa tadi ?”
”Ketua dari partai-Kay pang.”
”Itulah sebabnya aku tak mau berdiri karena Kay-pang itu
sebuah perhimpunan bukan partai persilatan. Adakah tuan tak
dapat membedakan?” seru Hoa Sin mendamprat halus.
Pengacara itu merah mukanya. Namun cepat ia
menenangkan diri dan berseru:
”Yang kedelapan, ketua Hong-hoa-pang dari Pakkhia, Go
Kwi Lok pangcu.”
Seorang lelaki berumur 40-an tahun, tubuh tinggi gagah,
berdiri dan mengiakan.
Sekalian hadirin agak terkesiap. Hong-hoa-pang merupakan
sebuah perkumpulan rahasia dari kota raja. Anggautanya
terdiri dari pejuang2 yang menentang pemerintah kerajaan
Goan saat itu. Mengapa Hong-hoa-pang juga datang ke rapat
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
besar digunung Thay-san ? Demikian orang bertanya-tanya
dalam hati.
”Yang kesembilan, Shoatang Sam –hiap. Saudara Tan Hwa,
Tan Hong, Tan Hui!”
Tiga orang lelaki bertubuh kekar serempak berdiri dan
berseru mengiakan. Mereka adalah Shoatang Sam-hiap atau
Tiga jago dari propinsi Shoatang yang termasyhur dengan ilmu
golok berantai.
”Yang kesepuluh, ketua Ou-tiap-pang dari Poting, Mo Gay Ti
pangcu,” seru pengacara pula.
Seorang lelaki bertubuh kurus, wajah putih dan berdandan
sebagai seorang sasterawan, segera berdiri dan mengiakan.
Kembali para hadirin terkesiap On-tiap-pang atau
perkumpulan Kupu – kupu, sangat berpengaruh di Po-ting,
ibukota propinsi Hopak. Ou-tiap-pang terkenal dengan ilmu
silat Ou-tiap-kun, sebuah ilmusilat yang meniru gerak kupu2.
Lain sekali ilmu silat Ou tiup-kun itu dengan ilmu silat yang
tersiar di dunia persilatan. Ilmu silat Ou-tiap-kun
mengutamakan kelincahan dan kelemasan gerak. Memerlukan
suatu penguasaan ilmu gin-kang yang tinggi.
”Yang kesebelas, ketua dari Kim coa pang, gunung Lu-liangsan,
Pui Tik pangcu !” kembali pengacara berseru.
Seorang lelaki berpakaian baju kembang macam warna ular
serentak berdiri dan memberi hormat.
”Kim-coa-pang ?” seru para hadirin dengan tertahan. Kimcoa-
pang atau perkumpulan Ular Emas, memang sangat
terkenal. Markasnya di gunung Lu-liang-san. Keistimewaan
dari Kim-coa-pang, anggauta2nya menggunakan pedang kecil
berbentuk seperti ular emas. Demikian juga dengan senjata
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
rahasia yang mereka pakai, bentuknya macam ular emas yang
kecil tetapi beracun. Ketua Kim-coa-pang mahir sekali dalam
menggunakan senjata rahasia yang disebut Kim-coa-ciam atau
jarum Ular Emas.
“Yang keduabelas,” seru pengacara pula, “Thay-goan-itkiam
Leng Sian In.”
Seorang lelaki bertubuh agak gemuk dan berdandan seperti
pedagang serentak berdiri memberi hormat.
Thay-goan-it-kiam atau pedang-tunggal dari Thay-goan
cukup dimalui dalam dunia persilatan.
Kehadiran tokoh pedang dari Thay-goan itu juga menarik
perhatian para hadirin.
”Yang ketigabelas Liau taysu, kepala biara Leng-hun-kwan
digunung Ngo-tay-San,” seru pengara pula.
Seorang paderi tua berbangkit dengan serentak. Setelah
menganggukkan kepala, iapun duduk pula.
”Yang keempat belas, Siam-say-song-kiam saudara Gwat To
dan Gwat Ling,” seru pengacara.
Baik Liau Liau taysu maupun Siam-say-song kiam atau
sepasang pedang dari Siam-say. Cukup menegangkan
perhatian para hadirin. Mereka mempunyai nama yang tenar
di dunia persilatan terutama didaerah utara.
”Yang kelima belas, Ho-lam-ji-koay Utti Siang dan Utti Ho !”
seru pengacara.
Dua orang lelaki berumur 40-an tahun, yang satu bertubuh
kurus yang satu kekar, serempak berdiri. Mereka adalah Holam-
ji-koay atau sepasang manusia aneh dari Holam. Dalam
kalangan Hek-to atau golongan Hitam, kedua orang itu
terkenal sangat ganas dan aneh sekali sepak terjangnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
”Keenam belas, Hek-liong-pang kaucu Ko Beng Hwat dari
wilayah Hek-liong-kiang !” seru pengacara.
Seorang lelaki bertubuh tinggi berpakaian serba hitam,
serentak berbangkit dan mengiakan panggilan itu. Dia adalah
Ko Beng Hwat, bergelar Tok-gan-hek-liong si Naga-hitam mata
satu ketua perkumpulan Naga Hitam atau Hek liong pang yang
menguasai wilayah Hek-liong-kiang.
Sekalian hadiran terkesiap. Mereka tahu bahwa Hek-liongpang
atau Naga Hitam itu mempunyai banyak anggauta dan
pengaruh besar sekali di daerah Hek-liong-kiang.
”Ketujuhbelas, Hong-ho-tiau-soh In Tiong-sik” seru
pengacara.
Seorang tua berpakaian seperti nelayan segera berdiri dan
menganggukkan kepala.
Hong-ho-tiau-soh atau Pengail dari bengawan Hong-ho,
jarang muncul di dunia persilatan tetapi di perairan sungai
Kuning (Hong-ho) tiada seorang pun yang pernah berani
mengganggu. Bahwa kawanan perompak, sangat
mengindahkan kepadanya Para nelayan sering meminta
perlindungan kepadanya apabila mendapat gangguan dari
kawanan bajak.
”Kedelapan belas, Auyang Kun kaucu, ketua partai
persilatan Tiang-pek-pay !”
Seorang lelaki setengah tua dengan tenang segera berdiri
dan mengiakan.
Tiang-pek pay sebuah partai persilatan yang cukup terkenal
di daerah utara. Walaupun dunia persilatan hanya
menganggap Siau-lim pay, Bu tong-pay, Go-bi-pay, Kun-lunpay,
Hoa-san-pay, Kong-tong-pay dan Kay-pang sebagai tujuh
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
partai persilatan besar Tetapi Tiang-pek-pay-pun juga cukup
disegani dalam dunia persilatan. Terutama ilmupedang dari
partai persilatan gunung Tiang-pek-san itu, terkenal dengan
permainan yang tangkas dan tak terduga-duga.
”Yang kesembilan belas adalah saudara Suma Yong yang
terkenal dengan julukan Liau-tang-sin-kun !” seru pengacara
lebih lanjut.
Seorang lelaki setengah tua, berwajah putih bersih,
serentak berbangkit dan mengiakan, ia adalah Liau-tang-sinkun
atau Jago-sakti dari wilayah Liau-tang.
”Yang keduapuluh, Song Ik-siu kaucu, ketua Thiat-panghwe
dari Thian-cin !” seru pengacara.
Seorang lelaki berkaki satu dengan mencekal sebatang
tongkat besi serentak berbangkit. Thiat-pang-hwe atau
perkumpulan Tongkat-besi, sangat terkenal sekali di wilayah
Thian-cin. Ada suatu ke istimewaan dari perkumpulan itu.
Setiap anggautanya harus hilang sebuah anggauta badannya,
entah sebelah kaki entah sebelah tangannya. Dan Song Ik-riu
si kaki-besi, telah menyerahkan sebelah kakinya.
”Yang keduapuluh satu, saudara Sui-wan-sin kiam Geng
Yang-sin dari daerah Sui-wan !” seru pengacara.
Sui-wan-sin-kiam atau Pedang sakti dari daerah Sui Wan,
seorang lelaki berwajah seram tetapi sangat dimalui orang
karena ilmu pedang yang luar biasa. Orang persilatan
cenderung untuk menggolongkan dia sebagai tokoh aliran
hitam.
”San-se Ngo-kiat saudara2 Un Gi, Un Siong, Un Beng. Un
Tiong dan Un Tat.” Seru pengacara menyebut urutan yang ke
duapuluh dua.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Lima lelaki bertubuh pendek serempak berdiri. Mereka
adalah San-se Ngo-kiat atau Lima jago dari wilayah San-se.
Mereka berlima dikenal orang karena ilmu golok Angin-Iesus
atau Suan hong-to yang terkenal. San-se Ngo-kiat dikenal
sebagai tokoh yang suka mengganggu rakyat, menyamun dan
merampok. Dalam kalangan Liok-lim atau dunia begal di
daerah San-se, mereka menguasai daerah itu.
”Yang keduapuluh tiga, saudara Tokulo, kepala suku dari
Mongol,” seru pengacara dengan suara lantang.
Seorang lelaki yang mengenakan jubah kuning, segera
berdiri. Dia memelihara kumis panjang dan membawa
sebatang tongkat dari batu bintang. Berdiri sejenak ia segera
duduk kembali.
Kehadiran tokoh dari Mongolia dalam itu, mengejutkan
sekalian hadiran. Sedemikian besar pengaruh perkumpulan
Thian-tong-kau sehingga kepala dari salah sebuah suku di
Mongol juga memerlukan datang.
”Keduapuluh empat Im Yang cinjin dari lembah lm-yangkoh
digunung Hek-li-san”, seru pengacara.
Seorang lelaki bertubuh sedang, berparas putih, bibir merah
seperti seorang banci, serentak berdiri mengiakan.
Im Yang cinjin atau pertama Banci, kepala dari lembah Imyang-
koh memang lagak lagunya seperti orang banci.
Parasnya berbedak, bibir merah dan gayanya seperti wanita.
Tetapi setiap kaum persilatan tentu mengetahui bahwa tokoh
aneh itu memiliki ilmu lwekang yang luar biasa. Tangan
kanannya mengeluarkan tenaga-dalam Yang dan tangan kiri
memancarkan tenaga-dalam Im.
Seaneh dengan penghuninya, lembah Im-yang koh itu
memang aneh juga. Didalam lembah mempunyai dua buah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sumber mata air yang memancarkan dua macam air. Yang
satu air panas, yang satu air dingin. Itulah sebabnya maka
lembah itu di sebut Im-yang-koh atau lembah Banci.
Kehadiran tokoh aneh itu, cukup menarik perhatian para
hadirin juga.
”Yang keduapuluh lima, saudara Hek-bin long Kui Hok !”
seru pengacara.
Seorang lelaki berkulit hitam serentak berdiri dan tertawa.
Dia adalah Hek-bin-long atau Serigala-muka-hitam Kui Hok.
Seorang tokoh aliran Hitam yang sangat dimalui. Bermarkas di
gunung Hek-long-san.
”Yang keduapuluh enam, Siau-bin Su-seng, Li Seng Pun,
seorang pengembara yang tiada menentu tempat tinggalnya.
Dia terkenal sebagai tukang ’petik bunga’ atau tukang
merusak kehormatan wanita yang ganas.
Seorang lelaki berumur tigapuluh lima, berparas cakap dan
mengenakan dandanan sebagai seorang siucay (sasterawan)
tampil berdiri dan mengangguk dengan senyum simpul.
Pengacara terus menerus menyebut nama dari tokoh2 yang
diundang. Tetapi kebanyakan kecuali keduapuluh tujuh tokoh
tadi. Yang lainnya hanya tokoh2 yang tak begitu terkenal atau
hanya tokoh2 kelas dua.
Setelah seratus kali menyebut nama orang yang diundang,
barulah pengacara menyudahi kewajibannya.
”Demikianlah saudara2,” serunya, ”kecuali hanya beberapa
gelintir orang yang tak memenuhi undangan kami. Sebagian
besar dari sahabat persilatan telah datang menghadiri upacara
berdirinya perkumpulan kami Thian-tong-kau. Mungkin masih
banyak sekali sahabat2 persilatan yang kelewatan kami
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
undang dan karena memandang muka kami, telah sudi
memerlukan datang. Kepada mereka dengan ini kami Thiantong-
pay menyatakan penghargaan dan terima kasih yang
setinggi-tingginya” Demikian pengacara itu mengakhiri
tugasnya mengabsen nama2 tokoh yang diundang maupun
yang kelewatan tak diundang.
Dalam kesempatan itu para hadirinpun ber-bincang2 di
antara kawan atau rombongannya. Karena ternyata tokoh2 itu
ada yang datang dengan membawa rombongan anakbuahnya.
Pembicaraan mereka bernada suatu pernyataan heran,
kaget dan kagum atas pengaruh dari Thian-tong-pay yang
ternyata telah tersebar sedemikian luasnya.
Juga rombongan Hoa Sin dan kawan2nya membicarakan
apa yang mereka saksikan di markas Thian-tong-kau situ.
”Kim Thian cong yang duduk didalam bangsal itu sepintas
pandang memang hampir menyerupai Kim tayhiap dahulu”
kata Hong Hong tojin ketua Go-bi-pay,” tetapi jaraknya cukup
jauh dari sini sehingga kita tak dapat melihat jelas”
”Tetapi kalau ditilik dari nada suaranya, berlainan dengan
Kim tayhiap,” kata Hoa Sin sambil kerutkan dahi.
”Dandanannya dan potongan wajahnya memang mirip
sekali,” kata Ceng Sian suthay.
”Ah,” tiba2 Pang To Tik menyela, ”dunia persilatan memang
penuh dengan tokoh2 yang beraneka ragam kepandaiannya.
Ada beberapa tokoh yang memiliki ilmu Pian-yong sut (ilmu
merobah wajah). Di antaranya Cian-bin long kun. Jit cap ji
pian-hoa (manusia-yang dapat merobah mukanya sampai
tujuhpuluh dua macam) Ko Hui liang yang termasyhur. Dan
lain-lainnya. Mereka tak seberapa sakti ilmusilatnya tetapi
mereka benar2 hebat dalam ilmu merobah paras muka.”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hoa Sin mengangguk.
”Ya, benar. Memang dahulu pernah terjadi kehebohan
besar dalam Kay-pang ketika diadakan pemilihan ketua.
Seorang tokoh telah menyaru menjadi salah seorang calon
ketua dan akhirnya terpilih. Tetapi dia melakukan langkah2
dan perbuatan2 yang aneh, bersifat hendak menghancurkan
Kay-pang. Untunglah peristiwa itu cepat terbongkar ketika
ketua kami yang sesungguhnya dapat diketemukan lagi.
Tokoh pemalsu itu mencium bau dan cepat2 melarikan diri.
”Jika demikian,” kata Hong Hong tojin. ”yang penting kita
harus berusaha untuk berada lebih dekat pada Kim Thian-cong
ketua Thian-tong kau itu agar kita mempunyai kesempatan
untuk menyelidikinya.”
”Tetapi bagaimana caranya dapat mendekati dia ?” tanya
Pang To Tik.
”Mudah,” sahut Hoa Sin, ”nanti pada saat kita akan
melaporkan tentang sebab ketidak hadirnya Hui Gong taysu,
Ang Bin tojin dan Suma In kaucu kita minta menghadap
sendiri kepada Kim Thian-cong kaucu Thian-tong-kau itu.” .
Ketiga kawannya mengangguk setuju.
”Mudah-mudahan hal itu dapat mereka setujui sehingga
kita mendapat kesempatan untuk menyelidikinya” kata Hong
Hong tojin. ?
”Tetapi bagaimana andaikata mereka hanya mengizinkan
salah seorang dari kita yang menghadap ?* tiba2 Pang To Tik
bertanya.
Ketiga ketua partai persilatan terkesiap. Mereka tak pernah
menduga akan kemungkinan hal seperti itu. Tetapi
kemungkinan itu memang dapat terjadi.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
”Kurasa baiklah Ceng Sian suthay saja, ”kata Hoa Sin.
”Ah, terima kasih Hoa pangcu,” kata rahib itu, ”tetapi aku
seorang wanita, mungkin kurang leluasa untuk mengamati
dia.”
Ketiga rekannya dapat menerima alasan itu.
”Baiklah, Hong Hong tojin saja,” kata Hoa Sin pula. ,
Tetapi ketua Go-bi-pay itupun menolak.
”Jangan Hoa pangcu” katanya, ”pertama, aku memang tak
begitu meneliti semua ciri2 dari mendiang Kim kaucu dahulu.
Dan kedua kalinya, penglihatanku memang kurang tajam.
Sebaiknya Hoa pangcu yang menghadap saja.”
Ketiga ketua partai persilatan yang lain menyetujui.
Terpaksa Hoa Sin menerima juga.
Tiba2 pengacara menghampiri ke hadapan Kim Thian-cong
ketua Thian-tong-kau Entah apa yang dibicarakan. Hanya
tampak pengacara itu kembali ke muka panggung dan berseru
:
”Atas perkenan Kim kaucu, maka sambil menanti upacara
sembahyangan agung, para tetamu akan dihibur dengan
beberapa pertunjukan dari anak2 murid Thian-tong-pay.
Mudah-mudahan saudara suka menikmatinya.”
Segera terdengar genderang berbunyi riuh,
mengumandangkan suara yang bernada perang Penuh
semangat, keberanian dan kepahlawanan.
Kedua belas anak lelaki yang terbagi menjadi kelompok
barisan baju Ungu dan baju Biru segera berjalan menuju ke
panggung. Mereka berjajar dalam dua barisan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tiba2 salah seorang dari bocah baju Ungu bersuit keras,
disusul pula dengan seorang bocah baju Biru.
Belum suara suitan sirap, terdengarlah aum kedua ekor
harimau yang duduk dibawah kaki Kim Thian-cong. Setelah
memperdengarkan aumnya yang dahsyat, kedua ekor harimau
itupun segera loncat menuju ke panggung.
Harimau itu tergolong harimau gembong.
Keduanya harimau jantan yang perkasa dan buas. Begitu
tiba di panggung, yang seekor segera menyerang barisan
bocah baju ungu Yang seekor menerjang barisan bocah baju
Biru.
Barisan bocah baju ungu segera menyiak kesamping
membuka sebuah jalan. Selekas harimau menerjang masuk,
merekapun segera bergerak mengatup, mengepung harimau
di lengah lingkaran. Demikian pula dengan barisan bocah baju
Biru.
Kedua harimau mengaum dahsyat karena terjangannya
luput. Serentak mereka pun menerjang anak2 itu. Tetapi
setiap kali, dengan gerak yang serempak, rapi dan cepat,
barisan itu tentu dapat menyingkir dan secepat itu pula terus
mengepungnya lagi.
Harimau makin marah. Terjangannyapun makin dahsyat
dan ganas. Tetapi betapapun halnya, tetap binatang itu tak
mau menerkam salah seorang dari barisan bocah itu.
Sekalian hadirin terkejut menyaksikan pertunjukan yang
hebat itu. Tokoh2 kelas satu segera mengenali bahwa
kawanan bocah baju Ungu itu sedang mengembangkan ilmu
barisan Pat-kwa tin. Sedang barisan bocah baju Biru sedang
memainkan barisan Kiu-kiong-tin. Sekalipun tahu gerak
barisan yang dimainkan tetapi tokoh2 itupun tetap kagum dan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
heran atas kecepatan dan kerapian dari gerak barisan bocah
itu. Bahkan ada yang beranggapan bahwa barisan Pat-kwa-tin
dan Kiu-kiong-tin yang dimainkan kedua barisan bocah itu,
jauh lebih hebat dari kaum paderi Siau-lim-si sendiri. Pada hal
kedua barisan itu termasuk barisan yang diandalkan partai
Siau-lim-si.
Pertempuran berlangsung makin seru. Kedua barisan bocah
itu tak memakai senjata melainkan hanya dengan tangan
kosong. Makin lama tampak harimau itu makin terengahengah.
Rupanya binatang itu sudah hampir kehabisan tenaga.
Tiba2 harimau itu berhenti di tengah lingkaran dan
mendekam, Dia tak mau menyerang lagi. Rupanya binatang
itu menyadari bahwa jika terus menerus menyerang, dia tentu
kehabisan tenaga. Sekarang dia berganti menunggu serangan.
”It-hou, rupanya engkau suruh kami balas menyerang,
bukan ?” teriak salah seorang bocah baju Ungu.
It-hou berarti Harimau Pertama. Dan harimau yang
menyerang barisan bocah baju Biru disebut Ji-hou atau
harimau kedua.
It-hou meraung keras. Rupanya ia hendak menjawab
seruan bocah baju Ungu itu.
”Baiklah,” seru bocah itu, ”sekarang kami akan melancarkan
serangan, hati-hatilah!”
Kini barisan bocah baju Ungu itu mulai mengambil sikap.
Dan pada lain, salah seorang segera loncat menghantam.
Tetapi harimau itu hanya beringsut ke samping dan hantaman
si bocahpun mengenai angin, Bocah itupun menyerang lagi,
tetapi baik pukulan, tebasan maupun tendangan, selalu dapat
dikelit dengan tenang oleh It-hou.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Apa yang berlangsung dalam barisan bocah baju Ungu, pun
terjdi juga dalam barisan bocah baja Biru. Ji hou si harimau
yang kedua pun menyediakan diri untuk diserang kawanan
bocah baju Biru. Tetapi kawanan bocah baju Biru itupun tak
berhasil menghantam Ji-hou.
Tiba2 seorang bocah baju Ungu bersuit keras. Demikian
pula dengan seorang bocah barisan baju Biru. Rupanya kedua
bocah itu menjadi pemimpin barisan masing2. Serentak kedua
belas bocah itu melolos ikat pinggangnya. Ikat pinggang
terbuat dari kain, tetapi ketika dimainkan, kain itu berobah
keras mirip dengan cambuk.
Keenam bocah baju Ungu dan keenam bocah baju biru
serempak menyerbu kedua harimau. It-hou dan Ji-hou seperti
dihujani cambuk. Kedua harimau itupun berloncatan untuk
menghindar. Betapa gencar dan cepac sabuk menghajar tetapi
harimau itu selalu dapat berkelit dan menghindar.
Setelah beberapa waktu lamanya, terdengar harimau itu
mengaum keras dan pada lain saat tubuhnya mencelat ke
udara sampai tiga tumbak, berjumpalitan dan melayang
melampaui kepala barisan bocah, meluncur turun ke bangsal
dan terus mendekam pula dibawah kursi Kim Thiau cong.
Sekalian hadirin terpesona menyaksikan pertunjukan itu.
Bukan saja mereka kagum akan tangguhnya barisan bocah
dari Thian-tong-kau, pun mereka terkejut akan kelihayan dari
kedua harimau yang jelas dapat bertempur, menyerang dan
menghindar menurut tata gerak ilmu silat.
Berlanjut pula renungan para hadirin itu. Jika kawanan
anakmurid yang masih bocah dan binatang harimau peliharaan
saja sudah sedemikian hebatnya, bagaimanakah ilmu
kepandaian dari ketua Thian-tong kau itu.’
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
”Masih ada waktu,” teriak pengacara setelah kawanan
bocah itu kembali ke tempat masing2, ”akan kami hibur
saudara2 sekalian dengan pertunjukan yang kedua.”
Kemudian ia berpaling dan memberi perintah kepada kedua
belas gadis baju kuning.
”Tunjukkan tarian tali” serunya.
Keduabelas gadis cantik baju kuning itupun segera maju
kemuka panggung. Mereka merentang enam utas tali panjang,
diikat pada tiang di kedua samping panggung.
Tali itu terbuat dari kawat yang hanya sebesar jari tangan.
Keduabelas dara cantik itu segera ayun tubuhnya melayang
keatas tali kawat. Yang enam menghadap ketimur, yang enam
menghadap ke barat. Mereka saling berhadapan dalam dua
kelompok.
Mereka berdiri dengan kaki satu diatas kawat. Setelah siap
merekapun mulai bergerak, berloncatan pada keenam tali
kawat itu, kemudian lari dalam bentuk lingkaran. Makin lama
makin cepat sehingga, merupakan sebuah lingkaran sinar
kuning.
Setelah beberapa saat, merekapun berhenti dan berdiri di
tempat semula, terbagi dalam dua kelompok yang saling
berhadapan. Kemudian mereka mencabut pedang.
Terkejut sekalian hadirin menyaksikan adegan itu. Apakah
mereka akan bertempur dengan pedang di atas tali kawat
yang sekecil itu ?
Pertanyaan itu cepat terjawab ketika mereka menyaksikan
keduabelas gadis itu bertempur. Setiap tali digunakan oleh dua
orang dara. Mereka bertempur dengan pedang. Makin lama
makin cepat dan dahsyat, Adakalanya, apabila menghindar
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
babatan kaki, dara itu melambung ke udara dan melayang
pula hinggap di atas tali kawat.
”Hebat” seru Hoa Sin ketika melihat pertunjukkan yang
mempesonakan itu.
Ceng Sian suthay, Hong Hong tojin dan Pang To Tik pun
kesima. Lebih2 para tokoh2 yang hadir. Mereka sama leletkan
lidah karena kagum.
Keduabelas gadis baju kuning memiliki ilmu gin-kang yang
luar biasa hebatnya. Diam2 mereka heran dari manakah
keduabelas dara itu ? Mengapa dalam usia semuda itu mereka
sudah menguasai ilmu ginkang yang begitu sakti ? Bahkan
tokoh2 kelas satu dalam dunia persilatan belum tentu dapat
menyamai ilmu gin-kang mereka.
”Hm, Thian-tong-kau hendak jual kegarangan untuk
mengecilkan nyali sekalian orang,” desuh Ceng Sian suthay.
”Tetapi suthay,” kata Hong Hong tojin, ”kenyataan mereka
memang mempunyai anakmurid yang begitu hebat”.
”Dalam hal ini” Ceng Sian suthay berhenti sejenak,
”memang mengherankan. Tetapi dalam hati kecilku seolah
mengatakan bahwa tentu ada sesuatu dibalik kepandaian
kawanan gadis itu.”
”Maksud suthay ?” tanya Hong Hong tojin, adakah suthay
menyangsikan kepandaian mereka?”
”Hm” desuh rahib ketua partai Kun-lun-pay itu, ”aku tak
dapat memastikan hal itu. Mudah-mudahan segalanya akan
berjalan seperti yang kuduga.”
”Dapatkah suthay memberitahukan apa yang menjadi
dugaan suthay itu ?” Hong Hong tojin mendesak.
Ceng Sian suthay tertawa kecil.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
”Maaf, toheng,” katanya, ”saat ini aku belum dapat
mengatakan apa2. Apabila dugaanku itu benar, nanti tentu
akan kuberitahukan toheng”
Dalam pada berbicara itu, ternyata pertunjukan bermain
pedang diatas tali kawat pun sudah selesai. Keduabelas gadis
itu segera loncat turun dan menyimpan tali kawat itu pula.
Para tokoh2 yang hadir mau tak mau bertepuk tangan
memberi pujian. Sekedar untuk menghormat kepada fihak
Thian-tong-kau dan sekalian tamu memang merasa kagum
juga.
Terdengar suitan keras dan rombongan keduabelas dara
baju hijau, segera tampil ke muka panggung.
Mereka masing2 mencabut golok lalu menancapkan
tangkainya ke panggung. Dalam sekejap mata duapuluh
empat batang golok telah tertancap dalam bentuk seperti
sekuntum bunga bwe. Sekalian tokoh2 yang hadir segera
mengetahui bahwa barisan gadis cantik baju hijau itu sedang
memasang Bwe-hwa-to atau barisan golok berbentuk bunga
bwe.
Setelah siap maka keduabelas gadis baju hijau itupun
segera loncat keatas ujung golok dan bergerak-gerak
melingkar-lingkar. Makin lama gerakannya makin cepat
sehingga seperti orang kejar kejaran.
Berdiri diatas ujung golok yang tajam dan berlari-lari saling
berkejaran. Benar2 suatu ilmu kepandaian yang menyebabkan
para hadirin tertegun. Hanya jago2 silat yang menguasai ilmu
gin-kang hebat, dapat melakukan permainan semacam itu.
Setelah beberapa saat berlarian, keduabelas gadis baju
hijau itupun berhenti, memecah diri dalam dua kelompok yang
saling berhadapan. Tiap kelompok terdiri dari enam gadis.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Seperti barisan gadis baju kuning tadi, barisan gadis baju
hijau itupun segera bertempur. Tetapi bukan dengan
menggunakan pedang melainkan dengan menggunakan
semacam senjata rahasia bola besi. Mereka saling lontar
melontar bola besi. Bermula kelompok sebelah barat
menghujani lawan Setelah tiap gadis melontar sepuluh bola
besi. Lalu kelompok sebelah timur yang melontar dan
kelompok sebelah barat yang harus menghindar.
.Jika menghadapi hujan senjata rahasia di tanah datar, itu
masih mudah. Tetapi jika harus menghindari lontaran bola
besi diatas ujung golok, barulah orang merasakan betapa
sukar dan berbahayanya.
Sekalian hadirin terlongong-longong. Diam2 ada yang
runtuh nyalinya, Jika disuruh melakukan hal itu, jelas mereka
tak sanggup. Hanya sedikit jumlahnya dari tokoh2 yang hadir
itu masih tampak mengangguk dalam hati sebagai pertanyaan
bahwa merekapun sanggup juga melakukan hal itu.
”Suthay,” tiba2 Hong Hong tojin berkata dengan pelahap
”bagaimana pendapat suthay tentang permainan mereka kali
ini ?”
Ceng Sian suthay kerutkan dahi.
”Memang apa yang kita lihat, harus kita akui
kehebatannya,” jawab ketua Kun-lun-pay itu, tetapi entah
bagaimana naluriku mengatakan bahwa ada sesuatu yang
tersembunyi dalam permainan mereka ttu. Hanya karena
belum dapat membuktikan maka akupun lebih baik tak
mengatakannya sekarang.’
Hoa Sin dan Pang To Tik tak memberi tanggapan apa2.
Hanya menilik dahi Pengemis-sakti Hoa Sm yang mengerut,
jelas dia sedang memikirkan sesuatu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pertunjukkan bertempur diatas ujung golok atau barisan
Bwe-hoa-to hampir selesai. Tiba2 kedua belas gadis baju hijau
itu lalu melenting ke udara, dan meluncur turun ke panggung.
Serempak dengan berhamburan keduabelas gadis baju hijau
itu dua puluh empat batang golok yang tertancap di papan
panggung pun serempak hilang. Ternyata saat membungkuk
tadi, gadis2 baju hijau itu tangannya mencabut sebatang
golok, sedang kakinyapun menjepit sebatang golok lagi.
Dalam melenting ke udara tangan dan kaki gadis2 itu telah
membawa dua batang golok sehingga barisan Bwe-hoa-topun
bersih seketika.
Pertunjukan itu mendapat sambutan yang bergemuruh dari
para hadirin. Sekarang mereka menumpahkan perhatian
kepada barisan Pengawal baju Putih dan Pengawal baju
Merah. Mereka menduga barisan pengawal itu tentu juga akan
mempertunjukkan kepandaian dan tentu akan jauh lebih hebat
dari barisan bocah dan barisan gadis itu.
Tetapi ternyata harapan mereka tak terlaksana karena saat
itu pengacarapun berseru :
”Berhubung waktunya sudah hampir mendekat waktu
upacara sembahyangan maka hidangan pertunjukanpun hanya
sampai disini. Harap para hadirin suka memaafkan. Dan
sekarang akan dimulai upacara sembahyang suci untuk
meresmikan berdirinya perkumpulan Thian-tong-kau.”
Pengacara itu memberi isyarat kepada kawanan bocah baju
ungu dan baju biru. Mereka segera masuk panggung.
Demikian pula dengan barisan keduapuluh empat dara2 cantik
itu. Tak berapa lama mereka membawa sebuah hiolou (tempat
sembahyangan) yang besar, terbuat daripada emas. Hiolou
diletakkan di atas sebuah meja. Di kanan kiri meja dipasang
lilin besar yang terang sekali apinya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Di muka meja diletakkan sebuah mangkok besar dari
tembikar yang indah. Dan disisi mangkuk tembikar itu terdapat
dua batang pisau yang tajam.
“Upacara sembahyangan segera dimulai. Sebelumnya akan
kami minta setiap tamu yang kami sebut namanya supaya
tampil keatas panggung. Tusuklah sedikit jari saudara dengan
pisau dan kucurkan darahnya kedalam mangkuk. Itu berarti
saudara telah resmi menjadi anggauta dari perkumpulan
Thian-tong-kau !”
Gemparlah sekalian hadirin.
>>oodwoo<< Jilid 31 Pengumuman pengacara yang berpakaian indah tentang akan dimulainya upacara sembahyang tetapi dengan terlebih dahulu para hadirin diminta untuk menusuk jarinya sampai mengucurkan darah selaku tanda masuk menjadi anggauta perkumpulan Thian-tong-kau, telah menimbulkan kegemparan besar. Beratus-ratus jago2 silat yang berkumpul di bawah panggung hiruk memberi tanggapan. "Para hohan yang terhormat!" kembali pengacara itu berseru untuk menindas kehingaran suasana, "Thian-tong-kau bertujuan luhur hendak mengangkat derajat kaum persilatan kearah kedamaian dan ketenangan serta persatuan. Sudah, berpuluh bahkan beratus tahun, tak pernah dunia persilatan reda dari pertempuran dan pertumpahan darah. Adakah demikian tujuan kita untuk mempela jari ilmu silat ?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Tidak, saudara2," seru pengacara itu pula," Thian-tong-kau menolak anggapan begitu. Dunia persilatan harus diselamatkan dari bencana yang sudah melatah beratus-ratus tahun. Kuncinya, terletak pada kita semua. Mengapa kita harus saling berbunuh-bunuhan ? Mengapa kita tak mau bersatu dan hidup rukun ? Untuk mencapai cita2 itulah maka Thian-tong-kau berdiri dengan tugas yang suci" Tiada sambutan apa2 dari para hadirin. "Oh", teriak pengacara itu pula, "adakah sau dara2 masih kukuh pada gengsi ? atau apakah saudara2 merasa bahwa saudara memiliki kepandaian silat yang paling sakti sehingga segan untuk bernaung dibawah panji Thian-tong-kau ? Ah, mungkin demikian. Jika begitu, Thian-tong-kaupun takkan memaksa kepada saudara. Tetapi demi untuk menyelamatkan muka Thian-tong-kau, maka setiap saudara, dari golongan ataupun partai persilatan atau perseorangan, yang memiliki perasaan demikian akan diberi kebebasan pulang bahkan akan diantar dengari penuh kehormatan oleh barisan pengawal Thian-tong-kau. Syaratnya hanya mudah saja. Saudara diminta untuk bertanding dengan anak murid Thian-tong-kau. Jika menang, saudara kami persilahkan pulang dengan penuh kehormatan Jika kalah, secara jujur saudara harus rela masuk menjadi anggauta Thian-tong-kau. Bukankah syarat itu sudah lebih dari pantas bagi kaum,persilatan -Nah, kami persilahkan saudara menentukan pilihan Jangan takut, jangan ragu. Thiantong- kau tak mengadakan paksaan . . " Belum sirap gema suara pengacara itu mengalun di udara seorang lelaki bertubuh tinggi besar telah loncat melayang ke atas panggung. Gerakannya amat gesit sekali. Di antara pekik teriak para hadirin yang terkejut, orang itu segera mengenalkan diri. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Aku yang rendah Ko Beng Hwat, seorang kasar dan bodoh dari wilayah Hek-liong-kiang." "Oh, ketua perkumpulan Hek-liong-pang ?" seru pengacara. "Ya," sahut orang itu. "Apa maksud Ko pangcu naik ke panggung ? Apakah Ko pangcu hendak mempelopori bersembahyang atau . . " "Maafkan" kata Ko Beng Hwat, "aku telah menerima undangan dari Thian-tong-kau kaucu dan dengan segenap tenaga, aku berusaha untuk memenuhi datang. Sebelumnya kami tak tahu akan maksud undangan tersebut kecuali disebutkan bahwa kami diminta untuk menghadiri upacara peresmian berdirinya partai Thian-tong-kau ?" "Hm," pengacara mendesuh, "kemudian setelah pangcu mengetahui maksud tujuan Thian-tong kau mengundang para hohan sekalian ?" "Hek-liong-kiang sebuah wilayah yang masih terbelakang. Tetapi justeru karena keadaannya yang terbelakang itu, wilayah Hek-liong-kiang selama ini aman tenteram. Hek-Iiongpang berdiri untuk menjaga keamanan dan kesejahteraan rakyat Hek liong-kiang dari gangguan kaum persilatan dari mana pun juga Hek-Iiong-pang tak mengandung cita2 lain kecuali hanya untuk menjaga ketenteram dan kesejahteraan wilayah Hek-liong-kiang." "Harap pangcu suka menjelaskan bagaimana pendirian partai kaucu terhadap ajakan Thian-tong kau" seru pengacara, "agar dapat kami sampaikan kehadapan kaucu kami" "Hek-liong pang berpendapat bahwa selama ini wilayah Hek liong-kiang selalu aman Pendirian kami, kami menghormati partai persilatan lain tetapi kamipun meminta supaya partai Tiraikasih website http://kangzusi.com. lain menghormati wilayah kami. Kami bersedia bersahabat dengan partai persilatan ataupun dengan tokoh silat yang manapun, atas dasar jangan mengganggu ketentraman wilayah Hek-liong-kiang". "Harap ditegaskan, adakah Hek-Iiong-pang ber sedia masuk menjadi anggauta Thian-tong-kau atau. tidak" setu pengacara. "Telah kami terangkan, bahwa kami ingin bersahabat tetapi ingin kebebasan. Karena dengan mengikatkan diri pada suatu partai persilatan berarti bahwa wilayah Hek-liong-kiang itu, akan kemasukan partai persilatan dari luar daerah. Itu-pun masih mempunyai akibat, bahwa partai sahabat itu tentu akan mengikat permusuhan dengan lain partai persilatan. Dengan begitu Hek-liong-pang tentu akan terseret dalam kancah permusuhan dengan lain partai persilatan. Dan sekali mengikat permusuhan, maka tak mungkin wilayah Heng-li-ong-kiang akan mengenyam Ketenangan dan ketenteraman lagi". "Hm," desuh pengacara itu" pandangan Ko pangcu memang tepat. Tetapi Ko pangcu hanya memandang pada umumnya atau apa yang telah berlangsung dalam dunia persilatan, dan belum tahu bagaimana kekuatan Thian-tong kau. Apabila pangcu sudah memiliki pengetahuan itu. rasanya akan berobahlah pangdangan pangcu " "Apa maksud saudara ?" Ko Beng Hwat menegas. “Thian-tong-kau adalah sebuah wadah dari semua partai persilatan. Thian-tong-kaulah yang akan mempersatukan, memimpin dan bertanggungjawab atas setiap tindakan anggautanya. Sudah tentu pula Thian tong-kau akan menjaga kerukunan dan keselamatan setiap anggautanya. Dengan demikian kiranya kekuatiran pangcu itu tak perlu diresahkan lagi.„” Tiraikasih website http://kangzusi.com. K o Beng Hwat tertawa. "Tetapi memang sudah menjadi pendirian Hek liong pang sejak beberapa puluh tahun yang lalu bahwa Hek-liong-pang akan tetap bersahabat dengan partai persilatan yang manapun dan dengan tokoh silat dari aliran manapun, atas dasar saling menghargai". "Maksud pangcu ?” "Hek-liong-pang suka bersahabat tetapi tak ingin bersekutu," sahut jago tinggi besar yang menjadi ketua dari Hek-liong-pang atau perkumpulan Naga Hitam. "Thian-tong-kau hendak meningkatkan persahabatan menjadi persekutuan yang lebih erat" seru pengacara. "Jika demikian, maafkan kami" sahut Ko Beng Hwat. Pengacara tertawa kecil. "Harap pangcu jangan meminta maaf. Karena kami Thiantong- kau sudah mempunyai peraturan. Bukan maaf yang dapat kami terima tetapi hanya syarat peraturan itu yang kami minta pangcu penuhi." Dengan kata2 itu jelas pengacara maksudkan bahwa Ko Beng Hwat boleh mempertahankan pendiriannya asal bersedia diadu dengan salah seorang anakbuah Thian-tong-kau. "Baiklah, walaupun cara itu berbau paksaan, tetapi karena tak dapat ditawar lagi, akupun terpaksa harus mentaati juga", seru ketua Hek-liong-pang. "Seorang ksatrya harus menghormat ksatrya. Seru pengacara ini. "sekarang silahkan pangcu memilih sendiri siapa yang pangcu kehendaki menjadi lawan pangcu." Tiraikasih website http://kangzusi.com. Merah muka jago dari Hek-liong-kiang itu. Kata2 pengacara itu dapat diartikan sebagai memandang rendah kepadanya. Jelasnya, murid Thian tong-kau yang manapun tentu dapat menghadapi Ko Beng Hwat. Namun sebagai seorang tetamu, ia tak mau unjuk sikap kasar. "Aku seorang tetamu, sudah tentu akan menyerahkan persoalan itu kepada tuan rumah, siapa2 yang akan mengalahkan aku." "Jika demikian" kata pengacara itu, "akan kutanya kepada mereka, siapakah yang bersedia me layani pangcu ber-main2". Habis berkata pengacara itu terus berpaling ke arah rombongan anakmurid Thian-tong-kau, serunya : "Hai, kalian, siapa yang bersedia melayani Ko pangcu" Seorang bocah lelaki kecil lari menghampiri dan, tegak berdiri di depan pengacara : "Hamba, Siau Lim senang untuk melayani pangcu". Bocah itu tak lain adalah salah seorang dari rombongan kelompok baju Ungu. "Eh, Siau Lim, engkau berani ?" tegur pengacara setengah bergurau, "apakah engkau tak takut kepalamu pecah nanti ?" "Mengapa ?" tanya bocah baju Ungu itu. "Engkau tahu, ketua Hek-liong-pang itu ada Uh Ko pangcu yang bergelar Tok-gan-hong !"" "Ih." pe-kik si bocah, "Naga mata satu? Yang kanan atau yang kiri ?" "Jangan kurang ajar, Siau Lim," seru pengacara itu, "mengapa engkau bertanyakan soal mata. Sekalipun hanya memiliki sebuah mata tetapi Ko pangcu mempunyai sepasang senjata cakar naga yang hebat sekali". Tiraikasih website http://kangzusi.com. Bocah itu tertawa : "O, sungguh menyenangkan sekali dapat melayani Ko pangcu agar aku bisa bertambah pengalaman " Pertama melihat bahwa yang tampil untuk menghadapi dirinya itu hanya seorang bocah lelaki, Ko Beng Hwat sudah mendongkol. la merasa diremehkan sekali. Dan kemudian setelah mendengar dirinya dijadikan bulan2 percakapan, marahnya tak dapat ditahan lagi. "Bocah, engkau terlalu sombong !" serunya, seraya maju menghampiri. "Harap Ko pangcu suka berlaku murah mengingat dia hanya seorang bocah" kata pengacara. "Hm," dengus Ko Beng Hwat, "jika demikian lebih baik suruh yang lain saja maju". "Tidak, Ko pangcu" tiba2 bocah baju Ungu itu berteriak, "biarlah, tak perlu Ko pangcu memberi kemurahan. Bahkan kuminta Ko pangcu jangan pelit mengeluarkan kepandaian agar aku dapat menerima pelajaran. Tak apa, aku takkan menyesal andai kepalaku sampai hancur. Itu bukan salah Ko pangcu tetapi salahku sendiri" Ko Beng Hwa mendengus. "Ko pangcu", bocah yang disebut dengan nama Siau Lim atau Lim kecil itu, berseru, "pangcu hendak ber-main2 dengan pakai apa ? Tangan kosong atau pakai senjata ?" Untuk yang ketiga kalinya, Ko Beng Hwat mengkal sekali mendengar tingkah laku bocah itu. Jika tak diberi hajaran, dia tentu belum tahu rasa dan orang2 Thian tong-kau tentu semakin congkak Demikian pikirnya. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Pakai tangan kosong saja karena kalau senjata itu berbahaya. Senjata tak bermata, salah sedikit tentu hilang nyawa kita," sahut Ko Beng Hwat "Baiklah, Ko pangcu, aku hanya menurut perintah pangcu saja," seru bocah itu terus mengambil di hadapan Ko Beng Hwat. "Silahkan Ko pangcu mulai !" serunya. "Tidak bisa." sahut Ko Beng Hwat, "pertama aku seorang tetamu. Kedua, aku lebih tua bagaimana aku yang menyerang lebih dulu ? Bukankah aku akan ditertawai orang ?" "Baiklah, jika begitu, "tanpa banyak sungkan lagi bocah itupun segera memasang kuda2 lalu meluncur maju menyerang. Ko Beng Hwat hanya mendengus dingin. Ia melihat bocah itu menggunakan jurus Thui-jong-eng-gwat atau Mendorongjendela- melihat-rembu-l.in, sebuah ilmusilat yang sederhana dan dilancarkan dengan gerak yang bersahaja sekali. Pikir ketua Hek-liong-pangitu, ia hendak memper-main2kan bocah itu sampai napasnya habis baru nanti ia tempeleng kepalanya. Ko Beng Hwat loncat menghindar. Tetapi tiba2 anak itu menarik pulang dorongannya setengah jalan terus secepat kilat ia gunakan jurusan Hok-hou-cau-sim atau Macan-hitammenerkam- hati. Dengan sebuah gerak yang amat cepat, bocah itupun loncat kebelakang Ko Beng Hwat dan menerkam punggungnya. Ko Beng Hwat terkejut. Ia loncat maju tetapi seperti bayangan bocah itupun tetap berada di belakangnya. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Setelah berloncatan empat lima kali tetap tak dapat menghindari si bocah, Ko Beng Hwat mulai heran. "Setan, mengapa dia selalu membayangi dibelakangku ?" gumamnya dalam hati. Akhirnya ia memutuskan untuk menghalau bocah itu. Secepat loncat ke muka ia terus melenting ke udara dan berjumpalitan lalu melayang turun ke tanah. Kini ia berhadapan dengan bocah itu. Tetapi alangkah kejutnya ketika ia tak melihat bocah itu berada di depannya. Kemanakah dia ? Belum sempat ia menemukan jawaban tiba2 punggungnya terasa disambar oleh angin. Segera ia tahu bahwa bocah itu sudah berada di belakang dan tengah menerkamnya lagi. Diam2 ketua dari Hek-liong-pang itu terkejut. Setitikpun ia tak pernah menyangka bahwa bocah yang sekecil itu memiliki ilmu gin-kang atau meringankan-tubuh yang sedemikian lihaynya. Rasa memandang rendah, seketika hapus dari pikiran Ko Beng Hwat. Setelah merenungkan cara untuk memecahkan serangan bocah itu, akhirnya ia menjejakkan kaki dan dengan sebuah gerak yang menyerupai naga, ia ayunkan tubuh ke udara, berjungkir balik dan melayang turun. Bocah itu terkejut juga menyaksikan ketangkasan lawan. Serangannya menemui tempat kosong agar jangan sampai diserang musuh ia loncat kemuka baru berputar tubuh. Ternyata Ko Beng Hwat masih tetap berdiri di tempat, tak mau mengejarnya. "Ko pangcu, terima kasih atas ilmu pelajaran ilmu gin-kang yang begitu hebat" seru si bocah. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Ko Beng Hwat merah mukanya, Jika tak menggunakan siasat jungkir balik ke belakang, tentu ia masih dibayangi dari belakang oleh bocah itu. "Bocah kecil" seru Ko Beng Hwat, "ginkang mu lihay sekali, aku mengaku kalah, Lalu apa kepandaianmu lagi selain itu ?" "Silahkan Ko pangcu menyebutkan !" "Imu pukulan ?"' seru Ko Beng Hwat. '"Ih, dapat juga walaupun tak sehebat Ko pangcu." sahut si bocah. Ko Beng Hwat menawarkan suatu pertandingan adu pukulan dan bocah itupun menerimanya. Kini keduanya mulai melancarkan pukulan, makin lama makin seru dan gencar. Bocah itu memang tangkas dan lincah sekali. Serangan KoPeng Hwat yang segencar hujan mencurah sedahsyat badai mendampar ternyata dapat dihindari semua. Tiba2 bocah itu loncat ke samping gelanggang dan menghadap pengacara. "Mengapa ?" tegur si pengacara heran. "Sudah selesai" sahutnya. "Sudah selesai ?" seru pengacara lalu berpaling ke arah Ko Beng Hwat yang tampak tegak terlongong, "benarkah sudah selesai Ko pangcu?" Ko Beng Hwat gelengkan kepala. "Jika anak itu sudah lelah, biarlah dia mengasoh dan silahkan memanggil lagi yang lain", se runya. Pengacara itu kerutkan dahi. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Dalam peraturan kami, setiap orang hanya dibenarkan untuk bertempur melawan seorang anak murid kami. Apabila anak murid Thian-tong-kau kalah maka orang itupun boleh berlalu. Demikian pula dengan Ko pangcu, apabila Ko pangcu merasa sudah dapat mengatasi bocah laki itu, silahkan Ko pangcu pulang." "Ya, kurasa aku berhak untuk pulang." seru ketua Hekliong- pang seraya hendak ayunkan langkah turun dari panggung. "Tunggu pangcu" tiba2 bocah itu berseru seraya maju menghampiri, "maaf, aku telah menjambret sebuah kancing baju pangcu". Bocah itu segera menghaturkan sebuah kancing baju. Seketika gemparlah seluruh tokoh2 yang berada di bawah panggung. Dengan perkataan lain bocah itu berhasil merubuhkan lawan tanpa membikinnya sakit. Andaikata mau menggunakan kekerasan, tentulah dada Ko Beng Hwat sudah terluka. "Siau Lim, engkau benar2 kurang ajar !" seru pengacara dengan nada cerah, "hayo. lekas haturkan maaf kepada Ko pangcu" Sementara itvi Ko Beng Hwat masih ter-longong2 seperti patung, la benar? tak mengira bahwa bocah itu berhasil mencopot sebuah kancing bajunya tanpa ia merasa apa2. Dan ia tahu apa artinya itu. "Baiklah," serunya dengan lantang, "aku Ko Ikng Hwat, hari ini telah mengalami hari naas ka rena kalah dengan seorang anak murid kecil dari Ihian-tong-kau. Ko Beng Hwat seorang lelaki, karena kalah akupun harus menyerah. Tetapi akupun tetap hendak memegang pendirianku sebagai pimpinan HekTiraikasih website http://kangzusi.com. iiong-pang. Hek-liong-kiang tak boleh dikotori oleh partai persilatan yang manapun. Maka Thian-tong-kau kaucu, terimalah penyerahan Ko Beng Hwat ini . . prak . . " Sebelum tahu apa vang terjadi, tiba Ko Beng Hwat menghantam ubun2 kepalanya sendiri. Seiring dengan letupan batok kepala pecah, darahpun berhamburan dan rubuhlah Ko Beng Hwat. Gemparlah sekalian tokoh2 dibawah panggung, Bahwa bocah baju Ungu itupun menjerit dan terus menyambar tubuh Ko Beng Hwat :"Ko pangcu mengapa engkau senekad ini . ," Ko Beng Hwat seorang jantan yang berhati jujur dan keras. Ia tak sudi tunduk pada Thian-tong-kau tetapi iapun tak mau ingkar janji. Maka ia menempuh jalan mati. Mati sebagai seorang ksatrya ! Tiba2 dua orang lelaki loncat melayang ke atas panggung. Keduanya mengenakan pakaian warna hitam dan mencekal tongkat berkepala naga. "Hai, bocah berikan jenasah Ko pargcu kami atau kami akan mengobrak abrik pertemuan ini !" seru salah seorang. Sebelum si bocah menjawab, pengacara sudah mendahului : "Siapakah kalian ini ?" "Kami berdua pengawal peribadi Ko pangcu "O, orang Hek-liong-pang ?" seru pengacara "apa kedudukanmu '?" "Pengawal pangcu !" "Apakah engkau hendak menyerah masuk menjadi anggauta Thian-tong-kau ?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Aku tak mengatakan begitu, aku hanya minta jenasah pangcu supaya diserahkan akan kubawa pulang ke Hek-liongkiang" "Boleh" seru si pengacara, "tetapi ada syaratnya" "Katakan !' "Engkau harus mengajak anakmurid dan ang gauta2 Hekliong- pang masuk kedalam Thian-tong-kau" "Itu soal mereka. Aku hanya menyampaikan saja, terserah keputusan mereka" "Siau Lim, berikan jenasah Ko pangcu kepada mereka" seru pengacara. Dan bocah baju Ungu itupun segera melakukan perintah. Kedua pengawal baju hitam itu segera membawa jenasah pangcu mereka loncat turun ke bawah panggung. Beberapa saat kemudian setelah hiruk pikuk suara para tokoh mempercakapkan peristiwa Ko Beng Hwat. maka pengacarapun berseru pula : "Saudara2 sekalian, Ko Beng Hwat pangcu memang seorang gagah yang perwira Sekalipun ia khilaf menilai pendirian Thian-tong-kau, tetapi kami dapat menghargai sikapnya.' Berhenti sejenak pengacara itu melanjutkan lagi : "Sekarang apabila masih ada saudara yang mempunyai pendapat lain silahkan naik ke panggung. Apabila tidak maka akupun akan mengundang saudara supaya naik ke panggung untuk mengadakan upacara masuk menjadi anggauta Thianlong- kau." Ucapan itu segera disambut dengan loncatnya lima sosok tubuh ke atas panggung. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Oh, San-se Ngo-kiat" sambut pengacara dengan nada datar, "adakah saudara berlima mempunyai lain pendapat ?" San-se Ngo kiat atau Lima-jago-gagah dari propinsi San-se terdiri dari lima saudara, Un Gi Un Siang, Un Beng, Un Tiong dan Un Tat, Kelima saudara itu dikenal sebagai pendekar yang suka menolong orang miskin dan benci pada kejahatan. Karena melihat peristiwa Ko Beng Hwat bunuh diri di atas panggung, kelima saudara itu tak dapat menahan hatinya lagi, Seremcak mereka berhamburan loncat ke atas panggung. "Benar" sahut Un Gi, Ngo-kiat yang tertua, "peristiwa Ko pangcu dari Hek-liong-pang tadi telah memberi kesimpulan kepada kami. bahwa Jhi-an-tong-kau akan menekan partai2 dan tokoh2 persilatan supaya masuk menjadi anggautanya. Benar kah kesimpulan kami itu ?" "Ko pangcu telah bunuh diri sendiri karena dia hendak menepati janji kepada Thian-tong-kau. Telah kusebutkan tadi, bahwa Thian tong-kau tak mau memaksa orang tetapi barangsiapa hendak tinggalkan gunung ini. asal lebih dulu bertanding dan memenangkan salah seorang murid Thiantong kau, dia boleh bebas pergi. Ini sudah menjadi peraturan Thian-tong-kau. Barangsiapa melanggar, pasti akan menderita sendiri". "Jika kami tetap hendak tinggalkan gunung ini ?" Un Gi menegas. Pengacara tertawa hambar : "Untuk datang menghadiri rapat di gunung Thay-san memang jalan terbuka lebar. Tetapi untuk turun gunung tanpa perkenan kami, lebih mudah naik tangga ke langit daripada melakukan hal itu" "Maksudmu ?" Un Si n berseru. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Seluruh jalan2 turun gunung, telah dijaga ketat oleh anakbuah Thian-tong-kau. Jangankan manusia, lalatpun tak mungkin lolos dari penjagaan itu" "Hm, aku tetap hendak mencobanya !" "Berhenti" teriak pengacara ketika kelima Ngo-kiat itu berputar tubuh hendak loncat turun panggung. Kemudian pengacara itupun bertepuk tangan dan lima orang dara baju biru serentak berhamburan menghampiri. "Tahanlah kelima hohan itu supaya jangan pergi " seru pengacara pula. Lalu berseru kepada San-se Ngo-kiat, "jika kalian berlima mampu lepas dari rintangan kelima dara itu silahkan kalian tinggalkan gunung ini!" Kelima saudara dari San-se menggeram. Di wilayah San-se, mereka berlima sangat disegani dan dihormati baik oleh tokoh2 aliran putih maupun hitam. Bahwa di panggung itu mereka seperti diperlakukan macam anak kecil, meluaplah kemarahan mereka. "Jika kami berlima tak mampu mengundurkan kelima anak perempuan itu. kami rela bunuh diri ... . " "Tidak !" teriak pengacara, "bukan bunuh diri yang kami inginkan tetapi kalian harus bersedia masuk menjadi anggauta Thian-tong-kau. Tujuan Thian-tong-kau bukan hendak membasmi para jago2 persilatan tetapi kebalikannya hendak menghimpun mereka dalam sebuah wadah persatuan ! Un Gi tak menghiraukan. Ia terus berpaling kepada kelima dara baju biru itu dan berseru : "Hai, kalian berlima apakah kalian hendak menghadang kami ?" "Kami diperintahkan begitu". Tiraikasih website http://kangzusi.com. “Majulah !" seru Un Gi "Baik" seru kelima dara itu seraya terus berhamburan menyerang, Setiap dara menyerang seorang Ngo-kiat, Pertempuran itu berlangsung seru dan cepat sekali. Tetapi beberapa saat kemudian San-se Ngo-kiat tampak lenyap ditelan bayangan warna biru. Kelima jago dari San-se itu telah dikuasai oleh ke lima lawannya. Memang dalam ilmu pukulan, kelima saudara Un tak begitu sakti. Mereka menumpahkan latihannya pada ilmu pedang. "Berhenti !" tiba2 pengacara berseru memberi perintah dan kelima dara itupun serentak loncat mundur melepaskan lawan yang sudah terkurung. "San-se Ngo kiat, kudengar saudara berlima yang hebat. Silahkan saudara memberi ilmu pedang kepada mereka !" "Hai, kalian dara2 baju biru, layani kelima saudara Un itu bermain pedang !" seru pengacara kepada kelima dara itu. "Baik, loya" sahut kelima dara itu. Un Gi sudah terlanjur naik panggung. Dan iapun tahu bahwa anakmurid Thian-tongkau memang tak boleh dibuat main2. Buktinya, seorang ketua Hek Iiong-pan pun harus jatuh ditangan seorang bocah murid Thian-tong-kau. Demikian dalam adu ilmu pukulan tadi kelima saudara Un itu menyadari bahwa kelima dara itu memiliki ketangkasan dan kecepatan gerak yang luar biasa. "Hm, berhadapan kawanan kurcaci Thian-tong-kau, tak perlu harus banyak sungkan" pikir Un Gi demikian pula keempat saudaranya. "Silahkan, nona2," seru Un Gi yang sementara itu telah membisikkan beberapa patah kata dengan ilmu Menyusupsuara, "bentuk barisan Ngo-lieng-tin" Tiraikasih website http://kangzusi.com. Kelima dara itu terkejut ketika melihat susunan posisi kelima San-se Ngo-kiat. Tetapi sesaat kemudian wajah mereka tampak tenang pula. "Sumoay, mari kita terjang barisan Ngo-heng tin" seru seorang dara yang bertubuh langsing dan mempunyai sebuah tahi lalat disisi hidungnya. Rupanya dia adalah pemimpin dari kelompok kelima dara itu. Shan-se Ngo-kiat telah siap dengan pedang di tangan. Begitu melihat kelima dara itu mulai bergerak maka San-se Ngo-kiatpun mulai bergerak-gerak, berputar-putar. Ngo-heng-tin atau barisan Lima Unsur alam terdiri dari Kim, Bok, Cui, Hwe dan Thoa atau Emas (logam), kayu, air, api dan tanah. Ngo-heng tin diciptakan oleh Cukat Bu-hou alias Khong Beng seorang penasehat militer yang cemerlang dijaman Sam Kok atau Tiga Negeri. Tetapi alangkah kejut sekalian tokoh silat! yang menyaksikan bagaimana dengan gerak yang lemah gemulai dan langkah yang sedap, kelima dara itu mampu menerjang masuk kedalam barisan pertama. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata kelima dara itu hanya bergeliatan menghadapi gerak putaran pedang San-se Ngo-kiat. Sepintas pandang menyerupai kupu2 yang beterbangan dibawah curahan hujan. Kelima saudara dari San-se itu benar2 terkejut sekali. Mereka telah menaburkan pedang sederas hujan dan telah menduduki posisi barisan yang tepat, tetapi ternyata kelima dara itu mampu menghindari dan mampu menerobos masuk. Pada hal mereka tak menggunakan pedang sama sekali. Hampir terganggu ketenangan kelima saudara itu. Terutama Un Tat yang paling bungsu. Dia berangasan dan Tiraikasih website http://kangzusi.com. keras. Melihat kelima dara itu berhasil dapat melewati pintu pertama. Dengan meraung keras. Un Tat terus hendak tinggalkan posisinya untuk menerjang kelima gadis itu. Tetapi cepat2 Un Gi mencegahnya dengan ilmu Menyusup-suara : "Ngo-te. jangan terangsang kemarahan. Tetap tenang dan jalankan barisan seperti biasa" Dengan kelincahan yang luar biasa, kelima dara itupun berhasil melewati lagi pintu yang kedua. San-se Ngo-kiat benar2 tergetar hatinya, Bertahun2 mereka mengangkat nama di wilayah San-se, belum pernah mereka menderita pengalaman seperti saat itu. Betapapun mereka menyerang dan menusuk, menahas dan membabat, tetap kelima dara itu dapat menghindar. Demikian pintu ketiga dan keempat, telah di lalui kelima dara. Sampai pada saat itu serentak timbullah gagasan dalam pikiran Un Siong, saudara nomor dua dari San-se Ngo-kiat. Menilik gerak ulang kelima dara itu, jelas mereka tentu sudah faham akan barisan itu. Jika dilanjutkan tentu akan sia2 belaka. * "Toako, bubarkan barisan Ngo-heng-tin dan terjang saja mereka" serunya dengan ilmu Menyu-sup-suara. Sebenarnya saudara2nya juga mempunyai pikiran begitu. Tetapi sebelum Un Gi memberi komando, Un Siong dan Un Tat sudah tak dapat menahan nafsu terus loncat menerjang keiima dara itu. Menjeritlah kelima dara itu karena kejut. Mereka tak menyangka akan menderita serangan yang begitu mendadak dan cepat. Mereka sedang bersiap2 hendak melalui pintu kelima atau yang terakhir. Merekapun masih terkepung di tengah2 barisan. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Un Siong dan Un Tat seperti harimau menerkam mangsa. Keduanya menikam dan membabat tubuh kelima gadis itu. Yang menggunakan jurus Heng-soh-cin-kun atau membabatseribu- lasykar. Yang satu menggunakan jurus Jun-hong-Iokyap atau Angin-musim-semi-merontok-daun. Yang satu membabat kaki, yang satu menaburkan sinar pedang menabas kepala. Kelima dara itu benar2 terkejut sekali. Untuk menghindar jelas tak mungkin karena di sebelah kanan, kiri dan belakang dijaga oleh Un Gi, Un Beng dan Un Tiong. Sekalian tokoh di bawah panggung pun berteriak gempar. Mereka percaya dan mengharap kelima dara itu pasti akan tercincang. Tetapi suatu peristiwa yang luar biasa telah terjadi. Seiring dengan jerit lengking yang memekakkan telinga, berhamburan kelima dara itu melambung ke udara sampai dua tombak tingginya. Mereka saling berpegangan tangan dan merupakan sekuntum kelopak bunga yang timbul keatas kemudian dengan saling mendorong, tubuh mereka berhamburan tersebar ke lima penjuru, berjumpalitan di udara dan melayang turun di belakang kelima saudara Un. Waktu menyaksikan kelima dara itu berhamburan loncat ke udara, San-se Ngo-kiat terlongong kesima. Mereka baru terkejut setelah kelima dara itu berhamburan meluncur turun di belakang mereka. Cepat mereka berpaling tetapi terlambat. Kini merekalah yang dikepung oleh kelima dara itu. Dari yang mengepung kini mereka dikepung. "Silahkan tuan2 keluar dari kepungan ini !”, seru sidara bertahi lalat. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Di bawah panggung terdengar teriakan gempar dari sekalian tokoh. Mereka benar2 kesima menyaksikan ilmu ginkang yang luar biasa dari kelima dara itu. Mereka masih dara remaja, mengapa sudah memiliki ilmu kepandaian yang sedemikian tingginya ?. "Kepungan ini disebut barisan Kim-ong-hang thian atau Jaring-emas-mencurah-dari-iangit" seru dara bertahi lalat pula. San-se Ngo-kiat merah mukanya. Diam2 mereka terkejut juga mendengar nama barisan yang seaneh itu. Sepengetahuan mereka, tak ada barisan yang bernama seperti itu. Namun karena sudah maju di gelanggang, mereka pantang mundur. Apalagi lawan hanya sekelompok dara2 remaja. Sungguh malu kalau sampai kalah. Terutama Un Siong dan Un Tat yang sama2 berwatak berangasan itu, hampir meledak dadanya mendengar ucapan gadis itu. Serentak tanpa komando tokaonya lagi, kedua saudara itu terus lari menerjang. Dua dara yang hendak ditabas pedang menyiak ke samping tetapi serempak dengan itu Un Siong dan Un Tat rasakan tengkuk kepalanya tersambar angin keras. Cepat keduanya berputar tubuh seraya menabas. Tring . . . Kedua saudara itu terkejut ketika dua buah benda yang selincah ular hendak menyambar mukanya. Mereka menabas sekuatnya. Terdengar bunyi pedang mendering karena tertampar. Un Siong dan Un Tat menyurut mundur setengah langkah untuk memeriksa pedangnya. Ketika mengangkat muka lagi, mereka terkejut karena melihat dara2 itu tengah menarik pulang kain ikat pinggangnya Dengan demikian jelas, tadi kedua saudara itu diserang dengan ikat pinggang dan Tiraikasih website http://kangzusi.com. yang berbentur dengan batang pedang tadi juga ikat pinggang mereka. Sebenarnya pada waktu kedua dara menamparkan ikat pinggang ke tengkuk kepala Un Siong dan Un Tat, ketiga saudara Un yang lain terkejut dan cepat2 menyerang kedua dara itu. Tetapi yang diserang menyiak ke samping, yang menyerangpun menderita tamparan angin tajam pada tengkuk kepalanya. Un Gi,Un Beng dan Un Tiong cepat berpaling dan sambil berputar tubuh, berputar pula pedang mereka menabas ikat pinggang tiga orang dara. Tring, tring, tring . , walaupun hanya kain ikat pinggang dari sutera tetapi ketika berbenturan dengan batang pedang, telah mengeluarkan dering suara yang menggemerincing seperti kepingan baja. Ketiga saudara Un itu terkejut. Hampir mereka tak percaya bahwa dara2 yang masih begitu muda belia ternyata memiliki ilmu lwekang yang sedemikian tinggi, ikat pinggang dari kain yang lemas ditangan mereka telah menjadi senjata yang keras. Ketika San-se Ngo-kiat itu terpaksa harus menghentikan longongnya ketika kelima dara itu segera menyerang dengan gencar. Mereka menggunakan kain Ikat pinggang untuk menampar dan melibat senjata lawan. Sekalian tokoh2 dibawah panggung yang mengikuti pertandingan itu, ter-heran2 juga. Yang pertama seorang kacung atau bocah, kini lima orang dara. Pada hal mereka tentu anak murid yang rendah tingkatannya dalam Thian tongkau. Belum lagi barisan pengawal itu. Dan ketua Thian-tong kau sendiri. Entah berapa tinggikah ilmu kesaktiannya nanti. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Perasaan cemas, gentar, gelisah dan gemetar segera mencengkam hati sekalian jago2 silat. Termasuk pula Hoa Sin ketua Kay-pang. Hong Hong tojin ketua Go-bi-pay, Ceng Sian suthay ketua Kun j lun-pay dan Pang To Tik dari Hoa-san-pay. Sekonyong-konyong diatas panggung telah terjadi suatu peristiwa yang mengejutkan dan mengherankan. Tiba2 kelima dara itu berhamburan loncat mundur. Anehnya kelima saudara Un itu hanya berdiri tegak di tempatnya, tak mau mengejar. Sebelum sekalian orang tahu apa yang terjal di tiba2 salah seorang dara berseru lantang : "Mengapa kalian masih tegak seperti patung? Hayo, lekas, tusuk tanganmu dengan pisau, kemudian beri hormat kepada kaucu" Entah bagaimana dengan serta merta kelima saudara Un itu segera menghampiri kemuka meja sembahyangan, mengambil pisau lalu menusuk sedikit tangannya dan mengucurkan darah ke dalam panci besar. Setelah itu merekapun berjalan menghampiri ke muka kaucu Thian-tong-kau dan memberi hormat. "Apakah kalian sudah bersedia masuk menjadi anggauta Thian-tong-kau ?" seru Kiam Thian cong kaucu dari Thiantong- kau itu. Mereka serempak mengiakan. "Bagus, saudara2 telah mendapat kesadaran untuk menuju ke jalan yang terang. Thian-tong kau akan menjadi penyelamat dunia persilatan dan umat manusia" seru kaucu Thian-tong-kau pula. Kembali kelima saudara Un itu memberi hormat dan terus dipersilahkan berdiri di samping. Sudah tentu peristiwa itu menggemparkan seluruh jago2 silat yang hadir, Timbul berbagai pertanyaan dalam hati mereka. Adakah kelima San-se Ngo-kiat itu terluka ? Ataukah Tiraikasih website http://kangzusi.com. terkena tutukan kelima dara itu ? Jika melihat keadaannya, mereka masih dapat berjalan dan bicara. Jelas tak menderita luka ataupun tutukan. Tetapi mengapa mereka tiba2 berobah sikapnya begitu patuh pada perintah kelima dara itu ? Apakah yang telah terjadi pada mereka. Keheranan para jago2 silat itu tak pernah terjawab. Mereka benar2 bingung dan tak mengerti apa yang telah terjadi. Bahkan para ketua dari empat partai besar itupun ter-heran2. "Kenapakah mereka itu ?" bisik Hong Hong tojin. "Ada sesuatu yang telah terjadi pada mereka tetapi kita masih belum tahu" sahut Hoa Sin. Ceng Sian suthay mengernyit alis "Kemungkinan dara itu mempunyai ilmu tutuk yang luar biasa sehingga lawan tak berdaya, menurut apa saja yang diperintahkan" kata Pang ['o Tik, "Bagaimana pendapatmu suthay ?" tegur liong Hong tojin, Ceng Sian suthay berkata : "Kemungkinan seperti yang dikatakan Pang tayhiap memang dapat juga terjadi, Tetapi . . " "Tetapi bagaimana ?" desak Hong Hong to-jin ketika Ceng Sian hentikan kata2nya. "Kemungkinan lain mereka menggunakan semacam ilmu sihir aiiran Hitam untuk menundukkan pikiran orang" kata ketua Kun-lun-pay itu. "O" desuh Hong Hong tojln. "benar, benar. Memang ada suatu ilmu yang disebnt Sip-hun-tol beng (ilmu Perangkapnyawa- perenggut-jiwa). llmu itu dapat disalurkan melalui pukulan atau tutukan ataupun doa mantra. Sejenis Ilmu hitam yang sakti. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Ceng Siansuthay dapat membenarkan. Demikian pula Pang To Tik Tetapi Hoa Sin diam saja. Ketua partai Pengemis itu bahkan pejamkan mata. "Hoa pangcu, apakah yang sedang engkau pikirkan ?" tegur Hong Hong tojin. "Ada sesuatu, totiang" sahut Hoa Sin, "aku sedang membayangkan pertempuran mereka tadi Bukankah kelima dara itu menggnnakan kain ikat pinggang ?" Hong Hong tojin mengiakan. "Adakah totiang memperhatikan kain ikat pinggang mereka ?" Hong Hong tojin terkesiap. Sesaat kemudia ia menjawab : "Rasanya ikat pinggang merekapun biasa seperti ikat pinggang kaum wanita yang umum dipakai" "Tidak, totiang" bantah Hoa Sin, "setelah merenung dan membayangkan lagi, jelas kain ikat pinggang mereka, ujungnya berpatam (plisir) segombyok benda putih macam serabut perak. Tentu serabut perak itu yang mengandung sesuatu". "Apakah pangcu hendak mengatakan bahwa untaian serabut perak itu suatu atat rahasia ?”, tanya Hong Hong tojin. "Memang patut diduga demikian", sahut Hoa Sin, "bila ada kesempatan, akan kuselidiki hal itu". Tiba2 pula Ceng Sian suthay berkata ; "Apa yang Hoa pangcu duga memang benar. Menilik perobahan yang mendadak dan mengherankan dari sikap San-se Ngo-kiat itu, tentulah mereka telah terkena suatu pengaruh yang berada diluar kehendak mereka. Jika tidak ilmu sihir tentulah Tiraikasih website http://kangzusi.com. semacam bubuk bius yang menghilangkan kesadaran pikiran orang." Selagi keempat tokoh dari partai persilatan besar itu berbincang-bincang maka terdengarlah hadirin berteriak ketika seorang lelaki bertubuh ramping, melayang ke atas panggung dengan gaya mirip seekor kupu2 terbang. Ringan sekali orang itu melayang turun di panggung sehingga hampir tak menimbulkan suara. "Oh, kiranya Mo pangcu dari Ou-tiap-pang!" seru pengacara, Orang itu tertawa mengiakan "Ah, janganlah tuan menyanjung diriku setinggi itu. Aku yang rendah memang Mo Gay Ti. kepala dari Ou-tiap-pang di Poting wilayah Hopak". "Ah, sudah lama mendengar nama Mo pang cu yang termayhur. Baru hari ini kami dapat berhadapan muka. Atas nama Thian-tong-pay, kami ucapkan banyak terima kasih atas perhatian pang cu yang telah memerlukan datang dari tempat begitu jauh untuk menghadiri upacara peresmian Thian-tongkau". "Ah, sudah tentu kuperlukan datang memenuhi undangan perkumpulan Thian-tong-kau" kata Mo Gay Ti dengan nada merendah. "Lalu apakah maksud Mo pangcu naik keatas panggung ? Adakah Mo pangcu hendak menerima tawaran Thian-tong-kau membangun sebuah dunia persilatan yang aman dan damai ? Ataukah Mo pangcu mempunyai lain pandangan ?" seru pengacara itu. Mo Gay Ti tertawa. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Sesungguhnya tujuan Thian-tong-kau itu memang mulia. Hanya sayang cara2nya masih bersifat setengah memaksa kebebasan orang" kata M Gay Ti. Pengacara itu tak sedikitpun mengunjukkan rasa kejut atas pernyataan ketua ;Ou-tiap-pang tau partai Kupu-kupu itu. Bahkan dia malah te tawa datar. "Mo pangcu" serunya, "memang sudah jaman bahwa setiap pendirian itu tentu akan disambut oleh dua macam tanggapan. Yang setuju dan yang tidak setuju. Betapapun baiknya pendirian itu tetapi tentu masih ada yang menentang." Mo Gay Ti balas tertawa. "Baik itu menurut anggapan masing2. Tetapi yang sesungguhnya baik, tentu akan diterima oleh orang banyak, Tanpa dipaksa, tanpa dianjurkan, orang tentu akan menuju dan mencari yang baik itu" "Aha" pengacara tertawa, "tak kira kalau Mo pangcu memiliki kata2 yang selincah gaya silat Kupu-kupu yang pangcu yakinkan itu, Sekarang kumohon pangcu suka memberi petunjuk, dalam hal apakah Thian-tong-kau itu dianggap tidak baik?" "Penuh dengan selubung rahasia!" seru ketua Ou-tiap-pang dengan tegas. "Selubung rahasia ?" kali ini nada sipengacara benar2 berobah kaget, "apakah rahasia yang menyelubungi partai kami ?" Mo Gay ti tertawa. "Ah, adakah saudara tak merasakan hal itu" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Tidak", sahut pengacara, "Thian-tong-kau sebuah perkumpulan yang terang. Tak ada rahasia apa2. Silahkan pangcu memberi petunjuk !" "Baiklah" kata Mo Gay Ti, "tulung tanya, siapakah ketua dan Thian-tong-kau itu?”. "Ah, sudah tentu Kim Thian Cong kaucu. Bukankah hal itu sudah jelas tertera pada undangan kami ?*' "Justeru itulah yang menimbulkan pertanyaan", sahut Mo Gay Ti, "diri Kim Thian Cong kaucu itulah yang penuh rahasia bagi seluruh kaum persilatan. Bukankah Kim Thian Cong tayhiap itu sudah meninggal dunia di gunung Lo-hou-san beberapa tahun yang lalu ? Mengapa sekarang Kim tayhiap muncul di gunung Thay-san sebagai kaucu dari Thian-tongkau ?" Pertanyaan itu telah menimbulkan reaksi gempar pada seluruh tokoh2 persilatan yang hadir. Bahkan keempat ketua dari partai persilatan besar tampak tergugah semangatnya. "Bagus, ketua Ou-tiap-pang telah mewakili kita untuk mengungkap rahasia itu" kata Hong Hong tojin. "Memang menarik sekali pertanyaan itu dan jawabannya nanti' kata Hoa Sin ketua Kaypang. Pengacara tidaklah gugup atau bingung menerima pertanyaan dari ketua Ou-tiap-pang. la malah tertawa. "Mo pangcu" serunya "orang yang mati memang tak mungkin hidup lagi. Tetapi sebagai seorang tokoh persilatan apalagi seorang ketua dari sebuah perkumpulan silat seperti Ou-tian-pang. masakan pangcu tak tahu akan sebuah ilmu menutup pernapasan dalam ilmu ginkang yang disebut Pit kang? Ah, kasihan jika Mo pangcu tak tahu ilmu itu.” Tiraikasih website http://kangzusi.com. Merah muka Mo Gay Ti menerima sentilan dari pengacara. Tetapi cepat ia menindas kemarahannya dan berkata : "Apakah saudara hendak maksudkan bahwa Kim Thian Cong pangcu yang sekarang mengepalai Thian-tong-kau, sama dengan Kim Thian Cong tayhiap yang diangkat sebagai pemimpin dunia persilatan oleh partai2 persilatan yang lalu.?”. "Pit-gi-kang artinya ilmu Menutup-pernapasan. Dengan ilmu itu orang dapat menghentikan pernapasannya sampai beberapa hari. Belumkah Mo pangcu dapat menangkap arti dari kata2ku itu?" "'Katakan yang jelas !" seru Mo Gay Ti mulai keras. "Ah," pengacara itu mendesah, "nama memang bisa kembar. Mungkin didunia ini terdapat bukan satu, dua atau tiga tetapi bahkan ber-puluh2 nama Kim Thian Cong. Tetapi adakah didunia ini terdapat orang yang serupa nama dan serupa pula ilmu kepandaiannya seperti Kim Thian Cong tayhiap dengan Kim Thian kaucu ?" "Maksudmu, Kim kaucu dari Thian-tong-kau ini adalah Kim tayhiap yang sudah meninggal itu? seru Mo Gay Ti. "Jangan seperti anak kecil yang me-rengek2 minta didongengi, Mo pangcu " "Apa buktinya !" teriak Mo Gay Ti. "Bukti ?" ulang pengacara, "mengapa perlu dibuktikan dan buat apa harus dibuktikan?" “Kim Thian Cong tayhiap dulu, adalah seorang pendekar besar yang budiman. Seorang peribadi yang diindahkan oleh seluruh kaum persilatan sehingga tanpa diminta dia telah Tiraikasih website http://kangzusi.com. diangkat oleh kaum persilatan sebagai pemimpin dunia persilatan. Tetapi . . " "Tetapi Kim kaucu dari Thian-tong-kau ini tidak budiman, bukankah begitu maksudmu, Mo pangcu?" cepat pengacara itu menukas, "hm, dalam hal apa Kim kaucu kurang budiman. Beliau telah mendirikan perkumpulan Thian-tong-kau demi untuk menyelamatkan dunia persilatan dari bencana pertumpahan darah. Tidakkah hal itu sama dengan tindakan Kim tayhiap dulu ?" "Serupa tetapi tak sama" sahut Mo Gay Ti, "memang sepintas pandang keduanya sama dalam pendirian, tetapi nyatanya tak sama dalam tindakan Jika Kim tayhiap tanpa menggunakan kekerasan, tanpa meminta telah diangkat oleh dunia persilatan sebagai pemimpin, adalah Kim kaucu yang sekarang ini harus membentuk partai baru dani memaksa orang untuk masuk menjadi anggautanya." "Mo pangcu" sahut pengacara, "hidup itu tak kekal, demikian pula dengan manusia. Pikiran dan pendiriannya tak mungkin kekal. Sering mengalami perobahan. Demikian pula dengan diri Kim Thian Cong. Beliau melihat bahwa dunia persilatan masih belum bebas dari pertikaian dan pertumpahan darah. Oleh karena itu maka beliau memutuskan untuk membentuk sebuah wadah baru guna mengamankan dunia persilatan" "Baik," seru Mo Gay Ti "dengan begitu, kesimpulannya Kim kaucu yang sekarang ini tak lain adalah Kim tayhiap yang dahulu. Jika demikian aku. Mo Gay Ti dan segenap anakbuah partai Ou tiap-pang, dengan sepenuh hati akan masuk menjadi anggauta Thian-tong-kau". "Bagus !" seru pengacara dengan gembira, "Mo pangcu benar2 seorang tangkas bicara tangkas bertindak. Thian-tongTiraikasih website http://kangzusi.com. kau menghaturkan selamat datang kepada Mo pangcu. Dan siiahkan Mo pangcu begera melakukan upacara masuk anggauta". Mo Gay Ti tertawa datar. "Tetapi kami dari partai Ou-tiap-pang menghendaki sebuah syarat !" serunya. "Syarat apa ?" "Aku mohon untuk berhadapan muka dengan Kim kaucu dan mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya." "Oh," pengacara terbeliak. Sampai beberapa jenak ia tak melanjutkan kata2nya. "Soal itu . . "Eh, apakah saudara ini mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Thian-tong-kau sehingga saudaralah yang seolah berhak mempertimbangkan pemintaanku itu ?”. "Kim kaucu telah menyerahkan kepercayaan penuh kepadaku untuk melaksanakan upacara ini dan mewakilinya menerima pemasukan anggauta". "Tetapi tentu tidak untuk memutuskan permintaan semacam yang kuajukan itu bukan?" sahut Mo GapTi. "Hmm, baiklah" kata pengacara kemudian, "a-kan kuhaturkan permintaan Mo pangcu kehadapan kaucu kami" Ia terus berjalan menuju kehadapan Kim Thian Cong. memberi hormat lalu mengucapkan kata2 yang tak dapat terdengar oleh sekalian orang yang berada di bawah panggung. Mo Gay Ti sendiripun tak dapat menangkap pembicaraan mereka. Sesaat kemudian pengacara itu balik kembali ketempatnya lagi dan berkata : "Kim kaucu mengatakan bahwa permintaan Mo pangcu itu dapat diluluskan setelah nanti upacara peresmian berdirinya Thian-tong-kau dan penerimaan anggauta sudah selesai" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Mengapa ?" seru Mo Gay Ti. "Saat ini hanya dipersilahkan memilih. Mo pangcu bersedia masuk menjadi anggauta Thian- tong-kau tahu tidak" "Aku mau masuk setelah berhadapan empat mata dengan Kim pangcu". "Tidak ada pengecualian bagai semua orang termasuk Mo pangcu. Kim kaucu akan merasa tersinggung kehormatannya apabila Mo pangcu berkeras hendak melaksanakan permintaanmu tadi". "Ah, inilah yang kukatakan sebagai selubung rahasia tadi" seru Mo Gay Ti, 'Jika memang bersih dan suci, mengapa takut berhadapan dengan orang, Habis berkata ia terus ayunkan langkah menghampiri ke tempat Kim Thian Cong. Kedua belas bocah baju biru dan merah segera hendak menghadang tetapi pengacara melambaikan tangan dan merekapun menyingkir ke samping memberi jalan. Demikian juga dengan rombongan dara baju kuning dan hijau. Merekapun serempak berjajar-jajar menghadang. Tetapi setelah pengacara memberi isyarat tangan, merekapun menyingkir. Anehnya, rombongan pengawal baju putih dan merah, masih tetap berdiri diam di tempatnya. Mereka seperti patung atau manusia yang tak bernyawa. Maka dengan lenggang dapatlah Mo Gay Ti melanjutkan langkah kemnuka. Lebih kurang tujuh delapan langkah dari tempat Kim Thian Cong, sekonyong-konyong pengaca ia bersuit nyaring dan serempak dengan itu kedua ekor harimau gembong segera mengaum dahsyat dan terus loncat menerkam Mo Gay Ti. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Ketua Ou-tiap-pang terkejut bukan kepalang. Dua ekor harimau yang besar dan mengerikan sedang menerjang dengan gaya yang menyeramkan. Yang satu dari kanan dan yang satu dari kiri. Tetapi Mo Gay Ti juga seorang ketua partai persilatan. Ilmu ginkangnya telah mencapai tataran yang amat tinggi. Serentak ia menjejak tanah dan tubuhnya segera melambung sampai dua tiga tombak di udara. Sambil berjumpalitan ia menukik ke bawah seraya taburkan kedua tangannya kearah kedua ekor harimau gembong itu. Senjata rahasia yang disambitkan Mo Gay Ti itu adalah Outiap- piau atau piau Kupu2. Tetapi kedua ekor harimau itu ternyata hebat sekali. Mereka cepat melihat ou-tiap-piau itu dan serentak kedua binatang itupun loncat mundur. Dua buah peristiwa telah terjadi di panggung dan kedua peristiwa itu memang mengejutkan sekalian orang. Dua ekor harimau dapat menghindari timpukan piau dan yang kedua ou-tiap-piau it. Begitu luput mengenai sasarannya, kedua batang ou-tiap-piau itupun seperti kupu2 hidup, segera terbang ke udara dan kembali kepada tuannya lagi. Selekas Mo Gay Ti melayang turun kepanggung, kedua ekor harimau itupun segera menyerang lagi dari muka dan belakang. Mo Gay Ti terkejut melihat gaya serangan mereka. Bukan hanya menerkam sembarang menerkam tetapi terkaman mereka bergaya ilmu silat dan mirip dengan jurus, Hok-hou-ciau-sim atau harimau-mendekam-menerkam-uluhati. Kedua kaki depan binatang itu menjulur ke muka, menerkam dada. sedang harimau di belakang menerkam kaki. Untuk menghindar terkaman maut itu, kembali Mo Gay Ti mengeluarkan ilmu ginkangnya, melambung ke udara, Tapi kali ini walaupun berjumpalitan dia tak mau menaburkan Tiraikasih website http://kangzusi.com. senjata rahasia lagi, melainkan terus luncur turun dibelakang salah seekor harimau. Sebelum kaki tiba di lantai panggung, iapun sudah lepaskan sebuah hantaman ke pantat harimau. Harimau yang dihantam itu memang hendak berputar tubuh tetapi karena tak sempat, ia terus loncat keudara berjumpalitan dan menukik kebawah menerkam kepala Mo Gay Ti. Sedang harimau yang satunya pun cepat loncat menerkam lagi. Jika tadi Mo Gay Ti diserang dari muka dan belakang, sekarang dia diserang dari atas dan bawah. Ketua Ou-tiappang itu cepat2 membuang diri ke samping. Sesungguhnya saat itu ia dapat menggunakan senjata rahasia ou-tiap-piau untuk menghajar kedua harimau itu, Tetapi ia tak mau. Ia hendak pegang gengsi sebagai seorang ketua partai persilatan sekalipun tak setenar partai Siau-lim si dan partai2 lainnya. Apalagi dia merasa telah berani naik kepanggung untuk menentang Thian-tong-kau dan membuka kedok Kim Thian Cong. Betapa malu apabila hanya berhadapan dengan dua ekor harimau saja ia harus menderita kekalahan. Juga timbul lain pemikiran dalam hati Mo Gay Ti, bahwa saat itu hampir seluruh tokoh2 dan partai2 persilatan berkumpul di gunung Thav-san. Apabila dapat mengobrakabrik Thian-tong-kau, nama Ou-tiap-pang pasti akan menggemparkan dunia persilatan. Mo Gay Ti segera mengeluarkan senjatanya sepasang khik atau trisula yang bentuknya mirip dengan sepasang kupu2, mempunyai sayap baja dan bagian mulutnya runcing. Dengan Tiraikasih website http://kangzusi.com. sepasang Ou-tia khik atau trisula kupu2 itu ia segera maju menyerang. Kedua ekor harimau itu segera beringsut memencar diri ke samping Mo Gay Ti. Dengan demikian sukarlah Mo Gay Ti hendak menyerang. Jika menyerang yang di samping kanan, harimau disamping kiri tentu akan menerkam. Demikian pula jika ia menyerang harimau yang disamping kiri. "Setan, mereka dapat berpikir juga," diam2 Mo Gay Ti mengutuk. Namun ia sudah membulatkan tekad, tak gentar menghadapi kedua lavvannya itu. Pikirnya, sebuas-buasnya harimau tentu masih kalah berbahaya dengan jago silat sakti yang pernah dihadapinya selama ini. Serentak berpaling ke kiri, iapun terus menerjang. Memang apa yang diduganya itu tepat. Harimau di sebelah kanan, segera bergerak menerkamnya Mo Gay Ti sudah siap menghadapi ancaman itu. Dan memang ia sedang menggunakan siasat serangan pada harimau di sebelah kiri itu hanya pura2 saja. Yang ia tunggu adalah serangan harimau sebelah kanan. Ketika menyerang ke kiri, harimau beringsut mundur. Menggunakan kesempatan itu, Mo Gay Ti pun cepat berputar tubuh menyambut terkaman harimau dari belakang dengan sebuah jurus Heng-soh-cian-kun atau Menyapu-seribu-lasykar. Sambil bergeliat kesamping untuk menghindari terkaman, ia segera membabat perut harimau itu. Tetapi alangkah kejutnya ketika harimau itu tiba2 dapat meluncur turun kebawah lalu berputar , menerkam kaki Mo Gay Ti. Mo Gay Ti memekik kaget, la tak menyangka sama sekali bahwa harimau itu dapat melakukan gerak seperti ilmu silat. Untuk menghindari, terpaksa ia melambung ke udara lagi. Maksudnya hendak menggunakan ilmu tian-kin-tui atau Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tindihan-seribu kati, meluncurkan tubuh kebawah untuk menginjak kepala harimau itu. Tetapi kembali ia terkejut lagi ketika harimau yang satunya, tiba2 mengaum dan loncat ke udara menerjangnya. Dalam keadaan yang gawat itu, terpaksa Mo Gay Ti meginjakkan kaki kanan ke kaki kiri, dengan meminjam tenaga pijakan itu tubuhnya melambung lagi setombak tingginya. Dengan cara itu pullah ia menghindari terkaman harimau. Diudara ia berjumpalitan lalu hendak meluncur turun. Tetapi alangkah kejutnya ketika kedua harimau gembong itu sudah siap menunggu dibawah. Calaka, sebelum menginjak lantai, ia tentu sudah menyambar kedua binatang itu, pikirnya. Mo Gay Ti pun cepat mengempos semangat. Ia berjumralftan lagi lalu dengan kepala dibawah dan kaki diatas, ia menukik turun seraya julurkan sepasang senjatanya untuk menusuk kedua lawannya. Kedua harimau itu memang lihay sekali. Melihat lawan mengancamkan senjata, kedua binatang itupun menyurut mundur dua langkah tetapi tetap bersiap-siap. Mo Gay Ti dapat memperhatian gerak gerik kedua binatang itu. Diam2 ia mengeluh. Seharusnya apabila hampir tiba di lantai, ia harus berjumpalitan, menggeliatkan tubuh agar kakinya terbalik kebawah lagi dan kepala diatas. Tetapi karena kedua binatang itu masih menunggu, apabila ia melakukan gerakan itu, tentu mereka akan menerkamnya. Namun apabila tidak melakukan gerai bergeliatan itu, dia harus turun dengan kedua tangannya mendarat di lantai. Itupun sangat berbahaya sekali. Karena kedua harimau itu dapat loncat menerkam kedua kakinya yang masih menjulang diatas. Dalam keadaan begitu, sukarlah bagi dia untuk membela diri. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Untung dalam keadaan bahaya itu, Mo Gay Ti tak kehilangan kesadaran pikirannya. Cepat ia memindahkan outiap- khek ditangan kanan ke tangan kiri lalu secepat kilat ia lepaskan sebuah hantaman ke lantai. Bum .... lantai bergetar keras dan dengan meminjam tenaga pukulan itu Mo Ga, Ti melambung lagi ke udara lalu berjumpalitan turun ke lantai beberapa meter jauhnya dari tempat kedua harimau. Pukulan Mo Gay Ti telah menimbulkan getaran keras dan lantai papanpun pecah berhamburan sehingga kedua harimau itu terpaksa beringsut mundur. Itulah sebabnya Mo Gay Ti dapat meluncur turun dengan tiada mendapat gangguan. Pertarungan antara ketua Ou-tiap pang melawan dua ekor harimau itu telah menimbulkan kegemparan dikalangan jago2 yang berada dibawah panggung. Mereka mendapat kesan bahwa kedua harimau itu ternyata telah mendapat latihan yang hebat sehingga mereka dapat berkelahi dengan gaya llmusilat. Tetapi kepandaian gin-kang dari ketua Ou-tiap-pang itupun mendapat sambutan yang meriah dari sekalian jago2 silat. Demikan pertarungan antara manusia dengan sepasang harimau berjalan dengan seru dan dahsyat. Berkat ilmu ginkang yang tinggi, dapatlah berulang kali ketua Ou-tiap-pang menyelamatkan diri dari maut. Tetapi kedua harimaupun beberapa kali hampir celaka karena senjata out-tap-khik. Beberapa saat kemudian tiba2 terjadi suatu adegan yang mendebarkan. Ketika menghindari terkaman seekor harimau, tiba2 harimau yang lain menerkam dari belakang. Dalam keadaan terdesak, Mo Gay Ti taburkan trisula-kupu2 kemata harimau itu. Tetapi harimau itu cepat menampar. Terdengar, aum dahsyat dan harimau itupun berguling-guling di lantai..... Tiraikasih website http://kangzusi.com. Ternyata taburan trisula itu lebih cepat, telapak tangan harimau terpanggang senjata itu dan harimau itupun meraung-raung kesakitan. Mo Gay Ti tertegun. Tiba2 ia rasakan punggungnya dilanda oleh desir angin tajam. Cepat ia berbalik tubuh hendak menaburkan trisula-kupu2 yang berada ditangan kirinya. Tetapi kalah cepat. Sebelum sempat mengayunkan tangan, harimau itu sudah menggigit lengan kirinya, kres .... darahpun segera menyembur keluar mengiring separoh lengannya yang putus. Pandang mata Mo Gay Ti serasa gelap tetapi dengan keraskan hati, ia empos semangat dan mengerahkan seluruh sisa tenaganya ke kaki, Plak, sebuah tendangan diarahkan keperut harimau itu Harimau terlempar ke belakang tetapi Mo Gay Ti pun rubuh tak sadarkan diri. Pengawal baju putih tiba2 bergerak, menggotong Mo Gay Ti dibawa masuk kedalam. Dalam gemuruh hiruk suara yang bergema dibawah panggung, tiba2 sesosok tubuh melayang ke atas panggung. Seorang paderi tua, tegak menghadap ke arah Kim Thian Cong. "Kim kaucu," serunya dengan suara lantang "apa yang diminta oleh Mo pangcu tadi, sesungguhnya memang layak . . " "Oh, kiranya Liau Liau taysu dari biara Leng hun-kwan gunung Ngo-tay-san," seru pengacara menukas kata2 paderi itu. Namun Liau Liau taysu tak menghiraukan dan tetap menghadap ke arah Kim Thian Cong : "Memang menjadi pertanyaan dalam setiap hati para hohan yang berkumpul di Tiraikasih website http://kangzusi.com. bawah panggung untuk berhadapan muka dengan Kim kaucu. Hal itu untuk menambah kepercavaan mereka agar lebih mantap untuk masuk menjadi anggauta Thian-long kau". Kim Thian Cong hanya tersenyum tetapi tak menyahut. "Taysu" kembali pengacara itu berseru, "Kim kaucu telah menyerahkan semua pelaksanaan acara disini kepadaku. Kini kaucu takkan menerima langsung semua laporan ataupun pembicaraan" Liau Liau taysu tetap tak mengacuhkan dan tetap melanjutkan kata2 kepada Kim Thian Cong : "Kiranya hal itu sudah jamak apabila sebagai pendiri dari sebuah perkumpulan baru, Kim kaucu suka tampil memperkenalkan diri". "Jika taysu tetap tak mengacuhkan, terpaksa Akan kuambil tindakan" seru pengacara. "Dengan tindakan kaucu untuk menghukum pangcu dari Ou-tiap-pang tadi, apakah takkan memberi kesan kepada sekalian hohan bahwa Thian-tong-kau itu bertindak sewenang2, atau sekurang-kurangnya memberi kesan bahwa kaucu tak berani berhadapan dengan mereka ?" "Pengawal Putih yang terdepan, majulah untuk menghajar adat pada paderi itu" tiba2 pengacara berteriak. Serentak seorang pengawal baju putih melangkah maju kehadapan Liau Liau taysu. Tanpa berkata apa2 ia terus menghantam paderi dari biara Leng-hun-kwan. Barisan pengawal baju putih maupun baju merah, semua memakai cadar atau kerudung muka sehingga tak kelihatan bagaimana wajah mereka. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Liau Liau taysu terkejut atas serangan orang itu. Bukan saja dilancarkan dengan cepat, pun pukulannya mengandung tenaga-dalam yang bukan olah2 hebatnya. Sepanjang ingatannya, jarang sekali tokoh silat yang memiliki ilmu tenaga-dalam sedemikian hebatnya itu. Tetapi Liau Liau tak sempat merenung lagi karena hanya sekejap saja ia terkesiap, angin pukulan itu sudah hampir melanda dadanya. Terus ia dorongkan sepasang tangannya untuk membendung. Bum . . terdengar letupan keras dan tahu2 tubuh Liau Liau telah terdorong mundur sampai empat lima langkah dan huak . , . ia muntah segumpal darah segar. Kegemparan diantara para tokoh2 silat yang berada dibawah panggung, jauh lebih gempar dari yang tadi, Dalam sekali pukul saja, Liau Li telah rubuh. Pada hal paderi kepala biara Leng-hun-kwan itu juga tergolong seorang tokoh yang berilmu tinggi. Pengawal baju putih itu terus maju lagi hendak menghantam Liau Liau taysu. Melihat itu Hoa Sin meluap kemarahannya. Tanpa berunding lagi dengan ketiga rekannya ia terus hendak loncat keatas panggung tetapi tiba2 sesosok tubuh sudah mendahului melayang keatas panggung seraya ayunkan tangannya. Sebuah gelombang angin keras segera melanda pengawal baju putih itu. Pengawal itupun tertegun berhenti. Selekas tiba di panggung orang itupun segera berseru : "Hai, orang Thian-tong-kau, jangan sewenang-sewenang terhadap sesama kaum persilatan" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Oh, kiranya Auyong Kun ketua partai Tiang pek-pay" seru pengacara, "hai, berhentilah engkau kembali kebarisanmu lagi" serunya kepada pengawal baju putih. Rupanya nengawal baju putih itu amat penurut sekali kepada pengacara. Dia segera kembali ke tempat barisannya. "Apakah yang Auyong pangcu katakan bahwa kami bertindak se-wenang2 itu?" seru pengacara pula. “Liau Liau taysu sudah terluka, mengapa pengawal baju putih itu hendak menyerang lagi ? Bukankah tujuan Thiantong- kau hendak mencari anggota tapi mengapa melakukan pembunuhan ? Sekarang katakanlah, hendak bersekutu atau hendak membasmi kaum persilatan? Jika akan membasmi aku Auyong Kun, yang pertama akan melawan". Pengacara itu mendecak mulut : "Ah.Auyong pangcu salah faham. Sama sekali Thian-tong-kau tak menginginkan pertumpahan, tak menginginkan permusuhan dan berniat membasmi kaum persilatan. Bahkan kebalikannya, Thian-tongkau hendak mengajak seluruh kaum persilatan untuk bersatu padu menyelamatkan dunia persilatan", Berhenti sejenak, pengacara itu melanjutkan :i "Bahwa Liau Liau taysu telah menderita luka itu, tak lain karena tindakannya sendiri yang tak memandang mata kepada peraturan Thian-tong kau. Sudah kuperingatkan namun dia masih tak menggubris diriku. Jika peraturan dibiarkan saja di injak2 orang, bagaimana Thian-tong-kau akan menegakkan kewibawaannya ?" "Tetapi mengapa dia menyerang orang yang sudah terluka ?" desak Auyong Kun. Pengacara itu menghela napas, "Barisan pengawal baju putih dan merah dari Thian-tong-kau itu memang manusia2 yang luar biasa. Sekali bergerak, mereka Tiraikasih website http://kangzusi.com. terus akan bergerak kecuali mendapat perintah baru. Sebenarnya aku pun sudah hendak memerintahkan dia berhenti tapi Auyong pangcu keburu datang". Ketua Tiang-pek-pay tertawa hambar. "Bagaimana dengan ketua Ou-tiap-pang dan kelima San-se Ngo-kiat itu ?" "Ah. harap Auyong pangcu tak usah kuatir akan merawat luka mereka sampai sembuh". Auyong Kun kerutkan alis. Beberapa saat kedengaran ia berkata pula : "Bagaimana juga, kuanggap pendirian Thiantong- kau ini tetap rnenyangsikan". "O," desuh pengacara, "dalam soal apa ? Apakah Auyong pangcu juga menghendaki seperti Mo pangcu dari Ou-tiappang tadi ?" "Ya," sahut Auyong Kun "disamping juga menuntut supaya beberapa orang yang ditawan tadi dikeluarkan dan dipulangkan ketempat masing2. Hanya dengan tindakan itu. aku baru mau percaya pada Thian-tong-kau." "Aha", seru pengacara, "tuntutan Auyong pangcu ternyata lebih banyak dan lebih berat untuk kami luluskan. Hak apakah Auyong pangcu mengajukan tuntutan semacam itu ?" "Atas nama partai Tiang-pek-pay dan segenap kaum persilatan yang masih menjunjung keadilan dan kebenaran" seru ketua' Tiang-pek-pay. "Cet, cet", pengacara men-decak2, "adakah Auyong pangcu msnganggip Tiang-pek-pay itu mampu mewwakili kaum persilatan seluruhnya ? Adakah Tiang-pek-pay itu jauh lebih berpengaruh dari ketujuh partai besar dalam dunia persilatan?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Keadilan dan kebenaran, bukanlah milik sebuah partai persilatan ataupun beberapa tokoh persilatan tetapi milik mereka yang benar2 masih mempunyai jiwa ksatrya !" "O, sungguh hebat engkau, Auyong pangcu!' seru pengacara memuji.” Tiba2 wajah Auyong Kun mengerut gelap dan dengan suara keras ia berseru : "Atas dasar dan hak apakah Thian-tong-kau hendak mempersatukan dunia persilatan ?" Serentak wajah pengacarapun mengerut serius. "Auyong pangcu menanyakan dasar dan hak partai Thian-tong-kau ?" serunya. "baik, dengarkanlah. Dasarnya yalah hendak menyelamatkan dunia persilatan dari bahaya latah yang tak pernah habis. Bahaya dari pertumpahan darah, bunuh membunuh. Agar dunia persilatan dan umat manusia dapat mengenyam ketenteraman dan hesejahteraan hidup. Apakah hak Thian tong-kau ? Thian-tong-kau cukup layak untuk mendapatkan hak itu karena dalam soal keagamaan. Thiantong- kau mempunyai ajaran yang suci untuk mengarah kehidupan Thian-tong (Nirwana). Dalam perlengkapan ilmu kesaktian, Thian-tong-kau laksana sebuah telaga yang penuh dengan naga dan harimau. Tidakkah Auyo pangcu menyaksikan sendiri beberapa kepandai yang telah dipertunjukkan oleh beberapa murid dan pengawal Thiantong- kau tadi ? Tidakkah Thia tong-kau berhak untuk mempersatukan dunia persilatan ?" Auyong Kun tertawa. "Berbicara soal agama, negara kita kaya akan ilmu ajaran falsafah yang tinggi, kebatinan dan agama. Bukankah tiga aliran atau Sam-kau yang Hud-kau (Buddha), To-kau dan Khong-kau (Confucius) sudah cukup mencangkum aliran agama di negara ini ?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Aha," pengacara berseru mencemoh. "adakah sudah digariskan oleh Thian bahwa di negara ini hanya diizinkan berkembang ketiga aliran itu ? Ah, tidak, Auyong pangcu. Orang bebas untuk memiliki suatu kepercayaan apapun, asal kepercayaan itu berdasar pada Ke-Tuhanan. Thian-tong-kau akan menyumbangkan ilmu ajarannya menuju ke arah ke- Tuhan-an, membimbing kesucian dan menciptakan ketenangan hidup". '"Tetapi mengapa Thian-tong-kau mengadakan tindakan memaksa kepada orang untuk masuk menjadi anggautanya ? Engkau mengatakan bahwa orang bebas memilih kepercayaan masing2. tidakkah kata2mu itu hanya kosong belaka ?" "Jangan lupa" sahut pengacara dengan tenang, "bahwa sejak tadi telah kutandaskan bahwa kami tak mengadakan paksaan apa2. Hanya telah tercantum dalam peraturan Thiantong- kau, bahwa setiap orang yang menolak ajakan kami harus benar2 dapat membuktikan bahwa dia lebih unggul dalam segala apa dari Thian-tong-kau." "Maksudmu harus dapat mengalahkan anak murid Thiautong- kau ?" Auyong Kun menegas. "Khusus kepada kaum persilatan. Thian-tong kau memang mengadakan peraturan begitu, agar mereka dapat membuktikan bahwa Thian-tong-kau bukan sebuah pendirian yang boleh diremehkan. Peraturan itu berlaku untuk semua tetamu2 yang kami undang dalam pertemuan ini, tak terkecuali juga Auyong pangcu" "Memang tegaknya diriku di panggung ini tak lain karena hendak mematuhi peraturan itu" jawab Auyang Kun. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "O." seru pengacara, "jika demikian agar dapat menghemat waktu, sukalah Auyong pangcu bersiap untuk menghadapi salah seorang pengawal baju merah kami" "Hai, pengawal baju merah disebelah depan majulah layani Auyong pangcu ini!" seru pengacara. Dan serentak seorang pengawal baju merah maju kehadapan Auyong Kun. Juga pengawal baju merah itu mengenakan cadar kain merah sehingga mukanya tak kelihatan. Auyong Kun pasang kuda2. Dan pengawal baju merah itu tanpa berkata apa2, terus maju. Walaupun heran atas sikap orang itu, tetapi Auyong Kun menyadari bahwa orang itu tentu lihay, maka setelah menyalurkan tenaga-dalam ketangan, ia segera membuka serangan pertama dengan jurus Liat-biathoa- san atau dengan tenaga-penuh-menghantam-gunung- Hoasan. Pukulan tangan kanan diayunkan ke arah kepala orang itu. Orang itu beringsut kesamping untuk menghindari tetapi secepat itu pula Auyong Kun sudi mengganti dengan jurus Thui-jong-ong-gwat atau mendorong-jendela-melihatrembulan. Dengan kedua tangannya ia menghantam dada orang itu sekuat-kuatnya, bluk . Pengawal baju merah itu hanya mengerang pelahan dan tersurut mundur setengah langkah tetapi secepat kilat ia terus menyambar kedua tangan Auyong Kun, ditarik lalu didorong lagi. Apa yang terjadi benar2 menggemparkan sekalian tokoh2 yang berada dibawah panggung. Tubuh Auyong Kun ketua Tiang-pek-pay telah terlempar sampai beberapa belas langkah dan jatuh kebawah panggung. Untung seorang tokoh berdandan sebagai seorang sasterawan menyanggapi tubuh ketua Tiang-pek-pay itu. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Auyong pangcu, bagaimana engkau ?" tanya orang itu yang tak lain adalah Siau-bin-su-seng atau Sasterawanberwajah tertawa Li Seng Pun. Beberapa tokoh silat yang berada di dekat tempat itu segera menghampiri untuk memberi pertolongan. Tampak Auyong Kun pejamkan mata napasnya lemah, wajah pucat lesi. Setelah memeriksa nadi pergelangan tangan Auyong Kun, seorang tetamu setengah tua dan dadanannya sebagai seorang saudagar, menghela napas . "Ah, Auyong pangcu telah menderita luka-dalam yang sangat parah". Tokoh berdandan seperti saudagar itu segera merogoh kedalam saku bajunya dan mengeluarkan sebutir pil merah sebesar kacang, lalu disusupkan kemulut Auyong Kun. "Pil Siok-beng-po-gi kim-tan ini tak dapat menyembuhkan luka Auyong pangcu yang begini parah tetapi mampu mempertahankan jiwanya sampai tujuh hari," kata orang itu. "Jika begitu baiklah kita suruh anakbuahnya untuk membawa pulang," kata seorang lain. "Jangan," jawab orang yang memberi pil. Dia adalah Thay goan It-kiam atau Pedang-tunggal dari Thay-goan, Leng Siang In. “Sepanjang jalan turun gunung ini, telah dijaga ketat oleh anakbuah Thian-tong-kau. Tanpa izin mereka, Auyong pan-cu tentu akan diserang. Lebih baik untuk sementara biar disini sampai pertemuan ini selesai." "Saudara2, tulung rawatlah Auyong pangcu kata jago pedang dari Thay-goan itu lalu ayunkan tubuh loncat melayang keatas panggung. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Oh," pengacara mendesah, "adakah Thay goan It-kiam Leng Siang In tayhiap juga hendak mengemukakan pendapat ?" 'Pendapat sudah cukup banyak diutarakan tadi," sahut Leng Siang In, "dan hasilnya tak banyak, hanya jatuhnya beberapa korban saja." "Lalu apa maksud Leng tayhiap naik ke panggung ? Apakah Leng tayhiap hendak meluluskan permintaan kami masuk menjadi anggauta Thian tong kau?" "Terima kasih," sahut Leng Siang In, "memang ada keinginan itu dalam pikiranku, tetepi sayang…” "Mengapa?" seru pengacara. "Bahwa pedang yang mendampingi aku selama berpuluh tahun ini," ia menunjuk pada pedang yang tersanggul dibelakang punggung, "menuntut lain, ia meminta supaya diizinkan berkenalan dulu dengan pedang dari anakmurid Thian-tong-kau agar kelak dapat lebih erat hubungannya." "Ah, ah," pengacara tertawa, "indah sekali Leng tayhiap menggunakan kata2 kiasan. Baiklah, jika menang begitu yang tayhiap kehendaki, kami-pun akan mengiringkan saja." "Hai pengawal baju putih yang ketiga dari depan, layanilah Leng tayhiap," seru pengacara pula. Seorang lelaki bertubuh kurus segera tampil kehadapan Leng Siang In. Dalam baju dan kain cadar putih, sukarlah untuk melihat bagaimana wajahnya dan berapa umurnya. "Leng tayhiap hendak menggunakan pedang, harap engkau mengeluarkan pedang juga," seru pengacara. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Pengawal baju putih itu tak berkata apa2, melainkan merogoh kedalam baju dan mengeluarkan sebatang pedang pendek. "Silahkan saudara mulai" seru Leng Siang In seraya mencabut pedangnya. Sepercik sinar kemilau memancar ketika tertimpah cahaya obor yang menerangi sekeliling panggung itu. Warna sinar pedang itu kemerah-merahan, tangkainya berhias sutera merah. Tampak mata pengawal baju putih itu berkilat sejenak ketika melihat pedang tetamunya. Namun ia tak mengucap apa2 dan terus memutar pedangnya. Gerak pembukaan itu menimbulkan lingkaran sinar pedang yang mengejutkan. Diam2 Leng Siang In terkejut juga menyaksikan gerak pedang orang yang sedemikian cepat dan dahsyat. Serangan segera dibuka oleh pengawal baju putih itu dengan Gwat-kong-boan-thian, atau Sinar rembulanmemenuhi- langit. Sinar pedang berhamburan laksana hujan mencurah ke arah kepala Leng Siang In. Walaupun dalam hati terkejut namun Leng Siang In dengan tenang segera memutar pedang untuk menghapus hujan sinar itu. Pedang dimainkan dalam ilmupedang Suan-hong-kiam atau angin-puyuh. Bagaikan angin menderu-deru, lingkaran sinar pedang Leng Siang In itu telah mengurung lingkaran sinar pedang lawan, makin lama makin mengecil dan akhirnya lenyap. Terdengar dua buah seruan tertahan dari pengawal baju putih dan Leng Siang In. Pengawal baju putih terkesiap karena melihat ilmu pedang dari jago Thay-goan itu. Leng Siang Inpun terkejut karena mengagumi ilmupedang lawan. Walaupun telah dikurung dan dijepit namun lawan dapat Tiraikasih website http://kangzusi.com. menyelamatkan pedangnya dari benturan. Sekali lawan berani meugadu pedang, tentulah ia dapat memapas kutung pedangnya. Tampak pengawal baju putih pejamkan mata kemudian berdiri tegak, meluruskan pedang kemuka dada, ujungnya mengurus ke depan. Pandang matanya mencurah ke ujung pedang. Gelar Thay-goan It-kiam atau pedang nomor satu dari Thay-goan, bukan diperoleh dengan mudah. Leng Siang In memang seorang tokoh ilmu pedang yang cemerlang. Ia faham beberapa ilmu-pedang dari beberapa partai persilatan. Dan dari berbagai ilmupedang itu ia berhasil menciptakan sendiri sebuah ilmu pedang yang diberi nama Hoan thian -tohay- kiam atau ilmupedang membalik-langit-menjungkir-laut. Walaupun hanya terdiri dari dua jurus tetapi dua jurus itu dapat dipecah lagi menjadi berpuluh-puluh gerak perobahan yang luar biasa, dimana segala ilmu pedang dalam dunia persilatan telah tercangkum didalamnya. Disamping itu diapun memiliki sebatang pedang Ang-liongkiam atau pedang Naga-merah sebuah pedang pusaka yang diperolehnya dari seorang sakti. Pedang itu luar biasa tajamnya, dapat memapas logam seperti memapas tanah liat saja. Melihat pengawal baju putih itu mengambil sikap begitu rupa, diam2 Leng Siang In terkejut. Sebagai seorang tokoh ilmu pedang, cepat ia dapat mengetahui bahwa lawan sedang bersiap mengeluarkan ilmupedang yang sakti. Ujung pedang menjurus lurus ke muka dan seluruh perhatian dicurahkan pada ujung pedang itu merupakan gerak ilmu pedang yang tinggi. Seluruh tenaga-dalam telah dipancarkan ke batang pedang. Jelasnya, lawan telah menumpahkan seluruh perhatian dan tenaga-dalam ke ujung pedang. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Diam2 Leng Siang Inpun bersiap. Ia juga kerahkan tenagadalam ke lengan. Setelah itu ia mulai membuka serangan. Ia tahu bahwa musuh akan menunggu serangannya dan serentak terus akan melancarkan suatu serangan dahsyat. Oleh karena itu Leng Siang In pun membuka serangannya dengan jurus sederhana. Ia hendak menunggu juga apa yang akan dimainkan. Selekas Leng Siang In ayunkan pedang, tafnpa menunggu tibanya serangan, pengawal bajuputih itu segera hamburkan pedangnya dalam kecepatan yang tak pernah diduga lawan. Leng Siang In terkejut, cepat ia taburkan pedangnya untuk menghalau, tetapi terlambat. Dalam pertarungan pedang maupun pukulan tangan kosong yang dilakukan jago2 golongan ko-jiu, sedikit lubang dari kelambatan lawan cukup sudah untuk merobah posisi pertarungan. Demikian dengan Leng Siang In. Ia membuka serangan dengan jurus sederhana tetapi lawan telah menyerangnya dengan dahysat. Leng Siang In tak sempat lagi untuk memperkokoh pertahanannya. Saat itu dia dikurung oleh lingkaran sinar pedang lawan yang menyelubungi kaki sampai ke kepalanya. Masih untung dia mempunyai senjata pusaka seperti Ang-liong-kiam sehingga lawan tak berani beradu. Tetapi sekalipun begitu, ia tak dapat melepaskan diri dari kurungan sinar pedang yang setiap saat akan bersarang ke tubuhnya. Dan yang lebih hebat, serangan pedang pengawal baju putih itu selalu mengarah pada jalandarah berbahaya di tubuh Leng Siang In. Leng Siang In benar2 sibuk sekali sehingga tubuhnya mandi keringat, la tak sempat lagi mengembangkan ilmupedang Hoan-thian-to-hay-kiam, yang paling diandalkan karena ia Tiraikasih website http://kangzusi.com. berada di fihak yang diserang habis-habisan, la hanya dapat bertahan untuk menyelamatkan jiwanya. Tersengsamlah sekalian tokoh2 silat yang menyaksikan dibawah panggung. Mereka mengagumi ilmupedang Thaygoan It-kiam yang begitu hebat tetapi lebih mengagumi juga pada ilmu pedang pengawal baju putih yang dahsyat. Pertarungan berjalan makin lama makin seru. Leng Siang In lebih banyak bertahan daripada menyerang. Walaupun sampai berpuluh-puluh jurus belum juga ia menderita kekalahan, tetapipun ia tak mampu meloloskan diri dari lingkaran pedang lawan. Tampak wajah jago dari Thay-goan mulai merah dan keringat seperti banjir. "Omitohud ! Kiranya dia…..,” tiba2 Hong Hong tojin berseru tertahan dan terus ayunkan tubuh melayang ke atas panggung. Pengemis-sakti Hoa Sin, Ceng Sian suthay dan Pang To Tik terkejut...... O^^odwo^^O Jilid 32 Penemuan Saat itu Leng Siang In sedang sibuk menghadapi serangan pedang dari pengawal baju putih.. Leng Siang In bergelar Thay-goan It-kiam atau Pedang-tunggal dari Thay-goan. Ia telah mengeluarkan ilmupedang simpanannya Hoan-thian-tokiam atau ilmupedang Membalik-langit-menjungkir-laut, sebuah ilmupedang buah ciptaannya sendiri. Ilmupedang itu hebatnya bukan kepalang. Sesuai, dengan namanya bahwa jurus2 serangannya selalu berlawanan arah. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Untuk beberapa saat pengawal Baju Putih yang mukanya bertutup kain cadar putih itu agak bingung. Tetapi beberapa saat kemudian ia merobah gaya permainannya dan sejak perobahan itu maka Leng Siang lnpun mulai terdesak. Semua serangannya dapat dihalau dan dihindari lalu balas diserang. Pada saat itu Leng Siang In terpaksa harus bertahan. Ia tak mampu balas menyerang bahkan bertahanpun ia harus menumpahkan seluruh kepandaiannya. Detik yang menegangkan segera menjelang ti ba. Tabasan pedang pengawal baju-putih yang melancar ke arah kepala Leng Siang In, tiba2 berganti dengan menusuk ke dada. Pergantian yang mendadak itu mengejutkan Leng Siang In... Ia sudah terlanjur menjungkatkan pedangnya keatas untuk melindungi kepalanya sehingga dadanya tak terlindung. Serangan itu meluncur cepat sekali dan sekalian orang sudah menjerit karena memastikan kalau jago dari Thay-goan itu tentu terluka kali ini. "Gunakan jurus Thiat-pian kio dan tendangkan kaki kiri," tiba2 terdengar suara orang berseru. Leng Siang In tak sempat meneliti siapakah yang berseru itu. Tetapi ia percaya bahwa apa. yang diajarkan orang itu memang satu2nya jalan, untuk lolos dari bahaya maut. Sambil ayunkan tubuh ke belakang dari gerak Thiat-piah-kio atau Jembatan-besi gantung, kaki kirinya menendang siku lengan lawan. Pengawal baju putih itu terkejut karena lawan tiba2 rubuh kebelakang sehingga ujung pedang nya menusuk angin dan sesaat itu siku lengannya tersambar angin tendangan. Pengawal Baju Putih itu tak gugup. Menyurut mundur dua langkah, secepat kilat ia menabas kaki Leng Siang In. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tetapi Leng Siang In bukan jago sembarangan. Iapun bertekad untuk mengadu jiwa. Andaikata kakinya terpapas, iapun dapat melukai lawan. Dengan keputusan itu ia segera ayunkan kaki kanan untuk menendang bawah perut orang itu. Ditendangan yang disertai dengan tenaga-dalam penuh itu, dipercaya tentu akan menghancurkan alat vital lawan. Rupanya pengawal Baju Putih itu terkejut juga menyaksikan tindakan lawan. Jarak keduanya amat rapat sehingga tak mungkin ia dapat menghindar. Sring…. Karena sudah terlanjur membabat, ia terpaksa mengurangi tenaganya dan. terus loncat mundur. "Leng Siang in berjumpalitan "beberapa kali kebelakang lalu melenting berdiri tegak. Memandang ke bawah, ia mengeluh. Ujung sepatunya yang kiri telah terpapas. Sehingga sebuah jari kelingking kakinya ikut terbabat kutung. Setelah menyurut mundur, pengawal Baju-Putih hendak bergerak menyerang lagi tetapi saat itu sesosok tubuh loncat menamparnya. Orang itu bukan lain adalah Hong Hong tojin. Dialah.. ,yang meneriaki Leng Siang In supaya menggunakan jurus Thiat-pian-kio beserta Lian-hoan-thui atau tendangan berantai. Begitu melayang kepanggung ia segera memberi petunjuk kepada Leng Siang In dan kini melihat pengawal Baju Putih hendak menerjang. Iapun cepat2 loncat menamparnya untuk menahan. Pengawal Baju Putih itu terkesiap, ketika dirinya dilanda oleh angin pukulan yang tajam dan kuat. Terpaksa ia memutar pedang untuk menghapus angin tamparan itu. "Cianpwe," seru Hong Hong tojin setelah berdiri tegak dihadapan pengawal Baju Putih itu. "Harap jangan salah Tiraikasih website http://kangzusi.com. mengerti. Aku tak bermaksud menyerangmu melainkan hendak menghentikan pertempuran ini." Pengawal Baju Putih itu terkesiap, menatap wajah Hong Hong tojin.. Sinar matanya tampak hampa, Hong Hong tojin terkejut. Ia makin cenderung pada dugaannya. "Cianpwe," serunya pula, "mohon tanya, jika tak salah ilmupedang yang cianpwe mainkah tadi adalah ilmu pedang Gun-goari-kiam-sut . Ia berhenti sejenak untuk melihat reaksi orang, tetapi pengawal Baju Putih itu hanya terbelalak tanpa mengucap sepatah kata. "Cianpwe" Hong Hong tojin berseru pula, "ilmu pedang Gun-goan-kiam-hwat adalah ilmupedang pusaka dari partai persilatan Go-bi-pay. Di kalangan murid2 Bu-tong-pay. tidak banyak yang menguasai ilmupedang tersebut. Angkatan murid yang sekarang ini, tak ada seorangpun yang mampu mempelajarinya. Hanya angkatan yang keduapuluh empat, ada seorang murid Go-bi-pay yang berhasil memahaminya ... " HongHong tojin hentikan pula kata2nya. Ia memperhatikan bagaimana tanggapan pengawal Baju Putih. Tetapi ternyata orang itu tetap tertegun dengan mata yang hampa. Diam2 Hong Hong tojin heran. Mengapa sinar mata pengawal Baju Putih itu tak memancarkan suatu reaksi apa2. Mengapa dia seperti sebuah patung bernyawa" ? "Murid Go-bi-pay angkatan keduapuluh empat itu adalah sute dari ketua Go-bi-pay pada masa itu. Dan ketua dari Gobi- pay angkatan keduapuluh empat itu bukan lain adalah suhuku, Dengan demikian sute dari guruku adalah paman guruku yang bernama Biau Hun totiang" Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tetapi pengawal Baju Putih itu termangu hampa. "Dan kalau tak salah, Biau Hun susiok itu adalah totiang sendiri " tiba2 Hong Hong tojin berseru. Orang itu terkesiap tetapi tiba2 terdengarlah pengacara bersuit nyaring lalu berseru memberi perintah : "Pek-i sucia, usirlah imam itu dari panggung.” Pek-i su-cia atau Duta Baju Putih itu segera memberingas lagi, Tanpa berkata apa2 pengawal itu terus taburkan pedang menyerang Hong Hong tojin. "Susiok ... " teriak Hong Hong tojin seraya menghindar. Tetapi orang itu tak mempedulikan Diserangnya ketua Go-bipay itu dengan gencar. Melihat itu Leng Siang In memberingas, lapun hendak membalas pertolongan Hong Hong tojin tadi. Pedang Angliong- kiam atau naga merah segera, ditaburkan menjadi lingkaran sinar pedang yang memercikkan be-ratus2 bunga api. "Leng tayhiap, tahan" seru Hong Hong tojin seraya menampar kearah jago Thay-goan itu. Sudah tentu Leng Siang In terkejut. Ia tak tahu mengapa Hong Hong tojin malah menyerangnya. Cepat ia loncat kesamping untuk menghindar. "Leng tayhiap, jika tak keliru dugaanku, orang berbaju putih itu adalah paman guruku Biau Hun tojin yang telah lama menghilang," kata Hong Hong tojin dengan menggunakan Coan-im-jip-bi a-tau ilmu Menyusup suara.. Leng Siang In terkesiap. Namun ia menurut juga permintaan orang. Dalam pada itu Hong Hong tojin harus melayani serangan pengawal Baju Putih yang makin lama makin gencar. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Leng tayhiap, silahkan turun dari panggung”, kembali Hong Hong tojin menggunakan ilmu Menyusup suara, "sukalah Leng tayhiap memandang muka pinto dan izinkan pinto yang menghadapi susiok pinto" Sesungguhnya Leng Siang In berada dalam persimpangan. Jika ia lanjutkan menempur pengawal Baju Putih itu, tentulah ia akan menderita kekalahan yang hebat. Tetapi sebagai seorang ksatrya seorang jago nomor satu dari Thay-goan malu kalau harus mundur. Ia lebih suka memilih jalan maut. Kini setelah mendapat permintaan dari Hong Hong tojin, iapun mau juga menurut. Diam2 ia berterima kasih, kepada ketua Go-bi-pay itu yang telah menyelamatkan mukanya. Dan ia pun tak enak hati kalau berkeras hendak menempur pengawal Baju Putih yang menurut dugaan adalah paman guru dari Hong Hong tojin atau ketua partai Go-bi pay yang sekarang. Demikian dengan beberapa pertimbangan, itu, Leng Siang Inpun enjot tubuhnya melayang turun dari panggung. Memang bagi seorang tokoh semacam Leng Siang in tidaklah mudah untuk mundur dari suatu pertarungan besar yang disaksikan oleh be-ratus2 kaum persilatan. Tetapi dengan adanya Hong Hong-tojm turun tangan itu, Leng Siang In tak sampai menderita malu. Pertempuran diatas panggung makin memuncak. Hong Hong tojin masih dapat melayani pengawal Baju Putih itu sampai duaratus jurus Semakin lama ia semakin yakin bahwa permainan pedang pengawal baju putih itu jelas berasal dari partai Go-bi-pay. Hanya walaupun jurus2nya telah diketahui tetapi setiap kali Hong Hong tojin masih harus terkejut dan peras keringat untuk menghindari. Walaupun jurusnya sudah diketahui tetapi dimainkan oleh pengawal Baju Putih itu, jurus itu menjadi berlipat ganda dahsyatnya. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Diam2 Hong Hong tojin putar otak. Ia harus berusaha untuk membuktikan bahwa Pengawal Baju Putih itu adalah susioknya yang hilang beberapa tahun yang lalu. Tetapi bagaimana untuk melaksanakan rencananya itu, ia kehilangan akal.. Untuk mengalahkan dan menawannya, jelas tak mungkin. Ia merasa kepandaian susioknya itu jauh dua tingkat dari dirinya. Namun jika tak dapat menangkapnya. Tentu ia tak dapat membuktikan diri pengawal Baju Putih itu. Dalam pada itu. Hong Hong tojinpun makin mendapat kesan bahwa Pengawal Baju Putih itu seperti seorang manusia yang tak wajar, tak sadar pikirannya. Berulang kali diajak bicara tak mau menyahut. Berapa kali diberi penjelasan, tetap saja menyerang. "Ah, tentu terjadi sesuatu dengan susiok," akhirnya ia menarik kesimpulan, "menilik pandang matanya yang kosong dan sikapnya seperti manusia patung itu, ia tentu kehilangan kesadaran pikirannya. Jelas orang Thian-tong-kau tentu yang melakukan hal itu dan mempergunakannya sebagai alat pengawal mereka". Akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri dulu. la hendak berunding dengan ketiga ketua partai rekannya. Ia duga keadaan barisan pengawal Baju Putih dan Baju Merah tentu tak jauh dengan susioknya. Demikian setelah menghindar dari sebuah serangan yang berbahaya, Hong Hong tojinpun segera loncat turun ke bawah panggung. Hiruk pikuk para tokoh persilatan menyambut peristiwa itu. Mereka tak tahu-apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka hanya mengira bahwa ketua Go-bi-pay itu naik panggung untuk menolong Leng Siang In yang terdesak. "Bagaimana totiang" sambut Pengemis-sakti Hoa Sin kepada Hong Hong tojin, Tiraikasih website http://kangzusi.com. Ketua Go-bi-pay itu menghela napas: "Peristiwa ini menyangkut seluruh dunia persilatan. Jika dugaanku tak salah, pengawal Baju Putih tadi adalah susiokku." Hoa Sin, Ceng Sian suthay dan Pang ToTik terkejut. Berkata Hoa Sin : "Jika demikian barisan pengawal Baju Putih dan Baju Merah itu tentu mengandung rahasia besar. Kemungkinan mereka tentu tokoh2 persilatan juga yang telah ditawan dan diperalat oleh Thian-tong-kau." . ?? "Tepat!”, seru Hong Hong tojin, "dugaanku memang begitu juga.” "Hai !" tiba2 Pang To Tik menjerit sehingga ketiga rekannya terkejut memandangnya dengan penuh keheranan. "Apa maksud Pang tayhiap ?" tegur Hoa Sin. "Adakah kematian Kam sute ciangbunjin itu layak diragukan?" "Apa katamu!" kali ini Pengemis-sakti Hoa Sian terkejut. , "Dalam kematian Kam sute yang lalu seorang pemuda bloon telah dituduh sebagai pembunuhnya. Tetapi menurut keterangan murid dan para tianglo Hoa-san-pay, tuduhan itu hanya didasarkan bahwa pemuda bloon itu berada diguha tempat sute melakukan semedhi dan mencekal pedang berlumur darah. Tetapi kalau menilik kepandaian pemuda itu, tak mungkin dia mampu melakukan pembunuhan kepada Kam sute.” "Oh, Peng tayhiap hendak mengatakan bahwa kematian Kam pangcu itu mencurigakan sekali ?" tanya Hoa Sin-pula. "Bukan mencurigakan, tetapi memang dia tidak mati!" "Atas dasar apa Peng tayhiap menarik dugaan begitu," tanya Ceng Sian suthay." Tiraikasih website http://kangzusi.com. „Karena jenazah Kam sute itu sukar dikenali. Andaikata para tianglo dan murid2 Hoa-san-pay memastikan bahwa jenasah itu betul jenasah Kam sutepun, hal itu bukan sesuatu yang mustahil. Bisa saja dicarikan orang yang wajahnya mirip dengan Kam sute.” "Dan Kam pangcu ?” seru Ceng Sian suthay. "Diculik oleh gerombolan Thian-tong-kau, Hong Hong tojin bertegas menyahut. “Jika demikian," kembali Pengemis-sakti Hoa Sin buka suara, "bukan mustahil pula beberapa tokoh dari beberapa partai persilatan yang menghilang jejaknya itu ternyata memang ditawan oleh Thian tong-kau." "Adakah dalam partai Hoa pangcu juga terdapat tokoh yang hilang ?" cepat Hong Hong tojin bertanya. "Dugaan bahwa toa-suheng Han-jiat-sin-kay Suma kian yang hilang tak berbekas itu layak dikaitkan dengan hilangnya beberapa tokoh2 partai persilatan lain dan timbulnya Thiantong- kau dengan, barisan pengawalnya yang sakti”, sahut Hoa Sin. "Jika demikian halnya," kata Pang To Tik, "kita harus membongkar rahasia besar itu." Hong Hong tojin mendukung. “Tetapi barisan pengawal Thian-tong-kau itu merupakan manusia2 yang sudah hilang kesadaran pikirannya. Mereka tak. kenal orang kecuali hanya mendengar perintah dari pengacara itu," kata Hong Hong tojin, “untuk menghadapi mereka, hanyalah dengan jalan mendapatkan obat atau ilmu untuk memulihkan kesadaran pikiran mereka. Jika dengan kesaktian ilmu silat, mungkin gagal." Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tiba2 mereka dikejutkan oleh suara hiruk dari para tokoh2 yang berada disekeliling. Ketika memandaug ke muka, ternyata saat itu sesosok tubuh sedang melayang keatas panggung... Bahwa seorang tokoh silat naik ke panggung, sudah terjadi beberapa kali. Tetapi tidaklah segempar kali ini. Keempat ketua partai persilatan cepat melihat apa yang menyebabkan kegemparan itu. Seorang lelaki tua, rambutnya putih, jenggotnyapun putih menjulai kedada tetapi anehnya sepasang rambut alisnya masih hitam. Jika beberapa tokoh yang loncat ke atas panggung tadi menggunakan gerak ilmu ginkang, tidaklah demikian dengan pak tua itu. Dia membawa sebatang galah panjang menyerupai batang kail, dari bambu kuning. Ia mengayunkan bambunya keatas dan tubuhnya ikut melambung ke atas. Dengan dua tiga kali mencambukkan batang bambu kuning itu, tibalah sudah ia diatas panggung. "Hola, Hong-ho-tiau-soh In Tiong Sik lohi-apsu hendak memulai melakukan upacara sembahyang!" tiba2 pengacara berseru nyaring. Teriakan pengacara itu memberi keterangan kepada seluruh tokoh2 yang hadir, siapakah orang tua yang naik panggung saat itu. Benar, dia memang In Tiong Sik yang oleh kaum persilatan digelari sebagai Hong-ho-tiau-soh atau Tukang pancing ikan dari bengawan Sungai Kuning. In Tiong Sik dikenal sebagai seorang tokoh silat yang aneh. Tak suka cimpur urusan dunia persilatan tetapi selalu hadir dalam setiap perselisihan sebagai juru damai. Dia tak suka diganggu orang tetapi sering mengganggu orang. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Yalah orang2 jahat yang berani mengacau ketenangan daerah perairan Sungai Kuning. Setiap rayat nelayan perairan Sungai Kuning memujanya tetapi setiap kaum perompak dan penjahat, mengutuknya. "Ha, ha." In Tiong Sik tertawa lebar, "saudara terlalu memuji aku situkang kail. Dan sudah tentu, aku harus tahu diri. Masakan tukang kail tua semacam diriku berani mempelopori melakukan upacara sembahyang pada dewa2 Thian-tong !" "O," seru pengacara dengan nada yang menyembunyikan keheranan, lalu apakah yang lo-hiap su hendak lakukan disini ?" "Ha, ha," Ih. Tiong Sik tertawa, "sekali menjadi tukang pancing, tetap tukang pancing. Dimana dan diwaktu apa saja." Pengacara terbeliak : "Apakah lo-hiapsu juga akan memancing disini ? "Betapa tidak?" seru In Tiong Sik, "dimana tempatpun aku dapat memancing." "Ah, harap lo-hiapsu jangan bergurau," seru pengacara pula, "disini bukan Sungai Kuning tetapi panggung kehormatan untuk melakukan upacara sembahyang masuk menjadi anggauta. Thian-tong-kau." "Itulah," seru In Tiong Sik, "harap saudara ketahui bahwa aku tukang mancing tua ini memancing segala apa saja yang ada. Bukan melulu hanya ikan." "O," desuh pengacara, "apakah lo-hiapsu hendak memancing orang disini ?" "Jika yang ada orang, apa boleh buat," sahut In Tiong Sik, "akupun tak dapat menolak." Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tiba2 pengacara itu tertawa gelak2. "Bagus, bagus," serunya, "jika lo-hiapsu bermaksud begitu, itulah mudah. Diatas panggung ini banyak sekali orang yang dapat lohiapsu pancing. Silahkan pilih saja yang mana!" "Terima kasih," seru In Tiong Sik; "tetapi bagaimana kalau aku hendak memancing saudara saja karena aku senang melihat pakaian saudara yang indah itu." "Aku?" teriak pengacara terkejut tetapi pada lain saat ia tertawa, "jika lo-hiapsu hendak memancing aku, apakah lohiapsu tak sayang kalau upacara ini akan kacau ? Siapa yang akan memimpin upacara nanti ? " "Ah, jangan saudara menguatirkan hal itu," kata In Tiong Sik," bukankah Thian-tong-kau masih mempunyai puluhan anggauta yang dapat menggantikan tempat saudara ?" Pengacara terdiam sejenak lalu berseru : "O benar-benar. Tetapi apakah kail lo-hiapsu benar2 kuat untuk menampung tubuhku?”. Sambil menggentak-gentakkan bambu kuning, In Tiong Sik berseru : "Jangan memandang bambu pengailku ini kecil dan lemas, tetapi jangankan tubuh manusia, sekalipun ikan paus dapat juga terkail. Jangan kuatir, tentu takkan mengecewakan hati saudara." "In Tiong Sik, jangan berlaku kurang tata," bentak pengacara itu dengan nada bengis, "disini bukan panggung sandiwara untuk mempertunjukkan ilmu badut:...." Belum sempat ia meneruskan kata-katanya, tiba2 In Tiong Sik gerakkan bambu pancingnya. Singng..... terdengar angin mendesing tajam melanda pengacara; Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Ah, jangan membadut, engkau !" seru pengacara seraya menampar. Tamparan itu tampaknya pelahan dan tak bertenaga. Tetapi diluar dugaan, galah bambu kuning dari In Tiong Sik terpental ke belakang: In Tiong Sik terkejut. Ia merasakan angin tamparan pengacara itu bukan kepalang hebatnya. Dalam mengayunkan bambu kuningnya tadi, ia telah menggunakan tiga bagian dari tenaganya. Ia ingin menguji dulu sampai dimana tenaga orang itu. Ternyata pengacara itu memiliki tenaga-dalam yang hebat sekali. “Bagus, ternyata engkau pandai juga untuk menjadi ikan. Memang biasanya kawanan ikan itu menggelepar-gelepar meronta dari kailku. Tetapi akhirnya mereka akan dapat juga kutangkap," seru In Tiong Sik. la menutup kata-katanya dengan mengayunkan bambu kuningnya lagi. Kali ini desing suaranja lebih tajam. "Ali, tukang pancing, mengapa keras sekali kepalamu !" seru pengacara seraya menampar pula. Setiap gelombang angin segera melanda. *Dan terjadi suatu adegan yang mengejutkan. Tangan In Tiong Sik masih tetap menjulurkan batang kail ke muka, tetapi ujung bambu itu melengkung ke belakang makin lama makin kebelakang. Terkejut In Tiong Sik menderita hal itu. Itulah suatu adu tenaga-dalam yang hebat. Akibatnya, bambu kuninglah yang menderita. Jika In Tiong Sik tak mau melepaskan, jelas bambu itu pasti Jikan putus. Namun kalau ia melepaskannya, ujung bambu itupun tentu akan meluncur ke dadanya, pada jaraknya dengan dada hanya selengan jauhnya. Sekalian tokoh2 di bawah penggungpun terkejut juga menyaksikan peristiwa itu. Mereka mengagumi ilmu lwekang Tiraikasih website http://kangzusi.com. dari Hong-ho-tiau-soh In Tiong Sik, tetapi lebih terkejut menyaksikan tenaga-dalam pengacara itu. "In Tiong Sik," seru pengacara itu," jika engkau tetap tak mau melepaskan pancingmu, jangan menyesal kalau engkau sampai menderita malu !" Tetapi In Tiong Sik tak menjawab. Rupanya ia sedang menumpahkan seluruh perhatian dan Jenaganya untuk mempertahanken bambu kuningi Tiba2 pengecara itu ayunkan tangan kirinya, tarr.....ujung bambu meledak pecah dan In Tiong Sikpun terjungkal ke belakang, jungkir balik , boberapa kali baru dapat berdiri tegak lagi. Wajahnya merah padam tetapi pada lain saat ia tenang kembali. "Seumur hidup baru pertama kali ini aku mengalami peristiwa begini, "katanya," ah, memang aku harus dapat menarik pelajaran dari Sungai Kuning, bahwa ombak sungai yang dibelakang itu seialalu mendampar ombak yang dimuka. Aku sudah tua, sudah seharusnya menyisiri ke samping …." "Ah, lo-hiapsu tak usah kecewa. Thian-tong kau tetap akan menyambut kedatangan lo-hiapsu dengan penuh kehormatan," kata pengacara itu, "kita kaum tua, pun akan mendapat tempat yang sesuai dalam wadah Thian-tong-kau. Dengan kepandaian dan pengalaman lo-hiapsu, Thian-tongkau yakin tentu dapat membangun sebuah dunia persilatan yang baru, bebas dari pertumpahan darah dan pembunuhan agar kita dapat hidup tenang dan damai menuju ke tempat tujuan terakhir di thian-tong." "Terima kasih atas kebaikan budi Thian-tong kau," kata Hong-ho-tiau-soh lu Tiong Sik, "aku udah biasa hidup sebagai tukang cari ikan di Sungai Kuning. Akupun sudah tua pula. Aku Tiraikasih website http://kangzusi.com. ingin menikmati sisa hidupku dengan tenang dan bebas. Aku tak ingin cari nama. Karena apa guna nama itu, bukankah hanya kosong melompong? Aku hanya ingin bebas, ingin menikmati sisa hidupku bersama penghuni2 Sungai Kuning.,,” "Ah, lo-hiapsu salah," kata pengacara itu, "kita manusia harus melakukan dharma. Hidup itu suatu kewajiban, suatu dharma. Sedetik kita masih bernafas, sedetik itu pula kita harus menunaikan dharma kewajiban itu. Lo-hiapsu ingin bebas, tetapi dunia penuh kekacauan! Lo-hiapsu ingin hidup tenang, tetapi dunia persilatan tetap pergolak. Lo-hiapsu tak ingin cari musuh, tetapi kaum persilatan tak pernah melupakan lo-hiapsu terutama mereka yang pernah kalah dengan lo-hiapsu. Jika dulu lo-hiapsu menuntut penghidupan sebagai orang biasa. Itu lain soal. Tetapi karena lo-hiap sudah terlanjur berkecimpung dalam dunia persilatan, sukarlah lohiapsu untuk keluar. Daripada berdiam diri, lebih baik kita bergerak. Marilah lo-hiapsu, kita jadikan Thian-tong-kau sebuah wadah untuk menenteramkan dunia persilatan." "Tidak," sahut In Tiong Sik, "aku tetap ingin bebas. Jika ada yang hendak memaksa mengikat kebebasanku, tua sekalipun In Tiong Sik, tetap akan menentangnya sampai tulang2 tua ini hancur lebur." "Jika demikian silahkan lo-hiapsu melaksanakan peraturan Thian-tong-kau. Jika lo hiapsu dapat mengalahkan salah seorang anakmurid Thian-tong-kau, silahkan lo-hiapsu tinggalkan gunung Thay-san sini dengan bebas." "Baik." sahut In Tiong Sik, "memang sebelum memperoleh ikan, aku tak mau pulang. Begitulah yang kulakukan selama berpuluh tahun menjadi tukang pancing di Sungai Kuning. Disinipun demikan juga." Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Jika demikian, silahkan pilih saja mana engkau yang engkau senangi," seru pengacara. “Seperti telah kukatakan tadi, aku senang ikan emas merah seperti pakainmu itu," seru In Tiong Sik. "Hm," dengus pengacara itu. "memang orang yang keras kepala tentu tetap keras kepala... Baiklah, akan kulihat apakah tulang2 lo-hiapsu juga sekeras kepalamu." "Engkau telah mematahkan bambu kuning yang menyertai aku selama berpuluh tahun, maka engkau harus menggantinya," seru In Tiong Sik seraya bergerak menyerang. Pengail dari Sungai Kuning itu menyerang dengan tangan kosong. Gayanya aneh sekali. Tidak memukul atau menampar tetapi menutuk. Dan tutukannya itu menggunakan jari telunjuk dan jari kelingking. Baik tangan kanan maupun tangan kiri juga demikian. Pengacara terkejut menerima serangan ilmu tutukan jari yang seaneh itu. Sambil berlincahan untuk menghindar dan menampar, ia masih sibuk mempelajari ilmusilat yang dimainkan kawan itu. Belum pernah ia melihat dan mendengar nama ilmusilat semacam itu. Sekalian tokoh2 dibawah panggungpun tak kurang herannya. Mereka tak mengerti, ilmusilat apa dan aliran manakah yang dimainkan jago tua duri Sungai Kuning itu. Memang In Tiong Sik telah mengeluarkan ilmusilat ciptaannya sendiri. Berpuluh-puluh- tahun ia duduk di tepi sungai mengail ikan,, dapatlah ia memperhatikan kehidupan binatang2 dalam sungai itu. Diantaranya yang menarik adalah binatang yuyu atau kepiting. Gerak kedua supit kepiting itu merupakan senjata ampuh bagi binatang itu, baik berburu makanan maupun dalam menghadapi lawan yang hendak Tiraikasih website http://kangzusi.com. membunuhnya. Setelah memahami gerak2 binatang itu, mulai ia menuangkan dalam sebuah ciptaan ilmusilat yang disebutnya He-sia-kun aiau ilmusilat Udang-kepiting. Unsur gerakan ilmu silat itu berdasarkan gerakan kepiting dan udang. Sebagai supit maka digunakannya dua buah jari, jari telunjuk dan jari kelingking pada tangan kanan dan tangan kiri. Mulailah pengacara itu bingung menghadapi serangan yang aneh dan bertubi-tubi dan In Tiong. Sik. Tetapi In Tiong Sik sendiri diam2 juga terkejut mengetahui kesaktian pengacara. Ternyata pengacara itu memiliki tenaga-dalam yang hebat sekali. Dengan kelebihan itu, dia mampu menghalau setiap serangan berbahaya dari lawan. Pertandingan itu cukup menarik dan amat seru. Sekalian tokoh2 persilatan menikmati suatu adegan pertempuran yang jarang mereka saksikan dalam dunia persilatan. . Apabila In Tiong Sik dengan ilmusilat ciptaannya itu, menghidangkan suatu permainan yarg mempesonakan adalah pengacara itu dengan tenaga dalamnya yang luar biasa mampu membendungnya. "Hoa pangcu", tiba2 Ceng Sian suthay berbisik. "kalau menilik kepandaian pengacara itu rasanya sukar dipercaya dia hanya seorang pengacara biasa." "Benar, suthay" kata Hoa Sin, "memang kepandaiannya patut untuk disejajarkan dengan seorang ketua persiiatan partai." "Siapa kiranya pengacara itu ?" tanya Ceng Sian suthay. Hoa Sin menghela napas, "Ah, orang2 Thian tong-kau itu serba misterius. Untuk membongkar rahasia mereka tiada lain jalan kecuali harus dapat menangkapnya". Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Ah," Hong Hong tojin mendesah keluhan, "rasanya kekuatan mereka di luar kekuatan kita, kecuali ... " "Kecuali bagaimana, totiang?" tanya Hoa Sin "Kecuali semua tokoh2 silat yang berada di tempat ini bersatu padu untuk menyerang mereka.” Hoa Sin mengangguk. "Suatu saran yang bagus tetapi sukar dilaksanakan,” katanya. "Maksud Hoa pangcu ?" "Pertama, kita belum tahu apakah sekalian tokoh2 itu mau mendukung ajakan kita. Kedua, adakah andai kita berhasil mempersatukan diri apakah mampu menandingi kekuatan Thian-tong-kau?" "Ah, dalam perjuangan menentang keburukan tak harus kita memperhitungkan, untung rugi," desuh Hong Hong tojin. "Ini menyangkut kepentingan berpuluh bahkan beratus kaum persilatan dan nasib dunia persilatan. Untuk itu, mau tak mau kita harus memperhitungkan untung rugi. Bukan untung rugi karena takut mati tetapi untung rugi untuk menyelamatkan jiwa kaum persilatan dari bencana kehancuran". "Hoa pangcu", tiba2 Pang To Tik ikut sambung, "adakah kalau kita menyerah pada Thian-tong-kau kita akan selamat dan terhindar dari kehancuran ? Apakah artinya terhindar dari kehancuran apabila kita harus mengenyam perbudakan ? Dan kedua-kalinya, apakah Hoa pangcu sudah yakin bahwa kekuatan dari sekalian tokoh yang berada di tempat ini akan kalah dengan Thian-tong kau. Jika sam-wi setuju, aku bersedia untuk naik panggung dan mengumumkan ajakan kita kepada para hohan dibawah panggung". Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Terima kasih, Pang tayhiap" kata Hoa Sin dengan tenang, "memang ingin sekali aku menurut usul dari Hong Hong pangcu agar Thian-tong-kau lenyap. Dan untuk mengumumkan ajakan kepada para tokoh silat yang hadir disini, siapapan tentu dapat. Tetapi yang penting dia harus seorang tokoh yang berwibawa dari partai persilatan yang termasyhur. Dengan begitu baru dapat menggerakkan perhatian mereka. Tentang kekuatan Thian-tong-kau, bukan aku terlalu memuji mereka dan meremehkan kekuatan dari kawan2 kita sendiri tetapi marilah kita melihat kenyataan. Beberapa jago ternama tadi telah naik keatas panggung dan ternyata semua dikalahkan oleh murid Thian-tong-kau. Bahkan tadi. Hong Hong kaucupun telah menyatakan kecurigaannya bahwa pengawal Baju Putih mereka tadi, adalah susiok dan Hong Hong kaucu sendiri yang sudah ber-tahun2 menghilang. Lalu pengawal2 Baju Putih yang lainnya dan Pengawal Baju Merah itu? Siapakah mereka ?" Bantahan Hoa Sin itu, telah membungkam Hong Hong tojin dan Pang To Tik. "Kitapun wajib untuk menyelidiki, membongkar rahasia mereka dan menyelamatkan mereka, dari genggaman orang Thian-tong-kau. Untuk hal itulah maka aku mempergunakan perhitungan" kata Pengemis-sakti pula. “Lalu bagaimana pendapat Hoa pangcu ?" akhirnya Hong Hong tojin mundur selangkah. "Dalam hal ini kita harus menggunakan siasat." kata Hoa Sin. "Adakah Hoa pangcu sudah memikirkan siasat itu ?" Hoa Sin mengangguk. Tiba2 ia hentikan kata-katanya. Terdengar suara hingar dari sekalian hadirin yang memandang Tiraikasih website http://kangzusi.com. keatas panggung. Ternyata. pertempuran diatas panggung telah mengalami perobahan yang mengejutkan. Walaupun In Tiong Sik tampak masih melakukan tekanan kepada lawan tetapi anehnya, gerakan jago dari Sungai Kuning itu, tampak lambat sekali," seolah seperti orang yang terhalang oleh tekanan tenaga berat. Sedang pengacara itupun masih tetap mainkan kedua tangannya untuk menampar dan menghalau. Memang agak membingungkan pertempuran itu. Tetapi bagi mata tokoh2 kelas satu, cepatlah hal itu dapat diketahui. Ternyata tamparan yang dilakukan pengacara itu menimbulkah suatu tenaga dalam yang menyedot tangan orang. Oleh karena In Tiong Sik berusaha untuk membebaskan diri dari tenaga sedotan itu, maka gerakannyapun tampak lamban dan lambat sekali. Memang tenaga-dalam atau lwekang terdiri dari beberapa jenis. Di antaranya jalah yang dapat digunakan untuk menyedot tenaga Iawan. In Tiong Sik berusaha keras untuk bertahan tetapi rupanya tenaga-dalam pengacara itu lebih unggul sehingga makin lama gerakan In Tiong Sik makin pelahan dan makin maju merapat pada lawan. "Lo-hiapsu, mengapa engkau berkeras kepala? Jika kukehendaki, saat ini dapat kuhancurkan tubuhmu," kata pengacara itu dengan ilmu Menyusup-suara, “tetapi Thiantong- kau bukan bermaksud membunuh melainkan hendak menerima anggauta. Marilah, lo-hiapsu, kita bekerja sama ...." Tiba2 terdengar In Tiong Sik memekik keras dan terjungkal ke belakang. Gemparlah sekalian orang. Sesosok tubuh cepat melambung dan loncat keatas panggung. Tetapi pengacara Tiraikasih website http://kangzusi.com. sudah mendahului menyuruh pengawal baju merah untuk mengangkut In Tiong Sik kedalam. Ternyata orang itu tak mau mengejar melainkan berseru kepada sekalian hadirin dibawah panggung. “Saudara2 sekalian, marilah kita bersatu padu untuk menghadapi Thian-tong-kau, atau kita akan diperbudak mereka. Lihatlah, nasib dan beberapa tokoh persilatan ternama yang mereka jadikan pengawal Baju putih dan Baju merah itu !" “Pengawal Merah, ringkuslah orang itu!" teriak pengacara. Dan seorarg pengawal Baju Merah segera menghampiri orang itu. Ternyata orang itu adalah seorang lelaki berwajah hitam, tubuh gagah. Karena mengenakan pakaian orang persilatan warna hitam, tampaknya seperti setan hitam. Terdengar suara hiruk dari bawah panggung. Bukan suara pernyataan mendukung atau menolak tetapi rasa keheranan karena sebagian besar tak kenal kepadanya. Pengawal Baju Merah tanpa mengucap apa2 terus menyerang dengan sebuah pukulan dahsyat. Orang hitam itu mencabut ruyung. Begitu ditebarkan ruyung itu menjulur panjang sampai setombak. Ternyata ruyung itu terdiri dari sembilan ruas, terbuat dari pada baja hitam dan dibentuk menurut ukiran seekor naga sembilan tubuh. "Oh, Kiu-ciat-hek-hong-pian !" seru beberapa jago. silat dibawah panggung," dia tentulah Kui Hok." Memang benar, jago berkulit hitam yang naik dipanggung dan mengajak semua tokoh silat untuk menggempur Thiantong kau, bukan lain adalah Kui Hok gelar Kiu-ciat hek-liongpian atau Ruyung-naga-sembilan ruas. Seorang, pendekar Tiraikasih website http://kangzusi.com. aneh yang tiada tempat tinggal tertentu melainkan mengembara ke mana2. Hitam sekalipun orangnya tetapi pikiran dan pendiriannya tidak ikut hitam. Dia terkenal sebagai seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan. Ia marah setelah mengetahui sepak terjang orang Thian tong-kau yang hendak memaksa orang menjadi anggauta. Terutama ia marah karena beberapa tokoh silat telah dilukai oleh mereka. Cepat ia loncat naik ke atas panggung, Sesaat In Tiong Sik rubuh. Tetapi ia tak mau mengejar melainkan menggunakan kesempatan selagi orang2 Thian-tong-kau memperhatikan Ih Tiong Sik, ia terus melancarkan tawarannya kepada sekalian tokoh dibawah panggung. Tetapi karena kebanyakan mereka belum mengenal, maka tawaran itupun tak bersambut sebagaimana yang diharapkan. Tring, tring .... terdengar iuyung-naga-sembilan ruas itu bergemerincingan diudara untuk menghalau serangan orang dengan menghantam kepalanya. Tetapi pengawal Baju Merah itu tak mau menghindar. Ia mengangkat tangan kiri untuk menangkis ruyung dan tangan kanannya tetap maju memukul. Kui Hok terkejut sekali karena pengawal Baju Merah itu mampu menangkis hantaman ruyung. "Celaka, dia memiliki ilmu kebal Thiat-poh-san," keluh Kui Hok dalam hati. Namun karena sudah terlanjur berada diatas panggung tak mau ia mundur lagi. "Bagus," serunya seraya menarik ruyung lalu ditebarkan ke udara. Dengan bergeliatan laksana seekor naga bercengkeraman di laut, ruyung sembilan ruas itu menyambar dada orang. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tetapi pengawal Baju Merah itu memang lihay sekali. Ia tetap tak mau menghindar dan tetap menangkis dengan tangan kiri. Andai orang, biasa, tulang lengannya pasti akan remuk hancur. Tetapi lengan pengawal Baju Merah tak menderita cedera apa. Kui Hok cepat menghindar ke samping, tanpa menarik pulang ruyung. ia gentakkan ruyurg dengan lain jurus. Kali ini mengarah lambung orang. "Hm " pengawal Baju Merah mendengus tetapi tak berkata apa2 lagi. Ia melindungi lambung dengan tangan kiri lalu tangan kanan tiba2 mencengkeram dada lawan. Kui Hok terkejut melihat cara bertempur yang aneh dan nekad dari pengawal Baju Merah itu. Dengan penasaran ia tebarkan ruyung untuk menghalau cengkeraman orang. Tetapi ternyata getak mencengkeram itu hanya gertak kosong. Yang sungguh adalah tendangan yang dilancarkan dengan kaki kanan. Tendangan itu mengarah siku lengan Kui Hok. Kui Hok terkejut. Jika ia tetap memperlahankan ruyung, lengan tangannya tentu akan patah. Tetapi kalau melepaskan, berarti ia kehilangan senjata yang paling diandalkan. Tetapi cepat ia dapat menemukan siasat. Ruyung dilepas dan ia menyurut mundur dua langkah. Secepat cengkeraman tangan lawan luput, ia segera maju dan gentakkan ruyung kebawah untuk menghantam kepala pengaval. Pengawal Baju merahpun menyingkir ke samping lalu terjangkan pukulan lagi. Demikian serang menyerang itu dilakukan dengan cepat dan dahsyat dalam jurus2 ilmusilat yang tinggi dan mematikan. Pertempuran berjalan seru. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Kui Hok penasaran. Cepat ia merobah jurus serangan dengan Heng-soh-cian-kun atau Menyapu seribu-lasykar. Ruyung menderu-deru naik turun, membabat kaki menyambar kepala. Pengawal Baju Merah tetap melayani dengan tangan kosong. Sembari melepaskan pukulan, ia bergeliatan menghindar dengan suatu gerakan yang luar biasa. Gagal menyerang dengan jurus itu, kembali Kuil Hok. mengganti dengan ilmu Ruyung-sembilan naga. Ruyung bergerak-gerak secepat angin, bertebaran menyerang dari empat penjuru. Sepintas pandang pengawal Baju Merah itu seperti dikelilingi oleh pagutan sembilan naga hitam. Terkejut sekali tokoh persilatan menyaksikan permainan ruyung dari jago bermuka hitam itu. Mereka tak pernah melihat ilmu permainan ruyung semacam itu. Dan belum lagi kejut mereka hilang terdengarlah suara suitan tajam yang berhamburan meringkik-ringkik memekakkan telinga. Ternyata yang memancarkan suara aneh itu adalah ruyung Nagu-hitam itu juga. Kui Hok telah menumpahkan seluruh kepandaiannya untuk menghancurkan lawan, ia tahu bahwa pengawal Baju Merah itu memiliki ilmu kebal maka diserangnyalah bagian jalandarah yang lemah. Sekonyong konyong terdengar letupan pelahan. Serentak dari sembilan naga itupun menimbulkan beratus jarum ke arah tubuh pengawal Baju Merah. "Uh .... pengawal Baju Merah itu mendesuh kaget dau terhuyung-huyung beberapa langkah kebelakang. Dari sekian ratus jarum, ada beberapa yang berhasil menyusup ke pusarnya. Jarum itu mengandung racun ganas. Betapapun sakti pengawal itu tetapi karena pusar merupakan tempat Tiraikasih website http://kangzusi.com. pemusatan tenaga-dalam maka hancurlah tenaga-dalamnya dan serentak dengan itu ilmu kebal Thiat-poh-sanpun lenyap. Melihat berhasil merubuhkan lawan, Kui Hok loncat pula untuk menyelesaikan. Ia gemas dengan Thian-tong-kau, ia marah dengan setiap anakbuah perkumpulan itu. Beberapa tokoh persilatan telah dilukai, ia harus menuntut balas. Saat itu pengawal Baju Merah sedang berdiri tegak dan pejamkan mata. Bagaimana wajahnya tak dapat terlihat karena tertutup kain cadar. Tetapi jelas dia sedang menjalankan pernapasan untuk menghalau racun dari jarum itu. "Mampus engkau !" serta tiba, Kui Hok segera ayunkan ruyung menghantam kepala orang itu. Prak ..... terdengar dua buah jeritan ngeri. Dua sosok tubuhnya rubuh. Hantaman ruyung Kui tepat mengenai batok kepala pengawal Baju Merah itu sehingga pecah. Tetapi sebelumnya, pengawal Baju Merah itupun sudah mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menghantam dada Kui Hok. Kui Hok terhuyung-huyung mundur, muntah darah beberapa kali dan terus rubuh tak bangun untuk selama lamanya. Keduanya telah sama2 mati. Peristiwa itu mengoncangkan seluruh tokoh2 yang hadir. Kembali seorang pendekar ternama dalam dunia telah mati. Tetapi merekapun diam2 terhibur karena Thian-tong-kau juga kehilangan seorang pengawal. Kematian Kui Hok ternyata tak sia2. Melihat keperwiraan orangnya, sekalian tokoh pun segera teringat akan ajakannya tadi. Mereka malu hati kalau tak mati menerima tawaran itu. Lepas dari pengetahuan siapakah Kui Hok itu, tetapi tindakannya ternyata merupakan langkah dari seorang Tiraikasih website http://kangzusi.com. pendekar besar. Serentak bangkitlah hati nurani mereka. Berhamburan mereka segera loncat keatas panggung. Jumlahnya tak kurang dari tujuh orang " "Saudara2, mari kita ikuti jejak mendiang Kui tayhiap tadi. Lebth baik binasa daripada menjadi budak Thian-tong-kau!" seru ketujuh orang. Memang sebagian besar dari hadirin masih ragu2. Mereka tahu akan kekuatan diri dan kekuatan lawan. Thian-tong-kau memang mempunyai sejumlah besar anakbuah yang sakti. "Hong Hong kaucu," kata Pang To Tik, "saran kaucu telah didahului oleh Kui Hok. Apakah kita tetap berpeluk tangan ?" Hong Hong tojin memberingas. "Harap jiwi jangan bertindak sembarangan, tiba2 Ceng Sian suthay berseru mencegah, "soal ini menyangkut nasib kaum persilatan dan merupakan mati hidupnya dunia persilatan. Bukan soal berani atau takut dan lain2, tetapi yang kita hadapi saat ini memang benar2 suatu masalah besar dan gawat. Kalau kita memburu nafsu, menuruti panasnya hati, dunia persilatan tentu hancur …. " Berhenti sejenak Ceng Sian suthay melanjutkan pula : "Menurut wawasanku, jelas barisan pengawal Baju Putih dan Baju Merah itu tentu tokoh2 angkatan cianpwe yang telah menghilang sejak beberapa tahun. Kesaktian mereka diatas kita. Dengan menggunakan jalan keroyokan mengerahkah semua tokoh2 yang hadir disini, hanya akan menimbulkan banjir darah dan korban yang sia2." "Adakah suthay bermaksud hendak mengajak kita menyerah dan masuk menjadi anakbuah Thian tong-kau ?" tanya Pang To Tik. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Hanya ada dua jalan, melawan atau menyerah, mati atau hidup. Melawan, kita mati. Menyerah, kita hidup," jawab ketua Kun-lun-pay itu, "menghadapi suatu perkumpulan yang telah tersusun rapi dan berkekuatan hebat seperti Thian-tong- kau, lebih baik, jangan menggunakan kekerasan. Tetapi siasat". "Menyerah ?" Pang To Tik menegas. "Ya" sahut Ceng Sian suthay, "karena dengan jalan itu, dapatlah kita mengetahui seluk beluk, keadaan dan kekuatan Thian-tong-kau. Pengetahuan itu kita jadikan pegangan untuk menghancurkan mereka dari dalam." "Ah, suthay," bantah Pang To Tik, "dunia persilatan mengakui dan memandang kita bertujuh partai persilatan sebagai pemuka2 kaum persilatan. Saat ini mereka menanti tindakan kita. Jika dalam saat2 yang segawat ini kita menyerah, bukankah mereka akan hilang kepercayaan kepada kita ? Bukankah untuk selama-lamanya ketujuh partai persilatan itu akan kehilangan muka? Melawan, memang mati. Tetapi kematian itu tetap akan mengharumkan nama ketujuh partai." "Baik buruk, mulia hina, disanjung- dicelah, memang sudah jamak dalam kehidupan manusia. Tetapi apa guna mati disanjung tanpa menolong-keadaan, dengan hidup dicelah tetapi dapat menyelamatkan dunia persilatan ? Dan segala kekecewaan dan celahan itu tentu kelak akan hapus apabila kita berhasil menghancurkan mereka dari dalam. Kita menyerah bukan suatu penyerahan yang bulat tetapi hanya suatu siasat. Adakah penyerahan itu suatu hal yang memalukan?”, balas Ceng Sian suthay. "Dalam permufakatan di Giok-ti-nia tempo hari, kitapun sudah mengadakan persiapan. Antara lain menulis semua ilmu kepandaian masing2 dalam buku dan kelak buku itu akan Tiraikasih website http://kangzusi.com. diberikan kepada anakmurid kita masing2, "katanya." dengan tindakan itu berarti kita sudah bersiap mati." "Itulah Hoa pangcu," seru Pang To Tik "dengan demikian kita sudah membulatkan tekad untuk melawan Thian-tongkau." "Tetapi," kata Hoa Sin pula, "keputusan kita itu adalah untuk menjaga kemungkinan dari segala kemungkinan yang paling buruk. Artinya, apabila benar2 sudah tak ada jalan, dimana kita harus mengadu jiwa dan mati. Sudah tentu dengan sendirinya, hal itu mengandung arti, bahwa kita wajib berusaha untuk menghadapi peristiwa ini dengan cara yang sebaik-baiknya, agar kita jangan sampai menderita dan musuh dapat dihancurkan." “Hoa Sin melirik sejenak. Dilihatnya Ceng Sian suthay. tenang2 saja. "Dari berbagai macam cara, kita boleh menempuh. Yang penting kita dapat menghancurkan musuh tanpa menderita suatu kerugian apa2. Dalam hal itu, apabila kita mengadu kekerasan, jelas, Thian-tong-kau lebih kuat. Mereka menang, kita kalah. Oleh karena itu, baiklah kita mengambil jalan lunak, menggunakan siasat." . "Menyerah ? * tanya Pang To Tik. "Menyerah secara betul2, hina bagi Kay-pang" sahut Hoa Sin dengan tegas, "tetapi kalau penyerahan itu bersifat siasat, Hoa Sin setuju." Pembicaraan mereka terputus karena suara teriakan hirukpikuk dari para tokoh2 persilatan. Ternyata saat itu diatas panggung telah berlangsung pertempuran yang seru. Sedangkan tokoh2 dibawah panggung Tiraikasih website http://kangzusi.com. masih sibuk berbincang-bincang untuk menentukan keputusan ikut mendukung ketujuh orang yang naik di panggung atau tidak. Sampai pertempuran dipanggung pecah, masih mereka belum mengambil keputusan. Ternyata ketujuh orang yang naik panggung itu adalah Shoa-tang Sam hiap atau Tiga-jago dari Shoatang, Tan Hwa, Tan Hong dan Tan tim. Ho lam-ji-koay atau Sepasang manusia aneh dari Ho-Iam yani Utti Siang dan Uiti Ho. Serta ketua Kiro-coa-pang yang bernama Pui Tik dan Im Yang cinjin dari Lembah Im-yang-kok atau Lembah Ban ci, guha Cui-im-tong. Ketujuh tokoh itu tak dapat menahan kemarahannya lagi ketika melihat pembunuhan yang terjadi pada diri Kiu-ciathek- liong-pian Kui Hok. Mereka terus hendak menerjang untuk menyerang Kim Thian-cohg yang selama itu masih tetap duduk tenang di kursi. Tetapi cepat mereka segera dihambat oleh kawanan bocah Baju Kuning dan Baju Biru. Rupanya pengacara mulai naik pitam. Jika tak lekas2 ditindas tentu akan menimbulkan akibat yang lebih luas. Kemungkinan seluruh tokoh di bawah panggung akan ikut naik panggung untuk bertempur. Maka ia segera memberi lambaian tangan kepada barisan gadis cantik Baju Merah dan Baju Hijau. Saat itu ketujuh jago silat telah diserbu dan dikepung oleh duabelas gadis baju Kuning, duabelas gadis baju Hijau, enam bocah baju merah dan enam bocah baju biru, atau tigapuluh enam anak-murid Thian-tong-kau. Rupanya fihak Thian-tong kau hendak cepat2 mengakiri pertempuran itu. Pengacarapun lalu memberi isyarat kepada Tiraikasih website http://kangzusi.com. barisan pengawal baju Putih dan pengawal baju Merah untuk berjajar di muka panggung. Setiap orang melayang ke atas penggung, supaya segera dihancurkan. Kembali pengacara bersuit nyaring. Sekalian orang tak tahu apa yang dimaksudkan orang itu. Beberapa jenak kemudian terdengar pengacara berseru nyaring: "Thian- tong-kau telah menyambut dengan hormat kedatangan saudara2 sekalian di gunung Thay-san ini. Tetapi ternyata saudara2 bukan bersikap sungkan sebagai tetamu, kebalikannya malah mengacau dan hendak membatalkan upacara ini. Maka terpaksa kaucu kami telah menitahkan supaya mengambil tindakan keras. Sekarang saudara2 tinggal memilih, mau masuk menjadi anggauta atau dihancurkan. Lihatlah, sekeliling penjuru tempat ini telah dijaga ketat oleh anakbuah Thian-tong-kau: Secepat menerima perintah mereka segera akan bergerak. Hujan panah, hujan batu, hujan balok dan jika perlu tempat saudara2 itu akan diledakkan!" Terkejut sekalian hadirin mendengar pernyataan itu. Mereka memandang sekeliling dan memang melihat berpuluh anakbuah Thian-tong-kau telah mengepung disekeiiling puncak karang yang melingkupi tempat pertemuan itu. Ternyata tempat pertemuan itu merupakan sebuah lembah yang empat penjuru dikelilingi dinding karang yang tinggi. Dari sepanjang puncak karang itu, anakbuah Thian-tong-kau memang dapat melepaskan hujan anak panah, menggelundungkan batu dan balok. Berpaling ke belakang, ternyata mulut lembah pun telah dijaga oleh puluhan anakbuah Thian-tong-kau. Dengan begitu jelas mereka telah terkurung dalam lembah. Hanya ada dua pilihan bagi mereka. Mau menjadi anggauta Thian-tong-kau atau dihancurkan. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Hoa Sin menghela napas : "Dengan keadaan yang kita hadapi saat ini, terlambatlah untuk melaksanakan saran Hong Hong totiang dan Pangtay hiap tadi. Sekalipun kita dapat mempersatukan para hohan disini, tetapi keadaan kita ibarat ikan dalam jaring ... " "Tidak, Hoa pangcu " bantah Pang To Tik, "Aku masih mempunyai akal". "Bagaimana maksud Pang tayhiap ?" tanya Hoa Sin. "Menangkap penjahat harus menangkap kepalanya", kata Pang To Tik. "Oh, maksud Pang tayhiap ... " "Harap Hoa pangcu tunggu saja", kata Pang To Tik tanpa menjelaskan lebih lanjut rencana terus menyelinap pergi. "Pang tayhiap" seru Hoa Sin hendak memburu. Tetapi Pang To Tik sudah melesat menghilang diantara kerumun orang. Hoa Sin terpaksa hentikan langkah dan kembali kepada kedua rekannya. "Aneh apakah yang hendak dilakukan Pang tayhiap ?" tanyanya. "Kemungkinan dia hendak menyergap ke dalam markas Thian-tong-kau untuk membekuk ketuanya" kata Hong Hong tojin. "Berbahaya" seru Hoa Sin, "sedangkan anak buah mereka saja sudah begitu sakti, apalagi ketuanya. Dan mengapa Pang tayhiap harus bekerja seorang diri ?" "Ya," sahut Hong Hong tojin "aneh juga tindakannya. Atau ... apakah ia hendak menunjukkan kegagahan dan menonjolkan kesaktiannya ?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tiba2 Ceng Sian suthay yang berdiam di menyelutuk ; "Kurasa tak begitu, tentu ada lain maksud mengapa ia bekerja seorang diri" "Apakah maksudnya?,” tanya Hong Hong tojin. "Kita tunggu saja nanti" kata Ceng Sian suthay, "karena sebelum terbukti, tak baik kita menduga yang buruk kepada orang. Yang penting ia harus siap sedia menghadapi segala kemungkinan". Teringat bahwa selama ini Ceng Sian suthay agak menaruh kecurigaan terhadap gerak gerik Pang To Tik, maka Hoa Sinpun merangkaikan tindakan Pang. To Tik sekarang ini dengan prasangka Ceng Sian suthay. Diam2 timbul pertanyaan dalam hati ketua Kay Pang itu : "Adakah Pang To Tik akan melakukan sesuatu yang merugikan tokoh2 persilatan ? Adakah ia itu anggauta Thian-tong-kau ?" "Lalu bagaimana tindakan kita sekarang ?" tiba2 Hong Hong tojin bertanya. "Kita sudah seperti ikan dalam jaring," kata Ceng Sian suthay, "tiada lain jalan kecuali hanya menunggu saja apa yang akan terjadi". "Tetapi ingat" Hoa Sin menambahkan, "betapa pun yang akan terjadi, kita harus tetap berpijak pada landasan semula. Andai kita harus menyerah maka penyerahan itu harus sebagai jalan untuk menyelidiki keadaanThian-tong-kau dan setelah itu kita mencari kesempatan untuk menghancurkannya" "Dan kalau perlu, kitapun harus berani menempur mereka sampai titik darah yang penghabisan, bukan ?" ulang Hong Hong tojin. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Ceng Sian suthay dan Hoa Sin mengangguk dalam2 sebagai pernyataan siap untuk menghadapi apa saja, bahkan mati sekalipun. Bintang penyelamat Peristiwa didunia memang aneh dan sukar di duga-duga. Apa yang tak diharapkan sering muncul. Apa yang diduga berbahaya ternyata telah berlalu tanpa suatu apa. Apa yang dianggap aman, ternya ta berbahaya. Terutama dalam dunia persilatan dimana ilmusilat dengan segala kesaktian yang tak pernah diduga orang, sering menimbulkan peristiwa yang aneh. Seperti apa yang terjadi di panggung pertemuan Thay-san, dimana saat itu tokoh2 persilatan, sedang menghadapi tekanan yang berat dari Thian tong-kau. Mereka harus menyerah masuk menjadi anggauta Thian-tong-kau atau dibinasakan. Pada saat sekalian orang kehilangan pegangan dan kepercayaan, dimana pada saat ketujuh tokoh silat yang naik panggung tadi telah dirubuhkan dan ditawan, dimana pada saat itu upacara sembahyang menyatakan masuk menjadi anggauta Thian-tong-kau, sudah dimulai, dan dimana berpuluh tokoh2 silat sudah melakukan upacara sembahyang masuk menjadi anggauta, tiba2 muncullah suatu peristiwa yang tak diduga-duga. Sekonyong-konyong barisan anakbuah Thian-tong kau yang menjaga mulut lembah, hiruk pikuk tak keruan. Mereka berteriak berteriak kacau. Sebagian bahkan telah rubuh. Tak berselang berapa lama, bobol lah pertahanan barisan itu dan muncullah seorang pemuda, yang aneh. Kepalanya gundul tidak gundul karena kalau- gundul tentu polos semua Tiraikasih website http://kangzusi.com. tetapi pada kedua samping kepala pemuda itu tumbuh dua gumpal rambut yang panjang dan diikat, menjungkit keatas. Sepintas pandang menyerupai sepasang tanduk. Juga pakaiannya agak nyentrik. Terutama wajahnya, menampilkan sebuah wajah yang cakap tetapi hampa seperti orang tolol. Dengan sikap seperti orang kesima pemuda itu menerjang masuk. Berpuluh-puluh anakbuah Thian-tong-kau coba menahannya dengan pukulan ataupun bahkan dengan senjata tajam, Tetapi kesemuanya itu dapat dihalau dan diterjangnya. Pemuda itu dengan suatu gaya gerakan yang lincah dan mengherankan dapat menghindari setiap serangan, bahkan setiap kali ayunkan tangan dan kaki, tentu ada musuh yang rubuh. Karena barisan anakbuah Thian-tong-kau itu tetap berkeras hendak menghalangi, pemuda itu tampaknya marah. Ia menyambar seorang anakbuah Thian-tong-kau, diangkat lalu diputar-putar untuk menghantam barisan. Barisan gempar seketika, mereka berhamburan bubar. Setelah berhasil membobolkan barisan anak buah Thiantong- kau, pemuda itu terus langsung menuju ke panggung. Santai sekali gaya jalannya, seolah-olah tempat pertemuan yang berisi dengan beratus-ratus jago silat itu dianggapnya sepi saja. Upacara sembahayangan menjelang selesai dimana sebagian besar dari tokoh2 yang hadir telah menusuk tangan, mengucurkan darah dan melakukan pernyataan masuk menjadi anggauta. Selanjutnya mereka telah disuruh berbaris berjajar-jajar untuk menghaturkan hormat kepada Kim Thian Cong pemimpin Thian-tong-kau. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Kemunculan pemuda aneh itu, sempat pula diperhatikan oleh mereka. Seketika beratus-ratus mata mencurah kepada pemuda itu. Pengacara yang hendak memimpin upacara menghadap kaucu, sempat pula memperhatikan pemuda itu. "Tunggu dulu," serunya, "rupanya ada seorang pemuda yang hendak mengacau tempat ini." Ia terus melangkah ke muka panggung dan berseru : "Hai, engkau, siapa dan tapa maksudmu datang kemari ?" "Bukankah tempat ini menjadi orang dari perkumpulan Thian- tong-kau ? Bukankah pemimpin nya bernama Kim Thian Cong?" seru pemuda itu. Pengacara itu terkejut. "Engkau siapa ?" seru pengacara pula. "Engkau tahu apa tidak, aku siapa ?" balas pemuda itu. Pengacara makin bingung. "Aku tanya siapakah namamu ?" serunya. "Engkau siapa ?" tiba2 pemuda itu balas bertanya. Sudah tentu pengacara makin terbeliak. Pada lain saat ia marah ; “Hai budak giia, jangan engkau gila-gilaan ditempat ini. Kalau tak mau mengatakan dirimu siapa, tentu akan kusuruh menghajarmu.” "O," dengus pemuda itu, "siapa yang engkau suruh menghajar aku ? Tuh lihatlah, betapa tiada gunanya anakbuahmu. Masakan aku hendak masuk, mereka berani menghalangi. Dan akhirnya mereka harus bubar sendiri." Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Engkau yang menghajar mereka?,” pengacara mulai terkejut. "Kalau bukan aku, siapa lagi ?" Pengacara segera menarik kesimpulan bahwa pemuda yang tampaknya tolol itu tentu memiliki ilmu kepandaian sakti. Kalau tidak masakan dia mampu menerobos pertahanan anakbuah Thian-tong-kau yang menjaga mulut lembah. "Sekali lagi kutanya, siapakah namamu dan apa keperluan datang kemari ?" Sahut pemuda itu dengan santai: "Kudengar digunung Thaysan sini sedang dilangsungkan pertempuran besar dari kaum persilatan guna meresmikan beidiri sebuah perkumpulan baru yang bernama Thian-tong-kau, benaikah itu ?" "Ya" sahut pengacara ringkas. "Dan katanya, pemimpin dan Thian-tong-kau itu bernama Kim Thian Cong, benarkah itu ?" "Benar." "Nah, aku kepingin bertemu dengan Kim Thian Cong itu," seru pemuda itu pula. "Mengapa ?" "Akan kulihat bagaimana tampang mukanya. Kalau sudah hendak ditantang berkelahi." "Mengapa ? * "Karena dia adalah ayahku....." "Hai ! teriak pengacara itu, "engkau putera Kim kaucu ? Gila! Tidak mungkin! Masakan Kim kau cu yang cakap dan Tiraikasih website http://kangzusi.com. berilmu sakti mempunyai seorang anak yang macamnya seperti kura2 begitu!* "Huh," dengus pemuda itu, “jangan kira dia mudah mengaku aku sebagai puteranya. Dan belum tentu, aku mau mengaku dia sebagai ayah. Aku harus menguji dulu kesaktiannya. Kalau dia dapat mengalahkan aku, baru aku menjadi puteranya. Kata orang, ayahku dulu adalah seorang jago nomor satu yaug menjadi pemimpin dunia persilatan. Benarkah itu ? "Ya," kata pengacara, "memang Kim kaucu seorang jago silat tanpa tanding dalam dunia persilatan. Dan sekarang dia mendirikan perkumpulan Thian -tong-kau untuk mempersatukan kaum persilatan lagi." "Gila !" tiba2 pemuda itu berteriak. "Mengapa ?" pengacara tercengang. "Dulu ia sudah dianggap sebagai pemimpin dunia persilatan, perlu apa ia harus membentuk perkumpulan baru lagi ?" "O, engkau tak tahu" kata pengacara itu, "dulu memang diangkat sebagai pemimpin dunia persiIatan tetapi kini kaucu tak mempunyai perkumpulan atau partai persilatan. Sekarang Kim kaucu hendak membentuk sebuah perkumpulan untuk wadah semua kaum persilatan." "Engkau ini siapa" tiba2 pemuda itu menegur. "Aku pengacara yang memimpin upacara sembahyangan pemasukan anggauta dan meresmikan berdirinya Thian-tongkau" "Namamu ? Bukankah engkau mempunyai nama ?" tanya pemuda itu pula. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Pengacara tertegun kemudian gelengkan kepala. "Tak usah pakai nama, cukup sebut aku sebagai pengacara saja." "Aneh. kiranya bukan melainkan hanya aku seorang diri yang tak punya nama," pemuda itu garuk2 gundulnya, "ada lain orang lagi yang juga tak punya nama." "O, engkau tak punya nama?" teriak pengacara itu. "Ya" "Lalu bagaimana hendak memanggilmu ?" "Anak, begitu saja. Atau panggil saja Bloon. "Bloon ?" teriak pengacara itu, "gila, engkau memang sengaja hendak memperolok olok aku. Bocah baju Merah, gebuklah pemuda liar itu !" Seorang bocah dari barisan Baju Merah segera tampil maju. Tetapi ketika ia hendak melayang turun ke bawah panggung, tiba2 terdengar suara orang berseru : "Hai, bocah, berhenti dulu" Bocah itu terkejut dan berpaling. Demikian pula dengan pengacara dan sekalian tokoh2 yang berada, diatas panggung. Mereka terkejut bukan kepalang ketika melihat seorang lelaki berpakaian indah muncul dari dalam panggung. Kejut sekalian orang bukan karena kemunculan seorang lelaki yang secara tiba2 itu tetapi karena lelaki yang muncul itu pakaian dan wajahnya seperti pinang dibelah dua dengan si pengacara tadi. Sudah tentu bocah baju Merah itu tertegun. “Kurang ajar, mengapa ergkau berhenti dan segera melakukan perintahkan,” sesaat kemudian pengacara itu Tiraikasih website http://kangzusi.com. membentak si bocah baju Merah. pengacara itu tahu bahwa pemuda aneh yang muncul di bawah panggung memiliki kepandaian sakti. Demikian pula lelaki yang muncul dari dalam panggung itu, ia duga tentu seorang tokoh yang misterius dan sakti. Maka ia suruh bocah baju Merah itu yang menahan pemuda di bawah panggung, sedang ia sendiri akan menghadapi orang yang memalsu seperti dirinya. "Setan, engkau berani melanggar perintahku" teriak orang aneh itu. Bocah baju Merah tertegun meragu. Perintah siapakah yang harus ia turut ? Keduanya mirip satu sama lain, sukar dibedakan mana pengacara yang tulen mana yang palsu. "Bocah baju merah, apakah engkau benar2 tak mau mendengar perintah?" teriak pengacara dengan nada bengis dan terus mengangkat tangannya keatas kepala. Bocah baju Merah itupun terkejut. Ia tahu bagaimana kedahsyatan tangan pengacara. Tetapi baru ia hendak bergerak, tiba2 lelaki yang mirip pengacara tadipun membentak. "Awas, kalau engkau berani melanggar perintahku," katanya seraya juga mengangkat tangan ke atas siap hendak ditamparkan. "tak perlu engkau turun. Biar ia naik ke atas panggung baru nanti dihancurkan" "Bocah baju merah, apakah engkau benar2 tak mau mendengar perintahku ?" teriak pengacara yang tulen. "Tetapi ... tetapi in-su yang itu melarang ! Lalu aku harus menurut perintah siapa ? karena terdesak bocah baju merah itu berseru. Gi-su artinya pengacara. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Blum ..... tiba2 pengacara itu ayunkan tangannya dan bocah baju Merahpun terlempar sampai beberapa meter dan muntah darah beberapa kali. "Kejam sekali engkau !" teriak orang yang muncul dari balik panggung tadi. Kemudian dengan cepat orang itu berpaling dan memberi perintah ke pada barisan bocah baju Merah, "kawan kalian telah terluka, hayo seranglah orang itu !" Kawanan bocah baju Merah itu benar2 bingung. Memang orang yang muncul dari balik panggung itu menyerupai sekali dengan pengacara tadi. Karena suasana tegang, mereka sampai tak sempat berpikir bahwa pengacara yang sejak tadi berada di depan panggung itulah yang seharusnya dianggap yang tulen. Sedangkan orang yang muncul dari balik panggung, walaupun wajah dan pakaiannya persis, tetapi harus dicurigai. "Hai, kalian", teriak orang itu pula, "mengapa kalian diam dan masih bersangsi? Apakah kalian tak memiliki rasa setiakawan ? Bukankah anak itu juga saudara seperguruanmu sendiri ? Hayo, lekas, balaslah orang itu !" "Hai, jahanam, besar sekali nyalimu berani menyaru seperti diriku !" pengacara dengan mata membara memandang dan memaki orang itu, "siapa engkau !" "Aku adalah pengacara yang diberi tugas Kim caucu untuk memimpin upacara ini!" seru orang itu, "engkau telah memalsu diriku dan berkomplot untuk mencelakai diriku." "Ngaco !" bentak pengacara itu." "Hai, dengarkanlah semua anakbuah Thian-tong kau !" seru orang itu pula, "dalam ,tubuh Thian-tong kau telah muncul seorang pengacau yang hendak mengobrak-abrik dan menggagalkan upacara peresmian perkumpulan kita. Dia Tiraikasih website http://kangzusi.com. meracuni aku dan menyaru aku sebagai pengacara supaya upacara ini gagal. Dia tentu tak mengira kalau aku masih hidup. Hayo, anakbuah Thian-tong-kau, jika engkau benar2 setia kepada Thian-tong-kau, tangkaplah penghianat itu !.” Timbul kegemparan di atas panggung. Sekalian anakhuah Thian-thong-kau, kecuali barisan Baju Merah dan Baju Putih yang tetap diam saja, barisan gadis cantik dan barisan bocah tampak berbisik diantara kawan-kawannya. "Bangsat, engkau berani, mati sekali!" pengacara itu marah dan terus menghantam orang yang menyaru sebagai dirinya itu. Bum..... Orang itu tergopoh lari ketempat barisan gadis cantik dan pukulan pengacara itu hanya mengenai tempat kosong. Sekalipun begitu, tanah dibawah panggung yang jaraknya beberapa belas tombak, seperti tertimpah batu besar, meletuk dan menghamburkan pasir dan batu keatas. Biat-gong ciang atau pukulan Pembelah-angkasa yang dilepaskan pengacara itu, hebatnya bukan kepalang. "Cong- thancu." kata salah seorang gadis- baju Hijau "jika pengacara itu palsu, mengapa than-cu tak berani menghajarnya ?" Rupanya gadis itu tersadar akan keadaan yang dihadapannya. Cong-thancu atau Kepala dari thancu (bagian2), seorang tokoh yang sakti kepandaiannya. Ia heran mengapa cong-thancu tak berani menghadapi pengacara itu. "Ah, engkau tak tahu," gumam orang yang dipanggil congthancu itu, "racun yang diberikan kepadaku telah menghancurkan tenaga-dalamku" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Ih"; gadis baju Hijau mendesih kejut. Ia dapat" menerima alasan itu dan seketika berseru, "tetapi sejak tadi dialah yang memimpin upacara dan kaucu pun" merestuinya. Sedang engkau baru saja ... muncul, sukar bagi kami untuk mempercayai keteranganmu". "Sekarang tiada waktu untuk menjelaskan hal itu. Pokoknya, aku telah diracuni oleh penghianat itu hingga tenaga-dalamku lenyap. Dia hendak, memimpin upacara untuk mengacaukannya. Soal kaucu merestui, itulah karena kaucu tak dapat membedakan antara yang tulen dan yang palsu." "Lalu bagaimana kehendak cong-thancu ?" tanya gadis itu pula. "Tangkaplah penghianat itu." seru orang itu. Barisan gadis itu berunding. Tiba2 pengacara berteriak : "Hai. barisan Bijin- kun, ringkuslah penghianat itu !" Bi-jin-kun atau barisan wanita cantik yang terdiri dari gadis2 Baju Kuning dan Baju Hijau itu terbeliak. Mereka bingung bagaimana harus bertindak. Orang yang muncul dari balik panggung itu memang seperti pinang dibelah dua, apabila keduanya dijajar, memang sukar untuk membedakan mana yang aseli mana yang palsu. Juga alasan orang itu dapat diterima. "Cong-thancu, harap suka memberi ampun kepada kami", seru salah seorang gadis baju Hijau, "urusan ini benar2 membingungkan kami. Maka kami mohon sukalah congthancu bersabar dulu dan kita ajukan persoalan itu kehadapan kaucu...Bagai mana nanti keputusan kaucu, tentu akan kami lak sanakan.” "Gila !" pengacara itu memaki, "engkau lebih-percaya ia dari aku ?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Maaf, cong-thancu, kami benar2 bingung," kata gadis itu pula. "Tangkap dan geledah orang itu engkau tentu dapat membuktikan palsu atau tidaknya" seru pengacara. "Jangan percaya kepadanya," kata orang itu, "bawalah aku kepada kaucu, biar kaucu yang memuluskan persoalan ini" Cepat barisan gadis itu mengerumuni orang itu lalu mengawalnya hendak dihadapkan kepada Kim Thian Cong yang walaupun tahu ramai2 itu anehnya masih tetap diam saja. Tiba2 pengacara itu mengacungkan tangan keatas dan bersuit nyaring. Pengawal Baju Merah dan Baju Putih serempak menghadang jalan rombongan berisan gadis2 itu. "Kami hendak mengantar cong thancu kehadapan kaucu," kata salah seorang gadis. Tetapi Pengawal Baju Merah dan Baju Putih diam saja. Pun mereka juga tak mau menyingkir. Setelah menerangkan maksudnya gadis itu terus hendak melangkah maju tetapi tiba2 salah seorang Pengawal Baju Putih yang didepan sendiri, menamparkan tangannya. Wut..... Gadis itu melengking kaget dan cepat loncat mundur. Gelombang angin yang dipancarkan tamparan orang Buju Putih itu tajam dan keras sekali. Ia tahu kalau tak mungkin mampu menandingi dan andaikata hendak adu kekerasan pun tak berguna. Karena barisan2 pengawal baik yang baju putih maupun yang merah memang tokoh2 silat yang lebih sakti dari mereka. "Hai, mengapa kalian menghantam kawan sendiri ?" seru gadis itu. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tetapi pengawal Baju Putih itu diam saja. Hanya sorot matanya yang berapi api memancarkan dendam kemarahan. "Pek sucia." seru gadis itu pula, "jangan salah faham, kami hendak mengantar cong-than-cu kehadapan kaucu." Barisan pengawal Baju putih itu diam saja. Karena bingung gadis itu berpaling ke arah orang yang mirip pengacara tadi, serunya : "Cong thancu, harap engkau suka memberi perintah kepada Pek sucia supaya memberi jalan". Orang itu terkesiap, agak bingung Tetapi secepat itu ia tenangkan diri dan menjawab : "Ah, biasanya mereka hanya menurut dengan perintah yang dilancarkan dengan tenagadalam sakti. Sekarang karena tenaga-dalamku sudah lenyap, bagaimana aku dapat memberi perintah mereka ?" Gadis itu terdiam tetapi seorang kawannya cepat melengking : "Cong-thancu, engkau cobalah saja, barangkali ia mau menurut !" Terpaksa orang itu mengiakan lalu berseru : "Pek-sucia, berilah jalan, aku hendak menghadap kaucu !" Dalam telinga barisan gadis2 itu, kata2 orang itu dilantangkan dengan nada yang datar, seperti. orang biasa. Tetapi di luar dugaan pengawal2 Baju Putih itu menyingkir ke samping dan kembali kedalam barisannya. "Hai, mengapa engkau menurut perintahnya" teriak pengacara. Tetapi pengawal itu dan kawan2 nya diam saja. Melihat itu, terkejutlah pengacara itu. Cepat ia mengeluarkan sebuah bungkusan putih dan terus dilontarkan ke arah barisan pengawal itu. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Bungkusan itu meletup dan menghamburkan asap tebal. Serentak barisan pengawal itu bergerak maju untuk menghadang jalan rombongan gadis itu. Kemudian pengacara itupun segera berseru kepada rombongan gadis2: "Hai, budak2 barisan Bi-jin-kun, kenalkah engkau pada benda ini?" Barisan gadis Baju Kuning dan Baju Hijau memandang ke tangan pengacara yang diacungkan ke arah mereka. Serentak mereka membungkuk tubuh memberi hormat. "Tecu sekalian mohon maaf, karena tak menurut perintah,” seru mereka. Ternyata telapak tangan pengacara itu memancar sinar swastika dan tahulah barisan gadis itu apa artinya. ? "Tangkaplah pengacau itu ?" sesaat kemudian terdengar pengacara berteriak memberi perintah. Barisan gadis baju Kuning dan Baju Hijau serentak berhamburan hendak menangkap orang itu. "Hai, jangan kurang ajar kepadaku !" seru orang itu seraya songsongkan tangannya ke muka seperti orang mencegah. Aneh, seketika barisan gadis itu terhenti gerakannya. Seolah seperti terpancang oleh dinding yang tak kelihatan. Sekalian tokoh2 silat yang hadir dibawah panggung termasuk Hoa Sin, Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin saat itu berkumpul diatas panggung. Mereka terpaksa menurut perintah untuk melakukan upacara tusuk tangan, masuk menjadi anggauta Thian-tong-kau. Apa yang terjadi diatas panggung, mereka pun tahu. Tetapi mereka tak mau bergerak untuk membantu salah satu fihak. Jika membantu orang yang mengaku sebagai pengacara itu, Tiraikasih website http://kangzusi.com. mereka masih sangsi adakah orang itu benar2 berilmu tinggi.. Jika tidak, sia-sialah usaha mereka. Yang dibantu ternyata kalah, yang membantu akan menerima hukuman dari Thiantong- kau. Pun kalau membantu pada Thian-tong-kau, merekapun segan. Oleh karena itu mereka hanya bersikap diam untuk menunggu apa yang akan terjadi. Mereka terkejut ketika melihat gerakan orang itu. Entah dengan ilmu apa, tetapi hanya menyongsongkan tangannya kemuka saja, barisan gadis2 cantik yang berkepandaian tinggi itupun terhenti gerakannya. "Hayo, majulah salah seorang Ang sucia untuk manangkap pengacau itu !" teriak pengacara. Seorang pengawal Baju Merah segera melangkah maju. Dan tanpa berkata apa2 ia terus menghantam orang itu, desss ,...... Orang itu songsongkan tangannya dan pengawal Baju Merahpun terkejut, tegak terlongong-longong. Apakah yang terjadi ? Ternyata Pengawal Baju Merah itu terkejut karena pukulannya yang dilambari dengan tenaga dalam keras, telah lenyap ke dalam sebuah lautan kapas. Orang itu tertawa. "Mengapa, Ang sucia ?" serunya, "bukankah engkau menurut perintah seorang penghianat ?" Pengawal Baju Merah itu diam saja. Ia tengadahkan kepala seperti orang merenung. "Ang sucia" teriak pengacara pula, "mengapa berhenti. Hayo, serang terus !" Tiraikasih website http://kangzusi.com. Kembali pengawal Baju Merah itu mulai memberingas. Tiba2 ia meraung keras dan terus loncat menerjang orang itu. "Hai, engkau tetap berhamba pada penghianat?", seru orang itu seraya, loncat menghindar. Kembali pengawal Baju Merah itu tertegun. Serangannya yang dilancarkan secepat angin dan sedahsyat halilintar, entah dengan gerak ilmu apa yang dipakai orang itu, ternyata hanya menerpa angin kosong. Ia tertegun. Sedang barisan gadis2 cantik dan tokoh2 silat yang berada di panggung dan menyaksikan gerakan yang dilakukan orang itu, serempak berteriak kaget dan kagum. Pengacara itu sendiripun terkesiap menyaksikannya. Namun ia terus memberi perintah lagi kepada seorang pengawal Baju Putih supaya membantu pengawal Haju Merah. Seorang pengawal Baju Merah cepat loncat maju dan terus menyerang. Melihat itu pengawal Baju Merah tadipun segera ikut menyerang. Orang itu tak gentar. Ia melayani serangan kedua pengawal Baju Merah dan Baju Putih. Memang ilmu kepandaian kedua pengawal itu bukan olah2 hebatnya. Bukan saja jurus ilmu serangannya aneh dan hebat, pun gerakan tangannya selalu menimbulkan deru angin yang dahsyat... Makin lama makin cepat sehingga orang itu seolah-olah dilingkupi oleh sinar merah dan putih. Tiba2 terdengar suara mendesuh kejut disusul dengan erang tertahan dari kedua pengawal baju merah serta putih itupun menyurut mundur, beberapa langkah. Mereka mendekap, mukanya. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Sekalian orang mengira kalau kedua orang itu tentu menderita luka, tetapi ternyata tidak. Hanya kain penutup muka merekalah, yang robek dan terbuka sehingga wajahnya kelihatan. "Li lo-cianpwe, tiba2 terdengar salah seorang dari tokoh2 silat itu berteriak kaget ketika melihat wajah pengawal baju merah". "Suhu…!? kembali terdengar seorang dari rombongan tokoh2 itu berteriak ketika melihat wajah pengawal baju putih. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar serentak loncat maju menghampiri pengawal putih. Tetapi alangkah kejutnya ketika tiba2 pengawal baju putih itu menghantamnya. “Suhu, aku Go Kwi Lok, murid suhu sendiri !" seru orang itu seraya loncat menghindar. Mengira kalau orang itu sudah mendengar keterangannya, Go Kwi Tok pun maju menghampiri pula. Tetapi kembali pengawal Baju Putih itu menghantam. Go Kwi Lok benar2 terkejut sekali. Dia adalah, ketua dari Hong-hwa-pang atau perkumpulan Bunga Merah di kotaraja Pakkhia. Jelas ia melihat bahwa wajah dari pengawal baju putih itu adalah suhunya atau ketua Hong-hwa-pang dahulu yang bernama Soh Swi Kiat bergelar Tok-hoa sin-jiu atau Tangan-sakti-bunga-berbisa.. Dia telah menghilang sejak beberapa tahun yang lalu. Karena dicari tak ketemu, terpaksa muridnya yang pertama, Go Kwi Lok menjadi ketua Hong-hwapang... “Suhu yang sudah lama menghilang itu akhirnya diketemukan di panggung Thian-tong-kau. Sudah tentu Go Kwi Lok gembira sekali.. Tetapi alangkah kejutnya ketika Tiraikasih website http://kangzusi.com. suhunya tak kenal lagi kepadanya bahkan telah menghantamnya. Kwi-Lak tahu, bagaimana kepandaian suhunya. Pukulannya dapat memancarkan hawa beracun yang berbahaya... Maka ia tak berani menangkis dan hanya menyingkir lagi. "Siapa engkau !" tegur orang yang menyaru sebagai pengacara lagi. Setelah Go Kwi Lok memperkenal diri, orang itupun bertanya pula: "Apakah dia benar suhumu?”. "Ya," sahut Go Kwi Lok, "dia sudah beberapa tahun menghilang tak ketahuan jejaknya. Tiba2 suhu berada disini." "Benarkah itu ?" orang itu menegas. "Eh, sahabat, siapakah engkau ini sesungguhnya? Mengapa aku harus bohong. Dia memang benar2 suhuku," Go Kwi Lok agak kurang senang. "Baik, akan kutolongmu. Tetapi apakah engkau mampu membawanya pergi ?” tanya orang itu. "Bila perlu biarlah aku mati asal suhu dapat diselamatkan," kata Go Kwi-Lok. "Hm.", dengus orang itu, tiba2 ia gunakan ilmu Menyusup suara berkata; "saat ini suhumu sedang kehilangan kesadaran pikirannya." Dia tentu telah diracuni oleh orang Thian-tongkau untuk dijadikan alat mereka. Terpaksa aku harus merubuhkan suhumu dulu, jangan engkau, salah mengerti." Go-Kwi Lok terkejut. Buru2 iapun menjawab dengan ilmu Menyusup-suara: "Baik, aku akan berusaha sekuat tenagaku.” Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Tetapi gunung Thay-san ini telah dijaga oleh anakbuah Thian-tong-kau. Sukar kiranya engkau dapat membawa suhumu lolos lari sini." Go Kwi Lok tertegun. Ia memang mengakui kebenaran kata2 orang itu. "Kurasa, biarlah suhumu mengalami penderitaan lebih lama sedikit. Masih banyak tokoh2 lain yang telah ditawan dan dijadikan pengawal baju merah dan baju putih oleh Thiantong- kau. Kalau mau menolong, kita tolong dan bebaskan mereka semua. Kembalilah dulu ke rombongan tokoh2 silat dan tunggu perkembangan lebih lanjut.” Pengacara itu diam2 memperhatikan. Dilihatnya orang yang menyaru sebagai dirinya dan Go-Kwik tegak berhadapan tanpa bicara apa2 tetapi bibir mereka bergerak-gerak. Jelas keduanya tentu menggunakan ilmu Menyusup-suara. “Go pang-cu harap jangan ikut mengacau keadaan dan kembali ke tempatmu,” tiba2 pengacara berseru.... Go Kwi Lokpun menurut. "Rupanya, pengacara itu tak sabar lagi terhadap orang yang menyaru sebagai dirinya.” Segera ia memberi perintah : “Hayo barisan Ang sucia dan Pek sucia, serang dan dan ringkuslah pengacau itu !” Empatpuluh pengawal baju Merah dan Baju Putih serempak berhamburan menyerbu orang yang dandanannya menyerupai pengacara itu ... O^^odwo^^O Tiraikasih website http://kangzusi.com. Jilid 33 Kembar Panggung yang didirikan Thian-tong-kau untuk mengadakan upacara sembahyangan menerima anggauta dan meresmikan berdirinya partai itu, telah kacau balau. Belum Shoa-tang Sam-hiap yang terdiri tiga saudara Tan Hwa, Tan Hong dan Tan Hui, serta Ho-lam ji-koay yang terdiri dari kedua saudara Utti Siang dan Utti Ho, lalu Pui Tik ketua Kim-coa pang dan Im Yang cinjin dari lembah Im-yang-kok atau Lembah Banci, selesai ditumpas oleh anak buah Thiantong- kau. Tiba2 dibawah panggung telah muncul seorang pemuda aneh yang mengaku bernama Blo’on dan hendak bertemu pada Kim-Thian-cong ketua Thian-tong-kau, untuk ditantang berkelahi. Dan puncak dari ketegangan itu adalah munculnya seorang yang baik wajah dan dandanannya mirip sekali dengan pengacara Thian-tong-kau. Suasana benar2 kacau. Hampir anakbuah Thian tong-kau kehilangan pegangan ketika pengacara yang baru muncul itu memberi perintah kepada Bi ji-kun atau barisan gadis cantik dan Pengawal Baju Putih serta Baju Merah. I Anakbuah Thian-tong-kau bingung harus menurut perintah siapa. Melihat itu pengacara baju merah emas segera memberi perintah kepada anak buah Thian-tong-kau yang mengepung sekeliling lembah. Suasana makin tegang. Sekalian tokoh2 silat yang hadir sudah gelisah resah. Ketiga ketua partai persilatan besar yakni Ceng Sian suthay dari Kun lun-pay, Hong Hong tojin dari Gobi- pay dan Hoa Sin dari Kay-pang, pun mulai sibuk. Pang To Tik wakil Hoa-san-pay, sudah sejak tadi menghilang dan Tiraikasih website http://kangzusi.com. sampai saat itu belum juga muncul, Dan mereka harus segera mengambil keputusan. Melawan atau menyerah. Memang dalam menghadapi situasi yang amat gawat itu rombongan partai persilatan maupun tokoh2 persilatan terpecah dua pendiriannya. Ada yang berpendirian untuk melawan. Lebih baik mati hancur daripada menjadi budak orang Thian-tong-kau. Ada yang berpendirian, harus melihat situasi dan kondisi. Thian-tong-kau memiliki anakbuah yang besar jumlahnya dan sakti kepandaiannya. Dua kelompok pengawal Baju Putih dan Baju Merah itu menurut dugaan dan kenyataan yang telah terlihat di alas panggung tadi, adalah tokoh2 sakti dari berbagai cabang persilatan dan aliran yang sudah lama menghilang tanpa berita. Betapapun, tokoh2 yang hadir itu tak mungkin dapat memenangkan mereka kecuali memang sudah membekal tekad untuk mati. Tetapi ada tokoh yang berpendirian bahwa kematian mereka harus dapat menolong keadaan, menyelamatkan dunia persilatan dari cengkeraman Thiantong- kau. Mati untuk mati. tanpa dapat menolong keadaan, mati konyol mati tanpa arah. Demikian pendirian Ceng Sian suthay, Hong Hong tojin dan Hoa Sin. Sedangkan Pang To Tik tetap menghendaki supaya cepat bertindak untuk mempersatukan seluruh hadirin dan serempak bersama sama melawan Thian-long-kau. Pada detik2 ketegangan memuncak, tiba2 pemuda berwajah aneh dan mengaku bernama Blo’on tadi, setelah berhasil menerjang barisan penjaga Thian-tong-kau, segera loncat ke atas panggung. "Hai, gila, serunya seraya menuding pengacara yang berpakaian warna merah emas dan yang baru muncul, Tiraikasih website http://kangzusi.com. "mengapa wajah dan pakaian kalian mirip satu sama lain ? Apakah pangkat kalian di panggung ini ?" "Aku pengacara upacara sembahyangan besar yang diselenggarakan oleh Thian-tong-kau," seru pengacara baju merah. "Dan engkau ?" tanya pula pemuda Blo’on itu kepada pengacara yang berada disamping barisan gadis cantik. ^ "Sama" seru pengacara itu. "Apanya yang sama?" tegur pemuda aneh itu. "Pangkatnya". "Hm, begitulah kalau menjawab pertanyaanku" seru pemuda aneh itu pula, "sekarang jawab lagi. Mengapa rupamu sama dengan rupa pengacara itu ?" "Rupaku memang sejak dulu kala sudah begini" sahut pengacara itu. "dialah yang meniru dan hendak memalsu sebagai diriku". "Jahanam !" teriak pengacara baju merah dengan marah, "engkau yang memalsu diriku untuk mengacau Thian-tong kau" "Diam !" bentak pemuda itu dengan deliki mata, "mana yang palsu dan mana yang aseli, harus diselidiki dan dibuktikan. Mana boleh seenakmu sendiri menuduh lain orang palsu". Merah wajah pencacara baju merah itu tiba2 ia teringat sesuatu dan serentak memberingaslah wajahnya. "Hai, siapa engkau !" bentaknya kepada pemuda itu. '"Setan", pemuda aneh itu deliki mata, "engkau tak berhak bertanya diriku". Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Apa ?, pengacara baju merah itu makin memberingas, "aku adalah pengacara yang diserahi menyelenggarakan upacara sembahyangan besar ini sepenuhnya. Aku berhak bertanya kepada siapapun juga, berhak juga untuk memberi perintah, bahkan menjatuhkan keputusan mati atau hidup pada setiap orang yang berada di tempat ini.” "Engkau gila" teriak pemuda aneh itu, "siapa bilang kalau engkau pengara ? Bukankah dia juga pengacara ? Lalu siapakah yang sesungguhnya pengacara disini ?" '"Setan !" bentak pengacara baju merah itu pula, "sejak bermula upacara ini dimulai, akulah yang berada disini dan melakukan kewajiban sebagai pengacara. Dia yang muncul belakangan dan mengaku sebagai pengacara" Pemuda aneh yng mengaku bernama Blo’on itu segera berpaling dan menuding pengacara yang baru itu. "Hai, setan, mengapa engkau berani mengaku sebagai pengacara ? Bukankah engkau hendak mengacau upacara sembahyangan ini ? Goblok, kalau mau mengacau, kacau sajalah, mengapa harus menyaru sebagai pengacara !" Termasuk pengacara yang dituding itu, sekalian orang yang berada diatas panggung terbeliak mendengar kata2 pemuda aneh itu. "Kurang ajar, engkau berani menghina aku?^ teriak pengacara baru itu lalu berseru kepada salah seorang gadis dari barisan Baju Kuning, "tangkap dan tendang pemuda gila itu ke bawah panggung.” Sesosok tubuh melesat kehadapan pemuda aneh itu dan terus menampar kepala. Tetapi pemuda itu entah bagaimana, hanya dengan sekali beringsut langkah, dia sudah menghindar dari tamparan dara Baju Kuning. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Budak perempuan " serunya, "jangan engkau seliar itu ? Mengapa engkau menurut perintah dari seorang pengacau ?" Dara Baju Kuning itu menjawab dengan sebuah tamparan tangan kiri yang disempaki pula dengan menusukkan jari telunjuk kanan ke mata pemuda aneh. "Eh, rupanya engkau tak kapok kalau belum kuberi hajaran" seru pemuda aneh itu seraya bergeliatan tubuh dan secepat tangan bergerak, nona Baju Kuning itu menjerit kaget : "Ih…” la menyurut mundur seraya mendekap rambutnya. Jika tadi ia telah menyisir rambutnya dengan rapi dalam dua belah konde maka sekarang kedua konde itu telah lepas terurai menutup punggung. "Hm, mengapa menjerit ?" seru pemuda aneh pula, "seharusnya engkau tertawa gembira karena rambutmu masih utuh. Tetapi kalau engkau tetap tak tahu diri, akan kujadikan engkau seorang rahib berkepala gundul" Gempar sekalian orang menyaksikan peristiwa itu. Dara baju kuning dari barisan Bi-jin-kun Thian-tong-kau, memiliki kepandaian yang hebat dan mengagumkan sekalian tetamu. Tetapi hanya dalam sekali dua gebrak saja, pemuda aneh itu telah dapat melepaskan konde gadis itu. "Engkoh gundul, engkau hebat benar. Aku kepingin bermain2 dengan engkau" tiba2 seorang anak baju merah loncat ke hadapan pemuda aneh itu. "Setan cilik" bentak pemuda itu, "mau apa engkau ?” "Mau mencabut kuncirmu" seru anak itu sambil tertawa mengikik melihat potongan rambut pemuda aneh itu. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Setan cilik, engkau kurang ajar benar ! Apakah gurumu tak bisa mengajar engkau ? Jika begitu, akulah yang akan mewakili memberimu hajaran supaya engkau tahu adat .” Bocah itu tertawa mengikik lalu maju menghampiri. Ketika pemuda aneh itu hendak menamparnya, bocah baju merah itupun loncat menghindar ke samping. Tetapi baru kakinya menginjak papan, tangan pemuda aneh itu sudah mengancam kepalanya lagi. Bocah itu terkejut. Dengan geram ia menangkis tetapi cepat ia mendesih kejut karena tangan pemuda aneh itu menghilang dan aduh ..... bocah Baju merah itu menjerit kesakitan karena kuncirnya telah dicabut sampai hilang separoh. "Nah, sekarang engkau harus ikut aku. Lihatlah, bukankah potongan rambutmu seperti rambutku juga ?" seru pemuda aneh itu. Rombongan bocah Baju Merah dan Baju Biru serempak maju menyerbu dengan marah tetapi pemuda aneh itu cepat bertindak. Sekali loncat ia menyambar tubuh bocah yang dicabut kuncirnya tadi, lalu diangkat keatas, serunya: "Awas, kalau kalian berani maju, kawanmu ini tentu kubanting mati" Terkejut rombongan bocah dari Thian-tong-kau. Mereka tak pernah menduga bahwa pemuda yang tampaknya tolol dan Blo’on ternyata memiliki kepandaian yang amat sakti. Salah seorang kawan mereka dengan mudah dapat dikuasainya. Serempak mereka tertegun dan berhenti. "Hayo, kalian berdua yang mengaku sebagai pengacara Thian tong-kau," serunya kepada kedua pengacara, "siapa yang dapat memberi perintah dan menguasai rombongan kunyuk2 kecil itu, dialah pengacara yang sesungguhnya.” Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Ang-hay-kun, Lan-hay-kun jangan bertindak sebelum mendapat perintah !" seru pengacara baju merah dengan suara keras. "Yang berani bergerak tanpa perintah, akan mendapat hukuman" seru pengacara yang seorang itu. Kedua rombongan bocah murid Thian-tong-kau serempak menyurut kembali ke tempat masing2. "Bagus, bagus", seru pemuda aneh itu, "ternyata kalian memang sama2 mempunyai pengaruh. Jika demikian kalian berdua ini memang pengacara tulen semua." "Tidak !" seru pengacara baju merah dengan marah, "Thian-tong-kau hanya mempunyai seorang pengacara, tidak dua … " "Lalu bagaimana membedakan yang palsu dari yang tulen ?" seru pemuda aneh itu. Tanpa disadari pemuda itu telah menguasai pembicaraan, se-olah2 ia seorang hakim yang tengah mengadili kedua pengacara dari Thian-tong-kau. "Gampang", tiba2 pengacara yang seorang, berseru lantang, "ringkus pengacara itu dan lempar kebawah panggung!" "Bangsat !" teriak pengacara baju merah seraya lepaskan sebuah pukulan yang dahsyat. Pengacara yang seorang itu berdiri di depan rombongan gadis2 baju kuning dan baju hijau. Cepat ia loncat menghindar ke samping. Rombongan gadis2 cantik itupun berhamburan loncat menghindar. Pukulan pengacara baju merah itu ternyata luar biasa hebatnya. Tiada seorangpun dari gadis2 cantik itu yang berani menyambut. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Engkaulah pengacara yang asli", tiba2 pemuda aneh itu berseru menunjuk pengacara baju merah. "Ngaco, " bentak pengacara yang seorang, "bagaimana semudah itu engkau memastikan dia pengacara Thian tongkau yang aseli ?" "Semua anakbuah dan tokoh2 Thian-tong-kau memiliki kepandaian tinggi. Pukulannya tadi hebat sekali sehingga ia harus tak diragukan lagi sebagai seorang pengacara." sahut pemuda aneh itu. "Goblok engkau," bentak pengacara yang seorang itu dengan marah, "engkau kira aku tak mampu melepaskan pukulan yang lebih hebat dari itu ?" "Kalau mampu mengapa engkau takut menyambut pukulannya ?" dengus pemuda aneh itu. "Dia telah meracuni aku sehingga tenagaku lenyap. Kemudian ia muncul di panggung sembahyangan ini untuk menguasai Thian-tong-kau. Untung aku ditolong oleh seorang sakti dan dapat muncul disini tepat sebelum upacara berlangsung". Pemuda itu kerutkan dahi berpikir. "Benar, memang orang yang diracuni kekuatannya tentu hilang " akhirnya ia bicara seorang diri. Tiba2 ia menegangkan muka dan berseru : "Peristiwa ini takan selesai kalau hanya dengan adu mulut saja,” akhirnya ia mengambil keputusan dengan kepalkan tangan, "harus diselesaikan dengan kepalan. Hayo, kalian harus bertanding. Siapa yang menang, dialah pengacara Thian-tong-kau yang asli !" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Tidak !" teriak pengacara yang seorang, "tenagaku telah hilang diracuni, bagaimana -engkau suruh aku bertanding dengan dia ?" "Jika demikian", kata pemuda aneh itu, lalu memandang pengacara baju merah, "engkau juga harus makan racun. Setelah tenagamu hilang, barulah engkau bertanding. Dengan demikian baru adil karena sama2 hilang tenaganya." "Bangsat !" damprat pengacara Baju Merah itu dengan marah, "apakah engkau komplotan bangsat itu ? Siapa yang meracuninya ?' "Engkau !" teriak pemuda aneh itu. "Jangan percaya pada mulut bangsat atau engkau sendiri memang seorang bangsat. Hanya bangsat yang mau percaya pada mulut bangsat !" "Tidak " teriak pemuda aneh itu, "bukan hanya dia dan aku, tetapi engkau dan semua orang Thian-tong-kau bangsat semua. Tokoh2 yang hadir di tempat ini juga bangsat semua". Pengacara Baju Merah marah sekali. Barisan pengawal Baju Merah dan Baju Putih sudah beringsut2. Mereka tak sabar lagi disuruh berdiri seperti patung. Barisan gadis cantik juga mulai gelisah, demikian pula dengan barisan bocah Baju Merah dan Baju Biru. Juga tokoh2 yang berada dibawah panggung, mereka mulai mengerut dahi. Ceng Sian suthay, Hoa Sin dan Hong Hong tojin mulai kasak kusuk. "Kalau tak salah pemuda itu bernama Blo’on putera Kim tayhiap yang hendak kita cari", kata Ceng Sian suthay. Ia menuturkan tentang peristiwa di kotaraja. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Dia bernyali besar dan sakti". Hoa Sin gembira, "mari kita bantu ... " Habis berkata tanpa menunggu persetujuan kedua rekannya, ketua Kay-pang itu terus enjot tubuhnya melambung ke atas panggung. Bagai gerak seekor burung belibis, tubuhnya turun dengan ringan sekali. "Kongcu" serunya kepada pemuda aneh itu "bukankah kongcu bernama Blo’on?" "Ih, pemuda aneh itu melirik dan mendesih "engkau pengemis tua, mengapa ikut naik panggung. Apakah engkau hendak minta sedekah? Disini bukan tempat sedekah dan sayang akupun tak membekal uang. Turunlah, minta saja pada rumah orang kaya" Karena sudah mendengar penuturan Ceng Sian suthay tentang watak, tingkah dan ucapan putera Kim Thian-cong yang serba aneh dan nyentrik, Hoa Sin tak marah kebalikannya malah tertawa gelak2. "Bagus kongcu " serunya, "adatmu seperti aku. Cocok sekali. Tetapi aku bukan kemari hendak minta sedekah melainkan hendak menghadap kongcu" '"Apa keperluanmu ?"' seru pemuda aneh itu. "Benarkah kongcu ini bernama Blo'on, putera Kim tayhiap ?" ulang Pengemis-sakti Hoa Sin. "Eh, engkau kan bisa melihat sendiri ujutku ini? Tergantung dari anggapanmu. Kalau engkau anggap aku ini si Blo'on, akulah Blo'on. Kalau engkau anggap aku bukan Blo’on, akupun bukan Blo'on.” Karena sudah dua kali terbentur kata2 yang berbatu, maka perut Hoa Sin terasa kaku seperti di-kitik2. Dia termasuk Tiraikasih website http://kangzusi.com. seorang tokoh silat, walaupun berkedudukan sebagai ketua Kay-pang. yang suka berolok-olok, suka mengganggu orang. Tetapi berhadapan dengan pemuda yang menyebut diri sebagai Blo'on, dia terpaksa harus mengelus dada. "Kim kongcu," katanya dengan menahan kesabaran, “apa tujuan kongcu naik panggung ini?" "Mencari Kim Thian-cong" "O, bagus, kongcu." seru Hoa Sin, "kongcu dapat membuktikan apakah dia benar2 Kim tayhiap aseli atau palsu. Karena sesungguhnya Kim tayhiap dulu sudah meninggal dunia." "Orang hidup bisa mati, mengapa orang mati tak dapat hidup ? Aneh engkau ini gumam Blo’on. Hoa Sin terbelalak namun setelah teringat bahwa Blo'on itu memang aneh dan agak tak waras pikirannya, iapun tak mau berbantah. "Ya, baiklah," kata ketua Kay-pang itu, "aku akan membantu kongcu untuk meneliti apakah ketua Thian-tongkau itu benar2 Kim tayhiap aseli atau palsu" "O. terima kasih," seru Blo'on, "tetapi sayang aku tak memerlukan bantuanmu. Aku sendiri mampu untuk meniliti adakah dia bapakku atau bukan". Hoa Sin tercengang. "Kim tayhiap adalah bengcu (ketua) kami, bertujuh partai persilatan besar. Sudah wajib kalau aku sebagai ketua dari salah sebuah partai persilatan itu untuk mencarinya". "Boleh ... boleh!”, seru Blo'on. "engkau bebas untuk mencari tetapi tak perlu membantu aku. Akupun bebas untuk menyelidiki sendiri". Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Tetapi kongcu." bantah Hoa Sin. "Thian-tong-kau mempunyai jago2 yang sakti dan berjumlah besar. Aku akan membantu kerepotan kongcu untuk menghadapi mereka." "Sudah kukatakan, tidak perlu", kata Blo’on, "aku dapat mencari bapakku sendiri tanpa dibantu orang. Jika dia benar2 bapakku, tentulah dia akan melarang anakbuahnya untuk mengganggu aku." ' Hoa Sin benar2 serba salah. Mau membantu ditolak. Mau turun panggung, malu. 'Hoa pangcu." tiba2 terdengar seseorang berseru. "dekat arang tentu hitam, dekat kapur tentu putih. Mengapa pangcu merasa malu berlumur hitam kalau dekat dengan arang?" Hoa Sin berpaling dan tampaklah Ceng Sian suthay berada dibelakangnya bersama dengan Hong Hong tojin. Kedua tokoh itu terpaksa ikut loncat keatas panggung karena menguatirkan keselamatan Hoa Sin. "Berhenti !" tiba2 pengacara baju merah berteriak nyaring. Nadanya berkumandang dahsyat, menandakan hebatnya tenaga-dalam yang dimiliki. Memang sejak terjadi perbantahan antara kedua pengacara tadi, diatas panggung telah berlangsung pertempuran antara ketujuh tokoh tetamu yakni Shoatang Sam-hiap, Ho-lam-ji koay, Pui Tik. Im Yang cinjin melawan barisan Pengawal baju Putih. Teriakan pengacara baju merah itu menghentikan semua pertempuran. Dengan wajah merah padam karena marah, pengacara baju merah itu berseru bengis. "Sebagai tetamu yang kami undang, saudara2 sekalian telah bertindak tak menghormati tuan rumah, berani naik Tiraikasih website http://kangzusi.com. panggung untuk mengacau. Apakah saudara2 benar2 hendak menentang Thian-tong kau ?" "Kami Shoa-tang Sam-hiap tak puas atas tindakan Thiantong- kau yang main paksa dan main bunuh orang !" "Ho-lam Ji-koay sejak lahir menjadi manusia tegas, tak pernah masuk anggauta perkumpulan yang manapun juga'" seru Utti Siang dan Utti Ho. "Kim-coa-pang bersahabat dengan semua partai dan kaum persilatan atas dasar saling menghormati", seru Pui Tik ketua Kim-coa-pang atau perkumpulan Ular Emas. "Im Yang selalu hidup dialam bebas dari guha Cui-im-tong di lembah Im-yang-kok.” seru pula Im Yang cinjin dengan bergaya. "Banci !'* tiba2 pemuda Bio’on memekik sehingga sekalian orang terbeliak dan mencurah pandang kepadanya. Im Yang cinjin merah mukanya. Tetapi pada lain kejab ia tertawa mengikik macam gadis genit : "Hi, hi, hi banci itulah sifat alam yang sempurna Im harus ada Yang lelaki harus ada perempuan. Alam takkan sempurna bila tiada kedua jenis unsur itu. Kalau kurang salah satu, jadinya seperti kuncir kepalamu itu yang hanya tinggal satu, hi, hi.." "Banci, jangan tertawa, perutku sakit kalau, mendengar nada tawamu." seru Blo’on. "Hi. hi. hi ... " Im Yang cinjin malah tertawa mengikik keras dan panjang. "Banci", bentak Blo'on. "aku tahu seorang itu lelaki atau perempuan. Tetapi aku bingung memikirkan engkau ini tergolong jenis apa. Banci itu sesungguhnya bagaimana ?" , Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Tubuhku terbagi dua, Im dan Yang, lelaki dan perempuan. Kalau tak percaya cobalah rasakan ini ......." tiba2 ia gerakkan tangan kanan menampar kearah Blo’on. "inilah sifat Yang," serunya. Kemudian Im Tang cinjin menyusuli dengan tamparan tangan kiri: "Dan yang ini, sifat Im.” Setiup angin lunak menyambar Blo'on kemudian segelombang angin keras melandanya. Ketika Blo'on hendak menangkis tiba2 ia menjerit Aduh...." sekonyong-konyong ia jatuh terjerembab ke belakang. Baru ia hendak berusaha bangun, tiba2 ia terlempar jatuh lagi. "Wah, hebat juga pukulanmu, banci," seru pemuda itu seraya bangun berdiri, "pukulan tangan kirimu tadi benar2 luar biasa. Aku tak merasa terkena sesuatu, tahu2 ruas2 sendi tulangku lunglai sehingga tak kuat berdiri. Dan tangan kananmu pun dapat menghamburkan tenaga yang kuat sekali." *Hi, h.i, hi," Im Yang cirjin tertawa, "tetapi engkau memang hebat juga. Setiap orang yang terkena kedua jenis pukulan Im dan Yang, tentu tak dapat bangun karena tulang belulangnya terlepas dari kaitannya. Tetapi ternyata engkau masih dapat berdiri tegak lagi." Sekalian orang terkejut menyaksikan pukulan Im Yang cinjin yang sedemikian aneh dan hebat. Hanya pengacara baju merah yang marah. "Hai, pemuda liar dan engkau Im Yang cinjin jangan berbuat sekehendak hatimu. Apakah kalian benar2 tak mengindahkan aku ?" teriak, pengacara baju merah dengan mata melotot. "Eh. garang amat engkau ini," sahut Blo'on Kemudian garuk2 kepala, "eh, bagaimana urusan disini dapat Tiraikasih website http://kangzusi.com. diselesaikan. Belum yang satu selesaikan, sudah datang yang baru. Kalau begini, kita tentu akan terus menerus berada dipanggung sini" "Tutup mulutmu !" bentak pengacara baju merah dengan bengis, "sekarang jawablah kalian semua. Kalian mau melakukan sembahyang untuk masuk menjadi anggauta Thian-tong-kau atau tidak?" "Nanti dulu !" teriak Blo'on, "urusanmu belum selesai mengapa menyuruh orang bersembahyang? Kalian berdua yang mengaku sebagai pengacara, sebenarnya siapa yang aseli siapa yang palsu. Urusan ini menyangkut keamanan dan nama Thian tong-kau, harus diselesaikan dulu !" "Jangan banyak mulut, bedebah !" bentak pengacara baju merah itu, "aku sanggup menyelesaikan semua urusan disini. Jawab dulu, kalian mau menjadi anggauta Thian-tong-kau atau tidak ?" Terdengar desuh dan dengus dari orang2 yang berada di atas panggung. Jelas mereka merasa geram tetapi tiada yang membuka mulut, kecuali Blo’on. Pemuda itu balas menghardik : "Eh. engkau, kalau urusanmu tak diselesaikan aku tak sudi menjadi anggauta Thian tong-kau !" * Baik," sahut pengacara baju merah. "kalau urusan itu sudah selesai, artinya engkau bersedia masuk Thian-tong-kau ?" Bersedia !" sahut Blo'on dengan serempak. "Pengawal Baju Putih dan Baju Merah,” serentak pengacara baju merah itu berseru lantang, "hajar orang2 yang berada dipanggung ini!" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Jangan" teriak pengacara yang lain, "tangkap orang itu !" ia menuding kearah pengacara baju merah," "dia telah menganiaya aku dan hendak mengacau Thian-tong-kau." Tetapi kawanan pengawal Baju Putih dan Ba ju Merah itu tak menghiraukan. Serempak mereka berhamburan menyerang tokoh2 yang berada diatas panggung, termasuk pengacara itu sendiri. Barisan gadis cantik dan barisan bocah tak herani menghalangi. Mereka menyadari betapa kesaktian barisan Pengawal Baju Putih dan Baju Merah itu. Kini terjadilah pertempuran yang seru dan dahsyat Shoatang Sam-hiap, Ho-lam Ji-koay, Pui Tik ketua Kim-coa-pang dan Im Yang cinjin diserang oleh kedua barisan pengawal Thian-tong-kau itu. Demikian pula dengan Blo'on dan Hoa Sin bertiga. Melihat itu Hoa Sin segera menggunakan ilmu menyusupsuara kepada kedua kawannya: "Suthay, tojin, mari kita bekuk pengacara baju merah itu bila berhasil tentu kita dapat menguasai keadaan." Tetapi baru mereka hendak bergerak, tiba2 Blo'on loncat menghadang: "Mau apa kalian?" Hoa Sin tertegun, sahutnya: "Kongcu, kita harus menggunakan kesempatan ini ......" Pengemis-sakti Hoa Sin bicara dengan pelahan sekali supaya jangan didengar orang tetapi Blo’on malah berkaokkaok keras: "Apa katamu? Bicaralah yang keras, jangan bisik2 seperti orang perempuan. Ih, pengemis tua, aku kan bukan pacarmu ?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. Hoa Sin terbeliak, merah mukanya. Sesaat ia kehilangan akal bagaimana harus menghadapi pemuda sinting itu. "Kongcu," cepat Ceng Sian suthay maju, "marilah kita menghadap Kim tayhiap." Blo'on hendak menyahut tetapi tiba2 telinganya terngiang suatu suara sehalus ngiang nyamuk : "Kim kongcu, harap jangan membuang waktu. Marilah kita bertemu dengan ayah kongcu ....." ternyata suara itu berasal dari Hoa Sin yang menggunakari ilmu Menyusup-suara. Hanya Blo'on yang mendengar, lain orang tidak. Ketua Kay pang itu cepat mendapat akal bagaimana menyampaikan keterangannya kepada Blo'on. 'O, begitu,” seru Blo'on, "baik, aku setuju. Tetapi tunggu dulu ......." Ia terus berpaling melangkah menghampiri pengacara baju merah dan berseru : "Hai, pcngacara Thian tong kau, engkau harus menjawab pertanyaanku dengan terus terang, kalau tidak, lehermu tentu kupelintir putus seperti leher ayam!" Pengacara itu terkesiap tetapi mau juga menjawab : "Tanyalah tetapi harus yang penting dan sopan, tahu !" "Benarkah ketuamu yang duduk dikursi itu bernama Kim Thian-cong ?" seru Blo'on. "Apakah didunia ini terdapat dua Kim Thian cong ?" pengacara balas bertanya, “mungkin nama bisa kembar dua, tiga bahkan berpuluh-puluh, tetapi orangnya tentu tak mungkin." "Kim Thian-cong dari mana ?" "Eh, bocah ingusan" kata pengacara itu, "mengapa masih bertanya ? Setiap hidung orang persilatan tentu tahu bahwa Tiraikasih website http://kangzusi.com. Kim Thian-cong itu adalah jago nomor satu dalam dunia persilatan, bergelar It-ci-sin-kun si Jari-tunggal-saktti" "Dimana rumahnya ?" seru Blo'on pula. "Eh, bocah, mengapa engkau masih bertanya begitu melilit ?" seru pengacara, "Kim tayhiap atau sekarang Kim kaucu, setelah mengasingkan diri tinggal dipuncak Giok-li-nia gunung Lou-hu-san." "Kabarnya dia sudah mati ?" seru Blo'on. Tiba2 pengacara itu tertawa : "Ha, ha, ha, engkau mengaku sebagai puteranya, tetapi mengapa engkau tak tahu ayahmu sudah mati atau belum?" "Aku tak berada digunung, mana tahu?"Blo’on bersungut sungut. '"Eh, engkau tak berada di gunung ? Apakah selama ini engkau tak pernah pulang ?" tanya pengacara itu pula. "Perlu apa pulang, bukankah ayahku sudah meninggal ?" balas Blo’on menggeram. "O," seru pengacara, "makanya engkau terus datang kemari mencari ayahmu ?" "Benar !" teriak Blo'on dengan keras, "dalam pengembaraan kudengar orang ramai membicarakan bahwa Kim Thian-cong tidak mati tetapi pindah menetap di gunung Thay-san dan mendirikan perkumpulan baru." "Ya, memang benar," pengacara itu mengangguk, "Kim kaucu jemu dengan kesunyian digunung. Istrinya sudah meninggal dan puteranya hilang..." "Gila engkau !" teriak B!o on, "siapa bilang, Aku ini engkau kira siapa ?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Kim kaucu sudah tua", pengacara itu melanjutkan kata2nya tanpa mempedulikan gangguan Blo'on. “Ia berpendapat seorang lelaki harus meninggalkan nama wangi dalam hidupnya. Karena ia seorang persilatan maka iapun hendak mengurus dunia persilatan. Diam2 ia menuju ke gunung Thay-san dan mendirikan perkumpulan Thian-tongkai. Tujuannya untuk mempersatukan seluruh kaum persilatan guna membentuk sebuah dunia persilatan yang baru, yang bebas dari kekacauan, yang bersih dari dendam pembunuhan, yang menuju ke jalan kesucian mencari ketenangan di dunia dan akhirat" "O, bagus, bagus," seru Blo'on, "kalau begitu aku hendak bertemu dengan ayahku." Sejenak pengacara itu merenung kemudian berkata : "Baiklah, mengingat engkau puteranya yang sudah bertahuntahun hilang, maka engkau boleh menghadapnya. Tetapi ingat, jangan banyak bicara, Kim kaucu tak mau bicara dengan siapa saja walaupun dengan engkau ?" "Hai, mengapa ?" seru Blo'on. "Kim kaucu sedang menjalankan suatu ilmu kesaktian, beliau pantang bicara untuk beberapa waktu , pengacara memberi keterangan. Blo'on tak mau bertanya lebih lanjut melainkan berpaling dan berseru kepada Hoa Sin bertiga: "Hai, ikutlah aku menemui ayah !" "Baik kongcu," seru Hoa Sin. Tetapi baru ia hendak melangkah, pengacara itu sudah berseru mencegah. "Anakmuda," serunya, "yang kuizinkan menghadap Kim kaucu hanya engkau seorang, karena engkau puteranya. Tetapi ketiga orang itu tidak dapat, kecuali kalau mereka Tiraikasih website http://kangzusi.com. sudah mengangkat sumpah masuk menjadi anggauta Thiantong- kau". 'O mengapa begitu ? seru Blo'on. "Kim kaucu, ayahmulah yang memberi perintah, sebagai puteranya engkau harus menurut dan mentaati perintah itu." Blo'on kerutkan dahi. Tiba2 ia berpaling dan berseru kepada Hoa Sin : "Pengemis tua, ya benar engkau harus masuk menjadi anakbuah Thian-tong kau dulu baru nanti menghadap ayahku." Hoa Sin terkejut dan mengeluh. Sebenarnya ia hendak bertindak secara diam2 untuk menghampiri Kim Thian-cong dan membuktikan apakah ia benar Kim Thian-cong aseli atau palsu. Siapa tahu rencananya itu telah digagalkan oleh Blo on. Belum sempat ia mendapat akal bagaimana harus mengatasi keadaan itu, Ceng Sian suthay sudah mendahului. "Blo’on, engkau harus tahu, bahwa kami para ketua tujuh persilatan ini dulu sudah menjadi anakbuah Kim tayhiap. Sudah tentu Kim tayhiap akan menyambut kedatangan kami dengan senang hati." "O, ya, benar, benar", kata Blo'on lalu berpaling kepada pengacara, serunya : "Mereka adalah ketua partai persilatan yang dulu dipimpin ayahku. Dengan begitu mereka sudah menjadi anakbuah ayahku, tak perlu harus mengangkat sumpah lagi." Wajah pengacara itu serentak berobah gelap serunya : "Dulu Kim kaucu tidak mempunyai perkumpulan sendiri, hanya diangkat mereka sebagai bengcu. Jadi mereka yang mengangkat, bukan Kim kaucu. Sekarang Kim kaucu mendirikan perkumpulan Thian-tong-kau sendiri untuk Tiraikasih website http://kangzusi.com. melebur semua partai2 persilatan. Jika mereka masuk menjadi anggauta, Kim kauculah yang mengangkat mereka....." "Ringkas saja kalau bicara, aku bingung!" teriak Blo'on, "apa maksudnya diangkat dan meng-angkat itu ? Bukankah sama2 angkat ?" "Eh, engkau ini," seru pengacara iru, "maksudku dan memang sudah menjadi perintah dari Kim kaucu, bahwa apa yang terjadi pada masa dulu hapus semua dan semua harus diperbaharui. Ketua ketujuh partai persilatan itupun harus mengangkat sumpah menyatakan masuk menjadi anggauta. Selama belum melakukan hal itu, mereka belum dapat dianggap sebagai anggauta !" "O, benar juga," Blo'on cepat berpaling kearah Hoa Sin bertiga, seruya: "Ya, kamu bertiga harus menurut peraturan disini. Harus lebih dulu mengangkat sumpah, baru dapat diterima menghadap ayahku !" Hoa Sin mendesuh, Ceng Sian suthay mendesih dan Hong Hong tojin menggeram. "Blo'on, karena engkau tolol, baiklah jangan ikut campur urusan ini. Engkau mau menghadap ayahmu, silahkan. Kami juga akan menghadap sendiri.” Habis berkata rahib ketua Kun-lun-pay itu terus ayunkan langkah diikuti oleh Hoa Sin dan Houg Hong tojin. "Berhenti!" cepat pengacara baju merah itu membentak keras, "selangkah lagi kalian berani maju, jangan sesalkan aku bertindak kejam!" Habis berkata dia mengeluarkan sebuah kantong kulit dari dalam jubahnya. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Ceng Sian suthay, Hoa Sin dan Hong Hong tojin certegun. Tetapi Ceng Siau hanya tertawa kesal ; "Kalau aku tetap maju, engkau dapat berbuat apa?" la terus ayunkan langkah lagi. "Jika demikian, engkau memang sudah bosan hidup !" tiba2 pengacara itu merogoh kedalam kantong kulit dan pada lain ia taburkan tangannya kearah Ceng Sian suthay bertiga, “rasakanlah ...! Sesungguhnya Ceng Sian suthay, Hoa Sin dan Hong Hong tojin sudah siap sedia. Selekas tangan pengacara itu menabur maka tiga benda macam tali yang panjangnya hanya sekilan jari tangan melayang di udara. Benda itu memancarkan sinar kuniug keemasan yang gemilang. Wut .... Ceng Sian cepat melontarkan pukulan untuk menghalau. Tetapi benda itu bergeliatan! mencelat ke udara lalu meluncur lagi kearah ketiga Ketua partai itu. Wut, kali ini Hong Hong tojinpun nenghantam teras, tetapi ketiga benda kecil pendek itu mencelat lagi ke atas, bergeliatan lalu meluncur kearah mereka. Ceng Sian suthay, Hong Hong tojin dan Hoa Sin terkejut ketika ketiga benda itu berpencar menyerang mereka bertiga. Cepat mereka menampar dan loncat menghindar. Tetapi ketiga benda itu gesit luar biasa, setelah bergeliatan menghindar terus meluncur lagi. "Ular emas!" tiba2 Hoa Sin menjerit kaget demi melihat jelas benda itu. Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin terkejut juga. Sebagai tokoh ketua sebuah partai persilatan mereka mempunyai pengalaman yang luas. Ular emas yang amat kecil itu tergolong salah satu dari lima jenis binatang yang paling berbisa. Apabila sampai tergigit, tak ada obatnya lagi. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tetapi pengetahuan itu terlambat. Karena saat itu mereka diserang habis-habisan oleh ular emas itu. Dan yang mengejutkan ternyata ular itu tak dapat dihalau dan ditolak dengan pukulan, tak mempan dibacok dengan senjata tajam. Betapa hebat ilmu ginkang ketiga ketua partai persilatan itu namun menghadapi ular emas yang luar biasa gesitnya, yang tak dapat dihalau pukulan dan dibacok senjata, akhirnya mereka kewalahan juga. Dalam detik2 dimana gerakan tubuh mereka agak terlambat maka berhasillah ular emas itu menggigitnya. Ceng Sian suthay tergigit tangannya, Hong Hong tergigit kakinya dan Hoa Sin tergigit lengannya. "Suthay, totiang, kita turun panggung dulu!" seru Hua Sin seraya melayang turun dari panggung. Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojinpun mengikuti. Mereka mencari tempat yang sepi untuk mengobati lukanya. "'Pil Ki-tok-sin-tan buatan partai Kun-lun-pay ini, dapat melawan segala jenis racun, tetapi....." tiba2 suthay itu hentikan kata2. "Mengapa suthay ?" tanya Hong Hong tojin. Ceng Siun suthay menghela napas: "Kita bertiga sedangkan pil yang kubekal itu hanya tingga dua butir .. ,." "Ah, tak apa," tiba2 Hoa Sin berkata dengan suara lapang, "biarlah suthay dan totiang saja yang minum. Aku dapat mengobati lukaku." Dalam berkata itu sebenarnya Hoa Sin merasa lengannya makin kaku. Ia terus salurkan tenaga dalam untuk menghentikan racun itu. Tatapi ternyata racun ular emas itu hebat sekali. Cepat racun itu sudah menyusup ke bahu. Walaupun karena tertahan oleh tenaga-dalam, namun racun itu tetap pelahan-lahan mengalir. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Berikan kepada Hoa pangcu," seru Hong Hong tojin. Ia tak mau kalah dengan kebesaran jiwa ketua Kay-pang itu. "Suthay, totiang," seru Hoa Sin, "saat ini keadaan sudah gawat. Jangan kita mati semua, cukup seorang saja yang menjadi korban. Suthay dan totiang harus hidup untuk melanjutkan perjuangan kita ... " Pengemis-sakti Hoa Sin tak dapat melanjutkan kata2nya. Wajahnya sudah berobah biru gelap. Jelas racun sudah makin mengalir ke arah kepala. Pengemis-sakti pejamkan mala dan mulai mengerahkan tenaga dalam lagi untuk menghentikan peredaran racun. Rupanya ia harus mengerahkan seluruh tenaga-dalamnya sehingga dahinya sampai bercucuran keringat. "Suthay," Hong Hong tojin gelisah, "tolong berikan sebutir pil kepadaku." Suthay segera mengambil sebuah kelopak dari batu kumala, membuka dan mengambil dua butir pil warna putih. Bau harum segera semerbak kemana-mana. "Apakah maksud totiang dengan pil ini ?" tanya rahib dari Kun-lun-pay itu. "Akan segera kuminumkan kepada Hoa pangcu. Lihatlah, keadaannya sudah berbahaya sekali," kata Hong Hong tojin. Ceng Sian suthay terbeliak memandang ketua Go-bi-pay itu. Sejenak kemudian ia berkata dengan nada serius: "Hong pangcu, bukan melainkan Hoa pangcu, pun pangcu sendiri juga berbahaya, lihatlah wajah pangcu, sudah bersemu hitam " Sebanarnya Hong Hong tojin sudah menyadari bahkan sudah merasa kalau sebelah kakinya sudah tak terasa dan Tiraikasih website http://kangzusi.com. saat itu perutnya mulai kaku. Ia tahu bahwa racun sudah menjalar ke bagian perut dan sebentar lagi tentu naik kedada. Tetapi sebagai seorang imam yang berbudi tinggi dan sebagai seorang tokoh ketua partai persilatan, ia harus mengunjuk suatu sikap ksatrya. Ia rela mengorbankan diri asal dapat menolong Hoa Sin. "Tak apa, suthay," katanya, "yang penting kita harus menyelamatkan jiwa Hoa pangcu." "Tidak totiang!" tiba2 Ceng Sian suthay berseru tegas, "keadaan sudah amat berbahaya, jangan saling mengalah dengan akibat kedua-duanya tak tertolong. Keadaan Hoa pangcu lebih parah dan totiang masih mending. Maka harap totiang minum pil itu. Cepatlah, setelah kita sembuh kita gabungkan tenaga-dalam kita untuk membantu Hoa pang cu mengenyahkan racun itu ......." Hong Hong tojin menyambuti pil dari Ceng Sian suthay, namun ia masih bersangsi. Tiba2 tangan Ceng Sian yang mengulurkan pil itu dibuka dan jatuhlah pi! itu ke tanah. Hong Hong tojin, terkejut, cepat ia membungkuk tubuh untuk menjemputnya. "Maaf, totiang !' sekonyong-konyong Ceng Sian bergerak menutuk jalandarah di leher Hong Hong tojin. Seketika ketua Go bi-pay itu ternganga mulutnya dan secepat itu pula, Ceng Sian suthay segera memasukkan pil ke mulutnya. Sekali menepuk tengkuk Hong Hong tojin, pilpun segera meluncur masuk kedalam kerongkongannya. Kemudian ia sendiripun segera menelan lalu duduk bersila. "Totiang, mari kita lekas menyalurkan tenaga-dalam untuk mempercepat kerja pil itu," seru Ceng Sian seraya pejamkan mata dan mulai bersemedhi. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Hong Hong tojin menghela napas namun ia menurut juga permintaan rahib ketua Kun-lun-pay Itu. Demikian ketiga ketua partai persilatan saat itu tengah berjuang sekuat tenaga untuk menghalau racun ular emas yang luar biasa hebat. Andai bukan Hoa Sin tentu dalam beberapa kejab saja sudah mati. Dalam pada itu pertempuran diatas panggung pun sudah mendekati penyelesaian. Sosok tubuh bergelimpangan di sana sini, ada yang sudah mati ada yang terluka parah. Tiga jago dari Shoa-tang Sam-hiap rubuh mandi darah, demikian pula dengan Ho lam Ji-koay pun terluka parah. Im Yang cinjin sudah kabur dengan membawa luka. Yang masih hanyalah Pui Tik ketua Kim-coa-pang. Dia menggunakan senjata rahasia yang aneh yalah seekor ular hidup yang beracun. Tetapi kawanan Pengawal Baju Putih dan Baju Merah itu terlalu tangguh. Dalam beberapa jurus lagi, senjata ular Pui Tik dapat dihantam hancur dan orangnya terlempar kebawah panggung. Kini yang masih dapat bertahan hanya pengacara yang baru muncul itu. Berhadapan dengan seorang Pengawal Baju Putih, ia masih dapat melayani sampai beratus jurus. Melihat itu seorang pengawal Baju Putih yang lain tiba2 menampar dari jauh. Pengacara itu mengira kalau bukan suatu serangan. Dan ia memang tak sempat mengambil perhatian karena harus melayani serangan pengawal Baju Putih yang bertubuh tinggi besar itu. "Hai ... !" tiba2 pengacara itu menjerit kaget, "pukulan Buing- ciang ... " Bu-ing-ciang artinya pukulan tanpa bayangar Tidak mengeluarkan suara dan tidak menghembuskan angin. Tahu2 Tiraikasih website http://kangzusi.com. yang menerima sudah terlempar Demikian dengan pengacara itu. Ia tak sempat berjaga ketika segulung angin mendadak sontak sudah menghantam tubuhnya sehingga seperti sebuah layang2 putus tali, tubuhnyapun melayang jatuh ki ke bawah panggung. Gemparlah sekalian tokoh2 yang masih berada di bawah panggung. Sekonyong-konyong mereka melihat sesosok tubuh manusia yang melesat dan terus menyambut, tubuh pengacara itu. "Hai ... !" serentak berteriaklah para hadirin yang berada dibawah panggung demi melihat penolong yang muncul itu. Mereka terkejut, terlongong-Iongong ketika melihat perwujutan dari penolong itu mirip sekali dengan pemuda gundul berkuncir satu yang melayang keatas panggung dan saat itu masih berada disitu. Memang benar, pendatang yang menolong jiwa orang yang mengaku sebagai pengacara itu baik tampang maupun pakaiannya, seperti pinang di belah dua dengan pemuda yang mengaku bernama Blo'on. Pemuda itu ikut terkejut sehingga tanpa disadari ia telah lepaskan tangannya, bluk ... pengacara itupun jatuh ke tanah. Pemuda itu gelagapan dan buru2 hendak menjemputnya tetapi pengacara itu cepat2 melenting bangun. "Tak usah !" serunya. Iapun terbelalak ketika melihat tampang muka pemuda itu, "apakah engkau yang menolong aku ?" Pemuda itu mengangguk. "Apakah engkau tak menderita luka apa2 dari serangan orang2 Thian-tong-kau itu.” tanya pengacara pula. "Eh, rupanya engkau terluka, jangan mengingau tak keruan, lekas engkau beristirahat !" seru pemuda aneh itu. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Kembali pengacara itu terbelalak : "Aku memang menderita luka tetapi tak berat, masih kuat bertahan. Engkau bagaimana ? Apakah engkau tak terluka ?" Pemuda aneh itu terbeliak : "Gila, jangan ngoceh tak keruan. Mengapa aku terluka ?” "Bukankah engkau berada di atas panggung juga ketika terjadi pengamukan orang Thian-tong-kau ?" seru pengacara. "Siapa yang mengamuk ? Orang Thian-tong kau ? Mengapa mereka mengamuk ? Apa mereka sudah gila ?" ber-tubi2 pemuda gundul itu melontarkan pertanyaan sehingga pengacara melongo. "Aku tidak terluka, aku tidak mengoceh tetapi aku masih sadar," teriak pengacara itu, "tadi kita bersama di atas panggung. Aku terkena pukulan Bu ing-ciang dan seorang pengawal Baju Putih. Katanya, mengapa engkau dapat menolong aku dibawah panggung, apakah engkau tak menderita luka?” "Gila ! Gila !" bentak pemuda gundul itu dengan mata mendelik, "karena terluka badanmu tentu panas, kepalamu pusing. Siapa yang berada diatas panggung ? Aku baru saja datang, karena melihat tubuhmu melayang dari atas, aku kasihan di cepat2 kusambuti." Pengacara, itu melotot matanya. Ia terkejut mendengar keterangan itu tetapi sesaat kemudian ia berkata : "Ah jangan bergurau. Jelas engkau berada di atas panggung bersama ketiga ketua partai persilatan, kemudian engkau hendak menghadap ayahmu yang menjadi ketua Thian-tong-kau. Engkau hendak mengajak ketiga ketua partai persilatan itu tetapi oleh pengacara Thian-tong-kau ditolak. Karena nekad, ketiga ketua partai persilatan itu diserang dengan senjata ular Tiraikasih website http://kangzusi.com. beracun oleh pengacara itu. Beberapa tokoh persilatan dan aku-pun diserang oleh barisan pengawai Baju Putih dan Baju Merah dari Thian-tong-kau ... " "Sudah sudah !" teriak pemuda gundul itu. "bising telingaku mendengar ocehanmu. Siapa yang diatas panggung ? Aku tak merasa disana, aku baru saja tiba di tempat ini". Pengacara itu hendak ngotot tetapi ada seorang tetamu yang maju menghampiri : "Memang kami yang berada dibawah panggung ini semua melihat bahwa pemuda ini baru saja tiba. Bukan pemuda yang berada diatas panggung." "Ya, memang aneh sekali tetapi memang benar kalau anakmuda itu baru saja datang," seru seorang tamu lain. Beberapa orangpun segera memberi kesaksian. "Sudahlah, jangan ribut2!" seru pemuda aneh itu, "siapa pemuda yang engkau maksudkan berada di atas panggung itu ?" "Eng ... eh, mirip sekali dengan engkau." seru seorang tetamu." "Benar ?" pemuda aneh itu menegas. Serempak sekalian tetamu mengiakan. Mereka menganjurkan supaya pemuda itu naik kepanggung untuk membuktikan kebenarannya. "Gila, masakan aku sudah berada dipanggung?" pemuda itu ber-sungut2, "apakah badanku bisa terpecah dua ?" Sebenarnya sekalian orang hampir tak kuat menahan geli melihat tingkah laku dan ucapan pemuda itu. Lebih2 perwujutannya. Tetapi mengingati saat itu berada dalam suasana yang gawat, terpaksa mereka menahan tawa. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Eh, tadi engkau mengatakan bahwa aku berada di atas panggung hendak menjumpahi ayahku yang menjadi ketua Thian-tong-kau. Benarkah itu,” tiba2 pemuda aneh itu bertanya kepada pengacara "Ya, benar", sahut pengacara. "Apakah engkau sudah melihat sendiri bahwa yang jadi ketua itu memang ayahku ?" tanya pemuda itu pula. "Melihat tetapi belum dapat membuktikan benar atau tidak", sahut pengacara. "Mengapa ?" "Karena dia duduk di sebuah kursi kebesaran yang jauh letaknya dari panggung dan dijaga pula dua ekor harimau besar." "Hiih " pemuda itu mendesuh kejut, "harimau besar menjaganya?” "Sepasang harimau menjaga dibawah kakinya, duapuluh pengawal Baju Merah, duapuluh pengawal Baju Putih, duabelas Dara baju Kuning, dua-belas dara Baju Hijau, enam kacung baju Merah dan enam kacung Baju Biru. Itulah penjagaan yang mengelilingi ketua Thian-tong-kau," menerangkan pengacara. "Wah, hebat benar," seru pemuda aneh itu, "mengapa harus dijaga sedemikian banyaknya ?" "Dia ketua Thian-tong-kau dan hari ini perkumpulan Thiantong- kau hendak mengadakan upacara sembahyang besar untuk meresmikan berdirinya dan menerima anggauta. Kita semua diundang dan dipaksa masuk menjadi anggauta." Tiraikasih website http://kangzusi.com. Pemuda aneh itu tertawa. "Kalian sudah tua, masakan mau dipaksa menjadi anggauta kecuali kalian memang sukarela masuk sendiri." "Sebagian besar dari tetamu2 yang diundang adalah kaum persilatan. Mereka kebanyakan menoIak masuk anggauta. Tetapi Thian-tong-kau menggunakan kekerasan untuk memaksa...." "Gila !" tiba2 pemuda aneh itu memekik, masakan didunia yang terang benderang ini terdapat manusia yang hendak memaksa manusia?" "Mereka mengandalkan anggautanya yang berkepandaian tinggi dan banyak." "Perkosaan !' tiba2 pemuda aneh itu memekik lagi dan tahu2 tubuhnya melambung keatas panggung. Sekalian orang menjerit kaget "ketika menyaksikan gerakan pemuda aneh itu meluncur naik keatas panggung. Entah dengan cara bagaimana, tiba2 tubuh pemuda itu terus melambung lurus ke udara macam sebuah roket. "Hai, mana manusia yang mencuri wajahku tadi ?" selekas tiba diatas panggung, pemuda aneh itupun segera berteriak. Saat itu pertempuran sudah selesai, kawanan pengawal Baju Putih dan Baju Merahpua sudah berbaris ditempat semula. Sedang pengacara baju merah itu tengah berkemas untuk melanjutkan acara. Pemuda Blo'onpun hendak melangkah menghampiri ketua Thian-tong-kau. Sekalian anakbuah Thian-tong-kau terkejut mendengar teriakan pemuda aneh itu. Mereka hanya melihat sesosok butuh berpakaian putih meluncur tetapi sama sekali tak mendengarkan suara apa2 ketika kaki pemuda aneh itu Tiraikasih website http://kangzusi.com. menginjak lantai panggung. Dan lebih terkejut lagi ketika mereka melihat perwujutan pendatang itu. "Hai !" serempak barisan bocah dan barisan gadis2 cantik memekik kaget. Barisan pengawal Baju Pulih dan Baju Merah pun tersentak menegaskan kepala tetapi tak mengeluarkan suara apa2. Pengacara baju merah terlongong. Hanya Blo'on yang tenang. Ia berputar tubuh lalu menghampiri ke hadapan pendatang itu. "Ho, rupanya engkau jahanam pencuri itu !" teriak pemuda pendatang itu. "Gila !" bentak pemuda Blo'on, "aku tak kenal engkau, mengapa datang2 engkau terus memaki maki aku ? Aku mencuri apa !" "Tampang mukaku !" "Lho, bukankah tampangmu masih melekat pada mukamu ?" teriak pemuda Blo'on. "Tetapi tampangmu menyerupai mukaku!" teriak pemuda pendatang itu. "Ini tampangku sendiri. Aku bebas memiliki tampang begini. Kalau engkau merasa sama, ganti sajalah tampangmu itu ?” seru Blo'on. "Bagaimana caranya mengganti? Sejak lahir ibuku telah memberi tampang begini, masakan bisa diganti. Engkau saja yang harus diganti." "Gila !" bentak pemuda Blo'on, "kalau engkau tak dapat mengganti tampang, bagaimana aku dapat?" "Mudah saja !" "Bagaimana ?" Bio'on kerutkan dahi. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Hidungmu kupotong, telingamu kuiris sebelah, biji matamu kucukil satu dan bibirmu yang atas kusayat. Dengan begitu tentu lain, engkau mempunyai tampang baru dan selanjutnya tentu takkan menyerupai tampangku !" seru pemuda pendatang itu dengan gembira. “Keparat!” teriak pemuda Blo'on, "engkau sajalah yang kuiris mukamu supaya tak sama dengan mukaku !". "Hai, siapakah engkau ?” tiba2 pengacara baju merah menegur pemuda pendatang itu. "O, apakah engkau yang disebut pengacara dari Thian-tong kau itu?" pemuda pendatang itu balas bertanya. "Hm, benar," sahut pengacara baju merah dengan nada sarat, "jawab, siapa engkau !" "Aku putera dan Kim Thian-cong !” "Bohong!" teriak pemuda Blo'on, “akulah putera dari Kim Thian-cong, namaku Blo'on. Jangan engkau mengaku-ngaku ayahku sebagai bapakmu !" "O," pemuda pendatang itu melongo, "engkau juga bernama Blo'on ? Aneh, aneh," ia garuk2 gundulnya. "Apa yang aneh ?" seru pemuda yang pertama atau Blo'on. " Mengapa didunia terdapat dua manusia yang kembar sampai pada namanya juga kembar. Orang menyebut namaku juga Blo'on. Pada hal sudah lama sekali aku mendapat nama itu,” tiba2 pemuda itu termenung, kerutkan dahi lalu berseru pula : “Eh, dari mana engkau memperoleh nama itu?" "Sudah tentu dari ayahku," sahut Blo'on. "Salah !" teriak pemuda pendatang itu, "ayah tidak memberi nama itu. Nama Blo'on itu seorang dara yang memberi. Dara Tiraikasih website http://kangzusi.com. itu bernama .... Hong Ing si Walet-kuning murid Hoa-san-pay ......" tiba2 pula pemuda itu berhenti dan merenung, "ah, di manakah dara itu ? Sudah lama dia menghilang.” Pengacara baju merah, pemuda Blo'on tertegun mendengar kata2 pemuda pendatang itu. Sesaat kemudian Blo'on membentak : "Engkau memang seorang bedebah yang berani mati. Coba, mana di dunia terdapat seorang anak yang namanya diberi lain orang ?. Masakan orangtuamu tak pernah memberi nama kepadamu?.” "Sudah tentu memberi," sahut pemuda pendalang itu, "tetapi aku lupa. Yang kuingat hanya pemberian nama dari nona itu." "Ngaco !” bentak pemuda Blo'on, "jangan engkau mengakungaku sebagai putera Kim Thian-cong. Akulah puteranya yang bernama Blo’on.” "Gila !" teriak pemuda pendatang itu. "engkau mengaku bernama Blo’on, engkau mempunyai tampang muka seperti aku, aku sih tak keberatan, kalau memangnya tampangmu begitu macam, apa boleh buat. Tetapi kalau engkau mengaku sebagai putera Kim Thian-cong, aku melarang. Tidak bisa kataku, engkau Blo'on yang lain, bukan putera Kim Thian-cong !" Pemuda Blo'on yang pertama, tertawa gelak2 serunya : "Mana di dunia terdapat ocehan macam begitu ?. Hanya orang gila yang bisa mengatakan begitu. Masakan seorang anak tak boleh mengaku ayahnya !" cepat ia berpaling kepada pengacara baju merah dan berseru : "Hai. pengacara, lekas titahkan pengawal Thian-tong-kau untuk menangkap bangsat itu!” Tiraikasih website http://kangzusi.com. Entah bagaimana rupanya, pengacara bajumerah itu menurut saja perintah pemuda Blo'on itu. Ia segera berseru kepada barisan bocah Baju Merah. "Hayo, tamparlah kepala dan muka pemuda gila itu !" teriaknya. Dan serentak kawanan bocah Baju Merahpun berhamburan mengepung pemuda pendatang. "Hai, engkoh gila," seru mereka, "engkau mau turun dari panggung ini atau tidak ?" "O, kalian kawanan monyet2 kecil", seru pemuda pendatang itu, "apakah panggung ini milik nenekmu ?" "Kami adalah murid dari Thian-tong-kau. Mendapat perintah dari Ang Li-su (pengacara baju merah) untuk mengusirmu !" "Mengapa ?" "Engkau mengacau upacara yang akan diadakan diatas panggung ini !" "Upacara apa ?" "Meresmikan berdirinya Thian-tong-kau dan menerima anggauta baru !" "Apakah artinya Thian-tong-kau ?" seru pemuda tolol itu. "Partai Nirwana !" "Apakah Nirwana itu ?" "Sebuah tempat yang indah di langit. Kelak apabila engkau mati, tempatnya hanya dua. Nirwana atau Neraka. Kalau engkau seorang baik kalau mati kelak engkau naik ke Nirwana. Tetapi kalau engkau jahat, besok engkau akan dilemparkan ke Neraka yang merupakan lautan api". Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Hih ... !" pemuda tolol itu menjerit seram "jangan, aku tak mau ke Neraka. Tetapi siapakah yang mengizinkan aku naik ke Nirwana dan yang kuasa melempar-aku ke Neraka itu ?" "Ini ... ini ... aku sendiri tak tahu ... " bocah baju merah itu garuk2 kepala. "Goblok !" tiba2 Blo'on yang kesatu membentak, "sudah tentu Kim Thian-cong ayahku karena dia menjadi ketua Thiantong- kau.” "Ho, kalau begitu aku tentu naik ke Nirwana juga !" seru pemuda Blo'on yang kedua itu. Kawanan bocah baju merah melongo : "Bagaimana engkau bisa naik ke Nirwana ?" "Karena bapakku ketua Thian-tong-kau !" sahut Blo'on kedua dengan gembira. "Bangsat, engkau bukan anaknya Kim kaucu. Engkau seorang pemuda berandalan yang tak ketahui asal usulmu !" bentak Blo’on kesatu. Kemudian ia memberi perintah kepada kawanan bocah baju merah itu supaya lekas menghajar. "Nanti dulu !" buru2 Blo'on kedua berseru serta menyetop dengan kedua tangannya, "bagaimana kalau aku masuk menjadi anggauta Thian-tong kau supaya besok naik ke Nirwana ?" Blo'on kesatu terkejut mendengar ucapan itu. "Tidak," seru pengacara baju merah atau Ang li-su, "Thiantong- kau tak menerima anggauta orang gila !" "Tetapi dia," Blo'on kedua menuding kearah Blo'on kesatu, “apakah juga bukan pemuda gila ?” Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Dia adalah putera Kim kaucu !" bentak Ang li-su dengan marah. “Tidak !" teriak Blo'on kedua, "aku hendak menghadap bapakku !" Habis berkata ia terus melangkah maju. "Ang-hay-kun, lekas hajar orang gila itu !” pengacara Ang lisu cepat memberi perintah. Enam bocah baju merah segera menyerbu Blo’on kedua. Mereka tak mau menggunakan senjata karena menganggap bahwa Blo'on kedua ini seorang pemuda yang sinting dan bertangan kosong. Cukup dengan tinju saja, tentulah pemuda sinting itu sudah ter-kencing2 minta ampun. Duk, duk, duk , ... Terdengar tinju berjatuhan pada tubuh Blo'on kedua tetapi serentak dengan itu terdengarlah keenam bocah baju merah itu menjerit keras, menyurut mundur seraya mendekap tinjunya : "Aduh, duh ... " Ang li-su terkejut : "Mengapa kamu itu serunya. Sambil masih menjerit-jerit kesakitan, salah seorang bocah itu beneriak: "Tulang2 jariku remuk,” teriaknya. "Badannya seperti besi ...” kata bocah yang lain. Ang Li-su terkejut. Tetapi ia tetap tak percaya kalau pemuda tolol itu memiliKi ilmu Thiat-po-san atau ilmu kebal. Segera ia perintahkan barisan bocah Baju Biru untuk maju. Rupanya borisan bocah Baju Biru itu telah melihat apa yang dialami kawan-kawannya baju merah. Tetapi merekapun juga tak percaya. Begitu maju mereka terus menghujani Blo'on kedua dengan pukulan dan tendangan. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Bocah edan !" rupanya Blo'on kedua itu marah melihat tingkah laku kawanan bocah yang hendak mengeroyoknya. Serentak ia menggerakkan kedua tangannya dan serentak terdengarlah kawanan bocah Baju Biru itu menjerit-jerit kesakitan seraya mendekap kepala : "Aduh .... aduh .... minta ampun gua …..”. Ternyata kuncir rambut kepala dari keenam bocah Baju Biru itu telah dicomot oleh Blo'on ke dua. Karena caranya mencomot dengan paksa, maka bocah2 itupun menjerit kesakitan. Tetapi beberapa saat kemudian setelah rasa sakit berkurang, mereka memberingas marah ; "Kurang ajar ! Engkau berani mencabuti rambut kepalaku !" Keenam bocah itu maju menyerang lagi. Tetapi mereka tidak mau gegabah menyerang dengan membabi buta melainkan secara teratur dalam bentuk barisan Pat-kwa-tin. Bahkan karena marah, merekapun menghunus pedang. "He, kalian makin lama makin berandalan. Masakan masih kecil sudah mau jadi jagal manusia. Siapa yang suruh engkau begitu ? Siapa yang mengajari ?" Blo'on kedua menyemprot mereka. Namun barisan bocah Baju Biru itu tak menghiraukan lagi. Mereka segera bergerak-gerak dalam formasi barisan Pat-kwatin. Rapi dan dahsyat, empat penjuru delapan arah, pedang berhamburan menusuk tubuh Blo'on kedua. Tetapi pemuda pendatang itu tak gentar. Begitu mereka mendekati tiba2 ia meludai muka mereka, berputar tubuh sambil meludah supaya merata kepada keenam bocah itu. "Aduh .... aduh .... ampun mak ......." ke enam bocah itu menjerit dan mendekap mukanya! merintih rintih minta Tiraikasih website http://kangzusi.com. ampun. Ludah yang menyemprot muka mereka terasa seperti percikan besi panas yang membakar muka mereka. Mereka menjerit-jerit seraya lari masuk kedalam. Kali ini Ang-li su benar2 terkejut. Kedua barisan bocah Baju Merah dan Baju Biru itu walaupun tergolong anakbuah Thiantong- kau yang paling rendah tingkatannya tetapi rata2 mereka memiliki ilmusilat yang tinggi. Jago silat kelas dua kalah dengan mereka. Bahwa dua kali pemuda sinting itu talah memberantakan kedua barisan bocah Thian-tong-kau, benar2 membuat Aug-li-su atau pengacara baju merah, terlongonglongong heran. Benarkah pemuda sinting itu memiliki ilmusilat yang sakti ? "Bi-jin-kun, majulah," pada lain saat Ang-li-supun berteriak memberi perintah kepada barisan gadis cantik Baju Kuning. Ia tak percaya kalau pemuda sinting itu berilmu sakti. Selusin dara cantik Baju Kuning segera berhamburan maju mengepung Blo'on kedua. Melihat itu, merahlah muka Bloion kedua. "Ih, dunia terbalik, jaman edan," gumamnya seraya menutupkan lengan baju pada mukanya seperti orang malu. Barisan gadis cantik Baju Kuning itu tediri dari gadis2 yang berusia 16-17 tahun. Mereka masih bersifat kekanak-kanakan. Melihat muka Blo'on kedua, tingkah laku dan kata-katanya, dara2 itu tertawa geli. Jika tadi berhadapan dengan beberapa tokoh silat yang naik kepanggung, mereka bersikap ketus. Tidaklah demikian pada saat itu. Disamping geli, merekapun mempunyai setitik rasa kasihan terhadap pemuda yang tolol itu. "Eh, mengapa engkau tutupi mukamu ?" tegur salah seorang dara yang agak berani. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Malu, dong!" sahut Blo'on kedua. "Malu ?" dara itu menegas, "mengapa malu?" "Karena kalian menonton mukaku "Hi, hi, hi....." pecah gelak tawa kcduabelas dara cantik itu demi mendengar jawaban itu. "Gila ! Dunia sudah terbalik, jaman sudah edan!" teriak Blo'on kedua, "dulu anak perempuan tak berani keluar pintu kalau lihat anak laki malu2 kucing. Tetapi sekarang gadis2 malah berani berhadapan dengan anak laki, memandang dan menertawakan. Berani juga mengajak berkelahi, menerkam seperti harimau." "Hai, jangan ngoceh seperti orang sinting !" seru salah seorang dara baju kuning, "apakah engkau sakit kalau tampang mukamu dilihat orang ?” "Ya, kalau sakit, copot saja tampangmu itu!' teriak yang lain. "Tampang kaya kuda meringis saja, masakan malu dilihat. Kita yang malu melihat!" seru seorang lagi. "Huh," dengus Blo'on kedua, "sakit atau tidak itu urusanku. Pokoknya, aku tak mau kalau anak perempuan melihat wajahku." "Cis, siapa sudi melihat tampangmu !" "Buktinya engkau melihat." "Karena heran mengapa manusia mempunyai tampang seperti setan, hi. hi, hi......" "Bi-jin-kun, jangan buang waktu bicara yang tak berguna. Lekas pukul setan itu!" teriak pengacara baju merah yang rupanya tak sabar mendengar pembicaraan mereka. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Barisan gadis Baju Kuning itu segera hendak bergerak menyerang. "Nanti dulu !" tiba2 Blo'on kedua berseru menyetop dengan tangannya, "kalau kalian memang hendak mengajak berkelahi dan memaksa aku harus berkelahi, akupun akan melayani. Tetapi aku masih ada sedikit urusan yang lupa kuperhatikan. Aku minta tunda dulu sebentar.” Barisan dara Baju Kuning yang sudah bergerak itu terpaksa berhenti lagi. Salah seorang berseru : "Mau apa engkau ?" "Aku teringat mempunyai kenalan seorang rahib yang menurut kata orang2 dibawah panggung saat ini sedang menderita luka. Maka aku hendak menjenguknya dulu dan kalau perlu akan mengobatinya". "Bi-jin-kun, lekas hajar !" kembali pengacara baju merah berteriak. "Tidak !" seru seorang dara kepada Blo'on kedua, "engkau harus kami hajar dulu, baru nanti kulempar ke bawah panggung." "Eh, anak perempuan kejam," teriak Blo'on. menolong orang sakit, suatu perbuatan yang baik. Engkau anak perempuan seharusnya mempunyai hati welas-asih, mengapa malah begitu kejam ?" "Ngaco !" bentak dara itu segera bersiap lagi, "engkau boleh turun panggung tetapi gundulmu harus engkau tinggal disini" "Gila, masakan gundul suruh tinggal di sini? Aku kan tak dapat bicara dengan sahabatku itu?”, bantah Blo'on kedua, "tidak, aku harus menjenguknya dulu ... " Tiraikasih website http://kangzusi.com. Habis berkata ia terus ayunkan langkah. Ke-dua belas dara Baju Kuning itu terkejut. Mereka segera berhamburan menyerbu. Tetapi mereka menjerit kaget ketika tubuh Blo'on kedua itu tiba2 melambung ke udara lalu melayang melampaui kepala mereka dan terus meluncur ke bawah panggung. Kejut kedua belas dara Baju Kuning itu bukan kepalang. Baru pertama kali itu mereka melihat suatu gerak loncatan yang luar biasa anehnya. Jelas pemuda itu tak menggunakan kakinya untuk memijak lantai, tetapi tahu2 tubuhnya dapat meluncur ke atas seperti roket. Ilmu apakah itu '.' Entah bagaimana, tiba2 saja Blo'on kedua i tu teringat akan Ceng Sian suthay yang sedang menderita luka. Selekas berada di bawah panggung ia segera meminta keterangan pada seorang lelaki tua, berwajah riang, rambut putih, pakaian putih. "Pak tua, apakah engkau melihat seorang rahib yang tengah menderita luka ?" tanyanya. Orangtua baju putih tertawa : "Ya, mereka bertiga sedang beristirahat di sana, "orang itu menunjuk ke sebelah barat, "pada gunduk batu cadas itu !" "Kamsia", pak tua " seru Blo'on kedua. la berjalan menuju ke barat. "Tunggu, budak," tiba2 orangtua itu berseru sehingga Blo'on kedua tertegun dan berpaling, "mengapa engkau hendak kesana ?" "Rahib itu aku kenal, karena dia terluka maka aku hendak menolongnya", jawab pemuda itu. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Eh, apakah engkau dapat menolong mereka? Mereka terluka kena racun ular emas yang amat berbisa sekali. Mungkin tiada dapat ditolong lagi jiwanya." "Benarkah ?" Blo'on kedua terkejut. "Mengapa aku bohong kepadamu ?" kata orang tua baju putih itu, "kecuali engkau membawa pil dari dewa, barangkali saja dapat menolong jiwanya". "Belum tentu." bantah Blo'on kedua dengan kata2 yang aneh, "coba saja, mungin aku bisa." "Mari kuantarkan," tiba2 orangtua baju putih itu menghampiri dan mereka terus berjalan menuju ke batu cadas yang terletak di bagian barat lembah. Benar juga mereka melihat Ceng Sian suthay, Hong Hong tojin dan Hoa Sin sedang pejamkan mata duduk bersemedhi menyalurkan tenaga-dalam. Wajah ketiga tokoh itu sudah mulai membiru menandakan bahwa racun sudah mulai mengalir kemu ka mereka. "Suthay, engkau kenapa?' seru Blo'on kedua ketika tiba dihadapan ketiga tokoh itu. Ceng Sian suthay terkejut, membuka mata lalu pejamkan lagi. Bibirnya bergerak-gerak tetapi tak dapat mengeluarkan suara. Rupanya racun sudah menyerang bagian muka sehingga bibir sampai sukar digerakkan. "Sudahlah, suthay itu sedang berjuang untuk menghalau racun yang saat ini sudah mulai merayap kebagian muka. Jangan engkau tanya apa2 lagi kepadanya,” orangtua baju putih itu memberi nasehat Siapakah yang mencelakai suthay ?" tanya Blo'on kedua. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Pengacara baju merah yang berada di atas panggung itu. Dia memiliki senjata ular emas yang amat beracun," kata orangtua baju putih. "Hm, baik, tunggu saja nanti akan kuhajar orang itu," kata Blo’on kedua, la segera mengambil bungkusan dari dalam kantong baju, menghampiri Ceng Sian sutliay, lalu memasukkan dua tiga butir benda kecil ke mulut rahib itu. "Telanlah !" ia menjentikkan benda kecil itu. Tampak kerongkongan Ceng Sian suthay bergerak-gerak seperti menelan. "Siapakah kedua orang ini ?" tanya Blo'on kepada orangtua baju putih. "Hoa Sin ketua partai Kay-pang dan Hong Hong tojin, ketua partai Go-bi-pay". kata orang tua itu. "O, apakah mereka bersahabat dengan suthay ini ?" tanya Blo'on kedua pula. "Sudah tentu." jawab orangtua baju putih, "mereka datang bertiga". "Kalau begitu mereka juga harus ditolong," kata Blo'on kedua seraya mengambil dua butir benda merah lalu dimasukkan kedalam mulut Hong Hong tojin, "telan dan salurkan tenaga-dalam terus.” Hanya waktu hendak memberi minum obat kepada Hoa Sin, Blo'on kedua itu menemui sedikit kesulitan. Mulut Hoa Sin terkancing rapat, wajahnya pun lebih gelap. "Dia paling menderita," ujar orangtua baju putih." "Apa sudah mati ?" tanya Blo'on kedua. "Belum, memang tadi kututuk jalandarahnya untuk mengurangi penderitaannya. Juga sudah kuberi obat, sayang tak berhasil," orangtua baju Tiraikasih website http://kangzusi.com. putih i itu memberi keterangan, "andaikata orang lain, saat ini tentu sudah mati. Tetapi dia mempunyai daya tahan yang hebat." Blo'on kedua tak mau bicara apa2 lagi. Ia memasukkan beberapa butir benda merah itu kedalam mulutnya sendiri lalu menempelkan mulut ke mulut ketua Kay- pang itu. Kemudian dengan sekuat tenaga ia meniupkan kedalam kerongkongan sampai benda2 merah itu meluncur turun kebawah dada dan perut. Setelah itu ia menyiak kelopak mata Hoa Sin. tampak mata pengemis itu mendelik, ketika dilepas kelopaknya tak mau menutup lagi. Terpaksa Blo’on kedua bantu menutupkannya. Selama pemuda itu mengobati, orangtua baju putih hanya diam mengawasi saja. Wajahnya selalu cerah, bibirnya selalu mengulum senyum. Susah gembira selalu begitu sehingga sukar diketahui isi hatinya. Blo'on kedua tertegun, kerutkan dahi. Pada lain saat, ia menampar-nampar gundulnya sampai beberapa kali, diam lalu melonjak, terus menghampiri Hoa Sin. Orangtua baju putih itu tersenyum lebar. Tetapi bukan berarti ia tertawa. Ia merasa heran, tetapi karena tak dapat mengerut dahi, maka mulutnya yang merekah lebar. Demikianlah kalau ia terkejut atau heran atau memikir, tentu mulutnya merekah senyum. Mulut orangtua itu makin merekah lebar ketika melihat Blo'on menunduk dan lekatkan mulut pada ubun2 kepala Hoa Sin. Sepintas pandang pemuda itu seperti mencium ubun2 kepala orang, tetapi sampai beberapa saat belum juga dilepaskan. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Orangtua baju putih itu hendak bertanya tetapi tiba2 ia terkejut ketika melihat perobahan muka Hoa Sin. Dari biru gelap, berangsur menjadi terang dan makin terang. Setelah itu barulah Blo'on kedua menyudahi dan beralih ketempat Hong Hong tojin. Juga ia mencium sampai beberapa saat pada ubun2 kepalai ketua Go-bi-pay itu. Air muka Hong Hong tojin pun makin terang. kemudian pemuda itu beralih ketempat Ceng Sian suthay. Hanya ketika berhadapan dengan rahib itu, ia kerutkan dahi bersangsi. Rupanya orangtua baju putih itu tahu apa yang dipikirkan pemuda itu, cepat ia berseru : 'Tak perlu sungkan, lakukanlah pengobatan seperti terhadap-kedua pangcu itu." Akhirnya Blo'on kedua menurut. Ubun2 kepala rahib dari Kun-lun pay itu diciumnya sampai beberapa saat. Setelah wajahnya mulai terang, baru lah dilepaskan. "Pak tua," seru Blo'on kedua, "apakah engkau dapat membuat orang berak ?" Orangtua baju putih tersenyum lebar karena heran, serunya: "Apa maksudmu?" "Racun sudah terhalu ke perut, sekarang tinggal mengeluarkan. Mereka harus berak supaya racun itu keluar." "O," seru orangtua masih tersenyum, "ya, baiklah." Ia segera menghampiri Hoa Sin lalu mengurut jalandarah pada pinggangnya. Setelah itu berganti mengurut pinggang Hong Hong tojin. Hanya waktu tiba giliran Ceng Sian suthay, orangtua itu tersenyum lebar sekali. "Hai, pak tua, mengapa engkau tersenyum ? Jangan engkau mempunyai pikiran kotor terhadap seorang rahib!”, seru Blo'on kedua. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Orangtua baju putih itu tersenyum lebar sekali, seperti orang tertawa. Demikianlah kalau ia malu. "Jangan salah faham, budak." seru orangtua itu "aku harus mencari daya untuk mengeluarkan racun itu. Kedua lelaki itu, memang telah berak tetapi janganlah rahib itu disuruh berak juga." Habis berkata ia terus menutuk punggung Ceng Sian suthay. Tak berapa lama Ceng Sian menguak keras dan muntahkan segumpal darah berwarna hitam. Dua tiga kali ia muntahkan darah itu. Setelah muntah wajahnya tampak segar. Ceng Sian suthay pejamkan mata untuk melanjutkan menyalurkan tenaga-dalam memulihkan kekuatannya. Celaka adalah Hoa Sin dan Hong Hong. Karena tubuh masih lemas, keduanyapun berak ditempat. Wajahnya tampak makin segar. Keduanya juga masih pejamkan mata untuk memulihkan tenaga. "Bagus, bagus, baru pertama kali ini aku menjumpahi seorang budak yang dapat mengobati, racun ular emas. Hai, hebat benar kepandaianmu, budak, dari mana engkau memperolehnya....." Tetapi orangtua itu cepat hentikan kata-katanya karena terkejut. Ternyata pemuda tadi sudah tak berada disitu. "Gila !" orangtua itu menjerit kaget, "mengapa sama sekali tak kudengar ia pergi ? Bocah itu benar2 ajaib sekali kepandaiannya." Ternyata setelah melihat ketiga orang itu sudah tak kurang suatu apa hanya tinggal memulihkan tenaga, diam2 Blo'on kedua itupun segera pergi. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Ia hendak memenuhi janji untuk melanjutkan pertempuran dengan barisan gadis2 Baju Kuning. Dengan sebuah gerak loncatan yang aneh, pemuda itu pun sudah meluncur ke atas panggung Tetapi selekas tiba dipanggung ia terlongong heran. Ternyata. saat itu diatas panggung sedang berlangsung pertempuran antara seorang kakek bertubuh kate dengan keduabelas gadis Baju Kuning itu. Kakek kate itu berlincahan sambil ber-kaok2 tak henti2nya : "Hai isteriku, Sun kuihui mengapa engkau menyerang aku ... mengapa engkau lupa kepadaku ... akulah suamimu , . mengapa engkau lari pada malam pengantin itu . , " Barisan gadis Baju Kuning merah wajahnya karena malu. Mereka muak, jengkel dan marah ke pada kakek kate yang entah dari mana datangnya, tiba2 muncul di panggung terus langsung menghampiri gadis2 cantik itu. "Hai, siapakah engkau kakek kate !" teriak pengacara baju merah. Tetapi mana kakek kate itu tak mau peduli, la tetap merayu pada seorang gadis Baju Kuning. Sudah tentu gadis itu marah dan menghantamnya. Tetapi tak kena. "Kalau engkau ingin memukul aku, pukullah supaya engkau puas," seru kakek kate itu, "tetapi setelah memukul engkau harus ikut aku tinggalkan tempat orang2 gila ini." Blo'on kesatu yang masih berada dipanggung segera membentak : "Hai, kakek gila, jangan mengacau disini!" Namun kakek kate itu tetap tak mempedulikan: '"Jangan ikut campur urusanku, budak !" Blo'on kesatu marah. Segera ia mencengkeram bahu kakek kate itu terus disentakkan ke bawah. Uh ... kakek itu hanya Tiraikasih website http://kangzusi.com. tersurut selangkah tetapi pemuda itu sendiri terlempar beberapa langkah. Blo'on kesatu marah. Ia segera maju dan memukul punggung kakek kate tetapi serentak itu juga ia menjerit dan terpental dua tiga langkah kebelakang. Blo'on kesatu makin marah. Serentak ia mencabut golok pendek dan terus menikam. Tetapi saat itu, Blo'on kedua segera loncat dan mendorongnya : "Hai, jangan kurang ajar kepada kakekku ! Blo'on kesatu terdorong beberapa langkah ke samping, hampir saja ia jatuh. "Terima kasih, bu ... eh, gila engkau !'" teriak kakek kate itu demi melihat Blo'on kedua. "Eh kau memukul mengapa sekarang menolong aku I "Siapa yang memukul engkau ?" seru Blo’on. "Engkau", seru kakek kate itu seraya rnenuding kepada Blo'on kesatu, "itulah ... !" “Itu bukan aku !" seru Blo'on kedua. "Gila. dia jelas engkau !" '"Bukan, aku disini dan dia disana. Tidak sama !" "Siapa bilang tak sama !" bentak kakek kate itu, "rupamu ya rupanya !" "Dia memalsu diriku !" seru Blo'on kedua. "Apa ?" kakek kate itu terbelalak, "ada pemalsuan manusia ?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Jangan dengar keterangannya," tiba2 Blo'on kesatu berseru, "dialah yang memalsu diriku. Aku Blo'on putera Kim Thian-cong, ketua ... "Berhenti !" bentak kakek kate itu. "Blo'on aku pernah mendengar namanya, tetapi Kim Thian cong, siapa itu, jangan ngoceh tak keruan !" Kemudian kakek kate itu berkata lagi : "Engkau Blo"on dan engkau juga Blo'on. Mana yang tulen ini ?" "Sudah tentu aku, " seru Blo'on kesatu. "Belum tentu, " sahut kakek kate, "harus di uji dulu baru tahu mana yang tulen mana yang palsu.” "Boleh " sahut Blo'on kedua. "Engkau kenal siapa aku ini ?" tanya kakek kate. "Kenal." kata Blo'on kedua. "Siapa aku ?' tanya kakek kate. "Manusia kate !" sahut Blo'on kesatu. " Benar ... eh, kurang ajar engkau !" kakek pendek deliki mata kepado Blo'on kesatu. "Tahu engkau siapa namaku ?" serunya. Blo'on kesatu meramkan mata tak menyahut. "Kakek Lo Kun !" seru Blo'on kedua. “Dan engkau?” desak kakek itu pada Blo'on kesatu. "Lo Kun si kakek kate !" teriak Blo'on kesatu keras2 "Betul", sambut kakek pendek, la tak menyadari bahwa pengetahuan nama yang diucapkan Blo on kesatu itu diperoleh setelah mendengar keterangan Blo'on kedua. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Dia meniru aku !" seru Blo'on kedua. "Ya. benar", tiba2 kakek Lo Kun teringat, "tidak terpakai. Harus diulang, sekarang engkaulah yang harus memberi jawaban dulu," serunya kepada Blo'on kesatu. "Lo Kun !" cepat Blo'on kesatu berseru. "Dan sekarang engkau !" seru Lo Kun kepada Blo on kedua. "Lo Kun," sahut pemuda itu. "Gila !" bentak kakek Lo Kun, "sekang engkau meniru dia !" Blo'on kesatu tertawa, Blo'on kedua meringis seperti kuda menyengir .... Jilid 34 kondisinya parah sekali tidak dapat di baca apalagi di convert Jilid 35 Maling kemalingan Pengacara baju merah terkejut atas peristiwa yang tak terduga2. Namun sudah terlambat. Tangannya telah ditelikung ke belakang dan tulang bahunya telah dicengkeram. Itu berarti bahwa apabila ia berani bergerak, pi-peh-kut atau tulang bahunya tentu akan dihancurkan. Akibatnya ia tentu akan lumpuh, seluruh ilmu kepandaiannya akan punah. "Siapa engkau !" setelah kerahkan tenaga dalam untuk ber2siap2 menghadapi kemungkinan, pengacara baju merah itu berseru. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Ha. ha ... Lam-kiong Wi yang engkau jadikan Kim Thiancong palsu itu, sudah kuamankan,” orang itu tertawa mengekeh. "Siapa engkau ?" pengacara baju merah mengulang pertanyaannya. "Heh, heh; engkau tahu siapa yang berkuasa di gunung Thaysan ?" orang itu balas bertanya. "Thian-sat-cu ?" tiba2 pengawal baju merah berseru, "apakah engkau Thian-sat-cu si Algojo dunia dari Thay-san itu ?" "Hong Sat koay-ceng, ternyata ingatanmu tajam sekali." sahut orang itu. Pengacara baju merah itu terbeliak : "Bagaimana engkau dapat mengetahui diriku ?” "Gunung Thaysan adalah daerah kekuasaanku" kata Thiansat- cu, "mengapa engkau berani membuat rencana yang gila, menciptakan seorang Kim Thian-cong palsu lalu hendak mendirikan sebuah perkumpulan yang engkau beri nama Thian-long kau ?" "Thian-sat-cu" balas Hong Sat-koay-ceng, "apa maksudmu menangkap aku ?" "Engkau terlalu berani mati" kata Thian-sat cu, “mengapa engkau membuka pangkalan di sini tanpa meminta persetujuan dari aku ?'* "Hm, dengus Hong Sat koay-ceng, "sebenarnya bukan aku yang mendirikan Thian-tong-kau tetapi Ngo-tok Sin-kun." "Ngo-tok Sin-kun ?" ulang Thian-sat-cu agak terkejut. Ngotok Sin-kun berarti Datuk Panca-bisa, seorang tokoh persilatan Tiraikasih website http://kangzusi.com. yang menguasai ilmu- lima jenis racun yang paling ganas di dunia ' "Dimana Ngo tok Sin Kun sekarang?" tanya Thian sat-cu. "Mati". 'Engkau bunuh ?* tanya Thian-sat-cu. "Kulempar kedalam jurang." jawab Hong Sat koay-ceng. "dia manusia yang paling berbahaya bagi manusia. Harus dilenyapkan." "Dan apakah engkau manusia yang paling berguna pada manusia ?" ejek Thian-sat-cu. "Thian-sat-cu, katakanlah maksudmu dengan terus terang !" tukasnya, "Engkau telah mencelakai ber-puluh2 tokoh persilatan, apakah engkau merasa masih berhak hidup di dunia ?" tanya Thian-sat-cu. "Telah kukatakan bahwa yang melakukan hal itu adalah Ngo-tok Sin-kun. Aku hanya memetik saja buah yang ditanamnya". "Dan aku yang makan buah itu." sahut Thian sat-cu. "Thian-sat-cu", kata Hong Sat koay-ceng, "kalau engkau mau membunuh aku, engkau tentu dapat melakukan karena caramu mengalahkan aku adalah secara licik." "Racun untuk mengobati racun. Bukankah demikian ajaran Ngo-tok Sin-kun ?" kata Thian-sat-cu, "engkau mencelakai Ngo-tok Sin-kun dan sekarang aku yang mencelakai dirimu. Tidakkah hal itu sudah adil dan wajar ?” Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Adil dan wajar sekali," sahut Hong Sat koay teng, "karena sebentar lagi engkaupun tentu akan dibunuh oleh anak dari. Kim Thian-cong, pemuda gundul itu." "Benarkah dia anak Kim Thian-cong?" tanya Thian-sat cu. "Ya, memang dia anak Kim Thian-cong. Ketika di kota raja waktu aku berkunjung ke rumah Cian-bin long-kun, dia pernah membuat onar." "Hm, jika begitu, dia harus kubunuh" dengus Thian-sat-cu dengan geram. "Boleh saja, kalau engkau mampu" sahut Hong Sat koayceng, "tetapi ternyata dia amat sakti sekali. Ia memiliki ilmu yang luar biasa anehnya Thiat-sat-cu terkesiap, la tahu bahwa Hong Sat koay-ceng atau imam aneh Pasir Kuning dari Tibet itu memiliki kepandaian yang sakti. Tetapi kalau ia sampai kalah dengan bocah gundul itu, jelas bocah itu tentu ada apa2nya. "Dan jangan lupa, bahwa Pengawal Baju Putih serta Baju Merah itu akan membunuhmu juga. Mereka hanya mau mendengar perintahku," kata Hong Sat koayceng pula. Thian-sat-cu termenung diam. "Bagaimana, apakah engkau tetap akan membunuh aku ?" tanya Hong-sat koay-ceng. "Hm," dengus Thian-sat-cu, "engkau kubebaskan dari kematian asal engkau mau menurut beberapa syaratku," "O, bagaimana syaratmu itu?" tanya Hong sat koay-ceng "Pertama. Thian tong-kau tetap berdiri. Sebagai ketuanya adalah aku. Dan engkau kuangkat sebagai wakilku. Kedua, engkau harus memberitahu kepadaku cara untuk menguasai Tiraikasih website http://kangzusi.com. kedua barisan pengawal Baju Putih dan Baju Merah itu. Ketiga, anak dan keluarga Kim Thian-cong harus kita basmi sampai se-akar2nya. "Oh, rupanya engkau mempunyai dendam kesumat besar sekali kepada Kim Thian-cong" kata Hong Sat koayceng. "Ya. dia adalah musuhku nomor satu didunia ini. Sayang sudah mati. Tetapi aku tetap akan membalas anak dan keluarganya," kata Thian-sat-cu. Hong-sat koay-ceng menimang. Dalam keadaan seperti saat ilu dimana dirinya telah dikuasai, tak mungkin ia dapat lolos. Tadi ia telah coba2 untuk mengerahkan tenaga-dalam melepaskan diri dari cekalan orang. Tetapi ia terkejut ketika mengetahui bahwa Thian-sat-cu memiliki tenaga-dalam yang luar biasa hebatnya. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya ia mendapat akal, serunya : "Baiklah, aku mau menerima syaratmu itu, juga dengan syarat". "Apa ?" "Pertama engkau harus membuktikan bahwa engkau benar2 layak menjadi pemimpin Thian tong kau. Sebagai bukti, engkau harus mampu mengalahkan anak dari Kim Thian-cong, sipemuda gundul itu " "Hanya itu ?" Thian-sat-cu menegas. "Ya, cukup itu saja jawab Hong-sat koay-ceng. "Baik. tunggulah " tiba2 Thian-sat-cu menutuk punggung paderi lhama itu sehingga tak berkutik. Memang Thian-sat-cu si Algojo-dunia itu seorang yang licin dan ganas. Ketika Ngo Tok Sin-kun mendirikan Thian-tong-kau di gunung Thaysan, bermula Thiat-sat-cu marah. Tetapi karena Tiraikasih website http://kangzusi.com. kekuatan Thian-tong-kau amat besar dan Ngo Tok Sin-kun itu juga sakti, maka Thiat-sat-cupun tak berani gegabah bertindak. Ia hendak mencari kesempatan yang baik. Setelah melakukan penyelidikan beberapa waktu, akhirnya ia menyaksikan suatu peristiwa yang tak di-duga2. Saat itu ia hendak melakukan penyelidik pada waktu tengah malam ke markas Thian-to kau. Tiba2 ia melihat sesosok bayangan hitam menghampiri ke markas. Ia terkejut. Orang itu memiliki gerakan yang ringan sekali sehingga hampir tak timbulkan suara. Segera ia mengikuti jejaknya dengan diam2. Ternyata orang itu menuju ke ruang kediaman ketua Thian-tong-kau yang menyamar sebagai Kim Thian cong. Dengan tiba2 ia taburkan segenggam pasir-kuning kearah ketua Thian-tong kau itu. Ngo-tok Sin-kun saat itu sedang membaca kitab untuk membuat ramuan obat yang dapat membuat orang kehilangan kesadaran dirinya. Ramuan itu bukan seperti yang terdapat di dunia persilatan umumnya, tetapi harus yang lebih istimewa. Dengan minum ramuan obat istimewa itu, setiap kali ia kerahkan tenaga dalam untuk menyembur, maka seketika lawan tentu akan kehilangan kesadaran pikirannya dan menurut apa yang diperintahkan. Ada suatu kesulitan dalam mencari bahan ramuan obat istimewa itu. Pertama, harus menggunakan otak dari binatang buas seperti harimau, serigala dan ular untuk memperkuat sifat keganasannya. Kedua, menggunakan, otak dari binatang2 jinak yang dipelihara orang. Untuk mengembangkan sifat kejinakannya. Dan yang ketiga, adalah yang paling sukar. Yalah menggunakan otak dari orang gila, atau binatang yang kalap. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Untuk bahan ramuan yang pertama dan kedua, Ngo-tok Sin-kun telah berhasil mendapatkan. Tetapi untuk bahan ramuan yang ketiga, ia belum berhasil. Memang tampaknya mudah, tetapi sesungguhnya sukar sekali untuk mengumpulkan otak dari orang2 yang gila. Ia harus berkeliling ke seluruh kota dan desa untuk mencari orang gila. Ketika ia sedang merenungkan rencana untuk menyelesaikan pembuatan obat istimewa itu, tiba-tiba ia mendengar suara desir yang halus, macam angin berhembus. Belum sempat ia memperhatikan desir angin aneh itu, tiba2 muka dan tubuhnya terlanda oleh benda2 lembut macam pasir. Seketika ia rasakan tenaganya lunglai. Merasa kalau ada orang yang mencelakai dirinya, cepat ia menyambar sebuah botol obat terus diminumnya Tetapi pada saat itu, muncullah sesosok tubuh berjubah kuning dihadapannya. “Ngo-tok Sin-kun sudah lama aku mencarimu Ternyata engkau bersembunyi disini. Ho. hebat benar impianmu. Engkau menyaru sebagai Kim Thian cong dan mendirikan partai Thian-tong-kau untuk menguasai seluruh dunia persilatan," seru pendatang aneh itu. "Siapa engkau !" seru Ngo-tok Sin Kun. "Engkau lupa? Heh, heh, "orang itu tertawa mengekeh seram, "engkau lupa akan peristiwa dikuil Pek-liong-bio digurun Gumutak yang lampau." "Peristiwa apa ?" masih Ngo Tok Sin-kun be lum teringat. "Engkau telah mencuri kitab tentang ilmu racun dari kuil Pek-liong-bio. Engkau yang makan nangkanya, aku yang kena getahnya. Guruku marah dan menuduh aku yang mencuri." "Bukankah hal itu atas petunjukmu ?" kini Ngo Tok Sin kun mulai teringat. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Hm," dengus Hong Sat koay-ceng, "tapi engkau telah menghianati perjanjian kita. Engkau membawa lari kitab itu sedang aku telah dihukum guru. Ngo-tok Sin-kun pucat, namun masih dapat ia membantah : "Kitab dari kuil Pek-Iiong-bo di Gumutak itu hanya berisi tentang racun dari binatang yang hidup di gurun pasir. Lain2 ilmu kepandaianku kuperoleh dan lain sumber." "Tidak peduli" teriak Hong Sat koayceng, "tetapi pokoknya engkau berhianat kepadaku dan melarikan sebuah kitab pusaka dari kuil Pek liong-bio. "Hm." dengus Ngo-tok Sin-kun "lalu apa yang engkau kehendaki sekarang ?" "Jiwamu !" seru Hong-sat koay-ceng. "O. itu mudah, asal engkau mampu menyambuti ini ... " serentak dengan kata2 itu, tangan Ngo Tok Sin-kun berayun. Tampak beberapa benda kecil panjang macam tali. bergeliatan melayang di udara lalu meluncur ke arah Hong Sat koay-ceng. Tetapi Hong Sat koay-ceng atau lhama aneh yang memiliki ilmu pasir kuning, sudah siap. Selekas Ngo-tok Sin-kun ayunkan tangan, ia segera ia tahu bahwa tokoh lima Bisa (Ngo Tok) itu tentu melepaskan binatang beracun. Maka iapun segera menaburkan segenggam pasir kuning. Disebut pasir kuning karena pasir itu bukan pasir biasa, melainkan pasir yang berasal dari sebuah guha terpendam yang secara tak ter-duga2 telah diketemukannya di tengah gurun pasir. Guha itu berisi pasir yang warnanya kuning. Setelah di selidiki ternyata guha itu merupakan sarang dari sejenis binatang yang mirip dengan trenggiling jaman purba. Tumpukan bangkai trenggiling gurun pasir, be-ratus2 tahun kemudian hancur lebur menjadi keping2 pasir warna kuning. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Pasir itu selain keras pun mempunyai daya yang aneh. Apabila menyentuh kuiit, kulit segera berobah kuning dan racun pasir itu akan segera melumpuhkan tenaga orang. Ber-tahun2 Hong Sat koay-ceng melatih tangannya dibenam dalam pasir kuning itu, Setelah kebal lalu ia mulai meyakinkan ilmu pukulan Pasir Kuning. Jika ia kerahkan tenaga dalam maka dapatlah ia memancarkan arus tenaga yang membuat lawan lemas lunglai seperti orang yang terserang penyakit kuning. Dengan ilmu kepandaian dan senjata rahasia istimewa itu, Ihama dari kuil Pek-liong-bio yang semula bernama Panda Ihama, telah disebut orang sebagai Hong Sat koay-ceng. Ayunan tangan dari Ngo-tok Sin-kun berisi dari lima ekor ular kecil berwarna kuning emas. Ular itu mengandung racun yang luar biasa ganasnya. Tetapi karena ditabur dengan pasir kuning maka ular emas itupun berhamburan jatuh. Melihat itu Ngo-tok Sin kun terkejut dan terus hendak melarikan diri tetapi Hong Sat-koay-ceng cepat dapat mengejarnya. Dalam pertempuran itu tenyata Hong Sat koay-ceng lebih unggul. Ia berhasil memukul rubuh Ngo-tok Sin-kun lalu melemparkan kedalam jurang. Tiba2 ia mendengar suara orang tertawa panjang : "Ha, ha, ... kata orang, manusia itu membanggakan diri sebagai mahluk yang tertinggi. Mahluk yang paling pintar dan paling baik. Tetapi nyatanya, pintarnya untuk memintari orang, kemanusian untuk melenyapkan manusia. Kalau seriga la makan kambing kalau harimau menerkam kerbau, itu jelas. Tetapi tidak ada serigala yang makan serigala, harimau yang menerkam harimau. Karena mereka adalah sesama jenis kaumnya. Tidak demikian dengan manusia. Manusia makan manusia, sahabat menggasak sahabat.” Tiraikasih website http://kangzusi.com. Hong Sat koay-ceng terkejut, teriaknya: "Hai, siapa itu !" Ia terus memburu ketimur, karena jelas suara itu dari arah timur. Tetapi hanya angin yang berhembus dari semak gerumbul yang diperolehnya. “Ha..ha… manusia menganggap diri paling kuasa. Bisa melahirkan manusia dan berhak membunuh manusia. Tetapi ingat hukum karma, barang siapa berbuat tentu akan memikul akibat. Hutang jiwa tentu harus bayar jiwa. Karena manusia itu hanya dititahkan untuk hidup dan menghidupkan. Tetapi tak kuasa untuk mencabut jiwa lain manusia. Siapa bilang, di tempat sepi tiada orang yang tahu perbuatan jahat. Yang dibunuh tahu, yang membunuhpun tahu. Thian pun tahu. Jadi jangan menganggap kalau tiada orang yang tahu, ha, ha, ha ..” "Hai, siapa itu ! teriak Hong Sat koay-ceng dengan marah. Ia terus menyerbu kebarat. Kali ini ia yakin, orang itu tentu berada di sebelah barat. Tetapi untuk kedua kalinya ia kecele. Hanya angin yang ditemukan. "Ha, ha. ha ... bayangan hanya dapat dilihat dari jauh, jangan didekati, dia akan menghilang. ha, ha, ha ... " Suara itu makin lama makin jauh dan akhirnya lenyap ditelan kesunyian malam. Hong Sat koay ceng terkejut, la tak menyangka bahwa di tempat yang sesunyi itu, terdapat seorang tokoh yang sesakti itu kepandaiannya. Siapakah dia ? Adakah dia tokoh dari Thian-long kau?. Ah. tak mungkin kalau orang Thian-tong-kau tentu akan membela Ngo-tok Sin kun. Lalu siapakah dia ? Dia mengatakan bayangan…” Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Hai. apakah dia bukan Bu Ing lojin ?” teriak Hong Sat koay-ceng ketika teringat akan seorang tokoh yang bergelar Bu Ing atau Tanpa bayangan. “Ah peduli apa”, akhirnya ia menggeram. Seorang lelaki berabi berbuat harus berani tanggung jawab.” Dan Ngo tok Sin-kun itu memang seorang manusia jahat. Dia mempelajari ilmu racun untuk menguasai kaum persilatan. Manusia macam begitu harus dilenyapkan dari dunia !' Kemudian ia hendak kembali ke markas. Thian-sat-cu yang selama itu bersembunyi untuk mengikuti gerak gerik Hong Sat koay-ceng tahu apa yang terjadi semua. Tetapi diam2 iapun terkejut ketika mendengar gelak tawa dari orang aneh tadi. Ia sendiri tak melihat suatu apa, hanya mendengar gelak tawa dan suaranya untuk mengejek Hong Sat koay-ceng. Seperti Hong Sat koay-ceng. ia sendiri juga bingung memikirkan siapa orang aneh itu. Thian sat-cu tetap mengikuti gerak gerik Hong Sat koayceng di markas Thian-tong-kau, ternyata Hong Sat koay-ceng telah menyediakan rencana yang baru;. Ia mencari seorang tokoh silat yang tunduk padanya dan didudukkan sebagai ketua Thian-tong-kau. la suruh Cian-bin-long-kun untuk menghias orang ilu sehingga menyerupai Kim Thian-cong. Kemudian Hong Sat koayceng sendiri menjadi pengacara baju merah untuk memimpin upacara sembahyangan peresmian Thian-tong-kau. Tetapi manusia boleh merencanakan Tuhan yang menentukan. Muncullah beberapa tokoh silat yang menentang upacara itu sampai akhirnya muncul beberapa orang kembar. Pengacara kembar. Blo'on kembar dan lain2 gangguan. Blo'on kesatu, ternyata penyamaran dari Cian bin-long-kun. Hal itu memang diatur oleh Hong Sat koay-ceng untuk Tiraikasih website http://kangzusi.com. memancing munculnya Blo'on yang aseli. Kemudian memang muncul Bloon kedua. Bermula diduga Blo'on kedua itu tentulah Blo'on aseli tetapi diluar dugaan ternyata muncul pula pemuda gundul yang mengaku Blo’on. Dan betapa kejutnya ketika Blo'on kedua itu sadar lalu menggabung pada seorang kakek sinting yang mengaku bernama Lo Kun. Bermula Hong Sat koay-ceng sendiri heran, mengapa dia sendiri demikian juga sekalian anakbuah Thiantong- kau seperti terkena suatu kekuatan gaib yang tak kelihatan tetapi menyebabkan mereka terpaku diam seperti patung. Dan mengapa pula tiba2 kekuatan itu hilang sendiri dan terjadi suatu perobahan lagi. Sekalian anakbuah Thian-tongkau seperti terbangun dari tidurnya dan Blo'on kedua itupun segera menyadari diri kalau dirinya bukan Blo'on, lalu bergabung pada kakek Lo Kun. Jika Hong-sat koay-ceng tak tahu itu memang tak dapat dipersalahkan. Karena semua kekuatan gaib yang mencengkam suasana panggung tak lain dan pancaran ilmu dari Rajendra Singh yang bersembunyi dalam lingkungan celah2 batu karang, ilmu itu disebut Sip-hun-kang atau ilmu Pengikat jiwa sebuah ilmu dari Thian-tiok yang dapat digunakan untuk menguasai kesadaran pikiran orang, Mengapa Liok sian-li tiba2 berobah menjadi Blo'on kedua ? Hal itu juga ada ceritanya. Ketika Liok Sian Ii ditinggal oleh Ceng Sian suthay yang kembali ke gunung Lo-hu-san untuk menghadiri rapat ketujuh ketua partai persilatan maka Ceng Sian suthay telah mengadakan perjanjian dengan Liok Sian Li supaya menunggu saja dikaki gunung Thay-san. Beberapa ketua partai persilatan Tiraikasih website http://kangzusi.com. itu tentu akan menuju ke gunung Thay-san untuk memenuhi undangan Kim Thian-cong ketua Thian-tong kau. Maka setelah Liok Sian-li gagal untuk mencari jejak Blo'on yang hilang dikotaraja, terpaksa ia terus berangkat ke Thaysan. Berhubung tugasnya sebagai kepala cabang Kay-pang di kotaraja, terpaksa Ong Cun tak dapat mengantar nona itu. Ketika hampir tiba dikaki gunung Thay-san tiba2 Sian-li harus mengalami peristiwa yang tak menyenangkan. Dia bertemu dengan seorang paderi dari Thian-tiok. Ia tak kenal siapa paderi Thian-tiok itu tetapi tahu2 paderi India itu terus hendak menangkapnya. Paderi Thian-tiok itu bukan lain adalah Rajendra Singh. Dia penasaran dan marah karena Hong Ing dapat lolos, ia terus mencari ke-mana2 Dalam perjalanan, ia mendengar kabar tentang munculnya seorang Kim Thian-cong di gunung Thaysan. la heran mengapa Kim Thian-cong yang sudah mati tiba2 bisa hidup lagi di gunung Thay-san. Maka berangkatlah ia ke gunung untuk menemui Kim Thian-cong. Tiba di sebuah hutan tak berapa jauh dan kaki gunung Thay-san ia melihat Liok Sian-li sedang berjalan seorang diri. Seketika memberingaslah ia. Ia menganggap Liok Sian-li itu adalah Hong Ing yang melarikan diri itu. Memang umur dan wajah kedua nona itu hampir sama. "Hai. budak, hendak lari kemana engkau ?" teriaknya seraya lari menyerbu. Sudah tentu Liok Sian-li terkejut dan loncat menghindar : "Hai, paderi. siapa engkau mengapa engkau hendak menyerbu aku ?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Gila, engkau jangan berlagak pilon, budak. Hayo, serahkan dirimu, kalau engkau tak minum pil lagi, dalam sepuluh hari jiwamu tentu melayang.” "Ih, aneh” seru Liok Sian-li, "siapa yang minum pil ?" "Engkau, budak perempuan." teriak paderi Thian-tiok yang bukan lain adalah Rajendra Singh. la mengira kalau tak minum pil maka pikiran nona itu jadi sadar dan tak kenal lagi kepadanya, terus menyerang Liok Sian-li. Melihat paderi India itu sangat liar dan tak kenal aturan. Sian-li pun marah. Ia kira paderi itu tentu seorang paderi cabul yang gemar merusak kehormatan anak gadis. Maka iapun segera mencabut pedang dan menyerangnya. Tetapi sambil berloncatan menghindar tak henti2nya mulut Rajendra Singh berkumat-kamit, matanya memandang mata Sian li dengan tajam. Aneh, makin lama gerakan pedang Sianli lambat dan makin lambat sampai pada pedang dilepaskan dan ia berdiri tegak seperti patung. "Hm, budak perempuan, bukankah sekarang engkau tunduk dan taat padaku seru Rajendra Singh. Sian Ii mengangguk. "Jawab dengan perkataan !”, seru Rajendra. "Ya. aku tunduk" kata Sian-li. "Engkau mau melakukan semua apa yang kuperintahkan ?" "Ya, mau." "Baik, sejak saat ini engkau harus meltakukan apa saja yang kuperintahkan. Tidak boleh membantah mengerti ?" "Mengerti", sahut Sian-li. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Sekarang makanlah pil ini," kata Rajendra. Singh seraya menyerahkan sebutir pil warna hitam sebesar biji jambu. Sian-li segera menyambuti terus ditelannya. "Ingat, tiap sepuluh hari, engkau harus makan pil. Kalau aku lupa, engkau harus minta. Jika tidak makan pada waktunya, urat pada otakmu akan putus dan engkau tentu mati atau jadi gila, tahu ?" "Ya, tahu," sahut Sian-li pula. "Nah, sekarang lakukan perintahku. Jawablah! pertanyaanku ini." seru Rajendra, "engkau kenali dengan pemuda yang bernama Blo'on". "Kenal " "Engkau masih ingat akan bentuk wajah dan potongan rambutnya ?" “Masih." "Nah, sekarang, cukurlah rambutmu menurut potongan rambut si Blo'on itu." Tanpa banyak bicara, Sian-li menjemput pedang yang jatuh di tanah lalu memotong rambutnya yang bagus. Kepalanya hampir gundul, hanya disisakan dua untai kuncir pada sebelah kanan dan kiri. "Bagus, rambutmu sudah mirip, sekarang tinggal raut wajahmu. Mari ikut aku" kata Rajemdra seraya ayunkan langkah. Sian-li mengikutinya. Ternyata Rajendra menuju kesebuah telaga kecil dan memerintahkan supaya Sian-li bercemin permukaan air. "Buatlah wajahmu supaya mirip dengan Blo’on" seru Rajendra Sigh. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Sian-li pun melakukan perintah itu tanpa banyak omong. Karena Bloon itu sukonya, sudah tentu ia faham sekali akan raut wajahnya. Tak berapa lama berdandan wajahnya memang mirip dengan Blo'on. "Sekarang pakailah pakaian ini" seru Rajendra seraya melemparkan sebuah buntalan berisi pakaian anak laki. Tanpa membantah, Sian-Ii pun segera memakainya. Kini Sian-li bukan lagi seorang gadis yang cantik tetapi menyerupai Bio’on. Setelah itu baru Rajendra Singh mengajaknya naik ke atas gunung Thay-san. Tiba di markas Thian-tong kau, Rajendra melepaskannya supaya masuk sendiri. Sedang ia bersembunyi di antara celah- batu karang. Disitu ia melancarkan ilmu Sip hun-kan untuk menguasai dan mengemudikan gerak-gerik dan ucapan Sian Ii. Rajendra Singh hanya menguasai pikiran Sian-li agar ia tetap menganggap dirinya sebagai BIo'on. Dalam alam pikiran sebagai Blo'on,. Sian-li dapat mengingat hubungannya dengan Ceng-Sian thay dan Hoa Sin serta Hong Hong lojin. Itulah sebabnya ia perlu turun panggung dulu untuk mencari mereka. Dan karena ia juga membawa beberapa biji buah Hay-te-cian lian-som atau buah som dari dasar laut yang berumur seribu tahun, maka buah itupun segera diberikan untuk mengobati ketiga ketua partai persilatan yang menderita luka itu. Kemudian ketika kakek Lo Kun muncul ia masih ingat. Memang luar biasa juga ilmu Sip hun kang (Pengikat-jiwa) dari Rajendra Singh itu. Segala ingatan dan pengalaman dari Bloon, Sian-li ingat dan tahu semua. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Di lain fihak penyamaran Cian-bin-long-kun atau si Wajah Seribu itupun hebat sekali. Dia benar2 mirip dengan Blo'on. Memang keahlian dari Cian-bin-long-kun itu adalah dalam soal menyamar Bahkan dalam kerjasama dengan Gui thaykam untuk mencuri harta pusaka dalam keraton, pernah Cian-binlong- kun menyamar sebagai baginda raja dan memerintahkan penjaga gudang penyimpan harta, supaya benda2 pusaka keraton dikeluarkan. Itulah sebabnya ia berhasil mengumpulkan harta pusaka sampai tiga peti dan diam2 disembunyikan dipulau kosong. Cian-bin-long-kun memuji kecerdikan Gui-thaykam. Agar pencurian harta pusaka keraton itu jangan sampai menimbulkan kegemparan, maka Gui thaykam telah membuat tiruan pada setiap macam benda pusaka. Dengan demikian gudang itu tetap, berisi dengan harta permata tetapi bukan asli lagi. Adanya Cian- bin-long kun sampai menyaru jadi Blo'on dan muncul di atas panggung Thian tong-kau adalah dengan persetujuan dari gurunya. Hong Sat-koay-ceng yang menyamar sebagai pengacara baju merah. Tujuan Cian-binlong kun tak lain hanyalah hendak memancing kemunculan Blo'on. yang asli. Demikian yang terjadi di atas panggung Thian tong kau yang saat itu berobah menjadi medan pertempuran hebat. Serunya pertempuran, tegangnya suasana telah menyelimpatkan kelalaian orang untuk memperhatikan tentang lenyapnya seseorang. Orang itu bukan lain adalah pengacara kedua yang muncul di panggung dan tuduh menuduh dengan pengacara baju merah tadi. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Kemanakah gerangan lenyapnya orang itu ? Tiada sorangpun yang memperhatikan. Tiada seorangpun yang mengurus. Yang nyata orang itu telah menyelinap lolos. Melihat pemuda gundul itu dapat mengalahkan Blo'on kesatu dan menelanjangi Blo'on kedua yang ternyata penyamaran dari Liok Sian-li, kakek Lo Kun hendak menghampiri pemuda gundul. Tetapi dia segera dikepung oleh barisan bocah. "Setan cilik, mau apa engkau ?." teriak Lo Kun. "Menangkapmu," sahut salah seorang bocah baju kuning. "Gila, engkau bocah kecil mengapa hendak menangkap orang tua ?" "Engkau mengacau panggung ini " "Siapa bilang aku mengacau ? Aku hendak mencari cucuku yang bernama Blo'on. Aku membawa mainan yang hebat hendak kuberikan padanya" "Mainan apa ?" tanya bocah itu. Lo Kun mengeluarkan kumala merah yang berbentuk seperti naga terbang, serunya: "Mainan begini apa engkau tak suka ?" "Suka. suka" serentak kawanan bocah baju kuning berteriak. "Jangan bergembira dulu, bocah." seru Lo Kun, “karena yang ini sudah menjadi milik cucuku Blo'on. Kalau kalian ingin, nanti kuambilkan lagi" "Ya, ambilkan saja." seru seorang bocah. "Kemana ?" lain bocah bertanya. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Ke pulau kosong" "Kakek linglung ! Kakek gila ! Kawan2, mari kita hajar dan rampas mainan kakek itu," teriak kawanan bocah baju kuning. Mereka segera menyerbu Lo Kun. Lo Kun terpaksa melayani. Dalam perkelahian itu mulutnya tak henti2nya mengomel : "Ah, malu. Mengapa seorang kakek tua harus berkelahi dengan anak kecil" "Hai, setan2 kecil, jangan teruskan perkelahian ini" serunya sesaat kemudian. "Kenapa ?" kawanan bocah baju kuning itu heran. "Aku malu, seorang kakek harus berkelahi dengan anak kecil. Panggil saja kakekmu atau nenekmu kemari." "Engkau tak perlu malu. Kalau engkau mampu mengalahkan kami berenam, ini tandanya engkau seorang kakek jempol" "Tidak, umurku jauh lebih tua. layak menjadi kakekmu. Aku tak mau berkelahi dengan anak2.” "Ho, engkau keberatan soal umur ? Berapa umurmu sekarang ?" seru bocah itu. "Lebih dari seratus tahun " seru Lo Kun. "Kami rata2 berumur sepuluh sampai duabelas tahun. Kalau enam orang jadi lebih kurang baru berumur tujuhpuluh tahun. Jika begitu, tunggu" bocah itu berpaling kearah kawanan bocah baju biru, serunya "Hai, kawan2, kemarilah untuk menjangkepi umur kita !" Saat itu kawanan bocah baju biru sedang mengepung Liok Sian-li. Mendengar panggilan bocah baju kuning mereka Tiraikasih website http://kangzusi.com. tinggalkan Sian-li dan berhamburan mendatangi ketempat kawanan bocah baju kuning. Nah, sekarang tambah enam orang Iagi. Jadi semua berjumlah duabelas. Kalau rata2 kami berumur sepuluh tahun gunggung kepruk kita sudah berumur seratus duapuluh tahun. Lebih tua dari engkau. Apakah engkau mau berkelahi dengan kita sekarang ?" seru bocah baju kuning itu kepada Lo Kun. "Ya. aku mau ... eh nanti dulu." kakek Lo Kun tiba2 hentikan kata2, "memang kalian lebih tua dalam hal umur, tetapi jumlah kalian duabelas orang sedang aku hanya seorang. Adilkah itu ?" Kembali bocah baju Kuning itu terbungkam tak dapat menjawab. Memang alasan kakek itu tepat. "Kita bergabung jadi satu" tiba2 seorang bocah baju biru berseru. "Betul" sambut kawanan bocah baju kuning "hayo, kita saling bertumpuk." Seorang bocah baju kuning yang paling tua Umurnya sepera tegak berdiri. Seorang bocah baju kuning lain segera loncat duduk pada kedua bahu bocah yang pertama Lalu bocah yang ketiga duduk dibahu bocah kedua, bocah keempat pada bahu bocah ketiga, bocah kelima duduk pada bahu bocah keempat, bocah keenam duduk pada bahu bocah kelima. Dengan demikian jadilah sebuah tumpukan manusia tinggi. Melihat itu barisan bocah baju birupun meniru. Mereka saling duduk di bahu kawannya sehingga menjadi seorang raksasa tinggi. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Bagus, kalian memang bocah cerdas,"' seru Lo Kun gembira, "sekarang baru aku mau berkelahi. Demikian dua raksasa baju kuning dan baju biru segera menyerang kakek Lo Kun. Kakek itu terkejut ketika keenam bocah itu serempak melepas pukulan, hebatnya bukan alang kepalang. Kakek Lo Kun terdampar beberapa langkah ke belakang. Di situ dia disambut oleh pukulan serempak dari raksasa bocah baju biru. Ia terdampar balik ke muka. Untuk sesaat kakek Lo Kun tak berdaya. Ia menjadi semacam bola yang dipukul kesana dipukul kemari. Karena tak tahan, kakek itu menjerit keras lalu loncat menghindar ke belakang. Ah, ternyata raksasa bocah baju kuning itupun mengikuti berputar ke belakang. Lo Kun berputar lagi ke kiri, merekapun berputar ke kiri. Tetapi karena harus berdiri ber-tumpuk2an, gerakan kawanan bocah kuning itupun agak lamban, demikian pula dengan barisan bocah baju biru. Lo Kun memang seorang kakek yang linglung tetapi dalam ilmu berkelahi ternyata ia sering mempunyai pikiran yang baik. Begitu melihat kelambanan gerak kedua barisan bocah itu, segera ia mendapat akal. Dan ber-putar2lah ia makin lama makin cepat untuk mengitari kedua barisan bocah itu. Tetapi kedua barisan bocah baju kuning dan baju biru itu juga pintar. Mereka berhenti dan tegak berdiam diri tak mau mengikuti gerakan si kakek. Yang satu menghadap ke muka dan yang satu menghadap ke belakang. Dengan demikian Lo Kun mati kutu juga. "Kakek, minggirlah, biar aku yang menghajar anak2 setan itu," tiba2 pemuda gundul berseru seraya maju menghampiri kedua barisan bocah. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Turun !" teriak pemuda gundul memberi perintah. Kedua barisan bocah itupun berhamburan loncat turun. "Kalian boleh maju semua mengeroyok aku" seru pemuda gundul pula. Kawanan bocah baju kuning dan baju biru itu sudah melihat sendiri bagaimana pengacara baju merah tadi telah dikalahkan oleh pemuda gundul itu. Maka marekapun tak mau banyak bicara lagi dan terus berhamburan menyerang pemuda gundul itu. "Aduh. aduh, aduh ... " terdengar jerit teriakan dari kawanan bocah baju kuning dan baju biru ketika mereka terpental ke belakang. Mereka heran. Ketika melancarkan serangan pemuda gundul itupun menirukan apa saja yang di lakukan kawanan bocah itu. Duabelas macam gerak serangan dari keduabelas bocah itu dilakukan dengan serempak oleh pemuda gundul itu. Seperti terasa suatu tenaga pantulan yang hebat dari gerakan pemuda gundul itu hingga kedua belas bocah itupun terpental dan mengaduh. Tetapi rupanya mereka masih penasaran. Cepat mereka menyerbu lagi dengan serangan yang lebih dahsyat. Tetapi hasilnyapun bahkan malah membuat mereka menjerit dan berteriak makin keras. Apa saja, baik gerak maupun tenaga-dalam yang dipancarkan dari kedua belas bocah itu, seperti mendampar balik kepada mereka sendiri. Aneh, aneh, aneh ... demikian mereka berpikir dan berpikir tanpa mengerti jawabannya. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Dalam pada itu setelah bebas dari gangguan kawanan bocah, kakek Lo Kun lalu cari perkara. Sebenarnya ia hendak mencari Sian-li, tetapi ketika dilihatnya saat itu Sian-li sedang dikepung oleh selusin dara cantik baju merah, segera kakek Lo Kun ber-lari2 dengan gembira. "Sian-li, menyingkirkan berikan dara2 ayu itu kepada kakekmu." serunya seraya terus menyerbu ke tengah mereka. Saat itu sebenarnya Sian-li sedang kewalahan juga menghadapi lawan. Ia menghela napas longgar ketika mendengar Lo Kun hendak membantu. Serentak ia loncat mundur. Tetapi secepat itupun ia sudah disambut oleh keduabelas dara baju hijau. "Hai, dara2 cantik, mengapa kalian hendak berkelahi ? Siapa yang suruh kalian berkelahi? Masakan anak gadis yang cantik, gemar berkelahi? Celaka, kelak calon suamimu tentu takut. Keduabelas dara baju merah itu geram2 geli menghadapi kakek limbung itu. Mereka malu juga ketika diolok oleh kakek Lo Kun. Diserangnya kakek itu dengan lebih hebat sehingga berulang kali Lo Kun harus menerima tamparan mereka. Aneh juga kawanan dara baju merah itu. Menghadapi si kakek limbung, timbullah selera mereka untuk memperolok2nya. Mereka tak mau sekaligus menghantam dengan tenaga keras, melainkan cukup menampar gundul, pipi dan punggung orang. Bahkan ada seorang dara yang nakal, telah menarik jenggot putih dari Lo Kun. Lo Kun bukannya marah kebalikannya malah tertawa gembira. Sebenarnya jika mau, kakek itu dapat mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaga untuk menghajar dara2 itu. Tetapi dasar kakek limbung dan gila paras cantik, dia tak Tiraikasih website http://kangzusi.com. sampai hati untuk menggunakan kekerasan. Akibatnya, dia sendiri harus berulang kali menerima tamparan, tabokan, gaplokan dan selentikan bahkan jenggotnya ditarik dan dicabut2. Karena merasa nikmat seperti orang dipijati maka Lo Kunpun tak mau menyudahi pertempuran itu. Dia tertawa dan gembira sekali. Sebenarnya ia lupa kalau membawa sebuah senjata yang hebat yalah ular Thiat-bi-coa yang masih melilit dipinggangnya seperti sabuk. Setelah habis kepala, muka dan dada dijadikan sasaran, dara2 itu mulai cari2. Melihat kakek itu memakai sabuk yang indah, timbullah keinginan mereka untuk mengambilnya, Dua orang dara tampak ber-bisik2. Tiba2 yang seorang loncat untuk mencabut rambut alis kakek Lo Kun. Melihat ancaman itu, Lo Kun terkejut. Tetapi demi melihat tangan dara itu putih dan halus, kakek itu ter longong2. la merasa bahwa tangan halus itu menjamah alis tetapi dibiarkannya saja. Baru setelah tangan si dara menarik rambut alisnya kakek Lo Kun merasa kesakitan. Namun ia tahan rasa sakit itu sehingga hanya menyeringai seperti seekor harimau tertawa. Pada saat si dara mencabut alis kakek Lo-Kun. kawan sidarapun sudah loncat dan menarik sabuk pinggang kakek itu. "Aiiihhh ... " tiba2 dara itu menjerit kaget dan menyabitkan tangannya. "Hiiih ... " terdengar pula dara yang mencabut alis Lo Kun itu menjerit dan berontak sekuatnya. Dan pada lain kejap, terdengar pula lain dara menjerit dan berjingkrak-jingkrak tak keruan seperti orang kemasukan setan. Apakah yarg terjadi? Tiraikasih website http://kangzusi.com. Ternyata ketika dara tadi menarik ikat pinggang kakek Lo Kun, maka ular Thiat bi-coa yang bermula melingkar diam, karena ditarik dan kaget, terus hendak menyambar muka si dara. Dara itu terkejut lalu menepiskan. Ular melayang, tepat jatuh pada lengan dara yang tengah mencabut alis kakek Lo Kun. Dara itupun menjerit dan menyiakkannya sekuat tenaga. Ular terlempar melayang ke arah dara lain, dara itu menjerit dan menyiakkan ke lain kawannya. Dengan demikian bubarlah kedua belas dara baju merah itu karena ngeri melihat ular. “Gila mengapa engkau membikin takut dara2 cantik itu?”, teriak Lo Kun seraya menyambar ular Thiat bi-coa lagi. Ia marah karena ular itu telah membuat kawanan dara cantik bubar. Tetapi ular Thiat-bi-coa diam saja. Kalau dapat bicara ia tentu akan membantah. Tetapi sayang dia hanya seekor ular yang tak dapat bicara. Bahkan karena melihat wajah Lo Kun merah padam ular itu menganggapnya gembira karena dapat membubarkan dara2 itu, Maka iapun merayap sepanjang bahu kakek Lo Kun dan menjilat2 telinganya. Saat itu pemuda gundul sudah dapat menghajar keduabelas barisan bocah Thian-tong-kau. Kawanan bocah itu benar2 kewalahan sekali. Apapun gerakan mereka, tentu pemuda gundul dapat menirukan. Apapun tenaga-dalam yang dipancarkan, tentu pemuda gundul itu cepat memancarkan juga. "Setan . , " akhirnya karena kewalahan mereka menganggap pemuda gundul itu seorang setan dan larilah mereka ketakutan. Pemuda gundul hendak menolong kakek Lo-Kun tetapi ternyata barisan gadis yang mengerubuti kakek itu sudah bubar. Kini hanya tinggal Sian-li yang masih dikeroyok Tiraikasih website http://kangzusi.com. duabelas dara baju hijau. Pemuda gundul terus ayunkan langkah hendak menolong tetapi tiba2 kakek Lo Kun sudah menghadangnya. "Hola, kalau begitu, nyata engkaulah Blo'on yang sejati !” teriak kakek Lo Kun seraya maju menghampiri. "Sudahlah, nanti kita bicara lagi. Sekarang kita tolong pemuda kuncir yang sedang dikeroyok kawanan dara baju hi|au itu," seru pemuda gundul. "Ah. engkau salah", seru kakek Blo'on. "dia bukan pemuda berkuncir tetapi seorang nona. Adik seperguruanmu Liok Sianli. Gila, masakan engkau lupa ?" "Masakan kalau Sian li dandanannya seperti seorang pemuda sinting begitu ?" tanya pemuda gundul. "Heh, heh, itulah perwujutan rupamu sendiri" Lo Kun tertawa, "kalau engkau ingin melihat tampang mukamu, ya, seperti itulah !" "Akan kutanya kepadanya, benarkah dia itu Sian-li." kata pemuda gundul seraya melangkah. "Tunggu", teriak kakek Lo Kim pula seraya dorongkan kedua tangannya kemuka, "aku hendak memberi hadiah kepadamu sebuah benda mainan yang tak ada keduanya di dunia" Habis berkata kakek itu terus mengeluarkan batu giok merah berbentuk seekor naga terbang dan terus diangsurkan kepada pemuda gundul. Tiba2 terdengar suara orang berteriak meleng king : "Hai. tunggu dulu" Kakek Lo Kun terkejut dan berpaling, tahu2 seekor kera loncat menubruk mukanya. Ia memekik kaget dan menyingkir Tiraikasih website http://kangzusi.com. kesamping tetapi saat itu, tangannya terasa ditusuk benda tajam. Ia menjerit lagi dan membuka genggamannya ..... "Hi, hi. hi ... " terdengar suara seorang nona tertawa mengikik seraya memandang sebuah benda yang dipegangnya, "Oh, sungguh bagus sekali mainan ini." Lo Kun tahu apa yang terjadi. Di atas panggung itu muncul pula seorang nona cantik membawa seekor kera hitam dan seekor burung rajawali. Kera itulah yang hendak menerkam mukanya dan rajawali itulah yang telah mematuk tangannya lalu merebut kumala merah dan diberikan kepada sinona. "Kurang ajar !" teriak Lo Kun, 'itu punya si Blo'on, mengapa engkau berani merebut ?" "Eh, kakek, apa engkau masih punya yang lain?" bukan menjawab tetapi nona itu malah bertanya lagi. ' Punya" sahut Lo Kun tanpa sadar. Ia mengeluarkan kumala hijau berbentuk burung hong. "inilah pasangannya. Tetapi ini hendak kuberikan kepada Sian li, jangan engkau rampas. "Berikan kepadaku" teriak nona itu yang bukan lain adalah Ui Hong Ing. Setelah berhasil menumpas Rajendra Singh, nona itu segera mengajak kedua binatang peliharaannya menuju ke panggung. Melihat ramai2 orang bertempur di atas panggung, nona itupun terus ayunkan tubuh melayang ke atas panggung. Tepat pada saat itu ia melihat kakek Lo Kun tengah menyerahkan kumala merah kepada pemuda gundul. Segera ia suruh kera hitam dan rajawali untuk merebutnya. “Mana si Bloon itu?”, tiba2 nona itu berseru kepada kakek Lo Kun. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Baru Lo-Kun hendak berpaling kearah pemuda gundul, nona itu atau Hong Ing sudah loncat ke hadapan Sian-li. "Ho, ternyata engkau masih hidup, Blo'on !" serunya sambil memandang Sian-li tajam2. Sian-li saat itu masih berdandan sebagai seorang pemuda dan rambutnya sudah terlanjur dipapas habis dan disisakan dua ikat kuncir, memang sepintas pandang mirip dengan Bloon. "Ih, siapa engkau !” teriak Sian-li dengan heran. "Setan, engkau lupa padaku? Hayo, coba pandang aku sampai engkau ingat siapa aku ini !" seru Hong Ing. Sian-li ter-longong2 heran. Ia benar2 tak kenal siapa nona itu. "Bukankah engkau si Blo’on yang tenggelam dalam telaga dahulu itu ?" tanya Hong Ing yang berusaha untuk membangkitkan ingatan orang. Tetapi Sian-li kerutkan dahi makin dalam. "Siapa yang kecebur dalam telaga ? Ih, jangan engkau bicara sembarangan !" serunya. "Kurang ajar, engkau tak ingat lagi ... " tiba2 ia hentikan kata2 karena serentak ia teringat bahwa Blo'on itu memang agak sinting, tak dapat mengingat peristiwa yang lalu. "Nona, harap bicara yang jelas, siapakah engkau ini ?" seru Sian-li. "Aku Walet kuning Ui Hong Ing murid Hoa sanpay. Guruku, Kam Sian-hong. terbunuh dalam guha dan engkaulah satu2nya orang yang berada dalam guha itu. Engkau harus ikut aku, kubawa pulang ke markas Hoa-san-pay untuk diadili. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Sian-li men-decak2 : "Cet, cet, apa yang engkau katakan itu aku tak mengerti semua. Aku tak pernah ke guha, tak pernah melihat mayat gurumu mengapa engkau menuduh aku seenakmu sendiri saja?” "Blo'on." teriak Hong Ing karena tahu bahwa pemuda itu memang linglung, "bukankah otakmu masih kosong ?" "Ih, mengapa bicara tentang otak segala," desuh Sian-li, "mengapa otakku ?" "Otakmu kosong maka engkau tak dapat mengingat apa2 lagi. Bukankah aku pernah menganjurkan supaya engkau mencari otak naga?" "Otak naga ?" Sian-li makin bingung. "Ya, hanya dengan otak naga barulah otakmu yang hilang itu akan pulih kembali dan engkau tentu dapat mengingat semua perkara." "Nona" kata Sian-li dengan nada sungguh2 “aku tak pernah bertemu engkau, mengapa engkau ngoceh tak keruan ?" Namun Hong Ing tak marah. Ia bahkan malah tertawa karena menurut pikirannya, Blo'on itu memang beradat aneh dan linglurg. Masih dicobanya lagi untuk membangkitkan ingatan pemuda itu. "Siapa yang memberi nama Blo'on kepadamu? tanyanya. "Ih, mana aku tahu ?" desis Sian-li, "Bukankah engkau bernama Blo'on ?" "Tidak". "Lalu siapa namamu ?" "Perlu apa engkau tanya namaku ?" balas Sian-li. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Apa engkau keberatan ?" "Aku bertanya. apa keperluanmu ?" "Setelah engkau mengaku bernama Blo'on. engkau akan kubawa ke gunung Hoa-san untuk menerima peradilan para cianpwe Hoa-san-pay." Ya. boleh saja sahut Sian-li tenang2, "kalau aku memang bersalah". "Engkau harus memberi keterangan mengapa suhu rebah tak bernyawa dalam guha itu ?" Sian-li sebenarnya seorang nona yang halus budi. Tetapi karena terus menerus didesak pertanyaan dan tuduhan yang tak dimengerti, habis juga kesabarannya. "Jangan tanya kepadaku " serunya. “Uh, kalau tidak kepada engkau lalu bertanya kepada siapa?”* seru Hong Ing. "Pada suhumu itu" Sian-li makin ketus. "Kurang ajar, engkau berani mempermainkan aku," teriak Hong Ing. Ia hendak menghantam tetapi tiba2 tak jadi. Ia bersuit dan memekik : "Hai Halilintar dan Hitam, serang pemuda sinting ini!" Tetapi sampai beberapa saat, tak tampak kedua binatang itu muncul. Aneh. pikirnya. Dan ia berpaling mengeliarkan pandang ke sekeliling mencari kedua binatang itu. Hai ... kejutnya bukan kepalang ketika dilihatnya burung rajawali dan kera hitam hinggap pada bahu pemuda gundul. Setelah terkejut iapun marah. Cepat ia lari menghampiri ke hadapan pemuda gundul itu. "Hai, gundul, mengapa engkau menangkap binatang pemeliharaanku ?" bentak Hong Ing. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Huh, siapa yang mencuri binatang ini ?" sahut pemuda gundul itu tenang2. "Kembalikan burung dan kera itu, lekas !" teriak Hong Ing. "Boleh" sahut pemuda gundul seraya mendekap kera, dan melontarkan kearah Hong Ing, lain memegang rajawali dan dilontarkan juga kepada nona itu. "Hai, Hitam, Halilintar, kemari !" seru Hong Ing pula. Kera dan rajawali, segera lari menghampiri. Monyet hitam mencium kaki Hong Ing lalu lari kembali kepada pemuda gundul. Begitu pula burung rajawali, setelah sejenak hinggap dibahu Hong ing, terus terbang kembali kepada pemuda gundul. Hong Ing penasaran, Ia menghampiri si Hitam terus hendak disambarnya tetapi kera hitam itu loncat turun. Menyambar burung rajawali, burung itupun terbang keatas. Karena berulang kali gagal menangkap, Hong Ing marah dan kerahkan tenaga-dalam untuk menghantam. Tetapi cepat pula kera hitam bersembunyi di belakang pemuda gundul sehingga pemuda gundul itu yang termakan pukulan, duk ..... "Ih ... " Hong Ing menjerit kerena ia seperti ditolak oleh tenaga sebesar yang dilancarkannya sehingga harus menyurut mundur dua langkah. Kedua kali ia melancarkan pukulan, tetap ia menderita hal yang seaneh itu. Karena malu dan geram, ia segera mencabut pedang pemberian orangtua rambut putih dalam guha. Tetapi sebelum melakukan serangan, tiba2 meteka terkejut karena mendengar teriakan Sian-li. Ternyata nona itu telah menderita luka parah ketika secara tiba2 seorang pengawal Baju Putih maju dan menghantamnya. Sian-li berkelit lalu balas memukul tetapi Pengawal Baju Putih itu menangkis dan Tiraikasih website http://kangzusi.com. menjeritlah Sian-li. Nona itu terhuyung2 kebelakang mendekap dadanya. "Hai. anak perempuan mengapa engkau?" kakek Lo Kun cepat loncat menyanggapi tubuh Sian-li. Sian-li pejamkan mata, wajahnya pucat lesi la tak menyahut pertanyaan kakek Lo Kun. melainkan mengambil bungkusan obat dari bajunya. Ia menelan tiga butir benda sebesar buah kelengkeng. setelah itu duduk mengambil pernapasan. "Hai, anak perempuan, aku harus menolongnya dulu. Nanti kita selesaikan perhitungan lagi seru pemuda gundul seraya menghampiri Sian-li. Sejenak merenung, ia lalu lekatkan telapak tangannya ke ubun2 kepala Sian-li. "Mengapa itu ?" tegur kakek Lo Kun "Menyembuhkannya" sahut pemuda gundul. Kakek itu hendak bertanya lagi tetapi tiba2 pemuda gundul berseru : "Awas, ada orang menyerang dari belakangmu !” Seorang pengawal Baju Pntih yang bertubuh gemuk, tengah ayunkan tangan hendak memukul Lo Kun. Karena tak sempat menghindar, Lo Ku pun balas memukul, plak, duk ... terdengar sebuah bunyi keras. Lo Kun ber-putar2 tiga lingkaran, pengawal Baju Putihpun ter-huyung2 sampai tiga langkah. Ternyata Lo Kun telah memberikan kepalanya untuk menyambut pukulan orang. Sedang dia pun balas memukul dada. Pengawal Baju Putih itu tertegun ketika melihat kakek Lo Kun berdiri tak kurang suatu apa. Ia rasakan pukulannya tadi telah mengenai gunduk batu yang keras sekali. Kakek Lo Kun mengibas-kibaskan kepala, lalu merentang dan deliki mata kearah Pengawal Ba ju putih itu. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Siapa engkau " teriak Lo Kun dengan marah, "tidak hujan tidak angin, mengapa engkau menyerang aku ?" Pengawal Baju Putih itu tak menyahut. Hanya dari sinar matanya yang berkilat memancar api, jelas dia marah juga. "Siapa engkau " hentak kakek Lo Kun pula. Namun orang itu tetap tak menjawab, la bahkan malah maju dan mengangkat tangan hendak memukul lagi. Kali ini Lo Kun sudah siap. Begitu menghindar ke samping, iapun balas memukul. Pertempuran berjalan seru. Ternyata kakek Lo Kun, walaupun sudah tua renta, tetapi masih memiliki gerakan yang lincah. Beberapa saat kemudian, Lo Kun mendapat akal. Setelah berhasil menyiak kedua tangan orang, tiba2 Lo Kun loncat menumbukkan kepalanya ke perut orang, duk ..... Orang itu ter huyung2 dan rubuh ke lantai. Cepat ia bangun lagi. Kali ini ia mencabut pedangnya. "Ho, engkau mengajak main pedang." teriak Lo Kun, "bagus, aku sanggup melayani juga." Kakek itu tak punya senjata. Tetapi ia menarik ular Thiat-bicoa yang melilit di pinggangnya. Setelah itu berseru menantang : "Hayo, majulah..." Pengawal Baju Putih itu tak berkata sepatah pun juga. Pedang diputar, angin men-deru2 dan berobahlah pedang itu menjadi segulung sinar putih yang segera menyambar Lo Kun. "Hebat !" seru Lo Kun seraya memutar ular nya. Ular Thiatbi- coa memang seekor ular yang sakti. Selain kebal dengan tabasan senjata tajam pun tahu juga bagaimana harus menghindari serangan. Segera terlibat suatu pertempuran yang aneh dan mengagumkan. Sepintas pandang yang Tiraikasih website http://kangzusi.com. tampak hanya seekor ular warna kelabu tengah bergeliatan diantara sambaran pedang. Berulang kali tubuh ular itu tertabas, tetapi tetap tak apa2. Tiba2 terdengar raung keras dari mulut pengawal Baju Pulih itu, pedang melenting jatuh dan orangnya menyurut mundur. Ternyata ular besi berhasil menggigit tangan orang itu sehingga karena tak tahan sakit, orang itupun lepaskan pedangnya. Melihat itu kakek Lo Kun tertawa mengekeh dan menarik pulang ular Thiat-bi-coa. Tetapi tiba2 seorang pengawal Baju Putih lain, segera maju menyerang kakek Lo Kun. Lo Kun terpaksa melayani. Namun pengawal Baju Putih yang ini tidaklah sama dengan yang tadi. Jika pengawal Baju Putih yang tadi kuat sekali dalam ilmu hantaman dan tenaga gwakang adalah yang ini terasa sekali kesaktiannya dalam ilmu lenaga-dalam. Apabila Lo Kun bukan seorang kakek yang bertubuh keras dan memiliki tenaga-dalam yang hebat, tentu sejak tadi, dia sudah rubuh. Tekanan pengawal Baju Putih itu makin lama makin keras sehingga Lo Kun rasakan sekeliling tubuhnya seperti dilingkungi oleh suatu sangkar yang makin lama makin menyempit dan makin menjepit tubuhnya. Tiba2 terdengar suara raung yang sedahsyat harimau dan kedua orang itu sama terpelanting jatuh ke belakang. Pengawal Baju Putih itu terdampar, berjumpalitan beberapa langkah. Sedang Lo-Kun pun terlempar jatuh ke belakang. "Eh. mengapa engkau kakek ?" cepat Sian-li lari menghampiri. Melihat wajah Lo Kun pucat dan napasnya lemah, tahulah Sian-li kalau kakek itu sedang menderita lukadalam yang berat. Segera ia mengeluarkan tiga biji pil warna Tiraikasih website http://kangzusi.com. merah sebesar buah kelengkeng terus dimasukkan ke mulut si kakek. Dengan pil itulah ia mengobati ketiga ketua persilatan yalah Hoa Sin,Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin. Pil itu ternyata buah Hay-te-cian-Iian-som atau buah som didasar laut yang berumur seribu tahun. Yalah buah som yang diperolehnya ketika ia bersarna Blo'on tenggelam di sungai lalu tersesat masuk ke keraton dibawah laut dulu. "Apakah engkau benar Sian-li ?" tiba2 terdengar pemuda gundul menghampiri dan menegur. Sian-li mengangkat muka dan tersenyum : 'Su ko, masakan engkau lupa kepadaku ?" "Tetapi mengapa engkau berpakaian seperti seorang pemuda yang tak genah begitu ?" Sian-li lepaskan tangannya yang menunjang bahu kakek Lo Kun. Kakek Lo Kun saat itu sudah dapat duduk sendiri. Sian-ii berbangkit, memandang lekat2 pada pemuda gundul : "Ceritanya panjang sekali, suko. Aku telah dicelakai oleh seorang paderi Thian-tiok, Paden itu hendak mencari engkau". "Mencari aku? Mengapa?" tanya pemuda gundul. "Dia tahu kalau engkau putera Kim suhu. Ia pernah dikalahkan suhu dan hendak menuntut balas. Karena suhu sudah meninggal maka ia hendak mencari puteranya, engkau, untuk menerima pembalasannya". "Setan," teriak pemuda gundul, "dimana dia sekarang ?" "Aih ... " tiba2 terdengar Hong Ing berteriak kaget, "apa katamu ? Seorang paderi Thian tiok ?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. Sian-li berpaling dan mendapatkan bahwa yang bertanya itu Hong Ing, nona yang hampir saja bertempur dengan dia. Ia masih mengkal terhadap nona itu. "Bukan urusanmu !" sahutnya. "Ih, engkau memang Blo'on yang gila. Aku bertanya kepadamu justeru karena akupun dulu pernah ditangkap oleh paderi Thian tiok itu. Aku ingin mendengar keteranganmu, apakah paderi itu sama dengan paderi yang dulu mencelakai diriku itu." Hong Ing menahan sabar. "Dia minta keterangan, baiklah engkau memberi tahu kepadanya. Mungkin saja, nanti kalian lebih jelas." pemuda gundul membujuk Sian-li. "Ya, memang seorang paderi Thian-tiok yang mengenakan jubah patkwa dan suka duduk membaca mantra. "Itulah !" teriak Hong Ing. "tak salah, tentulah dia, paderi yang pernah menangkap aku dulu" "Dimana dia sekarang ?" pemuda gundul berseru. "Sudah lari, jadi orang minta2" "Jadi pengemis ?" Sian li kali ini heran dan balas bertanya, "jangan berolok2. Aku sudah memberi keterangan yang sebenarnya, engkau malah hendak bergurau" "Siapa yang bergurau ?" kata Hong Ing, "memang paderi Thian-tiok itu sekarang sudah kujadikan seorang pengemis buta". Sian-li makin merasa kalau Hong Ing memang hendak berolok2, segera ia membentaknya : "Eng kau memang seorang gadis yang lancung mulut !” habis berkata ia terus maju hendak menampar tetapi pemuda gundul cepat mencegahnya. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Bicara harus hanya pakai mulut, jangan pakai tangan " katanya. Kemudian ia berpaling ke arah Hong Ing, "engkaupun harus bicara yang genah jangan menimbulkan kemarahan orang." "Huh, peduli dia akan marah atau tidak. Itu urusannya. Tetapi aku memang bicara dengan sebenarnya, sahut Hong Ing tak puas. "Bagaimana caramu menjadikan paderi Thian tiok itu pengemis buta ?" tanya pemuda gundul. "Waktu aku tiba di gunung ini, kulihat seorang paderi tengah duduk bersembunyi di celah2 batu karang. Ternyata seorang paderi Thian-tiok dan ternyata paderi yang pernah menangkap dan menyiksa diriku dulu. Maka aku bersama kera hitam dan burung rajawali terus melancarkan serangan, eh ... kemana anjing kuning ?" tiba2 nona itu teringat akan anjing yang tak ikut muncul. "Anjing ? Bulu Kuning ?" teriak pemuda gundul. "Ya*. 'Itulah si Kuning !" Hong Ing terkejut : "Engkau tahu akan anjing itu?' Pemuda gundul tertawa "Bukan cuma tahu tetapi anjing itu memang milikku." Hong Ing terbelalak : "Milikmu ?. Dari mana engkau dapat memiliki mereka ?" "Aku sendiri juga tak ingat," sahut pemuda gundul, "hanya tahu2 aku sudah mempunyai tiga ekor binatang, kera, anjing dan rajawali." Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Ngaco" bentak Hong Ing terus hendak menyerang tetapi ia segera menjerit ketika pengawal Baju Putih telah tiba dan menghantamnya. Pemuda gundul terkejut. Cepat ia menyambar tangan Hong Ing dan ditariknya, sedang ia memberikan tubuhnya untuk menerima pukulan pengawal Baju Putih itu. Pemuda gundul terpental sampai satu tombak jauhnya tetapi secepat itu ia sudah meloncat bangun dan menghampiri pengawal Baju Putih itu. Pengawal Baju Putih itu tertegun. Rupanya ia terkejut melihat pemuda gundul itu tak kurang suatu apa dan bahkan maju menghampri. Tetapi anehnya, pengawal Baju Putih itu tak mengucap sepatah katapun juga. Ia mengangkat kedua tangannya keatas, Tangan kiri lurus menebar ke muka dada untuk membuat suatu imbangan dan gerakan tangan kanan yang mulai diayunkan ke arah pemuda gundul. Tetapi tiba2 pemuda gundul itupun menirukan gerakannya. Tangan kiri juga diluruskan ke muka dada dan tangan kanan diangkat ke atas kepala lalu diayunkan ke muka. Blum ..... Suatu peristiwa aneh terjadi. Pengawal Baju Putih itu menggerung dan tubuhnya melayang sampai setombak ke belakang. Sejenak ia berdiam diri seperti memulangkan napas. Beberapa saat kemudian ia terus lari menghampiri pemuda gundul dan menyerangnya. Kali ini tidak hanya dengan pukulan tetapi dengan jurus serangan yang dahsyat. Angin men-deru2 menimbulkan getaran yang menggoncangkan panggung. Tetapi pemuda gundul itupun melayani dengan suatu gerakan yang aneh. Disebut aneh karena ia selalu menirukan segala gerakan lawan. Ke mana pukulan lawan melayang, iapun melayangkan tangannya, kemana tubuh lawan Tiraikasih website http://kangzusi.com. bergerak, iapun ikut bergerak. Seolah dia seperti bayangan dari pengawal Baju Putih itu. Itupun masih tak mengapa. Celakanya setiap kali pukulan mereka beradu, pengawal Baju Putih itu tentu cepat menarik pulang tangannya. Setelah mencapai limapuluh jurus, tiba2 pengawal Baju Putih itu meraung dan dengan kalap menerkam. Tetapi lagi2 pemuda gundul itupun menirukan gerakannya. Lawan menerkam, diapun menerkam sehingga terjadilah terkam menerkam macam orang gulat. Pengawal Baju Putih berusaha untuk mencengkeram pinggang lawan lalu hendak mengangkatnya. Tetapi pemuda gundul itupun berbuat begitu juga. Kesudahannya tubuh pengawal Baju Putih lah yang terangkat ke atas. di-putar2 lalu dilontarkan kebawah panggung. Terdengar suara orang berteriak gemuruh di bawah panggung tetapi pemuda gundul itu tak menghiraukan. "Eh, apakah engkau masih akan melanjutkan pertanyaanmu kepadaku ?* tanya pemuda gundul setelah melemparkan Pengawal Baju Putih. Hong Ing terkejut menyaksikan kesaktian pemuda gundul itu. la bingung memikirkan ilmu apakah yang dimiliki pemuda gundul itu. Oleh orang tua berambut putih dalam guha. ia telah diberi pelaiaran ilmu silat yang aneh. la sudah merasa aneh karena dengan ilmusilat itu ia dapat berloncatan secepat gerak bayangan. Tetapi melihat kepandaian pemuda gundul itu. ia merasa masih kalah aneh. "Ilmu apakah yang engkau gunakan itu ?" tanya Hong Ing. "Lho, menanyakan ilmu silat segala" pemuda gundul bersungut2, "apakah engkau sudah mengakui kalau ketiga binatang itu memang benar milikku ?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Siapa bilang mengakui ?" lengking Hong Ing "aku belum saja mengurus soal itu tetapi hendak bertanya lebih dulu tentang kepandaianmu yang aneh tadi." "Aneh ? Apanya yang aneh ? Mengapa aku sendiri tak merasa aneh ?" seru pemuda gundul. "Bukankah tadi engkau selalu menirukan semua gerakan orang Baju Putih itu ? Hebat benar engkau dapat menirukan persis semua gerakan tangan, kaki dan tubuh lawanmu tadi. Ilmu apakah itu ?" "Entah apa namanya, aku sendiri juga takmengerti," keluh pemuda gundul. "Engkau tak mengerti ? Habis darimana engkau mendapat pelajaran ilmu itu ? Siapakah guru mu ?" Hong Ing makin heran. "Aku tak punya guru " sahut pemuda gundul, "soal ilmu kepandaian itu, aku sendiri juga tak tahu dari mana. Yang kuingat, aku mendapat sebuah kitab kecil tetapi tak ada tulisannya apa2. Sudah tentu aku marah. Tetapi ketika aku terbenam dalam air sampai beberapa hari, aku sendiri juga heran mengapa tak mati. Tahu2 aku berada di sebuah hutan ... " "Sudah jangan ngoceh tak keruan !" bentak Hong Ing, "ringkas saja engkau sebutkan asal dari ilmu kepandaianmu itu". "Kalau engkau tak mau mendengarkan ceritanya. bagaimana aku dapat mengatakan darimana sumber kepandaianku itu?" bantah pemuda gundul dengan uring2an. Hong Ing terpaksa mengurut dada dan suruh pemuda gundul itu melanjutkan ceritanya. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Ketika aku bangun dan memperbaiki pakaianku yang lusuh, tanganku terasa menyentuh benda kecil, ternyata kitab yang hendak kubuang itu masih berada dalam kantong bajuku. Kulemparkan kitab itu ketanah lalu aku hendak berbangkit. Tetapi celaka, mataku terasa ber-kunang2 dan aku jatuh Iagi. Aku lalu mengambil obat, untung masih berada dalam kantong bajuku. Kutelan tiga butir biji merah ... " "Biji apa itu ?" seru Hong Ing. "Kakek penunggu keraton didasar laut mengatakan kalau biji2 merah itu adalah Cian-lian-hay-te-som ... "Apa ? Buah som dari dasar laut yang berumur seribu tahun ?'" teriak Hong Ing terkejut. Bermula ia anggap pemuda gundul itu sinting otaknya tetapi waktu pemuda gundul itu dapat menyebut nama Cian-lian-hay-te-som, ia terkejut juga. "Ya," sahut pemuda gundul, "memang cian-lian-hay-te-som, hidangan untuk putera mahkota kerajaan Lam Song yang tinggal di keraton dasar laut.” Mendengar itu kembali timbul penilaian Hong Ing bahwa pemuda gundul itu hanya mengoceh semaunya sendiri. "Teruskan ceritamu" bentaknya. "Tidak lama badanku merasa segar dan kuat lagi tetapi tiba2 kulihat kitab kecil yang kubuang tadi terbentang di hadapanku. Dan aneh benar. Kitab yang semula kosong melompong dan putih bersih, ternyata berobah menjadi hitam warnanya dan pada tiap lembar dari kitab kecil yang berisi delapan lembar itu terdapat tulisannya ... " "Apa bunyinya ?" seru Hong Ing. "Tiap lembar hanya berisi satu huruf." "Lalu apa bunyinya ?" ulang Hong Ing. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Bunyinya ... hai, minggir ! tiba2 pemuda gundul berteriak dan mendorong tubuh Hong Ing ke samping, sedang ia sendiripun loncat menghindar. Ternyata belum ia menjawab pertanyaan Hong Ing. tiba2 seorang pengawal Baju Putih telah loncat dan melepaskan hantaman. Untung pemuda gundul itu tahu dan cepat dapat menolong Hong Ing. Ternyata .pengawal Baju Putih yang menyerang itu bertubuh tinggi kurus, kurus sekali sehingga menyerupai sebatang bambu yang dikerudungi kain putih. Seperti kedua Pengawal Baju Putih yang tadi pengawal Baju Putih kurus itu tak berkata apa2 terus menyerang. Dan ketika pukulannya luput ia ber-suit2 seperti orang bersiul dan menjerit. Hong Ing marah melihat pengawal Baju Putih itu. Serentak nona itu mencabut pedang dan membentak : "Hai, engkau manusia atau setan ? Mengapa engkau tak dapat bicara dan tahu2 terus menyerang dari belakang !" Pengawal Baju Putih kurus itu ber-kilat2 memandang Hong Ing. Tetapi tetap membisu. "Siapa engkau !" bentak Hong Ing pula. Namun pengawal Baju Putih tak mau menjawab. Bahkan mulutnya bercuit lalu maju merangsang dengan kedua tangannya. Karena tanganmu kurus, kesepuluh jarinyapun panjang dan runcing, mirip dengan cakar burung garuda. Tnng ... Hong Ing menyapu dengan pedang tetapi suatu gerakan yang aneh, pengawal Baju Putih itu menggeliatkan tangan lalu menampar batang pedang Hong Ing terkejut. Pedang tergetar Tiraikasih website http://kangzusi.com. dan tangannya terasa sakit, hampir saja pedangnya terlepas jatuh. Diam2 ia mengagumi tenaga-dalam lawan yang begitu hebat. Oleh karena termasuk seorang pendekar wanita angkatan muda, apalagi belum pernah terjun ke dunia persilatan, maka pengetahuan dan pengalaman Hong, Ing masih kurang, la heran tetapi tak tahu siapakah pengawal Baju Putih itu. Dan sebagaimana adat orang muda, ia cepat naik pitam. "Bagus, mari kita bertempur lagi”, serunya seraya berputarputar tubuh mengelilingi lawan, seraya membolang-balingkan pedangnya. Seketika tubuh pengawal Baju Putih itu dilingkupi segulung sinar putih yang kemilau. Entah bagaimana perobahan airmuka pengawal Baju Putih tak dapat terlihat karena mukanya terbungkus oleh kain cadar putih. Tetapi dari sinar matanya jelas ia membelalak terkejut. Terpaksa ia harus mengikuti gerak perputaran si nona yang mengeliiingi dirinya. Untuk menjaga diri, iapun menggerakkan kedua tangannya yang kurus seperti orang me-nari2. Rupanya pengawal Baju Putih itu hendak melihat bagaimana sesungguhnya ilmu permainan lawan. Setelah itu baru ia akan melancarkan serangan balasan. Tetapi sampai berpuluh jurus, gerakan si nona makin cepat dan makin seru. Hampir ia tak dapat membedakan berada dimanakah sesungguhnya diri si nona itu. Karena dalam lingkaran bayangan yang mengepungnya, serasa tubuh nona itu seperti terpecah jadi beberapa orang yang tengah bergerak2 mengelilinginya. Akhirnya ia berhenti, diam. Jika terus menerus mengikuti gerak perputaran lawan, jelas tenaganya tentu habis dam napasnya ter-engah2. Dan ia membayangkan apabila dirinya Tiraikasih website http://kangzusi.com. sudah kehabisan napas. tentulah nona itu akan turun tangan untuk membunuhnya. Tetapi perhitungannyapun melesat. Ketika dia berhenti tiba2 punggungnya terasa disambar angin dingin. Ia tahu tentu ujung pedang si nona. Cepat ia berputar untuk menerkam lawan tetapi nona itu lenyap lagi dan sudah berada di belakangnya. Pengawal Baju Putih itu marah. Dengan bercuit2 aneh, ia segera bergerak dengan cepat, sepasang tangannya menerkam kemuka dan menghantam ke belakang. Pikirnya, kali itu ia tentu berhasil mengenyah lawan. Tetapi untuk yang kedua kalinya ia harus menjerit marah lagi. Terkamannya ke muka hanya menerkam bayangan kosong, sedang hantamannya kebelakang disambut dengan papasan pedang. Untung ia cukup waspada dan sakti. Cepat ia menggenggamkan jarinya sehingga terhindar dari tabasan Sekalipun begitu kelima jari kukunya yang panjang macam cakar telah terpapas kutung oleh pedang Hong Ing. Pengawal Baju Putih bertubuh kurus itu memekik keras. Ia marah sekali. Tiba2 sepasang tangannya dihamburkan keras dan bagaikan seekor burung garuda menebarkan sayap. tubuhnya segera melambung ke udara sampai tiga tombak tingginya. Berjumpalitan lalu ayunkan tangannya menaburkan cairan warna hitam kearah Hong Ing. Hong Ing terkejut, la tak menduga kalau akan ditabur dengan air hitam. Jika senjata rahasia ia tentu masih dapat menghindar, tetapi karena taburan air yang dapat memercik ke-mana2 sukarlah ia menghindari diri. Dalam gugup Hong Ing memutar pedangnya sederas hujan tetapi seketika itu ia rasakan tangan dan mukanya seperti terhambur percikan air panas. Sakit tetapi pada lain kejab hilang lagi. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Hong Ing marah sekali kepada pengawal Baju Putih yang ganas itu. Dua kali ia menderita serangan. Yang pertama, diserang dari belakang dan sekarang diserang dengan hamburan air hitam. "Manusia begini tak layak diberi hidup !" pikirnya seraya masih memutar pedangnya deras2. Ti ba2 ia melihat tubuh pengawal Baju Putih itu meluncur turun sambil tertawa seram. Rupanya pengawal itu percaya bahwa lawannya pasti mati. Air hitam itu bukan sembarang air tetapi racun yang luar biasa dahsyatnya. Racun dari sejenis binatang kelabang atau kaki seribu yang terdapat didaerah gurun pasir. Kelabang itu gemar makan bangkai binatang atau mayat manusia yang sudah membusuk di tengah gurun pasir dan karena itu mengandung sejenis racun yang ganas sekali, percikan air hitam itu akan cepat menyurutkan tulang, mencairkan daging dan kulit dan dalam beberapa kejab saja, korban tentu segera berobah menjadi segumpal cairan hitam. Dengan memiliki racun yang sedemikian ganas, orang persilatan menggelari orang itu dengan julukan Racun-pencairmayat Ki Thian-coat. Sudah belasan tahun orang persilatan tak mendengar berita tentang tokoh ganas itu. Orang persilatan mengira kalau tokoh hitam itu tentu sudah mati. Ternyata ia masih hidup dan menjadi anakbuah dari barisan engawal Baju Putih partai Thian-tong-kau. Sebagai seorang angkatan muda dan tak pernah mengembara keluar, sudah tentu tak kenal siapa Racunpencair- mayat Ki Thian-coat itu. Bagi Hong Ing. pengawal Baju Putih yang bertubuh itu seorang manusia ganas dan harus dilenyapkan. Rupanya setelah menaburkan cairan air hitam Ki Thian-coat yakin nona itu sebentar lagi pasti akan menjadi cairan air Tiraikasih website http://kangzusi.com. hitam dan saat itu daya perlawanannya tentu sudah hilang. Maka dengan santai dan tertawa iblis ia meluncur turun ke pang gung. Tetapi diluar dugaan se-konyong2 Hong Ing loncat dan menaburkan pedang pusakanya ke tubuh orang itu. Ki Thiancoat tak menduga sama sekali sehingga ia tak ber-siap2. Dalam keadaan dirinya meluncur turun ia tak dapat menghindar atau melambung keudara. Pedang meluncur lebih cepat dari tangan Ki Thian-coat yang hendak menyambar.. Namun ia masih sempat untuk menggeliatkan tubuh kesamping. Memang dengan gerakkan itu selamatlah perutnya tertembus pedang tetapi samping pinggangnya telah terserempet ujung pedang. Pedang terus meluncur ke muka. Tiba2 sesosok tubuh loncat menyambar pedang itu. Hong Ing terkejut karena lontaran pedangnya tak berhasil mengenai tubuh lawan dengan tepat, la cepat bersiap untuk menghadapi lawan yang sudah menginjak lantai panggung. Tetapi sebelum ia bergerak hendak menyerang Suatu peristiwa aneh telah teijadi. Pengawal Baju Putih. Ki Thian coat mengaum ngeri dan terus ngelumpruk rubuh di lantai. Makin lama tubuhnya, makin menyurut kecil dan kecil. Pada lain kejab hilang lah tubuh pengawal Baju Putih itu. Yang tampak hanya seperangkat pakaian seragam jubah warna putih dan cadar muka warna putih, ngelumpruk diatas kubangan cairan hitam. "Hai, tubuhnya telah menjadi cairan hitam" Hong Ing menjerit ngeri karena teringat bahwa dirinya seharusnya juga akan berobah begitu. Ia ngeri tetapi serentak heran. Mengapa ia masih hidup? Pada hal jelas muka dan tangannya terasa panas karena didera oleh percikan cairan hitam yang ditaburkan Ki Thian coat. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Memang benarlah kalau ia merasa heran karena hal itu terjadi diluar pengetahuan dan kesadarannya. Kumala merah berbentuk seekor naga terbang merupakan kumala mustika yang jarang terdapat di dunia. Merupakan peninggalan dari Han Bu Te, kaisar pendiri ahala Han yang menurut dongeng; diterimanya dari seorang dewa. Khasiatnya dapat menyirnakan dan menolak segala macam racun yang bagaimanapun ganasnya. Pasangan dari kumala merah muda itu adalah kumala warna hijau yang berbentuk sebagai burung Hong (cendrawasih). Tetapi khasiatnya berlawanan. Jika kumala merah berkhasiat melenyapkan racun, adalah kumala hijau itu justru dapat memancarkan daya racun yang hebat. Karena Hong Ing merebut kumala merah dari tangan Lo Kun yang sedianya akan diberikan ke pada Blo'on asli, maka tanpa sengaja dia telah selamat dari malapetaka yang hebat. Cairan racun hitam yang ditaburkan Ki Thian-coat itu musnah daya keganasannya. Jangankan Hong Ing, bahkan kakek Lo Kun sendiri juga tak tahu kalau kumala merah itu mempunyai daya kesaktian yang sedemikian hebatnya. Demikian keakhiran dari seorang tokoh yang dalam perjalanan hidupnya selalu membunuh orang secara keji, akhirnya harus menemui kematian secara mengenaskan. Ki Thian-coat, tak mengira kulau bakal mati di tangan seorang dara yang tak dikenal. "Bagus, engkau telah membunuh seorang tokoh jahat," seru pemuda gundul memuji. "Tidak." bantah Hong Ing, "aku tak merasa membunuhnya. Pedangku jelas tak mengenai sasarannya" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Goblok" lengking Sian-li." pedang memang tak mengenai tepat tetapi telah menyerempet pinggang bajunya. Tentulah dalam baju dia menyimpan racun itu dan racun pecah melumuri tubuhnya karena terserempet pedang." Hong Ing agak merah mukanya. Ia hendak membantah tetapi pemuda gundul cepat berkata : "Eh, engkau masih ingin mendengar ceritaku tentang kitab pusaka itu atau tidak ?" Hong Ing tertegun. Dalam panggung yang penuh dengan anakbuah Thian-tong kau terutama barisan pengawal Baju Putih yang berjumlah duapuluh orang dan pengawal Baju Merah yang juga berjumlah duapuluh orang, mengapa pemuda gundul itu begitu santai? Menilik dua orang Pengawal yang telah dirubuhkan tadi memiliki kepandaian yang begitu hebat, apakah kawanan keempatpuluh Pengawal Baju Putih dan Merah itu bukan terdiri dari tokoh2 yang sakti semua ? "Ingin, tetapi ... " "Baik, aku akan melanjutkan lagi," cepat pemuda gundul itu menukas kata2 Hong Ing, "itu waktu aku merasa heran mengapa duabelas halaman dari kitab kecil yang semula kosong melompong, tiba2 berisi huruf. Tiap lembar satu huruf dan bunyinyu aneh". "Aneh bagaimana ?" akhirnya Hong Ing tertawa juga. "Kedua belas huruf itu berbunyi begini : ln Kok Seng Keng Yu seng Wu, Wu seng Yu bakar minum. aneh sekali bukan ?" tanya pemuda gundul Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Ya, aneh" kata Hong Ing, apa engkau juga meminumnya ?" "Nanti dulu" kata pemuda gundul aku tak tahu apa artinya huruf2 itu. Tahukah engkau?' Hong Ing mengulang sekali lalu berkata: “Kalau tak salah artinya kira2 begini: ln kok seng keng artinya Kitab-dewasebab dan akibat. Yu seng wu artinya : Ada melahirkan Tiada. Wu seng Yu artinya : Tiada melahirkan Ada. Bakar minum artinya disuruh membakar kitab itu dan minum airnya. Maka kutanya, apakah engkau meminumnya" "Siapa sudi menurut bunyi kitab itu ? Masakan orang disuruh minum abu kertas,” sungut pemuda gundul. "Lalu bagaimana kelanjutan ceritamu?" tanya Hong Ing. "Sebenarnya tak kuacuhkan kitab itu. Tetapi ketika hendak pergi, tiba2 kusambar juga kitab itu dan kumasukkan dalam kantong." "Engkau memang aneh," kata Hong Ing, "kalau tidak suka, buat apa engkau mengantonginya?" "Pikirku, kitab itu pemberian dari paderi penunggu Kuil Kuning di istana. Tentu ada maksudnya dia memberi kitab seaneh itu." "Salah," bantah Hong Ing, "kalau dia tahu, tak mungkin dia memberikan kitab itu kepadamu". Pemuda gundul terbelalak. O^^odwo^^O Tiraikasih website http://kangzusi.com. Jilid 36. Pemuda gundu! itu terbeliak, serunya : "Masakan dia tak tahu isi kitab itu ?" Hong Ing geleng2 kepala : "Ya. memang dia tak tahu. Bukankah engkau mengatakan bahwa kitab itu hanya lembaran kertas kosong belaka? Dia tentu mengira begitu dan andaikata dia menduga lembaran kosong itu tentu berisi apa2 tetapi ia tak tahu bagaimana cara untuk mengetahui apa yang termaktub pada lembaran kertas kosong itu. Bukankah setelah engkau terbenam dalam air selama beberapa hari baru kertas2 kosong itu timbul hurufnya ? Dari situ aku berani mengatakan paderi itu tentu tak tahu dan mengira kitab itu hanya sebuah kitab Bu ji-keng atau kitab kosong tanpa tulisan." "Tidak mungkin," bantah pemuda gundul. "Bagaimana tidak mungkin 7" Hong Ing terbelalak. "Dia seorang paderi sakti,,masakan dia tak pernah mencoba untuk merendam kitab itu dalam air. Kemungkinan besar dia tentu sudah mengadakan beberapa macam percobaan untuk mendapatkan rahasia kitab itu. Tetapi gagal". Hong ing tertegun. Memang ucapan pemuda gundu! itu benar. Tak heran mengapa pemuda gundul itu dapat menemukan rahasia kitab itu? Adakah dia memang berjodoh dengan kitab itu ataukah memang mempunyai rejeki yang besar? Jika Hong Ing tak tahu, memang dapat dimengerti. Bahkan pemuda gundul itu atau yang sesungguhnya Blo’on aseli pun tak mengerti sendiri bahwa karena ia membawa beberapa benda mustika antara lain buah cian-lian hay-te-som atau Tiraikasih website http://kangzusi.com. buah som berumur seribu tahun dari dasar laut dan kotoran kelelawar raksasa dalam terowongan didasar laut, maka timbullah suatu khasiat yang tak ter-duga2 sehingga kertas2 kosong pada kitab itu dapat timbul hurufnya. Tanpa disertai dengan benda-pusaka itu tak mungkin lembaran kertas kosong itu akan memantulkan huruf walaupun direndam sampai beberapa bulan. "Bagaimana kelanjutannya ? " akhirnya Hong Ing bertanya “Apanya?”, Blo’on balas bertanja. "Soal kitab itu” kata Hong Ing, "apakah engkau membakar dan meminumnya ?" "Siapa sudi minum abu kertas?'* teriak Blo'on "Lalu dimana engkau simpan kitab itu ?" "Dalam perut." Hong Ing terbeliak "Dalam perut ? Engkau telan kitab itu ?” Hong In deliki mata: “Eh, jangan omong seenakmu sendiri. Masakan orang mau menelan kitab". "Habis", Hong Ing kerutkan dahi. "mengapa berada dalam perutmu ,?" "Sudah jadi abu dan terminum ....." Baru Blo'on berkata sampai disitu, seorang pengawai Baju Pulih yang bertubuh gemuk kekar, berjalan menghampiri dan terus menerkam Blo'on. Blo'on terkejut. Sebelum ia sempat berbuat sesuatu tiba2 Sian-Ii sudah mencabut pedang dan menerjang pengawas Baju Putih itu. Dari jumlah duapuluh orang, sudah ada tiga empat orang Pengawal Baju Putih yang rubuh. Kini maju pula seorang. Rupanya pengawal Baju Putih itu gentar juga melihat sinar Tiraikasih website http://kangzusi.com. pedang yang dimainkar Sian-Li. Pedang Sian-Li itu tak lain adalah pedang Pek-liong-kiam atau Naga-putih pemberian dari kakek penjaga istana di bawah laut yang lalu. Menurut cerita kakek itu, pedang Pek-liong kiam milik peninggalan dari Tio Kong Ing pendiri kerajaan Beng. Tajamnva bukan buatan, mempunyai pasangan pedang Hek hong-kiam atau Nagahitam. Tetapi pedang itu masih belum diketemukan. Anehnya ketika disambar oleh pedang Pek liong-kiam, tubuh Pengawal Putih yang bermula gemuk mendadak kempes. Ternyata pengawal itu menggunakan ilmu tenagadalam sakti yang membuat tubuhnya menggelembung besar. Ilmu tenaga-dalam yanq dimilikinya disebut Ha-rna-kang atau tenaga dalam Katak. Persiapan dengan menggelembungkan tubuh itu biasanya tentu segera disusul dengan gemboran mulut yang keras. Dan pengawal Baju Putih telah melatih ilmu Ha~ma-kang sedemikian rupa, sehingga gemboran mulutnya akan menyemburkan hawa beracun yang melumpuhkan musuh. Barang siapa terkena semburan mulutnya tentu akan terasa seperti terbakar. Tetapi sebelum ia sempat menyemburkan hawa beracun. Sian-Li secara tak ter-duga2 telah menyerang dengan pedang Pek-liong-kiam. Sedemikian perbawa pedang Pek-liong-kiam itu hingga lenyaplah persiapan2 dari pengawal Baju Putih itu. Dia marah sekali. Kali ini badannya tampak menggelembung makin besar sehingga hampir satu setengah kali dari tubuh aselinya. Dan ketika Sian-Li menyerang dengan Pek-liong-kiam lagi, tiba2 pengawal Baju Putih itu menggembor keras. Terkejut sekali sekalian orang mendengar sua ta gemboran itu. Nadanya mirip dengan katak mendengkung kertas dan seram. Sian-Li sendiri juga kaget sehingga terhenti. Lebih Tiraikasih website http://kangzusi.com. terkejut pula ketika ia melihat segumpal asap merah meluncur dari mulut orang itu dan melanda kepada dirinya. Jarak sedemikian dekat sehingga tak mungkin ia dapat menghindar, Dalam gugup, ia putar pedang Pek- liong-kiam dengan gencar. Sebagian besar kabut merah itu memang dapat dilenyapkan tetapi sebagaian tetap dapat menghampiri tubuhnya. Sian-Li merasakan dadanya panas tetapi hanya seketika saja dan pada lain saat dengan gemas ia terus loncat menusuk orang itu. Bukan kepalang kejut pengawal Baju Putih ketika menerima serangan nona itu. Mengapa nona itu tak kurang suatu apa ? Pada hal jelas racun yang disemburkan itu tak pernah gagal untuk merubuhkan setiap lawan. Ia sudah melatih ilmu Hama- kang dengan tekun sampai berpuluh-puluh tahun. Belasan tahun berselang didunia persilatan wilayah Sujwan telah muncul seorang tokoh silat yang menggegerkan dunia persilatan. Tokoh itu bernama Ha Bong Ki, termasyhur dengan tenaga-dalam ilmu Ha-ma-kang yang istimewa. Entah sudah berupa banyak tokoh2 silat yang rubuh karena disembur oleh hawa beracun dari ilmu Hama-kang itu. Setelah mencapai tataran tinggi dalan Ha ma-kang, Ha Bong Kim masih mematangkan lagi dengan melatih semburan yang dapat mengeluarkan hawa panas dan beracun. "Kungngng ………….,” terdengar Ha Bong Kim mendengkung keras dan tahu2 tubuhnya melambung ke udara, melampaui kepala Sian-Li dan melayang turun di belakangnya. Tetapi alangkah kejutnya ketika masih melayang diudara, sekonyong-konyong kepalanya disambar oleh seekor burung rajawali. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Pengawal Baju Putih itu gugup sekali. Cepat ia berusaha menampar burung yang mencengkeram kepalanya. Tetapi pada saat kedua tangannya menampar keatas, Sian-Li-pun loncat menusuk dadanya. Setelah makan buah cian-lian-hay-te-som ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Sian-Li, bukan olah2 hebatnya. Sudah tentu pengawal Baju Putih itu gugup sekali dan tanpa banyak pikir turunkan tangan dan menyembur hawa beracun. Tetapi pada saat itu juga ia menjerit dan menukik jatuh kebawah. Ternyata pada saat pengawal Baju Putih itu menyembur hawa beracun, burung rajawalipun memperkeras cengkeramannya ke kepala orang itu. Kuku2 yang tajam dari burung rajawali telah masuk ke kulit kepala dan serempak dengan itu, burung rajawali pun masih mematuk hidung orang. Tak ampun lagi orang itu rubuh di lantai dengan kepala berlumuran darah dan hidung hancur. Tiba2 Hong Ing maju dan mengirim sebuah tendangan, prak .... seketika hancurlah kepala pengawal Baju Putih itu, nyawanya melayang. "Engkau kejam !,” teriak Sian-Li. "Engkau lebih kejam!" balas Hong Ing. "Aku? Sudah tentu aku terpaksa bertindak menyerangnya karena dia hendak menyerang suko sahut Sian-Li, "Aku bertindak begitu karena hendak menolong orang itu," balas Hong Ing. Sejak bertemu memang kedua nona itu bersikap tak akur. Melihat mereka bertengkar. Blo’on segera melerai: "Ai, mengapa kalian ribut2?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Dia menuduh aku kejam pada hal dia sendiri yang kejam," Hong Ing memberi keterangan. "Ya. memang engkau kejam,," sahut Sian-Li, masakan orang yang sudah meregang nyawanya engkau tendang sampai hancur kepalanya." "Uh, jika aku tak berbuat begitu, dia tentu menderita kesakitan hebat. Dia sudah tiada harapan hidup lagi mengapa tak lekas dikirim ke akhirat daripada harus menderita terlalu lama. Apakah aku kejam ? kata Hong lng. Blo'on mengangguk : "Ya, engkau benar." "Aku pun tidak kejam karena dia hendak membunuh engkau, suko, maka akupun menyerangnya. Dia menyembur hawa beracun, untung aku tak kena apa2. Kalau aku tak membunuhnya dia tentu membunuhku. Kejamkah aku ini, suko?" '"Tidak sumoay” kata Blo'on, “menghadapi musuh terutama orang jahat, memang hanya ada satu pilihan. Membunuh atau dibunuh. Engkau tidak kejam dan nona itupun tidak kejam karena hendak menolong penderitaan orang itu. Nah, puaskah kalian ?” "Belum." sahut Hong Ing. Blo’on terbeliak, Sian-Li pun terkesiap. Hong Ing melanjutkan: "Aku masih belum puas karena engkau belum memberi keterangan yang lengkap tentang kitab Bu-ji-keng itu." Blo’on tertawa : “Sudah tentu akan memberi keterangan. Dari kotaraja aku tak mau kembali ke markas besar Kay pang tetapi aku langsung menuju ke gunung Thay san....." Tiraikasih website http://kangzusi.com. "O, makanya sampai beberapa lama kita menunggu dan mencarimu diseluruh peloksok kota-raja, engkau tetap tak ketemu." Sian-Li menggerutu. "Tiba disebuah kota, karena letih berjalan aku berhenti dipingir jalan. Entah bagaimana aku tertidur. Kurang ajar sekali tukang copet itu," tiba2 Blo'on memaki, "waktu aku tidur, seorang tukang copet datang dan menggerayangi bajuku. Ternyata dia tak menemukan uang melainkan kitab itu. Dia gemas dan karena melihat aku masih tidur mendengkur, dia sengaja hendak mempermainkan aku supaya bangun kemudian baru aku akan dipaksa untuk menyerahkan bekalku yang berharga". Blo'on berhenti sebentar lalu melanjutkan : "Karena marah kitab itu dibakarnya dan kalian tahu apa yang dilakukannya ?" Baik Hong Ing maupun Sian-Li hanya gelengkan kepala. "Abu dari kitab itu terus dimasukkan ke dalam air dan dituangkan kedalam mulutku. Sudah tentu aku gelagapan sekali …” Mendengar sampai disitu kedua nona itu tertawa mengikik. Juga kakek Lo Kun yang sudah berbangkit ikut tertawa mengekeh. "Tetapi pencopet itu terkejut sekali ketika, lihat aku tertawa gembira ... " "Engkau tertawa ?" teriak Sian-Li. "Ya, karena rasanya abu kitab itu enak sekali, manis2 harum. Pencopet itu sebenarnya seorang pengemis gelandangan. Karena melihat aku tertawa dia bertanya dan setelah mendapat keteranganku ia melongo. Aku menyambar kantong air bekalnya dan terus kuteguk, ternyata isinya arak. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Karena tak biasa minum, aku merasa pusing dan mabuk. Kutempeleng pengemis itu hinggai pingsan. Aku terkejut. Sebenarnya aku hanya ingin menaboknya tetapi entah bagaimana ia begitu terkena jariku, dia terus menjerit pingsan seketika. "Beberapa penduduk yang mengetahui kejadian itu segera ber-bondong2 datang dengan membawa senjata dan pentung. Karena dianggap telah menganiaya seorang pengemis, mereka marah dan terus menghajar diriku ... " "Ai, celaka", seru Sian-Li, "lalu suko terpaksa menghajar mereka, bukan ?" "Tidak," Blo’on gelengkan kepala, "setelah minum abu kitab, badanku terasa lemas sekali, tenagaku hilang. Aku hanya dapat menjerit dan mengaduh saja ketika digebuki oleh beberapa penduduk itu. Dan akhirnya aku tak ingat apa2 lagi, aku pingsan." "Lalu bagaimana ? Apakah engkau terus pingsan sampai beberapa hari ?'' rupanya kakek Lo Kun juga terlarik mendengar cerita Blo'on. "Ya, rupanya mereka ketakutan karena mengira aku sudah mati," kata Blo'on, "lalu mereka ramai2 mengubur aku kesebuah lembah. Aku ditanam dalam sebuah lubang" "Celaka !" teriak kakek Lo Kun. "kalau gitu engkau sudah pernah mati ?" "'Mungkin juga,” sahut Blo’on. "tetapi ketika aku membuka mata, aku berhadapan dengan seorang lelaki tua. Dia mengatakan bahwa aku sungguh beruntung karena dikubur dalam sebuah lubang yang kebetulan di bawahnya terdapat binatang peliharaannya.” Tiraikasih website http://kangzusi.com. “Binatang apa?” seru Sian-Li. "Orang itu mengaku bernama Hoa Liong, keturunan dari Hoa To seorang tabib yang sakti pada jaman Sam Kok. Hoa Liong mengatakan bahwa dia juga menuntut penghidupan sebagai seorang tabib. Pada suatu hari ketika mengembara kepuncak Himalaya ia telah menemukan katak-salju yang mengandung khasiat untuk menyembuhkan orang mati. Tetapi sukar untuk membawa katak itu pula ke Tiong-goan. Hawa yang tidak cocok tentu membuat katak itu mati. Akhirnya ia mendapat pikiran. la membawa beberapa ekor katak-salju itu pulang lalu membuatkan sebuah liang di bawah tanah. Kataksalju itu diberi tempat dalam sebuah wadah yang diisi dengan salju lalu ditanam dalam lubang tanah itu. Dengan demikian salju tak lekas lumer dan katak itupun dapat hidup.” "Pintar sekali," seru kakek Lo Kun. "mana dia sekarang?" Blo’on tak mau menjawab melainkan melanjutkan ceritanya . "Dia mengatakan kepadaku … sebelum dia mejanjutkan kata2nya, seorang pengawal Baju putih loncat maju kehadapan Blo’on. Dalam jarak hanya satu meter, pengawal Baju Putih terus mengirim sebuah tendangan. Sudah tentu Blo'on terkejut dan menghindar tetapi pengawal Baju Putih itu mengirim pula kaki kiri kemudian kaki kanan, kaki kiri lagi. "Lian hoan tui !"' teriak Sian-Li terkejut. Lian-hoan-tui atau ilmu Tendangan-berantai adalah ilmu tendangan yang susul menyusul seperti kilat menyambar. Sebenarnya Sian-Li sudah pernah menyaksikan ilmu tendangan tersebut. Tetapi yang dimainkan oleh pengawai Baja Putih itu memang mengejutkan sekali. Hampir kedua kaki orang itu seperti tak menginjak tanah dan derasnya seperti Tiraikasih website http://kangzusi.com. kilat menyambar. Tak memberi kesempatan orang untuk berhenti menghindar. Plak ….. terdengar suara tubuh termakan kaki, disusul dengan tubuh Bio’on yang mencelat ke udara. Sebuah tendangan dari pengawal Baju Putih itu dengan tepat telah mengenai pantat Blo'on. Sian-Li dan kakek Lo Kun terkejut. Tetapi sebelum mereka sempat bertindak, dilihatnya Blo'on berjumpalitan di udara lalu melayang turun. Pengawal Baju Putih itu cepat memburu dan lepaskan tendangan lagi tetapi saat itu Blo'onpun juga balas menendang. Lebih kurang duapuluh tahun yang lalu dunia persilatan, digemparkan dengan munculnya seorang jago silat yang mahir dalam ilmu tendangan. Bukan saja ilmu tendangannya itu aneh, pun dahsyatnya bukan kepalang. Setiap lawan yang terkena tentu remuk tulangnya. Kakinya sekeras besi, jarang yang mampu melawannya. Dia bernama Sin-song kak atau Sepasang-kaki sakti Tek Kiu Siang. Tetapi sudah beberapa tahun lamanya tokoh itu tak terdengar beritanya lagi. Tahu2 sekarang muncul di pangung Thian-tong-kau sebagai salah seorang pengawal. Suatu pertempuran aneh telah terjadi diatas panggung itu. Blo'on dan Tek Kui Siang saling beradu tendangan. Dan anehnya gerakan keduanya sama. Tek Kiu Siang menendang dengan kaki kanan. Kalau Tek Kiu Siang dengan kaki kiri, Blo'on pun juga dengan kaki kiri. Gerakan dan gaja tendangannya sama. Seolah Blo'on itu hanya merupakan refleksi atau pantulan dan semua gerak yang dilakukan Tek Kiu Siang. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Berulang kali terdengar suara tulang kaki beradu. Cepatnya juga sama sehingga tak jarang apabila tendangan itu mengenai pantat, maka keduanyapun sama2 meringis. "Hai, goblok, jangan menirukan lagu orang saja!”, teriak Hong Ing yang memperhatikan gerakan Blo'on, pakai gaya sendiri untuk menjatuhkannya.” "Siapa yang menirukan?" balas Blo'on. "Engkau !”, bentak Hong Ing yang mengkal "Apa iya.?" seru Blo'on "tetapi aku tak sengaja. Entah bagaimana kakinya selalu bergerak menurut gerakannya!" Bermula Hong Ing menggerem dan hendak mendampratnya tetapi pada lain saat ia teringat akan penuturan Blo'on tentang kitab Bu ji-ket. Adakah demikian khasiat dari abu kitab yang telah diminumnya itu? Pikirnya. Beberapa saat kemudian, karena masih saja dilihatnyva Blo’on bergaya begitu, tiba2 timbullah pikiran Hong Ing. Tanpa bilang apa2, ia terus menghantam Blo’on. Sudah tentu Blo'on terkejut dan sebagai refleks, ia pun ayunkan tangannya menghantam. Hong Ing sengaja memilih tempat yang agak di belakang pengawal Baju Putih. Karena itu pukulan Blo'on pun mengarah kepada si pengawal itu, duk……” seketika pengawal Baju Putih itu mencelat. Melihat itu kakek Lo-Kun terus menginjaknya tetapi pengawal itu ternyata memang lihay. Baru kaki si kakek diangkat, ia sudah mengirim pula tendangan sambil masih telentang di lantai. Prak.... kakek Lo Kun terhuyung-huyung karena betisnya termakan tendangan. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Blo’on geram sekali. Cepat ia maju dan menerkam kaki orang itu, diangkat naik lalu dilontarkan kebawah panggung ...... Kecepatan gerak dari Blo'on itu benar2 mengejutkan sekali. Andaikata dari tadi dia mau bergerak begitu, tentulah orang itu sudah rubuh. Tetapi dia sendiri mengatakan bahwa karena melihat tendangan lawan, tanpa disadari kakinyapun segera ikut menendang. Adalah karena marah, baru timbul kesadaran pikirannya dan menerkam kaki lawan. "Hai, mengapa engkau membantu musuh !” tegur Blo’on setelah menyelesaikan lawannya. Hong Ing deliki mata: "Siapa membantu musuh. Kalau tak dipukul, engkau tentu tak bergerak memukul. Cara tendang menendang seperti yang engkau lakukan tadi, kapan bisa selesai ?" "Jadi engkau memang sengaja hendak memancing supaya aku bergerak memukul ?" seru Blo’on. "Apa lagi kalau tidak begitu, "kata Hong Ing "eh, engkau ini memang aneh, kadang seperti orang waras, kadang masih seperti dulu.” "Dulu yang mana ?" tanya Blo'on. "Ketika pertama kali kuketemukan engkau berada dalam guha dan suhuku menggeletak tak bernyawa. Engkau benar2 seorang pemuda totol saat itu." "Apakah engkau anggap aku sekarang sudah waras ?" balas Blo’on. "Ya, kadang2 waras kadang2 masih linglung." "Sekarang aku mau melanjutkan bercerita lagi," tiba2 Blo'on berkata, "orang tua yang mengaku bernama tabib Hoa Liong Tiraikasih website http://kangzusi.com. itu mengatakan bahwa, secara kebetulan, sekali aku dikubur dalam liang yang dibawahnya terdapat peti tempat simpanan katak salju. Hawa dingin dari katak-salju itu telah mengawetkan tubuhmu dari pembusukan. Tetapi aneh juga, mengapa nyawamu masih ? Dia lantas bertanya kepadaku sudah berapa lama aku dikubur. Aku menjawab tak ingat. Malam itu aku pingsan karena digebuki penduduk. Dia bertanya apakah aku dapat mengingat malam itu bagaimana? Aku tak ingat dan hanya mengatakan bahwa malam itu menurut kata orang akan terjadi gerhana bulan. Dia menjerit dan mengatakan gerhana bulan itu terjadi pada tujuh hari yang lalu. Jika demikian aku sudah dikubur selama tujuh hari....."' , "Hola," teriak kakek Lo Kun, "engkau sudah pernah mati tujuh hari ? Bagaimana rasanya orang mati itu ? Apakah engkau bertemu dengan raja Akhirat ? Apakah di Akhirat itu sama dengan di dunia ini ? Apakah disana juga ada gadis.......” "Sudahlah, sudahlah!" teriak Blo'on yang merasa bisring dihujani pertanyaan bertubi-tubi oleh kakek Lo Kun," engkau tanya begitu melilit, apakah engkau hendak pergi ke akhirat?" "Kalau boleh kembali lagi ke dunia, aku ingin juga meninjau ke sana," sahut Lo Kun. “'Sudahlah, teruskan saja ceritamu.' kata Hoa Ing. Tiba2 seorang pengawal Baju Putih kemuka Blo'on. Tanpa berkata apa2 ; terus menusuk mata Blo'on dengan dua buah jari tangannya. Blo’on terkejut, mengisar kesamping dan balas menusuk mata orang itu. Juga dengan dua buah jari tangan. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Orang itu mendengus geram. Berkisar kenamping, jari kirinya menusuk dada Blo’on. Blo'on juga mengisar dan jari kirinya lalu menusuk dada lawan. Orang itu menggeram makin keras. Sepasang tangannya segera menari-nari, dua buah jari kanan dan dua buah jari kiri berhamburan menusuk muka, dada dan sekujur badan. Blo'on pada bagian jalandarah yang berbahaya. Tetapi diluar dugaan, gerakan Blo'on juga, persis lawannya. Dia juga gunakan kedua jari tangan untuk menusuk. Barang kemana lawan bergerak ia tentu juga bergerak sehingga tak jarang beberapa kali harus terjadi adu jari. Pengawal Baju Putih itu membelalak. Karena mukanya ditutup dengan kain cadar putih maka tak tampak bagaimana perubahan airmukanya. Tetapi menilik mulutnya berulang kali ia mendengus dan mendesuh, jelas dia tentu menderita kejut yang besar. "Dunia persilatan pernah mengenal tentang seorang tokoh dari kaum agama yang mahir sekali dalam soal menusuk jalandarah. Menilik ilmu silatnya, dia berasal dari aliran Kunlun- pay. Tetapi dia menyangkal. Dia menyepikan diri disebuah pegunungan, menjadi seorang pertapa. Ilmu menggunakan dua buah jari begitu terkenal sekali ketika disuatu hari, tokoh aliran hitam yang menjagoi didunia persilatan Holam telah dijatuhkan oleh orang itu. Orang mengenalnya sebagai Liau Gong taysu tetapi bagaimana asal usulnya, tiada seorangpun yang tahu. Kini tahu2 Liau Gong taysu telah muncul sebagai salah seorang pengawal Baju Patih dalam barisan anakhuah Thian-tong-kau. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tetapi karena mukanya berkerudung cadar putih maka tiada seorangpun yang tahu bagaimana raut wajahnya yang sebenarnya. Rupanya saat itu karena beberapa kali tak berhasil, pengawal Baju Putih agak penasaran. Ia segera lancarkan serangannya makin deras dan dahsyat. Cret ..... Blo'on memang merupakan manusia yang paling aneh. Dalam tubuhnya telah terkandung suatu gerak-reflek yang aneh dan luar biasa, Makin diserang gentar, makin diapun menyerang gencar. Dan andaikata dia mau menggunakan pikiran, dengan mudah ia dapat menggerakkan tenaganya karena dia juga memiliki tenaga-dalam yang disebut Ji-ih-sinkang atau tenaga-sakti yang dapat digerakkan menurut sekehendak hatinya. Begitu pengawal Baju Putih menusukkan dua buah jarinya dengan sekuat kuatnya, jari Blo'onpun menyongsong. Ketika dua buah jari saling berbentur, pengawal Baju Putih itu menjerit. Ujung jarinya telah disaluri dengan tenaga dalam yang hebat tetapi dari ujung jari Blo'on juga memantulkan balik tenaga dari pengawal Baju Putih itu. Akibatnya ujung jari orang itu seperti terkena stroom listrik arus tinggi. Dia menjerit dan loncat mundur. Pengawal Buju Pulih tegak termangu. Sepasang matanya berkilat kilat memancarkan sinar tajam. Rupanya dia tengah menyalurkan seluruh tenaga-dalam dan pada lain saat ia segera menjulurkan kedua jari tangan kanan kemuka. Terdengar suara angin mendesis tajam kearah Blo'on. Saat itu Blo'on juga tegak berdiri jaraknya dua rombak dari lawan, ia heran mengapa pengawal Baju Putih itu menudingkan dua buah jari tetapi tidak menyerang maju. Maka diapun diam saja, Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Suko, awas, dia menyerangmu," tenak Sian-Li yang dapat menangkap desis angin tajam. Blo'on terbeliak namun terlambat. Dadanya segera tersambar oleh aliran tenaga yang kuat sekali. Sedemikian kuat sehingga tubuhnya sampai mencondong ke belakang tetapi kaki masih tegak berdiri ditempat semula. Blo'on terkejut sekali. Rasa kejut telah membangkit tenaga dalam Ji ih-sin-kang, seketika ia meliuk ke muka dan desir angin itupun terdampar balik kembali kearah pengawal Baju Putih. Huak.....pengawal itu menguak dan muntah darah terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang dari jatuh terduduk di lantai. Dia telah terhantam oleh tenaga-dalamnya sendiri yang dipantulkan balik oleh Bio'on. Melihat itu Hong Ing cepat loncat hendak menyelesai pengawal Baju Putih dengan sebuah hantaman. Tetapi tiba2 terdengar orang berseru mencegahnya ; "Jangan ....," menyusul segelombang angin melandang punggung si nona. Hong Ing terkejut dan cepat loncat ke samping. Ketika berpaling ia melihat seorang lelaki setengah tua, pakaian penuh tambalan tetapi bersih, tegak dihadapannya. "Siapa engkau !'* bentak Hong Ing yang cepat dapat menduga bahwa yang menyerang punggungnya tadi tentulah lelaki itu. "Aku Hoa Sin dari partai Kay-pang,” kata laki2 itu, "maaf, karena terpaksa harus menyerang nona tetapi maksudku hanya mencegah nona jangan sampai membunuh orang itu." "Apakah engkau kawan dari orang itu ?” seru Hong Ing pula. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Melihat sikap Hong Ing begitu ketus, Sian-Li melengking : " Eh, jangan engkau bersikap tidak sopan kepada Hoa pangcu dari Kay-pang." Hong Ing terkejut, ia memang belum kenal siapa Hoa Sin. Ia tak sangka kalau lelaki berdandan seperti pengemis itu ternyata ketua Kay-pang. "Oh, maafkan ..... Hoa pangcu." katanya. "Ah, jangan berlaku sungkan, nona," kata Hoa Sin, "orang baju putih itu aku tak kenal karena mukanya mengenakan kain cadar. Tetapi menilik ilmu silatnya dia seperti dari aliran Kunlun pay. Bukankah begitu Ceng Sian suthay." Ternyata setelah mendapat obat, Hoa Sin, Ceng Sian suthay dan Hong Hong taysu harus beristirahat dulu beberapa saat sebelum tenaganya pulih kembali. Setelah itu barulah mereka bertiga berhamburan loncat ke atas panggung. Tepat pada saat itu mereka melihat pengawal Baju Putih ter-huyung2, muntah darah dan jatuh terduduk. Mereka hanya sempat menyaksikan beberapa jurus adegan dari pertempuran antara Blo'on dengan pengawal Baju Putih itu. Namun Hoa Sin sebagai seorang ketua partai persilatan yang banyak pengalaman dengan cepat dapat melihat bahwa gerak gerik orang itu, seperti dari aliran partai Kun-lun-pay. Maka ia mencegah Hong Ing hendak memukulnya. "Kim kongcu" kata Hoa Sin kepada Blo'on, “kemungkinan orang yang engkau kalahkan itu adalah seorang tokoh dari Kun-lun-pay yang sudah lama menghilang. Menilik … " "Siapa yang engkau panggil Kim kongcu ?” tegur Blo'on menukas. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Sudah tentu engkau," sahut Hoa Sin, "kami berkesimpulan bahwa engkau adalah putera dari Kim Thian Cong tayhiap yang menghilang itu”. "Ya, benar, Hoa pangcu, dia adalah sukoku yang sejak bertahun2 telah pergi dari gunung," kata Sian-Li. Him Sin, Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin segera menghampiri dan memperkenalkan diri: "Kami berjerih payah mencari Kongcu.Tak terduga di tempat ini kami dapat bertemu" kata ketiga Ketua partai persilatan. “Eh, jangan kalian bergirang dulu." tiba2 Hong Ing berseru, "aku masih mempunyai perhitungan dengan dia.” “Siapakah li-sicu ?” tegur Ceng Sian suthay agak kurang senang melihat ucapan Hong Ing. "Suthay,” sahut Sian-Li, "dia mengaku murid dari Hoa-sanpay. Suko dituduh telah membunuh suhunya, Kam Sian Hong pangcu."* "Benarkah begitu, li-sicu ?" seru Ceng suthay pula. "Jika disebuah guha terdapat sesosok mayat dan di dalam guha itu hanya terdapat seorang muda yang membawa senjata dari korban itu, salah kah kalau orang menganggap pemuda itu yang jadi pembunuh?" "Tidak salah" kata Hoa Sin, "tetapi aku percaya Kim kongcu tentu tak membunuh !” "Bagaimana Hoa pangcu yakin akan hal itu?”, balas Hong Ing. "Karena ... karena pikiran Kim kongcu… .” "Aku tidak gila !" teriak Blo'on, "aku hanya lumpuh otak, tak dapat mengingat apa2 lagi." Tiraikasih website http://kangzusi.com. Dengan rubuhnya Liau Gong taysu maka pengawal Baju Putih kini hanya tinggal empat orang. Salah seorang lagi segera maju. "Kongcu, biarlah kali ini aku yang melayaninya,” seru Hoa- Sin segera menyongsong ke muka orang itu. Tiba2 orang itu menggerung dan terus menerkam Hoa Sin. Hoa Sin terkejut, cepat ia menghindar ke samping sampai beberapa langkah dan secepat itu ia tahu bahwa gerakan pengawal Baju Putih itu adalah ilmu Eng-jiau-kang atau ilmu Cakar-garuda. Ia tak sempat menimang2 dan mengingat tokoh2 persilatan yang memiliki ilmu silat Eng-jiau-kang lihay. Memang banyak juga tokoh2 yang memiliki ilmu silat semacam itu, tetapi hanya sedikit sekali yang terkenal. Siapakah gerangan tokoh itu. Karena ia yakin orang2 yang dijadikan pengawal dalam partai Thian tong-kau tentu bekas tokoh2 silat ternama yang telah menghilang secara misterius dari dunia persilatan. Namun ia tak sempat berpikir karena saat itu, pengawal Baju Putih itu dengan sebuah gerak yang dahsyat telah menerkam pula tubuh Hoa Sin. Bermula memang tiada yang memperhatikan, tetapi setelah melakukan gerak Eng-jiau-kang, barulah orang tahu bahwa pengawal Baju Putih itu memiliki kuku2 panjang dan runcing seperti cakar burung garuda. Dan yang lebih hebat, kuku jarinya itu tampak tegak lurus seperti batang pit. Hoa Sin seperti diancam sepuluh batang pit yang hendak menerkam mukanya. Hoa Sin juga seorang ketua partai persilatan, sudah tentu ia memiliki kepandaian yang tinggi. Dan setelah mengenal ilmu silat lawan, iapun segera dapat mengatur cara perlawanannya. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Dan karena lawan menggunakan tangan kosong, Hoa Sin pun tak mau memakai tongkat penggebuk anjing atau Bakkau- pangnya yang terkenal. Jurus Noh-eng-tham-cu atau Garuda-marah- menerkammutiara yang dilancarkan pengawal Baju Putih itu bertujuan untuk menerkam kedua biji mata Hoa Sin. Ketua Kay-pang itu tahu bagaimana keganasan dari jurus yang dimainkan lawan. Cepat ia lontarkan hantaman seraya loncat mundur. Pukulan yang dilontarkan Hoa Sin itu menggunakan enamtujuh bagian tenaganya tetapi betapakah kejutnya ketika dilihatnya pengawal Baju Putih itu tetap menerjang maju dengan ulurkan kedua tangannya ke muka. Hoa Sin terpaksa menghindar ke samping. Dengan sebuah gerak yang cepat ia gunakan jurus Thui-jong-ong-gwat atau mendorong-jendela-memandang-rembulan. Kedua tangannya didorong serempak kearah lambung lawan. Tetapi pengawal Baju Putih itu tiba2 berputar tubuh. Dengan indah sekali, kedua tangan Hoa Sin dapat dihindari dan tak kurang cepatnya segera ia balas menerkam tangan Hoa Sin dengan jurus Hui-eng sian-ke atau Garuda-terbangmenggondol- ayam. Menghadapi gerak perobahan dari lawan, Hoa Sin gunakan jurus Yap-mi-hun jong atau Kuda-liar membagi bulu suri. Kedua tangan direntang. setelah cengkeraman pengawal Baju Putih masuk segera ia mengatupkan tangannya untuk menerkam. Tetapi alangkah kejut Hoa Sin ketika gerakannya yang dilakukan dengan kecepatan tinggi itu tetap menerkam angin karena lawan dengan mudah telah mengendapkan kedua cakarnya dan tangan ditusukkan ke perut Hoa Sin. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Jarak amat dekat sekali. Jalan satu-satunya bagi ketua Kaypang hanyalah miringkan tubuhnya kemudian, dengan sebelah tangan ia menghantam dada lawan. Plak .... pengawal Baju Putih itu tergetar mundur tetapi kedua kakinya tetap berdiri ditempatnya. Sedang Hoa Sin terpaksa harus loncat menyingkir. Ketika memeriksa bajunya ternyata terdapat lima buah lubang kecil bekas tusukan kuku jari lawan. "Siapakah gerangan tokoh Eng jiau-kiau ini ? masih Hoa Sin melanjutkan pertanyaannya dalam hati. Walaupun pukulannya tadi hanya menggunakan lima bagian tenaganya, tetapi tidaklah sembarang jago silat mampu menerimanya. Pengawal Baju Putih itu hanya tergetar ke belakag tetapi tetap tak berkisar dari tempatnya. Sesaat berobahlah airmuka ketua Kay-pang ketika teringat akan seorang tokoh dalam dunia persilatan yang sudah lama menghilang tiada beritanya. Dunia persilatan pernah mengenal seorang tokoh dari gurun Gobi yang pernah pada beberapuluh tahun menggemparkan dunia persilatan Tiong-goan. Dia memiliki ilmusilat Eng-jiaukang tetapi ilmu itu sedikit berbeda dengan ilmu Eng-jiau-kang yang terdapat di dunia persilatan Tiong goan. Tokoh itu bernama Hong tian-sin-eng atau Garuda sakti-gila. Kuku2 kesepuluh jarinya panjang tetapi dapat dijulurkan lurus keras, dilipat dan disurutkan menurut sekehendak hatinya. Dan yang lebih ganjil pula. kuku2 jarinya itu mengandung racun, Jangankan tercengkeram, bahkan tergurat sedikit saja oleh kukunya, bagian anggauta badan lawan yang terkena guratan itu tentu akan kaku tak dapat digerakkan lagi. Hoa Sin untung masih sempat menghindar, sehingga perutnya tak sampai rusak. Namun lubang pada bajunya itu Tiraikasih website http://kangzusi.com. cukup membuat ketua Kay-pang malu dan naik pitam. Ia hendak maju menyerang! "Hoa, pangcu, aku saja yang menghadapi,” tiba2 Blo'on berseru terus mendahului melangkah kehadapan Hong -tiansin- eng. Pengawal Baju Patih itupun tak mau banyak bicara. Siapa saja yang maju, ia tak peduli. Pokoknya akan diserangnya sampai hancur. Melihat seorang pemuda gundul, ia terus saja loncat menerkam, sepuluh kuku jarinya menekuk macam kuku garuda hendak mencengkeram korban. Sekali buka serangan ia gunakan jurus Sin-eng-can-jiau atau Garuda sakti menebarcakar. Sedemikian hebat dan ketat gerakan kesepuluh jari Hong-tian-sin-eng sehingga Blo'on seolah dikelilingi oleh pagar kuku runcing. Blo'on terkejut dan ngeri melihat jari2 yang menyeramkan itu. Rasa kaget, telah mendebar semangatnya sehingga darahnya bergejolak keras. Dan seketika mengembanglah tenaga-dalam Ji ih-sin-kang yang istimewa. Ia tak menyadari akan tenaga dalam aneh yang dimilikinya itu. Hanya karena suatu gerak reflek hendak diterkam, ia segera merontak, menjejakkan kaki ke tanah dan tahu2 tubuhnya meluncur seperti anakpanah dilepas ke udara. Pengawal Baja Putih itu terkejut sekali karena terkamannya yang hampir mengenai itu tiba2 hanya menerkam angin. Sedangkan Blo'on ketika diudara baru gelagapan sendiri. Ia tak nyana kalau dirinya mampu melambung sampai dua tombak ke udara. Memandang ke bawah dilihatnya pengawal Baju Putih itu sedang mencengkeram ke tempatnya yang sudah kosong tadi. Seketika timbul kemarahan Blo'on, ia hendak meluncur turun menginjak kepala orang itu. Tetapi ia tak tahu bagaimana caranya supaya dapat meluncur cepat. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Ji-ih-sin-kang memang aneh luar biasa. Apalagi jalandarah Seng-si-hian-kwan dalam tubuh Blo'on sudah tertembus. Tak perlu bergerak, cukup pikirannya menghendaki saja, tahu2 tubuhnya sudah meluncur seperti yang dikehendaki. Ji ih sin-kang yang dimiliki Blo'on memang cukup digerakkan dengan angan2 atau pikiran saja. Keanehan itu mungkin hanya dapat terjadi pada diri Blo'on yang penuh dengan beberapa tenaga dalam yang aneh, buah cian- hanhay- te-som dan lain2 hal yang tak mungkin dialami orang lain. Demikianlah setelah meluncur kebawah dalam kecepatan yang tinggi, kaki Blo'on hinggap diatas kepala Hong-tiang-sineng. Pengawal Baju Putih itu terkejut sekali. Cepat ia menarik kedua tangannya untuk mencengkeram kaki dialas kepalanya. Tetapi ah, hanya angin yang diterkam. Dan ketika baru saja ia menarik kedua tangannya turun, kepalanya sudah diinjak Blo'on lagi. Bahkan kali ini Blo'on menginjak keras hingga tubuh pengawai Baju Putih itu mengendap kebawah, krak.... Blo'on loncat turun. Sekalian orang terkejut menyaksikan apa yang terjadi. Pengawal Baja Putih itu kepalanya lunglai rebah keatas bahunya seperti orang tengeng. Ternyata pijakan Blo'on telah meremukkan tulang lehernya. Jika bukan dia yang mempunyai daya-tahan hebat, tentulah sudah mati. Tetapi Hon-tian sin eng memang hebat. Tadipun pukulan ketua Kay pang hanya mampu merebahkan tubuhnya ke belakang Dan sekarang walaupun tulang lehernya sudah remuk dia masih dapat bertahan walaupun kepalanya terkulai kesamping pada bahunya. Pengawal Baju Putih memang gila benar. Walaupun sudah menderita luka begitu rupa, namun ia masih kuat melanjutkan Tiraikasih website http://kangzusi.com. serangannya. Bahkan karena marah, serangannyapun makin ganas dan kalap. Blo'on kesima. Pertama, ia merasa kasihan juga melihat leher orang itu. Dan kedua, iapun terlongong karena orang itu masih dapat melancarkan serangannya. Hanya sedetik ia terlongong tapi cukup sudah bagi seorang tokoh macam Hoantian- sin-eng untuk menerkam dada Blo'on. "Hukkk ..." Blo'on mengukuk kaget. Lebih kaget lagi ketika ia rasakan dadanya seperti ditusuk pisau runcing. Telah dikatakan berulang kali, ji-ih-sin-kang yang dimiliki Blo'on itu memang aneh sekali. Apalagi kalau dia marah atau terkejut, seketika tenaga-dalam aneh itu terus memancar keluar menurut ke hendak hati Blo'on. Rasa sakit pada dada, telah membuat Blo'on marah dan ingin membalas rasa sakit itu. Dan Ji-ih-sin-kangpun memancar ..... Krek, krek ..... terdengar bunyi bergemeretukan ketika kesepuluh jari pengawal Baju Putih yang menancap pada dada Blo on itu pecah dan patah, semua. Dan lebih gila lagi, Ji ihsin- kang itu masih melanjutkan menembus, jari2 pengawal Baju Putih, mengalir ke lengan lalu terakhir menggempur jantung. Pengawal Baju Putih itu menjerit ngeri ketika tubuhnya terpelanting rubuh ke belakang. Mulut mengalirkan darah, mata meram nyawa amblas. "Suko !" teriak Sian-Li seraya lari menghampiri dengan cemas "apakah suko terluka ? Mengapa dada bajumu berlumuran darah hitam ?" Blo’on menunduk memandang dadanya. Ah memang benar dada bajunya telah berlumuran darah warna hitam. Tiraikasih website http://kangzusi.com. “Apakah engkau terluka. suko?" ulang Sian-Li. Blo'on gelengkan kepala : "Tidak. Tadi memang terasa sakit karena dadanya dicengkeram kuku orang itu yang runcing. Tetapi pada saat rasa sakit itupun sudah hilang.” "Ah, masakan …” kata Sian-Li. "cobalah engkau periksa dadamu, suko" Blo'on menurut. Ternyata pada dadanya terdapat beberapa bekas lubang. Darah hitam itu mengalir dari lubang2 itu yang saat itu sudah kering. Hoa Sin yang menghampiri dan melihat luka itu serentak berobah airmukanya : "Kim kongcu engkau terkena kuku beracun. Tentulah kuku2 dari pengawal Baju Putih itu mengandung racun. "Bagai manakah rasa tubuhmu ?" "Tidak apa2" jawab Blo'on. “Cobalah engkau bernapas," pinta Hoa Sin. Dan Blo'onpun melakukannya. "Tak apa2" katanya tersenyum. Hoa Sin terlongong, jelas diketahuinya bahwa lubang2 kecil pada dada Blo’on itu bekas cengkeraman kuku dan karena warnanya hitam, tentulah kuku itu beracun. Menilik kepandaian pengawal Baju Putih itu tentulah racun yang digunakannya itu ganas sekali. Tetapi mengapa Blo'on tak apa2. Jika ketua Kay-pang itu heran memang tak mengherankan karena ia tak tahu bahwa Blo'on telah makan buah ajaib cian- Iiau-hay-te-som dan memiliki tenaga-dalam aneh Ji-ih-sinkang. Karena merasa sakit ia ingin menghapusnya dan memancarlah tenaga-dalam Ji-jh-sin-kang, mematahkan Tiraikasih website http://kangzusi.com. kuku2 jari pengawal Baju Putih dan menghalau keluar racun yang hendak menyusup kedalam dadanya. "Mengapa Hoa pangeu ?” tegur Blo’on. "Baru pertama kali ini aku melihat seorang yang tak mempan racun seperti kongcu. Apakah engkau mempunyai ilmu untuk menolak racun?" tanya Hoa Sin. Blo'on gelengkan kepala. "Wah, aku tak kira kalau Kim kongcu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa saktinya. Pengawal Baju Putih itu ganas dan sakti, jika tak ada kongcu. sukar untuk mengatasi orang itu,” Hoa Sin memuji. "Ah, janganlah Hoa pangcu memuji" kata Blo'on "Memang benar, kongcu." kata Hoa Sin dengan nada bersungguh, "ilmu meringankan tubuh yang kongcu tunjukkan tadi. benar2 luar biasa. Mungkin belum tentu jago kelas satu mampu menandingi kepandaianmu. Darimanakah engkau memperoleh kepandaian sakti itu ?" Blo'on gelengkan kepala ; "Aku tidak mempunyai guru." "Ha, ha," Hoa Sin tertawa, "tak apalah, mungkin suhumu melarang engkau jangan mengatakan namanya kepada orang." "Sama sekali tidak,"' seru Blo'on, "suhuku itu bernama tetapi entah apa namanya. Setiap orang tentu mempunyai". Ketua Kav-pang tahu bahwa putera dari Kim Thian Cong itu memang berwatak aneh dan pikirannya aneh. Tetapi apa yang dilihatnya saat itu, menimbulkan kesan lain. Dalam sikapnya yang Blo’on, ia melihat suatu cahaya kewibawaan. Dalam kebodohannya, ia melihat suatu kejujuran yang polos. Tak bisa ilmusilat tetapi sakti. Tak punya guru tetapi memiliki ilmu Tiraikasih website http://kangzusi.com. silat tinggi. Dalam hal wajah, sesungguhnya Blo’on memiliki ketampanan yang mempunyai sifat menarik. Tak kalah dengan ayahnya, Kim Thian Cong. "Siapakah nama suhumu itu ?" tanyanya. "Pengalaman dan kehidupan,” sahut Blo'on. ia garuk2 kepala, "sesungguhnya aku jemu dengan kehidupan. Aku melarikan diri. Tetapi aku selalu dikejar-kejar hidup. Berulang kali aku sebenarnya harus mati, tetapi tetap diharuskan hidup. Aku pernah dikepung gembong2 Hoa san-pay, aku pernah dikeroyok paderi2 Siau-lim-si, aku pernah dicium harimau, aku pernah jadi menantu raja, pernah dikubur dan lain2. Aku tak senang hidup tetapi selalu diharuskan hidup. Dan hidup itu membawakan aku kepada pengalaman yang aneh2. Pengalaman2 itu banyak memberi pelajaran. Aku tak mau belajar tetapi dipaksa untuk menelan pelajaran. Pernah aku mendapat sebuah kitab aneh aku tak mau dan tak ingin mempelajari kitab itu tetapi seorang pengemis telah mengambil, membakar dan abunya diminumkan kemulutku dikala aku tidur nyenyak, bukankah hal itu aneh ?” Ketua Kay-pang mengangguk: "Benar, benar memang aneh sekali penghidupan itu. Yang mengharap dan menginginkan, malah tak mendapat. Yang tak mengharap dan menginginkan, malah mendapat." "Tepat," seru Blo'on pula, "seperti dengan ketua Thian tong kau disini. Dia mendirikan perkumpulan, mencari anggauta dengan paksa karena hendak mencari nama, hendak menjagoi dunia. Tetapi beginilah jadinya....." Belum selesai ia bicara tiba2 seorang pengawal Baju Putih yang lain, melaugkah maju setindak, berhenti lalu dorongkan sebelah tangan | Tiraikasih website http://kangzusi.com. Se-konyong2 Hoa Sin menjerit dan tersurut mundur selangkah. Demikian pula dengan Blo'on juga ter-huyung2. Sian-Li dan Hong Ing yang dekat dengan Blo'on juga menderita. Kedua nona terlempar sampai beberapa langkah. Untung keduanya tangkas. Begitu merasa terlanda oleh angin pukulan yang tak kelihatan, keduanya segera loncat. Maka walaupun terlempar mereka tak sampai menderita luka. "Bu-ing-sin-kang !" teriak Hoa Sin ketika menyadari apa yang telah terjadi. Bu-ing-sin-kang artinya tenaga-sakti-tanpa-bayangan. Suatu ilmu tenaga-dalam yang tak kelihatan tetapi tahu2 telah melanda orang. "Apa itu Bu-ing-sin-kang?" tanya Blo'on. Hoa Sin pun segera menerangkan. "O, jika begitu kalian harus ber-jaga2. Biar aku yang menghadapi orang itu" kata Blo'on. Hoa Sin terkejut, Ceng Sian suthay dan Hoa Hong tojin juga menghampiri dan berseru: "Kongcu dia sangat lihay sekali ... " Tetapi Blo'on tak mengacuhkan, dia terus ayunkan langkah maju ke hadapan pengawal Baju Putih itu. "Hai. engkau pengecut" serunya, "kalau menyerang harus bilang, dong!” Tetapi pengawal Baju Putih itu tak menjawab melainkan mendesuh aneh. Tiba2 ia dorongkan tangannya kemuka. Tetapi Blo'on sudah tahu. lapun segera mendorongkan tangannya ke muka. Tiada goncangan, tiada suara apa2, tahu2 pengawal Baju Putih itu tergetar tubuhnya. Rupanya dia tak puas. Kembali ia dorongkan tangan kanannya kemuka. Blo'onpun tak terima, ia menirukan juga Tiraikasih website http://kangzusi.com. gerak orang itu, Dan akibatnya, pengawal Baju Putih itu bukan saja tergetarpun kakinya tersurut setengah langkah. Pengawal Baju Putih itu mengeluarkan suara aneh, bercuitcuit seperti babi hendak disembelih. Setelah berdiri tegak, ia lalu dorongkan kedua tangannya. Gerakannya seperti orang ber-main2 karena sama sekali tak mengeluarkan angin maupun suara. Blo'on juga dorongkan kedua tangannya ke muka. Kali ini pengawal Baju Putih itu terhuyung selangkah kebelakang. Sekalian orang yarg menyaksikan adu pukulan tak bersuara itu terkejut heran. Ilmu apakah yang dimiliki Blo'on sehingga mampu mengalahkan seorang pengawal Thian-tong-kau yang memiliki ilmu pukulan sakti Bu-ing-sin-kang? Jika tokoh2 ketua partai persilatan itu heran tidaklah demikian dengan pengawal Baju putih itu. Karena pukulan dengan kedua tangannya gagal, ia makin penasaran. Dengan meraung keras ia terus lari menyerbu Blo'on, seraya menghamburkan pukulan tangan kanan dan kiri. Blo'on terkejut. lapun lari menyongsong seraya taburkan kedua tangannya menurut gerak pengawal Baju Putih itu. "Suthay, ilmu pukulan apakah yang dimainkan Kim kongcu itu?" tanya Hong Hong tojin pada Ceng Sian suthay. Rahib ketua Kun-lun-pay itu gelengkan kepala : "Entahlah, memang aneh sekali anak itu. Selama ini aku belum tahu orang yang memiliki ilmu seaneh itu. Tetapi jelas dia dapat menirukan apapun gerakan lawannya." "Ya, dari kecil sampai setua ini, baru pertama kali ini aku melihat sebuah ilmu aneh seperti yang dimiliki kongcu itu. " Hoa Sin menghela napas, "dia memang aneh, lebih aneh dari ayahnya. Dia memang sakti, lebih sakti dari bapaknya.” Tiraikasih website http://kangzusi.com. Dalam pada bicara itu, pertempuran telah langsung seru dan tak berapa lama terjadilah suatu pemandangan yang mengejutkan. Pengawal Baju Putih jumpalitan jungkir balik seperti terkena pukulan yang bertubi-tubi. Huak .... pada akhirnya dia muntah darah dan terus rubuh mencium lantai. Gemparlah sekalian orang menyaksikan kesudahan itu. Mereka benar2 tak menyangka bahwa Blo'on akan mengakhiri pertempuran itu dengan suatu kemenangan yang mengesankan. Beberapa ketua persilatan itu segera menghampiri: "Kongcu. bagaimana engkau ?” tegur Ceng Sian suthay yang agak mulai menaruh perhatian kepada anak muda itu. "Terima kasih, suthay, aku tak apa2." seru Blo’on, "Apakah ilmu yang kongcu gunakan untuk menghadapi orang itu tadi ?" tanya Hoa Sin. “Entah, apa namanya," jawab Blo'on, "tetapi memang aneh juga, apabila melihat orang bergerak akupun ingin bergerak menurut dia dan tahu2 tangan dan kakiku menirukan gerak orang itu, ilmu apakah itu ?" Ketiga ketua persilatan itu tercengang. Mereka saling bertukar pandang tetapi tak dapat memberi jawaban. Tiba2 Hoa Sin teringat sesuatu . "Ah, bagaimanakah bentuk kitab tanpa tulisan itu ?" "Biasa saja, kecil dan dapat dikantongi," jawab Blo'on. "Eh, engkau belum melanjutkan ceritamu ketika engkau dikubur dalam tanah," tiba2 pula Hong Ing berseru. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Ya," kata Blo'on, tabib Hoa Liong itu juga merasa aneh mengapa saat itu aku masih, bernyawa. Aku menerangkan bahwa ketika sadarkan diri. aku seperti terbungkus dalam kegelapan dan tubuhku seperti terbungkus benda berat. Aku meronta sekuat-kuatku. Memang agak terasa longgar tindihan yang mencengkam tubuhku itu. Tetapi aku diserang oleh rasa kantuk yang sukar dilawan, sehingga aku tertidur lagi. Tabib itu menerang bahwa hawa yang dipancarkan oleh katak-salju memang dapat membuat orang ngamuk. Kemudian tabib itu mulai menggali lubang dan membuka keping besi penutup lubang tempat ia memelihara katak-salju. Diambilnya seekor katak-salju dan diberikan kepadaku. Dengan makan seekor katak-salju ini, engkau akan memperoleh khasiat yang besar sekali. Tubuhmu kuat menahan segala perobahan hawa dan sakit. Pun umurmu akan panjang, tenagamu berlipat ganda kuatnya" "Wahai, suko, engkau memang besar rejeki. Setiap kecelakaan yang engkau derita, selalu berakhir dengan keberuntungan yang tiada taranya" seru Sian-Li. "Itulah yang kumaksudkan. Aku tak senang hidup tetapi dipaksa hidup. Aku tak mencari ilmu dipaksa mendapat ilmu. Aku sendiri heran.” kata Blo'on. "Benar, memang anak itu selalu mendapat rejeki besar," seru kakek Lo Kun. "jika begitu mulai saat ini aku tak ingin mencari wanita, biar diburu wanita …” Hong Ing dan Sian-Li tertawa mengikik. "Siapakah kakek tua itu ?" karena sejak tadi belum diperkenalkan maka Hoa Sin segera bertanya kepada Blo’on. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Dia adalah kakekku bernama Lo Kun si Macan Hitam," kata Blo'on. Mendengar itu Hoa Sin segera menghampiri, memberi salam perkenalan. "Ih, siapa ini, masakan pengemis hendak bersalaman dengan aku ?" Lo Kun mendengus. "Dia adalah Hoa Sin pangcu, ketua dari partai Kay pang" seru Blo'on. "Lopeh, aku yang rendah bernama Hoa Sin," kata Hoa Sin dengan merendah diri "harap lopeh jangan menolak berkenalan dengan aku. Walaupun pengemis, tetapi aku juga manusia". Senang hati Lo Kun karena Hoa Sin sangat hormat kepadanya. Kemudian kakek itu menuding Hong Hong tojin "dan siapakah orang itu?” Hong Hong tojin memberi hormat, "Aku yang rendah seorang tojin bergelar Hong Hong, mengepalai partai persilatan Go-bi-pay" "Uh, juga seorang ketua. Mengapa banyak sakali ketua yang berada disini ?" tanya Lo Kun. Tetapi ia tak minta jawaban karena terus mengajukan pertanyaan lagi : "Dan siapakah wanita yang berkerudung kepala itu ?. Apakah dia sakit kepala ?” Sebenarnya Ceng Sian suthay sudah hendak memperkenalkan diri tetapi demi mendengar kakek itu bicara tak keruan, ia tak mau bicara. Rupanya Sian-Li tahu kalau kata2 Lo Kun itu kasar dan menyinggung perasaan Ceng Sian suthay maka buru2 ia memberi keterangan: "Ah, kakek Lo-Kun, jangan bicara tak keruan. Dia adalah Ceng Sian suthay,” rahib ketua Kun-lunTiraikasih website http://kangzusi.com. pay. Dia tak sakit kepala, memang demikianlah dandanan seorang rahib." "Perlu apa pakai kerudung kepala ? Bukankah bagi wanita, harus menunjukkan rambut? Aku teringat orang mengatakan bahwa rambut merupakan mahkota bagi seorang wanita ... ". Ceng Sian suthay makin ter-sipu2 malu. "Kakek Lo Kun, jangan bicara begitu !” seru Sian-Li makin keras. Kakek Lo Kun deliki mata : "Aku bicara apa ? Kukatakan kecantikan wanita itu karena ia miliki rambut yang indah. Seperti engkau ini. Karena rambutmu hilang dan hanya tinggal dua buah kuncir, wajahmu jadi lucu, hilang sifat kewanitaanmu.” Sian-Li malu sekali: “Tetapi ini bukan keinginanku. Aku telah dijadikan begini rupa oleh padri Thian-tok itu !" Hoa Sin, Hong Hong tojin dan Ceng Sian suthay terkejut '"Siapa paderi Thian-tiok itu, nona?” "Namanya Rajendra Singh, pandai ilmu sihir yang jahat. Dia sebenarnya hendak mencari suko maka dia lalu memaksa aku menyaru jadi suko untuk memancing suko keluar dari tempat persembunyiannya" kata Sian-Li. Hoa Sin, Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin saling bertukar pandang. Kata Hoa Sin : “Mengapa paderi Thian-tiok hendak mencari Kim kongcu.” "Kemungkinan dia tentu hendak mencari balas kepada Kim tyahiap. Oleh karena Kim tayhiap sudah meninggal maka ia tumpahkan dendamnya kepada puteranya," kata Ceng Sian suthay. "Benar, suthay," seru Hong Ing, Tiraikasih website http://kangzusi.com. Ketiga ketua paitai persilatan itu berpaling dan bertanya : "Bagaimana nona tahu ?" "Bukan saja tahu tetapi dia sudah kujadikan seorang buta !" seru Hong Ing. Ketiga ketua partai persilatan itu makin kaget. Lalu meminta keterangan. Hong ingpun segera menuturkan peristiwa yang terjadi dengan Rajendra Singh. Hoa Sin mendengar dengan penuh perhatian. Sesaat kemudian ia berkata agak kaget: “Jika demikian halnya, apakah bukan dia yang telah mencelakai Kim kongcu sehingga Kim kongcu seperti orang yang kehilangan ingatan ?" "Kemungkinan besar begitu”, seru Sian-Li, “karena setelah paderi Thian-tiok itu kabur, pikiran kitapun terang. Dan tampaknya pikiran suko juga lebih genah dari yang sudah lalu." "Memangnya aku tidak gila!,” Blo’on bersungut sungut, "tapi kadang pikiranku masih gelap dan lupa segala apa. Penyakit apakah itu?” "Hi, hi. hi" Hong Ing tertawa mengikik. Blo'on melongo lalu menegur: "Mengapa engkau tertawa ? Apa engkau anggap aku memang gila?" "Apakah engkau masih ingat ketika dalam perjalanan turun gunung Hoa-san dahulu?" tanya Hong Ing. "Apa itu sih ? Masakan hal2 yang sudah lalu engkau suruh ingat. Kau lebih enak memikir yang sekarang?" seru Blo'on. "Engkau tak ingin tahu hal itu ?" "Kalau engkau memberitahu, aku mau mendengarkan." jawab Blo'on. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Itu waktu aku pernah mengatakan bahwa untuk obat penyakit otak hilang haruslah makan otak naga. Habis mendengar itu engkau terus menawan aku dan memaksa aku supaya menunjukkan tempat naga itu. Masih ingat ?" tanya Hong "Ya, sekarang aku ingat," sahut Blo'on, tapi dimanakah letak tempat naga itu ?" "Aku sendiri tak tahu," sahut Hong Ing "Ha, ha, ha," Hoa Sin tertawa, "masa otak naga mampu mengobati penyakit otak. Untuk mencari naga itu saja sukarnya bukan kepalang. apalagi hendak mencari otaknya. Ah, jangan engkau bergurau nona." "Tidak," bantah Blo'on, "dia memang bergurau, kupikir memang hanya otak naga dapat menyembuhkan penyakit ingatanku itu." Kembali Hoa Sin tertawa : "Ah, kongcu derita sakit hilang ingatan adalah karena dijahati oleh paderi Thian-tiok itu. Obatnya, kalau begitu hanyalah menangkap paderi Thian-tiok itu dan memaksanya supaya menyerahkan obat." "Tetapi paderi itu sudah dibunuh oleh nona ini ?* seru Blo'on. "Belum, dia masih hidup hanya kedua matanya yang buta," menerangkan Hong Ing. Tiba2 seorang pengawal Baju Putih maju pula dan terus melontarkan sebuah pukulan. Seketika Blo'on dan orang2 yang berada disekitarnya terlanda oleh angin pukulan yang dahsyat sekali. Cepat2 mereka kerahkan tenaga-dalam untuk bertahan Hong Ing dan Sian-Li tersurut mundur, Hoa Sin, Ceng suthay Tiraikasih website http://kangzusi.com. dan Hong Hong tojin bergetar keras sehingga pakaiannya sampai bertebaran. Sedang Blo'on mencelat beberapa meter. "Biat-gong-ciang !" seru Hoa Sin seraya memandang pengawal Baju Putih yang bertubuh tinggi kurus. Ia hendak maju tetapi Ceng Sian suthay sudah mendahului: "Kali ini biarlah aku yang melayaninya." Pengawal Baju Putih itu tak menghiraukai siapa yang dthadapannya. Ia mengangkat tangan dan mengayunkan kemuka lagi. Melihat itu Ceng Sian suthaypun balas menghantam. Terdengar deru suara angin dan sesaat kemudian disusul oleh letupan keras. Pengawal Baju Putih itu hanya tergetar bahunya sedang Ceng Sian suthay tersurut setengah langkah ke belakang. Ceng Sian terkejut sekali. Ia menyadari bahwa pengawal Baju Putih itu telah melancarkan pukulan sakti Biat-gong-ciang atau pukulan-membelah-angkasa. Ia juga menyambut dengan ilmu pukulan itu. Tetapi ternyata tenaga-dalam lawan lebih kuat. "Siapakah dia ?" Ceng Sian suthay mulai bertanya dalam hati. Sejauh pengetahuannya, dalam masa itu hanya sedikit sekali tokoh persilatan yang menguasai ilmu pukulan Biatgong- ciang sedemikian sempurna. Tiba2 pikiran suthay itu teringat akan seorang tokoh dari partai Kun-lun-pay. Tokoh itu termasuk dua angkatan lebih dulu, seorang cianpwe Kun lun-pay, adik seperguruan ketiga dari ketua Kun lun pay saat itu. Tetapi orang itu sejak turun gunung sudah tak kedengaran beritanya dan tak pernah kembali ke Kun lun-san lagi. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Memang ketika suhu dari Ceng Sian suthay pernah juga dikerahkan beberapa anakmurid Kun lun-pay untuk mencari jejak orang itu. Tetapi tak berhasil. Jika benar dia, mengapa tahu2 sekarang berada di gunung Thay-san menjadi pengawal Baju Putih dari Thian-tong-kau ? Namun tak sempat suthay itu berpikir lebih lanjut karena saat itu pengawal Baju Pulih sudah ayunkan tangannya pula dengan suatu gerak yang lebih keras dari tadi. Ceng Sian suthay terkejut. Kalau ia mengadu pukulan lagi, kemungkinan ia akan menderita. Namun jika ia mundur, tentulah akan kehilangan muka. Akhirnya ketua Kun-lun-pay itu mengambil putusan nekad hendak adu pukulan. Kalau mati, biarlah ia pecah sebagai ratna. Dengan segenap pengerahan tenaga-dalam, ia segera dorongkan kedua tangan kemuka. Ia sudah memutuskan mati. Tetapi ternyata tenaga pukulan pengawal Baju Putih itu tak berapa dahsyat sehingga dapatlah suthay itu bertahan. Ceng Sian suthay heran. Dia tak tahu mengapa tenaga pengawal Baju Putih itu tiba2 menurun. Demikian dengan lain2 orang, kecuali Hoa Sin ketua Kay-pang. Karena hanya dialah yang tahu apa yang telah dilakukannya untuk membantu Ceng Sian suthay. Setelah melihat dalam adu pukulan pertama tadi Ceng Sian suthay menderita, diam2 Hoa Sin mencari akal bagaimana dapat membantunya. Sebagai sesama ketua partai persilatan, ia tak mau secara terang membantu karena hal itu dapat dianggap menghina. Maka diam2 ia mengeluarkan sebuah gigi anjing dari kantongnya. Diluar perhatian, ia menjentikkan gigi anjing itu kearah pengawal Baju Putih. Sudah tentu disertai dengan tenaga-dalam yang kuat. Gigi anjing tepat mengenai jalan darah Kiok ti-ltiat pada persambungan lengan pengawal Tiraikasih website http://kangzusi.com. Baja Putih. Seketika pengawal itu rasakan tangannya lunglai sehingga tenaganyapun lemah. Memang ada2 saja yang dilakukan ketua Kay-pang itu. Dia mengumpulkan gigi anjing banyak gunanya, katanya. Tetapi apa kegunaannya dia sendiri yang tahu. Pengawal Baju Putih itu meraung sedahsyat harimau lapar. Melangkah maju setindak, ia lancarkan pukulan dengan kedua tangannya. Hoa Sin menjetikkan dua buah gigi anjing tetapi kali ini agak terlambat. Yang satu mengenai pergelangan tangan orang tetapi yang satu lagi tertampar angin pukulan Biatpong- ciang. Huk ..... terdengar mulut Ceng Sian si mendengus tertahan ketika tubuhnya terdorong mundur dua langkah. Wajah suthav pucat lesi. "Suthay, engkau kenapa !" seru Hoa Sin dengan cemas. "Ak ... huak ... ", belum sempat suthay mengucapkan kata, segumpal darah segar telah tumpah dari mulutnya. Melihat itu Sian-Li cepat loncat menghampiri dan segera memberinya sebutir biji Cian-lit hay-te-som, kemudian membawa suthay itu ke samping supaja beristirahat. “Suko, balaskan suthay !" seru Sian-Li, 'Baik,” sahut Blo'on lalu melangkah maju ke hadapan dengan pengawal Baju Putih itu. Tanpa banyak kata pengawal Baju Putih pun segera lepaskan lagi pukulan Biat-gong-ciang yang dahsyat. Blo'on marah karena Ceng Sian suthay terluka maka iapun balas memukul menurut gayanya sendiri. Ia tak tahu apakah Tiraikasih website http://kangzusi.com. pukulan itu benar atau tidak, sesuai dengan pukulan ilmu silat atau tidak. Pokok ia marah dan memukul pengawal Baju Putih itu. Auhhhh ..... terdengar pengawal Baju Putih menjerit ngeri ketika tubuhnya terbanting kebelakang. Baru pertama kali itu Blo'on memukul atas kehendaknya sendiri. Yang sudah2 ia hanya memukul setelah dipukul. Tenaga-dalam yang terpancar dan gerakannya merupakan tenaga reflek atau pantulan balik. Tetapi karena saat itu ia memukul, lainlah halnya. Tenagadalam yang terpancar memang bukan olah2 hebatnya. Biat-gong ciang yang dilepaskan pengawal Baju Putih iiu pecah berhamburan terlanda oleh tenaga pukulan Blo’on yang sakti. Bahkan setelah saling berbentur dan tenaga pukulan Biat gong ciang berhamburan, tenaga pukulan Blo’ on masih terus melanda dan menghantam tubuh pengawal Baju Putih. Dalam tubuh Blo'on berisi tenaga-dalam dari Kakek Lo Kun dari kakek Kerbau Putih, terisi buah cian-han-hay-te som yang dapat menembus jalan darah seng-si-hian-kwannya, menelan darah-ular-naga kemudian menelan abu kitab tak berhuruf, minum katak salju. Entah apa nama sekian macam tenagadalam apabila berkumpul jadi satu dalam tubuh seorang manusia. Dan buktinya, pukulan Blo’on itu cukup satu kali saja sudah dapat merubuhkan seorang Pengawai Baju Putih dari partai Thian-tong-kau. Hoa Sin, Hong Hong tojin ter-longong2. Sebagai ketua partai persilatan yang ternama dalam dunia persilatan mereka tahu sampai dimana kedahsyatan dari pukulan Biat-gong-ciang yang dilancarkan dengan tenaga-dalam. Bahwa seorang ketua partai seperti Ceng Sian suthay tak mampu bertahan menerima pukulan Biat-gong-ciang dari pengawal Baju Putih itu, jelas, menunjukkan betapa hebat tenaga-dalam yang Tiraikasih website http://kangzusi.com. dimiliki oleh pengawal itu. Tetapi mengapa dalam sebuah pukulan saja, Blo’on mampu menghancurkan seorang tokoh yang sedemikian lihaynya? "Kongcu, engkau sungguh hebat," seru Hoa Sin memuji tak henti2nya. "bahkan lebih hebat dari ayah kongcu Kim tayhiap dulu". "Ah, jangan mengolok" seru Blo'on "kata orang ayahku itu jago sakti yang diangkat sebagai pemimpin dunia persilatan. Sedang aku. uh, tak senang belajar silat. Sampai saat ini akupun tak mengerti barang sejurus ilmusilatpun. Bagaimana mungkin aku lebih sakti dari ayah ?'' Hoa Sin menghela napas; "Aneh tapi nyata tak dapat ilmu silat tapi lebih sakti dari tokoh persilatan sakti.” "Ah, harap Hoa pangcu jangan menyesalkan hal itu. Mungkin di dunia ini tiada manusia yang rejekinva sebesar Kim kongcu. Bahkan orang yang tekun berlatih silat sampai berpuluh2 tahun belum tentu menyamai apa yang diperoleh Kim kongcu" kata Hong Hong tojin. Hoa Sin mengangguk. “Aku sih tak mengiri " katanya, "hanya heran menyaksikan kejadian yang ajaib ini. Rasanya dalam dunia persilatan belum pernah terjadi peristiwa semacam ini. Dan ilmu kepandaian Kim kongcu itupun terbatas pada diri Kim kongcu sendiri, tak dapat diajarkan kepada lain orang." Tiba2 Hong Hong tojin bertanya :"Hoa pangcu kemanakah perginya Pang To Tik tayhiap? Mengapa sampai saat ini dia belum tampak ?" Hoa Sin pun seperti diingatkan, Sejak berada dibawah panggung, Pang To Tik telah pamit hendak mengacau di Tiraikasih website http://kangzusi.com. panggung tetapi ternyata sampai saat itu malah belum tampak. "Adakah dia tertangkap?" akhirnya ketua Kay pang itu bertanya. “Kemungkinan memang dapat ditangkap orang Thian-tongkau tetapi kemungkinan juga tidak.” Jawab Hong Hong tojin. Hoa Sin terkejut : "Bagaimana yang tojin artikan kemungkinan dia tidak tertangkap itu ?" 'Aku memang mempunyai rasa begitu tetapi sukar untuk memecahkan persoalannya , ... Belum Hong Hong tojin menghabiskan kata katanya, tiba2 seorang pengawal Baju Pulih mendekati maju menghampiri. Berbeda dengan yang lain, pengawal Baju Putih ini agak bungkuk, namun gerak langkahnja amat gesit sekali. Begitu tiba, dia terus menyerang Blo'on. Blo'on dan sekalian tokoh2 terkejut. Bukan karena diserang melainkan karena heran atas gaya serangan yang dilakukan pengawal bungkuk itu. Dia tidak memukul melainkan membuang tubuh dan berguling-guling di lantai, menuju ke tempat Blo'on. Karena bingung, Blo'on loncat menghindar. Tetapi orang bungkuk itu tetap berguling-guling mengejarnya. Akhirnya Blo'on coba2 menendang. Tetapi begitu kaki diayun, tiba2 orang bungku itu mendengkung keras dan tubuhnya mencelat ke udara sampai dua tombak, berguling-guling diudara dan meluncur kearah Blo'on. Begitu Blo'on menghindar orang itupun terus bergulingguling lagi ditanah untuk mengejarnya.! Hoa Sin dan Hong Hong tojin terkejut. Pernah mereka mendengar tentang seorang tokoh yang aneh dalam dunia Tiraikasih website http://kangzusi.com. persilatan. Tokoh itu kali bertempur tentu berguling - guling ketanah. Tetapi setiap kali hendak dihantam, ditendang atau dibacok, tentu melambung ke udara. Entah sudah berapa banyak jago2 silat yang kalah oleh tokoh aneh itu karena bingung menghadapi limusilatnya yang luar biasa itu. Tokoh itu dahulu diberi gelaran sebagi Tho-liong-cu atau si Naga bungkuk. Entah bagaimana tokoh yang sudah berpuluh tahun tak kedengaran beritanya, tahu2 menjadi anggauta pengawal Baju Putih dari Thian-tong-kau. "Kim kongcu, awas, kalau tak keliru pengawal Baju Putih ini bernama Tho-hong-cu atau si Naga bungkuk," Hoa Sin memberi peringatan. "Naga bungkuk?* teriak Blo'on, "bagus, bagus, kalau begitu akan kuambilnya otaknya untuk obat.' Hoa Sin hendak membantah tetapi saat itu pengawal Baju Pulih sudah berguling guling melanda cepat sekali. Ternyata gerak berguling-guling itu ada tujuannya juga yalah hendak menyambar kaki orang. Blo'on memang masih memiliki sifat kanak2. Melihat pengawai Baju Pulih itu terus menerus berguling-guling di lantai akhirnya Blo'onpun ikut latah, iapun terus lemparkan tubuh berguling-guling ke lantai. Dua sosok tubuh yang berguling-guling itu melaju pada arah yang berlawanan atau menyongsong satu sama lain. Duk .... terdengar bunyi mendebuk ketika tubuh keduanya saling berbentur. Dua-duanya berhenti. Secara kebetulan mereka saling beradu punggung. Seketika Blo'on rasakan punggungnya seperti mendarat disebuah gumpal daging yang lunak tetapi melekat, kemudian tahu2 daging itu memancarkan tenaga-dorong yang dahsyat sekali. Blo'on terTiraikasih website http://kangzusi.com. guling2 beberapa langkah tetapi lawanpun terlempar sampai beberapa meter. Gumpal daging pada bungkuk Tho-liong-cu itu mengandung tenaga dalam yang hebat sekali. Seperti yang terjadi pada kakek Kerbau Putih. Tetapi kali ini dia ketemu batunya. Ketika daging punggungnya melekat pada punggung Blo’on lalu memancarkan tenaga dalam, memang Blo'on dapat terpencal tetapi tubuh anak itupun memantulkan tenaga membal yang hebat sehingga tenaga-dalam dari Tho-liong-cu itu menghantam dirinya sendiri. Tho-liong-cu mencelat sampai beberapa meter, isi dadanya hancur. Hoa Sin menghela napas : "Ah, tak nyana seorang jago tua yang pernah menggetarkan dunia persilatan, harus mati secara begitu mengenaskan sekali". "Jika demikian halnya, kita harus berusaha untuk menyelamatkan pengawal2 yang masih itu. Jika mereka berhantam dengan Kim kongcu, tentulah mereka akan binasa semua." kata Hong Hong tojin. "Tetapi sukar, totiang " kata Hoa Sin, “pertama kita tak tahu siapa yang mengenakan pakaian pengawal Baju Putih itu. Kedua, mereka tak dapat diajak bicara. Begitu maju terus menyerang dengan ilmu yang hebat, terpaksa Kim kongcu maju dan akibatnya lawan tentu menderita." Tetapi sekalipun mulut berkata begitu namun Hoa Sin juga gelisah karena memikirkan nasib barisan pengawal Thiantong- kau. Jelas mereka adalah tokoh2 ternama dalam dunia persilatan yang telah menghilang. Jika dapat, mereka harus diselamatkan dari kebinasaan. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Hoa Sin menghampiri Blo'on dan berkata dengan pelahan : '"Kongcu, aku hendak bicara kepadamu. Pengawal2 Buju Putih itu jelas adalah tokoh2 tua yang terkenal. Karena muka mereka tertutup kain cadar, maka sukar untuk mengenali. Memang ada tokoh2 dari aliran Hitam, tetapi ada juga yang dari aliran Putih." "Lalu bagaimana cara menghindarkan mereka dari kebinasaan ?” tanya Blo'on. "Inilah yaug harus kita pikirkan,*' kata Hoa Sin, "tetapi yang jelas, mereka telah dicelakai oleh ketua Thian tong-kau sehingga ingatan mereka hilang. Jika kita dapat menolong mereka, berarti suatu berkah bagi dunia persilatan." Tiba2 Ceng Sian suthay berseru: "Apakah kongcu mengerti ilmu tutuk jalandarah?" Blo'on gelengkan kepala : "Jangankan ilmu tutuk darah, ilmu silatpun aku tak mengerti." Ceng Sian suthay menghela napas. “Jika begitu, mengapa tidak menangkapnya saja?” sekonyong-konyong Hong Ing beseru. Para ketua partai persilatan itu terkesiap, memang hanya dengan jalan itu, dapatlah para pengawal itu diselamatkan dari kebinasaan. Ho Sin lam ber-bisik2 kepada Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin. Tampak kedua ketua partai persilatan itu mengangguk-angguk. Kemudian Hoa Sin berkata kepada Blo'on ; "Kongcu kami akan berusaha untuk menangkap ketua Thian tong-kau. Dalam menghadapi barisan pengawal baju Putih itu harap kongcu suka ber-hati2. Sedapat mungkin selamatkanlah jiwa mereka." Tiraikasih website http://kangzusi.com. Blo'on mengiakan namun ia tak tahu bagai mana caranya. Tetapi sebelum ketiga ketua partai persilatan itu pergi, seorang pengawal Baju Putih sudah menerjang. Bahkan kali ini yang maju bukan hanya satu, melainkan dua orang pengawal Baju Putih. Hoa Sin, Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin terkejut ketika mereka dihadang dan terus diserang oleh dua-pengawal Baju Putih. Lebih terkejut pula, ketika melihat cara kedua pengawal menyerang. Kalau yang satu menyerang dan kanan yang kiri tentu bergerak dari kanan. Kalau yang satu menyerang dari muka, yang lain tentu menyergap dan menyerang dari belakang. Kalau yang satu menyerang ke bawah, yang lain menyerang bagian atas. Jika yang satu berguling2 di tanah, yang lain melambung ke udara. Ketiga ketua partai persilatan itu benar2 bingung menghadapi kedua pengawal Baju Putih itu. Bukan saja gaya dan cara serangannya yang aneh, tetapipun mereka memiliki tenaga-dalam yang hebat sekali. Yang satu tenaga-dalam bersifat lunak dan yang satu bersifat keras. Dalam beberapa saat saja, ketiga ketua partai persilatan itu kelabakan setengah mati. Mereka bertiga tetapi tak mampu menghadapi serangan dua orang musuh. Belasan tahun yang lalu, dunia persilatan pernah mengenal sepasang tokoh saudara kembar yang bernama Song Li dan Song Kian. Kedua saudara kembar itu bertemu dengan seorang sakti ia mendapat pelajaran ilmusilat yang aneh. Yang satu yalah Song Li diberi ajaran tenaga-dalam keras dan yang satu yakni Song Kian, diberi ajaran tenaga-dalam lunak. Seorang musuh yang diserang oleh dua macam tenaga-dalam yang berlawanan itu tentu akan bingung dan akhirnya tak berkutik. Karena tertarik akan kepandaian yang istimewa dari Tiraikasih website http://kangzusi.com. kedua saudara kembar Song itu, maka conglok atau gubernur Holam. telah memakai mereka sebagai pengawal gedung gubernuran Setelah gubernur itu mati, kedua saudara kembar itupun pergi entah kemana, tiada beritanya lagi. Akhirnya ketiga ketua partai persilatan itu terdesak, hanya mampu bertahan tak dapat menyerang. “Suko, harap membantu ketiga pangcu itu”, seru Sian-Li. Blo'on maju dan berseru mempersilahkan Hoa Sin, Ceng Sian dan Hong Hong tojin minggir supaya dia yang mengganti. Tiba2 Song Li meraung keras dan Song Ki melengking nyaring, yang satu suaranya besar dahsyat, yang lainnya tinggi melengking. Setelah itu mereka lalu menyerang Blo’on. Blo’on yang tak mengerti kepandaian kedua saudara kembar itu bermula terkejut sekali ia rasakan dadanya sesak hampir tak dapat bernapas. Tiba2 iapun memekik nyaring. Sedemikian nyaring sehingga kedua saudara kembar itu tertegun dan sekalian orangpun terlongong. Ternyata pekikan Blo'on itu telah menghamburkan suatu tenaga dalam yang dahsyat sekali. Hoa Sin terkesiap dan makin yakin bahwa putera dari Kim Thian Cong itu memang memiliki tenaga dalam yang hebat sekali. Sebenarnya kedua saudara kembar itu tertegun bukan karena kaget saja, pun karena saat itu mereka merasa bahwa tenaga-pukulan yang dilontarkan berbalik melanda mereka sendiri. Sesaat kemudian Song Li dan Song Kian berhamburan lagi menerjang Blo'on. Song Li langsung menghantam kepala Blo'on. Song Kian menyelinap ke belakang Blo'on dan Tiraikasih website http://kangzusi.com. menubruk kakinya. Mereka bergerak cepat sekali sehingga Blo’on tak sempat menghindar. Ia hanya dapat rnengisarkan kepala kesamping sehingga selamat dari pukulan, tetapi bahunya terlanggar juga. Dan lebih celaka lagi ketika kakinya telah diterkam oleh Song Kian. Rasa kejut dan sakit telah menyebabkan Blo'on meronta. la loncat ke udara. Seketika tampaklah suatu peristiwa yang aneh dan menggelikan. Begitu melambung, Song Kianpun ikut terseret ke atas. Song Kian berusaha untuk menariknya turun. Ia gunakan ilmu Cian-kin-tui atau Tindihan-seribu-kati untuk mengganduli kaki Blo'on. Dalam pada itu karena pukulannya luput. Song Li pun menggeram marah. Ia menghantam lagi, Cepat pada saat itu tubuh Blo'on meluncur turun. Melihat dirinya hendak dipukul, dengan sekuat tenaga Blo'on bergeliatan melambung keatas lagi. Duk..... pukulan Song Li tepat mengenai tubuh Song Kian. Song Kian lepaskan cekatannya dan jatuh ke tanah Saat itu pula tubuh Blo'onpun meluncur turun tepat jatuh didada Seng Kian. Hek... Song Kian menguak tertahan dan berhenti napasnya. Song Li tak peduli bagaimana dengan nasib saudaranya, ia tetap menyerang Blo'on. Karena Blo'on membungkuk melihat keadaan Song Kian yang dipijaknya, Song Li loncat menerkam kepala Blo'on. Kedua tangannya serempak direntang untuk menghantam batok kepala Blo'on. "Suko ....!" Sian-Li menjerit dan tanpa banyak pikir lagi terus sabitkan pedang Pek- liong kiam kearah Song Li. Cret .... pedang tepat mengenai punggung Song Li. tembus keluar sampai ke dada seketika Son Lipun menyusuli, saudaranya ke akhirat. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Sian-Li lari menghampiri untuk mengambil pulang pedangnya. Blo'on menegurnya : “Sumoay mengapa engkau membunuhnya ? Bukankah Hoa pangcu sudah meninggalkan pesan, supaya sedapat mungkin kita menyelamatkan jiwa mereka?" "Maaf, suko," kata Sian-Li, “tetapi kulihat Suko dalam keadaan berbahaya. Jika tak lekas kusabit dengan pedang, tentulah dia akan mencelakai suko." "Tetapi mungkin aku tak kena apa2," kata Blo'on, "sebab beberapa kali aku dipukul orang, orang itu malah rubuh sendiri." "Apakah engkau tahu apa sebabnya ?" tanya Sian-Li. "Entah, Blo'on gelengkan kepala, "tetapi ku percaya Thian itu maha adil dan maha pemurah. Orang yang tak bersalah tentu dilindungi.” Sian-Li terkejut dan gembira sekali : "Suko, fikiranmu sudah makin sadar! Engkau sudah tahu apa artinya Thian." "Siapa bilang?" "Eh, bukankah engkau menyebut nama Thian tadi ?" seru Sian-Li. "Ya, tetapi aku tak tahu apa artinya ?" sahut Blo'on. "Lalu bagaimana engkau dapat menyebutnya?" Sian-Li makin heran. "Aku hanya mendengar orang berkata begitu, maka akupun menirukan saja." 'Oh," Sian-Li mengeluh," tetapi memang hal itu benar. Thian itu adalah Tuhan. Dia serba ada dan maha pemurah. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Engkau harus percaya tentu penyakitmu sembuh. Tak perlu harus cari otak naga. "Benarkah." seru Blo'on. "Kalau tak percaya tanyakan saja pada Hoa pangcu dan kedua ketua partai persilatan itu." kata Sian-Li. "Tetapi apakah Thian meluluskan orang membunuh sesama manusia ?" tanya Blo’on. Pertanyaan yang tak terduga-duga itu menyebabkan Sian-Li terlongong tak dapat menjawab. Untung saat itu seorang pengawal Baju Putih lagi, telah maju menghampiri. "Suko, seorang dari mereka datang lagi," kata Sian-Li. Baru Blo'on berkisar tubuh kearah depan, pengawal Baju Putih itu pun sudah ayunkan tangannya. Segulung angin yang dahsyat segera melanda Blo'on. Blo'on terkejut tetapi terlambat. Tubuhnya terlempar dan jatuh ke bawah panggung. Hong Ing dan Sian-Li terkejut. Serempak dua nona itu menerjang pengawal Baju Putih tetapi pengawal itu ayunkan lagi tangannya dan kedua nona itupun bagaikan layang2 putus tali, melayang jatuh ke bawah panggung. "Gun-goan-ciang !" tiba2 Hong Hong tojin berteriak kaget. Hoa Sin dan Ceng Sian suthaypun terkejut. Pukulan Gun khoan ciang itu merupakan suatu pukulan istimewa dan partai Go-bi-pay. Jika demikian tentulah pengawal Baju Putih itu seorang tokoh dari Go-bi-pay. Sekonyong-konyong suatu peristiwa yang aneh muncul diatas panggung...... Tiraikasih website http://kangzusi.com. Jilid 37. Makin runyam Sayup2 terdengar suara nyanyian. Entah dari mana arahnya tetapi walaupun hanya sayup2, nada dan irama nyanyian itu terdengar jelas oleh tokoh2 sakti yang tengah berada di panggung. "Ada dan Tiada, sukar dikata ada jika kita adakan tiada jika kita tiadakan Hidup hanya selanggeng impian betapa indah dan bahagia tetap takkan lepas dari derita hanya dengan menghapus nafsu maya hidup akan bebas bahagia. Aneh, pengawal Baju Putih yang habis melepas pukulan Gun-goan-ciang dahsyat itu, tertegun menengadahkan kepalanya seperti orang yang merenung Demikian pula dengan Hoa Sin, Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin. Mereka seolah terpaku karena pikirannya terbang ke alam yang penuh ketenangan dan kedamaian. Sedang kedua nona. Sian Li dan Hong Ing tegak seperti patung. Tetapi tidak demikian dengan pemuda gundul atau Blo'on. Dia seolah tak merasakan sesuatu, dengan langkah lebar ia segera menghampiri pengawal Baju Putih yang menghantamnya itu. "Hai, bung, pukulanmu hebat sekali," serunya "apa nama pukulan itu ?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tetapi pengawal Baju Putih itu tetap termangu. Andaikata Blo'on tahu tentang ilmu menutuk jalan-darah, dengan mudah ia tentu dapat menutuk orang itu. Tetapi andaikata ia dapat pun belum tentu mau melakukan. Karena dia memang aneh perangainya. Tak mau merugikan orang, mau dirugikan orang. Tak ingin minta maaf kepada orang tetapi suka memberi maaf kepada orang. Oleh karena memiliki pendirian itu, maka setiap kali ia tak dapat mengembangkan tenaga-dalam saat dalam dirinya. Tenaga dalam sakti itu baru melancar apabila dia dipukul orang. Entah dari mana datangnya, tiba2 diatas panggung telah muncul seorang tua berambut putih, wajahnya segar seperti anak, mengenakan pakaian serba putih pula. "Bukankah kongcu ini putera dari Kim Thian cong tayhiap?" tiba2 orangtua baju putih itu menegur Blo'on. "Ya, tetapi aku sendiri belum pasti" sahut Blo'on. Bahwa melihat Blo'on seorang saja yang masih dapat bergerak bebas, diam2 orangtua baju putih itu sudah terkejut. Lebih terkejut pula ia ketika mendapat jawaban aneh dan pemuda gundul itu. "Tetapi pasti ?" ulangnya heran, "mengapa?" "Karena aku tak dapat mengingat, otakku hilang ?" Orangtua baju putih itu mengerut dahi. "Eh, siapakah engkau ?" Blo'on balas bertanya "Ah, sudah lama aku tak memakai namaku yang aseli. Untuk membedakan diriku, cukuplah engkau panggil saja Pek I Lojin atau orangtua baju putih. Aku gemar memakai baju putih". Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Kalau begitu sama dengan aku." seru Blo'on "aku juga tak ingat lagi siapa namaku maka aku lebih suka dipanggil Blo'on saja." Mau tak mau orangtua baju putih itu itu tertawa. la senang melihat kepolosan Blo'on. "Mau apa engkau datang kemari ? Apakah engkau kawan dan pengawal Baju Putih itu ?" tegur Blo on. Pek l lojin gelengkan kepala : "Memang baju sama putihnya, orangnya pun sama, tetapi intinya lain. Kedatanganku kemari adalah untuk mencegah bencana besar." "Bencana ? Bencana apa ?" seru Blo'on terkejut. "Aku ingin menyelamatkan tokoh2 tua dari kebinasaan yang mengenaskan. Tahukah engkau siapa sesungguhnya pengawal Baju Putih yang berhadapan dengan engkau itu ?" "Sudah tentu tidak tahu." seru Blo'on. "mereka memakai kain kerudung muka dan tak dapat diajak bicara." "Yang engkau hadapi saat ini" kata Pek I lojin, "adalah seorang tokoh angkatan tua dari partai persilatan Go-bi-pay, Tik Sian taysu. Dalam partai Go-bi-pay. hanya dia seorang yang betul2 telah mencapai kesempurnaan dalam ilmu Biatgong ciang. Tokoh itu sudah berpuluh tahun menghilang dari dunia persilatan dan sekarang dijadikan Pengawal oleh Thiantong- kau." "Lalu bagaimana aku harus bertindak ?" tanya Bloon. "Apakah engkau mengerti ilmu menutuk jalandarah ?" tanya Pek I lojin. Blo’on gelengkan kepala. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Ah, tidak jadi kuajukan pertanyaan itu." "Eh, mengapa ?" tanya Blo'on heran. "Karena kutahu, engkau memiliki tenaga-dalam yang luar biasa anehnya. Jika terlalu keras engkau menutuk, orang itu tentu mati. Padahal menutuk jalandarah itu harus menggunakan tenaga yang menurut ukuran" "Lalu bagaimana ? tanya Blo'on. "Apa engkau membekal tali?" tanya Pek I lojin. "Untuk mengikat orang itu?” tanya Blo'on, "tidak, aku tak membawa apa2 kecuali pedang". "Hm," dengus orangtua itu. "pedang lebih berbahaya karena engkau tak dapat mempertimbangkan ukuran tenaga tusukan yang harus engkau lakukan. Salah2 dia akan mati." "Siapa dia ?" tanya Blo'on. Orangtua baju putih itu tak menyahut melainkan berpaling kearah Hong Hong tojin, serunya : "Maaf, totiang, jika tak salah totiang tentu berasal cari partai Go bi-pay". "Benar, lojin". sahut Hong Hong tojin. “‘Pernah tojin mendengar suatu peristiwa dalam gunung Go-bi-san, tentang seorang murid Go-bi pay yang telah kesalahan membunuh beberapa tojin dalam biara Go-bi-pay sehingga murid itu dijatuhi hukuman oleh ketua Go-bi-pay saat itu ? Peristiwa itu terjadi pada tigapuluh tahun berselang ketika yang menjadi ketua Go-bi-pay adalah Hong Hwat tojin." "Oh. Hong Hwat tojin adalah sucou2ku (kakek guru) Ya, memang aku pernah mendengar peristiwa itu " sahut Hong Hong tojin. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Dan pernahkah tojin mendengar tentang rnunculnya seorang tokoh pengembara yang aneh pada Iimapuluh tahun yang lalu?” tanya orangtua baju putih itu pula. "Banyak sekali peristiwa di dunia persilatan selama duapuluh tahun yang lalu", kata Hong Hong tojin, "tetapi tokoh yang manakah yang lojin maksudkan itu ?" "Pada masa itu partai Go-bi-pay telah terancam kehancuran karena beberapa partai besar antara lain Siau-lim-pay, Butong- pay, Kun-lun-pay, Hoa-san-pay dan Kong-tong-pay, berbondong2 menuju ke markas Go-bi untuk meminta pertanggungan jawab, atas perbuatan murid Go-bi-pay yang bersalah melakukan penganiayaan terhadap murid2 dari beberapa partai persilatan itu. Tetapi Hong Hwat kaucu, ketua dari Go-bi ray menyangkal dan mengumpulkan semua murid2 Go-bi-pay supaya diteliti. Ternyata tiada seorang murid Go-bipay yang mempunyai ciri2 seperti orang yang telah menganiaya murid2 beberapa partai itu. Namun beberapa partai itu tetap berkeras menuduh dan minta pertanggungan jawab kepada Hong Hwat kaucu." "Akhirnya Hong Hwat kaucu hilang kesabarannya. Sebagai seorang ketua ia harus menjaga nama partai Go-bi. Dalam perbantahan yang makin memuncak, akhirnya terjadilah pertempuran. Berhadapan dengan ketua partai2 besar, sudah tentu Go bi-pay harus menderita kekalahan besar. Beberapa anakmuridnya mati dan terluka. Karena malu Hong Hwat kaucu bunuh diri. Tetapi pada saat ia hendak menusuk leher dengan pedang, se-konyong2 segulung angin mendampar pedangnya jatuh dan Hong Hwa kaucupun ter-huyung2 beberapa langkah. Seorang lelaki bernmur tigapuluhan tahun muncul dan mengatakan bahwa Hong Hwat kaucu salah karena mengambil Tiraikasih website http://kangzusi.com. keputusan pendek begitu. Seharusnya dapat meminta waktu untuk membersihkan nama baik Go-bi-pay. Kemudian kepada ketua partai2 persilatan yang berada disitu, orang itupun mendamprat, mengatakan mereka hanya mengandalkan jumlah banyak untuk menindas Go-bi-pay. Bahwa mereka hanya percaya pada bukti tapi tak dapat menunjuk orangnya. Sudah tentu ketua2 partai persilatan itu marah. Orang itupun sanggup menghadapi. Walaupun tak menang tetapi diapun tak sampai kalah. Dia memiliki ilmu pukulan Gun-goanciang yang mengejutkan lawan2nya. Pukulan Gun-goan-ciang itu dapat mengimbangi kesaktian pukulan Toa-lat kmi-kongciang dari Siau-lim-pay, pukulan Bi-kek-ciang dari partai Butong- pay. Thian-gi-cin-kang-ciang dari partai Kun-lun-pay, Kek-gong-biat-san-ciang dari partai Kong-tong-pay dan pukulan Bok-lian-ciang dari Hoa-san pay. Kagum atas kesaktian orang itu, para ketua partai persilatan itu menghentikan pertarungan dan meminta penjelasan. Orang itu mengatakan bahwa biangkeladi dari peristiwa itu telah ia tangkap. Tak lain seorang Ihama dari Tibet yang karena sakit hati dengan ketua Go-bi-pay yang telah menghajarnya kemudian menyaru sebagai murid Go-bipay untuk melakukan penganiayaan dan pembunuhan kepada beberapa murid partai2 persilatan. Tujuannya agar partai2 itu marah dan mengeroyok Go bi-pay Ketua partai2 persilatan itu menyesalkan mengapa orang itu tak cepat menghadapkan Ihama itu agar dengan demikian tak sampai terjadi bentrokan yang sangat disesalkan itu. Tetapi orang itu menjawab bahwa ia memang hendak menghukum beberapa penanggung jawab dari partai Go-bi-pay yang dulu telah menjatuhkan hukuman tak adil kepada dirinya. Tetapi disamping itu iapun tetap akan membela Go-bi-pay dengan Tiraikasih website http://kangzusi.com. suatu pertandingan bahwa ilmu kepandaian aliran Go-bi-pay itu tak kalah mutunya dengan lain2 partai persilatan. Ternyata orang itu adalah dulu seorang kacung yang dipekerjakan didapur dari markas Go-bi-pay. Kacung itu memiliki otak yang cerdas dan bakat yang baik sehingga seorang tiang-lo (sesepuh) Go-bi-pay secara diam2 telah mengajarkan ilmu silat kepadanya. Menilik kecerdasan dan bakat kacung itu tiang-lo Go-bi-pay itu makin senang dan mengajarkan pula ilmu pukulan Gun goan-ciang. Pada suatu hari, tanpa disengaja, kacung itu telah dipergoki sedang mengintai murid2 Go-bi pay yang sedang berlatih silat. Oleh beberapa murid, dia telah dihajar. Karena ketakutan dan hendak membela diri. tanpa disadari, kacung itu telah melawan dan melepaskan pukulan Gun-goan-ciang. Beberapa murid itu rubuh, ada yang menderita luka parah, bahkan ada yang mati. Kacung segera dikepung oleh murid Go-bi-pay yang berkepandaian tinggi, kemudian diadili oleh ketua Go-bi-pay. Tetapi walaupun diancam akan dibunuh, kacung itu tetap menolak memberitahu siapa yang telah mengajarkan ilmu silat kepadanya. Ia tetap memegang janjinya kepada tianglo yang memberinya pelajaran silat itu. Akhirnya ketua Go-bi-pay marah dan memerintahkan supaya kacung itu dibunuh karena berani mencuri lihat murid2 Go-bi-pay sedang berlatih silat. Dalam keadaan terpaksa kacung itupun melawan. Sudah tentu ia tak mampu melawan jago2 sakti dari Go-bi-pay. Akhirnya ia melarikan diri dan tak ketahuan lagi bagaimana beritanya. Lima belas tahun kemudian dalam dunia persilatan telah muncul seorang pemuda yang memiliki ilmu silat dari aliran Go-bi-pay. Terutama pukulan Gun-goan ciangnya sangat mengejutkan sekali. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tahu2 orang itu muncul untuk menyelamatkan jiwa ketua Go-bi-pay yang hendak bunuh diri di hadapan ketua2 partai persilatan dan berhasil menghadapkan biangkeladi dari peristiwa yang telah menfitnah nama baik partai Go-bi-pay. Orang itu bukan lain adalah kacung pembantu dapur yang dulu hendak dibunuh oleh orang Go-bi-pay. Hong Hwat tojin ketua Go-bi-pay menghaturkan terima kasih dan menyatakan rasa sesalnya atas peristiwa yang lalu. Tetapi orang itu tetap menolak kembali pada partai Go-bi pay tetapi ia berjanji akan menjaga nama baik partai itu. Sejak itu ia menjadi tojin dan bergelar Tik Sian. "O, aku pernah mendengar juga tentang peristiwa itu," seru Hong Hong tojin. "tetapi kala itu aku masih muda dan karena tak kenal maka aku-pun tak pernah menaruh perhatian. Apalagi Tik Sian supeh (paman guru) itu telah menghilang dari dunia persilatan." "Ya, memang benar' kata orangtua baju putih. "sejak peristiwa di gunung Go-bi itu, dia tak pernah muncul lagi dalam dunia persilatan. Kini tiba2 dia sudah menjadi pengawal Baju Putih dari Thian-tong-kau". Kemudian orangtua baju putih yang menyebut dirinya bernama Pek I lojin itu berkata kepada Blo'on : "Ya, aku mendapat akal bagaimana engkau harus menghadapi cianpwe itu. Pada waktu bertempur merapat, cepat ia ringkus tangannya atau peluk badannya kemudian aku yang akan menyelesaikan dengan ilmu totokan dari jauh" "Ah, tak perlu", kata Blo'on, "aku dapat membuatnya rubuh pingsan dan tak sampai menderita luka berbahaya . Habis berkata ia terus maju lagi. Rupanya pengawal Baju Putih terkejut berhadapan dengan Blo'on. Setelah Tiraikasih website http://kangzusi.com. memulangkan napas ia menghimpun seluruh tenaga-dalam dan melepaskan ilmu pukulan Gun-goan-ciang lagi. Blo'on tahu bahwa pengawal Baju Putih tengah melancarkan pukulan. Jika ia menirukan gerak pukulan lawan, lawan tentu akan menderita akibat yang parah. Apalagi ia sudah dipesan orangtua baju putih jangan membunuh pengawal yang itu. Tiba2 ia mendapat akal. Begitu pengawal baju putih itu menggerakkan tangan, Blo'onpun menyerempaki menjatuhkan diri ke tanah seolah olah seperti terkena pukulan. Sebenarnya gerak gerik Blo'on itu tampak dibuat-buat. Tetapi rupanya kesadaran pikiran pengawal baju putih itu juga kabur. Melihat Blo'on rubuh, ia terus maju menghampiri untuk menyusuli pukulan lagi supaya lawan hancur. Pada saat pengawal baju putih itu tiba dihadapannya, sekonyong-konyong Blo'on bergerak dengan cepat, menggelinding dan menyambar kaki pengawal. Karena tak menduga, pengawal itu terpelanting terus diterkam Blo'on, plak .... ia menampar kepala orang iiu. "Beres," kata Blo'on seraya bangun dan menjinjing tubuh pengawal itu untuk diserahkan kepada orangtua baju putih. Orangtua baju putih itu mendecak-decak mulut: "Cet. cet, sungguh hebat engkau, kongcu. Siapakah engkau ini ?" Blo'on hendak menyahut tetapi karena kuatir jawabannya akan menimbulkan salah faham, buru2 Hong Hong tojin mendahului: „Dia adalah putera Kim Thian Cong tayhiap." “O, makanya begitu hebat,” seru orangtua baju putih itu. “Siapa bilang", seru Blo'on. Tiraikasih website http://kangzusi.com. “Ho bukankah engkau sanggup mengalahkan beberapa tokoh pengawal Baju Putih? Bahkan terakhir tadi adalah Tik Siang tojin yang tiada lawannya dalam ilmu pukulan Gungoan- ciang? " “Ya, mungkin juga begitu," sahut Blo'on seenaknya, tetapi aku merasa tak memiliki ilmu silat apa2." Pek I lojin terkesiap. Melihat itu Sian Li segera memberi penjelasan. "Lo-cianpwe, memang sakoku itu sedang menderita penyakit yang aneh. Harap lo-cianpwe jangan mengambil di hati akan setiap kata-katanya. Dia tak dapat mengingat peristiwa-peristiwa yang lampau, Tahukah locianpwe bagaimana menyembuhkannya? "* "O, kehilangan ingatan?" seru Pek I lojin. " Aku tidak gila," teriak Blo'on. Tiba2 seorang pengawal Baju Putih maju pula dan terus menyerang. Gaya serangannya memang aneh. Tubuhnya agak mengendap ke bawah, tangan menebar untuk menerpa, menampar dan menusuk. Gerakannya yang sangat cepat, loncat sambil menusuk mata Blo’on, membuat pemuda itu gelagapan mencondongkan badan ke belakang. Tetapi dengan sebuah gerak yang cepat pula, pengawal Baju Putih itu segera menyambar kaki Blo'on dan dilemparkan ke belakang. Brak.... kepala Blo'on terbanting ke Iantai papan. "Brandal!" kakek Lo Kun marah dan terus menerjang pengawal Baju Putih itu. Krak .... pengawal Baju Putih menyongsongnya dengan sebuah hantaman dan kakek Lo Kun-pun menghantam, Terjadi benturan keras. Kakek Lo Kun terputar-putar seperti gangsingan. Pengawal Baju Putih itupun terhuyung-huyung sampai empat lima langkah. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Secepat berdiri tegak, pengawal Baju Putih itupun terus loncat menyerang dengan gaya yang istimewa, Lo Kun juga melayani dengan berloncatan mengitar. Dengan demikian keduanya seperti anak2 bermain kejar kejaran, "Ho-kun ciang !" seru Hoa Sin ketua Kay-pang setelah memperhatikan gerak permainan pengawal Baju Putih itu. "Ya, benar," sahut Pek I lojin, "kurasa dia memang Ho-kun Sin-hiap yang termasyhur itu." Ho-kun ciang artinya ilmu pukulan burung Bangau, sebuah ilmu yang sesungguhnya bersumber pada aliran Siau-lim-kun. Sepasang tangan yang direntang itu dimaksud.sebagai sepasang sayap dan burung bangau yang menyambar lawan. Memang sepintas pandang, kedua lawan, Lo Kun dan pengawal Baju Putih itu seperti orang main udak. Tetapi sesungguhnya mereka sedang melancarkan pertarungan yang hebat. Karena diserang dengan gaya burung bangau, secara tak sadar Lo Kunpun segera mengembangkan ilmu permainan Hek-bou kun atau ilmu silat Macan-hitam. Kakek Lo Kun itu senang belajar. Pada masa menjabat gi lim-kun atau pasukan Bhayangkara di istana baginda yang dulu, ia telah belajar ilmu silat Hou-kun (gaya Harimau) dengan seorang wi-su atau anggauta pengawal istana. Wisu itu sebenarnya murid dari Siau-lim-si. Kemudian setelah mengasingkan diri di gunung Hek-bou san, Lo Kun segera menambah dan memperlengkapi ilmu silat itu sendiri dengan berbagai ilmu pukulan yang difahaminya. Dengan begitu terciptalah sebuah ilmu pukulan Hek-hou ciang (pukulan Macan Hitam). Gayanya seperti macan yang loncat menerkam lawan. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Hebat sekali pertarungan antara ilmusilat burung Bangau dan ilmusilat Macan Hitam itu. Jika burung bangau mengutamakan serangan kedua tangan, ilmusilat Macan Hitam lebih mementing gerakan kaki. Masing2 mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri2. Tetapi dalam pertarungan saat itu, lambat laun tampak Lo Kun terdesak. Pengawal Baju Putih itu lebih gesit dan lebih hebat serangannya. Berulang kali mampir saja kedua biji mata Lo Kun tertusuk jari lawan. Untung dalam saat2 berbahaya ia selalu masih dapat menolong diri dengan menggunakan gundulnya. Berutang kaki tutukan jari pengawal Baju Putih itu mental apabila menutuk kepala Lo Kun. Sesungpuhnya tenaga dalam orang itu hebat sekali, tetapi gundul Lo Kun memang luar biasa. Kerasnya seperti besi. "Siapakah kakek itu ?" tanya Pek I lojin. "Dia adalah kakek Lo Kun. Dia sayang sekali kepada suko. Orangnya baik tetapi memang agak limbung pikirannya," menerangkan Sian Li. Kemudian dara itu meminta keterangan tentang pengawal Baju Putih yang itu. "Ho kun Sin-hiap Nio Cun dari Hok-kian, dulu pernah mendirikan sebuah perguruan, kemudian setelah mendapat banyak murid dia hendak meningkatkan mendirikan sebuah partai persilatan. Makin lama makin besar, cabang2 dibuka diberbagai kota. Sayang dia kurang hati2 sehingga dapat diperalat pemerintah Goan untuk menggempur gereja Siau lim-si. Dengan bantuan jago2 dari pemerintah Goan, Siau-limsi dapat diobrak abrik. Tetapi pada malam itu, dia telah didatangi seorang jago yang mengancamnya supaya dia menghentikan memusuhi Siau-lim si. Dia menolak dan menyerang jago itu. Tetapi akhirnya, jago itu berhasil merubuhkannya dengan It-ci sin kang (Jari- tunggal-sakti). Tiraikasih website http://kangzusi.com. Sejak itu dia lenyap mengasingkan diri karena malu,” Pek I lojin memberi keterangan. “It- ci-tin-kang ?" seru Hoa Sin. "bukankah ci-sin-kang itu gelar dari Kim Thian-cong tayhiap?" Pek I lojin mengangguk : "Memang Kim tay hiaplah yang menundukkannya." Dalam pada berbicara itu, pertempuran antara kakek Lo Kun dan pengawal Baju Putih yang diduga tentu Ho-kun-sinhiap Nio Cun telah mencapai babak yang gawat. Dengan nekad Lo Kun menubruk untuk membenturkan gundulnya ke dada lawan. Tetapi ternyata dia terperangkap. Hu-kun Sin hian Nio Cun ayun tubuhnya melambung keudara melampaui punggung Lo Kun, lalu secepat kilat berputar dan mengirim tendangan ke pantat kakek itu, plak..... "Huh.....," sekalain ketua partai persilatan berseru tertahan, terutama Sian Li dan Hong Ing. Mereka terkejut ketika melihat tubuh Lo Kun mencelat ke udara. Sian-Li malah terus menjerit dan lari hendak menolong tetapi tiba2 sesosok tubuh melenting dan menyambar tubuh kakek Lo Kun. Penolong itu bukan lain adalah Blo'on. Pengawal Baju Putih hendak maju menyerang lagi tetapi Sian Li segera menyambut dengan pedang Pek-liong-kiam. Dara itu hendak membalaskan kakek Lo Kun yang tak diketahui bagaiman keadaannya. Putaran pedang Pek liong-kiam itu segera menciptakan lingkaran sinar putih berhawa dingin, laksana awan berarakarak meliputi tubuh pengawal Baju Putih. Walaupun hilang kesadaran pikirannya tetapi pengawal Baju Putih itu dapat merasakan juga kesaktian pedang Sian Li. Ia tak berani melancarkan serangan, melainkan mengisar Tiraikasih website http://kangzusi.com. mundur sembari menari-narikan tangannya untuk melindungi tubuhnya. Sebenarnya pengawal Baju Putih mampu untuk menghadapi ilmu permainan pedang Sian Li tetapi ia jeri terhadap pedang pusaka Pek-liong-kiam. Maka ia hanya bertahan dulu untuk mencari kesempatan merebut pedang si nona. Tak berapa lama kesempatan itupun tiba. Dalam sebuah gerak yang mengejutkan, pengawal Baju Putih sengaja memberikan dadanya ditusuk. Tetapi pada saat Sian Li menusuk, tiba2 lawan telah membuat sebuah gerak tendangan sambil melambung. Sian Li terkejut tetapi tak sempat menghindar lagi. Siku lengannya terasa kesemutan dan pedang-pun mencelat ke udara. Serempak dengan itu pengawal Baju Putihpun ikut mencelat ke udara untuk menyambar pedang Pek-liong kiam. Peristiwa itu berlangsung cepat sekali sehingga sekalian ketua partai persilatan tak sempat berbuat suatu apa kecuali hanya terkejut. Apabila pedang Pek-liong-kiam sampai jatuh ke tangan pengawal Baju Putih itu, tentu membahayakan sekali. Tiba2 suatu peristiwa yang mengejutkan terjadi. Pada saat pedang Pek-liong-kiam meluncur turun dan pengawal Baju Putih itupun sudah tiba dan menjulurkan tangannya untuk menyambar, sekonyong-konyong pedang itu mendampar ke dada pengawal Baju Putih. Aneh benar. Pedang itu semula meluncur turun dan tanpa sebab tiba2 melayang seperti dilontarkan orang, kearah pengawal Baju Putih. Saat itu pengawal Baju Putih sedang melayang dan ulurkan tangan kemuka untuk menyambar pedang, Dengan kejadian yang mengherankan itu sudah tentu Tiraikasih website http://kangzusi.com. sukar baginya untuk menghindar. Pun kalau menangkis tentulah telapak tangannya akan terpapas. Sebenarnya jika ia menampar atau menangkis dia hanya kehilangan sebelah tangan. Tetapi kalau tidak, dadanya tentu tersusup pedang itu dan mati. Rupanya pengawal Baju Putih itu sudah kehilangan pikiran yang terang. Pedang menyambar cepat ia hendak menarik pulang tangannya. Tetapi baru setengah jalan, pedang itupun sudah meluncur dan menembus telapak tangan, terus bersarang ke tenggorokannya. Hanya sebuah raung jeritan menyerupai harimau kelaparan yang terdengar dan tubuh pengawal Baju Putih itupun segera menukik jatuh ke panggung. Jikalau tokoh yang berada dipanggung, terlongong keheranan. Tetapi cepat keheranan mereka terjawab ketika melihat Blo'on bersama Lo Kun menghampiri pengawal Baju Putih yang menggeletak berlumuran darah di lantai. Blo'on membungkuk dan mencabut pedang Pek-liong-kiam lalu di lemparkan kearah Sian Li : "Sumoay, nih, pedang mu!” "Apakah kongcu yang membunuh pengawal Baju Putih itu?" tegur Pek I Lojin. "Aku tidak membunuh hanya menampar pedang itu supaya jangan sampai dirampasnya," jawab Blo'on. "Tetapi tamparanmu begitu hebat sekali sehingga pedang meluncur seperti anak panah dilepas dari busurnya," seru Pek I lojin, "wah, engkau benar2 hebat sekali." "Eh, kakek tua," kata Blo'on "siapakah sebenarnya engkau ini ? Mengapa engkau berada disini? Engkau hendak membantu kami atau membantu mereka ?"" "Suko.... teriak Sian Li yang kuatir orangtua baju putih itu tak senang mendengar kata-kata BIo'on yang kasar. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Tetapi Pek I lojin hanya tertawa : "Ho, ternyata pikiranmu masih terang....." "Siapa bilang aku gila ?™ seru Blo'on. Pek I lojin tertawa : “Kehadiranku dipanggung ini bukan membantumu juga tldak membela mereka tetapi berniat menyelamatkan tokoh2 angkatan tua yang entah bagaimana peristiwanya, telah dijadikan barisan pengawal Baju Putih oleh partai Thian-tong-kau. Tidak semua mereka itu jahat, apalagi mereka telah dicelakai Thian-tong-kau, maka perlulah mereka diselamatkan dari kebinasaan." Belum habis orang tua baju putih bicara, tiba2 beberapa pengawal Baju Putih menyerang. Dikata beberapa, Karena kali ini yang maju ada semua pengawal Baju Putih yang masih sisa. Jumlahnya lima orang. Mereka maju sekali gus. Melihat Hoa Sin dan Ceng Sian suthay serta Hong Hong tojin serempak menyongsong. Tetapi dicegah oleh Pek I lojin. "Jangan, biarkan Kim kongsu yang melayani." serunya seraya menyurut mundur kesamping Blo’on, “kongcu, aku orang tua memang tak berguna. Maukah engkau menghalau kelima orang itu?' "Ya," sahut Blo'on yang kasihan karena melihat orangtua baju putih itu ketakutan, "tetapi engkau harus memberitahu, apakah mereka orang2 jahat atau baik, boleh dibunuh atau tidak!" "O, baiklah, kata Pek I lojin, “nanti setelah melihat gaya serangan mereka bagaimana, baru aku dapat memberitahu kepadamu." Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Cianpwe," tiba2 Sian Li berseru," mereka berjumlah lima dan suko hanya seorang. Apakah ciapwe tak kasihan pada suko ? Bolehkah aku membantu suko?" Baru Pek I Lojin mengucap begitu, tiba2 kakek Lo Kun sudah menyelutuk : "Jangan main2 dengan jiwa cucuku si Blo'on. Kalau ia sampai mati, engkau harus menghidupkan. Kalau tak bisa, harus ganti dengan nyawamu." Pek I lojin tertawa: "Ya, ya, kalau ia mati, nyawaku akan masuk kedalam tubuhnya. Dan engkau nona, jangan buru2 turun tangan. Jika melihat sukomu benar2 terancam jiwanya, baru engkau boleh membantu." Blo'on tak sempat bertanya apa2 lagi karena saat itu kelima pengawal Baju Putih sudah berhamburan menyerangnya. Begitu tiba mereka terus berjajar2 membentuk sebuah barisan. "Ngo-heng-tin," seru Hoa Sin ketika melihat formasi barisan kelima pengawal Baju Putih itu. "Awas, kongcu, mereka membentuk barisan Ngo-heng-tin ... " Tetapi ketua Kaypang itu tak dapat melanjutkan kata2nya karena saat itu Blo'on sudah melangkah masuk kedalam barisan lawan. Ngo-heng-tin atau barisan Lima Unsur, dicipla menurut lima unsur Kim, Bok, Cui. Hwat, Tho atau Emas. Kayu, Air, Api dan Tanah. Sesungguhnya barisan itu merupakan barisan dari partai Siau lim-si yang disebut Ngo-heng-pat-kwa-tin. Dan pencipta aslinya sebenarnya Cukat Liang alias Khong Beng, ahli strategi militer yang cemerlang pada jaman Sam Kok. Blo'on tak mengerti ilmusilat apalagi ilmu barisan. Melihat musuh membuka jalan, ia terus masuk saja kedalam barisan. Tiraikasih website http://kangzusi.com. Dan ketika berada ditengah barisan, barulah ia terkejut karena menderita serangan yang hebat. Bukan saja barisannya disebut Ngo-heng, pun kelima pengawal Baju Putih itu benar2 memiliki lima jenis tenagadalam. Ketika dilontarkan, Blo'oi merasa dilanda oleh lima macam tenaga pukulai yang hebat dan aneh. Pengawal Baju Putih yang pertama, memiliki tenaga-dalam yang keras sekali sekeras besi. Pengawal Baju Putih kedua memilil tenaga-dalam setengah keras setengah lunak, mirip sifat kayu. Yang ketiga memiliki tenaga-dalam yang sejuk dingin, mirip sifat air. Yang keempat memilik tenaga-dalam panas, seperti panasnya api. Dan yang kelima memiliki tenaga-dalam yang padat, sepadat sifat tanah. Jika tenaga-dalam dari kerasnya logam membuat tulang2 serasa ditumbuk dengan alu besar jika tenaga dalam dari sifat kayu itu memiliki daya perbawa yang membuat tubuh seperti digebuk maka tenaga dalam yang bersifat dinginnya air itu membuat tubuh menggigil seperti orang mengidap penyakit demam, tenaga-dalam panasnya api itu membuat orang seperti dicemplungkan dalam tungku api dan tenaga-dalam sifat bumi itu membuat napas orang berhenti. "Suko terancam," seru Sian LI seraya hendak maju tetapi cepat dicegah Pek I lojin, "jangan terburu dulu, nona. Kulihat Kim kongcu belum menderita apa2 kecuali bingung" Sian Li terpaksa menahan diri. Ia mengikuti jalannya pertarungan dengan penuh perhatian. Memang sepintas pandang seolah Bloon telah ditelan dalam hujan pukulan dan serangan tapi sesungguhnya Blo’onpun sedang sibuk membalas. Pada mulanya dia memang menderita karena dihantam sana, digenjot sini. Puncak dari meletusnya ke marahan Blo'on adalah ketika ia merasa tak Tiraikasih website http://kangzusi.com. dapat bernapas. Dengan mengcembor keras ia terus mengamuk. Seperti telah dikatakan tenaga-dalam luar biasa yang disebut Ji-ih-sin kang itu dapat dipancarkan setiap saat yang dikehendaki Blo'on. Tetapi karena Blo'on tak tahu bagaimana cara untuk mengerahkan tenaga dalam itu maka ia harus menunggu sampai dirinya dipukul. Setiap dia marah maka memancarlah tenaga-dalam Ji-ih-si n-kang itu. Dan selekas tenaga-dalam Ji-ih-sin-kang memancar maka mengembang pula ilmu yang diserapnya dari kitab Bu-ji-keng. Dia segera menjadi latah nekat. Setiap lawan bergerak, ia segera menirukan. Bahkan gerakan kelima pengawal Baju Pulih itu, pun sekalipun dapat ditirukan semua. Walaupun hilang kesadaran pikirannya tetapi mau tak mau kelima pengawal Baju Putih itupun terkesiap juga ketika melihat gerak pemuda gundul lawannya itu. Setiap kali mereka menyerang, setiap kali tentu disongsong dalam gerakan yang sama oleh Blo'on. Bahkan bukan hanya gerakannya saja, pun tenaga-dalam yang dipancar juga sama. Sekali gus Blo’on mampu memancarkan lima jenis tenaga dalam seperti yang dimiliki kelima pengawal Baju Putih itu. "Cianpwe," tiba2 Sian Li berseru, "siapakah! kelima pengawal Baju Putih itu ?" Pek I lojin mengangguk : "Ya, kurasa memang mereka". "Siapa ?' desak Sian Li. "Dahulu semasa jaman Goan, congtok (gubernur) Siamsay mempunyai lima orang pengawal yang disebut Ngo hou-ciang kun" kata Pek I lojin. "O, maka mereka pandai dalam mengatur barisan" seru Sian Li. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Bukan hanya pandai dalam ilmu barisan, pun mereka termasyhur memiliki tenaga-dalam yang aneh. Dikata aneh karena kelima orang itu masing2 mempunyai tenaga-dalam yang ber-beda2. Dengan mempunyai kelima Ngo-hou-ciangkun itu congtok Siamsay makin ganas. Apalagi dia beristeri seorang wanita dari Mongol sehingga makin mendapat kepercayaan penuh dari raja Goan. Congtok itu mempunyai seorang anak putera yang gemar sekali mengganggu wanita cantik." Waktu Pek I lojiu berhenti sejenak, Sian Li rnenyeletuk : "Ya, biasanya anak2 pembesar itu tentu mengandalkan pengaruh ayahnya untuk melakukan perbuatan2 yang melanggar hukum." "Dia tidak salah," tiba2 kakek Lo Kun berseru "sebagai seorang muda apalagi anak pembesar sudah tentu harus bersenang senang diri. Seorang anak laki menggemari wanita, adalah sudah wajar. Jangankan dia masih muda, sedang aku yang sudah tua begini, pun suka melihat gadis2 cantik." Sian Li tertawa. "Itu namanya kakek tak tahu diri," seru Hong Ing tiba2. Kakek Lo Kun mendelik lalu meringis. "Lalu bagaimana, cianpwe,” tanya Sian Li pula kepada Pek I lojin. "Pada masa itu di dunia persilatan terdapat sepasang suami isteri gagah. Mereka merupakan sepasang pendekar yang amat serasi sekali. Yang pria tampan, yang wanita cantik. Kecantikan Han Hi Nio sedemikian termasyhur hingga dijuluki sebagai Say-se si atau duplikat dari Se Si. Engkau tahu Se Si'?" tanya Pek I lojin. Sian Li gelengkan kepala. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Se Si adalah orang yang paling cantik di negeri Gwe. Dia hidup pada jaman Jun Jiu. Sampai sekarang nama Se Si masih digunakan untuk menyebut seorang wanita yang sangat cantik," menerangkan Pek I lojin. "Putera congtok itupun mendengar juga tentang isteri dari pendekar itu. Dia segera memerintahkan kelima Ngo-houciang- kun untuk menangkap sepasang suami isteri pendekar itu dengan tuduhan mereka hendak memberontak kepada pemerintah. "Pengaruh congtok sangat besar sekali. Pada suatu hari sepasang pendekar itu telah dikepung oleh kelima Ngo houciang kun yang masih dibantu lagi dengan kawanan kuku garuda ..... " "Apakah kawanan kuku garuda itu, locianpwe ?" tanya Sian Li. Pek I lojiu geleng2 kepala : "Ho, anak perempuan, engkau benar2 masih hijau sekali." "Benar, lo-cianpwe," sahut Sian Li." karena sejak kecil aku ikut suhu belajar silat di gunung dan baru kali ini turun ke dunia persilatan." "Kawanan kuku garuda adalah istilah bagi kaum persilatan yang mau bekerja pada pemerintah yang bukan dari orang Han. Kerajaan Goan didirikan oleh Kubilai Khan dan Kubilai Khan itu adalah orang Mongol. Maka setiap jago silat yang bekerja pada kerajaan Goan, disebut kuku garuda, artinya alat dari penguasa." Sian Li mengangguk. Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Sepasang pendekar itu memang gagah berani, tetapi karena harus menghadapi berpuluh-puluh jago silat yang sakti, akhirnya ia rubuh menderita luka berat dan ditawan. „Peristiwa itu telah menggemparkan dunia persilatan yang walaupun telah ditindas, tetapi masih tetap berserak secara diam2. Mereka ingin membebaskan pendekar itu tetapi karena penjagaan sangat kuat, terpaksa tak ada yang berani. "Puncak dari kemarahan kaum persilatan adalah ketika tersiar berita bahwa Han Bi Nio telah mati membunuh diri dengan jalan menggigit putus lidahnya sendiri....." "Keparat putera congtok itu !" teriak Sian Li dengan gemas, tentulah karena tak tahan menderita siksaan akhirnya wanita itu mengambil jalau pendek...” Pek I lojin gelengkan kepala. "Bukan, bahkan Han Bi Nio telah mendapat perlakuan yang luar biasa manisnya dari putera congtok itu. Beda dengan suaminya yang harus menderita siksaan seperti seekor binatang buas." "Lalu mengapa Han Bi Nio bunuh diri ?" ta nya Sian Li. "Ternyata putera congtok itu berusaha untuk membujuknya mau diperisteri. Dia benar2 tergila-gila melihat kecantikan Han Bi Nio. Dari halus sampai kasar, kasar lalu halus lagi, tetap Han Bi Nio tak sudi melayani rayuan putera congtok itu. Bahkan ia memakinya habis-habisan..." "Sungguh seorang lihiap yang luhur!" seru Sian Li. "Akhirnya hilanglah kesabaran putera congtok itu. Ia suruh orangnya mengikat kaki tangan Han Bi Nio, kemudian pada malam itu putera contok lalu masuk kedalam ruangan hendak memperkosanya. Dalam keadaan kaki tangan terikat Han Bi Nio tak berdaya. Pada saat itu putera congtok sudah Tiraikasih website http://kangzusi.com. menanggalkan pakaian Han Bi Nio dan terus hendak melakukan perbuatannya yang terkutuk. Pada saat kehormatan Han Bi Nio hampir tercemar. tiba2 wanita itu berhasil menggigit putus hidung putera congtok menjerit-jerit kesakitan karena hidungnya hilang. Karena marah, ia mengambil pedang dan terus membacok Han Bi Nio. tetapi sebenarnya saat itu Han Bi Nio sudah meninggal! Karena setelah menggigit hidung putera congtok ia terus menggigit lidahnya sendiri sampai putus. Dari pada cemar, lebih baik ia memilih mati." "Ah….” Sian Li menghela napas itu kucurkan airmata, "putera congtok itu harus dibunuh." "Lo-jin, sehabis urusan disini selesai, bawalah aku ketempat congtok itu. Hendak kubelah kepala putera congtok yang telah membunuh seorang wanita begitu cantik, "seru kakek Lo Kun. "O baiklah " sahut Pek I lojin. "Lojin,"' tiba- Hong Ing yang selama ini diam saja, saat itu ikut berseru, "bukankah cerita itu terjadi pada jaman kerajaan Goan ? Bukankah Congtok dan puteranya itu saat ini tentu sudah meninggal ?'' "Ya, benar." sahut Pek I lojin. "Lalu mengapa lojin sanggup hendak membawa kakek itu kesana ?" "Ya, tetapi bukan kerumahnya melainkan ke tempat kuburannya," Pek I lojin tertawa. "Apa ?" teriak kakek Lo Kun, "ke kuburannya?" "Habis kalau orangnya sudah mati?" Tiraikasih website http://kangzusi.com. "Huh, engkau seorang kakek yang sudah tua tetapi mengapa masih suka bergurau seperti anak kecil ?" kakek Lo Kun menegur. Sian Li dan Hong Ing tertawa mengikik. Demikian pula Pek I lojin. Begitu garang kakek Lo Kun memaki orang seolah ia lupa bahwa dirinya yang sudah tua rentapun gemar ber -olok2. Tetapi kalau dirinya kena dipermainkan, dia lantas mengambek dan mendamprat orang. "Sudah, lojin, harap suka melanjutkan cerita itu" desak Sian Li. "Berita kematian Han Bi Nio telah membangkit kemarahan seluruh tokoh persilatan. Walaupun tanpa berunding dan bersepakat lebih dulu, mereka ber-bondong2 menyerang gedung kediaman congtok. Dalam serangan itu, mereka berhasil membakar gedung congtok, membunuh putera congtok dan membebaskan pendekar itu* "Bagaimana dengan Ngo-hou ciang-kun itu?” tanya Sian Li. "Dalam pertempuran itu, memang tokoh silat harus menghadapi kesukaran melawan Ngo-hou-ci-ang-kun. Hampir saja mereka gagal dalam usahanya menyelamatkan pendekar itu apabila tak muncul seorang bintang penolong ..."
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Ngentot Perawat Silat : Pendekar Bloon 6 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Ngentot Perawat Silat : Pendekar Bloon 6 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-ngentot-perawat-silat-pendekar.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Ngentot Perawat Silat : Pendekar Bloon 6 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Ngentot Perawat Silat : Pendekar Bloon 6 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Ngentot Perawat Silat : Pendekar Bloon 6 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-ngentot-perawat-silat-pendekar.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar