Cerita ABG Bispak : Si Pedang Tumpul 5

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 07 Agustus 2012

Cerita ABG Bispak : Si Pedang Tumpul 5-Cerita ABG Bispak : Si Pedang Tumpul 5-Cerita ABG Bispak : Si Pedang Tumpul 5-Cerita ABG Bispak : Si Pedang Tumpul 5-Cerita ABG Bispak : Si Pedang Tumpul 5-Cerita ABG Bispak : Si Pedang Tumpul 5

“Kalau begitu, terima kasih,” kata Ciu Giok-hu.
“Jangan sungkan, kalian pantas mendapatkannya, ilmu
pedang kalian tidak tinggi tapi cara licik kalian benar-benar
berhasil, biar kalian yang memenangkannya.”
“Kami tidak berani menggunakan cara ini mendapatkan
plakat dunia persilatan, untuk kami ini bukan hal mulia, tapi
kalau bisa bersama-sama dengan Nona membelah plakat itu
dan mendapatkan sebagian rahasia di dalamnya, itu sudah
cukup,” kata Ciu Giok-hu.
Liu Ban-mong tertawa, berkata, “Kalau kalian sudah
mendapatkan rahasia itu apa yang akan kalian lakukan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku akan berjaga-jaga bila kalian akan membunuh-ku
untuk tutup mulut, kemudian aku akan mengambil semua
rahasia di dalamnya, tapi kau jangan lupa, hak plakat adalah
milik kami, kapan akan kami lihat, kami berhak
menentukannya, kecuali kalau kalian ingin berbuat licik dan
tidak mau menyerahkannya kepada kami, aku tidak bisa
berbuat apa-apa, kalau tidak aku mempunyai cara sempurna
dan dijamin kalian tidak akan mendapatkan apa pun.”
Wong Han-bwee tertawa pada Liu Ban-mong berkata, “Lo
Liu, apakah kau mendengarnya?”
“Aku sudah mendengarnya, Ciu Giok-hu adalah orang yang
banyak akal busuk, barang sudah ada di tanganya kita tidak
berhak mendapatkannya,” kata Liu Ban-mong tertawa.
“Kalau begitu, menurutmu harus bagaimana sekarang?”
tanya Wong Han-bwee.
“Tidak ada ide, siapa suruh Nona begitu besar mulut,
sekarang ingin mengubahnya sudah tidak bisa lagi,” kata Liu
Ban-mong.
Wong Jin-jiu marah, “Buta busuk, dari tadi kau terus bicara
tetap tidak menemukan cara, kalau tahu dari tadi seharusnya
kau tutup mulutmu yang bau itu!”
“Kakek, sudahlah aku yang bersalah,” kata Wong Hanbwee.
“Masalahnya terjadi dari Nona, kalau Nona....” kata Liu Banmong.
Tanpa menunggu perkataannya selesai Wong Han-bwee
sudah berkata, “Tidak, kata-kata yang sudah keluar dari
mulutku satu kata pun tidak akan berubah, rahasia yang ada
di plakat dunia persilatan tidak banyak berhubungan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
denganku, apalagi hanya separuh yang ada di dalam plakat,
kau boleh menelan separuhnya lagi!”
“Sulit, 5 perguruan banyak orang mulut pun akan banyak
juga, dari pada hanya menguasai separuh lebih baik
menguasai yang sudah ada di tangan,” kata Liu Ban-mong.
Wong Han-bwee berteriak, “Kau punya rencana apa?”
“Nona dari tadi mengatakan apa yang sudah terucap dari
mulutmu tidak akan ditarik kembali, itu sangat mudah diatur,
bukankah Nona sudah mengatakan dalam 3 jurus kalau kepala
Tiang Leng-cu tidak jatuh Nona akan memberikan plakat dunia
persilatan kepada mereka? Tapi satu jurus pun Nona belum
keluarkan, kapan dia menerima 3 jurus, dan kapan plakat akan
diberikan kepadanya?”
“Setan buta, kau benar-benar membikin orang panik!” kata
Wong Han-bwee tertawa.
Dengan cemas Ciu Giok-hu berkata, “Kalian pernah
mengatakan bila Tiang-heng turun, akan....”
Liu Ban-mong tertawa, katanya, “Benar, nona pernah
mengatakan seperti itu, tapi kau jangan lupa, kata-kata nona
tadi tidak akan berubah, walaupun hanya satu kata, nona
mengatakan dalam 3 jurus tetap 3 jurus, kecuali Tiang Lengcu
dalam 3 jurus bisa menang dari nona, itu tidak apa-apa,
tapi kalau dia sendiri bisa mendapatkan plakat itu, tidak
memerlukan kau di sini terus memainkan lidahmu, Ciu Giokhu,
kau ingin di depanku memainkan rencanamu, aku nasihati,
kau masih jauh, lebih baik kau diam.”
Ciu Giok-hu duduk kembali, dari wajahnya tampak sikapnya
yang galak serta licik.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Han-bwee tertawa dan berkata, “Liu-koan, sudah
waktunya kau bertarung dengan Lim Hud-kiam, hati-hati
jangan mempertaruhkan nyawa, kalau kalah masih ada aku,
bila kau sampai mati yang rugi adalah kau sendiri!”
Heuw Liu-koan berkata, “Tenanglah, Nona, pedang Lim
Hud-kiam adalah pedang tumpul, dan pedang tumpul tidak
akan bisa membunuh, maka pelayanmu ini tidak akan berada
dalam bahaya.”
Dia meloncat naik ke panggung, Liu Ta-su berteriak, “Kalian
satu kelompok, apakah tidak malu melakukannya pertarungan
dengan cara bergiliran?” Pleuw Liu-koan tersenyum, “Ini
adalah aturan rapat akbar kali ini, bukan aku yang
membuatnya, wasit yang menentukan, jangan salahkan aku!”
Ciam Giok-beng merasa malu, dengan penuh penyesalan
dia berkata kepada Lim Hud-kiam, “Lim-heng, sebelumnya aku
tidak tahu tentang ini, kalau tidak aku tidak akan mengaturnya
seperti ini.”
Lim Hud-kiam tertawa santai, katanya, “Tidak apa-apa,
Heuw Liu-koan hanya intin tahu jurus-jurus pedangku, supaya
tuannya lebih menguasai dan mengetahui ilmuku.”
“Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku harap Lim-heng
berhati-hati, asal kau bisa memenangkan pertarungan ini aku
bisa mengundurkan waktu setengah jam untuk pertarungan
finalnya, supaya Lim-heng punya waktu untuk beristirahat dan
memulihkan stamina.”
“Wasit apa itu? Mana boleh pilih kasih? Kalau nona tidak
mengumumkan hubungan kami, apakah kau akan tahu?”
Heuw Liu-koan berteriak.
Dengan serius Ciam Giok-beng berkata, “Bila Nona Wong
tidak memberitahu aku tetap akan mengambil keputusan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
demikian, perebutan posisi Raja Pedang bukan masalah
sepele, fisik dan pikiran harus seimbang, itu baru akan terlihat
adil, pilih kasih yang Tuan ucapkan tadi sepertinya tidak
sesuai.”
Wong Han-bwee berteriak dari bawah panggung, “Liu-koan,
jangan cerewet! Kau sudah berada di atas panggung, kau
harus menghormati wasit, apakah kau takut aku akan kalah?”
Kesombongan Wong Han-bwee benar-benar kelewatan, hal
ini membuat Ciam Giok-beng mengerutkan alis, Kie Pi-sia yang
berada di pinggir berkata kepada Goan Hiong, “Walaupun aku
sangat membenci Lim Hud-kiam, tapi kali ini aku berharap dia
bisa menang, kalau posisi Raja Pedang jatuh ke tangan gadis
itu, dunia persilatan bisa kacau!”
Kata Goan Hiong, “Suci, kebencianmu pada Lim Hud-kiam
benar-benar tidak beralasan.”
“Apa katamu? Tidak beralasan? Dia terus merecoki kita, dia
juga merampok barang bawaan kita, lalu memaksa
perusahaan perjalanan kita tutup, bukankah itu menghina
kita?”
“Dulu aku pun berpikiran seperti itu, merasa kalau dia
terlalu mencampuri urusan kita, tapi sekarang aku berubah
pikiran, melihat ilmu pedangnya, kalau dia benar-benar ingin
merecoki kita guru pun tidak akan sanggup melawannya,
apalagi kita, dia hanya satu kali mencuri barang-bawan Kie
Susiok, setelah itu dia tidak pernah lagi mencari gara-gara,
sebaliknya kali ini dia telah membantu kita, berarti kita sudah
salah paham kepadanya,” kata Goan Hiong.
“Mana mungkin kita salah paham kepadanya?” kata Kie Pisia.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Pertarungan kali ini memperebutkan plakat dunia
persilatan, di dalamnya penuh dengan lika-liku, aku lihat dia
banyak mengetahui tentang plakat ini, maka dia memperingati
kita, harus menutup perusahaan perjalanan karena dia takut
kita akan terlibat ke dalam keributan ini, coba kau berpikir
dengan jernih, kecuali sekelompok orang ini setiap kelompok
lainnya adalah orang misterius dan jahat!” kata Goan Hiong.
“Kalau tidak membuka perusahaan perjalanan, apakah kita
tidak akan terkena masalah ini?” tanya Kie Pi-sia.
“Perjalanan dari Bu-tong ke Tai-san sebenarnya tidak perlu
memutar dulu ke Kim-Ieng, tapi Bu-tong sengaja melewati
Kim-leng, rupanya ini di sengaja Butong-pai untuk melibatkan
kita dalam masalah ini,” kata Goan Hiong.
Kie Pi-sia tidak terima dia berkata, “Guru lebih pintar dari
kita, kalau bukan karena ingin menegakan keadilan dia tidak
akan mau menerima-nya!”
Goan Hiong menarik nafas, “Aku percaya guru pun mulai
tahu, tujuan mereka sepertinya sengaja apakah kau tidak
melihat alis guru terus berkerut? Hanya saja dia tidak ingin
terlalu banyak mengurusi masalah orang lain.”
Kie Pi-sia melihat ke atas panggung, Ciam Giok-beng
sedang berbincang-bincang dengan Lim Hud-kiam dan Heuw
Liu-koan kelihatannya pertarungan akan segera dimulai.
Tadinya Heuw Liu-koan sangat sombong, setelah dimarahi
Wong Han-bwee, kesombongannya jadi berkurang, setelah
simbal berbunyi dia segera mengeluarkan jurus-jurusnya.
Lim Hud-kiam sangat berhati-hati, walaupun serangan
Heuw Liu-koan seperti bercanda tapi dia tetap berhati-hati
menghadapinya dan berusaha menjauhi pedang musuh, maka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
setelah beberapa jurus berlalu masih seperti itu itu juga
keadaannya.
Kie Pi-sia bertanya lagi, “Apa yang mereka lakukan?”
Kali ini yang menjawab adalah Ho Gwat-ji yang duduk di
sisinya, Ho Gwat-ji sangat berpengalaman di dunia persilatan,
dengan suara pelan dan kecil dia berkata, “Apakah kau tidak
melihat kalau ilmu pedang marga Heuw itu tidak begitu lihai,
tapi tenaga tangannya sangat besar, dia ingin menggunakan
cara asal-asalan untuk memancing lawan mengeluarkan jurusjurusnya,
lalu dia secara tiba-tiba akan menambah tenaganya,
menggetarkan senjata Lim Hud-kiam hingga terlepas, tapi Lim
Hud-kiam sangat pintar, dia sudah tahu maksud lawannya,
maka dia selalu menghindar.”
“Tapi menghindar terus bukan cara yang baik, akhirnya
malah akan terluka juga,” kata Kie Pi-sia.
“Tidak perlu khawatir, Lim Hud-kiam sangat pintar, dia akan
mempunyai cara tersendiri,” kata Ho Gwat-ji.
Karena Lim Hud-kiam selalu tidak membalas menyerang
Heuw Liu-koan mulai tidak sabar, serangannya jadi semakin
keras, Lim Hud-kiam sudah tidak bisa main-main lagi.
Pertarungan semakin seru, dua senjata dari kedua belah
pihak mulai sering beradu, setelah diberitahu oleh Ho Gwat-ji,
Kie Pi-sia mulai bisa melihat lebih teliti, sekarang dia bisa
melihat kelincahan Lim Hud-kiam menghadapi berbagai
masalah, setiap kali senjata beradu, begitu bentrok langsung
ditarik, dia membuat senjatanya beradu dengan lawan bukan
hanya bertahan tapi juga meminjam kekuatan pedang lawan
untuk menyelesaikan jurusnya.
Geraknya harus mempunyai teknik pedang yang tinggi baru
bisa melakukannya dan Lim Hud-kiam bisa melakukannya, dua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
pedang saling beradu, dia menarik tenaga lawan dan dalam
waktu bersamaan saat tenaga lawan belum dikeluarkan dia
sudah menyerang, membuat Heuw Liu-koan kalang kabut
menghadapinya, Heuw Liu-koan yang tenaganya besar
bertemu dengan lawan yang begitu licin, tenaganya pun tidak
bisa dikeluarkan sepenuhnya.
Dalam ilmu pedang yang terpenting adalah perubahan
maka pesilat pedang begitu menyerang pasti hanya
menggunakan tenaga sebanyak 30% dan dia pasti akan
menunggu jurus lain untuk mengalahkan musuh.
Di sinilah ruginya Heuw Liu-koan, dia ingin dua pedang
beradu dan saat pedang bentrok baru mengeluarkan tenaga
untuk meraih kemenangan, kalau baru mulai sudah
mengeluarkan semua tenaga, dia akan dikuasai lawannya,
menghadapi pesilat kuat seperti Lim Hud-kiam, dalam satu
jurus tidak akan mungkin bisa mendapatkan kemenangan.
Dan teknik pedang yang digunakan Lim Hud-kiam selalu
menghancurkan niatnya untuk menang.
Karena itu sikapnya tidak sesantai tadi, dahinya mulai
berkeringat karena cemas bukan karena kelelahan, melihat
bentuk tubuhnya dia termasuk jenis orang yang tahan
banting. Ribuan atau puluhan ribu jurus tidak akan
dianggapnya tapi kalau lama-lama tidak ada hasilnya dia
menjadi cemas.
Tapi jurusnya tetap mantap, ini membuktikan kalau dia
memang mempunyai ilmu silat yang dalam.
Kira-kira setelah 50 jurus tiba-tiba dia mendapatkan
kesempatan dia membuat pedang Lim Hud-kiam menempel di
pedangnya, sewaktu saling bertahan, Lim Hud-kiam ingin
menarik kembali pedangnya, dari belakang mendorong ke
depan, tapi tetap tidak ada gunanya, pedang Heuw Liu-koan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
seperti ada magnet, membuat kedua pedang itu saling
menempel dan tidak bisa dilepaskan.
Lim Hud-kiam terlihat sangat tenang, dia tidak berani
berhenti, pedangnya terus berputar dia ingin meng-ganti
posisi supaya tarik menarik di antara kedua pedang bisa
terlepas.
Heuw Liu-koan tetap dengan tenang menguasai situasi
yang menguntungkannya, sekarang mereka seperti kelinci
terus berputar-putar, akhirnya Lim Hud-kiam berhenti terlebih
dulu, sikap tenangnya seperti biasanya dia sedang memikirkan
cara berikutnya menghadapi Heuw Liu-koan.
Sedang Heuw Liu-koan sudah tidak tahan, dia tertawa
terbahak-bahak, “Bocah, kali ini kau tidak akan bisa lari lagi,
cepat lepaskan pedangmu dan mengaku kalah!”
“Kiri dan kanan pasti kalah, mengapa tidak bertahan
sebentar lagi? Mungkin keadaan akan berubah, sekarang kau
ingin menang dariku pun tidak akan mudah,” kata Lim Hudkiam.
“Kalau kau mengaku kalah dariku mungkin aku akan
memberimu kesempatan hidup, bila aku marah nyawamu tidak
akan bisa kau ambil lagi.”
“Mana mungkin bisa seperti itu! Setelah kau menggetarkan
senjataku, wasit akan memukul simbal bila kau masih ingin
membunuhku, kau akan melanggar peraturan.”
Heuw Liu-koan marah, “Kentut, kalau aku ingin
membunuhmu, tindakan Pak Tua Ciam tidak akan bisa
menandingi kecepatanku, bunyi simbal yang dipukul oleh Pak
Tua Ciam bersamaan dengan putusnya kepalamu dan
menggelinding ke bawah!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam hanya tertawa dan tidak melayani dia, Heuw
Liu-koan mulai mengerahkan tenaga tangannya, dia
membentak seperti teriakan naga, kemudian pedang dilempar
ke atas, tangan dibalikan untuk menyambut dan menepis ke
arah Lim Hud-kiam.
Ciam Giok-beng selalu memperhatikan gerakan Heuw Liukoan,
begitu melihat pedang Lim Hud-kiam terbang ke atas,
dia segera akan memukul simbal tapi jurus Heuw Liu-koan
baru dikeluarkan 10%, semua berteriak, yang roboh di
panggung adalah Heuw Liu-koan. Lim Hud-kiam meloncat
dengan mudahnya dia menyambut pedang yang sedang turun
dari atas.
Perubahan ini di luar dugaan semua orang, Heuw Liu-koan
jatuh terbaring di atas panggung dan tidak bergerak lagi,
apakah dia sudah mati atau masih hidup?
Wong Han-bwee meloncat ke atas panggung dia berniat
menyerang Lim Hud-kiam.
Lim Hud-kiam mundur selangkah, “Nona Wong,
pertarungan di atas panggung harus menuruti aturan!”
“Dulu kau dengan cara lain melukai orang, Heuw Liu-koan
adalah pelayanku aku berhak menanyakannya!”
Ciam Giok-beng dengan serius berkata, “Nona Wong,
melanggar atau tidak aku sebagai wasit lebih tahu, bila
keputusanku tidak adil, kau baru boleh protes!”
Liu Ban-mong yang berada di bawah panggung berkata,
“Nona, kita dengar apa yang akan dia putuskan!”
Dengan wajah seram Wong Han-bwee turun dari panggung.
Ciam Giok-beng berpikir sebentar dan berkata, “Tuan Lim,
pada ronde ini Anda yang kalah!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kalah pun tidak bisa dengan cara lain dia melukai orang,
pelayanku tidak boleh mati dengan sia-sia, aku harus meminta
dia mengganti dengan nyawanya!”
“Dari tadi aku sudah mengumumkan kalau rapat akbar kali
ini hanya boleh memperlihatkan ilmu tidak boleh membunuh,
tapi pelayanmu menggetarkan pedang lawan sebenarnya dia
bisa dibilang menang, tapi dia masih berniat ingin membunuh,
yang pasti Tuan Lim harus membela diri.”
Wong Han-bwee masih ingin membela, Liu Ban-mong
berkata, “Nona, keputusannya sangat adil, Liu-koan terlalu
kejam, jangan salahkan orang lain.”
“Kalau begitu berarti Liu-koan mati dengan sia-sia?” tanya
Wong Han-bwee.
“Liu-koan hanya ditotok, dia tidak mati, Lim Hud-kiam
sudah kalah berarti Nona adalah pemilik plakat dunia
persilatan dan menjadi pemimpin dunia persilatan, Nona harus
adil, jangan mempermasalahkan hal-hal kecil!”
Wong Han-bwee berusaha menahan emosinya, dia
menjulurkan tangannya kepada Ciam Giok-beng, “Mana
plakatnya? Plakat itu milikku!”
Ciam Giok-beng dengan terpaksa menyerahkan plakat dunia
persilatan itu, tiba-tiba Lim Hud-kiam berkata, “Nanti dulu,
wasit mengambil keputusan kurang adil, pedang masih ada di
tanganku, mengapa aku yang kalah?”
“Tapi pedang sudah terlepas dari tanganmu,” kata Ciam
Giok-beng.
“Wasit hanya melihat pedangku, mengapa tidak melihat
pedang lawanku? Pedang kami bersama-sama lepas dari
tangan kami,” kata Lim Hud-kiam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Ciam Giok-beng terpaku, dia melihat ke arah Heuw Liu-koan
terlihat tangan yang memegang pedang tertindih di bawah
tubuhnya. Tapi pegangan pedang masih berada dalam
genggamannya, dia berkata, “Pedang lawan masih
tergenggam, kapan dia pernah melepaskannya?”
“Apakah yang dipegangnya pedang?”
Wong Han-bwee sedikit terkejut dia mengait Heuw Liu-koan
dengan kakinya lalu membalikkan tubuhnya, terlihat yang
digenggam oleh Heuw Liu-koan hanya pegangannya saja
sedangkan pedangnya sudah tidak ada.
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Tenaga yang digunakan
Heuw Liu-koan adalah tenaga Yang maka pedangku tergetar
lepas, sedang tenaga yang aku pergunakan adalah tenaga Im,
dan aku menggetarkan pedangnya sampai patah, kami berdua
pada waktu bersamaan melepaskan pedang, seharusnya
meng-ganti senjata dan bertarung kembali tapi dia tidak mau
menuruti aturan, diam-diam dia menyerangku, terpaksa aku
membalasnya, kalau dia bisa menjatuhkan aku hingga kalah
aku bisa menerimanya.”
Wong Han-bwee terpaku, entah apa yang harus dia
katakan, Liu Ban-mong yang ada di bawah panggung berkata,
“Lim Hud-kiam, kau jangan mengacau, pedang Heuw Liu-koan
terbuat dari baja asli, mana mungkin bisa patah? Kalau benar
patah mana patahan pedangnya?”
“Namamu adalah Liu Ban-mong (Marga Liu yang setengah
buta), aku kira itu kurang cocok, kau harus mengganti
namanu menjadi Liu Koan-mong (Marga Liu yang buta total),
patahan pedang menancap di tiang lampu yang ada di sebelah
kanan, apakah kau tidak melihatnya?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Semua orang melihat ke arah yang ditunjuk Lim Hud-kiam,
tampak patahan pedang menancap di tiang lampu, karena
posisi menancapnya dari bawah miring ke atas, apalagi
tertutup oleh bayangan maka tidak ada seorang pun yang
memperhatikannya!
Liu Ban-mong meloncat naik ke tiang lampu dan mencabut
patahan pedang itu, dia melihatnya dengan teliti dan dia pun
mencium-cium pedang itu, kemudian berteriak kepada Wong
Han-bwee, “Nona, di atas pedang tidak ada yang aneh,
memang pedangnya patah karena digetarkan oleh tenaga
dalam yang lembut!”
“Mengapa aku tidak mendengar suaranya?” tanya Wong
Han-bwee.
Lim Hud-kiam tertawa, berkata, “Aku menggunakan tenaga
lembut, mana mungkin bersuara? Tapi aku tidak menyalahkan
kalian karena mata dan telinga kalian tidak berguna, Heuw
Liu-koan sendiri pun tidak merasakannya, lihat dia masih
memegang pegangan pedangnya, dia tidak tahu kalau
pedangnya sudah patah, maka dia menepisku, kalau tidak
mana mungkin dengan satu jari aku bisa menaklukkan dia?”
Wong Han-bwee tertawa dingin, “Lim Hud-kiam, kau
memang lihai, tapi jangan sombong, kalau Heuw Liu-koan
kalah masih ada aku, Lo Liu, turunkan Liu-koan dari
panggung!”
“Apakah kalian tidak bisa membuka totokannya? Kalau tidak
bisa jangan sembarangan melakukannya,” kata Lim Hud-kiam.
“Jangan bergurau, kau anggap kami ini apa?” seru Wong
Han-bwee.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Tapi Liu Ban-mong yang meraba Heuw Liu-koan dan
dengan gugup berkata, “Nona, cara orang ini menotok sangat
aneh, aku tidak bisa membuka totokannya.”
“Bodoh, masa masalah kecil seperti ini saja kau tidak
sanggup membereskannya? Biar aku sendiri yang
membereskannya!” kata Wong Han-bwee.
Wong Han-bwee terus menekan.
Sambil tertawa Lim Hud-kiam berkata, “Ilmu silat ada
bermacam ragam, bukan hanya dengan memaksa bisa
dilakukan, biar aku membantu kalian.”
“Baiklah, aku ingin lihat apakah kau sanggup!” kata Wong
Han-bwee.
Lim Hud-kiam meraba lalu berkata, “Apa maksudmu?
Mengapa menotok nadi kematiannya?”
Wong Han-bwee tertawa dingin, “Dia tidak bisa
mengalahkanmu, berarti dia sudah memutuskan jalan
pilihannya yaitu mati, aku lebih memilih untuk membunuhnya
dari pada meminta belas kasihan kepadamu!”
Dengan sekuat tenaga Lim Hud-kiam menendang Heuw Liukoan
hingga dia terjatuh ke bawah panggung.
Liu Ban-mong marah, “Orang sudah mati, kau masih tidak
berperasaan menendangnya!”
Setelah Heuw Liu-koan jatuh terguling ke bawah, dia
muntah darah dan duduk kembali.
Lim Hud-kiam berkata, “Nona Wong, bila kau ingin
menghukum anak buahmu, aku tidak akan ikut campur, tapi
jangan menyambung dari totokanku, totokan matimu masih
belum sempurna, maka aku masih bisa membukanya, bila kau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
ingin membunuhnya, sekarang dia sudah sadar dan kau bisa
membunuhnya.”
Wajah Wong Han-bwee menjadi sangat pucat karena
menahan marah, Heuw Liu-koan berusaha berdiri dan berkata,
“Lim Hud-kiam, kau tidak perlu mengadu domba, kami sangat
setia kepada nona, tidak akan berubah karena kata-katamu,
tadi aku tidak berhati-hati terkena tipuanmu, membuat nama
nona tercemar, seharusnya aku mati untuk berterima kasih
kepada nona, walaupun kau sudah menolongku aku tidak akan
mengucapkan terima kasih kepadamu.”
Dia mengeluarkan jarinya dan menusuk ke arah
jantungnya, saat dia akan bunuh diri, Wong Han-bwee
berteriak, “Liu-koan, kau berani tidak menurut kepadaku?”
Dengan ketakutan Heuw Liu-koan berkata, “Aku tidak
berani, nadiku ditotok tapi mata dan telingaku masih bisa
melihat dan mendengar, maka apa yang terjadi tadi aku sudah
tahu semua.”
“Yang kau tahu hanya kentut!” jawab Wong Han-bwee.
Heuw Liu-koan tertawa kecut, “Nona, sifatku memang
kasar, hal lain mungkin aku kurang paham, tapi untuk
kesetiaan aku bisa bersumpah kepada Tuhan bila Nona ingin
aku mati, aku akan segera bunuh diri!”
Liu Ban-mong menendangnya, “Kau adalah orang paling
bodoh di dunia ini, bila nona ingin kau mati, apakah Lim Hudkiam
bisa membuka totokan nona?”
Wong Jin-jiu datang dan berkata, “Liu-koan, kau benarbenar
bodoh, kau adalah pelayan Raja Pedang, kalau mau
mati harus mati karena pedang, nona tidak akan
membunuhmu dengan totokan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kalau begitu apa maksud nona tadi?” tanya Heuw Liu-koan
sambil mengelus-elus kepalanya. Kata Liu Ban-mong, “karena
kami tidak bisa menotok maka nona sengaja dengan perlahan
menusukmu, maksudnya ingin mencoba apakah Lim Hud-kiam
bisa membuka totokannya? Kau malah menganggap semua ini
benar.”
Heuw Liu-koan berlutut, “Nona, anak buahmu bodoh, harap
Nona sudi memaafkan aku!”
Wong Han-bwee tertawa, “Bangunlah, kali ini kami semua
kalah ilmu menotok dari Lim Hud-kiam, aku tidak bisa
membuka totokannya, tapi dia bisa membuka totokanku,
berarti kita kalah, kita harus lebih giat belajar.”
Liu Ban-mong tertawa, katanya, “Nona, jangan terlalu
merendah, Lim Hud-kiam membuka totokan Liu-koan dengan
cara membuka totokan kematian, berarti dia tidak lebih pntar
dari Nona, mengenai ilmu menotok, masing-masing
mempunyai guru yang mengajarkannya.”
“Benar, Nona benar-benar bisa menotok nadi kematian bila
dia bisa membukanya, kita mengaku kalau dia memang lebih
hebat dari kita,” kata Ma Kiu-nio.
Wong Han-bwee berkata, “Jangan bicara lagi, menotok nadi
hanya masalah kecil, kita tidak perlu meributkannya, asal ilmu
pedang kita tidak kalah dari orang lain, itu sudah cukup.”
“Benar, bila pedang sudah ada di tangan, ilmu menotok
yang sangat tinggi pun tidak akan bisa menghalangi, kita
adalah anak buah Raja Pedang, ilmu pedanglah yang harus
lebih kita perhatikan.”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Kalian mengaku sebagai
anak buah Raja Pedang, siapa Raja Pedangnya?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tuan kami!” dengan hormat Wong Jin-jiu menjawab.
“Siapa yang memberi julukan itu kepadanya?” tanya Lim
Hud-kiam.
“Raja Pedang adalah kedudukan paling hormat di dunia ini,
tidak perlu ada yang memberi julukan, dari dulu sampai
sekarang yang bernama Raja Pedang harus berjuang sendiri
untuk mendapatkan gelar ini.”
Lim Hud-kiam tertawa dingin, “Menutup pintu sendirian
menjadi raja, saat aku kecil aku juga sering bermain
permainan seperti itu, itu tidak bisa menakut-nakuti orang,
haru ada yang mengakuinya baru bisa.”
“Begitu aku menjadi Bengcu dunia persilatan, siapa yang
berani tidak mengakuinya?” kata Wong Han-bwee dengan
serius.
Lim Hud-kiam tertawa, berkata, “Sekarang kau belum
menjadi Bengcu, kalau pun jadi ayahmu hanya menjadi ayah
dari Bengcu, kedudukan Raja Pedang tetap tidak bisa
diperolehnya!”
Dengan sombong Wong Han-bwee berkata, “Rapat akbar
ini hanyalah rapat kecil, aku datang ke sini pun merasa malu,
ayahku adalah orang tersohor mana mungkin beliau akan
datang ke sini?”
“Benar, perkataan Nona memang benar, pada rapat kecil ini
tuan kami tidak akan datang, begitu rapat akbar bubar, bila
kau beruntung kau tidak akan mati karena pedang nona, kau
bisa mengganti ilmu silatmu menjadi ilmu sastra, kalau
menang dan tuanku senang beliau akan menemuimu, waktu
itu kau akan tahu siapa yang disebut Raja Pedang mulia!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Bila aku bisa mengalahkan nona kalian, bagaimana?” tanya
Lim Hud-kiam.
“Itu tidak mungkin,” jawab Wong Jin-jiu.
“Jangan terlalu yakin, aku merasa dia bisa menang!” kata
Wong Han-bwee.
“Kalau kau bisa menang dari nona, paling-paling tuan hanya
mau menemuimu satu kali,” kata Wong Jin-jiu.
“Kecuali bertemu denganmu, hari ini yang masuk babak
semifinal pun akan tuan temui, beliau juga akan
mempekerjakan kalian.”
Lim Hud-kiam tertawa terbahak-bahak, katanya, “Kau kira
rapat akbar ini untuk ujian masuk supaya bisa kerja di rumah
kalian!”
“Seperti itulah, dulu tuan tidak peduli pada rapat akbar ini,
karena selalu 5 perguruan yang ribut seperti sedang bermain,
karena kali ini peserta yang ikut diperluas maka tuanku
tertarik dan menyuruh kami datang kemari untuk mencoba,
sekalian memilih orang berbakat untuk masuk perguruan kami
dan dipekerjakan di sana.”
“Pikiran kalian terlalu rendah, kalian harus tanya dulu
apakah kami setuju atau tidak!” kata Lim Hud-kiam.
“Waktu itu kalian pasti akan setuju!” kata Wong Han-bwee.
“Lim Hud-kiam, tuan kami berniat baik juga sangat
perhatian kepada orang-orang berbakat, beliau ingin
memperluas ilmu pedang maka menyuruh nona keluar,
setelah mendapatkan plakat dunia persilatan, dengan posisi
sebagai pemimpin dunia persilatan beliau akan menyatukan
kalian dalam perguruannya supaya tidak terjadi banyak
pembunuhan, kalau kau mengerti kau harus lepas tangan dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
keluar dari pertarungan untuk merebut posisi pemimpin dunia
persilatan.”
Lim Hud-kiam tertawa terbahak-bahak, “Aku belum pernah
mendengar lelucon begitu menggelikan!”
“Jangan banyak bicara, kita mulai bertarung, kalau kau
tidak bisa menang dariku, biarlah, kalau kau bisa menang
dariku kau harus lebih berpikir jernih, jangan membawa
semua orang melakukan hal bodoh, membawa semua orang
ke jalan kematian.”
“Apa maksudmu?” tanya Lim Hud-kiam.
“Maksudku sangat sederhana, bila plakat itu jatuh ke
tanganmu, kau harus benar-benar berpikir kembali, apakah
kau bisa membawa semua orang bertarung dengan kami atau
membawa semua orang menuruti perintah Raja Pedang.”
“Kalian menyebut orang kalian Raja Pedang, kemudian
menyuruh semua orang mengakuinya, sepertinya ini terlalu
sederhana.”
Dengan dingin Wong Han-bwee berkata, “Aku kira aku tidak
perlu menyebut nama ayahku, hanya kami yang terdiri dari
beberapa orang ini akan membuat kalian menurut.”
Lim Hud-kiam tersenyum, “Hanya mengandalkan kalian
ingin semua pendekar di sini bertekuk lutut kepada kalian,
apakah kalian tidak merasa itu terlalu mudah? Walaupun ini
perbuatan ayahmu apakah dengan nama Raja Pedang dia bisa
melakukannya? Itu hanya lelucon saja!”
Liu Ban-mong yang berada di bawah panggung terus
berteriak, “Nona, kalau sekarang membicarakan masalah ini
akan melelahkanmu, gara-gara mulut pak tua Wong terlalu
licin, dia sudah mengatakannya padahal waktunya belum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
tepat, dia tidak perlu menyebut julukan tuan, karena tidak ada
bukti dan saksi, maka tidak ada yang percaya, lebih baik
membereskan masalah plakat dunia persilatan dulu.”
“Benar, bila plakat sudah ada di tangan, Nona bisa
mengeluarkan perintah, tidak perlu menjelaskan apa pun lagi,
itu akan lebih menghemat waktu,” kata Ma Kiu-nio.
Wong Han-bwee segera berkata pada Ciam Giok-beng,
“Cepatlah dimulai!”
Ciam Giok-beng tidak menyangka kalau masalah akan
bertambah rumit, dia sulit mengambil keputusan.
Tiba-tiba Goan Hiong mendekat, “Guru, sekarang
mundurlah, biar mereka mencari wasit lain!”
Kata-kata ini baru terucap, Ciam Giok-beng merasa terkejut
dia merasa Goan Hiong telah mengambil keputusan sendiri
tanpa merundingkannya terlebih dulu, ini benar-benar
keterlaluan.
“Binatang, siapa dirimu berani-berani seperti itu!” bentak
Goan Jit-hong marah.
Kie Tiang-lim yang lebih berpengalaman, lebih mengerti
maksud Goan Hiong, dia berkata, “Goan Toako, keponakan
Hiong benar, Ciam Suheng sudah tidak bisa menjadi wasit
rapat akbar ini, sebelum pertarungan dimulai lebih baik
mengundurkan diri dulu.”
Kie Pi-sia berjalan menghampiri Ciam Giok-beng dan
berbisik sebentar, Ciam Giok-beng menarik nafas panjang dan
berkata, “Aku juga terpikir hal ini, tapi kalau aku mundur
sekarang sepertinya tidak enak.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tapi pertarungan antara Lim Hud-kiam dan Heuw Liukoan.
Guru sudah memberikan hukuman, untuk apa Guru
terus bertahan menjadi wasit tapi ditertawakan karena salah?”
Sejak kecil Kie Pi-sia telah belajar ilmu silat kepada Ciam
Giok-beng maka saat bicara dengan gurunya dia lebih tidak
sungkan, alasannya membuat Ciam Giok-beng malu, tapi Ciam
Giok-beng merasa tidak disudutkan, dengan sifat Kie Pi-sia
yang sombong di depan orang mengaku kalau gurunya salah
adalah hal yang sangat memalukan, tapi Kie Pi-sia bisa
menerimanya maka alasan ini sangat penting.
Ciam Giok-beng mengangguk, dia memberi hormat kepada
5 ketua perguruan, “Aku kira kata-kata muridku tadi pasti
semua sudah mendengarnya, aku merasa malu karena sudah
salah mengambil keputusan tadi, maka lebih baik kalau kalian
mencari wasit yang lain.”
Ketua Bu-tong, Cia Hwie Cin-jin dengan cemas berkata,
“Ketua Ciam, kalau Anda tidak sanggup, yang lain lebih-lebih
tidak akan sanggup, aku kira lebih baik dicoba lagi,
bagaimana?”
“Apakah Cin-jin ingin membuat kami malu di depan banyak
orang baru merasa puas?” tanya Kie Pi-sia dengan berang.
Cia Hwie Cin-jin terkejut, “Mengapa Nona Kie berkata
demikian?”
Goan Lliong dengan dingin berkata, “Dari orang-orang yang
mewakili 5 perguruan kami melihat kalau kalian sudah lepas
tangan untuk merebut plakat itu, apa alasannya kami tidak
ingin tahu, tapi kalian memang tidak bermaksud ingin
menjaga plakat itu lalu mengapa kalian mencari kami untuk
mengantarkannya kemari? Apakah Cin-jin bisa menjelaskan
kepada kami?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Karena ilmu silat kami tidak setinggi kalian!” jawab Cia
Hwie setelah lama berpikir.
“Mengapa Cin-jin sampai sekarang masih tidak mau jujur?
Apakah Cin-jin tidak merasa malu? Kalau yang bertarung tadi
adalah pesilat tertinggi dari 5 perguruan, kalian 5 ketua dari 5
perguruan benar-benar tidak berguna!”
Cia Hwie tidak bisa berkata apa-apa.
Kie Pi-sia masih bicara lagi, “Sikap kalian terhadap rapat
akbar ini tidak serius. Kalian memaksa guruku menjadi wasit
apakah kalian menganggap Kian-kun-kiam-pai masih baru
sehingga bisa kalian permainkan?”
Kata-katanya sangat tajam, membuat orang lain tidak bisa
membantah, Cia Hwie menghela nafas panjang, “Kata-kata
Nona Kie tadi membuat kami tidak bisa menjawabnya!”
Kie Pi-sia tertawa dingin, “Plakat dunia persilatan ada di
atas meja, harap Cin-jin menyuruh orang mengambilnya, kami
orang-orang yang telah kau bohongi akan mengundurkan diri.”
Dia menarik Ciam Giok-beng turun dari panggung, yang lain
ikut turun, di panggung hanya tersisa Lim Hud-kiam dan Wong
Han-bwee.
Ketua 5 perguruan berkumpul untuk berunding, Wong Hanbwee
berteriak, “Hei, apa keputusan kalian!”
“Plakat dunia persilatan ada di atas meja, kami sudah
kehilangan hak bertarung, kalian berdua adalah pesilat pedang
tangguh, kalah atau menang kalian akan tahu sendiri jadi tidak
perlu mencari wasit lagi, siapa yang menang ambillah plakat
yang ada di atas meja itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Han-bwee marah, “Kau bicara seenaknya, rapat
akbar ini kalian yang usulkan, apakah sekarang kalian akan
lepas tangan?”
“Harus dengan cara apa kami dikatakan tidak lepas
tangan?” tanya Cia Hwie.
“Apakah wibawa plakat itu masih ada gunanya?” tanya
Wong Han-bwee.
“Plakat itu melambangkan persatuan golongan lurus, orang
yang mendapatkan plakat demi keadilan dunia persilatan
berhak mengeluarkan perintah, kami akan menurutinya, tapi
menurut kata-kata Nona tadi Nona ingin mendapatkan plakat
untuk memerintahkan semua orang dan mengakui ayah Nona
sebagai Raja Pedang, maaf, karena dulu kami tidak ada
kesepakatan saat membuat plakat itu, maka kami tidak bisa
menuruti hal ini,” jelas Cia Hwie.
“Apakah kata-katamu yang dulu itu hanya kentut?” tanya
Wong Han-bwee.
Dengan santai Cia Hwie menjawab, “Kami tidak mengetahui
kalau ilmu pedang ada rajanya, dan kami juga tidak tertarik
mengaku Raja Pedang, ilmu pedang kami lebih rendah. Katakataku
sampai di sini, sekarang terserah apa yang akan Nona
lakukan!”
“Baiklah, kalian ingin bermain licik, begitu plakat sampai di
tanganku, kita baru akan membuat perhitungan!” kata Wong
Han-bwee dengan dingin.
Kemudian dia berkata Lim Hud-kiam, “Apa pendapatmu?”
“Bila plakat dunia persilatan sudah kehilangan artinya, dia
hanya menjadi sebuah batu yang tidak bernilai, kalau Nona
menginginkannya, silakan ambil saja!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kau tidak ingin merebutnya?” tanya Wong Han-bwee
terkejut.
“Betul,” jawab Lim Hud-kiam.
“Apakah kau tahu di dalam plakat ada rahasia sebuah
rumus ilmu silat?”
“Aku tahu, tapi 5 perguruan begitu mudah melepaskan,
berarti rumus rahasia itu ada masalah, maka aku tidak ingin
tertipu begitu saja,” kata Lim Hud-kiam.
“Benar juga, sangat masuk akal alasanmu, tapi aku tidak
takut, kalau mereka berani menipuku, jangan harap 5
perguruan ada yang hidup.”
Wong Han-bwee mengambil dan melihat plakat itu,
kemudian dia membelahnya, di dalam plakat benar ada secarik
kertas.
Dia melihat isi kertas itu satu kali, dari wajahnya terpancar
tawa puas dan dia berkata, “Lim Hud-kiam, kali ini kau pasti
merasa menyesal karena mainan yang ada di dalam plakat ini
adalah asli.”
“Tidak mungkin!”
“Mengapa tidak mungkin?”
“Aku tahu itu tidak mungkin, karena plakat asli tidak ada di
tangan 5 perguruan, maka apa yang mereka keluarkan adalah
palsu.”
“Mengapa kau bisa tahu?”
“Karena aku sudah bertemu dengan orang yang
mendapatkan plakat asli.”
“Siapakah dia?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Maaf, aku tidak bisa memberitahumu!”
“Orang yang mendapatkan plakat itu pasti sudah
mendapatkan rumus rahasia ilmu silat itu.”
“Tidak juga, karena rumus yang ada di dalam plakat hanya
ada separuh, sedangkan separuhnya lagi ada di tangan 5
perguruan, kalau tidak digabung tidak ada orang yang bisa
mendapatkan rumus itu.”
“Apakah orang itu memberitahumu?”
“Setiap orang sudah tahu.”
“Tapi kau adalah orang yang paling awal yang
mengetahuinya.”
“Kau salah, yang paling awal tahu adalah orang-orang dari
5 perguruan, kedua baru orang yang mendapatkan plakat asli,
ketiga adalah aku.”
“Tapi kau lebih banyak tahu tentang ini.”
“Tidak juga, orang itu memberitahu cuma sebagian, tapi
tidak memberitahu isi plakat itu, maka aku hanya tahu kulit
luarnya saja.”
“Paling sedikit kau tahu plakat itu palsu, itu sudah tahu
cukup banyak, tapi aneh kau tahu plakat dunia persilatan itu
palsu, mengapa kau masih datang kemari untuk merebutnya?
Apakah kau menginginkan separuhnya lagi?”
“Aku tidak bermaksud seperti itu, apalagi tidak mungkin 5
perguruan akan memberitahu kepada siapa pun rahasia itu.”
“Belum tentu, bila kau mendapatkan plakat dunia persilatan
dengan wibawa plakat itu kau bisa memerintah 5 perguruan
menyerahkan separuh rahasia itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam tertawa dingin, “Hari ini para pesilat yang
mewakili 5 perguruan hanya pesilat lapis kedua, kelihatannya
mereka sama sekali tidak menghormati wibawa plakat ini.”
Wong Han-bwee mengangguk, “Kata-katamu sangat masuk
akal, kalau benar plakat ini tidak ada gunanya, untuk apa kau
datang mengikuti petarungan ini?”
“Aku sendiri pun tidak tahu, mungkin karena aku ingin tahu,
mungkin juga ingin tahu bagaimana sikap 5 perguruan ini.”
“Bagaimana sikap 5 perguruan sekarang?”
Lim Hud-kiam berpikir sebentar, “Aku belum tahu apa yang
mereka inginkan, tapi mereka ingin mengambil kesempatan ini
untuk melepaskan larangan plakat, hal ini sudah terlihat jelas,
apalagi Cia Hwie Cin-jin sudah mengeluarkan kata-kata itu.”
“Apakah kau ingin membaca isi surat ini?”
“Tidak, percuma saja.”
“Tidak apa kalau hanya membaca, dan kita bisa
mendiskusikan apa yang kau ketahui.”
“Aku tidak tahu apa-apa, bagaimana bisa
mencocokkannya?”
“Kau bisa kembali dan menanyakannya kepada orang itu.”
“Orang itu sudah menghancurkan rahasia yang ada di
dalam plakat, maka tidak ada seorang pun yang bisa
mendapatkan rahasia itu lagi.”
“Apakah benar? Sangat disayangkan, kalau tidak aku akan
bertanya kepada 5 perguruan apa rahasia mereka dan bisa
mencocokkannya dengan orang itu atau memberikan
kepadanya juga tidak apa, membiarkan sebuah ilmu sakti
tenggelam itu sangat disayangkan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Orang itu tidak akan setuju.”
“Kau bukan dia, mana mungkin kau bisa mewakili dia
menjawabnya!”
“Karena dia pernah mengatakan bila ilmu rahasia itu jatuh
ke tangan orang jahat, akan membuat orang-orang sengsara,
lebih baik dimusnahkan.”
“Dia yang menyimpannya dan masih tidak tenang?”
“Tidak akan ada gunanya, karena dia berlatih ilmu silat dia
menjadi tersesat, tangan dan kakinya menjadi kaku, maka dia
bertekad menghancurkan rahasia yang ada di dalam plakat.”
Wong Han-bwee tertawa senang, “Ternyata seperti itu, Lo
Liu, naiklah sebentar, lihat isi surat ini dan kemukakan
pendapatmu.”
Liu Ban-mong naik ke panggung membaca isi surat itu lalu
berkata, “Bagaimana pendapat Nona?”
“Aku tanya bagaimana pendapatmu,” kata Wong Han-bwee.
“Menurutku, kalau kata-kata yang tertulis di dalam kertas
ini adalah benar, berarti Lim Hud-kiam bohong, antara dua hal
ini salah satunya bisa dipercaya.”
“Menurutmu siapa yang bisa dipercaya?” tanya Wong Hanbwee.
Liu Ban-mong melambaikan kertas itu, “Ini bisa kita
buktikan segera.”
“Aku tahu, tapi aku tidak percaya pada kata-kata orang ini,
mungkin mereka menyimpan rencana busuk, kita bisa tertipu
oleh mereka,” kata Wong Han-bwee.
“Nona terlalu khawatir, aku kira mereka tidak akan berani,
karena semua orang ingin mendapatkannya dan tidak ada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
orang yang ingin membuktikannya sendiri,” kata Liu Banmong.
“Sebelumnya mereka tidak tahu kalau kita akan kemari, hal
penting seperti ini aku kira tidak akan ada orang yang
menyuruh orang lain untuk membuktikannya, asal memakai
sedikit akal mereka bisa menghabisi orang yang mendapatkan
plakat,” kata Wong Han-bwee.
“Nona terlalu banyak berpikir, hal ini bukan orang biasa
yang bisa berpikir ke arah sana,” kata Liu Ban-mong sedikit
emosi.
“Kalau begitu, kau tunggu apa lagi?”
“Maksud Nona, menyuruhku membuktikannya?”
“Kalau tidak untuk apa aku menyuruhmu naik kemari? Di
panggung ini aku sendiri tidak bisa melihatnya, jadi harus kau
yang membuktikannya.”
Liu Ban-mong masih ragu Wong Han-bwee mulai tidak
senang, “Lo Liu, tenanglah bila terjadi sesuatu denganmu aku
akan membunuh semua orang dari 5 perguruan untuk
membalaskan dendammu, aku bukan sengaja menyuruhmu
mengantarkan kematian melainkan kau lebih lincah dari orang
lain dan lebih berpengalaman, serta lebih cepat bereaksi.”
Wajah Liu Ban-mong bersimbah keringat, dia juga terlihat
sangat tegang, dengan dingin Wong Han-bwee berkata,
“Kalau kau tidak mau melakukannya, aku akan menggantimu
dengan orang lain.”
Ma Kiu-nio baru saja mendekat dan bertanya, “Nona, ada
masalah apa? Apakah butuh bantuan ku? Bila butuh
bantuanku, kita tidak perlu merepotkan Tuan Liu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Han-bwee tertawa dingin, “Surat yang ditulis oleh 5
perguruan tentang rahasia dunia persilatan ada di panggung
ini.”
Kata-kata ini menarik perhatian orang-orang, apalagi
kelompok Ciu Giok-hu mereka terlihat lebih tegang.
“Kalau begitu, keluarkanlah untuk diperlihatkan,” kata Ma
Kiu-nio.
“Tapi aku takut kalau ini hanya jebakan, kalau tempat yang
dikatakan oleh 5 perguruan dipasang tombol atau lainnya
untuk menghadapi orang yang mendapatkan..” kata Wong
Han-bwee.
“Mungkin juga sebab sama sekali tidak menyangka akan
jatuh ke tangan Nona, biasanya orang yang mendapatkan
plakat bertujuan mencari rahasia ini,” kata Ma Kiu-nio.
“Benar, mereka tidak mengeluarkan pesilat tangguh mereka
untuk bertarung, sepertinya sengaja ingin memberikan plakat
itu mungkin mereka ingin menggunakan cara ini,” kata Wong
Han-bwee.
“Nona tidak perlu menghadapi bahaya ini, kami berempat
bisa menggantikan Nona dan membuktikan apakah 5
perguruan berbohong lagi atau tidak,” kata Ma Kiu-nio.
“Aku menyuruh Lo Liu tapi dia malah takut mati!” kata
Wong Han-bwee.
“Nona, bukan aku takut mati, tapi tuan pernah berpesan
kecuali Nona kami tidak boleh memegang plakat,” kata Liu
Ban-mong.
“Aku yang menyuruhmu jadi masalahnya tidak sama,” kata
Wong Han-bwee.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tuan Liu, kalau kau takut mati, biar aku yang
melaksanakan tugas ini,” kata Ma Kiu-nio.
“Baiklah, aku juga menganggap kau lebih cocok
melaksanakan tugas ini,” kata Liu Ban-mong.
Heuw Liu-koan tidak suka dengan sikap Liu Ban-mong, dia
membentak, “Buta, apakah nyawamu begitu berharga?
Apakah Ma Kiu-nio pantas mati?”
Liu Ban-mong menghela nafas panjang, “Liu-koan, kalian
selama beberapa generasi adalah pelayan tuan, maka tuan
sangat percaya kepada kalian, tapi aku baru masuk perguruan
tuan, sewaktu tadi akan pergi apakah kalian tidak ingat
dengan kata-kata tuan?”
“Tentu ingat, kita berempat mengikuti nona untuk merebut
plakat dunia persilatan dan kita tidak boleh memegang isi
plakat kalau tidak kita akan dibunuh tapi keadaan sekarang
sudah tidak sama, karena ada jaminan nona,” kata Ma Kiu-nio.
“Walaupun tuan yang memberi perintah aku tetap tidak
berani, karena kata-kata tuan tadi seperti mengarah padaku,
dia takut aku mempunyai niat lain,” kata Liu Ban-mong.
“Apakah benar kau mempunyai niat lain?” tanya Wong Hanbwee.
“Kalau aku berniat lain, aku akan mencobanya walaupun
bisa membuatku mati tapi sekarang aku lebih memilih
disalahkan aku tidak berani melihat rahasia yang ada di dalam
plakat,” kata Liu Ban-mong.
Wong Han-bwee tertawa, katanya, “Tadi sewaktu aku
menyuruhmu melihat isi surat yang ada di dalam plakat,
mengapa kau tidak ingat pada larangan itu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kalau isi surat itu hanya ada satu petunjuk, aku
membacanya pun tidak akan menjadi masalah, sekarang
setelah tahu tempat rahasianya, maka aku tidak berani
memegangnya lagi!” kata Liu Ban-mong.
Wong Han-bwee tertawa, “Kau memang pintar, aku hanya
menguji kesetiaanmu, bila tadi kau setuju pedangku sudah
menunggumu di sini.”
“Aku setia kepada Nona, aku tidak bermaksud lain,” kata
Liu Ban-mong.
“Baiklah, biar Ma Kiu-nio yang pergi, kau temani dia, begitu
selesai, biar Ma Kiu-nio yang mengambil buku rahasianya.”
Ma Kiu-nio terpaku, “Apakah buku rahasia itu ada di
panggung ini?”
“Di dalam surat memang tertulis seperti itu, aku tidak tahu
ini benar atau tidak,” jawab Wong Han-bwee.
“Bukankah di dalam plakat itu hanya ada petunjuk bagian
bawah saja? Mana mungkin bisa mendapatkan Pit-kip (buku
rahasia)?” tanya Ma Kiu-nio.
“Ke bawahlah untuk melihat, kau akan mengerti,” kata
Wong Han-bwee sambil tertawa.
Liu Ban-mong membongkar papan panggung bagian
tengah, segera muncul tutup besi berbentuk persegi, dia
membuka tutup itu, ada pintu masuk ke bawah tanah.
“Kalian berdua turunlah untuk melihat, jangan macammacam,
harus mengikuti petunjuk kertas itu kalau keadaan
tidak memungkinkan segera keluar dari sana,” pesan Wong
Han-bwee.
Mereka berdua masuk ke dalam terowongan itu, Tiang
Leng-cu yang berada di bawah panggung berteriak, “Kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mencari setengah bagiannya lagi, tidak disangka Pit-kip itu
berada di sini.”
“Kukira di sini tidak ada Pit-kip sakti,” Ciu Giok-hu tertawa
dingin.
“Dari mana kau tahu?” tanya Wong Han-bwee sambil
tertawa.
“Terowongan itu ditunjukkan oleh 5 perguruan, kalau Pitkip
ada di sana mereka sudah lebih dulu mengambilnya, mana
mungkin menyisakannya untuk kalian?”
Wong Han-bwee tertawa, “Kata-katamu benar, sungguh
sulit dipercaya, tapi menurut surat yang ada di dalam plakat,
tertulis demikian, maka aku harus mencari tahu, begitu ada
hasilnya aku baru akan mencari 5 perguruan untuk ditanya,
sekarang percayakan saja dulu apa yang tertulis di dalam
surat itu.”
Semua terlihat tegang, sambil memperhatikan mulut
terowongan dan sambil melihat ekspresi 5 perguruan, ketua 5
perguruan terlihat sangat tenang, sampai-sampai Lim Hudkiam
pun mulai merasa aneh. Tidak lama kemudian Ma Kiu-nio
keluar dari terowongan itu, dia membawa sebuah wadah
terbuat dari besi, wadah itu terlihat sudah usang dan
terkelupas, kelihatannya wadah besi ini sepertinya sudah lama
terkubur di dalam tanah.
Melihat kalau di bawah tanah ada barang yang dimaksud,
Wong Han-bwee merasa aneh dia bertanya, “Apakah barang
ini palsu atau asli?”
Liu Ban-mong keluar, lalu berkata, “Tombol-tombol di
bawah sangat banyak tapi kalau mengikuti petunjuk dari
kertas ini tidak sulit membukanya, akhirnya kami
mendapatkan wadah besi ini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Apakah di dalam wadah itu berisi Pit-kip sakti?” tanya
Wong Han-bwee.
“Aku tidak tahu, sebab kami tidak berani membuka-nya,
lebih baik Nona sendiri yang melihatnya, aku sudah memeriksa
wadah ini tidak ada masalah,” kata Liu Ban-mong.
“Baiklah, aku sendiri yang akan membukanya, pokoknya
bila ada masalah kita semua akan kena, ayah pernah
mengatakan kalau sampai aku terluka, kalian berempat jangan
harap bisa hidup.”
Dengan cemas Ma Kiu-nio berkata, “Biar aku yang
membukanya, bila ada masalah, yang terluka hanya aku
sendiri, Nona tidak akan terkena bahaya.”
Wong Han-bwee tertawa, “Baiklah, bukan karena aku ingin
mencelakakan kalian, kalau terjadi sesuatu padaku aku juga
tidak akan mencelakakan kalian, bila ayah sudah berkata
seperti itu dia akan melakukannya, bila terjadi sesuatu
padamu paling sedikit suamimu tidak akan dibunuh.”
Ma Kiu-nio meletakkan wadah besi itu ke bawah, dia
menepis gembok dari tembaga itu dengan pedangnya,
kemudian terlihat sebuah gulingan keras yang dibungkus
dengan kertas minyak, dengan hati-hati dia membukanya,
terlihat sebuah kertas kulit yang tipis, kemudian dia
memberikannya kepada Wong Han-bwee.
Wong Han-bwee membuka gulungan kertas itu dengan teliti
dia membacanya dan berkata, “Benar, ini adalah Pit-kip sakti
dan isinya juga asli.”
Lim Hud-kiam merasa heran dia bertanya, “Apakah kau
sudah memastikan kalau itu adalah Pit-kip asli?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kalau tidak percaya, kau boleh melihatnya,” kata Wong
Han-bwee.
Lim Hud-kiam berpikir sejenak baru menjawab, “Aku tidak
ingin melihatnya!”
“Kalau sekarang kau tidak melihatnya, kelak bila ingin
melihatnya tidak akan bisa,” kata Wong Han-bwee.
“Nanti pun aku tidak ingin melihatnya, aku hanya merasa
aneh plakat dunia persilatan sudah lama menghilang, tapi
mengapa 5 perguruan bisa memberitahu tempat
penyimpanannya? Ini benar-benar membuat bingung,” kata
Lim Hud-kiam.
“Apakah orang yang mendapatkan plakat itu tidak
memberitahu kepadamu?” tanya Wong Han-bwee.
Lim Hud-kiam menggelengkan kepala, “Tidak!”
“Kalau begitu aku beritahu kepadamu, Pit-kip sakti ini dibagi
menjadi dua jilid, buku pertama adalah mengenai cara berlatih
ilmu silat, jilid kedua adalah mengenai hal-hal yang harus
diperhatikan sewaktu berlatih ilmu silat dan perubahan jurus,
jilid pertama disimpan di dalam plakat dunia persilatan bagian
tengah, jilid kedua disimpan di sini, 5 perguruan masingmasing
memegang rahasia yang diambil dari Pit-kip ini, kalau
tidak mendapatkan kelima rahasia ini akan terkena jebakanjebakan
yang ada di sana dan melukai orang yang akan
mengambil Pit-kip ini, juga akan membuat wadah yang
menyimpan Pit-kip terbakar sendiri hingga habis....”
“Kalau begitu buku yang kau ambil adalah jilid kedua?”
tanya Lim Hud-kiam.
Wong Han-bwee mengangguk, “Benar, orang itu
mendapatkan Pit-kip jilid pertama, orangnya tidak sebaik yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kau katakan, setelah dia memperoleh Pit-kip dia tidak berlatih
ilmu silat yang ada di dalamnya.”
“Tidak mungkin, dia bukan orang seperti itu,” kata Lim Hudkiam.
Wong Han-bwee tertawa dingin, “Kau terkena tipunya,
petunjuk jilid kedua memberi-tahu bila hanya mendapatkan
jilik ke satu kemudian berlatih dia akan menjadi tersesat dan
tangan serta kaki menjadi lumpuh, orang itu tidak mengerti,
dia mengira sesudah mendapatkan buku jilid pertama dia
merasa sudah mendapatkan semua Pit-kip, maka akibatnya
menjadi seperti itu.”
Lim Hud-kiam terpaku, lalu terbang turun dari panggung,
Liu Ban-mong dan Ma Kiu-nio bersama-sama menghalanginya,
“Jangan pergi, serahkan buku jilid pertama kepada kami.”
“Aku sama sekali tidak mendapatkan buku itu,” jawab Lim
Hud-kiam.
Wong Han-bwee tertawa, katanya, “Aku percaya pada katakatamu,
karena bila kau sudah mendapatkan jilid pertama,
kau akan seperti orang itu, kaki dan tangan menjadi lumpuh
seperti orang hidup yang mati.”
“Nona, jangan percaya pada kata-katanya, orang itu sama
sekali tidak ada, dia hanya membuat-buat saja, buku jilid
pertama pasti sudah ada di tangannya, hanya saja dia belum
mendapat kesempatan belajar, kita harus memaksanya
mengeluarkan buku itu,” kata Liu Ban-mong.
Wong Han-bwee berkata, “Orang yang mendapatkan buku
jilid perama tidak tahu kalau itu adalah buku jilid pertama,
lebih-lebih tidak tahu dia akan tersesat, maka kata-katanya
bisa dipercaya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Dari mulutnya kita harus mengetahui orang yang
mendapatkan buku jilid pertama dan kita harus mengambil
buku itu, dan bila kedua buku ini digabung akan menjadi
sempurna,” kata Liu Ban-mong.
“Tidak perlu, kita tidak perlu mencari dia karena dia akan
datang sendiri mencari kita, sebab dia hraus mendapatkan
buku jilid kedua, dan dia baru bisa menyembuhkan
kesesatannya, kita tunggu saja, dia pasti akan datang.”
“Kaki dan tangannya sudah lumpuh, dia tidak akan bisa
datang kemari,” kata Liu Ban-mong.
“Jika dia tidak bisa datang, dia akan menyuruh Lim Hudkiam
datang, dia menyuruh Lim Hud-kiam datang kemari
untuk mengikuti rapat akbar ini bukankah semua ini karena
alasan-alasan itu?” tanya Wong Han-bwee.
“Tapi bila Pit-kip sakti itu masih ada satu jilid lagi di luar,
bagi kita itu tidak baik, apalagi kita hanya mendapatkan jilid
kedua saja, itu pun tidak akan ada gunanya,” kata Liu Banmong.
“Kata siapa tidak ada gunanya? Kita menguasai jilid kedua
berarti jilid pertama tidak ada gunanya, tidak akan
mengancam kita, apa yang harus ditakutkan?” kata Wong
Han-bwee.
Liu Ban-mong masih ingin mengatakan sesuatu, tapi Wong
Han-bwee dengan dingin berkata, “Lo Liu, ayah menyuruhmu
ikut dengan kita adalah untuk mengeluarkan ide-ide kalau
menghadapi masalah yang tiba-tiba terjadi, mengenai Pit-kip
dunia persilatan karena apa yang kau ketahui masih terbatas
maka lebih baik kau jangan ikut campur.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Gadis itu yang tadi masih tertawa-tawa sekarang tiba-tiba
marah, dan tidak memberi muka, kata-katanya penuh dengan
wibawa, Liu Ban-mong mengangguk dan turun dari panggung.
Wong Han-bwee tertawa kepada Lim Hud-kiam, “Aku tidak
merasa aneh mendapatkan plakat dunia persilatan, karena aku
juga tahu kalau ini bukan plakat yang asli, barang yang
dikeluarkan oleh 5 perguruan juga bukan barang yang asli.”
“Dari mana kau bisa tahu?” tanya Lim Hud-kiam.
“Ayahku dijuluki sebagai Raja Pedang, yang pasti hal
penting seperti ini dia sangat tahu, apa yang terjadi di dunia
persilatan tidak akan lolos dari pandangan kami.”
Lim Hud-kiam hanya bisa tertawa kecut, dengan senang
Wong Han-bwee berkata, “Dari plakat palsu bisa mendapatkan
Pit-kip sakti jilid kedua, ini benar-benar di luar dugaanku, aku
yakin kau pun sama seperti aku, tidak menduganya.”
Lim Hud-kiam terdiam, Wong Han-bwee melanjutkan,
“Sekarang kau pasti merasa menyesal, mengapa tadi kau
memberikan begitu saja kepadaku bukan?”
“Aku tidak merasa menyesal, sebab aku memang tidak
berniat merebut plakat itu maka aku tidak merasa kecewa
apalagi merasa menyesal,” kata Lim Hud-kiam.
“Aku percaya pada kata-katamu tapi orang yang
menyuruhmu kemari pasti akan merasa kecewa, dia sangat
berharap kau bisa mengambil jilid kedua untuknya,” kata
Wong Han-bwee.
“Tidak juga, dia tidak pernah memintaku melakukan hal ini,
dia hanya ingin aku datang ke sini melihat-lihat dan jangan
membiarkan plakat dunia persilatan jatuh ke tangan orang
yang tidak pantas mendapatkannya!” kata Lim Hud-kiam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Apakah dia pernah memberitahu siapa yang tidak pantas
mendapatkannya?” tanya Wong Han-bwee.
Lim Hud-kiam tampak berpikir sejenak baru menjawab,
“Ada, dia mengatakan di dunia persilatan ini ada sebuah
perguruan pedang, mereka adalah orang beraliran sesat dan
jahat kalau orang-orang itu mendapatkan plakat itu, di dunia
persilatan akan terjadi keributan, maka jangan sampai plakat
itu jatuh ke tangan mereka.”
Wong Han-bwee berkata, “Dia benar-benar aneh, plakat asli
dia sendiri yang mencurinya, seharusnya plakat palsu jatuh ke
tangan siapa pun tidak akan menjadi masalah, untuk apa dia
harus begitu tegang?”
“Aku juga pernah bertanya seperti itu, dia mengatakan
kalau rahasia di plakat itu sudah tidak ada tapi dia takut kalau
orang itu dengan kekuasaan plakat akan menekan 5
perguruan, mereka akan menjadi sebuah kekuatan besar
untuk menguasai dunia persilatan, akibatnya bisa fatal.”
“Apakah dia pernah mengatakan padamu siapa orang sesat
itu?” tanya Wong Han-bwee.
“Tidak, dia juga tidak kenal orang itu,” jawab Lim Hudkiam.
“Itu lebih aneh lagi, dia tidak kenal orang itu dari mana dia
tahu orang itu lurus atau sesat?” tanya Wong Han-bwee.
“Tapi dia memberitahu sedikit informasi, orang itu sangat
menguasai Ngo-heng-kiam-hoat (Ilmu pedang 5 unsur), kalau
Ngo-heng-kiam-hoat muncul, orang itu pasti muncul,” jawab
Lim Hud-kiam.
“Ini sungguh aneh, sebab ayahku sangat tahu apa yang
terjadi di dunia persilatan, meski sekecil apa pun kejadiannya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mengapa aku tidak pernah mendengar ada orang seperti itu
dan mana ada jurus pedang seperti itu? Apakah orang itu lebih
tahu banyak dari kami?”
“Kau jangan berpura-pura bodoh, anak buahmu 4 orang itu
menggunakan Ngo-heng-kiam-hoat, sekarang hanya tinggal
bagian tengah yaitu unsur tanah yang belum muncul, aku bisa
memastikan orang tengah itu adalah ayahmu,” kata Lim Hudkiam.
Kata-kata Lim Hud-kiam belum selesai, orang-orang yang
ada di sana terkejut, dan 5 ketua dari 5 perguruan sudah tidak
tahan, mereka bersama-sama naik ke panggung, kata Cia
Hwie dengan cemas, “Tuan Lim, apakah kata-katamu itu
benar?”
“Untuk apa kalian masih berpura-pura bodoh, apakah kalian
tidak mengenali jurus-jurus Ngo-heng-kiam-hoat?” kata Lim
Hud-kiam.
Cia Hwie Cin-jin dengan terburu-buru menjawab, “Kami
benar-benar tidak tahu!”
Ketua Siauw-lim, Bu Seng Taysu berkata, “Kami hanya tahu
dari generasi di atas kami bahwa di dunia ini ada Ngo-hengkiam-
hoat tapi lebih jelasnya lagi kami tidak tahu, dulu
tercatat di plakat dunia persilatan setelah plakat asli
menghilang, kami sama sekali tidak tahu Ngo-heng-kiam-hoat
itu seperti apa.”
“Apa maksud kalian memberikan Pit-kip jilid kedua itu
kepada mereka?” tanya Lim Hud-kiam.
“Plakat dunia persilatan sudah menghilang selama 20 tahun
lebih, kami pun sudah menunggu selama 20 tahun lebih tapi
tidak pernah ada orang berbakat yang muncul, kami percaya
orang yang mendapatkan plakat itu pasti pesilat tinggi, setelah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
diperkirakan orang itu akan muncul maka kami menggunakan
kesempatan ini memberikan kepadanya Pit-kip jilid kedua,”
jawab Bu Seng Taysu “Dengan cara seperti itu?” tanya Lim
Hud-kiam.
Kata Bu Seng Taysu, “Orang yang mendapatkan Pit-kip jilid
pertama pasti ilmu silatnya akan maju pesat, plakat dunia
persilatan pasti akan menjadi miliknya, dengan memberikan
kepadanya adalah hal yang paling tepat. Pertama, bisa
membuatnya terkenal, kedua kami pun berharap dia akan
memimpin dunia persilatan.”
“Apakah kalian tidak tahu bahwa berlatih ilmu silat hanya
menuruti jilid pertama akan menjadi tersesat sehingga tangan
dan kakinya menjadi lumpuh?” tanya Lim Hud-kiam.
“Tidak, 5 perguruan memang diperintahkan untuk menjaga
Pit-kip jilid kedua tapi kami belum pernah melihat isi Pit-kip
itu!” kata Bu Seng Taysu lagi.
Lim Hud-kiam terpaku, dia tidak tahu apakah yang
dikatakan benar atau mereka berbohong lagi.
Cia Hwie Cin-jin menghela nafas, “Sekarang aku akan
menceritakan mengenai seluk beluk Pit-kip ini kepada semua
orang yang hadir di sini. Pit-kip ini dibuat dan ditinggalkan
oleh seorang pesilat tinggi bernama Sun Soan-cu, kejadiannya
adalah 60 tahun yang lalu, waktu itu Sun Soan-cu
mengumpulkan 5 ketua dari 5 perguruan besar, awalnya dia
memperagakan ilmu yang dibanggakannya, dan seorang diri
bertarung dengan 5 ketua dari 5 perguruan besar, hanya
dalam 10 jurus dia berhasil mengalahkan guru kami, kemudian
dia memberitahukan bahwa dia hanya mempunyai seorang
musuh kuat dan dia adalah ketua Ngo-heng-kiam.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Siapa nama ketua Ngo-heng-kiam itu?” tanya Lim Hudkiam.
“Sun Soan-cu tidak memberitahu, dia hanya mengatakan
kalau ilmu pedang Ngo-heng-kiam sangat ganas, ketua Ngoheng-
kiam ingin menguasai dunia persilatan tapi karena
ketahuan oleh Sun Soan-cu maka dia membawa pedangnya
dan mengajak bertarung, setelah ribuan jurus berlalu dia
beruntung bisa menang, maka dia mencegah keserakahan
ketua Ngo-heng-kiam, tapi waktu itu Sun Soan-cu sudah
berusia 90 tahun dan ketua Ngo-heng-kiam baru berusia 40
tahun, dengan umur manusia tidak mungkin Sun Soan-cu
terus menekan orang itu supaya tidak muncul, maka dia
menuliskan ilmu silat kebanggaannya menjadi sebuah buku
dan menyuruh ketua dari 5 perguruan untuk mencari orang
berbakat dan menurukan ilmu silatnya kepada orang itu,” kata
Cia Hwie.
“Apakah kalian melakukannya?” tanya Lim Hud-kiam.
Cia Hwie Cin-jin menarik nafas, “Tidak, karena Sun Soan-cu
pernah berpesan orang yang mendapatkan warisan ilmu ini
harus berbakat dan ilmu pedangnya sudah mencapai tahap
yang lumayan tinggi baru bisa mempelajari ilmu yang
ditulisnya, kami 5 perguruan waktu itu setiap 3 tahun sekali
pasti akan diadakan rapat akbar untuk bertarung pedang, tapi
tidak pernah mencapai tujuan ini.”
“Kalian seharusnya lebih memperluas kalangan untuk
mencarinya!” kata Lim Hud-kiam.
“Kami memang sudah berencana seperti itu, tapi 10 tahun
kemudian yaitu 50 tahun yang lalu kami pernah menyebarkan
kabar sedikit mengajak para pesilat pedang terkenal untuk
bertarung tapi tetap tidak berhasil, malah kabar ini bocor,
banyak orang yang datang ke tempat kami untuk mencuri PitTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kip ini, kami sudah tidak mempunyai cara lagi, maka guruku
membagi Pit-kip ini menjadi dua bagian, yaitu jilid pertama
dan kedua masing-masing disimpan di tempat yang berbeda,
satu di dalam plakat sedangkan yang satu lagi dijaga oleh 5
perguruan.”
Ketua perguruan Kun-lun-pai, Coh Siau-ih berkata, “Waktu
itu ketua Bu-tong-pai adalah Thian Sin Cin-jin, kami
menganggap beliau adalah orang yang suci di dunia
persilatan, beliau dengan sangat adil menempatkan Pit-kip itu,
sampai-sampai murid yang disayanginya seperti Cia Hwie Cinjin
tidak mengetahuinya, beliau membagi Pit-kip sakti ini
menjadi dua jilid kemudian beliau membawa jilid pertama dan
mencari tempat tepat untuk menyimpan-nya, beliau pergi
seorang diri mungkin di tempat penyimpanan Pit-kip itu
akhirnya beliau meninggal.”
“Mengapa begitu sungguh merepotkan?” tanya Lim Hudkiam.
Jawab Bu Seng Taysu, “Karena kabar Pit-kip ini sudah
tersebar ke mana-mana mereka takut ketua Ngo-heng-kiam
akan datang untuk merebutnya, sedang kami tidak akan bisa
melawannya, maka lebih baik dibagi seperti itu. 3 tahun sekali
kami mengadakan rapat akbar berharap ilmu setiap perguruan
bisa terus maju, tapi tetap tidak akan bisa mencapai tahap itu,
untung dengan cara seperti itu akhirnya 20 tahun lalu plakat
itu telah dicuri.” Cia Hwie Cin-jin memohon, “Tuan Lim,
apakah kau bisa menunjukkan di mana keberadaan orang itu?
Kami tidak akan mencari tahu mengenai plakat yang telah
dicurinya, kami hanya berharap dia bisa memberitahu di mana
dia mendapatkan plakat itu karena kami ingin membawa
tulang belulang guru kami kembali ke tempatnya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam berpikir sebentar, “Sekarang tidak bisa
karena Ngo-heng-kiam sudah muncul, bila aku memberitahu
tempatnya, mereka akan ikut ke sana dan Pit-kip jilid pertama
akan diambil mereka, kalian benar-benar ceroboh, jilid
pertama belum tahu ada di mana, kalian sudah mengeluarkan
jilid kedua.”
“Apakah kau ingin tahu apa alasannya?” tanya Wong Hanbwee
tersenyum.
“Apa alasannya?” tanya Lim Hud-kiam.
“Coba tanyakan kepada mereka,” Wong Han-bwee tertawa
lagi.
“Kami takut orang yang mendapatkan plakat itu sebelum
menguasai ilmu silat sudah meninggal, dan ilmu silat ini
selamanya akan tenggelam, karena guruku pernah
mengatakan orang yang mendapatkan jilid pertama bila dalam
waktu 20 tahun tidak mendatangkan hasil selamanya dia tidak
akan sukses, tahun ini adalah tahun terakhir, kami merasa
tidak bisa mundur lagi,” jawab Cia Hwie.
“Masih ada satu alasan lagi mengapa tidak kau ceritakan?”
Cia Hwie Cin-jin terdiam, Wong Han-bwee berkata, “Aku
yakin kau tidak berani mengungkapkannya, biar aku yang
bicara, ini adalah cara mereka menyalahkan orang lain
setahun lalu di masing-masing ranjang mereka berlima ada
sepucuk surat isinya menyuruh mereka mengeluarkan Pit-kip
kalau tidak dilakukan hukumannya adalah semua murid
mereka akan dibunuh, maka mereka menurut dan
mengeluarkannya.”
“Apakah surat itu dari ayahmu?” tanya Cia Hwie Cin-jin
dengan serius.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Masalah kecil seperti itu tidak perlu ayahku yang turun
tangan, kalian benar-benar terlalu percaya diri, 4 surat itu
empat anak buahku ini yang mengantarkannya, aku sendiri
malam-malam masuk ke Bu-tong dan membunuh 4 penjaga
kalian dan sedikit pun kalian tidak mengetahuinya, dan aku
meninggalkan sepucuk surat di depan.”
Lim Hud-kiam berkata dengan marah, “Kalian diancam?
Tapi kalian tidak memikirkan cara mengatasinya?”
“Kami berlima baru 3 hari lalu bertemu kami baru tahu
kalau keadaan kami sama, sebelumnya kami mengira....”
Jawab Cia Hwie Cin-jin.
“Kalian kira hanya kalian yang sial, karena takut malu maka
kalian diam saja, justru ayahku tahu kalau kalian selalu
menjaga muka kalian maka ayahku menggunakan cara ini,
akhirnya rahasia kalian keluar juga,” Wong Han-bwee tertawa.
Lim Hud-kiam menggelengkan kepala dia tidak marah
dengan kata-kata Wong Han-bwee malah mengagumi mereka
karena bisa mengerti sifat orang.
Dengan malu Cia Hwie Cin-jin berkata, “Tuan Lim, aku tidak
peduli orang itu mati atau hidup tapi aku harus bertanggung
jawab kepada perguruan-ku.”
“Apakah sepucuk surat tanpa nama itu dianggap begitu
penting?” tanya Lim Hud-kiam.
“Orang itu sudah membunuh 4 orang murid kami yang
menjaga perguruan, mereka adalah pesilat tinggi kami dari
bekas luka yang tertinggal mereka bukan dibunuh dengan
diam-diam, dada mereka terkena tusukan pedang dan mereka
langsung mati, dari sini dapat diketahui kalau orang yang
datang mempunyai ilmu pedang yang sangat tinggi, kami tidak
akan bisa melawannya,” kata Cia Hwie Cin-jin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Apalagi kami menganggap orang yang mempunyai ilmu
begitu tinggi pasti orang yang berhasil mendapatkan Pit-kip
jilid pertama, karena dalam surat itu dia menginginkan dan
menyuruh kami menyerahkan jilid kedua,” kata Cia Hwie lagi.
Lim Hud-kiam membentak, “Walaupun dia orang yang
berhasil mendapatkan Pit-kip dengan caranya yang begitu
telengas dia pasti orang yang kejam, apakah kalian tidak
terpikir pada hal ini?”
5 ketua dari 5 perguruan tidak bersuara, Wong Han-bwee
tertawa, berkata, “Pasti mereka sudah terpikirkan sebelumnya
kalau tidak mereka tidak akan menyerahkan jilid kedua,
karena bila Pit-kip jilid pertama dan kedua jatuh ke tangan
satu orang akan membuat semua orang memperhatikannya,
dan ketua Ngo-heng-kiam yang sedang bersembunyi akan
mencari orang itu, dia akan membiarkan orang lain secara
mati-matian berebut sedangkan dia tinggal duduk sambil
melihat kalian yang berebut, bukankah cara ini sangat bagus?”
Sebenarnya Lim Hud-kiam sudah terpikir akan hal ini tapi
begitu mendengar Wong Han-bwee yang masih kecil bisa
menjelaskan dengan sempurna, maka dia menjadi kagum
dengan pola pikir gadis kecil itu, dan dia mulai tahu kalau
gadis kecil itu tidak sesederhana usianya.
Cia Hwie Cin-jin dan Bu Seng Taysu menundukkan kepala,
hanya ketua perguruan In-tai, Gouw Tai-cang tertawa dingin,
“Kami tidak ingin keterlaluan, seperti apa ketua Ngo-hengkiam
kami pun tidak tahu, apakah hanya mendengar kata-kata
Sun Soan-cu kami akan percaya begitu saja, untuk apa kami
mencari masalah sendiri?”
Lim Hud-kiam marah, berkata, “Kalau ketua Ngo-heng-kiam
menguasai dunia persilatan, yang pertama dilakukannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
adalah mencari 5 perguruan karena semua masalah ini ada
hubungannya dengan kalian.”
Gouw Tai-cang marah, “Ketua Ngo-heng-kiam belum
mencari kami, tapi Sun Soan-cu sudah menusuk kami dengan
ilmu silatnya, dia sudah mengalahkan ketua 5 perguruan, dia
meninggalkan biang bencana kepada kami….”
“Apa maksudnya? Kalau dia tidak mengeluarkan ilmu
silatnya terlebih dulu mana mungkin dia akan tahu kekuatan
Ngo-heng-kiam?” tanya Lim Hud-kiam.
“Kalau ketua Ngo-heng-kiam orang jahat, mengapa dia
tidak membunuhnya malah meninggalkan bencana dan harus
kami yang menanggungnya?” kata Gouw Tai-cang.
Dengan serius Lim Hud-kiam berkata, “Ilmu pedang adalah
suatu ilmu yang penuh dengan rasa persahabatan dan
perasaan, jangan karena mempunyai ilmu pedang hebat lalu
digunakan untuk menghina dan membunuh.”
Gouw Tai-cang tertawa dingin, “Kami tidak percaya dengan
kata-kata itu, generasi atas kami mungkin percaya pada katakata
itu, menganggap dia sebagai orang baik tapi kami bukan
orang bodoh, jujur bicara, kekalahan ketua kami terdahulu
dari Sun Soan-cu merupakan suatu penghinaan besar, maka
selama beberapa puluh tahun ini 5 perguruan kami selalu giat
belajar dan kami pun menganggap kalau Pit-kip yang
ditinggalkan oleh Sun Soan-cu untuk kami karena hatinya
jahat.”
“Pola pikir seperti apa itu?”
“Dia berharap kami belajar ilmunya untuk menghadapi
ketua Ngo-heng-kiam tapi kami tidak tertipu maka kami
berjanji tidak membuka Pit-kip jilid keduanya, karena ketua
Ngo-heng-kiam kalah darinya bila ingin balas dendam harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mencari dia bukan mencari kami, dan bukan kami yang
menahan bencana ini karena dirinya.”
“Apakah semua orang berpikir demikian?” tanya Lim Hudkiam.
Cia Hwie Cin-jin baru bicara lagi, “Gouw-heng terlalu
fanatik, tapi kami yang berada di posisi sekarang harus
berpikir dengan matang.”
“Semua perguruan kami bisa berdiri di dunia persilatan
membuktikan kalau ilmu silat kami sudah cukup untuk
menjaga diri, ketua Ngo-heng-kiam dengan cara apa pun ingin
merusak dunia persilatan, kami tidak akan pernah tahu dan
mendengar, tapi Sun Soan-cu sudah menghina guru kami itu
adalah suatu bukti, kami tidak mau dibohongi lagi karena satu
Pit-kip menjadi sasaran semua orang!”
Karena marah tubuh Lim Hud-kiam terus bergetar, “Apakah
kata-kata ini pantas diucapkan dari mulut seorang pendekar?”
Dengan santai Gouw Tai-cang berkata, “Apa ini salah?
Kalau bukan karena ingin mendapatkan Pit-kip semua orang
tidak akan datang kemari, Bu-tong sendiri sudah kehilangan
40 orang yang menjaga plakat, setiap 3 tahun sekali diadakan
rapat akbar setiap perguruan ada yang terluka atau mati
semua ini gara-gara plakat dunia persilatan, kami sudah
mengeluarkan Pit-kip jilid kedua apakah ini salah?”
Yang dia katakan salah tapi kenyataannya memang seperti
itu, hal ini membuat Lim Hud-kiam tidak bisa membantahnya,
dia berusaha menahan kemarahannya, “Sekarang Ngo-hengkiam-
hoat sudah muncul lagi dan akan segera menyerang
kalian, bagaimana cara kalian menghadapinya?”
“Yang pasti kami sudah mempunyai cara untuk
melawannya,” jawab Gouw Tai-cang dengan santai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam marah lalu turun ke bawah panggung,
“Baiklah, dunia persilatan bukan milikku, kalian dari perguruan
terkenal pun tidak memperhatikannya, untuk apa aku harus
repot-repot?” kata Lim Hud-kiam.
Ketua 5 perguruan telah mengurung Wong Han-bwee, Cia
Hwie Cin-jin bertanya, “Nona, apakah kau mewarisi Ngo-hengkiam-
hoat?”
“Bagaimana pendapatmu?”
Dia memang licik, sengaja membuat masalah dengan balik
bertanya, hal ini membuat Cia Hwie sulit menjawabnya,
setelah berhenti sejenak Cia Hwie baru menjawab, “Kami tidak
pernah melihat Ngo-heng-kiam-hoat, maka kami tidak bisa
menjawabnya, Nona pasti tahu dari mana Nona belajar.”
“Aku hanya tahu kalau ayahku adalah Raja Pedang, kecuali
hal ini yang lainnya aku tidak tahu, apakah jawaban ini sudah
membuatmu puas?” tanya Wong Han-bwee.
“Nama boleh saja berubah kapan waktu pun,” kata Cia Hwie
Cin-ji.
“Kalau begitu kau mengakui kalau ayahku adalah Raja
Pedang?” tanya Wong Han-bwee.
“Ilmu pedang hanya semacam ilmu, orang bisa mengatakan
dia Raja Pedang, juga yang menamakan dirinya nabi pedang,
mereka boleh memilihnya sendiri, mengakui atau tidak, tidak
menjadi masalah,” kata Cia Hwie Cin-jin.
“Tapi sekarang jadi masalah, sebab Raja Pedang adalah
nama tertinggi di dunia ini, kalau kalian mengakui ayahku
adalah Raja Pedang, berarti kalian adalah perdana
menterinya!” kata Wong Han-bwee.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Bagaimana kalau kami tidak mau mengakuinya?” tanya Cia
Hwie.
Wong Han-bwee tertawa dingin, “Sangat sederhana, ada
dua jalan yang bisa kalian pilih, pertama, kalian tidak akan
boleh lagi menggunakan pedang, carilah ilmu silat yang lain,
kedua, keluarkanlah ilmu silat kalian, buktikan bahwa ilmu
pedang kalian lebih tinggi dari ilmu pedang ayahku, di langit
tidak bisa ada dua matahari, Raja Pedang tidak boleh ada dua,
maka siapa pun yang menggunakan pedang dia pasti harus
menuruti perintah Raja Pedang!”
“Kami tidak akan melepaskan pedang juga tidak akan
mendengar perintah dari orang lain,” ujar Cia Hwie Cin-jin.
“Silahkan kalian coba, aku akan memberitahukan dalam
waktu 3 bulan, kau akan melihat tidak akan ada orang yang
membawa pedang, tidak berada di bawah pimpinan Raja
Pedang,” kata Wong Han-bwee.
“Baiklah, kita lihat nanti,” kata Cia Hwie Cin-jin sambil
menekan emosinya.
“Tidak perlu menunggu, sekarang kalian berlima harus
mengikutiku untuk bertemu dengan ayahku dan memberikan
jawaban yang pasti,” kata Wong Han-bwee.
“Kami tidak akan ikut,” jawab Cia Hwie Cin-jin.
“Mau pergi atau tidak terserah, tapi aku beritahu kepada
kalian, bila hari ini kalian tidak ikut pergi, kelak kalau ingin
bertemu pun sudah terlambat,” kata Wong Han-bwee.
“Kami tidak ingin mencari masalah, kami juga bukan
penakut, sejak Sun Soan-cu menang kami tidak percaya ada
ketua Ngo-heng-kiam, tapi kami juga selalu siap datangnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
hari ini, Nona ingin mengancam kami, ini bukan hal mudah,”
ucap Cia Hwie Cin-jin.
Wong Han-bwee tertawa dingin, “Kalian kalau tidak melihat
peti mati tidak akan menitikkan air mata, kalau tidak diberi
sedikit pelajaran, kalian tidak akan tahu berapa tingginya
langit itu berapa tebalnya bumi, sekarang aku beri
kesempatan kepada kalian untuk berpikir, Lo Liu, kau boleh
hitung, bila sudah menghitung sampai 20 dan mereka mau
menurut, tinggallah di panggung dan tidak bergerak, kalau
tidak mau menurut, turunlah dari panggung, aku akan
mewakili ayah mengambil keputusan mengijinkan perguruan
kalian tetap berdiri.”
Liu Ban-mong menyahut dia mulai berhitung, 5 ketua
perguruan berdiri dan sama sekali tidak bergerak di atas
panggung, orang-orang di sekeliling sana merasa tegang.
Hitungan Liu Ban-mong tidak cepat juga tidak lambat,
begitu mencapai angka 10, orang yang di atas panggung tidak
bergerak, Lim Hud-kiam sekarang sudah kembali ke
tempatnya, Liu Ta-su melihatnya dan berkata, “5 perguruan
benar-benar kurang ajar, dulu berteriak-teriak begitu gagah,
tapi begitu menghadapi masalah, mereka satu per satu takut
mati.”
Dengan serius Lim Hud-kiam berkata, “Ku lihat masalah ini
tidak sederhana seperti yang kita pikirkan.”
“Kalau begitu mengapa mereka tidak bergerak?”
Saat Liu Ta-su bertanya, hitungan Liu Ban-mong juga sudah
selesai, 5 orang yang ada di atas panggung masih tetap
berddiri tidak bergeming, Wong Han-bwee dengan tertawa
berkata, “Kalian sungguh bisa mengambil kesempatan!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dengan santai Cia Hwie Cin-jin berkata, “Nona, kau salah,
kami tidak akan tunduk kepada siapa pun.”
“Mengapa kalian tidak turun?”
“Kami adalah ketua perguruan, mana mungkin kami mau
diatur oleh seorang anak kecil, bila kami ingin pergi pun kami
akan pergi sendiri, bila ingin tinggal kami tetap akan tinggal,”
kata Gouw Tai-cang dengan angkuh.
“Kalau begitu keputusan apa yang kalian ambil?”
“Bila kami ingin turun kami akan turun,” jawab Gouw Taicang.
“Kapan kalian akan turun?” tanya Wong Han-bwee.
“Bukan urusanmu!” jawab Gouw Tai-cang.
“Aku harus mengurusi masalah ini, kalian yang ada di
panggung sudah kuanggap tunduk kepadaku, sekarang aku
perintahkan kalian untuk melepaskan pedang kemudian turun
dari panggung untuk bertekuk lutut, bila aku suruh bangun
baru kalian bangun.”
Gouw Tai-cang tertawa dingin. Dia sama sekali tidak
mempedulikan teriakan Wong Han-bwee, Wong Han-bwee
mendekat dia langsung memukul wajah Gouw Tai-cang, Gouw
Tai-cang segera menahan dengan tangannya tapi gerakan
Wong Han-bwee sangat cepat, tangan kanannya ditahan
tangan kiri sudah mencabut pedang, begitu cahaya pedang
berkelebat, kedua kaki sebatas lutut Gouw Tai-cang ditebas,
pedang Gouw Tai-cang yang terselip di punggungnya sudah
terlepas, kemudian tangannya mendorong Gouw Tai-cang
hingga terlempar ke bawah panggung dan berteriak, “Lo Liu,
sambut!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong dengan cepat menyambut Gouw Tai-cang,
kemudian dengan cepat menotok, sambil bertanya, “Nona,
orang ini mau dikemanakan?”
“Bukankah tadi aku sudah berpesan?” tanya Wong Hanbwee.
Kemudian kedua potongan kaki Gouw Tai-cang yang sudah
putus ditendang ke bawah panggung, Liu Ban-mong segera
menancapkan tubuh Gouw Tai-cang ke tanah kemudian dia
memungut kedua kaki yang terakhir baru ditendang dan
dipasangkan di tubuh Gouw Tai-cang, sekarang posisi Gouw
Tai-cang jadi berlutut, karena nadinya ditotok maka dia sama
sekali tidak bisa bergerak, hanya kedua matanya melotot, dia
merasa sakit sekaligus marah, wajahnya terus bergerak-gerak,
dia terlihat sangat menakutkan.
Murid-murid In-tai-pai tidak tahan melihat ketua mereka
diperlakukan seperti itu, mereka segera membawa pedang dan
maju, tapi Wong Jin-jiu dan Ma Kiu-nio sudah menghadang,
hanya beberapa jurus beberapa mayat bergelimpangan di
bawah, melihat perubahan tiba-tiba ini para pesilat yang ada
di sana terpaku.
Wong Han-bwee tertawa dingin, “Akhirnya In-tai-pai
mengambil keputusan, ketua mereka melepaskan pedang dan
berlutut di bawah panggung, apa pendapat kalian berempat?”
Wajah 4 ketua perguruan yang masih di atas panggung
terlihat berobah, ketua Kun-lun-pai, Coh Siau-ih marah, dia
berteriak, “Iblis kecil, kau benar-benar menghina kami, ayo,
kita maju bersama!”
Bu Seng Taysu dari Siauw-lim berkata, “Coh-heng, bila ingin
bertarung, kau sendiri saja yang bertarung!”
“Apakah Taysu juga tunduk kepadanya?” tanya Coh Siau-ih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Mengapa Coh-heng berpikiran seperti itu? Kita 5 perguruan
selalu bersatu kita juga harus sama, mana mungkin perguruan
kami akan mundur sendiri? Kita adalah ketua suatu perguruan
tidak boleh dengan jumlah banyak mengeroyok satu orang,
bila ingin bertarung hanya bisa bertarung satu per satu
bergiliran!”
“Tapi ilmu silat iblis kecil itu sangat tinggi, bila satu lawan
satu kita bukan lawannya, tadi Gouw-heng belum
mengeluarkan pedangnya, kakinya sudah putus.”
“Coh-heng, kita adalah ketua perguruan kita harus memberi
contoh baik untuk murid-murid kita, hidup atau mati jangan
dibicarakan dulu, kecuali harus ada alasan yang benar baru
kita bertarung, dan bertarung harus dengan adil.”
Coh Siau-ih terpaku, dia merasa malu, dengan gugup dia
berkata, “Apa yang Taysu katakan memang benar tapi kalau
kita mati karena pedang iblis kecil itu, masalah perguruan kita
siapa yang menanggungnya?”
Bu Seng Taysu tertawa, berkata, “Coh-heng, sejak plakat
asli ghilang, kita sudah tahu akan datang bencana ini, hari ini
kalau tidak mencoba apa yang telah kita atur....”
Semangat Coh Siau-ih segera terangkat, “Apakah taysu
tahu apa yang kita rencanakan sudah matang?”
Bu Seng Taysu menggelengkan kepala, “Aku tidak tahu,
dulu Gouw-heng juga ikut merencanakan, bila ada kabar Cohheng
pasti akan tahu.”
“Aku mengkhawatirkan hal ini, 20 tahun sudah berlalu
mengapa sedikit kabar pun tidak ada? Apakah ada masalah
lain yang muncul?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku yakin tidak, tidak ada kabar bukan hal aneh, bukankah
dari dulu kita sudah membicarakan hal ini? Bila kita bisa
membereskan hal ini kita tidak perlu menggunakan rencana
ini, begitu kita mati mereka akan tahu cara berjalan ke
depan.”
Coh Siau-ih menarik nafas, “Baiklah, terpaksa kita harus
mencobanya.”
“Apa yang kalian rencanakan?” tanya Wong Han-bwee
tertawa.
“Rencana yang sangat sempurna, rencana ini menyangkut
bila terjadi sesuatu pada perguruan kami, yang panting bila
kau ingin kami tunduk kepadamu itu tidak akan terjadi, kami
memang ketua perguruan, tapi ilmu silat kami bukan yang
tertinggi, walaupun kau bisa membunuh kami berlima tapi
bukan berarti bisa mengambil alih perguruan kami dan
digabung dengan perguruan kalian!”
“Kita boleh mencobanya!” kata Wong Han-bwee.
“Jangan banyak bicara, bertarunglah dulu dengan-ku!”
teriak Coh Siau-ih.
Wong Han-bwee tidak sungkan lagi, pedangnya diangkat
dan langsung menyerang, Coh Siau-ih menahan dengan
pedang, kemudian membalikkan tangan membalas
menyerang, jurusnya jurus andalan Kun-lun-pai, jurus ini
sangat aneh. Dia membalikkan pedang ingin menahan tapi
tidak keburu, terpaksa dengan tangan kosong dia menepuk
pedang Coh Siau-ih.
Dengan tangan kosong menyambut pedang, Coh Siau-ih
seorang pesilat tinggi, tidak mungkin menggunakan tangan
kosong mau merebut pedang, apalagi menahan pedang yang
datang, walaupun tenaga dalamnya sangat tinggi tapi bacokan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
dahsyat Coh Siau-ih mana mungkin dilawan, apalagi Coh Siauih
adalah ketua Kun-lun-pai yang sangat terkenal.
Tapi begitu melihat cara Wong Han-bwee, Coh Siau-ih
malah berhenti, terpikir lagi musuh begitu kuat, dia tidak boleh
ragu-ragu maka dia melayangkan pedangnya lagi.
Pedang dan tangan saling beradu, terdengar suara pedang,
pedang Coh Siau-ih patah menjadi dua dan lengan baju Wong
Han-bwee robek, tapi tangan kirinya sudah memegang pedang
pendek yang berkilau-kilau. Coh Siau-ih terkejut dan mundur,
dia telah melihat jelas apa yang terjadi, dengan marah dia
berkata, “Iblis kecil, kau licik sekali, ternyata di lengan bajumu
kau simpan belati.”
Wong Han-bwee tertawa sambil mengeluarkan pedang
pendeknya, “Seorang pesilat pedang membawa 2 pedang,
apakah ini aneh? Kau adalah ketua Kun-lun-pai mengapa
sampai begitu terkejut? Kelihatannya kau benar-benar orang
yang kurang pengetahuan, apakah kau tidak mengenal
pedang pendek ini?”
Pedang Coh Siau-ih memang bukan pedang sakti yang
terkenal tapi pedangnya terbuat dari baja murni, sebuah
senjata yang baik, tapi pedang seperti itu dengan mudah
diputuskan oleh pedang pendek, karena pedang itu ada di
tangan Wong Han-bwee maka dia tidak mempunyai
kesempatan melihat dengan jelas, dia juga tidak tahu apakah
pedang itu adalah pedang kuno yang sangat terkenal, tapi dia
juga tidak mau mengaku kalah dia sudah kalah. Coh Siau-ih
tertawa dingin, “Aku tidak pernah mendengar pedang pendek
itu adalah pedang kuno yang terkenal, itu hanya sebuah
pedang biasa yang kau comot dari sembarang tempat dan
mengatakan kalau itu pedang sakti!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Han-bwee tertawa terbahak-bahak, “Coh Lopek, kau
adalah ketua Kun-lun-pai dan mengaku kalau dirimu adalah
orang terkenal, apakah kau sudah lupa pedang-pedang kuno
yang terkenal tercatat di dalam buku, ini adalah pedang
bersejarah, sebab pedang ini pernah digunakan untuk
membunuh raja dari sebuah dinasti, kalau kau tidak
mengenalinya, lebih baik diam, tapi kau malah mengatakan
tidak ada pedang pendek yang terkenal, apakah kau tidak
merasa malu?”
Coh Siau-ih terpaku wajahnya menjadi merah, dulu saat
membunuh raja, pedang pendek itu tersimpan di dalam perut
ikan yang disajikan di atas meja, maka ikan jenis itu disebut
Hie-tiang (Isi perut ikan), ada juga yang menyebut ikan itu
Hie-cang (Usus ikan).
Dalam buku tentang pedang tercatat kalau pedang yang
terkenal adalah pedang panjang, hanya ada sebuah pedang
pendek tapi sudah lama menghilang, maka tidak ada seorang
pun yang menyangka kalau pedang itu masih ada di dunia,
sehingga Coh Siau-ih tidak terpikir pada pedang itu.
Begitu Wong Han-bwee menceritakan tentang pedang itu,
wajahnya menjadi merah dan merasa malu juga terkejut,
memang ada cerita pedang seperti itu, jika panjang
bertambah satu inci, kekuatannya bertambah 10%, kalau
pedang pendek ditambah satu inci akan bertambah ancaman
bagi lawan, maka bila pedang panjang digunakan akan lebih
percaya diri, tapi orang yang bisa menggunakan pedang
pendek dia pasti tahu jurus-jurus khusus, maka orang-orang
persilatan jika menghadapi orang yang bisa menggunakan
pedang pendek selalu waspada, apalagi pedang pendek Wong
Han-bwee adalah pedang kuno yang terkenal, tadi dia sudah
membuktikan ketajamannya berarti akan lebih sulit lagi bila
ingin mengalahkannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Tapi demi memungut kembali mukanya, Coh Siau-ih tidak
mau mengaku kalah, maka dengan tertawa dingin dia berkata,
“Memang Hie-tiang-kiam tercatat di buku pedang tapi pedang
itu sudah lama menghilang hampir ribuan tahun, apakah
pedang milikmu itu asli atau palsu? Apalagi itu barang kuno,
orang yang mendapatkannya adalah orang bijaksana, mana
mungkin bisa ada di tanganmu, iblis berhati busuk, dan kau
juga tidak pantas menggunakan pedang kuno itu, maka aku
tidak percaya kalau pedang itu adalah asli.”
Wajah Wong Han-bwee menjadi merah dan dia berkata,
“Coh Lo-pek, saat aku mau berangkat, ayahku sudah berpesan
menghadapi 5 ketua perguruan harus dengan wibawa
menaklukkan kalian, jangan sampai melukai kalian, apalagi
mencabut nyawa kalian, maka walaupun Gouw Tai-cang terus
menghinaku aku tidak sampai mencabut nyawanya, tapi kau
benar-benar tidak tahu diri, memaksaku mengeluarkan Hietiang-
kiam, pedang ini adalah pedang terjahat di dunia ini,
kalau dia keluar dari sarungnya dia harus melihat darah, dan
kau masih curiga kalau pedang ini palsu, aku benar-benar
tidak akan memaafkanmu, sekarang katakan, kematian apa
yang kau pilih?”
Coh Siau-ih tertawa terbahak-bahak, dia menepuk-nepuk
lehernya, “Kepalaku berada di sini, kalau kau bisa ambillah!”
“Sebenarnya membunuhmu itu mudah seperti membalikkan
telapak tangan, yang aku tanyakan adalah kau memilih disiksa
dulu atau langsung mati?” tanya Wong Han-bwee.
“Mati tanpa disiksa seperti apa?” tanya Coh Siau-ih.
“Tangannya diikat, sekali tepis, kepalamu akan terjatuh
kalau kau masih ingin memberontak, kau sendiri yang akan
tersiksa, setiap jurusku akan mengelupas kulitmu sampai kau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kehabisan tenaga, dan kau akan memberikan lehermu
kepadaku,” jawab Wong Han-bwee.
“Di Kun-lun-pai tidak ada sejarah orang diikat lalu dibunuh,”
kata Coh Siau-ih.
“Berarti kau lebih memilih mati disiksa, boleh juga, aku
tidak akan membuatmu kecewa, tapi kau masih mempunyai
kesempatan, aku tadi sudah mengatakan setiap jurus akan
membuatmu terluka, jadi bila satu jurusku meleset aku akan
memaafkanmu, dan tidak akan membunuhmu, aku juga akan
memberikan Hie-tiang-kiam ini kepadamu untuk menggantikan
pedangmu,” kata Wong Han-bwee.
“Tidak perlu, pedangmu bisa memotong emas dan besi,
pedangku diganti pun percuma, biar dengan pedang putus ini
aku menghadapimu.”
“Apakah kau tidak takut dirugikan?” tanya Wong Han-bwee.
“Walaupun pedangku sudah patah tapi tetap lebih panjang
dari pedangmu, iblis kecil, gigi susumu pun belum lepas, bulu
bawaan dari kandungan pun masih menempel, kau jangan
terlalu sombong!” kata Coh Siau-ih.
Wong Han-bwee tersenyum, “Coh Lo-pek, katakan saja apa
yang kau mau, jurus pertamaku akan merobek mulutmu
supaya kau diam!”
Ooo)k*z(ooO
BAB 27 Aturan Raja Pedang Pedang Budha yang
hebat
Coh Siau-ih benar-benar marah, dia sampai lupa kalau dia
adalah seorang ketua Kun-lun-pai, tangannya mengayunkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
pedang yang sudah patah dan langsung menyerang, bayangan
Wong Han-bwee berkelebat, hanya dengan jarak beberapa inci
Wong Han-bwee telah menghindar pedang Coh Siau-ih, lalu
tangan Wong Han-bwee diangkat ke atas, dan kedua pipi Coh
Siau-ih segera mengeluarkan darah, dari telinga sampai
mulutnya telah tergores.
Orang-orang yang ada di sana merasa terkejut, sebab tidak
ada seorang pun yang melihat cara Wong Han-bwee
menyerang, gerakannya sangat cepat juga jaraka sangat rapat
dengan Coh Siau-ih, sehingga tubuh Coh Siau-ih menghalangi
pandangan orang-orang, kecuali dirinya tidak ada seorang pun
yang melihat perubahan pedangnya.
Karena merasa kesakitan Coh Siau-ih berteriak mengaduh,
tapi dia tetap melayangkan pedangnya untuk menyerang,
Wong Han-bwee tetap menggunakan cara tadi bertarung
dengan jarak dekat, begitu sinar lewat tangan kanan Coh
Siau-ih sudah tinggal separuh, saat itu dia terus mengadakan
perlawanan. Cia Hwie Cin-jin menarik nafas panjang, “Cohheng,
sudahlah, lebih baik mengaku kalah. Jangan bertarung
lagi!”
Sudut mulut Coh Siau-ih sudah robek, maka dia tidak bisa
bicara, dengan suara tidak jelas dia menjawab, “Aku....”
Kata 'aku' ini sangat sulit diucapkan, maka yang keluar
hanya kata 'ah' maka Cia Hwie Cin-jin berkata lagi, “Benar,
Coh-heng adalah ketua perguruan, Kau harus menahan
penghinaan ini karena kekuatan kalian kalah jauh untuk apa
bertahan terus, itu akan membuat malu perguruan kita sendiri
bukan?”
Coh Siau-ih terus memikirkan perkataan ini, akhirnya dia
mengerti pedangnya dilempar dan dia duduk di bawah, Wong
Han-bwee tertawa, “Apakah kau mengaku kalah?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Coh Siau-ih mengangguk, Liu Ban-mong berteriak dari
bawah panggung, “Nona, jangan pedulikan dia, mereka punya
rencana busuk.”
Wong Han-bwee tertawa, katanya, “Aku tahu, aku tidak
bodoh seperti perkiraanmu.”
Cia Hwie Cin-jin sedikit marah, “Coh-heng adalah ketua
sebuah perguruan, dia melepaskan pedang dan mengaku
kalah, bisa dikatakan ini adalah penghinaan yang sangat
besar, kau masih berkata seperti itu, apakah kau tidak
kelewatan?”
“Apakah kalian menganggapku hanya anak-anak?” kata
Wong Han-bwee.
“Mengapa kau mengatakan kalau kami punya rencana
busuk?” tanya Cia Hwie Cin-jin.
“Tadi aku menyerang 2 jurus, hanya kau yang bisa melihat,
kau menyuruh dia mengaku kalah, itu artinya menyuruh dia
menahan emosi dan menjaga nyawanya, sekali gus juga
mengingat-ingat jurusku kemudian kalian akan menciptakan
jurus-jurus untuk memecahkan jurusku, apakah benar
perkiraanku?” tanya Wong Han-bwee.
Karena rencana mereka sudah ketahuan maka wajah Cia
Hwie Cin-jin menjadi merah tapi dia tetap membela diri,
“Kalau kami bermaksud seperti itu juga bukan hal memalukan,
karena kekalahan membuat kami mendapatkan pengalaman,
kau selalu mengatakan kalau kalian adalah murid-murid Raja
Pedang, kenapa takut kalau orang lain tahu ilmu pedang
kalian?”
“Tadinya aku memang tidak ingin kalian tahu tapi setelah
mendengar kata-katamu, aku malah menjadi malu, sekarang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
aku akan mengulangi jurus-jurus yang kupakai tadi, biar kalian
bisa melihatnya dengan jelas, apakah kau puas?”
“Jangan, Nona!” Teriak Liu Ban-mong.
“Takut apa? Jurus yang kugunakan adalah jurus-jurus
buangan ayahku, biarlah mereka belajar, keluargaku disebut
Raja Pedang, kita tidak bisa hanya beromong kosong, paling
sedikit harus ada beberapa jurus boleh dipamerkan kepada
mereka.”
Kemudian pedang pendeknya diayunkan, di tengah udara
dia menunjukkan dua jurusnya, posisi tubuhnya seperti tadi
begitu juga dengan gerakannya, kecepatannya seperti kilat,
setelah itu dia bertanya kepada Coh Siau-ih, “Apakah jurusku
benar?”
Kedua mata Coh Siau-ih tetap terlihat bingung, sebenarnya
dia sudah melihat jurus yang dilakukan pertama kali, sekarang
Wong Han-bwee melakukannya untuk kedua kali tapi dia tetap
tidak mengerti, dia juga tidak tahu apa ada yang salah.
“Nona, kalau ingin memperlihatkan gerakan ilmu silat
kalian, mengapa tidak dilakukan lebih lambat? Supaya semua
orang di sini pun bisa melihatnya dengan jelas,” kata Cia Hwie
Cin-jin.
Dengan penuh kebencian Wong Han-bwee melihatnya, “Apa
katamu?”
“Apakah permintaanku ada yang salah?” tanya Cia Hwie
Cin-jin.
“Tidak ada, aku hanya curiga apakah kalian pantas disebut
sebagai perguruan pedang, apakah kedua jurus tadi bisa
dengan pelan diperagakan?” kata Wong Han-bwee dengan
dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Mengapa tidak bisa? Memangnya kecepatan yang
diperlambat akan mengganggu kekuatan dan perubahan ini,
dalam ilmu pedang semua hal berawal dari gerakan pelan
setelah lancar pasti bisa menguasainya, terakhir baru masuk
pada tahap ahli.”
Wong Han-bwee tertawa terbahak-bahak, “Sekarang aku
baru mengerti mengapa 5 perguruan tidak mendapat
kemajuan selama beberapa tahun ini, ternyata dari awal kalian
sudah ketinggalan, jurus pedang yang begitu bagus kalian
harus pelan-pelan mempelajarinya, seumur hidup kalian ini
sudah berapa jurus yang telah kalian kuasai?”
“Apakah cara Nona belajar ilmu pedang berbeda dengan
kami?” tanya Cia Hwie.
“Benar, sewaktu ayahku mengajar, beliau tidak pernah
menjelaskan begitu mengajarkan langsung dengan kecepatan,
kami pun ikut belajar, setiap jurus pedang beliau hanya
memperagakannya 3 kali, di awal bulan, tengah bulan, dan
akhir bulan, setelah itu harus kami sendiri yang mencari tahu
bisa mendapat berapa banyak.”
“Apakah hanya 3 kali diperagakan kalian sudah langsung
bisa?” tanya Cia Hwie.
“Jika setelah 3 kali diperagakan masih tidak bisa, orang itu
harus tinggal di rumahku untuk menjadi pelayan atau
pembantu, hari ini yang datang kemari adalah orang-orang
yang sudah melihat 3 kali jurus ayahku dan mereka sudah
menguasainya.”
Dengan sombong Heuw Liu-koan berkata, “Tuanku setiap
bulan mengajarkan satu set ilmu pedang, setengah tahun
untuk menghafal dan di akhir tahun akan ada ujian ilmu
pedang untuk kenaikan tingkat, kami memang bisa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
menguasainya setelah 3 kali belajar tapi kami lebih bodoh dari
nona, saat diperagakan kedua kalinya nona sudah bisa, maka
ilmu pedangnya paling lihai.”
Ma Kiu-nio juga dengan bangga juga berkata, “Nona bisa
memimpin kami kemari dengan usianya yang masih belia
bukan karena dia putri dari tuan kami, melainkan karena dia
mempunyai bakat yang besar, kedua putra tuan tidak memiliki
bakat sehebat nona, malah kemampuan mereka berada di
bawah kami, maka kedudukan mereka pun di bawah kami,
tuan tidak mementingkan bakat dan teknik silat, tidak ada pilih
kasih.”
Wong Han-bwee tidak sabar dan berkata, “Ma Kiu-nio, kau
benar-benar cerewet!”
“Hamba ingin memberitahu apa yang telah dikuasai tuan
kami benar-benar banyak, tinggi seperti gunung dalam seperti
samudra supaya mereka jangan melawan dan tidak mati
dengan sia-sia.”
Wong Han-bwee tertawa dingin, “Tidak berguna buat 5
perguruan, mereka mengira teknik mereka paling bagus, kalau
belum diberi pelajaran, mereka tidak akan sadar-sadar,
bagaimana, sekarang siapa yang akan keluar untuk
menghantarkan kematian?”
Tiga ketua saling berpandangan dan tidak berkata apa pun,
setelah mendengar cara Wong Han-bwee berlatih pedang
dalam hati mereka tidak percaya dengan keadaan seperti itu,
mereka baru tahu bahwa sebenarnya ilmu Wong Han-bwee
berapa tinggi, apakah benar mereka benar-benar di
bawahnya? Setelah lama diam akhirnya ketua Siauw-lim, Bu
Seng Taysu dengan kedua tangan dirangkapkan berkata, “Aku
akan terima ajaran dari Nona.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Han-bwee melihatnya dan berkata, “Hie-tiang-kiam
sudah kukeluarkan dari sarungnya, pedang ini adalah pedang
ganas, tapi dia juga mempunyai sifat tertentu aku sendiri tidak
bisa menguasainya, setelah keluar harus melihat
kesenangannya!”
“Aku tahu!” jawab Bu Seng Taysu.
“Mengapa sudah tahu masih mau mencari mati?” Wong
Han-bwee bertanya dengan dingin.
“Karena tanggung jawabku sebagai seorang ketua mati pun
tidak perlu disesalkan.”
“Aku tahu rencana kalian, kalian pasti sudah mengajarkan
ilmu pedang terbaik kalian kepada seseorang, dan perguruan
lain pun sudah menyiapkan murid-murid muda dan berbakat
untuk dipimpin orang ini, lalu pergi ke suatu tempat rahasia
untuk berlatih ilmu silat, untuk menjaga kelangsungan
perguruan kalian bukan?”
Wajah Bu Seng berobah dengan cepat, dia melihat Cia Hwie
Cin-jin, “To-heng, mengapa rahasia kami yang paling besar
pun bisa bocor?”
“Yang merencanakan ini hanya kita berlima, apakah Taysu
curiga di antara kita berlima ada yang tidak jujur?” tanya Cia
Hwie Taysu.
“Tidak juga, hanya aku takut....”
“Taysu takut orang yang ikut berlatih membocorkan rahasia
ini? itu benar-benar tidak mungkin, sebab tempat di mana
mereka bersembunyi kita pun tidak tahu, dan tidak akan bisa
ditemukan oleh orang lain, apalagi saat orang-orang itu akan
berangkat hanya 10 orang, jadi tidak akan bisa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
bersengkongkol dengan orang luar....” ucap Cia Hwie Cin-jin
sambil tertawa.
“Tapi mengapa Wong Han-bwee bisa tahu?” tanya Bu Seng
Taysu.
“Sebab Coh-heng tadi mengatakan kalau kita adalah orang
terkuat di perguruan, dengan kata-kata ini dia bisa
menduganya,” jawab Cia Hwie Cin-jin.
“Rahasia sudah bocor mungkin kelak kita akan mengalami
kesulitan!” kata Bu Seng Taysu.
“Ini adalah satu-satunya harapan, kita tidak bisa memilih
hanya bisa berharap mereka berhasil,” kata Cia Hwie Cin-jin.
Bu Seng Taysu terdiam lama, kemudian baru mengayunkan
pedang, berkata pada Wong Han-bwee, “Silakan!”
Dia mengayunkan pedang dengan serius, tidak
menganggap lawannya seorang gadis cilik, dia malah bersikap
seakan-akan meminta petunjuk.
Wong Han-bwee pun mengurangi kesombongan-nya, dia
juga memberi hormat, “Taysu, apakah kita harus bertarung?”
“Benar, Nona sudah tahu bagaimana keadaan kami, maka
pertarunganku ini hanya membuat generasi muda lebih
mengerti jurus-jurus Nona!” jawab Bu Seng.
“Tidak ada gunanya, ilmu pedangku tidak ada separuh dari
ayahku, kalian belajar pun tidak akan banyak membantu.”
“Ada gunanya atau tidak, tidak menjadi masalah, semua
akan ditentukan oleh generasi muda, tanggung jawab kami
hanyalah melakukan pertarunan ini,” kata Bu Seng Taysu.
“Baiklah, sekalian aku beritahu kepadamu, aku hanya punya
6 jurus ilmu pedang, bila Taysu bisa menahan 6 jurus ini, aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
akan pulang membawa orang-orangku, kemudian ayahku akan
menyuruh orang lain datang kemari berunding lagi, bila Guru
kalah dalam 6 jurus ini, Guru harus ikut aku pergi ke tempat
ayahku,” kata Wong Han-bwee.
Kemudian terlihat kelebatan pedang berkilau-kilau, 6 jurus
ini sekaligus diselesaikan hanya dalam waktu singkat,
jangankan melihat perubahan 6 jurus ini, apakah benar ada 6
jurus, tidak ada seorang pun yang mampu menghitungnya,
semua hanya melihat sinar berkelebatan kemudian
menghilang.
Bu Seng Taysu berkata, “Bila aku bisa melewati 3 jurus saja
aku sudah beruntung!”
“Kalau Taysu tidak percaya diri, lebih baik mencari orang
lain untuk mewakili Taysu, sebab bila pedang sudah di
tanganku seringkali aku tidak bisa menguasainya dan bisa
membunuh Taysu, padahal aku tidak ingin melukai orang
lagi!”
“Kalau aku mati, akan ada orang yang mewakiliku, apakah
orang itu akan bertekuk lutut kepadamu aku tidak bisa
menentukannya,” kata Bu Seng Taysu.
“Kau adalah seorang ketua apakah kau tidak bisa
menentukan sesuatu?” tanya Wong Han-bwee.
“Posisi ketua hanya sebuah kedudukan, semangat hukum
dalam perguruan kami adalah kata-kata tertinggi dan suci,
maka murid-murid Siauw-lim tidak ada yang sebelum
bertarung tapi sudah bertekuk lutut, ketua pun tidak bisa
mengubah peraturan ini,” kata Bu Seng.
“Kalau kalian masih terus memegang teguh peraturang ini,
mungkin generasi yang kalian harapkan tidak akan muncul,
semua orang-orang Siauw-lim akan mati semua, ayah sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
berpesan, dengan cara apa pun harus membawa salah satu
dari 5 ketua perguruan!”
“Biar semua Nona yang mengambil keputusan,” kata Bu
Seng Taysu.
Selesai berkata, pedang sudah digerakkan dangan tenaga
yang sangat dahsyat, Siauw-lim adalah perguruan agama
Budha, jurus pedangnya lebih cenderung pasif, tapi begitu
keluar sangat mantap, pedang Wong Han-bwee yang pendek
sangat ringan seperti angin yang berhembus masuk, terdengar
suara Wong Han-bwee sudah menggerakkan pedang dan Bu
Seng Taysu pun terjatuh, keempat jarinya masih menempel di
pedang dan terbabat buntung dari tangannya, hanya tersisa
ibu jari karena terhalang pedang.
Wong Han-bwee tertawa, “Taysu benar-benar seorang
Budha dan sangat sabar, sampai-sampai pedang yang ada di
tanganku ini ikut terharu dan mengurangi keganasannya,
apakah sekarang Taysu setuju ikut aku pergi?”
“Nona, sebenarnya aku sudah bisa bertahan berapa jurus?”
tanya Bu Seng Taysu.
“Dua jurus,” jawab Wong Han-bwee.
“Hanya dua jurus?”
“Taysu hanya mengeluarkan dua jurus, aku sudah
mengeluarkan 5 jurus, tapi 4 jurus pertama Taysu masih bisa
menahannya, ilmu dari perguruan Budha bukan ilmu biasa.”
Bu Seng Taysu mengangguk, “Tadinya aku mengira aku
hanya bisa menahan 3 jurus, tidak disangka bisa bertahan 5
jurus.”
“Keputusan apa yang Taysu ambil?” tanya Wong Han-bwee.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Pedangku terlepas, jariku putus, terpaksa aku harus
mengikuti Nona pergi,” jawab Bu Seng Taysu.
“Kalau begitu harap Taysu tunggu sebentar, aku masih
ingin mengundang ketua Bu-tong dan ketua Go-bi, bagaimana
dengan kalian berdua?” tanya Wong Han-bwee sambil
tertawa.
Ketua Go-bi, Keng In Suthay berkata, “Pinni melepaskan
niat bertarung dan mengikuti Nona pergi kesana.”
Mendengar keputusan Keng In Suthay, Cia Hwie Cin-jin
merasa aneh dan bertanya, “Suthay menerima kekalahan?”
Dengan santai Keng In Suthay menjawab, “Siauw-lim
menekankan ajaran Budha, Go-bi menekankan ajaran Can
(agama Budha bagian duduk diam dan berpikir, ajaran Can
adalah ajaran hati tidak ada yang disebut paling hina atau
paling mulia), aku ikut Nona Wong bukan berarti aku bertekuk
lutut kepadanya, aku pun tidak perlu dengan pertarungan
memberitahu bahwa aku tidak akan bertekuk lutut!”
“Tapi kau sudah berjanji kepada kami!” kata Cia Hwie Cinjin.
“Benar, In-tai, Kun-lun, Siauw-lim, 3 perguruan sudah
bertarung, Nona Wong pun sudah mengeluarkan hampir 10
jurus, gerakan 10 jurusnya sudah berapa banyak di pelajari,
tidak ada, bukan berhasil malah menambah masalah, maka
aku kira dengan mudah akan masuk ke jalan sesat,” kata Keng
In Suthay.
Wong Han-bwee tertawa, katanya, “Pendapat Suthay lebih
bagus, dari tadi aku sudah menekankan bila kalian ingin
mencari tahu apa maksud Raja Pedang, yang rugi adalah
kalian sendiri.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Bukan aku saja yang melepaskan niat bertarung, aku
nasihati dirimu supaya melepaskan niat bertarung, biar
generasi muda yang mencari tahu sendiri, mungkin mereka
bisa menemukan jalan yang benar, bila kita membawa mereka
ke jalan sesat malah akan membuat mereka mendapat
bencana,” kata keng In Suthay.
“Tapi mereka harus tahu cara memutuskannya,” kata Cia
Hwie Cin-jin.
“Kita hanya mempunyai satu cara untuk bertahan hidup,
jangan biarkan mereka berada dalam bahaya,” kata Keng In
Suthay.
“Kalau begitu kalian setuju ikut?” tanya Wong Han-bwee.
“Benar, tunjukkanlah tempatnya, biar kami pergi sendiri,
Nona,” kata Cia Hwie sambil mengangguk. Wong Han-bwee
tertawa, “Tidak ada tempat lain, kalian tinggal di sini, suruh
orang lain untuk membubarkan rapat ini dan meninggalkan
tempat ini, tidak boleh tersisa seorang pun, dan aku akan
membawa kalian ke sana!”
“Tiga orang sudah terluka,” kata Cia Hwie.
“Tidak apa-apa, aku akan bertanggung jawab mereka tidak
akan mati,” jawab Wong Han-bwee.
Kemudian Wong Han-bwee berteriak ke bawah panggung,
“Orang-orang yang ada di tenda boleh menyisakan seorang
wakil yang lainnya turun dari gunung ini, satu jam kemudian
kalian harus pergi dari sini sejauh 5 kilometer!”
“Mengapa kami harus mendengar perintahmu?” tanya Lim
Hud-kiam dengan marah.
Wong Han-bwee tertawa, “Kelompok kalian khusus mau
pergi atau tinggal boleh saja, tinggal pilih, tapi kau harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
memberitahu orang itu suruh dia mengeluarkan Pit-kip jilid
pertama.”
“Aku tidak mau memberitahunya!” jawab Lim Hud-kiam.
“Mau atau tidak, kau sendiri yang mengambil keputusan,
yang penting hari ini aku tidak akan memaksa-mu, tapi bila
kau ingin mencari masalah denganku tidak apa-apa, kau
sendiri yang bisa mengambil keputusan,” kata Wong Hanbwee.
Melihat sikap Wong Han-bwee seperti itu Lim Hud-kiam sulit
menebak apa yang dia kehendaki, Lim Hud-kiam tidak bisa
mengambil keputusan.
Wong Han-bwee berkata lagi, “Karena Kian-kun-kiam-pai
menjadi wasit dalam rapat akbar ini, maka kedudukan kalian
sangat khusus, jadi aku tidak akan memaksa, bila ingin pergi
bisa mewakilkan satu orang, kalau tidak aku mohon tinggalkan
tempat ini.”
“Kalau kami tidak mau meninggalkan tempat ini,
bagaimana?” tanya Kie Pi-sia.
“Tidak mau meninggalkan tempat ini berarti ada di sini, tapi
aku nasihati, demi kebaikan kalian lebih baik tinggalkan
tempat ini, kalian tidak sama dengan Lim Hud-kiam, karena
dia mendapatkan tugas yang kuberikan, paling hanya anak
buahku yang sungkan kepadanya, kalau kalian berbeda.”
“Apa yang berbeda?” tanya Goan Hiong.
Sambil tertawa Wong Han-bwee menjawab, “Kalau kalian
tinggal di sini dan menurut, tentu tidak akan menjadi masalah,
tapi kalau kalian macam-macam, yang rugi adalah kalian
sendiri, aku sudah memberi-tahu kalian terlebih dulu, kalian
bisa berunding, baru mengambil keputusan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Goan Hiong dan Kie Pi-sia tidak tahu apa maksudnya,
karena Ciam Giok-beng pun hanya diam saja tidak memberi
petunjuk, maka mereka terpaksa diam menunggu.
Kemudian wajah Wong Han-bwee menjadi serius lalu
berkata, “Orang yang harus pergi, cepat pergi, aku harap
ketua dari 5 perguruan menjadi contoh supaya aku tidak
menjadi repot, meski sedikit repot tidak apa, tapi kalian harus
menggantinya dengan nyawa kalian, ini adalah hal bodoh
maka aku harap kalian bisa lebih pintar!”
“Tapi dari setiap perguruan ada yang mati atau terluka,
apakah kami harus membiarkannya, demi keperimanusiaan
aku harap Nona mengijinkan kami membereskan mereka
dulu.”
Kata Wong Han-bwee, “Satu jam kemudian kalian bisa
kembali untuk membereskan mayat-mayat itu, yang masih
hidup tapi terluka harus dibawa pergi.”
“Bila terluka parah dan susah bergerak bagaimana?” tanya
Cia Hwie Cin-jin.
“Kalau tidak bisa dipindahkan, aku akan membereskan
sendiri, ini adalah kata-kata terakhirku, aku harap kalian
jangan cerewet!”
Melihat dia sudah tidak sabar, Cia Hwie Cin-jin melayangkan
tangan menyuruh murid-murid Bu-tong mundur dan turun dari
gunung, murid-murid Kun-lun, In-tai, tadinya tidak akan pergi,
tapi setelah mendengar nasihat dari murid-murid Siauw-lim
dan Go-bi, mereka pun mundur juga.
Pendekar-pendekar yang tersisa hanya Ciu Giok-hu, Tiang
Leng-cu, suami istri Thio In dari Thian-san, suami istri Kimleng,
Lie Hoan-tay dari Huang-san, dua bersaudara Hie dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lok-yang, kemudian Liu Ta-su dan beberapa orang Kian-kunkiam-
pai.
Wong Han-bwee tertawa, berkata, “Baik, semua orang
sangat menurut padaku. Orang yang tinggal sangat berbakat,
Lo Liu, tutup dan bersihkan jalan!”
Liu Ban-mong segera menyahut dan bersiul, dari mulut
gunung keluar sekelompok laki-laki kampung, jumlah mereka
7-8 orang, mereka membawa pedang panjang.
7-8 orang itu separuh berada di gunung untuk mengawasi
orang-orang yang turun gunung, sebagian lagi memeriksa
semak-semak, gerakan mereka cepat juga lincah.
Tidak lama kemudian terdengar ada teriakan yang
memilukan dan berturut-turut, wajah orang-orang yang ada di
lapangan segera berubah, hanya Wong Han-bwee yang
bersikap tenang seperti biasa, dia tertawa dingin, “Tadi aku
sudah memberitahu tapi masih saja ada yang bersembunyi di
balik semak-semak, jadi jangan salahkan aku.”
5 ketua dari 5 perguruan merasa terkejut, karena yang
tersisa pasti murid-murid mereka, mereka bersembunyi di
tempat rahasia tapi tetap tidak bisa lolos dari mata dan telinga
orang-orang Wong Han-bwee, karena dia sudah menaruh
orang-orang untuk bercampur dengan pendatang untuk
mengawasi gerak-gerik orang yang datang.
Wajah 7-8 orang ini sangat biasa, baju yang mereka
kenakan pun biasa, senjata yang tersimpan di balik baju sama
sekali tidak menarik perhatian orang tapi ilmu silat mereka
tinggi, dari cara mereka membunuh bisa terlihat, begitu
teriakan memilukan terdengar mereka sudah pindah ke tempat
berikutnya, tidak bertarung dalam waktu lama.
Lim Hud-kiam marah besar, “Apa yang kau lakukan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Membersihkan tempat, aku tidak ingin dilihat orang-orang
saat aku meninggalkan tempat ini. Bukankah tadi aku sudah
memberitahu tapi masih ada saja yang ingin mencari mati, aku
tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Banyak orang kami yang masih ada di sana,” kata Lim
Hud-kiam.
“Kalian sudah aku ijinkan tinggal,” jawab Wong Han-bwee.
“Bila aku ingin pergi, tidak ada orang yang bisa
menghentikanku, termasuk kalian, tapi aku harus
membersihkan tempat ini demi menjaga wibawaku,” jawab
Wong Han-bwee.
Lim Hud-kiam berusaha menahan kemarahannya, beberapa
lelaki yang bertanggung jawab membersihkan tempat itu
sudah kembali, mereka membungkukkan badan memberi
hormat dan berkata:”Lapor Nona, tugas membersihkan tempat
ini sudah selesai!”
“Apakah sudah beres semua?” tanya Wong Han-bwee.
“Setiap orang bertanggung jawab mengawasi satu arah,
memperhatikan orang yang datang, dan tidak ada yang
tertinggal!” jawab seorang lelaki.
“Tersisa 1-2 orang pun tidak masalah, aku hanya ingin
membuat mereka tunduk kepadaku, sekarang berikan
pengobatan kepada kedua orang ini.”
Dia menunjuk Gouw Tai-cang dan Coh Siau-ih, Liu Banmong
mengeluarkan sebungkus obat bubuk, karena Gouw Taicang
tidak bisa bergerak maka dia tidak bisa berbuat banyak,
di tempat di mana kakinya dipotong dibubuhi obat itu,
kemudian diletakkan di bawah, Coh Siau-ih menolak diobati,
tapi jari Liu Ban-mong bergerak dengan cepat, menotok
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
nadinya, kecepatannya membuat orang tidak sempat
melakukan perlawanan.
Akhirnya Coh Siau-ih menurut menerima pengobatan ini,
Wong Han-bwee tertawa dan berkata, “Kedua orang ini masih
marah, maka nadinya tidak dibuka dulu, kita bawa mereka
pergi, ketiga ketua lainnya lebih tahu diri, biar mereka berjalan
dengan bebas, Lo Liu, kita siap berangkat!”
Lim Hud-kiam memperhatikan gerak-gerik mereka karena di
gunung ini hanya ada sebuah jalan, dan jalan ini adalah jalan
yang dilalui untuk turun dan naik di gunung ini, tapi mereka
sudah menutup jalan bila mereka ingin pergi diam-diam itu
tidak mungkin. Dia ingin melihat mereka akan melakukannya
dengan cara apa.
Liu Ban-mong mendekati jurang lalu bersiul, terlihat muncul
seseorang dari gunung sebelah sana, puncak kedua gunung
itu hanya sekitar 100 meter, di tengah-tengahnya adalah
lembah, selain burung tidak mungkin ada orang yang bisa
terbang ke seberang gunung, apakah mereka akan melewati
jalan ini?
Terlihat orang yang ada di seberang gunung memasang
busur dan panahnya, lalu panahnya dilepaskan ke arah
gunung ini, panah itu membawa seutas tali melewati langit
dan tiba di gunung sebelah sini.
Liu Ban-mong mengumpulkan tali kecil itu dan
mengencangkannya, karena jaraknya terlalu jauh maka tali
kecil itu terus bergoyang-goyang di tengah udara.
“Apakah kita akan melalui jalan itu?” tanya Cia Hwie Cin-jin
dengan terkejut.
“Benar, dengan jalan pintas kita akan tiba di seberang
gunung, tidak ada yang bisa menguntit kita, aku yakin kalian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
tidak terpikir dengan cara ini bukan?” kata Wong Han-bwee
sambil tertawa.
“Tapi dengan mengandalkan tali kecil itu untuk
menyeberangi gunung ini kami tidak akan sanggup,” kata Cia
Hwie Cin-jin.
“Tenanglah, itu tidak akan membuatmu terjatuh hingga
mati,” Wong Han-bwee masih tertawa.
Cia Hwie Cin-jin tidak menjawab, dia segera menggeserkan
tubuhnya untuk memanjat tali itu, kuda-kudanya sangat
mantap tapi tali yang ada di tengah menggantung ke bawah,
Ma Kiu-nio yang berada di depan terus bergoyang, tapi dia
tidak memegang tali, dan pelan-pelan terus berjalan, angin
berhembus, jembatan yang terbuat dari tali membuat tubuh
Cia Hwie Cin-jin seperti terpaku di pagar jembatan, sama
sekali tidak bergerak.
Wong Han-bwee berkata kepada Liu Ban-mong, “Kalian
lihat, ilmu pedang Bu-tong memang tidak begitu bagus, tapi
tekniknya sangat mantap.”
Liu Ban-mong tertawa tapi tidak mengatakan sesuatu, dia
menggendong Coh Siau-ih yang merupakan orang ketiga yang
akan memanjat jembatan itu. Wong Han-bwee menunjuk
Tiang Leng-cu yang akan mendapat giliran berikutnya, Tiang
Leng-cu merasa takut tapi akhirnya dia tetap naik juga, dia
berjalan dengan sangat hati-hati, kedua tangannya memegang
erat jembatan tali itu.
Wong Jin-jiu menggendong Gouw Tai-cang, mereka kelima
yang akan menyeberang, kemudian Wong Han-bwee
membawa pesilat pedang satu per satu, terakhir Lie Hoan-tay
yang naik, hanya tersisa Ciu Giok-hu, Heuw Liu-koan, dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Han-bwee, lalu Wong Han-bwee menunjuk dan
memerintah, “Liu-koan, sekarang kau yang pergi.”
“Aku yang terakhir saja, Nona,” jawab Heuw Liu-koan.
“Apakah kau sanggup, di sini masih banyak orang! Mereka
memang tidak akan naik jembatan ini tapi tidak menjamin
mereka tidak akan menyerang di tengah-tengah.”
“Karena itulah hamba tidak mengijinkan Nona berada dalam
bahaya,” kata Heuw Liu-koan.
Wong Han-bwee marah, bentaknya, “Pergilah, bila Lim Hudkiam
menyerang, apakah kau bisa menghalanginya? Jangan
lupa kau bisa turun dari panggung karena tendangannya.”
“Dengan cara apa pun hamba akan melindungi Nona
menyeberang,” jawab Heuw Liu-koan.
“Kau begitu percaya diri, tapi aku tidak percaya kepadamu,
di bawah sana adalah jurang yang dalamnya ratusan meter,
aku tidak ingin mati di sini, cepat pergi.”
Heuw Liu-koan tidak berani membantah lagi, dengan cepat
dia menyeberangi jembatan yang terbuat dari tali itu, Wong
Han-bwee memaksa Ciu Giok-hu naik, kemudian dia baru
berkata kepada orang yang di belakangnya, “Kalau kalian
mau, kalian boleh naik jembatan ini.”
Tiba-tiba Pui Ciauw-jin berkata, “Aku ingin melihat
kehebatan Raja Pedang.”
Dia naik jembatan tali itu, Ho Gwat-ji pun mengikuti nya, di
belakang Goan Hiong berteriak, “Ji-siok, untuk apa ikut-ikutan
keramaian ini?”
Pui Ciauw-jin yang sudah di atas jembatan berkata, “Dari
perguruan kita harus ada yang ke sana untuk melihat-lihat,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kalian kembalilah ke Kim-leng, aku akan menitipkan surat
kepada kalian.”
Begitu semua sudah tiba di seberang gunung, Wong Hanbwee
tertawa, “Apalah tidak ada yang mau menyeberang lagi?
Baiklah, tidak lewat setengah bulan orang-orang ini akan
kembali, saat Raja Pedang datang semua orang akan tahu,
kematian atau bertekuk lutut untuk menerima pimpinan nya,
silahkan kalian sendiri memilihnya, Lim Hud-kiam, jangan lupa
cari orang itu.”
“Apakah Lembah Raja Pedang adalah tempat tinggal
ayahmu?” tanya Lim Hud-kiam.
“Benar, setengah bulan kemudian di sana adalah markas
pusat Raja Pedang, di sana juga akan menjadi tempat suci
bagi orang yang ingin melihat Raja Pedang.”
Lim Hud-kiam menggelengkan kepala, “Tentu bukan aku,
sebab pedangku adalah pedang tumpul, namaku Hud-kiam,
walaupun ayahmu Raja Pedang tapi di dunia ini ada aturan
buat raja, tidak ada Budha (Hud) yang mengunjungi raja,
Budha ada di atas raja.”
Wong Han-bwee tertawa, berkata, “Baik, sangat baik,
setengah tahun kemudian aku harap kata-kata ini masih bisa
kau ucapkan dengan lantang, segera cari orang itu, beritahu
kepadanya kalau ingin menyembuhkan penyakit yang
membuat tubuhnya lumpuh, dia harus mendapatkan Pit-kip
jilid kedua, maka suruh dia datang sendiri kemari.”
“Aku tidak akan kesana, dan aku pun tidak akan datang
kemari,” jawab Lim Hud-kiam.
“Apakah kau mau pergi atau tidak itu urusanmu, apakah dia
akan datang atau tidak itu urusannya, kau tidak bisa mewakili
dia mengambil keputusan, tapi paling sedikit kau harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
memberitahu kepadanya!” kata Wong Han-bwee sambil
tertawa.
“Memberitahu kepadanya pun percuma, karena dia sudah
cacat, dengan cara apa dia bisa merebut Pit-kip jilid kedua dari
kalian?” tanya Lim Hud-kiam.
“Asal dia mau datang kemari, kami akan memberikan buku
jilid kedua tanpa syarat kepadanya, membantu dia
mengembalikan ilmu silatnya, setelah itu baru kami akan
bertarung, ilmu pedang ayahku sudah melewati apa yang
tercatat di dalam Pit-kip, maka ayahku sama sekali tidak peduli
padanya!”
“Kalau begitu mengapa tidak kau serahkan Pit-kip jilid
kedua itu kepadanya?” tanya Lim Hud-kiam.
“Siapa bilang aku tidak akan memberikannya? ayahku
sudah berpesan orang yang mempunyai jilid kedua harus
menyerahkan Pit-kipnya kepada pemilik jilid pertama, jadi dia
akan mendapatkan jilid kedua kecuali aku sendiri yang tidak
mengijinkannya memberikan Pit-kip itu kepada orang kedua,”
kata Wong Han-bwee.
“Kalau begitu aku tidak perlu memberitahu lagi karena dia
sudah memusnahkan jilid pertama, selamanya dia tidak akan
bisa keluar percuma saja memberitahunya,” kata Lim Hudkiam.
“Apakah dia memusnahkannya di depanmu?” tanya Wong
Han-bwee.
“Tidak, tapi aku percaya pada kata-katanya.” Wong Hanbwee
berkata, “Hal yang kita lihat, kita pun belum tentu akan
percaya, apalagi kau hanya mendengar ceritanya. Dia sudah
memusnahkan bukunya tapi dia tentu masih ingat isinya, lebih
baik suruh dia kemari, kalau ada buku serahkan bukunya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kalau tidak ada bukunya suruh dia bacakan, dia memberi satu
kalimat kami juga akan memberikan satu kalimat, kalau dia
memberikan semua kami juga akan memberikan semuanya.”
Lim Hud-kiam terdiam, Wong Han-bwee berkata lagi, “Kalau
tidak ada yang mau ikut lagi, aku akan memutuskan tali ini,
bila jembatan sudah putus ingin ikut pun tidak akan bisa lagi.”
Tidak ada yang menjawab, Wong Han-bwee berjalan ke
arah jembatan tali, kemudian dengan pedangnya dia menepis
tali jembatan itu, jembatan pun terputus, dan jatuh ke jurang,
Wong Han-bwee bersama-sama dengan tali itu ikut jatuh ke
bawah.
Tapi dia terlihat sangat tenang, kakinya menginjak tali
jembatan seperti naik tangga, terus naik ke atas, tangannya
sama sekali tidak memegang sesuatu.
Saat tali yang terjatuh dan sudah sampai di dinding jurang,
dia sudah tiba di puncak, kemudian dia melambaikan tangan
dan masuk ke puncak gunung lalu menghilang ditelan kabut
tebal.
Orang-orang yang ada di sana tidak ada yang bersuara,
Goan Jit-hong menarik nafas panjang, “Menurut kata-kata
orang dulu kalau naik ke Tai-san akan melihat dunia menjadi
kecil, sungguh tidak salah, kali ini aku ke Tai Shan benarbenar
telah terbuka mataku, selama puluhan tahun berlatih
pedang semua percuma saja.”
“Paman Goan, aku tidak setuju dengan pendapat mu, aku
kira dia hanya berbakat saja, dan kebetulan mendapat
kesempatan, ilmu pedang tetap harus mengandalkan teknik
yang benar,” kata Kie Pi-sia.
“Apakah ilmu pedangnya tidak benar? Aku telah
mengawasinya dengan lama, aku rasa dia memang punya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
jurus-jurus yang bagus dan jurus-jurus ini dia dapatkan dari
belajar dan mengumpulkannya, yang lainnya kita tidak tahu,
contohnya seperti tadi saat dia memotong tali jembatan
kemudian dia menaikinya, siapa yang mampu melakukan-nya?
Putrinya saja sudah hebat ini apalagi ayahnya, kurasa aku
sendiri sudah tidak pantas berkelana di dunia persilatan lagi,
lebih baik pulang kampung menjadi petani.”
“Paman Goan, apakah Paman akan melepaskan ilmu silat
paman?” tanya Kie Pi-sia.
“Aku tidak akan bisa mengalahkan Raja Pedang, tapi aku
juga tidak mau bertekuk lutut di bawah pimpinannya, aku
memilih melepaskan ilmu pedangku,” jawab Goan Jit-hong.
Ciam Giok-beng menarik nafas dengan sedih berkata,
“Bukan Goan-heng saja, aku pun akan seperti itu, tadinya aku
mengira dengan Tay-lo-kiam-hoat, meskipun tidak bisa
dikatakan terbaik tapi paling sedikit tidak berbeda jauh, tapi
setelah melihat kejadian hari ini aku benar-benar merasa
menjadi seperti seekor katak dalam sumur, katak masih bisa
melihat langit, sedangkan aku....”
“Tapi Guru aku tidak akan mengaku kalah,” kata Kie Pi-sia
dengan marah.
“Kau tidak ingin mengaku kalah, apa yang bisa kau jadikan
pegangan?” tanya Ciam Giok-beng.
“Tay-lo-kiam-hoat yang kita miliki,” jawab Kie Pi-sia.
“Tay-lo-kiam-hoat? Berapa banyak yang kau tahu mengenai
Tay-lo-kiam-hoat?”
“Guru, berapa banyak yang Guru mengerti mengenai Taylo-
kiam-hoat? Saat kakek guru mewariskan Tay-lo-kiam-hoat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kepada Guru, berapa banyak yang kakek guru tahu?” tanya
Kie Pi-sia.
“Apa maksumu, Pi-sia?”
“Saat kakek guru menciptakan Tay-lo-kiam-hoat, beliau
mengira itu sudah sempurna, tapi begitu sampai di tangan
Guru masih ada beberapa bagian yang harus diubah, apakah
kita tidak bisa mengubahnya lagi? Aku percaya Tay-lo-kiamhoat
tidak terbatas, hanya saja kita belum berusaha
semaksimal mungkin, aku mengaku kalau ilmu itu sekarang
belum sebagus orang lain, tapi aku tidak mungkin selamanya
akan kalah dari orang lain, kalau Guru tidak ingin
meneruskannya, berikanlah perguruan ini kepada kami, dan
biar kami yang mengurusnya.”
“Hanya ada batas waktu sampai setengah bulan, apakah
orang lain mau menunggumu pelan-pelan meneliti Tay-lokiam-
hoat? Pikiranmu harus dewasa sedikit, Pi-sia.”
“Aku bukan menginginkan semua orang pergi untuk
mengantarkan kematiannya, aku hanya minta Guru tidak
membubarkan perguruan, Guru bisa mundur dari dunia
persilatan tapi aku harus bertahan terus sampai aku tidak
bernafas, aku tidak akan bertekuk lutut.”
Goan Hiong dengan hati bergejolak berkata, “Aku pun
selamanya akan ikut Suci!”
“Aku pun demikian, aku tidak akan membiarkan perguruan
kita bubar dan aku tidak akan tunduk kepada siapa pun, asal
semangat juang ini tidak luntur, semangat Kian-kun pasti akan
abadi,” kata Pui Thian-hoa.
Melihat ketiga muridnya begitu bersemangat, hati Ciam
Giok-beng merasa senang sekaligus malu, “Kelihatannya aku
benar-benar sudah tua, kalian punya semangat seperti ini aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
ikut senang, kalau kalian begitu bersemangat, apakah aku bisa
tidak mempedulikan pada nyawaku yang sudah tua ini?”
Kie Tiang-lim baru berkomentar, “Suheng, semangat anakanak
sangat tinggi, kita yang lebih tua harus mendukung
mereka, tapi hal ini bukan hanya dengan semangat saja bisa
diselesaikan dan dipertahankan, Kian-kun-kiam-pai tidak boleh
dibubarkan tapi kita pun jangan melawan senjata dengan
tubuh, kalau tidak kita bisa mati semua, akhirnya yang kita
dapatkan hanya perjuangan bodoh dan sia-sia!”
Ciam Giok-beng menarik nafas panjang, “Sute, kata-katamu
percuma saja, semua orang tahu hal ini sangat penting, dalam
keadaan sulit kita harus mempertahankan kehidupan!”
“Hal yang terjadi begitu tiba-tiba, aku tidak tahu apa yang
bisa kita perbuat kalau kedua-duanya berjalan beriringan,
sekarang masih ada waktu, kita tunggu suami istri Pui pulang,
baru kita bisa mengambil keputusan,” kata Kie Tiang-lim.
Semua orang terus berpikir, tetap tidak menemukan cara,
akhirnya Ciam Giok-beng berkata, “Masalah ini bukan hanya
menjadi masalah perguruan kita, terpaksa kita harus
menunggu Adik Pui pulang baru bisa mengambil keputusan,
Tuan Lim, apa yang kalian putuskan?”
Semenjak Wong Han-bwee membawa semua orang pergi,
Lim Hud-kiam terus mengerutkan alisnya terus berpikir,
setelah mendengar pertanyaan Ciam Giok-beng dia baru
menjawab, “Sementara ini belum ada keputusan.”
“Apakah Lim Toako akan pergi mencari orang itu?” tanya
Goan Hiong.
Lim Hud-kiam menggelengkan kepala.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku tidak mau mencarinya, bila Pit-kip itu bisa
menaklukkan mereka, maka mereka tidak akan menyerahkan
jilid kedua, kalau tidak bisa menaklukkan mereka untuk apa
mencari orang itu?”
Liu Ta-su dengan cemas berkata, “Bukankah orang itu
pernah memberitahu kalau ilmu silat yang ada dalam Pit-kip
bisa menaklukkan Ngo-heng-kiam-hoat?”
“Orang itu tidak memberitahu kalau Pit-kip itu ada dua jilid
maka aku harus memikirkan lebih teliti mengenai katakatanya,”
jawab Lim Hud-kiam.
“Mungkin dia sendiri juga tidak tahu ada jilid kedua,” kata
Liu Hui-hui.
Lim Hud-kiam tertawa kecut, katanya, “Aku harap begitu,
kalau tidak aku benar-benar akan merasa sedih, kalau dia
membohongiku semua perjuanganku tidak akan ada artinya
lagi!”
Yu Bwee-nio dengan serius berkata, “Suamiku, perjuangan
yang kau lakukan memang suruhan orang itu tapi kejadian
hari ini bukan disebabkan olehnya, kau hanya mempunyai dua
jalan, demi menjaga keadilan, hancur lebur pun tidak menjadi
masalah, kami dua bersaudara selamanya akan mengikutimu
demi mendukung cita-cita muliamu, kedua, kakakku sudah
berobah dari musuh menjadi teman, karena alasan ini Paman
Liu dan Nona Liu jauh-jauh datang mendukungmu, semua
karena alasan ini, mengapa hanya terjadi sedikit perubahan
kau malah patah semangat?”
“Benar, Hud-kiam, aku dan Hui-hui menaruh harapan besar
kepadamu, kau jangan membuat kami kecewa, jujur saja, dulu
aku mendukungmu karena Hui-hui, tapi sekarang aku benarbenar
suka padamu, anak muda!” kata Liu Ta-su.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Di depan orang-orang yang mendukungnya, Lim Hud-kiam
menjadi malu, lama dia terdiam baru berkata, “Aku hanya
bercerita tapi perjuanganku tetap diteruskan!”
“Caranya seperti apa, kami akan ikut perintahmu!” kata Liu
Ta-su.
“Orang-orang Lembah Raja Pedang pun sudah pergi,
kelihatannya Wong Han-bwee sengaja melepaskan aku, ini
pasti bukan tanpa alasan!” kata Lim Hud-kiam sambil terus
berpikir.
“Itu sudah pasti, mungkin dia sudah memasang mata-mata
untuk mengawasimu dan terus menguntitmu, karena dia ingin
kau mencaritahu tentang orang itu,” kata Liu Ta-su.
“Paman sudah tahu apakah aku harus tetap mencari orang
itu?” tanya Lim Hud-kiam sambil tertawa.
“Tetap harus pergi, kau harus mencari tahu apa maksud
orang itu tapi kau harus hati-hati, jangan sampai memancing
setan datang,” kata Liu Ta-su.
“Orang-orang Lembah Raja Pedang selalu berada di tempat
tersembunyi, ingin lepas dari pengawasan mereka tidak
mudah!” kata Lim Hud-kiam.
“Tapi orang kita pun tidak sedikit jumlahnya, begitu banyak
orang yang ingin melindungimu, pasti kalau kau pergi tidak
akan diketahui mereka, apalagi kau sangat pintar, masa takut
kalah dari mereka?” Liu Ta-su tertawa.
“Bila Tuan Lim butuh bantuan, kami akan sekuat tenaga
mendukung dan mendengar perintahmu, apa yang kau
rencanakan kami akan melaksanakannya!” kata Ciam Giokbeng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Terima kasih, aku benar-benar berterima kasih kepada
kalian,” sahut Lim Hud-kiam.
“Tidak perlu sungkan, sebab ini adalah masalah semua
orang, kami akan sekuat tenaga membantumu, bukan karena
kami ingin tahu di mana orang itu berada, dan kami rela
dipimpin olehmu, kau bisa menyuruh kami pergi ke tempat
lain untuk memancing perhatian musuh, kemudian kau bisa
mencari orang itu!” kata Ciam Giok-beng.
“Aku percaya kepada Ciam Cianpwee yang bersikap terangterangan
dan tanpa pamrih,” kata Lim Hud-kiam.
“Syukurlah kalau kau percaya, supaya tidak curiga aku
harus demikian, demi plakat dunia persilatan banyak hal yang
akan kami lakukan tapi kalau tidak menguntungkanmu, aku
merasa malu, tapi jangan salahkan kami sebab Bu-tong telah
menipu kami, karena itu aku merasa kami harus berbuat
sedikit kebaikan kepadamu!”
“Apa yang dititipkan Bu-tong pada Cianpwee?” tanya Lim
Hud-kiam.
Ciam Giok-beng menghela nafas panjang, “Sejak kau
muncul di tengah perjalanan dan memberikan plakat, Cia Bu
To-jin menganggap kalau kau adalah orang yang mencuri
plakat itu, memang dia tidak mengatakan kalau kau yang
mencurinya tapi dia menganggap kalau kau mempunyai
hubungan erat dengan orang yang mencuri plakat, maka dia
berusaha membuat semua perhatian pendekar ditujukan
kepadamu.”
“Benar, aku memang mempunyai hubungan dengan orang
yang mencuri plakat,” kata Lim Hud-kiam.
“Dan mereka tahu kalau Pit-kip dunia persilatan ada dua
jilid, setelah orang itu mendapatkan Pit-kip, dia akan menjadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
lumpuh tapi akan berusaha untuk mendapatkan Pit-kip jilid
kedua,” kata Ciam Giok-beng.
“Mereka memang berpikir seperti itu,” kata Lim Hud-kiam.
“Dan mereka menganggap kau datang mewakili orang itu
untuk mengambil jilid kedua, maka mereka menyimpan
rahasia di plakat dunia persilatan yang palsu supaya kau bisa
mendapatkannya, dan mereka menganggap kau pasti yang
akan mendapatkan plakat itu,” kata Ciam Giok-beng.
“Tapi mereka salah menduga,” kata Lim Hud-kiam sambil
tertawa.
“Tidak juga, kalau tidak ada orang-orang Raja Pedang yang
muncul di tengah-tengah, orang lain tidak akan bisa
mengalahkanmu!” kata Ciam Giok-beng.
“Aku tidak berpikir seperti itu!”
Ciam Giok-beng menggelengkan kepala, “Tidak, 5
perguruan sudah ada persiapan, bila pesilat perguruan mereka
mengalahkanmu mereka akan berusaha mengatur pesilat lain
untuk mengalahkan pesilat tangguh supaya kau bisa
mendapatkan plakat dunia persilatan, tidak disangka di tengah
jalan muncul orang-orang Raja Pedang, dan merusak rencana
5 perguruan!”
“Setelah aku berhasil mendapatkan Pit-kip jilid kedua, apa
rencana mereka selanjutnya?” tanya Lim Hud-kiam.
“5 perguruan akan menggunakan pesilat-pesilat tangguh
untuk mengawasi dan membuntutimu dengan tujuan mencari
orang yang mendapatkan plakat asli supaya jilid pertama
kembali ke tangan mereka!”
“Apakah Tetua tahu rencana ini?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku sendiri yang tahu karena 5 perguruan pernah
mengatakan secara rahasia kepadaku, mereka ingin aku
menjadi wasit supaya rencana ini bisa terlaksana,” kata Ciam
Giok-beng.
“Apakah Guru setuju?” tanya Goan Hiong.
“Dari gerakan Tuan Lim, aku percaya hal ini benar maka
aku setuju,” jawab Ciam Giok-beng.
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Kecurigaan 5 perguruan
tidak salah, Cianpwee tidak perlu merasa tidak enak
karenanya.”
“Tidak, mereka tetap sudah menipuku, mereka tidak
membicarakan tentang ketua Ngo-heng-kiam, mereka hanya
mencari tahu tentang plakat yang menghilang, tapi
meremehkan bahaya besar yang datang, ini benar-benar tidak
pantas,” kata Ciam Giok-beng.
“Masalah ketua Ngo-heng-kiam sudah terjadi 60 tahun yang
lalu, mareka mereka tidak mengikuti jadi mereka tidak
percaya.”
Ciam Giok-beng menghela nafas panjang, “Dari perkataan
Gouw Tai-cang, aku baru tahu kalau mereka terlalu
mementingkan plakat yang hilang, sedangkan masalah Sun
Soan-cu yang mengalahkan generasi atasnya, mereka merasa
itu sebuah penghinaan besar, perguruan lurus dan besar
hanya mementingkan kepentingan sendiri dan tidak
memikirkan kepentingan banyak orang, benar-benar
membuatku kecewa, sebaliknya apa yang dilakukan Tuan Lim
benar-benar di luar dugaanku, kau sangat mengerti mana
yang salah dan mana yang benar,” kata Ciam Giok-beng.
“Aku tidak mempunyai sesuatu yang patut dipuji!” kata Lim
Hud-kiam malu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Apakah Tuan Lim akan mengalami kesulitan bila harus
merebut plakat dari tangan Wong Han-bwee?”
“Aku tidak tahu, harus bertarung dulu baru bisa
memastikan.”
“Tapi Tuan Lim sudah mundur sebelum bertarung
dengannya, dari sini dapat membuktikan kau sama sekali tidak
tahu mengenai Pit-kip kedua juga tidak bermaksud untuk
mengambilnya, hal ini tidak bisa dipungkiri lagi,” kata Ciam
Giok-beng.
“Aku mengikuti rapat akbar ini karena ingin tahu apakah
ketua Ngo-heng-kiam akan muncul? Aku tahu ketua Ngoheng-
kiam adalah orang yang bisa mengancam keselamatan
dunia persilatan, walaupun sebelum rapat akbar ini aku tidak
yakin tapi dari kata-kata Wong Han-bwee bisa dibuktikan
kalau itu tidak salah,” kata Lim Hud-kiam.
“Maksud orang yang mendapatkan plakat itu apa aku tidak
tahu, tapi maksud dari Tuan Lim sudah membuat kami
mengerti, maka aku membenci 5 perguruan, demi Tuan Lim
kami siap menyumbangkan sedikit tenaga, bila Tuan Lim tidak
ingin menemui orang itu aku akan kembali ke Kim-leng,
setelah Paman Pui kembali dari Lembah Raja Pedang kita baru
menyusun rencana, bila Tuan Lim ingin menemui orang itu
kami akan membantu menghadang orang-orang 5 perguruan!”
kata Ciam Giok-beng.
“Apakah Cianpwee tahu di mana mata-mata 5 perguruan
tersebar?”
“Tidak tahu, tapi aku tahu kode rahasia yang
menghubungkan antara 5 perguruan,” jawab Ciam Giok-beng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Keadaan sudah berubah, mereka sudah tidak ada
perhatian padaku, jadi Cianpwee tidak perlu repot-repot,” kata
Lim Hud-kiam.
“Tidak, tujuan orang-orang itu tetap Tuan Lim dengan
masalah lain, mereka tidak akan menaruh di hati dan orangorang
itu suruhan langsung ketua 5 perguruan mereka tidak
akan berhubungan dengan orang-orang perguruan mereka,
tugas mereka tidak akan berubah, sekarang orang-orang yang
ikut rapat akbar hanya aku yang bebas menghalangi orangorang
dari 5 perguruan yang menguntitmu, hanya aku yang
bisa, jadi aku harus membantu Tuan Lim.”
“Guru, apakah Guru akan tertipu lagi?”
“Kali ini tidak akan, tadi kita berjanji setelah rapat akbar ini
kita berenam akan pergi mencari orang yang mencuri plakat
itu maka mereka memberitahu hal-hal yang begitu rahasia,
mimpi pun mereka tidak menyangka di tengah-tengah rencana
mereka muncul Wong Han-bwee dan menculik mereka.”
Lim Hud-kiam berpikir lama baru berkata, “Kita akan
menemui orang itu.”
“Siapa? Apakah orang yang mendapatkan plakat itu?”
“Benar, semua yang terjadi tidak sesuai dengan
perkataannya, aku ingin bertanya lebih jelas, mungkin dia
tidak akan mengaku, maka aku harap kalian bisa membantuku
menanyakan kepadanya.”
“Itu tidak baik, kalau dia benar-benar tidak tahu, bukankah
akan membuat dia marah?”
Lim Hud-kiam tertawa kecut, “Wong Han-bwee sudah jelas
mengatakan walaupun kedua Pit-kip itu digabungkan,
kepandaiannya tetap akan kalah dari Raja Pedang, jadi kalau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
keberadaannya sampai diketahui orang lain tidak akan
menjadi masalah, aku harap kalian bisa sama-sama
menelitinya, apakah ada cara lain untuk bisa mengalahkan
orang-orang dari Lembah Raja Pedang, kalau tidak ada kita
harus mencari cara lain.”
“Apakah orang itu tinggal jauh dari sini?”
“Tidak, besok kita bisa sampai di sana.”
“Tapi kita tetap harus bertindak sedikit rahasia, memang
orang-orang Lembah Raja Pedang tidak peduli kepadanya, tapi
5 perguruan sangat peduli, mereka benar-benar membenci
orang ini,” kata Ciam Giok-beng.
“Orang itu hanya mencuri plakat dunia persilatan
sedangkan Pit-kip yang ada di dalam plakat 5 perguruan sama
sekali tidak peduli, untuk apa harus membencinya?”
“Karena plakat dunia persilatan adalah kebanggaan dan
penghinaan bagi 5 perguruan dan plakatnya hilang di depan
mata ketua 5 perguruan, maka mereka menganggap ini
adalah penghinaan, kedua Sun Soan-cu telah menghina
mereka sebelumnya, mereka ingin membersihkan nama baik
mereka.”
“Ketua 5 perguruan dengan terangan-terangan diculik,
pukulan kali ini lebih besar, aku kira 5 perguruan harus tahu
mana yang berat dan mana yang ringan.”
“Bagaimana pendapat Tuan Lim?” tanya Ciam Giok-beng.
“Bila Cianpwee melihat orang-orang dari 5 perguruan, suruh
mereka keluar dan kita akan bersama-sama mencari orang itu,
ada masalah apapun kita harus membereskannya di depan
semua orang!” kata Lim Hud-kiam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Baiklah, kalau begitu kita bisa mencari tahu bila mereka
menguntit kita, kita akan bertambah repot!” kata Ciam Giokbeng.
“Baik, kita berangkat sekarang!” kata Lim Hud-kiam.
Maka semua pun bersama-sama turun gunung.
Baru saja keluar dari mulut gunung, murid-murid dari 5
perguruan datang mengerubungi mereka dan menanyakan
tentang keadaan ketua mereka.
Ciam Giok-beng memberitahu apa yang terjadi dan berkata,
“Kalian bisa membereskan mayat-mayat yang masih ada di
sana, Lembah Raja Pedang dijaga sangat ketat, lebih baik
kalian menunggu ketua kalian dengan tenang, pulanglah dulu
dan susunlah rencana, kalian jangan bergerak sendiri, supaya
tidak bertambah banyak orang yang mati atau terluka.”
Cia Bu datang bertanya, “Kemanakah ketua pergi?”
Dengan dingin Ciam Giok-beng menjawab, “Aku sudah
diperalat satu kali, aku rasa itu sudah cukup, jadi harap Totiang
jangan bercanda lagi kepadaku.”
Dengan malu Cia Bu To-jin berkata, “Kata-kata ketua terlalu
berat, sebenarnya perkiraan kami tidak salah, Lim Hud-kiam
memang ada hubungannya dengan orang yang mencuri
plakat.”
“Tapi Lim Hud-kiam bukan orang yang To-tiang kira, dia
datang demi Pit-kip jilid kedua, aku lebih percaya kepada Tuan
Lim,” kata Ciam Giok-beng.
Cia Bu To-jin merasa cemas, “Dia sadar tidak bisa
mengalahkan Wong Han-bwee, maka dia melepaskan
rencananya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Saat Lim Hud-kiam melepaskan rencananya, Wong Hanbwee
belum memperlihatkan kepandaiannya, dari mana Totiang
bisa tahu kalau Lim Hud-kiam akan kalah?” tanya Ciam
Giok-beng dengan dingin.
Cia Bu To-jin tidak bisa menjawab dan Ciam Giok-beng pun
tidak melayaninya lagi, dia memanggil Lim Hud-kiam dan yang
lainnya, segera meninggalkan gunung itu.
Setelah meninggalkan kabupaten Tai-an, Lim Hud-kiam
membawa semua orang berjalan ke arah utara. Hari kedua
mereka tiba di kota Ta-lai-bu, kemudian berjalan lurus ke Ihsan
di propinsi Kang-souw.
Hari hampir sore, mereka sudah berada di Ihsan. Kata Lim
Hud-kiam, “Gunung ini sangat tinggi, kuda tidak mungkin bisa
naik, maka kita harus berjalan kaki memanjatnya.”
“Apakah orang itu tinggal di atas gunung itu?” tanya Ciam
Giok-beng.
Lim Hud-kiam mengangguk, “Benar, setelah berjalan sekitar
setengah jam kita baru akan tiba di sana, jadi kita harus
berusaha tiba di sana sebelum hari gelap, kalau tidak akan
sulit menyusuri jalan di gunung bahkan bisa tersesat.”
“Aku merasa aneh, 5 perguruan berjanji asal di
selendangnya ada bulu burung berwarna putih, itu adalah
orang mereka, mengapa satu orang pun tidak terlihat?” tanya
Ciam Giok-beng.
“Apakah 5 perguruan bicara jujur kepada Ketua? Aku
percaya banyak orang di belakang kita, tapi tidak ada satu pun
di kepala mereka yang ada bulu burung berwarna putih,” kata
Lim Hud-kiam sambil tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Ciam Giok-beng berkata dengan marah, “Mereka
membohongiku lagi, kelak aku tidak ingin tahu apakah mereka
masih mempunyai muka bertemu denganku.”
“Tapi mereka bisa membantah mungkin orang yang
mempunyai tanda itu tidak datang, kecuali kita menangkap 1-
2 orang untuk membuktikan, apa mereka orang dari 5
perguruan atau bukan,” kata Lim Hud-kiam.
Goan Hiong marah katanya, “Harus menangkap 1-2 orang
untuk menutup mulut ketua-ketua perguruan.”
“Kalau Goan-heng bermaksud seperti itu, mari kita berdua
berjalan paling depan, biar mereka terburu-buru mengikuti
kita, lalu kita akan tangkap mereka,” kata Lim Hud-kiam
sambil tertawa.
“Baik, aku akan mencobanya,” kata Goan Hiong.
“Kami jalan dulu, sepanjang jalan nanti kami akan
meninggalkan tanda, kalian ikuti dari belakang, di belokan
jalan ini aku akan mengukir satu huruf 'Lim', kalian akan
melihat huruf 'Lim' ini, dua goresan Lim ini akan menunjukkan
arah, sebagian orang ikuti ini, yang lainnya ikut kepala huruf
Lim maju supaya orang yang membuntuti kita tidak tahu ke
mana arah kita berjalan.”
Kemudian dia menarik Goan Hiong berjalan di paling depan,
jalan di gunung itu sangat banyak, sambil berjalan Lim Hudkiam
terus memberi tanda, tidak lama kemudian mereka
sudah berada di jalan gunung yang lebat. Jalan bertambah
rumit, Goan Hiong mengikutinya berjalan dengan lama
akhirnya dia baru tahu kalau mereka tetap berada di kaki
gunung. Saat dia akan bertanya terlihat Lim Hud-kiam
meloncat ke atas, dia sudah mengeluarkan pedang tumpulnya,
dan memukul sebuah pohon besar, ternyata di atas pohon ada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
yang sedang bersembunyi. Karena dipaksa turun oleh Lim
Hud-kiam maka orang itu pun membalas serangannya, tapi
karena kalah tenaga maka pedang panjang orang itu terlepas
dan orang itu pun jatuh. Goan Hiong menyerang dengan
telapaknya, ilmu silat orang itu lumayan kuat dia menyambut
dengan telapaknya juga, setelah beberap jurus berlalu dia
baru kabur, Lim Hud-kiam mengejarnya, Pedang tumpulnya
terus menyerang, akhirnya berhasil menotok pinggangnya
orang itu akhirnya roboh.
Goan Hiong menarik orang itu dan terlihat kalau dia
seorang lelaki yang menyamar menjadi tukang menebang
kayu, dia membentak, “Kau dari perguruan mana?”
“Dia tidak akan menjawabnya.”
“Mengapa Lim Toako bisa tahu?” Goan Hiong merasa aneh.
“Kalau orang dari 5 perguruan mereka pasti pesilat
tangguh, mana mungkin kita bisa begitu cepat menaklukkan
dia?”
“Belum tentu, mungkin dia hanya mencari jalan, sedangkan
pesilat tangguhnya berada di belakang.”
“Kalau Goan-heng tidak percaya tanyakan saja kepadanya,
tapi kalau hanya bertanya seperti itu dia tidak akan
memberikan jawaban, harus mempunyai cara tertentu.”
“Dengan cara apa?”
“Cara orang menanyakan perkara, seperti hakim di
persidangan, sebandel apa pun orang itu bila ditaruh di bawah
alat siksa dia pasti akan bicara, tapi orang ini pernah berlatih
silat, tampaknya alat siksaan tidak akan membuatnya takut,
harus dengan cara lain.”
“Itu sangat sederhana.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Tangannya dijulurkan dia menotok beberapa nadi di tubuh
orang itu, ini adalah totokan memisahkan tulang dengan
daging, wajah orang itu terlihat berkerut, sepertinya dia
kesakitan Lim Hud-kiam segera mengangkat dagunya.
Goan Hiong bertanya, “Lim Toako, kau sedang apa?”
“Orang ini bisa saja dibunuh, tapi dia tidak mau dihina,
apalagi orang ini berlatih silat, dia pasti punya sifat keras, bila
tidak tahan dengan siksaan, dia akan menggigit lidahnya
untuk bunuh diri, maka kita harus berjaga-jaga jangan sampai
dia menggunakan cara ini.”
“Tapi dengan dagu diangkat seperti itu bagaimana dia bisa
bicara?”
“Tidak perlu bicara, kita yang tanya dia hanya mengangguk
atau menggelengkan kepala itu sudah cukup.”
Goan Hiong benar-benar mengagumi ketelitian Lim Hudkiam,
dia berkata.
“Sobat, kalau kau mau merasa lebih nyaman cepat beritahu
kami apakah kalian adalah orang-orang dari 5 perguruan?”
Orang itu mengangguk, Lim Hud-kiam bertanya, “Apakah
kau dari Siauw-lim-pai?”
Lelaki itu mengangguk lagi.
“Apakah botak tua Cia Hwie Taysu yang menyuruh kalian
menguntit kami?” tanya Lim Hud-kiam.
Lelaki itu mengangguk lagi, karena marah Goan Hiong
menamparnya, “Sobat, kau masih berniat berbohong, apakah
siksaan ini belum cukup bagimu?”
Kata Lim Hud-kiam, “Sobat, kau kurang pintar, Cia Hwie
adalah tosu bukab hweesio, dia adalah ketua Bu-tong bukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
ketua Siauw-lim. Kalau kau ingin berbohong, seharusnya kau
harus cari tahu dulu.”
Dari pancaran matanya lelaki itu tampak marah, Lim Hudkiam
mengangkat dagunya, “Sobat, Siauw-lim dan Bu-tong
pun kau tidak bisa membedakannya, berarti kau bukan orang
dari 5 perguruan, lebih baik kau berkata jujur.”
Dengan tenang lelaki itu berkata, “Aku adalah orang dari
Lembah Raja Pedang, walaupun kalian bisa menaklukkanku,
tapi aku bisa membalas dendam kepada kalian.”
“Mimpi, sekarang pun aku bisa membunuhmu,” kata Goan
Hiong dengan marah.
Lelaki itu tidak peduli dia berkata, “Bunuh saja aku, semua
anggota Raja Pedang ada harganya, satu nyawa diganti 10
nyawa, aku tidak akan rugi.”
Goan Hiong marah dia mencari pedang untuk membunuh
lelaki itu, tapi Lim Hud-kiam menghalanginya, “Goan-heng,
aku selalu tidak mendukung bila ada pembunuhan, demi aku,
lepaskanlah dia!”
“Aku tidak suka dia bersikap seperti rubah yang sedang
bersembunyi di belakang harimau!” kata Goan Hiong.
Lim Hud-kiam tertawa, berkata, “Masih ada yang ingin
kutanyakan kepadanya. Sobat, kau mengaku kalau kau adalah
orangnya Raja Pedang, tapi aku tidak akan membunuhmu,
tapi ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan padamu,
harap kau bisa menjawabnya. Apakah benar ada Raja
Pedang?”
“Tentu saja ada, bukankah kalian sudah bertemu dengan
nona?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku kira gadis kecil itu berbohong, tidak disangka benarbenar
ada orang seperti itu, apakah Raja Pedang itu adalah
ayahnya?”
Lelaki itu mengangguk.
“Siapa namanya?”
Lelaki itu tampak sedikit ragu, kata Lim Hud-kiam, “Lambat
laun kami pun pasti akan tahu, kalau kau memberitahu
terlebih dulu rasanya tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu,
apakah aku pernah mendengar nama ini?”
“Kau pasti belum pernah mendengarnya, tapi aku beritahu
pun tidak apa, yang penting setengah bulan lagi nama Raja
Pedang akan tersebar luas kemana-mana, semua pesilat
pedang akan bertekuk lutut di depan Raja Pedang, namanya
adalan Wong Jong-ceng.”
Lim Hud-kiam melafalkan nama Wong Jong-ceng beberapa
kali, wajahnya terlihat menjadi aneh.
Goan Hiong merasa aneh melihat Lim Hud-kiam dan
bertanya, “Apakah Lim Toako pernah mendengar nama ini?”
“Mendengar nama ini rasanya aku jadi teringat sesuatu tapi
aku tidak tahu apa dan kapan!”
“Mana mungkin, Lim Toako lebih lincah juga pintar
dibanding orang lain, kau mempunyai ingatan yang kuat,
mengapa kau bisa lupa pada nama ini?”
“Benar, sejak aku mendengar nama Wong Han-bwee, aku
segera terpikir pada nama Wong Jong-ceng, sepertinya di
antara mereka ada hubungannya, tapi aku tidak tahu
mengapa nama Wong Jong-ceng ini bisa terlintas di otakku?”
“Jong-ceng hanya menunjukkan pohon cemara, Han-bwee
(bunga Mei di musim gugur) Ceng-song (pohon cemara yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
berwarna hijau) dan Tiok-cu (bambu hijau), ketiga tanaman ini
adalah tanaman di musim dingin, apakah hubungan mereka
hanya itu?” tanya Goan Hiong.
“Seharusnya memang seperti itu, di benakku sepertinya
masih ada satu orang lagi, namanya ada kata 'Cu', tapi aku
tidak ingat, yang anehnya mengapa aku bisa punya pikiran
seperti ini?” kata Lim Hud-kiam.
“Coba Lin Toako ingat-ingat lagi, apakah waktu itu kau
masih kecil?”
Lim Hud-kiam tertawa kecut, “Masa kecilku tidak perlu
diingat, Goan-heng harus tahu aku lahir di Ceng-seng posisi
keluargaku tidak di bawah juga tidak di atas, aku selalu dihina,
apalagi oleh Ciu Pek-ho, dia selalu menghinaku sampai aku
besar seperti ini.”
“Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, lebih baik kita urus
masalah yang ada di depan mata, orang-orang Lembah Raja
Pedang sudah menguntit kita sampai sini, apakah kita masih
akan menemui orang itu?” tanya Goan Hiong.
“Dari awal aku tidak berencana menemui orang itu,” jawab
Lim Hud-kiam.
“Apakah dia tidak ada di sini?” tanya Goan Hiong.
“Dia ada di sini, di gunung ini, tapi entah ada di mananya,
kecuali kalau dia ingin menemui orang kalau tidak, tidak ada
seorang pun yang bisa mencarinya, Goan-heng sudah melihat
jalan gunung ini begitu berliku semua disusun menurut sebuah
barisan, sejak tadi kita berputar-putar dan kita masih di
tengah gunung, sama sekali tidak menemukan jalan yang
tepat.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Apa maksud Lim Toako membawa semua orang ke mari?”
tanya Goan Hiong dengan terkejut.
“Yang penting kita harus menangkap orang-orang Lembah
Raja Pedang dan menanyakan di mana letak Lembah Raja
Pedang kemudian kita pergi ke sana untuk melihat apa yang
ada di sana.”
“Untuk apa harus memutar begitu jauh?”
“Aku tidak ingin banyak orang yang pergi ke sana, karena
akan menemui bahaya, bahaya bisa muncul tanpa diduga, tapi
aku tidak bisa bicara terang-terangan kepada mereka,
terpaksa dengan barisan yang bisa membuat orang tersesat
mengurung mereka, tadinya aku hanya ingin pergi sendiri, tapi
aku takut kalau kekuatanku sendiri tidak akan cukup, maka
aku mengajak Goan-heng pergi bersamaku, apakah kau
bersedia?”
“Tentu saja aku bersedia, mengapa Lim Toako
mengajakku?”
“Karena ilmu silat dan kepintaran Goan-heng melebihi orang
lain.”
“Lim Toako terlalu memuji, dibandingkan dengan-mu aku
masih jauh, bila Lim Toako ingin mencari orang yang bisa
membantu, harus mencari yang lebih pintar.”
“Sepintar apa pun tidak akan bisa menyaingi orang Lembah
Raja Pedang, kali ini kita bertarung kepintaran bukan
bertarung dengan keberanian, jurus Goan-heng yang sering
menggunakan teknik menyamar dan mencopet akan ku
pinjam nanti, apalagi kau masih mempunyai senjata rahasia
aneh yang merupakan hasil penelitian Ho Cianpwee dan
diwariskan kepada Goan-heng, maka mainan ini bisa beguna
menghadapi orang-orang Lembah Raja Pedang.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Lim Toako benar-benar lihai, apa yang kukuasai kau sudah
tahu.”
“Aku hanya memperhatikan hal-hal yang berhubungan.”
“Aku tidak mengerti, di dunia persilatan Lim Toako selalu
berjuang seorang diri, dari mana kau bisa tahu begitu
banyak?”
“Uang, uang bisa menyuruh setan membantu kita
mendorong gilingan, pepatah ini sangat cocok dengan begitu
kita bisa mendapatkan kabar dan berita yang kita butuhkan.”
“Tapi perguruan Kian-kun-kiam-pai tidak ada orang yang
demi uang menjual berita.”
“Tidak ada, aku hanya membeli berita yang kudapat dari
orang ketiga kemudian kuanalisa lagi aku kira keadaannya
tidak akan berbeda jauh dengan kenyataannya.”
Goan Hiong tampak berpikir sebentar, “Aku bukan takut
mati hanya merasa untuk apa harus repot seperti itu,
setengah bulan lagi orang-orang Lembah Raja Pedang akan
muncul, kalau sekarang kita ke sana, apakah perlu?”
“Wong Jong-ceng ingin menjadi Raja Pedang dan
memimpin semua perguruan pedang, rapat akbar pedang
adalah tempat paling tepat untuk mengangkat dirinya, tapi dia
tidak muncul hanya beberapa orang anak buah dan putrinya
yang muncul, mengapa harus mengulur waktu sampai
setengah bulan? Pasti bukan tanpa alasan, maka aku ingin
mencari tahu mengenai hal ini.”
Goan Hiong terkejut dan berkata, “Lim Toako benar-benar
teliti, aku tidak memperhatikan hal ini, setelah mendengar dari
Toako, aku rasa ini masuk akal, apakah orang ini akan
memberitahu di mana Lembah Raja Pedang?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kita lihat apakah sobat ini mau bekerja sama dengan kita
atau tidak?”
“Tidak, tidak mungkin aku memberitahu pada kalian,” jawab
lelaki itu.
“Mengapa tidak bisa memberitahu?” tanya Lim Hud-kiam.
“Kami akan disiksa, bencana akan menyeret keluarga kami,
istri dan anakku masih berada di Lembah Raja Pedang.”
“Kau tidak perlu memberitahu, kau bisa melukiskan nya.”
“Melukiskannya atau memberitahumu sama saja.”
“Tidak, Raja Pedang hanya melarang kalian memberi tahu
lewat mulut, kalau melukis tidak akan melanggar aturan,
apalagi aku akan menjaga mulutku, aku tidak akan
memberitahu kalau aku tahu dari mulutmu,” kata Lim Hudkiam.
“Tidak ada gunanya, begitu rahasia bocor, kami semua
akan dihukum.”
“Tidak, Wong Han-bwee dan Liu Ban-mong harus
bertanggung jawab, apakah Raja Pedang akan menghukum
mereka juga? Dia hanya menakut-nakuti kalian!”
“Mereka adalah putri dan orang terdekat Raja Pedang,
mereka tidak akan membocorkan rahasia,” kata orang itu.
“Aku mempunyai cara sehingga harus membuat mereka
bertanggung jawab tapi kau harus bekerja sama dengan
kami,” kata Lim Hud-kiam.
Lelaki itu tampak berpikir sebentar, dia tetap
menggelengkan kepala, “Lebih baik kalian bunuh saja aku.”
“Aku tidak akan membunuh orang, tapi aku percaya kau
akan mengatakannya, Goan-heng, beri dia ranting, teman
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
tidak perlu menulis alamatnya hanya melukiskan sebuah peta
dari itu akan menjadi titik awal kita, dan aku akan mengerti.”
Goan Hiong memberikan ranting dengan paksa kepada
lelaki itu, Lim Hud-kiam mengulurkan tangannya
mencengkeram ikat pinggang lelaki itu dan mengangkatnya
dengan posisi terbalik, tangan lelaki itu bisa bergerak tapi
tubuhnya tetap lurus.
Lim Hud-kiam membuka sepatunya, kemudian dia
menggaruk kakinya, lelaki itu terus tertawa kegelian, tapi tawa
itu sebenarnya tawa sakit, suaranya menusuk telinga lebih
menusuk dibandingkan menangis.
Goan Hiong benar-benar kagum dengan cara Lim Hud-kiam
menyiksa orang itu, dengan cara memisahkan syaraf dan
tulang, siksaan ini hanya membuat orang melawan dengan
kekuatan tapi siksaan Lim Hud-kiam ini walaupun dia orang
yang terbuat dari besi sekalipun akan sulit menahannya. Lelaki
itu tertawa sampai seperti akan putus nafasnya, tapi Lim Hudkiam
menambah tenaga menggaruknya, bersamaan itu lelaki
itu terus tertawa Lim Hud-kiam berkata, “Sobat, kau masih
terlihat kurang gembira aku akan memberikan kepadamu
kesenangan yang lebih supaya kau lebih senang membantu
kami, Goan-heng, bantu aku menggaruk pinggangnya, san
sebelah tangan menggelitik ketiaknya.”
Setelah Goan Hiong mengikuti perintah Lim Hud-kiam, lelaki
itu mulai susah bernafas, dan Goan Hiong melihat lelaki itu
ingin bunuh diri dengan cara menggigit lidahnya, maka dia
segera berteriak, “Lim Toako, hati-hati dia ingin bunuh diri!”
“Tidak akan, karena dia sudah kehabisan tenaga!”
Benar saja, baru saja lelaki itu akan menggigit ujung
lidahnya tapi karena geli saat dia membuka mulut dia tertawa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
lagi, terakhir dia menyerah dan melukiskan sebuah peta
dengan gambar tidak rapi dia berteriak, “Turunkan aku! Aku
sudah melukiskan apa yang kalian inginkan!”
Tapi Lim Hud-kiam belum berhenti, dia malah menggelitik di
tempat lain sambil memerintah, “Lukis sebuah peta lagi!”
“Apakah satu saja tidak cukup?”
“Gambar satu lagi!” Bentak Lim Hud-kiam.
Terpaksa lelaki itu menggambar sebuah peta lagi, Lim Hudkiam
baru menurunkan dia dan membiarkan dia mengatur
nafas, dia membandingkan kedua lukisan peta itu, kemudian
dengan tertawa dingin dia berkata, “Teman, kedua lukisan ini
menunjukkan dua arah yang berbeda, yang mana yang
sebenarnya?”
Lelaki itu menarik nafas panjang, “Kedua-duanya bukan
arah yang sebenarnya, aku tidak kuat disiksa maka aku
melukisnya dengan asal-asalan untukmu!”
Goan Hiong baru mengerti mengapa Lim Hud-kiam ingin
lelaki itu melukiskan sebuah peta lagi, ternyata ingin
membandingkan lukisan yang asli dan palsu, tapi dalam hati
dia masih tidak mengerti dan bertanya, “Lim Toako, bila
lukisan pertama yang dia ingat, dan mengulanginya untuk
kedua kali, mana kita bisa tahu yang benar yang mana.”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Saat dia melukis, dia
berada dalam keadaan sangat sakit, mana dia akan ingat apa
yang dia lukiskan, sekarang kalau kau menyuruhnya
menggambar lagi pun dia tetap tidak ingat, kecuali kalau
gambar itu benar-benar asli maka gambarnya tidak akan
berubah, sobat, kalau kau tidak mau bekerja sama, aku akan
mulai menyiksamu lagi.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wajah lelaki itu tampak ketakutan dia memohon, “Aku
harap Tuan mau berbuat kebaikan dan membunuhku dengan
pedang Tuan, supaya aku terbebas dari siksaan ini, kalau aku
membocorkan rahasia, begitu aku kembali ke sana aku akan
disiksa, teman dan keluargaku akan ikut disiksa, aku benarbenar
tidak berani menggambarnya untukmu.”
“Aku tidak ingin membunuh, kalau tetap membuat-mu mati
saat pulang nanti, berarti akulah yang membunuh-mu,
sudahlah, pergi sana!”
Lelaki itu sangat senang, tapi dia masih tidak percaya dan
bertanya, “Apakah benar?”
“Tentu saja benar, untuk apa aku membohongi-mu? Tapi
kedua lukisan ini harus kusimpan untuk dicocokkan-nya, bila
salah satu lukisan ini benar, aku percaya orang Lembah Raja
Pedang tidak akan memaafkanmu.”
“Lukisan itu pasti bukan yang benar, lebih baik kau jangan
mencarinya, setengah bulan lagi Raja Pedang akan muncul,
untuk apa terburu-buru?”
Kedua lukisan itu diukir dengan kuku di sebuah kulit batang
pohon oleh Lim Hud-kiam, dia membuka totokan laki-laki itu
kemudian menepuk pundaknya dan berkata, “Kau bisa pergi
sekarang.”
Setelah nadinya dibuka, lelaki itu masih setengah percaya,
dia takut Lim Hud-kiam akan berubah pikiran maka dia pun
cepat-cepat lari.
“Lim Toako, pekerjaan kita sia-sia belaka!”
“Tidak juga, aku sudah tahu di mana letak Lembah Raja
Pedang.”
“Apakah kedua peta ini ada benarnya?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tidak, kedua-duanya tidak benar, tapi dari sini terlukis
gunung dengan 3 jalan, membuang dua jalan yang palsu,
jalan yang tersisa adalah jalan yang sebenarnya, sisa jalan ini
bisa melewati Lu-san, maka lembah pedang pasti berada di
sana.”
Goan Hiong sulit percaya dan bertanya, “Dari mana Toako
bisa tahu?”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Dari arah Wong Han-bwee
mundur, kita ambil kesimpulan gunung di mana mereka
menyeberang tidak ada jalan lain, hanya bisa sampai di
kabupaten Bo-san, kemudian ke Lu-san, jalan ini yang paling
rahasia.”
Goan Hiong memang kagum tapi dia tidak terima begitu
saja, dengan sengaja dia berkata, “Mungkin kedua peta ini
salah satunya ada yang benar, dia sengaja memberitahu kalau
kedua-duanya adalah palsu.”
“Mungkin juga, maka aku menggambarnya di kulit pohon,
kemudian melepaskan dia, kalau salah satunya adalah gambar
yang benar, dia akan takut kelak dia akan diadukan, maka dia
buru-buru mencari cara untuk mati, tapi karena dia bisa pergi
dengan tenang, hal ini membuktikan kalau gambar ini tidak
akan mengancamnya, maka jalan yang tersisa adalah yang
benar, dia tidak membocorkan rahasia, tapi akhirnya bocor
juga.”
“Lim Toako, kau sungguh teliti, selain berilmu tinggi, bisa
menebak masalah dengan tepat, maka tidak ada kata lain
untuk memuji Toako lagi, hanya saja aku heran, mengapa kau
tidak pernah mau melepaskan kami?”
“Maksudmu mengenai perusahaan perjalanan Su-hai?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Benar, dari rapat akbar pedang ini aku lihat Lim Toako
adalah orang yang membela keadilan, kami membuka
perusahaan perjalanan tujuannya bukan untuk mencari
keuntungan dan tidak bertentangan dengan tujuan Lim Toako,
mengapa Lim Toako selalu tidak mendukung kami?”
“Pertanyaan ini untuk sementara aku tidak bisa
menjawabnya, tapi begitu semua sudah jelas, tidak perlu aku
yang memberitahu kalian pasti akan mengerti sendiri, kelak
kita tidak akan sering bertentangan lagi, sudahlah, masalah ini
kita taruh dulu, sekarang kita pergi ke Lu-san.”
“Dimana guruku dan Liu Cianpwee?”
“Biar mereka mencari jalan sendiri di gunung ini begitu
mereka mendapatkan jalan keluar dari gunung ini kita sudah
sampai di Lembah Raja Pedang.”
“Apakah Lim Toako yakin jalan ke Lembah Raja Pedang
berada di Lu-san?”
“Aku tidak yakin, hasil penelitianku bisa saja salah, kita cari
akal lain, syukur-syukur setengah bulan ini kita bisa tahu
keberadaan Lembah Raja Pedang, kalau tidak menemukannya
kita pun tidak akan rugi, karena selama setengah bulan ini kita
memang tidak mempunyai kegiatan apa pun, lebih baik
mencari peluang dari pada duduk menunggu.”
“Seharusnya Lim Toako ikut dengan Wong Han-bwee.”
“Tidak, bila aku ikut mereka, aku akan dikuasai mereka,
kalau kita mencari sendiri kesana, selain memberikan kejutan
kepada mereka, kita juga bisa menemtukan semua ini sendiri.”
“Bila laki-laki itu pulang dan memberitahu kepada orangorang
di sana, mereka akan bersiap-siap menunggu
kedatangan kita bukan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Dari ketatnya penjagaan Lembah Raja Pedang, lelaki itu
bila sudah sampai di sana, dia tidak akan memberitahu orangorang
itu, karena dia telah kita kuasai, bila rahasia ini sampai
bocor, dia yang akan mendapat hukuman berat, kalau peta
yang digambarnya adalah palsu, dia tidak akan khawatir sama
sekali, dan kita bisa ke sana.”
“Orang-orang Lembah Raja Pedang ada yang pintar, paling
sedikit mereka tahu kalau kita akan kesana dan mereka akan
menambah kekuatan.”
“Kekhawatiran Goan-heng memang beralasan, kedua peta
ini dia lukis dengan terburu-buru jadi banyak kekurangannya
sampai-sampai dia sendiri pun tidak ingat walaupun dia bisa
ingat orang-orang Lembah Raja Pedang sudah tahu kita akan
ke sana.”
Goan Hiong terdiam, setelah bersiap-siap mereka segera
berangkat. Goan Hiong belum pernah menempuh jalan ini
sedangkan Lim Hud-kiam terlihat hafal dengan jalannya, jalan
yang ditempuhnya sama sekali bukan jalan, kadang naik
gunung, kadang masuk hutan, setelah lama berjalan mereka
tidak pernah bertemu dengan seorang pun, makanan yang
disiapkan Lim Hud-kiam sangat banyak cukup untuk dua
orang, hanya saja perjalanan sangat jauh sehingga membuat
mereka lelah.
“Lim Toako, apakah jalan ini adalah jalan pintas?”
“Bukan tapi sedikit jauh, bisa mengalihkan perhatian orang
tapi bila dibandingkan dengan perjalanan orang yang kita
lepas tadi kita akan sampai terlebih dulu, maka bila dia
melaporkan, kita malah yang sudah sampai terlebih dulu.”
“Tapi apakah jalan ini adalah jalan yang benar? Kalau salah
perjalanan kita akan semakin jauh dan orang-orang Lembah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Raja Pedang akan menertawakan kita, itu hal yang paling
merugikan.”
“Apa maksud Goan-heng?”
“Semenjak Kie Susiok mengadakan pesta ulang tahun
hingga di rumah makan bertengkar dengan Couw Suheng, kau
sudah membuat banyak hal penting, jadi nama Toako sangat
terkenal, bila sampai dipermainkan oleh seorang dari Lembah
Raja Pedang bukankah itu akan sangat memalukan?”
“Aku harap kita bisa menemukan Lembah Raja Pedang, aku
hanya ingin menghindarkan bencana besar di dunia persilatan,
maka kalau kita tidak menemukan lembah ini akan membuat
kita rugi, mengenai namaku yang tercoreng aku tidak peduli.”
Wajah Goan Hiong menjadi merah, “Aku hanya main-main!”
“Aku tahu kau hanya main-main, jadi aku tidak menaruh di
hati, tapi Gurauanmu membuatku berat.”
“Apa yang membuat Toako merasa berat?”
“Aku sungguh-sungguh ingin bekerja sama dengan-mu, tapi
sepertinya hati Goan-heng tidak terbuka bagiku!”
“Tidak, sama sekali tidak!”
“Aku tahu hatimu tidak tapi kau selalu menginginkan aku
mengalami kegagalan sekali, Goan-heng, aku sudah
menganggapmu teman baikku, maka aku terbuka terhadap
masalah ini, coba kau pikir, apakah benar kau seperti itu?”
Goan Hiong berpikir lama baru menjawab, “Lim Toako, aku
sendiri tidak mengerti apa alasannya, di dalam hatiku memang
ada pikiran seperti itu, aku tahu kalau ini adalah pikiran keji,
tapi bukan karena hal itu aku akan melakukan hal yang tidak
menguntungkan Lim Toako.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam berkata, “Ini adalah sifat manusia, aku kira
tidak ada pikiran keji, aku adalah orang yang mengalami hal
seperti itu, sewaktu aku di Ceng-seng aku sudah kenyang
dihina oleh Ciu Pek-ho, kadang-kadang aku sangat ingin
membunuhnya, hati yang cemburu memang bukan hal yang
baik tapi hati seperti ini bisa membuat orang ingin maju, jadi
aku sekarang sudah tidak membenci Ciu Pek-ho lagi, malah
berterima kasih kepadanya, jadi hati seperti Goan-heng sangat
biasa dan wajar, asalkan digunakan dengan baik, dengan cara
lurus mengisi dan berlatih diri.”
Goan Hiong merasa malu dan berkata, “Terima kasih atas
nasihat Lim Toako, karena Lim Toako selalu berhasil dan
kelakuan Lim Toako dulu kepada perguruan kami, bila Lim
Toako berhasil sekali perguruan kami gagal sekali, jadi tidak
terasa di dalam hati terbit perasaan tidak suka kepada Lim
Toako.”
“Aku kira hal yag paling penting adalah karena Sucimu yang
bernama Kie Pi-sia.”
Wajah Goan Hiong menjadi merah lagi, dia menghela nafas,
“Lim Toako telah mengemukakan masalah ini maka aku tidak
akan membantahnya, Kie Suci membencimu kelakuannya
sangat aneh, dia membencimu tapi dia juga perhatian
kepadamu, menurutnya dia membencimu tapi kami yang
melihat dari samping, semua itu karena dia cinta maka dia jadi
membencimu.”
“Hati seorang perempuan memang aneh, aku tidak akan
menjelaskan apa pun kepadamu, yang harus Goan-heng
ketahui kita tidak akan menjadi musuh cinta.”
“Bila benar kita akan menjadi musuh cinta, tidak masalah
untukku, bila Lim Toako mencintainya aku akan memutuskan
harapanku kepadanya, tapi aku tahu Lim Toako sama sekali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
tidak mempunyai perasaan apa pun kepadanya, apalagi ilmu
silat Nona Liu dan kecantikannya berada di atas Kie Suci,
sebenarnya dia harus tahu dan mundur tapi dia masih saja
bertahan sampai sekarang.”
Lim Hud-kiam tertawa sambil menepuk pundaknya dan
berkata, “Nona Kie sudah terbiasa punya sifat semaunya, tapi
mengenai cinta dia sama sekali tidak punya pengalaman jadi
Goan-heng jangan kecewa, setelah dia agak dewasa, dia akan
tahu siapa yang harus dia cintai!”
Dengan sedih Goan Hiong berkata, “Aku takut selamanya
dia tidak akan dewasa-dewasa.”
“Tidak, tidak akan, aku beri contoh pengalamanku pada
Goan-heng, menurutmu seperti apa hubunganku dengan Huihui?”
“Tidak perlu disangsikan lagi kalian adalah sepasang
kekasih yang sangat serasi, Nona Liu sangat mencintai Lim
Toako, hingga membuat orang merasa iri melihatnya.”
“Yang kutanyakan mengenai perasaanku kepada Hui-hui.”
“Demi dia Lim Toako takut mendengar lirik yang ada di
dalam lagu itu, perasaan Lim Toako kepadanya tidak ada
seorang pun yang bisa menyaingi-nya.”
“Tidak, kau salah mengerti, itu hanya kelakuanku yang
kurang dewasa, aku harus bicara jujur, aku lebih menyayangi
Bwee-nio dan Leng-nio.”
“Hui-hui memang sangat mencintaiku, tapi cintanya
bersyarat, dia memasang target terlebih dulu, kemudian dia
ingin aku mencapai target ini, boleh dikatakan dia hanya
mencintai seorang idola bukan seorang Lim Hud-kiam, tapi
dua bersaudara Yu mencintaiku tanpa syarat.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tapi demi dirimu Nona Liu kabur dari Ceng-seng,
kemudian jauh-jauh datang ke Kim-leng mencarimu,
bagaimana kau menjelaskan masalah ini?”
Lim Hud-kiam menghela nafas, “Syarat menjadi idola
sangat banyak, bukan hanya mengandalkan ilmu silat saja,
begitu melihat syarat dari Ciu Pek-ho lebih rendah dariku, dia
kembali mencariku, kalau masih ada orang yang lebih cocok
dariku....”
“Aku tidak setuju dengan pendapatmu, kau terlalu
menyudutkan Nona Liu!”
“Perasaan ini sangat aneh, aku tidak memaksa Goan-heng
untuk setuju, tapi aku punya ide, Goan-heng bisa menjadi
contoh, mencintai satu orang, dia mencintaimu lebih berharga
daripada mencintai satu orang yang hanya kau cintai.”
“Maksud Lim Toako, aku harus melepaskan cintaku kepada
Kie Suci?”
“Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu, hanya memberikan
sebuah strategi untukmu, manusia sering kali tidak peduli dan
mengejar hal yang tidak mungkin dia peroleh, begitu yang dia
dapatkan hilang, dia baru sadar yang dia dapatkan lebih
berharga dari yang tidak dapat dia peroleh, kalau Goan-heng
ingin mendapatkan Nona Kie, kau harus mengganti caranya.”
“Dengan cara apa?”
“Aku akan memberikan Hui-hui kepadamu, kau harus
berusaha mengejarnya.”
“Jangan bercanda, itu tidak mungkin!”
“Aku tidak bergurau, aku akan memberitahu Hui-hui dulu
lalu menyuruhnya mencari kehangatan kepadamu, dengan
begitu Nona Kie akan datang dan berbalik mengejarmu!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku tidak, berani, sebab sifat Kie Suci sangat keras,
mungkin kami benar-benar bisa bubar.”
“Tidak akan, aku ingin membantumu, aku yang akan
mengejar Nona Kie.”
“Apa? Kau?”
“Tenanglah, aku tidak akan serius kepadanya, lebih-lebih
tidak akan merebut orang yang kau cintai, ini hanya perjanjian
antar lelaki.”
“Aku percaya kepada Lim Toako, tapi aku tidak percaya
kepada Kie Suci, bila dia serius kepadamu kusutnya benang ini
akan lebih sulit dibuka.”
“Tidak akan, taktik yang bagus muncul dari hati, aku
mempunyai cara supaya dia sendiri yang akan melepaskanku,
menurut pengalamanku akan ada hasilnya, Nona Kie dan Huihui
adalah jenis perempuan satu tipe, perasaan mereka
bersyarat begitu melihat kejelekanku lebih banyak dari
kebaikanku, otomatis Nona Kie akan kembali ke pangkuanmu!”
Goan Hiong berpikir sebentar, “Tidak, aku tidak setuju, aku
sangat serius dengan perasaanku, ini bukan main-main.”
“Ini bukan main-main, hanya akan membuat dia mengerti.”
“Tapi aku tetap tidak setuju, kalau Lim Toako menyukai Kie
Suci, kau berhak mengejarnya kalau tidak, jangan permainkan
dia!”
“Goan-heng benar-benar orang suci dalam hal cinta, kau
begitu setia, aku tidak bisa berkata apa-apa, masalah ini tidak
perlu kita bicarakan lagi, mari kita pergi ke Lu-san melewati
hutan ini, ini adalah jalan ke Lu-san, kita harus lebih berhatihati.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dia memberi tanda di tanah dan terus berjalan lurus, tibatiba
ada yang memanggil, “Suamiku, tunggu sebentar, kita
jalan bersama-sama.”
Ooo)*dw*(ooO
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Si Pedang Tumpul JILID KE LIMA
Karya : Tong Hong Giok
Terjemahan : Liang Y L
Edisi Ke 1 : January 2009
Kiriman : Lavilla (trims yeee)
Edit & Ebook : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz. info/
http://kang-zusi.info http://cerita-silat.co.cc/
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
BAB 28 Di jalan terpencil mencari si pembunuh
Kemudian terdengar sebuah suara, “Keluarlah, Nona Kie,
ada seorang lelaki yang begitu mencintaimu, kau pantas
merasa puas.”
Goan Hiong menoleh dengan terkejut, pertama-tama yang
keluar adalah Yu Bwee-nio, disusul Liu Hui-hui, lalu dia
menarik Kie Pi-sia keluar.
Lim Hud-kiam berhenti melangkah, “Aku memberi tanda
untuk memberitahukan kalian, kalian ikut sampai di sini, lalu
kalian keluar untuk apa?”
“Nona Kie yang ingin keluar,” jawab Liu Hui-hui sambil
tertawa.
“Mulutmu diam hatimu juga sama kan?” Lim Hud-kiam
tertawa.
Goan Hiong terkejut, “Apakah kalian terus berada di
belakang kami?”
“Aku yang ingin mereka ikut dari belakang, karena aku
harus memberitahu apakah orang-orang lembah raja pedang
membuntuti kita,” Lim Hud-kiam menjawab sambil tertawa.
Liu Hui-hui tertawa, katanya, “Hud-kiam, caramu benarbenar
bagus, jalannya pun tidak salah, orang-orang lembah
raja pedang sangat tegang, mereka menyuruh orang ke depan
untuk memberi kabar tapi semua sudah dibereskan.”
“Apakah tidak ada yang tertinggal?” tanya Lim Hud-kiam.
“Tidak ada orang yang menggambar peta pun sudah
dibereskan oleh Bwee-nio dengan senjata rahasia, jumlah
mereka ada 4 orang, semua sudah dikubur di dalam hutan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kalian masih sempat membunuh?” Lim Hud-kiam
menghela nafas.
“Tidak ada cara lain, kami tidak mempunyai teknik
sepertimu selain membunuh, kalau tidak, tidak ada cara lain
menghalangi mereka,” kata Liu Hui-hui.
Kie Pi-sia sekarang sudah melepaskan semua rasa bencinya,
dia berkata, “Lim Toako, taktikmu sangat bagus, menangkap
tonggeret, burung berada di belakang, salah satu orang
lembah raja pedang kalian berhasil menaklukkannya,
sedangkan tiga orang lagi mengira kata-kata Lim Toako benar
kalau hanya kalian berdua yang akan pergi ke sana maka
mereka dengan tenang mengejar, akhirnya mereka jatuh ke
tangan kami.”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Nona Kie, aku sengaja
berkata seperti itu, harap kau jangan marah, aku tidak
bermaksud menyudutkan-mu, hanya ingin kau mengerti
bagaimana perasaan Goan-heng yang begitu dalam dan
hormat kepadamu.”
Kie Pi-sia melototi Goan Hiong, wajahnya menjadi merah
dan dia menundukkan kepala.
“Hud-kiam, aku tahu kau sengaja membuat kami bisa
mendengar percakapan kalian, tapi hatiku menjadi dingin
ternyata kau mempunyai pandangan seperti itu terhadapku,”
kata Liu Hui-hui.
“Hu-hui, bila kau marah karena kata-kata ini, kau benarbenar
meremehkan dirimu sendiri, kalau benar aku orang
seperti itu, apakah kau masih pantas menyayangiku?”
Liu Hui-hui tertawa, dia memang sedang bergurau tapi Yu
Bwee-nio dengan serius berkata, “Siangkong, aku
menganggap tindakanmu terlalu berbahaya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Berbahaya apa? Aku percaya kepada Hui-hui, kalau dia
karena hal ini menjadi suka kepada Goan-heng, aku tidak akan
menyalahkannya karena aku merasa Goan-heng lebih setia
dalam hal cinta dibandingkan denganku, seorang perempuan
bila bisa mendapatkan lelaki seperti itu, dia akan menjadi
orang yang paling bahagia di dunia ini.”
“Kalau Goan Toako demi mendapatkan Nona kie percaya
pada kata-katamu, bagaimana? Bukankah akan membuat
Nona Kie sakit hati?” tanya Liu Hui-hui.
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Bila Goan-heng setuju
dengan caraku, mungkin Nona Kie yang sedih, tapi dia akan
berterima kasih kepadaku karena aku sudah membantunya
membereskan lelaki yang tidak becus!”
Dari sikap Kie Pi-sia, Goan Hiong mengetahui sedalam apa
cintanya setelah mendapat balasan, dia merasa senang,
dengan wajah berseri-seri dia berkata, “Untung aku bukan
lelaki tidak becus, kalau tidak aku akan kesulitan, Lim Toako
benar-benar lelaki yang baik, pantas dia mendapatkan banyak
hati perempuan, apakah hatinya selalu begitu?”
Kie Pi-sia melihatnya, “Jangan sembarangan bicara, cici Liu
adalah gadis cantik, apakah kau takut akan benar-benar jatuh
cinta kepadanya lalu membuangnya?”
Goan Hiong tahu kalau Kie Pi-sia sedang bergurau, maka
dia hanya tertawa tidak menjawab.
Dengan serius Lim Hud-kiam berkata, “Kalian berdua
jangan merasa tidak puas, aku adalah orang yang selalu
malang melintang dalam hal cinta, aku sangat tahu pahitnya
cinta apalagi Nona Kie tidak merasakan perasaan cinta Goanheng
yang begitu dalam kepadamu. Maka itu dengan siasat ini
aku membuat kalian berdua saling mengerti, bersamaan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
dengan berlalunya waktu mungkin bisa menghilangkan
kesalah pahaman yang terjadi di antara kita, kalau kita bisa
bekerja sama dengan baik baru bisa menghadapi orang-orang
lembah raja pedang, akhirnya kita tahu nama Wong Jongceng,
berarti raja pedang itu ada bukan dibuat-buat,
keberadaaan Wong Jong-ceng merupakan ancaman kepada
dunia persilatan, bila orang itu tidak disingkirkan, cinta yang
ada di antara kita tidak akan tenang, demi kebahagiaan masa
depan, kita harus menghancurkan perguruan ini.”
Mereka serius mendengarkannya, kata Goan Hiong, “Lim
Toako, aku dan Kie Suci bukan orang yang senang
ketinggalan, tapi bila dibandingkan denganmu dari sudut mana
pun kami mengaku kalah, karena itu kau harus menjadi
pemimpin kami, apa pun rencana yang kau buat akan kami
setuju.”
“Aku setuju dengan kata-kata Goan Sute tapi hanya ada
satu hal yang kami tidak setuju, yaitu mengenai perusahaan
perjalanan yang harus ditutup, yang lainnya kami akan
menuruti permintaanmu!” kata Kie Pi-sia.
Kata Lim Hud-kiam, “Mengenai perusahaan perjalanan,
bukan aku secara pribadi ingin menyusahkan kalian, setelah
membereskan masalah lembah raja pedang, kalian akan
mengerti, jadi kita berangkat saja, aku tidak berani
mengatakan kalau aku lebih pintar dari kalian, kalian tetap
harus banyak mencari tahu, tanpa sungkan lagi aku menerima
pendapat ini, rencanaku tadinya hanya dengan kekuatan 2
orang menyerang ke sana, sekarang lebih dari 3 orang, maka
rencanaku harus dirobah kembali.”
“Bagaimana merobahnya?” tanya Goan Hiong.
“Sekarang kita bergerak setengah terbuka, setengah tidak,
bagian yang tertutup aku dan Goan-heng yang melakukannya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
sedangkan kalian bertiga bergerak secara terang-terangan,
dari sini keluar adalah arah ke Lu-san, orang-orang lembah
raja pedang pasti sangat banyak, pasti ada ciri-ciri yang bisa
kita dapatkan, kalian bertiga berjalanlah di depan secara
terang-terangan, bila ada yang menyerang, lebih baik....”
“Aku tahu, jangan sampai melukai orang,” lanjut Liu Huihui.
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Benar, bukan karena aku
berbaik hati tapi membunuh orang tidak baik dan tidak
berguna, orang perguruan lembah raja pedang sangat kejam,
tidak semua orang bisa bertahan, bila kita membunuh mereka
jadi tidak bisa memilih dan berusaha melawan, bila kita
berbaik hati mungkin akan sedikit membantu, orang yang
berbaik hati selalu banyak yang membantu, pepatah ini tidak
akan salah!”
“Kami bukan orang yang senang membunuh, Lim Toako
tidak perlu merasa khawatir, apakah ada petunjuk lain dari
Lim Toako?” tanya Kie Pi-sia.
“Kalian bertiga dibagi menjadi 2 kelompok lagi, Bwee-nio
sering menyerang secara mendadak, maka dia bisa
bertanggung jawab melindungi kalian berdua dari tempat
tersembunyi, Hui-hui saat di Ceng-seng pernah belajar
bertahan dari Ciu Giok-hu dan putranya adalah orang yang
sering memasang jebakan, aku kira orang lembah raja pedang
pun pasti seperti itu, dengan contoh di Ceng-seng aku percaya
kalian bisa melewatinya dengan lancar.”
“Bila sudah menemukan lembah raja pedang, apa yang
akan kita lakukan?” tanya Liu Hui-hui.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Jangan tunggu kami, kalian maju dulu sampai bertemu
dengan Wong Jong-ceng, kami akan bergerak dengan cepat,
maka yang akan maju dulu adalah kalian bertiga.”
Setelah membagi tugas, ketiga orang perempuan itu segera
berjalan setelah lewat seperminuman teh, Lim Hud-kiam dan
Goan Hiong pun segera pergi.
Untuk menutupi perhatian orang, dari dalam tas yang
dibawanya Lim Hud-kiam mengeluarkan dua helai jubah
berwarna kuning tanah, jubah itu terbuat dari kain sutra, jadi
jubah itu sangat ringan, di atas jubah banyak lubang kancing
dan kancingnya.
Dia mengambil ranting-ranting dan dedaunan, dan
menancapkannya di lubang kancing, dengan begitu orang sulit
melihat jelas bila jubah dipakai di semak-semak yang tumbuh
di gunung.
“Baju Lim Toako ini benar-benar berguna!”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Kedua jubah ini milik
Bwee-nio, bagian luar dipakai siang hari karena berwarna
coklat tanah, sedangkan bagian dalam dipakai waktu malam
hari karena berwarna hitam, katanya ide ini dari Lantiangsiang-
sat, aku menganggap ini adalah penemuan yang bagus!”
“Benar, sangat bagus dan berguna, Lim Toako bisa memiliki
begitu banyak pengetahuan, ternyata telah mengumpulkan
kepintaran dari banyak orang, pantas selalu berhasil.”
“Kepintaran seseorang sangat terbatas, yang bisa membuat
maju bukan aku sendiri yang bekerja, harus mengambil juga
kelebihan orang lain... ayo kita berangkat sekarang.”
Untuk menyesuaikan jubah mereka, maka mereka selalu
memilih berjalan melalui semak-semak, di dalam semak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mereka berusaha bergerak dengan pelan, setiap langkah
dipilih baru berjalan.
Semua ini mengandalkan tenaga dalam dan ilmu
meringankan tubuh, Goan Hiong pun sudah banyak belajar
dari Pui Ciauw-jin tentang teknik akrobat maka langkahnya
cukup mantap, dia bisa mengikuti Lim Hud-kiam, kadangkadang
sekali meloncat harus 20 kaki jauhnya, dan mendarat
di tempat yang hanya bisa ditumpu dengan satu kaki, kadangkadang
hanya satu tangan, menggantung di akar pohon yang
tersembul dari bebatuan.
Cara berjalan seperti itu pasti tidak bisa bisa cepat, tapi
juga tidak lambat, karena mereka berjalan melalui jalan pintas
dan lurus, mereka tidak berjalan berputar-putar. Setelah 1 jam
berjalan mereka sudah tiba di perut gunung, mereka juga bisa
melihat Liu Hui-hui dan Kie Pi-sia yang sedang berjalan cepat.
Dari keadaan mereka berjalan dan pedang yang tergenggam
di tangan, sepertinya mereka telah bertarung, hal ini
membuktikan tempat yang mereka cari sudah tepat lokasinya.
Lu-san hanyalah sebuah puncak di pegunungan Ib-san,
tidak begitu tinggi hanya sekitar 2.000 kaki lebih, tapi karena
gunung di sana sambung menyambung maka perut gunung
sangat luas.
Goan Hiong terus mengikuti Lim Hud-kiam, sebenarnya dia
sudah merasa lelah tapi karena Lim Hud-kiam tidak
beristirahat, maka dia pun malu untuk meminta istirahat dulu,
terakhir karena tidak kuat lagi maka dia baru berkata, “Lim
Toako, apa kita bisa beristirahat sebentar?”
“Tidak, kita harus mengejar waktu.”
“Aku bukan malas, tapi kehabisan tenaga.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Lelah datang dari perasaan di dalam hati, seseorang saat
menganggap dirinya tidak kuat lagi sebenarnya dia baru
menghabiskan tenaga 1/3 nya, kalau benar-benar tidak kuat
bicara pun sudah tidak sanggup, ada suatu kali ketika aku
sedang menyelesaikan suatu masalah, dalam waktu satu
malam aku harus berjalan 200 li, baru berjalan 100 li lebih aku
mulai terengah-engah, tapi hal ini tidak bisa ditunda, akhirnya
aku memaksakan diri dan aku sanggup berjalan sampai di
tempat tujuan, maka jangan merasakan tubuh untuk
mempertimbangkan kekuatan tubuh,” kata Lim Hud-kiam.
“Berusaha berjalan sekuat tenaga pasti bisa, apakah itu
perlu? Kita sudah membuktikan kalau lembah raja pedang ada
di gunung ini tapi kita tidak tahu tepatnya berada di mana,
mengapa tidak melihat dulu dengan tenang, lalu menentukan
rencana selanjutnya?” tanya Goan Hiong.
Lim Hud-kiam tertawa sambil menunjuk Liu Hui-hui dan Kie
Pi-sia, lalu berkata, “Lihatlah, mereka berjalan lebih dulu,
memang arahnya berbeda dengan kita tapi kita tetap se arah,
dan aku pun tidak kontak dengan Hui-hui tapi mengapa kita
bisa berjalan di jalan yang sama?”
Goan Hiong terpaku, “Aku tidak terpikir hal ini, apakah Lim
Toako sudah berjanji dengan Nona Liu?”
“Aku selalu bicara dengan Hui-hui di depan Goan-heng,
mana mungkin kami berjanji terlebih dulu? Apalagi tempat ini
tempat pertama kali kita datang, maka lebih-lebih kita tidak
tahu jalan.”
“Tapi mengapa kita bisa se arah?”
“Karena arah kita sudah benar, dulu aku pernah
mengatakan Ciu Giok-hu mengenai barisan, orang yang keluar
dari Ceng-seng kemana pun dia pergi tidak akan salah jalan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Apakah jalan yang kita tempuh tadi ada tandanya?”
“Ada, tanda itu berobah-robah tapi tetap dalam inti barisan
Wong Jong-ceng, dia harus banyak belajar kepada Ciu Giok-hu
sebab barisan ini kehebatannya hanya separuh dari yang di
Ceng-seng, jadi aku bisa melihat jalan, begitu juga Hui-hui.”
“Mengapa aku tidak melihat tandanya?”
“Kalau tanda dipasang secara terang-terangan, semua
orang bisa melihatnya, semua tanda dibuat dari benda yang
ada di sekitarnya, jadi tidak akan menarik perhatian orang,
kadang seperti ada pohon yang ditebang, kadang ada
setumpuk tanah, orang yang tahu kode-kode ini akan tahu
cara mencari jalan yang benar, cara seperti ini lebih rahasia
dibandingkan menyuruh orang berjaga.”
Goan Hiong terpaku, katanya, “Apakah dengan adanya
tanda-tanda ini, jadi tidak perlu dijaga?”
“Benar, lembah raja pedang ingin menjaga rahasia, maka
dia tidak ingin orang lain memperhatikan keberadaan mereka,
maka di jalan-jalan mereka memasang jebakan supaya orangorang
tidak bisa maju, cara yang paling bagus adalah
menggunakan keadaan alam di sekitarnya untuk menyusun
barisan, atau membuat semacam kolam supaya orang yang
akan menyerang kehilangan arah, lembah raja pedang
menggunakan cara ini.”
“Tapi tetap tidak bisa menghalangi Lim Toako.”
“Orang yang mengerti barisan tidak banyak, Wong Jongceng
tidak menyangka masih ada orang yang mengerti
mengenai barisan ini maka dia tidak waspada.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Mereka berdua berjalan lagi akhirnya mereka merangkak
naik ke sebuah jurang dan dari jurang itu melihat ke bawah
ada sebuah desa yang tertutup oleh kabut dan awan.
Dengan senang Goan Hiong berkata, “Itu pasti Lembah raja
pedang.”
Lim Hud-kiam melihat sebentar lalu berkata, “Benar, orang
itu berbakat, dari luar bangunannya tidak seperti Ceng-seng
tapi di dalamnya sangat ketat, tempat yang dipilihnya pun
sangat tepat, kecuali beberapa orang yang bisa tahu yang
lainnya mungkin akan sulit menemukannya.”
“Apakah kita akan turun sekarang?”
“Sekarang juga, karena di bawah pasti ada penjaga, kita
harus turun melalui jurang, ini pun masih sulit menghindari
perhatian mereka, bila mereka mengetahui kita datang, maka
semua akan sia-sia. Tujuan kita adalah diam-diam
mendapatkan kabar tentang mereka.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Obat bius yang Goan-heng pelajari dari ketua Tiang-kangcui-
cai, Biauw-eng, katanya sudah dijadikan senjata rahasia,
bisa membuat orang tanpa sadar kehilangan tenaga untuk
bergerak.”
“Aku mencuri barang itu dari putrinya Biauw-eng, walaupun
Paman Pui sudah menelitinya cukup lama tapi tetap belum
sempurna, hanya bisa dibuat semacam peluru, setelah
ditembakan keluar akan hancur sendiri, hanya bisa membuat
lawan pingsan sementara, kegunaannya belum begitu besar.”
“Tapi sekarang berguna, berikan beberapa butir kepadaku,
begitu Hui-hui tiba di mulut lembah dan terjadi keributan, kita
ambil kesempatan ini untuk masuk diam-diam.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dari dalam tas kulitnya Goan Hiong mengeluarkan
segenggam butiran obat sebesar kacang kedelai, ada yang
berwarna merah ada juga putih, dia mengambil 2 butir peluru
berwarna putih, sedangkan 5 butir berwarna merah diberikan
kepada Lim Hud-kiam dan berkata, “Jarak kerja setiap butir
peluru ini sekitar 2 tombak persegi, obat yang berwarna
merah adalah obat penawar bila kita akan melempar yang
putih, kita sendiri harus menggigit hancur peluru yang
berwarna merah supaya obat yang ada di dalam peluru putih
tidak menganggu kita.”
Lim Hud-kiam menunjuk ke tempat jauh, “Lihat, Hui-hui
dan yang lainnya sudah sampai!”
Hari masih sore, gunung di bawah terpaan sinar matahari
terbenam terlihat kabut semakin tebal, dari jauh yang terlihat
hanya bayangan orang saja.
“Waktunya sudah tiba, Goan-heng kita turun sekarang, ini
ada 4 paku tajam, setiap jarum mempunyai ring bulat dan ada
sebuah karet gelang yang terbuat dari urat sapi.”
Dia memberikan dua buah kepada Goan Hiong dan
memberitahukan cara penggunaannya, karet gelang itu untuk
diikatkan di kaki dan tangan, mereka mencari dulu tempat
untuk bisa memasang paku di dalam bebatuan, kemudian
tubuh tergantung dengan terbalik, baru menancapkan yang
kedua, lalu kaki pelan-pelan menarik, untuk mencabut paku
bagian kaki, membuka karet yang terikat di kaki baru
memasang yang kedua, dengan cara seperti itu mereka turun
ke bawah.
Dengan kagum Goan Hiong berkata, “Peralatan Lim Toako
benar-benar sempurna!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Peralatan ini milik 5
perguruan, mereka menggunakan untuk mencuri dan untuk
memanjat dinding yang tinggi, setelah aku meninggalkan
Ceng-seng aku berkelana di dunia persilatan, maka permainan
dari 5 perguruan ini bisa kugunakan di tempat lain.”
“Tampaknya pandangan Paman Pui pun tepat, sekarang
karena ilmu silat orang-orang dari 5 perguruan di bawah yang
lain maka mereka menemukan banyak alat bantu, contoh
dinding jurang ini, dengan jurus cecak atau jurus naga
bermain tidak akan bisa digunakan, karena caranya harus
sekaligus naik, tidak ada orang yang sanggup sekaligus naik
maka harus mengandalkan peralatan ini, alat ini juga lebih
mudah kalau dipakai turun, berarti pengalaman lebih penting
dibandingkan ilmu.”
Kaki dan tangan mereka bergerak turun meluncur dengan
pelan, sepanjang jalan Lim Hud-kiam selalu memberitahu,
“Rotan di sebelah sana jangan dipegang, pohon kecil itu tidak
akan kuat menahan beban kita karena semua itu dipasang
tombol-tombol yang tersembunyi, bila terkena akan
mengeluarkan suara.”
Setelah lama mereka berhasil turun, ternyata lembah itu
sangat aneh, di atas seperti tertutup oleh layar kabut dan
awan, tapi di bawah sangat terang, terlihat jelas kalau di sisi
jurang ada sungai dengan lebar sekitar 10 meter. Sungai
sangat bersih tapi air mengalir dengan deras, anehnya tidak
mengeluarkan suara, air mengalir dengan deras ini adalah
penjagaan yang bagus.
Bisa saja ada orang yang turun dari atas menggunakan tali
karena tidak mendengar ada suara air mengalir mereka akan
mengira sudah tiba di dasar dan akan segera meloncat lalu
masuk ke dalam air sungai yang deras ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Sampai di sisi sungai, di belakang paku Lim Hud-kiam
terikat seutas tali kecil kemudian dia melemparnya ke
seberang sungai dan melilitkannya pada sebuah batu besar,
dengan begitu akan membentuk sebuah jembatan tali,
kemudian kedua tangannya menggantung melewati sungai,
Goan Hiong pun melakukannya dengan cara sama
menyebrangi sungai.
Walaupun Goan Hiong mengikuti cara Lim Hud-kiam
menyeberangi sungai dia tetap bertanya, “Lim Toako, lebar
sungai hanya 10 meter lebih, kita masih sanggup
meloncatinya.”
Lim Hud-kiam tertawa, paku yang ada di atas batu dicabut
lalu dia melemparm/a ke sungai segera dari balik semaksemak
menembak keluar panah-panah dengan kencangnya.
Goan Hiong menjulurkan lidahnya dan berkata, “Benarbenar
lihai!”
“Daun bambu yang menutupi tempat ini, dalam beberapa
langkah pasti ada yang palsu untuk mengaktifkan tombol,
sewaktu turun tadi aku sudah melihatnya, karena di sini ada
jalan tapi tidak ada seorang pun yang berjaga pasti otomatis
tempat ini digunakan untuk menghalangi musuh, sekarang kita
sudah masuk ke wilayah batas lawan, kita harus lebih berhatihati,
begitu melihat ada bayangan kita harus berusaha
menaklukkan dia.”
Selain mengangguk Goan Hiong tidak bisa berkata apa-apa.
Mereka menelusuri jalan kecil itu, baru berjalan sekitar 60
meter, terlihat ada sebuah gubuk kecil, begitu mendekat Lim
Hud-kiam melemparkan peluru melalui jendela lalu mendorong
pintu untuk masuk.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dekorasi gubuk itu sangat sederhana sepertinya tepat untuk
dijadikan tempat peristirahatan bagi orang yang berpatroli,
hanya ada seorang pak tua dan dua orang anak, mereka
pingsan.
Melihat di dalam gubuk ada puluhan jubah berwarna hitam
dan topi caping yang tergantung, Lim Hud-kiam dan Goan
Hiong segera mengambil satu dan memakainya, lalu topi
caping dipakai untuk menutupi wajah dan mata mereka.
Tidak lama kemudian, dari depan muncul 2 orang, baju
mereka sama persis dengan baju yang dipakai Goan Hiong
dan Lim Hud-kiam, salah satu dari mereka menyapa, “Apakah
kalian Li-si dan Ong Lo-ci!”
Lim Hud-kiam menjawab dengan suara yang tidak jelas,
orang itu berkata lagi, “Bukankah kalian baru datang dari
rumah yang ada di selatan? Baru sebentar kalian sudah
berada di sini, kalian lebih cepat dari kami.”
Yang satu lagi berkata, “Pasti mereka sudah makan dulu, Lisi,
kau harus hati-hati, anjing yang kita masak di lembah,
mereka sedang mencarinya.”
Lim Hud-kiam dan Goan Hiong tidak berani sembarangan
menjawab, lelaki pertama bertanya, “Mengapa kalian diam
saja? Apakah sepanjang perjalanan tadi telah terjadi sesuatu
?”
Yang satu lagi berkata, “Tidak mungkin, sebab di belakang
desa ada sungai yang menghalangi, kera pun tidak akan
sanggup memanjat-nya, aku kira mereka tidak bisa menjawab
karena mulut mereka penuh dengan daging anjing.”
Mereka pun pelan-pelan mendekat, sesudah dekat tiba-tiba
mereka menyerang, cahaya pedangnya sangat cepat, Lim
Hud-kiam dan Goan Hiong cepat-cepat menghindar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Apa yang kalian lakukan?” teriak Lim Hud-kiam.
“Siapa kalian? Mengapa tidak membuka mulut?”
“Li-si dan Ong Lo-ci, yang baru kalian temui tadi,” jawab
Lim Hud-kiam.
Lelaki itu tertawa dingin, “Kalian bisa menipu setan, tapi
jangan harap menipu kami! Aku adalah Li-si dia adalah Ong
Lo-ci, kami berdua yang berpatroli di jalan ini, siapa kalian!?”
Ong Lo-ci berkata, “Li-si, mereka juga mengenakan baju
yang sama, mungkin mereka dari desa bagian depan, karena
tahu kita sudah memotong dan memasak daging anjing, maka
mereka datang untuk mencurinya, kau lihat yang satu ini,
mulutnya masih bergerak-gerak, kalian sudah makan daging,
harap jangan menyebarkan.”
Lim Hud-kiam dengan cepat berkata, “Benar, Ong Toako,
daging anjing ini memang sangat harum, karena anjing kami
menghilang maka aku datang untuk mencarinya, begitu
mencium harum daging aku sudah tahu kalau kalian yang
mencuri, Pengurus Liu benar-benar marah!”
Ong Lo-ci marah, “Aku paling benci si buta itu, dia selalu
memakai nama tuan menjadi tamengnya, orang-orang di sini
semua lebih lama darinya tapi dia malah melebihi kami,
mengenai daging anjing, aku harap dua bersaudara bisa
membantu menutupinya.”
“Tidak masalah, kami sudah makan dagingnya, masa kami
akan mengadukan kalian?” kata Goan Hiong.
“Apakah kalian di desa depan selalu dihina oleh si buta itu?”
tanya Li-si sambil tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tidak perlu dibicarakan lagi, semenjak kembali dari Taisan,
dia bertambah sadis dan galak dibandingkan tuan, aku
sungguh ingin mencari kelemahan dan menj eb akny a,”
“Tapi sekarang dia pun sedang sibuk, di depan datang 3
orang perempuan, nona memang datang menghalangi mereka
tapi bila ada orang yang bisa masuk, dia harus bertanggung
jawab, daging anjing berbulu itu apakah sudah matang?”
tanya Ong Lo-ci.
“Sudah matang, tapi pak tua itu terlalu pelit, hanya
memberi satu mangkuk kecil untuk kami,” kata Goan Hiong.
“Jangan salahkan dia, kalian yang berjaga di bagian depan
selalu makan daging. Kami yang di sini setiap hari makan
lobak dan pecai, dengan susah payah baru berhasil
mendapatkan seekor anjing, kalian datang untuk meminta,
pantas dia pelit, saudara, kita jarang bertemu aku punya arak
bagus, kita berteman untuk mengumpat, bagaimana?”
“Sepertinya kami tidak bisa, karena kami masih harus ke
depan lagi.”
Ong Lo-ci tertawa, “Di depan tidak ada masalah, 3
perempuan itu sudah nona undang ke desa barat, mereka
akan digabung dengan orang-orang yang dibawa pulang oleh
nona, jadi di sana pasti tidak akan terjadi apa pun.”
Dua orang itu sudah masuk ke dalam rumah, Goan Hiong
berkata, “Ong Toako, tunggu sebentar! Aku ingin menanyakan
sesuatu di depan....”
Ucapan Goan Hiong belum selesai, Ong Lo-ci dan Li-si
berbalik untuk menyerang, jurus mereka sangat ganas,
terpaksa Goan Hiong menahannya dengan pedang, Lim Hudkiam
mencabut Pedang buntung untuk melawan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Sambil bertarung Goan Hiong bertanya, “Ong Toako,
mengapa tiba-tiba menyerang kami? Aku jamin tidak akan
memberitahu siapa pun kalau kalian mencuri anjing.”
Ong Lo-ci tertawa dingin, “Kalian tidak perlu berpura-pura,
kami belum pernah mencuri anjing, kami juga bukan orang
bagian desa belakang, karena di desa belakang ini tidak
pernah ada orang yang berjaga, karena di depan ada orang
yang datang menyerang maka kami diperintahkan ke belakang
untuk melihat-lihat, penjagaan di lembah raja pedang sangat
ketat, mana mungkin kami akan mengijinkan kalian masuk?
Kalian sebenarnya dari kelompok mana?”
Kata Li-si dengan dingin, “Mereka bisa tahu nama Pengurus
Liu, pasti datang dari Tai-san, Lo-ong, tangkap mereka,
jangan sampai jasa ini diambil orang lain.”
Jurus pedang kedua orang itu sangat lihai, Goan Hiong
hampir tidak bisa menahan serangan mereka, dia terpikir
menggunakan peluru yang bisa membuat pingsan, tapi Lim
Hud-kiam terus melarang dengan bahasa isyarat.
Pertarungan Goan Hiong semakin sulit, untung Lim Hudkiam
terus membantunya, maka dia tidak sampai kalah,
sedang Lim Hud-kiam yang ingin mengalahkan mereka
sendirian bukan hal yang mudah.
Semakin lama Goan Hiong semakin kesulitan, ketika dia
akan melempar peluru, Lim Hud-kiam sudah meloncat ke
pinggir.
Ong Lo-ci berteriak, “Hadang dia, yang satu lagi akan
kabur!”
Tiba-tiba muncul 3 bayangan, mereka terjun dalam
pertarungan lagi, tiba-tiba jurus pedang Lim Hud-kiam
berubah, dia menyerang dengan cepat, 3 orang yang terakhir
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
datang, dada mereka terkena pedang dan mereka telah
ditotok.
Goan Hiong dengan cepat menghancurkan peluru dan
membuat Li-si serta Ong Lo-ci pingsan, kemudian dia
menghembuskan nafas dan berkata, “Lim Toako, tadi benarbenar
berbahaya sekali, ilmu pedang mereka begitu lihai,
mengapa tadi kau melarangku mengggunakan peluru ini?”
“Aku ingin Goan-heng mengobrol dulu dengan mereka,”
jawab Lim Hud-kiam sambil tertawa.
“Aku hanya ingin tahu sedikit kabar dari mulut mereka tapi
mereka benar-benar pintar, yang mereka katakan semuanya
bohong.”
Lim Hud-kiam tertawa, “Dari awal aku sudah tahu mereka
berbohong, di gubuk itu tidak ada tungku, dari mana mereka
bisa memasak daging anjing? Kedua orang itu ingin
menangkap kita, dan memberikan jasa kepada perguruan
mereka.”
“Mengapa Lim Toako bukan lebih awal membereskan
mereka?”
“Aku tahu masih ada 3 orang lagi yang sedang
bersembunyi, bila sekaligus meringkus kedua orang itu,
mereka yang bersembunyi tidak akan keluar, bukankah kita
akan membocorkan identitas kita sendiri dan menghilangkan
kesempatan yang ada?”
“Apakah sekarang sudah aman?”
“Aman, menurut pendengaranku hanya ada 5 orang,” jawab
Lim Hud-kiam.
“Kalau kita berjalan terus sepertinya tidak mungkin, karena
orang-orang di sini saling mengenal, bila bertemu dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
salah satu dari mereka, rahasia kita akan terbongkar,” kata
Goan Hiong.
“Tidak juga, kurasa masih bisa, kita bisa meminjam nama
Li-si dan Ong Lo-ci dan kita akan terus.”
“Mana mungkin? Sekali melihat pun orang akan tahu.”
Lim Hud-kiam tertawa, “Bila semua orang di sini saling
kenal, baju ini tidak perlu diberi nomor lagi, wilayah lembah
raja pedang sangat luas, orangnya pun banyak, tidak mungkin
semua orang saling mengenal, kalau tidak mengapa kedua
orang tadi harus memancing kita dulu?”
Goan Hiong masih tidak percaya, tapi Lim Hud-kiam berkata
lagi, “Aku tumbuh di Ceng-seng dan tahu rahasia-rahasia
perguruan seperti ini, demi menjaga rahasia mereka tidak
akan mengijinkan anak buahnya sering bertemu dan saling
mengenal, dengan begitu mereka bisa saling mengawasi, saat
aku berada di Ceng-seng, anak buah Ciu Giok-hu tidak saling
kenal, aku kira keadaan di sini pun pasti sama seperti itu, jadi
kita masih bisa terus, aku cari dulu apakah di tubuh mereka
ada ciri khasnya?”
Dia membalikkan tubuh mereka akhirnya dari tubuh mereka
Lim Hud-kiam menemukan sebuah plakat, di atas plakat
masing-masing tertulis nama mereka, tapi di sebelah nama
ada ukiran aneh.
Di tubuh dari 3 orang yang ditotok pun ditemukan 3 plakat
dengan bentuk dan gambar yang sama, hanya warnanya yang
berbeda, plakat Li-si dan Ong Lo-ci berwarna kuning,
sedangkan plakat ketiga orang itu berwarna biru, setelah
melihat dan membandingkan Lim Hud-kiam baru berkata,
“Plakat ini dengan Ngo-heng (5 unsur) ada hubungannya,
kuning mewakili tanah, maka tingkatannya paling tinggi,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kedua adalah api dan air, lalu kayu, serta emas, warnanya
adalah merah, biru, putih, dan hitam, ketiga orang itu adalah
kayu, maka mereka berada di bawah Li-si dan Ong Lo-ci.”
“Benar, ilmu silat ketiga orang ini lumayan bagus, apalagi
kedua orang itu bila satu lawan satu aku akan kalah berarti
kedudukan mereka di lembah raja pedang pasti tinggi, kalau
memalsukan identitas mereka aku kira itu kurang baik,” kata
Goan Hiong.
“Belum tentu, tingkat semakin tinggi semakin mudah
dipalsukan, karena mereka jarang bertemu, kita masingmasing
membawa satu plakat, Goan-heng, sementara
namamu menjadi Ong Lo-ci.”
Karena itu Goan Hiong mengambil plakat Ong Lo-ci, Lim
Hud-kiam mengambil plakat Li-si, mereka terus berjalan
dengan was-was. Goan Hiong berkata, “Bagaimana keadaan
ketiga perempuan itu? Bila bertemu dengan Wong Han-bwee
hasilnya lebih banyak yang tidak baik dibandingkan yang
baik.”
“Kukira nyawa mereka tidak akan terancam, sebab
perlakuan orang-orang lembah raja pedang kepada kita sedikit
ada kelonggaran, maka untuk sementara mereka tidak akan
bermusuhan dengan kita.”
“Tapi kita sudah masuk ke wilayah terlarang mereka dan
melanggar peraturan mereka.”
Lim Hud-kiam tertawa, “Ini membuktikan kekuatan kita di
luar dugaan mereka, maka posisi kita akan bertambah kuat,
jadi mereka akan lebih berhati-hati kalau ingin menangkap
kita, apalagi Hui-hui dan yang lainnya masuk melalui pintu
utama, perjalanan mereka memang berada di dalam
pengawasan-nya, jadi tidak perlu membunuh untuk menutup
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mulut, kedua orang tadi sudah mengatakan kalau mereka
dibawa ke desa utara, kata-kata mereka bisa dipercaya karena
mereka tidak akan berbohong.”
“Aku harap bisa seperti itu!” kata Goan Hiong.
“Tidak perlu mengkhawatirkan Nona Kie, kalau terjadi
sesuatu pada mereka, orangku lebih banyak darimu.”
“Bukan mempertimbangkan banyak atau sedikitnya, nyawa
Pi-sia sudah seperti nyawaku sendiri.” Dengan serius Lim Hudkiam
berkata, “Goan-heng, keberadaan Hui-hui dan Bwee-nio
di dalam hatiku tidak kurang seperti keberadaan Nona Kie di
hatimu, tapi tugas kita sekarang benar-benar penting, kalau
demi Nona Kie kau salah langkah aku akan
mempersilahkanmu pulang!”
“Pulang? Pulang ke mana?”
“Terserah, asal jangan bersamaku karena aku yang
sekarang sudah membuang perasaan pribadi.”
Goan Hiong merasa malu dia menundukkan kepalanya dan
diam, Lim Hud-kiam berkata lagi, “Tujuan kita adalah mencari
tahu tentang lembah raja pedang yang belum diketahui orang
lain, dengan susah payah kita sudah sampai di sini kita harus
menggunakan kesempatan ini, biarkan kepala dingin
menguasaimu.”
Goan Hiong berpikir sebentar lalu berkata, “Lim Toako, aku
sudah tahu sekarang apa yang harus kulakukan?”
“Kita terus berjalan ke bawah, kita harus lebih lincah
menghadapi situasi, sampai bertemu dengan Wong Jong-ceng
dan kita lihat apa yang akan dia lakukan.”
“Aku akan mengikuti petunjuk Lim Toako.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Sebelum identitas kita ketahuan, kita tetap harus berkepala
dingin, walaupun kau melihat Nona Kie sedang dalam keadaan
bahaya, kau harus bisa menahan diri.”
“Aku tidak bisa aku kira Lim Toako pun tidak akan bisa.”
“Kata-katamu jujur, aku hanya memebri ingat padamu bila
terjadi sesuatu, tetap harus berkepala dingin, tapi kalau
melihat orang lain berada dalam bahaya dan tidak menolong
aku kira tidak ada seorang pun yang sanggup, maksudku
adalah bila keadaan tidak begitu berbahaya lebih baik tetap
berkepala dingin, baru pelan-pelan mencari cara untuk
menolong dari pada terburu-buru.”
“Aku kira aku akan bisa melakukannya.”
Mereka pelan-pelan melangkah lagi, tidak lama kemudian
muncul dua orang lelaki dengan penampilan yang sama,
berjalan di depan mereka.
Goan Hiong sangat tegang, dia bersiap-siap untuk
menjawab, Lim Hud-kiam menahan pundaknya, “Jangan
bergerak, ikuti mereka!”
Mereka berjarak 50 meter dan mengikuti orang-orang tadi,
sewaktu hampir berada di depan pintu desa tiba-tiba ada yang
membentak, “Orang yang datang, harap berhenti melangkah
dan laporkan nomor kalian!”
Kedua orang itu berhenti yang satu segera berkata, “Desa
timur, Bok Jin-hui, Bu Sang-ping.”
“Tidak perlu menyebutkan nama, kode masing-masing
saja.”
Lelaki yang menyebutkan namanya segera tertawa,
“Mungkin Toako belum mendengar pemberitahuan dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Pengurus Liu, hari ini caranya berubah, hanya menyebutkan
nama, tidak perlu menyebut nomor!”
Orang yang memerintah itu tertawa dingin, “Ini adalah
wilayah kekuasaan Pengurus Liu, masa aku tidak tahu
pemberitahuan dari Pengurus Liu ?
Orang yang lewat tetap harus menyebutkan nomor!”
“Mengapa?”
“Jangan banyak tanya, berapa nomormu?”
Terpaksa lelaki itu menjawab, “Kayu. Nomor 9 dan 14.”
“Serahkan plakat pinggang untuk diperiksa.”
Mereka membuka plakat pinggang dan memberikannya
kepada orang itu.
“Periksa daftar nama, apakah cocok?”
Tidak lama kemudian di belakang ada yang menjawab,
“Nama dan nomor cocok.”
Orang itu mengembalikan plakat dan berkata, “Silakan
lewat, kalian berpatroli di bagian mana?”
“Daerah selatan, semua baik-baik saja, tidak ada yang
mencurigakan.”
“Laporkan kepada pusat, aku percaya tidak akan terjadi
sesuatu, perempuan-perempuan itu bisa masuk, boleh
dikatakan sangat sulit, apalagi di tempat lain tidak akan ada
yang bisa masuk, Pengurus Liu terlalu membesar-besarkan
masalah. Hanya membuat diri sendiri repot.”
Kedua lelaki itu sudah lewat, Goan Hiong bertanya dengan
suara kecil, “Bagaimana dengan kita?”
“Tidak apa-apa, kita jalan ke sana untuk melihat.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Mereka menyusuri jalan ke depan tidak menunggu orang itu
bertanya.
Lim Hud-kiam sudah mengeluarkan plakat dari
pinggangnya, orang itu melihat sebentar lalu langsung dengan
hormat berkata, “Silakan, Anda berdua!”
Tidak menanyakan nomor mereka juga nama, apa yang
Goan Hiong khawatirkan tidak terjadi, mereka dengan lancar
melewatinya.
Setelah lewat dia baru bertanya, “Lim Toako, apa yang
terjadi?”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Dua orang yang kita
palsukan identitasnya, Goan-heng pernah bertarung dengan
mereka bukan? Dan tahu ilmu silat mereka seperti apa?”
“Ilmu silat mereka memang termasuk sangat kuat, kalau
tidak dibantu dengan peluru bius itu ingin menang dari mereka
bukan hal yang mudah.”
“Benar, memang orang-orang lembah raja pedang setiap
orangnya mempunyai ilmu pedang yang hebat, tapi tetap saja
mereka terbagi menjadi beberapa tingkatan, ilmu silat kedua
orang itu memastikan kalau kedudukan kedua orang itu tidak
rendah, maka bila mengeluarkan plakat kuning tidak akan
terhalang oleh peraturan mereka.”
“Tapi mereka tetap harus menanyakannya dengan jelas
bukan?”
“Orang-orang lembah raja pedang yang bisa mempunyai
plakat kuning sangat sedikit, mereka tidak mungkin dengan
mudah ditaklukkan, lebih-lebih tidak mungkin gampang
dipalsukan.”
“Bukankah kita sudah memalsukan dua orang?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Karena keadaan kita sangat khusus, juga karena kita
mempunyai peluru bius jadi jalan kita tetap lancar.”
“Lim Toako benar-benar mempunyai rencana sempurna!”
“Bukan karena rencanaku yang sempurna, tapi menurut
kesimpulanku kedua orang itu sudah tahu kalau kita adalah
orang luar yang masuk ke sini, tapi mengapa mereka tidak
mengeluarkan suara dan memberitahu semua anggota di
sana? Semua karena mereka merasa ilmu silat mereka cukup
tinggi dan mampu menangkap kita hidup-hidup, kalau bukan
karena mereka mempunyai kedudukan yang tinggi, mereka
tidak akan begitu berani. Maka sewaktu mereka bertemu
dengan kita mereka pun tidak menanyakan nama dan nomor,
berarti peraturan di sini tidak berlaku bagi mereka.”
Goan Hiong bertambah kagum lagi kepada Lim Hud-kiam,
mereka terus berjalan, di sepanjang jalan mereka memang
bertemu dengan orang-orang yang berbaju sama dengan
mereka tapi tidak ada seorang pun yang berusaha
mengintrogasi mereka.
Mereka berputar dan berkeliling di depan desa tapi tidak
terlihat sesuatu, hanya mengetahui kalau anak buah raja
pedang sangat banyak dan setiap prang mempunyai dasar
ilmu silat yang tinggi.
Goan Hiong menarik nafas, semenjak Wong Jong-ceng
menyebut dirinya sebagai raja pedang, kelihatannya tidak
digembar-gemborkan, padahal anak buahnya begitu banyak
bila dibandingkan dengan perguruan lain di dunia persilatan,
tidak ada orang yang bisa mengalahkan mereka, pesilat
tangguh dari 5 perguruan bila ada yang datang ke sini, pasti
akan menjadi orang di lapis ketiga!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Orang banyak belum tentu bisa menjadi ancaman, raja
pedang bukan dinilai dari kekuatan ilmu silat, dari awal Wong
Jong-ceng sudah membuat kesalahan.”
“Menurut Lim Toako, bagaimana caranya baru bisa menjadi
raja pedang?”
“Di dalam pedang tidak ada raja, bila dia ingin menjadi
pemimpin dunia persilatan, seharusnya di mulai dari kode etik,
kemudian wibawa dan kebaikan, contohnya dia hanya
mempunyai kekuatan yang hebat, bila secara terang-terangan
mendirikan perguruan lalu membela keadilan dan kebenaran,
malah akan dihormati banyak orang, otomatis gelar raja
pedang bisa diraih olehnya, tapi dia sengaja melakukannya
dengan cara mengancam, mana mungkin orang akan
menerimanya?”
Goan Hiong menghela nafas, “Lim Toako tadi menyebutkan
aturan yang serius, tapi ada yang menjalankannya dengan
cara sesat, maka dia tidak akan sukses, tapi bila dalam waktu
setengah bulan lagi tidak ada orang yang sanggup
mengalahkan Wong Jong-ceng dia akan membuat semua
orang dunia persilatan tunduk kepadanya, waktu itu siapa
yang bisa membantahnya? Sebab dia adalah raja pedang.”
“Apakah mudah menaklukkan seseorang?”
“Sulit ditebak, ketua dari 5 perguruan mengkhawatirkan
perguruan mereka, maka mereka selalu mengambil keputusan
yang hanya menguntungkan perguruannya saja, bila kekuatan
Wong Jong-ceng sampai di batas kita bisa menahannya,
mereka akan bertekuk lutut! Apalagi kelompok Ciu Giok-hu!”
“Apakah dunia persilatan ini hanya ada mereka?”
“Yang pasti tidak, tapi orang yang bisa melawan raja
pedang sangat sedikit, guruku dan ayahku sudah berumur,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
memang mereka tidak akan bertekuk lutut, tapi tenaga
manusia ada batasnya, saat mereka tidak bisa menolong lagi
mereka akan melepaskan pedang dan mengundurkan diri dari
dunia persilatan.”
“Kita tidak membicarakan yang tua-tua, bagaimana
pandangan Goan-heng mengenai masalah ini?”
“Aku? Aku tidak akan bertekuk lutut, juga tidak akan
mundur begitu saja, tapi aku tahu kalau kekuatanku terbatas,
paling nyawaku yang melayang, tapi apakah bisa membantu
keadaaan ini?”
“Tidak, kau terlalu meremehkan diri sendiri, pesilat pedang
harus mempunyai semangat pantang mundur, asal semangat
kita tidak mati, roh pedang akan selalu menyertai kita.”
Semangat Goan Hiong terangkat, dia membusungkan
dadanya dan berkata, “Lim Toako menaruh harapan begitu
besar di bahuku, mengajakku bersama-sama menghalangi air
yang mengalir begitu deras, aku siap berjuang hingga titik
darah penghabisan!”
Lim Hud-kiam tertawa, “Di sini kita tidak menemukan
masalah, karena orang yang diculik semua berada di desa
sebelah barat, mari kita ke sana untuk melihat-lihat.”
Karena itu mereka berbalik lagi ke arah barat, tapi
kelihatannya di sana penjagaannya sangat ketat, setiap 20
meter selalu ada penjaga yang secara terang-terangan berjaga
atau diam-diam.
Karena baju mereka sudah bernomor maka mereka secara
terang-terangan berjalan di tengah. Tidak ada yang bertanya,
maka mereka pun dengan lancar berjalan sampai di depan
pintu sebuah gedung, ada orang yang datang menghalangi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam dengan lancar memperlihatkan plakatnya,
Goan Hiong pun demikian, setelah melihat orang itu dengan
sungkan berkata, “Ternyata kedua kakak, ada petunjuk apa?”
“Kami berpatroli di sebelah selatan desa, sengaja datang
untuk melapor kepada Pengurus Liu.”
Orang itu terkejut, “Apakah di selatan ada yang tidak
beres?”
“Tentu saja ada, kalau tidak ada, kami tidak perlu datang
untuk melapor.”
“Apa yang terjadi di sana?”
“Apakah aku harus melaporkan dulu kepadamu?”
Orang itu tertawa, “Tentu saja tidak, hanya saja Pengurus
Liu sedang menemani nona mengantar 3 orang perempuan
yang datang menyerang kita, mereka diantar ke kurungan
para tahanan, kalau keadaan tidak gawat....”
“Gawat atau tidaknya bukan kau atau aku yang
menentukannya, di selatan desa terjadi sedikit keributan, ada
yang terbunuh, kami sudah mencari ke seluruh desa tapi tidak
menemukan ada orang luar, maka kami ingin melaporkannya
kepada Pengurus Liu dan meminta petunjuk kepada beliau!”
“Apakah yang mati adalah orang kita?” orang itu sedikit
terkejut.
Dengan santai Lim Hud-kiam menjawab, “Kalau yang mati
orang luar aku akan membawa mayatnya kemari, kedua orang
itu terbunuh oleh pedang, apakah dia diserang musuh atau
diserang oleh orang sini karena alasan balas dendam pribadi,
kami tidak tahu maka kami ingin mempersilakan Pengurus Liu
ke sana untuk menyelidiknya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku yakin pasti bukan orang lembah ini, sebab mereka
tidak akan berani berbuat seperti itu!” kata orang itu.
“Apakah dulu pun tidak pernah terjadi hal seperti itu?”
tanya Lim Hud-kiam dengan dingin.
Melihat Lim Hud-kiam marah, orang itu dengan cepat
berkata, “Toako, jangan marah, aku hanya bertanya, sebab
nona berpesan tidak ada seorang pun yang diijinkan masuk ke
tempat tahanan, tapi karena hal yang ingin kalian sampaikan
sangat penting jadi kalian merupakan perkecualian, aku akan
segera menemani kalian masuk!”
“Lebih cepat lebih baik, sebab bila orang lembah sendiri
yang membalas dendam karena urusan pribadi, sepertinya
tidak akan menjadi masalah berat, tapi bila dilakukan oleh
orang luar, berarti orang itu sudah masuk ke lembah kita,
kalau tidak segera mencarinya siapa yang akan bertanggung
jawab?”
Orang itu segera berpesan kepada orang yang ada di
sisinya, dia membawa jalan di depan tidak lama kemudian Lim
Hud-kiam melihat tempat ini dengan tempat-tempat yang ada
di lembah tidak sama, sepanjang jalan memang terpasang
lampu yang tergantung tapi masih terasa seram, kecuali
tempat masuk ada yang berjaga setelah masuk tidak ada
seorang penjaga pun. Tapi penuh dengan tombol-tombol
sepertinya ini adalah tempat penting.
Di sini hanya ada beberapa rumah yang lainnya tidak
terlihat.
Goan Hiong pun melihat keadaannya lain, dengan suara
sangat kecil dia bertanya, “Lim Toako, bila di sini adalah
tempat untuk mengurung orang luar, mengapa tidak ada
seorang pun? Di mana orang yang telah diculik?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam menjawab dengan suara sangat kecil, “Di
bawah tanah.”
Goan Hiong sedikit terkejut, Lim Hud-kiam menjelaskan,
“Orang biasa sulit mengerti, tapi aku tumbuh di Ceng-seng,
dan kebetulan aku telah belajar mengenai hal ini, ini adalah
lapisan batu bara.”
Orang yang di depan yang membawa jalan menoleh, Lim
Hud-kiam segera tertawa, “Kami sedang mengobrol, karena
Kakak Li-si belum pernah kemari maka aku menjelaskan
keadaan di sini.”
Kemudian dia pelan-pelan memegang, Goan Hiong segera
tertawa, “Aku selalu merasa aneh, orang lembah tidak pernah
membeli batu bara keluar tapi mereka selalu memasak dengan
batu bara, ternyata batu baranya diambil di sini.”
Orang itu tertawa, “Tuanku memilih tempat ini menjadi
tempat tinggalnya, juga karena alasan pertambangan batu
bara yang di sini sangat banyak, kecuali dipakai sendiri, setiap
tahun masih sempat dijual keluar, kami bisa mendapatkan
banyak uang, kalau tidak bagaimana tuan bisa menghidupi
kita?”
“Ternyata batu bara di lembah ini bisa dijual keluar?” tanya
Lim Hud-kiam.
“Benar, apakah Ong Lo-ci tidak tahu?” tanya orang itu.
“Mana mungkin kami tahu? sebab tidak semua orang
diijinkan masuk ke tempat ini, saat batu bara dikirim keluar
tidak melewati jalan depan, jadi tidak ada yang
mengatakannya.”
Orang itu mengangguk, “Karena pemikul batu bara adalah
orang luar, tuan kami takut rahasia lembah ini akan tersebar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
maka tuan membuka satu jalan khusus, tidak perlu sampai ke
dalam desa, maka kalian tidak tahu, orang lembah dilarang
kemari itu juga demi menjaga rahasia bila kalian keluar dari
sini nanti tetap harus menjaga rahasia ini.”
“Itu sudah pasti, kami masih ingin terus hidup,” kata Lim
Hud-kiam.
“Pertambangan yang sudah habis batu baranya dijadikan
tempat kurungan, karena berada di bawah tanah maka
penjagaannya lebih mudah dan leluasa.”
Mereka tiba di depan sebuah rumah kecil, orang itu
mengetuk pintu dan menyebutkan kode rahasia dengan orang
yang ada di dalam, kemudian dia berkata, “Silakan masuk!”
Melihat orang itu tidak masuk Lim Hud-kiam dengan
tertawa bertanya, “Mengapa Kakak tidak membawa kami
masuk?”
“Aku hanya bisa membawa jalan sampai di sini, di dalam
ada orang yang membawa jalan lagi, aturan di sini sangat
khusus, gerakan setiap orang ditentukan di setiap
wilayahnya.”
“Sebenarnya Toako tidak perlu membawa jalan, hanya
tinggal menunjukkan, kami bisa pergi sendiri!” Orang itu
tertawa, katanya, “Karena kedudukan Toako berada di atasku,
maka aku harus mengantar kalian dan memberitahu orang
disini.”
“Kau sungguh sungkan kepada kami, kami hanya ingin
berteman denganmu tapi belum sempat menanyakan marga
dan namamu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Pengurus Liu sudah menentukan, orang yang berada di
dalam lembah tidak boleh berhubungan dengan orang di luar
lembah, jadi namaku tidak perlu disebutkan.”
“Tidak, aku tetap ingin tahu, karena di sebelah timur ada
dua orang yang terbunuh, jadi kita harus menjaga rahasia,
sekarang hanya kau yang tahu bila kabar ini tersebar kita akan
lebih mudah menelusurinya, jadi kami harus menanyakan
dengan jelas.”
Orang itu terdiam lama baru menjawab, “Namaku adalah
Kiu Bu.”
Lim Hud-kiam mengulurkan tangannya, “Kita cocokkan
plakat.”
Orang itu masih terlihat ragu, akhirnya dia mengeluarkan
sebuah plakat, Lim Hud-kiam melihat plakat itu, wajah orang
itu terlihat tegang, tapi Lim Hud-kiam dengan tenang
mengembalikan plakat itu dan berkata, “Harap Kiu-heng
banyak memberi petunjuk kepada kami.”
Melihat Lim Hud-kiam tidak melakukan sesuatu, maka
dengan tenang dia menjulurkan tangannya mengambil plakat,
Lim Hud-kiam dengan sungkan berkata, “Terima kasih Kiuheng
sudah membawa kami jalan, kembalilah ke tempatmu
tadi.”
Sewaktu orang itu meletakkan kembali plakatnya di
pinggang, Lim Hud-kiam menancapkan jarum di leher oran itu
dan Kiu Bu tanpa suara jatuh ke lantai, Lim Hud-kiam
menahan dengan kedua tangannya supaya jatuhnya tidak
mengeluarkan suara, dia masih sempat berpesan, “Kiu-heng,
jangan lupa hal yang tadi kukatakan!”
Wajah Goan Hiong berubah, dia tidak mengerti mengapa
Lim Hud-kiam tiba-tiba membunuh orang itu, sebab selama ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
perjalanan mereka lancar jadi tidak perlu sampai harus
melukai orang.
Tapi dia tidak berani menanyakannya, wajah Lim Hud-kiam
terlihat serius, dia membawa tubuh Kiu Bu ke depan pintu tadi
dan mengetuknya, orang yang ada di dalam berkata,
“Masuklah, pintu tidak dikunci.”
Lim Hud-kiam mendorong tubuh Kiu Bu masuk, terlihat
cahaya pedang berkelebat, dan tubuh Kiu Bu sudah terbagi
menjadi dua bagian, mayatnya pun jatuh ke lantai, seperti
jatuh ke tempat yang dalam.
Lim Hud-kiam segera menirukan suara Kiu Bu, “Bagus, kita
sudah bereskan satu, satu lagi sudah kuhadang, cepat keluar
untuk membantuku!”
Kemudian sebilah pedang menyerang ke arah Goan Hiong,
Goan Hiong mengerti maksudnya, maka dia segera
mengangkat pedang untuk melawan supaya senjata mereka
saling beradu dan mengeluarkan suara, segera dari dalam
muncul seseorang, karena baju mereka sama dan lampu
kurang terang dia tidak tahu harus membantu siapa.
Lim Hud-kiam masih menirukan suara Kiu Bu, “Cepat, bantu
aku, tunggu apa lagi?”
Karena dia mendengar suara Kiu Bu maka dia pun
menyerang Goan Hiong, tapi pedang Lim Hud-kiam sudah
memukul belakang leher orang itu, karena pedangnya adalah
pedang tumpul maka orang itu sempat terhuyung-huyung dulu
lalu jatuh dan tidak bangun lagi.
Mereka berhenti beradu senjata, Lim Hud-kiam memapah
orang itu, leher orang itu sudah lemas dan tidak bergerak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dia memeriksa tangan orang itu lalu meletakkannya lagi,
dia menghela nafas panjang.
“Apa yang terjadi?” tanya Goan Hiong.
Wajah Lim Hud-kiam tampak sedih, suaranya terdengar
memelas dan tercekat, “Sejak aku berlatih ilmu pedang, aku
belum pernah membunuh, tapi hari ini aku telah membunuh 2
orang.”
“Apakah orang itu mati?”
“Benar, tenagaku terlalu besar, membuat tulang lehernya
patah.”
Dengan aneh Goan Hiong berkata, “Tenaga tangan Lim
Toako selalu seimbang, mengeluarkan tenaga pun tidak terlalu
besar, mengapa dia bisa mati?”
“Aku sudah mengatur tenaga tanganku, tapi karena ilmu
pedang orang itu sangat tinggi, maka aku pun menambah
tenagaku, seharusnya orang itu kuat menahannya.”
“Mungkin kebetulan saja.”
Tiba-tiba dia melihat tangan Lim Hud-kiam yang memegang
senjata, dan dia sedang bersiap-siap mematahkan tangannya
maka Goan Hiong segera menariknya dan berkata, “Apa yang
Lim Toako lakukan?”
Lim Hud-kiam menarik nafas, “Aku menggunakan pedang
tumpul semua itu kulakukan supaya tidak membunuh orang,
akhirnya tetap saja aku melakukan pembunuhan, tampaknya
aku tidak boleh memakai pedang lagi.”
“Tadi setelah Lim Toako berhasil menaklukkan Kiu Bu
kemudian mendorong dia masuk, dia dibacok dan terbunuh,
apakah Lim Toako juga akan mematahkan tangan Toako
sendiri?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam tidak bisa menjawab, Goan Hiong
melanjutkan lagi, “Aku mengagumi Lim Toako dari segala hal,
hanya sifat fanatikmu aku tidak suka, memang pesilat pedang
tidak diijinkan membunuh, tapi pedang adalah senjata ganas,
terkadang tidak bisa dijadikan senjata untuk membunuh,
kecuali menutup pintu dan berlatih pedang saja dan
selamanya tinggal di rumah, tidak keluar untuk berkelana di
dunia persilatan.”
“Apakah kalau berkelana di dunia persilatan harus
membunuh?”
“Belum tentu, bila perlu harus membunuh.”
“Apakah kedua orang ini perlu dibunuh?”
“Harus melihat alasan Lim Toako melakukannya.”
“Aku ingin tahu pendapat Goan-heng.”
“Aku tidak tahu, sebab aku tidak tahu kalau mereka dari
awal sudah tahu, kita adalah orang yang menyelinap ke sini,
dan mereka sudah menyusun rencana untuk menjebak kita,
kalau tidak aku akan menyerang dulu supaya Lim Toako tidak
menjadi bingung seperti sekarang, prinsipku tidak membunuh
tapi bila harus membunuh, aku tidak akan ragu-ragu.”
“Kapan saatnya kita pantas membunuh?”
“Seperti keadaan tadi, aku sendiri tidak melakukan
kesalahan tapi orang lain ingin mencelakaiku, untuk membela
diri kalau harus membunuh ya bunuh saja, aku rasa itu tidak
salah.”
Lim Hud-kiam terus bergumam dia tidak bersalah, sikapnya
menjadi agak ceria dan berkata, “Sekarang aku baru mengerti
tidak ingin membunuh itu sangat sulit, kelak larangan ini harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
sedikit dilonggarkan dan meminta supaya hati ini tidak merasa
bersalah.”
“Seharusnya memang seperti itu, Lim Toako tidak ingin
membunuh tapi sebenarnya secara tidak langsung sudah
banyak orang yang mati di tanganmu.”
“Apa maksud kata-kata Goan-heng?”
“Mereka memang tidak mati secara langsung oleh Lim
Toako, tapi sebenarnya Lim Toako bisa membuat mereka tidak
mati, kalau dari awal Lim Toako mau mengumumkan rahasia
plakat itu, hingga tidak akan banyak orang yang datang ingin
merebutnya, mereka pun tidak akan mati karenanya.”
“Dalam kesempatan ini aku ingin memancing raja pedang
keluar.”
“Apakah dari awal Lim Toako sudah tahu ada lembah raja
pedang?”
“Tidak, tapi aku tahu ada kekuatan sesat dan jahat.”
“Kalau begitu Lim Toako tidak perlu memancing nya,
mereka yang akan keluar sendiri.”
“Itu tidak sama, bila rahasia plakat terlalu awal diketahui,
orang-orang lembah raja pedang dengan cara yang lebih
terperinci akan menguasai dunia persilatan, orang yang mati
akan bertambah banyak lagi.”
“Bukankah ini adalah akhirnya, dari sini dapat diketahui bila
di dunia ini ada orang jahat, maka membunuh orang itu tidak
bisa dihindari, satu-satunya cara adalah berusaha tidak
membunuh dan berusaha menghalangi agar tidak banyak
orang terbunuh.”
Akhirnya Lim Hud-kiam tertawa sambil berkata, “Aku terima
nasihatmu!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Jika Lim Toako sudah mengerti, maka pedang ini harus
diganti dengan yang tajam!”
“Tidak perlu!”
“Mengapa Lim Toako masih mempertahankan pikiran tadi?
Yang harus Toako ketahui orang-orang lembah raja pedang
semuanya adalah pesilat tangguh, bila tidak berhati-hati kita
sendiri yang akan terbunuh, di depan mata sudah terlihat
sepertinya hanya Lim Toako yang bisa menghalangi mereka,
demi kebaikan semua orang, Lim Toako harus bisa menjaga
keselamatan sendiri.”
“Pedang tumpulku biarkan saja begitu, bila perlu setiap saat
pun aku bisa membuat pedangku jadi tajam.”
“Tapi sewaktu sedang bertarung antara hidup dan mati,
kehilangan satu jurus akan membuat kita gagal untuk
kebelakangnya, apakah waktu itu Lim Toako bisa mengganti
pedang?”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Mengenai hal ini Goanheng
boleh tenang, waktu itu aku pasti mempunyai cara dan
tidak akan kalang kabut, sekarang kita masuk ke rumah itu
dan mencari tahu sebenarnya ada apa di sana. Kedua orang
itu sudah memasang jebakan apa saja.”
Kemudian Lim Hud-kiam menggunakan pedangnya
mengambil sebuah lampion untuk melihat keadaan rumah dan
memastikan tidak ada orang lain yang menunggu, tapi dia
masih tidak tenang dan menambahkan dua peluru beracun,
begitu peluru mulai bereaksi dan tidak ada orang di dalam, dia
baru masuk dengan Goan Hiong.
Tatanan rumah itu sangat sederhana hanya saja di depan
pintu ada papan yang bisa bergerak, Lim Hud-kiam memukul
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
dengan pedangnya, papan itu segera berbalik dan muncullah
sebuah lubang besar dan dalam.
Lim Hud-kiam melempar lampu tempel dan lama baru
terdengar suara lampu yang jatuh, lampu langsung pecah,
minyak lampu tempel itu tumpah dan langsung terbakar,
lubang itu adalah sebuah jebakan dengan dalam 50 kaki. Di
dasar lubang dipasang banyak pisau tajam, tubuh Kiu Bu
sudah terpotong menjadi 3 bagian, terpaku di atas pisau-pisau
itu. Tubuh yang terpotong 3 masih menancap di atas pisau itu,
benar-benar mengenaskan.
Lim Hud-kiam menghela nafas, “Untung aku sudah tahu
rencana busuk mereka dan menggunakan tubuh Kiu Bu
sebagai tameng kalau tidak lubang jebakan ini menjadi
kuburanku.”
“Aku yakin jebakan seperti ini tidak akan menyulitkan Lim
Toako,” Goan Hiong tertawa.
Lim Hud-kiam menggelengkan kepala, “Bila hanya sebuah
jebakan lubang seperti ini memang tidak perlu ditakuti, tapi di
balik pintu ada pesilat pedang yang menyerang, orang itu
sekali menyerang bisa membuat tubuh terbagi menjadi 3,
berarti ilmu pedangnya sangat tinggi, kedua jebakan ini
digabungkan membuat kita melihat ke atas lupa melihat ke
bawah, siapa pun akan kesulitan menghadapinya, semua
tatanan di Lembah raja pedang ini kalah dengan yang ada di
Ceng-seng, hanya jebakan ini yang lebih unggul dari Cengseng.”
“Terhadap jebakan seperti ini aku benar-benar tidak
mengerti, menurut Lim Toako memang lihai, aku pun bisa
menilainya, hanya saja Lim Toako bagaimana bisa tahu ada
jebakan di sana?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Ketika aku ingin melihat plakat di pinggangnya, plakatnya
pun berwarna tanah berarti dia sama tingkatannya dengan
kita, masa dia tidak mengenal kita? Dia sudah tahu kalau kita
adalah orang luar tapi masih berpura-pura tidak tahu, dan itu
adalah jebakan jadi kita harus lebih hati-hati,” ujar Lim Hudkiam.
“Lim Toako memang teliti, tapi mengapa Lim Toako bisa
ingat dan mencocokkan plakat?”
Lim Hud-kiam mengerutkan alisnya, “Aku merasa aneh,
mengapa tatanan di sini sangat mirip dengan di Ceng-seng,
sepertinya Ceng-seng sudah dipindahkan kemari, hanya saja
disini lebih sederhana dan tua dibandingkan Ceng-seng,
keberadaan di sini dengan keberadaan Ceng-seng 10 tahun
yang lalu hampir sama, beberapa tahun ini karena Ciu Giok-hu
terus menata ulang Ceng-seng maka Ceng-seng lebih maju 10
tahun, jadi saat melihat kode di pintu aku sudah tahu kalau
pintu itu adalah pintu kematian, maka aku tidak akan sampai
tertipu, yang membuatku tidak mengerti adalah orang yang
menata di sini apakah dia berasal dari Ceng-seng?”
“Apakah ini mungkin?”
“Sangat mungkin, memang jebakan dan barisan ada beribu
macam, tapi perubahan bermacam-macam pun tidak akan
jauh berbeda dari dasarnya, terkadang mirip dengan yang lain,
aku lihat semua jebakan di sini seperti rencana Ciu Giok-hu.”
“Apakah raja pedang itu adalah Ciu Giok-hu?”
“Tidak mungkin, memang Ciu Giok-hu pintar dan banyak
cara, tapi ilmu pedangnya biasa-biasa saja, kemampuannya
berada di bawah Liu Ban-mong dan Heuw Liu-koan, apalagi
dibandingkan dengan Wong Han-bwee.”
“Mungkin Ciu Giok-hu sengaja merahasiakan ilmu silatnya!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tidak mungkin, orang berlatih ilmu pedang tidak akan
tunduk pada ilmu pedang, apalagi usaha-usaha Ciu Giok-hu di
Ceng-seng sudah mantap, tidak perlu dia kemari untuk
mendirikan perguruan lain, kalau tempat ini milik Ciu Giok-hu,
ditata pun tidak akan begitu mudah.”
“Apakah orang yang menata di sini adalah orang Cengseng?”
“Saat aku masih di Ceng-seng, tidak ada orang yang
meninggalkan Ceng-seng, karena Ciu Giok-hu sangat ketat
menguasai Ceng-seng, aku keluar dari Ceng-seng karena
mereka semua setuju, maksud Ciu Giok-hu mengusirku dari
Ceng-seng supaya putranya Ciu Pek-ho bisa menikah dengan
Hui-hui, setelah itu tidak akan ada orang yang dia lepaskan
lagi, Hui-hui meninggalkan Ceng-seng sebentar pun sudah
termasuk melanggar hukum, apalagi orang lain.”
“Kalau begitu kejadiannya setelah Lim Toako keluar?”
“Lebih-lebih tidak mungkin, aku meninggalkan Ceng-seng
sekitar 3-4 tahun, tatanan di sini terlihat sudah 10 tahun lebih,
aku jadi tidak mengerti.”
“Tidak mengerti jangan dipikirkan, lebih baik kita mencari
orang yang terkurung di sini, kita coba tanya mereka pasti ada
yang mau menjawab.”
Lim Hud-kiam menggelengkan kepala.
“Mencari orang untuk ditanya sepertinya tidak akan
mendapatkan hasil apa pun, lebih baik mencari Wong Jongceng,
kita lihat siapa dia sebenarnya. Bila ingin menghalangi
rencana raja pedang menguasai dunia persilatan satu-satunya
cara adalah dari tubuh orang ini.”
“Di mana kita bisa mencari dia?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kalau benar tempat ini digunakan untuk mengu-rung orang
yang dia tangkap, Wong Jong-ceng tidak akan ada di sini,
lebih baik kita cari di tempat lain.”
“Kita sudah sampai di sini, bisakah kita menengok mereka
sebentar?”
“Bila kita menengok mereka, identitas kita akan
terbongkar.”
“Identitas palsu kita sudah tidak berguna lagi.”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Apakah Goan-heng tidak
memperhatikan? Pemilik plakat kuning ilmu silatnya tinggi,
kedudukan mereka sangat istimewa dan jarang ada yang
mengenali mereka, kecuali bertemu dengan orang yang samasama
memiliki plakat kuning rahasia kita akan terbongkar, jadi
sepanjang perjalanan kita selalu lancar, hanya Kiu Bu yang
tahu kita memalsukan identitas orang sini.”
“Baju semua orang di sini sama, dari mana kita bisa tahu
mereka adalah pesilat pedang berplakat kuning?”
“Tentu saja dari plakat pinggang mereka, lebih baik kita
dulu yang menaklukkan mereka dan baru menanyakan nama,
kalau lawan mengeluarkan plakat kuning, kita harus bergerak
cepat menotok atau dengan cara lain.”
“Bila dia dulu yang menyuruh kita mengeluarkan plakat
bagaimana?”
“Asal saling memberitahu nama, aku bisa kenal.”
“Benar, namaku Ong Lo-ci, kau Li-si, yang baru mati adalah
Kiu Bu, 3 pesilat yang berplakat kuning mempunyai ciri yang
sama.”
Goan Hiong berpikir sebentar, “Sama-sama di huruf
namanya ada angka.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Benar, mungkin angka ini adalah nomor mereka, nama
mereka sebenarnya belum tentu seperti itu, ku kira pesilat
pedang berplakat kuning tidak terlalu banyak, kita sudah
membereskan 3 orang, nanti kita periksa dulu orang yang mati
apakah nama mereka juga ada angkanya?”
Dari mayat-mayat itu mereka menemukan sebuah plakat
pinggang berwarna kuning, dengan nama Liu Ji.
Lim Hud-kiam tertawa, berkata, “Tebakanku tidak meleset,
kita sudah membereskan 4 orang, maka identitas palsu kita
lebih sulit diketahui, asal kita menghindarkan pertemuan
dengan orang berplakat kuning.”
“Tapi tetap saja ada beberapa orang di mana kita tidak bisa
menghindari mereka,” kata Goan Hiong.
“Benar, seperti Liu Ban-mong, Wong Jin-jiu, mereka pernah
bertemu dengan kita, jadi kita tidak perlu memper-lihatkan
wajah asli kita, dan selain itu kita harus menemukan plakat
hijau dan hitam, karena plakat jenis ini paling banyak,
kedudukan mereka rendah, mereka tidak akan ingat, bila ada
yang kenal kita bisa menghadapi mereka dengan
menggunakan plakat hijau atau hitam, dengan begitu tidak
akan menimbulkan masalah.”
Goan Hiong benar-benar kagum kepada Lim Hud-kiam, saat
dia mengatakan kalau nama ketiga orang itu ada urutan
angkanya, Goan Hiong menganggap itu hanya kebetulan, tapi
saat Liu Ji mengeluarkan plakatnya, kebetulan yang dikatakan
Goan Hiong sudah tidak bisa dipakai lagi.
Lim Hud-kiam membawa plakat dan mengubah wajahnya,
mereka dengan cepat mengoles kulit mereka, warna kulit
mereka segera berubah, mata mereka diberi sedikit obat,
mata mereka yang bercahaya menjadi buram, dan wajah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mereka pun terlihat menjadi biasa, bila ada orang yang pernah
bertemu dengan mereka tidak akan ada yang ingat, tapi
merasa pernah meliat. Ini adalah maksud mereka menyamar,
mengikuti jalan tadi mereka berbalik arah, masih diam-diam
menghabisi dua orang penjaga dan mendapatkan plakat
pinggang berwarna hitam, yang satu bernama Liu Cai-hu yang
satu lagi bernama Goan Ta-hai, kebetulan namanya sama
dengan mereka. Karena itu mereka mempunyai identitas baru
lagi.
Baru keluar dari desa barat, mereka bertemu dengan Liu
Ban-mong, Lim Hud-kiam segera membawa Goan Hiong
mendekatinya.
Liu Ban-mong dengan melotot bertanya, “Kalian bagian
mana?”
Lim Hud-kiam segera menyodorkan plakat di pinggangnya
dan menjawab, “Datang dari desa utara.”
Liu Ban-mong melihat mereka, karena utara adalah
mewakili air dan plakat berwarna hitam, maka Lim Hud-kiam
tidak salah menjawab, Liu Ban-mong pun tidak bertanya lagi,
dia hanya mengelus janggutnya yang pendek dan bertanya,
“Mengapa orang-orang bagian desa utara bisa kemari?
Bukankah kalian tidak diijinkan keluar dari sana?”
Kata Lim Hud-kiam, “Aku diperintahkan untuk berpatroli di
desa, aku melihat di selatan desa ada beberapa orang yang
terbunuh.”
Liu Ban-mong terkejut, tanyanya, “Apakah benar, kalian
berpatroli dengan siapa?”
“Tuan Ong Ci (Lo-ci) dan Tuan Li-si.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong mengangguk, patroli desa berasal darinya
maka dia tahu nama-nama yang disebut cocok, dia tidak
curiga dan bertanya, “Di mana mereka?”
“Tuan Ong Ci mengatakan ada orang luar sudah masuk,
karena orang-orang yang mati sebelumnya mereka bertarung
dulu, mereka sedang mencari orang itu dan memerintahkan
aku untuk melapor kepada Pengurus, apa yang harus kami
lakukan selanjutnya, harap bisa memberikan petunjuk.”
“Perkiraanku tidak salah, orang yang datang ke sini bukan
hanya 3 orang perempuan itu saja, tidak disangka mereka
masuk melalui desa selatan, berapa orang yang datang?
Siapakah mereka?”
“Aku tidak tahu, kami hanya melihat ada mayat, tidak
melihat ada musuh!”
Liu Ban-mong berpikir sebentar lalu berkata, “Celaka,
mereka benar-benar gentong nasi, ada orang masuk tapi
bayangan mereka pun tidak bisa dilihat!”
Lim Hud-kiam menundukkan kepala tanpa suara, Liu Banmong
berkata lagi, “Hal ini jangan sampai tersebar, aku akan
menyuruh orang untuk menyelidikinya lagi, kalian berdua
laporkan kepada Kiu-nio, beritahu ada orang yang sudah
masuk desa, suruh dia berhati-hati!”
Ilmu pedang Ma Kiu-nio lebih condong ke arah timur, dalam
Ngo-heng dia berada di peringkat satu dan dua dan berada
dalam posisi kayu, maka Lim Hud-kiam tahu mereka harus ke
timur.
Saat mereka baru datang mereka pernah lewat ke arah
timur, di sana pemeriksaan sangat ketat, maka Lim Hud-kiam
sengaja berkata, “Hamba takut tidak akan bisa lewat.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong mengangguk, “Benar juga, aku akan
memberimu sebuah plakat perintah darurat, kalian gunakan
bahasa perintah biasa, bila ada orang yang tidak mengijinkan
kalian lewat kalian baru keluarkan plakatnya, begitu bertemu
dengan Kiu-nio, sampaikan pesanku, harap jangan
sembarangan bicara pada orang lain.”
“Hamba mengerti, Tuan Ong Ci sudah memberi-tahu
perubahan yang terjadi di bagian selatan bila bertemu dengan
Pengurus Liu baru menyampaikannya, jadi orang lain belum
ada yang tahu.”
Liu Ban-mong tertawa, “Ong Ci adalah asistenku yang
terbaik, dia sangat bertanggung jawab, tapi ketua kalian Heuw
Liu-koan paling membencinya, bila masalah ini sudah selesai
aku akan menaikkan jabatan kalian dua tingkat, dan kalian
akan bekerja di bagian timur.”
Lim Hud-kiam memberi hormat, “Terima kasih, Pengurus
Liu.”
Liu Ban-mong melambaikan tangannya, “Cepatlah pergi,
ingat jaga rahasia ini selain Kiu-nio, tidak perlu bicara kepada
siapa pun, sekalipun dia adalah Heuw Liu-koan.”
Lim Hud-kiam berpura-pura bersikap serba salah, Liu Banmong
berkata lagi, “Jangan takut kepadanya, setelah kalian
memberi tahu Kiu-nio, tinggallah di desa timur tidak perlu
kembali lagi ke desa utara.”
Lim Hud-kiam mengucapkan terima kasih lagi, Liu Banmong
mengeluarkan sebuah bambu yang terukir dengan
indah, ukirannya sangat aneh, dia memberikannya kepada Lim
Hud-kiam dan berpesan lagi, “Bila Kiu-nio bertanya katakan
aku sendiri akan membawa orang mencari orang yang
menyelinap masuk, orang itu akan kucari sampai ketemu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
suruh dia menjaga tempatnya baik-baik, jangan mengurusi hal
yang terjadi di luar, apakah kau mengerti?”
Lim Hud-kiam terus mengangguk, Liu Ban-mong dengan
tergesa-gesa pergi dari sana.
“Lim Toako benar-benar pandai bersandiwara. Sampaisampai
rubah tua itu pun tertipu.”
Tapi Lim Hud-kiam dengan serius berkata, “Aku kira Wong
Jong-ceng berada di desa bagian timur.”
“Dari mana Toako bisa tahu?”
“Di lembah raja pedang telah terjadi hal begitu penting, tapi
Liu Ban-mong seperti tidak menaruh di hati, ini sangat
mencurigakan, dan yang paling mungkin adalah Wong Jongceng.”
“Wong Jong-ceng menyebut dirinya sebagai raja pedang,
dia adalah ketua lembah ini, apakah dia butuh orang untuk
melindunginya?”
“Pendapatku tidak sama, Wong Jong-ceng menyebut dirinya
raja pedang, kekuatanya sangat besar, tapi dia harus
mengejar waktu setengah bulan baru berani muncul di depan
umum, dia pasti mempunyai alasan yang tidak boleh diketahui
orang-orang.”
“Alasan apa dia berlaku demikian?”
“Sulit dikatakan, mungkin dia sakit, mungkin dia sedang
berlatih ilmu silat pada tafap terpenting sehingga tidak boleh
diganggu, ini hanya tebakanku belum tentu tepat, tapi Liu
Ban-mong begitu perhatian kepada desa timur, kita harus ke
sana untuk mencari tahu.”
“Dengan identitas apa kita ke sana?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam tertawa, “Kita mempunyai tanda perintah dari
bambu, dengan identitas pesilat pedang lapis 3 sangat cocok,
kecuali Wong Jin-jiu karena plakat hitam berada di bawah
pimpinannya dengan begitu kita harus menggunakan identitas
pesilat berplakat kuning.”
“Ma Kiu-nio adalah istri Wong Jin-jiu, apakah kita bisa
melewatinya?”
“Ini memang masalah penting, memang tidak mudah
diketahui, tapi ini sangat berbahaya.”
“Aku kira dengan plakat kuning sulit menipu Ma Kiu-nio,
orang yang diperintahkan Wong Jin-jiu pasti orang kuat, Ma
Kiu-nio pasti tahu.”
“Tidak masalah, bukankah tadi Liu Ban-mong sudah
berpesan setelah membereskan pekerjaan kita, kita tidak perlu
kembali lagi ke timur, kelihatannya suami istri ini tidak akur,
hanya dengan tinggal di desa timur baru membuat Wong Jinjiu
tidak marah, coba Goan-heng pikir, masa Liu Ban-mong
tidak tahu kalau mereka adalah suami istri, dia melakukan ini
hanya ingin membuat Wong Jin-jiu malu.”
“Lim Toako lebih bisa melihat masalah.”
Ooo)d*w(ooO
BAB 29 Masuk ke sarang naga untuk mencari
mustika naga
Mereka berdua berunding sebentar, lalu langsung berjalan
ke arah timur, di sepanjang jalan mereka tetap mengeluarkan
plakat kuning karena sebelumnya mereka pernah kesini orang
yang menjaga tetap orang tadi, bila mereka mengganti
identitas, malah akan dicurigai, ini adalah salah satu ketelitian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam, tapi ketelitian ini yang membawa mereka
dalam bahaya.
Karena pertama kali mereka lewat sana dengan wajah asli,
setelah membunuh Liu Ji dan Kiu Bu mereka mengubah wajah
mereka untuk menyamar, maka mereka sekarang menjadi dua
identitas yang berbeda.
Lim Hud-kiam memang teliti tapi dalam ketelitian-nya, dia
lupa akan hal ini, tapi sepanjang jalan para penjaga tidak ada
yang menghalangi mereka, tapi terlihat penjagaan semakin
ketat, Lim Hud-kiam mulai merasa ada yang salah, karena
setiap pos dijaga sangat dekat, sampai-sampai penjaga yang
bersembunyi pun muncul untuk memeriksa dan bertanyatanya.
Untung Lim Hud-kiam cepat merasakannya, akhirnya dia
tahu dari mana asalnya penyakit ini, dalam hati dia berpikir
kemudian berkata kepada pesilat pedang yang datang, “Kedua
kakak bisa kembali ke tempat semula, kali ini sudah terbukti
kalau kalian sangat bertanggung jawab, aku akan
melaporkannya kepada pengurus dan beliau akan memberi
penghargaan kepada kalian.”
Salah satu pesilat pedang itu bertanya, “Apa yang akan
Toako katakan?”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Tadi saat Ong Toako dan
Li Toako lewat, mereka memberitahu pengurus kalau kalian
kurang ketat berjaga, maka pengurus sengaja menyuruh kami
datang untuk membuktikannya, maka kami mengambil plakat
mereka untuk memerintah kalian, tidak disangka kalian tidak
tertipu, dengan begitu pengurus bisa tenang.”
Kedua pesilat itu menjawab dengan dingin, “Kalau pengurus
memerintah kami tidak jadi masalah, tapi mengapa kalian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
berdua yang mempunyai plakat kuning, meskipun berada di
tingkat pertama di tempat kami di sini, kalian berdua dengan
hak apa bisa mendikte dan memerintah kami!”
Dengan tenang Lim Hud-kiam mengeluarkan plakat bambu
dan berkata, “Ada plakat bambu ini berarti pengurus sendiri
yang datang, Toako tentunya tidak akan marah lagi bukan?”
Mereka melihat plakat bambu itu lalu menjawab, “Kalian
berdua selain mendikte kami apakah masih ada petunjuk
lain?”
“Tentu ada, inilah plakat khusus, tidak mudah dikeluarkan,
kami diperintahkan harus menyampaikan sesuatu kepada Kiunio!”
kata Lim Hud-kiam.
“Kiu-nio sedang sibuk, biar aku sendiri yang akan
menyampaikan kepada beliau!”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Kalau bisa titip pesan
melalui Toako, apa kegunaan plakat bambu ini? Lebih baik
Toako mengantarkan kami bertemu dengan Kiu-nio.”
Pesilat pedang itu berpikir sejenak, “Kalian berdua ikut
aku!”
Dia menoleh dan melambaikan tangan untuk meng-halangi
pesilat pedang lalu berpesan, “Jaga baik-baik, jangan diijinkan
ada yang masuk!”
Kemudian dia baru membawa mereka menuju sebuah
rumah, sampai di depan rumah dia tidak berani masuk, lalu
mengetuk pintu tiga kali, dari dalam muncul 2 orang
perempuan setengah baya, salah satu dari mereka bertanya,
“Ada pesan penting apa?”
Pesilat pedang itu segera memberi hormat, “Pengurus Liu
menyuruh kedua orang ini menemui Kiu-nio.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Perempuan itu dengan tidak sabar berkata, “Tadi aku sudah
memberitahu kalian, tidak ada seorang pun yang boleh masuk,
bila si buta Liu ada perlu suruh dia mengambil keputusan
sendiri, tidak perlu merepotkan kami, Kiu-nio sedang tidak ada
waktu!”
“Pengurus Liu memerintahkan mereka berdua datang
dengan plakat bambu,” ujar pesilat pedang itu.
“Apa yang terjadi?” tanya perempuan itu.
“Apakah memberitahu Kiu-nio atau memberi petunjuk?”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Tidak perlu Pengurus Liu
sampai meminta nasihat kepada Kiu-nio.”
“Benar, kalau ada masalah dia tidak bisa mengambil
keputusan, dia akan bertanya kepada nona, tidak perlu sampai
datang kemari dan banyak bicara, kita masing-masing
mengurusi masalah sendiri.”
“Kami datang untuk memberitahukan sedikit masalah bukan
datang untuk menanyakan pendapat, pengurus tahu kalau
Kiu-nio sedang sibuk, kalau masalah kecil dia tidak akan
datang untuk merepotkan Kiu-nio,” kata Lim Hud-kiam.
“Baiklah, ikut aku ke atas!” kata perempuan itu.
Dia membalikkan tubuh, perempuan satu lagi membawa
pedang mengikuti dari belakang, seperti mengawasi mereka.
Pesilat pedang yang mengantar mereka meninggalkan
tempat.
Setelah melewati beberapa rumah, semua yang ada di
rumah itu adalah para perempuan, ada yang tua, muda,
masing-masing membawa pedang, seperti bakal ada musuh
yang datang menyerang, dan penjagaan di sana sangat ketat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Perempuan itu membawa mereka ke sebuah loteng, terlihat
Kiu-nio sedang memimpin 7-8 orang perempuan setengah
baya mengelilingi dan menjaga sebuah rumah yang tertutup
rapat.
Lim Hud-kiam menghampiri dan memberi hormat, “Kami
datang memberi hormat.”
“Siapa kalian?”
“Kami dari bagian desa utara.”
“Mengapa si buta menyuruh kalian kemari?”
“Mengapa pengurus sampai menyuruh kami ke sini, kami
sendiri pun tidak tahu.”
Perempuan yang membawa mereka datang dan berkata,
“Kiu-nio, aneh sekali mengapa pengurus menyuruh dua orang
desa utara kemari?”
Ma Kiu-nio tertawa, katanya, “Ini salah satu ketelitiannya,
karena kedudukan orang desa utara lebih rendah hal yang
mereka ketahui pun sangat minim, bila mereka bisa melihat
pun tidak akan bisa melihat apa-apa.”
Kemudian dia bertanya, “Kalian ada perlu penting apa?”
“Ada orang luar yang masuk lembah,” jawab Lim Hud-kiam.
“Semua itu kami sudah tahu!”
“Bukan 3 orang perempuan itu tapi ada yang lain!”
Ma Kiu-nio terkejut dan bertanya, “Siapa mereka?”
“Tidak tahu, orang itu masuk dari desa selatan, mereka
telah membunuh beberapa penjaga, sekarang tidak ada yang
tahu keberadaan mereka, pengurus sendiri telah membawa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
orang berpatroli kesana, maka beliau memerintahkan kami
kemari untuk memberitahu Kiu-nio.”
Ma Kiu-nio mulai tidak sabar, “Si buta Liu benar-benar
kurang ajar, aku sudah memberitahu, memang di sana ada
alam yang melindungi tempat ini tapi tetap saja harus dijaga
ketat, dia selalu tidak mau mendengar omonganku, sekarang
timbul masalah, aku ingin tahu apa yang akan dia katakan?”
Lim Hud-kiam dan Goan Hiong tidak bicara, Ma Kiu-nio
berpikir sebentar lalu berkata, “Aku tahu, beritahukan
kepadanya, orang yang menyelinap masuk harus ditangkap
dan dibunuh semua!”
Goan Hiong menyahut, baru saja akan meninggalkan
tempat, Lim Hud-kiam segera berkata, “Pengurus berpesan
kepada kami setelah memberi tahu kabar ini kepada Kiu-nio,
tidak perlu kembali ke sana lagi.”
“Apakah benar dia berkata demikian?”
“Benar, pengurus menyuruh kami tinggal di sini dan
mendengarkan perintah Kiu-nio, maka bila Kiu-nio ingin
menyampaikan sesuatu kepada pengurus lebih baik menyuruh
orang lain,” kata Lim Hud-kiam.
“Jangan sembarangan bicara, di sini kami tidak
membutuhkan kalian,” kata perempuan itu.
Tapi Ma Kiu-nio tertawa, katanya, “Di sini kita memang
tidak membutuhkan mereka, tapi bila si buta menyuruh
mereka tinggal di sini, tidak salah, di lembah kecuali beberapa
orang penting kalian bisa berada di ruang penyimpanan
pedang, mana mungkin membiarkan mereka keluar dan
berbicara macam-macam?”
“Tapi mereka tidak tahu apa-apa,” kata perempuan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Walau mereka tahu atau tidak, lebih baik jangan keluar
dari sini, bila benar ada orang yang menyelinap masuk ke
lembah, dia pasti pesilat lihai, bila kedua orang ini jatuh ke
tangan yang lain dan memberitahu, ini akan menjadi masalah
serius.”
Perempuan itu berkata lagi, “Tapi yang tinggal di loteng
semuanya perempuan, suruh mereka tinggal di sini, mereka
tidak akan kebagian pekerjaan!”
Kata Ma Kiu-nio, “Di bawah loteng ada perempuanperempuan
yang usianya 40 tahun lebih, bisa disatukan
dengan mereka, membereskan kamar yang biasa kita gunakan
untuk berisitrahat, tempat itu untuk mereka beristirahat.”
“Bagaimana kalau kita pindah tempat?” tanya perempuan
itu.
“Cepat pindahkan perabotan, mulai sekarang kita tidak
boleh meninggalkan tempat pedang ini, sampai tuan kita
sukses,” ucap Ma Kiu-nio.
“Harus menunggu berapa lama? Bila 10 hari, orang akan
sulit menahan rasa jenuh.”
“Ada pepatah mengatakan: Yang-pin-jian-jit, yung-cai-it-su
(Memelihara tentara seribu hari, menggunakan hanya satu
kali), tuan menghabiskan waktu dan tenaga selama 10 tahun
melatih kalian menjadi pesilat tangguh tapi beliau tidak pernah
mengeluh lelah, sekarang baru meminta kalian menjaga
selama 10 hari lebih kalian sudah mengomel, benar-benar
tidak punya hati dan lupa diri!” omel Ma Kiu-nio.
Perempuan setengah baya itu dengan cepat meminta maaf,
“Aku hanya bicara saja tidak ada maksud lain, demi tuan
kepala sampai putus nyawa pun kami tetap pantang mundur,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
apalagi hanya masalah kecil, bila tuan sukses, kita juga yang
akan mendapat kebaikan.”
“Bila kalian sudah mengerti, semua orang akan mendapat
kebaikan setelah perjuangan beberapa tahun, hanya tinggal
menunggu waktu, cepat bersihkan kamarnya,” perintah Ma
Kiu-nio.
Karena perempuan itu berjalan ke sebuah kamar yang ada
di sini dan mengeluarkan dua wadah seperti ember kemudian
menaruhnya di pinggir tangga, dia berkata kepada Lim Hudkiam,
“Kalian ke kamar bukan untuk beristirahat, bila tidak
dipanggil kalian jangan keluar, apakah kalian dengar?”
Dugaan Lim Hud-kiam tidak meleset ternyata Wong Jongceng
memang ada di sini dan sedang berlatih ilmu silat, dia
sangat senang dan dengan cepat berkata, “Kami mendengar
perintah nona, apakah kami harus menunggu selama 10 hari
di kamar?”
Jawab perempuan itu, “Berapa hari pun kalian tetap tidak
boleh keluar!”
“Tentu, tapi bagaimana kalau kami ingin makan, minum,
buang air besar dan kecil?” tanya Lim Hud-kiam.
Perempuan setengah baya itu membentak, “Kami makan
apa kalian pasti tidak akan ketinggalan, kalian benar-benar
cerewet!”
Lim Hud-kiam menunjuk dua ember besar itu dan bertanya,
“Kalian bisa buang air besar dan kecil di sana, tapi bagaimana
dengan kami? Apakah hanya makan terus tapi tidak dibttang?
Apakah bisa membuangnya di dalam rumah?”
Perempuan itu mengerutkan alisnya, “Bertambah dua lelaki
seperti kalian benar-benar merepotkan!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tapi kata-katanya pun benar, aku akan menyuruh orang
mengantarkan kemari,” kata Ma Kiu-nio.
Lim Hud-kiam pura-pura dengan malu berkata, “Kiu-nio,
aku tidak tahan lagi, sebab selama dua hari ini aku sedang
sakit perut gara-gara tadi berlari cepat sekarang perutku sakit
lagi!”
Perempuan itu dengan tidak sabaran berkata, “Kau benarbenar
cerewet!”
Tiba-tiba dari dalam kamar terdengar suara lelaki, “Kiu-nio,
orang makan nasi sewaktu-waktu bisa sakit, biar dia masuk ke
kamarku untuk buang air besar atau kecil.”
“Tidak bisa!” jawab Ma Kiu-nio.
“Tidak apa-apa, biarkan dia masuk!” kata orang yang ada di
dalam kamar.
Sewaktu Ma Kiu-nio sedang ragu, pintu kamar tiba-tiba
terbuka, muncullah seorang lelaki setengah baya, wajahnya
kaku, tubuhnya sangat tinggi tapi sedikit kurus.
Ma Kiu-nio dengan terkejut bertanya, “Apakah Tuan sudah
bisa bergerak?”
Mendengar Ma Kiu-nio memanggil lelaki itu dengan
panggilan 'tuan', Lim Hud-kiam dan Goan Hiong menjadi
tegang, mereka melihat orang itu, orang itu dengan dingin
bertanya, “Apa yang kalian lihat?”
Dengan hormat Lim Hud-kiam berkata, “Aku mengenal
Tuan, mengapa wajah Tuan sekarang berubah? Tidak seperti
dulu?”
Orang itu mengangguk, “Aku memakai topeng, supaya tidak
dikenal orang lain, masuklah kalau kau ingin buang air besar,
aku masih ada perlu ingin mencarimu!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Terpaksa Lim Hud-kiam memberi hormat dan masuk ke
kamar, kemudian dia melihat sekeliling kamar, itu adalah
sebuah kamar yang mewah, dekorasinya sangat bagus. Di
atas meja banyak buku bertumpuk, di rak dinding tersimpan
banyak botol-botol yang terbuat dari keramik, kelihatannya
tempat ini adalah tempat di mana ketua lembah beristirahat
dan membaca, tidak seperti tempat untuk berlatih ilmu silat,
yang membuat Lim Hud-kiam merasa terkejut adalah di atas
tempat tidur tergantung sebilah pedang, bentuk pedangnya
sangat aneh, sekilas melihatnya langsung tahu kalau itu
adalah sebilah pedang kuno. Lim Hud-kiam merasa mengenal
pedang kuno itu, masa kanak-kanak Lim Hud-kiam dilewatkan
di Ceng-seng, ingatannya tidak jelas tapi dia yakin dia pernah
melihatnya waktu kecil dulu, berarti dia pernah melihat
pedang kuno itu di masa kecilnya dulu.
Dari sini dapat ditebak bahwa ketua lembah Wong Jongceng
pasti orang yang telah keluar dari Ceng-seng, dia
menutupi wajah aslinya dengan topeng, supaya tidak
diketahui kalau dia orang Ceng-seng. Lim Hud-kiam memang
menebak seperti itu tapi dia tidak berani berjalan-jalan di
kamar itu, apalagi melihat-lihat. Mendengar suara Wong Jongceng,
Lim Hud-kiam tahu kalau tenaga dalamnya sangat
tinggi, sedikit suara pun tidak akan lolos dari pendengarannya
yang tajam, sekarang belum waktunya dia harus membuka
identitasnya, maka dia masih harus menyamar.
Dari balik tirai dia menemukan kamar, dia menemukan
sebuah wadah besar untuk buang air besar, terpaksa Lim Hudkiam
duduk di sana dia mendengar pembicaraan di luar,
terdengar Ma Kiu-nio bertanya, “Tuan sudah bisa bergerak,
berarti latihan ilmu silat Tuan sudah selesai, selamat Tuan!
Mengapa begitu cepat bisa selesai?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Catatan dalam Pit-kip
itu belum tentu benar, aku sendiri sudah melancarkan aliran
darah dan nadiku, walaupun tidak ada Pit-kip kedua, aku tidak
akan lumpuh.”
Hati Lim Hud-kiam bergetar, “Mengapa Wong Jong-ceng
bisa mempunyai Pit-kip? Dari pembicaraan tadi sepertinya
karena berlatih ilmu dari Pit-kip membuat tangan dan kakinya
lumpuh, jadi dia berlatih ilmu silat untuk melancarkan jalan
darahnya, sebenarnya apa yang terjadi?”
Apakah ada dua Pit-kip?
Sewaktu Lim Hud-kiam sedang merasa aneh terdengar
Wong Jong-ceng berbicara kepada Goan Hiong, “Menurutmu
tadi ada orang yang masuk melalui desa selatan, apakah ini
tidak salah?” Jawab Goan Hiong, “Aku tidak begitu jelas, aku
hanya tahu kalau di desa selatan ada yang terbunuh, dan
Pengurus Liu sedang ke sana untuk menyelidiknya, bila Tuan
ingin tahu lebih lanjutnya, lebih baik tanyakan saja kepada
Pengurus Liu, aku hanya diperintahkan pengurus
menyampaikan pesannya.”
Kata Ma Kiu-nio, “Kalau di tempat lain ada yang masuk,
pasti sudah membunyikan tanda, hanya saja penjagaan di
desa selatan paling lemah jadi ada orang yang bisa masuk.”
“Orang yang bisa masuk melalui desa selatan ada dua
kemungkinan, yang satu adalah orang Ceng-seng sedangkan
yang satu lagi adalah....”
“Siapa yang satu lagi?” tanya Ma Kiu-nio.
“Jangan tanya, aku percaya ini tidak mungkin, aku juga
tidak takut, Kiu-nio, beritahu kepada Liu Ban-mong tidak perlu
mencari orang yang menyelinap lagi.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Mengapa tidak perlu dicari lagi?”
Wong Jong-ceng tertawa, “Orang di lembah ini terlalu
banyak, pengurusannya kurang teratur, kalau orang itu sudah
masuk ke lemah pasti dia akan menggunakan baju kita yang
ada nomor dan bergerak di antara orang-orang kita, mencari
orang itu percuma saja.”
“Bagaimana kalau semua orang lembah dikumpulkan dan
kita periksa satu per satu.”
Wong Jong-ceng tertawa, “Tidak perlu sampai repot seperti
itu, aku sudah menemukannya.”
“Apakah Tuan sudah menemukan mereka?” tanya Kiu-nio
dengan terkejut.
“Paling sedikit mereka ada dua orang, anak muda yang di
dalam, kau bisa keluar!”
Lim Hud-kiam benar-benar terkejut dengan cepat dia
berdiri.
Pandangan Wong Jong-ceng seperti bisa menembus tirai,
dia seperti bisa menebak semua gerak-gerik Lim Hud-kiam,
Wong Jong-ceng tertawa, “Anak muda, jangan tegang, pakai
bajumu dulu lalu pelan-pelan keluar, aku tidak akan membuat
kalian sulit, tapi aku juga akan memberitahu kalian jangan
sekali-kali berharap bisa kabur, kamar ini adalah jalan
keluarnya.”
Lim Hud-kiam mendengar ada suara senjata beradu,
mungkin Goan Hiong sedang bertarung maka cepat-cepat dia
memakai bajunya dan membawa pedang keluar.
Ternyata Goan Hiong dan Ma Kiu-nio sedang bertarung
dengan sengit, Wong Jong-ceng melihat dari pinggir, Lim Hudkiam
datang hanya dengan beberapa jurus dia berhasil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
membuat Ma Kiu-nio mundur, tapi perempuan-perempuan di
sana sudah mengurung mereka.
Wong Jong-ceng melambaikan tangan, “Kalian mundur, Kiunio,
kau juga mundur.” Ma Kiu-nio mundur tapi dia tetap
waspada. Wong Jong-ceng dengan tenang berkata, “Anak
muda, ilmu silatmu cukup bagus, kau belajar dari siapa?”
Lim Hud-kiam tidak menjawab. “Kau tidak mau
memberitahuku tidak apa-apa, aku bisa menebaknya, dalam
dua jurus kau bisa membuat Kiu Nio mundur, kau pasti anak
muda yang bernama Lim Hud-kiam, baiklah, aku tidak
menyangka kalau ilmu pedangmu begitu tinggi, apalagi kau
bisa masuk ke lembah raja pedang dan terus melaju ke sini,
kau benar-benar hebat!”
Ma Kiu-nio masih dengan penuh curiga berkata, “Tuan,
wajah Lim Hud-kiam tidak seperti itu!” Wong Jong-ceng
tertawa terbahak-bahak, “Aku tahu dia bukan seperti itu,
mereka menggunakan obat untuk mengubah wajah, tapi aku
bisa memastikan kalau dia Lim Hud-kiam, kau lihat senjatanya
akan tahu!”
Ma Kiu-nio melihat pedang tumpul segera berteriak, “Benar,
dia Lim Hud-kiam!”
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Aku tidak akan salah
melihat orang, siapa yang satu lagi?”
Merasa identitas mereka telah terbongkar, Goan Hiong tidak
berpura-pura lagi, “Aku adalah Goan Hiong, lahir di Su-chuan,
sekarang aku adalah murid Kian-kun-kiam-pai!”
Wong Jong-ceng tertawa, “Ternyata putra Goan Jit-hong
lumayan juga, ilmu pedangmu lebih bagus dari ayahmu,
generasi muda selalu lebih kuat dari generasi tua, ayahmu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
juga pesilat tangguh, mengapa kau malah menjadi murid Kiankun-
kiam-pai?”
“Karena ayahku merasa ilmu pedang Kian-kun-kiam-pai
lebih bagus dari ilmunya, maka dua menyuruh kami kakak adik
seperguruan masuk menjadi murid Kian-kun-kiam-pai!”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Siau Pek dari
Kian-kun-kiam-pai bernasib baik, sepanjang hidupnya tidak
pernah bertemu dengan lawan kuat, karena itu membuatnya
terkenal, ilmu silat Kian-kun-kiam-pai tidak begitu bagus, kau
sudah salah masuk perguruan!”
Goan Hiong marah, katanya, “Kau berani menghina kami,
turun dan coba bertarung denganku!”
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Mengenai ilmu silat kau
jangan tidak bisa terima, di rapat akbar di Tai-san, bukankah
kau sudah melihat sendiri, putri dan anak buahku cukup untuk
menguasai dunia aku akan mengatakan kalau ilmu pedang
lembah raja pedang tidak ada duanya di dunia ini, aku kira
semua pun akan setuju, lebih baik kau jangan menghabiskan
tenagamu dengan sia-sia, mengenai kepintaran kalian, aku
sangat mengaguminya, kalian bisa sampai di sini benar-benar
bukan hal mudah tapi akhirnya kalian berbuat kesalahan
juga!”
“Aku tidak terpikir di mana salah kami?” tanya Lim Hudkiam.
Wong Jong-ceng menunjuk Goan Hiong, “Kata-katanya ada
satu kalimat yang salah.”
“Di dalam aku dengar dengan jelas, dia tidak salah bicara,”
kata Lim Hud-kiam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kata-katanya memang tidak ada yang salah, yang salah
adalah panggilannya.”
Lim Hud-kiam tertawa, katanya, “Panggilannya juga tidak
salah, semua orang memanggilmu tuan.”
Wong Jong-ceng berpikir sebentar dan berkata, “Benar,
panggilan untuk kalian sendiri harus lebih teliti, di lembah ini,
susunan kedudukan sangat ketat, hanya tingkat satu dan dua
di depanku baru bisa menyebutkan diri adalah anak buahmu,
di tubuh kalian tergantung plakat tingkat ketiga, itu adalah
plakat hitam masih tidak pantas mengatakan anak buah, ini
hanya kesalahan kecil, terbukti kalau kalian belum
berpengalaman.”
Dengan kagum Ma Kiu-nio berkata, “Tuan benar-benar teliti
dan pintar, aku tidak memperhatikan hal kecil ini.”
Wong Jong-ceng tertawa terabahak-bahak, “Masalah besar
diperhatikan dari masalah kecil, bukankah aku sering
memberitahu kalian tapi sayang kalian tidak mau mengerti,
seperti menyebutkan nama, aku selalu minta dengan ketat
sampai-sampai dihukum dengan berat kalau salah
menyebutkan nama, kalian menganggap aku mengada-ada,
hari ini kalian baru mengerti kalau caraku benar bukan?”
“Kami tidak sanggup menyaingi kepintaran Tuan.”
Wong Jong-ceng tertawa lagi, “Aku menamakan lembah ini
adalah lembah raja pedang karena aku mempunyai cita-cita
luhur, aku ingin membuat perubahan baru dalam ilmu pedang,
aku tidak hanya akan membuat diriku menjadi nomor satu di
dunia ini, aku juga ingin membuat lembah ini menjadi
kerajaan pedang, menyatukan semua perguruan ilmu pedang
dan keluarga pesilat pedang, aku akan membuat ilmu pedang
menjadi ilmu satu-satunya menjadi ilmu terkuat di dunia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
persilatan, saat cita-cita ini muncul dalam pikiranku, semua
menganggap aku sedang bermimpi, sedang berilusi, tapi aku
tetap harus berhasil. Sekarang aku sudah berhasil, Kiu-nio,
terima kasih atas dukungan dan kesetiaan kalian, aku pernah
berjanji akan memberikan masa depan yang cerah kepada
kalian, hari itu sepertinya sudah dekat.”
“Ilmu pedang tiada batasnya, selamanya tidak akan ada
orang yang menjadi nomor satu di dunia ini,” ujar Lim Hudkiam.
Wong Jong-ceng lagi-lagi tertawa terbahak-bahak, “Kau
benar-benar katak dalam tempurung, bila ingin menjadi nomor
satu di dunia ini, 10 tahun yang lalu kami sudah sanggup
mencapai tujuan ini tapi hanya karena aku masih belum
merasa puas menjadi raja pedang maka aku mengolah usahausahaku,
aku bukan hanya ingin menjadi raja pedang tapi aku
juga ingin mendirikan sebuah kerajaan pedang!”
“Raja dihormati oleh puluhan ribu rakyatnya, apakah kau
bisa membuat semua orang bertekuk lutut?” tanya Lim Hudkiam.
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Semua itu sebentar lagi
kau akan mengetahuinya, rapat akbar di Tai-san adalah
langkah pertamaku, aku sudah berhasil mengumpulkan semua
ketua perguruan pedang, kemuliaanku sudah disebarkan,
doktrin-doktrin mengenai raja pedang sudah pula disebarkan,
mana mungkin mereka tidak akan mau bertekuk lutut?”
“Pesilat pedang sesungguhnya tidak akan mau bertekuk
lutut.”
Wong Jong-ceng kembali tertawa, “Benar, aku yakin akan
ada sebagian orang yang tidak akan mau mengaku kalah, tapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
aku sudah mempunyai cara yang akan membuat mereka
menerimaku dengan kekaguman.”
Lim Hud-kiam berteriak, “Aku salah satu dari mereka yang
tidak akan mau bertekuk lutut!”
Ma Kiu-nio menunjuk Lim Hud-kiam dengan pedangnya,
“Tidak mau bertekuk lutut bagiannya adalah mati!”
Tapi Wong Jong-ceng malah tertawa, “Kiu-nio, jangan
ladeni dia, aku menyukai anak muda ini, dia mempunyai
semangat seorang pesilat pedang yang tulen, dulu aku juga
mempunyai semangat seperti ini, maka baru bisa berhasil
seperti sekarang, biarkan dia seperti itu!”
“Tuan, saat itu di Tai-san nama nona telah membuat semua
orang terkejut dan nona hampir bisa menaklukkan semua
orang, tapi sayang dikacaukan oleh bocah ini !” kata Ma Kiunio.
Kata Wong Jong-ceng dengan serius, “Bergurau adalah
salah satu usaha yang mulia, bukan dengan kekuatan satu
orang bisa menghalangi, dan aku mempunyai cara supaya dia
mau bertekuk lutut, kau jangan mengurusi masalah ini lagi,
cepat beritahu kepada Liu Ban-mong untuk mengumpulkan
semua orang, hari ini aku akan menggunakan kedudukanku
sebagai raja pedang, memberitahu pada dunia aku adalah raja
pedang.”
Ma Kiu-nio terpaku lalu bertanya, “Bagaimana dengan
kedua orang ini?”
“Aku bisa membereskan mereka, aku akan membawa
mereka untuk mengikuti upacara penobatan,” jawab Wong
Jong-ceng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Apakah penobatan akan dilakukan di lembah ini juga?”
tanya Ma Kiu-nio dengan terkejut.
“Tentu, ini adalah cita-cita tuan besar dari dulu, saat aku
menerima usahanya, aku pernah berjanji di depan beliau akan
membuat lembah raja pedang menjadi tempat suci bagi ilmu
pedang,” kata Wong Jong-ceng.
“Apakah tidak terlalu terburu-buru?”
“Tidak, aku sudah lama mengatur dan menyusun-nya, dan
Liu Ban-mong sudah tahu, tempat sudah disusun, dalam
waktu satu jam suruh dia untuk membereskan semua
pekerjaan.”
“Mungkin di lembah masih ada mata-mata yang
menyelinap!”
“Aku percaya tidak ada, walaupun ada tidak menjadi
masalah, aku hanya mengkhawatirkan seseorang, tapi Lim
Hud-kiam sudah datang kemari, berarti orang itu tidak
mungkin ke sini.”
“Apakah usaha Tuan akan sukses?”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Tentu tidak
akan menjadi masalah, aku menyuruh kalian merebut Pit-kip
sebenarnya tidak banyak berharap, maka aku memberi waktu
setengah bulan, tidak disangka kalian membawa pulang Pit-kip
jilid kedua yang memang kubutuhkan, dengan ilmu silat yang
kumiliki sekarang dalam waktu satu minggu semua akan
kukuasai, kemarin aku sudah selesai mempelajarinya, hari ini
aku hanya ingin menyesuaikan keadaan.”
Ma Kiu-nio pamit, Wong Jong-ceng mengangguk kepada
Lim Hud-kiam dan Goan Hiong, “Kalian ikut aku ke dalam, kita
bisa mengobrol di sana!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam dan Goan Hiong masih ragu, raja pedang
Wong Jong-ceng tertawa, “Kalian jangan ragu, bila ingin
bertarung masih banyak waktu untuk apa terburu-buru? Aku
percaya kalian pasti banyak pertanyaan, pergunakan waktu
satu jam ini dengan sebaik-baiknya, bila sempat aku akan
menjawab pertanyaan kalian.”
Lim Hud-kiam menarik Goan Hiong masuk ke kamar Wong
Jong-ceng, Wong Jong-ceng mengambil sebotol minyak dan
memberikannya kepada Lim Hud-kiam, “Pertama, hapus dulu
penyamaran kalian, biar aku melihat wajah asli kalian!”
“Mengapa kau menutupi wajahmu dengan topeng tipis?”
tanya Lim Hud-kiam.
“Aku punya alasan tersendiri, tapi sekarang aku tidak bisa
mengatakannya, setelah upacara penobatan selesai, dan aku
sudah menjadi raja pedang, aku akan membiarkan kalian
melihat wajah asliku.”
Lim Hud-kiam tidak banyak bicara dia membubuhkan
minyak di telapaknya kemudian meng-gosokan ke wajahnya,
setelah wajahnya bersih dia memberikan minyak itu kepada
Goan Hiong.
Wong Jong-ceng memperhatikan Lim Hud-kiam, dia terus
menatapnya, akhirnya dia mengangguk dari suaranya
terdengar agak bergetar, pelan-pelan dia berkata, “Baik,
benar-benar baik, bentuk wajahmu sangat mirip denganku...
temanku dulu.”
“Aku mirip ayahku,” jawab Lim Hud-kiam.
“Oh ya, apakah benar? Aneh sekali, saat kau masih kecil
kau tidak seperti ini, saat itu kau hitam juga kurus.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Mengapa kau bisa tahu bagaimana rupaku waktu kecil?”
tanya Lim Hud-kiam.
“Aku pasti tahu karena aku pernah ke Ceng-seng.”
“Dugaanku tidak salah!”
Dengan tegang Wong Jong-ceng bertanya, “Apakah kau
tahu siapa aku?”
“Tidak, tapi melihat pengaturan di sini, sangat mirip dengan
Ceng-seng, jadi aku yakin kalau kau adalah orang yang telah
keluar dari Ceng-seng.”
Wong Jong-ceng menghembuskan nafas, “Aku tahu kalau
pengaturan di sini tidak akan bisa membohongi orang-orang
Ceng-seng, tapi mengenai barisan Ciu Giok-hu sangat pelit, dia
tidak akan mau mengajarimu, kau bukan orang kepercayaannya,
dari mana kau mempelajarinya?”
Lim Hud-kiam tertawa, “Dari sini dapat kusimpulkan kalau
kau sudah lama meninggalkan Ceng-seng, tapi dalam barisan
Ciu Giok-hu sudah bertambah pintar, pengaturan yang dulu
sudah tidak digunakan lagi.”
Sepertinya Wong Jong-ceng sangat terkejut, tapi sesaat
kemudian dia tertawa, berkata, “Ciu Giok-hu memang sangat
menguasai ilmu mengenai barisan, tapi mengenai ilmu pedang
dia masih jauh, dulu dia memang sombong tapi sekarang dia
menjadi tahananku.”
“Apakah dulu kau juga pernah dihina oleh Ciu Giok-hu?”
tanya Lim Hud-kiam sambil tertawa.
Wong Jong-ceng dengan serius berkata, “Benar, orang itu
jiwanya sempit, dia sombong dan tidak mengijinkan orang lain
lebih kuat darinya, aku bisa keluar dari Ceng-seng separuh
alasannya karena dia juga!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aneh, kalau kau tidak tahan dengan penghinaan Ciu Giokhu
paling sedikit di Ceng-seng kau adalah orang terkenal,
mengapa aku tidak ingat siapa dirimu,” kata Lim Hud-kiam.
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Bocah ini pintar
dan licik, dari tadi kata-katamu pukul sini pukul sana, ternyata
kau ingin tahu identitas ku, jangan cemas, aku akan
memberitahumu hanya saja saatnya belum tiba, bersabarlah
menunggu!”
“Wajahmu ditutup, apakah supaya tidak dikenal oleh orangorang
Ceng-seng?”
“Bisa dikatakan seperti itu, juga bisa tidak, aku menutup
wajah asliku karena sumpahku sebelum menjadi raja pedang
aku tidak akan menggunakan wajah asli menemui orangorang,
sudahlah kita jangan membicarakan hal ini lagi, kita
ganti topik pembicaraan!”
“Aku masih ingin bertanya, apakah ilmu pedangmu kau
dapatkan dari Pit-kip yang ada di dalam plakat itu?”
Wong Jong-ceng berpikir sebentar baru menjawab, “Tidak
semuanya, aku sudah membaca Pit-kip itu, dari dalam aku
juga mempelajari sedikit ilmu tapi aku merasa terakhir-terakhir
ilmuku lebih tinggi dari ilmu yang tercatat di dalam Pit-kip itu,
maka aku berani menyebut kalau aku adalah raja pedang!”
“Apakah kau murid dari Ngo-heng-kiam?”
“Boleh dikatakan seperti itu, tapi ilmu yang kukuasai sudah
di atas Ngo-heng-kiam.”
“Pit-kip dunia persilatan hanya didapatkan oleh satu orang,
mengapa kau bisa mendapatkannya?”
Wong Jong-ceng hanya tertawa tapi tidak menjawab.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Lim Hud-kiam bertanya lagi, “Apakah kau kenal dengan
seseorang di Ceng-seng yang bernama Hoan Lam-huang?”
Tubuh Wong Jong-ceng bergetar, lama dia baru menjawab,
“Aku kenal orang itu, dia orang paling jahat di dunia ini,
sekarang bagaimana keadaannya?”
“Dialah orang yang berhasil mendapatkan Pit-kip.”
“Aku tahu, bagaimana keadaannya?”
“Mengapa kau bisa tahu?”
“Yang penting aku tahu, sekarang bagaimana keadaannya?”
“Sebenarnya dia adalah teman keluargaku, sejak ayahku
meninggal, dia meninggalkan Ceng-seng, aku pun tidak tahu
dia pergi ke mana, tapi sekarang aku tahu kalau dia tinggal di
sebuah hutan lebat.”
“Mengapa dia rela meninggalkan Ceng-seng?”
“Aku tidak tahu bagaimana jelasnya, tapi menurutku dia
merasa menyesal dengan kematian ayahku, maka dia
meninggalkan Ceng-seng.”
Wong Jong-ceng masih memaksa bertanya, “Akhir-akhir ini
kau pasti telah bertemu dengannya, ilmu pedangmu pun
warisan darinya, mengapa dia mau menurunkan ilmu
pedangnya kepadamu?”
“Dia mengajariku ilmu pedang dia juga mengganti nama
asliku,” jawab Lim Hud-kiam.
Wong Jong-ceng berkata, “Benar, aku ingat waktu kau kecil
namamu adalah Lim Ku-cu, mengapa berubah menjadi Hudkiam?
Apa makna kedua huruf ini?”
“Dia berharap aku memiliki hati Budha setelah menguasai
ilmu pedang, menghilangkan hati yang ingin membunuh, dua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
kali aku belajar ilmu silat darinya, dia menentukan aku hanya
boleh menggunakan pedang tumpul, lalu dia pun memberikan
sebuah tugas kepadaku, dia telah memperhitungkan kalau
ketua Ngo-heng-kiam (pedang 5 unsur) akan muncul dan dia
ingin aku menghalangi bencana ini.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak.
“Dia benar-benar kurang ajar!”
Dengan serius Lim Hud-kiam berkata, “Ini adalah sebuah
cita-cita yang luhur, apakah ini salah?”
“Aku benar-benar tidak mengerti orang itu, ilmu pedang
yang dia ajarkan kepadamu hanya 60-70% yang ada dalam
Pit-kip, tapi permintaannya kepadamu begitu banyak,
mengapa dia tidak melakukan semua itu sendiri?”
“Karena dia belum mendapatkan Pit-kip jilid kedua, hal ini
membuat tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan dan dia
lumpuh.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Seperti anjing
kentut, memang Pit-kip jilid pertama bisa membuat orang
menjadi lumpuh, tapi itu bukan penyakit yang tidak bisa
diobati, asal tahu caranya kita sendiri pun bisa mengatasinya,
seperti aku, aku juga mengandalkan kekuatanku sendiri dalam
berlatih!”
“Tapi dia tidak seperti dirimu bisa mendapatkan
kesempatan secara kebetulan!”
Wong Jong-ceng menggelengkan kepala, “Kau ditipu
olehnya, ilmu silat yang dilatihnya adalah ilmu lurus, dia pasti
bisa menyembuhkan dirinya sendiri, aku pun bisa
menggunakan kepandaianku untuk mengobati diriku, ilmu silat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
yang kugunakan adalah ilmu silat yang dia gunakan juga,
masa dia tidak mengerti? Anak muda, kau diperalat olehnya!”
“Tapi aku tidak merasa kalau aku diperalatnya.”
Wong Jong-ceng berpikir sebentar lalu berkata, “Sekarang
ini aku tidak bisa mengatakan apa maksudnya, tapi aku
percaya dia mempunyai rencana busuk, yang penting orang
itu bukan orang baik, jiwanya sempit, sedikit-sedikit tidak suka
langsung ingin membalas dendam, aku bisa memberikan
sebuah contoh, saat kau baru berkelana di dunia persilatan
kau sering kali mencari masalah dengan perusahaan
perjalanan Su-hai, aku yakin ini pun permintaan darinya
bukan?”
Lim Hud-kiam tidak mengaku juga tidak membantah.
Tapi Goan Hiong yang berkata, “Sangat aneh, apa
kesalahan perusahaan perjalanan Su-hai kepadanya?”
Wong Jong-ceng tertawa, “Tentu ada, dari awal aku sudah
curiga dengan identitas aslinya sampai Lim Hud-kiam
berseberangan dengan kalian dan selalu membuat masalah
dengan kalian. Lim Hud-kiam pun selalu memaksa kalian
menutup perusahaan perjalanan Su-hai, aku baru tahu apa
alasannya sekarang, nama palsunya adalah Hoan Lam-huang,
nama aslinya adalah Lam-huang-kiam-sou Lok Su-hoan
(Pedang tua dari selatan).”
“Apakah itu benar Lim Toako?” tanya Goan Hiong.
“Benar!” jawab Lim Hud-kiam dengan terpaksa. Wong Jongceng
tertawa dingin, “Pasti dia, sebab Kian-kun-kiam-pai Siau
Pek memaksanya membuka perusahaan perjalanan, maka
guru dan murid ini bertentangan, akhirnya Lok Su-hoan
membenci perguruannya, dia tidak peduli lagi pada keadilan
juga kebenaran, bukankah orang itu sangat kurang ajar?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku tidak setuju dengan kata-kata ini, dia tidak ingin
membuka perusahaan perjalanan, karena dia tidak tertarik
pada pekerjaan ini, seharusnya Siau Pek tidak boleh
memaksanya,” kata Lim Hud-kiam.
“Aku sudah pernah menyampaikan alasan ini kepada Lim
Toako, aku kira semua ini tidak masuk akal, aku percaya
dalam hati Lim Toako belum tentu mengaku kalau Lok Suhoan
benar,” kata Goan Hiong.
Dengan terpaksa Lim Hud-kiam berkata, “Dia hanya marah
sesaat pada orang perguruannya, tapi dia tetap
memperhatikan mereka, maka saat gurumu mengalami
kesulitan, aku pernah membantunya melewati bahaya sebab
pesan Lok Su-hoan aku pun pernah memberitahu dari samping
mengenai kekurangan Tay-lo-kiam-hoat, itu adalah
kehendaknya.”
“Lim Toako sudah tahu identitasnya, mengapa saat guruku
bertanya kau menyangkalnya?” tanya Goan Hiong.
“Aku tidak menyangkalnya, yang kalian tanyakan adalah
Lok Su-hoan yang aku tahu adalah Hoan Lam-huang, yang
pasti aku tidak akan mau mengakuinya,” jawab Lim Hud-kiam.
“Tapi Lim Toako sudah tahu kalau itu adalah satu orang
bukan?”
“Aku telah dipesan olehnya tidak boleh memberitahukan
namanya kepada siapa pun, aku pikir dia tidak ingin mengaku
kalau dia adalah murid Kian-kun-kiam, jadi aku tidak perlu
membuka rahasianya!”
Goan Hiong marah, katanya, “Hanya karena marah saat itu
dia menyusahkan Sute dan Suheng, orang itu sungguh tidak
masuk akal.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Goan-heng, Kian-kun-it-kiam Siau Pek bukan orang paling
suci, keputusannya belum tentu masuk akal, hal ini sudah
diakui oleh gurumu Ciam Cianpwee, karena itu jangan
salahkan dia, guru tidak boleh memaksa muridnya melakukan
hal yang tidak dia inginkan. Siau Pek terlalu memaksa,
sedangkan Lok Su-hoan terlalu fanatik, tapi gurumu tidak
mengeluarkan dia dari perguruan, namanya tetap ada di Kiankun-
kiam-pai, dia juga adalah Susiokmu, kau tidak boleh
menyerangnya!”
“Kalau yang lebih tua tidak pantas dihormati, untuk apa aku
harus menghormatinya?” kata Goan Hiong.
“Kalau begitu apakah dia membantah Siau Pek juga salah?”
tanya Lim Hud-kiam sambil tertawa.
Goan Hiong tidak bisa menjawab.
Wong Jong-ceng tertawa, berkata, “Siapa yang salah siapa
yang benar tidak perlu kita bicarakan lagi, tapi paling sedikit
bisa membuktikan kalau Lok Su-hoan bukan seorang lelaki
berjiwa besar.”
“Tapi permintaannya kepadaku adalah benar,” kata Lim
Hud-kiam.
“Orang kerdil seperti dia, apakah permintaannya akan
benar?” tanya Wong Jong-ceng tertawa dingin.
Dengan serius Lim Hud-kiam berkata, “Mungkin dia egois
tapi aku tidak mau tahu, didikan yang kudapat aku masih bisa
membedakan mana yang benar dan mana yang salah.”
“Ayahmu meninggal sangat awal, siapa yang mendidikmu?”
“Ibuku, beliau adalah seorang Li Eng-hiong yang
sempurna,” jawab Lim Hud-kiam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kau menerima tawaran dari Lok Su-hoan apakah ibumu
setuju?”
“Benar, aku diperintahkan ibu baru kembali mencari Hoan
Lam-huang!”
“Apakah mereka masih sering berhubungan?”
“Tidak, semenjak ayahku meninggal, mereka belum pernah
bertemu lagi, memang Hoan Lam-huang memberitahukan
tempat tinggalnya, tapi ibuku tidak pernah pergi ke sana untuk
menemuinya, sebenarnya sejak ibuku menjanda dia sudah
menutup hatinya dan masuk menjadi murid Budha, selama 25
tahun ini kecuali aku beliau tidak pernah bertemu dengan
siapa pun, beliau selalu menemani patung Budha dan lampu
hijau yang ada di atas meja.”
Terlihat tubuh Wong Jong-ceng bergetar, “Apakah sudah
berlangsung 25 tahun?”
“Benar, saat ayahku meninggal aku baru berusia 6 tahun,
tahun ini usiaku sudah 31th, beliau menjadi ibu sekaligus
ayahku, begitulah cara beliau membesarkan aku.”
Wong Jong-ceng menarik nafas panjang lalu dia pun diam.
Di luar ada yang mengetuk pintu, Wong Jong-ceng dengan
suara berat bertanya, “Siapa? Masuklah!”
Yang pertama masuk adalah Wong Han-bwee, dia segera
merebahkan diri ke pelukan Wong Jong-ceng dengan manja
berkata, “Ayah, ilmu silatmu sudah berhasil, tapi ayah tidak
memberitahuku!”
Di belakang Wong Han-bwee ada yang ikut masuk dia
adalah Liu Ban-mong, Wong Jong-ceng mendorong Wong
Han-bwee ke samping dan bertanya, “Ban-mong, kau benarbenar
tidak teliti!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong menundukkan kepala, “Benar, hamba pantas
mati, hamba tidak tahu kalau mereka menyamar, dan dengan
memakai baju lembah raja pedang mereka menerobos
masuk!”
“Sudahlah, kepintaranmu bila dibandingkan dengan Lim
Hud-kiam masih jauh, aneh, kau bisa memberikan plakat
untuk melancarkan perjalanan mereka, kau benar-benar
ceroboh, untung aku lebih cepat menyelesaikan latihan ilmu
silat kalau aku mengandalkan buku jilid kedua sekarang adalah
saat yang paling penting, bukankah ini akan mencelakaiku?”
Liu Ban-mong tidak berani membantah.
“Ayah, aku juga harus bertanggung jawab karena aku tidak
berpatroli di lembah, kalau tidak mereka tidak akan bisa
masuk,” kata Wong Han-bwee.
“Masih banyak yang masih harus kau pelajari!”
“Tapi tidak menjadi masalah, anak buah Kiu-nio aku yang
melatihnya, bila mereka berani masuk tidak sampai membuat
ayah terganggu.”
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Aku tidak percaya, aku
sudah melihat ilmu silat Lim Hud-kiam, dugaan kalian semua
salah, dia setingkat dengan kalian.”
Tiba-tiba Wong Han-bwee mencabut pedangnya, “Aku akan
segera mengalahkannya supaya ayah bisa melihatnya!”
Wong Jong-ceng segera membentak, “Jangan
sembarangan, simpan pedangmu!”
“Ayah, bukankah ayah pernah mengatakan kalau ayah
adalah nomor satu dan aku adalah nomor dua, dan posisi 10
besar diduduki oleh orang-orang lembah ini, mengapa
sekarang berubah?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dari nada bicara Wong Jong-ceng terdengar ada sedikit
nada gembira, “Benar, kata-kataku tidak akan berubah, posisi
dari satu sampai sepuluh bukan diduduki oleh orang luar
lembah, ilmu raja pedang harus lebih tinggi dari semua tapi
Lim Hud-kiam berbeda, semua jurusnya sama denganku, itu
adalah jurus perubahan dari Pit-kip itu, maka dia bukan orang
luar lembah.”
“Benarkah ilmu pedang ayah dari Pit-kip itu?”
Wong Jong-ceng mengangguk dan tertawa, “Benar,
sebelum aku kemari dasar ilmu pedangku adalah dari Pit-kip
itu, setelah menikah dengan ibumu, aku baru mempelajari
ilmu pedang baru kemudian digabung dengan ilmu pedang
baru, maka lahirlah ilmu pedang baru tapi perubahan dasarnya
tetap dari catatan Pit-kip itu, mengenai hal ini Kiu-nio lebih
tahu jelasnya.”
“Aku tidak tahu kalau ilmu pedang Tuan ada hubungannya
dengan Pit-kip itu,” kata Ma Kiu-nio.
“Mungkin kau tidak tahu tapi kau pasti sudah terpikir kalau
tuanmu yang dulu adalah turunan Ngo-heng-kiam, serangan
Ngo-heng-kiam sangat lihai boleh dikatakan tidak ada yang
bisa menandingi, tapi dalam penjagaannya kurang kuat, ilmu
pedang yang ada di Pit-kip tepat mengisi kelemahan ini,
setelah aku menggabungkan kedua ilmu pedang ini maka aku
menamakan ilmu pedang ini adalah ilmu raja pedang.”
“Pantas di Tai-san Lim Hud-kiam mengatakan kalau kita
adalah turunan dari Ngo-heng-kiam tapi aku menyangkalnya,
tidak disangka ternyata memang benar demikian.”
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Dugaannya tidak salah,
tapi kau menyangkal pun ada alasannya, sebab ilmu pedang
kalian sudah melewati Ngo-heng-kiam, sudah menjadi ilmu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
tertinggi sekarang ini, yang kalian kuasai adalah ilmu raja
pedang yang terkuat di dunia ini.”
Wong Han-bwee masih ingin bertanya tiba-tiba dari luar
ada yang berlari masuk, dengan terburu-buru dia melapor,
“Lapor Tuan, di luar banyak orang datang!”
Orang yang lari datang adalah Heuw Liu-koan.
“Hampir semua orang yang ikut rapat di Tai-san sudah
datang, mereka memaksa masuk, sekarang mereka berada di
mulut lembah dan dihalangi oleh orang bawaan Wong Jin-jiu,
tapi lawan sangat banyak, begitu juga dengan kekuatannya,
aku takut akan sulit menghalangi mereka, jadi aku datang
untuk meminta bantuan.”
“Apakah mereka datang bersamaan?” tanya Wong Jongceng.
“Tidak, Kian-kun-kiam-pai bergabung dengan kelompok Liu
Ta-su, dua bersaudara Bun dan orang-orang Ceng-seng serta
sebagian orang telah bergabung, kedua kelompok ini datang
dengan arah yang berbeda, tapi secara bersamaan tiba di
mulut lembah, untung mereka terdiri dari 2 kelompok, jadi
mereka tidak akan bekerja sama, pesilat lembah ini masih bisa
menahan kalau mereka kompak, pintu kita dari tadi sudah
jebol.”
“Liu Ban-mong, apa yang kau lakukan? Semua orang sudah
berada di depan pintu lembah sekarang, kau sedikit pun tidak
tahu?” Wong Han-bwee marah.
Liu Ban-mong ketakutan, katanya, “Nona, penjagaan di sini
semuanya mengikuti petunjuk Tuan, tapi karena keributan
yang dibuat Lim Hud-kiam....”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kau harus bertanggung jawab, kita sudah tahu dengan
jelas keadaan orang-orang yang datang, pesilat tingkat
pertama yang kau pimpin harus bisa melawan mereka.”
“Pesilat yang kupimpin jumlahnya ada 21 orang, 5 orang
sudah terbunuh di lembah, sisanya semua menjaga upacara
penobatan nanti.”
“Jangan saling menyalahkan, kedua kelompok ini ada orang
Ceng-seng, maka pengaturanku untuk menjaga tempat ini
tidak bisa menghalangi mereka, mereka datang di saat yang
tepat, mereka bisa mengikuti upacara penobatanku, Hanbwee,
kau bawa orang untuk menyambut mereka.”
“Apakah sekarang ayah akan menyuruh mereka masuk?”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Benar,
sebetulnya rencana penobatan hari ini mereka tidak diundang,
tapi kalau mereka sudah hadir, jadi tepat dan sempurna.
Bawalah mereka masuk tapi beritahu juga kepada mereka
supaya menjaga ketertiban di sini, selain tempat upcara
penobatan, mereka tidak boleh berkeliaran di tempat lain, bila
tidak mengikuti aturan ini mereka harus dibunuh. Sampai di
lembah raja pedang harus menuruti peraturanku, Kiu-nio,
bawa 24 orang Lo-liu yang kau pimpin bantulah nonamu.
Menghadapi orang-orang Ceng-seng yang tidak mau menuruti
aturan di sini, tidak perlu sungkan bunuh saja langsung!”
Wong Han-bwee dan Ma Kiu-nio segera membawa
sekelompok perempuan setengah baya berlalu dari sana.
Wong Jong-ceng berpesan pada Heuw Liu-koan, “Kau bantu
Liu Ban-mong membawa orang-orang yang kita culik ke
lapangan penobatan dan menunggu di sana, sedangkan 3
orang gadis yang terakhir datang kalian harus bersikap lebih
sungkan, kelak mereka akan menjadi orang-orang terhormat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
di lembah raja pedang, kedudukan mereka mungkin akan
berada di atas kalian.”
“Tidak mungkin, kami tidak akan bertekuk lutut,” kata Lim
Hud-kiam.
“Jangan membicarakan ini terlalu dini, aku tahu kau adalah
pemimpin dari sebagian orang itu, asal kau setuju maka
mereka pun akan setuju.”
“Aku tidak percaya aku mempunyai kekuatan begitu besar
sehingga bisa mempengaruhi mereka tapi aku jamin aku tidak
akan bertekuk lutut, aku mengaku ilmu pedang ada nomor
satu di dunia ini tapi tidak akan mengaku kalai ditekan dengan
keras sehingga mau bertekuk lutut kepadamu.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak lagi, “Lihat saja
nanti kau akan terkejut dan tidak akan percaya, sebab ada hal
yang tidak terduga akan muncul! Waktu itu mau tidak mau
kau akan menurut kepadaku!”
Dia melambaikan tangannya, “Liu Koan, Ban-mong, pergilah
kalian!”
“Tuan di sini tidak ada yang melindungi,” kata Liu Banmong.
“Kau benar-benar sudah pikun, apakah aku tidak bisa
melindungi diriku sendiri?”
“Bagaimana dengan kedua orang ini?”
“Aku akan membawa mereka ke tempat penobatan!”
Liu Ban-mong masih terlihat ragu, Wong Jong-ceng
membentak, “Kau benar-benar cerewet, kalau bukan aku yang
membawa mereka, apakah kau bisa menaklukkan mereka?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dengan terpaksa Liu Ban-mong dan Heuw Liu-koan
memberi hormat lalu pergi dari sana.
Wong Jong-ceng menunggu sebentar dengan nada ingin
tertawa dia berkata, “Mari kita juga pergi sekarang, di luar
sana persiapannya pasti hampir selesai!”
Lim Hud-kiam yang ditatap Goan Hiong berkata, “Ayo! Apa
pun masalahnya nanti akan kita bereskan, aku benar-benar
tidak mengerti mengapa paman Liu dan gurumu bisa datang
ke sini, untuk apa mereka ke sini?”
“Mereka tiba-tiba kehilangan jejak kita, hingga mereka
menjadi cemas, maka mereka mengejar kita kemari,” jawab
Goan Hiong.
Lim Hud-kiam mengerutkan dahinya, “Aku meminta Lengnio
tinggal maksudnya adalah untuk menghalangi mereka ke
sini, keadaan di sini tidak jelas, mengapa membawa begitu
banyak orang ke sini?”
“Tenanglah, asal mereka mau mendengar kata-kataku, aku
tidak akan membuat mereka sulit dan tidak akan membunuh
orang untuk mencapai tujuanku.”
“Tapi kau memaksa orang-orang bertekuk lutut kepadamu!”
kata Lim Hud-kiam.
“Benar, aku hanya ingin disebut sebagai raja pedang, aku
merasa bangga dengan nama raja pedang, ilmu pedang ada 2
macam, pertama, dengan teknik merebut kemenangan. Yang
kedua, dengan ilmu pedang melatih sifat, kalau mereka tidak
mau bertekuk lutut kepadaku mereka bisa melepaskan ilmu
pedang mereka dan di rumah berlatih pedang untuk hobi saja,
aku tidak akan mengganggu mereka bila mereka tidak memilih
jalan itu, berarti ingin merebut kemenangan, dengan cara adil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
aku akan bertarung dan menaklukkan mereka, apakah cara ini
salah?”
Kata-kata ini memang terdengar fanatik tapi masuk akal
juga, maka Lim Hud-kiam tidak bisa membantahnya, hanya
bisa diam.
Tapi Goan Hiong membantahnya, “Belajar ilmu pedang
untuk menegakan keadilan dan kebenaran, menyingkirkan
yang jahat, menjaga keamanan, semua pesilat harus mengerti
hal ini, mengapa kau mengurung merk di lingkungan kecil ini?”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Menyingkirkan
kejahatan, menjaga keamanan, biar kerajaan raja pedang
yang bertanggung jawab akan hal ini, itu lebih berguna
dibandingkan bergerak sendiri, dunia bisa kacau kalau begitu,
yang namanya menjaga keadilan dan kebenaran selalu diukur
dari patokan baik atau jahat secara perorangan.”
“Bagaimana kau mengukurnya?”
“Aku sudah menentukan sebuah disiplin, yang melanggar
harus dihukum dengan cara dibunuh, hanya dengan cara
seperti itu baru bisa membuat kejahatan tidak akan muncul,
menjaga keadilan dengan kekerasan baru bisa menghentikan
kekerasan, dengan disiplin ketat mendidik psilatku supaya
mereka tidak akan berbuat kesalahan.”
“Memang rencanamu sangat bagus, kalau kau bersalah
siapa yang akan menghukummu?”
“Tidak akan, aku adalah raja pedang, aku tidak akan
melakukan kesalahan,” jawab Wong Jong-ceng.
“Manusia bukan Tuhan, mana mungkin tidak akan
melakukan kesalahan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku mengaku kalau kata-katamu benar, tapi kedudukan
semakin tinggi maka untuk melakukan kesalahan semakin
sedikit, sifat manusia pada dasarnya baik, mereka berbuat
kejahatan karena tergoda, aku percaya aku mungkin bisa
melakukan kesalahan tapi tidak akan mengubah putih menjadi
hitam, atau membalikkan fakta!”
Lim Hud-kiam menghela nafas panjang, “Aku tidak bisa
membantah lagi, karena sudah habis aturan-aturan yang
disebut supaya kau mengerti, tapi aku tetap menganggap
kalau caramu itu tidak masuk akal!”
“Di dunia ini tidak ada aturan yang pasti, benar atau salah,
baik atau jahat, itu hanya pandangan masing-masing,
sekarang jika aku membunuh, kau tentu anggap kejam,
mungkin kau pun dipengaruhi sebagian orang sebab senjata
yang kau pakai adalah pedang tumpul, namamu pun menjadi
Lim Hud-kiam (Pedang Budha), apakah kau pernah
membunuh?”
Lim Hud-kiam berhenti sebentar baru menjawab, “Hari ini
aku baru melanggar aturan ini, aku telah membunuh anak
buahmu, dulu aku tidak pernah membunuh.”
“Apakah anak buahku melanggar hukum yang berat?”
“Tidak, tapi untuk membela diri, bila aku tidak membunuh
mereka mereka yang akan membunuhku!”
“Benar, kapan harus membunuh? Bila aku sudah
menaklukkan semua orang dengan ilmu pedang, apakah kau
tahu begitu banyak orang yang ingin membunuhku dan
merebut posisiku, jadi sebelumnya aku harus membangun
dulu wibawaku untuk mengikis pikiran dan menekan lawan, ini
juga salah satu usaha pembelaan diri,” kata Wong Jong-ceng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kau harus mengerti, kau pernah dihina dan ditekan di
Ceng-seng, dalam keadaan seperti itu orang hanya
mempunyai dua pilihan, pertama membenci orang yang
menekannya dan bersumpah akan membalas dendam, yang
kedua adalah menimbulkan perasaan takut dan selalu tunduk
kepada orang itu, walaupun kau tahu kalau kekuatanmu sudah
melebihi dia, kau tetap saja tidak berani melawannya, aku
ingin semua tunduk karena....”
“Jangan salah, kelompok orang itu tidak akan tunduk
kepadamu!”
“Aku akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk
melawan, mereka bisa membunuhku bila mereka tidak
sanggup membunuhku dan terbunuh, jangan salahkan aku!”
Arti dan aturan miring ini membuat Lim Hud-kiam bingung,
dia tidak mempunyai cukup kata untuk membalikkan omongan
Wong Jong-ceng.
Mereka berjalan bukan melalui jalan besar, setelah Wong
Jong-ceng membawa mereka turun dari loteng, mereka segera
memasuki sebuah jalan kecil kemudian masuk ke gua buatan.
“Jalan ini langsung menuju tempat duduk raja pedang aku
harus muncul secara tiba-tiba seperti kemunculan artis di
sebuah sandiwara, semua itu bisa menambah wibawaku!” kata
Wong Jong-ceng.
Ooo)dw*de(ooO
BAB 30 Mengadu kepintaran untuk
memperlihatkan bakat
Di dalam gua sangat lembap, gelap, panjang dan berlikuliku,
di sekeliling gua banyak dipasang tonggak-tonggak kayu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
gunanya untuk menopang tanah supaya tidak longsor, kadang
ada yang terpasang tinggi, kadang ada yang terpasang
rendah, kadang berbelok kiri kadang juga berbelok ke kanan,
setelah berjalan beberapa saat akan membuat orang bingung
dan tidak tahu arah.
Di dalam gua setiap 3-4 meter selalu ada api unggun,
kadang-kadang ada kelelawar yang terbang tanpa arah,
melihat keadaan di sini dapat diketahui kalau jalan bawah
tanah ini jarang ada yang melewati, api unggun pun dipasang
karena ada yang akan lewat, di bawah gua banyak genangan
air, juga ada ampas batu bara, diperkirakan kalau gua ini
adalah bekas pertambangan batu bara.
Wong Jong-ceng berjalan paling depan, dia menundukkan
kepala, seperti sedang memikirkan sesuatu, juga seperti
merencanakan sesuatu, Goan Hiong mendekati Lim Hud-kiam,
dengan suara sangat rendah dia berkata, “Lim Toako, apa
rencanamu selanjutnya?”
“Aku tidak tahu, sekarang aku merasa bingung.”
“Apakah Lim Toako terganggu dengan kata-kata sesatnya
tadi?”
“Tidak, aku merasa pola pikirnya memang masuk akal, tapi
itu bukan jalan benar.”
“Melihatmu diam terus, aku mengira kau sudah terpengaruh
oleh kata-kata sesatnya.”
“Mana mungkin, aku bukan anak kecil yang bisa begitu
mudah dipengaruhi, mana yang salah dan mana yang benar
masih bisa kubedakan dengan jelas.”
“Kalau begitu ini kesempatan yang bagus.”
“Kesempatan apa?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tiba-tiba menyerang, dalam 5 langkah akan membuatnya
mati bukankah hal ini akan beres?”
“Tidak, tidak boleh melakukan cara itu.”
“Ini adalah cara yang termudah dan tercepat, harus
mengambil keputusan yang tepat, jangan seperti perempuan.”
“Aku tidak ragu-ragu, hanya saja tidak mungkin, dia
menganggap dirinya adalah Raja Pedang, ilmu pedang
pedangnya pasti lebih tinggi darimu dan juga aku.”
“Karena itulah, kita harus menggunakan cara ini, kalau tidak
kita akan lebih sulit lagi mengalahkan dia.”
Lim Hud-kiam masih tampak ragu, dan Goan Hiong sudah
menyerang, diam-diam dia menyerang bagian belakang Wong
Jong-ceng dengan pedang.
Wong Jong-ceng tidak menoleh, punggungnya seperti
terpasang mata, dia membalikkan tangan menepuk, pedang
Goan Hiong berhasil disingkirkan, kemudian Wong Jong-ceng
memukul tangan Goan Hiong, karena sakit, Goan Hiong
melepaskan pedang yang dipegangnya.
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Jangan melakukan hal
bodoh, seorang pesilat pedang bila ingin membunuh dia harus
berhadapan muka dengan musuhnya, kau menyerang dari
belakang benar-benar tidak punya etika sebagai seorang
pesilat pedang.”
Goan Hiong tidak puas, dia melemparkan 2 butir bom yang
mengandung obat bius, tapi Wong Jong-ceng seperti tidak
merasakannya, bom meledak dan dari dinding gua keluar asap
bergumpal.
Wong Jong-ceng menghirup udara itu dan berkata, “Mainan
apa ini? Begitu harum.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Setelah bicara tubuhnya lemas, dia terduduk lemas ke
bawah.
Goan Hiong mengambil pedangnya dia siap menyerang
Wong Jong-ceng dengan pedangnya, tiba-tiba Lim Hud-kiam
mencabut pedang dan menghalanginya, “Goan-heng, tidak
boleh, kau tidak boleh membunuh dia!”
“Mengapa? Bila kita berhasil membunuhnya, dunia akan
aman.”
“Tidak juga, masih ada anak buah dan putrinya, mereka
semua adalah pesilat tangguh, bila kau membunuhnya,
mereka akan membalas dendam akibatnya tidak
terbayangkan.”
“Bila kita tidak membunuhnya, apakah akibatnya juga akan
lebih baik? Paling sedikit yang lainnya tidak akan sulit
dihadapi, tidak akan sesulit menghadapinya.”
“Yang penting adalah hati nurani kita, tadi kau
menyerangnya dari belakang, bila dia akan membunuhmu
hanya seperti membalikkan telapak tangan, tapi dia tidak
melakukannya, berarti hatinya masih lurus.”
“Tapi perilakunya sangat sesat.”
Dengan serius Lim Hud-kiam berkata, “Kita menentang dia
karena kita berdiri di pihak benar, tapi kalau dengan cara
seperti itu membunuhnya, kebenaran akan hilang, kita lebih
sesat darinya, jadi aku tidak setuju.”
“Jadi aku harus bagaimana?”
“Bila kau bertarung dan membunuh dia secara berhadapan,
aku akan mendukungmu, jangan melakukan dengan cara
seperti itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Goan Hiong berpikir sejenak lalu berkata, “Baiklah, tadi aku
terlalu emosi, sekarang bila menyuruhku melakukannya lagi,
belum tentu aku sanggup melakukannya, jadi dengan cara apa
kita akan menghadapinya?”
“Tidak ada cara lain, tolong berikan dia obat penawarnya.”
Goan Hiong merasa aneh dan berkata, “Cara ini bukankah
sama seperti melepaskan harimau ke hutan?”
Lim Hud-kiam menarik nafas, katanya, “Betul, bila kita
menggotongnya keluar, akibatnya akan lebih parah lagi, bila
pedang Wong Han-bwee sudah mengganas, tidak ada yang
bisa menahannya! Apalagi anak buahnya seperti srigala dan
harimau, ilmu pedang Liu Ban-mong telah kau saksikan sendiri
sekelompok nenek-nenek itu lebih lihai lagi, bila masih ada dia,
dia bisa memerintah mereka.”
“Kita bisa mengancam dia dan dia akan mengikuti perintah
kita.”
Lim Hud-kiam tertawa kecut, “Apa gunanya? Lembah Raja
Pedang dibangun berdasarkan wibawa Wong Jong-ceng
apakah dengan kau menguasai seorang ini saja sudah cukup?”
“Paling sedikit bisa membuat Wong Han-bwee bertekuk
lutut.”
“Tidak hanya Wong Han-bwee, Wong Jin-jiu dan Ma Kiunio,
dan Heuw Liu-hoan pun bisa, tapi Liu Ban-mong sulit
ditebak, mungkin dia berharap kita membunuh Wong Jongceng?”
“Kita tidak perlu takut kepada Liu Ban-mong.”
“Kau salah, orang yang paling menakutkan adalah Liu Banmong,
orang itu seperti Ciu Giok-hu sangat ambisius dan
serakah.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tapi ilmu silatnya terbatas.”
“Aku tidak menganggapnya seperti itu, di Lembah Raja
Pedang ini kecuali Wong Jong-ceng, mungkin Liu Ban-mong
lah yang terkuat, tapi dia sengaja menyembunyikannya.”
“Aku tidak percaya, bukankah pada saat rapat akbar di Taisan,
kau berhasil mengalahkannya?”
“Waktu itu aku mengira berhasil mengalahkannya, setelah
berada di Lembah Raja Pedang, aku baru sadar ternyata aku
salah besar, ilmu silat Liu Ban-mong berada di atas semua
orang.”
“Apa ada buktinya?”
“Ada, Liu Ban-mong adalah pengurus lembah ini, dia pasti
mengenal semua orang, tapi dia pura-pura bodoh membiarkan
kita datang ke tempat Wong Jong-ceng, coba kau pikir semua
ini apa maksudnya?”
“Apa maksudnya?” Goan Hiong terpaku.
“Kabar yang dia titipkan kepada kita tidak penting, gedung
penyimpan pedang selalu dijaga dengan ketat, orang mereka
sendiri pun tidak bisa keluar masuk seenaknya, pasti sulit
melewati berlapis-lapis penjagaan, walaupun bisa lewat tapi di
loteng keadaan pasti sudah menjadi waspada.”
“Maksud Lim Toako, dia sengaja membiarkan kita masuk?”
“Betul, setelah aku berpikir lama aku baru mengerti, dari
awal dia sudah tahu kalau kita menyamar, Wong Jong-ceng
pun pasti bisa mengetahui penyamaran kita, masa dia tidak?
Dia sengaja menggunakan plakat perintah mengantarkan kita
ke gedung penyim-panan pedang, tujuannya adalah
memperalat kita untuk membunuh Wong Jong-ceng, atau
merusak konsentrasi Wong Jong-ceng yang sedang berlatih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
ilmu silat, hanya saja dia tidak menyangka kalau Wong Jongceng
sudah selesai lebih cepat berlatihnya, maka rencananya
tidak terlaksana.”
“Lalu apa rencananya?”
“Yang pasti dia ingin merebut tampuk kekuasaan dari Wong
Jong-ceng, coba kau pikir bila rencananya tidak matang,
apakah dia berani melakukan hal ini?”
“Apakah Wong Jong-ceng mengetahuinya?”
“Aku kira dia pasti tahu, kalau tidak dia sebelum selesai
berlatih, sebenarnya dia bisa lebih awal keluar, tidak perlu
bersembunyi di dalam rumah.”
Tiba-tiba Wong Jong-ceng berdiri dan tertawa terbahakbahak,
“Pintar! Pintar! Orang yang keluar dari Ceng-seng
memang lebih pintar dari yang lain.”
Melihat Wong Jong-ceng siuman dengan sendirinya Goan
Hiong kaget.
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Bom yang kau gunakan
tadi kau pelajari dari Biauw-eng, mana mungkin bisa
menaklukkanku? Kau beruntung, Lim Hud-kiam telah
menolongmu, kalau tadi dia tidak menghalangimu, saat kau
menyerangku yang mati adalah dirimu, aku selalu tidak
sungkan menghadapi musuh seperti itu.”
“Mengapa kau bisa mengatasi obat bius yang ada di dalam
bom?”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Kau harus
berpikir, Biauw-eng adalah seorang perempuan, mengapa dia
bisa sampai memerintah semua orang persilatan dan bangkit
kembali?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Apakah kau yang ada di belakang, mendukung semua
gerakannya?” tanya Lim Hud-kiam terkejut.
Wong Jong-ceng mengangguk, “Benar, pelayan yang ada di
dekatnya semua berasal dari sini, dia bangkit lagi karena aku
mendukungnya dari belakang.”
“Bukankah Ciu Giok-hu juga mendukungnya dari belakang?”
“Ciu Giok-hu sedang bermimpi, apakah bakatnya bisa
bersaing denganku? Aku menyuruh Biauw-eng pura-pura
berhubungan dengan Ciu Giok-hu, hanya untuk mengetahui
keadaan Ceng-seng, sebenarnya Biauw-eng adalah anak
buahku aku tahu apa yang dia lakukan, kau menggunakan
obat biusnya, bukankah sama dengan di depan pintu Lu Pan
memperagakan golokmu?” (Lu Pan adalah ahli golok Tiongkok
jaman dulu).
Lim Hud-kiam dan Goan Hiong terdiam, Wong Jong-ceng
tertawa lagi, lalu dia berkata kepada Lim Hud-kiam, “Kau
pintar, sampai-sampai keserakahan Liu Ban-mong pun bisa
kau ketahui.”
“Kau sudah mengetahuinya, mengapa orang seperti itu
masih kau ijinkan tinggal di sisimu?” tanya Lim Hud-kiam.
“Orang itu sangat berbakat, dalam usahaku yang besar ini
membutuhkan orang berbakat seperti dia, jadi aku pura-pura
tidak tahu dan memberikan hak penuh kepadanya untuk
memimpin, membuatnya bertambah serakah, dia mengira dia
bekerja untuk dirinya sendiri maka dia bekerja dengan
sepenuh hati, ini adalah taktikku dalam memperalat orang.”
“Apakah kau tidak takut dia akan berbalik menggigit?”
tanya Lim Hud-kiam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng tertawa, “Dia memperalat kalian untuk
menggigitku, tapi apakah kalian bisa melukaiku? Pengemis
berani bermain ular, dia pasti mempunyai taktik menaklukkan
ular.”
Lim Hud-kiam tertawa dingin, “Banyak orang yang bermain
ular, ujung-ujungnya mereka mati karena gigitan ular.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Seorang
pengemis demi meminta sedekah dia bermain ular, bukan
karena dia menyukai ular, saat dia tidak perlu mengemis lagi
dia pun tidak akan menggunakan ular lagi.”
Goan Hiong berkata, “Burung yang terbang sudah habis jadi
panah harus disimpan, kelinci yang licik telah mati, untuk
memasak daging anjing kalian memperalat orang, sesudah itu
dia akan dibuang, setelah dipikir-pikir aku jadi ingin muntah.”
Wong Jong-ceng tertawa santai, “Kalimat depan benar,
sesudah burung habis panah harus disimpan dan tidak akan
digunakan lagi, kelinci sudah mati, apakah kau mau
memelihara seekor anjing yang tidak mau menurut? Kalau
tidak dimasak lalu untuk apa?”
Goan Hiong tidak bisa menjawab.
Kata Wong Jong-ceng lagi, “Kalau anjing itu penurut aku
akan membiarkan dia menjaga pintu, aku tidak akan
membunuhnya, tapi setelah dipelihara malah menggigit
tuannya, bila dibunuh jangan salahkan kalau aku kejam, ini
adalah jalan yang dicarinya sendiri, Lim Hud-kiam sudah
melihat kelakuannya jadi aku nasehati lebih baik kau diam,
aku tidak takut kau membunuhku, walaupun kau
menyerangku kau tidak akan sanggup membunuhku, tapi
kalau kau benar-benar ingin membunuhku, keadaanmu akan
lebih buruk, Liu Ban-mong akan membuat gosip, Han-bwee,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Jin-jiu, dan Kiu-nio adalah orang yang tidak punya otak, bisa
membuat mereka jadi gila akan membuat rencana Liu Banmong
berhasil, dia lebih licik dariku.”
Goan Hiong terdiam.
Wong Jong-ceng terus berjalan, kedua pemuda itu terus
mengikutinya dari belakang, kali ini Goan Hiong lebih banyak
diam dia tidak berani bertindak gegabah lagi.
Akhirnya mereka tiba di depan sebuah pintu, pintu itu
tertutup rapat, terdengar dari luar ada suara ribut.
Wong Jong-ceng tertawa, “Sepertinya belum siap, kita
tunggu sebentar lagi, sebuah pertunjukan besar akan dimulai.”
“Apakah kita boleh keluar untuk melihatnya?” tanya Lim
Hud-kiam.
“Tidak, kalian harus keluar bareng denganku.”
“Kau naik tahta menjadi Raja Pedang, lalu apa
hubungannya dengan kami?”
“Karena aku sudah mengatur sebuah petunjukan di luar
dugaan orang, bila kalian keluar sekarang, akan merusak
suasana.”
Dengan terpaksa kedua pemuda itu menunggu dengan
sabar.
Lama kelamaan suara ribut mulai mereda, ada seseorang
yang mengetuk pintu lalu dengan pelan bertanya, “Ayah,
apakah kau sudah ada di sini, di luar semua sudah selesai.”
“Sejak tadi aku sudah ada di sini, panggil Liu Ban-mong,
suruh dia untuk memulai,” perintah Wong Jong-ceng.
Wong Han-bwee bertanya, “Mana Lim Hud-kiam dan Goan
Hiong?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Mereka ada di sisiku, mengapa kau tahu ada kedua orang
ini?” tanya Wong Jong-ceng aneh.
“Begitu melihat senjata Lim Hud-kiam aku sudah tahu, tidak
ada orang lain yang mempunyai senjata seperti ini.”
“Tapi wajah Goan Hiong sudah berubah karena menyamar,
mengapa kau masih mengenalinya?”
“Liu Ban-mong yang memberitahuku.”
“Mengapa dia tahu kalau itu Goan Hiong?”
“Dia menghitung jumlah orang yang datang, yang tidak ada
adalah putra Goan Jit-hong.”
“Dia benar-benar teliti, suruh dia bersiap, kita akan mulai.”
“Apakah kedua orang itu akan mengacaukan situasi?”
“Apakah itu juga kata-kata Liu Ban-mong? “Dia pernah
menanyakannya dan aku sempat terpikir, kedua orang itu
paling tidak aman!” kata Wong Jong-ceng, “Mereka ada di
sisiku, mereka tidak akan membuat keributan, beritahu kepada
Liu Ban-mong semua sudah selesai, suruh dia segera
memulainya.”
Weng Han Mai menyahut dan pergi.
Wong Jong-ceng tertawa kepada Lim Hud-kiam dan
berkata, “Putriku masih sedikit pintar walaupun Liu Ban-mong
berniat menggulingkanku, tapi ingin merebutnya dari tangan
Han-bwee, sepertinya tidak akan begitu gampang.”
Lim Hud-kiam dengan dingin berkata, “Aku lebih memilih
Liu Ban-mong yang menang dari pada putrimu, untuk
menguasai Lembah Raja Pedang, nafsu membunuhnya terlalu
berat, membuat dunia ini tidak aman.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Itu adalah sifat aslinya, jangan salahkan aku!” Wong Jongceng
tertawa.
“Dia mewarisi sifatmu, sangat kejam, mengapa tidak
menyalahkanmu saja?” kata Lim Hud-kiam.
Sambil menggelengkan kepala Wong Jong-ceng tertawa,
“Aku tidak mau mengakui, bila dikatakan ini karena
keturunanku, itu bisa turunan dari ibunya, di tubuhku tidak
mengandung nafsu membunuh.”
“Apakah kau mengira kalau kau sendiri baik?” tanya Goan
Hiong.
“Aku tidak menganggap kalau aku adalah orang yang
sangat baik, tapi aku percaya keturunanku sangat baik, nanti
kalian akan mendapatkan bukti yang kuat.”
“Kata-katamu selalu membuat kami bingung, seperti
tersimpan sebuah rahasia besar, apa sebenarnya yang kau
simpan?” tanya Lim Hud-kiam.
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Jangan terburuburu,
sebentar lagi teka teki ini akan terbuka, waktu itu
keadaan akan membuat semua orang terkejut.”
Waktu itu terdengar Liu Ban-mong dengan suara khasnya
mengumumkan, “Semua gunung tunduk, semua pedang
menghadap kemari, Raja Pedang akan melaksanakan
upacara.”
Kemudian simbal dan musik mulai dimainkan, pintu yang
tertutup rapat itu pelan-pelan terbuka, Lim Hud-kiam dan
Goan Hiong melongok keluar, di luar, panggung dihias dengan
begitu mewah, jaraknya sekitar 10 tombak dari tempat
mereka, sebuah panggung yang terbuat dari batu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Panggung yang terbuat dari batu marmer dan ditutup oleh
kulit harimau dengan warna menyolok, di tengah-tengah ada
sebuah kursi yang diukir dengan indah, kursi itu pun tertutup
oleh kulit harimau.
Dari arah pintu gua sampai ke panggung batu harus melalui
jalan yang telah ditutup dengan batu, jalan itu berada di atas
jalan biasa setinggi 1 tombak, ada tangga untuk turun di sisi
panggung, dan 2 baris pesilat memakai baju ketat.
24 orang perempuan setengah baya menggunakan baju
ketat membawa pedang, dua gadis berbaju hijau bersiap-siap
membawa Wong Jong-ceng ke panggung.
Liu Ban-mong, Heuw Liu-hoan, Wong Jin-jiu, dan Ma Kiunio
berdiri di bawah panggung, di sekeliling panggung dijaga
oleh pasukan Lembah Raja Pedang, mereka memakai baju
baru berwarna-warni, dengan teratur mereka mengelilingi
panggung batu itu.
Di luar barisan itu adalah pesilat-pesilat yang datang dari
luar.
Wong Jong-ceng tertawa dan berkata, “Kalain berdua turun
dulu, ikut dengan penonton lain untuk menyaksikan
upacaranya.”
Goan Hiong melihat Ciam Giok-beng, Kie Tiang-lim, Pui
Thian-hoa, juga Kie Pi-sia, mereka segera berjalan ke sana.
Wong Jong-ceng dibawa oleh kedua gadis itu, pelan-pelan
berjalan menuju tengah panggung.
Wajahnya ditutup oleh kain tipis, maka dia terlihat begitu
misterius, kedua tangannya digiring, musik segera berhenti,
rapat yang dihadiri hampir seribu orang segera menjadi sunyi
senyap.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dengan sombong dia memandang ke bawah panggung,
sorot matanya yang tajam, membuat orang takut, terdengar
Liu Ban-mong berkata, “Silakan Raja Pedang naik ke atas
tahta.”
Tapi Wong Jong-ceng menjawab dengan dingin, “Tunggu,
apakah kau sudah siap?”
Dengan hormat Liu Ban-mong menjawab, “Aku sudah
mempersiapkan semuanya.”
“Begitu aku duduk, tidak diijinkan ada yang masih berdiri,
apakah kau sanggup menyuruh semua orang berlutut
kepadaku?”
“Bisa, tinggal sekelompok yang merupakan pengecualian
karena mereka tidak punya orang yang di tahan di lembah
ini!”
Wong Jong-ceng menunjuk ke arah Lim Hud-kiam, “Apakah
yang kau maksud adalah mereka?”
“Betul, tadinya aku ingin menyandera Liu Hui-hui dan Yu
Bwee-nio, tapi Tuan tiba-tiba menyuruh nona mengganti
rencana.”
Wong Jong-ceng mengangguk, “Tidak apa, bagaimana
dengan yang lain?”
“Tidak ada masalah, sampai-sampai Kian-kun-kiam-pai
karena Pui Ciauw-jin dan Ho Gwat-ji di sandera maka mereka
pasti akan berlutut, aku yakin mereka tidak akan berubah
pikiran.”
“Bila tiba-tiba ada yang menolak berlutut, bagaimana?”
tanya Wong Jong-ceng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku akan menurut perintah tuanku, membunuh sandera
terlebih dulu baru menghukum orang yang menolak dan
membunuh orang itu.”
“Baik, apa kau sudah menyampaikan perintah ini kepada
mereka semua?” tanya Wong Jong-ceng sambil tertawa.
“Sudah!”
Wong Jong-ceng mengangguk, “Tapi aku tetap merasa
tidak tenang, lebih baik sandera itu dibawa kemari supaya
mereka pun bisa ikut melihat dan akan membuat mereka
takut.”
Liu Ban-mong melambaikan tangan, dari sudut barat lapang
datang sekelompok pasukan berbaju hijau, dua orang
mengapitkan seorang sandera, paling depan adalah Ciu Giokhu,
kemudian disusul Tiang Leng-cu, Thio In, terakhir adalah
Pui Ciauw-jin dan Ho gwat-ji, mereka terlihat sangat lelah,
kedua mata mereka tidak bersinar, seperti telah melewati
siksaan yang berat.
Thio Siauw-hun dari Thian-san pertama-tama yang marah,
dia berteriak, “Wong Jong-ceng, dengan cara apa kau
menyiksa orang tuaku?”
Wong Jong-ceng tidak meladeninya, Liu Ban-mong tertawa
dan menjawab, “Tidak ada siksaan, setiap hari makan
kenyang, hidup mereka lebih baik enak dibandingkan raja.”
“Mengapa mereka bisa terlihat begitu lelah?” Thio Siauwhun
ikut berteriak.
“Suruh mereka menjawab sendiri,” kata Liu Ban-mong
tertawa.
“Ibu apa yang kau alami?” tanya Thio Siau-hun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dengan lelah Ciu Leng-hun menjawab, “Tidak mengalami
apa pun, hanya merasa lelah saja.”
“Mengapa kau bisa begitu lelah? Apakah mereka
memaksamu kerja paksa?”
Ciu Leng-hun tertawa kecut, “Boleh dikatakan seperti itu,
kerja paksa yang paling melelahkan.”
Pui Thian-hoa berteriak, “Ini merupakan penyiksaan!”
Liu Ban-mong berkata, “Kalian boleh tanya, kerja paksa apa
yang mereka lakukan, aku mengaku ini memang adalah
pekerjaan yang melelahkan tapi mereka dengan suka rela
melakukannya.”
“Ayah, apakah semua ini betul?” tanya Pui Thian-hoa
dengan cemas.
Pui Ciauw-jin tidak ada tenaga untuk berbicara, dia hanya
menyahut dengan suara rendah, “Betul.”
“Mengapa kau rela melakukannya? Apa yang telah terjadi?”
Pui Ciauw-jin menarik nafas, “Bertarung ilmu pedang setiap
hari, kecuali makan, pagi dan malam setiap hari melakukannya
sebanyak 4-5 kali.”
Semua orang terpaku, Lim Hud-kiam dengan tenang
bertanya, “Mengapa harus bertarung pedang? Bagaimana
caranya?”
Liu Ban-mong berkata, “Kami siap dengan ilmu pedang
untuk menguasai dunia, tentu saja dengan ilmu pedang kami
membuat mereka bertekuk lutut, maka semenjak mereka
datang ke lembah ini, mereka mulai tahu bagaimana ilmu
pedang kami, kami memerintah 100 pesilat melayani mereka,
mereka sendiri yang menentukan ingin bertarung dengan
siapa asal bisa menang dari mereka boleh meninggalkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
lembah ini, syarat ini sangat gampang, tapi di antara mereka
tidak ada seorang pun yang menang dari pesilat-pesilat kami.”
“100 pesilat berada di tingkat berapa?”
“Semua tingkatan ada, yang pasti mereka adalah pesilat
tangguh lembah kami, walaupun kami tidak mengikutinya, tapi
aku kira itu pun sudah cukup.”
Goan Hiong berteriak, “Aku tidak percaya, aku pernah
bertemu dengan pesilat tingkat pertama, tapi tidak begitu
istimewa, aku yakin Paman Pui tidak akan kalah dari mereka.”
Liu Ban-mong tertawa terbahak-bahak, “Pesilat di lembah ini
memang terbagi menjadi beberapa tingkat, tapi mereka hanya
menjalankan tugas mengurusi tetek bengek, pesilat tangguh
bukan mereka, ke seratus orang itulah baru pesilat kami, coba
kau pikir, orang yang kami sandera adalah ketua perguruan,
orang penting dari banyak perguruan, tapi di depan pesilat
kami, mereka mengaku kalah, apa yang bisa direbut lagi?”
Goan Hiong bertanya, “Paman Pui, apakah betul ada 100
orang pesilat?”
Pui Ciauw-jin mengangguk, “Betul, ke seratus pesilat ini
setiap hari mengelilingi kami, setiap mereka siap melayani
kami, tapi aku merasa malu, selama 5 hari ini aku telah
mengajak 49 orang pesilat bertarung, hasilnya aku kalah 49
kali secara berturut-turut.”
“Apakah mereka dengan teknik ilmu silat mengalahkan
kalian?” tanya Lim Hud-kiam.
“Benar, di antara 100 orang ini, jurus pedang mereka tidak
ada yang sama, setiap orang berbeda-beda ilmu pedangnya,
aku mengaku kalah, sampai semangat berjuang pun sudah
lenyap.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Semua orang yang datang lebih awal ke Lembah Raja
Pedang menundukkan kepala, mereka bersikap seperti Pui
Ciauw-jin, hal ini membuat semua orang takut.
Saat rapat akbar di Tai-san, dari Lembah Raja Pedang
hanya datang Wong Han-bwee dan 5 orang wakil, itu pun
sudah membuat mereka bergetar, selain Lim Hud-kiam tidak
ada yang sanggup mengalahkan mereka.
Tidak disangka di Lembah Raja Pedang ini ada 100 pesilat
tangguh, mungkin teknik mereka tidak setinggi Wong Hanbwee,
tapi tetap membuat para pesilat yang datang merasa
takut.
Kekuatan mereka begitu dahyat, siapa yang bisa
melawannya?
Di lapangan tidak terdengar suara, hanya Lim Hud-kiam
yang bertanya pada Liu Ban-mong, “Mana 100 orang pesilat
itu?”
“Mereka berpencar di sekeliling lapangan sini menjaga
setiap jalan dan siap membunuh orang yang berani
meninggalkan tempat ini, jadi jangan berusaha kabur.”
“Suruh mereka keluar, aku tidak percaya ada begitu banyak
pesilat tangguh,” kata Lim Hud-kiam.
Liu Ban-mong tidak berani mengambil keputusan, dia
meminta pendapat Wong Jong-ceng, begitu melihat Wong
Jong-ceng mengangguk, dia segera memberi isyarat dengan
tangannya, benar saja dari sekeliling lapangan segera muncul
orang-orang yang mengenakan baju ketat berwarna putih,
mereka membawa pedang terlihat sangat bersemangat juga
gagah, umur mereka tidak lewat dari 30 tahun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Apakah mereka adalah keseratus orang itu?” tanya Lim
Hud-kiam.
Thio In melihat sekeliling kemudian berkata, “Betul, itulah
mereka, aku sudah hafal dengan wajah mereka, dalam 67
pertarungan, aku selalu kalah, aku mengaku kalah.”
Wong Jong-ceng berkata, “Lim Hud-kiam, jangan
mencurigai kami bermain licik, dengan teknik pedang aku siap
menjadi raja, aku mengeluarkan keahlian, tidak ada sedikit
pun kebohongan, 100 pesilat tangguh ini saat diajak bertarung
mereka berusaha untuk menang, tapi mereka tidak akan
melukai lawan, sampai luka ringan pun tidak boleh, dalam
teknik ilmu pedang, harus lebih tinggi dari mereka.”
Wong Jong-ceng tidak berbohong dengan cara seperti itu
untuk menang dari lawan memang harus mempunyai teknik
lebih tinggi dari lawan, bila ke seratus orang itu
kemampuannya lebih tinggi dari Ciu Giok-hu berarti Wong
Han-bwee lebih tinggi lagi ilmunya, Wong Jong-ceng yang
selalu menyebut dirinya sebagai Raja Pedang, bagaimana
kehebatan ilmunya? Benar-benar tidak terbayangkan.
Dengan suara mantap Wong Jong-ceng berkata, “Tidak
perlu bertarung, memilih kalah adalah cara yang bagus, hal ini
memang sulit dilakukan karena kalian belum pernah melihat
ilmu pedang ini maka aku memilih cara yang akan membuat
kalian mengalah, bila masih ada yang tidak terima, terpaksa
aku membunuhnya dengan tujuan supaya dia mau mengaku
kalah, aku berharap tidak akan terjadi seperti itu.”
Matanya yang bersorot dingin membuat hati setiap orang
bergetar, kemudian dia berkata, “Beberapa sandera ini adalah
pemimpin kalian, karena kekalahan mereka, maka mereka
kehilangan semangat berjuang, aku harap ini bisa menjadi
contoh untuk yang lain, Lembah Raja Pedang bukan tempat di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mana kalian bisa melawannya, kalian hanya mempunyai 2
pilihan, pertama mengaku kalah, kedua, mati, kalian yang
datang ke Lembah Raja Pedang jika ingin mati, tidak akan
segampang itu, Liu Ban-mong sudah memberitahu hasilnya
kalau melawan.”
Di bawah panggung tidak ada suara, Wong Jong-ceng
melihat tidak ada seorang pun yang berani bertanya, dia
tertawa panjang, dia memegang pegangan kursi siap duduk.
Tiba-tiba Ciam Giok-beng berkata, “Tunggu sebentar!”
“Apa yang akan kau katakan?” tanya Wong Jong-ceng.
“Kami sudah melihat jelas kekuatan Lembah Raja Pedang,
tidak ada orang yang bisa melawan, kalau Tuan dengan
sebutan raja di lembah pedang memerintahkan semua orang
berlutut, kami akan menurut, tapi tujuan Tuan adalah menjadi
Raja Pedang, itu hanya untuk nama pribadi paling sedikit Tuan
harus memperagakan ilmu Tuan sebagai seorang Raja
Pedang.”
Wong Jong-ceng berkata, “Orang yang ada di sini
mendapatkan latihan langsung dariku, apakah belum cukup?
Kalian tidak bisa mengalahkan anak buahku, aku kira hal lain
tidak perlu dibicarakan lagi!”
“Raja Pedang dan raja tidak sama, bisa menjadi raja, dia
pasti orang yang lebih pintar dibandingkan orang lain, dia juga
pasti mempunyai kepribadian yang baik, kalau ingin menjadi
Raja Pedang, teknik pedangnya harus berada di atas semua
orang, apakah Tuan setuju?”
Wong Jong-ceng mengangguk, “Kau benar, apakah kau
ingin mengujiku?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Han-bwee segera berkata, “Ayah, kau adalah Raja
Pedang, untuk apa melayani hal seperti ini, siapa yang tidak
terima, aku akan membantu ayah membereskan dia.”
“Semua ini tidak ada yang bisa mewakili,” kata Ciam Giokbeng.
Wong Han-bwee marah, “Masalah Raja Pedang tidak perlu
ikut campur!”
“Sebelum ayahmu naik tahta dia belum menjadi seorang
Raja Pedang, aku mengajukan permintaan ini hanya ingin
membuktikan apakah ayahmu benar-benar seorang pesilat
pedang yang tidak terkalahkan atau hanya sebuah boneka
yang dikuasai oleh orang lain!”
Wong Han-bwee berteriak dan marah, “Siapa yang
menguasai ayahku?”
“Sulit dikatakan, di dunia persilatan sering terjadi hal seperti
itu, orang yang berada di posisi paling puncak belum tentu dia
penguasanya, seorang pesilat boleh menang dalam tehnik,
tapi tidak boleh kalah dalam hal wibawa, kami akan tunduk
kepadanya tapi kami tidak akan tunduk kepada sebuah
boneka.”
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Aku mengerti
maksudmu, kau pasti mendapatkan kabar dan menganggap
kalau aku adalah Raja Pedang palsu.”
“Tidak juga, semua orang tahu kalau Anda adalah Raja
Pedang yang sebenarnya tapi teknik pedangmu sudah
mencapai tahap mana, kami harus tahu setidaknya sedikit
saja.”
“Jangan menutup-nutupinya lagi, kau pasti mendapat kabar
aku berlatih silat hingga tersesat dan tidak bisa menggerakkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
tubuhku, harus mengandalkan anak buahku untuk
memalsukannya tapi kalian sudah melihatnya dengan jelas,
gerakanku sangat lincah dan tidak terganggu oleh apa pun.”
“Bisa berjalan beberapa langkah bukan berarti ilmu
pedangmu adalah yang tertinggi di dunia ini.”
“Muridmu Goan Hiong diam-diam pernah menyerangku dia
tahu tehnik pedangku sudah setinggi apa.”
“Muridku bukan yang terbaik, kalau dia bisa menguji
seorang Raja Pedang yang ilmunya setinggi apa belum
diketahui, sebenarnya tidak setinggi yang kami bayangkan.”
“Maksudmu, kau ingin aku memperagakan ilmu pedangku?”
kata Wong Jong-ceng tertawa.
Ciam Giok-beng ikut tertawa, “Memang ada gosip yang
mengabarkan demikian, maka setidaknya Tuan harus
mempunyai sedikit emosi supaya gosip-gosip itu hilang dengan
sendirinya.”
“Baiklah, aku ingin pihak kalian mengeluarkan 3 orang wakil
naik ke panggung, apakah itu sudah cukup?”
“Hanya mengalahkan 3 orang sepertinya belum cukup
untuk disebut Raja Pedang,” jawab Ciam Giok-beng.
“Lalu apa keinginanmu? Aku tidak mempunyai waktu atau
semangat untuk bertarung dengan setiap orang.”
“Itu tidak perlu, saat kami datang kemari kami telah
berunding, satu wakil dari setiap 5 perguruan, perguruan
pedang satu wakil, perguruan kami satu wakil, masih ada satu
orang lagi....”
“Siapakah dia?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Untuk sementara kami belum bisa memberitahu siapa
orang ini, Anda selalu menyebut diri sebagai Raja Pedang, aku
yakin Anda pasti tidak masalah kalau di tambah satu ronde
bukan?”
Wong Jong-ceng berpikir sejenak dan menjawab,
“Ditambah 10 ronde pun tidak apa, tapi aku tekankan kepada
kalian jangan macam-macam kepadaku yang rugi pasti kalian
sendiri.”
“Kita bertarung harus dengan aturan, tidak ada cara yang
bisa membuat kami bertindak macam-macam,” jawab Ciam
Giok-beng tertawa.
“Baiklah, keluarkanlah 4 orang itu!” teriak Wong Jong-ceng.
“Sekarang ini tidak perlu harus sampai keluar semua, lebih
baik keluar satu per satu, bila Tuan berhasil mengalahkan satu
orang, otomatis orang kedua akan keluar,” jawab Ciam Giokbeng.
“Siapa yang mau tampil dulu?”
Dari kerumunan orang, muncul seorang laki-laki setengah
baya, “Aku!”
Dia keluar dari barisan 5 perguruan, Wong Jong-ceng
melihatnya dan bertanya, “Apakah Tuan mewakili 5
perguruan? Tuan dari perguruan mana?”
Lelaki yang berpenampilan seperti pelajar itu menjawab,
“Namaku Song Ciu-kun, aku bukan dari perguruan mana pun,
aku hanya mempunyai hubungan dengan 5 perguruan, aku
ingin mencoba ilmu pedang dari seorang Raja Pedang.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Aku tahu siapa
dirimu, sejak plakat dunia persilatan menghilang dari 5
perguruan mereka pernah menyusun sebuah rencana rahasia,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mengumpulkan ilmu pedang dari 5 perguruan, diturunkan
pada seseorang untuk diteliti.”
Wajah Song Ciu-kun berubah, “Bagaimana Anda bisa tahu?”
“Aku sudah lama mempelajari ilmu pedang, dan mendirikan
sebuah perguruan pedang maka semua gerak-gerik perguruan
pedang pasti harus tahu, menurut perhitunganku, dalam
waktu dekat ini kau pasti akan keluar, apakah ilmu pedang
dari lima perguruan sudah kau kuasai?”
“Ilmu pedang adalah ilmu tidak terbatas, mana mungkin
bisa menguasai semuanya?” jawab Song Ciu-kun.
“Tapi, aku menganggap kalau aku sudah berada di
puncaknya ilmu pedang dan ilmu pedangku tidak akan
mungkin maju lagi, kau mungkin tidak akan mengerti dengan
kata-kataku ini, aku juga tidak berharap kau akan mengerti,
bila aku bisa mengalahkanmu, apakah 5 perguruan akan
mengakui kekalahan mereka?” tanya Wong Jong-ceng.
Song Ciu-kun berpikir sebentar baru menjawab, “Aku
mewakili 5 perguruan menyampaikan sebaris kata, seorang
pesilat pedang selamanya tidak akan mengaku kalah, begitu
juga dengan 5 perguruan pun selamanya tidak tunduk kepada
Anda.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Kalian benarbenar
mempunyai kesabaran luar biasa, ternyata sudah
menyusun sebuah rencana begitu jauh.”
“Betul, karena di dunia persilatan ada orang sekejam Anda
maka kami akan terus menyusun rencana menghadapi Anda,
setiap 10 tahun kami mendidik dan memunculkan satu orang
baru,” jawab Song Ciu-kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Baiklah, bila aku tidak mati, aku akan menunggu 10 tahun
lagi, 10 tahun lagi dan seterusnya, bila aku mati, akan ada
yang mewarisi kedudukan Raja Pedang, ini adalah persaingan
tanpa batas waktu, aku ingin tahu siapa yang bisa bertahan
lebih lama?”
“Anda telah mengetahui rencana kami, pasti akan mengerti
rencana ini memang disusun oleh 5 perguruan, tapi tidak
mereka kuasai, maka ketua 5 perguruan sekarang ini tidak
akan tahu siapa yang akan muncul berikutnya,” kata Song Ciukun.
“Tenanglah, aku tidak akan mencari tahu dari 5 perguruan,
lebih-lebih tidak ingin menghalangi rencana kalian,” kata Wong
Jong-ceng.
“Mencari tahu pun percuma saja, aku sendiri tidak tahu
siapa berikutnya yang akan maju, aku memberitahu hal ini
hanya berharap Anda jangan sembarangan membunuh,” kata
Song Ciu-kun.
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Raja Pedang
mempunyai jiwa besar sebagai seorang Raja Pedang, aku
tidak akan bertindak kerdil, malah aku senang dengan adanya
rencana ini, selagi aku masih hidup aku tidak akan memberi
kesempatan kepada kalian untuk berhasil, apakah Raja
Pedang berikutnya bisa sesukses diriku, aku tidak bisa
menduga, tentang rencana kalian aku merasakan kalau ini
adalah hal yang bagus, silakan!”
“Di mana kita akan bertarung?” tanya Song Ciu-kun.
“Tentu saja di punggung, asal bisa memukulku hingga jatuh
dari panggung, kedudukan Raja Pedang akan menjadi
milikmu, semua yang ada di Lembah Raja Pedang ini juga
akan menjadi milikmu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku tidak serakah, kedudukanku sebagai penjaga 5
perguruan, wakil kami berikutnya juga punya posisi yang
sama, kami menjaga kehormatan dan adat istiadat 5
perguruan.”
Wong Jong-ceng tertawa keras, katanya, “Baik, jaman dulu
Su-ceng pernah menjadi perdana menteri 7 negara, tapi beliau
tidak bisa menghalangi Raja Ceng-su mempersatukan
Tiongkok, kalau kau pelindung dari 5 perguruan, kalau bisa
mengalahkan Raja Pedang, sejarah akan tercatat namamu.”
Song Ciu-kun tidak menjawab, dia meloncat ke atas
panggung, kemudian berkata kepada kerumunan orang,
“Orang yang menduduki posisi 5 ketua dari 5 perguruan harap
ke depan untuk mendengarkan perintah.”
5 ketua dari 5 perguruan berjalan beriringan ke depan, Cia
Hwie Cin-jin dari Bu-tong mewakili mereka memberi hormat,
“Kami di sini, harap pelindung mengeluarkan tanda untuk
dicocokkan.”
Dari balik baju bagian dada Song Ciu-kun mengeluarkan
sebuah bendera berbentuk segitiga dan melemparkan ke
bawah panggung, Cia Hwie Cin-jin memungutnya, kemudian
memperlihatkannya kepada ketua yang lain, lalu
menghancurkan bendera itu, “Tanda sudah diperiksa dan itu
adalah asli, harap Anda memberi perintah!”
Song Ciu-kun menarik nafas, “Tidak ada yang harus
kusampaikan, bendera ini pertama kalinya digunakan, apakah
aku akan menang atau kalah, masih belum tahu, tapi aku akan
berjuang dengan sekuat tenaga, bila aku kalah demi
perguruan kalian masing-masing, kalian harus sabar menahan
diri, setelah 10 tahun dari sekarang, pelindung 5 perguruan
akan muncul kembali, mungkin dia tidak akan mengecewakan
kalian.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Aku harap pun begitu,” jawab Cia Hwie Cin-jin sambil
menarik nafas.
Mereka berlima berlutut, Song Ciu-kun dengan angkuh
menerima penghormatan mereka, Wong Jong-ceng tidak
tahan melihat situasi itu dan berkata, “Pelindung 5 perguruan
benar-benar sombong.”
“Aku menerima penghormatan ini bukan tanpa sebab,”
jawab Song Ciu-kun.
“Aku ingin tahu apa alasanmu?”
“Nanti Anda pun akan mengerti, sekarang aku tidak akan
memberitahu.”
Wong Jong-ceng tidak banyak bertanya lagi, dia melihat 5
ketua dari 5 perguruan yang masih berlutut, dia marah,
bentaknya, “Mengapa kalian terus berlutut kepadanya?”
“Jangan hiraukan mereka, mari kita mulai bertarung,” jawab
Song Ciu-kun.
Wong Jong-ceng mengangguk dan menggerakkan
tangannya, “Mana pedangku!”
Liu Ban-mong sudah terbang ke atas memberikan sebuah
pedang panjang, pegangannya berwarna emas, “Tuanku, biar
hamba saja yang melakukan? Tidak perlu Tuan sendiri yang
melakukan.”
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Apakah kau pantas
melakukannya? Pedang ini melambangkan wibawa Raja
Pedang sama dengan stempel raja yang terbuat dari batu
giok, selama aku masih hidup belum sampai pada giliranmu
untuk memegangnya, sekali pun aku mati aku tidak akan
memberikannya untukmu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Walaupun Liu Ban-mong kena semprotan keras, dia tetap
tertawa dan berkata, “Hamba tidak berpikiran seperti itu,
hanya Tuanku baru saja selesai berlatih ilmu silat, jangan
terlalu banyak bergerak dulu.”
Dengan dingin Wong Jong-ceng berkata, “Kau kira aku tidak
mampu bergerak dengan leluasa?”
“Hamba tidak bermaksud seperti itu.”
“Lalu apa maksudmu?”
“Hamba hanya berpikir, Tuan adalah Raja Pedang tidak
perlu bergerak sendiri.”
“Apakah kau tidak mendengar kata-kata Ciam Giok-beng
tadi? Orang-orang curiga, aku menjadi Raja Pedang hanya
seperti harimau kertas, bila aku tidak menunjukkan
kehebatanku, mana mungkin bisa menak-lukan banyak
orang?”
“Biarkan saja mereka bicara, mengapa Tuan harus
mendengarkan kata-kata mereka?”
“Yang penting aku harus bertarung dengan pedang yang
mewakili wibawa sebagai seorang Raja Pedang, selain itu juga
untuk menguatkan kedudukanku sebagai Raja Pedang, siapa
yang bisa mewakiliku?”
“Nona adalah putri Tuan, biar nona saja yang mewakili
Tuan.”
“Tidak, hanya Raja Pedang yang boleh menggunakan
pedang ini.”
“Apakah nona bukan Raja Pedang berikutnya?”
“Siapa yang mengatakan aku akan mewariskan kedudukan
Raja Pedang kepada Han-bwee?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tentu saja, sebab Tuan tidak punya keluarga lain lagi.”
“Cerewet, turun, jangan ganggu aku lagi.”
Liu Ban-mong segera turun dari panggung.
Diam-diam Wong Han-bwee bertanya, “Ayah, bukan karena
putrimu menginginkan kedudukan ini, aku hanya merasa
aneh....”
“Apa anehnya, masalahku, biar aku sendiri yang mengambil
keputusan.”
Ma Kiu-nio menarik baju Han-bwee dan berkata, “Pedang
raja tidak akan diberikan kepadamu, tapi juga tidak akan jatuh
ke tangan orang lain, ini adalah adat keluarga kalian untuk
apa terburu-buru? Raja Pedang atau Ratu pedang sama saja.”
Wajah Wong Han-bwee menjadi merah, tapi Wong Jongceng
malah memelototnya dengan benci kepada Ma Kiu-nio
dan membentak, “Kiu-nio, kau tahu tempat apa ini, jangan
sembarangan bicara!”
Ma Kiu-nio terdiam tidak berani bicara lagi. Pedang sudah
dicabut oleh Wong Jong-ceng, sebuah sinar pelangi berwarna
merah terlihat di depan mata, lalu berpencar mengeluarkan
cahaya berwarna emas, Song Ciu-kun kaget dan tanpa terasa
mundur satu langkah.
Wong Jong-ceng tertawa dan berkata, “Tenanglah, pedang
ini adalah simbol wibawa Raja Pedang, ini bukan senjata
tajam, tidak akan sampai merusak senjatamu.”
Song Ciu-kun membusungkan dadanya, “Senjata tajam pun
tidak akan menjadi masalah, ilmu pedang tidak harus
mengandalkan senjata tajam, walaupun Anda mempunyai
berbagai macam cara sesat, tapi kalau tidak mempunyai teknik
mantap, belum tentu bisa menang dari senjata biasa milikku.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Benar, demi
mendampingi posisi Raja Pedang, aku mencari pedang ini
untuk keseimbangan, sebenarnya fungsi pedang ini hanya
seperti sebuah pentungan, tidak ada istimewanya, sekarang
keluarkan jurusmu.”
Song Ciu-kun terlihat sangat serius, dia sudah bersiap
dengan sepenuh hati, setelah bersiap dia baru mengeluarkan
pedangnya dan dengan pelan menyerang.
Wong Jong-ceng tidak mau melihatnya, dengan enteng dia
membuat pedang yang datang menyerang bergeser ke
samping, lalu jurusnya berobah sangat cepat, Wong Jong-ceng
mulai menyerang.
Tapi Song Ciu-kun tetap tenang menghadapinya, mereka
terus bertarung dengan cara seperti itu.
Dia menyebut dirinya sebagai Raja Pedang, untuk pertama
kali Wong Jong-ceng bertarung di depan umum, tentu saja
menarik perhatian banyak orang, tidak hanya yang datang dari
luar, orang-orang Lembah Raja Pedang pun memperhatikan
pertarungan ini, apa lagi Liu Ban-mong, perhatiannya melebihi
orang lain.
Wong Jong-ceng tidak percuma disebut sebagai Raja
Pedang, jurusnya sangat aneh juga sesat, gerakan pedangnya
sering menyimpang dari aturan biasa, setiap perubahan tidak
bisa di duga, tapi jurus-jurus aneh ini di tangannya menjadi
jurus sangat istimewa dan juga sangat berwibawa.
Yang paling membuat orang kagum adalah di depan musuh
sikapnya terlihat santai, luwes, dan tenang, membuat orang
tidak menyangka kalau dia sebenarnya sedang bertarung,
sedangkan di sekelilingnya penuh dengan hawa membunuh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Song Ciu-kun pun bertarung dengan bagus, perubahanperubahan
jurus Wong Jong-ceng bisa dicairkan satu per satu,
hanya saja sikapnya sangat serius dan dia terlihat lelah.
Mereka bertarung sudah mencapai 40 jurus, kedua belah
pihak sama-sama kuat.
Wong Jong-ceng tertawa, “Bagus, sangat bagus, kau bisa
menggunakan ilmu pedang dari 5 perguruan dengan begitu
lancar, kau sudah melakukan yang terbaik, hanya sayang kau
membuang tenaga dengan sia-sia, bila dengan semangat
sepertimu ini mempelajari ilmu pedang Raja Pedang dariku
paling sedikit kau bisa menduduki posisi sebagai pesilat
tangguh nomor 4 atau 5.”
Song Ciu-kun terdiam, dia mengayunkan lagi pedangnya
menyerang, walau dia mulai merasa lelah tapi jurus
pedangnya semakin ganas, dia lebih banyak menyerang dari
pada bertahan, kadang-kadang karena memaksakan diri bisa
menyerang, dia membuat banyak kelemahan, itu sangat
berbahaya baginya, tapi dia sudah bertekad ingin
mengalahkan lawan.
Kelemahan yang dia perlihatkan bukan merupakan
kekurangannya, karena dari balik kelemahan itu dia akan
berbalik menyerang, menyerang kelemahan ini harus
menghadapi ujung pedangnya yang tajam, hal ini akan
membuat kedua-duanya mati bersama-sama.
Sepertinya dia siap mengorbankan nyawanya sendiri, tapi
Wong Jong-ceng tetap tenang dan masih bercanda, sama
sekali tidak terpancing menyerang ke arah kelemahan itu, dia
juga tidak ingin terburu-buru menang, dengan santai dia
berkata, “Marga Song, 5 perguruan sudah memberikan
kebaikan apa saja kepadamu, sampai kau mau menjual
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
nyawamu untuk mereka, kalau kau berbakti kepadaku, aku
jamin kau akan mendapatkan kebaikan lebih banyak lagi.”
Song Ciu-kun sama sekali tidak melayaninya, serangannya
semakin gencar dan ganas.
Wong Jong-ceng mulai tidak sabar, “Marga Song, apakah
kau benar-benar tidak peduli pada nyawamu sendiri? Aku
punya aturan tersendiri, bila ada orang yang bisa menerima
100 jurusku, aku harus membunuhnya.”
Dengan serius Song Ciu-kun menjawab, “Kalau bisa,
lakukan saja.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Ternyata kau
mengira teknik pedangku hanya sebatas ini saja dan takut aku
tidak bisa menang darimu, kau benar-benar buta, aku hanya
menyayangi orang berbakat, maka aku sungkan kepadamu,
sekarang 96 jurus sudah berlalu, aku sudah mengambil
keputusan dalam 3 jurus aku akan mengalahkanmu, dan tidak
akan membiarkanmu melewati 100 jurusku.”
Song Ciu-kun masih diam, dia menyerang 3 kali,
gerakannya seperti air mengalir cepat kemudian turun,
tenaganya benar-benar tidak bisa ditahan, 2 serangannya
berhasil dihindari oleh Wong Jong-ceng, pada jurus ketiga
Wong Jong-ceng malah berhasil menempelkan pedangnya
dengan pedang Song Ciu-kun, setiap orang bisa melihat
dengan jelas kejadian itu, tapi tidak tahu dengan cara apa
pedangnya bisa meluncur ke bawah, kemudian terdengar
suara bentakan, “Lepaskan!”
PAK... terdengar suara nyaring, itulah suara pedang yang
terpukul, dengan mengerahkan tenaga yang tepat, tangan
Song Ciu-kun jadi tergetar, pedangnya pun terbang dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
terjatuh ke bawah panggung, di tanah yang penuh dengan
batu, menancap sedalam 1 kaki lebih.
Ini membuktikan kalau tenaga Song Ciu-kun sangat kuat,
juga membuktikan kalau tenaga Wong Jong-ceng sangat
hebat.
Penonton yang ada di bawah panggung menghembuskan
nafas, mereka baru tersadar setelah melihat pertarungan tadi.
Wong Jong-ceng tertawa keras, berkata, “Apakah kau
mengaku kalah?”
Song Ciu-kun tertawa sedih, “Aku mengaku kalah, tapi aku
tidak sudi harus menurut kepadamu.”
“Kau benar-benar keras kepala, dengan cara apa aku baru
bisa membuatmu menurut?”
Song Ciu-kun berpikir sebentar, “Kecuali Anda bisa
membuat ketua dari 5 perguruan bertekuk lutut, baru aku
akan menurut kepada Anda.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Apa susahnya?
Aku bisa melakukannya.”
“Kau tidak akan sanggup melakukan ini selamanya,
mungkin demi mempertahankan perguruan mereka, dengan
terpaksa mereka akan berlutut kepadamu, tapi dalam hati
mereka, mereka selalu ingin menentangmu, kau memaksa
orang menurut kepadamu, dengan wibawamu membuat hati
orang lain menurut kepadamu, apakah kau sanggup
melakukannya?”
Wong Jong-ceng berpikir sebentar, “Mungkin tidak bisa, tapi
aku ingin bertanya, mengapa mereka begitu hormat
kepadamu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Kau ingin tahu mengapa bisa seperti itu? Sangat
sederhana, aku akan bicara dulu kepada mereka, setelah itu
aku akan memberitahu mu.”
Kemudian dia berbicara dengan 5 ketua dari 5 perguruan
yang berada di bawah panggung, “Maaf, aku tidak bisa
melaksanakan harapan kalian, maka kalian harus menunggu
10 tahun lagi.”
5 orang yang ada di bawah panggung tidak ada yang
bergerak tapi Song Ciu-kun sudah lemas terjatuh ke bawah
dan kata-kata terakhirnya, “Ini adalah jawabanku!”
Kemudian tubuhnya seperti sebuah bongkahan batu
terlempar ke bawah panggung, 5 ketua sekali lagi memberi
hormat dengan menyentuhkan kepala mereka ke tanah, baru
diam-diam berdiri.
“Apa yang terjadi?” kata Wong Jong-ceng tidak mengerti.
Cia Hwie Cin-jin dengan sedih menjawab, “Sebelum
bertarung, pelindung 5 perguruan sudah minum racun, racun
itu dalam waktu setengah jam akan bekerja dan tidak akan
tertolong, maka kami berlima sejak tadi berlutut sambil
menyaksikan dia bertarung, semua itu untuk menyampaikan
penghormatan kami.”
“Ternyata begitu, tapi mengapa harus begitu? Aku tidak
bermaksud membunuh dia!”
“Karena dia tidak boleh membocorkan rahasia mengenai
bendera pelindung,” jawab Cia Hwie Cin-jin.
“Aku juga tidak bermaksud ingin mengetahui rahasia itu!”
“Ini mengenai diri Anda, dia tidak berpikir seperti itu, dia
harus mati, kalau tidak kami tidak akan begitu hormat
kepadanya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Bila dia menang dariku, apakah dia juga harus mati?”
tanya Wong Jong-ceng.
“Benar, pelindung seumur hidupnya hanya bertarung satu
kali begitu bertarung terbuka, kalah atau menang akan
membawanya menuju kematian, maka kalau tidak terpaksa,
kami tidak berani mengundang pelindung, bendera itu adalah
hal yang paling mulia bagi seorang pesilat pedang.”
“Pekerjaan yang harus mengantarkan nyawa, siapa yang
mau menanggungnya?” tanya Wong Jong-ceng.
“Ada, pelindung bendera hanya keluar sekitar setengah
jam, tapi dia mendapat penghormatan yang tidak akan
didapat orang lain seumur hidup mereka, 10 tahun lagi bila
keadaan kami berubah, pasti akan ada pelindung bendera
yang lain yang akan muncul.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Aku tidak
percaya hal ini terjadi.”
“10 tahun sangat cepat, Anda pasti masih sempat
menyaksikannya lagi,” kata Cia Hwie Cin-jin.
“Aku takut aku tidak bisa sabar menunggu,” kata Wong
Jong-ceng.
“Aku tidak punya banyak cara menurunkan kepada generasi
muda, memang tidak ada yang tahu pelindung bendera
berikutnya berada di mana!” kata Cia Hwie Cin-jin.
“Kalau kalian tidak tahu, bagaimana meminta pertolongan
kepadanya?”
“Tidak perlu memberitahu, dia akan tahu sendiri, apakah
dia harus muncul atau tidak, semua keputusan ada di
tangannya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Bila aku mengambil nyawa orang-orang dari 5 perguruan
untuk dijadikan syarat, menyuruh orang itu dalam waktu
setengah bulan mencariku, apakah dia tetap akan
bersembunyi?”
Cia Hwie Cin-jin berpikir sebentar baru menjawab, “Dalam
waktu 10 tahun ini dia tidak akan muncul, karena pelindung
bendera harus melalui 10 tahun meneliti ilmu baru yang lebih
kuat dan lebih dalam ilmunya dibandingkan pelindung yang
terdahulu, muncul pun akan percuma saja.”
“Maksudmu pelindung berikutnya sudah lahir, dan ilmunya
hampir sama dengan Song Ciu-kun?” Wong Jong-ceng
tertawa.
“Benar, menurut kami seperti itu, tapi sebenarnya
keadaannya seperti apa tidak ada yang tahu lebih jelas, sebab
kami tidak berhak mencari tahu.”
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Bila dalam 10 tahun
kemudian orang-orang 5 perguruan mati semua, untuk apa dia
masih menjaga bendera pelindung?”
“Teknik-teknik terbaik dari 5 perguruan sudah kami
serahkan kepada pelindung bendera, jadi kami tidak akan
mati, setelah 10 tahun berlalu bila pelindung bendera masih
tidak bisa membereskan masalah, dia akan memberikan tugas
itu kepada pelindung yang baru, bila berhasil pelindung baru
akan mengajarkan ilmu-ilmunya kepada pemuda lurus dan
berbakat di bidang ilmu silat, mereka akan membantu 5
perguruan mendirikan sebuah perguruan kokoh, maka kami
tidak perlu takut ilmu kami akan musnah.”
Akhirnya Wong Jong-ceng menarik nafas panjang, “Orang
yang membuat rencana ini benar-benar berbakat, sepertinya
aku pun harus meniru caranya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tidak, ayah, kita tidak perlu cara ini,” kata Wong Hanbwee.
“Mengapa?”
Dengan angkuh Wong Han-bwee berkata, “Karena ilmu
pedang kita sudah mencapai tahap tidak terkalahkan, jadi
tidak perlu khawatir.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Betul, apa yang
kau katakan tadi sangat betul, ilmu pedang dari Lembah Raja
Pedang sudah mencapai tahap tertinggi dalam ilmu pedang,
hanya khawatir tidak ada yang meneruskannya saja, kita tidak
perlu takut dikalahkan orang lain, maka kita tidak perlu
mempunyai rencana begitu rumit.”
“Tapi ayah, untuk Raja Pedang berikutnya ayah harus
memilih dengan hati-hati, paling sedikit harus disetujui
olehku,” kata Wong Han-bwee.
“Mengapa harus disetujui olehmu?” Wong Jong-ceng
tertawa.
Wajah Wong Han-bwee menjadi merah, “Bila ayah mencari
orang yang tidak becus, aku tidak rela, sebab ini berhubungan
dengan kebahagiaanku seumur hidup.”
“Anak, kau sudah salah paham, kau kira penerus ku pasti
akan menjadi menantuku?” Wong Jong-ceng tertawa.
Wong Han-bwee menganga, jawab Ma Kiu-nio, “Apakah
bukan seperti itu?”
Wong Jong-ceng menggelengkan kepala, Wong Han-bwee
bertanya, “Ayah, aku tahu perhatianmu akan ilmu pedang
sangat tinggi dan perempuan selalu terbatas tidak bisa
mencapai apa yang ayah inginkan, tapi aku harap ayah jangan
mewariskan ilmu pedang ini kepada orang lain!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Bukan orang lain juga bukan calon suamimu, lebih baik
jangan banyak bertanya lagi, aku sudah menentukan orang
itu.... siapa giliran berikutnya yang akan bertarung
denganku?” tanya Wong Jong-ceng.
Mata besar Wong Han-bwee membelalak lebar dan besar,
sorot matanya terlihat seperti kebingungan, Ma Kiu-nio, Heuw
Liu-hoan, dan Weng Jin-jiu pun merasa bingung.
Orang-orang yang ada di bawah panggung saling pandang,
setelah lama, Ciu Pek-ho keluar dan berkata, “Aku, aku akan
mewakili semua keluarga ilmu pedang.”
“Mengapa harus dia?” Lim Hud-kiam terkejut.
“Aku juga tidak tahu, tapi bocah itu sangat aneh dalam
beberapa hari ini, ilmu pedangnya maju pesat, sebelum
berada di sini, dia berturut-turut bisa mengalahkan beberapa
pesilat tangguh, maka dia mewakili keluarga ilmu pedang,”
jawab Liu Ta-su.
“Masih bisa diduga, begitu dia bertarung aku akan bisa
memastikannya, tapi lebih baik kita lihat dulu,” kata Lim Hudkiam.
Ciu Pek-ho sudah berada di atas panggung, Wong Jongceng
dengan tidak suka berkata, “Mengapa mereka
menyuruhmu menjadi wakil mereka? Apakah mereka sudah
buta?”
Dengan angkuh Ciu Pek-ho menjawab, “Aku menjadi wakil
karena kehebatanku, jangan menganggap remeh diriku, dalam
seratus jurus, kau tidak akan bisa mengalahkanku.”
Wong Jong-ceng tertawa keras, katanya, “Kalau kau bisa
berhasil melewati 100 jurus, dalam rapat akbar pedang waktu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
itu kau bisa menjadi juara dan ayahmu tidak perlu tergesagesa
mencari plakat dunia persilatan.”
“Untuk apa ilmu yang tersimpan dalam plakat itu, aku
hanya ingin mendapat julukan Raja Pedang,” Ciu Pek-ho
tertawa sombong.
“Apakah kau pantas mendapatkannya? Di Tai-san kau
masih diberikan kesempatan hidup karena kami berbaik hati,
kami tidak mau ambil nyawamu,” Wong Han-bwee berteriak.
Ciu Pek-ho tertawa, katanya, “Waktu itu aku sengaja
membiarkan kalian menang, kalau tidak ayahmu tidak akan
muncul, ilmu pedang dari Ceng-seng lah yang nomor satu di
dunia ini!”
Wong Jong-ceng menunjuk pada Ciu Giok-hu dan berkata,
“Lihatlah ayahmu yang kelelahan itu, kalau ilmu pedang Cengseng
bagus dari awal dia sudah pasti bisa keluar.”
Kata Ciu Pek-ho, “Tidak bisa di katakan kalau ilmu pedang
ayah pasti lebih tinggi dari putranya, kalau sampai kejadian
begitu berarti setiap generasi akan lebih mundur dari generasi
di atasnya, ilmu pedang hanya bisa maju tidak boleh mundur,
ilmu silat harus semakin dalam, artinya yang muda harus lebih
kuat dari yang tua.”
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Bocah, kau benarbenar
mempunyai mulut yang tajam.”
“Mulutku tajam tapi pedangku lebih tajam lagi, bila kau
sudah mencobanya, kau akan lebih mengetahuinya,” kata Ciu
Pek-ho tersenyum.
Wong Jong-ceng benar-benar dibuat marah, dia berteriak,
“Bocah tengik, kalau aku membiarkanmu lewati 100 jurusku,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
tidak perlu sampai kalah, aku akan memberikan posisi Raja
Pedang kepadamu.”
“Bagaimana Anda tidak akan memberikannya? Kalau Anda
bisa melindungi kepala Anda supaya tidak sampai terpenggal,
itu pun sudah beruntung.”
Wong Jong-ceng benar-benar tidak tahan dengan sikap Ciu
Pek-ho yang seperti gila itu, dia mulai menyerang terlebih
dulu, sikap Ciu Pek-ho tampak sangat tenang, bahkan
mengeluarkan jurusnya pun tenang dan bisa dengan baik
mencairkan serangan Wong Jong-ceng.
Wong Jong-ceng sekaligus menyerang 10 jurus lebih, setiap
jurus berubah-ubah dan ganas, tapi Ciu Pek-ho seperti tidak
peduli, dia tetap bisa memecahkan setiap serangan Wong
Jong-ceng dan setiap jurus mengenai kekurangan Wong Jongceng,
bisa dikatakan semua jurus Wong Jong-ceng sudah
tertutup, semakin bertarung Wong Jong-ceng semakin marah,
dia berteriak, “Han-bwee, mengapa kau bisa menganggap
bocah ini bodoh dan tidak ada apa-apanya?”
Dengan kaget Wong Han-bwee menjawab, “Aku pun tidak
tahu, saat rapat akbar di Tai-san, ilmu pedangnya sangat
biasa, tingkatannya hanya sampai prajurit level 3.”
Liu Ban-mong berkata dari samping, “Sulit dikatakan bocah
itu pintar menyembunyikan ilmu yang sebenarnya, melihat
ilmu pedangnya sekarang, dia berada di atas nona.”
“Mengapa dia bisa mengenali jurus-jurus pedang kita?”
tanya Wong Jong-ceng.
“Apa anehnya? Aku berbakat, bila sudah melihat satu kali
aku tidak akan melupakannya, putri dan beberapa anak
buahmu pernah memperagakan ilmu pedangmu, aku ingat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
perubahan dasarnya, ditambah sedikit berpikir aku segera
tahu di mana kelemahanmu,” kata Ciu Pek-ho tertawa.
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Apakah kau menganggap
kau pintar, saat kau kecil satu pelajaran pun kau harus
membacanya sebanyak 10 kali lebih baru bisa ingat, aku tidak
percaya setelah besar kau bisa begitu pintar.”
“Mengapa kau tahu masa kecilku?” tanya Ciu Pek-ho sedikit
kaget.
“Tentu saja aku tahu, apa yang terjadi di Ceng-seng, aku
lebih tahu dari siapa pun, saat kecil kau sangat bodoh, setelah
besar tetap saja bodoh!” kata Wong Jong-ceng.
Karena dibongkar terus, Ciu Pek-ho jadi panas dia segera
menyerang, tapi malah membuat dia berada dalam posisi
berbahaya, karena dia menyerang dulu Wong Jong-ceng
malah mendapat kesempatan baik.
Liu Ban-mong berteriak dari samping, “Hati-hati!”
“Kau menyuruh siapa berhati-hati?” tanya Wong Jong-ceng.
Merasa dia sudah salah bersikap, dia segera menjawab,
“Aku sedang memperingatkan Tuan, karena bocah ini sangat
licik, mungkin dia mempunyai rencana busuk.”
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Ususnya ada berapa buah
aku tahu dengan jelas, aku tidak takut dia mempunyai rencana
busuk! Siapa yang berani berbuat macam-macam di depanku,
dia akan kena musibah.”
Liu Ban-mong tidak berani membuka mulut lagi, Ciu Pek-ho
sudah kembali ke sikap semula, dengan tenang dia bertarung,
segera dia kembali pada posisi seimbang, sampai 50 jurus
berlalu Wong Han-bwee berkata, “Ayah, mengapa kau tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
membunuh dia saja? Apakah betul ayah ingin melewati 100
jurus lebih?”
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Tenang saja, ayah tidak
akan kalah.”
“Aku tahu ayah tidak akan kalah, tapi ayah masih harus
bertarung dengan yang lain, tiap ronde pasti akan sangat
melelahkan, apakah ayah kuat?” tanya Wong Han-bwee.
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Kau kira aku tidak kuat
melewati 400 jurus? Kau kira aku berhasil menguasai ilmu
penting adalah hal yang tidak sebenarnya?”
“Sebetulnya dalam waktu setengah bulan lagi ayah baru
selesai berlatih, sekarang ayah keluar lebih awal aku benarbenar
mengkhawatirkan ayah.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Kalau semua
masalahku diketahui oleh orang lain, Lembah Raja Pedang dari
dulu sudah direbut orang.”
Karena bicara terus, Wong Jong-ceng jadi tidak
berkonsentrasi, pedangnya ditahan oleh Ciu Pek-ho dan
digeserkan ke luar, kemudian cahaya pedang berkelebat
sangat menyilaukan, Ciu Pek-ho sudah mengeluarkan jurus
sangat aneh.
Semua orang berteriak karena kaget, semua orang mengira
Wong Jong-ceng pasti mati, setelah pedang dialihkan ke luar,
tampak Wong Jong-ceng akan terluka, kalau dia tidak mati
pun pasti akan terluka berat, tapi saat bayangan mereka
terpisah, Wong Jong-ceng berdiri dengan tegak tanpa terluka
sedikit pun, sebaliknya dada Ciu Pek-ho berlepotan darah,
mulutnya terus berkata, “Iblis pedang! Iblis pedang! dia iblis
pedang!!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Ooo)de*kz(ooO
BAB 31 Jatuhkan ke sumur ditimpa batu
Membunuh untuk tutup mulut.
Teriakan 'Iblis pedang' adalah teriakan Ciu Pek-ho secara
tidak sengaja, tapi hal ini memang cocok dengan perasaan
setiap orang, jurus pedang Wong Jong-ceng sangat aneh,
dalam keadaan seperti tadi semua orang mengira dia pasti
akan mengalami kekalahan, tapi dia bisa membalikkan
keadaan menjadi kemenangannya dan tidak ada seorang pun
yang melihat bagaimana dia mengeluarkan jurusnya.
Setelah berteriak Ciu Pek-ho tidak sanggup menahan rasa
sakit karena luka di bagian dadanya, dia berguling-guling di
atas panggung, akhirnya terjatuh ke bawah.
Ciu Giok-hu sangat menyayangi putranya, dia segera
menghampiri putranya untuk memeluknya, tapi ada seseorang
yang gerakannya lebih cepat darinya, pedangnya diayunkan
dan tubuh Ciu Pek-ho sudah terbelah menjadi dua bagian.
Ciu Giok-hu terkejut, dia melihat pada orang itu, ternyata
dia adalah Liu Ban-mong, dengan marah Ciu Giok-hu
bertanya, “Mengapa kau membunuh anakku?”
Liu Ban-mong menjawab dengan dingin, “Putramu sudah
berbuat tidak hormat kepada Raja Pedang dia berani
menghina Raja Pedang, jadi pantas dia dihukum mati.”
Ciu Giok-hu tidak bisa menjawab, Liu Ban-mong berkata
lagi, “Cepat kembali ke tempatmu, jangan lupa kau adalah
tawanan lembah kami.”
Ciu Giok-hu berteriak, “Aku hanya mempunyai putra
tunggal, sekarang dia sudah mati, harapanku seumur hidup
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
pun ikut hancur, aku sudah tidak peduli apakah aku tawanan
atau bukan!”
Liu Ban-mong menjawab dengan dingin, “Apakah kau mau
mati, tidak ada alasan bagi orang Ceng-seng harus ikut mati
bersamamu, kalau kau masih berusaha melawan kau harus
tahu apa akibatnya!”
“Aku tidak peduli!” teriak Ciu Giok-hu.
Tiang Leng-cu segera mendekat, “Ciu Toako, orang yang
sudah mati tidak bisa hidup kembali, kau melawan sendiri pun
tidak apa, tapi bila menarik kami ke dalam pusaran ini, kau
bukan teman kami lagi, tadinya aku tinggal di See-tiang, tapi
karena kau terus meminta aku keluar dari sana, aku pun
menurut, sekarang kita sudah bergabung, kau pun harus
memikirkan kepentingan kita, kembalilah!”
“Apakah putraku akan mati secara sia-sia?”
Kata Tiang Leng-cu, “Dia tidak akan mati sia-sia, paling
sedikit dia sudah membuat kita bisa menyaksikan kehebatan
Raja Pedang, orang yang tahu diri akan menjadi orang yang
hebat.”
Sambil berkata demikian dia mengambil separuh separuh
Ciu Pek-ho, Ciu Giok-hu berteriak, “Kembalikan padaku, aku
pasti akan membalaskan dendam putraku!”
Separuh mayat Ciu Pek-ho dikembalikan oleh Tiang Lengcu,
saat itu dia juga mengambil separuh mayatnya lagi dan
berkata, “Kita angkut mayat ini ke pinggir, nanti aku baru akan
membantumu membalas dendam.”
Ciu Giok-hu berdiri dengan bengong, Tiang Leng-cu terus
memberi kode, “Ciu Toako, balas dendam harus sabar,
sekarang kalau kau bersikukuh membalas dendam, hanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
akan menambah satu mayat lagi, kau tahu ilmu pedang Ciu
Pek-ho lebih hebat darimu, tapi dia tetap kalah dari Raja
Pedang, apalagi kau.”
Tiang Leng-cu menariknya mundur, Ciu Giok-hu terdorong
dengan masih dalam keadaan bengong, baru beberapa
langkah dia sudah roboh.
“Ciu Toako harus bisa menjaga diri, jangan terlalu sedih,”
kata Tiang Leng-cu.
Tapi Ciu Giok-hu sudah tidak punya tenaga lagi untuk
berjalan, mayat separuh itu pun terlempar ke bawah, akhirnya
setelah setengah didorong oleh Tiang Leng-cu, dia bisa
kembali ke barisannya.
Bun Tho-hoan cepat datang menghampiri dan bertanya,
“Bagaimana keadaan Ciu Toako?”
“Mungkin dia terlalu sedih, biar dia duduk dulu untuk
beristirahat,” jawab Tiang Leng-cu.
Ciu Giok-hu duduk, tapi dia tidak bergerak semua
gerakannya menuruti orang yang membawanya, dia bengong,
karena melihat kelakuan Ciu Giok-hu yang aneh, Bun Thohoan
memeriksanya.
Setelah diperiksa akhirnya ketahuan, ternyata di pinggang
Ciu Giok-hu tertancap sebuah pisau belati, dalamnya hujaman
belati itu sudah mencapai bagian ginjal, dia sudah mati.
Inilah cara membunuh yang paling kejam, nadi yang
ditusuk adalah nadi penting setelah ditusuk orang itu akan
segera mati, berteriak pun sudah tidak bisa, malah tersamar
dari luar, orang itu seperti mayat hidup setelah pisaunya
dicabut, dia baru benar-benar akan mati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Hanya Tiang Leng-cu yang pernah mendekati Ciu Giok-hu,
jadi pasti dia yang membunuhnya, Bun Tho-hoan menunjuk
Tiang Leng-cu, “Apakah kau yang melakukannya?”
“Bun Toako, aku terpaksa melakukannya,” Tiang Leng-cu
tertawa.
“Jangan sembarangan bicara, apa di antara kalian
tersimpan dendam?” Bun Tho-hoan marah.
Tiang Leng-cu menjawab dengan dingin, “Bun Toako, Cengseng
dan aku sudah bergabung, karena putranya terbunuh,
Ciu Giok-hu ingin memberontak hingga kita akan terbawabawa,
aku melakukan hal ini pun demi kebaikan semua
orang.”
“Tapi kau tidak perlu sampai membunuhnya!” kata Bun
Tho-hoan.
“Bila aku tidak membunuhnya kita akan celaka bersamanya,
apakah kita bisa melawan Raja Pedang? Ciu Giok-hu biasanya
sangat baik kepada kita, tapi demi putranya dia tidak akan
ingat teman lagi, tidak salah jika aku membunuhnya.”
Bun Tho-hoan menarik nafas panjang, kemudian Liu Banmong
berkata sambil tertawa, “Untung Tiang Leng-cu sangat
cekatan, bisa segera membunuhnya, kalau tidak, menurut
aturan lembah ini jika satu orang memberontak maka akan
membuat yang lain celaka, mungkin akan dibunuh sampai
anjing dan ayam pun tidak tersisa.”
Dengan suara berat Wong Jong-ceng berkata, “Liu Bang
Mang, kapan kau naik pangkat, sampai sanggup mewakiliku
mengambil keputusan? Aku belum membuka mulut, kau sudah
menurunkan perintah!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong dengan terkejut berkata, “Aku tidak berani!
Karena Ciu Pek-ho menghina Tuanku, aku sebagai pembawa
acara ini, harus menghukum orang seperti dia.”
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Sudahlah, kau sudah
menjelaskannya, tapi aku tidak pernah mengatakan harus
menghukum yang lain juga, mengapa kau mengambil
keputusan sendiri?'
“Tuanku pernah mengumumkan cara seperti itu,” kata Liu
Ban-mong terburu-buru menjelaskan.
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Betul, aku memang
pernah mengumumkan cara seperti itu, tapi itu kalau aku
sudah menjadi Raja Pedang sedangkan sekarang aku belum
naik tahta.”
Kata Wong Han-bwee, “Ayah, kau tidak akan mengalami
masalah, Liu Ban-mong memang terlalu tergesa-gesa, tapi dia
melakukan untuk menjaga wibawamu.”
Wong Jong-ceng menjawab dingin, “Han-bwee, bila aku
seperti kau begitu ceroboh, Lembah Raja Pedang ini sudah
terlepas dari tanganku, dan direbut oleh orang lain, apakah
kau sadar itu?”
Wong Han-bwee terpaku, tapi dia tidak terima dan
membantah, “Dari sisi mana aku terlihat ceroboh?”
Dengan serius Wong Jong-ceng menjawab, “Kau melihat
serangan Ciu Pek-ho tadi, kau harus mengerti mengapa begitu
aku mengeluarkan jurus dia bisa memecahkannya!”
Lama Wong Han-bwee baru berkata, “Ilmu pedang orang
itu memang tidak terduga, mungkin dia pura-pura bodoh, di
Tai-san dia telah mengingat semua jurus kita kemudian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mencari cara untuk mengatasinya hingga berani mengajakmu
bertarung.”
“Apakah hanya karena alasan itu yang kau pikir?” dengan
dingin Wong Jong-ceng berkata.
“Selain alasan itu tidak ada penjelasan lain.”
“Tapi jurus pedang yang kugunakan tadi ada beberapa
jurus yang kalian sendiri pun belum mempelajarinya, jadi tidak
mungkin bisa sampai bocor keluar, sedangkan dia sudah tahu
cara mengatasinya, beberapa jurus ini kecuali beberapa orang
yang ada di lembah ini tidak ada yang pernah melihatnya,
mengapa dia bisa memecahkannya?”
“Mungkin... mungkin dia tiba-tiba bisa terpikir.”
“Tidak mungkin, ilmu pedangku bisa dikatakan tidak ada
kelemahannya, tapi dengan tiba-tiba dia bisa memecahkan
jurusku, jelas itu tidak mungkin, dia seperti tahu perubahan
jurusku dan sudah mempersiapkan caranya, jadi ini hanya ada
satu kemungkinan, yaitu dari awal dia sudah tahu jurus
pedangku.”
“Maksud ayah, ada orang membocorkan jurus pedangmu?”
“Tidak hanya itu saja, orang itu sudah membocorkan ilmu
pedangku, dia pun bisa memecahkan ilmu pedangku dan
diam-diam mengajarkannya pada Ciu Pek-ho.”
Wong Han-bwee benar-benar terkejut, “Tidak mungkin!
Ilmu pedang ayah kami pun belum mempelajarinya dengan
sempurna.”
“Di luar memang terlihat belum sempurna, tapi diam-diam
dia sudah menguasainya, selain menguasainya dia juga
melihat di mana saja kelemahanku, sampai-sampai cara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
mengatasinya pun sudah terpikirkan, orang ini benar-benat
tidak mudah dihadapi,” jelas Wong Jong-ceng.
“Kukira beberapa orang yang ada di sini tidak mempunyai
bakat sehebat itu/ kata Wong Han-bwee.
“Kau bisa mengerti isi hati manusia sedalam apa?” jawab
Wong Jong-ceng dengan dingin.
“Jin-jiu, Kiu-nio, dan Heuw Liu-hoan, aku tahu sedalam apa
bakat mereka, dan kemampuan mereka terbatas, mereka tidak
akan lebih tinggi dariku,” kata Wong Han-bwee.
Dengan cemas Liu Ban-mong berkata, “Apakah Nona
mencurigaiku?”
Jawab Wong Han-bwee dengan dingin, “Kau tidak perlu
begitu percaya diri karena aku tidak menyebutkan namamu,
dalam bidang ilmu pedang kau jauh sekali di bawah Kiu-nio,
kalau bukan karena kau berbakat di luar bidang ilmu pedang,
kau sama sekali tidak akan bisa menjadi pengurus lembah ini.”
“Apa yang dikatakan Nona memang benar, aku tahu
bakatku sangat terbatas, aku tidak bisa menyaingi Kiu-nio dan
yang lainnya, sampai dibandingkan dengan pelindung tuan
yang berjumlah 24 pun, ilmuku lebih rendah maka aku
mengabdi kepada tuan dalam bidang lain.”
Wong Han-bwee tidak peduli dengan perkataannya, dia
terus bertanya kepada ayahnya, “Ayah, siapakah orang itu?”
“Sebenarnya kau bisa tanyakan kepada Ciu Pek-ho, tapi dia
sudah terbunuh, sekarang hanya Tuhan yang mengetahui
siapa orang itu.”
Dengan marah Wong Han-bwee memelototi Liu Ban-mong,
“Kau benar-benar bloon!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Liu Ban-mong membungkukkan tubuh, berkata, “Apa yang
Nona katakan aku terima, aku benar-benar ceroboh, tapi aku
tidak tahu akan ada hal seperti itu.”
“Kalau ilmu pedangmu lebih tinggi dari sekarang, aku bisa
mencurigaimu membunuh untuk menutup mulut, tapi kau
bodoh terpaksa aku menyebutmu bloon, kau benar-benar
ceroboh, secara tidak sengaja sudah membantu pengkhianat
di antara kita, menurutmu kau harus dihukum dengan cara
apa?” tanya Wong Han-bwee.
“Aku akan terima hukuman apa pun,” jawab Liu Ban-mong.
Tapi Wong Jong-ceng malah tertawa, “Dia tidak perlu
dihukum karena dia memang tidak tahu, aku pun malas
mencari pengkhianat itu, walaupun dia akan mengambil
posisiku tapi kemampuannya masih jauh, ilmu pedangku bisa
dikatakan tidak terkalahkan, berarti tidak akan ada yang bisa
mengalahkanku.”
“Tapi ayah, kita harus mencari pengkhianat itu.”
“Tidak perlu dicari, orang itu dengan segala daya upaya
mengaku sudah menguasai semua teknik pedangku, tapi dia
sendiri tidak berani mencobanya dia malah mencari Ciu Pek-ho
yang tidak tahu bahaya untuk mencobanya, nyawa bocah ini
melayang dengan sia-sia,” kata Wong Jong-ceng tertawa.
Sorot mata Wong Jong-ceng beralih kepada Tiang Leng-cu,
suaranya berubah menjadi galak, “Sebetulnya kalian tahu dan
kalian masih satu kelompok, Ciu Giok-hu sedih karena
putranya terbunuh, dia ingin memberitahu rahasia ini, tapi kau
takut terbawa-bawa, maka diam-diam kau membunuhnya,
orang seperti dirimu begitu takut mati dan lupa akan teman,
seumur hidup tidak akan menjadi pesilat pedang sejati, kau
tidak perlu takut aku tidak akan mencari masalah denganmu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
hanya saja kelak kau harus berhati-hati jangan punya pikiran
ingin melawanku, contoh nyata adalah Ciu Pek-ho, kalian tidak
akan bisa mencuri ilmu pedang Raja Pedang.”
Karena terkejut wajah Tiang Leng-cu berubah menjadi
pucat, Bun Tho-hoan yang berada di pinggir pun ikut menjadi
pucat.
Wong Han-bwee tidak percaya, dia memprotes, “Ayah,
sejak masuk lembah ini, orang-orang ini selalu diawasi oleh
putrimu, mereka tidak mungkin bersekongkol dengan yang
lain.”
“Apakah matamu tidak pernah beralih dari mereka?” tanya
Wong Jong-ceng.
“Tentu saja tidak, sebab banyak hal yang harus
kuselesaikan, tapi mereka berada dalam pengawasan 100
pesilat kita yang hebat, tidak mungkin mereka akan berbuat
macam-macam!”
“Apakah kau bisa mempercayai 100 orang itu?” tanya Wong
Jong-ceng.
Wong Han-bwee benar-benar terkejut, “100 orang ini belum
pernah keluar lembah, setiap hari mereka kulatih sendiri, bila
mereka ada masalah dengan kita, tidak mungkin mereka akan
bergabung dengan Ciu Pek-ho, jadi aku kira mereka bisa
dipercaya.”
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Han-bwee, kau
mungkin bisa meneruskan usaha ayah di Lembah Raja Pedang
ini, aku akan mengajarimu satu hal, “jangan percaya pada
siapa pun,” kau mengatakan 100 pesilat ini tidak ada masalah,
tapi aku menganggap kebanyakan dari mereka bermasalah,
aku menutup pintu untuk berlatih ilmu silat, tapi aku lebih
tahu jelas darimu yang tiap hari melihat mereka.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Ayah, apa yang kau lihat?”
Wong Jong-ceng menunjuk tawanan yang ada di bawah
panggung, “Setelah melihat mereka, kau akan mengerti,
kebanyakan mereka setelah bertarung mereka akan merasa
sangat lelah, tapi ada beberapa orang mereka masih terlihat
sangat semangat, mereka hanya pura-pura kelelahan.”
“Siapa saja yang berpura-pura?”
“Masalah ini aku sisakan untuk kau selidiki, tapi aku bisa
menunjukkan 1-2 contoh, membuktikan kalau kata-kataku
benar, pertama adalah Ciu Giok-hu, saat Ciu Pek-ho terbanting
ke bawah panggung, dia segera berlari menyambutnya,
tubuhnya bergerak sangat gesit, apakah dia seperti orang
yang sudah beberapa hari bertarung, tidak beristirahat dan
tidak tidur? Kedua adalah Tiang Leng-cu, dia diam-diam
membunuh Ciu Giok-hu, caranya cepat dan bersih, satu kali
tusukan sudah membuat Ciu Giok-hu mati, bila dia kelelahan
dia tidak akan bisa melakukannya.”
Wong Han-bwee terpana tiba-tiba dia meloncat turun dari
panggung, dia menunjuk Tiang Leng-cu dengan pedangnya
dan bertanya, “Katakan, siapa pengkhianat lembah ini?”
“Han-bwee, naiklah, jangan mengurusi hal ini lagi,” teriak
Wong Jong-ceng.
“Mana mungkin hal ini ditinggalkan begitu saja?”
“Karena aku sudah tahu siapa pengkhianatnya, untuk apa
menghabiskan tenaga bertanya-tanya kepada dia? Kau benarbenar
kurang pintar, hal yang begitu sederhana saja tidak
sanggup melihatnya dengan jelas.”
Saat itu Weng Jin-jiu dan Ma Kiu-nio bertanya, “Apakah
Tuan tahu siapa pengkhianat itu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Bukan hanya aku saja yang tahu, Lim Hud-kiam pun sudah
bisa melihatnya dari samping, kalian benar-benar kalah dari
orang luar, dari sini dapat diketahui kalau kalian benar-benar
ceroboh.”
“Siapakah dia?” tanya Wong Han-bwee.
“Aku tidak akan mengatakannya, sebab akan membuat dia
menjadi ganas, apa lagi ancamannya tidak berat, aku masih
ingin memperalat orang itu,” jelas Wong Jong-ceng.
“Ayah, memperalat orang seperti ini terlalu bahaya.”
“Kalau sudah tahu isi hatinya, orang itu tidak akan
berbahaya dan aku yakin orang seperti itu tidak akan menjadi
ancaman, ilmu pedangnya pun tidak akan mencapai tarap
sampai di mana aku menguasainya.”
“Tuanku, harus dengan cara apa baru bisa mencapai tarap
seperti Tuan?” tanya Liu Ban-mong.
“Etika, etika seorang pesilat pedang,” dengan santai Wong
Jong-ceng menjawab.
“Etika apa yang harus dimiliki oleh seorang pesilat pedang?”
“Lupa pada diri sendiri, hati harus bersatu dengan pedang,
saat bertarung menyatu dengan pedang, seperti jurus saat
aku mengalahkan Ciu Pek-ho.”
Liu Ban-mong mengenang kembali peristiwa tadi dan
berkata, “Jurus tadi memang hebat, Ciu Pek-ho menyebut
Tuan iblis pedang, sebenarnya jurus tadi memang seperti ada
tenaga gaib yang menguasainya, kukira itu bukan suatu
penghinaan.”
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Yang pasti merupakan
penghinaan, sebetulnya itu adalah ilmu silatku yang asli,
bukan tenaga gaib, saat aku menyerang dan berada dalam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
keadaan bahaya, akan membalikkan keadaan kalah menjadi
menang, alasannya hanya 2 kata 'lupakan diri'.”
“Aku memang bodoh, tapi aku tetap tidak mengerti, apakah
Tuan bisa menjelaskannya dengan lebih teliti sehingga semua
anak buah kita bisa mengerti,” kata Liu Ban-mong.
“Tentu saja aku bisa beritahu, saat aku menyerang aku
hanya melihat kelemahan lawan, tidak memperhatikan bahaya
pada diri sendiri,” jelas Wong Jong-ceng.
Liu Ban-mong terpaku, “Begitu sederhana?”
“Memang tidak rumit, tapi kau tidak akan mengerti, karena
kau hanya memikirkan diri sendiri, tidak berani mencoba
bahaya ini,” jawab Wong Jong-ceng.
“Pedang digunakan untuk melawan musuh, bila tidak bisa
menjaga diri, mana bisa melawan musuh?” tanya Liu Banmong.
“Ucapanmu salah, semangat ilmu pedang bukan hanya
untuk melawan musuh, tapi juga untuk mencari kemenangan,
aku hanya tahu bagaimana bisa meraih kemenangan dari
lawan, tapi tidak pernah terpikir apakah aku akan aman, pada
pukulan tadi mungkin saja aku bisa terbunuh, tapi ternyata
aku bisa menang dari lawan,” kata Wong Jong-ceng.
“Mati bersama musuh, apakah itu tidak termasuk menang?”
“Kau salah, kau selalu memikirkan hidup atau mati,
sedangkan yang aku pikir adalah ilmu silat, kau menaruh
hidup atau mati pada urutan nomor satu maka kau selalu
ketakutan, sedangkan aku sudah menyatu dengan pedang, ini
adalah etika seorang pesilat pedang, kalau tidak ada semangat
ini kau akan selalu berada di belakang pesilat pedang dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
selamanya tidak akan bisa menguasai ilmu pedang Raja
Pedang.”
“Apakah ilmu pedang Raja Pedang selalu berada dalam
bahaya untuk mendapatkan kemenangan?”
“Berani menghadapi kematian baru bisa mengalahkan
kematian, di matamu hanya melihat bahaya, di hatiku hanya
ada kemenangan, bahaya seperti bayangan, bila kau
menghindar dia akan selalu mengikutimu, bila kau tidak
melihatnya, dia tidak akan ada.”
Liu Ban-mong menundukkan kepala, Wong Jong-ceng
tertawa, “Hanya mengandalkan etika saja masih tidak cukup,
harus mempunyai tehnik tinggi dan keputusan yang benar,
ditambah jurus-jurus aneh baru bisa menjadi pesilat pedang
sejati, aku belum mengajarkan jurus-jurus itu kepada kalian,
karena kalian belum mencapai tarap itu, mempelajarinya pun
percuma karena kalian tidak berbakat menjadi Raja Pedang,
jadi tidak perlu berkhayal lagi.”
“Aku tidak pernah berkhayal seperti itu!” Liu Ban-mong
menjawab dengan ketakutan.
“Kalau tidak ada, itu lebih baik, ronde ke-3 apakah Ciam
Giok-beng yang akan maju?”
Dari tadi Ciam Giok-beng mendengar dia membicarakan
ilmu pedang, dia sangat tertarik begitu mendengar ada yang
bertanya dia baru menjawab, “Betul, marga Ciam berharap
diberi petunjuk.”
“Katanya ilmu Tay-lo-kiam-hoat diciptakan oleh Siau Pek,
begitu sampai ditangan mu diperbaiki lagi, aku kira pasti
hasilnya sangat bagus.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dengan serius Ciam Giok-beng berkata, “Aku tidak berani
mengatakan kalau Tay-lo-kiam-hoat adalah ilmu pedang
nomor satu, tapi ilmu pedang ini guruku yang
menciptakannya, dulu aku belum mengerti kebaikan ilmu ini,
malah membuat ilmu Tay-lo yang bagus menjadi tidak
berkembang, baru setelah aku mendapat petunjuk dari
seorang teman lama, aku mulai mengerti keistimewaan ilmu
pedang ini, hanya saja ilmu ini terlalu dalam dan luas, apa
yang kukuasai hanya 10-20% dari keseluruhan ilmu pedang.”
“Bagus, mendengar kata-katamu tadi kemampuanmu pasti
lebih bagus dibandingkan beberapa orang bodoh yang baru
bertarung denganku, silakan, aku benar-benar ingin
menyaksikan Tay-lo-kiam-hoat yang hebat itu.”
Pelan-pelan Ciam Giok-beng berjalan mendekati panggung,
dia tidak langsung meloncat keatas panggung malah berjalan
memutar melewati tangga panggung, lalu naik selangkah demi
selangkah.
“Untuk apa berjalan memutar? Panggung tingginya hanya
sekitar 6 meter, apa kau tidak sanggup meloncatinya?” tanya
Wong Jong-ceng.
“Satu kali lipat lebih tinggi pun aku masih sanggup
meloncatinya, tapi ilmu pedangku dasarnya adalah diam
mengalahkan gerak, maka harus menghindari gerakan seperti
itu, apa lagi umurku sudah tua, darah yang mengalir sudah
kurang lancar, kita harus bisa mengirit tenaga, semakin irit
semakin bagus.”
Wong Jong-ceng mengangguk, memang tidak bisa dilihat
wajahnya tapi bisa merasakan kalau sikapnya lebih serius, dia
memeluk pedang dan memberi hormat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Pelan-pelan Ciam Giok-beng mencabut pedangnya, sarung
pedang dilemparnya, dia pun memeluk pedang dan balik
kembali untuk memberi hormat, “Begitu pedangku keluar dari
sarung, berarti aku sudah mengeluarkan serangan, Tay-lokiam-
hoat hanya untuk menjaga diri dan memperbaiki diri,
tidak untuk melukai orang maka aku tidak ingin menyerang
dulu, lebih baik Tuan lebih dulu, silakan.”
Wong Jong-ceng berturut-turut menyerang 3 kali, setiap
jurus menyerang Ciam Giok-beng dengan jarak yang tipis, tapi
Ciam Giok-beng seperti tidak merasakannya, tubuhnya tidak
bergerak sedikit pun.
Penonton yang ada di bawah panggung terlihat sangat
tegang, juga merasa khawatir melihat Ciam Giok-beng, karena
bila pedang Wong Jong-ceng maju 1 inci saja bisa mengenai
Ciam Giok-beng, mengapa dia tetap diam? Apakah dia sedang
main-main dengan nyawanya sendiri? Bila lawan adalah pesilat
biasa, cara Ciam Giok-beng masih bisa dipergunakan, tapi
lawannya adalah seorang Raja Pedang.
Sampai-sampai Liu Ta-su pun tidak tahan dengan cemas
berkata, “Apa yang dilakukan oleh pak tua Ciam?”
Hanya Lim Hud-kiam terlihat sangat bergejolak, dia terus
bertanya, “Paman Liu, apakah kalian menemukan orang yang
kumaksud itu?”
“Tidak! Kau meninggalkan kami di sana, membuat kami
menunggu seharian, akhirnya Ciam Giok-beng mencari kami
dan membawa kami keluar dari barisan itu,” jawab Liu Ta-su.
“Berarti Ciam Giok-beng sudah bertemu dengan dia,” kata
Lim Hud-kiam.
“Dari mana kau bisa tahu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Dari sikapnya yang terlihat sangat jelas, kalau belum
bertemu dengan orang itu, dia tidak mungkin bisa begitu
tenang juga tidak akan terlihat begitu mantap.”
“Apakah ini yang disebut mantap? Lawannya adalah Raja
Pedang, caranya bertarung sekarang seperti mengantarkan
kematian.”
Lim Hud-kiam tertawa, “Karena lawan adalah pesilat
tangguh, menyerang pun pasti tidak akan sembarangan, Ciam
Giok-beng tahu kalau 3 jurus pertama ini tidak akan
membuatnya terluka, maka dia tidak melayaninya, sepertinya
dia sudah bertemu dengan adik seperguruannya.”
“Apa? Orang itu adalah adik seperguruannya?”
“Benar, dia mengubah namanya menjadi Hoan Lam-huang,
tapi aku tahu itu adalah nama palsu, singkatnya menjadi Lamhuang-
kiam-sou Lok Su-hoan.”
“Hoan Lam-huang, bukankah dia adalah Lo Hoan dari
keluargamu?”
“Benar, saat dia terlantar dan sampai di Ceng-seng, ibuku
menolong dan mengobatinya sampai sembuh, dia menjadi
pelayan keluargaku untuk membalas budi kepada keluargaku,
tapi keluargaku tidak menganggap dia sebagai pelayan, kami
selalu memanggilnya dengan sebutan Paman Hoan.”
“Ternyata sejak ayahmu meninggal, dia juga menghilang
karena orang ini tidak begitu menarik perhatian maka kami
pun tidak begitu memperhatikan dia, tidak di sangka dia yang
mendapat plakat dunia persilatan, mengapa kau tidak
memberitahukan hal ini dari awal?”
“Aku sama sekali tidak tahu menghilangnya dia karena
alasan apa, waktu itu aku masih kecil, terakhir ibuku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
menyuruhku mencarinya untuk belajar ilmu pedang, barulah
aku tahu tentangnya, tapi dia tidak mengijinkan aku bicara,
jadi aku harus menjaga rahasianya.”
“Tapi mengapa sekarang kau mengatakannya?”
“Dia sudah bertemu dengan Ciam Giok-beng, aku kira tidak
perlu menjaga rahasia ini lagi, aku hanya ingin tahu apakah
dia sudah datang kemari atau belum, bila dia sudah datang
aku ingin bertanya apa hubungannya dengan Wong Jongceng,
aku merasa di antara mereka ada banyak rahasia.”
“Apakah antara Wong Jong-ceng dan Lok Su-hoan saling
kenal?
“Betul, mereka adalah kenalan lama dan kelihatannya
mereka kenal di Ceng-seng, karena Wong Jong-ceng pernah
mampir ke Ceng-seng.”
Liu Ta-su merasa aneh, “Apakah Wong Jong-ceng adalah
orang yang keluar dari Ceng-seng?”
“Betul, dia tahu namaku saat aku masih kecil, dan tatanan
yang ada di Lembah Raja Pedang pun sangat mirip dengan
Ceng-seng.”
“Pantas dia tahu kalau Ciu Pek-ho saat kecil adalah anak
bloon, entah bagaimana Ceng-seng bisa ada orang aneh
seperti dia,” kata Liu Hui-hui.
“Siapakah dia, aku tidak ingat ada orang Ceng-seng yang
mirip dengannya,” kata Liu Ta-su.
“Dia adalah orang yang tidak menarik perhatian seperti
Hoan Lam-huang, siapa yang menyangka kalau dia adalah
Lam-huang-kiam-sou,” kata Liu Hui-hui.
“Apa hebatnya Lam-huang-kiam-sou, di kota Ceng-seng dia
hanya menjadi seorang pelayan, hanya saja tidak menyangka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
dia adalah orang yang mendapatkan plakat dunia persilatan,
aku hitung-hitung dulu, berarti saat dia datang ke Ceng-seng,
dia sudah mempunyai plakat dunia persilatan.”
“Betul, dia sudah mempunyai plakat dunia persilatan dan
ingin mencaritahu tempat untuk berlatih silat, tapi karena sakit
berat membuatnya harus menunda rencananya,” jelas Lim
Hud-kiam.
“Sewaktu dia datang ke Ceng-seng, kau belum lahir, dia
adalah seorang lelaki setengah baya yang luwes dan tampan,
tapi dia menumbuhkan cambang lebat, dia sangat cocok
dengan ayahmu juga akur dengan ibumu, ibumu percaya pada
agama Budha, pengertian agama Budha juga sangat dalam.”
“Betul, namaku diganti menjadi Hud-kiam juga adalah
idenya,” jawab Lim Hud-kiam.
Ketika mereka mengobrol, keadaan di atas panggung
semakin tegang, Wong Jong-ceng menyerang 3 kali, Ciam
Giok-beng sama sekali tidak merespon hal ini membuat Wong
Jong-ceng menjadi berhati-hati, mereka memegang pedang
dan berhadapan juga tidak bergerak.
Sekarang Wong Jong-ceng menggeser kaki, dia berjalan
mengikuti tubuh Ciam Giok-beng, Ciam Giok-beng tetap
berjaga-jaga dengan posisi seperti tadi, hanya kakinya sedikit
bergerak, dia selalu berusaha berhadapan muka dengan Wong
Jong-ceng, bila dibanding-bandingkan dia terlihat lebih tenang.
Begitulah Wong Jong-ceng berputar beberapa putaran, dia
mulai menyerang, SRAT, SRAT, SRAT, 10 jurus lebih dia sudah
melancarkan serangan, pedangnya meneluarkan suara seperti
guntur karena dipenuhi dengan tenaga dalam, serangan
jurusnya aneh dan dahsyat, membuat semua orang terpaku.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Tapi Ciam Giok-beng memang seorang pesilat terkenal, dia
selalu bertahan, dia sudah memperagakan Tay-lo-kiam-hoat
dan membuatnya terlindung penuh seperti ada tabir pedang,
dengan begitu dia bisa menggetarkan kembali setiap jurus
yang menyerangnya.
Liu Hui-hui terus berteriak menyaksikan pertarungan ini,
pelan-pelan dia berkata, “Setahun yang lalu sewaktu aku
mengajak Ciam Giok-beng bertarung di Kim-leng di Coan-ouw,
Ciam Giok-beng kalah dariku, tidak disangka setahun
kemudian dia bisa berlatih sampai pada tarap seperti itu.”
Lim Hud-kiam menarik nafas, “Waktu itu kau mengandalkan
teknik yang memiliki kekuatan yang tepat dan perubahan aneh
untuk menang, apa lagi waktu itu Tay-lo-kiam-hoat belum
matang, dengan pengalaman selama beberapa puluh tahun,
begitu mengetahui teknik yang tepat, kemajuannya tidak bisa
kita bayangkan.”
“Dalam pertarungan ini kira-kira siapa yang akan menang?”
tanya Liu Ta-su.
“Wong Jong-ceng,” jawab Lim Hud-kiam.
“Bagaimana kau bisa tahu? Melihat keadaan yang sedang
terjadi Wong Jong-ceng berada di bawah angin, lihat petutup
wajahnya sudah basah oleh keringat.”
“Tay-lo-kiam-hoat tidak terlawankan tapi jurusnya lebih
banyak bertahan dibandingkan menyerang, sedangkan ilmu
pedang Wong Jong-ceng campuran ilmu plakat dunia
persilatan dan Ngo-heng-kiam, jurus intinya lebih
mementingkan serangan, Tay-lo-kiam-hoat bisa juga tidak
akan kalah, tapi untuk mendapatkan kemenangan tidak akan
gampang.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Bisa bertahan selamanya tidak akan kalah berarti
menang.”
“Memang bisa dikatakan seperti itu, tapi semua hal yang
terjadi di dunia ini selalu berubah, penjagaan Tay-lo-kiam-hoat
memang ketat tapi kekurangannya adalah kurang agresif
dalam menyerang, menghadapi pesilat biasa masih bisa tapi
menghadapi pesilat tangguh seperti Wong Jong-ceng, Tay-lokiam-
hoat akan kalah.”
“Aku tidak mengerti penjelasanmu,” kata Liu Ta-su.
“Tetesan air bisa membuat batu berlubang, tapi
membutuhkan waktu yang lama, dijamin pasti berhasil, orang
biasa mungkin tidak akan bisa menunggu begitu lama, tapi
Wong Jong-ceng sangat hafal dengan perubahan jurus
pedang, begitu tangan keluar sudah bergerak satu jurus dan
berobah-robah, tapi tidak ada satu jurus yang pernah
dipakainya, memang Tay-lo-kiam-hoat milik Ciam Giok-beng
tidak terbatas, tapi pasti akan ada celah.”
“Apakah Ciam Giok-beng tidak bisa menyerang?” tanya Liu
Ta-su.
“Bisa saja, tapi Tay-lo-kiam-hoat dengan diam selalu
mengalahkan yang bergerak, begitu dia membalas maka akan
kehilangan makna ilmu pedang ini, kecuali dia bisa bertahan
sampai lawan kelelahan, baru ada harapan untuk menang,
masalahnya usianya sudah tua, tenaganya terbatas,
dibandingkan dengan Wong Jong-ceng yang masih setengah
baya, dia tidak bisa bertahan sampai waktu itu tiba.”
“Aku tidak setuju, Ciam Giok-beng sangat mantap, lihat,
setetes keringat pun tidak ada, tapi Wong Jong-ceng malah
terlihat sangat tegang,” kata Liu Hui-hui.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Manusia bila sudah ada umur, semua fungsi organ
tubuhnya akan mundur, Ciam Giok-beng bukan tidak
mengeluarkan keringat, tapi tidak ada keringat untuk
dikeluarkan, pesilat tangguh bertarung separuhnya bersaing
dalam teknik, separuh lagi tenaga, mana ada yang tidak
mengeluarkan tenaga.”
Liu Ta-su melihat sebentar baru menarik nafas, “Hud-kiam,
apa yang kau katakan tadi tidak salah, Ciam Giok-beng tidak
mengeluarkan setetes keringat pun, tapi tangannya mulai
gemetar itu karena tenaganya sudah mulai habis, sepertinya
kau lebih mengerti dibandingkan aku.”
“Pengertianku tidak lebih banyak dari Paman, hati Paman
hanya untuk berlatih pedang, tidak untuk memikirkan hal lain,”
kata Lim Hud-kiam.
“Betul, dulu aku hanya tahu berlatih ilmu pedang harus
rajin, setelah menempuh perjalanan ini, aku baru tahu banyak
hal yang terjadi di dunia ini, bisa menambah banyak
pengalaman juga bisa membuat ilmu pedang kita bertambah
maju, berjalan puluhan ribu li, membaca puluhan jilid buku, ini
syarat menuju ilmu pedang yang tinggi,” kata Liu Ta-su.
“Dulu, cara Ceng-seng adalah menutup pintu untuk belajar,
cara berlatih pedang seharusnya masa kecil harus polos, masa
muda harus mantap, usia setengah baya harus luas
pengetahuan, masa tua harus berkosentrasi,” jelas Lim Hudkiam.
Liu Ta-su terpaku, “Ucapanmu tadi adalah cara terdalam
untuk mempelajari ilmu pedang, siapa yang berkata seperti
itu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dengan sedikit tertawa malu Lim Hud-kiam berkata, “Katakata
ini aku dapat setelah melihat kemajuan Ciam Giok-beng,
apakah harus menunggu Paman yang memperbaikinya?”
Liu Ta-su tertawa terbahak-bahak, katanya, “Sudah betul,
Wong Jong-ceng menyebut dirinya sebagai Raja Pedang,
walaupun ilmunya hebat belum tentu dia bisa mengeluarkan
pendapat seperti ini.”
Wong Jong-ceng yang ada di atas panggung mulai
menyerang lagi, setelah pedangnya ditahan dan
dikesampingkan, celahnya terlihat, semua gerakan tubuhnya
jadi berada dalam ancaman lawan, Ciam Giok-beng tidak
melepaskan kesempatan ini, tangannya berbalik mengangkat,
3 jurus serangan yang paling dahyat dari Tay-lo-kiam-hoat
sudah dikeluarkan.
Wong Jong-ceng dengan bersusah payah menghindari jurus
pertama dan kedua, tapi pedang terus melaju ke dadanya dan
dia tidak bisa menghindar lagi, tapi tiba-tiba tangan kosongnya
keluar, dua jarinya menjepit, dengan cara sangat cepat dia
menjepit ujung pedang Ciam Giok-beng, bayangkan tenaga
dalam mereka hampir sama dengan 2 jari mana mungkin bisa
menahan serangan lawan yang begitu kuat?
Karena itu Ciam Giok-beng sama sekali tidak banyak
berpikir lagi, dia mengikuti arah di mana Wong Jong-ceng
menjepit, tapi posisinya tidak berubah, dan terus ikut
mendorong ke depan, karena kedua jarinya sedang menjepit
pedang, paling tenaga yang ada hanya mendorong ke depan,
dia ingin mengubah sedikit arahnya supaya bisa membuat
ancaman lebih besar dan serangannya lebih kuat.
Jari Wong Jong-ceng sedikit bertenaga itu pun hanya bisa
membuat dorongan Ciam Giok-beng sedikit melamban, tapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
ujung pedang tetap melaju ke dada, tiba-tiba Ciam Giok-beng
merasa ada yang tidak beres.
Lawan adalah pesilat tangguh nomor satu, kesempatan
yang mereka rebut adalah waktu yang sangat singkat, saat
pedangnya terhadang ini adalah kesempatan baik untuk
musuh, tadi dia lupa kalau pedang Wong Jong-ceng ada di
posisi mana, walaupun 3 jurus dikeluarkan dengan gerakan
cepat, tapi itu hanya sebentar.
Dalam waktu beberapa detik ini, bagi pesilat tangguh
seperti Wong Jong-ceng banyak hal yang bisa dia lakukan
dengan tenang, terpikir akan hal itu pedangnya tiba-tiba
berhenti dengan jarak 3 sentimeter di depan dada Wong Jongceng,
begitu melihat tangan Wong Jong-ceng yang memegang
pedang, dia segera mengerti pedang Wong Jong-ceng berada
di mana dan pada posisi seperti apa.
Begitu melihat, dia benar-benar terkejut, karena tangan
Wong Jong-ceng yang memegang pedang sedang diturunkan,
ujung pedang pun diturunkan seperti dia tidak siap untuk
melawan.
Ciam Giok-beng tidak mengerti apa maksud lawan juga
tidak tahu apa artinya, maka dia hanya bisa terpaku.
Wong Jong-ceng tertawa, katanya, “Tuan sudah berada di
ambang kemenangan, mengapa tiba-tiba berhenti?”
Ciam Giok-beng berhenti sebentar baru berkata, “Ada satu
hal di mana aku tidak mengerti, saat jarimu menjepit ujung
pedangku, sebetulnya kau bisa membalasku, mengapa....”
Belum selesai Ciam Giok-beng bicara, Wong Jong-ceng
tertawa, “Begitu kau merasa, sudah terlambat, saat kau
menyerangku 3 kali, aku sudah membalas 3 kali, setiap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
jurusku sudah menandai tubuhmu, kalau tidak percaya kau
boleh mmeriksanya.”
Begitu Ciam Giok-beng memeriksa, dia baru melihat di
depan dadanya sudah ada lubang kecil, lubang ini berasal dari
ujung pedang, posisinya berbaris ke pinggir, 3 serangan ini
sangat rata, hanya merobek baju saja tapi kulit tidak terluka
sedikit pun, jadi Ciam Giok-beng tidak merasakannya, tapi
Ciam Giok-beng tahu, Wong Jong-ceng tidak ingin
membunuhnya.
Melihat titik yang diserangnya dan tenaga yang seimbang,
membuktikan kalau lawan menyerang 3 jurus ini dengan
keadaan tenang dan lawan tidak merasa, sehingga menarik
kembali dan menurunkan pedang ke bawah, bila lawan ingin
membunuhnya, setiap serangan sanggup dilakukannya.
Mungkin dia sudah mati 3 kali, maka dengan menghela
nafas panjang Ciam Giok-beng berkata, “Ilmu pedang Tuan
benar-benar hebat, julukan anda sebagai Raja Pedang
memang bukan asal bicara saja, aku menerima kekalahan ini
dengan hati iklas.”
“Anda terlalu memuji, penjagaan Tuan benar-benar kokoh,
kau adalah musuh terkuatku yang pertama kutemui, bila Tuan
tidak menyerang belum tentu aku bisa menang.”
Ciam Giok-beng kali ini benar-benar kalah dan menerima
sepenuhnya, walaupun Wong Jong-ceng memuji
penjagaannya sangat kuat, tapi dia mengerti tenaganya sudah
terkuras banyak, memang pertarungan mereka begitu kena
langsung berhenti, tapi setiap sentuhan tenaga dalam dua
pihak sangat kuat, saling berhadapan dan saling memecahkan,
pedang saling beradu, memang suara yang dihasilkan tidak
terlalu besar, tapi tenaga yang mereka keluar sebenarnya
cukup untuk membuat batu berlubang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Wong Jong-ceng masih mempunyai sisa tenaga, tapi dia
sudah terlihat sangat lelah, paling-paling hanya bisa bertahan
7-8 jurus, tidak perlu bertarung pun dia akan roboh dengan
sendirinya, membalas menyerang karena terpaksa ternyata
malah membuat lawan mendapat kesempatan, dalam teknik
pedang dia memang berada di bawah Wong Jong-ceng, maka
Ciam Giok-beng menerima kekalahan dengan suka rela.
Apalagi melihat sikap Wong Jong-ceng, dia benar-benar
kagum, dia merasa Wong Jong-ceng tidak sekejam yang
dibayangkan semua orang, yaitu senang membunuh, 3 jurus
berturut-turut yang dilakukan hanya memberi tanda saja,
terakhir dia malah mencoba pedang menggunakan tubuhnya,
dengan 2 jari menjepit laju pedang menuju dadanya
membuatnya terlihat ada celah dan hal ini bertujuan supaya
musuh menyerangnya, bila dia berhati jahat dan terus
mendorong ke depan, bukankah dia sendiri pun akan berada
dalam bahaya?
Berjiwa besar dan pemurah tidak sembarangan orang bisa
melakukannya, maka tidak sengaja Ciam Giok-beng
mengucapkan kata 'Raja Pedang' dengan nada penuh
kekaguman.
Dia menarik kembali pedangnya, sambil memberi hormat
dia berkata, “Sikap Tuan benar-benar pantas disebut sebagai
Raja Pedang, Tuan tidak ingin melukai orang lain dengan
pedang Tuan, padahal bila aku meneruskan serangan tadi,
bukankah Tuan sendiri pun berada dalam keadaan sangat
berbahaya?”
Wong Jong-ceng tertawa, “Dari jurus pedang terlihat sifat
orang, jurus pedang Tuan sama sekali tidak mengandung
hawa membunuh, maka aku percaya Tuan tidak akan
melakukan hal itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Dengan malu Ciam Giok-beng berkata, “Pujian Anda malah
membuatku malu, saat aku bertarung, aku hanya berniat
membasmi kejahatan, tiba-tiba berhenti bertarung bukan
karena aku tidak ingin melukai melainkan terpikir Tuan tidak
mungkin begitu mudah kalah.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Walaupun
begitu, itu bukan masalah besar, karena dengan cara kasar
aku menghadapi orang dunia persilatan, hal ini memang
membuat siapa pun sulit untuk menerimanya, tapi Tuan tidak
perlu merasa bersalah, mataku bisa melihat pedang, aku
percaya perasaanku tidak akan salah, 3 jurus serangan itu
memang galak, tapi tidak mengandung hawa membunuh, aku
percaya sampai terakhir pun Tuan tidak akan sanggup
membunuh.”
Ciam Giok-beng menarik nafas, “Aku tidak biasa membuat
orang terluka, maka 3 jurus membunuh orang itu pun
kugunakan dengan ragu-ragu, tapi balik lagi walaupun aku
berniat untuk membunuh, aku kira tidak mudah
melakukannya.”
“Boleh dikatakan seperti itu, perasaan sudah mencapai
pedang dan hati telah menyatu, bila hawa membunuhmu
timbul, pedangku akan lebih cepat beraksi dari pedang Tuan.”
Ciam Giok-beng berpikir sebentar baru berkata, “Aku tetap
harus menasehti Anda, karena pada dasarnya sifatku tidak
senang menggunakan jurus-jurus ganas, kalau orang lain
mungkin akan menyerang lebih sadis.”
“Aku tahu, 3 jurus terakhir tidak cocok dengan semangat
Tay-lo-kiam-hoat, aku kira itu pasti bukan jurus asli dari Taylo-
kiam-hoat,” kata Wong Jong-ceng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
Ciam Giok-beng mengangguk dan mengaku, “Betul, ada
orang yang mengubah jurus pedang itu membuat kekuatan
menyerangnya bertambah beberapa kali lipat.”
“Orang itu pasti adik seperguruanmu Lok Su-hoan, dia juga
mengganti namanya menjadi Hoan Lam-huang, dari namanya
Lam-huang-kiam-sou, apakah benar?”
Ciam Giok-beng mengangguk.
“Dia yang menyuruh kalian datang kemari bukan? Dan dia
adalah orang yang mencuri plakat dunia persilatan dari 5
perguruan bukan?”
Ciam Giok-beng mengangguk lagi.
“Apakah dia sudah ada di sini?”
“Aku tidak tahu.”
“Mengapa Anda tidak tahu? Saat Anda mengajak bertarung,
Anda pernah mengatakan jumlah orang yang akan bertarung
denganku adalah 4, kecuali kau, Ciu Pekho, dan pelindung
bendera dari 5 perguruan, orang ke-4 pasti dia, dia pasti
sudah berada di sini.”
“Dia memang siap datang kemari, tapi belum tentu dia akan
bertarung dengan Tuan, karena dia mengatakan kalau Tuan
adalah musuh yang dikenalnya maka dia menyuruhku
merubah 3 jurus untuk menyerang, 3 jurus ini bila tidak
sanggup membunuh Anda, paling sedikit bisa membuat Anda
terluka, dengan kondisi Anda seperti itu dia baru akan keluar
untuk bertarung, tapi sekarang 3 jurusku berhasil Anda
pecahkan, dia tidak akan bertarung.”
“Mengapa?”
“Karena Anda bukan orang yang dia perkirakan selama ini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Dari mana Anda tahu?”
“Karena orang yang dia perkirakan itu tidak akan sanggup
menahan 3 jurus ini.”
Wong Jong-ceng tertawa terbahak-bahak, “Aku harap dia
bisa datang kemari, aku pun ingin dia tahu kalau dia telah
membuat kesalahan besar, karena aku adalah orang yang dia
perkirakan.”
“Siapa Tuan sebenarnya?”
“Apakah dia tidak memberitahu Tuan?”
“Tidak, dia tidak ingin memberitahuku, sebelum
memastikannya dia tidak akan mengatakannya.”
Wong Jong-ceng berpikir sejenak, “Kalau begitu untuk
sementara waktu aku pun tidak akan bicara panjang lebar,
begitu aku naik tahta, aku akan muncul dengan wajah asli di
depan umum, di sini banyak teman lamaku, mereka pasti akan
mengenaliku.”
Liu Ta-su pelan-pelan berkata kepada Lim Hud-kiam, “Hudkiam
dari nada bicara Wong Jong-ceng, dia seperti orang yang
keluar dari Ceng-seng, siapakah dia?”
Lim Hud-kiam dengan bingung menjawab, “Aku benarbenar
tidak tahu, kalau benar dia orang yang keluar dari Cengseng,
Paman saja tidak tahu, apa lagi aku!”
Liu Ta-su masih terus berpikir, tiba-tiba Wong Jong-ceng
berteriak lagi dari atas panggung, “Lim Hud-kiam, orang yang
mengajarimu ilmu pedang dan menyuruhmu selalu melawanku
adalah Lok Su-hoan bukan?”
“Aku hanya tahu namanya adalah Hoan Lam-huang, Lamhuang-
kiam-sou Lok Su-hoan itu hanya dugaanku saja.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/
“Tapi Ciam Giok-beng sudah memberikan bukti.”
“Berarti dugaanku benar,” jawab Lim Hud-kiam.
“Orang itu seperti apa?” tanya Wong Jong-ceng tertawa.
“Aku tidak begitu akrab dengannya, maka aku tidak bisa
berkomentar banyak,” jawab Lim Hud-kiam.
“Aku akan memberitahu padamu, dia adalah orang kerdil
yang sangat jahat, apakah kau setuju dengan pendapatku?”
tanya Wong Jong-ceng.
“Hanya mengandalkan ucapan Anda tadi, aku tidak setuju,”
jawab Lim Hud-kiam setelah berpikir.
Wong Jong-ceng tertawa dingin, “Aku akan memberikan
bukti yang kuat kepadamu, sejak kau berkelana di dunia
persilatan selalu membuat perusahaan perjalanan Su-hai
repot, apakah dia yang memberi petunjuk seperti itu?”
“Betul, tapi dia tidak ingin aku benar-benar berlawanan
dengan mereka, hanya menyuruhku membuat perusahaan
perjalanan mereka berhenti berusaha,” jawab Lim Hud-kiam.
“Itu sudah cukup, karena Siau Pek memaksanya harus
bekerja sebagai pengantar barang perusahaan perjalanan, itu
tidak cocok dengan kesenangannya, maka dia marah dan
membenci perguruannya, sesudah Siau Pek meninggal dia
tetap tidak melepaskan perilaku ini, dia memaksa Kian-kunkiam-
pai berhenti membuka perusahaan perjalanan, orang ini
jiwanya sangat sempit, dari sini kau bisa mengetahuinya,” kata
Wong Jong-ceng.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita ABG Bispak : Si Pedang Tumpul 5 dan anda bisa menemukan artikel Cerita ABG Bispak : Si Pedang Tumpul 5 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-abg-bispak-si-pedang-tumpul-5.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita ABG Bispak : Si Pedang Tumpul 5 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita ABG Bispak : Si Pedang Tumpul 5 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita ABG Bispak : Si Pedang Tumpul 5 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-abg-bispak-si-pedang-tumpul-5.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

Anonim mengatakan...

Jual Pembesar Penis | Obat Pembesar Alat Vital | Toko Jual Mainan Sex Dewasa | Obat Kuat Vitalitas Pria | Obat Perangsang | Obat Pelangsing | Alat Pembesar Payudara .

Klik www.pembesarpenissolo.net

Posting Komentar