Cerita Dewasa SD : Pusaka Negeri Tayli 4

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Kamis, 02 Agustus 2012

Cerita Dewasa SD : Pusaka Negeri Tayli 4-Cerita Dewasa SD : Pusaka Negeri Tayli 4-Cerita Dewasa SD : Pusaka Negeri Tayli 4-Cerita Dewasa SD : Pusaka Negeri Tayli 4


Cu Jiang segera melakukan ilmu pernapasan menurut
ajaran dalam kitab Giok-kah-kim-keng.
Sudah tentu Sam Bok thiancun juga tak tinggal diam.
Dia juga mempunyai rencana seperti yang diangankan Cu
Jiang.
Beberapa waktu kemudian Cu Jiang mulai berbangkit.
Dia tak mau memberi kesempatan sampai lawan dapat
memulihkan tenaganya.
-oo0dw0oo-
Jilid 20
Selangkah demi selangkah dia menghampiri ke tempat
Sam Bok thiancun. Langkahnya yang sarat menimbulkan
suara berderak-derak yang menyeramkan. Suasana saat itu
benar2 menyeramkan sekali.
Urat2 wajah Sam Bok thiancun bergeliatan menonjol.
Diapun mulai berbangkit.
Setelah lebih kurang satu setengah meter dimuka Sam
Bok thiancun, Cu Jiangpun hentikan langkah.
"Budak kecil." seru Sam Buk thiancun dengan napas
terengah-engah, "engkau merupakan satu-satunya lawan
yang dapat mengimbangi kepandaianku selama ini, hanya
salah seorang dari kita berdua yang harus hidup atau
mungkin kita berdua akan sama2 terluka atau mati.
Dapatkah engkau.... mengatakan asal usul dirimu?"
Cu Jiang menggertak gigi.
"Putera tunggal dari Dewa-pedang Cu Beng Ko."
serunya.
Sepasang mata Sam Bok thiancun mendelik.
"Dengan modal apa Cu Beng Ko berani mengangkat diri
sebagai dewa pedang ?"
"Tua bangka, engkau berani menghina mendiang
ayahku?"
Blum
Cu Jiang menutup kata-katanya dengan sebuah
hantaman dan Sam Bok thiancun pun balas menangkis.
Terdengar letupan keras dan erang ngeri. Mulut Sam Bok
thiancun muntah darah dan orangnyapun rubuh.
Cu Jiang juga terhuyung-huyung, setelah muntah darah
diapun jatuh terduduk, pandang matanya serasa gelap.
Pikirnya, kali ini kalau Sam Bok thiancun turun tangan, dia
tentu mati. Dia benar2 tak mampu menggerakkan anggauta
tubuhnya lagi.
Sekonyong-konyong terdengar derap langkah kaki orang
dan sesaat kemudian lengking jerit seorang wanita. Hati Cu
Jiang bergetar. Samar2 dia melihat dua orang wanita tetapi
tak dapat melihat jelas wajah mereka.
"Ma. Sucou..."
"Hai, kiranya si algojo kecil ini."
"Dia "
Semangat Cu Jiang serasa terbang ketika mendengar
kedua wanita itu menyebut sucou (kakek guru) kepada Sam
Bok thiancun. Saat itu dia sudah lebih sadar. Bayangan
kedua wanita itu mulai tampak lebih jelas.
"Sekarang aku pasti mati." diam2 ia mengeluh.
Kedua wanita yang datang itu bukan lain adalah nyonya
Gedung Hitam bersama puterinya.
Wajah nyonya Gedung Hitam itu membeku dingin,
sepasang matanya berapi-api. Sedangkan nona itu atau
yang menurut pengakuannya bernama Ki Ing, tampak
pucat.
Yang berseru menyebut sucou tadi, Ki Ing juga. Dengan
demikian mamanya atau isteri dari ketua Gedung Hitam itu
murid pewaris dari Sam Bok thiancun.
Dengan demikian rahasia diri wanita itu yang selama ini
tiada orang yang mengetahui jelas bagaimana asal usulnya,
sedikit-sedikit mulai tersingkap.
Diam2 Cu Jiang teringat bagaimana manusia aneh
penjaga mulut lembah dan pemilik lembah itu atau Sam
Bok thiancun, dapat mengatakan kalau dia adalah Toankiam-
jan-jin. HaI itu tentulah karena sudah mendengar
laporan dari nyonya Gedung Hitam.
"Adakah dendam permusuhan antara ayah dengan ketua
Gedung Hitam, juga karena mempunyai hubungan dengan
Sam Bok thiancun ?" pikir Cu Jiang.
Tanpa disadari sinar matanya telah beradu dengan
tatapan sinar mata Ki Ing. Tergetarlah hati Cu Jiang.
Dalam pandangannya, Ki Ing itu seorang nona yang
penuh kasih dan curahan asmara. Tetapi Cu Jiang tak
tersentuh hatinya. Andaikata Cu Jiang belum terikat
pernikahan dengan Ho Kiong Hwa, diapun tetap sukar
menerima Ki Ing karena mereka terpisah oleh jurang
pemisah lebar yang berupa dendam darah dari orang tuanya
masing2.
Ki Ing, nona yang pertama-tama pernah menyentuh
hatinya, ternyata puteri dari musuhnya. Diam2 Cu Jiang
bersyukur karena ia belum sampai menjalin hubungan kasih
yang lebih dalam.
Kemudian mengerling kesamping, Cu Jiang melihat
tubuh Sam Bok thiancun rebah tak bergerak di tanah. Dia
mati.
"Hari ini engkau pasti mati," seru Hek Poh hujin atau
nyonya Gedung Hitam. Secepat kilat tangannya
menyambar kain kerudung yang menutupi muka Cu Jiang,
juga kedok mukanya.
"Hai, dia benar2 pelajar baju putih itu !" serentak Ki Ing
melengking kejut.
Saat itu Cu Jiang sedang menderita luka-dalam yang
parah sekali sehingga dia tak dapat berbuat apa2.
Sejenak nyonya Gedung Hitam tertegun lalu berseru.
"Apakah engkau hendak meninggalkan pesan apa-apa ?"
sesaat nyonya itu menegur.
"Aku masih penasaran mengapa tak dapat membunuh
kalian gerombolan Iblis ini dan menghancurkan Gedung
Hitam !" sahut Cu Jiang dengan nada keras.
"Cita-citamu memang mulia, sayang engkau harus
menunggu sampai penitisanmu yang akan datang," sahut
nyonya Gedung Hitam.
"Ma!" tiba2 Ki Ing berseru dengan rawan.
Nyonya itu berpaling kearah puterinya yang tercinta dan
kerutkan alis melihat sikap anak itu.
"Nak, engkau kenapa ?"
"Apakah.... engkau tak dapat melepaskannya."
"Apa ? Melepaskannya ...."
"Ya."
"Nak, engkau gila !"
"Aku tidak gila, ma."
"Soal lain2 tak perlu kita bicarakan tetapi dari
perbuatannya membunuh sucoumu itu saja, dia harus
mati!"
"Yang kuat menang yang lemah hancur, itu sudah
menjadi dalih dunia persilatan. Kurasa apa yang terjadi tadi
memang suatu pertempuran yang layak."
"Tutup mulutmu!" bentak nyonya itu. "engkau tak
menyadari apa yang engkau katakan. Jika tidak sekarang
kita turun tangan, kelak tentu berbahaya akibatnya !"
Sepasang mata nona itu merah. Setelah terdiam beberapa
jenak dia berkata pula:
"Ma, kali Ini lepaskanlah dia."
"Nak, jangan engkau terlalu bermanja diri, tak mungkin
hal itu dapat kulakukan !"
Dalam pada itu berkat memperkeras ilmu Sim-hwat.
dapatlah Cu Jiang memulihkan sebagian dari tenaganya.
Dia menyadari bahwa gelagat saat itu lebih banyak celaka
daripada menguntungkan. Dia benar2 penasaran kalau
harus mati ditangan seorang wanita.
Dengan bercucuran airmata, Ki Ing tetap merengek:
"Aku telah berhutang sesuatu perasaan kepadanya!"
"Hutang perasaan apa ?"
"Perasaan, ya perasaan, tidak perlu kukatakan."
"Nak, Jika engkau lepaskan dia, apakah dia juga akan
melepaskan kita ?"
"Aku akan berusaha agar dia melepaskan niatnya untuk
melakukan pembalasan berdarah.."
"Suatu kegaiban ?"
"Aku tetap akan berusaha."
"Tak perlu berusaha. Melepaskan harimau pulang ke
gunung, tentu akan segera menerima bencana."
"Ma, berikan kesempatan satu kali saja kepadaku !"
"Jangankan satu kali, setengah kalipun tidak!"
Tiba2 Ki Ing melintang dihadapan Cu Jiang dan berseru
dengan meratap.
"Kalau begitu bunuhlah aku dulu, ma!"
"Engkau benar2 sudah gila," teriak nyonya Gedung
Hitam, "tak mau tahu segala apa. enyahlah !"
"Tidak!" seru Ki Ing.
Nyonya itu tak dapat berbuat apa2, dengan napas
memburu keras dia berkata:
"Baiklah, jika tidak kecebur kedalam bengawan
Hoanghoo, engkau tentu belum jera. Coba tanya kepadanya
apakah dia mau melepaskan niatnya mencari balas atau
tidak !"
Ki Ing berputar kebelakang memandang Cu Jiang.
Dipandangnya wajah pemuda itu sampai beberapa jenak.
"Setelah berjumpa, apa katamu ?" akhirnya meluncur
juga kata2 dari mulutnya.
"Budi kebaikan ini, tentu akan kuukir selama-lamanya
dalam hatiku !" kata Cu Jiang dengan nada gemetar.
"Itu persoalan lain."
"Aku tak mau memohon belas kasihan supaya dapat
hidup dan tak dapat melepaskan niatku untuk menuntut
balas !"
"Tidak dapat?" seru Ki Ing dengan gemetar.
"Ya, tidak dapat, " Ki Ing mengertek gigi.
"Sekarang engkau tak dapat hidup, bagaimana engkau
masih kukuh mengatakan tak dapat?"
"Seorang lelaki takkan memberatkan soal mati atau
hidup."
"Orang yang mati segala akan habis." seru Ki Ing,
"ksatrya atau bukan, apa bedanya?"
"Itu tak perlu dipersoalkan."
"Apakah engkau benar2 tak mau mempertimbangkan
lagi?"
"Tidak usah dipertimbangkan lagi"
Ki Ing banting2 kaki dan menjerit dengan sedih:
"Baik, matilah dan jadilah ksatrya di neraka?"
"Nak, bagaimana? Apakah engkau masih tetap pada
pendirianmu?" tiba2 nyonya Gedung Hitam menyelutuk.
Ki Ing menutup muka dengan lengan bajunya tetapi
tetap tak mau menyingkir.
"Pergilah!" bentak nyonya Gedung Hitam.
Tetapi Ki Ing tetap tak mau bergerak. Cu Jiang tergerak
hatinya. Bahwa seorang gadis yang mencintai, tentu akan
berbuat tindakan yang diluar dugaan orang.
Tiba-2 nyonya itu melesat dari samping dan terus
menghantam Cu Jiang.
Buuuum.......
Terdengar erang ngeri ketika tubuh Cu Jiang terlempar
sampai dua meter dan membentur sebuah batu besar. Dia
muntah darah beberapa kali.
Untuk yang kedua kalinya dia harus merasakan lagi
betapa rasa orang yang sekarat maut itu.
"Sudahlah kini, . . . tentu tak dapat hidup!" kembali Ki
Ing menyerbu.
Nyonya Gedung Hitam mendengus:
"Hm, aku hendak membuktikan apakah dia benar2
sudah mati!"
Saat itu kesadaran pikiran Cu Jiang makin kabur. Dia
merasa kematiannya sudah tak jauh. Pada waktu berpisah
dengan Ang Nio Cu, nona itu pesan wanti2 agar dia
berhati-hati, jangan mengagulkan kekerasan.
"Ma, mengapa engkau . . ." Ki Ing meratap.
"Pembuktian yang tepat hanyalah kalau mencerai
beraikan mayatnya!"
Walaupun keadaan Cu Jiang sudah tak sadar lagi tetapi
samar2 dia masih mendengar kata2 "menceraikan
mayatnya" .
Mati dengan cara apapun saja tetap mati. Tetapi mati
ditangan musuh, memang suatu kematian yang tak
merelakan. Darah kembali bercucuran dari mulut Cu Jiang.
Dia masih belum mati rata, belum putus napasnya. Dia
masih dapat merasakan penderitaan dari kematian yang
akan dialaminya nanti.
Tiba2 telinga Cu Jiang mendengar suara orang berseru:
"Berhenti!" Suara itu dia cukup mengenalnya.
"Pencuri tua, apakah engkau mau cari mampus!"
"Tio Hong Hui, kalau pencuri tua ini mati tentu takkan
melepaskan engkau juga !"
Menyusul terdengar suara benturan keras. Tetapi Cu
Jiang sudah tak berdaya lagi, kesadaran pikirannyapun
hilang.
Ketika dia siuman, bintang2 bergemerlapan di angkasa,
angin berkesiuran silir dan tubuhnyapun terasa sakit.
"Hai, aku belum mati ?" serunya.
"Adik kecil, engkau tak mati!"
Terkejut Cu Jiang mendengar suara itu. Cepat dia
berpaling kesamping lalu menggeliat duduk. Ah, ternyata
yang berada disamping adalah Ciok Yau Je yang bergelar
Hanya-langit tidak dicuri.
Dia teringat ketika pingsan, samar2 dia masih
mendengar suara itu.
"Lo koko, engkaukah yang menolong aku ?"
"Jangan mengatakan menolong, aku memang menyusul
engkau !"
"Bagaimana lo-koko tahu ?"
"Aku berjumpa Ang Nio Cu, dia yang memberi tahu."
"Oh lo koko, tempat apakah ini ?"
"Masih didaerah, tak boleh berjalan. Aku tak berani
membawamu keluar gunung."
Cu Jiang mencoba melakukan pernapasan. Memang
hawa-murni dalam tubuhnya lemah sekali. Tulang
belulangnya seperti copot dari persendian.
Tetapi dia tak mempedulikan lukanya. Dia tetap
mencurahkan pikiran pada sebuah soal besar.
"Lo-koko, rasanya tadi engkau menyebut nama Tio
Hong Hui, bukan ?"
"Ya, kurang sedikit saja aku remuk di tangannya.
Engkau ...."
"Apakah dia bukan Ratu-kembang Tio Hong Hui itu?"
"Benar."
"Isteri majikan Gedung Hitam ?" tanya Cu Jiang pula.
Kali ini giliran si pencuri tua yang gelagapan.
"Dia itu isteri pemilik Gedung Hitam ?" serunya terkejut.
"Ya." sahut Cu Jiang.
"Bukankah dia menikah dengan Tionggoan-tay-hiap
Cukat Giok?" tanya Ciok Yan Je pula.
"Memang benar ..." sahut Cu Jiang Ia merangkai dugaan
bahwa kemungkinan besar Cukat Giok atau kakek cacad di
dasar jurang itu, tentu dicelakai pemilik Gedung Hitam.
Mungkin gembong Gedung Hitam itu menyaru sebagai Bu
lim-seng-hud Sebun Ong.
Itulah sebabnya mengapa Sebun Ong gelagapan dan
menyangkal keras kalau dia telah membunuh Cukat Giok.
Dan Ki Ing itu tentulah puteri tunggal dari Cu Kat Giok.
Ya, benar. Bukankah sau pohcu atau putera dari pemilik
Gedung Hitam pernah mencoba hendak mencemarkan
kehormatan Ki Ing di biara tempo hari! Sau pohcu itu
mengatakan bahwa Ki Ing bukan saudaranya sungguh!
Tetapi nyonya Gedung Hitam atau Tio Hong Hui tetap
memberitahu kepada Ki Ing. bahwa ayah Ki Ing itu adalah
tokoh pemilik Gedung Hitam. Hm, jelas wanita itu
berbohong ....
"Adik kecil, engkau lengah melamun apa?" tiba2 Ciok
Yau Je menegur.
"Aku memang justeru hendak mencari Tio Hong Hui!"
"Mengapa?"
Cu Jiang segera menuturkan pengalamannya bertemu
dengan Cukat Giok di dasar jurang.
"Bermula engkau mengira ketua Hoa-gwat-bun Tiam Su
Nio itu sebagai Tio Hong Hui, bukan?" tiba-2 Ciok Yau Je
bertanya.
"Ya, karena itu maka timbul beberapa peristiwa !"
"Adik kecil, engkau harus beristirahat dulu agar cepat
sembuh."
"Baik."
"Kubantu engkau . . ."
"Tak usah, cukup lo koko menjaga keamanan saja."
"Apa engkau masih dapat melakukan pernapasan
sendiri?"
"Bisa."
"Baik, silakan mulai."
Cu Jiang segera rebah, pejamkan mata dan mulai
menyalurkan ilmu Sim hwat untuk menyembuhkan
lukanya.
Beberapa waktu kemudian setelah bangun Cu Jiang
rasakan tubuhnya panas. Ternyata saat itu matahari sudah
di tengah angkasa. Ketika dia menggeliat bangun, barulah
dia tahu kalau saat itu dia sedang berada di sebuah puncak
gunung.
Ciok Yiu Je tertawa mengikik, serunya:
"Adik kecil, apakah engkau sudah sembuh?"
"Lo koko, budi pertolonganmu, entah bagai mana aku
harus menghaturkan terima kasih."
"Ah, tak perlu."
"Lo koko. apa engkau pernah mendengar nama Sam Bok
thiancun?"
Ciok Yau Je kerutkan alis, terkejut.
"Mengapa tiba2 engkau menyebut nama itu?"
"Aku telah membunuhnya "
"Apa? Engkau ... engkau membunuh Sam Bok
thiancun?"
"Ya."
"Dimana ?"
"Ditempat aku menderita luka itu."
"Ah, karena mencurahkan pikiran untuk menolong
engkau, aku sampai tak memperhatikan hal itu. Sudah
berpuluh tahun Sam Bok thian-cun muncul di dunia
persilatan. Mungkin umurnya sudah lebih dari seratus
tahun. Dia seorang tokoh yang kejam dan buas tetapi ilmu
kepandaiannya tinggi sekali. Kabarnya dulu dia sudah mati
dibunuh orang-orang jago dari aliran putih tetapi ternyata
sampai sekarang masih hidup. Apakah yang melukai Ang
Nio Cu juga dia ?"
"Ya. pemilik Gedung Hitam itu adalah murid
pewarisnya!"
"Hei." teriak Ciok Yau Je, "jika benar begitu, engkau
telah berhasil menyingkap sebuah rahasia besar yang
selama ini tak diketahui dunia persilatan ..."
"Lo koko, aku hendak pergi ke lembah Ki lin-koh lagi !"
"Mau apa ?"
"Mencari Tio Hong Hui dan menyelesaikan urusan
Tionggoan- thayhiap."
"Baik, aku akan menemanimu."
"Berapa jauhnya dari sini ?"
"Lebih kurang setengah jam."
Keduanya segera lari menuruni gunung. Karena kain
kerudungnya hilang maka saat itu Cu Jiang menampakkan
wajahnya yang aseli. Selama dalam perjalanan dia tetap
memikirkan tentang diri gadis Ki Ing yang ternyata begitu
kemati-matian mencintainya. Kini setelah dapat
menemukan bagai mana asal usul nona itu maka
pandangannya terhadap nona itupun berobah.
Tetapi justeru karena hal itu maka diapun kehilangan
faham. Asmara, benar2 merupakan sesuatu yang
menggelisahkan hati manusia. Ksatrya yang gagah dan
berani dapat menabas putus leher musuh, membunuh
semua lawan. Tetapi berapakah jumlah ksatrya gagah yang
mampu memutuskan libatan asmara, mampu membunuh
asmara hatinya?
Jika ia nanti akan menyingkap asal usul diri nona itu,
lalu bagaimana reaksi Ki Ing? Bagaimana reaksi nona itu
apabila tahu bahwa ayahnya telah memberi tugas
kepadanya (Cu Jiang) untuk membunuh ibu nona itu?
Tak sampai setengah jam kemudian, mereka sudah tiba
di mulut gua. Rupanya Cu Jiang sudah tak sabar lagi. Ia
terus menerjang masuk seraya berteriak:
"Lo koko, mari kita masuk!"
"Baik, tetapi harus hati-hati!"
Tiba ditempat Cu Jiang melakukan pertempuran
kemarin, ternyata mayat manusia aneh dan Sam Bok
thiancun sudah tak kelihatan lagi. Hanya ceceran darah dan
dua gunduk makam baru.
Cu Jiang menjemput kain kerudung tetapi kedok sudah
tak dapat dipakai lagi.
"Lo koko. kedoknya sudah rusak."
"Lempar saja, aku masih punya."
"Kurasa tak perlu lagi. Wajahku sudah terbuka dan
musuhpun sudah kelihatan."
"Baik, kalau mau pakai, bilang. Lalu bagaimana kita
sekarang?"
"Masuk kedalam lembah."
"Ayo!"
Dangau gunakan ilmu meringankan tubuh keduanya
berlincahan melintasi gunduk2 batu dan tiba didasar
lembah. Tetapi yang ada hanya puing2 batu. Tio Hong Hui
tentu sudah menghancurkan markasnya.
Cu Jiang kecewa. Untuk mencari Tio Hong Hui bukan
hal yang gampang.
"Menghancurkan markas dan mengubur kedua orang itu
tentu makan waktu setengah malam. Dengan begitu Tio
Hong Hui dan puterinya tentu belum lama meninggalkan
lembah ini. Mereka tentu menuju ke Gedung Hitam. Jika
kita kejar, kemungkinan dapat menyusul mereka," kata
Ciok Yau Je.
Cu Jiang mengiakan. Keduanya segera meninggalkan
lembah itu. Setelah keluar dari daerah gunung, Cu Jiang
mengusulkan supaya mereka berpencar.
"Kita nanti bertemu di kuil tua diluar kota Keng-ciu itu, "
katanya.
Ciok Yau Je setuju. Selama menempuh perjalanan Cu
Jiang tak mau mengenakan kerudung muka. Kecuali
beberapa pentolan Gedung Hitam, anak buah mereka
jarang yang kenal akan wajahnya.
Dua hari dua malam terus menempuh perjalanan tetapi
dia tak melihat jejak wanita itu. Cu Jiang makin penasaran.
Kecuali tidak mengambil jalan yang sama, tentulah wanita
itu akan tersusul.
Hari kedua diwaktu petang, Cu Jiang tiba di sebuah kota
kecil Bian yang. Dia memutuskan untuk bermalam. Setelah
masuk kedalam kota dia memilih rumah penginapan Lu-an.
Dia minta kamar di loteng agar dapat melihat setiap pejalan
yang lalu di jalan situ.
Tiba2 ia melihat sebuah tandu bercat biru yang keluar
dari pintu rumah penginapan. Cu Jiang terkejut dan buru2
turun loteng, mencari jongos:
"Siapakah yang naik tandu itu?"
"Seorang wanita dengan anak perempuannya. Anaknya
cantik sekali dan mamanya . . ."
"Uang kamarku!" cepat Cu Jiang susupkan sekeping
perak ke tangan jongos, lalu melangkah keluar.
Jongos terkejut dan lari menyusul: " Tuan, terlalu banyak
ini!"
"Kelebihannya, buat engkau!" tanpa berpaling Cu Jiang
lanjutkan langkah. Tiba2 disebuah jalan dilihatnya tandu
itu berjalan pelahan-lahan.
Di jalan besar tak leluasa untuk turun tangan maka
diapun terus mengikuti dari kejauhan.
Lebih kurang satu Ii jauhnya, pejalan mulai berkurang
tetapi pada Saat itu Cu Jiangpun melihat bahwa disebelah
muka tampak seorang tua berjubah hitam yang berjalan
mengikuti di belakang tandu.
Cu Jiang segera cepatkan langkah dan ketika hampir
dekat, orang tua jubah hitam itu tiba2 berpaling. Melihat
wajah orang tua itu makin yakinlah Cu Jiang bahwa yang
berada dalam tandu itu tentu Tio Hong Hui dan Ki Ing.
Orang tua jubah hitam itu tak lain adalah Ki Gui Kah,
kepala busu dari Gedung Hitam. Jelas dia sedang mengawal
keamanan nyonya majikannya.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan Ki Gui Kah, Cu
Jiang lambatkan langkah lagi dan terpisah agak jauh. Jika
turun tangan ia harus membasmi Ki Gui Kah dulu.
Tak berapa lama tandupun tiba diluar kota yang sepi.
Orang di jalanpun jarang2. Cu Jiang anggap sudah
waktunya untuk bergerak. Lebih dulu ia mengenakan kain
cadar menutup mukanya lalu menyelinap kedalam hutan.
Setelah berputar-putar mengitari jalan, dia terus loncat
keluar menghadang Ki Gui Kah:
"Berhenti!" bentaknya.
Ki Gui Kah berhenti. Mengamati penghadang itu,
wajahnya berobah seketika.
"Apakah engkau Toan-kiam-jan-jin ?" serunya.
"Benar."
"Mau apa?"
"Minta nyawamu!"
Ki Gui Kah menggigil lalu menyurut mundur tiga
langkah dan mencabut pedang.
Cu Jiangpun mencabut pedang dan menggembor:
"Hai..."
Tetapi pada saat itu juga. Ki Gui Kapun taburkan
pedangnya sehingga Cu Jiang gelagapan dan terpaksa
memutar pedangnya. Dan tepat pada saat Cu Jiang sibuk
menangkis, Ki Gui Kapun terus loncat menyusup kedalam
hutan.
"Hai, mau lari kemana engkau!" Cu Jiang cepat mengejar
tetapi Ki Gui Kah sudah lenyap bayangannya.
"Hm, menurut peraturan Gedung Hitam, bukankah
tokoh yang mempunyai kedudukan akan mendapat
hukuman berat apabila takut berhadapan dengan musuh."
pikirnya.
Tetapi serentak ia terbeliak karena teringat akan
tujuannya. Apabila Tio Hong Hui sampai lolos, bukankah
akan sia2 saja jerih payahnya itu?
Cepat ia menerobos keluar dari hutan dan dilihatnya
tandu itu masih benda pada jarak berpuluh tombak. Segera
mengejar dan menghadang:
"Jangan bergerak!" bentaknya.
Keempat lelaki yang memikul tandu serentak meletakkan
tandu dan terus lari ketakutan. Cu Jiang tak menghiraukan
mereka. Menghampiri ke muka pintu tandu dia memberi
perintah supaya penumpangnya keluar.
"Siapa?" terdengar lengking suara seorang wanita.
Dan sesaat kain tenda tersingkap maka sesosok tubuh
gemuk segera melesat keluar. Cu Jiang terlongong-longong
tak dapat berkata apa2. Sementara menyusul lagi sesosok
tubuh yang langsingpun keluar dari tandu itu.
Kali ini Cu Jiang benar2 seperti terbang semangatnya
sehingga dia mundur tiga langkah matanya dipentang lebar
dan tubuh gemetar. Sampai lama baru dia dapat membuka
mulut :
"Toanio, kiongcu, kalian..."
Yang muncul dari tandu itu bukan Tio Hong Hui dan
puterinya tetapi si wanita gemuk dan puteri raja Tayli.
Bahwa wanita gemuk itu kembali ke Tionggoan itu
masih dapat dimengerti tetapi bahwasanya kiongcu dari
Tayli itu juga ikut, Cu Jiang benar2 seperti bermimpi.
Puteri itupun terkejut memandang Cu Jiang, serunya
dengan nada gemetar:
"Apakah engkau Cu sausu?"
"Benar."
Dengan wajah sedih, wanita gemuk itu bertanya rawan:
"Nak. engkau tahu aku ini siapa?"
"Bibiku."
"Oh, engkau sudah tahu."
"Toa-suheng Ho Bun Cai yang memberitahukan hal itu
kepadaku."
"Apakah dia masih menjabat congkoan di Gedung
Hitam?"
"Dia telah tertimpa kemalangan."
"Apa katamu?" wanita gemuk membelalak.
"Toa-suheng sudah . . ."
"Hai, mengapa terjadi begitu?"
"Pada saat menutup mata, toa-suheng mengatakan kalau
dia dicelakai Bulim-seng-hud Sebun Ong!"
"O, Tuhan!" wanita gemuk mengeluh. Air matanya
bercucuran deras.
Puteri tak mengerti apa pembicaraan mereka. Dia hanya
melihat saja kedua orang itu.
Beberapa pejalan yang lalu di tempat itu terpaksa
mengitari jalan karena tengah-2 jalan dipenuhi oleh tandu.
"Bibi, di sini kita mengganggu jalan, lebih baik kita
bicara di dalam hutan," bilik Cu Jiang.
Wanita gemuk mengangguk. Setelah mengambil barang
bekal dari dalam tandu, ia memimpin tangan kongcu
berjalan ke arah hutan. Cu Jiang mengikuti dari belakang.
Mereka memilih beristirahat di sebuah tempat yang bersih
dalam hutan itu. Puteri kerutkan dahi dan berkata:
"Sausu, kitakan orang sendiri. Buka saja kerudung
mukamu."
Cu Jiang mengangguk dan terus melepaskan kain cadar
yang menutup mukanya.
"Hai ....!" tiba2 puteri menjerit kaget.
Cu Jiang tahu apa yang dikejutkan puteri. Sambil
tersenyum ia memberi keterangan:
"Karena beruntung bertemu dengan tabib sakti, wajahku
dapat dipulihkan seperti semula."
"Apakah wajah yang sudah rusak dapat di pulihkan
kembali?" puteri setengah tak percaya.
"Dapat, " sahut Cu Jiang, "tetapi itu tergantung dari
rejeki luar biasa."
"Ih, ternyata di dunia terdapat ilmu pengobatan yang
dapat merobah ketentuan alam ..."
"Tetapi dewasa ini, di dunia kiranya hanya ada seorang
saja yang mempunyai ilmu kepandaian seperti itu. "
"Siapa namanya?"
"Kui-jiu Sin-jin."
"Enak benar kedengarannya nama itu tetapi aku asing
sama sekali dengan tokoh2 Tionggoan .... sausu, engkau
benar2 seorang pria yang tampan !" seru puteri.
Walaupun puteri raja tetapi kerajaan Tayli terletak
didaerah selatan yang terpencil. Kebudayaan dan alam
kehidupan di kerajaan itu masih serba bersahaja sehingga
perangai puteri Itupun lugu, Apa yang dikandung dalam
hati terus di utarakan di mulut.
Cu Jiang tersipu-sipu merah mukanya.
"Nak, coba engkau ceritakan bagaimana toa suhengmu
sampai dicelakai orang ?" si nyonya gemuk berseru dengan
nada rawan.
"Dibunuh Bu-lim-seng-hud Sebun Ong."
"Mengapa Sebun Ong membunuhnya ? Bukankah
diantara mereka berdua tiada dendam permusuhan suatu
apa ?"
"Juga terhadap tit ji, diapun berulang kali hendak
mencelakai," kata Cu Jiang.
Tit-Ji berarti anak keponakan, digunakan Cu Jiang untuk
menyebut dirinya kepada khuma atau bibinya.
"Kenapa ?"
"Entah, hanya dia yang tahu."
"Ah, tak nyana pertemuanku dengan toa-suhengmu di
kota pegunungan itu merupakan yang terakhir kali," nyonya
gemuk atau Poan toanio menghela napas.
Hidung Cu Jiang mengembang air. Dengan mengertak
gigi dia bergumam:
"Sebun Ong harus membayar hasil perbuatannya !"
"Bagaimana dengan semua musuh2 keluargamu ?" tanya
Poan toanio.
"Ya, memang tit-ji justeru hendak minta petunjuk bibi.
Sesungguhnya permusuhan apakah yang telah terjalin
antara ayah dengan ketua Gedung Hitam itu ?" Cu Jiang
balas bertanya.
"Pada hakekatnya perkataan pada dalih "pohon tinggi
tentu menderita angin besar, nama besar tentu terancam
bahaya . .."
"Tetapi bukankah ayah sudah menyingkir mengasingkan
diri ?"
"Ya. memang dia sepertinya hendak menyingkiri
permusuhan."
"Lalu mengapa sampai terjadi permusuhan itu."
"Lawan telah mengeluarkan Si-pay (Amanat maut),
dalam pertempuran, ayahmu telah menghancurkan dua
belas jago2 ko-Jiu musuh dan melukai ketua Gedung
Hitam. Setelah Itu musuh lalu mengundang Sam Bok
thiancun."
"Hm, Sam Bok thiancun ?” Cu Jiang terkejut.
"Ya. Apa engkau pernah mendengar nama orang itu?"
"Harap bibi suka melanjutkan lagi."
"Ayahmu bukan tandingan Sam Bok thiancun. Dalam
pertempuran sengit hampir saja ayahmu tak dapat
meloloskan diri. Sejak itu dia merasa malu karena
mengecewakan harapan kaum persilatan yang telah
menyebutnya dengan gelar Kiam-seng (Dewa pedang). Dan
menjaga kemungkinan musuh akan melakukan
pembunuhan habis-habisan maka ayahmu lalu berusaha
untuk menyembunyikan diri atau menyingkir dari kejaran
musuh !"
"Tetapi musuh tatap tak mau melepaskannya?"
"Dendam itu harus dibalas !" seru Poan toa-nio.
"Apakah bibi tahu akan riwayat ketua Gedung Hitam ?"
"Tidak tahu. Dia adalah benggolan durjana pada masa
itu. Sekalipun menyelundup menjadi congkoan di Gedung
Hitam sampai bertahun-tahun, tetapi toa-suhengmu tetap
tak pernah dapat melihat wajahnya yang aseli dan asal usul
dirinya. Toa-suhengmu tak percaya kalau orang mampu
merahasiakan diri selama-lamanya. Pada suatu hari dia
pasti dapat mengetahuinya!"
"Yang jelas, iblis itu adalah anak murid pewaris dari Sam
Bok thiancun!" kata Cu Jiang.
"Bagaimana engkau tahu ?" Poan toanio kaget.
"Tit-ji telah dapat membinasakan Sam Bok thiancun."
seru Cu Jiang dengan geram. Poan toanio menggigil.
"Apa ? Engkau dapat membunuh Sam Bok thiancun ?"
"Ya."
"Dimana ?"
"Di lembah Ki-lin-koh yang terletak dibelakang gunung
Kiu-kiong-san."
"Ah, nak. ini benar2 kejutan besar. Dengan
kepandaianmu itu, dapatlah kiranya engkau menghibur
para arwah yang telah menjadi korban keganasan momok
itu."
"Tit-ji sudah terlanjur bersumpah untuk mencuci Gedung
Hitam dengan darah."
"Mencuci dangau darah ?" tiba2 puteri terkejut,
"mengapa harus begitu ? Apakah kecuali balas dendam
berdarah, di dunia persilatan itu tiada lain urusan lagi ?"
Baginda Toa Hong-ya dari negeri Tayli menganut agama
Buddha. menjunjung welas asih. Dia paling benci dengan
pertumpahan darah. Puteripun sedikit banyak lelah
mewarisi perangai ayahandanya.
"Apakah kiongcu tahu akan penderitaan hidupku?" Cu
Jiang tertawa hambar.
"Ya. toanio yang menceritakan."
"Kiongcu, bagaimana pendirian kiongcu?"
"Ah, tak perlu membicarakan soal itu. Engkau menyebut
aku dengan sebutan kiongcu dan akupun memanggilmu
Sausu atau ciangkun. Rasa2nya janggal. Bagaimana kalau
kita berganti dengan lain sebutan saja?"
"Sebutan apa?"
"Sesuai dengan adat istiadat Tionggoan, bagaimana
kalau engkau panggil aku nona Toan dan aku menyebutmu
Cu toako? "
Cu Jiang gelengkan kepala.
"Tidak! Tata-susila tak boleh dihilangkan."
Puteri tundukkan kepala dan berkata sendu:
"Apakah engkau masih membenci perbuatanku ketika
pertama kali aku melihat wajahmu?"
"Tidak," Cu Jiang gopoh menjawab, "sama sekali aku tak
mengandung pikiran semacam itu. Memang wajahku waktu
itu, aku sendiripun juga ngeri melihatnya."
"Kalau begitu engkau anggap wajahku tentu buruk?"
desak puteri.
"Kiongcu secantik bidadari menjelma di dunia,
bagaimana aku berani menghina?"
OdwO
Puteri mengangkat muka dan menatap Cu Jiang dengan
pandang mendesak. Cu Jiang tergetar hatinya. Dia tak asing
dengan sinar mata begitu dari seorang gadis Ho Kiong Hwa
dan Ki Ing juga pernah menatapnya dengan pandang mata
begitu, hati puteri telah terpancar keluar melalui sinar
matanya.
Tetapi dia sudah beristeri, disamping diapun hanya
seorang busu, sedang gadis itu seorang puteri raja, apakah
dia layak menjadi pasangannya?
"Jika tidak begitu engkau tentu memandang diriku ini
seorang gadis dari daerah liar," seru puteri pula dengan
nada rawan.
"Ah, kiongcu makin lama makin jauh," Cu Jiang
tergopoh-gopoh.
Poan toanio tersenyum.
"Apakah salahnya untuk berganti dengan lain sebutan
saja?"
Cu Jiang merah mukanya.
"Bibi, engkau tak tahu . . ."
"Nak, kutahu Kiongcu suka kepadamu, seharusnya
engkau berbahagia!"
"Bibi, aku . . ."
"Baiklah, hari masih panjang, kelak kita bicara lagi."
Cu Jiang terpaksa menurut dengan beralih pada lain
pembicaraan. Dia bertanya bagaimana bibinya bersama
puteri dapat tiba di Tiong goan.
Wajah Poan toanio kembali gelap.
"Waktu aku berada di istana, aku telah menerima berita
dari toa-suhengmu yang mengatakan bahwa Gok jin-ji itu
tak lain adalah engkau sendiri. Hari pembalasan sudah di
ambang pintu. Maka akupun membulatkan tekad kembali
ke Tionggoan. Kiongcu ingin sekali menikmati alam
pemandangan Tiong goan yang permai dan memaksa ikut .
. ."
"Oh, dewasa ini suasana dunia persilatan sedang
terancam bahaya, keselamatan jiwa kiongcu ..."
"Asal tidak menunjukkan diri tentu tiada halangan
apa2." sahut Poan toanio.
"Perkumpulan Thong thian-kau dan Gedung Hitam
sama2 mengincar jiwaku. Apabila mereka tahu kalau bibi
dan kiongcu mempunyai hubungan dengan aku. akibatnya
tentu runyam sekali . . ."
"Oleh karena itu di depan umum, hendaknya kita jangan
menonjolkan hubungan itu. Di samping itu masih ada
empat orang ko jiu istana Tayli yang mengawal
keselamatan kiongcu . . ."
"Apakah bibi sudah bertemu dengan Ki Siau Hong dan
kawan-kawannya?"
"Hm."
"Bibi tahu juga nasib yang diderita Ong Kian?"
"Ya, tahu. Berita itu sudah disampaikan ke Tayli. "
"Tit-ji sungguh merasa tak enak hati."
"Bukan salahmu. Sekali orang berani turun ke
gelanggang dunia persilatan, tentu tak dapat menghindari
hal2 yang buruk."
"Apa petunjuk dari suhu?"
"Hanya sepatah. Jangan mengecewakan harapan
baginda."
"Baik," sahut Cu Jiang tegas.
"Nak, kalau panggil aku tetap saja dengan sebutan
"toanio". Aku suka dengan sebutan itu."
Cu Jiang mengiakan.
"Kita tak boleh terlalu lama disini, Kemanakah engkau
hendak pergi ?" tanya Poan toanio.
"Tit-ji hendak ke Keng-ciu."
"Setelah itu?"
"Ke Gedung Hitam!"
"Benar! Kok-su masih mengirim sebuah pesan .... "
"Bagaimana?"
"Apabila tugas berat itu sudah engkau selesaikan, apabila
engkau tak mau kembali ke Tayli, engkau boleh tinggal di
Tionggoan."
Sejenak Cu Jiang merenung dan kemudian mengatakan
bahwa soal itu kelak akan ia pertimbangkan lagi.
"Sausu sudah memutuskan untuk tidak kembali ke
Tayli!" tiba2 puteri menyeletuk.
Cu Jiang terbeliak.
"Bagaimana kiongcu dapat mengatakan demikian?"
Puteri tertawa rawan, sahutnya:
"Tanyalah pada hatimu sendiri."
Cu Jiang dapat menyelami kata2 puteri itu. Jelas puteri
itu menuduh bahwa dia takkan mau menerima cinta puteri,
Cu Jiang tak mau menjawab. Ia berpaling kepada bibinya.
"Pemikul tandu toanio sudah melarikan diri, lalu
bagaimana?"
"Nanti akan ku usahakan lagi. Eh, benar, siapakah orang
tua yang mengikuti di belakang tandu tadi ?"
"Kepala pasukan pengawal dalam dari Gedung Hitam
yang bernama Ki Gui Kah."
"Bagaimana engkau menyelesaikannya?"
"Sayang dia dapat lolos."
Sejenak merenung Poan toanio berkata:
"Rasanya akan terjadi sesuatu yang tak terduga lagi.
Karena curiga dia lalu mengikuti tandu, kemudian engkau
hajar tetapi dia dapat lolos. Dia tentu penasaran. Dan
paling tidak jejak kita tentu sudah diketahuinya ..."
"Mungkin tidak begitu mencemaskan karena dia tak tahu
penyamaranku."
"Bagaimana engkau dapat mengejar tandu yang kami
naiki ?"
"Karena tit-ji menyangka bahwa yang berada dalam
tandu ini, orang yang hendak kucari.”
"Siapa orang itu ?"
"Ratu-kembang Tio Hong Hui dan anaknya.”
"Ah..."
Tiba2 kesiur angin yang lembut bertiup. Poan toanio dan
puteri tak merasakan apa2 tetapi telinga Cu liang yang
tajam cepat dapat menangkap kesiur angin itu dan dapat
pula mengetahui bahwa ada serombongan orang yang
tengah mendatangi. Serentak ia bangun berdiri.
"Toanio, ada orang datang. Lekas ajak kiong cu menuju
kearah barat hutan ini. Dan yang datang bukan hanya
seorang !"
Poan toanio mengangguk-angguk.
"Nak, hati2 menghadapi mereka. Selanjutnya kalau
mengadakan hubungan, kita gunakan sandi rahasia."
"Baik."
"Kiongcu, mari kita berangkat," kata nyonya gemuk itu.
Namun sejenak puteri menatap Cu Jiang. Bibirnya gemetar
hendak mengucap sesuatu tetapi tak jadi. Dia terus
mengikuti wanita gemuk itu melintasi hutan.
Cu Jiang mengantar kedua wanita itu dengan pandang
penuh arti. Yang seorang, putri raja dari sebuah kerajaan di
pedalaman selatan. Yang seorang, adalah bibinya, satusatunya
keluarga yang masih hidup dalam dunia.
Cu Jiang dapat menangkap apa arti sinar mata puteri
yang bersinar-sinar memancarkan luapan kasih hati
kepadanya.
Sementara itu suara dari kejauhan itu makin terdengar
jelas, menyusup disela-sela dan Cu Jiang cepat mengenakan
kain kerudung mukanya lagi dan duduk bersandar pada
sebatang pohon. Kedua matanya setengah dipejamkan.
Pada lain kejab terdengar suara kata2 orang: "Ui tongcu,
apakah engkau anggap lawan akan terperangkap siasat
kita?"
"Tentu," sahut yang ditanya, "saat ini pengaruh Thianthong-
kau sedang berkembang sedangkan gerombolan Sippat-
thian-mo itu sama sekali tak memandang mata pada
orang persilatan ...
"Kalau siasat ini tak termakan mereka dan lawan dapat
menguasai Oh-yang, kita siapkan siasat lagi di Hun yang.
Dan pihak kita pasti akan keluar sebagai yang utuh
sendiri... ."
"Li hu-hwat, bagaimana dengan tempat ini ya, disini kita
mulai mempersiapkan."
Mendengar pembicaraan itu tahulah Cu Jiang bahwa
mereka anak buah Gedung Hitam tetapi tujuannya bukan
mengejar dia melainkan hendak mengatur siasat untuk
menghadapi Thian-thong-kau.
Rombongan pendatang itu berhenti pada jarak puluhan
tombak dari tempat Cu Jiang. Beberapa saat kemudian
terdengar kesiur angin menggetar daun2 pohon.
Diam2 Cu Jiang menimang. Kalau tujuan anak buah
Gedung Hitam itu hendak mengarah tokoh gerombolan
Sip-pat-thian-mo, sungguh suatu kesempatan bagus sekali
baginya. Ia memutuskan, untuk sementara takkan
menampakkan diri dulu.
Ia berbangkit lalu mencari tempat bersembunyi yang
lebih rapat. Dari celah2 daun yang menutup tempatnya, ia
dapat mengintai gerak-gerik mereka.
Ia terkejut ketika melihat dua lelaki tua baju hitam dan
serupa orang Pengawal Hitam tengah menggantung empat
sosok mayat pada batang pohon.
Kemudian mereka menggali liang disekeliling pohon itu.
Lebih kurang sepeminum teh lamanya, keempat Pengawal
Hitam itu meninggalkan tempat itu tetapi kedua lelaki tua
baju hitam masih berada disitu.
"Siap!"
"Lepaskan pertandaan rahasia !"
"Jangan, tunggu sebentar lagi. Biar kaum Iblis itu mulai
curiga dulu baru lepaskan pertandaan rahasia untuk
menjebak mereka!"
"Kalau ketiga iblis itu tidak semua muncul ?"
"Muncul satu, bunuh satu !"
Mendengar ucapan kawannya, lelaki tua baja hitam itu
tertegun, kemudian berkata:
"Menurut keterangan dari korban tadi, Jika melepaskan
panah-api panca-warna, menandakan kalau ada peristiwa
besar. Entah apakah keterangannya dapat dipercaya."
"Tentunya dapat dipercaya."
"Menurut kata Ki thongleng, Toan-kiam Jan-jin sudah
muncul disekitar tempat ini, Entah mau apa dia ?"
"Hal itu mudah saja ditebak. Kalau bukan mencari
sasaran kepada Gedung Hitam kita, tentulah perkumpulan
Thong-thian-kau.."
"Hm, sungguh sombong sekali manusia itu berani
menentang dua kekuatan besar yang merajai dunia
persilatan dewasa ini !"
"Tetapi memang ilmu pedangnya luar biasa sekali. Ki
thongleng mengaku bukan tandingannya."
"Bagaimana kalau ketua kita."
"Ah, Jangan membicarakan soal itu lagi!"
"O, ya, ya."
"Segera saja mulai bekerja !"
"Baik," kata salah seorang tua itu lalu mengeluarkan
sebuah benda dari kantong baju dan menyulut korek.
Sepercik sinar bintang melayang ke udara dan pletak, benda
itu meledak menghamburkan bunga api warna warni.
Melihat itu Cu Jiang tahu apa yang terjadi. Anak buah
Gedung Hitam berhasil menangkap anak murid Thong
thian-kau, setelah dikorek keterangannya lalu dibunuh.
Kemudian ditempat itu mereka memasang perangkap
dengan melepaskan panah api sebagai umpan.
Setelah melepas panah-api panca warna, kedua lelaki tua
itupun cepat2 meninggalkan tempat itu. Tetapi baru dua
puluh tombak jauhnya, pandang mata mereka nanar ketika
melihat seorang yang wajahnya bertutup kain hitam, tegak
menghadang ditengah jalan.
Keduanya berhenti dan salah seorang memekik keras.
"Toan-kiam Jan-jin!" Wajah kedua lelaki tua itu tampak
ketakutan sekali.
"Ingin kubertanya beberapa patah kata kepada kalian,"
seru Cu Jiang yang saat itu dalam perwujudan sebagai
Toan-kiam-Jan-jin lagi.
"Soal apa ?" seru salah seorang dengan gemetar.
"Untuk menghadapi pihak manakah rencana yang kalian
siapkan dalam hutan itu," tanya Cu Jiang.
"Perlu apa engkau tanyakan hal itu?"
"Jangan bertanya apa2, cukup engkau memberi jawaban
saja !"
Kedua lelaki tua itu saling bertukar pandang, kemudian
tertawa mengekeh.
"Mungkin engkau tentu gembira sekali
mendengarkannya. Rencana itu kami tujukan kepada iblis
nomor sebelas, dua belas dan lima belas dari gerombolan
Sip-pat thian mo!"
"Hm, Bagus, aku memang girang sekali, tetapi .. ."
"Bagaimana ?"
"Kalian juga harus serahkan jiwa!"
Kedua lelaki tua itu pucat dan menyurut mundur
beberapa langkah. Tangannya meraba pedang.
Cu Jiang tak mau membuang waktu.
"Bersiaplah menjaga diri!" serunya seraya menerjang.
Mencabut pedang dan menyerang maju, hampir dilakukan
dengan serempak dalam gerak yang luar biasa cepatnya.
"Huak, huak" kedua lelaki tua itupun rubuh. Cu
Jiangpun bersembunyi lagi di tempat tadi. Lebih kurang
menunggu sampai sepeminum teh lamanya, tiba2 muncul
beberapa lelaki dalam pakaian kuning emas. Mereka
terkejut melihat tubuh yang tergantung diatas pohon.
"Berhenti !" teriak salah seorang yang menjadi pimpinan
rombongan, "tunggu dulu perintah dari ketiga Huhwat
kita!"
Tak berapa lama, muncul tiga sosok tubuh yang tinggi
besar. Sedikitpun gerak mereka tak bersuara.
Cu Jiang tegang. Jelas ketiga orang itu tentu iblis nomor
sebelas, dua belas dan lima belas dari Sip pat-thian-mo.
"Kawanan kerucuk itu memang menjemukan sekali."
kata salah seorang dari ketiga pendatang itu, "Ong thaubak
!"
Pimpinan rombongan baju emas tadi segera tampil
memberi hormat: "Murid siap mendengar perintah."
"Lepaskan mayat itu !"
Ong thaubak mengiakan lalu memberi perintah dan
empat orang baju emas segera naik keatas pohon. Mereka
masing2 menurunkan sesosok mayat.
"Potong saja talinya dengan pedang," perintah Ong
thaubak.
"Baik!" seru keempat baju emas lalu mencabut pedang
dan membabat tali penggantung. Keempat mayat itu
meluncur jatuh.
Bum . ..
Serempak pada saat mayat2 itu jatuh di tanah
terdengarlah letupan keras dan asap tebal segera bergulunggulung
menyelimuti empat penjuru. Pohon tumbang,
tubuh2 manusia beterbangan.
Cu Jiang juga terpental beberapa meter dari tempat
persembunyiannya, Ia rasakan seperti terjadi gempa bumi
hebat.
Setelah asap menipis, barulah dia tahu apa yang terjadi.
Sekeliling tempat itu penuh dengan darah dan kutungan2
anggauta badan. Mengerikan sekali. Daerah seluas lima
tombak keliling, hampir sudah binasa semua.
Baru Cu Jiang berdiri, tiba2 ia mendengar suara orang
menggembor. "Oo, engkau budak !"
Ia terkejut dan mengangkat muka. Ah, ternyata saat itu
dia sudah dikepung olah tiga manusia aneh yang bertubuh
tinggi besar. Ia terkejut dan heran mengapa ketiga iblis
durjana itu tak sampai mati dalam ledakan itu.
"Budak, bukankah engkau yang disebut Toan kiam-janjin
itu?" salah seorang iblis bertanya.
"Benar !"
"Engkau berani menggunakan siasat licik itu?"
"Rasanya aku belum pernah melakukan pekerjaan selicik
itu!"
"Kalau begitu .. ."
"Ingat saja hutang piutangmu dengan pihak Gedung
Hitam !"
"Budak, Mengapa engkau memusuhi pihak kami ?"
"Anggap saja sebagai Jalan kearah kesejahteraan!"
"Untuk kesejahteraan ? Ha. ha ha. ha . .. ." enam pasang
biji mata yang berapi-api mencurah kearah wajah Cu Jiang,
seolah hendak menelan hidup-hidupan.
Baru mendengar nama Sip-pat-thian-mo saja, orang
persilatan pasti sudah menggigil nyalinya. Apalagi kalau
bertemu dengan salah seorang anggautanya.
Tetapi berhadapan dengan ketiga iblis dari Sip-pat-thianmo
itu, Cu Jiang tak gentar sama sekali. Dia memang
sedang mengemban tugas untuk membasmi kawanan Sippat-
thian-mo yang ganas itu. Untuk menyelamatkan dunia
persilatan dan kepentingan negeri Tayli.
"Pedang tak bermata, harap kalian suka
mempertimbangkan !" seru Cu Jiang.
Tetapi peringatan Cu Jiang itu hanya disambut dengan
gelak tawa oleh ketiga iblis.
"Mengapa kalian tertawa ?"
"Budak, apa yang engkau kehendaki supaya kami bertiga
mempertimbangkan?"
"Hancurkan kepandaian kalian sendiri dan lekas
tinggalkan dunia persilatan !"
Kembali ketiga iblis itu tertawa nyaring.
"Budak, apakah engkau tengah mengigau dalam
bermimpi ?" salah seorang iblis itu berseru.
"Aku mengatakan yang sejujurnya!"
“Tetapi justeru akulah yang hendak mencincang
tubuhmu."
"Rupanya kalian memaksa aku harus turun tangan !"
"Akan kubeset kulitmu hidup-hidupan !" sahut ketiga
iblis itu.
Tiba2 Cu Jiang mendapat pikiran. Untuk meringankan
bebannya, ia tak boleh memberi kesempatan sehingga
ketiga momok itu dapat bersatu untuk mengerubutinya.
Suhu dan baginda Toan Hong-ya memang menitahkan
supaya kawanan Sip-pat thian mo itu jangan dibasmi
semua.
Tetapi terhadap kawanan durjana semacam mereka,
sukar untuk melaksanakan perintah itu.
Pelahan-lahan Cu Jiang mencabut pedang kutung.
Ketiga iblis itupun saling bertukar pandang lalu serempak
mengangkat tangan mereka ...
Tiba2 dengan kecepatan seperti kilat menyambar, Cu
Jiang menyerang kepada iblis yang berada disamping
kanan. Dia menggunakan tenaga penuh. Terdengar suara
orang tertahan, darah menyembur dan iblis itupun
terhuyung-huyung empat lima langkah, bluk. ia jatuh
terduduk.
Serempak pada saat itu juga pukulan dahsyat dari kedua
iblis telah melanda Cu Jiang sehingga anak muda itu
terpental mundur sampai lima enam langkah.
Dengan menggembor seram, kedua iblis itu terus loncat
menerjang Cu Jiang seraya lepaskan empat buah pukulan
maut.
Cu Jiangpun ayunkan pedang. Kiam-gi atau hawa
pedang menyongsong pukulan lawan, menimbulkan
benturan keras.
Cepat sekali kedua momok itu mengisar kaki berganti
langkah. Mereka menyerang dari kanan kiri. Cu Jiang
gunakan tata-langkah Gong-gong-poh-hwat untuk
menghindar, tetapi kepandaian kedua momok itu memang
bukan olah2 hebatnya.
Mereka dapat menguasai setiap gerakannya, menyerang
dan menarik pukulan, dilakukan dengan sempurna. Setelah
menilai posisi gerak putaran Cu Jiang, keduanya lalu
menyerang gencar.
Cu Jiang terpaksa memutar pedang untuk menyerang
iblis yang menyerangnya dari kanan.
"Huak . .. ." terdengar pula suara erang yang ngeri, iblis
itu rubuh tetapi punggung Cu Jiang termakan pukulan iblis
yang berada dikiri. Cu Jiang terseok-seok kebelakang
sampai beberapa langkah dan hampir rubuh.
Darahnya bergolak keras, pandang matanya gelap.
Tetapi ia masih memiliki kesadaran pikiran. Waktu
terhuyung-huyung dia menjurus ke sebelah samping.
Siut, siut, siut angin tajam yang berasal dari pancaran
jari, berhembus lewat disisinya. Kurang sedikit saja dia
tentu hancur tubuhnya. Angin tajam itu telah menyasar
pohon dan menimbulkan tiga buah lubang.
Karena kedua kawannya sudah mati. iblis Itu marah
sekali. Saat itu Cu Jiang sudah menyelinap ke belakangnya.
"Anda menduduki urutan yang ke berapa ?" Seru Cu
Jiang.
Iblis itu berputar tubuh. Dia pancarkan lagi semburan
tenaga-jari yang sakti seraya menyahut: "Aku berada di
urutan nomor sebelas!"
"Apakah anda Kim ci-mo?" tanya Cu Jiang seraya
menghindar. Tetapi baru dia tegak, punggungnya telah
dilanda angin pukulan dahsyat.
"Uh .,..," ia sempoyongan hampir rubuh. Ternyata yang
menyerangnya itu adalah iblis yang terluka dan jatuh
terduduk itu. Saat itu Cu Jiang terhuyung beberapa langkah
di mula iblis. Setelah berhenti dan berdiri tegak, ia menegur.
"Dan anda termasuk urutan yang ke berapa?"
"Kelima belas !"
"Hai, anda benar2 tak bernama kosong Hek sim-mo!"
seru Cu Jiang.
"Budak, Jiwamu memang alot sekali!"
"Jika begitu, yang telah mendahului berangkat itu
tentulah iblis nomor dua belas Toan bing-mo ...." dalam
berkata-kata itu Cu Jiang sudah melesat kemuka Kim ci-mo
atau iblis Jari-emas. Ia mengangkat pedang kutung dan
berseru:
"Sekarang giliran anda yang akan kuberangkatkan ke
akhirat!"
"Jangan tekebur!" Kim-ci mo menggembor,
mengendapkan tubuh, kedua tangan menjulur dan jarijarinya
menebar.
Saat itu Cu Jiang baru menyadari bahwa ujung jari
lawan berwarna kuning emas, seperti menjepit jarum atau
paku emas. Tiga batang jarum itu telah mengenai batang
pohon dan pohonpun berlubang.
Apabila dirinya sampai terkena jari emas itu, uh, ngeri
juga membayangkan bagaimana akibatnya.
Barang siapa menyerang dulu, dia tentu memperoleh
posisi yang kuat, Ya, benar dan Cu Jiang-pun segera
kembangkan ilmu pedang Thian-te-kau-thay dan
menyerang dengan cepat.
Tring. tring....
Terdengar bunyi berdering-dering dan percikan sinar
emas berhamburan, Cu Jiang rasakan bahu kirinya nyeri
sekali sampai menusuk tulang. Dia tahu kalau terkena jariemas
lawan.
Dari rasa sakit, ia duga Jari-emas atau Kim-ci itu tentu
mengandung racun.
Huakkkkk.
Terdengar pekik seram dan tubuh Kim-ci-mo terhuyunghuyung,
bluk, dia jatuh terkapar berlumuran darah.
Cu Jiang cepat mengeluarkan mustika katak dan
disusupkan ke dalam mulutnya. Kemudian ia berpaling ke
arah Hek sim mo.
Iblis itu tengah merangkak bangun. Wajahnya seperti
binatang yang buas.
Mustika katak itu memang bukan olah2 sakti nya. Dalam
beberapa kejap saja bahu kirinya yang terluka itu sudah
lenyap sakitnya. Cu Jiang muntahkan mustika itu dan
disimpannya lagi.
"Budak, engkau pasti mati!" seru iblis Hek-sim mo atau
Hati-hitam sambil memandang Cu Jiang.
"Iblis tua, apakah engkau memastikan bagiku?"
"Engkau telah terkena racun dari Kim ci, walaupun
tenaga dalamnya sudah sempurna sekali, pun hanya
mampu bertahan untuk beberapa waktu saja. Jika tidak
menggunakan tenaga, memang tak apa2. Tetapi begitu
engkau bergerak mengeluarkan tenaga, racun itu akan
menyerang ulu hatimu !"
"Belum pasti begitu !"
"Aku bersedia menolongmu ..."
"Ha, haa, kalau anda mati dulu, tentu tak dapat melihat
aku mati, bukan ?"
Hek sim-mo mundur beberapa langkah. Wajahnya
berkerenyutan lalu berseru tegang:
"Walaupun aku dicari sebagai iblis berhati hitam,
sebenarnya tidak begitu ..."
"Bagaimana ?"
"Kalau engkau sekarang ingin hidup, aku dapat
membantumu tetapi..."
"Tetapi ada syaratnya, bukan ?"
"Tentu."
"Apa syaratnya ?"
"Hancurkan kepandaianmu sendiri, nanti baru
kuberitahu obat penawar."
Cu Jiang tertawa gelak2.
"Caramu itu terlalu kekanak-kanakan. Biarlah kulawan
racun dalam tubuhku itu dan akan kuantar anda ke akhirat
lebih dulu !"
"Coba saja kalau engkau tak percaya !"
"Kalau aku turun tangan anda tentu mati !"
"Tak apa, cobalah !"
Cu Jiang masukkan pedang kedalam sarung lalu berkata
dengan dingin: "Bagaimana kalau kugunakan pukulan
tangan saja ?"
Hek-sim-mo tertawa aneh, teriaknya: "Bagus
kesombonganmu ini memang tak ada duanya dalam
dunia!"
"Sebenarnya aku tak ingin membasmi habis-habisan.
Silakan anda menghancurkan ilmu kepandaian anda sendiri
dan kubebaskan dari kematian !" seru Cu Jiang.
"Engkau bermimpi?"
"O. anda benar2 ingin mati?"
Tiba2 Hek-sim-mo ayunkan kedua tangan menghantam.
Dia ingin memancing Cu Jiang supaya balas menghantam
dengan sepenuh tenaga agar racun Kim-ci segera
berkembang menyerang uluhatinya.
Cu Jiang memang menangkis dengan dorongkan kedua
tangan. Dia menggunakan tenaga penuh.
Bum.....
Terdengar benturan keras dan seketika Hek-sim mo
muntah darah lalu jatuh terduduk lagi.
"Bagaimana ?" seru Cu Jiang.
Betapapun hitam hati Hek-sim-mo tetapi ia baru rontok
nyalinya ketika melihat Cu Jiang tak kurang suatu apa.
Pada hal racun Kim-ci itu ganasnya bukan kepalang.
Orang yang kepandaiannya kurang, seketika tentu mati.
Dan yang kepandaiannya tinggi, hanya dapat bertahan
beberapa waktu saja.
"Toan-kiam-jan-jin engkau... tidak terkena racun itu ?"
serunya terbata-bata.
"Racun semacam Kim-ci masakah mampu berbuat apa2
terhadap diriku ?"
"Engkau..."
"Kejahatan anda sudah melewati takaran, matipun masih
enak!" Cu Jiang terus maju dan mengangkat tinju,
diarahkan ke kepala Hek-sim-mo.
Saat itu Hek-sim-mo sudah tak berdaya sama sekali. Dia
meraung lalu muntah darah. Pada saat tinju hendak
diayunkan tiba2 Cu Jiang menghentikannya.
"Budak, engkau bermaksud bagaimana?" teriak Hek-sim
mo.
Saat itu tiba2 Cu Jiang teringat akan pesan suhunya agar
jangan mengobral pembunuhan. Pun baginda Toan Hongya
juga melarang pertumpahan darah apabila tak terpaksa.
Cu Jiang berkata.
"Kali ini kuberi ampun jiwamu, Kuharap engkau
memberitahukan kepada kawan-kawanmu, setelah dapat
membubarkan Thong-thian-kau. lekaslah kalian tinggalkan
dunia persilatan . . ."
0odwo0
"Huh, siapa sudi menerima ampunmu ?"
"Apa yang telah kukatakan tentu kulaksanakan, engkau
akan tetap hidup tetapi ilmu kepandaianmu harus
dilenyapkan agar engkau jangan berbuat kejahatan lagi."
"Bunuhlah aku!" teriak Hek-sim-mo marah, "toh nanti
tentu ada orang yang akan membalaskan engkau budak . . ."
"Engkau tak dapat menuruti kehendakmu sendiri!" seru
Cu Jiang dan serentak dia pancarkan tenaga-sakti dari Jari.
Seketika Hek-sim-mo gemetar, meraung keras dan muntah
darah.
Ilmu kepandaian dihancurkan, bagi seorang tokoh
persilatan ternama, jauh lebih tersiksa daripada dibunuh.
Terutama durjana2 seperti gerombolan sip-pat-thian-mo itu.
"Budak, bunuhlah aku saja !" Hek-sim-mo meraungraung
pilu.
Cu Jiang tertawa dingin: "Dengarkan, aku hendak titip
pesan supaya engkau sampaikan kepada kawan kawanmu.
Bahwa aku memang ditugaskan untuk membasmi
gerombolan Sip-pat-thian-mo!"
Hek-sim mo menggigil keras.
Sementara Cu Jiangpun terus ayunkan langkah keluar
dari hutan. Dia menghitung-hitung jumlah gerombolan Sippat-
thian-mo yang telah diselesaikan. Hek sim-mo dan
Kiam-mo telah dihancurkan ilmu kepandaiannya. Longsim-
mo, Kiau-thian-mo, Gong mo, Toa lat Sin-mo, Bu-mo
dan tadi di tambah pula dengan Kim-ci mo serta Toan lengmo,
semua berjumlah tujuh iblis yang telah dibunuhnya.
Dengan demikian kedelapan belas iblis itu sekarang
sudah berkurang separuh. Suhunya pernah mengatakan
bahwa yang paling ditakutkan ialah apabila Lo Mo atau
iblis tertua diantara mereka, masih hidup.
Sip-pat-thian mo sudah begitu menggelisahkan dunia,
ketua mereka tentu lebih hebat lagi.
Kemudian ia beralih memikirkan diri putri Tayli yang
mengembara ke Tiong goan itu. Sungguh berbahaya sekali
tindakan puteri itu. Apalagi hanya ditemani oleh Poan
toanio, tentu setiap saat terancam bahaya.
Diam2 Cu Jiang cemas. Teringat betapa sikap dan nada
puteri itu kepadanya Cu Jiangpun makin gelisah. Dia
menyadari dirinya hanya seorang persilatan biasa, tentu tak
layak menjadi pasangan hidup puteri itu.
Juga tali pernikahannya dengan Ho Kiong Hwa sudah
menjadi kenyataan, sukar untuk diputuskan lagi.
Teringat akan Ho Kiong Hwa, ia membayangkan betapa
nasibnya yang malang. Gadis itu seorang yang baik, layak
mendapat curahan kasihan.
Saat itu dia sudah muncul dijalan besar. Sebenarnya dia
hendak mengejar Jejak Ratu-bunga Tio Hong Hui dan
puterinya tetapi diluar dugaan dia bertemu dengan puteri
Tayli dan Poan toanio, kemudian dapat membasmi tiga
iblis sip pat-thian-mo.
Hari itu dia tiba di sebuah dusun yang tak jauh dari kota
Keng-ciu. Saat itu hari sudah petang tetapi dia ingin lekas2
berjumpa dengan Ang Nio Cu.
Maka setelah mengisi perut disebuah rumah-makan,
iapun meneruskan perjalanan lagi. Diperhitungkannya
bahwa menjelang tengah malam nanti dia tentu tiba
ditempat Ang Nio Cu. Entah bagaimana keadaannya,
apakah lukanya sudah sembuh.
Beberapa li jauhnya, tiba2 sesosok bayangan hitam lewat
disisinya dengan menggunakan ilmu lari yang cepat.
Walaupun malam gelap tetapi mata Cu Jiang yang tajam
dapat melihat bahwa orang itu adalah seorang Pengawal
Hitam.
Terhadap musuh besar dari Gedung Hitam, dia tak
pernah mau memberi kelonggaran. Diikutinya Pengawal
Hitam itu.
Beberapa waktu kemudian, orang itu membiluk
kesebuah jalan kecil dan lebih kurang satu li jauhnya
tampak sebuah pedesaan yang terdiri dari beberapa rumah
kaum pemburu.
Pengawal Hitam itu lari menuju ke desa yang sunyi
senyap itu. Bahkan lampu2 pun sudah dipadamkan semua.
Rupanya kehidupan mereka miskin maka merekapun
sangat berhemat.
Setelah melompat pagar tembok yang pendek. Pengawal
Hitam itu terus masuk ke dalam sebuah rumah yang terdiri
dari tiga petak. Terdengar anjing menyalak tetapi sesaat
kemudian sudah sirap lagi.
Cu Jiang dengan hati2 mengikuti masuk. "Siapa?"
terdengar suara orang dari dalam rumah.
"Aku, yah, Sam Long"
"Mengapa tengah malam pulang ?"
"Ada urusan penting, lekas buka pintu."
"Ya, tunggu sebentar."
Penerangan dalam rumah dinyalakan dan terdengar
suara wanita bergumam lalu suara anak kecil terkejut
bangun.
Pintu terbuka dan masuklah Pengawal Hitam itu. Yang
membuka pintu seorang lelaki setengah tua. Kemudian
muncul seorang wanita muda yang mengempo bayi.
Sambil mengucal-ucal mata, lelaki tua itu menegur:
"Sam Long, ada peristiwa apa?"
"Yah, ringkasilah barang2, kita pergi dari sini!" kata
Pengawal Hitam dengan gopoh.
"Ada kejadian apa sih ?" seru wanita muda itu agak
gemetar.
Pengawal Hitam yang bernama Sam Long Itu belum ada
tiga puluh tahun umurnya. Cakap juga wajahnya.
"Kita harus lekas2 tinggalkan tempat ini. Kalau mereka
tahu, tentu celaka kita !" kata Pengawal Hitam itu.
"Katakan apa yang terjadi!" lelaki tua itu berseru
gemetar.
Pengawal Hitam itu membuka bajunya dan melongok
keluar dengan pandang cemas, lalu berkata:
"Yah, aku telah melarikan diri dari mereka."
"Mengapa ? Apa yang terjadi ?"
"Cong-koan kami yang lama Ho Bun Cai telah dibunuh,
ditanam ditepi sungai. Enam orang Pengawal Hitam yang
mempunyai hubungan rapat dengan Hu congkoan, sudah
ada lima orang yang dibunuh. Tinggal aku seorang maka
akupun nekat melarikan diri."
"Oh !" seru lelaki itu.
"Ai !" wanita muda itupun menjerit.
Sam Long melanjutkan lagi. "Tadi aku kebetulan
mendapatkan tugas meronda diluar. Ditengah jalan
kawanku yang bernama Tong Co Ju memberi tahu tentang
peristiwa itu maka . . . akupun segera melarikan diri.”
"Nak, walaupun dunia ini lebar sekali, tetapi tak
mungkin kita dapat bersembunyi," kata lelaki tua itu.
"Tetapi kita tak dapat menunggu kematian tanpa berdaya
apa-apa. . ."
"Bawalah isterimu pergi sejauh mungkin. Biarlah aku
tetap menjaga warisan leluhur kita ditempat ini. Matipun
aku ingin berkubur disini!"
San Long bertekuk lutut dihadapan ayahnya dan
meratap: "Anak tidak berbakti, mohon ayah..."
"Kita akan menuju kemana ?"
"Kota Pek-te-shia."
"Apa ? Pek-te-shia ... mengapa ?"
"Kota itu merupakan daerah kekuasaan perkumpulan
Thong-thian-kau. Disana pengaruh Gedung Hitam tidak
seberapa."
"Tetapi kota itu ribuan li jauhnya. Mampukah kita
mencapai kesana dengan selamat?"
"Yah, jangan hiraukan soal itu, kita nanti akan
menyamar ...."
"Bangun !"
Sam Longpun berbangkit, pipinya bercucuran air mata.
isterinyapun pucat dan berkata dengan gemetar: "Dulu lebih
baik engkau jangan masuk perkumpulan Gedung Hitam
itu."
"Ah, tak perlu menyesali hal itu, tak ada gunanya. Aku
berhutang budi kepada Ho congkoan yang telah menolong
jiwaku. Dialah yang minta kepadaku supaya masuk sebagai
pengawal dari Gedung Hitam. Sudah tentu aku tak dapat
menolak."
"Ah," isterinya menghela napas.
"Pergilah kalian berdua, aku tetap akan tinggal disini."
sahut lelaki tua itu berkata dengan mantap.
Sam Long menangis: "Yah. mereka tentu takkan
melepaskan engkau."
Tetapi orang tua itu tetap kukuh: "Aku sudah tua, tak
tahan menempuh bahaya sejauh perjalanan itu . ..."
Tiba2 dari ruang tengah melayang sebuah benda yang
tepat jatuh keatas meja, tring ....
"Amanat Maut!" teriak Sam Long ketika melihat benda
itu. Seketika ia menggigil seperti orang sakit demam.
Wajahnya pucat seperti mayat.
Lelaki tua dan isteri Sam Long juga kaget. Bayinya
menangis.
"Ah, habis riwayat kita sekarang" Sam Long mengernyut
geraham.
Sebuah suara seram terdengar dari ruang tengah.
"Kang Sam Long, keluarlah!" seru suara itu.
Sejenak memandang kepada ayah dan isterinya Sam
Long menendang pintu dan melangkah keluar. Ayah dan
isterinyapun mengikuti ke pintu.
Dihalaman muka tampak empat sosok tubuh. Yang tiga
mengenakan pakaian hitam seperti Sam Long dan yang
seorang lelaki tua berlengan tunggal. Ditingkah cahaya
bulan remang, wajah orang tua itu tampak menyeramkan
sekali.
Sam Long memberi hormat di hadapan orang berlengan
satu itu. "Menghaturkan hormat kepada congkoan !"
Lelaki berlengan tunggal itu tertawa seram: "Kang Sam
Long, tak usah banyak omong, tahukah engkau akan
peraturan Gedung kita ? Bagaimana tindakanmu ?"
Rupanya Sam Long sudah menentukan keputusan.
Dengan suara tenang dia berkata: "Cong-koan, hamba tahu
akan kesalahan hamba, terserah bagaimana hukuman yang
hamba terima. Tetapi hamba hendak mengajukan sebuah
permohonan !"
"Apa ?"
"Mohon keluarga hamba dibebaskan dari hukuman ..”
"Engkoh Sam..." wanita muda menjerit dan menangis.
Bayinya juga ikut menangis keras.
Lelaki tua berlengan satu itu berpaling ke arah seorang
pengawal: "Jangan sampai membikin kaget para tetangga
sekeliling. Hentikan tangis mereka !"
Pengawal Hitam itu segera mencabut pedang dan
menghampiri. Melihat itu Sam Long berseru kepada
isterinya: "Lekas masuk jangan bersuara."
Dengan wajah sedih dan takut, wanita itu mendekap
mulut anaknya dan masuk kedalam. Pengawal Hitam itu
melanjutkan langkahnya.
Kang Sam Long juga mencabut pedang dan berteriak:
"Li San Beng, jangan membunuh orang yang tak berdosa.
Semuanya aku yang bertanggung jawab !"
Lelaki berlengan tanggal mengangkat tangan, memberi
isyarat agar Li Sin Bang kembali ke tempatnya lagi.
Kemudian lelaki lengan satu itu memandang Sam Long,
serunya: "Kang Sam Long, engkau berani mencabut
pedang?"
"Congkam, mohon keluargaku yang tak berdosa ini
diberi ampun. Hamba rela menerima hukuman apapun
juga!" jawab Sam Long.
"Sekarang jawablah beberapa pertanyaanku dengan terus
terang," kata lelaki lengan satu itu, "kesatu, masukmu ke
dalam Gedung Hitam adalah Hu congkoan yang
mengusulkan. Lalu tugas apa yang Ho Bun Cai berikan
kepadamu?"
"Tidak memberi tugas apa2." kata Sam Long dengan
keraskan hati.
"Hm. dalam sekian tahun, apa saja yang engkau telah
lakukan untuknya ?"
"Hamba bertugas sebagai Pengawal Hitam dan selalu
bertindak menurut perintah atasan. Tak pernah hamba
melakukan sesuatu yang melanggar peraturan."
"Ah, baik sekali engkau hendak menghindar. Engkau
tentu kenal jelas tentang diri Ho Bun Cai . . ."
"Hamba tak tahu."
"Dan kaki tangannya itu ?"
"Cong-kam, hamba benar2 tak tahu."
"Rupanya semua pertanyaanku itu sia2 saja."
"Hamba menjawab dengan sejujurnya."
"Baik Pengawal, kemarilah!"
Ketiga Pengawal Hitam serempak menghadap.
"Seret keluar orang2 dalam rumah itu tetapi jangan
sampai menimbulkan suara gaduh !"
Setelah mengiakan ketiga Pengawal Hitam segera
melangkah kedalam rumah. Tetapi secepat itu Sam
Longpun sudah melintangkan pedang menghadang.
"Congkam, apakah hendak memaksa hamba melawan ?"
serunya dengan bengis.
"Engkaukan sudah melawan !"
"Silakan . . ." seru Sam Long mengucap sepatah kata,
tiba2 lengan congkam itu berayun dalam gerak setengahlingkar
lalu kembali lagi ke tempatnya.
Telapak tangan Sam Long terkulai dan pedangnyapun
terlepas. Dia tegak seperti patung. Jelas jalan darahnya
telah ditutuk oleh lelaki bertangan tunggal itu.
Ketiga Pengawal Hitam menyerbu ke dalam, menyeret
isteri Sam Long dan ayahnya. Memang mereka tak menjerit
dan menangis karena jalan-darahnya sudah ditutuk.
Sepasang mata Sam Long merah membara, keringat
bercucuran deras. Walaupun tak dapat berkutik tetapi
mulutnya masih dapat bicara.
"Jika keluarga sampai dibunuh, aku Kang Sam Long
sekalipun jadi setan, tetap akan jadi setan untuk membalas
dendam ini !" serunya.
Lelaki tua berlengan tunggal itu hanya menyambut
dengan tertawa iblis. Berpaling kearah Pengawal Hitam
yang membawa bayi: "Bawa ke-sampingnya!"
Pengawal Hitam itu segera membawa bayi …..
^^Jilid 20 Halaman 26/27 Hilang^^
……hendaki orang tua dan perempuan itu hidup.
Janganlah engkau ikut campur urusan ini !"
Cu Jiang tak menghiraukan, ia memberi peringatan keras
kepada kedua Pengawal Hitam itu.
"Dengarkan, serambut saja kalian berani mengganggu
kedua orang itu, kalian pasti kucincang !"
Kedua Pengawal Hitam itu gemetar.
Kemudian Cu Jiang berpaling lagi kepada Li Ho.
serunya: "Lengan anda yang putus itu bukankah terjadi
ketika di gunung Bu-leng-san dahulu?"
Wajah Li Ho berobah seketika, serunya. "Budak, apakah
engkau benar2 putera dari Cu Beng Ko ?"
"Orang she Li, sudah lama aku mencarimu !"
"Siapa namamu ?"
"Cu Jiang !"
"Hm, bukankah dahulu eagkau sudah terlempar kebawah
jurang ....."
"Tuhan belum menghendaki aku harus mati."
"Tidak ! Tidak ! Engkau . . . tentu si Gok-jin ji itu."
Serentak Cu Jiang mencabut kain penutup muka dan
tampaklah wajahnya yang tampan. Melihat itu Li Ho
menyurut mundur.
"Engkau ,.. pelajar baju putih itu ?"
"Benar,"
"Umurmu sungguh panjang .. ."
"Li Ho, siapakah yang turun tangan waktu di gunung
dahulu itu ?"
"Engkau kira aku tentu mau memberitahu ?"
"Mungkin."
"Engkau ngimpi!"
Cu Jiang maju selangkah, matanya berapi-api, serunya:
"Li Ho, engkau hendak membayar apa yang telah engkau
lakukan selama ini?"
"Budak," teriak Li Ho. "selangkah engkau berani maju
lagi, lelaki dan wanita ini tentu kuhabisi jiwanya !"
Cu Jiang berpaling kearah kedua Pengawal Hitam,
serunya: "Kurasa mereka takkan berani melakukan."
"Coba saja kalau engkau tak percaya !"
"Ya, aku memang hendak mencoba . . ." Sambil
mengangkat pedang kutung, Cu Jiang maju selangkah lagi.
Cring, Li Ho juga mencabut pedang. Sekali-pun
lengannya tinggal satu tetapi sikapnya memang masih
berwibawa. Jelas bahwa ilmu pedangnya tentu hebat.
Keduanya saling mencurah perhatian, menunggu
kesempatan. Dalam pada itu Kang Sam Long-pun
mencabut pedang dan menghampiri ke samping kedua
Pengawal Hitam.
Jika kedua Pengawal Hitam itu berani membunuh ayah
dan isterinya, diapun akan menyerang.
Sampai beberapa saat masih belum terjadi gebrakan
tetapi saat itu kepala Li Ho sudah bercucuran keringat dan
matanya mulai berkunang-kunang. Dalam mata seorang
ahli pedang, tanda2 itu sudah menunjukkan suatu
kesalahan yang fatal.
"Hait . . . tring . . . ngekkk !"
Terdengar gemboran, denting benturan dan suara
menguak ngeri. Hanya dalam sekejap mata, mautpun sudah
menyambar nyawa. Lima buah tusukan celah menghias
tubuh Li Ho. Dia terhuyung-huyung lalu jatuh terduduk.
Cu Jiang cepat berputar tubuh dan menghadap ke arah
kedua Pengawal Hitam : "Lepaskan !"
Kedua Pengawal Hitam itu ngeri dan tanpa disadari
telah melepaskan ayah dan isteri Kang Sam Long.
Melihat itu Kang Sam Long buru2 menyarungkan
pedang lalu menarik kedua ayah dan isterinya. Cu Jiangpun
memancarkan tenaga dari jari untuk membuka jalan darah
kedua orang yang tertutuk itu.
"Kang Sam Long, lekas benahi2 barang-mu dan
tinggalkan tempat ini !" seru Cu Jiang lalu mengambil dua
butir beng cu (mutiara) dan dilemparkan: "Benda ini
rasanya cukup untuk membuat rumah baru lagi."
Kang Sam Long terlongong-longong mengawasi Cu
Jiang. Bibirnya bergerak-gerak tetapi tak dapat
mengeluarkan kata2.
"Ho Bun Cai itu suhengku, engkau harus mengerti dan
lekaslah pergi !" seru Cu Jiang.
Kang Sam Long mendesah kejut, memungut mutiara
lalu menghaturkan hormat: "Budi anda akan kuukir sampai
mati!" habis berkata dia terus memimpin tangan ayah dan
istrinya masuk kedalam rumah.
Tiba2 kedua Pengawal Hitam loncat hendak melarikan
diri. Tetapi Cu jiang cepat membentak: "Berhenti !"
Kedua Pengawal Hitam itu terpental kembali
ketempatnya semula dan tahu2 Cu Jiang sudah
menghadang dimuka mereka.
"Menurut peraturan Gedung Hitam, anak buah yang
melarikan diri dari lawan, akan dihukum mati!"
Wajah kedua Pengawal Hitam itu pucat seperti mayat.
Mengangkat pedang kutung. Cu Jiang berseru: "Mati
dalam pertempuran merupakan kematian yang gemilang
dari seorang ksatrya. Sekarang hunuslah pedang kalian dan
siaplah membela diri!"
Kedua Pengawal Hitam itu sejenak melihat kearah
congkam mereka yang masih duduk ditanah. Dengan
gemetar keduanya menyurut mundur.
"Lekas cabut pedang. Aku hanya menyerang dalam satu
jurus, Jika kalian mampu membela diri tentu akan
kulepaskan pergi !"
Kedua Pengawal Hitam Itu saling bertukar pandang lalu
mencabut pedang.
"Awas, terimalah seranganku !" Cu Jiang berseru,
pedang berkelebat dan terdengarlah jerit auman ngeri
memecah kesunyian malam. Kedua Pengawal Hitam
terkapar dalam kubangan darah.
Setelah menyelesaikan kedua Pengawal Hitam, Cu Jiang
menghampiri ketempat Li Ho:
"Orang she Li, membunuh, memperkosa, engkau tentu
turut ambil bagian, bukan ?"
Li Ho membisu.
Cu Jiang menengadahkan kepala. Sekilas terbayang akan
pemandangan delapan belas bulan yang lalu. Darah,
kepingan daging dan tubuh yang telanjang.
"Li Ho, engkau mau menjawab atau tidak, sama juga.
Aku akan mencincang tubuhmu !"
Wajah Li Ho berkerenyutan menyeramkan sekali.
Dengan lengannya yang tinggal satu itu dia berusaha untuk
berbangkit. Cu Jiang pelahan-lahan mencabut pedang dan
sekali ayun, Li Ho menjerit ngeri lalu jatuh terduduk lagi.
Pedang kutung berulang kali bergerak kian kemari,
seiring dengan jeritan ngeri yang berturut-turut, Li Ho telah
berobah menjadi manusia darah yang terkapar dan
meregang-regang. Dia harus menderita siksaan yang hebat
sebelum jiwanya melayang...
Cu Jiang menghela napas. Setelah memasukkan pedang,
ia lantas membuang mayat Li Ho ke-dalam sumur dan
ditutup. Saat itu sudah lewat tengah malam. Dia terus lari
menuju kejalan besar dan melanjutkan perjalanan ke kota
Kang ciu.
Tiba ditempat Ang Nio Cu terluka, haripun sudah
menjelang fajar. Saat itu tentulah Ang Nio Cu masih tidur.
Dia sungkan untuk membangunkan dan terpaksa mondarmandir
di luar biara.
Tetapi beberapa waktu kemudian, dia tak sabar lagi terus
masuk kedalam biara. Sengaja dia batuk2 dan memberati
langkah kakinya.
Tiba2 dia merasakan sesuatu yang tak wajar. Batuk dan
langkah kaki berat, tentu akan mengejutkan mereka tetapi
mengapa tetap sunyi senyap saja.
Ya, benar, paling tidak Ang Nio Cu tentu menyuruh
salah seorang muridnya untuk berjaga diluar tetapi
mengapa tak seorangpun yang tampak?
Tiba2 dipintu ruang tempat Ang Nio Cu dirawat, tampak
pintu terbuka dan keadaannya sunyi saja.
"Taci..." Cu Jiang berteriak keras. Tak ada penyahutan.
Ia memperhitungkan tentulah Ang Nio Cu sudah sembuh
dari lukanya, masakan sampai tak tahu kalau ada orang
masuk kedalam biara itu.
Dengan cemas Cu Jiang terus melesat masuk kedalam
ruang. Ah, tempat tidur tua kosong melompong, tak ada
orangnya sama sekali. Apakah Ang Nio Cu sudah pindah
ke lain tempat? Toh, tak mungkin. Bukankah dia sudah
berjanji akan bertemu ditempat itu ?
Cu Jiang memandang ke sekeliling ruang untuk mencari
sesuatu jejak. Tiba2 pandang matanya terbeliak dan hatinya
berdebar keras. Di lantai terdapat bekas darah dan bekas2
pertempuran. Celaka! Ang Nio Cu tentu telah menderita
bencana.
Tiba2 ia mendengar helaan napas orang dari sudut
ruang. Ah. Cu Jiang menjerit kaget dan cepat melesat
ketempat itu. Sesosok tubuh manusia yang berlumuran
darah rebah di lantai. Dia adalah seorang anak buah Ang
Nio Cu. Napasnya sudah lemah sekali.
Cu Jiang berjongkok dan berteriak:
"Apakah yang telah terjadi ? Kemana mereka?"
Tetapi nona itu tak menjawab lagi. Cu Jiang kucurkan
keringat dingin. Memeriksa denyut nadi tangan nona itu, ia
mengeluh dalam hati. Urat-nadi jantungnya sudah tak
normal jalannya. Rasanya sukar ditolong lagi.
Cu Jiang bingung. Satu-satunya jalan untuk mendapat
keterangan harus bertanya kepada nona itu. Segera ia
mencekal tangan nona itu dan menyalurkan tenaga-murni.
Beberapa saat kemudian tampak mata nona itu bergerakgerak
dan mulutnya menghembus napas.
"Engkau masih mengenal aku ? Di mana dia?" seru Cu
Jiang.
Mulut nona itu bergerak-gerak tetapi tak dapat
mengeluarkan kata2. Cu Jiang menghapus keringat di
jidanya lalu menyaluri tenaga-murni lagi.
Akhirnya wanita itu dapat mengeluarkan suara lemak
seperti ngiang nyamuk : "Nona Thong-thian Keng-cia . . .
cabang, . . markas. .."
"Nona? Siapa dia ?" Cu Jiang gopoh menegas. Tetapi
wanita itu menghembuskan napas yang terakhir, kepala
terkulai dan melayanglah jiwanya.
Cu Jiang terpaksa lepaskan cekalannya. Sesaat ia tak
tahu apa yang harus dilakukan. Siapa yang dimaksudkan
nona itu ? Kawanan pengiring itu selalu menyebut Ang Nio
Cu sebagai majikan.
Lalu pengiring yang dua orang, Soa Tan Hong dan Gu
Kiau, kemanakah mereka ?
Thong-thian Kang-ciu, Jelas berarti partai Thong thiankau
di Kangciu. Tetapi dimanakah letak cabang markasnya?
Ia menggali lubang untuk mengubur mayat wanita itu.
Sampai terang tanah Cu Jiang masih termenung-menung
dalam biara untuk merenung siasat.
Kembali ia terkejut ketika daun pintu yang berlumuran
darah, Juga diluar biara. Ia segera menuruti bekas2 ceceran
darah itu yang menuju ketepi hutan. Mengeliarkan
pandang, seketika lunglailah semangatnya. Hampir saja dia
rubuh.
Dua sosok mayat rebah berselang. Jelas kedua mayat itu
adalah Song Tan Hong dan Gi Kiau. Karena ketiga
pengiringnya sudah dibunuh, jelas Ang Nio Cu tentu
menderita bencana.
Setelah beberapa saat termenung seperti patung karena
menyaksikan kebiadaban orang persilatan yang gemar
melakukan pembunuhan, akhirnya Cu Jiang mengubur
kedua mayat itu.
Matahari bersinar gemilang tetapi dalam pandangan Cu
Jiang, tak lain hanya darah merah.
Tiba2 terdengar langkah kaki orang. Cu Jiang cepat
berpaling ke belakang. Tiga tombak jauhnya, tampak tegak
seorang baju merah yang mukanya bertutup kain.
"Taci, engkau... tak kena apa2 ?" serentak Cu Jiang
berteriak kegirangan.
Memang yang muncul itu adalah Ang Nio Cu. Tetapi
dia tak menjawab melainkan melangkah maju beberapa
langkah. Ketika mata saling beradu. Cu Jiang tergetar
hatinya. Sinar mata Ang Nio Cu sedemikian rupa seperti
yang belum pernah dilihatnya selama ini.
"Taci, apakah yang telah terjadi?" seru Cu Jiang.
"Adik, engkau telah datang," kata Ang Nio Cu dengan
nada rawan, "tetapi... terlambat . . ."
"Apa? Terlambat?" Cu Jiang makin kaget. "Dendam
telah terjadi, tak dapat dihapus kembali!"
Cu Jiang melesat maju dan berseru gemetar: "Taci,
sebenarnya apakah yang telah terjadi ?"
"Engkau sudah melihat mayat2 itu?"
"Ya, sudah kukubur. Siapa yang membunuhnya."
"Kedua iblis Hong-gwat-mo dan Thian-kau-mo beserta
belasan anak buahnya."
Marah Cu Jiang meluap-luap. Iblis Hong-gwat mo
pernah ia kalahkan ketika berjumpa dibiara Lian hoa yan di
luar kota Li-jwan dulu. Tetapi Thian-kau-mo dia belum
pernah bertemu.
"Apakah Thian-kau-mo itu termasuk iblis yang ke empat
belas?" tanyanya.
"Benar, dia menjabat sebagai ketua cabang kota Keng
ciu, dibantu oleh Hang-gwat-mo .. .. "
"Bagaimana peristiwa itu telah terjadi?"
"Demi kepentingan isterimu Ho Kiong Hwa!" Hati Cu
Jiang tergetar keras: "Karena dia?"
"Hm."
"Bagaimana urusannya?"
"Ketika dia menuju ke biara tua, dia telah dibuntuti
musuh . . ."
"Perlu apa musuh hendak mengikutinya?"
"Karena kecantikannya!"
"Dimana dia sekarang?"
"Pergi jauh!"
"Dimana letak cabang Keng ciu itu?"
"Dari sini delapan li menuju ke timur akan terdapat
sebuah gedung. "
Cu Jiang diam sejenak lalu mengertek gigi:
"Aku hendak membuat perhitungan ..."
"Tunggu !" Ang Nio Cu mencegah.
"Taci hendak memberi pesan apa lagi?"
"Bagaimana dengan perjalananmu kemari?"
"Dapat membasmi iblis tua!"
"Siapa?"
"Sam-bok thian cun, guru dari ketua Gedung Hitam."
"Ah."
"Aku akan pergi dan nanti kita bicara lagi!"
"Aku masih hendak bicara."
"Silakan."
Ang Nio Cu berdiam sejenak, katanya: "Pedang yang
engkau serahkan untuk tanda pengikat pernikahan itu Ho
Kiong Hwa telah menyerahkan kembali kepadaku.. .."
"Kenapa?"
"Dia minta kepadaku supaya menyerahkan kepadamu.
Tetapi kupikir, akan kuminta kepadamu supaya benda itu
kusimpan sebagai kenang-kenangan. Tentang gelang
kumala yang dia berikan kepadamu, dia minta supaya
engkau simpan sebagai kenangan selama-lamanya .. ."
"Apakah artinya ini?" Cu Jiang terkejut. Dia merasa ada
sesuatu yang terjadi.
"Tali pernikahan itu diputuskan !"
-oo0dw0oo-
Jilid 21
Gemetar tubuh Cu Jiang sehingga dia sempoyongan
mundur sampai tiga langkah, serunya:
"Tali pernikahan bukan seperti mainan kanak-kanak.
Dan taci sendiri yang telah menjodohkan, mengapa . . ."
"Karena dia sudah tak bermuka lagi bertemu dengan
engkau!"
"Aku benar2 tak mengerti."
Dengan nada rawan. Ang Nio Cu berkata. "Sekarang dia
merasa seperti bunga layu yang telah gugur tercampak
dilumpur!"
Cu Jiang terlongong-longong sampai beberapa saat.
Lama sekali baru dia dapat berkata:
"Ini . . . ini . . . . bagaimana terjadi ?"
"Dia telah dinodai Hong gwat-mo dengan cara
kekerasan. . ."
Saat itu Cu Jiang rasakan dirinya seperti disambar petir.
Dia tegak mematung, hatinya hancur berkeping-keping.
Beberapa waktu kemudian tiba2 dia tertawa nyaring.
Nadanya penuh menghambur kedukaan dan dendam
kesumat.
"Adik ku. ini memang sudah takdir," setelah Cu Jiang
berhenti tertawa, barulah Ang Nio Cu menghiburnya.
Pukulan batin yang diderita Cu Jiang saat itu tak kalah
dengan ketika melihat kedua orang tuanya mati terbunuh
dahulu. Dia rasakan bumi serasa berputar cepat, tubuh
terhuyung-huyung hingga mau jatuh. Mulutnya tak hentihentinya
mengigau:
"Takdir! Nasib! Apakah ini yang disebut nasib?" tiba2 dia
terus lari.
"Adik Wan, tunggu dulu" teriak Ang Nio Cu, tetapi Cu
Jiang sudah tak menghiraukan lagi. Dia lari seperti orang
kalap. Dalam sekejap saja dia sudah mencapai delapan li.
Sebuah gedung besar tampak menyembul ditengah
gerumbul pohon.
Sekeliling penjuru merupakan sawah ladang yang tak
terurus dan beberapa rumah petani. Dia tak sangsi lagi
bahwa gedung besar itu tentu markas cabang Keng-ciu.
Dia segera melangkah dengan kaki sarat menuju ke
gedung itu. Tiba di tepi hutan, terdengar bentakan orang
yang menyuruhnya berhenti. Dua orang bu-su (orang
persilatan) berpakaian ringkas warna biru, menghadang
jalan.
Cu Jiang dengan mata menyala-nyala memandang kedua
orang itu.
"Cari mati. berhenti!" teriak kedua busu itu.
Tetapi Cu Jiang tak menghiraukan dan tetap melangkah
maju. Kedua penjaga itupun segera mencabut pedang dan
menyongsong. Tiba2 Cu Jiang dorongkan kedua
tangannya. Seketika segulung angin dahsyat berhamburan
melanda ke muka.
Huak, huak, sebelum sempat bergerak kedua penjaga itu
sudah muntah darah dan terlempar sampai beberapa meter
jauhnya. Cu Jiang tak menghiraukan mereka, terus
lanjutkan langkah.
Rupanya dia sudah hangus terbakar oleh bara dendam
yang menyala-nyala.
Bagi seorang lelaki, tunangan atau isteri dinodai orang,
merupakan hinaan yang tak dapat ditahan lagi.
Tujuh delapan sosok tubuh manusia berhamburan lari
menghampiri. Salah seorang berteriak:
"Siapa kau yang berani mati masuk kedalam markas? "
Cu Jiang tak mau menjawab Dengan menirukan gaya
Toan-kiam jan-jin, dia berjalan dengan kaki terpincangpincang.
Kedelapan orang itu segera menyerbu. Tetapi
kepandaian mereka kalah dengan kawanan Pengawal
Hitam dari Gedung Hitam.
Terdengar jerit menguak beberapa kali dan dari delapan
orang itu, yang lima sudah rubuh mandi darah.
Sambil mencekal pedang kutung yang masih berlumuran
darah, Cu Jiang terus melangkah maju.
"Toan- kiam-jan jin!" sisa ketiga orang yang masih hidup
itu serempak menjerit keras dan terus lari masuk kedalam.
Setelah melintas jalan dari papan batu tampaklah sebuah
gedung bertingkat yang dipagari dengan pagar tembok.
Sepasang pintu besar berbentuk huruf pai, tampak
terpentang lebar. Tetapi di dalamnya tak tampak barang
seorangpun juga. Tentulah kedelapan orang tadi bertugas
menjaga pintu besar itu.
Terdengar gemuruh derap kaki berlari mendatangi dan
pada lain saat muncul belasan busu. Yang di muka sendiri
seorang lelaki tua brewok, tangannya mencekal sebatang
golok kui thau-to (golok kepala setan) bergigi tebal. Alisnya
lebat, mata bundar dan wajahnya menyeramkan sekali.
Orang itu menerobos ke luar pintu sedang di
belakangnya berjajar belasan anak buahnya.
Cu Jiang hentikan langkah, memandang lelaki tua itu
dengan menyala-nyala. Lelaki tua itupun balas menatap Cu
Jiang lalu menyeringai:
"Toan-kiam-jan-jin, perkumpulan kami memang justeru
hendak mencari engkau..."
"Tak perlu dicari, " sahut Cu Jiang dengan nada dingin,
"aku tentu akan datang sendiri."
"Perlu apa engkau datang kemari?"
"Membikin perhitungan!"
"Perhitungan apa?"
"Darah !"
"Aku ...."
"Siapa nama anda?"
"Song Piu, menjabat sebagai penilik."
"Menyingkirlah! "
"Engkau kira engkau boleh bertindak semaumu sendiri?"
"Aku tak punya waktu meladeni engkau!" Cu Jiang
menutup kata-katanya dengan taburkan pedang kutung.
Lelaki tua itupun mengangkat golok kui-thau-tonya tetapi
belum sempat ia memainkannya, mulutnya sudah menguak
darah dan tubuh terkulai rubuh, goloknya terlempar sampai
beberapa meter memancarkan letikan bunga api.
Kawanan anak buah itu serasa melayang semangatnya,
mereka cepat menyiak ke samping, Cu Jiang melangkah
masuk. Di halaman yang merupakan sebuah lapangan,
tampak kosong melompong. Sepanjang tepi lapangan
berjajar-jajar perumahan.
Tampak orang2 sibuk lari kian kemari. Ada yang meniup
terompet pertandaan bahaya. Tetapi Cu Jiang mengangkat
kepala ayunkan langkah menuju ke bangunan gedung di
tengah.
Sepanjang jalan tiada yang menghalangi. Tiba di muka
gedung besar, berpuluh-puluh busu dari kedua samping
gedung berhamburan muncul sembari lepaskan senjata
rahasia.
Untuk menghadapi hujan taburan senjata rahasia itu, Cu
Jiang gunakan tata langkah Gong gong poh-hwat.
Dan kelompok busu itu bergabung untuk menghadang
tetapi Cu Jiang masih mampu menyelinap kian kemari.
Yang terdengar hanya jerit pekik ngeri, darah muncrat dan
pedang2 yang berhamburan melayang.
Setelah itu tubuh2 kawanan busu yang malang melintang
menggeletak tumpang tindih. Berpuluh busu itu tak
seorangpun yang masih hidup.
Tampak pula gelombang kedua dari puluhan busu yang
berlari larian datang tetapi mereka berhenti pada jarak lima
tombak. Suasana dalam gedung markas itu tampak tegang
sekali.
Menunggu sampai beberapa waktu tetap tak melihat
kedua iblis itu muncul, diam2 Cu Jiang menimang. Markas
itu luas sekali, kalau kedua Iblis itu sengaja bersembunyi,
tentu akan memakan waktu untuk mencari mereka.
Diam2 ia memutuskan untuk menggunakan siasat,
mendesak mereka supaya munculkan diri.
Dia mundur ke tempat serambi. Setelah menyarungkan
pedang, dia lalu kerahkan tenaga dan menghantam
sebatang tiang besar, bum . . . tiang berkisar tempat dan
rubuhlah wuwungan rumah menimbulkan suara yang
gemuruh sekali.
"Tua bangka Hong-gwat, Jika engkau tetap tak berani
keluar, sarangmu ini akan kuhancurkan dan kubasmi semua
anak buahmu!" teriaknya nyaring.
Tetapi tetap tiada penyahutan sama sekali. Karena tak
sabar, Cu Jiang kembali menghantam sebuah tiang di
sebelah kiri, bum .... para2 rumah bagian tengah
berhamburan roboh.
"Hayo, Thian-kau, Hong-gwat, apakah kalian benar2 tak
berani unjuk muka? " teriak Cu Jiang lagi. Namun tetap
tiada jawaban suatu apa.
Karena marah, Cu Jiang terus lari menghampiri
kawanan busu yang berjajar-jajar di tempat jauh itu.
Kembali terdengar jeritan ngeri. Cu Jiang benar2 seperti
harimau lapar yang menerkami kawanan kambing.
Kawanan busu itu memang berkepandaian tinggi tetapi
berhadapan dengan Cu Jiang mereka tak ubah sebagai
kawanan ayam yang menjadi bulan2an serangan burung
elang.
"Berhenti!" tiba2 terdengar suara bentakan yang
menggeledek. Cu Jiang berhenti. Mayat2 berserakan
memenuhi tempat itu. Yang masih hidup hanya beberapa
orang saja.
Dua lelaki bertubuh tinggi besar muncul. Ke duanya tak
lain adalah Hong-gwat mo dan Thian kau mo. Keduanya
diiring oleh tujuh orang anak buah yang mempunyai
kedudukan tinggi.
"Iblis tua, sudah berapa banyak gadis2 suci yang telah
engkau celakai?" teriak Cu Jiang.
"Budak kecil, kalau engkau tanyakan hal itu, aku sudah
tak ingat lagi !"
"Kalau peristiwa kemarin itu, apa engkau tidak ingat
lagi."
"Bagaimana ?"
"Engkau harus membayar sampai seratus kali lipat."
"Bagai mana cara membayarnya ?"
"Aku akan mencuci markas ini dengan darah!"
Mendengar itu menggigil hati sekalian orang yang berada
di tempat itu.
"Toan-kiam-jan-jin, mulutmu memang besar sekali.
Engkaulah yang harus membayar semua perbuatanmu
disini." tiba2 Thian-kau-mo membentak keras2.
"Serbu!" Hong-gwat-mopun segera memberi perintah.
Kedua iblis Itu terus berkisar memecah diri dan menyerang
dari kanan kiri. Ketujuh jago yang di belakang merekapun
segera berpencar mengepung.
Terdengar letupan dari pukulan yang beradu. Tubuh Cu
Jiang terhuyung tetapi kedua iblis itupun menyurut mundur
selangkah. Pada saat itu barisan ketujuh jago serempak
menyerang dengan senjata pedang.
Cu Jiang mencekal pedang kutung lalu memutarnya,
tring, tring, tring.... seorang Jago tua rubuh dan enam orang
mundur. Kedua iblis segera melemparkan pukulan dahsyat
untuk menutup lubang yang bobol itu.
Menilik cara mereka bertempur, jelas kalau sudah diatur
lebih dulu.
Pedang hanya dapat digunakan untuk jarak dekat. Kalau
mengandalkan hawa-sakti yang dipancarkan pada gerakan
pedang, sukar untuk melukai kedua iblis itu.
Menghadap pukulan yang mampu menghancurkan
karang dan kedua iblis itu, memang tak menguntungkan Cu
Jiang. Hawa pedang terdampar dan Cu Jiang sendiripun
terpaksa harus sempoyongan. Dalam kesempatan itu,
keenam jago segera menerjang dengan pedangnya.
Cu Jiang gunakan tata-langkah Gong gong-poh-hwat.
sambil pancarkan tenaga-penuh pada gerak pedang kutung,
ia berlincahan menghindar dan menabas.
Hiiak, huat ,.. kembali tiga orang lawan terkapar ditanah.
Tetapi pukulan sedahsyat bumi terbelah segera melandanya.
Cu Jiang mundur sampai tiga empat langkah, Darahnya
bergolak-golak keras.
Setelah empat dari tujuh jago2 anak buah kedua iblis itu
terbasmi, kini hanya tinggal tiga orang. Dan ketiga jago itu
memang tak mampu menyelonong melakukan serangan
lagi.
Sejenak mengurusi pernapasan, kini Cu Jiang pun maju
menyerang Thian kau-mo. Serangan kali ini dilancarkan
dengan sepenuh tenaga dan harus dapat merobohkan
lawan.
Iblis Thian-kau-mo memekik ngeri, tubuhnya terhuyunghuyung
lalu rubuh. Melihat gelagat tak baik, iblis Hong
gwat-mo berputar tubuh terus melarikan diri. Tetapi Cu
Jiang lebih cepat untuk menghadang.
"Anjing tua, akan hendak mencincang tubuhmu menjadi
bakso !"
Hong-gwat mo membentak dan menghantam dengan
kedua tangannya terus melenting ke samping. Pukulan iblis
itu memang istimewa. Anginnya tidak berhembus lurus
melainkan berputar-putar seperti angin lesus. Ia terkejut dan
tak sempat lagi untuk menghindar.
Dalam keadaan yang genting, ia masih dapat
melontarkan pedang kutung kearah Hong-gwat-mo yang
saat itu sudah loncat keatas wuwungan rumah.
"Uh..." iblis itu menjerit dan meluncur jatuh. Cu Jiang
yang berhasil membebaskan diri dari libatan angin lesus
terus menyusuli dengan sebuah hantaman dahsyat, bummm
. . Tubuh Hong gwat-mo yang hampir tiba di tanah, mental
lagi sampai dua tombak jauhnya. Rusuk kirinya berhias
pedang kutung yang menyusup sampai ke tangkainya. Iblis
itu masih meregang-regang nyawa.
"Anjing tua." Cu Jiang loncat menghampiri "ketahuilah,
nona yang engkau cemarkan kesuciannya semalam itu
adalah calon istriku."
Sepasang mata iblis itu membeliak dan mulutnya hanya
menganga tak dapat bicara lagi.
Setelah mencabut pedangnya. Cu Jiang berkata pula:
"Anjing tua, engkau harus membayar hutangmu !"
Cu Jiang benar2 sudah kehilangan diri. dia marah sekali
atas peristiwa yang telan diderita Ho Kiong Hwa. Maka
dilampiaskan dendam kemarahannya itu dengan
mencincang tubuh Iblis itu.
Setelah itu ia menyulut api dan membakar markas
gerombolan iblis2 terkutuk itu. Kemudian ia kembali ke
biara tua untuk menemui Ang Nio Cu.
Sesosok tubuh langsing tengah tegak memandang
mentari pagi yang baru timbul di ufuk timur. Rupanya
semangat dan perhatian orang itu seperti tercurah
sepenuhnya sehingga ia tak tahu kalau Cu Jiang sudah
berada di belakangnya.
Cu Jiang menduga tentulah Ang Nio Cu itu sangat
berduka sekali atas peristiwa yang menimpa diri Ho Kiong
Hwa.
"Taci, aku sudah kembali," akhirnya ia berseru.
"Ih ..." Ang Nio Cu menghela napas dan pelahan-lahan
berputar tubuh.
Cu Jiang tak berani beradu pandang dengan Ang Nio
Cu. Ia merasa sinar mata nona itu benar2 menghancurkan
hati.
"Adik." akhirnya beberapa saat kemudian Ang Nio Cu
berkata dengan suara rawan. "semula dunia ini terasa indah
sekali, siapa tahu ternyata hanya impian di musim semi."
"Taci."
"Sejak dahulu kala, wanita cantik tentu bernasib jelek.
Kiong Hwa memang kasihan sekali."
"Nasib telah menggariskan jalan hidup yang kejam
terhadap dirinya."
"Adik. bagaimana hasilmu ke markas iblis itu ?"
"Kedua iblis itu sudah kucincang dan markasnya
kubakar!"
"Terima kasih engkau telah membalaskan sakit hati
Kiong Hwa."
"Ah, mengapa taci mengatakan begitu. Sudah tentu hal
itu merupakan kewajibanku!"
"Adik .. . apakah engkau dapat mengijinkan dia
bersemayam dalam hatimu untuk selama lamanya ?"
Sepasang mata Cu Jiang memancar terang dan dengan
nada bersungguh dia berkata. "Taci, aku hendak bertanya
beberapa hal kepadamu."
"Apa ?"
"Apakah hubungan taci dengan Ho Kiong Hwa?"
Ang Nio Cu tercengang.
"Sudah tentu amat erat sekali, hampir seperti diriku
sendiri."
"Ah, dalam hubungan apakah itu?"
"Adik, hal itu kelak akan kuterangkan lagi kepadamu."
Cu Jiang tak berani mendesak lebih lanjut.
"Taci. tolong kasih tahu dimana beradanya Ho Kiong
Hwa saat ini .... "
"Buat apa?"
"Aku harus mencarinya."
"Engkau.... masih mau mencarinya?"
"Kenapa taci heran? Bukankah dia itu isteriku? Tali
hubungan itu tentu tak dapat diputuskan selama-lamanya."
"Adik, dia sudah bukan isterimu lagi. Tali pernikahan itu
sudah putus."
"Tidak! Aku tidak setuju! Aku tetap akan menjadi suami
isteri untuk selama-lamanya dengan dia. Tak ada alasan
mengapa aku harus membuangnya. Apakah itu
kesalahannya? Tidak, dia tak bersalah, dia mendapat
kecelakaan . . ."
"Adik," kata Ang Nio Cu dengan gemetar. "dia bukan
lagi sesuci dia yang dulu, dia laksana permata yang sudah
pecah . . ."
"Apakah dia merasa rendah diri begitu? Tidak! Yang
ternoda hanya tubuhnya tetapi jiwanya masih tetap suci
bersih. Kuanggap dia tak beda dengan dulu. Yang berbeda
hanya dia mempunyai penderitaan hatin tetapi kini
musuhnya sudah terbunuh. Tak perlu dipikirkan lagi. Yang
lampau biarlah lalu ..."
"Adik, kata-katamu itu ... tentu akan menghiburnya
sampai mati."
"Taci, dimanakah tempatnya?"
"Tak perlu engkau mencarinya. Dia sudah menentukan
keputusan. Jika engkau mencarinya, hanya akan
menambah derita hatinya saja."
"Taci, kumohon engkau ..."
"Tetapi akupun tak tahu ke mana perginya. Dia hanya
mengatakan bahwa sejak saat ini dunia sudah tak ada lagi
manusia yang bernama Ho Kiong Hwa . . ."
"Ah, tentulah taci tak mau memberitahu kepadaku!"
"Adik yang baik, sudahlah, lupakan saja dia!"
"Tidak! Tak mungkin aku melupakannya!" teriak Cu
Jiang dengan kalap, "aku tak dapat melupakannya, tidak
dapat melupakannya!"
Nadanya amat tegas bagaikan paku menancap di kayu.
Betapapun dingin atau keras hati seseorang tentu akan
trenyuh juga mendengar ucapan itu.
Ang Nio Cu menghela napas: "Adik, mari kita ke
gunung Keng-san."
Cu Jiang mengangguk: "Baik, apabila urusanku sudah
selesai, ke ujung duniapun aku tetap akan mencarinya!"
"Ah, cintamu itu hanya tinggal kenangan belaka."
"Tidak, cinta itu tetap akan kulanjutkan sampai kapan
pun juga."
"Adik, kita berpencar saja dan ketemu lagi di mulut
gunung Keng-san."
"Apakah tidak baik bersama-sama saja?"
"Kurang leluasa. "
"Setelah memasuki gunung, kita akan menyerang secara
terang-terangan atau..."
"Secara terang-terangan saja tak perlu pakai tedeng
aling2."
"Baik."
"Silakan berangkat dulu, aku hendak tinggal disini
beberapa jenak lagi. Tiga tetua angkatan terdahulu,
bertahun-tahun mengikuti aku. Sekarang mereka telah
tiada, sudah selayaknya kalau aku tinggal beberapa waktu
lagi untuk mengenang mereka ... ."
Cu Jiang terharu. Perpisahan memang merupakan
peristiwa yang mengharukan hati. Baik pisah hidup
maupun karena meninggal.
"Taci, dari sini aku akan melalui Tang yang, Wan-an lalu
menuju ke Keng-san. Kita bertemu didesa gunung itu."
Ang Nio Cu mengiakan dan Cu Jiangpun segera minta
diri. Dia pergi dengan membawa hati yang hancur sehingga
lupa makan dan lupa segala. Hari itu dia hanya mampu
mencapai jarak sepuluhan li. Disebelah muka tampak
sebuah bukit tanah merah.
Ketika ia melintasi jalan yang membelah tengah2 bukit
itu, tiba2 dari jauh terdengar suara harpa. Dia terkejut dan
sadar dari lamunannya. Ia memasang telinga dan
memperhatikan bahwa suara harpa itu berasal dari arah
kanan tak jauh dari bukit itu.
Harpa itu aneh sekali suaranya. Nadanya seperti orang
yang baru belajar, menusuk telinga menyebabkan hati
kacau dan perasaan tak keruan.
Memandang ke muka, tak berapa jauh ia melihat
gulungan asap mengepul dari arah bukit itu. Sejenak
berhenti, Cu Jiang melanjutkan langkah lagi. Tiba2 suara
harpa itu berobah, nadanya penuh dengan hawa
pembunuhan sehingga perasaan Cu Jiang tak enak dan
darah dalam tubuhnyapun ikut bergolak. Dia terkejut dan
hentikan langkah. Suara harpa itu memang menimbulkan
kecurigaan.
Sesaat kemudian timbulkan keinginannya untuk
mengetahui. Setelah menenangkan semangat dan perasaan,
dia segera menuju ke arah kepulan asap. Tiba2 harpa
berhenti.
Melintasi sebuah gundukan tinggi, pemandangan di
sebelah muka membuatnya terkejut. Tampak api unggun
yang berasal dari tiga batu yang dijajar, di atas batu itu
digantung sebuah kuali besar yang airnya mendidih. Asap
dan uap air mendidih itu bergulung-gulung campur jadi
satu.
Disamping api unggun itu duduk seorang nenek tua baju
kuning. Wajahnya seperti burung dara, rambutnya yang
putih sudah banyak yang rontok. Dia tengah mendekap
sebuah harpa. Matanya memejam, diam tak berkutik.
Dengan rasa heran Cu Jiang menghampiri. Ia melihat
jelas tubuh nenek itu menyerupai pohon jeruk yang layu,
sepasang tangannya seperti cakar burung, kuku panjang dan
runcing, kulitnya mengeriput. Sukar menentukan usianya.
Entah apa yang sedang dilakukan nenek itu tetapi
didengar dari petikan harpa tadi tentulah nenek itu seorang
persilatan.
Karena sampai beberapa jenak nenek itu tetap tak
bergerak, Cu Jiangpun tak sabar, tegurnya:
"Pohpoh, apakah yang sedang engkau lakukan?"
Kelopak mata nenek agak terbuka dan dari celah selaput
matanya memancar sinar yang membuat Cu Jiang terkejut
sekali. Sinar mata nenek itu jelas menunjukkan seorang
yang memiliki tenaga dalam yang tinggi.
"Siapa engkau?" seru nenek itu.
"Orang2 menyebut diriku sebagai Toan-kiam-jan-jin."
"O, Toan-kiam . . . jan-jin!"
"Pohpoh, menggodok kuali besar . . ."
"Menggodok orang!"
Cu Jiang melonjak kaget: "Apa? Menggodok orang?"
Nenek itu membuka kelopak mata dan menyahut dingin:
"Benar, menggodok orang!"
"Buat apa?"
"Dimakan."
Cu Jiang mendelik, serunya: "Ah, mengapa nenek
bergurau?"
Nenek itupun deliki mata dan napasnya memburu keras,
serunya: "Sudah hidup seabad, perlu apa aku bergurau
dengan seorang bocah yang belum tulang bau susu ibunya
seperti engkau!"
Cu Jiang menyurut mundur selangkah. Memandang
kuali besar dan berseru penuh keheranan: "Pohpoh
memasak orang untuk dimakan?"
"Ya."
"Siapa yang pohpoh masak itu?"
"Dia datang sendiri."
Hampir Cu Jiang tak percaya pendengarannya. Belum
pernah ia mendengar orang yang memasak makanan dari
tubuh orang. Jika nenek itu seorang gila, ah, tentu
berbahaya sekali bagi keselamatan dunia persilatan. Tetapi
mengapa dia belum pernah mendengar dalam dunia
persilatan terdapat tokoh yang suka makan orang?"
"Siapa nama pohpoh yang mulia?" tanyanya.
"Pertandaanku yalah harpa."
Cu Jiang tertegun lagi. Dia belum pernah mendengar
tokoh persilatan yang memakai ciri pertandaan harpa.
"Maafkan pengetahuanku yang sempit sehingga tak
mengetahui diri pohpoh."
"Ya, sudahlah."
"Mengapa tak tampak orang yang datang mengantar
diri?"
"Sudah datang."
"Di mana?"
"Engkau!"
Cu Jiang seperti disambar petir kejutnya sehingga dia
menyurut selangkah lalu berteriak:
"Aku ?"
Tiba2 nenek itu berdiri dan memandang Cu Jiang
dengan mata menyala: "Benar !"
"Pohpoh sudah memperhitungkan bahwa aku tentu
datang kemari ataukah karena melihat aku datang lalu
hendak menggodok diriku?"
"Aku memang sengaja menungguimu."
Cu Jiang menggigil, serunya: "Pohpoh memang sengaja
menunggu kedatanganku?"
"Ya, benar!"
"Tetapi kitakan belum pernah kenal?"
"Siapa bilang? Engkau telah berhutang banyak sekali
peristiwa berdarah, harus membayar."
"Ini ... . bagaimana jelasnya?"
"Engkau akan masuk ke dalam kuali itu sendiri atau
perlu aku harus turun tangan?"
"Apakah omongan pohpoh ini sungguh2?"
"Mengapa tidak?"
Serentak bergeloralah darah Cu Jiang. Hawa
pembunuhan merangsang dadanya.
"Harap memberitahu siapa pohpoh ini?" teriaknya.
"Sudah kukatakan, pertandaan diriku ialah harpa, kalau
engkau tak tahu. Jangan banyak omong lagi!"
"Aku berhutang darah apa kepada pohpoh?"
"Bagaimana nasib dari kawanan Sip-pat-thian-mo itu?"
Seketika sadarlah Cu Jiang. Ia tertawa nyaring: "Oh,
kiranya engkau salah seorang komplotan kawanan iblis itu.
Bagus, aku gembira dapat membasmi seorang kutu penyakit
. . . . "
Nenek itu mendengus: "Asal sudah tahu saja, agar kalau
mati jangan engkau menjadi setan penasaran !"
Tiba2 Cu Jiang teringat akan kata2 suhunya bahwa
dibelakang kawanan Sip pat-thian-mo itu, masih terdapat
beberapa iblis tua. mungkin sudah mati. Tetapi kalau
mereka masih hidup, tentu sukar dihadapi.
Ia duga, nenek ini tentulah salah seorang dari iblis tua
yang berdiri dibelakang Sip pat-thian-mo.
Teringat akan hal itu. Cu Jiang berseru dingin : "Sebagai
tokoh dibelakang Sip-pat-thian-mo, sudah lama aku
mengagumi pohpoh !"
Menuding pada kuali yang mendidih, nenek itu berseru
seram: "Bocah, engkau turun sendiri, tentu lebih nyaman.
Kalau suruh aku turun tangan, engkau tentu mati secara
pelahan !"
Cu Jiang mengertek gigi, serunya: "Mungkin akulah
yang hendak meminta engkau terjun kedalam kuali itu !"
"Mana orang2 ini !" teriak nenek itu dan serentak dua
sosok bayangan muncul dari balik gunduk bukit disebelah.
Cepat sekali mereka sudah melesat tiba.
Dua orang lelaki bertubuh kekar dengan wajah
menyeramkan. Yang satu memanggul tiga batang kayu,
yang satu membawa tali.
Tanpa bicara apa2 mereka terus mengikat ketiga batang
kayu itu dalam bentuk segi tiga, lalu dipasang diatas kuali
dan diberi gantungan tali. Setelah itu keduanyapun
mundur.
Menunjuk pada tiang segi-tiga, si nenek berseru pula:
"Bocah, engkau hendak kugantung diatas tiang itu lalu
pelahan-lahan kuturunkan kedalam kuali. Nah. engkau
dapat merasakan sendiri betapa rasanya kalau digodok
dengan pelahan-lahan itu!"
Cu Jiang mendengus dingin: "Asal engkau mampu
melakukan, akupun tak menghiraukan harus mati dengan
cara apa saja !"
"Bagus, nyalimu sungguh besar." seru nenek itu. "aku tak
dapat menemukan cara lain lagi, bagaimana harus
menyuruhmu mati secara lebih menderita lagi . . ."
"Nenek tua, kata-katamu itu terlalu pagi engkau
ucapkan. Nanti saja apabila engkau sudah berhasil
meringkus aku, barulah engkau boleh bergembira!"
"Bocah edan, rupanya aku terpaksa harus turun tangan . .
."
"Silakan !"
Cu Jiang mencabut pedang kutung dan pasang kuda2. Ia
percaya nenek itu tentu lebih lihay dari gerombolan Sip-patthian-
mo. Dia tak berani memandang sepele. Dia
pancarkan tenaga penuh hingga pedang itu memancarkan
hawa yang menyeramkan.
Nenek itupun harus melintangkan harpa, matanya
memancarkan sinar pembunuhan yang buas.
Suasana tempat itu sunyi senyap. Keduanya sama2 maju
dua langkah dan mencapai jarak yang dapat dilakukan
pertempuran.
Cu Jiang telah mempersatukan semangat, pikiran, tenaga
dan pedang menjadi satu. Baru sekali itu dia benar2 harus
menumpahkan seluruh semangatnya untuk menghadapi
musuh.
Mungkin nenek itu terlalu memandang rendah lawan
atau mungkin dia terlalu membanggakan diri. Setelah
merenung diapun mendesuh lalu menghantamkan harpanya
dari samping. Gerakannya tampak biasa2 saja tetapi
sebenarnya mengandung perubahan2 yang sukar diduga
dan ditaksir.
Cu Jiangpun ayunkan pedang untuk melawan keras
dengan keras. Tring .., keduanya menyurut mundur
selangkah.
Saat itu Cu Jiang baru mengetahui bahwa harpa nenek
itu terbuat daripada baja murni. Diam2 dia terkejut. Tenaga
yang terpancar dari harpa itu sedahsyat gunung rubuh
sehingga tangan Cu Jiang kesemutan.
Diam2 ia terkejut dan mengagumi nenek itu. Yang
mampu menerima Jurus Thian-te kau thay, barulah nenek
itu saja.
Nenek itu juga mengetahui kesaktian Cu Jiang. Diapun
terkejut tetapi cepat dia sudah tenang kembali.
"Hait.... !" terdengar lengking dan gemboran ketika
kedua senjata beradu lagi. Kali ini Cu Jiang yang
melancarkan serangan. Setelah itu keduanya menyurut
mundur lagi.
Tetapi keadaannya agak berbeda. Baju nenek itu dari
bahu sampai keujung lengan telah rompal sehingga
lengannya yang kurus kering tampak tergurat dengan
goresan pedang yang memanjang.
Kali ini nenek itu benar2 marah bukan kepalang
sehingga rambutnya sama tegak berdiri. Wajahnya yang
penuh keriput itu makin menyeramkan. Harpa bergetargetar
mendengung.
Cu Jiang meningkatkan kewaspadaannya.
Kembali terdengar pekik dan gemboran ketika keduanya
berhantam lagi. Bayangan harpa menggunduk seperti
gunung, sinar pedang bertebaran seperti awan. tring, tring . .
Sejurus, dua jurus, tiga jurus. Ternyata tenaga
kepandaian keduanya hampir berimbang. Dalam
pertempuran maut itu, keduanya telah menghamburkan
tenaga dalam yang menakjubkan. Tiada ampun lagi dalam
pertempuran itu kecuali salah seorang roboh.
Tring .... terdengar dering keras sekali disusul oleh erang
tertahan. Cu Jiang sempoyongan sampai lima enam
langkah baru dapat berdiri tegak.
Kain kerudung mukanya hampir separoh telah basah
dengan darah. Pedang kutung menjulai kebawah dan
napasnya tersengal-sengal keras.
Nenek itu juga tersurut mundur sampai dua meter, mulut
menyembur darah dan harpapun jatuh ke tanah.
Keadaannya lebih mengerikan. Kedua lelaki kekar tadi
hanya terlongong-longong kaget.
Cu Jiang cepat2 mengatur pernapasannya. Beberapa saat
kemudian dia sudah dapat bergerak, mengangkat pedang
dan menghampiri ke tempat nenek itu.
"Nenek, ambillah harpamu agar engkau dapat menyerah
dengan hati puas," serunya.
Wajah si nenek yang penuh keriput tampak
berkerenyutan. Dia melangkah maju memungut harpa lalu
mundur beberapa langkah. Sepasang matanya tetap berapiapi
memandang Cu Jiang,
"Toan kiam jan-jin, engkau satu-satunya musuh tangguh
yang pernah kujumpai seumur hidup. Beranikah engkau
mendengar petikan harpaku?"
"Silakan! "sahut Cu Jiang dengan angkuh. Si nenek terus
duduk bersila dan melintangkan harpa dipangkuan.
Matanya menunduk dan jari jarinya yang menyerupai cakar
burung itupun mulai meraba senar harpa, trung
Bagaikan suitan nyaring yang berasal dari langit.
Seketika gundahlah hati Cu Jiang. Buru2 dia menenangkan
pikiran dan mengarahkan tenaga-murni untuk melawan.
Tring, tring, trung. trung . . . . Makin lama harpa makin
deras. Nadanya mengandung kumandang rintihan setan.
Cu Jiang menggerenyet gigi, mengeraskan semangat untuk
menahan darah yang bergolak keras.
Suara Harpa makin deras dan riuh. Bagai langit berputar,
bumi bergetar dan badai prahara mengamuk, gelombang
tam menghempas dahsyat. Dunia seakan kiamat ....
Seperminum teh lamanya, sekonyong-konyong suara
harpa itu berhenti. Cu Jiang rasakan tenggorokannya
manis- anyir, ia muntahkan segumpal darah segar. Bajunya
basah kuyup dengan keringat.
Brungng .... harpa nenek itu tiba2 jatuh ke tanah.
Mulutnya mengalir darah dan sinar matanya pun redup.
Setelah mengusap darah di mulut, Cu Jiang melangkah
ke tempat nenek itu, serunya:
"Pohpoh, engkau ingin mati dengan pedang ini atau
turun mencebur ke dalam kuali itu sendiri?"
Nenek itu meraung-raung. "Budak, engkau menang,
hayo bunuhlah aku."
Sejenak Cu Jiang memandang ke arah kuali yang masih
mendidih itu. Dilihatnya kedua lelaki gagah tadi sudah
terkapar tak bernyawa. Jelas mereka mati karena suara
harpa maut tadi.
Memandang kembali ke arah nenek, Cu Jiang berkata.
"Pohpoh, kalau menggodokmu itu kelewat tak berperi
kemanusian. Lebih baik kuantar dengan pedang saja!"
"Bunuhlah! Jangan . . . banyak omong!"
Cu Jiangpun segera mengayunkan pedang dan nenek itu
pejamkan mata menunggu maut.
Tetapi pada saat pedang hampir mendarat di leher si
nenek, tiba2 Cu Jiang menghentikannya. Melihat rambut
yang sudah putih dan banyak yang rontok di kepala si
nenek, hati Cu Jiang tak tega.
Seorang nenek yang sudah begitu tua renta, masih dapat
hidup berapa tahun lagi?
"Mengapa tak lekas turun tangan? Engkau hendak
mengapakan diriku?" seru si nenek.
Cu Jiang menarik pedangnya dan berseru dingin:
"Engkau sudah di tepi lubang kubur. Aku tak tega
membunuhmu, kali ini kuampuni jiwamu . . ."
"Tutup mulutmu! Aku tak sudi menerima ampunmu!"
"Tidak, aku sudah terlanjur berkata, takkan kutarik
kembali. Kalau mau mati, silahkan engkau bunuh diri
sendiri !"
"Jahanam ..."
"Hanya satu hal yang pasti akan kulakukan. Yaitu ilmu
kepandaian yang membuat engkau melakukan kejahatan itu
harus kulenyapkan..."
"Engkau berani?"
Sebagai jawaban Cu Jiang acungkan jarinya untuk
menotok. Nenek itu mengerang ngeri dan berguling-guling
ke tanah.
"Pohpoh, sekarang engkau boleh tenang2 melewatkan
sisa hidupmu!"
Nenek itu menggeliat duduk dan bergumam dengan
sedih:
"Sungguh tak kira, aku Harpa penyambar nyawa, yang
begitu ditakuti dunia, sekarang harus hancur di tangan
seorang bocah yang tak ternama ...."
Mendengar kata2 itu terkejutlah Cu Jiang. Nama Harpapenyambar
nyawa itu rasanya dia pernah mendengar tetapi
ia lupa entah di mana.
Ah, benar. teringat dahulu mendiang ayahnya pernah
menceritakan bahwa dalam dunia persilatan memang
terdapat sepasang iblis besar yakni Harpa-sambar nyawa
dan Genderang-pelelap-jiwa. Kedua iblis itulah yang
menghabiskan jago2 dari lima partai persilatan besar.
Cu Jiang benar2 tak menduga bahwa nenek yang
dihadapannya itu tak lain adalah Toh Hun pi-peh atau
nenek Harpa-penyambar nyawa. Nenek itu tentu sudah
berumur 100 tahun lebih. Apakah Jui-beng-to itu
Genderang pelelap nyawa itu, apakah masih hidup dalam
dunia?
"O, kiranya engkau tak lain adalah Toh-hun-pi peh yang
melakukan kejahatan setinggi gunung. Sebenarnya kalau
kubunuh mati itu sudah jauh lebih murah menilik dosamu.
Tetapi biarlah kali ini kuampuni asal engkau masih dapat
hidup untuk menebus dosamu." seru Cu Jiang.
"Budak hina, sungguh tak kukira siapa manusia dalam
dunia persilatan yang mampu mengajarkan ilmu kesaktian
begitu hebat kepadamu ..."
"Kalau tak dapat menduga, ya sudahlah !"
"Jangan bermulut besar ! Kelak pasti akan terdapat
seseorang yang akan membereskan Jiwamu !"
"O. si Jui-beng-ko itu ?"
"Benar."
"Jangan kuatir, kalau dia tak bertemu aku, aku akan
mencarinya."
"Engkau .. . mengapa bermusuhan dengan Sip pat thianmo?"
"Untuk memulihkan kesejahteraan dunia persilatan."
"Aku tak punya waktu, sampai jumpa !" habis berkata
Cu Jiang terus melanjutkan perjalanan. Diam2 dia masih
merata terkejut. Kiranya gerombolan Sip- pat thian mo itu
adalah murid2 dari sepasang iblis Toh hun-pi-peh dan Juibeng-
ko. Jika kedua momok itu berada disitu, tak mungkin
dia mampu mengalahkan mereka.
Setelah dapat melakukan pembalasan di gunung Kengsan
lalu menghancurkan markas Thong-thian kau di kota
Pek te-shia, tugasnya yang penting telah selesai. Sisanya dia
dapat mempergunakan untuk jejak calon isterinya Ho
Kiong Hwa.
Diapun juga terkenang kepada si dara baju hijau Ki Ing
atau tepatnya bernama Cukat Bengcu. Diam2 ia heran atas
kesalahan faham dari Tionggoan-tay-hiap Cukat Giok atau
ayah dari nona itu yang mengira bahwa yang mencelakai
dirinya adalah si Buddha - hidup - Sebun Ong. Padahal jelas
isteri dari Cukat Giok itu kini telah diperisteri oleh ketua
Gedung Hitam. Dalam peristiwa itu tentu terjadi sesuatu
yang masih gelap.
Saat itu haripun sudah mulai gelap. Tiba2 ia mendengar
jeritan nyaring yang mengerikan memecahkan kesunyian
malam. Cu Jiang terkejut dan cepat2 lari menuju ke arah
tempat itu.
Ia tiba di sebuah anak sungai di tengah hutan. Di
seberang anak sungai itu tampak sebuah pemandangan
yang membuatnya marah sekali. Wanita gemuk atau Poan
toanio beserta dua anggauta pengawal Su-tay-kojiu yakni Ki
Siau Hong dan Ko kun sedang dikepung oleh kawanan
orang yang tak dikenal. Sedang puteri dari Tayli tak tampak
bayangannya. Di tengah gelanggang pertempuran itu sudah
rebah empat orang baju busu.
Dalam pertempuran itu ada sebuah pemandangan yang
menyebabkan darah Cu Jiang naik seketika. Dalam
lingkaran kepungan orang2 itu, Poan toanio bertiga telah
bertempur dengan Ratu- bunga Tio Hong Hui dan putrinya,
dibantu oleh dua orang lelaki tua baju hitam. Dengan
demikian jelas bahwa gerombolan yang mengepung itu
tentulah dari pihak Gedung Hitam.
Cu Jiang serentak hendak muncul tetapi tiba2 ia
mendapat pikiran dan menahan diri. Dia hendak
memperhatikan keadaan di seberang itu dengan lebih jelas
lagi. Yang menjadi pemikirannya, mengapa puteri tak
berada dengan Poan toanio ?
Di belakang tepi anak sungai itu terdapat sebuah
gerumbul hutan pohon yang melingkari tiga buah rumah
pondok. Rumah itu memancarkan penerangan.
Saat itu bintang2 bermunculan di angkasa sehingga
pertempuran itu dapat dilihat jelas. Sesaat terdengar Ratu
bunga Tio Hong Hui tersenyum.
"Putri negeri Tayli berkunjung ke Tionggoan, masa kami
dari pihak Gedung Hitam tak menyambutnya." serunya.
"Jika kalian berani mengganggu kongcu, kelak tentu
akan menerima pembalasan yang mengerikan." seru Poan
toanio.
Mendengar itu tercekatlah hati Cu Jiang. Dengan begitu
jelas puteri telah jatuh di tangan musuh. Kedua pengawal
dari Tayli, Ki Siau Hong dan Ko Kun, telah mendapat
perintah agar merahasiakan diri. Tetapi karena saat itu
mereka terang2 muncul dan bertempur dengan musuh,
tentulah karena keadaan sudah gawat sekali.
"Cu Heng ih, karena engkau mempunyai rejeki besar dan
banyak pengalaman, tentulah diangkat menjadi inang besar
di negeri Tayli," seru Tio Hong Hui lagi.
"Tio Hong Hui." teriak Poan toanio, "hendak kalian
mengapakan kongcu kami?"
"Tidak apa2," sahut Tio Hong Hui tenang2, "pihak kami
hanya ingin menjamunya sebagai tetamu agung. Asal raja
Toan Hong ya mau memberikan kitab Giok-kah kim-keng,
setiap saat kongcu boleh kembali ke negeri Tayli!"
"Engkau ngimpi!"
"Bukan, aku tidak bermimpi tetapi itu memang
kenyataan."
"Engkau kira Tayli mau tunduk pada tuntutanmu itu?"
"Demi keselamatan kongcu, lebih baik kita tak saling
merusak persahabatan."
"Engkau kira mampu melakukan hal itu?"
"Kukira bisa."
"Engkau mengira Tayli tak mempunyai jago?"
"Cu Heng Ih, meskipun engkau mengatakan begitu,
tetapi aku tak dapat merobah apa yang telah kukatakan.
Kedua sahabatmu itu boleh kembali ke Tayli untuk
menghaturkan laporan tetapi engkau .... harus tetap tinggal
di sini."
"Apa?"
"Anak keponakanmu si Toan kiam jan jin itu apabila
tahu kalau engkau bertamu di gedung kami tentu akan
datang, ha, ha, ha .... "
"Tio Hong Hui, jangan buru2 bergiring dulu. Apakah
engkau yakin dapat menjamin dirimu bakal pulang dengan
selamat?"
"Tentu !"
"Engkau mempunyai keyakinan begitu?"
"Tentu saja karena saat ini mungkin kongcu sudah
berada di Gedung Hitam!"
Mendengar itu serasa terbanglah semangat Cu Jiang.
Ternyata kongcu sudah ditawan oleh orang2 Gedung
Hitam untuk dijadikan sandera. Dia harus bertindak. Kalau
terlambat dan sampai terjadi sesuatu dengan diri kongcu,
bagaimana kelak dia harus memberi pertanggungan jawab
di hadapan baginda Toan Hong-ya?
Wajah Poan toanio berobah seketika.
"Kalian berdua tentu sudah jelas." seru Tio Hong Hui
kepada Ki Siau Hong dan Ko Kun. Kami minta agar
kongcu ditukar dengan kitab Giok kah kim keng. Silakan
kalian pergi dan kami pujikan supaya selamat tiba di negeri
Tayli!"
Dengan mengertek gigi Ki Siau Hong berseru:
"Hujin, kelak engkau pasti menyesal."
"Ah takkan begitu, " Tio Hong Hui tersenyum.
"Hujin, tunggu dan lihatlah saja nanti," seru Ko Kun
"Ya, kami tentu akan menunggu kabar baik dari kalian."
Tio Hong Hui berseru lagi.
"Aku hendak mengadu jiwa dengan engkau." tiba2 Poan
toanio berteriak kalap dan terus maju menyerang. Tetapi
salah seorang dari lelaki tua baju hitam itu segera
songsongkan tangan dan Tio Hong Hui pun menyurut
mundur.
Poan toanio bertempur seru melawan lelaki tua baju
hitam itu. Diam2 Cu Jiang terkejut dan kagum
menyaksikan kepandaian dari wanita gemuk yang menjadi
bibinya itu. Baru kali itu ia mengetahui kepandaian dari
bibinya
"Bukan urusan kalian, silakan pergi!" seru Tio Hong Hui
kepada kedua pengawal dari Tayli.
Tampak wajah Ki Ing yang berada di samping, mengerut
tak puas atas sikap mamanya.
Melihat itu Cu Jiang tak dapat bersabar lebih lama.
Setelah dia ayunkan tubuh melayang melewati anak sungai
kecil itu. Selekas menginjak tepi, dia ayunkan lagi kaki
untuk melayang kedalam kepungan.
"Hai siapa itu ?"
"Huak..." lelaki tua yang bertempur melawan Poan
Toanio. serentak roboh dan di gelanggang pertempuran
telah bertambah dengan seorang bertutup muka dan
mencekal pedang kutung.
"Toan kiam-Janjin !" serempak terdengar pekik kejutan.
Poan toanio, Ki Siau Hong dan Ko Kun berobah girang
bukan kepalang. Wajah Tio Hong Hui berobah wajahnya.
Ki Ing kerutkan alis. Sekalian anak buah Gedung Hitam
yang berada di tempat itupun pucat.
0oodwoo0
Cu Jiang langsung menghampiri ke hadapan Tio Hong
Hui dan berseru dengan dingin:
"Nyonya Gedung Hitam, selamat bertemu lagi."
Tio Hong Hui menyurut mundur dua langkah.
"Toan kiam-jan-Jin. engkau benar2 panjang umur!"
serunya.
"Kalau aku tak panjang umur. habis siapa yang akan
membereskan kalian kawanan kurcaci ini semua?" seru Cu
Jiang.
"Apa kehendakmu ?"
"Tidak menghendaki apa2. Lebih dulu bebaskan dulu
puteri ?"
"Kalau tidak?"
"Semua orang-orangmu yang berada di tempat ini pasti
tak ada satupun yang hidup!"
"Rupanya engkau juga mempunyai hubungan dengan
negeri Tayli ?"
"Sudahlah. Jangan banyak bicara !"
"Kongcu sudah dibawa ke Gedung Hitam, bagaimana ?"
"Sederhana sekali. Akan kurebut kembali puteri itu dan
nyawaku sebagai tebusannya !"
"Apakah semudah itu ?"
Cu Jiang berpaling kearah bibinya: "Toanio, kapan
kongcu dilarikan ?"
"Kemarin pagi."
"Saudara Song Pek Liang Juga sudah mengejar ke sana.
Di sepanjang Jalan tentu dia meninggalkan jejak pengenal."
kata Ki Siau Hong.
Cu Jiang menimang-nimang. Dia dapat mencapai
markas Gedung Hitam di gunung Keng-san dalam satu
hari. Maka ia mengangguk, serunya:
"Toanio. Ki-heng dan Ko-heng, bersiaplah untuk
membantai kawanan anjing2 ini !"
Habis berkata. Cu Jiang melirik kearah Ki Ing dengan
pandang meminta maaf. Kemudian berkata bengis kepada
Tio Hong Hui:
"Apakah aku harus menyebutmu sebagai nyonya
Gedung Hitam atau nyonya Cukat ?"
Mendengar itu seketika wajah Tio Hong Hui pucat lesi.
Ki Ing pun terkejut memandang pada pelajar baju putih
yang pernah mencuri hatinya itu.
Cu Jiang tertawa dingin, Katanya pula: "Tio Hong Hui,
karena hendak mencari engkau, beberapa kali aku hampir
kehilangan nyawa!"
"Engkau .. . hendak mencari aku !"
"Benar."
"Perlu apa?"
"Heh, heh, aku melakukan permintaan orang untuk
menyerahkan barang kepadamu!"
"Barang apa ?" Tio Hong Hui makin tegang.
"Kalau sudah melihat engkau tentu tahu sendiri," sahut
Cu Jiang, lalu mengambil dompet titipan dari Ko-tiong-jin
atau Orang-dari lembah yaitu Tiong-goan thayhiap atau
pendekar besar dari Tionggoan, Cukat Giok.
Dia menjepit benda itu dengan kedua jari tangan kirinya,
serunya:
"Kenalkah engkau akan benda ini ?"
Gemetar tubuh Tio Hong Hui dan wajahnya makin
pucat. Dia berpaling kepada puterinya "Nak, masuklah
kedalam pondok itu!"
"Mengapa?" Ki Ing terkejut.
"Turutilah kata-kataku. Keadaan sudah sangat genting,
aku tak menghendaki engkau terlibat dalam bahaya !"
"Apakah .... begitu?"
"Anakku, apa maksudmu ?"
"Aku tetap akan tinggal disini."
"Kusuruh engkau tinggalkan tempat ini."
"Tidak !" sahut Ki Ing dengan mantap.
"Puteri nyonya seharusnya hadir disini."
"Engkau hendak menjadikannya sandera dan hendak
menukar dengan puteri Tayli itu?"
"Nyonya, engkau tentu tahu bahwa aku tak akan berbuat
begitu."
"Budak perempuan, mengapa engkau masih tak mau
pergi !" teriak Tio Hong Hui.
"Tak mau !"
"Nyonya, biarlah dia hadir disini..." kata Cu Jiang.
"Toan-kiam-jan-Jin baiklah, engkau hendak mengatakan
apa ?"
"Silakan nyonya mengatakan dulu kenal atau tidak
dengan benda ini ?"
"Kenal!"
"Bagus," Cu Jiang mengangguk, "suami nyonya Cukat
tayhiap, minta tolong kepadaku untuk menyerahkan benda
ini kepadamu !"
"Apa maksudnya ?"
"Serahkan kemari!"
"Tunggu dulu, aku hendak bertanya....*"
"Soal apa?"
"Bukanlah nyonya telah bersatu hati dengan Buddhahidup
Sebun Ong ? Mengapa nyonya menjadi isteri dari
ketua Gedung Hitam?"
Wajah Ki Ing mulai bergolak dan sepasang matanya
yang indah, mulut membulat.
Tio Hong Hui mulai berkeringat.
"Engkau tak perlu mengurus soal itu !" teriaknya
melengking.
"Kalau nyonya tak mau menerangkan, terpaksa aku
harus mencari lain bukti!"
"Apalagi kata Cukat Giok ?"
"Dia sudah tak dapat hidup lama lagi di dunia ini. Hanya
satu satunya yang masih menjadi ganjalan hatinya yalah
tentang benda ini."
"Serahkan kepadaku !" teriak Tio Hong Hui.
Cu Jiangpun terus melontarkan dan Tio Hong Hui
menyambutinya. Tubuhnya gemetar tak berkata apa-apa.
"Apakah nyonya tak mau membuka dan memeriksa
isinya ?" seru Cu Jiang.
Tio Hong Hui memandang dengan penuh dendam
kebencian kepada Cu Jiang lalu membuka bungkusan itu
dengan jarinya:
"Apakah isinya ?"
“Persembahan dari suami nyonya!"
"Apa ?" baru berkata begitu, wajah Tio Hong Huipun
berobah seketika dan cepat melemparkan bungkusan itu,
serunya: "Ra...cun..."
Dia terus rubuh terkulai di tanah. Sekalian orang
menjerit kaget. Dan Ki Ingpun terus hendak lari menubruk
mamanya.
Tio Hong Hui bergeliatan, meregang-regang. Menderita
kesakitan yang hebat. Mulutnya tak henti-hentinya merintih
dan mengerang-erang.
"Toan-kiam-jan-jin, engkau sungguh keji, menggunakan
cara yang begitu biadab!" tiba2 lelaki baju hitam tadi
membentak.
"Huak .,.." terdengar jeritan ngeri dan lelaki tua itu pun
rubuh mandi darah.
Poan toanio, Ki Siau Hong dan Ko Kun tertampak ikut
turun tangan. Karena Cu Jiang berada disitu sudah tentu
kawanan anak buah Gedung Hitam itu pecah nyalinya.
Mereka lari tunggang langgang.
Yang kepandaian rendah, harus meninggalkan tubuhnya
yang sudah tak bernyawa.
Cu Jiang tegak di samping Ki Ing yang menangisi
mamanya. Dia sedang merenungkan cara bagaimana
hendak memberi penjelasan kepada nona itu.
Tiba2 Poan toanio melesat dan terus menyambar Ki Ing:
"Ia dapat dijadikan penukar kongcu !"
"Toanio, lepaskanlah!" seru Cu Jiang.
"Mengapa?" Poan toanio terkejut.
"Jangan menjadikannya barang penukar kong-cu!"
"Kenapa tidak?"
"Aku pernah menerima budi pertolongannya
menyelamatkan jiwaku, " sahut Cu Jiang.
"Menarik garis tajam antara budi dan dendam memang
benar. Tetapi keadaan kongcu saat ini .... "
"Sukalah toanio lepaskan dia lebih dulu. "
"Keselamatan kongcu?"
"Aku akan mempertaruhkan jiwaku untuk
menolongnya."
Mendengar janji itu terpaksa Poan toanio mau
melepaskan Ki Ing.
Jelita itu tidak menangis. Tak mengucurkan setetes air
matapun juga. Wajahnya merah biru dan tiba2 dia meraung
kalap: "Engkau telah membunuh mamaku!" terus
menyerang Cu Jiang.
Pemuda itu menghindar dengan gerak langkah Gong
gong-poh hwat, sembari berseru:
"Nona, dengar dulu, aku hendak bicara ..”
Tetapi Ki Ing kalap. Dia menyerang makin hebat dan
melancarkan jurus2 maut. Karena berulang kali berseru
memberi peringatan tetap tak digubris, akhirnya Cu Jiang
balas menyerang, mencengkeram lengan si nona seraya
berseru:
"Dengarkan dulu aku hendak menceritakan tentang
peristiwa itu..."
"Tak perlu, engkau telah membunuh mamaku!" teriak Ki
Ing.
"Nona, aku hanya melaksanakan permintaan dari . . ."
"Tutup mulutmu ? Aku dapat menandingi engkau,
bunuh sajalah aku !"
"Tiada alasan aku harus membunuhmu . . ."
"Jika engkau tak mau membunuh aku, aku bersumpah
pada suatu hari tentu akan membunuhmu !"
"Dengarkan dulu keteranganku . . “
Ternyata Tio Hoag Hui masih belum mati. Tiba2 dengan
terputus-putus dia berseru:
"Anakku ... kemarilah ..."
"Lepaskan !" teriak Ki Ing dengan mata melotot.
Tertegun oleh sikap yang begitu berani dari si nona, Cu
Jiangpun melepaskannya. Nona itu menubruk dan
memeluk mamanya lalu mengangkatnya terus dibawa pergi
....
"Dengarkan dulu," cepat Cu Jiang melesat menghadang,
"aku harus memberitahu kepadamu bahwa engkau ini
sebenarnya berasal. ..”
"Enyah!!"
"Engkau harus mendengarkan keteranganku !"
"Tidak!!"
Wajah Tio Hong Hui saat itu sudah berobah kehitamhitaman.
Dengan terengah-engah wanita itu berkata
"Toan-kiam .... jan-jin tujuanmu ... telah tercapai .. . aku
. . , segera mati ... dia . . memang anak kandungku., .
biarlah aku dan anakku ... . pada saat terakhir . ..." sampai
disitu ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena
nyawanya putus.
Cu Jiang terlongong. Sementara Ki Ing terus
memondong tubuhnya dibawa lari.
"Sausu, engkau membiarkan dia lari?" seru Ki Siau
Hong.
Cu Jiang menghela napas: " Biarlah mereka ibu dan anak
dapat bersama dalam saat2 terakhir!"
" Apakah itu bukan budi pekerti seorang perempuan?"
"Aku mempunyai pertimbangan sendiri." Cu Jiang deliki
mata membentak marah.
"Jika kongcu sampai terjadi apa2, bagaimana kami atau
menghadap baginda dan Koksu?" Ko Kun menyeletuk.
"Kalian boleh membawa batang kepalaku!" sahut Cu
Jiang getas.
Mendengar penyahutan dan sikap Cu Jiang, kedua
pengawal dan Tayli itu leletkan lidah dan tak berani berkata
apa2 lagi.
"Nak, jangan membawa adatmu sendiri," seru Poan
toanio pula.
Cu Jiang terdiam sejenak lalu berkata:
"Sekarang juga aku hendak mengejar kongcu, toanio dan
kedua saudara itu boleh mengikuti secara diam2. Setelah
berhasil merebut kongcu, aku segera akan kembali. Karena
saudara berdua dan saudara Song Pek Liang sudah
mengunjuk diri, dan gerombolan Sip pat-thian mo pun
sudah tinggal separoh kurang. tak menguatirkan. Setelah
kubebaskan kongcu, kalian boleh mengantarkannya ke
Tayli."
Ki Siau Hong dan Ko Cun hanya mementang mata tak
menyahut.
"Toanio," kata Cu Jiang dengan nada menyesal,
"kuharap toanio bersama kedua saudara itu lebih dulu
berangkat. Aku hendak mengejar Tio Hong Hui dengan
puterinya itu, demi untuk menyelesaikan urusan yang orang
minta tolong kepadaku!"
"Nak, aku benar2 tak mengerti."
Terpaksa Cu Jiang menceritakan peristiwa dahulu ketika
dia dilempar musuh kebawah jurang, telah ditolong oleh
Ko-tiong Jin, Ternyata Ko-tiong-jin itu tak lain adalah
Tionggoan-tayhiap Cukat Giok yang kemudian minta
tolong kepadanya untuk mencari isteri dan putrinya.
"Tio Hong Hui dan nona itu tak lain adalah isteri dan
puteri dari Tionggoan-tay-hiap Cukat Giok." kata Cu Jiang.
"Oh," Poan toanio mendesuh kejut, "kiranya
demikianlah peristiwa itu."
"Toanio, aku segera akan mengejar jejak nona Beng Cu."
seru Cu Jiang terus melesat keluar dari pondok.
Poan toanio, Ki Siau Hong dan Ko Kun pun segara
tinggalkan tempat itu.
Cu Jiang terkejut ketika memandang ke empat penjuru
tak tampak barang seorangpun juga.
Ia masih mempunyai kewajiban untuk menyerahkan
kantong kain dari Cukat Giok kepada puterinya. Begitu
pula ia merasa wajib harus menerangkan asal usul diri Ki
Ing agar nona itu tidak salah paham.
Lari sampai empat lima li, tetap ia kehilangan jejak Ki
Ing yang membawa mamanya itu. Tak mungkin nona itu
mampu lari sejauh itu. Mungkin karena malam gelap, nona
itu bersembunyi. Kalau dia harus balik kembali untuk
mencari disekeliling tempat itu, tentu akan menunda
rencananya untuk membebaskan puteri Tayli.
"Ah, mungkin mereka telah dibawa olah anak buah
Gedung Hitam," akhirnya ia menarik kesimpulan lain.
Yang jelas Tio Hong Hui tentu sudah mati. Jika demikian
tentulah arah larinya nona itu juga menuju ke Gedung
Hitam.
Sekali dayung dua tepian. Pikir Cu Jiang. Dan diapun
harus memenuhi janji dengan Ang Nio Cu untuk bertemu
di Gedung Hitam. Demikian setelah menimang-nimang,
akhirnya ia hentikan pengejarannya dan terus menuju ke
jalan besar yang mencapai ke arah Gedung Hitam.
Menjelang terang tanah dia sudah mencapai seratusan li.
Dia berhenti makan disebuah warung ditepi jalan. Dan dia
melihat tanda rahasia yang ditinggalkan Song Pek Liang.
Setelah makan, cepat2 dia melanjutkan perjalanan lagi.
Dia tak menghiraukan pakaiannya yang berlumur percikan
darah. Sepanjang jalan dia menurutkan tanda2 rahasia yang
ditinggalkan Song Pek Liang. Sebelum tiba di kota Tongyang,
dia mengambil jalan kecil yang menuju ke kota
Wasan.
Pada hari ketiga, tiba2 tanda rahasia itu tak tampak lagi.
Dia heran dan kaget. Apakah dia yang kehilangan jejak
atau memang Song Pek Liang yang mendapat bahaya ?
Dia kembali ke tempat tanda rahasia yang terakhir dan
berusaha untuk menyelidiki sekitar tempat itu tetapi
hasilnya nihil.
Dia bingung juga. Putusnya tanda rahasia itu hanya
dapat terjadi dalam dua Kemungkinan. Pertama, memang
jejak pemburuan itu hanya sampai ditempat situ. Orang
yang dikejar, berhenti disekitar tempat itu. Hanya letaknya
yang belum diketahui benar2.
Kedua, Song Pek Liang tertimpah bahaya sehingga tak
sempat meninggalkan tanda rahasia. Dan kemungkinan
kedua itu memang besar kemungkinannya. Karena kalau
hanya kehilangan jejak yang dikejar, tentulah Song Pek
Liang masih sempat meninggalkan pertandaan rahasia.
Setelah menimang-nimang, akhirnya Cu Jiang
memutuskan untuk menyelidiki sekeliling tempat itu sampai
beberapa li. Jika tak berhasil, barulah dia akan menuju ke
gunung Kengsan.
Sejam lamanya dia menyelidiki sampai seluas lima li dari
tempat tanda rahasia itu, tetap dia tak berhasil menemukan
sesuatu. Dia bingung dan kecewa.
Jika kongcu sudah dibawa ke Gedung Hitam untuk
menekan baginda Tayli supaya menebus dengan kitab
pusaka Giok kah-kim keng, itu memang dapat dimaklumi.
Gedung Hitam sudah lama sekali menginginkan kitab itu.
Diam2 Cu Jiang heran mengapa suhunya. Gong-gong-cu
mengijinkan kongcu pesiar ke daerah Tiong-goan padahal
tindakan itu berbahaya sekali bagi keselamatan kongcu.
Tetapi semuanya telah berlangsung. Tak ada lain pilihan
kecuali harus berusaha untuk mendapatkan kongcu
kembali. Jika dia hendak menghadang kawanan anak buah
Gedung Hitam yang membawa kongcu itu, dia harus
merahasiakan diri.
Jika tidak, maka musuh tentu dapat mengetahuinya. Ah.
sayang mengapa tempo hari dia tak mau meminta beberapa
kedok muka dari si pencuri sakti Thian-put thau.
Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan masuk ke
kota kecil disebelah muka. Dia hendak menyaru dan
membeli perlengkapan sebagai seorang pemburu. Mungkin
kalau ia bertindak hati2 musuh tentu sukar mengetahui.
Segera ia lari. Beberapa waktu kemudian tiba2 ia
menemukan pertandaan rahasia lagi dari Song Pek Liang.
Tanda rahasia itu menyatakan bahwa Song Pek Liang telah
dikepung olah jago2 sakti dari pihak Gedung Hitam.
Melihat tanda rahasia itu. jelas Song Pek Liang telah
membuatnya dalam keadaan terburu-buru sekali. Tetapi dia
tak memberi keterangan suatu apa tentang diri kongcu.
Sekarang dia harus menolong Song Pek Liang lebih dulu
baru nanti meminta keterangan tentang beradanya kongcu.
Disebelah depan tampak jalan besar. Terdapat beberapa
rumah petani. Sebelah kanan jalan terbentang tanah ladang
dan disebelah kiri sebuah hutan.
Cu Jiang tujukan langkah ke hutan itu. Kalau tak
berhasil menemukan apa2, barulah dia akan kembali lagi
menyusur jalan besar.
Setelah menjelajahi hutan dan tak menemukan apa2, dia
terus hendak keluar lagi. Tiba2 ia melihat diatas tanah bukit
yang tak jauh dari hutan itu seperti tampak berkelebat
beberapa bayangan. Serentak timbullah semangatnya dan
terus saja dia melesat ketempat itu.
Tiba di tepi hutan, terpaksa ia harus menghela napas
panjang. Ternyata bayang2 itu bukan sosok manusia
melainkan batang pohon yang ditancapkan di punggung
bukit. Diatas dahan itu terpancang sehelai baju yang
berkibar2 dihembus angin.
Memandang dengan seksama, dilihatnya batang dahan
itu masih digantungi lagi dengan sebuah peti obat. Sudah
tentu dia terkejut sekali. Bukankah peti obat itu milik Song
Pek Liang ketika dia menyaru menjadi penjual obat tempo
hari ? Ah, jelas Song Pek Liang tentu menderita bahaya.
Ia mengeliarkan pandang ke sekeliling dan kejutnya
makin hebat lagi. Tak berada jauh dari dahan itu. sebutir
kepala manusia menggeletak di tanah. Darah Cu Jiang
mendidih seketika.
Song Pek Liang telah dibunuh musuh secara mengerikan
sekali. Dia dikubur berdiri sampai sebatas leher sehingga
kepalanya saja yang kelihatan di permukaan tanah.
"Bajingan2 itu harus kuhancur-leburkan semua!" teriak
Cu Jiang.
Tetapi sekonyong-konyong terdengar suara bentakan
yang gemuruh. Asalnya diperkirakan seperti di sebelah
kanan bukit itu. Segera dia lari ke tempat itu.
Ternyata dugaannya memang benar. Di tempat itu
sedang berlangsung pertempuran yang seru. Dan yang
bertempur itu tak lain adalah Ang Nio Cu bersama Thianput
thou. Ang Nio Cu berhadapan dengan seorang lelaki
tua kurus berjubah kuning emas. Ang Nio Cu menggunakan
pedang yang Cu Jiang berikan sebagai tanda perjodohan
kepada Ho Kiong Hwa yang lalu.
Baru pertama kali itu Cu Jiang melihat Ang Nio Cu
bertempur dengan menggunakan senjata. Dan dilihatnya
pula bahwa ilmu-pedang nona itu, mempunyai corak gaya
permainan yang istimewa.
Lawannya, lelaki tua berjubah kening emas, juga
menggunakan pedang. Ilmu pedangnya hebat sekali.
Keduanya bertempur dengan seru sehingga sukar dibedakan
satu sama lain.
Sedang Thian-put-thou seorang diri menghadapi empat
orang Pengawal Hitam dan seorang lelaki pertengahan
umur yang mengenakan pakaian seperti seorang thaubak
(kepala regu).
Keadaan Thian-put-thou memang kurang
menguntungkan. Dia hanya mengandalkan kelincahan ilmu
meringankan tubuh untuk menghindari serangan lawan.
Sementara ditanah tampak berserakan tujuh sosok
mayat. Lima diantaranya adalah kawanan Pengawal
Hitam. Jelas rombongan anak buah Gedung Hitam itu
tentulah yang membunuh Song Pek Liang. Mungkin juga
yang membawa kongcu.
Cu Jiang tak menduga bahwa Ang Nio Cu dan Thian
put-thou akan muncul disitu dan bertempur dengan musuh.
Maka diapun terus melayang ke gelanggang dan...
Huak. . . huak . .. terdengar beberapa jeritan ngeri yang
menyeramkan dan kedua belah pihak yang bertempur itu
terkejut dan serempak berhenti
Kelima orang yang menjadi lawan Thian-put thou, sudah
ada tiga yang menggeletak, diantaranya yalah lelaki
setengah tua yang berpakaian sebagai thaubak.
"Adik kecil, bagus, engkau datang !" seru pencuri sakti
Thian put-thou.
"Adik Jiang !" seru Ang Nio Cu.
"Toan-kiam-Jan-jin !" teriak lelaki tua yang mengenakan
jubah kuning emas dengan wajahnya pun serentak berobah
kaget. Sedang kedua Pengawal Hitam tampak pucat pasi.
Cu Jiang tak mau berkata apa2 terus berputar tubuh,
mencabut pedang dan menyerang. Kedua Pengawal Hitam
itu menjerit dan rubuh. Lalu menyerang lelaki tua berjubah
emas untuk menggantikan Ang Nio Cu.
"Adik Jiang, dia adalah wakil ketua dari Gedung
Hitam." seru Ang Nio Cu.
Lelaki tua berjubah kuning emas itu cepat melesat
melarikan diri.
"Hai, mau lari ke mana engkau!" teriak Cu Jiang yang
dengan gunakan gerak Gong-gong-poh-hwat sudah
menghadangnya dan terus menghantam.
Rupanya lelaki tua yang menjadi wakil ketua Gedung
Hitam itu sudah tak menghiraukan soal gengsi lagi. Dengan
gerak Keledai malas menggelinding-ke tanah, dan
menyambitkan senjata rahasia kearah Cu Jiang.
Serangan itu benar2 tak pernah di duga Cu Jiang.
Hantamannya tadi bahkan malah membantu lawan untuk
berguling ke tanah dan setelah melepaskan senjata rahasia,
terus menyelinap lenyap kedalam hutan.
Ang Nio Cu dan Thian-put-thou serempak loncat
mengejar. Cu Jiangpun marah dan terus menyerbu kedalam
hutan. Tetapi dalam beberapa kejab itu. ternyata lawan
sudah menghilang. Sesaat mereka bertiga berjumpa dalam
hutan, ketiganya-pun tertawa kecut.
Sambil banting2 kaki, Cu Jiang uring2an:
"Aku harus dapat mengejar orang itu . ."
"Menolong orang lebih penting," Thian-put-thou
mencegah.
"Mereka telah menculik puteri Tayli .. .. "
"Kutahu," Thian-put-thou mengangguk, "saat ini
mungkin sudah berada di Gedung Hitam ..."
"Mengapa begitu cepat?"
"Setiap pos, mereka berganti kuda, sudah tentu bisa
cepat."
"Bagaimana lo-koko tahu?"
"Karena mendengar mereka secara tak sengaja telah
bercakap-cakap membocorkan hal itu."
"Lalu bagaimana tindakan kita ?"
"Kita berunding lagi."
"Kalian berdua mengapa dapat bersama ... "
"Bertemu di tengah jalan."
Cu Jiang berpaling kepada Ang Nio Cu: "Apakah taci
juga mengambil jalan pendek..."
"Ah, kita tolong orang dulu " kata Ang Nio Cu.
Mendengar itu Cu Jiang gelagapan. Ia baru teringat
tentang Song Pek Liang yang dikubur begitu kejam. Entah
dia masih hidup atau sudah mati. Cepat dia melesat dan
mengajak kedua orang itu
"Tunggu dulu, tak perlu terburu-buru !" seru Thian-putthou.
"Lo koko kenapa?!" Cu Jiang hentikan langkah.
"Itu sebuah jebakan, khusus menunggu engkau, maka
jangan gegabah !"
"Jebakan ?"
"Apakan engkau tak memperhatikan mengapa lawan
sengaja menunjukkan pertandaan itu secara menyolok
sekali. Tak lain hanya untuk memikat engkau. Untung
belum menolongnya, kalau tidak engkau tentu sudah
hancur lebur!"
Mendengar itu berdetaklah hati Cu Jiang. "Apakah
mereka memasang obat peledak?" tanyanya.
"Ya !"
"Keparat !"
"Mari kita ke sana."
“Apakah Song Pek Liang masih hidup!"
"Mungkin belum mati."
Ketiga orang itu menuju ke tepi hutan dibawah bukit.
Memandang kepada kepala Song Pek Liang yang menonjol
di atas tanah, dada Cu Jiang serasa meledak.
Thian put-thou garuk2 telinga dan mukanya dan
bersungut-sungut. "Harus mencari akal untuk
menghilangkan obat peledak itu."
"Bagaimana caranya ?" tanya Cu Jiang.
"Jika salah menyentuh bahan itu, akibatnya sukar
dilukiskan. Yang menjadi kesulitan, kita tak mengetahui
dimana letak mereka memendam obat pasang itu."
"Oh, tentu tak jauh dari tempat orang yang dikubur itu.
Mereka tentu memperhitungkan, begitu adik Jiang melihat
kawannya dikubur hidup-hidupan tentu akan buru2
menolongnya. Begitu mengejar kesitu, tentu segera akan
meledak," tiba2 Ang Nio Cu menyelutuk.
Thian-put-thou kerutkan alisnya yang putih: "Sayang
orang yang dikubur itu jalan darahnya telah ditutuk
sehingga tak dapat bicara. Kalau tidak, dia tentu dapat
memberi tahu."
"Apakah dia masih dapat ditolong ?" tanya Cu Jiang
harap2 cemas.
"Tentu saja masih, asal dapat menyingkirkan bahan
peledak itu."
"Aneh, mengapa musuh dapat mengetahui diri saudara
Song . . . . "
"Kudengar semua itu hasil tindakan mereka untuk
menekan si puteri manis itu sehingga rombongan pengawal
dari Tayli dan bahkan dirimu telah diketahui semua oleh
musuh."
Cu Jiang tertawa hambar.
"Tak apa, kita dapat membuat serangan secara terangterangan,"
serunya.
"Tetapi engkau tentu tak sampai berpikir, bahwa apabila
peristiwa itu tersiar keluar, tentu akan menimbulkan banyak
kesulitan kepada kerajaan Tayli."
"Tetapi tiada lain jalan lagi. Setelah dapat membebaskan
kongcu, aku segera hendak mengantarkannya kembali ke
Tayli."
"Itu memang benar."
"Sekarang apa daya kita untuk menolong Song Pak
Liang ?" gumam Cu Jiang dan ketika memandang kearah
Song Pek Liang, dilihatnya mata pengawal dari Tayli itu
sudah mengatup rapat. Cu Jiang serentak berseru
meneriaki:
"Saudara Pek Liang!"
Rupanya pendengaran Song Pek Liang masih belum
hilang. Dia membuka mata. Sudah tentu Cu Jiang gembira
sekali karena hal itu menandakan bahwa dia masih hidup.
Bibir Song Pak Liang bergerak-gerak seperti hendak omong
tetapi tak dapat mengeluarkan suara.
Tiba2 Cu Jiang mendapat akal, serunya gembira: "Aku
menemukan akal!"
Ang Nio Cu dan Thian-put-thou serempak lompat
menghampiri: "Bagaimana ?"
"Pandangan Pek Liang masih belum beku," kata Cu
Jiang. "hanya tak dapat berkata, dia menggunakan kerling
mata untuk menyampaikan maksud hatinya . . ."
"Saudara Pak Liang, apakah engkau dapat mendengar
omonganku ? Jika dapat, harap engkau kicupkan mata !"
seru Cu Jiang.
Eh, ternyata Pek Liang mengicupkan mata. Sudah tentu
Cu Jiang bertiga gembira sekali.
"Saudara Peh Liang, aku hendak bertanya. Jika engkau
mengiakan, tolong kicupkan mata. Apakah jalan darahmu
tertutuk?" seru Cu Jiang.
Pek Liang kicupkan mata.
"Engkau terluka ?"
Kembali Pek Liang kicupkan mata.
Cu Jiang mengangguk lalu bertanya pula.
"Apakah mereka memasang obat peledak disamping
tempatmu?"
Lagi2 Pek Liang kicupkan mata.
"Sekarang kami hendak mencari tempat obat peledak itu.
Apakah obat itu berada dalam lingkungan satu meter di
sekelilingmu ?"
Pek Liang diam saja.
"Dua meter ?"
Tetap diam.
"Tiga meter ? ... Empat ... Lima meter ? Satu tombak ?"
Namun Pek Liang tak memberi reaksi apa2.
"Apakah berada pada tubuhmu ?" akhirnya Cu Jiang
mendesak.
Pek Liang mengangguk.
Cu Jiang berpaling kepada Thian put thou tanyanya:
"Lo-koko, obat itu ada pada tubuhnya, bagaimana ?"
"Hanya dengan cara perlahan-lahan kita menggali untuk
mengeluarkan tubuhnya tetapi hal itu memang
mengandung bahaya besar. Salah-salah obat meledak dan
tubuh hancur berkeping2."
Sejenak merenung Cu Jiang bertanya lagi:
"Saudara Pek Liang, kami hendak menyingkirkan obat
peledak itu. Lalu dari mana kita harus mulai bertindak?
Dari muka ?"
"Dari belakang ?"
"Dari sebelah kiri ?"
Setelah berulang kali diam, akhirnya Pek Liang kicupkan
mata, menyatakan bahwa penggalian itu harus dilakukan
dari sebelah kiri.
Cu Jiang segera minta Thian-put-thou dan Ang Nio Cu
supaya mundur karena ia hendak bertindak.
"Tidak," sahut Thian-put thou."seharusnya aku yang
turun tangan."
"Tetapi lo-koko mengapa hendak menempuh bahaya."
"Adik kecil, tugasmu yang penting belum selesai. Musuh
besarmu belum dibalas dan engkau masih muda belia. Hari
depanmu masih gemilang. Sedangkan aku sudah seperti
pohon tua yang mendekati lapuk. Kalau harus mati itu
sudah wajar, tak ada yang perlu disalahkan. Tetapi itupun
hanya suatu kemungkinan karena belum tentu aku mati."
"Tidak, lo-koko ! Ini urusanku ..."
"Urusanmu apakah bukan urusanku Juga ?"
Cu Jiang tergerak hatinya. Ia terbaru mendengar
pernyataan lo-koko atau engkohnya yang tua itu.
"Lo koko, kecintaanmu terhadap diriku, sampai mati
pun takkan kulupakan. Tetapi dalam urusan ini, biarlah aku
saja yang turun tangan, harap kalian mundur . .. . "
"Tidak!" wajah Thian-put-thou berobah sarat,
"bagaimanapun aku takkan menurut perintahmu !"
"Jika demikian biarlah aku saja agar kalian tidak saling
berebut." tiba2 Ang Nio Cu menyeletuk.
"Tidak layak !" seru Cu Jiang terkesiap.
"Mengapa ?"
"Bagaimanapun alasan taci. tetapi engkau tak boleh
menerjang bahaya itu. Dan lagi penerus dari perguruan Hiat
ing bun terletak pada diri taci...."
"Seorang ksatrya rela mati untuk orang yang akrab
hubungannya dengan dia. Tak perlu harus memikirkan
segala alasan itu. Dan terus terang, aku sudah jemu dengan
kehidupan ini. Kalau bisa melakukan sesuatu yang
membahagiakan orang, hatiku sangat gembira . . ."
"Taci ..."
"Adik Jiang, tetapi ini bukan perjalanan menuju ke
kematian!" kata Ang Nio Cu.
Tetapi Cu Jiang tak mau berbantah lagi. Sekonyongkonyong
tubuhnya melayang ke samping Song Pek Liang.
Sudah tentu Ang Nio Cu dan Thian-put-thou terkejut sekali
namun sudah tak keburu untuk mencegah.
"Hati-hati!" mereka hanya dapat memberi peringatan.
"Ya, tahu. Harap kalian beristirahat ke dalam hutan."
sahut Cu Jiang.
Tampak wajah Song Pek Liang merah padam. Karena
tubuh tertanam di tanah, darah tak dapat mengalir lancar
sehingga terhenti di muka. Apabila tak lekas ditolong tentu
mati. DI samping itu rupanya Song Pek Liang tak
menghendaki Cu Jiang bertindak begitu. Sedikit kurang
hati2, tentu akan menyentuh obat pasang dan keduanya
temu akan hancur lebur.
"Song-heng, jangan cemas, aku akan bertindak dengan
hati2." seru Cu Jiang lalu mencabut pedang kutung dan
mulai menggali. Diam2 sebenarnya hati Cu Jiang juga kebal
kebit.
Dia tahu bahwa saat itu sedang menghadapi maut. Tak
berapa lama pakaiannyapun basah kuyup dengan keringat.
Napas memburu keras.
Ang Nio Cu dan Thian-put-thou yang berada di hutan
juga tak kurang tegangnya.
Pelahan-lahan sudah tampak bahu dan rusuk kiri dari
Song Pek Liang. Cu Jiang berhenti menggali.
"Song heng, di mana obat itu letaknya ? Dibawah
pinggangmu ?
"Kaki ? Paha ? . . . . Pantat.. ?"
Tetapi Song Pek Liang tetap pejamkan mata tak
menyahut. Sudah tentu Cu Jiang gugup. Terang kalau Song
Pek Liang itu pingsan. Cepat ia lanjutkan penggaliannya
dengan hati2. Akhirnya sampai ke perut.
Tiba2 ia mendapat pikiran. Ia hentikan penggalian lagi.
Pikirnya, ia hendak membuka Jalan darah Song Pek Liang
yang tertutuk itu agar dapat ditanya keterangan. Ia segera
meraba-raba tubuh Song Pek Liang tetapi tak berhasil
menamakan bagian yang tertutuk. Ia menyadari bahwa
musuh mempunyai ilmu tutuk yang istimewa. Terpaksa ia
hentikan usahanya.
Saat itu ia mulai menggali lagi dan ketegangannyapun
makin memuncak. Mati atau hidup hanya tergantung dari
detik2 yang menentukan.
"Adik kecil, bagaimana, keadaannya ?" teriak Thian-putthou.
"Dia pingsan," Cu Jiang membesut keringat.
"Engkau menemukan apa saja?"
"Tidak menemukan apa2."
"Peti obat atau barang sejenis itu ?"
"Tidak!"
"Engkau turun kemari, biar aku yang mengganti. Aku
lebih ahli dalam soal itu ...."
"Tidak !" Cu Jiang menolak.
Thian-put-thou dan Ang Nio Cu serempak ayunkan
tubuh melayang ke tempat Cu Jiang.
"Apa maksud kalian ? Apakah hendak bersama-sama
mati?" tegur Cu Jiang dengan tegang.
"Engkau dan Ang Nio Cu cepat menyingkir, aku yang
menyelesaikannya !" kata Thian-put-thou dengan serius.
"Tidak !"
Sekonyong-konyong dari gunduk atas bukit itu terdengar
suara tertawa dingin. Ketiga orang itu terkejut. Memandang
kearah suara tawa itu, tampak wakil ketua Gedung Hitam
sedang tegak berdiri dengan mencekal seutas tali.
Cu Jiang mendengus geram. Pada saat dia hendak
bergerak tiba2 wakil ketua Gedung Hitam Itu membentak:
"Jangan bergerak!"
"Apa engkau hendak mengantar Jiwa?" teriak Cu Jiang
marah.
Wakil ketua Gedung Hitam itu tertawa mengekeh seraya
menggerak-gerakkan tali, serunya:
"Tali ini bersambung dengan sumbu obat peledak. Sekali
kutarik, kalian bertiga tentu hancur lebar!"
Cu Jiang bertiga menelan ludah. Jarak wakil ketua
Gedung Hitam dengan tempat mereka terpisah dua puluhan
tombak. Betapapun hebat ilmu ginkang seseorang, tetapi
tetap masih kalah cepat dengan gerakan menarik tali itu.
Cu Jiang rasakan dadanya seperti meledak. Dengan ilmu
langkah Gong gong-poh mungkin dia masih dapat terhindar
dari bahaya kehancuran. Tetapi Ang Nio Cu dan Thian putthou
tentu hancur.
Tak ada lain daya dari ketiga orang itu kecuali saling
bertukar pandang.
"Li Ing Bo, apa maksudmu? " teriak Thian-put-thou.
Ternyata wakil ketua itu bernama Li Ing Bo. Dia
membalas dengan tawa gelak2, serunya:
"Kalian bertiga hendak kuantar naik ke akhirat!"
"Adik kecil, dengan kepandaianmu, mungkin engkau
dapat menghindar dan tempat ini . . . ," bisik Thian put
thou.
"Lo koko menganggap aku ini orang apa?" Cu Jiang
memberingas.
"Bukan begitu maksudku," kata Thian put thou, " perlu
apa kita bertiga harus mati? Bukankah masih ada seorang
yang kelak dapat membalaskan dendam darah ini?"
"Aku tak mau!"
"Adik kecil, saat ini bukan saat main keras kerasan
kepala . . . .
"Tidak! Kecuali kita bertiga sama2 ke luar!"
"Tak mungkin!"
"Taci tentu dapat keluar juga," kata Cu Jiang kepada
Ang Nio Cu.
"Hm, apakah lo kokomu ini juga tak mampu ?" dengus
Ang Nio Cu
"Kalau kita bergerak keluar dan lingkungan tempat ini,
mungkin dapat selamat. Tetapi bagaimana dengan jiwa
saudara Pek Liang..."
"Kecuali menemaninya mati, memang sudah tak ada lain
jalan lagi." kata Ang Nio Cu.
"Kalian hendak memberi pesan terakhir apa saja ?" seru
Li Ing Bo dengan keras.
"Orang she Li," teriak Cu Jiang dengan keras, "kalau aku
tak mati, kelak tentu akan kuratakan Gedung Hitam dan
takkan kutinggalkan seorangpun bahkan anjing dan ayam
pun akan kubunuh semua !"
“Heh, heh, heh, sayang engkau sudah mati dulu !"
Cu Jiang kebingungan faham. Tiba2 Thian put-thou
berkata dengan segera. "Kita tak boleh menunggu kematian
dengan cara begini. Harus lekas mengambil putusan !"
Tiba2 saat itu sesosok bayangan muncul disamping Li
Ing Bo. Hai jelas si Jelita Ki Ing, puteri dari Tay hiap-tionggoan
Cukat Giok yang belum tahu asal usul dirinya dan
mengira kalau ketua Gedung Hitam itu ayahnya.
"Susiok, berikan tali itu kepadaku !" tiba2 si Jelita berkata
kepada Li Ing Bo. Dengan menyebut Li Ing Bo sebagai
susiok atau paman guru, mungkin Li Ing Bo ini juga adalah
seorang murid dari Sam Bok thian cun.
"Budak, lekas engkau menyingkir !" bentak Li Ing Bo.
"Tidak, aku hendak membalas dendam mamaku."
"Apakah kalau aku bukankah sama saja..."
"Aku hendak menghancurkan Toan-kiam-jan-jin dengan
tanganku sendiri ..."
Merah mata Cu Jiang mendengar itu. Tak tahu dia
bagaimana caranya untuk memberi penjelasan kepada nona
itu. Jika benar2 nona itu turun tangan, ah, akibatnya tentu
mengerikan.
"Nona Ki Ing engkau bukan . . . ."
"Tutup mulutmu Toan kiam-Jan Jin ! Rasanya tak puas
hatiku kalau tak menghancurkan engkau dengan tanganku
sendiri !"
Mendengar itu akhirnya mau juga Li Ing Bo memberikan
tali kepada Ki Ing.
"Sayang tali itu terpendam dibawah tanah. Jika tidak
begitu, kita dapat memutuskannya," bisik Ang Nio Cu.
"Budak, mengapa tak lekas engkau tarik tali itu !" seru Li
Ing Bo.
Cu Jiang terkejut dan serentak dia hendak berteriak lagi
memberi penjelasan kepada Ki Ing. Tetapi sekonyongkonyong
nona itu lemparkan tali dan berseru gopoh: "Lekas
kalian lari !"
Sudah tentu Cu Jiang bertiga terlongong-longong
menyaksikan perbuatan yang tak terduga-duga itu. Adalah
Cu Jiang yang lebih dulu menyadari hal itu. Serentak dia
ayunkan tubuhnya seraya meneriaki kedua kawannya :
"Lekas lari !"
Sesaat ketiga orang itu melesat pergi terdengarlah suara
orang menguak yang mengerikan sekali. Kemudian disusul
dengan ledakan yang dahsyat. Tanah dan keping2 batu
muncrat berhamburan ke udara.
Bahan peledak itu telah meledak.
Sebenarnya Cu Jiang terus hendak enjot tubuh ke tempat
Li Ing Bo tetapi ledakan Itu telah membuatnya tertegun di
tempat. Sebuah pemandangan yang mengerikan serentak
menusuk hatinya.
Ki Ing mati dan Pek Liangpun hancur lebur. Tetapi pada
lain saat. Cu Jiang dapat melepaskan pikirannya dari
peristiwa itu dan cepat melambung ke atas bukit. Dia
hendak menghancurkan Li Ing Bo.
Tetapi wakil ketua dari Gedung Hitam itu sudah lenyap.
Yang tampak hanya si Jelita Ki Ing, menggeletak di tanah,
mata dan hidungnya mengucurkan darah.
Cu Jiang cepat lari menghampiri. Dilihatnya wajah nona
itu pucat seperti kertas, sinar matanya redup dan layu.
Tetapi napasnya belum putus. Jelita itu memandang Cu
Jiang, dari sudut bibirnya merekah senyum.
"Nona Beng Cu, Jangan kuatir, engkau tentu tertolong !"
"Apakah masih dapat ditolong ?" seru Thian-put thou
gugup.
Ang Nio Cu memeriksa seluruh jalan darah tubuh nona
itu. Lama baru dia berkata dengan nada tegang: "Dia
menderita luka-dalam yang parah sekali, tetapi denyut
jantungnya masih baik, Dia terkena pukulan ganas yang
istimewa. Aku tak dapat menolongnya."
"Dia telah menyelamatkan kita bertiga, tidak bisa
membiarkan dia mati begitu saja!" seru Cu Jiang.
Thian-put-thou mengeluarkan beberapa butir pil dan
diberikan kepada Ang Nio Cu: "Untuk mempertahankan
jiwanya, baru nanti kita berusaha untuk mengobati."
Ang Nio Cu pun lalu menyusupkan pil itu ke dalam
mulut Ki Ing.
"Ah, kenapa dia harus bertindak begitu ?" Thian-put-thou
menghela napas.
"Mungkin tak dapat melupakan rasa asmaranya terhadap
adik Jiang." kata Ang Nio Cu.
Cu Jiang tertegun, memandangnya. Kemudian
menengadah memandang kearah bukit, Ditempat Song Pek
Liang dikubur hidup hidup tadi, terbukalah sebuah lubang
seluas dua tiga tombak.
Sedih hati Cu Jiang sehingga ia menitikkan airmata.
Diantara empat pengawal dari Tayli yang diperintah Gonggong-
cu untuk mengikutinya ke Tionggoan, dua orang yaitu
Ong Kian dan Song Pak Liang telah mati. Bahkan kematian
Song Pek Liang itu sangat mengerikan.
Cu Jiang serentak melesat ke tempat bekas ledakan itu
tetapi tubuh Song Pek Liang sudah hancur lebur tak dapat
dikumpulkan lagi. Setelah berdoa memanjatkan arwah
Song Pek Liang agar mendapat tempat yang layak di
nirwana, Cu Jiang kembali ke tempat Ki Ing.
"Adik Jiang, satu-satunya yang dapat menolong nona ini
ialah Kui jiu-sin-Jin di gunung Busan.”
Cu Jiang mengangguk.
"Kecuali engkau sendiri, lain orang tak mungkin
diijinkan masuk ke lembah Mo jin-koh," kata Ang Nio Cu
pula.
"Baik, akulah yang akan kesana."
"Benar, memang kecuali engkau tak ada lain orang yang
mampu melindungi nona itu. Dia harus beristirahat. Kalau
sampai terganggu dan menderita goncangan hati, dia tentu
binasa. Aku akan menemanimu kesana," kata Thian putthou.
Kepada Ang Nio Cu, Cu Jiang mengatakan bahwa
apabila membawa Ki Ing ke Bu-san, perjalanan ke Keng san
tentu tertunda.
"Sudah tentu menolong jiwa orang lebih penting."
sambut Ang Nio Cu.
"Perjalanan ke Bu-san ini paling tidak tentu memakan
waktu setengah bulan. ai..."
"Aku ikut dan Ciok cianpwe tak perlu capek2 kesana."
"Celaka!" teriak Thian-put-thou, "kalau nganggur aku
tentu angot penyakitku, Lebih baik aku saja yang menemani
adik kecil ke sana !"
"Dia seorang gadis, kalian kaum lelaki bagaimana akan
merawatnya di sepanjang jalan nanti ?"
-oo0dw0oo-
Jilid 22
Thian-put-thou terbeliak. Dia benar2 terpojok. Memang,
bagaimana mungkin kalau dua orang lelaki harus merawat
seorang gadis dalam perjalanan nanti.
"Lo-koko, terpaksa engkau yang tidak ikut !" Cu Jiang
tertawa.
Thian-put-thou garuk2 kepalanya: "Ang Nio Cu tak
dapat menunjukkan diri secara terang-terangan. Dan
engkau, adik kecil, musuhmu tersebar dimana-mana. Boleh
dikata setiap jalanan engkau selalu terancam bahaya. Kalau
aku si tua ini ikut dalam perjalanan, tentu dapat diajak
berunding apabila menghadapi sesuatu bahaya !"
"Ya." akhirnya Cu Jiang menghela napas,"kalau begitu
kita harus pergi bertiga saja."
"Itulah yang tepat," Thian put-thou tertawa, “aku akan
menyewa kereta dulu baru nanti kita berangkat."
Dia terus lari turun. Ang Nio Cu segera mengangkat KI
Ing dibawa masuk ke hutan untuk menunggu kereta.
Sedang Cu Jiang masih tetap berjaga diatas gunduk tanah
untuk mengawasi apabila pihak Gedung Hitam hendak
melakukan serangan.
Sejam kemudian Thian-put thou kembali dan membawa
mereka turun bukit. Ternyata dia sudah mempersiapkan
kereta Ang Nio Cu dan Ki Ing disuruh masuk, sedang Cu
Jiang dan Thian put-thou menyaru sebagai ayah dan anak
yang mengantar kereta.
Karena naik kereta mereka terpaksa harus mengambil
jalan ke kota Hu-yang baru kemudian menuju ke barat.
Pada hari kedua menjelang petang, Poan toanio, Ki Sian
Hong dan Ko Kun muncul menyambut. Cu Jiang
menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi. Ketiga
orang itu mengucurkan airmata mendengar nasib yang
diderita Song Pek Liang.
Akhirnya diputuskan, Poan toanio bertiga supaya
menunggu dan bersembunyi sampai nanti Cu Jiang sudah
kembali dari Busan baru bergerak lagi untuk menolong
kongcu.
Sebenarnya Cu Jiang memang cemas akan keselamatan
puteri Tayli itu, tetapi karena mengingat jiwa Ki Ing itu
perlu diselamatkan, terpaksa ia harus menunda dulu
rencananya untuk menggempur Gedung Hitam.
Mereka berpisah. Cu Jiang dan rombongannya
melanjutkan perjalanan lagi. Sepanjang perjalanan tak
terjadi suatu apa.
Setelah tiba di Kui-ciu, mereka naik perahu dan setelah
tiba di daerah gunung, mereka menempuh perjalanan lagi
dengan jalan kaki. Selama perjalanan itu, Ang Nio Cu yang
bertugas merawat Ki Ing.
Waktu mendaki gunung merekapun tak mengalami
kesukaran apa2. Dan kurang menggembirakan luka Ki Ing
atau namanya yang aseli Cukat Beng Cu, tak berobah
memburuk tetapi tetap begitu saja.
Keadaan di lembah Mo-Jin kok tetap seperti dulu.
Mereka berhenti di mulut lembah dan Cu Jiang lantas
berseru mohon menghadap pemilik lembah.
Tak berapa lama putera dari Kui-Jin sin-jin yakni Bun
Cong Beng keluar. Cu Jiang segera mengatakan maksud
kedatangannya.
Sambil menjabat tangan Cu Jiang. Cong Beng berkata:
"Cu-heng, engkau tentu sudah tahu bagaimana perangai
ayahku yang aneh itu. Dia tak mau bertemu dengan
manusia, apalagi diminta mengobati seorang anak
perempuan. Tetapi karena yang minta Cu-heng, rasanya
tentu lain. Harap tunggu sebentar, aku hendak memberi
laporan kepada ayah."
"Sebenarnya memang berat rasa hatiku untuk
mengganggu ayahmu tetapi apa boleh buat. Soal ini
memang penting sekali, harap Bun-heng dapat membantu."
"Ah. tentu," kata Cong Bang. "lalu bagaimana tentang
permintaan ayah tempo hari ...."
"Ah. syukur aku dapat melaksanakannya." kata Cu
Jiang. Setelah ia teringat akan peristiwa ketua Hoa-gwatbun
Tiam Su Nio.
Seperminum teh lamanya, Kui-jiu-sin-jin dan anaknya
keluar. Cu Jiang dan kawan-kawannya Bergegas
menghaturkan hormat..
Memandang ke arah Thian-put-thou dan Ang Nio Cu,
Kui jiu sin jin berkata: "Karena urusanmu, aku tak dapat
mengatakan apa2 lagi."
Cu Jiang menjura dan menghaturkan terima kasih.
Kemudian memandang kepada Ki Ing, tabib sakti itu segera
suruh membawanya masuk. Ang Nio Cu meletakkan Ki Ing
di muka Kui-jiu-sin-jin.
Kui jiu sin jin berjongkok dan memeriksa beberapa jenak
lalu berbangkit lagi, ujarnya:
"Telat setengah hari, tak mungkin ditolong!"
"Tolong tanya, lo cianpwe, dia terkena ilmu pukulan
apa?"
"Coat bun ciang!"
"Coat ban ciang?" Cu Jiang mengulang.
"Ya. Ilmu pukulan itu amat beracun sekali. Khusus
untuk melukai urat2. Apabila terkena tiada dapat tertolong.
Beruntung aku masih dapat menolongnya."
"Mohon locianpwe suka menolongnya."
"Perlu beristirahat selama sepuluh hari baru dapat
sembuh."
"Ini ...."
"Dia seorang gadis, jika tinggal di dalam lembah, kurang
leluasa. Tetapi kalau tinggal di luar lembah dikuatirkan
terjadi hal2 yang tak diinginkan . . ."
"Apakah locianpwe mengijinkan kalau taciku ini
menyertainya tinggal dalam lembah?" tanya Cu Jiang.
Kui jiu sinjin kerutkan dahi, akhirnya dengan suara sarat
ia mengiakan.
"Taci," berseru Cu Jiang kepada Ang Nio Cu, "apakah
taci tak keberatan?"
"Tidak."
"Terimalah lebih dulu terima kasihku."
"Jangan berlebih-lebihan adik Cu." seru Ang Nio Cu.
"Cu-heng, mari kita masuk dan bercakap-cakap sambil
minum hidangan teh." kata Cong Heng.
"Maaf, Bun-heng, mungkin aku tak dapat memenuhi
permintaanmu."
"Kenapa? Apakah Cu-heng tak mau masuk ke dalam
lembah?"
"Aku masih mempunyai urusan penting yang belum
selesai. Selama sepuluh hari ini, biarlah kugunakan untuk
menyelesaikan hal itu."
"Urusan apa saja?"
"Aku hendak menuju ke markas besar perkumpulan
Thong thian kau di Pek teshia."
"Seorang diri?"
"Ya."
"Tentu harus pergi?"
"Karena melakukan perintah suhu. Kalau tak lekas
dilaksanakan dikuatirkan akan timbul perobahan2 yang tak
diinginkan."
"Ah, kalau begitu sungguh sayang sekali."
"Maaf, biarlah lain kali saja aku pasti akan menemani
Bun heng."
Setelah itu, Ang Nio Cu mengutarakan juga
kekuatirannya tentang rencana Cu Jiang yang hendak
menuju ke markas besar Thong thian kau seorang diri.
"Menetapi kewajiban sebagai seorang ksatrya, tiada lain
jalan kecuali harus melaksanakan apa yang telah
disanggupkan."
"Sepuluh hari kemudian, dimana kita akan bertemu?"
tanya Ang Nio Cu.
"Bagaimana kalau di gunung Keng-san?" kata Cu Jiang.
"Thong thian kau merupakan sarang dari Iblis2 yang
ganas, apakah engkau .... tidak berbahaya seorang diri ke
sana?"
"Jangan kuatir, taci, aku dapat menjaga diri dengan
hati2."
"Jika memang begitu, baiklah, silahkan engkau
berangkat." akhirnya Ang Nio Cu melepas.
Tiba2 Kui jiu sinjin mau memberi nasehat kepada Cu
Jiang:
"Nak, dunia persilatan itu penuh dengan Iblis yang jahat.
Hanya dengan mengandalkan kepandaian saja tak cukup.
Yang penting engkau harus berhati-hati dan waspada."
Cu Jiang menyatakan terima kasih sekali atas kebaikan
manusia aneh itu.
"Silahkan berangkat, dan jangan kuatir, aku akan
berusaha untuk menolong nona itu, " kata Kui jiu-sin-jin.
Kemudian manusia aneh itu berpaling kearah Thian put
thou, serunya: "Apakah engkau suka menjadi tetamu dari
lembah ini?"
Thian put thou tertawa gelak2, serunya: "Sudah tentu
aku senang sekali tetapi maaf, aku terpaksa harus
menemani adik kecil itu agar setiap waktu yang diperlukan
dapat memberi bantuan."
"Jika begitu, sampai jumpa dan selamat jalan." habis
berkata Kui jiu sin jin terus masuk ke dalam lembah. Ang
Nio Cu menggendong Ki Ing mengikuti masuk. Demikian
pula Bun Cong Beng.
"Lo koko, apakah engkau hendak menemani aku?" tegur
Cu Jiang kepada Thian put thou.
"Jika engkau menolak, kita mengambil jalan sendiri-2
saja."
"Ah, tidak, bukan begitu maksudku."
Begitulah keduanya segera menuruni gunung.
Disepanjang jalan, mereka tak banyak bicara. Cu Jiang
terkenang akan semua peristiwa yang dialaminya di gunung
Bu-san dahulu. Diam2 ia menghela napas.
Thian-put thoa deliki mata: "Adik kecil jarang sekali
kudengar engkau menghela napas !"
Cu Jiang tertawa tawar: "Kata orang, dunia persilatan itu
merupakan laut bahaya. Setiap hari gelombang bahaya itu
bergolak dalam dua belas jam."
Thian-put thou gelengkan kepala. "Adik kecil, mengapa
tiba2 engkau menjadi dewasa ?"
"Hanya merasakan kesan2 selama ini saja."
"Benar, adik kecil. Ang Nio Cu yang begitu ngotot
hendak memperjodohkan engkau, tak terduga dia sendiri
jatuh cinta..."
"Lo-koko tahu hal itu?"
"Ang Nio Cu sendiri yang mengatakan kepadaku."
"Hah !"
"Adik kecil, apakah sampai sekarang engkau belum
pernah melihat wajah yang sebenarnya dari Ang Nio Cu ?"
"Belum."
"Dia sangat memperhatikan sekali kepadamu. Ada
kalanya sampai berlebih-lebihan."
"Berlebih-lebihan ?"
"Ya. Orang yang diluar persoalan, tentu dapat melihat
jelas. Pada waktu aku seperjalanan dengan dia, paling
sedikit dia tentu menyebut namamu sampai sepuluh kali
dengan nada yang mesra. Sebagai sosok wanita yang
dianggap momok aneh oleh kaum persilatan, itulah dia
seorang wanita yang mengerikan. Tetapi tiap saat dia
menyebut namamu, sering terlepas kata2 keluhan yang
bernada pernyataan hatinya kepadamu. Sudah tentu hal itu
tak luput dari pengawasanku."
"Bagaimana menurut pengawasan lo-koko?"
"Dia sangat cinta kepadamu."
"Ah, benar2 suatu hal yang mengherankan. Mungkin
usianya terpaut lebih dari separoh umurku."
"Sukar di kata. Asmara itu memang ajaib. Kadang
memang sukar diukur dengan nalar biasa."
"Dalam kata-katanya dia pernah kelepasan omong," kata
Thian-put-thou pula.
"Soal apa ?"
"Dia menyatakan bahwa tiga kali dalam penitisan
perjodohan itu telah ditentukan, siapa tahu ternyata sampai
sekarang tetap hampa . ."
"Apakah dia bukan maksudkan Ho Kiong Hwa ?"
"Mungkin begitu tetapi mungkin bukan begitu. Karena
waktu mengatakan begitu dia hanya seorang diri, dan aku
secara kebetulan saja mendengarnya."
Cu Jiang mengangguk: "Biarlah begitu. Tetapi aku hanya
mempunyai perasaan menghormat jenasah orang tuaku."
Saat itu mereka sudah tiba dibawah bukit dan mendengar
suara orang bercakap-cakap.
"Peraturan perguruan tak boleh dirusak !"
Kemudian terdengar suara seorang wanita yang bernada
rawan: "Congkoan, karena urusan sudah begini, muridpun
taat pada perintah..."
Cu Jiang dan Thian put thou terkesiap. Setelah sejenak
bertukar pandang, keduanya pun segera menuju ke tempat
suara itu.
Tampak ditengah hutan lebat, seorang dara yang cantik
tengah berlutut di tanah. Disamping tegak seorang pemuda
yang cakap dengan wajah membesi.
Tak berapa jauh dari tempat dara baju hijau itu. Juga
terdapat seorang dara yang dandanannya mirip seorang
puteri, mukanya memakai kain cadar.
Cu Jiang makin terkejut, Ia seperti kenal dengan mereka.
Agaknya dara2 dari istana Sie-li-kiong, Melihat kearah dara
baju hijau yang sedang berlutut itu. Cu Jiang segera makin
yakin bahwa dugaannya itu memang benar.
Dara itu tak lain adalah dara yang pernah diperintah Bu
san Sin-li untuk memikatnya masuk ke dalam istana Sin-li
kiong tempo hari.
Apakah yang telah terjadi ditempat itu. Siapakah
pemuda pelajar yang cakap itu ?
"Geng Siu Yin," seru dara istana itu, "karena engkau
telah berhianat melanggar peraturan perguruan, walaupun
aku kasihan kepadamu tetapi aku tak dapat berbuat apa2
lagi.”
Dara baju hijau yang disebut dengan nama Ceng Siu Yin
Itu. mengertek gigi lalu berseru:
"Congkoan, murid hendak mengajukan sebuah
permohonan terakhir.. ."
"Apa ?"
"Harap lepaskan dia !"
"Tidak bisa ! Tidak seharusnya engkau membawanya ke
atas gunung sehingga membocorkan rahasia perguruan
kita."
"Congkoan, murid bersumpah bahwa dia tak tahu apa2."
"Yin-moay," tiba2 pemuda pelajar itu berteriak, "tak
perlu engkau mintakan ampun jiwaku. Jika engkau mati
akupun tak ingin hidup lagi !"
Cu Jiang dapat menduga tentang peristiwa itu. Tentulah
dara yang bersama Ceng Siu Yin itu telah diutus turun
gunung untuk melakukan sebuah tugas.
Dia berkenalan dengan pemuda itu. Tetapi menurut
peraturan istana Sin-li-kiong, setiap murid yang turun
gunung, lebih dulu harus minum pil beracun. Jika tidak
pulang pada waktunya, racun itu akan bekerja dan matilah
dia. Cu Jiang tahu hal itu atas keterangan Tang Yin dulu.
Dia lalu membawa kekasihnya naik gunung, jelas Siu
Yin telah melanggar peraturan Istana.
Dia harus menerima hukuman yang berat. Tetapi dia
merasa tergerak hatinya melihat tekad dari sepasang mudamudi
yang telah memadu kasih itu.
Sejenak memandang kearah pemuda pelajar itu, kembali
dara istana itu berkata.
"Siu Yin, bagaimana dengan hasil tugasmu untuk
melakukan penyelidikan itu ?"
"Toan-kiam-jan-jin tidak membawa pergi Tang Yin Yin."
sahut Siu Yin.
Cu Jiang terkejut. Ternyata Siu Yin turun gunung itu
karena diperintah untuk menyelidiki jejaknya. Diam2 ia
menghela napas. Ternyata tindakannya untuk menolong
Yin Yin, menghapus racun dengan mustika Thian-ju cu
sehingga Yin Yin dapat lolos dari istana Sin-li-kiong, belum
diketahui oleh pihak Sin li kiong.
"Apakah engkau dapat menemukan mayatnya ?" tanya
dara istana itu pula.
"Tidak."
"Lalu bagaimana engkau dapat memastikan bahwa dia
tak dibawa pergi Toan-kiam-janjin ?"
"Karena selama kuselidiki, Toan-kiam-Jan-jin itu
kemana-mana hanya seorang diri saja."
"Adakan kemungkinan dia tak menyembunyikan Yin
Yin ?"
"Murid telah menyelidiki ke desa tempat kelahiran Yin
Yin. Menurut keterangan orang desa di situ. memang pada
suatu hari pernah muncul seorang gadis. Dia mondarmandir
di desa itu tetapi tak pernah bicara dengan orang.
Tak lama gadis itu terus bunuh diri dengan membuang diri
ke dalam sungai."
Diam2 Cu Jiang mengangguk. Ia tahu bahwa peristiwa
itu hanya cerita yang dirangkai Yin Yin untuk menutupi
keadaannya.
"Benarkah itu?"
"Benar."
"Baik, lalu apakah engkau masih mempunyai pesan yang
hendak engkau tinggalkan lagi?"
"Harap lepaskan dia!"
"Soal itu tak bisa."
"Congkoan, dia tak berdosa apa2."
"Dirinya yang melakukan sendiri tak dapat menyesali
lain orang." Habis berkata dia berpaling kepada pemuda
pelajar itu, serunya:
"Sebutir pil ini, dapat membantu engkau tak merasakan
penderitaan apa2. Jika dalam kehidupan di dunia kalian tak
dapat terangkap dalam perjodohan, kelak di akhirat tentu
kalian dapat melaksanakan perjodohan itu. Ingat, setengah
jam kemudian, segeralah kalian gali liang untuk tempat
peristirahatan kalian selama-lamanya!"
Habis berkata dia terus melemparkan pil itu yang
disambuti pemuda pelajar lalu tanpa ragu2 terus ditelannya.
"Engkoh Tio, aku berdosa kepadamu!" seru Siu Yin
dengan pilu.
"Yin-moay, jika hidup tak dapat berkumpul biarlah kalau
mati kita berada dalam satu liang! " sahut pemuda itu.
Kedua anak muda itu tak mengucurkan air mata tetapi
derita perasaan hati mereka memang sangat mengibakan
sekali.
Dara istana yang berpangkat congkoan atau pengurus
istana Sin-li-kiong itu berputar tubuh terus melesat lenyap.
Pemuda pelajar itu mengangkat tubuh Siu Yin dan
membelainya dengan pilu:
"Adik Yin, besarkanlah hatimu. Ini memang sudah
takdir kita, kita harus menerimanya. Kelak dalam penitisan
yang akan datang, kita tentu dapat bersatu."
Rebahkan kepalanya di dada sang kekasih, Siu Yin
berkata sedih: "Engkoh Tio, akulah yang bersalah, tak
seharusnya aku... menerima cintamu."
"Yin-moay, aku tak menyesal karena harus mati. Dua
bulan kita berkumpul rasanya melebihi lain orang yang
berkumpul seumur hidup."
"Engkoh Tio, jika tahu keadaan bakal begini, dan aku . .
."
"Yin moay, waktu setengah jam itu sangat singkat sekali.
Engkau lihat bagaimana keadaan tempat ini sebagai tempat
peristirahatan kita selama lamanya."
"Mari. . ." kedua sejoli itu bergandengan tangan dan
ayunkan langkah tinggalkan tempat itu.
Cu Jiang menghela napas.
"Lo koko," kalanya, "cinta mereka benar2 sekokoh baja.
Pemuda itu sungguh hebat, dia memandang kematian
seperti pulang saja .. ."
"Aku tak mengerti maksudmu?"
Tiba2 Cu Jiang teringat akan janjinya kepada Bu-san Sinli
bahwa dia takkan membocorkan rahasia istana Sin-li
kiong kepada siapapun juga. Maka kata2 yang sudah tiba
dimulutnya, ditelannya kembali.
"Mari kita ikuti mereka," akhirnya ia alihkan
pembicaraan.
"Adik kecil, mereka menyebut-nyebut namamu dengan
dikaitkan peristiwa melarikan seorang murid," kata Thianput-
thou.
"Itu hanya salah faham tetapi maaf, aku sudah berjanji
dan tak dapat memberitahu soal itu."
"Baik. Tetapi apa guna kita mengikuti kedua kekasih itu?
Apakah kita hendak melihat mereka mati ?"
Sejenak keliarkan pandang kesekeliling penjuru. Cu
Jiang berbisik-bisik: "Aku mempunyai akal untuk menolong
mereka."
"Sungguh !"
"Masakah aku bergurau."
Mereka terus mengikuti dan ternyata kedua pasangan itu
menuju ke gua batu yang pernah dipakai Thian-put thou
dan Cu Jiang tempo hari.
"Memang tempat itu bagus sekali," kata Cu Jiang.
"Lalu bagaimana engkau hendak menolong mereka?"
tanya Thian-put-thou.
"Lo koko jangan campur tangan, lihat sajalah nanti."
Tiba di mulut gua, tiba2 sepasang kekasih itu tahu kalau
ada orang datang. Mereka keluar dan menegur: "Siapa itu?"
"Aku, orang yang kebetulan jalan lewat gunung ini."
sahut Cu Jiang. Memang saat itu dia dan Thian put thou
menyaru menjadi orang biasa, kusir kereta.
"Engkoh Tio, suruh mereka pergi," seru Siu Yin dari
dalam.
"Kuminta kalian segera pergi." kata pemuda pelajar itu
kepada Cu Jiang berdua.
"Tetapi hari sudah tengah petang aku dan ayahku ini
butuh bermalam di gua ini. Sayang telah kalian diami, ini
...."
"Maaf. terpaksa harus minta saudara berdua supaya cari
lain tempat saja."
"Gunung ini banyak harimau dan serigala. Kalau tidak
tidur di tempat ini tentu berbahaya." bantah Cu Jiang.
Pemuda itu berpaling ke dalam, serunya:
"Yin-moay, memang nasib kita sial. Bahkan hendak
moksha saja kita tak dapat tempat yang tenang."
"Waktu sudah mendesak sekali. Ke mana lagi kita harus
cari tempat? Kita tutup pintu gua saja!"
Cu Jiang sengaja deliki mata dan berseru: "Tuan tadi
mengatakan moksha?"
"Ya, apa engkau tahu artinya moksha itu?"
"Mungkin aku salah dengar . . ."
"Tidak, memang moksha!"
"Hm, pernah kudengar cerita paderi dari kuil di desaku
bahwa moksha itu artinya pulang ke Se-thian (akhirat).
Alam telah menciptakan hubungan yang sungguh tak
karuan, sungguh kacau. . ."
"Tak peduli keruan atau tidak keruan, silakan saudara
berdua pergi. Maaf, gua ini tak dapat kuberikan kepada lain
orang."
"Tidak bisa! " Cu Jiang berkeras.
"Apa yang tidak bisa?"
"Bahwa tuan tadi mengatakan moksha, jelas tentu
mencari kematian. Ujar orang tua mengatakan melihat
kematian tidak menolong, berarti dosa . . ."
"Silakan pergi, aku tak mempunyai waktu untuk adu
lidah. Yin-moay, kita . . ."
"Tunggu dulu! Mengapa kalian, sedikitpun tak punya
rasa kemanusian?"
"Apa maksudmu?"
"Kalau kalian memang hendak mencari kematian,
mengapa harus memilih segala macam cara. Mengapa
harus bersembunyi tak mau didekati orang? Kalau aku dan
ayahku sampai dimakan harimau, apakah aku takkan jadi
setan penasaran?"
Wajah Siu Yin mulai pucat dan menjerit kesakitan yang
hebat, ia berseru tersendat-sendat: "Engkoh Tio . . . aku . . .
tak . . . kuat ..."
Pemuda itu cepat memeluknya: "Yin-moay, mari kita ke
puncak di sebelah depan itu. Kita cari lain tempat dan
biarlah gua ini ditempati mereka."
"Baik."
"Biar kupanggulmu, Yin-moay." kata pemuda itu terus
memeluk tubuh kekasihnya lalu dibawa lari. Melihat
gerakannya dia tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi
juga.
Cu Jiang mengangguk. "Lo koko, hati budi pemuda itu
baik sekali."
"Hm, jangan menyiksa orang, lekas engkau tolong
mereka!"
Keduanya lalu melesat. Menjelang petang mereka tiba di
karang buntung. Sambil membopong kekasihnya, pemuda
itu selangkah demi selangkah menghampiri ke tepi karang.
"Tunggu, tunggu! " teriak Cu Jiang.
Pemuda itu terkejut dan berputar tubuh. Dia terkejut lalu
membentak keras2:
"Oh, kiranya sahabat ini orang persilatan. Apa
maksudmu hendak mempermainkan aku?"
"Sekarang aku sudah sadar, Bahwa kalau melihat orang
menderita tak menolong, itu berdosa. Maka aku buru2
mengejar kemari, " Cu Jiang tertawa.
"Sahabat sengaja hendak mencari-cari alasan untuk
bertengkar?" kata pemuda itu dengan nada bengis.
"Betapapun buruknya tetapi hidup itu lebih baik dari
mati. Kalian masih muda, mengapa sependek itu pikiran
kalian?"
Pemuda itu berputar tubuh dan lanjutkan langkah
menuju ke tepi karang buntung. Cu Jiang melesat
menghadangnya.
"Kongcu, mengapa pikiran kongcu begitu gelap?"
serunya.
Melihat gerakan Cu Jiang, pemuda itu terkejut, Siu Yin
yang masih dalam pondongannya makin tampak pucat,
keringatnya bercucuran deras. Rupanya dia tengah
menderita kesakitan hebat.
Cu Jiang mengangguk: "Rupanya nona itu menderita
keracunan yang bersifat pelahan bekerjanya."
Pemuda itu merentang mata dan berseru gemetar:
"Sahabat, engkau dapat mengetahui?"
"Tentu, " sahut Cu Jiang, "kalau tak tahu bagaimana
dapat mengatakan?"
"Sahabat, apakah engkau dapat menolongnya?"
"Hm, soal ini bukan main-main."
"Sahabat, bukan hanya dia, aku sendiri pun termakan
racun ganas, tetapi..."
"Tetapi bagaimana ?"
"Katanya, racun itu tak dapat diohati siapapun juga."
"Bagaimana kalau kucobanya?" Pemuda itu memandang
Cu Jiang dengan pandang bersangsi. Wajah pemuda yang
biasa saja itu apakah mampu untuk menolongnya.
"Letakkan dia" tiba2 Cu Jiang berseru.
"Jika sahabat tak dapat menolongnya ?"
"Mudah. Engkau boleh lanjutkan keputusan untuk terjun
kebawah jurang itu."
"Kalau racun dalam tubuhku sudah bekerja sehingga aku
tak dapat berjalan?"
"Aku bersedia unjuk melakukan pesanmu apa saja."
"Benarkah itu ?"
"Ucapan seorang lelaki seperti kuda lepas dari kandang."
"Baik," pemuda itu segera meletakkan gadis kekasihnya.
Wajah pemuda itu sendiripun mulai berobah cahayanya.
Rupanya racun dalam dirinya juga sudah mulai bekerja.
"Engkoh Tio, apakah aku harus mengalami penderitaan
yang lebih lama lagi ?" gumam Sio Yin.
"Yin-moay, mungkin Tuhan bermurah hati untuk
menolong kita."
Cu Jiang mengeluarkan mustika laba2 pemberian Bu-san
Sin li. Ia menjepitnya dengan kedua jari dan berseru:
"Kulumlah dalam mulut nona, tentu sembuh."
Sepasang mata Sin Yin yang sudah redup tiba2
membelalak lebar2 dan serentak timbullah pula tenaganya.
Dia bergeliat bangun seraya berseru gemetar:
"Mustika laba2 !"
"Nona kenal barang ini ?"
"Engkoh Tio, kita... ketolongan !" seru Siu-Yin dengan
kegembiraan yang meluap-luap.
"Benarkah Itu. Yin-moay ? Oh, Tuhan terima kasih !"
Kemudaan Siu Yin memandang lekat2 pada wajah Cu
Jiang. Beberapa saat kemudian, dengan nada gemetar ia
berseru: "Bukankah anda ini Toan kiam jan-jin ?"
Cu Jiang mengangguk.
Setiap orang persilatan tentu kenal akan nama Toan
kiam jan-jin. Maka menggigillah pemuda pelajar itu demi
mendengar nama itu.
"Anda .. . anda ... Toan kiam Jan-Jin ? Ah, sudah lama
aku mengagumi nama anda, sayang selama itu tak ada
rejeki untuk bertemu. Ah, maafkan kalau tadi aku berlaku
kurang hormat.”
"Sudahlah, rupanya kita dapat bertemu ini karena
memang berjodoh," kata Cu Jiang. Ia segera menyerahkan
mustika laba2 itu dan dengan tangan gemetar Siu Yin
menyambut lalu dimasukkan ke dalam mulut.
Hanya dalam beberapa jenak saja. wajahnya yang sudah
pucat itu, pelahan-lahan berobah merah segar lagi.
Beberapa saat kemudian Siu Yin dapat berdiri,
memuntahkan mustika itu dan disusupkan ke-mulut
kekasihnya.
Setelah beberapa waktu, pemuda itu menyerahkan
kembali mustika kepada Cu Jiang. katanya: "Namaku Tio
Ki Hung, selama hidup aku pasti takkan melupakan budi
anda."
"Ah, tak perlu saudara mengingat pertolongan sekecil
ini," kata Cu Jiang.
Diam2 ia memperhatikan sepasang kekasih yang penuh
kesetiaan itu. Ia tahu bahwa Siu Yin usianya sudah
setengah abad umurnya. Hanya karena mengandalkan obat
Giok-sik-leng-lu, maka dia dapat mempertahankan
kecantikan seperti masa remaja.
Sedangkan Tio Ki Hong lebih kurang baru berumur dua
puluhan tahun. Apakah mereka memang sudah ditakdirkan
menjadi jodoh ataukah karena kekhilafan.
Bagaimana reaksi pemuda itu apabila mengetahui
keadaan Siu Yin yang sebenarnya?
Walaupun pikirannya berkata begitu tetapi Cu Jiang tak
mau mengatakan apa2.
"Sauhiap, persoalan Tang Yin Yin yang meloloskan diri
dari Sin li kiong itu..."
"Dia mati secara mengenaskan sekali."
"Tidak, dia tidak mati."
"Apa? Dia tidak mati ?"
"Tidak, Dia masih hidup dengan selamat. Akulah yang
menolongnya dengan mustika ini.”
"O, mengapa orang2 di desanya mengatakan kalau dia
bunuh diri ke dalam sungai."
"Dia memang pintar. Siasat itu kena sekali "
"Dimana dia sekarang?"
"Ah, aku sendiri tak tahu."
Saat itu hari sudah gelap, Cu Jiang menganjurkan supaya
kedua kekasih itu segera tinggalkan tempat itu. Demikian
setelah menghaturkan terima kasih, Tio Ki Hong dan Siu
Yin segera mohon diri.
"Lo-koko, bagaimana kita sekarang ?" tanya Gu Jiang.
"Lanjutkan perjalanan lagi !" seru Thian-put thou.
Kedua orang itupun segera lari menuruni puncak dan
menuju ke jalan besar.
Selama dalam perjalanan ia tak henti-hentinya Cu Jiang
menyatakan kecemasannya terhadap diri puteri Tayli.
"Adik, menurut pendapatku, untuk saat ini lebih baik
jangan engkau menuju ke Pek-te shia." tiba2 Thian put thou
berkata.
"Mengapa?"
"Segala persoalan itu ada urutan tingkatannya. Yang
mana harus cepat2 dikerjakan dan yang mana boleh
pelahan sedikit. Thong-thian-kau takkan pindah tempat
sedang keselamatan kongcu menguatirkan.
Lebih dulu harus menolong kongcu itu ke Gedung
Hitam. Dikuatirkan nanti timbul lain2 perobahan yang tak
kita inginkan."
"Tetapi aku sudah berjanji dengan Ang Nio Cu . . ."
"Hm, bukankah kalian sudah saling berjanji akan
bertemu di gunung Keng-san? Bukankah hal itu takkan
terganggu?"
Cu Jiang kerutkan kening merenung, Akhirnya Ia dapat
menyetujui pendapat Thian-put-thou untuk menuju ke
Keng-san.
^0dooow0^
Demikian pada hari itu mereka tiba di kota Kui-cia.
Setelah beristirahat makan di sebuah kedai di luar kota,
tiba2 Cu Jiang menanyakan apakah dalam kota Kui-cia itu
tak ada cabang perkumpulan Thong-thian-kau.
"Hm, ya."
"Karena lo ko-ko pernah mencuri pil Hoa-tok tan dari
Ngo tok mo. tentulah lo koko paham keadaan markas
cabang itu."
"Tentu."
"Kurasa aku hendak menyelesaikan Iblis Ngo tok mo
sekalian."
"Baik, karena engkau membekal mustika yang dapat
mengobati racun, maka dapatlah engkau menghadapinya."
Tiba2 jongos menghampiri dan berkata bisik2:
"Apakah tuan berdua tetamu dari lain daerah?"
"Ya, kenapa?"
"Lebih baik tuan segera tinggalkan tempat ini."
"Mengapa?"
"Kota ini sedang diserang wabah penyakit. Tiap hari
tentu jatuh korban."
"Apa ? Wabah penyakit ?"
"Ya, mengerikan sekali. Warung inipun kami bersiapsiap
hendak menutupnya dalam dua tiga hari lagi."
"Terima kasih."
Setelah jongos pergi, Thian-put-thou kerutkan dahi,
katanya: "Aneh, aneh, ditempat ini tidak di serang banjir
atau kebakaran maupun peperangan, mengapa terjangkit
wabah penyakit menular ?"
"Lebih baik menyingkir saja daripada harus menerjang
bahaya," kata Cu Jiang.
"Tidak, disini tentu ada apa-apanya . ."
"Ada apanya ? Apakah maksud lo ko-ko, wabah itu tidak
wajar dan buatan manusia ?"
"Benar, dalam dunia persilatan memang tak jarang hal
itu terjadi."
"Tetapi apa tujuan orang hendak mencelakai jiwa
manusia yang tak berdosa ?"
"Mungkin jiwa, harta benda atau mungkin untuk sesaji
sembahyangan."
Tiba2 diluar jalan tampak beratus-ratus rakyat, tua
muda, besar kecil, laki perempuan berjalan berduyun-duyun
dalam keadaan yang kacau balau.
"Apakah yang telah terjadi ?" Thian-put-thou memanggil
seorang jongos dan bertanya.
"Selain Malaekat-hidup yang hendak menyembuhkan
wabah penyakit itu, apa lagi.. .."
"Malaekat hidup ?"
"Ya."
"Bisa mengobati wabah penyakit ?"
"Bukan saja bisa mengobati, pun dapat melindungi. Asal
orang mau minum air suci dari Malaekat-hidup itu,
Jiwanya tentu selamat."
"Dimana Malaekat hidup itu ?"
"O, di biara Sian-yu kwan lebih kurang sepuluh li dari
sini."
"Bagaimana wajah Malaekat-hidup itu?"
"Ini .. . tak ada orang yang pernah melihatnya? Yang
minta air-jimat, cukup datang menghadap dan
menyerahkan uang sembahyangan. Heh heh... tak mungkin
Malaekat-hidup itu akan menipu. Kabarnya pagi2 tadi
seorang bernama Ma Han Lim berasal dari kota. pura2
menyaru sebagai orang miskin yang hendak mohon air-
Jimat. Dia dikenali oleh Malaekat hidup dan seketika rubuh
mati..."
"O. sudah berapa lama Malaikat hidup itu muncul ?"
"Rasanya belum lama."
"Baik," setelah membayar rekening, Cu Jiang dan Thianput
thou segera melangkah keluar, Thian put-thou
mengajak Cu Jiang untuk menyaksikan keramaian itu.
"Apakah lo-koko hendak campur tangan?"
"Tidak belum semudah begitu. Kukira Malaekat hidup
itu tentulah perbuatan dari kaum Thong thian kau. Mereka
hendak memperdayai rakyat, mengumpulkan harta benda
dan pengikut ?"
"Mungkinkah begitu ?" Cu Jiang menegas.
"Jangan lupa bahwa iblis Ngo-tok-mo itu seorang ahli
penyebar racun yang lihay."
"O," tiba2 Cu Jiang teringat. Keduanya segera ayunkan
langkah menuju ke biara Sian-yu-kwan. Dimuka biara itu
berkerumun penuh sesak dengan orang2. Suasananya
seperti pasar malam.
Cu Jiang dan Thian-put-thou berhasil menyusup ke dekat
pintu biara. Di muka pintu dijaga empat orang imam yang
mencegah orang berdesak-desakan hendak masuk. Orang2
itu harus masuk satu persatu.
Setelah beberapa waktu menunggu akhirnya Cu Jiang
mendapat giliran masuk. Keempat imam itu
memandangnya lalu menegur.
"Apa tidak membawa uang lilin?"
"Ada," kata Cu Jiang. Dia segera dipersilahkan masuk.
Cu Jiang ikut dalam urut-urutan orang yang masuk ke
dalam ruang besar. Sebuah meja sembahyangan yang besar,
diterangi dengan lilin yang terang benderang.
Orang yang hendak minta air mantra harus berlutut
memberi hormat lalu menyerahkan uang dan imam yang
menjaga di pinggir meja memberikan selembar kertas hu
(mantra) warna kuning.
Menunggu hampir setengah jam, baru Cu Jiang bisa
berada nomor dua dari orang yang paling depan. Di
depannya itu seorang tua perut gendut, pakaian bagus. Dia
tampaknya tegang sekali. Cu Jiang hanya terpisah tiga
langkah dari orang tua gendut itu.
Begitu tiba di muka meja, orang itu terus berlutut dan
berkemak kemik memanjatkan doa: "Hamba Ut Toa Ki,
mohon dengan sangat agar Sin-sian (malaekat) menurunkan
belas kasihan untuk menyembuhkan lima orang keluarga
hamba yang sakit."
Tiba2 dari balik tirai dibelakang meja terdengar suara
orang: "Ui Toa Ki. Sin-sian menitahkan agar engkau
menghaturkan seribu tail emas."
Orang itu gemetar dan berkata dengan tersendat-sendat :
"Hwat sin-sian .... hamba .... hamba tidak kaya ..."
"Ui Toa Ki, ini bukan jual beli yang boleh tawar
menawar. Apakah lima orang jiwa tak berharga seribu tail ?
Apalagi itu suatu dana kebaikan untuk kepentingan orang
banyak."
"Baik .. , baik . .. hamba baru membawa dua ratus...."
"Baik. sisanya boleh suruh orang mengantar kemari."
"Ya, ya," ia segera menyambuti beberapa lembar kertas
kuning, keringatnya bercucuran deras sekali. Rupanya ia
gemetar karena harus mengeluarkan biaya yang begitu
banyak.
"Bakar kertas hu itu dan abunya terus telan saja. Segala
macam penyakit tentu hilang. Nah, pergilah!" seru orang
dibelakang kain tirai pula.
Setelah menyerahkan uang dua ratus tail, orang gendut
itupun terus merangkak keluar pintu samping.
Sekarang giliran Cu Jiang. Dia agak ragu-ragu tetapi
mengingat dia hendak menyelidiki, terpaksa ia lakukan juga
upacara itu. Berat rasa hatinya harus berlutut memberi
hormat kepada kain tirai.
Thian put thou tak tampak, entah menyelinap ke mana
saja.
"Lekas, jangan mengganggu lain orang yang menunggu
giliran !" imam di pinggir meja berseru.
Cu Jiang terpaksa melakukan juga. Dia berkata: "Tecu
bernama Cu Jiang kebetulan lewat di desa ini, mohon Sinsian
suka memberikan hu untuk menjaga wabah penyakit
itu."
Habis berkata ia terus ulurkan tangan dimasukkan dalam
lubang diatas meja. Tetapi saat itu juga tangannya telah
disambut oleh sebuah tangan yang memancarkan tenagadalam
kuat.
Dia terkejut dan mengakui bahwa apa yang diduga lo
koko Thian put thou memang benar. Malaikat-hidup itu
seorang jago silat yang berilmu tinggi.
Cu Jiangpun segera memancarkan tenaga-dalam untuk
bertahan. Ternyata orang didalam itu tidak lemah. Diapun
pancarkan tenaga dalam lebih hebat lagi. Cu Jiang
mendapat akal. Dia pura2 meringis kesakitan.
"Orang she Cu engkau terkena penyakit aneh. Bila
hendak mengobatimu. Masuk dari pintu samping sebelah
kanan !"
"Engkau membawa uang lilin tidak ?" seru imam yang
menjaga disamping meja.
"Berapa ?"
"Sebutir mutiara."
"Baik, bangunlah !"
Tangan yang menjabat tangan Cu Jiang itupun
mengendor dan Cu Jiang segera berbangkit. Sejenak
merenung ia terus melangkah masuk pintu samping kanan.
Begitu tiba di ruang besar pandang matanya terbentur
pada pemandangan yang mengejutkan.
Ruang itu sekelilingnya ditutup dengan kain layar.
Malaikat Hidup itu juga tidak kelihatan berada di situ.
Hanya dua orang lelaki baju hitam memandang berkilatkilat
ke arah Cu Jiang. Juga terdapat seorang imam yang
duduk bersila dengan mata menunduk.
Suasana dalam ruang itu sungguh menyeramkan. Salah
seorang dari kedua lelaki baju hitam segera menggapai ke
arah Cu Jiang.
"Mari, ikut aku."
Cu Jiang mengangguk dan mengikutinya. Setelah
melintasi ruang besar itu, ia tiba di sebuah halaman besar
yang sunyi senyap, Setelah tiga kali melintasi halaman
barulah ia tiba di sebuah bangunan rumah yang dikelilingi
pagar tembok tinggi. Rupanya bangunan itu merupakan
tempat tinggal para Imam.
Setelah membawa masuk Cu Jiang, lelaki baju hitam itu
diam2 terus menyelinap pergi. Seorang lelaki tua Jubah
kuning, duduk dibagian yang tinggi dalam ruang bangunan
itu. Matanya berkilat-kilat memandang Cu Jiang sampai
beberapa saat.
"Sahabat, kepandaianmu hebat juga" serunya. Cu Jiang
tertegun, serunya. "Kedatanganku kemari hendak meminta
hu."
"Aku tahu."
"Lalu mengapa aku diundang kemari?"
"Kasih tahu dulu nama perguruanmu!"
"Apa hubungan hal itu dengan pengobatan penyakitku ?"
"Jangan bertanya, engkau hanya wajib menjawab !"
"Aku tak mempunyai perguruan, kepandaianku berasal
dari keluargaku sendiri."
"Siapa ayahmu ?"
"Dahulu dia seorang piausu."
"Engkau berlatih dengan senjata apa ?"
"Pedang."
"Bagus!" seru orang tua jubah kuning itu lalu meneriaki
orangnya. Seorang lelaki berpakaian hitam muncul dari
pintu samping dengan membawa pedang. Cu Jiang tak
mengerti apa yang akan terjadi.
"Cu Ing Jit. engkau boleh bertanding pedang dengan
dia." seru orang tua jubah kuning. Memang Cu Jiang
menggunakan nama Cu Ing Jit.
"Bertanding pedang ? Mengapa harus begitu?" Cu Jiang
terkejut.
"Jangan tanya !"
"Kedatanganku kemari bukan untuk bertanding ilmu
pedang," Cu Jiang membantah.
"Jangan banyak bicara !"
Akhirnya Cu Jiang memutuskan. Ia akan menurut saja
perintah orang. Ia ingin tahu apa saja tujuan mereka. Segera
ia menuju ketengah halaman. Lelaki baju hitam itupun
menyerahkan sebatang kepada Cu Jiang.
"Sahabat, engkau harus mengeluarkan seluruh
kepandaianmu kalau tidak engkau tentu menyesal."
katanya.
Memang Cu Jiang tak membawa pedang kutungnya.
Pedang kutung itu dibungkus kain dan dibawa Thian putthou.
"Menyesal bagaimana?" tanya Cu Jiang seraya
menyambuti pedang.
"Terluka atau mati, engkau sendiri yang menanggung
akibatnya."
"Ini mengadu kepandaian atau bertanding dengan
taruhan jiwa?"
"Kalau tak bertanding sungguh2, tentu tak dapat
diketahui kepandaianmu yang sesungguhnya!"
"Aku tak mengerti apakah maksudnya semua ini ?"
"Tak perlu tanya. Nanti engkau tahu sendiri, Itupun
kalau engkau masih hidup."
Cu Jiang kerutkan dahi. Ia benar2 tak mengerti apa
maksud orang itu.
"Lekas cabut pedang !" seru orang itu.
Cu Jiang terpaksa menurut, Lelaki baju hitam itupun
segera menghunus pedangnya dan terus menaburkannya
dalam suatu gerak lingkaran yang menimbulkan tebaran
sinar pedang.
"Sahabat, kita saling menyerang dalam tiga jurus !"
"Baik."
“Awas, sambutlah. . ."
"Silahkan !"
Lelaki baju hitam itu berubah merah wajahnya. Segera ia
menyerang dengan jurus yang ganas. Cu Jiang hanya
gunakan tiga bagian tenaganya untuk menghadapi.
Tring tring .. . pedang saling beradu dan kekuatan kedua
belah fihak ternyata berimbang.
"Kali ini harap hati2!" seru orang baju hitam itu seraya
menyerang dengan gerak yang cepat dan dahsyat. Ujung
pedang mengarah ketiga buah jalan darah didada Cu Jiang.
Kali ini Cu Jiang gunakan lima bagian tenaganya untuk
menangkis dan dapat mengimbangi.
"Sahabat," orang itu tertawa dingin. "engkau selalu
hanya bertahan. Serangan yang ketiga ini memastikan
hidup matimu. Waspadalah !"
Dalam berkata-kata itu pedangpun sudah meluncur
cepat. Tampaknya orang itu menggunakan seluruh
kepandaiannya untuk menyerang.
Terpaksa Cu Jiang gunakan delapan bagian tenaganya
untuk bertahan.
Tring .. . pedang orang baju hitam itu terpental dan
orangnyapun tersurut mundur dua langkah.
"Sudah cukup ?"
"Sahabat, sekarang giliranmu yang menyerang !"
"Ah, tak usah."
"Tidak bisa." orang itu berkeras.
"Selama ini aku hanya menyerang cukup satu jurus saja."
"Apa engkau hanya mampu menyerang dalam satu jurus
saja ?"
"Katakan begitu."
"Baik."
Cu Jiang memutuskan, sebelum ia Jelas akan keadaan
orang, ia takkan menggunakan jurus yang ampuh. Ia akan
menggunakan delapan bagian tenaga dan setengah dari
Jurus Thian te-kiau-thay. Sekalipun begitu, perbawanya
masih tetap dahsyat.
Tring .... orang itu mundur sampai beberapa langkah.
Ujung pedang Cu Jiang mengarah ke dada dan terus
membayanginya, terpisah hanya satu dim tetapi tidak
ditusukkan.
Wajah orang itu berobah menyeramkan.
"Bagus, boleh masuk kemari !" seru orang tua berjubah
kuning.
Cu Jiang hentikan serangannya dan mengembalikan
pedang kepada orang baju hitam itu.
"Ilmu pedangmu menarik sekali," orang tua jubah kuning
itu memuji.
"Ah, jangan memuji."
"Engkau lulus ujian !"
"Lulus ujian ? Apa artinya ?"
"Engkau akan diangkat sebagai pengawal dari
perkumpulan kita!"
"Tetapi kedatanganku kemari karena hendak minta obat.
bukan untuk melamar menjadi pengawal .. ."
"Engkau tak boleh menolak !"
Cu Jiang menyeringai heran lalu bertanya perkumpulan
apakah yang akan dimasukinya itu.
"Thong-thian kau!"
Mendengar itu benar2 Cu Jiang kagum akan ketajaman
mata Thian put-thau. Thian put thou dengan cepat dapat
menduga bahwa wabah penyakit di kota itu adalah buatan
dari kaum Thian-thong-kau hendak mengumpulkan dana
dan mencari pengikut.
"Tong-thian kau ?" Cu Jiang pura2 terkejut.
"Ya. Perkumpulan Thong thian kau dalam waktu yang
tak lama lagi akan bergerak untuk menguasai dunia.
Sahabat, kesempatan yang engkau peroleh ini tak
sembarang orang bisa mendapatkan. Aku adalah hu-hwat
dari cabang Thong-thian-kau kota Kui-ciu, Engkau jelas
sekarang ?"
"Tetapi, aku ... "
"Jangan banyak bicara ! Engkau tak dapat memilih lain."
"Jika aku tak ingin menjadi pengawal Thong thian-kau ?"
Orang tua jubah kuning itu bertepuk tangan dan pintu
samping terbuka. Diatas meja tampak beberapa butir kepala
manusia yang masih berlepotan darah.
"Seperti itulah !" serunya.
Melihat itu bergidiklah bulu roma Cu Jiang Seketika
hawa pembunuhan meluap-luap dalam dadanya. Tetapi dia
pura2 bersikap kaget, serunya:
"Aku . . . suka menerima . . . ."
Pintu itupun tertutup lagi. Kemudian lelaki tua berjubah
kuning itu segera memerintahkan orang berbaju hitam
supaya membawa Cu Jiang keluar menunggu perintah.
"Aku masih mempunyai seorang kawan yang datang
bersama, aku hendak memberitahu kepadanya dulu . ."
"Tidak boleh !"
"Ikut aku !" lelaki baju hitam itu melambai kepada Cu
Jiang.
Dengan membawa sikap seperti enggan, Cu Jiang
mengikuti orang itu masuk ke dalam halaman samping.
Dalam ruang terdapat empat orang pemuda yang mengerut
dahi. Rupanya mereka juga terpilih menjadi pengawal
Thong-thian-kau. Melihat kedatangan Cu Jiang. merekapun
diam tak mengacuhkan.
"Tunggulah disini, Jangan coba2 membuat rencana yang
tidak-tidak, tak ada orang yang mampu keluar dengan
masih bernyawa dari tempat ini" habis berkata lelaki baju
hitam itu terus ngeloyor pergi.
Kini kelima orang itu saling berpandangan tanpa
berkata-kata apa.
Tak berapa lama, dari lain ruangan terdengar suara
orang dan gemerincing pedang lalu erang jeritan ngeri.
Tentulah seorang calon sedang diuji dan karena
kepandaiannya kurang lalu menemui kematian.
Seperminun teh lamanya, terdengar lagi suara
pertempuran. Tetapi kali ini rupanya dengan adu pukulan,
tidak menggunakan pedang.
Setelah berhenti beberapa waktu, seorang lelaki tua kurus
berumur lebih kurang lima puluhan tahun, dibawa masuk
ke dalam ruang itu. Begitu melihat orang itu, diam2 Cu
Jiang bersorak dalam hati. Orang itu tak lain adalah lokokonya
yakni Thian put-thou. Dia telah lulus dari ujian.
Dengan langkah bergoyang gontai, Thian-put-thou
melangkah masuk. Setelah pengawal baju hitam itu pergi,
dia terus melangkah kedepan mata kepada Cu Jiang,
serunya: "Aku si tua ini sungguh masih punya rejeki besar.
Dalam umur yang begini tua, aku masih mendapat
kesempatan untuk mengangkat nama."
Keempat pemuda yang lebih dulu berada dalam ruang
itu tak menyahut.
Thian-put-thou Ciok Yau Hong itu sudah berumur
delapan puluh tahun, rambutnya putih. Tetapi karena dia
menyaru, maka sukarlah orang mengenalinya.
"Ha, ha." Cu Jiang menyambut tawa gembira.
Thian-put-thou kerutkan alis lalu berkata dan
menyerahkan bungkusan pedang kutung: "Adik kecil, inilah
barangmu !"
"Terima kasih." Cu Jiang menyambutinya.
Beberapa waktu kemudian, masuklah lelaki jubah kuning
dengan dua orang pengawal baju hitam. Mereka
memandang rombongan enam orang yang berada dalam
ruang itu lalu berkata dengan nada sarat:
"Saudara2 telah mendapat kehormatan untuk menjadi
pengawal perkumpulan kami. Lebih dulu kami hendak
menghaturkan selamat. Kemudian akan membagikan tugas
menurut urutan kepandaian kalian.
Sekarang, beberapa pil ini dapat menambah tenaga dan
kekuatan, pemberian khusus dari Malaikat hidup sebagai
tanda menyambut kedatangan kalian."
Kedua pengawal baju hitam lalu maju dan membagikan
sebutir pil merah kepada setiap orang. Setelah menyambuti,
keempat pemuda itu tampak bersangsi untuk menelan.
"Jangan tak menghargakan kebaikan Hwat-sin-sian
(Malaekat hidup), makanlah!"
Setelah memberi kicupan ekor mata, Cu Jiang terus
menelan pil itu demikian pula Thian-put thou. Melihat itu
keempat pemuda itupun segera mengikuti.
Lelaki jubah kuning tertawa serunya: "Bagus, sebentar
lagi akan disalurkan hidangan, silakan nanti kalian
menikmati sepuas-puasnya, Malam ini kita nanti
mengadakan pertemuan!"
"Bagus! Thian put-thou bertepuk tangan, sudah tiga
bulan aku si tua ini tak pernah makan enak dan sebulan tak
pernah minum arak!"
Sejenak memandangnya lelaki jubah kuning itupun
segera meninggalkan ruang itu.
Menjelang petang, memang benar muncul orang yang
mengantar hidangan dan arak. Walaupun tak terdiri diri
masakan yang lezat tetapi juga cukup untuk membuat lidah
bergoyang. Saat itu keempat pemuda tadi sudah berobah
sikapnya.
Mereka bicara dan tertawa. Wajahnya yang mengerut,
sudah lenyap. Thian-put thou juga seperti berobah adanya.
Diam2 Cu Jiang sudah mengulum katak mustika,
kemudian diam2 menaruhkan mustika itu ke dalam cawan
araknya dan lalu ditukarkan dengan cawan Thian-put thou.
Setelah minum, tak berapa lama tingkah laku Thian-put
thou sudah normal kembali. Tetapi dia tak mengetahui hal
itu.
Menjelang tengah malam, dua orang pengawal baju
hitam muncul dan salah seorang berseru mengajak mereka
berangkat.
Mereka keluar dan biara itu menyusur jalan menuju ke
barat.
Setelah tiba ditempat yang sunyi. Cu Jiang baru turun
tangan menotok jalan darah kedua pengawal baju hitam itu.
"Hah, apa-apaan itu ?" keempat pemuda itu berteriak
kaget.
Cu Jiang tak sempat memberi penjelasan lagi, dengan
cepat dia berkata:
“Pil yang saudara telan tadi, mengandung racun.
Sekarang akan kuberi obat dan setelah itu silakan saudara
pergi !"
Tanpa memberi kesempatan. Cu Jiang memaksa
keempat orang itu supaya mengulum katak-mustika.
Mereka menurut. Beberapa saat kemudian mereka seperti
sadar.
"Mengapa tak lekas pergi!" bentak Thian-put thou.
Keempat pemuda itu memberi hormat lalu melesat pergi.
“Lo koko, kita tunggu dulu beberapa waktu lagi." bisik
Cu Jiang.
"Apa maksudmu?"
"Tunggu mereka datang kemari hendak memberi
pertolongan kepada kedua orangnya ini..
"Apa tak kuatir kalau kita akan ketahuan ?"
"Tak apa, kalau secara gelap tak dapat kita harus
menempuh dengan cara yang terang-terangan. Silahkan lo
koko menyingkir dulu."
"Mengapa?"
"Yang ku arah hanyalah si Iblis Ngo-tok-mo itu. Jika aku
bertindak seorang diri, tentu lebih leluasa !"
"Apakah engkau hendak membuang aku?"
"Ah, Jangan lo koko berpendapat begitu. Berbicara soal
pengetahuan dan pengalaman sudah tentu aku tak menang
dengan lo-koko. Hanya kali ini dalam menghadapi jago2
dari Kawanan iblis ..."
"Sudahlah, Jangan panjang lebar. Dimana kita nanti
akan berjumpa?"
"Di warung kecil yang kemarin kita singgahi itu.
Disebelahnya terdapat sebuah penginapan, bagaimana
kalau kita bertemu di situ !"
"Sudah. Hati-hati saja di jalan."
"Terima kasih."
Habis memberi pesan Thian put thou terus berputar
tubuh dan melangkah pergi. Tapi belum berapa jauh sudah
kembali lagi.
"Apakah lo koko hendak memberi pesan lagi?"
"Hampir saja aku melupakan sebuah urusan besar."
"Urusan apa."
"Soal wabah penyakit itu. Sebenarnya itu merupakan
racun yang bekerjanya lambat. Perbuatan keji dari pihak
Thong-thian kau itu tentu dilakukan dengan cara diam2
menyebarkan racun dalam sumur2 rumah rakyat. Jika tak
memperoleh obat yang tepat tentu akan menimbulkan
bencana..."
"Baiklah."
"Kita bekerja secara terpisah..."
"Bagaimana tindakan lo koko?"
"Hi, hi, kerjaan lama. Malam ini aku hendak berziarah
ke biara Sin yu kwan, menjenguk si Malaekat hidup itu.
Mereka memberi hu, pada hal itu tentu dilumuri dengan
obat penawar racun. Di samping itu akan menggali tanah
baru."
"Apa maksud lo-koko?"
"Menganjurkan supaya penduduk jangan menggunakan
air dari sumur tetapi membuat sumur baru atau
menggunakan air sungai. agar terhindar dari keracunan."
"Bagus !"
"Sudahlah, pencuri tua akan mulai bekerja !" habis
berkata Thian put thou terus melesat sampai beberapa
tombak dan pada lain saat sudah lenyap dalam kegelapan.
Diam2 Cu Jiang kagum akan ilmu meringankan tubuh lo
kokonya itu. Kecuali tata langkah Gong-gong pon hwat,
rasanya dalam dunia persilatan tak ada lain ilmu yang
mampu menandingi gerakan Thian put-thou itu.
Beberapa waktu kemudian, tampak beberapa sosok
bayangan berlari-lari mendatangi. Yang di muka tak lain
adalah orang tua jubah kuning itu.
Cu Jiang serentak menyongsong dan berseru: "Laporan
kepada hu hwat, telah terjadi peristiwa besar."
Rombongan pendatang itu berhenti. Orang tua jubah
kuning memandang kedua pengawal baju hitam yang
menggeletak di tanah lalu berseru:
"Peristiwa apa ?"
"Kita menerima serangan gelap yang tak terduga-duga !"
"Dan orang2 itu kemana ?"
"Dibawa mereka !"
"Mengapa engkau tidak ikut dibawa?"
"Uh . .. hamba bukan kerbau. Dengan kepandaian yang
kumiliki, mereka tak mampu membawa aku."
"Apakah kedua orang itu mati?"
"Tidak, hanya ditutuk jalan-darahnya tetapi entah
dengan ilmu tutukan apa, aku tak mengerti."
"Siapa musuh yang menyerang itu?"
"Semua mengenakan pakaian hitam sampai
mukanyapun tertutup kain hitam..."
"O, kutahu. Tentulah pihak Gedung Hitam hendak
mencari gara-gara."
Orang tua jubah kuning itu terus memeriksa kedua anak
buahnya yang menggeletak di tanah itu. Tetapi sampai
beberapa saat dia tak berhasil apa2. Jelas diapun tak tahu
ilmu tutuk apa yang digunakan musuh untuk menutuk jalan
darah ke dua orang itu.
Diam2 Cu Jiang geli. Memang dia mempergunakan ilmu
tutukan dari kitab Giok kah-simkeng. Tokoh-2 silat pada
umumnya tentu tak mengerti ilmu tutukan itu.
"Bawa mereka pulang ke markas !" teriak lelaki jubah
kuning dengan marah.
Rombongan anak buahnya segera memanggul kedua
korban itu Kemudian mereka melanjutkan perjalanan
lagi,.Tak berapa lama tiba di sebuah pedesaan.
Setelah saling memberi sandi rahasia, mereka lalu
masuk. Lingkungan markas itu memang luas dan besar.
Sepanjang jalan terdapat pos2 penjagaan yang ketat.
Sampai jalan masuk tentu dijaga oleh pengawal. Cu Jiang
dibawa kesebuah ruang oleh seorang pengawal.
Dalam ruang itu beberapa anak buah tengah bergembira
ria, bersorak dan mabuk-mabukan sehingga mereka tak
mengacuhkan kedatangan Cu Jiang.
Cu Jiang duduk disebuah meja dekat jendela.
Dia tak mau membuang waktu. Keselamatan puteri
Tayli selalu membayangi benaknya. Urusan di tempat itu
harus selesai malam itu. Paling lambat sampai besok pagi.
Tiba2 seorang thau-bak atau kepala kelompok, muncul di
pintu dan melongok ke dalam.
"Ong San Ko. kalian berenam nanti menjelang tengah
malam harus pergi ke biara Sianyu-kwan untuk mengganti
penjagaan di sana !"
Ternyata kawanan anak buah yang berada dalam
ruangan itu tengah berjudi dan minum arak. Salah seorang
yang bermuka hitam mengangkat muka dan berseru:
"Li thaubak, apakah engkau yang memimpin kami?"
"Hm."
"Siapakah yang menjadi Malaekat hidup besok pagi?"
"Song hu-hwat."
"Uh, sukar dilayani . .."
"Ong Sam Ho, jangan kuatir, lain orang malah mudah."
"Apa yang harus kita sediakan?"
"Mudah saja, bawakan seguci air yang sudah bertuliskan
huruf2 mantra."
"Harus meminta kepada Song hu-hwat?"
"Tak usah, besok aku yang membawanya."
“Saudara2, mari kita lanjutkan permainan lagi sampai
puas," si wajah hitam itu berseru lalu memegang lagi
kartunya.
Kemudian thaubak yang disebut orang she Li itu berseru
kepada Cu Jiang: "Thamcu memanggil, mari ikut aku!"
"Baik," Cu Jiang berbangkit lalu melangkah. Dia masih
membawa bungkusan pedang.
"Hai. bung, taruh saja barang itu disini. Tak ada orang
yang mau mencurinya."
"Tetapi ini . . . tak dapat terpisah dari aku."
"Apa berisi pusaka?"
"Hampir begitulah."
Salah seorang anak buah yang tengah bermain judi itu,
menyelutuk:
"Kabarnya pendatang baru itu berkepandaian tinggi
sehingga Tio si su saja kalah . . ."
"Mungkin akan diberi jabatan yang keras. Karena
walaupun kepandaiannya tinggi tetapi orangnya dingin."
sambut Ong Sam Ho.
Cu Jiang tertegun. Dipanggil oleh pimpinan tentu tak
boleh membawa bungkusan barang. Tetapi di mana dia
harus menaruh bungkusan pedang itu.
"Lekas apa engkau suruh thamcu menunggu sampai
lama?" teriak Li thaubak.
Karena belum mendapat akal, terpaksa Cu Jiang
membawa bungkusan pedangnya. Thaubak itu hanya
tertawa tapi tak berkata apa2.
Setelah melalui berlapis-lapis penjagaan, mereka tiba di
sebuah ruang besar yang diterangi dengan lampu besar.
"Anggauta yang baru itu telah menghadap." seru Li
thaubak.
"Suruh masuk."
Li thaubak melirik kepada Cu Jiang dan menyuruhnya
dia sendiri yang masuk. Cu Jiang mengangguk. Ia masuk
dan melangkah naik ke atas titian dan masuk ke dalam
ruang. Dalam ruang Itu terdapat sebuah meja besar,
rupanya sebagai tempat untuk memberi perintah.
Di belakang meja itu duduk seorang tua berjubah kuning
emas Matanya berkilat-kilat merah seperti mata ular
sehingga menimbulkan rasa seram. Pada kedua samping
meja terdapat delapan kursi dari kayu jati. Tetapi baru berisi
tiga orang lelaki tua dan seorang lelaki setengah tua
berjubah kuning.
Cu Jiang menduga bahwa lelaki tua berjubah emas
duduk dibelakang meja pimpinan itu tentulah iblis Ngo tokmo.
"Menghaturkan hormat kepada thamcu." begitu masuk
Cu Jiang memberi hormat kepada lelaki di meja pimpinan
itu.
"Oh, engkau membawa apa itu?"
"Perlengkapan bekal."
Ngo tok mo mengerling memandang ke arah tiga lelaki
tua jubah hitam yang duduk di sebelah kanan.
"Ku congkoan !"
"Siap !" seru salah seorang lelaki jubah hitam itu.
"Sediakan semua persiapan dan tunggu perintah dari
thancu."
"Di ruang Bu-thia," katanya pula.
"Baik."
Ruang Bu-thia atau tempat berlatih silat saat itu terang
benderang. Di panggung telah hadir tokoh2 pimpinan yang
berada dalam ruang tadi.
Di bawah panggung terbentang sebuah lapangan seluas
tiga tombak. Di sekeliling lapangan itu berjajar-jajar dua
puluhan orang busu atau jago silat, tua dan muda.
Cu Jiang ditempatkan di pintu masuk.
"Song huhwat !" seru Ngo-tok-mo.
Lelaki tua Jubah kuning berdiri dari tempat duduk dan
memberi hormat.
"Siapa namanya?"
"Cu Ing Jit."
"Kepandaiannya tergolong tingkat ke berapa?"
"Dalam ujian, dengan sebuah jurus dia dapat
mengalahkan Tio sisu, rupanya bisa digolongkan kelas
satu."
"Kelas satu?"
"Ya,"
"Suruh seorang busu kelas satu untuk bertanding dengan
dia ?"
"Baik."
Lelaki jubah kuning itu berpaling kearah busu yang
duduk pada Jajaran kedua dan berseru: "Kwee sisu, cobalah
dia barang sejurus !"
Seorang bu-su berumur lebih kurang 40an tahun segera
berbangkit dan mengiakan. Dia melangkah ke tengah
gelanggang, memberi hormat ke arah panggung lalu
berputar tubuh dan berdiri di samping.
"Cu Ing Jit, pilihlah senjata dan bertandinglah dengan
Kwee si-su !"
Sebenarnya Cu Jiang sudah sebal tetapi apa boleh buat,
dia harus bersabar lagi. Tanpa menyahut ia terus
menghampiri rak senjata dan sembarangan saja mengambil
sebatang pedang lalu menuju ke gelanggang dan
berhadapan dengan jago yang bernama Tio si-su. Tangan
kirinya tetap mencekal bungkusan pedang kutung.
Orang she Tio itu kerutkan kening dan berseru :
"Letakkan bungkusanmu itu."
"Tak usah !" Cu Jiang tersenyum.
"Mengapa engkau begitu sombong ?"
"Bukan sombong tetapi aku memang selamanya hanya
menggunakan sebelah tangan saja."
"Kita bertandang sejurus saja."
"Silakan menyerang dulu!"
"Tidak, engkau yang mulai dulu"
"Si su adalah tokoh terkemuka dalam perkumpulan kita,
bagaimana aku berani berlaku kurang hormat"
"Jika begitu, siap2lah menyambut seranganku ini!"
pedang dileburkan dan berhamburan hawa dingin melanda
Cu Jiang. Jalan-darah yang penting diseluruh tubuh, dari
atas sampai bawah. terancam ujung pedang. Hebatnya
membuat orang leletkan lidah.
Saat itu Cu Jiang tak berani menunjukkan siapa dirinya.
Dia hanya menangkis. Terdengar dering pedang beradu dan
serangan Kwee si-su itu semua dapat ditangkisnya. Merah
padam muka jago she Kwee itu.
"Maaf. sekarang harap menyambut seranganku." seru Cu
Jiang. ia terus gunakan salah sebuah jurus dari ilmu pedang
Thian te kiau thay. Pedang menyerang datar dan lurus ke
muka tetapi Kwee si su kelabakan tak dapat menangkis dan
terpaksa mundur tiga langkah. Wajahnya menyeringai tak
sedap dipandang.
Cu Jiang tak mau mengejar. Ia menarik pulang
pedangnya.
"Cukup!" seru Ngo-tok-mo "persidangan dibubarkan,
tujuh hari kemudian akan diadakan pengangkatan jabatan
yang resmi."
Selain bu su serempak berdiri dan memberi hormat. Ngo
tok mopun segera masuk kedalam pintu samping.
Sementara seorang bu-su lain mengantarkan Cu Jiang
kembali kedalam kamar peristirahatannya.
Keenam bu su yang berjudi tadi sudah selesai dan siap
menunggu perintah. Diatas meja terdapat sebuah botol,
tentulah berisi air hu atau mantra.
Tak berapa lama, Li thaubak bergegas datang dan
berkata:
"Cu In Jit, kamar ini hanya tinggal engkau seorang,
silakan beristirahat, jangan pergi kemana-mana."
"Baik."
Ketujuh orang itupun segera tinggalkan ruangan. Cu
Jiang menutup pintu dan memadamkan lampu lalu rebah di
ranjang. Dia memikir-mikir bagaimana tindakan yang akan
dilakukan.
Saat itu sudah lewat tengah malam, suasana sunyi sekali.
Kecuali hanya terdengar derap langkah dari para peronda,
tak terdengar apa2 lagi.
Cu Jiang memutuskan untuk bertindak. Ia berganti
pakaian dan mengenakan kain kerudung muka, membawa
pedang kutung. Setelah siap dalam penyamaran sebagai
Toan-kiam-jan-jin, dia terus ke luar.
Para peronda itu hanya anak buah biasa. Sudah tentu
mereka tak dapat mengetahui gerak-gerik Cu Jiang.
Gedung itu mempunyai banyak sekali ruangan sehingga
sukar untuk mencari tempat Ngo tok-mo. Dia menuju ke
sebuah ruang yang paling akhir sendiri lalu bersembunyi di
ujung yang gelap.
Tiba2 sesosok bayangan masuk ke dalam ruang dan
berseru: “Hamba Lu Goan, mohon menghadap hun thanciang
untuk menghaturkan laporan penting!"
Semangat Cu Jiang timbul seketika. Ternyata dia telah
menemukan ruang yang tepat.
Dari dalam ruang itu terdengar suara Ngo-tok-mo yang
menusuk telinga: "Soal penting apa?"
"Cong-than, memberitahukan sebuah peristiwa yang
penting!"
"Katakan!"
"Menurut laporan rahasia, puteri Tayli yang pesiar ke
Tiong goan telah ditawan oleh pihak Gedung Hitam. Dan
tokoh yang bernama Toan-kiam-jan-jin itu ternyata telah
menjabat pangkat sebagai Tin tian ciang-kun (jenderal
bhayangkara keraton) Tayli. Diapun murid dari Koksu
Gong gong-cu. Pimpinan mengumumkan, supaya setiap
ketua cabang menyelidiki tentang gerak gerik Toan kiamjanjin.
Kalau menemukannya tak boleh bergerak sendiri
tetapi harus cepat2 memberi laporan karena ketua hendak
turun tangan sendiri untuk membereskannya."
"Oh." seru Ngo tok-mo.
"Murid masih ada sebuah hal yang perlu murid
haturkan."
"Hal apa?"
"Kedua anak buah kita yang tertutuk jalan-darahnya itu
tak dapat diobati sehingga binasa. Kamipun berhasil
menangkap lima anak buah Gedung Hitam dan setelah
kami paksa menelan pil Ok-tim-wan, mereka memberi
keterangan bahwa Gedung Hitam tak mempunyai jago2
unggul didaerah Kwi ciu. Gedung Hitam tak tahu menahu
tentang peristiwa itu."
"Lu ciangleng. bagaimana pendapatan sendiri ?"
"Kuanggap Cu Ing Jit yang baru saja kita terima menjadi
pengawal itu, mencurigakan . . ."
"Apa alasannya ?"
"Dari kelima calon yang hendak kita terima menjadi busu.
ternyata yang empat dapat meloloskan diri, hanya
tinggal dia seorang yang selamat. Dan pula menilik gerak
ilmu pedangnya seperti bukan berasal dari ilmu pedang
aliran Tionggoan. Dia masih belum mau menunjukkan
ilmu kepandaiannya yang sesungguhnya. Sebenarnya waktu
di biara Sian-yu-kwan dia sudah disuruh menelan pil Inseng-
wan, tetapi ternyata pikirannya masih sadar dan
tingkah lakunya juga tetap biasa .... "
"Hal itu aku memang sudah melihatnya. Kalau menurut
Lu ciangleng, bagaimana kita akan menyelesaikan orang
itu?"
"Segera membuka sidang peradilan dan seluruh tong-cu
harus hadir."
"Baik."
Ciangleng atau pembawa amanat orang she Lu itu segera
bergegas keluar. Cu Jiang loncat ke luar dari tempat gelap.
Ia mendorong pintu ruang tengah tetapi ruang itu kosong.
Dia terus melangkah masuk.
"Siapa?"
"Aku."
"Engkau siapa?"
"Orang yang anda hendak cari itu!"
Ngo tok-mo segera membawa lampu keluar. Begitu
melihat siapa yang berada dalam ruang itu, dia berteriak
gentar: "Engkau Toan-kiam-jan jin?"
"Heh, heh, benar," Cu Jiang tertawa mengekeh, "silakan
engkau berteriak minta tolong atau memanggil bala bantuan
anak buahmu!"
Ngo-tok-mo deliki mata. Ia menyulut lilin besar dalam
ruang itu kemudian mempersilakan tetamunya duduk.
"Tak usah," Cu Jiang menolak.
"Kita akan bercakap cakap."
"Tak perlu!"
"Lalu apa maksudmu datang kemari?"
"Katakan saja, untuk menagih hutang darah dari rakyat!"
"Ha, ha. ha, ha ...."
"Hm, rupanya engkau tenang2 saja? "
Segulung bau harum bertebaran menyusup hidung. Cu
Jiang segera menyadari bahwa saat itu Ngo-tok-mo sedang
menebarkan racun harum. Tetapi dia tenang saja karena
mempunyai katak-mustika.
"Toan kiam-jan-jin, engkau benar2 bernyali besar karena
berani menyusup masuk ke dalam markas ini. Entah
bagaimana engkau harus menderita kematian nanti."
"Mungkin kebalikannya, bukan aku tetapi engkau!"
"Mengapa engkau tak mencoba mengerahkan
tenagamu?"
"Apa maksudmu?"
"Ketahuilah, dalam lingkungan tempat kamar ku, penuh
dengan racun2 berbisa. Sekali melangkah kedalam
lingkaran daerah racun itu, dewapun pasti mati juga!
"Benarkah itu?"
"Engkau..."
"Bagaimana kepandaianmu kalau dibanding dengan
nenek Teh-hun-pi-peh?"
Wajah Ngo tok-mo seketika berobah. Sesaat kemudian
dia menenangkan diri, mempersiapkan kedua tangan untuk
menjaga diri dengan ketat.
Cu Jiang harus memburu waktu. Dia tak mau tenaganya
diperas terlalu lama disitu. Dengan membentak keras, ia
terus ayunkan pedang kutung. Harus cepat2 dapat
membunuh iblis itu maka dia gunakan seluruh tenaganya.
Ngo tok-mo tak dapat menghindar mundur. Kanan
kiripun telah tertutup oleh sinar pedang. Tak ada lain jalan
kecuali harus mengadu jiwa. Maka diapun lancarkan
serangan balasan.
Huak.... terdengar suara menguak ngeri, disusul dengan
darah menyembur. Tangan Ngo tok mo masih menuding
Cu Jiang dan mulut menganga seolah-olah ia tak puas harus
menemui keakhiran hidup seperti itu. Tetapi nasib sudah
digariskan. Dia tetap terkulai dan rubuh ke tanah.
Pada saat lawan melancarkan serangan balasan tadi, Cu
Jiang pun sudah mundur beberapa langkah. Darahnya
bergolak keras.
Jeritan ngeri dari Ngo-tok-mo itu telah mengejutkan
kawanan peronda. Mereka segera memburu masuk ke
ruang itu. Cu Jiang membakar kain tirai dan kelambu.
Begitu terbit kebakaran, terompet pertandaan segera
berbunyi. Seluruh markas di makan api.
Sekali sudah turun tangan, Cu Jiang tak mau kepalang
tanggung. Dia terus melepas api untuk membakar markas.
Setelah seluruh markas menyala, barulah dia lari menuju ke
biara Sian-yu-kwan.
Tetapi saat itu ternyata biara Sian-yu-kwan juga sedang
kacau balau tak keruan. Malaikat-hidup yang biasa
memberikan obat, hilang entah ke mana. Sedang seguci hu
yang baru saja diangkut ke biara itu juga lenyap.
Siapakah yang berani melakukan perbuatan itu?
Lelaki jubah kuning yang hendak mengganti giliran
sebagai Malaikat hidup, berjingkrak-jingkrak seperti
kebakaran jenggot. Dia memerintahkan seluruh anak buah
biara itu untuk mencari secara diam2 tak boleh menyiarkan.
Karena kalau hal itu sampai bocor, tentulah permainan
mereka akan ketahuan orang.
Tiba di biara Sian yu kwan. Cu Jiang melihat waktu
sudah hampir mendekati fajar. Dia terus menyelinap masuk
ke bagian belakang.
"Siapa itu ?"
Terdengar orang menegur dan terdengar pula suara
sosok tubuh yang jatuh ke tanah.
Lelaki jubah kuning lari memburu ke halaman. Sejenak
memandang ke empat penjuru, ia berseru bengis: "Sahabat
dari manakah yang berkunjung kemari?"
"Aku datang hendak menghadap Malaikat-hidup."
terdengar suara penyahutan dari arah tempat yang gelap.
Lelaki jubah kuning itu terkejut dan dengan gemetar ia
berseru pula: "Siapakah sahabat ini?"
Tiba2 dihadapannya muncul seorang yang mengenakan
kain kerudung muka.
"Engkau . , . Toan kiam janjin? "
"Benar! "
"Engkau . . , engkau . .. hendak mengapa?"
"Hendak menumpas kedosaanmu yang berani menyaru
menjadi Malaikat dan mencelakai rakyat!"
"Tolong . . !" teriak lelaki jubah kuning memanggil anak
buahnya.
Beberapa anak buahnya segera berhamburan muncul.
Empat orang yang mengenakan pakaian seperti imam serta
busu terus menyerang Cu Jiang. Tetapi hampir serempak,
mereka menjerit ngeri dan rubuh.
Lelaki jubah kuning itu tahu akan kelihayan Toan-kiam
jan jin yang mampu mengalahkan nenek Toh-hun pipeh
atau guru dari gerombolan iblis Sip-pat-thian mo.
Maka pada saat keempat anak buahnya menyerang Cu
Jiang, diapun terus menyelinap pergi dan menghilang
dalam kegelapan.
Tetapi ternyata Cu Jiang lebih gesit. Begitu tiba dalam
hutan di belakang biara, baru lelaki tua jubah kuning itu
menghela napas longgar dan hendak menyembunyikan diri,
tiba2 sesosok bayangan berkelebat dan:
"Malaikat-hidup, mau mengumpat kemana engkau?"
terdengar teriakan disertai munculnya Toan kiam jan jin di
hadapannya.
Lelaki jubah kuning melongo seperti kehilangan
semangat.
"Malaikat hidup, bagaimana kalau engkau bunuh diri
saja?" Cu Jiang tertawa dingin.
Tiba2 lelaki tua jubah kuning itu mengangkat kedua
tangannya dan menghantam. Karena gugup ketakutan, dia
telah menggunakan seluruh tenaganya.
"Hm, rupanya engkau mau membangkang! " Cu Jiang
menyelinap dan ayunkan tangan. Lelaki jubah kuning itu
mengaum, terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang
dan muntah darah.
"Uh..." Cu Jiang memburu dan menutukkan jarinya.
Lelaki tua jubah kuning itupun rubuh.
Cu Jiang menjinjing tubuh orang itu, lari kembali ke
biara, menyingkap kain tirai dan mengikat lelaki jubah
kuning itu pada kursi.
"Malaikat hidup, begitu hari terang, rakyat yang minta
air hu kepadamu itu akan memberi peradilan!"
"Toan kiam janjin, bunuhlah aku!" seru lelaki jubah
kuning itu.
Cu Jiang menutuk jalan darah gagu di tenggorokan
orang itu, katanya: "Enak kalau engkau harus mati.
Masakah permainan tadi dari Thong thian kau tak ada
urusannya lagi?"
Sepasang mata lelaki jubah kuning itu seperti mau pecah.
Dadanya diamuk amarah dan kembali dia muntah darah.
Tetapi ilmu kepandaiannya sudah dirusak dan mulutnya tak
dapat bicara, Tak ada lain jalan baginya kecuali hanya
pasrah nasib.
Cu Jiang berdiri di muka ruang sambil mencekal pedang
kutung. Kawanan anak buah yang diperintah untuk
mencari gentong air hu yang hilang itu mulai kembali lagi
ke biara.
Tetapi mereka telah disambut Cu jiang. Cu Jiang tak
mau membunuh, melainkan hanya merusak tenaga
kepandaian mereka.
Hari baru saja fajar tetapi di luar pintu biara sudah
banyak orang yang berkerumun untuk minta air hu. Mereka
antri. Cu Jiang tertawa puas, lalu tinggalkan biara itu.
Begitu masuk kedalam biara, rakyat tentu akan mengetahui
peristiwa dalam biara itu.
Cu Jiang kembali menyamar seperti pemburu dan lari
keluar kota untuk menemui Thian put thou di rumah
penginapan. Ternyata Thian put thou memang sudah
menunggu.
"Adik kecil, bagaimana keadaannya?"
"Rakyat akan menghakimi. Tetapi air hu itu .... "
"Oh. telah kuserahkan kepada pimpinan partai Kay pang
disini untuk membagi-bagikan kepada penduduk."
Keduanya lalu melanjutkan perjalanan. Hari itu mereka
tiba di sebuah kota kecil didaerah pegunungan. Dari situ
mulai memasuki gunung tempat markas Gedung Hitam.
Ternyata kota kecil disitu sudah dikuasai pihak Gedung
Hitam. Tiga empat kali mereka bertemu dengan orang2
Gedung Hitam yang bertanya tentang diri mereka.
Untung Thian-put thou banyak pengalaman. Dia dapat
memberi jawaban yang menghilangkan kecurigaan orang,
Menilik hal itu, jelas bahwa penjagaan Gedung Hitam tentu
luar biasa ketatnya.
Mereka singgah disebuah rumah makan. Waktu makan.
Cu Jiang berbisik-bisik meminta agar Thian put thou tinggal
di kota itu.
"Uh, engkau memang selalu hendak mencampakkan aku
saja ..."
"Bukan begitu. Aku terlanjur bersumpah hendak
melakukan balas dendam itu dengan tanganku sendiri."
"Tetapi bukankah tujuanmu kemari karena hendak
menolong puteri dari Tayli itu ?"
"Melakukan pembalasan, sekalian untuk menolong
orang dan mungkin masih ada lain2 hal lagi."
"Apakah tenagaku tak engkau butuhkan ?"
"Tentu. Maka kuminta lo koko tinggal disini agar setiap
waktu yang diperlukan, dapat memberi bantuan kepadaku."
"Baiklah, toh percuma saja aku ngotot, engkau tentu tak
mau merobah pendirianmu."
Cu Jiang tertawa dan minta maaf karena selama ini
selalu suka membawa adat menuruti kemauannya sendiri.
Thian-put thou hanya tertawa dan mengajaknya
melanjutkan makan dan minum. Setelah selesai, mereka
lalu berpisah. Cu Jiang berangkat masuk ke gunung. Dia tak
mau mengambil jalan biasa melainkan melintas gunung dan
desa yang lebih dekat.
Selain mempersingkat waktu, pun pos2 penjagaan
Gedung Hitam juga sukar untuk mengetahui.
Menjelang petang, tibalah dia di puncak yang terdapat
kuil gunung. Kuil itu dulu pernah dibuat tempat sau-pohcu
atau putera dari ketua Gedung Hitam, melarikan Ki Ing dan
hendak mencemarkan kehormatan nona itu.
Saat itu malam tiada rembulan, hanya bintang2
bertaburan di langit. Tiba2 Cu Jiang melihat tak berapa jauh
dari tempatnya berdiri, terdapat dua gunduk tanah kuburan.
Dia terkejut dan heran.
Segera tempat itu dihampirinya. Ternyata tak ada batu
nisannya dan gundukan tanah itupun penuh ditumbuhi
dengan rumput tinggi. Dengan begitu tak dapat diketahui
siapakah yang dikubur didalam tanah itu.
Didepan tanah kuburan yang tak bernama itu terdapat
sebuah batu besar yang berbentuk seperti kerbau
mendekam. Dia naik keatas gunduk batu itu dan
menimang-nimang langkah selanjutnya. Dia lalu membuat
guratan tentang peta yang dibuai Ih Se lojin, paman
gurunya dahulu.
Tindakan itu memang tepat sekali. Apabila terlambat,
dia tentu akan mengalami nasib yang mengerikan. Pada
saat jarinya merabah permukaan batu itu, ia seperti
merasakan batu itu terdapat guratan, serentak ia menghapus
pakis yang memenuhi batu itu.
Kini ia melihat jelas bahwa pada permukaan batu itu
terdapat dua buah guratan yang melukiskan sebuah topi
imam dan sebuah kopiah pendeta.
Apakah artinya itu ?
Setelah merenung beberapa saat, tiba2 ia tersadar. Jelas
bahwa yang dikubur dalam dua buah gunduk tanah itu
tentulah kedua tokoh dari Bu-lim Sam-cu yakni Thian-hian
cu dan Go-leng-cu.
Ternyata toa suhengnya, Ho Bun-cai, tak ingkar janji.
Dia benar2 mengubur jenazah kedua tokoh itu dengan
sebaik-baiknya. Dan agar tidak diketahui orang, maka dia
hanya membuat dua buah guratan gambar topi dan kopiah.
Penemuan itu hanya membuat hatinya sedih
mengenangkan peristiwa2 yang telah lampau. Kedua tokoh
Bu-lim Sam-cu telah binasa demikian pula Ho Bau Cai, toa
suhengnya, pun mati dibunuh oleh Gedung Hitam.
Ia harus membalas semua dendam darah itu. ia tak tahu
bagaimana nanti kesudahan dari tindakannya menggempur
markas Gedung Hitam itu.
Sekonyong-konyong terdengar suitan nyaring memecah
kesunyian. Cu Jiang menduga tentulah kawanan anak buah
Gedung Hitam yang sedang melakukan ronda.
Untuk sementara ia tak mau turun tangan dan akan
bersembunyi dulu. Ia segera melayang masuk kedalam
hutan dan bersembunyi di atas dahan sebuah pohon yang
lebat.
Tepat pada saat itu muncul empat orang lelaki tua
bertubuh tinggi besar. Salah seorang rambutnya putih
mengkilap, Cu Jiang dapat melihat jelas bahwa
kemungkinan besar keempat orang itu bukan dari Gedung
Hitam. Keempat orang itu tiba2 berhenti lalu duduk bersila
di muka gunduk kuburan.
"Suhu, kapan kita mulai turun tangan ?" seru salah
seorang yang duduk di sebelah kanan kepada lelaki tua
berambut putih yang duduk ditanah.
"Setelah terang tanah !"
"Masih ada waktu."
"Kita bunuh dulu beberapa kelinci dan anak cucunya."
"Tetapi tidakkah hal itu akan membuat mereka tahu dan
memperkeras penjagaan ?"
"Ah. tak apa. Mereka hanya mengandalkan barisan Ho
thian-tin saja."
Orang yang duduk di sebelah kiri berseru sinis: "Asal
Gedung Hitam sudah dibasmi dan Toan-kiam-janjin
menyerahkan batang kepalanya, perkumpulan kita tentu
akan menjadi yang dipertuan dalam dunia persilatan."
Cu Jiang terkejut. Kiranya beberapa orang itu adalah
tokoh2 terkemuka dari gerombolan Sip-pat-thian-mo.
Sungguh kebetulan sekali. Jika mereka menyebut kakek
berambut putih itu dengan panggilan suhu, bukankah kakek
itu tokoh iblis yang bernama Jui- beng-koh?
Barisan Ho-thian-tin merupakan salah satu dari ilmu
barisan Ki bun ceng coat. Dan ilmu ajaran Ki bun ceng coat
itu berasal dari perguruan Thay hi bun.
Mengapa mereka tahu akan nama barisan itu? Dan
mengapa pihak Gedung Hitam dapat menyusun barisan
semacam itu?
Cu Jiang teringat bahwa toa-supeh (paman guru) pernah
menyuruh dia menyelidiki, siapakah orang yang dapat
menyusun barisan itu.
Tiba2 salah seorang dari keempat lelaki tua itu berkata:
"Kali ini jika tak mengandalkan ilmu kepandaian merobah
muka dari Kiu-te (saudara yang kesembilan) sehingga dapat
menyusup kedalam Gedung Hitam tentu sukar untuk
mengetahui siapa yang menyusun barisan itu..."
Cu Jiang menimang. Kiu-te adik kesembilan tentulah
dimaksud Cian-bin Koay-mo atau Iblis-seribu muka yang
tercantum pada urutan ke sembilan dalam gerombolan Sippat-
thian-mo.
Mengapa mereka hendak mencari orang yang menyusun
barisan itu ? Apa maksudnya ?
Cu Jiang segera memasang telinga untuk mendengarkan
pembicaraan mereka lebih lanjut.
"Lo pat, rupanya Thian memberkahi kita," kata lelaki
yang berada di sebelah kiri.
"Tetapi harus membantu diri sendiri dulu baru Thian
akan membantu kita." sahut orang tua berambut pulih.
"Lo-liok, yang paling menakutkan adalah si Toan kiam
jan-jin itu..."
"Ji-ko," kata kawannya yang disebut Lo-liok atau
saudara yang keenam, "keadaan kita memang sudah
berantakan. Yang mati dan yang cacad. Dendam darah ini,
negeri Tayli harus membayar seratus kali lipat."
-oo0dw0oo-
Jilid 23 Tamat
Diam2 Cu Jiang menghitung-hitung. Gerombolan sippat-
thian-mo, selain tiga iblis yang saat itu berada disitu,
hanya tinggal dua lagi yaitu iblis nomor sembilan dan iblis
nomor satu. Kalau ia dapat membasmi empat iblis lagi.
kekuatan mereka tentu sudah rontok.
Tetapi dia tahu bahwa iblis tua yang berada disitu, tentu
sukar dihadapi. Tentu harus mencari aksi dan kesempatan
untuk menghancurkan mereka. Jika mereka sempat bersatu
dan melakukan pengeroyokan, akibatnya tentu sukar
dibayangkan.
"Lo kiu datang?!" tiba2 lelaki tua di sebelah kiri berseru.
Dan serentak itu seorang lelaki tua berpakaian hitam
muncul dengan mencekal tangan seorang lelaki setengah
tua yang juga berbaju hitam.
Wajah lelaki setengah tua itu pucat lesi dan gemetar
ketakutan.
Lelaki tua berambut putih berpaling dan menegur tajam:
"Bagaimana !"
"Dia sudah melukis barisan itu."
"Boleh dipercaya?"
"Dia takut mati sekali !"
"Ha, ha, ha, ha..."
Cian bin koay-mo segera mengeluarkan segulung kertas,
katanya: "Inilah gambar barisan itu. Setiap lukisan empat
helai, harap suhu periksa."
Ia memberikan kepada iblis kedelapan yang berada dekat
dengan dia, kemudian iblis kedelapan itu memberikan
selembar kepada iblis tua berambut putih, sisanya dibagibagikan
setiap orang selembar.
Dalam tempat persembunyiannya, Cu Jiang memandang
dengan seksama kepada lelaki setengah tua yang tangannya
dicengkeram iblis Cian-bin koay-mo.
Tetapi ternyata dia tak kenal dengan orang itu, Menurut
pakaiannya, orang itu tentulah seorang tokoh Gedung
Hitam yang mempunyai kedudukan tinggi.
Keempat iblis itu memeriksa teliti gambar barisan.
Kemudian iblis ke sembilan atau cian-bin koay-mo (iblis
seribu muka) berkata:
"Gambar itu sama dengan gambar yang dulu dia
serahkan. Agar tidak salah maka kusuruh dia membuat lagi
empat lembar..."
"Waktu sudah hampir tiba, kita bekerja menurut rencana
semula!" kata iblis tua rambut putih.
Cianbin koay-mo segera menarik lelaki setengah tua itu
bersembunyi kearah ia datang tadi. Sedang ketiga iblis yang
lain lalu berpencaran.
Terdengar suara genderang berbunyi tiga kali. Cu Jiang
makin tegang. Tak perlu diragukan lagi iblis tua berambut
putih itu tentulah iblis Jui bengkok atau si Genderangpelelap
nyawa, guru dari kawanan Sip pat thian mo.
Suara kentungan itu ternyata bukan kentungan biasa
melainkan hamburan dari mulut iblis berambut putih itu.
Memang aneh dan dahsyat sekali nadanya sehingga anak
telinga hampir pecah di buatnya.
Diam2 Cu Jiang teringat akan pasangan dari iblis tua itu
yakni nenek Toh hun pi peh. Jika tidak karena ia memiliki
tenaga dalam yang kuat, tentulah dia sudah binasa digetar
suara harpa nenek itu.
Diapun masih memikiri lelaki setengah tua yang
diringkus Cian bin koay mo itu. Orang itu rupanya tahu
akan rahasia barisan Ho thian tin ia harus membayangi
orang itu.
Maka iapun segera menyelinap turun dari pohon dan
terus mengitar menuju kesamping mencari Cian-bin koaymo.
Bagian belakang gunung itu merupakan sebuah tempat
yang turun naik seperti bentuk pelana kuda, puncak disitu
seolah2 bersambung dengan puncak yang lain seperti
bentuk punggung onta.
Saat itu sudah menjelang tengah malam, Gelap sekali.
Karena sampai beberapa waktu tak dapat melihat bayangan
Cian bin koay-mo akhirnya Cu Jiang naik lagi ke puncak
gunung.
Diatas puncak itu pohon2 tumbuh tinggi tetapi tak
berapa banyak. Dari jauh ia seperti melihat sosok bayangan
bergerak dibawah pohon. Hati2 sekali Cu Jiang
menghampiri.
Ternyata dibawah pohon itu memang terdapat Cian bin
koay-mo. Sedang lelaki setengah tua itu diikat dengan akar
pohon, rupanya jalan-darahnya telah ditutuk.
Cu Jiang membuka bungkusan dan menyisipkan pedang
kutung di pinggang. Dia tak mengenakan kerudung muka
dan tetap tak ganti pakaian.
"Tio-huhwat." seru Cian bin koay-mo dengan nada sinis.
"terpaksa menyiksamu satu malam ini. Kalau
penghancuran barisan itu berjalan lancar, engkau boleh
bebas!"
Kiranya lelaki setengah tua itu hu-hwat dari Gedung
Hitam. Tetapi mengapa dia dapat melukis barisan Ho thiantin
?
Waktu amat mendesak. Cu Jiang tak mau membuang
waktu. Dia terus muncul dan Cian-bin koay-mo pun cepat
dapat mengetahui.
"Siapa ?" Ia berputar diri dan membentak.
"Seorang pejalan gunung." sahut Cu Jiang.
Melihat perwujudan Cu Jiang, rupanya Cian bin koaymo
meremehkan, Dia terus melesat maju menghampiri dan
tertawa mengekeh: "Budak kecil, pulang saja ke rumah
nenekmu !"
Secepat kilat. Cian-bin koay-mo mencengkeram. Begitu
hampir menyentuh dada. Cu Jiang terus menghantamnya.
Sudah tentu Cian-bin koay-mo tak mengira sama sekali.
Apalagi tenaga kepandaian Cu Jiang jauh lebih tinggi.
Seketika ia menjerit ngeri dan muntah darah.
“Bluk . . ." iblis itupun jatuh.
"Bangun !" bentak Cu Jiang.
Cian-bin koay-mo berbangkit dan memandang Cu Jiang
dengan bengis.
"Budak, engkau .... siapa ?"
"Bukankah anda ini Cian-bin koay-mo ?" Cu Jiang balas
bertanya.
"Bagaimana .... engkau tahu ?"
"Aku telah mengarungi empat penjuru dunia karena
hendak mencari engkau."
Cian bin koay-mo menyurut langkah.
"Siapa sebenarnya engkau !"
Pelahan-lahan Cu Jiang mencabut pedangnya.
"Toan-kiam-jan Jin!" Cian-bin koay-mo memekik kaget,
seraya terus loncat ke balik pohon. Tetapi Cu Jiang
gunakan tata-langkah Gong-gong-poh-hwat untuk mengejar
sehingga Cian-bin-koay-mo kabur matanya karena tak
dapat menentukan tempat posisi lawannya.
Cian bin koay-mo serasa bilang semangatnya ketika
melihat Cu Jiang seperti lenyap. Pukulan yang dideritanya
telah menyebabkan ia terluka parah.
Satu-satunya jalan yang paling selamat ialah harus lari.
Dengan menghimpun sisa tenaga, dia terus hendak
ayunkan tubuh....
"Berhenti!" tiba2 segulung tenaga telak mendorong
tubuhnya yang tengah melayang di udara itu terpental jatuh
ke tanah lagi. Dan tahu2 Toan-kiam-jan-jin sudah berada
dihadapannya.
"Toan-kiam jan-Jin ... engkau hendak mengapakan
diriku ?" seru iblis itu menggigil.
Karena jejaknya sudah diketahui oleh kawanan Sip-patthian
mo, maka Cu Jiang memutuskan akan membasmi
kawanan iblis itu. Kalau tidak kelak tentu menimbulkan
bahaya besar bagi negeri Tayli.
"Bagaimana selera anda tentang alam pemandangan di
tempat ini?" serunya dingin.
Tubuh Cian-bin koay-mo gemetar. Tiba2 mulutnya
memekik aneh dan dengan menggunakan segenap sisa
tenaganya yang ada. ia hantamkan kedua tangannya kearah
Cu Jiang. Dia memang sudah kalap dan tak mau mati
begitu saja.
Bum . . . Cu Jiang pun menyongsongkan kedua tangan
untuk mengadu kekerasan. Terdengar suara erang tertahan
dan tubuh Cian bin koay-mo sempoyongan lalu rubuh.
Setelah beberapa saat menggelepar meregang jiwa,
akhirnya tubuhnya pun kaku tak berkutik lagi.
Cu Jiang terkejut sekali ketika melihat wajah Cian-bin
koay-mo telah berubah menjadi lain perwujudan. Tetapi dia
tak sempat untuk menyelidiki hal itu dan terus lari kembali
ke tempatnya tadi.
Dari puncak disebelah muka terdengar suara bentakan
keras bercampur dengan pekik jeritan ngeri. Rupanya
kawanan iblis itu sudah mulai mengganyang anak buah
Gedung Hitam. Biar mereka saling bunuh sendiri, Cu Jiang
tak mau menghiraukannya.
Ketika melihat Cu Jiang, huhwat Gedung Hitam yang
diikat dengan akar pohon tadi. wajahnya berobah lesi. Cu
Jiang segera menghampiri.
"Siapakah nama anda ?" tegurnya.
"Lau Wi Han."
"Asal dari ?"
"Maaf tak dapat memberitahu."
Cu Jiang mendengus: "Apakah barisan Ho-thian tin itu
anda yang merencanakan?"
"Ya, benar."
"Gambar barisan yang aseli, darimana anda
mendapatkan ?"
Hu-hwat Gedung Hitam itu deliki mata. Beberapa saat
kemudian baru dia berkata dengan suara tersendat:
"Ini ... ini .. . warisan keluargaku!"
"Apa katamu? Warisan dari keluarga?"
"Ya."
"Siapa keluarga anda?"
"Ya . . . yalah keluarga Lau."
"Ilmu barisan keluarga Lau."
"Benar."
"Dalam dunia persilatan Tionggoan, rasanya tak pernah
terdengar sebuah barisan dari keluarga Lau ..."
"Yang mengerti, belum pasti namanya akan termasyhur."
Cu Jiang menggeram marah: "Ketahuilah, Jika anda tak
mau bicara terus terang, aku tak menjamin keselamatan
jiwamu."
"Memang keteranganku itu semua sungguh2!"
"Betul? Hm, rupanya kalau belum Melihat peti mati,
anda memang belum menangis . . . . " habis berkata Cu
Jiang hendak menutuk perut orang itu tetapi tiba2 dia
melihat jari tangan kanan orang itu hanya tiga. Jari telunjuk
dan jari tengah hilang.
Seketika meluaplah bawa pembunuhan dalam benak Cu
Jiang. Dia batalkan tutukannya.
"Mengapa jari tangan anda hilang dua buah?" tegurnya
dengan mengertek gigi.
Seketika wajah orang itu berkerenyutan tegang dan
membisu.
"Bilang!" bentak Cu Jiang.
"Ini . . . apa kepentinganmu?"
"Apa engkau tetap tak mau bilang?"
"Tak . . . bisa memberitahu."
"Peristiwa berdarah di gunung Bu-leng san, apa engkau
masih berani menyangkal tak ikut campur?"
Wajah Lau Wi Hian makin ngeri.
"Toan kiam janjin . . . engkau . . . engkau benar putera
dari Dewa-pedang?"
"Ya. "
"Mengapa . . . engkau tahu?"
"Di tempat pertempuran itu terdapat kutungan jari."
"Tetapi . . . tetapi hal itu hanya secara kebetulan saja.
Aku . . . aku tak tahu ..."
Karena geram, Cu Jiang menutuk perut orang itu. Lau
Wi Hian meraung kesakitan. Cu Jiang memutuskan tali
pengikatnya dan membuka jalan-darah yang ditutuk Cian
bin koay mo tadi.
Bum . . . Lau Wi Hian rubuh dan berguling-guling di
tanah. menggelepar dan meregang . . .
"Engkau mau bilang atau tidak?"
"Tidak . . tahu . . ."
"Baik, akan kucincang tubuhmu," ia mematahkan sebuah
dahan pohon, mengalirkan tenaga-dalam ke dahan itu dan
menghardik:
"Orang she Lau, kalau menggunakan pedang, engkau
tentu keenakan. Sekarang aku hendak memakai dahan
pohon itu agar engkau tahu bagaimana rasanya disate itu."
"Aah . . . ," Lau Wi Hian menjerit ngeri ketika dahan
kayu itu menembus bahunya. Ujung dahan itu tak runcing
dan tak rata. Hanya karena disaluri dengan tenaga-dalam
maka dahan itu menjadi sekeras baja. Begitu menyusup ke
dalam daging, sakitnya jangan dikata lagi.
"Bilang! "
"Auh . . . kembali lengannya tertusuk ujung dahan.
Darah bercampur dengan tanah dan orang itu sudah tak
seperti manusia lagi wujudnya. Dia meraung-raung seperti
harimau buas.
"Kalau tak mau bilang, akan kuhias tubuhmu dengan
seratus lubang tusukan."
"Bu . , nuh saja aku!"
"Tidak seenak itu. bung !"
"Ya. . aku akan bilang . . dan kasihlah aku kematian
yang lebih cepat . ."
"Bilang !"
"Be . . nar . . kedua jari tanganku ini . . memang . .
dibabat putus oleh Dewa-pedang. . "
"Berapa banyak orang yang ikut dalam pengeroyokan
itu?"
"Ada . . dua puluh orang lebih."
"Siapa pemimpinnya?"
"Ketua . . Gedung Hitam."
"Baik, sekarang terangkan asal usul barisan Ho-thian-tin
itu!"
Lau Wi Hian menenangkan napas, tiba? ia menjerit
kalap: "Aku memang harus mati !"
"Tentu," kata Cu Jiang dangau nada dingin. "meskipun
mati sampai seratus kali, juga belum cukup. Lekas bilang,
mengapa engkau mampu membentuk barisan Ho-thian-tin
itu?"
"Mengapa eng . . kau menanyakan hal itu?"
"Sudah tentu ada kepentingannya."
"Apakah . . engkau mau memberitahu tentang
kepentinganmu itu?"
"Sudahlah, kewajibanmu hanya memberi keterangan
tentang barisan itu."
"Aku . . merasa heran . . mengapa engkau mendesak
pertanyaan itu . ."
Cu Jiang menggeram: "Ketahuilah, bahwa ilmu barisan
Mo-thian-tin itu merupakan ilmu simpanan dari sebuah
perguruan. Orang luar tak mungkin mengetahuinya."
Lau Wi Hian berhenti berguling, sepasang matanya yang
merah berdarah memandang Cu Jiang sampai beberapa
saat.
"Engkau .. mengapa tahu soal itu?" serunya.
"Kuberitahu yang lebih jelas lagi. Bahwa Ilmu simpanan
itu adalah dari perguruanku."
Biji mata Lau Wi Hian melotot seperti mau keluar,
serunya: "Perguruan . . per . . guruan . . kapan engkau
masuk kedalam perguruanmu?"
Cu Jiang tergetar hatinya. Tiba2 ia teringat sesuatu dan
berseru bengis:
"Bukankah engkau murid pertama dari toa-supehku Ih
Se lojin?"
"Siapakah engkau . . ,. sebenarnya ?" Lau Wi Hian
makin gemetar.
"Kenalkah engkau akan orang yang bernama Yang Wi ?"
"Engkau .... pewaris dari Yang suhu ?"
"Benar."
"Cousu yang berada di alam baka, murid berdosa besar
dan dengan ini murid hendak menebus dosa itu . . ."
terdengar jeritan ngeri dari mulut Lau Wi Hian. Mulutnya
menyembur darah dan seketika putuslah jiwanya. Ternyata
dia telah bunuh diri dengan menggigit lidahnya.
Murid murtad, musuh dan suheng ....
Mau tak mau tangan dan kaki Cu Jiang terasa dingin
juga, Dia seolah mengalami impian buruk. Menurut
keterangan dari toa-supeh (paman guru) murid pertama dari
paman gurunya itu pada sepuluh tahun berselang telah
pulang untuk merawat ibunya.
Tiap setahun baru murid itu berkunjung ke gua. Ternyata
dia telah bekerja pada Gedung Hitam dan menjadi sebagai
hu hwat.
Setelah mengubur mayat Lau Wi Hian. Cu Jiang
kembali ke puncak di sebelah muka lagi. Di langit timur
sudah menyemburat warna kuning. Empat penjuru puncak
gunung itu penuh bertebaran sosok2 mayat.
Kemudian dia turun dan menuju ke tempel kawanan
iblis itu berkumpul beberapa taat lalu, gembong iblis Juibeng-
koh berbangkit dan memberi perintah:
"Kita mulai, dibagi empat kelompok menyerbu kedalam
barisan. Kita bertemu di pintu barisan. Perhatikan, setiap
tempat yang terdapat tiang merah, disitu terdapat
pemasangan obat peledak. jangan menyentuhnya !"
Di tempat persembunyiannya, diam2 Cu Jiang bersyukur
dalam hati. Jika tidak mendengar keterangan iblis tua itu
mungkin dia akan tertimpa bencana.
Keempat iblis itu segera lari turun dari puncak. Diam2
Cu Jiang mengikuti mereka. Ia sudah mengerti tentang
susunan barisan Ho Hay tin itu.
Jika menggunakan kesempatan itu untuk
menghancurkan ketiga iblis, maka hanya tinggal gembong
iblis Jui-beng-koh yang akan berhadapan dengan ketua
Gedung Hitam. Dan dia akan menyelundup untuk
menolong puteri Tayli.
Rupanya serangan yang diincarkan keempat iblis telah
menghasilkan jatuhnya banyak korban dari pihak Gedung
Hitam. Kini mereka dapat leluasa memasuki barisan..
Cuaca pagi makin terang. Lembah yang terjepit diantara
dua buah puncak, merupakan pintu barisan. Setelah saling
memberi isyarat, mereka berempat lalu menyerbu masuk.
Cu Jiang memutuskan untuk mengikuti iblis nomor dua.
Setelah masuk dan membiluk kesebelah kanan ia melihat
disebelah muka tampak seorang tengah memotong jalan.
Orang itu tentulah iblis kedua.
Keempat iblis itu memasuki barisan dengan menurutkan
peta yang dibuat Lau Wi Hian, Sedang Cu Jiang sudah
faham akan barisan itu. Setelah beberapa waktu mengikuti
di belakang. Cu Jiang lalu melesat ke belakang iblis kedua
itu dan membentak: "Tunggu dulu!"
Iblis kedua terkejut dan berpaling. Tetapi sebelum ia
sempat berbuat apa2, Cu Jiang sudah menyabet batang
leher iblis itu hingga jatuh terpisah dari tubuhnya.
Setelah itu dia mengitar lagi untuk mencari iblis keenam
dan iblis ke sembilan. Tanpa banyak membuang tenaga,
dapatlah dia membunuh ketiga Iblis dari gerombolan Sip
pat thian mo itu.
Kini tinggal gembongnya yakni iblis tua Jui beng ko. Ia
membobol jalan disebelah kiri dan menyusuri jejak Jui
beng-ko.
Barisan itu memang rapat sekali sehingga waktu ketiga
iblis dibunuh Cu Jiang, iblis tua Ju -beng koh tak tahu.
Cu Jiang tiba di bagian mata barisan yang dahulu Ang
Nio Cu mengatakan pernah tersesat. Tempat itu merupakan
tempat persambungan antara barisan bagian dalam dan
barisan bagian luar. Kunci pemecahannya sebatang pohon
siong yang pendek dan tiga gunduk kepingan batu. Asal
mata barisan sudah pecah, seluruh barisan akan berantakan.
Jui-beng-koh lebih dulu tiba disitu. Pada saat dia
mengangkat tangan hendak menghantam pohon siong itu,
tiba2 dari tengah2 tumpukan batu muncul seseorang yang
membawa sebuah bola kecil warna merah. Orang itu terus
melontarkan bola merah itu kepada Jui-beng-koh.
Saat itu Cu Jiangpun muncul: Melihat bola merah
melayang, tanpa disadari dia berseru: "Lekas mundur !"
Mendengar itu Jui-beng-ko pun cepat melayang mundur
sampai beberapa tombak lalu bertiarap.
Bola merah itu dihembus segulung angin keras dan
melayang jatuh ketengah gunduk keping batu, buum ....
Terdengar ledakan dahsyat, pasir dan tanah
berhamburan muncrat, batu2 pun hancur berantakan.
Beberapa saat kemudian di tempat ledakan itu telah
berlobang besar.
Pohon siong pendek lenyap dan gunduk keping batu
itupun rata, bahkan terdapat pula beberapa daging dan
kutungan anggauta tubuh manusia yang berserakan di
empat penjuru.
Suatu pemandangan aneh telah muncul. Begitu ledakan
dahsyat itu sirap. lebih kurang sepuluh tombak disebelah
muka, tampak muncul sebuah poh atau bangunan besar
yang terbuat dari batu, Bentuknya mirip dengan sebuah
benteng.
Jui-beng koh berbangkit, sambil membersihkan
pakaiannya dari debu. ia memandang Cu Jiang dengan
tajam, serunya : "Engkau siapa?"
"Penyerbu barisan !" sahut Cu Jiang.
"Engkau telah menolong jiwaku."
Cu Jiang tertegun. Sama sekali dia tak berniat hendak
menolong orang itu. Bahkan dia hendak membunuhnya.
Tetapi karena tak sadar tadi dia telah meneriakinya supaya
menyingkir. Dan kini secara tak sengaja, keduanya pun
menjadi kawan setujuan.
"Hm, ha. ya kebetulan saja!" sahutnya.
Di pinto poh, golok dan pedang bergemerlapan. Paling
tidak lima puluh orang terbagi menjadi empat lima
kelompok, berjajar-jajar di depan pintu. Mereka terdiri dari
laki perempuan, tua muda.
Jui-beng-koh memandang kian kemari. Rupanya dia
tengah mencari ketiga muridnya. Sementara jago2 dari
Gedung Hitam itupun tegang wajahnya.
Tiba2 Jui beng ko mengacungkan pusakanya, sebuah
genderang kecil, lalu dipukulnya. Serentak terdengar bunyi
genderang meledak sehingga jantung orang2 yang berada
disitu tergetar seperti mau putus.
Tung.. tung, tung . . .
Berturut-turut terdengar ledakan dahsyat macam
halilintar memecah angkasa. Berpuluh-puluh jago Gedung
Hitam itu kacau balau dan berbondong-bondong mundur ke
dalam gedung.
Sesaat genderang berhenti, maka di depan pintu gedung
itupun berserakan lebih dari dua puluh sosok mayat. Mata,
hidung, mulut dan telinga mereka mengalir darah.
Ngeri juga Cu Jiang menyaksikan peristiwa itu. Nyata
Jui-beng-koh memang sakti sekali.
Sekali lagi Jui beng-koh berpaling ke arah pohon siong
pendek. Tetapi dia tetap tak melihat ke tiga iblis anak
muridnya: "Aneh, " gumamnya.
Cu Jiang tak mau membuang tempo. Agar tidak
diketahui orang siapa dirinya, ia memungut sebatang
pedang dari salah seorang jago Gedung Hitam yang
menggeletak di tanah. Setelah itu dia terus menyerbu
masuk. Jui beng-ko cepat melesat mendahului di muka Cu
Jiang. Diam2 Cu Jiang girang. Biarlah gembong iblis itu
yang membuka jalan.
Gedung Hitam sesuai dengan namanya, memang
merupakan sebuah bangunan yang terbuat dari batu hitam
semua sehingga menimbulkan pemandangan yang
menyeramkan.
Juga halaman yang berada di belakang pintu besar,
ditabur dengan batu hitam. Di sekeliling tepi lapangan
terdapat jajaran rumah2 yang berpintu besi dan jendela
dengan terali besi. Semua berwarna hitam, mirip penjara.
Cu Jiang mengikuti Jui beng koh yang berhenti di tengah
lapangan. Sunyi senyap tak ada seorang pun juga.
"Siaucu, engkau tabu siapa aku ini?" Jui beng koh
berpaling.
"Sama dengan aku." sahut Cu Jiang hambar.
"Sama? Apanya yang sama?"
"Bukankah kita sama2 menjadi musuh Gedung Hitam?"
"O, benar. Menilik engkau hanya seorang diri saja dan
mampu menghantam pelor Bi lik tan tadi, engkau tentu
hebat sekali."
"Ah, harap jangan memuji."
"Waktu masuk ke dalam barisan, apakah engkau melihat
ketiga anak buahku?"
"Sudah mati semua. "
"Hai? Mati?"
"Ya, mayatnya malang melintang dalam barisan."
"Engkau melihat sendiri?" rambut putih dari iblis tua itu
bertebaran kencang.
"Ya."
"Bagaimana kematian mereka?"
"Di tangan Toan kiam jan jin."
"Toan kiam jan jin! " teriak Jui bengkok.
"Ya, memang dia. Mukanya bertutup kain, kaki pincang
dan pedangnya kutung."
Jui beng koh menggertakkan gigi: "Aku akan merobek
robek manusia itu!"
"Ingat, disini tempat Gedung Hitam, harap jangan lupa
!" Cu Jiang deliki mata.
"Mengapa aku tak melihat bayangannya ?"
"Kalau dia mau, tentu akan muncul."
“Engkau ini.. Jika tak pernah menolong aku ..."
"Ada orang keluar!" cepat Cu Jiang menukas.
Memang saat itu disebelah muka dari pintu salah sebuah
rumah, muncul seorang lelaki tua berjubah hitam dan
mukanya ditutup dengan kain hitam. Dia diiring oleh
empat orang lelaki jubah hitam berwajah seram.
"Hah, hah, apakah ketua Gedung Hitam ?" Jui-beng-koh
tertawa mengekeh.
"Benar." sahut lelaki berkerudung kain hitam itu dengan
suara seram. "bukankah anda ini Jui-beng-koh ?"
"Benar !"
"Apa maksud kedatangan anda ?"
"Hendak menyampaikan sepatah kata!"
"Kedatangan anda dengan mengadakan pembunuhan
besar-besaran ini hanya perlu hendak menyampaikan
sepatah kata?"
"Hm..."
Ketua Gedung Hitam terkesiap mendengar jawaban
gembong iblis Jui-beng-koh yang begitu dingin.
"Kata2 itu tentu penting sekali. Aku ingin
mendengarnya." katanya.
"Hari ini juga. bubarkan gerombolan Gedung Hitam dan
jangan muncul dalam dunia persilatan lagi!" seru Jui-bengkoh.
"Hanya itu?"
"Ya."
"Ha, ha, ha ... . anda, eh, Thay-siang kaucu masakan
Gedung Hitam yang begitu termasyhur akan serentak bubar
hanya karena sebuah kata dari engkau tadi?"
"Menurut atau tidak, terserah saja kepadamu."
"Kalau tidak menurut?"
"Dalam beberapa kejap. Gedung Hitam akan menjadi
kota hantu!"
Keempat pengiring yang berada di belakang ketua
Gedung Hitam mendengus geram. Tetapi ketua Gedung
Hitam sendiri tertawa lagi.
"Thay-siang kaucu." serunya lantang, "jangan kelewat
tak memandang mata pada orang!"
"Memang kalian tak kuanggap semua!"
"Walaupun Gedung Hitam bukan akhirat, tetapi
keadaannya hampir sama dengan neraka. Bisa masuk, tak
mungkin dapat keluar!" habis berkata tiba2 pintu tertutup.
Jui-beng koh mengerling kearah Cu Jiang, serunya: "Aku
hendak menghancurkan neraka ini."
Saat itu Cu Jiang sedang memperhatikan keadaan tempat
itu. Tetapi selain beberapa bangunan rumah batu yang
kelihatan, ia tak dapat melihat suatu apa lagi. Dia pernah
ditawan dalam penjara batu Gedung Hitam.
Karena menggunakan siasat pura2 jadi orang mati, ia
beruntung dapat lolos. Tetapi bagaimana ia dijebloskan
dalam penjara dan bagaimana ia lolos keluar, semua berada
dalam tempat gelap.
Sedikitpun tak berbekas dalam ingatannya. Diam2 ia
gelisah memikirkan cara untuk menolong puteri.
Jui-beng-koh mengangkat senjata genderang dan
tangannya yang satupun siap hendak memukul.
"Thaysiang kaucu," ketua Gedung Hitam tertawa sinis,
"seranglah, aku bersedia menerima letusan genderangmu
sampai tiga kali. Tetapi lebih dulu perlu kujelaskan..."
"Apa yang hendak engkau katakan ?" Jui-beng-koh
hentikan tangannya.
"Bagaimana kalau aku dapat bertahan menerima tiga kali
pukulan genderangmu?"
"Aku akan mengundurkan diri selama-lamanya dari
dunia persilatan dan perkumpulan Thong-thian-kau akan
kububarkan!"
"Apakah kata-katamu itu dapat kupercaya ?"
"Huh, masakan Jui beng ko..."
"Ah, sukar dikata !"
Cu Jiang tahu bagaimana kelicikan ketua Gedung Hitam
itu. Matanya yang berkeliaran dan sikap serta nada
perkataannya yang begitu tenang, jelas menunjukkan bahwa
dia sedang mengulur waktu.
Dan ketua Gedung Hitam itu seorang ahli dalam obat
peledak. Diam2 Cu Jiang meningkatkan kewaspadaan.
Tiba2 ia memperhatikan salah seorang dari pengiring
ketua Gedung Hitam, berpaling ke samping dan memberi
anggukan kepala.
"Dung...." Jui-beng ko mulai menghantam genderang.
Cu Jiang loncat menyerbu ke arah rumah batu di tengah.
Gerakan itu mencapai lima tombak.
Dan serempak waktu itu juga, terdengar letusan dahsyat.
Batu2 berhamburan, peron dari bangunan rumah di
lapangan itu hancur lebur.
Ternyata rumah2 itu mempunyai pintu penghubung satu
sama lain. Cu Jiang hampir saja tertimbun, untung dia
sudah waspada dan terus menyusup masuk ke bagian
dalam.
Setelah ledakan, berpuluh-puluh anak buah Gedung
Hitam berhamburan ke luar. Lapangan yang berlapis batu
hitam itu sudah hancur lebur penuh dengan lubang2 besar
sampai seluas lima tombak.
Dari jendela rumah, Cu Jiang dapat menyaksikan
pemandangan yang mengerikan itu. Kaki dan tangan Jui
beng-koh sudah hancur dan terkapar dua tombak dari pintu.
Rupanya diapun berusaha hendak meloloskan diri tetapi
terlambat.
"Hatur beritahu kepada pohcu, mayat setan kecil itu tak
kelihatan!" terdengar sebuah suara.
"Apa?"
"Hanya iblis tua itu yang hancur!"
"Lekas cari dalam rumah!"
"Baik."
Berpuluh-puluh anak buah itu segera lari masuk ke
dalam bangunan rumah. Cu Jiang mendapat akal. Dia lari
ke bagian belakang karena orang2 Itu memeriksa bagian
muka. Tetapi dia tak tahu keadaan gedung itu dan terpaksa
hanya lari membabi buta saja.
Beberapa saat dia tiba di sebuah pintu bundar yang
keadaannya beda dengan gedung2 lainnya. Gedung itu
dikelilingi pagar tembok. Di sebelah dalam pintu, bunga2
yang aneh menyiarkan bau harum dan jajaran batu-2
gunung yang sedap dipandang.
Cu Jiang teringat bahwa dalam Gedung Hitam terdapat
apa yang disebut Gedung Terlarang yang tak boleh
sembarangan dimasuki orang. Rupanya gedung itu tentu
Gedung Terlarang.
Setelah timbul pemikiran itu, cepat ia menyerbu masuk.
Tetapi belum sempat ia berdiri tegak, empat orang sudah
membentak dan menyerangnya dari kanan kiri.
Cu Jiang menyambut dengan pedang kutung. Terdengar
jeritan ngeri dan dua orangpun rubuh. Kiranya keempat
penyerbunya itu pengawal2 baju hitam.
Jika demikian benarlah dugaannya bahwa rumah gedung
yang hendak dimasukinya itu memang Gedung Terlarang
karena gedung itu khusus dijaga oleh Pengawal Hitam.
Kedua Pengawal Hitam yang lain kesima. Sementara
saat itu dari ruang tengah muncul dua wanita. Cu Jiang
cepat membabat kedua Pengawal Hitam itu. Yang satu
rubuh dan yang satu sempat loncat meloloskan diri keluar
dari pintu dan terus lenyap.
Tung, tung, tung, tung . . , dari halaman Gedung
Terlarang itu segera berdentang-dentang genta peringatan
bahaya.
Cu jiang terus lari ke arah kedua perempuan itu. Mereka
menjerit kaget dan lari masuk tetapi Cu Jiang sudah
memburu dan mengarahkan ujung pedang pada salah
seorang dari mereka dan membentak: "Dimana tempat
ditahannya tawanan gadis itu? Lekas bilang !"
Perempuan itu berputar tubuh hendak tetap melarikan
diri tetapi dia segera menjerit karena punggung tertusuk. Cu
Jiang berpaling dan mengancam perempuan yang seorang.
"Lekas bilang !"
Perempuan itu pucat dan gemetar. Dengan suara
tersendat-sendat dia berkata: "Di. .. di.. sini..."
"Tunjukkan ke sana!"
Dengan langkah gontai, perempuan itu pun melangkah
keluar pintu ruang dan berjalan di lorong serambi menuju
ke kamar sebelah timur.
Sementara itu terdengar derap orang berlari. Perempuan
itu berpaling, dahinya mengerut kesangsian.
"Lekas !" bentak Cu Jiang seraya lekatkan ujung pedang.
Perempuan itu mengerang kesakitan lalu terhuyunghuyung
melangkah kedepan dan tiba dipintu ruang samping
kanan.
Beberapa penjagapun muncul dan terus menyerang Cu
Jiang. Cu Jiang menabas, dua orang rubuh, lainnya jeri..
Cu Jiang menendang daun pintu. Seorang dara cantik
tengah berdiri kesima di tengah ruang itu. Itulah puteri
Tayli.
"Kongcu, apa kenal dengan suaraku?" serunya tegang.
"Bukankah anda ini sausu?" puteri itu terkejut.
Beberapa sambaran angin pedang tiba dan Cu Jiang
berbalik diri membabatnya. Kembali dua orang rubuh.
"Kiongcu, apa engkau dapat berjalan ?"
"Tenagaku . ., dilumpuhkan."
"Lekas, kemari !"
Kiongcu melangkah keluar dari kamar dan terus lari
kepada Cu Jiang. Belasan pengawal sudah siap mengepung
mereka di tengah ruang.
Cu Jiang menikung. Yang penting ia harus
menyelamatkan putri itu dulu. Dia berada dalam kurungan
barisan, harus dapat mengendalikan nafsu untuk membalas
dendam.
Segera ia mengepit tubuh puteri di tangan kiri, ia terus
melangkah dengan pedang di tangan kanan. Baru
selangkah. beberapa orang itu sudah menyerangnya.
Penyerang2 itu menilik pakaiannya dapat di ketahui
bahwa mereka adalah pengawal dari Gedung Terlarang.
Sudah tentu kepandaiannyapun lebih tinggi dari Pengawal
Hitam biasa.
Tring, tring, huak. . huak ... tiga batang pedang terpental
ke udara, salah seorang penyerang itu rubuh. Cu Jiang
lanjutkan langkah. Ia membabat jago2 yang mengepung itu.
Empat batang pedang serempak meluncur ke arahnya.
Cu Jiang memutuskan. Untuk meloloskan diri tak ada
lain jalan kecuali harus turun tangan dengan ganas.
Terdengar jeritan ngeri dan dua orang jago Gedung
Hitam menggeletak lagi. Kepungan di tengah ruang itu
bobol tetapi diluar masih terdapat kepungan yang lebih
ketat lagi.
Tetapi Cu Jiang sudah nekad. Dia melangkah ke pintu
bundar. Kali ini dering senjata dan jeritan seram makin
hiruk. Separoh dari Jago2 yang mengepungnya itu rubuh,
sedang yang separoh masih tetap menyerang.
Saat itu Cu Jiang sudah tiba di tepi pintu. Diluar pintu
barisan Pengawal Hitam sudah siap menunggu. Andai tidak
memikirkan keselamatan puteri, tentulah saat itu dia sudah
mengamuk sepuas-puasnya.
Puteri terkejut dan pucat menyaksikan pertumpahan
darah yang begitu dahsyat. Ia mendekap pinggang Cu Jiang
makin kencang. Diam2 kegagahan Cu Jiang itu telah
bersemi dalam hati puteri.
Rupanya barisan Pengawal Hitam itu gentar juga
menyaksikan kegagahan Cu Jiang. Mereka menyurut
mundur.
"Mundur !" tiba2 terdengar bentakan keras dan kawanan
jago Gedung Hitam itupun serempak menyingkir ke
samping sehingga terbuktilah sebuah jalan. Ternyata ketua
Gedung Hitam muncul.
Cu Jiang tegang dan sangsi mampukah dalam keadaan
seperti itu ia menghadapi ketua Gedung Hitam? Tetapi
berhadapan dengan musuh besar, bagaimana mungkin ia
takkan mengadu jiwa ?
"Lepaskan aku, engkau sukar lolos. Jangan kita berdua
kehilangan jiwa. Pergilah, mereka menghendaki kitab Giokkah
kim-keng, untuk sementara tentu takkan mencelakai
aku."
Kata2 itu membangkitkan keputusan Cu Jiang.
Menyelamatkan puteri adalah yang penting. Ilmu
kepandaiannya didapat dari kitab Giok-kah-kim-keng dan
kitab itu merupakan kitab pusaka negeri Tayli. Dia merasa
menerima budi besar dari baginda Toan hongya. Dia harus
membalas budi itu.
Satu-satunya keuntungan pada saat itu, dirinya belum
ketahuan lawan, mereka mengira dia seorang jago dari
Thong-thian kau.
"Engkau benar2 panjang umur. Tetapi jangan harap
engkau dapat lolos dari Gedung Hitam," seru ketua Gedung
Hitam.
"Coba saja."
"Apa kedudukanmu dalam Thong-thian-kan?"
"Maaf. soal itu tak dapat kuterangkan."
"Lepaskan nona itu."
"Tidak bisa !"
"Apa tujuan mu membawanya ?"
"Kita sama2 setujuan."
"Engkau tahu ... dia siapa?"
"Puteri kerajaan Tayli."
"Sahabat, lepaskan dia dan engkau boleh pergi dari sini
atau kalau membangkang engkau tentu mati."
"Ha, ha, sudah kukatakan, tidak bisa."
"O, kalau begitu engkau kepingin menyusul ketuamu
Thay-siang kaucu itu?"
"Siasat keji, aku tak dapat menghargai."
"Terserah apa saja engkau mau bilang, pokoknya,
engkau tentu mati. ."
"Kalau tidak hidup tentu mati. Hidup itukan hanya
begitu," Cu Jiang tertawa sinis.
"Heh. hah, rupanya nyalimu hebat sekali,"
"Tak perlu memuji."
"Baik akan kulaksanakan keinginanmu itu."
Tring. ketua Gedung Hitam mencabut pedang. Cu
Jiangpun segera kerahkan seluruh semangatnya dan
menghimpun segenap kekuatannya.
Saling bersiap menyerang itu berlangsung cukup lama
sehingga suasana tegang sekali.
"Hait..." tiba2 Cu Jiang menyerang dulu. Dia tak mau
tenaga-dalamnya terhambur sia2.
Terdengar dering senjata yang tajam dan keduanya
mundur selangkah. Rencana Cu Jiang adalah hendak
menyelamatkan puteri. Setelah menempatkan puteri itu
disebelah lengan kiri, dia mulai menyerang lagi.
Ketua Gedung Hitam mampu menangkis. Tetapi setelah
Cu Jiang menyerang yang ketiga kalinya, ketua Gedung
Hitam sempoyongan beberapa langkah ke belakang. Bahu
sebelah kanannya berwarna merah.
Cu Jiang tak mau menghilangkan kesempatan. Dia
menyerang lagi yang keempat kalinya. Ketua Gedung
Hitam menggembor, tangan kiri menghantam dan tangan
kanan yang mencekal pedang-pun menabas ke atas.
Tetapi ternyata serangan Cu Jiang itu hanya gertakan
kosong. setelah sudah terpisah agak jauh dari ketua Gedung
Hitam, Cu Jiang terus gunakan ilmu langkah Gong-gong
poh-hwat untuk melesat ke luar.
"Kejar !" teriak ketua Gedung Hitam yang terus
mendahului loncat. Rombongan anak buah Gedung
Hitampun segera mengikuti.
Saat itu Cu Jiang sudah tiba di lapangan depan.
Rombongan anak buah Gedung Hitampun tiba tetapi Cu
Jiang sudah mempunyai rencana.
Setelah berhasil menghindari serangan dari muka, sekali
loncat ia sudah melesat di bawah pagar tembok lalu enjot
kakinya melambung ke atas tembok.
"Mau lari ke mana engkau!" ketua Gedung Hitam
memburu sampai di tengah lapangan. Tetapi Cu Jiang
sudah loncat turun di luar pagar tembok. Beberapa anak
buah Gedung Hitam yang hendak menghadangnya,
terpaksa harus melarikan diri.
Setelah melintasi dua buah puncak gunung, Cu Jiang tiba
di sebuah lembah, mencari tempat yang bersih, meletakkan
tubuh puteri Tayli lalu menghela napas: "Ah, akhirnya lolos
juga dari sarang harimau. "
Puteri memandang pemuda itu dengan rasa terima kasih.
Lama baru dia membuka mulut: "Jiang ko, aku merepotkan
engkau saja! "
Tergetar hati Cu Jiang ketika dipanggil Jiang-ko atau
engkoh Jiang. Ia tertawa: "Kalau kongcu sudah selamat,
aku sudah bersyukur kepada langit dan bumi."
"Apa engkau tak dapat mengganti panggilan kepadaku?"
"Tata susila tak boleh diabaikan."
Setelah mengalami peristiwa penculikan itu rupanya
perangai puteri yang nakal dan periang mulai berobah.
Dengan tersenyum rawan dia menghela napas: "Jiang-ko,
apakah engkau . . . tak mengerti hatiku?"
Sudah tentu Cu Jiang tahu, tetapi dia tak ingin menderita
kepahitan lagi maka dengan nada bersungguh2 dia berkata:
"Kongcu, lebih baik tinggalkan daerah Tionggoan..."
"Maksudku tak lain hanya ingin menikmati keindahan
alam di daerah Tionggoan."
"Tetapi dunia persilatan di Tionggoan itu penuh dengki
peristiwa2 yang berbahaya. Kurang baik bagi Kongcu. "
"Apakah engkau mengusir aku?"
"Ah tidak. Aku berkata dengan maksud baik. Biarlah Ki
Siau Hong dan Ko Kun yang mengantarkan kongcu
kembali ke Tayli."
"Dan engkau?" puteri kerutkan dahi.
Cu Jiang tertawa hambar: "Aku seorang persilatan,
setelah urusan tugas dan peribadi sudah selesai, aku hendak
menggantung pedang dan hidup menyepi ..."
"Hidup menyepi? Ah. kata2 mu seperti ucapan orang
tua. Jiang-ko, berapakah usiamu?"
"Kongcu, apa yang kualami dalam kehidupan banyak
sekali ..."
"Engkau tak mau kembali ke Tayli lagi?"
"Suhu telah mengatakan, memberi kebebasan kepadaku
untuk bertindak."
"Engkau belum menjawab pertanyaanku tadi."
Cu Jiang tertegun lalu keraskan hati, menjawab:
"Kongcu, aku . . sangat berterima kasih atas kebaikan
budimu ..."
"Sudahlah, jangan mengucapkan kata2 yang merendah
begitu."
"Ini bukan kata merendah."
"Lanjutkan kata-katamu."
"Aku . . sudah terikat dengan Janji pernikahan."
Seketika berobahlah cahaya wajah puteri itu, serunya
gemetar: "Benarkah itu?"
"Tentu saja benar . ."
"Apa engkau bukan cari alasan untuk menolak aku?"
Cu Jiang mengeluarkan dompet dari bajunya, "Inilah
tanda pengikat pernikahan itu." Puteri kesima. Hatinya
tentu remuk rendam. Beberapa saat kemudian barulah ia
paksakan bersenyum.
"Pilihanmu tentu seorang yang jelita sekali dan cerdas..."
"Tidak, hanya seorang gadis biasa," jawab Cu Jiang
penuh rasa haru karena teringat akan nasib Ho Kiong Hwa.
"Aku tak percaya."
"Ah, hal itu memang tak dapat kuhindari," kata Cu
Jiang, "kongcu, bukankah engkau mengatakan tenagamu
telah dilumpuhkan mereka?"
"Ya."
"Ijinkanlah aku membukanya."
"Baik."
Atas pertanyaan, kongcu itu mengatakan bahwa Jalan
darah Jin tok dan Tay-meh tak dapat lancar. Cu Jiang
segera menjulurkan jari dan melakukan tutukan dari jarak
jauh.
Cara membuka jalan darah dari jauh itu, hanya beberapa
orang saja di dunia persilatan yang mampu melakukan.
"Sudah, " seru puteri seraya menggeliat.
"Kongcu, mari kita tinggalkan tempat ini!"
"Baik."
"Daerah ini dikuasai Gedung Hitam. Mereka tentu telah
menghias daerah ini dengan alat2 yang berbahaya. Maka
terpaksa aku harus membawa kongcu untuk melintas
gunung dan menyeberang sungai."
"Bagus, akupun senang juga."
Demikian keduanya segera berangkat.
"Bagaimana kongcu sampai jatuh ketangan mereka ?"
tanya Cu Jiang.
"Ketua Gedung Hitam turun tangan sendiri."
"Oh..."
"Kepandaiannya memang menakjubkan sekali. Gerak
langkah yang kupelajari dari paman Nyo, ternyata tak
mampu menghindari dari orang itu."
Sebenarnya Cu Jiang hendak mengatakan bahwa bukan
gerak Gong-gong-poh hwat itu yang salah tetapi karena
tenaga-dalam puteri itu memang masih kurang sehingga tak
dapat mengembangkan ilmu tersebut.
"Ya, kepandaian ketua Gedung Hitam memang hebat
sekali," kata Cu Jiang karena tak mau menyakiti hati puteri.
"dan otaknya memang hebat. Kalau tidak masakan dia
mampu menguasai dunia persilatan Tionggoan selama
belasan tahun."
"Dimana toanio ?"
"Kita akan bertemu di jalan terdekat."
Petang hari, mereka tiba di kota pegunungan. Setelah
menempatkan puteri disebuah tempat yang aman, Cu Jiang
masuk kedalam kota, mencari Thian put-thou Ciok Yau Je.
Tokoh itu berada dalam sebuah rumah makan kecil sedang
minum arak.
"Adik kecil, mari kita minum arak !" serunya girang
ketika melihat Cu Jiang.
"Tidak, usah ada urusan penting."
"Urusan apa ?"
"Orang yang kita cari, sudah menunggu diluar kota ini."
"Dia ?"
"Ya,"
"Lalu bagaimana ?"
"Kita belikan makanan dan pakaian, suruh dia
menyamar ..." kata Cu Jiang, "dan apakah bisa
menyediakan kuda ?"
"Berapa ekor ?"
"Cukup seekor saja. Nanti akan kuserahkan
pengawalannya kepada pengawalnya."
"Baik, engkau tunggu saja disini," kata Thian-put-thou
terus ngacir keluar. Hanya setengah jam kemudian Thianput
thou sudah muncul lagi dengan membawa sebuah
bungkusan besar: "Makanan dan pakaian disini semua.
Kudanya di luar kota, Berangkatlah dulu, nanti kutunggu
dengan kuda itu."
Pada saat itu dua orang imam yang jubahnya tak keruan,
masuk kedalam rumah makan itu dan duduk di pojok. Cu
Jiang seperti kenal dengan mereka. Ketika mengawasi
dengan seksama, ia girang sekati. Kedua imam itu tak lain
adalah Ki Siau Hong dan Ko Kun.
"Lekas berangkat, tunggu apa lagi !" desak Thian put
thou.
"Mereka sudah datang."
"Siapa ?"
"Orang yang akan mengawal."
"Oh..." Thian-put thou yang cerdas segera dapat
memahami maksud Cu Jiang.
Cu Jiang memberi sandi yang mendapat jawaban dari
kedua imam palsu itu. Karena tak leluasa berbicara, Cu
Jiang mengangguk kepala dan memberi isyarat "aman".
Setelah itu memberi pesan kepada Thian-put-thou
supaya mengadakan kontak dengan kedua imam itu, iapun
terus keluar. Ia kuatir puteri terlalu lama menunggunya.
Alangkah kejutnya ketika tiba ditempat dan tak
mendapatkan puteri berada disitu. Ia terlongong-longong
bingung.
"Nak..." tiba2 terdengar sebuah suara yang tak asing bagi
Cu Jiang, serentak dia menyahut: "Apakah toa-nio ?"
Seorang wanita gemuk muncul dari tempat gelap Dia
bukan lain memang Poan toanio, bibi Cu Jiang sendiri.
"Toanio, engkau juga kemari ?"
"Sudah berjumpa dengan kedua imam palsu itu?" kata
Poan toanio.
Cu Jiang mengangguk.
"Selama dalam perjalanan kami tak menemui rintangan
suatu apa dan kebetulan sekali dapat berjumpa dengan
engkau," kata Poan toanio.
"Toanio, kongcu..."
Poan toanio kerutkan dahi dan berkata dengan nada
sarat: "Nak, ada beberapa pertanyaan yang kuminta engkau
menjawab dengan sungguh."
Cu Jiang terkejut namun ia mempersilakan bibinya
mengatakan.
"Engkau anggap kongcu itu cantik tidak."
"Cantik sekali."
"Bagaimana peribadinya ?"
"Periang, lincah, ah, semuanya baik."
"Tetapi mengapa engkau menolaknya?"
Merah wajah Cu Jiang. Ia tertawa rawan.
"Toanio, tit-ji hanya seorang kelana dalam dunia
persilatan . . ."
"Begitupun suhumu, Gong-gong-cu tetapi dia pun mau
menjabat sebagai Koksu. Mendiang ayahmu bergelar
Dewa-pedang asal keturunanmu tidak rendah, nak."
"Ya, tetapi . . ."
"Mengapa engkau merendahkan dirimu sendiri. Jika
wajahmu belum pulih seperti sekarang, aku memang tak
dapat berkata apa2."
"Toanio belum mendengarkan habis keteranganku . . .
tit-ji sudah terikat perjodohan dengan orang."
Sepasang mata Poan toanio yang besar terbelalak.
"Benarkah itu?"
"Toanio mengapa aku membohongmu ?"
"Engkau tak pernah mengatakan hal itu kepadaku."
"Hal itu terjadi belum berapa lama dan Ang Nio Cu yang
menjadi perantaranya . . ."
"Ang Nio Cu menjadi comblangnya?"
"Ya."
"Siapa gadis itu?"
"Seorang gadis yang bernasib malang, namanya Ho
Kiong Hwa."
"Hm, Ho Kiong Hwa ..."
"Tetapi toanio, aku tak dapat mengecewakannya..."
"Apa dia pernah melepas budi kepadamu?"
"Tidak, tetapi bagaimanapun aku tak dapat
membuangnya . . . "
"Mengapa?"
Cu Jiang lalu menuturkan semua peristiwa yang
menimpa diri Ho Kiong Hwa yang karena merasa telah
ternoda lalu membatalkan ikatan kawin itu.
"Nak, apakah engkau keberatan untuk membatalkan
ikatan itu?"
"Walaupun ke ujung langitpun aku tetap hendak
mencarinya. Sebagai seorang ksatrya, aku tak mau
melanggar janji. Apalagi sebelumnya dia sudah terikat
perjodohan dengan aku."
"Itulah sebabnya maka engkau menolak kongcu?"
"Begitulah."
"Hm, memang engkau tak bersalah, tetapi kongcu
hancur hatinya ..."
"Akupun mengetahui hal itu."
"Baik, kita sudahi saja pembicaraan tentang hal itu.
Bagaimana keadaan di Gedung Hitam?"
"Barisannya sudah hancur. Karena Thong-thian-kau juga
ikut menggempur, banyak jago2 Gedung Hitam yang mati.
Kekuatan Gedung Hitam sudah lemah."
"Engkau pernah bertempur dengan ketua Gedung
Hitam?"
"Ya, tetapi demi menyelamatkan kongcu, terpaksa untuk
sementara kulepaskan dia."
"Bagaimana wajahnya yang aseli?"
"Tetapi masih belum diketahui tetapi kupercaya tak lama
kedoknya tentu akan terbuka."
"Lalu pihak Sip-pat-thian-mo?"
"Hanya tinggal seorang, yakni Hui-thian Sin-mo yang
kemungkinan menjaga di markas besar Thong-thian-kau.
Tugas yang diberikan suhu, boleh dikata hampir selesai."
"Nak, setelah tugasmu selesai, bagaimana kira-kira
rencanamu nanti?"
"Lebih dulu mencari Ho Kiong Hwa lalu mengundurkan
diri dan dunia persilatan."
"Tak kembali ke Tayli untuk menjabat Tin-lian ciang-kun
lagi?"
"Toanio, tit-ji tak begitu tertarik dengan pangkat."
"Juga kepada diriku ini?"
"Ah, toanio, tit-ji mempunyai rencana?"
“Di gunung Bu-leng san terdapat seorang bu su yang
bernama Ban Ki Hong. Dahulu pernah mendapat pelajaran
ilmu pedang dari mendiang ayah. Dia senang tinggal
mengasingkan diri di gunung itu.
Apabila toanio ingin meninggalkan dunia ramai, tit-ji
bersedia mengantar toanio kesana. Kelak tit-ji tentu akan
merawat toanio sampai tua."
Poan toanio berlinang-linang air mata dan mengangguk
angguk: "Baik . . . baik ..."
"Toanio, kongcu ..."
"Mari ikut aku!"
Cu Jiang mengikuti wanita gemuk itu. Beberapa jenak
kemudian mereka tiba di sebuah tempat yang penuh
gunduk batu tinggi.
"Kongcu! Kongcu!" teriak Poan toanio. Tetapi sampai
diulang beberapa kali tak terdengar penyahutan. Cu Jiang
mulai gelisah.
Poan toanio segera mencari ke sekeliling tempat itu
tetapi beberapa saat kemudian ia muncul dengan dahi
mengeriput: "Aneh, dia menunggu aku di sini."
Tiba2 ia melihat sesosok tubuh kecil berlari-lari
mendatangi. Cepat ia meneriaki Cu Jiang dan pemuda itu
pun bergegas keluar.
"O, dia adalah sahabat tit-ji, Thian-put-thou lo koko !"
serunya gembira.
Memang yang datang itu Thian put thou. "Adik kecil,
engkau di sini? Dan ini . . "
"Bibiku Poan toa-nio."
"O, insaf, pencuri tua menghaturkan hormat."
"Ah, terima kasih," Poan toaniopun balas memberi
hormat.
Kemudian Thian-put-thou bertanya kepada Cu Jiang:
"Apa engkau hendak mencari kongcu?"
Cu Jiang mengiakan.
"Tak perlu engkau cari ..."
"Mengapa?"
"Dia sudah pergi."
"Pergi?" Cu Jiang terkejut.
"Ya, dia telah diiring oleh kedua pengawal yang
menyaru sebagai imam itu."
"Ah . . ." Cu Jiang mendesah.
"Dia hanya meninggalkan pesan kepadamu, asam di
gunung, garam di laut, semoga dapat berpadu!"
Cu Jiang mengeluh dalam hati. Dia seperti kehilangan
sesuatu. "Baik. perpisahan begini memang lebih baik."
akhirnya ia menghela napas.
"Ya, tetapi kurang enak juga terhadap Kok-su dan
baginda Toan hongya, " kata Poan toanio.
"Kalau begitu tit-ji akan menyusulnya."
"Buat apa?"
Cu Jiang tertegun. Ya, kalau bertemu dengan puteri
Tayli itu apakah yang harus ia katakan. Bukankah kedua
pihak akan sama menderita hatin?
"Nak, tak perlu bersedih. Biarlah urusan itu selesai
sampai disini." Poan toanio menghiburnya.
"Waktu kembali ke Tionggoan, keempat pengawal itu
ikut. Tetapi kini mereka hanya tinggal dua yang pulang.
Bukankah suhu dan baginda akan kecewa kepada tit-ji ?"
Poan toanio menghela napas dan mengatakan bahwa
kedua jago yang telah mengorbankan jiwa untuk kerajaan
Tayli itu, kelak tentu akan mendapat penghargaan."
"Sudahlah, Jangan bersedih akan peristiwa yang telah
lalu. Sekarang bagaimana langkahmu ?" tanya Poan toanio.
"Menyerbu Gedung Hitam lagi !"
"Tidak menunggu Ang Nio Cu ?" Thian-put-thou garuk2
kepala.
"Dikuatirkan ketua Gedung Hitam itu akan meloloskan
diri, tentu sukar untuk mencarinya !" kata Cu Jiang, "lokoko.
.."
"Mau menghalang diriku lagi, ya ?" Thian-put-thou deliki
mata.
"Ih, bukan begitu."
"Lalu bagaimana ?"
"Langkahku kali ini adalah untuk membalas dendam
keluargaku."
"Tak menghendaki bantuan orang ?" Thian-put-thou
menukas.
"Ai, lo-koko .. ."
"Si tua ini hanya melihat saja, tidak ikut turun tangan,
bagaimana?"
Apa boleh buat, Cu Jiang hanya dapat tertawa meringis.
"Baiklah kalau begitu."
Demikian ketiga orang itu segara lari menuju ke gunung
lagi. Tiba di daerah markas Gedung Hitam, sudah hampir
fajar hari. Karena sudah faham jalannya, maka Cu Jiang
membawa Poan toanio dan Thian put thou ke puncak yang
di datangi dulu.
"Toanio, dari sini lebih kurang seperempat jam lagi. kita
akan tiba di Gedung Hitam! Mumpung musuh belum
bersiap-siap, kita terus menyerangnya saja!"
"Baik," sahut kedua kawannya.
Kali ini Cu Jiang memang hendak datang secara terangterangan.
Dia menanggalkan kedok kulit muka dan berganti
dalam pakaian seperti seorang pelajar. Pedang kutung
diselipkan di pinggang. Kini dia benar2 kembali seperti Cu
Jiang dahulu atau si pelajar baju putih.
Tiba2 saat itu di lereng puncak yang terpaut sebuah
jurang, seperti tampak berpuluh bayangan orang sedang
bergerak.
"Toanio, lo koko, apakah melihat apa yang berada di
lereng puncak itu?"
Thian put thou memandang ke puncak itu:
"O, orang, paling sedikit sepuluh."
"Api !" tiba2 Poan toanio menunjuk ke arah markas
Gedung Hitam.
Cu Jiang berpaling. Memang benar Gedung Hitam yang
besar dan luas itu sedang dimakan api.
"Jangan2 mereka membakar sarangnya sendiri?" kata
Thian put-thou.
Cu Jiang seperti disadarkan. Orang2 dilereng puncak
sebelah muka itu, mungkin ....
"Aku hendak mencegat mereka!" ia terus loncat dan
menghilang dalam kabut. Poan toanio pun mengajak Thianput-
thou menyusul.
Dengan gunakan gerak Gong-gong-poh-hwat, setelah
melintasi lembah, naik gunung turun gunung, dalam
beberapa waktu dapatlah Cu Jiang tiba di tempat orang2
tadi. Agar jangan membikin kaget mereka, ia sengaja
memutar dari samping dan naik ke puncak. Tetapi orang2
itu ternyata sudah tak ada.
Saat itu cuaca makin terang tetapi kabut di puncak
gunung masih meremang, pandang mata Cu Jiang
mengelilingi puncak itu tetapi tetap tak dapat menemukan
apa2.
Gedung Hitam sudah dibumi hanguskan dan tentulah
ketuanya sudah pergi. Thong-thian-kaupun sudah tak
mempunyai kekuatan lagi untuk menyerang Gedung
Hitam.
Poan toanio dan Thian-put-thou tiba.
"Bagaimana?" seru thian-put-thou.
"Mereka menghilang!"
"Mungkin kita salah siasat " tiba2 Poan toanio berkata.
"Bagaimana?"
"Sebenarnya kita langsung menyerbu ke Gedung Hitam,
mungkin masih dapat membekuk seorang atau dua orang
anak buahnya dan dapat kita korek keterangan. Sekarang
sudah terlambat."
"Sosok2 bayangan tadi memang mencurigakan."
"Mungkin sosok yang memusuhi Gedung Hitam."
Cu Jiang menghela napas. Menilik gelagatnya jelas ketua
Gedung Hitam sudah melarikan diri entah kemana.
Tengah ketiga orang itu termenung-menung kehilangan
langkah, tiba2 sesosok bayangan orang yang aneh, muncul
dari hutan jauh disebelah muka. Orang itu seperti mengepit
seseorang.
Tanpa bicara apa-2, Cu Jiang terus loncat memburu.
Ketika dekat, ia terkejut sekali. Ternyata orang itu tak lain
adalah Ang Nio Cu dan yang dikempitnya adalah Cukat
Beng Cu, puteri dari Cukat Giok yang kemudian waktu
menjadi anak dari ketua Gadung Hitam berganti nama Ki
Ing.
Menurut perhitungan tak mungkin Cukat Bsog Cu itu
dapat sembuh sedemikian cepatnya, kecuali tokoh aneh Kui
jiu-sinjin mempercepat pengobatannya.
Diam2 Cu Jiang mengikuti. Ilmu meringankan tubuh
dari Ang Nio Cu memang hebat sekali. Jika bukan Cu
Jiang, tentu sukar untuk mengikuti.
Berlari beberapa waktu, mereka tiba ditepi puncak. Dari
tempat itu melihat sebuah puncak jauh disebelah muka
Puncak gunung itu dikelilingi oleh lekuk2 lembah yang
lebat.
Ketika memandang kearah puncak itu seketika darah Cu
Jiangpnn bergelora. Belasan sosok tubuh yang menghilang
tadi ternyata sedang berjalan melintasi celah2 gunung.
Ang Nio Cu berhenti, turunkan Cukat Beng Cu dan
berbisik: "Apakah disini ?"
"Ya, benar," Cukat Beng Cu mengangguk.
"Kulihat ada orang yang berlari disini . ."
"Apa yang siau-moay duga memang tak salah," sahut
Cukat Beng Cu. Ia membahasakan dirinya sebagai siaumoay
atau adik.
"Celaka mengapa Toan-kiam Jan jin tak kelihatan
bayangannya ?"
"Taci, kalau engkau seorang diri apakah tidak terlalu
berbahaya.. ."
"Demi membalas dendam suhuku, aku tak
menghiraukan apa2 lagi!"
Mendengar itu Cu Jiang seperti mengetahui sesuatu.
Tetapi pada saat dia hendak muncul, Ang No Cu sudah
menyambar Cukat Beng Cu dan terus dibawa lari lagi.
Cu Jiang terpaksa mengikuti Bayangan orang yang
tampak berjalan di celah gunung tadi, tiba2 lenyap. Cu
Jiang terpaksa hentikan langkah. Tetapi Ang Nio Cu tetap
maju, bahkan rupanya ia sengaja berjalan ditengah celah
gunung itu.
Tiba2 timbul pikiran Cu Jiang. Jika dia mengitari gedung
itu tentulah dia akan dapat menemukan rombongan orang
tadi. Dan kalau dia berhati-hati bersembunyi dibalik batu
atau pohon, tentulah mereka takkan mengetahui.
Segera ia lakukan hal itu. Saat itu Ang Nio Cu tiba
ditempat dimana rombongan orang tadi menghilang. Ang
Nio Cu berhenti disitu. Cu Jiangpun segera bersembunyi
dibalik segunduk batu besar, terpisah tiga tombak dari
tempat Ang Nio Cu.
"Ang Nio Cu sengaja datang hendak bertemu!" seru Ang
Nio Cu dengan nyaring tetapi tak ada penyahutan.
Sekali lagi Ang Nio Cn mengulangi: "Jika tak mau
menampakkan diri, aku terpaksa akan menghancurkan
sandera ini!"
Sandiwara ? Apakah ketua Gedung Hitam bersembunyi
disitu ?
Waktu Cu Jiang dan Thian-put thou tak berkutik
menghadapi ancaman wakil ketua Gedung Hitam yang
hendak meledakkan obat pasang, tiba2 Cukat Beng Cu
muncul dan minta tali penarik bahan peledak itu dari
tangan Li Ing Bo, wakil ketua Gedung Hitam.
Ternyata dia meneriaki Cu Jiang dan Thian put-thou
supaya lari dan tidak mau menarik tali itu. Li lng Bo marah
lalu melepaskan pukulan beracun yang hampir saja
menewaskan jiwanya. Dengan tindakan itu tentulah Cukat
Beng Cu sudah tahu asal-usul dirinya. Pikir Cu Jiang.
Sekarang Ang Nio Cu membawanya ketempat itu,
mungkin mereka berdua sedang menggunakan apa yang
disebut Gok-ji ki atau siasat Menyakiti-diri.
Tetapi bukankah wakil ketua Gedung Hitam Li Ing Bo
itu sudah tahu penghianatannya ? Apakah siasat Gok-Ji ki
itu akan berhasil. Merenung hal itu, Cu Jiang gelisah.
"Heh, heh, heh, heh..." terdengar suara orang tertawa
mengekek sinis. Beberapa sosok tubuh dari arah lain,
muncul berlarian mendatangi. Yang paling depan adalah
ketua Gedung Hitam sendiri, dibelakangnya diiring oleh
dua orang pengawal Gedung Terlarang.
Melihat musuh muncul, darah Cu Jiang mendidih, hawa
pembunuh meluap-luap.
"Ang Nio Cu." seru ketua Gedung Hitam, ”hebat juga
engkau dapat menemukan tempat rahasia disini. . ."
"Thian maha pemurah!" tukas Ang Nio Cu.
"Bebaskan dia!"
"Boleh, tetapi ada syaratnya !"
"Syarat bagaimana?"
"Engkau harus bertempur, lawan aku satu lawan satu,
Iain orang tak boleh membantu."
"Hi, ha. ha, ha . . . Ang Nio Cu, tak ada lain hal yang
lebih bagus dari syarat yang engkau ajukan itu!"
"Masih ada lagi," kata Ang Nio Cu, "budak perempuan
ini telah kututuk jalan darahnya dengan ilmu tutuk yang
istimewa. Jangan engkau coba2 bertindak licik untuk
merebutnya.
Kecuali aku, tak mungkin lain orang mampu membuka
jalan darahnya yang tertutuk itu. Jika tak kubuka, dalam
waktu sejam, dia tentu mati!"
"Engkau pintar sekali ..."
"Bagimu masih tak terhitung apa2."
"Ang Nio Cu, kalau engkau mati, bukankah putriku yang
tersayang itu akan ikut mati juga ?"
"Hal itu tergantung dari rejekimu !"
"Baik, mari kita mulai."
"Suruh anakbuahmu itu mundur agak jauh."
"Kalian mundur," ketua Gedung Hitampun memberi
perintah dan kedua pengiringnyapun segera mundur sejauh
lima tombak.
Ang Nio Cu juga loncat mundur dua tombak untuk
meletakkan Cukat Beng Cu di kaki puncak. Dan secara
kebetulan tepat di depan Cu Jiang bersembunyi.
Pemuda itu kerutkan dahi. Dia tahu mungkin Ang Nio
Cu tak dapat menandingi kesaktian ketua Gedung Hitam.
Bukankah tindakannya itu berbahaya sekali ? Dendam tak
terbalas, dirinyapun mungkin binasa sendiri.
Ang Nio Cu kembali maju lagi. Dia membawa pedang
Cu Jiang yang tempo hari dijadikan barang tanda pengikut
perjodohan dengan Ho Kiong Hwa, Ketua Gedung Hitam
juga mencabut pedang. Setelah saling menatap beberapa
saat, mereka lalu mulai bergerak.
Ilmu pedang Ang Nio Cu memiliki gaya aneh dan
dahsyat dari sumber perguruan agama. Begitu bertempur,
keduanya sukar dilerai lagi.
Cu Jiang mengikuti pertempuran itu dengan penuh
perhatian. Dia tahu bahwa Ang Nio Cu mempunyai
dendam darah yang hebat dengan ketua Gedung Hitam.
Diam2 Cu Jiang menimang, jika dia keluar dan
menggantikan Ang Nio Cu tentu tak punya kesempatan lagi
untuk melampiaskan dendam kesumatnya.
Tetapi kalau tak turun tangan, Ang Nio Cu tentu tak
dapat membunuh ketua Gedung Hitam itu.
Pertempuran berjalan makin seru dan menakjubkan.
Sekonyong-konyong dua sosok tubuh diam2 telah
menyelinap ke tempat Cukat Beng Cu dan terus ulurkan
tangan hendak menyambar nona itu.
Cu Jiang terkejut. Cepat dia menjulurkan jari untuk
memancarkan ilmu Jari-sakti kepada kedua orang itu.
Tetapi sebelum ia sempat melakukannya. tiba2 kedua orang
itu mengerang terus rubuh, Cu Jiang diam2 menghela napas
longgar.
Kiranya Ang Nio Cu sudah menyiapkan langkah untuk
menghadapi perbuatan musuh yang hendak mengganggu
Cukat Beng Cu.
Tetapi saat itu Ang Nio Cu sudah mulai terdesak oleh
pedang ketua Gedung Hitam. Dengan mati-matian Ang
Nio Cu harus bertahan diri walaupun dengan pontangpanting.
"Huak..." terdengar mulut Ang Nio Cu menguak dan
tubuhnya sempoyongan.
"Berhenti!" saat itu Cu Jiang tak dapat menahan diri lagi
dan terus melayang keluar.
"Adik !" teriak Ang Nio Cu girang sekali.
Ketua Gedung Hitam mundur tiga langkah seraya
berseru gemetar : "Toan-kiam-jan-jin !"
Sepasang mata Cu Jiang memancar hawa pembunuhan,
gerahamnya bergemerutuk.
"Tua bangka, dengarkan yang jelas, aku bernama Cu
Jiang putera tunggal dari Dewa pedang Cu Beng Ko!"
Kembali ketua Gedung Hitam mundur dua langkah
dengan wajah terkejut. Cu Jiang menghampiri maju dan
terus mencabut pedang kutung dari pinggangnya.
Ketua Gedung Hitam memandang Cukat Beng Cu
dengan mata penuh kemarahan, serunya:
"Budak hina, engkau berani mengkhianati aku?"
"Bangsat tua, aku hendak menyayat-nyayat daging
tubuhmu. Sekarang, bukalah kedok mukamu !" teriak Cu
Jiang.
Mata ketua Gedung Hitam berkeliaran ke samping tetapi
Cu Jiang segera menghardik:
"Jahanam, Jangan coba2 cari akal busuk, jangan harap
engkau dapat lolos!"
Cukat Beng Cu berbangkit terus lari kesisi Ang Nio Cu.
Ketua Gedung Hitam mendengus geram. Ia terus
mainkan pedang menyerang Cu Jiang. Serangannya itu
dilancarkan dengan sepenuh tenaga. Tampaknya dia
bernapsu sekali dirangsang kegugupan.
Cu Jiang membentak lalu memainkan ilmu pedang Itkiam-
tui-hun ajaran mendiang ayahnya.
Begitu terjadi benturan, terdengarlah suitan nyaring di
udara dan ketua Gedung Hitam itu terus hendak berputar
tubuh.
Tetapi Cu Jiang sudah menjagai hal itu. Dia loncat
membayangi dengan ujung pedang kutung sehingga ketua
Gedung Hitam itu terpaksa berbalik tubuh lagi untuk
melayaninya.
Rupanya kedua belah pihak sangat bernafsu sekali untuk
membunuh lawan. Setiap jurus yang dilancarkan selalu
jurus2 maut yang dahsyat.
Terdengar bentakan nyaring campur erang tertahan dan
tubuh ketua Gedung Hitampun berlumur warna merah. Dia
sempoyongan. Cu Jiang tak mau memberi ampun lagi. Ia
menyerang dengan sebuah Jurus ilmupedang It-kiam-tuihun.
Tring, tring....
Ketua Gedung Hitam mundur lagi beberapa langkah
tetapi ia masih dapat menangkis serangan maut lawan.
Cu Jiang makin kalap. Bagai harimau haus darah, dia
terus menyerang lagi. Terdengar erang pelahan dan tubuh
ketua Gedung Hitaaa bertambah luka baru pula.
"Aku hendak menghias mayatmu dengan seribu
tusukan." seru Cu Jiang.
"Hm. . . .!" ketua Gedung Hitam menggembor dan balas
menyerang seperti orang kalap. Delapan buah jurus yang
aneh dan ganas, disertai dengan seluruh tenaganya,
dilancarkan dengan hebat, Cu Jiang sibuk juga menangkis
dan terdesak mundur dua langkah.
Jika dia menggunakan ilmu pedang Thian-te-kau-thay
dari kitab pusaka Giok-kah-kim-keng, ketua Gedung Hitam
tentu tak mampu bertahan sampai lima Jurus. Tetapi karena
hendak membalas dendam maka ia tetap mempergunakan
ilmu pedang ajaran ayahnya. Itulah sebabnya maka ketua
Gedung Hitam mampu balas menyerang.
Delapan jurus yang dilancarkan ketua Gedung Hitam
telah selesai. Kini Cu Jiang mulai balas menyerang. Dia
tetap menggunakan ilmu pedang It-kiam-tui-hun.
Tring . . . terdengar pekik kejut dan pedang ketua
Gedung Hitam itupun mencelat ke udara. Cu Jiang julurkan
pedang buntung lurus ke muka. Mengarah dada lawan.
Ketua Gedung Hitam ketakutan dan mundur tetapi Cu
Jiang tetap mendesak maju.
Suasana gelanggang pertempuran diliputi hawa
pembunuhan. Tak ada seorangpun pihak Gedung Hitam
yang tampak. Mungkin karena melihat gelagat buruk
mereka sudah bersembunyi.
Setelah terus menerus mundur, akhirnya ketua Gedung
Hitam tertutup jalan oleh segunduk batu besar.
"Hiaaat . . . !" sekali pedang menggurat, Cu Jiang
berteriak kaget. Ia memang mencongkel kedok muka ketua
Gedung Hitam. Tetapi begitu wajah aseli dari lawan terlihat
jelas ia sendiri terkejut bukan kepalang. Kiranya ketua
Gedung Hitam itu tak lain adalah Bulim seng-hud atau
Buddha hidup Sebun Ong.
Buddha hidup yang begitu diagungkan sebagai tokoh
yang berhati mulia, ternyata seorang biang durjana yang
selama berpuluh puluh tahun telah meneror dunia
persilatan. Hampir Cu Jiang tak percaya apa yang
dilihatnya.
Rahasia besar dalam dunia persilatan kini telah
tersingkap. Tiong goan tay hiap Cukat Giok benar. Yang
merampas isteri dan puterinya memang Sebun Ong.
Cu Jiang teringat bahwa ketika menghembuskan napas
yang terakhir, toa suhengnya Ho Bun Cai pernah
mengucapkan kata "Sebun Ong" . Tetapi Cu Jiang tak
menyadari hal itu.
"Sebun Ong, belasan tahun engkau dapat mengelabuhi
mata dunia persilatan. Tetapi akhirnya Thian
menghukummu juga, ha, ha, ha ... . "
Cukat Beng cu berbalik diri. Rupanya ia tak sampai hati
melihat keadaan ayah tirinya yang selama ini
memperlakukan ia dengan baik. Ia belum tahu akan nasib
ayahnya sendiri.
"Budak, aku menyerah, bunuhlah !" seru Sebun Ong
dengan menarik napas.
"Sebun Ong, mengapa engkau memusuhi ayahku?"
"Dia tak layak mendapat gelar Dewa-pedang."
"Engkau . . . jahanam tua, hanya karena merasa iri saja,
sampai hati untuk membunuh seluruh keluargaku. Engkau
bukan manusia ..."
"Bunuhlah aku!"
"Tidak begitu cepat engkau harus mati, crat ..." pedang
buntung menusuk bahu kiri Sebun Ong, darah mengucur
deras, "ini untuk Cukat Giok lo cianpwe!"
Cret . . . kembali ujung pedang menusuk tembus bahu
kanan. "Dan ini untuk Toa suhengku Ho Bun Cai . . ! "
Sebun Ong berobah menjadi manusia darah. Ia terkulai
tetapi Cu Jiang mencengkeram dada dan mengangkatnya:
"Jahanam, mengapa dulu2 engkau tak mau bertobat!"
"Engkau . . engkau . . keji sekali . ."
"Dan yang ini adalah untuk arwah keluargaku . . . cret! "
pedang itupun menembus ulu hati Sebun Ong. Seketika dia
terkulai putus nyawanya.
Cu Jiang lalu berlutut menghadap ke barat.
"Ayah, mama, adikkku, paman Liok...aku telah
membalas dendam dan hendak menghancurkan kepala
musuh..."
Ang Nio Cu maju mencegahnya: "Adik Jiang orang yang
mati, sudah himpas dosanya. Dia sudah menerima buah
dari pberbuatannya!"
Cu Jiang menurut. Memandang ke segenap penjuru, ia
berkata: "Sisanya tentu masih..."
"Tempat ini merupakan sarang rahasia dari Gedung
Hitam yang penuh lorong2 berbahaya. Mereka tentu sudah
melarikan diri..." tiba2 Cukat Beng Cu menyela.
"O, nona Cukat, aku masih ada sesuatu yang belum
sempat kuberitahu kepadamu."
Sambil menggigit gigi, nona itu berkata: "Waktu
mamaku mati karena racun, diapun sudah menerangkan
sedikit . ."
"Tentang ayah nona?"
"Ayah sudah meninggal dunia."
"Tidak, beliau masih hidup!"
"Ayah masih hidup?" seketika gemetarlah tubuh Cukat
Beng Cu.
Cu Jiang lalu menuturkan semua peristiwa yang
dialaminya bersama Cukat Giok, serta soal dompet yang
diserahkan kepada mama Cukat Beng Cu. Nona itu
menangis tersedu-sedu.
Tiba2 dia berputar tubuh dan ayunkan tangan ke mayat
Se bun Ong. Tetapi setengah jalan, dihentikan lagi: "Ah,
sudahlah ..."
"Nona, inilah barang titipan ayah nona yang telah
diberikan kepadamu," kata Cu Jiang seraya menyerahkan
dompet dari Cukat Giok. Dengan tangan gemetar, Cukat
Beng Cu menyambutinya.
Kemudian Cu Jiang bertanya kepada Ang Nio Cu
mengapa dapat muncul lebih pagi di gunung Keng-san itu.
"Luka adik Beng Cu sembuh lebih cepat dari waktunya.
Kami segera menuju kemari. Mata2 Gedung Hitam
mengatakan kepada adik Beng Cu bahwa wakil ketua Li lng
Bo telah mati dibunuh orang Thong thian-kau. Maka ketua
itu tak tahu tentang perbuatan adik Beng Cu yang berpaling
haluan. Pada saat kami tiba, ternyata markas Gedung
Hitam sudah hancur. Dan dari seorang anak buah, adik
Beng Cu tahu kalau tempat ini merupakan tempat
persembunyian rahasia dari ketua Gedung Hitam . . ."
"Oh, maka taci lalu menggunakan siasat Gok-ji-ki untuk
memikat supaya Sebun Ong keluar !"
"Ya, tetapi aku salah..."
"Mengapa?"
"Tak tahu kekuatan diri sehingga apabila engkau tak
muncul, akibatnya tentu sukar dibayangkan!"
"Ah, itu karena Sebun Ong memang sudah sampai
umurnya mati!"
Tiba2 dua sosok bayangan berlari mendatangi. Ternyata
keduanya adalah Poan toanio dan Thian put thou.
Lebih dulu Cu Jiang memperkenalkan Ang Nio Cu dan
Cukat Beng Cu kepada bibinya.
"Ho, sungguh tak kira kalau ketua Gedung Hitam itu
ternyata Sebun Ong !" seru Thian-put-thou.
Dengan berlinang-linang. Poan toanio berkata: "Nak,
kini arwah ayah bundamu, adik-adikmu dan kawan2 yang
telah mati dengan penasaran tentu akan terhibur di alam
baka!"
Tiba2 Cu Jiang memperhatikan bahwa pada waktu
Cukat Beng Cu membuka dompet dari ayahnya, nona itu
tampak terlongong-longong.
"Nona Cukat !" tak terasa Cu Jiang berseru menegurnya.
Cukat Beng Cu tundukkan kapala. Mulutnya mendesis
lalu berpaling ke samping memandang Ang Nio Cu.
Cu Jiang mengikuti dengan pandang mata.Di lihatnya di
tangan nooa itu terdapat sebuah kumala yang berwarna
hijau kehitam-hitaman. Di bawah batu kumala itu terdapat
pula secarik kertas yang berisi beberapa tulisan.
"Apakah itu bukan Lencana Hitam ?" diluar kesadaran,
mulut Cu Jiang mendesir.
Cukat Beng Cu memandang Cu Jiang dengan pandang
mata yang aneh, Kemudian ia mengeluarkan sebutir
kumala dari bajunya lalu diletakkan di sisi kumala tadi. Ah,
benar2 sepasang batu kumala hitam yang baik bentuk dan
warnanya seperti pinang dibelah dua.
"Apakah artinya itu ?” Cu Jiang berseru heran.
Wajah nona itu nampak pilu.
"Kedua untai kumala ini sebenarnya merupakan
sepasang. Ayah dan ibu masing2 menyimpan satu.Milik
mendiang, ibu telah diserahkan kepadaku." sampai disini ia
hentikan kata-katanya.
Wajahnya mengerut tegang, entah mengandung
perasaan marah atau dendam, kemudian melanjutkan pula:
"Kemudian kumala yang menjadi milikku itu, kujadikan
sebagai tanda diriku dan disebut Hek-hu. Hanya... begitulah
!"
"O, benar." kini Cu Jiang menyadari. "waktu nona
memberikan kumala itu kepadaku, kecuali dalam
lingkungan anak buah Gedung Hitam, diluar memang tak
ada pengaruhnya apa2. Kiranya karena hal itu..."
"Cu siangkong, tadi engkau mengatakan bahwa ayahku
telah dicelakai Sebun Ong?"
"Keterangan itu menurut cerita ayah nona sendiri."
"Aku.... ingin bertemu dengan ayahku !"
"Lembah rahasia itu hanya mempunyai sebuah jalan.
Dan pada musim kemarau barulah dapat mencapai ke
tempat itu. Aku bersedia mengantar nona ke sana. ."
"Kapan ?"
"Setelah kubasmi iblis yang terakhir dari gerombolan Sippat
thian-mo itu !"
"Iblis yang mana ?" Poan toanio menyela.
"Iblis ke satu yang disebut Hui-thian Sin-mo..."
"Tak perlu engkau buang tenaga!"
"Kenapa ?"
"Iblis kesatu sama2 hancur binasa dengan wakil ketua
Gedung Hitam Li Ing Bo. Hui-thian Sin-mo mati akibat
bahan pasang yang diledakkan Li Ing Bo tetapi Li Ing
Bopun akhirnya mampus karena dibunuh biang iblis Juibeng-
koh."
"Ah...." Cu Jiang menghela napas longgar, Kini tugasnya
ialah selesai. Musuh besar telah dl-tumpas, tak ada lagi
yang harus diresahkan. Tiba2 la teringat akan nasib Ho
Kiong Hwa, calon isterinya itu.
Saat itu Ang Nio Cu mengambil surat dari tangan Cukat
Beng Cu setelah membaca dia berseru: "Bagus, adik Beng
Cu, akulah yang akan mengaturnya."
Cukat Beng Cu tertawa tersipu-sipu lalu tundukkan
kapala. Sudah tentu sekalian orang heran melihat kasakkusuk
kedua orang itu.
Ang Nio Cu beralih memandang Cu Jiang.
"Adik Jiang, sekali lagi aku hendak menjodohkan
engkau."
"Apa? Taci mengatakan apa?" Jiang terbeliak.
"Akan menjadi comblangmu !"
Poan toanio dan lain2, memandang heran ke-arah
wanita yang mukanya selalu ditutup dingin kain selubung
itu.
"Aku benar-2 tak mengerti !" seru Ca Jiang.
"Bacalah sendiri," seru Ang Nio Cu seraya menyerahkan
kertas itu kepada Cu Jiang. Cu Jiang menyambuti dan
membacanya. Serentak merahlah wajah anak muda itu.
Hatinya mendebur keras dan mulut ternganga tak dapat
berkata sepatahpun jua.
Ternyata surat itu berbunyi, minta kepada Beng Cu akan
menikah dengan orang yang menyampaikan pesan dari
ayahnya itu.
Memang bagi Beng Cu itu merupakan suatu perintah
dari ayahnya. Tetapi sebenarnya, sebelum peristiwa itu
terjadi, diapun sudah jatuh hati kepada pemuda itu. Sudah
tentu peristiwa itu merupakan suatu kebenaran yang tak
terduga-duga sama sekali.
"Adik Jiang, bagaimana maksud mu?" desak Ang Nio
Cu.
Dengan wajah merah. Cu Jiang menyahut tergagap
”Taci. engkau tentu tahu sendiri . . . jangan mengolok-olok
aku !"
"Siapa sih yang mengolok-olok engkau ?"
"Ho Kiong Hwa, adalah taci yang menjodohkan."
"Benar, tetapi peristiwa itu sudah lampau."
"Pernikahan bukan seperti mainan kanak2. Aku Cu
Jiang, takkan menjadi seorang manusia yang
mengecewakan hati orang...."
"Ho Kiong Hwa sendiri yang memutuskan tali
perjodohan itu, bukan salahmu."
"Tidak!"
"Apakah adik Beng Cu tak layak menjadi pasangan
hidupmu?"
Mendengar ucapan itu barulah Poan toanio dan yang
lain2 tahu duduk persoalannya.
"Taci .... engkau sungguh .... keterlaluan!" teriak Cu
Jiaug.
"Sudah tentu adik Beng Cu tak dapat berkata apa2.
Disamping hal itu merupakan perintah ayahnya, pun
bagaimana dulu hubungannya dengan engkau, dia sudah
memberitahu kepadaku. Pelajar baju putih, lencana Kumala
Hitam sebagai saksi!"
Memandang ke arah Beng Cu yang tundukkan kepala.
Cu Jiang mengusap keringat pada dahinya dan berseru
rawan: " Memang Ho Kiong Hwa malang sekali nasibnya.
Tetapi ke ujung langitpun, aku tetap akan mencarinya."
"Dalam kehidupan yang sekarang ini, tak mungkin dia
mau menemui engkau! " kata Ang Nio Cu dengan rawan.
"Tetapi aku tetap akan mencarinya!"
"Hatinya keras sekali, jangan mendesak dia ke arah jalan
buntu . . ."
"Taci, jangan lupa, engkaulah yang jadi comblangnya!"
"Adik Jiang, aku takkan lupa."
"Kalau begitu, seharusnya taci bantu menyelesaikan soal
itu."
"Itu sudah takdir, kita manusia tak berdaya
merobahnya."
Tiba2 Beng Cu mengangkat muka dan dengan mata
berkaca-kaca, dia berseru: "Taci, tali perjodohan itu
memang sudah digariskan oleh takdir. Harap jangan
membicarakan lagi soal ini."
"Nona Cukat, harap nona suka memaklumi
kesukaranku." seru Cu Jiang.
"Tak mungkin aku dapat memaklumi. Engkau hanya
melaksanakan apa yang dipesan ayah dan akupun
menghaturkan terima kasih kepadamu Ya, memang,
bermula .... aku pernah jatuh hati kepada pelajar baju putih
itu. Tetapi peristiwa itu sudah lampau Cu sauhiap, engkau
bukan pelajar baju putih yang dahulu. Pelajar baju putih
yanbg dahulu juga bukan Toan-kiam-jan-jin yang sekarang
ini..."
Nada nona itu mengandung getar2 isak. Dan Cu Jiang
pun bungkam tak dapat menyahut.
"Adik Beng Cu, serahkan semua ini kepadaku." Ang Nio
Cu menepuk bahu Cukat Beng Cu dan menghiburnya.
"Soal ini memang menyangkut perasaan dukacita." kata
Poan toanio, "nasib yang menimpa Ho Kiong Hwa sungguh
menyedihkan sekali sehingga dia melarikan diri karena
putus asa. Disamping menunjukkan sifatnya yang suci, pun
dia tentu menderita luka hati yang dalam sekali . . ."
"Ku kira juga begitu, jangan menambahkan luka hati
pada nona yang bernasib malang itu!" seru Thian put-thou.
"Nah, bagaimana pendapat taci? " seru Cu Jiang.
Tetapi Ang Nio Cu tetap berkeras: " Soal diri Ho Kiong
Hwa, aku yang bertanggung jawab!"
Cukat Beng Cu tertawa rawan:
"Sudahlah, harap kalian jangan bertengkar tentang hal
ini. Aku sendiri memang juga bernasib malang. Belasan
tahun aku menganggap seorang bangsat sebagai ayahku
yang tersayang. Budi kebaikan saudara-2 selama ini, akan
kubawa seumur hidup dan sekarang aku hendak mohon diri
. . ."
"Jangan pergi!" seru Ang Nio Cu.
Cu Jiang benar2 serba salah. Beberapa saat kemudian
baru dia dapat berkata:
"Nona Cukat, kalau hendak menemui ayah nona, harus
kuantar."
Nona itu memandang Cu Jiang lalu berkata: "Cukup
sauhiap mengatakan letak tempat dan jalannya, aku tentu
dapat mencarinya sendiri!"
"Adik Jiang, bagaimana keputusanmu?" Ang Nio Cu
mendesak.
"Maaf, aku tak dapat menurut perintah taci, " kata Cu
Jiang.
Ang Nio Cu memandang Cu Jiang dengan dengan
pandang aneh, penuh dengan arti dan penuh pula dengan
berbagai luap perasaan hati. Tiada seorangpun yang dapat
menebak bagaimana isi hati wanita misterius ini.
Lama, lama sekarli baru dia kedtengaran berkataq
dengan nada rarwan memilukan:
"Adik Jiang, apabila Ho Kiong Hwa tak berada dalam
dunia fana ini?"
Seketika wajah Cu Jiang berobah tegang, serunya tegas:
"Mengapa taci mengatakan begitu?"
"Aku hanya mengatakan saja."
"Tetapi mengapa taci berkata begitu, tentulah ada
sebabnya?"
"Jawablah, janganlah hiraukan lain2 sebab lagi!"
Cu Jiang menggerinyit gigi dan berkata dengan tandas.
"Jika dia benar2 mati, akupun akan mencari
jenasahnya!"
"Kalau ketemu lalu apa yang hendak engkau lakukan?"
"Akan kutanam dan aku akan menjaga makamnya
selama hidupku."
Singkat kata2 itu tetapi artinya cukup menyatakan
bagaimana keras dan setia hati Cu Jiang terhadap rasa cinta
itu. Sekalian orang itu tergetar hatinya mendengar
pernyataan pemuda itu.
Cukat Beng Cu tertawa rawan:
"Cu sauhiap, aku sangat menghormati engkau. Aku
gembira sekali karena kenal dengan engkau dan
bersahabat," serinya.
"Adik Jiang, Ho Kiong Hwa tentu tidak menghendaki
begitu," seru Ang Nio Cu dengan gemetar.
"Seharusnya dia tak perlu memberi pengorbanan begitu
besar." kata Cu Jiang.
"Dia ibarat., . bunga yang sudah terpetik . ." kata2 yang
terakhir itu diucapkan Ang Nio Cu dengan berbisik.
"Aku tak menghiraukan, soal itu bukan kesalahannya,
hanya nasib buruk yang membuatnya menderita!"
"Mengapa nona Ang berkeras hendak melaksanakan hal
itu ?" tiba2 Poan toanio menegur.
Terpaksa Poan toanio menyebut nona Ang, karena ia tak
tahu nama dan she yang sesungguhnya dari Ang Nio Cu.
Demikian pula raut dan wajahnya. Hanya karena Ang Nio
Cu itu berbahasa taci adik kepada Cu Jiang, iapun
menyebutnya dengan kata "nona Ang".
"Pernah apakah nona itu dengan engkau, nona Ang ?!"
Poan toanio mendesak lagi.
"Hampir sama orangnya. Kepalanya dua, tetapi jiwanya
satu."
"Kata2 dan tindakan nona, sungguh sukar dirobah ..."
Tiba2 Cu Jiang berkata dengan wajah serius: "Toanio,
kuminta pembicaraan itu selesai sampai disini saja."
"Adik Jiang," seru Ang Nio Cu, "yang dikata tidak
berbakti itu ada tiga hal. Tidak punya keturunan termasuk
salah satu. Engkau harus menikah."
"Arwah ayah bunda di alam baka, tentu dapat
mengampuni diriku yang tidak berbakti ini." sahut Cu
Jiang.
"Apakah engkau benar2 tak mau merobah pendirianmu
?"
"Tidak !"
"Apakah engkau tetap hendak bertemu dengan Ho Kiong
Hwa?"
Tergetar hati Cu Jiang mendengar pertanyaan itu. Dia
benar2 pusing dikacau ucapan Ang Nio Cu yang dibolakbalik
berulang kali. Ia hanya nyalangkan mata dan
memandang Ang Nio Cu tanpa berkata sepatah kata.
Bahkan Cukat Beng Cu, Poan toanio dan Thian-put-thou
juga tertegun.
"Adik Jiang, jawablah !" sekali lagi Ang Nio Cu
mendesak.
"Tidak hanya ingin saja." seru Cu Jiang penuh
ketegangan. "bahkan aku bersumpah, takkan berhenti
berusaha sebelum dapat mencarinya !"
"Aku dapat memberitahunya supaya bertemu dengan
engkau. . ."
"Sungguh?" teriak Cu Jiang.
"Kapankah aku pernah bohong kepadamu."
Karena dicengkam ketegangan, Cu Jiang sampai
gemetar.
"Taci, dia ... sebenarnya berada dimana ?" serunya.
Dengan ketenangan yang rawan. Ang Nio Cu menjawab:
"Jangan tanyakan dulu dia berada di mana. Untuk
berjumpa dengan dia, hanya ada syaratnya !"
"Bagaimana syaratnya !"
"Engkau harus meluluskan perjodohanmu dengan nona
Beng Cu !"
Poan toanio dan Thian-pui-thou menghela napas. Wajah
merekapun berobah cahayanya.
Dahi Cu Jiang tampak berkerenyut keras.
"Sekalipun Cu sauhiap meluluskan, aku pun tak mau.
Aku tak menghendaki diriku menjadi seorang yang tak
kenal kebajikan."
"Jangan ikut bicara!" Ang Nio Cu deliki mata kepada
Beng Cu.
Benak Cu Jiang benar2 kacau balau.
"Taci, jangan menyiksa diriku, aku tak kuat
menderitanya putus asa.”
"Sama sekali aku tak bermaksud hendak menyiksamu,"
kata Ang Nio Cu dengan dingin, "adik Jiang, asmara murni
memang demikian."
"Aku tak percaya !"
"Mau bukti?"
"Ya."
"Tetapi engkau mau meluluskan soal pernikahanmu
dengan Beng Cu atau tidak?"
"Tidak dapat."
"Hm, kalau begitu dalam hidupmu sekarang ini engkau
takkan berjumpa dengan Ho Kiong Hwa untuk selamalamanya
!"
"Tidak ! Aku pasti akan mencarinya... tetapi aku tak
dapat melalaikan hal itu. Taci, engkau sungguh kejam !"
Airmata Cu Jiang berderai-derai membasahi kedua
pipinya.
Suasana di tempat itu tenggelam dalam kesunyian yang
lengang. Kesunyian yang menghimpit dada dan menekan
perasaan.
Beberapa waktu kemudian baru Ang Nio Cn berkata
pula dengan nada yang berbeda:
"Adik Jiang, aku mau mengalah selangkah. Tetapi
setelah engkau bertemu dengan Kiong Hwa, diapun akan
mengajukan permintaan kepadamu. Apakah engkau mau
meluluskan ?"
Saat itu pikiran Cu Jiang sudah kacau. Tanpa banyak
pertimbangan lagi dia terus berseru:
"Baik, dia dimana.. . ."
"Disini !"
Sekalian orang mencurah pandang kepada Ang Nio Cu.
Tampak Ang Nio Cu dengan tangan gemetar mulai
menyingkap kain merah yang menutup wajahnya...
"Hai !"
Serempak orang2 itu menjerit kaget, Cu Jiang terhuyunghuyung
mundur beberapa langkah. Serasa bumi yang
dipijaknya itu amblong.
Langit ambruk, dunia berputar-putar keras sehingga
tubuhnyapun hendak terjungkal roboh.
Ang Nio Cu . . . ternyata juga Ho Kiong Hwa calon
mempelai Cu Jiang. Peristiwa itu benar2 diluar dugaan
orang.
Ang Nio Cu sendiri yang berkeras menjadi comblang
untuk menjodohkan Cu Jiang dengan Ho Kiong Hwa.
Tetapi kemudian dia sendiri juga yang memutuskan tali
perjodohan itu. Kemudian dia juga berkeras untuk
melangsungkan perjodohan antara Cu Jiang dengan Cukat
Beng Cu.
Tidakkah kesemuanya itu mengejutkan hati Cu Jiang
sehingga dia seperti disambar petir rasanya.
"Engkau . . . engkau . . . Kiong Hwa ..." Cu Jiang
menuding kearah Ang Nio Cu dan berseru tergagap-gagap.
Ang Nio Cu atau Ho Kiong Hwa tertawa rawan. Dua
butir airmata mengembang pada kedua matanya. Tetapi dia
sudah bersiap-siap dan dengan sekuat tenaga dapat
menahan segala gejolak perasaannya.
"Adik Jiang, bukankah tadi engkau sudah meluluskan,
begitu bertemu dengan aku, engkau harus menurut
perkataanku?"
"Ya ... . aku memang berjanji begitu." kata Cu Jiang
setengah berbisik.
"Jika begitu, kuminta engkau mau melangsungkan
perjodohan dengan adik Beng Cu!"
"Tidak! Tidak bisa, matipun aku tak dapat melakukan
hal itu!" teriak Cu Jiang.
Mendengar itu pucatlah wajah Cukat Beng Cu. Ia
mengerang pelahan lalu ayunkan tubuh melesat pergi.
"Hai. nona Cukat, hendak ke manakah engkau? " teriak
Poan toanio seraya lari mengejar.
Melihat itu Ho Kiong Hwa berseru tajam:
"Jika engkau tak mau meluluskan hal itu, jangan harap
engkau dapat bertemu dengan aku untuk selama-lamanya . .
."
Pada saat mengucapkan kata2 yang terakhir itu Ho
Kiong Hwa atau Ang Nio Cupun sudah melayang beberapa
tombak dengan gerak yang mengejutkan sekali. Hanya
dalam beberapa loncatan saja, dia sudah berada di puncak
dan menghilang kedalam hutan.
"Aya, celaka nih. Yang satu ngacir, yang satu lari . . ."
teriak Thian-put-thou terus lari mengejar Ho Kiong Hwa.
Kini yang tinggal di tempat itu hanya Cu Jiang seorang.
Kaki tangannya serasa lunglai. Pikirannya kosong
melompong.
Dia kehilangan diri. Beberapa waktu kemudian baru
terdengar mulutnya mengigau:
"Walaupun dunia ini teramat luas, aku tetap akan
mencarinya ..."
Perlahan-lahan dia ayunkan langkah. Tak tahu ke mana
ia harus pergi. Ia membiarkan kakinya berjalan membawa
raganya.
Ia rasakan saat itu amat letih. Sejak bertahun-tahun ia
selalu dikejar-kejar oleh peristiwa yang malang, menelan
berbagai penderitaan lahir dan batin, terjerat datam jaring2
asmara dan melakukan pertempuran2 maut.
Kini setelah semua peristiwa itu telah usai dia masih
harus menghadapi penyelesaian soal perjodohan yang
rumit.
Ia dapat merasakan derita hati yang dialami Ang Nio Cu
alias Ho Kiong Hwa. Dia harus menghibur dan
menerimanya sebagai isteri yang tercinta.
"Dapatkah cinta itu dibagi?" teringat pula urusan
perjodohannya dengan Cukat Beng Cu.
"Tetapi Kiong Hwa begitu tulus ikhlas. Jika aku menolak
Beng Cu, Kiong Hwapun tak mau menjadi isteriku.
Memang aneh pendiriannya. Tetapi dia berhati mulia, ah..."
Cu Jiang menghela napas.
0-Tamat-0

Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Dewasa SD : Pusaka Negeri Tayli 4 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Dewasa SD : Pusaka Negeri Tayli 4 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-dewasa-sd-pusaka-negeri-tayli-4.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Dewasa SD : Pusaka Negeri Tayli 4 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Dewasa SD : Pusaka Negeri Tayli 4 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Dewasa SD : Pusaka Negeri Tayli 4 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-dewasa-sd-pusaka-negeri-tayli-4.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 2 komentar... read them below or add one }

blog pendidikan mengatakan...

panjang banget nih ceritanya, intinya ceritanya menarik, yg membacanya pasti akan tercengang...

poker mengatakan...

poker online terpercaya
poker online
Agen Domino
Agen Poker
Kumpulan Poker
bandar poker
Judi Poker
Judi online terpercaya

Posting Komentar