Cerita Ngentot Terbaru Silat : Pendekar Bloon 2

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 03 Agustus 2012

Cerita Ngentot Terbaru Silat : Pendekar Bloon 2-Cerita Ngentot Terbaru Silat : Pendekar Bloon 2-Cerita Ngentot Terbaru Silat : Pendekar Bloon 2-Cerita Ngentot Terbaru Silat : Pendekar Bloon 2


"Mali, engkau mau apa?" kakek Macan Hitam maju
menghampiri, "siapa yang engkau cekik itu ? Lepaskanlah ..."
"Setan kate, apa katamu? Melepaskannya ? Ha, ha, tidak,
tidak, setan kate ! Allah telah mengirim anak jadah ini
kepadaku ..."
"Siapakah anak itu?" seru kakek Macan Hitam
"Dia Sun Ti, putera dari raja Ing Lok yang menghukum aku
disini. Ha, ha, sayang aku belum dapat menerkammu, setan
kate, kalau dapat kutangkap, badanmu akan kurobek-robek,
darahmu kuminum ..."
"Bangsat engkau Mali," kakek Macan Hitam marah,
"berpuluh-puluh tahun aku memberi makan dan mengantar
minuman kepadamu. Masakan engkau tetap hendak
membunuh aku ..."
"O, benar, Lo Kun, benar." tiba-tiba raksasa itu berganti
nada ramah, "engkau menghidupi aku tetapi mengapa engkau
tak mau melepaskan aku dari kerangkeng besi ini ?"
Kakek Macan Hitam melonjak kaget: "Haram! Khianat!
Terkutuk! Aku sudah disumpah oleh baginda Ing Lok, jangan
sekali-kali membuka rantai borgolanmu dan melepaskan
engkau dari kerangkeng besi. Kalau aku melanggar, aku tentu
disambar geledek, tahu"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kakek edan. mengapa engkau percaya pada segala
sumpah kosong ?" teriak raksasa itu.
"Biar, tak perlu engkau turut campur!" bentak kakek Macan
Hitam, "kalau aku mati disambar geledek, bukankah engkau
juga mati karena tak ada yang mengantar makanan ?"
"O . . . “
"Bukankah lebih baik begini. Engkau tetap hidup dan aku
pun tetap bernyawa. Tiap hari kuantarkan engkau makanan
dan arak ..."
"Hai, setan tua, mana hidangan dan arak untukku !" tibatiba
raksasa itu memekik.
"Huh. masih di dalam gua," kakek itu terus lari hendak
keluar tetapi tiba-tiba ia berhenti, berputar tubuh dan maju
menghampiri ke tempat kerangkeng, "hai, Mali, kulihat
semalam rembulan sudah menampakkan diri di atas mulut
jurang untuk yang keseribu kalinya. Sudah tiba waktunya aku
harus membongkar arak simpanan. Arak Hou-hiat-cil yang
lezat dan hebat khasiatnya. Maukah engkau
"Mau, mau !" teriak raksasa seraya melonjak lonjak seperti
anak kecil yang akan diberi permen.
"Aduh . . . ad . . uh . . " karena dibawa melonjak, leher
Blo'on seperti hendak dicabut dari; batang tubuhnya. Ia
menjerit-jerit kesakitan.
"Diam '" bentak kakek Macan Hitam menghentikan gerakan
raksasa itu", kalau engkau melonjak-lonjak, takkan kuberi
arak"
Raksasa itu menurut.
"Akan kuberimu seguci penuh tetapi engkau harus memberi
tebusan," kata kakek Macan Hitam
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Apa tebusannya ?"
'Lepaskan anak itu !"
"Ya, ya," raksasa itu terus lepaskan cekikannya tetapi
sebelum Blo'on sempat menghela napas, lehernya sudah
dicekik lagi kencang-kencang.
"Hai, mengapa engkau cekik lagi ?" teriak kakek Macan
Hitam.
"Tidak bisa," seru orang itu, "bawa arak itu kemari,
kuminum habis baru kulepaskan anak ini."
Tiba-Tiba sesosok tubuh melesat masuk, loncat ke arah
kerangkeng terus menghantam raksasa itu. Krak . . .
pendatang itu terpental beberapa langkah ke belakang. Untuk
cepat disambut oleh kakek Macan Hitam sehingga tak sampai
rubuh.
"Setan tua, lepaskan !" pendatang itu meronta dan deliki
mata kepada kakek Macan Hitam, "mengapa engkau malah
menangkap aku? Bukankah seharusnya engkau menghajar
raksasa ?"
Kakek Macan Hitam melongo. Rupanya ia lupa kalau
tindakannya itu karena hendak menolong si pendatang supaya
jangan jatuh.
"O, benar, benar," seru kakek Macan Hitam "ya, seharusnya
engkau menyerang, aku pun ikut menyerang. Kerbau Putih,
engkau lebih pintar dari aku."
"Ho, memang sebenarnya aku lebih tua dari engkau!" kata
pendatang itu atau kakek Kerbau Putih. Setelah tersadar ia
mencari kakek Macan Hitam di dalam guha. Melihat lubang di
bawah lantai, ia terus menyusup turun dan akhirnya tiba di
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tempat kakek Macan Hitam sedang ribut-ribut dengan si orang
raksasa.
Kakek Kerbau Putih marah karena melihat orang tinggi itu
tak pegang janji, Ia terus loncat menyerang. Tetapi ternyata
orang raksasa itu tangkas sekali. Tangannya yang
rnencengkeram lengan Blo'on cepat digerakkan sehingga
tangan Blo'on yang menangkis pukulan kakek Kerbau Putih.
Karena sedang menahan kesakitan, Blo’on pun kerahkan
tenaga. Secara tak disadari tenaga-dalamnya memancar ke
lengan. Tangkisannya itu membuat kakek Kerbau Putih
terpental beberapa langkah dan hampir rubuh.
"Jangan . . . menyerang . . aku yang dijadikan alat . .
menangkis !" teriak Blo'on.
Kedua kakek itu tertegun dan tak jadi menyerang. Tanya
kakek Kerbau Putih : "Siapakah raksasa dan anak itu ?"
Rupanya kedua kakek itu sudah tak bermusuhan lagi.
Setelah janji bertanding selama lima hari selesai, kini mereka
kembali seperti seorang sahabat lagi.
"Si raksasa itu bernama Somali. Dahulu dia menjadi
pengawal istana raja Ing Lok. Karena dia berani main gila
dengan seorang selir raja, dia di buang dan dipenjarakan
disini," kata kakek Ma can Hitam.
"Menilik kulitnya yang hitam dan penuh rambut, dia tentu
bukan bangsa Tionghoa," kata kakek Kerbau Putih.
"Ya, dia memang bukan orang Tionghoa. Pemberian raja
Persia kepada laksamana Ceng Ho ketika berlayar tiba di
negeri itu. Dia amat sakti, pernah diadu dengan para si-wi
(pengawal keraton) oleh baginda Ing Lok, ternyata menang
maka oleh baginda dia diangkat menjadi penjaga istana . . "
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, Lo Kun, kalau tak lekas membawa arak dan makanan
kemari, pangeran ini tentu kupatahkan lehernya!" tiba-tiba
orang aneh itu berteriak
Lo Kun atau si kakek Macan Hitam melonjak kaget,
serunya: "Ya, ya, segera akan kuambilkan" ia terus lari keluar
meninggalkan kakek Kerbau Putih yang terlongong-longong.
Sesaat kemudian kakek Kerbau Putih itu menghampiri ke
dekat kerangkeng : "Hat, Somali, mengapa engkau hendak
menganiaya anak itu ?"
"Tua bangka, enyah engkau dari sini" Somali mengaum
dengan buas.
"Kakek, jangan dekat-dekat padaku," tiba Blo'on berseru,
"manusia ini amat buas."
"Ho, makin buas aku makin senang. Akan kucoba sampai di
mana kekuatannya . . , " ia terus hendak maju mendekati
"Berhenti!" sekonyong-konyong kakek Macan Hitam muncul
dan berteriak, "jangan mengganggu dia!”
"Manusia semacam dia tak perlu diberi hidup!” bantah
kakek Kerbau Putih.
"Kerbau Putih ingat," kata kakek Macan Hitam dengan
bengis, "kalau berani mengganggunya, engkau tentu akan
berurusan dengan aku. Dia sudah cukup menderita, jangan
engkau ganggu lagi!"
Tanpa menghiraukan si kakek Kerbau Putih, kakek Macan
Hitam itu terus menyodorkan sebuah penampan batu yang
berisi sebuah guci arak dan sepiring daging, semangkuk nasi."
"Sayang dendeng daging macan habis, entah dimakan
siapa. Yang ini tinggal dendeng ular. Dan arak Hou-hiat-ciu,"
kata kakek Macan Hitam.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bagus . . ," seru Somali tetapi tiba-tiba ia bingung. Kalau
makan hidangan itu, ia harus melepaskan tangan kanan atau
tangan kirinya. Berarti lengan atau leher anak itu akan bebas,
"berbahaya .. " gumamnya seorang diri.
"Mengapa berbahaya ?" seru Blo'on.
"Kalau kulepas tangan kananku, lenganmu tentu bebas,
mungkin engkau dapat memukul aku. Kalau kulepas tangan
kiriku, lehermu bebas, mungkin engkau dapat menggigit
tanganku ..."
"Jangan kuatir," seru Blo'on, "kalau mau makan saja. Aku
takkan lari !"
"Sungguh ?" Somali menegas.
"Huh, aku seorang putera raja, masakan aku ingkar janji
Seorang putera raja, eh . . benarkah aku ini pangeran Sun Ti,
putera raja Ing Lok ?"
"Benar, tak mungkin aku salah. Engkau memang pangeran
Sun Ti." sahut Somali.
"O, kalau begitu aku harus bersikap agung. Tak mau
mencelakai orang secara pengecut seperti dikau ! Lepaskan
tanganmu dan makananmu aku tetap menunggumu !"
"O, engkau benar-benar seorang pangeran yang jempol.
Kalau engkau bukan putera dari raja Ing Lok, ku tentu mau
berhamba padamu ..." Somali terus lepaskan kedua tangannya
dan menyambar nampan. Dengan lahap ia minum arak,
melalap habis nasi dan daging ular lalu meneguk guci arak
sampai kering.
"Wah, sedap . . ," katanya seraya mengusap usap mulut
dengan tangannya. Setelah itu ia mencekal lengan dan leher
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on lagi. Selama orang itu makan, Blo'on memang tak mau
berkisar dari tempatnya.
"Sekarang engkau mau apa ?" tanya Bloon
"Engkau harus menemani aku disini," kata orang itu.
Blo'on mengerut dahi, serunya: "Salah, mengapa aku harus
menemani engkau disini ? Bukankah aku ini anak raja ?"
"Benar." sahut Somali.
"Nah, yang benar engkau harus ikut aku, keluar dari tempat
ini, mengerti !" kata Blo'on dengan suara garang.
Somali terdiam beberapa saat lalu serunya : "Kembali ke
istana Ing-lok-kiong ?"
"Ya." tanpa banyak pikir Blo'on menyahut sekenanya, "eh,
mana istana itu ?"
"Jangan kuatir, nanti aku yang mengantar," sahut Somali.
"Baik," kata Blo'on, "mari kita berangkat."
"Uh, tidak, tidak jadi !"
"Mengapa ?" Blo'on heran.
"Engkau hanya pangeran, bukan raja. Kalau baginda Ing
Lok melihat aku keluar, tentu akan ditangkap dan dilempar ke
sini lagi."
Blo'on busungkan dada : "Jangan kuatir, aku yang
tanggung semua !"
"Hm, baik . . eh, tidak bisa !"
"Mengapa tak bisa lagi ?"
"Lihatlah, tangan dan kakiku diborgol dengan rantai,
bagaimana aku dapat keluar ?"'
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kurang ajar engkau Somali !" teriak Blo'on, "bagaimana
aku dapat melihat kalau leherku engkau cekik. Lepaskan !"
Raksasa dari Persia itu serta merta melepaskan cekikannya
dan Blo’on pun mengamati keadaan orang itu.
"O, lalu bagaimana cara membukanya ?" tanya Blo'on.
"Pakai kunci."
"Mana kuncinya ?"
"Ada pada si kate Lo Kun itu !" kata Somali sambil
menunjuk pada kakek Macan Hitam.
Blo'on memandang Lo Kun : "Hai, Lo Kun aku anak raja,
apakah engkau berani kepadaku?”
"Tidak !" sahut kakek linglung itu.
"Apa engkau berani membantah perintahku?,”
"Juga tidak ..."
"Bagus, Lo Kun," seru Blo'on, "sekarang kuperintahkan
supaya engkau menyerahkan kunci itu kepadaku. Awas,
engkau harus menurut !"
"Tetapi ..."
"Tetapi bagaimana ?"
"Tetapi baginda Ing Lok pesan wanti-wanti kepadaku,
jangan sekali-kali melepaskan Somali. Dia seorang manusia
yang berbahaya !"
"Tidak apa," sahut Blo'on, "soal itu aku nanti yang bilang
kepada raja. Bukankah aku ini anak raja ? Tentu saja aku
berani bicara dengan ayahku."
Lo Kun masih sangsi. Ia berpaling memandang kakek
Kerbau Putih. Maksudnya hendak bertanya, tetapi karena
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kakek Kerbau Putih itu juga seorang kakek linglung, dia malah
deliki mata kepada Lo Kun : "Apa ? Engkau berani
membangkang perintah anak raja? Lekas berikan kunci itu!"
"O, ya, benar, benar," kakek Macan Hitam itu berkata
seorang diri, "kalau anak raja yang memerintah, aku wajib
menurut . . ,"
Ia terus merogoh saku bajunya dan mengeluarkan dua
buah anak kunci, diserahkan kepada Blo'on. Blo'on pun
membuka borgolan tangan dan kaki Somali.
"Somali, sekarang engkau sudah bebas, engkau harus ikut
aku," kata Blo'on.
Somali tegang sekali tampaknya berpuluh-puluh tahun ia
dipenjara dalam tempat di bawah tanah dari sebuah guha di
dasar lembah. Kini dia sudah bebas. Ya, dia akan melihat
dunia lagi. Dia akan pulang ke negerinya . . .
"Wahai ..." serentak ia berbangkit tetapi seketika itu juga ia
terkulai jatuh ke tanah lagi. Dicobanya untuk bangun, tetap ia
rubuh lagi. "Ah mengapa kakiku sudah tak bertenaga ?
Lumpuh ? Ah, benar . . aku memang sudah lumpuh !"
Somali menjerit dan memekik. Meratap dan mengerang
ketika mengetahui keadaan dirinya. Berpuluh tahun ia harus
duduk, maka menyebabkan kedua kakinya lumpuh. Karena ia
seorang raksasa yang tinggi, kalau berdiri kepalanya akan
menyundul terali besi di atas. Maka berpuluh tahun ia terpaksa
harus duduk dan merangkak. Akibatnya, ia menjadi lumpuh
kaki.
Cepat ia merangkak keluar dan tiba-tiba terus
mencengkeram kakek Lo Kun : "Engkau, kakek bangsat, yang
menyebabkan aku lumpuh begini !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Habis berkata ia terus ayunkan tinju ke arah kepala kakek
Macan Hitam itu. Krak, krak, terdengar dua buah pukulan
melanda. Kakek Kerbau Putih dan Blo'on serempak
menghantam Somali. Raksasa itu terdampar ke belakang dan
terlepaslah kakek Macan Hitam.
"Somali, engkau manusia jahat!" teriak Blo'on marah,
"mengapa engkau menyerang kakek Lo Kunl "
“Lihat kakiku yang lumpuh ini! Bukankah ia yang
menyebabkannya” teriak Somali.
"Bukan," sahut Blo'on, "dia hanya melakukan kewajiban.
Yang memberi perintah ialah raja !"
"Salahmu, mengapa engkau berani mengganggu selir raja
yang cantik." kakek Lo Kun pun ikut mendamprat.
"Ya, kalau minta kawin, bilang pada raja, tentu akan diberi
wanita cantik, mengapa engkau berani kurang ajar terhadap
selir raja ? Masih untung raja hanya melempar engkau di sini,
engkau tidak dibunuh saat itu," kakek Kerbau Putih
menambah dampratan.
Somali tertegun diam. Sampai beberapa saat ia diam saja.
"Somali, engkau seorang sakti, walau pun kakimu lumpuh
tetapi engkau masih dapat bergerak lincah. Mari ikut aku
keluar dari tempat ini," kata Blo'on menghibur raksasa itu.
"Ya, kalian benar. Memang di negeriku, kalau orang yang
berani mengganggu selir raja. tentu akan menerima hukuman
ngeri. Kedua tangan dan kakinya diikat dengan empat ekor
kuda lalu kuda Ku disuruh lari ke empat penjuru sehingga
tubuh orang itu sempal jadi empat ..."
"Huh, ngeri ! Jangan cerita semacam itu” seru Blo'on seraya
ayunkan langkah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ketika ia hendak membuka pintu yang bercat kuning. kakek
Lo Kun berteriak : "Hai, mengapa engkau hendak masuk ke
situ ? Itu tempat simpanan harta permata raja."
"O," seru Blo'on malah terus membuka. Ketika melangkah
ke dalam, ia ternganga keheranan. Ternyata di ruang itu
terdapat empat buah peti berisi harta kekayaan yang tak
ternilai harganya.
Intan, petak, emas, permata, ratna mutu manikam dan
zamrud yang berkilau-kilauan memancarkan cahayanya yang
gilang gemilang. Benda-Benda pusaka dan barang-barang
berharga yang tak terdapat di dunia.
"Milik siapakah ini ?" tanya Blo'on.
"Raja," sahut kakek Lo Kun.
"Kalau begitu, aku berhak mengambil. Bukankah aku ini
anak raja ?" kata Blo'on seraya memandang Lo Kun. Kakek itu
mengangguk perlahan
Blo'on memeriksa isi keempat peti itu. Tak henti-hentinya ia
mengangguk kepala. Setelah selesai memeriksa, ia berkata :
"Sekarang kalian harus menjawab pertanyaanku."
"Somali, apakah tujuanmu sekeluarnya dari tempat ini ?"
tanyanya kepada si raksasa.
"Pulang ke Persia."
"Baik, engkau boleh mengambil permata dari uang yang
engkau sukai untuk bekal perjalanan” Somali terbelalak.
'"Lekas, aku yang memberi ijin!" bentak Blo'on. Somali
merangkak menghampiri peti. Ia mengambil segenggam
permata dan segenggam uang emas. Lalu menyisih ke
samping.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Sudah hanya sebegitu saja?” tanya Blo’on.
“Ya, terima kasih.”
Blo'on memandang kakek Lo Kun, serunya : "Hai, Lo Kun,
engkau sudah memenuhi tugasmu dengan baik. Sekarang
mana yang engkau pilih, ambil saja !"
"Buat apa ?" kakek Lo Kun bertanya.
"Engkau dapat menjadi orang kaya raya, punya rumah
besar, punya banyak bujang, bisa cari isteri cantik. punya
uang, engkau akan jadi seperti raja. Setiap orang
menghormati engkau !"
Tiba-Tiba kakek Lo Kun tertawa keras.
"Ha, ha, ha, ha ... . "
---ooo0dw0ooo---
Jilid 7
Putera raja
Blo'on tercengang heran melihat kakek pendek itu tiba-tiba
tertawa keras.
"Mengapa engkau tertawa ?" tegurnya.
"Aku tertawa karena geli. Geli engkau hendak memikat aku
dengan harta itu ! Kalau aku mau, bukankah dulu-dulu sudah
kuambil semua. Kubiarkan si raksasa itu mati kelaparan lalu
aku pergi ke kota
"Lho, setan tua, engkau hendak pindah ? A-pa engkau
sudah mengaku kalah ?" tiba-tiba pula kakek Kerbau Putih
berseru.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Lo Kun deliki mata : "Goblok Siapa yang mau pindah
? Aku tak sudi pindah dari bini. Aku mau menunggu engkau
sampai mati, baru aku pikir-pikir lagi."
Blo'on menyengir kuda Ia malu karena disemprot oleh
kakek Lo Kun.
"Engkau seorang kakek setya," akhirnya ia memuji, "nanti
kalau aku pulang ke istana, akan kulaporkan jasamu kepada
raja ..."
"Jangan !" teriak kakek Lo Kun pula, "apa itu jasa ! Engkau
tahu siapa aku ini T'
"Aku baru kenal sekarang, bagaimana aku tahu dirimu
siapa?" jawab Blo'on.
"Dengarkan," kata kakek itu, "aku adalah pengawal peribadi
dari Cu Gjan-ciang yang kemudian menjadi raja Beng yang
pertama Setelah jadi raja, Cu Goan-ciang mengangkat aku
sebagai kepala Gi-lim-kun (bayangkara istana) dengan
pangkat Ciangkun (jenderal) ..."
la berhenti sejenak lalu melanjutkan : "Sesungguhnya aku
malu melihat tubuhku yang pendek. Para anggauta Gi lim kun
bertubuh tinggi besar dan kekar. Tetapi mereka takut
kepadaku. Mereka menyebut aku "tayjin" (paduka tuan).
Kutolak Karena tubuhku pendak kecil, kusuruh mereka
menyebut "siau-jin" (orang rendah). Mereka tertawa tetapi tak
berani dimukaku, melainkan dibelakang-ku. Pun ketika raja
mengumumkan kenaikan pang \katku menjadi ciang-kun
(jenderal), orang yang menghormat aku dengan panggilan
'ciangkun' kumarahi dan kusuruh bilang ‘lo-kun' saja. Hingga
sampai sekarang aku disebut orang Lo Kun."
"Pada suatu hari, raja memanggil aku. Aku disuruh menikah
dengan gadis atau wanita mana saja yang kupilih. Tetapi raja
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Beng Thay-cou itu kubantah habis-habisan : "Buat apa
kawin?"
"Eh, Lo Kun, engkau sudah cukup tua. Engkau harus
beristeri supaya punya anak. Besok kalau engkau tua atau
sakit, biar ada yang merawat," kata baginda.
"Tidak bisa," aku membantag. "aku malu. Diriku begini
pendek, masa ada wanita yang mau?
"Jangan kuatir," kata baginda, "aku yang mencarikan
wanita itu. Tentu dia mau dan engkau tentu puas mendapat
isteri cantik."
"Tidak bisa." kubantah lagi, "aku kasihan."
"Kasihan kepada siapa ?"
"Kasihan kepada isteriku dan anakku. Isteri-ku tentu malu
mempunyai suami orang kate. Anakku tentu besok juga
pendek. Dia pun akan menderita ejekan orang. Lebih baik aku
sendiri saja yang menanggung."
"Lo Kun, jangan membawa kemauanmu sendiri engkau
harus kawin dengan wanita yang kupilihkan !" akhirnya
baginda marah. Dan terpaksa aku menurut.
"Aku dinikahkan dengan seorang puteri tiko-jin (residen)
wilayah Siamsay," kakek Lo Kun melanjutkan kisahnya.
"katanya, puteri itu cantikdan pandai masak, pandai menjahit
dan pintar menggubah syair ..."
"Setan tua, rejekimu besar sekali !" tiba-tiba kakek Kerbau
Putih menyelutuk.
"Jangan memutus ceritaku, kerbau tua, kakek
Lo Kun deliki mata. Lalu melanjutkan lagi :
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dengan diantar oleh rombongan pembesa kerajaan, aku
menuju ke Siam-say. Upacara dilakukan besar-besaran sampai
tujuh hari tujuh malam sehingga aku tak sempat menjenguk
isteriku Aku sibuk menerima ucapan selamat dari para penv
be«ar daerah dan orang-orang terkemuka. Setelah tujuh hari,
kusuruh rombongan pengiringku pulang dulu. Sebulan lagi aku
bersama isteri baru kembali ke kota kerajaan.
Demikian pada malam itu, akupun masuk ke dalam kamar
pengantenku. Ya, isteriku yang muda dan cantik akan kupeluk
dan kucium sepuas-puasnya. Ah. ah. celaka . . hatiku mulai
berdebar-debar lagi seperti hari itu . , . " tiba-tiba kakek Lo
Kun mendekap dadanya. Rupanya karena membayangkan
peristiwa malam pengantinnya ia menjadi tegang lagi.
"Kamar pengantin hanya diterangi dengan sebatang lilin
yang redup. Ranjangnya dicat meral dengan ukir-ukiran
gambar naga dan burung cenderawasih emas. Kain
selambunya bersulam bunga dan bidadari. Kain sprei dan
bantalnya, aduh mak . . . putih bersih dengan sulaman bunga
seruni yang timbul. Baunya harum bukan buatan. Ai, baru
pertama itu seumur hidupku, akan tidur dalam ranjang yang
begitu indah . . .”
Blo'on, Somali dan kakek Kerbau Putih terlongong-longong
mendengarkan.
"Isteriku belum tidur. Masih duduk ditempat tidur
menunggu aku," kata kakek Lo Kun pula, aku kuatir membikin
kaget dia maka dengan berhati-hati aku berjalan berjingkatjingkat
menghampirinya ....”
"Aneh," pikirku, "waktu bertemu dalam upacara pernikahan,
kulihat isteriku itu seorang nona yang bertubuh langsing kecil,
berkulit putih seperti salju. Tetapi saat itu. kulihat tubuhnya
gemuk. Apakah selama dalam waktu tujuh hari saja, orang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dapat berobah gemuk sekali ? Dan kulihat pula kulitnya tidak
seputih tujuh hari yang lalu. Agak merah. Eh, ternyata sampai
saat ia berada dalam kamar pengantin, ia masih memakai
kerudung muka. Ho. tentu kerudung itu mempelai lelaki yang
membuka. Selama mempelai lelaki tak membuka. mempelai
perempuan harus tetap memakainya...”
"No .... eh, isteriku, .mengapa engkau tak tidur lebih dulu?"
tegurku dengan seramah-ramahnya
Isteriku diam saja, Oh, dia tentu marah, pikirku.
"Isteriku, maafkanlah aku," aku dengan tertawa merayunya,
"karena tetamu-tetamu tak habis-habisnya pulang dan pergi,
pergi satu datang lima, aku sampai loyo menerima pemberian
selamat mereka. Perutku sampai mulas karena terus menerus
harus menemani mereka minum arak pengantin ..."
Isteriku tetap diam
"Maaf, isteriku, kutahu bagaimana perasaanmu sebagai
pengantin baru Ecgkau tentu kesepian dan kesal hati karena
menunggu kedatanganku. Ah, sekarang aku sudah datang,
isteriku. Malam ini kita benar-benar akan teranggap sebagai
suami isteri, sampai kakek-kakek nenek-nenek . . .
Tetap ia diam saja.
"Isteriku, betapa bahagia kita nanti. Punya anak laki yang
bagus, anak perempuan yang cantik, punya cucu, buyut, cicit .
. . ai. tiap tahun baru mereka asan berkunjung ke rumah kita
dan menghaturkan selamat kepada kita. Anak, menantu, cucucucu
sayang pada kita. Kalau sudah tua kita tak perlu kerja.
Anak cucu yang akan memelihara!
"Eh, mengapa engkau diam saja, isteriku? Apakah engkau
masih marah kepadaku ? Oh, aku memang bersalah, tak
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
segera datang kesini sampai tujuh hari Ya. ya, isteriku, aku
akan berlutut dan memberi hormat kepadamu, sampai engkau
mencegah baru aku berhenti. Nah, aku mulai ..."
"Aku terus berlutut dibawah kaki isteriku dan paykui
(memberi hormat dengan menundukkan kepala sampai ke
tanah). Sekali, dua kali, tiga, empat, lima samyai sepuluh,
terus duapnluh tiga empat, limapuluh, lama-lama meningkat
sampai seiatus kali dan terus saja aku paykui . . .
"Hampir dua jam lamanya aku memberi hormat dengan
menunduk dan mengangkat kepala itu tetap isteriku diam
saja. Lama kelamaan aku pusing Kalau terus menerus
jengkang-jengking begitu aku bisa pingsan. Aneh, mengapa
dia diam saja ? Apakah dia benar-benar marah sekali
kepadaku ?"
Karena memikir begitu, aku tak dapat menahan sabar lagi
dan berseru: "O, isteriku, aku sudah kapok. Tak berani
menyiksa engkau lagi. Suruhlah aku berhenti, isteriku, biar aku
jangan pusing Kalau aku pingsan, bukankah engkau sendiri
yang akan sibuk menolong. Sudahlah, isteriku, perintahkanlah
supaya aku berdiri ..."
Walaupun aku meratap-ratap minta ampun tetap isteriku
diam saja. Lama kelamaan, aku tak kuat. Pikirku : "Hm, baru
jadi mempelai baru sudah begitu kejam menyiksa aku. Kalau
sudah jadi isteriku, kelak kepalaku tentu diinjak-injak. Hm,
suami harus keras, harus berwibawa, supaya isteri takut dan
menghormati. Mumpung masih baru, dia harus kuajar adat ..."
Tanpa menunggu perintahnya, akupun serentak bangun
dan berdiri bercekak pinggang dihadapannya.
"Hai, engkau seorang isteriku yang kurang ajar ! Mengapa
engkau berani suruh suamimu terus menerus paykui dibawah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kakimu. Jangan engkau membanggakan dirimu puteri ti-koan
(residen) dan bertingkah seperti puteri raja ! Aku juga seorang
jenderal pasukan Gi-lim-kun keraton. Aku bisa cari lain isteri
yang lebih cantik dari engkau. Tetapi aku tak mau, aku lebih
suka kepadamu. Asal engkaupun jangan sewenang-wenang
kepadaku. Bukankah kita harus rukun ? Apakah engkau tak
malu kalau anak-anak dan cucu-cucu kita melihat kita
bertengkar ?"
Namun isteriku tetap duduk diam.
'Isteriku, ya aku memang bersalah. Aku bersumpah takkan
menelantarkan engkau lagi. Jangan merusak malam pengantin
kita dengan pertengkaran. Marilah kita nikmati kebahagian
sebagai suami isteri ..." karena dia diam saja. akupun tak mau
menunggu jawabannya, terus saja kudekap tubuhnya dan
kupeluknya.
Aku girang karena dia diam saji. Kuanggap tentu dia sudah
memaafkan. Tetapi diam-diam aku pun heran mengapa
tubuhnya terasa dingin.
"Isteriku, kita sudah menjadi suami isteri, tak perlu engkau
malu-malu kepadaku. Bukalah kerudung mukamu, biar
kunikmati betapa indah kecantikan mu. kelak kalau kembali ke
kota raja, aku tentu bangga karena tiada seorang puteri dalam
istana yang dapat menandingi kecantikanmu ....
Masih, saja nona itu diam. Akhirnya aku tak tahan lagi.
Kuulurkan tangan dan membuka kain kerudung yang menutup
nona pengantinku itu.
"Aduh, mati aku . . . ," aku loncat mundur sampai beberapa
langkah. Kejutku seperti disambar petir karena melihat wajah
isteriku itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Bukan lagi puteri ti-koan yang kecantikannya seperti
bidadari turun dari kahyangan. Melainkan seorang nona
berkulit hitam yang buruk. wajah Matanya bundar besar,
hidung besar, mulut lebar, gigi menonjol.
"Siapa engkau!" teriakku kalap. Tetapi perempuan itu diam
saja. Dengan marah kuhampiri terus hendak kupukul. Tetapi
karena dia tetap diam saja, aku curiga dan batal memukul.
Kupegang tubuhnya ternyata kaku tak dapat berkutik. Ah,
haru kuketahui kalau dia telah ditutuk jalan darah-nya hingga
tak dapat bergerak dan bicara.
Segera kutolong dan kubuka jalan darahnya Lalu kutanyai.
"Maaf, paman kate," tiba-tiba ia berkata dengan menangis.
Hampir kutampar kepalanya karena dia menyebut aku
paman kate. Tetapi karena dia menangis, akupun terpaksa
menahan kesabaran. Kusuruh dia menceritakan dirinya.
"Aku sebenarnya seorang gadis desa. Rumahku dibalik
gunung. Pada suatu hari ketika mencari kayu di hutan, aku
diculik seorang lelaki. Aku dipukul sampai pingsan. Ketika
tersadar, aku sudah berada disini. Tetapi waktu hendak
menjerit mulutku tak dapat bicara. Pun aku tak dapat
bergerak. Untung engkau datang . . . . "
"Siapa yang menculikmu ?" tanyaku. "Seorang lelaki tetapi
tak kuketahui wajahnya karena dia msnyergapku dari
belakang," kata perempuan itu, "eh, paman kate, mengapa
tadi engkau memeluk aku dan menyebut-nyebut isteri
kepadaku ?"
"Huh ?" aku menggeram.
"Ya, biarlah, walaupun engkau bertubuh pendek, tetapi aku
suka jadi isterimu ..." nona itu terus memegang lenganku dan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menarik kedadanya. Karena terkejut aku kena ditarik dan
jatuh kedalam pelukannya.
"Aduh mak . . . tiba-tiba hidungku mencium bau yang luar
biasa apeknya. Ternyata dadanya berkeringat dan keringat itu
menusuk lubang hidung Karena tak tahan baunya, kudorong
nona itu terjungkal kebawah ranjang. Aku terus lari keluar.
Aku mengamuk. Ti-koan kuhajar, pegawai dan siapa saja
yang ketemu aku, tentu kupersen dengan tinju dan sepakan.
Tikoan merintih-rintih minta ampun dan menanyakan apa
kesalahannya.
"Lihatlah, ke kamar pengantin. Anakmu berobah jadi setan .
. . !" habis berkata aku terus lari. Tak tahu mana yang akan
kutuju. Pendek kata, aku malu, aku harus lari sejauh jauhnya
dari manusia. Dan sejak itu. aku tak sudi melihat orang
perempuan lagi ....
Blo'on, Somali dan kakek Kerbau Putih mendengarkan cerita
itu dengan terlongong-longong. Mereka geli tetapipun merasa
kasihan atas nasib kakek Lo Kun.
"Lalu bagaimana engkau dapat bertemu raja Ing Lok lagi
dan disuruh membawa aku kemari?" tanya Somali.
"Itu hanya secara kebetulan. Ketika baginda sedang
berburu di hutan, dia melihat aku sedang menangkap seekor
harimau hitam. Segera aku di-panggil dan dibawa pulang ke
kota raja. Tetapi tak lama kemudian terjadi peristiwa engkau
dengan selir raja itu. Aku disuruh baginda memenjarakan
engkau disini," kata kakek Lo Kun.
Blo'on tak mau mendengarkan pembicaraan mereka. Ia
menuju ke pintu biru. Melihat itu kakek Lo Kun cepat
memburu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Jangan masuk kepintu ini," ia menghadang di depan pintu.
"Mengaya ?" tanya Blo'on.
"Tidak ada isinya "
"Aneh," kata Blo'on pala, "kalau tak ada isinya. mengapa
engkau melarang aku masuk ?" tanya Blo'on pula.
"Baginda yang memerintahkan !"
"Tetapi bukankah aku putera raja?" kata Blo'on lalu
berpaling kepada Somali, "hai, Somali, benar tidak aku ini
putera raja ?"
"Benar," kata Somali, "siapa yang tak percaya omonganku,
tentu akan kuhajar !"
"Tuh dengar tidak, Lo Kun," kata Blo'on, "karena aku putera
raja, akupun berhak masuk ke dalam ruang ini."
"Kalau engkau nekad, terserah saja ..... kakek Lo Kun
menyingkir ke samping.
Blo'on membuka pintu. Gelap di dalamnya Pintu direntang
lebar agar penerangan dari luar masuk.
"Hai . . . !" Blo'on menjerit dan loncat keluar lagi.
"Mengapa ?" tanya Somali.
"Peti mati !" sahut Blo'on.
"Ha, ha," Lo Kun, tertawa "sudah kukatakan jangan masuk,
tetapi engkau tetap mau masuk Nah. silahkan lihat peti itu.”
Blo'on menyengir. Ia hendak menutup pintu lagi tetapi tibatiba
Somali marah: "Di negeriku, raja itu seorang pemberani.
Apa yang dikatakan tentu dilaksanakan. Engkau putera raja,
mengapa berani membuka pintu tak berani masuk ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Seketika tegaklah semangat Blo'on, serunya "Siapa bilang
aku tak berani ?" ia terus melangkah maju menghampiri peti
mati.
Somali mengikuti dibelakangnya. Tetapi kedua kakek masih
menunggu diluar.
"Somali, bukalah peti itu !" Blo'on membei perintah. Dan
Sornalipun segera melakukan.
Ternyata peti itu tidak dipaku. Somali yang bertenaga
besar, dapat mengangkat tutup peti. Dai karena tubuhnya
tinggi maka walaupun duduk kepalanya masih cukup tinggi
untuk melihat apa yang terdapat peti mati itu.
"Oh, engkau . . ," tiba-tiba Somali memeluk tepi peti dan
hendak berusaha berdiri. Tetapi tak dapat karena kedua
kakinya sudah tak bertenaga lagi.
"Sun kuihui . . . oh, engkau disini . . ." Somali meratapratap
dan memanggil-manggil nama Sun kuihui. Sun adalah
nama orang dan kuihui artinya selir raja.
Blo'on heran, tegurnya : "Sun kuihui ? Apakah itu ?"
"Lihatlah dalam peti ini ... "
Blo'on maju menghampiri dan melongok ke dalam peti.
Ternyata dalam peti itu terisi dengan sebuah peti kaca.
Didalam peti kaca tampak rebah seorang wanita muda yang
cantik dan berpakaian indah. Wanita itu meramkan mata
seperti orang tidur.
"Wanita . . . !" teriak Blo'on.
"Benar," sahut Somali, "itulah Sun kuihui".
"Apa itu Sun kuihui ?" tanya Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Sun nama wanita itu dan kuihui ialah selir raja. Dia
memang selir yang paling dicintai raja Ing Lok."
"O, lalu mengapa engkau menangis seperti anak kecil ?"
tegur Blo'on pula.
"Ah, karena dialah maka aku sampai dipenjara disini ..."
Saat itu kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putihpun
menghampiri masuk. Disini mendengar kata-kata Somali,
kakek Lo Kun menyelutuk : "Hai. siapa
Dengan bercucuran airmata Somali menerangkan bahwa
selir raja yang menjadi gara-gara ia dihukum baginda,
ternyata berada dalam peti mati itu.
"O," kakek Lo Kun berteriak kaget, "jadi peti itu berisi
mayat ? Ketika baginda mengutus orang untuk menyimpan
peti itu, aku tak diberitahu apa isinya. Hanya aku dilarang
masuk ke dalam ruangan ini."
Habis berkata kakek Lo Kun terus melongok kedalam peti.
Dia melihat jenazah yang berada dalam peti kaca, kakek itu
terbelalak sampai beberapa saat. Kemudian ia lari keluar
mengambl lampu.
"Aneh, mengapa wanita ini mirip dengan puteri tikoan
Siam-say yang menjadi calon pengatinku itu?" beberapa saat
setelah menyuluhi peti kaca dengan lentera, kakek Lo Kun
berkata seorang diri.
"Lo Kun, jangan gila-gilaan engkau," seru Somali, "dia
adalah Sun kuihui, selir yang paling dicintai raja Ing Lok. Aku
tergila-gila dengan kecantikannya yang gilang gemilang
sehingga malam aku nekad masuk ke dalam kamarnya. Ketika
di negeriku, aku telah mempelajari semacam ilmu mantra yang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dapat menghilangkan kesadaran pikiran orang. Dengan ilmu
mantra itu aku dapat menguasainya .... "
"Huh, jangan jual kentut busuk '" bentak kakek Lo
Kun,"masakan wanita secantik itu sudi dengan lelaki macam
dirimu !"
"Benar." sahut Somali, "tetapi aku mempunyai ilmu mantra
yang dapat membuatnya menurut apa yang kukehendaki.
Kupeluknya, kuciumi sepuas-puas hatiku . . . . "
"Dia diam saja ?" teriak Lo Kun.
"Diam dan paserah . , . "
Duk . . . tiba-tiba kakek Lo Kun menghantam dada Somali.
Karena tak menduga dan jaraknya dekat, Somali terjungkal
kebelakang.
"Lo Kun, mengapa engkau menghantamnya" teriak Blo'on.
"Kurang ajar, dia berani menghina wanita Itu. Wanita itu
benar-benar mirip dengan calon pengantinku. Masakan dia
berani menciumi semau-maunya " teriak kakek Lo Kun.
Kakek Kerbau Putih kasihan kepada Somali. Buru-Buru ia
menolong membangunkannya supaya duduk.
"Lo Kun, mengapa engkau memukul aku?" teriak Somali.
"Karena engkau berani menciumi calon pengantinku," sahut
kakek Lo Kun.
"Siapa calon pengantinmu ?"
“Wanita yang tidur dalam peti kaca itu," sahur kakek Lo
Kun, "dia seperti pinang dibelah dua dengan calon
pengantinku yang hilang itu. Kemungkinan memang dia !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Engkau gila !" teriak Somali, "dia Sun kuihui, selir raja Ing
Lok !"
"Tidak peduli !" kakek Lo Kunpun berteriak tak kalah
kerasnya, "pokok wajahnya sama dengan calon pengantinku
yang hilang itu."
Kakek Kerbau Putih melerai: "Sudahlah kakek gila, jangan
mengacau. Biarkan Somali melanjutkan ceritanya lagi."
Sornalipun berkisah lagi : "Setelah kuciumi, nafsuku makin
berkobar-kobar. Aku tak dapat menekan perasaanku lagi. Sun
kuihui terus kupondong dan kubawa kedalam ranjang.
Pakaiannya kulepaskan semua . . . "
"Dia diam saja ?"
"Diam dan paserah ..."
Duk . . . kakek Lo Kun menghantam dengan marahnya.
Tetapi kali ini karena Somali sudah berjaga jaga, maka ia
dapat menangkis. Pukulan Lo Kun dapat ditahan tetapi
Sornalipun meringis kesakitan.
"Kubunuh engkau jahanam!" kakek Lo Kun makin kalap. Ia
terus hendak menanduk orang Persia itu dengan kepalanya.
Huh . . . tetapi ia merasa tubuhnya dipegang kuat-kuat dari
belakang sehingga ia tak dapat maju.
Lo Kun berdiri tegak dan berpaling. Ketika melihat kakek
Kerbau Putih berada dibelakangnya, meluaplah
kemarahannya: "Hai, Kerbau, apakah engkau hendak
membelanya ? Jangan kuatir, kerbau, sekalipun engkau maju
berdua dengan dia, aku tetap dapat melayani !'
Biasanya kakek Kerbau Putih itu juga linglung. Tetapi entah
bagaimana, saat itu rupanya pikirannya terang. Dia tak mau
meladeni tantangan kakek Lo Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Setan tua, mengapa engkau seperti anak kecil ? Kalau mau
mengajak berkelahi harus menurut aturan? Bukankah kita
sudah menetapkan perkelahian itu hanya dilakukan setahun
sekali?" serunya, "Jangan salah faham. kenalpun baru
sekarang dengan raksasa itu masakan aku hendak
membelanya. Tetapi tingkahmu itu tidak benar. Wanita dalam
peti itu bukan isterimu. Dia adalah selir raja, mengapa engkau
marah terhadap raksasa Somali ?"
"Teapi dia serupa benar dengan calon pengantinku ?"
bantah Lo Kun.
"Ah, itu perasaanmu sendiri," kata kakek Kerbauu Putih lalu
berkata kepada Somali, "teruskan ceritamulah."
"Ketika sudah hampir tercapai apa yang kuinginkan tiba-tiba
pintu didobrak dan selusin si-wi (penjaga istana) menerobos
masuk terus meringkus aku dan Sun kuihui. Aku tertangkap
basah. Baginda marah sekali dan menitahkan supaya aku
dipenjarakan seumur hidup dibawah jurang ini . . .”
"Ha, ha, benar, benar! Memang demikianlah ganjaran orang
yang berani mengganggu selir raja, " kakek Lo Kun tertawa
girang.
"Engkau tak tahu kalau Sun kuihui juga berada disini ?"
tanya kakek Kerbau Putih.
"Sama sekali tidak. Andaikata tahu, tentu aku mengamuk."
kata Somali.
"Engkau bangsat, Somali !" tiba-tiba kakek Lo Kun kumat
penyakitnya lalu menendang Somali. Plak . . . karena tak
menduga, Somali mencelat sampai dua langkah kebelakang.
"Bangsat kate, mengapa engkau menyerang aku lagi ?"
teriak Somali dengan marah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Engkaulah yang .mencelakai wanita itu sehingga dia turut
dihukum oleh raja!" teriak Lo Kun,
"Ho, aku sudah amat menderita sekali menerima hukuman
raja. Mengapa engkau ikut-ikutan hendak menyakiti diriku ?
Apakah engkau berhak?"
'"Berhak," sahut kakek Lo Kun, "karena wanita itu serupa
benar dengan calon pengantinku yang hilang."
"Setan tua ..." teriak kakek Kerbau Putih. Tetapi belum
habis dia berkata, kakek Lo Kun sudah deliki mata kepadanya:
"Ho, kerbau, engkau hendak membelanya lagi ? Kalau begitu,
kuajukan saja waktu pertandinnan itu. Tidak satu tahun lagi
tetapi sekarang juga !"
Habis berkata kakek linglung itu terus sing-singkan lengan
baju bersiap-siap.
"Lo Kun, jangan berkelahi !" seru Blo'on, "engkau dengar
tidak perintahku. Aku putera raja”
Lo Kun menurut, tetapi kakek Kerbau Putih masih
penasaran, serunya : "Lo Kun. mengapa engkau begitu ngotot
mengaku selir raja itu seperti calon pengantinmu?"
"Sudah tentu", sahut kakek Lo Kun, "dia memang
menyerupai sekali dengan puteri ti-koan yang dinikahkan
dengan aku itu. Kalau tak percaya, lihatlah sendiri !"
Karena ingin tahu kakek Kerbau Putihpun menghampiri peti
mati dan melongok isinya.
"Astaga ." kakek Kerbau Putih menjerit dan loncat mundur.
Sikapnya amat tegang sekali, tubuhnyapun gemetar.
"Mengapa engkau ?" tegur kakek Lo Kun karena heran
melihat tingkah laku kakek rambut pulih itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dia ... dia ... "
"Setan, dia bagaimana ? Apa engkau anggap dia jelek
rupanya ?" seru kakek Lo Kun.
"Dia mirip dengan nona yang kucintai . . ,"
Plak . . . tiba-tiba kakek Lo Kun ayunkan tangan menampar
kepala kakek Kerbau Putih: “Kurang ajar engkau kakek gila !
Engkau berani mengaku dia sebagai kekasihmu ?"
Karena tak menyangka, kakek Kerbau Putih tersurut
selangkah. Kemudian dengan mata merah padam ia
memberingas : "Setan tua, dia benar seperti kekasihku, puteri
seorang ti-koan dari Hong-yang hu !"
Lo Kun beranjak hendak maju menyerang lagi tetapi tibatiba
punggungnya dijotos Somali, duk.... karena tak
menyangka dan jaraknya dekat, kali i-ni kakek Lo Kun harus
merasakan betapa rasanya orang yang jatuh tengkurap
mencium tanah ...
Dia tengel-tengel bangun lalu berputar tubuh menghadap
Somali: "Somali. mengapa engkau memukulku”
"Karena engkau juga liar," jawab Somali, "bukankah engkau
juga hendak menyerang kakek itu?"
"Ho, jelas kalian berdua memang sudah bersekongkel
hendak melawan aku." gumam kakek Lo Kun," tadi si kerbau
yang membela engkau sekarang engkau yang membela dia."
"Lo Kun, jangan berkelahi !" tiba-tiba Blo'on menyelutuk,
"dengarkan dulu keterangan kakek kerbau mengapa dia
mengaku wanita itu kekasihnya. Hayo, kakek rambut putih,
ceritakanlah riwayatmu",
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Kerbau Putih menurut, dia bercerita : "Dahulu
semasa muda, aku tidak sejelek ini. Aku seorang pemuda yang
cakap dan pintar. Aku ini anak siapa, kalian tahu ?"
"Tidak," sahut Blo'on.
"Aku ini sebenarnya anak seorang ti-koan (lurah) Ayahku
kaya dan berkuasa Aku disuruh belajar ilmu sastera agar kelak
dapat menggantikan kedudukan ayah. Bahkan kalau dapat,
bisa mencapai pangkat yang lebih tinggi lagi. Tetapi aku tak
suka ilmu sastra, aku lebih senang belajar ilmu silat. Ayah
menuruti permintaanku, mengundang seorang guru silat untuk
mengajar aku. Sejak memiliki kepandaian silat, aku mulai
nakal. Aku sering kelayapan di luar dan sering berkelahi.
Karena aku anak tihu, tak ada orang yang berani menentang.
Aku makin binal. Kupelihara beberapa gerombolan pemuda
jago berkelahi. Selain mabuk, judi akupun suka mengganggu
wanita.
Pada suatu hari ketika malam Keng-thi-kong siau
Sembahyang Tuhan Allah, banyaklah gadis-gadis yang keluar
untuk bersembahyang ke keleteng. Tay-im si merupakan
kelenteng yang terbesar diwilayah Siamsay. Pada malam itu
ramai sekali orang datang berkunjung untuk bersembahyang.
Kuajak anakbuahku pesiar ketempat itu. Menikmati gadisgadis
pingitan yang jarang keluar dari rumah.
Ditengah tengah keramaian, tiba-tiba datang sekelompok
lelaki berpakaian seragam, memikul sebuah tandu. Empat
orang lelaki yang berjalan di muka tandu, berteriak teriak
sambil mengayun-ayunkan tongkat untuk menyuruh orangorang
memberi jalan. Tandu masuk kedalam kelenteng dan
turunlah seorang gadis yang cantik sekali.
Saat itu hatiku seperti melonjak-lonjak ingin mendekati
gadis jelita itu. Dari beberapa orang, kudapat keterangan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
bahwa gadis jelita itu ternyata puteri tihu. Ayahku hanya
seorang ti-koan, kalah tinggi kedudukannya. Tetapi aku sudah
terlanjur mabuk kepayang. Aku harus mendapatkan gadis
jelita itu, dengan jalan dan pengorbanan apapun juga.
Demikian tekad hatiku.
Kuikuti rombongan pengawal tandu itu sampai ditempat
kediaman tihu. Gedung tihu dijaga ketat sekali. Tetapi aku
nekad. Dengan jalan menyelundup dari pagar tembok
belakang, aku berhasil masuk ke gedung tihu. Dengan susah
payah akhirnya dapat kutemui kamar jelita itu . . . .
Kakek Kerbau Putih berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi :
"Bermula nona itu kaget dan hendak menjerit. Tetapi cepat
kuberikan pisauku kepadanya. Dari pada menjerit, kusuruh dia
membunuh aku saja.
"Tentu engkau dibunuhnya, kerbau !" teriak kakek Lo Kun.
'O, tidak, tidak," seru Kerbau Putih, "memang saat ini aku
tak keruan ujutku. Tetapi pada masa itu aku seorang pemuda
yang cakap dan ganteng. Dengan tutur bahasa yang lembut
dan sikap yang sopan santun, jelita itu tertarik denganku. Ia
lebih girang ketika mengetahui bahwa aku putera tikoan.
Sejak malam itu, berkali-kali aku mengadakan pertemuan
gelap dengan jelita itu. Kita makin mencintai satu sama lain.
Akupun bersumpah dihadapannya. jika tak menikah dengan
dia, lebih baik aku mati atau takkan menikah seumur hidup.
Tetapi kisah asmara kita tak berlangsung lama. Cong-tok
(gubernur) memberi tahu kepada ti-hu ayah gadis itu bahwa
puterinya akan diambil isteri oleh seorang pembesar kerajaan.
Aku gelisah bukan main. Akhirnya aku nekad. Kekasihku itu
harus kubawa lari. Lalu kuculik seorang gadis desa, setelah
kututuk jalan darahnya lalu kubawa kedalam gedung residen
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dan kutukarkan dengan puteri ti-hu. Bermula kekasihku takut
melarikan diri tetapi serta kuancam, apabila dia tak mau
menurut kehendakku lebih baik aku mati bunuh diri di
hadapannya, akhirnya ia menurut juga. Tengah malam aku
berhasil membawa puteri ti-hu pergi. Tetapi akupun takut
pulang kerumah karena kuatir ayah akan marah dan terembet
dengan urusan ini.
"Aku hendak membawa kekasihku pergi jauh ke sebuah
tempat tak dikenal orang." kata kakek Kerbau Putih
melanjutkan ceritanya, "tetapi ketika lewat di gunung Hok-gusan,
aku telah dihadang oleh gerombolan penyamun. Mereka
berjumlah lebih banyak dan aku hanya seorang diri. Akhirnya
aku dapat diringkus lalu dilempar kedalam jurang.
"Lalu bagaimana dengan nona itu" tanya Somali
"Dia dibawa oleh mereka!" kakek Kerbau Putih menghela
napas panjang, "untung aku masih hidup, ah, tetapi
sebenarnya lebih baik aku mati saja."
"Mengapa ?” tanya Somali.
"Karena sejak itu, wajahku yang cakap hancur punggungku
bungkuk begini. Karena malu bertemu orang, aku
bersembunyi didasar jurang gunung Hok gu-san," kakek
Kerbau Putih mengakhiri, ceritanya.
"O, engkau juga bernasib malang." kata kakek Lo Kun, "hai
. . . tetapi mengapa eagkau mengaku wanita dalam peti kaca
itu sebagai kekasihmu?”
"Memang benar dia kekasihku !" teriak kakek Kerbau Putih.
Lalu tiba-tiba ia memandang Somalil "hai, Somali, mengapa
engkau mengatakan kalau wanita itu Sun kuihui selir raja Ing
Lok ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tentu saja", sahut Somali, "akulah yang tahu paling jelas !"
"Engkau tahu asal usul dia diambil selir raja ?"
"Ya, pada suatu hari, ketika mengikuti baginda memadamkan
pemberontakan suku Biau didaerah Sinkiang seoraug
kepala kampung daerah itu telah menghaturkan seorang gadis
cantik yang di akunya sebagai anaknya. Baginda amat tertarik
sekali dengan kecantikan gadis itu. Gadis itu dibawa pulang ke
kota raja dan diangkat menjadi Sun kuihui."
"Tetapi jelas dia adalah kekasihku. Aku dapat mengenali
ciri-cirinya," bantah kakek Kerbau Putih.
"Bagaimana cirinya ?"
"Diatas mulutnya, mempunyai sebuah tahi lalat."
"Tetapi akupun tahu jelas akan ciri-ciri dari Sun kuihui yang
pernah kupeluk itu. Di dadanya sebelah kiri terdapat sebuah
tahi lalat ..."
"Bagaimana engkau tahu?" teriak kakek Kerbau Putih.
"Tentu saja tahu karena bajunya saat itu telah kulepas ..."
belum sempat Somali bicara habis. dua buah pukulan
menghunjamnya dari kanan dan kiri. Pukulan dari kanan
berasal dari tangan kakek Kerbau Putih dan yang dari kiri
pukulan kakek Lo Kun. Kedua kakek linglung marah sekali
mendengar keterangan Somali.
Somali cepat menangkis tetapi ia harus menggerung karena
kesakitan : "Bangsat, mengapa kalian memukul aku ?"
"Engkau menghina kekasihku !" teriak kakek Kerbau Putih.
"Engkau kurang ajar terhadap calon pengantinku !" seru
kakek Lo Kun pula.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Somali terlongong, serunya : "Bangsat, dia itu jelas Sun
kuihui . . ."
"Kekasihku." teriak kakek Kerbau Putih.
"Calon pengantinku “
"Sun kuihui !" jerit Somali.
Ketiga orang itu berteriak, memekik dan menjerit makin
lama makin keras. Masing-Masing mengukuhi pernyataannya
sendiri.
Blo’on bising mendengarnya. Cepat ia menutup telinganya
dengan tangan dan menjerit : "Hai, berhenti kamu !"'
Rupanya ketiga orang itu mau juga menuruti perintah
Blo'on. bentakan Blo'on sedahsyat petir menyambar.
"Somali, Lo Kun dan kakek Kerbau, bagamana maksud
kalian ini ?" tanya Blo'on.
"Wanita dalam peti kaca itu jelas Sun kui hui yang kucintai
..."
"Bangsat Somali. ..." cepat kakek Lo Kuil mendamprat tetapi
secepat itu pula Blo'on membentaknya : "Diam engkau !"
"Lalu bagaimana maksudmu, Somali ?" kata Blo'on pula.
"Dia akan kuambil dan akan kubawa pulang ke Persia ..."
"Bangsat, akan kubunuhmu !" teriak kakek Kerbau Putih
dengan memberingas.
"Jangan mengganggu orang bicara, kakek Kerbau." bentak
Blo’on pula, "kalau kalian tak mendengar kata-kataku, lebih
baik aku pergi saja dan silahkan berkelahi sampai mati !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Habis berkata Blo'onpun terus hendak melangkah keluar
tetapi ketiga orang itu serampak mencegah : "Jangan pergi,
engkau harus memutuskan urusan ini dulu !"
"Hm, baik." Blo’on berhenti, "tetapi kalial harus diam.
jangan membawa kemauan sendiri.”
"Kakek Kerbau, bagaimana keinginanmu ?” tanya Blo’on.
"Jelas wanita itu adalah kekasihku. Karena sekarang sudah
berjumpa, harus kubawa pulang ke gunung Hok-gu-san."
"Hmmm." kakek Lo Kun menggigil geram.
"Lo Kun. bagaimana kehendakmu ?" tanya Blo'on kepada
kakek itu.
"Wanita itu jelas calon pengantinku yang hilang. Karena dia
sudah berada disini. tentu akan Kujaga sampai aku mati !"
sahut Lo Kun.
Blo'on garuk-garuk kepalanya yang sudah mulai tumbuh
rambutnya. Lalu menggumam : "Wah susah ini. Seorang
wanita, dibuat rebutan tiga orang lelaki Bagaimana caranya
membagi ?"
Beberapa saat kemudian, Blo'on berteriak girang : "O,
benar, benar! Jangan kuatir, aku dapat memutuskan perkara
ini ... "
Ia terus menghampiri peti lalu melongok ke dekat peti kaca
yang berisi wanita cantik itu : "Hai. wanita, ketahuilah. Saat ini
ada tiga manusia lelaki yang mengaku engkau sebagai
kekasih-nva. Sekarang engkau harus menjawab sendiri.
Benarkah engkau ini Sun kuihui yang pernah dipeluk Somali ?"
Tiada jawaban dari wanita cantik dalam peti kaca itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Celaka, engkau dengar tidak, Somali ? Dia tak menjawab,
tandanya menyangkal !" teriak Blo'on.
"Tetapi dia su . . " baru Somali hendak membantah. Bloon
sudah memberi isyarat tangan suruh dia diam. Lalu Blo'on
bertanya lagi kepada wanita cantik itu : "Kalau begitu,
engkau tentulah kekasih dari kakek Kerbau Putih itu ?”
Juga tak ada jawaban.
"Uh, kakek Kerbau Putih, dia tak menjawab berarti
menyangkal !" seru Blo'on.
"Uh, aneh ..." gumam kakek itu.
"Kalau begitu apakah engkau benar calon pengantin dari
kakek Lo Kun ?" Blo'on tak mengacuhkan terus mengajukan
pertanyaan lagi.
Namun tetap tak berjawab.
"Kakek Lo Kun, dia juga menyangkal menjadi calon
pengantinmu !"
"Heran, mengapa begitu ?" kakek Lo Kul yang linglung
garuk-garuk kepala.
"Tidak aneh, tidak heran karena kalian goblok semua !"
teriak Somali, Sun kuihui sudah meninggal dunia, masakan
dapat menjawab pertanyaanmu ?"
"Meninggal ?" Blo'on kerutkan dahi, "kalau meninggal
mengapa badannya masih utuh seperti orang hidup ? Ah, dia
tentu tidak meninggal melainkan tidur . . "
"Tidak !" teriak Somali makin kalap, "dia memang sudah
meninggal tetapi jenazahnya dibalseM”
"Apa itu dibalsem ?" tanya Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dinegeriku ada semacam obat yang dilumurkan pada
tubuh sesosok mayat. Mayat itu tak dapat busuk selamanya.
Dibalsem namanya atau diawetkan supaya tetap seperti
hidup." kata Somali.
"Benarkah itu kakek Kerbau ?" tanya Blo'on
"Ya,"
"Benarkah itu, Lo Kun ?”
"Benar."
"Kalau begitu, dia sudah mati. Tetapi mengapa kalian
hendak berebut mengambilnya ? Apakah kalian hendak
menikah dengan mayat ?"
"Biar." sahut Somali, "pada masa hidupnya aku tak dapat
memperisteri, biarlah setelah mati akan kuambil sebagai
isteri."
"Tidak gadisnya, jandanyapun tetap akan kupersunting."
seru kakek Kerbau Putih.
"Karena calon pengantin yang hidup tak mampu kujadikan
isteri, sekalipun sudah jadi mayat tetap akan kujadikan calon
pengantinku," kakek Lo Kun tak mau kalah suara.
"Ha, gila, gila," Blo'on garuk-garuk kepalanya yang gundul,
"kalau masih hidup dapat kutanya dia akan memilih siapa.
Tetapi karena sudah mati bagaimana dapat kutanyai ?"
Blo’on mondar-mandir sambil berteliku tangan. Rupanya ia
sedang mencari akal bagaimana memecahkan persoalan itu.
"Ya, hanya dengan cara itu," tiba-tiba ia berhenti dan
berseru kepada ketiga orang itu. "begini keputusanku. Karena
kalian semua hendak menginginkan seorang wanita yang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sudah mati. Maka wanita itu akan kubagi tiga. Kalian masingmasing
mendapat satu bagian. Adil bukan ?”
Dan tanpa mempeduhkan ketiga orang terlongong longong,
Blo'on melanjutkan pula : "Engkau kakek Kerbau, karena kenal
lebih dulu dengan wanita itu, engkau boleh ambil kepalanya.
Kakek Lo Kun mendapat bagian tubuhnya dan Somali bagian
kaki ..."
"Tidak ! Tidak
Tidak!" serempak
ketiga orang itu
berseru menolak,
"kalau engkau berani
mengganggu wanita
itu. tentu kubunuh!"
"Habis, bagaimana
kehendak kalian?"
teriak Blo'on mulai
penasaran.
"Berikan kepadaku,
dia kekasihku !' seru
kakek Kerbau Putih.
"Berikan kepadaku
karena dia calon pengantinku !'" jerit kakek Lo Kun.
"Berikan kepadaku karena dia pujaan hatiku!” teriak Somali
pula.
Blo'on merenung diam. Sampai lama baru ia berkata pula :
"Begini sajalah. Aku tak dapat memutuskan urusan ini. Yang
mampu dan berhak memutuskan ialah raja. Maka marilah kita
menghadap raja meminta keputusannya. Setuju?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Setuju !" akhirnya ketiga orang itu menyatakan
persetujuannya.
"Tetapi bagaimana kalau kita pergi dan wanita itu diambil
orang?" kata kakek Kerbau Putih.
"Benar, benar," seru Lo Kun dan Somali.
"Hm, kalau begitu. Somali yang jaga disini. Dia tak bisa
jalan, lebih baik tinggal disini. Dan engkau kakek Lo Kun dan
kakek Kerbau Patih ikut aku menghadap raja!"
"Mengapa harus ikut ke kota raja ?" teriak kakek Lo Kun.
"Karena setelah menghadap raja, aku tak mau kembali
kesini lagi. Lalu siapa yang menyampaikan keputusan raja
kepada Somali?" jawab Blo'on
Kedua kakek itu mengangguk dan menyetujui
"Tetapi awas. Somali, jangan engkau kurang ajar memeluk
dan menciumi calon pengantinku itu lagi !" kakek Lo Kun
meninggalkan ancaman.
"Ya Somali, kalau engkau berani berbuat cabul terhadap
kekasihku itu, engkau tentu kucincang " pesan kakek Kerbau
Putih.
Somali hanya geleng-geleng kepala melihat kedua kakek itu
berjalan mengikuti Blo'on yang menuju ke pintu putih.
"Hai. tunggu dulu Lo Kun !" tiba-tiba Somali berteriak "kalau
engkau pergi, lalu siapa yang menyediakan makanan
untukku?"
Lo Kun tertegun : "Ai, benar, benar. Kalau tak makan dia
tentu mati . . , tunggu !" tiba-tiba ia lari kembali keatas guha
dan tak berapa lama muncul pula dengan membawa sebuah
peti.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Peti penuh berisi botol, katanya seraya mengambil sebuah
botol warna putih : "Botol ini beris pil makanan. Isinya beriburibu
butir pil. Tiap hari engkau cukup makan sebutir pil, tentu
sudah kenyang. Dan botol lain-lainnya berisi arak. Apabila
habis, engkau boleh naik ke atas guha dan mengambilnya
lagi."
Somali mengerut dahi : "Makanku banyak, lima takeran dua
tiga orang. Masakan pil sekecil itu dapat mengenyangkan
perutku ?"
"Ho, Somali, jangan memandang enteng pil iti. Pil itu
disebut Poh-leng-tan, terbuat dari sari-sari gandum dan hati
binatang-binatang yang tahan lapar, antara lain ular yang
umurnya seratus tahun. Pembuatan itu menurut resep pusaka
dari keluargaku. Di dunia tak ada orang yang mampu
membuatnya. Sudahlah, jangan kuatir. kalau engkau mati
kelaparan, bunuhlah aku !" kata Lo Kun,
"Apakah isi pintu putih itu ?" tanya Blo-on
"Sebuah pintu rahasia yang akan tembus sampai ke
lamping gunung " kata Lo Kun.
"Kalau begitu kita keluar saja dari pintu ini" kata Blo'on.
"Jangan, jangan !" teriak kakek Lo Kun, "berbahaya sekali !
"Mengapa ?" tanya Blo'on.
"Ada penunggunya !"
Blo'on dan kakek Kerbau Putih terbeliak kaget: "Penunggu ?
Siapa psnunggunya?"
"Seekor binatang purba, kepalanya seperti singa tetapi
bertanduk.”
"Kenapa takut kepada binatang itu ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"O, engkau tak tahu. Pernah sekali aku mencoba masuk
kedalam terowongan itu. Aku hampir mati disemburnya.
Binatang itu dapat menyemburkan asap beracun !" Lo Kun
menerangkan,.
"Huh, seram !" seru Blo'on terus hendak melangkah keluar.
"Mengapa tak jadi masuk." teriak Somali demi melihat
ketiga orang itu keluar dari pintu-putih
"Ada penunggunya, seekor binatang anjing-naga yang
ganas." sahut Blo'on.
"Dan engkau takut ?"
"Ho, Somali, apa engkau kira jiwaku ini murah? Kalau aku
mati, siapakah yang akan menghadap raja ?" seru Blo'on.
"Kurang ajar engkau Somali, bukankah engkau suruh kita
bertiga masuk supaya mati dan wanita itu hendak engkau
ambil sendiri ?" teriak kakek Lo Kun.
"Ho, Somali, aku bukan anak kecil yang mudah engkau
tipu!" kakek Kerbaupun ikut bersuara.
Somali menyahut: "Kalau kalian berdua, matipun aku tak
Peduli. Tetapi anak itu, dia putera raja, masakan bicaranya
seperti orang gila. Di negeriku Persia, raja dan putera raja itu
disembah orang karena bicaranya tegas. Sudah membuka
pintu tak berani masuk, itu pengecut. Itu bukan laku seorang
putera raja !"
Blo'on malu, serunya : "Hai, Somali, jangan menghina
putera raja. Engkau kira aku takut masuk ? Tidak, aku tidak
takut. Kakek Lo Kun dan kakek Kerbau, kalau kalian takut, tak
usah ikut. Aku hendak masuk sendiri ..." tiba-tiba burung
rajawali dan monyet hitam loncat menghampiri Blo’on, Blo’on
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
girang . "Ho, engkau mau ikut masuk ? Bagus. mari kita
masuk . . . " ia terus melangkah kedalam pintu putih lagi.
"Tunggu, aku ikut!" kakek Lo Kun dan Kerbau Putih
serempak lari mengusul.
Dibelakang pintu putih itu merupakah sebuah lorong jalan
yang panjang dan gelap. Untung lorong terowongan itu cukup
tinggi dan lebar sehingga mereka dapat berjalan dengan
tegak.
Entah berapa lama dan beberapa panjang lorong yang
mereka tempuh itu, tiba-tiba mereka tiba di sebuah tempat
yang lebar. Sebuah tempat terbuka yang jauh lebih terang
daripada terowongan tadi. Dan aneh pula, tanah di tempat itu
tampak hijau.
Ketika Blo'on dan kedua kakek linglung melangkah maju,
barulah mereka mengetahui bahwa warna hijau tua pada
tanah itu ternyata tumbuhan (lumut) yang subur sehingga
hampir sejari tinnginva. Sepintas pandang menyerupai
permadani hijau Di atas ruang itu tertutup dengan gumpalgumpal
batu kerucut yang berlubang kecil-kecil. Melalui
lubang-lubang kecil itulah sinar matahari dan rembulan dapat
memancar masuk. Dan dari lubang-lubang kecil itu pula angin
dan air hujan maupun embun masuk ke dalam ruang.
Sekeliling ruang, merupakan dinding karang yang tak rata
bentuknya. Pun penuh ditumbuhi pakis yang tebal.
Blo'on berpaling memandang kakek Lo Kun tegurnya :
"Kakek, mana binatang purba yang engkau katakan itu ?
Mengapa tak ada di tempat ini . . . "
Belum selesai bicara, kakek Lo Kun cepat membentak : "St,
diam, dengarkanlah !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo’on terkejut dan memandang kemuka. Tampak tanah
bertabur pakis yang berada didekat dinding karang tiba-tiba
mulai bergerak, menggelembung keatas. Makin lama makin
naik dan makin membesar sehingga menyerupai seekor
kerbau.
"Dia mulai bangkit !" seru kakek Lo Kun dengan suara
tertahan, "rupanya dia mencium bau manusia ..."
Blo'on, kakek Kerbau Putih dan Lo Kun memandang gunduk
tanah yang menonjol keatas itu dengan penuh perhatian.
Setelah menggunduk tinggi, sekonyong-konyong gunduk
tanah itu meledak. Berkeping-keping tanah batu karang
berhamburan memenuhi ruangan menimbulkan debu yang
tebal.
Belum Blo'on dan kedua kakek hilang kejut nya, tiba-tiba
terdengar suara mendering tajam bagai berpuluh-puluh
senjata beradu. Kemudian disusul dengan sebuah suara yang
dahsyat. Sebuah ringkikan yang jauh berlipat ganda kerasnya
dari ringkik kuda. Nadanya melengking tinggi sehingga telinga
Blo'on dan kedua kakek itu serasa pecah. Dinding karang
bergetaran pakis bertebaran laksana salju jatuh dibumi.
Karena kejutnya. Blo'on terus memeluk kedua kakek itu
erat-erat. Burung rajawali mengepak-ngepak sayp dan monyet
hitampun loncat mendekap ke-kepala Blo'on.
Beberapa saat kemudian Blo'on lepaskan pelukannya tetapi
terus menjerit: "Hai, wangi sekali!"
"Celaka, lekas tutup hidungmu, jangan menyedot hawa
wangi dari binatang itu !" cepat kakek Lo Kun meneriakinya.
Dan ia sendiripun terus menghentikan pernapasannya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ha." Blo'onpun cepat menutup hidung dengan sebelah
tangannya, "tetapi kalau membuka mulut, hawa wangi itu
tetap akan masuk kedalam tubuh kita !"
"Hm, untung engkau mengajak aku, Kalau tidak kalian tentu
sudah mati," kata kakek Kerbau Putih seraya merogoh
bajunya. Ia mengeluarkan sebuah botoi kecil dari batu
kumala. Menuang isi-nya tiga butir pil warna putih, besarnya
seperti biji kedele.
"Nih, engkau sebutir dan engkau sebutir," ia memberikan
kepada Blo'on dan kakek Lo Kun, “kulumlah pil itu dimulut,
khasiatnya dapat menolak hawa racun."
Habis berkata iapun terus mengulum sebutir dimulutnya.
Blo'on dan Lo Kun menurut.
Saat itu tebaran debu batu karang dan pakis sudah menipis
dan merekapun dapat melihat apa yang berada dalam ruang
itu.
Seekor mahluk mengerikan. Kepalanya menyerupai singa
yang bertanduk, badannya bersisik kekuning-kuningan.
Sepasang gundu matanya yang besarnya seperti buah apel,
tampak bersinar memancarkan api, Tinggi binatang itu hampir
sama dengan seekor anak kerbau, ekornya pendek. Hidungnya
mendengus dan menghamburkan asap putih. Asap itulah yang
bertebaran memenuhi ruang dengan hawanya yang wangi.
"Kilin emas ... !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru
tertahan.
"Apa ?" tanya Blo'on.
"Binatang itulah yang disebut ki-lin atau warak. Binatang
yang jarang terdapat di dunia. Apa lagi yang bersisik emas
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
seperti itu, kiranya hanya terdapat dalam dongengan saja. Ah,
hebat benar . . , "
"Uh, bagaimana engkau tahu ?" dengus kakek Lo Kun.
"Dulu ketika aku masih muda, aku disuruh ayah belajar
sastera. Guruku menceritakan tentang seekor binatang yang
jarang terdapat dalam dunia. Namanya ki-lin. Kilin emas
merupakan kilin mustika, rajanya ki-lin. Ki-lin yang tak
terdapat duanya dikolong jagad ini !'"
"Apa gunanya ?" tanya Blo'on.
"Kalau ki-lin emas muncul di dunia, pertada akan lahir
seorang nabi besar atau seorang raja besar atau sekarang
manusia luar biasa . . . "
"O, karena kita beruntung melihat ki-lin emas, kita ini
manusia luar biasa" kata kakek Lo Kun.
"Ho, ho, tanpa melihat ki-lin, engkau memang sudah
manusia luar biasa. Coba saja, apakah didunia terdapat kakek
tua berambut hitam?" kata kakek Kerbau Putih.
"Benar, benar," sahut kakek Lo Kun, "engkaupun termasuk
manusia luar biasa juga, kerbau. Coba carilah manusia yang
mendukung daging benjol seperti engkau, ha, ha, . . , "
"Kakek Kerbau," kata Blo'on, "apakah ki-lin itu mempunyai
daya khasiat lain ?"
"Ya. apabila engkau makan dagingnya, keringatmu tentu
wangi sekali. Kalau minum darahnya engkau dapat hidup
sampai seribu tahun . . "
"Ho. kalau begitu mari kita tangkap ki-lin itu", seru kakek Lo
Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, benar," seru Blo'on terus mendahului lari kemuka
menghampiri ki-lin.
"Hai, jangan gegabah. Dia dapat menyemburkan uap
beracun !" seru kakek Lo Kun yang terpaksa menyusul maju.
diikuti kakek Kerbau Putih. Rupanya rnahluk aneh itu tahu
kalau tiga orang manusia menghampirinya. Biji matanya makin
memancar sinar api. Tiba-Tiba ia menguap. Segumpal asap
putih segera bergulung gulung melanda Blo'on.
"Celaka," teriak Blo'on seraya loncat ke samping lalu loncat
menubruk binatang itu. Tetapi binatang itu teramat gesit
sekali. Dengan kisarkan tubuh, ia menghindari tubrukan
Blo'on. Kemudian menyerang dengan tanduk.
Tetapi saat itu kakek Lo Kunpun sudah lari mendatangi dan
menyambar ekornya. Plak, ki-lin kebaskan ekornya tepat
menampar tangan si kake Kakek Lo Kun meringis kesakitan
karena tangan nya seperti ditampar sapu baja.
Dari samping kakek Kerbau Putihpun menerjang. la berhasil
memukul tubuh binatang itu. Tetapi bukan ki-lin yang rubuh
melainkan kakek Kerbau Putih yang menjerit kesakitan.
Tinjunya serasa menghantam keping baja yang keras sekali.
Entah herapa ratus tahun umur ki-lin itu sehingga sisik
badannya telah membatu karang. Kerasnya seperti baja.
Bloon terlongong-longong melihat kedua kakek itu menjerit
kesakitan dan mengelus-elus tangannya. Tiba-Tiba ki-lin itu
loncat menanduknya. Karena jaraknya amat dekat dan
gerakan binatang i tu secepat angin berhembus, Bloon tak
sempat menghindar lagi. Dalam gugupnya, ia gerakkan kedua
tangannya untuk menangkap sepasang tanduk binatang itu.
Dan berhasil.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Karena tanduknya dicengkeram orang, ki-lin mengamuk. Ia
mendorong maju untuk mendesak Bloon dan anak itu tak
mampu menahannya. Ia serasa dibawa terbang ke belakang
dan bruk .... dinding karangpun jebol berhamburan menimbuni
Blo'on dan ki-lin.
Terdengar ringkikan dahsyat. Batu-Batu karang menimbuni
kedua mahluk itu berguguran dan berterbangan ke sekeliling.
Ki-lin memberosot mundur setelah keluar dari lubang yang
jebol itu, binatang itu terus lari kembali ke tempat ia muncul
tadi.
Kakek Lo Kun dan
kakek Kerbau Putih
menyaksikan peristiwa
Blo'on diseret ki-lin
tadi. Tetapi karena kilin
itu bergerak
terlampau cepatnya
kedua kakek itu tak
sempat menolong.
Sesaat melihat ki-lin
keluar dari timbunan
karang, kedua kakek
itu berhamburan
loncat memburunya.
Tetapi tiba-tiba ki-lin
itu menguap,
menyemburkan
segumpall asap putih
yang tebal. Karena kaget dan kuatir terkena racun, kedua
kakek itupun berloncatan mundur. Kemudian mereka
menyelinap hendak mengejar lagi. Tetapi ki-lin sudah
menyusup masuk kedalam tanah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ah, dia masuk kedalam bumi," teriak kakek Lo Kun ketika
mendapatkan tempat ki-lin melenyapkan diri itu ternyata
merupakan sebuah lubang kecil yang gelap dan tak diketahui
berapa dalamnya.
"Hai. setan tua. jangan gila !" cepat kakek Kerbau Putih
menyambar lengan kakek Lo Kun ketika kakek itu hendak
terjun kedalam lubang.
"Akan kutangkap binatang itu." seru kakek Lo Kun.
"Engkau gila," kata kakek Kerbau Putih, "lubang ini tak
diketahui berapa dalamnya. Mungkin mencapai perut bumi.
Dan ki-lin itu dapat menyembulkan uap beracun. Bukankah
engkau hanya mengantar jiwa saja ?"
"Ho, kalau tak berani menempuh bahaya tentu tak bakal
mendapat barang mustika itu, "bantah kakek Lo Kun.
"Kalau engkau memang hendak nekat, terserah," kakek
Kerbau Putih lepaskan cekatannya dan terus ayunkan langkah.
"Hai. hendak kemana engkau ?" teriak kakek Lo Kun.
"Menolong anak itu lebih penting daripada melihat engkau
mati," sahut kakek Kerbau Putih.
"Ai, benar, kasihan anak itu , ... " kakek Lo Kun terus lari
bahkan mendahului kakek Kerbau Putih menghampiri
ketempat Blo'on.
Blo'on menggeletak tak berkutik Matanya meram, napas
berhenti. Kepalanya berdarah.
"Celaka, anak ini mati !" seru kakek Lo Kun seraya
mengguncang-guncang-kan tubuh Blo'on supaya bangun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
“Kita angkut keluar." kata kakek Kerbau Pulih. Kedua kakek
itu segera menggotong tubuh si Blo'on keluar, diletakkan di
tanah. Kemudian kakek Kerbau Putih memeriksa keadaannya.
"Ya. dia sudah mati, jantungnya tak berdetak. kasihan ..."
kata kakek itu beberapa saat kemudian.
"Lalu ?”
"Kita kubur saja didalam lubang itu," kata kakek Kerbau
Putih seraya menunjuk kepada lubang yang jebol tadi.
Kakek Lo Kun termenung. Kemudian ia berkata : "Apakah
anak itu benar-benar sudah mati ? Cobalah engkau periksa
lagi !"
"Kebanyakan tentu sudah mati. Jantungnya sudah berhenti,
eh, nanti dulu ..." ia memegang pergelangan tangan Blo'on
untuk memeriksa denyut jantungnya, "ya, benar, memang
sudah berhenti. Tetapi aneh. mengapa darahnya masih
mengalir seperti orang hidup ?"
"Ho, kalau begitu tak perlu kita buru-buru menguburnya.
Biarlah dia berada disini. Kutunggu saja, sembari menunggu
kalau-kalau ki-lin itu akan muncul lagi."
Kakek Kerbau Putih setuju. Keduanya lalu duduk bersila,
pejamkan mata dan bersemedhi memulangkan tenaga.
Dalam ruang itu makin gelap. Rupanya hari sudah malam
dan rembulan belum muncul sehingga tak ada sinar
penerangan yang menembus kedalam ruang.
Entah sampai beberapa lama, barulah kedua kakek itu
menyudahi persemediannya. Kakek Lo Kun yang pertamatama
membuka segera berteriak kaget :
"Hai, apakah itu . . !”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ternyata monyet hitam sedang berlincahan di atas tanah
yang tertutup pakis hijau. Tak henti-hentinya monyet itu
memunguti benda berwarna merah, Sebesar jagung.
Kakek Lo Kun menghampiri. Ingin ia tahu apakah biji-biji
merah yang dipungut monyet itu. Tahu-Tahu ia melihat sebutir
biji merah itu terletak ditempat yang agak menyudut. Buru-
Buru ia menyambarnya. Tetapi baru tangan hendak
menjamah, tiba-tiba burung rajawali menguak dan
menyambar biji merah itu dengan paruhnya lalu terbang
keatas melayang turun di atas dada Blo'on yang rebah
menelentang.
Burung itu menghampiri ke leher lalu tiba-tiba menunduk
dan menyusupkan biji merah itu kemulut Blo'on. Setelah itu
burungpun menguak lagi. Rupanya monyet mengerti kalau
dipanggil burung rajawali. Ia cepat berlari-lari menghampiri
dengan membawa segenggam biji-biji merah. Monyet itupun
segera susupkan biji-biji merah itu. ke dalam mulut Blo'on. ,
Setelah habis, monyet itu melonjak-lonjak seperti orang
gembira, bercuit-cuit lalu duduk disamping blo'on. Rajawalipun
loncat turun dan menjaga di dekat Blo'on.
Kakek Lo Kun melongo karena biji merah yang hendak
diraihnya itu telah digondol burung rajawah. Ia mendongkol
tetapi untunglah ia melihat lagi sebutir biji merah yang
menyelip dibawah rumpun pakis yang lebat. Cepat diambilnya.
"Hai, wangi sekali, . . . “ ia berteriak kaget "biji apakah ini?"
"Kakek goblok, itu bukan biji buah !" tiba-tiba terdengar
sebuah suara dari belakang
Lo Kun terkejut dan cepat berpaling kakek Kerbau Putih
sudah berada di belakangnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lalu biji apa ?" tanya Lo Kun.
"Darah ki-lin !"
"Hai,darah ki-lin ?" kakek Lo Kun melonjak kaget,
"bagaimana mungkin? Mengapa darah dapat membeku seperti
biji jagung begini?”
Kakek Kerbau Putih menghela napas : "Ah, memang setiap
benda atau mahluk mustika tentu mempunyai sesuatu yang
luar biasa. Ki-lin itu memang mahluk luar biasa yang tak
terdapat keduanya dalam dunia. Mungkin usianya sudah
beratus ratus tahun. Biasanya ki-lin tidak bertarduk tetapi ki-lin
itu bertanduk. Kalau bukan karena umurnya yang sudah
keliwat tua, tentulah ki-lin itu sebuah mahluk yang luar biasa,
sebuah ki-lin mustika ..."
Berhenti sejenak kakek Kerbau Putih melanjutkan lagi ?
"Kulit dan ekornya begitu keras sekali melebihi baja. Dan
menyemburkan asap wangi. Tadi ketika membenturkan anak
itu kedinding karang sehingga jebol, tentulah binatang itu juga
terluka dan mengucurkan darah. Kalau tidak, dia tak mungkin
meringkik keras dan melarikan diri ke dalam sarangnya...”
“O, benar” seru kakek Lo Kun
"Kucuran darahnya jatuh di tanah dan membeku jadi biji-biji
merah itu. Jangan heran," sepat-cepat Kerbau Putih mencegah
ketika kakek Lo Kun hendak membantah, "memang yang
disebut binatang mustika tentu mempunyai keluarbiasaan
yang mustahil. Kalau darahmu dan darahku mengucur, tentu
hilang kedalam tanah. Tetapi darah ki-lin mustika itu mungkin
lain sifatnya. Begitu menyentuh tanah terus membeku ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, bukankah tadi engkau mengatakan bahwa darah ki-lin
itu dapat menambah umur panjang?” tiba-tiba kakek Lo Kun
teringat.
“Benar, kalau ki-lin biasa," sahut kakek Kerbau Putih,
"tetapi karena ki-lin itu ki-lin mustika, darahnva tentu
berkhasiat hebat."
"Kurang ajar monyet itu, mengapa biji merah itu
dimasukkan kemulut anak itu ?" serentak kakek Lo Kun terus
hendak menghampiri monyet.
"Eh mau apa engkau ?" cepat kakek Kerbau Putih mencekal
lengan kawannya.
"Menghajar monyet!"
“Kenapa ?"
"Mengapa dia memberikan darah ki-lin itu kepada anak
yang sudah mati ?"
"Ah, tentulah monyet itu hendak mengobatinya," sahut
kakek Kerbau Putih, "memang bangsa binatang tahu akan
khasiat tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda yang
mengandung obat. Dan bukankah engkau masih mempunyai
sebutir ?"
"Ya." sahut kakek Lo Kun, "tetapi ini hal nya cukup untuk
diriku. Lalu bagaimana engkau?”
Kakek kerbau Putih tertawa: "Aku tak ingin makan biji
darah itu, bung."
"Mengapa ?"
"Aku tak suka hidup seribu tahun. Buat apa hidup begitu
panjang. Badan dan tulang-tulang kita akan sakit semua.
Kalau engkau takut mati, telan saja biji darah itu"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Huh, Kerbau gila, engkau mau cari enak sendiri !" kakek Lo
Kun menggumam "engkau suruh aku berumur panjang, biar
kalau engkau mati aku dapat menguburmu. Lalu siapakah
kelak yang akan mengubur aku ? O, tidak, tidak, jangan harap
engkau dapat menipu aku !"
Keduanya lalu menghampiri ke tempat Blo'on dan duduk
menunggu. Entah sampai berapa lama, tiba-tiba ruang
menjadi agak terang. Jalur-Jalur sinar matahari mulai
menembus melalui lubang-lubang kecil karang penutup ruang.
"Sudah siang, mengapa anak itu belum bergerak ?. Kalau
jelas sudah mati, hayo, kita kubur saja !" seru kakek Lo Kun.
Kakek Kerbau Putih setuju. Mereka lalu membuat liang
didalam dinding karang yang jebol tadi. Andaikata kedua
kakek itu bukan orang linglung mereka tentu segera
mengetahui bahwa dibagian dalam dari dinding yang jebol itu
merupakan sebuah ruangan yang cukup lebar. Dan apabila
mau memperhatikan lebih lanjut, tentu mereka akan
terperanjat melihat keadaan ruang itu. Namun mereka kakek
linglung yang tak menghiraukan segala apa. Mereka hanya
asyik membuat libang untuk mengubur Blo'on.
Setelah selesai merekapun keluar lagi dan hendak
mengangkat tubuh Blo'on. Ketika tubuh Blo'on dibawa masuk,
burung rajawali dan monyet diam saja dan mengikuti masuk.
Tetapi pada waktu Blo'on dimasukkan kedalam liang terus
ditimbuni pecahan batu karang, tiba-tiba terdengar suara
anjing menggonggong dan beberapa saat kemudian, seekor
anjing besar berbulu kuning loncat masuk terus menubruk
kakek Lo Kun.
Ternyata anjing kuning itu adalah kawan dari burung
raajwali dan monyet. Sejak Blo'on jatuh kedasar jurang, anjing
itu masih menunggu diatas tepi jurang. Pun ketika burung
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
rajawali bersama monyet melayang turun ke dasar jurang,
anjing itu masih tetap menunggu diatas. Tetapi karena sampai
malam berganti siang, belum juga Blo’on dan burung rajawali
serta monyet hitam naik ke atas, anjing itupun mulai gelisah.
Akhirnya ia mulai menuruni jurang dan berhasil menemukan
tempat mereka berada.
Anjing kuning itu mempunyai naluri dan hidung yang tajam.
Ia marah karena tuannya ditimbuni batu oleh dua orang kakek
yang tak dikenalnya. Serentak ia loncat menerkam kakek Lo
Kun. Monyet dan burung rajawahpun bergerak menyerang
kakek Kerbau Putih. Burung rajawali menyambar-nyambar
kepala dan monyet melempari kaki itu dengan pecahan batu
karang.
Karena kewalahan kedua kakek itu lari keluar. Anjing,
burung rajawali dan monyetpun tak mau mengejar. Mereka
menjaga ditepi lubang tempat Blo'on dimasukkan.
Beberapa keping batu karang yang dilemparkan monyet
hitam tadi dapat ditangkis dan dihindarkan kakek Kerbau
Putih. Ada beberapa yang terlempar masuk kedalam liang dan
tepat menimpah muka dan dada Blo'on.
Sebenarnya tempat disitu merupakan sebuah ruang guha.
Pintu guha ditutup dengan pecahan batu karang yang kecil
yang disusun sampai ke atas. Berpuluh-puluh tahun lamanya,
pintu dari susunan batu karang itu ditumbuhi pakis lebat
sehingga sepintas pandang menyerupai dinding karang. Tak
disengaja, ki-lin telah mendorong Blo'on tepat ke arah pintu
itu hingga jebol. Apabila bukan terbuat dari susun batu
karang, Blo'on tentu sudah remuk tulang punggungnya.
"Kurang ajar anjing itu," kakek Lo Kun menggeram lalu
berteriak, "hai, anjing, hayo keluar sini. kuremuk mulutmu 1"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kurang ajar anjing itu, "kakek Lo Kun menggerarn sambil
mengusap-usap daun telinganya, "Lihatlahah, kupingku telah
digigitnya sampai berdarah."
"Engkau masih untung," sahut kakek Kerbau Putih, "tadi biji
mataku hampir saja hilang karena ditutuk paruh burung itu.
Nih lihatlah, alisku hilang ..."
"Kalau begitu mari kita masuk menghajarnya lagi." kata
kakek Lo Kun terus hendak melangkah kedalam guha.
"Jangan." kata kakek Kerbau Putih.
"Jangan ? Engkau takut ?"
"Bukan takut tetapi malu."
"Malu kenapa ?" tanya kakek Lo Kun.
"Karena aku seorang manusia !"
"O . . . "
"Manusia musuhnya tentu manusia dan anjing dengan
anjing. Kalau manusia musuh anjing, entah manusia itu yang
menjadi anjing, atau anjing itu yang jadi manusia."
"O, benar, benar," teriak kakek Lo Kun yang linglungnya
memang lebih berat, "kalau begitu aku tak sudi berkelahi
dengan anjing itu. Enak saja dia jadi manusia dan aku jadi
anjing."
Kakek Kerbau Putih tak menyahut. Dan ketika kakek Lo Kun
berpaling ternyata kakek Kerbau Putih itu sudah duduk
bersemedi pejamkan mata.
"Setan, mengapa tak mengajak orang," ia menggumam
terus ikut duduk dimuka kakek Kerbau Putih dan bersemedhi
memulangkan tenaga.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Siangpun berganti malam dan tempat itu mulai gelap lagi.
Kedua kakek itu masih tetap terbenam dalam semedhinya.
Anjing kuningpun mulai rebahkan diri di tepi liang. Burung
rajawali mulai mendekam dan pejamkan mata. Hanya si
monyet hitam yang masih melek. Monyet itu memang nakal
dan suka mengganggu orang. Tetapi dia pintar suka dan cepat
sekali menirukan perbuatan orang
Sebenarnya ketiga binatang itu adalah binatang peliharaan
Blo'on. Tetapi sejak Blo'on kehilangan ingatannya akan masa
yang lalu, iapun lupa siapa ketiga binatang itu. Namun karena
anak itu memang gemar akan binatang, maka dibiarkan saja
ketiga binatang itu mengikutinya.
Dahulu ketika tinggal di gunung, monyet itu sering melihat
ayah Blo'on dan beberapa muridnya berlatih silat. Blo'on
sendiri tak mau belajar silat. Tetapi monyet itu diam-diam
telah memperhatikan menirukan gerak-gerak permainan silat
yang mereka lakukan. Walaupun tidak seluruhnya bisa
menirukan, tetapi monyet dapat juga melakukan gerak-gerak
ilmu silat. Bahkan ilmu melontar atau menimpuk dengan
senjata rahasia, pun ia juga ikut menirukan murid-murid ayah
Blo'on yang sedang berlatih.
Dan monyet itu memang suka usil, senang menggoda
orang. Keadaan sunyi menyebabkan dia tak betah. Apalagi tak
dapat tidur. Maka ia mulai bergerak, berkeliaran di dalam guha
itu. Ia hendakk mencari sesuatu yang dapat dimakan.
Ketika masuk ke dalam, ia terkejut karena melihat sebuah
sinar terang macam kunang-kunang. Dihampirinya sinar itu.
Apabila dia seorang manusia dia tentu sudah menjerit dan lari
ketakutan. Tetapi karena dia seekor binatang monyet, maka
pemandangan yang disaksikan itu, tak mengguncangkan
perasaannya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tempat yang didatanginya itu ternyata sebuah balai-balai
batu. Diatas balai-balai itu rebah sesosok kerangka manusia
yang menelentang. Sinar kecil yang berwarna putih kebirubiruan
itu berasal dari dalam batok kepala tengkorak itu.
Monyet makin heran. Ia loncat keatas balai-balai batu dan
menghampiri kebagian kepala tengkorak, rupanya gerakan
monyet itu walaupun pelahan sekali namun mengejutkan
benda yang bersinar itu Tiba-Tiba benda bersinar itupun
lenyap Monyet terkejut. Ia tak mau gegabah memegang batok
kepala. Ia menunggu disisi kepala tengkorak itu dengan diam.
Rupanya nalurinya mengatakah bahwa didalam batok kepala
tengkorak tersimpah suatu benda yang ajaib.
Lama juga ia menunggu sehingga hampir kesal dan tak
tahan. Ketika ia hendak mengulurkan tangan kelubang mata
tengkorak itu, tiba-tiba ia terkesiap karena melihat benda
bersinar itu muncul lagi. Ia menahan napas dan makin diam.
Benda bersinar itu makin terang dan makin naik keatas
sehingga lubang-lubang mata, hidung dan mulut tengkorak itu
seperti memancar sinar. Monyel hitam makin heran. Namun
dia tak berani bergerak.
Tak berapa lama, sinar itupun menyembul keluar dari
lubang hidung tengkorak. Besarnya sama dengan biji buah
asam. Melihat itu monyet hitam tak dapat menahan hatinya
lagi. Secepat kilat ia menyambar benda bersinar itu terus
loncat turun.
Seiring dengan turunnya monyet itu ketanah, terdengarlah
bunyi mendering yang tajam sekali macam suara suitan. Dan
menyusul dari lubang hidung tengkorak itu merayap keluar
seekor binatang kelabang raksasa. Panjangnya mencapai
sekaki orang, besarnya sama dengan belut, badannja penuh
tumbuh bulu hitam yang panjang. Umurnya entah berapa
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
puluh tahun, mungkin mencapai seratusan tahun karena
kelabang itu dapat mengeluarkan ciu atau mustika.
Binatang yang bertapa sampai ratusan tahun memang
dapat mengeluarkan sesuatu yang luar biasa. Ular
mengeluarkan tanduk, ki-lin tumbuh tanduk, kelabang memiliki
mustika dan lain-lain. Bahkan bangsa tanamanpun juga
demikian. Misalnya rumput Liong-si-jau atau Kumis-naga yang
menurut puluhan murid Hoa-san-pay, telah dimakan oleh
Blo'on
Biasanya pada malam hari, kelabang itu keluar dari
sarangnya dalam batok kepala tengkorak yang terbujur diatas
balai-balai batu itu. Pada waktu keluar ia muntahkan
mustikanya keluar, untuk menerangi jalan dan sekedar untuk
dibuat permainan ditelan dimuntahkan pula. Sama sekali
binatang itu tak menyangka bahwa pada malam itu tiba-tiba
mustika yang dimuntahkan keluar itu telah lenyap. Marahlah
kelabang raksasa itu. Ia merayap keluar mencari mahluk yang
melalap mustikanya.
Rupanya monyet hitam tahu juga akan binatang yang
menyeramkan itu Apalagi ternyata kelabang itu merayap cepat
kearahnya. Ia terus loncat dan lari ketempat liang lagi.
Ditamparnya burung rajawali supaya bangun lalu ia bercuitcuit
menunjuk ke muka. Mata burung rajawali yang tajam
cepat dapat melihat kelabang itu. Cepat la terbang dan
melancarkan serangan dengan paruhnya yang tajam. Namun
kelabang yaog sudah ratusan ratusan tahun umurnya Itu,
keras sekali badannya. Paruh rajawali tak dapat melukainya.
Bahkan burung itu harus hati-hati karena kelabang itu dapat
menyemburkan uap beracun.
Melihat itu monyet hitam yang cerdik lalu mencari batu
karang. Dengan keping-keping batu karang itu ia menimpuk
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kelabang. Tetapi kelabang tetap tak menderita apa-apa.
Badannya sudah sekeras batu karang Akhirnya monyet
mendapat akal. Ia mengangkat batu karang yang lebih besar
terus dirimbunkan ketubuh kelabang. Masih kelabang itu dapat
meronta dan bergeliatan sehingga batu karang yang
menincihnya itu mulai berkisar. Melihat itu monyet hitam
marah. Ia mengangkat lagi batu yang lebih besar terus
ditindihkan ke badan kelabang. Setelah ditindih dengan
beberapa batu kajang yang besar, akhirnya kelabang itu tak
dapat berkutik.
Kini monyet melonjak-lonjak girang. Ia menepuk-menepuk
kepala burung rajawali sebagai pernyataan terima kasih atas
bantuannya.
Setelah itu monyet lalu menuju ke liang, loncat kedalam, Ia
memasukkan lagi mustika kelabang itu kedalam mulut Blo'on.
Karena berasal dari darah ki-lin, biji-biji merah sebesar
jagung yang dimasukkan kedalam mulut Blo'on tadi sudah
hancur dan mengalir kedalam kerongkongan Blo'on terus
kedalam perut. Tetapi beda halnya dengan mustika kelabang
yang keras.
Mustika itu tetap terkulum dalam mulut Blo'on karena tak
mau hancur.
Karena mendengar suara berisik, anjing kuningpun bangun.
Tepat pada saat itu, kakek Lo Kun pun masuk kedalam jebolan
dinding karang. Maksudnya hendak melihat apa yang terjadi
pada diri anak itu. Tetapi tiba-tiba anjing kuning menggeram
dan bangun dengan sikap hendak menerjang.
"Setan" kakek Lo Kun memaki, "apabila di tempat yang
luas, engkau tentu sudah kuhajar .. "
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ai, kakek tua, sudahlah, jangan berkelahi dengan anjing
lagi. Engkau kan manusia, mengapa bermusuban dengan
anjing," tiba-tiba kakek Kerbau Putih yang terjaga, berseru
mencegah.
Akhirnya kakek Lo Kun terpaksa keluar.
Malampun berganti siang. Pergantian waktu itu dapat
diketahui dari cahaya yang menembus masuk dari lubanglubang
kecil batu kerucut.
"Bagaimana kita sekarang ini ?" tanya kakek Lo Kun.
Kakek Kerbau menyahut : "Kurasa lebih baik kita kembali
saja ketempat Somali. Aku sungguh tak tega kalau
meninggalkan kekasihku itu dijaga orang Persia itu."
"Benar," teriak kakek Lo Kun, "kita hendak mengantar
putera raja menghadap raja. Kalau sekarang dia sudah mati,
habis apa yang akan kita bawa kepada raja ?'
Kedua kakek linglung itu berbangkit terus hendak berjalan
kedalam terowongan yang menuju ke tempat Somali.
"Hai, mengapa aku tidur disini ... "
Kedua kakek itu tertegun, berputar tubuh memandang
kearah jebolan dinding karang.
"Mana Lo Kun dan kakek Kerbau? Mengapa aku disuruh
tidur diatas tanah ?" terdengar pula suara dalam liang kubur.
Ternyata Blo’on telah hidup kembali. Dan memang
sebenarnya dia belum mati hanya pingsan. Biji merah dari
darah ki-lin emas itu memang hebat sekali khasiatnya. Sebiji
darah saja sudah membuat orang kepanasan tubuhnya. Dan
Blo'on telah dijejali tujuh delapan biji darah itu. Tubuhnya
seperti dibakar api dan jantungnyapun serasa berhenti. Sehari
semalam Blo on tak sadarkan diri. Untung sebelumnya dia
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sudah makan rumput mustika Liong-si-jau sehingga dia
memiliki daya tahan yang kuat. Andaikata tidak, urat-urat
jantungpun pasti sudah putus . , .
Hawa panas dari biji-biji darah ki-lin itu membuat darahnya
mendidih dan meluap-luap seperti lahar gunung berapi. Dan
seperti telah dituturkan dalam bagian muka, Bloon mendapat
saluran tenaga dingin dari kakek Kerbau Putih dan tenaga
dalam panas dari kakek Lo Kun. Dua macam tenaga-dalam itu
karena dilanda oleh lahar panas menjadi seperti gelombang
lautan yang didampar badai raksasa. Darah dalam tubuh anak
itu mengalir deras dan binal, menyusup keseluruh urat-urat
yang betapapun halusnya, nadi dan jalan darah.
Dalam tubuh orang terdapat apa yang disebut jalan darah
Seng-si-hian-kwan. Jalan darah ini merupakan jalan darah
yang terakhir tetapipun yang paling sukar ditembus.
Seorang jago silat yang sudah berpuluh tahun meyakinkan
ilmu tenaga-dalam, mungkin telah mencapai tingkat yang
tinggi. Tetapi belum tentu Jalan darah Seng-si-hian-kwannya
sudah dapat tertembus dengan aliran tenaga-dalam itu.
Apabila jalan darah itu dapat tertembus, maka selesailah dia
pada tataran yang terakhir. Tenaga-dalam dilancarkan
menurut sekehendak hati dan pada setiap saat yang
dikehendaki. Tenaga-dalamnya dapat dikendalikan dan
diperintah oleh pikiran.
Apa yang terjadi pada diri Blo'on ? Karena kekuatan rumput
Liong-si-jau, dua macam tenaga dalam panas dingin dan
dihempaskan oleh khasiat biji darah ki-lin purba, tertembuslah
jalan darah Seng-si-hian-kwan dari Blo’on tanpa anak itu harus
berjerih payah meyakinkan ilmu tenaga-dalam sampai
berpuluh tahun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tetapi suatu keanehan pun telah timbul pada diri anak itu.
Ibarat tempat, tubuhnya sudah dibuka. Tetapi sayang dia tak
mengerti ilmu mengembangkan tenaga-dalam sehingga tak
dapat mengisi tubuhnya yang sudah sedemikian hebatnya
Memang tenaganya kini jauh lebih hebat dari semula, begitu
pula gerakannya lebih ringan dan gesit. Tetapi karena dia
belum pernah berlatih memusatkan dan mengembangkan
tenaga-dalam. betapapun tetap kalah lihay dengan seorang
tokoh persilatan yang ilmu tenaga-dalamnya sudah mencapai
tataran tinggi.
Karena terkejut dirinya tidur dalam liang, Blo'on melonjak
bangun dan sekali bergerak, ia sudah melayang keatas tepi
liang. Yang pertama menyambutnya ialah anjing Kuning.
Anjing itu serta merta lalu merunduk kepala dan menjilat-jilat
kaki blo’on dengan mesra. Lalu burung rajawali yang
melayang dan hinggap dikepala. Terakhir monyet hitam yang
loncat memeluk lehernya. Binatangpun dapat menumpahkan
kegembiraannya terhadap tuan yang disayanginya.
"Turun !" bentak Blo'on seraya menyiak burung dan monyet
lalu menyingkirkan anjing dengan kakinya. Rupanya ketiga
binatang itupun mengerti Mereka menurut perintah Blo'on.
Blo"on lalu melangkah keluar,
"Hah, mayat hidup . . . !" karena kejutnya melihat Blo'on,
kedua kakek linglung itu saling serentak saling berdekapan.
"Gila!" teriak Blo'on, "mengapa kalian itu ? Kedua kakek
linglung itu makin kencang berpelukan. Blo'on mendongkol
tercampur heran. Ia segera menghampiri : "Mengapa kalian ini
!" teriaknya.
Kedua kakek tak menghiraukan. Mereka sibuk mempererat
tangannya memeluk sang kawan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hm, gila," Blo'on mengkal. Tangan kanan mencengkeram
tengkuk kakek Kerbau Putih, tangan kiri mencekik tengkuk
kakek Lo Kun, terus di-siak kekanan dan kiri. Uh, uh . . . kedua
kakek itu terhuyung-huyung beberapa langkah dan terpisah
dari kawannya.
"Ampun, mayat, jangan mengajak aku ke akhirat," kakek Lo
Kun berlutut, "aku minta tempo dulu. Setelah selesai
memecahkan persoalan calon pengantinku, baru aku mau ikut
engkau !"
"Edan !" Blo'on memekik, "siapa yang engkau sebut
mayat?"
"Engkau ! Engkau tadi sudah mati, mengapa hidup lagi ?"
seru kakek Lo Kun.
"O" desuh Blo'on, "tetapi aku belum mati. Sekarang aku
hidup lagi. siapa yang melempar aku kedalam liang itu ?"
"Aku berdua dengan Kerbau Putih," jawab kakek Lo Kun,
"karena mengira engkau sudah mati. kami segera membuat
liang dan menguburmu. Tetapi pada waktu hendak menimbuni
dengan pecahan karang, ketiga binatang itu mengeroyok aku.
Ya, untung binatang itu menghalangi, kalau tidak engkau
tentu sudah terpendam dalam liang." kakek Kerbau Putih
menyelutuk.
"O, kalian memang hebat," tiba-tiba Blo'on malah memberi
pujian kepada kedua kakek linglung itu, "kelak kalau bertemu
raja, kalian tentu akal kumintakan ganjaran besar."
"Ganjaran ? Mengapa ?" kakek Kerbau Putih heran.
"Karena kalian tak jadi mengubur seorang putera raja yang
masih hidup. Apakah itu bukan suatu jasa yang besar ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Benar, benar," tiba-tiba pula kakek Lo Kun yang lebih
hebat linglungnya berteriak, "jika tak ada dua kakek seperti
kita berdua ini, engkau tentu sudah mati !"
Blo'on hendak bicara lagi tetapi tiba-tiba monyet hitam
loncat dihadapannya dan melonjak-lonjak sembari
menunjukkan sebuah benda putih kebiru-biruan sebesar biji
asam.
"Uh, engkau dapat apa itu ?" Blo’on ulurkan tangan
menyambuti. Dilihatnya benda itu amat keras, berkilaukilauan,
"apakah ini ?"
Monyet hitam menyambar tangan Blo"on terus ditarik
supaya berjalan kearah jebolan karang Blo'on memang sayang
binatang, Walaupun setelah menderita hilang ingatan untuk
masa lampau sehingga dia lupa akan ketiga binatang
peliharaannya, namun kini setelah binatang itu selalu
mengkuti Saja, timbullah rasa sukanya kepada mereka Ia
menurut saja tangannya digelandang ke dalam jebolan dinding
karang.
Ketika tiba di gunduk karang yang menimbuni kelabang
raksasa, monyet itu berhenti dan bercuit-cuit melongok
kebawah batu. Blo'on heran dan ikut melongok.
"Astagai apakah itu !" ia memekik kaget ketika melihat
seekor kelabang besar tertindih dibawah batu..
Kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putihpun Ikut masuk.
Mereka menghampiri ke tempat Blo'on "Hola, seekor kelabang
raksasa '" teriak kakek Kerbau Putih seraya memeriksa
kelabang yang sudah tak berkutik, "bukan main, seumur hidup
belum pernah aku melihat binatang kelabang yang begini
besar dan menyeramkan."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bunuh sajalah !" kakek Lo Kun terus hendak mengangkat
batu dan dihantamkan.
"Jangan," teriak kakek Kerbau Putih, "kelabang ini termasuk
binatang mustika. Umurnya tentu sudah ratusan tahun. Dan
biasanya kelabang yang sudah begitu tua, dapat
mengeluarkan mustika ..."
"Oh, apakah ini ?" tiba-tiba pula Blo'on teringat pada saat ia
tersadar mulutnya mengulum sebuah benda Lalu benda itu
dimuntahkan keluar dan di ambil lagi oleh monyet hitam.
Setelah memeriksa benda itu, kakek Kerbau Putih berteriak
girang: "Benar, benar, benda itu memang mestika kelabang.
Khasiatnya dapat menghilangkan segala racun yang
bagaimana ganasnyapun. Bagus, rejekimu memang besar
sekali, simpanlah mustika itu baik-baik Bangkai kelabang ini
akan kusimpan. Khasiatnya juga sama, dapat memurahkan
segala macam racun !"
Selagi kedua kakek itu sibuk mengambil kelabang yang
tertindih batu karang, Blo'onpun ayunkan langkah karena
ditarik tangannya oleh monyet hitam. Monyet itu mengajaknya
menghampiri dinding guha, tempat meja batu.
Demi melihat sesosok tulang kerangka manusia rebah
membujur diatas meja batu. Blo'on menjerit ketakutkan.
"Astagafirullah, minta ampun.....Setan tengkorak !" ia terus
lari keluar . . .
bersambung.
---ooo0dw0ooo---
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Jilid 8
Rahasia Tengkorak
"Mengapa ?" seru kakek Lo Kun ikut melonjak kaget melihat
blo'on lari ketakutan.
"Tengkorak " kata Blo'on seraya menunjuk kesudut dinding
guha.
"Masih hidup ?" tanya kakek Lo Kun.
"Entah, aku tak berani mendekatinya," sahut Blo'on.
Sejak menemukan mayat dari Sun kui-hui yang
dianggapnya dengan penuh keyakinan sebagai bekas
kekasihnya dahulu, pikiran kakek Kerbau Putih agak terang.
Linglungnya banyak berkurang.
'Gila semua " ia berteriak, "masakan tengkorak masih
bernyawa ? hayo, kita periksa !"
Blo'on terpaksa mengikuti kakek Kerbau Putih ke tempat
kerangka tulang tengkorak itu. Demikianpua kakek Lo Kun.
"Dia diam saja !" seru Blo'on.
"Memangnya sudah mati jadi tengkorak, masakan dapat
bergerak," dengus kakek Kerbau Putih. "apa engkau masih
takut “'
Blo'on gelengkan kepala : "Tidak."
Mereka mulai memeriksa tengkorak itu. Pada bagian batok
kepala masih melekat bebera gumpal rambut putih. Menilik
ukuran tulang-tulang kaki dan tangan serta tubuhnya, dahulu
tengkorak itu tentu seorang manusia yang tinggi besar.
Pakaiannya sudah hancur.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, apakah yang dipegangnya ini ?" tiba-tiba Blo'on
berteriak ketika melihat jari-jari tangan kanan tengkorak itu
masih mencengkeram sebuah kotak kecil terbuat daripada
gading.
"Uh. mungkin barang berharga miliknya ya disimpan dalam
kotak itu," kakek Kerbau Pu lalu ulurkan tangannya.
"Hai, mau apa engkau, setan Kerbau," tiba-tiba kakek Lo
Kun mencekal lengan kakek Kerbau Putih.
"Mengambil kotak gading itu."
"Akan engkau ambil sendiri ?"
"Tidak, hanya akan kubuka apa isinya. Kali memang berisi
barang pusaka yang berharga, kita bagi rata," sahut kakek
Kerbau Putih.
"Tidak, aku tak mau," seru Blo'on, "buat apa mengambil
barang milik orang mati !'
"Ya, benar, aku juga tak sudi!" kakek Lo Kun ikut menolak.
"Ho, siapa yang akan mengambil ? Akupun tak mempunyai
keinginan untuk mengambilnya. Tetapi apa jeleknya kita buka
peti itu. Mungkin bukan berisi barang berharga melainkan
surat wasiat pesanannya," kata kakek Kerbau Putih.
Kakek Lo Kun menarik pulang tangannya. Dan kakek
Kerbau Putihpun lalu memegang kotak itu terus hendak
ditariknya. Tetapi ia segera mendengus : "Uh . . . uh . . .
mengapa tak mau terlepas cengkeraman jarinya ?"
Ia berusaha untuk mengorak jari si tengkorak supaya
melepaskan peti tetapi jari-jari tengkorak itu mengancing
rapat sekali seolah-olah melekat dengan peti.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Jangan dipaksa," seru kakek Lo Kun, "kalau dia tak mau
melepaskan, jangan engkau menggunakan paksaan. Kasihlah
aku yang mengambilnya" Kakek Lo Kun terus ulurkan tangan
dan menarik kotak itu. Tetapi diapun mengeluh: "Wah
mengapa melekat sekali dengan jarinya ? Kalau kupaksa,
persambungan tulang lengannya tentu putus tapi belum tentu
jarinya dapat terlepas dari kotak."
"O, kutahu," tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru
Kakek Lo Kun berpaling : "Tahu apa ?"
"Ya, kuingat," kata kakek Kerbau Putih, "awah orang itu
tentu tak rela memberikan kotak kepada orang yang tak
disukai. Dia akan melepaskan cengkeramannya apabila
bertemu dengan orang yang disukai."
"Kurang ajar, kalau begitu tengkorak ini tentu tak-suka
kepadaku," gerutu kakek Lo Kun.
'"Naif, engkau baru tahu rasa bahwa tengkorakpun tak suka
kepada kakek semacam engkau", ejek kakek Kerbau Putih,
"Huh, diapun juga tak suka kepada wujutmu hai, kerbau
bungkuk," kakek Lo Kun balas mengejek
"Sekarang cobalah engkau yang mengambil,” kakek Kerbau
Putih tak mau melayani Lo Kun lalu menyuruh Blo'on.
Blo'on menurut. Pelahan-lahan ia mendekati dimuka
tengkorak lalu memberi hormat : "Tengkorak, aku tak tahu
siapa engkau. Tetapi aku dan kedua kakek ini tak
menghendaki barangmu melainkan hendak mengetahui
barangkali engkau meningga'ikari pesan. Apabila benar,
lepaskanlah kotak ini agar aku dapat membuka isinya. Kalau
engkau benar meninggalkan pesan, aku tentu akan melakukan
sedapat mungkin ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Habis berkata, Blo'on mendekati tangan tengkorak lalu
pelahan-lahan menarik kotak itu.
Aneh !
Seolah-olah mengerti kata-kata Blo"on, tengkorak itupun
lepaskan cengkeramannya dan dengan mudah kotak dapat
ditarik Blo'on.
"Ho, dia suka kepadamu!" seru kakek Kerbau Putih lalu
menyuruh anak itu membukanya.
Ternyata kotak gading itu hanya berisi dua kim-long atau
kantong yang terbuat dari sutera lemas yang tahan hawa.
Blo'on mengambil sebuah kim long lalu dibukanya Isinya
sehelai kertas yang penuh tulisan.
"Ah, aku tak dapat membacanya," kata Blo'on seraya
mengangsurkan surat itu, "siapa diantara kalian yang dapat
membaca, harap membacakan!”
Kakek Lo Kun diam saja. Sebaliknya kakek Kerbau Putih
segera menyambuti : "Dahulu aku hampir menjadi siucai
(orang terpelajar) tetapi gagal coba saja kubacanya !"
Setelah memeriksa beberapa saat, ia mengangguk : "Akan
kubaca, harap kalian mendengarkan"
Kepada yang menemukan mayatku dan membaca surat
pesanku ini, kuanggap ia berjodoh dengan aku. Aku percaya
engkau tentu akan melakukan permintaanku Dan untuk jerih
payahmu itu, aku tentu akan menghadiahkan sesuatu yang
sangat berharga ....
"Ho, kita lakukan saja perintahnya itu !" tiba-tiba kakek Lo
Kun menyelutuk, "kalau engkau tak sanggup, serahkan semua
kepadaku."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Kerbau Putih menyeringai : "Setan kerdil, jangan
mengganggu aku membaca " ia terus lanjutkan membaca lagi
....
Kaum persilatan menyebut aku Bu Kek lojin karena aku
dianggap sebagai pencipta ilmu silat Bu-kek-sin-kun. Semasa
muda aku gemar berkelana di dunia persilatan sehingga aku
menderita akibat-akibat yang menyedihkan dan
menyenangkan. Aku mengikat banyak persahabatan tetapipun
menanam banyak permusuhan. Akhirnya karena jemu tak
mendapat lawan lagi, aku menyembunyikan diri di gunung
Kun-lun-san. Namun masih sering aku menerima kedatangan
orang-orang yang menantang aku adu kesaktian. Untung
sejak menyepikan diri itu, aku sudah memperoleh kesadaran
dan penerangan batin. Aku selalu mengalah dan walaupun
melayani tantangan mereka,toh tapi aku tak mau merebut
kemenangan. Cukup hanya menjaga diri sampai orang-orang
itu sudah menumpahkan habis seluruh kepandaiannya,
barulah mereka tunduk dengan puas. Puas karena sikapku
yang mengalah dan merendah.
Tetapi karena masih saja menerima kedatangan jago-jago
silat, akhirnya aku pindah bersembunyi disini, guha dalam
perut gunung Hoa-san.
Pada suatu hari secara tak sengaja, ketika aku keluar
kebawah gunung membeli bahan makanan, tiba-tiba aku
melihat serombongan prajurit Mongol menuju kebarat. Pada
saat pasukan Mongol lewat, kota sepi serentak. Penduduk
menutup pintu tak berani keluar rumah. Toko-Toko tutup
sehingga aku tak dapat berbelanja. Setelah pasukan Mongol
pergi barulah rumah-rumah buka lagi. Aku mendapat
keterangan bahwa prajurit-prajurit Mongol itu kejam dan
sewenang wenang terhadap rakyat; Mereka Suka memukul,
menganiaya, merampas harta milik rakyat dan bahkan suka
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
merusak kehormatan gadis dan wanita. Maklum karena kaisar
mereka, Ku bilai Khan berhasil menduduki Tiong-goan dan
mengangkat diri sebagai kaisar Goan.
Ketika memimpin pasukan Mongol melintasi pegunungan
Kun-lun untuk menyerang Tiong goan, Kubilai Khan telah
melihat seekor ki-lin. la memerintahkan prajuritnya untuk
memburu ki-lin itu, tetapi tak berhasil.
Setelah menjadi kaisar Goan-si-ong, dia bermimpi melihat
ki-lin itu lagi. Dan menurut ceritanya, ki-lin itu mengatakan
apabila dapat menangkapnya, kerajaan Goan pasti dapat
memerintah Tiong-goan untuk selama-lamanya.
Oleh karena itu kaisar Goan lalu menitahkan pasukan besar
untuk berburu ki-lin di pegunungan Kun-lun.
Walaupun aku sudah bertapa tak mau campur urusan
dunia, tetapi aku masih mem punyai setitik rasa cinta negeri
dan bangsa. Aku tak puas negeri Tiong-goan diperintah oleh
kaisar Mongol. Aku harus menggagalkan perburuan ki-lin itu
agar kerajaan Go-an runtuh.
Sewaktu masih giat berkelana di dunia persilatan aku
mempunyai seorang murid yang memakai nama gelaran Bu
Bun-cu. ia tinggal di gunung Hong-san dan menjadi pertapa
Bu Bun lojin. Aku sayang sekali kepadanya. Dia berbakat
bagus, berotak cerdas dan berkelakuan baik. Seluruh ilmu
kepandaianku kuberikan semua kepadanya.
Untuk menyelamatkan ki-lin dari sergapan pasukan Mongol
yang berjumlah begitu besar kuajak muridku untuk membantu
usahaku. Kusuruh dia memancing dan meng goda perhatian
prajurit-prajurit Mongol itu agar mereka jangan sempat
memburu ki-lin.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Akhirnya aku berhasil menangkap kilin itu lalu kuajak
muridku membawanya lolos dari Kun-lun-san. Tetapi ditengah
jalan, pasukan Mongol itu telah menyergapku. Aku heran.
Jalan yang kutempuh itu jalan yang tak diketahui orang dan
sangat kurahasiakan kecuali kepada Bu Bun. Jalan itu melalui
sebuah terowongan yaug menembus perut gunung. Tetapi
mengapa prajurit-prajurit Mongol itu tahu dan sudah siap
menyergap di mulut terowongan
Aku dan muridku memberi perlawanan. Dalam pertempuran
yang hebat, mereka banyak yang mati tetapi akupun
kehilangan muridku. Bu Bun telah rubuh dan karena jumlah.
mereka amat besar, aku terpaksa meloloskan diri dengan
membawa ki-lin itu. Walaupun dengan susah payah karena
menderita luka-luka, akhirnya aku berhasil menyelamatkan ke
guha ini.
Beberapa bulan kemudian, aku keluar untuk melakukan
penyelidikan tentang diri Bu Bun. Tersiar berita di kalangan
rakyat gunung Kun-lun bahwa Bu Bun telah dijauhi hukuman
mati oleh pemerintah Goan. dan mereka tetap hendak mencari
aku.
Belasan tahun kemudian, setelah berita-berita tentang
diriku mulai dingin, aku memberanikan keluar. Kudengar di
dunia persilatan muncul seorang sakti yang menamakan
dirinya sebagai Pek Lian lojin yang mendirikan perkumpulan
rahasia Pek-lian-kau. Bermula tujuannya untuk menentang
kekuasaan pemerintah Goan. Setelah pengaruhnya bertambah
besar, perkumpulan yang berkedok agama itu mulai nyelewerg
dari tujuan semula. Perkumpulan itu mulai melakukan
perbuatan-perbuatan jahat Menggunakan kesempatan
suasana negara sedang kacau, merekapun mengadakan
perampokan, pembunuhan dan perkosaan kepada wanitawanita.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dan kudengar bahwa Pek Lian lojin itu amat sakti sekali.
Memiliki ilmu tenaga-dalam Bu-kek-sin-kang yang tinggi
sehingga jago-jago silat dan partai-partai persilatan tak dapat
mengalahkannya. Diam-Diam timbul keherananku Dalam
dunia persilatan kecuali aku dan Bu Bun, tiada lagi tokoh silat
yang memiliki ilmu Bu-kek-sin-kang. Pada hal Bu Bun sudah
dihukum mati, lalu siapakah Pek Lian lojin yang menguasai
ilmu Bu-kek-sin-kang itu ?
Sebenarnya aku berniat hendak menyelidiki Pek Lian lojin
itu. Aku curiga jangan-jangan dia itu si Bu Bun sendiri yang
berganti nama. Tetapi belum sempat aku melaksanakan
rencanaku mendadak aku menderita sakit lumpuh. Terpaksa
aku harus membatalkan keinginanku itu dan harus berjuang
untuk menyembuhkan diriku. Hasil dari perjuangan untuk
mempertahankan nyawaku dari cengkeraman Elmaut aku
telah menciptakan suatu ilmu tenaga-dalam yang sakti, jauh
lebih sakti dari Bu-kek-sin-kang. Walaupun aku tak dapat
jalan, tetapi aku masih dapat hidup sampai beberapa tahun.
Kugunakan sisa hidupku untuk menulis ilmu pelajaran Bukeng-
sin-kang itu dalam sebuah kitab yang kuberi nama kitab
Bu-ji-cin-keng atau kitab Tanpa-tulisan.
Walaupun berupa lembaran kertas kosong tanpa tulisan
apa-apa, tetapi sesungguhnya kitab itu berisi ilmu pelajaran
ilmu yang amat sakti. Hanya orang yang mempunyai rejeki
besar dan berjodoh menjadi pewarisku, akan dapat
menemukan rahasia dari kitab Bu-ji-cin-keng itu.
Aku hendak minta tolong dua buah hal kepadamu. Pertama
kuburlah tulang kerangkaku didalam guha ini. Kedua, carilah
Pek Lian lojin dan selidikilah apa dia itu benar Bu Bun,
muridku. Kalau benar, suruh ia lekas bubarkan
psrkumpulannya yang jahat itu dan bertapa diguha gunung
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hong-san tempat pertapaanku dahulu. Disitu dia tentu akan
mendapatkan sesuatu yang berharga.
Untuk jerih payahmu, kuhadiahkan kitab Bu ji-cin-keng ini
kepadamu. Semoga engkau berjodoh menemukan rahasianya
....
Selesailah sudah kakek Kerbau Putih membaca surat wasiat
dari tengkorak yang semasa hidupnya bernama Bu Kek lojin.
Ternyata ki-lin emas itu memang disimpan dalam guha disitu
untuk menghindari penangkapan prajurit Mongol.
Bu Kek lojin rela menderita hidup dalam perut gunung
karena tak menyukai kaisar Mongol menguasai negaranya.
Dan memang alamat yang dilambangkan dalam impian kaisar
Mongol itu benar. Karena ia tak berhasil mendapatkan ki-lin
maka kerajaan Goanpun tak dapat berkuasa selama-lamanya.
Setelah Kubilai Khan meninggal, muncul lah Cu Goan-ciang
seorang putera bangsa Tiong-goan yang dapat membebaskan
negaranya dari kekuasaan Mongol dan mendirikan kerajaan
Beng.
"Lalu dimanakah kitab Bu-ji-cin-keng itu ?' tanya kakek
Kerbau Putih lalu suruh Blo'on membuka kim-long yang kedua.
Setelah Blo'on membukanya, memang didalam kim-long itu
berisi sebuah kitab kecil : "Apakah bukan ini ?'
Kakek Kerbau Putih menyambuti. Pada kulit kitab itu
terdapat empat buah huruf yang berbunyi : Bu Ji Pit Kip. atau,
kitab pusaka Tanpa Tulisan.
'"Ya, benar, benar," seru kakek Kerbau Putih, "memang Bu
ji-pit-kip ini tentu berisi ilmu pelajaran Bu-ji-sin-kang."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ia segera membuka kitab kecil itu. Sampai halaman yang
terakhir, ia mengeluh : "Hah, buku apa ini ? Mengapa sama
sekali tanpa tulisan?"
Blo'onpun segera mengambilnya dan membuka isinya;
"Huh, kertas kosong melulu. Mana yang disebut ilmu pelajaran
Bu-ji-sin-kang itu ?"
"Coba aku yang memeriksa," seru kakek Lo kun lalu
menyambuti dan membuka lembaran kitab itu, "kurang ajar,
Bu Kek lojin itu menipu kita. Jelas kitab ini hanya kertas
kosong, bagaimana ia mengatakan berisi ilmu sakti ? Ambillah,
aku tak mau !"
Blo'on menyeringai dan mengangsurkan kepada kakek
Kerbau Putih. Tetapi kakek itupun juga geleng-geleng kepala :
"Simpan saja, aku tak menginginkan kitab kosong seperti itu."
Blo'on tertegun : "Kalau begitu kukembalikan saja kedalam
kotak dan kuselipkan di tangan tengkorak lagi."
"Jangan," cegah kakek Kerbau Putih," dia mengatakan,
siapa yang menemukan kitab itu berinti berjodoh dengan dia.
Engkau harus melakukan pesannya dan kitab itupun boleh
engkau ambil."
"Maksudmu aku harus mengubur tulang tengkorak itu ?"
tanya Blo'on.
"Ya."
"Aku harus mencari Bu Bun lojin ?"
"Ya," sahut kakek Kerbau Putih pula.
"Kemana ?”
"Entah," kakek Kerbau Putih gelengkan kepala
"Goblok." umpat kakek Lo Kun, "sudah tentu ke dunia."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dunia itu dimana ?" tanya Blo'on.
"Yang kita tempati ini ialah dunia."
"O, luas sekali. Berapakah luasnya dunia itu" tanya Bloon.
Kakek Lo Kun mendelik. Ia hendak menjawab, tak bisa.
Hendak marah, pun tak ada alasan.
"Goblok," kakek Kerbau Putih balas mengumpat, "masakan
dunia saja engkau tak tak tahu berapa luasnya ?"
"Ho, benar, aku memang tak tahu. Coba engkau katakan
luas dunia itu," seru kakek Lo Kun.
"Mudah saja." sahut kakek Kerbau Putih, "asal engkau ikuti
saja perjalanan matahari itu dari timur sampai kebarat, terus
kebarat, terus saja mengikuti matahari itu, engkau tentu dapat
mengetahui luasnya dunia."
"O. lalu bagaimana kalau malam hari. Bukankah matahari
itu tak tampak lagi?" tanya Blo'on.
"Bodoh," umpat kakek Lo Kun. "kalau malam engkau
berbuat apa ?"
"Tidur,' sahut Blo'on.
"Nah, begitulah. Mataharipun tentu tidur juga. Benar tidak,
Kerbau Putih?" seru kakek Lo Kun
"Benar, benar . . eh, salah," tiba-tiba kakek Kerbau Putih
menyangkal, "setan tua, apakah engkau pernah melihat
matahari itu tidur ?"
"Berarti," sahut kakek Lo Kun. "Kalau begitu matahari tentu
belum pasti tidur” kata kakek Kerbau Putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Lo Kun garuk-garuk kepalanya : "Benar, benar . eh,
salah. Kerbau Putih, bukankah kalau malam hari engkau tidur
?"
"Sudah tentu." sahut yang ditanya.
"Celaka." seru kakek Lo Kun, "karena engkau sendiri tidur
maka engkau tak dapat melihat matahari tidur. Kalau hendak
melihat dia tidur, engkau jangan tidur dan terus ikuti saja dia
masuk dalam laut."
Rupanya Blo'on bosan mendengar ocehan mereka yang tak
keruan itu. Katanya : "Baiklah, karena tadi aku sudah berjanji
kepada tengkorak, maka apapun pesannya terpaksa harus
kupenuhi."
Demikianlah dengan dibantu oleh kedua kakek dengan hatihati
sekali tulang-tulang tengkorak dari Bu tek lojin itu segera
dikubur dalam liang yang telah digali tadi dan hendak
diperuntukkan mengubur si Blo'on.
"Sekarang bagaimana ?"
"Keluar dari tempat ini." kata kakek Lo Kun “akan kuantar
engkau menghadap raja di istana."
"Jauhkah tempat itu ?" tanya Blo'on.
"Aku sudah lupa," kakek Lo Kun garuk-garuk kepalanya,
"tetapi mudah. Kita nanti boleh tanya pada orang di
perjalanan." Akhirnya merekapun keluar dari terowongan.
---ooo0dw0ooo---
Siau-lim-si.
Paderi ti-kek ceng atau paderi yang bertugas menyambut
tetamu dari gereja Siau-lim-si, agak heran dan geli ketika
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menyambut kedatangan serombongan tetamu yang aneh.
Dikata aneh karena rombongan tetamu itu terdiri dari seorang
pemuda yang kepalanya gundul, hanya memelihara dua ikat
rambut yang tumbuh di kanan kiri kepala! Dua orang kakek
tua yang aneh. Yang seorang bertubuh pendek, sudah tua
tetapi rambutnya masih hitam. Sedang yang seorang kakek
tua berambut putih yang bungkuk.
Keanehan dari rombongan pendatang itu tambah pula
dengan tiga ekor binatang yang ikut serta dengan mereka
Seekor burung rajawali, seekor monyet hitam dan seekor
anjing bulu kuning.
"Omitohud," seru paderi berpangkat ti-kek ceng itu,
"adakah sicu sekalian hendak bersembahyang ke gereja
kami?”
"Sembahyang? Buat apa sembahyang ? Apakah ada orang
yang mati ?" sahut Blo'on.
Paderi itu tertegun mendengar penyahutan orang yang tak
keruan itu. Namun ia masih bersabar : "O, apakah sicu belum
pernah mengunjungi gereja ?"
Blo'on gelengkan kepala.
"O, biasanya orang yang berkunjung ke gereja itu tentu
mengadakan sembahyang kepada para dewa, malaekat
penunggunya. Demikianpun dengan gereja Siau-lim-si ini."
"Dewa dan malaekat ?" Bloon makin heran, "apakah itu ?"
"Dewa dan malaekat ialah mahluk yang lebih tinggi dari
manusia. Mereka adalah mahluk-mahluk yang suci dan
keramat," menerangkan paderi ber-pangkat Ti-kek-ceng itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hola, apakah disini juga terdapat dewa dan malaekat ?
Bagus aku ingin bertemu muka." tiba-tiba kakek Lo Kun
menyelutuk.
Paderi itu tercengang. Sesaat kemudian ia berkala : "Oh,
lotiang ini juga manusia ?"
"Aku ? Ya, aku seorang manusia," kata kakek Lo Kun, "eh,
kepala gundul, mengapa engkau menghina aku ? Masakan
begini engkau anggap bukan manusia ?'
Paderi itu hendak tertawa tetapi terpaksa ditahan. Buru-
Buru ia minta maaf : "Maaf, lotiang, tetapi aku heran mengapa
setua lo-tiang masih belum mengerti apa yang disebut dewa
dan malaekat penunggu gereja ?"
"Kepala gundul, engkau gila," teriak kakek Lo Kun, "Kalau
aku tahu, masakan perlu bertanya kepadamu ?"
Walaupun berulang kali dimaki 'kepala gundul' oleh kakek
Lo Kun namun paderi ti-kek-ceng itu tetap bersabar. Kemudian
ia mengulangi pula pertanyaannya : "Adakah sicu dan lotiang
datang kemari hendak bersembahyang atau mempunyai lain
keperluan ?'
Blo'on menjawab : "Aku hendak menemui kepala Siau limsi."
Paderi ti-kek-ceng terbeliak : "Ada keperluan apa ?"
"Apakah engkau ini kepala Siau-lim-si ?" tanya Blo'on.
Paderi itu gelengkan kepala : "Bukan, aku hanya paderi tikek
ceng yang bertugas menyambi tetamu-tetamu yang
berkunjung ke gereja . . "
"O, kalau begitu antarlah kami kepada kepala gereja," kata
Bloon.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Sicu," tiba-tiba paderi ti-kek-ceng itu berkata dengan nada
yang keras, "gereja Siau-lim-si selalu terbuka untuk menerima
kunjungan setiap tetamu yang hendak bersembahyang. Sudah
dua ratus tahun lamanya gereja ini berdiri. Rakyat
memandang gereja ini sebagai tempat ibadah yang suci dan
kaum persilatan memuja gereja ini sebagai salah satu sumber
ilmu silat vang telah mengharumkan nama dunia persilatan
Tiong-goan."
"Apakah maksud kata-katamu itu ? Aku tak mengerti ?"
teriak Blo'on.
"Hm,. artinya, gereja Siau-lim-si sebuah tempat ibadah
yang keramat dan harus diindahkan. Tak boleh telamu-telamu
sesukanya saja melanggar peraturan disini !"
"O. begitu." kata Blo'on. tetapi aku tak merasa melanggar
aturan disini. Aku hanya ingin menemui kepala dari gereja ini."
"Setiap tetamu yang hendak menghadap hong tiang (ketua
gereja) harus memberitahukan maksudku."
"Mengapa harus begitu ?" tanya Blo"on pula.
'Sekarang ini dunia persilatan sedang rusuh, beberapa
gereja dan biara telah dihancurkan. Murid-Murid perguruan
silat, diobrak-abrik . . , "
"Hai, siapakah orang itu ?" seru Blo'on.
"Kim Thian-cong ..."
"Kim Thian-cong ? Siapa Kim Thian-cong itu ?" Blo'on makin
heran.
"Kim Thian-cong itu dahulu dikenal sebagai ketua dari dunia
persilatan Semua partai persilatan tunduk dibawah
pimpinannya. Tetapi kemudian ia sudah mati ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Engkau edan kepala gundul !" tiba-tiba kakek Lo Kun
berseru mendamprat, "masakan orang mati dapat hidup dan
mengacau !"
Paderi ti-kek-ceng terbeliak. Sesaat kemudian ia berkata :
"Lo-tiang, jangan terburu memutus omonganku dulu. Memang
kutahu kalau orang mati tak dapat hidup dan mengacau.
Tetapi memang demikianlah keadaannya. Kim Thian-cong
sudah meninggal, tetapi tiba-tiba di dunia persilatan muncul
pula seorang tokoh yang menyebut dirinya Kim Thian-cong.
Bedanya, kalau Kim Thian-cong yang dahulu, menjadi
pemimpin partai-partai persilatan. tapi Kim Thian-cong yang
sekarang menjadi musuh dari partai-partai persilatan."
"O, apakah gereja Siau-lim-si juga di musuhi oleh Kim
Thian-cong itu ?" tiba-tiba kakek Keri Putih yang sejak tadi
diam saja, ikut buka suara.
"Benar, lo-tiang." sahut paderi ti-kek-ceng "beberapa partai
persilatan telah menerima surat dari Kim Thian-cong yang
maksudnya supaya membubarkan diri. Apabila tidak menurut,
mereka mereka akan diobrak-abrik. Pertama-tama kudengar,
partai Kong-tong-pay. Markasnya dibakar anakmuridnya
banyak yang dibunuh. Setelah itu hendak mengarah pada
partai Bu-tong-pay. Entah bagaimana kejadiannya. Oleh
karena itu maka Siau lim-sipun berhati-hati mengadakan
penjagaan."
"O, lalu dimana ketua Siau-lim-si ?" tanya kakek Kerbau
Putih.
"Maaf, lo-tiang, hong-tiang sedang keluar mengembara."
'O, dia tak berada dalam gereja ?" tanya Blo'on, "benar ?
Engkau tidak bohong ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Merah muka paderi ti-kek-ceng itu "Sicu, kami kaum agama
pantang untuk berbohong. Ketua kami Hui Gong hongtiang
sudah sejak setengah tahun yang lalu, meninggalkan gereja
untuk . . .
Tiba-Tiba paderi itu berhenti. Rupanya ia menyadari kalau
kelepasan omong. Rombongan Blo'on itu hanyalah tetamu, tak
perlu mereka diberitahu urusan gereja Siau-lim-si.
"Untuk apa ?" tiba-tiba kakek Kerbau Pulih mendesak.
"Mencari orang," paderi ti-kek-ceng dapat mencari jawaban.
"Siapa ?" desak kakek Kerbau Putih pula.
"Entahlah, hongtiang tak memberitahu kepadaku," sahut
paderi itu.
"Kepala gundul, engkau bohong," tiba-tiba kakek Lo Kun
maju menyiak paderi itu. Karena terkejut melihat perbuatan
kakek pendek yang begitu liar, paderi itu ayunkan tangannya
hendak mendorong. Tetapi sebelum tangannya menjulur,
tubuhnyapun sudah mencelat dua tiga langkah ke belakang.
Paderi ti-kek-ceng berobah wajahnya. Rupanya ia
menyadari kalau berhadapan dengan rombongan orang-orang
aneh yang berkepandaian tinggi. Diam-Diam ia kerahkan
tenaga-dalam lalu menghantam
Buk . . .
Tiba-Tiba kakek Kerbau Putih menyambuti pukulan paderi
itu dengan daging benjol dipunggungnya Uh . . paderi itu
mendesuh karena merasa tinjunya seperti melekat pada
benjolan daging si kakek. Ia tahu bahwa kakek itu telah
gunakan ilmu tenaga dalam istimewa yang menyedot. Diam-
Diam ia kerahkan tenaga-dalam dan menariknya. Uh . . .
kembali ia mendesuh ketika tubuhnya terhuyung beberapa
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
langkah kebelakang, ketika bukan saja tangannya dapat ditarik
dengan mudah, pun daging benjol itupun memantulkan
tenaga-dorong yang keras.
Masih paderi itu hendak merintangi. Tetapi kakek Lo Kun
segera mendorongnya. Paderi itu pun terhuyung-huyung
kebelakang, membentur diding dan rubuh tak ingat diri . . .
Melihat itu seorang to-thong atau paderi kecil vang berumur
lebih kurang 1-1 tahun segera lari masuk. Rupanya ia hendak
melaporkan peristiwa itu pada suhunya
Blo'on terus melangkah kedalam. Tetapi tiba-tiba kakek Lo
Kun berseru : "Tunggu dulu . . . !"
Kakek pendek itu menyambar buah-buah yang disajikan
diatas meja sembahyangan, terus dimakannya. Begitu juga
beberapa biji kuwe sembahyangan segera dipindah kedalam
perutnya, lihat itu kakek Kerbau Putihpun tak mau ketingalan.
"Hai, jangan dihabiskan, aku juga lapar !” teriak Blo'on yang
juga terus menghampiri meja dan menyambar apa yang dapat
dimakannya. Setelah dia kenyang, anjing kuning, burung
rajawali dan monyet hitampun diberi juga.
"Ho," kepala gundul disini betul-betul pelit sekali, kakek Lo
Kun menggerutu, "masakan yang disedihkan hanya air putih.
Tidak ada arak sama sekali."
Setelah kenyang mereka lalu masuk. Dibelakang ruang
sembahyang terdapat sebuah halaman luas yang menuju ke
beberapa paseban dalam gereja. Tetapi begitu melangkah di
halaman, tampak empat orang paderi jubah kuning
menghampiri dengan diiring oleh seorang paderi kecil.
"Itulah rombongan yang mengacau ruangan sembahyang,"
seru paderi kecil seraya menunjuk pada rombongan Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Keempat paderi itu bertubuh kekar, berumur rata-rata
empatpuluhan tahun. Semula wajah mereka tampak gelap,
tetapi ketika melihat rombongan Blo'on yang aneh, merekapun
tercengang.
"Apakah engkau kepala gereja ini ?" begitu berhadapan
Blo'on terus mendahului menegur.
Keempat paderi itu terkesiap. Dipandangnya si Blo'on yang
lucu dandanannya itu. Kemudian mereka beralih memandang
kedua kakek yang aneh bentuknya.
Kakek Lo Kun yang dipandang begitu rupa, ikut celingukan
kian kemari. Ia tak menyadari kalau dirinya yang dipandang.
Ia mengira keempat paderi itu memandang lain orang.
"Hai, siapa yang kalian cari ?" karena tak melihat lain orang
kecuali dirinya, kakek Lo Kun berseru kepada keempat paderi
itu.
"Lo-tiang sendiri," sahut mereka.
"Aku ? Mengapa ?"
"Aneh," gumam salah seorang paderi, "berapakah usia
lotiang yang sebenarnya ? Kalau menilik potongan tubuh yang
begitu pendek, lotiang tentu masih kecil, tetapi wajahnya
seperti seorang kakek tua. Namun kalau kakek tua mengapa
rambutnya masih begitu hitam ..."
"Ho, aku memang merasa sudah hidup lama sekali. Aku
sendiripun heran mengapa rambutku masih tetap hitam saja,"
jawab kakek Lo Kun "Hai, kalian orang empat ini. Kulihat
engkau masih muda tetapi mengapa sudah tak punya rambut”
Keempat paderi itu saling bertukar pandan dan tertawa.
Mereka segera tahu kalau sedang berhadapan dengan seorang
kakek yang limbung.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lo-tiang, bukan karena kami tak punya rambut, tetapi
kami adalah paderi agama Budha yang harus gundul" kata
salah seorang paderi yang bertubuh gemuk, "lalu apakah
maksud sicu sekalian berkeras hendak menjumpahi hong tiang
kami ?"
"Kalau engkau bukan kepala gereja, tak perlu engkau tahu!"
bentak kakek Lo Kun.
Paderi yang bertubuh gemuk itu tertawa bengis : "Kami
adalah paderi yang bertugas menjadi gereja ini. Lo-tiang telah
melukai salah seorang sute kami dan mengacau meja
sembahyangan. Masih lo-tiang bersikap keras hendak
menemui hongtiang. Lo-tiang, ketahuilah, bahwa Siau-lim-si
ini bukan tempat yang boleh dibuat sembarangan oleh orangorang
yang tak tahu adat !"
"Kurang ajar !" kakek Lo Kun deliki mata “engkau tahu
siapakah aku ini ? Aku adalah kepala pasukan Gi-lim-kun
diistana raja Ing Lok. Jangan lagi hanya datang dan hendak
menemui kepala gereja ini, sedang menangkap dia dan semua
kepala gundul disini. akupun berhak !"
Keempat paderi itu terkesiap dan saling bertukar pandang.
Kemudian paderi yang bertubuh gemuk tadi berkata : "Jangan
ngaco ! Mana tandanya kalau engkau ini kepala Gi-lim-kun ?
Dan tak mungkin raja nian memakai orang seperti engkau”
"Hai, jangan kurang ajar." tiba-tiba Blo’onpun membentak,
"aku ini putera raja. Kalau engkau tak percaya tanyalah pada
Somali di dalam guha!"
Keempat paderi itupun kembali melongo. Baru saja mereka
mendengar si kakek pendek mengaku sebagai kepala Gi-limkun
atau bhayangkara istana. sekarang pemuda itu lebih gila
lagi. Dia mengaku sebagai putera raja.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lekas panggil kepala gereja ini !" bentak Blo'on pula
dengan marah.
Paderi gemuk membengis mukanya : "Enyahlah kalian dari
sini. Kalau tetap hendak mengacau jangan salahkan kami
kaum paderi kalau sampai turun tangan"
"Kepala gundul, engkau berani mengasir aku” kakek Lo Kun
berteriak lalu menerjang keempat paderi itu.
Keempat paderi itu termasuk paderi tingkat ke 4 dari gereja
Siau-lim-si. Mereka ialah Pek Tin Pek Jin, Pek San dan Pek
Liang. Mereka bertugas menjaga keamanan gereja. Empat
serangkai paderi itu memiliki kepandaian silat yang tinggi-
Mengira kalau sedang berhadapan dengan rombongan
orang yang tak waras pikirannya, bermula keempat paderi itu
tak sampai hati untuk menggunakan tenaga sepenuhnya.
Ketika kakek Lo Kun menyerang mereka pun hanya
menghindar Setelah itu lalu beramai-ramai meringkusnya.
Tetapi alangkah kejut mereka ketika tiba-tiba kakek pendek itu
melambung keudara lalu berjumpalitan melayang turun
dibelakang mereka.
Bahwa sergapannya hanya menemukan angin kosong,
keempat paderi itupun terkejut. Tetapi lebih terkejut pula
Ketika merasa segelombang angin pukulan hebat melanda
dibelakang mereka Terpaksa keempat paderi itu loncat
kemuka untuk menghindar.
Serentak berputar tubuh, keempat paderi itu-pun terus
lepaskan hantaman. Tetapi kakek Lo kun dan kakek Kerbau
Putih pun dorongkan tangan untuk menyongsong. Krak, krak .
. . terdeengar letupan keras ketika angin pukulan mereka
saling berbentur.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Keempat paderi itu terkejut, Bukan saja tenaga pukulan
telah terhapus, pun angin pukulan kedua kakek itu masih
melanda kearah mereka sehingga terpaksa harus menghindar
ke saming.
Kini keempat paderi itu menyadari bahwa kedua kakek yang
dikiranya orang linglung itu ternyata berkepandaian tinggi.
Mereka tak berani memandang ringan lagi. Tetapi belum
sempat mereka mengatur tindakan, kedua kakek itupun sudah
menyerang. Terpaksa Pek Ti dan Pek Jin melayani kakek Lo
Kun. Pek San dan Pek Liang menghadapi kakek Kerbau Putih.
Melihat itu si Blo'on berseru: "Kakek, silahkan kalian berdua
main-main dengan kedua paderi itu, aku hendak menemui
kepala gereja !"
Bukan main kejut keempat paderi itu ketika mendengar
ucapan Bio'on bahkan saat itu dilihatnya si Blo'on sudah
ayunkan langkah masuk ke dalam paseban.
"Tahan !" teriak Pek Ti seraya hendak loncat menghindari
libatan kakek Lo Kun. Tetapi sebelum ia sempat ayunkan
tubuh jauh, kakek Lo Kun sudah loncat menghadang dan
menyerang
Demikian pula dengan paderi Pek San yang berusaha untuk
memburu si Blo'on tetapi tak dapat berkutik karena dibayangi
kakek Kerbau Pu tih.
Dengan lenggang, si Blo'on ayunkan langkah menuju ke
sebuah paseban besar. Ketiga binatang anjing kuning, burung
rajawali dan monyet hitam pun mengiring dibelakangnya.
Tiba dibawah titian batu. sekonyong-konyong muncullah
delapan paderi kecil baju biru. mereka masih anak-anak,
umurnya rata-rata baru sepuluhan tahun. Masing-Masing
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
membawa pentung kayu. Secepat tiba merekapun lalu tegak
berjajar-jajar di muka titian.
"Eh, setan gundul cilik, mau apa kalian!” tegur Blo'on.
Kedelapan kacung paderi itu serempak berseru : "Menjaga
paseban ini !"
"Menyisihlah kesamping. aku hendak masuk” seru Blo'on
pula.
"Tidak boleh !" kedelapan paderi anak itu pun serempak
berseru.
"E, kurang ajar, apa kalian berani merintangi aku ?"
"Tentu !" sahut mereka beramai-ramai,
Blo'on tertawa dan terus melangkah maju Tuk, duk, bluk . .
ia segera disambut dengan pukulan pentung yang tepat
mengenai kepala, tubuh dan kaki Blo'on.
"Aduh, aduh ..." Blo'on menjerit kesakitan, “keparat, engkau
berani memukul aku . . aduh . "
Kembali barisan paderi anak itu menggebuk Blo'on.
Punggung, kepala dan pantat Blo'on habis dihajar mereka.
Karena kesakitan Blo'on loncat mundur. Dan kedelapan
paderi anak itupun berjajar pula dalam bentuk sebuah barisan.
"Hai, kamu anak gundul, lekas panggil gurumu keluar.
Kalau tak mau, lekas kamu menyingkir aku hendak
menemuinya sendiri," seru Blo'on.
"Kalau dapat melalui barisan kami, boleh saja engkau
menemui hong-tiang," seru kawanan paderi anak-anak itu.
"O, jadi kalian ini berbaris ? Apa nama barisanmu itu ?"
'"Barisan Pat-kwa-tin, delapan kiblat."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Siapa yang mengajarkan ?"
"Suhu kami."
"Apa gunanya ?" tanya Blo'on.
"Mengepung musuh seperti menjaring harimau dari delapan
penjuru."
"O. kalau begitu sukar untuk melaluinya ?"
"Memangsukar, lebih baik engkau kembali saja "
“Apakah kalian tak mau mengajarkan kepadaku bagaimana
caranya untuk melewati barisanmu itu?
"Hi, hi, hi . . ." dasar masih kanak-kanak, begitu mlengar
omongan si Blo'on yang lucu itu, kedelapan paderi anak-anak
itu tertawa geli.
"Hai, anak gundul, mengapa kamu menertawakan aku ?
Apakah aku ini lucu ?'
"Lucu," seru mereka, "masakan lawan minta pelajaran dari
kami "
"Apa tidak boleh ?" Blo'on menegas.
"Sudah tentu tidak boleh "
"O, kalau begitu terpaksa aku harus cari jalan sendiri untuk
menerobos."
"Silahkan kalau mampu '
"Baik ..." blo'on merenung. Tiba-Tiba ketiga ekor
pengiringnya menghampiri ke dekatnya dan menjilat jilat
kakinya.
"Bagus, hayo bantu aku menghalau anak gundul itu," seru
Blo'on terus melangkah maju.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Barisan pat-kwa-tin dari kedelapan paderi anak-anak itu
segera bergerak-gerak melingkari Blo'on Ketika Blo'on
melangkah maju, seorang paderi anak segera ayunkan
pentungnya hendak menggebuk kepala Blo on. Tetapi secepat
itu, burung rajawali melayang turun menerkam mukanya.
Paderi anak itu terkejut dan menyurut mundur seraya hendak
menghantam dengan pentung. Tetapi tiba-tiba tengkuknya
dicemplak dari belakang
oleh monyet.
"Aduh ..." paderi kecil
itu menjerit kesakitan
ketika daun telinganya
digigit si monyet hitam.
Ketika ia hendak
menghalau simonyet,
burung rajawahpun sudah
memagutkan paruhnya ke
ke hidung paderi anak itu.
"Aduh . . " kembali
paderi anak itu menjerit,
mendekap hidung dan
telinganya yang
berlumuran darah dan terus lari tinggalkan barisan.
Seorang paderi anak yang berada di sebelahnya cepat
hendak mengisi kedudukan kawannya yang kosong itu. Tetapi
secepat ia bergerak, secepat itu pula anjing kuning sudah
loncat menerkam dadanya. Paderi anak itu dengan tangkas
gerakkan tongkat untuk menghalau. Tiba-Tiba tengkuknya
dicekik dari belakang oleh Blo'on, terus didorong kemuka. Uh .
. . paderi itu menjorok kemuka membentur seorang
kawannya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dua orang paderi anak cepat menyerang. Tetapi yang satu,
dikeroyok burung rajawali dengan monyet hitam. Yang satu
diserang anjing kuning dan disepak Blo'on. Dengan cepat
sekali kedua anak itu menjerit-jerit kesakitan dan melarikan
diri.
Kini dari delapan orang paderi anak, hanya tinggal empat
anak. Karena barisannya sudah rusak, keempat paderi anak
itupun tak mau menurut gerak barisan Pat-kwa-tin lagi.
Mereka terus menyerang secara membabi buta.
Ramai juga pertempuran acak-acakan itu. Ke empat paderi
anak itu dengan hebat mainkan tongkatnya. Walaupun masih
kecil tetapi mereka memiliki ilmu silat yang baik sekali.
Permainan tongkatnya sederas hujan mencurah.
Tetapi celakanya mereka harus berhadapan dengan
manusia Blo'on yang aneh serta ketiga pengiringnya yang licin.
Blo'on mencak-mencak semaunya. la tak dapat bermain silat
maka ia gerakkan kedua tangan meniru gerakan keempat
paderi anak itu. Bedanya kalau keempat paderi anak itu
memang bermain silat dengan genah, tetapi Blo'on seperti -
orang gila yang menari.
Celakanya pula, keempat paderi anak itu harus menyambut
serangan dari udara dan belakang. Burung rajawali
beterbangan melayang pergi datang untuk menerkam dan
mematuk kepala mereka. Anjing kuning berloncatan
menerkam kian kemari, yang paling menjengkelkan keempat
paderi anak ini ialah si monyet hitam. Apabila seorang paderi
anak sedang sibuk menghadapi terjangan anjing dari sebelah
muka, tiba-tiba tengkuknya dicemplak dari belakang oleh
monyet kecil. Dan monyet itu kalau tak mengigit daun telinga
tentu menampar gundul atau menggigit tengkuk. Apabila
paderi itu menjerit kaget dan hendak menghalau si monyet,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kalau bukan anjing yang maju menggigit kaki. tentu burung
rajawali yang menyambar dan mematuk muka. Paling tidak,
tentu si Blo'on yang memberi persen, tabokan atau sepakan.
Keempat paderi anak itu benar-benar kewalahan, tetapi
mereka tetap bertahan tak mau melarikan diri. Walaupun
telinga dan muka mereka sudah berlumuran darah, mereka
tetap bertempur mempertahankan diri.
Tetapi bagaimanapun juga, akhirnya keempat paderi anak
itu harus mundur karena mata mereka berlumuran darah.
Dicakari monyet hitam dan dipagut dengan paruh burung
rajawali.
Setelah barisan Pat-kwa-tin bubar. Blo'on ayunkan langkah
naik kedalam paseban.
"Tunggu !" tiba-tiba terdengar suara orang berseru. Ketika
Blo'on berpaling ternyata kakek Lo Kun dan kakek Kerbau
Putihpun sudah lari menghampiri. Keempat paderi angkatan
Peh, dibikin pontang panting oleh kedua kakek linglung tetapi
sakti itu.
Paseban itu merupakan bagian depan dari gedung Tat-mowan.
Gedung tempat bermusyawarah dari para paderi Siaulim-
si. Setelah melalui paseban. mereka harus melintasi
sebuah halaman yang luas lagi.
Tampak di halaman itu berjajar berpuluh-pulluh paderi.
Entah sedang mengapa mereka itu.
"Berhenti !" seru seorang paderi bertubuh kurus kepada
rombongan Bloon yang hendak melintas.
Blo'on dan rombongannya berhenti "Bagus, kepala gundul,
tiba-tiba kakek Lo Kun mendahului menyelutuk, "ternyata
kamu tahu untuk menyambut rombongan tamu agung ini."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Paderi kurus itu terkesiap, serunya : "Rombongan tamu
agung ?"
"Ya, kami ini kan rombongan tamu agung" seru kakek Lo
Kun.
"Hah ?" paderi kurus itu tergagap, "siapakah lotiang ini ?"
"Aku adalah kepala dari pasukan Gi-lim-knn istana. Dan ini,
"ia menunjuk pada Blo'on, "putera baginda raja."
"Putera raja ?" paderi kurus itu menegas, 'siapakah
namanya ?"
"Namanya ? O . . . tiba-tiba kakek Lo Kun berpaling kearah
Blo'on," siapakah namamu ?"
Blo'on terkejut : "Namaku ? Ah, aku lupa nanyakan pada
Somali "
"Engkau tak tahu namamu ?" seorang kakek linglung Lo
Kunpun heran juga.
"Benar, aku memang tak tahu, eh . . kalau nama biasa sih
tahu," kata Blo on.
"Siapa namamu yang biasa ?"
"Blo'on."
“Ha, ha, ha, ha . . . tiba-tiba pecahlah gelak berpuluh-puluh
paderi Siau-lim si yang sedang berbaris di halaman muka Tatmo-
wan itu. Mereka terkejut karena mendengar ramai-ramai
orang bertempur, dan ketika mendapat laporan dari seorang
paderi anak tentang peristiwa rombongan Blo'on yang
mengamuk dalam gereja, paderi kurus itu segera
mengumpulkan saudara-saudara seperguruannya dan berbaris
menjaga paseban Tat-mo-wan Tetapi mereka tak dapat
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menahan geli ketika melihat perwujudan rombongan Blo'on,
lebih-lebih waktu mendengar kata-kata si Bloon tadi.
"Tuh dengarlah, untuk sementara ini namanya si Blo'on.
Nanti apabila sudah mendapat keterangan dari raja. barulah
akan memakai nama yang aseli" seru kakek Lo Kun.
Paderi kurus menyadari bahwa yang dihadapinya itu
seorang kakek linglung. Maka ia hanya mengangguk saja.
Kemudian ia hendak menanyakan nama dari kakek Lo Kun
yang mengaku sebagai kepala pasukan bhayangkara istana.
"Sedang aku sendiri, biasa dipanggil Lo Kun atau jendral
tua." kakek Lo Kun mendahului "tetapi karena aku mendapat
tugas raja, maka sekarang ini aku sudah tak menjadi kepala
Gi-lim kun."
"Dan apakah keperluan lotiang hendak menemui hongtiang
kami ?" tanya paderi kurus itu.
Lo Kun tak menjawab melainkan menggamit lengan Blo-on.
Maksudnya suruh anak itu yang memberi keterangan.
"Sebenarnya kalian tak berhak menanyakan soal itu karena
hal itu bukan urusanmu. Tetap sedikit saja, dapatlah
kuberitahu," kata Blo’on "aku sudah berjanji pada seorang
tengkorak untuk mencari perkumpulan Pek-lian-kau. Nah
hanya itu yang dapat kuterangkan. Jangan bertanya lebih
lanjut dan segera antar kami kepada kepala gereja ini atau
beritahukan kepadanya supaya keluar.”
Paderi kurus itu kerutkan kening. Sesaat kemudian ia
berseru : "Maaf, hongtiang kami sedang bepergian. Silahkan
sicu kembali saja ..."
“Eh, kepala gundul, kami datang kemari bukan hendak
minta makan . . . eh," tiba-tiba kakek Lo Kun berkata tetapi
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tiba-tiba pula ia teringat kalau tadi telah melalap hidangan di
atas meja sembahyang. Maka cepat-cepat ia berhenti dan
beralih nada, “kami bukan orang jahat, melainkan hendak
bertanya kepada kepala gereja ini. Mengapa kalian selalu
mengatakan kalau dia tak berada di dalam gereja. Terus
terang aku tak percaya. Kalau memang kalian jujur, harus
memperbolehkan aku untuk mencarinya dalam gereja ini."
Paderi kurus itu tahu kalau kakek Lo Kun seorang limbung
namun mendengar kata-katanya begitu, iapun terkesiap juga.
Gereja Siau-lim-si mempunyai peraturan keras. Bahkan
anakmurid dan paderi-paderi sendiripun harus tunduk dan
mentaati peraturan itu. Apalagi orang luar.
"Tidak bisa !" sahutnya.
"Eh. mengapa ? Kalau begitu jelas kalian ini berbohong”
seru kakek Lo Kun.
"Kami kaum agama, pantang berbohong !"
"Aneh," gumam kakek Lo Kun, "kalau memang tak bohong
mengapa tak memperbolehkan masuk
"Siau-lim-si sebuah gereja yang keramat. Tak boleh
sembarangan diselundupi orang. Lotiang adalah tetamu, harap
suka mentaati peraturan gereja kami."
"Kalau aku memaksa ?" seru kakek Lo Kun
"Hanya ada satu jalan," sahut paderi kurus, itu berganti
nada serius, "lotiang harus mampu melintasi barisan Lo-hankun
!"
"Lo-han-kun ? Apakah Lo-han-kun itu ?" seru Blo'on
serentak.
"Gereja Siau-lim-si yang dibangun oleh Tat Mo cousu itu,
merupakan salah sebuah sumber utama dari ilmu silat dunia
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
persilatan Tiong-goan. Siau-lim-si mempunyai tujuhpuluh dua
ilmu silat pusaka. Salah satu diantaranya yalah barisan Lohan-
kun" kata paderi kurus.
"O, sampai dimanakah kehebatan Lo-han-kun itu ?” tanya
Bloon pula.
"Lo-han-kun terdiri dari 108 jurus dan dimainkan oleh 108
orang pula. Terbagi menjadi duabelas kelompok, tiap
kelompok terdiri dari sembilan orang. Coba bayangkan.
Dapatkah engkau melintasi 1O8 orang yang akan bergerak
dalam 108 jurus ilmu silat yang hebat ?”
"O, memang sukar," sahut Blo'on. "Tetapi apa boleh buat,
kalau memang hari begitu baru dapat masuk ke dalam tempat
ini, aku sanggup. Tetapi eh. apakah masuknya harus satu-satu
atau boleh secara serempak ?" seru Lo Kun.
"Terserah, mau seorang demi seorang atau ramai-ramai,"
sahut paderi kurus.
"Tetapi barisan Lo-han-kun itu monggunakan senjata atau
dengan tangan kosong ?" tanya Blo'on.
"Sebetulnya menggunakan pedang tetapi menilik sicu
bertiga tidak membekal senjata, kamipun akan menggunakan
tangan kosong saja." seru paderi kurus.
"Bagus, kepala gundul, engkau baik hati," seru kakek Lo
Kun, "sekarang aku hendak mulai menyerbu. Hayo, siapkanlah
barisanmu."
Paderi kurus itu segera mengacungkan tangan keatas dan
digerak-gerakkan naik turun. Seratus delapan orang paderi
segera bergerak-gerak memencar diri. Tak lama kemudian
terciptalah sebuah lingkar barisan yang terdiri dari duabelas
kelompok. Setiap kelompok beranggauta sembilan orang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tunggu !" tiba-tiba kakek Lo Kun berseru lalu menarik
Blo'on dan kakek Kerbau Putih menyingkir beberapa puluh
langkah dari tempat barisan itu.
"Setan kerbau," seru Lo Kun setengah berbisik kepada
kakek Kerbau Putih, "engkau seorang sucay (pelajar) yang
gagal. Engkau tentu sudah membaca buku tentang ilmu
barisan Lo-han-kun Bagaimanakah cara untuk membobolnya”
Kakek Kerbau Putih garuk-garuk kepalanva: "Wah sukar.
Aku belum pernah membaca tentang barisan Lo-han-kun.
Tetapi ada juga akal kita untuk mengempur barisan itu."
"O, bagaimana ?" desak kakek Lo Kun.
"Menurut beberapa ilmu barisan yang pernah kubaca,
kebanyakan barisan itu tentu bergerak-gerak untuk saling
menutup dan mengisi. Misalnya ada sebuah kelompok atau
anggautanya yang bobol, yang lain tentu cepat akan
menggantikan tempatnya ..."
"Seperti mata rantai ?" tanya kakek Lo Kun
"Benar," jawab kakek Kerbau Putih, "memang seperti mata
rantai yang tak boleh terputus. Karena kalau terputus tentu
akan berlubang dan jebol lah barisan itu."
"Lalu bagaimana caranya kita membobol ' tanya Blo'on.
"Begini saja," kata kakek Kerbau Putih," kita serempak
menyerang bersama-sama. Blo'on menyerang dari muka, aku
dari kanan, kakek Lo Kun dari kiri, rajawali dari atas, anjing
dari bawah dan monyet hitam dan segala penjuru dimana
terdapat lubang terbuka."
"Bagus !" Blo'on dan kakek Lo Kun serempak berseru
memuji, "mereka tentu akan sibuk tak sempat bantu
membantu dengan kawannya!”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kalau sudah setuju, mari kita mulai saja” kata Kerbau Putih
seraya terus hendak berjalan.
"Nanti dulu," tiba-tiba Blo’on menarik baju kakek itu "tetapi
aku tak mengerti ilmu silat. Bagaimana caranya untuk
menyerang dan bagaimana caranya kalau dipukul orang ?"
"Aduh, celaka anak ini," seru kakek Lo Kun “Lalu bagaimana
ya caranya ?"
Kakek Kerbau Putih merenung. Sesaat kemudian ia
membuka suara: "Ya. apa boleh buat. Kita terrpaksa harus
mengajarkannya ilmu silat itu."
"O,bagus, bagus." seru kakek Lo Kun, “kamu ajari saja dia
ilmusilatmu"
"Hm, engkaupun harus mengajari juga, setan pendek," kata
kakek Kerbau Putih.
"Aku ?"
“Ya. supaya dia lebih lengkap ilmu silatnya," '
"Dimana kita akan memberi ajaran itu ?"
"Disini jugalah," jawab kakek Kerbau Putih.
Kakek Lo Kun terus menghampiri barisan lo han-tin,
serunya: "Hai, kawanan kepala gundul jangan kira kami tak
dapat membobolkan barisan-mu itu. Tetapi kami minta waktu
sebentar untuk memberi pelajaran silat kepada putera raja
itu."
Tanpa menunggu jawaban para paderi. kakek Lo Kun terus
berputar tubuh dan menghampiri ke tempat rombongannya.
Tetapi tiba-tiba pula ia berputar tubuh lagi dan lari kemuka
barisan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, kawanan kepala gundul," serunya bengis. "selama
kami mengajarkan ilmusilat kepada kawan kami, kalian tak
boleh melihat. Tahu! Hayo kalian berputar tubuh menghadap
kebelakang !" Paderi kurus yang bergelar Thian Gi itu kerutkan
dahi. Dia termasuk paderi Siau-lim-si tingkat empat dan yang
diserahi memimpin barisan Lo-han-tin.
Sebenarnya tak perlu ia menggubris rombongan tetamu gila
itu. Tetapi kalau ia menolak, ia kuatir kakek itu akan berteriakteriak
dan menyiarkan peristiwa itu diluar. Mengatakan bahwa
paderi Siau-lim-si mencuri lihat orang yang sedang berlatih
silat. Nama baik Siau-lim-si dan barisan Lo-han-kun pasti akan
dijadikan buah tertawaan kaum persilatan.
"Baiklah, silahkan kalian belajar ilmusilat apa saja. Tetapi
jangan harap kalian mampu melintasi barisan Lo-han-kun ini."
katanya kemudian terus hendak memberi perintah kepada
anak barisan.
"Nanti dulu," tiba-tiba kakek Lo Kun berseru pula. "tetapi
engkau tak boleh ingkar janji. Kalau barisanmu bobol engkau
harus mengantarkan rombonganku menghadap kepala gereja
ini."
"Jangan kuatir," kata paderi Thian Gi lab memberi aba-aba
kepada barisannya. Barisan Lo-han tin yang terdiri dari 108
orang paderi itu, serempak berputar tubuh menghadap
kebelakang.
"Bagus," kakek Lo Kun berseru terus hendak kembali
ketempat rombongannya Tetapi baru dua langkah ia berhenti
lagi. berputar tubuh dan berseru: "Awas, kalau ada yang
berani diam-diam melirik kebelakang, tentu kugebuk
kepalanya.”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Barisan Lo-han-tin itu tak mengacuhkan. Mereka tahu kakek
itu memang seorang limbung. Makin dilayani makin menggila.
"Nah, aman," kata kakek Lo Kun kepada kakek Kerbau Putih
dan Blo'on, "sekarang kita boleh mulai mengajarnya. Engkau
dulu yang memberi pelajaran."
"Baik" kakek Kerbau Putih tak mau banyak bicara. Ia terus
suruh Blo'on memperhatikan dan menirukan gerakannya.
Kakek itu segera bergerak gerak, cepat dan dahsyat, macam
orang menerkam, meneliku. menampar-nampar.
Sebenarnya Blo'on hendak membantah. Ia tak suka belajar
silat. Tetapi karena merasa sudah terlanjur berjanji kepada Bu
Kek lojin, ia harus menemui kepala Siau-lim-si. Dan karena
dirintangi oleh ke 108 paderi yang menghadang dengan
barisan Lo-han-tin, terpaksa ia mau juga menerima pelajaran
silat dari kakek Kerbau Putih.
"Nah, sekarang engkau harus menirukan," seru kakek
Kerbau Putih setelah selesai memainkan seluruh jurus ilmu
pukulannya.
Blo'on terpaksa menurut. Ternyata dia berotak cerdas dan
memiliki bakat yang amat bagus sekali. Soalnya karena tak
mau, maka ia tak dapat main silat. Tetapi setelah ia
menumpahkan minat ternyata dalam waktu yang singkat ia
dapat menirukan.
"Gila !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru kaget,
“mengapa tamparanmu jauh lebih keras dari aku ?"
"Entahlah," sahut Blo’on ringkas. Memang ia tak menyadari
bahwa setelah makan rumput Kumis naga dan minum pil
darah ki-lin emas, jalan darah Seng si-hian-kwan dalam
tubuhnya telah terbuka Dengan demikian ia dapat bergerak,
cepat dan keras.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Seperti telah diterangkan dibagian muka, Blo’on menderita
sakit hilang ingatan akan masa yang lampau. Maka ia tak ingat
lagi siapa dirinya, siapa namanya bahkan siapa pula
ayahbundanya. Pendek kata, ia lupa akan segala yang terjadi
di masa lampau. Tetapi untuk saat yang sedang di alami hari
itu, ia dapat berpikir normal seperti orang biasa. Memang
penyakit yang dideritanya luar biasa anehnya.
"Hayo, ulangi lagi," perintah kakek Kerbau Putih dengan
bengis, "kalau salah, ..aku malu."
Entah bagaimana terhadap kedua kakek itu Blo'on memang
menurut. Padahal dulu, dia selalu menentang dan
membangkang semua perintah ayahnya.
"Murid yang pintar, engkau!" seru kakek Kerbau Putih
setelah melihat Blo'on mengulangi lagi jurus permainannya,
"ingin tahu apa nama ilmu pukulan itu ?"
Bloon tercengang : "O, apakah ilmusilat itu juga ada
namanya ? Lalu apakah nama ilmusilat yang engkau ajarkan
kepadaku itu ?"
"Hang-liong-sip-pat-ciang !"
"Hang-liong-sip-pat-ciang ? Apakah artinya?" tanya Blo'on.
"Delapanbelas tamparan menundukkan naga. Dengan
delapanbelas kali cara menampar itu, jangan kan manusia,
nagapun tentu dapat ditundukkan !"'
"O, terima kasih, terima kasih," tiba-tiba Blo'on
membungkuk tubuh memberi hormat kepada kakek itu.
Kakek Kerbau Putih kesima, serunya: "Aneh, engkau
mendapat apa-apa, diam saja. Tetapi mengapa mendapat
ilmusilat begitu, engkau terus menyatakan terima kasih. Apa
sebabnya ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Aku menderita penyakit aneh. Aku tak ingat lagi apa yang
terjadi pada masa yang lampau Menurut keterangan seorang
anak perempuan murid Hoa-san-pay yang bernama Waletkuning,
penyakitku itu hanya dapat disembuhkan kalau makan
otak naga. Nah, setelah mendapat pelajaran Hang-liong-sippat-
ciang itu, bukankah aku tentu bakal dapat menangkap
naga itu ?"
'O . . ," kakek Kerbau Putih melongo, la sendiri juga tak
tahu apakah otak naga itu benar-benar mempunyai khasiat
untuk menyembuhkan penyakit hilang-ingatan.
"Hayo, sekarang ganti engkau yang memberi pelajaran,
setan tua," seru kakek Kerbau Putih kepada Lo Kun, "tetapi
harus yang istimewa. Jangan ilmusilat cakar ayam."
"Hm . . ." kakek Lo Kun diam, kerutkan dahi dan garukgaruk
kepala, "engkau sudah memberi pelajaran ilmu
memukul lalu aku apa ya ? . . . eh. begini sajalah Aku akan
mengajarkan ilmu berlari. Jadi kalau engkau mengajarkan
gerakan tangan, sekarang aku hendak memberinya ajaran
cara menggerakkan kaki."
"Hai, apakah belum selesai ?" tiba-tiba paderi kurus
pemimpin barisan Lo han-tin berseru.
"Kurang ajar engkau kepala gundul," damprat kakek Lo
Kun, "mengapa engkau berani mengganggu orang memberi
pelajaran silat ?"
"Kakek linglung." Karena jengkelnya berulang kali dimaki
'kepala gundul' paderi kurus Goan balas memaki, "mengapa
begitu lama belum selesai! Kalau suruh kami menunggu
sampai berjam-jam engkau licik artinva '"
"Licik ?" seru kakek Lo Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, dengan berdiri berjam-jam begini, tenaga kami tentu
habis dan semangatpun menurun. Dengan begitu bukankah
mudah saja engkau hendak membobol barisan kami ?"
"Jangan banyak bicara, tunggu lagi sebentar Aku baru
mengajarkan sebuah ilmu yang hebat. Jangan harap kalian
nanti mampu mencekalnya." seru Lo Kun cepat menyuruh
Blo'on memperhatikan Kakek Lo Kun yang limbung itu terus
berge'rak. Ia berlari melingkar-lingkar dengan cepat sekali
sehingga dalam waktu sekejab saja. orangnya sudah tak
kelihatan tetapi berganti dengan sebuah lingkaran sinar hitam
Kemudian kakek itu perlambat gerakannya lalu berloncatan
naik turun dan terakhir lalu bergerak menubruk kekanan
menerkam ke kiri.
"Hayo. sekarang engkau harus menirukan," seru kakek Lo
Kun kepada Blo'on. Apa boleh buat Blo'onpun segera menurut
perintah. Setelah diberi petunjuk cara menggerakkan kaki,
melakukan pernapasan dan cara menubruk serta menerkam,
puaslah kakek itu.
"Kurang ajar. mengapa gerakanmu lari lebih cepat dari
aku?" ia bersungut-sungut ketika melihat Blo'on amat tangkas
sekali.
"Entah." Blo'on melongo, "aku sendiri juga heran mengapa
kakiku ringan sekali. Eh, apakah Ilmu berlari yang engkau
ajarkan itu juga ada namanya ?"
"Sudah tentu ada," sahut kakek Lo Kun dengan busungkan
dada," sebenarnya ilmu itu berasal dari ilmu pedang Tui-hongkian
..."
"Tui-hong-kiam ?" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berteriak
kaget.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, Tui-hong-kiam atau ilmupedang Pedang-terbang,"
jawab Lo Kun. "karena aku tak suka memakai pedang, lalu
kuciptakan gerak tersendiri yang kuben nama Tui-hung-kaning
atau Mengejar-angin-memburu-bayangan. Dengan ilmu
ciptaanku itu aku tak pernah gagal untuk berburu harimau."
"Gila," tiba-tiba kakek Kerbau Putih berteriak,"lalu apakah
sekarang engkau masih dapat memainkan ilmu Tui hong-kiam
itu ?"
"Perlu apa ?" dengus kakek Lo Kun, "kan lebih sah dengan
ilmu ciptaanku sendiri daripada ilmu pedang ajaran orang."
"Siapa yang mengajarkan engkau ilmu pedang Tui-hongkiam
itu ?" tanya kakek. Kerbau Putih pula.
"Cu Goan-ciang, raja pertama dari kerajaan Beng. Karena
aku menjadi pengawal peribadinya dia amat sayang sekali
kepadaku dan memberi ajaran ilmu pedang itu."
'O. kakek goblok," teriak kakek Kerbau Putih. "ilmupedang
Tui hong-kiam itu merupakan ilmu pedang jaman dahulu yang
sekarang sudah tak pernah muncul di dunia persilatan. Ilmu
itu sebuah ilmu pusaka yang luar biasa saktinya. Engkau harus
menurunkan kepada lain orang supaya ilmu itu jangan lenyap
terkubur dengan mayatmu."
"O, benar !" tiba-tiba kakek Lo Kun melonjak dan menjerit
"memang raja Cu Goan-ciang pernah berpesan begitu. Supaya
mengajarkan ilmupedang itu kepada anakmuda yang jujur,
pintar dan berbakat”
"Kalau begitu engkau harus mengajarkan kan pada anak ini.
Dia memeuuhi syaratnya," kata kakek Kerbau Putih.
"Apa ? Dia memenuhi syarat ? Huh, engkau memang kakek
tolol," damprat Lo Kun, "apakah anak itu jujur, aku belum tahu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
karena baru saja kenal beberapa hari. Apakah dia pintar, huh.
huh, dia begitu blo'on ! Dan apakah dia berbakat .”
"Berbakat, berbakat !" teriak kakek Kerbau Putih, "dia
berbakat bagus sekali. Dulu aku memerlukan waktu berbulanbulan
untuk mempelajari ilmu tamparan Hang-liong-sip-pat
ciang itu. Tetapi sekarang dia hanya dalam beberapa jam saja
sudah dapat melakukan dengan baik. Hayo, lekas engkau
berikan ilmu Tui-hong-kiam itu kepadanya !"
"Tidak bisa !" teriak kakek Lo Kun.
"Mengapa ?"
"Pertama, dia tak memenuhi ketika syarat itu Dan kedua,
karena aku sendiri sudah lupa dan tak dapat bermainkan ilmu
Tui-hong-kiam itu lagi”
"Ah, kakek gila !" kakek Kerbau Putih banting-banting kaki
dan memaki-maki, "masakan ilmu pusaka yang jarang
terdapat di dunia persilatan, engkau telantarkan begitu saja
sehingga hilang. Hayo, egkau harus mengingatnya lagi "
"Sekarang ?" kakek Lo Kun melongo, "tapi entah kapan aku
baru dapat mengingat seluruhnya mungkin sampai beberapa
hari mungkin berbulan-bulan."
Kakek Kerbau Putih menghela napas: "Ah....saat ini karena
kita masih harus menghadapi barisan kepala gundul itu, maka
tak usah engkau menyibukkan diri dulu. Tetapi nanti apabila
sudah senggang, engkau harus berusaha untuk mengingat
ilmupedang itu lagi."
Kakek Lo Kun mendengus.
Selama Blo'on diajari ilmu pukulan Hang liong-sip-pat-ciang
oleh kakek Kerbau Putih tadi, monyet hitam dan burung
rajawali tak henti-henti nya menirukan gerakan kakek Kerbau
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Putih. Memang ketiga binatang itu dapat dijinakkan dan di
latih baik oleh Blo'on. Mereka dapat menirukan gerakan orang
dengan baik.
Kemudian setelah kakek Lo Kun mengajarkan ilmu Tui-hong
kan-ing, anjing kuninglah yang menirukan gerakan kakek itu.
Dengan demikian anjing kuning dapat melakukan gerak Tuihong-
kan ing dan monyet hitam serta burung rajawali dapat
menjalankan jurus-jurus ilmu Hang liong-sip-pat-ciang.
Kini pelajaranpun selesai dan tiba-tiba Thian Gi sipaderi
kurus berteriak : "Hai, apakah sudah selesai ?'
"Sudah, tetapi kami lelah dan harus beristirahat dulu. Kalau
engkau memang berani, tunggu saja. Kalau tidak berani,
masuklah ke dalam dan tidurlah saja !" teriak kakek Lo Kun.
Memang saat itu hari sudah petang, Sehingga para paderi
anggauta barisan Lo-han-tin itu sudah menunggu dari pagi
sampai petang. Dalam hati mereka bersungut-sungut dan
menyumpahi rombongan Blo'on tetapi mereka takut kepada
paderi kurus Thian Gi sehingga terpaksa diam saja dan telap
tegak ditempat masing-masing.
Tiba-Tiba kakek Lo Kun lari. Melihat itu Blo'on cepat
menarik lengannya : "Hendak kemana ?"
"Aku lapar, hendak cari makanan," sahut kakek Lo Kun.
"Kemana ?"
"Ruang sembahyangan, tentu masih ada sisa makanannya,"
kata kakek itu pula.
"Tak perlu engkau sendiri," kata Blo'on, "akan kusuruh
ketiga binatang itu untuk mencarikan"
Kemudian Blo'on memerintah anjing kuning, monyet hitam
dan burung rajawali untuk mencari makanan. Ketiga binatang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
itu segera pergi. Tak berapa lama, anjing kuning datang
dengan menggondol kuweh, lalu monyet hitam membawa ikan
dan terakhir burung rajawali. Kuweh memang dari meja
sembahyang tetapi ikan diperoleh si monyet hitam dari rumah
penduduk yang tinggal tak jauh dari gereja. Memang monyet
itu binatang yang mbeling atau nakal. Dia pandai sekali
mencuri makanan di rumah orang. Dan buah yang digondol
burung rajawali itu didapatnya dari hutan.
"Hai, mengapa belum selesai ?" teriak paderi kurus Thian
Gi.
"Nanti dulu, kami hendak makan. Kalau engkau lapar,
silaukan masuk dan makan dulu, "teriak Lo Kun.
Paderi Thian Gi mengkal. Tetapi ia seorang paderi yang
jujur dan penuh toleransi. Terpaksa ia menahan kesabarannya
lagi.
Demikian Blo’on dan kedua kakek itu segera melalap
makanan sementara barisan paderi tetap tegak di tempatnya,
tak berani berkutik.
"Celaka, habis makan harus minum. Kalau tidak makanan
itu rasanya masih berhenti dibawah kerongkonganku," teriak
kakek Lo Kun pula.
"Jangan kuatir," kata Blo'on, "akan kusuruh monyet
mencarikan air."
"Tidak, aku hendak cari sendiri saja. Aku tak mau minum
air. Aku hendak minum arak," kata kakek Lo Kun.
"Jangan kuatir," kata Blo'on pula, monyet, itu dapat
mengambilkan apa yang kita minta."
la terus berseru kepada si monyet : "Monyet hayo, carikan
arak untuk kakek Lo Kun."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Monyet hitampun terus pergi.
"Eh, lumayan juga mempunyai binatang peliharaan
semacam itu ? Dari mana engkau memperoleh monyet itu ?"
tanya kakek Lo Kun.
"Entah, aku tak ingat. Tahu-Tahu ketiga binatang itu
muncul dan ikut padaku," kata Blo'on yang sudah hilang
ingatannya akan masa lampau. Padahal jelas ketiga ekor
binatang itu adalah binatang peliharaannya sejak kecil
Tak berapa lama muncultah si monyet hitam, dengan
membawa sebuah guci. Dengan cepat kakek Lo Kun terus
menyambuti dan meneguknya. “Ah...” ia menggumam dengan
penuh nikmat: "Arak wangi, arak wa ..."
"Berikan juga kepadaku !" kakek Kerbau Putih cepat
menyambarnya terus meneguk juga.
Bau arak yang keras dan harum segera bertebaran dibawa
hembusan angin. Barisan paderi itu makin gelisah. Karena
sudah sejak pagi mereka terus berdiri, mereka merasa agak
lelah. Terutama mereka merasa lapar sekali. Kini hidung
mereka dilanda bau arak yang keras dan harum sehingga
darah mereka makin menggelora. Andaikata pemimpin mereka
tak berada disitu, tentu mereka sudah Berontak dan mengusir
rombongan orang gila itu.
Demikian, apabila barisan paderi itu kelabakan setengah
mati, adalah difihak rombongan Blo’on, kedua kakek linglung
itu tengah enak-enak menikmati arak. Entah dari mana
monyet hitam memperolehnya. Tetapi arak itu memang wangi
sekali.
Berselang beberapa saat kemudian, setelah kenyang makan
dan puas minum, barulah kedua kakek itu bersiap. Mereka
segera menghampiri ketempat barisan Lo-han-tin.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Saat itu hari sudah makin gelap. "Sekarang kami hendak
mulai menyerbu. Kalian boleh menghadap kemari." seru kakek
Lo Kun
Karena sudah mengkal, barisan Lo-han-tin serentak
berputar tubuh. Wajah para paderi itu tampak memancar
kemarahan.
"Sekarang silahkan menyerbu!" seru paderi Thian Gi sambil
memberi isyarat kepada anakbuahnya supaya bersiap-siap.
Tampak kakek Lo Kun, Kerbau Putih dan Blo'on kasak
kusuk. Sejenak Kemudian mereka lalu berpencar diri. Blo'on
tetap berada di muka barisan, kakek Lo Kun disamping kanan
dan kakek Kerbau Putih disamping kiri barisan.
"Serbu!" teriak kakek Kerbau Putih yang rupanya
mengangkat diri menjadi pemimpin rombongannya.
Sambil berkata ia terus maju. Demikian pula Blo'on yang
bergerak dengan ilmu pukulan Hang liong-sip pat-ciang.
Barisan Lo-han-tinpun mulai bergerak-gerak.
"Tunggu !" tiba-tiba kakek Lo Kun berteriak.
Kakek Kerbau Putih dan Blo'on serempak berhenti.
Demikian pula dengan barisan Lo-han-tin
"Mengapa ?" teriak paderi Thian Gi.
"Aduh . . . perutku mulas. Aku ingin buang air besar . . ."
teriak kakek Lo Kun dengan wajah merah dan peringisan.
Betapapun kesabaran paderi Thian Gi namun karena
merasa dipermainkan oleh lombongan kakek gila itu, iapun tak
dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Tadi minta untuk
mengajar ilmusilat. Lalu minta tempo beristirahat dan makan.
Dan ini setelah berhadap-hadapan dan bahkan sudah mulai
bergerak, tiba-tiba pula kakek pendek itu berteriak mau berak.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dan apabila diluluskan, setelah berak mungkin masih minta
tempo untuk tidur. Dan setelah tidur, ah, entah minta tempo
untuk apa lagi . .
"Tidak !" tiba-tiba seorang paderi anakbuah barisn Lo-hantin
memekik keras. Rupanya paderi sudah meluap
kemarahannya sehingga ia tak mau menunggu keputusan
pemimpinnya, terus berteriak menolak permintaan kakek Lo
Kun.
"Setan gundul, kalian licik !" kakek Lo Kun berteriak
nyaring, "masakan orang mau berak di ajak berkelahi !"
"Kakek p;ndek," seru Thian Gi dengan nada bengis,
"barisan Lo-han-tin adalah barisan utama dari gereja Siau-limsi.
Tak sembarangan barisan keluar apabila tidak menghadapi
musuh yang tangguh. Bahwa kalian telah disambut dengan
barisan Lo-han-tin ini, sebenarnya sudah suatu kehormatan.
Tetapi ingatlah, barisan Lo-han-tin itu tak boleh dihina dan
dipermainkan seperti barisan anak kecil."
"Tetapi, kepala gundul, perutku mulas sekali”
"Itu urusanmu!" bentak Thian Gi yang hilang kesabarannya,
"sekali barisan Lo-han-tin sudah bergerak, hanya dua pilihan
yang harus kalian terima. Menyerah atau hancur ..."
Melihat itu Bo’on marah juga : "Kalian memang tak kenal
kasihan pada seorang kakek tua. Baik, kalau memang tak
boleh berak, sekarang aku akan melanjutkan penyerangan !"
Habis berkata Blo'on terus maju menyerang Entah
bagaimana, biasanya dia tak suka berkelahi. Tetapi saat itu
karena kasihan pada kakek Lo Kun yang peringisan menahan
perut mulas, Blo'on tak puas dengan sikap paderi Siau-lim si
itu. Dia terus bergerak dengan ilmu Hang-liong-sip-pat-ciang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kelompok depan dari barisan Lo-han-tin terkejut melihat
gaya gerakan tangan Blo'on yang aneh dan dahsyat.
Tamparannya menimbulkan sambaran angin keras.
Melibat Blo'on sudah bergerak, kakek Kerbau Putihpun ikut
menyerang juga. Kelompok yang disamping. terpaksa harus
melayani serangan kakek itu. Merekapun terkejut melihat
jurus-jurus permainan kakek Kerbau Putih. Karena kakek itu
bertubuh bungkuk, serangannya khusus ditujukan ke perut
dan kaki lawan.
Celaka adalah kakek Lo Kun. Karena barusan sudah
bergerak, iapun terus dilanda oleh kelompok yang berdiri
dihadapannya. Terpaksa sambil kedua tangannya mendekap
perut yang mulas, kakek itu terus berlincahan menggunakan
ilmu Memburu-angin-mengejar-bayangan. Gerakannya
memang tangkas dan gesit sekali. Tetapi barisan Lo-han-tin itu
juga hebat. Mereka bergerak maju mundur menyilang ke
kanan kiri dan melingkar-lingkar bagai mata rantai yang
tengah menjerat.
Kakek LoKun hanya bergerak menurut apa yang
dihadapinya, Karena kawanan paderi itu hendak
menerkamnya, ia menghindar kesamping. Kalau dipukul, ia
loncat kemuka, kalau diterkam ia menyusup ke bawah. Ia tak
menyadari bahwa saat itu, ia sudah semakin menyusup
kedalam barisan. kanan kiri, muka belakang, dia sudah
dikepung rapat oleh kelompok-kelompok barisan lawan.
Blo'on baru saja mempelajari ilmu pukulan Hang-liong-sippat-
ciang. Ia belum mengerti bagaimana Cara
menggunakannya. Dan memang ia tak mempunyai
pengalaman berkelahi dengan orang. Maka ia mainkan ilmu
pukulan itu dari jurus pertama lalu kedua, ketiga dan
seterusnya jurus-jurus berikutnya secara urut.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Bluk. duk, plak . . , terdengar berulang kalangan dan kaki
barisan Lo-han-tin itu menghunjam di dada, bahu, punggung,
pantat dan kaki Blo'on. Bahkan kepala Blo'on yang gundul,
menjadi sasaran tamparan tangan paderi-paderi itu. Anakbuah
barisan Lo-han-tin terdiri dari paderi yang berilmu silat tinggi.
Mereka cepat tahu arah gerakan tangan Blo'on. Bermula
mereka terkejut melihat hebatnya ilmu Hang-liong-sip-patciang
yang dimainkan Bloon. Tetapi merekapun heran
mengapa anak itu memainkan ilmu pukulannya seperti orang
yang sedang berlatih. Tak peduli musuh sudah menghindar ke
samping tetapi Blo'on tetap menjalankan gerak menurut jurus
yang sedang dimainkan itu. Apabila dia sedang menampar
kemuka, walaupun musuh sudah berada disamping. ia tetap
menampar kemuka sesuai dengan urutan gerakan dalam jurus
itu. Dan apabila menurut gerakan urut, dia harus berputar
kesamping dan menampar, walaupun musuh berada disebelah
muka. ia tetap berputar tubuh menghadap ke samping.
Cepat sekali keadaan yang ganjil dari si Blo’on itu diketahui
para paderi, Dengan begitu enak Saja mereka melayani anak
itu. Begitu anak itu menghadap ke muka. merekapun segera
menyingkir ke samping lalu menampar kepala, punggung dan
menyepak pantat Blo'on.
Demikian Blo'on menjadi bulan-bulan permainan anak buah
barisan Lo-han-tin. Tetapi dalam pada itu. diam-diam para
paderi itu merasa heran Berulang kali mereka telah
menghujani Blo'on dengan tabokan, pukulan dan tendangan
tetapi anak itu tetap tak rubuh. Bahkan meringis kesakitanpun
tidak. Dan lebih terkejut pula para paderi ketika mereka
merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali tangan dan kaki
mereka menghunjam ke tubuh Blo'on, tubuh anak itu seperti
memantulkan tenaga-dalam yang deras. Makin dipukul keras
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
makin keras pula tenaga-dalam yang memantul balik dari
tubuh anak itu.
Difihak kakek Kerbau Putih, pun barisan Lo han-tin tampak
kewalahan. Kakek bungkuk itu mempunyai gaya lain. Jika
kakek Lo Kun- hanya berlincahan dan berlari lari, jika Blo'on
hanya memainkan ilmu pukulan Hang-liong-sip-pat-ciang
seperti sedang berlatih, kakek Kerbau Putih ini benar-benar
melancarkan serangan Hang-liong-sip-pat-ciang dengan
teratur dan sesuai.
Hang-liong-sip-pat-ciang atau Delapan-belas-tamparannaga
memang sebuah ilmupukulan yang hebat dan sudah
jarang terdapat dalam dunia persilatan dewasa itu. Setiap
tamparan kakek Kerbau Putih menimbulkan deru angin dan
tenaga yang hebat sehingga berulang kali mata-rantai barisan
lo-Han-tin tersiak pecah. Tetapi Lo-han-tin memang tak
bernama kosong. Gerakannya cepat, mata rantainya rapat.
Seratus kali pecah, seratus kali pula segera tertutup rapat lagi.
Sebenarnya apabila hanya menghadapi serbuan dan ketiga
orang itu, apalagi orang-orang yang limbung barisan Lo-hantin
lebih dari cukup untuk menahan. Tetapi ada suatu
gangguan yang menjengkelkan paderi-paderi itu. ialah
serangan dari ketiga binatang peliharaan Blo'on. Burung
rajawali menyerang dari udara, turun naik menyambar dan
mematuk kepala dan muka para paderi. Apabila di pukul
burung itu dengan tangkas segera melambung ke udara. Dan
bila sipaderi sedang sibuk menghadapi serangan dari muka,
burung itupun terus menukik kebawah dan menyerang lagi.
Paderi itu jengkel bukan kepalang.
Kejengkelan mereka ditambah pula dengan gangguan dari
anjing kuning yang sembari berlari lari memutari barisan, tak
henti-hentinya menyalak dan menggeram. La!u menerkam
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kaki dan menyambar perut paderi. Sudah tentu anakbuah
barisan Lo han-tin sibuk sekali.
Dan yang paling menjengkelkan adalah si monyet hitam.
Monyet itu dengan tangkas sekali telah menyusup dari bawah,
menyelundup di antara sela-sela kaki paderi, menggigit
selakangan sehingga karena terkejut dan kesakitan ada
beberapa paderi yang menjerit dan melonjak-lonjak Sehingga
menghambat perputaran gerak barisan.
Bahkan pada suatu saat terjadi hal yang lucu. Simonyet
yang nakal itu tiba-tiba loncat menubruk tengkuk seorang
paderi dan terus menggigit telinganya. Seorang paderi yang
berdiri dibelakangnya, karena hendak menolong kawannya itu
terus memukul simonyet tetapi monyet itu dengan gesit sudah
loncat turun sehingga yang terkena pukulan adalah paderi
yang telinganya tergigit itu.
"Aduh ..." paderi itu menjerit kesakitan karena kepalanya
terpukul kawannya sendiri.
Demikian barisan Lo-han-tin yang termasyur dan sukar
dibobolkan oleh tokoh-tokoh sakti, hari itu terpaksa harus
menderita kekacauan karena diserbu oleh mahluk-mahluk
yang aneh.
Tengah pertempuran berlangsung seru, tiba-tiba terjadi
suara hiruk pikuk yang gempar. Anakbuah barisan Lo-han-tin
berteriak-teriak sambil mendekap hidung. Ada beberapa
bahkan yang menguak dan muntah-muntah.
Apakah yang terjadi ?
Ternyata kakek Lo Kun sudah tak kuat lagi menahan 'lahar’
yang meledak dari dalam perutnya Sambil berlari-lari
menyusup kedalam barisan, isi perutnya nerocos keluar seperti
air bah. Baunya, jangan dikata lagi . . .
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dia sendiri juga bingung karena celananya penuh dengan
kotoran busuk. Maka dia makin gugup dan makin kalap untuk
menerobos keluar. Dia tak peduli lagi, kepala, tubuh dan
punggungnya di pukul kawanan paderi. Pokok, ia harus lekaslekas
dapat menyelesaikan perutnya yang mulas itu dan
selekasnya mencuci celananya. Tetapi barisan Lo-han tin yang
ketat dan terdiri dari 108 paderi itu, memang sukar diterobos.
Dengan demikian bau kotorannya yang luar biasa busuknya itu
tak dapat berhembus keluar. Suatu hal yang benar-benar
membuat kawanan paderi itu kelabakan setengah mati.
Karena marah tak diberi jalan, kakek Lo Kun jadi semakin
kakap. Ia tahu bahwa
karena takut membau
kotorannya, kawanan
paderi itu dekap hidung
dan muntah-muntah.
Cepat ia merogoh
pantatnya, segenggam
kotoran yang luar biasa
bauknya segera ditaburkan
kepada kawanan paderi.
Diulangnya lagi sampai
beberapa kali. Pikirnya ia
mempunyai, kesempatan
untuk membuang kotoran
dan membersihkan
pantatnya.
Barisan Lo han-tin memang termashyur dan jadi
kebanggaan Siau lim-si. Barisan itu laksana benteng baja yang
kokoh sekali. Diserang dengan pukulan tenaga dalam. Diserbu
dengan senjata tajam dan dihujani dengan senjata rahasia
yang berbisa maupun yang dilumuri racun, tetap tak mampu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
membobolkan. Kemasyhuran barisan Lo han-tin sudah dikenal
oleh setiap orang persilatan
Tetapi tak terduga duga, barisan yang kebal dengan senjata
tajam itu, akhirnya bobol juga dengan serangan hujan kotoran
si kakek Lo Kun. Dan memang kotoran kakek itu, luar biasa
busuknya
"Aduh mak, baunya . . !" Blo'on sendiripun menjerit seraya
hendak muntah. Buru-Buru ia mendekap hidungnya.
"Kurang ajar. setan pendek itu," kakek Kerbau Putihpun
memaki-maki dan mendekap hidung. Barisan Lo-han-tin
macet, kawanan paderi muntah dan mendekap hidung.
Mereka yang terkena lemparan kotoran kakek Lo Kun lebih
kelabakan Ada yang sibuk mengusap usap muka. pakaian dan
gundul. Tetapi celaka ! Makin diusap makin menambah dan
makin keras baunya. Bau busuk itu seolah olah melekat tak
mau hilang. Karena tak tahan lagi, barisan Lo-han-tin itu
bubar. Para paderi berlari-lari masuk kebelakang untuk mandi
dan ganti pakaian.
Kakek Lo Kun masih tetap bingung. Celananya berlumuran
kotoran. Dia sendiri tak tahanakan baunya. Tetapi mau
mendekap hidung, tangannya sudah terlanjur berlumuran
kotoran. Akhirnya ia menjerit dan terus lari mengikuti paderipaderi
itu.
Tiba-Tiba ia terkejut melihat seorang paderi tua tegak
berdiri dengan mencekal sebatang tongkat. Dibelakangnya
terdapat dua orang paderi kecil
"Hai, siapa engkau !" kakek Lo Kun hentikan langkah dan
menegur.
"Sute dari kepala gereja Siau-lim-si !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Oh . . ," kakek Lo Kun menyurut mundur.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 9
Iblis kembar
Sejenak kakek Lo Kira lupa akan dirinya yang berlumuran
kotoran. Ia memandang paderi tua itu lekat-lekat.
"Uh . . uh . . “ tiba-tiba terdengar paderi kacung yang
mengiring dibelakang paderi itu menguak tertahan terus
mendekap mulut dan hidungnya.
Paderi tua itu juga menyeringai. Ia cepat hentikan
pernapasannya untuk menolak hawa busuk yang luar biasa
dari kotoran Lo Kun.
"Siapa namamu " tanya kakek Lo Kun.
"Hui In," sahut paderi tua itu.
"Mana kepala gereja ini ?" kata kakek Lo Kun pula.
Karena harus menjawab, terpaksa paderi itu membuka
pernapasannya lagi. Sebagai gantinya ia mendekap
hidungnya.
"Hui Gong suheng, kepala gereja Siau-lim-si sedang pergi,"
sahutnya.
"O, celaka," seru kakek Lo Kun, "lalu dengan siapa aku
harus bertanya ?"'
"Bertanya apa ?"
"Penting, tetapi hanya kepada kepala gereja ini. Lain orang
tak boleh tahu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Adakah yang mengacau diruang sembahyang tadi juga
lotiang ?" tanya Hui In taysu.
"Benar, karena kepala gundul yang disitu berani merintangi
aku."
"Dan yang membubarkan barisan Pat-Kwa-tin dari ke
delapan paderi kecil itu juga rombongan lotiang ?"
"Ya, anak-anak gundul itu tak tahu adat. paksa kami
hajar."
"Yang membuyarkan barisan Lo-han-tin juga rombongan
lotiang ?" tanya Hui In taysu pula.
"Siapa lagi !"'
Diam-Diam Hui ln taysu terkejut. Pat-kwa-tin dan Lo-han-tin
merupakan barisan penjaga Siau-lim-si yang paling dapat
diandalkan. Bahwa kedua barisan itu telah bobol, jelas
menandakan kalau rombongan tetamu itu tentu sakti. Tetapi
kala ia memperhatikan keadaan kakek pendek yang berdiri di
hadapannya, Hui ln agak heran-heran sangsi. Masakan kakek
aneh yang tampak ketolol-tololan itu memiliki kepandaian
yang sedemikian saktinya.
Hui In taysu mempunyai rencana hendak menguji kesaktian
tetamu pendek itu. Tetapi ia tak tahan menderita bau busuk
dari tubuh kakek Lo Kun.
"Mengapa baumu begitu busuk ?" akhirnya Hui Ih berseru.
"O, benar," serta mendengar teguran itu teringatlah kakek
Lo Kun akan keadaan dirinya yang berlumuran kotoran itu,
"hayo, tunjukkanlah dimana kamar mandi gereja ini !"
"Untuk apa ?” tanya Hui In heran.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tadi perutku mulas dan aku hendak buang hajat tetapi
barisan kepala gundul itu menghalangi malah terus
menyerang. Lama-Lama aku tak tahan perutku terus meletus,
celanaku berlumuran kotoran begini. Hm, memang kalian
kepala gundul ini kejam dan tak tahu adat Masakan orang
kebelet buang hajat malah diajak berkelahi !"
Hui In taysu cepat dapat mengetahui bahwa kakek yang
berhadapan dengan dia saat itu, seorang kakek limbung.
Kakek yang tak waras pikirannya. Melihat gerak gerik dan
ucapan si kakek, Hui In diam-diam geli juga.
"Hayo. lekas tunjukkan, aduh. . perutku mulai mulas lagi !"
kakek Lo Kun menjerit jerit seraya mendekap perut.
Hui ln taysu geleng-geleng kepala dan segera menyuruh
kedua paderi kecil mengantarkan kakek itu kebelakang.
Tepat kakek Lo Kun pergi maka datanglah kakek Kerbau
Putih dan Blo'on, diiring oleh burung rajawali, anjing dan
monyet hitam. Hui In taysu terkesiap.
"Adakah lotiang dan sicu ini rombongan lotiang yang tadi ?"
tegur Hui In taysu.
"Ya, dan engkau ini siapa ?" kakek Kerbau Putih balas
bertanya.
Hui In taysu segera memberitahukan diri
"Apa kata kakek pendek tadi kepadamu" tanya kakek
Kerbau Putih pula.
"Dia mengatakan hendak menjumpai ketua gereja. Tetapi
ketua gereja kami sedang pergi. Yang ada hanyalah wakilnya."
"Kalau begitu antarkan kami kepadanya,”seru kakek Kerbau
Putih
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Walaupun nada dan sikap kakek bungkuk itu kasar, tetapi
karena tahu kalau dia itu seorang kakek limbung maka Hui In
pun menahan sabar Ia terus hendak melangkah.
"Tunggu !” tiba-tiba Blo'on berteriak, "mana kakek pendek
yang tadi ?"
"Perutnya sakit, dia buang hajat kebelakang," terpaksa Hui
In taysu memberi keterangan.
Demikian rombongan Bloon segera dibawa keruang Tat-mo
wan, sebuah paseban tempat bermusyawarah dari Siau-lim si.
Ternyata saat itu di ruang Tat-mo-wan sedang dilangsungkan
permusyawaraban besar dari para pimpinan gereja.
Empat paderi tertinggi dari paderi Siau-lim-si yang memakai
gelar Hui, Goan, Peh dan Thian, lengkap berkumpul di ruang
Tat-mo-wan untuk bermusyawarah.
Siau-lim-si menerima sepucuk surat yang ditanda-tangani
oleh seorang yang menyebut dirinya Kim Thian-cong. Meminta
Supaya Siau-lim-si meleburkan diri kedalam partai baru Senglian-
kau atau Teratai Suci. Sebuah partai perkumpulan agama
yang memuja agama Hud-kau atau Buddha aliran Mahayana.
Kepala gereja Siau-lim-si hanya diberi dua pilihan. Menolak
dan akan dihancurkan atau menurut dan selamat.
Ada dua hal yang mengejutkan para paderi pimpinan Siaulim-
si itu. Pertama, penulis surat itu menyebut dirinya Kim
Thian-cong. Pada hal jelas Kim Thian-cong sudah meninggal.
"Hal ini jelas tentu palsu, "Hui Liang taysu, wakil kepala
gereja Siau-lim-si yang memimpin rapat itu memberi
kesimpulan.
"Memang kalau dilihat sepintas, orang itu tentu
menggunakan nama Kim Thian-cong yang sudah mati itu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
untuk menggertak kita," kata Hui lo taysu, "tetapi hilangnya
jenazah Kim tayhiap Itu memang aneh dan mencurigaKan."
"Sute maksudkan kalau Kim tayhiap belum tentu meninggal
sungguh-sungguh ?" tanya Hui liang taysu.
"Ada suatu kecenderungan untuk menduga begitu karena
maklum mungkin dalam sejarah kehidupan Kim tayhiap yang
lalu, penuh dengan peristiwa berdarah. UntuK menyingkirkan
diri dari ancaman-ancaman musuh yang setiap saat akan
datang menuntut balas, dia lalu menggunakan siasat
meninggal dunia. Kemudian dia menghilang dan timbul lagi
sebagai Kim Thian-cong baru, mendirikan partai Seng-liankau."
"Kemungkinan itu memang dapat terjadi," sambut Hui Liang
taysu. "dunia persilatan memang penuh dengan peristiwaperistiwa
yang aneh dan tokoh-tokoh persilatan itu memang
amat licin."
"Tetapi suheng." tiba-tiba Hui Sin taysu, sute ke empat dari
tingkat Hui, menyanggah, "kurasa hal itu tidak mungkin.
Pertama, kalau memang Kim tayhiap mempunyai rencana
demikian, dia tentu akan berganti nama dan takkan memakai
nama Kim Thian cong lagi. Kedua, menurut keterangan Hui
Gong ciang bunjin yang lalu, penyimpanan jenazah Kim
tayhiap disebuah ruang rahasia itu, adalah atas perundingan
dari beberapa ketua partai persilatan. Tentulah sebelumnya,
Kim tayhiap tak pernah menduga bahwa hal itu akan terjadi.
Ketiga, andaikata jenazah Kim tayhiap tetap ditempatkan
dalam peti jenazah dan ditaruh di ruang sembahyang, apakah
dia dapat hidup kembali ?"
Sanggahan dari Hui Sin taysu itu membuat sekalian paderi
yang hampir terpengaruh oleh kata-kata Hui Ko taysu,
tersadar dan membenarkan sanggahan itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ah, janganlah kita lupa akan sifat-sifat orang persilatan
yang licin dan penuh siasat," kata Hui Ko taysu, "bisa saja
misalnya, Kim tayhiap mencari seseorang untuk menjadi
mayatnya. Kalau mayat itu tetap ditaruh dalam peti dan
ditempatkan didepan ruang sembahyang, Kim tayhiap tetap
akan dapat muncul lagi. Dan bila terjadi mayat itu disimpan
dalam kamar rahasia, bisa saja Kim tayhiap yang
mengambilnya untuk menghilangkan jejak."
"Ah, sute terlalu memikir jauh," kata Hui Liang taysu,
"tetapi menurut hematku, Kim Thian-cong yang sekarang ini
tentu palsu. Tentu seorang tokoh lain yang hendak
menggunakan ketenaran dan kewibawaan Kim tayhiap untuk
menguasai partai-partai persilatan."
'Tetapi suheng," masih Hui Ko taysu menyanggah, "kalau
dia memang mempunyai rencana mendirikan partai persilatan
baru, mengapa dia harus menggunakan nama Kim tayhiap?
Bukankah tanpa nama itu dia dapat juga mendirikannya? Dan
bukankah dengan menggunakan nama Kim tayhiap itu, mudah
menimbulkan kecurigaan kaum persilatan karena semua kaum
persilatan sudah mengetahui jelas bahwa Kim tayhiap telah
meninggal setengah tahun yang lalu ?"
Hui Liang taysu tertawa : "Hal itu memang membingungkan
seperti halnya dengan hilangnya jenazah Kim tayhiap !"
"Suheng," kata Hui Sin taysu. "adakah lain-lain partai
persilatan juga menerima surat semacam itu?”
Hui Liang taysu menjawab: "Sepanjang yang kita ketahui,
baru sebuah partai yang diobrak-abrik. Entah dengan lain-lain
partai persilatan. Memang sebaiknya kita mengadakan
hubungan dengan mereka agar dapat kita atur suatu langkah
yang seragam menghadapi musuh itu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dalam pada bicara itu masuklah Hui In taysu memberi
laporan tentang rombongan Blo'on yang hendak menghadap
kepala gereja Siau-lim-si.
"Siapakah mereka?" tanya Hui Liang taysu.
"Entah." sahut Hui In, "mereka terdiri dari seorang
anakmuda dan dua orang kakek."
"Apakah sute tak menanyakan nama mereka dan keperluan
mereka datang kemari ?"
"Sudah," sahut Hui In taysu, "tetapi tampaknya ketiga
orang itu orang-orang yang limbung, Mereka tak mau
menjawab pertanyaanku kecuali setelah nanti bertemu dengan
suheng. Tadi di ruang sembahyang mereka telah berkelahi
dengan Ti-kek ceng karena melarang mereka masuk. Setelah
mengalahkan Ti-kek-ceng, merekapun dikepung barisan tothong
Pat-kwa-tin, tetapi mereka menang. Terakhir mereka
dihadang barisan Lo-han-tin ternyata Lo-han-tin kewalahan
dan bubar."
"Apa?" Hui Liang taysu berseru kaget. Demikian pula
dengan para paderi tingkat tinggi yang hadir dalam ruangan
itu.
"O. kalau begitu harap sute membawa aku kepada mereka,"
kata Hui Liang taysu. Setelah menunda permusyawarahan, Hui
Liang taysu segera mengikuti Hui In taysu keluar ke paseban.
"Omitohud," seru Hui Liang taysu seraya rangkapkan kedua
tangan memberi hormat, "mari silahkan iotiang dan sicu
masuk."
Mereka duduk di paseban. Setelah itu maka Hui Liang taysu
lalu membuka psmbicaraan. Pertama-tama ia menanyakan
nama dari kedua tetamunya itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Namaku ?" kata kakek Kerbau Putih, "cukup panggil saja
Kerbau Putih."
Wakil kepala gereja Siau-lim-si terkesiap, serunya : "Ah,
harap lotiang jangan bergurau. Aku menanyakan siapa nama
dan gelaran lotiang yang mulai."
"Ya, benar." kata kakek Kerbau Putih dengan nada
bersungguh, "memang orang-orang menyebut aku kakek
Kerbau Putih. Dan aku senang juga dengan nama itu."
"Tetapi bukankah lotiang mempunyai nama sendiri ?" Hui
Liang mengulang.
"Mungkin ada, tetapi sudah lama tak kupakai, Eh, apakah
engkau keberatan kalau aku memakai nama itu ?”
Karena sebelumnya sudah diberitahu oleh Hui In taysu
bahwa rombongan tetamu itu memang aneh dan agak kurang
waras pikirannya, maka Hui Liang taysupun tak mau meladeni.
Ia tertawa: O, maaf, lotiang, silahkan lotiang memakai nama
itu."
Setelah itu wakil ketua Siau-lim si beralih tanya kepada
Blo’on.
"Akupun juga mengalami kesulitan seperti kakek Kerbau
Putih ini. Aku sendiri juga tak ingat siapakah namaku dulu.
Menurut Somali, aku ini putera raja. Tetapi aku lupa bertanya
kepadanya siapakah namaku sebagai putera raja itu. Tetapi
sebelum bertemu dengan Somali, seorang gadis cantik dari
Hoa-san-pay telah memberi nama Blo'on kepadaku. Aku suka
juga dan terus memakai nama itu." dengan panjang lebar
Blo’on menjawab pertanyaan.
Hui Liang taysu melongo. Ia tak mengerti apa yang
dikatakan anakmuda itu. Siapakah Somali, siapakah gadis dari
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hoa-san-pay. Dan yang paling mengherankan mengapa
anakmuda itu juga tidak waras pikirannya. Masakan namanya
sendiri, tak tahu !
"Jadi nama sicu siapa ?" ia mengulang.
"Blo’on !"
"Ah, itu bukan nama. Itu hanya sebuah gelar yang diberikan
orang kepala sicu."
"Lho. biar gelar sekalipun tetapi bagus sekali. Coba engkau
pikir dan cari. Apakah di dunia ini terdapat orang yang
bernama Blo'on. Mungkin hanya aku satu-satunya orang yang
memakai itu. Aku tidak malu tetapi malah merasa bangga.”
Hui Liang taysu menghela napas "Ah, terserah kepada sicu
soal nama itu. Lalu apakah maksud tujuan sicu hendak
bertemu dengan ketua gereja ini ?"
"Apakah engkau berhak menjawab ?"
"Ya, aku adalah wakil kepala gereja Siau lim si ini. Karena
hong-tiang tak ada, maka segala urusan Siau-lim-si, akulah
yang bertanggung jawab."
"Hm, baiklah," kata Blo'on kemudian meminta kepada kakek
Kerbau Putih supaya kakek itu saja yang mengatakan.
"Sederhana sekali pertanyaan itu," kata kakek Kerbau Putih,
"apakah engkau tahu tentang partai agama Pek-lian-kau ?"
"Pek-lian-kau ?" Hui Liang taysu terkesiap, "bukankah partai
itu sudah lama bubar ketika diserang oleh partai-partai
persilatan dahulu ?"
"Entah, aku tak tahu," kakek Kerbau Putih berkata, "apakah
partai Pek-lian-kau itu sekarang masih ada ?"
"Sudah bubar"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Di mana markasnya dahulu ?"
"Di lembah gunung Hong-san."
'"Siapakah pcinimpin Pek-lian-kau itu ?"
"Dahulu pemimpinnya bernama The Seng-kim Tetapi dalam
pertempuran dengan beberapa partai persilatan, dia sudah
terbunuh."
"Hm, kalau begiiu partai Pek-lian-kau itu sudah lenyap."
"Benar," sahut Hui Liang taysu.
"Tetapi mengapa Ko lo lojin (tengkorak tua) suruh aku
menyelidiki partai Pek-lian-kau ?" tiba-tiba Blo on menyelutuk.
"Siapakah Ko Lo lojin itu ?" tanya Hui Liang heran.
"Sesosok tengkorak yang meninggal dalam sebuah guha
didalam perut gunung. Dan aku sudah terlanjur berjanji untuk
melakukan pesannya. Lalu bagaimana ini ?" kata Blo'on.
Hui Liang taysu tertawa : 'Sudah tentu sicu bebas dari
pesan itu. Karena partai agama itu sudah bubar."
"Tidak !" teriak Blo'on, "kalau begitu aku tentu dianggap
ingkar janji. Biar bagaimana aku! harus mencari partai Peklian-
kau itu !'"
"Wah, sukar," kata Hui Liang taysu.
"Apa ? Sukar? Ha, ha." tiba-tiba kakek Kerbau Putih
menyelutuk tertawa, "siapa bilang sukar ? Di dunia tidak ada
hal yang sukar kecuali orang mati yang mengatakan begitu."
"Benar," seru Blo'on, "kita bukan orang mati dan memang
tak mau mati. Kalau memang pernah ada perkumpulan yang
bernama Pek-lian-kau, kita tentu dapat mencarinya !"
Hui Liang taysu melongo lalu menghela napas:
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Omitohud ! Semoga maksud sicu terkabul ..."
Baru wakil kepala gereja Siau-lim-si itu berkata sampai
disitu. tiba-tiba seorang paderi muda masuk kedalarn paseban
dengan tergopoh-gopoh.
"Hatur beritahu kepada taysu, bahwa di ruang tetamu,
datang seorang tetamu yang hendak menghadap hong-tiang."
serunya agak terengah.
Heran Hong Liang taysu melihat sikap dan bicara paderi
muda yang diketahui sebagai penjaga ruang tetamu,
tegurnya: "Mengapa engkau tampak begitu gugup ?"
"Tetamu itu amat bengis. Tecu (murid) telah dipukulnya."
kata paderi muda.
Hui Liang taysu terkejut tetapi sebagai seorang paderi yang
berilmu tinggi, dia memang amat sabar dan dapat
mengendalikan perasaan.
'"O, mengapa dia memukulmu ?" tegurnya.
"Tecu memberi keterangan bahwa hongtiang ciangbunjin
dari gereja ini, tak berada dalam gereja karena sedang
bepergian. Tetapi dia tak percaya dan terus memukul."
"Beng Hwat, apakah engkau tak mampu menghindar dari
pukulannya sehingga mukamu sampai semerah itu?" tegur Hui
Liang taysu. Dia cepat dapat mengetahui bahwa sebelah pipi
paderi muda itu bengap merah.
Makin merah wajah paderi muda itu: "Tecu tak menyangka
bahwa dia sebengis itu. Tetapi menang dia dapat bergerak
cepat sekali. Setelah menampar dia terus mencekik tecu,
memaksa tecu lekas mengundang hongtian keluar." '
"Engkau tak dapat melepaskan diri dari cekikannya ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Maaf, taysu, tecu benar-benar tak berdaya dan merasa
tenaga tecu telah hilang ketika tangan orang itu mencekik
leher tecu ..."
"Lalu ?"
"Tecu tetap berkeras mengatakan bahwa hongtiang
memang tak ada. Kalau mau bunuh, silahkan bunuh. Rupanya
orang itu percaya setelah melihat kesungguhan tecu. Lalu dia
suruh tecu mengundang wakil hongtiang yang bertanggung
jawab atas gereja ini"
"Bagaimanakah perawakan tetamu itu ?" tanya Hui Liang
taysu pula.
"Seorang lelaki setengah tua, lebih kurang berumur 50-an
tahun. Wajah bersih dan semasa mudanya tentu amat cakap.
Menilik orangnya, tecu tak menyangka kalau dia begitu
ganas."
"Adakah engkau tak menanyakan apa keperluannya
mencari hongtiang ?"
"Sudah," sahut Beng Hwat, "tetapi dia malah membentak
tecu supaya jangan banyak mulut dan lekas mengundang
taysu keluar."
"Omitohud," Hui Liang taysu berseru, "sejak toa-suheng
hongtiang pergi, gereja selalu mengalami beberapa peristiwa
yang aneh. Baik, aku Segera akan menjumpahinya."
Tiba-tiba wakil kepala gereja itu berpaling kepada kakek
Kerbau Putih: "Adakah tetamu itu rombongan lo-tiang ?"
"Bukan" sahut kakek Kerbau Putih, "aku tak mempunyai
kawan yang semacam itu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Taysu, silahkan taysu menyambut tetamu itu," tiba-tiba
Blo'on berkata. Kini ia dapat menyebut "taysu", karena
menirukan panggilan yang digunakan paderi Beng Hwat tadi.
"Lalu bagaimana sieu dan lotiang ?"
"Aku juga akan ikut keluar untuk melihat siapa tetamu itu,"
seru kakek Kerbau Putih.
"Benar, aku juga tak puas dengan tetamu yang begitu
kasar," kata Blo'on "tetamu harus sopan, mengapa dia berani
memukul tuan rumah."
Diam-Diam Hui Liang geli dan mengkal terhadap anakmuda
itu. Bukankah tadi rombongan anakmuda itu juga membuat
gaduh dengan para murid-murid gereja ? Mengapa sekarang
dia pura-pura tak puas terhadap seorang tetamu yang begitu ?
Hui Liang taysu lebih dulu kembali keruang Tat-mo-wan
untuk memberi tahu kepada para sutenya yang masih
menunggu.
"Kalau begitu, aku ikut suheng." kata Hui ln taysu, sute
kelima dan Hui Liang taysu.
"Baiklah," kata Hui Liang taysu, "harap sute yang lain suka
tinggal di ruang ini dan bertukar pendapat mengenai soal-soal
yang kita hadapi tadi."
"Omitohud, maaf kalau aku membuat sicu menunggu agak
lama," kata Hui Liang taysu setelah berhadapan dengan
tetamu yang hendak mencari hongtiang Siau-lim-si.
"Tak apa," sahut orang itu dengan dingin, "adakah engkau
ini wakil kepala gereja ini ?"
"Demikianlah," sahut Hui Liang dengan penuh kesabaran
walaupun melihat sikap tetamu itu begitu angkuh, "siapakah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
nama sicu yang mulia dan dengan maksud apakah sicu
hendak menjumpahi hongtiang kami ?"
"Benarkah kepala gereja sedang pergi ?" bukan menjawab,
tetamu itu malah berbalik tanya.
"Benar," sahut Hui Liang taysu, "sudah setengah tahun
yang lalu Hui Gong suheng pergi mengurus suatu persoalan,"
"Baik, kalau begitu aku dapat menyerahkan urusan ini
kepadamu " kata tetamu itu sambil mengeluarkan sepucuk
sampul, "terimalah surat ini dan berikan kepada kepala
gereja."
"Surat apakah ini ?" tanya Hui Liang taysu.
"Undangan dari kaucu kami."
"Siapa ?"
"Kim Thian-cong kaucu dari Seng-lian-kau."
"O." Hui Liang taysu terkejut sehingga menyurut mundur
selangkah, "tetapi , . . bukankah Kim tayhiap sudah meninggal
dunia ?"
"Paderi Siau-lim-si." seru orang itu dengan nada
memberingas, 'jangan sembarang berkata siapa bilang kalau
Kim kaucu sudah meninggal”
"Tetapi setiap orang persilatan tahu hal itu karena kami
seluruh kaum nersilatan, datang menghadiri upacara
penguburan Kim tayhiap," kata Hui Liang taysu pula.
"Ah, engkau benar-benar paderi tolol, "ejek orang itu, "dan
memang orang-orang persilatan itu goblok semua. Yang mati
dan dikubur itu bukan Kim kaucu tetapi lain orang !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Omitohud!" seru Hui Liang taysu terkejut. diam-diam ia
teringat akan sanggahan sutenya, Hui Ko taysu tadi. Namun ia
masih meminta penegasan “Benarkah hal itu ?"
Tetamu itu tertawa dingin: "Perlu apa aku membohongi
engkau? Jika tak percaya, kelak dalam rapat besar di gunung
Hoa-san, kalian tentu dapat menyaksikan sendiri."
"Gunung Hoa-san ?" kembali wakil kepala Siau-lim-si itu
terbeliak kaget, "bukankah digunung itu terdapat perguruan
Hoa-san-pay ?"
"Hm," orang itu mendengus, "Hoa-san-pay sudah bubar
berantakan. Markas mereka sekarang dipakai oleh Seng-liankau."
"Oh, ..." Hui Liang taysu menghela napas seraya
rangkapkan kedua tangan ke dada Sebagai tanda ikut bersedih
atas peristiwa yang menimpa partai Hoa-san-pay itu. "jadi
Hoa-san-pay sudah hancur ?"
Orang itu tertawa iblis : "Sudah dihancurkan Yang
menentang dibunuh, yang menyerah dijadikan anakbuah dan
yang melarikan diri tetap akan dicari."
"Apa ? Hoa-san-pay sudah hancur ?" tiba-tiba Blo'on
berteriak, "lalu bagaimana dengan keempat kakek dari
perguruan itu ?”
"Engkau siapa !" bentak orang itu seraya memandang
bengis kepada Blo'on, "apakah engkau ini murid Hoa-sanpay."
Melihat sikap dan bicara orang itu, Blo'on memang tak
senang. Sekarang dia malah dibentak seperti anak kecil. Maka
marahlah Blo'on : "Aku murid Hoa-san-pay atau bukan, apa
pedulimu ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ho. budak liar, engkau berani kurang ajar kepadaku !"
tiba-tiba orang itu terus ayunkan tangannya memukul.
Buk . . . dia bergerak cepat tetapi kakek Kerbau Putih lebih
cepat lagi. Kakek itu menangkis pukulan orang itu dengan
daging benjol pada punggungnya. Pukulan jatuh ketempat
yang lunak macam gumpalan kapas sehingga tenaga pukulan
itupun lenyap.
Orang itu terkejut. Cepat ia menarik pulang tenaganya.
Uh . . ia berhasil tetapi tubuhnya gemetar karena hampir
saja ia terdorong kebelakang oleh gelombang tenaga-dalam
yang memantul dari daging benjul kakek bungkuk itu.
"Ho, jangan main pukul seperti raja. Kalau bicara pakai
mulut saja, jangan pakai tangan!' kakek Kerbau Putih deliki
mata kepada orang itu.
Rupanya orang itu berilmu tinggi. Ia segera menyadari
bahwa kakek bungkuk itu seorang kakek yang sakti. Namun ia
sudah terlanjur turun tangan dan disaksikan oleh wakil kepala
Siau-lim-si. Apabila dalam gebrak itu, ia kalah, tentulah akan
dipandang hina oleh paderi-paderi Siau-lim-si.
"Setan bungkuk, apa engkau sudah bosan hidup !"
teriaknya seraya mengangkat tangan hendak memukul.
"Omitohud !" seru Hui Liang taysu, "harap sicu jangan
berkelahi dulu. Mari kita selesaikan urusan kita."
"Hm, rupanya engkau telah mendatangkan beberapa
jagoan untuk memperkuat diri, bukan ?" seru orang itu
mengejek.
"Sicu salah faham," kata Hui Liang taysu dengan tetap
sabar, "mereka sama sekali bukan orang undangan gereja
Siau-lim-si. Mereka juga tetamu seperti sicu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Apakah isi surat undangan yang sicu bawa ini ?" tanya Hui
Liang taysu pula.
"Kim kaucu mengundang seluruh partai-partai persilatan
supaya menghadiri rapat besar dunia persilatan yang akan
dise!enggarakan nanti bulan delapan tanggal limabelas di
puncak Hoa-san." kata orang itu.
"Dergan tujuan ?"
"Supaya partai-partai persilatan itu meleburkan diri masuk
kadalam partai Seng-han-kau. Kini kaucu menganggap,
kekacauan dan kehebohan dalam dunia persilatan ini adalah
disebabkan karena terlalu banyak partai persilatan. Dan
karena itu, masing-masing partai hendak menonjolkan diri
untuk merebut kekuasaan dan pengaruh. Kalau bisa hendak
menjadi pemimpin dunia persilatan."
Orang itu berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi : "Maka
Kim kaucu memutuskan untuk mempersatukan semua partai
persilatan. Aliran ilmusilat mereka pun akan dilebur menjadi
satu aliran ilmusilat saja. Dengan demikian pastilah dunia
persilatan akan aman dan tenteram."
"Omitohud," seru Hui Liang taysu pula, "manusia memang
tak kunjung puas. Dan kepuasan itu memang tak kenal ujung
akhirnya. Hanya kesadaran dari sinar agama yang dapat
menyadarkan batin manusia."
"Seng-lian-kau juga akan menjadi wadah untuk
menampung pengembangan agama. Teratai Suci akan
merupakan aliran agama yang aseli dari Budha. Takkan
tercampur dengan aliran-aliran To-kau (faham Tao) dan lainlain
agama hitam," kata orang itu pula.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tetapi menurut fahamku. Kepercayaan itu harus tumbuh
dari kesadaran sendiri. Tidak bisa dipaksa. Agama sendiri
melarang untuk menggunakan kekerasan memaksa orang ..."
"Paderi tua," tukas orang itu, "aku kemari bukan hendak
mendengarkan khotbahmu tetapi hendak menyerahkan
undangan. Jika engkau membangkang datang, gereja Siaulim-
si yang sudah berdiri ratusan tahun ini pasti akan ludas
menjadi abu”
"Omitohud " Hui Liang taysu menekan kemarahannya
dengan menyebut doa keagamaan, "tetapi hongtiang sedang
pergi. entah apakah dia nanti sudah pulang pada waktunya
tanggal undangan itu.”
"Sekarang baru bulan enam, jadi masih kurang dua bulan
lagi," kata orang itu.
"Andaikata hongtiang tetap belum pulang ?” seru Hui Liang
taysu.
"Engkaulah yang harus mengambil keputusan " kata orang
itu dengan tegas.
"Tetapi aku tak mempunyai kekuasaan untuk memutuskan
soal sebesar itu."
"Itu urusanmu, paderi tua, kata orang itu, "pokoknya Kim
kaucu hanya tahu bahwa pihak Siau-lim-si hadir dalam rapat
besar itu."
"Apakah nama perkumpulan baru yang engkau dirikan itu ?”
tanya Blo'on menyelutuk pertanyaan.
"Tutup mulutmu !" bentak orang itu dengan bengis, "ini
bukan urusanmu, tak perlu engkau ikut campur."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on mendongkol tetapi dia tak dapat membantah. Adalah
kakek Kerbau Putih yang tak puas melihat sikap orang yang
begitu galak, serunya : "Kalau aku ikut campur, bagaimana ?"
Orang itu memandang kakek Kerbau Putih dengan tajam. Ia
tahu kakek bungkuk itu memang memiliki kepandaian tinggi,
la tak mau cari perkara dengan kakek itu tetapi karena kakek
itu bersikap menantang, terpaksa ia menjawab getas juga:
"Artinya mgkau sudah bosan hidup "
"Benar !" tiba-tiba kakek Kerbau Putihi, berteriak, "memang
aku merasa sudah terlalu lama hidup dalam dunia ini. Aku
sudah bosan, tetapi akui sendiri heran mengapa aku tak dapat
mati.Eh, apakah engkau dapat membunuhku ?"
"Kalau engkau memang menghendaki begitu, tentu saja
aku dapat," kata orang itu, "dan kalau engkau benar-benar
minta mati, engkau harus diam saja kalau kupukul."
"Dengan apa engkau hendak memukul ?"
Rupanya orang itu terbawa oleh kelimbungan kakek Kerbau
Putih, ia berseru : "Cukup dengan tinjuku ini sajalah, jiwamu
tentu sudah amblas."
"Bagus !" seru kakek Kerbau Putih itu terus berputar tubuh
membelakangi, "hayo, pukullah aku supaya mati."
Orang itu terkejut. Ia tahu bahwa daging benjul yang
menggunduk dipunggung kakek itu dapat memancarkan
tenaga-dalam yang hebat.
"Huh, kalau engkau memang benar-benar mau mati,
berikanlah dadamu. Sekali pukul saja engkau tentu sudah
mampus !" serunya.
"O, begitu," seru kakek Kerbau Putih, "baiklah !" Ia terus
berputar tubuh menghadap kepada orang itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ho, engkau memang seorang kakek yang jujur. Jangan
kuatir, engkau tentu cepat akan melayang ke akhirat !" seru
orang itu seraya kerahkan tenaga-dalam dan terus
mengangkat tinjunya, siap hendak dihunjamkan.
"Tunggu dulu !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru,
"engkau berjanji sekali pukul tentu dapat menghancurkan
jiwaku. Tetapi kalau tidak dapat, lalu bagaimana ?"
"Akan kususul yang kedua." kata orang itu.
"Kentut busuk !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih memaki,
"enak saja engkau omong. Bukankah aku harus menderita
kesakitan? Aku menghendaki mati secara cepat tanpa
menderita kesakitan. Maka engkau harus dapat sekali pukul,
membuat aku mati. Kalau dua kali, percuma. Andaikata dua
kali aku tak dapat mati. lalu engkau pukul lagi, entah sampai
beberapa kali. Dengan begitu bukankah aku seperti engkau
siksa ?"
Orang itu tertegun, ia menimang-nimang adakah sekali
pukul mampu membunuh kakek itu.
"Hm, kalau engkau menghendaki cepat mati, aku harus
menabasmu dengan golok !" katanya.
"Bangsat, mulutmu tak kena dipercaya. Tadi engkau bilang
dapat membunuh aku dengan sekali pukul saja. Sekarang
engkau hendak memakai golok. Artinya engkau memang tak
mampu memukul aku mati dengan sekali pukul," teriak kakek
Kerbau Putih.
Dimaki bangsat, orang itu merah mukanya. Ia adalah
utusan dari Seng-lian-kau, maka dimaki maki seenaknya
sendiri oleh seorang kakek bungkuk.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kalau engkau tak dapat, sekarang tukar tempat saja. Aku
yang akan memukul engkau. Sekali pukul engkau tentu
mampus !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berkata. Dan tanpa
menunggu jawaban orang itu ia terus maju menghantam
orang itu.
Orang itu terkejut dan cepat menghindar.
"Hai, pengecut, mengapa engkau menghindar Bukankah
engkau minta mati ?" teriak kakek Kerbau Putih.
"Kakek bangsat, siapa yang bilang aku minta mati ? Engkau
sendiri yang mengatakan sudah bosan hidup dan minta aku
supaya mencabut jiwa mu !"
"Ya, tetapi engkau sudah menyerah dan sekarang akulah
yang sanggup mengantar jiwamu dengan sekali pukul saja."
"Edan !" orang itu marah sekali terus hendak memukul.
"Berhenti !" tiba-tiba Blo'on membentak.
"Mau apa engkau !" bentak orang itu seraya deliki mata.
"Mau mencegah supaya engkau jangan mati dulu" jawab
Blo'on.
"Hm. mengapa ?"
"Karena engkau harus menjawab pertanyaan ku tadi
tentang perkumpulan Seng-lian-kau itu, " habis berkata Blo'on
lalu berpaling kearah kakek Kerbau Putih dan meminta supaya
kakek itu berhenti menyerang dulu.
"Seng-lian-kau berarti Teratai Suci. Satu-Satunya
perkumpulan agama Hud-kan yang paling sah dan benar.
"Apa bedanya dengan Pek-lian kan ?" tanya Blo'on pula.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Pek-lian-kau ?" ulang orang itu, Pek-lian-kau itu sebuah
perkumpulan rahasia ketika jaman terakhir dari kerajaan
Goan. Dipimpin oleh The Seng-kun. Tetapi perkumpulan itu
telah menyeleweng dari tujuannya dan telah dibasmi oleh
partai persilatan di Tionggoan."
"Kenalkah engkau pada orang yang bernama Bu Bun lojin
?" tanya Blo'on.
"Bu Bun? Siapa Bu Bun lojin, aku, tak kenal!”
"Lalu siapakah ketua Seng-lian-kau itu ?"
"Kim Thian-cong bergelar It-ci-kian-gun atau Jari tunggalpenakluk-
dunia."
"Omitohud," tiba-tiba Hui Liang taysu yang sejak tadi diam
menyaksikan mereka bertempur, saat itu kedengaran
membuka mulut, "aku masih menyangsikan apakah Kim
Thian-cong yang mengetuai Seng lian-kau itu sama dengan
Kim tayhiap yang meninggal dunia di puncak Giok-li-nia.
Andaikata memari benar begitu, lalu apa alasan Kim tayhiap
harus mendirikan perkumpulan Seng-lian-kau itu? Bukankah
oleh dunia persilatan Tiong-goan, Kim tayhiap sudah dianggap
sebagai pemimpinnya ?"
"Musim beralih, jaman beredar dan manusia pun berobah,"
sahut orang itu dengan suara lantang, "setelah menyepikan
diri digunung Giok-li nia sampai belasan tahun, Kim kaucu
mendapat ilham bahwa dia harus menyebarkan agama
Buddha aliran Mahayana. Disamping itu diapun harus
menenteramkan dunia persilatan Tiong-goan. Tidak ada lagi
partai persilatan ini. partai persilatan itu. Yang ada hanya satu
partai persilatan. Karena kenyataannya dengan banyaknya
partai-partai persilatan yang ada, dunia persilatan, tak pernah
mengenyam ketenangan dan ketentraman "
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mengapa Kim tayhiap tak pernah menyatakan pikirannya
itu kepada partai-partai persilatan? Bukankah sebagai
pemimpin dunia persilatan, partai-partai persilat nn tentu akan
mempertimbangkan hal itu ? Mengapa dia harus pura-pura
mati lalu hidup lagi dan setelah itu mendirikan perkumpulan
Seng-lian-kau?" tanya Hui Liang taysu pula.
"Pertanyaanmu sungguh terperinci sekali, paderi tua," seru
orang itu, "tetapi jawabannya hanya sederhana sekali Kim
Thian-cong yang lama sudah usang, sudah mati. Kim Thiancong
yang sekarang Kim Thian-cong baru. Tidak ada sangkut
pautnya dengan Kim Thian-cong yang sudah dikubur itu.
Pikiran baru, sepak terjangnyapun baru. Seorang manusia
baru yang hendak mendirikan dunia persilatan yang baru !"
"Apakah ketuamu itu mengerti ilmu tenaga-lam Bu-kek-sinkang?"
tiba-tiba Blo'on menyelonong bertanya.
Orang itu terkesiap. Diam-Diam ia merasa memang belum
mengetahui jelas bagaimana kesaktian Kim Thian-cong yang
sesungguhnya.
"Mungkin tidak, karena Bu-kek-sin-kang itu masih kalah
hebat dengan It-ci-sin-kang."
"It-ci-sin-kang ? Apa itu ?" tanya Blo'on.
"Jari-tunggal-sakti !" jawab orang itu, "dengan sebuah jari,
Kim kaucu pernah menundukkan dunia persilatan'"
"Ho, jangan-jangan It-ci-sin-kang itu memang Bu-kek sinkang
tetapi diganti namanya," kata Blo'on seorang diri.
"Dimana markas Seng-lian-kau itu ?' tanyanya pula.
"Ho, budak liar, seenakmu sendiri saja engkau bertanya.
Sudah kukatakan ini bukan urusanmu mengapa engkau masih
usil mulut sajal" bentak orang itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tetapi aku harus bertemu dengan ketuamu. Akan katanya
apakah dia mengerti ilmu Bu-kek-sin-kang atau tidak." kata
Blo'on.
"Belum mengerti ?'
"Kalau mengerti, jelas dia itu tentu Bu Bun lojin. Dia harus
menyambangi makam suhunya setelah itu harus melakukan
pesan suhunya supaya menyepikan diri dalam guha, tak boleh
ikut campur urusan dunia lagi "
"Kalau tidak mengerti ?" tanya orang itu
"Ya, sudah. Dia bebas mau apa saja."
"Wah, wah," orang itu mendesak, "sikapmu seperti seorang
malaekat saja. Berani bertanya kepada Kim kaucu dan
menyuruhnya bertapa. Kulihat gerak gerik dan bicaramu itu
seperti tak waras. Apakah engkau ini orang gila ?”
"Belum !”
Orang itu masih menahan kemengkalan hat| nya, tanyanya
pula : "Siapa namamu ?”
"Blo'on, putera raja.”
Ha ha, ha. ha ... " karena tak dapat menahan gelinya,
orang itupun tertawa gelak-gelak . Bermula ia memang marah
kepada anakmuda yang lancang mulut itu. Tetapi setelah
beberapa lama memperhatikan, tahulah kalau anakmuda dan
kakek bungkuk itu orang-orang yang tak waras pikirannya.
"Orang gila!" teriak Blo'on, "mengapa tak hujan tak angin
engkau tertawa begitu geli ?"
"Aku tertawa karena melihat kalian. Ternyata dunia ini
memang lengkap isinya. Orang-Orang yang gila dan limbung
seperti engkau dengan kakek bungkuk itu, ternyata juga ada."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kurasa lebih baik dunia terisi dengan orang gila dan
limbung seperti aku, daripada manusia-manusia jahat seperti
engkau " balas Blo'on.
"Benar, pangeran Blo'on, kita harus menghadap raja dan
lekas minta pasukan yang kuat untuk membasmi gerombolan
Seng-lian-kau itu ."
"Apa katamu ? Pangeran Blo'on ? Dia itu Pangeran ? Lalu
anak raja siapa ?" orang itu terbeleliak heran.
"Dengarkan, menurut Somali, anak ini adalah putera raja
Ing Lok !" kata kakek Kerbau Putih
"O . . "
"Jangan o saja, lekas berlutut memberi hormat dan minta
ampun kepada sang pangeran !” Bentak kakek Kerbau Putih.
"Kakek gila !" orang itu balas membentak "jangan gilagilaan
engkau ! Siapa sudi Percaya anak blo'on itu putera
baginda Ing Lok ! Kalau engkau katakan dia anak setan, baru
aku mau percaya "
“Ho, engkau berani membantah keterangan Somali ?" seru
kakek Kerbau Putih.
Orang itu melongo : "Somali ? Siapakah Somali yang
berulang kali engkau katakan itu ? Dia manusia atau setan ?"
“Bangsat, engkau berani mengatakan Somali itu setan. Dia
manusia, tetapi bukan manusia jahat seperti engkau,
melainkan seorang manusia bertubuh tinggi besar seperti
raksasa. Asalnya dari tanah Persia kemudian menjadi
pengawal baginda Ing Lok !"
"Ha, ha, ha, ha . . , " tiba-tiba orang itu terbahak-bahak
pula, "konyol, konyol benar. Dunia ini hendak engkau buat
sekonyol dirimu, kakek bungkuk Baru sekali ini sepanjang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
hidupku, bertemu dengan manusia-manusia blo'on dan konyol
seperti engkau berdua. Ada putera raja, ada pengawal raja
ada apalagi nanti ..."
Hui Liang taysu juga geleng-geleng kepala dan mengelus
dada. Ia hendak membuka mulut untuk menghentikan
pembicaraan mereka. Karena ia merasa orang itu
mencurahkan perhatiannya pada kakek Kerbau Putih dan
Blo'on. Ia sebagai wakil kepala gereja, seolah olah disuruh
menjadi penonton saja.
Tetapi baru ia hendak mengucap, sudah didahului Blo'on :
"Bung. siapakah namamu ?"
Orang itu deliki mata dan menjawab bengis : "Perlu apa
engkau tanyakan nama segala"
"Bung ini punya nama atau tidak ?'
Orang itu makin merah matanya.
"Bung kan manusia dan manusia itu pada umumnya, entah
baik entah buruk, tentu punya nama"
"Ha, mengapa engkau diam saja ?" seru kakek Kerbau
Putih.
Namun orang itu tak mau meladeni bicara lain-lain ia
bersiap-siap hendak menghajar kedua orang itu.
'O, kalau begitu engkau tentu Manusia-tanpa-nama alias Bu
Beng . , "
"Kakek, benarkah dia Bu Beng?" tiba-tiba Blo'on terkejut
mendengar si kakek Kerbau Putih menyebut Bu Beng, "tetapi
Bu Beng saja atau pakai Bu Beng lojin ?"
"Hm, kalau menilik umurnya, dia sudah setengah tua. Patut
juga disebut lojin (orangtua)," sahut kakek Kerbau Putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, kalau begitu engkau tentulah Bu Beng lojin" teriak
Blo'on seraya maju menghampiri kehadapan orang itu, "hai Bu
Beng lojin, engkau harus mengaku yang benar. Bukankah
sebenarnya engkau ini bernama Bu Bun, murid dari Bu Kek
lojin ?"
Orang itu benar-benar seperti dikili-kili hatinya Masakan
seenaknya sendiri saja dia dianggap bernama Bu Beng lojin
dan disebut sebagai murid dari Bu Kek lojin. Ia hendak
memukul Blo'on tetapi pada lain kilas, tiba-tiba ia beroleh
pikiran. Mengapa anak itu menyebut-nyebut diri Bu Beng lojin
dan Bu Kek lojin ? Siapakah kedua orangtua itu? Ah, lebih baik
ia tahan kemarahan dulu dan menanyakan diri kedua orang
yang disebut itu.
"Hai, budak liar, siapakah Bu Beng dan Bn Kek lojin yang
engkau sebut itu ?" tanyanya.
"Bu Bcng adalah murid Bu Kek dan Bu Kek adalah
tengkorak dalam guha yang menyuruh aku mencari Bu Beng.
Jelas?" seru Blo'on dengan garang
"Tidak!" seru orang itu getas, "siapa Bu Kek lojin tengkorak
dalam guha itu ?"
"Seorang sakti yang memiliki ki-lin,"
Orang itu makin melongo mendengar keterangan Bloon
yang dikira ngelantur itu : "Ki-lin?"
"Ya, apakah engkau sudah pernah melihat ki-lin bersisik
emas ?"
Orang itu makin terlongong : "Engkau bocah edan
barangkali. Jangankan aku, boleh dikata setiap orang tak
mungkin pernah melihat binatang mustika itu Yang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
diketahuinya, binatang itu hanyalah sebagai lambang saja dan
merekapun hanya tahu dan gambarnya."
"Yang edan barangkali engkau. Aku belum edan melainkan
kehilangan ingatan saja," bantah Blo'on, "dan memang aku
pernah melihat binatang itu bahkan pernah berkelahi dengan
dia!"
Dia seorang utusan dari ketua Seng-lian-kau yang akan
menguasai dunia persilatan. Sudah tentu harus menjaga
gengsi Tetapi dia dimaki-maki oleh seorang kakek limbung dan
seorang anak blo'on. betapapun sabarnya, orang itu tak dapat
mengendalikan diri lagi.
Plak . . . tiba-tiba orang itu menampar muka Blo'on dan
memaki : "Tutup mulutmu anjing !"
Karena tak menyangkanyangka
akan menerima
tamparan, pula karena
gerakan orang itu secepat
kilat menyambar, muka
Blo'on terkena dan dia
terpelanting dua tiga tangkah
kebelakang, hampir rubuh.
Untunglah Hui Liang taysu
cepat menyanggahnya.
"Bangsat, engkau berani
memukul sahabatku!" kakek
Kerbau Putih marah dan
terus, menerjang.
Orang itu terkejut melihat gaya serangan kakek bungkuk
itu. Cepat ia menghindar dan balas menyerang. Demikian
keduanya segera terlibat dalam perkelahian yang seru.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hui Liang taysupun terkejut melihat ilmu serangan yang
dimainkan kakek bungkuk. Samar-Samar ia seperti
mengetahui bahwa didunia persilatan memang pernah
terdapat ilmu pukulan semacam itu tetapi sudah lama
menghilang.
Setitikpun orang itu tak menyangka bahwa kakek bungkuk
yang semula dipandang hina, ternyata memiliki ilmusilat yang
aneh dan sakti. Ia tak mengerti apa nama ilmusilat itu Tetapi
yang nyata ilmusilat itu memang hebat dan berbahaya. Ia
harus hati-hati menghadapinya.
Cepat sekali pertempuran sudah berlangsung lima jurus dan
makin lama tangan sikakek yang menyambar-nyambar itu
makin cepat dan makin berbahaya.
"Hm, belum tentu aku kalah, tetapi kalau bertempur cara
begini, tentu menghabiskan waktu. Dan yang penting, paderi
Siau-lim-si tentu akan mendapat kesan buruk terhadap diriku.
Harus kugunakan cara lain yang cepat, " diarn-diarn ia
memutus rencana dan segera merogoh kedalam baju,!
Hai Liang taysu terkejut. Ia tahuorang itu tentu akan
menggunakan senjata rahasia untuk merubuhkan si kakek
bungkuk. Segera ia hendak berseru mengnentikan
pertempuran itu tetapi sudah terlambat.
Selelah menghindar kesamping, orang itupun mengirim
sebuah tendangan. Pada saat kakek Kerbau Putih sibuk
menghindar, tiba-tiba orang itu taburkan tiga batang senjatarahasia
berbentuk seperti burung walet kecil. Warnanya hitam
mengkillat.
"Mampuslah engkau !" lontaran itu diiringi dengan bentakan
yang dahsyat.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Kerbau Pulih terkejut ketika tiga burung-burungan
walet kecil mendesing menyambal muka. dada dan kakinya.
Jaraknya begitu dekat tak mungkin dia akan menghindar lagi.
Namun ia tetap berusaha untuk menyelamatkan diri. la
rnenjajalkan kakinya Ketanah untuk melemparkan tubuh
berjumpalitan kebelakang.
"Auh ..." tiba-tiba mulut kakek Kerbau Putih mendesuh
kesakitan dan ketika ia melayang turun ke tanah, ia tak dapat
berdiri, terus rubuh numprah. Ternyata paha kirinya dihinggapi
sebatang Hek-yan-piau atau serjata-rahasia Walet-hitam Dia
berhasil lolos duri dua batang tetapi yang sebatang terpaksa
harus dideritanya. Seketika ia rasakan kaki kirinya kejang dan
kaku sehingga tak dapat berdiri.
Blo'on terkejut dan lari menghampiri ke tempat kakek
Kerbau Putih untuk memberi pertolongan
Dalam pada itu Hui Liang taysu yang amat sabar dan
berhati welas asih itu, tak puas melihat! keganasan orang itu.
Ia segera maju menghampiri.
"Sicu," tegurnya kepada orang itu, "mengapa sicu sekejam
itu ?"
"Hm, paderi tua," dengus orang itu, "dia seorang kakek liar
yang tak genah. Apabila kakek-kakek semacam itu dibiarkan
hidup, Seng-lian-kau tentu menjadi buah tertawaan orang."
"Tetapi hendaknya sicu ingat bahwa disini adalah gereja
Siau-lim-si, bukan tempat pembunuhan. Apabila dia bersalah,
cukup sicu serahkan padaku untuk mengurusnya."
"Benar paderi tua," seru orang itu mengejek, "memang
akupun hendak meminta pertanggungan jawab atas diri
seorang kakek yang begitu liar. Dia berani menghina utusan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Seng-lian-kau. Paling tidak sebagai tuan rumah engkaupun
harus ikut bertanggung jawab "
"Omitohud !" seru Hui Liang taysu untuk menyalurkan
amarahnya yang meluap, "Siau-lim-si tak pernah ingkar akan
segala tanggung jawab yang seharusnya memang menjadi
kewajibannya. Tetapi dengan tindakan sicu itu, kami Siau-limsipun
mempunyai kesan lain terhadap Seng-lian kau. Sicu
katakan bahwa Seng-lian-kau itu sebuah perkumpulan agama
suci. Tetapi apakah demikian itu kesucian yang dijunjung oleh
Seng-lian-kau !"
Walaupun diucapkan dengan nada yang penuh
pengekangan hawa amarah, namun kata-kata yang diucapkan
wakil ketua Siau-lim-si itu amat tajam sekali sehingga
merahlah muka utusan Seng-lian-kau.
"Ketahuilah paderi tua," kata orang itu, "Kim kaucu telah
memberikan hak kepadaku untuk menghajar bahkan
melenyapkan setiap orang yang bera ni menghina, menentang
kepada Seng-iian-kau. Ku peringatkan kepadamu, apabila
Siau-lim-si menolak undangan kami. kamipun terpaksa tak
segan untuk bertindak yang jauh lebih ganas dari apa yang
kulakukan terhadap kakek bungkuk itu."
"Omitohud." kembali ketua gereja Siau-lim-si berseru agar
kemarahannya menghambur, "sicu bicara seolah-olah
menganggap gereja Siau-lim-si ini sebuah tempat anak-anak
kecil yang mudah diperintah dan dihajar. Jika demikian
pemikiran sicu itu salah. Ketahuilah, gereja Siau-lim-si yang
telah didirikan oleh Tat Mo cousu sejak duaratus tahun yang
lalu, telah menjadi pusat dari penyebaran agama Hud-kau dan
pengayoman dari dunia persilatan. Selama itu memang dunia
persilatan banyak timbul orang-orang maupun gerombolangerombolan
dan partai-partai baru yang hendak menjatuhkan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pamor Siau-lim-si. Tetapi mereka bagaikan kabut awan yang
dihembus angin. Satu datang, satu pergii. Siau-lim-si tetap
bersinar sebagaimana rembulan di malam hari ..."
"Maksudmu hendak mengatakan bahwa Seng lian-kau juga
akan mengalami seperti kabut awan yang tertiup angin itu ?"
orang itu menukas tajam
"Aku hanya hendak menjelaskan bahwa setiap awan itu tak
langgeng sifatnya. Pada satu saat memang dapat menutupi
rembulan, tetapi sudah menjadi sifat dan kodratnya bahwa
awan itu tak berbobot sehingga akhirnya harus buyar sendiri,"
sahut Hut Liang taysu.
"Paderi tua, rupanya engkau tahu siapa-siapa kah yang
menjadi tulang punggung dari partai Seng-lian-kau itu. Jangan
menyebut Kim kaucu, tetapi para pembantunya saja, rasanya
sudah cukup untuk mengobrik-abrik gereja Siau-lim-si yang
engkau banggakan ini "
"Omitohud !" seru Hui Liang taysu, "kami kaum paderi
pantang untuk bermulut besar."
"Paderi tua," dengus orang itu, "jika hanya dengan
omongan saja, mungkin engkau masih penasaran dan belum
tunduk. Baiklah, sekarang akan kuberikan sedikit hadiah
sebagai tanda perkenalan kita. Sambutilah "
Hui Liang taysu terkesiap. Ia tahu bahwa orang itu akan
mengunjuk kepandaian kepadanya. Maka diam-diam iapun
kerahKan tenaga-dalam untuk berjaga-jaga.
Orang itu merogoh kedalam bajunya dan mengeluarkan
enam batang Hek-yan-piau.
"Awas, taysu, senjatanya itu beracun !" tiba-tiba Blo'on
berteriak. Memang setelah memeriksa keadaan kakek Kerbau
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Putih, anak itu tahu kalau senjata rahasia burung walet warna
hitam itu dilumuri racun. Buktinya saat itu paha kiri kakek
Kerbau Putih menjadi kaku tak dapat digerakkan.
Hui Liang taysu berpaling dan mengangguk :"Terima kasih,
sicu. Akupun memang sudah menduga begitu."
"Paderi tua, sambutlah hadiah perkenalan Seng-lian-kau
kepadamu!" orang itu menutup kata katanya dengan taburkan
tiga batang Hek-yan-piau; ke udara. Ketiga buah senjatarahasia
berbentuk burung Walet-hitam itu melayang
beterbangan di udara, membentuk sebuah lingkaran yang
mengelilingi wakili ketua Siau-lim-si. Secepat itu pula, utusan
Seng-lian-kaupun menyusuli lagi dengan taburan tiga buah
Hek-yan-piau.
Hui Liang taysu diam-diam
sudah siapkan tongkat siauciang
atau tongkat yang
dipakai oleh paderi. Selekas
senjata rahasia itu mencurah
ke arah dirinya, tentu akan
disapunya dengan tongkat.
Tiga buah Hek-yan-piau
yang dilontar pertama tadi,
tiba-tiba meluncur ke atas
kepala Hui Lianji taysu. Ketika
lebih kurang semeter di atas
kepala Hui liang taysu,
mendadak ketiga Hek-yaepiau
itu berhenti lalu melekat satu sama lain. Sedangkan tiga
batang Hek-yang-piau yang dilepas menyusul belakangan itu,
tiba-tiba meluncur dan menyerang Hui Liang taysu dari tiga
jurusan. Laksana burung walet yang menukik kepermukaan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
laut, ketiga hek-yan-piau itupun mencurah deras kearah
sasarannya.
Tring, tring, tring. dengan tongkat sian-ciang yang diputar
sederas hujan, Hui Liang taysu berhasil menyapu jatuh ketiga
Hek-yan-piau itu.
Tetapi tepat pada saat ia sedang memutar tongkat untuk
menyapu serangan Hek-yan-piau. sekonyong-konyong ketiga
Hek-yan-piau yang berhenti diatas kepalanya tadi,
berhamburan memecah diri ialu mencurah turun. Yang satu
menukik menyambar dada, yang satu mencurah langsung ke
ubun-ubun kepala dan yang satu meluncur mengarah
punggung. Senjata-rahasia burung walet kecil itu benar-benar
seperti berjiwa. Mereka serempak bergerak dan serempak pula
menyerang sasarannya.
Hui Liang taysu terkejut sekali. Ia sedang menyapu tiga
Hek-yan-piau yang menyerangnya dari tiga penjuru. Tongkat
masih berputar dan tak sempat ditarik untuk menangkis
serangan dari atas.
Tetapi tak kecewalah Hui Liang taysu dipercayakan oleh Hui
Gong untuk mewakili jabatannya sebagai ketua Siau-lim-si. Hui
Liang memang memiliki kepandaian yang sakti, ia tak
kehilangan ketenangan dan cepat bergeliatan untuk
menghindar. Hek-yan-piau yang menukik ke dada, dapat
dihindari. Demikian pula dengan yang menyambar
punggungnya. Tetapi senjata-rahasia berbentuk Walet-hitam
yang menyambar ubun-ubun kepalanya, memang dapat
dielakkan namun karena jaraknya amat dekat dan Hui Liang
sedang sibuk memperhatikan serangan dari tiga penjuru,
walaupun luput mengenai kepala, Hek-yan-piau itu tetap
dapat hinggap di bahu kanannya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Wakil ketua Siau-lim-si marah sekali terhadap keganasan
utusan Seng-lian-kau itu. Tetapi pada saat ia hendak bergerak
menyerang, tiba-tiba b hunya mulai terasa letuk dan lunglai,
makin lam makin kaku. Ia tahu kalau piau itu tentu beracun
dan racunnya sudah mulai bekerja. Maka buru-buru ia
pejamkan mata, menyalurkan tenaga-dalam untuk menahan
racun itu.
Melihat suhengnya terluka, Hui In taysu loncat menerjang
musuh. Tetapi utusan Seng-lian-kau pun cepat-cepat
menyambutnya. Tangan kanan menaburkan tiga batang Hekyan-
piau, tangan kiri menyerempaki dengan sebuah pukulan
Biat-gong-ciang atau pukulan Pembelah angkasa. Sebuah ilmu
pukulan yang dilambari tenaga-dalam hebat.
Hui In taysu sibuk menghindari Hek yan-piau dan harus
menerima pukulan Biat-gong-ciang yang hebat. Walaupun
sebelumnya ia sudah berjaga diri tetapi ternyata tenaga-dalam
orang itu amat hebatnya. Dada Hui In serasa dihunjam oleh
palu besi. Ia terhuyung-huyung dua langkah dan muntah
darah , . .
"Paderi tua, cukup sekian sajalah bingkisan perkenalan
Seng-lian-kau kepada Siau-lim-si. Kelak kita sambung lagi,"
seru orang itu terus loncat ke luar.
Tetapi sekeluarnya dari lingkungan Tat-mo-wan di halaman
paseban Ing-kek-wan atau paseban penyambutan tetamu,
ternyata dia sudah dihadang oleh barisan Lo-han-tin.
"Hm, paderi Siau-lim-si memang keras kepala." ia
mendengus untuk menenangkan rasa kejutnya melihat barisan
Lo-han-tin yang termasyhur sudah siap menghadangnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lo-han-tin akan menangkap setiap tetamu yang berani
bertindak liar melukai orang, terutama melukai wakil ketua
kami !" seru Thian Gi pemimpin barisan itu.
"Jangankan Lo-han-tin, sekalipun kalian kerahkan seluruh
paderi Siau-lim-si, Seng-lian-kau tetap mampu
menghancurkan," seru orang itu dengan suara garang sekali.
"Silahkan mencoba!" sahut paderi Thian Gi,
Diam-Diam orang itu menimang. Ia memang sudah lama
mendengar kehebatan barisan Lo-hah-tin Jika ia sampai gagal
menerobos barisan itu, pamor Seng-lian-kau tentu akan
ambruk. Ia harus bertindak cepat dan tepat, dengan
menggunakan senjata-rahasia yacg ampuh dan dahsyat.
Segera ia masukkan kedua tangannya kedalam baju dan
mengeluarkan dua macam benda, masing-masing digenggam
dalam tangan kiri dan tangan kanan.
Barisan Lo-han-tin tahu bahwa orang itu telah siap dengan
senjata rahasia. Tetapi mereka tak mengetahui senjata rahasia
macam apakah yang akan digunakan orang itu. Serentak
Thian Gi memberi peringatan kepada anakbuah barisan
supaya hati-hati dan waspada.
Setelah bergerak maju, tiba-tiba orang itu taburkan
segenggam senjata-rahasia Hek yan-piau ke udara. Seketika di
udara bergemuruh dengan desing berpuluh batang Hek-yanpiau
yang terbang melayang-layang mengelilingi kepala
mereka. Senjata-rahasia Hek-yan-piau itu benar-benar tak
ubahnya seperti burung walet yang hidup. Benda itu dapat
terbang melayang-layang seperti burung. Bahkan desing yang
bergemuruh itupun berasal dari paruh burung-burung walet
itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Makin lama, Hek-yan-piau itu makin terbang turun dan
dalam beberapa kejab lagi tentu akan menyambar anakbuah
barisan.
Perhatian seluruh anakbuah barisan itu tertumpah ruah
pada ancaman Hek-yan-piau. Mereka tahu bahwa senjatarahasia
burung walet hitam itu mengandung racun yang
hebat. Mereka harus serempak melepaskan pukulan untuk
menghalau.
Pada detik-detik yang menegangkan itu, sekonyong
konyong utusan Seng-lian-kau itu taburkan tangan kirinya.
Berpuluh-puluh biji putih sebesar kedele-segera berhamburan
kearah barisan.
Anakbuah barisan Lo-han-tin terkejut. Tanpa banyak pikir,
mereka lalu kebutkan lengan jubah untuk menangkis, pyur,
pyur, pyur.....biji-biji putih itu pecah berhamburan dan
mengeluarkan suara letupan kecil. Tetapi begitu pecah, bijibiji
putih itupun segera berobah menjadi asap Dan karena
terdampar angin kebutan lengan jubah, asap itupun segera
berhamburan ke dalam barisan.
"Auh . . auh . . " serentak terdengar jerit teriakan kaget dari
para paderi anakbuah Lo-han-tin. Semula mereka menduga
asap itu tentu mengandung racun maka belum-belum mereka
sudah menutup pernapasan hidungnya. Tetapi tak terdugaduga,
asap itu bukan mengandung racun untuk menghentikan
pernapasan melainkan mengandung racun yang menyebabkan
mata sakit bukan kepalang sehingga tak dapat mereka melek.
Rasa yang luar biasa sakit dan pedas, menyebabkan anakbuah
barisan Lo-han-tin terpaksa harus mengatupkan mata.
"Aduh . . duh . . ah . . " pada lain saat terdengar pula jerit
erang dari mulut mereka ketika berpuluh batang Hek-yan-piau
mulai meluncur dan menyerang mereka. karena sedang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pejamkan mata. sudah tentu mereka tak dapat menjaga
serangan Hek-yan-piau.
Barisan Lo-han-tin macet. Hampir separoh dari anggauta
barisan itu telah menderita luka dan tak dapat membuka
mata. Ternyata asap putih yang berhamburan dari biji-biji
sebesar kedele itu, juga mengandung racun. Paderi-Paderi
yang terkena asap beracun itu, matanya membengkak merah.
Thian Gi segera bertindak memberi aba-aba agar sisa
barisan yang masih belum terluka atau yang hanya terluka
ringan, cepat membentuk lingkaran pagar untuk melindungi
kawan-kawan yang terluka.
Ketika anakbuah barisan Lo-han-tin bergerak melaksanakan
perintah pemimpinnya, ternyat utusan Seng-lian-kau itu sudah
melayang keluar dari kepungan barisan. Pada saat hendak
loncat keluar pintu, orang itu masih sempat berseru "Cukuplah
kiranya dua buah bingkisan yang kuberikan kepada kalian.
Masih banyak lagi macamnya. Tunggu saja kelak kalau partai
Siau-lim-si membangkang memenuhi undangan kami!"
Paderi Thian Gi marah sekali : "Tunggu, aku hendak
mengadu jiwa dengan engkau !"
Habis berkata orang itu terus berputar tubuh dan loncat
pergi. Bruk . . . tiba-tiba ia membentur batok kepala seorang
manusia. Kepala orang itu bukan kepalang kerasnya sehingga
ia sampai terpental mundur dua tiga langkah. Dadanya terasa
sesak, darah meluap-luap hendak tumpah keluar
Ia hendak pejamkan mata untuk menerangkan darahnya
yang bergejolak keras itu. Tetapi pandangan matanya segera
terbeliak ketika terbentur pada seorang kakek pendek yang
berambut hitam. Dalam keremangan malam ia hampir tak
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dapat mengenali kakek yang berdiri dihadapannya itu seorang
manusia atau setan.
"Apakah engkau ini manusia, hai!" tegurnya.
"Bagaimana engkau anggap diriku ini ?" kakek itu balas
bertanya.
"Aku masih bingung. Kalau manusia mengapa potongan
tubuhmu yang pendek itu seperti setan Tetapi kalau setan
mengapa bisa bicara seperti manusia", kata utusan Seng-liankau.
Kakek pendek itu bukan lain adalah kakek Lo Kun. Setelah
menguras perutnya dan mencuci celananya sampai beberapa
jam, barulah ia keluar uutuk mencari kawannya. Tepat pada
saat itu ia melihat ramai-ramai yang terjadi di halaman gereja.
Di lihatnya rombongan paderi tengah menjerit dan berteriak
kesakitan. Dan pada lain saat seorang berpakaian hitam loncat
hendak keluar dari lingkungan halaman.
Lo Kun dapat membedakan. Penghuni gereja itu, baik tua
muda, besar kecil, semua berkepala gundul. Kalau orang itu
berambut, jelas tentu bukan anakbuah gereja disitu. Dan
menilik paderi-paderi itu sama menjerit kesakitan, tentulah
orang berpakaian hitam itu yang mencelakai mereka. Maka
tanpa banyak pikir lagi, kakek Lo Kun terus lari dan
membenturkan kepalanya. Tepat pada saat itu utusan Senglian-
kaupun berputar tubuh dan loncat keluar. Benturan tak
dapat terhindar lagi, antara kepala kakak Lo Kun dan dada
utusan Seng-lian-kau. Akibatnya dada orang itu terasa ampek
hampir tak dapat bernapas.
Sambil bicara orang itupun sudah merogoh kedalam baju
dan menjemput segenggam Hek-yan piau yang ganas.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, jangan main bunuh disini " tiba-tiba dari belakang
paderi Thian Gi pun tiba. Melihat utusan Seng-lian-kau itu
hendak menaburkan senjata-rahasia beracun kepada kakek Lo
Kun cepat ia berseru dan menerjang dengan tongkat sianciangnya.
Mendengar kata-kata itu dan melihat Thian taysu
menerjang orang itu, kakek Lo Kun pun segera bertindak. Ia
pikir, orang itu tentu seorang penjahat yang hendak melarikan
diri. Maka kontan saja ia terus loncat menyeruduk dengan
kepalanya. Memang kakek itu memiliki batok kepala yang luar
biasa kerasnya. Karang dan pohonpun dapat diseruduknya
hancur.
Prak . . . duk . . terdengar dua buah suara yang berbeda.
Yang satu suara kepala dibantai tongkat dan yang satu kepala
dada diseruduk kepala. Dan dua-duanya, kakek Lo Kun ia dan
Thian Gi taysu terjerembab jatuh ke tanah. Apakah yang telah
terjadi ?
Ternyata utusan Seng-lian-kau itu menang lihay dan tajam
matanya. Ketika ia tahu dari belakang akan diserang oleh
paderi Thian Gi dan dari muka akan ditanduk dengan kepala
kakek Lo Kun, gesit laksana burung walet, ia melambung
keatas dan diudara ia bergeliatan tubuh seraya taburkan
senjata-rahasia Hek-yan-piau kearah kedua penyerangnya itu.
Karena sedang berhantam sendiri, kakek Lo Kun dan paderi
Thian Gi terkena timpukan lawan Kakek Lo Kun terkena
pantatnya dan Thian Gi taysu terpanggang bahunya,
Kakek Lo Kun tengel-tengel hendak bangun tetapi tiba-tiba
ia menjerit : "Aduh ! Mengapa pantatku kaku begini ?"
Kakek itu mendekap pantatnya dan berusaha untuk
mengusap-usap : "Hai, apakah ini ?" tiba-tiba pula ia berteriak
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dan menjemput dua buah benda hitam yang menancap di
pantatnya, "burung walet kecil, kurang ajar, inilah yang
menyebabkan pantatku kaku !"
Habis berkata kakek itu terus hendak membanting benda
itu tetapi tiba-tiba paderi Thian Gi berseru : "Itu senjatarahasia
beracun dari orang tadi, lotiang !"
"Senjata beracun ?*'
"Ya, lotiang terkena taburan senjata beracun dari orang itu.
Aku sendiripun terkena juga pada bahuku Rasa bahuku
sekarangpun sudah mulai kaku," kata Thian Gi taysu seraya
menggerak-gerakkan bahunya supaya lemas.
"Lalu kemana orang itu ?" tanya Lo Kun.
"Melarikan diri."
"Celaka, mengapa tak ditangkap," tiba-tiba kakek itu terus
hendak berbangkit dan mengejar. Tetapi seketika itu juga ia
menjerit: "Aduh . . pantatku tak dapat bergerak"
Thian Gi taysu tahu kalau kakek itu memang limbung, la
geli dan kasihan, serunya : "Lotiang harap lotiang
menjalankan pernapasan untuk menutup menjalarnya racun
itu ke tubuh lotiang. Aku pun juga akan berbuat demikian."
Habis berkata paderi Thian Gi terus duduk bersila pejamkan
mata, menyalurkan tenaga dalam untuk mencegah racun
masuk kedalam tubuh.
"Huh, tak perlu, masakan racun begini sajaj aku tak dapat
menyembuhkan," gumam kakek Lo Kun yang lalu
mengeluarkan sebuah benda yang merah warnanya. Ia
mencabik sedikit lalu memakannya. Seperempat jam
kemudian, ia sudah dapat berdiri dan terus menghampiri ke
tempat paderi Thian Gi.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lihatlah, aku sudah sembuh," katanya dengan bangga,
"engkau juga kuberi obat ini. Tentu sembuh seketika."
Thian Gi membuka mata. Dilihatnya memang kakek pendek
itu sudah berdiri dihadapannya dengan paras berseri. Ia
heran.
"Obat apakah itu '" tanyanya sambi! memandang benda
merah yang diangsurkan kakek itu.
"Bangkai kelabang," sahut kakek Lo Kun.
"Bangkai kelabang ?" Thian Gi taysu terbeliak heran.
"Percayalah kepadaku, engkau pasti sembuh dari racun itu.
Kalau mati, kuganti jiwamu !"
Karena melihat kakek itu memang sudah sehat dalam
beberapa kejab saja dan mengetahui bahwa walaupun
limbung tetapi kakek pendek itu seorang yang polos, akhirnya
Thian Gi mau juga menelan benda merah itu. Setelah menelan
ia lalu pejamkan mata dan menyalurkan peredaran darah.
Benar juga tak berapa lama, Thian Gi taysu rasakan
lengannya sudah lemas dan dapat digerakkan seperti biasa
lagi. Ia segera bangkit dan menghaturkan terima kasih kepada
kakek Lo Kun Ia tak mau bertanya panjang lebar lagi tentang
benda merah yang luar biasa khasiatnya itu. Tetapi ia tetap
tak percaya kalau itu terbuat dari bangkai kelabang.
"Mana kawan kawanku?"tanya kakek Lo Kun
"Masih di dalam," kata Thian Gi taysu. Ia menerangkan
bahwa kakek bungkuk juga terkena senjata racun dari orang
tadi.
"Hai, lekas bawa aku kepadanya," kakek Lo Kun berreriak
kaget dan tanpa tunggu hian Gi berjalan, kakek itu terus lari
mendahului masuk ke dalam halaman belakang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ia terkejut menyaksikan keadaan dalam gereja itu.
Berpuluh-puluh paderi masih rubuh ditanah dan sedang
diangkut kedalam oleh kawan-kawannya. Dan yang lebih
mengejutkan lagi ketika ia melihat kakek Kerbau Putih sedang
ditolong Blo'on Buru-Buru ia lari menghampiri.
"Kenapa setan kerbau itu?" tanyanya kepada Bloon.
"Dia terkena senjata-rahasia beracun dari seorang yang
mengaku menjadi utusan Seng-lian-kau' Blo'on memberi
keterangan.
"Lalu apakah dia tak dapat bangun ?"
"Ya, kakinya kaku tak dapat digerakkan."
"Potong sajalah!" kakek Lo Kun berkata seenaknya sendiri
lalu mengambil pisau dan terus hendak memotong paha kakek
Kerbau Putih.
"Setan Lo Kun, jangan gila-gilaan engkau !' teriak kakek
Kerbau Putih seraya mendupaknya dengan kaki kanan.
"Ya, petlu apa orang setolol engkau diberi kaki ?" ejek
kakek Lo Kun.
"Lalu bagaimana, aku memang terkena senjata-rahasia
yang beracun ?" kakek Kerbau Putih menggeram.
"Aku juga terkena pantatku, malah sekaligus terkena dua
buah senjata beracun bangsat itu” kata kakek Lo Kun seraya
berputar tubuh dia unjukkan pantatnya ke muka kakek Kerbau
Putih "nih, lihatlah sendiri !"
"Setan pendek, tutuplah lekas, pantatmu masih bau," teriak
kakek Kerbau Putih demi melihat kakek Lo Kun menyingkap
kain celananya sehingga pantatnya tertampak.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kurang ajar," teriak kakek Lo Kun, "sudah hampir'setengah
malam aku mencuci dan membersihkan pantat dan celana
dengan air, masakan masih bau. Kalau tak percaya, ciumlah
pantatku ini! Jika masih bau boleh kau pukul kepalaku"
Kakek Lo Kun terus ajukan pantatnya ke dekat muka kakek
Kerbau Putih.
"Enyah !" kakek Kerbau Putih marah dan mendorongnya.
"Tidak bisa," bantah kakek Lo Kun, "engkau harus
mengatakan dulu kalau pantatku sudah tak bau baru aku mau
menutupnya lagi."
Memang gila ! Kalau para paderi Siau-lim-si sedang sibuk
menolong kawan-kawannya yang terluka, kakek Lo Kun dan
kakek Kerbau Putih ribut-ribut soal pantat. .
Akhirnya Blo'on tak sabar juga : "Sudahlah, jangan ributkan
soal pantatmu lagi, kakek Lo Kun Kakek Kerbau Putih ini
sedang menderita luka, ia tak dapat berjalan, kita harus lekas
menolongnya" Kakek Lo Kun menurut. Sambil menutup
celananya ia tertawa: "Sebenarnya hal itu mudah saja
buktinya lihatlah aku. Aku juga terkena senjata beracun itu
tetapi dengan cepat saja sudah sembuh."
"Apa obatnya?" kakek Kerbau Putih nyelutuk.
"Kerbau goblok “' bentak kakek Lo Kun, "masakan engkau
lupa ? Bukankah engkau masih menyimpan bangkai kelabang.
Itu dia. Obat yang paling mustajab untuk segala racun !"
"Gila !" teriak kakek Kerbau Putih, "mengapa aku tak
ingat?" ia terus mengeluarkan bangkai kelabang yang
disimpan dalam bajunya. Bangkai kelabang yang umurnya
ratusan tabun dan dapat mengeluarkan mustika itu, dibagi
dua. Kakek Lo Kun separoh dan kakek Kerbau Putih separoh.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kemudian kakek Kerbau Putihpun lalu menelan segempil
bangkai kelabang. Tak berapa lama diapun sembuh dari
lukanya dan dapat berjalan seperti biasa pula, '
Hui Liang taysu heran melihat kakek Kerbau Putih sudah
sembuh dalam waktu yang begitu cepat
"O, lotiang Sudah sembuh ?" serunya namun paderi itu
malu untuk menanyakan obat yang menyembuhkan si kakek.
"Jangan kuatir," sahut kakek Kerbau Putih sambil
busungkan dada, "jangankan hanya racun dari senjata-rahasia
begitu, sekalipun yang lebih hebat dari itu aku tetap dapat
sembuh."
"O, syukurlah . . . "
"Dan engkau bagaimana paderi ?" tanya kakek Kerbau Putih
serta melihat wakil ketua Siau-lim si itu masih duduk bersila di
tanah, menjalankan tenaga-dalam untuk menghalau racun.
"Mudah-mudahan akan sembuh," sahut Hui Liang taysu.
"O, mengapa engkau tak minta obat kepada ku ?" seru
kakek Kerbau Putih, "duduk bersila menjalankan pernapasan
untuk menghalau racun, makan waktu lama."
Hui Liang taysu mengkal. Mengapa harus minta ? Bukankah
kakek rambut putih itu tahu kalau ia terkena senjata-rahasia
beracun ? Kalau memang mau menolong, tanpa diminta tentu
sudah memberi obat sendiri.
Hui Liang taysu tetap mempertahankan gengsi. Ia tak mau
membuka mulut minta obat kepada kakek Kerbau Putih.
Tetapi tiba-tiba ia teringat bahwa banyak sekali anakbuahnya
yang menjadi anggauta barisan Lo-han-tin telah menderita
luka beracun. Bagaimana hendak menolong mereka ?
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Apakah lotiang pandai mengobati?” akhirnya wakil ketua
Siau-lim-si itu menggunakan akal.
"Siapa bilang aku tak bisa ? Huh, jangankan luka begitu,
orang yang sudah mau mati, pun aku dapat
menyembuhkannya."
"Benarkah ?" Hui Liang taysu menegas, "ah, mungkin tidak
..."
"Engkau tak percaya?" teriak kakek Kerbau Putih, "cobalah
engkau mengangakan mulut dan telan saja apa yang akan
kumasukkan kedalam mulutmu”
Dan tanpa menunggu orang setuju atau tidak, kakek
Kerbau Putih terus mengambil sebuahbungkusan dari dalam
bajunya. Memutus sedikit bangkai kelabang, terus hendak
diminumkan.
"Tetapi mengapa tak mengangakan mulut ? melihat mulut
Hui Liang taysu masih mengatup kakek Kerbau Putih terus
ulurkan tangan kiri, menekan kedua pipi paderi itu hingga
mulutnya terbuka. Secepat kilat, cuwilan bangkai kelabangpun
terus disusupkan kedalam mulut : "Telan . . . !"
Hui Liang taysu terkejut, la tak menyangka kalau dirinya
akan diperlakukan seperti anak kecil saja. Tetapi karena kakek
Kerbau Putih bergerak cepat sekali wakil ketua Siau-lim-si itu
tak sempat berbuat apa-apa lagi.
Hui Liang rasakan tubuhnya disaluri oleh arus hawa hangat.
Bermula timbul dari perut lalu menjalar keseluruh tubuh. Dan
tak berapa lama ia rasakan punggung dan bahunya yang
terluka dapat bergerak seperti biasa.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Terima kasih, lotiang," wakil ketua Siau lim si itu
berbangkit dan serta merta menghaturkan terima kasih
kepada kakek Kerbau Putih.
"Engkau percaya sekarang?" tanya kakek itu.
"Ya, lotiang memang sakti," Hui Liang taysu tertawa. Tiba-
Tiba ia teringat akan nasib anakbuah barisan Lo-han-tin.
Segera ia ayunkan langkah hendak meninjau keadaan mereka.
“Kemana ?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Menolong anakbuah barisan Lo-han-tin. Mereka juga
terluka," jawab Hui Liang taysu.
Blo'on dan kedua kakek mengikuti langkah Hui Liang
menuju kesebuah paseban. Disitu penuh dengan paderi-paderi
Siau-lim-si yang menggeletak dan merintih-rintih. Tampak
kesibukan yang menonjol pada para paderi yang hendak
melakukan pertolongan. Demi melihat wakil ketuanya
melangkah masuk, para paderi yang sibuk memberi
pengobatan itupun berhenti dan memberi hormat.
"Bagaimana keadaan mereka ?" tegur Hui Liang kepada
paderi Thian Gi
"Parah," sahut Thian Gi, "walaupun sudah, diberi Toh-bengki-
tok-tan, racun tetap bekerja Mereka tak dapat
menggerakkan tubuhnya."
Hui Liang taysu kerutkan dahi lalu berpaling kepada kakek
Kerbau Putih. Tetapi sebelum wakil ketua Siau-lim-si itu
membuka mulut, kakek Kerbau Putih sudah mendahului : "Ai,
sial benar. Kalau engkau minta obat untuk sekian banyak ke
pala gundul, obatku tentu habis!"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tiba-Tiba kakek Kerbau Putih berpaling pula ke-arah kakek
Lo Kun : "Hai, setan pendek, hayo berikan obatmu kepada
mereka."
"Uh, engkau kan juga punya, mengapa harus obatku yang
diminta ?" kakek Lo Kun bersungut
"Obatku hanya tinggal sedikit. Sekarang obat sirnpananmu
itu," seru kakek Kerbau Putih.
Tiba-Tiba kakek Lo Kun menghitung : "Satu, du tiga, empat,
lima, enam, tujuh . . ." ia terus menghitung jumlah paderi
yang terluka.
"Enampuluh ekor !" tiba-tiba ia berhenti, "amboi ! Mengapa
begitu banyak yang terluka ?" kemudian ia berpaling kepada
kakek Kerbau Putih dan berteriak : "Tidak, Kerbau Putih !
Obatku tentu habis kalau dipakai untuk mengobati sekian
banyak orang ..."
"Ho, benar, benar, setan pendek," seru kakek Kerbau Putih,
"pun kalau obat kita berdua dipakai semua, juga tetap masih
kurang. Lebih baik tak diberikan saja !"
Mendengar itu Blo'on tak senang hati.Di anggap kedua
kakek itu terlalu mementingkan kepentingan diri sendiri saja.
"Kakek berdua, jangan begitu pelit. Menolong jiwa orang itu
penting. Obat habis biarlah besok kita cari lagi ..." ]
"Huh, enak saja engkau omong ' teriak kakek Lo Kun
"dalam gua diperut gunung itu sudah tak ada lagi binatang
yang begitu. Kemana kita harus cari penggantinya? Engkau
juga punya obat. hai, benar, benar, engkau sendiri juga punya
obat yang lebih manjur untuk menyembuhkan racun Hayo,
keluarkanlah !"
"Aku ?" Bloon terkejut.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, bukankah engkau menyimpan mustik kelabang itu ?'
seru kakek Lo Kun.
"Maksudmu benda sebesar kacang yang memancar sinar
merah itu T'
"Itulah !" seru kakek Lo Kun.
Blo'on cepat mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Setelah
dibuka, isinya benda merah sebesar kacang : "Lalu bagaimana
cara menggunakannya ?"
Kakek Lo Kun juga bingung. Akhirnya kakek Kerbau Putih
yang buka suara : "Mustika itu harus direndam dalam air lalu
minumkan air itu kepada mereka yang kena racun."
"Hai, kepala gundul, ambilkan segelas air !" segera Lo Kun
berseru kepada seorang paderi.
Walaupun mendongkol karena disebut 'kepala gundul' tetapi
karena Hui Liang taysu memberi isyarat, paderi itupun segera
mengambilkan.
Setelah menerima gelas berisi air, Blo'on lalu memasukkan
mustika kelabang ke dalamnya. Aneh air yang berwarna putih
seketika berobah merah darah warnanya. Tetapi apabila
mustika diambil, airpun kembali berwarna putih lagi
"Hayo, kita obati mereka," kata Blo’on lalu menghampiri
kawanan paderi yang terluka itu. Dengan dibantu oleh kedua
kakek, kakek Lo Kun yang mengangakan mulut dan kakek
Kerbau Putih yang memijat hidung, Blo'on lalu meminumkan
air rendaman mustika itu ke mulut setiap paderi.
Demikian setelah minta air sampai berpuluh gelas, akhirnya
Blo'on dapat meminumkan air obat kepada paderi-paderi yang
terluka.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Memang hebat benar khasiat mustika kelabang itu.
Beberapa waktu kemudian tampak paderi anakbuah barisan
Lo-han-tin itu dapat bergerak dan bangun.
Melihat itu Hui Liang taysu girang sekali. Segera menjurah
menghaturkan terima kasih kepada Blo'on dan kedua kakek.
Tindakan wakil ketua Siau-lim-si itu diikuti oleh seluruh
anggauta barisan Lo-han-tin yang terdiri dari 108 orang
paderi.
Blo'on senang karena dapat menolong orang. Ia
menyimpan lagi mustika itu ke dalam bajunya.
Sebagai pernyataan terima kasih, Blo'on dan kedua kakek
diperlakukan sebagai tetamu agung oleh fihak Siau-lim-si.
Mereka ditahan dan diminta bermalam di gereja situ.
Malamnya diadakan perjamuan untuk menghormat mereka.
Walaupun paderi Siau-lim-si pantang makan daging dan
minum arak tetapi untuk ketiga tetamu itu telah di sediakan
hidangan yang lezat.
Keesokan harinya, Blo'on bertiga pamit. Mereka hendak
menuju kegunung Butong-san, meminta keterangan kepada
perguruan Bu-tong-pay.
"Ah, rasanya Bu-tong-pay juga serupa dengan Siau-lim-si.
Mereka hanya dapat memberi keterangan seperti yang
kukatakan tadi," kata Hui Liang.
"Tak apa," kata Blo'on, "siapa tahu mereka dapat memberi
keterangan kepadaku."
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kakek Lo Kun menyelutuk :
"Kemanakah sekarang kita ini ?"
"Bu-tong-san" sahut Blo'on.
"Mengapa ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Minta keterangan kepada ketua Bu-tohg-pay tentang Bu
Bun lojin dan perkumpulan Teratai-putih." kata Blo'on.
"Engkau sudah tahu dimana letak gunung Bu tong-san itu?"
tanya kakek Lo Kun pula.
"Siapa bilang aku sudah tahu ?"
"Gila ! Bagaimana kita dapat mencapai tempat itu ?" Lo Kun
mendelik.
"Tolol engkau !" teriak Bloon, "diatas bumikan banyak
gunung. Salah satu tentu gunung Bu-tong-san. Mengapa hal
yang begitu mudah engkau tak tahu ?"
"Tetapi tujuan aku dan Lo Kun keluar dari guha, adalah
hendak mengantar engkau menghadap raja. Bukan mencari
Bu Bun lojin," tiba-tiba kakek Kerbau Putih ikut buka suara.
"Ya, benar, benar, kami berdua hendak mengantar engkau
ke kota raja menghadap raja. Perlu apa ke gunung Bu-tongsan
?" teriak Lo Kun.
Blo'on garuk-garuk kepala.
"Tetapi aku sudah berjanji dengan kakek tengkorak dalam
guha. untuk mencarikan muridnya yang bernama Bu Bun.
Kalau aku tak mencarikan, kan namanya aku ini ingkar janji "
bantah Blo'on.
"Bukan ingkar janji" kata kakek Kerbau Putih, "kita tetap
mencari Bu Bun lojin itu tetapi tidak harus sekarang. Karena
kita masih mempunyai lain urusan yang penting. Apakah
engkau tak ingin bertemu dengan ayahmu yang jadi raja itu? "
"Entahlah . .," Blo'on garuk-garuk kepala. ]
"Entah ? Apa engkau ini gila ?" kakek Kerbau Putih terbeliak
heran, "masakan orang tak mau melihat bapaknya ? Sayang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
aku sudah tak punya bapak, kalau bapakku masih hidup tentu
aku akan senang sekali menemuinya."
"Bukan aku tak senang," bantah Blo'on, "tetapi aku benarbenar
tak ingat bagaimana bapakku itu. Dan akupun sudah
lupa apakah aku ini mempunyai bapak atau tidak ..."
"Ho, engkau ini anak manusia atau anak setan ?" tiba-tiba
kakek Lo Kun menyelutuk,
"Itulah yang hendak kuselidiki. Kalau anak setan, mengapa
aku ini seorang manusia seperti kalian. Tetapi kalau anak
manusia, aku merasa tak tahu siapa bapakku."
"Somali mengatakan bahwa engkau ini anak raja maka
engkau boleh menghadap raja dan tanya kepadanya apakah
engkau ini anaknya atau bukan kata kakek Kerbau Putih.
"Mudah-mudahan begitu," kata Blo'on, "karena aku sendiri
sudah tak ingat."
"O, engkau tak dapat mengingat dirimu siapa dan siapa
pula bapakmu itu ?” tanya kakek Kerbau Putih
"Benar," sahut Blo'on, "aku memang menderita semacam
penyakit aneh ialah tak ingat lagi semua peristiwa yang
lampau."
"Apakah otakmu masih ?" tiba-tiba pula kakek Lo Kun
berseru.
"Entah masih ada entah sudah kosong, mana aku tahu ?"
jawab Blo'on,
"O, berbahaya," seru kakek Lo Kun, "harus diperiksa apakah
otakmu masih atau sudah hilang"
"Kalau masih ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kalau masih, tehtu ada penyakitnya. Dan penyakit itu
harus diobati," kata kakek Lo Kun dengan nada seperti
seorang tabib.
"Kalau sudah hilang ?" tanya Blo'on.
"Harus diisi lagi dengan otak baru !"
Blo'on terkesiap, serunya: "Dengan otak apa?"
Dengan sikap seperti seorang tabib yang pandai, berkatalah
kakek Lo Kun : "Dengan otak apapun boleh. Otak anjing, otak
kerbau, otak babi, otak monyet ..."
"Tidak sudi !" teriak Blo'on agak marah, "masakan otak
orang hendak diganti dengan otak binatang. Aku minta diganti
dengan otak manusia juga !"
Kakek Lo Kun mendelik : "Otak manusia ? Lalu manusia
siapa yang mau memberikan otaknya kepadamu ?"
"Kifa cari orang itu. Masakan di dunia yang begini luas tak
ada manusia yang mau menyerahkan otaknya untuk menolong
orang yang sakit seperti diriku ini," gumam Blo'on.
"Ada ! Ya, engkau benar. Memang ada manusia yang dapat
kita ambil otaknya !" tiba-tiba kakek Lo Kun menjerit. .
"Siapa ?" Blo'onpun ikut tegang,
"Orang mati "
"Tidaaakkk!" Blo'on serentak memekik, "pakai otak orang
mati. kan jadi orang mati nanti !"
Kakek Lo Kun merenung. Sesaat kemudian ia berkata :
"Soal cari otak, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang yang
penting, akan kuperiksa dulu isi kepalamu itu. Masih ada
otaknya atau tidak."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bagaimana caranya memeriksa ?'
Sambil menunjuk ke sebatang pohon besar yang tumbuh
ditepi jalan, kakek Lo Kun berkata: "Mari kita istirahat di sana,
nanti akan kubelah kepalamu dengan pisau."
Mendengar itu kakek Kerbau Putih melongo dan Blo'onpun
mendelik seperti orang dicekik setan .....
---ooo0dw0ooo---
Jilid 10
Teratai - Melati
Kakek Lo Kun tak menghiraukan perobahan wajah Bloon
yang menyeringai seperti monyet mencium terasi dan wajah
kakek Kerbau Putih yang menyengir kuda.
"Hayo kita beristirahat dibawah pohon itu," kakek Lo Kun
terus menyeret tangan Blo'on diajak menuju kebawah
sebatang pohon besar.
Saat itu matahari sudah mulai condong ke-sebelah barat.
Hari sudah sore. Dan mereka berada di sebuah hutan.
Setiba di bawah pohon, kakek Lo Kun segera mendorong
Blo'on rebah di tanah. Sudah tentu Blo'on terkejut.
"Mau apa engkau ?" serunya.
"Membuka kepalamu." kata kakek Lo Kun seraya
mengeluarkan sebatang pisau dan secepat kilat tangan kirinya
menekan kepala Blo'on dan tangan kanan mengangkat pisau.
"Tulung . . !” Blo'on menjerit sekeras-kerasnya dan
meronta-ronta,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Huk, huk . . . jeritan Blo'on itu telah membangkitkan
kemarahan anjing kuning dan kedua kawannya. Bermula
mereka diam saja karena sudah kenal siapa kakek Lo Kun.
Dan merekapun tak berbuat apa-apa karena melihat Bloon
rebah di tanah. Bahkan anjing Kuningpun ikut rebahkan diri,
rajawali dan monyet hinggap di atas pohon.
Tetapi mendengar Blo'on menjerit minta tolong dan
meronta-ronta, anjing Kuning serentak berbangkit. Demi
melihat kakek Lo Kun hendak membelah kepala Blo'on dengan
pisau, anjing Kuning terus loncat menerkam punggung kakek
itu. Dan serempak dengan itu, dari atas burung rajawali serta
monyet hitam berhamburan melayang turun. Rajawali
mencengkeram kepala dengan cakarnya yang tajam. Monyet
mencemplak tengkuk terus menggigit daun telinga..
"Aduh . . aduh . . jahanam . . keparat . !" karena diserang
oleh tiga binatang yang nakal, ka kek Lo Kun menjerit-jerit
seperti babi hendak disembelih.
Ia melonjak-lonjak seperti orang menginjak api dan bingung
untuk menghalau binatang-binatang itu. Kalau menampar
burung rajawali, anjing masih menerkam punggung. Kalau
menghalau anjing, kepalanya masih diterkam rajawali. Kalau
dengan kedua tangannya menampar rajawali dan memukul
anjing, monyet hitam masih hinggap ditengkuknya dan tak
henti-hentinya menggigiti daun telinga.
"Blo'on, lekas suruh mereka berhenti !" teriak kakek itu
sambil melonjak-lonjak dan menampar-nampar ketiga
binatang itu.
Rupanya ketiga binatang itupun tak mau sungguh-sungguh
melukai si kakek. Mereka rupanya tahu kalau kakek itu
sahabat dari Blo'on. Mereka hanya menggoda kakek itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on tertawa terpingkal-pingkal. Demikian pula dengan
kakek Kerbau Putih.
"Blo'on, kalau engkau tak mau menghentikan anakbuahmu,
aku tak mau mengobati kepalamu " teriak Lo Kun pula.
"Hi, hi," Blo'on tertawa, "aku tak mau dengan cara
pengobatan yang begitu gila. Masa kepala mau engkau belah!"
"Ya, ya, tidak, tidak jadi!" seru kakek Lo Kun, "dengan lain
cara saja."
Karena melihat kakek itu sudah tobat. Blo'on kasihan dan
berseru suruh ketiga binatang itu pergi. Rupanya binatang itu
memang taat kepada tuannya. Mereka berhamburan
melepaskan si kakek Lo Kun.
Sambil mengemasi rambutnya yang morat-marit diobrakabrik
rajawali, telinganya yang berdarah karena digigit monyet
dan bajunya yang robek karena diterkam anjing Kuning, kakek
Lo Kun mengomel dan memaki-maki.
"Sudahlah, setan pendek," bentak kakek Kerbau Putih,
"jangan mengomel seperti orang perempuan tua begitu.
Engkau memang gila, masakan kepala anak itu hendak engkau
belah.
"Bukankah otaknya sakit ?" sahut kakek Lo Kun, "kalau
kepalanya tak dibuka bagaimana tahu otaknya masih ada atau
tidak ?"
"Sudah, jangan gila-gilaan. Engkau bukan tabib, bagaimana
engkau berani membuka kepala orang. Apakah engkau
mampu mengembalikan lagi? Dan kalau kepalanya engkau
belah, dia tentu mati. Kalau tak percaya, boleh coba.
Kepalamu kubelahnya," geram kakek Kerbau Putih.
Lo Kun diam tak menyahut.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Sekarang sambil beristirahat kita rundingkan bagaimana
kita hendak menuju. Kegunung Bu-tong san atau ke kota raja
atau ke lain tempat lagi," kata kakek Kerbau Putih pula.
"Ke Bu-tongsan !" seru Blo'on.
"Tahu jalannya?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Tidak."
"Ke kota raja saja!" teriak Lo Kun.
"Tahu jalannya ?" tanya kakek Kerbau Putih Kakek Lo Kun
gelengkan kepala.
"Hm, kalian memang hanya menggoyangkan! lidah tetapi
tak tahu apa-apa. Ke Bu-tong-san, kekota raja, tetapi tak tahu
jalannya," gumam Kerbau Putih
"Apakah engkau tahu jalannya ?" kakek Lo Kun bersungut.
Jawab kakek Kerbau Putih : "Aku sendiri juga tidak tahu
maka sebaiknya kita putuskan begini saja. Kita terus jalan
menuju ke muka sana. Entah nanti sampai dimana. Kalau
sampai di Bu-tong-san ya kita terus mencari ketua Bu-tongpay,
kalau sampai di kotaraja ya kita menghadap raja'"
"Setuju !" teriak kakek Lo Kun tetapi pada lain kilas ia
menjerit pula, "cara macam apa itu ? Bagaimana kalau kita
ketemu sungai dan gunung?
"Itu bukan halangan ! sahut kakek Kerbau Putih, "ketemu
sungai kita seberangi, ketemu gunung kita lintasi, ketemu
hutan kita terobos !"
"Ya. kalau begitu aku mau", kata kakek Lo Kun. Dan
Blo'onpun menurut.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Kerbau Putih tak tahu arah yang ditunjuk itu sebelah
mana. Pokoknya ia menunjuk kesebelah muka. Dan kebetulan
arah yang ditunjuk kakek itu ialah menuju ke utara.
"Lalu bagaimana sekarang ini ? Matahari sudah hampir
silam, apakah kita melanjutkan perjalanan atau tidur disini?"
tanya kakek Kerbau Putih
"Tidur disini atau melanjutkan perjalanan, bagiku sama
saja." kata kakek Lo Kun, "pokok asal engkau dapat menjamin
perutku yang sudah kosong ini !"
"Huh, kakek pendek, kemana-mana engkau selalu
mementingkan perutmu saja. Ingat, apakah engkau tidak
kapok mengalami kejadian seperti di gereja Siau-lim-si itu ?
Karena kekenyangan dan terlalu kekenyangan dan banyak
minum arak, sehing ga perutmu sampai meletus"
"Hi, hi," kakek Lo Kun geli sendiri, "itu bukan salahku.
Masakan perutku sedang mulas, kawanan kepala gundul itu
terus menyerang. Karena kaget, isi perutkupun terus
berhamburan keluar".
Bloon geli-geli mendongkol, serunya: "Ya, enak saja engkau
mengosongi perut, tetapi kita yang celaka aku mau muntah.
Eh, mengapa baunya begitu luar biasa busuknya ? Apakah
yang engkau makan selama dalam guha ?"
"Seadanya," sahut kakek Lo Kun, "kalau dapat kijang, ya
makan kijang, Kalau harimau, ya makan harimau. Dan kalau
tak dapat apa-apa, bangsa cecak, kadal, cengkerik, ular,
tenggoret, uh, apa saja perutku mau menerima."
"Uh, kalau begitu perutmu itu merupakan kuburan bangkaibangkai
binatang," Blo'on tertawa, "jangan kualir, kakek. Nanti
akan kusuruh binatangku itu mencarikan makan untukmu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bagus, Blo'on !" tiba-tiba kakek Lo Kun melonjak bangun,
"hayo kita jalan lagi. Mudah-mudahan bertemu dengan desa,"
Demikian ketiga manusia aneh dan binatang luar biasa itu
melanjutkan perjalanan pula. Mereka berjalan menurutkan
jalan yang terbentang dimuka. Entah sampai dimana, mereka
tak mempedulikannya.
Haripun makin gelap dan malam mulai tiba.
"Hai, apakah itu ?" tiba-tiba kakek Lo Kun berseru sembari
menunjuk ke balik sebuah gerumbul pohon yang masih
sepemanah jauhnya.
Ketika Blo'on dan kakek Kerbau Putih memandang ke muka,
tampaklah segunduk benda hitam di balik gerumbul pohon.
"Rumah," seru kakek Kerbau Putih, "hai . . ia berteriak
kaget ketika kakek Lo Kun sudah lari mendahului.
Rupanya begitu mendengar kata-kata 'rumah' Lo Kun terus
tancap gas, lari kencang. Terpaksa kakek Kerbau Putih dan
Blo'on mengikuti.
Setelah melintasi gerumbul pohon yang merentang cukup
panjang ditepi jalan, Blo'on dan kakek Kerbau Putih melihat
kakek Lo Kun sudah menerobos masuk ke dalam sebuah
bangunan rumah. Rumah itu gentingnya dicat merah.
Dan setelah tiba, barulah kakek Kerbau Putih dan Blo'on
tahu kalau rumah itu sebuah kuil gunung yang sudah tak
terurus. Sebuah kuil tua untuk memuja para malaekat gunung
di daerah si tu.
"Gila !" begitu kakek Kerbau Putih dan Blo'on melangkah
masuk, kakek Lo Kun sudah menyambut dengan makian keluh
kemarahan, "masakan rumah ini kosong. Tiada orang, tiada
makanannya. Di meja hanya terdapat beberapa patung Saja."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Memang kuil itu kecil, hanya mempunyai sebuah ruangan
depan untuk sembahyangan. Di meja sembahyang terdapat
sebuah patung yang di cat dengan warna kuning emas. Di
kanan kiri meja pun terdapat dua buah patung setinggi orang.
Menilik keadaannya yang kotor dan penuh debu, tentulah kuil
itu jarang dikunjungi orang. Tetapi bangunannya masih cukup
kokoh.
Tiba-tiba kakek Lo Kun menghampiri patung yang berdiri di
kanan meja, terus ditaboknya, plak.... "Hai, patung, mana
makanan di meja itu? Engkau seorang penjaga yang rakus,
masakan sedikitpun tiada sisa makanan. Semua engkau
habiskan !"
"Sudahlah, kakek." kata Blo'on "jangan kualir, nanti akan
kusuruh binatang itu mencari makan untukmu."
Mendengar itu, kakek Lo Kun baru tak marah. Kakek Kerbau
Putih mengambil korek lalu menyalakan sisa lilin yang masih
terdapat di atas tatakan lilin.
"Kita tidur disini, besok kita lanjutkan perjalanan." kata
kakek Kerbau Putih.
Untunglah lantai tak berapa kotor. Setelah agak
dibersihkan, dapat dibuat tidur. Blo'onpun segera suruh anjing
Kuning, burung rajawali dan monyet mencarikan makanan dan
minuman.
Tak berapa lama setelah ketiga binatang itu pergi,
mendadak hujan turun. Memang sejak sore langit gelap
dengan awan hitam yang tebal.
Tiba-Tiba mereka mendengar suara derap kuda lari
mendatangi. Menilik riuhnya, tentulah bukan hanya seekor
tetapi tentu beberapa ekor kuda.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Celaka, ada orang datang," kata kakek Kerbau Putih.
"Peduli apa ?" sahut kakek Lo Kun, "tempat ini sudah lebih
dulu kita tempati. Kalau mereka mau tidur disini, tak bisa.
Harus tidur di luar."
"Tunggu, jangan bicara," kakek Kerbau Putih terus loncat
ke pintu kuil dan melongok keluar. Dilihatnya tiga orang
penunggang kuda tengah lari mendatangi. Mata kakek Kerbau
Putih yung tajam segera dapat melihat bahwa ketiga
penunggang kuda itu terdiri dari seorang pemuda cakap,
seorang lelaki setengah tua yang bermuka brewok dan
seorang imam tua.
Kakek Kerbau Putih terkejut melihat ketiga orang itu
membekal senjata tajam. Cepat ia lari masuk lagi.
"Tiga orang penunggang kuda yang membawa senjata
tajam. Tentu bukan orang baik." kata kakek Kerbau Putih
kepada Blo'on dan Lo Kun.
"Hajar saja," seru kakek Lo Kun.
"Jangan." cegah kakek Kerbau Putih, "kita belum tahu pasti
mereka itu orang jahat atau orang baik. Lebih baik kita tunggu
dulu. Mereka tentu akan meneduh di sini karena hujan."
"Tetapi mereka tentu akan mengetahui kita disini ?" kata
Blo'on.
Kakek Kerbau Putih merenung lalu berseru: "Kita pura-pura
jadi patung, tak mungkin mereka tahu"
"Jadi patung ?" kakek Lo Kun melongo.
"Sudahlah, jangan banyak mulut," bentak ka kek Kerbau
Putih, "lekas lumuri mukamu dengan debu kotoran dimeja itu.
supaya mereka mengira engkau benar-benar sebuah patung.
Dan berdirilah disisi patung itu." ,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Kerbau Putih memberi contoh. Ia merangkum debu
yang menebal di atas meja lalu dilumurkan pada mukanya.
Kakek itu segera berobah hitam mukanya. Ia terus melangkah
dan berdiri tegak di samping patung yang berada di sebelah
kanan meja.
Kakek Lo Kun terpaksa menurut. Seketika ia berobah
seperti setan hitam. Blo'onpun juga. Dia berobah menjadi
setan gundul. Kakek Lo Kuu dan Blo on berdiri di sebelah
patung yang berada di samping kiri meja.
Kini kuil itu mempunyai enam buah patung. Patung dewa
penunggu hutan berada ditengah meja. Tiga patung berdiri
disamping kiri meja dan dua patung berada disamping kanan
meja.
"Huuhhh . . " kakek Kerbau Putih cepat meniup padam lilin.
Seketika ruang kuilpun gelap.
Seiring dengan padamnya lilin, di luar kuil terdengar bunyi
kuda berhenti. Lalu derap kaki orang melangkah masuk.
Seorang pemuda, seorang setengah tua dan seorang imam
tua.
"Hujan terkutuk," gumam lelaki setengah tua "menghalang
perjalanan saja. Untung di sini bertemu kuil gunung kalau
tidak, kita tentu basah kuyup."
"Hm, tak apa," kata imam tua itu, "sebentar hujan tentu
berhenti dan rembulan akan bersinar terang malam ini."
"Ah, didalam gelap sekali," kembali lelaki setengah tua itu
berseru.
"Ya, memangnya kuil gunung, tentu tak ada yang
mengurusi," kata imam tua pula.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Lelaki setengah tua itu mengambil korek lalu menyulutnya.
Ia maju ke muka meja sembahyang, memandang ke
sekeliling.
"Hai, kuil sekecil ini mengapa terdapat banyak patungnya ?"
seru lelaki setengah tua itu agak heran. Tiba-Tiba ia melihat
sisa kutungan lilin yang masih sedikit, "kebetulan masih ada
sisa lilin."
Ia terus menyulut lilin, lalu mengajak kedua kawannya
duduk. Tiba-Tiba ia lari keluar lalu masuk pula dengan
membawa guci arak dan buntalan makanan.
"Mari kita makan. Untung ketika lewat di kota tadi, aku
membeli arak dan kuweh bakpau. Kalau tidak, malam ini kita
bisa kelaparan." kata lelaki setengah tua itu dengan tertawa.
"Minum dulu untuk menghangatkan badan." kata lelaki
setengah tua itu. Ia menuang arak ke dalam sebuah cawan
lalu diangsurkan kehadapan si imam tua : "Maaf totiang,
tentulah totiang tak pantang minum arak, bukan ?"
"Aku seorang bebas, tak mau mengikat diriku pada suatu
pantangan. Yang penting hatinya harus bersih," kata imam tua
itu sambil menyambuti cawan arak terus diteguknya, "wah,
enak juga" Ketika arak tertuang di mulut si imam, maka
berhamburanlah hawa arak yang wangi. Demikian pula ketika
lelaki setengah tua itu meneguk cawannya. Seluruh ruang kuil
penuh bertaburan hawa arak yang wangi.
"Saudara Liok, hayo minumlah," kata lelaki setengah tua
seraya mengangsurkan cawan arak.
"Maaf, Bok kausu, aku tak biasa minum." kata pemuda
cakap itu dengan suara yang halus.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Eh, aneh," seru lelaki yang disebut Bok kausu itu. Kausu
artinya guru silat, la tertawa, "seorang lelaki harus bisa minum
arak. Saudara Liok belum tahu bagaimana rasanya arak itu.
Sekali coba pasti akan ketagihan."
"Terima kasih, Bok kausu," kata pemuda itu tersenyum,
"sudah terlanjur aku tak pernah minum, biarlah tak minum
saja agar jangan ketagihan."
Walaupun ditawari dan didesak berulang kali pemuda itu
tetap menampik, akhirnya Bok kausu pun minum sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara berkerucukan yang aneh
"Hai, suara apakah itu '?' serentak Bok kausu berteriak lalu
berbangkit memandang ke sekeliling ruang. Suara aneh itupun
berhenti.
"Aneh, seperti suara perut orang berkerucukan , karena
lapar." kata Bok kamu pula, "tetapi siapa? Patung-patung itu
masih berdiri ditempatnya dan masakan perutnya bisa
berbunyi ?"
"Ah, tentu suara tikus," kata imam tua sambil tertawa.
"Tidak, totiang," bantah Bok Kausu. "bukan tikus, karena
kalau tikus tentu lari. Tetapi tadi aku tak mendengar lain suara
lagi."
Imam tua tertawa : "Kalau begitu, tentulah patung dewa
penunggu kuil ini. Mungkin karena sudah lama tak mendapat
kunjungan orang, mereka tak pernah disembahyangi. Tak
heran kalau mereka memperdengarkan bunyi aneh untuk
minta minum”
"O, mungkin benar begitu," kata Bok kausu lalu menuang
arak ke dalam cawannya dan ditaruh dimeja didekat patung
bercat kuning emas, "maafkan, sin-beng (malaekat), hamba
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Bok Kiang kebetulan lalu dan meneduh di kuil ini. Hambu
haturkan arak untuk sin-beng. Mohon sin-beng suka memberi
restu agar tugas hamba untuk mencari putera ti-hu (residen)
yang diculik gerombolan Hu-yong-pang itu dapat hamba
ketemukan ..."
Demikian Bok kausu bersembahyang dan berdoa dihadapan
patung. Tak lupa iapun menaruhkan tiga biji bakpau di meja.
Setelah itu maka ia duduk pula. Setelah bersama kedua
kawannya makan bakpau dan minum arak, mereka mulai
bercakap-cakap. Hujan belum berhenti terpaksa mereka harus
menunggu.
"Apakah lembah Hu-yong-koh itu masih jauh ?" kedengaran
pemuda cakap itu bertanya.
"Sudah dekat," kata Bok kausu, "lembah itu berada di
gunung Bik nui san Dan saat ini kita sudah masuk daerah
gunung itu."
"Apakah paman tahu letak lembah Hu-yong koh itu ?" tanya
sipemuda cakap pula.
"Aku belum pernah kesana,"kata Bok kausu " dan lembah
itu memang baru sekarang terkenal. Sejak dahulu belum
pernah kudengar nama lembah yang begitu aneh."
"Benar, Bok kausu," sambut imam tua, "memang sejak
berpuluh tahun berkelana di dunia persilatan, belum pernah
kudengar nama itu. Hu-yong koh, uh. aneh juga nama itu . . ."
Hu-yong-koh artinya Lembah Melati.
"Sesuai dengan namanya, tentulah lembah itu menjadi
markas dari Partai Melati," kata si pemuda cakap
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Benar," sahut Bok kausu, "memang Partai Melati itu baru
saja berdirinya. Murid-muridnya terdiri dari gadis-gadis cantik.
Demikian pula dengan ketuanya,"
"Siapakah nama ketuanya?" tanya si pemuda
"Kabarnya bernama Hu Yong Sian-cu atau Dewi Melati,"
kata Bok kausu lalu menatap imam tua, tanyanya : "Totiang,
apakah totiang pernah mendengar nama itu ?"
Imam tua kerutkan dahi, merenung. Sesaat kemudian
berkata : "Tidak pernah. Sepanjang ingatanku, di dunia
persilatan Tiong-goan ini hanya terdapat dua tokoh wanita
sakti yaitu Hiang Hiang niocu dan Lam-hay Bi Jin atau Ratu
cantik dari Laut Kidul. Tetapi Ratu Laut Kidul itu kabarnya
sudah meninggal. Dan kini hanya tinggal Hiang Hiang niocu
saja. Dewi Melati ini, tentulah seorang tokoh baru."
Bok Kiang mengiakan : "Memang baru lebih kurang dua
tahun ini dunia persilatan gempar dengan kemunculan sebuah
partai baru yang menamakan dirinya Hu-yong-pang atau
Partai Bunga Melati."
"Tentulah kegemparan itu disebabkan karena ketua dan
murid-murid Partai Melati mempunyai ilmu kepandaian yang
sakti," kata si pemuda tampan.
"Mungkin begitulah."
"Ih, mungkin ? Adakah mereka belum pernah bertempur
dengan orang-orang persilatan ?" tanya pemuda itu heran.
Bok Kausu menghela napas : "Memang pernah kudengar
kabar-kabar tentang kesaktian partai baru itu. Tetapi yang
menggemparkan bukan ilmu kesaktian mereka ..."
"Lalu ?" pemuda tampan makin heran.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Begini hiante," kata Bok kausu, "yang menimbulkan
kegemparan dunia persilatan setelah kemunculan Partai
Melati, ialah adanya peristiwa-peristiwa yang aneh."
"Peristiwa aneh bagaimana, kausu, "makin meluaplah
keinginan tahu dari pemuda cakap itu.
"Sejak munculnya Partai Melati, baik dalam kalangan partaipartai
maupun perguruan silat, banyak yang kehilangan muridmuridnya
yang muda. Demikian pula sering terjadi lenyapnya
pemuda-pemuda dari rumah. Tanpa bekas dan tak diketahui
jejaknya sama sekali."
"Lalu apa hubungan Partai Melati dengan hilangnya
pemuda-pemuda itu ?" tanya pemuda tampan.
"Memang bukti belum nyata. Tetapi kecurigaan patut
dilontarkan kepada mereka. Setiap kali disuatu kota atau
tempat muncul seorang atau dua orang bahkan serombongan
nona-nona cantik yang berkendaraan kereta, tentulah
keesokan harinya atau beberapa hari kemudian, beberapa
pemudanya terutama yang cakap-cakap wajahnya, lenyap
tanpa diketahui bekasnya."
"O," desuh pemuda cakap itu.
"Demikian pula yang terjadi pada beberapa kalangan anak
murid perguruan dan partai persilatan. Banyak murid-murid
yang gagah dan berwajah tampan, hilang atau menghilang
dari rumah perguruannya."
"Apakah Kho sute juga mengalami nasib begitu ?" tanya
pemuda tampan.
"Benar, hiante," kata Bok kausu, "sudah dua tahun ini aku
diundang Kiio tihu menjadi pengawal gedung karesidenan
Siang yang bu. Dua hari yang lalu penduduk bersuka ria
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
merayakan hari Pesta Air. Telaga Thay-cu penuh dengan
perahu pesiar yang warna warni. Bermacam-macam hiasan
kertas lentera dan panji-panji membentuk perahu-perahu itu
menjadi berbagai, rupa. Ada yang menyerupai liong, ikan hiu,
ikan paus dan sebagainya.
Lelaki perempuan, tua muda, besar kecil, seolah membanjiri
telaga itu. Kho Pik giam kongcu putera tihu pun tak
ketinggalan. Dengan beberapa pemuda kawannya, dia naik
sebuah perahu berbentuk seekor Naga hijau. Tengah
bercengkerama dengan gembira diantara beratus-ratus buah
perahu yang hilir mudik, tiba-tiba Kho kongcu tertarik akan
sebuah perahu yang berbentuk seperti burung Hong
(cenderawasih).
Tetapi yang menarik perhatian putera tihu itu bukanlah
bentuk perahunya karena di telanga pada saat itu tak kurang
berpuluh macam perahu yang bentuknya lebih indah.
Melainkan yang berada dalam perahu itu ... "
Selama ketiga orang itu duduk mendengarkan cerita orang
yang disebut Bok kausu, adalah Blo’on dan kedua kakek itu
yang menderita. Mereka harus berdiri tegak menjadi patung.
Tak boleh bergerak. Lebih celaka adalah waktu Bok kausu
mengeluarkan arak. Baunya yang begitu wangi hampir
membuat kakek Lo Kun yang doyan arak, mengiler. Untung
Bloon yang berdiri dekat, tahu hal itu.
Entah bagaimana kali ini kakek Lo Kun cepat dapat
mengerti maksud orang. Ia menahan nafsu ketagihan arak.
Tetapi celaka ! Mulut berhasil dibendung supaya jangan ngiler
tetapi perutnya berontak. Dan berkerucukan bunyinya.
Jadi yang berbunyi berkerucukan itu bukan lain ialah perut
kakek Lo Kun. Untung ketiga pendatang itu tak mau
menyelidiki lebih lanjut.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Karena menahan napas supaya mulut jangan ngiler dan
perut jangan berbunyi, merah padamlah muka kakek pendek
itu. Hampir saja ia menjerit karena tak kuat harus menahan
napas sampai sekian lama.
Untunglah pada saat itu, Bok kausu menghidangkan arak
dihadapan patung sin-beng dan tiga biji bak-pau. Karena
girangnya, kakek Lo Kun tak jadi memekik. Kini mata kakek
pendek itu tercurahkan kearah cawan arak dan bak-pau.
Tengah ia berpikir keras bagaimana caranya untuk minum
arak dan makan bak-pau itu, tiba-tiba kakek Kerbau Putih
meniup lilin hingga padam. Rupanya kakek Kerbau Putih juga
tergoda oleh wanginya arak dan sedapnya bak-pau.
Habis meniup padam lilin, dengan cepat kakek Kerbau Putih
ulurkan tangan hendak meraih cawan. Uh . . lenyap. Ya,
cawan arak yang jelas berada di atas meja telah lenyap. Apa
boleh buat. ia terus meraih bak-pau. Uh , . . juga lenyap.
"Jahanam, tentu setan pendek itu yang mengambil,” kakek
Kerbau Putih memaki dalam hati seraya menarik pulang
tangannya dan tegak seperti patung lagi.
"Hai, lilin padam," seru Bok kausu seraya hendak
berbangkit untuk menyulutnya.
"Biarlah, Bok kausu, "cegah imam tua, "tak perlu disulut
lagi. Tadi lilin itu hanya tinggal sedikit. Percuma saja, sebentar
lagi tentu juga habis."
"Ya, paman, biarlah," kata pemuda tampan, "lebih baik
paman melanjutkan cerita tadi." Bok kausu mengiakan.
"Perahu burung Hong itu berisi empat orang gadis jelita.
Itulah yang mempesonakan hati Kho kongcu Rupanya ia
tersengsam sekali dengan kecantikan keempat jelita itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Segera Kho kongcu perintahkan tukang perahu untuk
menyusul perahu empat dara jelita itu. Tukang perahupun
segera memutar haluan dan mulai mendayung untuk
menyusul perahu burung Hong."
"Ai, Kho suko itu memang tak kena melihat paras cantik.
Sudah berulang kali suhu memberi pesan agar dia dapat
menjaga diri jangan mudah terpincut dengan paras cantik,"
kata pemuda tampan setengah menyesali putera tihu. Dengan
menyebut putera tihu sebagai suko (engkoh seperguruan),
jelaslah kalau dia itu saudara seperguruan dengan Kho Pikgiam.
"Ah, memang Liok hiante," kata Bok kausu.
"selama aku menjadi guru silat di gedung karesidenan,
kutahu bagaimana tingkah laku Kho kongcu. Tetapi aku hanya
seorang pengawal, bagaimana aku berani melarangnya ?”
"Lalu bagaimana kelanjutannya ?" tanya pemuda tampan
itu.
"Seperti telah kututurkan, di permukaan telaga Thay-ou
saat itu penuh sesak dengan perahu pesiar. Ketika perahu
Naga Hijau hampir berhasil mendekati perahu burung Hong,
tiba-tiba perahu Kho kongcu ditubruk dari belakang oleh
sebuah perahu besar. Rupanya tindakan tukang perahu dari
perahu Naga Hijau yang mernbilukkan haluan perahu dan
mendayung dengan laju itu, telah menimbulkan kemarahan
orang. Banyak perahu kecil yang terbentur dan terlanda
gelombang dari perputaran perahu putera tihu itu. Bahkan ada
yang tenggelam juga. Itulah sebabnya maka ada beberapa
perahu yang dinaiki oleh pemuda-pemuda segera membentur
perahu Naga Hijau itu dari belakang."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Sejenak berhenti, Bok kausu melanjutkan pula : "Karena
ditubruk dari belakang, perahu Naga Hijau terdorong kemuka
dengan cepat sekali dan membentur perahu burung Hong.
Perahu burung Hong bergoncang keras dan condong ke
samping hampir terbalik. Keempat gadis jelita itu menjerit
ketakutan. Melihat itu Kho kongcu terus loncat ke perahu
burung Hong. Dengan gunakan tenaga injakan kaki Cian-kintui
(injakan seribu kati), Kho kongcu dapat menguasai
keseimbangan perahu lagi. Dan diapun segera berkenalan
dengan keempat jelita itu.
Perahu hilir mudik tak henti-hentinya. Kawan-kawan Kho
kongcu sibuk untuk menyusul perahu burung Hong. Tetapi
sukar karena terhalang oleh ratusan perahu. Dan akhirnya
mereka kehilangan jejak perahu burung Hong itu. Sore
harinya, mereka masih mencari perahu burung Hong itu dan
akhir nya berhasil. Tetapi perahu itu sudah kosong. Menurut
tukang perahu, Kho kongcu dan keempat jelita itu telah pergi
entah kemana.
Ternyata Kho kongcu tak pulang. Tihu dan ibu Kho kongcu
sibuk bukan kepalang. Sampai dua hari lamanya belum juga
Kho kongcu pulang. Tihu lalu memerintahkan aku supaya
mencari Kho kongcu. Kebetulan engkau datang, Liok hiante.
Dan Soh Hun ki-siupun diminta bantuannya oleh tihu agar
membantu aku. Ternyata bersama dengan hilangnya Kho
kongcu, pun dalam kota Siangyang orang gempar karena
beberapa pemuda telah lenyap. Tentulah kawanan Partai
Melati itu yang membuat gara-gara."
"Apakah kausu tahu, mengapa Partai Melati itu gemar
menculik pemuda-pemuda cakap ?" tanya pemuda tampan
yang disebut Liok hiante itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Menurut keterangan yang kuperoleh." kata Bok kausu,
"rupanya ketua Partai Melati ialah Hu Yang Sian-cu seorang
wanita yang membenci kaum lelaki terutama yang berparas
tampan ..."
"Ih ..." pemuda Liok mendesah.
Rupanya Bok kausu teringat kalau keterangannya itu dapat
mengguncangkan perasaan pemuda Liok. Buru-Buru ia
menghibur : "Ah, tetapi tak perlu Liok hiante takut. Untuk
menghadapi kawanan gadis-gadis cantik itu, senjata yang
paling utama ialah keteguhan hati. Jangan sampai terpikat
oleh kecan tikan mereka. Soal adu kepandaian silat, kurasa
Liok hiante tentu dapat mengatasi mereka."
"Terima kasih, kausu." kata pemuda Liok.
"Kabarnya Hu Yong sian cu memang sakti. Dia memilih
murid-murid gadis yang jelita. Murid-Murid itu tak boleh
menikah tetapi diizinkan untuk bermain cinta dan bebas
melakukan hubungan dengan lelaki. Asal jangan sampai
menikah."
"Hm, kalau begitu gadis-gadis cantik itu cabul semua," kata
pemuda Liok.
"Cabul dan kejam " kata Bok kausu, "karena setelah
pemuda yang diculik itu tak dapat melayani keinginan mereka,
pemuda itu lalu dibunuh..."
"Hai!" teriak pemuda Liok terkejut, "benar-benar tak dapat
dibiarkan saja gerombolan ular-ular cantik itu hidup di dunia.
Mereka harus dibasmi !"
"Ya, tetapi harus hati-hati, hiante," kata Bok kausu
tersenyum, "aku sih orang tua tetapi engkau masih muda dan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tampan. Mereka tentu jatuh hati kepadamu dan berusaha
untuk mendapatkan engkau.”
"Ah, mudah-mudahan aku diberi kekuatan batin dan
keteguhan imam untuk menghadapi kawanan ular cantik itu,"
kata pemuda Liok dengan wajah penuh kebulatan tekad.
Saat itu hujanpun sudah berhenti. Dan tiba-tiba imam yang
disebut Soh Hun ki-siu atau imam Pencabut Nyawa, berseru :
"Rupanya hujan sudah berhenti. Mari kita lanjutkan perjalanan
lagi."
Bok kausu berbangkit lalu menyulut korek, menyuluhi meja.
Ia hendak mengambil cawan arak
"Hai . . , " tiba-tiba ia berteriak kaget, "mengapa bak-pau
dan arak sudah kosong? Kemanakah”
Soh Hun ki-siu dan pemuda Liok memandang cawan yang
dipegang Bok kausu. Memang isinya sudah kosong. Dan
bakpau yang terletak di meja sembahyangan lenyap.
"Hai, siapakah yang berani bermain-main dengan Bok
Kiang?” seru guru silat itu dengan nada tegang, "kalau benarbenar
seorang jantan, silahkan keluar berhadapan muka.
Jangan main sembunyi seperti kura-kura "
Tetapi tiada jawaban suatu apa. Bahkan suara gerak dari
sesuatu benda atau angin, pun tak terdengar.
Bok kausu penasaran. Ia maju menyuluhi patung-patung
yang berada di kedua samping meja.
"Hai, mengapa patung yang gundul itu tertawa
menyeringai?" tiba-tiba Bok kausu berteriak kaget ketika
pandang matanya melihat wajah patung Blo'on.
Memang saat itu seekor nyamuk telah hinggap di pipi Blo'on
dan menggigit. Karena tak berani gerakkan tangan, terpaksa
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on hanya mengerenyutkan daging pipi dan dahinya agar
nyamuk itu pergi. Tetapi tepat pada saat ia menyeringai, tibatiba
Bok kausu sedang memandangnya. Sudah tentu Blo'on
harus tetap menyeringai seperti kucing tertawa.
"Nyamuk bangsat, aduh . . ." nyamuk tetap menggigit dan
Blo'on benar-benar setengah mati. la hanya dapat menyeringai
dan menyumpahi dalam hati.
"Hai, patung pendek itu ! Mengapa mulutnya
menggelembung seperti mengulum bak-pau ?" tiba-tiba Bok
kausu yang beralih memandang kakek Lo Kun, berteriak
kaget.
Memang yang mengambil bak-pau dan arak itu kakek Lo
Kun. Ia dapat bergerak lebih cepat dari kakek Kerbau Putih,
Secepat meneguk habis arak, ia terus menyambar bak-pau.
Dua buah bak-pau cepat
pindah kedalam perutnya.
Tetapi ketika ia sedang
memasukkan bak-pau yang
ketiga kedalam mulut. Bok
kausu memandangnya.
Apa boleh buat. Daripada
diketahui kalau bukan
patung sesungguhnya,
terpaksa kakek Lo Kun
mengatupkan mulut. Dan
karena mulut masih berisi
bak-pau maka mulut Lo Kun
mecucu alias
menggelembung besar ....
Ketika menyulut korek maka menjeritlah Bok kausu : "Hai,
mengapa patung yang gundul itu menyeringai ? . . . Hai,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
mengapa patung yang pendek mecucu mulutnya? .. . Hai,
mengapa patung yang bungkuk bisa menari. .
"Hai . . . !" terdengar pula Bok kausu menjerit kaget,
"mengapa patung disamping kanan meja itu mengangkat
tangannya seperti orang hendak berjoged ?"
Kiranya karena Bok kausu menyulut korek dan memandang
kepada Bloon dan kakek Lo Kun, kakek Kerbau Putih terkejut
dan siap hendak memukul. Tetapi karena Bok kausu sudah
lebih cepat memandang kepadanya, agar jangan disangka
patung palsu terpaksa kakek Kerbau Putih hentikan gerakan
tangannya ditengah jalan. Dengan begitu ia masih dalam sikap
seperti menari.
Rupanya pemuda cakap itu juga melihat keanehan pada
ketiga patung itu : "Benar, aneh juga ketiga patung itu . . . "
Dan saat itu Bok kausupun maju menghampiri untuk
memeriksa. Melihat itu Blo’on makin tegang. Dan celakanya
kini nyamuk beralih hinggap diujungnya lalu menggigit, aduh .
. .
Rasanya tiada siksaan yang lebih hebat seperti yang
diderita Blo’on saat itu Ia harus menyeringai, tertawa seperti
kuda menyengir, ujung hidungnya digigit nyamuk tetapi ia tak
dapat menghalaunya karena takut ketahuan belangnya.
Karena tak tahan siksaan itu, Bloon meniup dengan
mulutnya, untuk menghalau nyamuk celaka itu, hefff ...
Berkat makan rumput Kumis-naga dan darah Ki-lin, Blo'on
telah memiliki tenaga dalam yang kokoh. Tetapi dia tak tahu
bagaimana cara untuk mengerahkan tenaga-dalam itu dan lagi
memang dia tak menyadari kalau mempunyai tenaga-dalam
hebat.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Saat itu karena jengkel ujung hidungnya digigit nyamuk,
Blo'on empos semangatnya dan meniup. Maksudnya hendak
mengenyahkan nyamuk tetapi tak dinyana-nyana korek yang
dipegang Bok kausu itupun padam. ,
"Hai, patungnya dapat bernapas . . " Bok kausu terkejut
dan menyurut mundur.
Tiba-Tiba terdengar anjing menyalak keras dan kuda
rombongan Bok kausu yang tertambat diluar kuil meringkikringkik
sekuatnya.
"Ada orang !" cepat imam Soh Hun berseru seraya melesat
kepintu, "Hai, kuda kita lepas . . !"
Mendengar teriakan itu, pemuda cakappun cepat menyusul
keluar. Bok kausu terkejut. Terpaksa ia batalkan niatnya untuk
menyulut korek lagi lalu lari ke pintu.
"Hai, tunggu dulu totiang . . . !" teriak pemuda cakap dan
Bok kausu. Ternyata imam tua sudah lari mengejar kuda yang
lari. Pemuda Liok dan Bok kuusupun segera cepat-cepat
menyusul. Tak selang berapa lama merekapun sudah lenyap
dari pendengaran.
Sebagai gantinya dari ketiga orang itu. muncullah tiga ekor
binatang. Anjing Kuning, burung rajawali dan monyet hitam.
"Ternyata ketiga binatang itulah yang berjasa menolong
Blo'on dan kedua kakek dari kesukaran. Ketika mereka kembali
dengan membawa makanan tiba-tiba mereka melihat tiga ekor
kuda di luar kuil. Rupanya ketiga ekor binatang itu memang
cerdik dan mendapat latihan yang baik sehingga naluri
merekapun amat tajam. Monyet hitam yang paling cerdik dan
nakal, cepat melepaskan tali penambat kuda, sedangkan
burung rajawali menyambar muka dan anjing Kuning
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menggigit pantat. Karena terkejut ketiga kuda itu meringkik
keras dan binal dan lari sekencang-kencangnya.
"Bangsat benar engkau, kakek Kerbau !" tiba-tiba kakek Lo
Kun mendamprat ."karena gara garamu suruh jadi patung,
mulutku sampai kaku begini. Masa orang disuruh mengulum
bak-pau terus-terusan"
"Setan pendek, siapa suruh engkau menyambar bak-pau?
Bukankah aku yang meniup padam lilin, mengapa engkau
mendahului aku mengambil arak dan bakpau ?" balas kakek
Kerbau Putih, "masih enak engkau makan dua biji bak-pau dan
secawan arak. tetapi aku ? Gila betul . . . masakan aku harus
mengacungkan kedua tangannya seperti orang berjoged ? Huh
..."
"Hai, mengapa engkau Blo'on ?" tiba-tiba kakek Lo Kun
berseru karena melihat anak itu sedang mengusap-usap kedua
belah pipinya. Dan mulut-nyapun menganga.
"Rahangku kesemutan ..." sahut Blo'on.
"Kenapa ?"
"Mulutku tak dapat ditutup ..."
"Kenapa ?" teriak kakek Lo Kun karena pertanyaannya tak
dijawab
"Ho, ho . . mulutku ini, aduh . . tak dapat ditutup”
Kakek Lo Kun menghampiri. Setelah mengintai kedalam
mulut Blo'on yang ternganga itu, ia berkata : "Tak apa, biar
terus menganga. Nanti kucarikan penutupnya !"
Kakek Lo Kun terus hendak melangkah keluar tetapi dicekal
tengkuknya oleh kakek Kerbau Putih : "Jangan gila-gilaan
engkau, setan pendek Mau kemana engkau ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Uh, cari bonggol kayu untuk menutup mulut anak itu."
sahut kakek Lo Kun.
"Setan," kakek Kerbau Putih mendorongnya dengan geram,
"masakan mulut menganga mau disumpal bonggol kayu !"
Ia terus menghampiri Blo'on, katanya: "Mungkin engkau
tertawa terlalu lama, tulang rahangmu jadi kaku sehingga
mulutmu tak dapat dikatupkan"
"Aku tidak tertawa " Blo'on deliki mata kepada kakek itu.
“Lalu apa yang engkau lakukan selama jadi patung tadi ?"
"Menyeringai ..."
"O, apa itu menyeringai ?"
"Tertawa seperti kucing."
"Ho, kucing itu bisa tertawa ?”
"Jangan banyak mulut, lekas tolong mulutku” Bloon marah.
"Eagkau tahan sakit ?"
"Sudahlah, lekas kerjakan !" teriak Blo'on.
Plak . . plak . . . tiba-tiba kakek Kerbau Putih menampar
kedua belah pipi Blo’on.
Aduh . . . anak itu menjerit kesakitan. Kepalanya serasa
pusing tujuh keliling. Beberapa jenak kemudian setelah
sembuh. Ternyata rahangnya sudah dapat dikatupkan.
"Kakek gila " Bloon menggeram, "engkau memang yang cari
gara-gara. Masakan orang disuruh jadi patung tertawa "
"Siapa suruh engkau tertawa ?" bantah kakek Kerbau Putih.
"Habis, kalau hidung gua digigit nyamuk apa guna bisa
menampar dengan tangan ? Kan terpaksa harus menyeringai
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
supaya nyamuk itu pergi, tetapi nyamuk celaka itu tak mau
pergi malah menggigit sekeras-kerasnya ..."
"Engkau masih mending hanya tertawa, aku? Aku harus
berjoged tadi” kakek Kerbau Putih bersungut.
“Sudah, jangan ribut-ribut, hayo kita makan," seru kakek Lo
Kun seraya menyambut makanan yang dibawa oleh ketiga
binatang piaraan Blo’on.
Demikian ketiga orang Itupun terus makan. Selesai makan,
berkata kakek Kerbau Putih : "Kemana kita sekarang ?"
“Mengejar ketiga orang tadi," seru kakek Lo Kun.
"Buat apa ?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Lihat-Lihat lembah Melati yang aneh itu. Bukan kah disitu
ada Dewi Melati dan gadis-gadis cantik ?" kata kakek Lo Kun.
"Tua bangka," damprat kakek Kerbau Putih "tua-tua keladi,
makin tua makin menjadi jadi. Tidak aku tak mau lihat gadis
cantik, nanti bisa terkenang pada kekasihku dulu "
Kakek Lo Kun membelalak, serunya : "Kalau engkau mau
pergi, pergilah. Aku tetap hendak melihat-lihat ke Lembah
Melati itu."
"Uh ..." kakek Kerbau Putih garuk-garuk kepala, "sekarang
kita ambil suara. Engkau setuju, aku tidak setuju. Sekarang
tinggal Blo'on. Kalau Blo'on setuju aku kalah suara dan ikut
engkau. Kalau Blo'on tak setuju, engkaupun harus ikut aku."
"Ya."
Kakek Kerbau Putih lalu bertanya kepada Blo'on :
"Bagaimana, engkau setuju ke Lembah Melati atau
melanjutkan perjalanan ?"
"Melanjutkan perjalanan." kata Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Benar !" seru kakek Kerbau Putih girang lalu berpaling
kepada kakek Kerbau Putih, "nah, dengar tidak ? Sekarang
mari kita lanjutkan perjalanan.”
Demikian ketiga orang itu, walaupun hari malam, tetap
melanjutkan perjalanan. Belum berapa lama berjalan tiba-tiba
dari sebelah muka tampak sebuah kereta meluncur datang.
Kereta itu ditarik empat ekor kuda.
"Aneh. mengapa pada malam hari begini, ada kereta
berjalan di tempat pegunungan ini ?" kata kakek Kerbau
Putih.
"Ah, kalau menempuh perjalanan dengan naik kereta tentu
kita tak usah berjalan kaki, "kata Bloon.
"Setuju !" teriak kakek Lo Kun, "kita sewa saja kereta itu.
Atau kita beli !"
Saat itu keretapun sudah tiba. Kusirnya seorang lelaki
setengah tua.
"Hai, minggir, jangan menghadang di tengah jalan !" teriak
kusir kereta seraya lambatkan kudanya karena melihat tiga
orang, menghadang di muka.
"Berhenti dulu, bung kusir," seru kakek Kerbau Putih. Kusir
terpaksa hentikan kudanya.
Kakek Kerbau Putih menghampiri ke tempat kusir, katanya :
"Hendak kemana kereta ini ?"
"Jangan banyak tanya, lekas pergi !" bentak kusir dengan
bengis.
"Eh, jangan bengis-bengis begitu," kata kakek Ker bau
Putih, "aku hendak memberi kabar baik kepadamu." kusir itu
memandang lekat-lekat. Ia terkejut ketika melihat seorang
manusia bungkuk yang mukanya berlumuran debu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, engkau manusia atau setan ?" seru kusir itu heranheran
kaget.
"Edan, masakan begini, bukan manusia ?" damprat kakek
Kerbau Putih.
"Astaga . . ' kembali kusir menjerit kaget ketika melihat
Blo'on dan kakek Lo Kun muncul. Malam hari di tengah
pegunungan sepi, mendadak muncul tiga manusia yang aneh,
membuat kusir itu terlongong longong . . .
"Itu juga manusia ?" tanya sesaat kemudian sambil
menunjuk Bloon dan kakek Lo Kun.
Karena dirinya dianggap aneh, kakek Lo Kun marah :
"Kusir, jangan banyak mulut. Kalau engkau berani
mengatakan aku bukan manusia, nanti kurobek mulutmu !"
Mendengar mulutnya hendak dirobek, kusir itupun marah :
"Hm, manusia pendek, apakah kalian hendak membegal ?"
"Tidak !" sahut kakek Kerbau Putih, "kami bertiga ini bukan
bangsa penyamun tetapi orang baik-baik. Jangan salah
faham."
"Lalu apa maksudmu menahan kereta ini?"
"Kami bertiga hendak mengadakan perjalanan jauh menuju
ke kotaraja. Aku senang melihat kereta dan kuda yang tegar
ini maka kami akan membeli keretamu ini. Tetapi ingat,
jangan pasang harga tinggi, percuma saja, karena aku tak
punya banyak uang ..."
"Tidak, aku tak mau menjual kereta ini !" teriak kusir.
"Hm, kusir, engkau minta berapa ? Jangan takut tentu akan
kubayar !" seru kakek Lo Kun.
"Tidak!" kusir itu menjerit, 'tidak kujual !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kalau tidak boleh dibeli, kami hendak menyewa saja.
Berapa engkau minta untuk pergi ke kotaraja '. tanya kakek
Kerbau Putih.
"Ya, bilang saja, tentu kubayar. Tetapi engkau harus
menjalankan dengan baik, jangan main kebut. Kalau engkau
menyenangkan hatiku, nanti kuberi ekstra lagi," kata kakek Lo
Kun.
"Ya, benar, kalau engkau menjalankan dengan baik, nanti
pulang dari kotaraja kami tetap menyewa keretamu lagi,"
kakek Kerbau Putih menambahi kata-kata.
"Dan kalau engkau dapat membawa kami ke tempat-tempat
yang indah pemandangannya, eh . . juga rumah makan yang
jual arak wangi dan makanan lezat, engkau akan menerima
hadiah lagi," seru Lo Kun.
Selama mendengar ocehan kedua kakek itu. kusir hanya
melongo saja. Sesaat kemudian baru ia menyadari kalau
sedang berhadapan dengan dua orang kakek limbung. Tibatiba
ia mendapat akal.
"Ya, baiklah," katanya, "tatapi aku harus mengantarkan
penumpangku dulu. Kalian tunggu disini, setelah aku kembali
baru nanti kita rundingkan sewanya lagi."
"O, siapakah penumpangmu ?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Seorang gadis ..."
"Seorang gadis ?" cepat kakek Lo Kun menanggapi, "siapa
namanya ?"
"Gila, mengapa tanyakan nama orang ? Kakek pendek,
engkau harus tahu aturan. Jangan sembarangan menanyakan
nama seorang gadis. Dia bisa marah !"
"Kemana tujuannya ?" tanya kakek Kerbau Putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kusir itu gelengkan kepala : "Aku sendiri juga tak diberi
tahu, pokoknya hanya disuruh jalan. Kalau nanti tiba
ditempatnya, nona itu tentu akan memheritahu sendiri."
"Aneh . . aneh . . " kata kakek Lo Kun dan Kerbau Putih
serenpak.
"Sudahlah, hayominggir, aku hendak melanjutkan
perjalanan' seru kusir.
"Tunggu sebentar lagi," cegah kakek Kerbau Putih, "kereta
ini dari mana ?"
"Sudahlah, jangan banyak bicara . . " baru kusir berkata
begitu, tiba-tiba pintu kereta terbuka dan sebuah wajah dari
seorang gadis yang cantik melongok keluar berseru : "Hai,
mengapa kereta berhenti begini lama ? Apa ada yang rusak '
Mendengar suara seorang gadis yang merdu,
"Hai, apakah engkau bukan. . bukan Sun Li hea, puteri Sun
tihu yang dinikahkan dengan aku dahulu ?" teriak kakek Lo
Kun.
Gadis cantik itu memandang Lo Kun, terkesiap lalu merogoh
baju dan lemparkan sekeping uang perak : "Pengemis jembel.
ambillah uang itu dan lekas pergi, jangan mengganggu kereta
ini "
Lo Kun terbelalak. Memandang kepingan perak lalu
memandang si jelita : "Apa katamu? . . . Engkau anggap aku
ini pengemis jembel?"
"Lekas enyah !" teriak nona cantik itu. Tiba-Tiba kakek
Kerbau Putihpun datang. Kakek Lo Kun segera berkata :
"Kerbau tua, coba lihatlah nona itu. Apakah bukan puteri Sun
tihu dulu" Kakek Kerbau Putih maju kemuka pintu kereta,
memandang dengan penuh perhatian kepada sinona lalu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
memekik : "Astaga ! Engkau benar setan pendek. Dia memang
puteri tihu kekasihku dulu" Kakek Kerbau Putih terus berlutut
di depan pintu kereta : "Oh, kekasihku yang kucintai matimatian.
Apakah dikau lupa kepadaku ?"
Nona itu tercengang. Sesaat kemudian merah lah selebar
wajahnya : "Pengemis bungkuk, jangan kurang ajar. Kalau
mau minta uang, nih, ambillah" ia lemparkan sekeping uang
perak kehadapan kakek Kerbau Putih.
"Engkau lupa kepadaku, manis ? Aduh, masakan sampai
hati engkau menghina kekasihmu sebagai seorang pengemis
..."
Merah padam wajah nona cantik itu karena dianggap
kekasihnya si kakek bungkuk. Tetapi belum sempat ia
bertindak, tiba-tiba kakek Lo Kunpun berlutut di sisi kakek
Kerbau Putih.
"Oh, Sun Li-hoa isteriku yang kucintai setengah mati," Lo
Kun merintih-rintih, "walaupun pada hari pernikahan engkau
melarikan diri, tetapi aku tak marah, sayang ! Aku tetap
mencintai engkau ..."
Serasa dada gadis cantik itu mau meledak. Sama sekali ia
belum pernah kenal dengan kedua kakek bungkuk dan pendek
itu. Mengapa tahu-tahu mereka muncul dan yang satu bilang
kekasihnya, yang satu mengaku isteri kepadanya.
Serentak nona cantik itu membuka pintu kereta dan turun.
Serangkum hawa wangi berhamburan dari pakaian si jelita.
Sanggulnya berhias serangkai bunga melati. Ditingkah sinar
rembulan, tampaklah kecantikannya yang gilang - gemilang.
"O, kekasihku, betapa rindu aku mengenangkan engkau . .
" kakek Kerbau Putih serentak berseru seraya merentang
kedua tangan seperti hendak menyambut.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Duhai, isteriku, akhirnya kita bersatu lagi. Memang kalau
jodoh, masakan mau lari kemana ..." seru kakek Lo Kun
dengan songsongkau kedua tangannya ke muka.
"Tutup mulutmu!" bentak gadis itu dengan ma rah.
"Ya, ya, kekasihku. Aku akan menutup mulut. Apapun
perintahmu, tentu kulakukan," seru kakek Kerbau Putih.
Kakek Lo Kun tak mau kalah, serunya : "Oh, isteriku.
jangankan hanya mulut, mata dan telingapun akan kututup
kalau engkau yang suruh"
Gadis itu tiba-tiba mendapat pikiran. Mengapa ia harus
melayani dua kakek limbung ? Lebih baik ia menggunakan akal
untuk menghindari mereka
"Hayo, kalian tutup mata dan mulut!" serunya
Kedua kakek limbung
serentak melakukan apa yang
diperintah si jelita.
Setelah melihat kedua kakek
itu menutup mata. si jelita
terus maju menghampiri lalu
mengangkat tangan hendak
memukul.
"Tunggu dulu " tiba-tiba
Blo'on mencegah seraya
menghampiri.
Nona itu terkesiap melihat
perwujutan Blo'on Seorang pemuda, kepalanya gundul tetapi
pada ke dua sisi kepalanya tumbuh rambut lebat dan diikatnya
macam kuncir. Dan yang lebih mengejutkan, pemuda itu juga
dengan kedua kakek, muka nya bercontrengan debu kotor.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mengapa engkau hendak memukul kedua kakek itu ?"
sebelum si jelita membuka mulut, Blo'on sudah mendahului
bertanya.
"Dia kakek kurang ajar, berani mengaku-aku diriku ini
kekasihnya dan isterinya.”
"Engkau benar kekasihnya atau bukan “ Blo’on menunjuk
kakek Kerbau Putih.
"Cis, siapa sudi menjadi kekasih seorang kakek bungkuk
semacam itu !"
"Lho, jangan menghina!" bantah Blo'on, "sebelum bungkuk,
dia dulu putera seorang tikoan, seorang pemuda yang bagus.
Engkau tentu tergila-gila melihatnya ..."
"Bangsat, jangan banyak mulut !" bentak jelita itu.
"Lalu engkau benar isteri kakek itu atau bukan ?" Blo'on
menuding kakek Lo Kun.
"Cis, isterinya ? Menjadi budakku pun dia tak terpakai,
masakan menjadi suamiku !"
"Hus, jangan kemayu ! Jelek-Jelek begitu, dia dahulu
berpangkat jenderal pasukan pengawal istana raja !"
"Jenderal pengawal istana ? Hi, hi, hi . .” sebenarnya jelita
itu marah, demi mendengar ocehan Blo’on, hatinya seperti
digelitik sehingga ia tertawa jengkel.
"Budak hina, tutup mulutmu" bentak Blo'on
Jelita itu serentak hentikan tertawa. Dia benar-benar
terkejut karena pemuda itu berani memakinya begitu. Belum
pernah selama ini, ada lelaki yang berani memakinya. Setiap
pemuda yang melihatnya pasti akan berlutut dan merintihrintih
mengemis cinta.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Jelita itu memandang Blo'on sejenak
"Hai, bung, engkau benar seorang jantan " seru si jelita,
"Memang," kata Blo'on, "siapa bilang aku ini betina !"
"Engkau berani memaki aku, ya ?"
"Mengapa tidak berani ?" jawab Blo'on.
"Apa engkau tidak melihat aku ini cantik?"
"Ya, memang ayu."
"Lalu ?" tanya si jelita.
"Lalu bagaimana ?" tanya Blo'on.
"Apa engkau tak ingin merebut hatiku ?" tanya jelita itu
pula,
"Perlu apa? Aku kan sudah punya hati sendiri”.
Jelita itu terbeliak, ujarnya : "Maksudku, apakah engkau tak
ingin mendapat cintaku ?”
"Tidak."
"Mengapa ?" si jelita mengerut alis.
"Memberatkan beban saja. Gadis cantik seperti engkau ini
tentu minta pupur yang mahal, gincu, pakaian dan perhiasan
yang mahal-mahal. Bukan kah lebih bebas kalau aku seorang
diri saja ?"
"Aneh," gumam jelita itu, "padahal setiap pemuda yang
berjumpa dengan aku pasti berlutut dibawah kakiku dan
merengek-rengek supaya aku mau menerima cintanya."
"Itu pemuda tolol ! Perlu apa harus merengek-rengek
kepada anak perempuan ? Coba kalau tidak ada lelaki,
masakan engkau tak kelabakan?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Gadis itu merah mukanya.
"Jangan menghina kaum wanita !" bentak jelita itu "tuh
lihatlah kaummu sendiri. Walaupun sudah kakek-kakek tua
dan jelek, tetapi kalau melihat nona cantik lantas menjadi
seperti orang gila !"
"O, kedua kakek itu ?" tanya Blo'on, "memang keduanya
kakek gila !" Lo Kun deliki mata, kakek Kerbau Putih pun
memberingas.
"Hai, Blo'on, jangan memaki sesukamu sendiri," kata Lo
Kun, "aku tidak gila wanita. Tetapi nona itu memang Sun Lihoa
yang dikawinkan dengan aku dulu !"
"Bloon, aku juga tidak gila ! Kalau nona ini bukan Sun Lihoa
kekasihku yang dulu, masakan aku sudi berlutut
dihadapannya ?" teriak kakek Kerbau Putih pula.
"Tetapi Sun Li hoa kan masih didalam guha dijaga Somali ?"
teriak Blo on.
"O. benar," teriak kakek Lo Kun, "kalau begitu Somali tentu
ikut serta ..." ia terus bangun dan loncat masuk kedalam
kereta.
"Ini dia Somali . . " sesaat kemudian tiba-tiba sesosok tubuh
seorang lelaki dilempar keluar oleh kakek Lo Kun. Dan kakek
itupun terus loncat ke luar menyusul.
Bluk . . . seorang pemuda cakap terbanting di tanah.
Sejenak meringis, pemuda itupun terus bangun.
Gerak gerik kakek Lo Kun itu memang dilakukan cepat
sekali dan tak terduga-duga sehingga si jelita tak keburu
mencegah, Alangkah kejut nya ketika pemuda dalam kereta
itu dilempar ke luar oleh kakek pendek.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kakek bangsat ..." jelita itu marah sekali terus hendak naik
ke dalam kereta tetapi saat itu kakek Lo Kunpun sudah loncat
turun.
Si jelita tetap menyerang kakek Lo Kun untuk
melampiaskan kemarahannya.
Duk, plak . . sebuah pukulan tendangan jelita itu membuat
kakek Lo Kun jungkir balik.
Ternyata Lo Kun memang tak mau menghindar maupun
menangkis. Terhadap nona cantik yang dikiranya Sun Li-hoa
puteri tihu Hong yang hu, ia memang mandah diapakan saja.
"Bangsat Lo Kun, mengapa engkau berani mengganggu
kekasihku ?' tiba-tiba saja kakek Kerbau Putih menghampiri.
Bukan untuk menolong tetapi malah ikut menyepak kakek Lo
Kun.
Plak . . .
"Aduh, kurang ajar, mengapa engkau ikut menyepak aku ?'
teriak Lo Kun lalu loncat bangun dan balas memukul kakek
Kerbau Putih. Demikian kedua kakek linglung itu berkelahi
sendiri.
Si jelita segera alihkan perhatian kepada pemuda cakap.
Dipandangnya pemuda itu lekat-lekat sampai beberapa jenak.
Setelah itu dengan suara lembah lembut dan merdu ia
berkata: "Koko, apakah engkau menderita luka ?"
Si jelita menghampiri lalu mengusap-usap pipi pemuda
bagus itu dengan mesra. Entah bagaimana setelah dilempar
oleh kakek Lo Kun keluar kereta. bermula pemuda itu loncat
bangun dan mem beringas seperti orang yang tersadar dari
kelimbungan. Tetapi begitu beradu pandang dengan mata si
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
jelita, semangatnya hilang dan kesadaran pikirannyapun
lenyap lagi.
"Ah, tak apa-apa, manis ..." katanya sambil memeluk jelita
itu, "siapakah kakek pendek yang melempar aku tadi ?"
"O, dia orang gila, koko," kata si jelita dengan penuh rayu,
"mari silahkan naik ke dalam kereta lagi ..."
Dengan saling berpelukan mesra, si jelita dan pemuda
bagus itu terus menghampiri pintu kereta. Pada saat keduanya
hendak naik, tiba-tiba kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putih
berteriak : "Hai, Somali. jangan gila-gilaan membawa Sun lihoa
pergi , . . "
Berhamburan kedua kakek linglung itu menyerbu hendak
menarik pemuda cakap, Tetapi secepat itu, si jelita sudah
menyambutnya dengan dua buah tendangan yang
menyebabkan Lo Kun dan kakek Kerbau Putih terlempar jatuh
. . ,
"Budak hina, jangan menganiaya kawanku!" tiba-tiba Blo'on
maju mencekal lengan si jelita.
"Uh, jangan pegang aku, bangsat !" teriak si jelita seraya
meronta. Tetapi alangkah kejutnya ketika ia rasakan tangan
Blo’on itu seperti jepifan besi kokohnya. Diam-diam ia
kerahkan tenaga-dalam untuk meronta tetapi aneh, mengapa
tak juga dapat terlepas. Geram, marah dan kesakitan
membuat wajah si jelita mengerut sengit.
"Hai, anak Blo'on, jangan kurang ajar kepada isteriku,"
serentak memekiklah kakek Lo Kun mendamprat Bloon.
"Ya. lepaskan cekalanmu itu," teriak kakek Kerbau Putih
pula.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tetapi kalau kulepas, dia tentu akan memukul engkau
berdua." sahut Blo'on.
"Biar !" seru kakek Lo Kun. "dipukul isteri cantik, jauh lebih
nyaman daripada dipijati."
"Ya, biar dia memukul aku tetapi itu urusan kami berdua.
Engkau orang luar tak boleh campur tangan !" kakek Kerbau
Putih tak kalah suara
Blo'on terpaksa lepaskan cekalannya.
"Ai, isteriku sayang, apakah engkau kesakitan ?" seru kakek
Lo Kun.
Merahlah muka gadis cantik itu dipanggil isteri oleh seorang
kakek pendek. Baru ia hendak mendamprat, tiba-tiba kakek
berambut putih atau kakek Kerbau Putih sudah berseru : "Lihoa.
apakah engkau lupa kepadaku. Akulah kekasihmu dahulu,
pemuda cakap putera tikoan itu. Bukankah kita pernah
merangkai janji sehidup-semati dibawah sinar bulan purnama?
O aku masih ingat sumpah mu kala itu bahwa tiada kekuasaan
manusia di dunia yang dapat memisahkan kita. Sckalipuu
sudah mati, kita tetap akan bersama-sama di akhirat."
Mimpipun tidak jelita itu bahwa hari itu ia bakal berjumpa
dengan dua orang kakek gila basa. Yang satu mengakunya
sebagai isteri yang satu sebagai kekasih. Kedua kakek itu jelas
orang gila, pikirnya. Kalau ia melayani berarti hanya
membuang waktu sia-sia saja.
"Hai. kalian berdua." serunya setelah memperoleh akal.
"siapakah yang sebenarnya berhak mengaku aku sebagai isteri
dan kekasih itu ?"
"Aku " teriak kakek Lo Kun serentak.
"Sudah tentu aku, Bi-nio," seru kakek Kerbau Putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hm baik," kata si jelita, "sekarang begini saja. Aku hanya
seorang, sudah tentu tak bisa menjadi isterimu dan sekaligus
menjadi kekasihmu" kata gadis itu seraya menunjuk pada
kakek Lo Kun lalu beralih menunjuk kakek Kerbau Putih, "aku
akan menentukan begini. Siapa yang lebih sakti ilmu
kepandaiannya, dialah yang berhak mengambil diriku "
'O" seru kakek Lo Kun, "maksudmu suruh aku berkelahi
dengan si Kerbau Putih ini ?"
"Ya"
"O." seru kakek Kerbau Putih pula, "apakah tidak ada lain
jalan lagi kecuali berkelahi ?"
"Tidak," sahut si jelita, "seorang cantik harus mendapat
jodoh sebrang ksatrya yang sakti. Kalau kalian tak mau. tak
usah kalian mengharap diriku lagi."
Habis berkata jelita itu teras berputar tubuh melangkah ke
arah kereta.
"Tunggu." teriak kakek Lo Kun "Ya. aku akan menuruti
permintaanmu. Lihat saja bagaimana aku nanti mengalahkan
si Kerbau Putih dengan mudah."
Kemudian kakek Lo Kun menantang kakek Kerbau Putih :
"Hayo. kerbau tua. kitu berkelahi. Siapa yang menang boleh
mendapatkan jelita itu."
Kakek Kerbau Putih tak menyahut melainkan malah
berteriak : "Hai, Bi-nio. hendak kemana engkau ? Bukankah
engkau suruh kami berkelahi ? Mengapa engkau hendak
pergi?”
Memang saat itu si jelita sudah naik ke dalam kereta Dari
lubang pintu, ia melongok keluar dan berseru : "Akan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kutunggu di lembah sana .Siapa yang datang lebih dulu, dialah
yang menang."
Si jelita terus perintahkan kusir untuk menjalankan kereta
lagi. Ketika melirik dari pintu, didapatinya kakek Lo Kun
memang sudah berkelahi dengari kakek Kerbau Putih.
"Hm, kedua kakek gila itu tentu akan berkelainan mati
matian sehingga kehabisan tenaga," diam-diam ia tersenyum.
Saat itu Blo'on masih tegak terlongong-longong. Ia tak tahu
bagaimana harus bertindak. Kakek Lo Kun dan kakek Kerbau
Putih sudah berhantam, saling pukul memukul, tendang
menendang.
Kedua kakek itu sudah bertahun-tahun melakukan
pertempuran adu kesaktian. Tetapi selama ini tentu tanpa
kesudahan. Tak ada yang menang dan kalah. Maka kalau
mereka saat itu disuruh berkelahi, berarti suatu latihan saja.
Beberapa saat kemudian Blo'on berteriak : "Hai. kamu
kedua kakek, kapankah kamu akan selesai berkelahi ?"
"Sudah tentu sampai ada yang rubuh," sahut kakek Lo Kun.
'"Berapa lama ?" tanya Blo'on.
"Tidak terbatas." sahut kakek Lo Kun pula, "entah sampai
pagi, entah sampai besok malam, dua hari lagi. tiga empat
sampai lima hari "
"Celaka !" Blo'on memekik seraya banting-banting kaki ke
tanah.
"Mengapa ?" kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putih
melongo.
"Kalian goblok !" damprat Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
'Goblok bagaimana?" kata kakek Lo Kun dengan masih
tetap bergelut dengan kakek Kerbau Putih Sambil menuding
kakek Lo Kun dan Kerbau Putih, Blo'on menjerit : "Kalian
disuruh berkelahi tetapi gadis itu enak-enak naik kereta
bersama Somali. Bukankah kalian seperti ditipu mentahmentah
?"
"Hai . . . hai . . !" kakek Lo Kun dan Kerbau Putih serentak
loncat mundur beberapa langkah. Yang satu ke utara, yang
satu ke selatan.
"Apa katamu ?" teriak Lo Kun seraya menghampir ke
tempat Blo'on.
"Dengarkan," teriak Blo'on dengan keras "engkau disuruh
berkelahi dengan kakek Kerbau Putih tetapi Somali diajak inde-
hoy dengan gadis itu !"
"In-de hoy ? Apa itu ?" tanya Lo Kun.
"Kata orang sekarang, in-de-hoy itu artinya berpacaran,"
kata Blo on.
"O, macam-macam saja," kakek Lo Kun menggerutu, "Dulu
jaman aku masih muda, tidak pernah ada kata-kata semacam
itu".
"Engkau benar, Blo'on!" tiba-tiba kakek Kerbau Putih
berseru, "ya, kupikir-pikir aku dan setan pendek itu memang
goblok. Kita disuruh berkelahi tetapi Somali diajak naik kereta.
Hayo, kita kejar “
Demikian kedua kakek itu segera lari menge jar kereta yang
saat itu sudah tak kelihatan lagi. Blo'on terpaksa mengikuti.
Anjing kuning, burung rajawali dan monyet hitarnpun segera
mengikuti.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Mereka menyusur jalan yang membentang lurus kearah
lereng gunung. Kemudian menurun kebawah. Saat itu haripun
sudah mulai terang tanah Namun belum juga dapat menyusul
kereta itu.
"Aneh. kemanukah gerangan kereta itu ?" akhirnya Blo'on
tak dapat menahan kesabarannya. Ia hentikan larinya, "kalau
terus menerus lari begini, kakiku bisa lemas."
Kedua kakekpun ikut berhenti. Mereka berada di tepi
sebuah hutan yang sunyi.
"Hm. bangsat Somali," kakek Lo Kun menggeram, "kalau
ketemu tentu akan kurobek-robek badannya. Disuruh tunggu
di dalam guha masakan malah mengajak Sun Li-hoa pesiar
kemana-mana"
“Ho. itu masih ringan," kata kakek Kerbau Putih, "kalau
ketemu aku tentu akan kukorek hatinya dan kubakar. Orang
yang tak punya hati tentu tak dapat main cinta lagi."
Mendengar ocehan kedua kakek itu, rupanya Blo'on muak.
serunya : "Sudahlah, jangan banyak bicara. Yang penting kita
berusaha mencari kereta itu."
"Ya. benar," seru kakek Lo Kun lalu ayunkan langkah, "hayo
kita turun ke bawah sana."
Di sebelah bawah hutan itu terbentang sebuah lembah.
Ketika ketiga orang dan tiga ekor binatang tiba di mulut
lembah, keadaan sekeliling tempat itu sunyi senyap.
Lembah penuh ditumbuhi pohon melati. Dan pohon-pohon
itu tengah rnerekahkan bunga. Sesaat angin berhembus maka
berhamburan bau bunga melati yang harum memenuhi
seluruh lembah.
"Harum sekali tempat ini !" teriak kakek Lo Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ha, kalau begitu kita tiba di lembah Melati Menurut cerita
Bok kausu tadi, lembah ini menjadi tempat kediaman
gerombolan Partai Melati." kata kakek Kerbau Putih.
"Ho, bagus, bagus !" teriak kakek Lo Kun.
Kakek Kerbau Putih terlongong, tegurnya : "Apa yang
bagus?"
"Bukankah Bok kausu itu menceritakan kalau anakmurid
Partai Melati itu terdiri dari gadis-gadis yang cantik ?"
"Setan pendek," damprat kakek Kerbau Putih '"ingat engkau
sudah tua bangka, jangan gila-gilaan seperti anakmuda."
"Kerbau goblok," kakek Lo Kun balas mendamprat, "bukan
salah seorang kakek tua seperti aku kalau bersantai dengan
gadis-gadis cantik. Tetapi bukankah Bok kausu itu mengatakan
bahwa anak buah Partai Melati memang mencari kaum lelaki
untuk diajak bersenang-senang ? A-ha ..."
"Kakek edan " seru kakek Kerbau Putih, "memang benar
begitu tetapi yang dicari oleh Anak buah Partai Melati itu
adalah pemuda-pemuda cakap, bukan kakek pendek semacam
engkau "
"Mati aku !" kakek Lo Kun mengeluh' "kalau begitu si Blo'on
yang bakal mendapat rejeki besar !"
"Ha ?" Bloon melongo.
"Kalau engkau dikerumuni gadis cantik, jangan lupa. kasih
aku seorang" pesan kakek Lo Kun.
"Mengapa mereka memilih aku ?"
'Gadis-gadis Partai Melati itu mencari pemuda-pemuda
cakap. Bukankah engkau juga . . . ea." Lo Kun berpaling, “hai
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kakek Kerbau, apakah wajah seperti Blo-on ini akan diterima
mereka ?"
"Tergantung dengan mereka, Kalau mereka menganggap
Blo'on cakap, tentu akan diterima. Kalau tidak, tentu akan
digebuk seperti anjing buduk."
"Wah, celaka," kata k kek Lo Kun. "kalau begitu Blo'on
harus dihias dulu supaya cakap."
Kemudian kakek Lo Kun memandang Blo'on serunya:
"Blo’on engkau harus memelihara rambut seperti aku. Mukamu
harus dicuci yang bersih dan dibedaki . . ."
Selama kedua kakek itu bicara, Blo'on hanya mendengarkan
saja. Ia menyeringai, menyengir dan mendelik ketika
mendengar kata-kata kakek Lo Kui.
"Tidak sudi ! Aku anak lelaki, bukan banci Mengapa harus
pakai pupur segala. Akupun tak mau memelihara rambut.
Lebih enak gundul begini. Ho kakek Lo Kun. engkau memang
gila perempuan. Tetapi kalau aku. huh, sekalipun gadis-gadis
Partai Jelita itu cantik-cantik, aku juga tak mau !"
"Goblok" teriak Lo Kun, "mengapa anak lelaki takut pada
gadis cantik? Itu banci namanya"
"Persetan dengan gadis cantik" teriak Blo'on.
"Sudahlah, jangan ribut-ribut," akhirnya kakek Kerbau Putih
menyelutuk, "hayo kita menyelidiki lembah ini.
Mereka menjelajahi lembah itu. Tetapi tak menemukan
suatu apa. Hanya ketika tiba di ujung lembah, mereka terkejut
karena mendapatkan sekeping papan besi warna hitam
menjulang tinggi. Bentuknya menyerupai sebuah pintu,
Dung. dung . . , kakek Lo Kun menghampiri dan mendebur
pintu itu. Tetapi segera ia menarik pulang tangannya dan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
meringis kesakitan karena pintu itu terbuat dari baja yang
keras dan tebal.
"Keparat," damprat kakek pendek itu. "terang didalam pintu
ini tentu terdapat rumah manusia. Mungkin tentu markas dari
partai Melati."
Dung, dung . . . kembali ia menghantam pintu baja itu,
bahkan kali ini dengan menggunakan batu seraya berteriakteriak:
"Hayo, buka pintu !"
Tetapi tetap tiada penyahutan suatu apa. Kakek Kerbau
Putihpun memeriksa. Pintu itu menjulang tinggi sampai tiga
tombak. Di bagian atas diberi pagar besi runcing. Ia gelengkan
kepala dan menghela napas.
Blo’on juga ikut memeriksa. Untuk suruh burung rajawali
membawanya terbang keatas, tentulah burung itu tak kuat.
"Bagaimana nih?" tanyanya kepada kedua kakek yang
terlongong-longong saling berpandangan.
Kakek Lo Kun mondar-mandir sambil meng gendong kedua
tangannya. Kakek Kerbau Putih duduk pejamkan mata.
Rupanya sedang memeras otak mencari daya.
Blo'onpun terpaksa diam saja.
Sesungguhnya sebelum Blo'on dan kedua kakek datang
kesitu. Bok kausu, imam Soh Hun kausu dan pemuda cakap
she Liok. sudah datang lebih dulu ke lembah itu.
Merekapun berhadapan dengan pintu baja warna hitam itu.
Tetapi mereka tak cepat putus asa seperti kedua kakek dan
Blo'on. Bok kausu segera mengeluarkan tali dan kait. Setelah
mengikat kait dengan ujung tali lalu dilontarkan ke atas pagar
besi. Kait itu tepat menyusup di antara celah besi.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hayo, kita naik," kata Bok kausu seraya mendahului naik
keatas pintu dengan menggunakan tali. Setelah tiba diatas, ia
lemparkan tali tali kebawah lagi dan orangnyapun melayang
turun ke dalam.
Yang kedua ialah si imam Soh Hun. Diapun mulai merayap
keatas Setelah diatas, ia lemparkan tali kebawah lagi.
Lalu yang terakhir pemuda Liok. Dengan hati-hati pemuda
cakap itu merayapi pintu baja. Setelah tiba diatas. dia tak
melemparkan ujung tali keluar melainkan kebagian dalam
pintu. Maksudnya apabila perlu, tali itu dapat digunakan untuk
keluar dari pintu.
Disebelah dalam dari pintu itu merupakan sebuah halaman
yang luas, Sekeliling halaman ber tumbuhan pohon-pohon
melati yang lebat dan tinggi sehingga menyerupai sebuah
hutan.
Ada suatu perasaan aneh menghinggap! pikiran pemuda
Liok. Ialah kedua orang tadi. Bok kausu dan imam Soh Hun.
Mengapa kedua orang itu tak tampak sama sekali ? Bukankah
baru berselang beberapa kejab saja keduanya itu melayang
turun ke dalam?
Pemuda itu memandang kemuka. Tampak pada ujung,
halaman luas itu sebuah jalan yang berakhir pada bangunan
gedung yang besar. Mungkinkah kedua orang itu sudah masuk
ke dalam gedung itu ?
"Ah. tak mungkin." ia membantah dugaannya Sendiri,
"pertama, tak mungkin dalam waktu secepat itu mereka sudah
berada digedung yang jaraknya beratus-ratus langkah dari
pintu. Dan kedua, mereka tentu akan menunggu
kedatanganku dulu baru bersama-sama menuju ke gedung
itu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pemuda itu benar-benar heran. Namun karena ia sudah
terlanjur berada dialas pintu, terpaksa ia harus turun
kebawah. Tetapi begitu tiba di tanah, iapun mengalami nasib
serupa dengan kedua kawannya. Hilang lenyap.
Untung pemuda itu tak melemparkan ujung tali keluar
pintu. Andaikata ia berbuat demikian, tali itu pasti terlihat oleh
kedua kakek dan mereka tentu akan memanjat ke atas pintu
dengan tali itu.
Demikian sampai lama sekali Bloon dan kedua kakek itu
belum juga mendapat akal untuk memasuki pintu hitam itu.
Tiba-Tiba mata Blo'on tertumbuk pada gerak gerik anjing
kuning yang tengah mencakar-cakarkan kakinya pada tanah.
"Ada akal !" serentak anak itu berteriak gembira "pokoknya,
bereslah "
"Bagaimana ?' kakek Lo Kun dan Kerbau Putih serentak
bertanya.
"Engkau kakek tua tetapi masih kalah dengan anjing saja "
kata Bloon seraya menunjuk pada anjing kuning, "coba
lihatlah apa yang dilakukan si Kuning itu."
"Hai, benar !" teriak kakek Lo Kan.
"Ya, cara itu memang satu-satunya cara untuk masuk
kedalam," seru kakek Kerbau Putih pula
"Nanti dulu," tiba-tiba Blo'on berkata, "tetapi dengan cara
menggali lubang kedalam pintu itu apakah tidak makan waktu
lama'1"
"Goblok!" seru kakek Lo Kun, "masakan menggali lubang
beberapa depa saja, merasa susah. Sudah tentu kita tak perlu
membuat lubang yang panjang. Cukup asal bisa masuk
kedalam pintu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
BIo'on terpaksa mengalah. Demikian mereka bertiga mulai
bekerja untuk membuat lubang yang tembus ke dalam pintu.
Walaupun lubang tidak panjang tetapi karena tanahnya batu
padas, mereka harus peras keringat juga. Dan hampir tengah
malam mereka baru berhasil menembus kedalam pintu
Untunglah lubang itu menembus pada gerumbul pohon
melati. Begitu keluar dari lubang, merekapun berada dalam
hutan melati. Beberapa belas langkah dari tempat mereka
bersembunyi, terbentang.sebuah halaman luas.
"Rupanya tempat ini kosong," kata kakek Lo Kun seraya
hendak merangkak keluar. Tetapi cepat kakinya ditarik kakek
Kerbau Putih : "Jangan bergerak dulu. Kita tunggu sampai
beberapa saat lagi."
Memang yang dikatakan kakek Kerbau Putih itu tepat,
Beberapa jenak kemudian tiba-tiba terdengar suitan nyaring
memecah kesunyian malam. Dan susul menyusul dari segenap
penjuru terdengar suitan pula.
Seiring dengan kumandangnya suitan yang membelah
angkasa malam, sesosok tubuh berpakaian putih muncul dan
tegak berdiri di halaman. Kemudian berturut-turut pula dari
segenap penjuru bermunculan tubuh-tubuh langsing dalam
pakaian serba putih.
Saat itu bulan bersinar terang. Tubuh-Tubuh berpakaian
putih itu makin jelas. Mereka adalah gadis-gadis cantik.
Jumlahnya tujuhbelas orang. Yang enambelas segera berjajarjajar
merapat dalam formasi barisan. Sedang yang seorang,
ialah yang muncul pertama kali tadi, tegak berdiri di hadapan
barisan itu. Rupanya dia pemimpin barisan.
Ketujuh belas gadis berpakaian putih itu cantik sekali.
Hampir sukar dibedakan satu dengan lain. Rambutnya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menyanggul untaian bunga melati. Perbedaan yang dapat
diketahui ialah gadis jelita yang menjadi pemimpin itu leher
bajunya berlapis warna merah jambon. Sedang keenambelas
barisan gadis-gadis cantik itu pada tepi leher bajunya berlapis
warna kuning. Umur merekapun hampir merata, di sekitar 17
sampai-sampai 20 tahun.
Menyaksikan pemandangan itu, kakek Lo Kun gemetar,
kakek Kerbau Putih terlongong dan Blo’on terbelalak.
"Bidadari ..." bisik kakek Lo Kun. Tetapi ia tak dapat
melanjutkan kata-katanya karena mulutnya segera didekap
oleh kakek Kerbau Putih: "Jangan bicara keras-keras !"
Terdengar si jelita pemimpin barisan berseru nyaring :
"Murid-Murid Partai Melati, dengarkanlah !"
Terdengar sambutan mengiakan dari barisan gadis-gadis
cantik itu.
"Pagi tadi suhu telah berangkat ke pulau Lam-hay untuk
suatu urusan penting. Segala urusan markas, diserahkan
kepadaku. Suhupun meninggalkan pesan, supaya selama
beliau pergi kita tak diperbolehkan keluar ..."
"Dalam waktu akhir-akhir ini, suhu mendapat berita bahwa
di dunia persilatan timbul kegemparan besar. Di daerah
selatan dan di daerah utara telah muncul dua orang Kim
Thian-cong. Padahal jelas Kim Thian-cong telah meninggal
dunia beberapa waktu yang lalu. Tetapi mayatnya telah
hilang.!"
Suasana hening lelap. Rupanya barisan gadis-gadis
anakmurid Partai Melati itu mencurahkan perhatian
sepenuhnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kim Thian-cong di daerah selatan hendak membentuk
partai baru yang diberi nama Song-lian-kau atau Teratai Suci.
Dia mengundang semua partai-partai persilatan dan tokohtokoh
terkemuka, supaya datang ke gunung Hong-san. Partai-
Partai persilatan diharuskan membubarkan diri dan
menggabung pada partai Teratai Suci . . , "
Terdengar desah desuh pelahan dari mulut anakbuah Partai
Melati,
"Dan Kim Thian-cong di utara itupun juga sama sepak
terjangnya, Dia hendak membentuk partai Thian-tong-pay
atau partai Nirwana, juga dia telah mengirim utusan untuk
menyampaikan undangan kepada partai-partai dan tokohtokoh
persilatan supaya menghadiri peresmian berdirinya
partai baru itu ke gunung Thay-san. Semua partai harus
menggabungkan diri !"
Terdengar pula desis memberisik dari barisan murid-murid
Partai Melati.
"Oleh karena itu. suhu pesan agar kita semua mempertinggi
kewaspadaan, menjaga markas dan menolak utusan-utusan
itu baik dari Teratai Suci maupun dari Partai Nirwana !"
Terdengar suara kesediaan dari gadis-gadis cantik itu.
"Sekarang kuberi kesempatan pada kalian untuk memberi
laporan dan mengajukan pertanyaan,” kata jelita pemimpin
barisan pula.
"Toa-suci" tiba-tiba salah seorang gadis cantik berseru,
"kemarin aku telah menawan seorang pemuda."
"Baik." sahut nona yang menjadi pemimpin barisan, Dengan
disebut sebagai 'toa suci' atau ta-ci pertama, jelas nona itu
adalah murid pertama dari Hu Yong sian-cu atau Dewi Melati
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pemimpin partai Melati. Oleh karena Dewi Melati pergi, maka
urusan markas diserahkan kepada nona i-tu.
"Toa-suci" kata seorang gadis lain. 'bagaimana dengan
tawanan-tawanan yang sudah berada dalam markas kita ?"
"Oleh karena suhu melarang kita keluar, maka tawanan
yang sudah ada dalam markas, tetap berjalan sebagaimana
peraturan yang telah diberikan suhu."
"Tetapi toa-suci." kata seotang nona pula, "oleh karena
diadakan larangan keluar, bagaimana dengan kita yang tak
mempunyai tawanan ?"
Terdengar suara berisik dari beberapa nona lain yang
mendukung pernyataan nona itu.
Nona pemimpin barisan itu cepat menjawab "Oleh karena
ada larangan itu maka lebih baik kita hentikan saja
kesenangan-kesenangan itu. Tawanan-tawanan supaya
ditempatkan di tempat yang aman dan kita harus setiap hari
berlatih ilmu kepandaian, mengadakan ronda setiap malam.
Tunggu setelah suhu pulang, baru nanti kulaporkan tentang
hal itu lagi."
Terdengar beberapa keluhan tertahan dari rombongan
anakmurid Partai Melati itu.
"Sumoay sekalian." kata pemimpin barisan itu pula, "kutahu
bagaimana perasaan sumoay sekalian. Tetapi pertimbanganku
untuk mengambil langkah begitu adalah : Kesatu, saat ini
suhu sedang tak ada di markas dan setiap saat kita akan
menerima kunjungan utusan dari kedua Kim Thian-cong itu.
Apabila kita tolak, utusan itu tentu marah. Dan kuyakin utusan
itu tentu tokoh yang sakti. Kedua kalinya, kita harus
memikirkan sumoay-sumoay yang kebetulan tak mempunyai
tawanan. Padahal Suhu melarang kita untuk keluar. Agar
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
jangan menimbulkan iri hati dan keluhan di antara sumoaysumoay,
maka lebih baik kita untuk sementara waktu ini
meniadakan segala kesenangan."
"Setuju," seru seorang nona dari rombongan barisan.
"Tetapi kapankah kiranya suhu akan pulung'' tiba-tiba
terdengar seorang nona bertanya.
"Ya, toa suci, apabila suhu sampai setengah tahun tak
pulang, lalu bagaimana ?" seru pula seorang nona lain.
"Baik." kata gadis wakil ketua Partai Melati itu "suhu
mengatakan bahwa paling lama dalam waktu sebulan tentu
sudah pulang. Nah, apabila sebulan kemudian beliau tetap
belum datang, kita nanti bicarakan lagi soal itu,"
Sekalian anak murid Partai Melati mengiakan. Walaupun
ada beberapa yang dalam hati mengeluh tak puas tetapi
mereka tak berani menyatakan.
"Akhirnya, dengarkanlah murid-murid Hu-yong-pang."
berseru pula gadis pemimpin barisan, "mulai malam ini kita
mengadakan ronda. Dari jam delapan sampai jam satu. Lalu
diganti orangnya, dari jam satu sampai jam enam pagi, Tiap
peronda terdiri dari dua orang. Nah sekarang dimulai empat
orang. Yang dua orang melakukan ronda pertama. Nanti jam
satu diganti dengan dua orang yang melakukan ronda kedua.
Karena kalian berjumlah enambelas orang, tiap orang akan
mendapat gilir ronda pada tiap lima hari. Dan apabila hari ini
mendapat gilir ronda pertama, besok lima hari kemudian gilir
ronda kedua."
Sekalian gadis-gadis itu mengiakan.
"Sekarang kutunjuk saja." kata gadis pemimpin barisan,
"malam ini Swat-hong dan Lian-hoa berdua sumoay yang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
meronda pertama. Nanti ronda kedua Giok-yan dan Lin-lin
sumoay."
Empat orang nona berseru mengiakan "Siapa yang akan
ronda besok malam, besok sore akan kuberitahu." kata gadis
pemimpin itu, "Sebelum pertemuan ini kububarkan, lebih dulu
aku ingin mengetahui sampai dimana latihan yang kalian
lakukan untuk pelajaran terakhir dari suhu ialah barisan
"Melati menolak kumbang" itu. "Hayo, lekaslah kalian
membentuk diri dalam barisan itu dan akulah yang akan
menyerang sebagai kumbangnya."
Keenam belas gadis jelita itu segera berpencaran dan dalam
sekejab saja mereka sudah berjajar-jajar dalam beberapa lapis
lingkaran. Sepintas pandang barisan itu menyerupai bentuk
sekuntum bunga melati yang terdiri dari empat lingkaran
setiap lingkaran empat orang. Lingkaran tuu dimaksud sebagai
kelopak bunga.
"Awas. aku mulai menyerang." seru gadis pemimpin itu
terus bergerak menyerang.
Gerakan gadis itu ternyata gesit sekali. Gerakannya mirip
dengan seekor kumbang yang berlincahan hendak menyusup
kedalam kelopak bunga.
Tetapi barisan Melati itu ternyata memiliki gerakan yang
aneh tetapi rapi. Setiap diserang, mereka menyurut mundur
merapat seraya serempak menghantam. Apabila
penyerangnya mundur, merekapun berkembang menduduki
tempatnya semula lagi. Sudah tentu tenaga seorang
penyerang betapapun saktinya, tentu tak kuat melambang
gelombangan pukulan dari enambelas orang. Apalagi
keenambelas murid-murid Partai Melati itu memiliki tenaga
dalam yang hebat,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Terpaksa gadis pemimpin itu loncat melambung keudara
dan melayang turun beberapa langkah dari barisan. Secepat
kaki menginjak bumi, iapun terus mencabut pedang lalu loncat
menerjang lagi.
Tetapi tiba-tiba keenambelas gadis cantik itu serempak
menaburkan tangannya. Beratus-ratus benda kecil warna
hitam segera mencurah ke tubuh gadis penyerang itu,
Tring. tring. tring, gadis itu memutar pedang untuk
menghalau taburan benda kecil itu.
"Aduh ..." tiba-tiba Blo'on mengaduh.
"Mati aku ..." kakek Lo Kunpun merintih
"Haup ..." kakek Kerbau Putih menguak
---ooo0dw0ooo---
Jilid 11
Pungguk merindukan bulan.
Ternyata pada saat barisan Melati-menolak-kumbang dari
keenam belas gadis-gadis cantik murid Partai Melati
menaburkan benda-benda kecil warna hitam kearah gadis
pemimpin barisan, gadis itupun cepat memutar pedangnya
untuk menghalau.
Sebagai murid pertama dari Hu-Yong sian-cu atau Dewi
Melati ketua Partai Melati, ternyata nona itu memiliki
ilmupedang yang hebat. Ratusan benda-benda hitam yang
mencurah bagai hujan itu dapat dihalaunya sehingga tak
sebuahpun yang mengenai tubuhnya.
Tetapi karena jumlahnya sekian banyak,maka ada juga
berpuluh benda kecil yang tak mengenai tubuh si nona,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
melainkan terus melayang jauh ke belakangnya. Dan
kebetulan pula tempat persembunyian Blo'on dan kedua kakek
itu terletak di belakang nona itu.
Benda-Benda kecil hitam itu ternyata biji-biji buah
kelengkeng. Tetapi dilontarkan oleh keenam belas muridmurid
Partai Melati, biji-biji kelengkeng itu berobah seperti
batu kerasnya. Derasnyapun seperti anak panah yang
dilepaskan dari busur.
Kakek Lo Kun yang sejak tadi memandang barisan gadisgadis
cantik itu dengan gemetar, hidungnya kena tersambit
sebutir biji kelengkeng itu. Semangatnya yang sedang terbang
melayang dibuai kecantikan gadis-gadis itu. serentak masuk
kembali ke dalam dadanya dan karena hidungnya terasa sakit
seperti ditembak peluru, kakek itupun menjerit lalu mendekap
hidungnya.
Blo’on yang juga kesima melihat pemandangan aduhai itu.
terkejut mendengar jeritan tertahan dari Kakek Lo Kun. Tetapi
saat itu juga dahinya tertimpah sebutir biji kelengkeng.
Serentak ia menjerit : "Aduh, mak ..." lalu cepat mendekap
dahinya.
Kakek Kerbau Putih melihat barisan gadis-gadis jelita itu
dengan mulut melongo atau terbuka. Mendengar kedua orang
itu menjerit tertahan, ia terkejut dan hendak mendamprat
mereka supaya jangan mengeluarkan suara keras. Tetapi
belum sempat ia mengatupkan mulut, sebutir biji kelengkeng
telah nyasar masuk, haup ....
Kakek Lo Kun dan Blo'on masih mending. Kakek Kerbau
Putih yang paling sial. Biji kelengkeng masuk kedalam
mulutnya, menghantam dinding kerongkongan, Haup . . dan
rubuhlah kekek itu ke tanah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Karena dirinya sendiri sedang sibuk kesakitan maka kakek
Lo Kun dan Blo’on tak sempat mengurus kakek Kerbau Putih
yang sudah menggeletak di tanah itu. Kakek Lo Kun bingung
mengusap-usap hidungnya yang mengucurkan darah. Blo'on
sibuk mengelus-elus dahinya yang membenjul
Karena masih tegang dengan latihan barisan Melatimenolak-
kumbang. maka gadis-gadis murid Partai Melati itu
tak sempat memperhatikan hiruk pikuk yang timbul dari hutan
pohon melati.
Saat itu setelah hujan biji kelengkeng selesai gadis
pemimpin lalu menerjang ke dalam barisan. Tiba-Tiba lapisan
terdepan dari barisan itu berhamburan menurut ke arah dua
samping sehingga gadis itupun menyerang angin dan
meluncur maju. Lapisan kedua dari barisan, juga memecah diri
seolah-olah membuka jalan kepada penyerang itu. Tetapi
setelah penyerang itu berada di tengah barisan, sekonyongkonyong
anggauta barisan itu berhamburan maju dan
membentuk diri sebagai kelopak-kelopak bunga melati.
Dengan demikian maka terkurung gadis penyerang itu di
tengah-tengah barisan ... .
Beberapa saat kemudian, Blo'on sudah lebih cepat hilang
sakitnya. Melihat kakek Kerbau Putih masih menggeletak, ia
memeriksanya. Ternyata kakek Kerbau Putih itu pingsan.
mulutnya mengumur darah ....
"Kakek, engkau bagaimana ?" seru Blo'on seraya
mengguncang guncang tubuh kakek Kerbau Putih, tetapi
kakek itu tetap tak menyahut. Kedua matanya terpejam rapat.
"Mungkin dia mati” seru kakek Lo Kun seraya masih
mendekap batang hidungnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mati ?" Blo'on mengulang. Sebenarnya kakek Lo Kun hanya
menduga tetapi Blo'on menganggap memang kakek Kerbau
Putih sudah mati sesungguhnya. Serentak anak itu loncat
bangun terus loncat keluar dari dalam tempat
persembunyiannya dan lari kearah rombongan murid-murid
Partai Melati yang tengah berlatih itu.
"Hai. budak-budak perempuan hina ! Gantilah jiwa
sahabatku !" teriaknya seraya kepalkan tinju dan
mengacungkan ke atas.
Saat itu barisan sedang melancarkan serangan untuk
menghancurkan gadis penyerang atau toa -suci mereka.
Mendengar munculnya seorang pemuda yang lari berteriakteriak
dan memaki-maki, serempak mereka berhenti.
Betapalah kejut ke tujuhbelas gadis-gadis cantik itu ketika
melihat seorang pemuda yang aneh potongan mukanya
berlarian mendatangi dengan diiring oleh seekor anjing,
burung rajawali dan monyet hitam.
Gadis murid pertama dari Partai Melati cepat menyusup
keluar dan maju kemuka, serunya "Hai, siapa engkau !"
Saat itu Blo'onpun sudah tiba dan berhadapan dengan gadis
itu, Ia menudingnya : "Itu tidak penting ! Yang penting
engkau harus bertanggung jawab atas kematian kakekku !"
Gadis itu melongo : "Siapa yang mati ?"
"Kakek Kerbau Putih !" dengus Bloon "hm jangan engkau
pura-pura berlagak pilon !"
"O, kakekmu seekor kerbau putih ?" tanya gadis itu
keheranan.
"Gila engkau !" damprat Blo'on. "kerbau pu tih itu bukan
binatang tetapi seorang manusia."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Seorang manusia ?" gadis itu makin heran.
"Yaaaa !" teriak Blo'on marah, "apakah engkau tuli ?"
"Eh, bung. engkau ini orang gila atau waras ?" bentak
sigadis.
"Jangan banyak mulut !" Bloon balas membentak, "lekas
engkau mengganti jiwa kakekku"
"Mengapa aku yang harus mengganti jiwanya?
"Karena dia mati terkena taburan biji-biji hitam dari barisan
anak-anak perempuan itu !"
"O," teriak gadis itu, "seharusnya memang begitu. Bahkan
engkaupun harus ikut mati dengan kakekmu itu."
"Gila !"
"Engkau tahu tempat apa ini ?" tanya sigadis mulai marah.
"Tahu. Tempat ini tempat menculik pemuda-pemuda
bagus." sahut Blo’on.
"Jahanam, jangan omong sembarangan !" bentak gadis itu
dengan merah padam mukanya "siapa bilang tempat ini
tempat untuk menculik pemuda-pemuda cakap ?"
"Bok kausu !'
"Bok kausu ? Siapa Bok kausu itu ?" tanya si gadis makin
keheranan.
"Bok kausu itu guru silat pada tihu Hong-yang-hu, Katanya
anak tihu itu juga diculik kemari !”
Gadis itu berkilat-kilat matanya. Wajahnya mulai menampil
hawa pembunuhan : "Engkau tahu apa nama tempat ini ?"
"Tidak tahu jelas. Tetapi kuduga tentu Lembah Melati ?
Karena disini banyak tumbuh hutan melati," sahut blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dan siapa yang memiliki lembah ini ?'
"Gerombolan anak-anak perempuan yang menamakan
dirinya Partai Melati !"
"Jahanam !" karena tak dapat menahan kemarahannya
gadis itu terus loncat memukul muka Bkon. Tetapi seketika itu
anjing Kuningpun terus loncat menyongsongnya. Begitu pula
rajawali lalu terbang menyambar mukanya.
Gadis itu kaget dan loncat menghindar ke samping.
"Ho, bilang saja terus terang. Engkau mau mengganti jiwa
kakekku atau tidak. Kata orang, hutang uang bayar uang,
hutang jiwapun harus bayar jiwa !" teriak Blo'on.
"Siapa yang hutang jiwa !" bentak gadis itu pula,
"barangsiapa berani masuk ke dalam markas Partai Melati
tanpa izin, tentu akan lenyap jiwanya. Bagaimana engkau
dapat masuk ke dalam sini ?"
"Dari bawah bumi !"
"Ngaco !" gadis itu marah, "engkau harus serahkan
jiwamu!"
Blo'on garuk-garuk kepalanya yang gundul : ''Siapa yang
harus menyerahkan jiwanya itu ? Kawan-kawanmu telah
membunuh kakekku, mengapa engkau malah hendak minta
jiwaku '
"Karena engkau berani masuk ke dalam markas kami "
"Bukankah engkau malah mencari lelaki-lelaki dari luar ?"
tanya Blo’on.
"Buat apa pemuda semacam engkau ? Pantasnya engkau
hanya patut menjadi tukang rumput disini".
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Bloon berjingkrak marah : "Apa?.Engkau berani menghina
aku? Kata Somali, aku ini putera raja Apa engkau ini. hanya
gadis gunung yang cabul "
Gadis itu tak dapat menahan kemarahannya. Serentak ia
mencabut pedang dan terus menyerang Bloon.
Blo'on terpaksa berloncatan menghindar.
Gadis itu diam-diam heran. Kalau melihat orangnya,
pemuda itu seperti orang blo'on. Dan kalau melihat
gerakannya, pemuda itupun seperti tak mengerti ilmusilat.
Tetapi mengapa gerakannya tubuhnya begitu gesit sekali.
Berulang kali ia melancarkan serangan yang berbahaya, selalu
pemuda itu dapat menghindari.
"Hai. berhenti Blo'on !" tiba-tiba kakek LoKun berlari-lari
menghampiri dan berseru kepada Blo' on
"Ya, aku mau berhenti tetapi anak perempuan itu tetap
menyerangku saja" kata si Blo'on.
'Nona cantik, berhentilah, aku hendak bicara." seru kakek
Lo Kun kepada gadis itu.
Memang gadis itupun terkejut karena muncul nya kakek Lo
Kun. Ternyata pemuda blo'on itu membawa teman. Ia segera
loncat mundur.
"Nona manis, ai. sayang" kata kakek Lo Kun. "mengapa
engkau menyerang cucuku ini ?”
"Siapakah engkau ini !"
"Aku Lo Kun, dahulu menjabat kepala pasukan bhayangkara
istana raja."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Nona cantik itu terbeliak. Memandang kakek Lo Kun
beberapa saat lalu berseru: "Mengapa engkau berani
menyelundup masuk ke markas ini?"
"Aku hendak mencari isteriku yang hilang"
"Oh." desuh nona itu. "isterimu hilang ? Siapakah isterimu
itu ? Mengapa engkau mencarinya kemari ?
"Karena anakbuah disini melulu wanita semua. Dia tentu lari
kemari."
"Eh. kakek, jangan bicara seenakmu sendiri saja,
Bagaimana engkau bisa mengatakan tentu ke mari ?" nona itu
mulai merah mukanya.
"Karena tadi di tengah jalan aku sudah bertemu dengan dia
..."
"Bertemu dengan dia ?" nona itu makin kaget, "siapa
namanya ?"
"Sun Li-hoa."
"Gila !" bentak nona itu, "disini tak ada anak murid yang
bernama begitu '
"Dia tentu ganti nama. Aku sudah tua tetapi mataku masih
awas, tidak kalah dengan engkau nona manis. Jelas aku tadi
bertemu dia naik kereta,"
"Menuju kemari ?"
"Kemungkinan besar karena dia terus melarikan diri
kedalam hutan ini dan hilang," kata kakek Lo Kun terus
melangkah maju.
"Hai, hendak kemana engkau ?" nona itu cepat
menghadang, lintangkan pedangnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tentulah isteriku itu berada dalam rombongan nona-nona
cantik itu karena isteriku juga cantik.”
Belum nona itu menyahut, tiba-tiba dari belakang kakek Lo
Kun terdengar langkah kaki orang berlari mendatangi seraya
berseru "Hai, setan pendek, mengapa engkau tinggalkan aku?"
Ketika Lo Kun berpaling ternyata yang berlari mendatangi
itu kakek Kerbau Putih.
"Hai, kerbau, mengapa engkau tidak jadi mati ?" seru kakek
Lo Kun,
"Siapa bilang aku mati ?"
"Kakek Lo Kun !" seru Blo'on yang juga maju
menyongsongnya, "karena mengira engkau benar sudah mati
aku terus minta ganti jiwa kepada anak perempuan itu." ia
menunjuk pada sinona yang menjadi wakil pimpinan lembah
Melati.
Kakek Kerbau Putih tak menghiraukan si Blo'on. Begitu
matanya tertumbuk pada seorang nona cantik, ia terus
langsung menghampiri. Berdiri di hadapannya dan
memandangnya lekat-lekat.
"Kakek gila, mengapa engkau memandang aku sedemikian
rupa ?" bentak nona itu.
"Kukira engkau ini kekasihku Sun Li hoa yang naik kereta
tadi. Ternyata hanya mirip saja tetapi bukan." kata kakek
Kerbau Putih.
"Gila !" bentak nona itu pula. "masakan kakek tua seburuk
engkau mempunyai kekasih seorang nona cantik"
Kakek Kerbau Putih hendak menyahut tetapi tiba ia melihat
kakek Lo Kun lari menyelinap dari samping si nona. Cepat ia
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
meneriakinya: "Hai, kakek pendek, hendak kemana engkau
ini?"
"Akan mencari Sun Li-hoa ditempat rombongan nona-nona
cantik itu." seru si kakek Lo Kun. Tetapi pada saat itu juga
nona yang mengetuai barisan itu. cepat loncat menghadang.
Bahkan menyahat dengan pedangnya.
"Huh, engkau hendak membunuh aku ?" kata kek Lo Kun
loncat menghindar.
"Disini adalah markas Partai Melati. Tidak boleh orang
bertingkah semaunya sendiri"
"Tetapi aku hendak mencari isteriku.” bantah Lo Kun
"Ngaco" bentak nona itu. "disini tak ada Sun Li-hoa"
"Belum tentu," bantah kakek Lo Kun, "aku akan memeriksa
rombongan nona-nona cantik itu."
"Hm, berani maju selangkah saja, engkau tentu kutabas"
Kakek Kerbau Putih menghampiri, serunya : "Setan pendek,
benarkah nona yang naik kereta itu berada dalam rombongan
nona-nona cantik itu ?"
"Ya, tentu,"
"Kalau begitu, aku saja yang akan menelitinya" kata kakek
Kerbau putih terus lari maju.
Nona itupun cepat loncat menghadang dengan sebuah
tabasan : "Berhenti"
Tetapi disana kakek Kerbau Putih berhenti maka kakek Lo
Kun pun terus memberosot lari. Nona itu tinggalkan kakek
Kerbau Putih dan loncat menyerang Lo Kun. Begitu terlepas,
kakek Kerbau Putihpun terus lari maju lagi.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Demikian sinona dibuat menjadi pontang panting. Kalau
menghadang Lo Kun, kakek Kerbau Putih lari maju. Kalau
mencegah Kerbau Putih, kakek Lo Kun yang maju. Jarak
kedua kakek itu beberapa belas langkah. Maka sibuk juga
nona itu dibuatnya.
Diam-Diam nona itupun merasa aneh. Jelas diketahuinya
bahwa kedua kakek pendek dan bungkuk itu seperti orang
linglung, Tetapi mengapa serangannya selalu dapat dihindari
mereka?
Pelahan-lahan kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putihpun
makin mendekati ke tengah lapangan dimana barisan muridmurid
Partai Melati masih tegak menunggu. Mereka tahu
bagaimana toa-suci mereka telah dibuat kewalahan oleh dua
orang kakek aneh. Tetapi karena tak diberi perintah,
rombongan nona-nona cantik itupun tak berani bergerak
membantu.
Dalam pada itu Blo'onpun mengikuti maju, diiring ketiga
binatang peliharaannya. Melihat perwujutan kedua kakek dan
Blo'on, rombongan murid-murid Partai Melati itu tak dapat dan
menahan gelinya. Mereka tertawa mengikik.
Akhirnya kakek Lo Kun dan Kerbau Putih berhasil mendekati
barisan nona-nona cantik itu. Dan merekapun berhenti. Diam-
Diam nona pemimpin barisan itu menimang, la teringat akan
kata-kata suhunya bahwa dalam dunia persilatan ini memang
banyak tersembunyi tokoh-tokoh sakti, Dan pada umumnya
orang-orang sakti macam begitu tentu berwatak aneh.
"Hm, mungkin kedua kakek ini orang-orang sakti yang
berwatak aneh." pikir si nona, "baiklah kuganti siasat saja
supaya dia lekas pergi dari lembah ini."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Baik, silahkan engkau meneliti murid-murid Partai Melati,"
kata nona itu, "tetapi ada syaratnya."
"Syarat apa ?" tanya kakek Lo Kun,
"Bila ternyata isterimu tak ada disini. engkau harus
menerima hukuman seperti yang telah ditetapkan oleh Partai
Melati"
"Bagaimana hukumannya itu ?"
“Kepala, kedua tangan dan kedua kakimu diikat dengan tali
lalu diseret oleh lima ekor kuda "
"Huh. ngeri benar !" teriak kakek Lo Kun, "mengapa
sekejam itu orang-orang Partai Melati. Bukankah kalian ini
anak perempuan semua ? Mengapa berhati sedemikian
kejamnya ?"
"Itu peraturan untuk menjaga jangan sampai orang luar
dan orang-orang gila atau iseng berani sembarangan
mengotori markas kami !"
"Siapa yang membuat peraturan sekejam itu?” masih kakek
Lo Kun bertanya pula.
"Ketua kami Hu Yong sian-cu !"
"Suruh ketuamu itu keluar kemari !"
Nona itu kerutkan dahi, bentaknya : "Ngaco Suhu kami
tentu tak sudi menemui manusia semacam engkau. Dan saat
ini beliau sedang pergi."
"Lalu siapa yang mengurus lembah ini ?"
"Aku."
"O. engkau ? Mengapa engkau begitu kejam?”
"itu sudah peraturan disini. Aku hanya menjalankan saja"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tiba-Tiba kakek Kerbau Putih menyelutuk : "Setan pendek,
jangan enak-enak engkau bicara dengan nona cantik itu.
Hayo. lekas engkau beri keputusan. berani atau tidak
menerima syaratnya ?"
Kemudian kakek Kerbau Putihpun berkata kepada nona itu :
"Nona manis, aku saja yang memeriksa mereka. Aku berani
menerima syaratmu itu.
Habis berkata ia terus melangkah maju ke barisan gadis
cantik.
"Hai, kerbau goblok, aku juga berani !' ka kek Lo Kun terus
menyusul.
Dipandang dan diawasi oleh dua orang kakek pendek dan
bungkuk, sudah tentu keenambelas gadis-gadis cantik itu risih
dan malu.
"Kakek, engkau ini bangsa manusia atau setan ?" seru salah
seorang gadis yang diatas mulutnya mempunyai tahi lalat.
"Aku ini manusia !" sahut kakek Lo Kun.
"Kalau manusia mengapa melihat orang begitu rupa seperti
tak pernah melihat saja ?" kata nona bertahi lalat itu.
Kakek Lo Kun garuk-garuk kepala: "Karena aku bingung
menghadapi kalian ini. Mengapa hampir sama cantiknya? Dan
mengapa seperti isteriku semua ?"
"Siapakah isterimu '
"Sun Li-hoa, muda dan cantik seperti kalian ini," kata Lo
Kun. "lalu apakah kalian ini Sun Li-hoa semua? Ya. apa boleh
buat. Kalau memang begitu, akupun harus mengambil kalian
semua"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Untuk apa engkau hendak mengambil kami?” tanya nona
itu pula.
"Sun Li-hoa itu isteriku. Kalau kalian ini Sun Li-hoa semua,
berarti akan jadi isteriku semua.”
Serentak pecahlah gelak tawa dari keenambelas gadis
cantik murid-murid Partai Melati. Salah seorang gadis yang
bertubuh padat dan genit segera berseru : "Kakek, engkau
sudah begitu tua. masakan engkau sanggup mempunyai isteri
muda sekian banyak!"
"Apa maksudmu, manis?" tanya kakek Lo Kun
"Apakah engkau dapat memenuhi kewajiban seperti
seorang suami ?" tanya gadis montok itu pula.
"Mengapa tidak ?" seru kakek Lo Kun.
''Engkau mampu memenuhi kebutuhan jasmaniah dari
enam belas gadis-gadis yang masih muda seperti kami ?
Apakah engkau sanggup "bekerja” enambelas kali dalam satu
malam?"
Serentak pula pecah gelak tawa mengikik dari saudarasaudara
seperguruannya mendengar kata-kata itu. Memang
mereka gadis-gadis cabul,
"Eh, jangan main-main engkau,' Kakek Lo Kun tersipu-sipu
"kalian enambelas orang itu akan kubagi jadi empat sehingga
tiap orang mendapat giliran empat hari satu kali. Apakah itu
tidak cukup ?"
"Ai, empat hari terlalu lama. Kami tak mau disuruh kesepian
sampai empat hari. Kami minta tiap hari atau paling lama dua
hari sekali," seru nona yang mulutnya menyungging tahi lalat
itu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Lo Kun garuk-garuk kepala. Belum ia membuka
mulut, tiba-tiba kakek Kerbau Putih sudah berteriak : "Ha.
inilah kekasihku Sun Li-hoa yang sejati . . . " ia terus
menghampiri seorang nona cantik yang bertubuh langsing.
Nona itu bernama Pek Lian-Iian. Diantara ke enam belas
anakmurid Partai Melati, dialah yang tercantik sendiri.
"Kakek gila !" bentaknya dengan muka kemerah-merahan,
"siapa sudi jadi isterimu ?"
"Oh, Sun Li-hoa kekasihku yang cantik manis seperti
bunga," kakek Kerbau Putih setengah meratap dan merayu,
"berpuluh tahun aku mencarimu, siang dan malam aku
mengenang wajahmu yang cantik, mengapa sekarang engkau
tak mau mengaku aku sebagai kekasihmu lagi ?"
"Kakek edan !" damprat Lian-lian, "aku bukan Sun Li-hoa,
aku Pek Lian-lian murid Partai Melati. Engkau salah lihat.
Matamu sudah kabur !"
"O. kekasihku," masih kakek Kerbau Putih meratap-ratap
rayuan, "aku tak keberatan engkau berganti nama dengan Pek
Lian lian atau siapa lagi. Yang penting dirimu,, bukan
namamu. Lebih penting lagi, engkau jangan mengingkari aku .
. "
Karena marah dan malu Pek Lian-lian sampai tak dapat
bicara.
"Nah, begitulah baru hatiku senang, kekasihku," kata kakek
Kerbau Putih lalu berpaling kepada gadis pemimpin barisan.
"Inilah Sun Li-hoa. kekasihku itu " serunya dengan tertawa
gembira.
Nona itu terkesiap. Tetapi ia cepat menyadari bahwa kakek
Kerbau Putih itu seorang kakek yang limbung.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bagaimana engkau dapat mengatakan kalau dia kekasihmu
yang dulu ? Berapa umurmu sekarang ?" serunya.
"Aku ?" kakek Kerbau Putih menghitung-hitung jarinya lalu
menjawab, "lebih dari seratus tahun."
"Hm. dan berapakah umur nona yang engkau katakan
sebagai kekasihmu dahulu itu ?"
"Paling banyak tentu . . eh, berapa? Aku tak tahu !"
"Dia baru berumur 17 tahun" seru si nona, "pada waktu
engkau masih muda, dia belum lahir sama sekali, Mungkin
orangtuanyapun juga belum lahir. Dia pantasnya menjadi
cucumu !"
"Aku tak butuh segala hitungan umur. Pokok, dia itu adalah
Sun Li-boa kekasihku yang dulu" kakek Kerbau Putih
gelengkan kepala.
Nona itu hampir marah tetapi tiba-tiba ia bertanya :
"Bagaimana engkau tahu kalau Sun Li-hoa itu berada disini ?"
"Lho. engkau ini bagaimana ?" seru kakek Kerbau Putih,
"semalam dia naik kereta dengan Somali. Aku disuruh berlutut
meramkan mata lalu dia terus melarikan keretanya !"
"Aku tidak naik kereta tadi malam. Aku tetap berada di
dalam asramaku" seru Pek Lian-li-an.
Nona pemimpin barisan kerutkan dahi, serunya : "Siapakah
diantara sumoay sekalian yang tadi malam keluar dan pulang
dengan naik kereta"
"Aku," sahut seorang gadis bertubuh semampai.
'O. engkau Hun-hun sumoay," seru nona pemimpin banssn,
"apakah engkau berjumpah dengan kakek ini?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ong Hun-hun mengiakan : "Dia menghadang keretaku dan
seperti orang gila mengaku aku ini kekasihnya. Dia sungguh
memuakkan sekali"
"Siapa yang memuakkan ?" seru kakek Kerbau Putih.
"Engkau !"
"Betul ! Betul Dia memang memuakkan, seorang kakek
bungkuk yang tahu diri. Beda dengan aku. bukan ?" tiba-tiba
kakek Lo Kun menyelutuk seraya maju menghampiri.
"Ya, engkau memang beda dengan dia. . "
“Terima kasih nona manis." kata kakek Lo Kun dengan
tertawa tawa.
"Kalau kakek bungkuk itu memuakkan, tetapi engkau
menyeramkan seperti setan"
Seketika pecahlah tawa sekalian gadis-gadis cantik itu
mendengar kata-kata Ong Hun-hun.
"Ho, ho," kakek Kerbau Putih tertawa meloroh, "setan
pendek, sekarang baru engkau ketemu batunya.”
Kakek Lo Kun menyeringai : "Hai, tak apa, nona manis.
Pokoknya, engkau mencintai aku!"
Kemudian kakek pendek itu berpaling kepada nona
pemimpin barisan dan berkata :"Sekarang aku sudah
menemukan Sun Li-hoa isteriku. Ternyata dia memang berada
disini."
"Yang mana ?" tanya nona itu.
"Sudah tentu yang ini " kakek Lo Kun menunjuk kepada
sinona bertubuh semampai yang mengaku tadi malam pulang
naik kereta.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dia bukan Sun Li-hoa tetapi Ong Hun-hun" seru nona itu.
"Memang setan pendek itu salah lihat. Sun Li-hoa yang aseli
ialah ini." tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru dan menunjuk
pada Pek Lian-lian.
"Tidak" seru Lo Kun, "bukan itu tetapi ini"
Kedua kakek itu mulai berbantah.
"Hi. hi, hi. hayo. terus hantam si pendek itu" teriak
beberapa gadis cantik.
"Balas, kakek pendek, pukullah kakek bungkuk itu supaya
mati " teriak gadis yang lain.
Mereka bersorak-sorak, menganjurkan supaya kedua kakek
itu berhantam sekuat kuatnya. Dan ternyata kedua kakek
limbung itu memang seperti cengkerik yang dikili. Keduanya
makin bertempur seru.
'Berhenti" tiba-tiba Blo'on berteriak membentak supaya
mereka berhenti. Dan rupanya kedua kakek itu memang taat
kepada Blo'on. Merekapun serentak berhenti berkelahi.
"Mengapa engkau berkelahi sendiri ? Engkau seperti
cengkerik yang kena diadu saja" bentak Blo'on. Kemudian ia
mendamprat kepada rombongan gadis-gadis Partai Melati :
"Hai, anak perempuan, jangan kalian mencelakai kedua
kakekku ini"
Lalu Bloon mengisar tubuh menghadap ke arah nona
pemimpin barisan : "Hai, kawanmu mengaku kalau semalam
pulang dengan naik kereta. Di dalam kereta itu terdapat
seorang pemuda Lalu dimanakah pemuda itu ?"
"Cis, itu urusanku, jangan coba engkau campur tangan"
balas nona itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Siapa bilang itu urusanmu? Apakah pemuda itu anggauta
Partai Melati ?" seru Blo’on pula.
"Benar," tiba-tiba kakek Lo Kun ikut berteriak, "yang berada
dalam kereta itu Somali, kawan kita Lekas bawa dia keluar "
'Ya, dimana Somali? Kalau engkau tak mau membawanya
keluar, terpaksa aku hendak mencari kedalam markasmu
sendiri." seru kakek Kerbau Putih.
Nona pemimpin barisan itu bernama Ting San-hoa. murid
pertama dari Hu Yong sian-cu si Dewi Melati yang mendirikan
perkumpulan Partai Melati dan bermaskas di Lembah Melati.
Dia adalah murid yang paling cerdas dan setia serta
terpercaya dari Dewi Melati.
Bermula ia hendak gunakan siasat untuk mengusir
rombongan kakek-kakek gila itu. tanpa mengeluarkan tenaga.
Tetapi demi mendengarkan pembicaraan mereka berloncatloncat
menurut angin, sebentar membicarakan soal isteri,
kekasih. Sebentar lagi mengurus orang yang disebut-sebut
bernama Somali. Seenaknya sendiri mereka mengoceh
sehingga San-hoa tak sempat mengurus mereka Bukan fihak
Lembah Melati yang akan menjatuhkan hukuman kepada
mereka karena berani menyelundup masuk kedalam markas.
Tetapi kebalikannya rombongan kakek itu yang menuntut ini
itu kepada Lembah Melati. Kalau dibiarkan begitu terus
menerus, tentu kalang kabut.
"Keadaan ini harus segera kuakhiri dan kedua kakek itu
harus kuhentikan kegilaannya," akhirnya ia mengambil
keputusan.
"Hai, kamu kakek-kakek gila dan pemuda blo'on" katanya
dengan garang, "disini tak ada Somali, tidak ada Sun Li-hoa
pula. Yang ada hanya dua orang kakek linglung dan seorang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pemuda bloon yang sebentar lagi akan ditarik tubuhnya oleh
lima ekor kuda . . .. "
"Siapa ?" serempak kakek Lo Kun dan Kerbau Putih berseru.
"Kalian berdua dan pemuda itu !" kata Ting San-hoa.
"sekarang tinggal kalian boleh pilih sendiri Menyerah dan nanti
hukumannya kuringankan. Atau melawan dan nanti
hukumannya lebih berat?"
"Coba katakan dulu bagaimana hukuman yang ringan dan
bagaimana yang berat itu ?" seru kakek Lo Kun.
"Yang ringan, akan kuperintahkan supaya ke lima ekor kuda
itu menarik tubuhmu cepat-cepat agar engkau tak usah lamalama
menderita kesakitan. Dan hukuman yang berat, akan
kusuruh kelima kuda itu menarik tubuhmu pelahan-Iahan
sehingga engkau nanti akan merasakan suatu penderitaan
yang luar biasa sakitnya ..."
"Aduh mati aku . , . " kakek Lo Kun men jerit ngeri,
"mengapa anak perempuan sekejam engkau? Engkau cantik
tetapi hatimu kejam sekali"
"Lembah Melati bukanlah tempat yang boleh sembarangan
dimasuki oleh orang terutama orang-orang tak waras seperti
kalian ini !"
"Ya kalau tak boleh, akupun segera akan membawa isteriku
pergi dari sini," sahut kakek Lo Kun.
"Ngaco !" bentak San-ho marah sekali.
"Dan akupun akan membawa kekasihku pulang," kata
kakek Kerbau Putih.
"Edan engkau!" bentak San-hoa makin marah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Aku hendak membawa Somali pergi dari neraka ini." seru
Blo'on.
"Gila !" bentak San-hoa pula seraya deliki mata kepada
Blo’on
Blo’on terbeliak dan tutupi matanya : "Uh, jangan pandang
aku sebuas itu !"
"Lekas bilang, kalian menyerah atau mau melawan ?" teriak
San-hoa.
"Nanti dulu " tiba-tiba kakek Lo Kun berseru pula. "tadi aku
sudah menerima syaratmu dan berhasil menemukan Sun Lihoa.
Engkau hanya mengatakan kalau aku tak dapat
menemukan isteriku aku harus menerima hukuman mati.
Tetapi sekarang aku menemukannya lalu bagaimana ?"
"Serahkan dirimu supaya diseret lima ekor kuda tegar !"
"Ngaco !" teriak kakek Lo Kun.
"Edan !" pekik kakek Kerbau Putih.
"Gila !" seru Blo'on, "aku anak laki masakan sudi menyerah
pada anak perempuan. Tidak uku tak mau serahkan diri !"
"Hm, baiklah," kata San hoa. "sekarang kalian boleh bersiap
melawan." Habis berkata ia terus memberi isyarat kepada
barisan Melati untuk mengepung ketiga orang itu.
Lo Kun, kakek Kerbau Putih dan Blo'onpun berunding
bagaimana untuk menghadapi barisan nona-nona cantik itu.
"Apakah kita menggunakan cara seperti waktu berhadapan
dengan barisan Lo-han-tin di Siau-lim-si ?" tanya kakek Lo
Kun.
"Apakah perutmu bisa meledak lagi seperti tempo hari ?"
tanya kakek Kerbau Putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Edan," gumam kakek Lo Kun. "saat ini perutku tak apaapa.
Masakan suruh mengeluarkan kotoran lagi ..."
"Tetapi kotoran perutmu itu benar-benar hebat, dapat
membuat paderi-paderi Siau limsi muntah-muntah dan bubar,"
kata kakek Kerbau Putih.
"Tetapi aku malu," kata kakek Lo Kun, "dulu didepan
kawanan kepala gundul. Itu tak apa. Sekarang kalau suruh
aku begitu lagi dihadapan nona-nona cantik, aku malu !"
"Ada akal," tiba-tiba Blo'on menyelutuk. "mereka tentu akan
bubar dan lari.”
"Apa ?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Akan kusuruh anjing, burung dan monyet untuk ikut
menyerang mereka."
"Ya, itupun boleh juga," kata kakek Kerbau Putih.
Perundingan itu dilakukan dengan bisik-bisik. Dalam pada
itu barisan Partai Melati sudah bersiap, Tiba-Tiba San-hoa,
sinona pemimpin barisan, tak sabar menunggu.
"Hayo. sekarang kita mulai akan menyerang” serunya.
"Hm, terhadap nona-nona cantik, tak perlu kita atur siasat
apa-apa lagi. Masakan kita kalah," kata kakek Lo Kun, "tetapi
ingat engkau, Blo’on. Kalau memukul jangan keras-keras !"
Lapisan pertama dari barisan murid Partai Melati segera
menyerang. Ketika kakek Lo Kun. kakek Kerbau Putih dan
Bloon hendak menghindar, ternyata keempat nona itupun
loncat mundur. Sehingga kedua kakek dan Bloon tercengang.
Lapisan keduapun serentak maju. Ketika kedua kakek dan
Bloon menghindar lagi. nona-nona itupun menyurut mundur.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Untuk kedua kalinya Blo'on dan kedua kakek meringis. Karena
mereka bergerak sendiri, tak ada yang mengejar.
Lapisan ketiga, maju menyerang. Pun Blo'on dan kedua
kakek itu mengalami nasib serupa. Ketika menghindar ke
samping, ternyata keempat nona itupun tak mengejar
melainkan menyurut mundur. Hanya saja pengunduran ketiga
lapis barisan itu berlainan arahnya. Lapisan pertama, mundur
ke sebelah timur. Lapisan kedua kesebelah barat dan lapisan
ketiga ke sebelah utara. Sedang lapisan ke empat tak bergerak
melainkan tetap berada di sebelah selatan. Dengan demikian
barisan itu ibarat bunga yang merekah, menempatkan
korbannya di tengah-tengah.
"Hm. mereka mengepung kita dari empat jurusan," bisik
kakek Kerbau Putih, "kitapun harus menghadapi empat
jurusan. Aku yang menghadap selatan. Lo Kun utara. Blo'on
timur dan ketiga binatang itu ke sebelah barat !"
Dalam menghadapi pertempuran, ternyata kakek Kerbau
Putih tidak limbung. Ia dapat mengatur orang untuk melawan
musuh Seperti di kala berada dalam Siau-lim-si dulupun juga
dia yang memegang komando.
Demikian pertempuran segera dimulai. Blo'on bersilat
dengan ilmu pukulan Hang-liong-sip pat-ciang ajaran kakek
Kerbau Putih, Wut, wut, tamparannya menimbulkan deru
angin yang hebat.
Kelompok barisan gadis cantik yang berada disebelah timur
terkejut. Mereka tak menyangka bahwa pemuda yang
rampaknya seperti orang blo'on itu, ternyata memiliki tenaga
pukulan yang hebat. Dan ilmusilat yang dimainkan itu juga
luar biasa.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tetapi keempat nona itu juga memiliki ilmu silat yang tinggi
Mereka berlincahan menghindar dan merapat lalu balas
menyerang. Beberapa jurus kemudian keempat nona itu
heran. Apabila mereka menyingkir ke samping. Blo'on masih
tetap melanjutkan gerakannya, entah memukul entah
menendang, ke muka. Padahal jelas di sebelah muka itu sudah
kosong. Dan apabila nona-nona itu menghindar ke selatan,
ada kalanya Blo'on malah berputar tubuh menyerang ke utara.
Setelah melakukan beberapa gerakan memukul dan
menendang baru dia berputar tubuh lagi.
Keempat nona itu "saling berpandangan. Kemudian saling
memberi isyarat anggukan kepala. Mereka tak mau bertindak
gugup dan gopoh. Mereka hanya memperhatikan ke arah
mana Blo’on menyerang. Kalau Blo'on menyerang ke selatan
ke empat nona itupun segera memecah diri. Yang dua.
menghindar ke barat yang dua ke timur. Lalu dari kedua
samping, mereka tinggal mengerjakan si Blo'on dengan
seenaknya saja.
Ada yang menabok
kepalanya, ada yang
menampar punggung ada
yang menyelentik
telinganya ada yang
menendang pantatnya.
Tetapi keempat nona itu
heran, Mengapa Blo'on
tetap bersilat terus seperti
seorang yang sedang
berlatih saja. Dia tidak
menghiraukan kepala dan
tubuhnya habis menjadi
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sasaran tangan keempat nona itu.
Akhirnya keempat nona itu jengkel. Salah seorang segera
mengeluarkan sapu tangan dan terus menamparkan ke muka
Blo'on.
"Ah. harum sekali ..." Blo'on berseru kaget tetapi tak dapat
melanjutkan kata-katanya lagi karena saat itu pikirannya
terasa hilang, tubuhnya lunglai dan bluk . . rubuhlah ia
pingsan di tanah.
Seiring dengan jatuhnya tubuh Blo on, terdengar pula dua
buah suara tubuh rubuh ke tanah. Ternyata kakek Lo Kun dan
kakek Kerbau Putih juga rubuh. Kedua kakek itupun kena
ditampar dengan saputangan wangi dari gadis-gadis
lawannya.
Yang beda hanya kelompok gadis yang berhadapan dengan
si Kuning, rajawali dan monyet. Karena ngeri dan gilo melihat
monyet hitam, keempat gadis itu cepat mengeluarkan
saputangan te rus ditaburkan. Tetapi rupanya ketiga binatang
itu mempunyai naluri yang lebih tajam dari manusia Mereka
cepat dapat mencium bahwa bau harum itu tidak sewajarnya.
Cepat mereka berhamburan loncat keluar dari gelanggang dan
terus melarikan, diri.
Saat itu barisan anakmurid Partai Melati mulai mengikat
tubuh Bloon dan kedua kakek, Setelah itu mereka tegak berdiri
menunggu perintah toa-suci mereka.
"Bawa mereka ke dalam ruang Tawon-hitam-kata San-hoa
"Toa-suci." tiba-tiba salah seorang gadis berkata "apakah
tidak lebih baik buang saja mereka keluar ? Bukankah hanya
mengotori tempat kita saja mereka itu ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, toa-suci," seru lain gadis pula, "perlu apa menawan
mereka ? Bukankah kita harus memberi makan ?"
Tetapi San-hoa menjawab: "Mengenai orang kecuali dia
sudah terbunuh mati, apabila kita tawan, harus kita jebloskan
dulu diruang Kumbang Hitam. Nanti setelah suhu pulang,
barulah kita memberi laporan. Terserah bagaimana keputusan
beliau."
Keenam belas nona atau sumoay dari San-hoa tak berani
membantah. Mereka segera mengangkut Blo’on dan kedua
kakek itu kedalam markas.
Markas Partai Melati memang bagus dan strategis sekali.
Sekeliling lembah dikitari oleh batu karang yang menjulang
tinggi dan lurus tegak keatas sehingga sukar orang hendak
menurumnya.
Kemudian oleh Dewi Melati, lembah itu dijadikan markas,
dibangunnya beberapa gedung yang mewah, diperlengkapi
dengan alat-alat dan pekakas-pekakas rahasia.
Pada dasarnya, bangunan markas Partai Melati itu dibagi
menjadi dua bagian. Bangunan bagian Nirwana ialah tempat
bersenang-senang diri. Penuh dengan taman bunga yang
indah, kolam mandi dan ruangan-ruangan mewah dan
romantis.
Dewi Melati mempunyai murid duapuluh satu gadis cantik.
Terbagi menjadi tujuh kelompok. Kelompok pertama terdiri
dari tujuh gadis, merupakan murid angkatan pertama.
Kelompok kedua, merupakan murid tingkat kedua dan
kelompok ke tiga murid tingkat ketiga.
Saat itu Dewi Melati sedang menuju kepulau Lam-hay untuk
mengurus peninggalan dari suhunya yang meninggal dunia. Ia
hanya membawa muridnya nomor dua bernama Ki Lan hong.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ketujuh murid tingkat pertama dari Partai Melati ialah Ting
San-hoa. Ki Lian-hong, Sui Kim lian, Ho Siu-lan, Lim Siang. Lo
Kwi-hoa dan Seng Bi-kiok, Ketujuh gadis itu sejak kecil ikut
dan diasuh dah dididik ilmusilat oleh Dewi Melati sehingga,
hubungan antara guru dan murid itu tak ubah seperti ibu
dengan anak. Namun mereka taat dan takut kepada Dewi
Melati, Dewi Melati ilu seorang wanita yang cantik dan
periang. Tetapi apabila dia marah, jangan harap orang dapat
meminta ampun kepadanya. Dia cantik bagai bunga melati
tetapi ganas seperti ular berbisa.
Sementara bangunan kedua yang disebut Neraka hitam itu.
merupakan tempat hukuman dan tempat menyiksa orang
tawanan. Pada umumnya ialah lelaki-lelaki yang tak mau
menurut kehendak Dewi Melati tentu akan dilempar kedalam
Neraka Hitam.
Disebut neraka hitam karena tempat itu merupakan
ruangan-ruangan yang diisi dengan binatang beracun. Antara
lain, ular berbisa, kumbang beracun burung garuda pemakan
orang, harimau buas dan orang utan yang liar. Dan masih
banyak lagi jenisnya.
---ooo0dw0ooo---
Kumbang hitam
Ketika-tersadar dan membuka mata, Bio’on dapatkan
dirinya berbaring diatas sebuah bale-bale. Dari memandang ke
sekeliling ternyata dia berada dalam sebuah ruang yang belum
pernah diketahuinya Serentak ia berbangkit bangun. Ternyata
kaki dan tangannya sudah tak diikat lagi hingga ia dapat
bergerak bebas.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Memandang kedalam, tampak kakek Lo Kun dan kakek
Kerbau Putih tidur diatas bale-bale juga. Di ruang itu terdapat
sebuah jendela terali besi yang letaknya tinggi sehingga sukar
dicapai. Tetapi dari sinar terang yang masuk dari lubang
jendela itu, jelas kalau sinar matahari. Dengan demikian saat
itu tentu sudah pagi hari.
Ia turun dari pembaringan, menghampiri ke tempat kakek
Lo Kun. Diguncang-guncangkannya tubuh kakek pendek itu :
"Kakek Lo Kun, bangunlah. Hari sudah siang !"
Tetapi jangankan bangun, berkutikpun kakek Lo Kun itu
tidak sama sekali. Blo'on makin mengguncang tubuh kakek itu
keras : "kakek Lo Kun, hayo bangun, sudah siang!"
Tetap kakek Lo Kun tak bergerak. Blo'on jengkel.
Diguncangnya tubuh kakek itu makin keras, bahkan begitu
keras sehingga bluk . . . tubuh kakek Lo Kun tergelincir jatuh
dari tempat tidurnya
"Aduh . . " kakek Lo Kun menjerit dan terus melonjak
bangun lalu menyambar rambut Blo’on terus ditamparnya
gundul anak itu ? "kurang ajar, engkau berani mendorong aku
jatuh ke dalam jurang. Engkau hendak merebut isteriku, ya ?"
Walaupun meringis kesakitan karena gundulnya ditampar
tetapi mau tak mau Blo'on heran juga mendengar kata-kata
kakek itu.
"Siapa mendorongmu ke dalam jurang ? Siapa yang
merebut isterimu? Lihatlah, aku ini siapa!”
"Oh. engkau . . " kakek Lo Kun lepaskan cekalan
tangannya, "kukira engkau penjahat yang mengganggu
kesenanganku. Aku sedang berjalan-jalan menikmati
pemandangan alam pegunungan yang indah dengan Sun LiTiraikasih
website http://kangzusi.com.
hoa. Tetapi muncul seorang lelaki besar terus mendorong aku
hingga jatuh kedalam jurang . , . huh. untung aku tak mati !"
"Lalu dimana isterimu sekarang ini ?" tanya Bloon.
Lo Kun mengusap-usap pelapuk matanya dan memandang
kian kemari seperti mencari seseorang. Seraya heran : "Aneh,
jelas tadi aku sedang berjalan jalan dengan isteriku mengapa
sekarang aku berada di kamar ini ?"
"Tetapi kulihat engkau memang tidur mendengkur diatas
tempat tidur itu" kata Blo’on,
"O, benarkah itu ?" kata kakek Lo Kun. "aneh. Hidup ini
memang aneh Sebentar berada di pegunugan. sebentar sudah
berada disini,"
Tetapi Blo'on yang diajak bicara sudah tak mau
menggubris, anak itu menghampiri ketempat kakek Kerbau
Putih yang masih tidur lalu dibangunkannya : "Bangunlah,
kakek Kerbau Putih, hari sudah siang !"
Tiba-Tiba kakek Kerbau Putih melonjak bangun terus
mencekik leher Blo’on : "Nah. sekarang kucekik lehermu
bangsat ! Mengapa engkau berani melarikan kekasihku ?
Hayo. lekas kembalikan,"
Karena tak menduga-duga bakal dicekik Blo'on tak dapat
menghindar ataupun menangkis. Lehernya seperti dijepit dua
buah tangan besi sehingga ia hampir tak dapat bernapas. Ia
meronta-ronta berusaha menyiak tangan kakek Kerbau Putih,
namun sia-sia.
"Lepaskan !" tiba-tiba kakek Lo Kun mencengkeram tengkuk
kakek Kerbau Putih, "mengapa engkau hendak menyiksa
kawan sendiri Kalau tak mau lepaskan, batang lehermu tentu
kupatahkan."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Karena tak dapat bernapas, terpaksa kakek Kerbau Putih
lepaskan cekikannya.
"Engkau gila barangkali," kakek Lo Kun lepas tangannya
dan deliki mata kepada kakek Kerbau Putih "mengapa engkau
mencekik leher Blo'on
"Dia berani mengganggu kekasihku ,dan melarikannya'"
teriak kakek Kerbau Putih masih penasaran.
"Siapa yang melarikan kekasihmu ?" Blo'on menggeram.
"Engkau !" kata kakek Kerbau Putih, "tadi aku sedang
duduk bersanding dengan Sun Li-hoa dibawah sebatang
pohon. Tahu-Tahu engkau datang dari belakang, mendorong
aku jatuh lalu membawa lari Sun Li-hoa."
"Ngaco !" bentak Blo'on. "aku tak merasa mendorongmu
juga tak merasa membawa lari kekasih mu. Bukankah engkau
tidur pulas di tempat tidurmu"'
"Ya. engkau memang kakek edan. Kerbau !" kakek Lo Kun
ikut mendamprat, "memang anak itu tak pergi kemana-mana
dan kulihat sendiri engkau masih tidur melingkar di atas balebale
itu. Tidak ada seorang wanitapun dalam ruang ini"
"O, aneh," kakek Kerbau Putih garuk-garuk kepalanya,
"apakah aku bermimpi ? Aneh, mengapa kalau bermimpi
benar-benar seperti sesungguhnya. Apakah kalau begitu,
hidup dan mimpi itu tak ada bedanya
"Celaka" tiba-tiba kakek Lo Kun berteriak kaget.
"Mengapa?" kakek Kerbau Putih ikut terkejut
"Kalau begitu . . kalau begitu, aku tadipun juga bermimpi,"
kakek Lo Kun menggerutu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, engkau juga bermimpi ? Apakah mimpimu itu?” tanya
kakek Kerbau Putih.
"Aku tadi seperti berjalan jalan dengan isteriku Sun Li hoa
menikmati keindahan alam pegunungan. Tiba-Tiba Blo'on
datang dan aku membuka mata. eh . . . isterikupun lenyap !”
"Engkau berjalan jalan dengan Sun Li-hoa?" kakek Kerbau
Putih menegas."
"Ya, berjalan-jalan dengan bergandengan tangan, lho !"
kata kakek Lo Kun bangga.
"Tidak mungkin ! Engkau bohong, setan pendek !" tiba-tiba
kakek Kerbau Putih memekik.
Kakek Lo Kun terbeliak, kerutkan dahi: "Apa ? Aku
bohong?"
"Ya. memang engkau membual!" kata kakek Kerbau Putih.
'"Ho, kerbau tua, mengapa engkau dapat mengatakan aku
membual ?"
"Kapankah engkau berjalan-jalan dengan Sun Li-hoa itu ?"
tanya kakek Kerbau Puth.
"Tadi barusan saja !"
"Kentut !" teriak kakek Kerbau Putih, "jelas engkau bohong!
Karena barusan tadi juga, Sun Li-hoa itu berada dengan aku,
duduk di bawah po hon rindang, ia sandarkan kepalanya ke
bahuku.”
"Bangsat, engkau yang bohong ! Sun Li-hoa itu isteriku,
bagaimana mungkin dia berada dengan engkau !" kakek Lo
Kun marah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ho, setan pendek, Sun Li-hoa kekasihku itu jelas duduk
sandarkan kepalanya kedadaku engkau yang bohong" teriak
kakek Kerbau Putih.
"Kerbau, mari kita latihan lagi !" habis berkata kakek Lo Kun
terus menubruk kakek Kerbau Putih. Keduanya segera
bergumul.
Blo'on tertegun. Sesaat kemudian ia baru menyadari
keadaan kedua kakek itu, Plak. plak . . . dua kali ia ayunkan
kakinya Menendang pantat kakek Lo Kun dan punggung kakek
Kerbau Putih. Tendangan itu cukup membuat kedua kakek itu
marah, Mereka lepaskan diri terus loncat bangun
'"Kurang ajar, mengapa engkau berani menendang
pantatku ?" teriak Lo Kun, "setelah menyelesaikan si kerbau
tua. tentu akan giliranmu yang akan kuhajar? Mengapa
engkau tak sabar menunggu”
"Benar" seru kakek Kerbau Putih "setelah setan pendek
kuringkus, engkaulah yang akan kuhajar. Tunggu saja, jangan
terburu-buru !"
"Kalian memang kakek edan" karena tak tahan
kemengkalan hatinya, Blo'on mendamprat kedua kakek itu
"bukankah tadi engkau mengatakan kalau sedang bermimpi ?
Begitu terjaga, sudah tentu mimpi itu akan hilang. Bagaimana
kalian menganggap mimpi itu benar-benar terjadi ?"
"Ooo." seru kakek Lo Kun, "kalau begitu lebih baik aku
membuat mimpi lagi."
Habis berkata kakek pendek itu terus naik keatas tempat
tidurnya dan meramkan mata,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo’on terus menarik kaki kakek itu : "Jangan gila-gilaan
kakek. Hayo. bangun. Tak mungkin engkau dapat bermimpi
seperti tadi lagi"
Kakek Lo Kun marah-marah : “Lho, engkau berani
mengganggu kesenanganku ?"
"Kakek Lo Kun" kata Blo'on. "sekarang sudah siang. Dan
entah kita ini berada dimana ? Mengapa bisa berada di tempat
ini ? Mari kita ke luar saja. Kalau engkau hendak mencari
isterimu. carilah orangnya yang sungguh. Jangan di dalam
impian !"
"O. benar, benar." seru kakek Lo Kun girang, "ternyata
engkau anak pintar juga. ya".
Kakek Kerbau Putih tak mau menghiraukan kedua
kawannya itu. Ia memeriksa ruangan itu. Menghampiri dinding
tembok, kemudian berseru : "Mengapa ruang ini tak ada
pintunya ?"
Blo’on dan kakek Lo Kun terkejut. Mereka-pun lalu
memeriksa kamar itu. Dindingnya terbuat dari batu karang
yang tebal. Ruang berbentuk bui dan panjang, cukup luas dan
tinggi.
"Mungkin diatas itu." Blo'on seraya menunjuk pada sebuah
lubang yang terdapat di atas ruang itu. Kira-Kira dua tombak
tingginya.
Lo Kun dan kakek Kerbau Putih, serentak memandang
keatas lalu berteriak : "Hai. mengapal begitu tinggi dan kecil ?
Bagaimana kita dapati mencapai ke sana ?" seru kakek Lo
Kun.
'Goblok." tiba-tiba kakek Kerbau Putih membentak "itu kan
bukan pintu. Mungkin jendela.”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lalu dimanakah pintu ruang ini ?” tanya Blo'on.
"Ya, memang aneh," gumam kakek Kerbau Putih, "kalau
ruang ini tak ada pintunya, bagaimana kita bisa masuk
kemari?"
"Ya, aneh, aneh " kata Blo'on lalu bertanya "kakek Lo Kuu.
apakah engkau masih ingat, bagai mana cara kita berada
disini ?"
Lo Kun garuk-garuk kepalanya lalu berjalan mondar mandir
seraya menggendong kedua tangannya.
"Oh." tiba-tiba kakek Kerbau Putih menghela napas
panjang, "ya, sekarang aku ingat, aku ingat"
"Bagaimana ?" tanya Blo'on gopoh.
"Kalau tak salah, kita bertempur dengan barisan gadis-gadis
cantik, tiba-tiba gadis-gadis itu mengeluarkan saputangan
yang harum dan ditebarkan ke arah muka kita. Dan akupun
terus tidur tak ingat apa-apa lagi, Ya. tidur pulas sekali
sehingga bermimpi ketemu kekasihku. Setelah engkau
bangunkan, ternyata aku berada dalam kamar tanpa pintu ini"
"Benar, benar." serentak kakek Lo Kunpun berseru dan
loncat menghampiri, "ini tentu perbuatan mereka. Kita
dimasukkan disini."
"Kalau bisa masuk, tentulah harus ada pintu. Tetapi
mengapa sama sekali ruang ini tak ber pintu ?" bantah kakek
Kerbau Putih.
"Jangan kuatir, kerbau tua." kata Lo Kun.
Kakek pendek itu terus mencari-cari kesegenap ruang itu.
"Engkau cari apa ?' tegur Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Pukul besi atau palu," sahut kakek Lo Kun "hendak
kuhantam dinding karang ruang ini supaya kita bisa keluar."
"Disini tak ada pukul besi dan palu. Yang ada hanya
pedang," kata Blo'on.
"O, baiklah, pinjam pedangmu," kata Lo Kun lalu mulai
menebas dinding karang dengan pedang. Tetapi ternyata
dinding karang itu amat keras. Pedang hanya dapat menebas
sedikit sekali. Dia tak tahu berapakah tebal dinding karang itu.
"Celaka." seru kakek Lo Kun, "dengan pedang ini entah
sampai berapa lama baru dapat membobolkan dinding ?"
"Sampai engkau menggeletak pingsan dinding karang yang
begitu tebal tentu belum juga tembus” seru kakek Kerbau
Putih.
"Lalu bagaimana ?" seru kakek Lo Kun.
"Kita cari akal lain," kata kakek Kerbau Putit
"Bagaimana kalau kita memanjat keatas dan menyusup
keluar dari lubang itu ?" tanya Blo'on
Kakek Kerbau Putih memandang keatas. katanya "Wah,
susah juga, Untuk mencapai keatas saja tidak mudah caranya.
Disini tak ada tangga. Memanjat juga tak mungkin. Loncat,
kita tak mampu”
"Kita coba !" seru kakek Lo Kun.
"Tidak." sahut kakek Kerbau Putih, "itu berarti sekali
melambung keatas kita harus terus menyusup ke dalam
lubang itu. Dan masih disangsikan, apakah lubang itu cukup
untuk dimasuki tubuh orang"
Kakek Lo Kun garuk-garuk kepalanya. Diam-Diam ia
membenarkan keterangan kakek Kerbau Putih. Demikian
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
untuk beberapa saat. mereka berdiam diri tengah mencari akal
untuk keluar dari ruang tahanan mereka.
Tetapi betapapun mereka memeras otak, tetap tak dapat
menemukan cara untuk keluar dari ruang tahanan itu.
Sepeminum teh lamanya, tiba-tiba terdengar bunyi
berderak-derak dan dindingpun bergetar. Sesaat kemudian
dari keping dinding karang yang bergerak gerak, merekah
sebuah lubang besar, menyerupai sebuah jendela.
Dari lubang itu muncul sebuah wajah wanita tua : "Hai,
apakah kalian masih bernapas ?" tegurnya dengan suara
parau.
Blo'on cepat menghampiri : "Siapa engkau nenek ?"
"Bujang tua yang bertugas mengantar makanan untUK
kalian." sahut perempuan itu.
"O, bagus, bagus." seru Bloon, “silahkan masuk "
"Tidak," kata perempuan itu, "cukup kuberikan dari lubang
ini."
la segera menyodorkan bakul nasi, tiga mangkuk sayur, tiga
mangkuk kosong dan sebuah guci isi minuman : "Inilah
makanan siang, nanti malam kuantar lagi."
Habis berkata wanita tua itu terus menutup pintu.
"Tunggu dulu !" teriak Blo'on "mengapa aku berada disini ?
Siapa yang suruh engkau mengantar makanan kepada kami
bertiga ?"
"Huh, kalian ini dijebloskan dalam kamar tahanan Kumbang
Hitam. Tentu kalian salah besar Yang menyuruh mengantar
makanan kesini. sudah tentu nona Ting yang menyuruh."
"Siapa nona Ting itu ?" tanya Blo'on pula.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Nona Ting ialah murid pertama dari Hu Yong siancu yang
mewakili memimpin markas ini selama siancu pergi."
"Uh." kata Blo'on "lalu siapakah nama bibi ini.”
Tiba-Tiba wanita itu cemberutkan muka : "Siapa bibimu?,,
"Engkau" kata Blo-on.
"Kurang ajar. aku masih gadis, belum bersuami, masakan
engkau panggil bibi. Aku bukan isteri pamanmu !"
Blo'on melongo. Ia tak kira kalau bakal menerima
semprotan begitu dari wanita yang sudah berumur lebih dari
empatpuluh tahun itu.
"Maaf, nyonyah." kata Blo'on.
"Hus, nyonyah? Nyonyah siapa? Aku toh belum bersuami '
lengking wanita setengah tua itu.
"Oh," Blo'on mendesuh "lalu harus memanggil bagaimana?"
"Nona"
"Nona ?" Blo’on garuk-garuk kepala, "nona siapa"
"Nona Gu"
"Nona ku ?" Blo'on kaget, "wah, celaka. Aku bukan
tunanganmu. Mengapa suruh mengaku engkau ini nona-ku.
Tidak, tidak !"
"Hush, engkau edan. Telingamu tentu sudah rusak.
Dengarkan, nona Gu, bukan nona ku !"
"Gu siapa ?" tanya Blo"on.
Tetapi bujang setengah tua itu sudah menukas : "Sudahlah,
aku sudah terlalu lama disini. Mereka tentu akan mencariku.
Kalau tahu aku omong-omong dengan tawanan, mereka tentu
marah"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Siapa mereka itu ?"
"Nanti malam saja ku beri tahu lagi," kata bujang
perempuan seraya mengatupkan pintu lagi.
"Kurang ajar, genit betul perempuan itu. Masakan
perempuan setua itu masih minta dipanggil nona. huh !"
Blo’on menggerutu.
"Biar dia nona atau nyonyah, gadis atau sudah janda, pokok
kita mendapat makanan. Yang penting perutku sudah minta
diisi" kata kakek Lo Kun seraya mengambil hidangan.
Sambil makan mereka bercakap-cakap.
"Kita harus cari akal untuk keluar dari kamar tahanan ini"
kata kakek Lo Kun.
"Ya. benar," kata Blo'on " lalu bagaimana caranya ?”
"Justru itu yang harus kita cari ?" kata kakek Lo Kun,
"selama tak punya akal. jangan harap kita dapat keluar dari
kamar tahanan ini selama-lamanya"
"Selama-lamanya ?" Blo'on menegas, "celaka aku bisa jadi
tua disini nanti"
"Itu masih mending kalau menjadi tua saja" sahut kakek Lo
Kun, "tetapi aku ? Aku akan mati disini "
"Astaga !" Blo'on menjerit kaget, "kalau engkau mati. akan
dikubur diraana ? Apakah dikubur didalam ruang ini juga ?'
Kemudian Blo'on memandang kakek Kerbau Putih yang
masih enak-enak melahap makanan.
"Celaka, kakek Kerbau Putih juga tentu mati, wah. aku yang
disuruh mengubur dua mayat nanti." Blo'on masih bingung tak
keruan sendiri.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Sudahlah, jangan ribut-ribut tak keruan, "bentak kakek
Kerbau Putih, "habis makan aku tentu mendapat akal".
Demikian terpaksa Blo'on melanjutkan makannya. Beberapa
saat kemudian selesailah mereka.
"Sekarang harap kakek memberitahu akal daya kakek itu, "
Blo’on segera meminta kepada kakek Kerbau Putih.
"Ya, dengarlah, "kata kakek Kerbau Putih, "kita harus
menggunakan siasat Bi-jin-ke"
"Bi-jin-ke ? Apa itu ?" Bloon kerutkan alis.
"Bi-jin-ke artinya Siasat-wanita-cantik. Ialah menggunakan
wanita cantik untuk menyiasati musuh."
"O. maksudmu kita gunakan saja gadis-gadis cantik itu
untuk keluar dari tempat ini ?" tanya Blo’on pula.
"Tolol !" bentak kakek Kerbau Putih, "gadis-gadis cantik itu
anakmurid Partai Melati. Dan partai Melati itu musuh kita.
Bagaimana mungkin gadis-gadis itu akan membantu kita."
"Habis bagaimana maksudmu ?' seru Bloon
"Bukan gadis-gadis cantik itu tetapi bujang perempuan tadi
. . "
"Amboi !" Bloon menjerit, "engkau hendak menggunakan
bujang tua yang genit itu ?"
"Apa boleh buat" sahut kakek Kerbau Putih.
'Tetapi itu tak sesuai dengan nama Bi jin-ke. Dia bukan
wanita cantik !”
"Ya, boleh saja diganti namanya dengan Jo-jin-ke atau
siasat Wanita-buruk," kakek Kerbau Putih menggeram.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, itu bagus." kata Blo'on. "lalu bagaimana engkau
hendak mengatur siasatnya ?"
"Begini." kata kakek Kerbau Putih, "kita harus merayu
wanita itu agar mau masuk ke dalam kini. Begitu masuk, kita
sergap lalu kita . . . " katanya karena kuatir terdengar orang
kakek Kerbau Putih membisiki telinga Blo’on.
Blo on kerutkan dahi.
"Setan kerbau, mengapa engkau hanya membisiki Blo’on ?
Apa engkau anggap aku ini tak perlu tahu ?" kakek Lo Kun
marah karena ia tak dapat mendengarkan pembicaraan kakek
Kerbau Putih kepada Blo'on,
"Jangan kuatir, setan pendek. Majulah kemari." kata kakek
Kerbau Putih. Dan setelah kakek Lo Kun mendekati dan ajukan
telinganya kakek Kerbau Putihpun lalu membisikinya.
„Hola, bagus, bagus, aku setuju . . eh tetapi," tiba-tiba
kakek Lo Kun deliki mata, "mengapa harus aku )ang
menjalankan siasat itu. Kenapa tidak engkau sendiri setan
kerbau ?"
"Sebab wajahnya dan tingginya seperti engkau, lebih tepat
engkau yang menjalankan siasat itu" kata kakek Kerbau Putih.
"Tidak " bantah kakek Lo Kun, "nanti kita lihat dulu
bagaimana keadaannya. Kalau memang mirip aku ya apa
boleh buat, aku terpaksa mau.Tetapi kalau mirip engkau,
engkaulah yang jadi."
Kakek Kerbau Putih mengiakan.
Demikian mereka sudah mengambil keputusan untuk
menjalankan siasat menjebak bujang perempuan yang genit
tadi. Tak lama malampun tiba. Terdengar karang bergetar dan
berderak-derak, lalu merekah sebuah lubang sebesar jendela.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, apa kalian sudah tidur?" seru seorang perempuan.
Blo’on masih mengenal suara itu sebagai suara bujang
perempuan setengah tua yang mengantar makanan siang tadi.
buru-buru ia menghampiri.
"Makanan malam, kuberi istimewa. Banyak ikan dan
masakannya yang lezat," kata bujang perempuan itu,
"Percuma," kata Blo'on tak acuh.
Bujang perempuan itu heran : "Kenapa ?"
"Satelah makan siang kedua kawanku sakit. Yang satu sakit
perut, yang satu sakit kepala. Tentu engkau beri obat dalam
makanan itu."
"Gila !" bujang perempuan itu menjerit, "tidak, aku tak
mencampuri obat apa-apa dalam makanan siang tadi."
"Ah, tentu !" Blo'on tetap menuduh, "bukti nya mereka sakit
semua,"
"Tetapi aku benar-benar tak memberi obat !"
"Huh, kalau tak percaya, masuklah Periksa tendiri dia
memang sakit sendiri atau karena makanan siang tadi"
"Tetapi aku tak dapat membuka pintunya"
"Mengapa ?" tanya Blo'on.
"Pintu ini sebuah pintu rahasia. Ada alat penutup dan
pembukanya tetapi aku tak mengerti bagaimana cara
membukanya," kata bujang perempuan itu.
"Putar saja kian kemari, gerakkan kesana kesini, tentulah
pintu akan terbuka." kata Bloon. Padahal ia sendiri tak tahu
apakah cara itu akan berhasil atau tidak.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hm. baiklah." kata bujang perempuan lalu menuju ke
samping pintu. Disitu memang terdapat sebuah alat, terbuat
dari baja dan berbentuk bundar. Tetapi diputar putar dan
digerak-gerakkan ke kanan kiri, naik turun, tetap tak mau
jalan. Karena jengkel, bujang perempuan itu mengambil batu
dan memukulnya, tung . . . hai ia menjerit kaget ketika alat itu
menyusup masuk kedalam karang dan serempak dengan itu
terdengarlah bunyi berderak-derak dari batu karang yang
terbuka.
"Pintunya buka." ia berseru girang lalu melangkah masuk.
Ternyata dia seorang perempuan bertubuh pendek. Sudah tua
tetapi masih genit,
Melihat bujang itu masuk, Blo'on berdebar. Ia hendak
meringkusnya tetapi tadi kakek Kerbau Putih pesan supaya
jangan bertindak sendiri. Terpaksa ia tahan sabar,
"Ai. ternyata engkau masih muda." kata perempuan genit
itu kepada Blo’on, "siapa namamu engkoh?"
Blo'on mendelik, Masakan perempuan yang pantasnya
menjadi mamahnya, memanggil dia engkoh
"Aku?" tanya Blo’on "aku lupa siapa namaku Terserah
engkau mau panggil apa saja."
"Aneh, mengapa orang tak punya nama" perempuan itu
kerutkan dahi, "kalau begitu apa mau kukasih nama ?"
"Hm." dengus Blo’on.
"Bagaimana kalau kupanggil Ah-siu saja"
"Mengapa Ah siu?" tanya Blo'on mendongkol,
"Ah-siu itu dahulu bekas kekas'hku. Dia o-rangnya cakap
seperti engkau. Sayang sebelum kita menikah, dia terserang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
penyakit dan meninggal dunia. Engkau mirip dengan dia,
engkoh Ah-siu"
Karena kontan dirinya dinamakan Ah-siu, Blo'on mendelik.
Tetapi ia masih ingat akan pesan kakek Kerbau Putih supaya
jangan bertindak sendiri.
"Ya, sudah. Ah-siu ya Ah-siu. " karena mengkal Blo'on
cepat-cepat mengakhiri percakapan itu, "apakah engkau dapat
mengobati kedua kawanku yang sakit itu ?"
"Tentu saja dapat." kata bujang perempuan genit itu."tetapi
ada syaratnya."
"Syarat apa ?" Blo’on kerutkan alis.
"Asal engkau mau jadi engkoh Ah-siu yang sesungguhnya."
"Aneh, aku tak mengerti maksudmu"
"Engkoh Ah siu itu dahulu adalah kekasihku Dia sudah
meninggal dan engkau kuminta supaya jadi gantinya."
"Astaga “ Blo'on melonjak kaget seperti digigit ular. "tidak,
tidak ! Aku tak mau jadi kekasihmu,"
"Mengapa ? Apakah aku tidak cantik ?" tanya perempuan
genit itu.
"Cobalah engkau lihat dirimu di cermin sendiri"
"Hm. engkau menghina aku. Kalau begitu engkau tentu
mati ngeri " kata bujang perempuan itu,
"Mati ? Siapa yang akan membunuh aku ?" tanya Blo’on.
"Siapa lagi kalau bukan perintah Hu Yong siancu. Engkau
tahu ruang apa ini ?"
"Siapa yang tahu?" Blo'on menggeram, "aku tak takut
apapun dalam ruang ini i"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Benar ?"
"Mengapa tidak ?' Blo'on busungkan dada.
"Dengarkan." kata bujang perempuan itu, "ruang ini adalah
salah sebuah tempat penyiksaan yang ngeri. Disebut ruang
Kumbang Hitam. Apabila pekakas rahasia dalam ruang ini
dibuka, maka beribu-ribu kumbang hitam akan berhamburan
menyerang engkau dan kedua kawanmu. Kumbang Hitam itu
besarnya sama dengan burung pipit, sengatnya beracun."
"Huh, ngeri !" Blo'on bergidik.
"Itulah kalau engkau tak mau menerima syaratku. engkau
tentu mati disengat ribuan ekor kumbang raksasa yang
beracun"
Blo'on merenung. Sesaat kemudian ia bertanya : "Kalau aku
menurut ?"
"Engkau tentu takkan mati."
"Dan kedua kawanku itu ?"
"Juga akan hidup."
"Bagaimana mungkin? Apakah engkau berani menentang
perintah majikanmu Hu Yong siancu?'' tanya Blo'on.
"Tak ada seorangpun yang berani menentang perintah
siancu." kata bujang perempuan itu "aku pun takut
kepadanya."
"Habis bagaimana engkau hendak menolong aku ?" tanya
Blo'on heran.
"Hi.hi," wanita setengah umur itu tertawa genit. "sudah
tentu aku ada akal, engkoh Ah-siu. Akulah yang diserahi untuk
memelihara kawanan kumbang raksasa itu. Engkau tahu siapa
diriku ini ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on gelengkan kepala.
"Namaku Gu Bwe. asal dari daerah Sin-kiang. Ayahku
seorang ahli memelihara tawon. Kepandaian ayah diturunkan
kepadaku dan orang lalu memberi gelaran Ratu Kumbang
kepadaku. Pada suatu hari aku bertempur dengan Hu Yong
siancu dan dikalahkan. Aku tak dibunuh tetapi harus ikut ke
padanya tinggal di markas Partai Melati ini. Sudah tentu aku
tahu bagaimana untuk menjinakkan kumbang-kumbang
raksasa itu karena binatang itu adalah peliharaanku."
"O." desuh Blo'on, "baiklah, aku mau menjadi Ah-siu tetapi
engkau harus mengajarkan dulu bagaimana cara
menundukkan kumbang raksasa itu.”
"Ya, baiklah," bujang perempuan itu girang, la
mengeluarkan sebuah botol kecil dari bajunya. Botol itu berisi
cairan warna hitam, "cairan dalam botol ini adalah dzat
kumbang. Asal ambil beberapa tetes dan taburkan pada
mereka, kumbang-kumbang itu tentu ketakutan dan melarikan
diri"
"Ah. begitu mudah," kata Bloon.
"Itu baru cara untuk menghalau mereka saja. Kalau engkau
ingin menguasai mereka, engkau dapat menyuruh mereka
melakukan perintahmu."
"O, hebat" seru Blo'on "apakah ada ilmu untuk menguasai
kumbang?"
"Sudah tentu ada," kata perempuan itu. "tetapi apakah
engkau sungguh-sungguh suka menjadi pengganti Ah siu
kekasihku yang sudah meninggal itu?
"Ya," sahut Bloon, "asal engkau mau mengajarkan aku ilmu
untuk menguasai kumbang."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Baiklah," kuta bujang perempuan itu lalu membisiki
beberapa patah kata kedekat telinga Blo’on, "nah, apakah
engkau sudah jelas ?"
Blo’on mengiakan. Tetapi bujang perempuan itu minta
supaya Blo on mengulangnya : "Cobalah engkau membisiki
telingaku mantra untuk menundukkan kumbang yang
kuajarkan tadi."
Blo'on meringis, Ia bergidik apabila harus dekat dengan
perempuan setengah tua yang berbedak tebal itu. Tetapi ia
terpaksa harus melakukan juga Dengan menahan napas, ia
membisiki telinga bujang perempuan itu.
"Bagus, engkau harus ingat baik-baik mantra itu. Kawanan
kumbang raksasa itu pasti akan menurut perintahmu," kata
bujang perempuan.
"Sekarang, cobalah engkau periksa penyakit kedua kakek
kawanku itu," kata Bloon seraya menuding pada Kakek Lo Kun
yang tidur meringkuk diatas bale-bale.
Bujang perempuan itu mencekal pergelangan tangan kakek
Lo Kun untuk memeriksa detak jantungnya. Ia kerutkan dahi.
Lalu menyiak kelopak mata si kakek lalu suruh kakek itu
ngangakan mulut dan julurkan lidah. Terakhir ia suruh kakek
Lo Kun tidur telentang. Bajunya disingkap dan bujang
perempuan itu mulai mendebur-debur perut kakek Lo Kun
buk. buk ....
"Ah, penyakitnya di perut" kata bujang perempuan itu
seraya merogoh ke dalam baju dan mengeluarkan sebilah
pisau.
"Mau engkau apakan kakekku itu ?" Blo'on terkejut melihat
perempuan itu siap dengan pisau di tangan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Penyakitnya berada dalam perut, terpaksa harus
dikeluarkan" sahut bujang perempuan itu.
"Maksudnya engkau hendak membelek perut kakekku ?"
Blo'on menegas tegang.
"Apa lagi kalau tidak begitu" kata bujang perempuan "kalau
tidak dibelek perutnya bagaimana dapat mengeluarkan
penyakitnya ?"
Mendengar perutnya hendak dibelek. kejut kakek Lo Kun
bukan alang kepalang. Serentak ia meronta. Tetapi . . ,
"Jangan bergerak kakek jelek !" bentak bujang perempuan
terus mencekik leher kakek Lo Kun dengan tangan kiri. lalu
tangan kanan yang mencekal pisau terus hendak ditusukkan
ke perut kakek Lo Kun. Sudah tentu kakek itu terkejut bukan
kepalang.
Sudah menjadi naluri setiap insan, bahwa apabila
menghadapi maut, tentu akan berusaha sekuat tenaga untuk
mempertahankan jiwanya. Demikian pula dengan kakek Lo
Kun Tahu kalau dirinya bakal disembelih, kakek Lo Kunpun
mengamuk. Dengan menggerung keras, ia meronta Kakinya
bergeliatan lalu tiba-tiba mendupak dada bujang perempuan
itu,
"Jangan membunuh kakekku .. ." Blo-onpun menjerit terus
hendak mencekal tangan bujang perempuan itu. Tetapi
sebelum ia sempat bergerak, bujang perempuan itu sudah
terdupak rubuh kebelakang Duk . . . kepalanya membentur
lantai dan pingsanlah bujang itu tak kabarkan diri lagi.
Kakek Lo Kun terus melenting bangun dan me maki-maki :
"Kurang ajar, ia hendak menyembelihku”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Karena masih mendongkol, kakek itu hendak menghajar
bujang itu tetapi dicegah kakek Kerbau Putih : "Sudahlah, dia
sudah pingsan. Sekarang kita harus lekas-lekas menjalankan
rencana kita."
''blo'on," kata kakek Kerbau Putih, "engkau harus memakai
pakaian bujang ini dan menyarapi jadi dia."
"Tidak mau" sahut Blo’on "dia seorang perempuan pendek,
lebih tetap kalau kakek Lo Kun yang menyaru jadi dia."
"Aku . . . ?" kakek Lo Kun, deliki mata.
"Benar," kata kakek Kerbau Putih, "memang lebih tepat
kalau engkau yang menyaru jadi dia. Potongan tubuh dan
umurmu memang mirip dengan dia, Kalau Bloon yang
menyaru, tentu mudah di kenal orang.
Bermula kakek Lo Kun hendak membantah tetapi kakek
Kerbau Putih berkata : "Kita pancing supaya kawannya datang
kemari ..."
"Masakan mereka mau?" bantahkakek Lo Kun
"Begini," kata kakek Kerbau Putih "setelah engkau menyaru
jadi bujang perempuan ini, engkau harus pura-pura berkasih
kasihan dengan Blo'on. Kalau kawan dari bujang perempuan
itu datang, ia tentu marah dan masuk kemari. Nah, saat itu
kita boleh ringkus sekali . . ."
"Dan engkau harus menyaru juga jadi kawan nya itu !" kata
kakek Lo Kun.
Kakek Kerbau Putih terpaksa mengiakan.
Demikian kakek Lo Kun segera memakai baju bujang Gu
Bwe. Rambutnya pun diikat dan dikonde oleh kakek Kerbau
Putih. Muaknya dipupuri dengan kapur tembok.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Aduh. engkau benar-benar mirip dengan bujang
perempuan ini," kata Bloon
"Setan, engkau jangan tertawa ya," kata kakek Lo Kun.
Bujang perempuan Gu diikat tangannya dan mulutnyapun
disumbat dengan kain.
Tak berapa lama benar juga terdengar seruan orang
memanggil nama Gu Bwe : "Hai, taci Bwe mengapa begitu
lama engkau berada disitu . . " tiba-tiba suara itu berhenti
ketika seorang bujang perempuan tua tiba dipintu "hai.
mengapa pintunya terbuka ?"
Ia melongok kedalam dan berjingkrak kaget: "Masya Allah,
Gu Bwe itu memang terlalu ! Mengapa dia berpelukan dengan
seorang tawanan. Kalau tahu nona Ting, tentu dia dihukum .”
Ia melangkah masuk dan memandang keadaan dalam
ruang itu. Ternyata Gu Bwe sedang berpelukan dan berciuman
hangat sekali dengan seorang anak muda yang rambutnya
gundul tetapi memelihara dua kuncir.
"Hm. Gu Bwe itu memang
besar sekali nafsunya. Tak
pandang orang, asal lelaki dia
tentu menyerbunya. Hm, Hu
Yong siansu sedang pergi dan
nona-nona muridnya sedang
sibuk berunding di paseban
gedung Nirwana, Memang
pintar sekali Gu Bwe hm.
kurang ajar akupun harus minta
bagian"
Ia terus melangkah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menghampiri: "Taci Bwe jangan ambil sendiri, bagi dong
kepadaku . . . "
"Aduh , .. mengapa engkau menggigit hidungku?” tiba-tiba
Lo Kun menjerit dan lepaskan pelukan.
Ternyata waktu dipeluk kakek Lo Kun, Blo'on hampir tak
dapat bernapas. Dan bau mulut kakek itu hampir membuatnya
mau muntah. Tiba-Tiba kakek Lo Kun mencium bibirnya.
Aduh, mak .. karena tak tahan baunya, Blo'on gigit hidung
kakek itu.
"Aduh . . . hekkk ..." karena dipeluk oleh si kakek
sekencang-kencangnya sehingga tak dapat bernapas, Blo’on
marah lalu menggigit hidung kakek itu dan menusuk perut si
kakek dengan jarinya ....
Hal 6-6-63 ga ada
"Ya, engkau," kata kakek Kerbau Putih, "engkaupun harus
jadi perempuan"
"Tidak mau," bantah Blo'on.
"Tolol !" bentak kakek Lo Kun, "ingat, markas ini
penghuninya semua orang perempuan. Kalau engkau tetap
menjadi orang lelaki, tentu engkau akan ditangkap"
"Benar, engkau memang goblok!" kakek Kerbau Putih ikut
berkata "tadi aku memang tak mau tetapi kupikir-pikir,
memang lebih enak jadi perempuan saja."
"Mengapa ?" Blo'on makin heran.
"Sudah tentu lebih enak jadi perempuan," kata kakek
Kerbau Putih, "kalau jadi lelaki, kata setan pendek tadi
memang benar, engkau tentu akan ditangkap dan dijebluskan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dalam tahanan. Tetap kalau jadi perempuan, huh, kita kan
bisa bergaul dengan gadis-gadis cantik itu."
"Oh, engkau benar setan kerbau." seru Lo Kun berjingkrak
kegirangan "tadi aku memang sedih tetapi sekarang aku
gembira sekali. Karena nanti bisa dekat dengan gadis-gadis
cantik itu."
"Aku tak mau berkawan dengan gadis-gadis itu.' Blo'on
tetap membantah.
"Ai. mengapa ? Apakah engkau seorang pemuda banci ".
tanya kakek Lo Kun, "seorang lelaki yang wajar tentu suka
dengan wanita."
"Betul." sahut Blo'on, "tetapi gadis-gadis di sini itu
berbahaya sekail. Buktinya yang sudah tua saja masih begitu
genit seperti kedua bujang perempuan tadi".
"Ya. tak apa kalau engkau tak suka kepada gadis-gadis
cantik itu Nanti berikan saja semua kepadaku," kata kakek Lo
Kun.
"Setan pendek, jangan rakus sekali. Aku juga minta
bagian," seru kakek Kerbau Putih
Kakek Lo Kun tak mau melayani melainkan berrkata pula
kepada Blo'on: "Soal engkau tak mau dengan gadis-gadis
cantik itu tak mengapa Tetapi engkau menyaru jadi anak
perempuan juga, agar jangan diganggu mereka."
Belum Bloon menjawab, tiba-tiba dari luar terdengar suara
orang perempuan berseru : "Hai, bibi Bwe dan bibi An,
kemanakah engkau . . ? Hai, mengapa pintu ruang Kumbang
Hitam ini terbuka?”
Seorang bujang perempuan yang masih muda.. lebih
kurang berumur tigapuluhan tahun tiba di pintu dan ketika
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
memandang kedalam ruang, serentak ia berteriak kaget :
"Astaga ! Kiranya kedua bibi itu sedang asyik masyuk dengan
pemuda yang ditawan tadi , . . "
"Bibi Bwe, bibi An" seru bujang perempuan muda itu,
"ingat, kalau samyai nona Ting datang, nanti celaka kalian !"
"Uh, biar dihukum aku puas karena mendapatkan pemuda
yang begini hebat. Mari sini engkau kita berdua sudah tua dan
dia masih muda. Kita sudah payah, dia masih kuat. Kuberimu
bagian..."
Tersiraplah darah bujang muda itu. Memang sejak Hu Yong
siansu pergi dan melarang anakmuridnya keluar, sepilah
markas itu dengan tawanan orang lelaki. Biasanya gadis-gadis
murid Partai Melati itu suka membawakan 'buah tangan’
berupa laki-laki yang jelek tetapi kuat untuk bujang-bujang
perempuan,
"Ai. jangan main-main bibi," kata bujang perempuan muda
itu masih ragu-ragu.
"Siapa main-main," kata kakek Lo Kun. "engkau buktikan
sendiri, tanggung puas !"
Bujang perempuan muda itu terus maju menghampiri dan
kakek Lo Kun serta kakek Kerbau Putihpun segera menyingkir
ke samping.
Bujang perempuan muda itu, agak tinggi dan kurus.
Rupanya juga lumayan. Tetapi seperti kedua bujang
perempuan tua tadi, diapun juga memakai bedak tebal dan
pipinya diberi gincu.
Blo’on gemetar ketika dipandang lekat-lekat oleh bujang
perempuan muda itu. Mata bujang perempuan itu berkilat-kilat
seperti harimau lapar melihat anak kambing. Sebelum Blo'on
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sempat berbuat apa-apa, sekonyong-konyong bujang muda itu
terus memeluknya dan cup, cup. cup . . . muka Blo'on dihujani
ciuman bertubi-tubi.
Karena terkejut tangan Blo'on menyiak bahu bujang muda
itu. Tetapi karena gemetar, bukan bahu melainkan baju
bujang itu yang tersiak lepas.
"Ai, engkoh ini mengapa begitu tak sabar ?' kata bujang
muda itu dengan tertawa genit lalu melepas kancing dan
membuka bajunya, "apakah engkau senang melihat aku buka
baju begini ?'
"Mari engkoh, kita hangatkan diri dulu," kata bujang
perempuan muda terus memeluk Blo’on sehingga muka Blo'on
menyusup kedadanya. Seketika panaslah darah Blo'on ketika
mukanya terbenam dalam buah dada bujang genit itu.
"Hayo, engkoh, engkau juga harus buka baju mu." kata
bujang muda itu lalu melepaskan baju Blo'on. Blo'on
terlongong-longong seperti patung.
"Ai, mengapa engkau diam saja ? Apakah engkau tertarik
dengan buah dadaku ? Mari. nanti engkau tentu akan lebih
tersengsam lagi." kata bujang perempuan muda terus menarik
tangan Blo'on diajak ke tempat pembaringan.
Entah bagaimana Blo’on seperti orang yang kehilangan
semangat. Seumur hidup belum pernah ia menyaksikan
pemandangan seperti itu.
Begitu tiba di bale-bale bujang perempuan itu, ia terus
msndorong Blo'on tidur dan ia sendiripun rebah di sampingnya
memeluk Blo'on,
Rupanya bujang perempuan muda itu sudah terangsang
sekali nafsunya. Ia tak peduli sikap lloon yang sepsrti patung.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Engkoh, bukalah celanamu . . " tanpa tunggu Blo'on
bergerak, ia terus membuka celana Bloj on.
Saat itu Blo'on benar-benar seperti disambar petir kejutnya.
Wajahnya merah padam karena malu Masakan celananya mau
dibuka oleh bujang muda itu. Ah. terlalu . . .
Jika tadi waktu dipeluk dan mukanya terbenam buah dada
perempuan muda itu, darah muda Blo’on tersirap. Sekarang
serta celananya hendak dibuka, karena malu. berontaklah
Blo'on.
"Perempuan cabul . . . !" ia mendorong perempuan muda
itu sekuat-kuatnya sehingga terlempar jatuh dari atas bale.
Bluk . . . bujang perempuan genit itu jatuh ketanah dan
kebetulan kepalanya membentur lantai batu karang yang
keras. Ia menjerit dan terus pingsan . . .
Blo'on tersipu-sipu mengancingkan celananya yang terbuka.
Wajahnya merah padam . . . ,
---ooo0dw0ooo---
Jilid 12
Banci
Melihat tingkah laku si Blo'on, kakek Lo Kun dan kakek
Keruan Putih tertawa gelak-gelak. Suatu hal yang makin
membuat Bloon merah muka-nya.
"Anak goblok, anak tolol " seru kakek Lo Kun "mengapa
diberi hidangan lezar engkau tak mau makan ?”
"Heh. heh. heh" Kakek Kerbau Putih hanya tertawa
mengekeh. "tuh, rasakan bagaimana enaknya kalau dipeluk
oleh perempuan genit"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
“Sia-sia," seru Blo’on, "perempuan tak tahu malu, Masakan
celana orang laki mau dibuka"
'Hayo sekarang engkau pakai pakaian bujang muda itu !"
seru kakek Kerbau Putih.
Blo'on kerutkan dahi.
"Ya, agar kita jadi perempuan semua dan lekas keluar dari
sarang ini," seru kakek Lo Kun.
Terpaksa Blo’on menurut. Tak lama jadilah dia seorang
bujang perempuan muda. Pipinyapun dilumuri kapur tembok
yang tebal.
"Celaka," tiba-tiba kakek Lo Kun berseru.
"Mengapa ?" tanya Blo'on ikut kaget.
"Bujang perempuan itu memelihara rambut dan engkau
gundul. Masakan ada perempuan gundul seperti engkau ?"
"Benar." seru Kakek Kerbau Putih, "ai. mengapa orang
masih semuda engkau suka gundul?”
"Bukan karena suka gundul tetapi memana tak dapat
tumbuh rambutnya. Inilah gara-gara orang-orang Hoa-san
pay.” gerutu Blo'on. "lalu bagaimana ? Kalau begitu lebih baik
tidak jadi perempuan saja."
“Tidak bisa !" kakek Kerbau Putih berkeras
'"Lalu bagaimana dengan rambutku ini ?" tanya Bloon
"Beres !" tiba-tiba kakek Lo Kun berseru lalu lari
menghampiri bujang muda yang masih pingsan, itu. Konde
rambut bujang itu terus dipotongnya Kemudian ia
menghampiri ke tempat Bloon, 'Nih pakailah rambutnya."
Blo'on terlongong-longong.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
""Beginilah cara memakainya," tiba kakek Lo Kun terus
memasangkan gumpalan rambut itu ke kepala Blo’on tetapi
konde rambut itu meluncur jatuh.
“Eh. aneh. mengapa tak dapat melekat” kakek Lo Kun
heran.
"Gob!ok” timpal kakek Kerbau Putih, "bagaimana mungkin
rambut akan melekat di kepula. kalau tidak dilekatkan?"
''Bagaimana caranya?" tanya kakek Lo Kun.
"Ai. engkau ini memang seorang kakek yang bodoh.
Sudah.tentu dengan perekat." kata kakek Kerbau Putih.
"Setan kerbau, jangan omong seenakmu sendiri balas kakek
Lo Kun "disini mana ada perekat ?"
"Mengapa tak ada ?" jawab kakek Kerbau Putih, "bukankah
tadi masih, ada sisa bubur? Nah, kita manfaatkan sisa bubur
itu."
Kakek Kerbau Putih terus menghampiri ke tempat mangkuk.
Memang masih terdapat sisa bubur. Ia mengumpulkan sisa
bubur itu lalu menghampiri ke tempat Blo’on lagi.
"Duduklah, dan jangan goyang," perintahnya kepada Blo'on.
Ketika anak itu duduk, kepalanya terus dilumuri sisa bubur,
diusap-usap sampai rata. Setelah itu ia mengambil konde
rambut lalu dipajangkan di kepala Blo'on.
"Setelah kering konde rambut tentu akan melekat " kata
kakek Kerbau Pulih dengan bangga. Demikian setelah masingmasing
berdandan dan menyaru seperti ketiga bujang
perempuan, mereka terus keluar.
"Eh, bagaimana kalau ketiga bujang itu bangun" tanya
Blo’on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Sudah, keikat semua" kata kakek Kerbau Putih
Sebelurn pergi, mereka
menutup pintu batu dahulu.
Setelah itu mereka berjalan
menuju ke sebuah bangunan.
Mereka tak tahu keadaan
tempatitu, Sambil berjalan,
mereka memandang kian
kemari.
Tiba-Tiba mereka dikejutkan
oleh munculnya seorang
perempuan yang terus
meneriakinya : "Hai mengapa
kalian bertiga enak-enak jalan-jalan ? Hayo. lekas bantu aku
menyediakan arak."
Dan tanpa menunggu jawaban, perempuan itupun terus
menuju kebelakang gedung. Blo’on dan kedua kakek terpaksa
mengikuti,
Ternyata mereka tiba dibagian dapur. Perempuan itupun
salah seorang bujang perempuan markas Partai Melati,
"Malam ini empat orang nona kita, hendak bersenangsenang.
Kita diperintah untuk mengantarkan hidangan dan
arak wangi," kata bujang perempuan itu.
'O." kakek Kerbau Putih mendesah singkat "lalu
bagaimana?"
"Engkau ci Bwe" kata bujang perempuan itu kepada kakek
Lo Kun yang menyaru sebagai bujang perempuan tua yang
bernama Gu Bwe, “mengantarkan arak ke ruang Lok-hun
tong."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Uh," kakek Lo Kun mendesuh, “siapa disitu,?”
"Eh, ci Bwe, mengapa malam mi suaramu berobah parau?"
tiba-tiba bujang perempuan itu bertanya "Anu , . a . . entah ..
mungkin masuk angin” cari alasan.
".O. minum arak. supaya badanmu hangat dan Sembuh dari
masuk angin," kata bujang perempuan itu.
"Ya, benar," kata kakek Lo Kun terus menyambar sebuah
guci arak ialu diteguknya sampai habis.
Blo'on dan kakek Kerbau Pulih terkejut. Hendak mencegah
tetapi sudah tak keburu lagi.
“Eh, ci Bwe hebat benar minummu malam ini." seru bujang
perempuan itu, "biasanya secawan saja engkau sudah pusing,
mengapa malam ini engkau dapat menghabiskan seguci ?"
Lo Kun gelagapan : "Anu . . badanku meriang sekali dan
kepingin minum arak . . "
Untunglah bujang perempuan itu tak mau bertanya lebih
lanjut. Ia berkata : "Dan engkau ci An" katanya kepada kakek
Kerbau Putih. “Engkau yang mengantar ke ruang Bi hun-tong.
Disitu nona Sui Kim-han hendak merayu anakmuda bagus
yang ditawan kemarin."
“Ya." sahut kakek Kerbau Putih singkat.
"Nanti dulu." kata kakek Lo Kun tiba-tiba. "Siapa yang harus
diantari arak itu ?"
"Nona Ting San-hoa bersama putera tihu dan Hong-yanghu.
Rupanya nona San-hoa jatuh hati dengan pemuda itu.
Sejak pemuda itu dibawa kemari, selalu nona San hoa saja
yang menemani yang lain tidak diperkenankan.
"Uh” Lo Kun mendengus.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Uh bagaimana ?" tiba-tiba bujang perempuan itu menegas.
"Tidak apa-apa” jawab Lo Kun.
"Mengapa engkau mendengus ?"
"Apa tidak boleh ?” balas Lo Kun,
"Eh. ci Bwe. mengapa malam ini engkau berobah galak?
Biasanya engkau ceriwis dan genit, mengapa malam ini
engkau begitu benci? dan dingin?”
"Masuk angin!" karena jengkel Lo Kun membentak.
"Ya, ya, sudahlah, jangan galak-galak "' kata bujang
perempuan itu tertawa. "dan engkau A moy antarkan arak
kepada nona Siu-lan diruang Hui-hun tong Dia sedang akan
menundukkan Seorang guru silat yang bekerja pada tihu
Hong-yang-hu,"
Tiada penyahutan sama sekali.
'Hai. engkau dengar tidak A-moy ?' tiba-tiba bujang
perempuan itu memandang Blo'on.
"Siapa ??' Blo'on terbeliak kaget,
"Siapa lagi kalau bukan engkau ? Bukankah engkau
bernama A-moy ?”
"Uh. ya, ya " Blo'on menyeringai.
"Eh. A-moy, mengapa malam ini engkau jadi aneh” tegur
bujang perempuan itu.
"Aneh ? Apa yang aneh ?”
'"Engkau seperti orang tolol. Masak kupanggil namamu,
engkau diam saja. Apa engkau juga sakit ?"
"Ya, tadi telingaku kemasukan semut. Sampai lama semut
itu baru mau keluar," kata Blo'on sekenanya saja.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Bujang perempuan itu tertawa : "Hi, hi. salahmu sendiri
mengapa menaruh telinga disembarang tempat."
"Dan engkau sendiri mengantar kemana ?" cepat kakek
Kerbau Putih bertanya agar bujang perempuan itu jangan
mendesak Blo'on dengan macam-macam pertanyaan, ia kuatir
anak itu tak dapat menjawab dan ketahuan belangnya.
"Aku ?" bujang perempuan yang berumur tigapuiuhan lebih
itu tertawa, "aku akan mengantar arak ke ruang Biau-huntong."'
"Siapa yang berada disitu ?'
"Nona Hun-hun ..." kata bujang itu, "ah kasihan nona Hunhun.
Dia yang mendapatkan seorang pemuda tampan, tetapi
pemuda itu masih disimpan oleh nona San-hoa. Dan sebagai
penghibur, nona Hun-hun diperbolehkan melayani seorang
imam tua ..."
"Imam tua " kakek Kerbau Putih terkejut.
"Ya, imam tua yang datang bersama guru silat kantor tihu
Hong-yang Itu ,dan seorang pemuda cakap."
"Mengapa engkau memilih mengantar arak kesana ?" tanya
kakek Kerbau Putih pula.
"Biarlah, aku kasihan pada nona Hun-hun” sahut bujang
perempuan itu, "hayo, lekas antar..Nanti nona-nona itu marah
kalau menunggu terlalu lama".
Bujang perempuan itu terus membawa sebuah, penampan
berisi guci arak, cawan dan manisan. Ia tak menghiraukan
ketiga kawannya itu. terus mendahului keluar.
Kedua kakek dan Blo'on bingung, Mereka segera mencari
penampan dan tempat simpanan arak "Hola. rejeki nomplok,"
seru kakek Lo Kun ketika mendapatkan tempat simpanan arak
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
itu penuh dengan guci arak. Ia mengambil seguci arak
membuka sumbatnya dan : "Amboi , . . sungguh wangi benar
arak ini , , . " terus diteguknya dengan nikmat sekali.
"Wah. kalau begini naga-naganya, memang lebih enak jadi
bujang perempuan disini." kakek Lo Kun masih mengoceh.
"Setan pendek" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru cemas
"jangan gila-gilaan. Kalau engkau sampai mabuk, engkau
tentu ketahuan dan tentu akan dijebloskan dalam tahanan
lagi. Hayo, lekas kita mengantar arak."
Demikian ketiganya setelah mengisi penampan dengan guci
dan cawan arak serta sepiring manisan, merekapun terus
melangkah keluar.
"Hai ..." tiba-tiba Blo'on berseru kaget.."kemana kita harus
mengantarkan arak ini ?"
"Mati . . .!" kakek Lo Kun berhenti serentak
“Ya, kemanakah kita harus mencari nona-nona itu ?"
Akhirnya kakek Kerbau Putih yang memecahkan kesulitan
itu. katanya : "Mari kita jalan terus. Asal melihat ruangan kita
masuki saja."
"Ya, ya benar begitu." kata kakek Lo Kun.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi menyusur
lorong dalam sebuah bangunan gedung besar.
Tiba-Tiba mereka mendengar suara seorang gadis tertawa :
"Ai. engkoh Pik-giam. mengapa malam ini engkau begitu lesu
?"
"Ah, nona Ting." terdengar seorang pemuda menghela
napas, "aku benar-benar letih sekali. Tenagaku serasa habis .“
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Nona itu tertawa mengikik : "Ah, engkau si orang pemuda
yang gagah, masakan baru setengah bulan saja sudah loyo ?"
"Ya, tetapi kalau tiap malam aku harus bermain dua tiga
kali mana aku kuat ?" suara pemuda itu agak penasaran.
Si nona tertawa puia : "Ya ya baiklah, Malam ini kita cuma
satu kali saja . . "
"Tetapi nona Tin" seru pemuda itu, "aku benar-benar sudah
tak kuat. Sukalah nona memberi istirahat barang dua tiga
malam saja."
"Dua tiga malam ?" menegas nona itu, "ah jangan begitu,
engkoh Pik-giam. Apakah engkau tak kasihan kepadaku?"
Mendengar itu Kakek Putih berbisik : "Rupanya yang berada
dalam kamar ini nona Ting bersama Pik-giam. Kalau tak salah.
nona Ting itu tentu Ting San-hoa dan Pik-giam itu. tentulah
Kho Pik-giam. putera tihu dari Hong yang-hu itu."
Kakek Lo Kun dan Blo'on mengangguk.
"Baiklah aku saja yang masuk. Nona itu bengis dan ganas,
kalau engkau berdua sampai ketahuan tentu dibunuh. Aku
dapat melihat gelagat".kata kakek Kerbau Putih.
"Lalu aku ?' tanya kakek Lo Kun dan Blo'on serempak.
"Engkau berdua terus jalan kernuka. Pada setiap kamar,
dengarkan pembicaraan orang di dalamnya, baru kalian boleh
masuk" kala kakek Kerbau Putih, "nanti berkumpul di dapur
lagi."
Kakek Lo Kun dan B!o’on terus lanjutkan berjaan kernuka
dan kakek Kerbau Putih lalu mengetuk pintu.
“Siapa ?" terdengar suara si nona.
"Bujang yang mengantar arak," sahut kakek Kerbau Putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"O. masuklah." seru nona itu pula.
Kakek Kerbau Putih segera mendorong daun pintu dan
melangkah masuk, "ini araknya nona " ia segera menaruhkan
arak di atas meja dan terus hendak berlalu.
"Tunggu dulu" seru nona itu yang bukan lain Ting San hoa
murid pertama Hu Yong siancu. Ia menghampiri meja.
mengambil guci arak dan menciumnya : "Ah, kurang wangi.
Kemarilah engkau !" ia melambai pada kakek kerbau Putih,
Setelah kakek Kerbau Putih menghampiri, nona itu segera
membisiki ke dekat telinganya : "Ganti arak ini dengan arak
yang lebih wangi. Dan camppurilah dengan bubuk Bi-hun
jiong-sing-tan, tahu'?"
"Dimana tempatnya, nona ?" kakek Kerbau Putih terkejut.
"Engkau tahu kamarku ?' tanya nona itu.
"Belum"
“Celaka." nona Ting San-hoa banting-banting kaki karena
jengkel '"engkau tunggu dulu disini."
Kakek Kerbau Putih mengiakan. Setelah San hoa pergi,
cepat kakek Kerbau Putih menghampiri pemuda itu : "Apakah
engkau bukan Kho Pik-gi-am anak tihu dan Hong-yang-hu ? '
Pemuda itu terkejut : "Hah mengapa engkau tahu ?"
"St, jangan keras-keras waktu berharga sekali. Sebentar
lagi nona itu tentu akan kembali " kata kakek Kerbau Putih,
"aku bukah bujang di sini tetapi juga seorang tawanan yang
menyaru jadi bujang. Bujang perempuan disini sudah
kuringkus dan kulucuti pakaiannya."
"O," pemuda itu mendesuh kaget.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Nona itu hendak mengambil obat suruh aku
mencampurkan ke dalam arak, kuduga obat itu tentu obat
perangsang . . '
"Uh," keluh pemuda itu. "aku tentu lekas mati karena
kehabisan tenaga."
"Jangan takut" kata kakek Kerbau Putih "aku membawa
obat kuat dan dapat memulihkan tenagamu dalam, waktu
singkat."
Ia mengeluarkan pil merah, katanya : "Minumlah, tenagamu
tentu pulih"
Pemuda itu masih bersangsi : "Tetapi bagaimana dengan
obat perangsang yang pasti disuruhnya aku minum itu ?'
'Jangan takut" kata kakek Kerbau Putih pula "dia tentu
suruh aku yang mencampurkan ke dalam arak. Sudah tentu
takkan kucampuikan dan akan kuganti dengan lain obat"
"O, baiklah" kata pemuda itu terus minum pil merah dan
menghaturkan terima kasih.
"St. kudengar langkah orang mendatangi, tentu nona itu.
Jangan lupa. setelah tenagamu pulih. Engkau harus pura-pura
menuruti kemauannya. Begitu ada kesempatan engkau harus
cepat meringkusnya, tahu ?"
Pemuda itu mengiakan.
"Hai. kalian omong-omong apa saja itu ?' seru seorang
nona dan masuklah Ting San-hoa kedalam ruangan.
"Ai, nona ini masakan mencemburui aku. perempuan tua
yang begini jelek. Masakan kongcu....”
“Tetapi kudengar kalian bicara asyik sekali. Apa saja yang
kalian bicarakan ?" masih San-hoa mendesak.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ah. tidak omong apa-apa" kata kakek Kerbau Putih. "hanya
kongcu mengatakan ingin lekas mati saja."
"Mengapa ?" San-hoa terkejut.
"Dia rasakan tulang tulangnya seperti kering dan tenaganya
habis, badannya lemah"
"O. tak apa. Nanti setelah minum arak obat dia tentu sehat
kembali." kala San-hoa tertawa. Kemudian ia mendorong
kakek Kerbau Putih, "lekas ambilkan arak Sari Melati."
Dalam mendorong itu, cepat sekali San hoa sudah susupkan
bungkusan bubuk obat ke tangan kakek Kerbau Putih. Kakek
Kerbau Putihpun segera keluar.
Tiba di lorong yang gelap kakek Kerbau Putih membuang
bungkusan obat dari San-hoa itu lalu menuju ke dapur, ia
memilih arak yang wangi lain memasukkan obat yang
dibekalnya. Obat itu berkhasiat menyegarkan semangat.
"Nih. nona. arak San Melati yang nona perintahkan itu."
katanya setelah kembali ke kamar.
San-hoa tersenyum girang dan menyambut. Lebih dulu ia
suruh kakek Kerbau Putih, keluar. Tetapi kakek itu
bersembunyi diluar kamar untuk mendengarkan pembicaraan
mereka.
“Ai. mari engkoh, minumlah arak Sari Melati buatan kita
ini." kata San hoa seraya mengangsurkan cawan, “arak ini
dibuat dari sari bunga Melati, harum dqn menyegarkan
Semangat, memulihkan tenaga "
"Ah. tidak nona.” Pik-gi am pura-pura menolak. Walaupun
ia percaya kepada kakek Kerbau Putih, tetapi ia harus
menjalankan siasat juga agar nona itu tak menaruh curiga,
"aku tak minta apa-apa kecuali minta libur malam ini. Biarlah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
aku beristirahat agar tenagaku kembali. Besok aku tentu akan
melayani nona lagi sepuas puasnya."
Tetapi rupanya Sun-hoa sudah terlanjur di-rangsang
nafsunya. Ia tertawa merayu : "Ai. engkoh Pik giam, masakan
dinda hendak mencelakai engkau. Terus terang engkoh sejak
ber-tahun-tahun ketemu dengan pemuda-pemuda yang
datang kesini, belum pernah aku jatuh hati seperti pada diri
engkoh. Harap engkoh jangan menyia-nyiakan kecintaanku”
"Ah, nona Ting," kata Pik-giam masih jual langkah, "akupun
cinta kepadamu. Tetapi tubuhku benar-benartak mengizinkan
Aku sungguh kehabisan tenaga. Aku tak mau mengecewakan
engkau, nona.”
"Ai. engkoh Pik-giam. cobalah engkau minum arak ini," kata
San-hoa tetap membujuk, "kalau setelah minum arak engkoh
masih tetap letih, ya tak apa-apa aku tak akan
mengganggumu malam ini”
*'Ah. lebih baik jangan . ..”
"Ai. engkoh masakan engkau tak percaya kepadaku.
Masakan aku hendak mencelakai engkau. Minumlah engkoh,
jangan kuatir. arak ini tak besi racun. Lihatlah, " San-hoa terus
meneguknya habis lalu menuangkan lagi dan diberikan kepada
pemuda itu "lihatlah, engkoh. Kalau arak ini beracun, biarlah
aku ikut mati bersama engkoh"
Akhirnya Pik-giam menyerah, la menyambuti cawan arak itu
lalu meneguk habis isinya. Kemudian ia pejamkan mata dan
diam-diam salurkan peredaran darahnya untuk mengumpulkan
tenaga-dalamnya.
Sebenarnya ia memiliki ilmusilat yang cukup lumayan.
Tetapi karena ia gemar pelesir dengan wanita cantik tenagamurni
dalam tubuhnya susut banyak. Apalagi setelah berada di
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
markas Partai Melati, keadaannya makin payah. Tiap malam ia
harus melayani San-hoa. Nona itu ternyata besar sekali
nafsunya. Tiap malam Pik-giam dipaksa harus melayani
sampai dua tiga kali.
Hanya lebih kurang setengah bulan saja wajah Pikgiam
berobah pucat seperta mayat. Tenaganya habis.
Beberapa saat kemudian ia rasakan tubuhnya mulai hangat,
darah melancar gencar. Semangatnya muiai merekah dan
tenaganya tampak mengumpul. Diam-diam ia girang.
"Mari engkoh, minum secawan iagilah, lihatlah, wajahmu
sudah bertebar merah" kata San-hoa.
Tanpa banyak bicara Pik-giampun menyambutii dan
meneguknya habis. Setelah itu San-hoa segera memeluknya
dan mengecup bibir si pemuda
"Ah. engkoh yang manis, mari kita beristirahat di
pembaringan" kata San-hoa lalu menarik tangan pemuda itu
diajak naik ranjang.
Saat itu sesungguhnya Pik-giam sudah hendak
menghantam, la benar-benar sudah muak akan nona itu.
Memang sebelumnya, ia. seorang pemuda yang nakal, doyan
plesiran dengan-wanita-wanita cantik. Tetapi setelah tiap hari
harus melayani sampai dua tiga kali dengan nona yang tak
kunjung puas nafsunya itu. akhirnya timbullah kemuakan Pikgiam.
Kemudian ia teringat akan pesan bujang perempuan tua
yang memberinya obat tadi. Terpaksa harus menyabarkan hati
dan menurut saja diajak naik ke ranjang. Ya. ia harus dapat
memainkan agar jagan menimbulkan kecurigaan nona itu,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Begitu Pik-giam tiba di ranjang, terus didorong oleh Sanhoa
sehingga pemuda itu rebah terlentang Seperti seekor
harimau betina yang lapar San hoa pun terus menubruk
pemuda itu.
Biasanya Pik-giam terus menyambutnya dengan hangat dan
keduanya tentu berpelukan dan bergumul bagai sepasang ular
yang berlilitan, Tetapi saat itu tiba-tiba Pik-giam menjerit.
"Aduh. jangan menindih tubuhku, nona, "teriaknya.
"Mengapa ?" tanya San hoa.
"Aduh, tulang-tulangku masih lemas, tenagaku masih belum
kembali dan tubuhku terasa lunglai, "kata Pik-giam setengah
merintih.
"Apakah engkau tak merasakan sesuatu setelah minum
arak tadi ?" tanya San hoa.
"Ya, tubuhku terasa hangat, darahku serasa mengalir deras.
Tetapi tenagaku masih belum kembali. Mungkin harus
beristirahat dulu beberapa waktu. Kasihlah aku mengasoh dulu
barang setengah jam," kata Pik giam.
San hoa tertawa mengikik : "Ah. engkau memang seorang
lelaki lemah. Masakan melayani seorang anak perempuan
seperti aku saja engkau sudah tobat. Jika engkau diambil
suhuku supaya melayaninya, engkau tentu sudah tak dapat
jalan lagi'
"O. apakah Hu Yong siancu itu juga besar sekali napsunya
?" tanya Pik-giam .
"Jauh lebih hebat dari aku" kata San-hoa tersenyum, "suhu
memiliki ilmu istimewa. Dia sanggup meladeni sekaligus
sepuluh lelaki dalam satu malam. Tetapi dia tak mau
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sembarangan bermain dengan orang lelaki. Yang dipilih
kebanyakan tentu yang masih jejaka."
'O mengapa ?" tanya Pik-g;am. "Katanya bisa untuk obat
awet muda." Kata San-hoa dengan senyum cabu!. "dan
nyatanya memang begitu. Engkau tahu berapakah, usia suhu
ku itu ?'
Pik-giam merenung sejenak lalu menyahut “ Paling banyak
tentu baru empatpuluh tahun."
San-hoa tertawa : "Sebenarnya suhu sudah berusia hampir
limapuluh tahun. Tetapi dasar parasnya cantik dan pandai
merawat kecantikannya serta sering mencari jejaka, dia
tampak masih seumur wanita muda yang berumur.tigapuluh
tahun”
"Engkoh, aku akan membantumu agar tenagamu cepat
pulih." kata San-hoa. Nona itu terus membuka bajunya lalu
melolos kun atau celana panjang
Kini dia hanya mengenakan pakaian dalam celana dan
kutang.
Melihat itu berdebarlah hati Pik-giam. Darah berggelora
keras dan ia rasakan tenaganya bertambah. Ia memandang
nona itu dengan bengong
“Engkoh. mungkin kalau begini, engkau tentunya lebih
girang lagi." habis berkata San-hoa terus menanggalkan
kutang dan membuka celana dalamnya .Kini nona itu benarbenar
bugil.
Darah Pik-giam makin menggelora keras.
Matanya menyala merah. Mulut berulang kali harus
menelan kembali airliurnya yang hendak menetes keluar.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Walaupun tiap malam ia menikmati tubuh si nona tetapi
setiap kali ia memandang tubuh si-jelita yang putih mulus dan
berhias sepasang buah dada yang menggelembung padat,
selalu saja darahnya mendidih dan nafsunya berkobar.
"Engkoh, marilah, tubuh ini milikmu. Terserah engkau
hendak mengapakannya." kata San-hoa dengan meramkan
mata seperti orang yacg pasrah diri.
Hampir saja Pik-giam tak kuat menahan gejolak nafsunya
yang sudah berkobar itu, ia ulurkan kedua tangannya hendak
meraih : "Manisku kemari ..."
Bagaikan seekor anak domba. San-hoa maju merapat
kepada Pik-giam Ketika tangan Pik giam meraihnya, dengan
sengaja nona itu jatuhkan diri dengan buah dadanya menimpa
muka Pik giam.
Hawa harum semerbak, tubuh yang halus dan buah dada
yang montok, menyebabkan Pik giam terbuai-buai dalarn
langit tujuh lapis. Dipeluknya nona itu erat-erat dan nona
itupun paserah sepaserah-paserahnya. Mereka berpelukan dan
bergelut mesra.
"Ah. engkoh mengapa engkau tak membuka pakaianmu ?”
tiba-tiba San hoa menegur.
Teguran itu membuat semangat Pik-giam yang terbang
melayang-layang, tersentak kaget. Serentak ia menyadari apa
yang akan terjadi apabila ia melakukan permintaan nona itu.
Dan serentak pula ia teringat akan pesan bujang perempuan
tadi. Pun saat itu. ia rasakan suatu pemandangan yahg
menyeramkan. Dalam pandangannya. Wajah San-hoa itu
bukanlah wajah seorang nona yang cantik jelita melainkan
telah berobah seperti searang kuntilanak yang menyeramkan.
Menggigillah tubuh Pik giam. semangat meronta.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Baiklah," tiba-tiba ia menyahut dan secepat kilatt ia
rnenutuk jalandarah dibawah buah dada San hoa.
Walaupun tenaganya belum pulih sama sekali tetapi karena
tutukannya itu tepat mengenai jalandarah yang berbahaya,
seketika menjeritlah San Hoa terus rubuh tak sadarkan diri
lagi.
Pik-giam cepat loncat turun dari ranjang. "Berbahaya"
gumamnya ketika teringat akan adegan beberapa detik yang
lalu.
Tiba-tiba pintu dibuka dan bujang perempuan tuapun
muncul.
"Bagus, engkau dapat melakukan rencana itu dengan baik
sekali." seru bujang perempuan tua kakek Kerbau Putih
Pik-giam tersipu-sipu menghaturkan terima kasih kepada
bujang perempuan itu yang tak disangkanya kalau kakek
Kerbau Putih.
"Dimana nona itu ?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Masih pingsan dlatas ranjang."
Kakek Kerbau Putih menghampiri dan menyingkap kelambu.
Serentak ia menjerit : "Aduh, mati aku ..." ia terus meluncur
mundur.
"Kenapa ?" tanya Pik-giam heran.
Kakek Kerbau Putih deliki mata : "Mengapa engkau tak
menutupi tubuhnya ? Kalau aku melihat tubuh seorang nona
dalam keadaan telanjang begitu, jantungku bisa putus, tahu !"
Pik-giam segera menghampiri ranjang, menutupi tubuh San
hoa dengan selimut. Setelah itu ia bertanya : "Sekarang
bagaimana aku harus bertindak?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Berapa lama rona itu akan pingsan ?" tanya kakek Kerbau
Putih.
"Paling lama setengah jam. dia tentu sudah bangun.
Mungkin tenaga tutukan masih belum keras," kata Pik-giam.
"O, kalau begitu ikat saja kedua tangan dan kakinya dan
sumbat mulutnya dengan kain supaya jangan dapat berteriak,"
perintah kakek Kerbau Putih.
"Mengapa tidak kita bunuh saja ?" tanya Pik-giam, "apabila
nona semacam ini masih hidupi di dunia, temu dunia ukan
selalu kacau saja."
"Kalau aku tak sampai hati. Apakah engkau tega
membunuh seorang nona yang begitu cantik ?” seru kakek
Kerbau Putih.
"Mengapa tidak ' habis berkata Pik-giam terus hendak
mengambil pedang.
"Jangan " cegah kakek Kerbau Putih
"Mengapa ?" Pik-giam kerutkan dahi
"Menurut dugaanku, nona itu dulunya tentu seorang anak
perempuan baik-baik. Tetapi setelah menjadi murid Hu Yong
siancu, dia tentu dididik menjadi wanita cabul. Jadi yang salah
ialah Hu Yong siancu. Dialah yang harus dibasmi."
"Benar." sahut Pik-giam. "tetapi nona itu sudah terlanjur
rusak moralnya, Bukankah dia tetap akan melanjutkan sepak
terjangnya. walaupun Hu Yong siancu sudah mati ?"
"Nah. itulah yang harus kita cari. Bagaimana caranya
supaya dapat menyadarkan nona itu kembali ke jalan yang
benar lagi," kata kakek Kerbau Putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hm. susah rasanya," gumam Pik-giam, "kecuali sudah
mati, barulah nona itu akan tobat,"
Kakek Kerbau Putih merenung diam. Beberap saat
kemudian ia berkata : "Aku masih curiga jangan-jangan dia
diberi minum obat oleh Hu Yong siancu sehingga pikirannya
berobah tak sadar
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Ngentot Terbaru Silat : Pendekar Bloon 2 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Ngentot Terbaru Silat : Pendekar Bloon 2 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-ngentot-terbaru-silat-pendekar.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Ngentot Terbaru Silat : Pendekar Bloon 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Ngentot Terbaru Silat : Pendekar Bloon 2 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Ngentot Terbaru Silat : Pendekar Bloon 2 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-ngentot-terbaru-silat-pendekar.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar