Cerita ABG Silat IGO : kelelawar Hijau 3

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 03 Agustus 2012

Cerita ABG Silat IGO : kelelawar Hijau 3-Cerita ABG Silat IGO : kelelawar Hijau 3-Cerita ABG Silat IGO : kelelawar Hijau 3-Cerita ABG Silat IGO : kelelawar Hijau 3


Setelah tahu siapa musuhnya yang munculkan diri diam2
Lam-kong Pak menghela nafas panjang. pikirnya.
"Andaikata aku mati ditengah kobaran api mungkin
kematianku masih meninggalkan sedikit nama bagus.
sebaliknya kalau aku sampai mampus ditangan bajingan
tengik ini sampai matipun aku tak akan mati dengan mata
pejam"
"Haaahh...haaahh...haaahhh..." sementara itu Suma ing
tertawa ter-bahak2 dengan kerasnya, "Lam-kong Pak
engkau tak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti
hari ini bukan?? semua jago yang hadir dalam hutan ini
telah musnah terkubur ditengah lautan api, tak seorangpun
yang dapat meloloskan diri dalam keadaan selamat, sedang
engkau... setelah merasakan siksaan yang paling keji
dikolong langit tubuhmu baru akan terkubur ditengah
lautan api, anggaplah kesemuanya itu sebagai pembalasan
yang setimpal."
Lam-kong Pak mendengus dingin.
"Mati atau hidup sudah digariskan oleh takdir kejadian
ini bukanlah suatu kejadian yang luar biasa Suma ing. aku
ingin bertanya kepadamu mengapa engkau bisa masuk
kedalam lautan api tanpa cedera ataupun menderita luka
barang sedikitpun juga ??"
Suma ing menyeringai seram,
"Heehhh-heeehh-heeehhh... salju bulan keenam Tong
Hui memiliki peluru sakti Ngo-kui-yan-hwee-tan. sudah
tentu dia pun memiliki obat pemadam api. aku berhasil
merampasnya satu bungkus, oleh sebab itulah aku bisa
keluar masuk ditengah kobaran api dengan leluasa"
Satu ingatan berkelebat dalam benak Lam-kong Pak
pikirnya.
"Asal kawanan jago dari golongan putih bisa berada bersama2
Tong Hui kemungkinan besar jiwa mereka dapat
diselamatkan, entah bagaimana nasib dengan ketiga orang
manusia tembaga itu?? mungkin lebih banyak bahaya yang
mereka jumpai dari pada keuntungan-.."
Berpikir sampai disitu ia lantas bertanya
"Kebakaran yang terjadi kali ini apakah hasil karya dari
kakek ombak menggulung??"
"Bukan akulah yang mengajukan usul bagus ini dan aku
juga yang melepaskan kobaran api pertama"
Lam kong Pak merasa amat sakit hati sehabis mendengar
perkataan itu sampai sekarang dia masih belum berani
mempercayai kalau kebejatan moral Suma ing sudah
mencapai pada taraf yang tak dapat dlobati lagi, ia
pejamkan matanya rapat2 kemudian berkata:
"Suma ing engkau telah membunuh mati ibumu sendiri
dia kemungkinan besar telah membakar mati ayahnya
sendiri. bagaimanakah perasaanmu setelah melakukan
perbuatan semacam itu??"
Suma ing menengadah dan tertawa ter-bahak2-
"Haah-haah haah... perasaan? tentu saja ada perasaanku
adalah siapa berbuat kesalahan dia harus menerima
ganjarannya yang setimpal"
"Bila aku dan ibu yang mati. mungkin saja kami tak akan
menyalahkan dirimu, tapi apakah ayahpun berbuat sesuatu
yang menyalahi engkau?"
"Hmm terus terang kuberitahukan kepadamu." seru
Suma ing dengan penuh kebencian. "Aku membenci setiap
orang yang ada. tentu saja termasuk pula Lam-kong Liu
sendiri, kalau toh dia yang melahirkan diriku kenapa ia
melepaskan tanggung jawab untuk mendidik serta
memelihara aku..? aku percaya, seandainya dia belum mati
maka dia tak akan memaafkan perbuatanku, oleh sebab itu
aku tak usah mengharapkan balas kasihan dari orang lain,
aku pun tak usah mengharapkan pemberian maaf dari
orang lain- aku harus menggunakan segala macam
perbuatan serta tindakan yang dapat kulakukan untuk
membasmi dan melenyapkan setiap orang yang memusuhi
diriku."
"Kalau memang begitu pendirianmu, sekarang juga
silahkan turun tangan sebab aku pun tak ingin membuang
waktu dengan percuma, akhlakmu sudah bejad dikolong
langit sudah tak ada obat mujarab yang bisa digunakan
untuk menyelamatkan dirimu lagi."
Suma ing sangat marah dan mendendam, sambil
menggertak giginya hingga berbunyi gemerincingan
serunya:
"Aku akan menggigit dan merusak panca-indramu
dengan gigitan gigiku."
Lam-kong Pak sama sekali tak merasa terperanjat
mendengar ancaman tersebut sebab diapun telah menyadari
suatu ketika jika dirinya terjatuh ketangan bajingan ini
maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2
Suma Ing rentangkan mulutnya hendak menggigit
hidung Lam-kong Pak. tiba2 ia hentikan gerakan tersebut
sambil berseru: "Aaah... tunggu sebeatar.^."
Kiranya selama ini ketua perkumpulan bulu hijau masih
belum pergi dari tempat itu, meskipun ia tak sudi takluk dan
mengaku kalah terhadap Lam-kong Pak, akan tetapi
diapUn merasa tak tega membiarkan sianak muda itu
disiksa oleh Sum Ing yang kejam.
Perasaan hatinya pada saat ini sukar dilukiskan dengan
kata2, ia merasa serba salah dan tak tahu apa yang mesti
dikerjakan, ia sangat membenci Lam-kong Liu. juga amat
mendendam terhadap cu Hong Hong, tapi apa sebabnya dia
hendak menolong Lam-kong Pak??
Mungkinkah ia sangat kagum atas kegagahan serta
kejantanan Lam-kong Pak. atau mungkinkah ia Cuma berpura2
belaka??
= =000000000= =
SUMA Ing sendiri merasa amat terperanjat ketika
dilihatnya Ketua perkumpulan bulu hijiu dengan membawa
payung sengkala per-lahan2 melayang turun keatas tanah,
dengan tenang tapi tegang dia bersiap sedia menghadapi
segala kemungkinan yang tidak diinginkan-
"Suma ing." seru Ketua perkumpulan bulu hijau dengan
suara berat dan mendalam, "lepaskan dia. dan akupun akan
mengampuni selembar jiwamu"
Suma ing mengamati raut wajah ketua perkumpulan
bulu bijau itu dengan pandangan tajam. ia saksikan raut
wajah kedua orang itu penuh berpelopotan darah, nada
suaranya lemah dan sama sekali tak bertenaga. tahulah
pemuda itu bahwasanya kedua orang jago tersebut sudah
pasti baru saja melangsungkan pertarungan sampai ribuan
jurus banyaknya.
Itu berarti pula kekuatan mereka sudah tak perlu ditakuti
lagi. yang dikuatirkan sekarang hanya daya hancur yang
kuat dari senjata payung sengkala. Suma ing segera tertawa
dingin.
"Heeehh...heeehh...heeehh... untuk melindungi
keselamatan sendiripun engkau sudah tak mampu, dengan
andalkan kekuatan apa engkau hendak mencampuri urusan
orang lain??"
"Dengan meng andalkan senjata payung sengkala ini"
sahut Ketua perkumpulan bulu hijau ketus.
"Huuh... kalau engkau ingin bertindak dengan gunakan
kekerasan, itu berarti engkau menginginkan sesosok mayat
dari Lam-kong Pak"
Ketua perkumpulan bulu hijau mengerti kalau pada saat
itu tak mungkin baginya untuk turun tangan- dengan suara
berat dia segera menegur: "Apa yang hendak kau
lakukan??"
"Jika engkau inginkan persoalan ini secara baik, dan
engkaupun harus menyanggupi dahulu sebuah
permintaanku"
"cepat katakan"
"Dengan payung sengkala itu diatur dengan manusia,
engkau bersedia untuk melakukan atau tidak??" seru Suma
ing dengan suara yang amat mendalam.
Begitu ucapan tersebut diutatakan keluar, bukan saja
ketua perkumpulan bulu hijau merasakan sekujur badannya
gemetar keras, bahkan Lam-kong Pak sendiripun sampai
membuka matanya dan menengok kearah Ketua
perkumpulan bulu hijau itu. Tanpa berpikir panjang ketua
perkumpulan bulu hijau berkata dengan suara berat,
"Baik kukabulkan permintaanmu itu. tapi akupun tahu
kalau engkau sibangsat cilik berhati kejam akan
kelicikannya tiada tandingan dikolong langit. perkataanmu
sama sekali tak dapat diperCaya dan ibaratnya kentut
busuk. bagaimana Caranya aku dapat memperCayai
perkataanmu itu??"
"Huuh.. engkau tak usah banyak bacot lagi, pokoknya
sebelum payung sengkala itu terjatuh ketanganku, aku tak
akan melepaskan Lam-kong Pak kalau engkau tidak
inginkan diri Lam-kong Pak maka payung sengkala itu pun
tak usah kau serahkan kepadaku"
Mendengar pembicaraan tersebut, dengan cepat Lamkong
Pak berpaling kearah ketua perkumpulan bulu hijau
seraya berkata:
"Saudara, dengan diutarakannya maksud hatimu itu, aku
Lam-kong Pak sudah merasa amat berterima kasih sekali,
aku harap engkau tak usah mengorbankan diri begitu.
haruslah diketahui andaikata payung sengkala itu sampai
terjatuh ketangan iblis terkutuk ini. maka dunia persilatan
tak akan memperoleh hati yang tenang sepanjang masa, aku
tak mau dikarenakan keselamatanku hingga mendatangkan
bencana dan musibah bagi umat persilatan"
"Engkau keliru besar"sahut ketua perkumpulan bulu
hijau dengan suara berat, "dikolong langit tiada benda
mustika yang bisa langgeng, payung sengkala hanya
merupakan suatu benda sampingan yang tak mungkin bisa
dimiliki sampai mati. sekalipun setelah mendapat benda
mustika itu maka dia dapat malang melintang, toh hal itu
hanya bersifat sementara. akhirnya dia tak akan memiliki
benda itu untuk selamanya. tentang masalah ini engkau tak
perlu terlalu menguatirkan"
Suma Ing tertawa seram tiada hentinya pada saat itu kain
cadar yang menutupi wajahnya sudah dilepas hingga
mukanya yang menyeringai seram terlihat nyata.
Mata kirinya telah buta hidungnya telah hancur dan
tinggal dua lobang yang hitam dan besar kulit kepalanya
terkelupas dan wajahnya porak-poranda akibat terbakar
oleh air racun sam-wi-ceng-sui ditambah lagi gigi taringnya
yang menonjol keluar membuat tampangnya benar2
mengerikan sekali.
ujung baju kirinya terselip dibalik pakaiannya karena
lengan kirinya sudah kutung, tampang yang jelek seram dan
mengerikan inilah merupakan sebab utama mengapa dia
amat mendendam terhadap setiap umat manusia yang ada
didunia, ia tak pernah memeriksa kesalahan sendiri tak
pernah terlintas dalam benaknya kalau ganjaran seberat itu
diterima olehnya akibat perbuatannya sendiri.
"Suma Ing" kata ketua perkumpulan bulu hijau. "ada
sepatah kata ingin kunasehatkan kepadamu, jika engkau
tahu bahaya dan segera berpaling meninggalkan sesat
kembali kejalan yang benar. mungkin kehidupanmu akan
berakhir dalam keadaan baik. segala sesuatu yang terjadi
dikolong langit selalu ada sebab dan akibat, ada rejeki yang
muncul secara tiba2 tentu ada pula bencana yang datang
secara tiba2, jikalau engkau tak ingin ketimpa bencana
maka aku anjurkan kepadamu agar meninjau kembali
semua perbuatan yang telah kau lakukan selama ini." Suma
Ing tertawa sinis.
"Hmmm Hmmm seandainya psrkataan semacam ini
diutarakan oleh seorang pria yang benar2 budiman dan
berbudi luhur, kemungkinan besar nada suaranya lebih
sedap didengar, sayang seribu kali sayang engkau adalah
seorang manusia yang lain dimulut lain dihati, coba
bayangkan saja apa maksud ^^t^^^^ mendirikan
perkumpulan bulu hijau? berbuat kebajikan dan keadilan
bagi umat manusia? ataukah mendatangkan kebahagiaan
bagi umat persilatan?"
"Maksud dan tujuanku mendirikan perkumpulan bulu
hijau adalah untuK membalas dendam atas sakit hatiku
dimasa lampau untuk menyelidiki semua gerak gerik dan
tingkah laku dari musuhku, mau tak mau aku harus
merubah wajah menyembunyikan indentitas. Suma ing
engkau harus tahu, kendatipun aku yang mendirikan
perkumpulan bulu hijau, tapi aku tak pernah satu kali pun
lakukan perbuatan terkutuk yang mencelakai ataupun
merugikan sesama umat persilatan, tujuanku hanya
berusaha untuk menyembunyikan diri dari penyelidikan
orang saja"
"Siapakah engkau??"
"Andaikata engkau bersedia untuk bertobat dan
menyesali semua perbuatan yang pernah kau lakukan- aku
segera akan memberitahukan kepadamu siapakah aku yang
sebenarnya?"
Suma Ing tertawa seram.
"Semua orang dikolong langit sama2 menderita satu
penyakit yang tak bisa dlobati lagi, penyakit itu adalah
belum pernah rasakan penderitaan dan siksaan, bicara tak
pernah merasakan sakit atau gatal, yang diucapkan saja
kata2 yang manis dan gagah. Aku Suma Ing sudah kenyang
merasakan penderitaan dan segala macam siksaan hingga
keadaan berubah jadi manusia tidak mirip manusia setan
tak mirip setan adakah engkau anggap aku bersedia sudahi
persoalan ini sampai disini saja?"
"Bencana dan rejeki datang tanpa pintu engkau
sendirilah yang mengundang penderitaan diri sendiri, coba
bayangkan saja perbuatanmu manakah yang tidak terkutuk
dan disumpah orang? perbuatan bajik manakah yang
pernah kau lakukan-...?"
"Tutup mulut" hardik suma Ing penuh kegusaran, "aku
bukan datang kemari untuk mendengarkan nasehatmu,
ayoh cepat jawab engkau bersedia melakukan barter atau
tidak dengan aku?"
Lam-kong Pak selama ini membungkam tiba2 berkata:
"Setelah mendengar pembicaraan dari cianpwee barusan
akupun jadi sadar dan mengerti memang benar tujuan
cianpwee mendirikan perkumpulan bulu hijau adalah guna
menyelidiki musuh besarmu dan sama sekali tak pernah
melakukan perbuatan2 yang merugikan orang lain, oleh
sebab itulah aku nasehatkan kepada cianpwee agar jangan
mencampuri urusanku lagi, Suma Ing adalah saudara
seayah lain ibu dengan aku. bila aku sampai mati
ditangannya, tiada persoalan yang bisa kukatakan lagi,
cianpwee jangan se-kali2, menukar aku dengan payung
tersebut, janganlah karena tindakan ini sehingga menanam
bibit bencana bagi umat persilatan, jikalau sampai begitu
keadaannya maka aku akan menyesal dan sepanjang masa
mati tak meram"
Muka sianak muda itu memancarkan kegagahan dan
kejujuran. se-akan2 sama sekali tak pikirkan mati hidupnya
lagi, ia tahu lebih jelas andaikata ketua perkumpulan bulu
hijau membatalkan niatnya untuk mengadakan barter
dengan bajingan itu maka perbuatan apa yang bakal
dilakukan Suma Ing terhadap dirinya.
Tapi kesemuanya itu sama sekali tak menggoyahkan
keputusan hatinya, sebab ia lebih menitik beratkan pada
kepentingan umum daripada siksaan badaniah, sebab
penderitaan itu ada batas2nya.
Terdengar ketua dari perkumpulan bulu hijau berkata:
"Aku telah mengambil keputusan bulat. dan engkaupun
tak usah keras hati lagi, semua kejadian sudah digariskan
oleh takdir, sekalipun payung mustika ini sudah terjatuh
ketangan kaum durjana yang sesat, belum tentu ia dapat
memanfaatkan kedahsyatan mustika ini sebagaimana
mestinya."
"Suma Ing, ayoh serahkan dulu bubuk pemadam api itu
kepadaku"
"Kita toh hanya berjanji kau serahkan payung dan aku
serahkan orang. persetujuan ini tidak diembel2 dengan
syarat lain, kenapa aku harus serahkan bubuk ini
kepadamu?"
"Kebakaran besar yang melanda hutan ini tak mungkin
padam dalam tiga sampai lima hari, setelah kuserahkan
payung mustika ini kepadamu. dengan payung itu engkau
bisa lolos dari medan kebakaran ini dalam keadaan selamat,
tapi bagaimana dengan kami berdua??"
"Baiklah kau harus letakkan dulu payung mustika itu
keatas tanah, setelah itu akupun akan letakkan bubuk
pemadam api ini ketanah, Kita saling mendekat dan
menyambut satu sama lainnya, setelah kuserahkan Lamkong
Pak kepadamu.Jika kita berdua yang satu ambil
payung yang lain ambil bubuk pemadam api bukankah cara
ini adil sekali??"
"Baik, kalau begitu kita lakukan begitu saja"
Dua orang itupun letakkan benda yang dipertukarkan
diatas tanah. Suma Ing sambil masih mencekal urat nadi
diatas pergelangan Lam-kong Pak perlahan2 maju
mendekat.
Ketika ketua dari perkumpulan bulu hijau mengulurkan
tangannya untuK menerima Lam-kong Pak, tiba2 saja
Suma Ing yang sudah punya pikiran jahat melepaskan
cekalannya pada pemuda Lam-kong tersebut dan berbalik
mencengkeram urat nadi dari ketua perkumpulan bulu
hijau.
Luka dalam yang diderita ketua perkumpulan bulu hijau
tidak kalah parahnya dengan luka yang diderita Lam-kong
Pak, apa lagi pada saat itu segenap perhatian ditujUkan
kearah pemuda Lam-kong karena kuatir Suma Ing main
licik ia sama sekali tak mengira kalau Suma Ing bisa
berontak menyerang dirinya.
Dalam keadaan sama sekali tak siap. tak mungkin
baginya untuk menghindarkan diri lagi, urat nadinya segera
kena dicengkeram.
Lam-kong merasa amat terperanjat, sementara ia hendak
kebaskan tangan Suma Ing untuk merampas payung
sengkala tersebut siapa tahu Suma Ing sudah punya rencana
masak dalam benaknya, sekali sentak ia bikin Lam-kong
Pak jadi lemas dan kehilangan segenap kekuatan tubuhnya.
Lam-kong Pakjadi geram bercampur mendongkol,
teriaknya dengan penuh kegusaran: "Suma Ing sebetulnya
engkau masih terhitung sebagai seorang manusia atau
tidak?"
Suma Ing tertawa seram,
"Haahhh...haahhhh...haahhh.. dalam pandanganmu toh
aku sudah bukan seorang manusia lagi kenapa kalian mesti
menilai tinggi akhlakku.. . kalian maupercaya toh kesalahan
kalian sendiri."
Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya ia
segera lepas tangan dan laksana kilat melancarkan dua
totokan dahsyat yang merobehkan dua orang jago itu.
Setelah dua otaag lawannya sudah menggeletak diatas
tanah ia baru pungut payung sengkala serta bubuk
pemadam api tadi sambil tertawa ter-bahak2, serunya.
"Setelah kalian berdua dilenyapkan dari muka bumi,
mulai detik itu juga aku Suma Ing akan malang melintang
dalam dunia persilatan, apapun yang kukatakan tak ada
yang mampu melarang...haah-haah haah..,."
Ia permainkan benda mustika itu, kemudian setelah
melirik sekejap kearah dua orang itu dengan wajah
menyeringai seram. lanjutnya:
"Keadaan kalian berdua ibaratnya sekali bersuara keras
bagaikan guntur sekali kalau hancur lebur jadi abu. Huuh
kalau manusia macam kalian sih belum terhitung sebagai
jago yang luar biasa... Hmm mulai sekarang hanya aku
Suma Ing yang akan malang melinlang di-mana2."
Setelah berhenti sebentar, ia memandang kearah Lamkong
pak dengan sorot mata penuh kebencian, sambungnya
dengan nada dendam.
"Lam-kong pak. perbuatan yang paling tak dapat
kumaafkan adalah tindakan yang membiarkan dua orang
gadismu merusak dan menghancurkan alat kelaminku
sehingga aku jadi impoten dan tak bisa berpungsi lagi...
engkau bikin aku sangat menderita dan hidup merana. Aku
sangat benci kepadamu."
Baik Lam-kong Pak maupnun ketua perkumpulan bulu
hijau sama2 pejamkan matanya, rasa sakit hati menyerang
perasaan mereka terutama sekali bagi ketua perkumpulan
bulu hijau, ia tak mengira kalau dirinya bisa kena dikibuli
oleh bocah kemarin sore.
"Sebenarnya aku hendak membantai kalian berdua pada
saat ini juga ." ujar Suma Ing kembali. "tapi sekarang aku
telah ambil keputusan untuk melaksanakan soal besar lebih
jauh hingga rintangan yang terakhir dikolong langitpun bisa
tersapu lenyap. pada waktu itu aku Suma Ing akan malang
melintang dikolong langit tanpa tandingan lagi"
Ia mengembangkan payung mustikanya lebar2 dan
setelah mengepit tubuh kedua orang itu sekali jejak
tubuhnya melayang keudara dan melepaSkan diri dari
lautan api.
Dengan bantuan payung yang mengembang lebar
badannya melayang hingga ketinggian beberapa puluh
tombak dari permukaan tanah, dalam waktu Singkat lautan
api dibawah mereka sudah dilalui dengan cepat dan
mudahnya....
Payung mustika merupakan benda mustika yang langka
dikolong langit, benda itu dapat membawa orang melayang
diangkasa serta bergerak menurut kehendak hati.
Tentu saja untuk berbuat damikian seseorang
membutuhkan latihan yang cukup lama hingga tenaga
dalamnya benar2 mencapai pada puncaknya, sebab bagi
orang yang memiliki tenaga dalam yang rendah kendatipun
memiliki payung mustika tersebut tak mungkin benda
tersebut akan memberikan daya yang begitu besar.
Suma Ing bersuit panjang ditengah langit yang merah
karena kebakaran, tubuhnya melayang keluar dari lingkaran
yang berbahaya dan meluncur keatas tonjolan batu karang
setinggi beberapa tombak.
Sekarang ia benar2 mempunyai perasaan se-akan2 dunia
telah menjadi miliknya, sebab asal siasat kecilnya berjalan
pula dengan lancar hingga manusia lihay terakhirpun telah
disingkirkan maka dunia persilatan akan jatuh kedalam
kekuasaannya.
Sesosok bayangan manusia meluncur datang dari
kejauhan, paras muka Suma Ing yang jelek dan
menyeramkan terlintas suatu senyuman yang mengerikan
hati, ia melayang turun dari atas batu karang tersebut.
orang yang baru saja munculkan diri itu bukan lain
adalah Kakek ombak menggulung, ketika ia lihat ketua
perkumpulan bulu hijau serta Lam-kong Pak sudah menjadi
tawanan, wajahnya nampak terperangah.
Meskipun kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang
patut digembirakan, tetapi dari dasar hati kecilnya diam2
timbul kedengkian yang sangat tebal, pikirnya di-dalam
hati:
"orang ini berhati kejam dan sangat berbahaya sekali,
ditambah pula ambisinya untuk merajai dunia persiiatan
sangat besar. jika payung mustika itu sampai terjatuh
ketangannya maka itu berarti kedudukankupun akan
terancam bahaya, bagaimanapun juga aku harus berusaha
keras untuk singkirkan bajingan cilik ini dari muka bumi"
Keadaan dari dua orang itu ibarat anjing kelaparan
dibawah daging yang tergantung, masing2 pihak saling
mengincar lawannya, namun ke-dua2nya tak sampai perlih
atkan perasaan hatinya itu didepan mata. Terdengar Kakek
ombak menggulang tertawa ter-bahak2,
"Haah-haah-haah.. muridku. ternyata aku tak keliru
menyayangi engkau selama ini, mulai sekarang kita akan
memimpin dunia persilatan dan menguasahi seluruh kalong
langit."
"Aah suhu, engkau terlalu memuji ketidak becusan tecu,
keberhasilan tecu selama ini tidak lain adalah hasil didikan
dari suhu. selamanya tecu tak berani melupakan budi
kebaikan suhu yang telah mendidik serta memelihara tecu
selama ini."
"Eeei eeei... muridku. engkau kok malahan bersikap
sungkan2 dengan aku, waah kamu ini..."
"Haahh- haahh haahh"
Dua orang itu saling berpandangan sambil tertawa terbahak2,
suaranya keras hingga menggetarkan empat
penjuru dan memantul ke-mana2, seakan-akan mereka
hendak menggunakan gelak tertawa itu untuk saling
mengadu kekuatan-
Setelah tertawa tergelak beberapa saat lamanya. mata
mereka sudah basah oleh air mata, namun mereka sama2
saling bertahan dan mengukur kekuatan masing2.
Dalam pandangan Suma Ing, gembeng iblis tua itu tidak
berhak untuk menguasai kolong langit. dia hanya pantas
untuk mengiringi kekuasaannya belaka.
Sedangkan dalam pandangan Kakek ombak
menggulung, Suma Ing terlalu kejam dan licik.
kemantapannya dalam bekerja kurang meyakinkan dan tak
mungkin bisa mengerjakan urusan besar. jika manusia
semacam ini tidak dilenyapkan maka pasti akan merupakan
bibit bencana dikemudian hari.
"Suhu " terdengar Suma Ing berkata, "kedua orang itu
semuanya merupakan musuh bebuyutanku yang tak
mungkin bisa diampuni lagi, harap suhu menjatuhkan
hukuman yang setimpal kepada mereka"
"Muridku " jawab kakek ombak menggulung dengan
cepat, "persoalan yang paling menggemhirakan bagi orang
persilatan adalah pembalasan dendam yang terakhir dengan
cepat, Lam-kong Pak telah membuat engkau jadi begini
rupa, sudah sepantasnya kalau berbuat sesuai dengan
keinginan hatimu. urusan balas dendam biarlah kuserahkan
kepadamu saja untuk melakukan sendiri"
"Baiklah kalau begitu aku akan menyiksa mereka lebih
dahulu dengan satu siksaan yang paling keji dikolong langit,
kemudian nyawa mereka baru dicabut"
"Sudah sepantasnya kalau engkau berbuat demikian,
Nah sekarang engkau boleh segera turun tangan"
"Aaah nanti dulu, tecu hendak serahkan dahulu benda
mustika ini kepada suhu" Sambil berkata dia angsurkan
payung mestika itu kedepan. Kakek ombak menggulung
segera tertawa ter-bahak2.
"Haaahh..haaahh..haaahh.. engkau benar2 merupakan
muridku yang baik, memang lebih baik aku yang simpan
payung ini, sebab barang ini jauh lebih aman-"
Belum selesai dia berkata, tiba2 Suma ing sentak payung
mestika itusehingga ujung senjata itu dengan tepat dan
persis menotok jalan darah Ji-keng-hiat diatas dada Kakek
Ombak menggulung.
Jago tua itu mendengus berat. tak ampun lagi tubuhnya
roboh terkapar diatas tanah.
"Haaahh..haaahh...haaahh... " Suma Ing tertawa seram.
"sekali pun engkau lebih licik,jangan harap bisa terlepas dari
perhitungan aku orang she Suma yang jitu. Hhm... hhmm..
aku tahu kalau dalam hati kecilmu sudah timbul ingatan
jahat. ketika untuk pertama kalinya engkau melihat bahwa
aku berhasil menangkap dua orang ini dan payung sengkala
tersebut terjatuh ketanganku. pandangan mata serta
perubahan mukamu telah beritahu kepadaku bahwa engkau
mengandung maksud tak baik. lblis tua engkau sudah
terlalu lama malang melintang dikolong langit, sekalipun
harus mati rasanya engkau bisa mati dengan mata
terpenjam rapat"
Kakek ombak menggulung pejamkan mata dan
membungkam, paras mukanya yang kurus kering sama
sekali tak terlintas rasa kaget ataupun terperanjat. Suma Ing
kembali tertawa dingin.
"Heeehh-heehh-heeehhh... iblis tua tenang amat
engkau?? pandai benar engkau menekan perasaan hatimu,
aku tak percaya kalau engkau sama sekali tak takut mati"
Kakek ombak menggulung tetap berbaring dengan mata
terpejam, paras mukanya tenang sekali.
Ketua perkumpulan bulu hijau serta Lam-kong Pak yang
meayaksikan kejadian itu diam-diam menghela nafas
panjang, dalam pandangan pemuda she Lam-kong kejadian
ini patut disesalkan olehnya.
Ia mempunyai beberapa kali kesempatan baik untuk
membinasakan penjahat tersebut tapi akhirnya timbul
perasaan tak tega dalam hati kecilnya hingga
mengakibatkan terjadinya peristiwa seperti hari ini.
Dalam pandangan ketua perkumpulan bulu hijau, sejak
dahulu ia sudah tahu kalau Suma Ing berakhlak bejad dan
berhati busuk. tapi ia tak menyangka kalau kebusukannya
sudah mencapai taraf yang tak mungkin bisa diobati lagi.
Mereka tahu bahwa pertunjukan bagus belum selesai
bagaimana akibatnya masih belum dapat diduga, mulai
sekarang walaupun begitu ketua perkumpulan bulu hijau
telah ambil keputusan, ia harus menggunakan tipu muslihat
untuk menyelamatkan jiwanya serta jiwa Lam-kong Pak.
Pada saat ini dalam hati kecilnya telah timbul perasaan
simpatik terhadap Lam-kong Pak, mungkin karena
kegagahan serta kejujuran yang ditampilkan pemuda itu
sudah menghibakan hatinya, ia merasakan kematian bagi
dirinya tak perlu disayangkan tapi jika Lam-kong Pak
sampai mati maka kematiannya merupakan suatu
kahilangan yang amat besar bagi umat persilatan-
Suma Ing dengan memegang payung mustikanya
berjalan pulang pergi disekeliling tubuh tiga orang jago itu,
ia menyeringai senyum dan tertawa bangga tiada hentinya.
Terakhir manusia itu mendekati tubuh kakek ombak
menggulung dan berkata:
"Engkau harus kubantai lebih dahulu karena engkau
adalah orang yang paling berbahaya, aku tahu bahwa
diantara kita tak pernah terikat oleh dendam ataupUn sakit
hati, oleh sebab itu aku akan memberi kematian yang utuh
dan cepat kepadamu.."
Selesai berkata ia angkat payung mustikanya dan
menyodok jalan darah Bi-sim-hiat diatas jidat Kaket ombak
menggulung dengan ujung payungnya.
Dengan perasaan yakin pasti berhasil dari sikap yang
sangat tenang Suma ing hanya mengerahkan tenaga sebesar
dua tiga bagian dalam serangan tersebut, tatkala ujung
payung baru saja menempel diatas jidat Kakek ombak
menggulung mendadak jago tua itu melejitkan badannya
keatas sehingga ujung payung itu mengarah keatas
mulutnya.
Dalam keadaan begitu tiba2 saja Kakek ombak
mengulung membuka mulutnya dan menggigit ujung
payung dengan gerakan Liong-coa-ki-liok atau naga ular
sama2 mendarat, pada saat yang bersamaan pula badannya
loncat bangun serta merampas payung mestika itu.
Bukan begitu saja. sebuah tendangan kilat yang amat
dahsyat segera disusulkan lebih jauh menghajar tubuh
Suma ing hingga mencelat sejauh tiga tombak dari tempat
semula dan tak bisa berkutik lagi.
Rupanya dalam tendangan itu, Kakek ombak
menggulung telah menotok pula jalan darah Hay-tee-hiat
ditubuh suma ing.
Serentetan gerak tubuh itu dilakukan dengan cekatan,
cepat dan manis sekali baik.
ketua perkumpulan bulu hijau maupun Lam-kong Pak
yang menyaksikan kejadian itu diam-diam memuji akan
kebagusan gerakkan tersebut.
Merekapun menyadari bahwa sejak pertama kali tadi
Kaket ombak menggulung telah berhasil menebak tepat
suara hati Suma Ing, apalagi sewaktu manusia durjana itu
hendak serahkan payung mustika tersebut kepadanya.
Dalam perhitungan Kakek ombak menggulung, apabila
Suma Ing benar2 melancarkan serangan maka yang dituju
pastilah beberapa buah jalan darah penting diatas dadanya,
oleh sebab itulah dia telah menggeserkan kedudukan jalan
darahnya dan pura2 roboh setelah kena ditotok.
Justru karena sudah adanya persiapan itulah meskipun
kena ditotok paras mukanya sama sekali tidak
menampilkan rasa kaget, terperanjat ataupun gelisah.
"Heeehhh...heeeehh ...heeehh...." Kakek ombak
mengulung tertawa seram tiada hentinya, "Suma Ing
permainan busukmu itu cuma dapat membobongi anak
kecil, bukannya aku sengaja bicara besar, kalau bicara
tentang akal muslihat maka dikolong langit dewasa ini tak
seorang manusiapun bisa menandingi diriku"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, diam2 ketua
perkumpulan bulu hijau mendengus dingin, pikirnya:
"Sekarang masih pagi untuk mengutarakan perkataan
semacam itu, tunggu saja tanggal mainnya aku pasti akan
mencari engkau untuk menjajal sampai dimana kelihayan
otakmu"
Sementara itu Kakek ombak menggulung telah
mendekati Suma ing lalu menyepak badannya hingga
mencelat setinggi satu tombak keatas udara....pleeetaaak
badannya terbanting diatas tanah keras2 dan mencium
tanah, teriaknya.
"Hey keparat cilik engkau pandang terlalu tinggi diriku?
baiklah, akan kubantai dirimu lebih dahulu sebab aku
punya pandangan yang luar biasa pula atas dirimu. oleh
karenanya engkau harus dikirim lebih dahulu untuk
melakukan perjalanan"
Habis berkata, dia angkat payung mustikanya dan
ditusukkan kearah pusar Suma Ing.Tapi sebelum senjata itu
bersarang diatas jalan darah penting itu, tiba2 gembong iblis
tua itu tarik kembali payung mustikanya itu dan berpikir:
"Baik dia maupun kedua orang itu semuanya pandai
mainkan jurus silat payung sengkala, dan ilmu silat paling
ampuh dikolong langit dewasa ini yang dapat menandingi
kebagusan Koen-tun-ceng-ki milikku hanya jurus serangan
payung sengkala belaka, bagaimanapun juga aku harus
berusaha mempelajari Simhoat dari kepandaian tersebut,
jika kepandaian itu kugabungkan menjadi satu, bukankah
ilmu silatku akan mencapai puncak kesempurnaan yang
tiada tandingan lagi dikolong langit?"
Ujung payung mustikanya segera ditempelkan diatas
jalan darah Leng-tay-hiat diatas tubuh Suma ing, kemudian
sambil membebaskan jalan darah Hay-tee-hiatnya yang
tertotok ia bertanya:
"Suma ing, apakah engkau masih ingin hidup??"
"Engkau tak perlu membuang waktu dan pikiran dengan
percuma, benda yang kau inginkan tak mungkin bisa
diperoleh dari badanku"
Kakek ombak menggulung tak banyak bicara, kembali ia
totok jalan darahnya kemudian berjalan kesamping ketua
perkumpulan bulu hijau dan menggunakan ujung
payungnya menempel jalan darah sian-ki-hiatnya, setelah
itu ia bebaskan jalan darahnya yang tertotok dan berkata:
"Jikalau pikiranmu bisa bergerak sedikit lebih bebas dan
leluasa, kemungkinan besar dapat memberi sebuah jalan
kehidupan bagimu."
"Katakan sejak permulaan tadi pikiran, dan perasaan
hatiku sudah bergerak lebih leluasa"
"Katakanlah sim-hoat serta rahasia ilmu sakti payung
sengkala. aku percaya engkau pun menguasai kepandaian
maha sakti itu."
"Boleh, tetapi sebelum itu engkaupun harus menjawab
sebuah pertanyaanku lebih dulu."
"Tidak. engkau yang harus memberi jawaban lebih
dahulu kepadaku,"
Ketua dari perkumpulan bulu hijau segera pejamkan
matanya rapat2. dengan suara dalam ia berseru.
"Kalau begitu yaa sudahlah lebih baik turunlah tangan
secepat mungkin"
Kakek ombak menggulung menyeringai seram,
"Heehhmm-heehhmm-heehhmm tak nyana tulangmu
ternyata begitu keras. baiklah bagaimanapun juga engkau
toh tak akan nanti lepas dari cengkeramanku, ajukanlah
pertanyaanmu itu?"
"Pertama. engkau harus memberi air minum lebih
dahulu Kepadaku, karena darah yang mengalir keluar dari
badanku terlalu banyak. sekarang aku merasa haus sekali,
setelah hausku hilang pembicaraan baru dapat
dilangsungkan-"
Kakek ombak menggulung lepaskan tempat airnya dan
diletakkan ditepi mulutnya, tanpa sungkan2 ketua
perkumpulan bulu hijau segera menghabiskan air yang ada
itu hingga tanpa sisa.
Setelah berhenti sebentar, ia baru melanjutkan, "Baiklah
sekarang aku hendak ajukan pertanyaan kepadamu."
ia berpikir sebentar kemudian lanjutnya,
"Tempo dulu sewaktu Sun Han Siang ke-tempat cu Hong
Hong untuk mencuri kitab pusaka payung sengkala dan
didalam pertarungan itu cu Hong Hong kena dipukul
hingga terjatuh kedalam jurang menurut pengakuan Sun
Han Siang tenaga dalam yang digunakan pada waktu itu
Cuma lima enam bagian belaka, dengan tenaga dalam yang
dimiliki cu Hong Hong pada saat itu tak mungkin ia bisa
terjerumus kedalam jurang, apakah engkau yang turun
tangan seCara diam2??"
Sekujur badan Kakek ombak menggulung bergemetar
keras, dengan suara lantang ia membentak:
"Siapakah kau??"
"Tak usah banjak bertanya, aku sudah pasti bukan sanak
keluarga dari cu Hong Hong maupun Sun Han Siang aku
hanya ingin mengetahui latar belakang duduknya perkara
itu"
Kakek ombak menggulung tertawa dingin.
"Heeeh-heehh-heeehh... dengan tenaga dalam yang kau
miliki saat ini, aku rasa dimasa lampau engkau bukan
seorang yang tak bernama, kenapa aku sama sekali tak
kenal dengan dirimu??"
"Dalam dunia persilatan yang begitu luas dan lebar. jago
berkepandaian tinggi tak terhitung banyaknya. apakab
engkau yakin kalau kenal dengan setiap manusia dikolong
langit??"
Kakek ombak menggulung tertawa seram tiada hentinya.
"Hmm bagaimanapun juga , sepantasnya kalau engkau
mempunyai nama bukan??"
"Aku she ciu bernama Hok dengan julukan kakek
penasaran berkain hijau."
Baik Kakek ombak menggulung maupun Lam-kong Pak
sama2 terperangah sesudah mendengar nama itu, sebab
baik nama maupun julukannya luar biasa istimewanya
bukan saja tak pernah terdengar bahkan kedengarannya
janggal sekali.jelas membuktikan bahwa nama tersebut
bukanlah nama aslinya.
Lam-kong Pak dengan Cepat dapat menyelami arti dari
jululan tersebut, kakek penasaran berkain hijau seakan-akan
memberi artikan kalau ia mengenakan kain hijau diatas
kepalanya itu berarti pula kalau orang ini mempunyai
seorang istri yang tidak setia dan sudah menyeleweng
dengan orang lain-
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Lamkong
Pak, teringat olehnya bahwa ketua perkumpulan bulu
hijau pernah mencaci maki cu Hong Hong habis2an- suatu
kali ia pernah berkata kepada perempuan itu:
"Aku akan kumpulkan kalian lelaki perempuan jahanam
yang telah berbuat zinah dan penyelewengan, kemudian
akan turun tangan serentak...."
Teringat akan hal itu satu ingatan kembali berkelebat
dalam benak Lam-kong Pak yang membuat sekujur
badannya gemetar keras, ia teringat kembali akan cita2
ketua perkumpulan bulu hijau yang bersumpah tak akan
lepaskan ayahnya Lam-kong Liu, jangsn2 yang
dimaksudkan sebagai pria wanita jahanam yang telah
berbuat zinah itu adalah ayahnya serta cu Hong Hong??
Aaah hal ini tak mungkin biaa terjadi, Cinta kasih antara
ayahnya dengan ibunya begitu mendalam. mana mungkin
ayahnya bisa mencintai cu Hong Hong lagi. tapi ia teringat
kembali akan makian dari cu Hong Hong yang memaki
ibunya sabagai seorang perempuan tukang rebut lelaki.
Ditinjau dari sini dapatlah mengambil satu kesimpulan
bahwa antara ayahnya Lam-kong Liu dengan cu Hong
Hong dimasa lampau pasti sudah pernah terikat oleh cinta
kasih.
Kalau memang begitu bukankah itu berarti bahwa ketua
perkumpulan bulu hijau adalah suaminya co Hong Hong??
Jikalau dugaannya tepat dan tidak meleset maka itu
berarti ketua perkumpulan bulu hijau adalah Siau-yan
Peng^ suaminya cu Hong Hong.
Setelah menghubungkan bukti yang satu dengan yang
lain Lam-kong Pak merasa makin menebak semakin benar.
tak kuasa lagi dia merasa amat terperanjat dari
perubahannya yang digunakan yakni ciu Hok atau balas
dendam bisa dia ambil kesimpulan bahwa ketua
perkumpulan bulu hijau telah ambil keputusan untuk tidak
lepaskan ayahnya mau-pun cu Hong Hong dari pembalasan
dendam. Tapi yang lebih aneh lagi. ternyata ketua
perkumpulan bulu hijau agaknya menaruh pandangan lain
terhadap ibunya, ia selalu memberi belas kasihan
kepadanya, apa yang sebetulnya terjadi??
Sementara ia masih memikirkan itu, terdengar ketua
perkumpulan bulu hijau berkata: "Aku harap engkau
bersedia menjawab pertanyaanku ini."
"Ehmm tak ada salahnya untuk beritahukann persoalan
ini kepadamu. tempo hari aku serta suhengku. Boan-thianseng-
to, Bintang tersebut dilangit Liok Hoa Seng memang
berada disekitar tempat itu, orang yang menghantam cu
Hong Hong hingga terCebur kedalam jurang adalah
suhengku, sedang aku sendiri sama sekali tidak berbuat
apa2."
"Tempo hari ketika Siau-yan Peng sedang bertarung
melawan seorang manusia berkerudung, kepandaian silat
yang dimiliki kedua orang itu seimbang, ketika Siau-yan
Peng dihantam oleh manusia berkerudung itu hingga
mencelat sejauh satu tombak. malahan kemudian ditolong
oleh manusia berkerudung itu membuktikan kalau dari sisi
kalangan ada orang yang turun tangan seCara diam2
apakah engkau dapat menerangkan duduk perkara ini??"
"Kejadian itupun merupakan hasil karya dari suhengku
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng"
"Tempo dulu jago angin dan guntur Lam-kong Liu
pernah dikerubuti orang banyak. kemungkinan besar diapun
disergap dan dicelakai orang dari balik layar, apakah
peristiwa itu juga merupakan hasil karya kakak
seperguruanmu??"
Kakek ombik menggulung menyeringai seram.
"Haahh-haahh-haahh.. terus terang kuberitahukan
kepadamu, kejadian tersebut adalah hasil karyaku."
Begitu pengakuan itu diutarakan keluar. Lam-kong pak
merasakan hatinya bergetar keras. rupanya tempo dulu ada
orang yang sengaja menyiarkan kabar bohong yang
mengatakan kitab pusaka payung sengkala dimiliki
ayahnya, atas tersiarnya berita sensasi itu dengan cepat
memancing perhatian serta pengincaran dari pelbagai
manusia- manusia yang yang terhitung sampah masyarakat
terdapat ayah Liu Hau Siang jago arak dari Lam-hay It-bun
Ko. Dewa harta bertangan keji serta Janda kawin tujuh kali
beberapa orang.
Sudah tentu jika ingin mengandalkan kekuatan dari
beberapa orang itu sulitnya bagi mereka untuk melukai
Lam-kong Liu dan hal ini tak mungkin bisa berhasil tak
tahunya Kakek ombak menggulung yang melancarkan
sergapan dari samping.
"sudah habiskah pertanyaanmu??" tanya kakek ombak
menggulung kemudian.
"Apakah kakak seperguruanmu Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng masih hidup dikolong langit?"
tanya ketua perkumpulan^bulu hijau lagi.
"Sudah tentu... kepergianku kali ini sebenarnya hendak
mencari dia tapi sekarang setelah aku berhasil dapatkan
payung sengkata rasanya tiada kepentingan lagi untuk
mencari dirinya"
"Baiklah boleh saja kalau engkau ingin tahu sim-hoat
serta rahasia ilmu sakti payung sengkala..."
Bicara sampai disini diam2 ia salurkan hawa murninya
dan muntahkan serentetan panah air yang sangat tajam
langsung mengancam tubuh bagian atas bagian dada serta
bagian bawah kakek ombak menggulung, begitu dahsyat
pancaran panah air yang terbagi jadi tiga bagian itu hingga
secara lapat2 terasa tertekan hawa murni yang tajam.
Mimpipun Kakek ombak menggulung tak pernah
menyangka kalau pihak lawan bakal menggunakan cara
semacam itu untuk menghadapi dirinya, terpaksa ia tarik
diri dan mengundurkan diri sejauh satu tombak kebelakang,
Ilmu silat yang dimiliki ketua perkumpulan bulu hijau
mempunyai keistimewaan lain, ia dapat menyalurkan
tenaga dalam sewaktu berbicara.
Ketika pembicaran sedang berlangsung tadi, secara
diam2 luka dalamnya berhasil ditekan sedemikian rupa
sehingga tak dapat berkutik lagi. apalagi ia sudah
mempersiapkan diri untuk turun tangan- begitu loncat
bangun dari atas tanah, dengan suatu gerakan yang cepat
pula ia bebaskan jalan darah Lam-kong Pak yang tertotok.
Kendatipun sudah tertipu mentah2 oleh siasat lawan.
akan tetapi kakek ombak menggulung sama sekali tak jeri
menghadapi ke dua orang itu, ia tahu bahwa luka dalam
yang diderita kedua orang jago itu belum sembuh. ditambah
pula payung sengkala berada dalam genggamannya, tiada
persoalan lain yang perlu ditakuti lagi olehnya.
Kakek ombak menggulung tertawa seram tiada hentinya,
sambilper-lahan2 maju mendekat serunya:
"Sekalipun kalian berdua turun tangan bersama, belum
tentu kalian bisa menandingi kedahsyatan seranganku,
akhirnya toh hasilnya sama saja.-"
Belum habis ia berkata, tiba2 terdengarlah suara
gemerincingan yang amat nyaring berkumandang datang.
tahu2 tiga orang manusia tembaga itu dengan pakaian yang
ber-lubang2 tapi sama sekali tidak cedera telah berdiri
disamping tubuh Suma Ing.
Kakek ombak menggulung menyadari bahwa kekuatan
ilmu silatnya masih belum dapat menandingi kerubutan
lima orang jago lihay itu. terutama sekali luka dalamnva
yang diderita akibat tekanan pukulan payung sengkala dari
ketua perkumpulan bulu hijau belum lama berselang sama
sekali belum sembuh, tanpa berpaling lagi ia kabur ter-birit2
meninggalkan tempat itu.
pada saat Kakek ombak menggulung larikan diri dan
ketua perkumpulan bulu hijau serta Lam-kong Pak masih
berdiri terperangah. salah seorang diantara tiga manusia
tembaga itu mendadak menyambar tubuh Suma Ing dan
sambil tertawa ter-bahak2 berkelebat tinggalkan tempat
kejadian itu.
Ketua perkumpulan bulu hijau serta Lam-kong Pak
hanya bisa saling berpandangan tanpa mengucapkan
sepatah katapun, setelah tertegun beberapa saat lamanya
akhirnya mareka sama2 tertawa ter-bahak2.
Gelak tertawa berlangsung beberapa waktu, suatu ketika
Lam-kong Pak muntah darah kental. tubuhnya mulai
bergoyang dan mundur kebelakang dengan sempoyongan-
Ketua perkumpulan bulu hijau segera maju menghampiri
dengan niat hendak memeluknya, tapi Lam-kong Pak
mundur dua langkah kebelakang dengan cepat, serunya:
"Engkau menyebut diri bernama ciu Hok dengan julukan
kakek penasaran berkain hijau. aku tahu nama itu adalah
nama palsu. kalau engkau tak mau beritahu nama aslimu,
akupun tak mau terima bantuanmu ini."
"Hey bocah muda, engkau memang keterlaluan sekali,
aku bermaksud baik hendak menolong kamu."
"Biarlah maksud baik cianpwee kuterima dalam hati saja,
silahkan engkau berlalu dari sini"
Ketua perkumpulan bulu hijau melepas jubah luarnya
dan diberikan kepada pemuda itu. "Pakaianmu sudah rusak
dan robek sangat tak sedap dipandang, kenakanlah bajuku
ini"
Lam-kong Pak sama sekali tidak menerima angsuran
pakaian itu, dengan suara dalam bertanya:
"cianpwee, kalau toh engkau tak mau utarakan asal
usulmu, akupun tak bisa memaksa, tapi kalau menurut
dugaanku kemungkinan besar engkau adalah Sian-yan Peng
loo-cianpwee suami dari cu Hong Hong"
Ketua perkumpulan bulu hijau tak mengaku tak
menyangkal dia hanya tersenyum belaka.
"cianpwee, aku ada satu persoalan hendak ditanyakan
kepadamu." ujar Lam-ong Pak kembali. "dan aku harap
cianpwee bersedia memberi jawaban yang sejujurnya"
"Tanyalah kecuali asal-usulku yang tak dapat
kuberitahukan kepadamu lebih2 dahulu dalam persoalan
lain aku pasti akan memberi jawaban yang bisa memuaskan
hatimu."
"Aku masih ingat kalau cianpwee pernah gunakan ilmu
hipnotis Tong-beng-hok-goan-toa-hoat terhadap salah
seorang diantara tiga manusia tembaga itu, tolong tanya
manusia tembaga yang terpengaruh oleh ilmu hipnotis
Tong-beng-hok-goan-toa-hoat tersebut telah pulih kembali
kesehatannya??"
"Belum tenaga dalamnya hanya bisa pulih enam sampai
tujuh bagaian saja, apabila dia tidak menerima pertolongan
yane terakhir untuk membebaskan sama sekali pengaruh
ilmu tersebut terhadap tubuhnya maka kepandaian silat
yang dilatih olehnya tak akan berhasil mencapai puncak
kesempurnaan"
"Benarkah manusia tembaga itu adalah ayahku jago
angin guntur Lam-kong Liu?"
"Benar dia atau bukan aku sih kurang begitu jelas
pokoknya kalau bukan dia maka manusia tembaga itu
pastilah siau-yau sianseng sastrawan yang suka melancong
Lu It Beng"
"Segala sesuatu perbuatan tentu tingkah laku cianpwee
semuanya memberikan rasa kagum dan hormat bagiku. tapi
ada satu persoalan yang membikin hatiku jadi amat
kecewa"
"Apa maksudmu??"
"Kalau toh cianpwee telah menyerupai manusia tembaga
itu untuk melaksanakan ilmu hipnotis Tong-bin-bok-goantoa-
hoat maka sudah menjadi kewajiban bagimu untuk
bertindak sampai ke-akhirnya. kenapa engkau sengaja
tinggalkan satu bagian hingga kesembuhannya tak
sempurna? tindakan semacam ini sangat menyesalkan
hatiku. Menurut dUgaanku, sebab musabab cianpwee
sengaja menahan bagian terakhir dari ilmu penyembuhan
tersebut bukan lain adalah karena cianpwee takut jika
tenaga dalam ayahku pulih kembali seperti sedia kala lalu
memusuhi dirimu. kalau toh cianpwee tak bersedia
lepaskan ayahku. dan engkaupun tidak membiarkan tenaga
dalamnya pulih seperti sedia kala, itu berarti bahwa
cianpwee hendak mencari kemenangan dengan akal licik.
nantinya siapa yang bakal menang dan siapa yang bakal
kalah yang jelas hasil dari pertarungan itu tetaptak adil,
bukankah tindakan dari cianpwee itu sangat mengecewakan
hati orang??"
"Bocah muda. mulutmu memang benar2 sangat tajam,
tapi sayang aku tak suka dengan permainan semacam itu"
"Aku sama sekali tak bermaksud memanasi hatimu,
kenyataan memang demikianlah keadaannya, manusia
gagah dan bijaksana seperti cianpwee ternyata bisa
lakukanperbuatan seperti ini, boleh dibilang kejadian itu
merupakan Suatu kejelekan diantara keindahan, inilah yang
patut disesalkan-.."
= =ooooooooo= =
"HAAAI HH...haaahh...haaahh...." Ketua perkumpulan
bulu hijau tertawa ter-bahak2 dengan nyaringnya. tubuh
mulai sempoyongan dan rupanya luka yang ia derita telah
kambuh kembail, serunya dengan wajah serius,
"Perduli bagaimanapun engkau panasi hatiku. aku pasti
akan penuhi rasa baktimu terhadap ayahmu...."
Bicara sampai disini. dari dalam sakunya dia ambil
keluar segulUng kertas dan diangsurkan kepada Lam-kong
Pak. lanjutnya:
"Dalam kertas itu tercantum kepandaian terakhir dari
ilmu penyembuhan Tong bin-hok-goan-toa-hoat. Nah
ambillah tapi aku ulangi kembali keputusanku,
bagaimanapun juga aku tak akan lepaskan Lam-kong Liu
dengan begitu saja, lain kali jikalau kita saling berjumpa
kembail, pada saat itulah aku akan melangsungkan suatu
pertarungan yang paling adil dengan dirinya"
Lam-kong Pak segera menjawab dengan serius:
"jikalau cianpwee anggap perbuatanku ini merupakan
suatu penampilan rasa baktiku kepada orang tua dan
bukannya berbicara atas dasar keadilan, maka lebih baik
kutampik pemberian dari cianpwee ini, harap cianpwee
terima kembali tulisan tersebut."
Perkataan itu sangat menyinggung perasaan ketua
perkumpulan bulu hijau, ia benar2 saja naik pitam.
hardiknya:
"Bocah muda. engkau bosan hidup yaa?"
"Aku pernah mempelajari kitab ajaran dari para Nabi
suci dan memahami pula apa artinya kehidupan sebagai
seorang manusia cianpwee telah salah mengartikan
maksudku aku tak bersedia menerima rasa belas kasihan
dari orang lain".
"Lalu apa yang kau ingiakan ??" bentak ketua
perkumpulan bulu hijau dengan suara keras.
"Asal cianpwee mengakui cara ini adalah suatu cara
yang paling adil, aku akan menerima pemberianmu itu "
Rasa dendam dan sakit hati yang tersimpan dalam hati
ketua perkumpulan bulu hijau sudah terpendam selama
puluhan tahun lamanya. jago lihay ini sebenarnya hendak
membinasakan Lam-kong pak serta Lam-kong Liu tapi
kemudian ia temukan bahwasanya Lam-kong pak adalah
seorang jago lihay yang luar biasa, karena itulah timbul
perasaan kasihan dalam hatinya dan setiap kali ia menaruh
belas kasihan kepadanya.
Selain itu secara diam2 ia menaruh rasa cinta da nsayang
terhadap Sun Han Siang, kendatipun perasaan tersebut
selalu tersembunyi didasar hatinya belaka. oleh sebab itulah
ia merasa tak tega untuk turun tangan terhadap Lam-kong
pak.
Dan sekarang sianak muda itu menunjukkan kebandelan
yang sukar dikendalikan- hal ini membangkitkan hawa
amarahnya hingga sukar dibendung lagi segera hardiknya:
"Bocah muda. kalau engkau benar2 ingin mati, aku akan
segera penuhi harapanmu itu"
Lam-kong Pak silangkan tangannya didepan dada dan
menjawab tawa:
"cianpwee pernah lepaskan budi kepadaku bagi orang
persilatan yang pernah menerima kebalkan orang maka
sudah sepantasnya untuk membalas kebaikan itu lebih dari
apa yang pernah diterima, jikalau cianpwee memang
hendak menyempurnakan diriku silahkan engkau segera
turun tangan aku tidak akan membalas walau sedikitpun
juga "
"Bocah muda kau anggap aku benar2 tak berani untuk
membinasakan dirimu?" seru ketua perkumpulan bulu hijau
dengan suara dingin.
Lam-kong Pak pejamkan matanya rapat2 kemudian
menjawab dengan tenang:
"Aku tak akan menganggap keselamatan jiwaku sebagai
suatu permainan belaka itu berarti aku tak akan melakukan
perbuatan yang bagiku dianggap tak masuk akal"
Ketua perkumpulan bulu hijau mendengus dingin,
dengan langkah lebar ia maju kedepan telapaknya dengan
himpunan tenaga penuh siap dibacokkan keatas batok
kepala pemuda itu.
Kendatipun isi perutnya terluka parah tapi dalam
gusarnya yang tak terkirakan tenaga yang dihimpun cukup
tangguh dan mengejutkan hati.
Sambil berpeluk tangan Lam-kong Pak pejamkan
matanya rapat?, tubuhnya sama sekali tak berkutik barang
sedikitpun juga , mukanya memancarkan kehalusan dan
keagungan, membuat orang lain tak berani memandang
rendah akan dirinya.
Ketua perkumpulan bulu hijau menghela nafas panjang.
ia tarik kembali telapaknya sambil mundur satu langkah
kebelakang bisiknya lirih.
"Bocah muda, selama hidup belum pernah aku takluk
kepada siapapun, tapi ini hari aku telah jatuh kecundang
ditanganmu"
"cianpwee tak usah merendahkan derajat sendiri, dari
sikap cianpwee yang tak tega membinasakan diriku sudah
jelas membuktikan bahwa cianpwee adalah seorang
pendekar tua yang berjiwa besar dan berpandangan luas"
"Bocah muda" ketua perkumpulan bulu hijau kembali
menghardik, "kalau engkau masih keras kepala dan
berpegang teguh pada pandangan sendiri jangan salahkan
kalau aku akan berubah pandangan dan lebih baik
melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan
perasaan hati sendiri dan membinasakan dirimu" .
"Aku dapat memahami sikap cianpwee tersebut, aku
tahu cianpwee berbuat demikian hanya ingin menakut2i
diriku belaka. sebab buat seorang pendekar besar, seorang
Enghiong hohan, tak mungkin ia bersedia melakukan suatu
perbuatan yang akhirnya akan disesalkan sepanjang masa"
Ketua perkumpulan bulu hijau tak sanggup menahan diri
lagi. laksana sambaran kilat ia melancarkan sebuah
gaplokan keras yang tepat bersarang diatas pipi Lam-kong
Pak.
Dengan sempoyongan sianak muda itu mundur dua
langkah kebelakang, noda darah mengotori ujung bibirnya.
sambil menahan sakit ia berseru:
"Kalau memang demikian adanya, lebih baik aku tidak
terima pemberian catatanmu itu. cianpwee selamat tinggal."
Habis berkata ia putar badan dan segera berlalu darisana
dengan langkah lebar.
Selama hidup belum pernah Ketua perkumpulan bulu
hijau temui seorang pemuda yang berwatak begitu keras
kepala, tanpa sadar ia tertegun dibuatnya, sambil
memandang lembaran kertas diatas tanah jago lihay ini tak
tahu apa yang musti dilakukan olehnya
Perasaan hatinya pada saat ini sangat kalut dan
bertentangan satu sama lainnya. rasa sayang dan
mendongkol bercampur aduk menjadi satu. ia sayang
kepada Lam-kong Pak tapi membencinya pula karena dia
adalah putra kesayangan dan Lam-kong Liu, ia hendak
membenci Lam-kong pak tapi pemuda itu adalah putra
tunggal Sun Han Siang.
Mau benci tak dapat membenci, mau sayang tak dapat
sayang. karena pengaruh emosi seluruh wajahnya berubah
hebat.
Tapi akhirnya dia menghela napas panjang. dipungutnya
lembaran kertas diatas tanah itu dan dalam beberapa
loncatan kemudian ia sudah menyusul pemuda itu serunya:
"Hey bocah muda, ambil kertas ini?"
Dengan mulut membungkam Lam-kong Pak menerima
lembaran kertas itu, ketua perkumpulan bulu hijau
melepaskan pula jubah luarnya diserahkan kepadanya,
pemuda itu kembali menerimanya .
"cianpwee" ia berkata kemudian, "ada satu persoalan
yang ingin kutanyakan kepadamu, aku harap cianpwee
suka memberi keterangan kepadaku"
"Tanyalah aku tak akan membuat engkau jadi keCewa"
Nada ucapannya begitu lembut dan ramah, sedikitpun
tidak menunjukkan sikap palsunya seperti dahulu, sebab
dahulu ia selalu menggunakan gerak gerik yang aneh untuk
merahasiakan asal usulnya, maka sering kali jago tua ini
memperdengarkan suara tertawa haha-hihi yang lucu dan
menyeramkan. Terdengar Lam-kong Pak berkata:
"Belum lama berselang, dalam pertemuan besar manusia
tembaga semuanya telah hadir delapan orang manusia
tembaga. salah satu diantaranya adalah aku. yang lain
adalah cianpwee dan yang ketiga adalah kakek ombak
menggulung, selain itu masih ada sisa lima orang, dua
diantaranya adalah Padri naga dan imam harimau. tiga
orang terakhir dua diantaranya kemungkinan adalah
ayahku Lam-kong Liu serta guruku Lu It Beng. siapa sih
orang yang terakhir?"
"Dialah orang yang memiliki senjata payung sengkala
paling pertama...."
"Tentang soal itu aku sudah tahu, yang kutanyakan siapa
kah orang itu?? kalau toh dia pandai memainkan jurus2
serangan payung sengkala. itu berarti orang tersebut
mempunyai hubungan yang akrab sekali dengan cu
cianpwee"
"Dialah kakek tua berpakaian desa yang pernah kau
jumpai..." sekali lagi Lam-kong Pak mengangguk berulang
kali.
"Aku telah menduga bahwa kemungkinm besar dia
adalah kakek desa tersebut, tapi siapa kah kakek desa itu
sendiri??"
"Dia adalah Mega hitam pengejar rembulan oei ci Hu"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar Lamkong Pak
menjerit kaget dan sampai mundur tiga langkah kebelakang,
serunya dengan suara tertahan:
"Apa? dia adalah oei cianpwee? atau dengan perkataan
lain sahabat karib dari Siao yan Peng cianpwee dimasa
lampau??"
Ketua perkumpulan bulu hijau mendengus dingin,
"Hmm ucapanmu benar."
Dengan sedih Lam-kong Pak menundukkan kepalanya
rendah2.
"Karena kurang hati2, aku telah membuyarkan hawa
murni bayi sakti yang sedang, dilatih olehnya sehingga
merusak hasil latihannya selama enam puluh tahun, hingga
kini aku tetap merasa tak tenang hati karena peristiwa itu"
Sekali lagi Ketua perkumpulan bulu hijau mendengus
dingin. jelas ia sama sekali tidak menaruh perasaan
simpatik atau kasihan terhadap Awan gelap pengejar
rembulan oei ci Hu.
"Menurut kabar berita yang tersiar dalam dunia
persilatan, katanya oei cianpwee adalah sahabat karib dari
Siao-yan Peng cianpwee" kata Lam-kong Pak lebih jauh,
"sewaktu aku terjerumus kedalam kawah gunung berapi
tempo hari, nona cu telah berpesan kepadaku agar menaruh
perhatian khusus terhadap diri cianpwee serta usahakan
untuk menemukan kembali jejaknya, dari sini cukup
membuktikan bahwa hubungan kekeluargaan dari kedua
belah pihaK cukup akrab. kenapa engkau malah
menujukkan sikap tidak puas atas diri oei- cianpwee?
apakah antara engkau dengan dirinya pernah terikat oleh
dendam atau sakit hati??"
"Untuk sementara waktu persoalan ini tak dapat
kuberitahukan padamu." ujar ketua perkumpulan bulu hijau
dengan nada dingin, "tapi aku hendak memperingatkan
akan satu hal, meskipun kepandaian silat dari kakek ombak
menggulung masih belum cukup untuk merajai kolong
langit, tapi suhengnya bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa Seng adalah seorang manusia yang sangat
berbahaya sekali kelihayan ilmu silat yang dimilikinya sukar
diukur dengan kata2, menurut apa yang kudengar ilmu silat
yang dimiliki kakek ombak menggulung didapatkan dari
kakak seperguruannya ini, dari sini bisa dibayangkan betapa
lihay dan luar biasanya orang itu"
"Ilmu silatnya adalah...."
"Kun tun-liat-hwee Ji-gi-kang atau gabungan dua hawa
murni ombak menggulung dan kobaran api dahsyat"
Lam-kong Pak terperangah sesudah mendengar jawaban
ini dengan keheranan ia berseru: "Aneh benar sebutan dari
kepandaian ampuhnya itu??"
"Nama itu digunakan bagi ilmu silat yang dimilikinya
dimasa silam, kini ia sudah mencapai taraf baru yang jauh
lebih dahsyat lagi, ia sebut kepandaiannya sebagai ilmu
Sam-seng-kang atau kepandaian tiga bintang."
"Apa sih yang dinamakan ilmu tiga bintang itu??"
"Ketika jagad tercipta tiada suatu benda apapun yang
ada dibawah kolong langit, kejadian setelah muncul
matahari. rembulan dan bintang tiga sumber cahaya
barulah benda dan mahkluk kehidupan tercipta, ilmu silat
yang ia ciptakan tidak lain diubah dan dicipta sesuai dengan
perubahan alam semesta,jika dibandingkan dengan ilmu
gabungan dua hawa murni ombak menggulung kobaran api
dahsyat maka kepandaian yang dimilikinya sekarang jauh
lebih lihay"
"Apakah julukannya sebagai bintang yang bertaburan
diangkasa sesuai dengan kepandaian sam-seng-kang yang
dikuasainya itu"
"ooooh tidak karena mukanya bopeng maka disebut
orang sebagai Bintang yang bertaburan diangkasa"
"Setelah itu apa cianpwee akan kembali keperkumpulan
bulu hijaumu itu??"
"Tentu saja, perkumpulan itu kudirikan dengan susah
payah, sekarang aku masih belum ada minat untuk
melepaskannya. hey bocah muda sampai jumpa lain kali."
Habis beekata iaputar badan dan berlalu darisana.....
Sepeninggalnya ketua perkumpulan bulu hijau Lam-kong
Pak mengenakan jubah luar pemberian itu ternjata pakaian
itu cocok dengan perawakan tubuhnya. .
Berpikir pulang pergi ia merasa bahwa ketua
perkumpulan bulu hijau pastilah ayah cu Li Yap atau suami
dari cu Hong Hong yakni Siau-yan Peng.
Tapi permusuhan apakah yang sudah terjadi antara
Ketua perkumpulan bulu hijau dengan Awan gelap.
pengejar rembulan oei ci Hu??
orang itu tak bersedia melepaskan ayahnya Lam-kong
Liu tapi menyayangi dirinya kenapa ia bersikap demikian?
suatu masalah pelik yang cukup memusingkan kepalanya.
Lam kong Pak berpikir lebih jauh ia merasa perselisihan
paham antara orang itu dengan ayahnya dapat diketahui
dari mulut cu Hong Hong bila ia tanyakan persoalan ini
kepadanya, selain itu orang tersebut menaruh kesan yang
baik kepada ibunya kenapa begitu?
Tiba2 ia teringat kembali perbuatan dari tiga orang
manusia tembaga yang merampas pergi Suma Ing.
sehenarnya apa maksud dan tujuan mereka? kalau diantara
kedua orang itu benar2 adalah ayahnya Lam-kong Liu serta
gurunya Lu It Beng, maka tujuan mereka melarikan Suma
Ing pastilah hendak memberi kesempatan hidup lebih jauh
kepadanya.
Tapi manusia durjana itu sudah kehilangan liangsimnya,
ia kejam bagaikan seekor ular beracun, selama ia bergaul
dengan ayah serta gurunya berarti setiap saat kedua orang
itu terancam oleh mara bahaya,
Berpikir sampai disitu hatinya bergetar keras. Ia harus
segera temukan kembali manusia2 tembaga itu, selain itu ia
teringat kembali aan nasib dari Sun Han Siang sekalian
yang tak menentu. sekeliling tempat kebakaran telah
dicarinya dengan teliti, api telah padam namun tak sesosok
mayatpun yang berhasil ia temukan diantara puing2 yang
berserakan itu. Pemuda itu segera berpikir kembali
"Sekarang ini perutku yang terluka belum sembuh, sekali
pun berhasil kutemukan mereka belum tentu bisa
membantu apa2 kepada mereka, labih baik cari tempat
untuk menyembuhkan luka dalamku saja.
Maka iapun teringat kembali akan lembah terpencil yang
pernah digunakan olehnya sebagai tempat latihan- tempat
itu jauh dari keramaian dan tak pernah didatangi oleh
manusia, itulah tempat yang paling baik untuk
menyembuhkan luka yang dideritanya.
Setelah mempersiapkan rangsum keesokan harinya
berangkatlah pemuda itu menuju ke lembah terpencil, tapi
karena isi perutnya yang terluka amat parah. terpaksa
digunakannya seutas tali rotan yang panjang untuk
menuruni tebing yang dalam itu.
Suasana dalam lembah terpencil itu tak ada bedanya
dengan keadaan semula, satu2nya yang berubah adalah
pohon kecil itu, daun2an telah gugur semua dan kini hanya
tergantung sebiji buah besar yang berbentuk aneh.
Buah itu besarnya seperti mangkuk. warnanya kuning
jeruk dan agak gepeng. nampaknya buah itu sudah masak
dan hampir jatuh. Dalam hati Lam-kong Pak segera
berpikir:
" Daun pohon itu adalah sebuah benda mustika yang
langka dikolong langit, buahnya pasti tak ternilai
harganya..."
Diamatinya buah itu dengan lebih seksama, dalam buah
agaknya terdapat cairan yang bergerak kesana kemari. di
tengah cairan tersebut se-akan2 terdapat beberapa titik
hitam yang sedang ber-gerak2. titik hitam itu mirip sekali
dengan ber-puluh2 ular kecil berwarna hitam.
Bau harum semerbik menyebar keempat penjuru, ranting
yang menggantung buah itu sudah retak sedikit, rupanya
sebentar lagi akan terjatuh keatas tanah.
Dengan kedua belah tangannya pemuda itu memegang
buah besar itu. lalu menggigit dan membuat sebuah lubang
kecil diatas buah tadi. kemudian dihisap kuat2 sari yang
mengandung dalam buah itu.
"Sruup,.." cairan dalam buah itu mengalir masuk
kedalam perutnya dan terasa segar, nyaman dan nikmat
sekali, sama sekali tidak mengandung bau dan rasa aneh
dari dedaunannya.
Lam-kong Pak mengisap buah itu berulang kali sehingga
kulit buah menjadi berkeriput dan kempes. saat itulah
secara lapat2 ia merasakan adanya biji2an diantara cairan
itu, ketika digigit dengan giginya berbunyi germerutukan
yang amat nyaring.
Selain itu. pemuda itupun mulai merasakan sesuatu yang
ber-gerak2 dalam mulut serta perutnya, se-akan2 terdapat
be-ratus2 ekor ulat kecil yang sedang merangkak kian
kemari. kejadian ini seketika membuat hatinya amat
terperanjat.
Dengan cepat kulit buah yang berkeriput serta kempes itu
diperiksa dengan seksama, mendadak ia menjerit kaget dan
mundur selangkah kebelakang. rasa mual dan ingin muntah
menyerang tubuhnya.
Ternyata diantara cairan buah tadi terdapat ber-puluh2
ekor ulat kecil berwarna hitam, tubuhnya hitam pekat dan
memancarkan cahaya yang berkilauan.
Lam-kong pak ingin muntahkan kembali isiperutaya
namun tak berhasil, ia tahu entah berapa ratus ulat kecil
masuk kedalam perutnya, pemuda itu tak menyangka kalau
buah tersebut telah berulat, dengan hati sedih diam2 ia
memaki akan keteledoran dan kegegabahan tindak
tanduknya.
Kini pemuda itu rasa kan ulat2 kecil tersebut telah
berhenti bergerak, sedangkan buah yang keriput diatas
pohonpun sudah jatuh keatas tanah. meluncur jadi cairan
dan lenyap terserap dalam tanah.
Dalam keadaan begini Lam-kong Pak hanya bisa berpikir
dalam hati kecilnya:
"Kalau rejeki sudah pasti bukan bencana, kalau bencana
tak mungkin bisa kuhindari. Pasrah deh sama nasib"
ia berjalan ketepi kolam kecil, meneguk sedikit sumber
air, kemudian masuk kedalam gua karang.
Baru saja pemuda itu akan duduk bersemedi untuk
melihat bayi saktinya setingkat lebih maju mendadak satu
ingatan berkelebat dalam benaknya, ia teringat kembali
padri naga serta imam harimnu pernah berlatih ilmu pula
ditempat ini, dengan begitu bukankah berarti kecuali gua
karang ini masih ada gua lain yang jauh lebih rahasia
letaknya?
Tanpa berpikir panjang lagi ia keluar gua karang itu dan
berjalan menuju kearah lain, tak lama kemudian ia benar2
menemukan sebuah gua yarg bentuknya lebih besar.
Setelah masuk kedalam gua sejauh kurang lebih tiga lima
puluh tombak udara disekitar situ kian lama kian bertambah
panas bahkan sering kali terdengar suara deruan api seakan2
ada kobaran api yang terhembus angin,
Goa itu makin kedalam menjorok makin kebawah
udarapun kian lama kian bertambah panas ketika meraba
dinding terasa panas menyengat badan, kejadian ini
membuat hatinya amat terkejut pikirnya :
"Diluar gua hawa udara terasa sangat nyaman kenapa
dalam gua ini begitu panas hingga menyengat badan?
jangan2 mulut gua ini adalah sebuat kawah gunung
berapi??"
Diam2 ia merasakan bahwa selama ini beberapa li sudah
dilewatkan tanpa terasa, sekujur badannya basah kuyup
oleh air keringat, membuat kepalanya nanar dan matanya
ber-kunang2. se-akan2 tubuhnya dipanggang diatas sebuah
tungku api,
Dengan wataknya yang seras kepala, hanya ada jalan
maju tak ada jalan mundur, makin sulit persoalan yang
dihadapi makin besar hasratnya untuk memecahkan
persoalan itu.
Setelah berjalan lebih jauh kedepan, tubuhnya benar2
terasa amat panas bagaikan ada diatas tungku, tapi pemuda
itu sempat merasakan adanya gulungan angin dingin
berhembus lewat dari arah yang lain- karena itulah
meskipun suhu udara disana lebih panaspun tidak sampai
menghanguskan badan.
Tiba2 ia kaget hingga berdiri terperangah, pakaian yang
dikenakan diatas tubuhnya hancur jadi abu ketika
terhembus angin- hancuran pakaian itu berhamburan diatas
tanah membuat sianak muda itu dalam waktu singkat sudah
berada dalam keadaan telanjang bulat.
Dalam keadaan seperti itu hampir saja pemuda itu
kehilangan semangatnya urtuk melanjutkan perjalanan tapi
setelah jauh masuk kedalam gua apakah dia harus
membatalkan niatnya itu ditengah jalan? Lagi pula
kendatipun suhu udara dalam gua itu panas sekali sehingga
pakaiannya hancur ber-keping2 namun tubuhnya sama
sekali tidak merasakan sesuatu apapun..
Perjalanan selanjutnya kembali pemuda itu menyururi
gua itu masuk jauh lebih kedalam tak lama kemudian
sepatunya hancur menjadi abu membuat pemuda itu
telanjang total dari atas sampai kebawah kakinya.
Dalam keadaan begini Lam-kong Pak benar-benar dibuat
kehabisan akal, mau menangis tak bisa mau tertawa pun tak
dapat, pikirnya.
"Untung disini tak ada orang kalau tidak niscaya orang2
akan memaki aku sebagai seorang yang tak tahu malu,"
Diatas tubuhnya kini tinggal sebuah senjata tanduk naga
yang masih tergantung diatas pinggang, ketika tanduk naga
itu membentur dinding gua. batu putih berguguran diatas
tanah dan berubah jadi bubuk halus, ketika berhembus
angin bubuk itu tersebar ke-mana2 dan lenyap tak berbekas.
Tapi pemuda itu masih nekad untuk melanjutkan
perjalanannya, keringat yang mengucur keluar telah
membasahi seluruh tubuhnya. asap hijau mengepul
keangkasa disertai bau sangit daging manusia yang
terbakar.
Tapi telapak kaki Lam-kong pak sama sekali tidak
terluka, ia percaya seandainya tiada air keringat yang
mengiring suhu badan, niscaya tubuhnya sudah terluka..
Mungkin kesemuanya ini adalah kasiat dari buah ajaib
tadi??
Seratus langkah lebih kedepan sampailah pemuda itu
disuatu tempat yang bidang dan terbuka. jilatan api
membara ditengah sebuah gua besar. luasnya hanya lima
enam tombak membuat batuan diatas gua pun jadi merah
Kobaran api itu berada dibawah dinding gua, daerah
sekitar tiga tombak tak mungkin bisa didekati lagi, pada
dinding gua terpancanglah selembar batu tayli yang terukir
tulisan2 lembut ketika didekati maka terbacalah isinya:
"Gua ini sebagai kawah gunung berapi yang lelaknya
dibawah tanah. merupakan pintu kesorga kesegaranbanyak
orang yang berjalan tapi tak mau maju kedepan
hingga kehilangan kesempatan baik untuk mengunjungi
Istana bumi Tee Sim piat-hu, orang yang teguh iman setelah
tinggalkan gua ini diam2 bersyukur. orang yang beradat
keras tapi tidak memiliki tenaga dalam yang cukup tangguh
atau karena luka dalam belum sembuh, masuk kemari
berarti menempuh mara bahaya. Aaai.. banyak orang di
kolong langit yang sebenarnya lemah tapi mampu
dilakukan, mekeka tak tahu adat keras tapi tak kuat badan
itu berarti hanya mencari kematian bagi diri sendiri. oleh
sebab itulah kuanjurkan kepada setiap pendatang,jika tidak
memiliki kemampuan yang luar biasa. janganlah sekali
punya ingatan untuk masuk kedalam gua ini. meskipun
istana Tee sim piat-hu hanya berjarak beberapa jengkal
namun kenyataan ibarat perbedaan diantara alam baka dan
dunia. Dalam kolong langit dewasa ini hanya satu orang
mampu masuk kedalam istana Tee-sim-piat-hu, orang itu
adalah Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng,
tapi sayang orang itu berwatak jahat dan suka mencelakai
umat manusia...."
Sampai disitu tulisannya jadi kabur, rupanya ada
seseorang yang sengaja menghapur tulisan tersebut.
Timbullah rasa ingin tahu dalam hati Lam-kong Pak,
ditinjau dari tulisan tersebut maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa istana Tee-sim-piat-hu agaknya berada dalam gua
kawah api itu, tapi kenapa mereka katakan gua yang panas
sebagai dunia kesegaran? Apakah istana Tee-sim-piat-hu
yang dimaksudkan sebagai dunia kesegaran?? siapakah
pemilik istana Tee-sim-piat-hu tersebut??
Diam-diam Lam-kong Pak memperhitungkan jarak gua
api itu. ia merasa panjang gua itu lima enam tombak, dan
sisi kiri kanannya merupakan dinding gua yang tak
mungkin bisa digunakan sebagai tempat berpijak. itu berarti
dia harus melayang keudara dan membentuk gerakan
setengah busur...
Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya
sekarang, asal tidak terluka saja maka untuk berbuat
demikin bukanlah suatu pekerjaan yang menyulitkan, tapi
dalam keadaannya pada saat ini mau tak mau dia harus
berpikir dua kali.
Hawa murninja disalurkan mengelilingi seluruh badan,
ia rasakan semuanya beres dan berjalan lancar, kenyataan
ini sangat menggembirakan hatinya, ia percaya keadaan
tersebut pastilah merupakan hasil kasiat dari buah besar
tersebut.
Setelah memantapkan hati. dia enjotkan badan dan
meluncur kedalam gua api itu, dia hanya ingin melihat
macam apakah bentuk gua berapi itu dan belum tentu akan
memasuki istana Tee-simpiat-hu.
Siapa tahu api yang berkobar dalam gua itu merupakan
api alam yang tak pernah padam dalam seribu tahun. suhu
panasnya amat tinggi hingga sebuah lempengan besipun
akan meleleh dibuatnya:
Kendatipun tenaga dalam yang dimiliki Lam-kong Pak
lebih tinggipun. tubuhnya tetap terdiri dari darah daging. ia
merasakan suatu sengatan hawa panas yang sangat aneh
dan menusuk hati, membuat kepalanya nanar dan seluruh
kekuatan tubuhnya lenyap tak berbekas.
Tercekat hatinya menghadapi kejadian itu, pemuda itu
sadar apabila tubuhnya sampai tercebur kedalam gua api
itu, niscaya badannya akan hancur lebur dan sama sekali
tak tertinggal tubuh kasarnya, padahal mati hidup orang
tuanya belum ketahuan- bencana dalam dunia persilatan
pun belum diatasi, kematian dalam keadaan seperti ini
boleh dibilang sama sekali tak ada harganya.
Kecerdasan dan keteguhan iman seseorang teriihat dikala
orang itu sedang menghadapi mara bahaya, mesKipun amat
terperanjat namun pemuda itu sama sekali tidak gugup
ataupun gelisah, dengan cepat ia berkelit kesamping sambil
mengawasi keadaan didalam gua dengan lebih seksama.
Tampaklah gua api itu terbagi jadi dua, sebelah kiri
merupakan gua api yang sedang berkobar dengan hebatnya,
sedangkan sebelah kanan merupakan sebuah gua gelap yang
tak terlihat dasarnya.
Tubuhnya pada saat itu sedang meluncur kearah gua
berapi tersebut pemuda itu segera berpikir:
"Kalau tubuhku terjerumus kedalam gua berapi itu
niscaya kehidupanku akan musnah disana, sebaliknya kalau
melayang kedalam gua gelap itu maka siapa tahu kalau aku
masih punya harapan untuk melanjutkan hidup,"
Pikiran semacam itu berkelebat dalam benaknya, cepat
bagaikan sambaran petir sepasang lengannya segera
digertakan dan tubuhnya menyingkir kesamping senjata
tanduk naganya berputar diangkasa membuat badannya
bergeser lima enam depa kearah samping kanan dan
meluncur masuk kedalam gua,
Setelah masuk kedalam gua itu pemuda tersebut
merapikan dirinya se-akan2 telah memasuki dunia lain
hawa dingin sejuk merangsang tubuhnya, pemuda itu
merasa se-akan2 ia sedang berendam dalam air yang segar
dan dingin tak dingin panas tak panas suatu hawa udara
yang nyaman.
Daya luncur tubuhnya kian lama kian bertambah cepat
deruan angin tajam memekikkan telinga, walaupun Lamkong
Pak menentang matanya ia tak mampu melihat
sesuatu apa pun, pikirnya dihati:
"Entah di bawah gua ini merupakan karang atau air? tapi
yang jelas apapun dasar gua ini riwayat hidupku telah
berakhir"
Gua itu sangat dalam dan mencapai beberapa li jauhnya,
jangan dikata teriakannya tak akan terdengar oleh siapapun
sekalipun kedengaran siapa yang akan datang menolong
dirinya? apa lagi lembah itu terpencil letaknya paling
banyak hanya tiga empat orang saja yang mengetahui letak
lembah tersebut.
" Habislah sudah riwayatku" diam2 pemuda itu
mengeluh.
Mendadak pemuda itu rasakan pandangan matanya jadi
terang, bahkan tubuhnya mulai meluncur diatas dinding
yang dilapis oleh lumut hijau setebal beberapa cun karena
keadaan itulah badannya se-akan2 sedang meluncur diatas
sebuah permadani.
Kendatipun begitu daya luncur tubuhnya sama sekali
tidak berkurang kalau tidak diusahakan mengerem
walaupun dasar gua adalah air paling sedikit tubuhnya
bakal terbanting hingga setengah mati.
Setelah mempunyai kesempatan untuk melanjutkan
hidup pemuda itu segera berusaha mati2an untuk
mempertahankan hidupnya, tanduk naga yang berada
didalam genggamannya ditusukan berulang kali diatas
permukaan lumut hijau itu, setelah ditusukan berulang kali
maka daya luncur badanpun jauh makin berkurang,
"Pluuung" tubuhnya ternyata tercebur kedalam sebuah
kolam yang penuh dengan mahkluk-mahkluk bulatan yang
lunak dan mengembung bagaikan bola.
Ketika ia muncul kembali diatas permukaan air
mulutnya penuh dengan mahluk gelembung bulat itu
bahkan dengan cepatnya meluncur masuk kedalam perut
dan terasa bau amis yang memualkan.
Ternyata pemuda itu berada ditengah sebuah kolam
kecil, diatas kolam terapung ber-ribu2 ekor mahkluk bulat
yang berwarna merah bagaikan buah kelengkeng bentuknya
mirip sekali dengan telur ikan dan baunya amis
memualkan.
Dengan susah payah Lam-kong Pak merangkak keluar
dari kolam itu ia merasa tubuhnya sama sekali tak cedera,
hanya saja telur2 ikan yang terlanjur masuk kedalam
perutnya terasa asin sekali.
Setelah memeriksa keadaan disekitar tempat itu. diam2
pemuda itu makin keheranan dibuatnya, ternyata ditepi
kolam kecil itu terdapat sebuah kolam yang amat besar,
luasnya mencapai puluhan tombak dan dalamnya sukar
diukur, hawa dingin yang menusuk tulang terhembus keluar
dari kolam itu. ternyata sebab munculnya hawa dingin
itulah yang membuat gua ditepi kawah itu terasa nyaman
bukan main-
Tiba-tiba Lam-kong Pak menemukan sesuatu yang aneh,
tampaklah dua ekor ikan leihi yang besar dan berwarni
keemas-emasan sedang berhenti diantara kolam besar dan
kolam kecil, berpuluh-puluh butir telur ikan berhamburan
dari anus mereka dan mengalir kedalam kolam kecil,
Sekarang Lam-kong Pak baru tahu bahwa mahkluk bulat
yang berada dalam kolam kecil itu ternyata adalah telurtelur
ikan leihi besar, belum pernah ia lihat tiga jalur garis
merah diatas punggungnya.
Keanehan bukan terbatas sampai disitu saja. ditepi kolam
besar dan kolam kecil masing-masing terdapat sebidang
hutan batu yang rucing2 dan menjulang keatas bagaikan
sebuah tiang dengan lebar satu depa sebab luas hutan batu
runcing itu mencapai lima enam tombak lebih. . . .Ditengah2
hutan batu duduklah tiga orang kakek tua yang
bertubuh telanjang, masing2 duduk berbentuk segi tiga
ditengah kerumunan batu runcing tersebut, paras muka
mereka merah padam. sepasang mata terpejam dan
tubuhnya berwarna kuning.
Kalau ditinjau dari paras muka mereka yang merah segar
jelas ketiga orang itu masih hidup, tapi kalau ditinjau dari
badannya yang sudah layu, kering dan berwarna kuning,
jelas membuktikan kalau mereka sudah lama mati, karena
pakaian yang mereka kenakan sudah hancur jadi abu dan
tersebar disekeliling tempat mereka duduk.
Lam-kong Pak mengamati ketiga orang itu lebih seksama
lagi. mendadak dia menjerit kaget karena terkejutnya,
ternyata secara lapat2 ia saksikan jantung mereka bertiga
masih berdenyut dengan normal, itu menunjukkan kalau
ketiga orang kakek tua itu masih hidup,
Tapi dengan jelas pantat ketiga orang itu sudah
ditembusi batu runcing yang mungkin telah menembusi
perutnya, mana mungkin mereka masih berada dalam
keadaan hidup.
Dengan penuh ke-ragu2an Lam-kong Pak meneliti sekali
lagi dengan lebih cermat. sedikitpun tak salah, jantung
ketiga orang itu masih bergetar.
Suatu kejadian yang sangat aneh. Sambil memandang
dua ekor ikan leihi besar dan telur2 ikannya, lalu
memandang pula tiga orang kakek tua yang tak diketahui
mati hidupnya sianak muda itu gelengkan kepalanya
berulang kali.
Tiga orang itu duduk dengan posisi segitiga, masing2
mengeluarkan telapaknya yang ditempelkan satu sama
lainnya. telapak yang berada dipaling bawah
menghadapkan sang telapak keatas, sedang dua lainnya
yang ada diatas menghadapkan telapak kearah bawah, apa
artinya itu???
Tiba2 terdengar bunyi gemerisik bergema tidak jauh dari
tempat itu, dengan hati terkesiap Lam-kong Pak berpikir
dalam hati:
"Mungkinkah dalam goa kuno ini masih sembunyi
mahkluk aneh lainnya??"
Dengan cekatan ia bersembunyi dibelakang sebuah batu
besar kemudian melongok keluar, tampaklah seekor ular
raksasa berwarna hitam pekat bergerak mendekat dengan
cepatnya.
Ular itu berwarna hitam pekat dan sama sekali tidak
terselip warna lainnya, binatang itu boleh dihitung terhitung
seekor ular yang langka sekali dikolong langit, panjangnya
tiga tombak dengan besar badannya seperti tong air,
lidahnya menjulur kesana kemari dengan tampang yang
bengis.
Meskipun Lam-kong Pak memiliki ilmu silat yang amat
tinggi namun tak urung hatinya terasa bergidik juga
menjumpai binatang yang menyeramkan itu, sebab bentuk
ular aneh itu sangat mengerikan sekujur badannya berkilat
panjang tubuhnya mencapai beberapa tombak dan dalam
waktu singkat ia sudah tiba ditepi hutan batu itu.
"Jangan2 ular aneh itu hendak melahap ketiga sosok
mayat tersebut??" pikir Lam-kong Pak dihati.
Tapi sesudah dipandang dengan cermat keadaan itu
sama sekali tidak mirip. pada waktu itu ular aneh tadi
sedang mengangkat kepalanya mengawasi ketiga orang
kakek tersebut, sikapnya sama sekali tak bengis bahkan dari
matanya malahan mengucurkan dua titik air mata.
Terperangahlah Lam-kong Pak menghadapi kejadian itu.
pikirnya dihati:
"MungkinKah ular ini sudah berakal cerdik hingga
mampu mengucurkan air mata? dari sini dapatlah kuduga
bahwa ular ini kemungkinan besar dipelihara oleh ketiga
kakek tua itu"
Dalam pada itu setelah mengamati sebentar ketiga orang
kakek tua itu. ular aneh tersebut segera meluncur masuk
kedalam telaga kecil, mulutnya dipentang lebar2 dan
menghisap tiga butir telor ikan setelah itu ia meluncur
kembali kearah hutan batu.
Tatkala tiba disisi hutan batu tadi, ular tadi nampaknya
ragu2 sejenak akhirnya ia ambil keputusan dan melanjutkan
gerakannya merambat kedalam hutan batu itu.
"Kreees... kreeess.. " perut ular itu tersayat oleh ujung2
batu runcing yang berserakan disekitar tempat itu hingga
robek dan hancur, darah berceceran di-mana2.
Tapi ular itu sama sekali tidak berhenti merambat, ia
tetap bergerak terus mendekati tiga orang kakek tua
itu....”Krees kreeess” perut ular itu makin tersayat dan luka
akibat goresan pun semakin dalam.
Lam-kong Pak terbelalak menyaksikan adegan yang
mengerikan itu, mulutnya melongo dan badannya
menjublak. mungkinkah ular aneh itu berkorban demi
majikannya??
Ketika tiba ditepi badan tiga orang kakek tua itu. kulit
perutnya sudah tersayat hancur, darah mengalir di-mana2
menciptakan suatu pemandangan yang sangat memilukan
hati.
Tampaklah ular itu angkat kepalanya dan mendekati
kakek pertama. dengan lidahnya yang berwarna merah ia
membuka mulut kakek itu kemudian muntahkan sebutir
telur ikan kedalam mulut kakek itu.
Memandang sampai kesitu diam2 Lam-kong Pak
menaruh rasa kagum dan hormat terhadap ular itu
meskipun hanya seekor binatang tapi kerelaannya
berkorban untuk mahkluk lain cukup mengharukan hati ia
percaya diantara ratusan orang mungkin belum tentu bisa
temukan orang seperti ular ini.
Ambil contoh diri Suma Ing bukan saja ia tidak
membalas budi orang tua bahkan setiap kali berusaha
membunuh saudara sendiri dan menganiaya orang tuanya
jika dibandingkan dengan ular ini boleh dibilang bagaikan
langit dan bumi.
Setelah memasukkan telor2 ikan itu kedalam mulut tiga
orang kakek tadi ular itu meluncur kembali ketepi telaga
keadaannya sudah amat lemah dan rupanya hampir tak
tahan.
Dengan susah payah ular itu merangkak masuk kedalam
telaga begitu tercebur kedalam air ia pentangkan mulutnya
melahap telur2 ikan itu dalam waktu singkat separuh
diantaranya sudah masuk kedalam perutnya....
Lam-kong Pak gelengkan kepala berulang kali, pikirnya:
"Aaai.. meskipun perjalanan yang kutempuh pada saat ini
amat berbahaya dan penuh ancaman maut, tapi dapat
melihat begitu banyak kejadian aneh, boleb dibilang
perjalanan yang kutempuh kali ini bukanlah suatu
perjalanan yang sia2..."
Setelah melahap telur2 ikan itu, kurang lebih setengah
jam kemudian ular itu merambat keluar dari kolam itu,
hampir saja Lam-kong Pak menjerit saking kagetnya,
ternyata perut sang ular yang semula tersayat sampai
hancur, kini sudah pulih kembali seperti sedia kala.
= =ooooocoo= =
LAM KONG PAK benar2 merasa terkejut bercampur
keheranan, ditinjau dari sini dapat diketahui bahwa telur
ikan itu merupakan benda mustika yang amat langka
dikolong langit. sedangkan dua ekor ikan leihi besar itu
pastilah benda mustika yang telah berusia seribu tahun
lamanya,
Sambil mendongakkan kepala ular itu merambat keatas
bukit dan sekejap mata kemudian telah lenyap dari
pandangan.
Sementara Lam-kong Pak masih terkejut bercampur
sangsi, mendadak tampak olehnya lambung ketiga orang
kalek tua itu mulai bergerak naik turun tiada hentinya, jelas
mereka sudah mulai bernapas.
Bukan begitu saja, kulit badan mereka yang telah
mengering dan berwarna kuning pucat itupun mulai dialiri
oleh darah sehingga mulai berwarna semu merah. Tiba2
terdengar salah seorang kakek tua itu menghembuskan
napas panjang dan mengeluh: "Aaai... tiga tahun kembali
sudah lewat"
"Kalau dihitung dengan jari. kita sudah melewati sepuluh
kali tiga tahun" sambung dua orang kakek tua lainnya.
Lam-kong Pak yang mendengar pembicaraan itu merasa
amat terperanjat, "sepuluh tiga tahun? bukankah itu berarti
tiga puluh tahun? ? benarkah ketiga orang kakek tua itu
sudah tiga puluh tahun lamanya duduk disana? suatu berita
yang sangit tak masuk diakaL.."
SALAH seorang diantara ketiga orang kakek tua itu
membuka matanya lebar2 kemudian berseru dengan suara
berat
"Apakah kalian mencium bau manusia asing ditempat
ini??"
Dua orang kakek orang tua lainnya segera menghirup
napas panjang2 kemudian menjawab:
"Ehmmm ucapanmu sedikitpun tak salah bukan saja aku
mencium bau manusia asing bahkan aku tahu dia adalah
seorang pria yang masih muda belia"
Hampir saja Lam-kong Pak tak berani mempercayai
telinga sendiri, seseorang dengan andalkan daya penciuman
bukan saja dapat mengetahui kalau ditempat kegelapan
bersembunyi seseorang bahkan mereka bisa membedakan
seorang pria atau wanita. Kakek tua yang pertama kali buka
suara itu segera bukaa suara lagi. "Bocah muda kenapa
masih belum juga munculkan diri??"
Sambil keraskan kepala terpaksa Lam-kong Pak
munculkan diri dari tempat persembunyiannya, sambil
membari hormat kepada tiga orang kakek itu, ujarnya :
"Aku yang muda memberi hormat untuk cianpwee
bertiga, harap cianpwee bertiga merasa tidak terganggu oleh
kehadiranku ditempat ini "^
Tiga orang kakek tua itu memandang sekejap kearahnya.
paras muka mereka semua tunjukan perasaan kaget
bercampur keheranan- salah satu diantaranya segera
menegur: "Bocah muda apakah engkau turun dari mulut
gua berapi itu?"
"Benar" sahut pemuda itu sambil mengangguk.
"Dengan membawa maksud tujuan apakah engkau turun
kemari?"
"Aku yang muda sedang menderita luka dalam yang
parah. maksudku hendak menyembuhkan luka dalam
lembah terpencil diluar goa ini, tapi kemudian kutemukan
gua ini. karena rasa ingin tahu dan ingin kulihat macam
apakah bentuk diri gua berapi ini. maka aku segera
berangkat kemari, siapa tahu badanku dipanggang oleh api
yang dahsyat sehingga tak kuat menahan diri. badanku
terjerumus kebawah dan hampir saja tercebur kedalam
kobaran api dahsyat itu, untung meskipun menghadapi
bahaya aku tidak sampai gugup, segera kumiringkan tubuh
hingga akhirnya tercebur kedalam gua ini." Kakek tua itu
segera berpaling kearah dua orang rekan lainnya. kemudian
bertanya, "Menurut perkiraan kalian berdua. apakah dia
bohong atau tidak??"
"Aku rasa ia tidak bohong, tapi bocah muda ini berwatak
tinggi hati dan sombong sekali, sudah jelas dia bukan
termasuk manusia segolongan dengan kita"
"Lalu apa yang hendak kalian berdua lakukan untuk
menyelisaikan masalah bocah muda?"
"Tancapkan saja badannya datas tiang batu ini, dan
temani kita untuk duduk selama beberapa tahun disini"
Mendengar perkataan itu, diam2 Lam-kong Pak
mendengus dingin, hatinya panas dan sangat mendongkol.
Rupanya salah seorang diantara tiga orang kakek tua itu
dapat menebak perasaan hatnya, ia segera menegur:
"Hmm rupanya engkau masih tak rela hati yaa?"
"Tidak rela juga tak bisa, bagaimanapun juga Loo-hek
toh bisa menundukkan dirinya" sambung dua orang kakek
tua lainnya.
Sekali lagi Lam-kong Pak merasakan hatinya bergetar
keras, ia mengerti bahwa Loo-hek yang dimaksud mereka
pastilah ular yang sangat besar hitam itu, timbullah
perasaan tak senang dalam hati sianak muda itu terhadap
apa yang dikatakan tiga orang Kakek tua itu barusan,
serunya dengan suara dalam
"Dengan andalkan apa cianpwee bertiga hendak
menghukum aku yang muda??"
"Engkau berani masuk istana Tee-sim-piat-hu kami tanpa
ijin, berani curi makan telur ikan leihi bergaris merah yang
kami pelihara. dan sekarang telah menyaksikan penderitaan
kami yang tak terkirakan ini, tentu saja engkau tak boleh
dilepaskan dengan begitu saja"
"Aku toh tidak sengaja terjatuh kedalam goa ini?" teriak
Lam-kong Pak dengan suara keras. "sedangkan soal makan
beberapa butir telur ikan itu . .Huuh terus terang saja
kukatakan, sampai sekarangpun perutku masih mual dan
ingin muntah aku sama sekali tiada minat untuk mencari
keuntungan tersebut"
"Tahukah engkau betapa berharganya telur2 ikan leihi
bergaris merah itu??"
"Aku yang muda tak tahu, apakah engkau bersedia untuk
memberi penjelasan??"
"Kedua ekor ikan leihi bergaris merah ini merupakan
binatang mustika yang tertinggal dari jaman Toa Gi
menanggulangi banjir tempo dulu. sewaktu Toa Gi sedang
menangani masalah banjir disebelah selatan kerisenan
denan Lok-yang, ia temukan beribu2 ekor ikan leihi sedang
berusaha meloncati dinding karang ditebing Beng-bun-san,
namun kebanyakan diantaranya tak mampu melompati
rintangan batu karang itu kecuali dua ekor ikan leihi
bergaris merah ini saja yang berhasil mencapai puncak bukit
yang tinggi itu, seorang panglima perang anak buah Toa Gi
yang bernama ciang Siu merasa bahwa dua ekor ikan leihi
ini sangat berlainan dengan ikan lainnya, seCara diam2 ia
Curi ikan tersebut dan dipeliharanya dalam telaga ini.
karena itulah bukit Beng-bun-san kini dirubah menjadi bukit
liong-bun-san coba bayangkan saja. kedua ekor ikan leihi ini
sudah berumur beberapa ribu tahun, telur yang dihasilkan
olehnya pasti mempunyai kasiat yang luar biasa, asal
makan satu butir saja maka tenaga dalamnya akan
memperoleh kemajuan bagaikan beriatih selama dua puluh
tahun lamanya."
Mendengar keterangan tersebut, Lam-kong Pak merasa
sangat terperanjat, lalu berseru:
"Aku yang muda sama sekali tiada maksud untuk curi
makan benda mustika itu. harap cianpwee bertiga suka
memberi maaf atas perbuatan ini."
"Engkau anak murid siapa??" tanya salah seorang kakek
tua diantaranya.
"Aku yang muda adalah murid dari siau-yau sianseng Lu
It Beng."
Tiga orang kakek tua itu saling berpandangan sekejap
lalu gelengkaa kepalanya berulang kali.
"Belum pernah kami dengar nama besar orang ini"
katanya hampir berbareng, "mungkin hanya seorang
manusia yang tak dikenal dari dunia persilatan."
Lam-kong Pak merasa amat tak senang hati mendengar
perkataan itu, dengan suara dalam ia segera berseru:
"cianpwee bertiga, apakah kalian tak merasa bahwa
ucapan kalian itu kelewat sombong dan tekebur?" .
Kakek tua itu mendesis lirih, ia tidak menggubris
pertanyaan pemuda itu, sebaliknya malah balik bertanya:
"Hey bocah muda. siapa yang telah melukai dirimu?"
"Kakek ombak menggulung"
Begitu mendengar nama itu, tiga orang kakek tua itu
sama2 merasakan hatinya bergetar keras, seru mereta
hampir berbareng: "sekarang orang itu ada dimana??"
Lam-kong Pak segera menceritakan semua
pengalamannya dari awal hingga akhir, setelah mendengar
kisah tersebut tiga orang kakek tua tersebut saling
berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun, tiba2
mereka mencelat keatas dan tertawa ter-bahak2 begitu keras
dan panjang tertawanya hingga air matapun ikut
bercucuran. Salah satu kakek tua itu berseru:
"Hey bocah muda. pernahkah engkau bertemu dengan
bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng?"
"Aku hanya pernah mendengar nama orang itu tapi
belum pernah berjumpa muka, entah ada urusan apa
cianpwee mengungkap tentang orang itu?"
"Ingat" seru kakek tua itu dengan wajah ber-sungguh2,
"Sebelum payung sengkala terjatuh ketangan Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng, engkau harus
berusaha untuk memperolehnya lebih dahulu sebab kalau
tidak maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2...."
"Bolehkah aku tahu siapa nama besar cianpwee bertiga??
dan apa pula hubungan antara Bintang yang bertaburan
diangkasa dengan cianpwee sekalian??"
Sekali lagi ketiga orang kakek tua itu menengadah dan
tertawa ter-bahak2, suaranya begitu menyeramkan sehingga
tidak mirip suara tertawa lagi, melainkan lebih mendekati
suara jeritan tangis yang memilukan. . . .
"Engkau tak usah tahu apa hubungan kami, ayoh cepat
kemari dan ambillah benda ini"
Tiga orang kakek tua itu kendorkan tangannya dan pada
tangan yang paling bawah tersembullah sebuah bola kecil
yang putih bersih bagaikan kumala dan menggumpal
bagaikan kabut. bentuknya indah dan menawan hati.
"Benda apakah itu??" tanya Lam-kong pak keheranan,
"sebelum aku mengetahui jelas nama serta asal usul dari
cianpwee bertiga. aku tak sudi menerima pemberian atau
hadiah dari orang lain, aku harap kalian bersedia untuk
memakluminya."
"Haahh-haahh-haahh.." tiga orang kakek tua itu saling
berpandangan lalu tertawa tergelak.
Salah seorang diantaranya segera berkata dengan
lantang:
"Rupanya kami bertiga memang sudah ditakdirkan untuk
menerima penderitaan dan siksaan seperti ini. Andaikata
engkau bocah muda datang pada puluhan tahun berselang,
tak mungkin kami akan merasakan siksaan serta
penderitaan yang tiada dikolong langit"
"Huuh. . . perkataan itu sama saja dengan perkataan
yang tak ada gunanya." seru kakek yang lain, "Bocah muda
ini baru berusia dua puluh tahunan, ketika kita menemui
bencana dan mulai menderita mungkin dia masih belum
dilahirkan oleh ibunya tapi untunglah persoalan yang sudah
terlambat masih sempat ditolong. sekarangpun rasanya
belum terlalu terlambat"
Dari pembicaraan antara ketiga orang kakek tua itu,
secara lapat2 Lam-kong Pak dapat menangkap bahwa
dimasa silam ketiga orang itu pernah mendapat celaka dan
dikurung orang dalam perut bumi. bahkan tubuh mereka
ditancapkan keatas batu runcing. meski dapat hidup selama
tiga puluh tahun lamanya tanpa mati, boleh dibilang
kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh.
Tetapi setelah mengamati paras muka ketiga orang itu
yang rata- rata berwajah bengis dan menyeramkan, secara
diam-diam timbul perasaan waspada dalam hati kecilnya, ia
tak sudi menerima pemberian ataupun hadiah dari mereka
dengan begitu saja. Sementara itu terdengar salah seorang
diantara tiga kakek tua itu berkata: "Bagaimana pendapat
kalian berdua?"
"Selama hidup kita bertiga tak pernah buat kebajikan
barang sepotongpun, mungkin inilah hukum karma yang
harus dijalankan, tetapi selama dua orang durjana itu belum
disingkirkan dari muka bumi terus terang saja saya merasa
tak puas, lebih baik semua diputuskan oleh Toa-suheng
sendiri"
Kakek tua itu anggukkan kepalanya.
"Benar, selamanya kita memang tak boleh membiarkan
dia ber-foya2 dan bersenang-senang sendiri, dengan dasar
tenaga dalam yang dimiliki bocah ini rasanya tak menjadi
persoalan untuk menyelesaikan masalah yang sedang kita
hadapi"
Mendengar perkataan itu diam2 Lam-kong Pak
mendengus dingin pikirnya dihati.
"Enak benar kalau bicara, namapun kalian segan untuk
memberitahukan kepadaku, dan aku belum tahu apakah
kalian berasal dari kaum lurus atau kaum sesat.
dianggapnya aku bersedia kalian pergunakan dengan begitu
saja?"
Sementara itu dengan suara yang berat dan dalam kakek
tua itu berkata lagi. "Bocah muda apakah engkau masih
ingin keluar dari sini dalam keadaan hidup?"
"Sebelum bibit bencana dalam dunia persilatan belum
dilenyapkan, aku tak mau mati dengan begitu saja, selama
masih ada harapan untuk melanjutkan hidup, aku pasti
akan menggunakan dengan se-baik2nya.."
"Baiklah kami akan berusaha untuk mengantar engkau
keluar dari tempat ini, pejamkanlah matamu dan terlaklah
"Matahari, Rembulan, Bintang sebanyak tiga kali, akan
kami lihat sampai dimanakah kelihayan tenaga dalam yang
berhasil kau miliki?"
Lam-kong Pak terperangah mendengar ucapan itu, dia
segera bertanya:
"Apa sih yang diartikan Matahari. Rembulan- Bintang??
Kenapa aku harus menyebutkan Matahari. Rembulan,
Bintang?? Apakah tak boleh meneriakkan yang lain saja?
aku harus mencari tahu lebih dahulu tentang persoalan ini?"
"Baik terserah apa yang hendak kau teriakan- cuma saja
kalau kau meneriakkan Matahari. Rembulan dan Bintang.
karena nada suara yang berbeda yakni kata Matahari
suaranya merendah kata Rembulan bernada datar sedang
kata Bintang bernada tinggi. maka dari perbedaan irama
tersebut dapatlah kuketahui tingkatan tenaga dalam yang
kau miliki, berdasarkan perbedaan itupula kami bisa ambil
keputusan untuk menggunakan cara yang bagaimana untuk
menghantar engkau keluar dari gua ini..."
Lam-kong Pak merasa setengah percaya setengah tidak.
ia tak dapat menebak apa maksud yang sebenarnya dari
ketiga orang kakek itu yang menyuruh dia menerikkan
kata2 Matahari, Rembulan dan Bintang.
"Apa salahnya kalau aku teriakkan kata2 Matahari,
rembulan dan bintang?" pikir pemuda itu kemudian
didalam hati.
Sekalipun begitu dalam hati kecilnya sianak muda itu
masih tetap menaruh curiga. kenapa dia harus pejamkan
matanya mungkinkah ketiga orang kakek tua ini akan
melancarkan sergapan kearahnya dikala ia sedang
pejamkan mata?
Sesudah selang beberapa saat lamanya pemuda itupun
bertanya dengan suara dalam: "Bagaimana kalau aku tak
usah pejamkan mata?"
"Tentu saja boleh cuma apabila engkau pejamkan mata
maka sorot mata yang tak dapat melihat sesuatu akan
membuat seluruh perhatianmu terpusatkan menjadi satu,
jika konsentrasimu baik maka tenaga dalampun bisa kau
kendalikan dengan baik. tapi... Andaikata engkau menaruh
curiga kepada kami dan takut disergap kami, tidak usah
pejam matapun tak apa, karena kami tak ingin membuat
hatimu menjadi gelisah dan merasa tak tenang hati"
"Baik" terlak Lam-kong Pak dengan suara keras, "Aku
akan pejamkan mata."
la segera pejamkan mata dia berteriak "Matahari.
Rembulan- Bintang, sebanyak tiga kali, baru saja teriakan
yang ketiga diutarakan keluar tiba-tiba pemuda itu
merasakan meluncur datangnya segulung desiran angin
tajam yang langsung menerjang kearah tubuhnya,
Ia merasa amat terperanjat dan buru2 berkelit satu
langkah kesamping matanya dibentangkan lebar2
Tapi sayang tindakan itu terlambat selangkah segumpal
bulatan telur yang dingin dan licin tahu2 sudah masuk
kedalam mulutnya menggelinding masuk kedalam perut.
Dari terkejut pemuda itu jadi amat gusar segera terlaknya
keras2:
"Menyergap orang dengan cara yang rendah dan
terkutuk dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa engkau
adalah seorang manusia yang benar2 tak tahu malu."
Tiga orang kakek itu tertawa ter-bahak.
"Haaahhh.-.haaahh...haahah...." sekarang engkau boleh
berlalu dari sini"
"Benda apakah yang barusan kau lemparkan kedalam
mulutku itu?" tanya Lam-kong Pak dengan suara dalam.
"Benda itu merupakan obat racun yang paling keji
dikolong langit, meskipun obat itu sangat beracun namun
mendatangkan pula satu manfaat yang besar bagimu, kalau
engkau ingin mati maka setiap saat setiap detik dapat mati,
seandainya engkau ingin membinasakan seorang jago
persilatan yang amat lihay dan pernah menggetarkan
seluruh kolong langit maka setiap saat engkaupun dapat
melakukannya semua perbuatan hanya tergantung pada
lintasan ingatanmu yang pertama mau percaya atau tidak
terserah pada dirimu sendiri lain kali engkau akan
mengetahui dengan sendirinya."
Makin mendengar Lam-kong Pak makin kebingungan
dan tak habis mengerti dengan suara keras ia segera
berterlak:
"sebetulnya benda apakah yang telah kalian berikan
kepadaku tadi??"
"Tok-si-lip"
Sekali lagi Lam-kong Pak terperangah dibuatnya belum
pernah ia dengar benda yang disebut racun Tok-si-lip
tersebut, dia hanya tahu diantara kalangan kaum buddha
yang hidup sederhana dan tak pernah mencampuri urusan
orang lain setelah melakukan pertapaannya selama
beberapa waktu mereka akan mendapatkan Si-lip-cu makin
tinggi imamnya semakin banyak Si-lip-cu yang dimiliki.
Perlu diketahui si-lip-cu dalam bahasa Hindunya
bernama Sarira atau sisa tulang dari Buddha.
"Belum pernah aku dengar kalau Si-lip-cu mengandung
racun" ujar Lam-kong pak kemudian-
"Itulah yang dikatakan olehku sebagai benda yang paling
aneh dan paling beracun, pokoknya berhasil atau gagalnya
tergantung pada kemauan hatimu sendiri lain kali engkau
akan menjadi paham dengan sendirinya, sekarang keluarlah
dahulu dari tempat ini seandainya dikemudian hari engkau
akan datang kemari maka teriaklah Matahari, rembulan dan
bintang sebanyak tiga kali dimuka gua berapi itu, Loo-heK.
akan datang menjemput dirimu."
Tercekat hati Lam-kong Pak mendengarkan perkataan
itu. pikirnya:
"Loo-hek yang dimaksudkan tentulah ular hitam yang
sangat basar itu, dia yang akan menyambut kedatanganku??
masa ia tak takut dengan api....??"
sementara itu kakek tua tersebut telah bersiul nyaring
diiringi suara desisan yang nyaring entah dari mana
datangnya tahu2 ular raksasa berwarna hitam itu sudah
munculkan diri dihadapan mereka semua sambil
memandang kearah tiga orang kakek tua itu, ular tersebut
berdiri tak berkutik se-akan2 menantikan perintah.
Kakek tua kembali memperdengarkan beberapa nada
siulan yang sederhana, ular raksasa berwarna hitam itu
segera merambat kemulut gua dan melingkarkan tubuhnya
diatas permukaan tanah, sementara badan dan kepalanya
meluncur keatas hingga mencapai ketinggian lima enam
depa lebih dari atas permukaan tanah.
"Pergilah" kata kakek tua itu, "Loo-hek akan mengantar
engkau keluar dari gua ini asal engkau bisa loncat naik atas
kepala loo-hek itu sudah lebih dari cukup,"
Sekali lagi Lam-kong Pak merasa amat terperanjat,
"andaikata mahkluk besar itu sampai menunjukan sifat
biasanya bukankah dia akan dicaplok kedalam mulutnya??"
berpikir akan ancaman bahaya tersebut untuk beberapa saat
lamanya sianak muda itu jadi ragu2. Tiba2 terdengar kakek
tua itu berseru,
"Karena hatimu baik, watakmu mulia dan sikappun
ksatria, maka kubebankan tugas yang besar ini keatas
pundakmu. sungguh tak nyana engkau adalah seorang
manusia bernyali kecil, kalau begini macam watakmu mana
bisa menyelesaikan urusan besar, sekarang aku malahan
merasa agak menyesal"
Satu ingatan berkelebat dalam benak Lam-kong Pak. dia
segera berkata^
"cianpwee bertiga. tolong tanya benda yang aku telan
tadi apakah benda yang berada dalam genggaman kalian
bertiga? apakah kalian ada maksud untuk menyempurnakan
diriku?"
"Tak usah banyak bertanya, lain kali engkau akan
mengetahui dengan sendirinya"
Lam-kong Pak memberi hormat kepada tiga orang kakek
tua itu kemudian dengan cepat loncat naik keatas kepala
ular raksasa warna hitam itu. meskipun dia bukan seorang
pemuda yang bernyali kecil, tetapi sekali berhadapan
dengan mahkluk raksasa yang berwajah bengis serta
menyeramkan itu, terutama sekali badannya yang licin dan
berminyak. tak urung perasaan hatinya merasa agak ketir
juga .
Baru saja kakinya menginjak diatas kepala ular tersebut,
mendadak ular raksasa berwarna hitam itu mendongakkan
kepalanya ke atas dan membuat badannya terpental
ketengah udara. begitu keras dan dahsyatnya tenaga
pentalan tersebut membuat badannya bagaikan anak panah
yang terlepas dari busurnya segera meluncur ke tengah
udara melayang keluar dari gua tersebut.
Tubuhnya seketika merasa amat panas sekali dan tahu2
tubuhnya sudah keluar dari goa gelap itu, melayang diatas
gua berapi dan meluncur ketempat luar.
Buru2 pemuda itu tarik napas panjang2 dengan gerakan
turun burung walet terbang diangkasa ia segera melayang
turun keatas permukaan tanah.
Setelah selamat keluar dari gua tersebut, pemuda itu
menghembuskan napas panjang2, sekali lagi ia menengok
kearah tulisan yang terukir diatas dinding gua tersebut:
".....dikolong langit dewasa ini, hanya Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa seng seorang yang dapat
memasuki istana Tee-sim-piat-hu..."
satu ingatan berkelebat dalam benak Lam-kong pak. apa
maksud ketiga orang kakek tua itu meninggalkan tulisan
yang bernada demikian? andaikata Liok Hoa Seng bintang
bertaburan diangkasa benar2 bisa memasuki istana Tee-simpiat-
hu, kenapa tiga orang kakek tua itu menulisnya diatas
dinding? apakah mereka sengaja meninggalkan tulisan
tersebut untuk memancing kedatangan bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng sehingga memasuki
istana Tee-sim-piat-hu? andaikata dugaannya ini tidak
keliru, itu berarti ketiga orang kakek tua itu pasti
mempunyai ikatan dendam atau sakit dengan Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng.
Disamping itu kakek tua tersebut pernah mengatakan
kalau dia ingin mati maka kematian akan tiba mengikuti
ingatan yang berkelebat dalam benaknya, sebaliknya kalau
ingin membinasakan seorang jago lihay yang tak terkirakan
kedahsyatan ilmu silat maka perbuatan itupun bisa
dilakukan mengikuti berkelebatnya ingatan tersebut. tentang
soal ini Lam-kong Pak hingga kali ini masih juga belum
paham. Sesudah keluar dari gua, pemuda itu berpikir dalam
hatinya.
Sebenarnya tujuanku datang kemari adalah untuk
menyembuhkan luka dalam yang sedang kuderita tapi
setelah mengalami penemuan aneh ini rasanya luka dalam
yang kuderita telah sembuh dengan sendirinya,
kemungkinan itulah berkat kasiat dari telur ikan leihi
bergaris merah yang tak sengaja kumakan.
Sekarang pemuda itu tidak memikirkan untuk berlatih
ilmu bayi Kim-kong lagi, dia harus segera pergi mencari
Jejak ibunya dan sekalian manusia tembaga, sebab apabila
payung sengkala dibiarkan derada dalam cekalan Kakek
ombak menggulung maka keadaan tersebut selamanya akan
merupakan ancaman bahaya bagi keselamatan seluruh
umat persilatan dikolong langit.
Sesudah keluar dari lembah terpencil, untuk beberapa
saat lamanya Lam-kong Pak merasa bingung dan tak tahu
kemana ia harus pergi, sebab Sun Han Siang sekalian tak
mempunyai tempat tinggal yang tetap.
sementara dia masih bingung, tiba2 teringat kembali
olehnya akan diri Ketua perkumpulan bulu hijau, sekarang
ia sudah menaruh kesan yang sangat baik terhadap ketua
perkumpulan bulu hijau itu, dalam perkiraannya
kemungkinan besar Ketua perkumpulan bulu hijau bukan
lain adalah suami dari cu Hong Hong atau yang lebih
dikenal sebagai Sian yan Peng.
Dalam keadaan tiada arah tujuan, akhirnya pemuda itu
membeli seperangkat pakaian dari rumah pemburu yang
berada disekitar itu, kemudian berputar mengelilingi bukit
itu selama beberapa hari setelah itu dia baru berangkat
menuju kemarkas besar perkumpulan bulu hijau.
Pada hari ketiga. tibalah Lam-kong Pak disuatu lembah
bukit yang amat gersang dan terpencil letaknya, dia percaya
sebelum kali ini belum pernah ia kunjungi lembah tersebut,
pikirnya didalam hati.
"Baiklah, blar kuputar disekeliling tempat ini sambil
mencari jejak mereka, kalau disini pun tak ada yang
kutemukan, barulah aku berangkat kemarkas besar
perkumpulan bulu hijau"
Tiba2 ia temukan sesesok bayangan manusia sedang
berjalan ditempat kejauhan dengan langkah sempoyongan,
dari keadaan tubuh orang itu kemungkinan sekali ia telah
menderita luka dalam yang sangat parah dan belum sembuh
dari lukanya itu, dengan membawa botol hioloo batu
ditangan kanannya ia berjalan mendekati sebuah selokan
kecil.
Lam-kong Pak merasa amat terperanjat sesudah
mengetahui siapa orang yang dijumpainya itu ternyata dia
bukan lain adalah Suma Ing
"Mau apa dia membawa hioloo batu besar itu bukankah
ia telah dibawa lari oleh tiga orang manusia tembaga?"
ingatan tersebut dengan cepat berkelebat dalam benaknya.
setelah termenung sebentar Lam-kong Pak berpikir lebih
jauh:
"Dua orang diantara tiga orang manusia tembaga itu
sudah pasti adalah ayahku dan suhuku, orang ketiga pun
bukan orang luar kalau mereka dibiarkan berada bersamasama
Suma Ing itu ibaratnya membawa harimau kesarang
domba setiap saat jiwa mereka pasti akan terancam
bahaya..."^
= =ooooooooooo= =
SEMENTARA itu Suma Ing telah penuhi hioloo
tersebut dengan air selokan kemudian membawanya pergi
dari situ berhubung dia hanya mempunyai sebuah lengan
saja ditambah pula luka dalamnya belum sembuh maka
perjalanan tersebut dilakukan dengan susah payah dan
penuh penderitaan-
Diam2 Lam-kong Pak menguntil dibelakang tubuhnya,
setelah melalui jalan kecil bagaikan usus kambing mereka
langsung menembusi dasar lembah dan tak lama kemudian
berhenti didepan sebuah gua batu.
Tampaklah Suma Ing sambil membawa hioloo yang
penuh berisi air itu berjalan masuk kedalam gua. Beberapa
saat kemudian terdengar serentetan suara pembicaraan
berkumandang datang.
"Ayah minumlah sedikit air ini agar badanmu terasa
lebih segar"
Lam-kong Pak merasa sangat terperanjat, dia kenali
suara tersebut sebagai suara dari Suma Ing. siapakah yang
disebut manusia jahanam tersebut sebagai ayahnya?
mungkinkah salah seorang diantara tiga manusia tembaga
itu??
Dengan langkah yang sangat hati2 danper-lahan2 hingga
tidak menimbulkan sedikit suarapun, pemuda itu mendekati
gua batu tersebut dan mengintip dari celah2 gua batu tadi.
Tiga orang manusia berpakaian tembaga menggeletak
dalam gua tersebut, pada waktu itu Suma Ing sedang
meletakkan hioloo berisikan air segar itu dihadapan mereka
dan berkata: "Ayah marilah.. biar kubimbing dirimu untuk
bangun."
Salah seorang diantara tiga manusia tembaga itu bangkit
dan duduk diatas tanah, kemudian menjawab:
"Anak Ing, aku tidak sia2 menyayangi dirimu hingga
sekarang. kini engkau telah tinggalkan yang sesat dan
kembali kejalan yang benar, meskipun ayah harus mati
pada saat ini juga , aku dapat mati dengan hati yang lega."
Lam-kong Pak yang mencuri dengar pembicaraan itu
dari luar gua itu ikut merasa terharu sehingga matanya jadi
merah dan tanpa didari olehnya air matanya jatuh
berlinang.
"Aaaah... tak salah lagi, orang itu sudah pasti adalah
ayahku Lam-kong Liu... tapi ...tapi kenapa dia menderita
luka yang begitu parahnya sehingga badannya lemas dan
sama sekali tak bertenaga ??"pikir pemuda Lam-kong dalam
hatinya, Dalam pada itu Suma Ing telah berkata,
"Ayah, engkau orang tua telah memberi kesempatan bagi
ananda untuk hidup baru bahkan dengan tak sayangnya
mengorbankan seluruh tenaga dalam yang kau miliki untuk
menyembuhkan luka yang ananda derita sesekalipun
ananda mempunyai hati yang keras bagaikan baja tak nanti
aku berani berbuat sembarangan lagi sehingga membuat
engkau jadi bersedih hati "
Diam2 Lam-kong Pak menghela nafas panjang, kembali
ia berpikir dalam hati:
"oooh .. rupanya ayah telah mengobatinya sehingga ayah
sendiri jadi lemah tak bertenaga sama sekali.... aaai rasa
sayang pada anak memang tidak bisa terlepas dari hati
setiap orang.. tapi.. kenapa dua orang manusia tembaga
lainnya masih tetap berbaring diatas tanah dan sama sekali
tidak berkutik barang sedikitpun juga ?"
Terdengar Lam-kong Liu berkata dengan suara lembut:
"Ing-jie, engkau jangan berterima kasih kepadaku belaka,
dalam kenyataan orang yang telah bantu menyembuhkan
lukamu kali ini masih ada empak Lu dan empek oei"
Lam-kong Pak dengar curi pembicaraan itu. sekali lagi
dibuat terperangah. empek Lu yang dimaksudkan tentulah
gurunya Siau-yau Sianseng Lu It Beng, tapi siapakah empek
oei? Mungkinkah dia adalah Awan Hitam pengejar
Rembulan oei ci Hu??"
Sementara itu Suma Ing telah jatuhkan diri berlutut
diatas tanah, sambil terisak dengan sedih ia berbisik.
"Karena urusan siau-tit membuat empek berdua ikut
menderita dan jadi lemah seperti ini. peristiwa tersebut
benar- benar membuat siau-tit merasa amat sedih dan
menyesal. dosa dan kesalahan siau-tit benar-benar tak bisa
ditebus dengan Cara apapun.."
Berbicara sampai disitu, ia menangis terisak dengan
sedihnya membuat siapapun mendengar ikut beriba hati. seakan2
ia benar2 bertobat dan menyesali segala
perbuatannya yang keji dan tak kenal perikemanusiaan itu
Salah seorang manusia tembaga yang lain segera bangkit
dan duduk pula diatas tanah, kemudian berkata:
"Suma Ing, kalau engkau betul2 bisa bertobat dan
melepaskan yang sesat kembali kejalan yang benar,
pengorbanan kami selama ini tidaklah terhitung seberapa,
engkau tahu bahwa betapa gembiranya dan riangnya hati
kami saat ini"
Diikuti manusia tembaga yang ketiga pun duduk dan
menyambung lebih jauh:
"Bocah muda, janganiah engkau menyesal atau
menyalahkan diri sendiri karena urusan yang sudah lewat.
orang kuno pernah berkata: Lepaskanlah golok pembunuh.
berpaling adalah tepian- Manusia bisa jadi jahat atau baik
hanya tergantung pada pikiran tiap insan manusia sendiri,
sementara orang menganggap engkau sudah tak bisa
ditolong lagi. coba bayangkanlah bagaimana perasaan hati
sang orang tua apabila mendengar perkataan seperti itu??"
Suma Ing yang berlutut diatas tanah menangis ter-sedu2
dengan sedihnya, suaranya keras bagaikan jeritan
kuntilanak membuat orang yang mendengar ikut beriba
hati, sampai2 Lam-kong Pak yang bersembunyi diluar goa
pun tanpa sadar melelehkan air mata.
Setelah menangis tersedu sedan beberapa saat lamanya,
akhirnya Suma Ing bisa ditenangkan kembali atas nasehat
dan hiburan ketiga orang manusia tembaga itu Terdengar
pemuda she-Suma itu berkata:
"Disini masih ada sedikit rangsum kering, silakan
cianpwee bertiga mendaharnya lebih dahulu"
Sambil berkata ia melepaskan sebuah kantong berisi
rangsum kering dan segera diberikan kepada ketiga orang
itu.
Tiba2 Lam-kong Liu gemetar keras dengan suara dalam
ia menegur.
"Anak Ing aku masih ingat isi ransum kering mu tidak
terlalu banyak. selama tiga hari ini berempat tiap hari
makan tiga kali semestinya rangsum itu sudah habis
dimakan apakah engkau sama sekali tidak makan??"
"Ananda... ananda telah makan-.." sahut Suma ing terbata2.
"omong kosong bukankah engkau sudah tiga hari belum
makan? kau. . kau...mengapa kau merusak kesehatan
tubuhmu sendiri kenapa...?"
Dengan sedih Suma Ing menjawab:
"Ketika ananda menyaksikan kesehatan badan cianpwee
bertiga sangat lemah dan hawa murninya banyak yang
rusak masa sebenarnya ananda ingin cari makanan lain
dihutan sana tapi pertama karena tak berani tinggalkan
tempat ini terlalu jauh dan meskipun ada niat namun tak
punya tenaga maka... maka..."
"Maka selama tiga hari engkau tak makan?"
"Bee.,. bee... benar.. .aa... ananda cuma minum sedikit
air bersih saja...harap ayah suka memaafkan-"
"Aah " tiga orang kakek tua itu sama2 menghela napas
panjang, suara isak tangis segera berkumandang keluar dari
balik gua itu.
Lam-kong Pak meraSakan tenggorokannya se-akan2
tersumbat oleh sesuatu. dadanya jadi sesak dan darah
didalam tubuhnya bergolak keras sehingga hampir saja tak
mampu menguasai diri, dia ingin berteriak. air mata
keharuan mengucur keluar bagaikan hujan, tapi tak ingin
munculkan diri pada saat itu sehiggga melenyapkan
kehangatan dan kebahagian yang sedang mereka nikmati.
Betapa berbaktinya Suma Ing terhadap orang tuanya
betapa hangat dan mesrahnya cinta kasih seorang ayah
terhadap putranya, suasana penuh dengan kebungahan dan
keindahan..
Lama sekali... dari dalam gua tiba2 terdengar Lu It Beng
berkata: "Aku mempunyai suatu idee, entah pendapatku ini
boleh diutarakan keluar atau tidak??"
Lam-kong Liu serta orang she oei itu segera menyahut:
"Dalam keadaan dan suasana seperti ini, perkataan apa
lagi yang tak boleh kau utarakan keluar?"
"Bukankah sekarang anak Ing sudah bertobat dari segala
dosa dan kesalahannya. dan telah berjanji akan hidup
kembali sebagai seorang manusia baru? sementara luka
dalam yang kita derita tak mungkin bisa disembuhkan
dalam tiga lima hari mendatang, aku lihat bagaimana kalau
kita beritahukan rahasia kepada anak Ing. dan suruh dia
yang mengambil benda mustika itu untuk digunakan
menghadapi Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng serta Kakek ombak menggulung??"
Lam-kong Liu tidak menjawab. karena ia menganggap
persoalan itu harus dipertimbangkan lagi dengan lebih teliti,
bukannya tidak percaya terhadap putra sendiri. melainkan
persoalan ini luar biasa sekali. apabila sampai salah
bertindak maka akan mengakibatkan musnahnya dunia
persilatan dari muka bumi.
Terdengar orang tembaga itu she oei menanggapi:
"Aku oei ci Hu sangat setuju dengan usulmu itu, Hey
Lam-kong Liu. masa engkau masih tidak percaya dengan
putramu sendiri? "
"Bukannya aku tidak percaya dengan anak Ing tapi
persoalan ini menyangkut nasib dari seluruh umat
persilatan dikolong langit. urusan ini luar biasa sekali, apa
lagi anak Ing belum sembuh dari lukanya dan kesehatan
badannya belum pulih kembali seperti sedia kala. belum
tentu ia sanggup memikul tanggung jawab seberat ini."
"Kalau toh urusan itu sangat penting dan mempengaruhi
keadaan dunia persilatan, selama kesehatan badanku belum
sembuh benar tak berani aku berangkat secara gerabah."
ujar Suma Ing. "lebih baik cianpwee berdua tarik kembali
perintah tersebut "
"Tidak apa yang kuputuskan sudah bulat dan pasti."
tukas oei ci Hu. "asal Ing-ji mau melakukan pekerjaan ini
secara ber-hati2 dan seksama aku rasa tidak mungkin akan
timbul hal2 yang tak diinginkan. asal benda mustika itu
berhasil didapatkan maka kendatipun bertemu dengan dua
orang gembong iblis itu lagi. mengundurkan diri dari
kepungan mereka rasanya bukanlah suatu persoalan yang
menyulitkan"
Lam-kong Pak yang curi dengar pembicaraan itu jadi
terperangah, ia segera membatin, "Lhoo kok muncul lagi
benda mustika dunia persilatan? benda apakah yang sedang
dibicarakan rupa2nya kok sangat berharga sekali?"
Sementara itu Lam-kong Liu masih tetap membungkam
dalam seribu bahasa. terdengar Suma Ing dengan perasaan
heran dan ingin tahu segera bertanya:
"Benda mustika dunia persilatan macam apakah yang
sedang dibicarakan? apakah empek oei bersedia untuk
memberi keterangan yang jauh lebih jelas lagi?"
"Benda mustika itu bukan lain adalah payung
sengkala."jawab oei ci Hu dengan tegas.
Begitu perkataan itu diutarakan keluar bukan saja Lamkong
pak merasa amat terperangah bahkan Suma Ing
sendiripun jadi ter-mangu2 karena keheranan setengah
harian kemudian ia baru berkata dengan nada ter-bata2.
"Bukankah payung sengkala itu sudah ditangan kakek
ombak menggulung?"^ oei ci Hu tertawa.
"Payung mustika yang berada ditangannya adalah
payung palsu, payung sengkala yang aslinya masih belum
muncul dari permukaan bumi justru karena aku sedang
mencoba kekuatan tenaga dalam yang dimiliki beberapa
orang gembong iblis itu maka hingga sekarang persoalan
tersebut tidak sampai diutarakan keluar dan kini Bintang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng telah munculkan diri
lagi dalam dunia persilatan, tiada jago silat lainnya yang
bisa menandingi kelihayannya, sementara payung sengkala
yang palsu bukan benda yang betul2 hebat, jikalau payung
sengkala yang asli benar2 sampai terjatuh ketangan Bintang
yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng, maka dunia
persilatan pasti akan tertimpa bencana besar."
"Jadi kalau begitu, payung sengkala yang berhasil
didapatkan Naga pengasingan cu Hong Hong tempo dulu
juga benda yang palsu??" tanya Suma Ing kemudian-
"Perkataanmu sedikitpun tidak salah, kalau ia tahu
benda itu adalah payung yang palsu, buat apa dia harus
mempertaruhkan jiwa raganya untuk berduel mati2an
melawan orang karena hendak mempertahankan benda
palsu belaka??"
"Kalau begitu ketua dari perkumpulan bulu hijau sudah
pasti adalah suami dari cu Hong Hong, yakni Sian-yan
Peng adanya?" seru Suma Ing lebih jauh.
oei ci Hu menghela napas panjang. "Aaai.. perkataanmu
memang tepat, seharusnya dari dulu kalian sudah dapat
menduga sampai kesitu "
Pada saat itulah paras muka Suma Ing yang jelek dan
menyeramkan terjadi perubahan yang sangat hebat, apa arti
dari perubahan tersebut?? tak seorangpun yang tahu tentu
saja kecuali dia sendiri.
"oei-heng" terdengar Lam-kong Lui memperingatkan-
"engkau harus bertindak dengan hati2 dalam menghadapi
persoalan ini."
oei ci Hu tertawa. "Kalau engkau tak berani bertanggung
jawab, biarlah aku yang menanggung segala resikonya." ia
berseru keras, "aku sudah ambil keputusan untuk
memberitahukan persoalan ini kepada anak ing, Aaaai....
kalau Lam-kong Pak bocah muda itupun berada disini
mereka berdua kakak beradik yang pergi ambil bersama aku
akan merasa lebih berlega hati lagi"
Mendengar perkataan itu, Lam-kong Pak segera berpikir:
"Waaah... kalau begitu keadaannya, aku lebih2 tak boleh
munculkan diri"
Sementara itu terdengar Suma ing berkata, "Empek. 0ei.
ada satu persoalan yang belum siau-tit ketahui, boleh kah
aku bertanya kepadamu???"
"Apa yang kau ingin tanyakan? coba katakanlah"
"Apakah payung sengkala yang asli ini adalah milik
pribadimu??"
"Aai..mengenai persoalan ini ceritanya panjang sekali,
semula benda mustika itu aku dapatkan pula dari orang
lain- tapi ke tiga orang itu dimasa lampau tersohor sebagai
malaikat2 bengis dari kalangan hitam dan sekarang sudah
lama mati. karena itu mendapatkannya dari tangan mereka
tidak termasuk suatu kejadian yang melanggar
prikemanusiaan "
"Siapakah ketiga orang gembong iblis dari kalangan
hitam itu?"
"Mereka adalah Mo-jiu-sam-seng Tiga bintang telapak
iblis" Suma Ing terperangah.
"Mo-jiu Sam-seng? apa arti dari julukan tersebut?"
"oooh.. julukan itu terdiri dari Jit-mo atau iblis matahari,
Gwat-mo atau iblis rembulan serta Seng- mo iblis bintang,
karena digabUngkan menjadi satu maka julukannya jadi
tiga bintang telapak iblis.jago2 lihay si Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng serta Kakek ombak
menggulung yang begitu dahsyat dan mengerikan
merupakan murid2 mereka, bisa kau bayangkan sampai
dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki ketiga orang
itu"
Lam-kong pak dengan curi pembicaraan itu merasakan
hatinya amat terperanjat, tanpa terasa ia jadi teringat
kembali dengan tiga orang kakek tua didalam istana bumi
Tee-sim-piat-hu, merekapun pernah suruh dia meneriakkan
"Matahari, Rembulan, Bintang" sebanyak tiga kali, bahkan
dikemudian hari apabila ia datang kesitu lagi maka ketiga
orang kakek itu memerintahkan kepadanya untuk
meneriakkan kata2 "Matahari Rembulan dan Bintang
"sebanyak tiga kali dimuka goa berapi, maka ular hitam itu
akan menyambut kedatangannya.
Sekarang ia baru mengerti, rupanya tiga orang kakek tua
yang pernah dijumpai dalam goa bumi Tee-sim-piat-hu
tempo hari bukan lain adalah Mo-jiu-sam-seng tiga bintang
telapak iblis, kalau begitu orang yang mencelakai mereka
hingga tersiksa dan hidup menderita pastilah bukan lain
adalah muridnya sendiri yakni bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng serta Kakek ombak menggulung.
Tak aneh kalau diatas permukaan batu tertulis dengan
jelas tercantum nama dari Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng rupanya ketiga orang gurunya
ada maksud untuk pancing kedatangan orang itu ke-dalam
istana bumi Tee-sim-piat-hu.
"Empek" kata Suma ing kemudian- "kalau toh Tiga
Bintang telapak iblis adalah gurunya bintang yang
bertaburan diangkasa. bagaimana caranya engkau bisa....?".
oei ci Hu tersenyum.
"Pada waktu itu ilmu silat yang dimiliki masih seimbang
dengan kepandaian dari mereka bertiga, mereka jadi lihay
karena belakangan ini ilmu silatnya dilatih dengan tekun
dan rajin. NamUn aku sudah pernah rasakan juga sampai
dimanakah kelihayannya dari gabungan tenaga mereka
bertiga karena merasa tak mampu menangkan maka secara
diam2 payung sengkala itu kucuri dari tempat
persembunyian mereka"
Diam2 Lam-kong Pak tertawa geli sesudah mendengar
perkataan itu pikirnya:
"Sungguh tak kusangka oei loanpwee dapat menjadi
pencuri barang orang lain, kalau begitu dia sudah pasti
adalah kakek desa tersebut, tak aneh kalau jejaknya sangat
misteri ibarat naga sakti yang kelihatan kepala tak nampak
ekornya sebentar jadi kakek desa sebentar jadi manusia
tembaga sebentar lagi jadi manUsia yang bermarga oei"
Terdengar Suma ing bertanya dengan suara lantang:
"Empek oei sebenarnya payung sengkala disimpan dimana
sih?"
Tanpa sadar secara lapat2 Lam-kong Pak mulai
merasakan bahwa sikap dari Suma ing se-akan2 sedang
merencanakan sesuatu tanpa sadar ia jadi gelisah dan
Cemas sekali.
Tapi dalam keadaan seperti ini pemuda tersebut merasa
tak leluasa baginya untuk munculkan diri. sebab kalau ia
sampai berbuat demikian dalam suasana seperti itu, tiga
orang locianpwee itu pasti akan menaruh perasaan kalau
dia ada maksud untuk mengincar benda mustika tersebut
dari tangan Suma ing.
sementara itu dengan sorot mata yang tajam oei ci Hu
memperhatikan Suma ing beberapa saat lamanya,
kemudian dengan suara berat ia menjawab:
"Benda itu disimpan didalam sebuah patung area dalam
kuil Lu-siau-si yang ada di bukit Toa-pek san"
Air muka Suma ing seketika itu juga terjadi banyak
perubahan yang luar biasa. apa artinya dari perubahan
tersebut? pada saat itu hanya seorang yang mengerti jelas.
orang itu bukan lain adalah Awan gelap mengejar rembulan
oei ci Hu sendiri.
Bila berbicara tentang tingkatan maka kedukukan Awan
gelap pengejar rembulan oei ci Hu masih satu tingkat lebih
tinggi danpada Lam-kong Liu maupun Lu It Beng. tapi
berhubung dia adalah sahabat karib dan Sian-yan Peng
dimasa yaag silam, sedangkan Sian-yan Peng berasal dari
satu tingkatan dengan Lam-kong Liu serta Lu It Beng,
maka diri itu diantara mereka bergaul se-akan2 berasal dari
satu tingkatan yang sama.
Apabila seseorang sedang memikirkan sesuatu maka apa
yang dipikirkan olehnya pasti akan tertera didepan wajah,
oei ci Hu sebagai orang jago kawakan yang sangat
berpengalaman dapat merasakan akan hal itu, dan dihati
kecilnya pun sudah mempunyai perhitungan sendiri.
"oei-heng. kau..." seru Lam-kong Liu dengan Cemas.
"Lamkong-heng, engkau tak usah merasa rendah diri,
dunia persilatan pada masa kini adalah dunianya kaum
muda seperti mereka, apalagi anak ing toh sudah bertobat
kembali kejalan yang benar, aku rasa sama saja kalau tugas
ini dibebankan kepadanya, kalau sampai sekarang engkau
masih merasa tak tega hati bukankah tindakanmu itu sedikit
agak keterlaluan? kecuali seorang manusia bejad yang
akhlaknya betul2 sudah rusak hingga menyerupai seekor
binatang, aku rasa tak mungkin bisa timbul ingatan sesat
semacam itu lagi"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, paras muka
Suma ing kembali terjadi perubahan hebat. tapi sesaat
kemudian dengan suara sedih ia berkata:
"Nasehat dari empek 0ei ibaratnya bunyi lonceng dipagi
bari buta, tapi ananda dapat memahami akan kekuatiran
dari ayah sebab sikapnya itu betul dan masuk diakaL
meskipun siau-tit tidak punya ingatan sesat namun tenaga
dalamku masih belum pulih kembali dan tak sesuai untuk
melaksanakan tugas seberat ini, lebih baik oei cianpwee
tarik kembali perintahmu itu"
Oei ci Hu tertawa.
"Anak ing. engkau tak usah terlalu memandang rendah
diri sendiri, untuk melaksanakan tugas ini aku rasa
tenagamu sudah cukup menyelesaikannya, pergilah setelah
berhasil mendapatkan benda mustika itu Cepatlah kembali
kegua ini untuk saling berkumpul kembali. tak usah
mencari gara2 ditengah jalan sehingga membuat kami amat
menguatirkan keselamatanmu"
Dengan penuh rasa hormat Suma ing mendengarkan
semua perkataan itu, kemudian ia kata:
"Empek oei begitu pandang tinggi diri siau-tit, membuat
keponakan merasa berterima kasih sekali, tetapi tenaga
dalam yang keponakan miliki masih belum kembali seperti
Sedia kala, tak pantas aku untuk memikul tanggung jawab
sebesar ini, lagi pula kesehatan cianpwee bertiga masih
belum pulih kembali, dari mana keponakan merasa lega
hati untuk meninggalkan kalian bertiga?"
"Asal engkau punya rasa bakti seperti apa yang kau
ucapkan, hal itu sudah lebih cukup buat kami." ujar Lu It
Beng, "bicara sesungguhnya, dengan tenaga dalam yang
kami bertiga miliki sekarang, kendatipun kakek ombak
menggulung atau Bintang bertaburan diangkasa datang
sendiri kemari, untuk mengundurkan diri dari cengkeraman
mereka masih bukan menjadi persoalan bagi kami. engkau
tak usah menguatirkan keselamatan kami"
"Kalau memang begitu," sambung Lam-kong Liu, "Anak
Ing, sekarang juga berangkatlah untuk menunaikan tugas
tersebut."
Suma ing segera jatuhkan diri keatas tanah, tatanya^
"Ananda akan turuti perintah ayah, harap ayah suka jaga
diri baik2"
Mengikuti peristiwa tersebut sampai disini Lam-kong
Pak tak dapat menahan diri lagi, ia menghela napas
berulang kali sambil pikirnya dihati:
"Rupanya ia benar2 sudah bertobat dan hidup bagaikan
seorang manusia yang lain, jikalau dengan kekejaman,
kebengisan serta kebrutalan dari Sma ing pun sekarang bisa
berubah jadi baik, kejadian ini boleh dianggap sebagai suatu
peristiwa yang paling aneh dikolong langit..."
sementara itu Suma ing telah berlutut dan menyembah
pula kearah Lu It Beng sebanyak tiga kali sambil berbisik:
"Empek Lu, baik21ah menjaga dirimu."
Terakhir kepada oei ci IHu dia bertanya, "Empek oei
apakah engkau masih ada petunjuk lain??"
"Hidup sebagai seorang manusia dikolong langit.
janganlah lupa barang sedikitpun akan kata2 jujur asal
engkau dapat ingat selalu perkataan itu dan melaksanakan
dengan se-baik2nya aku rasa hidup tentram dikolong langit
bukanlah suatu masalah yang menyulitkan- Nah, pergilah"
Suma Ing berlutut dan menyembah tiga kali kearah tiga
orang kakek tua itu, disaat ia bangkit dari atas tanah itulah
tiba2 sepasang telapaknya direntangkan kesamping,
gulungan angin pukulan yang maha dahsyat dengan Cepat
menyapu kearah tiga orang yang duduk diatas permukaan
tanah itu.
Lam-kong Liu serta Lu It Beng yang tepat ada
dihadapannya seketika tersapu oleh angin pukulan yang
maha dahsyat itu sehingga terpental sejauh satu tombak
dari tempat semula. kedua orang itu kontan jatuh tak
sadarkan diri.
Rupanya oei ci Hu sudah menduga kalau sianak muda
itu ada maksud jelek terhadap mereka, namun ia sama
sekali tak menduga kalau pemuda itu dapat melancarkan
serangan pada saat itu juga , dalam gugupnya buru2 ia
sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan
keras.
"Blamm" ditengah benturan nyaring, tubuhnya tergetar
hingga mencelat sejauh lima enam depa dari tempat
semula, karena mereka sudah terlalu banyak mengorbankan
tenaga dalam yang dimilikinya untuk menyembuhkan luka
dalam Suma Ing, maka saat ini ia tak mampu untuk
menahan datangnya serangan dari Suma Ing yang
dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu.
Kontan ia muntah darah segar, tapi dengan suara keras
jago tua she- oei itu sempat berteriak:
"Suma Ing, engkau jangan anggap dengan kelicikanmu
yang melampaui batas maka kamu bisa bergerak seenaknya
ditempat luaran. Hmm suatu saat pasti ada orang yang akan
membereskan jiwamu...."
Belum babis ucapan itu diutarakan. Lam-kong Pak yang
bersembunyi diluar gua telah membentak keras dan
melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Suma Ing.
"Blaamg..m .." getaran dahsyat menggoncangkan seluruh
seluruh goa dan menggUgurkan pasir diatas dinding goa
tersebut. pemandangan jadi kabur dan sukar untuk melihat
alam sekelilingnya.
Lam-kong Pak kuatir suma Ing turun tangan keji lagi
terhadap tiga orang kakek tua itu, dengan cekatan ia loncat
kedepan dan menghadang dihadapan mereka.
Suma Ing sendiri setelah tahu musuhnya amat tangguh.
tak berani bercokol terlalu lama lagi disitu. menggunakan
kesempatan yang sangat baik itulah sambil tertawa seram
dia kabur keluar dari gua tersebut.
Lam-kong Pak amat gusar bercampur penasaran, ia siap
melakukan pengejaran namun oei ci Hu dengan Cepat
mencegah,
"Anak Pak tak usah dikejar lagi, sejak pertama kali tadi
aku sudah tahu kalau engkau bersembunyi diluar gua
karenanya aku tidak menguatirkan apa2, tapi aku sama
sekali tak mengira kalau dia bakal turun tangan sekejap itu.
Aaai orang ini benar2 sudah terlalu bejad sehingga tak ada
obat untuk dapat menolong dirinya lagi."
Lam-kong Pak membimbing ayahnya Lam-kong Liu
serta gurunya Lu It Beng, ketiga orang itu saling memeluk
sambil meneteskan air mata, siapa yang bilang pria sejati
tak dapat mengucurkan air mata? kalau sudah mencapai
puncak kesedihan maka bagaimana juga kerasnya hati dan
imam seseorang tetap akan mengucurkan air mata.
Sesudah menangis beberapa saat akhirnya oei ci Hu
bagikan sebutir obat penyembuh kepada kedua orang itu,
kemudian ujarnya:
"Kalian tak usah bersedih hati lagi Pak-ji berada disini
semuanya akan berlangsung dengan riang gembira"
"Bukannya aku menggerutu kepada oei-heng," ujar Lamkong
Liu, "bukankah aku tadi sudah katakan janganlah
beritahukan letak penyimpanan benda mustika itu
kepadanya tapi engkau tak sudi mendengarkan perkataan
siau-te aaai sekarang urusan sudah jadi begini siau-te..."
Tiba2 oei ci IHu menengadah dan tertawa ter-bahak2
paras mukanya berubah sambil menguruti dadanya dan
mengatur pernapasan ia berseru:
"Lamkong-heng bukannya aku oei ci Hu sengaja berjual
mahal dihadapanmu, bicara soal pengalaman dalam dunia
persilatan kembali kalian kalah setingkat jika dibandingkan
dengan diriku, terus terang saja kuberitahukan kepadamu,
selama tiga hari terakhir ini aku selalu menaruh perhatian
khusus terhadap tingkah laku serta pembicaraan dari Suma
Ing, akupun melihat pula kalau dia sengaja menyisihkan
ransumnya untuk makanan kita sedang ia cuma minum air
untuk menghilangkan lapar, atas perbuatannya itu aku
merasa terbaru dan mengira dia benar-benar sudah bertobat
dan tak akan melakukan kejahatan lagi, tapi ada suatu hal
aku masih menaruh curiga meskipun luka dalam yang ia
derita kali ini sangat parah tapi dibawah bantuan kita
bertiga yang sudah mengerahkan tenaga untuk membantu
menyembuhkan dirinya, bukan saja semestinya sudah pulih
kembali seperti sedia kala, bahkan tenaga dalam yang
dimilikinya pantas kalau peroleh kemajuan yang pesat,
tetapi ketika ia ambil air diluaran tadi lagaknya begitu
lemah tak bertenaga seakan-akan sama sekali tak kuat
menahan diri hingga untuk mengangkat sebuah hioloo
batupun tidak kuat, tingkah lakunya itu merupakan titik
kecurigaanku yang pertama. Selanjutnya ketika ia dengar
aku utarakan letak tempat penyimpan harta pusaka itu,
paras mukanya menunjukan perubahan yang sangat besar
tapi ia pura2 berlagak se-akan2 tak memandang terlalu
serius persoalan itu, perbuatannya itu tak mungkin akan
mengelabui diriku oleh sebab itu aku segera makan
siasatnya itu dan beritahukan rahasia tersebut kepadanya"
Mendengar uraian tersebut. diam-diam. Lam-kong Pak
merasa sangat kagum, tadi iapun menyaksikan pula kalau
paras muka Suma Ing menunjukan perubahan yang sangat
mencurigakan namun ia sama sekali tak menduga kalau
pemuda itu bakal turun tangan begitu cepat terhadap tiga
orang kakek tua itu sekarang ia baru sadar bahwa
kadangkala pengalaman jauh lebih penting daripada ilmu
silat. Berpikir sampai disitu sianak muda itu segera
bertanya:
"oei cianpwee engkau toh sudah memberitahukan letak
penyimpanan benda mustika itu kepadanya? apa kah
engkau telah membohongi dirinya ???"
"Tidak tempat itu benar dan aku sama sekali tidak
membohongi dirinya" sahut oei ci Hu.
"Kalau memang begitu mana mungkin tindakan
Cianpwee ini disebut siasat lawan siasat?" oei ci Hu tertawa.
"Walaupun letaknya tidak keliru tetapi aku sudah
memutar balikan letak penyimpanan harta mustika itu dari
keadaan yang sesungguhnya, untuk beberapa waktu tak
mungkin ia temukan letak pusaka itu tapi lama kelamaan
tentu saja ia akan menemukan juga letak penyimpanan
benda mustika tersebut oleh sebab itu sekarang juga engkau
harus berangkat kesitu."
"Tapi kesehatan cianpwee bertiga belum pulih kembali
seperti sediakala, lagi pula sekarang menderita luka dalam
yang cukup parah, bagaimana Pak-ji bisa tega untuk
meninggalkan kalian bertiga.??"
"Engkau tak usah kuatir, asal beristirahat tiga hari tiga
malam lagipasti kesehatan kami sudah akan pulih kembali
seperti sediakala sebaliknya urusan itu tak dapat di-tunda2
lagi, jlkalau benda pusaka itu sampai terjatuh ketangan
Suma ing akibatnya benar2 sukar dilukiskan dengan kata2."
Lam-kong Liu membelai kepala putranya dengan penuh
kasih sayang dengan suara lembut bisiknya.
"Anakku cepatlah berangkat kami bisa merawat
keselamatan kami dengan sebaik2nya."
oei ci Hu segera menggapai Lam-kong pak agar
mendekati dirinya kemudian ia membislkan sesuatu disisi
telinganya, pemuda itu mengangguk tanda mengerti, jelas
jago tua tersebut sedang memberitahukan letak
penyimpanan harta mustika yang sebenarnya.
"Begitu saja" ujar Lam-kong Pak kemudian, "aku akan
membantu cianpwee bertiga lebih dulu untuk
menyembuhkan luka yang kalian derita, setelah itu aku
baru berangkat kesana, dengin kecepatan gerak aku yang
muda rasanya tak akan ketinggalan terlalu jauh dari
dirinya."
"Tidak usah." sahut Lam-kong Liu seraya menggeleng,
"engkau harus tahu, tenaga dalam yang dimiliki Suma ing
pada saat ini hanya sellsih sedikit saja dari dirimu, kali ini
engkau harus berangkat dengan mengerahkan sepenuh
tenaga, berusahalah se-cepat2-nya mencapai bukit Toa-pek
san- sebab kalau sampai terlambat barang selangkah pun
maka engkau akan menyesal untuk se-lama2 nya cepatlah
berangkat."
Atas desakan tiga orang kakek itu, akhirnya Lam-kong
Pak ambil keluar catatan ilmu hipnotis, Tong-bin-bu-goan,
pemberian ketua perkumpulan bulu hijau untuk ayahnya
kemudian dengan air mata bercucuran ia mohon diri dan
berangkat tinggalkan gua itu.
Bukit Toa-pek san disebut pula bukit Lu-san, bukit itu
jadi tersohor namanya dan dikenal oleh setiap orang karena
diatas bukit tadi terdapat sebuah kuil yang bernama kuil Lusiau-
si.
Sisi kiri dan kanan bukit itu diapit oleh dua buah sungai
besar, sungai Kang-sua mengalir kearah selatan sedang
sungai Han-sui mengalir dari barat laut.
Ketika jaman sam-kok tempo dulu. wilayah tersebut
merupakan daerah kekuasaan dari Go, Liok, Sun serta cukat
Jin.
Waktu itu rembulan bersinar dengan benderangnya
ditengah angkasa, angin gunung berh embus kencang,
tampaklah sesosok bayangan manusia bagaikan gulungan
asap tipis berkelebat menuju kearah bukit dengan kecepatan
Luar biasa, kadangkala dalam sekali kelebat tubuhnya
sudah mencapai tujuh delapan tombak jauhnya.
orang itu bukan lain adalah Lam-kong Pak. Setelah
beriarian selama dua hari lamanya sampailah penuda itu
diatas bukit Toa-pek san, ia langsung berkelebat menuju
kearah kuil Lu Siau-si.
Dengan mengerahkan segenap kemampuan yang
dimilikinya pemuda she Lam-kong ini melakukan
perjalanan tiada hentinya, ia kuatir kalau payung sengkala
benda mustika dari dunia persilatan itu sampai terjatuh
ketangan Suma ing yang akhlaknya jauh lebih bejad dari
binatang.
Setelah melewati beberapa bukit, tampaklah
dihadapannya muncul sebuah bukit yang sangat besar,
puncak bukit menjulang jauh menembusi awan tebal,
sebuah bangunan kuil berdiri mentereng dipinggang bukit
tersebut, suasana dalam bangunan itu sangat gelap dan tak
nampak sesosok bayangan manusiapun, mungkin penjaga
kuil itu sudah tertidur, sebab ketika itu waktu menunjukkan
kentongan ketiga.
Lam-kong Pak tidak berani berayal, sebab kalau Suma
ing bersembunyi didalam kuil itu dan keadaan musuh
dalam kegelapan sedang ia berada dalam keadaan terang,
kemungkinan besar dirinya bakal disergap secara tiba2.
Selain itu, andaikata ia sampai sudah berhasil
mendapatkan payung sengkala. benda mustika tersebut,
jangan dibilang disergap secara tiba2, sekalipun bertempur
secara terang2an belum tentu ia merupakan tandingannya.
Dengan gerakan tubuh yang enteng dan cepat ia
melayang naik keatas tembok pekarangan dan bersembunyi
dibalik wuwungan rumah. dari situ dengan gerakan yang
sangat hati2 menengok kearah balik kuil.
Bangunan kuil itu semuanya terdiri dari lima buah bilik,
pintu ruang tengah setengah tertutup dan suasana dalam
ruangan gelap gulita sukar untuk memeriksa keadaan disitu,
kendatipun rembulan bersinar dengan terangnya diatas
awan, namun serambi yang luas telah menghalangi cahaya
rembulan untuk menyorot kedalam ruangan-
Lam-kong Pak mendekam tak berkutik diatas dinding
pekarangan, telinganya dipasang baik2 untuk memeriksa
keadaan disekitar tempat itu. dari suasana yang sunyi dan
sepi orang pasti akan beranggapan bahwa ruangan itu
kosong dan tak ada seorang manusia pun, tapi bagi sang
pemuda yang bertenaga dalam amat sempurna. ia sempat
mendengar adanya seorang sedang berjalan hilir mudik
tiada hentinya.
Dengan gerakan yang sangat hati2 ia segera berputar
kebelakang ruang kuil, kemudian mengintip dari atas
jendela.
Tampaklah disebuah meja altar yang sangat besar,
berdirilah sebuah patung area yang besar pula. meskipuntak
dapat melihat jelas keadaan patung tersebut, tapi Lam-kong
Pak dapat menduga bahwa patung tersebut sudah pasti
adalah patung dari Lu siau.
Sorot matanya segera menyapu kearah lain, Tapi dengan
cepat pemuda itu tertegun dibuatnya. ternyata dalam
ruangan itu berisikan penuh patung2 raksasa, tepat
dihadapan patung area dari Lusiau berdirilah sebuah patung
raksasa pula dari cu-kat Bu-ho.
Dibelakang patung cu-katBu-ho terdapat patung area dari
Lau Pi, Thio Hui serta Kwan Kong, sedang dibelakang
ketiga patung area itu terdapat pula patung dari Tio in serta
panglima perang lainnya.
Pokoknya dihadapan patung area dari Lu Siau terdapat
lima enam belas buah patung area raksasa lainnya, tak
kuasa lagi Lam-kong Pak dibikin terperangah.
"Jangan2 kuil ini bukan kuil Lu-siau-si? Kalau tidak
kenapa terdapat begitu banyak patung area disini??" pikir
sianak muda itu dalam hati keeilnya.
Mendadak Lam-kong Pak menemukan sesosok
bayangan manusia sedang duduk diantara patung2 area
tersebut, rupanya ia sedang bertopang dagu sambil
memikirkan sesuatu, orang itu bukan lain adalah Suma ing
pemuda bermoral bejad yang sudah tak ketolongan lagi.
Menyaksikan keadaan dari sianak muda itu, Lam-kong
Pak segera berpikir didalam hatinya.
"Mungkin ia sudah meneari setengah harian lamanya
tanpa berhasil mendapatkan sesuatu. dan sekarang sedang
putar otak memikirkan persoalan itu...
Tapi Lam-kong Pak kembali gelengkan kepalanya, ia
menganggap dengan watak serta perangai dari Suma ing tak
mungkin ia akan bersikap begitu jujur kenapa ia tidak
menghancurkan semua patung area yang berada disitu?
buat apa dia peras otak memikirkan soal itu dengan susah
payah??
Siapa tahu sebelum ingatan tersebut berkelebat lewat dari
benak Lam-kong Pak. tiba2 Suma ing loncat bangun dari
atas tanah berguman seorang diri:
"Kemungkinan besar oei ci Hu bajingan tua itu sudah
dapat menebak reneanaku dan mengetahui pula kalau Lamkong
Pak bersembunyi diluar gua maka sengaja dia suruh
aku datang kemari untuk repot sendiri ... tapi aku percaya
kalau payung sengkala tersebut pasti berada didalam ruang
kuil ini hanya saja entah tersimpan didalam patung besi
yang mana??"
Sekarang Lam-kong Pak baru mengerti rupanya patung2
area itu terbuat dari besi semua, tidak aneh kalau Suma Ing
tak mampu untuk merusak patung tersebut. Lam-kong Pak
tersenyum sendiri, pikirnya didalam hati:
"Engkau sibajingan cecunguk biasanya sangat cerdik dan
punya banyak akal busuk kali ini akan kuuji kepandaian
dan kecerdasanmu itu, akan kulihat apakah engkau mampu
untuk menebaknya atau tidak...??"
Sementara itu, Suma Ing dengan sebuah mata
tunggalnya sedang menyapu satu patung dengan patung
yang lain akhirnya sorot mata pemuda itu berhenti diatas
patung area cu-katBu-ho, gumamnya seorang diri.
"Kalau ditinjau dari sejarahnya tempo dulu cu-katBu-ho (
Khong Beng ) pernah bantu pihak Go untuk
menghancurkan co-cho kepandaian serta siasatnya sangat
dikagumi oleh Lu Siau tua semua perintah serta nasehatnya
selalu dituruti, aku rasa diantara patung2 besi yang ada
disini hubungan cu-kat Khong Beng dengan Lu Siau lah
yang paling erat dan akrab jangan payung mustika itu
tersimpan didalam tubuh cukat Khong Beng?"
Lam-kong Pak yang mendengar gumaman tersebut
seketika itu juga merasakan hatinya bergetar keras
disamping itu diapun menghela napas panjang pikirnya:
"KeCerdasan otak bajingan ini benar2 sangat tinggi
kepintarannya melebihi siapa pun jika ia dapat dibimbing
kejalan yang benar niscaya kemampuannya tak akan berada
dibawahku"
= =^^O^^= =
Sementara itu Suma Ing telah tertawa seram per-lahan22
ia berjalan mendekati patung area dari cu-kat Khong Beng,
sebaliknya Lam-kong Pak yang bersembunyi ditempat itu
telah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya
untuk bersiap sedia.
Setelah tiba dipatung area diri cu-kat Khong Beng
dengan penuh seksama Suma Ing periksa sekitar patung
tadi, sementara Lam-kong Pak sendiri telah menyusup
masuk kedalam ruangan dan menyembunyikan diri
dibelakang sebuah patung area.
Suma Ing sedang pusatkan semua perhatiannya pula.
memeriksa sebentar patung area dari cu-kat Khong Beng
karena itu ia tidak merasakan kehadiran seseorang
disekitarnya dengan tangannya yang kuat dia mulai
mengetuk seputar dada patung tersebut ^criing... cring ..^
kecuali bunyi gemerincing tidak nampak suatu pertanda
apapun yang mencurigakan.
SUMA Ing segera berputar kebelakang patung dan
mengetuknya berulang kali disekitar sana akhirnya ia
bergumam seorang diri
"Sepasang tangan cu-kat khong Beng diangkat lurus
keatas, seandainya payung sengkala itu benar2 berada
dalam sakunya. maka benda itu pasti berada diantara kedua
belah tangannya..."
Dengan tanganya ia meraba pakaian patung cu-kat
Khong Beng itu, lalu dengan sepanuh tenaga ditarik
kebawah....^Kraaakk^ sepasang lengan itu ternyata
bergerak kebawah kemudian seCepat kilat memeluk
pinggang pemuda she Suma itu.
Suma Ing merasa amat terperanjat. dengan cepat ia
menyingkir tiga langkah kesamping siapa tahu patung area
itu dapat pula menggerakaan badannya, patung itu miring
kesamping dan kembali memeluk kearah pinggang pemuda
itu.
Dengan sekuat tenaga Suma Ing melancarkan sebuah
pukulan gencar kearah patung itu. pukulan itu dengan telak
menghajar dibawah sikut kiri patung tadi...Braaak tiba2
sebuah benda terjatuh dari balik ujung baju patung tersebut,
Suma Ing jadi amat gembira. dia lihat benda itu
panjangnya kurang lebih tiga depa dengan lebar setengah
depa terbungkus rapi oleh selembar kulit menjangan yang
kuat.
Dengan cepat dia pungut benda itu lalu dipeluknya erat?
karena gembira ia menjerit-jerit keras.
Siapa tahu belum habis ia tertawa kegirangan Lam-kong
Pak dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah
menerjang kedepan, sekali menyambar tahu2 sudah berhasil
merampas benda tadi dan mengundurkan diri sejauh satu
tombak dari tempat semula.
"Heeeehhh...heeehhh...heeehh, bajingan anjing durjana
engkau tak menyangka bukan?" ejeknya, "kalau benda
mustika semacam ini sampai terjatuh ketanganmu, Thian
loo-ya benar2 sudah salah melihat
haahh...haaahh...haaahhh"
Paras muka Suma Ing yang jelek dan menyeramkan itu
mulai berkerut kencang, dari perubahan mimik wajahnya
dapat diketahui betapa gusar dan bencinya pemuda itu
terhadap lawannya, ia tak menyangka kalau
kegembiraannya akan sia-sia belaka, bukan saja benda
mustika itu sudah terjatuh ketangan Lam-kong Pak, bahkan
keselamatan jiwanya benat2 sangat terancam.
Kendatipun berada dalam keadaan yang sangat tidak
menguntungkan, namun manusia durjana tersebut tetap
bersikap cerdik, otaknya berputar keras berusaha mencari
jalan keluar, sementara biji matanya berputar kian kemari,.
Mendadak ia tertawa dingin, serunya:
"Lam-kong Pak. semua orang mengatakan engkau
adalah seorang pria jujur yang tak berbuat curang, tapi
kalau ditinjau dari perbuatan serta tingkah lakumu pada
malam ini... Huuh rupanya nama besarmu itu hanya nama
kosong belaka"
"Anjing durjana lebih baik jangan coba2 menggunakan
siasat miskin seperti itu untuk menipu aku, sekalipun
engkau ngobrol sampai lidahmu terbelah dan bibirm
upecah, tak nanti aku bakal tertipu lagi oleh siasat busukmu
itu"
"Lam-kong Pak. tenaga dalam yang kita miliki seimbang,
bila kita benar2 beradu kepandaian sesuai dengan
kemampuan masing2. belum tentu engkau bisa menandingi
diriku"
"Huuh lebih baik jangan tekebur, kalau engkau tidak
percaya silahkan mencoba sendiri"
Suma Ing segera tertawa dingin.
"Heehh...heeehh..heehh.. sungguh tak kusangka ternyata
engkau pun telah mempelajari kelicikan serta kekejian
orang persilatan"
"Sejak kapan aku mempelajari kekejian dan kelicikan
orang persilatan?"
"Payung sengkala toh berada ditanganmu, seandainya
sampai terjadi pertarungan maka bisa saja engkau
menyerang aku dengan menggunakan payung mustika
tersebut, dalam keadaan begitu tentu saja aku suma Ing
bukan tandinganmu, Hmm engkau anggap aku benar2 tidak
tahu akan siasat busukmu itu?
"Kalau aku hendak membinasakan dirimu, maka
sekalipun engkau punya sepuluh lembar nyawa
cadanganpun tetap akan habis semua ditanganku. buat apa
aku musti menggunakan Payung sengkala benda mustika
tersebut untuk menghadapi dirimu?"
"Huuh kalau bicara melulu tanpa bukti sama sekali tak
ada gunanya, beranikah engkau letakkan payung sengkala
itu diatas tanah kemudian baru berduel satu lawan satu
dengan aku?"
Lam-kong Pak tertawa dingin-
"Heehah heehhh-heehhh... anjing jahanam engkau ingin
mengincar benda mustika ini? jangan bermimpi ditengah
hari belong."
"Aah rupanya engkau hanya bisa menggunakan hal
tersebut sebagai alasan, aku rasa engkau sibangsat cilik
sama sekali tidak memiliki ilmu silat yang sungguh2 hebat
tapi selama ini hanya mengandalkan sementara jago lihay
untuk melindungi dirimu."
"Heehh-heehh heeh... Sauma Ing "seru Lam kong pak
sambil tertawa dingin, "maksud dan tujuanmu sudah amat
jelas sekali. bukankah engkau hendak menggunakan
kesempatan yang sangat baik itu untuk merampas payung
sengkala tersebut? aku tak nanti akan tertipu oleh mu"
"Hmm payung sengkala ini akan kugantungkan diatas
punggungku dan aku tak nanti akan mempergunakannya
sekarang engkau boleh berlega hati bukan?"
Bicara sampai disitu pemuda itu benar2 mengga
ntungkan payung sengkala tersebut di atas punggungnya.
Melihat siasatnya sama sekali tidak termakan oleh
musuhnya kembali Suma ing putar sepasang biji matanya
sambil tertawa seram ia berseru:
"Lam-kong Pak isi perutku yang terluka belum sembuh
benar2, aku tahu kalau kepandaian silatku masih belum
mampu menandingi dirimu. Nah, kalau mau turun tangan
cepatlah turun tangan"
"Sekalipun aku akan membinasakan engkau akan
kubunuh dirimu setelah engkau benar-benar merasa takluk,
sekarang cepatlah mulai turun tangan"
Suma Ing menyeringai dan tertawa seram,
"Heeehh-heeeh-heeehh, kenapa engkau musti berlagak
pilon?? meskipun payung sengkala diatas punggungmu toh
setiap saat dapat kau lepaskan dan kau gunakan sekalipun
aku Suma Ing harus mati ditanganmu aku akan mati setelah
menjadi jelas duduknya persoalan"
Lam-kong Pak jadi sangat mendongkol, sambil tertawa
dingin serunya.
"Baiklah sebelum kubunuh dirimu, akan kusuruh engkau
pentangkan mata lebar2 sehingga dapat mati dengan mata
meram, akan kuturuti kemauanmu itu. Hehmm .. . hemm
bukannya aku Lam-kong Pak sengaja mengibul, kalau
engkau pingin rampas benda mustika itu maka
kemampuanmu masih belum berhasil mencapai puncak
kemampuan tersebut."
"Nah begitulah baru bisa dikatakan seorang pria sejati
seorang lelaki gagah perkasa, sekalipun aku Suma Ing tak
mampu menandingi dirimu dan mati, tak nanti akan
kuucapkan sepatah katapun kata2 yang bernada
menggerutu."
Lam-kong Pak lepaskan payung sengkala tersebut dari
punggungnya kemudian diletakkan diatas tanah. setelah itu
baru ujarnya: "Suma Ing. sekarang engkau tak usah kuatir
lagi."
Suma Ing melirik sekejap kearah payung sengkala
tersebut. benda mustika itu terletak ditengah2 mereka
berdua yang berjarak sama antara yang satu dengan
lainnya, tapi ia sadar bahwa kecepatan gerakan tubuhnya
jauh kalau dibandingkan kecepatan Lam-kong Pak, karena
itu mau tak mau dia musti menggunakan otaknya untuk
mengatasi persoalan itu.
Menyaksikan tingkah laku dari musuhnya. Lam-kong
Pak segera tertawa dengan sambil berseru:
"Tidak usah putar otak untuk mencari akal busuk lagi,
engkau tak akan berhasil mendapatkan benda mustika itu,
ayohlah cepat turun tangan "
Sepasang mata Suma Ing berputar tiada henti. mendadak
wajahnya berubah dan dihiasi dengan senyum menyeringai
yang mengerikan sekali, dia membentak keras. dengan
menghimpun hawa murni Kun-tun-kang-kienya sebuah
pukulan dahsyat dilepaskan kearah depan, begitu pukulan
dilepaskan ia sendiri menyingkir kearah samping.
Tentu saja Lam-kong Pak sama sekali tidak takut untuk
menghadapi musuhnya. dengan cepat ia putar telapak
untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Blaammm . . " benturan keras yang memekikkan telinga
berkumandang memecahkan kesunyian, tubuh Lam-kong
Pak sama sekali tidak bergeming barang sedikitpun juga . ia
sadar bahwa tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan
pesat. mungkin itulah hasil dari telur ikan leihi bergaris
merah serta buah besar dimakan belum lama berselang.
Siapa tahu belum habis ingatan tersebut berkelebat lewat
dalam benaknya, Suma Ing sudah ayunkan telapaknya dan
melemparkan sebuah betol porselen kedepan.
Ketika botol kecil itu mencapai setengah jalan, kembali
Suma Ing melancarkan sebuah pukulan-
Lam-kong Pak jadi amat terperanjat ia tahu isi botol
tersebut adalah air keras Sim wi ceng-sui milik salju bulan
keenam Tong Hui. dan pukulan yang disusulkan oleh Suma
Ing tersebut telah menghancurkan botol tadi sehingga
membuat air racun yang berada dalam botol tadi
bermuncratan keempat penjuru. wilayah seluas lima enam
tombak disekitar tempat itu seketika terkurung oleh hujan
air racun.
Mau tak mau terpaksa Lam-kong Pak harus menyingkir
kesamping, pada saat itulak Suma Ing segera berkelebat
maju kedepan sambil menyambar payung sengkala tersebut.
Setelah berhasil menyapu kebalik air racun yang
menyebar kearahnya, Lam-kong Pak menyerang pula
kedepan sambil berusaha menyambar payung sengkala
tersebut. namun gerakan tubuhnya terlambat satu tindak,
pada saat yang terakhir pihak lawan berhasil memegang
senjata itu lebih dahulu.
Dalam Cemas dan gelisahnya hawa murni bayi saktinya
secara otomatis menerjang keluar dari selangkangan dan
langsung menghantam bahu kiri Suma ing.
Manusia durjana itu seketika merasakan badannya kena
dihantam sehingga terasa amat sakit. namun ia bersikeras
tetap memegang payung sengkala tersebut tanpa dilepas
barang sebentarpun juga .
Bagaimanapun juga Lam-kong Pak adalah seorang
pemuda yang berhati baik, ia tahu andaikata terjangan ini
dilanjutkan, dalam keadaan tak terhadang oleh hawa
murninya niscaya Suma Ing akan dihantam sehingga
tubuhnya hancur ber-keping2, diam2 ia menghela napas
panjang dan segera tarik kembali hawa murni bayi saktinya.
Pada saat itulah Suma Ing sudah berhasil mendapatkan
payung sengkala itu, sambil loncat mundur satu tombak
kebelakang ia tertawa keras tiada hentinya.
"Haahhh-haaahh-haaahh.. Lam-kong Pak, rupanya
engkau masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan
diriktu, sekarang benda mustika ini sudah berada
ditanganku itu berarti engkaupun sudah berada dalam
genggamanku. haaahh. . .haaahh...."
Sambil tertawa seram, dengan sepasang kakinya ia jepit
payung mustika itu kemudian melepaskan kulit menjangan
yang membungkus benda tadi.... apa yang dilihat? ternyata
dibalik bungkusan kulit menjangan masih terdapat selapis
kertas minyak, ketika kertas minyak itu dibuka ternyata
didalamnya masih dibungkus oleh selembar kulit yang
tebal.
Dua orang itu terperangah dibuatnya, maka Suma Ing
pun segera membuka kembali kulit tersebut, tapi dibalik
kulit masih terbungkus oleh selapis kain kumal, ketika kain
kumal dibuka didalamnya masih terbungkus oleh selembar
kertas minyak.
Setelah pembungkusnya selapis demi selapis dibuka,
maka bungkusan payung sengkala yang semula tiga depa
panjangnya dan setengah depa lebarnya, kian lama kian
menipis dan kian lama kian pendek.
Air muka Suma Ing makin lama makin berubah semakin
tak sedap dipandang sebenarnya Lam-kong Pak hendak
melancarkan sergapan pada saat itu maka itu akan
dilakukan dengan gampang bagaikan membalik telapak
tangan sendiri, tapi ia tak sudi berbuat demikan, meskipun
Suma Ing telah melakukan perbuatan semacam itu
kepadanya namun ia sendiri tak tega uatuk membalas
dengan cara yaang sama.
Belasan lapis kertas minyak kain kumal dan kulit
menjangan telah dibuang, sekarang yang tertinggal cuma
sebuah bungkusan yang panjangnya satu depa dan lebar
dua cun, sementara dibalik bungkusan masih terdapat pula
selapis kertas minyak.
Suma Ing benar2 amat gusar Sreeet, ia robek kain sutera
yang membungkus benda itu, mendadak. . . .
"Aaaah" ia berseru tertahan, dibalik kain sutera itu
muncullah sebuah payung kecil yang panjangnya satu depa
dengan lebar dua cun yang memancarkan cahaya merah
membara.
Payung sengkala ternyata amat kecil bentuknya
kenyataan tersebut sama sekali diluar dugaan siapapun,
benarkah benda mustika yang begitu kecil betulnya dapat
menunjukan kedahsyatan yang luar biasa?
Dengan ter-manggu2 dua orang muda itu berdiri
memandang payung mustika tadi, mereka percaya benda itu
pastilah benda mustika yang betul2 asli, disamping itu Lamkong
Pak merasa beriba hati karena persoalan benda
mustika itu sudah puluhan orang jago persilatan yang
menemui ajalnya dan sekarang benda mustika itu terjatuh
ketangan seorang durjana.
Benarkah dunia persilatan akan terjerumus dalam
lembah kehancuran?? benarkah semua pendekar bakal mati
konyol?
Sekarang Lam-kong Pak mulai murung dan bingung
dibuatnya, Khong Hu cu mengajarkan kebajikan sedang
Beng-cu mengajarkan kesetiaan namun Suma Ing yang
berada dihadapannya sudah kehilangan perangai yang
sebenarnya baik kebajikan maupun kesetiaan sama sekaii
tak akan terdapat pada tubuhnya.
"Sreeet..." Suma Ing membentangkan payung sengkala
tersebut, cahaya merah yang amat menyilaukan mata segera
memancar ke empat penjuru membuat suasana dalam kuil
Lu-siau-si terang benderang bagaikan berada disiang hari
belong belaka.
Suma Ing tertawa seram tiada hentinya, selangkah demi
selangkah ia maju mendekati Lam-kong Pak. katanya:
"Lam-kong Pak, malam ini untuk pertama kalinya akan
kupergunakan payung sengkala ini untuk menghadapi
dirimu. ber-siap2lah untuk menjadi kelinci percobaanku"
Dengan terkesiap Lam-kong Pak mundur kebelakang,
meskipun ia tidak takut ancaman pemuda itu tak rela kalau
mati ditangan Suma Ing. lagi pula tugas berat yang
dibebankan beberapa orang cianpwee diatas pundaknya
bukan saja belum terselesaikan bahkan makin runyam
keadaannya, matipun dia akan mati dengan mata tak
terpejam,
Lam-kong Pak mundur kebelakang deretan patung area
tersebut dan bersandar diatas dada patung Thio Hui, patung
tersebut besarnya sampaii tiga depa lebih tinggi daripada
tubuh Lam-kong pak sendiri, hingga ditengah kegelapan
nampak jauh lebih mengerikan.
Rasa bangga dan gembira yang menyelimuti perasaan
hati Suma Ing pada saat ini benar2 sukar dilukiskan dengan
kata2. sebab ia merasa yakin bahwa payung sengkala yang
berada ditangannya bukan payung palsu lagi. dengan
andalkan mustika tersebut kendatipun Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa seng datang kesanapun ia
tak akan merasa jeri. Sambil memandang kearah Lam-kong
pak. Suma Ing tertawa seram tiada hentinya.
"Heehh-heehh-heehh.. Lam-kong Pak." teriaknya,
"malam ini tak akan terjadi keajaiban lagi bagimu. tak
mungkin ada orang yang datang untuk menolong dirimu,
kematianmu sudah pasti dan tak dapat gagal lagi."
Sambil berkata ia tutup kembali payung sengkala itu dan
secepat kilat berkelebat mengancam dada Lam-kong Pak.
Ketika serangan tersebut mencapai jarak satu depa dan
tubuhnya. Lam-kong Pak merasakan desiran angin tajam
menyambar tubuhnya, dada dan tubuhnya jadi sakit
bagaikan di-iris2. hal ini membuat hatinya terperanjat sekali
hingga buru2 menyingkir kesamping.
Dalam keadaan menang posisi tentu saja Suma Ing tak
mau melepaskan lawannya dengan begitu saja, ujung
payung miring kesamping dan sekali lagi melancarkan
serangan gencar.
Lam-kong Pak sadar babwa ia tak akan mampu
menandingi lawannya dengan tangan kosong belaka.
dengan cepat senjata tanduk Naganya dilepaskan dari
pinggang.
Dengan salurkan hawa murninya hingga mencapai
sepuluh bagian ia tangkis datangnya serangan payung itu,
pikirnya :
"Tanduk Naga sakti adalah benda dari makhluk aneh
yang telah berusia ribuan tahun kerasnya bukan kepalang.
aku rasa payung sengkala itu tak nanti akan mampu
menahan serangannya, . . "
Siapa tahu sebelum tanduk naga itu sempat menempel
diatas senjata lawan, Sumi Ing yang kuatir payung mustika
itu rusak atau cacad buru2 tarik kembali serangannya, sekali
lagi dia menyerang tubuh bagian bawah dari Lam-kong
Pak.
Rasa percaya pada diri sendiri muncul makin kuat dalam
hati kecil Lam-kong Pak, ia bertekad untuk mengadu
senjatanya denganpayung sengkala itu. maka senjata tanduk
naganya sekali lagi disapu kearah depan.
Suma Ing tak dapat menghindarkan diri lagi. dengan
menggunakan payung mustika itu dia sambut datangnya
serangan tersebut.
Pada saat itulah sesosok bayangan manusia dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat menyambar keluar dari
balik patung area dari panglima Thio In dan langsung
mencengkeram payung sengkala dalam genggaman Suma
Ing.
Mimpipun Suma Ing sama sekali tak menduga kalau
dalam kuil tersebut hadir orang ketiga. ia rasakan urat
nadinya jadi kencang dan tahu2 payung sengkala itu sudah
dirampas orang.
"Huahh-haahh-haahh..." gelak tertawa yang amat
memekikkan telinga berkumandang memecahkan
kesunyian.
Rupanya orang itu bukan lain adalah Kakek ombak
menggulung, ditengah jalan secara tiba2 ia temukan gerakgeriknya
Lam-kong Pak yang sedang bergerak menuju
kebelakang kuil Toapek san dengan gerakan cepat, dia
segera melakukan penguntitan secara diam2, apa yang
barusan terjadi dapat dilihat olehnya dengan jelas.
Baik Lam-kong Pak maupun Suma Ing sama-sama
menjerit kaget, masing2 mundur selangkah kebelakang.
"iblis tua engkau punya rasa malu atau tidak ?" teriak
Suma ing dengan penuh kegusaran-
Sambil membelai payung mustika itu dengan penuh rasa
kasih sayang, kakek ombak menggulung tertawa bangga,
sahutnya:
"Haahhh-haaahh-haaahh... untuk mendapatkan benda
mustika dari dunia persilatan, mau tak mau terpaksa aku
harus menggunakan cara apapun agar usahaku ini berhasil,
pokoknya perbuatanku pada malam initoh cuma diketahui
oleh kalian berdua saja kecuali itu siapa lagi yang tahu ?
Hmm sekarang. kalau aku ada niat untuk membereskan
kalian berdua maka perbuatan ini bisa kulakukan dengan
gampang sekali ibaratnya membalik telapak tangan sendiri "
Gembeng iblis itu sama sekali tidak mengibul meskipun
untuk berduel satu lawan satu Lam-kong Pak sama sekali
tidak jeri kepadanya tapi sudah jelas Suma ing bukan
tandingannya, apa lagi sekarang payung mustika itu berada
ditangannya, kedahsyatan gembeng iblis itu betul2 tak boleh
dipandang enteng.
Suma Ing sepera putar biji matanya mencari jalan keluar,
kepada Lam-kong pak tiba-tiba ujarnya:
"Lam-kong Pak kalau engkau ingin mundur dari sini
dalam keadaan selamat maka kita harus bekerja sama untuk
menghadapi dirinya sebab kalau tidak maka kita tak ada
yang hidup bebas lagi"
Lam-kong Pak segera tertawa dingin-
"Heeehhh-heeehh-heeehhh... engkau lebih baik mundur
saja dari situ biar aku seorang yang membereskan dirinya"
Suma Ing. memang mengharapkan agar Lam-kong Pak
mengucapkan perkataan tersebut, ia segera menyingkir
kesamping sementara biji mata bajingannya berputar terus
untuk meloloskan diri dari tempat celaka itu.
Dipihak lain dengan langkah lebar Lam-kong Pak maju
selangkah kedepan, serunya^ "Hey iblis sekalipun engkau
memiliki benda mustika dari dunia persilatan namun aku
tidak jeri menghadapi dirimu mari... mari... mari...
sambutlah dulu beberapa jurus serangan ini"
Kakek ombak menggulung sudah pernah merasakan
kelihayan diri Lam-kong Pak meskipun payung sengkala
sudah berada ditangannya namun ia tak berani pandang
enteng musuhnya.
"Bocah muda" ia berseru, "engkau sendiri yang minta
aku berbuat demikian andaikata sampai cedera atau
mampus janganlah salahkan aku terlalu andalkan
keampuhan dari payung sengkala ini untuk memeras yang
muda, engkau musti tahu benda mustika ini merupakan
senjata dahsyat yang memiliki daya penghancur sangat
hebat"
Lam-kong Pak memutar senjata tanduk naganya untuk
memukul pergelangan tangan kakek ombak menggulung.
Sebetuinya kakek ombak menggulung tak ingin
menerima datangnya serangan tersebut dengan senjata
payungnya, tapi ketika ia rasakan betapa kuat dan hebatnya
daya serangan yang terpancar keluar dari senjata tanduk
naga sehingga sukar ditahan ia segera berubah pikiran.
dengan payung sengkala ia sambut datangnya ancaman itu.
"Traaang.. " benturan nyaring berdenting diudara,
bayangan manusia saling berpisah dan masing2 mundur
tiga langkah kebelakang.
Ketika Lam-kong Pak tundukkan kepalanya untuk
memeriksa senjata tandUk naga itu ia lihat senjata
andalannya gUmpal dan membekas sebUah lekukan
sedalam setengah cUn, kenyataan tersebut kontan saja
membUat hati si anak muda itu jadi tercekat dan diam2
merasa bergidik.
Kakek ombak menggulung sendiri ketika tundukkan
kepala memeriksa payung mustika tersebut. ia temukan
senjata itu tetap utuh saperti sedia kala dan sama sekaii
tidak cacad, tak tahan lagi sambil tertawa seram ia
berseru."Heeehh-heeehh-heeehhh...benda mustika dari
dunia persilatan ini benar2 sangat dahsyat, hey bocah
keparat sekarang engkau sudah rasakan kelihayannya
bukan?"
Lam-kong-Pak sudah tahu kalau tenaga dalam yang
dimilikinya jauh diatas kepandaian musuhnya, cuma daya
pengaruh dari payung itu teramat besar dan lagi sorot
matanya menyilaukan mata maka sulitlah baginya untuk
menghadapi serangan tersebut.
pada saat itulah kakek ombak menggulung sambil putar
payung mustika menerjang maju kedepan. senjata tersebut
dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat dan kekuatan
bagaikan gunung Tay-san menindih kepala menghajar
batok kepala sianak muda itu.
Lam-kong Pak tak berani menerima keras lawan keras, ia
menyingkir liga langkah kesamping.
Pada saat itulah tiba2 Suma ing menjerit kaget.
mendengar jeritan itu Lam-kong Pak merasa amat
terperanjat dan segera berpaling.
Tampaklah sesosok bayangan manusia dengan suatu
gerakan yang cepat telah menerjang kearah kakek ombak
menggulung dan merampas payung mustika itu, kemudian
secepat kilat mundur satu tombak kebelakang.
Kakek ombak menggulung amat terkesiap ia tak habis
mengerti jago dari manakah yang memiliki ilmu silat
selihay itu, Ketika ia berpaling, jago tua itu menjerit
tertahan: "Suheng kira....kiranya engkau...."
Lam-kong-Pak jadi sangat terperanjat, pikirnya,
"Habislah sudah..., ternyata kakak seperguruannya Bintang
yang bertaburan diangkasa telah datang, tipis sudah
harapanku untuk merampas kembali payung mustika itu
pada malam ini"
Tampaklah orang itu berwajah penuh bopeng, alisnya
tebal dengan mata yang besar. Jenggot kambingnya lurus
kaku bagaikan sikat, pakaiannya lebar dengan belahan
dilutut, mukanya nampak bengis dan sadis sekali.
= =ooooooooo= =
KAKEK ombak menggulung yang tersohor sebagai
seorang gembong iblis paling lihay. paling disegani oleh
setiap umat persilatan, setelah bertemu Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng segera menunjukkan
sikap yang sangat jeri dan menghormat, lagaknya bagaikan
tikus bertemu dengan kucing saja....
Sambil ber-bungkuk2 memberi hormat ia berseru tiada
hentinya dengan suara lirih: "oooh.. suheng. baik2kah
engkau...suheng baikkah engkau...???"
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
mendengus dengan sikap yang hambar.
"Hmmm tentu saja aku berada dalam keadaan baik2,
siapa bilang aku tidak baik??"
"Heeehh-heeehh-heehh..." kakek ombak menggulung
tertawa paksa, "suheng tenaga dalammu sudah mencapai
taraf yang tak dapat dilukiskan lagi dengan kata2 tak
seorang manusiapun dikolong langit yang mampu
menandingi kehebatanmu, aku rasa... aku rasa engkau tak
akan sampai tertarik oleh mainan kanak2 yang tak ada
gunanya bagimu itu bukan??"
"Tentu saja engkau tahu siapakah suhengmu ini? dan
sampai dimanakah kedudukanku dalam masyarakat? kalau
sebuah payung sengkala belaka tentu saja tak terpandang
sebelah matapun dihadapan suhengmu ini, cuma masih
ingatkah engkau dengan apa yang pernah kukatakan
kepadamu beberapa hari berselang?..."
"Ingat... Ingat... aku masih ingat dengan apa yang
suheng katakan" sahut kakek ombak menggulung sambil
anggukan kepalanya berulang kali.
"coba ulangi sekali lagi apa yang pernah kukatakan
kepadamu beberapa hari berselang."
"Suheng pernah berkata jika payung sengkala tersebut
suatu hari terjatuh ketanganku, maka untuk sementara
waktu suhenglah yang akan menyimpankan benda mestika
tersebut."
"Bagus. kalau engkau masih ingat hal ini jauh lebih
bagus lagi.. engkau harus tahu, suhengmu sama sekali tidak
jeri untuk menghadapi kawanan jago lihay dari kalangan
putih, tapi terhadap tiga orang setan tua itu..."
Kakek ombak menggulang melirik sekejap dengan sorot
mata penuh kelicikan, kemudian sambil tertawa katanya:
"Aah suheng, engkau bersikap terlalu hati2 pada saat ini
mungkin saja ketiga orang setan tua itu sudah lama
mampus dan tulang belulangnya telah hancur musnah, apa
yang perlu kau takutkan lagi..? toh dimasa lampau kita
telah. . .."
Tiba2 bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
melotot besar menyadarkan Kakek ombak menggulung
bahwasanya ia telah terlanjur bicara salah. buru2 ia
membungkam dan alihkan pokok pembicaraan ke soal lain-
"Suheng, bagaimana penyelesaiannya terhadap dua
orang bocah keparat ini?"
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
tertawa tawa.
"Dengan andaikan tenaga dalam yang kau miliki, masa
untuk menyelesaikan merekapun tak mampu??"
Bagaikan kena listrik. sekujur badan Kakek ombak
menggulung gemetar keras, paras mukanya berubah jadi
merah padam bagaikan kepiting rebus, dengan suara terbata2
katanya:
"Suheng. bicara terus terang saja siau-te benar2 merasa
sangat malu... hingga sekarang...."
"Sekarang bagaimana jadinya...?" tegur Bintang yang
bertaburan diangkasa sambil tertawa dingin.
"siau-te cuma mampu untuk bertarung seimbang dengan
dirinya, tapi aku yakin dia takkan mampu bertahan
sebanyak tiga sampai lima jurus jika bertempur melawan
saheng Sendiri... dalam hal ini siau-te betul-betul merasa
amat malu dan kecewa sekali."
Mendengar pujian itu Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng merasakan hatinya berbunga,
namun diluaran ia tertawa dingin tiada hentinya.
"Heehh-hreeh-heehh...ucapanmu itu memang sedikitpun
tidak salah..."
Belum habis dia berkata, Lam-kong Pak telah tertawa
dingin sambil menyela dari samping:
"Hey iblis tua bangkotan, aku lihat rupanya engkau
sudah terlalu biasa mengibul dan omong kosong sehingga
tiap kali mengibul muka tidak sampai memerah dan.napas
tidak sampai ter-sengkal2... Huuuh dalam lima puluh jurus
mendatang,jikalau engkau sanggup menangkan satu atau
setengah jurus dariku, maka akan kuberitahukan suatu
persoalan yang maha penting kepadamu"
Jenggot kambing Bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa Seng bergetar keras, rupanya ia merasa gusar
sekali sesudah mendengar perkataan itu pikirnya, "Bocah
keparat, engkau berani mempermainkan diriku?? Hmm
rupanya sudah bosan hidup?"
"Selamanya aku tak pernah mempermalukan orang lain
apa lagi menghina atau menfitnah dirinya, aku hanya bicara
terus terang saja sesuai dengan kenyataan yang ada. Hmm
bicara yang sebetulnya, engkau tidak lebih hanya
mempergunakan siasat licik yang amat rendah uatuk
membohongi payung sengkala tersebut dari tangan sutemu.
setelah mendapatkan payung mustika itu engkau baru
berani bicara sesumbar seenaknya... IHuuh kalau engkau
benar2 jantan, beranikah engkau serahkan kembali payung
sengkala itu kepada Kakek ombak menggulung agar
disimpan olehnya untuk sementara waktu, kemudian
bertarung sebanyak ratusan jurus dengan diriku?"
Selama ini Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng selalu menganggap dirinya sebagai jago silat nomor
satu dikolong langit. sikapnya selalu jumawa dan tekebur,
diam2 diapun dapat menyadari bahwa kepandaian silat
yang dimiliki lawannya pasti lihay sekali, terbukti sampai
sutenya yang ia ketahui berilmu tinggi pun hanya bisa
bertarung seimbang dengan dirinya, sudah tentu ia tak sudi
menyerahkan payung mustika itu kepada adik
Sepergurannya. karena dia tak akan berlega hati selama
mustika itu terjatuh ketangan orang lain-
Sementara itu Lam-kong Pak telah tertawa ter-bahak2
sambil mengejek.
"Haaahh-haaahh-haaahh... iblis tua, kalau engkau tak
berani menerima tantanganku itu, lebih baik mengakulah
terus terang akuta nanti akan paksa orang untuk mencari
penyakit buat diri sendiri"
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
naikpitam dibuatnya, seluruh rambut dan jenggot
kambingnya pada berdiri kaku bagaikan landak, dengan
mata melotot kulit dan muka merah padam bagaikan babi
panggang ia membentak keras:
"Bocah keparat, aku tak pernah mengenal rasa takut dan
tak ada pekerjaan yang tak berani kulakukan coba katakan,
engkau suruh aku mengatakan soal besar apa??"
"Soal apa yaa?? aku hanya ingin engkau menceritakan
kembali tentang nasib tiga orang setan tua seperti apa yang
barusan kalian bicarakan itu"
begitu ucapan tersebut diutarakan keluar dua orang
gemboog iblis tua itu sama2 merasakan tubuhnya bergetar
keras karena terperanjat. Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng segera tertawa dingin.
"Heeehh-heeehh-heeehhh...Tahukah engkau siapakah
ketiga orang setan tua yang barusan kubicarakan itu"
"Aku sendiripun kurang begitu tahu cuma aku ingin
sekali memberitahukan persoalan penting yang ada
hubungannya dengan Matahari, rembulan dan bintang tiga
orang tua itu"
Sekali lagi dua orang gembong iblis itu menjerit keras
saking terperanjatnya sambil mundur selangkah kebelakang
kakek ombak menggulung segera menegur: "Engkau sudah
pernah berjumpa dengan orang tua itu?"
"Karena mengikuti pembicarasn kalian berdua maka aku
sebut mereka sebagai setan tua juga tapi mulai sekarang aku
merubah nama panggilan tersebut menjadi sebutan
Loocianpwee"
"Bocah keparat engkau pernah bertemu dengan mereka
dimana??" seru dua orang gembong iblis tua itu setelah
saling berpandangan sekejap.
"Bukankah barusan sudah kukatakan asal engkau bisa
menangkan satu jurus atau setengah gerakan dariku dalam
lima puluh gebrakan tanpa menggunakan payung mustika
tersebut rahasia tersebut pasti akan kuberitahukan padamu
dan jangan kuatir ku tak akan mengingkari janji. "
"Kalian jangan mau dengarkan ocehannya." tiba2 Suma
Ing berteriak keras, "bangsat muda sedang jalankan siasat
menunda pasukan mungkin ia sedang menantikan dari bala
bantuannya"
Mendengar teriakan tersebut Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng segera melotot sekejap kearah
Suma Ing dengan penuh kegusaran ia segera menegur: "
Siapakah bajingan muda ini?"
"Dahulu dia adalah anak murid siau-te, tapi sekarang dia
telah mengkhianati diriku." jawab kakek ombak
menggulung dengan cepat.
Bintang yarg bertaburan diangkasa segera tertawa dingin
tiada hentinya, "Heehh-heeeh-heeehh... ringkus dahulu
bajingan cilik itu"
Untuk menghadapi Lam kong pak yang diketahui
olehnya berilmu tinggi dan bertenaga dalam sempurna
Kakek ombak menggulung merasa tak punya keyakinan
untuk menangkan pertarungan tersebut lain halnya dengan
menghadapi Suma Ing.
Terhadap pemuda yang pernah menjadi anak muridnya
ini bukan saja ia yakin bisa menangkapnya bahkan besar
harapannya untuk sekalian membekuk dirinya. begitu
mendapat perintah dengan cepat ia salurkan segulung hawa
pukulan yang maha dahsyat dan dilontarkan ke depan.
Suma Ing sendiripun tak tahu bahwa posisinya pada saat
itu sangat terjepit. untuk laripun sudah tak mungkin bisa.
buru2 ia berkelebat dan menghindarkan diri kebelakang
patung area tersebut.
"Blaamm" hawa pukulan ombak menggulung yang
sangat dahsyat itu segera meluncur kedepan menubruk
diatas patung area dari Tio In membuat patung area raksasa
itu jadi peot dan melengkung kearah dalam
Suma Ing sangat terperanjat, ia berusaba keras
menghindarkan diri dari gencetan angin pukulan lawan
dengan berkelit diantara kawanan patung area itu
Lama kelamaan Kakek ombak menggulung jadi
kehabisan sabar, dengan hati gelisah dia meraung gusar
berulangkali. kendatipun begitu gembong iblis tua ini belum
mampu untuk mendesak musuhnya yang sangat jelek itu
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng yang
menyaksikan kejadian itu segera tertawa seram.
"Heeh-heehhn sute. untuk sementara waktu mundurlah
lebih dulu kebelakang."
Mendengar perintah itu dengan cepat Kakek ombak
menggulung bergerak mundur tiga langkah kebelakang,
Terlihatlah bintang yang bertaburan diangkasa dengan
suatu gerakan yang cepat dan ringan segera berkelebat
masuk kedalam barisan patung area itu. dengan suatu
gerakan yang amat dahsyat dan cepat sepasang telapaknya
bekerja sama kian kemari, masing2 telapak menekan satu
kali diatas setiap patung area yang dilewati olehnya.
Hampir pada saat yang bersamaan, dengan
menimbulkan sUara benturan yang amat nyaring hingga
sangat memekikkan telinga, patung2 area itu pada roboh
bergelimpangan kesana kemari.
"Sekarang engkau boleh turun tangan kembali." seru
bintang yang bertaburan diangkasa kemudian-
Kakek ombak menggulung segera menubruk maju
kedepan, setelah patung2 area yang digunakan untuk
menyembunyikan diri bertumbangan semua keatas, Suma
Ing tak bisa berkelit ataupunn menghindarkan diri lagi,
terpaksa ia berkelebat keluar dari ruang tengah dan tiba
ditengah halaman luar.
Kakek ombak menggulung tentu saja tidak sudi
membiarkan lawannya kabur dengan begitu saja, dia segera
maju menghadang jalan perginya sambil berseru: "Anjing
cilik lebih baik serahkanlah jiwa anjingmu.."
suma Ing putar biji matanya, lalu ia berbisik lirih:
"Eeei...bagaimanapun juga kita toh sudah pernah terikat
oleh hubungan antara guru dan murid, aku rasa engkau
tentu masih mengingatnya bukan? beberapa hari berselang
ketika masih berada dalam markas besar perkumpulan bulu
hijau. ketua perkumpulan bulu hijau telah melantarkan
sebuah pukulan dengan payung ketika engkau sedang tidak
siap sehingga mengakibatkan engkau terluka parah, pada
saat itu semua anak buahmu telah menghianati engkau.
hanya aku seorang yang selamanya mengikuti dirimu. tentu
engkau belum lupa bukan?"
Kakek ombak menggulung tertawa dingin.
"Heehh-heehh-heehh lain dulu lain sekarang pada waktu
itu engkau bersedia mengikuti aku karena hal tersebut kau
lakukan terdorong oleh maksud pribadimu, engkau anggap
aku tidak tahu kalau pihak golongan putih sudah tak
mungkin mengampuni dirimu sedang ketua perkumpulan
bulu hijaupun sudah memahami sampai dimanakah
kebejadtan dan perangaimu dia tak mungkin melepaskan
dirimu juga tentu saja dalam keadaan seperti ini engkau
harus mendayung sampan, mengikuti aliran arus air dan
berlalu mengikuti diriku"
Suma Ing gantikan tertawa dingin.
"Hmmh kalau engkau tak mau menerima hal itu dalam
hatimu juga tak apalah, tapi ada satu persoalan yang
bagaimanapun juga harus kuperingatkan padamu
maupercaya atau tidak terserah pada pendirianmu sendiri."
Kakek ombak menggulung tertawa seram,
"Bajingan cilik kematianmu sudah berada diambang
pintu permainan setan apa lagi yang sedang kau
persiapkan?"
"Kakak Seperguruanmu hendak mengangkangi payung
mustika itu buat dirinya Sendiri, apakah engkau tak dapat
melihatnya sendiri?"
sekujur badan Kakek ombak menggulung bergetar keras.
"omong kosong" teriaknya. "suhengku bukan manusia
yang rendah moral seperti apa yang kau bayangkan. ia tak
nanti akan mengincar permainan kanak2 seperti itu. hey
manusia yang tak tahu diri janganlah menuduh orang
dengan kata2 yang tidak senonoh."
"Aku bukan sedang menuduh atau menfitnah orang
dengan kata2 yang tidak senonoh, engkau tahu bukan kalau
tenaga dalam yang dimiliki Lam-kong Pak belakangan ini
telah peroleh kemajuan yang sangat pesat..? Jangan dibilang
engkau. sekalipun suhengmu yang hebat dan berkepandaian
tinggipun belum tentu bisa menangkan dirinya. kalau tidak
percaya coba saja akibatnya sendiri."
Dengan perasaan setengah percaya setengah tidak Kakek
ombak menggulung berpaling keruang dalam. ia lihat Lamkong
Pak telah melangsungkan pertarungan amat seru
melawan Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng, berhubung angin pukulan
yang dipergunakan dua orang itu sama2 merupakan
pukulan berhawa lunak maka sekalipun dibeberapa puluh
gebrakan sudah berjalan namun tak terdengar sidikit suara
pun.
Paras muka Kakek ombak menggulung berubah hebat
meskipun ia dapat merasakan kalau Lam-kong Pak berada
diposisi bawah angin. namun jago tua itupun sadar tak
mungkin bagi kakak seperguruannya itu untuk menangkan
pertarungan dalam tiga lima puluh jurus belaka.
Dengan suara rendah Suma Ing segera berbisik:
"Sudah kau lihat? sekalipun suhengmu dapat
menangKan dirinya tetapi kesemuanya itu sudah cukup
membuKtikan kalau tenaga dalam yang mereka miliki
berada dalam keadaan seimbang, selisih pun tidak terlalu
jauh, bila engkau ingin merajai dunia persilatan maka
satu2nya jalan adalah mendapatkan payung sengkala itu
lebih dahulu."
Meskipun Kakek ombak mengguluag licik, namun
ucapan dari Suma Ing masuk diakal juga hingga
menggerakkan hatinya. tanpa sadar ia segera berpikir^
"Betul juga perkataanmu seandainya aku bisa
mendapatkan payung Sengkala tentu saja kedudukanku
akan naik beberapa tingkat lebih tinggi, sebaliknya kalau
gagal untuk memperolehnya maka kedudukanku dalam
dunia persilatan paling tinggi juga termasuk kelas dua atau
tiga belaka mungkin untuk bereskan Lam-kong Pak
seorangpun tak mampu wah, kalau sampai begitu. . . ."
Ketika dilihatnya kakek tua itu mulai tertarik oleh
hasutannya dengan suara tegak Suma Ing berbisiK kembali:
"Andaikata engkau percaya kepadaku marilah sekali lagi
kita bekerja sama, kita ber-sama2 masuk keruang tengah
aku akan beri perlindungan padamu, sedang kan engkau
yang maju untuk merebut payung mustika itu."
Kasak kusuk yang sangat mengena dihati ini seketika
menggoncangkan iman kakek ombak menggulung tapi
diluaran ia tetap tertawa dingin sambil berkata:
"Huuh", aku tak percaya kalau engkau berniat baik, masa
engkau bisa berbaik hati budi?"
"Aku bukannya berbaik kepadamu tanpa maksud, terus
terang saja kukatakan seandainya kau berhasil dapatkan
payung sengkala tersebut, maka aku hanya berharap agar
engkau bersedia mewariskan segenap kepandaian Kun-tun
ceng-ki kepadaku, pemberian tersebut sudah lebih dari
cukup bagiku dan akupun hanya punya satu permintaan ini
saja"
Sepasang biji mata kakek ombak menggulung yang sipit
berputar kesana kemari mencari akal untuk menyelesaikan
persoalan tersebut. tentu saja ia berharap agar payung
sengkala bisa terjatuh ketangannya, tapi diapun kuatir
seandainya apa yang direncanakan mengalami kegagalan,
sudah pasti kakak seperguruannya tak akan lepaskan
dirinya dengan begitu saja,
Sekalinya kalau ia tidak mau dengarkan perkataan dari
Suma ing, itu berarti tiada harapan lagi baginya untuk
menjagoi kolong langit tanpa tandingan.
Suma ing tahu bahwa lawannya sudah tertarik sekali
dengan usulnya, agar lebih meyakinkan ia berkata lagi:
"Agar sukses besar. engkau harus cepat ambil keputusan
yang tegas... coba lihatlah, pertarungan mereka berdua
sudah hampir mencapai pada akhirnya."
Kakek ombak menggulung segera alihkan sorot matanya
ketengah gelanggang, ia lihat Lam-kong Pak sudah dipaksa
mundur sejauh tujuh delapan langkah dari tempat semula,
keadaannya keteter dan tak sanggup mempertahankan diri,
ia tahu kalau mau turun tangan inilah kesempatan yang
paling baik.
Maka dengan cepat ia ambil keputusan bisiknya dengan
suara lirih:
"Baiklah aku setuju dengan usulmu itu tapi aku
nasehatkan lebih dahulu, janganlah punya pikiran atau
ingatan jelek terhadapku, sebab berhasil atau gagal toh kami
tetap adalah sesama saudara seperguruan orang yang bakal
mendapat bencana bukan aku melainkan dirimu sendiri "
"Tentu saja tentu saja akupun tahu akan hal itu, cepatlah
terjang kedepan dan serang dari arah samping kiri kalau aku
sudah menyerang dari sisi kanannya cepatlah rampas
payung mustika itu, asal kita mau bekerja sama tanggung
tak bakal meleset."
Dua orang itu segera bersembunyi ditengah ruang besar,
sementara itu Lam-kong Pak sudah tak sanggup
mempertahankan diri sebab hawa pukulan Sam-seng-ki
yang dimiliki oleh Bintang yang bertaburan diangkasa
terlalu dahsyat, sekalipun di-hari2 belakangan ini secara
beruntun ia telah mendapat pelbagai penemuan. tapi
berhubung tenaga sakti yang dihasilkan Tok si- lip serta
buah besar masih belum meresap kedalam urat nadinya,
maka dengan sendirinya hawa murni yang dimilikipun
belum mendapat kemajuan apa2.
Suatu ketika Suma ing memberi tanda kepada kakek
ombak menggulung untuk maju kedepan, kakek tua tersebut
keraskan hati dan meloncat kedepan bersembunyi
dibelakang meja sembahyangan. sementara Suma ing sudah
langsung menerjang kearah Bintang yang bertaburan
diangkasa.
Liok Hoa Seng jago sakti yang berjuluk bintang
bertaburan diangkasa bukan seorang manusia bodoh, dari
desiran angin tajam yang menyambar lewat dibelakang
punggungnya. ia tahu ada orang sedang menyergap dirinya.
Suma ing sendiripun bukan seorang tolol. kalau tidak
memiliki rencana yang masak dan meyakinkan, diapun tak
akan bertindak secara gegabah, setelag melepaskan satu
pukulan maka gerak tubuhnya sengaja diperlambat.
sementara pada waktu yang bersamaan kakek ombak
menggulung telah menyerang dari samping kiri.
Menanti kakek tua itu sudah menyerang. Suma ing tarik
kembali serangannya sambil berpeluk tangan, sementara
Bintang yang bertaburan dilangit ketika merasakan
munculnya angin pukulan dari samping kiri. ia segera
miring kesamping sambil melepaskan pula satu pukulan
untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
Gerakan dari Liok Hoa Seng ini tampaknya sudah
berada dalam perhitungan Suma ing, menemukan
kesempatan yang sangat baik itu dia segera manfaatkan sebaik2nya.
Tiba2 satu serangan kilat dilepaskan, jari tangannya
direntangkan lebar2 dan secepat petir mencengkeram
punggung Bintang yang bertaburan diangkasa.
Lam-kong Pak sebagai seorang pemuda jujur dari
golongan lurus. tak sudi menyerang dikala orang sedang
terancam bahaya, kendati begitu setelah diketahuinya orang
yang melancarkan serangan bukan lain adalah Suma ing
serta kakek ombak menggulung ia menjerit kaget.
Sungguh hebat bintang yang bertaburan diangkasa,
seketika merasakan ancaman yang datang dari sisi kiri jauh
lebih berat dari ancaman dari belakang ia baru sadar kalau
orang itu berkepandaian tinggi, hawa murninya dengan
cepat dihimpun untuk menghadapi serangan dan samping
kiri itu.
Setelah berpaling dan mengetahui kalau orang itu
ternyata bukan lain adalah adik seperguruannya sendiri bisa
dibayangkan betapa gusar dan mendongkolnya hati orang.
Bertindak secara gegabah merupakan pantangan paling
besar bagi jagoan lihay yang sedang bertempur, dikala ia
masih terperangah karena tak menyangka tahu2 payung
sengkala tersebut sudah jatuh kedalam genggaman Suma
Ing.
Bagi Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
peristiwa ini ibaratnya perahu yang terjungkil dalam
selokan ia sama sekali tak menduga kalau adik
seperguruannya bakal bekerja sama dengan orang luar
untuk mengerubuti dirinya, dalam gusar dan
mendongkolnya ia segera menerjang ke-arah kakek ombak
menggulung.
Kakek ombak menggulung sendiri mengerti kalau dia
bukan tandingan kakak seperguruannya, merasa datangnya
ancaman dia segera berteriak keras. "Hey bocah muda,
cepat bantu aku"
"Blaaamm" satu bentrokan keras terjadi di angkasa dan
memecahkan kesunyian yang mencekam sekeliling tempat
itu.
Kakek ombak menggulung tergetar mundur lima langkah
kebelakang dengan sempoyongan, teriaknya keras2.
"Suma Ing cepat gunakan payung sengkala untuk
membantu aku... cepat aku tak tahan.,."
"Blaammm " suatu bentrokan dahsyat kembali
menggelegar diudara, sekali lagi kakek ombak mengguling
tergetar mundur enam tujuh langkah kebelakang.
Suma Ing sambil memegang payung sengkala ditangan,
tetap berdiri ditempat semula dengan senyuman licik
menghiasi ujung bibirnya, terdengar ia mengejek sinis^
"Kenapa aku harus membantu dirimu? lebih baik
layanilah kakak seperguruanmu secara baik2..
bagaimanapun toh diantara kalian berdua salah satu
diantaranya harus mampus. apa lagi kalau kedua2nya bisa
mampus semua, itulah yang aku inginkan-
..haahh..,haahh...haaaha. .."
Kakek ombak menggulung sadar kalau ia tertipu
mentah2 oleh siasat lawan- segera teriaknya lantang:
"Eeei, suheng. tunggu sebentar kalau aku dibunuh tidak
menjadi soal, tapi dengan perbuatanmu itu maka keparat
cilik tersebut akan kegirangan setengah mati sebab siasat
liciknya tercapai seperti apa yang diharapkan, Dua orang
musuh tangguh sekarang sudah berada didepan mata, apa
lagi payung sengkala terjatuh ditangan musuh,
bagaimanapun juga besarnya perselisihan diantara kita
berdua. tidaklah pantas kalau masalah ini diselesaikan
dalam keadaan demikian suheng.,.jika kau ingin
menghukum siau-te. lakukanlah setelah persoalan disini
telah beres, pada waktunya siau-te pasti tak akan
melakukan perlawanan aku akan menyerahkan diri untuk
dihukum sesuai dengan apa yang suheng kehendiki."
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
merasa betul juga ucapan tersebut pikirnya^
"Ehmn. andaikata aku bunuh bangsat tua ini maka
kekuatan pihakku akan bertambah kecil, padahal dua orang
pemuda tersebut bukan manusia sembarangan yang bisa
dihadapi dengan begitu saja. . baiklah untuk sementara
waktu akan kusampingkan lebih dahulu persoalan ini."
Berpikir sampai disini ia mendengus dingin, setelah
tinggalkan kakek ombak menggulung jago tua itu
menerjang kearah Suma Ing hardiknya keras2.
"Suma Ing, jangan kau anggap setelah mempunyai
payung sengkala maka aku lantas jeri kepadamu... Huh
terus terang saja kukatakan sebenarnya kau membawa
payung mestika atau tidak sama artinya bagiku
bagaimanapun juga akupasti akan merampas payung
mustika itu dari tanganmu"
"Huuhhh.. iblis tua kau anggap gampang yaa rampas
payung tersebut dari tanganku." ejek Suma Ing sambil
menyeringai licik. "kalau ingin merampas silahkan saja
untuk mencobanya sendiri"
Sementara itu Lam-kong Pak yang selama ini
membungkam dalam seribu bahasa diam2 berpikir pula
dalam hati kecilnya:
"Kenapa aku musti membicarakan soal peraturan
persilatan serta segala tetek bengek kejujuran sekawan
ksatria dengan kawanan gembong iblis itu? bagaimanapun
juga aku harus berusaha untuk merampas kembali payung
mustika itu dari tangan mereka"
Terdengar bintang yang bertaburan dilangit Liao Hoa
Seng berkata kepada pemuda Lam-kong:
"Hey bocah muda engkau sudah merasa takluk tidak?"
"Dari lima puluh gebrakan yang dijanjikan kita baru
langsungkan empat puluh lima gebrakan, kendatipun aku
sudah terdesak hingga berada dibawah angin toh belum
kalah ditanganmu? kenapa aku musti takluk kepadamu?"
"Kalau engkau belum takluk silahkan saja menyingkir
disamping gelanggang, aku akan bereskan dulu keparat cilik
itu kemudian baru menyelesaikan pertarungan yang kelima
puluh jurus berikutnya bagaimana, tidak keberatan bukan? "
"oooh, dengan senang hati aku akan layani keinginanmu
itu."
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
berpaling lagi kearah kakek ombak menggulung tanyanya:
"Sute, aku tahu barusan mungkin engkau sudah dihasut
dan diracuni oleh keparat cilik itu sehingga terpengaruh
oleh kata2nya, atas kesalahanmu itu suheng sama sekali
tidak menyalahkan engkau, sekarang engkaupun tak usah
membantu diriku untuk meringkus bangsat tersebut lihatlah
suheng seorang diri akan rampas payung mustika itu dari
tangannya."
"Terima kasih suheng. terima kasih atas kebaikan hatimu
itu" buru2 kakek ombak menggulung berseru,
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng tidak
banyak bicara lagi, epasang telapaknya disilangkan didepan
dada lalu melepaskan pukulan dengan hawa sakti Samseng-
kang.
Suma Ing yang mengandalkan payung mustika, sama
sekali tidak berusaha menghindar atau berkelit dari
datangnya ancaman tersebut, dengan payung mestika itu
dia sambut datangnya serangan-
"Blaaamm " bentrokan keras menimbulkan suara ledakan
yang memekikan telinga, angin puyuh men-deru2 menyapu
empat penjuru, beberapa buah patung area yang tinggi besar
mencelat sejauh satu depa dari tempat semula, seluruh
ruangan goncang keras, atap dan dinding berguguran keatas
tanah.
Dalam serangan tersebut. ternyata Bintang yang
bertaburan diangkasa tidak berhasil memperoleh
keuntungan apa2, kedua belah pihak saling mundur
selangkah lebar kebelakang.
Tenaga dalam yang dimiliki iblis tua itu terhitung sangat
hebat dan sempurna sekali, tapi dalam kenyataan ia cuma
mampu bertarung seimbang dengan seorang pemuda
belasan tahun, peristiwa semacam ini benar merupakan
suatu pukulan batin yang berat baginya.
Gelak tertawa yang menyeramkan bergema
memecahkan kesunyian, napsu membunuh yang sangat
tebal menyelimuti wajahnya, sambil menyeringai seram
selangkah demi selangkah dia maju kedepan,
Setelah berhasil dalam serangan yang pertama. rasa
percaya pada kekuatan sendiri tertanam semakin tebal
dalam hati Suma Ing. dia sama sekali tak menyangka kalau
sebuah payung kecil yang panjangnya paling cuma satu
depa ternyata memiliki daya kekuatan yang luar biasa
hebatnya, pemuda itu sadar, seandainya tiada benda
mustika dari dunia persilatan itu. mungkin sejak tadi2 ia
sudah roboh terkapar diatas tanah termakan oleh pukulan
lawan yang amat dahsyat itu.
Sementara itu kakek ombak menggulung yang berdiri
disisi kalangan putar biji matanya memandang kesana
kemari. ia tahu apa yang diucapkan suhengnya barusan
hanya kata2 untuk membohongi dirinya belaka, bila urusan
telah selesai tak mungkin ia bersedia melepaskan dirinya
dengan begitu saja.
Karena itu setelah termenung dan berpikir beberapa saat
lamanya, kakek tua itu segera ambil keputusan untuk kabur
dari tempat kejadian- tanpa banyak bicara lagi ia putar
badan dan melarikan diri ter-birit2.
Lam-kong Pak mendengus dingin, meskipun ia tahu
kalau kakek ombak menggulung kabur dari tempat kejadian
akan tetapi ia sama sekali tidak melakukan pengejaran,
pikirnya dalam hati:
"Kebetulan kalau engkau bersedia kabur dari sini,
dengan begitu akupun akan kehilangan seorang perintang
dalam usahaku untuk merebut kembali payung mustika itu
dari tangan mereka..."
Ditengah kalangan. Bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa Seng telah melepaskan satu pukulan yang maha
dahsyat kearah depan- Lam-kong Pak merasa amat
terperanjat menyaksikan kedahsyatan pukulannya, ia lihat
diantara telapak tangan lawan terpancar keluar tiga titik
cahaya putih yang amat menyilaukan mata.
Dari situlah letaknya sumber kekuatan hawa pukulan
dari "Matahari, rembulan dan bintang" tiga sumber utama
kekuatan sakti jago tua itu, rupanya Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng telah dibikin gusar
oleh keangkuhan musuhnya, dengan menghimpun sepuluh
bagian tenaga saktinya dia lancarkan satu pukulan dahsyat
kearah Suma ing.
Setelah unggul dalam beberapa kali bentrokan
sebelumnya, Suma ing menganggap dengan andalkan
payung sengkala maka ia dapat bertindak apa saja menuruti
kemauan hatinya, sekarang ketika dilihatnya pihak musuh
melepaskan pukulan lagi kearahnya, dengan cepat serangan
tersebut disambut olehnya dengan bacokan payung
mustika.
"B la a mm,.." benturan dahsyat menggetarkan seluruh
permukaan bumi, atap dan dinding bangunan mencelat dan
terbang kian kemari terhembus oleh deruan angin puyuh
yang dihasilkan dari benturan tersebut.
Walaupun Suma ing mempUnyai payung mustika yang
diandalkan, tapi berhubung tenaga dalam yang dimilikinya
masih terpaut jauh kalau dibandingkan dengan kekuatan
Bintang yang bertaburan diangkasa, tubuhnya segera
mencelat sejauh tujuh delapan langkah dari tempat semula.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng tak
mau lepaskan lawannya dengan begitu saja. ia memburu
kedepan dan sekali lagi melancarkan satu pukulan dengan
menggunakan tenaga sebesar dua belas bagian.
Lam-kong Pak percaya apabila serangan tersebut sampai
mengena telak dibadan Suma Ing, niscaya pemuda itu bakal
mampus atau paling sedikit terluka parah.
"Inilah kesempatan yang paling baik bagiku untuk
merebut payung mustika tersebut.." pikir Lam-kong Pak
dihati.
Dengan cepat tubuhnya bergerak maju kedepan,
bagaikan sambaran kilat hampir bersamaan waktunya
dengan gerakan tubuh Liok Hoa Seng. diapun tiba disisi
Suma ing.
Bagaimanapun juga gerak tubuh Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seog jauh lebih cepat
selangkah daripada sianak muda itu. tangannya cepat
menyambar payung sengsaka tersebut, kemudian sekali
betot ia tarik tubuh Suma ing untuk diterjangkan kearah
Lam-kong Pak,
Tindakan ini sangat hebat dan keji, namun Lam-kong
Pak bukan seorang manusia bodoh, sejakpermulaan ia
sudah menduga sampai kesitu.
Ketika tubuh Suma ing didorong kearahnya dengan
cepat badannya berkelit kesamping kemudian tangannya
menyambar gagang payung itu.
Suma ing yang tergencet diantara dua orang jago lihay
menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan buru2 ia
lepaskan tangan sambil mengundurkan diri kebelakang.
Setelah mundurnya Suma ing maka genggaman- Lamkong
Pakpada gagang payung semakin mantap kedua belah
pihak saling betot membetot dan berusaha untuk
merobohkan lawannya.
Meskipun kalau ditinjau dari posisi yang terpegang pada
payung itu maka posisi Lam-kong Pak jauh lebih meng
untung kan namun tenaga dalam yang dimiliki Bintang
yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng jauh lebih
sempurna dalam keadaan demikian timbullah ingatan
dalam benak kedua belah pihak untuk beradu jiwa, atau
paling sedikit apabila payung mustika itu gagal didapatkan
maka harus diusahakan penghancuran agar tidak sampai
dimanfaatkan musuhnya.
Sayang mereka semua lupa akan sesuatu payung
sengkala adalah suatu benda mustika dari dunia persilatan,
kekuatannya luar biasa dan kerasnya sukar dilukiskan
dengan kata2.
Walaupun kedua belah pihak saling membetot dengan
kekuatan melampaui beribu-ribu kati. payung mustika
tersebut masih tetap utuh tanpa cedera barang sedikitpun
juga , sementara kedudukan dari dua orang itupun tetap
seimbang.
Suma ing, pemuda yang licik dan berhati keji tak sudi
melepaskan keinginannya dengan begitu saja, setelah putar
biji matanya memperhatikan adu kekuatan yang sedang
beriangsung ditengah gelanggang. kembali ia terjang
kedepan- serunya: "Lam-kong Pak, aku akan
membantumu"
"Bajingan sialan, Anjing bedebah enyah dari sini" hardik
Lam-kong Pak penuh kemarahan, "aku tak sudi menerima
bantuan-mu"
Suma ing tak banyak bicara, dia segera lancarkan satu
pukulan dahsyat kearah Bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa Seng.
Tentu saja iblis tua itu tak pandang sebelah matapun
terhadap datangnya pukulan tersebut. cepat telapak kirinya
diayun kedepan untuk memunahkan ancaman yang datang
dari pemuda Suma.
Suma ing merasa amat gusar sekali tatkala dilihatnya
Lam-kong Pak sama sekali tidak mempergunakan peluang
yang sangat baik itu untuk merampas payung mustika dari
tangan lawan- teriaknya^
"Lam-kong Pak. dengan maksud baik kuberi bantuanmu
Tapi engkau tak sudi menerima kebaikanku itu... Hmmm
jangan salahkan kalau aku akan membantu iblis tua itu
untuk musnahkan engkau..."
Begitu ucapan selesai diutarakan keluar, ia segera
lancarkan satu pukulan dahsyat kearah Lam-kong Pak.
Dalam keadaan terancam, terpaksa pemuda Lam-kong
menyambut datangnya serangan tersebut dengan tangan
kirinya.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa seng bukan
seorang manusia yang jujur, ia tak ambil perduli soal gengsi
atau nama, melihat ada kesempatan baik baginya dengan
sekuat tenaga payung tersebut dibetotnya kebelakang...
Dalam suatu sentakan keras. tahu2 patung sengkala
sudah terjatuh ketangannya.
Lam-kong Pak terperangah, lalu teriaknya dengan penuh
kegemasan: "Anjing bedebah apa yang kau inginkan
bangsat... manusia jahanam "
Setelah dilihatnya payung sengkala terjatuh ketangan
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng, Suma
ing tahu bahwa tiada harapan lagi baginya pada hari ini
untuk rebut kembali payung mustika tersebut diapun tahu
kalau tidak cepat2 kabur maka lebih banyak bencana yang
akan dihadapi daripada rejeki.
Tanpa banyak bicara lagi dia segera enjotkan badan dan
melayang keluar dari ruang tengah, kemudian dengan
melewati dinding pekarangan kabur menjauhi tempat itu.
Setelah gembong iblis tersebut mendapatkan payung
sengkala, Lam-kong pak semakin tak berani bertindak
gegabah. dengan cepat ia mundur tiga langkah kebelakang,
diam-diam hawa murninya dihimpun kedalam tubuh siap
menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Nafsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh
wajah Liok Hoa Seng, dengan nada ketus dan dingin
serunya:
"Hmm.., hmmm... sungguh tak kusangka jago2 lihay
yang sudah kenamaan sejak jaman purbakala tak
seorangpun yang dapat menandingi kehebatanmu.. Hmm
untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak
diinginkan dikemudian hari jangan salahkan kalau aku
harus lenyapkan dirimu pada saat ini juga "
"iblis tua engkau tak usah keburu senang hati, ketahuilah
bahwa tandinganmu akan muncul dalam dunia persilatan,
engkau tentu masih ingat dengan tiga bintang bertangan
iblis bukan? ketiga orang itu masih hidup dikolong langit
bahkan ilmu silat yang dimilikinya telah berhasil dilatih
hingga mencapai puncak kesempurnaan-.."
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
tertawa dingin,
"Heeehhh-heeehh-heeehhh...sekalipun mereka masih
hidup dikolong langit aku juga tak perlu takut, akutoh
sudah berhasil mendapatkan payung mustika? kenapa musti
jeri kepada mereka? sudahlah engkau tak usah ngaco belo
bicara tak karuan aku tidak percaya kalau ketiga orang
bangsat tua itu masih hidup dikolong langit apa lagi dalam
keadaan segar bugar?"
"oooh...jadi engkau masih tetap tidak percaya?"
"Masa engkau benar2 sudah pernah bertemu muka
dengan mereka bertiga?"
Sambil bergendong tangan Lam-kong Pak berjalan bolak
balik dalam ruangan itu sahutnya:
"Bukan saja aku pernah berjumpa dengan mereka
bahkan sempat mempelajari pula kepandaian sakti yang
mereka miliki kepandaian sakti tersebut sengaja diciptakan
mereka untuk menghadapi dirimu."
"coba terangkan dahulu bagaimanakah bentuk badan
serta raut wajah mereka??"
"Mereka berperawakan sedangan mukanya bengis dan
kelihatan kejam sekali yang paling jelas mereka memelihara
seekor ular aneh yang bertubuh hitam gelap serta
panjangnya mencapai beberapa tombak... bukan begitu?"
"Aaaah.." Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng menjerit kaget, ia mundur satu langkah kebelakang
dengan peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya, "engkau
pernah bertemu mereka dimana cepat katakan."
Lam-kong Pak tertawa tawa.
"Aku toh cuma bergurau saja kepadamu kenapa sih
engkau menunjukkan paras muka yang begitu ketakutan?
IHuuh. .tak kunyana nama besarmu sebetulnya hanya
nama kosong belaka"
Merah padam selembar wajah Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng karena jengah, dengan penuh
kegusaran segera bentaknya keras2:
"Bocah keparat, sebelum ajalmu tiba memang tak ada
salahnya kalau kuberi kesempatan kepadamu untuk bicara
seenaknya sendiri Ayoh sekarang terangkan, engkau telah
bertemu mereka dimana??"
"Aku telah berjumpa dengan mereka sewaktu ada dibukit
Bong-san tempo hari"
"Mereka telah ajarkan serangkaian ilmu silat kepadamu?
coba mainkan, aku pingin lihat sampai dimanakah
kehebatan ilmu silat yang mereka ciptakan itu."
Lam-kong Pak tertawa dingin.
"Kalau engkau pingin mencoba kedahsyatan dari jurus2
ilmu silat tersebut. aku anjurkan agar payung sengkala
tersebut diletakkan dahulu keatas tanah, engkau harus tahu
aku sama sekali tidak jeri terhadap keampuhan payung
mustika tersebut, tapi dengan andalkan benda itu maka
sulitlah bagi kita untuk menentukan siapa menang siapa
kalah."
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
tertawa ter-bahak2 dengan kerasnya:
"Haahh-haaahh-haaahh... bocah keparat, engkau anggap
aku tiada tahu kalau engkau sedang berbicara ngawur dan
ngaco belo tanpa bukti yang nyata? IHuuhh. . siapa tahu
kalau engkau pernah mendengar cerita tentang Mo-jiu-samseng
tiga bintang bertangan iblis dari angkatan tuamu dan
sekarang sengaja hendak membohongi diriku.. hmm hmmm
tempat yang kau katakan tadi sama sekali tidak betul"
"Tidak betul?" ejek Lam-kong Paksinis "Hmm..I Hmm
bukankah mereka semua duduk diatas sebuah tiang batu?
disamping batuan cadas terdapat dua buah kolam besar dan
kecil didalam kolam yang satu terdapat seekor ikan leihi
bersisik emas sedangkan kolam yang lain terdapat..."
Berbicara sampai disitu tiba2 Lam-kong Pak merasa
hatinya tidak tenteram seandainya iblis itu sampai menuju
kesana untuk melakukan pembantaian bukankah dialah
yang telah mencelakai jiwa tiga bintang bertangan iblis??
Tapi ingatan lain berkelebat dalam benak Lam-kong Pak
rupanya ia teringat kembali akan tulisan yang sengaja
tertera didepan dinding mulut gunung berapi, bukankah
tulisan itu sengaja dibuat oleh Tiga bintang bertangan iblis
untuk memancing kedatangan Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng kedalam gua itu? dari tindakan
tersebut jelaslah sudah membuktikan kalau ketiga orang itu
telah melakukan persiapan yang sangat matang, dan ia tak
perlu menguatirkan keselamatan mereka lagi.
Paras muka Bintang yang bertaburan di angkasa Liok
Hoa Seng berubah hebat ketika mendengar perkataan
tersebut, dengan cepat ia berseru lantang: "Jadi engkau telah
berjumpa dengan mereka dibawah mulut gunung berapi?"
"Perkataanmu tidak keliru. kalau aku tidak berjumpa
dengan mereka dibawah mulut gunung berapi, darimana
aku bisa bertemu muka dengan ketiga orang itu??"
"Jadi mereka bertiga benar2 belum mampus?" teriak
Bintang yang bertaburan diangkasa dengan nada berat,
"macam apakah bentuk wajah meteka?"
"Paras muka mereka merah bercahaya, tubuhnya enteng
bagaikan dewa dari kayangan masa engkau tak melihat
tulisan yang sengaja ditinggalkan diluar mulut gunung
berapi itu ?"
"Membaca sih sudah membaca, tetapi sebelumpunya
keyakinan yang benar2 mantap aku tak mau turun kebawah
secara gegabah untuk mencari mereka... Hemm..,hemm..
sekarang juga aku akan pergi kesitu untuk mencoba sampai
dimanakah kelihayan yang mereka miliki"
Mendengar perkataan tersebut, Lam-kong Pak jadi amat
terperanjat, dari pengakuan tersebut terbuktilah bahwa
gembong iblis tersebut telah mengetahui tempat
persembunyian dari tiga bintang bertangan ibis, atau
dengan perkataan lain musibah yang menimpa tiga bintang
bertangan iblis dimasa silam sehingga duduk terpantek
diatas tiang batu yang runcing. tidak lain adalah hasil
perbuatan dari iblis tersebut.
Sementara itu Bintang yang bertaburan di angkasa Liok
Hoa Seng sambil tertawa menyeringai telah berseru
kembali^
"Hehh..heehh...heehh . tidak sulit untuk bereskan ketiga
orang tua bangka tersebut, dan sekarang aku akan bereskan
dulu nyawa kau sibangsat cilik"
Baru saja perkataan itu selesai diutarakan tiba2 dari
tengah halaman berkumandang seruan lantang seseorarg.
"Aku sudah hidup lebih dari cukup dikolong langit kalau
engkau hendak bunuh manusia lebih baik bunuh juga kami
semua."
Bersamaan dengan berkumandangnya ucapan tersebut
dari depan pintu muncullah tiga orang berpakaian lapisan
tembaga.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
tertawa dingin tiada hentinya. "Heeehhh-heeehhhheehh...
siapakah kalian bertiga? sebutkan dulu nama
kalian"
"Awan gelap pengejar bintang oei ci hu"
"Jago angin geledek Lam-kong Liu"
"Manusia suka pelancongan Lu It Beng"
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng tahu
bahwa oei ci hu sengaja sedang mempermainkan dirinya
julukan yang semestinya Awan hitam pengejar rembulan
telah berubah menjadi Awan gelap pengejar bintang, ia
segera tertawa dingin.
"Huuhhh aku mengira jago lihay diri mana yang telah
datang?... Hah taktahunya cuma beberapa orang prajurit tak
bernama yang masih ingusan"
"Betul, kami hanya manusia2 kecil yang tak bernama
tapi justru karena kami tak bernama maka kami tak takut
mati lain halnya dengan manusia bernama yang dalam
kenyataan memiliki kemampuan terbatas namun berani
meninggikan derajat sendiri karena berhasil merampas
benda mustika dari dunia persilatan"
Bintang yang bertaburan diangkasa merasa amat gusar,
dari kejauhan dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah
depan.
= =ooooooooo= =
OEI CI HU tak berani bertindak gegabah, menyaksikan
datangnya ancaman tersebut dengan Cepat sepasang
telapaknya didorong kedepan Untuk menyambut datangnya
ancaman itu.
"Blaaammm .." suatu benturan yang amat keras
menggeletar diangkasa, tubuh oei ci-hu segera terpental
keluar dari pintu ruangan.
Lam-kong Pak merasa amat gusar dengan mengerahkan
tenaga murninya sebesar dua belas bagaian dia lancarkan
pula satu pukulan dahsyat kearah iblis tua itu.
"Blaammm." ledakan keras kembali menggemuruh
diudara, kedua belah pihak mundur satu langkah
kebelakang ternyata kekuatan mereka ada dalam posisi
seimbang.
Menyaksikan kehebatan musuhnya tiga orang jago lihay
dari kalangan lurus itu jadi amat terperanjat dengan peluh
dingin membasahi tubuh mereka maju bersama.
Seru oei ci hu dengan suara lantang: "Mari kita bersama2
menghadapi iblis tua ini, tidak terhitung sebagai
suatu tindakan yang melanggar peraturan persilatah. ayoh
kita kepung bangsat tua ini"
Meskipun bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng mempunyai payung mustika ditangan namun ia tak
berani bertindak secara gegabah untuk menghadapi empat
jago lihay sekaligus.
Mendengar ancaman tersebut dengan cepat dia
lancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah langit2 ruangan
kemudian sambil tertawa tergelak dia menerobos keluar
lewat lubang diatas atap tersebut. Lam-kong Pak penasaran
sekali dia siap untuk mengejar musuhnya tapi Awan gelap
pengejar rembulan oei ci-hu segera mencegah, serunya
lantang:
"Hey, bocah muda tak usah dikejar lagi coba kau
terangkan dulu bagaimanakah jalannya Cerita sehingga iblis
tua tersebut berhasil mendapatkan payung mustika itu?"
Lam-kong Pak menghela napas panjang terpaksa dia
harus menceritakan bagaimana dia tertipu Suma ing
kemudian bagaimanakah Suma ing dan kakek ombak
menggulung saling sikut menyikut sehingga benda mestika
itu terjatuh ketangan Bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa Seng.
Selesai mendengar kisah tersebut dengan nada
menggerutu Lu It Beng berkata:
"Setan tua she- oei semuanya ini adalah akibat gara2mu
yang telah menanam bibit bencana, sekarang payung
mustika tersebut sudah terjatuh ketangan iblis tua tersebut.
coba bayangkan saja bagaimanakah akibatnya kalau dia
mengandalkan benda mustika itu untuk malang melintang
dalam dunia persilatan?"
"Persoalan itu tak usah kita bicarakan lebih dahulu." sela
jago angin geledek Lam-kong Liu dengan cepat, "menurut
dugaanku kepergian iblis tua tersebut kali ini sudah pasti
menuju kelembah terpencil itu untuk mencari bekas
gurunya dan membasmi mereka dari muka bumi"
"Dugaan ayah menang sangat tepat sekali." sambung
Lam-kong Pak, "kemungkinan besar gembong iblis tersebut
benar2 pergi mencari gurunya untuk melakukan
pembantaian, sekalipun dengan persiapan dari Tiga bintang
bertangan iblis rasanya tiada sesuatu yang perlu mereka
kuatirkan, tapi sekarang setan tua itu sudah berhasil
mendapatkan payung mustika. itu berarti keadaannya jauh
berbeda dari dugaan semula. aku harus berangkat kesitu
untuk memberi bantuan"
Menyadari betapa gawatnya situasi pada waktu itu,
tanpa banyak bicara lagi berangkatlah keempat orang itu
meninggalkan kuil Lu-siau-si menuju kearah utara.
Ditengah jalan Lam-kong Pak berkata.
"Ayah, kanapa engkau orang tua tak mau
memperdulikan diri ibu lagi.. .?"
"Demi kesuksesan rencana besar kami bagi kesejahteraan
dunia persilatan, mau tak mau terpaksa aku harus tegakan
hati untuk pura2 tidak mengenal akan dirinya. sebab hingga
saat ini masih ada satu urusan lain yang belum diselesaikan,
aku hendak menggunakan sisa tenaga yang masih kumiliki
sekarang untuk secara diam2 melakukan penyelidikan"
"Persoalan apa sih yang hendak ayah selidiki?"
"Persoalan mengenai Sian-yan Peng, suami dari cu Hong
Hong" sahut Lam-kong Liu. Satu ingatan dengan Cepat
berkelebat dalam benak Lam-kong Pak, ia segera berkata,
"Ayah, sebenarnya antara engkau dengan Sian-yan Peng
sudah terikat dendam sakit hati apa sih?"
Lam-kong Liu menghela napas panjang, ia
membungkam dalam seribu bahasa. oei ci hu yang berada
disampingnya segera menyambung:
"Bocah, engkau benar2 tak tahu diri, masa persoalan ini
kau haruskan ayahmu untuk menjawab sendiri, tentu saja
dia malu untuk mengatakannya keluar....lebih baik aku saja
yang terangkan padamu... Ketika cu Hong Hong
berkenalan dengan ayahmu tempo hari, ia telah terpesona
oleh ketampanan wajah ayahmu, dari terpikat jadi ter-gila2
sehingga mengejarnva terus menerus tapi ayahmu
berpandangan lain-.. ia kelewat angkuh."
"oei-heng, duduk perkara yang sebenarnya bukan
begitu." bentak Lam-kong Liu dengan cepat.
oei ci hu segera tertawa ter-bahak2.
"Haahh-haahh-haahh...ayahmu menganggap cu Hong
Hong kelewat kejam dan bertangan telengas, karena itu
meskipun menaruh hormat kepada perempuan itu, dia
selalu berusaha untuk menjauhinya. hal ini membuat cu
Hong Hong semakin gelisah dan panik dengan sendirinya.
Sementara itu ayahmu telah berkenalan pula dengan ibumu
yakni Sun Han siang, setelah bertemu muka rupanya kedua
belah pihak saling jatuh Cinta dan tertarik satu sama
lainnya..."
"Eeei.. oei-tua sebetulaya kamu bisa serius tidak?" tegur
Lu It Beng pula, "masa dihadapan seorang angkatan muda,
ceritamu makin lama jadi semakin tak genah?"
"Siapa bilang aku tak genah? kenyataan toh begitu? aku
cuma menceritakannya kembali dengan rangkaian kata
yang lebih manis...yaa begitulah, setelah berkenalan yang
mendebarkan hati itu akhirnya ayah ibumu melangsungkan
perkawinan kilat. cu Hong Hong jadi patah hati dan
kecewa.. dalam kekecewaannya itulah dia telah kawin
dengan Sian-yan Peng"
"Kalau cuma patah hati sih tidak bisa dihitung sebagai
suatu ikatan dendam atau sakit hati?" sela Lam-kong Pak,
"Aku toh belum menyelesalkan ceritaku." kata oei ci-hu
lebih lanjut. "setelah cu Hong Hong kawin dengan Sian-yan
Peng, kehidupan mereka berjalan kurang harmonis karena
perkawinannya dengan Sian yan Peng bukan didasarkan
pada rasa Cinta sama Cinta. melainkan tidak lebih hanya
suatu langkah pelampiasan rasa dendam belaka, sedangkan
Sian-yan Peng sendiripun sama sekali tidak mencintai cu
Hong Hong..."
"Kalau cu Cianpwee tidak mencintai sian-yan cianpwee.
kenyataan tersebut masih dapat diterima dengan akal sehat,
sedangkan Sian-yan cianpwee sendiri kalau toh tidak
mencintai cu cianpwee, kenapa perkawinan diantara
mereka berdua tetap dilangsungkan?"
"Nah disinilah letak sumber pertikaian dan perselisihan
tersebut. Rupanya sebelum ayah dan ibumu menikah secara
kilat Sian-yan Peng telah berkenalan pula dengan ibumu.
bahkan seCara diam2 ia kagum dan menaruh hati
kepadanya, hanya saja ibumu sama sekali tidak tahu kalau
Sian-yan Peng sebenarnya mencintai dirinya. Karena itulah
setelah ayah ibumu menikah secara kilat, cU Hong Hong
suami istri jadi mendongkol dan marah sekali, bedanya
kalau Sian-yan Peng memendam rasa mendongkol dan
marahnya didalam hati, sebaliknya cu Hong Hong
memperlihatkan rasa tak senang dan keCewanya diluaran."
"Sikap tak senang dan keCewa yang mereka perlihatkan
sama sekali tak beralasan" seru Lam-kong Pak, biarlah aku
yang selesaikan persoalan ini.."
"Eee..bocah muda. engkau jangan manukas terus. jangan
kau anggap persoalan itu segampang dan semudah itu" seru
oei ci-hu, "walaupun cu Hong Hong sudah menjadi seorang
nyonya, tapi mati2an dia masih mencintai dan mengejar
ayahmu, tentu saja perasaannya pada saat ini jauh berbeda
dengan sikapnya sebelum menikah tempo dulu. dia hanya
berharap bisa mendapatkan hiburan dan semangat hidup
dari pancaran mata ayahmu siapa tahu tindak tanduknya
itu justru sangat menggusarkan hati Sian-yan Peng?"
"Tapi dalam urusan ini toh ayahku tak bisa disalahkan?"
"Tentu saja ayahmu tak bisa disalahkan tapi berhubung
pada dasarnya sian-yan Peng telah mencintai ibumu Sun
Han Siang, maka setelah mengalami pukulan batin itu ia
menunjukkan perasaan tak senang hati, suatu ketika secara
kebetulan sekali cu Hong Hong pergi mencari ayahmu
ditengah malam buta pada waktu itu ibumu tidak ada di
rumah, sedang mereka berdua berada dalam sebuah kamar
yang gelap gulita tanpa disinari Cahaya lampu, ternyata
perbuatan itu diketahui oleh Sian-yan Peng yang secara
diam2 telah menguntil dari belakang. Nah dari kejadian
itulah akhirnya sumber dari bibit perselisihan itu terjadi."
Dalam hati kecilnya Lam-kong Pak yakin seyakin2nya
kalau ayahnya tak mungkin melakukan perzinahan dengan
istri orang lain ini tentu saja ia segan pula untuk
menanyakan persoalan ini kepada ayahnya, maka dia
alihkan pokok pembicaraan kesoal lain tanyanya:
"Menurut apa yang kudengar katanya cu cianpwee
dihantam ibu sampai terjatuh kedalam jurang dan masuk
kedalam perut naga apa sih yang mengakibatkan terjadinya
peristiwa itu?"
"cu Hong Hong mengira Sian-yan Peng bisa menguntit
perbuatannya pada malam tersebut tentulah atas dasar
diberitahu ibumu secara diam2 hal ini membuat Cu Hong
Hong sangat dendam terhadap ibumu, akhirnya terjadilah
perselisihan diantara mereka berdua yang diakhiri dengan
suatu pertarungan sengit, berbicara tentang tenaga dalam
yang dimiliki ibumu pada saat itu tak mungkin ia bisa
merobohkan cu Hong Hong dengan begitu saja?"
"Lalu secara bagaimana cu cianpwee bisa terjatuh
kedalam jurang sehingga tertelan kedalam lambung naga?"
"Ada orang yang melancarkan serangan dahsyat secara
diam2 dari samping gelanggang"
"Siapakah orang itu?"
"Sian-yan Peng"
"oooh sian-yan cianpwee yang melakukan perbuatan itu?
sungguh kejam hatinya"
"Tidak. hal ini tak bisa salahkan dirinya, andaikata
engkau yang mengalami kejadian seperti itu maka
kemungkinan besar engkau pun bisa melakukan perbuatan
yang sama, sebab bagi seorang pria kejadian yang tak bisa
ditahan dan dimaafkan adalah perbuatan seoraog yang
dilakukan oleh istrinya, dalam anggapannya cu Hong Hong
telah melakukan perbuatan terkutuk dengan ayahmu"
"oei-heng jangan kau teruskan lagi perkataarmu itu" ujar
Lam-kong Liu, "tidak lama kemudian Sian-yan Peng bakal
datang cari aku untuk bikin perhitungan pada saat itu
tenaga dalam yang siau-te miliki mungkin sudah sembuh
dan akupun dapat melakukan pertarungan melawan
dirinya."
oei ci-hu menghela napas panjang.
"Aaai... bukannya aku sengaja merosotkan semangat
tempurmu, aku cuma kuatir kalau engkau bukan
tandingannya"
"Aku rasa tak mungkin Sian-yan Peng berbuat semau
sendiri sehingga sama sekali tidak pakai aturan," kata Lu It
Beng memberikan pendapatnya.
"Aku tahu bahwa Sian-yan cianpwee tidak mungkin
akan sudahi persoalan tersebut sampai disitu saja, ia
berulang kali pernah berkata kepadaku kalau dia tak akan
melepaskan ayah, oleh sebab itu aku harap ayah mulai
bersiap sedia sejak kini."
"Pak-ji. engkau tak usah kuatir." hibur Lam-kong Liu.
"meskipun ilmu silat yang dimiliki Sian-yan Peng luar biasa
sekali tapi asal tenaga dalam yang kumiliki telah pulih
kembali seperti sedia kala, aku yakin kami bisa bertempur
dalam keadaan seimbang"
tiga hari kemudian, sampailah mereka di dalam lembah
sepi yang terpencil letaknya itu. Lam-kong Pak segera
berkata:
"Mulut gunung berapi terletak ditengah gua tersebut,
hawa panas yang memancar keluar dari tempat itu cukup
menjadikan pakaian yang kita kenakan jadi abu. karena itu
cianpwee bertiga tak usah ikut masuk kedalam, biarlah aku
seorang yang bereskan persoalan ini."
Dalam keadaan yang tidak mengijinkan tentu saja ketiga
orang itu setuju dengan harapannya, berjaga2lah mareka
disekitar mulut gua.
Setelah ada pengalaman dimasa yang lampau, ditambah
pula tenaga dalam yang dimiliki Lam-kong Pak telah
memperoleh kemajuan yang pesat, ketika ia tiba disekitar
mulut gunung berapi, pakaian yang dikenakan olehnya
sama sekali tidak jadi hancur.
Pemandangan maupun keadaan disekitar situ masih
tetap seperti sedia kala, kobaran api yang memancarkan
keluar dari mulut gua menyengat badan. setibanya didepan
gua pemuda itu berteriak keras:
"Matahari.. rembulan... bintang.. aku datang"
Seruan tersebut diulangi sampai tiga kali, namun tiada
jawaban yang terdengar, sementara dari dalam gua secara
lapat2 terdengar suara bentakan keras disertai suara
pertarungan yang amat seru.
Sekali lagi Lam-kong Pak berteriak tiga kaii, namun
tiada sorangpun yang menyambut datangnya. padahal ia
masih teringat jelas akan pesan dari kakek tua itu, kalau ia
datang lagi maka cukup meneriakkan "Matahari, rembulan
dan bintang" sebanyak tiga kali. maka ular hitam yang
bernama Loo-hek akan datang menjemput kehadirannya.
Dengan cepat Lam-kong Pak menyadari pastilah Bintang
bertaburan diangkasa Liok Hoa seng telah datang kesitu
dengan membawa payung mustika untuk membunuh
suhunya, tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri lagi
pemuda itu segera loncat kedepan dan melayang masuk
kedalam gua yang gelap gulita itu.
Tempo hari ia pernah berkunjung kesana sedikit banyak
sudah ada pengalaman yang bisa dimanfaatkan.
Dengan menempel dinding goa meluncur turun
kebawah. sepasang telapaknya dengan rahasia "mengisap"
dari ilmu tenaga dalam mengisap dinding gua kuat2,
dengan berbuat demikian maka daya luncur tubuhnya
kebawah punjauh berkurang. ketika tiba didasar gua
tubuhnya sama sekali tidak mengalami cedera.
Setelah tiba didasar gua dengan selamat Lam-kong Pak
alihkan sorot matanya memperhatikan keadaan disekitar
tempat itu, apa yang nampak olehnya seketika membuat
dadanya hampir meledak karena dorongan emosi dan
amarah yang sukar dikendalikan.
Waktu itu Bintatg yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng sedang memutar payung mustikanya untuk
menggencet dan mendesak seorang kakek tua, sedangkan
kakek tua yang didesak secara ber-tubi2 itu masih tetap
duduk bersila diatas tiang batu.
Dua orang kakek tua lainnya telah bermandikan darah,
rupanya mereka sudah menemui ajalnya sejak tadi, tubuh
mereka masih terpantek diatas tiang batu, darah segar
mengalir dan menoda seluruh permukaan tanah membuat
suasana benar2 mengerikan sekali.
Kakek tua yaag masih hidup dan melangsungkan
pertarungan sengit itu bukan lain adalah Jit-mo atau iblis
matahari, loo-toa dari tiga orang iblis sakti, mungkin
dikarenakan tenaga dalam yang dimilikinya paling tinggi,
maka ia bisa bertahan sampai begitu lama, kendati begitu
keadaannya sudah amat kritis dan setiap saat jiwanya bakal
melayang ditangan musuh.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
sendiri melepaskan serangan secara ber-tubi2. semua
serangan yang dilepaskan merupakan serangan kilat yang
mematikan, tubuhnya berputar terus mengitari sang kakek
yang tetap duduk diatas tiang batu.
Meskipun setiap pukulan yang dilancarkan kakek tua itu
berhasil mementalkan kembali payung mustika tersebut dari
hadapan mukanya, namun dia sendiripun kena digetarkan
sehingga tubuhnya bergoyang kesana kemari dengan
hebatnya.
Lam-kong Pak tak mau membuang waktu terlalu lama,
dia segera membentak keras sambil melepaskan senjata
tanduk naganya, ia menerjang maju kedepan-
Tampaklah ular hitam yang amat besar itu terkapar
ditengah batuan cadas. agaknya karena luka yang
dideritanya terlalu parah ia telah jatuh tak sadarkan diri.
Kakek tua itu merasakan semangatnya bangkit kembali
setelah Lam-kong Pak tiba tepat pada waktunya sedangkan
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng tampak
agak terperanjat, dengan cepat ia putar badan dan balik
menerjang kearah sianak muda itu.
"Anjing bedebah" bentak Lam-kong Pak dengan gusar.
"perbuatanmu semacam ini akan dikutuk oleh Thian- dan
seluruh umat manusia,.. Hm engkau sudah tak mirip
manusia lagi melainkan seekor anjing budukan yang hina
dina. ini hari aku orang she Lam-kong akan beradu jiwa
dengan dirimu"
"Traaanng.." hawa pukulan menyebar keempat penjaru,
ditengah benturan keras yang amat memekikkan telinga itu
Lam-kong Pak tergentar mundur satu langkah kebelakang,
sebaliknya Bintang yang bertaburan diangkasa tetap berdiri
tegak ditempat semula, jelas dalam tenaga dalam dia lebih
unggul satu tingkat dibandingkan dengan pemuda
lawannya. Terdengar kakek tua itu berteriak keras:
"Hey bocah muda cepat lemparkan Loo-hek kedalam air
telaga... cepat lakukan jangan terlambat"
Pada waktu itu Lam-kong Pak sedang mengerahkan
segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melayani musuh.
dengan susah payah ia berhasil mempertahankan diri
sehingga tidak sampai dikalahkan, tentu saja dalam
keadaan begitu tiada kesempatan baginya untuk
melemparkan ular hitam itu kedalam air telaga.
Maka setelah mendengar terlakan tersebut, ia balas
berteriak dengan suara lantang: "cianpwee aku tak mampu
untuk melakukannya"
"Hey bocah muda." kembali kakek tua itu berteriak keras
"bagaimana pun juga engkau harus berusaha untuk
melepaskan Loo-hek kedalam air telaga, sebab kalau tidak
begitu maka cepat atau lambat Kita berdua bakal mampus
diujung senjata payung mustika itu"
Lam-kong Pak sendiripun menyadari akan hal itu, jika
pertarungan berlangsung agak lama akhirnya toh ia
sendiripun bukan tandingan.
Berpikir akan hal ini. pemuda tersebut segera membentak
keras, secara beruntun dia lancarkan tiga jurus pukulan
yang mematikan, memaksa bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng terdesak mundur dua langkah
kebelakang.
Menggunakan kesempatan disaat pihak lawan terdesak
kebelakang Lam-kong Pak segera mencungkil ujung senjata
tanduk naganya kebawah dan melemparkan tubuh ular
hitam raksasa tersebut kedalam kolam.
"Plungg.." ular raksasa berwarna hitam tadi segera
tercebur kedalam kolam air.
Bintang yang bertaburan diangkasa sendiri tak mau
lepaskan kesempatan baik itu dengan begitu saja jurus2
mematikan dilancarkan secara ber-tubi2 memaksa Lamkong
Pak harus mundur beberapa langkah kebelakang.
"Hey bocah muda cepat pancing bangsat itu datang
kemari" kembali iblis matahari berteriak keras.
Lam-kong Pak tahu bahwa kakek tua itu hendak
menggunakan tenaga gabungan dari mereka berdua untuk
merobohkan Bintang yang bertaburan diangkasa, tapi ia tak
tega berbuat demikian sebab pemuda itu tahu kalau kakek
tua tersebut telah menderita luka parah.
Melihat sianak muda itu sama sekali tak mau menuruti
kemauannya kakek iblis matahari segera membentak keras:
"Bocah muda. kalau engkau tak mau menuruti
perkataanku maka akhirnya akan merasa menyesal. ayoh
cepat bawa orang itu kemari"
Terpaksa Lam-kong Pak harus mengikuti kehendak
kakek tua itu. sambil bertempur dia mundur terus kearah
tiang batu tersebut.
Dengan adanya siasat tersebut maka Bintang yang
bertaburan diangkasa tak dapat mencari keuntungan lagi.
dari belakang Iblis Matahari melancarkan serangan maut
kearahnya, sedangkan dari depan Lam-kong Pak mendesak
dirinya dengan serangkaian ancaman maut.
Kendatipun daya pengaruh yang terpancar keluar dari
payung sengkala luar biasa dahsyatnya, namun sukar juga
baginya untuk menangkan serangan gabungan dari dua
orang jago lihay tersebut.
Walaupun Iblis matahari sendiri sudah menderita luka
yang cukup parah, tetapi setiap babatan telapaknya masih
terap menghasilkan angin pukulan yang mengerikan, hal ini
membuat Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng harus mengerahkan segenap kemampuan yang
dimilikinya untuk melakukan perlawanan-
Kurang lebih seratus gebrakan kemudian, angin pukulan
yang dilancarkan iblis matahari sudah tidak sedahyat dan
selihay tadi lagi darah segar yang mengucur keluar dari
tubuhnya kian lama kian bertambah deras, membuat
kesehatannya makin menyusut dan badannya makin lemah.
Lam-kong Pak merasa amat terperanjat, ia tahu karena
kakek tua itu harus duduk diatas tiang batu yang mendapat
getaran keras, sisi batu cadas yang tajam telah menggesek
tubuhnya membuat luka yang bermunculan ditubuhnya
kian lama kian bertambah banyak. jika Keadaan ini
dibiarkan terus maka lama kelamaan orang tua itu akan
kehabisan darah dan akhirnya binasa.
Terpaksa Lam-kong Pak harus melancarkan serangannya
jauh lebih hebat dan gencar untuk mengurangi daya
tekanan pada diri kakek tua itu. namun keadaan tersebut
pun hanya bisa bertahan untuk sementara waktu, ia merasa
dengan cara begini paling banter ia cuma bisa bertahan
sebanyak seratus sampai dua ratus gebrak lagi.
Disaat yang amat kritis itulah, tiba-tiba terdengar ombak
memecahkan ditepian kolam, Ular hitam yang amat besar
tahu2 munculkan diri dari dalam air dan meluncur diatas
batu karang dari dalam mulutnya membawa sebutir telur
ikan.
"Sreeet.. .sreet... lambung dari perut ular tersayat oleh
ujung batu yang runcing hingga terluka dan mengucurkan
darah namun ular hitam itu sama sekali tak ambil perduli
dia langsung mendekati kakek tua itu.
Dalam hati Lam-kong Pak merasa hormat dan kagum
sekali dengan kesetiaan ulaar hitam itu, ia tak menyangka
binatang jauh lebih bisa dipercaya dari pada manusia,
Setelah tiba dihadapan kakek tua itu. ular hitam tersebut
menjulurkan kepalanya mendekati mulut kakek tua itu. iblis
matahati segera membuka mulutnya dan menelan dua butir
telur ikan yang disodorkan kepadanya itu.
Sisa telur ikan yang masih berada dimulut ular hitam itu
segera ditelan kedalam perut, tak lama kemudian luka
diatas lambung dan perut ular itu sembuh kembali,
sementara kekuatan tubuh kakek tua itupun telah pulih
seperti sediakala.
Dengan begitu maka sekarang Bintang yang bertaburan
diangkasa harus menghadapi tiga orang jago sekaligus,
serangan2 yang dilancarkan ular hitam raksasa itu tak kalah
hebatnya dengan serangan seorang jago lihay, tubuhnya
melengkung dan meluncur dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat dia khusus menyerang tubuh bagian bawah,
sergapan2 kilat secara acak ini benar2 merupakan suatu
ancaman yang sukar diduga.
Setelah pertarungan beberapa saat lamanya. Bintang
yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng mulaisadar
bahwa usahanya kali ini menemui kegagalan, apa bila
pertarungan tersebut dilanjutkan niscaya dia sendiri yang
bakal celaka.
Maka secara tiba2 ia membentak keras secara beruntun
dia lancarkan beberapa buah pukulan berantai yang
memaksa mundur musuh2nya, menggunakan kesempatan
itu dengan cepat ia loncat keluar dari hutan batu cadas itu
dan lenyap dibalik mulut gua. Melihat musuhnya kabur,
Lam-kong Pak segera bertanya:
"Tanpa bantuan dari ular hitam tersebut. masa dia dapat
melarikan diri dari gua ini?"
"Engkau lupa kalau dia mempunyai payung sengkala
yang bisa membawa tubuhnya membumbung tinggi
keangkasa ?" sahut iblis matahari dengan cepat.
Dengan keterangan tersebut Lam-kong Pakpun jadi
sadar, teringat olehnya kalau payung sengkala palsu pun
bisa membawa tubuhnya membumbung tinggi keangkasa,
apa lagi payung mustika itu adalah payung yang asli. bisa
dibayangkan sampai dimanakah kehebatannya .
Tiba2 Lam-kong Pak merasa amat terperanjat, serunya:
"cianpwee. aku harus segera naik keatas, karena tiga
orang cianpweeku masih menunggu kedatanganku didepan
gua, andaikata mereka sampai berjumpa dengan gembong
iblis itu, mungkin nasibnya bakal celaka.."
"Baik biarlah loo-hek menghantar kau keluar dari sini,
menurut pengamatanku, setelah engkau makan Tok See-lek
mungkin belum ada waktu untuk melatih diri dan melebur
kekuatan tersebut kedalam tenaga dalammu, maka
tambahan hawa murni yang kau peroleh masih terbatas
sekali kalau tidak kendatipun murid durhaka itu membawa
payung sengkala, belum tentu dia bisa mengalahkan
dirimu?"
"Sampai sekarang aku masih belum punya waktu untuk
melatih diri, tapi setelah semua urusan beres, akupasti akan
mencari suatu tempat yang terpencil untuk melatih diri."
"Bocah muda. lain hari engkau tak usah datang kemari
lagi. sebab tak lama kemudian akupun akan tinggalkan
dunia yang penuh dengan dosa ini.. ."
"cianpwee, bukankah engkau tetap sehat wal'afiat?" seru
Lam-kong Pak dengan hati terperanjat, "apa lagi ditempat
ini terdapat telur ikan yang bisa maneruskan usia hidupmu,
kenapa secara tiba2 engkau hendak ambil keputusan
pendek?"
"Siksaan dan penderitaan yang dialami kami bertiga
boleh dibilang merupakan suatu penderitaan yang tak
pernah dialami oleh orang kuno manapun generasi-generasi
yang akan datang. kami bisa hidup sampai sekarang bukan
hanya disebabkan mengandalkan kemujarapan telur ikan
belaka. tapi sebab yang terutama adalah karena kami masih
menpunyai harapan dan keinginan untuk mempertahankan
hidup kami ini, kami hendak menunggu kedatangan
seseorang ketempat ini untuk menyelesaikan cita2 kami
yang belum sempat terwujud. sekarang engkau telah
menyangupi diriku untuk membersihkan perguruan kami
dari murid murtad tersebut, aku percaya apabila engkau
mau melatih diri secara baik2 maka suatu ketika Bintang
yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng dapat kau
bunuh. oleh sebab apa yang kuharapkan sudah terkabul,
maka tak lama kemudian keadaanku akan mirip lampu
lentera yang kehabisan minyak. dan akhirnya ajalku akan
tingga Ikan dunia yang penuh dosa ini untuk selama2nya"
Lam-kong Pakjadi teramat sedih, tanpa sadar dua baris
air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
"Apa yang telah aku sanggupi pasti akan kulaksanakan
se-baik2nya, kendatipun hatus terjun kelautan api atau
menyebrangi hutan pedang, apa lagi Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng adalah musuh umum
dan dunia persilatan, kendatipun kekuatan yang kumiliki
terbataspun aku pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga"
"Baik. aku percaya dengan ucapanmu, sekarang
berangkatlah tinggalkan tempat ini "
"Seandainya cianpwee benar2 sudah berangkat
tinggalkan dunia ini. satu bulan kemudian aku pasti akan
datang kembali kesini untuk menyelesaikan lelayon dari
Cianpwee..."
"Tak usah. aku sendiri dapat mengatur segala sesuatunya
bagi diriku sendiri" Dia segera bersiul nyaring, ular hitam
raksasa itu meluncur kemulut gua dan merendahkan
tubuhnya.
Sekarang Lam-kong Pak tidak takut lagi dengan binatang
itu. ia segera lompat keatas kepala ular itu, dan didalam
sebuah hentakan keras tubuhnya segera meluncur ketengah
udara dan melayang keluar dari mulut gua tesebut.
Setibanya diluar gua, dengan suatu gerakan yang cepat
bagaikan sambaran kilat dia lari keluar dari goa itu, namun
tiada sesosok bayangan manusiapun ditemukan diluar gua,
diatas permukaan tanahpun tidak kelihatan tanda2 seperti
bekas pertarungan- hal ini sangat mencengangkan hatinya.
Dalam hati kecil, pemuda itu segera berpikir:
"Tak mungkin ketiga orang cianpwee itu tinggalkan aku
seorang diri ditempat ini, apalagi berlalu tanpa memberi
kabar lebih dahulu, mungkinkah mereka telah dicelakai
oleh Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng??"
Tetapi dengan cepat pula jalan pikiran tersebut terbantah
olehnya sendiri, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki Ketiga
orang cianpwee tersebut separuh bagian telah pulih
kembali, meskipun dengan tenaga gabungan mereka bertiga
belum tentu bisa menangkan musuhnya yang tangguh,
tetapi merekapun tidak akan sampai dicelakai olehnya.
Setelah keluar dari lembah terpencil itu Lam-kong Pak
kabur menuju keatas sebuah bukit yang tinggi, sorot
matanya yang tajam segera mengawasi daerah sekeliling
tempat itu dengan seksama.
Tiba2. . .dari balik sebuah lembah terpencil menggema
suara bentakan2 keras disusul berkumandangnya deruan
angin2 pukulan.
Lam-kong Pak sadar suatu pertarungan yang amat seru
pasti sedang berlangsung, cepat- cepat ia lari turun dari atas
bukit dan menuju kearah lembah terpencil dimana suara
bentakan dan deruan angin pukulan berasal. . . .
Setibanya dimulut lembah sianak muda itu nampak agak
terperanjat rupanya dia saksikan orang2 yang sedang
bertempur seru itu bukan lain adalah tiga orang locianpwee
serta ketua perkumpulan Bulu hijau yang ampuh itu.
Sebutan Ketua perkumpulan bulu hijau mulai sekarang
harus diganti dengan nama sebenarnya, sebab dia bukan
lain adalah suami dari cu Hong Hong yakni Sian-yan Peng.
Ia munculkan diri dengan paras muka aslinya, waktu itu
jago tua she Sian-yan tersebut sedang terlibat pertarungan
yang amat seru melawan jago angin geledek Lam-kong Liu,
sementara Lu It Beng serta oei ci-hu berdiri kurang lebih
tiga tombak dari gelanggang sambil mengikuti jalannya
pertarungan itu dengan seksama.
Lam-kong Pak merasa serba salah dengan tenaga dalam
yang dimilikinya saat ini pemuda itu percaya bahwa Sianyan
Peng sudah bukan tandingannya lagi. akan tetapi ia tak
dapat menyerang orang itu, sebab ketua perkumpulan bulu
hijau itu pernah selamatkan jiwanya dari ancaman maut.
Kendatipun musuh bebuyutannya adalah ayah
kandungnya sendiri Lam-kong Pak sadar tak mungkin
baginya untuk mencampuri urusan tersebut apa lagi
melibatkan diri dalam pertarungan-
Sementara itu oei ci-hu serta Lu It Beng kelihatan sangat
gelisah sekali merekapun tak bisa ikut melibatkan diri
dalam pertarungan tersebut, keadaan dari kedua orang jago
tua itu ibarat semut yang berada diatas kuali panas...panik
tapi tak bisa berbuat apa- apa.
suatu ketika tiba2 oei ci-hu berteriak dengan suara
lantang:
"Sian-yan peng apa yang terjadi dimasa lampau
kesemuanya cuma kesalah pahaman belaka, cepatlah
hentikan serangan2mu itu janganlah dikarenakan perbuatan
itu membuat sanak keluargamu jadi menyesal dan sedih
sepanjang masa, . .Hey, Sian-yan Peng .. hentikan
pertarungan, aku akan jelaskan duduknya persoalan hingga
jelas"
"oei ci-hu" sahut Sian-yan Peng dengan suara yang
dingin dan ketus, "lebih baik tutup mulutmu yang bau dan
tak usah banyat bicara yang tak karuan, sebentar lagi aku
masih akan bikin perhitungan dengan engkau bersiapsiaplah
untuk menantikan saat ajalmu "
"oooh...hooo. . .lebih baik lagi kalau engkau hendak
bikin perhitungan dengan diriku" teriak 0ei ci-hu dengan
suara lantang, "aku harap sebelum perhitungan dibikin
sudilah kiranya engkau dengarkan dulu penjelasanku ini"
"Kalau mau bicara, tunggu saja sampai salah satu
diantara kami berdua keluar sebagai pemenang, sekarang
percuma kalau kau ingin bicara karena aku tak sudi untuk
mendengarkannya "
"Blaamm .. Blaamm... Blaammm..." tiga pukulan
berantai menghasilkan tiga benturan keras yang amat
memekikan telinga...
Lam-kong Liu terdesak hebat, hingga tubuhnya
terdorong mundur sejauh dua langkah kebelakang,
Rupanya hawa murni yang dimilikinya belum pulih
kembali seperti sedia kala, hal ini membuat jago tua tersebut
tak mampu menandingi ketangguhan musuhnya.
Manusia yang suka pelancongan Lu It Beng ikut buka
suara, ujarnya dengan suara hambar:
"Sian-yan Peng, siau-te ada sepatah dua patah kata yang
terasa mengganjal dalam tenggorokan, apabila tidak
kuutarakan keluar, karena itu mau tak mau terpaksa harus
kuucapkan juga . meskipun Lamkong-heng ada dendam
dan sakit hati dengan dirimu, sepantasnya kalau persoalan
ini diselesaikan secara adil dan tidak berat sebelah, sekarang
tenaga dalam yang dimilikinya belum pulih kembali seperti
sedia kala, sekalipun dalam pertarungan nanti engkau
berhasil menangkan dirinya, namun kemenang an tersebut
tidak adil, apakah engkau tak takut ditertawakan orang?"
Mendengar seruan tersebut, tiba2 Sian-yan Peng tarik
kembali serangannya dan mundur tiga langkah kebelakang,
tegurnya dengan suara lantang:
"Lam-kong Liu sampai kapan tenaga dalammu baru
pulih kembali seperti sedia kala?"
"Sekarangpun tenaga dalamku telah pulih kembali
seperti sedia kala." jawab Lam-kong Liu cepat. "engkau tak
usah dengarkan siasat menunda pertarungan dari mereka
berdua."
Sian-yan Peng segera tertawa dingin.
"Heeehhh-heeehhh-heeehh... kejantanan dan
kegagahanmu memang patut dipuji, aku orang Sian-yan
Peng punya keyakinan bisa menangkan dirimu, rasanya
akupun tak usah mencari keuntungan disaat orang lain
sedang lemah, persoalan diantara kita berdua akan
kuselesaikan satu bulan mendatang."
Setelah berhenti sejenak tiba2 ia berpaling kearah Awan
hitam pengejar rembulan herdiknya:
"oei ci-hu apakah saat ini tenaga dalammu sudah pulih
kembali seperti sedia kala?"
"Tenaga dalamku tak pernah hilang ataupun berkurang
kalau ingin bertempur silahkan saja turun tangan aku sudah
bersiap sedia untuk melayani dirimu"
"Bagus sekali bagaimanapun juga aku toh cuma ingin
adu kepandaian saja dengan dirimu... Nah sebelum
pertarungan dilangsungkan aku hendak mengajukan satu
pertanyaan dahulu kepadamu, kenapa secara diam2 kau
sergap diriku dimasa yang silam? sebetulnya apa
maksudmu?"
"Waaduuh... maksud baik dianggap berhati jahat.., air
susu dibalas dengan air tuba, ketahuilah dimasa lampau
secara kebetulan aku telah menemukan ada dua orang tamu
tak diundang yang sangat misterius menyelundup kedalam
rumahmu, aku segera menguntil dibelakang mereka secara
diam2 sungguh tak nyana maksud baikku telah kau salah
artikan engkau anggap maksud kedatanganku kerumahmu
tempo hari adalah untuk mencuri kitab payung sengkala?
dalam kenyataan kitab pusaka itu telah dirampas oleh Sun
Han Siang"
"omong kosong" hardik Sian-yan Peng dengan penuh
kegusaranoei
ci-hu balas tertawa dingin-
"Heeehhh-heeehhh-heeehhh...kalau tidak perCaya yaa
sudahlah bagaimanapun juga aku tahu kalau dalam hati
kecilmu sebetulnya telah tersimpan segumpal rasa dongkol
yang telah dipendam selama puluhan tahun lamanya dan
engkau hendak mencari orang yang cocok untuk
melampiaskan rasa mangkelmu itu. ayoh majulah akan
kusambut semua serangan yang hendak kau lontarkan"
"Tunggu sebentar" tiba2 terdengar bentakan nyaring
berkumandang datang dari arah mulut lembah.
Lam-kong Pak dengan suatu gerakan tubuh yang sangat
cepat menerobos masuk kedalam lembah sesudah meluncur
keatas permukaan tanah serunya kembali dengan suara
lantang:
"Sian-yan cianpwee harap jangan turun tangan lebih
dahulu, sedikit banyak aku yang muda telah mengetahui
duduk persoalan yang sebenarnya"
sian-yan Peng berpaling setelah mengetahui siapa yang
datang ia segera tertawa dingin serunya.
"Hey bocah muda apakah engkau hendak mencampuri
urusan ini? ayoh cepat jawab"
"Aku yang muda tak berani mencampuri urusan yang
tidak menyangkut akan diri, aku hanya ingin mengatakan
bahwa sedikit banyak aku yang muda berhasil mengetahui
tentang duduk persoalan yang sebetulnya..^"
la berhenti sebentar. setelah termenung sejenak kembali
pemuda itu melanjutkan kata2nya:
"Ketika terjadinya pertarungan seru antara ibuku
melawan cu cianpwee dimasa silam. orang yang telah
menghantam tubuh cu cianpwee sehingga terjatuh kedalam
jurang adalah Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng, orang yang menyergap ayahku adalah Kakek ombak
menggulung..."
"Lalu siapakah yang telah menyerang diriku?" sela Sianyan
Peng dengan suara keras. "Perbuatan itu dilakukan oleh
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng"
"Darimana engkau bisa mengetahui akan peristiwa ini?"
"Kakek ombak menggulung yang menceritakan sendiri
persoalan itu kepadaku" Sian-yan Peng segera mendengus
dingin-
"Hmm bagaimanapun juga , persengketaan antara diriku
dengan Lam-kong Liu tak bisa disudahi dengan begitu saja,
satu bulan kemudian aku akan menyelesaikan persoalan ini
se-adil2nya. Nah selamat tinggal."
Tanpa membuang waktu banyak lagi ia segera enjotkan
badan dan meluncur keluar dari lembah tersebut.
Menjaksikan kekerasan kepala orang itu oei ci-hu
gelengkan kepalanya berulangkali.
"Aaai.. orang kuno berkata: dendam karena Cintajauh
lebih dalam daripada dendam pribadi. perkataan itu sed
ikitpun tidak salah, kalau dilihat dari duduk persoalan ini
semua terjadi terletak pada diri Sun Han Siang, dialah bibit
bencana yang mengakibatkan terjadinya semua peristiwa
ini, orang kuno mengatakan: Wanita adalah racun dunia
sekarang aku baru perCaya bahwa ucapan itu memang
sedikitpun tidak keliru....."
"oei cianpwee engkau tak boleh menghina ibuku." seru
Lam-kong Pak dengan nada penasaran, "dia toh sama sekali
tidak salah dalam peristiwa ini."
Kembali oei ci- hu tertawa dingin-
"Heeehh..heeehh..heeehh.. bocah muda, apa yang kau
ketahui? dimasa lampau ibumu juga bukan seorang
perempuan sejati dari kalangan lurus, kalau tidak percaya
boleh tanyakan sendiri kebenaran ucapanku ini dari
ayahmu"
Tanpa sadar Lam-kong Pak berpaling kearah ayahnya.
Lam-kong Liu menghela napas panjang, ujarnya^
"Seandainya dikatakan bahwa ibumu adalah seorang
jahat, tentu saja aku tak akan membenarkan perkataan itu
tapi dalam kenyataan dia mmemang berhati keji dan
telengas. entah selama ia jadi pemilik Pengadilan dunia
persilatan- entah berapa banyak jago lihay dari kalangan
lurus maupun kalangan sesat yang menemui ajalnya
diujung telapak tangannya. mungkin jumlah korban yang
mampus sudah mencapai ratusan orang banyaknya..."
Lam-kong Pak membungkam dalam seribu bahasa. ia
percaya apa yang diucapkan ayahnya sudah pasti tak bakal
salah, sebab sewaktu berada dalam pertemuan besar untuk
memperebutkan urutan nama besar. ia pernah rasakan pula
akan kekejian ibunya, hal itu menunjukan bahwa perbuatan
ibunya dimasa lampau bukanlah suatu perbuatan yang
betul.
Sesudah berdiam beberapa saat Lam-kong Pak segera
alihkan pokok pembicaraan kearah lain katanya:
"Apakah cianpwee bertiga sudah berjumpa dengan
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng?"
"Tidak." jawab oei ci-hu sambil menggeleng. "baru saja
engkau masuk kedalam gua, Sian-yan Peng telah muncul
disana maka kami segera mengikuti dibelekangnya
berangkat kelembah ini?"
Lam-kong Pak termenung sebentar kemudian iapun
menceritakan semua kejadian yang baru saja dialaminya
didalam gua mulut gunung berapi,
Mendengar kisah tersebut ketiga orang kakek tua itu
menghela napas tiada hentinya, mereka ikut beriba hati atas
kejelekan nasib yang dialami iblis matahari, iblis rembulaniblis
bintang. Terdengar oei ci-hu berkata:
"Sungguh tak kusangka pada akhir hidupnya tiga bintang
bertangan iblis dapat tobat dari kesalahannya dan kembali
kejalan yang benar, sayang nasib mereka memang jelek
sehingga harus mengalami akhir yang mengenaskan...
terutama payung sengkala itu sudah terjatuh ketangan
gembong iblis tua. entah kejahatan dan kekejian apa lagi
yang dia lakukan dikolong langit..."
"cianpwee bertiga tenaga dalam yang kalian miliki masih
belum pulih kembali seperti edia kala. kalian harus mencari
tempat yang terpencil untuk baik2 melatih diri,sehingga
kekuatan kalian bisa pulih kembali seperti sedia kala.
khususnya untuk bersiap sedia menghadapi Sian-yan
cianpwee serta Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hoa Seng.. Sekarang aku yang muda ingin mohon diri
terlebih dahulu. aku hendak pergi mencari ibuku serta
rekan2 lainnya"
"Pergilah..." sahut oei ci-hu, "sekarang kami telah
menggunakan khasiat dari ilmu hipnotis Tong-bin-toa-hoat
untuk mengembalikan hawa murni kami yang hilang, aku
percaya tak lama kemudian seluruh kekuatan yang kami
miliki telah pulih kembali seperti sedia kala. Nah sampai
jumpa kembali satu bulan mendatang dikota Lok-yang."
Setelah berpamitan dengan ketiga orang kakek tua itu.
berangkatlah Lam-kong Pak, menigggalkan lembah terebut,
ia tak tahu kemana harus pergi mencari jejak dari Sun Han
Siang sekalian. dia kuatir kalau sampai ibunya sekalian
berjumpa dengan Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hoa Seng. sebab dengan kekuatan gabungan dari beberapa
orang itu belum tentu bisa menandingi kedahsyatan ilmu
silat yang dimiliki iblis tua itu. apa lagi payung sengkala
benda mustika yang maha dahsyat itu sudah terjatuh
ketangannya.
Setelah melakukan pencarian yang seksama. disekeliing
lembah terpencil itu. Lam-kong Pak baru berangkat menuju
kekota Kay- hong.
Setelah masuk kedalam kota, ia lihat diujung sebuah
jalan raya terdapat sebidang tanah lapang yang sedang
dikerumuni orang banyak. suasana ramai sekali.
Rupanya hari itu adalah hari baik buat mereka, suasana
didalam kota penuh sesak dengan beraneka macam jualan-
Ada yang pasang tenda untuk melihat nasib. ada yang
mengadakan atraksi silat, ada yang jual silat, jual cerita
serta pelbagai macam permainan.
Sambil ber-desak2an diantara kerumunan orang banyak.
Lam-kong Pak melanjutkan perjalanannya masuk kekota.
Tiba2 disisi jalan kurang lebih satu tombak
dihadapannya, ia saksikan ada dua orang manusia sedang
menjalankan praktek lihat nasib, perawakan tubuh mereka
sangat menyolok dan lain daripada keadaan manusia biasa.
Yang tinggi dan kurus bagaikan sebuah bambu, dengan
badan ibaratnya kulit pembungkus tulang duduk dibelakang
sebuah meja. Sedang yang lain pendek dan gemuk bagaikan
buah beligo, perutnya buncit dengan panca indranya
hampir berdempetan satu sama lainnya.
Dagangan mereka berdua nampak agak sepi karena
orang2 yang berkumpul disekitar tempat itu lebih banyak
yang tertarik untuk melihat atraksi dari pada melihat nasib.
Dlam2 Lam-kong Pak mendesis, ia kenali dua orang
manusia berbentuk aneh itu sebagai "Hey-thian-siang-sat"
tetapi berhubung paras muka mereka sudah dirubah
sedemikian rupa maka andaikata bukan orang yang sangat
mengenal diri mereka, sulit untuk mengetahui indentitas
mereka yang sebenarnya.
Tiba2... dari balik kerumunan orang banyak muncul dua
orang manusia, satu pria yang lain perempuan.
Mereka bukan lain adalah "Hek teng-tui-hun" lampu
hitam pengejar nyawa Leng cing ciu serta Janda kawin
tujuh kali Pui Kun.
Menyaksikan kemunculan dua orang manusia itu, Lamkong
Pak segera gelengkan kepalanya berulang kali, dalam
hati ia berpikir.
"Sungguh tak kusangka perempuan lonte yang tak tahu
ketuaan dirinya itu berhasil menggaet lampu hitam pengejar
nyawa.. Aaaai,. entah apa maksud dan tujuan mereka
datang kemari?"
Sementara ia masih termenung memikirkan persoalan
itu. tampaklah catatan mati hidup telah menggapai kearah
lampu hitam pengejar nyawa sambil berseru, "Eeeei.. yaya
yang itu silakan datang kemari untuk ber-cakap2 menurut
nasib yang tertera diatas wajahmu dalam tiga hari
mendatang engkau bakal ketimpa bencana besar."
Lampu hitampengejar nyawa Leng cing ciu segera
mendengus dingin sahutnya: "Hmm aku tidak perCaya
dengan segala macam omong kosong dari kalian penipu2
ulung"
"Yaya kalau engkau tidak perCaya maka dikemudian
hari kaupasti akan menyesal sekali, mumpung sekarang
belum terlambat kami bisa tunjukan jalan terang untuk
menghindari bencana besar itu."
Perkataan yang sangat menarik hati ini segera
menggerakkan hati Lampu hitam pengejar nyawa, ia
mendekati tanda tersebut seraya bertanya: "Bagaimana
caranya untuk menghindarkan diri dari bencana besar itu?"
= =oooooooooo= =
"ASAL engkau bersedia membayar dua puluh tahil perak
aku akan mewakili dirimu untuk panjatkan doa dan
memohon pengampunan dalam kuil shia- hong-bio
kemudian akan carikan pula seorang pengganti untuk
mewakili dirimu menemui kematian, dengan jalan begitu
maka bencana besar akan terhindar dari tubuhmu." oceh
catatan mati hidup.
Pada saat yang bersamaan Hek sim wangwee atau
hartawan berhati keji sedang menggapai kearah Janda
kawin tujuh kali sembari berseru.
"Eeei.., nona kemarilah sebentar aku lihat bintang
kesialan telah memancar diatas wajahmu, ancaman
kematian sudah berada didepan mata kalau engkau tidak
cepat2 cari jalan keluar maka jiwamu pasti akan melayang,
tapi nona tak usah kuatir aku punya cara untuk selamatkan
jiwamu. "
"Huuh... omong kosong ngaco belo jangan sembarangan
omong yaa.. aku akan kawin lagi masa ada bencana
kematian diambang pintu? mungkin kau salah lihat bintang
terang kau katakan bintang kesialan-"
"Aku adalah ong Poan Sian (ong setengah dewa)"
Hartawan berhati keji memperkenalkan, "diriku bisa
melihat kejadian yang sudah lewat dan meramalkan
kejadian yang akan datang, kalau kutinjau dari alis wajah
nona secara beruntun engkau harus kawin dengan dua belas
orang suami dengan begitu hidupmu baru bisa terjamin
sampai akhir tua nanti betul tidak apa yang kuucapkan-"
"coba lihat sampai sekarang aku sudah pernah kawin
berapa kali? kalau engkau bisa menjawab secara tepat aku
baru akan mempercayai perkataanmu."
Hartawan berhati keji putar sepasang biji matanya
mulutnya pura2 berkemak-kemik sedang jari tangannya
seperti lagi menghitung, akhirnya ia berkata:
"Menurut perhitunganku tak lama kemudian nona akan
kawin dengan suamimu yang kedelapan-"
Mendengar jawaban tersebut, sekujur badan Janda kawin
tujuh kali bergetar keras
"Wuoo engkau benar2 setengah dewa, perkataanmu
memang tidak keliru barusan engkau katakan bintang
kesialan sudah berada didepan mata, coba terangkan dulu
berdasarkan apa engkau mengatakan demikian?"
"Harap nona serahkan dulu dana sekedarnya buat
ongkos, kemudian dengan se-jelas2nya akan kubeberkan
semua kesialan yang bakal menimpa diri nona, andaikata
ramalanku tidak cocok maka bukan saja uangnya kembali,
bahkan engkaupun boleh mengobrak-abrik tendaku ini."
Akhirnya Janda kawin tujuh kali terpancing juga oleh
perkataannya, ia segera bertanya:
"Berapa tahil perak yang kau butuhkan sebagai dana ?"
"Aku tahu dalam saku nona terdapat banyak sekali uang
perak. apa lagi persoalan ini menyangkut usia serta
kehidupan nona, karena itu ongkosnya pun harus berlipat
ganda, bagaimana kalau nona bayar dulu empat puluh tahil
perak?"
Janda kawin tujuh kali Pui Kun adalah salah seorang
diantara tiga manusia paling miskin didunia persilatan
dalam sakunya saat itu paling banyak cuma ada tujuh
delapan puluh tahil perak belaka ongkos yang dimintanya
sangat tinggi, ia jadi sayang dansakit hati, sambil tertawa
dingin segera ujarnya:
"Huuh,.. mahal amat ongkos yang musti kubayar ogah
aku lebih baik tak usah saja."
"Kalau toh nona tidak ingin menghindari bencana besar
yang berada didepan mata akupun tak akan terlalu
memaksa kehendakmu silahkan nona berlalu dari sini"
Walaupun dalam hati Janda kawin tujuh kali merasa
sayang untuk membuang uang sebesar itu tetapi diapun
agak menguatirkan nasib sendiri terutama setelah
didengarnya bencana besar telah berada didepan mata,
akhirnya dengan perasaan berat dia berkata:
"Begini saja bagaimana kalau engkau beri sedikit
potongan buat aku? anggap saja sebagai korting?"
"Tidak kurang setengikpun aku tak sudi bicara, lebih baik
coba pergi saja dari sini."
Janda kawin tujuh kali jadi gemas bercampur
mendongkol teriaknya keras2:
"Bagaimana kalau tiga puluh tahil perak saja? tentunya
engkau tidak merasa keberatan bukan?"
"Selamanya aku setengah dewa tak pernah menawarkan
dan tak sudi ditawar kalau orang keberatan Untuk keluar
uang lebih baik cepat2lah berlalu dari sini dari pada
kehadiranmu terus menerus ditempat ini akan mengganggu
kelancaran usahaku."
Dengan gemas mendongkol dan penasaran apa boleh
buat, Janda kawin tujuh kali ambil keluar empat puluh tahil
perak dan di banting keatas meja, serunya dengan jengkel^
"Nah, ambillah uang itu ayoh cepat katakan bencana
besar apa yang sedang mengancam nonamu?"
Dengan sangat ber-hati2 Hartawan berhati keji
masukkan uang perak itu kedalam sakunya kemudian
menjawab:
"Setelah mengambil harta kekayaan orang lain sudah
menjadi kewajibanku untuk lenyapkan bencana orang.
selamanya ramalan2 sakti dari aku ong setengah dewa tak
pernah meleset, orang yang hendak nona kawini sekarang
seharusnya adalah seorang manusia kenamaan dalam
kolong langit, orang itu sudah pasti bukan rekan yang
melakukan perjalanan bersama dirimu tadi"
Janda kawin tujuh kali segera tertawa dingin.
"Heeehh-heeehh-heeehhh...ramalanmu keliru besar
nonamu telah...."
Hartawan berhati keji tersenyum. tukas dengan cepat.
"Nona berwajah cantik dan suka menghibur diri dengan
segala macam kesenangan kalau cuma begitu saja sih belum
terhitung sebagai suatu perkawinan. sebab kalau begituan
pun dianggap sebagai suatu perkawinan mungkin nona
sudah pernah kawin ber-ratus2 kali banyaknya."
"Jadi maksudmu, aku bakalan menikah dengan seorang
manusia yang luar biasa sekali?"
"Betul kalau nona adalah seorang jago yang pernah
belajar ilmu silat, maka engkau bakal kawin dengan seorang
jagoan lihay dari kolong langit, ramalanku ini sudah pasti
tak bakal salah lagi"
Sekali lagi sekujur badan Janda kawin tujuh kali bergetar
keras. tanpa sadar ia bergumam seorang diri:
"Jangan2 aku akan kawin dengan siluman tua itu...?
tapi...aah masa iya?"
"Benar dialah orangnya...nona bakal kawin dengan
orang yang kau maksudkan itu."
Janda kawin tujuh kali segera tertawa dingin.
"Heeehh-heeehh-heeehhh... engkau tahu siapakah yang
kumaksudkan?"
"Aku bukan seorang anggota dunia persilatan. tentu saja
tidak tahu siapakah orang itu, tapi aku dapat melukiskan
bentuk wajah serta potongan badan orang yang nona
maksudkan itu"
"Kalau engkau dapat menebak secara jitu, nonamu
segera akan menghadiahkan kembali sepuluh tail lagi"
Paras muka Hartawan berhati keji berbunga, dengan
muka berseri katanya:
"Harap nona suka menyerahkan lebih dahulu hadiah
yang nona janjikan itu, bagaimanapun toh kalau aku salah
bicara maka engkau masih dapat mendepak tendaku ini"
Janda kawin tujuh kali tertawa dingin.
"Heehh...heehh...heeehh... kalau engkau dapat
melukiskan raut wajah orang itu secara tepat, engkau
benar2 adalah dewa hidup,."
Sambil berkata ia merogoh kedalam sakunya, dan
serahkan sepuluh tahil perak. keatas meja.
Tanpa banyak bicara Hartawan berhati keji menyambar
uang diatas meja dan segera dimasukkan kedalam sakunya.
"orang itu berusia tujuh puluh tahunan, badannya tinggi
besar dan mukanya penuh bopeng putih..."
Janda kawin tujuh kali tak dapat menahan emosinya
lagi, ia segera menjerit kaget,.
"Woou.. engkau.,, benar2 seorang dewa
hidup,,.ramalanmu sungguh lihay"
Hartawan berhati keji menyeringai dan tertawa senang,
sambil menggertak gigi ujarnya:
"Nama besar ong setengah dewa sudah amat tersohor
dimana-mana empat penjuru kolong langit tak ada yang tak
kenal namaku, kalau cuma meramal begitu saja sih urusan
keciL. apabila nona bersedia untuk mengorbankan uang
sebesar dua puluh tahil perak lagi, maka akan kutunjukkan
sebuah jalan terang bagimu"
Janda kawin tujah kali jadi mendongkol bercampur
jengkel, ia berteriak keras:
"Uang dalam saku nonamu tinggal tiga puluh tahil perak
belaka, apakah engkau hendak menguras semua isi
kantongku hingga ludas?"
Hartawan berhati keji tersenyum. "Tangan nona halus
dan empuk itu tandanya selama hidup tak akan kekurangan
uang asal engkau kirim satu kerlingan mata yang aduhai. .
tanggung uang akan datang sendiri ketanganmu."
"coba kau terangkan dahulu jalan terang apakah yang
hendak kau tunjukkan kepadaku??"
"Aku dapat membuat engkau jadi manusia nomor satu
didalam dunia persilatan, mulai saat ini bukan saja apa
yang kehendaki akan terpenuhi, tak pernah kekurangan
uang lagi, bahkan setiap malam bakal ada pemuda tampan
yang kuat dan gagah menemani kau tidur."
Janda kawin tujuh kali jadi tertarik sekali oleh obrolan
tersebut, dengan Cepat dia ambil keluar dua puluh tahil
perak dari sakunya dan diletakkan keatas meja, serunya,
"Ayoh cepat katakan"
Dengan cekatan Hartawan berhati keji masukkan uang
perak itu kedalam sakunya, lalu berkata:
"Dari sini menuju kearah barat. ketika hampir mendekati
kaki tembok kota terdapat sebuah kebun bunga yang besar
milik keluarga Siok. tempat itu sangat sepi. terpencil dan
sudah lama tak pernah dihuni orang, tetapi didalam kebun
bunga yang amat luas itu terdapat pelbagai macam
bangunan loteng serta gardu istirahat yang sangat indah,
malam nanti mendekati kentongan ketiga, berangkatlah
menuju kegedung tersebut, sebelum berangkat dandan dulu
yang ayu agar kelihatan lebih menarik hati. apa bila sudah
mengadakan pertemuan dengan setan tua itu. gunakanlah
kesempatan yang sangat baik itu untuk mencuri benda
mustika yang dimilikinya, asal benda mustika itu berhasil
kau dapatkan maka engkau akan jadi manusia nomor satu
dikolong langit?"
Timbul kecurigaan dalam hati Janda kawin tujuh kali
setelah mendengarperkataan itu, dia segera menegur:
"siapakah sebenarnya engkau? darimana engkau bisa
tahu tentang urusan dunia persilatan?"
"Pepatah kuno mengatakan: kalau seorang siucay tak
pernah keluar pintu rumah. dia tak akan tahu urusan dunia.
Aku mendapat julukan setengah dewa, masa urusan sekecil
itu saja tidak tahu.,. apakah engkau tidak terlalu menghina
akan kepandaianku?"
Janda kawin tujuh kali segera bangkit berdiri, dengan
enteng ia bergerak maju kedepan. tiba2 ia merasa sakit hati
sekali karena lima puluh tahil perak telah kabur dengan
begitu saja, sambil tertawa dingin ia menerjang kemuka dan
menyambar saku Hartawan berhati keji yang berada
dihadapannya.
Rupanya Hartawan berhati keji sudah menduga sampai
kesitu, tubuhnya yang bulat bagaikan bola daging segera
bergerak mundur kebelakang dengan suatu gerakan
cekatan, serunya sambil tertawa cekikikan.
"Hiiihh...hiiihh...hiiihh.. nona.,.engkau jangan sok
bergurau aah.. aku selama hidup paling takut geli.. jangan
me-ngitik2 pinggangku..."
Dengan suatu gerakan yang manis dia menghindarkan
diri, dengan demikian cengkeraman yang dilancarkan Janda
kawin tujuh kali mengena disasaran yang kosong.
Melihat serangannya gagal, perempuan cabul itu merasa
agak tidak puas, dengan jurus macan tutul unjukkan cakar,
sekali lagi dia cengkeram saku orang itu. Hartawan berhati
keji segera berteriak keras2:
"Aduuuh..tolong...tolong.. .perempuan ini hendak
merampas uang perakku. . .tolong ... ada begal perempuan.
. . "
Sambil gembar-gembor dia melarikan diri kearah orang
banyak, teriakan tersebut segera memancing perhatian
orang banyak dan didalam waktu singkat sekitar tempat itu
telah dikerumuni orang banyak.
Dalam keadaan demikian terpaksa Janda kawin tujuh
kali harus urungkan maksudnya tanpa memperdulikan diri
Lampu hitam pengejar nyawa lagi dia kabur lebih dahulu
menuju ketengah kerumunan orang banyak.
Keadaan yang dialami Lampu hitam pengejar nyawa
jauh lebih mengenaskan lagi tujuh puluh tahil perak kena
tertipu binasa ludas, dengan wajah uring2an terpaksa ia
kabur menuju ketengah kerumunan orang banyak.
Setelah dua orang pria dan wanita itu lenyap dari
pandangan mata Hartawan berhati keji baru unjukan diri
dari tempat persembunyiannya sambil mengerahkan
tubuhnya yang bulat bagaikan gentong ia dekati catatan
mati hidup sambil menegur, "Toa-ya daganganmu hari ini
tentu sukses bukan?"
"Waah payah sekali deh." jawab catatan mati hidup
dengan cepat, "aku Toa-ya sudah bersilat lidah putar bibir
berusaha untuk menjebak cecunguk itu tapi sama sekali tak
ambil gubris setengikpun aku tidak dapat bagaimana
dengan Ji-ya?"
HARTAWAN berhati keji gelengkan kepalanya yang
bulat gede seperti biligo jawabnya.
"Aaai. .toa-ya, engkau toh tahu sebetulnya aku jie-ya
masih punya setahil uang perak...sungguh tak nyana
mencuri ayam tak berhasil, malahan uangku sendiri kena
dirampas..sungguh sialan"
Lam-kong Pak yang secara diam2 mengikuti jalannya
peristiwa itu segera memaki dalam hati kecilnya setelah
mendengar jawaban tersebut:
"Kurang ajar, mereka benar2 setan pelit dalam saku
masing2 terdapat puluhan tahil perak. tapi diluaran tak mau
bicara sejujurnya, entah apa yang sedang mereka lakukan
ditempat ini? biarlah kuintil terus gerak-gerik mereka
berdua"
Sementara pemuda itu masih termenung, catatan mati
hidup telah berkata lagi:
"Ji-ya urusan sekecil ini buat apa dibicarakan biarlah hari
ini aku toa-ya yang menjamu dirimu, apalagi ketika tempo
hari aku kalah bertaruh satu meja perjamuan sampai
sekarang toh belum kubayar, ayoh kita cari rumah makan."
"Benar juga perkataan dari toa-ya. ayoh berangkat" sahut
Hartawan berhati keji dengat cepat, "didengar dari
pembicaraan toa-ya tersebut. dapatlah dibuktikan kalau
hubungan persaudaraan diantara kita berdua tak bisa
dibandingkan dengan persaudaraan manapun juga . kalau
ada kesempatan aku ji-ya pasti akan balas menjamu diri toaya
juga ."
Dua orang manusia ajaib itu segera tinggalkan tenda
tempat usaha mereka dan berangkat menuju kesebuah
rumah makan yang besar dan mentereng.
Diam2 Lam-kong Pak mengintil dibelakang mereka
berdua, dengan suatu gerakkan yang manis dia berhasil
mencari tempar duduk ditengah ruangan.
Dua orang makhluk ajaib tersebut memilih tempat duduk
disebelah luar, setelah duduk catatan mati hiduppun
berkata:
"Ji-ya, ini hari aku sengaja akan memilih sendiri sayur
yang akan dipesan, agar kita berdua bisa menikmati
masakan yang lezat dengan se-puas2nya"
"Hooree... toa-ya, engkau memang royal sekali." teriak
Hartawan berhati keji sambil bertepuk tangan kegirangan.
"toa-ya, engkau tentu tahu bukan beberapa hari belakangan
ini perutku terasa amat masam dan kering, lebih baik
pilihlah menu sayur yang banyak mengandung minyak
babi"
"ooah...tentu saja..tentu saja.. asal ji-ya tidak merasa
Canggung. aku pasti tak akan membuat dirimu jadi
keCewa"
Habis berkata catatan mati hidup segera bangkit berdiri
dan turun dari loteng untuk pesan sayur, beberapa saat
kemudian ia muncul kembali disamping rekannya sembari
berkata:
"Ji-ya, sungguh tak disangka kita harus berjumpa dengan
kedua orang gembong iblis itu disini"
"Perhitungan dari majikan sun selamanya jitu dan tepat.
ia telah memperhitungkan bakal ada beberapa orang
gembong iblis akan munculkan diri disini. pekerjaan kita
tidak lebih hanya mendorong ombak membantu gelombang
agar dua orang gembong iblis itu mencari penyakit buat diri
sendiri. sungguh tak disangka mereka benar2 tak takut mati.
malam ini pasti ada pertunjukkan bagus disini."
Mendengar perkataan tersebut. satu ingatan secara cepat
berkelebat dalam benak Lam-kong Pak, tahu rombongan
yang dipimpin ibunya sudah pasti berada disekitar tempat
ini, sedangkan kedua orang makhluk ajaib itu hanya
menjalankan tugas yang diperintahkan kepada mereka
untuk menipu habis uang perak yang dimiliki Lampu hitam
pengejar nyawa serta Janda kawin tujuh kali kemudian
disuruh mereka pergi menempuh bahaya.
sementara ia masih termenung, dari anak tangga
berkumandang suara gemericikan kayu yang berdenyit,
tanpa berpalirg lagi Lam-kong Pak. dapat menduga kalau
malaikat raksasa Loo Liang-jan pasti sudah munculkan diri
disitu, sebab langkah kaki orang lain tak mungkin seberat
itu, apabila membuat seluruh ruangan bergetar keras.
Sedikitpun tidak salah, terdengar Loo Liang-jan berteriak
keras setibanya dihadapan dua orang manusia jelek^
"Aku Loo-tua mendapat tugas untuk jual silat ditempat
ini dengan tujuan untuk melindungi kerja kalian berdua,
sebetulnya aku berhasil mendapat untung beberapa tahil
perak, siapa tahu uangku kena dicuri oleh kadet2 sialan,
untung kalian berdua mendapat keuntungan besar, ini hari
aku Loo-tua akan ikut makan sampai se-puas2nya"
"Loo Liang-jan takaran perutmu terlalu besar dan
mengerikan, kami tak mampu memberi makan dirimu"
teriak catatan mati hidup dengan cepat, "jamuan yang
kuadakan pada hari ini semuanya telah menelan biaya
sebesar tujuh delapan tahil perak. bagaimana kalau kuberi
dua tiga tahil perak kepadamu? tapi kalau lain kali engkau
sudah bertemu dengan Lam-kong sauya, jangan lupa untuk
mintakan ganti buat diriku loo"
"oooh. sudah tentu, sudah tentu, engkau tak usah kuatir"
Tak lama kemudian pelayan muncul sambil membawa
dua baki besar serta dua teko arak.
setelah dihidangkan keataS meja Hartawan berhati keji
segera mendengus dingin. Dengan muka masam ia berseru:
"Toa-ya, sayur apaan ini?"
"oooh... ji-ya, engkau benar2 tak tahu diri, masih ingat
tidak sewaktu tempo hari engkau mengatakan sedang sakit
perut dan menceret, bukankah engkau katakan jangan
pesan makanan yang terlalu mengandung minyak? aku
telah pesankan beberapa piring sayur mayur untukmu,
akhirnya engkau malah tak senang hati. Barusan engkau
mengatakan kalau belakangan ini kurang makan hidangan
yang berminyak. maka sengaja toa-ya pesan kepada koki
agar siapkan sayur yang mengandung banyak minyak
babinya, coba lihat sayur ini bernama Ang-sio Ti-ba kulit
babi masak kecap"
Loo Liang-jan yang rakus sama sekali tidak ambil perduli
kulit babi atau bukan, sumpitnya dengan cepat bekerja
untuk sikat hidangan tersebut.
Hartawan berhati keji memandang sayur lain yang
dihidangkan- kemudian sambil mendengus serunya
kembali: "Toa-ya, lalu apa nama sayur ini?"
"Oooh sayur ini namanya duri ikan masak saus"
Hartawan berhati keji kontan tertawa dingin.
"Hahh..heehh.,heehh...aku cuma pernah dengar
masakan Hi-sit sirip ikan, belum pernah dengar ada sayur
yang bernama duri ikan masak saus. IHuuh coba lihat,
mana lihat daging ikannya? masa engkau anggap aku
sebagai kucing yang doyan makan duri2 ikan sisa orang
lain?"
Tak lama kemudian pelayan muncul kembali
menghidangkan delapan macam sayur dan satu macam
kuah, diantaranya terdapat masakan ikan asin digoreng.
tahu masak kecap. kuah sari daging sapi dan lain-lain...
Hartawan berhati keji segera bangkit berdiri dengan hati
mendongkol serunya.
"Toa-ya, aku tak berani menerima jamuan makanmu
ini.. kalau toh Loo Liang jan tidak merasa keberatan, biar
dia yang menemani engkau makan-. aku mau pesan satu
mangkuk nasi goreng saja"
"Ji-ya, mau makan atau tidak itu urusanmu sendiri,
pokoknya aku toa-ya sudah menjamu dirimu, kalau engkau
menampik maka lain waktu jangan salahkan aku lagi"
Dengan hati mendongkol Hartawan berhati keji pesan
nasi goreng dan bersantap dimeja lain, sementara si catatan
mati hidup dan Loo Liang jen melahap hidangan yang
berada didepan mata.
Dari meja seberang, Hartawan berhati keji sempat
berseru dengan rasa mendongkol:
"Hey, Loo Liang-jan- engkau tertipu mentah2 kalau
Cuma hidangan semaCam itu sih tak bakal kelewat dari dua
tahil perak. toa-ya kalau suruh kau ganti tiga tahil itu
namanya selain dia makan dengan gratis engkau malah
disuruh nombok satu tahil perak lagi"
Loo Liang-jan tidak ambil perduli urusan tetek bengek
seperti itu, yang paling penting bagi dirinya adalah isi
perutnya yang lapar.
Kuah daging sapi yang begitu encer segera diteguk habis.
kemudian ia menguras pula sisa2 kulit babi yang masih ada
diatas baki. setelah itu dia minta satu gentong nasi seorang
diri ia habiskan separuh gentong lebih.
Pada saat itulah... dari arah anak tangga berkumandang
suara langkah kaki manusia. disusul seseorang munculkan
diri dalam ruang loteng, orang itu bukan lain adalah Kakek
ombak menggulung.
Hartawan berhati keji segera putar biji matanya,
kemudian serunya dengan suara lantang:
"Hey setan tua malam ini ditengah kebun bunga keluarga
Siok bakal dilangsungkan suatu pertunjukkan bagus. aku
dengar katanya payUng sengkala benda mustika dari dunia
persilatan itu sudah terjatuh ketangan Janda kawin tujuh
kali, kalau engkau ada maksud untuk mengincar benda
mustika tersebut, jangan lupa untuk berangkat kesitu lihat
keramaian-.."
Kakek ombak menggulung tertawa dingin.
"Heehh..heehh..heehh...payung sengkala berada
ditangan suhengku Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hoa Seng. lebih baik engkau jangan bicara sembarangan
yaa"
"Kakak seperguruanmu telah terpikat oleh kegenitan
Janda kawin tujuh kali, setelah permainan satu babak
ternyata secara diam2 payung sengkala tersebut telah dicuri
oleh Janda kawin tujuh kali, menurut berita yang kudengar.
saat ini perempuan tersebut sedang bersembunyi ditengah
kebun bunga keluarga Siok"
sekali lagi Kakek ombak menggulung tertawa dingin.
"Heehh-heehh-heehh...kalau kejadian itu benar, masa
engkau sendiripun tidak tertarik untuk ikut serta dalam
perebutan payung sengkala tersebut?"
"Waaahh...kalau kami sih tak punya ambisi untuk ikut
memperebutkan benda mustika itu, karena walaupun punya
payung sengkala belum tentu kami mampu untuk
melindunginya. oleh sebab itu aku sama sekali tidak
tertarik... kalau engkau tidak percaya yaa sudahlah,
bagaimanapun toh sebentar lagi Lam-kong sau-ya bakal
datang kemari,.."
Nama besar diri Lam-kong Pak pada saat ini berbeda
jauh dengan keharuman namanya dimasa silam, Kakek
ombak menggulung tidak berani berdiam terlalu lama
disitu, sengaja ia berlaku santai dan perlahan turun dari
loteng.
Selesai bersantap diam2 Lam-kong Pak menguntil
dibelakang dua orang makhluk ajaib serta Loo Liang-jan, ia
lihat beberapa orang itu masuk kedalam sebuah rumah
penginapan, dia pun segera ikut pesan sebuah kamar
dirumah penginapan yang sama.
Sang surya telah condong keufuk sebelah barat, tak lama
kemudian haripun jadi gelap. Lam-kong Pak menggunakan
kesempatan yang sangat baik itu untuk bersemedi dan
mengatur pernapasan selama satu dua jam didalam
kamarnya sendiri, dalam waktu singkat semua rasa penat
dan lelah yang semula menyelimuti tubuhnya hilang tak
berbekas, bahkan ia merasakan adanya segulung aliran
hawa panas yang amat kuat memasuki jalur peredaran
hawa murninya dan ikut mengelilingi seluruh badannya.
Pemuda itu tak berani membuang waktu terlalu lama.
selesai bersemadi berangkatlah dia menuju kehalaman
belakang, sebab ia tahu rombongan yang dipimpin oleh
ibunya saat itu berdiam disederetan kamar yang berada
diujung paling belakang.
Dari salah satu ruang kamar. secara lapat2 Lam-kong
Pak mendengar ada suara pembicaraan yang amat lirih,
dengan cepat ia dekati ruangan itu.
Dengan cepat dia kenali suara pembicaraan adalah
ibunya. sedangkan lawan berbicaranya bukan lain adalah
ayahnya. kenyataan tersebut sangat menggirangkan
hatinya, dengan cepat ia hampiri jendela kamar yang lain-
Pada saat itu dia dengar seorang dara muda dengan
suara yang nyaring sedang berkata:
"Enci Hiang, siau-moay ada sepatah dua patah kata
hendak ditanyakan kepadamu. cuma selama ini aku merasa
kurang enak untuk mengutarakannya keluar, karena sudah
lama terpendam dalam perutku maka lama kelamaan aku
merasa andai kata tidak diucapkan keluar, maka akhirnya
aku yang bakal sengsara sendiri. oleb sebab itu
menggunakan kesempatan yang sangat baik ini hendak
kuutarakan kepada cici. entah setelah mendengar perkataan
itu apa cici bisa marah kepadaku?"
Suara pembicaraan itu bukan lain adalah cu Li- yap.
Terdengar Pek li Hiang dengan cepat menjawab:
"Adik Yap hubungan kita sudah melebihi saudara
sekandung sendiri, apa yang hendak kau ucapkan segeralah
diutarakan keluar, kenapa musti canggung atau malu? apa
engkau anggap diriku sebagai orang luar?"
"Sebetulnya...sebetulnya-,..agak malu aku utarakan
persoalan ini kepadamu. ehmm lebih baik tak usah
dibicarakan lagi aah... aku malu"
"Eeeh. ..kenapa sih kalau bicara mencle-mencle. ayoh
dong kalau mau bicara. awas ya, kalau engkau tak mau
ucapkan keluar aku ogah bicara dengan kau lagi.. ayoh
cepat katakan"
cu Li- yap tampaknya masih sangsi, tapi setelah didesak
terus menerus akhirnya toh ia berbicara juga :
"Selama ini,.. apakah engko Pak pernah melakukan...."
Apa yang diucapkan selanjutnya tak sempat didengar,
sebab suara bisikan tersebut amat lirih sekali melebihi
bisikan nyamuk. sulit bagi Lam-kong Pak yang
bersembunyi diluaran untuk menangkap pembicaraan itu.
Beberapa saat kemudian terdengarlah Pek-li Hiang
tertawa cekikikan lalu dengan nada mengomel sahutnya:
"Kau harus beritahukan dahulu kepadaku dengan kau
apakah dia sudah."
"Belum pernah" jawab cu Li- yap sambil gelengkan
kepalanya berulang kali.
"Akupun belum pernah" sambung Pek-li Hiang dengan
cepat.
Lam-kong Pak yang bersembunyi diluar kamar segera
angkat bahu, dengan ringan ia mendorong pintu dan masuk
kedalam ruangan-
Mula2 dua orang gadis itu tampak agak terperanjat
ketika menyaksikan kemunculan seseorang didalam kamar
mereka. tapi sesaat kemudian dengan girang mereka lari
kedalam pelukannya sambil berseru manja:
"Kau jahat kau jahat apa yang kami bicarakan barusan
pasti sudah kau dengar"
= =000000000= =
"APA SIIH yang barusan kalian bicarakan." seru Lamkong
Pak sambil berlagak pilon, "aku sama sekali tidak
mendengar, apakah kalian bersedia untuk ulangi kembali
apa yang barusan kalian bicarakan itu?"
cu Li- yap dan Pek-li Hiang saling bertukar pandangan
sekejap. kemudian tertawa cekikikan.
Lama sekali cu-li Yap baru berkata:
"coba kau tebak apa yang sedang kami bicarakan
beberapa saat berjelang?"
"Baiklah aku akan coba untuk menerkanya, bagaimana
kalau aku dapat menebaknya secara jitu ?"
"Kalau engkau bisa menebak secara jitu, maka apa yang
kau inginkan dari kami akan kami berikan tanpa
membantah" sahut Pek-li Hiang sambil tertawa.
"Baik. kita tetapkan dengan ucapanmu itu, eeei... jangan
coba menghindar yaa kalau betul"
"Jangan kuatir, kami tak akan main curang" ujar orang
gadis itu menyahut bersama.
Lam-kong Pak gelengkan kepalanya sambil pura2
berpikir keras dengan dahi berkerut, lama sekali ia baru
bergumam seorang diri:
"Kalau berani menjanjikan hadiah yang begitu besar buat
diriku, itu berarti apa yang sedang kalian bicarakan pastilah
susah ditebak dengan akal sehat. ...atau dengan perkataan
lain aku harus memikirkan dari persoalan2 yang tidak
biasa...."
Tiba2 sianak muda itu menepuk batok kepalanya sendiri.
se-olah2 seseorang yang mendadak memahami akan
sesuatu, dengan cepat ia berseru: "Aaah mungkin apa yang
kutebak tak akan keliru."
Meskipun cu Li yap dan Pek-li Hiang tidak perCaya
kalau pemuda itu dapat menebak apa yang barusan mereka
bicarakan, tak urung juga paras muka kedua orang gadis itu
berubah jadi merah padam karena jengah, serunya dengan
cepat,
"ciiss jangan ngibul dulu... sampai tua pun jangan harap
bisa menebak persoalan itu dengan jitu"
Lam-kong Pak tersenyum misterius, dengan suara yang
amat lirih dia berbisik:
"Bukankah kalian berdua sedang saling menanyakan
kepada lawannya. apakah pernah mengadakan hubungan
senggama dengan diriku? ayoh...betul tidak?"
Dua orang dara cantik itu agak terperangah, kemudian
dengan ter-sipu2 mereka tundukkan kepalanya rendah2,
lama sekali mereka tak mampu mengucapkan sepatah kata
pun
"Bagaimana?? Betul bukan tebakanku??" teriak Lamkong
Pak dengan suara keras.
"ciiss tak tahu malu, tebakanmu keliru besar." teriak cu
Li-yap pula sama kerasnya-
"Engkau berani sumpah dihadapan Thian- atau
pengakuanmu itu tidak bohong??"
cu Li-yap makin ter-sipu2, tanpa banyak bicara lagi ia
segera jatuhkan diri kedalam pelukan pemuda itu sambil
omelnya:
"Kau jahat..kau jahat...aku tak mau tahu aaah.. kalau
kau jahat lagi. Aku tak mau pedulikan kau"
Sekali rangkul Lam-kong Pak memeluk gadis2 itu
dengan kencang. katanya:
"Nah kalian kalah bukan? ayohlah sekarang siapa kalah
musti Penuhi apa yang telah dijanjikan sebelumnya,
sekarang aku mau tuntut hadiahnya dari kamu berdua."
"Apa yang kau inginkan?" tanya cu Li-yap dan Pek-li
Hiang hampir berbareng.
"Tentu saja aku inginkan suatu pekerjaan yang paling
menyenangkan bagi umat manusia."
"Suatu pekerjaan yang paling menyenangkan bagi umat
manusia?" seru cu Li-yap keheranan, "apa itu? apa engkau
bersedia menerangkan lebih jelas lagi?"
"Bagi seorang pria muda semaCam aku maka pekerjaan
yang paling menyenangkan ialah lulus ujian negara serta
menikmati malam pengantin, karena itu sekarang aku
inginkan yang terakhir itu dari kalian berdua"
cu Li-yap dan Pek-li Hiang seketika merasakan
jantungnya berdebar keras, tapi mereka pura2 berlagak
bodoh, kembali tanyanya, "Jadi apa yang kau inginkan dari
kami berdua? kami bingung jadinya."
Lam-kong Pak tertawa ter-bahak2, ia rangkul dua orang
gadis itu makin erat, bisiknya:
"Aku ingin tidur bersama kalian berdua, kemudian aku
akan ajak kalian berdua untuk menikmati Sorga dunia yang
katanya sangat nikmat itu... mau bukan ?"
Dua orang gadis manis itu jadi malu sekali. mereka
memukul dada sianak muda itu dengan tinjunya yang
halus, tentu saja pukulan itu tidak keras. sementara paras
mukanya berubah makin merah padam. Melihat dua orang
gadis itu tidak mengucapkan sepatah katapun, kembali
Lam-kong Pak berkata: "Apa yang musti kalian takutkan?
setiap umat manusia yang hidup dikolong langit pasti akan
merasakan nikmatnya sorga dunia tersebut, hanya saja
persoalannya tergantung sekarang atau nanti... ayohlah
sayang, kalian tak usah takut, tidak sakit kok."
Suasana hening untuk beberapa saat lamanya. tiba2 Pekli
Hiang buka suara dan alihkan pokok pembicaraan kesoal
lain, katanya^
"Engkoh Pak. tahukah engkau kalau empek Lam-kong,
empek Lu serta oei cianpwee telah datang semua kemari "
"Ehmm Aku sudah tahu."
"Engkoh Pak" ujar cu Li-yap pula dengan sedih,
"tahukah engkau, lantaran kedatangan empek Lam-kong
kemari, telah timbul suatu peristiwa yang kurang
menyenangkan?"
"Apa yang telah terjadi?" seru Lam-kong Pak dengan
wajah terperangah. "Ibuku telah lenyap tak berbekas, entah
kemana dia sudah pergi...?"
Terhadap peristiwa tersebut Lam-kong Pak sama sekali
tidak merasa aneh. ia tahu dimasa lampau cu Hong Hong
secara diam2 mencintai ayahnya, hal ini mengakibatkan
timbulnya perasaan dendam dalam hati Sian-yan Peng
terhadap ayahnya, tetapi ia sama sekali tak menduga kalau
mereka yang sudah berusia lanjut dalam kenyataan masih
mempunyai watak seperti anak kecil.
"Engkau tidak berusaha untuk menemukan kembali
ibumu yang pergi tanpa pamit?" tanya Lam-kong Pak
kemudian-
"Aaah.. siapa bilang aku tidak berusaha untuk
mencarinya? kami secara be-ramai2 sudah berangkat
melakukan pencarian, wilayah sekitar seratus li dari kota ini
sudah kami geledah selama dua hari ber-turut2, namun
sama sekali tiada kabar berita yang berhasil didapat, a a i...
mama memang agak keterlaluan-"
"Engkau tak usah kuatir" hibur Lam-kong Pak dengan
suara lembut, "bibi cu tidak akan pergi terlalu jauh dari sini
Aa a ii... mereka semua telah dicelakai oleh Cinta, engkau
tahu? ayahmu Sian-yan Peng bakal melangsungkan pula
pertarungan yang amat seru melawan ayahku"
Tanpa diminta, Lam-kong Pak segera menceritakan
semua kejadian yang dialaminya selama berada dilembah
tersebut. serta semua peristiwa yang terjadi belakangan ini?
kemudian ia menambahkan:
"Ini hari aku lihat sepasang manusia jelek dari wilayah
Hay-thian buka tenda menjadi tukang ramal, menurut apa
yang kudengar rencana tersebut muncul dari usul ibuku,
apakah kalian tahu apa maksud yang sebenarnya dengan
segala macam perbuatan itu?"
"Kami telah menemukan kalau Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng bersembunyi didalam kebun
bunga keluarga Siok." sahut Pek-li Hiang menerangkan,
"secara diam2 mereka ditugaskan untuk mengawasi gerak
geriknya. kami ingin tahu apakah masih ada gembong iblis
lainnya yang berada ber-sama2 dirinya. dan terakhir kami
temukan kalau cuma Kakek ombak menggulung seorang
yang berada ber-sama2 dirinya."
Lam-kong Pak tertawa dingin sehabis mendengar
keterangan tersebut, ujarnya.
"Kedua orang gembong iblis itu sama2 mempunyai
kepentingan pribadi yang saling bertentangan, kerja sama
mereka sebetulnya diselubungi oleh niat busuk yang amat
keji. Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
bersedia menerima kakek ombak menggulung sebab dia
hendak memperpunakan tenaganya. sedangkan kakek
ombak menggulung bersedia digunakan tenaganya karena
dia ingin merampas payung mustika itu dari tangan kakak
seperguruannya. meskipun sekarang nampaknya akur dan
bisa bekerja sama dalam kenyataan keadaan mereka
ibaratnya harimau dan srigala hidup dalam satu liang, cepat
atau lambat akhirnya pastilah akan terjadi suatu
pertarungan seru yang mengakibatkan kedua orang itu
saling bunuh membunuh"
"Malam ini empek Lam-kong, empek LU empek oei
Serta Bibi Lam-kong Sekalian akan melakukan
penyelidikan kedalam kebun bunga keluarga Siok." seru cu
Li-yap. "engkau ada minat untuk pergi kesana tidak?
Mungkin pada saat ini mereka semua telah berangkat lebih
dahulu"
"Barusan aku masih sempat mendengar suara ayah dan
ibuku sedang ber-cakap2 dalam kamar, aku rasa mereka tak
akan berangkat dalam saat2 sepagi ini."
"Aku dengar katanya mereka akan berangkat agak
pagian, agar gembong iblis tua itu sama sekali berada diluar
dugaan" seru Pek-li Hiang dengan cepat.
"Kalau begitu biarlah kutengok dulu mereka, kalau
ternyata beberapa orang itu sudah berangkat maka akupun
segera akan menyusul mereka kesana, kalian berdua lebih
baik menunggu disini saja. karena dengan andalkan payung
mustika tersebut. kekuatan yang dimiliki gembong iblis tua
itu jadi hebat dan luar biasa sekali"
"Tidak kami tak mau tinggal disini, kami mau ikut
bersama, Kau jangan tinggalkan kami disini sendirian,"
rengek kedua orang gadis itu hampir berbareng.
Lam-kong Pak didesak sehingga jadi merasa apa boleh
buat, terpaksa ia mengajak dua orang gadis itu untuk
menengok keruang sebelah, ternyata beberapa orang itu
sudah berangkat maka ketiga orang muda mudi itupun
segera meneruskan perjalanan menuju kearah barat.
sebelum kentong kedua menjelang, mereka telah sampai
ditempat tujuan.
Walaupun kebun bunga dari keluarga Siok termasuk
harta peninggalan dari seorang pedagang kaya raya tetapi
berhubung keturunannya sama sekali sudah pUnah maka
tiada orang yang mengurusi lagi harta warisan tersebut oleh
sebab itu tempat ini jadi puing berserakan yang sama sekali
tak berpenghuni. dari rakyat jelata yang hidup disekitar
sanapun tak ada yang berani menempatinya.
Setibanya diluar dinding kebun, Lam-kong Pak segera
menyambar tubuh kedua orang gadis tadi, lalu satu
dikempit dikiri yang lain dlkanan, ia enjotkan badan
melayang tutun kebalik kebun tadi gerakan tubuhnya
enteng dan lincah sekali
Ditengah kebun bunga tersebut terdapat sebuah
bangunan bertingkat yang amat tinggi, semuanya terdiri
dari empat tingkat pada waktu itu cahaya lampu yang redup
memancar keluar dari tingkat kedua secara lapat-lapatpun
dari ruangan itu berkumandang suara pembicaraan
manusia.
Lam-kong Pak segera menyembunyikan dua orang gadis
itu ketengah semak belukar.
kemudian dia sendiri melayang keluar jendela tingkat
kedua, dari situ dia melongok kedalam ruangan,
Tampaklah Janda kawin tujuh kali dan Lampu hitam
pengejar nyawa roboh terkapar diatas tanah, meskipun
masih hidup namun mereka tak dapat berkutik, sebab jalan
darahnya telah tertotok.
Sedangkan Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng duduk berhadapan dengan Kakek ombak menggulung.
mereka sedang minum arak sambil ber-cakap2. Terdengar
kakek ombak menggulung sedang berkara^
"Suheng, apa yang hendak kau lakukan untuk
menghukum kedua orang bangsat ini ??"
"Tentu saja kita tak boleh biarkan mereka tetap hidup
dikolong langit, jagal saja sampai mampus"
"Suheng, sebelum hukuman dijatuhkan apakah engkau
bersedia untuk menghadiahkan Pui Kun Janda kawin tujuh
kali itu kepada siau-te?" pinta kakek ombak menggulung.
"Baiklah cuma engkau mesti bersikap sangat hati2, sebab
aku lihat perempuan ini bukanlah seorang perempuan yang
sederhana"
"Siau-tepunya cara untuk mengendalikan dirinya" kata
kakek ombak menggulung dengan nada meyakinkan.
la segera mendekati Lampu hitam pengejar nyawa dan
menotok jalan darah kematiannya, kemudian
membebaskan jalan darah yang ada ditubuh Janda kawin
tujuh kali seraya berkata:
"Pui Kun, sejak sekarang engkau sudah jadi milikku. aku
harap engkau jangan coba2 main gila lagi yaa, Hmm kalau
tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku bertindak keji
kepadamu."
Pui Kun Janda kawin tujuh kali mengerling sekejap
kearah kakek tua itu, kemudian serunya:
"Sejak lama aku sudah menaruh rasa kagum dan hormat
yang luar biasa terhadap kalian suheng-te berdua.. tak usah
kuatir, apa yang berdua inginkan pasti akan kupenuhi tanpa
membantah."
Seraya berkata ia melemparkan sebuah kerlingan maut
kearah Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng,
bahkan duduk pula disamping gembong iblis berwajah
bopeng itu.
Menyakslkan tingkah laku dari perempuan binal itu,
diam2 Kakek ombak menggulung mendengus dingin, tapi
diapun tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Tampaklah Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hoa Seng mengamati sekejap wajah Janda kawin tujuh kali,
tiba2 ia merangkul perempuan itu dan didekapnya kedalam
pelukan,
Kakek ombak menggulung semakin tertegun melihat
perbuatan dari kakak seperguruannya. sorot mata yang
memancarkan cahaya bengis terlintas diatas wajahnya,
saking gusar dan terpengaruh oleh emosi sampai2 sayur
yang berada dalam jepitan sumpitpun sampai terjatuh
keatas meja, dari sini bisa dibayangkan betapa marah dan
dendamnya jago tua tersebut terhadap Janda kawin tujuh
kali serta kakak seperguruannya. cuma saja ia tak berani
mengumbar hawa amarahnya itu.
Dipihak lain Janda kawin tujuh kali tertawa terkekehkekeh
dengan cabulnya, bersandar dalam rangkulan
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng sambil
memberi minum iblis tua itu dengan arak wangi, dengan
senang hati gembong iblis tersebut menerima layanan maut
dari perempuan tersebut.
"Sute " serunya kemudian dengan suara lanang,
"perempuan ini tidak jadi kuberikan kepadamu, aku hendak
memakainya buat diriku sendiri"
Kakek ombak menggulung tetap membungkam dalam
seribu bahasa, tapi saking mendongkolnya sekujur
badannya gemetar keras.
Janda kawin tujuh kali yang berada dalam pclukan
Bintang yang bertaburan diangkasa Lok Hoa Seng,
menggesek-gesekan payudaranya keatas badan gembong
iblis tersebut, sedang tangannya melayani iblis tua itu
minum arak begitu syaduh dan mesrah keadaannya
membUat kakek ombak menggulung semakin mendongkol
dibuatnya.
Suatu ketika.... tiba-tiba Janda kawin tujuh kali
melancarkan sebuah totokan kilat menghajar jalan darah
siau-hay-hiat ditubuh Bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa seng, kemudian tanpa membuang waktu ia
sambar payung sengkala yang tergantung dipunggung iblis
tua itu dan melayang mundur lima enam langkah dari
tempat semula, tertawa jalangnya kian lama klan bertambah
nyaring,
Bagaimanapun juga Bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa Seng adalah seorang jagoan lihay yang
berkepandaian tinggi, ketika ujung jari lawan menempel
diatas tubuhnya tadi, buru2 jalan darahnya digeserkan
kearah lain-
Kendati begitu, tak urung sekujur badannya sempat jadi
kaku juga untuk beberapa saat lamanya, disebabkan karena
itulah sewaktu Pui Kun merampas payung sengkala yang
tergantung diatas punggungnya, dia sama sekali tak mampu
untuk turun tangan-
Untuk beberapa saat lamanya dua orang gembong iblis
itu dibikin terperangah tanpa mengetahui harus berbuat
apa, kejadian ini benar2 suatu peristiwa yang memalukar
sekali, mereka tak mengira bakal kecundang di tangan
seorang perempuan cabul.
Dengan muka masam dan mata melotot penuh
kegusaran- Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng segera besseru desgan suara berat:
"Pui Kun serahkan kembali payung mustika itu
kepadaku, percuma saja engkau miliki payung itu sebab
walaupun engkau andalkan senjata tersebut, akhirnya toh
tetap bukan tandinganku"
"Aaah aku tidak percaya...kalau engkau ingin ambil
kembali payung ini, silahkan untuk coba merampasnya
sendiri" sahut Janda kawin tujuh kali sambil tertawa
sekikikan-
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng sama
sekali tidak berkutik dari tempatnya semula, sedangkan
Kakek ombak menggulung tanpa banyak bicara segera
menerjang kedepan,
Menyaksikan datangnya tubrukan itu, Pui Kun sijanda
kawin tujuh kali segera menggerakkan payung sengkalanya
untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Blammm.." ditengah suatu bentrokan kekerasan yang
amat memekikkan telinga. Kakek ombak menggulung kena
dihajar sampai jatuh jumpalitan diudara.
Menggunakan kesempatan yang amat baik Janda kawin
tujuh kali melayang turun diatas pagoda tersebut, siapa tahu
baru saja kakinya menempel diatas permukaan tanah,
sesosok bayangan manusia laksana sambaran kilat telah
meluncur memapaki datangnya perempuan itu.
Janda kawin tujuh kali Pui Kun menjerit kaget, sebelum
dia tahu apa yang sudah terjadi, tahu2 payung mustika yang
berada dalam genggamannya sudah berpindah tangan.
Lam-kong Pak yang mengikuti jalannya peristiwa itu
dari tempat persembunjiannya cuma bisa gelengkan
kepalanya berulang kali, ternyata orang yang turan tangan
secara cepat itu bukan lain adalah Suma Ing.
Dalampada itu Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hoa Seng serta kakek ombak menggulung telah melayang
turun dari atas pagoda.
Setelah mengetahui kalau payung mustika itu terjatuh
ketangan Suma Ing, Bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa Seng segera maju kedepan seraya berkata.
"Suma Ing, serahkan payung mustika itu kepadaku, aku
akan menerima engkau sebagai muridku yang terakhir"
Suma Ing tertawa dingin.
"Huuuhh... untuk mempertahankan payung mustika
inipun engkau tak becus. mau apa terima aku sebagai
mUrid? Hmm Benar2 manusia bermUka tebal"
Merah padam selembar wajah Bintang yang bertaburan
diangkasa mendengar sindiran itu, dengan gusar ia
membentak keras lalu menerjang maju kedepan-
Kakek ombak menggulung tanpa mengucap sepatah
katapun mengikuti dari arah belakang. Bintang yang
bertaburan diangkasa tahu kalau orang yang mengikuti dari
belakang tubuhnya adalah adik seperguruan sendiri, ketika
mendengar desiran angin lewat dia segera berpaling
kebelakang.
Dengan gerakan itu maka terjangannya kearah depanpun
mengalami kegagalan total, sementara Suma Ing dengan
gampang berhasil menghindarkan diri dari tempat itu,
"Sute apa yang hendak kau lakukan??" hardik Bintang
yang bertaburan diangkasa dengan suara keras.
"Siau-te ingin membantu suheng untuk membekuk
bajingan cilik itu, engkau harus tahu kalau Suma Ing
bajingan cilik itu mempunyai banyak sekali permainan
setan, apabila engkau bertindak kurang hati2 maka bisa jadi
akan tertipu oleh siasat licinnya" Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeehh-heeehh-heeeh...maksud baikmu biarlah aku
terima dalam hati, lebih baik kau..."
Pada saat itulah tiba2 dengan suatu gerakan yang cepat
bagaikan sambaran kilat Lam-kong Pak meluncur ketengah
gelanggang dan menyambar payung mustika tersebut.
Suma Ing cepat2 putar senjata balas menghantam tubuh
sianak muda itu. sementara dua orang gembong iblis
tuapun secepat sambaran petir melancarkan cengkeraman
maut keatas punggung Lam-kong Pak.
Dewasa ini mereka lebih rela apabila payung mustika itu
untuk sementara waktu berada ditangan Suma Ing,
daripada benda mustika tadi terjatuh ketangan Lam-kong
Pak^ sebab kedua gembong iblis itu tahu bahwa ilmu
silatnya yang dimiliki Lam-kong Pak tanpa mustika pun
sudah luar biasa dahsyatnya, apa lagi kalau memiliki
payung sengkala yang mempunyai kekuatan maha dahsyat
itu,
Dalam keadaan begini terpaksa Lam-kong Pak harus
menyelamatkan diri lebih dahulu, cekatan tubuhnya
mundur tiga langkah kebelakang, terhadap mundurnya
pemuda itu maka posisi Suma Ing malah jauh lebih
menguntungkan, ia selamat dari gangguan bahkan tak usah
turun tangan sendiri untuk menghadapi serangan2 dari
Lam-kong Pak. karena dua orang gembong iblis itu selalu
menghalangi serangan Lam-kong Pak yang diarahkan
kepada dirinya.
"Sreeet sreeet sreeet " secara beruntun empat sosok
bayangan manusia munculkan diri dari belakang
gunung2an, orang pertama adalah Awan hitam pengejar
rembulan oei ci-hu. kemudian disusul manusia yang suka
pelancongan Lu It Beng, sedang dibelakangnya
mengikutiJago angin guntur Lam-kong Liu serta Sun Han
Siang.
Lam-kong Pak segera berjalan mendekati rombongan
ayah ibunya dan berkumpuljadi satu komplotan.
"Sreet sreeet Sreeet " Kembali tujuh delapan sosok
bayangan manusia melayang masuk ketengah gelanggang.
orang pertama yang munculkan diri lebih dahulu adalah
Sian-yan Peng atau ketua dari perkumpulan bulu hijau,
diikuti oleh Ngo-hoa-bak daging lima warna oei Hun. Pihek
Cuncu Datuk hitam tebal chin Tong Ho bu-sang Setan
gantung hidup Gou Jit Pat-pit-lul-kong dewa geledek
berlengan delapan Si put Slu. BU siang-to golok tanpa
tandingan Hong Goan. Tiat-sau-ciu sapu baja Kim Kiu,
Tiat-pan-than bangku besi oh Sik Kay serta Sui sang-biau
melayang diatas air Ma Tie sekalian beberapa orang.
Apakah kelompok yang dipimpin oleh Sian-yan Peng
dapat bekerja sama dengan rombongan dari Lam-kong Liu
untuk menghadapi dua orang gembong itu atau tidak. yang
jelas posisi sangat tidak menguntungkan dua orang iblis tua
tersebut.
Dengan suara mendalam Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng segera berkata^
"Suma Ing. engkau harus tahu diri lihatlah, sebagian
besar jago2 persilatan yang berada dihadapanmu adalah
kelompok manusia yang memusuhi dirimu dan tak dapat
hidup berdampingan dengan engkau, mereka amat
membenci dirimu, ingin menghirup darahmu dan makan
dagingmu ..walaupun sekarang engkau hendak kabur, tak
mungkin kau bisa lolos dari kejaran mereka."
Suma Ing menyeringai seram. sahutnya:
"iblis tua, engkau tak usah pakai akal busuk membohongi
diriku apa lagi menggertak aku sehingga takut... Huuhh
semakin banyak orang yang berkumpul disini semakin baik
bagi diriku. karena posisiku jauh lebih aman lagi...engkau
tak percaya? silahkan saja menyaksikan sendiri"
Habis berkata ia segera duduk bersila keatas tanah dan
turunkan kantong rangsumnya sambil menggigit bak-pao
dan ayam goreng ia menikmati santapannya dengan
nikmat, se-akan2 disekitar tempat itu sama sekali tak orang
lain-
Ber-puluh2 orang jago lihay yang berada disekeliling
tempat itu melotot dan mengawasi gerak geriknya tanpa
berkedip. siapa pun tak ada yang berani turun tangan lebih
dahulu karena siapa berani turun tangan itu berarti harus
menanggung resiko dikerubuti orang banyak.
Suma Ing tertawa terbahak-bahak. sambil
memperlihatkan separuh ayam gorengnya ia berkata kepada
bintang yang bertaburan di angkasa:
"Haaah-haaah-haaahh... iblis tua, ayam goreng ini betul2
enak dan nikmat sekali.... masakan tersohor dari rumah
makan Ki-eng-lou dikota Lok-yang memang terkenal
karena enaknya, engkau pingin mencicipi tidak? Haaahhhaahh...
daging ayamnya yang enak biar aku yang makan
sendiri, bagaimana kalau kuberi bagian tulangnya saja?
Haaahh-haaahh...engkau toh anjing tua yang doyan makan
tulang??"
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
merasa amat gusar sekali mendengar ejekan tersebut
sepasang matanya melotot besar. mukanya merah padam
dan otot2 hijau diatas wajahnya pada menonjol keluar
semua, namun ia tak bisa berbuat apa2. sebab ia tahu asal
serangan dilancarkan kearah pemuda itu niscaya perbuatan
itu akan mendapat sambutan dari orang banyak.
Menyaksikan gembong ibis tua itu sama sekali tak
terkutik terhadap sindirannya Suma Ing semakin
kegirangan, sorot matanya segera dialihkan keatas wajah
Sian-yan Peng sambil berseru pula:
"Sian-yan Peng semua orang berkata bahwa istrimu tidak
setia, diam2 main serong dengan suami orang lain, engkau
tahu tidak akan peristiwa ini? ooh...sungguh kasihan istri
menyeleweng sang suami masih belum sadar rupanya
engkau senang yaa kalau istrimu mencicipi kehebatan dari
suami2 orang lain haaah-haaahh-haaahh... mungkin
punyamu sudah lemas dan tak berguna lagi? penyakit
impoten?"
Hawa amarah yang berkobar dalam dada Sian-yan Peng
sukar dikendalikan lagi, apalagi setelah mendengar ejekanejekan
yang menyakitkan hati itu ia mendengar dingin
kemudian alihkan sorot matanya dan melotot kearah Lamkong
Liu dengan penuh kebencian.
Lam-kong Pak jadi amat mendongkol dan gusar sekali
atas perbuatan lawannya diam-diam ia memaki dihati:
"Anjing bedebah... sungguh keji maksud hatinya
manusia semacam ini tak boleh dibiarkan hidup lebih lanjut
dikolong langit, dia harus dibunuh".
Pemuda itupun tahu kalau bajingan muda tersebut
sengaja hendak menciptakan keonaran dan kegaduhan
diantara sesama jago sehingga dia mendapat kesempatan
untuk melarikan diri, dalam hati ia merasa sangat gelisah.
Sun Han Siang teramat gusar sekali dengan suara keras
teriaknya lantang.
"Suma Ing kalau engkau mengakui bahwa dirimu adalah
seorang manusia cepat tinggalkan payung mustika itu diatas
tanah, aku tanggung engkau masih bisa mengundurkan diri
dari sini dalam keadaan selamat, aku minta engkau jangan
ngaco belo dan bicara yang tak karuan lagi"
Suma ing yang berwajah amat jelek tertawa dingin tiada
hentinya. "Heeehh-heeeh h-heeehh... kalau aku bukan
manusia, maka orang yang membuat diriku juga bukan
manusia. itu berarti engkau yang memaki suamimu sendiri"
Lam-kong Pak tak dapat menahan diri lagi dengan
langkah lebar ia maju ketengah gelanggang lalu terhadap
Bintang yang bertaburan diangkasa serta Sian-yan Peng
serunya
"Tujuanku tidak lain hanya ingin memberi ajaran kepada
Suma ing binatang terkutuk itu, aku sama sekali tiada
maksud untuk mengincar payung sengkala, aku harap
kalian tak usah kuatir kalau aku bermain curang. andai kata
kalian tidak lega hati, maka setiap saat silahkan untuk turun
tangan-"
sian-yan Peng Ketua perkumpulan bulu hijau sama sekali
tidak memberi komentar apa2, sebaliknya Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng segera tertawa dingin
tiada hentinya.
"Heeeh-heeehh-hheeehh...sekarang aku hendak
memperingatkan kepadamu, barang siapa berani mendekati
dirinya maka itu berarti dia ada niat untuk mengincar
payung sengkala. apa akibatnya... Hmm silahkan saja untuk
menanggungnya sendiri"
Lam-kong Pak balas tertawa dingin-
"Heeehh-heeehh-heeehh...iblis tua, engkau tak usah jual
lagak dihadapanku, jangan anggap aku Lam-kong Pak
untuk menghadapi dirimu, kalau tidak percaya ayohlah kita
bertempur lebih dahulu sebanyak beberapa ratus jurus"
cu Li-yap dan Pek-li Hiang segera bangkit berdiri teriak
mereka dengan suara lantang:
"Engkoh Pak. dalam keadaan begini lebih baik jangan
turun tangan lebih dahulu, orang lain bisa bertahan masa
kita tak bisa menahan diri? Marilah kita saling
mempertahankan diri, dan coba lihat bangsat itu bisa
bertahan sampai kapan?"
"Betul" seru Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hoa Seng dengan cepat, "delapan sampai sepuluh hari tidak
makan nasi, bagiku sama sekali tidak ada pengaruh apa2,
apalagi mempengaruhi tenaga dalamku, ayohlah kita
bertahan saja disini. coba lihat saja masing2 pihak bisa
bertahan sampai kapan"
Habis berkata dia segera tarik tubuh Kakek ombak
menggulung untuk diajak duduk diatas tanah.
Sian-yan Peng tertawa dingin, dengan suara berat ia
segera berseru pula "Duduk semua"
Kawanan iblis itu tak ada yang membantah mengikuti
pimpinan mereka didalam waktu singkat semua orang
sudah duduk bersila diatas tanah.
Lam-kong Pak terperangah dibuatnya, sebelum dia
sempat berbuat sesuatu terdengar oei ci-hu berseru dengan
suara dalam: "Ayoh kita juga duduk keatas tanah"
Terpaksa Lam-kong Pak mengundurkan diri kembali
kedalam rombongan dan duduk diantara ayah dan ibunya.
Berpuluh-puluh orang jago persilatan itu duduk
membuatsatu lingkaran luas disekitar Suma ing dengan
Cepatnya pula manusia terkutuk itu sudah terkepung rapat.
Sekejap mata suasana dalam kebun bunga keluarga Siok
diliputi keheningan dan kesuyian begitu sepi sehingga suara
jengkerik dan hembusan angin yang menggoyangkan daun
ranting pohon saja yang kedengaran. ..
Semua orang duduk mengitari gelanggang dengan sabar
tiada orang yang berbicara dan tiada orang pula yang
berkutik dari posisinya masing- masing.
Kejadian ini sangat menggelisahkan Suma ing yang
berotak licik sehingga tanpa sadar peluh dingin mengucur
keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
mampu tidak makan tidak minum selama delapan sampai
sepuluh hari tanpa mempengaruhi tenaga dalam serta
kesehatan tubuhnya, sedang rombongan lain mempunyai
jumlah anggota yang sangat banyak setiap saat mereka
depat mengutus orang2nya untuk pergi membeli bahan
makanan, walaupun duduk disana sampai tiga atau lima
tahunpun tidak menjadi soal.
Lain keadaannya dengan ia sendiri, kalau dalam enam
tujuh hari ia tak makan tak minum, jangan dibilang untuk
bertempur melawan jago2 lihay. mungkin untuk jalanpun
masih merupakan suatu tanda tanya besar, karena itu biji
matanya segera berputar dan otaknya diperas untuk
mencari akal bagus guna mengatasi keadaannya yang amat
gawat itu.
= -oodwoo- =
SEMALAM berlalu dengan cepatnya, fajarpun telah
menyingsing diufuk timur diantara para jago lihay tersebut
tak seorangpun yang bergerak dari tempat duduknya
semula, walaupun Suma ing berulang kali coba menghasut
dan memancing perpecahan diantara mereka, tetapi tak ada
orang yang sudi mempercayai perkataannya, usahanya pun
seketika mengalami kegagalan total. Dalam hati kecilnya
Lam-kong Pak segera berpikir:
"Kalau ditinjau dari situasi yang terbentang didepan
mata saat ini, mungkin dalam tiga empat hari mendatang
tak akan mengalami banyak perubahan yang berarti."
Berpikir sampai disitu, dengan ilmu menyampalkan
suara ia segera berbisik kepada oei ci Hu:
"Cianpwee, aku rasa dalam tiga empat hari mendatang
situasi dalam gelanggang tak akan mengalami banyak
perubahan yang berarti, apa salahnya kalau menggunakan
kesempatan yang sangat baik ini Cianpwee bertiga duduk
bersemedi untuk pulihkan kembali tenaga dalam kalian
yang masih berantakan? dengan aku sebagai pelindungnya
aku rasa tiada mara bahaya yang bakal terjadi"
"Baiklah" Sahut oei ci-hu setelah termenung dan berpiklr
sebentar, "setelah tenaga dalam yang kami miliki pulih
kembali seperti sedia kala, engkaupun bisa bersemedi
selama beberapa hari, kalau dalam enam hari mendatang
situasi masih tetap tiada perubahan apapun, itu berarti
kekuatan yang dimiliki kelompok kita akan semakin
bertambah kuat lagi."
Bicara sampai disitu. awan gelap pengejar rembulanpun
segera menyampaikan maksud tersebut kepada Lu It-beng
serta Lam-kong Liu.
tiga orang jago lihay tersebut dengan Cepat duduk bersila
untuk atur pernafasan, dalam beberapa saat kemudian
mereka sudah berada dalam keadaan lupa akan segalagalanya
Dalam keadaan seperti ini Lam-kong Pak tidak berani
juga bertindak seCara gegabah, diam2 dia berpesan kepada
dua orang gadis muda itu untuk bukan saja memperhatikan
setiap jago yang berada dalam gelanggang bahkan harus
memperhatikan pula jago-jago yang datang dari luar
gelanggang.
Tengah hari baru saja lewat, dari luar dinding
pekarangan berkelebat kembali beberapa sosok bayangan
manusia, orang pertama yang munculkan diri lebih dahulu
digelanggang adalah Sin-ji-cong-goan atau sarjana
bertangan Sakti, Siang Hong Tie. disusul oleh pencuri sakti
Pek li Gong, Sepasang manusia jelek dari Hay-thian dan
terakhir adalah Malaikat raksasa Loo Liang-jan.
Setelah melayang masuk kedalam gelanggang, beberapa
orang itu segera menggabungkan diri kedalam rombongan
dari para jago kalangan lurus.
Semua jago lainnya yang menyaksikan kejadian tersebut
dengan cepat dapat mengetahui apa yang telah terjadi.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng saling
berpandangan sekejap dengan Kakek ombak menggulung,
mereka sadar bahwa keadaan situasi yang terbentang
didepan mata saat itu kian lama kian tidak menguntungkan
bagi mereka, andaikata sampai terjadi pertarungan maka
rombongan merekalah yang paling lemah. janda kawin
tujuh kali Pui Kun sama sekali tidak ikut duduk disekitar
gelanggang, sejak ia mengetahui kalau tiada harapan lagi
baginya untuk merebut kembali payung sengkala tersebut,
diam2 perempuan itu sudah ngeloyor pergi dari situ.
Suasana dalam gelanggang kembali pulih dalam
kesunjian biji mata semua orang berputar kesana kemari
sementara otaknya bekerja untuk mencari akal guna
memecahkan kesulitan tersebut.
Walaupun diluaran suasana tetap sunyi dan hening,
dalam kenyataan situasinya sangat tegang, keadaan tersebut
ibaratnya api yang terbungkus dalam kertas, setiap saat
kemungkinan besar dapat meledak jadi suatu pertarungan
yang seru.
Loo Liang-jan duduk disamping gelanggang dengan
sikap yang tenang dan tanpa banyak bicara, tubuhnya yang
tinggi besar sangat menyolok mata, saat itu ia sedang
turunkan buntalan besar dari punggungnya dan
membagikan rangsum kering kepada setiap jago
dipihaknya,
Disatu pihak para jagonya bersantap dengan penuh
kenikmatan, dipihak lain para gembong iblis dibawah
pimpinan Sian-yan Peng hanya bisa menelan ludah sambil
menahan lapar.
Rupanya kemarin malam mereka baru saja tiba disitu.
maka tidak sempat menyiapkan rangsum kering untuk
dimakan, seandainya tak ada orang yang bersantap
dihadapan mereka. mungkin keadaannya masih
mendingan- sekarang setelah dilihatnya rombongan lain
bersantap dan minum arak dengan penuh kenikmatan- tak
kuasa lagi perut mereka jadi keroncongan setengah mati.
Lam-kong Pak segera menyambar sebiji bak-pao dan
sepotong daging kemudian dilemparkan kearah Sian-yan
Peng sambil berseru^ "cianpwee, silahkan bersantap"
Sian-yan Peng menerima makanan tersebut ia sama
sekali tidak makan- karena anak buahnya yang berjumlah
puluhan orang itu sekali tidak makan, tentu saja ia tak
bersantap sendiri tanpa memikirkan orang lain-
Suma Ing tertawa licik, menggunakan kesempatan itu dia
segera berteriak keras:
"Sian-yan Peng meskipun cu Hong Hong tidak ikut
datang kemari, namun suami gelapnya berada disitu...
setelah engkau memakai topi hijau masa dapat menahan
sabar sampai sekarang? waaduuh. , kehebatan imammu
sungguh mengagumkan, aku Suma Ing benar-benar merasa
takluk kepadamu"
Sian-yan Peng mengernyitkan sepasang alisnya, namun
ia tidak buka suara atau mengucapkan sepatah katapun.
kembali Suma Ing berkata:
"Menurut kabar yang kudengar, katanya kemungkinan
besar putrimu itu sebenarnya bukan anak kandungmu...tapi
anak jadah antara istrimu dengan lelaki lain-"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar sekujur badan
Sian-yan Peng bergetar keras, sepasang matanya yang tajam
bagaikan pisau belati dialihkan keatas wajah cu Li-yap
membuat gadis itu jadi seram dan gemetar keras.
"Sudah kau lihat jelas?" jengek Suma Ing lagi sambil
tertawa licik, "kalau cu Li-yap dibuat olehmu, tak mungkin
ia berwajah begitu Cantik, lagi pula dia sudah tahu kalau
engkau adalah bapaknya tapi dalam kenyataan dia malah
duduk dipihak Lam-kong Liu sepantasnya kalau dari sini
engkau bisa menarik kesimpulan yang amat nyata" Tiba2 cu
Li-yap menengadah dan ujarnya dengan serius:
"Ayah, jangan percaya hasutannya. Bajingan anjing itu
hanya bermaksud mengaCau dunia dan bikin onar disana
sini. Ketahuilah sudah lama ananda berkumpul dengan
rombongan dari engkoh Pak. sedang rombongan empek
Lam-kong baru kemarin berjumpa dan bergabung dengan
kami, dalam kenyataan ananda sampai sekarangpun belum
pernah bicara sepatah katapun dengan empek Lam-kong"
Walaupun Sian-yan Peng sendiripun tidak perCaya
dengan obrolan serta hasutan dari Suma Ing, akan tetapi
ucapan cu Li-yap yang memanggil empek Lam-kong
terus2an membuat rasa dongkol dan dendam yang
tertimbun selama puluhan tahun sukar dikendalikan lagi, ia
segera mendengus sambil berteriak:
"Hmm kau tak usah banyak cerewet, aku tak punya anak
seperti kau.. tak usah panggil ayah kepadaku lagi"
Betapa sedihnya cu Li-yap setelah mendengar perkataan
itu. matanyajadi merah dan air mata bercucuran-
"oooh...ayah..kau..kau. jangan percaya...percaya
perkataannya, ananda..tak...tak pernah mengkh ianati
kau..dan akupun tak pernah melakukan perbuatan yang
memalukan. ,oooh ayah...kau jangan berhati kejam..."
Lam-kong Pak sendiripun tak kuasa mengendalikan
hawa amarahnya. sambil menggigit bibir teriaknya:
"Suma Ing, pepatah kuno mengatakan: Manusia punya
muka pohon punya kulit, aku perCaya tak lama kemudian
engkau akan peroleh pembalasan yang setimpal... sesuai
dengan perbuatan kejimu. kau akan merasakan kutukan
Thian- yang paling berat dan paling hebat "
Suma Ing angkat bahunya dan menyeringai sinis.
"Lam-kong Pak" ia berseru," tahukah engkau bahwa asal
usulmu patut dicurigai." Lam-kong Pak terperangah.
"Bajingan terkutuk Anjing geladak Tutup baCot
anjingmu yang bau dan tak usah ngaco belo tak karuan "
"Heeh.. heehh..heehh.. menurut apa yang kudengar,"
ejek Suma Ing sinis. "sebelum Lam-kong Liu kawin dengan
Sun Han Siang terlebih dahulu Sun Han Siang pernah main
roman dengan Sian-yan Peng siapa tahu kalau benihmu itu
sebetulnya adalah benih yang ditinggalkan Sian-yan Peng
dalam rahim ibumu? Haaahh-haahhh...bukankah itu berarti
bahwa kau....."
Lam-kong Pak meraung gusar dan loncat bangun, tapi
Siang Hong Ti segera menarik tangannya sambil berbisik,
"Apa yang dia harapkan sekarang adalah kekacauan dan
kegaduhan. dia berusaha bikin hatimu panas hingga tak
kuasa mengendalikan diri, jika terjadi keributan maka ia
akan gunakan kesempatan itu untuk kabur, duduklah dan
tenangkan hatimu... tak usah pedulikan anjing geladak yang
sudah edan itu Anggap saja dia seekor anjing buduk yang
sedang menggonggong. kenapa harus gubris gonggongan
seekor anjing geladak?"
Pe-lahan2 Lam-kong Pak duduk kembali di tanah, walau
begitu hawa amarah yang sudah mencapai pada puncaknya
itu sukar dihilangkan dalam waktu singkat, Sekarang ia
baru menyesal dan membenci diri sendiri, beberapa kali dia
punya kesempatan untuk membunuh Suma Ing, tapi setiap
kali kesempatan itu dibuang dengan begitu saja sekarang
akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2.
Tiba2 Pencuri sakti Pek li Gong tertawa cekikikan,
sambil menggigit daging ayam, ujarnya kepada Suma Ing:
"Hey Suma Ing. anjing budukan yang bermulut bau
walaupun barusan kau sudah mencaci maki orang lain, tapi
berhubung Semua perkataanmu bohong dan merupakan
hasutan maka kendatipun lidahmu sampai capai juga tiada
mendatangkan hasil apa- apa, sekarang tiba giliranku untuk
memberitahukan suatu rahasia kepadamu. dan rahasia
tersebut menyangkut asal usulmu."
"Pencuri tua, tak usah kau bongkar rahasia tersebut" sela
Sun Han Siang cepat, "buat apa sih ribut dengan manusia
semacam itu? apalagi ibunya...."
"Lebib baik rahasia tersebut kuberitahukan kepadanya,
daripada dia mengira kalau asal usulnya itu bersih dan
terhormat "
suma ing tertawa dingin, ia segera berkata:
"Bajingan tua, kau tak usah mencoba untuk mengarang
cerita bohong. Aku tak akan percaya dengan semua
perkataanmu itu"
"Haaah-haaah-haaah... kalau kau tak suka
mendengarkan,-Silahkan tutup telinga sendiri tapi aku
yakin orang lain senang untuk mendengarkan cerita
tersebut, percaya tidak?"
"Bangsat tua lebih baik tutup saja bacot anjingmu, orang
lain tak akan percaya obrolanmu itu, semua orang toh tahu
bahwa aku adalah saudara seayah lain ibu dengan Lamkong
Pak. kalau engkau hendak memfitnah aku berarti pula
akan menjelekkan nama Lam-kong Pak..."
"cuuh" Pencuri tua Pek li Gong meludah keatas tanah,
kemudian serunya sinis:
"Kau jangan mabok saudara.. haahh...haaah...haahh.
ketahuilah bahwa kau adalah anak jadah dari manusia yang
paling memalukan dikolong langit, Lam-kong Liu tak
punya anak jadah semacam kau. Terus terang saja, sampai
sekarang semua orang masih mengira kebusukanmu masih
dapat dlobati dan kemungkinan besar suatu hari akan
bertobat serta kembali kejalan yang benar, siapa tahu
perkataanmu serta tingkah lakumu itu telah menusuk
perasaan semua orang, ibaratnya hatimu jauh lebih rendah
dan hina daripada seekor binatang, seekor anjing geladak
budukan. oleh karena itulah terpaksa aku harus
membongkar rahasia ini dihadapan orang banyak"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar kecuali oei cihu
bertiga yang masih bersemedi sambil atur pernafasan,
para jago lihay lainnya sama alihkan perhatiannya keatas
wajah pencuri tua tersebut.
"Gak hu (Ayah mertua), sudahlah buat apa ribut2
dengan manusia seperti itu..." Cegah Lam-kong Pak.
"Tempo hari semua orang tak berani membongkar
rahasia ini tidak lain tidak bukan karena semua orang
merasa kasihan kepadanya, takut kalau kenyataan tersebut
menyinggung perasaan halus dan gengsinya, dan lagi semua
orang pun berharap agar dia bisa bertobat serta kembali
kejalan yang benar tapi sekarang, apa yang mesti kita
kuatirkan lagi?? perasaan halusnya sudah hilang dimakan
anjing, mukanya sudah terlalu tebal dan kebejatan dan
moralnya sudah tak bisa dlobati lagi, keadaan bangsat itu
sudah kelewat batas dan tak mungkin bisa berguna bagi
masyarakat, bukan saja budi tak dibalas bahkan berani
mencemooh dan menodai nama baik orang tuanya, oleh
sebab itulah aku akan musnahkan perasaan halus dan
gengsinya, agar dia jadi gila danpunah dengan sendirinya"
Sepanjang masa perCuri sakti adalah seorang manusia
yang koCak dan suka humor jarang marah dan banyak
tertawa, tapi sekarang paras mukanya amat serius, matanya
melotot besar dan penuh diliputi oleh hawa napsu
membunuh yang sangat tebal. membuat siapapun yang
menyaksikan sikapnya itu semakin yakin akan
keputusannya.
Sun Han Siang menghela napas panjang dan tetap
membungkam. rupanya dia sudah putus asa dan dingin
hatinya, sejak Suma ing hendak memperkosa Jenasahnya
sewaktu berada dalam kuil kecil tempo hari ia sudah
kecewa dan perasaan kasih antara ibu dan anakpun telah
putus.
Sementara itu percuri tua Pek li Gong sedang tertawa
haha-hihi dan berkata lagi,
"Saudara2 sekalian, sudah tentu kalian kenal bukan
dengan seorang perempuan mustika yang pernah malang
melintang dalam dunia persilatan, dimasa lampau karena
kecabulan serta Kebejatan mentalnya melebihi Janda kawin
tujuh kali Pui Kun? Dan ilmu silatnyapun jauh lebih hebat
dari Pui Kun? coba terka siapakah dia?"
Hanya berpikir sebentar saja Sian-yan Peng sudah
menduga siapa yang dimaksudkan tapi dia tetap
membungkam.
Lain halnya dengan Ngo-hoa-bak daging lima warna oei
Hun, sambil tertawa dingin serunya:
"Haaah-haaahh-haaaahh...mungkin kau maksudkan
Boan-Cuang-hui Menari diatas pembaringan Liau Giok
Ing?"
"Tepat-sekali perkataanmu itu Haaah-haaahhaaah...
mungkin engkaupun merupakan salah seorang
langganan tetapnya?"
Sepanjang hidup Ngo-hoa-bak Daging lima warna oei
Hun paling anti wanita, sampai setua itu belum pernah dia
jamah perempuan apa lagi melakukan hubungan, kontan ia
naik pitam mendengar ejekan tersebut, makinya:
"Bajingan tua!! Jaga baik2 mulut anjingmu, selama hidup
aku tak pernah berhubungan dengan perempuan, kalau
bicara hati2 sedikit dengan mulutmu"
Pek-li Gong tak menggubris makian orang ia lanjutkan
kembali kata2nya:
"Saudara2 sekalian. sepanjang hidupnya entah berapa
puluh laksa kali Menari diatas pembaringan Liau Giok Ing
lepas celana didepan orang laki, bukan saja cabul diapun
terhitung seorang perempuan yang paling tak tahu malu..."
Sun Han Siang serta dua orang gadis segera mencibir dan
berpaling kearah lain dengan muka merah jengah.
sebaliknya para jago lainnya sama2 tertawa ter-bahak2
seraya berpaling kearah Suma ing.
Terdengar pencuri tua itu melanjutkan kembali kata2nya:
"Lonte busuk itu ibaratnya buah To yang sudah masak,
ketika mencapai usia tiga puluh tahunan mendadak ia
bertelur, waktu itu romannya dengan Hiat Hu-tiap kupu2
darah Suma ciang sedang mencapai pada puncak yang
paling hot, tidak sampai sebulan setelah menari diatas
pembaringan Liau Giok lng melahirkan seorang bayi laki,
mereka berdua melakukan perkosaan dan pembunuhan lagi
dikota Lok-yang, namun perbuatan mereka diketahui oleh
seorang jago lihay, dalam pengejarannya sampai dibukit
Bong-san, akhirnya kedua orang itu sama2 terkena sebuah
pukulan dahsyat..."
"Hay pencuri tua," tiba2 catatan mati hidup menyela,
"she apa sih anak jadah yang dilahirkan oleh Menari diatas
pembaringan Liau Giok Ing?"
Sengaja Pek-li Gong melirik sekejap kearah Suma ing,
kemudian menjawab dengan lantang.
"Tentu saja dia she suma, sudahlah, jangan menukas
pembicaraanku dulu setelah terkena pukulan dahsyat,
hampir saja jantung kedua orang manusia cabul itu tergetar
putus. mereka sadar bahwa kesempatan hidup kian menipis,
ketika ia hendak bunuh bayi itu sebelum ajal mereka sendiri
tiba, kebetulan muncullah dua orang ditempat kejadian...."
"Aku dapat menebak siapakah kedua orang itu." seru
Wang wee berhati hitam, "mereka pastilah Lam-kong Liu
tayhiap suami istri"
"Bocah muda, engkau pandai sekali Agaknya aku yang
jadi bapaknya dapat berlega hati...."
GELAK tertawa kembali berkumandang memecahkan
kesunyian.
"Lam-kong Liu dan Sun Han Siang tiba ditempat
kejadian tepat pada saatnya." ujar Pik-li Gong lebih jauh.
"untuk menyelamatkan jiwa bayi itu, mereka lancarkan
sebuah pukulan kedepan, mereka tak menyangka kalau dua
bajingan cabul itu sudah sekarat dan hampir mampus,
walaupun hanya menggunakan tenaga sebesar tiga empat
bagian toh dua orang manusia cabul itu mampus juga,
akhirnya Lam-kong Liu suami istri berunding sebentar dan
mengambil bayi itu sebagai anak angkatnya"
"Haahh ..haahh..haahh.. kalau begitu Suma ing adalah
anak jadah dari Menari diatas pembaringan Liau Giok lng
dengan kupu2 darah Suma ciau. haahh-haahh-haahh pantas
kalau orangnya bejad, maklum anak haram, haah-haahhhaahh...."
Gelak tertawa yang riuh rendah menggetarkan seluruh
angkasa, semua jago baik dari golongan putih maupun dari
golongan hitam sama2 mengolok dan mencemooh pemuda
itu.
Bagaimanapun tebalnya muka Suma ing setelah asal
usulnya dibongkar dihadapan umum, tak urung berubah
juga air mukanya.
Makin rendah asal usul seorang semakin takut borok itu
ketahuan orang, hampir setiap orang mempunyai penyakit
tersebut, tak kecuali pula Suma ing sendiri.
Dengan wajah serius pencuri tua Pek-li Gong tertawa
dingin, lalu serunya kembali:
"Suma Ing, kau musti tahu, maksudmu mengungkap
persoalan ini yang paling penting adalah agar engkau bisa
mawas diri dan periksa semua perbuatan yang pernah kau
lakukan, coba bayangkan sendiri dengan perbuatan terkutuk
dari orang tuamu apa orang lain bersedia memelihara
engkau? Ketahuilah orang kuno berkata: Naga akan
melahirkan naga, burung Hong melahirkan burung hong
hanya tikus saja yang pandai menggali lubang sejak
dilahirkan, artinya begitu orang tuanya begitu juga
anaknya, maka aku harap engkau suka mengingat kembali
akan budi kebaikan yang pernah kau terima, bukan aku
sengaja meng-olok2 dirimu, aku berharap engkau baik dan
jadi sadar.. Nah, perkataanku hanya sampai disini saja,
pikirlah kembali dengan seksama."
Keadaan Suma Ing pada saat ini ibaratnya orang yang
ditelanjangi dihadapan umum, semua rahasia dan boroknya
telah ketahuan orang, bukan saja ia terima nasehat tersebut
dengan hati terbuka. jelas ia semakin benci dan mendendam
terhadap pencuri tua itu.
Keadaannya sekarang jauh berbeda, kedoknya telah
terbongkar maka diapun tidak takut menghadapi segala
percobaan, ia lebih tega berbuat keji dan bejad, diluar
sikapnya tetap tenang dan tidak bergerak. ia biarkan orang
tertawa kan dirinya.
Pek-li Gong mengira ucapannya telah mendatangkan
hasil dan mungkin sianak muda itu sedang berpikir dan
mulai menyesal, maka diapun tidak bicara lagi. suasana
pulih kembali dalam kesunyian... dan keheningan yang
mencekam.
Sehari sudah lewat, malampun menjelang kembali,
selama ini Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng maupun kakek ombak menggulung tetap
membungkam. mereka tetap duduk bersila tanpa
memperdulikan keadaan disekelilingnya. Suatu ketika,
dengan suara lirih cu Li-yap berbisik,
"Engkoh Pak, sekarang malam telah menjelang. aku rasa
dengan andalkan ilmu meringankan tubuhmu. tidak sulit
untuk meloncat setinggi tujuh delapan tombak dan
melayang ketengah gelanggang untuk merampas payung
mustika tersebut, bagaimana kalau kau bertindak Cepat dan
biar pencuri tua yang melindungi gerakanmu itu?"
"Tak mungkin" sahut Lam-kong Pak sambil menggeleng,
"kalau kurampas payung mustika itu maka suatu
pertarungan massal akan terjadi, padahal Cianpwee bertiga
sedang mencapai puncak yang paling bahaya dalam
semedinya, kita tak boleh menempuh bahaya ini."
Satu malam kembali lewat, beberapa kali Suma Ing
hendak kabur tapi setiap kali ia batalkan kembali
rencananya. karena jago lihay disekitar itu mengawasi terus
gerak geriknya tanpa berkedip.
Tiga hari tiga malam sudah berlalu tanpa terasa, oei cihu,
Lu It Beng serta Lam-kong Liu telah menyelesaikan
semedinya, tenaga dalam yang mereka miliki telah pulih
kembali seperti sedia kala, mereka lantas suruh Lam-kong
Pak duduk bersemedi agar lebih bersemangat bila terjadi
sesuatu nanti.
"Aku rasa usul itu kurang pantas" Sun Han Siang
menolak tegas, "tak dapat kita pungkiri bahwa diantara
rombongan kita, ilmu silat Pak-ji yang paling lihay, dan
cuma dia seorang yang sanggup menghadapi Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng, andaikata seCara
tiba2 bajingan tua itu menyerang Pak-ji, bukankah
keselamatan jiwanya jadi terancam?"
Semua orang merasa bahwa perkataan itu tepat sekali,
menuratpendapat beberapa orang itu bersemedi dalam
keadaan seperti ini tak cocok buat Lam-kong Pak.
karenanya semua orang tidak setuju akan usul tersebut.
"Dengan kekuatan yang kita miliki sekarang, rasanya tak
perlu keadaan seperti ini dibiarkan ber-larut2, dengan
gabungan tenaga kami berempat rasanya masih sanggup
untuk menghadang dua gembong iblis tua itu, dan
seandainya Sian-yan Peng tidak mengacao dari tengah,
delapan puluh persen Pak-ji akan berhasil merebut kembali
payung mustika itu"
"Masa Sian-yan Peng hanya akan berpeluk tangan
belaka?" sela Lu It Beng dari samping, "kalau
kedatangannya bukan lantaran payung sengkala, kenapa dia
harus menyiksa diri selama beberapa hari beberapa malam
tanpa makan minum ditempat seperti ini?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, serentetan
desiran angin tajam menyambar kearah mereka dari luar
bangunan, desiran tajam itu langsung menghajar kearah
Lam-kong Pak.
Dengan tenang sianak muda itu menyambar benda tadi,
yang ternyata bukan lain cuma segulung kertas kecil belaka.
cepat gulungan kertas itu dibuka dan diperiksa isinya.
tampaklah tulisan itu berbunyi demikian:
"Bertahan terus menerus Cara begini bukan suatu Cara
yang baik. aku bersedia membantu siau-hiap. bila ada orang
menerjang masuk kedalam bangunan nanti, jangan se-kali2
kalian tubruk. menanti ledakan keras sudah terjadi
gunakanlah kesempatan itu untuk merebut payung tersebut
tertanda: salju bulan keenam Tong Hui"
Lam-kong Pak tahu kalau Tong Hui hendak
menggunakan peluru ngo-lui-yan-hwee-tannya untuk
mengacau pandanga norang banyak. menggunakan
kesempatan dikala asap tebal membumbung keangkasa
maka dia disuruh merampas payung itu.
Tapi ada satu hal yang membuat hatinya bingung.
kenapa Tong Hui terangkan bahwa ada sesuatu bayangan
manusia akan menerjang masuk Keruangan..? apakah dia
tidak takut dengan kedahsyatan dari peluru Ngo-lui-yanhwee-
tan tersebut?
Sehabis membaca tulisan itu, Lam-kong Pak segera
memberitahukan surat tadi kepihak teman2nya, kemudian
menggulung kembali kertas itu dia lempar kearah Sian-yan
Peng. "Sian-yan cianpwee, terima ini..."
Sian-yan Peng sambar timpukan benda itu dan dibaca
isinya, tapi sebelum dia kabarkan kepada anak buahnya,
mendadak dari luar ruangan menggema suara bentakan
nyaring disusul sesosok bayangan manusia dengan gerak
burung manyar sambar ikan menyerbu ketengah
gelanggang.
Para jago dari kelompok Lim-kong Pak sama2 bertiarap
keatas tanah begitu melihat bayangan manusia menyerbu
kedalam ruangan, lain halnya dengan para begundal dari
Sian-yan Peng, mereka tak kenal lihay, berbareng orang2 itu
loncat bangun dan menyerbu ketengah gelanggang..
Betapa terkejutnya Sian-yan Peng menyaksikan tingkah
laku anak buahnya, ia berteriak keras:
"cepat kembali"
Ketika gulungan kertas tadi melayang masuk kedalam
ruangan dan menyambar kearah Lam-kong Pak tadi.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng maupun
Kakek ombak menggulung sudah menaruh curiga apa lagi
ketika gulungan kertas itu dilempar kearah Sian-yan Peng,
kecurigaan mereka kian bertambah besar, oleh karena itulah
ketika melihat ada bayangan hitam menyerbu kedalam
mereka lantas bangkit dan hendak loncat kedepan, namun
bagitu Sian-yan Peng berteriak. merekapun batalkan
gerakan tersebut dan buru2 melayang kembali ketempat
semula.
Dalam pada itu bayangan manusia tadi sudah
menyambar kesisi suma Ing. cekatan pemuda itu loncat
bangun sambil melancarkan sebuah pukutan dahsyat.
"Blaaamm.." suara ledakan yang amat dabsyat
menggelegar diseluruh ruangan- bumi bergoncang dan asap
tebal menyebar ke empat penjuru.
Ternyata bayangan manusia yang menerjang masuk
kedalam ruangan itu bukan lain adalah mayat dari Lampu
hitam pengejar sukma Leng cing ciu. peluru sakti Ngo-laiyan-
hwee-tan yang maha dahsyat itu diikat pada tubuh
mayat tadi oleh Tong Hui, maka ketika mayat tersebut
termakan oleh pukulan yang dahsyat, meledaklah peluru itu
dengan hebatnya.
Pecahan daging dan muncratan darah berhamburan
diatas tanah, bumi terasa merekah jadinya, pada saat yang
amat bagus itulah Lam-kong Pak bertindak Cepat, ia tubruk
Suma Ing dan menyerobot payung mustika yang berada
dalam genggamannya.
Siapa tahu Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng serta kakek ombak menggulung bukan manusia
sembarangan, pada saat yang bersamaan merekapun terjun
ketengah gelanggang.
"Blaamm. " dalam keadaan terburu Lam-kong Pak saling
beradu tenaga sekali dengan gembong ibiis itu, seketika ia
terdoroog mundur tiga langkah.
Ditengah hamburan kabut tebal, dua sosok bayangan
manusia membumbung keudara diiringi dengusan berat,
Suma Ing termakan oleh sebuah pukulan yang amat
berat hingga muntah darah segar, sementara dua orang
gembong iblis tua itu dengan membentangkan payung
mustika tersebut telah membumbung tinggi keudara, dalam
sekejap mata mereka sudah berada pada ketinggian pulahan
tombak dari permukaan tanah.
Para jago tercengang dan menengadah ke atas mengikuti
gerakan dari dua gembong iblis tua itu, sedang Suma Ing
segera manfaatkan kesempatan itu se-baiknya. dengan
menahan luka dalam yang parah ia loncat tembok
pekarangan dan kabur dari situ.
Empat sosok mayat berserakan ditengah gelanggang.
mereka adalah "pat-pu-lui-kong,"Dewa guntur berlengan
delapan Si Pu Siu, "Bu-siang-to" gook tanpa tandingan
Hong Gwan "Tiat-sau-ciu" sapu besi Kim Kiu serta "Tiatpan-
than" baja oh Sak kay.
Kutungan anggota badan berserakan ditengah genangan
darah kental, menyaksikan kesemuanya itu Sian-yan Pang
menghela napas sedih, kepada Ngo-hoa-bak Daging lima
warna pesannya
"Kubur semua yang mati dalam kebun bunga keluarga
Siok ini"
Sementara itu Lak-gwee-soat salju bulan keenam Tong
Hui telah melayang masuk ke tengah gelanggang, serunya
sambil menghela napas,
"Aaaii... sungguh tak kusangka kecerdasan maupun
kecekatan dua orang gembong iblis itu luar biasa sekali,
akhirnya toh mereka yang berhasil dapatkan payung
mestika itu.. untuk kegagalan ini aku mohon maaf yang
sebesar-besarnya"
"Tong Hui" hardik Sian-yan Peng dengan gusar, "empat
orang anak buahku mampus ditanganmu. bagaimana
pertanggungan jawabmu atas kejadian ini?"
"Demi payung mustika tersebut terpaksa aku harus
melakukan pembunuhan. apalagi ke empat orang itu toh
sudah bertumpuk kejahatan yang dilakukan, walaupun
mampus rasanya juga pantas"
Sian-yan Peng tertawa dingin .
"Heeeh-heeeh-heeeeh...besar amat lagakmu, Tangkap dia
dan gusur kemarkas"
Ho-hek cuncu Rasul hitam tebal tampil kedepan dan
langsung menerjang kearah Tong Hui.
Melihat itu Lam-kong Pak segera mengerdip kepada Loo
Liang-jan, manusia raksasa itu membentak keras dan
memapaki datangnya terjangan itu.
"Duukk... Blaamm.." bentrokan dahsyat menggelegar
diudara, seketika Ho-hek cuncu terpental lima langkah
kebelakang.
Loo Liang-jan tidak kasih kesempatan bagi musuhnya
untuk tukar napas. kembali sebuah pukulan dilancarkan
memaksa Ho-hek cuncu terpental balik ketempat semula.
Sian-yan Peng amat gusar, kepada Lam-kong Pak
hardiknya penuh kemarahan: "Bocah muda, engkau hendak
musuhi aku?"
"Aku yang muda tidak berani Tapi pada hakekatnya
Tong-heng tak dapat disalahkan. toh sebelum kejadian ia
sudah memberitahukan kepada kita. dalam peristiwa ini
yang salah adalah anak buah ciannpwee yang tak bisa putar
kemudi mengikuti hembusan angin. coba lihatlah dua orang
gembong iblis tua itu, toh mereka tak membaca isi surat
yang dilempar Tong-heng kepada kita? tapi kenyataan
mereka dapat lolos dalam keadaan selamat, oleh karena
itulah kalau cianpwee mau cari siapa yang salah maka
kesalahan itu justru terletak pada lambannya reaksi mereka
waktu menghadapi kejadian"
Kembali Sian-yan Peng tertawa dingin.
"Heehh-heeehh-heeehh..jadi kesalahan ini adalah
kesalahan dari para korban sendiri?"
"Yang pasti kejadian ini hanya boleh dianggap sebagai
suatu kecelakaan, dan kecelakaan tersebut tak bisa salahkan
diri Tong-tayhiap."
Sian-yan Peng mendengus dingin. ia berpaling kearah
Lam-kong Liu dan berseru: "Lam-kong Liu, sekarang kita
dapat melangsungkan pertarungan bukan-.?"
"Benar, menggunakan kesempatan yang ada aku sudah
pulihkan kembali kekuatan tenaga dalam yang kumiliki.
marilah kita selesaikan persoalan itu sekarang juga" Dengan
langkah lebar ia maju kedepan.
Sun Han Siang menyambar tangan suaminya tapi luput,
terpaksa diapun ikut maju kedepan-
"Sian-yan cianpwee" seru Lam-kong Pak lagi dengan
suara dalam, "bersediakah mendengarkan sepatah dua
patah dariku?"
"Aku tak sudi mendengarkan perkataan apa pun. lebih
baik kau mundur dari situ "
"Sian-yan Peng tua bangka sialan" teriak pencuri tua
pula. "apa sih gunanya persoalan ini di-ulur2 terus tiada
habisnya? Ketahuilah pada hakekatnya peristiwa dimasa
lampau hanya suatu salah paham belaka bukan saja Sun
Han Siang sudah kawin dengan Lam-kong Liu, anak
merekapun sudah menginjak dewasa. masa engkau tak bisa
sudahi persoalan sampai disini saja? Kendatipun Lam-kong
Liu berhasil kau bunuh. toh Sun Han Siang tak mungkin
akan kawin dengan kau lagi."
Ucapan tersebut segera memancing gelak tertawa para
jago, suara ter-bahak? memenuhi seluruh angkasa membuat
suasana jadi gaduh.
Gelak tertawa yang riuh rendah ini semakin
menggusarkan hati Sian-yan Peng, teriaknya dengan marah:
"Pencuri tua sialan, kalau berani bicara lagi...Hmm kau
kubacok sampai mampus"
"IHuuh... tua bangka sialan, kalau punya keberanian
ayolah bacok aku sampai mampus putriku sudah punya
pasangan- akupun sudah tak punya tanggungan apa2 lagi,
kalau kau bunuh aku. haahh-haahh-haahh...aku malah
bertambah senang."
"Pek li-heng" Lam-kong Liu maju kedepan sambil
berseru. "lebih baik kau mundurlah kebelakang, percuma
banyak bicara, toh akhirnya persoalan ini harus diselesaikan
dengan kekerasan, kalian tak usah membantu pihak
manapun. biarlah kami selesaikan sendiri persoalan ini."
Jarak mereka berdua cuma terpaut satu tombak, setelah
berdiri berhadapan mereka saling melotot dengan gusar,
keadaan tersebut ibaratnya sepasang ayam jago yang siap
bertarung, inilah yang disebut musuh besar saling bertemu,
matapun berubah jadi merah.
Hakekatnya Sun Han siang tak ingin bicara dengan sianyan
Peng, tapi dalam keadaan begini mau tak mau terpaksa
ia harus buka suara, seraya maju kemuka katanya "Sian-yan
Peng, Jadi kau nekad untuk bertempur?"
Betapa kacau dan tak tenteramnya hati sian-yan Peng
menyaksikan kemunculan Sun Han Siang dihadapannya.
namun ia segera mengangguk.
"Benar, bagaimanapun juga aku harus selesaikan
persoalan ini dengan kekerasan, tahukah kau apa yang kutunggu2
selama puluhan tahun mengasingkan diri dan
sembunyikan nama? Ini harilah yang kutunggu."
"Tahukah kau kenapa kau berbuat demikian ?"
"Aku menggunakan nama kakek pendendam berkain
hijau sebagai sebutan, sebagai orang cerdas tentu kau tahu
bukan apa yang menjadi sebab atas terjadinya peristiwa
ini?" Sun Han Siang tertawa ter-kekeh2.
"Haahh-haahh-haahh...Sian-yan Peng. Aku lihat
meskipun kau sudah hidup mendekati enam puluh tahun.
tapi sifat ke-kanak2anmu masih belum hilang. dalam
urusan macam apapun aku dapat membelai Lam-kong Liu
tapi hanya dalam urusan itu aku tak akan membelai dirinya.
masa engkau masih belum percaya?"
Siao-yan Peng terperangah, tentu saja ia pernah berpikir
sampai kesitu, walau begitu rasa dongkol dan benci yang
sudah telanjur menyesak dadanya harus tersalur keluar,,.
karena keadaannya pada saat ini ibarat menunggang
dipunggung harimau, tetap duduk susah mau turun juga tak
dapat, serba susah jadinya.
Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya,
Sian-yan Peng berkata lagi dengan suara dalam:
"Aku tak bisa mempercayai keterangan dari sepihak,
andaikata cu Hong Hong perempuan rendah itu juga hadir
disini, maka aku...."
Belum sempat kata2 itu diselesaikan, sesosok bayangan
manusia melayang masuk lewati dinding perkarangan,
ternyata orang yang munculkan diri itu bukan lain adalah
cu Hong Hong yang sudah lenyap bebarapa hari lamanya.
cu Li-yap berteriak keras dan memburu kemuka, tapi cu
Hong Hong dengan wajah kaku mengebaskan ujung
bajunya sambil berseru^ "Budak. mundurlah dulu"
Perempuan ini selamanya keras kepala dan kukuh pada
pendirian, meskipun usianya telah lanjut namun watak
tersebut sama sekali tak pernah berubah, sambil tertawa
dingin tiada bentinya perlahan ia mendekaii suaminya.
Sian-yan Peng agak tertegun- paras mukanya berubah
hebat. tapi sejenak kemudian ia hela napas panjang dan
pulih kembali dalam ketenangan,
cu Hong Hong tak mau mengalah dengan begitu saja,
sambil mendekati suaminya dengan suara dingin dan tajam
ia berseru:
"Hmm, Bukankah kau hendak turun tangan setelah laki
perempuan yang berbuat serong telah berkumpul jadi satu?
Inilah saat yang paling baik bagimu untuk bertindak,
kenapa masih mematung saja?"
Paras muka Sian-yan Peng kembali berubah hebat,
"Perempuan lonte. Aku memang sedang mencari engkau..,"
"Heeeh-heeeh-heeeh...aku tahu engkau sedang
mencariku, maka sekarang aku munculkan diri disini apa
yang hendak kau katakan lagi? ayoh katakan "
"Dahulu kau dengan Lam-kong Liu...."
"Benar tebakanmu tepat sekali." tukas cu Hong Hong
dengan suara lantang, "dahulu aku memang pernah
melakukan hubungan suami istri dengan Lam-kong Liu,
puas dengan jawaban ini?"
Ucapan tersebut begitu diutarakan keluar para jago dari
golongan putih sama2 tergertar keras, terutama sekaii Lamkong
Liu suami istri, paras muka mereka berubah hebat.
Sian-yan Peng sendiri kerutkan dahinya rapat2, lalu
tertawa ter-kekeh2 dengan seramnya.
"Haahh-haaah-haaah...Lam-kong Liu. sekarang apa yang
hendak kau katakan lagi?"
"Selama aku tak pernah malakukan perbuatan salah, tak
jeri ada setan mengetuk pintu. masa engkau benar2 percaya
dengan pengakuannya...?" ujar Lam-kong Liu serius.
"Kau anggap dia hanya ber-main2 dengan pengakuannya
itu? hmm Kau anggap pengakuan seperti itu bisa dibuat
sebagai bahan lelucon?" hardik sian-yan Peng makin gusar.
Sementara itu paras muka Sun Han Siang pun berubah
hebat. sebagai seorang perempuan ia merasa hatinya tersayat2
ketika mengetahui suaminya telah berbuat serong,
dan kejadian itu dirahasiakan selama ber-tahun2 lamanya.
Terdengar cu Hong Hong berkata lagi dengan suara ketus:
"Sian-yan Peng aku tahu engkau kawin dengan diriku
bukan karena Cinta yang murni, tindakan tersebut kau
ambil karena kegagalan cinta mu terhadap Sun Han Siang.
maka kau gunakan cara itu untuk melampiaskan rasa
kecewa dan sedihmu. kau gunakan perkawinanmu sebagai
suatu tindakan balas dendam. tentu saja dahulu akupun
pernah mencintai Lam-kong Liu. dan semua orang
mengetahui akan hal ini. maka kau lantas melampiaskan
semua api dendam dan kemarahanmu keatas tubuhku dan
Lam-kong Liu. kau berusaha menjelekkan namaku agar
hatiku tersiksa-. Hmm dan sekarang aku telah penuhi
harapanmu itu, Walau aku tak pernah melakukan
perbuatan semacam itu tapi aku telah mengakuinya agar
kau merasa puas dan senang setelah mendengar jawaban
tersebut.. heehh..heehh...heehh.. Sian-yan Peng Sekarang
kau sudah merasa cuas bukan?"
Sekarang Lam-kong Liu suami istri dan Lam-kong Pak
baru bisa menghembuskan napas lega, sebaliknya paras
muka Sian-yan Peng berubah makin hebat, begitu jeleknya
hingga sukar dilukiskan dengan kata2, dia jadi serba salah
dan tak tahu bagaimana harus mengatasi kejadian tersebut.
cuma cu Hong Hong merasa putus asa, kecewa dan sedih
sekali, sejak kemunculannya digelanggang ia telah
kesampingkan soal mati hidupnya. terdengarlah ia berkata
lagi:
"Sian-yan Peng Terus terang kukatakan kepadamu, aku
sangat benci kepadamu, engkau tak pantas jadi suami
orang... engkau berjiwa cupat dan berpandangan sempit,
engkau lebih pantas jadi seorang siau-jin-.. seorang manusia
rendah yang memalukan- Hm aku sudah kenyang hidup
tersiksa, ayohlah kalau ingin bunuh aku, cepatlah turun
tangan.,"
= =ooooooooo= =
"KAU ANGGGAP aku tak berani membinasakan
dirimu?" seru Sian-yan Peng sambil tertawa dingin.
"Tentu saja berani, aku tahu engkau adalah seorang
Enghiong. seorang pendekar besar. seorang manusia gagah
yang dihormati orang, untuk menyelidiki tingkah laku
bininya sendiri telah mendirikan perkumpulan bulu hijau,
selama puluhan tahun sudah banyak orang yang dibunuh,
telapak tanganmu sudah penuh berpelepotan darah, boleh
dibilang hasil karyamu itu sangat hebat, belum pernah
terjadi sepanjang masa, kecuali merasa kagum aku cu Hong
Hong juga . . . ."
"Tutup mulut" hardik Sian-yan Peng dengan paras muka
merah padam karena marah bercampur jengah .
cu Li-yap menjerit sedih, ia peluk ibunya erat2 sambil
menangis terisak-"oooh.. ibu, apakah kau tega tinggalkan
putrimu hidup seorang diri?"
"Tak lama kemudian engkau sudah akan menjadi milik
Lam-kong Pak. ia tak akan menyia-nyiakan dirimu, aku
telah mengetahui segala pahit getir hidup didunia, sekarang
pikiranku sudah terbuka dan tiada yang kuberatkan lagi.
mundurlah kebelakang dan jangan campuri urusan ini."
cu Li-yap menangis makin menjadi, dengan air mata
membasahi seluruh wajahnya ia berseru:
"ibu, kalau engkau tidak urungkan niat tersebut. aku
akan cukur rambut jadi nikoh."
"Jangan ngaco-belo" hardik cu Hong Hong dengan tubuh
gemetar keras.
Ia mengerling sekejap kearah Lam-kong Pak dan
mendorong putrinya kebelakang. cu Li-yap segera terpental
kebelakang dan jatuh kedalam pelukan sianak muda itu.
Setelah menyingkirkan putrinya. cu Hong Hong kembali
menghardik dengan suara nyaring:
"sian-yan Peng, Pandekar besar. Enghiong gagah.
Kenapa diam melulu ..? ayoh turun tangan"
Sikap cu Hong Hong yang begitu menantang dan
mukanya yang begini manis membuat setanpun tak kuat
manahan diri, sebetulnya Sian-yan Peng telah tenang
kembali dan hawa amarahnya agak mereda. tapi begitu
melihat sikap menantang dari istrinya, kontan ia naik
pitam. sambil mendengus dingin satu pukulan dahsyat
dilancarkan kedepan,
cu Hong Hong sama sekali tidak memberi perlawanan, ia
mendengus tertahan, tubuhnya mencelat sejauh satu
tombak dari tempat kejadian dan tak berkutik lagi.
cu Li-yap menjerit keras, bagaikan orang gila ia meronta
dari pelukan Lam-kong Pak dan menubruk kepangkuan
ibunya.
Darah kental mengalir keluar dari tujuh lubang indra cu
Hong Hong, ia mati dalam keadaan yang mengenaskan-
Isak tangis cu Li-yap tak terbendung lagi. ia menangis
meng-gerung2, membuat suasana diliputi kesedihan dan
kepedihan, tak sedikit para jago yang ikut melelehkan air
mata.
Mimpipun sian-yan Peng tak menyangka kalau istrinya
bakal menanti kematian tanpa melawan, sebab sikap
tersebut jauh berlawanan dengan wataknja dimasa lalu. Ia
pun sama sekali tak menduga kalau cu Hong Hong telah
bertekad untuk mati sejak Lam-kong Liu bertemu kembali
dengan Sun Han Siang, ia tidak lebih hanya pinjam
kekuatan dari Sian-yan Peng untuk tinggalkan dunia yang
penuh percobaan ini,
Demi menyatakan Cintanya kepada Lam-kong Liu.
tentu saja ia gunakan kesempatan yang sangat baik itu
untuk mencuci bersih semua noda dan kecurigaan
suaminya terhadap Lam-kong Liu, sebab hanya berbuat
begitulah dia baru bisa mati dengan mata meram.
Sekarang para jago yang hadir digelanggang telah
memahami maksud hati dari cu Hong Hong, rasa antipati
dan kurang senang mereka terhadap cu Hong Hong semasa
masih hidupnya pun ikut tersapu lenyap. sebaliknya semua
orang malah kagum dan memuji kebijaksanaan perempuan
itu.
Sedangkan Sian-yan Peng sendiripun sekarang baru tahu
akan kesalahannya, tapi nasi sudah menjadi bubur, siapa
yang harus disalahkan?? tanpa sadar air mata bercucuran
membasahi pipinya .
Dia belai rambut cu Li- yap yang hitam terurai, lalu
gumamnya seorang diri:
"Nak. maafkanlah ayahmu Ketahuilah kesalahan bukan
terletak pada diriku seorang...maafkanlah kesalahan
ayahmu..."
cu Li- yap menyingkir dari belaian ayahnya, ia loncat
bangun dan serunya dengan ketus: ...
"Bagaimanapun kesalahan yang telah dilakukan ibu dari
tindakanmu yang tega membinasakan istri sendiri sudah
Cukup membuktikan bahwa hatimu kejam dan pikiranmu
Cupat, sejak keCil aku cu Li-yap tak pernah merasakan budi
kebaikan atau pendidikan apapun darimu, aku tidak
mengaku kau sebagai ayahku"
"Anak Yap..."
Dengan air mata bercucuran cu Li-yap membopong
jenasah ibunya, lalu berkata lagi
"Tak usah panggil aku begitu, aku she cu dan tidak kenal
she-Sian-yan, sedikitpun kau tak punya kewajiban dan
tanggung jawab sebagai seorang ayah, sekarang malah kau
bunuh satu2nya sanak yang paling kucintai, kau terlalu
kejam... kau tak punya Liang-sim...."
Sambil menangis terisak gadis itu putar badan dan segera
berlalu dari situ-
"Adik Yap. engkau tak boleh bersikap kasar,
Bagaimanapun juga toh Sian-yan cianpwee adalah ayah
kandungmu. tiada kasih yang lebih dalam selain kasih
orang terhadap anaknya, takdirlah yang membuat orang
harus mengalami penderitaan, siksaan dan kesedihan,
tahukah kau kepedihan dan kesedihan yang dialami Sianyan
cianpwee pada saat ini jauh melebihi dirimu? adik Yap.
turutlah perkataanku. jangan bertindak ngawur,..Kini
payung sengkala telah terjatuh ketangan Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng, situasi dalam dunia
persilatan amat gawat, kita harus bersatu padu Untuk
menghadapi musuh tangguh, janganiah turuti emosi hingga
mencerai beraikan kekuatan kita sendiri"
Tiba2 pencuri tua Pek-li Gong berseru dengan suara
serak:
"Bocah muda, ayoh Cepat panggil ayah mertuamu,
dengan sebutan itu urusan toh akan beres dengan
sendirinya."
Terpaksa Lam kong Pak berlutut dihadapan sian-yan
Peng sambil memberi hormat.
"Gak hu. harap jangan marah" katanya, "Adik Yap baru
kematian ibunya, ia masih dipengaruhi emosi.., mengalah
sedikit kepadanya. tentu Gak hu tidak keberatan bukan?"
Sementara itu Pek-li Hiang sudah menghibur pula diri cu
Li-yap hingga suasana dapat tenang kembali,
Pada hakekatnya dalam peristiwa berdarah ini, Sian-yan
Peng sama sekali tak dapat disalahkan, karena sikap yang
ditunjukkan cu Hong Hong tadi terlalu menantang dan
menyudutkan orang hingga siapapun tak akan tahan
menghadapi keadaan tersebut.
Lagipula dalam serangan tadi Sian-yan Peng hanya
menggunakan tiga empat bagian hawa murni, dari situ
menunjukkan bahwa jago tersebut sama sekali tak berhasrat
membinasakan istrinya, kalau ingin mencari siapa yang
salah maka kesalahan terbesar terletak pada diri cu Hong
Hong sendiri, karena dialah yang punya niat bunuh diri dan
sama sekali tak mau menangkis serangan tersebut.
Kawanan jago dari golongan putih sama2 menghibur cu
Li-yap. Sun Han siang sendiripun turun tangan mengatasi
keadaan itu. akhirnya cu Li-yap bisa ditenangkan kembali.
ia mendekap ayahnya dan menangis ter-sedu2.
Sian-yan Peng sendiripun tak dapat menahan lelehan air
mata. ayah dan anak saling berpelukan sambil menangis
membuat suasana sangat mengharukan. Beberapa waktu
kemudian, Lam-kong Pak berkata.
"Walaupun malam ini Gak-hu dengan adik Yap juga
merupakan suatu kejadian yang mengerikan hati. aku harap
saudara sekalian tak usah bersedih hati lagi marilah kita
bicarakan masalah penting."
Setelah berhenti sebentar. dia melanjutkan: "Ada satu hal
aku ingin menanyakan kepada saudara sekalian. siapakah
yang per-tama2 menyebarkan berita sensasi yang
mengatakan payung sengkala berada dalam perkampungan
Toa-lo sancung?"
"Semua kejadian itu adalah hasil karyaku."jawab Awan
hitam pengejar rembulan oei ci-hu, "sesungguhnya akupun
tidak siarkan berita bohong. Ceritanya begini: kalian semua
tentu tahu bukan betapa keji dan liciknya ciu ci Kang
tersebut? rupanya secara diam2 mereka telah buat sebuah
payung sengkala palsu yang tanpa diketahui oleh siapapun
telah dikirim kedalam perkampungan Toa-lo sancung.
sekalipun barangnya palsu tapi mereka bersikap se-olah2
benar2 telah mendapatkan benda pusaka, ditambah pula
aku sebar luaskan berita ini keempat penjuru maka orang
semakin yakin kalau perkampungan Toa-lo sancung benar2
terdapat benda mustika itu. tindakanku ini bukan
bermaksud untuk melaksanakan siasat sekali timpuk dua
burung. pada hakekatnya aku sedang menggunakan siasat
racun melawan racun untuk menggagalkan rencana busuk
mereka"
"Lalu bagaimana dengan payung sengkala milik cu
cianpwee yang sekarang terbukti adalah barang palsu juga .
permainan siapakah itu??"
"Menurut dugaanku kemungkinan besar permainan
tersebut adalah hasil karya dari Mo-jiu-sam-seng tiga
bintang bertangan iblis, sebab payung sengkala yang asli
aku dapatkan diri tangan mereka. Sekarang asal usul dari
payung mustika itupun sudah dibikin terang, sungguh tak
nyana hanya karena ingin memperebutkan sebuah payung
sengkala palsu, banyak jago baik dari golongan lurus
maupun dari golongan sesat telah kehilangan nyawa
dengan percuma."
"Sian-yan Peng" ujar Sun Han Siang kemudian,
"sekarang kejadian lampau sudah lewat, cu Hong Hong
juga sudah tinggalkan dunia yang ramai, urusan
perkawinan dari putrimu hanya engkaulah yang berhak
untuk ambil keputusan, walaupun semasa hidupnya cu
Hong Hong tak pernah menolak atau keberatan akan
perkawinan ini. akan tetapi ia belum pernah memberikan
jawaban yang pasti, maka aku harap pada malam ini juga
kau bersedia memberi jawaban yang pasti agar semua orang
bisa berlega hati"
"Sejak pertama kali mereka bergaul sudah menyatakan
persetujuan apalagi hubungan mereka kian hari kian
bertambah akrab, tentu saja tiada persoalan lagi bagiku,
semua urusan kuserahkan pelaksanaannya kepada kalian"
Pada waktu itulah catatan mati hidup berpaling kearah
wangwee berhati hitam dan berkata:
"Ji-ya. mengetahui urusan menjamu yang berlangsung
tempo hari. aku toa-ya sangat tak berkesan, pertama kali
kuundang dirimu kau bilang sayurnya terlalu tawar tak ada
minyak babinya, kedua kali kujamu kau alasanmu
kebanyakan minyak babi, maka dari itu agar kau merasa
puas aku toa-ya akan menjamu dirimu untuk ketiga
kalinya."
Wangwee berhati hitam yang gemuk segera tertawa terbahak2.
"Haaah-haaahh-haaaahh....toa-ya, engkau memang
menyenangkan hati, demi aku ji-ya ternyata kau bersedia
melanggar kebiasaan."
"Aaah itu toh urusan kecil, apalagi hubungan diantara
kita berdua toh sudah terlalu akrab, masa antara saudara
sendiri juga membicarakan soal kebiasaan? dan lagi aku kan
Cuma tanggal satu serta tanggal lima belas tidak menjamu
tamu, karenanya aku hendak menjamu dirimu tepat harinya
dengan hari perkawinan dari majikan kecil kita"
Paras muka Wangwee berhati hitam berubah bebat. ia
segera berteriak lantang:
"Huuhh Masa ingin menjamu kok dibarengkan dengan
hari perkawinan orang, aku tak sudi menerima
undanganmu itu. Heey toa-ya...janganlah kau pandang aku
sebagai bocah cilik...maaf, aku tak mau menerima
kebaikanmu itu"
Dalam pada itu Sun Han Siang telah mengutus orang
untuk membeli peti mati, merekapun segera mengebumikan
jenasah cu Hong Hong diluar kebun bunga keluarga Siok.
Disaat upacara pemakaman cu Hong Hong berlangsung.
diam2 Sian-yan Peng berlalu dari sana, tak seorangpun
mengetahui kepergiannya itu dan tak ada orang yang tahu
kemana dia pergi.
Tapi semua orang cukup memaklumi perasaan hatinya.
mereka tahu jago tua itu penuh diliputi kekecewaan,
kesedihan dan putus asa,jelas ia tak punya muka untuk
berjumpa lagi dengan rekan2nya. kepergian jago tua sudah
pasti tak akan diketemukan orang sebab Sian-yan Peng pasti
akan menjauhkan diri dari pergaulan manusia.
Para begundalnya yang kebanyakan merupakan anggota
penggadaian dunia persilatan segerapun pada
membubarkan diri dan berlalu dari sana, karena mereka
pernah menghianati sun Han Siang.
Setelah semua iblis itu pergi, Siang Hong Ti menghela
napas panjang dan berkata
"Sandiwara berakhir penontonpun bubar, orang2 pandai
yang mati telah mati, yang pergi telah pergi, hanya tersisa
kita2 manusia pembuat bencana yang harus menanggulangi
bahaya didepan mata, kita pulang bertugas menyingkirkan
dua orang gembong iblis itu beserta Suma Ing"
"oei ci-hu" seru pencuri tua dari samping, "tenaga dalam
yang kalian bertiga miliki telah pulih kembali seperti sedia
kala, yakinkah kalian bisa menghadapi Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng?"
"Hey pencuri tua, bagaimana kalau kurangi sindiranmu
itu?" jawab oei ci-hu Cepat," kalau tenaga gabungan kami
bertiga masih belum mampu untuk menghadapi iblis tua
itu, lebih baik aku gantung diri diatas pohon saja"
"Kalau toh memang begitu kita tak usah tercerai berai
lagi. hakekatnya bukan pekerjaan yang mudah untuk
menemukan jejak iblis tua itu, dari pada mencari lebih baik
kita menunggu saja kedatangannya. mumpung urusan
sudah beres bagaimana kalau kita Cari hari baik dan
menyelenggarakan upaCara perkawinan dari Pak-ji dikota
Lok-yang? kalau mendengar kabar ini, sudah pasti dia orang
gembong iblis tua itu akan datang mengaCau. Nah kita bisa
gunakan kesempatan yang baik itu untuk singkirkan mereka
dari muka bumi."
"Bagus juga akalmu itu " puji Sun Han Siang. "cepat atau
lambat kedua ikan kakap itu pasti akan masuk jaring "
"Sekarang masih ada satu urusan penting yang harus
segera kuselesaikan." tiba2 Lam-kong Pak menyela, "aku
rasa urusan perkawinan tak perlu diselesaikan dengan
tergesa-gesa, lain waktu saja?"
"Bocah yang tak tahu diri. maunya kau sengaja
mengganggu kegembiraan aku?" damperat Pencuri tua.
"Harap gak-hu jangan salah paham? Bukannya aku
sengaja menghilangkan kegembiraan gak-hu, dalam
kenyataan dua orang anggota Mo-jiu-sam-seng telah
meninggalkan dunia. sekarang tinggal seorang saja yang
masih hidup, itupun menderita luka dalam yang parah
Meskipun ia berpesan kepadaku tak usah mencari dia lagi
sebab katanya tak lama kemudian ia akan kembali kedunia
yang fana. tapi aku telah menyanggupi untuk menguburkan
jenasah mereka bertiga, oleh karena itu aku harus pergi
memenuhi janji"
"Janji yang telah diucapkan memang sepantasnya
dipenuhi" sambung Sun Han Siang. "apabila dua orang
gembong iblis tua itu sudah tahu bahwa guru mereka belum
mati, dua orang murid murtad itu pasti akan berkunjung
kesana untuk melakukan pembunuhan, Pak-ji cepatlah
berangkat kesana dan bawa beberapa orang sebagai
pembantu, cepat pergi cepat kembali. kami tunggU kau
dikota Lok-yang"
"Biarlah aku pergi dengan membawa serta Loo-tua dan
sepasang manusia bagus dari Hay-thian" kata Lam-kong
Pak kemudian.
Wartawan berhati hitam dari Hay-thian siang-cho
kontan menyela
"Yaya sekalian, julukan kami telah diubah sau-ya
menjadi sepasang manusia bagus. itu tandanya sau-ya
menilai tinggi kekuatan dan budi kita berdua..haabh..haah
.haahh.. baik, baik, kami segera akan berangkat untuk
menyumbang tenaga."
"Kami juga ikut" sela dua gadis muda itu cepat
Lam-kong Pak mengangguk tanda setuju, berangkatlah
dia menuju kelembah terpencil tersebut dengan membawa
serta Pek-li Hiang, cu Li-yap. Loo Liang-jan serta sepasang
manusia jelek dari Hay-thian.
Setibanya didepan gua. Lam-kong Pak memerintahkan
semua orang menunggu diluar, sedang ia masuk kedalam
gua itu seorang diri.
Setibanya dimulut kawah gunung berapi, ditemuinya
beberapa buah tulisan tertera diatas dinding, ketika didekati
dan dibacanya ternyata tulisan itu berbunyi demikian.
"Aku sudah tinggalkan gua ini bersama loo-hek. akan
kucari murid durhaka itu untuk bikin perhitungan, engkau
tak usah menguatirkan keselamatanku."
Mendapat tahu kakek itu sudah pergi terpaksa Lam-kong
Pak mundur dari gua itu dan menceritakan kejadian tadi
kepada semua orang. akhirnya ia menambahkan:
"Menurut pengelihatanku, kakek itu belum lama
tinggalkan gua ini, mari kita cari jejaknya disekitar tempat
ini"
"Engkoh Pak" seru Pek-li Hiang kemudian, "bukankah
engkoh pernah cerita kalau kakek tua itu sudah berpuluh
tahun lamanya duduk diatas tonggak batu yang runcing,
setelah menderita luka parah masa ia dapat tinggalkan gua
itu??"
"Aku sendiripun keheranan. Tapi yang jelas selama
puluhan tahun tersekap dalam gua. tiga orang kakek tua itu
tak pernah mengendorkan latihannya, tenaga dalam yang
mereka miliki telah peroleh kemajuan yang sangat pesat.
kendatipun terluka aku rasa asal bersemedi luka itu dapat
disembuhkan toh disanapun tersedia telur ikan leihi emas
yang bisa pulihkan kembali kekuatan orang, aku tahu sudah
pasti kakek tua itu tak rela kalau orang lain yang
membinasakan Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hoa Seng, maka ia beritahu kepadaku bahwa tak lama
kemudian ia akan mati. padahal secara diam2 ia telah
tinggalkan gua tersebut untuk bikin perhitungan."
Setelah keluar dari lembah terpencil itu, tiba2 sepasang
manusia jelek dari Hay-thian berkata:
"Tuan muda, bagaimana kalau kita memecahkan diri
jadi dua rombongan? baik menemukan jejaknya atau tidak.
sebelum kentongan kelima kita berkumpul kembali disini"
"Baik, kalian berdua bawalah Loo-tua dari barat berputar
keutara, sedang kami dari selatan berputar ketimur,
Sebelum kentongan kelima nanti kita bertemu lagi disini,
tapi ingat jika kalian bertamu dengan iblis tua itu janganlah
melawan dengan kekerasan, cepat mundur dan kabur"
Begitulah, setelah Sepasang manusia jelek dari Hay-thian
bertiga berangkat. maka Lam-kong Pak dengan membawa
dua orang gadispun bergerak menuju keselatan
pada waktu itu kentongan ketiga baru lewat malam amat
sunyi dan udara amat dingin, Sudah puluhan li ketiga orang
itu bergerak kearah selatan tanpa menemukan sesuatu
apapun, kemudian mereka bergerak kearah timur. Suatu
ketika mendadak cu Li-yap berkata:
"Engkoh Pak. marilah kita beristirahat sebentar disini
aku rasa keCepatan gerak ketiga orang itu tak akan lebih
cepat dari kita toh kalau kita tiba dulu disana juga harus
menanti kedatangan mereka...bagaimana pendapat engkoh
Pak?"
Sudah tentu Lam-kong pak menyetujui, merekapun
segera mencari tempat yang nyaman disekitar sana,
akhirnya dibalik semak mereka temukan sebuah gua.
Mereka bertiga masuk kedalam gua itu, Pek-li Hiang
membuat api unggun dan membagi rangsum kepada Lamkong
Pak berdua.
Pada saat itulah tiba2 sesosok bayangan manusia
menyelinap masuk kedalam gua dengan gerak yang enteng
bagaikan sesosok sukma gentayangan, tindak tanduknya
sangat ber-hati2 dan cekatan, setibanya dimulut gua ia
mendekam tak berkutik ditanah dan mengintip gerak gerik
orang2 dalam gua itu.
Lam-kong Pak bertiga sama sekali tidak merasakan
kehadiran orang itu, mereka masih bersenda-gurau dengan
gembiranya.
Tiba2 bayangan manusia yang mendekam diluar gua itu
menyeringai seram, dari sakunya dia ambil keluar sebutir
kapsul warna merah dan segera dilemparkan kedalam
onggokan api unggun.
Perlu diterangkan, onggokan api unggun itu terletak
ditengah gua sementara Lam-kong Pak bertiga duduk
disekitar api unggun itu sambil bersenda-gurau, maka tak
seorangpun yang tahu Kalau secara diam2 ada orang
melemparkan sebutir kapsul kedalam api unggun mereka..
"Bluumm.." letupan bunga api membumbung keangkasa
diikuti dari tumpukan api unggun tadi mengempul keluar
kabut tebal yang berwarna merah.
"Ehmm... wangi.. wangi sekali" Pek-li Hiang segera
berteriak. "apakah kalian juga mencium bau wangi ini??"
"Betul Wangi sekali baunya," sambung cu Li-yap.
"seperti bau dupa wangi...aneh masa diantara tumpukan
kayu bakar itu terdapat pula kayu harum?"
Sementara itu Lam-kong Pak sendiripun mencium bau
wangi yang aneh tadi, sewaktu terjadi letupan
kecurigaannya segera timbul ia hendak keluar gua untuk
periksa apa yang terjadi.
Tapi sebelum ia sempat bertindak sesuatu tiba2
ditemuinya paras muka dua orang gadis itu telah berubah
jadi merah padam seperti orang yang mabok oleh arak. biji
matanya yang bening pancarkan sorot cinta yang lembut
dan menawan.
Walaupun Lam-kong Pak masih muda belia, akan tetapi
berhubung ia pernah melakukan hubungan senggama
dengan Liu Hui Yan maka boleh dikata pengalamannya
dalam soal itu cukup luas, ia tahu apa yang sedang
dibutuhkan oleh dua orang gadis itu. Tanpa terasa ia
berpikir dalam hatinya:
"Aaah hakekatnya gadis seusia mereka sudah pantas
untuk merasakan golakan birahi,. apalagi tak lama
kemudian kita akan menikah. memang kadangkala birahi
akan muncul sebelum saatnya tiba...tapi .apakah aku harus
layani kebutuhan mereka?"
Sementara ingatan tersebut masih berkelebat dalam
benaknya, dua orang gadis itu sudah menghampirinya
dengan tubuh gemetar keras, sekujur badan mereka terasa
panas menyengat badan. sedang bibirnya yang merah
mereka disodorkan kedepan,
Lam-kong Pak merasa tak tega untuk menampik
keinginan mereka itu, segera mencium mereka dengan
penuh mesra.
Siapa tahu begitu bibir bertemu dengan bibir, bagaikan
besi berani baja, bibir mereka lantas lengket menjadi satu
dan tak lepas lagi, rintih kenikmatan berkumandang tiada
hentinya.
Betapa terperanjatnya sianak muda itu menghadapi
kenyataan tersebut, ia segera berpikir:
"Adik Yap serta adik Hiang adalah gadis2 suci dari
golongan lurus. sekalipun napsu birahi telah menyelimuti
benak mereka, tak mungkin keinginan tersebut mereka
periihatkan secara terang2an, apalagi dengan cara yang
binal dan cabul seperti ini.., sebetulnya apa yang telah
terjadi?"
Dalam pada itu Pek-li Hiang dan cu Li-yap benar2 sudah
dipengaruhi oleh napsu birahi, sekujur badan mereka
gemetar keras bahkan dengan gigi mereka menggigit bahu
pemuda itu, membuat Lam-kong Pak menjerit kesakitan.
"Hey, apa yang kalian ingiakan?" teriaknya.
Dengan sorot mata binal Pek-li Hiang bergumam tiada
hentinya:
"Engkoh Pak. aku ingin. ..aku ingin gituan -..oooh
engkoh Pak sayang-..tidurilah aku aku ingin sekali.oooohh
sayang...aku ingin sekali. . ."
"Aku juga pingin.." sambung cu Li-yap dengan rintihan
melas, "engkoh Pak. penuhilah keinginan kami...ooh
sayang aku tak kuat...tidurilah aku...aku membutukan."
Lam-kong Pak makin terperanjat, sekuat tenaga ia
dorong gadis2 itu hingga jatuh terjengkang, ia loncat
bangun dan berusaha menenangkan diri.
Tiba2 pemuda itu merasakan segulung hawa panas yang
luar biasa muncul dari pusarnya, membuat tubuhnya gontai
dan hampir saja jatuh ketanah.
Tampaklah dua orang gadis itu cekikikan dengan
binalnya, bahkan yang mereka kenakan satu persatu
dilepaskan.
Lam-kong Pak jadi lebih panik, urusan bakal celaka.
Dengan lantang hardiknya: "Tenangkan hati kalian-. jangan
bertingkah yang bukan2...kita kena dikerjai orang"
Siapa tahu dua orang gadis itu sama sekali tidak
menggubris teriakan tersebut. se-akan2 mereka sudah tak
mendengar lagi apa yang diucapkan pemuda itu
Dengan paras muka merah padam bagaikan kepiting
direbus mereka meliuk2kan pinggulnya dengan penuh daya
rangsang, bibirnya mereka penuh rasa menantang..
bagaikan seorang yang kehausan, matanya melirik kesana
kemari dengan liar, sementara pakaian luar yang mereka
kenakan telah terlepas.
Menyaksikan gerak gerik lawan jenisnya yang begitu
merangsang, nafsu berahi muncul dalam tubuh Lam-kong
Pak dengan termangu-mangu dia awasi orang gadis itu
tanpa berkedip.
Dalam pada itu Pek-li Hiang dan Cu Li-yap telah
melepaskan pakaiannya mereka satu demi satu, kini tinggal
celana dalam mereka yang berwarna merah saja tetap
melekat dibadan-
Payudara yang putih montok2 bergelantungan didada,
bentuknya indah, padat dan keras, saat itu bentuknya makin
keras dan menegang keatas dengan puting yang merah
merangsang, kulit yang putih bagaikan saiju menambah
daya pesona bagi tubuh mereka.
Rupanya kesadaran terakhir masih tetap melekat dibenak
dua orang gadis itu, maka meskipun kutang sudah dilepas
namun celana dalam yang tipis masih tetap dikenakan.
Kendati begitu goncangan payudara yang putih berisi
cukup merangsang sapapun yang melihat, Lam-kong Pak
tak kuat menahan godaan tersebut, hawa panas makin
kencang memancar keluar dari pusarnya membuat
birahinya semakin menyelimuti benak.
Dengan mata ber-kedip2 penuh birahi dua orang gadis
itu jatuhkan diri ketanah dan tidur terlentang menghadap
atas, sepasang pahanya yang putih direntangkan lebar2 siap
untuk menarik perahu masuk pelabuhan. Pemandangan
yang begitu menawan... begitu merangsang cukup
membetot sukma siapapun yadg melihat.
Jangan dibilang Lam-kong Pak yang sudah terkena bau
wangi aneh tadi, sekalipun pembaca sendiri saya rasa
keadaan tersebut cukup menegangkan syaraf dan saya yakin
tak ada yang bilang tak terangsang oleh tantangan maut
gadis setengah telanjang yang masih perawan itu.
Bukankah demikianpara pembaca sekalian yang
budiman???
Sementata itu sinar mata yang liar dan penuh diliputi
napsu birahi yang berkobar-kobar telah menyelimuti
seluruh tubuh Lam-kong Pak. hanya satu yang dituju
pemuda itu dalam keadaan tersebut, dan tujuan itu tak lain
tak bukan terletak diantara belahan paha gadis2 manis
tersebut.
Tiba2 Pek-li Hiang dan cu Li-yap merintih lirih. mereka
menggapai kearah pemuda itu agar menubruk maju,
sementara pahanya direntangkan semakin lebar, pinggulnya
mulai meliuk kekiri dan kanan dengan gaya putaran yang
maut....
Bagaimanapun juga Lam-kong Pak adalah seorang
pemuda yang berkepandaian tinggi, bawa murninya amat
sempurna dan imannya cukup kuat, sambil gigit bibir ia
berusaha melawan kemauan yang muncul dari hatinya. tapi
ia merasa bahwa pertahanan tubuhnya makin lama makin
lemah, makin lama semakin lumer.. sebab golakan hawa
panas yang merangsang tubuhnya sudah hampir mencapai
taraf yang sukar dikendalikan.
Akhirnya dengan langkah sempoyongan ia maju
kedepan- mendekati dua orang gadis yang telah siap
bertempur itu....
Pek-li Hiang serta Cu Li-yap berpekik kegirangansepasang
lengannya yang putih berusaha meraih pemuda
itu, muka mereka makin merah padam, sementara rintihan
lirih berkumandang tiada hentinya.
"oooh.. engkoh Pak.. cepatlah tiduri kami., ooch sayang.
adik sudah tidak tahan-..oooh betapa tersiksanya
bawahku... engkoh sayang cepatlah puaskan kami, kami
butuh...ooooh sayang, aku tak tahan lagi cepatlah
masukkan....."
Keadaan makin kritis, rupanya pertarungan seru segera
akan berlangsung.
Mendadak sesosok bayangan manusia munculkan diri
ditengah gua, orang itu bukan lain adalah suma Ing.
Rupanya ketika ia masih mempunyai hubungan gelap
dengan siau-hong dulu, dari dayang cabul tadi ia berhasil
mendapatkan obat perangsang yang berkadar tinggi, obat
itu sangat jahat dan besar pengaruhnya. barang siapa
mencium sedikit saja niscaya akan terangsaag dan belum
akan punah sebelum Hajadnya terpenuhi.
Sayang Lam-kong Pak belum pengalaman, sebenarnya
dengan beberapa kali penemuan anehnya ia sudah kebal
terhadap pengaruh pelbagai jenis racun, terutama sekali Tok
Se-lip yang dibuat Mo-jiu-sam-seng selama puluhan tahun,
boleh dibilang merupakan benda anti racun yang paling
mujarab.
Cuma sayang kemujaraban benda itu tak dapat diserap
oleh sianak muda itu sebagai mana mestinya, andaikata
sejak pertama kali tadi ia bisa bersikap tenang dan segera
atur pernapasan, maka dengan tenaga murni yang dia miliki
pengaruh racun itu dengan gampang bisa dilenyapkan-
Dengan suatu gerakan yang enteng Suma Ing telah
berdiri dibelakang tubuh Lam-kong Pak. ia tertawa seram
tiada hentinya, asal dia ayun telapaknya sekarang niscaya
pemuda itu akan menggeletak mati.
Tapi ia tak ingin membinasakan musuh besarnya ini
dengan begitu saja, karena semua siksaan dan penderitaan
yang dialaminya sekarang adalah hasil karya pemuda itu.
mukanya jadi buruk hingga setan tak seperti setan, manusia
tak menyerupai manusia juga berkat pemberian pemuda itu,
ia tak pernah bayangkan kejahatan yang telah dilakukan,
dia hanya tahu membalas dendam.
Tapi diantara semua siksaan yang diterima, Suma Ing
paling sakit hati ketika alat vitalnya dirusak oleh Pek-li
Hiang berdua sehingga tak berfungsi lagi, ia benci pada dua
orang gadis itu karena merekalah yang membuat dia jadi
impoten, kehilangan kegagahannya sebagai seorang pria.
Kalau tidak. niscaya kesempatan yang sangat baik ini
akan dimanfaatkan dengan se-baik2nya, dia pasti akan
menggagahi dua orang gadis perawan itu secara bergantian-
Berdiri menghadapi gadis2 telanjang yang sedang
terangsang oleh birahi, bajingan paling terkutuk didunia itu
mulai putar otak untuk mencari akal, ia sadar dengan
senjatanya yang sudah tak berfungsi lagi itu. tak mungkin
baginya untuk perkosa musuh2nya untuk melampiaskan
rasa dendam yang terpendam selama ini. tapi iapun tak sudi
lepaskan musuhnya dengan begitu saja tanpa mengusik
mereka. dia bersumpah akan menyiksa mereka dengan
siksaan yang paling keji didunia hingga ketiga orang itu
menderita dan akhirnya baru dibunuh,
Pikir punya pikir akhirnya Suma Ing berhasil
mendapatkan satu akal bagus, dia tahu daya pengaruh obat
rangsang itu masih bisa bertahan satu jam kemudian,
apabila birahi mereka tak dapat disalurkan penderitaan
yang mereka terima akan jauh lebih hebat.
Maka dengan cepat ia cengkeram sepasang tangan Lamkong
Pak dan diseretnya kearah lain, kemudian ia
menambah pula batangan kayu ketengah api unggun
tersebut.
Kobaran api yang terpancar dari api unggun itu makin
membara, membuat suasana dalam gua itu bertambah
terang benderang, pada saat itu Pek-li Hiang serta Cu Liyap
sudah terangsang oleh napsu birahi sehingga tubuh
mereka jadi lemas, rintihan lirih yang membangkitkan daya
rangsang berhamburan dari mulut mereka.
Dari balik tubuh mereka yang telanjang seakan- akan
terpancar keluar daya rangsang dan sikap menantang yang
mendebarkan hati, namun Lam-kong Pak telah kehilangan
semua daya kemampuannya, sepasang telapak tangannya
sudah dicengkeram Suma Ing hingga ia tak bisa berkutik
lagi.
Selain itu pandangan matanya sudah mulai kabur, dia
hanya perhatikan tubuh telanjang dari dua orang gadis itu.
Selain payudara serta selangkangan dara2 itu tiada
sesuatupun yang ia perhatikan atau tegasnya ia tidak berniat
untuk memandang yang lain kecuali dua tempat tadi..
Api napsu yang membakar seluruh tubuh Lam-kong Pak
sudah tak dapat ditahan lagi, dalam keadaan seperti itu
rupanya ia sudah tak kenal siapakah Suma Ing, dia hanya
berusaha untuk meronta dan melepaskan diri dari
cengkeraman orang, dia hanya tahu pergi melepaskan
hajadnya yang sudah tak terbendung, namun Suma Ing
mencekalnya erat2 membuat ia sama sekali tak berkutik.
Rupanya napsu birahi yang menyelimuti benak Pek-li
Hiang dan cu Li-yap juga telah mencapai pada puncaknya,
sekujur tubuh mereka gemetar keras sementara rintihannya
makin menusuk telinga.
Suma Ing tertawa seram, rupanya ia sendiripun sudah
terangsang oleh pemandangan yang tertera didepan mata,
tapi berhubung "senjata"nya telah tak berfungsi lagi
alias......
= =Beberapa Halaman telah hilang tersobek= =
DIPIHAK lain Lam-kong Pak yang tertotok jalan
darahnya dan menggeletak disudut gua. dari bencana malah
untung. berhubung peredaran darah dalam tubuhnya
tersumbat maka sari racun yang mengeram dalam tubuhpun
tak tersalur ketempat yang lain, napsu birahi yang semula
telah menguasai benaknya ber-angsur2 lenyap dari tubuh,
sementara kesadaranpun pulih kembali seperti sedia kala,
apa yang tertera didepan matapun dapat diikuti dengan
lebih jelas.
Pada dasarnya dalam tubuh pemuda itu terdapat hawa
murni bayi sakti, terdapat pula sari buah merah, cairan
empedu naga sakti dan Tok Si- lip. semuanya merupakan
benda mustika yang sulit diperoleh, hanya saja untuk
sementara waktu benda2 tadi tidak berkasiat.
Kini setelah kesadarannya pulih maka benda-benda
mustika itupun segera menunjukkan kasiatnya. sisa obat
perangsang yang masih tertinggal dalam tubuhnya sama
sekali tersapu habis,
Pertama-tama ia saksikan cu Li-yap yang terlentang
dalam keadaan setengah telanjang, gadis itu masih berliukliuk
seperti ular diatas tanah karena pengaruh obat
perangsang. kemudian ia saksikan pula suma Ing sedang
menindih diatas tubuh Pek-li Hiang yang kedua-duanya
berada dalam keadaan telanjang bulat.
Bagaikan disambar geledek disiang hari belong pemuda
itu tersentak kaget dan segera sadar kembali dari semua
pengaruh menjerit didalam hati.
"oooh.-.Thian habislah sudah Pek-li Hiang oooh adik
Hiang sayang, kasihan kau akhirnya kau termakan oleh
bajingan anjing itu, habislah sudah segala-galanya... Suma
Ing kau bangsat terkutuk "
Ia tak mampu menahan rasa sesal dan kecewa yang
berkecambuk dalam benaknya. ia benci pada diri sendiri, ia
malu pada ketololan serta ketidak becusan sendiri,
meskipun memiliki ilmu silat yang tinggi akan tetapi tak
mampu untuk melindungi keselamatan dua orang istrinya
yang tercinta.
Rintihan binal dan rangsangan napsu berahi yang
memancar dari Pek-li Hiang kian menusuk pendengaran,
sementara Suma ing menggesek dan menindih tubuh dara
itu makin kalap. Menyaksikan kesemuanya itu Lam-kong
Pak hanya bisa menekan rasa sakit hatinya belaka, ia
merasa hatinya seperti di-iris2 dengan pisau tajam.
Lam-kong Pak berusaha tenangkan hati dan salurkan
hawa murninya untuk membebaskan jalan darahnya yang
tertotok. akan tetapi menghadapi peristiwa yang cukup
menggusarkan hati itu perhatiannya tak mampu disatukan
apalagi salurkan hawa murni untuk menerjang lepas
pengaruh totokan orang.
Di-saat2 seperti itulah, sesosok bayangan manusia
kembali berkelebat lewat dimulut gua, orang itu langsung
menerjang kearah Suma ing dan menotok jalan darahnya.
Tanpa memberi perlawanan pemuda Suma roboh
terjengkang keatas tanah dan tak berkutik lagi.
Sementara itu Pek-li Hiang sudah tetangsang hingga
mencapai pada titik puncaknya, ia langsung bangkit berdiri
dan menubruk kearah bayangan manusia yang baru muncul
itu.
Dengan cekatan orang itu berkelit kesamping, kemudian
sambil tertawa ter-kekeh2 serunya:
"Budak ingusan, jenisku tak jauh berbeda dengan kau.
punyaku juga tonjolan seperti
punyamu..heehh...heehh...heebh.. sekalipun saat ini kau
sangat butuhkan itu.. tapi sayang aku tak bisa memberikan
apa yang kau butuhkan-.,"
SEKARANG Lam-kong Pak dapat melihat siapakah
yang datang. diam2 ia hela napas panjang dan berpikir:
"Habislah sudah Kalau sampai perempuan cabul inipun
muncul disini, ini berarti aku tak akan lolos dari bencana."
Ternyata bayangan manusia yang baru muncul bukan
lain adalah Janda kawin tujuh kali Pui Kun- sementara itu
sambil picingkan matanya ia melirik sekejap kearah dua
orang gadis yang menggeletak ditanah kemudian sambil
tertawa dingin katanya:
"Heeeh-heeeh-heeehh...Hakekatnya kalian memang
budak2 goblok Yang masih berfungsi tidak kalian Cari,
sebaliknya manusia bobrok yang sudah loyo kalian tubruk
tolol benar2 amat tolol. Ehm nampaknya rejekiku hari ini
luar biasa baiknya, malam ini aku akan makan nikmat.
ayam jejaka haaah-haaahh-haaah..."
Sambil goyang pinggul ia maju menghampiri sianak
muda itu, sebutir pil diambil dari saku dan dijejalkan
kemulutnya ...
Tapi pada saat itulah kembali sesosok bayangan manusia
menerjang masuk kedalam gua. Dengan cepat Pui Kun
menyadari akan kahadiran tamu tak diundang itu, tiba-tiba
ia berpaling.
Betapa terperanjatnya setelah ia tahu bahwa orang itu
bukan lain adalah Kakek ombak menggulung, perempuan
itu sadar kalau kepandaian silatnya masih bukan tandingan
orang, maka sambil mundur dua langkah serunya.
"Hey setan tua, disini terdapat tiga orang perempuan dan
seorang pria, aku rasa setelah ada dua orang gadis yang
masih muda belia, tentunya kau tak akan tertarik pada
diriku bukan? Nah, karena itu bagaimana kalau kita bagi
hasil secara adil? Dua orang bocah perempuan itu
kuberikan kepadamu, sedangkan Lam-kong Pak berikan
kepadaku dan masing masing pihak tak akan mengganggu
yang lain, tentunya setuju bukan-. .?"
Pada dasarnya Kakek ombak menggulung adalah
seorang kakek cabul yang suka main2 perempuan- apalagi
menyaksikan tubuh Pek-li Hiang yang telanjang bulat
dalam posisi siap bertempur, kontan saja napsu birahinya
berkobar dalam dada. "Senjata"nya tak ampun segera
menegang siap bekerja.
Akan tetapi diapun bukan manusia sembarangan, ia tak
sudi menerima tawaran orang dengan begitu saja, dan soal
yang terpenting ia tak tega hati kalau biarkan Janda kawin
tujuh kali tetap bermesraan secara bebas. Maka sambil
tertawa seram tiada hentinya ia berseru:
"Pui Kun. perkataanmu tak salah. Setelah tersedia dua
orang gadis muda yang begitu cantik jelita dan lagi masih
perawan, tentu saja aku tak akan tertarik oleh tubuhmu
yang sudah kendor, tapi.. heehh...heehh.. heeh.. .sebelum
bekerja. terpaksa aku harus bereskan dirimu lebih dahulu"
Janda kawin tujuh kali lebih terperanjat, ia mundur
kearah Lam-kong Pak. sementara paras mukanya berubah
hebat dan tubuhnya sangat gemetar.
"Heehh-heehh-heehh...rase tua" ejek Kakek ombak
menggulung. "kalau tahu diri, alangkah baiknya kalau jadi
seorang penurut,jangan beri perlawanan Kalau aku sudah
menyelesaikan hajadku nanti maka kaupun akan kulepas,
kesenanganmu tentu tak akan kuganggu"
Sebagai jago kawakan yang banyak pengalaman- sudah
tentu Janda kawin tujuh kali tak mau menempuh bahaya,
yaa kalau pihak lawan menepati janji dan beri kebebasan
kepadanya, kalau tidak, kan berabe??
Walau pun begitu, diapun sadar bahwa kepandaian
silatnya masih bukan tandingan orang, cepat ia
mengundurkan diri kesamping Lam-kong Pak sedang dihati
ia berpikir:
"Baiklah kalau toh kakek ombak menggulung bersikeras
akan turun tangan atas diriku. terpaksa akupun akan
bebaskan jalan darah Lam-kong Pak yang tertotok."
Dalam anggapannya bila Lam-kong Pak dibebaskan,
maka keadaan jauh lebih menguntungkan dirinya.
meskipun hasratnya menikmati ayam jejaka gagal total,
akan tetapi asalkan gembeng iblis tua tersebut berhasil
dipukul kabur, niscaya pemuda itu bersedia pula untuk
mengampuni selembar jiwanya.
Dalam pada itu selangkah demi selangkah Kakek ombak
menggulung telah maju kedepan, Janda kawin tujuh kali
segera menggigit bibir, diam2 ia tepuk bebas jalan darah
Lam-kong Pak yang tertotok.
Dipihak lain pemuda Lam-kong juga sudah menebak
maksud hati Janda kawin tujuh kali, ia tahu perempuan itu
mundur kesisinya tidak lain tidak bukan adalah hendak
bebaskan jalan darahnya yang tertotok. karenanya begitu
peredaran darah berjalan lancar, hawa murninya segera
disalurkan mengelilingi seluruh badan.
Sekalipun begitu ia masih tetap berbaring diatas tanah, ia
pura2 tak bisa berkutik dan membiarkan musuhnya makin
mendekat,
Sementara itu jarak antara kakek ombak menggulung
dengan Janda kawin tujuh kali hanya terpaut dua langkah,
secepat sambaran kilat ia lancarkan satu cengkeraman maut
kedepan, Pui Kun menghindar kesamping sedang Lamkong
Pak loncat bangun dari atas tanah.
Walaupun gerak geriknya sangat cepat, akan tetapi
berhubung jalan darahnya sudah tertotok agak lama, dan
lagi peredaran darahpun baru berjalan lancar. maka
gerakannya agak terlambat setindak.
Kakek ombak menggulung tampak terperanjat,
kemudian cepat- cepat mundur beberapa langkah
kesamping dan mendekati Suma ing-
Lam-kong Pak melirik sekejap kearah Pek-li Hiang
berdua yang masih menggeletak di tanah, ia lihat napsu
birahi yang berkobar ditubuh mereka telah pudar sekalipun
masih tidak sadarkan diri akan tetapi keadaannya jauh
mendingan, ia lantas gertak gigi dan berseru:
"Hey iblis tua,jangan harap kau bisa kabur dari gua pada
malam ini "
Kakek ombak menggulung sendiripun tahu babwa
kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, apalagi masih
ada Janda kawin tujuh kali yang belum diketahui akan
berpihak kemana, biji matanya segera berputar melirik
kesana kemari.
Sekarang Lam-kong Pak telah menghadang dimulut gua,
itu berarti tak mudah lagi baginya untuk melarikan diri dari
situ,
Dalam keadaan terdesak, tiba2 iblis tua itu teringat
kembali akan diri Suma ing yang tertotok jalan darahnya
oleh Pui Kun, meskipun bajingan cilik itu sudah
menghianati dirinya tapi saat ini Lam-kong Pak sangat
membenci dirinya hingga merasuk ketulang sumsum,
dengan cepat ia bertindak, jalan darab Suma ing
dibebaskan.
Begitu jalan darahnya dibebaskan, Suma ing segera
lompat bangun dari atas tanah, teriaknya.
"Sekarang kita tak usah jeri kepadanya lagi, dengan
tenaga gabungan kita berdua rasanya masih cukup untuk
menandingi bangsat itu "
"Hmm Bangsat terkutuk. kalau ingin coba silahkan
maju"
Suma ing menyeringai seram, tiba2 ia berpaling kearah
Janda kawin tujuh kali dan menegur.
"Hey Pui Kun, engkau berpihak siapa ?"
"Tentu saja berpihak pada Lam-kong Pak." jawab janda
kawin tujuh kali sambil terkekeh-kekeh.
Dengan suara lantang Lam-kong Pak berkata:
"Pui Kun Kau tak usah kuatir, selamanya aku dapat
membedakan mana budi mana dendam, walaupun
perbuatanmu dimasa lampau cukup menyakitkan hati dan
kejahatanmu pantas diganjar hukuman mati, akan tetapi
kau telah selamatkan jiwaku, untuk itu akupun akan
ampuni jiwamu..Nah pergilah sekarang dari sini"
"Huuuh.. tak usah berlagak mesra. ketahuilah Lam-kong
Pak sangat mendendam kepadamu, rasa bencinya padamu
sudah merasuk ketulang sumsum. tak nanti ia lepaskan
dirimu"
Janda kawin tujuh kali bukan manusia bedoh, sudah
tentu diapun telah menduga sampai kesitu, ia percaya
dengan perkataan dari Suma ing.
Hakikatnya Lam-kong Pak sendiri sama sekali tiada
maksud untuk membinasakan perempuan cabul itu.
walaupun ia pernah menaruh maksud cabul terhadapnya,
bagaimanapun juga dialah yang bebaskan jalan darahnya
yang tertotok dan itu berarti dia pula yang menyelamatkan
dua orang gadis itu dari perkosaan-
"Baik Aku segera pergi."
Sementara Janda kawin tujuh kali Pui Kun kabur dari
gua itu melewati samping sang pemuda, Lam-kong Pak
segera kerahkan tenaga untuk menjaga segala kemungkinan
yang tak diinginkan, pada saat itulah mendadak Kakek
ombak menggulung membentak keras ber-sama2 Suma Ing
mereka lancarkan sebuah pukulan dahsjat.
Lam-kong Pak berkelit kesamping, Suma Ing segera
manfaatkan kesempatan itu se-baik2nya. dia enjotkan
badan dan kabur keluar dari gua itu....
Lam-kong Pak sangat mendendam atas perbuatan Suma
ing. ia ingin sekali membunuh bangsat itu secara keji,
meskipun begitu ia tak dapat mengejar lawannya karena
pemuda itu kuatir Kalau Kakek ombak menggulung turun
tangan terhadap dua orang gadis tersebut.
Baru saja ingatan itu berkelebat dalam benaknya. Kakek
ombak menggulung membentak keras. sekuat tenaga dia
lancarkan sebuah pukulan dahsyat lalu menerjang kearah
dua orang gadis itu.
Lam-kong Pak bertindak cepat, ia bergerak maju
kedepan untuk melindungi keselamatan gadis2 itu,
Siapa tahu rupanya Kakek ombak menggulung sedang
jalankan siasat suara ditimur memukul kebarat, baru saja
Lam-kong Pak menggerakkan tubuhnya, ia sudah tertawa
ter-bahak2 dan kabur keluar gua.
Gelak tertawanya yang amat nyaring amat menusuk
perasaan si anak muda itu. ia merasakan hatinya sakit
bagaikan di-sayat2 dengan pisau tajam. dipandangnya
sekejap dua orang gadis itu, sekujur badan gemetar keras
karena mendongkol.
Ia tahu bagaimanakah tabiat Pek-li Hiang, bila ia sadar
dan mengetahui apa yang telah menimpa dirinya niscaya
gadis itu akan bunuh diri. oleh sebab itu Lam-kong Pak
berpendapat bahwa sebelum gadis itu sadar kembali maka
mereka harus berpakaian kembali, sehingga kejadian itu
bisa dikelabui.
Dengan perasaan gusar. marah, malu bercampur
penasaran Lam-kong Pak mengenakan kembali pakaian
dari dua orang gadis itu. kemudian menguruti pula jalan
darahnya. Beberapa saat kemudian Pek-li Hiang dan cu Liyap
telah sadar kembali. Sianak muda itu segera berkata.
"Sungguh berbahaya apabila Janda kawin tujuh kali
tidak datang tepat pada waktunya jangan harap kita bisa
hidup dalam keadaan selamat"
Secara ringkas diapun menceritakan apa yang telah
terjadi, tentu saja adegan Pek-li Hiang yang ditindih dan
dinodai Suma Ing telah dirahasiakan.
Mendengar cerita tersebut, betapa malunya dua orang
gadis itu hingga mereka tundukkan kepala dengan muka
merah padam, secara lapat2 mereka masih ingat betapa
memalukannya perbuatan serta tingkah lakunya tadi,
terutama sekali Pek-li Hiang. walaupun kesadarannya telah
hilang akan tetapi lapat2 ia merasa ada seseorang telah
menindih tubuhnya.
Dengan paras muka sedih dara itu melirik sekejap kearah
Lam-kong Pak. sekuat tenaga ia berusaha untuk menahan
lelehnya air mata, sambil pura2 berlagak seperti tak pernah
terjadi sesuatu, ujarnya lirih. "Engkoh Pak, mari kita
pulang."
"Engkoh Pak" seru Cu Li-yap pula, "apakah kami telah
diperkosa bajingan itu?"
Lam-kong Pak merasa hatinya amat sakit bagaikan disayat2,
tapi diluaran dia paksakan diri untuk tertawa.
"oooh... tidak Suma Ing walaupun orang pria, dalam
kenyataan anu-nya sudah tidak berfungsi lagi. dia sudah
impoten- Masa orang yang sudah impoten mampu
melakukan perbuatan itu??"
Walaupun demikian- Pek-li Hiang tetap tertawa sedih.
Karena ia merasa diantara belahan pahanya terdapat benda
cairan yang lengket seperti lem. apakah cairan kental itu
cairan yang keluar dari tubuhnya sendiri ataukah cairan itu
adalah air mani dari Suma Ing, yang terang tubuhnya sudah
ternoda, ia sudah tak suci lagi, dan tentu saja badan yang
sudah kotor tak pantas untuk dipersembahkan kepada Lamkong
Pak-
Sayang Lam-kong Pak tidak menemukan perubahan
wajahnya itu, ia mengira dua orang gadis itu sedang kikuk
dan malu lantaran peristiwa tadi, maka diapun
membungkam dalam seribu bahasa.
Ketika mereka bertiga tiba ditempat yang dijanjikan,
tampaklah sepasang manusia jelek dari Hay-thian serta Loo
Liang-jen telah menunggu disana. maka mereka pun
berangkatlah kekota Lok-yang.
Rupanya Sun Han Siang telah membeli sebuah gedung
besar dikota Lok-yang sebagai persiapan perkawinan
putranya. ia bermaksud setelah beberapa orang gembeng
iblis itu dilenyapkan- mereka akan berdiam dikota itu.
Baru saja mereka masuk kekota Lok-yang Salju bulan
keenam Tong Hui telah menanti dipintu kota, maka berbendong2
mereka antar kedalam sebuah gedung mentereng
yang letaknya berdekatan dengan kebun Kim-kok-wan.
Lampu lentera, kertas warna warni bergelantungan dimana2,
gedung itu dihias dengan indahnya, disana sini
tertempel tulisan yang mengartikan pernikahan-
"Eeeei...apa-apaan ini?" tegur Lam-kong Pak.
"Siauhiap. masa kau lupa? beberapa cianpwee telah
menyiapkan perjamuan untuk merayakan hari
perkawinanmu, sekarang semuanya sudah slap dan hanya
menunggu kedatanganmu"
Pek-li Hiang tertawa sedih mendengar ucapan itu, ketika
semua orang masuk kedalam gedung, pertama2 pencuri tua
Pek-li Gong yang menyambut kedatangan mereka. tapi
begitu menyaksikan paras sedih yang tertera diwajah Pek-li
Hiang, ia nampak tertegun, kemudian tegurnya:
"Bocah muda, belum2 kau sudah berani menganiaya
putriku ya...bagaimana kalau sudah menikah nanti?"
Lam-kong Pak tertawa getir dan tak mampu menjawab.
semua orang segera menuju keruang tengah.
Sekilas pandangan Sun Han Siang yang banyak
pengalaman segera mengetahui pastilah sudah terjadi
peristiwa besar, dengan cepat ia menarik putranya
kesamping sambil berbisik:
"Anak Pak, apa yang telah terjadi?"
Terpaksa Lam-kong Pak menceritakan apa yang telah
dialaminya bersama dua orang gadis itu. hanya peristiwa
tentang ternodanya Pek-li Hiang sengaja ia rahasiakan-
Sun Han Slang bukan orang bodoh, dia adalah seorang
jago kawakan yang banyak pengalamannya. dari sikap dua
orang gadis yang berbeda ia telah menduga apa yang telah
terjadi.
Walaupun cu Li- yap kelihatan malu dan kikuk. akan
tetapi keadaan Pek-li Hiang jauh lebih mengenaskan-
Akan tetapi iapun dapat memahami perasaan putranya.
diam2 ia memuji akan kebesaran jiwanya putranya itu,
meski peristiwa ini sedikit banyak telah menodai nama
keluarga. tapi toh bukan salah gadis itu, terpaksa diapun
pura2 berlagak tenang se-akan2 tak pernah terjadi peristiwa
apa2.
Hari perkawinan ditetapkan sore itu, sementara waktu
itu fajar baru saja menyingsing. Sun Han Siang mengantar
dua orang gadis itu kekamar pengantin mereka sambil
pesannya:
"Yang paling penting bagi orang persilatan adalah jiwa
yang berbudi luhur, semangat yang gagah perkasa serta
tujuan yang mulia. kadangkala untuk menegakkan keadilan
dan kebenaran seseorang tak sayang untuk mengorbankan
diri, karena itu menurut anggapanku peristiwa yang terjadi
kemarin malam tidaklah terhitung seberapa. asal dalam hati
tak memikirkan nyeleweng itu sudah cukup"
Pek-li Hiang dan cu In yap hanya tundukkan kepala
dengan air mata berCucuran, mereka tetap membungkam
dalam seribu bahasa. Sun Han Siang berkata lebih lanjut:
"Beristirahatlah disini, hari baik jatuh sore nanti, sebentar
ada orang yang akan bantu kalian berdandan. kejadian ini
merupakan suatu peristiwa besar, bergembiralah... jangan
bermuram durja terus"
Sementara itu dipihak lain- Pencuri tua juga sedang
menarik Lam-kong Pak ketempat sunyi sambil menegur:
"Bocah muda, bicaralah terus terang, kemarin malam
apa yang telah terjadi?"
sekali lagi Lam-kong Pak menceritakan apa yang telah
terjadi. Mendengar penuturan tersebut Pek-li Gong segera
berseru
"Aku tahu masih ada beberapa bagian Cerita yang
sengaja kau rahasiakan, ayoh Cepat katakan"
"Benar2 sudah tak ada lagi"
"Bocah muda, engkau tak perlu ragu2 dalam
pembicaraan, apapun yang terjadi sudah SepantaSnya kalau
aku sebagai mertuamu mengetahuinya, kalau tidak kau
katakan bagaimana andaikata sampai terjadi sesuatu
peristiwa yang tragis? Dan bagaimana pula aku bisa
memberikan pertanggungan jawabnya?? "
"Hakikatnya hanya itu saja, apalagi yang musti
kukatakan?" teriak Lam-kong Pak dengan lantang.
"Mereka berdua sama-sama kena dikecundangi oleh
Suma Ing. kenapa hanya Hiang-ji saja yang nampak
murung dan termangu-mangu seperti orang kehilangan
sukma? Hmm ketahuilah, aku bukan orang goblok yang
mudah dibohongi "
Lam-kong Pak putar otak mempertimbang masalah itu,
akhirnya ia berpendapat lebih baik tidak membicarakan
persoalan itu. toh dia sendiri sudah tahu kenapa orang
ketiga musti ikut tahu?
Dengan muka serius ia segera berkata. "Tiada perkataan
lain yang bisa kukatakan lagi. Gakshu legakanlah hatimU."
Dengan putus asa Pek-li Gong gelengkan kepala lalu
pergi tinggalkan pemuda itu, dia yakin masih ada cerita lain
yang sengaja dirahasiakan oleh Lam-kong Pak.
Kewaspadaannya diam2 dipertingkat, penjagaan
disekitar gedung yang sedang bergembira riapun diperketat,
sebab menurut dugaannya ada kemungkinan Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng serta kakek ombak
menggulung dan Suma ing akan gunakan kesempatan itu
untuk mengacau.
Sorenya Sun Han siang turun tangan sendiri untuk
mendandani kedua orang pengantin itu, mula2 ia
membantu cu Li-yap berdandan kemudian baru masuk
kekamar Pek-li Hiang.
Apa yang dilihat disitu? gadis itu sedang menangis tersedu2
dengan sedihnya, mata merah dan muka pucat.
TerCekat hati Sun Han Siang menyakslkan kejadian itu,
suatu firasat jelek melintas dalam benaknya, walau begitu
dia berusaha untuk menghibur dengan kata2 halus:
"Hiang-ji kerugian sedikit yang kau derita masih belum
terhitung seberapa ingatlah. Asal anak Pak tidak keberatan
untuk menerima kau sebagai istrinya, soal lain tak perlu kau
pikirkan lagi dihati, cepat seka air matamu Aku akan bantu
kau berdandan."
Pek-li Hiang tak dapat menahan lelehan air mata, karena
dia telah ambil keputusan yang maha besar. dan keputusan
tersebut akan merubah jalan hidupnya.
Sun Han siang mulai turun tangan membedaki pipinya,
tapi setiap kali pupur itu lumer kena air, sampai ketiga
kalinya pupur itu baru melekat diwajah, sebab selama itu
Pek-li Hiang tak dapat menahan pedih hatinya.
Kembali Sun Han Siang harus menghibur dengan kata
lembut, dalam keadaan demikian terpaksa Pek-li Hiang
kuatkan hati dan berhenti menangis. bahkan pura2
memperiihatkan muka gembira, atas perubahan tersebut
Sun Han Siang pun dapat berlega hati.
Hari baik telah ditetapkan pukul enam sore, oei ci-hu
segera menyebar para jago untuk menjaga keamanan
disekitar gedung dengan ketat, bahkan ia sendiripun turun
tangan untuk memikul tanggung jawab itu, tentu saja
kesemuanya itu demi menghindari segala kemungkinan
yang tidak dlinginkan,
Akhirnya hari baik yang di-tunggu2 telah tiba. Lam-kong
Pak sudah berdandan, meja sembahyang diruang tengahpun
telah siap.
San Han Siang memapak sendiri dua orang pengantin
dari kamarnya, namun ketika muncul kembali diruangan
tengah ternyata ia hanya membimbing cu Li- yap seorang.
Tertegun hati Pek-li Gong menyaksikan peristiwa itu,
segera tegurnya: "Sun Han Siang, bagaimana dengan
putriku?"
"Jangan terburu napsu," jawab Sun Han siang, "satu
persatu secara bergilir, setelah mereka menyembah "Thiankong"
barulah Hiang-ji keluar untuk bersembahyang pula"
Begitulah pengantin laki dan pengantin perempuan bersama2
menyembah kepada Thian-kong, selesai
bersembahyang Sun Han Siang baru berseru dengan nada
serius "Hiang-ji telah pergi"
Berita ini ibaratnya guntur membelah bumi disiang hari
bolong, seketika suasana jadi gempar danpara hadirin
berseru tertahan-Dengan marah Pek-li Gong berteriak.
"Sun Han Siang, kalau toh engkau membenci putriku,
kenapa tidak kau katakan sedari dulu2. Kau anggap anakku
sudah tak laku kawin sehingga terpaksa harus kawin dengan
anakmu, IHmm...hmm sedari permulaan aku sudah tahu,
kalian pilih kasih, menghina orang miskin-.,"
"Pencuri tua " kata Sun Han siang sambil menahan
lelehnya air mata, "engkau tak usah menyindir diriku. kalau
kau lanjutkan kata2mu itu, aku jadi bosan hidup lagi -Nah
coba lihatlah dulu isi surat tersebut"
Dengan penuh kegusaran Pek-li Gong menyambar surat
itu. lalu dibaca isinya.
"Ayah, setelah kau baca suratku ini, janganlah kau
marah atau menyalahkan siapa pun, nasibku memang jelek,
ternyata sebelum hari pernikahan tubuhku telah dinodai
oleh Suma ing bangsat itu, aku merasa tubuhku sudah tak
suci lagi, tidak pantas tubuh yang ternoda ini kusembahkan
untuk engkoh Pak, biarlah adik Yap yang mendampingi
engkoh Pak sampai dihari tua nanti. Aku pergi dulu?
Tatkala kalian temukan surat ini mungkin aku sudah berada
seratus li jauhnya, jangan cari aku, keputusanku telah bulat
dan selama hidup tak akan bertemu lagi dengan kalian-
..ayah yang tercinta, biarlah hutang budiku kepadamu
kubayar kembali pada penitisan yang akan datang. tertanda:
Pek-li Hiang."
Titik-titik air mata membasahi kertas itu, yang lama
adalah bekas air mata dari Pek-li Hiang. sedang yang baru
adalah bekas air mata dari Pek-li Gong.
Dalam pada itu semua orang telah merubung datang,
suasana yang semula riang gembira Seketika berubah jadi
sepi dan penuh kesedihan.
Lam-kong Pak menjerit tertahan. ia putar badan dan lari
keluar pintu rumah.
Tapi dengan cepat pencuri tua itu menarik lengan
bajunya sambil berseru: "Bocah, tak usah kau cari lagi jelas
bagaimanakah watak gadis itu, kalau sudah bertekad untuk
menghindar jangan harap kau bisa temukan kembali
jejaknya sepanjang masa, sudah...biarkan dia pergi"
Lam-kong Pak tak dapat menahan diri lagi, air mata
bercucuran membasahi wajahnya.
"Gakshu. siau-say (menantu) benar2 tak becus. aku pasti
akan mencarinya hingga ketemu"
"Tak usah." tukas Pek-li Gong. "urusan itu tak usah kau
pikirkan lagi, aku yakin musuh tangguh pasti akan datang
malam nanti kalau kau pergi bagaimana dengan kami?
masa engkau tak menggubris kami lagi?"
Dalam pada itu cu Li- yap telah menangis tersedu-sedu,
kabar kesedihan menyelimuti seluruh ruang upaCara,
terpaksa Lam-kong Pak menghibur istrinya dengan katakata,
"Adik Yap. legakan hatimu, cepat atau lambat aku pasti
akan mencarinya kembali."
Perjamuan berlangsung dalam suasana kurang
menggembirakan siapapun tak punya minat untuk makan
minum, setelah berlangsung beberapa waktu maka para
tamupun pada bubar. sementara Lam-kong Pak serta cu Liyap
diantar masuk kedalam kamar pengantin. Setelah
berada sendirian, cu Li-yap berkata:
"Engkoh Pak, bagaimana keadaan yang sebetulnya saat
itu? apakah kau bersedia memberitahukan kepadaku?"
Lam-kong Pak kuatir pikiran cu Li-yap ikut tertutup
lantaran peristiwa itu. terpaksa ia bicara terus terang:
"Kemungkinan besar Suma ing berhasil mendapat obat
perangsang dari siau- hong, obat itu telah dilemparkan
kedalam api unggun sehingga mengakibatkan kabut tipis
berwarna merah menyebar Keseluruh ruangan, kabut itu
adalah racun yang keji, tak lama setelah kita keracunan
Suma ing masuk ke dalam gua..."
"Dan ia robohkan kau?" sela cu Li-yap.
"Wakku itu aku sudah tak tahan, melihat kalian lepas
pakaian- napsu birahi dalam tubuhku segera bangkit, tapi
sepasang tanganku dicengkeram oleh Suma ing hingga
tenagaku punah, saat itulah jalan darahku di totok olehnya"
"Setelah kau roboh. ia pasti turun tangan menggagahi
tubuh kami secara bergantian?" seru cu Li-yap dengan paras
muka berubah hebat.
"Benar dan ia pilih adik Hiang lebih dulu, ia menindihi
diatas tubuhnya dan...."
"Darimana adik Hiang bisa tahu akan kejadian ini?" kata
cu Li-yap sambil menggigit bibir menahan emosi.
"bukankah kesadaran kami sudah punah pada waktu itu??"
"Selama kesadaran seseorang belum seratus persen
lenyap. ia masih bisa ingat semua kejadian yang
dialaminya....apalagi bajingan terkutuk itu telah merobek
celana dalam adik Hiang, tentu saja adik Hiang mengetahui
akan hal ini...."
"Aaaii" cu Li-yap menghela nafas sedih "meskipun siaumoay
tak sampai diperkosa olehnya, akan tetapi semua
bagian tubuhku telah dilihat olehnya..,"
"Apa yang musti kau pikirkan tentang hal itu?" berkata
Lam-kong Pak dengan suara dalam, "kita sebagai orang
persilatan, dari pagi sampai malam kerjanya hanya
bergelimpangan diantara hujan golok, hujan pedang, tak
bisa terhindar bila menghadapi kejadian seperti itu,
andaikata karena urusan itu maka lantas ambil pikiran
pendek, tindakan itu lebih lebih tidak mencerminkan jiwa
besar seorang ksatria sejati."
"Engkoh Pak, setelah kau saksikan tubuhku yang
telanjang bulat serta tingkah lakuku yang begitu rendah.
masa tiada pandangan hina dalam hatimu atas diriku?"
"Adik Yap. ucapanmu sama artinya sedang memaki
diriku, coba bayangkan dengan kekuatan yang jauh
melebihi kalian berdua ternyata tak mampu untuk
menyelamatkan kalian dari ancaman bahaya, aaai... kalau
dipikir kembali aku benar-benar merasa malu sekali."
cu Li-yap jatuhkan diri kedalam pelukan Lam-kong Pak
bisiknya: "Semoga aku dapat serahkan kesucianku hanya
untukmu seorang"
"Sekarang toh belum terlambat??"
Tiba-tiba...'criing-criiing-criiing' serentetan desiran angin
tajam meluncur masuk dari luar jendela dan langsung
mengancam jalan darah penting ditubuh dua orang itu.
Lam-kong Pak amat terperanjat, ia ayun telapak
tangannya melancarkan satu pukulan dahsyat... 'criiing
criing criiing' tujuh delapan batang senjata rahasia mencelat
kesamping menghajar dinding ruangan, sementara pemuda
itu menyambar tubuh istrinya dan melayang keatas atap
rumah lewat jendela.
Ber-puluh2 tombak dihadapannya tampaklah sesosok
bayangan hitam sedang kabur kemuka, sekilas pandangan
Lam-kong Pak dapat kenali orang itu sebagai Suma Ing,
kontan pemuda itu tancap gas dan mengejar dengan
ketatnya.
Suma Ing sama sekali tidak berpaling lagi, dia kabur
keluar kota dan menuju kedaerah pegunungan yang
terpencil, sepanjang jalan selisih jarak mereka tetap
seimbang. meskipun hanya puluhan tombak akan tetapi
berhubung Lam-kong Pak harus mengempit tubuh
seseorang, terpaksa ia ketinggalan terus dibelakang.
Tak Lama kemudian sampailah mereka ditepi sebuah
hutan. mendadak Suma ing berhenti dan memandang
kearah musuhnya sambil menyeringai seram,
Satu ingatan segera berkelebat dalam benak Lam-kong
Pak. dia yakin suma ing pasti telah persiapkan permainan
busuk. kalau tidak tak nanti ia berani menghadapinya
seorang lawan seorang diri.
Rasa benci dan dendam Lam-kong Pak terhadap
musuhnya boleh dibilang sudah merasuk ketulang sumsum,
sekalipUn ia tahu kehadiran lawannya sudah pasti bukan
seorang diri, namun ia tidak ambil perduli. tubuhnya
bergerak maju kedepan sambil berseru
"Suma Ing. kau makhluk terkutuk berhati srigala, kalau
malam ini tubuhmu tak kucingcang sampai hancur berkeping2,
aku bersumpah tak akan jadi manusia"
Suma Ing sama sekali tidak jeri atau gentar menghadapi
keadaan tersebut, malahan sambil tertawa seram ejeknya:
"Lam-kong Pak enak bukan perasaan hatimu pada
malam ini? Hehh..heehh.. Pek-li Hiang telah kunodai
kesuciannya tentu saja ia tak punya muka untuk kawin
dengan kau lagi... anggaplah kejadian itu sebagai
pembalasan dendamku, Lam-kong Pak sekarang telitilah
wajahku baik2, andai kata engkau yang menjadi aku, apa
yang hendak kau lakukan?"
"Siapa berani berbuat jahat dia tak boleh hidup, itulah
pembalasan yang harus diterima oleh manusia2 terkutuk
macam kau. kalau engkau sampai terjatuh kembali
ketanganku.. Hmm akan kucingcang tubuhmu jadi berkeping2
dan kusiksa engkau hingga mati tak bisa hiduppun
susah"
"Lam-kong Pak. sewaktu berada dalam kebun bunga
keluarga Sick tempo hari sebetulnya aku ada niat untuk
mengadakan kontak lagi dengan Sun Han Siang. tak nyana
pencuri tua itu sudah menuturkan cerita tersebut. karena
itulah terpaksa aku harus berubah pikiran"
"Apa yang ia tuturkan adalah kenyataan yang sungguh2
terjadi. angkatan yang lebih tua mengetahui semua akan
kejadian ini...."
"Benar..justru karena kejadian itu sungguh. maka aku
harus menuntut balas"
Agak tertegun Lam-kong Pak setelah mendengar
perkataan itu,
"Engkau malah hendak balas dendam setelah tahu kalau
kejadian itu? sungguh2 manusia gila yang takpunya otak.
rupanya kebejadan moralmu sudah tak dapat diobati lagi"
"Terus terang kukatakan kepadamu, dikolong langit
sebenarnya jarang ada orang baik, manusia2 yang
tergabung dalam golongan putih tidak lebih hanya
manusia2 munafik yang memakai kedok untuk berbuat
kebaikan, contohnya saja Sian-yan Peng serta Sun Han
Siang mereka telah mendirikan Pegadaian dunia persilatan
serta perkumpulan bulu hijau, tinjau saja semua tindak
tanduk serta sepak terjang kedua buah organisasi itu.
benarkah mereka bertujaan baik dan berbuat amal?
benarkah tangan mereka tidak pelepotan darah dan tak
pernah membunuh manusia seperti membabat rumput?
Hehh.., heeh..heehh.. bila sudah bosan hidup mereka
lepaskan golok pembunuh dan pura2jadi manusia budiman,
benar2 perbuatan terpuji dari seorang manusia munafik"
"Oooh jadi menurut anggapanmu. hanya kaulah
manusia paling baik dilolong langit?" damprat Lam-kong
Pak.
"Tentu saja aku bukan manusia baik, dan justru karena
aku bukan manusia baik maka akulah musuh bebuyutan
dari kaum pendekar gadungan yang berjiwa munafik.
IHmm... kalau toh mereka tak akan lepaskan aku masa aku
juga sudi lepaskan mereka ?"
"Lalu apapula sebabnya cerita dari pencuri tua telah
merubah kembali jalan pikiranmu ?"
Suma ing menyeringai seram.
"Ayahku adalah Hiat-hu-tiap kupu2 darah Suma ciau.
sedang ibuku adalah Boan-cuang-hui menari diatas
pembaringan Liau Giok Ing. mereka berdua menemui
ajalnya ditangan kawanan pendekar yang katanya berjiwa
ksatria, aku dengar pula Jago angin geledek Lam-kong Liu
serta sun Han Siang ikut serta pula dalam pengeroyokan
atas orang tuaku. karena perbuatannya itu mereka lantas
pelihara aku, mereka pura-pura bersikap baik dan berbudi
kepadaku, padahal dalam kenyataan hanya ingin menutupi
perbuatan mereka yang munafik,... Hmm semakin munafik
perbuatan mereka semakin benci aku terhadap mereka."
Lam-kong Pak tak kuat mendengarkan obrolan tersebut.
dia membentak keras dan secepat kilat lepaskan satu
pukulan dahsyat kedepan.
Suma ing sama sekali tak menghindar ataupun berkelit,
diapun melancarkan sebuah pukulan kedepan-..Blaamm
dalam benturan yang amat nyaring Suma ing terpental
sejauh satu tombak dari tempat semula.
Napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Lam-kong
Pak, ia tak berani turunkan cu Li-yap dari kempitannya,
terpaksa sambil bertempur ia tetap mengempit tubuhnya itu.
Walau begitu, angin pukuian yang dilancarkan olehnya
sama sekali tak berkurang malahan sama dahsyatnya
dengan keadaan biasa.
Suma ing meraung keras, dia menubruk kembali
kedepan, kali ini serangannya ditujukan keatas tubuh cu Liyap.
Lam-kong Pak sama sekali tidak menghindar ataupun
berkelit, ia balas Cengkeram urat nadi lawan-
Menyaksikan datangnya ancaman itu Suma ing geserkan
langkah menghindar kesamping, sementara sepasang biji
matanya berputar kesana kemari dengan liar.
Lam-kong Pak tahu bajingan itu tentu sedang
menantikan bala batuannya, Cepat ia terpikir:
"Mumpung bala batuannya belum datang. lebih baik
kubereskan dahulu bajingan ini...."
Karena berpendapat demikian, maka serangannya
dipergencar, semua ancaman ditujukan ke bagian penting
ditubuh lawanSuma
ing selalu menghindar atau berkelit kian kemari,
rupanya ia sedang mengulur waktu sambil menunggu
tibanya seseorang. Lam-kong Pak mendesak kian gencar,
pukulan2 mematikan dilepaskan secara ber-tubi2. dalam
waktu singkat ia sudah mendesik musuhnya mundur enam
tujuh tombak dari tempat semula.
Sementara itu Suma ing sudah mundur ke dalam sebuah
hutan belantara, ditengah kegelapan yang mencekam
seluruh jagad sukar untuk melihat pemandangan disekitar
tempat itu, andaikata ada orang bersembunyi disanapun
mungkin tak mudah diketahui.
Sambil bertempur Suma ing mundur terus ketengah
hutan, melihat itu Lam-kong Pak tertawa dingin, serunya:
"Bajingan anjing. tak usah bermain setan lagi, aku tak
nanti termakan oleh siasat busukmu itu"
Serentetan setangan berantai yang dilepaskan memaksa
Suma ing harus membela diri dengan repotnya. sebentar
lagi ia bakal tak tahan bila keadaan berlangsung terus
seperti itu, sementara ratusan gebrakan sudah lewat.
Pada saat itulah tiba2 terdengar gelak tertawa aneh
berkumandang dari arah hutan, suaranya melengking
memekikkan telinga, diikuti kakek ombak menggulung serta
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
munculkan diri didepan mata.
Payung mustika itu masih tergantung dipunggung
Bintang yang bertaburan diangkasa, sedang muka merah
kelihatan merah membara dan matanya memancarkan
cahaya berkilat.
Lam-kong Pak amat terperanjat, ia sadar asal dua orang
gembeng iblis itu bekerja sama niscaya ia bakal keok, apa
lagi kalau pihak lawan menggunakan payung mustikanya
yang luar biasa, keadaan jauh lebih mengenaskan lagi.
Dalam pada itu Suma ing sudah mundur satu tombak
kebelakang dan berdiri disamping kakek ombak
menggulung, napasnya ngos2an seperti kerbau, mukanya
kelihatan senyum tak senyum, se-akan2 dia gembira sekali
dengan keadaan tersebut.
Lam-kong Pak bukan manusia bodoh, tentu saja ia tahu
bahwa mereka telah bersekongkol, dan Suma ing bertugas
untuk memancing kehadirannya ketempat itu.
Kalau rejeki bukan bencana, kalau sudah bencana tak
akan terhindar. itulah prinsip pemuda kita, dalam keadaan
demikian tak mungkin bagi Lam-kong Pak untuk
menghindarkan diri, apa lagi pemuda itu memang sama
sekali tiada minat untuk mundur dari situ.
Setelah suasana hening sejenak. Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng berkata:
"Sute, bereskan bocah keparat itu. rasanya tanpa
bantuanku kau sudah mampu untuk membekuk dirinya
bukan?"
Kakek ombak menggulung menglakan, ia segera loncat
kedepan dan melancarkan serangan dengan ilmu pukulan
Kun-tun-liat-hwe-ji-kang atau ilmu dua unsur gulungan api
membara, ditengah desiran angin tajam terselip hawa panas
yang menyengat badan, pasir dan batu beterbangan
memenuhi angkasa dan menyelimuti daerah seluas lima
enam tombak.
Dengan telapak tunggal Lam-kong Pak sambut ancaman
musuh, walau begitu ia sama sekali tidak terdesak dibawah
angin bahkan dalam serangannya itu dia berhasil memukul
mundur kakek ombak menggulung sejauh dua langkah
lebar.
"Engkoh Pak" terdengar cu Li-yap berseru, "turunkan
aku dari kempitanmu"
"jangan bergerak dan jangan berteriak hingga
memecahkan perhatianku"
"Kakek ombak menggulung adalah seorang manusia
yang angkuh, sayang nasibnya belakangan ini kurang mujur
dan berulang kali harus menelan kekalahan ditangan orang
muda."
Mendengar sindiran tersebut apa lagi berada dihadapan
suhengnya serta Suma ing, ia jadi naik pitam, dengan muka
hijau membesi secara beruntan tujuh delapan belas buah
pukulan dilancarkan ber-tubi2.
Satu ingatan segera berkelebat dalam benak Lam-kong
Pak, pikirnya dihati:
"Aaah.. hampir saja aku tertipu, rupanya dua orang
gembeng iblis ini sedang menggunakan siasat rodi berputar
untuk memeras habis kekuatan tubuhku, kemudian Bintang
yang bertaburan diangkasa baru turun tangan menghabisi
jiwaku..Hmm aku tak boleh tertipu."
Setelah ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya,
Lam-kong Pak pura2 menunjukkan sikap kewalahan dan
kehabisan tenaga. tubuhnya melayang kesana kemari tak
menentu, walau begitu ditengah gulungan angin pukulan
dahsyat, ia masih merasakan betapa ganasnya pukulan dari
iblis tua itu.
Setelah kakek ombak menggulung menyelesaikan
pukulannya yang kedelapan belas ia baru sadar kalau
dirinya tertipu. tapi didalam keadaan gusar ia tak berpikir
lebih jauh, dia hanya tahu bagaimana harus berusaha untuk
merobohkan lawannya dalam waktu singkat.
Perbuatannya itu justru melanggar pantangan besar dari
seorang jago silat. ketika ia menerjang kembali untuk kedua
kalinya tenaga merni yang masih tersisa sudah jauh
berkurang. walau begitu ia masih tetap melepaskan tiga
puluh buah pukulan secara berantai.
Dalam waktu singkat kabut dan debu beterbangan
memenuhi angkasa, suasana berubah jadi tenang dan semua
orang tercekam dalam ketegangan yang hebat.
Menyaksikan kesemuanya itu, Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng tertawa seram,
iblis tua itu berhati keji dan berotak licik apa lagi setelah
payung sengkala terjatuh ketangannya, keadaannya ibarat
harimau tumbuh sayap.
Walaupun begitu dia masih agak jeri terhadap Lam-kong
Pak. dan dia pun tahu bahwa Kakek ombak menggulung
dan Suma ing bukan manusia2 baik, jelas mereka hanya
bertujuan untuk mengincar payung mustika itu dari
tangannya.
Karena itulah ia pura2 tak tahu, dan menggunakan siasat
lawan siasat ia justru menggunakan tenaga mereka dengan
se-baik2nya.
Begitulah. ia segera mengerling sekejap kearah Suma ing,
melihat kerdipan itu bajingan muda tersebut menerjang
kedepan, secara beruntun ia lepaskan tiga belas buah
pukulan berantai.
Menghadapi gerangan musuh dari muka dan belakang,
Lam-kong Pak merasakan daya tekanan yang menghimpit
tubuhnya kian lama kian bertambah berat. tapi ia tetap
teguh dan melawan dengan sekuat tenaga kadangkala ia
menerima serangan lawan dengan keras lawan keras,
kadangkala pula menghindar kekiri atau kekanan dengan
ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi. dengan begitu
untuk sementara waktu ia masih dapat mengimbangi
kekuatan lawannya.
Keadaan dari Kakek ombak menggulung pada saat ini
ibaratnya binatang yang sudah kalap. seringkali ia
menyerang tanpa bertahan bahkan kadangkala jadi nekad
dan menyerang tanpa memikirkan keselamatan sendiri.
Sebaliknya Suma Ing masih tetap tenang. ia dapat
memahami maksud keji dari Bintang yang bertaburan
diangkasa, karena itu selama pertarungan berlangsung dia
hanya berkelit dan menghindar dengan gerakan enteng.
Dengan begitu maka sebagian besar daya tekanan yang
memancar keluar dari Lam-kong Pak hanya menindih
ditubuh kakek ombak menggulung, seratus gebrakan
kemudian napas iblis tua itu sudah ngos2an seperti kerbau.
sebaliknya Lam-kong Pak yang harus mengempit
seseorangpun mulai agak payah dan keteter.
Seratus jurus kembali sudah lewat, angin pukulan yang
terpancar keluar dari telapak tangan kakek ombak
menggulung kian berkurang, gerakan tubuhnya semakin
lemah. dalam keadaan demikian Lam-kong Pak alihkan
sasarannya pada diri Suma Ing, dengan himpunan tenaga
sebesar delapan bagian ditelapak kanannya ia hajar tubuh
bajingan itu.
Jerit kesakitan bergema memecahkan kesunyian,
sebelum tubuh Suma Ing mencapai tanah. dengan gerak
jurus yang tak berbeda Lam-kong Pak menambah lagi
tenaganya sebesar dua bagian dan balik membacok Kakek
ombak menggulung.
Dua gulung angin pukulan saling membentur satu sama
lainnya menimbulkan ledakan dahsyat yang
menggocangkan seluruh permukaan bumi, belum sempat
iblis tua itu mendengus. kekuatan tubuhnya sudah mencelat
sejauh tiga tombak dari tempat semula, bagaikan biligo
matang yang terlindas pedati, batok kepalanya hancur
berantakan, darah segar tersebar di-mana2... susah untuk
membedakan lagi mana bagian kepala dan mana bagian
kaki.
Lam-kong Pak sendiri mundur tujuh delapan langkah
kebelakang dengan sempoyongan, peluh membasahi
seluruh tubuhnya. uap panas mengepul keluar dari atas
kepala, rambut telah basah dan muka jadi pucat,
keadaannya mengenaskan sekali.
Dengan napas tersengal-sengal pemuda itu turunkan cu
Li-yap keatas tanah, napasnya yang memburu mengiringi
hembusan angin ditengah malam yang sunyi membuat
suasana benar2 mengerikan.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
tertawa seram, dengan sinis ia melirik sekejap kearah Kakek
ombak menggulung serta Suma Ing, kemudian per-lahan2
maju kedepan menghampiri musuhnya.
Lam-kong Pak amat terperanjat. ia tahu meskipun pihak
lawan tak usah menggunakan payung mustika tersebut,
susah baginya untuk lolos dari bahaya, terpaksa sisa tenaga
yang dimilikinya dihimpun dan bersiap sedia menghadapi
segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Jarak mereka dari empat tombak jadi tiga tombak.. dua
tombak...satu tombak.. akhirnya saling berhadapan-
Keadaan dari Bintang yang bertaburan diangkasa waktu
itu ibaratnya kucing lempar yang berada ditepi gedung
berisi ikan emas, dengan penuh keyakinan ia siapkan cakar
mautnya untuk meremas mampus musuhnya.
Keadaannya saat ini amat mantap dan lebih besar
harapannya untuk menang daripada kalah, walaupun
dengan cara yang rendah ia telah singkirkan dua orang
musuhnya, toh tak seorangpun yang mengetahui
perbuatannya itu.
Dan Waktu itu sekalipun Suma Ing belum mati, tapi ia
anggap pemuda itu bukan musuh yang perlu dikuatirkan,
sebab cukup ia lepaskan satu pukulan niscaya nyawanya
sudah kabur tinggalkan raga.
Dalam pada itu cu Li-yap telah berdiri tegak dengan
penuh semangat, tiba2 ia berkelebat kedepan menghadang
didepan tubuh Lam-kong Pak. serunya dengan penuh
kebencian:
"iblis tua masa sebagai seorang jago kenamaan, engkau
sudi melakukan perbuatan terkutuk seperti ini?"
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
tertawa seram.
"Haaah-haaah-haaah agar aku berhasil menjagoi kolong
langit tanpa tandingan terpaksa aku harus menggunakan
cara apapua untuk mencapainya. Sekarang aku tak usah
menangkan dia dengan payung sengkala, aku rasa
keringanan yang kuberikan ini cukup mermuaskan hati
kalian bukan?"
cu Li-yap amat gusar, tiba2 ia membentak keras: "iblis
tua, sambutlah beberapa buah pukulanku"
Lam-kong Pak mendengus dingin, ia tarik kembali cu Liyap
sambil berkata:
"Adik Yap. ingatlah baik2, mulai sekarang perhatikan
keselamatanmu sendiri, asal engkau berbuat demikian
berarti pula kau sudah membantu aku. andaikata aku tak
mampu bertahan maka engkau harus segera kabur dari sisi,
ingat perkataan ini adalah perintahku, bukan perintahku..."
Ketika sepasang mata mereka saling bertemu, cu Li-yap
merasakan tubuhnya bargetar keras, ia lihat sorot mati
suaminya telah memancarkan hawa napsu membunuh yang
menggidikkan hati, mau tak mau terpaksa ia harus turuti
perkataannya itu. Terdengar Lam-kong Pak berkata lagi:
"Selain itu engkaupun harus perhatikan Suma Ing,
karena dia belum mampus."
Dengan air mata bercucuran cu Li-yap mengangguk.
Lam-kong Pak maju kedepan, serunya dengan suara
dalam: "iblis tua, sekarang kita boleh langsungkan
pertempuran, "
Sejak permulaan tadi Bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa Seng telah menghimpun tenaga dalamnya dalam
telapak tangan, baru saja Lam-kong Pak menyelesaikan
kata2nya, ia telah lancarkan sebuah pukulan dahsyat
kedepan-
Tampaklah dari balik telapak tangannya terpancar keluar
tiga titik Cahaya putih, itulah sumber dari kekuatan angin
pukulan bintang tiga yang dia yakini.
Deruan angin puyuh yang menggulung ke empat penjuru
dan men-cabik2 daerah seluas sepuluh tombak disekitar
gelanggang.
Lam-kong Pak tak berani menyambut datangnya
serangan itu dengan keras lawan keras. dia hanya
menggunakan empat lima bagian tenaganya untuk
menyentuh sejenak ditepi angin pukulannya, kemudian
Cepat mundur kebelakang.
Walau begitu, tulang lengannya terasa sakit bagaikan
patah, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya angin pukuian
itu.
Tubuh Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng bagaikan bayangan menguntil terus kedepan, sebelum
Lam-kong Pak sempat berdiri tegak. kembali tiga gulung
angin pukulan yang maha dahsyat mengunci jalan mundur
Lam-kong Pak kesamping kiri maupun kanan
Kejadian ini dengan cepat menimbulkan semangat jantan
pemuda kita, ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya
dan menerima serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaamm..." benturan dahsyat menimbulkan suara
ledakan yang memekikkan telinga, bumi bergoncang keras,
Lam-kong Pak mendengus tertahan lalu mundur satu
tombak kebelakang dengan sempoyongan... mentah2 ia
telah kembali darah yang mengalir keluar dari bibirnya.
Sedangkan Bintang yang bertaburan diangkasa sendiri
hanya tergetar mundur dua langkah lebar, jelas keputusan
menang kalah telah tertera nyata.
Dalam sekejap mata itu pula bintang yang bertaburan
diangkasa telah tertawa ter-babak2, per-lahan2 ia maju
kembali kedepan-
Sekujur badan cu Li-yap gemetar keras, walaupun ia
tahu nasib suaminya telah ditentukan dalam waktu singkat.
tapi untuk mewujudkan janjinya dan lagi tak ingin
pecahkan perhatiannya terpaksa ia hanya membungkam
dalam seribu bahasa. dapat dibayangkan betapa sedih dan
tersiksanya perasaan hati dara tersebut pada waktu itu.
Rupanya Lam-kong Pak sendiripun sadar bahwa
kekuatan tubuhnya tak sanggup untuk menyambut serangan
lawan yang menggunakan tenaga sebesar delapan bagian
itu, mau tak mau terpaksa ia melirik sekejap kearah istrinya
dengan pandangan perpisahan- ketika empat mata saling
bertemu mereka menumpahkan segenap rasa hormat,
sayang serta Cintanya dalam pandangan itu, bahkan semua
rasa Cinta dan mesrahnya dilimpahkan diatas wajah,
kendati senyuman mereka adalah senyum getir.
Sementara itu Bintang yang bertaburan diangkasa telah
menghimpun segenap kekuatannya dalam telapak tangan,
asal serangan itu dilancarkan niscaya Lam-kong Pak tak
dapat menghindar lagi, dan dalam keadaan tersebut
terpaksa ia harus melawan dengan mati2an-
Disaat yang amat kritis itulah, tiba2 terdengar bentakan
keras menggema diangkasa diikuti dari tengah hutan
muncul dua sosok bayangan hitam.
Waktu itu kemenangan sudah pasti berada ditangan
Bintang yang bertaburan diangkasa, ia tak pandang sebelah
mata lagi atas diri Lam-kong Pak. mendengar desiran angin
tajam muncul dari belakang ia segera berpaling. tapi...tiba2
ia berteriak kaget: "Aaah kau...."
Rasa kaget hanya sebentar melintas diatas wajahnya,
kemudian sambil menyeringai seram katanya:
"Heehh-heeeh-heeehh...bagus, sungguh kebetulan malam
ini akan kubunuh pula kau bajingan tua, hingga dengan
begitu akupun tak usah bersusah payah untuk mencari
jejakmu "
Ternyata orang yang barusan munculkan diri ini bukan
lain adalah Jit-mo iblis matahari salah seorang dari Mo-jiusam-
seng yang masih hidup, kakek ini pula yang
menghadiahkan Tok Se-lip kepada Lam-kong Pak,
bayangan hitam yang berada disampingnya adalah ular
hitam raksasa itu.
Paras muka iblis matahari pucat pias bagaikan mayat,
Lam-kong Pak tak tega menyakslkan kakek itu mati
ditangan murid murtadnya, segera dia menjura seraya
berseru:
"Locianpwee bukankah kau pernah minta bantuanku
untuk bersihkan perguruan dari manusia murtad? kalau toh
sudah kusanggupi maka itu berarti persoalan ini merupakan
tanggung jawabku, aku harap cianpwee suka jagakan
diriku."
"Bocah muda, tanggung jawabmu telah selesai" seru iblis
matahari sambil mengebaskan ujung bajunya, "murid
murtadku kakek ombak menggulung telah mampus diujung
telapak tanganmu, untuk itu kuucapkan banyak terima
kasih, sedang mengenai sampah masyarakat ini...biariah
kubunuh dengan tanganku sendiri"
Lam-kong Pak tetap bersikeras untuk maju. tapi iblis
matahari segera membentak keras:
"Bocah muda, engkau harus tahu apa sebabnya Mo-jiusam-
seng hidup menderita selama puluhan tahun diatas
tonggak batu itu?"
Lam-kong Pak menghela nafas panjang, akhirnya tanpa
banyak bicara ia mundur ke belakang.
"Bocah muda" kembali iblis matahari berkata
"menggunakan kesempatan dlkala aku sedang bergebrak,
duduklah atur pernafasan. aku yakin engkau akan peroleh
hasil yang sama sekali diluar dugaan "
Lam-kong Pak yang berjiwa besar tentu saja tak mau
mendengarkan perkataannya ia tetap berdiri tegak ditempat
semula.
Sementara itu Bintang yang bertaburan di angkasa telah
lepaskan payung sengkalanya dari punggung, kemudian
hardiknya keras2:
"Anjing tua jangan salahkan aku bertindak kejam,
andaikata sedari dulu kalian serahkan payung sengkala
kepada kami, aku dan sutepun tak nanti akan turun tangan
terhadap kalian-"
Iblis matahari berpekik sedih, gumamnya dengan lirih:
"Sute berdua, tak lama siau-heng akan menyusul kalian
masuk kedalam tanah." Begitu ucapan terakhir selesai
diutarakan ia bersiul nyaring dan ular hitam raksasa itupun
menerjang kedepan, sementara kakek itu sendiri
melepaskan pula satu pukulan dahsyat.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng putar
payung mustikanya sambil menyapu keluar, dalam suatu
benturan keras kedua belah pihak sama2 mundur selangkah
kebelakang.
Begitu terdesak kebebelakang. dengan cepat iblis
matahari dan ular hitam itu menerjang kembali kedepan,
dari deruan angin pukulan serta kekuatan serangannya jelas
kelihatan bahwa tenaga murni yang dimiliki kakek itu tidak
berada dibawah Bintang yang bertaburan diangkasa,
ditambah pula terjangan2 maut ular hitam. untuk sesaat
menang kalah sukar ditentukan.
Dipihak lain, cu Li-yap sedang berkata kepada sianak
muda itu:
"Engkoh Pak. gunakanlah kesempatan baik ini untuk
atur pernapasan- sekalipun Suma Ing telah sadar rasanya
aku masih sanggup untuk melayaninya."
Setelah berpikir sebentar Lam-kong Pak merasa ada
gunanya juga bersemedi. toh bagaimanapun sulit bagi
mereka untuk kabur dari situ, maka tanpa banyak bicara ia
segera duduk bersemadi.
Ratusan gebrakan sudah lewat, makin bertarung Bintang
yang bertaburan diangkasa makin gagah perkasa. sebaliknya
iblis matahari yang dasarnya sudah lemah kian lama kian
tak tahan.
Selama ini ular hitam itu menerjang terus dengan
ganasnya untuk mengurangi daya tekanan pada diri
majikannya, sering kali ia memberikan tubuhnya untuk
digebuk. karena itulah serangan2nya tidak seganas dahulu
lagi.
Diam2 cu Li-yap merasa amat gelisah, namun ia tak
berani bertindak gegabah, matanya selalu waspada
mengawasi semua gerak gerik disekeliling tempat itu.
Suatu ketika mendadak Suma Ing bangkit berdiri,
matanya yang bengis menyapu sekejap sekeliling tempat itu,
begitu dilihatnya Lam-kong Pak duduk bersila ditanah
sambil menyeringai seram ia segera maju menghampirinya.
Secepat kilat cu Li-yap menghadang didepan pemuda itu,
hardiknya dengan lantang
"Suma Ing. kau tak usah buang pikiran dengan percuma.
saat ini kepandaian silatmu masih bukan tandinganku"
Suma Ing tertawa dingin, dia maju kedepan dan
lancarkan sebuah Cengkeraman keatas dada cu Li-yap.
gadis itu tak berani berkelit, sambil gigit bibir ia sambut
serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaamm.. " benturan keras memekikan telinga, Suma
Ing tidak berhasil meraih keuntungan apa2. malahan
tubuhnya terdorong mundur selangkah.
Setelah menderita kerugian kecil, paras muka Suma Ing
berubah makin seram, sekali lagi ia menerjang kedepan dan
bertempur sengit melawan cu Li-yap. untuk bebarapa waktu
lamanya keadaan berjalan seimbang.
Dipihak lain, iblis matahari yang bertempur melawan
Bintang yang bertaburan diangkasa sudah hampir
mendekati akhir, waktu itu ular hitam raksasa tersebut
sudah menggeletak ditanah sambil bergerak lemah,
sementara kakek itu sendiri terdesak mundur terus
kebalakang.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
tertawa seram, suaranya amat keras hingga memekikkan
telinga. sambil mendesak maju kedepan ejeknya:
"Anjing tua, sebelum ajalmu tiba aku bendak
menanyakan satu persoalan kepadamu, kalau toh payung
mustika yang asli berada ditanganmu lalu dari manakah cu
Hong Hong mendapatkan payung sengkala dan kitab
pusaka ilmu silatnya? apakah benda itupun benda yang
asli?"
"Baru2 ini aku baru tahu, kiranya payung sengkala dan
kitab pusakaku telah dicuri Awan hitam pengejar rembulan
oei ci-hu, sedangkan oet ci-hu sendiri telah menggunakan
kitab pusaka itu untuk ditukar dengan ilmu hipaotis Tongbin-
bu-goan-toa-hoat milik Sian-yan Peng, siapa tahu Sianyan
Peng Cuma memberitahukan ilmu hipnotis Tong-binbu-
goan-toa-hoatnya saja, sedang ilmu penyembuhannya
sengaja dirahasiakan. Tentu saja kitab itu adalah kitab
pusaka asli, sedang payung mustiki yang berada ditangan cu
Hong Hong hanya payung palsu bikinan oei ci-hu sendiri,
payung aslinya disimpan dalam kuil Li-sau-si.,.."
"Blaamm,." menggunakan kesempatan dikala iblis
matahari sedang berbicara, Bintang yang bertaburan
diangkata melipat payung mustikanya lalu menghajar bahu
kirinya keras2.
Hancuran pakaian beterbangan diangkasa tulangnya
langsung retak dan dagingnya hancur, dengan
sempoyongan ia mundur beberapa langkah kebelakang.
Kebetulan sekali tubuhnya mundur kebelakang suma
Ing, padahal waktu itu Suma Ing sudah terluka parah
dibawah serangan cu Li-yap yang ber-tubi2 ia sudah tak
kuasa menahan diri lagi.
Ketika merasa datangnya sesosok tubuh dibelakang
tubuhnya, sekuat tenaga ia lancarkan serangan sambil
berputar. ketika dilihatnya iblis matahari dengan wajah
menyeringai seram dan darah bercucuran dimana-mana
sedang melotot kearahnya. tanpa pikir panjang lagi
sepasang lengannya segera disodok kedepan menusuk dada
lawan-
Jeritan ngeri yang menyayat hati bergema memecahkan
kesunyian, tusukan jari tangan Suma Ing dengan telak
menembusi perut iblis matahari, sebaliknya sepasang
telapak tangan iblis mataharipun menembusi dada Suma
Ing, darah segar dan isi perut segera berhamburan keluar
dan mengotori seluruh lantai, walaupun nyawa mereka
sudah tinggalkan raga namun jenasahnya masih tetap
berdiri tegak.
Menyaksikan peristiwa yang sangat mengerikan itu,
untuk beberapa saat lamanya cu Li-yap maupun Bintang
yang bertaburan di angkasa Liok Hoa Seng hanya bisa
berdiri ter-mangu2.
Sesaat kemudian Bintang yang bertaburan diangkasa
telah sadar kembali dari lamunannya, sambil tertawa seram
ia maju kemuka menghampiri Lam-kong Pak yang masih
duduk bersemedi.
cu Li-yap amat terkejut, cepat2 ia maju menyongsong
kedatangan iblis tua itu. gadis itu tahu bahwa suaminya
sedang berada dalam keadaan yang paling kritis bagi
seseorang yang bersemedi, ia rela dirinya mati daripada
suaminya mati konyol ditangan orang.
Karena itu tanpa berpikir panjang lagi, dia himpun
tenaga dalamnya sebesar dua belas bagian dan melepaskan
sebuah pukulan dahsyat dengan jurus sakti payung
sengkala.
Kali ini Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng tidak menggunakan payung mustikanya lagi, dengan
tenaga tujuh bagian yang dihimpun kedalam telapak tangan
kiri ia lepaskan satu pukulan dengan ilmu tiga bintang.
"Blaaamm..." benturan keras memekikkan telinga, tubuh
cu Li-yap ibaratnya daun kering yang terhembus angin
puyuh mencelat sejauh tiga tombak dari tempat semula,
iblis tua itu sama sekali tak pandang sekejappun terhadap
korbannya. setelah merobohkan cu Li-yap ia putar payung
sengkalanya dan menghantam batok kepala Lam-kong Pak.
Paras muka Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hwa seng penuh dihiasi senyum kemenangan, sebab ia tahu
bila Lam-kong Pak telah mampus maka tiada jago yang
sanggup menandingi kepandaian silatnya, bahkan oei ci hu
sekalian tak terkecuali, dengan begitu maka dunia persilatan
akan terjatuh ketangannya dan dialah pemimpin tertinggi
dari dunia persilatan-
Siapa tahu ketika payung sengkalanya hampir mengena
diatas batok kepala Lam-kong Pak. suatu pemandangan
yang aneh telah berlangsung. tampaklah sesosok bayi kecil
warna putih yang gemuk munculkan diri dari atas
ubun2nya, dengan tangan yang kecil bayi putih gemuk itu
menyambut datangnya serangan payung tersebut,
sementara Lam-kong Pak sendiripun tiba2 bangkit berdiri.
Rupanya pada detik terakhir, sianak muda itu berhasil
menyempurnakan ilmu bayi kebal Kim-kongnya yang maha
sakti.
Betapa terkesiapnya Bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa Seng menyaksikan kejadian itu, sukma serasa
melayang tinggalkan raga sementara peluh dingin
mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Sekuat tenaga dia berusaha membetot kembali payung
sengkalanya yang tergenggam bayi putih itu, siapa tahu
walau segenap kekuatan sudah dikerahkan namun payung
tersebut tetap tak bergeming barang sedikitpun juga , iblis
tua itu jadi tertegun dan untuk beberapa saat lamanya ia tak
tahu apa yang musti dilakukan-
Pada saat itulah Lam-kong Pak menjengek sinis, telapak
tangannya direntangkan kedepan dan-.. “Kreees” bagaikan
sebilah pedang mustika perut iblis itu ditusuk hingga tembus
kedalam.... bukan begitu saja, setelah berada dalam perut
telapaknya segera dipuntir dan dibetot keluar.
Isi perut dan darah segar segera memancar keluar
bagaikan sumber mata air. Bintang yang bertaburan
diangkasa Liak Hoa Seng menjerit kesakitan.
"Plook" Mayatnya ditendang hingga mencelat sejauh
sepuluh kaki dari tempat semula tubuhnya bergelejet
sebentar kemudian menjerit keras.
Jeritannya amat nyaring dan memekikan telinga. seakan2
pada saat yang terakhir ia telah mengerahkan
segenap sisa kekuatan yang dimilikinya untuk berteriak.
namun hanya sampai ditengah jalan...suara pekikan itu
berhenti dan suasanapun pulih kembali jadi sunyi.
Dengan ter-mangu2 Lam-kong Pak memandang
beberapa sosok mayat yang menggeletak diatas tanah dalam
keadaan mengerikan darah kental berceceran disana sini
dan menyiarkan bau amis. begitu tertegun pemuda itu
sampai2 ia tak merasa kalau cu Li-yap telah berdiri
disampingnya .
"Sreeet sreeet Sreeet " ber-puluh2 sosok bayangan
manusia meluncur masuk kedalam gelanggang ternyata
mereka adalah oei ci-hu, Sun Han Siang serta segenap jago
lihay dari kalangan putih, ketika menyaksikan mayat2 yang
bergelimpangan diatas tanah dalam keadaan ngeri, untuk
beberapa saat kawanan jago lihay itu tertegun dan berdiri
melongo akhirnya helaan nafas panjang menggema
memecahkan kesunyian.
==000000==
Suatu malam setengah bulan kemudian, di belakang
pintu gedung kediaman Lam-kong Pak suami istri telah
kedatangan seorang nikoh muda, dengan ujang bajunya dia
menutup hampir seluruh wajahnya, ketika ia tiba ditengah
kebun bunga dan melongok kejendela bangunan
dihadapannya, kebetulan sepasang bayangan sedang
berpelukan dibalik tirai, diikuti lampupun dipadamkan.
Nikoh muda itu turunkan ujung bajunya air mata
nampak berlinang membasahi pipinya, dengan suara lirih ia
bergumam:
"Semoga Buddha yang maha pengasih melindungi
umatnya, semoga mereka bisa hidup bahagia hingga akhir
tua."
Angin malam berhembus sepoi, setelah bergumam nikoh
itu putar badan dan berlalu dari sana, sekejap kemudian
bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan-
Suasana dalam gedung itupun pulih kembali dalan
keheningan. kesunyian yang mencekam seluruh jagad.
Siapakah nikoh muda itu ? saya rasa Pembaca yang
budiman dapat menebak sendiri Nah sampai disini pula
cerita "Kelelawar Hijau" ini, dan sampai jumpa dalam
cerita yang lain, selamat berpisah
TAMAT

Anda sedang membaca artikel tentang Cerita ABG Silat IGO : kelelawar Hijau 3 dan anda bisa menemukan artikel Cerita ABG Silat IGO : kelelawar Hijau 3 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-abg-silat-igo-kelelawar-hijau-3.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita ABG Silat IGO : kelelawar Hijau 3 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita ABG Silat IGO : kelelawar Hijau 3 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita ABG Silat IGO : kelelawar Hijau 3 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-abg-silat-igo-kelelawar-hijau-3.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar