Cerita Ngentot Guru Silat : Pendekar Bloon 7

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 03 Agustus 2012

Cerita Ngentot Guru Silat : Pendekar Bloon 7-Cerita Ngentot Guru Silat : Pendekar Bloon 7-Cerita Ngentot Guru Silat : Pendekar Bloon 7-Cerita Ngentot Guru Silat : Pendekar Bloon 7-Cerita Ngentot Guru Silat : Pendekar Bloon 7


"Tentu bapaknya Blo'on !” teriak kakek Lo Kun serentak.
Sian Li pun beranggapan demikian. Tetapi di luar dugaan
Pek I lojin gelengkan kepala. "Bukan, bukan Kim tayhiap tetapi
kali ini muncul seorang pendatang baru lagi, lebih tua dari Kim
tayhiap"
“Siapa ?" seru kakek Lo Kun seolah bertanya kepada orang
yang lebih muda dan dirinya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bu Ing kijin," kata Pek I lojin, "kelima Ngo ciang itu tak
berdaya menghadapi ilmu pukulan dan gerak Tanpa-bayangan
dan Bu Ing kijin itu. Akhirnya mereka terhajar rubuh semua.
Dan sejak itu mereka lalu melenyapkan diri tiada beritanya
lagi."
"Lo-cianpwe," kata Sian Li, *"adakah dalam peristiwa
sehebat itu suhuku tak muncul ?”
"Ho, engkau terlalu mendewakan suhumu, anak
perempuan." Pek I lojin tertawa, "ya, benar. Memang
seharusnya engkau bangga mempunyai seorang ksatrya hebat
seperti suhumu itu. Dia pun muncul juga dan melakukan suatu
perjuangan yang hebat. Dialah yang masuk dan
membebaskan pendekar itu dari sebuah penjara di bawah
tanah yang dijaga ketat oleh berpuluh kuku garuda
berkepandaian tinggi."
"Pada saat itulah kedua jago muda itu bertemu berkenalan
dan saling mengagumi. Persahabatan mereka telah
didambakan sebagai suatu berkah bagi kaum persilatan yang
saat itu sedang terancam bahaya kemusnahan. Tetapi
kemudian hari Bu Ing kijin jarang muncul didunia persilatan
lagi", akhirnya Pek I lojin menutup ceritanya.
"Jika demikian kelima pengawal Baju Putih itu adalah Ngo
hou-ciang itu ?" tanya Sian Li.
"Ya," kata Pek i lojin, "kalau menilik barisan Ngo-heng-tin
dan tenaga-pukulan mereka, kemungkinan besar tentulah
Ngo-hou-ciang. Heran mengapa mereka juga menjadi
pengawal Thian-tong kau".
Pembicaraan mereka tak lanjut karena saat itu pertempuran
dalam barisan Ngo-heng-tin telah menampakkan perubahan.
Dalam kemelut pukulan yang memancarkan angin dan tenaga
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
beberapa jenis itu, akhirnya mencapai puncak kegawatan
ketika tiba2 secara serempak kelima pengawal Baju Pu tih itu
tidak lagi memukul melainkan loncat menerkam Bloon.
Blo’on terkejut. Takut akan diterkam dia terus enjot
tubuhnya ke udara. Bukan kepalang kejut kelima pengawal
Baju Putih karena mereka saling menerkam sendiri, sedang
yang diterkam sudah lolos ke udara. Cepat mereka
memandang keatas lalu serempak berhamburan loncat ke
udara. Melihat itu Blo'on makin takut. la bergeliatan lagi dan
makin melambung keatas.
Terdengar suara desuh dari mulut kelima pengawal Baju
Put'h ketika tangan mereka yang sudah hampir berhasil
menyambar kaki Blo'on tiba2 menangkap angin lagi.
Merekapun memiliki tenaga dalam yang hebat. Dengan
menginjak kaki kanan ke kaki kiri, mereka meminjam tenaga
pijakan itu untuk mengantar tubuh melambung naik lagi.
Melihat itu Blo'on makin kaget. Dia menggeliatkan tubuh
dan melambung lagi. Karena untuk yang kedua kalinya luput,
kelima pengawal Baju Putih itu penasaran. Dengan
mengerahkan seluruh tenaga dalam mereka melambung lagi.
Tetapi untuk yang ketiga kalinya, tetap gagal karena Blo'on
melambung lagi makin tinggi.
Tiga kali bergeliatan melambung, kelima pengawal Baju
Putih itu telah mencapai ketinggian dua tombak. Untuk
melanjutkan gerak melambung yang keempat kali rupanya
mereka sudah kehabisan tenaga.
Uh, uh, uh ..... terdengar mulut menghambur desuh dan
susul menyusut kelima pengawal Baju Putih itupun meluncur
turun ke lantai lagi.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tetapi rupanya mereka terang pikiran. Walau pun dalam
memikir apa2 mereka kehilangan daya ingatannya namun
dalam soal bertempur mereka masih dapat berpikir. Cepat
mereka membentuk di ri dalam sebuah barisan yang disebut
Ngo ci-ki-tin atau barisan ajaib Lima jari tangan. Mereka
berjajar dalam bentuk seperti lima jari tangan. Apabila Blo'on
mendarat turun, kelima jari itu akan bergerak untuk
menggenggam dan meremasnya sampai hancur.
Para ketua partai persilatan, Sian Li, Hong Ing, kakek Lo
Kun bahkan Pek I lojin terlongong-longong menyaksikan ilmu
meringankan tnbuh yang luar biasa dari Blo'on.
'"Eh, kurang ajar benar anak itu. Ternyata dia pandai
terbang begitu tinggi," kakek Lo Kun mulai mengomel.
"Ya. mengapa dia begitu hebat sekali," sambut Sian Li
kemudian bertanya, "cianpwe, apakah nama ilmu yang dimiliki
suko itu ?"
Pek I lojin geleng2 kepala : "Aku sendiri tidak tahu. Tetapi
menilik keadaannya, dia telah mencapai tingkat kesempurnaan
dalam tenaga dalam. Kemungkinan ialah darah Seng si hian
kawannya sudah tertembus. Karena hanya orang yang
keadaannya begitu, baru mampu melakukan semua gerakan
yang dikehendakinya. Memang ada tenaga-dalam tataran
tinggi yang disebut Ji-ih sin-kang atau tenaga dalam sakti
bebas atau dapat digerakkan menurutkan kehendak hatinya.
Tetapi rasanya dalam dunia persilatan dewasa ini, tiada lagi
tokoh yang memiliki tenaga-dalam Ji-ih-sin-kang itu.”
"Apakah lo-cianpwe belum menguasai tataran Ji-ih-sin kang
itu?" tanya Sian Li.
"Aku ?" Pek I lojin terkejut. Tetapi pada lain saat ia tertawa,
"ah, jangan berolok-olok. Aku si orang tua ini tidak bisa main
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
silat. Hanya seorang tua renta yang menghabiskan umur
untuk makan bubur."
Pada saat itu Blo'onpun meluncur turun. Kelima pengawal
Baju Putih itu selalu bergerak-gerak menuju ketempat dimana
Blo'on akan turun. Maka begitu Blo'on meluncur dilantai,
segera ia dikepung oleh kelima pengawal Baju Putih yang
kemudian terus menerjangnya.
Kali ini Blo'on tak sempat loncat ke udara lagi. Terpaksa ia
malah jatuhkan diri di lantai, sambil berguling kesana kemari,
ia mendupak dan menghantam lutut kelima pengawal Baju
Putih itu.
"Uh, nh, nh.....kembali terdengar desuh dari mulut mereka.
Bahkan kali ini lebih keras dari yang tadi dan disusul pula
dengan rubuhnya, tubuh mereka. Mereka berguling guling
kian kemari, memekik dan meraung kesakitan.
Blo'on telah menghancurkan mata dan lutut kaki mereka
sehingga mereka tak dapat berdiri. Tetapi rupanya kelima
pengawal Baju Putih itu memang keras kepala sekali.
Walaupun kakinya sudah lumpuh tetapi mereka masih tak mau
menyerah. Dengan sisa tenaga-dalam yang masih ada,
serempak mereka menghantam.
Tetapi kenekadan mereka itu hanya membawa kehancuran
yang lebih cepat. Kembali daya khasiat dari kitab Tanpa
Tulisan yang telah maresap kedalam tubuh Blo’on, memancar.
Daya khasiat itu tak lain hanya suatu daya latah, yalah
menirukan gerak musuh, betapapun rumit dan cepatnya". Dan
disertai dengan tenaga-sakti Ji-ih-sin-kang yang mengeram
dalam tubuhnya, maka Blo'on menjadi seorang manusia yang
paling aneh dalam dunia persilatan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ada tetapi tiada Tiada tetapi ada. Ada apa bila engkau
adakan. Tiada jika engkau meniadakan." Demikian pokok ilmu
kesakitan yang bersembunyi dalam tubuh Blo'on. Dia telah
menjadi sarang dari ilmu kesaktian, tenaga-dalam Ji-ih sinkung
dan ilmu Latah. Tetapi dia tak merasa dan tak tahu
bahkan tak mengerti bagaimana harus mengeluarkan ilmu
yang sakti itu. Tetapi apabila ia diserang, maka timbullah ilmu
kesaktian itu karena dia mengadakannya, yalah ingin
menghindar, menangkis ataupun balas memukul. Itulah yang
dimaksud sebagai 'tiada tetapi ada'.
Hantaman kelima pengawal Baju Putih itu segera
disongsong Blo'on dengan gerakan yang sama dan seketika
kelima pengawal Baju Putih itu seperti tertampar oleh
tenaganya sendiri sehingga mereka meraung, muntah darah
dan menggelepar dilantai.
Ketika beberapa ketua partai persilatan menghampiri dan
memeriksa ternyata kelima orang itu sudah amblas jiwanya.
Mereka hanya geleng2 kepala dan mengucap "omitohud"
menyaksikan peristiwa itu.
"Lojin," kata Hoa Sin kepada Pek I lojin satelah
menyaksikan ilmu kepandaian yang luar biasa dari Kim
kongcu, kurasa di dunia persilatan ini tiada yang mampu
menandinginya. Maka kita harus mencegah kehancuran yang
lebih hebat. Keduapuluh pengawal Baju Putih sudah habis
tetapi masih terdapat duapuluh orang pengawal Baju. Merah
lagi. Bukankah mereka juga tokoh2 sakti yang telah dicelakai
dan diperalat Thian-tong-kau?”.
Pek I lojin mengangguk : "Ya, tetapi untuk jelasnya, kita
harus melihat dulu permainan silat mereka baru dapat
mengenal orangnya."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tetapi bagaimanapun juga mereka adalah sama kaum
persilatan. Mereka tak berdosa maka sedapat mungkin harus
diselamatkan" kata Hoa Sin.
Pek I lojin menghela napas.
"Ya, benar. Tetapi sulitnya Kim kongcu itu tidak seratus
persen normal pikirannya. Dia memiliki tenaga-sakti hebat
tetapi tak tahu bagaimana mengembargkan dan bagaimana
mengendalikan. Sehingga sekali memancar, orang tentu akan
binasa.
"Kim kongcu" serentak Hoa Sin berpaling ke arah Blo'on,
"apakah engkau benar2 tak merasa apabila engkau memiliki
tenaga-dalam yang sakti ?"
"Siapa bilang begitu ?" bantah Blo'on "apa itu tenaga-dalam
aku tak mengerti"
"Tetapi kongcu telah mengalahkan semua jago2 sakti dari
Thian-tong-kau. Mereka mempunyai tenaga-dalam yang sakti.
Jika kongcu tak punya tenaga sakti yang lebih hebat dari
mereka, tak mungkin kongcu dapat mengalahkan mereka",
kata Hoa Sin.
"Ah, terserah." kata Bloon, "orang boleh mengatakan aku
ini bagaimana, tetapi aku sendiri merasa jelas, tak mempunyai
tenaga-dalam dan tak mengerti silat".
Lalu bagaimana perasaanmu apabila engkau bertempur
dengan musuh ?"
"Aku selalu merasa takut dan kuatir kalau hendak dipukul
atau dibacok lawan maka timbullah keinginan hatiku untuk
menangkis dan tahu2 tangan atau kakiku dapat bergerak
sendiri,"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hoa Sin geleng2 kepala. Dia adalah ketua partai Kay-pang.
Dia seorang tokoh yang berilmu tinggi. Dia termasyhur dan
dikagumi kawan mau pun lawan. Tetapi dia tak mengerti
Blo’on, tak mengerti ilmu apakah yang melekat pada diri anak
itu.
Keadaan pihak Thian-tong kau diatas panggung upacara itu
hampir porak peranda. Duabelas barisan gadis Baju Kuning
dan duabelas gadis Baju Hijau sudah kabur karena takut
dengan ular thiat-bi-coa milik kakek Lo Kun. Keenam kacung
Baju Biru dan enam kacung Baju Merahpun sudah lari pontang
panting takut pada Blo'on. Kedua puluh pengawal Baju
Putihpun sudah hancur. Sebagian besar habis di tangan
Blo'on.
Kini yang tinggal hanya keduapuluh pengawal Baju Merah,
dua orang gadis cantik yang berdiri disebelah kanan dan kiri
ketua Thian-tong-kau, sepasang harimau yang mendekam
dibawah kaki ketua itu, Dan si pengacara baju merah yang
diam seperti orang ter-longong2.
“Suthay, totiang, mari kita bekuk ketua Thian-tong-kau itu
agar dapat menghindari pertumpahan darah yang hebat,” seru
Hoa Sin seraya terus loncat kemuka.
Pek I lojin hendak mencegah tetapi sudah tak keburu.
Ketiga ketua partai persilatan itu melanjutkan persepakatan
mereka tadi yalah antuk membekuk ketua Thian-tong-kau.
Tetapi kedatangan mereka segera disambut oleh seorang
pengawal Baju Merah. Begitu maju pengawal Baju Merah itu
terus ayunkan tangannya dan seketika itu terdengarlah desing
angin tajam melanda kearah ketiga ketua partai itu.
"Awas, jarum rahasia" teriak Hoa Sin seraya loncat
menghindar diikuti Hong Hong tojin. Tetapi Ceng Sian suthay
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tak mau menyingkir melainkan tamparkan kebut hudfimnya.
Tring, terdengar suara halus dari sebuah benda yang jatuh ke
papan lantai.
Setelah berhasil menampar jatuh jarum rahasia, Ceng Sian
suthay memutar hudtim dan maju menghampiri pengawal
Baju Merah itu.
Pengawal Baju Merah itu tak berkata apa2, hanya ayunkan
tangan kanan lalu tangan kiri kearah Ceng Sian suthay.
Ketua dari partai Kun-Iun-pay itu menyadari bahwa
pengawal Baju Merah yang menyerangnya itu tentu seorang
ahli dalam menabur senjata jarum. Dan iapun curiga apabila
jarum2 rahasia itu mengandung racun Maka dengan hati2 ia
mainkan kebut hujtim sedemikianrupa sehingga tubuhnya
seperti terbungkus oleh sinar putih.
“Berbahaya " teriak Sian Li yang tak tahan lagi menyaksikan
keganasan pengawal Baju Merah itu. Serentak ia hendak maju
menerjang,
"Jangan" seru Pek I Lojin seraya ulurkan tangan seperti
hendak menarik baju walaupun orangnya sudah dua langkah
jauhnya.
Tetapi Sian Li terhenti. Ia merasa tubuhnya seperti tertahan
tenaga yang amat kuat sekali.
"Nona, berbahaya sekali" seru Pek I lojin, "ketiga ketua
partai persilatan itu cukup mampu untuk menghadapinya".
Saat itu pengawal Baju Merah ayunkan tangan kanan lalu
tangan kiri. Kali ini agak beda dengan yang tadi. Ayunan
tangan kanan itu memang berisi jarum tetapi tangan kiri
hanya tamparan saja untuk membantu supaya jarum itu
meluncur lebih keras dan dahsyat.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tring tring. tring, ih ... tiba2 Ceng Sian suthay mendesis
ketika telinga kanannya tersambar oleh aum tajam dari
sebatang jarum. Untung dia masih dapat berkelit ke kiri
sehingga hanya keserempet sedikit saja. Sekalipun demikian
rasanya panas sekali sehingga daun telinganya itu merah.
Dengan cara mengantar lontaran jarum itu, berhasillah
pengawal Baju Merah untuk menembus lingkaran sinar dari
kebut hudtim Ceng Sian suthay.
Ceng Sian marah sekali. Sebagai seorang rahib ketua partai
Kun lun-pay diapun memiIiki kepandaian yang mengejutkan.
Tetapi karena sebagai seorang agama, dia berhati welas asih
dan pantang membunuh.
Tetapi karena saat itu menghadapi seorang lawan yang
begitu ganas menaburnya dengan jarum rahasia yang
beracun, bangkitlah kemarahan rahib dari Kun-lun-pay itu.
"Hm," ia mendesis lalu menyongsong maju dan tiba2 bulu
dari kebud pertapaan itu rontok berhamburan melayang
kearah pengawal Baju Merah
Jarak yang sedemikian dekat, ditambah pula tak mengira
kalau kebut hudtim akan berobah menjadi ratusan bulu2 yang
tegak meregang seperti jarum2 panjang, pengawal Buju
Merah itu berusaha untuk menghalau dengan menamparkan
kedua tangannya. Tetapi gerakan itu tak dapat membendung
beberapa batang bulu yang langsung bersarang pada mata
dan lubang hidung pengawal Baju merah.
"Auh.....," terdengar jeritan ngeri yang seolah
menggetarkan panggung ketika tubuh pengawal Baju Merah
itu terdampar jatuh ke lantai.
"Suthay !" karena ngeri menyaksikan peristiwa itu. Sian Li
berseru tertahan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Siancay ! Siancay !" Pek I lojin mengucapkan doa seraya
menghela napas, "Bwe-hwa-cian-kun Bo Hin, akhirnya engkau
harus memakan buah yang engkau tanam sendiri."
"Siapakah orang itu, lo-cianpwe ?"* tanya Sian Li.
"Dia adalah Bwe-hoa-ciam- kun Bo Hin, seorang tokoh
hitam yang gemar memetik bunga," kata Pek I lojin.
"Ini, aneh, mengapa seorang tokoh silat lelaki gemar
memetik bunga ? Buat apa ?” tanya Sian Li kekanak-kanakan.
Pek I lojin tertawa : "Ah, cobalah engkau tanyakan kepada
Lo Kun cianpwe itu."
"Kakek Lo Kun, engkau tahu apa yang dimaksud dengan
memetik bunga itu ?" tanya Sian Li.
"Hah ?" Lo Kun terbeliak, "memetik bunga ? Siapa yang
memetik bunga?"
"Itu pengawal Baju Merah yang terbunuh suthay. Dia
seorang tokoh pemetik bunga."
"Kurang ajar!" teriak Lo Kun," jika demikian dia tukang
pengrusak kebun. Untung aku tak senang menanam bunga,
kalau tidak, hm, tentu sudah kuhajar batok kepalanya !"
Pek I lojin tertawa.
"Benarkan itu, lo cianpwe ?" tanya Sian Li "Benar, benar,"
kata Pek I lojin." tetapi dalam dunia persilatan istilah itu
digunakan untuk orang yang suka merusak kehormatan
wanita."
"Hai !" kakek Lo Kun melonjak, "jika demikian dia wajib
dibunuh. Mengapa sejak tadi engkau tak bilang?"
Pek I lojin hanya ganda tertawa. Ia tahu bahwa kakek itu
memang seorang limbung, tak perlu dilayani secara serius.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dalam pada itu ketika Ceng Sian suthay sedang berhadapan
dengan pengawal Baju Merah tadi, dengan ketajaman mata
sebagai seorang tokoh berilmu tinggi, tahulah Hoa Sin bahwa
Ceng Sian suthay tentu dapat menghadapi lawannya. Maka ia
bersama Hong Hong tojin segera lanjutkan langkah untuk
membekuk ketua Thian-tong-kau. Tetapi saat itu juga
keduanya telah dicegat oleh dua pengawal Baju Merah.
"Hong kaucu mari kita membagi tugas." seru Hoa Sin
segera menyambut seorang pengawal Baju Merah. Sementara
Hong Hong tojinpun segera menyambut yang seorang.
Pengawal Baju Merah yang berhadapan dengan Hoa Sin itu
segera mengeluarkan senjatanya, sebatang toya bergigi duri.
Melihat itu Hoa Sin pun berseru : "Bagus, pengemis tua hari
ini akan menguji sampai dimana ilmu Pentung-anjing (Bakkau-
pang) itu lihaynya !"
Diapun lantas mencabut sebatang tongkat. Tiada yang luar
biasa pada tongkat itu dan ia pun nengatakan hanya sebatang
pentung untuk penggebuk anjing.
Tanpa banyak bicara pengawal Baju Merah Itu segera
menyerang. Jurus pertama yang dilancarkan yalah, menusuk
dada, mengemplang kepala, membabat pinggang dan
menyapu kaki. Gerakan itu dilancarkan sekaligus dengan cepat
dan beruntun.
"Hong mo-ciang-hwat!" seru Hoa Sin seraya mainkan
tongkat penggebuk anjing untuk melayani. Hong-mo-cianghwat
artinya ilmu tongkat Iblis gila, yalah ilmu permainan
tongkat yang sedang dilancarkan oleh pengawal Baju Merah
itu. Dengan cepat sekali Hoa Sin segera dapat mengenali ilmu
permainan tongkat lawan. Dan ia pun tahu bagaimana cara
untuk melayaninya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tetapi diluar dugaan ternyata Hong mo-ciang-hwat yang
dimainkan pengawal Baju Merah itu luar dari biasanya. Selain
gerakannya yang cepat, pun tenaga sabatannya dahsyat
sekali, Untung, Hoa Sin seorang jago Kay pang yang cerdas
dan tangkas. Sekalipun begitu tetap ia harus menderita
kesibukan.
Hong-mo jut-gun atau Iblis-gila-menonjol keluar yang
dilancarkan dalam serangan selanjutnya oleh pengawal Baju
Merah itu, telah menimbulkan deru angin dan bunyi yang
menderu-deru seperti prahara sehingga rambut dan pakaian
pengemis-sakti Hoa Sin sampai bertebaran.
Hoa Sin harus kerahkan seluruh perhatian dan tenaga untuk
menghadapinya. Segera ia keluarkan jurus Pau ciang kau-ciau
atau Tongkat-melayang anjing menggonggong. Tongkat bak -
kau ciang segera berhamburan seperti hujan mencurah,
sayup2 seperti suara anjing menggonggong.
Tring ... terdengar benturan yang keras sekali. Tampak
kedua bahu pengawal baju merah itu menggigil tetapi tangan
Hoa Sinpun terasa kesemutan. Ketua Kay pang itu terkejut.
Siapakah gerangan tokoh itu ? Mengapa sedemikian hebat
tenaganya ?
Hoa Sin termasyhur sebagai ketua Kaypang yang cerdik dan
sakti. Tongkat bak-kau-pang selama ini jarang mendapat
tandingan dan jarang digunakan untuk bertempur. Ia terkejut
saat itu karena bukan saja permainan tongkatnya tertindih
oieh permainan toya lawan, pun tenaganya juga lebih unggul
setingkat dengan lawan.
Memang semasa ia masih muda, pernah ia mendengar
tentang seorang tokoh aneh yang bersenjata toya. Tokoh itu
disebut Giam Ti Beng digelari Hongmo-ciang atau si Tongkatiblis-
gila. Pernah ia datang ke gereja Siau-lim-si untuk
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menantang paderi disitu. Dia dianggap gila dan diusir tetapi
beberapa paderi telah d gebuknya.
Ia nekad masuk kedalam gereja dan sesumbar hendak
menghajar semua paderi disitu. Maka oleh ketua Siau-lim-si
disuruhnya beberapa murid untuk mengusirnya. Pun tiada
seorang dari mereka yang menang dengan Giam Ti Beng.
Karena beberapa murid Siau-Iim-si yang berkepandaian
tinggi kalah, akhirnya Hui ln siansu yang pada waktu itu
menjadi ketua Siau lim-si terpaksa maju menghadapi sendiri.
Segera ia mendapat kesan bahwa Giam Ti Beng itu memang
agak kurang beres ingatan. Tetapi Hui-ln pun terkejut ketika
mengetahui bahwa ilmu permainan tongkat Hong-mo ciang
dan orang itu ternyata hebat dan aneh sekali.
Hong-mo-ciang Giam Ti Beng memang berwatak angkuh
dan sombong. Segala2nya ia minta istimewa. Tongkatnya
bukan tongkat sembarangan tetapi dari sari baja murni. Dia
pernah berkelana ke daerah Biau di Tibet dan mengetahui
cara pembuatan dari golok orang Biau yang termasyhur tajam
yalah golok Biau-to, tipis tetapi luar biasa tajamnya. Golok itu
dibuat dari baja keluaran Tibet yang istimewa. Diapun mencuri
bahan baja itu lalu meniru cara pemasakan orang Biau, ia
dapat membuat sebatang tongkat.
Demikian pula dengan ilmu permainan Hong mo-ciang. Dia
robah semua gerak2 dari setiap jurus. Misalnya yang
seharusnya menyerang ke kiri, ia robah menyerang ke kanan,
yang kekanan dirobah ke kiri. Yang seharusnya memapas
keatas dirobah membabat kebawah. Yang seharusnya
menusuk kemuka ia malah menarik ke belakang dan yang
seharusnya ditarik kebelakang ia malah menusuk ke muka.
Pokoknya semua gerak, berlawanan arah dari gerak aselinya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dengan Hong-mo-ciang-hwat yang serba aneh itu, dapatlah
ia membuat Hui ln taysu sibuk sekali dan hampir saja rubuh.
Tetapi Hui In adalah seorang ketua Siau-lim-si yang cerdas
dau berilmu tinggi Tiba2 ia loncat keluar dari gelanggang dan
berseru :
"Omitohud ! Sicu hebat sekali !"
Giam Ti Beng tertegun melihat kewibawaan hweshio tua
yang menjadi pimpinan Siau-lim-si. Diapun tak mau
melanjutkan pertempuran.
“Apakah maksud sicu datang ke gereja kami?* tegur Hui In
pula.
"Tak ada maksud apa2 kecuali hendak membuktikan
apakah ilmu permainan tongkatku dapat mengimbangi ilmu
kepandaian Siau-lim si"
'Oh, bukan saja mengimbangi tetapipun mengungguli, sicu."
seru Hui In taysu.
Wajah Giam Ti Beng ber-seri2 : "Jika demikian, terima
kasih, taysu, aku mohon pulang".
Ternyata Hui In taysu memang seorang yang bijaksana dan
penuh dengan toleransi. Jika ia mau, tentu ia dapat
mengalahkan orang itu. Tetapi melihat orang itu tak normal
pikirannya diapun tak mau melayani.
Beberapa anak murid Siau-lim-si terkejut heran di antara
mereka timbul pembicaraan yang menguatirkan bahwa apabila
peristiwa Hui In taysu dikalahkan oleh Giam Ti Beng itu
sampai tersiar keluar, nama baik Siau-iim-si tentu jatuh.
Tetapi kekuatiran murid2 Siau lim si itu tak sampai terjadi
karena sejak meninggalkan gereja Su lim si, Giain Ti Beng tak
pernah kedengaran beritanya lagi.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ternyata diam2 Hui In taysu memanggil seorang murid
yang bukan dari orang agama, seorang pemuda yang berbakat
bagus. Ia menitahkan agar pemuda itu mencari Giam Ti Beng
dan menantangnya. Tetapi murid itu dipesan supaya jangan
sampai membunuh orang itu, cukup asal diikat dengan
perjanjian bahwa apabila Giam Ti Beng kalah maka harus
bersembunyi tak boleh muncul kedunia persilatan.
Murid itu memang lihay dan cerdik. Dia tantang Giam Ti
Beng untuk bertanding dua macam kepandaian, ilmu pukulan
dan ilmu tongkat. Setiap pertandingan memakai syarat. Kalau
pemuda itu kalah, dia rela dipotong sebelah tangan atau
kakinya. Jika sampai kalah dua kali, boleh dipotong dua buah
bagian tubuhnya, kaki atau tangan.
Tetapi apabila Giam Ti Beng kalah, untuk tiap macam
pertandingan, dia harus bersembunyi selama sepuluh tahun.
Kalau dua pertandingan kalah berarti harus bersembunyi
duapuluh tahun.
Pertandingan itu diterima oleh Giam Ti Beng. Karena sudah
diberi pelajaran ilmu Tat-mo kiam oleh Hui In taysu. maka
dapatlah pemuda itu mengalahkan Giam Ti Beng. Dan Giam Ti
Bengpun harus memenuhi janji. Sejak itu dia tak kedengaran
kabar beritanya lagi.
Maka apabila Hoa Sin kelabakan menghadapi permainan
Hong-mo ciang dari pengawal Baju Merah itu. memang dapat
dimengerti. Apalagi setelah mengasingkan diri itu, belasan
tahun lamanya Giam Ti Beng meyakinkan dan
menyempurnakan ilmu Hong-mo-ciangnya.
Baru kali ini Hoa Sin menghadapi musuh yang amat
tangguh. Dia harus mati2an mempertahan diri sehingga
tubuhnya sampai mandi keringat.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
'"Nona", tiba2 Pek I lojin berseru kepada Hong Ing yang
sejak tadi diam saja, "maukah engkau membantu Hoa pangcu
yang kerepotan itu ?"
"Biik, locianpwe, seru Hong Ing seraya loncat ketengah
gelanggang dan langsung menyerang pengawal Baju Merah
itu seraya berkata : "Hoa pangcu, silahkan beristirahat dulu,
biarlah aku yang melayani orang ini."
Sebenarnya Hoa Sin penasaran atas kehadiran Hong Ing
itu. Walaupun dia terdesak tapi belum tentu dia kalah. Tapi
karena nona itu sudah terlibat dalam serangan dengan
Pengawal Baju Merah, terpaksa ia loncat mundur.
"Hoa pangcu, harap jangan salah mengerti," kata Pek I
lojin, "memang akulah yang meminta nona itu menggantikan
Hoa pangcu. Manusia semacam itu tak perlu Hoa pangcu turun
tangan sendiri"
Dengan kata2 itu dapatlah Pek I lojin mengendapkan
penasaran ketua Kaypang.
Hong Ing se;gera terlibat dalam pertempuran yang seru
dengan pengawal Baju Merah itu, Nona itu menggunakan
pedang sedang lawannya sebatang toya. Beberapa saat
kemudian tampak Hong Ing seperti terbenam dalam lautan
sinar tongkat sehingga nona itu harus memeras keringat
benar.
"Nona Sian Li tiba2 Pek I lojin berseru, "Apakah engkau
pernah melihat setan?”
Sudah tentu Sian Li terkejut mendapat pertanyaan yang
sedemikian aneh dari orangtua itu. Ia gelengkan kepala :
"Belum"
“Pernah mendengar ceritanya ?
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, pernah. Tapi apa maksud lo-cianpwe bertanya begitu
?" tanya Sian Li keheranan.
"Aku hendak bertanya kepadamu, nona,” kata Pek I lojin,
"apakah setan itu berani muncul di tempat yang terang ?"
"Tidak, locianpwe" jawab Sian Li, "biasanya setan itu tentu
berada di tempat yang gelap dan keluarnya pada malam hari.”
"Benar" kata Pek I lojin pula, "tahukah kau apa sebab setan
takut keluar pada siang hari?”
Sian Li gelengkan kepala.
Tiba2 Pek I lojin berseru agak keras : "Karena setan itu tak
punya bayangan. Maka sering orang mengatakan setan tanpa
bayangan kepada orang yang sukar dicari".
Sian Li tak tahu mengapa kakek tua itu membicarakan soal
setan dan menyebut2 tentang bayangan.
Dalam pada itu tiba2 terjadilah suatu perobahan dalam
pertempuran. Hong Ing saat itu sudah berhasil lolos dari
kepungan sinar tongkat lawan dan kini nona itu ber-lari2
mengelilingi lawannya.
Pek I lojin tertawa. Sian Li tercengang. Pertempuran masih
berjalan seru dan dahsyat. Pengawai Baju Merah benar2
seperti iblis gila yang mengamuk. Toya dimainkan laksana
badai yang mengacau samudra, tapi sampai sejauh itu tetap
dia tidak berhasil melukai Hong Ing.
Hong Ing terus ber-putar2, makin lama makin cepat
sehingga sukar dilihat mana Hong Ing yang sesungguhnya,
mana yang hanya bayangannya saja.
Sepeminum teh lamanya tiba2 toya pengawal Baju Merah
itu mencelat kearah bawah panggung, lihat itu Hoa Sin cepat
loncat menyambarnya, ia melayang turun, tiba2 terdengar jerit
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
teriak ngeri disusul dengan terlempanya tubuh pengawal Baju
Merah itu kelantai.
"Bagus, nona Hong Ing !" seru Pek I lojin ketika nona itu
kembali kepada kawan2nya.
"Terima kasih, locianpwe," kata Hong Ing kepada orangtua
itu.
"Hah ? Mengapa ?" Pek I lojin terkejut.
"Karena ceritamu tentang setan tadi, akupun teringat akan
gerak setan" kata Hong Ing.
"O, apakah engkau menggunakan ilmu setan untuk
mengalahkan pengawal baju merah itu ?" ta mya Pek I lojin.
"Bukan ilmu setan tapi sebuah gerak langkah yang disebut
Setan-tanpa-bayangan" menerangkan Hong Ing.
"O", Pek I lojin hanya mendesuh lalu alihkan perhatian
kearah Hong Hong tojin yang masih bertempur dengan
seorang pengawal Baju Merah yang lain.
Pengawal Baju Merah itu memakai senjata pedang dan
ketua Go-bi pay itu hanya bertangan kosong. Saat itu Hong
Hong tojin sudah pontang panting dikurung oleh sinar pedang.
Bahkan ujung lengan jubahnya telah terpapas kutung.
Entah bagaimana walaupun belum jelas betul siapakah
orangtua baju putih (Pek I lojin) itu tapi timbullah rasa
mengindahkan dalam hal kedua gadis kepadanya. Maka Sian-
Li pun meminta izin : "Lo-cianpwe, bolehkah aku membantu
Hong Hong totiang itu ?"
"Baiklah." kata Pek I lojin, "sebenarnya Hong Hong kaucu
tak kalah tetapi karena dia hanya bertangan kosong dan
musuh memakai pedang maka diapun terdesak."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hong Hong totiang," seru Sian Li selekas loncat
menghampiri, "silahkan beristirahat dulu. Biarlah aku yang
menghadapi pengawal ini."
Sebenarnya hal itu suatu pantangan bagi kaum persilatan
bahwa seorang yang bertempur dan belum tentu kalah lalu
ada lain orang yang hendak menggantinya. Apalagi Hong
Hong seorang ketua partai Go-bi-pay. Tetapi karena ia melihat
juga Hoa Sin diganti Hong Ing, diapun tak menaruh suatu
keberatan apa2. Dan ia teringat bahwa Sian Li itu memiliki
pedang Pek-liong-kiam yang luar biasa.
"Baik, hati-hatilah," seru Hong Hong seraya loncat keluar.
Pedang termasuk salah sebuah senjata yang paling sukar
dipelajari. Karena untuk mencapai ilmu permainan pedang
yang sakti, diperlukan juga tenaga-dalam yang tinggi. Dulu
Kim Thian Cong sudah menyadari hal itu. Maka terhadap
murid perempuannya itu, ia khusus memberi pelajaran
ilmupedang yang hebat karena bagi seorang anak perempuan,
pedang itu merupakan senjata yang paling cocok. Walaupun
dalam ilmu tenagadalam Sian Li belum mencapai tataran tinggi
tapi berkat makan buah Hay te cian-lian som, atau buah som
dari dasar laut yang berumur seribu tahun, tenaga-dalam nona
itupun bertambah hebat sekali. Sian Li seorang nona yang
cerdas dan Kim Thian Cong pun makin sayang kepadanya.
Dengan tekun dan keras, ia memilih latihan2 muridnya itu.
Dengan begitu berhasillah Sian Li mewarisi ilmu pedang dari
gurunya.
Sian Li melancarkan ilmupedang Giok-li-kiam atau Pedang
bidadari. Sebuah ilmu pedang yang mengutamakan gerak
keluwesan dan kelincahan seorang bidadari.
Tetapi pengawal Baju Merah itu telah melancarkan
serangan yang cepat dan dahsyat sekali.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tui-hong-kiam," seru Pek l lojin terkejut.
Hoa Sin, Ceng Siam suthay dan Hong Hong tojin
mengangguk: "Tetapi hebat sekali," seru mereka.
'Kalau sudah tahu hebat, mengapa suruh cucuku
menghadapi," teriak kakek Lo Kun.
Pek I lojin hanya tertawa : "Jangan kuatir kalau cucumu
kalah, cucumu yang satu masih ada.”
"Siapa ? Blo'on ?” tiba2 kakek Lo Kun berpaling mencari
Blo'on, "Blo'on, mengapa engkau diam saja ? Lihatlah
sumoaymu dihajar oleh pengawal Baju Merah itu. Apakah
engkau tak mau menolongnya ?"
"Dia belajar ilmupedang dari suhunya. Kalau tidak
digunakan untuk menghajar musuh lalu apa gunanya dia
belajar?" sahut Blo'on.
Kakek Lo Kun terbeliak. Pada lain saat ia tertawa : "Benar,
benar, memang biar tahu rasa. Perlu apa anak2 perempuan
harus belajar silat, sekarang harus bertempur dengan musuh.
Kalau dia tidak belajar silat dan tinggal dirumah mengurus
rumahtangga, bukankah dia tak sampai rambutnya digundul
seperti engkau !"
"Lojin." seru Hoa Sin, "adakah lojin kenal akan pengawal
Baju Merah itu?"
"Dahulu semasa masih muda, pernah kudengar seorang
pendekar pedang dari perguruan Kong tong-pay yang
menggemparkan dunia persilatan. Dia memiliki ilmupedang
Tui-hong kiam yang luar biasa hebatnya. Karena banyak
murid2 dari lain partai persilatan yang terluka, maka beberapa
partai persilatan lalu datang ke gunung Kong-tong-san untuk
meminta pertanggungan jawab dari ketua Kong-tong-pay.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Fihak Kong-tong-pay terkejut karena merasa tak
mempunyai murid itu. Beramai-ramai mereka mencari jago itu
dan akhirnya tertangkap juga. Ternyata pemuda itu telah
mencuri kitab ilmu pedang dari Kong tong pay dan
mempelajarinya dengan tekun. Dia sakit hati kepada Kong
tong-pay karena tak diterima sebagai murid. Akhirnya dalam
pertempuran dengan beberapa tokoh partai persilatan, dia
masih dapat membela diri dengan ilmupedang Tui liongkiamnya.
Tui-liong kiam demikian nama yang diberikan kepada
pemuda yang sebenarnya bernama Bun Siau Hong.
Sebenarnya orang persilatan mengagumi Bun Siau Hong
karena kegagahan dan tindakannya bagai seorang pendekar
yang membela kebenaran Tetapi entah bagaimana lama
kelamaan dia terjerumus dalam kalangan hitam dan gemar
paras cantik. Akhirnya ia mendapat seorang wanita cantik
yang cabul yalah Bu-yong-sian-li atau Dewi Melati. Dan sejak
itu dia menghilang tiada ceritanya lagi.
Tui hong-kiam, sesuai dengan namanya, memang memiliki
perbawa sedahsyat angin praha Tetapi Giok-li-kiam-hwat atau
ilmu pedang bidadari, juga hebat. Apalagi Sian Li memiliki
pedang Pek-liong-kiam yang luar biasa tajamnya. Seharusnya
dia dapat mengimbangi permainan lawan bahkan seharusnya
pula dia harus menang angin, Tetapi sayang masih kurang
pengalaman bertempur dengan tokoh sakti setingkat pengawal
Baju Merah itu.
Makin lama mulai timbul rasa cemas akan bahaya2 maut
yang ditebarkan oleh pedang pengawal baju Merah itu.
Sampai pada suatu saat ketika sinar pedang lawan hendak
membelah kepala, tanpa lagu2 lagi Sian Li terus menangkis
untuk melindungi kepalanya. Tetapi rupanya pengawal Baju
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Merah itu tahu akan ketajaman pedang Sian-li. Dengan sebuah
gerak yang tak terduga dan teramat cepat, pengawal Baju
Merah itu telah menghentikan tusukan dan menekuk tangkai
pedangnya ke bawah untuk menutuk siku lengan Sian Li. Sian
Li terkejut tapi terlambat sudah. Tangan terasa kesemutan
dan pedang Pek-liong-kiampun mencelat ke udara. Untung
nona itu masih sempat Iompat setombak jauhnya kebelakang
sehingga tak sampai menderita bacokan lawan.
Berhasil memukul pedang lawan ke udara, pengawal Baju
Merah itu tak mau memberi kesempatan lagi. Dengan sebuah
gerak sedahsyat harimau menerkam, ia terus memburu Sian Li
dengan taburan sinar pedang yang menyerupai beribu kilat
memancar.
"Setan !" teriak Blo'on seraya loncat menampar. Dia marah
dan terkejut melihat Sian Li terancam bahaya maut. Rasa
marah itulah yang membangkitkan tenaga-dalam sakti Ji-ihsin-
kang. Tapi Tui-hong-kiam Bun siau Hong itu hebat juga
tenaga-dalamnya. Dia hanya tertahan tapi tak sampai
terdampar mundur.
Rupanya kali ini Blo'on benar2 marah. Dia tak ingat kalau
hanya bertangan kosong sedang musuh menggunakan
pedang. Selekas menampar, ia terus loncat maju dan lepaskan
tamparan berulang-ulang.
Bun Siau Hong tak sempat lagi untuk mengembangkan
permainan pedangnya, la merasa dirinya seperti dilanda badai
yang mengandung tenaga kuat sekali. Ia berusaha kerahkan
seluruh tenaga dalam untuk bertahan tapi sia2.
Saat itu Blo'on makin mendekat. Melihat itu Bun Siau Hong
nekad. Dengan kerahkan seluruh tenaga, ia membacok
pemuda itu. Tetapi hal itu hanya mengundang kemarahan
Blo'on saja. Melihat lawan hendak membacok, cepat Blo'on
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
ayunkan kaki menendangnya, plak ... terlemparlah Bun Siau
Hong sampai dua tombak jauhnya dan tak dapat bangun lagi.
Dari lubang hidung, mata, telinga dan mulut, mengalirkan
darah yang kental.
"Siapakah dia locianpwe ?” tanya Blo'on kepada Pek I lojin.
“Tui hong-kiam Bun Siau Hong," seru Pek I lojin, "heran
sudah berpuluh tahun dia tak terdengar beritanya, tahu2
sudah menjadi pengawal Thian-tong-kau"
"Dia orang baik atau jahat ?"
"Yang jelas dia telah terjerumus dalam dunia kepelesiran."
Pek I lojin menghela napas, "sayang sesungguhnya dia
seorang berbakat tetapi telah tersesat jalan hidupnya".
"Hoa pangcu" tiba2 Ceng Sian suthay berkata "rencana kita
untuk membekuk ketua Thian tong-kau selalu gagal karena
dirintangi oleh pengawal Baju Putih dan Baju Merah"
"Ya, benar," kara Hoa Sin, "rupanya sebelum pengawal2 itu
terbasmi semua, sukar untuk mendekati kelua mereka."
DaIam pada bicara itu, tampak seorang pengawal Baju
Merah maju pula dan terus menyerang Blo'on.
"Bio on, aku juga ingin melemaskan tulang2ku" seru kakek
Lo Kun. "kalau hanya diam saja disini aku merasa jemu'"
Habis berkata kakek Lo Kun terus berlari menyambut
pengawal Baju Merah itu.
"Huh, kurang ajar, engkau membawa rantai", seru kakek Lo
Kun demi melihat pengawal Baju Merah itu melolos seutas
rantai besi yang ujungnya diikat dengan sebuah bola besi yang
berduri.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tiba2 mata kakek itu tertumbuk pada pedang Pek-liongkiam
yang masih menggeletak di lantai, terus menjemputnya
dan berpaling : "Sian Li, pinjam sebentar pedangmu, ya ?"
"Ya ... awas serangan musuh" teriak Sian Li ketika melihat
pengawal Baju Merah sudah ayunkan rantai dan bola besi itu
melayang kearah kepala kakek Lo Kun. Pada hal saat itu kakek
Lo Kun sedang berpaling kebelakang.
"Uh ... " kakek Lo Kun menundukkan kepala dan bola besi
itu melayang hanya seujung rambut dari kulit kepalanya.
Apabila Siau Li, Hong Ing dan lain2 menghela napas
longgar karena melihat kepala Lo Kun hampir saja pecah, tapi
tak demikian dengan kakek itu sendiri. Ia meng-usap2 batok
kepalanya dan ber-sungut2 : "Kepala, sudah ber puluh2 tahun
engkau ikut aku, masakan engkau rela ikut pada setan baju
merah itu."
Andaikata saat itu Lo Kun tak mengoceh tetapi terus
menerjang lawan, tentulah ia akan memperoleh hasil yang
bagus. Paling tidak dia tentu dapat memapas putus rantai
lawan. Tetapi kesempatan sebagus itu dibunang dengan
mengoceh semaunya sendiri ,...„
Jilid 38
Melihat tingkah laku kakek Lo Kun. Sian Li menggeram dan
meng-gentak2kan kakinya.
"Dia memang manusia yang aneh," Pek I lojin tertawa,
"dunia ini memang penuh dengan orang2 yang begitu".
"Lo-cianpwe" kata Sian Li, "dia sebenarnya seorang kakek
yang berhati baik. Tapi entah bagaimana pikirannya memang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sering limbung tak keruan. Apakah memang begitu kalau
orang sudah keliwat tua itu ?"
Pek I lojin tertawa : "Berapakah umurnya ?"
"Menurut katanya sudah lebih dari seratus tahun dan
katanya dia takkan mati sebelum dia ingin mati sendiri".
Pek I lojin tertawa.
Sementara itu pertempuran mulai berlangsung walaupun
memiliki pedang pusaka tetapi Lo Kun terpaksa harus lari2
menghindar serangan rantai bola yang lebih panjang. Berulang
kali hampir ia berusaha untuk memapas rantai itu tapi rantai
bandringan duri itu seolah bermata. Walaupun sedang
melayang deras sekali tapi bila hendak ditabas tiba2 rantai itu
dapat menekuk ke bawah atau ke atas untuk menghindari
pedang. Bahkan yang lebih gila lagi, rantai itu dapat melingkar
untuk menghantam tangan lawan yang memegang pedang.
“Kui-lian-sin-kiu" teriak Hoa Sin ketika mengikuti
pertandingan itu beberapa jenak.
Pek I lojin mengangguk : “Benar, mengapa dia juga berada
disini ?"
''Siapakah Kui han sin kiu itu, Hoa pangcu?” tanya Sian Li.
Rupanya gadis itu memang suka bertanya sesuatu yang tak
diketahuinya.
"Lebih kurang sepuluh tahun yang lalu, di daerah Kwan-gwa
(luar perbatasan) telah muncul begal yang menggunakan
senjata rantai-gembo!an-berduri. Dia hanya bekerja seorang
diri. Dengan permainan rantai-gembolannya yang luar biasa
itu dapatlah ia merubuhkan beberapa piausu yang terkenal.
Dengan munculnya orang itu, daerah Kwam-gwa menjadi
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
daerah rawan. Setiap piau-kiok yang lewat harus membayar
bea kepadanya baru tak diganggu,” kata Hoa Sin.
“Lalu tiba2 dia menghilang," kata Hoa Sin pula, “entah apa
sebabnya. Hanya menurut kabar2 dia telah bekerja pada
pemerintah Goan. Tapi bagaimana keadaan yang sebenarnya,
tiada orang yang tahu. Yang jelas sekarang dia berada di
gunung Thaysan menjadi pengawal Thian-tong kau..
Ancaman dari gembolan besi berduri itu makin ber-tubi2
melanda kakek Lo Kun sehingga kakek itu harus berloncatan
menghindar.
"Setan ... jahanam ... bangsat ... " tak hentinya mulut kakek
itu mengumpat tapi pengawal Baju Merah itu se-olah2
manusia robot yang tak punya perasaan.
Walaupun membawa pedang pusaka Pek-liong-kiam tapi
kakek Lo Kun tak sempat dapat membacok rantai lawan.
Rantai pengawal Baju Merah itu seolah2 seekor ular yang tahu
untuk menghindar bacokan.
Bahkan dalam sebuah jurus yang disebut Koay-hong-iuttong
atau Ular-naga-keluar-sarang, gembolan besi berduri
hampir saja dapat memagut kepala Lo Kun. Karena kaget,
kakek Lo Kun taburkan Pek liong-kiam lalu buang tubuhnya
ber-guling2 di tanah.
Tetapi tiba2 rantai besi melengkung menghindari terjangan
pedang dan pada lain saat ketika hentakkan ke belakang,
gembolan berduripun segera menghantam tangkai pedang itu
hingga jatuh ke tanah.
Kakek Lo Kun ber-guling2 tepat berhenti di muka Blo'on.
Karena ber-guling2 itu, ular Thiat-bi-coa yang melilit di
pinggang si kakek menjulur keluar.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ih, apakah itu kakek," tanya Blo'on tanpa menolong Lo
Kun yang masih rebah di lantai.
"Ular Thiat-bi-coa" seru Kakek Lo Kun. "Oh, mengapa aku
melupakan binatang ini. Dia memakai rantai besi, aku akan
memakai ular ini, beres”.* Habis berkata kakek itu terus
melenting bangun. Melolos ular Thiat bi-coa.
"Kakek Lo Kun,'" tiba2 Blo'on menyambar ujung ekor, ular
yang dipegang Lo Kun," pinjamilah ularmu sebentar".
"Buat apa ... ", seru kakek Lo Kun tetapi tak melanjutkan
kata2nya karena Blo'on sudah langsung melangkah ke
hadapan pengawal Baju Merah.
Pengawal Baju Merah itupun tak berkata apa2 terus maju
menyerang Blo’on. Tiba2 Blo'on menyorong ular ke muka.
Rupanya ular itu seperti didorong oleh tenaga yang kuat
sehingga langsung lurus menjulur ke muka pengawal Baju
Merah dan menyambar hidungnya.
Saat itu pengawal Baju Merah sedang ayunkan rantai
gembolan-berduri untuk menyerang. Tetapi sebelum
gembolan duri tiba di tubuh Blo’aon mukanya sudah disambar
oleh ular. Sudah tentu ia kaget dan loncat mundur.
Tetapi Blo'on tak memberi kesempatan lagi. Ia terus
mendesak maju dan julurkan thiat-bi-coa. Pengawal Baju
Merah berusaha untuk menampar dengan tangan kiri tetapi
ular itu menggeliat ke bawah menyambar perut.
Pengawal Baju Merah makin bingung. Sama sekali ia tak
sempat mengembangkan permainanran gembolannya. Dalam
keadaan yang sangat terdesak ia menyurut mundur lalu
mencelat ke udara. Saat itu ia sudah bebas dari libatan ular
maka cepat ia ayunkan rantai-gembolan untuk menghantam
ular.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Memang dengan cara itu dapatlah pengawal Baju Merah
merubah kekalahan, Dari di serang dia balik menyerang. Ular
thiat-bi-coa terhantam rantai. Tapi ular itu memang luar biasa.
Selain ular tidak menderita kesakitan apa2, karena kulitnya
sekeras besi, pun terus melilit rantai.
Melihat tingkah ular itu, Blo'onpun segera menariknya.
Pengawal Baju Merah terkejut. Saat itu ia melayang di udara,
jelas dalam kedudukan yang tidak menguntungkan, tubuhnya
ikut menjorok ke muka. Dengan gugup ia segera
menghantam.
Pada saat memainkan ular thiat-bi-coa itu, tenaga dalam Jiih-
sin-kang Blo’on sudah memancar, maka melihat pengawal
Baju-Merah itu menghantam, ilmu latah Blo’on pun segera
berkembang. Lawan menghantam, diapun menghantam juga.
Buum .... rantai dililit ular dan ditarik ke bawah, tubuh dilanda
angin pukulan Blo'on yang hebat. Hanya satu pilihan bagi
pengawal Baju Merah itu. Tetap mempertahankan rantaigembolan
dan pernapasannya berhenti. Atau lepaskan rantai
dan tubuhnya terdampar.
Ia tak ingin menderita kedua-duanya tetapi dia dipaksa
untuk menderita kedua-duanya. Pengawal Baju Merah atau
yang dikenal sebagai Kui-lian-sin-kiu melayang-layang seperti
layang2 putus tali dengan membawa rantai gembolannya.
Ternyata Blo'on kasihan pada ular itu. Kalau dia tetap
mempertahankan dan pengawal Baju Merah itu terlempar ke
belakang tentu akan terjadi suatu tarik menarik yang hebat,
kemungkinan ular itu akan putus badannya. Oleh karena itu ia
lepaskan ular itu.
Bumm .... pengawal baju Merah itu jatuh terbanting ke
lantai, rantai gembolannya menghantam papan sehingga
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menimbulkan lubang, sedang orangnya setelah meregangregang
beberapa jenak lalu tak berkutik lagi.
Begitu jatuh, ular thiat-bi-coa pun terus meluncur untuk
melilit leher orang. Seketika melayanglah nyawa pengawal
Buju Merah yang diduga sebagai Kui han sin kiu.
Kakek Lo Kun bersuit dan ular thiat-bi-coa itupun segera
meluncur menghampirinya. Ular itu segera melilit pinggang Lo
Kun lagi.
"Wah, hebat benar senjatamu, kakek Lo Kun," seru Blo'on.
"Bukankah engkau juga punya binatang peliharaan, kera
dan burung rajawali?" sahut LoKun.
"Hai, benar," teriak Blo'on seperti orang tersadar,
"kemanakah gerangan kedua binatang itu?"
Ia berpaling kian kemari tetapi tak melihat kedua binatang
itu, lalu ia menegur Hong Ing : "kemana bintang itu?"
Ternyata Hong Ing juga tercengang memandang kian
kemari : "Aneh, kemanakah mereka?"
Baru kedua pemuda itu bingung mencari tiba2 orang
pengawal Baju Merah lain sudah menyerangnya. Kali ini tidak
menyerang dengan senjata pedang atau rantai melainkan
dengan piau atau senjata rahasia yang disebut Yan-wi-piau
atau piau ekor seriti.
Dua batang yau-wi-piau mendesing-desing menyambar
Blo'on dan Hong Ing. Sambil menghindar, Hong Ing berteriak :
"Awas, senjata gelap!" Blo'on mencondongkan kepala dan piau
itupun meluncur lewat di depan hidungnya.
"Ih." terdengar Hong In mendesis kejut karena piau itu
melayang balik untuk menyambarnya kembali. Ternyata
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
lontaran piau itu hebat sekali. Begitu luput, dia dapat
melayang balik untuk menyambar Iagi.
"Setan…” teriak Blo'on ketika hidungnya hampir tersambar
piau burung seriti itu.
Sehabis pergi pulang menyambar tanpa hasil, piaupun
kembali ke tangan pengawal Baju Merah itu pula.
Blo'on masih terlongong memandang pengawal Baju Merah,
tapi orang itu sudah ayunkan tangan kanannya pula,
kemudian disusul dengan tangan kiri. Dua batang piau burung
seriti segera melayang ke arah Blo'on dan menyusul dua
batang lagi dari tangan kiri.
Melihat itu Hoa Sin dan Hong Hong tojin berhamburan
loncat ke tengah gelanggang, yang satu memutar tongkat dan
yang satu memainkan pedang.
Kedua ketua partai persilatan itu menyadari keadaan Blo'on
anak itu memang memiliki suatu ilmu tenaga dalam yang luar
biasa anehnya tetapi jelas anak itu tak dapat bermain silat.
Jika menghadapi dengan lawan yang menyerang dengan
pukulan tentulah anak itu masih dapat melayani. Tetapi
sekarang berhadapan dengan seorang musuh yang
menggunakan senjata piau, bagaimana mungkin anak ini akan
menghadapinya. Maka keduanya tanpa ajak ajakan lebih dulu
terus loncat untuk menyapu piau seriti.
Wut, siing , ... terdengar aum sabatan pedang Hong Hong
dan tongkat Hoa Sin. Tetapi piau burung setiri yang berwarna
kuning emas itu seperti burung seriti yang hidup. Dengan
bergantian keempat piau itu melambung naik untuk
menghindar lalu tiba2 meluncur ke bawah menyambar kedua
ketua partai persilatan itu lagi.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hoa Sin dengan menunggu. Setelah kedua batang piau
hampir tiba di atas kepalanya, cepat ia menyapunya dengan
tongkat. Tetapi ia terkejut ketika piau itu tiba2 memencar ke
kanan dan kiri lalu menyerang lagi. Ketika Hoa Sin memutar
tongkatnya, tiba2 piau itupun melambung ke atas lalu menukik
untuk menyambar kepala lawan.
Demikian pula yang dialami Hong Hong tojin Ketua Go-bipay
itu mainkan pedangnya untuk menyapu tetapi setiap kali,
kedua piau burung seriti itu selalu menghindar, entah
memencar diri entah melambung ke atas kemudian
menyerang lagi. Tetapi karena permainan tongkat dari Hoa Sin
dan pedang dari Hong Hong tojin sederas hujan, keempat piau
burung seriti itu tak dapat menyusup masuk.
Tiba2 pengawal Baju Merah itu ayunkan tangan kanan dan
tangan kiri lagi. Dua batang piau segera menyerang Hoa Sin
dan yang dua batang menyerang Hong Hong tojin.
Diserang dua piau sudah sibuk, sekarang ditambah dua lagi.
Baik Hoa Sin maupun Hong Hong tojin saat itu masing2 harus
menghadapi empat batang piau!.
Dan yang istimewa, piau yang melayang belakangan itu
melayang- layang ke bawah mencari sasaran kaki.
Hoa Sin dan Hong Hong terpaksa harus lebih sibuk lagi.
Untung keduanya memiliki kepandaian yang tinggi sehingga
walaupun harus mandi keringat tetapi masih dapat bertahan
diri.
"Lo cianpwe," seru Sian Li cemas, “apakah piau yang
digunakan pengawal baju Merah itu?. Mengapa begitu lihay
sekali? Siapakah orang itu?”
Sejak semula Pek I lojin memang sudah memperhatikan
permainan piau burung seriti dari pengawal Baju Merah itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Piau itu disebut Kim-yan-wi-piau atau piau ekor burung
seriti mas. Piau semacam itu memang sering dipakai dalam
dunia persilatan. Tetapi yang berwarna emas dan dapat
bermain sedemikian hebatnya hanyalah Kim-yau-wi-piau Gan
Siu seorang,” kata Pek I lojin.
"Siapakah tokoh Gan Siu itu ?" tanya Sian Li pula.
"Tokoh itu muncul pada balasan tahun yang lalu ketika
pemerintah Goan sedang giat melakukan pembasmian pada
kaum persilatan. Serombongan kuku garuda telah dicegat oleh
seorang jago yang menggunakan senjata Yau wi-piau. Karena
hebatnya permainan piau itu, banyak kawanan kuku garuda
yang menderita luka dan melarikan diri. Sejak itu terkenallah
Gan Siu sebagai pendekar Kim-yan-wi-piau dan sekali gus
menjadi buronan pemerintah Goan. Juga tokoh itu kemudian
tiada kabar beritanya lagi dan tahu2 berada di gunung sini,"
kata Pek I lojin.
"Cianpwe luas pengalaman dan kenal dengan banyak sekali
tokoh2 dalam dunia persilatan…” baru Sian Li berkata begitu,
Pek I lojin cepat menukas : "Ah, aku hanya seorang tua biasa.
Karena gemar berkelana maka banyaklah cerita yang
kudengar dalam dunia peralatan. Jangan engkau anggap aku
ini seorang cianpwe persilatan yang sakti."
Karena Sian Li tak berpengalaman, maka ia menerima
begitu saja alasan yang dikemukakan Pek I lojin.
"Cianpwe," kata Sian Li pula, "menilik jalannya
pertempuran, karena terus menerus dilanda oleh serangan
piau, kemungkinan apabila terlambat sedikit saja kedua kaucu
itu menangkis atau menghindar, tentulah akan tertimpa
bahaya."
"Hm, benar," sahut Pek I lojin.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dapatkah lo-cianpwe memberi petunjuk bagaimana cara
untuk mengatasi pengawai Baju Merah itu?"
“Sayang …..!” Pek l lojin menghela napas.
“Mengapa lo-cianpwe?" Stian Li terkejut.
"Rasanya hanya sukomu itu yang dapat menandinginya
tetapi sayang dia tak mengerti ilmu silat, apalagi ilmu menabur
senjata rahasia."
“Tetapi suko dapat menirukan segala gerakan lawan,"
bantah Sian Li.
Pek I lojin gelengkan kepala: "Jika bertempur dengan
pukulan, tentu sukomu berhasil. Tetapi pengawal Baju Merah
itu menggunakan senjata rahasia, bagaimana sukomu dapat
menghadapi dengan tangan kosong? Bukankah berbahaya ?”
Sian Li tak mau membantah. Diam2 ia mengisar langkah
dan ketika perhatian orang sedang mencurah pada
pertempuran, diapun segera loncat turun ke bawah panggung.
Sementara itu pertempuran masih berjalan seru dimana
Hoa Sin dan Hong Hong tetap sibuk mempertahankan
setangan Kim-yan-wi-piau yang lihay.
Rupanya sambil bertahan, Hoa Sin putar otak mencari akal,
Tiba2 ia teringat akan gigi anjing yang berada di saku
bajunya. Segera ia mengambilnya dengan tangan kiri. Setelah
mendapat kesempatan, ia taburkan gigi anjing itu ke arah
pengawal Baju Merah.
Pengawal Baju Merah itu memang lihay. Melihat Hoa Sin
taburkan tangan dan berupa benda kecil putih melayang ke
arahnya, pengawal Baju Merah itu taburkan dua batang Kimyan-
wi-piau lagi. Gigi2 anjing segera tersambar jatuh
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
berguguran. Setelah menyelesaikan tugas, kedua batang Kimyan-
wi-piau itu melayang kembali ke tangan Gan Siu.
Ceng Sian suthay, Hong Ing. Lo Kun dan bahkan Pek I lojin
kagum menyaksikan ilmu permainan dari pengawal Baju
Merah itu.
"Kurang ajar", gerutu Lo Kun, "masakan burung seriti itu
mampu mengalahkan ular thiat-bi-coa" Ia terus hendak
melolos ular Thiat-bi-coa yang melilit di pinggangnya.
"Lo-heng, jangan terburu napsu dulu," tiba2 Pek I Lojin
mencegah, "ular lo-heng hanya seekor tapi ia mempunyai
berpuluh burung seriti. Kemungkinan burung2 itu juga
mengandung racun."
"Lalu apa kita hanya menonton saja ?" bantah Lo Kun.
“Kita lihat dulu cara permainannya baru nanti kita cari akal
untuk mengalahkan". kata Pek I lojin.
Dalam pada itu jelas tampak kedua ketua persilatan, Hoa
Sin dan Hong Hong tojin, makin payah. Keduanya sudah
mandi keringat. Melihat itu kakek Lo Kun tak sabar lagi : “Uh.
kalau terus menunggu, kedua kawan kita itu sudah mati baru
kita nanti bergerak. Percuma !"
Kakek Lo Kun terus hendak melangkah maju, tapi tiba2
sesosok tubuh melayang ke atas panggung dan langsung
menghampiri Blo’on.
"Hai, anak perempuan, dari mana engkau!”, tegur kakek Lo
Kun melihat pendatang itu bukan lain adalah Sian Li.
Tetapi Sian Li tak menyahut melainkan menyerahkan
sebuah kantong kepada Blo'on: "Suko lekas engkau tolong
kedua kaucu itu,"
"Hah ?” Blo'on terbelalak, "bagaimana cara menolongnya ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dalam kantong ini terisi pasir kasar. Hadapilah pengawal
Baju Merah itu. Jika dia menabur senjata kim-yang-wi-piau,
engkaupun harus menabur pasir ini," kata Sian Li seraya
mengisar ke belakang Blo'on lalu menyorong tubuh sukonya
supaya lekas maju.
Blo'on menurut. In berlari-lari menghadapi pengawal Baju
Merah dan berteriak: "Hai, orang baju merah, hentikan
seranganmu. Hayo hadapilah aku !"
Melihat kedatangan Blo'on, pengawal Baju Merah itu
menggerakkan tangannya dan delapan batang Kim yan wipiau
segera melayang balik ke dadanya. Bagaikan burung
seriti menyusup ke dalam sarang, kedelapan batang piau
itupun berturut-turut masuk ke dalam genggam tangan
tuannya.
Selekas menarik pulang Kim-yan-wi-piau, pengawal baju
Merah itu segera menabur Blo'on sekali gus empat batang.
Rupanya pengawal Baju Merah tahu bahwa beberapa
kawannya tadi telah dikalahkan oleh Blo’on, maka begitu
menyerang dia terus gunakan jurus ilmu lontaran yang ganas.
Melihat pengawal Baju Merah itu menabur, Blo'on pun
segera, menirukan gayanya.. Hanya kalau lawan menabur
piau, dia merogoh kantong dan menabur pasir.
Pengawal Baju Merah itu menjerit dan terhuyung-huyung ke
belakang sambil mendekap mata dengan lengan bajunya.
Pasir dalam kantong itu merupakan pasir kasar yang terdiri
dari pecahan butir2 batu yang kecil. Tetapi di tangan Blo'on
ternyata pasir2 itu berubah menjadi seperti butir2 besi yang
keras dant tajam sekali. Pengawal Baju Merah berusaha untuk
menampar tetap; karena pasir itu berjumlah ribuan, sudah
tentu masih ada yang lolos dan menabur biji matanya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hebat adalah tenaga-dalam Ji-ih-sin-kang Blo'on. Butir2
pasir itu langsung menabur biji mata sehingga mata pengawal
itu terluka mengeluarkan darah. Demikian pula dengan
mukanya. Rasanya seperti ditabur dengan butir2 besi yang
panas. Seketika pengawal Baju Merah itu meraung-raung
kesakitan dan terhuyung-huyung ke belakang.
Blo'on hendak manabur lagi tetapi cepat Pek I lojin berseru
: "Kim kongcu, jangan ! Kasihlah dia hidup!"
Peristiwa itu cukup menggemparkan sekalian orang. Hanya
dengan sekali menabur pasir, dapatIah Blo'on menjatuhkan
seorang pengawal Baju Merah yang lihay. Hal itu disebabkan
karena Kim-yan-wi-piau tak menyangka akan mendapat
serangan senjata semacam itu dan pula karena jaraknya amat
dekat. Sudah tentu dia tak sempat lagi untuk menghindar atau
menangkis.
Dua batang kim-yan-wi-piau yang menyerang Blo’on tadi
segera ditabur pasir oleh Blo’on dan terlempar jatuh.
"Gila !" gumam Hoa Sin. "berulang kali kuhantam piau itu
dengan tongkat tapi selalu luput, mengapa hanya sekali tabur
saja Blo'on sudah dapat meruntuhkannya."
Hoa Sin belum menyadari bahwa ha! itu disebabkan karena
pengawal Baju Merah sudah menderita luka sehingga tak
dapat memancarkan tenaga-dalam untuk mengendalikan piau.
Sedang waktu bertempur dengan Hoa Sin dan Hong Hong
tadi, pengawal Baju Merah itu masih dapat mengendalikan
piau dengari tenaga dalam.
Kesemuanya itu berkat akal yang cerdik dari Sian Li. Setelah
mendapat keterangan dari Pek I lojin bahwa hanya Blo'on
yang mampu mengalahkan orang itu maka Sian Li mencari
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
akal bagaimana dapat memanfaatkan tenaga-sakti yang
terpendam dalam diri Blo’on.
“Kongcu, engkau hebat!" seru Hoa Sin.
"Apanya yang hebat ?" Blo'on balas bertanya, “aku hanya
menurutkan perintah sumoayku. Suruh nabur pasir, maka
kutabur. Soal pengawal Baju Merah itu kelabakan, tentu saja
harus begitu. Karena dulu waktu kecil mataku pernah kelilipan
juga hingga tak dapat melihat apa2. Eh, heran juga,…” ia
bergumam seorang diri, "kena pasir tentunya hanya mata
yang kelilipan, mengapa Pengawal Baju Merah itu sampai
rubuh ?"
"Eh. suko" tiba2 Sian Li berseru, "engkau mengatakan
teringat ketika engkau masih keci! pernah kelilipan, kalau
begitu engkau tentu juga ingat bagaimana kehidupanmu
semasa kecil. Engkau tentu juga ingat siapa mamah dan
ayahmu !”
"Tidak, tidak !" teriak Blo'on seketika, "aku rasa pernah
kelilipan karena melihat pengawal baju merah itu meraung
kesakitan karena matanya kelilipan …”
"Dia tak kelilipan tapi biji matanya pecah karena pasir yang
kau taburkan itu tepat mengenai bola matanya,* tukas Sian Li.
"'Ya .. karena itulah aku segera merasakan dulu pernah
kelilipan."
"Jadi kalau engkau melihat sesuatu, engkau teringat
sesuatu yang pernah engkau rasakan seperti itu?" tanya Sian
Li.
"Ya."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Andaikata engkau melihat orang mempunyai ibu dan ayah,
apakah engkau dapat merasa kalau engkau merasa
mempunyai ayah dan ibu juga ?"
"Eh, mengapa engkau menanyakan soai itu? Orang tentu
mempunyai ayah dan ibu.” kata Blo'on.
"Bagus, kalau begitu engkau sudah sembuh, suko,'" teriak
Sian Li gembira.
"Aku memang tak sakit, hanya kehilangan ingatan," Blo'on
ber-sungut2, "kelak apabila ingatan itu sudah kutemukan lagi,
aku tentu dapat mengingat segala apa"
Dalam berbicara itu seorang pengawal Baju Merah maju
pula, terus menyerang Blo'on dengan ruyung beruas sembilan.
Ruyung itu panjangnya sampai setombak, warnanya hitam
mengkilap.
"Menyingkirlah." teriak Bio'on seraya menarik Sian Li untuk
diajak menyisih ke samping menghindari ruyung.
Tetapi baru Blo'on berdiri, ruyung sudah mengejar dan dan
mengancam punggungnya. Melihat itu Ceng Sian suthay loncat
menangkis dengan kebut hudtimnya. Tring….
Ruyung beruas sembilan itu tertahan tetapi tangan Ceng
Sian suthay pun gemetar. Habis menahan, Ceng Sian terus
lanjutkan pula dengan serangan hudtim, menampar muka
pengawal Baju Merah itu.
Tetapi pengawal Baju Merah itu lincah sekali. Secepat
tangan bergerak, ruyung pun segera melenting menyambar
hudtim. Tring, kembali kedua senjata itu saling beradu. Kali ini
yang tertahan adalah gerak hudtim Ceng Sian suthay.
Setelah menahan hudtim, ruyung menjulur Iebih panjang,
ujungnya hendak menusuk muka Ceng Sian suthay. Ketua
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kun-lun-pay terkejut. la tak menyangka bahwa ruyung dapat
menjulur surut seperti ular. Hampir saja mukanya tertusuk.
Untunglah ia masih sempat miringkan kepala lalu Ioncat ke
samping.
Pengalaman itu cukup memberi peringatan kepada Ceng
Sian suthay. Ia harus bertempur dengan hati2 agar tak
terjebak dalam perangkap lawan yang memiliki ruyung aneh.
"Lo cianpwe, siapakah pengawal Baju Merah itu”, tanya
Sian Li kepada Pek I lojin.
"Kiu-ciat-sin-pian Ban Kim Hong dari Sujwan, seorang tokoh
kalangan hitam yang termasyhur" kata Pek I lojin.
Kiu-ciat-sin-pian artinya Ruyung-sembilan ruas sakti.
Menyebutkan tentang ruyung yang terdiri dari sembilan ruas.
"Adakah Ceng Sian suthay dapat menghadapi orang itu?”
tanya Sian Li pula.
Ceng Sian suthay bertempur dengan hati2, mungkin dapat
mengimbangi lawannya. Tapi apabila kurang waspada,
dikuatirkan ia akan terjebak dalam senjata ruyung yang aneh
dan mengandung racun itu." kata Pek I lojin.
“Mengandung racun?” Sian Li terkejut.
“Ya, kiu-ciat-pian itu dilengkapi dengan alat rahasia yang
dapat memuntahkan beberapa macam senjata rahasia,
diantaranya jarum dan asap beracun.” kata Pek l lojin pula.
"Jika demikian kita harus berusaha untuk memberi
peringatan kepada suthay atau langsung menghancurkan
ruyung pengawal Baju Merah itu," kata Sian Li makin cemas.
Tanpa menunggu jawaban Pek I lojin, nona itu terus
menghampiri ke samping Ceng Sian suthay lalu menggunakan
ilmu Coan im-jip-bi atau Menyusup suara untuk membisiki :
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Lo-suthay, hati2lah, ruyung orang itu mengandung alat
rahasia dapat memuntahkan jarum dan asap beracun."
Ceng Sian suthay terkejut. Ia hendak mendahului
menghancurkan senjata lawan tetapi lawan sudah bergerak
lebih cepat berganti dalam sebuah jurus yang disebut Ok liong
jut-hay atau Naga jahat ke luar laut. Seketika ruyung bergerak
seperti seekor naga yang menggelepar2 menimbulkan
gelombang laut yang dahsyat. Beribu sinar hitam mencurah ke
arah Ceng Sian.
Ceng Sian terkejut. Ia tak menyangka bahwa jurus Ohloing-
jut-hay yang merupakan jurus sederhana, ternyata di
tangan pengawal Baju Merah itu telah berobah menjadi suatu
gerakan yang demikian dahsyat.
Tetapi rahib dari Kun lun-pay itupun juga seorang ketua
partai persilatan yang terkenal. Cepat ia merobah
permainannya dengan iimu pat-sian-hud liu atau Delapandewa
mengebut-pohon liu. Sebuah permainan hudtim yang
menjadi milik partai Kun-lun-pay yang istimewa.
Serentak kebud hudrim berhamburan melingkungi seluruh,
tubuh ketua Kun-lun-pay itu. Empat arah delapan penjuru,
sinar hitam mencurah deras.
Perobahan ilmu permainan itu telah merobah kedudukan.
Ruyung-sembilan-ruas yang me-magut2 seperti ular meluncur
di air selalu terbendung oleh segumpal awan hitam dari sinar
hud-tim.
Kedengaran pengawal Baju Merah mendengus, tiba2
tangan kirinya mencekal ujung ruyung dan sekali digentakkan
ruyung itu putus menjadi dua. Dan dia menyerang dengan
sepasang ruyung yang pendek. Diapun berganti dengan jurus
Hong-lui-in-what atau ilmu ruyung Angin dan Halilintar.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pertandingan antara kedua tokoh itu benar2 satu
pertunjukan yang indah dan mengagumkan. Ceng Sian suthay
memiliki tenaga-dalam yang tinggi. Kebud hudtim di
tangannya dapat berobah menjadi keras semacam kawat2
tajam, pun dapat juga berobah selemas cambuk untuk
menampar. Demikian pula dengan pengawal Baju Merah.
Serangannya yang dahsyat bagaikan air mengalir yang tak
henti2-nya.
Diam2 Hoa Sin dan Hong Hong tojin memuji ilmu
kepandaian dari ketua Kun-lun-pay itu.
"Lo-cianpwe" tiba2 Sian Li berkata kepada Pek I lojin,
"siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu ?”
"Kepandaian mereka hampir berimbang. Siapa yang
memiliki daya ketahanan, dialah yang menang sahut Pek I
lojin.
"Tetapi pengawal Baju Merah itu terlalu bernafsu
menghamburkan tenaga, kemungkinan ia tentu akan
kehabisan napas dulu”, kata Sian Li.
"Mudah-mudahan begitu," kata Pek I lojin.
"Ah. locianpwe memiliki pendangan tajam dan penilaian
yang jitu tentang sesuatu pertempuran... "
"Sudahlah, anak perempuan,” buru2 Pek I lojin menukas,
"telah kukatakan, aku hanya seorang kakek biasa, tak
mengerti ilmu silat. Hanya selama mengembara aku sering
melihat pertempuran2 diantara jago2 silat dalm dunia
persilatan. Itulah maka aku dapat mengatakan sesuatu
tentang pertempuran itu.”
'Hai …”, tiba2 Sian Li memekik, "Ceng Sian suthay…. "
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Saat itu di gelanggang pertempuran memang terjadi suatu
peristiwa yang tak terduga.
Se-konyong2 pengawal Baju Merah itu memijat ruyung di
tangan kiri, ruang ruyung di bagian atas segera terlepas dan
meluncur menyambar Ceng Sian suthay. Bluk ..... kutungan
ruyung itu tertampar hudtim dan pecah berhamburan
memancarkan asap. Dan tiba2 lagi, ruyung di tangan kanan
pun lepas dan meluncur jarum2 halus menyambar Ceng Sian
suthay dan ..... kutungan ruyung itupun tertampar hudtim.
"Ah ... * tiba2 Ceng Sian suthay mendesah dan terhuyung2
mundur hendak roboh. Pengawal Baju Merah itu hendak
menerjang lagi tetapi secepat itu Sun Li pun sudah loncat
menyerangnya dengan pedang Pek liong-kiam.
Tring. tring ... ruyung terbabat kutung tapi serempak
dengan itu Sian Li pun menjerit dan ter-huyung2 ke belakang
lalu rubuh.
Pengawal Baju Merah itu masih hendak memukul lagi,
kakek Lo Kun segera menerjangnya. Dan ..... pengawal Baju
Merah taburkan kutungan ruyung di tangannya. Kakek Lo Kun
menghadapi tapi seketika itu juga ia menjerit dan
sempoyongan jatuh terduduk.
Masih pengawal Baju Merah itu hendak menyerang tapi kali
ini Blo'on marah. Tiga kawannya rubuh, serentak ia
menyambut pengawal Baju Merah itu dengan sebuah pukulan.
"Auh …… " pengawal Baju Merah menjerit ngeri ketika
tubuhnya terlempar sampai lima tombak jauhnya dan
terbanting jatuh ke lantai tak dapat bangun lagi untuk selama2nya.
Pengawal Baju Merah, tokoh hitam yang terkenal dengan
gelar Kim-cat-sin pian itu harus menebus dosanya dengan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
suatu kematian yang mengenaskan. Pukulan tenaga-dalam Jiih
sin-kang yang dilancarkan dengan penuh kemarahan oleh
Blo'on itu telah menghancurkan jantung dan urat2 dalam
tubuhnya sehingga dari lubang hidung, mulut, mata dun
telinga, mengalirkan darah.
Blo’on tak menghiraukan bagaimana keadaan pengawal
Baju Merah itu la terus menghampiri Sian-Li. Ia mengambil
tiga butir buah dan han-hay te-som hendak diberikan kepada
ketiga orang yang terluka itu tapi Pek I lojin segera
menghampiri.
“Mereka tak menderita luka apa2 kecuali hanya terkena
racun" kata kakek itu. "asap dan jarum yang memancar dari
kutungan ruyung, mengandung racun "
Tanpa bicara apa2, Hong Ing terus loncat turun ke bawah
panggung. Tak berapa lama ia kembali dengan membawa
sebuah mangkuk lalu diminumkan kepada Ceng Sian suthay,
Lo Kun dan Sian Li.
"Apa itu ?" tanya Blo'on.
"Mangkuk ini berisi mustika merah burung hong milik kakek
Lo Kun. Katanya dapat memunahkan segala jenis racun," kata
Hong Ing,
Memang Ceng Sian suthay telah terkena asap dari ruas
ruyung yang ditamparnya dengan hudtim. Begitu pula ruas
ruyung yang dihantamnya dengan hudtim tadi, pun
memancarkan jarum2 beracun. Karena sebelumnya sudah
termakan asap beracun sehingga kepala pening dan mata
pudar maka Ceng Sian tak sempat menghindar sambaran
jarum. Lengannya terkena sebatang jarum beracun. Ketua
Kun-Iun-pay itupun segera terhuyung rubuh.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Sian Li juga menerima penderitaan yang sama. Ia terkena
asap dan jarum beracun. Pun kakek Lo Kun juga demikian.
Tak berapa lama, wajah ketiga orang itu mulai tampak
merah. Kini mereka dipersiiahkan melakukan pernapasan
untuk melancarkan jalan darah dan hawa-murni dalam
tubuhnya.
Dalam pada itu seorang pengawal Baju Merah sudah
melangkah maju. Dia membawa senjata yang aneh. Sepasang
cakar burung garuda yang berkuku runcing dan tajam.
"Hui-eng jimu Lamkiong Ti. !” gumam Pek I lojin dengan
nada kejut.
"O, tokoh sakti dari gunung Tiang-pek-san?' seru Hoa Sin.
Pek I lojin mengiakan : "Belasan tahun yang lalu setelah
mengangkat nama, sebenarnya dia bermaksud hendak
mendirikan sebuah partai persilatan, tapi entah bagaimana
tiba2 dia menghilang dari dunia persilatan".
"Ya, pernah kudengar nama itu tapi belum pernah bertemu
dengan orangnya,” kata Hoa Sin.
“Dia termasyhur karena ilmusilat Hui-eng-jiau yang luar
biasa," kata Pek I lojin pula, gaya permainannya memang luar
biasa. Dan kabarnya kuku dari cakar garuda itu khusus untuk
memecahkan urat dan jalan-darah tubuh lawan.
"Hoa pangcu, tolong pinjam tongkatmu," tiba2 Blo'on
berteriak.
Hon Sin terbeliak tapi karena tangan pemuda itu sudah
menjulur, terpaksa ia serahkan juga tongkat Bak-kau-pang
nya.
Selekas mendapat tongkat, Blo'on terus maju
menyongsong. Dia sudah mempunyai ingatan untuk
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menghajar maka begitu berhadapan ia terus menggebuk
pengawal Baju Merah itu. Sudah tentu pengawal itu terkejut
dan menghindar ke samping tetapi Blo'on tetap mengejarnya
dengan hantaman tongkat.
"Uh ... mulut pengawal Baju Merah itu mendesah. Rupanya
ia terkejut melihat perangai Blo’on yang cepat dan dahsyat
sehingga belum sempai ia berdiri tegak, punggungnya sudah
digebuk. Cepat ia ayunkan tubuh melayang ke belakang
sampai tiga langkah.
Tetapi baru kakinya menginjak tanah. Blo'on pun sudah tiba
dan ayunkan tongkat menghantam kepalanya, karena geram.
Pengawal Baju Merah itu menangkis dengan senjata cakar
garuda, tring.....
Pengawal Baju Merah itu terkejut karena tangannya
tergetar sakit, kebalikannya Blo'on enak2 saja melanjutkan
mengemplang kepala orang.
Pengawal Baju Merah itu tak menyadari mengapa pemuda
gundul itu dapat memancarkan tenaga-dalam yang begitu
hebat sehingga tangkisannya tadi serasa hilang daya
kekuatannya. Ia masih penasaran. Cakar garuda di tangan kini
segera diayun untuk menggempur tongkat lawan, tring ... ia
makin terkejut ketika tongkat pemuda itu serasa
menghamburkan tenaga tolak yang hebat.
Ketika Blo'on menghajar lagi, pengawal Baju Merah itu tak
berani menangkis, la enjot tubuhnya melambung ke udara.
Setelah berjumpalitan ia meluncur ke bawah sembari julurkan
sepasang senjata cakar garuda untuk menerkam kepala
Blo'on. Tapi Blo'on tak gentar. Dia tak mau menghindar
melainkan menghajarkan tongkatnya lagi.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Krak ..... ketika tongkat dan cakar garuda saling berhantam,
tubuh pengawal Baju Merah itu terlempar setombak ke udara.
Di udara dia bergeliatan untuk menguasai dirinya agar jangan
terus melayang. Setelah berjumpalitan dua tiga kali ia menukik
lagi seraya tujukan cakar garuda ke dada Blo'on.
Blo'on mengkal sekali melihat kebandelan orang itu. Segera
ia menghantam lagi tetapi kali ini pengawal itu menarik cakar
garudanya sehingga tongkat Blo'on menghantam angin.
Secepat itu cakar garuda di tangan kiri terus menyambar
tenggorokan Blo'on.
Bukan kepalang kejut Blo'on menghadapi serangan itu.
Dengan gugup ia balikkan siku lengan untuk menangkis cakar
garuda dengan pangkal tongkat.
Tetapi kali ini pengawal Baja Merah mengadakan gerak tipu
yang hebat. Serempak menarik pulang cakar garuda di tangan
kiri ia terus menerkamkan cakar guruda di tangan kanan ke
ujung tongkat dan selekas berhasil ia pun segera menarik sekuat2-
nya.
Karena Blo'on sedang menggerakkan pangkal tongkat ke
belakang untuk menangkis cakar garuda di tangan kiri lawan,
maka ia tak menduga kalau ujung tongkatnya dicengkeram
oleh cakar garuda di tangan kanan lawan. Memang gerakan
pengawal Baju Merah itu tak ter-duga2 dan cepat sekali
sehingga Blo’on belum siap dan tongkatnya kena ditarik oleh
cakar garuda lawan.
Setelah dapat merebut tongkat, pengawal Baju Merah
itupun menyerempaki pula dengan menerkam cakar garuda ke
leher Blo'on.
Blo'on seperti dipagut ular kejutnya. Seketika tubuhnya
melambung sampai dua tombak ke udara. Sebaliknya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pengawal Baju Merah itu segera melayang turun ke lantai lalu
songsongkan kedua cakar garuda untuk menyambut
meluncurnya Blo'on.
Kedudukan mereka sekarang berganti. Jika tadi. Blo'on
berdiri di lantai dan pengawal Baju Merah melambung ke
udara, sekarang pengawal itu yang berada di bawah dan
Blo'on melayang di atas.
Hoa Sin, Hong Hong tojin dan Pek I lojin terkejut melihat
adegan itu. Diam2 mereka cemas akan keselamatan jiwa
Blo'on. Pada saat itu ia hendak loncat menyerang Pengawai
Baju Merah tetapi belum sempat bergerak, tiba2 ia melihat
suatu peristiwa yang mengejutkan.
Karena hendak disambut dengan cakar garuda yang
runcing, Blo’on terkejut dan meronta. Tahu2 tubuhnya
bergeliatan melambung keatas lagi. Sesaat kemudian ia
meluncur pula dan masih melihat sepasang senjata cakar
garuda menyongsong keatas.
"Hih ..." ngeri Blo'on melihatnya dan meronta bergeliatan
melambung ke atas lagi.
Untuk yang ketiga kalinya, diapun meluncur lagi ke atas,
kemudian selang beberapa saat tubuhnya meluncur ke bawah
pula. Karena sudah dua kali selalu diancam dengan cakar
garuda runcing, Blo'on marah, la menggeliat sehingga
kepalanya menukik ke bawah lalu membabat cakar garuda
lawan.
Pengawal Baju Merah itu merasakan betapa hebat tenaga
sakti dari pemuda gundul itu. Maka ia segera menarik senjata
cakarnya ke bawah untuk menghindari babatan tongkat.
Setelah tongkat menyambar lewat, barulah ia songsongkan
lagi senjatanya ke atas untuk menusuk muka pemuda itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hoa Sin, Hong Hong dan Pek I lojin terkejut melihat adegan
itu. Jelas Blo’on tentu termakan senjata lawan. Dia sedang
menukik dari udara, kepala di bawah kaki di atas. Babatan
tongkatnya luput dan saat itu senjata cakar lawan menusuk ke
mukanya. Bagaimana mungkin dia dapat terhindarkan bahaya
?.
Tetapi Ji-ih-sin-kang itu memang suatu tenaga-sakti yang
luar biasa. Cukup digerakkan dengan pikiran yang
membangkitkan keinginan hatinya saja maka Ji-ih-sin kang itu
akan menggerakkan tubuh sesuai dengan keinginan hatinya.
Demikian dengan Blo’on.
Ia terkejut dan ingin terhindar dari ujung cakar garuda yang
runcing. Ingin ia mengangkat muka dan menjungkir balikkan
tubuhnya ke belakang. Keinginan timbul dan bergeraklah Ji-ihsin-
kang sesuai dengan keinginan hatinya.
Serentak bergeraklah kepala Blo'on terangkat ke atas terus
melengkung ke belakang sehingga tubuhnya jungkir balik dan
melayang turun ke tanah gerakan itu dilakukan dengan cepat
sekali. Bagi tokoh2 silat yang melihatnya mengira Blo'on telah
lakukan gerak Thiat-pian kio atau Jembatar-besi gantung di
udara. Benar2 mereka terkejut karena selama ini belum
pernah terdapat ilmu silat semacam itu dan tak pernah melihat
tokoh silat yang mampu mainkan gerak Thiat-pian-kio di
udara.
Pengawal Baju Merah sendiripun tertegun. Ia menyangka
bahwa cakar garuda yang dipercaya pasti dapat menusuk
muka, ternyata harus menusuk angin lagi.
Krak ....
Tiba2 terdengar tulang berderak pecah dan disusul dengan
sosok tubuh yang menggelepar jatuh. Ternyata setelah berdiri,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dengan marah Blo’on segera menyapu kaki orang dengan
tongkatnya. Gerakan yang dilakukan secepat kilat itu tak
munglin dihindari pengawal Baju Merah yang masih terlongong2.
Akibatnya kedua kakinya telah remuk dan
orangnyapun tak mampu berdiri lagi.
Blo'on masih marah karena pengawal Baju Merah itu
menyerang dengan hebat. Ia menyusuli dengan sebuah
pukulan. Krek, punggung Pengawal Baju Merah itu remuk dan
orangnya pun terkapar di tanah se-lama2nya.
"Hebat ..” teriak Hoa Sin seraya maju menghampiri,
"engkau benar2 hebat sekali. Dari mana engkau mempelajari
ilmusilat yang sedemikian saktinya itu ?”'
Blo'on kerutkan dahi : "Siapa bilang aku mengerti ilmusilat
?"
"Bukankah barusan engkau memainkan jurus thiat-pian-kio
di udara ?*
“Thiat-piankio? Apa itu Thiat-pian-kio?"
"Thiat-pian-kio yalah jurus ilmusilat yang bergaya menekuk
tubuh ke belakang hingga kedua tangan menjamah tanah.
Jurus itu digunakan apabila menghadapi serangan dari dekat
yang berbahaya. Tetapi orang biasanya hanya mampu
menggunakan jurus itu di tanah, tidak di udara seperti yang
engkau mainkan tadi."
"Huh, siapa bilang aku menggunakan Thiat-pian-kio. Hanya
karena ngeri melihat ujung cakar yang tajam, tiba2 aku ingin
menghindar dan ternyata tubuhku bergerak sendiri
berjumpalitan ke belakang. Bukankah hal itu aneh ?*
Hoa Sin melongo. Kalau pemuda itu kurang normal
pikirannya, ia memang sudah tahu. Tetapi kalau pemuda itu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menganggap bahwa dia menggunakan jurus thian-pian-kio,
benar-benar dia tidak percaya karena jelas hal itu dilihatnya
sendiri.
"Kim kongcu." kata Hoa Sin sejenak kemudian,"maukah
engkau belajar silat ?"
"Buat apa ?" tanya Blo'on. "apakah untuk berkelahi dan
membunuh orang ?"
"Bukan" kata Hoa Sin, "tetapi banyak sekali gunanya,
terutama bagi kongcu. Dunia persilatan macam rimba, yang
kuat menang, yang lemah ditindas. Kita tak mencari
permusuhan, tetapi dengan memiliki ilmusilat, orang tentu tak
berani mengganggu kita."
"Dan kedua kalinya " kata ketua Kay-pang itu lebih lanjut,
"kongcu telah memiliki suatu tenaga-dalam yang aneh. Pada
hal kongcu tak dapat menggerakkan dan menyalurkan tenagadalam
itu. Ini berbahaya. Sewaktu-waktu kongcu marah kongcu
dapat membunuh orang."
"Ah, tidak", bantah Blo'on.
"Memang maksud kongcu tak membunuh, tetapi karena
kongcu tak mengerti bagaimana mengendalikan tenaga-dalam
itu, maka akibatnya sering menghancurkan orang."
"O," desus Blo'on, "jika begitu aku tak mau marah saja".
Ketua Kay-pang tersenyum . "Bukan begitu maksudku.
Jangan memaksa diri untuk tidak marah karena sering kita
dihadapi oleh tindakan dan peristiwa yang menimbulkan
kemarahan. Maka marahlah kalau perlu marah."
Tiba2 seorang pengawal Baju Merah yang lain bergerak
menghampiri. Seorang yang bertubuh lurus dan berjalan
dengan langkah yang gontai. Begitu tiba di muka Blo'on,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dengan tenang dia mengeluarkan sepasang pit atau pena dari
besi, ujungnya amat runcing, terus memain-mainkannya
beberapa saat.
"Apakah barang yang dibuat main2 orang itu pangcu ?'*
tanya Blo’on heran karena belum pernah melihat senjata
semacam itu.
"Itulah yang disebut siang-kong-pit atau sepasang pit baja”,
kata Hoa Sin.
"Apakah pit itu ?"
"Pit adalah alat untuk menulis. Sebenarnya tangkainya dari
bambu dan kepalanya dari bulu yang diikat. Sedang tintanya
terbuat daripada bak.”
"Tetapi pit dari pengawal Baju Merah itu terbuat daripada
baja semua. Apakah dapat dipergunakan untuk menulis ?"
"Ya." sahut Hoa Sin, "jika pit biasa untuk menulis di kertas
tapi kalau pit orang itu untuk menulis di tubuh orang."
"Tubuh orang ?" Blo'on terkejut, "celaka, orang itu tentu
akan dibaca lain orang, dijadikan seperti kitab".
Hoa Sin tertawa. Tapi ia terpaksa menghentikan tawanya
karena tiba2 pengawal Baju Merah itu menutukkan pit ke dada
Blo’on.
Tepat Hoa Sin menarik tangan Blo'on ke samping. Tetapi
secepat itu pula pengawal Baju Merah segera menyerangnya
pula dengan jurus son-liong-tham-cu atau sepasang nagaberebut-
mustika. Kedua pit ber-gerak2 memagut laksana
sepasang naga yang sedang bercanda, mengarah jalandarah
di tubuh lawan.
Hoa Sin terkejut sekali ia tak sempat menghindar ataupun
menangkis. Dalam saat2 yang berbahaya, ketua Kay pang itu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
masih sempat gunakan jurus thiat-pian-kio, menekuk tubuh ke
belakang hingga kedua tangan menjamah lantai lalu berguling
ke samping.
Tetapi pengawal Baju Merah ita tak mau memberi
kelonggaran. Bagaikan bayangan, iapun terus loncat
menyerang lagi dengan jurus song-Iiong-tho-lip atau sepasang
naga-menjulur-lidah. Bagaikan hujan mencurah, sepasang pit
itu menabur tubuh Hoa Sia yang masih berguling2 di tanah.
"Setan, jangan kurang ajar !”, teriak Blo'on yang melihat
Hoa Sin tak sempat bangun. Blo'on marah dan ayunkan
tangannya menghantam.
Pengawal Baju Merah Itu terkejut ketika dirinya dilanda
angin badai yang mengandung tenaga kuat sekali, ia hendak
mengisar langkah untuk menyongsongkan kedua pitnya,
tetapi, tenaga pukulan itu bukan alang kepalang hebatnya
sehingga pengawal Baju Merah itu terhuyung-huyung
beberapa langkah ke belakang.
Setelah dapat terdiri tegak, ia hendak beralih menyerang
Blo'on tetapi Hong ing yang sejak tadi tak pernah turun
gelanggang, saat itupun segera loncat menerjangnya.
Pengawal Baju Merahpun segera menyerang nona itu. Hong
ing gunakan gerak Setan-tanpa-bayangan untuk berlincahan
memutari lawan. Bermula Pengawal Baju Merah itu masih
dapat mainkan sepasang pitnya untuk menyerang tetapi lama
kelamaan ia terpaksa harus mengikuti gerak perputaran Hong
Ing yang makin lama makin cepat sehingga pengawal itu
bahkan malah harus melindungi diri dari serangan si nona.
Se-konyong2 pengawal itu bersuit nyaring dan tubuhnya
segera melambung ke udara berjumpalitan dan melayang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
turun di belakang Hong lng. Tetapi nona itu tak kalah
cepatnyapun segera menerjang lagi.
Pertempuran berjalan seru. Sebenarnya pengawal Baju
Merah itu juga lihay sekali. Sepasang pit Baja, dimainkan
seolah bunga api yang berhamburan di udara. Tetapi karena
Hong Ing menggunakan gerak Setan-tanpa-bayangan untuk
beberapa waktu, pengawal itu tak dapat mendesak si nona.
"Hoa pangcu,” tiba2 Blo’on bertanya, "siapakah pengawal
Baju Merah itu ?"
“Dia adalah Siang kong pit Wi Thian Cay dari Kanglam,
seorang tokoh aneh.”
"Bagaimana?" tanya Blo’on.
"Dia tak mau bergaul dengan orang persilatan, tak mau
masuk partai atau aliran persilatan manapun. Dia tak mau
memusuhi lain tokoh persilatan, tetapi apabila bentrok, dia tak
pernah berhenti untuk membalas dendam".
"Uh” Blo’on mendesuh.
"Kabarnya dia dahulu anak seorang pembesar kerajaan.
Tapi karena kesalahan maka, ayahnya dihukum mati. Sejak itu
ia bersama keluarganya pulang ke desanya dan tak mau
bergaul dengan orang. Orang2 persilatan memberi gelar Hense-
pit atau Pit pembenci-dunia kepadanya"
"Dia lihay atau tidak ?" Blo'on masih bertanya pula:
“Sepasang pit itu kabarnya, merupakan pusaka warisan dari
ayahnya yang dulu menjabat sebagai ciangkun (jenderal). Dan
ilmu permainan pit itu pun berasal dari ilmu warisan keluarga
Wi. Oleh karena wataknya yang aneh dan ilmunya yang sakti,
banyak orang persilatan yang tak mau mengganggunya.”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Sebenarnya jika Hong Ing mau bersabar, ia tentu dapat
menghabiskan tenaga lawan, Tetapi rupanya nona itu tak
sabar lagi. la malu hati apabila tak dapat merubuhkan
Pengawal Baju Merah.
Tiba2 ia berhenti berputar dan menyerang dengan pedang
dalam jurus Heng-sau jian kun atau Membabat seribu lasykar.
Pedang segera meluncur dahsyat, membabat kaki, pinggang
dan leher orang.
Tring, tring .....
Terdengar dering yang tajam ketika ujung pit baja itu
menutuk pedang. Pada tutukan kedua, pedang Hong li pun
jatuh ke tanah. Saat itu ia merasa pedang mengalirkan
semacam arus tenaga keras sekali sehingga tanpa dikuasai
lagi, ia lepaskan cekalannya.
“Celaka, anak perempuan itu terancam bahaya ... , " belum
sempat Pek l lojin menyelesaikan kata2nya, Hong Ing menjerit
dan ter-huyung2 beberapa langkah ke belakang lalu jatuh
terduduk di lantai.
Ternyata bahu nona itu terkena tutukan pit dari pengawal
Baju Merah. Pengawal itu segera maju menghampiri untuk
menyelesaikannya tetapi dia sudah diterjang oleh kakek LoKun
yang sudah pulih tenaganya.
Kakek Lo Kun marah karena melihat Hong Ing rubuh. Ia tak
peduli harus menyerang dengan jurus apa, pokoknya, asal
menyerang keras. Tetapi ia tak tahu bahwa permainan pit dari
Wi Thian Cay itu memang istimewa sekaii. Sambi! menyurut
mundur ia mengisar ke samping dan menutuk pergelangan
tangan kakek itu.
"Aduh ... * kakek itu me-lonjak2 dan menjerit2. "dia
membawa ular…. " tiba2 kakek Itu berhenti dan terus meraba
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pinggangnya. Ternyata ia teringat bahwa diapun memiliki ular
thiat-bi-coa. Terus ular itu dilolosnya.
Tetapi baru hendak diangkat, tiba2 tangannya sudah
dicengkeram orang. Dan kebetulan yang dicengkeram itu
adalah pergelangan tangan kanannya yang tertutuk pit tadi. Ia
menjerit lagi dan lepaskan ular thiat-bi coa.
"Bangsat ... "* ia berpaling dan ketika melibat yang
memegang itu Blo'on, ia tak melanjutkan makiannya.
"Mengapa engkau mencengkeram tanganku jang sakit ?'
kakek Lo Kun tetap marah.
"Aku mau pinjam ular thiat-bi-coa," kata Blo'on.
"Buat apa ... ?” belum kakek itu menghabiskan kata2-nya,
pengawal Baju Merah sudah bergerak menyerang. Ular thiatbi-
coa lalu dijulurkan ke dada orang.
Pengawai Baju Merah cepat menutukkan sebatang pit ke
mata ular itu tapi thiat-bi-coa memang ular yang hebat. Ia
mengerti kalau matanya hendak ditutuk. Bukan menyurut,
kebalikannya ular malah menjulur maju untuk menggigit dada
orang.
Pengawal Baju Merah itu terkejut dan terpaksa loncat
mundur. Kemudian ia putar sepasang pit dan maju menyerang
lagi.
Hong Ing hendak membabat pit kanan, tapi tiba2 Pengawal
Baju Merah itu membiarkannya saja, tring ..... begitu terjadi
benturan antara pedang dengan pit, secepat kilat pit di tangan
kiri pengawal Baju Merah itu segera menusuk bahu Hong Ing.
"Ih ... " Hong Ing mendesis seraya mundur ke belakang.
Lengan kanannya serasa kesemutan tak bertenaga lagi.
Hampir saja pedangnya terlepas jatuh, la hendak beralih
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
memegang dengan tangan kiri tapi dengan kecepatan yang
sukar dibayangkan pengawal Baju Merah itupun segera
menusuk bahu kiri si nona,
Kembali Hong Ing mendesis, terhuyung ke belakang, lengan
kirinya kesemutan dan pedangpun jatuh ke tanah.
Melihat itu Hoa Sin segera loncat menerjang pengawal itu.
Sekali gerak ia gunakan jurus Ok-to kau atau Imam-jahatmenggebuk-
anjirg, bum..! Rupanya pengawal Baju Merah itu
tahu akan kedahsyatan serangan tongkat maka cepat ia loncat
mundur sehingga tongkat Hoa Sin menghantam lantai
panggung. Lantai hancur ber-keping2 .....
Setelah mundur, pengawal Baju Merah itupun mainkan
sepasang pit lagi untuk menyerang. Hoa Sin memutar
tongkatnya. Tring, tring ..... setiap tongkat menyambar tentu
disambut dengan ujung pit sehingga Hoa Sin rasakan
tangannya bergetar.
Ketua Kay-pang itu terkejut. Cepat ia mengetahui bahwa
lawan memiliki tenaga dalam yang hebat di samping sepasang
pit yang luar biasa. Tetapi sebagai ketua sebuah partai
persilatan sebesar Kay pang. Hoa Sin tak mau unjuk
kelemahan. Ilmu permainan tongkat Bak kau pang yang terdiri
dari dua pu!uh delapan jurus segera dimainkan dengan hebat.
Untuk sementara pertandingan berjalan seru dan sengit.
Sepintas pandang, Hoa Sin dapat mendesak lawan dengan
serangan2 yang gencar dan keras. Pengawal Baju Merah
Siang-kong-pit Wi Thian Gay, hanya dapat bertahan.
Setelah menginjak jurus ke duapuluh, tiba2 Hoa Sin
lancarkan serangan dalam jurus Kau yau-lu-tong-pin atau
Anjing-menggigit-dewi-Lu Tong Pin. Ujung tongkat
berhamburan menusuk kaki lawan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Sesungguhnya karena lawan mengarah bagian bawah.
Siang-kong-pit Wi Thian-cay dapat menyentuh muka lawan.
Tetapi sayang senjata pit kalah panjang dengan tongkat Bakkau-
pang. Terpaksa pengawal Baju Merah itu harus
berlincahan kian kemari sambil menghalau dengan sepasang
pit. Setelah jurus Kau yau Lu-tong-pin, Hoa Sin lanjutkan
dengan jurus Kau-niau-cau-jiu atau anjing-kencingmencengkeram
-pohon.
Jurus ini memang aneh sesuai dengan sifat Hoa Sin yang
gemar berolok-olok. Dia menciptakannya sendiri sampai
beberapa tahun dan akhirnya mendapatkan sebuah permainan
tongkat yang diberi nama aneh.
Tongkat berhamburan mengarah pinggang lawan sedang
jarinya mengimbangi untuk menusuk mata.
Tetapi pengawal Baju Merah itupun segera ganti jurus
Hong-u-boan thian atau Angin hujan mencurah dari langit.
Sepasang pit diputar menjadi ribuan sinar yang berhamburan
mencurah ke arah lawan.
Dalam pada itu Ceng Siang, Hong Hong tojin dan Lo Kun
pun sudah berbangkit. Demikian pula dengan Sian Li. Sedang
Hon Ing saat itu sedang diurut oteh Pek I lojin Tak berapa
lama nona itupun sudah dapat bergerak lagi.
“Lo-cianpwe," kata Hong Ing setelah menghaturkan terima
kasih “…. sepasang pit dari pengawal Baju Merah itu lihai
sekali."
„Ah, sebenarnya nona dapat melayani dia." kata Pek I lojin,
"sayang nona terburu nafsu hendak mengalahkan. Eh, ilmu
apa yang nona mainkan untuk mengitari orarg itu tadi?"
"Itulah yang disebut gerak langkah Setan-tanpa-bayangan.
"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"O, hebat sekali. Pernah kulihat seorang jago yang dapat
bergerak seperti bayangan sehingga sukar dilihat apalagi
ditangkap.”
“O, tentulah Bu Ing lojin!' seru Hong Ing.
„Siapa Bu Ing lojin itu?" Pek I lojin menegas.
"Dia seorang tokoh persilatan yang sakti. Tetapi jarang mau
mengunjuk diri."
„Adakah ilmu kepandaian nona itu juga sama dengan yang
dimainkan Bu Ing lojin?" tanya Pek I lojin pula.
"Benar," sahut Hong Ing, „beliau adalah guruku yang
terakhir."
„O," desuh Peng I lojin, „apakah sebelumnya nona juga
sudah berguru?"
"Aku seorang murid dari Hoa-san-pay. Karena hendak
mencari orang yang membunuh suhu, maka aku sampai turun
gunung dan akhirnya bertemu dengan Bu ing lojin. *
"Siapakah yang membunuh suhumu? Tanya Pek I lojin.
"Kemungkinan besar tentu pemuda itu" Hong Ing menunjuk
pada pemuda gundul.
" Blo'on?" Pek I lojin mengulang kaget.
„Ya, Blo'on, " kata Wong Ing, “karena hanya dia yang
berada di dalam guha dimana suhu terbunuh"
" Lalu…. Bagaimana tindakan nona? *
„Setelah urusan disini selesai, aku tentu akan selesaikan
perhitungan dengan Blo’on, " kata Hong Ing.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ah….” Pek I lojin menghela napas, “menilik gerak geriknya,
kemungkinan besar tentu bukan anak itu yang melakukan
pembunuhan...... "
Baru berkata, begitu, di gelanggang pertempuran telah
terjadi perobahan. Pengawal Baju Merah dapat penutuk
tongkat Hoa Sin dengan pit di tangan kiri menusuk dada ketua
Kay-pang.
Hoa Sin terkejut sekali. Dalam keadaan terdesak, dia buang
tubuh ke belakang dalam gerak Thiat-pian-kio atau Jembatanbesi
gantung. Selekas tangan menjamah tanah, kaki kiri
segera memancat tanah disusul dengan kaki kanan bergerak
menendang tangan lawan, krak.....tendangan sambil
berjungkir balik itu menghasilkan terlemparnya pit di tangan
kiri lawan. Pengwal Baju Merah itu mendesis dan menyurut
mundur untuk mengejar pit yang terlempar ke udara. Tetapi
sekonyong-konyong, seutas tali panjang telah meluncur dan
menyambar pit itu. Tangan pengawal Baju Merah menangkap
angin dan tali serta pit itu pun jatuh ke tanah.
Pengawal Baju Merah terkejut. Cepat ia berputar tubuh
hendak menjemput pit yang menggeletak di lantai tetapi tiba2
tali itu bergerak-gerak menyambar tangannya. Kembali
pengawal Baju Merah itu loncat mundur.
Ternyata tali itu bukan tali biasa melainkan ular thiat bi-coa
yang dilemparkan kakek Lo Kun.
Ular thiat-bi-coa memang seekor ular yang cerdas. Ketika
dilontarkan kakek Lo Kun, ia mengerti apa perintah tuannya.
Disambarnya pit dari Wi thian Cay itu. Dan ketika mendengar
kakek Lo Kun bersuit, ia pun tahu bagaimana harus bertindak.
Suitan dari kakek Lo Kun itu memang beberapa macam,
panjang, pendek, satu kali atau dua kali atau tiga sampai
empat kali, masing2 mempunyai arti sendiri. Karena kakek Lo
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kun bersuit panjang satu kali, maka ular thiat bi-coa lalu
menggerakkan kepala dan menyerang pengawal Baju Mlerah
itu.
Dalam pada itu setelah berjungkir balik, Hoa Ing pun berdiri
tegak pula. Ia tak mau menyerang pengawal Baju Merah yang
saat itu sedang menghadapi ular thiat-bi-coa. la menghampiri
kakek Lo Kun dan membisiki. Tiba2 kakek itu bersuit pula.
Pengawal Baju Merah benar2 kewalahan mengusir ular
thiat-bi-coa. Berulang kali pit mengenai tubuh ular, tetapi
binatang itu hanya terdorong jatuh lalu menyerang lagi, Saat
itu pengawal Baju Merah sedang loncat menghindar tetapi
ketika mendengar suitan kakek Lo Kun, ular thiat-bi-coa tak
mau menyerang melainkan menyurut mundur menyambar pit
dan meluncur ke tempat kakek. Lo Kun.
Tengah pengawal Baju Merah tertegun. Hoa San sudah
loncat di hadapannya.
"Hayo, kita lanjutkan lagi pertempuran tadi yang belum
selesai,” seru ketua Kay-pang seraya terus menyerang.
Rupanya ketua Kaypang itu hendak menebus kekalahannya
tadi. Sebenarnya dia tak kalah karena walaupun tongkatnya
jatuh tetapi diapun dapat menendang jatuh sebatang pit
lawan. Kini dia tak mau menggunakan tongkatnya lagi,
melainkan menyerang dengan tangan kosong.
Demikian segera terjadi pertempuran yang seru. Karena pit
di tangan kiri lepas maka pengawal Baju Merah itu kini
menggunakan jari tangan kirinya untuk menutuk.
Hoa Sin memang tak kecewa digelari orang persilatan
sebagai Pengemis sakti. Karena selain berilmu silat tinggi, pun
dia memiliki kecerdasan otak yang tajam. Dia gemar untuk
merubah beberapa ilmu silat antara lain ilmu tongkat Hak kau
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pang. Juga dalam ilmu pukulan, iapun menciptakan atau
tepatnya mengubah sebuah ilmu pukulan.
Setelah mempelajari ilmu pendengaran Thing-hong pian ki
atau Mendengar-angin- membedakan-senjata, ia mendapat
ilham untuk menciptakan sebuah pukulan. Sumber pukulan itu
dari ilmu pukulan Pat-kwa-ciang tetapi dikombinasikan dengan
gerak Thing-bong-pian-ki. Jika dalam dunia persilatan terdapat
ilmu pukulan Co-kut-hun-ki-ciang atau Pukulan-membaliktulang-
memisah nadi, diapun menamakan ilmu pukulan
ciptaannya itu dengan nama Kau-ciau put-yau atau Anjing
menggonggong-tanda-tak menggigit.
Dalam memberi nama pukulan ciptaannya, ia senang
memakai kata anjing. Bahkan ada sebuah ilmu pukulan yang
diberi nama Bak-kau-ciang atau ilmu pukulan Menggebukanjing.
Segera ia kembangkan ilmu pukulan ciptaannya itu. Kau
ciau-put yau atau Anjing menggonggong tanda tak menggigit,
cepat mengejutkan pengawal Baju Merah. Karena berulang
kali pengawal Baju Merah itu mendengar deru pukulan
melanda dari arah kanan tetapi tahu2 lambung kirinya yang
diserang. Atau mendengar deru pukulan menimpa kepala
tahu2 bagian perutnya yang disodok. Serangan2 aneh itu
membuat dia bingung sehingga untuk beberapa saat, dia
hanya bertahan tak mampu melakukan serangan balasan.
Hon Sin tak mau memberi kesempatan lagi. Menginjak pada
jurus kelima, ia berhasil menyesatkan perhatian lawan dan
crek…. ujung jarinya tepat dapat menutuk jalan-darah pada
pergelangan tangan kanan lawan. Pengawal Baju Merah ini tak
kuasa lagi memegang pitnya. Ia hendak meloncat mundur dan
lepaskan pit yang tinggal satu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kini keduanya sama2 bertempur dengan tangan kosong.
Siang-kong-pit Wi Thian Cay hanya lihay jika bermain dengan
sepasang pit. Tetapi setelah senjatanya jatuh, ia tak mampu
berbuat banyak terhadap Hoa Sin.
Dalam sebuah gerak tipu yang tak terduga-duga. Hoa Sin
berhasil mengirim sebuah tendangan yang tepat mengenai
bawah perut lawan. Pengawal Baju Merah itu terhuyung
membungkuk bungkuk dan jatuh terduduk.
Karena gemas, Hong Ing terus lari hendak menabasnya
tetapi dicegah Hoa Sin: "Jangan, nona biarkan dia hidup. Dia
sudah cukup menderita menjadi pengawal Thian tong kau
disini.”
"Wah. hebat sekali ilmusilat pangcu!" tiba2 Blo'on
menghampiri dan memuji.
"Maukah kongcu mempelajarinya?" kesempatan itu
digunakan Hoa Sin untuk menganjurkan supaya Blo'on mau
belajar silat.
Tetapi pemuda gundul itu gelengkan kepala : “Buat apa ?
Orang belajar silat tentu harus menyiksa diri untuk berlatih
keras. Padahal aku tak dapat mengingat apa2."
Dalam pada itu Ceng Siang suthay, Hong Hong tojin dan
SianLi pun sudah berbangkit.
"Aneh," tiba2 Ceng Sian suthay berkata.
“Mengapa?”, Hoa Sin terkejut.
“Sejak pertempuran berlangsung sampai sekian lama
mengapa Pang To Tik tak tampak batang hidungnya?
Kemanakah gerangan dia?"
Hoa Sin dan Hong Hong lojin seperti disadarkan. Memang
sejak loncat ke atas panggung dengan alasan hendak
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
mengacau bagian dalam Thian tong kau, Pang To Tik sudah
tak muncul lagi.
Tetapi belum sempat mereka melanjutkan dugaannya, tiba2
seorang pengawal Baju Merah melangkah maju menghampiri.
Karena yang berada paling depan adalah kakek Lo Kun yang
sedang melilitkan ular thiat-bi-coa ke pinggangnya, pengawal
Baju Merah itupun segera menyerangnya.
W ut ..... tahu2 pengawal Baju Merah yang bertubuh tinggi
besar itu sudah ayunkan sebuah senjata istimewa
menghantam kepala Lo Kun. Senjata itu berbentuk seperti
orang, besarnya sama dengan seorang anak kecil, terbuat dari
bahan besi jang berat. Ketika diayun menimbulkan deru angin
yang keras sekali.
Lo Kun masih menundukkan kepala untuk libatkan ular
kepinggang. Tampaknya dia tak, tahu dan tak mengacuhkan
senjata aneh dari pengawal Baju Merah itu.
"Kakek, awas kepalamu!”, serentak Sian Li menjerit.
"Uh ... " tiba2 kakek itu mendesuh kaget dan tahu2
tubuhnya terlempar sampai dua tombak, 'Buk ... ia terlempar
jatuh kelantai. Ia melenting bangun dan marah : "Hai, Blo'on.
engkau benar2 kurang ajar sekali ! Mengapa engkau
mendorong aku sampai jatuh ?"
"Jagan salah faham kakek." seru Sian Li, “lihat Pengawal
Baju Merah itu, “kalau tak didorong suko, engkau tentu sudah
terluka."
"Ya. kutahu." kata kakek Lo Kun.
Sian Li tertegun. Kalau sudah tahu mengapa kakek itu
marah. Tetapi ia tak mau berbantah karena saat itu Blo'on
sudah diserang oleh pengawal Baju Merah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Senjata yang berbentuk seperti orang2an dari pengawal
Baju Merah itu disebut Thong-jin pang atau Gada Orangtembaga.
Beratnya tak kurang dari seratus kati.
Rupanya ngeri juga Blo'on melihat kedahsyatan senjata itu.
Ia loncat mundur untuk menghindar.
Berpikir Hoa Sin: “Jika Blo'on yang maju, dikuatirkan anak
itu hanya menirukan saja semua gerak lawan. Pada hal anak
itu tak memiliki senjata yang seberat milik lawan. Dan apabila
sampai salah gerak, berbahaya sekali akibatnya. Tubuh tentu
akan hancur. Begitu pula kalau kakek Lo Kun yang maju. Jika
Ceng Sian suthay atau Hong Hong lojin, kedua tokoh itu juga
tak punya senjata yang berat. Ah, lebih baik dia saja. Akhirnya
Hoa. Sin memutuskan. Tetapi sebelum ia sempat bergerak,
Sian li sudah loncat menyambut pengawal Baju Merah itu.
Hoa Sin hendak mencegah tetapi saat itu pengawal Baju
Merah sudah menyerang Sian li.
Sian Li menghindar lalu menerjang. Ia menggunakan siasat
menghindar dan menerjang karena tahu bahwa adu kekerasan
dengan senjata yang sedemikian berat tentu akan kalah.
"Lojin, siapakah orang itu?" tanya Hoa Sin kepada Pek I
lojin.
"Dia adalah Toh-hun-ki jin Uwat Lo Seng yang pernah
menggemparkan dunia persilatan," kata Pek I lojin. "pernah
dia seorang diri mengamuk pasukan Goan dalam kubu
sehingga prajurit2 Goan banyak yang mati, terluka dan
melarikan diri. Dia orang limbung tetapi sebenarnya berhati
jujur. Sayang dia agak tolol sehingga sering diperalat orang2
jahat. Misalnya, pernah dia disuruh masuk ke hutan. Katanya
di dalam sebuah gua terdapat harta karun. Tetapi setelah dia
masuk yang didapat bukan harta melainkan seekor ular besar.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tetapi berkat tenaganya yang kuat dan senjatanya yang
ampuh, dia berhasil membunuh ular naga itu."
"Murid siapakah dia itu ?" tanya Hoa Sin.
"Tentang gurunya, tiada seorangpun yang tahu.
Kemungkinan dia tentu bertemu dengan seorang sakti yang
memberinya pelajaran silat. Tatapi orang sakti itu tak mau
memberitahu namanya,," menerangkan Pek I lojin.
Hoa Sin merenung. Diam2 ia mencemaskan keselamatan
Sian Li. Ia mencari akal bagaimana hendak membantu nona
itu.
Tetapi Sian Li sudah bertekad untuk memenangkan
pertempuran itu. Ia kembangkan ilmu pedang Giok-li-kiam
yang mengutamakan kelincahan , kecepatan dan ketepatan.
Diam2 dia menganggap bahwa kepandaian orang tinggi besar
itu tak berapa tinggi. Dia hanya mengandalkan tenaganya
yang luar biasa kuatnya.
Giok li-san-hoa atau Bidadari menabur bunga, merupakan
jurus yang indah dan sulit dihindari lawan mulai dikembangkan
Sian Li. Tetapi karena dia tak berani adu kekerasan, maka
setiap tusukan yang seharusnya dilancarkan penuh terpaksa
setengah jalan harus ditarik pulang.
Tiba2 pengawal Baju Merah itu merobah jurus
permainannya. thong-jin-pang diputar sederas angin puyuh,
hingga anginnya sampai menimbulkan suara menderu dan
tamparan yang menebar ke empat penjuru. Pakaian dari
tokoh2 yang berada di sekeliling tempat itu sampai berkibaran.
„Sumoay, mundur!" seru Blo'on melihat Sian Li mandi
keringat. Tetapi Sian Li sudah bertekad hendak mengalahkan
lawan, la tak memperdulikan seruan sokonya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
“Jika engkau tak mau mundur, aku tak ikut maju," tiba2
Blo’on berseru pula.
Sian Li terkejut. Ia tahu watak sukonya. Sekali bilang tentu
akan dilaksanakan. Padahal sukonya itu tak membekal senjata.
Tiba2 Blo'on menghampiri Hoa Sin dan berkata: "Hoa
pangcu, tolong pinjam tongkatmu"
"Buat apa -!"
"Apakah tongkatmu itu tahan beradu dengan senjata orang
baju merah itu ?”
Hoa Sin tertawa . “Jangan kuatir. Tongkat itu adalah
lambang jiwa pemiliknya. Tongkat masih utuh, pemiliknyapun
masih hidup. Tongkat putus, putuslah jiwa pemiliknya.”
Baru ketua Kay-pang itu berkata begitu, pengawal Baju
Merah bersenjata gada, sudah menghampiri.
"Cepat pangcu," Blo'on segera menyambar tongkat ketua
Kay-pang. Tepat pada saat itu Gwat Lo Seng sudah ayunkan
gadanya.
Blo'on marah melihat kekasaran orang itu. Diapun juga ikut
mengayunkan tongkat Bak kau-pang untuk menangkis,
tring….. gada yang beratnya seratusan kati terpental
membawa orangnya ikut tersurut mundur.
Pengawal Baju Merah itu tertegun. Tampak rupanya ia
terkejut. Sesaat kemudian ia maju lagi dan terus menyerang
Blo'on. la segera menirukan semua gerakan lawan. Berderingdering
bunyi kedua benda yang keras itu melengking nyaring.
Rupanya pengawal Baju Merah itu makin penasaran. Ia
pergencar serangannya tetapi tetap sia2. Kemana dan
betapapun gada bergerak tentu selalu disambut oleh tongkat
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo’on. Karena marah, mulut pengawal Baju Merah itu sampai
mendengus dengus seperti kerbau lari.
Ternyata tadi karena menerima serangan yang berbahaya
Sian li loncat keluar gelanggang, maka pengawal Baju Merah
itu segera berganti mengganyang Blo’on. Tetapi kali ini dia
ketemu batunya.
Melihat sukonya sudah menunjukkan ilmu latah yang aneh,
Sian Li timbul pikiran baru. “Jika sukonya menggunakan
pedang Pek liong kiam, bukankah gada lawannya akan
terpapas putus.”
"Ya, benar,"* pikirnya lebih mantap, "tetapi bagaimana cara
untuk memberikan pedang Pek-liong kiam ini kepadanya ?”
"Suko,” akhirnya ia coba untuk memanggil Blo’on, “pakailah
pedang Pek liong-kiam ini untuk memapas senjata orang itu.”
Blo'on diam saja.
"Suko!" teriak Sian Li pula, "pakaian pedangku ini, biar
senjata lawanmu terbabat."
''Tidak perlu," sahut Blo'on.
"Mengapa, suko ?"
"Aku senang dengan tongkat dari Hoa pangcu ini, walaupun
hanya tongkat penggebuk anjing tetapi dapat menahan gada
yang besar.’
“Suko …....," baru Sian Ll berseru demikian tiba2 pengawal
Baju Merah itu taburkan gadanya ke arah Blo’on. Melihat itu
Blo’on pun melontarkan tongkatnya. Tring…, terdengar
letupan keras ketika kedua senjata itu saling berbentur lalu
jatuh menghantam lantai papan sehingga pecah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pengawal itu terus hendak mengambil gadanya tapi
sekoyong-konyong Blo'on loncat menubruk dan memeluknya.
"Uh ... uh ....pengawal Baju Merah itu mendengus dan
mendesuh serta berusaha untuk meronta tetapi bagaimanapun
ia berontak dengan seluruh tenaganya tetap tak mampu
melepaskan diri dari pelukan Blo'on. Pengawal itu merasa
seperti didekap oleh sepasang tangan yang aneh. Makin ia
meronta, makin tangan Blo'on itu mengunci keras, makin
kedua lengan Blo'on mengencang dan memancarkan tenaga
yang besar.
Itulah keistimewaan dari tenaga-dalam Ji-ih-sin-kang yang
jarang terdapat di dunia persilatan.
Akhirnya pengawal Baju Merah itu kewalahan dan
kehabisan tenaga. Dia diam saja. Eh tiba2 merasa kedua,
lengan Blo'on itupun lemas seperti tak bertenaga. Diam2 ia
menghimpun tenaga dalam lagi dan huh .... sekali
menggembor ia memberontak sekuat kuatnya.
Karena terkejut Blo'on melonjak dan melambunglah
tubuhnya sampai setombak tingginya dengan masih
mendekap pengawai itu.
Sorak gempar terdengar dari mulut tokoh2 ketua partai
persilatan, Sian Li, Hong Ing bahkan Pek I lojin.
"Hai, Blo'on hendak engkau terbangkan kemana orang itu,”
teriak kakek Lo Kun yang ikut terkejut karena melihat Blo'on
terbang membawa pengawal Baju Merah.
Bummmmm .... keduanya meluncur ke bawah lagi. Karena
masih dipeluk Blo'on, Pengawai Baju Merah itu tak dapat
berbuat apa2 kecuali menurut saja pada Blo'on yang meluncur
turun. Dan lebih celaka adalah jatuhnya pengawal itu. Ketika
menginjak lantai, Blo’on tergelincir jatuh ke muka menindih
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pengawal itu. Sudah tentu pengawal itu meringis kesakitan
dan karena geram tak dapat melepaskan diri dari dekapan
Blo’on, tiba2 ia nekad dan menggigit tangan Blo'on.
"Aduh .... !” Blo’on menjerit kesakitan. Tanpa disadari ia
layangkan tangan kirinya menabok kepala orang itu, plak….
Seketika orang itupun tak ingat diri.
Baru Blo'on berdiri, seorang pengawal Baju Merah sudah
maju pula dan terus sabitkan sebatang pedang bengkok ke
arah Blo’on.
“Awas, suko!" seru Sian Li memberi peringatan.
Blo'on memang sudah tahu. Ia pun segera menundukkan
kepala sehingga pedang bengkok itu pun melayang lewat di
atas kepalanya. Tetapi baru saja Blo'on menegakkan kepala,
dan belakang pedang bengkok itu tiba2 berputar balik dan
menyambar kepalanya lagi. Kembali Sian Li meneriaki sukonya
dan Blo'onpun menundukkan kepalanya pula.
Luput menyambar kepala, pedang bengkok itupun
melayang kembali kepada pengawal Baju Merah yang segera
menyambutnya, lalu melontarkannya lagi. Bahwa setelah
mengirim pedang bengkok itu lagi, tangan kiri pengawal Baju
Merah itu pun melayangkan sebilah pedang bengkok lain.
Kini Blo'on diserang oleh dua batang pedang terbang. Yang
satu mengarah kepala dan yang satu mengarah kaki. jika
Blo'on hanya menundukkan kepala, kakinya tentu termakan
pedang bengkok itu.
Untunglah ketika melihat bahaya. timbul pikiran Blo'on
untuk merebahkan diri di lantai sehingga kedua pedang
bengkok itu tak mengenai sasaran. Pun baru saja BIo'on
hendak bangun, kedua pedang bengkok yang satu dari kanan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dan yang satu dari kiri, melayang balik - arahnya pun sama,
menyerang kepala dan kaki. Terpaksa Blo’on rebah lagi.
Kedua pedang bengkok itupun melayang kembali kepada
pengawal Baju Merah tetapi masih tiga empat langkah
jaraknya, pengawal Baju Merah itu tiba2 dorongkan sepasang
tangannya dan kedua pedang itupun segera melayang ke arah
Blo'on lagi.
Saat ita baru saja Blo'on hendak bangun atau dia harus
rebah lagi untuk menghindar. Tiba2 pengawal Baju Merah itu
mengambil dua batang pedang bengkok lagi dan terus
disabitkan ke arah leher dan perut Blo'on.
Sesaat kedua pedang itu melayang, kedua pedang yang
menyambar pertama tadipun sudah melayang balik dan
disambuti. Kemudian dilemparkan lagi tepat pada saat kedua
pedang lontaran kedua melayang balik. Dengan demikian
pulang balik pengawal Baju Merah itu bergantian menyambut
dan melontarkan lagi dua pasang pedang bengkok.
Blo'on mati kutu. Dia tak dapat bangun karena di atas
tubuhnya selalu terdapat dua batang pedang yang melalu
lalang.
"Siapakah tokoh itu, lo-cianpwe," Sian Li berpaling dan
bertanya kepada Pek I lojin.
“Kalau tak salah," Pek I lojin kerutkan dahi seperti sedang
mengingat-ingat, "dulu di daerah Biau terdapat seorang
pendekar yang sakti. Entah darimana diperolehnya, tetapi dia
memiliki ilmu kepandaian melontar pedang bengkok secara
istimewa sekali. Dikata istimewa karena sekaligus dia dapat
melepaskan tujuh batang pedang. Ketujuh pedang itu dapat
dikuasainya dilontar-Iontarkan seperti anak kecil bermain-main
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
karena setiap kali dilontarkan pedang itu tentu melayang
kembali kepadanya.
"Ah, benar2 aneh sekali dan banyak ragamnya ilmu
kepandaian silat dalam dunia persilatan itu. Apakah dunia
persilatan di Tionggoan tiada tokoh yang mampu melontarkan
pedang seperti itu?" tanya Sian Li.
"Ada," sahut Pek I lojin, "ada seorang paderi dari gereja
Siau-lim-si yang hidup seratus tahun yang lalu. Ketika dia
masih hidup dia dapat melontarkan pedang dan
menguasainya. Tetapi kepandaian itu berdasarkan ilmu
tenaga-dalam yang sempurna sehingga dapat mencapai ilmu
pedang terbang."
"Dan saat ini, siapakah yacg dapat melakukan hal itu ?"
tanya Sian Li.
"Aku belum mendengar,"' jawab Pek I lojin. tapi seperti
yang kukatakan masih banyak tokoh2 ahIi yang tak mau unjuk
diri melainkan suka mengasingkan diri dari dunia persilatan.”
"Lo-cianpwe," kata Sian Li mulai cemas, "lalu bagaimana
dengan suko nanti ? Bukankah dia akan celaka nanti?”
„Jika dia mempunyai pedang pusaka, tentu dapat manyapu
pedang bengkok lawannya.”
“Jika begitu, biarlah dia memakai pedangku,” seru Sian Li,
lalu mencabut pedang Pek liong-kiam. Tetapi ketika berpaling
hendak meneriaki Blo'on, ia terkejut sekali.
Saat itu pengawal Baju Merah telah melepaskan lima
batang pedang bengkok. Karena selalu tak dapat bangun
akhirnya Blo'on jengkel dan melenting.
Dalam keadaan tubuh masih rebah seperti orang tidur,
Blo'onpun melambung ke atas sampai dua tombak tingginya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tiba2 pengawal Baju Merah itu lepaskan pula pedang
bengkok yang ketujuh ....
Jilid 39.
Melihat Blo'on terancam oleh tujuh batang pedang terbang
yang dilepas oleh pengawal Baju Merah, menjeritlah Sian Li.
"Hai, hati-hati!" tiba2 Pek I lojin ikut menjerit seraya
mengangkat kedua tangannya seperti orang yang bersikap
kaget.
Hoa Sin, Ong Sian dan Hong Hong juga terkejut tetapi
mereka tak keburu menolong.
Tiba2 suatu peristiwa aneh terjadi. Pedang bengkok terakhir
yang dilepas pengawal Baju Merah itu entah bagaimana, tahu2
menjadi lambat jalannya. Dan tahu kalau dirinya akan
diganyang dengan pedang, Blo'on bergeliatan sembari
menendang.
Plak.....
Pedang bengkok yang ketujuh itupun tertendang dan
mencelat ke udara. Dalam pada itu keenam batang pedang
bengkok yang lain pun silih berganti menyambar tubuh Blo'on.
Rasa takut yang membangkitkan rasa kejut kemudian
meningkat menjadi rasa marah atas perbuatan orang yang
telah menghujamnya dengan tujuh batang pedang, membuat
Blo'on ingin untuk menangkis serangan pedang itu. Maka
iapun segera berjumpalitan di udara sembari menyapu setiap
pedang yang menyambarnya.
Tring, tring, tring .....
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Enam batang pedang bengkok itu sesungguhnya luar biasa
sekali. Dengan dikendalikan oleh tenaga-dalam dari pengawal
Baju Merah itu, ketujuh pedang bengkok itu dapat menghindar
dan menyambar. Seperti halnya waktu Blo’on masih berada di
tanah tadi. Berulang kali dia hendak mengangkat tubuh untuk
menghindar selalu pedang bengkok itu mengejarnya.
Tetapi anehnya, ketika melayang di udara Blo'on dapat
berjumpalitan dapat pula membabat serangan pedang
bengkok. Dengan pedang Pek-liong-kiam yang luar biasa
tajamnya, keenam pedang bengkok itu terbabat putus semua.
Kemudian dengan gaya mirip burung belibis melayang ke
tanah, Blo'onpun segera meluncur turun.
Tempik sorak yang gegap gempita segera, berhamburan
dari tokoh2 ketua persilatan yang menyaksikan permainan
Blo'on itu. Bahkan kakek Lo Kun segera lari merghampiri dan
ngok .... ia mengecup pipi Blo’on dengan keras.
“ Aduh ..... ! " Blo'on menjerit seraya mendorong tubuh
kakek itu, “mengapa engkau menggigit pipiku?"
Kakek itu tercengang, serunya: " Siapa yang menggigit?
Aku mencium pipimu."
“Masakan mencium pakai gigi?" Blo'on bersungut-sungut.
“O, anak goblok," seru kakek Lo Kun, “ciuman itu berbagai
macam. Mencium dengan hidung tanda kasih, mencium
dengan mulut tanda cinta, mencium dengan gigi tanda mesra.
Eh apakah engkau sakit?"
Sambil mengusap pipinya yang membekas gigi kakek Lo
Kun, Blo'on menggeram: “Kalau tidak sakit masakan aku
menjerit? Untung cepat2 kudorong, kalau tidak, mungkin
pipiku tentu terluka!"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
“Jika begitu, apakah aku dulu salah " kakek Lo Kun
terlongong-longong.
“Apakah muksudmu?” tegur Blo'on.
“Dahulu ketika mencium calon pengantinku, memang
kugigit dengan gigi, diapun menjerit dan menampar pipiku.
Aku tertawa girang karena kalau seorang nona cantik itu
menampar pipi, itu tanda cinta. Karena gadis tak mungkin
mau mencium seperti orang laki.“
"Sudah tentu nona itu marah," desuh Blo'on "siapa yang
mau dicium mulutnya dengan digigit pakai gigi. Bisa putus
atau paling tidak berdarah bibirnya."
Mendengar ocehan kakek limbung dan pemuda blo'on itu,
para ketua partai persilatanpun tertawa. Bahkan Hoa Sin,
ketua Kay-pang yang suka bergurau, tertawa geli.
"Kalau dekat dengan kakek itu, umur bisa panjang karena
orang terus tertawa saja," serunya.
Tetapi kakek Lo Kun itu tak menghiraukan mereka. Ia
melanjutkan pertanyaan kepada Blo'on: "Eh. Blo'on, jangan
coba mengajari orang tua. Lalu bagaimana cara engkau
mencium kekasihmu atau pun calon pengantinmu kelak?"
Blo'on terlongong.
"Soal itu aku belum tahu karena aku belum pernah
mencium anak perempuan dan belum punya pengantin. Tetapi
yang jelas, kalau mencium ya hanya pakai hidung atau mulut
tidak pakai menggigit segala."
"Kurang mesra !" teriak kakek Lo Kun, "kalau dalam soal
bercinta dengan wanita, kakekmu ini seorang jagoan. Sudah
berapa banyak wanita2 yang sekali kucium tentu ketagihan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dan selalu minta kucium lagi. Karena terlalu mengobral
ciuman, nih, lihatlah gigiku sampai ompong.”
Pecah gelak tertawa pula ketika para tokoh2 persilatan
mendengar uraian kakek Lo Kun.
“Kakek, sekarang baru ketahuan mengapa pengantinmu
dulu dilarikan orang. Dia bukan dilarikan tetapi memang ikut
lari dengan orang lain karena dia tentu tak suka kepadamu.
Dia tentu kuatir bibir, hidung dan pipi habis engkau makan, hi,
hi, hi .....” tiba2 Sian Li menyelutuk dan tertawa mengikik.
“Hus, anak perempuan," teriak Lo Kun, “jangan engkau
tertawa-tawa dulu. Kelak kalau suamimu menggigit bibir dan
hidungmu, baru engkau tahu rasa. Kasih tahu kalau engkau
sudah mendapat kekasih, nanti biar kuajarkan dia bagaimana
mencium."
Sian Li merah wajahnya tetapi beberapa tokoh persilatan itu
tertawa.
Tiba2 pengawal Baju Merah atau pendekar dari Biau itu,
maju menghampiri Blo'on lalu menyerangnya dengan pedang.
Pedang itu tipis sekali dan permainan orang itupun luar biasa
cepatnya.
Blo'on terkejut dan loncat mundur. Kakek Lo Kun maju
menyongsong dengan pukulan.
“Gila, mundurlah!" Hoa Sin cepat membertak dan menarik
bahu kakek itu ke belakang. Terlambat sedikit saja, tangan Lo
Kun tentu kutung.
Sebenarnya sehabis menarik bahu kakek Lo Kun, Hoa Sin
terus hendak menyerang dengan tongkat Bak-kau-pang tetapi
ternyata kakek Lo Kun itu salah mengerti. Dia marah. Begitu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hoa Sin hendak maju, dia terus menarik ujung pinggang baju
Hoa Sin: "Mundur serunya.
Saat itu pengawal Baju Merah sedang mengayunkan
pedangnya yang tajam, tetapi karena Hoa Sin ditarik mundur
kakek Lo Kun, tabasan itupun luput.
Setelah menarik mundur Hoa Sin, kakek Lo Kun terus
nyelonong maju dan menghantam, “duk…”, kali ini karena
pengawal Baju Merah sedang menjulurkan tangan kanan
mengantarkan pedangnya ke muka, bahunya tak terlindung
dan termakan pukulan kakek Lo Kun. Pengawal Baju Merah itu
terhuyung-huyung beberapa langkah.
“Tuh, lihat, bukankah aku mampu memukulnya ?" kakek Lo
Kun berpaling kepada Hoa Sin dan berkata dengan bangga.
Pada saat itu pengawal Baju Merahpun sudah menerjang
pula dengan ayunkan pedangnya. Melihat kakek Lo Kun masih
berpaling memandang kepadanya, Hoa Sin kuatir. Jelas kakek
itu tentu akan termakan pedang lawan. Cepat ia
mencengkeram baju Lo Kun terus ditariknya kebelakang.
"Uh…” kakek Lo Kun terseret mundur dan tepat pada saat
itu pedang pengawal Baju Merah melayang sehingga tak
mengenai.
"Gila !” Lo Kun menjerit, "apakah engkau mengajak tariktarikan
baju ?"
Tetapi Hoa Sin tak mengubris. Ia terus maju hendak
menggebuk pengawal Baju Merah. Tetapi kakek Lo Kun tak
puas. Ia menubruk pinggang Hoa Sin lalu diseretnya mundur.
Tepat pada saat itu sebenarnya pengawal Baju Merah
sedang merobah jurus permainannya dengan membabatkan
pedang ke pinggang Hoa Sin tetapi karena Hoa Sin diseret
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
mundur oleh kakek Lo Kun, babatan pedang itupun hanya
mengenai angin saja.
Dua tiga kali serangan pedang pengawal Baju Merah itu
luput karena terjadinya tarik menarik antara kedua orang itu.
Rupanya pengawal Baju Merah itupun makin marah.
Sekarang dia loncat maju untuk menggunakan kesempatan
pada saat Hoa Sin masih dipeluk kakek Lo Kun. Dengan
beringas, pengawal Baju Merah itu membabatkan pedangnya
ke pinggang kedua orang itu.
“Bluk ....” Hoa Sin terkejut ketika melihat serangan maut
dari pengawal Baju Merah itu. la pun tahu kalau kekek Lo Kun
itu seorang kakek limbung, untuk memberi penjelasan jelas
tak keburu lagi. Maka dengan menggunakan sebuah jurus Lokgan-
bhe atau Kuda-jatuh, ia menyapu kaki kakek Lo Kun
sehingga jatuh dan karena kakek itu masih belum melepaskan
dekapannya, Hoa Sinpun ikut jatuh bergelundungan dilantai.
Tepat pada saat itu pedang pengawal Baju Merahpun
melayang tiba. Karena kedua orang itu jatuh maka sambaran
pedangnya pun kembali hanya membabat angin.
Pengawal itu makin marah. Segera ia memburu dan
ayunkan pedangnya pula. Saat itu kakek Lo Kun dan Hoa Sin
masih bergelundungan di lantai. Melihat itu dengan sekuat
tenaga Hoa Sin meronta dan membawa tubuh Lo Kun
bergelundungan ke tanah. Kembali bacokan pengawal itu
luput. Dia mengejar lagi dan kali ini karena merasa dirinya
dibanting dan diguling-gulingkan, kakek Lo kun pun marah.
Dengan sekuat tenaga diapun balas menggulingkan tubuh Hoa
Sin kekiri sehingga bacokan pengawal itu luput.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tetapi betapapun mereka bergelundungan akhirnya kalah
tangkas juga dengan pengawal Baju Merah sudah berhasil
mengejar lagi dan membacok.
Kali ini baik Hoa Sin maupun kakek Lo Kun memang tak
dapat berkutik lagi. Kedua tokoh itu terancam dengan tabasan
pedang. Tetapi pada saat bahaya dengan tiba2 pengawal Buju
Merah itu mengaum keras lengannya telah dipeluk dari
belakang oleh seseorang.
Karena terkejut dia meronta sekuat-kuatnya tetapi
akibatnya malah runyam. Dia merasa tubuhnya seperti dijepit
papan baja yang luar biasa kuatnya sehingga tulang-tulangnya
terasa akan patah. Sedemikian besar sakit yang dideritanya
sehingga dia sampai meraung-raung dan peluh bercucuran
membasahi dahi.
Kembali ia menghimpun tenaga-dalam, sesaat kemudian
dengan sekuat tenaga, dia berontak lagi disertai dengan
gerakkan kaki. Tetapi kembali dia harus meringis kesakitan
karena tangan yang mendekapnya itu terasa makin
mengencang keras sekali sehingga hampir saja ia tak dapat
bernapas.
Dalam pada itu Hoa Sin dan kakek Lo Kun pun sudah saling
lepaskan dekapannya dan loncat bangun.
"Hai, pangcu Pengemis," tegur Lo Kun marah2, mengapa
engkau menarik bajuku sampai rompal begini?"
Hoa Sin tahu bahwa kakek itu memang limbung maka
diapun tak marah melainkan tertawa.
"Eh, mengapa tertawa ? Apakah engkau memang hendak
menelanjangi aku ?" teriak kakek itu dengan marah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Harap jangan salah mengerti, lojin," kata Hoa Sin, "adalah
karena kuatir tanganmu terbacok pedang pengawal Baju
Merah yang tentu luar biasa tajamnya, maka kutarik engkau
kebelakang."
"Tidak bisa," teriak Lo Kuu, "engkau tentu hendak merobek
bajuku !"
Sebenarnya Hoa Sin tak mau melayani kakek sinting itu. Dia
terus menghampiri ke tempat Blo'on yang masih mendekap
pengawal Baju Merah.
"Hai, mau kemana engkau!" teriak kakek Lo Kun seraya
menyambar ujung baju ketua Kay Pang tetapi ketua Kay Pang
itu menghindari ke muka. Lo Kun tetap ngotot hendak
menyambar baju sehingga terjadi kejar mengejar antara
kedua orang itu.
Ketika tiba didekat Blo'on, pemuda itu marah. Ia
mendorong tubuh pengawal Baju Merah kearah kakek Lo Kun
seraya membentak: "Jangan gila-gilaan, kau kakek l"
Bukan kepalang kejut Lo Kun ketika tiba2 tubuh pengawal
Baju Merah itu didorong kearahnya. Serentak ia
menghantamnya, duk .... pukulan tepat mendarat di dada
pengawal Baju Merah dan orang itupun segera rubuh ke
lantai.
Sebenarnya setelah dia meronta tetapi bukan saja gagal
pun kebalikannya tubuhnya malah seperti dijepit besi,
pengawal Baju Merah lemas lunglai apalagi setelah didorong
Blo'on, disambut dengan pukulan kakek Lo Kun, sudah tentu
dia terkapar tak mampu berkutik lagi.
Tanpa menghiraukan pengawal itu entah mati entah hidup,
Blo'on terus menghampiri kakek Lo Kun dan menegur: "Kakek,
mengapa engkau mengejar Hoa pangcu ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Karena dia hendak membuat aku malu. Masa bajuku
dirobek begini?'' ia menunjukkan punggung bajunya yang
robek karena ditarik Hoa Sin.
"Bukan," seru Blo'on, "kulihat sendiri Hoa pangcu hendak
menolong engkau supaya jangan kena tabasan pedang,
masakan dia hendak merobek bajumu. Yang salah adalah
bajumu sendiri mengapa ditarik saja sudah robek.”
"O, ya, ya, benar," kata kakek Lo Kun. Kakek itu memang
aneh. Kalau terhadap lain orang dia tak mau mengalah tetapi
kalau kepada Blo'on dia selalu menurut kata.
"Tak usah kuatir," kata Blo'on, "nanti kalau kita ke kota,
kubelikan baju baru untukmu."
"Benar," teriak kakek Lo Kun tertawa girang.
"Aku tak pernah bohong," sahut Blo'on. "engkau boleh pilih
sendiri nanti, yang sutera atau blaucu atau apa aja."
"Kalau begitu aku tadi salah," kata kakek Lo Kun serta
menghampiri Hoa Sia, "Hoa pang-cu maafkan kelakuanku."
Hoa Sin tertawa: "Aku yang bersalah merobekkan baju lojin.
Biar besok aku yarg mengganti baju baru untukmu."
"Tidak mau," seru kakek Lo Kun.
Hoa Sin terbeliak : "Mengapa ?"
“Semua anggauta Kay pang itu bajunya robek dan
tambalan. Aku tak mau pakai baju tambalan," seru kakek Lu
Kun.
Hoa Sin tertawa,
Tiba2 dua orang pengawal Baju Merah maju menghampiri.
Kali ini agak aneh perawakan kedua pengawal itu. Keduanya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
bertubuh pendek, masing2 membekal golok gergaji, golok
yang matanya tidak tajam tetapi bergigi seperti gergaji.
Begitu tiba, mereka terus menyerang Hoa Sin karena ketua
Kay pang itu berada paling dekat sendiri. Pengawal2 dari
Thian- tong-kau itu memang tak memilih lawan. Siapa yang
dekat, dialah yang diserang.
Hoa Sin loncat menghindar lalu mengirim sebuah pukulan
keras. Pengawal yang berada disebelah kiri cepat loncat ke
udara, berjumpalitan dan meluncur hinggap diatas bahu
kawannya. Kini keduanya segera menyerang lagi.
Karena yang satu hinggap di bahu yang lain, maka
persambungan itu menjadikan mereka seorang yang tinggi,
lebih tinggi dari seorang biasa. Dan jurus permainan golok
merekapun mengejutkan. Kalau yang satu menabas ke kiri,
yang diatas bahu tentu membacok ke kanan. Dengan
demikian lawan tertutup jalannya untuk menangkis maupun
menghindar.
Hoa Sin terkejut menghadapi serangan aneh itu. Kalau dia
menghindar ke kiri tentu disambut tabasan, kalau menyingkir
ke kanan tentu disambut bacokan. Cara menghindarnya hanya
loucat mundur. Tetapi kedua orang yang bertumpuk itu loncat
mengejar. Walaupun mendukung kawannya tetapi gerakan
pengawal Baju Merah yang di bawah itu tetap lincah dan gesit
sekali. Ternyata waktu loncat memburu, pengawal yang naik
di atas bahu kawannya itupun ikut membantu gerakan loncat
kawannya dengan mengayunkan tubuh kemuka. Pokoknya,
kedua orang itu dapat bergerak dengan seragam.
Lebih gila lagi, dengan saling bertumpuk itu, tenaga-dalam
mereka saling menyalur. Kalau melihat kawannya yang
dibawah menangkis serangan lawan, pengawal yang diatas
ikut menyalurkan tenaga-dalamnya kepada kawannya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Demikian kalau yang di atas terancam bahaya, yang di
bawahpun menyalurkan tenaga-dalamnya ke atas.
Berulang kali Hoa Sin harus terkejut ketika menangkis
dengan tongkat Bak-kau-pangnya. Sebagai ketua Kay-pang
sudah tentu dia memiliki tenaga-dalam yang hebat tetapi ia
tetap tergetar tangannya apabila beradu senjata.
Tak berapa lama, ketua partai Kay pang itu mandi keringat
karena harus melayani serangan lawan yang gencar.
Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin, melihat juga
kesibukan ketua Kay-pang, tetapi mereka tak leluasa untuk
membantu.
"Lo cianpwe," kata Sian Li kepada Pek I lojin, "siapakah
kedua pengawal yang aneh itu?”
"Hm, kalau tak salah, dulu di Sujwan itu muncul sepasang
saudara kembar yang pandai silat. Tak tahu siapa guru
mereka. Hanya dunia persilatan gempar karena kemunculan
kedua saudara kembar itu. Cara mereka bertempur selalu
begitu, yang satu naik ke bahu yang lain sehingga mereka,
berobah menjadi seorang manusia tinggi. Banyak jago2
persilatan yang tak berani cari perkara dengan kedua saudara
kembar itu. Mereka terkenal dengan sebutan Sujwan-song ay,
sepasang Kembar Pendek dari propinsi Sujwan."
"Adakah Hoa pangcu mampu melayani mereka ?" tanya
gadis itu pula.
"Hoa pangcu memiliki kepandaian yang sakti, tak mudah
kedua orang pendek itu untuk mengalahkannya tetapi Hoa
pangcupun sukar untuk merebut kemenangan," kata Pek I
lojin.
"Jika begitu, baiklah aku maju," seru Siau Li.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Jangan," Pek l lojin mencegah. Ia tak melanjutkan katakatanya
karena saat itu, melihat suatu peristiwa yang
menggelikan.
Tiba2 Blo'on menghampiri kakek Lo Kun, ia tanya: "Kakek,
mari kita tirukan kedua orang itu. Engkau yang memanggul
aku atau aku yang memanggul engkau ?"
"Maksudmu kita juga saling memanggul seperti mereka?"
seru Lo Kun.
"Ya," kata Blo'on, "mereka menggunakan cara selicik itu,
kitapun juga harus mengimbangi permainan mereka."
"Baiklah," kata Lo Kun, "aku saja yang memanggul engkau
dulu, Nanti giliran. Kalau aku lelah, engkau yang harus
memanggul aku."
"Huh....." kakek Lo Kun mendesuh tertahan ketika tahu2
Blo'on loncat dan mencempak bahu kakek Lo Kun. Karena tak
siap, Lo Kun terhuyung-huyung dan jatuh.
"Blo'on, engkau gila !" teriak kakek Lo Kun, "kalau mau naik
harus bilang dulu, mengapa tahu2 terus mencemplak saja !"
Memang Blo'on tak menyadari bahwa karena loncat
mencemplak itu ia telah menggunakan tenaga dan
bergeraklah tenaga-dalam Ji-ih-sin kaugnya. Sudah tentu
kakek Lo Kun tak kuat menahan cemplakan itu.
"Maaf", kakek," seru Blo'on," sekarang bersiaplah, aku
hendak naik ke bahumu."
Lo Kun pasang kuda2 dan dengan pelahan Blo'onpun
segera memanjat tubuh kakek itu. Tetapi baru kedua
tangannya mencekal punggung Lo Kun, kakek itu tertawa
keras dan meronta-ronta.
Blo'on melongo, serunya: “Mengapa engkau ini?”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
“Engkau gila, masakan ketiakku engkau pegang, uh. geli
sekali," kakek Lo Kun tertawa.
“ Kalau begitu, engkau saja yang kupanggul," kata Blo'on
seraya bersiap. Lo Kun segera loncat mencekal kedua bahu
Blo'on, lalu dengan meminjam tenaga tekanan itu ia hendak
melayang keatas dan hinggap pada bahu Blo'on.
Tetapi karena gerakan kakek Lo Kun itu dilakukan dengan
keras, Blo'on terkejut. Setiap kali terkejut ia tentu
mengeluarkan reaksi berupa pancaran tenaga-dalam Ji-ih sinkang.
Sekali tenaga-sakti itu memancar maka tubuh kakek Lo
Kunpun segera terlempar sampai dua tombak dan brak .. ia
jatuh terbanting di lantai panggung.
“ Aduh, bedebah engkau Blo'on," kakek itu merangkak
bangun seraya memaki, “mengapa engkau lemparkan aku
sedemikian keras?"
Bloon melongo.
“Melemparkan engkau?" serunya heran, “siapa yang
melemparkan? Aku tak merasa melemparkan engkau."
“Setan!" kakek Lo Kun makin geram. “kalau tak engkau
lemparkan masakan aku terlempar sendiri? Perlu apa aku
harus melempar diriku sendiri sampai jatuh di lantai ?"
Blo'on bingung memikirkan. Ia merasa tak melempar tetapi
mengapa kakek itu terlempar sampai sejauh itu.
"Maafkan, kakek," katanya seraya menghampiri "marilah
engkau naik ke bahuku, tetapi pelahan-lahan saja."
Dengan wajah masih penasaran kakek Lo Kun berseru :
"Jongkoklah, lekas!"
Blo'onpun menurut perintah. Setelah ia jongkok, barulah
kakek Lo Kun naik dan duduk pada kedua bahunya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hayo, berdiri," perintahnya pula.
Kini dapatlah Bloon memanggul kakek Lo Kun diatas
bahunya. Kakek Lo Kun memberi perintah lagi supaya Blo'on
maju menerjang kedua orang pendek itu.
Tetapi. Blo'on membantah : "Nanti dulu, mereka bersenjata
golok dan kita tidak, tentu kalah."
"Jangan kualir, aku punja ular thiat-bi coa" seru Lo Kun
seraya melolos ular itu.
"Tetapi aku bagaimana?" tanya Blo'on.
"Kalau engkau tak punya senjata, tak apa. Ular ini dapat
melindungi kita berdua," kata kakek itu seraya melanjutkan
mengorak ular thiat-bi-coa yang melilit pinggangnya.
Hiiiihhhh.....! " tiba2 Blo'on memekik dan melonjak sehingga
melambung sampai setombak tingginya.
"Hai, mengapa engkau ini!" teriak kakek Lo Kun, "awas,
kalau aku sampai jatuh, engkau tentu kugebuk dengan ular
ini."
Sambil berkata, kakek itu mengacungkan ular thiat bi-coa
keatas, maksudnya hendak memberi gambaran kepada Blo'on
tetapi tanpa disengaja, ekor dari ular itu meluncur, melingkar2
menusuk hidung Blo'on, haaasing ... Blo'on berbangkis.
"Aduh ...!" teriak Blo'on, Karena berbangkis, tubuh bergetar
keras sehingga hampir saja kakek Lo Kun terlempar jatuh ke
belakang. Karena gugup, ia mencengkeram kedua telinga
Blo'on dan menariknya sehingga Blo'on menjerit kesakitan.
"Kakek, mengapa engkau menjiwir telingaku?" teriak Blo'on.
"Mengapa engkau berbangkis sehingga aku sampai hampir
jatuh ?" balas Lo Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mengapa kakek menjulur ekor ular itu masuk ke
hidungku?" bantah Blo'on pula.
Kakek Lo Kun tertawa mengekeh, kemudian berseru :
"Sudahlah, mari kita serbu orang itu."
Tepat pada saat itu Hoa Sin sudah payah. Sebenarnya
ketua Kay-pang sudah nekad hendak melancarkan serangan
maut. Melontarkan tongkat lalu menerjang. Tetapi untunglah
sebelum ia bergerak, Blo'on sudah lari menghampiri dan
berseru: "Hoa pangcu, silahkan mundur !"
Melihat Blo'on memanggul kakek Lo Kun dan kakek itu
memegang ular thiat bi-coa. Hoa Sin mengeluh: "Celaka,
kedua orang itu memang limbung benar," Hoa Sin mengeluh
dan diam2 ia menyesal mengapa ia mau menurut permintaan
Blo’on tinggalkan gelanggang.
"Hayo, kamu orang pendek," seru Lo Kun, “sekarang siapa
yang lebih tinggi ?"
Namun kedua pengawal Baju Merah yang bertubuh pendek
itu tak mau menggubris. Mereka terus menyerang.
"Celaka!' teriak kakek Lo Kun, "loncatlah. Blo'on !"
Ternyata kedua pengawal Baju Merah itu, yang satu
menyerang atas dan yang lain menyerang bawah. Serangan
yang atas dapat ditahan oleh ular thiat-bicoa tetapi serangan
yang bawah, harus ditahan Blo’on. Pada hal blo'on tak
membawa senjata apalagi kedua tangannya tengah
memegang sepasang kaki kakek Lo Kun yang menggelantung
pada kedua bahunya. Itulah sebabnya mengapa Lo Kun buru2
meneriaki supaya Blo'on loncat menghindar.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bagus!" seru kakek Lo Kun ketika tubuhnya melayang
sampai satu tombak karena dibawa Blo'on yang menurut
perintahnya, loncat menghindari tabasan pedang lawan.
Dan ketika melayang turun, kakek itu segera menjulurkan
ular thiat-bi coa kearah kepala lawan yang berada diatas
punggung saudaranya.
Serangan yang tak terduga-duga itu menyebabkan
sepasang orang pendek itu loncat mundur.
"Ha, ha, ha," kakek Lo Kun tertawa gembira, "mengapa
mundur ? Takut ?"
Secepat mundur kedua orang pendek itupun segera
menerjang pula. Mereka memainkan pedang gergajinya
dengan deras.
"Awas, Blo'on, berloncatanlah untuk menghindar serangan
dibawah, nanti yang diatas serahkan kepadaku," kata kakek Lo
Kun.
Blo'on menurut. Berulang kali babatan dan tebasan pedang
dari orang pendek yang dibawah, selalu luput karena Blo'on
dengan gerak yang tangkas dan lincah dapat menghindarinya.
Dia hanya menurutkan gerak serangan pedang lawan untuk
menghindar. Sama sekali tak menurut jurus ilmusilat. Tetapi
betapa gencar lawan menyerang, tetap dia dapat menghindar.
Walaupun memanggul kakek Lo Kun tetapi tak mengurangi
kegesitan Blo'on menghindar.
Beberapa tokoh persilatan yang menyaksikan hal itu diam2
kagum disamping geli. Tetapi sepasang orang pendek itu tak
henti-hentinya meraung dan mendesis karena marah dan
geram.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tiba2 kedua orang pendek itu merobah gaya serangannya.
Orang yang diatas bahu, sekonyong-konyong menjatuhkan diri
kebelakang. Dengan begitu tubuhnya berada dipunggung
saudaranya, dengan Kepala dibawah dan kaki tetap
menggelantung pada leher saudaranya. Kemudian mereka
mulai bergerak, berputar putar maju, makin lama makin cepat
sehingga menyerupai sepasang baling2.
'"Mundur !" teriak kakek Lo Kun memberi perintah kepada
Blo'on, “mereka menggunakan siasat baru, kita juga."
Habis berkata kakek itupun terus jatuhkan diri kebelakang
punggung Blo'on, kedua kakinya masih tetap menjepit leher
Blo'on, sedang kepalanya menjulai kebawah tepat dibelakang
pantat Blo'on.
Blo'on rupanya mengerti akan maksud kakek itu. Diapun
terus berputar-putar deras, menirukan gerakan lawan.
"Suko, jangan!” teriak Sian Li yang melihat gerak-gerik
Blo'on menirukan lawan. la pikir, tindakan sukonya itu
berbahaya karena sukonya tak bersenjata sedang lawan
menggunakan sepasang pedang gergaji.
Tetapi terlambat. Sepasang orang yang saling bertumpuk
itu sudah maju merapat. Dan rupanya Blo'on juga tak
mendengarkan teriakan Sian Li.
Hoa Sin, Ceng Sian suthay, Hong Hong tojin dan Pek I lojin
terkejut juga. Jelas Blo'on tentu menderita. Namun mereka tak
dapat berbuat apa2 kecuali cemas.
Tetapi suatu peristiwa aneh telah timbul sehingga membuat
para tokoh persilatan itu tercengang. Entah bagaimana ketika
kedua tubuh bertumpuk itu saling merapat, tiba2 gerakan
tubuh sepasang orang pendek agak lambat, sedang gerakan
Blo'on yang bertumpuk dengan kakek Lo Kun tetap gencar.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Sepasang pedang gergaji itupun bahkan tersiak ketika ular
thiat bi coa menyambar-nyambar.
Walaupun tak dapat bicara tetapi kedua pengawal bertubuh
pendek itu merasa aneh. Ketika Blo'on berputar-putar makin
lama makin dekat, mereka seperti dilanda oleh angin yang
kuat sekali. Mereka tak tahu angin apakah itu tetapi yang jelas
angin itu mengandung tenaga tamparan yang hebat sehingga
mereka harus kerahkan tenaga-dalam untuk menjaga
keseimbangan diri agar jangan sampai terpental mundur.
Ternyata angin itu adalah berasal dari tenaga-dalam Ji- ihsin
kang yang memancar dari gerakan Blo'on. Blo'on sendiri
tak menyadari bahwa karena harus mengeluarkan tenaga
untuk memanggul kakek Lo Kun seraya berputar-putar seperti
gangsingan, tenaga-dalam Ji -ih-sin-kangnyapun berhamburan
keluar. Itulah sebabnya mengapa pedang kedua pengawal itu
seolah lamban gerakannya.
Terkejut kedua pengawal itu ketika menghadapi kejadian
aneh itu. Tiba2 pengawal yang menggelantung dibelakang
punggung saudaranya itu menggeliat keatas lagi dan kembali
duduk pada bahunya.
Melihat itu kakek Lo Kun pun cepat menggeliat keatas juga.
Memang tak enak terus menerus kepala menjungkir kebawah
itu. Karena buru2 hendak melonggarkan kepalanya yang
sudah pusing maka kakek Lo Kun pun bergerak dengan cepat
dan keras keatas. Dalam mengayun tubuh menggeliat keatas
itu, tanpa disadari kedua kakinyapun menjepit leher Blo'on
kencang2.
"Heh .... heh....." karena lehernya dijepit keras oleh kedua
kaki Lo Kun. Blo'on hampir tak dapat bernapas. Seketika ia
hendak melepaskan jepitan itu. Terdorong oleh keinginan,
maka memancarlah tenaga dalam Ji ih-sin kang sehingga
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kakek Lo Kun terlempar ke depan. Tetapi karena kakinya
masih menjepit leher Blo'on, pemuda itupun ikut terseret jatuh
ke muka. Dan tepat sekali keduanya jatuh merubuhi lawanya
yang saat itu tepat sedang membentuk diri dengan bersusun.
Duk ... duk.....
Memang aneh2 saja tingkah laku kedua manusia itu, Blo'on
dan kakek Lo Kun. Seperti misalnya dulu ketika mereka
berhadapan dengan barisan Lo han kun dari kaum paderi Siau-
Iim si. Barisan Lo-han kun yang termasyhur itupun bobol juga
karena ‘gas beracun' dari pantat kakek Lo Kun yang terberakberak,
Dan sekarang terjadi pula keanehan yang lucu. Blo'on dan
kakek Lo Kun terhuyung menjorok ke muka dan membentur
kedua orang pendek itu. Duk, duk, dada kedua pengawal
pendek itu masing2 terbentur kepala Blo’on dan kakek Lo Kun.
Serentak sepasang saudara kembar yang saling terpanggul itu
segera berantakan jatuh ke lantai. Dada mereka remuk.
Juga Blo’on dan kakek Lo Kun ikut jatuh bergelendungan
tetapi mereka tak kurang suatu.
Terdengar gelak tertawa yang nyaring dari para tokoh
persilatan. Benar2 baru pertama kali itu mereka menyaksikan
pertempuran yang aneh dan lucu seperti itu.
Baru Blo'on dan Lo Kun tengel2 bangun, sepuluh pengawal
Baju Merah segera maju. Mereka segera mengurung kedua
orang dan menggerung-gerung seperti harimau.
"Cap hou tin !" seru Pek I lojin.
“Sepuluh barisan macan ?" tanya Sian Li.
PeK I lojin mengangguk.
“Siapakah mereka?” San Li menegas.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mereka adalah sepuluh saudara Kwan dari gunung Tay pa
san yang pernah menggegerkan dunia persilatan beberapa
tahun yang lalu. Mereka pernah menantang barisan Lo hankun
dari Siau lim-si."
“Oh," seru Sian Li, "bukankah barisan Lo-han- kun itu
sangat termasyhur kelihayannya ?"
"Ya," sahut Pek I lojin, "tetapi ternyata kesepuluh harimau
itu dapat mengimbangi juga. Walau pun tak menang tetapi
merekapun tak sampai menderita kekalahan yang
memalukan."
"Siapa nama mereka, lo-cianpwe ?" tanya pu la Sian Li yang
rupanya memang senang mengetahui segala apa.
"Mereka orang she Kwan dan memakai nama Hou,
diurutkan menurut dari yang kesatu. Yang pertama Kwan It
Hou, lalu Kwan Ji Hou, Kwan Sam Hou, Kwan Si Ngo Hou,
Kwan Liok Hou, Kwan Jit Hou. Kwan Pik Hou, Kwan Kiu Hou
dan Kwan Sip Hou," kata Pek I lojin.
Sian Li tak dapat melanjutkan pertanyaannya karena saat
itu Blo'on dan kakek Lo Kun sudah mulai diserang oleh
kesepuluh macan dari gunung Tay-pa-san itu. Mereka masing2
menggunakan toya atau pentung besi. Mereka mengepung
kedua orang itu ditengah lalu serempak menyerang.
Blo'on terkejut. Dia hanya bertangan kosong. Karena
gugup, ia menginjak tanah hendak loncat menghindar dan
ternyata tubuhnya melambung sampai dua tombak tingginya.
Kakek Lo Kunpun dapat menangkis serangan tongkat
dengan ular thiat-pi-coanya. Kesepuluh pengawal Baju Merah
itupun serempak mundur lalu menyerang lagi. Gerakan
mereka selalu dilakukan dengan serempak. Cepat dahsyatnya
bukan kepalang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dua kali serangan mereka tetap dapat dihindari Blo'on dan
kakek Lo Kun dengan cara yang sama.
Tiba2 mereka merubah jurus dan serangannya. Yang lima
menyerang maju, ketika Blo'on loncat ke udara dan kakek Lo
Kun menangkis denga ular thiat-bi-coa, yang lima pun
serempak maju menyerang.
Saat itu Blo'on hendak meluncur turun tetapi ketika
melihatnya sudah disambut dengan tongkat lagi, diapun
bergeliatan meronta naik ke udars lagi. Sedang kekek Lo Kun
berputar tubuh menyabatkan ular thiat-bi-coanya. Terpaksa
kedua pengawal Baju Merah yang menyerangnya itu harus
menyurut mundur sambil menggeram.
Setelah dua kali serangannya gagal, kesepuluh pengawal
Baju Merah itu merobah lagi gaya serangannya. Kini yang tiga
maju, kemudian disusul tiga dan terakhir empat orang maju
pula. Tiga lapis serangan itu memang membingungkan kakek
Lo Kun. Dua gelombang serangan ia masih dapat menangkis,
tetapi gelombang yang ketiga, ia terlambat. Untunglah ia
masih mampu berkelit sehingga hanya bajunya yang
tersambar tongkat sehingga robek.
Marah kakek Lo Kun bukan kepalang; “Bangsat, engkau
hendak menelanjangi aku?” teriaknya lalu mengamuk. Ular
Thiat-bi-coa diayun-ayunkan secepat angin sehingga untuk
beberapa saat barisan kesepuluh macam dari gunung Tay-pasan
itu terdesak mundur.
Dalam pada itu Blo'onpun sempat meluncur turun. Melihat
kesepuluh pengawal Baju Merah itu menyerang kakek Lo Kun,
Blo'on berteriak-teriak: “Hai, jangan mengganggu orang tua,
hayo lawanlah aku!" serunya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Betapapun sakitnya, namun karena dikeroyok oleh sepuluh
jago2 kuat yang memiliki barisan sakti, akhirnya kakek Lo Kun
terkena juga kakinya. Ia jatuh di lantai tetapi tetap melawan
dengan ular thiat-bi-coanya.
Melihat kakek Lo Kun terluka dan kesepuluh pengawal Baju
Merah itu tak menggubrisnya, marah sekali Blo'on. Sekali
loncat ia terus menerkam tengkuk salah seorang pengawal,
diangkatnya ke atas kepala lalu diputarnya untuk menyerang..
Gegerlah kesembilan pengawal Baju Merah itu. Mereka
terkejut ketika menyaksikan Blo'on mampu membekuk salah
seorang saudara mereka, justeru yang dibekuk itu adalah
Kwan It Hou atau yang tertua dari kesepuluh saudara Kwan
itu. Lebih terkejut ketika mereka melihat Blo’on membolangbalingkan
tubuh Kwan It Hou sebagai senjata. Apabila mereka
menangkis atau menyerang dengan tongkat, jelas Kwan It
Hou tentu akan mampus.
Sebagai tanda untuk menumpahkan kemarahannya, salah
seorang pengawal Baju Merah itu tiba2 memukul kepala kakek
Lo Kun dari belakang Lo Kun menjerit dan rubuh.
Melihat itu kemarahan Blo'on makin berkobar. Kwan It Hou
serentak dilontarkan kearah mereka dan dengan gerak yang
luar biasa cepatnya, ia menyambar seorang pengawal lagi
terus dilontarkan kepada kawan kawannya. Demikian cara
Blo'on mengamuk. Setiap orang yang terkena lemparan tubuh
kawannya tentu akan rubuh.
Terkejut sekalian tokoh2 persilatan menyaksikan Bio'on
mengamuk. Walaupun bukan menurut jurus ilmu-silat tetapi
cara Blo'on menerkam dan melontarkan tubuh lawan itu,
cepatnya bukan alang kepalang. Diam2 tokoh2 itu kagum dan
merasa bahwa dirinya tak mungkin mampu melakukan seperti
perbuatan Blo'on itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dalam waktu yang singkat, Blo'on telah mengamuk habis
kesepuluh pengawal Baju Merah itu. Keadaan mereka sungguh
mengenaskan sekali. Ada yang kepalanya pecah, dadanya
rompal, leher putus, tangan hilang, muka hancur dan lain2.
Tak seorangpun yang hidup.
"Kakek, bagaimana engkau," buru2 Blo'on menghampiri
kakek itu dan mengangkat tubuhnya.
Tiba2 kakek itu membuka mata : "Aku tak mati, hanya
merasa pusing ketika kepalanya dihantam tongkat."
Sian Lipun menghampiri: “Kakek Lo Kun, makanlah buah
som ini," katanya seraya memberinya dua butir Cian-tan hayte
som.
"Aku tadi sudah makan, kalau terus menerus makan, bukan
saja badanku panas, pun persediaanmu buah som itu tentu
habis. Gunakanlah untuk menolong lain orang," kata kakek Lo
Kun.
"Tetapi kakimu?" tanya Sian Li.
"Ah, tak apa2, hanya terkilir, setelah kuurut-urut, nanti
tentu sembuh," kata Lo Kun seraya berusaha bangkit lalu
berjalan. Ternyata jalannya pincang.
"Hoa pangcu, suthay, Hong Hong totiang, tiba2 Blo'on
berseru, "dengan bertempur cara ini, kita hanya
menghabiskan waktu saja. Hari sudah makin gelap. Lebih baik
kita bekuk saja sisa dari kawanan pengawal itu. Setelah itu
baru menangkap ketuanya."
Setelah kesepuluh pengawal Baju Merah itu hancur, telah
duapuluh satu pengawal yang kalah, sisanya hanya tinggal
sembilan belas orang. Bloon, Ceng Sian, Hoa Sin, Hong Hong,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Sian Li dan Hong Ing hanya berjumlah enam. Kakek Lo Kun
masih terluka sedang Pek I lojin tak bisa ilmu silat.
Diam2 Sian Li memperhitungkan kekuatan fihaknya dengan
kekuatan lawan. Ia segera berpaling kearah Pek I lojin.
"Lo-cianpwe, dapatkah lo-cianpwe membantu kami untuk
ikut menyerbu mereka ?" tanyanya.
"Tetapi aku tak dapat bersilat, nona," kata Pek I lojin.
Sian Li kerutkan dahi. Rupanya Hoa Sin tahu apa yang
diresahkan nona itu. Tentulah nona itu mencemaskan
kekuatan musuh. Kalau menyerbu saat itu, berarti seorang
harus menghadapi tiga pengawal Baju Merah. Kalau menilik
mereka itu rata2 berilmu tinggi, sukarlah untuk mengalahkan
mereka.
"Sebaiknya, jangan terburu nafsu dulu," kata Pek I lojin,
"lebih baik tunggu setelah mereka berkurang jumlahnya baru
kita serang dengan serempak. Mungkin pada saat itu lojin
yang bernama Lo Kun itu tentu sudah sembuh lukanya dan
dapat membantu."
"Ya, benar suko, kata Sian Li," tunggulah beberapa saat lagi
setelah mereka tinggal sedikit jumlahnya, baru kita serbu."
Tiba2 seorang pengawal Baju Merah maju lagi dengan
membawa senjata sebuah pikulan besi. Begitu berhadapan
dengan Blo'on dia terus menyerang, bluk .....
Tahu2 Blo'on disengkelit jatuh. Cepat ia berdiri tetapi sekali
menggerakkan pikulannya, kembali Blo'on jatuh mencium
lantai.
Blo'on terlongong-longong. Ia bangun lagi tetapi segera
disambut dengan pikulan dan bluk ... ia terpelanting jatuh.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Melihat itu Hong Ing maju hendak menolong Segera ia
mencabut pedang dan menyerang pengawal Baju Merah itu.
Tetapi sekali gerakkan pikulan besinya. Hong Ingpun
terpelanting jatuh juga.
"Lo cianpwe, siapakah tokoh yang aneh itu”, tanya Siau Li.
"Kalau tak salah, pernah kudengar tertang seorang tokoh
aneh yang digelari orang sebagai Lu san-jau-bu atau
Penebang-kayu dari gunung Lusan. Dia bukan tergolong tokoh
jahat, bukan juga tokoh baik. Pokok, dia tak mau menyalahi
orang. Tak mau menghina juga tak mau dihina. Senjatanya
sebuah pikulan besi, memiliki ilmu pikulan yang aneh sekali.
Setiap kali bergerak orang tentu tersengkelit jatuh," jawab Pek
I lojin.
"Aku mau mencobanya," kata Sian Li terus maju
menghampiri pengawal Baju Merah itu dan menyerangnya,
uh..... tahu2 tubuhnya terangkat dan terbanting ke lantai.
Dengan penasaran, ia bangun lagi. Pada saat itu Hong Ing
pun bangun. Keduanya serempak menyerang, bluk, bluk ....
kembali keduanya harus menahan kesakitan karena pantatnya
beradu dengan lantai.
Ceng Sian suthay, Hong Hong tojin dan Hoa Sin terkejut
menyaksikan ilmu permainan aneh dari pengawal Baju Merah
itu. Namun mereka mendapat kesan bahwa setiap kali sudah
berhasil menyengkelit orang, pengawal itu tak mau
menyerang lagi.
Ketiga ketua partai persilatan itu segan untuk maju. Apabila
sampai disengkelit jatuh, walaupun tak terluka, tetapi cukup
memalukan. Maka mereka pun tak mau tergesa-gesa. Setelah
mencari akal, akhirnya Hoa Sin menghampiri Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kongcu," serunya seraya mengangsurkan tongkat
Penggebuk- anjing, "pakailah tongkatku ini untuk melayani
orang itu."
"Tidak, pangcu," Blo'on gelengkan kepala.
"Mengapa ?"
"Aku jeri kepadanya. Karena setiap kali menggerakkan
pikulannya, aku tentu terpelanting. Kalau terus menerus
dibanting kelantai, pantatku bisa remuk," kata Blo'on.
Tiba2 kakek Lo Kun bangkit dan terus maju kemuka
pengawal itu. Blo'on terkejut, teriaknya : "Kakek, jangan,
engkau masih belum sembuh."
"Siapa bilang?" sahut Lo Kun.
"Engkau tentu terbanting oleh orang itu !”
"Lihat saja sendiri !" jawab kakek itu. Dia memang tak puas
melihat Blo'on dan kedua nona itu disengkelit jatuh beberapa
kali. Ia terus memukul tetapi sekali gerakkan pikulannya,
pengawal itu dapat menyengkelit jatuh kakek Lo Kun.
Aduh! " teriak kakek Lo Kun lalu bangkit lagi, “engkau
berani menyengkelit aku?"
Bluk ..... baru kakek itu berdiri, pikulan pengawal Baja
Merah sudah bergerak menyengkelitnya lagi.
“Hai, ini bagaimana? Ilmu apakah yang engkau miliki itu?"
teriak kakek Lo Kun seraya bangun. Tetapi sebagai jawaban,
pikulan bergerak dan kakek itupun kembali terbanting ke
lantai.
“Bangsat, kalau engkau terus menerus membanting aku ke
lantai, kakiku tentu kumat lagi." walaupun berseru begitu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tetapi kakek Lo Kun tak berani berdiri lagi, takut kalau
disengkelit.
Memang aneh sekali gerakan dari pengawal Baju Merah itu.
Ceng Sian, Hong Houg dan Hoa Sin juga terlongong-longong
heran.
“Bagaimana kalau aku tetap disengkelitnya?” tanya Blo'on
yang masih bersangsi menerima tongkat ketua Kay-pang itu.
“Coba saja," kata Hoa Sin, “tetapi kupercaya hanya kongcu
yaug mampu menandingi orang itu."
Blo'on masih jera tetapi setelah mendapat peringatan dan
Hoa Sin bahwa kalau dia tak mau maju maka Thian-tong kau
tak dapat dihancurkan, terpaksa pemuda itu maju juga.
Tiba2 pengawal Baju Merah itu maju, gerakkan pikulan dan
bluk, kembali Blo'on terkapar di lantai. Cepat ia loncat bangun
tetapi belum sempat berdiri tegak, bluk, kembali ia sudah
terbanting lagi di lantai.
Tiga kali berturut-turut dibanting ke lantai, marahlah Blo'on.
Serentak ia loncat bangun. Ketika pengawal Baju Merah itu
menyerempaki dengan pikulannya, ternyata Blo'on sudah
mengapung diudara, meluncur turun dan mengemplang
kepala pengawal itu. Pengawal itu terpaksa menyurut mundur
beberapa langkah. Dalam kesempatan itu Blo'onpun sudah
dapat berdiri tegak, siap menunggu serangan.
Kali ini Blo'on marah dan penasaran. Darahnya panas dan
mulailah tenaga-sakti Ji-ih-sin-kang bergerak menurut
kehendaknya. Dan sekali tenaga-sakti Ji-ih-sin kang bergerak
maka ilmu Latah yang telah menyusup kedalam tubuhnya
itupun mulai mengembang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Begitu melihat pengawal itu menggerakkan pikulannya,
Blo'onpun segera menirukan juga. Lawan mengungkit, diapun
mengungkit dan akibatnya, bluk, bluk, keduanya saling
terbanting ke lantai.
Mereka bangun lagi dan sama2 gerakkan senjatanya.
Pengawal Baju Merah dengan pikulannya dan Blo'on dengan
tongkat Penggebuk-anjing.
Bluk, bluk, keduanya jatuh lagi. Jatuh pengawal Baju Merah
dengan jatuh Blo'on berbeda. Kalau Blo'on hanya merasa sakit
pantatnya dan meringis tetapi pengawal itu jatuh dan
mengerang-erang karena tulang2 pantatnya serasa remuk.
Karena dia telah dibanting dengan tenaga-sakti Ji-ih-sin-kang.
Setelah tiga kali berturut-turun sama2 jatuh maka pengawal
Baju Merah itu tak dapat bangun. Tulang pantatnya memang
patah.
Melihat itu kakek Lo Kun terus menghampiri dan menampar
kepalanya : "Nih. upahmu ....."
“Jangan kakek." teriak Blo'on tetapi sudah terlambar.
Tamparan kakek Lo Kun sudah mendarat di kepala pengawal
itu sehingga pingsan seketika.
"Mengapa engkau melarang ?" seru kakek Lo Kun.
"Dia tidak jahat hanya mehyengkelit kita tetapi tak mau
melukai. Mengapa kakek hendak membunuhnya ?"
"Siapa yang membunuh?" balas kakek Lo Kun," hanya
kutempeleng kepalanya. Dia tidak mati."
"Aku senang dengan ilmunya yang aneh itu. Cukup
menyengkelit jatuh lawan tetapi tak sampai melukai," kata
Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Coba sekarang sengkelitlah aku," kakek Lo Kun hendak
menguji.
"Aku ? Tidak bisa!"
"Gila engkau!" seru kakek itu, "bukankah tadi engkau juga
dapat menyengkelitnya jatuh? Mengapa sekarang tidak bisa?"
“Aku hanya menirukan gerakannya saja," sahut Blo'on,
“kalau suruh main sendiri, mana bisa? "
“Ah, jangan pura2," kakek Lo Kun masih tetap mendesak.
“Kakek Lo Kun, " akhirnya Sian Li melerai, “memang sukoku
ini mengandung suatu keanehan. Kalau menghadapi
musuh, dia dapat menirukan segala macam jurus serangan
lawan. Tetapi kalau dia suruh melakukan, tak dapat. Dia hanya
dapat menirukan saja."
Lo Kun geleng2 kepala. Diam2 Ceng Sian suthay, Hong
Hong tojin, Hoa Sin dan Pek I lojin juga merasa aneh dalam
hati.
Dalam pada itu maju lagi seorang pengawal Baju Merah.
Kali ini bertubuh kurus dan mencekal sepasang tek-bi atau
trisula pandak. Begitu tiba terus menyerang kakek Lo Kun.
Sudah tentu kakek itu marah dan balas menyerang.
Cukup seru dan ramai pertempuran itu. Lo Kun terpaksa
menggunakan ular thiat-hi coa untuk melayani tetapi
pengawal itu dengan sepasang tek-bi dapat menghalau setiap
serangan Thiat-bi-coa. Bahkan tampaknya ular itu jeri
terhadap senjata tek bi tersebut.
Tiba2 ular itu terkait ujung tek-bi dan Lo Kun berusaha
untuk menariknya. Belum berhasil ia menarik ularnya, tek-bi di
tangan kiri lawan sudah menyambar lambung Lo Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tiba2 pengawal Baju Merah bersenjata pikulan yang
pingsan tadi loncat bangun, gerakkan pikulannya dan bluk ....
tahu2 pengawal yang bersenjata tek-bi itu terpelanting jatuh.
Untung sebelum kakek Lo Kun menerkamnya, dia sudah dapat
berdiri bangun. Tetapi baru saja kakinya tegak di lantai,
kembali pikulan kawannya berayun dan bluk .... Kembali
pengawal bersenjata tek-bi itu terpelanting jatuh.
Kali ini kakek Lo Kun terus menubruknya tetapi orang itu
dengan sekuat tenaga melenting bangun sehingga kakek Lo
Kun ikut terseret keatas, bluk .... tiba2 pikulan bergerak dan
kedua orang itu, pengawal beserta kakek Lo Kun, terpelanting
lagi kelantai.
"Gila. mengapa engkau juga menyengkelit aku?" teriak Lo
Kun sambil menuding pengawal yang menggunakan pikulan.
Tiba2 ia menjerit kaget karena tubuhnya didekap oleh
pengawal bersenjata tek-bi dan terus diangkat berdiri.
Tetapi pikulan kembali berayun dan bluk.... kedua orang itu
terbanting ke lantai pula.
"Engkau benar2 edan!" teriak Lo Kun seraya deliki mata
kepada pengawal bersenjata pikulan, “eh, ya, engkau ini juga
pengawal Baju Merah dan dia juga Baju Merah. Tentu engkau
membantu kawanmu itu, tetapi eh, mengapa engkau juga
menyengkelitnya ?”
Ia terus bangun tetapi pengawal bersenjata pikulan itu tak
mau menyengkelitnya. Sedang pengawal bersenjata tek-bi itu
tetap terkapar telentang di lantai.
"Hai. hayo bangun engkau !" teriak Lo Kun. Tetapi orang itu
sudah tak dapat bangun lagi. Kiranya waktu disengkelit jatuh
yang terakhir tadi, orang itu jatuh lebih dulu baru kemudian
kakek Lo Kun. Kepala kakek itu tepat membentur dada
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pengawal itu. Kepala kakek Lo Kun memang luar biasa
kerasnya. Tertimpa kepala kakek itu dada pengawal Baju
Merah seperti ditimpa palu besi. Seketika dia tak dapat
berkutik lagi.
"Eh, mengapa engkau tak menyengkelit aku?" tiba2 Lo Kun
menegur pengawal bersenjata pikulan itu.
Orang itu gelengkan kepala .
"Hai, engkau dapat menerima kata-kataku ? Aneh, tadi
engkau seperti orang tuli dan bisu, mengapa sekarang engkau
dapat mendengar pertanyaanku ?” seru Lo Kun tak habis
herannya.
Orang itu gelengkan kepala tanda tak tahu apa sebabnya.
"Apa engkau tak dapat bicara?* tegur Lo Kun.
Orang itu gelengkan kepala.
"Apa engkau gagu ?"
Orang itu kembali gelengkan kepala.
Lo Kun tercengang. Ditanya, mengatakan tidak gagu tetapi
disuruh bicara tak bisa. Lalu bagaimana dia itu?
Rupanya Hoa Sin tahu juga akan peristiwa aneh itu. la
menghampiri pengawal Baju Merah itu dan menegur:
"Saudara, adakah sesuatu kesulitan pada diri saudara?"
Pengawal Baju Merah itu mengangguk seraya menunjukkan
kerongkongannya. Hoa Sin segera memeriksa dan dapatkan
bahwa jalandarah pada kerongkongan orang itu memang telah
dirusak sehingga dia tak dapat bicara.
"Hoa pangcu, kita harus melindunginya," seru Ceng Sian
suthay, "kelak kita usahakan supaya dia sembuh."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Baru rahib ketua dari Kuo-lun pay berkata, seorang
pengawal Baju Merah terus maju dan taburkan sebuah benda
warna hitam, sebesar buah kelengkeng kearah pengawal Baju
Merah yang bersenjata pikulan itu.
Bum....
Hoa Sin Cepat menghantam dengan tongkatnya dan benda
hitam itupun meletus mengeluarkan gulungan asap hitam.
"Awas, asap beracun !” seru Pek I lojin seraya mendekap
hidungnya. Perbuatan itu segera ditiru oleh tokoh2 yang
berada disitu.
Tetapi pengawal Baju Merah itu taburkan pula sebuah
benda hitam. Kembali Hoa Sin menamparnya dan benda
itupun pecah menghamburkan gulungan asap hitam.
Ceng Siau suthay marah. Jika keadaan itu terus
berlangsung begitu, tentu membahayakan keselamatan
mereka. Cepat suthay itu loncat kemuka dan menyerang
pengawal itu. Dengan serangan itu tak sempat lagi pengawal
Baju Merah itu untuk menaburkan senjatanya yang beracun.
Ceng Sian marah terhadap manusia yang begitu liar.
Walaupun ia tahu bahwa pengawal2 Thian-tong-kau itu sudah
kehilangan kesadaran pikirannya, tetapi cara yang dilakukan
oleh pengawal yang seorang itu, tak dapat diterimanya.
Pengawal itupun segera mengeluarkan senjatanya yang
aneh, semacam ruyung yang mempunyai ruas sebanyak
duabelas. Ceng Sian suthay tak tahu apa yang terkandung
dalam senjata ruyung duabelas ruas itu. Diserangnya
pengawal itu dengan seru.
Rupanya mengawal itu kewalahan juga menghadapi ketua
Kun lun pay yang menggunakan senjata hud tim. Tiba2 ia
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
merobah serangannya, sengaja ia memperlambat sabatan
ruyungnya agar di tangkis oleh lawan.
Tar .... ruas yang paling ujung dari ruyung itu karena
tersabet hud tim telah pecah dan menghamburkan asap
hitam. Untung Ceng Sian sudah bersiap, la loncat kesamping
sembari menutup pernapasan lalu menyerang lagi.
Pengawal Baju Merah itu menggerung. Rupanya dia geram
sekali melihat lawan masih belum rubuh. Mengisar ke samping
ia sabatkan lagi ruyungnya, tar ..... ujung kedua dari ruyun itu
hancur ketika tersampar hud-tim dari Ceng Sian suthay.
Tring, tring, tring.... dari ruas yang kedua itu segera
memuntahkan beratus paku2 kecil. Untung Ceng Sian sudah
waspada dan dapat menyapu dengan hud-tim.
Pengawal Baju Merah itu memang sengaja hendak adu
senjata. Sebenarnya Ceng Sian sudah curiga tetapi diam2 ia
marah sekali kepada pengawal yang memiliki senjata begitu
ganas. Dia tetap hendak mengetahui apa isi daripada kedua
belas ruyung lawan.
Tar ....
Kembali terjadi benturan antara hud tim dengan ruas
ruyung yang ketiga. Beratus jarum yang halus segera
menabur muka Ceng Sian. Ceng Sian loncat mundur seraya
memutar hud-tim untuk melindungi diri. Memang dalam hal
senjata rahib dari Kun-lun-pay itu memiliki kepandaian yang
istimewa.
Cepat ia maju menyerang lagi. Dan trang ..... ruas keempat
dan ruyung lawan ditamparnya. Yang muncrat dari ruas itu
kali ini adalah semacam bubuk halus tetapi yang mengandung
racun ganas untuk menghilangkan kesadaran pikiran orang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Cara Ceng Sian untuk melindungi diri yalah loncat mundur
sembari memutar hud-tim. Setelah bubuk beracun itu lenyap
barulah ia loncat maju menyerang lagi.
Ruas kelima berisi tumpahan air hitam yang sangat ganas
sekali. Apabila menciprat mengenai kulit, kulit tentu akan
melonyoh dan dagingnya rusak.
Cret, hanya sepercik kecil jari tangan kiri rahib dari Kun-lunpay
itu terciprat, seketika ia rasakan kulitnya panas sekali
seperti dibakar api. Rasa panas itu makin lama makin hebat
dan ketika sempat memeriksa ternyata jari tengah tangan
kirinya telah melonyoh.
Buru2 ia kerahkan tenaga-dalam untuk menahan jangan
sampai racun menjalar lebih luas. Dan karena ia sudah makan
buah som Cian-han-hay-te-som, luka itupun tak sampai
menghebat.
Namun ketua Kun-lun-pay itu marah sekali kepada manusia
yang memiliki senjata seganas itu.
Diam2 ia siapkan segenggam jarum ditangan kiri lalu maju
menyerang lagi. Kali ini dia tak mau mengadu senjata. Begitu
pengawal Baju Merah itu ayunkan ruyungnya, dengan sebuah
gerak tipuan, Ceng Sian berhasil menghindar dan maju
merapat ke muka lawan. Tiba2 ia taburkan jarum dalam
tangan kiri. Rupanya pengawal Baju Merah terkejut, cepat ia
tundukkan kepala kebawah, seraya mengendap, hendak
menggerakkan ruyung menusuk perut lawan. Tetapi saat itu
Ceng Sian sudah siap. Dengan jurus Hoan-thian-to-hay atau
Membalik-langit-menjungkir-Iaut, hud timnya segera
ditamparkan kemuka lawan. Hud-tim yang terbuat daripada
bulu kuda lemas, saat itu telah disaluri dengan tenaga-dalam
yang tinggi dari Ceng Sian sehingga bulu2 itu meregang tegak
seperti sikat baja yang runcing. Bukan melainkan itu saja, pun
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
karena gemas, Ceng Sian telah mengerahkan seluruh tenagadalam
sehingga berpuluh lembar bulu hud-tim itu muncrat
menyerang muka pengawal Baju Merah.
Terdengar suara raung dahsyat mirip singa kelaparan ketika
tubuh pengawal Baju Merah itu terpelanting jatuh
kebelakang!. Seluruh mukanya berdarah, kedua biji mata
pecah sehingga menimbulkan suatu pemandangan yang
mengerikan sekali.
Tetapi Ceng Sian sendiripun sehabis menyelesaikan lawan,
terhuyung-huyung ke belakang lalu jatuh terduduk. Karena
mengerahkan seluruh tenaga-dalam untuk menyerang, racun
pada jari kirinyapun mulai bekerja lagi. Rasa sakit yang hebat
membuat mata ketua Kun-lun pay itu berkunang-kunang gelap
sehingga ia terhuyung jatuh.
Sian Li terkejut dan cepat memburu.
"Suthay, jarimu terkena racun," seru Sian cemas lalu
berpaling kearah kakek Lo Kun, "kakek pinjam mustika kumala
naga merah yang engkau simpan itu."
"Buat apa?" seru kakek Lo Kun.
"Suthay terluka kena racun jarinya. Kumala naga merah itu
dapat menghisap racun," kata Sian Li.
Lo Kun gopoh mengeluarkan kumala Naga-merah yang
sedianya akan diberikan kepada Blo'on. Sian Li pun terus
menyambutinya dan melekatkan pada jari Ceng Sian. Tetapi
sampai beberapa waktu belum juga terjadi perobahan pada
luka itu.
Sian Li kerutkan dahi, kemudian menyerahkan kembali
kepada kakek Lo Kun: "Celaka, kumala merah itu tak punya
khasiat apa2."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Sian Li bingung dan cemas. Tiba2 kakek Lo Kun berteriak :
"Masih ada kumala burung hong hijau yang berada ditangan
budak perempuan itu," katanya seraya terus menghampiri
Hong Ing, "berikan kumala hijau itu untuk menolong rahib
yang terkena racun."
Hong Ing sebenarnya segan memberikan tetapi karena
beberapa tokoh itu mencurah pandang kepalanya, terpaksa ia
menyerahkan.
Ketika Sian Li melekatkan kumala batu hijau itu pada jari
Ceng Sian suthay, tak berapa lama mulai air warna hitam
mengalir keluar dari luka
====
Hal 49-52 tdk ada
====
berdiri tegak. Rupanya dia tahu bahwa pedang si-nona itu
sebuah pedang pusaka yang luar biasa.
Sian Li tak mau memikir apa2 lagi. Melihat lawan mundur,
ia terus memburu maju hendak menyerangnya. Tetapi
pengawal itu segera menarik tali busur,, tung......gayanya
seperti orang memanah tetapi tiada anakpanah yang dilepas.
Anehnya, Sian Li menjerit dan rubuh terjungkal ke belakang
seperti Hong lng.
"Gila!" teriak kakek Lo Kun yang terus lari maju. Pengawal
Baju Merah itu bergerak hendak menyerang tetapi tiba2 kakek
Lo Kun berhenti.
"Tunggu !" serunya seraya melolos ular thiat bi-coa yang
melilit pada pinggangnya, "kalau engkau memakai senjata,
aku pun terpaksa memakai ular."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tetapi pengawal Baju Merah itu tak menghiraukan. Dia
terus maju menyerang. Tring, hantaman busurpun disambut
dengan sabatan ular sehingga terhenti.
Pengawal Baju Merah tertegun. Kesempatan itu digunakan
kakek Lo Kun untuk menyabat kaki lawan. Tetapi pengawal
Baju merah itu loncat ke udara dan menarik tali busurnya,
tung ....
"Aduh Lo Kun menjerit dan terus rubuh ke lantai.
Melihat itu Blo'on marah. Ia sayang kepada kakek itu.
Tetapi belum ia sempat bergerak, Hoa Sin sudah mendahului
loncat ke muka. Dan pengawal Baju Merah itupun segera
menyerangnya.
Tring, tring, Hoa Sin menggunakan tongkat Penggebuk
anjing untuk menangkis. Seru sekali pertempuran itu. Lebih
seru dari yang ketiga orang tadi.
Pelahan lahan tampak pengawal Baju Merah itu terdesak
oleh tongkat Hoa Sin. Dia hanya mampu bertahan tak sempat
balas menyerang.
Pelahan-lahan tampak pengawal Baju Merah itu terdesak
oleh tongkat Hoa Sin. Dia hanya mampu bertahan tak sempat
balas menyerang. Memang Hoa Sin bermasud hendak cepat2
merobohkannya dan tak mau memberi kesempatan orang itu
dapat menarik tali busurnya.
Wut .... tiba2 Hoa Sin menyapu kebawah dan pengawal
Baju Merah itu meraung lalu roboh ke belakang. Melihat itu
Hoa Sin maju hendak menggebuknya lagi.
"Jangan tiba2 Pek I lojin berseru mencegah tetapi
terlambat. Ketika Hoa Sin mengangkat tongkatnya, tiba2
pengawal itu menarik tali busurnya, tung ....
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hoa Sin sama sekali tak mengira bahwa jatuhnya pengawal
itu ketanah hanya sebagai suatu siasat untuk menipu. Karena
itu Hoa Sin tinggi mengangkat tongkatnya, la terhuyunghuyung
ke belakang ketika lawan menarik tali busur. Pengawal
Baju Merah itu menggeliat badan seraya menarik tali
busurnya, tung ....
Kali ini Hoa Sin tak mampu lapi mempertahankan diri. Ia
rubuh terjerembab ke belakang.
Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin terkejut. Keduanya
hendak serempak maju tetapi Pek I lojin mencegahnya.
"Harap jiwi pangcu jangan terburu nafsu," kata Pek I lojin,
"ada suatu keanehan dalam busur orang itu. Entah busur itu
mengandung tenaga gaib, entah orang itu memiliki ilmu Tanci-
sin-kang yang sakti."
"Tan-ci-sin-kang ?" ulang Hong Hong tojin. Tan-ci sin-kang
artinya ilmu Jentikan jari yang sakti.
Beda sedikit itu It ci sin-kang yang hanya menggunakan
sebuah jari untuk melepaskan tutukan dari jauh, Tan-ci-sinkang
itu yalah menjentikkan tenaga dalam melalui sentikan tali
atau benda apa saja.
Saat itu pengawal Baju Merah sudah maju. Blo'on segera
hendak menyongsong tetapi bajunya ditarik Pek I lojin.
" Kali ini biarlah aku yang menghadapi," katanya.
“ Tetapi lo-cianpwe tak mengerti ilmusilat. " seru Blo'on.
"Justeru karena aku tak dapat silat, dia tentu sukar
mengalahkan. Bukankah engkau juga demikian ? "
Blo'on mtngangguk.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Karena pengawal Baju Merah makin dekat, Pek I lojinpun
segera menyongsong. Agaknya ragu-ragu pengawal itu ketika
melihat yang dihadapinya itu seorang tua berwajah terang.
Tetapi pada lain kejab, dia terus ayunkan busurnya
menghantam.
“Awas, lo-cianpwe," teriak Bloon melihat Pek I lojin masih
diam saja. Bahkan ketika mendengar teriakan Blo'on, dia
berpaling: " Ada apa?"
Wut, busur menyambar. Tampaknya tentu mengenai kepala
Pek I lojin tetapi entah bagaimana ternyata hanya lewat di
sisinya, hanya terpaut seujung rambut saja dari kepalanya.
"Itu, dia menyerang dengan busur," seru Blo'on.
“Mana," Pek I lojin berpaling lagi kemuka. Sudah tentu
busur sudah lenyap, “tidak ada apa2, mengapa engkau
bingung?"
" Lo-cianpwe! " kembali Blo'on menjerit karena pengawal itu
ayunkan busur untuk menghantam dada Pek I lojin.
" Eh, engkau ini memang anak nakal," kata Pek I lojin
seraya berputar tubuh menghadap kearah Blo'on, " mengapa
engkau terus ribut2 memanggil aku saja? "
Tepat pada saat Pek I lojin berputar, busur itu lewat hanya
terpisah seujung rambut dari punggung Pek I lojin.
" Dibelakang lo-cianpwe," seru Blo'on. Dan Pek I lojin
memutar tubuh menghadap kearah pengawal itu pula, "eh,
tidak ada apa2. Siapa yang menyerang? Dia masih berdiri
disitu."
Blo'on benar2 heran dan mendongkol. Jelas ia melihat
pengawal Baju Merah itu beberapa kali menyerang dengan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
senjata busur, tetapi setiap kali sambil berpaling dan bertanya
kepada Blo'on selalu busur itu luput mengenainya.
"Lo-cianpwe, aku takkan menganggumu lagi, asal engkau
memperhatikan gerak orang itu," seru Blo'on.
"Terima kasih, engkoh kecil. Ternyata baik sekali hati
budimu," kata Pek l lojin. "jangan kuatir, orang itu tentu tak
membahayakan diriku. Lihatlah, dia membawa busur kosong,
tanpa anak-panah. Bukankah dia takkan melukai aku?"
Diam2 Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin yang
menyaksikan gerak gerik Pek I lojin itu merasa heran. Menurut
keterangannya, orang tua baju putih itu tak mengerti ilmusilat
tetapi mengapa sampai dua tiga kali pengawal Baju Merah itu
menyerang, tetap tak dapat mengenai tubuh orangtua itu ?
Ceng Sian suthay, ketua partai Kun-lun-pay dan Hong Hong
tojin ketua Go-bi-pay. Sudah tentu kepandaian mereka amat
tinggi. Tetapi keduanya tetap belum mengerti dengan gerak
apakah Pek I lojin menghindari serangan pengawal itu.
Adakah lojin itu juga memiliki ilmu aneh seperti Blo'on. Tetapi
jelas mereka melihat orangtua itu tak bergerak menirukan
gerak serangan lawan. Dengan begitu jelas tidak sama dengan
Blo'on.
Pengawal Baju Merah itu sendiripun rupanya heran. Oleh
karena wajahnya tertutup kain cadar merah, maka tak tampak
bagaimana perubahan air-mukanya.
Kini dia mulai menyerang lagi. Busur diayunkan kian kemari
seperti orang memotong rumput tetapi Pek I lojin sembari
ayunkan tubuh kian ke mari seperti orang yang ketakutan,
berteriak: “Hai, jangan, jangan menyerang aku! Aku seorang
tua yang lemah !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Aneh benar. Gerakan busur yang makin lama makin deras
itu, tetap tak mampu mengenai tubuh Pek I lojin. Bahkan
menyentuh ujung bajunya saja pun tidak.
"Hebat, lo-cianpwe!" teriak Blo'on bersorak memuji.
"Apanya yang hebat, engkoh gundul?" Pek I Lojin berpaling
dan menegur Blo'on.
"Gerakan locianpwe itu!" teriak Blo'on "dia tak mampu
menghantam lo-cianpwe. Ilmu apakah yang lo-cianpwe
gunakan itu ?”
Dalam pada itu pengawal Baju Merahpun hentikan
serangannya. Lalu berganti jurus. Kali ini dia tusukkan ujung
busur ke tubuh lawan.
"Kalau engkau bertanya ilmuku itu apa, bertanyalah kepada
dirimu sendiri. Jika engkau dapat menjawab, ilmu apa yang
engkau miliki, nah, jawabanku juga sama dengan itu." seru
Pek I lojin.
"Aku tak punya .... hai, Cianpwe, awas dia menyerang
punggungmu !" tariak Blo'on.
"Mana?" kata Pek I lojin seraya berputar tubuh dengan
tenang dan tepat sekali ujung busur itu lewat disisi tubuhnya,
"O, engkau hendak memberikan busur ini kepadaku ? Ah.
tidak, tidak, aku sudah tua dan tak pernah membunuh jiwa
manusia atau binatang. Silahkan simpan sendiri."
Kata Pek I lojin itu disertai dengan gerak tangannya seperti
orang menyorong tahu2 pengawal Baju Merah itu tersurut
mundur dua langkah.
Pek I lojin berpaling lagi kearah Blo'on : "Apakah engkau
mau busur itu ? Kalau engkau mau, biar kuterimanya dan
kuberikan kepadamu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Buat apa? seru Blo'on.
"Bagus, engkoh gundul," PeK I lojin tertawa gembira,
"hatimu seperti hatiku, pendirian hidupmu sama seperti aku.
Tak suka belajar silat tak suka mengganggu orang, tak suka
membunuh jiwa. Bukankah begitu, engkoh gundul ?"
“Ya, hai.... dia hendak memanahmu, lo-cianpwe," tiba2
Blo'on berteriak lagi ketika dilihatnya pengawal Baju merah itu
sedang merentang tali busur diarahkan kepada Pek I lojin.
Pek I lojin berputar tubuh dengan suatu gerakan yang
cepat, kemudian berkata: "Ah, dia hanya main2 dengan tali
busur. Mana dia sampai hati hendak memanah ?"
Ternyata walaupun jari tangan sudah memegang tali busur,
namun pengawal Baju Merah itu tetap tak menariknya.
"Ho, benar tidak, engkoh gundul ?" seru Pek I lojin seraya
berputar tubuh lagi “jangan engkau ribut2 menguatirkan
diriku."
Blo'on mendelik. Dilihatnya pengawal Baju Merah itu mulai
pelahan-lahan menarik tali busur. Aneh, tampaknya dia sukar
sekali untuk menarik tali itu. Tetapi makin lama. tali itu dapat
juga direntang lebar.
"Ya, tetapi kalau mataku melihat orang itu sedang menarik
tali busur seperti saat ini, apakah aku harus tutup mulut ?"
seru Blo'on.
"Apakah dia sedang menarik tali busur ?" tanya Pek I lojin.
"Coba saja lo-cianpwe berputar tubuh," kata Blo'on agak
scjan.
"Baik." kata Pek lojin seraya berputar tubuh. Saat itu
pengawal Baju Merahpun sudah melepaskan tali busur,
tung.....
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tetapi Pek I lojin segera julurkan kedua tangannya ke muka
seraya berseru: "Ah, jangan bergurau. Masakan busur kosong
hendak engkau panahkan kepadaku? "
Ceng Sian dan Hong Hong tojin tercengang ketika melihat
Pek I Lojin tak kurang suatu apa, Pada hal tadi jelas, setiap
kali pengawal Baju Merah itu melepaskan tali busur, tentu
lawannya rubuh. Hong Ing, Sian Li dan kakek Lo Kun serta
Hoa Sinpun menderita dari busur tanpa panah itu. Mengapa
Pek I lojin tidak apa2?
Pengawal Baju Merah itu berusaha untuk merentang tali
busur Iagi. Dan tung .... kemudian dilepaskannya tetapi Pek I
lojin tetap tak kurang suatu apa.
Tiba2 Pek I lojin berpaling kearah Blo'on: “Engkoh pundul,"
serunya “masakan dia hendak bergurau dengan aku seorang
tua begini. Walaupun tidak punya anakpanah tetapi dia tetap
melepaskan busur. Lucu bukan?"
“Apakah lo-cianpwe tak merasa apa2?" tanya Blo'on,
" Sama sekali tidak, " sahut Pek I lojin. "Boleh aku
mencobanya ?" tanya Blo'on. Pek I lojin merenung sejenak lalu
berkata: "Boleh saja."
Blo'on segera menghampiri ke hadapan pengawal Baju
Merah yang tengah merentang tali busur nya. Tung ....
"Hai” tiba2 Blo’on menjerit ketika tubuhnya melayang
sampai dua tombak ke belakang.
Bluk. ia terbanting jatuh ke lantai.
Pek I lojin tertawa gelak2, serunya: "Kenapa engkau
menjatuhkan dirimu sendiri, engkoh gundul ? Dia hanya
melepaskan angin, bukan anakpanah. Jangan takut, hayo
bangun dan cobalah sekali lagi."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on melenting bangun, marah2: "Jangan gila-gilaan
kakek. Ternyata busur kosong itu memancarkan tenaga yang
dahsyat sekali.”
"Siapa bilang ? Coba lihatlah, dia bukan memanah lagi, aku
yang menghadapi," kata Pek I lojin seraya julurkan kedua
tangannya dan berseru: "Hai, jangan main gila masakan
orangtua hendak engkau ajak bergurau."
Aneh, talibusur telah dilepas oleh Pengawal itu tetapi tak
terjadi suatu pada diri Pek I lojin.
"Nah, lihat sendiri, apakah aku jatuh ?" tanya Pek I lojin
kepada Blo'on, "hayo, sekarang engkau."
Blo'on maju dan siap. Pengawal Baju Merah itupun
merentang lalu melepaskan tali busurnya, tung .... uh. mulut
menjerit ketika tubuhnya melayang dan terbanting ke lantai
lagi.
"Ha, ha, ha," Pek I lojin tertawa gelak2.
Melihat Blo'on dua kau menderita kesakitan karena ditipu
Pek I lojin, Ceng Sian mendongkol. Serentak ia menghampiri.
"Lojin, mengapa engkau mempedayai anak itu ? Jelas
jepretan busur itu mengandung tenaga yang hebat," kata
Ceng Sian suthay.
Pek I lojin maju merapat dan mengucapkan kata2 pelahan:
"Harap suthay, jangan kuatir. Anak itu kalau tak dibikin sakit
tentu tak dapat memancarkan tenaganya yang sakti."
Habis berkata Pek I lojin terus berseru "Hai, engkoh gundul,
jangan mau kalau didorong, engkau harus kencangkan urat
uratmu dan kerahkan tenagamu. Tanggung tentu tidak akan
jatuh. Kalau jatuh boleh pukul kepalaku."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on menurut, Ia segera maju kehadapan pengawal Baju
Merah dan pengawal itupun segera merentang tali busur lalu,
tung.....
Hebat sekali akibatnya. Beda dengan Pek I lojin yang hanya
dapat bertahan diri, adalah ketika tali busur dilepas oleh
pengawal Baju Merah, bukan saja Blo'on tegak seperti batu
karangpun pengawal itu sendiri segera terpelanting
kebelakang terbanting kelantai.
Ha, ha, ha, "Pek I lojin tertawa gembira, "engkoh gundul,
ternyata engkau lebih jempol dan aku.”
Tiba2 terdengar suitan keras, seolah halilintar yang meledak
ke dalam telinga. Sisa pengawal Baju Merah yang masih
berjumlah tiga sampai empat be!as orang itu serempak lari
menyerbu semua. Pengawal2 Baju Merah itu bersenjata
semua dan mereka terdiri dari tokoh2 persilatan yang sakti.
Sudah tentu pihak Blo'on dan Pek I lojin terkejut. Hoa Sin,
Hong Ing, Sian Li. Lo Kun masih duduk menyalurkan
pernapasan. Yang masih segar adalah Blo'on, Pek I lojin, Ceng
Sian suthay dan Hong Hong tojin. Apa boleh buat, keempat
orang itu terpaksa maju.
Tiba2 Blo'on terkejut ketika sebatang besi parjang
menghadang dihadapannya. Ternyata pengawal Baju Merah
yang bersenjata pikulan besi tadi memberikan pikulannya
kepada Blo'on. Blo'on pun menerimanya.
Pertempuran segera pecah. Blo'on berempat melawan
empatbelas pengawal Baju Merah ....
Jilid 40
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo’on, Pek I lojin, Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin
bertempur dengan sekuat tenaga . Keempat belas pengawal
Baju Merah dari Thian tong kau itu, karena mukanya
tertutupkain cadar warna merah, tak dapat diketahui siapa.
Tetapi yang jelas, mereka tentulah tokoh2 yang berilmu sakti.
Dalam jumlah yang sekian banyak sudah tentu Blo’on
berempat kewalahan juga.
Yang tampak paling sibuk adalah Ceng Sian suthay dan
Hong Hong tojin. Kedua ketua partai persilatan Kun-lun-pay
dan Go-bi-pay itu, walau pun memiliki ilmu permainan pedang
yang hebat, tetapi karena dikerubut tokoh2 yang berjumlah
tiga empat orang, keduanya pun kalang kabut juga.
Pek I lojin berkelebatan seperti sesosok bayangan yang
sukar didekati. Walau pun dia belum berhasil merubuhkan
salah seorang lawan, tetapi lawan pun tak mampu
mengalahkannya.
Blo'on sendiri yang tampak tidak begitu sibuk. Aneh tetapi
nyata. Dia berhadapan dengan tiga orang pengawal Baju
Merah yang masing2 menggunakan tiga macam senjata.
Pedang, toya dan sepasang Tong-jin-kian (trisula yang
bentuknya seperti orang). Juga ketiga pengawal Baju Merah
itu mempunyai ilmu permainan sendiri-sendiri.
Tetapi herannya, Blo'on dapat menirukan semua gerak
serangan dari ketiga lawannya itu. Karena tegang melihat
ancaman ketiga musuhnya, darah Blo'on meluap keras
sehingga Ilmu Ji ih- sin-kang dan ilmu Latah yang diperoleh
dari kitab kecil itu, berhamburan mengembang.
Denting dan dering dari senjata yang beradu selalu
melantang dan pertempuran Blo'on lawan ketiga pengawal
Baju Merah. Makin lama ketiga pengawal Baju Merah itu makin
lemah. Bermula, setiap kali beradu dengan pikulan besi Blo'on
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
lengan mereka bergetar, kemudian kuda2 kakinya mulai
tergempur, dari setengah langkah menjadi selangkah dan
akhirnya setiap kali beradu senjata, mereka tentu terpental
sampai dua tiga langkah.
Namun ketiga pengawal Baju Merah itu tak menghiraukan
apa2 lagi. Walau pun seharusnya mereka menyadari akan
kesaktian aneh yang terdapat pada Blo'on tetapi mereka
seperti tak memiliki kesadaran pikiran lagi. Pokok bertempur
dan menyerang terus.
Blo'on marah. Dan makin marah, tenaga dalam Ji-ih-sinkang
pun makin memancar keras. Terdengar aum merintih
dari pengawal Baju Merah yang pedangnya terpukul jatuh oleh
pikulan besi dari Blo'on.
Auh.... kembali terdengar pengawal Baju Merah yang
bersenjata toya, mengerang ketika toyanya terlempar ke
udara. Duk .... Thong jin-kian atau sepasang trisula berbentuk
orang-orangan memancarkan percik api ketika berhantam
dengan pikulan besi. Pengawal Baju Merah terjerembab jatuh
dengan masih mencekal sepasang senjatanya.
Blo'on tak mau berhenti. Melihat Ceng Sian suthay terdesak
empat orang pengawal Baju Merah, ia terus loncat dan
langsung menggebuk musuh. Cepat kedua orang pengawal
Baju Merah mengerubut Blo'on, sedang yang dua masih tetap
mengeroyok Ceng Siang suthay. Dengan berkurangnya lawan,
Ceng Siang suthay pun agak longgar. Dia mainkan ilmu
pedang Gwat-li kiam dari partai Kun-lun-pay. Jika kedua
pengawal Baju Merah itu bukan tokoh yang sakti, tentu
mereka sudah rubuh ditangan ketua Kun-Iun-pay itu.
Begitu berhadapan dengan kedua pengawal Baju Merah,
tenaga -sakti Ji-ih-sin-kung dan ilmu Latah dalam tubuh Blo'on
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
segera melancar. Betapa pun gerak yang sulit dan aneh dari
kedua lawannya dia tetap dapat menirukan.
Kedua pengawal Baju Merah itu heran, penasaran dan
mempergencar serangannya. Tetapi makin gencar, mereka
makin kelabakan sendiri. Setiap gerakan, baik menabas,
menolak atau pun membabat selalu disongsong dengan
pikulan besi Blo'on yang dapat bergerak dalam jurus yang
sama. Dan setiap kali terjadi benturan, tentu kedua pengawal
Baju Merah itu mengerang tertahan dan bergetar tubuhnya.
Mereka merasa dari pikulan Blo'on itu melancar tenaga -
pukulan yang sehebat mereka lontarkan. Seolah mereka
seperti ditolak oleh tenaga nya sendiri.
Rupanya kedua pengawal Baju Merah itu bingung. Walau
pun kesadaran pikiran mereka sudah hilang tetapi mereka
dapat juga melihat permainan pemuda gundul yang luar biasa
anehnya. Betapa pun cepat dan dahsyat serangan yang
mereka lancarkan, selalu pemuda gundul itu mampu
menirukan dengan kecepatan dan kedahsyatan yang
seimbang.
Akhirnya mereka kewalahan juga dan pada suatu benturan
senjata keduanya terlempar beberapa tombak dan senjatanya
pun terpental jatuh kebawah panggung.
"Suthay, aku satu lagi," seru Blo'on seraya menerjang salah
seorang dari kedua pengawal Baju Merah yang mengerubut
Ceng Sian suthay.
"Kongcu, bantulah Hong Hong tojin, aku masih dapat
melayani kedua pengawal Baju Merah ini," seru Ceng Sian
suthay.
"Ah, celaka, sudah terlanjur, bagaimana?" teriak Blo'on
mengeluh.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tinggalkan dia," seru Ceng Sian suthay.
"Dia tak mau melepas aku," teriak Blo'on, "dan aku tak
dapat menghentikan tanganku."
"Celaka," gerutu Ceng Sian suthay dalam hati. Satu-satunya
jalan ia harus mendesak lawannya apar ia dapat
menggantikan Blo'on dan anak itu dapat membantu Hong
Hong tojin.
Tetapi lain keinginan dengan kenyataan. Pengawal Baju
Merah yang menjadi lawan Blo'on juga menggunakan pedang.
Ilmu permainan pedangnya tak kalah dengan ilmu pedang
Gwat-li-kiam dari partai Kun-lun-pay. Ilmu pedang pengawal
Baju Merah itu mirip dengan Soanhong- kiam atau ilmu
pedang Halilintar.
Ceng Sian suthay makin mendesak, lawan pun makin
gencar membalasnya. Benar2 suatu pertempuran ilmu pedang
yang jarang terjadi dalam dunia persilatan.
Dalam pada itu blo'on pun dengan gigih menghadapi
lawannya yang bersenjata Jit- gwat-lun atau pedang panjang
yang berbentuk roda matahari dan rembulan, Permainan jitgwat-
lun dari pengawal Baju Merah itu memang aneh dan luar
biasa. Tetapi enak saja Blo’on bergerak menirukan segala
jurus yang dimainkan lawan.
Pengawal Baju Merah itu makin penasaran. Sebuah gerak
tipu yang tak terduga-duga, berhasil membuat Blo'on kecele.
Segera pengawal Baju Marah itu menggunakan kesempatan
yang bagus untuk membacok kepala Blo'on.
Blo’on terkejut. Seketika bangkit keinginannya untuk loncat
menghindar. Tetapi karena gugup, bukan loncat mundur atau
ke samping, kebalikannya ia malah loncat maju.
Duk.......Karena dihadapannya itu pengawal Baju Merah,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sudah tentu loncatan Blo'on itu membentur lawan. Tetapi hal
itu menimbulkan akibat yang tak pernah disangkanya.
Akibat benturan itu, pengawal Baju Merah merasa dadanya
seperti dilanda tenaga yang sedahsyat gunung rubuh. Jarak
tempatnya dengan Blo'on amat dekat dan ia tak pernah
menyangka Blo'on akan gunakan serangan senekad itu.
Tangannya pun sedang menjulur ke muka untuk menabaskan
pedang sehingga tak dapat menangkis atau menolak benturan
blo'on.
Pengawal Baju Merah itu mengaum dan tubuhnya
terpelanting ke belakang sampai beberapa langkah jauhnya.
"Suthay, aku sudah bebas." seru Blo'on dengan gembira,
"siapa yang harus kubantu ?"
"Hong Hong totiang," baru Ceng Sian suthay membagi
sedikit perhatian untuk menyahut, tahu-tahu kepalanya sudah
disambar pedang lawan. Untung suthay itu masih dapat
miringkan kepalanya kesamping. Sekali pun demikian
kerudung kepalanya telah terbabat secarik kain putih
berhamburan ke tanah.
Sebenarnya blo'on hendak melakukan perintah Ceng Sian
suthay tetapi demi melihat suthay menderita kejut besar,
marahlah Blo'on.
"Kurang ajar, engkau berani menghina suthay?” teriak
pemuda gundul itu seraya terus menerjang pengawal Baju
Merah.
"Blo'on !" Ceng Sian suthay menjerit kaget karena melihat
pemuda itu menerjang masuk kedalam lingkaran sinar pedang
lawan, tanpa suatu jurus ilmu silat apa2.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Bidadari-turun diatas-mega demikian jurus ilmu pedang
yang digunakan Ceng Sian suthay untuk melambung ke udara
dan kemudian menukik kebawah untuk menusuk ubun-ubun
kepala pengawal Baju Merah itu.
Rupanya pengawal Baju Merah itu terkejut -melihat seorang
pemuda gundul menerjangnya. Baru ia hendak taburkan
pedang membabat tubuh pemuda itu sekonyong konyong dari
udara melayang turun sesosok tubuh yang hendak menabas
kepalanya. Terpaksa ia menangkis serangan dari atas itu.
Tetapi pada saat ia mengangkat pedangnya kearah kepala,
ia pun segera menjerit sekeras-kerasnya dan terus
mendumprah ke tanah.
Sebenarnya pada saat menyerbu itu, Blo'on pun ayunkan
pikulan besi itu. la memukul asal memukul, tanpa menurut
jurus ilmu silat. Adalah karena pengawal Baju Merah itu lebih
dahulu hendak menangkis tebasan Ceng Sian suthay, maka
pikulan besi dari Bio'on itu tiada rintangan apa2, mendapat
sasaran kedua paha orang.
Pikulan besi itu bukan sembarang besi, tetapi sebuah besi
murni yang tahan akan tabasan pedang pusaka. Dan gerakan
Blo'on itu pun bukan gerak sembarangan melainkan
digerakkan dengan tenaga dalam Ji ih sin kang yang luar
biasa. Maka tidaklah mengherankan kalau kedua paha dari
pengawal Baju Merah, walau pun pemiliknya seorang tokoh
yang tinggi ilmu Iwekangnya, tetap harus remuk tulangnya
sehingga pengawal Bayu Merah itu pun rubuh lunglai ke
panggung.
"Jangan," teriak Ceng Sian suthay seraya menangkis pikulan
besi yang hendak diayunkan Blo'on untuk mengemplang
kepala pengawal Baju Merah itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tring.....Ceng Sian suthay terkejut. Diam2 baru ia
merasakan betapa hebat tenaga Blo'on itu. la dapat
mempertahankan kedua kakinya agar jangan sampai rubuh
tetapi lengannya terasa bergetar keras. Padahal Ceng Sian
suthay adalah ketua partai Kun-lun-pay yang tinggi ilmu
lwekangnya.
"Suthay, mari kita bantu Hong Hong totiang," seru Blo'on
seraya lari menyerang lawan2 Hong Hong tojin yang
berjumlah empat.
Hong Hong tojin memang kewalahan sekali. Menghadapi
empat pengawal Baju Merah jangankan dapat balas
menyerang, bahkan bertahan pun sudah setengah mati. Dia
sudah mandi keringat namun sebagai seorang ketua partai
persilatan ia rela mati daripada menyerah atau berteriak minta
tolong.
Keempat pengawal Baju Merah itu menggunakan empat
senjata golok, sepasang pit, kebut dan rantai gembolan. Cret,
berhasil menghindar dan tiga senjata, akhirnya bahu kirinya
tertampar kebut hud-tim dan dia pun terhuyung-huyung
beberapa langkah ke belakang.
Keempat pengawal Baju Merah itu segera berhamburan
dahulu mendahului hendak menghabiskan jiwa Hong Hong
tojin tetapi tepat pada saat itu Blo'on pun sudah menerjang.
"Jangan takut, totiang, serunya seraya mengamuk. Dia tak
mengerti jurus ilmu silat. Pokok, ia mengayun-ayunkan pikulan
besi sederas mungkin. Tetapi karena dia memancarkan tenaga
dalam Ji-ih sin-kang maka ayunan pikulan besinya itu pun
bukan kepalang dahsyatnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Seorang pengawal Baju Merah coba menangkis dengan
golok, tetapi segera dia tersurut mundur setengah langkah
ketika golok beradu dengan pikulan besi.
Wut.... Blo'on ayunkan pikulan besi menghantam pengawal
Baju Merah yang memakai sepasang pit. Pengawal itu
menyongsongkan ujung pit untuk menutuk tetapi ia terkejut
ketika tubuhnya seperti ditolak suatu gelombang tenaga yang
dahsyat sehingga ia tersurut mundur setengah langkah.
Pengawal Baju Merah yang menggunakan hud tim segera
mengebut ke muka Blo'on tetapi saat itu ilmu Latah dalam
tubuh Blo'on sudah mulai mengembang. Orang mengebut dia
pun balas mengemplang. Akibatnya pengawal itu ketakutan
dan loncat mundur.
Golok dari pengawal Baju Merah berayun hendak membelah
kepala B'o'on tetapi Blo'on pun sudah menirukan gerak lawan,
menghantamkan pikulan ke kepala pengawal itu. Karena
pikulan lebih panjang maka datangnya pun lebih dulu sebelum
golok tiba, pikulan sudah menghantam kepala. Dengan cepat
pengawal Baju Merah itu miringkan kepala tetapi bahulah tak
sempat lagi menghindar. Duk..... dia meraung, terseok-seok
ke belakang terus rubuh dan muntah darah.
Ngeri ketiga pengawal Baju Merah itu melihat tandang
Blo'on yang mengamuk seperti orang gila. Mereka heran ilmu
silat apakah yang dimiliki pemuda gundul itu. Terpaksa
mereka berpencar untuk menyerang Blo'on dari tiga jurusan.
Terapi Blo'on sudah terlanjur mengamuk. Tenaga sakti Ji ihsin
kang sudah terlanjur pula memancar. Ia tak dapat berhenti
lagi.
Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin hanya terlongong
menyaksikan tandang Blo'on yang seperti kerbau gila itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ketiga pengawal Baju Merah yang berilmu silat tinggi, terpaksa
harus bingung dan kacau diamuk serangan Blo'on yang
membabi buta tanpa memakai jurus2 ilmu silat itu.
Karena bingung, ketiga pengawal Baju Merah itu pun
menyurut mundur. Blo'on terus mendesaknya.
Walau pun ngawur tetapi karena dilancarkan dengan
tenaga sakti Ji ih-sin- kang, pikulan itu menderu-deru
menimbulkan sambaran angin yang dahsyat sekali. Dan
cepatnya bukan alang kepalang sehingga sepintas pandang
Blo'on seperti terbungkus dalam lingkaran sinar pikulan.
Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin makin terheranheran
ketika melihat bahwa walau pun sudah bertempur
sekian lama tetapi tenaga dan semangat Bio'on masih
menyala-nyala bahkan semakin hebat. Dia seolah mempunyai
tenaga dalam yang tiada habis-habisnya.
Akhirnya ketiga pengawal Baju Merah itu pun marah.
Mereka sudah tiada kesadaran pikiran nekad menyerang
Blo'on.
Terdengar denting senjata beradu keras, disusul pekik
jeritan ngeri dan rubuhnya tiga sosok tubuh ke lantai.
Golok, pit dan rantai, berhamburan terlepas mencelat ke
udara, ketika berbenturan dengan pikulan besi. Dan secepat
kilat pikulan besi itu pun terus menghantam tubuh mereka.
Sudah tentu mereka menjerit dan terkapar di lantai.
"Hayo, siapa lagi!" teriak Blo'on seperti seekor cengkerik
yang gila. Cepat ia melihat Pek I lojin masih berputar-putar
menghadapi empat pengawal Baju Merah.
"Lojin, jangan takut, aku akan membantumu," teriak Blo'on
seraya lari menghampiri.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kim kongcu, ikuti saja gerakanku, mereka tentu sudah
keok nanti," seru Pek I lojin.
Blo'on menurut. Dia segera mengikuti dibelakang Pek I
lojin. Pada hal saat itu Pek I lojin sedang menggunakan ilmu
Bu-ing-sin poh atau Tanpa-bayangan. Dia seolah-olah hanya
tampak sebagai segulung sinar putih yang menyelubungi
keempat pengeroyoknya. Betapa pun keempat pengawal Baju
Merah itu menyerang namun orangtua baju putih itu seperti
bayangan yang sukar didekati. Setiap dibacok atau ditusuk,
tentu hanya menemui angin kosong saja.
Diluar dugaan Blo'on pun dapat bergerak mengikuti gerak
Bu-ing sin-poh itu. Kini bukan hanya satu bayangan putih
tetapi dua.
Sudah tentu Pek I lojin itu terkejut sekati. Demikian pula
Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojm. Mereka tak tahu
apakah yang terdapat dalam diri Blo'on itu. Sepanjang sejarah
ilmu silat dan sepanjang pengetahuan mereka, belum pernah
mereka melihat seorang manusia aneh seperti Blo'on. Dalam
diri pemuda itu merupakan sebuah 'gudang' yang penuh berisi
segala macam ilmu silat. Apa yang dikehendaki dan diambil
orang, gudang itu selalu ada. Apa yang orang mainkan, Blo'on
selalu dapat meniru.
Saat itu keadaan dipanggung upacara tampak morat marit.
Hoa Sin, Sian Li, Hong Ing dan kakek Lo Kun masih duduk
menyalurkan tenaga dalam. Tetapi pihak Thian-tong-kau pun
sudah hampir berantakan. Barisan bocah, barisan dara2
cantik, sudah menghilang, barisan pengawal Baju Putih, sudah
tersapu. Barisan pengawal Baju Merah hanya tinggal empat
orang yang masih bertempur lawan Pek I lojin dan Blo’on.
Apabila keempat pengawal Baju Merah itu sudah hancur,
Thian-tong-kau hanya tinggal seperti sebuah hutan yang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
gundul. Tinggal pengacara Baju Merah dan ketua Thian-tongkau
yang dijaga oleh sepasang harimau.
Selagi pertempuran masih berlangsung seru, Hoa Sin yang
lebih dulu membuka mata, kerutkan dahi ketika memandang
pertempuran antara Pek I lojin dan Blo'on lawan empat orang
pengawal Baju Merah.
Ia heran melihat dua sosok bayangan putih berhamburan
seperti dua gulung asap menyusup diantara empat- pengawal
Baju Merah. Diam2 ia menyadari bahwa Pek I lojin yang
menurut pengakuan tak mengerti ilmu silat, ternyata seorang
tokoh yang memiliki ilmu meringankan tubuh setinggi kakek
baju putih itu, hanya dapat dihitung dengan jari.
Kemudian keheranannya beralih pada diri Blo'on.
Bagaimana mungkin pemuda itu dapat menirukan dan
mengikuti kecepatan gerak Pek I Iojin? Ah, benar2 sukar
dipercaya tetapi memang nyata.
Setelah itu pandang matanya berkeliaran ke sekeliling
panggung. Disana sini tampak tubuh2 baju putih dan baju
merah yang bergelimpangan tak berkutik. Tentulah mereka
anggota barisan Pengawal Baju Putih dan Baju Merah yang
telah rubuh. Ada yang sudah mati ada pula yang terluka
parah.
Kemudian pandang matanya dilanjutkan menuju ketempat
pengacara baju merah yang memimpin upacara di panggung
itu. Serentak Hoa Sin pun terbelalak: kaget.
"Hilang.....” seru Hoa Sin dalam hati ketika melihat
pengawal baju merah itu sudah tak berada dilempatnya.
Dan terakhir pandang mata Hoa Sin menelusur ke ujung
panggung, tempat pimpinan Thian-tong-kau.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai !” tiba2 ketua Kay-pang itu melonjak bangun.
Sian Li, Lo Kun dan Hong In pun saat itu sudah membuka
mata. Mereka terkejut mendengar teriakan Hoa Sin.
"Mengapa, Hoa pangcu ?” seru Sian Li yang segera
.berbangkit.
"Lihatlah," seru Hoa Sin, "bukan saja pengacara baju merah
dari Thian-tong-kau sudah menghilang, pun ketuanya juga
lenyap."
Sian Li terkejut juga. .Demikian dengan Lo Kun dan Hong
Ing. Bahkan Lo Kun segera ayunkan langkah.
"Hai, kemana engkau kakek," seru Sian Li
"Mencari ketua mereka," sahut Lo Kun.
"Dia sudah meloloskan diri, kemana hendak engkau cari ?"
kata Sian Li.
"Kurang ajar," Lo Kun menggeram, "dia tentu sedang
makan atau pun tidur dan kita dibiarkan berkelahi. Hm, orang
itu harus kuhajar."
Tetapi sebelum kakek itu melangkah, Sian Li sudah
memegang lengannya dan berkata : "Kakek, harap tunggu
dulu."
"Tunggu apa lagi ?" . sungut kakek Lo Kun.
"Tunggu dulu setelah suko dan Pek I lojin selesai
bertempur, kita tanya pendapat mereka."
"O," Lo Kun rnendesuh," supaya lekas, hayo kita bantu
mereka."
"Jangan," kembali Sian Li mencegah, "mereka dapat
menyelesaikan sendiri."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kurang ajar!"
"Mengapa ?” tegur Sian Li.
"Kakek baju putih itu ternyata gesit sekali. Masakan aku
hampir tak dapat melihat wajahnya. Yang kelihatan hanya
pakaiannya saja."
Diam2 Sian Li juga heran mengapa Pek I lojin ternyata
memiliki ilmu meringankan-tubuh yang begitu lihay.
"Eh, mengapa Blo'on dapat juga mengikuti gerak orangtua
baju putih itu ? Kapankah dia belajar lari cepat?” kembali
kakek Lo Kun menggerutu seorang diri.
"Suko memang bisa menirukan segala macam ilmu ," kota
Sian Li.
Dalam pada itu pertempuran pun mencapai titik yang gawat
Blo'on jemu terus menerus lari tiada hentinya. Tiba2 ia
berhenti kemudian menirukan gerak dari kedua pengawal Baju
Merah yang menyerangnya.
Tring tring ....
Terdengar suara senjata berdenting-denting. Disusul
dengan gerakan bunga api, terdengar kedua pengawal Baju
Merah yang bersenjata pedang itu mendesuh dan menyurut
mundur setengah langkah.
Kemudian mereka menyerang lagi. Tetapi kembali
terdengar benturan senjata yang keras dan kedua orang itu
pun terpental selangkah'
Rupanya mereka terkejut karena pikulan besi yang
diayunkan Blo'on itu mengandung tenaga dalam yang hebat
sekali, sehebat seperti yang mereka pancarkan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Mereka terkesiap tetapi karena kesadaran pikirannya sudah
hilang, mereka pun menyerang lagi tanpa berkata apa2.
Sian Li menimang-nimang keadaan. Pengacara baju merah
dan ketua Thian-tong-kau meloloskan diri. Ini berbahaya dan
harus dicegah agar kelak mereka tidak menimbulkan gara2
lagi, membentuk perkumpulan baru dan mencelakai beberapa
tokoh persilatan seperti yang dialami oleh tokoh2 yang
dijadikan pengawal Baju Merah dan Baju Putih saat ini.
Untuk lekas mencegah peristiwa itu, harus pengacara dan
ketua Thian-tong-kau dicari selekasnya. Dan untuk mencari
mereka, pertempuran yaug terakhir itu harus lekas selesai. Ia
mencari akal. Jika meminta ketiga ketua, partai persilatan
maju untuk membantu, mungkin menyinggung perasaan Pek I
lojin. Harus dicarikan akal. Demikian Sian Li memutuskan.
Tiba2 ia mendapat akal, serunya: “ Kakek Lo Kun, maukah
engkau bertaruh?"
Lo Kun terbeliak: “Bertaruh? Bertaruh dengan siapa ? "
“Dengan aku,” sahut Siau Li.
“Bertaruh soal apa? "
“Soal pertempuran itu," kata Sian Li. “siapakah yang lebih
dulu dapat menyelesaikan pertempuran, suko atau Pek I lojin."
“O, " Lo Kun mendesuh, “ bertaruh sih mau saja, tetapi aku
tak punya benda untuk taruhannya. "
“ Itu soal mudah, " kata Sian Li, “siapa yang kalah harus
memberi sebuah benda yang luar biasa. Boleh berupa senjata
pusaka, kitab atau benda yang jarang terdapat di dunia …. "
“Uh, mana aku punya benda begitu?" tukas kakek Lo Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
“Kalau sekarang belum punya, tak apa. Boleh
dipertangguhkan sampai kapan saja setelah mendapatkan
pusaka itu. Aku sendiri juga belum sedia tetapi kelak sewaktuwaktu
sudah mendapatkan, kalau aku kalah, tentu akan
kuhaturkan sebuah benda yang luar biasa kepada kakek.
Mau?"
“Kalau begitu caranya, aku mau," kata kakek Lo Kun, “lalu
bagaimana cara pertaruhan itu? "
“Kakek boleh menjagoi siapa, suko atau Pek I lojin yang
akan menang lebih dulu. "
Lo Kun garuk2 kepalanya yang tak gatal.
“Wah, susah dikata. Begini saja,” katanya, “sebagai
orangtua wajib aku mengalah. Engkau boleh pilih dulu."
Selama bicara itu Sian Li sengaja berseru dengan keras
agar terdengar Blo'on dan Pek I lojin.
“Aku menjagoi Pek I lojin!" serunya pula, dengan suara
yang makin melengking keras.
“Engkau curang! " seru Lo Kun, “sudah tentu kakek baju
putih itu yang akan memenangkan pertempuran lebih dulu.
Blo'on tidak bisa bersilat. Dia hanya dapat menirukan gerakgerik
orang saja. Kalau musuh memukul, dia memukul. Musuh
menendang dia pun menendang. Musuh menghantam, ia juga
menghantam. Pendeknya segala tingkah lawan selalu
ditirukan. Bahwa kalau lawan kencing, dia pun tentu kencing.
Dasar Blo'on . . . . "
Sian Li tertawa mengikik.
“Kalau begitu, aku pegang Suko dan engkau yang menjagoi
Pek I Iojin," serunya.
“Jangan! " teriak Lo Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Sian Li kerutkan dahi.
“Habis engkau mau menjagoi siapa ?” serunya heran.
“Engkau tahu," kata Lo Kun, “kalau aku menjagoi kakek
baju putih, Blo'on tentu marah kepadaku. Dia tentu tak
mengaku aku sebagai kakek lagi. Wah, celaka aku nanti."
“Mengapa celaka?" seru Sian Li.
“Dunia ini memang penuh manusia, banyak anak laki yang
bagus dan gagah, tetapi tidak ada yang seperti Blo'on. Di
dunia mungkin hanya ada seorang Blo'on. Macam benda
pusaka, dia pun termasuk manusia pusaka. Aku harus
memilikinya. Dia harus tetap menjadi cucuku."
Sian Li tertawa lagi.
“Lalu bagaimana kehendak kakek?" tanyanya.
“Jelek2 Blo’onnya sendiri, lihay sekali pun kakek baju putih
itu, aku tetap memilih Blo'on. Sekali Blo’on, tetap Blo'on," seru
kakek Lo Kun.
“Jadi engkau memilih suko?" sengaja Sian Li mengulang
dengan suara keras, "yang keras kalau bicara, kakek. Agar
disaksikan orang banyak. Mereka bisa jadi saksi pertaruhan
ini."
"Aku tahu Blo'on tentu kalah," teriak Lo Kun sekeraskerasnya,
"tetapi aku tetap memilih dia.”
" Baik, aku pilih Pek I lojin," seru Sian Li.
Hoa Sin bermula heran mengapa dalam suasana seperti itu,
Sian Li mau bergurau mengajak Lo Kun bertaruh. Tetapi pada
lain saat, cepat ia dapat mengetahui maksud hati cewek itu.
Tidak demikian dengan Blo’on. Ia mendengar pembicaraan
itu. Ia mendongkol terhadap Sian Li karena sumoaynya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
ternyata memihak pada Pek I lojin. Tetapi pada lain saat, ia
terkejut sendiri. Kalau ia marah dan menang lebih cepat dari
Pek I lojin, sumoaynya tentu akan memberi benda pusaka
kepada Lo Kun. Pada hal ia tahu Sian Li tak punya pusaka
apa2. Kasihan, tiba2 timbul rasa kasihan kepada Sian Li. Lebih
baik ia perlambat gerakannya agar Pek I lojin dapat menang
lebih dulu.
"Sialan," kakek Lo Kun bersungut-sungut ketika melihat
permainan Blo'on makin lamban. Berulang kali hampir saja ia
terdesak oleh .kedua lawannya.
"Hola, bagus lojin!° tiba2 Sian Li berteriak gembira ketika
salah seorang pengawal Baju Merah ngelumpruk jatuh di
tanah,"tinggal satu lagi dan menanglah aku. Biarlah kakek Lo
Kun memberi hadiah pusaka kepadaku?"
"Blo'on, jangan main gila," teriak Lo Kun, "Rupanya engkau
sengaja memperlambat gerakanmu, agar aku kalah ya ?"
Bio'on tak peduli. Ia tetap bergerak lamban.
“Hi, hi, hi," Sian Li tertawa gembira, "pokoknya, engkau
harus memberi aku benda pusaka, kakek Lo Kun."
Beberapa saat kemudian kakek Lo Kun makin kelabakan.
Blo'on tetap belum mampu mengalahkan lawan, walau pun
seorang saja. Dan dalam pandangan kakek Lo Kun, gerakan
Blo'on itu lamban sekail, seperti tak mau bermain sungguh2.
"Sian Li," teriak kakek Lo Kun tiba2, "aku ada usul, engkau
setuju tidak !"
"Bagaimana?" tanya Sian Li.
"Jelas Blo'on hendak main gila supaya aku kalah. Dia
hendak membantu engkau," Kata Lo Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ah, jangan berkata begitu, kekek Lo Kun” sahut Sian Li,
"memang suko tidak mengerti ilmu silat. Bagaimana mungkin
dia dapat menandingi Pek I lojin ?. Salahmu sendiri mengapa
engkau menjagoi suko.”
"Bagaimana kalau aku ganti menjagoi kakek baju putih itu
?" seru Lo Kun.
"Wah, enak sekali engkau, kakek Lo," seru Sian Li. sudah
jelas engkau kalah, masakan mau ganti jago. Siapa yang mau
?"
"Jangan begitu," kata kakek Lo Kun, "kalau engkau setuju,
aku mempunyai usul begini. Kita ganti jago, tukar menukar.
Aku pasang kakek baju putih, engkau ganti menjagoi
Blo'on....."
"Enak, ya ?" tukas Sian Li.
"Nanti dulu," seru Lo Kun, “jangan memutus omonganku
dulu. Dengarkan. Setelah ganti jago, pertaruhannya pun ganti.
Jika kakek baju putih itu menang, engkau Blo’on yang
menang, aku akan memberimu dua buah pusaka. Nah,
bagaimana?"
Sian Li merenung. Baginya soal hadiah sih tidak penting.
Pokok, sukonya segera menyelesaikan pertempuran itu. Hanya
dengan cara mencolok dan membikin panas hati, barulah
sukonya akan penasaran dan ngamuk.
"Ya, baiklah, kakek Lo. Tetapi kali ini yang terakhir. Mana
ada orang bertaruh main ganti," kata Sian Li.
Lo Kun mengiakan : "Baiklah, sekali ini aku takkan minta
ganti."
"Jadi sekarang kakek menjagoi Pek I lojin dan aku pegang
suko. Kalau kakek kalah, kakek harus memberi dua buah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
benda pusaka dan kalau aku kalah, hanya memberi sebuah
pusaka.” Sian Li sengaja mengulang dengan suara keras.
"Ya," teriak Lo Kun dengan nyaring juga.
Blo'on mendengar juga pembicaraan itu. Sekarang tiba
saatnya ia akan memberi kemenangan untuk Sian Li agar
sumoay itu mendapat dua buah pusaka dari kakek Lo Kun.
Tring, tring.....
Dalam gerak ilmu Latah untuk menirukan tabasan pedang
kedua lawannya, Blo'on ingin segera menghancurkan pedang
lawan. Hati ingin, darah meluap dan tenaga -sakti Ji-ih sinkang
pun memancar.
Terdengar dua buah suara dengus tertahan dari kedua
pengawal Baju Merah yang terhuyung-huyung ke belakang
dengan pedang yang tinggal separoh.
Hebat sekali tenaga sakti Ji ih-sin-kang yang memancar dari
pikulan besi Blo'on itu sehingga pedang kedua pengawal Baju
Merah itu patah. Karena kedua orang itu berusaha sekuat
tenaga untuk tetap menggenggam tangkai pedang, akibatnya,
tangan mereka seperti pecah dan lengan pun kesemutan,
tubuh tergempur mundar.
Kedua pengawal Baju Merah itu sesaat tertegun. Mereka
terkejut kemudian marah. Diam2 mereka kerahkan seluruh
tenaga dalam, lalu tiba2 mereka maju dan taburkan kedua
batang pedang yang buntung itu kearah Blo'on.
Kembali ilmu Latah dalam tubuh Bio'on memancar. Dia pun
menyabitkan pikulan besi kepada kedua pengawal Baju Merah
itu. Tring.....
Kedua pedang kutung terbentur pikulan besi, mental balik
kepada pelontarnya. Tatkala kedua pengawal Baju Merah itu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
terkejut ketakutan dan hendak loncat ke samping, tiba2
pikulan besi yang ditaburkan Blo'on itu sudah melayang,
menghantam punggung mereka, bluk, bluk......kedua
pengawal itu pun segera rubuh tak bangun selama-lamanya.
"Mati aku '" teriak kakek Lo Kun.
"Hi, hi, hi," Sian Li tertawa gembira.
"Blo'on curang!" seru Lo Kun.
"Curang bagaimana ?” tanya Sian Li.
"Waktu aku menjagoinya, dia sengaja bergerak lamban.
Tetapi begitu aku menjagoi kakek baju putih itu, dia terus
memberingas dan mengamuk ....."
Tiba2 kakek Lo Kun menghampiri Blo'on dan menuding
muka anak itu: “Hm, engkau memang kurang ajar. Bukankah
engkau sengaja membuat aku supaya kalah dengan
sumoaymu?”.
"Kalah apa?" tanya Blo'on.
'Kalah bertaruh," sahut kakek Lo Kun, "waktu aku menjagoi
engkau bertempur dengan santai. Setelah aku ganti menjagoi
kakek baju putih, engkau cepat2 mengalahkan kedua
lawanmu. Bukankah engkau memang sengaja?”
"Yang salah bukan aku tetapi engkau sendiri. Mengapa
engkau tidak setya menjagoi aku. Mengapa, engkau menjagoi
kakek itu. Apa karena sama tuanya ?" balas Blo’on.
Hidung kakek Lo Kun menyengir. Tiba2 dia berpaling kearah
Pek I lojin yang masih bertempur dengan seorang pengawal
Baju Merah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Celaka memang kakek itu. Masakan melawan seorang baju
merah saja tak mampu sehingga aku sampai kalah," teriak
kakek Lo Kun.
Tiba2 pengawal Baju Merah itu menerjang kakek Lo Kun
sehingga kakek itu gelagapan dan menjerit. Untung Blo'on
cepat mendorong tubuh Lo Kun ke samping. Walau pun kakek
Lo Kun harus gentayangan mau jatuh tetapi ia terlepas juga
dari tabasan pedang pengawal Baju Merah itu.
Sebenarnya peristiwa itu memang disengaja oleh Pek I
lojin. Dia berputeran mengelilingi lawan sambil mendesaknya
supaya dekat dengan tempat kakek Lo Kun. Kemudian sengaja
ia perlambat gerakannya. Melihat itu pengawal Baju Merah
menggerung dan terus menerjang, Tetapi karena Pek l lojin
menghilang maka yang menanggung akibatnya adalah kakek
Lo Kun.
Lo Kun marah Segera ia melolos ular thiat-bi-coa dari
pinggangnya terus menyerbu pengawal Baju Merah itu.
Pertempuran sekarang berganti antara pengawal Baju
Merah lawan kakek Lo Kun. Cukup seru juga.
Ular thiat-bi-coa memang lihay. Ia seperti mengerti
kehendak kakek Lo Kun. Setiap kali ditebas pedang, dengan
gerak yang licin dan cepat, ular itu menghindar lalu menyerbu
muka orang. Sudah tentu pengawal itu gelagapan dan
menyurut mundur.
Karena berulang kali menderita kejutan, marahlah pengawal
Baju Merah itu. Segera ia memutar pedangnya sederas kitiran
sehingga tubuhnya, tak tampak lagi karena terbungkus sinar
putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Melihat itu kakek Lo Kun terkejut. Kini dia lah yang berganti
harus mundur. Jika memaksa mengajukan ular thiat-bi-coa. Ia
takut ular itu akan terpaksa kutung oleh pedang lawan.
Tiba2 Lo Kun lepaskan cekalannya sehingga ular itu jatuh
ke lantai. Kemudian ia lepaskan pukulan.
Karena sedang mainkan pedang deras, pengawal Baju
Merah itu tak sempat memperhatikan ular yang jatuh ke
lantai. Ia hanya melihat kakek itu memukul dengan
tangannya. Sudah tentu dia tak mau lepaskan kesempatan
sebaik itu.
Pedang serentak dihamburkan menjadi sebuah hujan sinar
yang mencurah kearah pukulan Lo Kun. Tetapi pada saat
pedang hampir mengenai tangan orang. tiba2 ia menjerit
keras. Sedemikian keras sehingga sekalian orang terkejut dan
berdebar-debar hatinya. Jeritan itu disusul pula dengan tubuh
pengawal Baju Merah yang terjerambab jatuh kebelakang. Ia
menggelepar-gelepar dan meronta ronta macam ikan dalam
jaring.
Betapa kejut rombongan ketua partai persilatan itu ketika
melihat kerudung muka dari pengawal Baju Merah itu telah
basah dengan darah dan bagian hidung sampai ke mulut,
menyingkap sebuah lubang sehingga kelihatan.
"Hidungnya hilang !" teriak Blo’on ketika melihat muka
pengawal Baju Merah itu.
"Lepaskan!" tiba2 kakek Lo Kun berteriak seraya menarik
pulang ular Thiat bi coa. Tangan kirinya mencekal mulut ular
itu. "jangan makan hidung menusia. Jangan membuat aku
malu karena tak memberi engkau makan. Nih......"
Kakek Lo Kun merogoh kedalam baju dan mengeluarkan
segenggam buah som lalu diberikan ke mulut ular. Rupanya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
ular Thiat bi-coa itu memang luar biasa dan aneh. Selekas
melihat buah som, ia terus lepaskan gumpalan daging hidung
dari pengawal Baju Merah tadi. Buah som itu dimakannya
dengan lahap.
Tiba2 Pek I Lojin menghampiri pengawal Baju Putih itu.
Sambil gerak-gerakkan tangannya ia berseru: "Sudahlah,
jangan meronta ronta. Tidur saja, jangan bergerak."
Aneh. Pengawal Baju Merah yang bermula bergeleparan
rupanya menurut perintah Pek I lojin. Tubuhnya terus diam
tak berkutik.
"Apa dia mati ?" tanya Blo’on.
Pek I !ojin gelengkan kepala : "Tidak, hanya beristirahat."
Jika Blo’on percaya akan keterargan kakek baju putih itu
tidaklah demikian dengan Hoa Sin, Ceng Siang suthay dan
Hong Hong tojin. Ketiga tokoh itu adalah ketua dari partai
bersilatan yang ternama. Sudah tentu kepandaian mereka
tinggi sekali. Dalam pandangan mereka, jelas pengawal Baju
Merah bukan diam karena beristirahat tetapi karena tertutuk
jalan-darahnya.
Mereka terkejut. Jelas kakek baju putih itu tak langsung
menutuk tubuh pengawal itu melainkan hanya menggerakkan
tangannya pelahan tetapi jalan darah pangawal itu pun telah
tartutuk, sehingga dia tak menderita kesakitan dan
pendarahan hidungnya pun berhenti.
"Kek gong tiam-hwat yang sakti,” seru ketiga ketua partai
persilatan dalam hati.
Kek-gong tiam- hwat artinya Ilmu menutuk jalan darah dari
jarak jauh. Hanya tokoh yang memiliki tenaga dalam
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sempurna dan ilmu menutuk jalan darah yang tinggi, mampu
melakukan hal itu.
Tetapi mereka tak sempat menyelidiki dan bertanya kepada
Pek I lojin itu. Suasana diatas panggung Thian-tong-kau
memerlukan tindakan dan penyelesaian yang segera.
Saat itu diatas panggung sudah tak tampak barang orang
Thian tong kau. Pangacara baju merah dan ketua Thian tong
kau sudah lolos. Yang masih tertinggal hanya sosok2 tubuh
dari pengawal Baju Merah dan Baju Putih. Ada yang sudah
manjadi mayat, ada pula yang pingsan dan menderita luka
yang parah.
Sementara dibawah panggung, tetamu2 yang terdiri dari
tokoh2 persilatan itu, jumlannya pun tak banyak. Karena
sebagian mereka telah menjadi korban keganasan orang Thian
tong-kau. Apabila datang secara rombongan maka
rombongannya atau anakbuahnya yang mengangkut mayat
pemimpin mereka. Oleh karena sebagian besar ketua,
pemimpin dan tokoh2 ternama dalam rombongan tetamu itu
banyak yang mati dan luka, maka saat itu hanya sebagian
kecil saja yang masih berada dibawah panggung.
Selama diatas panggung berlangsung perternpuran Blo’on
dan kawan-kawan, melawan pengawal2 Baju Marah dan Baju
Putih, mereka tak berani turut campur:
Tetapi setelah melihat kasudahan pertempuran dimana
Blo'on dan rombongannya yelah berhasil membasmi orang2
Thian-tong-kau, maka timbullah nyali mereka lagi. Mereka
hendak melampias dendam kemarahan mereka atas kematian
dari pemimpin mereka dan beberapa tokoh persilatan lainnya.
Serempak mereka berhamburan loncat ke atas panggung
untuk membantu Blo'on mengobrak-abrik: sarang Thian tong
kau.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mau apakah saudara2 ini ?" seru Hoa Sin ketika berpuluh
puluh orang naik keatas panggung.
"Hoa pangcu," sahut mereka yang kenal siapa Hoa Sin itu.
“izinkan kami membantu pangcu untuk membasmi
gerombolan Thian-tong-kau itu."
"Saudara2 tak perlu berjerih payah, aku dan para cianpwe
ini sanggup untuk mengobrak-abrik mereka," seru Blo'on yang
kasihan terhadap mereka. Mereka adalah anakmurid atau
anakbuah dari rombongan partai persilatan yang telah
kehilangan pemimpinnya.
"Biarlah, kongcu," akhirnya Hoa Sin berkata, "mereka tentu
penasaran apabila tak ikut dalam gerakan untuk membalas
dendam kepada orang2 Thian-tong-kau."
Kemudian Hoa Sin mengatakan kepada, orang2 itu bahwa
bantuan mereka dapat diterima. Tetapi diminta mereka jangan
bertindak menurut kehendak sendiri “Saudara2 harus ingat,
bahwa markas Thian-tong kau itu tentu masih dijaga oleh
tokoh2 yang sakti”. Hoa Sin memberi penjelasan.
"Baik, pangcu. Kami akan menurut perintah pangcu
sekalian," kata mereka.
Rahasia dibalik rahasia
Setelah lengkap semua, Pek I lojin mengajak rombongan
orang gagah itu menyerbu kedalam markas Thian tong-kau.
Mereka memasuki sebuah ruang sempit yang panjang
seperti lorong. Ternyata markas Thian-tong-kau dibangun
dalam sebuah guha. Guha itu diperluas dan dibangun
sehingga merupakan sebuah bangunan indah dalam tanah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hati2 saudara. Mungkin dalam markas ini telah dilengkapi
dengan alat2 perangkap yang berbahaya.” Hoa Sin memberi
peringatan.
Tepat pada saat ketua Kay-pang memberi peringatan,
sekonyong konyong dari atas langit2 ruang guha itu meluncur
sekeping baja yang menutup jalan dimuka. Dan serempak
dengan itu, dari belakang pun segera terdengar bunyi
berderak derak dan sebuah pintu besi yang meluncur dari atas
langit2 ruang itu.
"Celaka, kita tertutup disini," seru Hoa Sin.
Dung .... dung ..... tiba2 kakek Lo Kun lari menghampiri
pintu besi itu dan menghantam. Tetapi pintu besi yang amat
tebal itu, sedikit pun tak melekuk.
"Ham, jangan kuatir kakek Lo," seru Sian Li yang juga
menyusul datang. Ia mencabut pedang Pek-liong-kiam lalu
mulai membacok:. Cret, eret... pintu itu sedikit demi sedikit
dapat terpapas dengan pedang pusaka itu.
Tetapi tiba2 pula, entah dari mana datangnya, rombongan
orang gagah itu terkejut ketika merasa bahwa ruang itu mulai
dihambur asap warna hitam.
"Saudara2, lekas tutup pernapasan. Kemungkinan asap
hitam ini mengandung racun." seru Hoi Sin pula. Sekalian
orang gagah segera melakukan perintah.
'Hoa pangcu, bagaimana cara menutup napas ?"' seru
Blo'on.
Hoa Sin tertegun. Segera ia menyadari bahwa pemuda itu
memang tak mengerti ilmu silat. Kalau disuruh menghentikan
pernapasan secara biasa, Bio'on tentu tak kuat. Jika hidungnya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
saja yang disuruh mendekap, mulutnya tentu masih
menyedot.
Selang beberapa ketua partai persilatan itu bingung
memikirkan cara bagaimana menyuruh Blo'on menutup
pernapasan, tiba2 Sian Li berseru.
"Kakek Lo, bukankah engkau hendak memberi batu giok
merah berbentuk Naga kepada suko ?” kata Sian Li sambil
masih melanjutkan menggempur pintu baja.
Kakek Lo Kun teringat akan mustika itu. Memang ia hendak
membelikan kepada Blo'on. Maka ia pun segera menghampiri
Blo'on dan menyerahkan mustika itu.
"Buat apa ?" seru Blo'on.
"Jika engkau dekapkan mustika ini ke hidung engkau tentu
takkan mati terkena asap beracun?” kata kakek Lo Kun.
"Apakah asap hitam ini beracun ?" tanya Blo'on pula.
"Aku sendiri juga tak mengerti," kata Lo Kun.
"Ya, memang beracun, kongcu." sahut Hoa Sin.
"Tetapi mengapa aku tak mati ?" tanya Blo'on.
"Sudahlah, kongcu, harap melindungi dirimu dengan
mustika itu," Hoa Sin tak mau berdebat berkelarutan.
Tetapi Blo'on tetap bandel. Ia hanya menyimpan mustika
merah itu kedalam baju.
Asap hitam itu makin lama makin tebal sehingga ruangan
itu gelap sekali. Sian Li pun hanya dapat menghantam pintu
dengan sembarangan saja, tanpa arah. Akibatnya pintu itu
lama sekali tak terbuka.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Beberapa saat kemudian, asap makin lama makin tipis
tetapi tokoh2 yang berada di ruang itu pun berobah
perangainya. Mereka menangis tersedu-sedu.
Beberapa tokoh yang berilmu tinggi, Pek I lojin, Hoa Sin,
Ceng Sian suthay, Hong Hong tojin, kakek Lo Kun hanya
mengalirkan airmata. Tetapi yang lain2, Hong Ing, Sian Li dan
rombongan orang gagah yang ikut mereka, sama manangis.
Ada yang menangis keras, ada yang tersedu sedan ada yang
tersekat sekat.
Hanya Blo'on seorang diri yang tidak menangis tetapi
terlongong-longong. Ia heran mengapa orang2 itu berobah
seperti orang yang ditinggal-mati keluarganya.
"Hai, mengapa kamu ini ?" teriaknya. Kemu dian ia
menghampiri kakek Lo Kun. "Kakek, mengapa engkau
mengucurkan airmata ?**
Tetapi kakek itu tak menjawab. Dia tetap menangis. Blo'on
bertanya kepada Pek I lojin : “Lojin, mengapa engkau
mengucurkan atrmata?"
Kakek biju putih itu hanya geleng2 kepala tak menyahut.
"Aneh," guman Blo'on lalu bertanya kepada Hoa Sin, Ceng
Sian suthay, Hong Hong tojin, Sian Li, Hong Ing dan lain2
orang. Tetapi mereka hanya diam tak menyahut dan tetap
menangis terus.
Entah bagaimana, Blo’on merasa tentu terkena asap hitam.
Jika terus menerus berada dalam ruang ini, mereka tentu mati
semua, kecuali aku !.
Serentak ia melihat Sian Li yang masih menangis tersedu
sedan itu sudah hentikan gempurannya pada pintu besi. Blo'on
pun dapat mengetahui bahwa pedang yang kini menggeletak
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
di sisi sumoay itu sebuah pedang pusaka yang luar biasa
tajamnya. Adalah karena Sian Li kurang cepat menghantam,
atau mungkin karena tenaganya kurang, maka pintu itu tak
dapat segera bobol.
Segera Blo'on mengambil pedang Pek liong-kiam itu lalu
dengan sekuat tenaga ia menghantam pintu besi. Bumi terasa
bergetar keras ketika pintu besi itu berdering dering dibacok
pedang Pek-liong kiam.
Entah bagaimana, tiba2 saja Blo'on itu seperti orang yang
tidak blo'on. la dapat melihat dan mengetahui apa yang
terjadi. Dia pun dapat mengerahkan tenaga sehingga
bacokannya itu hebat sekali. Dalam waktu singkat, pintu besi
yang setebal batu merah itu pun bobol dan terbuka sebuah
lubang besar. Dia terus membacok dan lubang pada pintu besi
itu pun makin besar.
"Hayo, kita keluar," ia berseru seraya menarik orang2 itu
keluar.
Tangis orang2 itu pun makin lama makin reda, kemudian
berhenti. Blo'on tak mau memaksa mereka untuk melanjutkan
perjalanan. Ia membiarkan mereka beristirahat dulu. Dia
sendiri bingung bagaimana harus menghibur mereka.
Lebih kurang sepenanak nasi lamanya, tiba2 rombongan
orang gagah itu berdiri.
"Kim kongcu, tempat apakah ini ?” Hoa Sin lebih dulu yang
pertama-tama membuka mulut.
"Entahlah," sabut Blo’on.
"Kongcu," kata Pek I Iojin, “jika tak salah tadi engkaulah
yang membobol pintu besi itu dan membawa kami keluar,
bukan ?”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mungkin," sahut Blo'on merenung.
Sekalian orang terbeliak. Mengapa pemuda itu tak dapat
mengingat hal itu. Kemudian mereka meminta penjelasan dari
Pek I lojin.
"Peristiwa ini memang aneh," kata Pek I lojin, "asap hitam
tadi telah menyebabkan kita semua kehilangan kesadaran
pikiran dan menangis terus menerus. Aku sendiri yang sudah
berpuluh-puluh tahun tak pernah menangis, leher bajunya
sampai basah dengan airmata."
"Lojin masih dapat mengingat semua kejadian tadi ?" tanya
Hoa Sin.
"Secara samar-samar," kata Pek I lojin." rupanya asap
hitam itu memang luar biasa sekali sehingga walau pun
saudara sekalian sudah berusaha untuk menutup pernapasan
tetapi pengaruh asap hitam itu menyusup kedalam tubuh
saudara."
"Lalu siapakah yang mengobati kita, lojin? Apakah suko ?”
tanya Sian Li.
Pek I lojin gelengkan kepala : "Bukan kalau tak salah
dugaanku, setelah kita berada di alam terbuka, pengaruh asap
hitam itu hilang sendiri."
"O, tetapi mengapa suko tak apa-apa?" tanya Sian Li pula.
Pek I lojin menghela napas, katanya: "Disinilah letak
keanehan pada diri anak itu. Apabila tak salah penilaianku,
soalnya begini. Asap hitam itu beracun tetapi justeru racun
itulah yang menyembuhkan kesadaran otaknya sehingga ia
dapat berpikir terang. Sebaliknya kita, yang berotak waras,
menjadi hilang kesadaran karena asap hitam. Jadi dia adalah
kebalikan dari orang biasa."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Jika demikian," kata Sian Li, "kalau kita sudah pulih
kesadaran pikiran kita, dia tentu akan kambuh lagi
penyakitnya itu."
"Mungkin." sahut Pck I lojin "tetapi mudah-mudahan saja
tidak begitu “
"Suko, bagaimana perasaanmu sekarang?* Sian Li langsung
bertanya.
"Mengapa aku?" tanya Blo'on "aku tak apa2. Apa engkau
kira aku ini gila?"
Sekalian orang tertawa. Kemudian Hoa Sin terseru: "Tugas
kita masih belum selesai, entah kita harus menghadapi bahaya
apa lagi. Mari kita lanjutkan menghancurkan sarang Thiantong-
kau."
Blo'on dan rombongan segera berjalan pula. Lorong markas
dibawah tanah itu memang cukup lebar sehingga jika tak
tahu, orang tentu tak merasa bahwa mereka sebenarnya
sedang berada dibawah tanah.
Tak berapa lama berjalan, kembali mereka menghadapi
peristiwa yang hampir sama. Sekeping baja tiba meluncur dari
atas dan menutup jalan mereka. Dan pada saat itu pula,
mengalirlah asap putih.
Seperti yang tadi, pun rombongan orang gagah itu segera
menutup pernapasannya. Dan seperti tadi pula, Blo'on tetap
tak mau meniru kawan-kawannya. Alasannya dia tak dapat
menutup pernapasan.
Rupanya asap buatan orang Thian-tong-kau itu memang
hebat ramuannya. Tokoh2 semacam Hoa Sin, Ceng Sian
suthay, Hong Hong tojin dan Pek I lojin yang berilmu tinggi,
akhirnya tetap menyerah juga.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tiba2 sekalian orang itu tertawa! Hoa Sin, Ceng Sian, Hoag
Hong dan Pek I lojin masih mending. Mereka hanya tertawa
biasa. Kakek Lo Kun tertawa seperti suara burung kukukbeluk.
Hong lng, Sian Li tertawa mengikik. Sekalian anak-murid lain2
rombongan tertawa gelak2. bahkan ada yang melonjak-lonjak
seperti anak kecil.
Blo'on seperti tadi, tampak memberingas. la dapat berpikir
terang. Tahu bahwa orang2 itu mempunyai daya khasiat
membuat orang tertawa geli. Karena terus menerus tertawa,
akhirnya orang akan lemas dan rubuh. Yang lemah ilmu
Iwekangnya tentu akan putus urat-nadinya Sedang yang tinggi
lwekangnya hanya pingsan atau terluka.
"Gila," seru Blo'on, jika tadi mereka menangis, sekarang
mereka diserang penyakit tertawa. Jika tak lekas2 membobol
pintu, mereka tentu akan celaka."
Tanpa banyak bicara, Blo’on segera menyambar pedang
Pek-liong-kiam dari tangan Sian Li dan terus menghantam
pintu besi. Berkat tenaga sakti Ji-ih sin-kang, dapatlah Blo'on
membobolkan pintu besi itu. Dan ketika berada diluar,
menghirup udara segar, orang2 itu pun sembuh. Celakanya.
Blo'on sendiri yang kumat ketolol-tololannya.
Ruang ketiga yang juga dirintangi dengan pintu, tak kurang
berbahaya. Setelah pintu besi mengatup, maka bermunculan
beratus ratus ekor ular besar kecil menyerang mereka.
Para ketua partai persilatan marah. Mereka hendak
membasmi kawanan ular itu.
"Jangan," tiba2 terdengar seorang lelaki berseru. Dia
ternyata seorang anakmurid dari partai persilatan Kim-coa
pang (Ular emas), dari gunung Lu liang-san. Ketua mereka.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pui Tik, telah mati dalam pertempuran dengan pengawal Thian
tong kau.
"Mengapa ?" tanya Pengemis-sakti Hoa Sin.
"Aku dapat mengatasi kawanan ular itu," kata orang itu lalu
mengeluarkan bungkusan dari bajunya. Bungkusan itu
merupakan bubuk putih. Bubuk itu segera ditaburkan kearah
kawanan ular, kemudian disulut dengan korek api. Dan bubuk
itu segera memancarkan api warna biru. Kawanan ular itu
ketakutan lari masuk kedalam liang lagi.
Setelah keluar dari tempat itu, mereka melanjutkan
perjalanan menyusur lorong yang akan membawa mereka tiba
di pusat markas Thian-tong-kau.
Seperti yang telah diduga semula, tiba2 mereka tertutup
pintu besi lagi. Oleh karena sudah mempunyai pengalaman
maka rombongan orang gagah itu pun bersiap siap.
Dan persiapan mereka memang tepat Karena tak lama
kemudian dari ruang lorong itu segera menghambur berpuluh
macam senjata rahasia ke arah mereka.
Jika perangkap berisi senjata rahasia itu ditujukan pada
jago2 biasa, mnngkin akan membawa hasil. Tetapi yang
menyerbu kedalam lorong itu adalah tokoh2 ketua partai
persilatan. Sudah tentu serangan senjata rahasia itu tak
banyak gunanya.
Empat buah tempat berbahaya berhasil dilalui dengan
selamat. Kini rombongan orang gagah itu berhadapan pula
dengan sebuah rintangan. Beda dengan keempat pos
berbahaya tadi, mereka tidak menghadapi rintangan pintu besi
tetapi sebuah lubang lebar. Lorong terputus, jika hendak
melanjutkan perjalanan harus dapat melampaui sebuah lubang
yang mirip sebuah jurang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kedua tepi lubang itu terpisah sepuluh tombak jauhnya.
Dasar dari lubang itu entah berapa puluh meter dalamnya.
Samar2 itu melihat bahwa dalam datar lubang yang
menyerupai sebuah jurang itu, seperti mengandung air warna
hitam yang tampak bergolak golak seperti air mendidih. Jika
jatuh ke bawah dasar, jelas tentu mati.
Mungkin hanya beberapa tokoh yang mampu loncat
melampaui mulut lubang itu. Tetapi rombongan yang lain
dikuatirkan tak mampu.
"Hebat sekali markas Thian tong- kau," seru Sian Li, "locianpwe,
bagaimanakah benggolan2 Thian tong kau itu
melintasi jalan ini ?" tanyanya kepada Pek I lojin.
"Mungkin mereka memliliki ilmu meringankan tubuh yang
hebat," sahut Pek I lojin.
"Tetapi tidak semua anakbuah Thian tong-kau memiliki
kepandaian tinggi, lo-cianpwe. Lalu bagaimana cara anakbuah
mereka melalui tempat ini ?"
"Ya, memang mengherankan," Pek I lojin hanya menjawab
ringkas.
"Jika tak salah, mereka tentu menyediakan alat, entah
jembatan gantung atau jembatan tali atau alat2 iain untuk
menyeberangkan mereka ke tepi dimuka," kata pengemis sakti
Hoa Sin.
"Jika begitu, mari kita cari alat itu. Mungkin berada
disekeliling tempat ini," kata Sian Li.
Beberapa orang segera mencari kesekitar tempat itu tetapi
tak menemukan hasil apa2.
"Aku sanggup menggendong seorang untuk loncat ke
seberang sana," seru kakek Lo Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pek I lojin tertawa sembari gelengkan kepala: "Berbahaya.
Jangan kita menempuh cara yang membahayakan jiwa."
Kakek Lo Kun tak puas. Ia merasa dianggap tak mampu,
serunya : "Jangan menghina aku si Lo Kun tua ini. Kalau aku
tak mampu, biarlah aku meluncur turun kebawah jurang."
Pek I lojin tertawa : "Jangan salah faham. Soal ini harus
kita pikirkan semasak-masaknya karena menyangkut jiwa.
Loheng, engkau mungkin mampu mulakukan hal itu. Dan
andaikata gagal, engkau pun sudah bersedia tercebur kedasar
jurang. Tetapi bagaimana dengan orang yang engkau
gendong itu ? Bukankah dia juga akan kehilangan nyawa ?"
Lo Kun tak dapat menjawab.
"Lojin dan pangcu sekalian " tiba2 Pergemis-sakti Hoa Sin
berkata, “aku mempunyai usul. Entah pangcu sekalian dapat
menyetujui atau tidak."
"Cobalah katakan," seru Hong Hong tojin.
"Kita bentuk jembatan hidup!" seru Hoa Sin.
"Maksud Hoa pangcu, membuat jembatan manusia ?" cepat
Hong Hong tojin menanggapi.
"Ya. Dengan tujuh atau delapan orang saling berpegangan
sambung menyambung, tentulah kita dapat menciptakan
sebuah jembatan hidup. Saudara saudara yang lain dapat
menggunakan jembatan itu unruk melintas ke seberang tepi
sana."
"Bagus, bagus!" teriak kakek Lo Kun, "hayo, segera saja kiia
jadi jembatan."
"Tidak!" tiba2 Blo'on menolak, "aku manusia, bukan
jembatan. Jadi jembatan tidak enak, badan dan kepalaku
tentu diinjak-injak orang."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Blo'on," teriak kakek Lo Kun, “jangan engkau memikirkan
kepentinganku sendiri. Demi menyelamatkan sekian banyak
orang, engkau harus mau berkorban."
"Ada banyak cara untuk berkorban, tidak harus menjadi
jembatan," bantah Blo'on lagi.
"Bagaimana caranya ?" tanya kakek Lo Kun. "Entah, aku tak
dapat berpikir," sahut Blo'on.
"Kim kongcu memang benar," tiba2 Ceng Sian suthay ikut
bicara," jembatan orang itu memang baik. Tetapi berbahaya
juga. Selain itu, membentuknya pun juga sukar. Hoa pangcu,
dengan cara bagaimana kita akan membentuk jembatan itu?"
"Pertama, kita harus saling bertumpuk. Seorang naik dan
berdiri diatas bahu seorang, kemudian ada lagi orang yang
naik diatas bahu orang kedua itu, orang keempat naik dibahu
orang ketiga, demikian seterusnya sampai enam atau tujuh
orang. Kemudian barisan susun itu harus berdiri di tepi lubang.
Yang paling atas sendiri segera berayun menjatuhkan diri
kemuka. Yang dibawahnya harus ikut merebah kemuka.
Dengan demikian orang yang paling atas akan dapat mencapai
tepi seberang. Setiap orang harus memegang kaki orang yang
berdi ri diatas bahunya."
“Apabila sudah selesai, nanti bagaimana cara untuk
melepaskan diri?" tanya Ceng Sian sutbay pula.
Hoa Sin mengatakan bahwa harus ada gerakan serempak
untuk bersama-sama mengayunkan tubuh.
"Pertama, dibagian tengah harus dilepas sehingga jembatan
itu seperti kutung ditengahnya. Kedua, kelompok itu harus
mengayunkan tubuh ke udara, agar dapat berayun ke tepi
kembali."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bagaimana kalau umpamanya saat itu fihak Thian-tongkau
mengetahui lalu mereka menyerang atau melepaskan
senjata rahasia kearah mereka yang sedang membentuk
jembatan manusia itu ? Walau pun yang dipilih menjadi
jembatan manusia itu tentu para tokoh yang berilmu tinggi,
tetapi mereka kehilangan daya perlawanannya menghadapi
serangan musuh. Dalam keadaan merebah diatas jurang itu,
musuh tentu mudah untuk menghancurkan kita.”
Keterangan suthay itu memang sukar dibantah. Hoa Sin
tertegun. Diam2 ia menganggap pandangan Ceng Sian suthay
itu memang tepat. Dalam keadaan menjadi jembatan, tokoh2
itu tentu tak mampu melawan serangan fihak Thian tong kau.
"Lalu bagaimana?' tanya kakek Lo Kun.
Tiba2 Sian Li berseru : "Ada akal. Tiada yang dapat
mengerjakan pekerjaan ini kecuali suko !"
"Bagaimana ?" teriak kakek Lo Kun.
"Begini," kata Siau Li, “jelas dalam tubuh suko mengandung
tenaga sakti yang aneh. Selama dalam pertempuran tadi
kuperhatikan, setiap kali musuh memukul, musuh itu tentu
terpelanting sendiri. Ini menunjukkan bahwa tenaga -sakti
dalam tubuh suko itu memiliki daya tolak yang hebat. Dengan
begitu apabila dengan sepenuh tenaga kita mendorongnya,
tenaga -sakti suko itu akan jadi tenaga -tolak yang hebat
sehingga kita akan terlempar jauh ke belakang. Atau berarti
dapat melintasi jurang ini."
"Benar," seru Pengemis sakti Hoa Sin, "tetapi masih ada
kekurangannya. Bagaimana dengan saudara2 yang tenaga
dalamnya kurang sempurna itu ? Jika tenaga dorongan
mereka kurang kuat, tubuh mereka pun takkan terlempar
jauh. Mungkin hanya mencapai sepertiga atau setengah dari
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
muIut jurang. Dengan begitu mereka pasti akan meluncur
jatuh kedasar jurang."
Sian Li tak dapat menjawab. Memang ulasan pengemissakti
itu benar. Hanya beberapa tokoh saja yang dapat
meminjam tenaga -tolak Blo'on untuk melampaui mulut
jurang. Yang lain2, mungkin sukar.
"Soal itu," tiba2 Pek I lojin ikut bicara, "tergantung pada
Kim kongcu saja."
"Apakah itu lojin?' tanya Sian Li. "Untuk yang kurang tinggi
ilmu tenaga dalamnya bolehlah Kim kongcu melemparkannya
saja."
"Apakah engkau sanggup suko?" tanya Sian Li.
"Apakah engkau kira aku sanggup melakukan hal itu ?"
Blo'on balas bertanya.
"Asal engkau mau memancarkan tenaga -sakti dalam
tubuhnya, tentulah engkau dapat melakukan hal itu," seru
Sian Li.
Akhirnya karena tiada jalan lain, terpaksa Blo'on
menyanggupi. Ia segera berdiri lima langkah dari tepi jurang.
Kemudian ia bersiap.
Tetapi sebelum mulai, tiba2 Pek I lojin bergerak
menyerangnya. Blo'on menjerit kaget : "Hai, kakek baju
putih,fmengapa engkau menyerang aku?"
Tetapi Pek I lojin tak peduli. Diserangnya Blo'on sampai
kalang kabut. Karena mengkal, marahlah Blo'on. Dan karena
marah tenaga -sakti Ji-ih sin-kang pun memancar, keluar. Ia
dapat mengimbangi kegesitan Pek I lojin yang menyerang
dengan gaya lari berputar-putar mengelilingi Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Beberapa saat kemudian tiba2 pula Pek I lojin loncat keluar
dan gelanggang pertempuran dan berseru; "Nah, rasanya
tenaga -sakti dalam tubuh Kim kongcu sudah memancar.
Silahkan mulai."
Seorang anakbuah sebuah rombongan, maju kehadapan
Blo'on, menyerahkan diri untuk diangkat Blo'on lalu
dilemparkan ke muka. Wut.... tubuh orang itu melayang
sampai tujuh delapan tombak ke udara dan melayang turun ke
tepi seberang.
"Bagus, suko," teriak Sian Li, "engkau hebat.”
Berturut-turut anakmurid dari rombongan perkumpulan dan
perguruan silat telah dilontar Blo'on ke seberang tepi dengan
selamat.
Ketika tiba giliran Hong lng, nona itu menolak: "Tidak, aku
dapat melintasi sendiri."
Habis berkata nona itu terus menghimpun tenaga dalam
lalu melambung ke udara. Bagaikan seekor burung belibis
melayang, tubuh nona itu pun melayang kearah seberang tepi.
Tepi sekonyong-konyong tubuhnya makin lama makin
meluncur turun. Pada hal jarak dengan tepi masih lebih
kurang setombak.
"Celaka," teriak Hoa Sin, "nona itu pasti meluncur kebawah
jurang."
"Suko, lekas lepaskan tamparan," cepat Sian li mendorong
Blo'on. Dan karena gugup Blo'on- pun segera ayunkan
tangannya menampar sekuat-kuatnya ke muka, diarahkan
pada Hong Ing.
Saat itu Hong Ing sudah meluncur tepat sejajar dengan
permukaan tepi jurang. Sedikit lagi, dia tentu sukar tertolong.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Untunglah gelombang tamparan tangan Blo'on itu
memancarkan tenaga yang kuat sehingga tubuh Hong Ing
terdorong kemuka dan tepat berguling-guling diatas tanah.
Menyaksikan hal itu beberapa ketua partai persilatan
menghela napas longgar. Diam2 mereka memuji tenaga -sakti
yang dimiliki Blo'on.
"Sumoay, bagaimana engkau?" tanya Blo'on.
“Aku ada cara,” kata Sian Li, "cobalah engkau berdiri tegak
dimuka jurang ini”.
Blo’on tak mengerti apa yang hendak dilakukan sumoaynya
itu tetapi ia menurut juga. Begitu ia berdiri tegak, tiba2 dari
belakang Sian Li loncat dan berdiri diatas bahu sukonya.
Blo'on terkejut. Dan lebih terkejut sekali ketika kaki Sian Li
terasa berat sekali memijak bahunya. Sedemikian berat
sehingga tubuh Bto'on mengendap kebawah hampir saja
sampai berjongkok.
"Angkat suko," teriak Sian Li.
Agar jangan sampai terjatuh, tiba2 Blo'on kerahkan tenaga
dan berdiri tegak lagi. Uh .... ia merasa ringan. Dan ketika
memandang kemuka ternyata Sian Li sudah melayang di udara
dan meluncur di tepi seberang.
Ternyata waktu menginjak bahu Blo'on, dara itu gunakan
ilmu Ciau-kin tui atau tindihan seribu-kati sehingga tubuh
Blo'on blesek ke bawah. Pada saat Blo'on kerahkan tenaga
sakti ji-ih-sin-kang, Sian Li pun menyerempaki dengan
mengayunkan tubuhnya keudara. Dengan cara meminjam
tenaga pijakan itu, dapatlah ia selamat mencapai tepi
seberang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Aku juga," seru kakek Lo Kun seraya terus loncat
mencemplak di atas bahu Blo’on. Blo’on terkejut dan berontak
sekuat-kuatnya, sehingga tubuh kakek itu terlempar ke udara.
Dalam melayang itu karena belum siap, tubuh Lo Kun
berguling-guling di udara seperti bola.
Hoa Sin, Ceng Sian suthay, Hong Hong tojin serentak
ayunkan tubuh. Ketiga ketua partai persilatan masing2
memiliki ilmu meringankan-tubuh yang tinggi. Bagaikan
burung garuda melayang, tubuh mereka melambung diudara.
Begitu tiba di tengah-tengah, mereka menghimpun tenaga
dalam Iagi lalu meronta sekuat-kuatnya. Ceng Sian suthay
mengebutkan hudtim untuk meminjam tenaga. Hoa in
menginjakkan kaki kanan pada kaki kiri untuk meminjam
tenaga. Sedang Hong Hong tojin melesakan hantaman ke
bawah agar tubuhnya melayang kemuka.
Demikian ketiga ketua partai persilatan mempunyai cara
dan gaya sendiri2 untuk melintasi mulut jurang yang lebar itu.
Kini hanya tinggal Blo'on dan Pek I lojin.
"Lojin, aku kuatir tak dapat loncat melampaui jurang yang
begini lebar. Huh, ngeri kalau sampai meluncur kebawah,"
tiba2 Blo’on berkata.
'Ah, kongcu memiliki tenaga yang hebat. Tak mungkin
kongcu tak dapat melintasi. Hayo, mereka telah menunggu
kita," kata Pek I lojin lalu menarik tangan anak itu terus diajak
loncat keatas.
Habis menarik Blo'on, Pek I lojin terus melepaskannya
karena dia sendiri harus mengerahkan tenaga dalam untuk
melambung ke udara dan meluncur ke seberang tepi.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on meluncur turun kebawah jurang. Ia menjerit-jerit
karena terkejut sehingga membuat sekalian orang terkejut
sekali.
"Suko, merontalah supaya tubuhmu dapat melambung
keatas," teriak Sian Li.
Blo on mendengar juga teriakan sumoaynya itu dan ia pun
mencobanya. Tetapi tetap tak dapat mencegah tubuhnya yang
terus meluncur ke bawah itu.
Tak berapa lama Blo'on pun lenyap dalam asap yang
berasal dari air didasar jurang yang menguap itu.
"Suko.....!" Sian Li menjerit dan dengan kalap terus hendak
loncat kedalam jurang. Tetapi untunglah Ceng Sian suthay
cepat mencegahnya.
"Jangan sicu, kita harus mencari daya untuk menolong
sukomu. Dengan cara nekad hendak terjun kedalam jurang,
sukomu takkan tertolong bahkan engkau sendiri malah
terancam bahaya," kata suthay ketua Kun lun-pay itu.
Juga kakek Lo Kun tak kurang bingungnya Ia menjerit-jerit
dan berteriak teriak memanggi Blo'on tetapi tiada penyahutan.
"Blo'on, aku ikut engkau !" tiba2 kakek Lo-Kun terus loncat
kedalam jurang.
Beberana ketua partai persilatan terkejut bukan main.
Mereda hendak mencegah tetapi terlambat. Kakek itu sudah
meluncur turun dan lenyap dalam gumpalan asap tebal.
"Oh, kakek Lo...” tiba2 diluar dugaan Sian Li pun terus
loncat kedalam jurang menyusul suko dan Lo Kun.
Saat itu Ceng Sian suthay sedang memperhatikan Lo Kun
yang terjun kedalam jurang sehingga ia lepaskan perhatiannya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kepada Sian Li. Ketika nona itu loncat, ia tak keburu mencegah
lagi.
Sampai beberapa saat sekalian orang sibuk berusaha untuk
menolong Blo'on bertiga. Tetapi tiada lain jalan kecuali hanya
menghela napas.
"Adakah kita harus terjun untuk menolong mereka ?" tanya
Hong Hong tojin.
Hoa Sin kerutkan dahi, menyahut: "Kurasa tak perlu. Lebih
baik sekarang kita lanjutkan lagi menyerbu markas Thian
tong-kau."
"Lalu bagaimana nasib ketiga orang itu?" tanya Hong Hong
tojin.
"Mereka bertiga tergolong manusia2 yang besar rejeki.
Sudah berulang kali mereka terancam bahaya maut tetapi
setiap kali tentu tertolong." kata Pek I lojin.
"Lojin maksudkan kali ini mereka tentu juga akan tertolong
lagi ?" Hong Hong menegas.
"Aku tak berani memastikan, pangcu," kata Pek I lojin,
“tetapi kulihat wajah anak itu tak tampak sesuatu tanda2
bahwa dia akan meninggal dalam waktu dekat. Cahaya rejeki
besar masih memancar pada wajahnya. Mudah-mudahan akan
menjadi kenyataan," kata Pek I lojin.
"Lalu bagaimana langkah kita selanjutnya?” tanya Hong
Hong tojin.
"Aku bersedia menolong Blo'on bertiga," kata Pek I lojin,
"dan pangcu serta saudara2 sekalian boleh lanjutkan
menggempur sarang Thian-tong-kau. Jika berlambat-lambat
dikuatirkan mereka sempat menyusun kekuatan lagi.,,”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Karena menganggap kata2 kakek "baju putih itu tepat maka
Pengemis-sakti Hoa Sin setuju. Segera ia memimpin
rombongan orang gagah itu melanjutkan perjalanan ke muka.
Tak berapa lama tibalah mereka disebuah ruangan yang
luas. Ditengah ruangan itu terdapat segunduk tanah macam
sebuah kuburan. Ditengah tanah, terpancang sebatang tiang
yang menjulang sampai ke langit2 ruang.
Hoa Sin berhenti dan berkata kepada kedua rekannya:
"Suthay, pancu. kita harus berhati-hati. Kemungkinan ruang ini
tentu mengandung alat rahasia yang lebih berhaya."
Dari jarak dua tombak, mereka dapat melihat pada tiang
bulat besar itu terdapat beberapa ukiran huruf. Karena tiang
bercat merah dan huruf-hurufnya berwarna kuning emas,
maka dengan jelas huruf2 itu dapat terbaca:
Inilah Lembah Nirwana. Barangsiapa berani merusak tiang
ditengah makam dia akan masuk ke api Neraka.
"Hm, banyak sekali tingkah orang2 Thian-tong-kau itu”,
dengus Pengemis-sakti Hoa Sin.
Disebelah muka, tiada pintu dan ruangan itu merupakan
ruangan buntu. Hanya sebuah pintu yang menuju ke jurang
tadi.
"Kemungkinan tiang dan makam itu merupakan pintu
rahasia," kata Ceng Sian suthay.
Hoa Sin masih kurang percaya. Ia segera melakukan
penyelidikan diseluruh ruang. Yang lain2 pun ikut mencari-cari
dan memeriksa ruang itu. Tetapi mereka tak menemukan
sesuatu yang menunjukkan tanda dari sebuah pintu.
Akhirnya Hoa Sin menghela napas. Belum sempat ia
menemukan akal, tiba2 rombongan dan anakmurid dari
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
berbagai perkumpulan yang ikut pada Hoa Sin itu, berteriakteriak.
"Serbu ! Hancurkan sarang Thian tong-kau!" mereda
rupanya penasaran sekali atas kematian dari ketua dan
anggota2 rombongan mereka. Dan setelah berteriak-teriak,
mereka pun lalu menyerbu untuk menghancurkan makam dan
tiang itu.
Hoa Sin. Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin tertegun.
Andaikata hendak mencegah, sudah terlambat. Pun mereka
tak menemukan alasan untuk mencegah pengamukan
rombongan orang gagah itu.
Berpuluh-puluh jago dan anakmurid berbagai perkumpulan
silat, menghujani tiang dengan bacokan pedang dan
menghancurkan makam itu.
Krak, krak.....bum !
Keadaan gunung meletus, memuntahkan lahar api dan
menghamburkan batu2 besar, mungkin sama dengan apa
yang terjadi dalam ruang Lembah Nirwana saat itu.
Pada saat gunduk makam itu hancur dan tiang besar rubuh
maka terdengarlah ledakan yang dahsyat, disusul dengan
robohnya langit2 ruang yang terbuat daripada batu karang
keras. Kemudian berpuluh-puluh batu besar pun mencurah
dari atas langit2 yang roboh itu.
Suasana ruang itu bukan lagi merupakan sebuah Nirwana
melainkan lebih tepat kalau disebut puing2 runtuhan yang
mengubur berpuluh-puluh jago persilatan. Mereka terkubur
dalam tumpukan batu dan runtuhan langit2 karang.
Ngeri, seram, ganas. Rasanya tiada kata yang dapat
melukiskan keadaan saat itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ternyata ruang Lembah Nirwana itu merupakan sebuah
tempat jebakan keji yang telah diatur oleh Thian tong kau.
Tiang besar itu merupakan tiang-penyanggah dari pusat
markas Thian-tong-kau. Dengan rubuhnya tiang itu maka
seluruh bangunan markas Thian-tong-kau pun hancur
berantakan.
Ledakan dahsyat tadi berasal dari bahan peledak yang
berada dalam makam. Rubuhnya tiang menggoncangkan
bahan peledak sehingga meledak dahsyat. Menyebarkan maut
yang ngeri, keji.
Sebuah tragedi besar dalam dunia pesilatan.
Bagaimana dengan B'o'on? Apakah dia mati didasar jurang
? Tidak, Blo'onn memang berumur panjang atau belum habis
riwayatnya dalam dunia.
Dia tersangkut pada akar rotan yang tumbuh pada dinding
karang. Tetapi andaikata tidak terdapat akar rotan itu, Blo'on
pun tetap takkan mati. Karena setelah melihat dirinya
meluncur turun ke-bawah, dia baru terkejut. Tiba2 ia melihat
sebuah lubang pada dinding karang. Keinginan untuk
menyelamatkan diri segera timbul dan Ji ih-sin-kang pun
memancar. Dengan bergeliatan ia terus melayang kedalam
lubang itu. Ah, sebuah terowongan.
"Sumoay !" tiba2 Blo'on terkejut ketika melihat tubuh Sian li
meluncur turun. Tanpa sempat memikir apa2 lagi, Blo'on terus
loncat menyambar tubuh sumoaynya. Ah .... ia berayun
membawa sumoaynya ke dinding karang sebelah muka. Dan
ternyata disitu terdapat pula sebuah terowongan, terowongan
itu letaknya persis saling berhadapan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Baru ia meletakkan tubuh sumoaynya, tiba2 la melihat lagi
tubuh kakek Lo Kun melayang ke bawah.
"Gila, kakek Lo Kun juga nyusul," serentak ia loncat
menyambar tubuh Lo Kun dan mendarat di lubang
terowongan yang sebelah muka.
"Suko, aku bagaimana ?" teriak Sian Li yang berada
seorang diri di lubang terowongan selatan Blo’on dan kakek Lo
Kun di lobang utara.
"Tunggu kakek, aku hendak mengambil sumoay," kata
Blo'on terus loncat ketempat Sian Li,
Saat itu Sian Li sedang membungkuk memeriksa sebuah
benda.
"Sumoay, apakah yang engkau lihat ?" tegur Blo'on.
"Segulung jaring yang panjang .... oh, kutahu, "tiba2 Sian Li
berseru, ia mengangkat gulungan jaring itu lalu dilontarkan
kearah kakek Lo Kun : "Kakek Lo, sambutilah !"
Lo Kun gopoh menyambuti.
"Benar, inilah alat jembatan yang dipergunakan mereka
untuk melintasi mulut jurang," seru Sian Li yang masih
mencekal ujung yang sebelah dari jaring. Jaring itu terbuat
dari urat2 kerbau yang telah direndam obat sampai bertahun.
Lemas tetapi ulatnya bukan kepalang.
"Mari suko, kita melintasi jembatan ini." kata Sian Li yang
terus mendahului melangkah keatas jembatan tali.
Kini mereka bertiga telah berkumpul di lubang terowongan
sebelah utara.
"Orang2 Thian-tong kau itu tentu menggunakan jembatan
tali ini untuk melintasi jurang," kata Sian Li.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"O, pantas kalau diatas mulut jurang tadi tak ada
jembatannya," kata kakek Lo Kun.
"Sekarang bagaimana, suko?" tanya Sian Li.
"Dan bagaimana pendapatmu ?" tanya Blo’on.
"Untuk naik keatas mulut jurang jelas tak mungkin kita
lakukan."
"Tetapi para cianpwe itu tentu sibuk menunggu kita," seru
Blo'on.
"Habis? Apa daya kita?"kata Sian Li.
"Kalau begitu kita masuk saja kedalam lubang terowongan
ini. Mungkin tentu dapat keluar dan mencari mereka," kata
Blo'on.
"Benar," seru kakek Lo Kun, "jika tempat ini dipergunakan
lalu lintas oleh orang2 Thian-tong kau, tentu terdapat jalan
keatas."
Demikian ketiga orang itu segera menyusur terowongan
yang gelap. Tiba2 Sian Li teringat: “Suko, cobalah engkau
keluarkan mustika merah berbentuk Naga dari kakek Lo tadi."
Blo'on tak tahu apa maksud sumoaynya, tetapi ia menurut
juga. Ketika dikeluarkan ternyata mustika merah itu
memancarkan sinar terang sekali walau pun agak kemerahmerahan.
"Mustika batu giok yang istimewa sekali," seru Sian Li.
Entah berapa lama mereka menyusur lorong terowongan
itu, tiba2 disebelah depan tampak secercah sinar terang.
Ketika tiba ditempat itu ternyata mereka tiba di mulut lorong
yang tembus keluar.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kini mereka berada disebuah lapangan. Memandang ke
sekeliling, Sian Li berteriak kaget.
"Hai, mengapa bangunan itu roboh berantakan ?" ia
menunjuk kesebelan timur dimana terdapat puing2 runtuhan
bangunan gedung besar.
Mereka segera menghampiri.
"Ah, apakah . .. apakah . ..."
“Bagaimana, sumoay ?” tukas Blo'on karena Sian Li tak
dapat melanjutkan kata-katanya.
"Apakah para cianpwe dan rombongan orang gagah itu
telah tertimbun tumpukan puing ini ?" akhirnya Sian Li dapat
juga melampiaskan perasaannya.
"Bagaimana engkau tahu kalau mereka tertimbun runtuhan
batu itu ?" tanya Blo'on.
"Lihatlah suko," Sian Li menujuk pada sebuah bekas lubang
dari suatu lorong panjang di bawah tanah, "bukankah itu
merupakan sebuah lorong panjang di bawah tanah yang kini
telah hancur lebur ?”
"Hai, benar," teriak Lo Kun yang terus lari menghampiri.
Mereka bertiga memeriksa bekas2 kehancuran itu. Tiba2
Sian Li menjerit; "Suthay.....!"
Ia segera lari menuju kesebuah lubang. Disitu tampak Ceng
Siau suthay sedang berjuang mati-matian menyanggah
sebuah batu besar yang hendak menindih dirinya.
"Suko lekas tolong suthay," seru Sian Li.
Blo'on terus bekerja. Walau pun jaraknya hanya sepuluhan
meter tetapi karena penuh dengan puing dan batu besar,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
terpaksa Blo'on harus kerja keras sebelum dapat mencapai
tempat Ceng Sian suthay.
"Suthay, aku yang mengganti," katanya setelah tiba dan
terus menyanggah batu besar itu.
Ceng Sian suthay lepaskan tangannya dan terhuyung2 jatuh
terduduk. la duduk pejamkan mata. Rupanya ia telah
kehabisan tenaga dan menderita luka dalam yang cukup terat.
"Hai, itulah Hoa pangcu," kembali Sian Li berseru seraya
menunjuk pada sebuah tumpukan batu.
Ternyata Hoa Sin juga mengalami penderitaan yang cukup
berat. Saat itu dia sedang duduk sambil acungkan kedua
tangannya untuk menyanggah dua buah batu yang hendak
menindih kepalanya. Jika batu itu ambruk, tentulah dia akan
tertimbun.
Tetapi saat itu blo'on sedang berjuang mendorong batu
besar di tempat Ceng Sian suthay. Siapakah yang mampu
membantu Hoa Sin. Tampak wajah ketua Kay-pang itu sudah
pucat lesi. Jelas dia sudah hampir kehabisan tenaga .
"Aku akan menolongnya," seru kakek Lo Kun lalu lari
menghampiri. Tanpa banyak pikir kakek itu terus menyanggah
kedua batu dengan bahunya.
"Hoa pangcu. silahkan keluar," serunya.
Tetapi secepat terlepas dan tindihan batu, Hoa Sin pun
terus pejamkan mata. Ia juga menderita luka dalam yang
parah, la hendak berusaha menyalurkan tenaga murninya.
Sian Li melihat di sekeliling tempat itu penuh dengan darah.
Ketika diselidiki ternyata terdapat sebuah aliran darah yang
berasal dari tumpukan puing2.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ah, tentulah darah ini berasal dari rombongan orang gagah
yang terkubur dalam tumpukan puing," Sian Li menghela
napas. Ini benar2 ngeri melihat suasana tempat itu. Sebuah
tumpukan puing yang merupakan kuburan dari jago2
persilatan berbagai cabang perkumpulan dan berasal dari
beberapa daerah. Mereka telah terkubur hidup-hidupan.
Tiba2 Sian Li teringat akan Pek I lojin dan Hong Ing.
Kemanakah gerangan Kedua orang itu?.
"Hai," serentak berteriaklah mulut gadis itu ketika melihat
sebuah pemandangan yang menyayat hati......
O>odwo
ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru , cersil terbaru, Cerita Dewasa, cerita mandarin,Cerita Dewasa terbaru,Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Ngentot Guru Silat : Pendekar Bloon 7 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Ngentot Guru Silat : Pendekar Bloon 7 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-ngentot-guru-silat-pendekar.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Ngentot Guru Silat : Pendekar Bloon 7 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Ngentot Guru Silat : Pendekar Bloon 7 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Ngentot Guru Silat : Pendekar Bloon 7 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-ngentot-guru-silat-pendekar.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

Download Bokep Terbaru mengatakan...

Download video nya di http://downloadbokep17plus.blogspot.com Bro..

Posting Komentar