Cerita Lucu Banget Silat : Bloon Cari Jodoh 3 [Karya SD Liong]

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 03 Agustus 2012

Cerita Lucu Banget Silat : Bloon Cari Jodoh 3 [Karya SD Liong]-Cerita Lucu Banget Silat : Bloon Cari Jodoh 3 [Karya SD Liong]-Cerita Lucu Banget Silat : Bloon Cari Jodoh 3 [Karya SD Liong]-Cerita Lucu Banget Silat : Bloon Cari Jodoh 3 [Karya SD Liong]-Cerita Lucu Banget Silat : Bloon Cari Jodoh 3 [Karya SD Liong]


Coan-ti-jin si Manusia-serba-tahu menghampiri ke
samping Ko Cay Seng dan membisiki beberapa patah kata.
Tampak sasterawan ahli tutuk jalandarah itu mengangguk.
"Cinjin, silakan membawa anak itu dan aku bersama Koheng
yang akan membereskan nenek iblis ini," seru Coan-tijin
kepada pertapa Pat Hong.
"Baik," kata pertapa Pat Hong seraya maju hendak
menangkap Ah Liong. Huru Hara maju menghadang dan
mendorong pertapa itu. Pertapa Pat Hong terpental sampai
dua langkah. Dia terkejut sekali, "Siapa engkau!"
bentaknya.
"Aku adalah engkoh anak ini," sahut Huru Hara.
"Engkohnya?" pertapa Pat Hong kerutkan dahi, "ngaco
engkau! Putera Tong Yan Cu hanya satu, mana dia
mempunyai engkoh lagi?"
"Memang aku bukan purera Tong Yan Cu, tetapi aku
sekarang menjadi engkoh anak ini. Siapa yang melarang!"
Pit Hong cinjin terkesiap. "Engkoh, biarin aku saja yang
menghadapinya," tiba2 Ah Liong berkata.
"Tetapi ……..”
"Kalau aku kalah, barulah engkoh boleh turun tangan.
Aku ingin latihan," kata Ah Liong.
Huru Hara mengangguk dan menyisih ke samping. Ah
Liong melangkah maju, "Pertapa, aku mau ikut engkau
apabila engkau dapat mengalankan aku dan engkohku ini."
"Baik, asal engkau tidak ingkar janji saja," sahut Pat
Hong cinjin. Pikirnya, masakan anak kecil yang kepalanya
gundul dan hanya bagian atas dahi saja yang tumbuh
rambutnya seperti kuncung, dapat lolos dari tangannya.
"Silakan mulai," seru Ah Liong.
Pat Hong cinjin maju dan bergerak dengan, jurus
Harimau-menerkam-kambing. Tetapi tiba2 Ah Liong
menyelinap ke belakang dan menarik jubah pertapa itu.
"Jangan kurang ajar!" bentak Pat Hong seraya berputar
ke belakang dan menampar, brat, terdengar suara kain
robek. Ternyata karena Ah Liong menerkam ujung jubah
pertapa itu kencang2 dan pertapa itu berputar tubuh maka
robeklah jubahnya bagian belakang.
"Bagus, adik," seru Huru Hara geli melihat pertapa itu
menyeringai, "nanti bagian muka aku yang merobeknya,
biar dia bercelana saja tanpa jubah!"
"Bagaimana kalau tali celananya kutarik putus, engkoh?"
seru Ah Liong,
"Ah, jangan adik," seru Huru Hara, "nanti semua orang
akan lari. . . . "
"Tetapi biarlah di
dunia ini terdapat
banyak orang yang tali
celananya putus,
jangan hanya aku
sendiri, engkoh!"
Sudah tentu Pat
Hong cinjin malu
sekali. Dia juga seorang
tokoh persilatan kelas
satu, seangkatan
dengan Tong Kui Tik.
Jubahnya ditarik
sampai robek dan dibuat bulan2 olok-olok oleh kedua anak
itu, dia marah.
Sebenarnya dia belum tahu siapa Ah Liong. Mengira
kalau anak yang berambut kuncung itu tentu mudah
ditangkap maka Pat Hong cinjin pun tidak menggunakan
jurus dan tenaga yang hebat, Akibatnya dia harus menderita
robek jubah belakangnya.
"Bagus, anak kecil, engkau berani kurangi ajar kepadaku.
Nanti akan kulaporkan kepada engkongmu," kata Pat Hong
cinjin seraya mulai melancarkan serangan. Dia tak mau
menggunakan! pukulan karena kuatir akan melukai Ah
Liong. Dia hanya menggunakan Eng-jiau-kang atau Ceng
kereman-garuda, dikombinasi dengan Siau-kin-na-jiu atau
ilmu Menyambar senjata atau tangan kawan.
Tetapi Ah Liong tidak semudah yang diperkirakan. Anak
kuncung itu bagaikan seekor kelinci yang gesit. Huru Hara
melihat di tepi gelanggang dengan penuh perhatian.
Sewaktu Ah Liong terancam bahaya, dia tentu akan
memberi pertolongan.
Sementara itu Coan-ti-jin si Manusia serba-tahu dan
sasterawan Ko Cay Seng pun sudah mulai bergerak
menyerang nenek Gok.
Rupanya Coan-ti-jin sudah memberi kisikan kepada Ko
Cay Seng sehingga keduanya tidak menggunakan senjata
melainkan dengan tangan kosong. Ko Cay Seng mengganti
sepasang senjata pit dengan dua buah jari tangannya untuk
memain kan ilmu tutuk Lian-hoan-tiam-kiu-hiat atau
Menutuk-sembilan-jalandarah. Walaupun dia hanya dapat
mencapai tataran dapat menutuk enam jalandarah saja dan
walaupun hanya menggunakan dua buah jari tangan, tetapi
lihaynya bukan kepalang.
Jika Ko Cay Seng menyerang dari muka maka Coan-tijin
si Manusia-serba-tahu, menyerang dari belakang. Kedua
tokoh itu tak menghiraukan soal tata-susila persilatan.
Mereka mengerubuti nenek itu. Dan nenek Gok itu
memang membuktikan diri bahwa dia layak dikeroyok dua
orang. Dengan tongkat Ci-thiat-ciang, dia dapat menghalau
serangan dari muka dan belakang lawannya.
Walaupun Ko Cay Seng berusaha untuk me lobos dan
menuluk tubuh lawan, begitu pula Jun-ti-jin dengan
pukulan Mo-thian-ciang atau Pukulan Mencakar-langit
yang kesaktiannya setaraf dengan pukulan Biat-gong-ciang
atau pukulan membelah-udara, namum keduanya tak
mampu untuk menerobos dinding bayangan tongkat yang
seolah menyelimuti tubuh nenek itu.
Huru Hara sempat pula untuk menyedapkan mata
memandang kearah pertempuran ketiga orang itu. Dia
terkejut menyaksikan kepandaian nenek itu. Tiba2 ia
mendengar suara Ah Liong berteriak, "Hayo, pertapa,
kejarlah aku kalau mampu.”
Ketika Huru Hara berpaling ternyata Ah Liong memang
sudah lari dan dikejar. Pat Hong cinjin, "Hm, setan cilik,
mau lari kemana engkau!" seru pertapa itu.
Huru Hara terkejut. Entah apakah memang si kuncung
hendak main siasat atau memang benar2 tak tahan
menghadapi pertapa Pat Hong sehingga terpaksa lari tetapi
pokoknya anak itu terancam bahaya maka Hura Harapun
segera mengejar.
Memang betapapun lihaynya, Ah Lioug baru berumur 8-
9 tahun. Dalam latihan dasar, dia memang sudah mencapai
tingkat tinggi. Dia bertenaga kuat dan dapat menggunakan
supit untuk menangkap nyamuk dan lalat, dapat
menangkap ikan dengan tangan dan dapat juga memainkan
beberapa jurus ilmusilat. Tetapi berhadapan dengan seorang
tokoh semacam Pat Hong cinjin, sudah tentu dia harus
kalah. Tetapi dengan dapat memberi perlawanan sampai
berpuluh jurus, Ah Liong cukup mengejutkan hati pertapa
itu.
Lari Ah Liong pesat sekali. Ternyata dia menuju ke
hutan pohon siong. Tampaknya si kuncung itu dengan
santai loncat kian kemari, biluk kanan kiri tetapi Pat Hong
cinjin tertegun memandang keadaan susunan pohon siong
yang berada dalam hutan itu.
"Hm, pohon siong dalam hutan ini tampaknya bukan
tumbuh secara wajar tetapi memang ditanam secara
teratur," sejenak Pat Hong cinjia menimang- nimang.
"Hai, pertapa, mengapa berhenti? Hayo, kejarlah aku !"
teriak Ah Liong mengejek.
"Kalau tak salah, hutan pohon siong ini merupakan
barisan Kiu-kiong-pat-kwa-tin," setelah merenungkan
beberapa jenak, Pat Hong cinjin menilai.
Kiu-kiong artinya sembilan istana. Pat-kwa artinya sikudelapan
dan Tin artinya barisan. Barisan Sambilan-istanadelapan-
siku, demikian arti Kiu-kiong-pat-kwa-tin itu.
Pat Hong cinjin juga tahu tentang ilmu barisan. Namun
terhadap Kiu-kiong-pat-kwa-tin, dia memang agak tak
begitu faham.
"Baik, setan cilik, tunggulah kuringkus engkau!" katanya
seraya terus melangkah maju. Dengan hati - hati sekali dia
melintasi setiap kiong (istana) yang mempunyai bentuk segi
delapan.
Siat Pat Hong cinjin memasuki barisan pohon siong.
Huru Hara pun tiba. Dia tahu pohon siong, Huru Harapun
tiba. Dia tahu apa sebenarnya hutan pohon siong itu.
Melihat Pat Hong masuk kedalam hutan untuk mengejar
Ah Liong, Huru Harapun terus mengejar,
Beberapa saat kemudian, dia menjerit kaget, Hai
mengapa aku masih tetap berada disini ?"
Ternyata walaupun dia lari tetapi akhirnya masih tetap
berada di gunduk pohon siong bentuk segi-delapan. Sedang
Pat Hong cinjin makin lama makin jauh.
Dia berusaha lari lagi, ah ... . kembali dia tiba di tempat
semula lagi. Berulang kali ia mencoba namun jalanan yang
mengitari gerumbul pohon siong itu tetap kembali ketempat
semula.
"Aneh, mengapa pertapa itu dapat menyusup makin
kedalam sedang aku tetap berada ditempat ini saja ?" ia
bergumam seorang diri. Diperiksanya jalan itu tetapi tak
ada yang aneh.
Akhirnya ia mendapat akal. Segera ia manjat keatas
sebatang pohon siong. Dari puncak pohon itu ia
memandang ke sekeliling penjuru.
"Celaka, kemanakah anak itu ? Dan pertapa itu juga tak
kelihatan," katanya seorang diri. Dia benar2 heran. Dan
serentak timbullah dugaan lain, "Hai, jangan2 anak itu
sudah tertangkap si pertapa, celaka . . . !"
Dia segera meluncur turun, "Hm, karena engkau maka
aku sampai kehilangan jejak Ah Liong!'' ia menuding dan
memaki gerumbul pohon siong di hadapannya, "hm,
engkau memang perlu dihajar"
Dia terus menyingsingkan lengan baju dan kepalkan
tinju. Pada saat hendak menghantam, tiba2 ia teringat akan
pedang pandak yang didapatnya di dasar telaga Kaca, "Uh,
celaka, pedang itu masih ketinggalan di kamar !"
Karena marah, rupanya penyakit linglung Huru Hara
angot. Dia lupa tujuannya untuk menyusul Ah Liong. Saat
itu pikirannya hanya tertumpah untuk membabat gerumbul
pohong siong saja. Segera dia lari keluar dari lingkungan
gerumbul pohon siong dan terus menuju ke pondok
penginapannya.
"Celaka !" selekas melangkah masuk ia menjerit kaget
karena melihat cektay (tempat lilin) sudah dekat di tepi
meja. Pada hal lilinnya masih menyala terang. Kalau
bergeser sedikit lagi, tentulah cektay itu akan jatuh
menumpah ke tempat tidurnya. Kasur tentu akan dimakan
api dan kasur itupun tentu akan timbul kebakaran.
“Hm semberono sekali si kuncung Ah Liong. Masakan
menaruh tempat lilin di tepi meja,” buru2 ia memindah
cektay yang terbuat dari besi itu ke tengah meja lagi.
"Haya kembali dia berteriak, kaget ketika memandang ke
dinding. Pedang itu ia gantung pada sebuah paku di dinding
papan. Tetapi sekarang pedang itu tidak bergelantung lagi
melainkan melekat pada paku itu.
"Eh, mengapa berat ?" waktu hendak mengambil, pedang
itu terasa melekat sekali pada paku, “uh.....," akhirnya ia
dapat juga menarik pedang itu tetapi berikut dengan
pakupun terlepas dari dinding papan. Dan setelah ditarik
barulah paku itu mau lepas.
Huru Hara heran. Dibawanya pedang itu kemeja. Ia
hendak memeriksa. Tetapi waktu didekatkan pada cektay
lilin, tiba2 cektay itu bergerak meluncur dan melekat pada
pedang.
"Ah, apakah pedang ini mempunyai daya tarik yang kuat
?" pikir Huru Hara. Ia coba mendekatkan pada cektay lilin
dan ih, cektay itu pun meluncur datang, "wah, celaka, kalau
pedang ini tak diberi tutup, tentu akan ‘'menyerdot barang2’
nanti"
Sekali lagi ia mendekatkan pedang itu pada dinding
papan ternyata tidak melekat. Pada meja juga tidak mau
lekat, "O, kalau begitu, "pikirnya," pelang ini tidak
menyedot bangsa kayu melainkan hanya logam besi saja."
Kemudian timbul pikirannya lagi "Mengapa pedang ini
telanjang ? Ah, kemungkinan tentu ada tutupnya. Apa
tutupnya tidak ketinggalan di dasar telaga.?"
Cepat sekali Haru Hara mengambil keputusan. Ia segera
tinggalkan pondok dan menuju ke telaga Kia-ti atau Telaga
Kaca.
Telaga itu sudah tampak dari kejauhan. Malam iiu
walaupun rembulan pudar tetapi langit bertabur bintang.
Tiba2 ia dikejutkan oleh suara berisik mirip orang berkelahi.
Setelah melintas gerumbul pohon, iapun dapat
memandang bebas kearah telaga, Tetapi seketika itu ia
terkejut ketika melihat Ah Liong sedang diserang pertapa'
Pat Hong. Dan sebelum ia sempat berteriak memanggil Ah
Liong, tiba2 pertapa itu membentak sekeras-kerasnya,
"Jangan kurang ajar, setan cilik . . ."
"Ihhhhh," Ah L;ong menjerit dan tubuhnya melayang
jatuh kedalam telaga.
Melihat itu Huru Hara gugup Sekali dua kali ia
mengayun tubuh, Huru Hara melayang menerkam Pat
Hong cinjin "Pertapa keparat, engkau berani mencelakai
adikku !"
Pertapa itu terkejut. Cepat ia songsongkan sebelah
tangannya untuk menghalau. Tetapi dia menjerit kaget
ketika dilanda oleh arus tenaga-tolak yang hebat. Dia
terlempar sampai setombak jatuhnya. Untung dia masih
dapat berjumpalitan dan berdiri tegak.
"Pertapa jahanam, mampuslah engkau !" teriak Huru
Hara seraya menghantam pula.
Pat Hong cinjin terkejut. Dia berusaha untuk menangkis
dengan mengerahkan segenap sisa tenaganya, uhhhhh....
kembali dia terlempar satu setengah tombak dan huak,
mulutnya muntah darah. Serentak dia terus lari kedalam
hutan, sambil mendekap perutnya.
Huru Hara hendak mengejar tetapi tiba2 dia mendengar
suara keras macam kerbau menguak. Ketika berpaling ia
terkejut. Dilihatnya seekor kerbau bule (putih) tengah
berlari menuju ke telaga dan terus terjun kedalam telaga itu.
Huru Hara-pun serentak teringat bahwa Ah Liong masih
berada dalam telaga. Dia batalkan maksudnya hendak
mengejar Pat Hong cinjin dan terus loncat kedalam telaga
juga.
Karena air telaga bening seperti kaca, ia melihat Ah
Liong sedang bergeliatan di dasar telaga. Cepat ia
menyelam dan menarik tubuh anakj itu ke permukaan air,
lalu dia berenang menyeret tubuh anak itu. Tepat pada saat
itu kerbau bule pun tiba. Rupanya Huru Hara mengerti
akan maksud binatang itu. Kerbau bule itu tentulah kerbau
kesayangan Ah Liong. Binatang itu hendak menolong
tuannya. Maka dinaikkannya tubuh Ah Liong ke punggung
kerbau bule itu dan mereka segera berenang ketepi. Setelah
naik ke daratan, Huru Hara membopong tubuh Ah Liong
dan diletakkan di bawah pohon.
Ah Liong pingsan. Karena termakan pukulan Pat Hong
cinjin, napas anak itu sesak dan ketika tercebur kedalam air,
dia tak dapat berbuat apa2 kecuali bergeliatan. Tetapi
karena terminum banyak air, akhirnya hilanglah tenaganya
dan Ah Liongpun tenggelam di dasar telaga. Sebenarnya
dia dapat berenang tetapi karena menderita luka-dalam
pada pernapasannya, tenaganyapun lunglai.
Kerbau itu menguak lagi lalu menggigit leher baju Ah
Liong, diangkat dan dijungkirkan ke bawah. Huakkkk . . .
huak .... berulang kali dari mulut Ah Liong yang kepalanya
terjungkir ke bawah itu, memuntahkan air.
"Huh, aku kalah pintar dengan kerbau," gerutu Huru
Hara dalam hati.
Kerbau bule itu meletakkan tubuh Ah Liong ke tanah
lagi lalu menjilat-jilat muka anak itu. Tak berapa lama Ah
Liong merintih dan bergeliatan. lalu membuka mata, "O,
engkau Bule, engkau menolong aku ?"
"Ah Liong !" teriak Huru Hara.
"O, engkau engkoh Hok," Ah Liong berusa untuk duduk
tetapi dia tampak meringis kesakitan.
"Apakah engkau terluka ?" tanya Huru Hara.
"Mungkin," sahut Ah Liong, "dadaku terasa nyeri kalau
bernapas."
"Jangan kuatir, aku punya pil yang manjur,' seru Huru
Hara seraya merogoh kedalam baju dari mengeluarkan
sebuah botol putih. Ia menuang dua butir pil warna merah
dan suruh Ah Liong minuml
Ah Liong percaya penuh pada Huru Hara Tanpa banyak
tanya lagi dia terus meminumnya! Beberapa saat kemudian
ia rasakan dadanya longgar dan napasnyapun lancar lagi.
"Terima kasil engkoh Hok. Apakah engkau yang menolong
aku tadi ?"
"Bukan hanya aku saja, juga kerbau bule ini Apakah ini
kerbau kule yang engkau ceritakan itu ?"
Ah Liong mengiakan.
"Ah Liong, mengapa engkau berada di tepi telaga ?"
tanya Huru Hara.
Ah Liong bercerita. Ia memang hendak mancing Pat
Hong cinjin supaya masuk kedalam barisan Kiu-kiong-patkwa-
tin pohon siong, "ternyata pertapa itu mampu melintasi
barisan pohon dan tetap mengejar aku. Aku bingung dan
melarikan diri ke telaga. Pikirnya, kalau memang terpaksa
aku akan terjun kedalam telaga saja untuk menghindari
kejaran pertapa itu."
"O," desuh Huru Hara.
"Tetapi sebelum aku sempat loncat kedalam telaga,
pertapa itu sudah tiba dan terus menerkam. Aku nekad,
engkoh Hok ..."
"Nekad bagaimana?"
"Aku menyelinap ke belakangnya dan menarik tali
celananya biar putus!"
"Huh?" Huru Hara terbelalak, "perlu apa engkau hendak
menarik tali celananya?"
"Biar putus dan celananya melorot ..."
"O, lalu?"
"Dia tentu malu dan lari . . . . "
"Ha, ha, ha," Huru Hara tertawa mengakak, "menjaga
engkau masih teringat peristiwa itu saja, Ah Liong."
"Biarlah," kata Ah Liong, "aku benar2 tak puas kalau
hanya aku sendiri yang celananya melorot. Aku
menghendaki lain2 orang juga. Makin banyak makin baik
supaya aku dapat teman."
"Lalu bagaimana pertapa itu waktu hendak engkau tarik
tali celananya?"
"Dia berputar tubuh dan menghantam aku terlempar
jatuh kedalam telaga!"
Huru Hara teringat. Waktu ia datang dan menghantam,
pertapa itu hanya menangkis dengan sebelah tangan. Dan
ketika melarikan diri pertapa Itu juga mendekap perutnya,
"Uh, ha, ha, ha, tentulah karena talinya putus ditarik Ah
Liong, pertapa itu kuatir celananya melorot maka dia
mendekap kencang2," Huru Hara tertawa.
"Ah Liong, mari kita tengok nenek Gok yang sedang
bertempur dengan kedua orang tiu," kata Huru Hara pula.
Tiba di halaman pondok kediaman si nenek ternyata
keadaannya sunyi senyap. Nenek Gok dan kedua lawannya
itu sudah tak kelihatan lagi.
"Hai, kemanakah mereka ?" seru Huru Hara. Tiba-tiba si
Bule menguak dan lari menghampiri ke sebuah gerumbul.
Dia menyusup kedalam gerumbul itu dan keluar lagi
dengan menggigit leher baju seorang wanita tua.
"Hai, nenek !" teriak Ah Liong seraya menghampiri.
Memang benar tubuh wanita tua yang diletakkan di tanah
oleh si Bule itu, tak lain adalah nenek Gok. Tetapi nenek itu
sudah tak bernyawa lagi. Muka dan tubuhnya berobah
hitam warnanya.
"Ah nenek ini tentu kena racun," kata Huru Hara,
"tentulah kedua kaki tangan Ceng itu menggunakan senjata
beracun untuk membunuhnya.
Memang dugaan Huru Hara tepat. Karena tak dapat
mengalah nenek Gok, Coan-ti-jin si Manusia-serba-tahu
menabur nenek itu dengan bubuk putih. Bubuk itu memang
tak mampu menembus lingkaran sinar tongkat nenek Gok.
Tetapi ketika terhantam tongkat, bubuk itu meletus dan
menghamburkan asap tebal Menghadapi asap, tongkat si
nenek tak berdaya menghalau. Pada hal asap itu
mengandung racun ganas. Sesaat nenek Gok menyedot
asap itu, kepalanya segera terasa pusing, gerakan
tongkatnyapun mengendor. Pada saat itulah tenaga-sakti
Mo-thian-ciang dari Coan-ti-jin berhadap menghantam
punggung si nenek sehingga nenek itu terhuyung-huyung
kehilangan keseimbangan diri. Ko Cay Seng
menyelesaikannya dengan sebuah tutukan pada uluhati.
Seketika putuslah nyawa nenek itu. Namun sebelum ia
menghembuskan napas yang terakhir, secara tak terdugaduga
oleh Coan-ti-jin yang maju menghampiri, nenek Gok
berhasil menaburkan jarum beracun kearah Coan-ti-jin.
Coan-ti-jin terkejut dan berusaha menghindar. Memang
dadanya selamat sehingga dia tak sampai mati tetapi lengan
kirinya tersambar jarum beracun itu juga.
Coan-ti-jin merasa betapa cepat racun jarum itu bekerja.
Maka tanpa ayal lagi, dia terus dicacabut pedang dan
mengutungi lengan kirinya sendiri. Kemudian melumuri
obat kim jong-san minta tolong Ko Cay Seng untuk
membalut.
Setelah merampas tongkat si nenek, kedua orang itupun
segera pergi.
"Mana tongkat ?" tiba2 Ah Liong berteiak lalu lari untuk
mencari kedalam gerumbul tetapi tak berhasil.
"Percuma," seru Huru Hara, "tentu sudah dibawa kedua
penjahat itu. Sekarang kita kubur dulu nenek ini. Setelah itu
baru kita nanti pikir lagi bagaimana cara untuk merebut
kembali tongkat itu."
Demikian mengingat nenek itu sudah merawatnya
beberapa tahun, Ah Liong segera membuat liang dan
mengubur mayat nenek itu.
Saat itu haripun sudah fajar. Huru Hara mengajak Ah
Liong masuk kedalam pondok untuk beristirahat.
"Ah Liong, bagaimana kehendakmu? Apakal engkau
tetap tinggal disini?" tanya Huru Hara.
"Tidak engkoh, aku hendak mencari empekku yang
bernama Tong Kui Tik itu," kata Ah Liong.
"Bagaimana dengan pondok ini?"
"Biarkan sajalah."
"Lalu si Bule?"
Ah Liong menghela napas, "Ah, sejak kecil kerbau itu
sudah kupelihara. Walaupun kerbau tapi si Putih itu lebih
cerdas dari kerbau umumnya. Dia seperti mengerti apabila
kuajak bicara.”
"Lalu, bagaimana maksudmu?"
"Akan kubawa juga."
"Tetapi kemana engkau hendak mencari engkongmu
itu?"
“Entahlah. kemana saja asal bisa ketemu."
Huru Hara temenung-menung. Entah bagaimana ia
rnerasa kasihan pada anak itu. Namun ia masih
mempunyai banyak tugas yang belum selesai. Tiba2 ia
.teringat -akan sumoaynya yang masih berada di gunung,
"Ah, kalau sumoay tahu anak ini, dia tentu senang kalau
mendapat adik. Aku sebatang-kara, Liok sumoay juga
sebatang kara dan si kuncung Ah Liong ini juga sebatang
kara....."
"Engkoh Hok, mengapa engkau termenung-menung ?"
tiba2 Ah Liong menegur.
"Engkau belum pernah keluar kemana-mana, bagaimana
engkau hendak mencari engkongmu ?" Huru Hara
menghela napas, "aku sungguh tak tegah melepas engkau,
Ah Long."
"Engkoh Hok mau kemana sih ?"
"Aku hendak mencari pamanku."
"Dimana ?"
"Kemungkinan besar dia ditawan oleh lasykar rakyat
yang menyerang kota Sam-kwan. Akan ku mintanya
kembali dari tangan mereka."
"Aku ikut, engkoh.
"Ikut ? Ah, berbahaya sekali, Lasykar rakyat tentu
mengira aku seorang penghianat. Kemungkinan besar
mereka malah akan menangkapku juga."
"Lho, aneh. Apakah engkau seorang penghianat ?"
Huru Hara gelengkan kepala. Dengan ringkas ia
menceritakan peristiwa yang dialaminya ketika berada di
gedung tihu kota Sam-kwi. Lasykar Rakyat tentu
menganggap aku seorang penghianat karena menolong
panglima Totay itu
"Tetapi engkoh kan tidak senang kepada Totay ?"
"Sebagai manusia, aku tak boleh membeli manusia.
Sebagai seorang ksatrya, aku harus menghormati seorang
ksatrya. Tetapi sebagai rakyat Beng aku harus
membunuhnya."
"Bagus, bagus, engkoh Hok. Aku ikut engkau !"
"Hus, ikut apa ?"
"Ikut engkau mencari paman itu. “Kalau Iasykar Rakyat
itu hendak menangkap engkau akan memberi keterangan
kepada mereka."
Huru Hara geleng2 kepala namun dalam hati ia geli,
pikirnya," Dulu orang2 mengatakan aku ini seoran blo'on.
Tetapi mengapa sekarang aku merasa anak ini blo'on ?
Apakah karena anak ini blo'on maka aku lalu sembuh dari
blo'on. apakah karena dia lebih blo'on maka blo’onku
berkurang dan merasa tidak blo'on . . . .?”
"Engkoh Hok," tiba2 Ah Liong berlutut di hadapan Huru
Hara, "izinkanlah aku ikut engkau. Aku suka kepadamu,
engkoh Hok. Aku akan menurut apa yang engkau
perintahkan ..."
Tersentuh juga hati Huru Hara melihat anak kuncung
itu. Dia memang tak tegah melepas anak itu pergi mencari
engkongnya sendiri.
"Baiklah," katanya, "nanti setelah bertemu dengan
pamanku, akan kuantarkan engkau pulang ke rumahku
dulu."
"Dimana rumah engkoh?
"Dipuncak Giok-li-nia."
"Tetapi apakah papa mama engkoh tak marah kepadaku
?"
Huru Hara gelengkan kepala, "Aku sudah tak punya
orangtua lagi."
"Lalu engkoh tinggal dengan siapa ? Apakah dengan
paman itu ?"
"Tidak," sahut Huru Hara, "paman itu juga harus
kuperoleh dalam perjalanan. Yang tinggal di gunung adalah
sumoayku. Engkau tahu arti sumoay ? Adik seperguruan."
"Perguruan apa ?"
"Perguruan silat."
"Wah, kalau begitu engkoh Hok tentu pandai main silat,
ya ?"
Huru Hara gelengkan kepala, "Tidak, aku tak suka
belajar silat."
"Tidak suka belajar silat tetapi punya adik seperguruan,
aneh , . ," Ah Liong garuk2 rambut kuncunguya.
Huru Hara tertawa.
"Lalu siapa yang jadi gurunya ?" tanya Ah-Liong.
"Almarhum ayahku."
"O, ayah engkoh Hok ini seorang guru silat yang pandai
?"
"Begitulah kata orang."
"Tetapi mengapa engkoh tak mau belaja silat ?"
"Entah, aku sendiri tak tahu dan akupun tak berani
memaksa."
"Memaksa siapa ?"
"Memaksa diriku sendiri."
"Siapa nama sumoay engkoh itu ? Berapa umurnya ? Dia
laki atau perempuan ? Besar mana dengan aku dan
orangnya baik . . . ."
"Sudah, sudah Ah Liong, jangan nerocos seperti hujan,"
Huru Hara menyetopnya, "Namanya Liok Sian Li,
umurnya 17-an tahun. Besar dia dengan engkau. Dia
seorang gadis . . ,."
"Matiiik aku," teriak Ah Liong," orang perempuan itu
tentu galak, contohnya seperti nenek itu, salah sedikit saja
terus main gebuk."
Huru Hara tertawa, "Jangan kuatir, Ah Liong. Dia tidak
galak. Dia tentu gembira sekali mendapat adik seperti
engkau."
"Sungguh? Wah, aku juga senang kalau punya taci yang
baik hati," teriak Ah Liong.
"Baiklah, sekarang engkau boleh mengemasi apa yang
hendak engkau bawa. Eh, mengapa sekarang engkau pakai
baju monyetan begitu?"
"Siiiiip, deh."
"Apanya yang sip?"
"Dengan pakai baju-monyetan begitu, aku tak kuatir
akan mengalami tali celana putus lagi."
Huru Hara tertawa, "Lagi2 soal itu."
"Tentu," sahut Ah Liong, "itu kan kehormatan kita,
mana boleh ditontonkan orang."
"Sudahlah, cepat ambil barangmu," kata Huru Hara,"
dan mari kita segera berangkat.
Tak berapa lama Ah Liong keluar dengan membawa
sebuah buntelan berisi pakaian. Disamping itu dia juga
membawa sebatang tanduk kerbau."
"Lho, apa itu?" tegur Huru Hara.
"Tanduk si Bule," kata Ah Liong, "dulu pernah tempat
ini kedatangan seekor harimau. Aku lari ketakutan tetapi
untung muncullah si Bule. Dengan gagah berani Bule
menyerang harimau itu. Harimau itu dapat melukai
punggung si Bule. Si Bule ngamuk. Dia menerjang harimau
itu dan menanduk sekuat-kuatnya. Celaka . . . harimau itu
dapat menghindar terus melarikan diri sedang tanduk si
Bule kena pada batu besar. Sedemikian kuat si Bule
menanduk sehingga batu besar itu bergerak lalu
bergelundungan kedalam jurang. Sedang tanduk si Bule
juga putus satu."
"Buat apa engkau simpan tanduk itu?"
"Buat peringatan saja."
"Wah, celaka!" tiba2 Huru Hara meloncat bangun.
"Kenapa?"
"Tunggu sebentar," Huru Hara terus lari menuju ke
telaga, "Ah, untung masih disini," ia memungut sebatang
pedang pandak yang menggeletak di tepi telaga. Ternyata
waktu mencebur ke dalam telaga untuk menolong Ah Liong
tadi, ia meletakkan pedang pandak itu di tanah. Dan waktu
pulang ke pondok, dia lupa mengambilnya.
"Ini lho, aku lupa mengambil pedang yang ketinggalan di
tepi telaga," kata Huru Hara.
"O, pedang yang engkoh dapatkan di dasar telaga itu?"
"Ya," sahut Huru Hara, "pedang ini ternyata
mengandung daya-sedot yang luar biasa kuatnya. Nih, coba
lihat," ia meletakkan pedang itu di meja dan cektay lilin
segera bergerak menghampiri dan terus melekat pada
pedang.
"Ah, sama dengan tongkat nenek!" seru Al Liong.
"O, apakah tongkat itu juga mengandung daya-sedot?"
Huru Hara terkejut.
"Tidak semuanya, hanya bagian ujungnya saja, lebih
kurang sejengkal jari panjangnya."
"Ah tiba2 Huru Hara teringat mengapa ketika ditangkap
si nenek, dia sama sekali tak berdaya seperti orang
kehilangan tenaga. Kemungkinan karena daya dari tongkat
itu.
"Mengapa engkoh Hok?" Huru Hara menceritakan
pengalamannya ketika ditangkap si nenek.
"Benar, memang selain tongkat, juga kuku jari nenek itu
telah dipasangi dengan besi yang dapat menyedot tenagadalam
orang," Ah Liong membenarkan.
Kini Huru Hara makin jelas apa sebab dia tak dapat
melawan si nenek.
"Begini, Ah Liong," katanya, "jika engkau tak keberatan,
kasihkan itu kepadaku."
"Untuk apa?"
"Akan kubuat kerangka pedang ini, biar tak menyedot.
Kurasa kalau diberi kerangka tanduk atau kayu, daya-sedot
pedang ini tentu berkurang.”
Ah Liong menyerahkan tanduk itu. Dan mulailah Huru
Hara melubangi tanduk itu untuk dijadikan kerangka
pedang pandak.
Sejam kemudian, jadilah kerangka itu. Kini pedang
pandak sudah mempunyai kerangka. Pedang itu memang
terbuat dari besi sembrani atau magnit. Tidak berapa tajam
tetapi memiliki daya sedot yang ampuh sekali. Senjatarahasia
yang dilontarkan musuh ataupun senjata lainnya,
tentu akan tersedot melekat pada pedang itu.
"Bagus, engkoh Hok," seru Ah Liong, "lalu engkau
namakan apa pedang itu?"
"Iya, ya," kata Huru Hara, "pedang ini juga perlu nama.
Bagaimana kalau kusebut Pik-kak kiam atau pedang
Tanduk-putih? Bukankah tanduk si Bule ini juga putih
warnanya?"
"Bagus, engkoh Hok. Aku setuju!" seru Liong.
Setelah selesai semua, keduanya segera tinggalkan
pondok itu. Ditengah jalan Huru Hara mengatakan
bagaimana waktu hendak mengejar pertapa Pat Hong yang
memburu Ah Liong, dia tersesat dalam hutan pohon siong,
"Aku berlari tetapi tetap kembali ketempat semula saja."
"Memang begitu," kata Ah Liong, "hutan pohon siong
itu sebenarnya dibentuk menurut sunan barisan Kiu-kiongpat-
kwa-tin. Kalau orang tak mengerti ilmu barisan, tentu
tak dapat keluar dari hutan pohon siong itu."
"O," seru Huru Hara, "makanya aku terus selalu
berputar-putar saja. Apakah engkau tahu tentang ilmu
barisan?"
Ah Liong gelengkan kepala, "Tidak. Aku hanya diam2
memperhatikan apabila nenek masuk keluar dari hutan
pohon siong itu.
"Ya, ampuuuuun!" tiba2 Ah Liong memekik ketika
keluar dari sebuah tikung lereng.
"Kenapa?"
"Itu si Bule sudah menunggu di mulut jalan," seru Ah
Liong seraya menunjuk ke muka. Memang di mulut jalan
tampak seekor kerbau putih sedang mendekam.
"Bule, apa engkau mau ikut?" seru Ah Liong ketika tiba
di muka kerbau itu.
"Ngggooook!" kerbau putih itu menguak seraya
berbangkit dan mendekati Ah Liong.
"Engkoh Hok, apakah Bule boleh ikut?" tanya Ati L ong.
Sebenarnya Huru Hara tak suka tetapi menilik betapa
dekat, hubungan batin antara si Bule dengan Ah Liong,
serentak teringatlah Huru Hara akan lelakonnya dulu ketika
ia masih mempunyai piaraan anjing, monyet dan burung.
Binatang piaraannya itu sudah tercerai-berai entah kemana
ketika ia mengalami beberapa peristiwa yang berbahaya.
Sebagai orang yang tahu akan rasa sayang terhadap
binatang piaraan, akhirnya Huru Hara meluluskan juga.
"Bule, lekas haturkan terima kasih kepada engkoh Hok,"
seru Ah Liong.
Seperti mengerti bahasa manusia, kerbau putih itu terus
menghampiri Huru Hara dan menguak seraya
menghembus-hembus kaki Huru Hara.
"Baik, Bule, asal engkau menurut perintah saja," kata
Huru Hara.
Begitulah mereka segera melanjutkan perjalanan menuju
ke kota Sam-kwan. Tiba di pintu kota mereka dihentikan
oleh beberapa prajurit.
"Aku hendak masuk kota," kata Huru Hara.
"Masuk kota? Ha, ha, ha,” beberapa prajurit itu tertawa
mengakak. Meeeta geli melihat ketiga mahluk yang datang
itu. Seorang pemuda dengan dandanan nyentrik macam
seorang pendekar kesiangan, seorang bocah laki berpakaian
monyetan dan memelihara kuncung dan seekor kerbau
bule.
"Mengapa tertawa?" tanya Huru Hara.
"Kalian ini mahluk dari mana saja? Apakah kalian
mimpi?" seru salah seorang prajurit yang masih muda.
"Aku hendak masuk kota, apa tidak boleh?” seru Huru
Hara.
'Tidak boleh!"
"Mengapa?"
"Kota ini dinyatakan sebagai tertutup."
Huru Hara terkejut. Bukankah dua tiga hari yang lalu
kota itu sudah direbut Lasykar Rakyat?
"Kalian ini prajurit mana?" tegurnya.
"O, engkau ini betul2 mahluk dari luar jagad!" seru
prajurit itu, "aku prajurit kerajaan Ceng."
"O, apakah kota ini sudah diduduki pasukan Ceng lagi?"
"Ya."
"Siapa panglima yang memimpin pasukan Ceng dikota
ini?"
"Li ciangkun."
"Li ciangkun? Bukankah dia seorang Han?"
"Ya," sahut prajurit itu, "eh, mengapa engkau hendak
masuk kedalam kota ini?"
"Aku hendak menemui pimpinan Lasykar Rakyat yang
merebut kota ini tiga hari yang lalu."
"O, engkau anggauta Lasykar Rakyat?"
"Bukan."
"Lalu mengapa engkau hendak menemui pimpinan
mereka?"
"Aku hendak minta pamanku yang ditawan mereka."
"Silakan cari mereka tetapi kota ini sudah diduduki
pasukan Ceng."
Huru Haia mengajak Ah Liong tinggalkan tempat itu.
Tetapi tiba2 salah seorang prajurit Ceng berseru, "Tunggu!"
"Kenapa?" tanya Huru Hara. "Kalian boleh pergi tetapi
tinggalkan kerbaumu itu," seru si prajurit.
"Apa katamu?" tegur Ah L;ong.
"Tinggalkan kerbaumu itu. Sudah lama kami tak makan
daging kerbau. Seluruh ayam dalam kota sudah habis kami
tangkap. Tapi selama itu tak pernah kami mendapat
kerbau."
"Kerbau ini hendak engkau sembelih?" seru Ah Liong
"Ya.”
“Lebih baik engkau sembelih aku saja daripada kerbauku
ini."
"Uh, siapa sudi makan dagingmu, kuncung!”
"Hm, prajuiit rakus, enak saja engkau hendak mengambil
barangku."
"Akan kubayar dengan uang," seru prajurit.
"Ho, apa engkau mampu membayar?"
"Berapa engkau minta?"
"Seribu tail emas murni, tidak boleh lebih juga jangan
kurang!"
"Engkau edan, kuncung !"' teriak prajurit "masakan
seekor kerbau seharga begitu tinggi" Jika kubayar dengan
uang saja engkau sudah harus bersyukur. Kalau mau, aku
dapat merampasnya, mengerti"?"
“Tidak mengerti!"' sahut Ah-Liong.
"Apa yang tidak mengerti?"
"Omonganmu," sahut Ah Liong, "mana ada orang
mengambil kerbau seperti mengambil miliknya sendiri.
Milik kakekmu apa bagaimana?"
"Ini jaman perang. Prajurit yang menang perang berhak
untuk mengambil apa saja yang disukainya, tahu!''
"Tadak tahu!" bantah Ah Liong, "pokoknya, jangan
coba2 mengambil kerbauku ini, kecuali engkau berani
membayar harga yang kuminta tadi, tahu!"
"Setan cilik, engkau berani kepada prajurit?" bentak
prajurit itu.
"Apakah prajurit itu raja?"
"Aku yang berkuasa disini?"
"Silakan saja menguasai siapa yang mau engkau kuasai
tetapi aku tidak mau. Kerbau ini milikku, kalau engkau
mau mengambil, harus bayar menurut harga yang kuminta.
Kalau mau mengambil dengan percuma, hm . . . . "
Rupanya panas hati prajurit itu mendengar sikap dan
ucap Ah Liong yang petentang-petenteng. “Engkau mau
melawan aku?" serunya.
"Kalau engkau memang hendak merampas kerbauku,
apa boleh buat," sahut Ah Liong.
"Bagus, kuncung, kalau engkau dapat mengalahkan aku,
akan kubebaskan engkau pergi mebawa kerbaumu."
"Apakah omonganmu itu boleh dipercaya?"
"Tentu," jawab prajurit itu, "semua orang yang berada
disini menjadi saksinya.
"Ala, sudahlah Lo Sun, tak perlu pakai janji segala.
Kalau mau ambil kerbau itu, ambil saja masakan dia
mampu berbuat apa!" kata kawan prajurit.
"Tidak," sahut prajurit yang dipanggil dengan nama Lo
Sun itu, "aku harus menundukkan! si anak kuncung yang
kemaki itu. Biar nanti dia menangis . . . . "
"Lekas, kita mulai," seru Ah Liong seraya pasang kudakuda.
"Nih, makanlah." seru prajurit Lo Sun seraya menabok
gundul Ah Liong. Tetapi cepat sekali pergelangan tangan
prajurit itu disambar Ah Liong lalu dipelintir, aduuhhhhh
.... prajurit itu menjerit kaget dan kesakitan sehingga
terpaksa dia harus berputar tubuh dan tangannya masih
dilekatkan ke belakang punggungnya oleh Ah Liong.
"Hayo, coba engkau bergerak!" teriak bocah itu.
"Aduhhhhh," prajurit itu menjerit kesakitan manakala
dia coba meronta. Ternyata tenaga Ah Liong amat kuat
sekali.
"Mengaku kalah atau belum?" seru Ah Liong. Merah
padam muka prajurit itu. Tiba2 ia ayunkan tangan kiri
menghantam ke belakang. Tetapi dengan tangkas, Ah
Liong menyambar pergelangan tangan prajurit itu lagi lalu
ditelikung dengan tangan yang satu tadi. Kini kedua tangan
prajurit itu ditelikung semua oleh Ah Liong, "Hayo, mau
bergerak lagi?"
Makin merahlah muka prajurit itu. Dia meringis, untuk
menahan kesakitan. Melihat itu kawannya segera
menghampiri dan menabok kepala Ah Liong, "Kuncung,
lepaskan .... plakkkk, aduhhhh……..”
Ternyata Ah Liong memang cerdik. Begitu hendak
dipukul cepat dia menarik tubuh prajurit yang dikuasai itu,
disongsongkan sebagai perisai. Akibatnya prajurit itu harus
menjerit kesakitan karena mukanya ditampar oleh
kawannya sendiri.
Plakk, aduhhh .... karena kesakitan, dengan geram
prajurit itu menendang kawannya. Akibatnya, prajurit yang
hendak menolong tadi malah harus terbungkuk-bungkuk
karena perutnya termakan kaki si Lo Sun.
Dua orang prajurit yang lain, marah melihat tingkah laku
Ah Liong. Keduanya serempak menghampiri. Tetapi
sebelum mereka bergerak, Ah-Liong sudah mendorong Lo
Sun kearah mereka bluk, bluk, bluk .... ketiga prajurit itu
jatuh timpah tindih.
Dari enam prajurit yang bertugas menjaga pintu kota,
sudah empat yang kesakitan. Yang lain marah. Mereka
mencabut pedang dan hendak membacok Ah Liong. Tetapi
tiba2 si Bule menerjang mereka, uh . . . uh . . . kedua
prajurit terkejut ketika tangannya ditanduk si Bule. Pedang
mereka jatuh dan merekapun lari tunggang-langgang karena
hendak ditanduk si Bule.
"Ah Liong, cukup! Mari kita pergi,"' seru Huru Hara
seraya melangkah pergi.
' Kemana engkoh Hok?" tanya Ah Liong di tengah
perjalanan.
"Mencari tempat Lasykar Rakyat yang menavvan
pamanku itu," sahut Huru Hara.
"Ke mana?"
"Ya, di kota ini."
“Lho, di kota ini? Kenapa kita pergi?"
"Kita cari tempat untuk beristirahat dulu Sukur bisa
ketemu kedai minum."
"Mengapa tidak sekarang saja kita menemui Lasykar
Rakyat itu?"
"Belum datang," sahut Huru Hara, "malam nanti mereka
baru muncul."'
Ah Liong garuk2 kuncungnya, "Dari mana mereka dan
mengapa malam hari baru muncul?”
"Mereka tentu akan menyerang kota ini. Tetapi
penyerangan itu biasanya dilakukan pada malam hari. Kita
tunggu saja apabila mereka menyerang baru kita ikuti jejak
mereka. Sukur bisa bertemu dengan pimpinan mereka.
Beberapa saat kemudian mereka melihat sebuah kedai
minum. Merekapun masuk.
Mereka heran karena kedai itu hampir tak ada
pengunjungnya. Hanya seorang dua saja.
"Hai, bung, mengapa kedai ini begini sepi?" tegur Huru
Hara pada pemilik kedai yang mengantar minuman teh.
"Sejak kota Sam-kwan diduduki pasukan Ceng kota itu
ditutup. Orang tak boleh masuk ke luar lagi," menerangkan
pemilik kedai.
"Mengapa ?"
"Rupanya pimpinan pasukan Ceng kuatir akan terulang
lagi peristiwa yang lalu. Itu waktu pasukan Ceng sudah
menduduki kota. Tiba2 pada malam hari lasykar rakyat
menyerang mereka sehingga mereka menderita kerugian
besar. Lalu datang lagi pasukan Ceng yang lebih besar
untuk menduduki kota itu. Dan kota itu dinyatakan sebagai
kota tertutup."
"Bagaimana penduduknya ?'"
"Hampir semua penduduk kota sudah mengungsi. Ada
yang lari ke gunung ada yang ikut dalam lasykar rakyat."
"Mengapa engkau masih tetap membuka kedai minum
ini ? Apakah engkau tak takut kepada pasukan Ceng ?"
"Aku sih tak punya apa2" kata pemilik kedai yang sudah
tua, "apanya yang akan diambil dari diriku. Dan lagi
kecuali kedai ini, mungkin tak ada lagi yang berani buka
kedai minum. Dengan begitu kasihan orang2 yang kecele
tak dapat masuk kota. Aku harus menolong mereka. Eh,
tuan, bukankah engkau juga habis dari kota ?"
Huru Hara mengiakan. "Tak boleh masuk, bukan?"
"Ya."
"Nah, itulah. Mereka takut kalau kemasukan mata-mata
lasykar rakyat," kata pemilik kedai. Sambil memandang
dandanan Huru Hara, dia bertanya, "menilik dandanan
tuan, tuan tentu seorang pendekar silat."
"Bukan aku seorang rakyat biasa,"
"Ah, jangan merendah diri. tuan," kata pemilik kedai,
"suasana negara sedang genting, dimana-mana timbul
peperangan dan kekacauan. Bagaimana mungkin tuan
berani melakukan perjalanan apabila tuan tidak memiliki
kepandaian silat yang tinggi."
Huru Hara gelengkan kepala. Tiba2 ia mendengar
gemuruh dari serombongan pasukan berkuda yang tengah
mendatangi. Dan beberapa saat kemudian empatpuluh
prajurit berkuda berhenti di depan kedai, Prajurit itu segera
berhamburan loncat turun, melangkah masuk.
"Itulah pak, manusia2 jelek yang menganiaya kami tadi,"
seru seorang prajurit kepada seorang prajurit yang bertubuh
tegap kuat.
"Itu ?" prajurit tegap yang dipanggil pak, terkesiap. Dia
adalah komandan kelompok barisan kuda. namanya Tuka,
seorang perwira suku Boan.
Waktu mendengar laporan tentang kota Sam kwan yang
diserang dan dibumi-hanguskan oleh pasukan rakyat,
panglima besar Torgun marah. Dia mengirim sebuah
pasukan yang besar. Kali ini Totay tidak disuruh
memimpin, melainkan diserahkan kepada Li Hong, seorang
jenderal pasukan Beng yang sudah takluk kepada Ceng.
Tetapi seperti telah manjadi kebiasaan, walaupun sudah
menakluk dan banyak berbuat jasa dalam peperangan
namun kerajaan Ceng tetap tak dapat memberi kepercayaan
seratus persen kepada jenderal pasukan Beng. Oleh karena
itu setiap pasukan selalu didampingi oleh perwira suku
Boan.
Tuka, perwira suku Boan, khusus ditugaskan untuk
mendampingi jenderal Li Hong. Karena kota Sam-kwan
ditinggalkan oleh lasykar rakyat maka dengan mudah kota
itu diduduki lagi oleh pasukan Ceng.
Waktu menerima laporan tentang prajurit penjaga pintu
kota yang diamuk oleh dua orang tak terkenal, Tuka segera
mempersiapkan barisan berkuda untuk mencari jejak orang
itu. Dia duga kedua orang itu tentulah anggauta barisan
rakyat yang menyerang pasukan Ceng. Maka betapalah
kejutnya ketika melihat orang yang mampu mengobrakabrik
prajurit2 penjaga pintu kota itu tak lebih hanya dua
gelintir manusia yang nyentrik. Tuka melongo.
"Pak komandan, memang itulah orangnya," kata prajurit
pula ketika melihat komandan pasukan berkuda terlongonglongong.
"O, apakah itu bukan tukang sulap yang sering ngamen
d' pinggir jalan ?" tanya Tuka.
"Bukan, pak komandan. Anak yang rambutnya kuncung
itulah yang menelikung tanganku," kata prajurit itu pula.
"Itu ? Itu kan bayi kemarin sore ?" teriak Tuka.
"Tidak pak. Dia bukan bayi, dia setan cilik! yang ganas,”
untuk meyakinkan kepercayaan komandan barisan berkuda,
prajurit itu terus maju ke depan meja Huru Hara dan Ah
Liong, lalu menuding, "hai, setan cilik, serahkan durimu
kuikat 1"
"Mengapa ?" seru Ah Liong.
"Ho, masih berlagak pilon ya ? Bukankah engkau telah
melukai aku dan kawan-kawanku?”
"Ah, masa ? Aku kan seorang bayi kemarin sore, mana
mampu berkelahi dengan prajurit2 kekar seperti kalian."
"Hm, berani menyangkal kamu ?"
"Tidak," sahut Ah Liong, "coba engkau tanya pada pak
jagal, itu, benar tidak aku ini seorang bayi kemarin sore!" —
dia menunjuk pada Tuka. Karena orang Boan itu bertubuh
tinggi besar dan brewok maka Ah Liong mengatakan dia
seorang jagal atau tukang potong kerbau.
"Bangsat, siapa yang engkau sebut jagal itu?"
"Itu sih," kata Ah Liong sembari menuding Tuka.
"Aduh mati aku," keluh prajurit dalam hati, kemudian
memaki, "bangsat cilik, dia bukan jagal, dia adalah
komandanku!"
"Itu urusanmu sendiri," sahut Ah Liong, 'tetapi bagiku
dia memang pantas menjadi seorang jagal.”
"Mampus engkau, bangsat!" prajurit itu terus maju
menghantam tetapi Ah Liong cepat menyelinap ke belakang
dan terus mencekik tengkuk orang.
Tuka terkejut. Ia tak menyangka kalau anak sekecil itu
mampu meringkus seorang prajurit sampai tak dapat
berkutik. Sebagaimana watak orang Boan, Tuka juga suka
pada orang yang bertenaga kuat dan berilmu tinggi.
"Hai, budak kecil, apakah engkau mampu lemparkan
tubuh prajurit itu?" serunya. Sudah itu sekalian prajurit
berkuda terkejut. Lebih-lebih prajurit itu sendiri. Mengapa
bukannya menolong malah suruh anak itu melemparkan
prajurit itu. Prajurit2 itu tak tahu bahwa Tuka memang
hendak menjajal tenaga Ah Liong. Dia tak percaya anak
sekecil itu mampu mengangkat dan melemparkan tubuh si
prajurit. Itulah sebabnya dia berani menyuruhnya.
Tetapi Tuka memang tak tahu bahwa Ah Liong memiliki
tenaga kuat. Diapun tentu tak pernah menduga bahwa sejak
kecil, Ah Liong sudah disuruh menggendong anak kerbau
sampai ke telaga. Bertahun-tahun hal itu dilakukan Ah
Liong, sejak kerbau bule itu masih kecil sampai sudah
sebesar anak gajah. Karena tiap pagi mengangkat si Bule,
tanpa terasa Ah Liong tetap kuat mengangkatnya walaupun
kerbau itu sudah besar.
Sebesar-besar manusia tentu lebih berat seekor kerbau.
Apalagi prajurit itu bertubuh kurusi Dengan mudah Ah
Liong mengangkat tubuh prajurit itu lalu dilemparkan
kearah prajurit2 berkuda.
Uhhhhh ... , . gemparlah prajurit2 itu ketika menyambuti
tubuh kawannya. Dua tiga prajurit beramai-ramai
menyanggapi sehingga prajurit itu tak sampai menderita
luka.
Tuka terperangah. Benar2 dia tak pernah menyangka
bahwa seorang bocah kecil yang berambut kuncung mampu
melemparkan tubuh seorang prajurit. Namun apa yang itu
memang suatu kenyataan.
"Eh, engkau ini anak manusia atau anak setan ?"
akhirnya ia menegur.
"Anak setan," sahut Ah Liong
"Jangan kurang ajar," bentak Tuka.
"Aku tidak kurang ajar. Nenekku cukup mengajar aku."
"Mana ada anak setan," gumam Tuka.
"Kalau tahu tidak ada setan mengapa engkau bertanya
apakah aku ini anak setan ?" batas Ah Liong.
"Karena kalau anak manusia, tak mungkin bocah sekecil
engkau mampu mengangkat dan melemparkan seorang
prajurit."
"Jangankan hanya prajurit, kudapun aku dapat
melemparkan. Tak percaya ? Coba saja berikan kudamu itu
kepadaku, nanti tentu akan kulermparkan !"
Tiba2 Tuka mendapat akal. Dia hendak memberi sedikit
hajaran kepada Ah Long, "Biar bocah kuncung ini tidak
terlalu kemlinti," pikirnya.
Ia tahu bahwa kudanya itu seekor binatang yang kuat
dan mempunyai naluri tajam. Begitu dipegang lain orang
tentu akan melonjak dan menyepak.
"Baik," kata Tuka, "kalau mampu melemparkan kudaku,
engkau benar2 seorang anak ajaib."
"Tidak!" seru Ah Liong, "tidak mau!"
"Lho, kenapa?"
"Percuma saja aku mengangkatnya kalau hanya
mendapat hadiah pujian sebagai anak ajaibi Pujian itu tak
berguna. Dipuji atau tidak, aku tetap begini. Apa manfaat
pujian itu kepada diriku?”
"Lalu bagaimana maksudmu?" tanya Tuka. Entah
bagaimana karena melihat seorang boca kuncung yang
kemaki dan pandai bicara, tanpa disadari Tuka, pemimpin
barisan berkuda dari pasukan Ceng, tertarik dan terhanyut
dalam pembicaraan yang panjang.
"Engkau harus berikan kuda itu kepadaku,” kata Ah
Liong.
"Kalau engkau gagal?"
"Engkau boleh menghajar aku sampai 50 kali rangketan,
setuju?"
Malu hati Tuka karena ditantang oleh seorang anak
kecil, "Baik, aku setuju," akhirnya ia menerima tantangan
itu.
Tuka turun dari kuda dan membiarkan kuda itu berdiri di
tengah gelanggang. Ah Liong segera menghampiri.
"Ah Liong, jangan diangkat, kuda itu akan menyepakmu
nanti," Huru Hara cepat mencegah.
"Habis bagaimana caraku mengangkatnya?!
"Engkau tak diharuskan mengangkat melainkan cukup
engkau lemparkan saja,” Huru Hara memberi kicupan
mata.
Ah Long memang cerdas. Ia tahu apa yang diisyaratkan
Huru Hara. Maka diapun maju menghampiri kuda. Dia tak
langsurg mengangkat kuda yang jauh lebih tinggi dari
kepalanya. Melainkan berputar-putar mengelilingi binatang
itu seperti orang yang tengah meneliti.
Kuda itu seekor kuda tegar berbulu hitam mengkilap.
Berasal dari daerah Sia-kiang yang terkenal mengeluarkan
kuda pilihan. Benar2 seekor kuda perang yang gagah
perkasa. Tampaknya kuda itu terlatih baik sekali. Dia diam
saja dan hanya melirik pada si kuncung Ah Liong.
"Eh, mengapa kiyer2? Mau main mata sama gua, ya?"
tiba2 Ah Liong berhenti di samping kuda, tepat di sisi
kepala kuda itu.
Memang entah karena kena angin, atau mungkin
tertimpa sinar matahari, atau mungkin memang hendak
mengejek, kuda hitam itu memicing-micingkan matanya
kepada Ah Liong.
"Eh, tertawa nyengir!" teriak Ah Liong pula ketika kuda
itu menyeringai menampakkan giginya, "lu gila, ya? Lu kira
gua ini pacar lu rnalu hendak ajak main mata dan main
senyum!"
"Ha, ha, ha. haaaa.....," terdengar gelak tawa riuh dari
kawanan prajurit Ceng ketika menyaksikan adegan lucu
antara seorang anak berambut kuncung dengan kuda hitam
milik pemimpin mereka.
"Jangan2 anak itu gila," seru salah seorang prajurit.
"Atau dia memang bukan anak manusia !"
"Benar, kemungkinan dia anak setan."
Demikian riuh rendah prajurit2 itu memberi komentar
kepada Ah Liong. Tetapi ada juga yang berkata. "Anak
kambing tak takut harimau.! Pepatah itu tepat sekali. Lihat,
bocah itu seorangl bocah gunung yang belum pernah terjun
ke masyarakat ramai. Masakan dia berani menantang pada
komandan kita . . . . "
'"Eh, lu setan hitam," seru Ah Liong pula tanpa
mengacuhkan segala omongan kawanan prajurit,
"mentang2 lu bertubuh tegap dan perkasa, ya. Apa lu kira
gua tak mampu melempar tubuh lu ? Hm, jangankan
melempar, mencabut alis mata lu pun aku sanggup. Tak
percaya ? Boleh, boleh, buktikan sendiri ... ."
Tiba2 Ah Liong mengeluarkan sepasang sumpit.
Sebelum kuda itu sempat bergerak tiba2 Ahi Liong sudah
menusukkan supit ke mata kuda hitam lalu ditarik kembali,
"Nah, inilah bulu mata lu.,."
Kuda itu meringkik dan mengangkat sebelah kaki
depannya untuk menggaruk-garuk matanya. Perih lhooo ....
kalau bulumata dicabut dengan supit. Sekalipun kuda juga
punya perasaan sakit.
“Cukup, aku, kasihan padamu, hitam. Ah, perlu apa
engkau ikut pada majikan yang begitu kejam ?" Ah Liong
mengoceh lagi. Kali ini dia hendak memaki-maki Tuka,
perwira Boan itu, "kan lebih enak engkau bebas di
pegunungan, bisa cari rumput yang subur dan minum air di
telaga yang bening. Perlu apa engkau ikut pada majikanmu
? Engkau dijadikan tunggangan, diajak perang. Kalau
menang, siapa yang dapat pangkat ? Apa engkau ? Huh,
tentu majikanmu....."
"Tetapi kalau engkau mati. jangankan jasamu
diperingati, bahkan bangkaimupun ditinggal begitu saja,
tidak dikubur. Apa engkau anggap majikan begitu itu
majikan yang baik ?" Ah Liong nerocos terus.
'"Hai, kuncung, siapa yang engkau maki2 itu?” tiba2
Tuka berteriak karena merasa dirinya disemprot habishabisan.
"Aku sedang bicara dengan kuda hitam ini. Aku tidak
memaki siapa2," sahut Ah Liong. Kemudian dia
melanjutkan berkata pula kepada kuda bulu hitam, "ikut
aku saja, ya ? Aku tidak mau memperbudak engkau. Akan
kulepaskan kau di padang rumput. Sungguh! Aku kan
punya kaki sendri, per'u apa harus menaiki engkau? Dan
jangan kuatir, hitam. Nanti akan kubelikan baju dan celana
untukmu. Memang majikanmu itu manusia cabul Dia
sendiri pakai baju dan celana yang indah tetapi engkau?
Sudah dibuat tunggangan, diajak maju perang, celana saja
tidak diberi. Macam manusia apa itu!"
Terdengar gelak tawa yang makin riuh dari kawanan
prajurit yang mulas perutnya karena geli mendengar ocehan
Ah Liong.
"Hai, kuncung, jangan mengoceh tak keruan seperti
orang kemasukan setan! Masakan kuda engkau ajak bicara,"
teriak Tuka, “hayo lekas angkat dan lemparkan kudaku
itu!"
'"Jangan kuatir, pak jagal, aku tentu dapat melemparkan
kudamu," teriak Ah Liong. Dia mendekati kuda hitam itu
dan berbisik-bisik, "Hitam, jangan kuatir, aku takkan
menyakiti engkau. Harap engkau diam dan nurut saja, ya
.... "
-oodwoo-
Jilid 14
Dibawah curahan berpuluh mata yang mengikuti gerakgeriknya,
si kuncung Ah Liong berjalan mengisar ke
belakang kuda itu. Sebenarnya ia hendak menarik ekor
kuda itu sekuat-kuatnya. Dengan memasang tubuhnya
sebagai tonggak penahan badan kuda, apabila dia menarik
ekor, tentulah kuda itu dapat dilemparkan ke belakang.
"Tetapi ah, dia tentu kesakitan," Ah Liong merasa
kasihan, "namun kalau kuangkat tubuhnya, kemungkinan
kuda itu tentu akan meronta dan menyepak aku. Hm, lalu
bagaimana, ya?"
Masih bocah kuncung itu mondar-mandir mengelilingi
kuda. Huru Hara tahu kesulitan- anak itu. Ingin ia
membantunya tetapi ia tak tahu bagaimana caranya.
Tiba2 ia teringat akan si Bule. Kerbau itu besar dan berat
sekali namun ia masih dapat mengangkatnya. Dan cara
mengangkatnya karena kedua tangannya tak sampai untuk
merangkul tubuh, kerbau itu maka dia pakai akal. Dia
menyelundup kebawah perut si Bule lalu gunakan kepala
dan kedua tangan untak mengangkat binatang itu.1
"Benar, mengapa tak kugunakan cara itu juga untuk
mengangkat kuda ini?" pikirnya. Tetapi pada lain kilat ia
membantah sendiri, "itu si Bule. Dia menurut saja. Tetapi
kalau kuda hitam! itu? Dia tentu melonjak-lonjak!"
Ah Liong menarik-narik rambut kuncung seraya
bergumam, "Hayo, jangan tidur saja. Keluarkanlah akalmu
. . . . "
Sekalian prajurit terlongong-longong melihat tingkah
laku Ah Liong yang serba aneh. Dengan siapa dia bicara
itu?
"Barangkali anak itu memang gila!" seru salah seorang
prajurit.
"Anak setan sih!"
"Tetapi rupanya dia menarik-narik kuncungnya itu
supaya dapat mengeluarkan pikiran."
''O, maksudmu dia hendak menarik supaya otaknya
bekerja?"
"Mungkin."
"Ha, ha, benar, benar, rambutnya itu tentu ada hubungan
dengan otaknya."
"Atau memang otaknya tumbuh rambut, *
"Ha, ha, haaaa . , .."'
Demikian oceh dan gelak kawanan prajurit ketika
melihat Ah Liong menarik-narik kuncungnya.
"Hm, agaknya Ah Liong ini hendak menyaingi
keblo'onanku. Hm, tunggu saja besok kalau aku sudah tidak
menjadi pendekar Huru Hara," diam2 Huru Hara
menggerutu dalam hati.
Tiba2 Ah Liong berhenti menarik rambutnya dan lalu
bersuit nyaring. Kawanan prajurit terkejut ketika melihat
dari arah belakang muncul seekor kerbau bule yang terus
menerjang masuk. Terpaksa prajurit2 itu menyiak ke
samping memberi jalan.
Demi melihat seekor kerbau putih lari mendatangi, kuda
hitam itu meringkik keras dan mengangkat kedua kakidepannya
keatas. Kesempatan itu tak disia-siakan Ah
Liong. Serentak dia meyusup ke bawah perut kuda lalu
mendorong kuda itu sekuat-kuatnya.....
"Hai.... !" terdengar pekik yang gegap dari mulut para
prajurit berkuda ketika menyaksikan kuda hitam itu
terlempar sampai satu tombak ke belakang,
"Hai, Bule, menaapa engkau kemari ? Hayo Iekas
minggir lagi,' Ah Liong membentak si Bule. seperti mengerti
bahasa manusia, kerbau bule itupun lari keluar gelanggang
lagi.
"Bagaimana, bukankah aku mampu rnelemparkan
kudamu?" seru Ah Liong kepada Tuka.
Sebelum Tuka menjawab tiba2 tetdengar derap kuda.
Seoiang prajurit berkuda sedang melarikan kudanya menuju
ke arah Kedai. Dan cepat sekali prajurit berkuda itu tiba,
loncat dari kudanya dan berlari-lari menghampiri Tuka.
'"Komandan, kami diutus Li ciangkun untuk
menyerahkan surat kepada komaidan," kata prajurit itu,
seraya menghaturkan sepucuk surat.
Waktu menyambuti dan melihat sampulnya Tuka
terkejut dan buru2 membukanya. Komandan itu kerutkan
dahi sehabis membaca. Anuak-buahnya terkejut tetapi tak
ada yang berani bertanya.
"Ah, tidak apa2,"' kata Tuka yang rupanya tahu pandang
tanya dari anakbuahnya, '"hanya ada pemberitahuan dari
kolonel Totay."
Tuka memandang Huru Hara dengan tajam Sejenak
kemudian ia mengangguk, "Bukankah da beberapa hari
yang lalu pernah mengunjungi kolonel Totay di kota Samkwan
?" tanyanya saat kemudian.
"Ya," sahut Huru Hara.
"Jika demikian, silakan anda ikut kami." Huru Hara
terkejut,
"Mengapa ?"
“Kami akan menjamu anda."
"Menjamu aku ? “Kenapa?”
"Kolonel Totay merasa berhutang budi kepada anda dan
hendak membalas kebaikan anda.”
''Oh, tetapi aku sudah bilang kepadanya. Karena dia
menghargai aku maka akupun balas menghargai dia. Tetapi
setelah peristiwa itu selesai kita akan berhadapan sebagai
musuh."
"Itu kata anda," kata Tuka. “tetapi kami orang Boan
harus tahu membalas budi. Anda harus ikut kami kedalam
markas, agar kami dapat melaksanakan perintah kolonel
Totay untuk menjamu anda."
"Tidak, aku masih ada urusan lain."
"Benar, engkoh Hok. Jangan mau ikut dengan tukang
jagal itu, Dia seorang manusia yang tak pegang janji.
"Eh, buduk kecil, siapa bilang aku tak pegang janji ?
Kalau engkau menghendaki, ambillah kuda hitam itu."
"Benar ?"
''Sudah tentu sungguh," jawab Tuka, "selain itu nanti
engkau boleh minta apa lagi. Yang jelas engkau dan
engkohmu akan kami undang masuk ke kota untuk kami
jamu!"
"Tidak, tidak!" teriak Ah Liong, mana ada orang makan
gratis? Aku tak punya uang untuk membayar hidanganmu.”
Tuka geleng2 kepala dan tertawa, “Jangan kuatir, anak
kecil, kami takkan minta bayaran ikan ayam, babi, sapi,
semua ada.”
Sekalian piamrit berkuda terlongong-longong melihat
perobahan sikap yang mendadak dari pemimpin mereka
terhadap kedua orang itu, Lebih2 ketika Tuka dengan sikap
hormat dan ramah hendak mengundang kedua orang itu
masuk kota dan dijamu. Siapakah kedua manusia nyentrik
itu. Mengapa Tuka begitu mengindahkan sekali kepada
mereka ? Pikir kawanan prajurit berkuda itu.
Mendengar hidangan berbagai ikan itu. Ah Liong ngiler
atau menitikkan air liur. Ia memandang pada Huru Hara.
Saat itu Huru Hara sedang menimang-nimang. Jika ia
menerima undangan mereka, kemungkinat besar tentu akan
terjadi peristiwa seperti beberapa hari yang lalu apabila
lasykar rakyat nanti malam akan melakukan penyerangan.
Dengan demikian segala alasan dan keterangan tak
mungkin akan diterima oleh lasykar rakyat apabila ia
mengatakan bahwa dia bukan seorang penghianat yang
berhamba pada kerajaan Ceng.
Namun ketika ia melirik kepada Ah Liong dilihatnya
mata anak itu seperti meminta dia mau menerima
undangan, "Ah, si kuncung tentu sudah lapar. Pada hal
kedai ini tidak menyediakar makanan. Aku sebaga seorang
engkoh harus memikirkan kesehatan adik, pikirnya."
"Tetapi," katanya dalam hati sesaat kemudian, "soal
makan sih gampang, kalau perlu tidak makan, cukup
minum air saja. Biar dia dilatih tahan lapar."
Selelah mendapat keputusan itu, ia deliki mata kepada
Ah Liong sehingga Ah Liong ketakutan dan menunduk.
Rupanya permainan mata antara Huru Hara dengan Ah
Liong itu dapat diketahui Tuka. Dia tertawa, "Bagaimana,
engkoh kecil, bukankah engkau belum makan?"
"Tetapi . . . , " Ah Liong tak melanjutkan kata-katanya
dan hanya melontar lirikan mata sebentar kearah Huru
Hara.
"Ah, engkohmu tentu setuju saja. Ini adalah perintah
atasanku. Kalian setuju atau tidak, terpaksa aku harus
melaksanakan."
"Maksudmu engkau hendak memaksa?" tanya Ah Liong.
"Terpaksa begitu. Daripada harus berkelahi melawan
berpuluh-puluh prajurit berkuda yang bersenjata lengkap,
bukankah lebih enak kalau kalian menerima undanganku?
Percayalah, aku tak bermaksud buruk melainkan hanya
ingin menjamu. Habis itu, terserah kalian hendak pergi
kemana saja, kami takkan mengganggu.”'
Huru Hara terkejut. Ia menyadari apa yang dihadapinya
saat itu. Jelas Tuka kukuh hendak melakukan perintah
atasannya. Kalau ia menolak, tentu akan dipaksa dengan
kekerasan.
"Ya, benar," akhirnya ia menimbang, "kasihan si
kuncung. Sejak pagi tadi dia belum makan. Toh setelah
habis makan, nanti aku dapat berangkat lagi. Tak perlu
menginap agar jangan sampai terhalang oleh serangan
lasykar rakyat."
"Jika memang begitu, agar engkau tidak mendapat
kesalahan dari atasanmu, aku bersedia memenuhi
undanganmu," katanya kepada Tuka.
Begitulah Huru Hara dan Ah Liong segera dibawa
masuk kedalam kota. Sebelumnya juga terjadi peristiwa
kecil. Tuka memerintahkan anakbuahnya untuk
menyerahkan kuda kepada Huru Hara supaya dipakai.
Tetapi Ah Liong yang menolak, "Tidak, aku sudah berjanji
pada kuda hitam tadi kalau tak mau menaiki kuda."
"Lalu kalian naik apa?" tanya Tuka.
"Aku punya tunggangan sendiri," kata Ah Liong lalu
bersuit. Kerbau bule berlari-lari mendatangi. Ah Liong
mengajak Huru Hara naik kerbau bule itu.
Prajurit2 berkuda termasuk Tuka, diam2 geli melihat
tingkah laku kedua manusia aneh itu.
Memang apa yang dijanjikan Tuka, ternyata sungguh.
Malam itu Huru Hara dan Ah Liong dijamu besar-besaran.
Bocah kuncung itu makan dengan lahap sekali, bahkan
diapun berani minum anggur. Dikata anggur tetapi juga
mengandung alkohol ( arak ) . Memang bermula rasanya
manis dan lezat tetapi kalau terlalu banyak dapat membuat
kepala pusing juga.
Melihat bahwa Tuka juga ikut makan dan minum maka
Huru Harapun tidak curiga dan membiarkan Ah Liong
minum. Biarlah anak itu mencicipi rasanya anggur,
pikirnya. Pada hal dia sendiri juga tak tahu tentang jenis
anggur yang dapat memabokkan.
"Terima kasih, komandan," kata Huru Hara, "kiranya
sudah cukup anda memberi sambutan yang baik kepada
kami. Maaf, kami hendak melanjutkan perjalanan lagi."
"Kemana?" tanya Tuka.
"Mencari markas lasykar rakyat yang beberapa hari yang
lalu menyerang kota ini."
"O, tuan hendak mengobrak-abrik mereka?" tanya Tuka
yang mengira bahwa setelah disambut dengan penuh
kehormatan, tentulah Huru Hara akan berfihak kepada
pasukan Ceng.
"Bukan," sahut Huru Hara, "mereka berjuang membela
negara. Aku takkan memusuhi mereka."
"Lalu apa maksud anda mencari mereka?"
"Aku hendak minta pamanku yang ditawan mereka.”
"O, apakah anda perlu bantuan? Aku akan menyediakan
pasukan untuk menyertai anda kesana."
"Tak perlu," jawab Huru Hara, "kukira aku sendiri dapat
mengatasi hal itu."
"Tetapi saat ini sudah malam. Apakah tidak lebih baik
besok pagi saja anda berangkat. Malam ini anda boleh
bermalam di markas kami."
"Terima kasih, tetapi kurasa kalau malam ini, tentu
dapat bertemu dengan mereka."
"Maksud anda, karena mereka biasa keluar menyerang
musuh pada malam hari?"
Huru Hara mengiakan.
"Tetapi kali ini kurasa tidak," kata Tuka dengan nada
yakin, "karena lima li keliling kota ini, telah kami jaga
dengan pasukan yang kuat,. Kalau mereka berani
menyerang, tentu sebelum masuk kota sudah dihancurkan."
"Hm, tetapi aku tetap hendak berangkat …..” eh, Ah
Liong, mengapa engkau .... " tiba2 Huru Hara hentikan
kata-katanya karena melihat Ah Liong meletakkan
kepalanya ke meja. Cepat dia menggo!ek-golekkan tubuh
anak itu, "Ah Liong kenapa engkau? . . . Ah Liong,
bangunlah ............. “ Tetapi Ah Liong tak menyahut
bahkan malah mendengkur. Dia tertidur pulas sekali.
Serentak Huru Hara kerutkan dahi, "Mengapa anak ini ?"
serunya seraya menikamkan pandang mata tajam2 kepada
Tuka.
"O, mungidn dia pening kepalanya," sahut Tuka,
"memang kalau tak biasa minum arak, minum anggur yang
tak sekeras arak, juga dapat mabuk. Bukankah kita juga
tidak mabuk ?'*
Huru Hara mengangguk, pikirnya, "Wah, anak ini
memang merepotkan....." tetapi ketika pandang matanya
tertumbuk pada. wajah Ah Liong yang polos kekanakkanakan,
ibalah hati Huru Hara. Dia teringat bahwa dulu
diapun pernah jadi anak kecil. Dia merasa lebih baik
nasibnya dari Ah Liong. Dia masih mempunyai seorang
ayah tetapi Ah Liong tidak. Ah Liong hidup bersama
seorang nenek yang bukan neneknya sendiri. Dan lagi
nenek itu amat bengis. Salah sedikit saja, kepala Ah Liong
tentu digebuk.
"Kurasa anda tentu tak keberatan memenuhi
permintaanku supaya bermalam saja disini. Akulah yang
menjamin keselamatan anda berdua," Tuka menyusuli katakatanya.
Kasihan akan Ah Liong, Huru hara terpaksa menerima
permintaan Tuka. Demikian Huru Hara dengan
membopong Ah L ong segera diantar ke sebuah bangunan
yang menyerupai sebuah paviliun, terletak di belakang
markas tentara Ceng yang semula merupakan gedung tihu
atau residen kota Sam-kwan.
Ah Liong masih tidur pulas di pembaringan tetapi Huru
Hara tetap duduk bersemedhi. Betapapun dia tetap tak sreg
tidur di markas tentara Ceng.
"Bagaimana kalau nanti lasykar rakyat benar2
menyerang kota?" pikirnya. Satelah menimang-nimang
beberapa waktu, ia memutuskan. Apabila lasykar rakyat
menyerang kota, dia akan membawa Ah Liong lari
tinggalkan kota itu agar jangan sampai kesampokan dengan
mereka.
Setelah soal itu dapat dipecahkan, pikirannya masih
melayang pada sikap Tuka. Ia heran mengapa Li Hang,
panglima yang memimpin pasukan Ceng tak tampak di
gedung itu. Mengapa yang berkuasa seoiah-olah hanya
Tuka saja ?"
Malam itu sunyi sekali. Tak berapa lama ia mendengar
suara terompet berbunyi. Ah, mungkin pertandaan waktu
bagi anak tentara di markas ini, pikirnya.
Pada saat dia akan mencapai keheningan cipta, tiba2 ia
mendengar suara debur langkah orang berjalan. Makin
lama makin terdengar jelas. Langkahnya ringan dan menuju
ke kamar Huru Hara. Tiba di muka pintu, langkah itu
berhenti dan sebagai gantinya terdengar suara pintu diketuk
pelahan.
"Siapa !" tegur Huru Hara.
"Hamba, pelayan."
Huru Hara agak berkurang tegangnya, Suatra itu jelas
diri seorang perempuan. Dia segera turun dari pembaringan
dan membuka pintu.
Seorang pelayan yang masih remaja dan cantik tampak
tegak di muka pintu dengan membawa penampan, "Maaf,
hohan, hamba diperintahkan komandan untuk
mengantarkan minuman teh dan buah."
"O,"
"Apakah hohan mengidinkan hamba masuk menaruh
penampan ini di meja ?" tanya pelayan cantik itu.
"O, boleh." kata Blo'on seraya menyisih ke lamping.
Tiba2 ia mendapat pikiran untuk mencari keterangan dari
mulut pelayan muda itu.
"Engkau orang Han, bukan ?" tanyanya,
"Ya."
"Siapa namamu ?”
"Panggil saja Ah Kiok."
"Sudah lama engkau bekerja disini ?"
Ah Kiok menunduk dan berkata dengan suara sember,
"Waktu kota ini diserang pasukan Ceng penduduk kalang
kabut melarikan diri. Himba terpisah dari orangtua hamba
dan ditangkap oleh prajurit Ceng. Mereka kasar dan buas,
untung datlang pak komandan yang kasihan kepada hamba
dan suruh hamba bekerja di markas ini sebagai pelayan."
Huru Hara mengangguk-angguk. "Karena perang maka
seorang dara yang jelita terpisah dari orangtua dan menjadi
pelayan di markas musuh. Karena perang, rakyat
kehilangan jiwa dan harta benda. Mengapa harus perang ?
Hm, orang Boanlah yang menjadi biangkeladi kesengsaraan
rakyat ini. Karena mereka menyerang kerajaan Beng maka
negara kacau, rakyat menderita," pikir Huru Hara.
"Salah siapa ?" ia bertanya sendiri, "mengapa negara
kacau dan rakyat sengsara ? Mengapa! Ah Kiok sampai
kehilangan orangtuanya ? Ya, memang benar, itulah gara2
bangsa Boan yang hendak menguasai negara kita. Tetapi
mengapa mereka mampu menduduki kerajaan ini ? . ....
Tuha, salah kita sendiri, orang kerajaan Beng. Karena raja
selalu bermanja diri dalam kesenangan dan hanya
mendengarkan omongan mentri2 dorna, maka
pemerintahan tak diurus lagi. Mentri2 rakus dan korup
sibuk memperkaya diri. Jenderal2 berebut pengaruh dan
kekuasaan. Suap, sogok dan tindakan sewenang-wenang
menyimpang dari hukum, sudah merajalela. Akibatnya
negara !emah dan mudah dikalahkan orang Boan . . ,."
"Orang Boan memang salah tetapi yang paling salah
adalah kerajaan Beng sendirl yang tak becus mengurus
negara. Jadi jelas, yang menyebabkan rakyat sengsara ini
adalah kerajaan Ceng dan kerajaan Beng sendiri. Hm, jika
demikian, aku harus memberantas keduanya !
"Hohan, apakah hohan tidak suka minum ? Teh wangi
ini dapat menyegarkan semangat. Idinkanlah hamba
menuangkan untuk hohan," kata Ah Kiok seraya membuka
kain penutup penampan. Sebuah porong atau teko yang
bersalut emas dan dua buah cawan, Disamping terdapat
buah semangka dan kwaci.
Huru Hara menerima cawan yang dipersembahkan
pelayan cantik Ah Kiok dan meneguknya. Teh itu memang
harum sekali. Kemudian dengan sikap menghormat. Ah
Kiok menghaturkan seiris buah semangka. Terpaksa Huru
Hara memakannya.
"Ah Kiok', siapakah panglima pasukan Ceng di markas
ini?" tanya Huru Hara sembari memakan semangka.
"Li Hong ciangkun."
"Mengapa dia tak kelihatan ?"
"Dia sedang di ruang peribadinya."
"O, apakah dia tak suka keiuar ?"
"Jarang."
' Apakah dia sibuk sekali ?"
"Tidak."
"Lalu apa kerjanya ?"
"Minum arak dan dikerumuni.gadis2 cantik."
“O. begitulah kerjanya ?"
"Tiap malam."
"Ah," Huru Hara mendesuh, "mengapa jenderal
semacam itu dipakai orang Boan ?"
"Justeru orang2 semacam itulah yang disenangi orang
Boan."
"Ih, engkau aneh. Apa maksudmu ?"
"Begini hohan," Ah Kiok melontarkan sebuah senyum
yang menikam hati kepada Huru Hara, "kerajaan Ceng
hendak menggunakan tenaga jenderal Beng yang mau
berhamba kepada Ceng. Tetapi kerajaan Ceng tak dapat
mempercayai seratus persen kepada jenderal2 yang
berhamba kepada mereka. Oleh karena itu mereka
menyediakan hiburan, arak dan wanita, untuk meninabobokkan
jenderal2 Beng itu. Sepintas, tindakan itu seperti
suatu penghargaan kerajaan Ceng kepada mereka tetapi
sesungguhnya kerajaan Ceng memang sengaja hendak
membius semangat dan menghancurkan jiwa jenderal2 itu."
'"O, wanita2 cantik yang mengerumuni panglima Li
Hong itu memang khusus fihak Ceng yang menyediakan ?"
tanya Huru Hara.
"Ya."
Huru Hara mengangguk. Kini dia baru mengerti
mengapa Li Hong tak pernah kelihatan dan kekuasaan
pasukan seolah di tangan Tuka, semua.
"Tetapi dari mana saja orang Ceng dapatkan gadis2
cantik itu ?"
"Mereka menghubungi Hong-hian-hoa."
"Apa itu Hong-hian-hoa ?"
“Hong-hian-hoa artinya Bunga Persembahan, Sebuah
badan yang menghimpun gadis2 dan wanita yang sedia
menjadi bunga persembahan.”
"Apa maksud 'bunga persembahan' itu ?" tanya Huru
Hara pula.
"Sudah umum terjadi dalam peperangan. Fihak yang
menang tentu akan menikmati kemenangannya. Merampas
harta- benda rakyat, menindas kaum lelaki dan merusak
kaum wanitanya, Demikian yang terjadi dalam peperangan
sekarang. Setiap menduduk kota, prajurit2 Ceng tentu
berpesta pora memuaskan nafsu kesenangannya."
"Entah kapan dan dimana, muncullah sebuah
perkumpulan yang menamakan diri sebagai Hong-hian-hoa.
Hong-hian-hoa selalu menawarkan bantuan kepada tentara
pendudukan, untuk menyediakan gadis2 cantik sebagai
hiburan."
"Hm, terkutuklah Hong-hian-hoa!" seru Huru Hara.
"Mengapa ?"
"Karena mereka telah mengorbankan gadis-gadis yang
tak berdosa"
"Tidak," bantah Ah Kiok," Hong-hian hoa tidak pernah
memaksa tetapi gadis2 itu sendiri yang dengan suka rela
menyerahkan diri."
"Engkau gila !" bentak Huru Hara, "tak mungkin gadis
yang baik mau berbuat begitu!"
Ah Kiok tertawa, "Apa ukuran baik yang menjadi
pegangan tuan ? Kesucian dan kehormatan diri ?"
"Tentu."
"Kesucian atau kehormatan diri itu hanya untuk
kepentingan peribadi. Agar dapat memperoleh jodoh yang
baik, terhormat dan berpangkat. Tetapi tiada kepentinganya
dengan rakyat banyak."
Huru Hara tertegun.
"Negara diserang musuh, peperangan berkecamuk
dimana-mana, rakyat menderita kesengsaraan dan
kelaparan, nasib bangsa diujung tanduk .... adakah orang
masih mementingkan tentang kesucian dan kehormasan diri
sendiri ? Setiap saat, setiap detik, akan jatuh korban gadis-2
terhormat, puteri orang berpangkat, siocia orang hartawan,
bahkan wanita2 yang menjadi isteri orang2 yang terhormat
dan berkuasa dalam kerajaan Beng, Prajurit2 musuh tak
membedakan antara gadis miskin dengan yang kaya, gadis
orang kecil dengan isteri orang berpangkat. Dimata mereka,
orang berpangkat, hartawan dan rakyat kecil, orang miskin,
sama saja. Sama2 orang taklukan yang boleh dijadikan apa
saja. Yang berbeda hanya soal wajah. Kalau wanita itu
cantik, tak peduli dia gadis orang miskin atau orang kaya,
rakyat kecil atau orang berpangkat, tentu akan diambilnya
..."
Huru Hara masih termangu mendengarkan.
"Menyadari akan hal itu maka timbullah per kumpulan
Hong-hian-hoa yang siap menyediakan wanita2 untuk
prajurit2 musuh. Wanita2 cantik itu tahu dan menyadari
apa yang akan terjadi pada diri mereka, namun mereka
tetap rela. Jika kaum lelaki dapat mengabdikan diri menjadi
pra jurit dan berperang melawan musuh, mengapa kaum
wanita tidak? Tetapi karena mereka kaum lemah, mereka
tidak dapat mengikuti jejak kaum lelaki tetapi memilih jalan
tersendiri."
Ah Kiok berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi, "Biar
masyarakat menganggap perbuatan itu hina, biar dunia
menuduh perbuatan itu melacur, biar kaum lelaki yang
pura-pura menjunjung kehormatan tetapi sesungguhnya
menginjak-injak kehormatan wanita, biar kaum wanita
yang menganggap dirinya suci akan tetapi hanya suci untuk
kepentingan diri peribadi, biar! Namun Hong-hian-hoa
tetap menempuh jalan dengan caranya tersendiri. Rela
mengorbankan diri dan kehormatannya, demi untuk
menyelamatkan sesama kaum wanita, agar jangan seluruh
wanita negara kita menjadi korban keganasan nafsu
prajurit2 Ceng yang sedang dimabuk kemenangan itu. Agar
rakyat dari kota dan daerah yang telah diduduki musuh itu
terhindar dari kekejaman mereka."
"Lho, bagaimana sampai begitu jauh tujuan yang hendak
dicapai Hong-hian-hoa itu?" Huru Hara heran.
"Ya," sahut Ah Kiok, "mereka pandai merayu pembesar2
tentara Ceng sehingga tidak jadi mengeluarkan peraturan
yang membuat rakyat sengsara. Bahkan mereka kan telah
banyak menolong pendekar2 yang tertangkap karena
memusuhi kerajaan Ceng sehingga tak sampai dihukum
mati. Apakah kesemuanya itu tidak bermanfaat bagi
kepentingan rakyat? Apakah hal itu bukan suatu
perjuangan? Apakah tindakan itu bukan suatu pengabdian
dan pengorbanan yang besar?"
Huru Hara mengangguk, "Ya, kalau memang begitu,
mereka juga harus dianggap sebagai pejuang. Memang
pejuang bukan hanya mereka yang berjuang di medan
perang. Pahlawanpun bukan hanya mereka yang berjasa
dalam peperangan, tapi pahlawan itu dapat terjadi dimanamana.
Pahlawan peri-kemanusiaan, pahlawan kebenaran,
pahlawan keadilan, pahlawan menyelamatkan rakyat
seperti yang dilakukan wanita2 Hong-hian-hoa itu."
"Terima kasih, hohan," kata Ah Kiok.
"Lho, mengapa engkau yang berterima kasih kepadaku?"
"Aku seorang wanita, idinkanlah aku mewakili kaum.
wanita Hong-hian-hoa itu untuk mengucapkan terima kasih
atas pujian tuan. Tetapi, ah....." Ah Kiok menghela napas.
"Mengapa?"
"Jarang terdapat orang yang mengerti seperti tuan. Pada
umumnya kaum lelaki tentu menghina tindakan Hong-hianhoa.
Lebih2 kaum wanita, tentu merasa jijik. Tetapi biarlah.
Memang Hong-hian-hoa sengaja bertindak begitu untuk
menghina kaum lelaki yang tiada berguna!"
"Lho, kenapa?"
“Coba hohan pikirkan," kata Ah Kiok, "siapa yang
bertanggung jawab akan keadaan ini sehingga wanita2
Hong-hian-hoa sampai nekad bertindak begitu?"
"Siapa?" balas Huru Hara.
"Siapa lagi kalau bukan kaum lelaki. Raja, mentri2
jenderal?, pembesar?, bukankah mereka kaum lelaki semua?
Tidakkah karena mereka tidak becus mengurus negara,
karena mementingkan diri untuk menumpuk harta dan
mencari kesenangan, sehingga negara lemah dan dapat
diserang musuh? Kalau wanita2 Hong-hian-hoa berbuat
begitu, tak lain dan tak bukan hanyalah merupakan
tindakan untuk menampar muka kaum lelaki itu. Mereka
memprotes dengan cara mereka tersendiri."
Huru Hara tertegun. Ia tak mengira bahwa dari mulut
seorang pelayan cantik akan muncul cerita tentang suatu
perkumpulan wanita yang menamakan diri Hong-hian-hoa
yang mempunyai tujuan sedemikian luas.
"Eh, mengapa engkau tahu begitu jelas seperti engkau ini
juga seorang anggauta dari Hong-hian-hoa?" tanya Huru
Hara.
"Aku mendapat keterangan dari beberapa wanita yang
berada di markas ini."
"Apakah mereka anggauta Hong-hian-hoa?"
"Ya."
“O. engkau maksudkan mereka yang tengah merayu Li
Hong itu?"
"Hohan tentu dapat menarik kesimpulan sendiri. Oleh
karena itu mereka sangat membenci manusia2 yang rela
merendahkan diri menjadi hamba kerajaan Ceng!" kata Ah
Kiok seraya memberi lirikan mata yang tajam kepada Huru
Hara.
Huru Hara ge!agapan. Ah Kiok segera menuangkan teh
lagi untuk Huru Hara. Beberapa saat kemudian Ah
Kiokpun mengundurkan diri. I
Seorang diri Huru Hara masih merenungkan keterangan
pelayan cantik itu. Masih terngiang-ngiang kata2 Ah Kiong
tadi kaum lelakilah yang menjadikan kesengsaraan……..
"Celaka, dia memaki habis-habisan pada orang laki, aku
tentu termasuk yang di-maki2 itu," Huru Hara bergeliatan
seperti cacing kepanasan.
"Raja, mentri, jenderal, pembesar2 yang serakah dan
goblok itulah yang menyebabkan aku dimaki-maki wanita2
Hong-hian-hoa. Ahhh, memang benar, wanita2 itu tidak
salah. Aku tak boleh marah kepada mereka. Yang salah
adalah kaumku sendiri. Manusia2 laki yang merusak negara
dan menyengsarakan rakyat itu harus dibasmi. Ya, tentu
akan kubasmi....."
Waktu mencapai perenungan itu. Huru Hara merasa
capek sekali. Capek otak, capek badan. Rasa capek itu
makin mencengkam dan akhirnya muncullah gejala baru,
ngantuk. Ya, ia merasa ngantuk sekali dan ingin tidur.
"Aneh, biasanya aku tidak begini," setitik pikiran sadar
yang masih tersisa dalam benaknya menimang-nimang,
"mengapa malam ini aku merasa lemas dan ngantuk sekali .
. . bluk . . . . " ada saat mengucapkan kata2 terakhir,
jatuhlah Huru Hara ke pembaringan. Dia tertidur lelap,
menyusul Ah Liong ke alam impian.
Malam makin sunyi. Entah berselang berapa la:na, tiba'2
terdengar langkah kaki orang menuju ke kamar Huru Hara.
Pintu yang tak sempat dikunci Huru Hara, pun segera
terbuka dan masuklah seorang gadis. Ah, ternyata Ah Kiok
si pelayan cantik tadi.
Dengan hati2, Ah Kiok menutup pintu lalu pelahanlahan
menghampiri ke tempat Huru Hara. Ia tegak berdiri
memandang Huru Hara yang terkulai pulas.
"Hm, sayang," gumam Ah Kiok, "seorang pemuda yang
tampan, mau berhamba pada orang Boan. Sebenarnya aku
tak sampai hati membunuhmu tetapi aku telah mengucap
sumpah dihadapan ketua bahwa aku tak boleh merasa
kasihan atau jatuh hati kepada pemuda yang menjadi budak
kerajaan Ceng . . . . "
Ah Kiok diam merenung.
Rupanya terjadi pertentangan
dalam batinnya. Wajahnya
tampak mengerut tegang.
Tetapi beberapa saat
kemudian dia tampak tenang
dan yakin.
"Tidak! Aku tak boleh
menuruti suara hati. Aku tak
boleh menghianati perjuangan
saudara2 dari Hong-hian-hoa
yang telah rela mengorbankan
jiwa dan kehormatannya. Aku
hanyalah sebutir pasir dari
bahan campuran yang akan
menjadi tembok pelindung
kaumku. Hohan. jangan
engkau salahkan aku dan
sukalah engkau beristirahat
dengan tenang di alam baka . .
. . "
Tiba2 Ah Kiok mencabut
belati dan terus diayunkan ke dada Huru Hara.
“Hai, main mata ya? Apa lu kira gua ini pacar lu . . . , "
tiba? terdengar suara melengking.
Ah Kiok terkejut dari menyurut mundur Ketika
berpaling dilihatnya Ah Liong sudah berdiri dan
menudingnya. Seketika gemetarlah Ah Kiok karena merasa
perbuatannya hendak membunuh Huru Hara telah
dipergoki anak laki yang diduganya tentu adik Huru Hara.
'"Lho, ngajak senyum? Uhh, engkau genit ya?" anak
kuncung itu maju menghampiri ke muka Ah K ong dan
menuding.
"Tidak, siauya ( tuan kecil ) , hamba tidak berbuat suatu
apa terhadap engkoh siauya …”. kata Ah Kiok seraya
berlutut.
"Mentang2 lu bertubuh gagah perkasa, Apa lu kira gua
tak mampu mengangkat tubuh lu?" Ah Liong masih
mengoceh.
"Tidak, siauya, hamba tidak membanggakah tubuh
hamba ini perkasa. Jangan siauya mengankat tubuh hamba
. . . . "
"Lho, masih main mata lagi?" teriak Ah Liong
"Tidak, siauya, tidak," kata Ah Kiok.
"Lu kira gua tak mampu mencabut bulu mata lu itu?"
tiba2 Ah Liong mencabut sepasang sumpit yang terselip di
pinggangnya dan sebelum Ah Kiok tahu apa yang akan
terjadi secepat kilat supit melayang dan aduhhhh.....Ah
Kiok menjerit kesakitan karena dua lembar bulu matanya
telah dicabut dengan supit oleh anak kuncung itu.
"Mengapa engkau sudi berhamba pada majikanmu. Dia
seorang majikan kejam. Engkau diajak perang, kalau
menang dia yang mendapat pangkat. Kalau kalah, dia tak
mau mengubur bangkaimu .. . Tuh, lihat, betapa kejam
majikanmu itu. Dia berpakaian tetapi engkau tak diberi
celana dan baju....."
"Ikut aku saja, ya ? Akan kulepas engkau ke alam bebas.
Akan kubelikan celana baru . . "habis berkata Ah Liong
bersuit lalu tiba tiba berputar tubuh dan naik ke.....ranjang
lagi dan tidur mendengkur.
Sudah tentu Ah kiok kaget setengah mati, ia
memberanikan diri menghampiri ke dekat ranjang dan
memang anak itu benar2 tidur mendengkur.
"Ah, anak itu hanya bermimpi dan mengingau," barulah
saat itu Ah Kiok tersandar. Ia teringat memang dulu punya
seorang bujang yang cering bermimpi begitu, yaitu bangun
dan berjalan-ja!an keluar lalu balik masuk ke kamar tidur
lagi.
"Setan cilik ini ada saja, sampai aku ketakutan setengah
mati tadi," gumamnya.
Setelah menenangkan hati, mulailah ia menghampiri
ranjang tempat Huru Hara terkulai tidur.
"Kali ini aku harus berhasil," setelah meneguhkan tekad,
dia terus ayunkan belati kearah dada Huru Hara."
Brakkkk....."Tunggu !" tiba2 pintu terbuka dan
terdengarlah sebuah bentakan yang bengis.
Kalau saat itu halilintar mele'us, mungkin Ah Kiok
tidaklah sekejut waktu dia berpaling ke belakang,
"Komandan......, " serunya lunglai.
Memang yang masuk dan mencegah Ah Kiok itu adalah
Tuka sendiri. Tidak kecewa panglima besar pasukan Ceng
menaruh kepercayaan kepada Tuka karena ternyata Tuka
seorang perwira yang penuh tanggung jawab akan tugasnya.
Dikala jenderal Li Hong sedang bersenang-senang
dengan wanita cantik dan prajurit2 dalam markas sudah
mendenkur, Tuka masih keluar meronda ke sekeliling
penjuru markas. Demikian yang dilakukan tiap malam
seperti pada malam itu juga.
Dia terkejut ketika melihat sesosok bayangan hitam
menyelinap hilang dibalik serambi belakang yang gelap. Dia
segera mengejar tetapi kehilangan jejak. Namun dia tak
putus asa, "Tak mungkin apa yang kulihat tadi hanya
bayangan saja. Dia tentu seorang manusia," pikirnya.
Setelah beberapa waktu menghampiri petak2 bangunan
yang terletak di bagian belakang gedung, tiba2 ia terkejut
karena mendengar suara suitan. Jelas suitan itu berasal dari
paviliun tempat Huru Hara menginap. Serentak ia lari
menuju ke tempat itu. Dan sesaat mendorong pintu, ia
terkejut karena melihat seorang gadis sedang mengangkat
tangan hendak menikam seorang lelaki yang tidur telentang
di ranjang. Kuatir tak keburu mencegah, lebih dulu dia
berteriak. Ternyata teriakannya itu berhasil menghentikan
wanita itu.
"Engkau Ah Kiok !" kejut Tuka bukan kepalang ketika
menghampiri dan melihat siaoa gadis yang hendak
membunuh itu.
"Be ... nar, komandan," sahut Ah Kiok gemetar.
"Engkau hendak membunuh tetamuku ini?"
Ah Kiok menunduk tak menjawab.
"Jawab, Ah Kiok ! Mengapa engkau hendak membunuh
dia ?" setelah tahu bahwa yang tidur diatas pembaringan itu
Huru Hara, Tuka pun mulai mengajukan pertanyaan yang
bengis kepada Ah Kiok.
"Dia telah menghina hamba."
"Menghina bagaimana ?"
"Dia .... dia telah memaksa hamba untuk melayani nafsu
binatangnya."
Tuka berpaling memandang Huru Hara, Tetapi dia tidur
pulas. “Mengapa engkau mengatakan dia telah
mencemarkan engkau?"
"Benar, komandan," sahut Ah Kiong, "karena malu,
hamba nekad meracuninya. Dan agar dia benar2 mati maka
hamba hendak menikamnya ..."
"Oh," Tuka terus membungkuk memeriksa pernapasan
Huru Hara. Tengah dia melekatkan telinga ke dada Huru
Hara, sekonyong-konyong sebuah benda tajam yang dingin
telah menusuk ke punggungnya, cretttt.....
"Aduhhhh," Tuka menjerit terus menggelepar rubuh ke
lantai, "engkau, budak hina..,." Dia berteriak tetapi Ah
Kiok sudah melarikan diri.
Tika menahan kesakian. Dia tak dapat mencabut belati
yang menyusup di punggungnya.
"Ah kalau aku sampai kehabisan darah, tentu mati,"
pikirnya. Dengan menahan derita kesakitan yang hebat, dia
mengerahkan segenap sisa tenaganya dan bersuit sekuatkuatnya.
Habis bersuit dia terus pingsan tak sadarkan diri.
Tetapi usaha Tuka itu tak berhasil. Memang dalam
malam yang sunyi itu, suitannya cukup terdengar jelas
tetapi para prajurit sudah pada mendengkur. Sebenarnya
suitan itu terdengar juga oleh dua orang prajurit yang
bertugas meronda tetapi mereka tak bertindak mencarinya.
"Apakah Itu?" tanya salah seorang dari kedua prajurit
peronda itu kepada kawannya. Tetapi kawannya hanya
menjawab, "Ah, apa lagi kalau bukan dari kamar Li
ciangkun yang tengah bersenang-senang itu! Bukankah tiap
malam mereka tertawa-tawa sampai larut malam?"
Dan kedua peronda itupun tak menghiraukan suitan itu.
Mereka melanjutkan tugasnya meronda berkeliling gedung
markas.
Adalah karena kelengahan itu maka baru pada keesokan
harinya peristiwa dalam paviliun itu diketahui oleh
beberapa bujang. Seketika markas-pun gempar. Tuka telah
tewas dengan punggung masih berhias sebatang belati.
Huru Hara dan Ah Liong ditangkap dan dihadapkan
pada panglima Li Hong.
"Hai, siapa engkau!" tegur jenderal Li Hong dengan
bengis.
"Aku Loan Thian Te," sahut Huru Hara.
"Mengapa engkau berada di markas ini?"
"Aku diundang oleh komandan Tuka."
"Hm, mengapa Tuka mengundang orang semacam
engkau? Apa buktinya?"
"Pimpinan pasukan berkuda dari pasukan Ceng
mengetahui hal itu," kata Huru Hara.
Li Hong menitahkan supaya kepala pasukan berkuda
dipanggil.
"Memang benar, ciangkun. Komandan Tuka telah
mengundang kedua orang itu kedalam markas."
"Aneh," seru Li Hong. "perlu apa orang semacam itu
diundang kemari?"
"Dijamu."
"Hai! Dijamu? Komandan Tuka menjamu kedua orang
ini?"
"Benar, ciangkun. Semalam telah diadakan perjamuan
besar untuk menghormat kedatangan kedua orang ini."
"Eh, mengapa aku tak tahu dan tak diberitahu sama
sekali?"' seru Li Hong.
Huru Hara tertawa, "Sudah tentu engkau tak tahu. Dan
andaikata diberitahu pun belum tentu engkau mau
meninggalkan kesenanganmu dengan wanita2 cantik itu."
"Setan, engkau berani menghina aku?"
“Menghina? Tidak," sahut Huru Hara, "kalau hal itu
tidak benar, memang aku dapat dianggap menghina. Tetapi
bukankah yang kukatakan itu nyata semua?"
"Li ciangkun," kata kepala pasukan berkuda. Karena
melihat gelagat tak baik, buru2 dia menyelutuk, "hamba
tahu bahwa komandan Tuka menerima sepucuk surat dari
kolonel Tokay dan kemudian mengundang mereka berdua
masuk ke dalam kota ini."
"Kolonel Totay?"
"Ya."
"Apa hubungannya?"
"Kabarnya kolonel Totay pernah ditolong orang itu
ketika kota Sam-kwan diserbu lasykar rakyat."'
"Hm," Li Hong mempersilakan kepala pasukan berkuda
itu mundur. Kemudian dia mulai melakukan pemeriksaan
kepada Huru Hara lagi, "Mengapa engkau membunuh
komandan Tuka?"
Sebenarnya Huru Hara marah sekali karena waktu dia
bangun ternyata tangannya sudah diborgol dengan rantai
besi dan dibawa menghadap jenderal Li Hong. Dia baru
tahu kalau Tuka telah dibunuh orang.
"Apa engkau tahu kalau aku membunuhnya?" balas
Huru Hara dengan geram.
"Jangan kurang ajar!" bentak Li Hong, “engkau
berhadapan dengan seorang jenderal yang berkuasa disini!"
"Apa hubungan kekuasaanmu dengan aku?" seru Huru
Hara tak gentar.
"Engkau harus menjawab," kata Li Hong, mengapa
engkau berani membunuh komandan pasukan berkuda dari
kerajaan Ceng!"
"Bukankah aku sudah menjawab, apakah engkau tahu
kalau aku yang membunuh?" sahut Huru Hara.
"Komandan Tuka menggeletak berlumuran darah di
kamarmu. Punggungnya tertancap sebuah belati. Siapa lagi
yang membunuh kalau bukan engkau?"
"Siapa yang tahu kalau aku membunuh komandan itu
supaya maju memberi kesaksian!" seru Huru Hara.
Li Hong menitahkan seorang pelayan lelaki maju, "Ho
Siri, bukankah engkau bujang kepala dari gedung ini?"
'Benar, ciangkun," sahut lelaki setengah tua itu.
"Ceritakan apa yang engkau lihat dalam kamarnya," seru
Li Hong.
"Waktu hamba hendak membersihkan kamar, pintu
tidak terkunci. Dan ternyata komandan Tuka menggeletak
berlumuran darah di lantai. Waktu hamba angkat, dia
sudah tak bernyawa. Hamba lalu memanggil prajurit
penjaga."
Li Hong memanggil prajurit penjaga. Prajurit itu
menerangkan, "Setelah mendapat laporan dari Ho Sin,
hamba bergegas menuju ke tempat itu. Memang benar
komandan Tuka sudah tak bernyawa. Siapa lagi yang
membunuhnya kalau bukan pemuda itu. Maka hambapun
segera memborgol tangannya dan membawa menghadap
kemari."
"Waktu engkau borgol, apakah dia melawan?!
"Tidak, ciangkun, dia masih tidur pulas," sahut prajurit
penjaga.
"Jadi engkau tak melihat sendiri dia membunuh
komandan Tuka?"
"Tidak, ciangkun," sahut prajuris penjaga, "tetapi siapa
lagi pembunuhnya kalau bukan dia"
"Hm, sekarang apa katamu ?" tegur jenderal Li Hong
kepada Huru Hara.
"Apa yang harus kukatakan?" balas Huru Hara.
"Bukankah engkau telah membunuh komandan Tuka ?"
"Siapa yang mengatakan begitu ?"
"Prajurit penjaga itu menjadi saksi mata!"
"Apakah dia melihat aku membunuhnya?"
"Yang ada dalam kamar itu adalah engkau dan adikmu,
kalau bukan engkau habis siapa yang membunuh
komandan itu ?"
"Jika engkau sebagai seorang jenderal tak tahu,
bagaimana aku seorang tetamu yang sedang tidur, bisa tahu
hal itu !"
"Hm, engkau terlalu berani mati! Komandan Tuka mati
di kamarmu, kecuali engkau dapat menunjuk seseorang
lain, barulah engkau bebas dari tuduhan sebagai
pembunuhnya !"
"Aku tahu pembunuhnya”, tiba2 Ah Liong melengking.
Jenderal Li Hong terkejut dan cepat bertanya, ''Siapa ?"
"Siorang berpakaian hitam seperti setan!" kata An Liong.
"Bagaimana wajahnya ?"
"Tak kelihatan !"
"Lho, mengapa tak kelihatan ?”
"Ditutupi dengan kain hitam, mana aku bisa melihatnya
?"
"Coba ceritakan bagaimana peristiwa itu," kata jenderal
Li Hong.
"Itu waktu aku terkejut dan bangun karena mendengar
pintu terbuka. Dan seorang berpakaian hitam telah
menyeret sesosok tubuh. Orang yang diseretnya itu sudah
mati. Dia marah ketika melihat aku terjaga. Lalu d.a
mengancam, "Awas, kalau engkau berani berteriak,
lehermu tentu kupotong !”
"Lalu ?
Sehabis meninggalkan mayat itu, dia terus lari keluar.
"Mengapa engkau tak membangunkan engkohmu ?"
"Lho, apa engkau tuli ? Bukankah kukatakan kalau aku
berani berteriak, leherku akan dipotong. Siapa mau
kehilangan leher ?"
"Waktu prajurit penjaga datang, mengapa engkau tak
mau menceritakan hal itu ?'
"Perlu apa ?" sahut Ah Liong," apakah dia mampu
menangkap pembunuh itu ? Jangankan dia sedang engkau
seorang jederal saja, setelah kulapori hal ini, apakah engkau
mampu menangkap orang itu ?”
Li Hong terbeliak.
"Dan lagi," kata Ah Liong pula, "engkau sendiri juga
diancamnya."
"Dia berani mengancam aku?" jenderal Li Hong terkejut.
"Waktu mau pergi, dia berkata kepadaku, "Hai. bocah
kecil, katakan kepada jenderal yang berada disini.
Kepalanya akan kuambil."
"Hai !" teriak jenderal Li Hong, "jahanam, berani benar
bangsat itu!"
Seorang lelaki bertubuh kekar, maju kehadapan jenderal
Li Hong dan memberi hormat, "Izinkan hamba Pui Kong,
menghaturkan pendapat hamba yang picik," katanya.
Pui Kong adalah seorang kausu atau guru silat yang
menjadi pengawal peribadi dari jenderal Li Hong, Li
Hongpun mempersilakannya.
"Harap ciangkun jangan percaya ocehan bocah cilik itu.
Dia ngawur sekali. Dia sengaja merangkai cerita bohong
untuk menolong engkohnya."
"Bagaimana engkau berpendapat begitu ?" tanya Li
Hong.
"SejaK ciangkun menduduki kota ini, kami telah
melaksanakan penjagaan yang kuat. Hamba pun tahu
betapa komandan Tuka mengatur penjagaan yang ketat
sampai berapa li di luar kota. Rasanya tak mungkin orang
luar mampu masuk kedalam gedung markas ini."
Semua waktu mendengar keterangan Ah Liong jenderal
Li Hong memang hampir mempercayai. Tetapi setelah
mendapat keterangan dari Pui Kong, dia bimbang, "Benar,
tak mungkin musuh dapat masuk kedalam markas ini. Hm,
anak itu tentu bohong supaya engkohnya dibebaskan dari
tuduhan," pikirnya.
"Hm, setan cilik, engkau berani membohongi aku ?"
serunya kepada Ah Liong, "tidak, tidak mungkin ada
manusia yang dapat masuk kedalam markas ini. Yang
membunuh komandan Tuka tak lain adalah kamu berdua !"
"Jenderal goblok !" teriak Ah Liong.
"Bangsat, engkau berani memaki aku," Li Hong marah,"
hajar anak itu ! "ia memberi perintah kepada Pui Kong."
"Setan cilik, engkau terlalu liar," Pui Kong , terus
menghampiri dan memutar kepala Ah Liong. I
"Jangan mengganggu adikku !" teriak Huru Hara seraya
maju menghadang, Yang diborgol hanya kedua tangannya,
sedang kedua kakinya masih bebas. Maka diapun dapat
berjalan.
"Hm, pembunuh, engkau mau cari perkara lagi ?" bentak
Pui Kong.
"Jika engkau berani mengganggu adikku! engkau tentu
kubunuh !" Huru Hara balas menghardik.
"Adikmu terlalu kurang ajar, berani menghina
ciangkun."
"Siapa yang menghina? Dia hanya mengatakan yang
sebenarnya? Apa engkau anggap jenderalmu itu pintar?
Coba jawab, kalau aku yang membunuh komandan Tuka,
mengapa aku tak melarikan diri? Mengapa aku enak2 masih
tidur di kamar itu?"
Pui Kong tertegun tetapi pada lain saat dia membantah,
"Karena engkau merasa tak mampu keluar dari markas ini."
"Kentut!" semprot Huru Hara, "kalau aku keluar
siapakah yang akan mencurigai? Bukankah semua pasukan
berkuda tahu bahwa komandan Tuka yang mengundang
aku kedalam markas?"
Tampak kepala pasukan berkuda mendekati jenderal Li
Hong dan membisiki beberapa patah kata. Jenderal itu
segera berseru memanggil Pui Kong, "Pui tayhiap, silakan
kembali."
"Hm, apakah engkau tetap tak mau mengaku membunuh
komandan Tuka?" tanya jenderal itu kepada Huru Hara
pula.
"Kalau aku membunuhnya, mengapa aku tak berani
mengakui? Tetapi sayang aku tak membunuhnya dan
terpaksa aku harus mengatakan tak membunuh," sahut
Huru Hara.
Setelah berunding dengan kepala pasukan berkuda,
akhirnya jenderal Li Hong memerintahkan supaya Huru
Hara dan Ah Liong d'jebluskan dalam kamar tahanan,
menunggu keputusan.
Setelah Huru Hara dibawa pergi, jenderal Li Hong
melanjutkan perundingan dengan kepala pasukan berkuda.
Dia orang dari propinsi Hek-liong kiang, bernama Ca Ing.
"Menilik kolonel Totay sampai memerlukan kirim surat
kepada komandan Tuka, jelas orang itu tentu mempuyai
hubungan erat sekali dengan kolonel Totay. Kabarnya dia
pernah menolong jiwa kolonel Totay sehingga kolonel
Totay sedemikian besar menaruh perhatian kepadanya.
Kalau ciangkun menjatuhkan hukuman mati, dikuatirkan
kolonel Totay tak senang," kata Ca Ing.
"Tetapi bagaimana pertanggungan jawabku atas
kematian komandan Tuka itu?" kata jenderal Li Hong.
"Tetapi apa yang dikatakan pemuda itu memang
beralasan," sahut Ca Ing, "kalau dia yang membunuh,
mengapa dia tak mau melarikan diri dan masih tidur pulas
di kamarnya."
Rupanya Li Hong terpengaruh juga akan pembelaan itu,
"Lalu bagaimana aku harus bertindak?"
"Ada sebuah jalan," kata Ca Ing, "yalah ciangkun
mengirim orang itu kepada kolonel Totay, biar kolonel
Totay sendiri yang memeriksa dan memutuskan
hukumannya. Pokok, ciangkun sudah dapat menangkap
dan menyerahkan orang yang diduga keras sebagai
pembunuh komandan Tuka."
Li Hong anggap usul itu tepat. Dengan begitu dia sudah
memberi pertanggungan jawab tentu peristiwa kematian
Tuka.
"Baiklah, tetapi bagaimana cara mengantar dia ke tempat
kolonel Totay?" tanyanya.
"Saat ini kolonel Totay berada di kota Khay-hong-hu,
suatu perjalanan yang cukup jauh. Mengingat bahaya yang
setiap saat mungkin terjadi di perjalanan, lebih baik
masukkan kedua orang itu kedalam kerangkeng pesakitan
dan suruh sekelompok prajurit mengawalnya."
Li Hong menyetujui. Segera ia menitahkan supaya kedua
tertuduh itu dimasukkan kedalam sebuah kereta kerangkeng
dan dikirim ke Khay-hong-hu.
Tetapi untuk memasukkan Huru Hara dan Ah Liong ke
dalam kerangkeng, bukanlah hal yang mudah. Setelah
terjadi ribut2, akhirnya Huru Hara dan Ah Liong berhasil
dijebak kedalam perangkap lalu dimasukkan kedalam
kerangkeng. Sepuluh prajurit dititahkan untuk mengawal
kereta itu menuju ke Khay-hong-hu.
Begitu keluar dari kota Sam-koan, rombongan kereta
pesakitan itu telah dihadang oleh seekor kerbau bule.
Beberapa orang prajurit berusaha untuk menghalau tetapi
kerbau bufe itu malah mengamuk. Prajurit2 itu ketakutan.
"Hai, prajurit, kalau kalian minta tidak diamuk kerbauku
itu, hendaknya suruh dia yang menarik kereta ini Kalau
tidak, dia tentu mengamuk karena melibat aku berada
dalam kereta!" seru Ah Liong.
Prajurit2 itu menurut dan kereta yang semula di tarik
oleh dua ekor kuda sekarang diganti oleh kerbau bule.
Didalam kereta, Huru Hara termenung-menung. Dia
merasa tak membunuh Tuka tetapi mengapa Tuka mati
terbunuh dalam kamarnya. Tiba2 kecurigaannya jatuh pada
Ah Kiok si gadis pelayau cantik itu. Mungkinkah gadis itu
yang telah membunuh Tuka? Tetapi mengapa gadis itu tak
kelihatan batang hidungnya? Apakah dia sudah ditangkap?
Ah, tentu tidak. Orang tentu tidak menduga bahwa
pembunuhan itu dilakukan oleh, seorang gadis pelayan.
"Hm. dia dapat menceritakan dengan jelas tentang
perkumpulan Hoan-hiau-hoa itu, apakah dia . . . bukan
anggauta perkumpulan itu sendiri pikir Huru Hara, "ya,
mengapa aku tertidur begitu pulas. Aneh. Selama ini aku
tak pernah jatuh pulas begitu rupa sampai tak terasa kalau
kedua. tanganku diborgol orang . . . …..”
"Hm, mungkin benar, memang gadis itu yang
membunuh. Tetapi biarlah, aku takan memberi tahu kepada
orang Ceng" setelah menimang-nimang, iapun mengambil
keputusan untuk melindungi Ah Kiok.
"Engkoh Hok, bagaimana kita ini ?" Ah Liong mulai
mengeluh," berulang kali aku hendak melawan tetapi
mengapa engkoh selalu mencegah ? Akhirnya sekarang kita
dijadikan seperti binatang buas yang dikerangkeng .. . ."
"Ah Liong." kata Huru Hara, "untuk 'menjadi seorang
manusia yang sempurna, orang harus kaya akan
pengalaman. Pengalaman itu tidak tentu harus yang enak2
tetapi juga harus yang tidak enak bahkan yang paling tidak
enak di dunia. Kelak engkau boleh membanggakan diri
kepada anak cucumu bahwa engkau pernah menjadi
binatang yang di kerangkeng. Apa itu tidak menarik ?"
"O, ya, ya, benar, benar," seru Ah Liong, "memang
jarang orang hidup yang pernah mengalami menjadi
binatang buas dalam kerangkeng itu, engkoh Hok."
"Terimalah segala pengalaman dan penderitaan itu
dengan hati yang lapang, Ah Liong." Huru Hara
menghibur," pernahkah engkau makan cap-jay ?"
"Cap-jay, uhhh tiba2 Ah Liong menitikkan air liur," ya,
tentu saja pernah. Memang itu kegemaranku."
"Enak, kan?"
"Cin cia ho" seru Ah Liong seraya melumat-lumatkan
lidahnya. Cin-cia-ho artinya enak sekali.
"Engkau tahu apa sesungguhnya cap-jay itu?"
"Cap-jay merupakan masakan dari bahan macam2 sayur.
Nenek pernah masak juga tetapi dia bilang namanya gadogado.
"Ya, memang benar," kata Huru Hara," Cap jay yang
engkau gemari itu tak lain adalah masakan dari bermacammacam
sayur. Ceritanya, dulu karena sayang membuang
sisa sayur mayur dan bumbu yang masih, maka juru masak
lalu memasukkan sisa2 sayur dan ikan itu, setelah dimasak
dan diberi bumbu lalu disebut cap-jay atau masak campur
bawur. Dan eh, ternyata rasanya enak sekati. Belakangan
orang malah gemar akan masakan cap-jay itu."
"O, jadi dulu cap-jay itu asalnya dari sisa-sayur yang
akan dibuang tetapi tak jadi lalu dimasak lagi ?"
"Begitulah cerita orang," kata Huru Hara "yang penting
kan enaknya. Nah, dari masakan cap -jay itu dapatlah kita
menarik suatu pelajaran yang baik, bahwa segala
penderitaan dan pengalaman itu akan menjadikan hidup
kita itu senikmat capjay. Karena kita pemah mengalami
segala hal yang enak maupun yang tak enak. Yang celaka
maupun yang menyenangkan."
"Jadi kita dikerangkeng seperti binatang ini juga harus
kita rasakan ?" tanya Ah Liong.
"Ya," kata Huru Hara, "kita sering mengurung burung
dalam sangkar, memasukkan harimau dalam kerangkeng.
Coba kalau kita masuk kerangkeng, baru kita dapat
merasakan betapa perasaan binatang2 yang menderita ulah
tingkah manusia."
"Ya, ya," Ah Liong garuk2 kuncungnya, "sekali memang
perlu juga kita jadi binatang yang dikerangkeng."
"Nah, kalau engkau sudah dapat merasakan begitu,
engkau tentu tak sedih. Begitulah kalau engkau sedang
mengalami kesusahan ataupun kesulitan. Anggaplah hal itu
sebagai pengalaman, sebagai bumbu orang hidup. Nah,
engkau tentu tak merasa susah lagi. Dan ingat, Ah Liong,
bahwa hanya manusia besar yang mampu menderita segala
kesukaran hidup itu."
"Baik, engkoh," kata Ah Liong. "akan kuingat segala
nasehat engkoh itu."
"Engkau kan tidak merasa sedih lagi sekarang toh ?"
"Tidak," kata Ah Liong," karena aku gemar cap-jay maka
akupun harus makan cap-jaynya orang hidup ini."
"Ah Liong," tiba2 Huru Hara berkata," apa engkau bisa
nyanyi?"
"Nyanyi?" tanya Ah Liong., "bisa saja. Tetapi nyanyi apa
?"
"Nyanyian seorang raja."
"Raja ? Tetapi aku belum pernah jadi raja.
"Begini," Huru Hara lalu membisiki anak itu bagamana
bunyi kata2 lagu itu. Setelah itu dia suruh Ah Liong
menyanyikan sekeras-kerasnya. Ah Liongpun menyanyi :
Yang paling enak, menjadi raja
Kerjanya hanya duduk di singgasana
Tiap hari dihadap hamba sahaya
Makan pakai serba istimewa
Akulah, sekarang sang raja
Bertamasya naik kereta kencana
Diiring prajurit2 bersenjata
Ah, nikmatnya
Hai, prajurit2 gombal butut
Kemarilah, rajamu mau berkentut
Lekas engkau duduk berlutut
Dan pentanglah Iebar2 mulut
Ha, ha, ho, ho, hi, hi ...
Raja bertamasya naik kereta
Ha, ha, ho, ho, hi, hi ..
Hai, prajurit2 celaka
Upahmu nanti potong kepala,
Karena- Ah Liong menyanyi dengan keras, sudah tentu
kelompok prajurit yang terdiri selusin orang itu mendengar
juga. Telinga mereka seperti dikili rasanya ketika
mendengar nyanyian itu.
"Kurang ajar, dia menghina kita habis2an."
"Ya, dia menganggap sebagai raja dan kita
pengiringnya."
"Bukan hanya itu saja. Pun dia hendak ber-kentut, kita
suruh buka mulut menerimanya . . . "
Demikian beberapa prajurit itu mengomel panjang
pendek sehingga kepala kelompok, segera maju
menghampiri ke kerangkeng dan membentak, "Hai, setan
cilik, nyanyi apa engkau itu?"
"Lagu Nikmatnya jadi raja."
"Jangan nyanyi begitu!"
"Lho, kenapa?" seru Ah Liong.
"Engkau menghina rombonganku."
"Lho, siapa yang menghina? Aku kan nyanyi sendiri.
Apa tak boleh?"
"Boleh tetapi jangan nyanyi lagu itu!"
"Justeru lagu itu yang paling kusenangi. Ke-tahuilah,
bahwa lagu itu dicipta oleh engkohku ini khusus untuk
kunyanyikan. Merdukan suaraku?"
"Dengar, jangan nyanyi lagu itu!"
Tetapi bukan menurut kebalikannya Ah Liong malah
menyanyi lagi lebih bersemangat dan lebih keras.
Sudah tentu kepala rombongan prajurit itu naik pitam.
Dia mengeluarkan cambuk dan mencambuk kerangkeng Ah
Liong.
"Hai, prajurit, engkau berani kepada raja?" teriak Ah
Liong.
"Budak setan, engkau bukan raja, engkau pesakitan, tahu
l'"
'Tidak!" teriak Ah Liong, "aku bukan pesakitan. Aku tak
membunuh komandanmu. Apa namanya orang yang naik
kereta diiring prajurit bersenjata, kalau bukan seorang raja?
Bukankah engkau menjaga keselamatanku?"
Kepala prajurit itu benar2 mau muntah karena marah
tetapi tak dapat menumpahkan kata2.
"Mau marah ya? Siapa suruh engkau marah?" seru Ah
Liong.
"Tutup bacotmu, setan cilik!" teriak kepala prajurit itu
dengan keras.
"Ini kan mulutku sendiri. Mau kubuka kek, mau
kupentang kek, itu hakku sendiri. Mengapa engkau
mengurusi mulutku? Kalau mau menutup, tutuplah
mulutmu yang besar seperti mulut kambing itu. Uh,
memang prajurit2 semacam engkau kerjanya hanya makan
saja maka mulutmu sampai lebar . . . . "
"Anjing kecil, engkau!" kembali prajurit itu ayunkan
cambuknya, tar, tar, tar.....
"Ha, ha, ha," Ah Liong tertawa mengejek, "macam
begitulah prajurit seperti engkau ini. Beraninya menyerang
orang yang berada dalam kerangkeng. Coba kalau aku
bebas diluar, masakan engkau berani berbuat begitu."
"Apa katamu, setan cilik!" prajurit itu membelalakkan
mata.
"Engkau prajurit besar dan aku anak kecil, tetapi aku
dapat mencabut kumismu yang lebat seperti belukar itu.
Kalau aku tak mamou, engkau boleh menghajar aku 100
kali cambukan!"
"Engkau berani menantang aku?" teriak kepala prajurit
itu.
“Tetapi tak perlulah," seru Ah Liong, "lebih baik jangan
engkau terima tantanganku agar kumismu tidak rontok."
"Pak, keluarkan anak itu dan idinkan aku
menghajarnya," seorang prajurit maju menghampiri kepala
prajurit berkumis.
"Ya, pak, kalau tidak dihajar, sepanjang perjalanan anak
itu tentu akan mengoceh menghina kita terus menerus saja,"
seru beberapa prajurit.
Saat itu rombongan mereka tiba di sebuah jalan yang
sepi, di mulut hutan. Matahari sudah condong ke barat.
Sejak tadi, rombongan itu memang belum berhenti. Sambil
beristirahat sambil menghajar bocah itu, memang tepat
juga, pikir kepala prajurit.
"Baik, kita beristirahat disini," segera dia memberi
perintah supaya rombongan berhenti. Mereka mencari
tempat di sebuah gerumbul pohon.
"Hai, prajurii2, mengapa kalian berhenti disini? Ini kan
bukan istana? Aku seorang raja, jangan kalian sembarangan
menurunkan aku di hutan begini. Hayo, jalan!" teriak Ah
Liong.
Tetapi prajurit2 itu tak peduli. Setelah kereta berhenti
maka seorarg prajurit segera membuka pintu kerangkeng,
"Setan kecil, hayo, keluar!"
"Ah, jangan main2 engkau, kerucuk!"
"Keluar!"
"Lho, engkau seorang prajurit kerucuk berani memberi
perintah kepada raja?"
"Keluaaaar!" prajurit itu terus menarik Ah Liong keluar.
Ah L ong keluar tetapi Huru Hara juga ikut keluar.
Kepala prajurit kaget tetapi karena melihat kedua tangan
Huru Hara masih dirantai, diapun tak kuatir.
"Hm, setan cilik, bukankah tadi engkau menantang aku?"
seru kepala prajurit, "kalau engkau takut, engkau harus
menerima 100 kali cambukan!"
"O, engkau menerima tantangan itu? Boleh, boleh. Siapa
bilang aku takut? Tetapi apa taruhannya?"
"Pakai taruhan?" kepala prajurit itu terbeliak.
"Iya, dong," seru Ah Liong dengan nada kemaki,. "perlu
apa gua susah2 mencabut kumis lu, kalau tidak pakai
imbalan?"
"Setan cilik, engkau mengajak taruhan apa?" seru kepala
prajurit.
'Nanti dulu," sahut Ah L:ong, "kita mau bertanding apa
ini?"
"Engkau mengajak bertanding apa?" balas kepala
prajurit.
"Dua macam!"
"Hah? Dua macam?"
"Ya. Dan dua taruhan!"
"Edan!" teriak kepala prajurit, "aku terima semua!"
'Lho, apa engkau tak tanya dulu apa yang akan
dipertandingkan dan apa taruhannya?"
"Tidak usah! Segala macam apa saja aku terimal"
rupanya kepala prajurit itu makin panas kepalanya.
"Tetapi aku harus menerangkan dulu supaya engkau
tahu dan tidak ingkar janji."
''Lekas bilang!"
“^Pertama, bertanding mencabut rambut kumismu.
Kalau aku tak mampu, engkau boleh menggebug aku
sampai 100 kali. Tetapi kalau aku dapat mencabut, engkau
harus membiarkannya aku mencabuti kumismu sampai
habis. Ringan kan?"
"Yang kedua?" teriak kepala prajurit itu.
"Adu kekuatan."
"Adu kekuatan bagaimana?"
'Tubuhmu akan kuangkat dan kulemparkan.! Dan
engkaupun harus mengangkat . . . . "
"Engkau?" tukas kepala prajurit.
'"Bukan," seru Ah L ong, "kalau engkau dapat
mengangkat tubuhku, itu sih tidak mengherankan, karena
tubuhku kecil. Apa engkau tidak malu kalau menang karena
mengangkat tubuh seorang anak?"
"Lalu siapa yang harus kuangkat?" teriak kepala prajurit.
"Engkohku itu!" seru Ah Liong menunjuk pada Huru
Hara, "engkau sanggup?"
"Mengapa tidak?" seru kepala prajurit penasaran.
"Nah, kalau aku kalah, terserah saja engkau hendak
mengapakan aku." kata Ah Liong, "tetapi kalau engkau
yang kalah, engkau harus menyerah kan anak kunci
borgolan engkohku itu!"
"Hah?" kepala prajurit terbeliak.
"Jangan kuatir, bang," cepat2 Ah Liong menyusuli katakatanya,
"kami berdua takkan lari dan tetap akan masuk
kedalam kerangkeng lagi. Hanya borgolan pada tangan
engkohku itu saja yang kuminta supaya dihilangkan."
Pikir2*kcpala prajurit itu merasa tentu dapat
mengalahkan kedua tantangan Ah Liong, maka tanpa
banyak cingcong lagi dia serentak menerima.
"Tetapi supaya tidak ingkar janji, keluarkan dulu anak
kunci itu," seru Ah Liong.
Dengan marah kepala prajurit mengambil kunci dan
dilemparkan ke tanah, "Awas, kalu engkau kalah, kepalamu
tentu akan kujadikan genderang!"
"Kita kencingi kuncungnya!" seru salah seorang prajurit.
"Aku ingin berkentut di mulutnya! Ha, ha, bukan prajurit
yang makan kentut tetapi raja yang dikerangkeng."
Kawanan prajurit itu tertawa gelak?. "Bau!" tiba2 Ah
Liong berteriak seraya mendekap hidung.
"Siapa yang bau?" prajurit? itu berseru.
"Mulut kalian," sahut Ah L:ong, ""aduh, baunya
membuat perutku mual nih. Tidak pernah sikat gigi, ya?"
"Kurang ajar engkau setan cilik!" beberapa prajurit
marah dan hendak maju.
"Tunggu dulu! Aku hendak bertanding dengan
pimpinanmu, jangan menggangu!"
Terpaksa prajurit? itu hentikan langkah dan hanya dapat
deliki mata kepada Ah Liong.
'"Hayo kita mulai," seru Ah Liong seraya mencabut
sepasang supit yang berada dalam kantong bajunya,
Kepala prajurit yang berkumis itupun tegak bersiap. Ia
songsongkau tinjunya ketika Ah Liong hendak menyupit
kumisnya. Tetapi dia hanya menyongsong angin karena
supit Ah Liong berputar ke samping dan tahu2, aduh ....
prajurit berkumis itu menjerit tertahan karena daun telinga
sebelah kiri telah dlsupit dan ditarik.
Dia marah. Diserangnya anak kuncung itu dengan
pukulan yang bertubi-tubi tetapi Ah Liong selalu
menghindar dan pada satu kesempatan, supitnya nyelonong
lagi untuk menyupit daun telinga orang yang sebelah kanan.
Prajurit berkumis itu makin marah. Namun walaupun
dia berpangkat sebagai kepala prajurit, tetapi ilmusilatnya
tak berapa tinggi. Ilmu tempur yang dipelajarinya adalah
yang digunakan untuk bertempur dalam medan perang.
Maka dengan mudah Ah Liong dapat mempermainkannya.
"Aduhhhhh, bangsat ....!" prajurit berkumis itu menjerit
dan memaki ketika hidungnya di sumpit Ah Liong sekeraskerasnya.
Melihat kedua telinga dan hidung pemimpinnya merah,
mau tak mau kawanan prajurit itu geli juga. Tetapi terpaksa
ditahan.
Diam2 kepala prajurit itu juga terkejut menyaksikan
tingkah laku Ah Liong. Namun karena disaksikan oleh
anakbuahnya, dia malu sekali dijadikan bulan2 permainan
oleh seorang bocah laki yang masih berkuncung.
Memang Ah Liong mempunyai gerakan yang gesit
sekali. Sejak kecil diharuskan membopong kerbau bule,
kadang disuruh membawanya dengan berlari-lari,
menyebabkan dia memiliki dasar latihan ilmusilat yang
kokoh. Ada lagi suatu latihan yang diberikan nenek Gok.
Memang aneh tampaknya tetapi sesungguhnya latihan itu
telah memberi marfaat yang besar sekali kepada anak itu.
Setelah pekerjaan sehari selesai, maka Ah Liong
dipanggil nenek Gok dan disuruh berdiri dihalaman pada
jarak lima tombak. "Engkau harus mampu menghindar dari
batu yang akan kusabitkan kepadamu," kata nenek Gok,
Pertama nenek itu menimpuk sebanyak dua puluh kali.
Timpukannya cepat dan keras sekali hingga kadang Ah
Liong harus meringis kesakitan karena terkena. Setelah
anak itu mampu menghindar semua timpukan, jaraknya
diperdekat satu tombak. Kemudian jadi dua tombak dan
terakhir hanya terpisah satu tombak dari nenek itu.
Pun cara menimpuk juga diganti. Kalau bermula hanya
menimpuk secara satu per satu, lalu diganti sekali timpuk
dua batu, lalu tiga batu dan terakhir empat batu. Dengan
begitu jarak semakin dekat, batu yang disabitkan makin
banyak.
Tiga tahun kemudian, Ah Liong dapat menghindar dari
empat batu yang disabitkan si nenek dalam jarak dua meter,
"Anak ini memang berbakat bagus sekali," diam2 nenek itu
memuji dalam hati, "sebaliknya si Ah Hok itu malas dan
kurang baik bakatnya."
Ah Liong tak mengerti apa tujuan nenek Gok melatihnya
bermacam-macam cara itu. Tiap pagi disuruh membopong
si Bule ke telaga, suruh tangkap ikan dengan tangan, malam
hari disuruh menyupit nyamuk, lalat dan ditimpuk dengan
batu, suruh latihan napas dan lain2.
Kini waktu turun gunung ikut mengembara-Huru Hara,
ia merasakan Iatihan2 yang diterima dari si nenek itu
banyak sekali gunanya. Seperti waktu menghadapi kepala
prajurit pada saat itu. Dia merasa dapat bergerak lincah
sekali menghindar dari pukulan dan terjangan prajurit itu.
Dan dengan mudah juga ia dapat memajukan supitnya
untuk menyupit telinga dan hidung lawan.
"Nah, inilah beberapa lembar rambut kumismu. Engkau
menyerah tidak ? Kalau tidak akan kucabut semua nanti !"
beberapa saat kemudian Ah Liong loncat mundur dan
berseru.
Kepala prajurit itu merah padam mukanya. Dia
memandang Ah Liong dengan mata melotot.
"Jangan kuatir," seru Ah Liong, "aku takkan
melaksanakan pertaruhan itu dulu. Tunggu saja sampai
pertandingan yang kedua selesai. Kalau aku kalah, anggap
saja serie. Tetapi kalau aku menang lagi, baru aku sekali gus
melaksanakan janji kita."
"Hm," kepala prajurit itu hanya mendengus.
"Sekarang bersiaplah, aku hendak mengangkat tubuhmu,
"seru Ah Liong seraya menghampiri maju.
Kepala prajurit itupun tegakkan tubuh dan
mengencangkan urat2 agar badannya bertambah berat.
"Uhhhh," tiba2 ia menjerit dalam hati ketika tengkuknya
seperti dicekik orang dan auhhh, kembali ia meringis
kesakitan karena pantatnya dicengkeram sekeras-kerasnya.
Ia hendak meronta tetapi tahu2 tubuhnya terasa terangkat
keatas dan sebelum ia sempat untuk mencari keseimbangan
diri, ia merasa telah terbang melayang, celaka . . . ia
menyadari kalau sedang dilempar oleh Ah Liong. Dan
berusahalah dia bergeliatan agar jangan sampai jatuh
terbanting di tanah.
Brukkkk .... dua orang prajurit cepat menyanggapi tetapi
karena kepala prajurit itu bergeliatan polah, yang hendak
menyanggapi malah terdupak dan ketiganya jatuh tumpang
tindih.
Uhhhhh .... tiba2 mulut kepala prajurit itu mendesis
kaget, wajahpun merah padam ketika dia bangun. Sambil
mendekap perut, dia terus menuju ke balik gerumbul
pohon.
Kawanan prajurit anakbuahnya heran melihat tingkah
laku kepala mereka. Ada seorang prajurit yang
memberanikan diri untuk menghampiri. Dia kuatir terjadi
sesuatu dengan lepalanya itu. Ia terkejut ketika
pimpinannya sedang membenahi celananya, tangannya
merogoh-rogoh kebawah seperti hendak menarik celana
dalamnya yang melorot.
"Sialan, tali kolor bisa putus. Kurang ajar sekali bajingan
cilik itu," gumam kepala prajurit. Mendengar itu prajurit
sambil mendekap mulut menahan tawa, segera kembali
kepada kawan2nya. Dengan bisik2 dia menceritakan hal itu
kepada kawan2 nya. Sudah tentu mereka geli tetapi tak
berani bersuara.
Sesaat kemudian, kepala prajurit itu muncul dan
menghampiri ke hadapan Huru Hara, "Sekarang giliianku
yang mengangka!'
'"Silakan," kata Huru Hara,
Kepala prajurit itupun segera maju dan terus mengangkat
tubuh Huru Hara, hukkkk betapapun ia kerahkan tenaga
sampai mukanya merah seperti kepiting direbus, tetap tak
mampu mengangkatnya.
'"Suruh anakbuahmu ikut mengangkat!" kata Huru Hara
seraya melambaikan tangannya kearah kawanan prajurit.
Walaupun tidak diperintah tetapi karena hendak
membantu kepalanya maka seorang prajurit pun maju.
Tetapi kedua orang itu juga tak mampu. Maju lagi seorang,
juga tak mampu. Lalu seorang, seorang dan seorang lagi
sehingga semua prajurit yang berjumlah sepuluh orang itu
serempak mengangkat Huru Hara.
Melihat itu timbullah pikiran kurang ajar dari Ah Liong.
Dia maju menghampiri dan lari mengelilingi kawanan
prajurit seraya mencengkeram pinggang setiap prajurit,
"Hai, goblok, harus serempak mengangkat, jangan satu-satu
....!"
Walaupun mengkal tetapi kesepuluh prajurit itu
menganggap kata2 bocah kuncung itu memang tepat.
Mereka berhenti dan bersiap-siap. Salah seorang segera
memberi aba-aba, "Satu . . . dua . .tiga angkat . . . hekkkk
.... uhhhh . . . ahhhh . . ihhhhh .... ohhhh . . . . "
Walaupun nadanya berbeda tetapi iramanya yalah irama
terkejut. Kesepuluh prajurit itu lepaskan tubuh Huru Hara
dan mereka serempak mendekap perut masing2 lalu sibuk
hendak mencari tempat bersembunyi.
Apa yang terjadi?
Ternyata tanpa diketahui sebabnya, tali kolor celanadalam
dari kesepuluh prajurit itu putus dan celanadalamnyapun
meluncur kebawah. Walaupun masih
mengenakan celana luar, tetapi mereka merasa risih karena
tak dapat bergerak dengan leluasa.
Sudah tentu mereka bingung dan hendak mencari tempat
bersembunyi untuk membenahi celana-dalamnya itu.
Karena gugup mereka tak sempat memikir, apa sebab
peristiwa tali kolor putus itu menimpa pada mereka secara
serempak. Akal yang sehat tentu curiga. Tak mungkin
sepuluh orang, semua putus tali kolornya. Tetapi karena
bingung, mereka mengira, hal itu disebabkan waktu
mengangkat tubuh Huru Hara tadi.
Baru mereka berputar tubuh hendak melangkah, mereka
terkejut ketika melihat suatu pemandangan yang
mengherankan. Entah kapan, tahu2 ditempat itu telah
muncul lima gadis yang mencekal cambuk. Salah seorang
diantaranya mukanya pakai kain kerudung hitam.
"Hai, siapakah nona sekalian ini?" tanya kepala prajurit
sambil mendekap pinggang celananya kencang2 karena
takut celana-dalamnya melorot kebawah.
“Tak perlu tanya!" sahut seorang gadis yang
berperawakan tinggi, "serahkan kedua tawanan itu
kepadaku!"
"Lho, ini kan tawanan penting. Perlu apa nona hendak
memintanya?" kepala prajurit terkejut. *
"Jangan banyak bicara, serahkan atau tidak!" bentak
nona cantik itu.
"Siapakah nona ini?"
"Tutup mulutmu!"
"Tidak! Aku takkan menyerahkan mereka!"
"Hajar!" seru nona cantik itu. Kelima gadis cantik itu
segera ayunkan cambuknya, tar, tar, tarrrr ....
Kesepuluh prajurit itu belum hilang kejutnya dan kelima
gadis cantik itu bergerak amat cepat sekali. Sebelum sempat
berbuat apa2, kesepuluh prajurit itu menjadi kalang kabut
dan babak belur tak keruan. Kalau mencabut senjata untuk
melawan, mereka harus melepaskan celana-dalamnya
melorot turun. Kalau tetap mempertahankan celana-dalam,
meringis kesakitan dihajar cambuk. Akhirnya mereka
memilih jalan yang paling selamat, lari tunggang langgang
meninggalkan tempat itu ... .
Melihat itu Ah Liong tepuk2 tangan, tertawa dan
menyanyi :
Cing-cing go-ling
Bumi langit gonjang ganjing
Gadis cantik kepala pening
Main cambuk menghajar maling
Maling lari pontang panting
Minta ampun sampai ter-kencing2.
"Tutup mulutmu, budak kuncung!" bentak gadis yang
bertubuh tinggi semampai tadi.
"Buat apa ditutup? Kan mumpung ada pertunjukan yang
bagus, biar kubuka lebar2?" sahut Ah Liong.
Tar .... cambuk gadis itu menggelegar ke arah Ah Liong
tetapi bocah itu sudah melayang ke samping.
"Lho, mengapa engkau hendak mencambuk aku juga?"
serunya.
"Lekas kalian ikut aku!" seru gadis itu.
''Kemana?"
'"Jangan banyak tanya! Prajurit2 itu segera akan datang
lagi, lekas!"
Seperti kerbau dicocok hidungnya, Ah Liong
menggandeng tangan Huru Hara diajak mengikuti kelima
gadis itu masuk kedalam hutan.
-oodwooJilid
15
KENALKAN.
Kali ini kami kenalkan gerakan rakyat kerajaan Beng
yang berjuang melawan kekuasaan tentara Ceng, dengan
cara masing2 :
1. Hong-hian-hoa atau Bunga Persembahan, kemudian
diganti Hong-li-hoa atau Cewek Pungli. Himpunan dari
gadis2 yang rela menjadi Bunga Penghibur, demi
menyelamatkan rakyat."
2. LASYKAR TANI, sisa2 barisan petani yang
memberontak kerajaan Beng tetapi juga melawan
kekuasaan tentara Ceng.
3. LASYKAR RAKYAT, wadah perjuangan dari kaum
persilatan hiap-gi yang menentang penjajah Ceng.
4. BARISAN SUKA RELA, menghimpun semua unsur
pejuang yang melawan serangan tentara Ceng.
=======
Cewek pungli.
Baru beberapa langkah tiba2 Ah Liong berteriak, Tunggu
....!" dia terus lari balik ke tempat kereta.
Tiba2 matanya tertumbuk pada seonggok benda putih di
tanah. Cepat dia menghampiri dan memungutnya, "Inilah
kunci borgolan dengan engkoh Hok."
Setelah memasukkan dalam saku, dia menghampiri
kerbau bule, "Bule, engkau tak boleh ketinggalan disini.
Kalau sampai jatuh ditangan prajurit2 itu engkau tentu
disembelih," katanya seraya melepaskan kerbau itu dari
perakit kereta.
"Eh, mengapa membawa kerbau?" seru nona yang
bertubuh tinggi semampai tadi.
"Tentu," sahut Ah Liong, "kalau kerbauku ini sampai
disembelih prajurit, aku bisa mati menangis."
“Tetapi . . . . "
"Jangan kuatir, kerbauku takkan membikin kotor
rumahmu," tukas Ah Liong.
Kelima nona cantik itu terus melanjutkan langkah.
Mereka mendaki sebuah puncak gunung dan turun ke
sebuah lembah.
"Kalian harus pakai penutup mata," tiba2 nona cantik
tadi berkata.
"Lho kenapa?" tanya Ah Liong.
"Kita sudah sampai dan akan masuk kedalam markas.
Setiap orang yang masuk harus ditutupi matanya."
Ah Liong hendak membantah tetapi Huru Hara sudah
mendahului, "Silakan menutup mata kami."
Huru Hara dan Ah Liong segera diikat matanya dengan
kain hitam, "Peganglah ujung cambuk dan berjalan," seru
nona itu. Dia terus berjalan sambil mencekal tangkai
cambuk. Huru Hara dan Ah Liong memegang ujung
cambuk mengikuti berjalan.
Diam2 Huru Hara merasa bahwa dia dibawa berjalan
berputar-putar dan berkeluk-keluk naik turun dan akhirnya,
"Nah, sudah tiba," kata gadis tadi seraya membuka kain
penutup mata Huru Hara dan Ah Liong.
Huru Hara dan Ah Liong terkejut ketika pandang
matanya gelap, "Ih, mengapa begini gelap sekali?" teriak
anak itu sambil menggosok-gosok matanya.
"Engkoh Hok, barangkali kita. sekarang buta?" teriak
anak itu pula karena matanya masih gelap tak dapat
memandang apa2.
"Jangan kaok2 saja, kuncung," kata Huru Hara,
"pejamkan mata dan tenangkan pikiran."
Ah Liong menurut. Beberapa saat kemudian ketika
membuka mata ia melihat beberapa meter disebelah muka
seperti terdapat dua biji benda kecil yang bersinar seperti
mata kucing.
"Engkoh, benda apakah itu?" bisiknya kepada Huru
Hara.
"Mata manusia," sahut Huru Hara, "ada orang yang
duduk disebelah muka. Jangan ribut, tenang sajalah."
"Loan Thiau Te pendekar Huru Hara, engkau mengapa
engkau dibawa kemari?" tiba2 terdengar lengking suara dari
seorang wanita. Dari nada suaranya wanita itu masih
muda.
"Tidak tahu!" jawab Haru Hara singkat.
"Kami telah membebaskan engkau dari tawanan prajurit
Ceng, engkau tahu, bukan?"
"Ya."
"Tahukah apa maksud kami?"
"Itulah justrru yang hendak kutanyakan kepadamu,"
balas Huru Hara.
"Engkau tahu siapa aku?"
"Seorang wanita."
"Hanya itu?"
"Ya."
"Baik," kata wanita yang tak kelihatan wajahnya itu,
"sekarang aku hendak bertanya kepadamu. Siapakah yang
membunuh komandan Tuka di gedung tihu kota Samkwan?"
"Aku!" sahut Huru Hara.
"Bohong!" bentak wanita itu, "engkau masih tidur
mendengkur ketika Tuka dibunuh. Mengapa engkau
mengaku yang membunuhnya?"
"Bagaimana engkau tahu tentang peristiwa itu?" tanya
Huru Hara agak heran.
"Ketahuilah, disini adalah kerajaan wanita.
Pemimpinnya, anakbuah, penjaga dan prajuritnya, semua
wanita. Pernahkah engkau mendengar cerita tentang suatu
gerakan dari kaum wanita?"
Serentak Huru Hara terkejut, serunya, "Apakah engkau
ini anggauta Hong-hian-hoa?"
Terdengar tertawa hambar, "Ingatanmu tajam sekali.
Benar, tanpa tedeng aling2, disinilah markas Hong-hian-hoa
itu. Tetapi nama itu oleh Ketua kami telah diganti menjadi
Hung-li-hoa dan di kalangan orang Ceng terkenal dengan
nama Pung-li-hoa atau Cewek Pungli."
"Ah, apakah artinya nama? Hong-hian-hoa atau Hung-lihoa
atau Pung-li-hoa atau Cewek Pungli, sama saja. Yang
penting adalah tujuannya."!
"Engkau setuju akan gerakan Cewek Pungli itu?”
“Ya”
"Mengapa?"
"Karena mereka rela mengorbankan diri untuk
menyelamatkan kaum wanita dan rakyat dari keganasan
prajurit2 Ceng."
"Tetapi mengapa engkau mau menjadi budak orang
Ceng!" tiba2 wanita itu menghambur kata2 tajam.
"Siapa yang menjadi budak Ceng?" Huru Hara terkejut.
"Jangan berlagak pilon!" seru wanita itu, "bukankah
engkau berada di gedung tihu itu karena diundang Tuka?
Kalau bukan bersahabat dengan orang Ceng, mana mereka
begitu menghormat dan menjamu engkau?"
"Ah, jangan menuduh sesukamu sendiri," jawab Huru
Hara, "aku tak kenal dengan Tuka tetapi aku kenal dengan
kolonel Totay .... "
"Sama saja! Bahkan kolonel Totay itu orang penting dari
pasukan Ceng. Dengan begitu jelas engkau ini budak orang
Ceng!"
"Jangan salah faham," kata Huru Hara. Ia lalu
menceritakan tentang peristiwa hubungan dengan kelonel
Totay yang lalu.
"O, jadi yang menyelamatkan kolonel Totay dari
serangan lasykar rakyat itu engkau?"
"Ya, karena sekedar hendak membalas budinya."
"Bagus, memang pimpinan Lasykar Rakyat telah
memberi pesan kepada kami, apabila bertemu dengan
engkau, harus ditangkap hidup atau mati dan diserahkan
kepada Lasykar Rakyat."
"O, jadi kalian membebaskan aku dari tawanan prajurit
Ceng itu karena hendak engkau serahkan kepada Lasykar
Rakyat?" saat itu baru Huru Hara sadar.
"Benar," sahut wanita itu, "karena engkau menjadi orang
buronan Lasykar Rakyat, maka merekalah yang berhak
mengadili dosamu!"
Huru Hara terkejut. Namun ia tahu kalau Lasykar
Rakyat tentu sudah faham dan mengira dia bersahabat
dengan Totay, "Tak apa, nanti akan kujelaskan kepada
mereka sekalian akan kuminta supaya mereka
membebaskan paman Cian-li-ji," pikirnya.
"Baiklah, karena aku menjadi orang tawananmu,
terserah saja engkau hendak mengapakan aku," kata Huru
Hara.
"Engkau tahu apa hukuman bagi seorang, penghianat
bangsa itu?" tanya si wanita tak dikenal.
"Entah, karena aku belum pernah menjadi penghianat,"
jawab Huru Hara.
"Kepalamu akan dipotong dan dikirim kepada orang
Ceng!" seru wanita itu.
"Lho, buat apa kepala orang?" teriak Ah Liong yang tak
tahan mendengar keterangan orang itu.
"Untuk peringatan bahwa setiap orang Han yang mau
bekerja dengan kerajaan Ceng, tentu akan dipenggal
kepalanya!"
"Salah!" teriak Ah Liong.
"Hm, jangan ngoceh tak keruan budak kecil."
"Aku tidak ngoceh tetapi mengatakan tindakan itu
salah!"
"Mengapa salah?"
"Bukankah kota2 yang telah diduduki pasukan Ceng itu
masih penuh dengan penduduk orang Han? Mengapa
mereka tidak engkau potong kepalanya? Mengapa ayam,
itik dan kerbau yang berada di daerah pendudukan Ceng,
juga tidak di potong kepalanya? Mengapa hanya kepala
engkoh ku saja yang akan dipotong? Kalau potong, jangan
hanya kepala engkohku tetapi harus kepalaku juga!" Ah
Liong nerocos seperti hujan mencurah.
"Apakah engkau juga berhianat?"
"Aku hanya ikut engkohku. Tetapi aku tak percaya kalau
engkohku ini seorang penghianat. Dia adalah seorang
pendekar yang baik budi!"
"Ih, baik budi?" wanita itu mendengus.
"Ya, dong. Kalau tidak berbudi masakan aku mau ikut
dia?"
"Itu urusanmu," sahut si wanita, "tetapi dia adalah
seorang penghianat"
"Sudahlah, Ah Liong," tegah Huru Hara, "biarlah dia
mengatakan aku ini bagaimana. Yang tahu bagaimana isi
hatiku hanyalah aku dan kenyataan."
Kemudian dia berkata kepada wanita itu, "Aku bersedia
menyerahkan diri tetapi sebelumnya aku hendak
mengajukan pertanyaan. Engkau menyebut-nyebut Honghian-
hoa dan tadi engkau memuji Ah Kiok bertindak tepat.
Siapakah Ah Kiok itu?"
"Dia adalah anggauta Hong-li-hoa."
"Ah, sudah kuduga," seru Huru Hara, "tetapi mengapa
dia harus membunuh Tuka?"
"Ketahuilah," seru wanita itu, "bahwa sebenarnya dia
hendak membunuh engkau tetapi terlambat. Pertama,
terganggu oleh setan cilik yang ngoceh tak keruan . . . . "
"Siapa yang engkau katakan setan cilik itu?" teriak Ah
Liong.
"Engkau!"
"Jangan menghina semaumu sendiri, orang perempuan,"
seru Ah Liong, "engkau kira engkau sudah dapat menguasai
kami? Hm, kalau engkohku mau, sarangmu ini tentu sudah
diobrak-abrik. Itulah maka kukatakan engkohku itu seorang
yang berbudi."
"Sudahlah Ah Liong, kita nurut saja. Yang penting aku
hendak mencari paman Cian-li-ji," kata Huru Hara, lalu
berkata kepada wanita itu, "teruskan ceritamu."
"Yang kedua, waktu dia hendak menikam engkau, tiba2
Tuka muncul. Karena sudah terlanjur diketahui
perbuatannya maka Ah Kiok terpaksa membunuh Tuka."
"Ya, kutahu. Tetapi mengapa dia terus melarikan diri?"
"Sudah tentu takut akan tertangkap."
"Tidak perlu harus takut," kata Huru Hara, "bukankah
aku yang akan memikul kedosaan itu?"
"Hm, mengapa engkau mau mengakui pembunuhan
itu?"
"Karena aku kasihan kepada Ah Kiok."
"Kasihan?"
"Ya, karena dia telah rela mengorbankan diri sebagai
anggauta Cewek Pungli."
"Engkau setuju dengan sepak terjang Cewek Pungli?"
"Kalau aku menentang, masakan engkau dapat
mengadili aku begini macam?" sahut Huru Hara.
"Tuh dengar tidak," seru Ah Liong, "kalau engkohku
tidak berbudi, sarangmu ini tentu itulah diobrak-abrik."
"Aku masih ada sebuah permintaan lagi," kata Huru
Hara, "apakah aku boleh bertemu dengan si Ah Kiok."
"Ah Kiok, dia hendak bicara dengan engkau," seru
wanita itu.
"Engkau mau bertanya apa?" tiba2 terdengar sebuah
suara seorang gadis.
"Ah Kiok," kata Huru Hara, "mengapa engkau hendak
membunuh aku?"
"Karena engkau seorang penghianat."
"Baik," kata Hum Hara, "jangan engkau menyesal kelak
atas ucapanmu itu. Sudah, pergilah!"
Ah Kiong tertegun.
"Pergi!" bentak Huru Hara.
Ah Kiong tersurut mundur. Wanita itupun mendesis.
Ternyata tanpa disadari Huru Hara telah menghamburkan
tenaga-dalam untuk membentak sehingga suaranya
sedahsyat halilintar meledak.
"Sayang, seorang pemuda yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi seperti engkau, mau menjadi budak
orang Ceng," kata wanita itu.
"Jangan banyak bicara' bentak Huru Hara, "lekas
serahkan aku kepada Lasykar Rakyat.
"Ah Kiok, bawa dia keluar dan antarkan ke pada pos
Lasykar Rakyat.'"
Ah Kiong mengajak Huru Hara keluar tetapi Huru Hara
berkata, “Tunggu, tutup dulu mataku supaya aku tak dapat
mengetahui keadaan markasmu ini."
Terpaksa mata Huru Hara dan Ah Liong di tutup lagi
dengan kain hitam. Setelah keluar dari lembah, penutup
mata itupun dibuka lagi.
Kini Huru Hara tahu bahwa yang mengawalnya menuju
ketempat persembunyian Lasykar Rakyat adalah seorang
gadis dan gadis yang mukanya berselubung kain hitam tadi.
Waktu hendak berangkat tiba2 Ah Liong memekik,
"Celaka, sialan!"
"Kenapa?" tanya Huru Hara. "Anak kunci rantai
borgolan engkoh jatuh. Tentu jatuh didalam markas gelap
itu," keluh Ah Liong.
"Hm, apakah engkau tak mampu masuk ke sana lagi?"
tanya Huru Hara.
Ah Liong garuk2 kuncungnya. Melihat itu gadis
berkerudung kain hitam berkata, "Biarlah aku yang masuk
mengambil anak kunci itu!"
"Tidak perlu," seru Huru Hara, "jika engkau tak mampu
mengambilnya sendiri, tak perlu rantai borgolanku ini
dibuka!"
Melihat Huru Hara marah, Ah Liong makin kelabakan.
Dia menarik-narik rambut kuncungnya sebagaimana adat
kebiasaannya apabila dia hendak memeras otak
menghadapi soal yang sukar.
Tiba2 ia melihat kerbau bule muncul dari balik gerumbul
pohon. Serentak anak itu berteriak gembira, "Baik, engkoh,
aku sanggup kembali masuk ke markas gelap itu lagi!"
Ia terus manghampiri si Bule, "Bule, engkau mendapat
tugas berat. Antarkanlah aku masuk ke dalam lembah ini
mencari markas gelap. Ah, sial, Bule, anak kunci borgolan
engkoh Hok jatuh disana"
Bule seolah-olah tahu bahasa Ah Liong. Ia menguak dan
menegakkan kepalanya. Ah Liong terus naik ke punggung
kerbau bule itu dan suruh si Bule berjalan. Tetapi baru
beberapa langkah dia berteriak, "Berhenti dulu Bule, dan
tunggu sebentar . . . . "
Anak itu loncat turun dan lari menghampiri kedua gadis
pengawal, "Laci yang tak kuketahui namanya, apa aku
boleh pinjam pedang kalian?"
Gadis yang seorang kerutkan alis. Tetapi gadis yang
berkerudung muka serentak mencabut pedangnya dan
diberikan kepada Ah Liong, "Nih, buat apa pinjam
pedang?"
"Ada dehhhh," setelah menyambut dia terus berlari.
Tiba2 dia diputar kepala dan berseru, "jangan kuatir,
pedang ini takkan kubuat membunuh orang."
Ah Liong naik ke punggung si Bule dan binatang itupun
terus lari masuk kedalam lembah.
"Berhenti Bule," seru Ah Liong pula seraya loncat turun,
"aku hendak cari bambu dulu."
Dia lari menuju ke sebuah gerumbul pohon bambu. Dia
memotong sebatang bambu yang besar lalu dipotong lagi
menjadi selengan panjangnya. Dia memilih potongan
bambu itu yang bawah tertutup dengan ruas tetapi bagian
ujung atasnya, berlubang. Kemudian dia membuat tutup
penyumbat lubang bambu itu. Setelah itu baru dia naik si
Bule lagi.
Setelah menuruni lembah, si Bule mencari jalan sendiri,
berputar kian kemari dan akhirnya disebelah depan tampak
sebuah mulut gua. Si Bule masuk kedalam mulut gua itu
dan tibalah mereka disebuah ruangan dari sebuah bangunan
yang besar.
"Aneh, mengapa si Bule dapat mencari tempat ini?" kata
Ah Liong, "sedang aku sendiri sudah lupa bagaimana
mencarinya. Ah, benar, benar, memang si Bule ini tak
mengecewakan perintahku. Dia memiliki naluri yang tajam
sekali sih."
Ah Liong tidak terus masuk melainkan biluk kesebuah
ruang. Kebetulan dia tiba di bagian dapur, "Ah, langkahku
sungguh untung sekali. Disini tentu banyak tikus," serunya.
Dugaannya itu memang tepat. Tak berapa lama
terdengar bunyi bergedobrakan dan bunyi mencicit. Ah
Liong segera melihat sebuah liang di ujung sudut tembok.
"Hm, disinilah rumahnya," kata Ah Liong. Dia terus
menggeratak di dapur dan berhasil mendapatkan ikan yang
tinggal kepala dan ekornya, "jadilah . . . . "
Setelah mengumpulkan sisa2 ikan, dia menyebarkannya
di lantai, tepat di muka liang. Kemudian dia menunggu di
dekat liang dan siap dengan sumpit di tangan.
"Cit, cit, ciiiiit . . . . " terdengar suara mencicit dan dua
ekor tikus lari berlomba keluar dari liang.
Cret, cret .... dengan tangkas dan gagah sekali, Ah Liong
menyumpit kedua ekor tikus itu terus dimasukkan kedalam
tabung bambu. Dengan cara itu ia berhasil menangkap
tujuh ekor tikus.
"Hm, cukuplah," katanya. Tetapi tiba2 ia mendapat akal
baru lagi, "biar mereka kalang kabut!"
Ia menggeratak membuka lemari dan berhasil
menemukan minyak goreng. Minyak itu dituangkan
kedalam tabung tempat tikus2 itu. Dan kemudian dia
menyambar korek di dapur. Satelah itu baru dia menuju ke
ruang gelap tempat ia dan Huru Hara diadili oleh seorang
wanita yang tak kelihatan wajahnya.
Ketika melalui sebuah lorong, dia terkejut ketika
mendengar langkah kaki orang berjalan.
"Celaka kalau sampai kepergok mereka," Ah Liong
gugup. Dia celingukan memandang kian ke mari. Kalau dia
lari balik, tentu akan kelihatan karena lorong atau gang
tempat ia berdiri itu, kanan kirinya merupakan ruangan.
Lalu kemana ia harus bersembunyi.
Melihat kedua nona itu makin dekat, Ah Liong nekad.
Tanpa banyak pikir lagi dia terus mendorong sebuah pintu
ruangan kamar dan menyelundup masuk, mengancing lagi
pintu itu rapat2.
Tiba2 dari ujung tikung lorong, terdengar suara orang
berjalan. Sedang langkah kaki kedua nona yang dari ujung
lorong sebelah muka tadi, juga tiba di depan ruang tempat
Ah Liong bersembunyi.
"Ai, Gwat suci dan Lan suci, mau kemana nih ?" seru
orang yang baru muncul dari tikung lorong tadi. Rupanya
dia menegur pada kedua nona yang datang dari lorong
sebelah muka.
"Ah Bwe, engkau sih enak, tugasmu sore ini sudah
selesai. Sekarang giliranku bersama Gwat suci yang
bekerja,” sahut salah seorang dari kedua nona itu. Tentulah
dia yang dipanggil Lan suci (kakak seperguruan) oleh gadis
yang baru muncul itu.
"Enakan dinas malam. Sudah mandi dan hawanya juga
sejuk. Tidak seperti dinas siang. Sudah panas, mandi juga
telat," gerutu gadis yang disebut Ah Bwe.
"Eh, Ah Bwe, bawa apa engkau itu ?" tiba2 gadis yang
disebut Lan suci atau namanya Ah Lan menegur.
"Istimewa deh," sahut Ah Bwe. "Apa yang istimewa ?"
"Coba suci tebak, apa yang berada dalam bungkusan
ini."
"Makanan."
"Salah."
"Buah !" seru gadis yang dipanggil Gwat suci atau Ah
Gwat.
"Benar," sahut Ah Bwe, "tetapi buah apa ?"
"Kalau menilik besarnya .... kelapa" seru Ah Gwat.
"Salah."
"Jeruk."
"Keliru.'"
"Lalu buah apa sebesar itu ?"
"Mari masuk kedalam kamarku dulu. Nanti suci tentu
puas.
"Apa sih ?"
"Pokoknya, kejutan deh !"
"Tetapi kami berdua harus membersihkan dan menyulut
lampu ruang Le-tong (auditorium! atau tempat upacara).
Malam nanti toa-suci akas menerima tetamu."
"O, pada hal siang tadi toa-suci juga mengadili seorang
pemuda nyentrik dan seorang bocah kuncung."
"Siapa ? apa salahnya ?"
"Ah mari masuk kedalam kamar dulu. Paling hanya
seperempat jam. Akan kuhidangkan buah yang jarang
terdapat ditempat kita. Pokoknya suci berdua tentu tak
kecewalah !"
Setelah bertukar pandang, kedua gadis itu setuju. Dan
Ah Bwepun segera memutar grendel pintu.
"Aduh, celaka ! Dia mau masuk ke kamar ini. Ternyata
ini kamar gadis itu," bukan kepalang kejut Ah Liong yang
berada dalam kamar. Untung kamar itu gelap karena
lampunya belum dinyalakan. Tanpa banyak pikir lagi, anak
itu terus menyusup kedalam kolong ranjang,
Jendela dibuka dan kamar itupun terang. Ah Bwe
meletakkan bungkusan yang dibawanya keatas meja dan
membukanya.
"Durian !" seru Ah Lan ketika melihat isi bungkusan itu.
"dari mana engkau peroleh buah itu Ah Bwe ?"
"Rahasia," sahut yang ditanya, "dari. . . ah, pokoknya
ada deh .. . . "
"Pacarmu ya ?"
"Entah," sahut Ah Bwe, "tetapi dia memang menetapi
janjinya untuk mengirim durian ini. Hayo, kita makan."
Bau durian segera menyerbak keseluruh kamar,
menyusup kedalam kolong ranjang dan menyerang hidung
Ah Liong, haukkkkkkk.....serentak perut Ah Liong seperti
berontak dan mau muntah.
Memang durian itu harum dan lezat baunya Tetapi bagi
yang doyan. Sebab ada juga orang yang tak tahan baunya
dan muntah. Begitu pula Ah Liong. Seumur hidup dia
belum pernah melihat apalagi makan durian. Baunya yang
begitu keras, menyebabkan perutnya mual.
Anak itu berusaha untuk mendekap mulutnya dan
menekan napas untuk menahan ini perutnya yang mau
muntah.
"Siapakah pemuda nyentrik yang diadili toa-suci siang
tadi ?" tanya Ah Lan.
"Menurut namanya dia mengaku bernama Huru Hara,
menyentrik nggak namanya itu ?"
"Ya, tetapi itu tentu nama samaran barangkali," sahut
Ah Lan.
"Bukan," kata Ah Bwe, "namanya memang Loan Thian
Te yang berarti mengacau dunia atau dunia kacau. Dia
lebih senang menamakan dirinya si Huru Hara,"
"Lalu apa kesalahannya ?"
"Dia bersahabat dengan kolonel pasukan Ceng yang
menduduki kota Sam-koan. Waktu kota itu diserbu pasukan
Lasykar Rakyat, dia telah menyelamatkan kolonel Ceng itu
dari sergapan pasukan rakyat."
"Hm, pemuda macam begitu memang harus diganyang
seperti durian ini," kata Ah Lan sambil memasukkan sebiji
durian ke mulut.
"Tetapi bagaimana dia dapat dibawa kemari?" tanya Ah
Gwat.
"Waktu pasukan Ceng menduduki kota itu lagi, eh.
pemuda nyentrik itu muncul pula. Rupa nya dia hendak
menemui kolonel sahabatnya tetapi ternyata pemimpin
pasukan Ceng itu adalah Tuka yang berpangkat lebih
rendah. Tuka menjamunya. Kebetulan yang bertugas untuk
merayu orang2 Boan di Sam-koan antara lain adalah Ah
Kiok. Pada malam hari Ah Kiok hendak membunuh
pemuda nyentrik itu tetapi kepergok Tuka. Ah Kiok
membunuh Tuka dan lari pulang kemari. Pemuda itu yang
dituduh membunuh Tuka lalu dimasukkan dalam kereta
pesakitan dan dikirim kepada kolonel Ceng yang berada di
Khay-hong-hu. Ditengah jalan kereta pesakitan itu dapat
kita cegat dan rampas. Kemudian pemuda dan adiknya kita
bawa kepada toa-suci untuk diadili."
"Lalu bagaimana keputusannya?" tanya Ah Lan.
"Beberapa hari yang lalu fihak Lasykar Rakyat meminta
bantuan kita untuk menangkap pemuda itu dan diserahkan
kepada mereka. Maka toa-suci lalu mengirim pemuda dan
adiknya itu ke markas Lasykar Rakyat."
"Mengapa engkau katakan dia nyentrik?"
"Betapa tidak nyentrik? Masakan seorang anakmuda
berdandan seperti seorang pendekar kesiangan, kepalanya
ditutup dengan kain tetapi diberi dua lubang tepat pada atas
dahinya."
"Lho untuk apa?"
"Untuk tempat rambutnya yang menjulai ke luar. Ih,
kalau suci berdua melihatnya tentu akan geli."
Kerucuk, kerucukkkk .... "Ih, perut siapa yang
berkerucukan itu? Tentu perutmu Ah Bwe karena
kebanyakan makan durian. Masa kita berdua baru makan
empat biji engkau sudah sepuluh biji," seru Ah Lan.
"Tidak, Lan suc. Perutku tidak berkerucukan. Tentu
perut, suci sendiri . . . . "
"Huh, mana bisa? Perutku tak apa-apa .. Ih, mengapa
agak mulas ya sekarang," kata Ah Lan seraya mendekap
perutnya.
"Tuh kalau menuduh perut orang berkerucukan. Tak
tahunya kalau perut sendiri yang merintih- rintih.''
"Tetapi benar, Ah Bwe, baru sekarang terasa mulas, tiiiit
. . . . "
"Aduh, bom mulai meledak," Ah Bwe tertawa lalu cepat
mendekap hidung.
Ah Lan tersipu-sipu merah. Karena perut mulas dia
hendak mengeluarkan angin busuk tetapi karena malu
ditahan. Tak urung melejit juga suara angin itu. Nadanya
mirip dengan orang yang merintih- rintih.
Ah Gwat tertawa. Tiba2 dia terkejut ketika melihat Ah
Lan menyusup kedalam kolong ranjang. Ranjang itu
memakai kain sprei yang memanjang turun sampai ke
lantai. Ah Lan menyingkap kain sprei terus menyusup
masuk dan tut. . . tut . . . tut . . ,
"Gunung meletus!" teriak Ah Bwe seraya mendekap
hidungnya kencang2. Ah Gwat hanya tertawa sambil
mendekap mulut.
"Hai, cici Lan, mengapa begitu lama didalam kolong?"
seru Ah Bwe karena Ah Lan tak ke luar dari kolong ranjang
sampai beberapa saat.
"Tunggu," seru Ah Lan, "biar hawanya keluar sampai
habis disini."
Saat Itu dapat dibayangkan betapa keadaan Ah Liong.
Bocah itu benar2 setengah mati. Karena tak tahan bau
durian, perutnya mulas. Tadi yang berkerucukan
sebenarnya berasal dari perutnya. Baru perut agak tenang
tiba2 Ah Lan menyusup masuk dan berkentut sepuaspuasnya,
aduh maaaakkk .... Kalau terus menerus
mendekap hidung, dia tentu akan lemas karena tak dapat
bernapas. Mungkin bisa pingsan.
TIba2 ia teringat akan tabung bambu yang dibawanya,
"Hm, kurang ajar benar anak2 perempuan ini. Masakan aku
dipaksa sembunyi dibawah kolong ranjang, diserang dengan
bau durian lalu dibom dengan angin busuk .... Rasakan
pembalasanku sekarang."
Ia tahan napas dan mengambil tabung bambu. Secelah
diarahkan pada punggung Ah Lan, ja segera membuka
tutup tabung itu. Seketika meloncatlah seekor tikus ke
tengkuk Ah Lan, toloooongngng .... Ah Lan menjerit dan
memberosot keluar.
Tikus itu marah karena dijejal dimasukkan kedalam
tabung oleh Ah Liong dan masih disiram dengan minyak.
Maka begitu tutup tabung dibuka, binatang itu terus loncat
keluar dan tepat hinggap di tengkuk si nona. Untuk
melampiaskan kemarahannya, tikus itu terus menggigit
tengkuk Ah Lan.
Ah Lan tak tahu apa yang hinggap di tengkuknya. Dia
hanya merasa sakit sekali karena tengkuknya digigit oleh
gigi kecil2 yang tajam. Seketika dia menjerit dan menerobos
keluar.
"Mengapa ....," baru Ah Bwe menyongsong hendak
menolong, tiba2 ia, menjerit kaget, "aduh mati aku . ..." Ah
Bwe menjerit, mengusap tikus yang menerkam mukanya
dan terus lari keluar menyusul Ah Lan.
Karena ditampar, tikus itu mencelat dan terlempar jatuh
ke dada Ah Gwat, “Aaaiiihhhh……. nona itupun menjerit
dan menampar tikus itu lalu memberosot lari keluar seperti
dikejar setan.
Ah Liong segera terseok-seok menyelundup keluar dari
kolong ranjang, "Aduhhhh,” ia menghela napas longgar,
"sialan betul anak perempuan itu. Masa orang disuruh
sembunyi di kolong ranjang masih dikentuti. Sekarang
rasakan pembalasanku .. ,."
Tiba2 ia teringat bahwa gadis yang bernama Ah Gwat
dan Ah Lan itu hendak menuju ke kamar Le-tong atau
auditorium, Menurut kelerangan mereka, disitulah siang
tadi dia bersama Huru Hara diadili si wanita tak kelihatan.
Tetapi dia tak tahu dimana letak Le-tong itu. Namun ia
tak takut. Dengan berjalan hati2 agar jangan sampai
kepergok orang, satu demi satu dia menjelajahi ruang2 itu
dan akhirnya tiba disebuah bangunan besar yang terletak di
tengah halaman.
'Tentulah yang ini," pikirnya lalu mendorong pintunya
yang masih tertutup. Keadaan ruang itu gelap gelita.
Dia menyusuri tempat dimana dia berdiri tadi. "Wah,
terlalu lama," pikirnya. Ia nekad menyulut korek lalu
menyuluhi ke sekeliling ruang itu. Tiba2 matanya
tertumbuk sebuah, benda kecil. Cepat dipungutnya benda
itu, "Ah, terima kasih, terima kasih, akhirnya ketemu lagi
..."
Ternyata benda yang ditemuinya itu memang anakkunci.
Baru dia memasukkan kedalam saku, tiba2 terdengar
langkah orang yang tiba di muka pintu, "Wah, sialan benar
kita ini Gwat suci," gerutu sebuah suara anak perempuan
yang dikenal Ah Liong sebagai suara si Ah Lan, "Karena
mencicipi beberapa biji durian, akhirnya pakaianku sampai
robek compang camping dan kakiku babak belur."
"Apa aku tidak?" sahut yang dipanggil Gwat suci atau
Ah Gwat, "karena si Ah Bwe menampar tikus itu, dadaku
diterkam dan digigit. Aku lari pontang panting sampai jatuh
bangun, i-dihhhh……”
"Kurang ajar memang si Ah Bwe itu. Masa dia pelihara
tikus dikolong ranjang ..."
“Sudahlah, Ah Lan, kita harus lekas2 menyalakan lampu
dan membersihkan ruangan ini agar toa-suci jangan keburu
datang," kata Ah Gwat yang terus membuka pintu.
Kedua gadis itu segera nyalakan lilin besar pada sebuah
meja sembahyangan. Ternyata ruang ini memang ruang Letong
(auditorium). Pada tembok sebelah dalam, terdapat
sebuah patung dewi Koan Im yang berwajah agung,
tingginya dua meter. Didepannya terdapat sebuah meja
untuk bersembahyang. Diatas meja terletak dua buah lilin
sebesar lengan.
Setelah menyalakan lilin, kedua gadis itu lalu berlutut
dihadapan patung dewi Koan Im dan berkemak-kemik
berdoa, "Tecu, Ah Gwat dan Ah Lan, menghadap pohsat
untuk menghaturkan hormat. Tecu berjanji tetap akan
melaksanakan sumpah tecu dihadapan pohsat. Bahwa
sekalipun tecu berada didalam lumpur kehinaan tetapi jiwa
tecu tetap suci bersih bagai bunga teratai ..."
Habis mengucap doa kedua gadis itu lalu mulai bekerja
membersihkan lantai.
Ternyata setiap anggauta Hong-li-hoa atau Cewek
Pungli, selalu mengucapkan doa akan melakukan
sumpahnya dihadapan Koan Im pohsat dahulu. Sumpah itu
tak lain, bahwa dalam mengabdi kepentingan negara,
mereka rela mengorbankan raga dan kesuciannya namun
mereka tetap akan menjaga agar jiwanya sesuci bunga
teratai.
Setelah selesai kembali kedua gadis itu berlutut
dihadapan patung dewi Koan Im untuk mohon diri.
"Ah Lan, lihatlah, pohsat dapat bergerak "sekonyongkonyong
Ah Gwat berteriak seraya menggamit lengan adik
seperguruannya.
Ah Lan mengangkat muka, memandang ke muka.
Serentak diapun menjerit, "Aya, benar, Gwat suci, pohsat
dapat bergerak-gerak . . . ." bukan kepalang kejut Ah Lam
ketika melihat patung dewi Koan Im itu bergerak-gerak
seperti orang berjalan.
Ah Gwat dan Ah Lan pucat seketika. Tubuh kedua
menggigil ketakutan.
"Ah Gwat, Ah Lan, mengapa engkau berani kurang ajar
kepadaku ? Mulutmu masih berbau durian, mengapa
engkau berani bicara dihadapan-ku ?" tiba2 terdengar suara
yang lembut seperti orang berbisik-bisik.
Sudah tentu Ah Gwat dan Ah Lan kaget setengah mati.
Serempak kedua berlutut, "Ampun, pohsat, hamba telah
mencuci mulut hamba tetapi mungkin kurang bersih . . . ."
“Dari mana engkau mencuri durian itu,” bisik suara
aneh yang datangnya dari balik patung dewi Koan Im.
"Hamba berdua diberi Ah Byve, pohsat ..."
"Hm, budak perempuan itu besok tentu akan menerima
hukuman. Durian itu curian dan kalian pun ikut makan
barang curian .. ."
"Ampun pohsat....." kedua gadis itu merintih2 minta
ampun, "hamba tak tahu."
"Benar ?"
"Benar, pohsat."
"Tidak bohong?"
“Hamba berdua berani bersumpah."
"Baik, karena tidak tahu, dosamu lebih ringan tetapi
kalian tetap harus menerima hukuman. Kalian harui
berlutut dan tundukkan kepala sampai ke lantai. Tak boleh
bergerak dan mata harus dipejamkan tak boleh melihat
apa2. Sampai nanti kusuruh kalian berbangkit mengerti ?"
"Baik, pohsat, hamba akan melagukan segala titah
pohsat . . . . " kedua gadis itu terus berlutut dihadapan
patung dewi Koan Im, kepala menunduk sampai ke lantai
dan mata dipejamkan erat2.
Beberapa saat kemudian dari balik patung dewi Koan Im
menyelinap keluar sesosok tubuh kecil yang dengan cepat
melintas dari samping kedua gadis itu dan terus menyelinap
keluar. Cepat sekali gerakan tubuh kecil itu.
Ah Gwat dan Ah Lan merasa ada benda terbang
memberosot di samping mereka dan mendengar kesiur
angin mendesis lembut. Tetapi karena tak berani membuka
mata dan bergerak terpaksa keduanya diam saja.
"Haahhhhhh," sosok bayangan tubuh kecil yang tak lain
adalah Ah Liong menghela napas longgar di luar gedung.
Tetapi rupanya anak itu masih belum puas
mempermainkan kedua nona tadi. Tiba2 dia mendapat
pikiran. Dengan berjalan berjingkat-jingkat, dia masuk
kedalam ruang lagi dan berhenti pada jarak setombak di
belakang Ah Gwat dan Ah Lan. Kemudian ia membuka
tutup tabung bambunya dan cup . . . seekor tikus loncat
keluar. Ah Liong segera menutup lagi. Lalu keluar. Di
ambang pintu dia berhenti untuk melihat bagaimana hasil
permainannya itu.
Ternyata karena ditaruh dalam tabung dan berdesakdesak
dengan kawan2nya, selekas Ioncat keluar, tikus itu
ngamuk. Melihat kedua gadis itu sedang berlutut dengan
tubuh meliuk dan kepala menunduk sampai ke lantai, tikus
itu terus lari menghampiri. Dia loncat ke punggung Ah Lan
dan menggigit tengkuknya lalu loncat ke kepala Ah Gwat
dan menggigit telinganya, cit, cit, cit, ciiiiiittt ....
Bukan tak tahu kedua gadis itu kalau punggung
digerayangi tikus. Namun karena takut kepada dewi Koan
Im, mereka terpaksa menahan diri.
Eh, tikus itu memang kurang ajar. Habis menggigit
telinga terus merayapi muka Ah Gwat dan menggigit
hidungnya, lalu lari menggigit bibir Ah Lan.
"Aihhhhh ....," kedua gadis itu menjerit dalam hati.
Karena tak kuat menahan siksa lahir dan batin, kedua gadis
itupun terus rubuh pingsan.
"Rasakanlah pembalasanku, anak perempuan," kata Ah
Liong, "masakan sudah dipaksa sembunyi dibawah kolong
masih mukaku engkau kentuti."
Ah Liong terus keluar dari markas dalam lembah itu.
Sebenarnya ia hendak menyulut korek, membakar tikus
yang masih sisa lima ekor itu dan dilepaskan kedalam
markas. Penghuni markas tentu takut setengah mati dan
markas mereka tentu terbakar. Tetapi setelah melihat Ah
Gwat dan Ah Lan tersiksa sampai pingsan, dia tak tegah
untuk melepaskan kelima tikus dalam tabungnya lagi.
Ah Liong tahu bahwa anak perempuan itu paling takut
berhadapan dengan tikus. Bahkan nenek Gok yang sudah
tua, pun akan menjerit ketakutan kalau melihat tikus lari
menghampirinya.
Sebenarnya Ah L'ong hendak membuang saja tikus-tikus
itu tetapi pada lain saat ia kasihan dan tetap dibawanya
juga. Di luar markas dia disambut oleh si Bule dan akhirnya
dapat menemui Huru Hara. Borgolan Huru Hara segera
dibuka dan merekapun melanjutkan perjalanan
II
Dalam suasana perang, keadaan negeri goncang. Sejak
pemerintah kerajaan Beng hijiah ke selatan ke kotaraja
Lam-kia, maka pasukan Beng masih bertahan didaerah
barat dari sungai Hong Ho.
Banyak sekali pengacau2, kaum persilatan Liok-lim
(Rimba Hijau atau dunia begal), yang bergerak keluar untuk
mengail di air keruh. Di-samping itu juga timbul gerakan
rakyat atau yang disebut Lasykar Rakyat yang berjuang
melawan tentara Ceng.
Dewasa itu terdapat beberapa gerakan rakyat berjuang,
Kaum pendekar dari dunia persilatan, membentuk suatu
wadah perjuangan dengan nama Rakyat Berjuang atau
pasukan Suka Rela (Gi-yong-kun). Mereka berkedudukan di
wilayah barat.
Juga ada gerakan rakyat berjuang yang memakai nama
Lasykar Tani. Dulu pasukan ini dibentuk oleh Li Cu Seng.
Gerakan ini berhasil besar. Pernah menduduki kotainja
Pakkia.
Bagaimana asal mula keruntuhan kerajaan Beng,
izinkaniah kami hilangkan ihtisar sejarah timbul-runtuhnya
kerajaan2 di Tiongkok. Mudah-mudahan dengan ihtisar ini,
pembaca dapat memiliki gambaran yang lebih jelas.
Terutama sejarah kerajaan Beng dan timbulnya kerajaan
Ceng, di-mana kissah BLOON CARI JODOH atau
Pendekar Huru Hara ini terjadi sehingga anda akan lebih
dapat meresapinya.
==oo0oo==
Setelah menumbangkan kerajaan Sung maka Kubilai
Khan mengangkat diri sebagai raja Tiong kok dengan gelar
Goan-si-cou. Kota kerajaan berkedudukan di Cathay atau
Pak-kia (nama sekarang Peking).
Sebelum menjadi Khan atau pemimpin besar suku Tartar
Mongol, Kubilai itu seorang anak dari Tuli. Dan Tuli itu
anak dari Jenghis Khan.
Jenghis Khan mempunyai banyak isteri. Tetapi dia tetap
mencintai dan menghargai isterinya yang pertama, Bortai.
Bortai melahirkan empat putera lelaki yang diberi nama
Yuchi, Jagatai, Ogotai dan Tuli. Sebenarnya nama2 itu
berasal dari yell atau pekik pembangkit semangat waktu
menyerang musuh di medan perang.
Suku Mongol itu hidup di daerah antara sungai Onon
dan sungai Kerulon disebelah timur laut Mongolia. Suku
Mongol adalah bangsa yang masih liar dan kuat, Mereka
mengaku keturunan Serigala biru. Seperti semua bangsa
Tartar, demikian istilah yang digunakan untuk menyebut
suku yang masih liar, suku Mongol itu diam di kemah2
yang dibuat dari kulit binatang dan berbentuk bulat.
Kemah2 itu disebut yurt. Mereka bergerak kian kemari
menggembala kuda, sapi dan kambing.
Sebelum dinobatkan menjadi Jenghis Khan, dia bernama
Temuyin, putera dari Yessugai, seorang Khan atau kepala
suku Mongol. Setelah Yessugai mati keracunan makan
dalam sebuah pesta maka Temuyin diangkat sebagai
pengganti. Sejak masih muda ia sudah memperlihatkan diri
sebagai pahlawan yang cerdas, gagah dan cakap. Ia berhasil
memimpin segenap kepala suku. Yang tak mau tunduk,
tentu diperangi dan dikalahkannya.
Pada tahun Masehi 1206, disebuah dataran sungai Onon,
ia mengadakan rapat besar dari semua kepala suku Mongol.
Pada waktu itu dia sudah berusia 44 tahun. Rapat besar
bersepakat untuk menobatkan dia sebagai pemimpin
seluruh suku Mongol. Dia diberi gelar Jenghis yang berarti
Amat Besar. Jenghis Khan berarti Pemimpin Besar.
Sejak itu dia memimpin suku Mongol dan semua suku2
bangsa Tartar di sebelah utara gurun Gobi untuk
melakukan serangan pada bangsa Kim. Setelah berhasil
menghancurkan bangsa Kim, Jenghis Khan masuk ke
wilayah Cathay atau Tiong-goan. Kemenangan demi
kemenangan telah direnggutnya. Tetapi sebelum ia berhasil
menduduki seluruh negeri Cathay maka ia menerima berita
bahwa bangsa Cathay Hiram telah mengancam di dae rah
barat yang telah dikuasainya. Ia segera tinggalkan medan
perang di Tiong-goan dan kembali ke barat untuk
menghancurkan serangan suku Cathay Hitam itu.
Setelah menang ia masih melanjutkan lagi untuk
menyerang beberapa negara didaerah barat, yani Kwaresm,
Bokhara, Samarkand, Herat dan Nishapur. Lalu Jengis
Khan mengirim utusan kepada Syah atau raja Turki yang
diharuskan mengirim upeti kepadanya.
Setelah bertahun-tahun memerangi daerah barat dan
mendapat kemenangan besar, akhirnya dia pulang. Tetapi
di tengah jalan dia meninggal dunia.
Empat orang puteranya diberi daerah kekuasaan
sendiri2, agar jangan sampai timbul perang saudara. Ogotai
diangkat sebagai Khan Besar menggantikan kedudukan
ayahnya. Ia mengalahkan Persia, Irak dan Syria dan
mendirikan kerajaan Mongol disitu sampai berlangsung
seratus tahun lamanya.
Anak Jenghis Khan yang kedua yaitu Yuchi mendirikan
kerajaan di Rusia selatan dengan ibukotanya di sungai
Wolga. Anak yang ketiga, Jagatai menguasai bagian tengah
kerajaan Mongol. Sedang anak yang bungsu yakni Tuli,
diberi kerajaan Mongol bagian timur. Kubilai Khan adalah
anak Tuli ini.
Dimana kakeknya, Jenghis Khan, dulu belum rampung
menduduki negeri Cathay maka Kubilai Khanlah yang
menyelesaikannya. Dia berhasil mengaiahkan kerajaan
Song dan mendirikan kerajaan Goan dengan ibukota di
Pakkia.
Setelah menguasai daratan Cathay (Tiongkok) Kubilai
Khan masih ingin meluaskan tanah jajahannya. Dia
mengirim utusan, Meng-ki ke Singasari yang saat itu
diperintah oleh raja Kertanagara. Karena marah atas surat
Kubilai Khan yang meminta supaya Singasari
menghaturkan upeti, raja Kertanagara telah mencacah
muka Meng Ki dan mengusirnya. Kubilai Khan marah lalu
mengirim pasukan untuk menghukum Singasari, Tetapi
pada waktu itu Singasari sudah hancur diserang raja
Jayakatwang dari Daha (Kediri). Kedatangan pasukan
Kubilai Khan disambut oleh Raden Wijaya, putera
menantu raja Kartanagara, dan diperalat untuk menyerang
Daha. Setelah Daha dapat dikalahkan, Raden Wijaya
menyerang pasukan Kubilai Khan itu dan kemudian
mendirikan kerajaan baru yang diberi nama Mojopahit.
Namun telah menjadi kodrat hidup bahwa segala sesuatu
di dunia ini tak kekal atau langgeng. Setelah hampir seratus
tahun memerintah di Tiongkok, akhirnya kerajaan Goan
ditumbangkan oleh Cu Goan Ciang yang kemudian
mendirikan kerajaan Beng dan dia sendiri bergelar Beng
thay-cou dan mengganti kotarajanya di Lam-kia.
Setelah kaisar Beng thay-cou meninggal maka puteranya,
pangeran Cu Li dengan menggunakan kekerasan telah
merebut tahta kerajaan. Sebenarnya kaisar Beng thay-cou
tidak mewariskan tahta kerajaan kepada putera-puteranya
tetapi kepada cucunya yakni Cu Un Bun yang dianggapnya
cakap. C u Un Bun naik tahta dan bergelar kaisar Beng Hui.
Sedang Cu Li diangkat sebagai raja muda bergelar Yan
Ong. Tetapi Cu Li segera menggerakkan pengikutnya untuk
merebut tahta dari putera kemanakannya. Waktu Cu Li
berhasil merampas tahta, raja Beng Hui yang masih muda
itu telah menghilang tak ketahuan rimbanya.
Cu Li mengangkat diri sebagai kaisar Beng Seng-cou,
memindahkan kotaraja ke Pak-kia yang telah dipugar dan
dibangun kembali dengan megah sekali.
Banyak kemajuan yang teiah dicapai oleh kerajaan Beng
pada masa itu. Perdagangan maju, kebudayaan berkembang
pesat dan rakyat hidup sejahtera.
Bahkan untuk mengadakan hubungan dagang dongan
negara2 diiuar negeri, raja Beng Seng-cou telah menitahkan
supaya menghidupkan kota bandar Leng-poh, Coan-ciu dan
Kong-ciu di pesisir selatan. Dan untuk mengikat
persahabatan dengan kerajaan di seberang laut, raja Beng
Seng-cou telah mengirim ekspedisi ( perutusan) yang
bersejarah. Baginda mengangkat The Ho, seorang kasim
(kebiri ) istana, untuk mengepalai sebuah armada yang
mengunjungi ke negara2 di laut selatan membawa utusan
persahatan.
Utusan yang dikepalai The Ho itu pernah datang ke
Indonesia dan pernah mendarat di bandar Semarang. Di
kemudian hari The Ho terkenal dengan sebutan Sam Po
tayjin atau Dampo Awang. Petilasan yang pernah
disinggahi Sam Po tayjin terletak di Kedung Batu
Semarang, yang kini telah dibangun menjadi tempat ziarah.
Armada itu terdiri dari 62 buah kapal dengan 7000
anakbuah dan membawa emas, sutera barang2 porselen
(tembikar ). Duapuluh delapan tahun lamanya, tujuh kali
dia telah berangkat mengarungi tujuh samudera untuk
menunaikan tugas dari rajanya yang ingin mengadakan
hubungan dagang dengan bangsa2 di seluruh dunia.
Pasang surut, timbul tenggelam, patah tumbuh, selalu
menjadi kodrat alam yang abdi, Tiada sesuatu dalam dunia
ini yang langgeng. Demikian pula dengan kerajaan Beng
yang jaya. Akhirnya setelah memerintah selama hampir 276
tahun yakni mulai tahun Masehi 1358 sampai tahun1644,
akhirnya kerajaan Beng itu harus mundur dan diganti
dengan kerajaan Ceng.
Sebagai halnya suku Tartar Mongol mempunyai seorang
pahlawan Jenghis Khan dan Kubilai Khan, pun suku Boan
juga memiliki seorang bintang cemerlang yani Nurhacha.
Dia mempersatukan dan memimpin suku Boan yang
berasal dari suku Nichen. Suku Nchen itu tinggal di daerah
gunung Tiang-pek-san wilayah Hek-liong-kiang, hidup
sebagai pemburu dan penangkap ikan.
Dalam usia 25 tahun, Nurhacha telah diangkat sebagai
pemimpin sukunya. Dia dapat mengadakan sistim Pat-ki
atau Delapan Kelompok, yang mengatur susunan tentara
dan masyarakat menjadi delapan daerah. Dia mengajar
rakyatnya untuk bercocok tanam, Memelihara ternak.
Dalam masa perang, semua golongan dari Delapan
Kelompok itu harus masuk milisi atau menjadi prajurit.
Nurhacha mulai mengadakan hubungan barter dagang
dengan rakyat Beng, banyak sekali belajar tata peradaban
dan pengetahuan dari rakyat Beng. Suku Nichen makin
kuat dan beradab. Dan pada puncaknya, Nurhacha
mengangkat diri sebagai Go Khan ( raja ) dan mendirikan
negara Kim yang terletak disebelah timur laut wilayah
kerajaan Beng.
Setelah persiapan matang maka mulailah ia mencari
gara2 untuk menyerang pasukan Beng. Dia berhasil
menduduki dataran Liau-tang. Kemudian dia menyerang
wilayah Leng-wan tetapi dapat dipukul mundur oleh
jenderal Wan Gong Hwan dari pasukan Beng.
Beberapa tahun kemudian Nurhacha rneninggal dan
diganti oleh puteranya yang keempat, bernama Hong-taichi.
Hong-tai-chi dengan siasatnya yang pandai dapat
menaklukkan Taiwan lalu menduduki Mongolia Dalam.
Dia mengerahkan segenap suku Mongol untuk menyerang
dari timur.
Pada saat itu, mungkin sudah tiba saat hilangnya
kejayaan, keraiaan Beng mulai kacau pemerintahannya.
Wan Cong Hwan adalah jenderal setya dan gagah perkasa
yang pernah mengalahkan Nurhacha, malah dijatuhi
hukuman mati oleh Beng Su Cong raja kerajaan Beng
waktu itu.
Raja tak mengurus pemerintahan dan hanya bersenangsenang
, dengan wanita cantik. Mentri2 korup dan hanya
pandai menjilat. Kekuasaan di istana dipegang oleh mentri
Gui Tiong Hian, seorang thaykam atau kasim (orang
kebiri).
Pembesar2 daerahpun seolah-olah menjadi raja kecil di
daerahnya. Mereka menindas petani dengan beban pajak
yang berat. Bahaya kelaparan timbul dan keamananpun
rusak. Akhirnya timbullah pemberontakan yang dipimpin
Li Cu Seng.
Bermula yang memimpin Lasykar Petani ada lah Ko Ing
Siang dan Tio Hian Tiong. Li Cu Seng menjadi bawahan
Ko Ing Siang, Tetapi akhirnya kedua pemimpin ibu bentrok
pikirannya dan tak dapat kerja sama hingga hampir dapat
dihancurkan pasukan Beng. Dalam pertempuran di wilayah
Siam-say, Ko Ing Siang telah tertangkap dan dibunuh. Sejak
itu Li Cu Seng mengambil alih pimpinan. Dia mengangkat
diri sebagai raja bergelar Jong Ong.
Dia mulai mempergencar serangannya ke Pakkia.
Tentara Beng yang kebanyakan dikuasai orang kasim, tak
banyak gunanya. Kotaraja yang dikelilingi tembok benteng
yang kuat, karena penghianatan seorang kasim yang
membuka salah sebuah pintu kota, lasykar Li Cu Seng
dapat menyerbu masuk.
Baginda Cong Ceng yang tak berdaya, melarikan diri ke
bukit Bwe-san diluar kota. Malam itu amat gelap dan di tiap
sudut kota ia melihat api menyala-nyala dan teriakan
penduduk yang diganas oleh tentara Li Cu Seng.
Keesokan harinya pagi2 benar, ia masuk kedalam
ruangan mentri untuk menunggu kedatangan para mentri.
Tetapi tak seorang menteri yang mau menghadap. Baginda
putus asa, ia menanggalkan pakaian raja dan mengenakan
pakaian compang camping lalu mendaki ke bukit Bwe-san
lagi dan menggantung diri pada sebuah pohon. Keakhiran
yang tragis dari seorang raja dari sebuah kerajaan yang
pernah jaya.
Li Cu Seng lalu menyatakan dirinya sebagai kaisar dan
masuk kedalam istana Kota Terlarang.
Tetapi tak disangka-sangka kalau Go Sam Kui jenderal
tentara Beng yang sedang berperang melawan serbuan
orang Boan di utara, terkejut ketika mendengar tentang
jatuhnya kotaraja Pak-kia dan meninggalnya baginda Cong
Ceng. Ia segera mengadakan perdamaian dengan pihak
Ceng dan bahkan diajak untuk menggempur Li Cu Seng di
Pak-kia.
Mengundang harimau untuk mengusir serigala.
Demikian kata pepatah yang berarti mengusir bahaya
dengan mendatangkan bahaya. Demikian pula tindakan
jenderal Go Sam Kui. Karena hendak mengusir Li Cu Seng
yang menduduki ko taraja Pak-kia, dia telah bersekutu
dengan pasukan Ceng. Li Cu Seng dapat diusir tetapi orang
Ceng yang ganti menduduki kotaraja.
Li Cu Seng melarikan diri dan akhirnya dibunuh oleh
tuan2 tanah di gunug Kiu-kiong San. Barisan tani yang
dikumpulkan Li Cu Seng itu terdiri dari petani miskin dan
kelaparan. Mereka selalu mengganas pada setiap kali dapat
menduduki kota. Karena terpaksa kaum tuan tanah
memberi bantuan. Tetapi setelah situasi berobah, golongan
tuan tanah itu segera berbalik haluan mendukung kerajaan
Ceng dan kemudian membunuh Li Cu Seng"
Waktu Li Cu Seng mengangkat diri sebagai raja di Pakkia,
Tio Hian Tiong, pemimpin lasykar tani yang tak akur
dengan Li Cu Seng, juga menyerbu ke wilayah utara yakni
Su-jwan dan mengangkat diri sebagai raja. Setelah Li Cu
Seng dibunuh, sisa pasukannya kocar kacir. Ada yang
menyerah pada kerajaan Ceng tetapi ada yang menggabung
pada pasukan Beng untuk bersama-sama melawan orang
Boan.
Demikian pula nasib anakbuah Tio Hian Tiong mati
dalam pertempuran di gunung Hong-san. Anakbuahnya
terpecah belah dan tercerai berai seperti sapu lidi yang
kehilangan pengikat.
Waktu eerita ini — BLOON CARI JODOH — terjadi,
situasi negara Tiong-goan memang genting sekali. Kerajaan
Beng pindah ke kotaraja lama yaitu di Lam-kia (Nanking)
dan daerah2 yang masih dikuasainya yalah sebelah barat
sungai Hong-ho sehingga sampai ke barat. Sedang pasukan
Ceng menduduki sebelah timur sungai Hong-ho, kotaraja
Pak-kia dan wilayah Tiongkok bagian timur dan tidur laut.
Disamping pasukan resmi dari dua kerajaan yang sedang
berperang, terdapat juga beberapa lasykar yang timbul dari
semangat perjuangan rakyat. Yang nyata ada tiga gerakan
melawan kerajaan Ceng. Yang pertama, adalah sisa2
lasykar Li Cu Seng yang tetap melanjutkan perlawanannya
terhadap patukan Ceng. Pimpinan sisa anakbuah Li Cu
Seng yang menamakan diri sebagai Lasykar Tani, dipegang
oleh Ko Hui, putera Ko Ing Siang bekas atasan dari Li Cu
Seng.
Yang kedua, adalah gerakan rakyat berjuang yang
dibentuk oleh jago2 persilatan dan dipimpin oleh Bun Tiong
Sin, seorang pendekar dari perguruan Bu tong-pay. Dia
termasuk angkatan muda dari perguruan Bu-tong-pay.
Sedangkan jago2 angkatan tua dari perguruan2 yang
termasyhur, membantu dari belakang.
Kemudian beberapa waktu belakang ini, timbul pula
sebuah wadah baru dari pergerakan rakyat yang menentang
kerajaan Ceng. Wadah itu memakai nama Gi-yong-kun
atau barisan Suka Rela. Barisan Suka Rela ini menampung
semua unsur pejuang dari kalangan apa saja.
Lasykar Tani yang dipimpin Ko Tiang Han, memang
masih belum tersusun sempurna. Anakbuahnya adalah
sisa2 anakbuah Li Cu Seng yang telah hancur. Pikiran
mereka masih belum bersatu. Ada sebagian yang
menghendaki lebih baik menyerah saja kepada kerajaan
Ceng. Ada sebagian yang tetap hendak melanjutkan
perjuangan mereka. Kelompok yang tetap hendak
melanjutkan perjuangan itu juga terpecah belah menjadi
dua aliran. Aliran yang melanjutkan cita2 Li Cu Seng,
yalah berdiri sendiri untuk membentuk kerajaan baru. Dan
aliran kedua yalah mereka yang mau bekerjasama dengan
fihak Beng untuk melawan Ceng. Aliran kedua inilah yang
karena tak tahan menghadapi tekanan2 dari kawan2 mereka
yang beraliran ingin berdiri sendiri, mulai memisah dan
menggabung pada Barisan Suka Rela.
Siapa pimpinan Barisan Suka Rela, belum dapat
diketahui jelas. Hanya kabarnya juga seorang anakmuda
orang she Su.
Diantara ketiga gerakan yang menentang kerajaan Ceng
itu, ternyata Barisan Suka Rela yang makin menonjol dan
terkenal. Anakbuahnya kian bertambah banyak dan
pengaruhnyapun semakin besar.
Ketenaran dari Barisan Suka Rela itu diperoleh karena
setiap kali bergerak menyerang daerah i yang diduduki
tentara Ceng, mereka tentu berhasil merebutnya.
Tidak demikian dengan Lasykar Tani yang dipimpin Ko
Tiong Sin. Dia lebih sering mengalami kegagalan dan sering
harus lari bersembunyi kedalam hutan karena diobrak-abrik
pasukan Ceng.
Juga Lasykar Berjuang yang dipimpin oleh kaum
persilatan hiap-gi ( patriot ), sering mengalami kegagalan
sehingga mereka harus selalu berpindah dari satu tempat ke
lain tempat untuk menghindari pasukan Ceng yang selalu
mengejar-ngejar untuk menumpas mereka.
Demikian keadaan dalam negeri Tiong-goan pada
dewasa itu. Semoga dengan ihtisar sejarah akhir kerajaan
Beng yang kita uraikan diatas, dai patlah pembaca sekalian
mengikuti perkembangan peristiwa2 yang akan terjadi
dalam cerita BLOON CARI JODOH ini.
Memang peperangan itu menimbulkan penderitaan dan
kesengsaraan. Dikala negara sedang diserang musuh, setiap
warga negara tentu dilanda musibah dan kesukaran. Nasib
negara adalah nasib keluarga setiap rumahtangga. Maka
hubungan rakyat dengan negara itu tak dapat dipisahkan
seperti ikan dengan air.
Kewajiban membela negara tidak hanya semata terletak
pada pembesar, hulubalang, tentara dan mereka2 yang
bertugas merjaga keamanan negara. Tetapi merupakan
tanggung jawab seluruh rakyat.
Setya dan cinta kepada negara merupakan dasar
landasan yang paling kokoh untuk menanggulangi tanggung
jawab membela negara.
Kepentingan negara diatas segala kepentingan, terutama
kepentingan peribadi. Karena adanya pemujaan pada
kepentingan peribadi itulah yang melahirkan penghianat2
bangsa dan penjual negara.
Akhir kerajaan Beng, merupakan jaman yang penuh
peperangan dan pergolakan. Karena hidup di jaman itu,
seperti lain2 pendekar pejuang, Bloonpun juga cancut
taliwondo, berkiprah menghadapi musuh dan penghianat2.
==oo0oo==
Lembah yang terletak dipedalaman sebuah utan
belantara itu, penuh bertabur dengan gunduk2 batu besar
kecil. Dikelilingi dengan deretan batu cadas yang tinggi.
Diujung lembah, terbentang sebuah tanah lapang yang
saat itu sedang dikerumuni oleh berpuluh lelaki. Mereka
berpencar duduk digunduk batu. Diantaranya terdapat tiga
orang lelaki muda yang duduk diatas batu datar seperti
meja. Empat orang, seorang pemuda, seorang anak laki dan
dua orang gadis cantik tengah tegak menghadap ketiga
lelaki muda itu.
Orang2 yang berada di tanah lapang itu berpakaian
beraneka ragam, kotor dan ada yang sudah robek. Sepintas
menyerupai petani2 miskin.
"Siapakah nona berdua ini?" tegur lelaki brewok yang
duduk ditengah.
"Aku dari himpunan Cewek Pungli, perlu mengantarkan
kedua orang yang anda pesan supaya dibawa kemari," kata
salah seorang gadis yang bertubuh tinggi semampai.
Lelaki itu terkesiap tetapi cepat bertanya pula, "O,
maksud nona, anakmuda dan anak laki ini ?"
"Ya," kata gadis itu, "dialah yang bernama pendekar
Huru Hara dan yang tempo hari pernah menyelamatkan
kolonel Totay dari pasukan Ceng waktu pasukan rakyat
menyerbu kota itu."
Lelaki brewok itu mengangguk, "Bagus, nona telah
membantu perjuangan Lasykar Tani untuk menangkap
penghianat negara,"
"Ah, tak perlu anda menghaturkan pujian sedemikian,"
kata si gadis, "kita sama2 berjuang melawan penjajah Ceng.
Sudah menjadi kewajiban kami segenap anggauta Cewek
Pungli untuk menangkap dan membunuh kewanan
penghianat."
"O, nona dari himpunan Cewek Pungli ?" lelagi brewok
itu agak terkejut.
Gadis itu juga terkejut, "Tetapi bukankah anda telah
menghubungi kami untuk menangkap pemuda penghianat
ini ?"
Lelaki brewok itu dengan tersendat-sendat segera
menyahut, "O, ya, ya, benar."
"Orang yang anda butuhkan telah kami serahkan.
Terserah saja bagaimana anda hendak mengurusnya," kata
gadis itu pula.
Setelah menerima baik penyerahan itu maka lelaki
brewok segera mulai mengajukan pertanyaan kepada Huru
Hara, "Hai, siapakah namamu ?"
"Loan Thian Te," sahut Huru Hara.
"Engkau tahu kesalahanmu ?"
"Aku tidak merasa bersalah. Kalau engkau anggap aku
bersalah, coba engkau beritahukan di mana kesalahanku
itu."
"Menurut keterangan nona tadi, engkau telah menolong
kolonel pasukan Ceng yang bernama Totay dari serbuan
pasukan rakyat, bukankah begitu ?"
Huru Hara tak menjawab.
"Hai, mengapa engkau diam saja ?"
"Sudah tentu tak perlu kujawab. Engkau kan seharusnya
tahu tentang peristiwa itu, mengapa harus bertanya lagi
kepadaku ?"
"Aku perlu pengakuanmu !"
"Aneh, apa engkau tak tahu tentang peristiwa itu ?"
"Benar," tiba2 gadis yang mengenakan kerudung kain
h'tam menyela, "bukankah pasukan anda ini yang telah
menyerang kota Sam-kwan ketika diduduki tentara Ceng
dibawah pimpinan kolonel Totay?"
Leiaki brewok itu gelengkan kepala, "Bukan. Pasukanku
ini baru saja datang dan bersiap-siap hendak menyerbu
Sam-koan."
"Tetapi bukankah kesatuan lasykar rakyat yang tempo
hari menyerang Sam-koan itu juga sama dengan pasukan
anda ini ?"
"Ketahuilah nona," kata lelaki brewok itu, "mungkin saja
memang kawan kami tetapi juga mungkin bukan."
"O, apakah tentara rakyat itu banyak jumlahnya ?" nona
berkerudung kain hitam itu mulai heran,
"Ya," sahut lelaki brewok, "tetapi hanya ada tiga
kesatuan lasykar yang paling besar, yani Lasykar Tani,
Lasykar Rakyat dan Barisan Suka Rela."
"Dan anda ini termasuk kesatuan yang mana?"
"Lasykar Tani."
"Ah," tiba2 gadis berkerudung kain hitam yang tak lain
Ah Lan ,,itu terkejut, "jika begitu …."
"Kenapa ?" tegur lelaki brewok.
"Kami salah alamat. Yang berhubungan dengan kami
adalah Lasykar Suka Rela yang tempo hari menyerang
Sam-koan."
"Ah, sama saja," sahut lelaki brewok itu, "kamipun juga
akan menghukum setiap orang yang berhianat mau
berhamba pada orang Ceng."
"Memang sama," jawab Ah Lan, "tetapi kami hanya
berhubungan dengan Barisan Suka Rela. Dengan Lasykar
Rakyat, kami tak pernah berhubungan."
"Lalu bagaimana maksud nona ?"
"Terpaksa kami akan melanjutkan perjalanan lagi untuk
mencari Barisan Suka Rela itu."
Lelaki brewok tak menjawab tetapi bisik2 dengan kedua
kawannya yang berada disebelahnya. Sesaat kemudian baru
dia berkata, "Soal ini, tak perlu nona harus susah payah
mencari Barisan Suka Rela itu. Kami, Lasykar Tani, juga
benci dan wajib membunuh setiap penghianat bangsa.
Maka harap nona serahkan saja orang ini kepada kami.
Kami tentu akan memberi hukuman yang setimpal dengan
dosanya."
Ah Lian, kawan Ah Lan, cepat berseru, "Tidak, kami
mendapat perintah untuk menyerahkan kedua orang ini
kepada pimpinan pasukan Suka Rela. Maka kamipun harus
melaksanakan perintah pimpipinan kami."
"Eh, apakah nona tak percaya kepada Lasykar Tani?"
"Bukan soal percaya atau tidak" sahut Ah Lian, "tetapi
aku harus mentaati perintah pimpi-nanku."
Lelaki brewok itu tertawa, "Nona," serunya, "menurut
kabar selentingan, Barisan Suka Rela itu bukan berjuang
sesungguhnya ..."
"Apa katamu ?" teriak Ah Lan.
"Dengarkan dulu kataku," kata lelaki brewok iiu,"
pimpinan kami mulai menaruh kecurigaan terhadap sepak
terjang Barisan Suka Rela." "
"Hai, makin lama engkau makin ngaco belo!" bentak Ah
Lian, "apa dasarnya engkau mencurigai Barisan Suka Rela
yang lelah membuktikan diri paling berhasil dalam
perjuangannya melawan tentara Ceng?"
"Justeru itulah yang menimbulkan kecurigaan kami,"
seru lelaki brewok, "Lasykar Tani selalu gagal dan selalu
dikejar kejar oleh tentara Ceng. Demikian pula nasib
pasukan Lasykar Rakyat yang dipimpin oleh kaum
persilatan. Mereka selalu diburu-buru pasukan Ceng. Setiap
gerakan mereka untuk menyerang sebuah tempat yang
diduduki tentara Ceng, tentu gagal karena tentara Ceng
sudah tahu dan mempersiapkan kekuatan yang besar."
"Jangan mercari kesalahan lain orang," seru Ah Lian,
"kalau engkau dan Lasykar Rakyat itu gagal, carilah
kesalahan itu pada dirimu sendiri, mengapa sampai gagal.
Jangan engkau iri pada keberhasilan Barisan Suka Rela.
Sesama kaum perjuangan harus tak boleh mengiri dan
mencurigai."
"Terima kasih alas nasehat nona," sahut lelaki brewok
itu, "bermula kami pun mempunyai pendirian begitu.
Buktinya selama bertahun-tuhun ini, kami berjuarg menurut
cara sendiri. Tetapi karena kami mendapat pengalaman
yang pahit, akhirnya kamipun mengadakan penilaian. Dan
penilaian itu menimbulkan kecurigaan kami terhadap gerak
gerik Barisan Suka Rela."
"Apa engkau mempunyai bukti selain dari penilaian itu?"
"Bukti itu sedang kami kumpulkan. Sekarang sih belum
ada tetapi kami percaya, pada suatu saat kami tentu akan
memperohh bukti itu."
"Hm, terserah, itu urusanmu. Tetapi adakah karena hal
itu maka engkau hendak meminta tawanan ini?"
"Kami tidak meminta tetapi nona yang mengantar
sendiri. Sekali sudah berada dalam tangan kami, kami
takkan melepaskannya lagi. Akan kami selidiki dulu,
benarkah dia seorang penghianat, kalau memang benar,
saat itu juga akan kami bunuh."
"Ah, tidak," jawab Ah Lian, "aku akan tetap membawa
pergi kedua tawanan itu."
"Nona," kata lelaki brtwok itu, "orang mungkin dapat
masuk kedalam Lembah Seribu Karang ini, tetapi jangan
harap dia dapat keluar tanpa seijin kami."
"Eh, engkau hendak menahan aku?"
"Nona sudah mengetahui rahasia lembah ini. Sebelum
kami tahu siapa sebenarnya nona ini terpaksa untuk
sementara waktu kami minta nona tinggal di lembah ini."
"O, engkau hendak menahan kami?" Ah Lian menegas.
"Kami terpaksa berusaha untuk menjaga keamanan
kami," sahur lelaki brewok.
Ah Lin dan Ah Lian tegang. Keduanya hendak
mengantarkan tawanan tetapi malah ditawan. Sudah tentu
kedua nona itu marah.
"Kedua nona itu tidak bersalah," tiba2 Huru Hara
berkata, "jangan mengganggu meieka."
"Eh, engkau ini seorang penghianat yang menunggu
hukuman mengapa berani ikut bicara!" bentak lelaki
brewok.
"Aku akan mempertimbangkan tuduhanmu, setelah
engkau menjawab pertanyaanku!"
"Gila!" teriak lelaki brewok itu, "yang akan
mempertimbangkan hukumanmu adalah aku, mengapa
engkau berani mati hendak mempertimbangkannya."
"Aku akan menilai engkau pantas memberi hukuman
kepadaku atau tidak!"- seru Huru Hara.
"Hm, manusia yang tak tahu mati," seru le laki brewok
itu, "ditangan Lasykar Tani tidak ada yang berhak menilai
lagi kecuali harus tunduk pada keputusan kami."
"Hm, coba saja kita lihat nanti," desuh Huru Hara.
"tetapi sebelumnya aku hendak bertanya apakah engkau
berani menjawab?"
"Lho, mengapa tidak berani?"
“Apakah kalian pernah merangkap seorang aki tua
bertubuh pendek ketika terjadi serangan kota Sam-koan?"
kata Huru Hara.
'"Orang tua pendek?" lelaki brewok itu kerutkan dahi lalu
gelengkan kepala, "tidak."
"Baik," kata Huru Haia, "jika begitu maaf, ku tak dapat
tinggal lama disini. Aku hendak mencari pamanku itu.
Mungkin dia ditawan oleh Barisan Suka Rela atau Lasykar
Rakyat."
Habis berkata dia terus berpaling kepada Ah Lan, "Nona,
bawa kami kepada mereka!"
"Tunggu!" teriak lelaki brewok ketika Huru Hara
berputar tubuh dan terus melangkah hendak pergi.
Tetapi Huru Hara tak rnempedulikan. Dia terus ayunkan
langkah. Berpuluh puluh lelaki yang duduk mengelilingi
tempat itu serempak berbangkit dan menghadang.
Sementara lelaki brewok dan kedua kawannya tadi segera
menghampiri.
"Hm, seenakmu sendiri saja engkau hendak pergi, ya!"
seru lelaki brewok.
'"Mau apa engkau?" bentak Huru Hara. Lelaki brewok
dan kedua kawannya terbeliak. Mereka merasa jantungnya
seperti melonjak mau putus ketika dibentak Huru Hara.
"Engkau adalah tawanan kami!" sesaat kemudian lelaki
brewok itu balas membentak.
"Hm, mengingat kalian ini berjuang menentang orang
Ceng maka akupun takkan memusuhi kalian tetapi
janganlah kalian coba2 mengganggu aku!"
'"Tangkap!" teriak lelaki brewok itu,- Tetapi sebe'um
kumandang perintahnya berhenti, tiba2 ia terkejut karena
sesosok bayangan berkelebat menyambarnya. Sedemikian
cepat bayangan itu bergerak sehingga ia tak sempat
menghindar dan bergerak. Tahu2 dia sudah diringkus
orang, auhh h. .. ia mengaduh kesakitan karena tulang
lengannya yang ditekuk ke belakang punggung itu serasa
mau patah.
Kedua kawannya terkejut ketika melihat si brewok telah
diringkus pemuda yang menjadi tawanan itu. Mereka
hendak menyerang untuk melepaskan kawannya. Tetapi
kedua orarg itu terpelanting ke tanah karena disambut
dengan tendangan.
Yang bergerak secepat bayangan setan itu adalah Huru
Hara. Dia kuatir akan menimbulkan pertumpahan darah
besar maka dia meringkus dulu si brewok yang dianggapnya
tentu pemimpin mereka. Kedua kawan si brewok yang
maju, ditendangnya.
"Hayo, bangun,” seru Ah Liong seraya mencengkeram
perut kedua orang itu dan diangkatnya. Kedua orang itu
menggeliat bangun tetapi waktu berdiri mereka cepat-cepat
mendekap perut celananya, wajahnya merah tegang.
Ternyata tali kolor celana dalam mereka putus dan tangan
mereka sibuk merogoh kedalam untuk menarik celanadalamnya
yang melorot turun.
"Cabul !" teriak Ah Liong seraya menuding muka kedua
orang itu," masakan dihadapan sekian banyak orang, kalian
merogoh-rogoh kedalam celana. Merogoh apa itu ?"
Berpuluh-puluh orang yang mengepung Huru Hara
dengan menghunus senjata itu, terpengaruh mendengar
suara Ah Liong. Mereka terlongong-longong melihat gerak
gerik kedua atasannya.
"Plak, plak Ah L:ong menampar pipi kedua orang itu
seraya mendamprat, "hai, jangan lanjutkan kecabulanmu.
Apakah engkau tak tahu kalau disini ada dua orang nona
yang hadir !"
Kedua orang itu merah padam mukanya. Mereka benar2
kelabakan setengah mati. Kalau melepaskan tangan dan
menghajar anak itu, tentu lah celana-dalamnya akan
melorot kebawah dan mengganggu gerakannya. Tetapi
kalau diam saja, mereka malu sekali karena dihadapan
berpuluh-puluh anakbuahnya, muka mereka ditampar
seorang anak kecil,
"Plak, plak.... kalian masih nekad berbuat cabul, ya ?"
kembali Ah Liong menampar pipi yang sebelah dari kedua
orang itu.
Kali ini tamparan Ah Liong lebih keras sehingga kedua
orang itu pusing kepalanya dan pejamkan mata.
Bret, bret .... tiba2 Ah Liong menarik celana kedua orang
itu bagian pinggang belakang sehingga kancing dan ikat
pinggang kedua orang itu putus. Kali ini mereka memekik
keras2 dan terus lari tinggalkan tempat itu, sambil
mendekap pinggang celananya kencang2.
Melihat adegan itu, walaupun tegang, mau tak mau
sekalian anakbuah Lasykar Tani itu meringis tertawa.
"Hai, mengapa tertawa ? Siapa suruh engkau tertawa !"
bentak Ah Liong.
Sekalian anakbuah Lasykar Tani tertegun.
"O, benar, memang tertawa itu penting. Supaya hati
gembira, awet muda. Mau tertawa lagi, ya, ?" seru Ah
Liong terus menghampiri ketempat lelaki brewok.
Lelaki brewok itu sedang tak berkutik karena kedua
tangannya ditelikung Huru Hara. Tanpa berkata apa2, Ah
Liong terus mencengkeram perut orang itu dan ditariknya,
bret, sabuk dan kancing celana orang itu putus dan
celananyapun melorot turun ....
Terdengar suara berkumandang yang ditahan ketika
melihat si brewok itu celananya luar melorot turun dan
tinggal pakai celana dalam saja.
"Hai, tak perlu ditahan, hayo tertawalah yang keras
supaya sehat," teriak Ah Liong kepada atakbuah Lasykar
Tani.
Tanpa d sadari, sekalian anakbuah Lasykar Tani itu
seperti terhanyut dalam buaian kata2 Ah Liong. Mereka
meringis.
"Hai, apa kurarg lucu? Baik, biar celara-dalamnya juga
gua putus . . . ," Ah Liong terus hendak gerakkan
tangannya.
"Aduh, jangan . . . !" teriak si brewok itu dengan wajah
tegang sekali.
"Mengapa jangan! Anakbuahmu merasa belum lucu
maka engkau harus memberi penunjukan yang lebih lucu
lagi, tahu!"
"Jangan, jangan . . . , " brewok berteriak keras ketika
tangan Ah Liong menjamah perutnya. Dia tak berani
meronta karena tadi pernah dicobanya tetapi lengannya
malah semakin sakit bukan kepalang.
"Hm, kalau begitu engkau perintahkan anak buahmu
tinggal disini, tak boleh bergerak!"
"Dengar tidak?" bentak Ah Liong seraya mencengkeram
perut si brewok. Tapi bukan untuk memutus tali celanadalamnya,
melainkan untuk menggelitik perut orang. Sudah
tentu si brewok makin setengah mati. Mau tertawa malu
kerena takut disangka orang gila oleh anak-buahnya.
Namun kalau tak tertawa, dia merasa geli perutnya dikitikkitik
si Ah Liong. Akhirnya ia hanya meringis seperti
monyet makan sambal .!
"Baik, baik," akhirnya dengan menahan geli, mengkal,
kheki, dia berkata.
Ah Liong lepaskan cengkeramannya. Dan lelaki brewok
itupun segera berseru, "Kawan, kembalilah ke tempat
duduk kalian masing2, beri jalan kepada orang2 ini."
Huru Hara kendorkan tekanannya lalu menggusur orang
itu diajak keluar dari lembah.
"Aku tak dapat berjalan," teriak si brewok.
"Kenapa ?" tanya Huru Hara. Tetapi ketika melihat
celana luar orang itu melumpruk diatas kaki, baru dia tahu
sebabnya, "Ah Liong, naikkan celananya lagi dan ikat yang
kencang."
Setelah Ah Liong melakukan perintah barulah orang itu
mau berjalan. Ah Liong, Ah Lui dan Ah Lan mengikuti
dibelakang.
"Apakah kita serbu saja orang sinting itu,” bisik seorang
anakbuah Lasykar Tani.
"Ya, benar. Masakan toako (pimpinan) kita dibekuk
seperti pesakitan."
"Setan cilik itu lebih kurang ajar lagi." ,
Setelah tiba di mulut lembah, barulah Huru Hara
lepaskan orang itu, "Jika mau, mudah sekali
membunuhmu. Tetapi karena engkau berjuang memimpin
Lasykar Tani yang menentang penjajah Ceng, maka aku tak
mau mengganggu jiwamu, kembalilah dan jangan coba2
mengejar langkahku !"
Orang itu masih tegak ditempatnya. "Atau mungkin
engkau masih kurang puas ?" Orang itu tundukkan kepala
lalu berjalan masuk kedalam lembah.
"Tunggu !" seru Huru Hara. Orang brewok itu terpaksa
berhenti, "kalau anakbuahmu hendak menyerang kota Samkoan,
lakukanlah pada waktu tengah malam. Penjagaan
disana cukup kuat. Jangan mengadu kekuatan. Lebih baik
gunakan panah api untuk membakar markas mereka !"
Tanpa menunggu jawaban orang itu Huru Hara terus
ayunkan langkah. Ah Liong dan kedua gadis itupun
mengikutinya.
Setelah jauh dari lembah, berkatalah Huru Hara,
"Kemana nona hendak mengantar kami ke tempat Baiisan
Suka Rela itu ?"
"Tempat mereka tidak menentu. Tapi biasanya mereka
bersembunyi di gunung dan hutan lebat," kata Ah Lian,"
kira2 tigapuluh li dari sini setelah melalui sebuah desa
terdapat sebuah gunung. Kita kesana "
Apa yang dikatakan Ah Lian memang benar. Tak berapa
lama mereka tiba disebuah desa. Tetapi apa yang mereka
saksikan dldesa itu, menimbulkan kemarahan dan
kemuakan.
Bertempat di rumah kediaman kepala desa sedang
dilangsungkan pesta perjamuan besar. Pesta itu bukan pesta
pernikahan juga bukan pesta upacara merayakan hari
peringatan, melainkan pesta untuk menjamu kawanan
prajurit Ceng yang mengganas kota itu. Penduduk, tua
muda, laki perempuan, besar kecil, diharuskan datang
membawa barang dan makanan untuk mereka.
"Hayo, kita masuk kesana," kata Huru Hara kepada Ah
Liong.
-oodwoo-
Jilid 16
Ketika Huru Hara berempat masuk kedalam rumah
maka seorang penduduk yang rupanya bertugas sebagai
penyambut tetamu segera menghadang.
"Mau apa saudara ini?" tegur orang itu.
"Bukankah tuan2 besar itu sedang berpesta?" balas Huru
Hara.
"Siapa yang saudara maksudkan tuan besar itu?"
"Siapa lagi kalau bukan prajurit2 Ceng."
"Lalu saudara mau apa?"
"Mau mengantar barang hadiah."
"O, baik, silakan masuk," orang itupun menyisih ke
samping memberi jalan.
Huru Hara segera melangkah masuk. Tiba2 Ah Liong
berbisik, "Engkoh, idinkan aku yang memberikan isi tabung
ini sebagai hadiah kepada mereka."
Huru Hara mengiakan. Ia baru teringat kaIau apa2.
Lebih baik biar Ah Liong yang membelikan isi tabung itu.
"Hai, mau apa engkau!" bentak seorang prajurit
berpangkat kopral. Rupanya dialah kepala kelompok
prajurit yang memeras penduduk untuk menyediakan
makanan dan barang2 persembahan.
"Kami penduduk dari desa tetangga. Karena mendengar
prajurit2 Ceng sedang berpesta disini, kamipun memerlukan
datang untuk mengantar barang bingkisan." sahut Huru
Hara.
Waktu kopral iitu hendak berkata, matanya tertumbuk
pada kedua gad's cantik, Ah Lan, Ah Lian, yang berada di
belakang Huru Hara. Serentak matanya berkilat-kilat.
"Aha, tak perlu saudara repot2 menyerahkan apa2.
Bawalah kembali barang2mu itu," kata kopral itu, "tetapi
siapakah kedua nona yang berdiri dibelakang saudara ini?"
"Ini . . .. "
"Apakah isterimu?" tukas sang kopral.
"Bukan."
"Bagus," seru kopral itu dengan gembira, "saudara boleh
pulang, tetapi kuminta kedua nona itu supaya tinggal disini
melayani aku."
'Huru Hara terkejut. Dia marah. Tetapi sebelum sempat
membuka mulut, Ah Lian sudah mendahului, "Baik, loya,
kami senang dapat melayani loya sekalian."
"Bagus, nona cantik, kalau dapat memuaskan hatiku,
tentu akan kuberi hadiah besar," seru kopral itu.
Huru Hara terkejut. Tetapi ketika ia berpaling dilihatnya
Ah Lan memberi kicupan mata kepadanya. Setelah itu Ah
Lan berkata kepada kopral prajurit Ceng, "Tetapi kami
minta supaya saudara kami ini boleh hadir dalam
perjamuan agar besok dapat membawa kami pulang."
Tanpa banyak pikir, kopralpun meluluskan.
"Eh, cici, mengapa engkau mau melayani prajurit2 Ceng
ini?" teriak Ah Liong yang tak mengerti maksud kedua
nona itu.
"Adik, tak apalah. Mereka perlu dihibur. Penduduk di
desa ini tak mengerti bagaimana cara menghibur prajurit,"
kata Ah Lan sambil mengedipkan mata.
Tetapi Ah Liong tak mengerti, dia tetap ngotot, "Ah,
mereka kan prajurit2 yang menindas rakyat, perlu apa harus
dihibur?"
"Celaka anak ini," diam2 Ah Lan mengeluh dalam hati.
Cepat dia memberi keterangan kepada Ah Liong, "Adikku,
jangan kuatir, aku tahu bagaimana harus melayani mereka.
Silakan engkau duduk saja ikut berpesta."
"Tidak mau!" teriak Ah Liong, "pendeknya cici jangan
melayani mereka. Kalau mereka marah, akulah yang akan
menghadapi mereka.”
Ah Lan makin kelabakan. Kalau mau menjelaskan
bahwa itu hanya suatu siasat. tentu terdengar oleh kopral
Ceng itu. Namun kalau tak dijelaskan tentu Ah Liong
masih ngotot saja.
"Hai, anak kecil, jangan nakal. Cicimu tak apa2, hanya
akan melayani kami pesta di sini. Besok engkau boleh
pulang dengan dia. Duduklah disana dan engkau mau
makan dan minum apa saja, bilang pada pelayan."
Ah Liong kerutkan dahi berpikir, "Hm, enak juga, ya ?"
"Jangan kuatir, anak baik. Siapa yang tak mau memberi
apa yang engkau minta, kasih tahu. Nanti kuhajarnya," kata
kopral itu pula.
"O, apa kalian ini tukang berkelahi ?"
"Prajurit memang pekerjaannya berperang dan berkelahi
dengan musuh, Kenapa ?"
"Aku juga senang berkelahi," kata Ah Liong "di desaku
aku sudah kehabisan musuh. Aku senang sekali kalau
bertemu dengan orang yang suka berkelahi."
"Maksudmu bagaimana ?" tanya kopral.
"Begini soal taci hendak engkau suruh melayani, aku sih
tak keberatan," kata Ah Liong," tetapi supaya lebih
menambah meriah pesta ini, kuminta supaya diadakan
pertunjukan adu kekuatan."
"Adu kekuatan ? Siapa dengan siapa ?"
"Engkau dan prajurit2mu boleh pilih lawannya, aku atau
engkohku. Mau berkelahi boleh, mau adu tenaga boleh.
Pokoknya terserah permintaan, kalian."-
Melihat sikap dan kata2 bocah kecil yang berambut
kuncung itu, diam2 kopral geli. Ia merasa suka kepada anak
itu, "Ah, ketahuilah anak kecil. Prajurit2ku itu bertenaga
besar dan tukang berkelahi, kalau sampai engkau terluka,
bukankah kasihan nanti."
"Begini pra .... eh, apa pangkatmu ?"
"Kopral."
"Kopral," kata Ah Liong, "beginilah. Kita bertaruh.
Kalau aku dan engkohku kalah, taci itu boleh ikut engkau
selamanya. Terserah mau engkau bawa kemana saja !"
"Sungguh ? Ah, jangan main2, adik kecil."
"Siapa yang main-main ?" kata An Liong, "tetapi kalau
kalian kalah, bagaimana ?"
Kopral itu memandang Ah Long; Bocah kuncung yang
baru berumur 9 tahun dan tak nampak mengunjukkan
seorang bocah yang kuat, mana mampu melawan prajurit.
Hm, bocah ini memang kemaki sekali, pikirnya.
"Coba katakan, engkau menghendaki bagaimana ?"
serunya.
"Kalian harus minta maaf kepada penduduk desa ini,
tinggalkan semua barang2 kalian dan pergi dari sini, berani
tidak?"
Karena yakin tentu menang, kopral itupun menyetujui,
"Baik, kuterima." — Kemudian kopral itu berpaling kepada
anakbuahnya dan berseru, "Hai, apakah kamu berani
ditantang adu tenaga dengan anak ini?”
"Sudah tentu berani," seru prajurit2 itu.
Kopral perintahkan supaya adu tenaga itu dilangsungkan
ditengah ruangan, sekalian untuk memeriahkan pesta.
Dengan cepat meja2 segera dipindah ke pinggir dan
ditengah ruangan itu kini terbuka sebuah tempat kosong.
Huru Hara diam saja. Dia tahu apa maksud Ah Liong
anak ini memang nakal tetapi pintar. Sayang saat ini
pikiranku tidak Blo’on . Aneh, aku sendiri juga heran,
mengapa sejak menjadi seorang pendekar begini, pikiranku
tiba2 terang sekali. Ho, mudah-mudahan kalau aku sudah
tidak jadi pendekar dan kembali jadi Blo‘on, pikiranku jadi
Blo’on lagi. Jadi pendekar memang susah. Harus bersikap
keren, harus bicara yang genah, bahkan kadang2 harus
memberi petuah. Lebih enakan jadi seorang blo`on.
Bertingkah dan berbicara seenaknya saja . . . . "
"Hayo, silakan siapa yang akan maju dulu?" teriak Ah
Liong yang tegak di tempat kosong itu.
Seorang prajurit maju, "Mau ngajak apa engkau kuncung
?"
"Hm, kalau lihat potonganmu, tentu banyak takeranmu
makan, ya ?"
"Karena aku harus berbaris dan berjalan jauh, makanku
juga banyak."
"Baik, hayo kita bertanding makan saja !"
"Lho, bertanding makan?" prajurit itu melongo.
"Ya, kita bertanding makan bakso."
Sekalian prajurit terlongong. Kopral juga tertawa geli.
"Baik, lalu bagaimana caranya ?" tanya prajurit itu.
"Begini," kata Ah Liong," kau pegang semangkuk bakso
dan aku juga. Lalu kita pakai supit. Aku menyupit baksoku
terus kumasukkan ke dalam mulutmu. Dan engkau
menyupit baksomu, masukkan kedalam mulutku. Mulut
kita harus dibuka lebar dan harus mau menerima bakso
yang akan dimasukkan itu."
"Beleh," kata prajurit itu.
Ah Liong minta kepada pelayan supaya diberi dua
mangkuk bakso, "tetapi baksonya harus yang panas."
Tak berapa lama pelayan itu datang dengan membawa
dua mangkok bakso yang masih panas. Ah Liong
menerimanya. Yang semangkuk diberikan kepada prajurit
itu.
"Wah, aku kalah tinggi, mari kita duduk dilantai," kata
Ah Liong. Prajurit itupun menurut saja apa yang dikatakan
Ah Liong. Mereka duduk berhadapan merapat dan mulut
merekapun dibuka lebar2. Prajurit itu menggunakan supit
biasa tetapi Ah Liong pakai supitnya sendiri. Memang
kemana-mana Ah Liong selalu membekal supitnya.
"Mulai !" teriak Ah Liong yang dengan cepat sudah
menyupit sebutir bakso lalu dilolohkan ke mulut prajurit.
Prajurit itu belum sempat bergerak. tahu2 mulutnya
sudah dijejali bakso. Dan dengan kecepatan yang luar biasa,
Ah Liong mencecar mulut prajurit itu dengan bakso. Dalam
sekejab saja, Ah Liong sudah memasukkan lima biji bakso.
Selebar-lebar mulut orang tetapi kalau dimasuki lima
butir bakso tentu saja tak muat. Apalagi bakso itu masih
panas sekali. Karena sakit kerongkongannya seperti
disengat air panas, prajurit itu mendelik matanya dan tak
sempat menggerakkan tangannya untuk menyupit bakso.
"Hayo telan !" waktu memasukkan bakso yang keenam,
Ah Liong mendorongkan supitnya sehingga bakso yang
pertama masuk kedalam kerongkongan.
"Aukkkk," karena tak tahan sakitnya, prajurit itu
menjerit tetapi karena mulutnya penuh bakso, suaranya tak
keluar.
"Hayo habiskan, biar tambah gemuk," tiba2 Ah Liong
letakkan mangkuknya ke lantai, tangan kiri terus
mencengkeram mulut prajurit itu supaya terbuka. Sedang
supit ditangan kanan mendorong bakso supaya masuk
kedalam kerongkongan. Kalau sudah masuk, dijejali lagi
dengan bakso yang baru.
Mulut dan kerongkongan prajurit itu seperti terbakar
rasanya. Dia tak tahan dan lepaskan mangkuknya lalu
mendorong Ah Liong dan terus loncat bangun, mendekap
mulut lari keluar.
Terdengar gelak tawa yang riuh dari orang-orang yang
menyaksikan pertunjukan lucu itu.
"Hayo, engkau, majulah kemari :" seru Ah Liong seraya
menuding seorang prajurit berkumis lebat.
Prajurit itu sudah tentu malu karena ditantang seorang
bocah kuncung, Serentak dia maju ke tengah ruangan.
Ah Liong minta disediakan 20 butir telur itik. Setelah
menerima barang itu, yang sepuluh butir dia berikan kepada
prajurit berkumis itu, “Kita bertanding menimpuk telur.
Tetapi jaraknya jangan jauh2, cukup dua meter saja. Apa
engkau berani?”
Karena malu prajurit itu serempak menerima tantangan
Ah Liong, Mereka saling berhadapan pada jarak dua meter.
Ah Liong sengaja mengambil tempat disebelah utara tepat
membelakangi tempat duduk kopral tadi.
"Hayo engkau dulu yang menimpuk aku. Kalau sudah
sepuluh kali, baru aku yang menimpuk engkau !" seru Ah
Liong.
Diam2 prajurit itu geregetan sekali terhadap anak
kuncung yang kemaki itu, Baik !" serunya lalu menjemput
sebutir telur. Tetapi sebelum di timpukkan, Ah Long
berseru lagi "Boleh sekali timpuk pakai dua atau tiga butir
telur !"
Tetapi prajurit itu tak mau. Dia percaya dengan
menimpukkan satu per satu saja, dia tentu sudah dapat
menghajar anak kuncung ini.
"Awas !" seru prajurit berkumis itu seraya mulai
menimpuk.
"Auh ..... ," tiba2 terdengar suara orang menjerit kaget.
Ketika sekalian orang berpaling memandang, ternyata saat
itu kopral prajurit tengah mendekap hidungnya yang
berlumuran dengan cairan kuning.
Apa yang terjadi ?
Ternyata timpukan telur prajurit berkumis itu dengan
mudah dapat dihindari Ah Liong. Telur yang ditimpukkan
sekuat tenaga itu terus melayang kearah kopral dan tepat
menghantam hidungnya.
"Bangsat!" kopral itu marah, "mengapa engkau
menimpuk hidungku, dengan telur mentah!"
Prajurit itu melongo. Benar2 dia tak menyangka bahwa
dalam jarak dua meter, dia tak mampu mengenai anak itu.
Lebih tak pernah disangkanya bahwa telur mentah itu akan
mengenai hidung kopralnya.
"Hayo, timpuk lagi!" bentak Ah Liong.
Prajurit itu marah. Dia ingin menghajar anak kuncung
itu. Karena gara2 anak itulah maka dia sampai menimpuk
hidung kopralnya. Dia tak percaya bahwa dalam jarak yang
begitu dekat, tak mampu menimpuk lagi. Kali ini bahkan
disertai hati yang geram.
Melihat hidung kopral berlumuran telur mentah, Ah Lan
cepat mengeluarkan saputangan dan dengan gaya yang
mesra dia mengusap kotoran yang berlumuran ke mulut
kopral. Dibelai oleh seorang nona cantik, mata kopral
itupun meram melek.
Pyurrrr .. . aduhhhhh!
Tiba2 kopral itu menjerit lagi bahkan kali ini lebih keras
dan terus mendekap matanya. Saat itu dia sedang meram
membiarkan Ah Liong mengusap hidungnya. Tiba-tiba
matanya terhantam benda. Karena dilontarkan dengan
sekuat tenaga, telur itu sampai pecah lagi dan mata kopral
itupun seperti pecah rasanya .. . .
"Tangkap prajurit itu!" dia meraung-raung seperti orang
kebakaran jenggot.
Beterapa prajurit segera maju tetapi dibentak Ah Liong,
"Jangan menjamahnya!"
"Aku diperintah kopral!" sahut salah seorang prajurit.
"Tidak perlu ditangkap, aku yang akan membalaskan
kesakitan kopral," seru Ah Liong. Tetapi prajurit itu masih
bersangsi.
"Tadi kopral mengatakan, barang siapa tak mau menurut
aku suruh laporkan kepadanya. Apakah engkau perlu
kulaporkan kepada kopral?" bentak Ah Liong.
Baberapa prajurit itu terkesiap dan tanpa disadari
merekapun rnundur.
"Hayo, lanjutkan lagi timpukanmu!" seru Ah Liong.
Tetapi prajurit itu gelengkan kepala, "Sudah, aku tak
mau menimpuk. Engkau saja!"
"Baik, ini engkau yang minta sendiri. Sekarang siaplah!"
kata Ah Liong seraya menjempul dua butir telur masing2
dipegang dengan tangan kanan dan tangan kini. Wut, wut ..
.
"Auh .. , " prajurit itu menjerit tertahan tetapi di deretan
bangku di belakang, terdengar orang memekik.
Prajurit itu mukanya tertimpuk telur. Telur pecah
berhamburan membasahi mukanya. Sedang yang sebutir
karena dapat dihindari, telah melayang menghantam muka
seorang prajurit.
Wut, wut, wut, wut .. . . seperti hujan mencurah, Ah
Liong menaburkan kesepuluh butir telur itu kepada prajurit.
Prajurit itu menguik-nguik seperti babi hendak disembelih.
Muka hidung dan kedua matanya telah tertimpuk telur.
Karena tak tahan sakitnya, dia terus lari keluar . ..
Gemparlah suasana dalam pesta. Ah Liong terus berseru
memanggil seorang prajurit lagi, "Hai, hayo, majulah
engkau!"
Prajurit itu terkesiap. Rupanya ia agak jeri menghadapi
Ah Liong.
"Takut ya? Huh, macam prajurit apa itu? Berhadapan
dengan seorang anak seperti aku saja takut masa berani
berperang? Kentut!"
Mendengar hinaan itu prajuritpun serentak berbangkit
dan maju ke tempat Ah Liong.
"Sekarang kita jotosan!" kata Ah Liong.
"Hah, jotosan?" seru prajurit itu.
"Ya, pukul-pukulan. Engkau memukul aku, aku
memukul engkau. Siapa kalah harus minta ampun!"
"Kurang ajar, dua orang kawanku telah engkau
permainkan. Sekarang engkau masih berani menantang aku
lagi. Baik, majulah!"
"Tidak, engkau yang memukul dulu sajar
Prajurit itu geregetan. Dia terus memukul. Tetapi dengan
kecepatan yang luar biasa. Ah Liong mengendap kebawah.
Setelah tinju melayang lewat diatas kepalanya, dia terus
menerkam buah dada orang dan terus dipelintir sekeraskerasnya..
aduh .. . . prajurit itu menjerit. Sebelum sempat
memperbaiki posisinya, Ah Liong sudah menjiwir
telinganya keras2, aduh . . . prajurit itu menjerit kesakitan.
Telinganya merah dan panas rasanya.
Dilayangkannya pula sebuah pukulan yang keras tetapi
lagi2 Ah Liong dengan tangkas dapat menghindar dan kali
ini dia menerkam hidung orang dan diremas sekuat
kuatnya. Prajurit itu menjerit lagi. Hidungnya juga rnerah.
Dia menyurut mundur tetapi cepat Ah Liong mengejar dan
“aduhhhhh .. . .!”
Sekalian orang tertawa melihat pemandangan yang lucu
sekali. Ah Liong telah mencabut kumis prajurit itu yang
sebelah, sampai jebol semua. Bukan melainkan sakit sekali,
pun wajah prajurit itu menjadi lucu kelihatannya.
Dan pada puncaknya, selagi prajurit itu masih mendekap
kumisnya yang berdarah, Ah-Liong menerkam pinggang
orang laluditrik kebawah sekuat-kuatnya.
“Ha… ha… ha… haaa…” serentak gegap gempita gelak
tawa sekalian orang yang menyaksikan pemandangan di
tengah ruangan. Celana luar prajurit itu telah longsor
kebawah karena sabuk dan kancingnya putus Dan sembari
tangan kiri mendekap pinggang yang kesakitan, prajurit itu
menjerit histeris dan lari keluar.
Sudah tiga prajurit yang dikalahkan Ah Liong dengan
cara yang menggelikan bagi yang melihat tetapi
menyakitkan hati bagi yang terkena. Kini Ah-Liong
menggapai pada prajurit yang keempat, “Hai, mari kesini,
berani tidak."
Prajurit itu kebetulan agak gemuk, sudah setengah tua.
Sudah tentu dia malu sekali kalau tak berani menerima
tantangan seorang bocah kuncung. Diam2 dia
rnerencanakan untuk rnernbalaskan hinaan yang diderita
oleh ketiga kawannya tadi.
"Engkau gemuk seperti babi,” kata Ah Liong setelah
prajurit itu berhadapan," ayo kita adu tenaga. Siapa yang
mampu mengangkat tubuh lawan melemparkannya paling
jauh, dia yang menang."
"Setan cilik, maksudmu engkau hendak mengangkat aku
dan melemparkan ?" prajurit gemuk itu menegas.
“Setelah engkau kuangkat, engkau boleh mengangkat
dan melemparkan aku," kata Ah Liong.
"Boleh," sahut prajurit gemuk itu seraya terus berdiri
tegak.
Sekalian orang terkejut mendengar tantangan Ah Liong.
Bagaimana mungkin anak sekecil itu mampu mengangkat
tubuh seorang prajurit yang gemuk. Ah Lan juga kuatir.
Tetapi ketika melirik Huru Hara, ternyata pemuda itu
tenang2 saja.
Memang tak mungkin orang percaya kalau Ah Liong
akan dapat mengangkat tubuh prajurit itu. Mereka tak tahu
bahwa sejak kecil Ah Liong sudah terlatih untuk
mengangkat si Bule dibawa ke telaga. Sehingga sampai
kerbau itu besar, Ah Liong masih mengangkatnya setiap
pagi.
Ah Liong segera maju dan berdiri dibelakang si prajurit.
Cepat tangannya membekuk tengkuk si prajurit kencang2
sehingga prajurit itu mendelik. Lalu ditarik ke belakang
sedang tangan kirinya menyanggah pinggang orang. "Hayo,
naik ,........ !" teriaknya.
Desuh dan decak memenuhi ruang pesta ketika orang
melihat Ah Liong dapat mengangkat tubuh prajurit itu
keatas kepalanya dan tiba2 dilontarkan ke muka, brakkkkk
......
Anak itu memang kurang ajar sekali. Entah disengaja
entah tidak tetapi yang jelas tubuh prajurit gemuk itu
melayang kearah tempat duduk kopral. Meja kopral itu
putus kakinya karena tertimpa tubuh prajurit gemuk dan
kaki si gemuk yang keroncalan telah mendupak muka
kopral, plokkkk……
Tadi mukanya ditimpuk telur mentah dan sekarang
pipinya didupak kaki anakbuahnya. Sudah tentu kopral itu
kesakitan dan marah sekali, plak, serentak dia berdiri terus
menendang prajurit itu sekeras-kerasnya. Akibatnya prajurit
itu terguling-guling dan pingsan.
"Hai bocah kecil, mengapa engkau lemparkan tubuhnya
kepadaku ?" tegur kopral masih merah mukanya.
"Bukan salahku," sahut Ah Liong, "waktu dilempar dia
meronta-ronta sehingga arahnya mencong !"
Kopral masih marah tetapi Ah Lan dan Ah Lian cepat
merayunya sehingga dia duduk lagi.
Sernentara itu Ah Liong garuk2 kuncungnya, ''Apa lagi
acaranya, ya ? Ah, celaka, sudah habis nih. Kalau kuajak
mereka angkat mengangkat tubuh mereka tentu jera. Tetapi
biar kucobanya lagi."
"Hai. engkau prajurit botak itu, hayo kemarilah. Apa
engkau berani mengangkat tubuhku ?" seru Ah Liong ketika
melihat seorang prajurit botak kepalanya.
Sebenarnya kelompok prajurit Ceng yang berjumlah
duapuluh orang itu jengkel dan kheki terhadap Ah Liong,
ingin mereka menghajar anak itu. Tetapi karena kepala
mereka, si koplal diam saja, terpaksa mereka menahan
hatinya.
Dipanggil si Botak, sudah tentu prajurit yang berkepala
botak itu marah. Serentak dia maju krmuka Ah Liong,
“Lekas bersiap, aku hendak mengangkatmu !'
' Baik, silakan," kata Ah Liong seraya membungkukkan
tubuh.
Prajurit botak itu mengira kalau Ah Liong pasang kuda2
hendak membuat tubuhnya supaya berat. Dia mengejek,
“Huh, mau bertelur ya ?"
"Kurang ajar, botak ini. Dia minta aku bertelur. Baik,
aku akan rnenelori mukanya," diarn2 Ah Liong merancang
rencana.
Prajurit botak itu terus menyelap tubuh Ah Liong dan
ditangkatnya. Dia tak memperhatikan bahwa diam2 tangan
anak yang jahil itu sadah menggerayangi sabuk
pinggangnya. Begitu diangkat prajurit botak itu menjetit
kaget," Uhhhhh……”
Serentak dia lepaskan Ah Liong dan gopoh mendekap
celananya yang mau meluncur kebawah. Ternyata tali
celananya telah putus dicakar kuku Ah Liong. Sudah begitu
masih anak mbeling itu berkentut di mulut si botak, "Nih,
makanlah telurku . .. .”
Tengah prajurit botak itu sibuk membenahi kancing
celananya. yang putus, tiba2 ia merasa tubuh keatas dan
sebelum tahu apa yang terjadi dia merasa terbang, brakkk . .
. .
Sebuah meja yang diduduki empat prajurit yang tengah
menghadapi hidangan dan arak, hancur berantakan ketika
tubuh prajurit botak itu menimpanya. Keempat prajurit
itupun terpelanting jatuh sungsang sumbal.
Melihat itu tak kuasa lagi prajurit2 yang lain menahan
kesabarannya. Serempak mereka maju hendak menghajar
Ah Liong. Tetapi secepat itu pula Huru Harapun sudah
maju menghadang.
"Ho, engkau hendak membela adikmu yang liar itu?"
mereka menggeram lalu menghantam Huru Hara.
Huru Hara tak mau membunuh mereka tetapi cukup
suruh mereka menderita kesakitan. Ia menangkis dan
serentak beberapa prajurit itu menjerit karena terlempar ke
belakang. Beberapa prajurit yang lain segera maju
menyerang Huru Hara.
"Kita pesta Ah Liong," kata Huru Hara. tangan gerak
yang tangkas, dia menyambar tubuh prajurit2 itu dan
dilempar ke luar.
Kopral terkejut sekali menyaksikan kejadian itu. Serentak
dia rnencabut pedang dan loncat menyerang Huru Hara.
Sejak mendapat pedang di telaga Kia-te, belum pernah
Huru Hara mencobanya. Maka kini dia ingin juga mencoba
sampai dimana khasiat pedang magnit itu. Serentak dia
mencabut pedang itu. Eh, baru dilolos keluar, pedang
kopral itu sudah meluncur menghampiri pedang Huru Hara
dan cret, terus melekat.
"Uhhhh," mulut kopral itu mendesus desus dan berusaha
untuk menariknya tetapi sampai otot-otot pada dahinya
melingkar-lingkar menonjol, tetap tak mampu.
Karena jengkel dia lepaskan pedang dan terus
menghantam. Tetapi Huru Hara menghindar ke samping
dan mengait kakinya, bluk . .. . kopral itupun mencium
lantai . . . .
"Hayo, kalau kalian berani bergerak, kopralmu ini tentu
kupijak remuk kepalanya!" teriak Huru Hara seraya
menginjak tengkuk kopral itu.
Gemparlah suasana pesta. Penduduk ketakutan. Tetapi
Huru Hara cepat menghibur mereka "Paman sekalian,
jangan kuatir. Segala yang terjadi di disini, adalah tanggung
jawabku sernua." — Habis itu dia terus memberi perintah
kepada Ah Liong, "Ah Liong, lucuti mereka!"
Dasar anak mbeling ( nakal ) mendengar perintah itu
bukan kepalang senangnya Ah Liong. Dia terus
menghampiri kawanan prajurit Ceng itu, "Hayo, lemparkan
senjatamu semua!"
Karena takut kopralnya dibunuh, terpaksa prajurit2 itu
lemparkan senjatanya. Ah Liong kernbali memberi
perintah. Tetapi kali ini bukan kepada prajurit melainkan
kepada penduduk, "Encek2 sekalian, kumpulkanlah
senjata2 itu."
Eh, entah bagaimana penduduk seperti prajurit yang
menurut perintah atasannya. Mereka lakukan permintaan
Ah Liong.
Ah Liong suruh kawanan prajurit itu keluar ke halaman
semua dan berdiri berjajar-jajar, "Hayo, kalian lepaskan
pakaian prajurit kalian semua!"
Prajurit itu saling berpandangan satu sama lain, "Eh, tak
mau ya? Kalau begitu, kopralmu akan kusembelih . . " dia
terus mengambil pedang,
Melihat itu terpaksa kawanan prajurit itu menurut, "Baju
dalam juga harus dibuka!" .
"Tetapi . . .. " baru seorang prajurit hendak membantah,
Ah Liong sudah membentak, "Apa minta kopralmu
kusembelih, ya?"
Prajurit itu terpaksa menurut lagi.
"Encek2 sekalian," seru Ah Liong kepada penduduk,
"ikat tangan mereka!"
Bermula para penduduk itu jeri tetapi dengan lagak
seperti seorang jendera!, Ah Liong berseru, "Jangan takut,
mereka takkan berani melawan!"
Akhirnya para pendudukpun menurut. Dan ternyata
prajurit Ceng yang berjumlah duapuluh orang itu diikat
tangannya oleh penduduk.
"Ambil gunting dan pentung!" perintah Ah Liong.
"Lho, buat apa engkoh kecil'?" tanya seorang penduduk.
"Nanti tahu sendiri!" kata Ah Liong.
Ah Liong minta disediakan lima buah pentung kayu.
Setelah barang itu disediakan dia memanggil sepuluh
penduduk, "Yang lima pegang pentung itu. Dan yang lima
ambillah gunting."
Walaupun tak tahu apa yang dikehendak Ah Liong,
penduduk itu menurut saja, Sedang kawanan prajurit Ceng
dag-dig-dug tak keruan rasa hatinya.
"Kalau bajingan cilik itu hendak memburu kita, daripada
mati konyol, lebih baik kita rnelawan saja," bisik beberapa
prajurit kepada kawannya.
"Encek2 yang pegang gunting sekarang cukurlah rambut
mereka. Sedang yang pegang pentung, jagalah dibelakang
mereka. Setiap prajurit dijaga seorang. Kalau prajurit itu
sampai berani membangkang, kemplang saja kepalanya
dengan pentung
kayu itu. biar
kapok !"
Keruan saja
prajurit itu tak
dapat berkutik.
Berani bergerak,
pentung yang
dibelakang kepala
mereka tertu akan
jatuh di
gundulnya.
Mereka
membiarkan saja
dirinya dibuat bulan- bulanan oleh rakyat yang taat akan
perintah Ah Liong.
Tak berapa lama mereka rasakan kepalanya silir sekali.
Ah, jika tadi masih berupa duapuluh orang prajurit yang
keren saat itu berobah menjadi duapuluh paderi gundul
yang hanya pakai celana dalam.
Kopral itupun tak luput dari sasaran. Dia juga digunduli
rambutnya dan pakaiannyapun dilucuti.
"Nah, sekarang kalian boleh pergi," seru Huru Hara,
"Ingat, begitulah resikonya kalau orang Han mau menjadi
prajurit Ceng. Rakyat tentu akan memusuhi. Kalau kalian
berani kembali kepada kesatuan kalian, celaka, kalian tentu
akan dihukum ...."
Kawanan prajurit itu tak menghiraukan ocehan Huru
Hara. Pokok, mereka harus menyelamatkan diri dulu.
Mereka lari seperti dikejar setan.
Penduduk desa amat gembira sekali menyaksikan
peristiwa itu. Mereka tak habis gelinya. Sampai ada
perutnya yang kejang.
"Hohan," tiba2 kepala desa, orang yang sudah setengah
tua berkata kepada Huru Hara, "terima kasih atas
pertolongan hohan untuk mengusir kawanan prajurit Ceng
itu"
“Ah, tak perlu paman mengucap begitu,” kata Huru
Hara, “adalah sudah menjadi kewajiban setiap rakyat Han
untuk membasmi orang Boan yang hendak menjajah negeri
kita."
"Benar, hohan," kata kepala desa, "tetapi apabila hohan
pergi dan mereka datang lagi dengan membawa pasukan
yang lebih besar untuk menghukum kami, bukankah
penduduk disini akan celaka semua ?"
"Tadi aku sudah mengatakan mereka bahwa aku berasal
dari lain desa kebetulan lewat sini. Dan katakan saja kepada
mereka kalau penduduk disini terpaksa malakukan
perintahku karena takut. Biarlah segala resiko, timpahkan
saja kepadaku," kata Huru Hara.
“Itu memang benar." kata kepala desa, "tetapi kurasa
mereka adalah prajurit2 yang tak menghiraukan segala
keterangan. Mereka tentu akan melampiaskan
kemarahannya kepada kami."
“Lalu bagaimuna maksud, paman ?" tanya Huru Hara.
"Sudah terlanjur basah, kita harus mandi sekalian,” kata
kepala desa, "karena sudah terlanjur menghina kawanan
prajurit Ceng itu biarlah kita melawan mereka sekali!”
"Ya,” kata Huru Hara, "'memang kalau seluruh rakyat
mernpunyai pendirian seperti paman kita pasti dapat
menghalau orang Ceng. Tetapi paman sudah tua dan
penduduk disinipun sudah biasa hidup sebagai petani,
berumah tangga dan beranak isteri. Bagaimana tahan
menderita kehidupan sebagai lasykar yang harus
menghadapi peperangan besar ini. Apakah tidak kasihan
terhadap wanita dan anak2 kecil di desa ini ?"
Kepala desa itu menghela napas, "Hati dan pikiran
memang sering berbeda. Tetapi apa boleh buat. Ada sebuah
kata2 mutiara yang mengatakan 'jar basuki mawa beya,
artinya Setiap kebahagian tentu harus ada pengorbanan.
Tanpa pengorbanan, kebahagiaan itu takkan datang.
Karena kebahagiaan itu tidak mencurah dari langit tetapi
harus kita ciptakan dengan usaha dan tenaga kita sendiri."
Huru Hara terkesiap. Ternyata jiwa ksatrya, semangat
cinta pada negara itu, tidak hanya terdapat di kota2 besar,
di kerajaan, pun di desa yang kecil juga terdapat.
"Tetapi sebelum bertindak, kuharap paman, suka
memikirkan lebih jauh," katanya.
'Sudah kupikirkan, hohan," kata kepala desa itu, "akan
kuajak seluruh penduduk desa ikut kepada hohan."
"Hah?" Huru Hara terbelalak kaget, "ikut aku?"
"Ya," sahut kepala desa dengan mantap, kami rela dan
taat ikut pada hohan."
"Aduh," Huru Hara berteriak tertahan, "bagaimana sih
ini. Aku hanya seorang kelana yang tak punya tempat
tinggal tertentu. Bahkan saat ini aku masih menjadi seorang
tawanan . . . . "
“Lho, hohan ini seorang tawanan? Siapa yang berani
menawan hohan?" kata kepala desa itu dengan
memberingas, "kami seluruh penduduk desa, besar kecil,
tua muda, lelaki perempuan, akan menghancurkan orang
yang berani menawan hohan itu."
"Terima kasih, paman," kata Huru Hara, mernang benar
kami saat ini masih menjadi tawanan. Tetapi harap paman
jangan kuatir, aku dapat mengatasi sendiri."
"Tuh, dengar tidak, cici," bisik Ah Liong kepada Ah Lan
yang kebetulan berdiri disebelahnya, "kalau mereka tahu
cici yang menawan engkohku, penduduk desa disini tentu
akan marah."
Ah Lan tersipu-sipu merah mukanya. "Paman," tiba2 Ah
Lian gadis yang bertubuh tinggi semampai berseru, "yang
menawan pemuda ini adalah himpunan kami Hong-li-hoa
atas permintaan dari Barisan Suka Rela yang mengatakan
bahwa pemuda ini adalah seorang penghianat. Dia pernah
menolong pemimpin pasukan Ceng bernama kolonel Totay
dari serbuan barisan Suka Rela itu.”
“Tidak mungkin !" tiba2 terdengar bebera penduduk
serempak berseru, “kami lihat dengan mata kepala sendiri
tadi, bagaimana hohan ini telah mernusuhi prajurit Ceng."
"Ya, benar, rasanya itu hanya fitnah," kata kepala desa,
"mengapa nona percaya?"
Ah Lian gelagapan menangkis, "Kami juga tak tahu
persoalan itu. Tetapi kami hanya melakukan permintaan
dari pimpinan Barisan Suka Rela."
"Ah, tidak bisa," kata kepala desa itu pula "pemimpin tak
boleh membawa kemauannya sendiri saja. Harus
mendengar suara rakyat yang dipimpin, maupun rakyat
biasa.
"Ah, tak apa paman," kata Huru Hara, "aku dapat
memberi pertanggungan jawab kepada pimpinan Barisan
Suka Rela itu."
"Baiklah." kata kepala desa, "tetapi hohan tak perlu
kuatir. Kalau pimpinan Barisan Suka Rela tetap kukuh pada
anggapannya sendiri dan menganggap hohan sebagai
penghianat, kami penduduk desa Siau-koan disini akan
memberontak kepada mereka !"
"Kawan2, mari kita ikut hohan ini menghadap Barisan
Suka Rela," teriak seorang penduduk.
"Setuju !" sambut penduduk yang lain. "Kalau perlu kita
bentuk barisan sendiri" teriak seorang penduduk lagi.
"Kalau mau membentuk barisan," tiba2 Ah Liong
menyelutuk, "kasih saja nama Barisan Haru Hara.”
"Lho, apa-apaan pakai nama begitu ?"
"Nama engkohku Hok itu adalah Huru Hara?"
"0, begitu ? Bagus, bagus! Saat ini juga kita bentuk
Barisan Huru Hara," teriak penduduk dengan serempak.
"Siapa pimpinannya ?" tanya Ah Liong.
"Hohan itu !"
"Dia engkohku. Kalau dia menjadi pimpinan, encek2
pun harus mengangkat aku sebagai jenderal cilik."
Tertawalah sekalian orang mendengar kata2 anak
kuncung itu.
"Paman," kata Huru Hara kepada kepala desa, "aku
gembira sekali atas semangat dari penduduk desa. Tetapi
hati boleh panas kepala harus dingin. Untuk membentuk
barisan, tidak boleh secara acak-acakan dalam sekejab mata
terus jadi."
"Benar," kata kepala desa, "lalu bagaimana maksud
hohan ?"
"Begini," kata Huru Hara. "paman dan sekalian
penduduk tetap tinggal disini dulu. Kalau memang mau
membentuk barisan, latihlah dulu penduduk. Yang penting
untuk menjaga keamanan desa dulu dari serangan prajurit
Ceng. Tetapi ……….”
"Tetapi bagaimana, hohan?"
"Ah, prajurit2 Ceng itu memiliki persenjataan lengkap
dan ganas. Mereka tentu akan menghancurkan dan
membunuh tanpa ampun apabila penduduk berani
melawan. Maka dari itu kurasa, lebih baik, paman sekalian
menyingkir ke hutan di pegunungan yang sunyi. Agar
jangan sampai dapat dikejar mereka. Nah, ditempat itulah
paman sekalian boleh berlatih dan menjalankan gerakan
untuk menghancurkan mereka."
"Bagus," teriak kepala desa, kemudian bertanya kepada
sekalian penduduk bagaimana mereka.
"Setuju! Kami setuju untuk tinggalkan desa ini. Lebih
baik hidup di alam pegunungan yang bebas daripada harus
menjadi budak yang melayani orang Boan!" teriak sekalian
penduduk.
Kepala desa mengatakan bahwa tidak jauh dari desa itu
terdapat sebuah lembah. Mereka akan menuju dan menetap
di lembah itu.
"Baik, paman. Aku hendak melanjutkan jalanan dulu.
Setelah urusanku selesai aku akan datang ke lembah itu,"
kata Huru Hara.
Demikian setelah selesai, Huru Hara mengajak Ah Liong
dan kedua gadis itu melanjutkan perjalanan lagi.
"Lian suci," .kata Ah Lan yang berjalan seiring dengan
Ah Lian di belakang Huru Hara, "kurasa lebih baik kita tak
mengantarkan pemuda ini ke tempat Barisan Suka Rela."
"Mengapa?" Ah I.ian heran.
"Bukankah suci sudah menyaksikan sendiri bagaimana
sikapnya terhadap prajurit2 Ceng di desa tadi?"
"O, engkau anggap dia bukan seorang penghianat?"
"Apakah suci tidak menganggap begitu juga?" balas Ah
Lan.
"Ah, soal itu kita tak tahu. Kita hanya melakukan
perintah toa-suci saja, Ah Lan."
"Benar," kata Ah Lan, "tetapi kita juga harus berani
mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih;"
"Maksudmu kita bebaskan dia?"
"Mengapa kita harus membikin susah seorang yang tidak
bcrsalah dan bahkan dia jelas seorang pendekar yang
menentang orang Beng. Bukankah pendiriannya itu sama
dengan tujuan kita?"
"Tetapi janganlah kita buru2 menarik kesimpulan dulu.
Siapa tahu kalau dia pura-pura bertindak begitu agar kita
terpengaruh."
"Tidak, suci, kurasa dia seorang jujur. Tak mungkin dia
mau bersikap pura2."
"Ah Lan," tiba2 Ah Lian berbisik-bisik "mengapa engkau
ngotot hendak membelanya ada rasa, ya ?"
"Suci, jangan bilang begitu," Ah Lan tersipu2 malu, "kita
ini kan bunga hutan yang sudah tak berharga lagi." —
Berkata sampai disitu suara Ah Lan kedengaran terharu.
"Cici Lan, mengapa engkau hendak menangis ?" tiba2
pula Ah Liong berpaling, "apakah cici itu mengatai engkau
yang tidak patut ?"
"Adik kecil...."
"Katakanlah," seru Ah Liong, "kalau dia berani mengatangatai
cici, terpaksa akan kuhajar.”
"Eh, anak kecil berani sama orang yang lebih besar ?"
seru Ah Lan yang mau dihajar.
"Siapa yang salah harus dihajar, tak peduli besar atau
kecil. Kalau aku salah, kepalaku boleh eagkau kemplang,
aku tak marah," sahut Ah Liong, "tetapi kalau engkau yang
salah, engkaupun harus dihajar."
"Tetapi aku merasa tak berkata apa2," bantah Ah Lian.
"Bohong !" teriak Ah Liong, "kudengar kalian tadi bicara
kasak kusuk. Kalau bukan engkau siapa lagi yang menyakiti
hati cici Lan ?"
"Lho, kalau engkau menganggap Ah Lan itu apakah aku
bukan cicimu?" tanya Ah Lian.
"Nanti dulu" kata Ah Liong, "aku tak mau mengaku cici
kepada sembarang orang sebelum ku tahu dia benar2
berhati baik."
"Apakah aku berhati baik ?"
"Jangan pura2 berlagak bodoh," kata Ah Liong,
"bukankah engkau yang ngotot hendak tetap mengantarkan
engkohku kepada barisan Suka Rela? Bukankah engkau
yang masih tak percaya pada engkohku ? Huh ..... "
"Adik kecil, aku hanya melakukan perintah dari
pimpinanku saja."
"Pimpinan itu manusia atau setan ?"
"Tentu saja manusia."
"Kalau manusia tentu punya pikiran. Masakan
semaunya sendiri saja menuduh engkohku sebagai
penghianat. Nanti didepan pemimpin Suka Rela, kalau dia
masih tetap hendak menghukum engkohku, aku tentu akan
mengajak berkelahi. Sekarang saja boleh dimulai, kalau
engkau juga menganggap engkohku seorang penghianat,
hayo kita berkelahi !"
"Ah Liong, jangan," cegah Huru Hara.
"Tidak engkoh Hok," bantah Ah Liong yang memanggil
Huru Hara dengan sebutan engkoh Hok, “dia memang
kurang menyenangkan. Tidak seperti cici Lan. Buktinya
tadi waktu di pesta, masa dia mau dicipok kopral Ceng itu.
Sebaliknya kuperhatikan cici Lan selalu menghindar kalau
kopral itu hendak mencipoknya."
Sudah tentu malu sekali Ah Lian dikatakan begitu.
Serentak dia berteriak, "Anak kecil, jangan keliwat kurang
ajar. Apa engkau kira aku tak berani menghajarmu?"
"Jangan cici Lian," kata Ah Lan, "jangan meladeni dia.
Dia masih kecil."
"Lho, engkau mau membelanya ya?"
"Kalau mau membela, engkau mau apa?' teriak Ah
Liong.
"Sudahlah Ah Liong, jangan banyak bicara!' bentak Huru
Hara, "nona, silakan engkau melakukan perintah atasanmu.
Aku memang mencari pamanku yang ditawan Barisan Suka
Rela itu. Dia tak bersalah. Kalau pamanku sampai
dihukum, hm, akupun takkan bersikap sungkan lagi kepada
mereka."
"Benar, engkoh," teriak Ah Liong, "mentang2. mereka
itu barisan Suka Rela. Kita juga punya Barisan Huru Hara.
Engkoh pemimpinnya dan aku jenderal kecilnya. Kalau
mereka berani menghukum paman engkoh, kita obrak-abrik
saja mereka!"
Mereka menuju ke utara. Beberapa hari kemudian
setelah tak mengalami peristiwa apa2, tiba-tiba pada hari itu
mereka melihat hal yang memaksa mereka harus turun
tangan.
Itu waktu mereka tiba di kaki sebuah gunung yang
menurut keterangan penduduk adalah gunung Lo-san di
propinsi Shoatang. Tiba2 mereka mendengar suara dering
senjata orang bertempur.
Huru Hara cepat lari menghampiri. Ternyata di tengah
jalan yang sepi, tampak seorang pemuda berkuda sedang
bertempur melawan dua orang lelaki yang mengenakan
topeng.
Pemuda itu cukup gagah walaupun harus melawan dua
musuh. Tetapi kedua lelaki bertopeng itu rupanya amat
ganas sekali. Pelahan-lahan pemuda itu mulai terdesak dan
pada saat Huru Hara muncul, dia sedang kewalahan dan
terancam bahaya.
"Berhenti!" teriak Huru Hara seraya lari menghampiri.
Pemuda berkuda itu berwajah bersih dan jujur. Dia
terkejut dan berpaling. Cret . . . bahunya tertusuk pedang
salah seorang bertopeng sehingga lengan bajunya
berlumuran darah merah.
"Bangsat, engkau tak mengindahkan peringatanku,"
Huru Hara loncat rnenghantam orang itu.
Orang itu menyongsong dengan babatkar pedangnya ke
tangan Huru Hara. Tetapi Huru Hara juga cepat menarik
tangan. Namun sebelum sempat digerakkan lagi, pedang
orang bertopeng itupun sudah mernbabat kakinya. Memang
cepat, dahsyat dan berbahaya sekali serangan orang itu.
Tetapi bukan kepalang kejutnya ketika tiba-tiba kaki
Huru Hara mencelat ke atas dan menghilang. Ia cepat
berputar tubuh. Ah, ternyata Huru Hara memang sudah
berada di belakangnya. Dan saat itu tangan Huru Harapun
sudah menghunus batang pedang pandak dan tumpul.
"Bagus, engkau juga pandai bermain pedan seru lelaki
bertopeng itu. Dia segera menaburl pedangnya sehingga
Huru Hara seperti dilanda oleh curahan beratus percik sinar
putih.
Melihat itu Huru Harapun menirukan. Dan memutar
pedang magnitnya dengan deras. Orang itu terkejut sekali
ketika menyaksikan permainan pedang Huru Hara. Dia
belum pernah melihat pedang semacam itu. Kalau menilik
gerakannya bukan seperti ilmupedang tetapi lebih
menyerupai gerak awut-awutan. Tetapi kalau menilik
kecepatannya seperti badai, jelas dia tentu orang persilatan.
Karena tak mungkin orang yang tak memiliki ilinu tenagadalam
sedemikian saktinya mampu memainkan pedang
yang sedemikian dahsyat. Pikir orang bertopeng itu. Dia
benar2 terkejut dan heran. Terkejut karena gerak pedang
yang dimainkannya. Heran karena dia tak mengerti
ilmupedang apakah yang dimiliki lawannya,
Dan yang lebih mengejutkan hati orang itu adalah
beberapa saat kemudian, ia rasakan tenaga dalamnya tak
beres, pedangnya seperti disedot oleh pedang lawan.
Walaupun dia berusaha mangerahkan seluruh tenagadalamnya
hingga sampai kepalanya mandi keringat tapi
akhirnya pedangnya itu makin mendekat dan akhirnya
melekat pada pedang lawan.
"Uh . . . , " mulut lelaki bertopeng itu mendesis kejut
karena iapun terbawa berputar-putar oleh pedang lawan.
Terpaksa ia lepaskan pedangnya, tetapi karena tubuhnya
terlanjur dibawa berputar-putar, waktu melepaskan diri, dia
sempoyongan seperti orang mabuk dan akhirnya jatuh
terduduk ditanah. Dia pejamkan mata berusaha untuk
menenangkan kepalanya yang pusing tujuh keliling dan
darahnya bergolak keras.
"Hai, engkau, jangan mengganas!" teriak Huru Hara
yang secepat kilat sudah loncat untuk menyerang orang
bertopeng kedua yang menusuk pemuda tadi.
Orang bertopeng itu menangkis dengan pedangnya, tring
. . . . dia rnendesuh kaget karena pedangnyapun melekat
pada pedang lawan. Maka dia berusaha untuk
mengerahkan tenaga, makin dia tak dapat menarik
pedangnya. Buru2 dia lepaskan pedangnya dan terus lari.
"Hai, mau lari kemana engkau!" Ah Liong seraya
mengejar.
Huru Hara tak mau mencegahnya karena ia perlu
menolong pemuda yang terluka itu. Ternyata Ah Lan sudah
memeriksa bahu pemuda yang terkena tusukan pedang itu.
Lukanya sih tidak seberapa parah tetapi mengapa pemuda
itu tampak pucat dan napasnya mulai terengah-engah?
"Kenapa lukanya?" tanya Huru Hara.
"Lihatlah," kata Ah Lan sernbati rnerobek lengan baju
pemuda itu untuk memperlihatkan lukanya, "disekitar
lukanya sudah membiru, begitu pula darahnya juga merah
tua warnanya."
"Dan?"
"Kukira pedang orang bertopeng itu beracun, kalau
hanya pedang biasa tak mungkin begini," kata Ah Lan.
"Kita harus cepat menolongnya," kata Huru Hara.
"Ya, tetapi aku hanya membawa obat untuk luka
biasa.......”. kata Ah Lan.
Huru Hama merogoh bajunya dan memberi sebutir pil,
suruh Ah Lan masukkan ke mulut pemuda yang sudah
mulai tak sadatkan diri ini. Beberapa saat.kemudian wajah
pemuda itu tampak bercahaya merah dan diapun dapat
membuka mata.
"0, apakah aku sudah berada di akhirat ?" anyanya
seraya berdiri.
"Belum," kata Ah Lan, "engkau masih hidup."
"Bukankah tadi aku terkena tusukan pedang dari orang
bertopeng ..... " pemuda itu memandang ke bahunya.
Ternyata bahunya sudah dibalut dengan kain putih.
"Siapakah nona ini ?" tanyanya.
"Aku kebetulan lalu disini dan melihat engkau berkelahi.
Engkau tertusuk pedang dan rubuh. Engkau pingsan karena
pedang orang bertopeng itu mengandung racun."
"0, apakah nona yang telah menolong jiwa ku?" serta
merta pemuda itu terus menjurah menghaturkan terima
kasih.
" Tunggu," Ah Lan gopoh memberi keterangan bahwa
yang menolong pemuda itu adalah Huru Hara.
"Oh, terima kasih loheng (saudara)," kata pemuda itu
seraya menghadap kearah Huru Hara dan menjurah.
"Jangan," cegah Huru Hara, "sudah sewajib saya
manusia itu tolong menolong. Siapakah saudara ini ? Dan
mengapa saudara bakelahi dengan dua orarg bertopeng ?"
"Aku bernama Bok Kian. Aku sedang melakukan
perintah dari pamanku untuk menghubungi jenderal Lau
Cek Cong dt Ik-koan...."
"0. siapakah paman saudara ?" Huru Hara terkejut.
"Pamanku bernama Su Go Hwat,"
"Oh, Su Go Hwat mentri pertahanan kerajaan Bang itu
?"
Bok Kian mengangguk.
"Ah, jika begitu kebetulan sekali," kata Huru Hara, "aku
pernah bertemu dengan Su tayjin di kota Yan-ciu. Tetapi itu
waktu saudara Bok tidak tampak."
"Memang," kata Bok Kian, "aku selalu mundar mandir
ke beberapa daerah. Paman Su menugaskan aku menjadi
penghubung diantara paman dengan jenderal2 yang berada
di daerah-daerah. Seperti halnya kali ini aku harus
menghadap jenderal Lau Ceng Co di Ik-koan. Dan ketika
tiba di tempat ini, tiba2 aku dihadang oleh orang bertopeng
tadi.
"Siapakah mereka ?" tanya Huru Hara.
"Aku sendiri juga tak tahu Mereka tak mau rnengaku
melainkan hanya suruh aku menyerahkan diri hendak
dibunuhnya."
'Pada saat negeri sedang dalam keadaan perang seperti
dewasa ini,” kata Huru Hara “memang banyak
bermunculan kawanan pengacau dan begal."
"Benar." sahut Bok Kian, "tetapi kedua lelaki bertopeng
itu tidak meminta barang kepadaku, melainkan meminta
kepalaku. Dan kalau menilik ilmu kepandaiannya jelas
mereka bukan bangsa begal tetapi orang persilatan yang
berilmu tinggi."
"Ya, benar," kata Huru Hara. Tiba2 dia teringat,"
serunya, “yang satu masih kita tawan, tuh dia masih duduk
pejamkan mata."
Huru Hara terus menghampiri, "Hai, engkau, bangun !”
serunya.
Tetapi orang itu diam saja.
Waktu Huru Hara hendak enghampiri untuk membuka
topengnya, tiba2 Ah Liong mendatangi.
"Bagaimana orang itu ?" tegar Huru Hara. "Wah, celaka
engkoh," seru anak kuncung itu.
"Celaka bagaimana ?"
"Karena ketakutan kukejar, dia tergelincir masuk
kedalam jurang yang curam."
"Mati?"
"Tak berkutik lagi."
"Hm, tak apa. dia memang pantas menerima hukuman
begitu. Sekarang cobalah engkau buka topeng orang itu."
Ah Liong melakukan perintah. Ketika topeng dibuka
ternyata orang itu berwajah brewok, berumur hampir
empatpuluh tahun.
"Hai, mengapa dia masih meram saja ?" seru Huru Hara.
"Ya, benar," kata Ah Liong, "hai, orang brewok, hayo
bangunlah, hari sudah pagi dan lekas gosok gigi !"
Bok Kian terlongong mendengar ocehan anak kuncung
yang belum dikenalnya itu.
Tetapi orang brewok itu tetap diam dan meram.
"Lho, mengapa engkau begitu malas suka molor saja ?"
teriak Ah Liong, "hayo bangun !"
Tetapi orang brewok itu tetap diam.
Akhirnya karena tak sabar, Ah Liong terus ulurkan
tangan dan membuka kelopak mata orang itu, "Hus,
mengapa deliki mata kepadaku !"
Waktu tangannya dilepas, kelopak mata oran itu
rnengatup lagi, "Lho, setan brewok, engka ini malas sekali
," dia terus membuka lagi kelopak mata yang satunya dari
orang itu. Kemudian ditiup dengan mulutnya. "huff, huff.'
"Eh mengapa matamu menteleng (mendelik) saja tidak
berkedip !" teriak Ah Liong.
Ah Lin terkejut dan minta Ah Liong lepaskan
tangannya, "Coba kuperiksanya. Dia memegang tangan
orang itu dan memeriksa denyut nadinya, "Ah ......... dia
sudah tak bernyawa lagi,"
"Aneh," Huru Hara heran, "aku tak memukulnya sama
sekali. Dia hanya ikut terputar-putar dengan pedangku."
Sekalian orang juga terkejut dan tak tahu penyebab
kematian orang itu. Memang mereka melihat bagaimana
tadi Huru Hara memutar pedangnya dan orang itu terseret
ikut berputar-putar.
Sebenarnya kematian orang bertopeng itu tak lain karena
urat2 jantungnya putus akibat tenaga sakti Ji-ih-sin-kang
yang memancar dari tangan Huru Hara. Ji-ih sin-kang atau
tenaga sakti yang dapat digerakkan menurut kehendak hati
memang luar biasa. Makin lawan menggunakan tenaga
untuk menolaknya, makin keraslah tenaga tolak (mental )
yang akan dideritanya.
Agar pembaca tidak hingung dari mana Huru Hara dapat
memiliki tenaga Ji-ih-sin- kang- itu, pembaca membaca
cersil Pendekar Blo’on, tentu jelas. Tetapi andaikata
pembaca tak sempat membaca cerita itu, dapat kami
tuturkan disini secara singkat saja tentang kisah Pendekar
Blo’on waktu mendapatkan tenaga-sakti yang luar biasa itu.
Demikian:
Pendekar Huru Hara yang sekarang ini tak lain adalah
Kim Yu Yong, putera pendekar besar Kim Thian Cong
yang diangkat orang sebagai pemimpin dunia persilatan.
Kim Yu Yong itu lebih terkenal dengan sebutan Kim
Blo`on
Dia tak mau belajar silat sehingga ayahnya jengkel.
Malah pada suatu hari Blo’on minggat dan berkelana.
Ada seorang paderi Thian Tiok (India) yang pernah
dikalahkan Kim Thian Cong, hendak cari balas. Tetapi
karena Kim Thian Cong sudah meninggal maka paderi
India itu lalu menumpahkan pembalasannya kepada
Blo`on. Blo’on dijadikan pemuda yang hilang pikirannya.
Dalam kelananya, Blo’on mendapatkan dua orang kakek
aneh yaitu kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putih, yang
juga kakek2 linglung semua. Pada suatu hari Blo’on dan
kedua kakek itu menolong nelayan yang anak gadisnya
hendak diambil isteri oleh kepala perampok dari Hong-ho
(Sungai Kuning ). Blo’on suruh Liok Sian Li, sumoaynya,
menjadi mempelai perempuan menggantikan anak gadis
pak nelayan itu. Waktu dibawa dengan perahu, perahunya
terbalik. Blo’on Sian-li jatuh kedalam muara dan dengan
kemukjijatan alam, keduanya telah terseret masuk ke dalam
laut. Disitu terdapat sebuah kerajaan. Blo’on ternyata
disedot oleh mulut seekor kuda laut lalu dimuntahkan dan
masuk kedalam perut seekor naga yang sudah berumur
ratusan tahun. Di dalam perut naga itu Blo’on telah
mernakan hati ular itu, hingga ular mati. Ular itu adalah
penjaga kerajaan laut yang dihuni oleh seorang mentri
kerajaan Lam Song. Dia seorang mentri setya. Dia
membawa putera mahkota lari dengan kapal tetapi karena
dikepung musuh akhirnya ia mencebur kedalam laut
bersama putera mahkota itu.
Keajaiban alam, kemujijatan Tuhan. Mentri itu tidak
mati tetapi putera mahkota mati. Dia tenggelam dan
tersedot masuk kedalam sebuah gua karang dari sebuah
gunung didalam laut. Mentri itu memelihara berbagai
binatang untuk menjaga keratonnya. Naga yang menyedot
Blo’on itu disebut panglima Ceng-liong (Naga Hijau).
Blo’on masih mengalami peristiwa yang gaib. Waktu
berada dalam gua keraton dibawah laut, Blo’on bertemu
dengan seekor binatang yang menyerupai ki-lin atau warak.
Rupanya binatang itu juga salah satu dari penunggu
kerajaan dibawah laut. Blo’on berkelahi dengan ki-lin itu
dan secara tidak disangaja telah menggigit dan menghisap
darah binatang itu. Dengan demikian dia makin mendapat
tenaga sakti yang tiada taranya. Dia memiliki apa yang
disebut Ji-ih sin-kang, tenaga-sakti yang digerakkan
menurut kernauan hatinya.
Dia tak mengerti hal itu. Dan tak mengerti bagaimana
harus menyalurkan tenaga-sakti itu, Tetapi setiap kali dia
marah atau ingin mengeluarkan tenaga, misalnya waktu
bertempur atau diserang lawan, begitu hatinya ingin
bergerak maka tenaga-sakti Ji-ih-sin-kang itupun segera
rnemancar keluar.
Punya tapi tak punya. Tak punya tapi punya.
Demikianlah keadaan Blo’on. Sepintas memang bisa
dianggap mustahil atau terlalu khayal. Tetapi di dunia ini,
segala keajaiban bisa terjadi. Justeru seorang anak yang tak
suka belajar silat malah mendapat penemuan yang luar
biasa gaibnya. Andaikata dia mengerti bagaimana
menyalurkan tenaga-dalam tentulah dia akan menjadi sakti
sekali. Tetapi disitulah letak keajaiban alam. Kalau dia
senang belajar silat dan dapat menyalurkan tenaga-dalam,
mungkin dia takkan mendapat berkah penemuan yang ajaib
itu . . . .
Demikian sekilas kisah ringkas dari perjalanan Pendekar
Blo’on waktu mendapatkan tenaga sakti itu. Maka dengan
panjelasan ini mudah-mudahan pembaca tak bingung
mengapa pendekar Huru Hara yang tak lain adalah
penjelmaan dari Kim Blo’on, mampu menghadapi jago-jago
silat yang sakti. Dengan mengontang-antingkan tubuh
orang bertopeng itu, dapatlah tenaga-saktinya menyebabkan
urat-urat jantung orang itu putus.
Pil yang di minurnkan kepada Bok Kian itu juga salah
satu penemuan Blo’on ketika kesasar masuk kedalam laut,
yaitu buah som yang berumur ratusan tahun. Khasiatnya
selain dapat menambah tenaga dalam, juga dapat
memunahkan segala macam racun.
"Sialan, makanya kupentang matanya, lalu meram lagi,
ternyata dia sudah koit ..... ," seru Ah Liong.
Bok Kian melongo. Ah Lan juga, "Apa sih koit itu ?"
"Ko-it artinya tamat nyawanya."
"Eh, Ah Liong, dari mana engkau memperoleh istilah2
yang aneh2 itu?"
"Dari nenek." kata Ah Liong lalu menuding Bok Kian,
"Lho, bukankah engkoh ini tadi juga hampir ko-it ?
Mengapa sekarang sudah sembuh ?"
Bok Kian tertawa. "Siapakah engkau ini adik kecil?"
"Aku adalah adik dari engkoh ini," ia menunjuk Huru
Hara, "dan engkau ?"
"Hus, Ah Liong, jangan kurang sopan. Dia adalah putera
keponakan dari mentri kerajaan Su Go Hwat tayjin," tegur
Huru Hara.
“Lho, mengapa tidak di kerajaan ? Mengapa kaluyuran
sampai disini ?"
Bok Kian tidak marah melainkan tertawa,
"Yang jadi mentri itu adalah pamanku. Aku kan rakyat
kecil seperti engkau. Mengapa tak boleh keluyuran kemanarnana
?"
"Bagus, engkoh Bok, kalau begitu aku suka berkawan
dengan engkau," kata Ah Liong.
Bok Kian suka dengan anak itu, demikian pula terhadap
Huru Hara. Huru Hara juga suka kepada pemuda yang
berwajah polos itu.
Setelah beromong-omong, merekapun terus melanjutkan
perjalanan lagi. Atas pertanyaan Bok Kian, Huru Hara
mengatakan bahwa dia hendak mencari Barisan Suka Rela.
Karena Bok Kian juga menuju ke utara menemui jenderal
Lau Ce Jing di 1k- koan maka Huru Hara dapat bersamasama
menempuh perjalanan.
"Nanti setelah kita mendapat tahu dimana tempat
barisan Suka Rela itu barulah aku berpisah dengan
saudara," kata Huru Hara.
"Engkoh Bok, lihatlah !" tiba2 Ah Liong berteriak seraya
mengunjukkan sebuah benda.
"Apa itu ?" tanya Huru Hara.
"Aku mendapat benda ini dari dalam kantong baju si
brewok," kata Ah Liong seraya menyerahkan benda itu
kepada Huru Hara. "Apakah ini Bok-heng ?" tanya Huru
Hara seraya memberikan benda itu kepada Bok Kian.
“heng”, artinya engkoh atau bung. Bok-heng artinya
saudara (bung) Bok. Sudah menjadi adat kebiasaan di
negeri itu, kalau memanggil tentu nama marganya (she)
yang disebut, Bok Kian orang she (marga) Bok, maka
disebut Bok-heng.
"Inilah lencana pertandaan .... eh Gi-yong kun !" teriak
Bok Kian setelah mengamati benda itu. Gi- yong-kun yalah
Barisan Suka Rela.
"Lho, kalau begitu dia seorang anggauta Barisan Suka
Rela," seru Huru Hara.
Ah Lan menghampiri dan meminta lencana. Sesaat
kemudian dia mengangguk, "Benar, memang inilah lencana
yang dipakai oleh anggauta Gi-yong-kun."
"Apakah setiap anggauta Barisan Suka Rela memakai
pertandaan itu ?"
"Kukira tidak. Hanya pimpinannya saja yang memiliki
lencana begini."
"Lalu bagaimana untuk tanda pengenal dari seorang
anggauta Barisan Suka Rela itu ?" tanya Huru Hara.
"Lian suci, apakah engkau ingat ?" tanya Ah Lian" pada
Ah Lan, kakak seperguruannya.
"Tidak," sahut Ah Lian dengan dingin. Memang sejak
adu lidah dengan Ah Liong, Ah Lian masih mengkal dan
sepanjang perjalanan diam saja.
"0, aku ingat, ya," tiba2 Ah Lan berkata, "'pada bahu
setiap angauta Barisan Suka Rela tenlu terdapat tatoo huruf
Gi."
Ah Liong terus membuka baju si brewok dan memeriksa
bahunya tetapi tak terdapat tanda tatoo apa2.
"Aneh, mengapa anggauta Barisan Suka Rela menyerang
Bok-heng ?" kata Huru Hara.
",Mungkin mereka tak kenal kepadaku," sahut Bok Kian.
"Kalau tak kenal mengapa mereka begitu ngotot hendak
membunuh Bok- heng ?"
"Memang aneh," kata Bok Kian, "entahla aku sendiri
juga tak mengerti."
Belum berapa jauh mereka berjalan, tiba-tiba mereka
dihadang oleh berpuluh orang yang bersenjata.
Seorang yang bertubuh kekar dan dada serta tangannya
berbulu lebat, berseru, "Hai, kalian, lekas serahkan diri.
Kalian sudah terkepung !"
Huru Hara terkejut. Berpaling ke kanan, kiri dan
belakang, ia melihat berpuluh orang bersenjata telah
mengepungnya.
"Siapakah engkau ?" seru Huru Hara.
"Kami anakbuah Elang Hitam dari gunung Hong-hongsan
sini."
"Apa itu Elang Hitam ?"
"Rombongan rakyat yang ditindas kerajaan Beng dan
dikejar-kejar kerajaan Ceng."
"O," desuh Huru Hara, "lalu mengapa kalian hendak
menangkap rombonganku ?"
"Kalian telah membunuh dua orang pimpin kami.
Sekarang kalian harus serahkan diri dan ikut kami
menghadap ketua!"
Huru Hara mengiakan. Mereka dibawa keatas gunung
Hong-hong-san dan dihadapkan kepada pimpinan
gerombolan yang bernama Ang Hin bergelar Thiat- jiu-kimkong
atau Malaekat- tangan besi.
"Engkau yang membunuh ji-te dan sam-te kami?"
pemimpin gerombolan gunung Hong-hon--san yang
bertubuh keras dan bertangan kasar itu menegur setelah
beberapa saat memandang Huru Hara dengan tajam.
"Ya," sahut Huru Hara.
"Benar?" Ang Hin menegas lagi karena hampir tak
percaya kalau pemuda yang berdandan nyentrik dan
mernelihara dua buah kuncir di atas telinganya, mampu
mengalahkan ji-te dan sam-te atau adik kedua dan adik
ketiga.
"Perlu apa harus bohong?" sahut Huru Hara.
"Mengapa engkau membunuh mereka?"
"Mereka cari mati sendiri!"
"Aku tak mengerti omonganmu!" teriak pemimpin
gerombolan gunung Hong-hong-san itu.
"Mereka mencegat Bok kongcu ini dan hendak
membunuhnya. Untung kebetulan aku lewat kesitu dan
meminta mereka berhenti. Tetapi mereka tak
mengindahkan permintaanku dan malah menyerang aku.
Kalau mereka mati, bukankah mereka sendiri yang cari
mati?"
"Siapa Bok kongcu itu?"
"Putera keponakan dari Su Go Hwat tayjin rnenteri
kerajaan Beng."
"Aku tidak dibawah kekuasaan raja Beng yang sudah
hampir bobrok itu."
"Aneh, kalau tidak mengakui kekuasaan raja Beng,
mengapa kalian mempunyai hubungan dengan Barisan
Suka Rela?"
"Ngaco!" bentak Ang Hin, "siapa bilang mempunyai
hubungan dengan Barisan Suka Rela?”
"Ada dua hal," kata Huru Hara, "pertama, mengapa dia
ngotot hendak membunuh Bok kongcu. Kedua, salah
seorang saudaramu itu mempunyai lencana sebagai
anggauta Barisan Suka Rela. Lihatlah buktinya ini," Huru
Hara mengunjuk lencana tadi,
Pimpinan gerornbolan gunung Hong-hong san itu
rnenyambuti dan rnemeriksa, "Hm, aneh mengapa sam-te
mempunyai lencana ini?"
"Mengapa heran? Bukankah kalian mempunyai
hubungan dengan Barisan Suka Rela?"
"Tidak,” seru Ah Hin, "kami adalah gerombolan yang
hidup bebas di gunung sini. Setiap orang yang lalu di
daerah gunung ini, entah dia orang Beng atau pasukan
Ceng, tentu akan kucegat dan harus membayar cukai."
“Hm, apakah engkau kira gunung ini milikmu sendiri?"
seru Huru Hara.
Ang Hin menggeram, "Sekarang ini negara sedang
perang. Siapa yang memiliki daerah ini belum dapat
diketahui pasti. Hari ini masih daerah kekuasaan Beng
tetapi besok atau lusa sudah direbut orang, lebih baik
daerah ini menjadi milik kita, rakyat yang membutuhkan
tempat dan makan"
"Kedua saudaramu jelas memiliki lencana Barisan Suka
Rela, mereka tentu mempunyai hubungan. Tetapi mengapa
engkau tak tahu? Apakah engkau tak punya hubungan
dengan gerakan Barisan Suka Rela itu?"
"Sudah kukatakan," kata Ang Hin, "kami adalah rakyat
bebas. Kami butuh hidup, persetan kerajaan Beng atau
kerajaan Ceng. Mereka adalah raja2 yang hanya
mementingkan enaknya sendiri saja. Raja Beng kek, raja
Ceng kek, apa kebaikannya untuk kita. Toh kita juga harus
mencangkul sawah sendiri, menanam padi dan memintal
lawe. Semua atas hasil usaha kita, bukan raja yang
memberi. Bahkan kita yang ditarik pajak."
"Engkau benar," sahut Bok Kian, "tetapi sayang
sebenarnya itu untuk engkau sendiri. Andaikata engkau
hidup di pulau kosong, mungkin pendirianmu benar. Tetapi
engkau hidup disebuah negara yang mempunyai
pemerintahan. Negara harus membentuk pasukan untuk
menjaga keselamatan negara dan keamanan, harus
memelihara pegawai untuk mengatur urusan pamerintahan,
harus membangun jalan, jembatan dan hal2 yang
menyangkutkan kepentingan rakyat. Tidakkah semuanya
itu memerlukan beaya?. Itulah sebab, maka rakyat harus
bayar pajak. Tidak semua biaya negara itu hanya
tergantung pada pungutan pajak. Pajak hanya. merupakan
salah sebagian kecil dari penghasilan negara."
"Engkau mengatakan tak ada bedanya raja Beng dengan
raja Ceng," kata Bok Kian lebih lanjut, "anggapan itu salah.
Tentu saja ada bedanya. Engkau diperintah oleh raja orang
Han atau bangsamu sendiri dengan diperintah oleh raja
Ceng, lain suku. Sejahat-jahatnya raja Beng tetapi tentu
masih lebih jahat raja Ceng. Dan ketiga kalinya, kalau
semua orang mempunyai pikiran seperti engkau, lha negeri
ini lalu apa jadinya? Semua orang rnenghendaki kebebasan
hendak membentuk gerombolan sendiri2, tidak mau
mengakui kekuasaan kerajaan. Lalu negara ini tidak lagi
merupa suatu negara yang mempunyai pemerintahan
teratur tetapi suatu negara yang terdiri dari gerombolangerombolan!"
"Hm, karena pamanmu menjadi mentri, maka engkau
mati2an hendak membela kerajaan Beng. Tetapi ketahuilah,
karni rakyat kelaparan dan kapiran di gunung Hong-hongsan
ini tak perduli dengan kekuasaan raja lagi. Kami akan
cari kehidupan didaerah yang kami kuasai ini."
"Pamanku memang mentri, tetapi aku bukan. Sekalipun
begitu aku akan menetapi kewajibanku sebagai seorang
rakyat yang harus membela negara dari serangan musuh,
"kata Bok Kian," aku tidak mengganggu kalian tetapi
mengapa kalian hendak mengganggu aku ?”
"Ya, kedua saudaramu itu hendak membunuh Bok-heng
ini. Dan jelas mereka mempunyai hubungan dengan
Barisan Suka Rela. Dengan begitu berarti engkau juga
berjuang untuk membela kerajaan Beng, bukan ?" tanya
Huru Hara.
"Tidak !" bantah Ang Bin, "aku tak tahu menahu kalau
ji-te dan sam-te telah mengadakan hubungan dengan fihak
Barisan Suka Rela. Mereka tak pernah memberitahukan hal
itu kepadaku. Dan aku memang tak setuju bergabung
dengau pihak manapun juga."
"Mengapa ?" tegur Huru Hara.
"Hm," dengus Ang Hin, "tuh lihat mereka yang
menamakan diri sebagai Lasykar Tani yang dipimpin Li Cu
Seng itu. Mereka terdiri dari petani tertindas yang kelaparan
sehingga mudah di hasut untuk memberontak. Setelah
berhasil masuk ke kota-raja, eh, Li Cu Seng lalu cari
enaknya sendiri saja, lalu mengangkat diri sebagai raja.
Lasykarnya dihibur dengan kebiasaan boleh merampok
harta dan wanita dari tiap kota yang diduduki. Petani2 yang
bodoh menganggap Li Cu Seng seorang pemimpin yang
jempol sehingga mereka setya sekali dan mengangkat Li Cu
Seng sebagai raja. Pada hal mereka hanya diperalat saja."
"Hm, pandai sekali engkau mengupas kelemahan orang.
Tetapi engkau sendiri ? Apakah kau juga tidak memperalat
rakyat yang kelaparan? Bukankah engkau juga menganggap
dirimu sebagai raja di gunung ini ?" tegur Huru Hara
dengan tajam.
“Hai, engkau, pendekar kesiangan,” teriak Ang Hin
marah, "engkau adalah tawanan menunggu hukuman.
Mengapa tidak minta ampun kebalikannya engkau malah
berani menghina aku
"Ang Hin," kata Huru Hara, "aku minta penegasanmu.
Jawablah yang jujur. Engkau mempunyai hubungan dengan
Barisan Suka atau tidak !"
"Tidak !"
“Jika demikian, akupun tak mau jadi tawananmu," seru
Huru Hara.
"Apa katamu ? Tak mau jadi tawanan? Ha, ha, ha .. .."
"Ha, ha, ha ..... " tiba2 terdengar suara orang menirukan
gaya tertawa Ang Hin,
“Hus, setau kuncung, engkau berani kurang ajaran
menirukan aku tertawa ?" bentak Ang Hin.
"Ha, ha, ha ... mengapa tak berani tukang pandai!”
'Siapa tukang pandai ?'
'Engkau ! Bukankah engkau ini seorang tukang pandaibesi
?"
"Bangsat !" teriak Ang Hin, "rangket anak kuncung itu!”
Beberapa anakbuah maju hendak menangkap Ah Liong,
tetapi anak itu berkelebat menghindar dan menyelinap
kebelakang mereka dan menarik celana mereka. Uh, uh
……. kedua anak buah gunung Hong-hong-san itu segera
berjongkok karena tali celananya terlepas. Sebelum mereka
sempat memberesi tali celananya yang putus, tiba2 tubuh
mereka terangkat dan dilemparkan ke meja Ang Hin,
brakkk, geroobrak ..... kedua tabuh anakbuah gunung
Hong- hong- san itu jatuh tertimpa meja sehingga Ang Hin
harus loncat mundur untuk rrenghindar.
Saluruh anakbuah Ang Hin serentak mencabut senjata
dan memberingas.
"Ang Hin, kalau aku dan kawan-kawanku melawan,
jelas tentu akan terjadi pertumpahan darah besar. Kasihan
anakbuahmu yang tak berdosa itu. Baiknya begini saja.
Silakan engkau pilih lawan yang mana, aku atau adikku.
Kalau engkau menang, aku akan serahkan diri. Terserah
engkau hendak memberi hukuman apa saja !"
Bok Kian terkejut. Ia memang belum kenal siapa Ah
Liong yang kuncung itu.
"Ya, tukang pandai-besi, pilih saja aku yang kecil. Kalau
engkau mampu mengalahkan aku, aku akan ikut engkau !"
seru Ah Liong.
Walaupun kheki tetapi Ang Hin malu kalau harus
bertanding melawan Ah Liong. Serentak rnenuding Huru
Hara, "Aku menghendaki engkau yang jadi lawanku !"
"Sialan !" teriak Ah Liong," mengapa engkau tidak
rnemilih aku saja ?"
"Baik," sahut Huru Hara, "tetapi bagaimana kalau
engkau yang kalah?"
"Terserah kepadamu !"
"Bagus," seru Huru Hara, “hanya engkai boleh
menyerang dulu
Ang Hin bergelar Thia-jiu-kam-kong atau Malaekatbertangan-
besi, Tinjunya memang sekeras besi dan
tenaganya benar2 seperti raksasa. juga memiliki ilmusilat
yang tinggi.
"Lihat serangan !" seru Ang Hin yang segera menyerang
dengan tinju rnengarah ke dada Huru Hara.
Huru Hara tidak menghindar melainkan menyambar
pergelangan tangan orang. Aug Hin terkejut. Dia hendak
menggeliatkan tangannya menghindar tetapi kalah cepat.
Gerak sambaran Huru Hara itu cepatnya bukan alang
kepalang.
Ang Hin terkejut ketika pergelangan tangan
dicengkeram. Ia berusaha untuk kerahkan tenaga dan
meronta. Tetapi akibatnya malah runyam. Ia rasakan tulang
ruas pergelangan tangannya seperti putus, sakitnya bukan
kepalang sehingga dahinya bercucuran keringat.
Tiba2 Huru Hara lepaskan cekalannya, "Terserah engkau
sudah mengaku kalah atau belum!"
"Hem," desuh Ang Hin. Dia kekhi sekali. Dia yang
menyandang gelar Thiat jiu-kim-kong Malaekat-tanganbesi,
dalam satu gebrak saja sudah dapat dikuasai lawan.
Merah mukanya.
"Ang Hin, rupanya engkau rnasih belum puas bukan?
Silakan engkau menyerang lagi," seru Huru Hara.
"Ambilkan senjataku!" teriak Ang Hin. Seorang
anakbuahnya segera lari memberikan sepasang senjata
Thong jin atau orang2an tembaga. Senjata jin atau orangorangan
tembaga. Senjata itu berbentuk seperti orang yang
kedua tangannya bersidekap di dada, besarnya seperti bayi,
panjang satu meter. Terbuat dari besi tembaga yang keras.
Beratnya tiap senjata, tak kurang dari lima puluh kati.
Huru Hara mencabut pedang Tanduk-kerbau. Pikirnya
kalau menggunakan pedang ini, aku dapat membereskan
pertempuran dengan cepat. Asal aku tak memutar-mutar
tubuhnya, dia tentu tak putus jiwanya seperti orang
bertopeng tadi.
“Wut, wut, wat . . “. terdengar angin menderu-deru keras
ketika Ang Hin memainkan sepasang senjata Thong-jin.
Ngeri sekalian anakbuah gunung Hong hong-san
menyaksikan permainan itu. Lebih2 apabila
membayangkan betapa akibatnya nanti kalau Huru Hara
sampai terhantam kedua senjata berat itu.
“Tring . . . . tring . . . “. terdengar dua kali bunyi
bergemerincing ketika pedang Huru Hara menangkis salah
satu senjata thong-jin yang lagi hendak melayang, pun ikut
melekat pada pedang Huru Hara.
Ang Hin berusaha untuk menarik sepasang senjatanya
tetapi sampai mukanya berkerenyut tegang, dia tetap tak
mampu.
"Celaka," pikir Huru Hara, "kalau dia terus menerus
mengeluarkan tenaga untuk menarik senjatanya, dia tentu
akan menderita luka. Lebih baik kupaksanya . . . . "
Ia menarik pedang itu, selekas Ang Hin terseret maju.
Huru Hara segera mendupak perutnya, auh . . . . Ang Hin
terpelanting rubuh. dua senjata thong-jin masih melekat
pada pedang Huru Hara.
“Bagaimana, apakah engkau masih belum puas lagi?"
tegur Huru Hara.
Ang Hin terlongong. Dia tak mengerti apa sebab
sepasang senjatanya sampai melekat pada pedang lawan
begitu keras. Berhadapan dengan Huru Hara, dia benar2
mati kutu tak dapat mengembangkan ilmu kepandaiannya.
Melihat pemimpinnya dirubuhkan, sekalian anakbuah
gunung Hong-hong-san hendak menyerbu Huru Hara tetapi
secepat itu Huru Hara sudah loncat kemuka menyambar
tubuh Ang Hin dan diangkatnya tinggi2.
"Hayo, kalau kalian berani bergerak, pemimpinmu ini
tentu akan kubanting hancur," teriak Huru Hara.
Dia tak takut kepada anakbuah gerombolan, tetapi dia
merasa kasihan kalau sampai terjadi pertumpahan darah
yang besar. Dengan siasat itu ia menghentikan gerakan
anakbuah gerombolan.
Huru Hara menurunkan tubuh Ang Hin dan
menegurnya, "Ang Hin, walaupun gerombolan yang
engkau himpun ini gerombolan pengacau atau bega1, tetapi
engkau adalah peminpin mereka. Seorang pemimpin harus
bertanggung jawab atas ucapannya. Nah, bagaimana
janjimu?"
"Baik," kata Ang Hin, "akulah yang bertanggung jawab
sendiri. Jangan mengganggu anakbuahku.”
“Kalau begitu, perintahkan anakbuahmu tenang dan
duduk kembali di tempat masing-masing,” kata Huru Hara.
Setelah Ang Hin memberi perintah dan sekalian
anakbuah gerombolan itu duduk lagi, maka Huru Hara
berkata, “Coba katakan sendiri, hukuman apa yang engkau
minta!”
“Terserah kepadamh.”
“Sekarang engkau kubebaskan.”
“Mengapa?”
“Karena engkau seorang pemimpin yang bertanggung
jawab. Anakbuahmu itu perlu pemimpin seperti engkau.
Salurkanlah mereka ke arah jalan yang benar, jangan
menjadi gerombolan pengacau yang tak berguna.”
“Ah, aku malu enjadi pimpinan mereka lagi. Aku
seorang pemimpin yang tak becus.”
(Bersambung)
-ooo0dw0ooo-
Jilid 17.
Huru Hara mendapat kesan bahwa Ang Hin itu seorang
yang jujur dan bertanggung jawab. Mendengar pengakuan
kepala gerombolan gunung Hong-Hong-san itu, Huru Hara
tertawa.
"Mengapa engkau berkata begitu? Apakah karena engkau
kukalahkan?" tanyanya.
Ang Hin termenung.
"Pikiranmu salah," kata Huru Hara pula, "kalah atau
menang sudah biasa dalam pertempuran. Ketahuilah,
ukuran seorang pemimpin bukan dilihat dari tinggi
rendahnya ilmusilatnya. Tetapi dari kebijaksanaan
kepemimpinannya dan, kejujuran peribadinya."
Ang Hin masih tertegun diam.
"Engkau jujur saudara Ang Hin," kata Huru Hara,
"jangan engkau putus asa karena engkau kukalahkan tadi.
Tetapi engkau harus ingat akan kepentingan beratus-ratus
anakbuahmu yang menggantungkan hidupnya dibawah
kepemimpinanmu. Lihat, sekarang negara sadang dalam,
keadaan rang melawan serbuan pasukan Ceng. Jika engkau
mengundurkan diri sebagai pimpinan mereka tentu akan
kacau dan kemungkinan besar tentu akan terjunkan diri
dalam dunia kejahatan, menjadi rampok, begal dan
pengacau yang menambah kesengsaraan rakyat kita."
Ang Hin terperangah.
"Dalam satu hal, pendirianmu memang benar. Yalah
engkau dapat menghimpun rakyat yang kelaparan dan
kehilangan tempat tinggalnya, berkumpul di gunung ini.
Yang jelas engkau dapat memberi hidup kepada mereka,"
kata Huru Hara tetapi dalam lingkungan yang lebih luas
yakni dalam kepentingan keamanan rakyat dan
keselamatan negara, pendirianmu itu kurang benar."
"Memang selama dibawah pemerintahan kerajaan Beng,
kehidupan rakyat kurang mendapat perhatian. Tetapi itu
bukan berarti bahwa kita harus membenci pada pemerintah
dan negara. Atau kita terus menjadi penghianat untuk
menghianati negara dan bangsa," kata Huru Hara dengan
tandas," yang salah adalah kawanan mentri durna yang
merebut pengaruh hendak menguasai pemerintahan. Nah,
kawanan manusia terkutuk semacam itulah yang harus kita
berantas. Soal siapa yang jadi raja, pokoknya dia orang
Beng yang setya kepada negara, bijaksana, cakap, itu sudah
cukup……."
"Yang paling tepat kalau engkoh yang jadi " tiba2 Ah
Liong berteriak.
Sudah tentu sekalian orang terkejut dan Huru Hara pun
membentaknya, "Hus. jangan bicara sembarangan! Tidak
mudah orang jadi raja itu. Dan lagi engkau kira jadi raja itu
enak apa?"
"Lho, jadi raja kan dihormati orang dan tinggal perintah
saja, segala perintahnya tentu diturut," seru Ah Liong.
"Hm, memang kalau orang bicara soal raja, lalu
menganggap dari segi enaknya saja," kata Huru Hara, "pada
hal sesungguhnya raja itu adalah kepala negara, kepala
seluruh rakyat. Menjadi kepala harus memikirkan
bawahannya, rakyat dan negerinya. Harus cakap dan
bijaksana, harus adil dan berwibawa. Mana orang seperti
aku pantas jadi raja?"
"Tetapi tidak hohan," tiba2 Ang Hin berkata dengan
nada bersungguh, "aku ingin engkau yang menjadi raja
kita!"
"Gila!'' teriak Huru Hara, "jangan dengerin kata bocah
kuncung itu. Dia kalau ngomong memang suka seenaknya
sendiri saja,"
" Tetapi tidak, hohan." bantah Ang Hin, engkau
memiliki kepandaian sakti engkau luas pengalaman dan
tajam pikiran, mengapa tak mungkin engkau menjadi raja?
Bukankah Li Cu Seng itu juga dulu asalnya hanya seorang
pengantar surat? Kalau dia mampu memimpin Lasykar
Tani di kemudian menjadi raja mengapa hohan tidak ?”
"Ah, saudara Ang," Huru Hata menghela napas, "aku sih
tak kepingin jadi raja, Pernah dulu aku jadi.....ah, lebih baik
jadi rakyat biasa saja. Lebih tenang, lebih leluasa."
Sebenarnya Huru Hara hendak mengatakan pernah aku
dulu jadi menantu raja" ..... tetapi dia buru2 menghentikan
dan beralih kepersoalan lain.
"Ya, akupun berpendapat demikian," kata Ang Hin yang
tak memperhatikan kata2 Huru Hara tadi dan dia juga tak
pernah mengira bahwa pemuda yang berada di hadapannya
itu pernah menjadi menantu raja, "tetapi tadi hohan
mengatakan bahwa pendirianku itu salah,"
"Jangan salah faham. Ang heng," kata Huru Hara, "yang
kukatakan salah tadi yalah pemahamanmu tentang tak mau
mengakui kekuasaan Beng. Kenyataan kita kini memang
rakyat kerajaan Beng maka kita harus mengakui
keberadaannya. Soal raja Beng tak becus, itu memang
menjadi kewajiban kita untuk merobah. Saat ini negara kita
sedang diserang pasukan Boan Ceng, kita harus
menghadapinya. Setelah musuh selesai baru kita pikirkan
lagi urusan dalam pemerintahan negara kita."
"Baik," kata Ang Hin, "aku bersedia melakukan anjuran
hohan dengan satu syarat yakni hohan harus mau
menerima pengangkatan sebagai pemimpin gunung Honghong-
san ini. Jika hohan menolak, akupun tetap akan
melanjutkan pendirianku yang lalu."
"Bagus, encek Ang Hin," teriak Ah Liong pula, “rakyat
di desa Siau-koan juga mengangkat engkohku jadi
pemimpin dan aku jadi jenderal kecil. Bukankah nanti
engkau juga mengangkat aku jadi jenderal kecil dari Honghong-
san ?"
“Tentu, tentu," Ang Hin menyahut.
Huru Hara hendak membuka mulut tetapi Bok Kian
menghampirinya, "Loan-heng," saat ini negara sedang
kacau balau, rakyat kehilangan kepercayaan pada
pemerintahan. Loan-heng harus menerima mereka agar
mereka mendapat pimpinan yang tepat."
Dalam memperkenalkan diri, Huru Hara menyebut
dirinya dengan nama Loan Tulan Te maka Bok Kian
memanggilnya dengan sebutan Loan-heng.
Huru Hara diam2 dapat menerima anjuran Bok Kian.
Memang kalau dia menolak, tentu anakbuah gunung Honghong-
san itu akan menjadi gerombolan yang mengacau
keamanan dan merugikan rakyat.
"Jika Ang-heng memang menghendaki demikian,
akupun menerima ....... "
"Bagus'' teriak Ang Hin dengan serentak.
"Tetapi nanti dulu," kata Huru Hara, "akupun juga akan
mengajukan syarat."
'O, katakanlah."
"Karena aku sedang mencari Barisan Suka Rela, terpaksa
aku tak dapat tinggal disini. Maka kuangkat Ang-heng
menjadi wakilku disini untuk memimpin sekalian
saudara2."
"Lho, mengapa hohan hendak mencari Barisan Suka
Rela? Apakah hohan mempunyai hubungan dengan
mereka?"
Huru Hara gelengkan kepala, "Aku tak mempunyai
hubungan bahkan kenalpun belum dengan mereka. Aku
perlu akan menyerahkan diri untuk memberi keterangan
tentang tindakanku waktu aku menolong kolonel Totay dari
pasukan Ceng yang diserbu Barisan Suka Rela. Dan kedua,
aku hendak minta supaya pamanku yang mereka tawan,
dibebaskan."
"Kalau begitu Barisan Suka Rela itu menuduh hohan
berhianat?" seru Ang Hin.
"Begitulah anggapan mereka,"
"Jika demikian"," seluruh anakbuah gunung Hong-hongsan
akan mengiringkan hohan untuk menghadapi Barisan
Suka Rela," kata Ang Hin dengan tandas.
Huru Hara terkejut. Buru2 ia menenangkan kepada
orang2 gunung Hong-hong-san itu, "Terima kasih atas
dukungan Ang Heng. Tetapi persoalan ini dapat
kuselesaikan sendiri. Mereka juga berjuang melawan
penjajah Ceng maka tak baiklah jika kita bermusuhan
dengan mereka."
"Benar, encek Ang," tiba2 Ah Liong ikut meyelutuk,
"persoalan dengan Barisan Suka Rela dapat kami bereskan
sendiri. Yang penting jangan lupa. Kalau engkohku jadi
pemimpin, kalianpun harus mengangkat aku sebagai
jenderal kecil."
Sekalian orang tertawa mendengar ocehan bocah
kuncung itu. Karena hari sudah malam, terpaksa Huru
Hara dan rombongannya menginap di gunung Hong-hongsan.
Ang Hin herdak mengadakan perjamuan tetapi Huru
Hara menolaknya, "Ah, tak perlu. Lebih baik menghemat
persediaan makanan. Hari masih panjang dan beratus-ratus
anakbuah kita masih harus makan."
Juga Huru Hara menolak untuk dijamu arak. Dia minta
teh saja.
Malam hari dalam kesempatan beromong-omong
barulah Huru Hara tahu bahwa kedua lelaki bertopeng yang
hendak membunuh Bok itu adalah dua jago silat yang
terkenal dalam dunia hitam yakni Siang Kim Lui tergelar
Elang besi dan Gui Pak bergelar Serigala-gigi-baja.
Sebenarnya yang menjadi kepala gunung Hong-hong-san
adalah Ang Hin. Tetapi kemudian dia mendapat tambahan
dua orang jago silat golongan hitam. Ternyata kemudian
kedua orang itu lebih dapat mempengaruhi arakbuah Honghong
san dan makin menguasai gunung itu. Pengaruh dan
kekuasaan Ang Hin makin terdesak sehingga namanya saja
toako atau pemimpin pertama tetapi kekuasaan ada pada
kedua orang itu.
Sebenarnya memang Siong Kim Lui dan Gui Pak
hendak membelokkan tujuan Hong hong-menjadi
gerombolan begal. Pada hal tujuan Ang Hin membentuk
gerombolan Hong-hong-san tidak begitu, Dia hanya ingin
menolong kesengsaraan rakyat yang rumah, sawah dan
harta bendanya telah hilang dirampas pasukan Ceng.
Memang dia benci kepada kerajaan Beng karena telah
menindas rakyat. Tetapi diapun benci juga kepada pasukan
Ceng yang telah membikin rusak negara dan membuat
rakyat sengsara. Dia ingin membentuk suatu daerah
kekuasaan sendiri di Hong-hong-san yang bebas dari
kekuasaan kedua kerajaan yang sedang berperang itu.
"Tetapi mengapa Siang Kim Lui dan Gui Pak hendak
membunuh Bok-heng?" kata Huru Hara setelah mendengar
cerita Ang Hin tentang keadaan gunung Hong-hong-san.
"Memang aku sendiri tak mengerti," kata Ang Hin, "eh,
Loan-heng mengatakan bahwa Bok kongcu itu putera
kemanakan mentri Su Go Hwat tayjin ?"
"Ya. Kenapa ?"
"Ya, sekarang aku teringat," kata Ang Hin, beberapa hari
yang lalu gunung ini telah menerima kedatangan seorang
pemuda. Dia bersahabat dengan Siang ji-te dan Gui samte.
Katanya dia juga putera kemanakan dari Su Gu Hwat tayjin
......"
"O, siapakah namanya ?" teriak Bok Kian terkejut.
"Aya," seru Ang Hin, "aku lupa , ... kalau tak salah ....
ah, aku hanya ingat dia dipanggil Su kongcu oleh ji te dan
sam-te. Namanya yang lengkap aku lupa sama sekali."
"Ah, tentu dia," seru Bok Kian.
'"Siapa ?" tanya Huru Hara.
"Su Hong Liang koko, putera keponakan dari paman,"
kata Bok Kian, "lalu mengapa dia kemari?"
"Katanya kepadaku, hanya sekedar singgah karena sudah
lama tak berjumpa dengan ji-te dan sam-te dan kebetulan
saja lewat di gunung ini," kata Ang Hin.
Peristiwa Siang Kim Lui dan Gui Pak hendak
membunuh Bok Kian memang masih tetap tak dapat
diketahui latar belakangnya. Demikian pula mengapa Gui
Pak mempunyai lencana Barisan Suka Rela.
Keesokan harinya Huru Hara dan rombongan hendak
melanjutkan perjalanan.
"Loan-heng,” kata Ang Hin, "pagi tadi kami telah
mendapat laporan dari anakbuah yang kukirim untuk
menyelidiki, bahwa induk Barisan Suka Rela itu berpusat di
gunung Lu-liang-san di barat-daya (barat selatan) wilayah
Sanse.”
Huru Hara mengucap terima kasihi Setelah tinggalkan
gunung itu di perbatasan Sanse, terpaksa Huru Hara
berpisah dengan Bok Kian yang hendak melanjutkan
perjalanan ke Shoa-tang.
"Bok-heng," kata Huru Hara, "setelah urusanku selesai,
aku bermaksud hendak mencari Go Hwat tayjin. Aku sudah
berjanji pada beliau untuk bekerja kepada beliau. Apabila
bertemu dengan beliau, tolong sampaikan keteranganku
ini.”
"Baik, Loan-heng," kata Bok Kian, "paman Su tentu
gembira sekali apabila Loan-heng segera dapat
mendampinginya. Memang beliau sangat sibuk sekali."
oo0oo
Jaman edan
Kisah BLO’ON CARI JODOH ini memang merupakan
kisah yang panjang. Tetapi justeru karena panjangnya itu
banyaklah terjadi peristiwa2 besar dan tokoh2 aneh,
Asyikkkk, dah !
Dalam jilid2 yang terdahulu telah diceritakan tentang
beberapa rombongan yang terlihat langsung dalam cerita
ini. Agar pembaca tidak sampai lupa, maka terpaksa kami
akan menceritakan pe-nRiil. irian dan peristiwa yang
dialami dari setiap rombongan itu.
Ada tiga rombongan yang telah kami hidangkan, Yakni,
rombongan Kim Yu Ci, engkoh dari Kim Blo'on, yang
mengantar Han Bi Ing mencari ayahnya di kota Thay-goanhu.
Si dara centil In Hong karena kehilangan kakeknya
Tong Kui Tik dan pemuda cakap Wan-ong Kui, terpaksa
ikut bersama rombongan Han Bi Ing.
Sebenarnya bermula rombongan In Hong ini terdiri dari
dia, Wan-ong Kui Tong Tik dan Han Bi Ing yang sama2
hendak mencari Blo’on di puncak Giok-li-nia gunung Lohu-
san.
Tetapi di tempat itu mereka disergap oleh kawanan kuku
garuda atau kaki tangan kerajaan Ceng. Jago tua Tong Kui
Tik bertempur lawan pertapa Suto Kiat dan Win-ong Kui
menghadapi Hian Hian tojin, sute dari Hong Hong tojin
ketua Go-bi-pay. Mereka lari ke sebuah hutan dan
bertempur disitu sehingga tercerai dari rombongan Han Bi
Ing dan In Hong. Kedua nona itu hanya menghadapi Ko
Cay Seng, sasterawan sakti yang memiliki ilmu kepandaian
sekali gus dapat menutuk enam buah jalandarah. Untung
Han Bi Ing dapat menusuk telapak tangan sastrawan yang
menjadi mata2 kerajaan Ceng itu sehingga terluka dan lari.
Dan pada saat itu datanglah Kim Yu Ci engkoh diri Kim
Blo'on, (baca : jilid 10).
Rombongan kedua, adalah Liok Sian Li, sumoay dari
Blo'on yang tinggal menjaga di gunung. Dialah yang
menganjurkan supaya Blo’on jadi pendekar dan turun
gunung untuk melamar pekerjaan pada jenderal Ko-Kiat
yang membutuhkan pengawal untuk mengantar barang
sumbangan pada jenderal Ui Tek Kong.
Selama Blo'on pergi maka Sian Li menyaru sebagai
Blo'on untuk menerima tetamu2 yang datang. Memang
selama ini ketujuh ketua dari tujuh perguruan besar di dunia
persilatan yakni perguruan Siau-lim. Bu-tong, Hoa-san, Go
bi, Kun-lun. Kong-tong, dan Kaypang, sering berkunjung ke
Gak-in-ma untuk menjenguk keadaan Blo’on. Agar mereka
tidak bingung karena Blo'on turun gurung maka Liok Sian
Li terpaksa menyaru jadi Blo’on.
Setelah rombongan Wan-ong Kui dan kawanan kuku
garuda kerajaan Ceng pergi, Liok Sian Li memutuskan
untuk menyusul sukonya. Dia turun gunung seorang diri.
Sedarg rombongan ketiga, yalah Tong Kui Tik dan Wanong
Kui yang belum diketahui bagaimana nasibnya.
Oleh karena mereka itu juga harus diceritakan maka
terpaksa kita tinggalkan dulu pendekar Huru Hara yang
tengah menuju ke gunung Lu-ang san untuk mencari
markas Barisan Suka Rela.
Sekarang marilah kita ikuti perjalanan beberapa orang
yang berangkat dari puncak Giok-li-ma itu.
Rombongan Han Bi Ing, In Hong dan Kim i Ci sudah
pernah kami ceritakan dalam jilid permulaan cerita ini.
Maka kami pilih dulu Liok Sian Li, sumoay Blo'on yang
turun gunung seorang diri untuk mencari Blo'on itu.
Sekedar memberi sedikit gambaran tentang keluarga
Blo'on kepada pembaca yang belum sempat mengikuti
cerita PENDEKAR BLO'ON itulah kami cuplikkan sedikit
tentang keluarga Blo’on.
Ayah Blo'on bernama Kim Thian Cong, seorang jago
termasyhur yang diagungkan sebagai pemimpin dunia
persilatan. Tetapi Blo'on sendiri tidak suka belajar silat.
Kim Thian Cong mempunyai tiga murid. Murid pertama
Tio Goan Pa, dua Kwik Ing dan murid ketiga addah
seorang gadis bernama Liok Sian Li.
Waktu Kim Thian Cong meninggal, banyak tokoh2
dunia persilatan yang datang untuk melayat. Diantaranya
terdapat beberapa tokoh hitam yang hendak melakukan
balas dendam. Mereka pernah dikalahkan oleh Kim Thian
Cong. Walau pun Kim Thian Cong sudah meninggal tetapi
mereka tetap hendak menghancurkan jenasahnya.
Melihat situasi yang berbahaya itu, ketua-ketua
perguruan segera bermufakat untuk menyembunyikan
jenasah Kim Thian Cong dalam sebuah kamar rahasia dan
dijaga oleh Kwik Ing, murid yang kedua. Tetapi secara
misterius jenasah hilang dan Kwik Ing mati terbunuh.
Kemudian timbul seorang tokoh hitam yang sakti yang
hendak menguasai dunia persilatan. Ketua dari ketujuh
partai persilatan tak berdaya. Akhirnya mereka bersepakat
untuk menuliskan ilmu kepandaiannya dalam sebuah buku
yang diberikan kepada Tio Goan Pa. Agar apabila mereka
sampai mati terbunuh, Tio Goan Pa masih dapat
memberikan ilmu itu kepada murid dari partai persilatan
masing2.
Tetapi ternyata Tio Goan Pa mendurhaka. Dialah yang
mencuri mayat gurunya dan diapun 'menelan' kitab
pelajaran silat dari ketujuh ketua partai persilatan itu.
Kemudian dia melarikan diri menghilang dari dunia
persilatan.
Selain Kim Blo'on (nama sebenarnya Kim Yu Yong),
dari hasil hubungan asmara dengan seorang wanita lain
bernama Hiang Hiang niocu, Kim Thian Cong juga
mempunyai putera yang bernama Kim Yu Ci. Dia adalah
engkoh dari Kim Blo'on. Bermula engkoh dan adik itu
saling berhadapan sebagai lawan, tetapi setelah melalui
berbagai liku2 peristiwa, Hiang Hiang niocu muncul dan
dapat mendamaikan serta mempersatukan kedua kakak
beradik itu.
Demikianlah cuplikan ringkas dari sejarah kehidupan
keluarga Blo'on, agar dalam mengikuti cerita BLO’ ON
CARI JODOH ini, pembaca dapat memiliki gambaran
yang lebih jelas.
Sekarang mari kita ikuti perjalanan Liok Sian Li dulu
yang belum banyak diceritakan.
Karena kuatir menerima kunjungan para ketua ketujuh
partai persilatan sehingga akhirnya ketahuan kalau Blo'on
turun gunung maka dara memutuskan untuk menyusul
Blo'on yang saat itu sedang menjadi pendekar dengan nama
yang jarang yakni pendekar Huru Hara.
Sian Li tak mau menyaru jadi Bio'on karena kuatir
kepergok murid2 ketujuh partai persilatan.
"Hm, ketujuh ketua partai persilatan memang menaruh
perhatian besar kepada suko (Blo'on ). Mereka sering
rnenasehati agar supaya tetap tinggal saja di gunung dan
mau belajar silat. Bahkan beberapa waktu yang lalu, para
ketua partai persilatan itu mulai membujuk agar mau
menikah. Mereka sanggup mencarikan yang sesuai sebagai
jodoh suko," dalam perjalanan Sian Li sempat melamun.
Memang orang berjalan seorang diri sering dihinggapi oleh
nostalgia atau rasa terkenang pada masa2 lalu.
"Tetapi watak suko itu memang aneh. Suhu sendiri (
Kim Thian Cong ) jengkel karena ia tak mau disuruh belajar
silat. Ketujuh partai persilatan itupun bohwat ( tobat )
terhadap suko. Banyak sudah gadis2 cantik, pintar, berilmu
tinggi, yang hendak dijodohkan kepada suko tetapi suko
selalu menolak," Sian Li melamun lebih lanjut.
"Ah tiba2 ia menghela napas, "orang2 sama menaruh
perhatian besar kepada suka karena suko adalah putera
seorang pendekar besar yang pernah menjadi pemimpin
dunia persilatan. Tetapi siapakah yang memperhatikan
diriku?”
Teringat dirinya, hati Sian Li makin rawan. Ia seorang
gadis yang sudah sebatang kara. Dia tak tahu apakah di
dunia ini masih ada sanak saudaranya lagi yang mash
hidup. Sejak kecil dia sudah dipungut suhunya yang
memperlakukannya sebagai puterinya sendiri.
Dulu waktu masih kecil, ia memang tak pernah memiliki
perasaan sedih akan nasib dirinya, merasa gembira hidup di
puncak Giok-li-nia dan dianggap sebagai puteri kandung
oleh suami isteri Kim Thian Cong. Disamping itu diapun
masih mempunyai dua orang suko yakni Tio Goan Pa dan
Kwik Ing. Dia merasa dunia ini indah dan mataharipun
gemilang.
Tetapi setelah suko ( isteri Kim Thian Cong ) meninggal
dan kemudian suhunya juga meninggal dia merasa dunia
ini sempit. Lebih celaka lagi ketika ji-suko Kwik ing mati
dibunuh orang, dan yang paling terasa sebagai palu godam
yang menghancurkan perasaannya adalah bahwa toasuhengnya,
Tio Goan Pa, seorang murid durhaka.
Bersama dengan kedua sukonya itu, Sian lie berangkat ke
alam dewasa. Diam2 diantara kedua sukonya itu seperti
timbul persaingan untuk merebut hatinya. Tio Goan Pa
cerdik, tampanpandai mengambil hati. Kwik Ing jujur, agak
tolol tetapi setia. Walaupun belum pernah mengatakan,
tetapi ia lebih menyukai Kwik Ing dari pada Tio Goan Pa.
Dia kasihan dengan ji-suko Kwik Ing. Bahwa ternyata Kwik
Ing mati terbunuh menarik kesimpulan bahwa
pembunuhnya tentu Tio Goan Pa. Jika Tio Goan Pa sudah
berani mencuri jenasah suhunya dan melarikan kitab
pusaka berisi ilmu kepandaian dari tujuh partai persilatan
ternama, tentu dialah yang membunuh Kwik Ing juga.
Diam2 Sian Li bersumpah dalam hati untuk menuntut
balas kepada Tio Goan Pa.
"Hai, nona manis, melamun ya ?" tiba2 didengar suara
orang berseru menegurnya. Sian-li terkejut gelagapan" dan
berpaling.
Ternyata saat itu dia sedang berada hutan diluar kota
Siu-yang-koan. Dan di belakangnya tampak dua orang
prajurit yang memandangnya dengan mata berapi-api.
"Wah, cantiknya," teru salah seorang yang bermata sipit.
“'Bangsat, prajurit mana kalian ini ?" tegur Sian Li
dengan marah.
“Ai nona manis, jangan marah dong," kata prajurit
bermata sipit itu," memang kami adalah prajurit dari
pasukan jenderal Lau Cek Cing."
“Persetan dengan prajurit jenderal siapa saja. Tetapi
tingkahmu itu sungguh kurang ajar!”
"Lho, mengapa kurang ajar ?" seru prajurit mata sipit itu.
"Siapa Lau Cik Jing itu ?"
“Salah seorang jenderal kerajaan Beng, nona."
"Apa kewajiban seorang prajurit itu?" tanya Sian Li pula.
"Membela negara !"
"Hanya itu ?
"Lalu apa lagi ?"
"Apa tidak melindungi rakyatnya ?"
"Tentu dong, nona manis. Kami tentu melindungi
rakyat. Tanpa kami mungkin prajurit2 yang ganas itu tentu
sudah menangkap nona,” kata prajurit mata sipit dengan
bangga.
"Hm, tingkahmu tadi apakah juga termasuk melindungi
rakyat?" tegur San Li dengan tajam.
"Lho, mengapa tidak ?" sahut prajurit bermatya sipit itu,
"bukanlah rona berjalan seorarg diri?
"Hm, apa pedulimu ?"
"Tentu saja kami harus peduli. Saat ini negara sedang
berperang, keamanan dimana-mana kacau, banyak
perampok dan begal. Mengapa nona berjalan seorang diri
saja ?"
''Eh, enak saja engkau ngomong," berkata Sian Li, "aku
dapat mengurus diriku sendiri. Tak perlu kalian repot2
mengurus aku."
'Sudah tentu aku wajib mengurus. Kami sebagai
pelindung rakyat, aku harus melindungi keselamatn nona.”
“Gila !" teriak Sian Li, "siapa yang sudi dapat
perlindunganmu ? Aku dapat berjalan sendiri dan menjaga
diriku sendiri."
"Ai, nona manis, jangan begitu. Daripada nona jatuh ke
tangan musuh yang ganas, lebih baik nona ikut kami."
'Cis!'' Sian Li meludah, "ikut manusia macam engkau ?"
"Bukan, nona manis. Bukan ikut aku tetapi ikut pada
sauya (tuan muda) kami. Dia tampan terpelajar, kaya dan
putra seorang jenderal ternama."
Sian Li deliki mata," Jangan ngoceh tak keruan, bangsat
!"*
"Lho, nona cantik jangan galak2, dan percayalah, nona,
kalau kongcu melihat nona dia pasti bersedia bertekuk lutut
menyembah dihadapan nona."
“Gila !' bentak Sian Li muak, "beginikah mentalitas
prajurit2 Beng itu?"
'"Apa itu mentalitas ?"
"Mentalitas adalah ahlak atau mutu pikiran, babi!'
“Uh aku tak mengerti mentalitas segala. Yang kutahu
hanyalah bahwa engkau ini seorang yang cantik sekali, ha,
ha, ha !"
'"Hai apa2an itu prajurit !" tiba2 terdengar suara orang
berseru.
Mendengar suara itu serentak kedua prajurit itupun
pecah nyalinya. Keduanya buru2 menyurut mundur dan
berpaling lalu tersipu-sipu membungkukkan tubuh memberi
hormat, 'Maafkan kami, kongcu."
Ternyata pada saat itu muncullah seorang pemuda
berpakaian mewah, diiring oleh dua orang lelaki gagah.
Pemuda itu menyandang tabung anak panah dan
memegang busur. Sementara kedua pengawalnya itu
masing2 membawa tombak dan lembing.
Serta melihat Sian Li, berubahlah wajah pemuda itu
menjadi cerah seketika. Memang pemuda itu cukup
tampan. Berkulit putih, mukanya licin dan bersih. Hanya
sepasang matanya yang juling dan hidung agak melengkung
seperti paruh burung betet.
"Hai, siapa nona itu, prajurit ?" tegur pemuda itu seraya
menghampiri.
"Entah, kongcu," sahut prajurit bermata sipit tadi,"
waktu kami keluar, kami berpapasan dengan nona ini."
"Mengapa tak engkau laporkan kepadaku
"Maaf, kongcu," kata prajurit itu," hamba tentu akan
menghaturkan kepada kongcu. Tetapi baru hamba tanya
namanya, dia sudah marah! dan memaki-maki hamba."
"Tentu kau ganggu dia !"
"Tidak kongcu. Hamba bertanya dengan baik-baik tetapi
dia sudah marah2 tak keruan."
"Hm, pergi !" bentak pemuda itu. Setelah kedua prajurit
itu menyingkir, pemuda itu dengan mencerahkan
airmukanya, mulai menyapa Sial Li, "Nona, maafkan
prajuritku yang tak tahu aturan itu. Tetapi bolehkah aku
mendapat tahu nama yang mulia ?"
"Maaf, kongcu," sahut Sian Li, "aku harus lekas2
melanjutkan perjalanan agar tidak sampai kemalaman di
tengah hutan."
"Nona hendak kemana ?"
"Aku harus mencapai kota sebelum hari keburu gelap,"
Sian Li menghindari pertanyaan orang.
"Jangan kuatir nona," kata pemuda itu, "nona boleh
bermalam di gedungku saja."
"Ah, terima kasih, tetapi aku ....... "
"Kuharap nona jangan menolak. Hari sudah hampir
gelap. Percayalah, kami tentu akan melayani nona dengan
sebaik-baiknya," kata pemuda dengan gaya yang aksi.
"Hm, siapakah pemuda ceriwis ini? Kalau melihat
dandanannya dan membawa pengiring, dia tentu bukan
pemuda sembarangan," pikir Sian Li. Ia memutuskan untuk
menyelidiki diri pemuda itu.
"Ah, tetapi kita kan belum kenal. Bagaimana mungkin
aku seorang gadis menginap di rumah kongcu," katanya
untuk memancing keterangan pemuda itu.
"'Ah, tak perlu nona harus sungkan. Aku tingga1 di
gedung panglima. Menginap disana bukan main amannya,"
kata pemuda itu.
"O, kongcu tinggal di gedung panglima. Apakah kongcu
seorang perwira?"
'Bukan, tetapi semua perwira tunduk pada perintahku,"
pemuda itu tertawa bangga.
'Lho, apakah kongcu ini panglima?"
"Beda tapi serupa." kembali pemuda itu tertawa.
"Harap kongcu suka memberi keterangan jelas."
"Kho kausu, tolong beri keterangan kepada nona ini,"
kata pemuda itu kepada salah seorang pengiringnya yang
memelihara kumis pendek.
Pengawal yang dipanggil Kho kausu itu segera tampil
kemuka dan berkata, "Ketahuilah nona, Kongcu kami ini
adalah Lau Bun Sui kongcu putera dari jenderal Lau Cek
Jing yang berkuasa di kota Siau-yu-koan. Kumohon nona
suka menerima undangan kongcu. Nona pasti takkan
kecewa.
"Hm," dengus Sian Li, "terima kasih. Tapi aku benar2
hendak lekas2 melanjutkan perjalanan. Lain kali apabila
datang kemari, aku tentu akan memenuhi undangan
kongcumu."
Pemuda itu memang bernama Liu Bun Si putera dari
jenderal Lau Cek Jing yang ditempatkan di wilayah Sanse.
Pada saat itu dia bersama rombongan prajurit dan kedua
pengawal pribadinya yaitu Kho kausu dan Tan kausu
sedang berburu di hutan. Kedua kausu atau guru silat
memiliki kepandaian yang tinggi.
"Harap nona jangan menolak," bujuk kausu, "karena
selama ini jarang sekali kongcu sampai berkenan
mengundang tetamu wanitanya. Hanya gadis2 yang pilihan
dan mencocoki hatinya barulah kongcu mau menaruh
perhatian. Dan nona termasuk yang paling beruntung
karena langsung mendapat undangan kongcu."
"Apakah kongcumu sering mengundang gadis2 cantik?"
Sian Li masih menyelidiki karena saat itu ia mendapat
firasat bagaimana peribadi anak jenderal itu.
"Ah, seorang putera jenderal seperti kongcu adalah
wajarlah kalau banyak gadis2 cantik yang
menggandrunginya. Tetapi selama ini, kongcu masih belum
ada yang mencocoki hatinya. Maka kukatakan, nonalah
yang paling beruntung karena kongcu langsung
mengundang nona."
Makin keras dugaan Sian Li siapa anak jengral itu,
"Terima kasih. Tetapi kali ini aku benar2 ingin memburu
waktu untuk melanjutkan perjalanan."
"Kemanakah nona hendak pergi?"
"Aku hendak ke Yang-ciu menjenguk keluargaku yang
sakit," kata Sian Li memberi keterangan bohong. Ia tahu
Blo'on menuju ke Yang-ciu untuk melamar pekerjaan pada
jenderal Ko Kiat.
"Ah, kota Yang-ciu jauh sekali dari sini. Lebih baik nona
bermalam dulu. Besok kongcu tentu akan menyediakan
kuda agar nona bisa cepat tiba disana."
"Ah, maaf, aku dapat berjalan sendiri."
"Seorang diri?"
"Ya."
"Ai, jangan begitu nona. Ketahuilah, sekarang suasana
negara sedang kacau. Dimana-mana bermunculan kaum
begal dan perampok. Apalagi kalau sampai berpapasan
dengan prajurit2 Ceng yang ganas. Apabila melihat seorang
gadis cantik berjalan seorang diri, mereka tentu akan
menangkap nona."
"Apakah memang begitu kwalitet prajurit Ceng itu?"
"Mereka adalah suku Tartar Boan, Apalagi mereka
menang perang. Tentu akan berpesta merampas harta benda
dan wanita."
"Adakah prajurit2 Beng juga tidak begitu?” tanya Sian Li
dengan nada mengejek.
"Ah, masakan kami berbuat begitu terhadap rakyat
sendiri, terutama yang masih gadis. Kan kami sebagai
prajurit harus melindungi rakyat.1
"Indah sekali kata-katamu," seru Sian "sayang yang
kudapatkan, beda sekali."
"Apa maksud nona?"
"Jika benar engkau hendak melindungi rakyat, mengapa
engkau hendak memaksa aku harus menerima undangan
kongcurnu!"
"Lho, kami kan bermaksud baik."
"Adakah memaksa orang itu baik?"
"Ah, ketahuilah nona. Bahwa dalam keadaan perang
seperti dewasa ini, kaum jenderal dan prajuritlah yang
berkuasa. Sebenarnya kami bertugas untuk menahan
siapapun juga, karena daerah ini lah daerah kekuasaan
jenderal kami. Tetapi dengan baik hati kongcu hendak
mengundang nona, mengapa menolak?”
"Apakah setiap undangan harus diterima ?"
"Jika nona ingin tak ingin mendapat suatu kesulitan.”
"Kalau aku tetap menolak ?"
"Nona hanya boleh menerima tak berhak menolak."
"O, engkau hendak memaksa ? Baik, cobalah kau akan
mampu berbuat apa kalau aku tetap hendak melanjutkan
perjalanan," kata Sian Li yang terus berputar tubuh dan
ayunkan langkah.
"Nona, berhentilah," Kho kausu loncat hendak
memegang tangan Sian Li. Tetapi secepat Sian Li gerakkan
tangan, Kho kausu menjerit keras. Ternyata dengan ilmu
Siau-kin-na-jiu atau menerkam tangan orang, Sian Li
berhasil menangkis pergelangan guru silat itu dan terus
dipelintir.
Kho kausu mengira kalau nona secantik Sian Li tentu
mudah ditangkap. Dia tak pernah bermimpi bahwa Sian Li
ternyata memiliki ilmusilat tinggi. Kho kausu terhuyunghuyung
mundur sernbari mendekap pergelangan tangannya
yang patah, Muka guru silat itu merah padam. '
"Jangan melukai kawanku, nona," seru Tan kaucu yang
terus loncat menerkam Sian Li.
Sian Li menghindar kesamping lalu menangkis tangan
kausu itu. Tetapi Tan kausu juga cukup lihay. Dengan
gerak berputar tubuh ke samping Sian Li, dengan cepat ia
menerkam bahu Sian Li.
"Jangan melukainya, kausu!" teriak Bun Sui karena
melihat kausu itu hendak menerkam tulang pi-peh-kut bahu
Sian Li. Kalau sampai diterkam keras, Sian Li tentu akan
cacad seumur hidup.
Tan kausu terkejut. Sebenarnya diapun mempunyai
pikiran begitu. Tetapi karena anak jenderal itu
meneriakinya, ia tertegun. Kesempatan itu tak disia-siakan
Sian Li yang dengan jurus Lian-hoan-tui atau tendanganberantai,
ia berhasil menendang perut guru silat itu hingga
terlempar kebelakang sampai beberapa langkah.
Tahu kalau dia yang menyebabkan pengawalnya kalah,
Lau Bun Sui terus maju dan menyerang Sian Li. Jurus
pertama dia menggunakan hou-thou-sim atau Macanhitam-
mencuri-hati. Tangannya nyelonong kemuka untuk
meremas dada Sian Li.
"Keparat!" Sien Li yang tahu akan maksud orang
menjadi merah mukanya. Anak jenderal bermata keranjang.
Dia harus diberi pelajar pikirnya.
Setelah menghindar, Sian Li balas menyerang dengan
jurus Song-liong tham-cu atau Sepasang-naga-bersebutmustika.
Dua buah jari kanan menusuk ke mata anak
jenderal itu. Sedang tangan kiri menyodok lambung.
"Ah…..,” Bun Sui terkejut ketika menyaksikan
permainan Sian Li. Namun dia juga tak lemah. Dia sagera
mengendapkan tubuh dalam jurus Yau-cu-hoan-sim atau
Burung-elang-memutar- badan dia segera mendorongkan
tangan kemuka dalam jurus Liong-beng-coan-ciang atau
Naga-menembus- tangan.
Sian Li gunakan jurus Thui-jong-ong-gwat Membukajendela-
memandang-bulan. Kedua tangan menyiak pukulan
orang lalu diteruskan untuk menusuk tenggorokan.
"Ah, nona keliwat ganas !" teriak Lau Bun hui seraya
beranjak mundur. Kemudian ia mulai melancarkan
serangan yang gencar.
Tetapi berhadapan dengan murid kesayangan pendekar
besar Kim Thian Cong. Lau Bun Sui tak mampu berbuat
apa2.
"Kena !" beberapa saat kemudian Sian Li berteriak dan
Lan Bun Suipun terhuyung-huyung. Anak jenderal itu
terkena pukulan pada bahunya sehingga sebelah tangannya
kesemutan.
"Tangkap !" teriaknya memberi perintah. Seketika
duabelas prajurit segera maju menyerang Sian Li. Bahkan
saat itu Tan kausu dan Kho kausu juga ikut mengembut.
Menghadapi empat belas orang, Sian Li terpaksa harus
mengeluarkan segenap kepandaiannya. Dia berlincahan
bagai seekor burung walet yang menyusup kedalam
kawanan tawon. Sudah tentu kawanan prajurit itu bukan
tandingannya. Hanya karena mereka berjumlah banyak
maka mereka masih dapat bertahan. Sekalipun begita tak
urung terdengar beberapa kali suara orang menjerit dan
mengaduh. Beberapa prajurit itu harus menelan hajaran
dari Sian Li. Ada yang giginya putus karena pipinya
ditampar, ada yang pipinya begap karena telinganya
ditabok dan ada yang meringkuk kesakitan karena perutnya
ditinju.
Tetapi Sian Li juga sibuk. Serangan Khi kausu dan Tan
kausu itu memang berbahaya. Mereka adalah guru silat
yang menjadi pengawai peribadi anak jenderal Lau Cek
Jing. Walaupun bukan tergolong jago kelas satu, tetapi
karena maju berdua ditambah pula dengan selusin prajurit
mau tak mau Sian Li harus sibuk juga.
Sekonyong-konyong dari balik gerumbul pohon muncul
seorang bocah lelaki gundul yang terus dari menghampiri
Lau Bun Sui,
"Uk ..... uk ..... kau ..,. ma .... ling ... ng ......," bocah itu
dengan ah-uk-ah-uk, menuding Lau Bun Sui.
Anak jenderal itu terkejut. Tetapi sebelum dia sempat
bicara, tahu2 mukanya telah ditampar bocah pekok itu,
plakkhk …….”
"Aduh ..... , " Lau Bun Sui menjerit kesakitan.
"Ak, ak, ak ..... uk, uk, uk ..... kau ..... siingngng ..... , "
bocah gundul yang bertubuh gemuk itu loncat lagi dan
menampar pipi Lau Bun Sui.
Lau Bun Sui juga pandai silat. Ia tahu kalau bocah pekok
itu hendak menampar pipinya yang sebelah lagi. Ia hendak
menghantam tetapi belum sempat tangan digerakkan, tahu2
pipinya yang sebelah sudah kena ditampar lagi, plakkk ....
"Aduh ... ," kembali Lau Bun Sui menjerit kesakitan. Dia
benar2 marah sekali. Masakan seorang bocah pekok yang
tak diketahui asal usul dan urusannya, berani menampar
pipinya sampai dua kali. Kebangetan sekali kalau aku
sampai kalah dengan bocah pekok ini, pikirnya.
Serentak dia memberingas dan balas menyerang. Dengan
gemas dia gunakan jurus Sin-eng-hwat atau Garuda-saktimenerkam,
dia rentang kedua tangan untuk menerkam
kepala bocah lalu hendak dihantamnya biar pecah.
“Uhhhh .... “ dia menjerit kaget kaget karena tiba2 bocah
pekok itu lenyap dan tahu2 telinganya telah dijiwir dari
belakang. "Ak, ak, ak ..... uk, uk, uk ..... mau nga-ku …
atau ti ..... dak ....., " bocah pekok itu menarik kedua telinga
Bun Sui sekeras-kerasnya seraya ak, uk, ak, uk suruh dia
ngaku.
Bun Sui meringis kesakitan. Dia berusaha untuk meronta
tetapi makin bergerak, makin keras telinganya ditarik
sehingga rasanya seperti putus.
"Hai, Uk uk ..... siapa yang engkau jiwir itu?" tiba2
terdengar sebuah suara parau dan muncullah seorang kakek
tua bertubuh pendek.
"Ak, ak, ak ... uk, uk, uk - . maling …”. seru bocah pekok
itu.
"Bagus Uk Uk, suruh dia mengembalikan kelinci gemuk
itu!" seru kakek pendek seraya menghampiri.
Mendengar ribut2 itu terutama jerit kesal dari Lau Bun
Sui yang telinganya seperti mau putus, terkejutlah Kho
kausu, Tan kausu dan sekalian prajurit. Mereka
berhamburan loncat mundur dan lepaskan Sian Li.
Kho kausu dan Tan kausu serentak lari hendak
menghajar bocah pekok itu. Tetapi sebelum mereka tiba,
bocah pekok itu sudah memutar telinga Bun Sui sehingga
Bun Sui ikut berputar belakang, Kemudian bocah pekok itu
menyongsong Bun Sui kearah kedua kausu, "Ak, ak ak, uk,
uk ..... berani ... maju ... putus ku.. pingnya .....”
"Aduhhhh .... berhenti kamu!" teriak Lau Bun Sui
kepada kedua pengawalnya.
Kedua guru silat itupun hentikan langkah, Kho kausu
berseru, "Awas, kalau engkau sampai melukai kongcu
kami, engkau tentu kucincang!"
"Ya ... ya ... dia pantas di cincang ... " seru anak pekok
itu.
"Siapa yang pantas dicincang?"
"Ak, ak ... ini ... , " bocah pekok itu menggeleng
gelengkan kepala Bun Sui, maksudnya mencitakan anak
jenderal itu yang pantas dicincang.
Kho kausu mendelik seketika, "Bukan dia, dia adalah
kongcu kami ... "
'Tidak! Dia bukan kongcu, eh ... kongcu? Apa itu kong ...
cu?"
"Bocah pekok! Kongcu adalah sebutan putra seorang
berpangkat!"
'O, ya, ya ... kongcu tentu sam ... a ... dengan ... kong ...
kong ... Kun.”
Kho kausu melongo.
"Kho-heng, bocah itu gila," kata Tan kausu.
"Apa? Bocah ini gila ... " teriak bocah pelok itu. Karena
terkejut dia dapat bicara deras.
Perut Kho kausu seperti kencang rasanya dan dada Tan
kausu seperti mau meledak. Kedua guru silat itu benar2
seperti orang yang kebakan jenggot.
' "Engkau gila ya?" teriak Kho kausu setengah menjerit.
"Ak, ak ... uk, uk ... pantas ..."
Kho kausu melongo lagi, "Siapa yang engkau katakan
pantas itu?"
"Aku ..."
"Pantas," seru Kho kausu.
"Ha, ha, ha," tiba2 terdengar kakek tua renta itu tertawa
membatu roboh.
"Hai, kakek pendek, mengapa engkau tertawa?" bentak
Kho kausu yang merasa dirinya yang ditertawakan itu.
"Sudah tentu aku harus tertawa," seru kakek pendek itu,
"engkau kira siapa yang dimasud gila oleh cucuku Uk Uk
itu?"
"Dia sendiri."
"Ho, ho, o, goblok, sungguh goblok engkau ini, bung!"
seru kakek pendek.
"Lho, kenapa,?" Kho kausu tercengang.
"Baik Uk Uk, pengertiannya tentang kau memang lain
dari orang',” kata kakek itu dengan bangga.
"Lain bagaimana?"
"Kalau kita mengatakan 'aku', bagi dia berarti 'engkau’.
Kalau 'engkau’, dia mengartikan 'aku'! Dan ada beberapa
kata yang bagi dia terbalik artinya.''
"Terbaik bagaimana ?"
“Berlawanan, goblok!" teriak kakek pendek itu,
"misalnya, kalau engkau suruh dia pergi dia akan datang.
Kalau suruh dia datang, dia akan pergi. Begitulah yang
kumaksud dengan terbalik artinya itu."
"O," Kho kausu mejongo.
"Maka yang dia maksudkan 'aku' tadi adalah dia hendak
mengatakan 'engkau'. Jadi dia hendak mengatakan kalau
engkaulah yang pantas jadi orang gila, ha, ha, ha . , ..."
"Kakek sinting!" bentak Kho kausu marah-marah
mendengar penjelasan itu, “siapa engkau?”
"Aku adalah engkong dari bocah itu. Dan Uk Uk, bocah
itu. adalah cucuku."
"Namanya Uk Uk?" karena terkejut mendengar nama
yang begitu aneh, tanpa disadari Kho kausu sampai minta
penjelasan. Padahal sebelumnya dia sedang marah.
'Ya," sahut si kekek dengan bangga, "istimewa bukan ?
Mungkin dalam jagad ini tak ada orang yang dapat
memberi nama kepada anak atau cucunya begitu istimewa.
Coba lu cari, kulau ada yang kembar dengan nama itu,
lapor padaku nanti tentu segera kuganti nama cucuku itu
dengan yang baru, yang istimewa, yang tiada keduanya lagi
!"
Kho kausu terlongong- longong -sehingga mulutnya
melongo. Seumur hidup baru pertama kali itu dia bertemu
dengan bocah pekok yang sinting dan seorang kakek yang
bicaranya tak keruan seperti orang edan.
"Kho kausu, jangan bicara sendiri saja. Lekas selesaikan
persoalan ini. Telingaku sudah mau putus rasanya!" teriak
Lau Bun Sui.
Kho kausu gelagapan dan Tan kausu juga berjingkrak
kaget. Buru2 Kho kausu berseru pada kakek linglung itu,
"Kakek, suruh cucumu si Uk Uk itu lepaskan kongcu kami.
Kongcu kami itu adalah putera dari jenderal Lau Ceng Jing
yang berkuasa di Sansei"
"O, anak jenderal? Siapa namanya? Jendral Lau ... "
"Lau Ceng Jing," cepat Kho kausu menyambung.
"Lau Ceng Jing?" kakek itu kerutkan dahi "aneh, dulu
waktu aku masih jadi mentri kerajaan, mengapa aku tak
pernah mendengar nama itu. Coba engkau tanyakan pada
jenderalmu, apakah sudah kenal dengan jenderal Lo Kun!"
"Siapa jenderal Lo Kun?" Kho kausu terbeliak.
"Aku, goblok!" bentak kakek itu.
Kho kausu mendelik. Tetapi cepat ia menyadari bahwa
yang dihadapinya itu adalah kakek yang tak waras
pikirannya.
“Ya, baik, nanti kalau pulang tentu akan kutanyakan
pada jenderal kami," kata Kho kausu dengan menekan
kemarahannya, "sekarang kuminta engkau suruh cucumu
itu lepaskan kongcu kami."
"Uk Uk. ikat dia!" teriak kakek yang mengenalkan diri
dengan nama Lo Kun.
"Gila engkau!" bentak Kho kausu terus hendak
menerkam kakek itu.
"Engkau yang gila, goblok!" kakek itu balik membentak
seraya songsongkan tangannya mendorong tubuh Kho
kausu. Kho kausu terkejut ketika dirinya seperti dilanda
oleh suatu gelombang tenaga yang kuat sehingga dia
tersurut mundur.
"Kuminta engkau suruh cucumu melepaskan kongcu,
mengapa engkau suruh dia mengikatnya?" teriak Kho kausu
dengan deliki mata.
"Engkau memang goblok," kata kakek itu, “Uk Uk, katakata
itu terbalik artinya. Kalau kusuruh ikat dia tentu akan
melepaskan ……”
"Engkong, tetapi bagaimana dengan kelinci ... itu ... ?"
seru Uk Uk.
"Dia bilang apa?"
'Belum bilang ..... apa ..... a ... pa, engkong…..”
"Tanya!"
"Mana kelinci gemuk itu ?" seru Uk Uk pada Lau Bun
Sui.
"Kelinci apa ?"
"Kel ,. inci yang ... lar ..... i ke tempatmu ta ..... di .....
Kel ... inci ... itu mau engkau tang… kap ..... perut engkau
..... ke..... nyang .... ha ........ kembal ... i ... kan . kepada eng
. kau…!”
Lau Bun Sui sudah mendengar keterangan kakek tadi
babwa bagi Uk Uk kalau bilang 'kau' itu berarti 'aku'. Dan
kalau mengatakan 'aku’ berarti 'engkau'. Maka diapun dapat
mengerti apa yang dimaksudkan si Uk Uk itu.
"Celaka, sialan benar," gumam Lau Bun Sui "bocah edan
ini menuduh aku telah merampasi kelinci yang hendak
ditangkapnya."
"Aku, eh . - . engkau tidak tahu kelinci Tapi engkau
sanggup memberi aku beberapa kelinci gemuk, asal aku
mau melepaskan engkau…..” terpaksa Lau Bun Sui
menggunakm istilah aku dan engkau, sesuai dengan
pengertian bocah pekok itu.
"Sungguh ? Aku tidak bohong ?"
"Sungguh," kata Liu Bun Sui dengan manahan geram.
Uk Uk pun lepaskan telinga anak jendral itu. Begitu
lepas, Lau Bun Sui terus menghampiri ke tempat kedua
pengawalnya.! berbalik tubuh dan menuding Uk Uk,"
Tangkap bajingan cilik itu !"
"Eng ..... engkong ..... apa bajing ..... an itu?" tanya Uk
Uk kepada kakek Lo Kun.
"Bajingan itu orang jahat," sahut kakek Lo Kun.
"Hai, siapa yang di maki bajing ..... an?" bentak Uk Uk
kepada Lau Bun Sui.
"Engkau !"
'O, pantas'." sahut Uk Uk.
Lau Bun Sui menyadari bahwa dia telah lupa
menggunakan istilah yang dimengerti Uk Uk. engkau, bagi
Uk Uk diartikan aku, "Sialan, dia menganggap aku memaki
diriku sendiri ...."
Saat itu berapa prajurit dan kedua guru silat pun
menghunus senjata dan hendak menyerang Uk Uk.
"Eng ..... kong ,... kong ... ,," teriak Uk Uk ketika melihat
hendak diserang dengan senjata.
Kakek Lo Kun segera melepas buli-buli arak yang
terselip di pinggangnya dan terus dilemparkan kearah Uk
Uk, "terimalah!"
Uk Uk menyambuti lalu meneguknya. Pada i»t itu
beberapa prajuritpun sudah menyerbunya, pr .... buffff ....
Ternyata bocah pekok itu telah menyemburkan arak
dalam mulut kearah beberapa prajurit. aneh tetapi nyata.
Prajurit2 itu menjerit kesakitan lalu menyurut mundur.
Wut, wut .... pedang kedua guru silat serempak
melayang menabas kepala Uk Uk. dengan gesit Uk Uk
dapat menghindari. Kho kausu dan Tan kausu makin kalap.
Diserangnya bocah itu dengan gencar. Dari kanan kiri,
muka lakang, atas dan bawah. Tetapi Uk Uk seperti setan
cilik yang tak punya bayangan. Dia lari memutari kedua
penyerangnya itu. Kemudian setelah berlangsung beberapa
jurus, tiba2 Uk Uk menyembur arak ke muka
penyerangnya.
Kho kausu dan Tan kausu meringis. Percikan arak itu
terasa panas. Muka mereka seperti digigit berpuluh semutapi.
Mereka masih dapat memang berusaha untuk bertahan.
Tetapi ketika beberapa butir percik arak itu mengenai biji
mata mereka menjerit dan loncat mundur.
Selusin prajurit yang mengiring anak jendral Lau berburu
itu pun tak berdaya mengira semburan arak dari mulut Uk
Uk. Memang mereka tak sampai terluka tetapi mereka tak
tahan sakitnya. Arak yang disemburkan itu sepasang yang
mendidih. Akhirnya rombongan Laul Sui itupun lari ke
dalam kota.
"Uk, pergilah!" seru kakek Lo Kun. Lalu bocah pekok
itupun hentikan langkah lalu kembali ke tempat si kakek.
"Mana buli-buliku," kata kakek itu. Dan Uk Uk pun
menyerahkannya, "Aku Kenyang, engkong," latanya.
"Hus. mengapa aku tak minta kelinci itu ke pada pemuda
tadi?" seru kakek Lo Kun.
"Bagaimana kalau minum arak saja ?" tanya Uk Uk.
"Gila, kalau aku habiskan lalu bagaimana dengan engkau
?"
"Jangan kuatir, engkong," kata Uk Uk, "engkau hanya
minum sedikit saja. Engkong masih dapat minum banyak."
Keduanya berbicara dengan istilah "aku" dan "engkau",
menurut pengertian mereka yang terbalik artinya.
Tiba2 Sian Li menghampiri dan terus memeluk kakek Lo
Kun, ' Oh, engkau engkong ..."
"Huh, huh .... hahhhh ..... siapa engkau bocah
perempuan," kakek itu terkejut dan berusaha melepaskan
diri.
"Kakek Lo Kun," seru Sian Li, "bukankah engkau kakek
Lo Kun ?"
"Ya."
"Engkau lupa kepadaku ?"
"Hm," kakek itu kerutkan dahinya yang penuh keriput
lalu berkata, "siapa ya ?"
"Masih ingat kepada Blo'on ?"
"Hai !" kakek itu berjingkrak kaget, "mana dia ? Aku
memang hendak mencarinya ?"
"Aku adalah sumoaynya, Liok Sian Li."
"Apaaaa ?" teriak kakek itu teikejut, "engkau sumoaynya
? Ah, jangan main2, nona. Masa gadis secantik engkau mau
menjadi sumoay dari cucuku si B'o'on itu.
Sian Li sudah tahu akan watak linglung kakek itu maka
dia hanya ganda tertawa saja.
"Ya. aku memang sumoaynya. Kakek masih ingat ketika
bersama menolong kepala kampul nelayan di tepi sungai
Hong-ho yang anak perempuannya hendak diambil isteri
oleh kepala bajak itu?"
Kakek Lo Kun termenung, pejamkan mata seperti orang
merenung. Tiba2 dia menjerit, "Astagafirullah .... ! Engkau
..... engkau Sian Li … Ah .... bukan ..... bukan ..... Dulu
engkau masih perawan kecil mengapa sekarang sudah jadi
gadis yang begini cantik ?"
Sian Li tertawa, "Ah, memang, dulu juga seorang bayi
tetapi beberapa tahun kemudian menjadi gadis cilik dan
sekarang makin besar.”
"Aneh, aneh," kakek linglung itu garuk2 kepalanya,
"yang kecil jadi besar tetapi mengapa yang tua tetap tua ?"
"Tentu saja, kakek," Sian Li tertawa.
"Yang muda jadi tua mengapa yang tua tidak jadi muda
kembali? Bukankah matahari keluar dari timur lalu silam ke
barat kemudian muncul dari timur lagi? Mengapa manusia
tidak begitu juga?"
''Ah, kalau yang tua tidak mati, dunia ini jadi penuh
nanti," Sian Li tertawa.
"Tidak mungkin penuh," bantah kakek Lo Kun, "kan ada
yang sakit dan mati, ada yang mati berperang."
Sian Li tertawa. Dia tak mau berbantah dengan kakek
yang linglung itu. Katanya pula, "Kakek Lo, sekarang
engkau tentu sudah ingat dan mau mengakui aku ini Sian
Li, sumoay dari suko Blo'on, bukan?"
"Ya, dehhhh,"
"Lho, jangan seperti merasa terpaksa begitu, kakek Lo.
Kalau memang engkau tetap belum ingat aku dan tak mau
mengakui aku ini Sian Li, ya sudah. Akupun hendak
melanjutkan perjalanan saja," habis berkata Sian Li terus
berputar tubuh lalu ayunkan langkah.
Wut ..... sesosok bayangan melesat dan kakek itu sudah
menghadang di depan Sian Li.
'Tunggu dulu," katanya, "sekarang aku ingat. Ya, engkau
memang Sian Li, cucuku yang manis dan sekarang makin
bertambah cantik, ha, ha, ha....." kakek itu terus memeluk
Sian Li.
"Eng ..... kong ..... kong ..... siapakah itu?” tiba2 Uk Uk
menghampiri.
"Bocah edan, masakan engkau tak kenal?" bentak kakek
Lo Kun," ini kan cucuku Sian Li.
"Cucumu? Ah, jangan gitu eng ..... kong”
"Bocah edan! Ini memang cucuku!"
"Tidak! Engkau tidak punya cucu."
"Siapa bilang aku tak punya cucu?" teriak kakek Lo Kun
ngotot.
Sian Li menyadari bahwa kakek Lo Kun telah lupa,
pengertian Uk Uk dalam istilah 'aku- engkau' yang terbalik
artinya itu. Maka dia tertawa, "Ai, kakek ini bagaimana?
Mengapa kek lupa akan kata2 aku-engkau yang dimengerti
adik itu?"
"O, ya, ya, benar, benar," kakek Lo tertawa meringis,
"ya, benar, Uk Uk, ini memang cucumu."
"O, aku punya cucu? Siapa namanya?" tanya Uk Uk.
"Sian Li," kata kakek Lo Kun, "aku harus memanggil
taci kepadanya, tahu!"
'Baik, eng ..... kong ..... , " Uk Uk meng angguk.
"Adik kecil, siapa namamu?" tanya Sian yang
melepaskan diri dari pelukan kakek Lo Kun.
"Kata eng ..... kong ..... Sian ..... Li
"Bu .... eh, ya, benar," Sian Li segera teringat istilah akuengkau
yang digunakan anak itu. Dia lupa sehingga keliru.
"Adik kecil, siapa namaku?" Sian Li me ulang
pertanyaannya lagi.
"Uk Uk,"
"Uk Uk? Aneh, nama apa itu?"
"Entah itu eng ... kong ..... yang memberi.”
"Kakek Lo, apa artinya nama itu?" tanya mi Li.
"Entah aku sendiri juga tak tahu," kata ka-1 Lo Kun,
"karena kalau bicara ak, uk, ak, uk ak lancar maka
kunamakan Uk Uk. Dan lama2 nama itu enak diucapkan
dan sedap didengar juga."
"Tetapi biasanya setiap nama itu tentu ada artinya. Dan
nama untuk anak tentu berarti yang bagus.”
"Ah, jangan terikat dengan adat lama, cucuku," kaia Lo
Kun, "apa itu sih nama? Yang penting bukan nama dengan
attinya yang bagus tetapi orangnya dengan sifatnya yang
baik. Tidak percaya, coba engkau namakan bunga mawar
itu dengan nama baru, misalnya bunga bangkai. Toh
baunya tetap harum, bukan ? Sebaliknya coba sebut bunga
bangkai itu dengan nama bunga Bidadari, toh tetap bau.
Masakan ada bidadari yang baunya apek, ha, ha, ha .... "
Diam2 Sian Li membenarkan dalam hati. diam2 pula ia
mendapat kesan bahwa dari mulut seorang kakek linglung
seperti Lo Kun, ternyata dapat menghamburkan kata2
mutiara juga.
"Tetapi biasanya orangtua tentu menaruh harapannya
kepada nama yang diberikan kepada anaknya itu" kita Sian
Li, "lalu apa harapan kakek dengan itu?"
'Supaya dia ber-uk-uk setiap kali melihat yang tak baik,
yang tak adil dan yang tak benar. Bukankah anjing itu juga
jeguk (menyalak) huk, huk, kalau melihat penjahat masuk
kerumahnja?”
"Matiiiii engkau eng… engkong …….. Jangan engkong
menya…… makan engkong ……. seperti anjing?” teriak Uk
Uk.
"Bukan begitu Uk," seru kakek Lo-Kun, “engkau tidak
menyamakan aku seperti anjing. Bukan orangnya yang
engkau samakan dengan anjing, tetapi sifatnya.”
"Sifatnya yang bagaimana eng …. Kong?”
'"Memang kalau mendengar kata “anjing” orang tentu
menganggap rendah. Orang tentu tidak mau d sebut seperti
anjing. Orang tentu menganggap dirinya . lebih tinggi dari
anjing. Tetapi ketahuilah Uk," kata Lo Kun, "kata Lo Kun,
anjing adalah binatang yang paling setya kepada tuannya.
Dia dapat menjaga rumah, dapat menjaga keamanan
kampung. Tetapi manusia? Bukankah dalam kerajaan itu
banyak mentri dan pembesar yang tidak setya kepada
negara? Menumpuk harta, menggunakan kekuasaan secara
sewenang-wenang, menipu dan menindas rakyat, itu
termasuk melanggar undang-undang negara. Yang
melanggar undang2 adalah tidak setya kepada negara.
Malah2 yang berhianat menjual negara. Dia tak mau
disamakan dengan anjing tetapi harus dianggap lebih
rendah dari anjing.”
Diam2 Sian Li heran. Dulu kakek Lo Kun tak kalah
linglungnya dari Blo'on, tetapi mengapa sekarang sudah
banyak berobah, dapat memberi ulasan yang tepat?.
"Eng ..... kong ..... apa aku ... mau ..... punya ... cucu an
... jing?" tanya Sian Li.
"Siapa? Tidak, engkau tidak sudi punya cucu anjing!”
seru kakek Lo Kun.
"Kal ..... au begit ... u ... engkau buk ... kan ... anjing ya?"
"Tentu saja aku bukan anjing."
"Ya, sud ... sudah ... aku senang."
"Kakek Lo, mari kita duduk dibawah pohon untuk
omong2 yang enak," ajak Sian Li. Merekapun lalu duduk
dibawah sebatang pohon ditepi jalan.
"Kakek Lo," kata Sian Li membuka pembicaraan, "kakek
dari mana dan mengapa sampai bertahun-tahun kakek tak
pernah datang ke Giok-li-nia menjenguk kami?"
"Yahhhh," kakek Lo Kun menghela napas, sebenarnya
aku sudah kangen sekali pada kalian, Blo’on dan engkau.
Tetapi waktu itu aku sedang sibuk sekali sehingga aku tidak
dapat pergi kemana mana.""
"O, apa saja yang menyebabkan kakek begitu sibuk ?"
"Apa lagi kalau bukan Uk Uk ini," kata Lo Kun.
"O, ya," tiba2 Sian Li teringat "aku bisa mendapat
keterangan tentang adik Uk Uk ini, apakah dia yang
sebenarnya? Aoakah dia cucu kakek ? Bagaimana asal usul
kakek mendapat cucu itu ?"
Lo Kun tidak menyahut tetapi mengambil buli2 arak dan
terus meneguknya. Kemudian menawarkan kepada Sian Li
apakah nona itu mau minum. Sian Li gelengkan kepala.
"Dan aku Uk, sudah kenyang ya ?" tanya kakek itu."
"Tentu saja sudah kenyang," ia terus menyambar buli2
itu dan meneguknya. Setelah itu diserahkan kepada kakek
Lo Kun lagi.
"Aku hendak bercerita sekarang," kata kakek Lo Kun.
Dan mulailah ia bercerita.
"Sejak berpisah dengan Blo'on dan para ketua partai
persilatan di gunung Hong- san dan akupun sebenarnya
hendak menyusul Blo'on Giok-li-nia (baca: Pendekar
B.o'on).
"Tetapi di tengah jalan tiba2 "saja ingin sekali pulang
menjenguk tempat tinggalku di gunung Hok-hou-san. Eh,
ketika melalui sebuah hutan aku mendengar suara bayi
menangis ngo-ek ngo-ek" Dan serempak pada saat itu.
Kudengar suara aum harimau. Segera aku lari memburu ke
tempat itu.
"Ah .... ternyata di sebuah gua, aku melihat sebuah
pemandangan yang mengerikan. Seekor harimau gembong
tengah menjilati kepala seorang bayi yang mengeletak di
tanah. Harimau itu harus bekerja keras untuk
membersihkan tubuh dan kepala bayi yang dirubung semut.
Mungkin karena jengkel, berulang kali harimau itu
mengaum-aum. Dia tak berani makan bayi yang bersemut,
harus dibersihkan dulu. Dan bayi itu terus menangis ngo-ek
ngo-ek .....”
"Aku gugup sekali mencari akal untuk mengusir harimau
itu. Akhirnya aku nekad. Aku mengambil beberapa batu
dan kutimpukkan. Harimau itu kesakitan dan marah. Dia
menyerang aku. Untung karena sebelah matanya sudah
buta kena lontaran batu, walaupun aku sendiri juga babak
belur tetapi akhirnya aku berhasil membunuh harimau itu.
"Aku segera mengambil bayi itu tetapi karena tubuhnya
masih banyak semut, kumandikan bayi itu dengan darah
harimau. Setelah itu kuminumi dengan darah harimau. Eh,
bayi itu diam kemudian tertawa-tawa kepadaku ....”
"Kubawa bayi itu pulang ke gunung Hok-hou san dan
kurawatnya. Tetapi pada suatu hari ketika baru berumur
satu tahun, bayi itu sakit keras. Aku kelabakan setengah
mati. Sampai begitu tua aku belum pernah beranak,
sekarang suruh merawat bayi, aduhhhhh....."
"O, apa eng ..... kong ..... belum pernah bera ..... nak?"
Uk Uk menyelutuk.
"Belum."
"Mengapa tak mau ber ..... anak?"
"Sudah tentu tak mau."
"Mengapa?"
"Bocah edan, engkau kan orang laki2, mana bisa
beranak?" gerutu kakek Lo Kun.
Mendengar itu Sian Li tertawa.
"O, apakah o ..... rang ..... la, la ... ki tak bisa bera ..... a
..... nak?"
"Bocah edan sekali!" bentak Lo Kun, "mana ada orang
lelaki beranak?"
"Hab.. bis . siapa yang ber ..... anak itu?"
"Perempuan."
"Kalau begi ..... tu, eng, engkau ... ini, anak ..... nya ... ,
seorang perem, perempuan …..
"Ya, tentu."
"Mana per, prem ..... puan itu?"
"Entah," sahut kakek Lo Kun, "waktu itu aku
menggeletak di tanah dan dijilati harimau….”
"O, harimau itu ..... laki atau ... per… . perempuan ..."
"Bocah edan aku ini, Uk!" bentak kakek Lo Kun
"Apa salah engkau, eng ..... kong?"
“Kalau manusia bisa diketahui laki atau perempuan.
Kalau harimau? Dekat saja sudah gemetar masakan hendak
melihat laki atau perempuannya, uh siapa yang berani?"'
gerutu kakek Lo Kun.
'Lho, kalau manusia mengapa kakek tahu laki-laki atau
perempuan?" masih Uk Uk mendesak.
"Dari potongan rambut, dari pakaiannya dan dari
telinganya, mukanya, kan sudah diketahui. Tapi kalau
harimau?"
"A ... a ... apa harimau ti ... dak bisa?"
"E, anak ini benar2 goblok. Mana ada harimau pakai
sanggul rambut, mana ada yang mukanya pakai bedak,
mana ada yang bibirnya diberi merah2....."
"Ada, hari ... mau ... itu ... bibirnya ten tu …… merah!"
teriak Uk Uk.
“Tetapi apa telinganya berlubang seperti orang
perempuan?"
"Mungkin ti ... dak ... tetapi ak ... aku .. mmm ... meme
... meriksa ... "
Sian Li geli melihat perdebatan antara kakek dengan
bocah linglung itu. Kemudian ia minta supaya kakek itu
melanjutkan ceritanya.
"Uh, sampai dimana tadi?" seru kakek Lo Kun.
Sian Li tertawa dan mengatakan kalau sampai pada
cerita bayi itu jatuh sakit keras.
'"O, benar, benar," kata kakek Lo Kun, 'bayi itu sakit
keras. Aku bingung sekali. Akhirnya aku teringat bahwa
engkau pernah memberi beberapa butir buah som. Menurut
katamu buah som itu disebut Cian-lian-hay-te-som (buah
som berumur seribu tahun yang tumbuh didasar laut),
engkau masih ingat bukan ?"
"O, ya, benar," sahut Sian Li, "buah itu kudapatkan
ketika aku bersama suko B!oon kecebur kedalam laut dan
masuk kedalam sebuah gua kerajaan. Lalu apakah buah
som itu kau minumkan kepada bayi itu ?"
"Bukankah menurut engkau, buah som itu termasuk
buah mustika yang mempunyai khasiat mukjijat dapat
menambah umur panjang ?"
“Ya.”
"Ternyata buah itu baru kumakan dua buah, masih sisa
delapan biji maka terus kuminumkan saja.”!
"Semua ?" Sian Li terkejut.
"Ya, biar bayi itu lekas sembuh !”
"Lalu apakah benar bayi itu sembuh ?"
"Celaka !" teriak kakek Lo Kun, "beberapa saat
kemudian bayi itu malah mati....."
"Ihhhhh," desis Sian Li.
"Lho, apa, apa eng ..... kau sudah ma... ti, engkong ?"
teriak Uk Uk.
"Ya, aku memang sudah mati waktu itu," kata kakek Lo
Kun, kemudian melanjutkan ceritanya lagi.
"Aku menangis gerung2 dan gulung koming karena
merasa akulah yang menyebabkan bayi itu mati. Oleh
karena itu aku tak mau menguburnya, biar dia tetap tidur di
atas balai2 saja. Akupun tiap hari akan memberinya makan
dan minum, mencuci mukanya ......"
''O, aneh sekali, luar biasa," seru Sian Li terkejut, heran
disamping geli.
'"Celakanya," sambung kakek Lo Kun pula, bayi itu tak
dapat menelan makanan. Terpaksa hanya kuberi minum
saja. Karena air susah maka kuberinya minum arak
buatanku."
"Arak apa itu, kakek ?" tanya Sian Li.
"Arak Hek hou-ciu," kata Lo Kun.
"Lho, Hek-hou-ciu itu artinya kan arak Macan hitam,
arak apa itu ?"
"'Ketahuilah Sian Li," kata kakek Lo Kun, dulu dilembah
gunung Hok-hou-san (gunung Macan mendekam) banyak
terdapat harimau hitam. karenai mereka banyak yang
kubunuh sehingga mereka takut kepadaku. Macan2 hitam
yang kubunuh itu darahnya dimasukkan dalam guci lalu
kuberi hati dari macan itu dan kutuang dengan arak.
Setelah beberapa tahun, jadilah arak Hek-hou-ciu ini yang
luar biasa."
"Eh jangan tertawa, anak perempuan," seru Lo Kun,
'"arak itu berhasiat tinggi untuk nambah tenaga dan umur.
Lihat karena bertahun-tahun minum arak Hek hou ciu" aku
masih tetap segar dan panjang umur."
“O, bayi itu kakek minumi arak Hek- hou ciu?" tanya
Sian Li.
"Ya," kata Lo Kun, "kurang ajar memang bayi itu. Tiap
hari dia dapat menghabiskan satu guci arak Hek-hou-ciu."
"Tiap hari kakek beri minum arak itu?"
"Habis? Karena dia tak dapat menelan makanan,
terpaksa kuberi minum arak saja. Dan nyata bayi itu suka
sekali."
"Lalu bagaimana akhirnya?"
"Pada hari keenam, ketika aku masih tidur tiba2 aku
mendengar suara anak menangis ngo-ek…. ngo ek. Aku
segera loncat bangun dan menuju kamar. Coba, engkau
tebak apa yang kulihat di situ?"
"Bayi itu dapat hidup," kata Sian Li.
"Benar," kata Lo Kun, "lalu bagaimana dia?"
"Nangis."
"Lalu?"
"Lalu apa lagi?" kata Sian Li
" Entahlah, ….. Dia berjalan ....... "
"Hai, bayi umur setahun sudah dapat berjalan?" teriak
Sian Li.
"Bukan hanya dapat berjalan, pun dia terus menyambar
guci arak yang kuletakkan di meja dan diminumnya ......."
"Dia minum arak sendiri ?" Sian Li terkejut.
"Ya, bayi itu memang keranjingan sekali, gemar minum
arak."
"Eh, kakek, apakah dia benar2 hidup?" tanya Sian Li.
"Ya, sejak saat itu dia hidup lagi, dapat berjalan kemanamana
dan suka minum arak."
"Ah, tentulah karena kakek telah memberi dia minum
Cian-Iian-hay-te-sam itu."
"Benar, sampai delapan biji!"
"Itulah," seru Sian Li, "dua biji saja orang sudah sehat
dan kuat, mengapa kakek memberinya minum sampai
delapan biji. Dia tentu melebihi gajah kuatnya."
"Benar, Sian Li," kata kakek Lo Lun, "anak itu memang
kuat sekali. Buktinya baru berumur satu tahun saja dia
sudah bisa berjalan dan lari."
"Lalu keanehan apa lagi yang terjadi pada dirinya?"
"Dia bertambah gemuk. Tetapi ya, memang aneh
sekali......"
"Mengapa ?" tanya Sian Li.
"Rambutnya tak dapat tumbuh, hanya bagian belakang
kepalanya saja yang tumbuh. Dan lagi dia juga sukar bicara.
Kalau bicara gagap ak-uk, ak-uk. Umur enam tahun baru
bisa bicara agak lancar. Coba engkau pandang, engkau kira
dia berumur berapa?"
Sejenak Sian Li menatap Uk Uk, kemudian menjawab,
"Dia tentu sudah berumur 11-an tahun."
"Salah," kata kakek Lo Kun, "dia baru umur genap
delapan, hampir sembilan. Tetapi rupanya memang lebih
tua dari umurnya."
"Dia kuat sekali, bukan?"
"Ya," sahut kakek Lo Kun, "pernah ada gunduk batu
besar longsor dan menggelinding kearah lembah. Waktu dia
melihat dia terus lari menahan batu itu."
"Makannya tentu banyak juga, bukan?"
"Kalau makan nasi sih biasa saja, tetapi kalau minum
arak, ho, jangan ditanya lagi. Berguci-guci tentu dapat
disikat habis."
"Apa tidak mabuk?"
"Entah, anak itu memang keranjingan, ia tak pernah
mabuk, katanya minum arak itu seperti minum air saja."
"Ah," Sian Li mendesah, "apakah kakek juga memberi
pelajaran silat kepadanya?"
"Ya, memang pernah kuberinya latihan ilmu silat tetapi
bocah itu memang edan, kok."
"Lho, edan bagaimana?"
"Dia membalik semua gerakan dalam jurus yang
kuajarkan. Artinya, kalau aku memukul ke muka, dia
memukul ke belakang dan kalau tanganku menebas ke
kanan, dia menebas ke kiri. Pokoknya, semua gerakan
dalam jurus itu berubah arahnya."
"Bagus, itu kan hebat sekali. Musuh yang tahu nama dari
jurus yang kakek mainkan, apabila berhadapan dengan Uk
Uk, tentu akan kelabakan setengah mati," seru Sian Li.
“Ah, tapi anak itu memang kranjingan sekali. Nakalnya
bukan main, pokoknya bukan buatan, limbungnya bukan
kepalang. Karena harus merawat sejak masih bayi mendidik
sampai begitu besar aku tak sempat keluar dari gua. Dan
keinginanku untuk menjenguk cucuku Blo'on dan engkau
terpaksa kutekan."
"Dan sekarang kakek kan sudah bisa keluar?"
“Yah," kakek Lo Kun mendesah, "mana tahu kalau
selama bertahun-tahun harus menyepi dalam gua saja.
Rindunya pada Blo'on dan kau, tak dapat ditahan lagi.
Beberapa hari ini aku selalu terbayang-bayang akan wajah
kalian semua. Mana sukomu si Blo'on?"
Sian Li dengan ringkas lalu menceritakan apa yang telah
terjadi selama ini.
"Lho. B'o'oti engkau suruh jadi pendekar?" teriak Lo
Kun,
"Habis bagaimana, kek," kata Sian Li, negara kan sedang
berperang....."
"Lho, perang ? Perang dengan siapa Lo Kun terkejut.
"Eh, kakek ini bagaimana. Kerajaan Beng diserang oleh
bangsa Boan, kotaraja di Pakkia sudah diduduki dan raja
Beng sudah hijrah ke Lam-kia. Saat ini dimana-mana
sedang kacau. Pasukan kerajaan Beng sedang bertahan
disepanjang bengawan Hong-ho. Mengapa kakek tak tahu?”
"Ah, ini memang ulah mentri2 kerajaan yang tak becus.
Mereka hanya mengurusi soal upah dan pesta serta
menghidangkan wanita cantik pada raja."
"Ya mungkin."
'Lho, tidak mungkin lagi tetapi tentu begitu. Mengapa
negara diserang musuh mereka tak memanggil aku untuk
memimpin pasukan ?"
"Lho, kakek ini siapa sih ?"
'"Sian Li, apa aku belum pernah bercerita kepadamu
bahwa dulu aku ini seorang jenderal?”
Diarn2 Sian Li geli dalam hati. Namun untuk tidak
membuat hati kakek itu gelo dia hanya mengangguk saja.
"Dan bagaimana dengan sukomu Blo'on ?'
“Mengapa dia, kek ?”
"Dia kan menantu raja," kata Lo Kun, "mengapa dia tak
mau memimpin pasukan untuk mengusir musuh ? Kalau
dia tak mengerti ilmu perang, mengapa tak mau memanggil
aku ?"
Walaupun menganggap kakek Lo Kun itu mengoceh tak
keruan tetapi mau juga Siau Li menanggapi, "Kemungkinan
dia juga bingung memikirkan kakek yang tak pernah
muncul selama ber-tahun2 ini. Dia tentu tak tahu dimana
tempat tinggal kakek. Dan diapun juga tak tahu kalau kakek
masih hidup atau sudah mati."
"Berkat arak Hek-hou-ciu, aku tentu dapat berumur
panjang," kata Lo Kun, "ya, benar. Kemungkinan sukomu
Blo'on memang menganggap begitu sehingga dia tak dapat
mencari aku."
"Jadi kakek juga hendak mencari suko dan aku ?" Sian Li
menegas.
“Ya.”
"Jika begitu mari kita bersama-sama mencarinya ke kota
Yang-ciu. Suko hendak melamar pekerjaan pada jenderal
Ko Kiat disana."
"Lebih baik kita omong2 disini dulu," kata Lo Kun. "kan
masih banyak yang dapat kita ceritakan selama berpisahan
delapan tahun itu."
"Kakek hendak bertanya apa lagi ?"
"Apakah sukomu sudah beristeri ?"
"Belum" sahut Sian Li, "berulang kali para ketua partai
persilatan membujuknya supaya menikah. Merekapun
mengajukan calon? yang cantik, tetapi suko tak mau."
"Ya, mungkin karena dia sudah menjadi mantu raja
maka dia menolak. Yang goblok adalah para ketua partai
persilatan itu. Yang sudah beristeri ditawari gadis cantik,
yang belum bersteri perti aku ini, mereka tak mau
menawari. Hm, nanti kalau bertemu Blo'on akan
kusuruhnya menerima saja tawaran itu. Setelah itu berikan
saja gadis cantik itu kepadaku, tanggung beres!"
Sian Li tertawa, "Ai, kakek kan sudah tua, mengapa
masih asyik memikirkan isteri?"
"Lho, soal beristeri itu tidak tergantung tua dan muda.
Pokoknya selama manusia itu masih bernapas, boleh saja
dia beristeri, asal ada wanita yang mau."
Sian Li tak mau berbantah, ia bertanya, "Kakek Lo,
apakah benar suko itu sudah menikah?”
"Sukomu dipungut menantu oleh raja karena sukomu
berhasil mengobati penyakit puteri raja."
"Tetapi apakah suko mau?"
"Itu dia, kalau orang goblok. Diberi puteri raja dia tak
mau malah melarikan diri. Kalau memangnya tak mau,
berikan saja kepadaku kan beres."
"Jadi secara resmi suko belum menikah dengan puteri
raja itu?" tanya Sian Li.
“Raja memang bermaksud hendak menikahkan sukomu
dengan salah seorang puterinya tetapi sukomu malah
minggat dari keraton."
Note: Tentang kisah Blo'on dipungut menantu oleh raja
adalah karena dia dapat menyembuhkan penyakit aneh dari
puteri. Tetapi Blo'on minggat. Kalau ingin mengetahui yang
jelas, silahkan baca Pendekar Blo’on.
"Kakek," kata Sian Li yang rupanya menarik perhatian
tentang masalah itu, "benarkah suko pernah ditunangkan
pada anak perempuan dari serang tokoh di Thay-goan yang
bernama Han Hian Liong?"
"Siapa yang bilang?"
Sian Li lalu menuturkan tentang kedatangan Han Bi Ing
yang membawa surat dari ayahnya, bahwa Blo'on itu calon
suami dari Han Bi Ing karena dulu ayah Blo'on, Kim Thian
Cong telah mengikat janji dengan Han Bun Liong untuk
menjodohkan anaknya.
"Entahlah, aku tak tahu. Karena aku sendiri juga tak
pernah kenal dengan Kim Thian Cong, ayah si Blo'on,"
kata kakek Lo Kun, "tetapi apakah Han Bi Ing itu cantik?"
"Ya, cantik sekali."
"Lalu dimana sekarang?"
"Juga mencari suko," sahut Sian Li, "tetapi apakah suko
mau menerimanya?"
"Anak itu memang sukar," gumam kakek Lo Kun,"
jangankan Han Bi Ing, sedang puteri raja saja dia menolak.
Hm, seenaknya sendiri saja mentang2 laris lalu tak ingat
pada kakeknya.”
Sian Li hanya tertawa. Ia tahu kekek Lo Kun itu seperti
sukonya Blo'on. Kadang pikirannya waras, ingatannya
tajam dan dapat bicara dengan genah bahkan dapat
memberi wejangan berharga. Tetapi kalau penyakit
limbungnya kambuh, dia akan ngoceh tak keruan,
bertingkah laku tak genah.
Sekonyong-konyong mereka mendengar derap kuda lari
riuh gemuruh sekali. Saat itu hari sudah petang dan suasana
disekeliling hutan itu sunyi sekali sehingga suara gemuruh
tanah didebur kuda, terdengar jelas sekali.
"Eng ..... eng .... kongkong..... ada kuda,” seru Uk Uk.
Ketika kakek Lo Kun dan Sian Li memandang ke
sebelah muka mereka terkejut…..
( bersambung )
-ooo0dw0ooo-
Jilid 18.
Aih, aih.
Empatpuluh prajurit berkuda dengan pakaian lengkap
seperti sedang menyerbu dalam medan perang, sedang lari
menuju ke tempat Sian Li dan kakek Lo Kun.
Cepat sekali mereka sudah tiba dan terus loncat turun
dan mengepung Sian Li bertiga. Seorang perwira bertubuh
tinggi besar segera maju.
"Hai, mana bocah pekok yang telah menghina Lau
kongcu tadi?" teriak perwira yang berkumis seram itu.
Sebelum kakek Lo Kun menjawab, Sian Li telah
mendahului, "Dia adalah adikku."
Melihat Sian Li seorang gadis cantik, berobah sikap
perwira itu. Semula bengis sekarang mulutnya tampak
ramah.
"O, adik nona?" perwira itu menegas dan muka
dicerahkan.
"Ya," sahut Sian Li. "Mengapa adik nona berani
menghina kongcu putera jenderal Lau Cek Jing atasan kami
tanya perwira itu.
"Apakah engkau disuruh oleh jenderal Lau untuk
menangkap adikku?" Sian Li balas bertanya.
"Ya, tetapi aku agak sangsi apakah benar adik nona yang
melakukannya."
"Memang benar," sahut Sian Li, "tetapi aku melakukan
hal itu karena terpaksa."
"Terpaksa bagaimana maksud nona?"
"Karena putera jenderal itu hendak memaksa aku supaya
bermalam di tempatnya. Waktu, aku menolak dia suruh
pengawalnya untuk menangkap aku. Melihat aku diserang
oleh pengawal anak jenderal itu, adikku marah dan terus
meringkus anak jenderal itu."
"O," perwira itu mendesuh kejut. Tetapi, ia memang tahu
akan tabiat putera atasannya suka memaksa wanita
terutama gadis2 cantik untuk melayani kemauannya.
"Sebenarnya putera jenderal itu harus malu dan tak
berani mengatakan peristiwa itu kepada ayahnya."
"Malu bagaimana?" perwira itu heran.
"Malu karena dia hendak mengganggu seorang gadis.
Malu karena dia dapat dibekuk seorang anak kecil."
"Mana adik nona itu ?"
'"Ini," Sian Li menunjuk pada Uk Uk.
Demi melihat perwujudan Uk Uk yang berkepala gundul
dan bertubuh gemuk, perwira itu ini longong, "Anak itu ?"
serunya heran.
"Ya."
Diam2 perwira itu heran dan hampir tak percaya. Lau
kongcu juga belajar silat apa-lagi dibeking oleh dua orang
kausu, mengapa sampai dapat diringkus oleh seorang bocah
yang bentuknya begitu macam, pikirnya.
"Nona, apakah benar anak itu yang membekuk kongcu
kami ?" ia menegasi
"Ya."
"Apakah bukan adik nona yang lainnya lagi.”
"Aku tak punya adik lagi kecuali dia," sahut Sian Li," o,
engkau kira yang mengalahkan anak jenderal itu seorang
jago silat yang sakti, bukan ? Kalau tidak, perlu apa engkau
membawa berpuluh-puluh prajurit bersenjata lengkap untuk
mengepung kami bertiga ?"
Perwira itu tersipu-sipu malu.
"Kami hanya mendapat perintah dari atasan kami, nona.
Kami tak mengira kalau yang mengalahkan rombongan
Lau kongcu itu ternyata hanya seorang bocah yang
berwajah lucu ......."
"Lho, jangan omong seenakmu sendiri, bajingan !" teriak
U k Uk dengan tiba2.
Sudah tentu perwira itu berjingkrak kaget karena dimaki
Uk Uk. Merahlah mukanya seketika.
"Uk, jangan memaki orang," seru Sian Li lalu berpaling
kepada perwira itu, "sebenarnya ia tak tahu apa arti kata
'bajingan” itu. Tetapi tadi putera jenderal itu telah
memakinya bajingan. Dia lalu bertanya apa artinya
bajingan itu dan kakekku memberi keterangan kalau
bajingan itu orang yang jahat. Dia tentu mengira kalian ini
orang jahat yang hendak menangkap kami maka dia tentu
kontan memaki. Harap jangan salah faham."
Walaupun mendongkol tetapi karena berhadapan dengan
seorang gadis cantik, terpaksa perwira itu meramahkan
wajahnya. "Ah, karena dia tak tahu, adik nona itu tak
salah," katanya.
"Lalu bagaimana maksud kalian kemari,” tegur Sian Li
pula.
"Kami mendapat perintah dari atasan, supaya membawa
orang yang telah menghina Lau kongcu, menghadap
jenderal kami."
"Untuk apa?"
"Tetapi nona tak perlu takut," cepat perwira itu
menghibur, "dihadapan jenderal Lau nona boleh
menceritakan apa yang telah terjadi. Jenderal Lau tentu
dapat memberi keadilan."
Sian Li segera berunding dengan kakek Lo Kun. Dia
mengemukakan alasan, jika melawan tentu akan terjadi
pertempuran. Bukan karena takut tetapi hal itu hanya akan
menimbulkan pertumpahan darah yang tak perlu. Kawanan
prajurit itu adalah prajurit kerajaan Beng. Tak baik kalau
memusuhi bangsa sendiri."
"Maksudmu kita ikut kepada mereka mengalap jenderal
Lau itu ?" kakek Lo Kun menegas.
"Kurasa baik begitu," jawab Sian Li, "nanti dihadapan
jenderal itu kita dapat memberi keterangan yang
sebenarnya."
Setelah bersepakat. Sian Li lalu mengatakan pada
perwira itu bahwa dia dan kedua kawan-bersedih ikut
mereka.
Singkatnya, mereka telah tiba di markas besar jenderal
Liu Cek Jing. Tetapi jenderal sedang menerima tamu,
utusan dari mentri pertahanan Su Hwat. Mereka
dipersilahkan beristirahat di dalam ruang.
“Silakan beristirahat dulu di ruang ini, nona, seorang
prajurit," besok pagi baru kita antar menghadap jenderal
Lau."
Segalanya tampak wajar dan tak mencurigakan. Tetapi
Sian Li masih tetap berhati-hati. masih tak percaya kalau
jenderal Lau sedang nerima tetamu. Teringat akan ulah
putera jenderal yang bernama Lau Bun Sui itu, dia tetap
curiga. Tetapi ia tak tahu bagaimana cara membuktikan
benar atau tidak ia akan dihadapkan jenderal Lau.
Ia mendapat sebuah kamar dan kakek Kun satu kamar
dengan Uk Uk. Saat itu mereka belum tidur, masih
beromong-omong diruang muka.
Pada saat itu muncullah seorang gadis membawa
hidangan makanan dan minuman. Gadis itu sebenarnya
berwajah cantik tetapi saat itu tampak pucat dan matanya
cekung tak bersinar. Wajahnya kuyu.
"Siauya menyuruh kami mengantar hidangan malam
untuk nona," katanya dengan suara perlahan.
Sian Li mengucap terima kasih dan si pelayan itu
meletakkan hidangan dimeja. gadis pelayan itu terkesiap,
matanya berkilat ketika melihat Uk Uk.
Sian Li memperhatikan perobahan muka pelayan itu dan
menegurnya, "Kenapa, cici ter melihat adik itu ?"
"Dia .... dia seperti adikku ...."
'O," desuh Sian Li, "dimanakah adik cici sekarang?"
Gadis itu tidak menyahut melainkan menundukkan
kepala. Beberapa butir airmata menetes turun ke lantai.
"Cici, mengapa engkau menangis?" tanya Sian Li.
"Tidak apa2, nona," kata pelayan itu, "aku jadi terkenang
kepada adikku itu. Entah sekarang dia berada dimana ..."
Menduga pelayan itu tentu mengalami derita dalam
hidupnya, Sian Li berkata dengan nada lembut, "Ah, cici
tentu mengalami derita hidup. Apabila percaya kepada
kami, maukah engkau menceritakan peristiwa yang
menimpa diri cici?"
Pelayan itu memandang sejenak ke sekeliling. Setelah
memperoleh kepastian tak ada lain orang, barulah dia
berkata dengan pelahan, "Nona, memang benar seperti kata
nona. Aku menanggung kehidupan yang menyedihkan.
Ayahku ditangkap dan karena berani melawan, lalu
dianiaya sampai mati. Mendengar itu ibuku lalu bunuh diri,
sedang adikku juga melarikan diri. Dan aku telah diambil
dari rumah secara paksa ....... "
"Siapa yang melakukan hal itu?"
Anakbuah Tio wan-gwe," kata gadis itu. Wan-gwe
artinja hartawan.
“Siapa Tio wan-gwe itu?” Sian Li terkejut.
"Dia adalah orang yang paling kaya di kampung ini,
seorang tuan rumah yang memiliki beratus-ratus hektar
sawah. Dia memelihara berpuluh tukang pukul. Bermula
ayah meminjam uang untuk mengerjakan sawah
peninggalan engkong. Tetapi tak tahu bagaimana, pada saat
hampir panen, sawah ayah telah dirusak orang , ..... "
"Karena peristiwa itu ayah tak dapat membayar hutang.
Tio wan-gwe berkeras hendak nagih kalau ayah tak dapat
membajar, sawah akan diambil. Kami sekeluarga segera
mengunjungi rumah Tio wan-gwe untuk memohon belas
kasihan agar memberi waktu beberapa bulan lagi. Maksud
ayah mengajak isteri dan anaknya adalah untuk mengetuk
perasaan Tio wan-gwe tetapi malah berbalik menjadi suatu
bencana .
"Tiba2 Tio wan-gwe bersikap manis kepada ayah.
Bahkan ayah diberi pinjaman uang lagi. Ayah terlongonglongong.
Tak pernah ia menyangka bahwa Tio wan-gwe
yang terkenal kejam itu ternyata begitu baik kepadanya ....
"Beberapa waktu kemudian, datanglah seorang pesuruh
dari Tio wan-gwe ke rumah. Maksud kedatangannya tak
lain adalah hendak meminang aku untuk dijadikan gundik
hartawan yang sudah setengah baya, punya isteri dan
beberapa gundik.
"Ayah terkejut dan menolak lamaran itu. Dia telah
memberikan sawahnya sebagai pembayar hutang. Tetapi
Tio wan-gwe menolak dengan dalih bahwa harga sawah
ayah itu masih belum memadai untuk membayar hutang
ayah. Kalau ayah mau memberikan aku, hutangnya akan
dibebaskan. Tetapi kalau tidak, ayah akan ditangkap dan
dipenjarakan ....."
"Karena ayah berkeras kepala akhirnya dia ditangkap
oleh kawanan tukang pukul Tio wan-gwe dan karena tak
tahan mengalami siksaan akhirnya ayahpun meninggal.
Kawanan tukang pukul datang lagi ke rumah kami,
mengatakan kalau ayah minta ibu dan aku supaya datang
menjenguknya untuk berunding. Tetapi waktu kami berdua
datang ternyata kami ditipu. Aku terus dimasukkan
kedalam sebuah ruangan yang dijaga keras. Melihat itu ibu
kalap. Karena putus asa dia sampai bunuh diri ....... "
"'O, hartawan itu harus diberi hajaran yang setimpal,"
seru Sian Li. Kemudian dia minta nona itu melanjutkan
ceritanya.
"Tetapi sebelum Tio wan-gwe mencemarkan diriku, tiba2
pasukan jenderal Lau datang di kota. Tio wan-gwe berusaha
untuk mencari perlindungan kepada jenderal Lau agar harta
benda dan sawahnya tak diganggu. Setelah memberi
sumbangan uang dan bahan makanan yarg berlimpahlimpah,
Tio wanpwe juga memberi gadis2 cantik kepada
jenderal itu .... "
"Dan dirinya termasuk salah seorang yang diberrikan
kepada jenderal Lau?" tukas Sian Li.
"Ya," pelayan itu menghela napas, "apa dayaku seorang
gadis desa yang lemah. Tetapi bagiku sudah tiada
mengharap apa2 lagi kecuali hanya satu."
"Coba katakanlah, cici," kata Sian Li, “barangkali kami
dapat membantu harapan cici.”
"Kedua orangtuaku sudah mati dan aku ibarat bunga
yang sudah layu. Sebenarnya aku sudah tak ingin hidup,
tetapi aku paksakan diri untuk bertahan hidup hanya karena
aku ingin mengetahui tentang diri adikku itu ...”
"Dimanakah adik cici waktu itu?''
"Waktu aku dan ibu datang ke rumah Wan-gwe, adik
berada di rumah. Dia seorang lelaki yung bertubuh montok
seperti adik nona! Umurnya juga sebaya ....... "
"Kalau begitu, biar dia menjadi adikmu saja," kata Sian
Li.
'Ak uk, ak ak, uk-uk ... ap ..... apa” seru Uk Uk tergagapgagap.
"Engkau akan kuberikan kepada cici supaja dijadikan
adiknya ...... "
"Mau !" teriak Uk Uk.
"Ohhhhh," pelayan itu berseru tertahan penuh haru dan
kejut.
Sian Li tahu bahwa yang dimaksud Uk Uk Hu adalah
lawan kata dari mau alias tidak mau. Tetapi agar pelayan
itu jangan bersedih iapun diam saja.
"Cici, mengapa sekarang cici hanya disuruh mengantar
makanan dan minuman kepada kami?" tanya Sian Li.
"Habis manis sepah dibuang," pelayan muda Iiu
menghela napas, "setelah beberapa waktu aku dijadikan
gundik jenderal Lau, maka diapun bosan, lalu menjadikan
aku sebagai pelayan."
"Cici," kata Sian Li," aku berjanji akan mencari adikmu,
jangan bersedih hati."
"Benarkah nona akan mencarikan adikku ?" tanya
pelayan itu.
"Demi kehormatanku !"
''Oh, Tuhan, terima kasih," serta merta pelayan itu
berlutut, "jika nona berhasil menemukan adikku, berikanlah
bungkusan ini kepadanya, maukah nona?"
"Baik," kata Sian Li seraya menyambuti bungkusan yang
ternyata terbuat dari kulit kambing. Tanpa bertanya apa
isinya, ia terus menyimpan kedalam baju.
"Nona, bolehkah aku mendapat tahu nama nona agar
kelak dapat kuukir budi kebaikau nona itu dalam hatiku
selama hayat masih terkandung dalam badan ?" tanya
pelayan itu.
"Aku Liok Sian Li," kata Sian Li yang juga bertanya
nama pelayan itu. Nona pelayan itu bernama Un Sin Nio.
"Nona Liok," kata Sin Nio, "aku hendak membalas budi
kebaikan nona. Aku menyangsikan bahwa dalam hidangan
makanan dan arak ini, kemungkinan diberi obat bius.
Sian Li terkejut, "Mengapa engkau menceritakan begitu ?
Apakah engkau tahu hal itu ?"
"Begini nona Liok," Sin Nio memberi keterangan," dulu
akupun pernah mengalami nasib begini. Waktu aku
dikurung dalam kamar rahasia, aku sudah bertekad hendak
mati daripada kehormatanku tercemar. Aku mengancam
setiap pelayan maupun prajurit yang hendak membujukku
supaya mau melayani. Rupanya mereka kuatir kalau aku
benar2 akan membuktikan ancamannya. Mereka merobah
sikap. Mereka memperlakukan aku dengan baik sehingga
aku lengah. Pada malam itu akupun mau makan dan
minum the yang mereka antarkan. Tetapi setelah itu aku
pingsan. Keesokan harinya kudapatkan aku berbaring diatas
sebuah ranjang yang ada disebuah kamar yang mewah.
Ternyata kehormatanku sudah direnggut oleh jenderal Lau
waktu aku dalam keadaan tak sadar."
"Hm, jenderal itu harus diberi pelajaran yang setimpal,"
dengus Sian Li, "rupanya dia menganggap bahwa seorang
jenderal itu boleh berbuat segala apa !"
"Oleh karena itu, nona Liok," kata Sin Nio pula, "aku
kuatir nona juga akan menderita nasib seirperti diriku
tempo hari. Maka silakan periksa dulu apakah makanan
dan minuman itu terdapat rucun bius."
"Apakah bukan engkau yang menyiapkan hidangan itu ?"
tanya Sian Li.
"Bukan," kata San Li, "aku hanya diperintah untuk
membawa kepada nona "
Siok Li menjemput sepotong ikan dan dijilatnya.
Kemudian diapun mencicipi sedikit teh dan arak. Ternyata
rasanya memang agak berbeda. Dia curiga.
"Kurasa engkau benar, cici Sin," katanya, “hidangan ini
memang dicampuri dengan racun sejenis obat bius, Jelas
mereka juga akan membius aku dan akan melakukan seperti
terhadap diri cici."
"Sian Li, mari kita hajar mereka," tiba2 kakek Lo Kun
berteriak terus hendak melangkah ke luar.
"Jangan terburu-buru, kakek Lo," cepat Sian Li
mencegah, "kita cari akal untuk mengerjai mereka."
Lo Kun menurut, "Hm, jenderal dan putranya itu
memang telur busuk semua. Bukan sibuk mengatur pasukan
untuk menghadapi musuh kebalikannya mereka malah
sibuk merusak wanita baik2."
"Nona Liok," kata Sin Nio, "biarlah aku saja yang
mewakili nona."
"Mewakili bagaimana ?" Sian Li heran,
"Kemungkinan malam nanti, mereka tentu akan
mengambil nona untuk dibawa ke tempat Lau kongcu......"
"Lho, mengapa putera jenderal itu yang berbuat ?" tanya
Sian Li.
"Ya, dari jurumasak yang menyuruh mengantarkan
hidangan ini, aku mendapat keterangan bahwa yang
memerintahkan itu adalah kongcu bukan jenderal."
"Apakah jenderal itu benar2 sedang menerima tetamu ?"
"Ya, memang benar," kata Sin Nio," maka biarlah aku
yang menyaru jadi nona dan beserta kakek dan adik nona,
silakan meloloskan diri dari sarang harimau ini."
Sian Li merenung. Beberapa saat kemudian dia bertanya,
"'Engkau mengatakan bahwa jenderal itu mempunyai
banyak gundik. Apakah wanita2 itu berada di markas sini ?"
“Ya."
"Baiklah," kata Sian Li gembira, "tolong tunjukkan aku
dimana wanita2 penghibur itu ditempatkan. Dan juga
tempat kediaman putera jenderal itu."
Setelah Sin Nio siap mengantar maka Sian li pun minta
agar Lo Kun dan Uk Uk menunggu kamar situ dulu,
'"Harap kakek jangan pergi2, tunggu sampai aku datang
baru nanti kita bergerak."
Sian Li dan Sin Nio segera menuju ke bagian gedung
lain. Sin Nio berbisik-bisik, "Beberapa gadis ini, jenderal
Lau mendapat seorang gadis yang cantik. Rupanya jenderal
tergila-gila sekali, gudik-gundiknya yang lain tak digubris
lagi."
'O, bagus, bawa aku kesana," kata Sian Li.
Mereka menuju kesebuah villa kecil yang jauh. Villa itu
merupakan sebuah bangunan tersendiri, dikelilingi taman
dan empang ikan.
Dengan hati2 dapatlah Sian Li mendekati jendela. Saat
itu jendela belum ditutup. Dari celah jendela dapatlah Sian
Li mengintip kedalam. Dilihatnya seorang nona yang cantik
sedang berhias. Umurnya sebaya dengan dia.
Sian Li mengetuk pintu. Terdengar langkah lembut dan
pada lain saat pintupun terbuka. Sesosok wajah cantik
menonjol. Tetapi sebelum dia sempat mengetahui apa yang
terjadi dan sempat membuka mulut, sebuah tangan telah
menutuk dadanya. Wanita cantik itu rubuh.
Ternyata Sian Li sudah siap di depan pintu. Begitu nona
cantik itu membuka pintu cepat ia menutuk jalandarahnya
supaya pingsan. Dengan sebat sekali Sian Li memanggul
tubuh nona dan suruh Sin Nio mengantarkan ke tempat
tinggal Lau Bun Sui.
Anak jenderal itu tinggal disamping gedung disebuah
bangunan yang bagus, masih satu kompleks dengan gedung
markas besar.
Sian Li bersembunyi dibalik sebuah gerumbul pohon Gotong
(sejenis jambu).
"Cici Sin, jagalah nona ini," ia letakkan tubuh nona
cantik itu dan melesat pergi. Tak berapa lama ia kembali
dengan membawa seperangkat pakaian prajurit penjaga.
"Cici, aku berhasil merubuhkan seorang jurit yang
sedang meronda. Lekas pakailah seragam ini."
"Untuk apa?" Sin Nio heran.
"Bawalah nona itu kepada Lau kongcu apakah engkau
kuat memanggulnya?" tanya Sian Li.
"Ya," Sin Nio mengangguk. Dia seorang gadis petani
yang biasa bekerja kasar. Tetapi Sin Nio tertegun.
"Mengapa?" tegur Sian Li.
"Andaikata keterangan dari juru-masak kepadaku tadi
bohong, berarti Lau kongcu tak mengetahui peristiwa ini.
Lalu bagaimana aku harus bicara kepadanya?" kala Sin
Nio.
Sian Li terkejut. Memang apa yang dikatakan Sin Nio itu
benar. Tetapi secepat itu pula ia sudah mendapat akal untuk
melindungi keselamatan Sin Nio.
"Jika terjadi hal begitu," kata Sian Li, "cici harus
membawa pergi nona ini lagi. Kalau Lau kongcu menahan,
aku akan turun tangan melindungi cici," kata Sian Li.
Setelah mendapat jaminan itu barulah Sin Nio
berangkat. Baginya memang sudah tak ada yang ditakutkan
lagi. Andaikata perbuatannya itu kepergok dan dia dibunuh
Lau kongcu, diapun terserah saja. Baginya, setelah dapat
menyerahkan kantong kulit milik mendiang ayahnya
kepada adiknya, dia sudah legah sekali. Syukur dapat hidup
dan bertemu dengan adiknya, pun andaikata mati, diapun
sudah puas.
Untuk melindungi Sin Nio, Sian Li mencari tempat
persembunyian di dekat gedung, dibalik sebuah gununggunungan
palsu. Dia siapkan beberapa piau atau senjata
rahasia.
Terdengar Sin Nio tiba di muka pintu dan mulai
mengetuk. Diam2 Sian Li ikut tegang. Namun ia
menghibur diri. Sebelum dibawa Sin Nio, Sian Li memang
sudah merobah sedikit dandanan gundik jenderal itu supaya
mirip dengan dirinya;
"Ho, siapa itu?" terdengar sebuah suara lelaki berseru
dari dalam.
"Hamba, kongcu," sahut Sin Nio dengan sengaja
menirukan nada orang lelaki. Diam2 Sian Li memuji.
"Siapa?"
"Hamba telah membawa nona cantik yang kongcu
inginkan itu ..... " dalam menunggu penyahutan Lau Bun
Sui, hati Sin Nio tegang bukan kepalang.
"Bagus ..... bawa masuk!"
"Ah," diam2 Sin Nio menghela napas longgar. Ternyata
keterangan jurumasak tadi memang benar.
Sambil setengah menutupkan tubuh gundik jenderal Lau
ke mukanya agar Lau Bun Sui jangan sampai mengetahui,
Sin Nio pun melangkah masuk.
Untung Lau Bun Sui hanya memperhatikan nona cantik
yang dipanggul Siu Nio itu. Pokoknya nona cantik yang
diidam-idamkan itu telah dibawa kedalam kamarnya. Lain2
hal dia tak perdulikan lagi.
"Taruh kedalam kamarku," perintah anak jenderal itu.
karena dekat, Sin Nio segera mencium bau arak yang
menghambur dari mulut kongcu itu. Tentu anakmuda itu
habis meneguk arak, pikirnya.
Penerangan dalam kamar anak jenderal itu hanya
remang2. Ranjangnya indah, bantal dan guling bersulam
lukisan sepasang naga dan burung burung. Baunya harum
seperti kamar penganten.
Setelah meletakkan tubuh nona cantik itu di atas ranjang,
Sin Nio pun bergegas keluar. Dan di sambut dengan
gembira oleh Sian Li.
"Wah! nona memang nakal," Sin Nia tertawa, alangkah
gaduhnya nanti apabila jenderal tua kehilangan gundik
kesayangannya yang ternyata berada dalam kamar
puteranya ......"
"Kita pinjam tangan jenderal itu untuk kuhajar
anaknya," Sian Li tertawa. Karena kuatir akan dicari maka
Sin Nio lalu berpisah dengan Sian Li.
Sian Li kembali ke kamarnya. Terkejut sekali ketika ia
melihat seorang prajurit tua yang pendek tengah berdandan.
"Oh, kakek Lo, engkau!" prajurit itu bukan lain adalah
kakek Lo Kun.
"Gagah tidak aku ?" kata Lo Kun.
"Ya, keren juga," terpaksa Sian Li memberi komentar.
"Beginilah dulu ketika aku masih jadi jendral. Musuh
tentu lari pontang panting kalau lihat aku," kata Lo Kun
dengan membusung dada.
Nostalgia atau kerinduan akan kenangan memang sering
menghinggapi hati setiap manusia. Demikian dengan kakek
Lo Kun. Dia juga teringat ketika dulu pernah menjadi
jenderal perajurit.
Tentang riwajat Lo Kun, secara ringkas dapat kita
tuturkan begini. Menurut ocehannya dahulu dia pernah
menjabat sebagai mentri kerajaan bagian militer. Dan
menurut katanya dia pernah diangkat sebagai jenderal. Oleh
baginda Ing In dia disuruh menjaga Somali seorang raksasa
dari Persia yang dipenjara dalam sebuah gua.
Entah bagaimana raja telah mati dan diganti lain raja
yang tak tahu menahu tentang Lo Kun, sehingga sampai
berpuluh tahun Lo Kun tetap menjaga digua itu. Akhirnya
ia keluar dari gua itu. Dia merasa asing pada orang2 dan
masyarakat dan akhirnya berjumpa dengan Blo’on ikut
mengembara kemana2.
"Apakah jenderal begitu pakaiannya ?" tanya San Li.
"Ya."
"Kasihan."
"Lho, mengapa kasihan ?"
"Seragam yang kakek pakai itu adalah seragam prajurit
kerucuk yang hanya menjadi penjaga markas. Tetapi kakek
mengatakan menjadi seorang jenderal. Jika begitu, jenderal
seperti kakek ini sama dengan kerucuk jaman sekarang, hi,
"Wah, celaka, sialan," kakek Lo Kun terus mencopot
pakaian seragamnya.
"Kakek, dari mana engkau mendapatkan pakaian itu ?"
tanya Sian Li.
"Tadi seorang prajurit datang kemari terus kuringkus."
"Dimana dia sekarang ?" Sian Li terkejut.
"Tuh tidur di bawah kolong ranjang."
"Tidur ?"
"Ya, karena kutabok kepalanya dia terus meloso tak
bangun."
Diam2 Sian Li girang. Rencananya menyuruh Sin Nio
menyaru jadi penjaga untuk membawa nona cantik gundik
jenderal Lau ke kamar Kau Bun Sui ternyata tepat. Lau Bun
Sui memang menyuruh seorang bawahannya untuk
mengambil dirinya (Sian Li).
Sekarang Sian Li hendak mencari akal bagaimana
supaya jenderal Lau marah dan menghajar anaknya.
"Kakek, kasih pakaian seragam itu kepadaku," akhirnya
ia menemukan akal.. Kemudian dia rnemakai pakaian
seragam itu dan kini menjadi seorang prajurit.
"Kakek dan adik Uk Uk, tinggal disini dulu. Jaga prajurit
itu jangan sampai bangun," pesan Sian Li.
"Engkau mau kemana ?"
"Akan mengaduk markas ini."
"Lho, mengapa engkau sendiri? Bagaimaa» kalau aku
ikut ?"
"Jangan kakek," kata Sian Li, "markas ini penuh dengan
prajurit2. Kalau kepergok dengan mereka, kita tentu repot
nanti."
Kemudian Sian Li keluar. Dia menuju ketempat kamar
wanita2 yang menjadi gundik jenderal Lau.
“Hamba diiuruh Lau ciangkjn untuk membawa nona,"
katanya kepada seorang nona yang cantik.
Nona itupun percaya dan menurut saja, ternyata Sian Li
membawa wanita cantik itu kegedung tempat kediaman
Lau Bin Sui.
"Hai, mau apa engkau ?" tegur seorang prajurit penjaga.
"Hus, jangan keras2, rejeki nomplok nih.”
"Apa ?"
Sian Li mendekati prajurit itu dan membisikan beberapa
patah kepada prajurit itu. Seketika airmuka penjaga itu
berseri gembira.
“Silakan nona ikut kepadanya dan lakukan menurut
katanya," kata Sian Li, “ini permintaan ciangkun. harap
nona jangan membantah." kemudian Sian Li kembali ke
kamar gundik yang lain dan membawanya lagi ketempat
tinggal Lau Ban Sui. Wanita itu dipaserahkan kepada
penjaga yang kebetulan memergokinya.
Demikian berturut-turut sampai sepuluh kali ia
melakukan hal itu. Membawa gundik jendral Lau yang
berjumlah sepuluh prajurit yang menjaga tempat tinggal
puteranya. Setelah itu barulah Sian Li kembali menemui l,o
Kun dan Uk Uk, "Beres ....... " katanya.
“Apanya yang beres?" tegur Lo Kun.
“Nanti malam kita lihat saja," kata Sian Li, “mana
prajurit yang pingsan itu?"
"Masih dibawah kolong rarjang. Tadi dia bangun tetapi
ditabok Uk Uk lalu tidur lagi."
“Baik," kata Sian Li seraya membuka pakaian seragam
prajurit," kita boleh beristirahat dulu
Benar juga yang dikatakan San Li. Tengah malam, di
markas besar telah timbul kegaduhan. Walau marah2 dan
memaki-maki kawanan prajurit yang menjaga, "Mana
wanita2 itu? Melenyap semua?"
Penjaga2 kelabakan setengah mati. Mereka terus
memanggil kawan2nya untuk mencari di seluruh markas.
Tetapi tak berjumpa. Salah seorang prajurit mengusulkan
supaya mencari ke gedung samping tempat kediaman Lau
kongcu.
Sekawanan prajurit segera menuju ke gedung Lau Bun
Sai. Setelah mencari secara berpencar mereka terkejut
bukan kepalang. Ternyata nona cantik yang dijadikan
gundik jenderal Lau itu telah dikeram oleh prajurit2 penjaga
di gedung.
"Kalian tunggu disini, aku hendak menghadap ciangkun
melaporkan peristiwa ini," kata kepala prajurit.
"Apa?" teriak jenderal Lau sambil melabrak meja,
"nona2 cantik itu berada dalami kamar prajurit2 kongcu?"
"Benar, ciangkun. Hamba menyaksikan sendiri
bagaimana prajurit itu bersenang-senang dengan para nona
cantik milik ciangkun."
"Tangkap mereka dan bawa kemari!" titah jenderal Lau
marah sekali.
Tak berapa lama berbondong-bondong sepuluh prajurit
dengan sepuluh nona cantik dibawa kawanan penjaga
markas untuk menghadap jenderal Lau.
"Bangsat!" bentak jenderal Lau, "mengapa kalian berani
mencuri nona2 peliharaanku itu?”
Kesepuluh prajurit itu gemetar dan serentak berlutut,
"Ampun ciangkun, hamba tak berani berbuat demikian
andaikata bukan ciangkun sendiri yang menitahkan ....... "
"Apa?" jenderal Lau terbeliak, "aku memberi perintah
kepadamu?"
“Benar, ciangkun," kata prajurit itu, "seorang prajurit
dari markas ciangkun telah datang bersama-sama seorang
nona cantik. Dia membisiki hamba bahwa untuk menghibur
jerih payah hamba selama mengikuti ciangkun dan kongcu,
maka malam ini hamba diberi kesempatan untuk
menikmati kesenangan dengan nona itu .... "
"Hambapun demikian .... hamba juga begitu," begitulah
kesepuluh prajurit itu memberi kesaksian.
"Bangsat!" bentak jenderal Lau, "tidak! Aku tidak pernah
memberi perintah begitu. Uang dan barang apa saja, bisa
kuberikan tetapi tidak nona2 yang melayani aku itu."
"Jika hamba bohong, hamba bersedia dihukum penggal
kepala, ciangkun," kata prajurit yang pertama yang bicara
tadi, "apabila ciangkun tak percaya, silakan ciangkun
bertanya kepada para nona itu,"
"Hai, Melati, benarkah begitu?" seru jenderal Lau kepada
seorang nona.
"Benar, ciangkun. Hamba telah dijemput oleh seorang
prajurit yang katanya membawa titah dari ciangkun. Lalu
hamba diantarkan ke gedung samping dan diterimakan
pada seorang prajurit. Dia pesan hamba harus menuruti apa
kehendak prajurit itu .... "
"Jahanam ....!" jenderal Lau menggebrak meja dan
melonjak bangun, "tangkap prajurit yang mengaku kusuruh
itu!"
Sekalian prajurit bengong. Mereka tak tahu siapa prajurit
itu.
"Hai, mengapa kalian diam saja!" bentak jenderal Lau.
"Ciangkun, hamba tak tahu siapa prajurit yang berani
mengacau itu," kata prajurit.
Rupanya jenderal Lau menyadari hal itu tetapi cepat ia
membentak, "Goblok, tolol! Kalian hanya kawanan
kantong nasi yang tak berguna. Hayo lekas kumpulkan
seluruh prajurit yang malam ini bertugas menjaga!"
Seluruh prajurit penjaga dipanggil. Kesepuluh gundik
jenderal itupun disuruh meneliti siapa gerangan diantara
mereka yang melakukan pengacauan tadi. Tetapi wanita2
itu tak dapat menemukannya.
Tiba2 jenderal Lau teringat, "Hai, mana burung Hong?"
Wanita2 itu tahu siapa yang dimaksudkan dengan si
burung Hong. Dia tak lain adalah bunga baru, nona cantik
yang baru saja didapatkan Jenderal Lau dan saat itu paling
disayang sendiri.
"Hamba ..... hamba sekalian tak tahu, ciangkun," jawab
gundik2 itu dengan ketakutan.
Jenderal Lau serentak suruh seorang prajurit memerksa
ke villa di tengah taman, tempat kediaman gundik yang
paling disayanginya itu.
Tak berapa lama prajurit itu kembali dengan membawa
laporan bahwa Hong Hong tak berada di dalam villa.
"Jahanam!" teriak jenderal Lau seperti orang kebakaran
jenggot, "kemana si Hong? Coba panggil Lau kongcu
kemari!"
Tak berapa lama Lau Bun Sui datang dengan diiring oleh
prajurit yang disuruh jenderal Lau tadi.
"Hai, kemana saja engkau? Mengapa orang pada ramai2,
engkau masih enak2 tidur saja?" teriak jenderal Lau.
"Maaf, ayah," kata Lau Bun Sui, "tadi aku sehabis
minum arak dan tidur pulas sekali. Bukankah ayah sedang
menerima tetamu?"
"Lihat, para penjagamu telah rebutan berpesta pora
dengan wanita- cantik di markas ini. Mengapa engkau tak
tahu!" jenderal Lau menegur pula.
"Lho, apakah yang telah terjadi?" putera jendral itu
terkejut.
"Pada waktu aku sedang bercakap-cakap dengan tetamu,
seorang prajurit telah membawa mereka.”
"Tidak ayah !" Seru Bun Sui, "aku tak tahu menahu soal
itu. Dan akupun tak tahu siapa prajurit yang berani
mengacau itu ?"
"Kemana Hong Hong ?" seru jenderal Lau dengan nada
tajam.
"Hong Hong? Siapakah Hong Hong?"
"Dia adalah nona yang paling cantik yang baru saja
kuperoleh. Malam ini dia juga menghilang dari kamarnya.
Apakah tidak engkau sembunyikan ?"
"Ah, tidak ayah," Bun Sui gopoh memberi jawaban,
"masakan aku berani mengganggu kesenangan ayah....."
Baru dia berkata begitu terdengarlah suara orang berjalan
dan seketika jenderal Laupun memekik, 'Bangsat ! Engkau
berani membohongi aku!”
Bun Sui terkejut dan berpaling. Ia terkejut ketika melihat
Sui Tek Po, pengawal peribadi ayahnya, sedang mengiring
seotang nona cantik. Dan astaga.....nona itu tak lain akalah
nona yang tadi tidur bersamanya.....
Ternyata diam2 jenderal Lau telah membisik
pengawalnya agar menggeledah kamar Bun Sui. Ternyata
kecurigaan jenderal itu memang terbukti. Sin Tik Po telah
menemukan Hong Hong terkulai di ranjang.
"Bangsat, engkau berani membohongi aku ya!” teriak
jenderal Lau dengan deliki mata kepada puteranya.
"Ti..... dak, ayah, ti ..... dak .....,” seru l.au Bun Sui
tergagap-gagap.
"Hm. engkau masih berani membantah?" bentak jenderal
Lau, kemudian berpaling kepada Hong Hong gundiknya
tersayang," Hong Hong, bagus sekali perbuatanmu ya .... "
"Ampun, ciangkun. Pada sore tadi pintu depan diketuk
orang dan ketika kubuka, tiba2 aku ditutuk dadaku sehingga
pingsan. Ketika tersadar tahu-tahu......" Hong Hong
menangi tersedu-sedu.
"Kenapa ?"
"Aku berada di ranjang kongcu dalam keadaan…...," si
cantik menangis lagi dengan sedih.
"Apa engkau tak bilang kepadanya siapa dirimu?”
"Aku tak diberi kesempatan bicara. Kongcu…….
kongcu....."
''Kongcu, bagaimana ?"
"Kalap sekali sampai aku terkulai lemas....." Hong Hong
menangis makin keras, "ciangkun.... ciangkun mohon
melindungi diriku .....”
Marah wajah jenderal Lau ketika mendengar rintihan si
cantik yang paling disayanginya itu. Sepuluh nona2 cantik
yang menjadi gundik jenderal itu telah dibuat ‘pesta' oleh
prajurit penjaga. Dan Hong Hong, selir yang paling
disayangi telah dilalap Bun Sui, puteranja sendiri. Betapa
perasaan Lau Ceng Jing sebagai seorang jenderal, dapat
dibayangkan.
"Penggal kepala mereka!" serentak dia berteriak memberi
perintah.
Tiba2 seorang lelaki muda tampil ke hadapan jenderal
itu, "Ciang kun, harap ciangkun jangan terlalu berat
menjatuhkan hukuman kepada mereka. Aku memintakan
keringanan untuk mereka terutama untuk kongcu."
Jenderal Lau merentang mata dan melihat bahwa lelaki
yang memintakan keringanan hukuman itu tak lain adalah
tetamunya, Bok Kian putera keponakan dari mentri
pertahanan Su Go Hwat yang diutus untuk menyampaikan
pesan mentri pertahanan kepada jenderal Lau.
"O, Bok kongcu……”
"Ciangkun, saat ini musuh sedang mengancam kita. Jika
kita menjatuhkan hukuman terlalu keras kepada anakbuah
karena melanggar kesalahan yang tiada sangkutan urusan
pasukan, tidakah hal itu akan melemahkan kekuatan kita?
Yang kita perlukan saat ini adalah disiplin dan semangat
juang yang tinggi dari anak pasukan untuk menghadapi
musuh. Mohon ciangkun suka meluluskan permohonanku."
Pertama, yang berkata itu adalah putera keponakan dari
mentri pertahanan. Kalau dia menolak, tentulah pemuda itu
akan melapor kepada mentri pertahanan. Kedua, memang
kata2 Bok Kian itu tepat. Dalam keadaan seperti saat itu
memang kurang tepat kalau hati anak pasukan sampai
terpecah. Namun diapun mempunyai pendirian. Sebagai
seorang jenderal dia harus mengunjuk kewibawaan
terhadap anakbuah. Selir2 dan selir kesayangannya dibuat
pesta-pora oleh anakbuahnya, memang suatu hinaan yang
tak dapat didiamkan lagi. Dan dia pun hendak mengunjuk
kepada keponakan mentri pertahan itu bahwa dia dapat
tegakkan disiplin tentara tanpa memandang bulu walaupun
terhadap puteranya sendiri.
"Baik. karena Bok kongcu telah memintakan keringanan
kepada kalian," katanya, maka hukumannya tidak
dipenggal kepala tetapi dirobah menjadi hukuman 50 kali
dirangket. Prajurit, lekas laksanakan hukuman rangket itu !"
Bok Kian hendak mencegah tetapi prajurit itu menggusur
kesepuluh prajurit dan Lau Bun ke halaman dan
melaksanakan hukuman 50 rangket dengan cambuk.
Beberapa saat kemudian, seorang prajurit melaksanakan
hukuman itu menghadap, "Ciangkun kesepuluh prajurit itu
telah selesai menjalani hukuman rangket. Hanya tinggal
seoorang saja yang belum."
"Siapa ?"
"Lau kongcu ......"
"Mengapa tidak kalian laksanakan hukuman itu
kepadanya ?"
"Hamba tak berani, ciangkun ..... ,:
"Karena dia puteraku ?"
"Demikianlah, ciangkun."
Jenderal berbangkit dan menyambar cambuk dari tangan
prajurit itu lalu menuju ke halaman. Disitu Bun Sui masih
tegak berdiri.
"Prajurit, lekas ikat tangannya pada tonggak dan bukalah
bajunya!" perintah jenderal Lau.
Setelah perintah itu dilaksanakan, maka Jenderai
Laupun segera mengayunkan cambuk menghajar tubuh
puteranya. Saat itu dia sedang dilanda kemarahan karena
gundiknya tersayang Hong Hong, telah dilalap Bun Sui.
Setelah limapuluh kali cambukan, Bun Sui pun lunglai
dan pingsan. Jenderal Lau suruh prajurit membawa
puteranya ke villanya. Jendral itupun kembali masuk ke
markas.
"Ah, ciangkun surgguh keras memegang disiplin," kita
Bok Kian.
"Disiplin adalah merupakan undang2 pasukan. Kalau
disiplin dilanggar dan diinjak, pasukan tentu morat marit,"
kata Jenderal Lau, "dan sebagai seorang pimpinan aku
wajib memegang teguh disiplin itu."
Tiba2 seorang prajurit yang disuruh menyelidiki ke
tempat kediaman Lau Bun Sui tadi, datang menghadap.
"Lapor!" seru prajurit itu seraya memberi hormat, "di
sebuah ruangan di tempat kediaman Lau kongcu, terdapat
tiga orang. Seorang kakek, seorang gadis dan seorang anak
laki gemuk."
"Siapa ?" seru jenderal Lau.
"Entah, hamba belum kenal."
"Bawa mereka kemari !" perintah jenderal Lau.
Tak berapa lama ketiga orang itu yang tak lain adalah
kakek Lo Kun. Sian Li dan Uk Uk, dibawa menghadap
jenderal Lau.
"Hai, kakek, siapa engkau !" tegur jenderal Lau.
"Apakah engkau ini jenderal Lau ?" balas kakek Lo Kun.
"Ya, mengapa ?"
"Jika begitu, engkau harus bersikap menghormat
kepadaku. Jangan menegur orang semaumu sendiri begitu
macam."
Jenderal Lau terbeliak, "Siapa engkau?"
"Aku mentri kerajaan !"
"Mentri kerajaan ? Siapa namamu !"
“Jenderal Lo Kun."
Jenderal Lau hendak membentak tetapi cepat Bok Kian
membisikinya. Jenderal itu tampak mengangguk.
"Lopeh, siapakah ramamu ?” katanya dengan nada lebih
ramah.
"Eh, apa engkau tuli ? Bukankah sudah kukatakan
namaku Lo Kun ?"
Jenderal Lau terlongong, Masakan dia seorang jenderal
disemprot mentah2 oleh seorang kakek, "Rupanya kakek ini
memang orang gila pikirnya, Ia membenarkan kisikan Bok
Kian.
"Mengapa engkau bersembunyi dalam gedung markas ini
?" kata jenderal Lau dengan menekan kemarahan.
"Siapa yang sudi bersembunyi disini. Bukankah
prajurit2mu yang mengundang aku dengan dua cucuku ini
kemari ?' balas kakek Lo Kun.
"Lho, siapa yang suruh ?" seru jenderal kepada prajurit
yang berada di ruang itu.
Seorang prajurit segera memberi laporan bahwa sore tadi
Lau Bun Sui telah menitahkai: pasukan berkuda menuju ke
luar kota dan rupanya membawa seorang kakek bersama
seorang gadis dan seorang bocah laki.
"Ho, mengapa kalian sampai diundang ke tempat Lau
kongcu ?" tanya jenderal.
"Aneh, sungguh aneh," gumam kakek Lo Kun.
"Mengapa aneh? Apanya yang aneh?" seru jenderal Lau.
"Engkau adalah ayahnya mengapa engkau tanya
kepadaku?"
''Edan memang kakek ini," gumam jenderal dalam hati.
Agar dia tak selalu dibantah dengan kata2 yang ngawur
maka dia tak mau bertanya kepada kakek Lo Kun
melainkan beralih ke arah Sian Li, "Siapakah nona ini?"
"Aku dan kakekku sedang berjalan, entah dimana kami
dihadang oleh beberapa prajurit. Adalah seorang
mengatakan sebagai putera jenderal Lau. Dia hendak
memaksa aku supaya menginap disini. Aku tak mau dan
akhirnya dia suruh para pengiringnya menangkap aku.
Melihat itu, adikku marah lalu menangkap kongcu itu.
Kongcu kesakitan dan melarkan diri. Tak berapa lama
datanglah berpuluh prajurit berkuda hendak menangkap
kami. Sebenarnya kami hendak melawan tetapi kepala
prajurit berkuda mengatakan supaya aku ikut saja
menghadap jenderal. Jenderal Lau tentu dapat memberi
keputusan yang adil."
"Ah, Iagi2 si Bun Sui yang suka mengganggu wanita.
Tetapi benarkah begitu?" pikirnya. Ia suruh seorang prajurit
supaya mengundang Bun Sui.
Tak berapa lama prajurit itu datang dan memberi
laporan, "Wah, celaka, ciangkun, Lou kongcu pergi!"
"Apa? Dia pergi?"
"Benar, ciangkun," kata prajurit itu gemetar, "kongcu
mengajak kesepuluh prajurit yang mendapat hukuman
rangket tadi."
"Lekas kejar!" perintah jenderal Lau. Beberapa prajurit
segera siap melakukan pengejaran.
"Hm, anak itu memang keras kepala," gumam jenderal
Lau, "sebenarnya tak kuperbolehkan dia ikut dalam
pasukan ini. Tetapi dia berkeras ikut. Untuk cari
pengalaman, katanya. ? dia berjanji akan mentaati disiplin
tentara ...”
"Apakah karena dihukum rangket tadi, kongcu terus
ngambek?" tanya Bok Kian.
"Memang sejak kecil, dia terlalu dimanja oleh mamanya.
Maklum dia adalah anak satu2nya. Segala permintaannya
selalu dituruti mamanya."
"Dimanakah Lau hujin (nyonya Lau ) sekarang?" tanya
Bok Kian pula.
"Dia masih tinggal di kotaraja Lam-kia.
"Apakah tak mungkin kongcu kembali ke sana?" tanya
Bok Kian pula.
"Mungkin," kata jenderal Lau, "mudah-mudahan saja dia
pulang kepada mamanya."
"Soal keterangan nona bahwa puteraku menganggu nona
di tengah jalan, terpaksa kutunda sampai nanti dia dibawa
kemari. Tetapi harap kau tahu, bahwa berbohong kepada
jenderal itu berat hukumannya."
"Ya, tetapi aku memang mengatakan keadaan yang
sebenarnya, ciangkun," kata Sian Li.
"Engkau mengatakan bahwa adikmu marah lalu dapat
membekuk kongcu, benarkah itu?" tanya jenderal Lau. Dia
tak percaya omongan Sian Li karena Bun Sui juga pandai
ilmusilat.
"Benar, ciangkun ....... "
"Kalau tak percaya, dicoba lagi saja!" seru kakek Lo
Kun.
Rupanya jenderal Lau hendak mencari pelampiasan dari
kemarahannya tadi. Dia segera menyetujui, "Baik, tak perlu
kongcu, tetapi cukup dengan pengawalku Si Tek Po kausu
ini. Kalau dapat mengalahkannya, baru aku percaya."
'Uk, apa aku berani?" tanya kakek Lo Kun.
“Ber ..... bera . , . ni ..... ergkong .....," sahut Uk Uk.
Melihat perwujudan Uk Uk seorang bocah cilik yang
lucu, timbullah rasa kekuatiran Bok Kian, “Ciangkun, dia.
hanya seorang bocah desa. Bagaimana mungkin akan diadu
dengan pengawal ciangkun yang berilmu tinggi?"
“Kakeknya yang minta begitu."
"Mengapa tidak kakeknya saja yang diadu.
Jenderal Lau mengangguk, "Ya, jangan dengan anak
kecil itu tetapi dengan engkongnya yang tua itu!"
"Aku?" teriak Lo Kun, "ah, jangaaaan .
"Mengapa?"
"Bertanding dengan cucuku dulu. Kalau cucuku kalah
barulah aku."
"Ben ..... benar ..... lawan engkau dul dulu ... , baru
dengan eng ..... kongkong . ku!" seru Uk Uk.
"Sin kausu, silakan memberi sedikit hajaran pada bocah
itu tetapi jangan sampai terluka." seru jenderal Lau.
Sin Tek Po memberi hormat lalu tampil tengah ruangan,
''Bocah gemuk, mari kita bermain-main beberap jurus saja."
Dengan langkah gontai majulah Uk Uk, “Hei, aku
hendak menjajal kepandaianmu? Bagaimana kalau aku
kalah?"
"Harus menyembah kakimu!"
"Ah, masih terlalu ringan!"
"Lalu apa?"
"Aku harus mau jadi kuda yang engkau tunggangi
memutari ruangan ini, sanggup ..... ?"
"Baik," sahut Sin Tek Po, "tetapi ... huh maksudmu
engkau atau aku?"
"Aku!"
"Lalu bagaimana kalau aku yang kalah?"
Pengawal jenderal Lau itu tak tahu bahwa bagi si Uk Uk,
istilah aku-engkau itu terbalik artinya.
"Terserah ......"
"Bagaimana kalau diberi arak ?" tanya Sin Tek Po.
Rupanya dia memang menyiasati Uk Uk tetapi siapa tahu
dia salah tafsir dan tak mengerti tentang pengetahuan Uk
Uk mengenai arti kata ‘kau-engkau'.
"O, setuju sekali !" teriak Uk Uk, "Kalau diberi arak,
memang suatu hal yang tak pernah terjadi. Diam2 anak itu
memaki Sin Tek Po," orang goblok……!"
Sian Li menyadari akan kehilafan itu. Diam2 geli.
"Hayo, lekas mulai," seru Uk Uk seraya pasang kuda2 di
tengah ruangan.
Melihat bentuk tubuh Uk Uk yang gendut perutnya dan
mukanya yang seperti orang tua itu maka lupalah jenderal
Lau akan kemarahannya.
"Siapa dulu yang menyerang ?" seru Uk Uk.
“Engkau !" jawab Sin Tek Po.
“O, baik, silahkan ......."
Terjadi kemacetan yang menggelikan. Uk Uk pasang
kuda2 dan Sin Tek Po juga berdiri tegak. Keduanya saling
menunggu serangan. Dengan pengertiannya mengenai
inilah 'aku-engkau, Uk Uk mengira Sin Tek Po yang akan
rnenyetang. Sin Tek Po mengira kalau Uk Uk yang akan
mulai menyerang dulu.
"Hai, bocah gendut, mengapa diam saja seru Sin Tek Po
setelah beberapa saat melihat Uk Uk tak bergerak.
"Lho. bukankah aku yang hendak menyerang dulu ?"
teriak Uk Uk,
"Ya, mengapa tak segera mulai ?"
"Ak ..... aku ..... gila ! Lekas serang, ja… jangan ba, ba
..... nyak mulut !"
"Ya, hayo seranglah !"
"Jangan ngo. , . ceh saja. Le, lekassss !"
"Kan engkau yang menyerang !" seru Sin'Po.
"Bu, bu, bukan .... aku dulu !" teriak Uk Uk
"Bocah edan, kalau engkau sudah tahu mengapa diam
saja !"
"Yang e,e,edan itu ... aku ..... meng .... apa aku tak lekas
..... me…me …… menyerang !"
"Lekassss !" bentak Sin Tek Po.
"Cepatttt !" Uk Uk juga menjerit.
"Hai, engkau gila barangkali ?"
“Benar, aku memang edan !" sahut Uk Uk Kali ini Sin
Tek Po benar2 melongo. Sementara Sian Li hanya
tersenyum dan kakek Lo Kun tertawa mengakak.
Sin Tek Po merah mukanya. Karena Uk tak mau
menyerang terpaksa dia turun tangan untuk menyerang
dulu. Dia menampar pipi Uk Uk. Plak,,,,,, plak ....
aduhhhhh !
Sekalian orang terkejut karena mendengar jeritan
mengaduh itu bukan suara anak tetapi suara Sin Tek Po.
Apa yang terjadi ?
Ternyata baru Sin Tek Po mengangkat tangan, tahu2
pipinya yang kiri sudah ditampar Uk Uk.
Memang Sin Tek Po masih memandang rendah pada Uk
Uk. Pikirnya, bocah gendut itu bisa bersilat apa
terhadapnya. Maka agak santai dia mengangkat tangan
kanannya. Maksudnya apabila Uk Uk bergerak
menghindar, barulah dia nanti hajar dengan serangan yang
sesungguhnya. Tetapi dia tak tahu bahwa Uk Uk itu, karena
kegilaan kakek Lo Kun, telah makan delapan biji buah som
dari dasar laut yang berumur seribu tahun, bukan saja
tenaga-dalamnya sakti, juga tubuhnya dapat bergerak
secepat kilat.
"Setan. Engkau berani menampar-pipiku ?" teriak Sin
Tek Po yang segera menyerang keras. Dihadapan jenderal
Lau dia malu sekali karena pipinya, belum2 sudah ditampar
Uk Uk.
Piakkkkk.....
Kembali terdengar suara pipi ditampar. Dan nampak Sin
Tek Po menyurut mundur selangkah karena pipi sebelah
kanannya membegap merah.
Apa yang terjadi ?
Lagi2 Sin Tek Po kalah cepat dengan tangan Uk Uk.
Pengawal sang jenderal itu harus meringis dan kheki sekali.
Tetapi diam2 dia heran. Mengapa gerak pukulan Uk Uk itu
selalu berlawanan dari biasanya ? Misalnya, dalam jurus
Heng jay-kuo atau Raja-kera-memetik-buah tadi, jurusnya
pukulan itu melayang dari sebelah kiri. Eh, tahu2 tangan
kanan Uk Uk yang bergerak dari sebelah kanan menampar
pipi sebelah kirinya (Tek Po).
Namun pengawal itu tak sempat berpikir lebih panjang.
Dia mengkal sekali karena pipi kanan dan kirinya kena
ditampar seorang gendut. Tentulah dia akan ditegur
jenderal nanti.
"Peduli dengan pesan jenderal Lau tadi Bocah edan ini
harus kuhajar sampai setengah mati !" pikir Sin Tek Po.
Sin Tek Po bergelar Elang-sakti. Dia faham akan
ilmusilat Eng-jiau-kang atau Cengkeraman garuda. Maka
tanpa peduli segala apa, dia lancarkan serangan yang
dahsyat dan gencar.
Tetapi dia cepat terkejut sekali ketika Uk Uk juga
bergerak. Bocah gemuk ini loncat kesana kemari dalam
kecepatan yang menyamai setan.
Sin Tek Po dulu juga seorang tokoh persilatan yang
ternama di daerah Sense. Selama belasan tahun
berkecimpung dalam persilatan belum pernah ia melihat
ilmusilat seaneh yang dimainkan anak gendut itu. Mirip
dengan gerak Pat-poh- kim-siau atau Delapan-langkahmemburu-
tonggoret. Tetapi juga lain. Kalau ia menduga
lawan tentu bergerak ke kiri ternyata anak itu bergerak ke
kanan. Kalau menduga Uk Uk tentu akan memukul keatas
kepala, tahu2 anak itu malah meninju perutnya.
Sin Tek Po benar2 kelabakan setengah mati. Juga Sian Li
tak luput dari rasa kejut dan heran. Diam2 ia menghampiri
ke sisi kakek Lo Kun dan berbisik, "Kakek, ilmusilat apakah
yang dimainkan Uk Uk itu?"
“Hm, itulah ajaranku." sahut Lo Kun.
“Ilmusilat apa namanya?''
''Pat- pih kam- hou."
"Delapan-langkah-mengejar-macan?" Sian Li menegas.
Kakek Lo Kun mengangguk dan berbisik, “tapi anak itu
memang edan. Semua gerakan jurus Pat pah-kam-hou itu
diganti arahnya. Saya sendiri kalau berlatih dengan dia,
tentu terkena tinju dan tendangannya. Hm, bocah kok
nakal, entah siapa yang ditiru ....... "
Plok, plok, plok .... terdengar suara tamparan dan
tendangan yang mendarat di tubuh.
"Aduhhhh ..... ," terdengar S!n Tek Po jerit sembari
mendekap mulutnya yang berdarah. Teriyata dia kena
tamparan si Uk Uk. Karena lawan bandel, Uk Uk
menampar dengan keras hingga sebuah gigi depan Sm Tek
Po rompal.
"Berhenti!" teriak jenderal Lau, "bocah gemuk, engkau
yang menang!"
"Hayo, sekarang aku harus merangkak akan kaunaiki,"
teriak Uk Uk kepada Sin Tek Po.
"Baik, lekas engkau merangkak!" seru Tek Po. Dia geram
sekali maka nanti apabili naiki punggung bocah itu dia
hendak menjepit keras.”
"Ya, hayo lekas!" seru Uk Uk.
"Lho, engkau!"
"Ya, benar, aku, hayo lekas!" bentak Uk
“Gila engkau," teriak Sin Tek Po, "yang harus
merangkak itu engkau! Mengapa. engkau memberi perintah
supaya lekas merangkak?"
'"Siapa bilang kalau bukan aku? Hayo, jangan banyak
mulut!'' teriak Uk Uk.
'"Eh, jangan gila-gilaan bocah gemuk," Tek Po deliki
mata, "engkau yang harus merangkak karena aku kalah!"
"Benar, goblok" seru Uk Uk pula, “mengapa aku tak
lekas merangkak? Apa tunggu sampai engkau paksa ya?''
"Lho, bocah ini bagaimana?" Sin Tek benar2 kewalahan.
Pengawal itu segera berpaling kepada jenderal Lau dan
jenderal itupun berseru, "Hai, bocah. jangan ugal-ugalan
dihadapanku. Lekas engkau merangkak!''
"Siapa?" sahut Uk Uk.
"Engkau!"
"Ya, benar, aku. Tetapi mengapa dia tak mau mulai?"
Jenderal Lau mencium bau bahwa ada sesuatu yang tak
beres dengan kata2 bocah gemuk itu. Ia beipaling dan
menegur kakek Lo Kun, "Hai, kek, mengapa dengan
cucumu itu?"
Lo Kun tertawa mengakak, "Inilah akibat kalau salah
didik. Dunia terbalik, orang2 menjadi bingung."
"Hai, jangan ngoceh sendiri engkau," bentak Jenderal
Lau, "bagaimana cucumu itu?"
"Engkau memang jenderal goblok," damprat Kun,
"mengapa engkau tak tahu keadaan cucu itu?"
"Gila, kenalpun baru sekarang mengapa aku diharuskan
kenal padanya?"
"Itulah tanda seorang jenderal yang tak punya
pengalaman luas," kata kakek Lo Kun, "ketahuilah, di
dunia ini terdapat seorang yang mengartikan kata ‘aku' itu
menjadi ‘engkau’. Dan kaya ‘engkau’ menjadi ‘aku’. Tak
percaya? Tuh buktinya cucuku itu. Kalau dia bilang 'aku' ,
berarti ‘kau’. Kalau dia ngomong 'engkau' berarti ‘aku’.
Sudah jelas?"
“Orang edan engkau" bentak jenderal Lau "mengapa bisa
begitu? Siapa yang suruh dia begitu?"
"Aku yang mengajar." kata kakek Lo Kun "itu waktu dia
masih kecil dan sakit. Karena gugup aku telah mengajarkan
kepadanya bahwa kata 'aku' itu adalah ‘engkau’. Dan kata
'engkau' adalah ‘aku’ artinya."
"Kakek goblok, mengapa tak engkau betulkan kesalahan
itu?"
"Siapa bilang tidak?" bantah kakek Lo Kun, sudah
berulang kali kukatakan kalau pengertian ‘aku-engkau’ itu
salah, terbalik artinya. Tetapi anak itu memang bandel.
Sekali dia sudah menerima petunjukku, walaupun salah
tafsir, tetapi kukuh tak mau merobah. Dia tetap
mengartikan kata 'aku' itu adalah ‘engkau’ dan kata
'engkau’ itu adalah ‘aku’. Celaka tidak?"
Tetapi tiba2 kakek itu tertawa mengakak. "Ha, ha, ha
....ku pikir2 apa yang kuajarkan memang tepat. Siapakah
yang mengajarkan tentang kata ‘aku-engkau’ dulu? Kalau
dia berhak mengatakan 'aku' itu saya dan 'engkau' itu
artinya kowe, mengapa aku tak berhak merobahnya 'Aku'
menjadi ‘kowe’, dan 'engkau' menjadi ‘aku’. Kalau perlu
samua kata2 boleh diganti artinya. Bikin lagi yang baru!"
Jenderal Lau terlongong? "Pada masa jaman edan seperti
ini banyak bermunculan manusia-manusia edan. Masakan
kata 'aku' dianggap ‘engkau’ dan kata 'engkau' dianggap
‘aku’. Dunia sudah gilaaaa ....... "
Kakek Lo Kun tertawa ngakak, "Ya, benar, dunia ini
sudah gilaaaa. Ada bocah pekok yang mempunyai bahasa
sendiri. Ada jenderal goblok yang sempit pengalaman, ha,
ha, ha ... "
"Jangan kurang ajar terhadap atasanku, kakek gila !"
bentak seorang lelaki setengah tua yang sejak tadi berdiri
disamping jenderal Lau. Dia adalah Kiang Hun, salah
seorang penjaga jenderal Lau. Dia juga dulunya seorang
tokoh persilatan yang punya nama. Dia jebolan murid
perguruan Tu-tong-pay. Sambil membentak Kiang Hun
terus memukul Lo Kun.
Prakkkkk .....
Pukulan Kiang Hun tepat mengenai gundul kakek Lo
Kun tetapi seketika juga Kiang Hun malah menjerit
kesakitan dan menyurut mundur. Dia seperti memukul
sebuah batok kepala yang sekeras baja.
"Eh, jenderal, anakbuahmu main pukul, mengapa
engkau diam saja ? Kalau begitu akulah yang akan
menindaknya !" Lo Kun terus maju dan menerkam lengan
pengawal itu.
Kang Hun terkejut dan berusaha hendak menarik. Tetapi
tiba2 tangan Lo Kun sudah menerkam tangannya dan terus
ditarik, uhhhhh .....
Kang Hun terkejut sekali. Dia hendak mengerahkan
tenaga untuk bertahan tetapi sia2 saja. Tangan kakek itu
seperti baja kerasnya sehingga pengawal jenderal Lau itu
harus menahan kesakitan sampai dahinya bercucuran
keringat....
"Lo-cianpwe, harap lepaskan. Kita orang sendiri
………….” tiba2 terdengar suara yang ramah di belakang
Lo Kun.
Ketika Lo Kun berpaling ternyata yang ada
dibelakangnya itu seorang pemuda berwajah polos jujur.
Dia tak lain adalah Bok Kian.
"Kakek Lo, luluskanlah permintaan kongcu itu," Sian Li
juga ikut meminta.
"Baik, karena kalian yang meminta akupun menurut,"
kata kakek Lo Kun seraya lepaskah cengkeramannya," eh,
anaknuda, wajahmu begitu polos seperti cucuku Blo'on.
Engkau tentu juga blo'on, ya ?
Bok Kian terbeliak.
“Jangan kecewa, wajah blo'on bukan berarti jahat. Aku
lebih suka wajah yang blo'on tetapi jujur daripada wajah
tampan tetapi licik," kembali kakek itu menyusuli kata2.
"Hai, kakek gila, jangan kurang ajar terhadap Bok
kongcu, dia adalah putera keponakan dari mentri
pertahanan Su Go Hwat tayjin !” bentak jenderal Lau."
"Siapa mentri Su Go Hwat ? Mengapa waktu aku jadi
mentri tak pernah mendengar nama itu?” seru Lo Kun.
"Terima kasih lo-cianpwe," sela Bok Kian yang cepat
menyadari kalau kakek itu seorang limbung pikiran.
"Aku suka kepadamu. Wajahmu polos sekali seperti
bulan purnama. Apakah engkau dilahirkan waktu tanggal
limabelas ?" tanya Lo Kun.
Bok Kian melongo. Sian Li mendekatinya lalu berkata
dengan bisik2, “Harap kongcu maafkan dan maklum,
kakekku itu memang suka mengoceh tak keruan ......"
Bok Kian mengangguk, lalu menjawab, "Aku juga tak
tahu. Kelak kalau pulang akan kutanyakan hal itu kepada
mama."
"Eh, siapakah namamu ?" tanya Lo Kun pula.
"Bok Kian."
"Nama ayahmu ?"
"Bok Jin Tiang."
"Lho, aku masih belum kenal," gumam kakek itu lalu
melanjut bertanya, nama kakekmu ?"
"Bok Jing."
"Lho, belum kenal lagi," gerutu Lo Kun, nama ayah
eyangmu ?"
"Bok Tiong."
"Eh, mengapa masih belum kenal ?"
"Siapakah lo-cianpwe ini ?"
"Aku Lo Kun, mentri Kesayangan dari baginda Beng
Seng Cou, raja kedua dari kerajaan Beng....."
“Lho, berapakah umur lo-cianpwe ?" Bok Kian terkejut.
"Perlu apa harus menghitung umur ? tak suka tambah
umur, umur itu kubuangi semua biar tetap awet muda."
Bok kian tertawa.
"Eh, tertawa ? Siapa suruh tertawa ?" tegas Lo Kun.
"Tidak ada yang suruh," kata Bok Kian menahan geli,
"itu lho, mengapa umur kok dibuang. Habis siapa yang mau
mengambilnya ?”
"Ha, ha, ha....." tiba2 Lo Kun juga tertawa, "terserah saja
siapa yang mau mengambil …….”
Melihat suasana jadi ricuh tak karuan, Jenderai Lau
minta agar Bok Kian duduk kembali. Tetapi waktu jenderal
itu hendak mulai bicara, tiba2 datanglah seorang prajurit
menghadap, "Lapor kehadapan ciangkun," kata prajurit
sambil memberi hormat, "bahwa kongcu dan pengiringnya
telah ditangkap musuh ..."
"Apa !" jerderal Lau terkejut.
“Lau kongcu beserta pengiringnya telah ditawan pasukan
Ceng."
Bukan kepalang kejut jenderal itu waktu mendengar
laporan anakbuahnya. Ia menegas, "Ngaco! Bagaimana
kalian tahu?"
"Hamba dengan serombongan pasukan telah
melaksanakan perintah ciangkun untuk mengejar jejak
kongcu. Tetapi ketika tiba di daerah gunung Lo san, hamba
telah diserang oleh pasukan Ceng. Mereka berteriak-teriak
suruh hamba menyampaiku kepada ciangkun. Kalau
ciangkun tak mau menyerah maka Lau kongcu akan
disembelih."
"Apa mereka mengatakan kalau sudah dapat menangkap
kongcu?"
"Ya," sahut prajurit itu, "bahkan mereka telah
mengunjukkan sesosok mayat dari prajurit kita yang ikut
pada kongcu."
"Celaka!" jenderal Lau menggebrak meja, anak itu
memang tak mau mendengar kata sehingga menyusahkan
orangtua saja!"
Melihat suasana segenting itu Bok Kian minta agar Lo
Kun duduk kembali dan menyuruh Uk Uk jangan
melanjutkan pertengkaran mulut dengan Sin Tek Po, "Locianpwe,
kita sedang menghadapi peristiwa yang gawat,
harap lo-cian-suka tenang dulu."
Walaupun linglung tetapi Lo Kun juga tahu akan
keadaan saat itu. Dia menurut.
"Bok kongcu, bagaimana menurut pendapat sicu?" tanya
jenderal Lau.
"Dengan sudah merembesnya pasukan musuh di
pegunungan Lo-san, jelas mereka sudah dapat
menyeberangi sungai Hong-ho," kata Bok Kian
"Ya, benar."
'Tetapi kurasa," kata Bok Kian pula, "pasukan itu bukan
sebuah pasukan yang besar. Karena selama ini belum
terdengar berita tentang gerakan pasukan Ceng yang
menyeberang sungai Hong-ho untuk menyerang pertahanan
kita di tepi barat sungai itu."
"Hm, penilaian kongcu benar," kata jenderal Lau pula,
''dengan begitu jelas pasukan musuh di gunung Lo-san itu
hanya suatu satuan kecil untuk menyusup kedalam
pertahanan kita dan menimbulkan kekacauan."
"Tepat sekali dugaan ciangkun," kata Bok Kian, "oleh
karena itu kita dapat menggerakkan pasukan untuk
mengepung musuh di gunung Lo san itu dan membebaskan
kongcu."
Tiba2 prajurit yang berpangkat sersan tadi menyela,
"Maaf, ciangkun, hamba lupa menyampaikan sebuah berita
dari mereka."
"Apa?"
"Mereka mengatakan kalau ciangkun berani
menggerakkan pasukan untuk menyerang, mereka segera
akan menyembelih kongcu."
"Jahanam!' teriak jenderal Lau geram sekali, "jelas
mereka hendak membuat kongcu sebagai sandera untuk
menekan aku supaya menyerah. Huh, jangan harap mereka
dapat memaksa aku!"
"Tetapi ciangkun, bagaimana dengan Lau kongcu putera
ciangkun?" tanya Bok Kian.
"Ah, harap kongcu jangan berkata begitu," kata jenderal
Lau, "dalam peperangan tak ada lagi urusan keluarga.
Musuh hendak mencaplok negeri kita jangankan hanya
keluarga, bahkan jiwa kota sendiri kalau perlu harus rela
kita korbankan untuk menghancurkan musuh.”
"Bagus, jenderal Lau!" tiba2 kakek Lo Kun berseru
memuji, "itu baru seorang jenderal. Aku dulu juga begitu.
Waktu aku disuruh menjaga Somali seorang Persia yang
tinggi dan besar sekali, akupun rela mengorbankan segala
kesenanganku."
"Siapa yang suruh?"
"Tentu saja seri baginda," kata kakek Lok, "baginda
bilang kalau dia tak datang mengambil orang Persia itu, aku
tak boleh pergi dari tempat dia dipenjara. Akhirnya aku tak
tahu sampai berapa puluh tahun, tahu2 waktu aku keluar
dari gua, orang menjerit karena melihat aku. Mereka
mengatakan aku seorang kakek antik ..."
"Apa antik itu?" tanya jenderal Lau.
"Antik artinya kuno sekali atau jeman purba kata Lo
Kun.
Melihat pembicaraan akan menyimpang, pada hal2 yang
tak ada sangkut pautnya maka Bok Kian cepat menyela,
"Lau ciangkun, bagaimana tindakan ciangkun?"
"Sudah tentu akan kukerahkan pasukan untuk
menggempur mereka!"
“'Jangan ciangkun," cegah Bok Kian, "berbahaya bagi
keselamatan kongcu. Mereka adalah prajurit2 Ceng yang
ganas. Coba lihatlah, setiap kali mereka menduduki kota,
mereka tentu mengganas rakyat. Jika ciangkun
mengerahkan pasukan mereka tentu akan membuktikan
ancaman mereka."
"Tak apa, kongcu," kata jenderal Lau, “biarlah anakku
menjadi korban asal musuh dapat ditumpas."
"Ciangkun," tiba2 Sian Li ikut bicara, "apa yang
dikatakan kongcu ini memang benar. Jangan terburu-buru
mengerahkan pasukan dulu. Kita coba dulu dengan lain
jalan."
Sebenarnya dalam hati jenderal itu juga kelabakan
setengah mati kalau harus mengorbankan patera yang satusatunya
itu. Tetapi dihadapan putera keponakan dari mentri
Su Go Hwat, terpaksa dia jual lagak garang.
Waktu mendengar usul Sian Li, dia lalu bertanya,
"Bagaimana menurut pendapat nona.”
"Begini, ciangkun," kata Sian Li, "ciangkun titahkan saja
kepada beberapa perwira anakbuah ciangkun yang
berkepandaian tinggi untuk menyelidiki sarang mereka di
Lusan. Dan jika dapat, usahakanlah supaya membebaskan
Lau Kongcu dari cengkeraman mereka."
"Tepat!" setu Bok Kian, "aku setuju dengan saran nona."
"Ya, memang usul itu bagus sekali," sambut Jenderal
Lau, "tetapi bagaimana kalau gagal ?"
"Jika gagal barulah ciangkun majukan rencana yang
kedua yakni mengerahkan pasukan untuk menggempur
mereka," jawab Sian Li, "tetapi daripada harus
mengorbankan keselamatan kongcu, sebaiknyalah kita
tempuh jalan yang pertama tadi dulu."
Jenderal Lau mengangguk. Dalam pasukannya kiranya
hanya kedua pengawal peribadinya yakni Sin Tek Po dan
Kiang Hun yang memiliki kepandaian silat tinggi. Tetapi
ternyata tadi Sin Tek Po telah dikalahkan si bocah pekok
Uk Uk. Dan Kiang Hun tak beikutik terhadap Lo Kun.
"kalau begitu ...........”
"Nona," katanya kepada Sian Li, "apakah kau suka
membantu kami ?"
"Bagaimana maksud jenderal ?"
"Kurasa nona, kakek nona dan adik nona itu memiliki
kepandaian yang sakti. Bagaimana kalau aku minta
bantuan nona bertiga untuk melakukan penyelidikan ke
Losan ?"
Sian Li merasa bahwa karena gara2nya hendak memberi
pelajaran kepada Bun Sai, maka sampai pemuda itu
meninggalkan markas, dan ditangkap musuh. Dia memang
tak suka terhadap tingkah laku putera jenderal itu. Tetapi
karena anak muda itu sampai tertangkap pasukan musuh
harus berusaha menolongnya untuk menebusnya.
Bagaimanapun bagi Sian Li, semarah2nya terhadap
jenderal Lau dan puteranya, dia masih lebih benci terhadap
orang Ceng yang hendak menguasai negerinya.
"Baiklah, ciangkun, aku bersedia untuk lakukan tugas
itu," kata Sian Li,
"Terima kasih nona," kata jenderal "bukankah nona akan
berangkat -bersama kakek dan adik nona ?"
'Silakan jenderal tanya kepada mereka.”
"Kakek, bukankah engkau bersedia menemani nona ini
?”' tanya jenderal Lau.
"Hm, memang begitulah sifat seorang berkuasa dan
berharta. Kalau memerlukan baru bersikap manis. Tetapi
kalau tidak berminta tolong, huh, lagaknya bukan main!"
“Ciangkun," tiba2 Bok Kian berseru, “aku bersedia pergi
bersama nona ini."
Sebelum jenderal Lau menyahut, Lo Kun sudah
menyelutuk, "Uh, anak berwajah purnama jangan
meremehkan aku. Engkau kira aku takut masuk kedalam
sarang mereka ?"
"Mengapa lo cianpwe tidak mau pergi?”
"Siapa bilang tidak mau pergi ?" balas Lo Kun, "hm,
bulan purnama, ketahuilah, aku ini kakek aseli dari cucuku
Sian Li. Kalau cucuku sampai kena bahaya, aku tentu
ngamuk. Biar sampai mati tentu kujalani."
Bok Kian terkesiap tetapi pada lain saat dia tertawa.
"Lho, tertawa ? Siapa suruh engkau tertawa?" bentak Lo
Kun.
“Lo-cianpwe."
"Aku ? O, ya, benar, benar, ha, ha, ha.....
"Sudahlah, jangan banyak guyon," teriak jenderal Lou,
"sekarang siapkan siapa saja yang akan pergi ke Losan."
"Aku bersama kakekku ini." kata Sian Li
"Cic..... cici . ,. aku, aku ..... ikut !" seru Uk Uk.
"Ya, kami bertigalah yang akan pergi ciangkun," kati
Sian Li.
"Aku juga, nona," kata Bok Kian.
“Bok kongcu, mengapa kongcu hendak ikut?
berbahayalah kalau sampai terjadi sesuatu pada diri kongcu
nanti, "cegah jenderal Lou.
"Tidak, ciangkun," Bo Kian gelengkan kepala “setelah
menyampaikan pesan dari Su tay-jin, aku sudah tak punya
urusan penting lainnya lagi, biarlah aku ikut serta dengan
rombongan nona untuk membebaskan Lau kongcu."
"Hm, baiklah," kata jenderal Lau, "akan kusiapkan
sekelompok perwira yang pandai silat untuk membantu
perjalanan kongcu,*
"Kurasa, ciangkun dapat menyiapkan pasukan untuk
mengepung gunung itu, agar mereka jangan sampai lolos,"
kata Sian Li.
Sebelum jenderal sempat menjawab, Bok Kian sudah
berseru, "Liu ciangkun, jika ciangkun dapat meluluskan,
berilah aku duapuluh prajurit,"
“O. untuk apa ?"
"Biarlah rombongan nona ini mengambil jalan dari
muka. Gerombolan itu tentu memusatkan perhatian mereka
untuk menghadapi nona ini. Dan dengan prajurit itu aku
akan menyerang dari belakang gunung."
"Baik, kongcu," seru jenderal Lau," aku akan
menyiapkan pasukan untuk mengurung gunung itu."
Demikian setelah rencana sudah diputuskan maka Sian
Li, Lo Kun dan Uk Uk segera berangkat.
"Uh, pemuda berwajah terang itu, ksatrya juga. Dia mau
membantu kita. Eh, Sian Li, mengapa engkau mau
menempuh bahaya ini,” tegur Lo Kun.
'"Pertama. kita menghadapi pasukan Ceng. Menurut kata
jenderal Lau, mereka sudah merembes masuk ke daerah
pertahanan pasukan Beng. Ini berbahaya dan harus lekas2
disapu bersih.”
“Setuju !" seru kakek Lo Kun.
“Kedua, putra jenderal itu meninggalkan markas
ayahnya karena dihukum rangket. Dan hukuman itu terjadi
karena tindakan kita, bukan?"
"Ya."
"Oleh karena itu maka akupun merasa bertanggung
jawab atas keselamatan putera jenderal Lau. Kalau
puteranya sampai terkena bahaya, bulankah pikiran dan
hati jenderal itu akan kacau-balau? Dan kalau pikiran
kacau, dia tentu tak mampu untuk memimpin pasukannya
menghadapi serangan musuh."
"Ganti saja jenderal semacam itu. Dia hanya banyak
bersenang-senang dengan wanita2 cantik. Kalau perlu
biarlah aku yang menggantinya sebagai pimpinan pasukan."
Sian Li hanya tertawa.
Parjalanan ke gunung Lo-san cukup jauh. Keesokan
harinya mereka tiba di daerah kaki gunung, Uk Uk lapar
dan mereka singgah dulu di sebuah kedai dari sebuah desa
yang tak jauh dari gunung Losan.
"Paman, benarkah di puncak gunung Losan ada
gerombolan begal?" Sian Li bertanya kepada pemilik kedai.
"Apakah nona hendak melakukan perjalanan kesana?"
balas pemilik kedai itu.
"Ya."
Seketika wajah pemilik kedai itu berobah pucat, "Ah,
lebih baik jangan nona."
"Mengapa ?" tanya Sian Li.
"Gunung Losan telah dikuasai oleh gerombolan yang
dipimpin oleh Lo-san-sam-ho (tiga burung bangau dari
gunung Losan). Berbahaya sekali kalau sampai tertangkap
mereka."
"O, Lo-san-sam-ho ?" ulang Sian Li.
Belum pemilik kedai menjawab, kakek Lo Kun sudah
menyelutuk, "Bagus, kebetulan kami bertiga ini Se-kay-satok
!"
Pemilik kedai melongo, "Apa itu Se-kay-sat-ok ?"
"Se-kay-sat-ok artinya Pembasmi-penjahat di-dunia,
goblok !" teriak Lo Kun.
"Apa ? Kalian ini hendak membasmi orang jahat dalam
dunia ?" teriak pemilik kedai.
"Tentu, tentu," sahut Lo Kun dengan bangga.
"Wah, wah," guman pemilik kedai, “penjahat apa yang
akan dapat kalian basmi, kakek ?"
“Goblok !" teriak kakek Lo Kun, "arak itu baik atau jahat
?"
"Tidak baik buat yang tak suka. Baik bagi yang senang,"
sahut pemilik kedai.
"Jangan mencla-menele tak keruan. Bilang saja tidak
baik !" teriak Lo Kun, "nah, sekarang bawa keluar semua
persediaan arakmu, lekas !”
Entah bagaimana, seperti kena pengaruh gaib, pemilik
kedai itupun segera masuk dan kembali dengan membawa
sebuah guci sebesar gentong, "Inilah persediaan arakku."
"Bagus !" seru kakek Lo Kun, "tak perlu aku, cukup
cucuku bocah gendut itu tentu dapat membasmi arak jahat
ini."
"Uk, buang arak dalam gentong ini sampai habis!" teriak
Lo Kun. Sebelum pemilik kedai tahu apa yang akan terjadi,
tiba2 Uk Uk terus angkat gentong arak itu dan diteguknya.
"Sudah, eng, engkong....," Uk Uk meletakkan gentong
yang ternyata sudah kosong isinya. Pemilik kedai
terlongong- longong. Mulut melongo, mata mendelik. Ia tak
pernah menyaksikan seorang bocah dapat meminum
segentong arak sampai habis ludas.
"Nah, sekarang percaya tidak engkau ?" seru Lo Kun
dengan bangga, "setiap manusia sesat, barang jahat, tentu
akan kami sikat sampai ludas.
Tiba2 pemilik kedai itu tersadar. Serunya, boleh saja
anak itu menghabiskan arakku yang istimewa itu tetapi
harus bayar !"
"Apa ? Suruh membayar ? Edan engkau !" kakek Lo
Kun, sudah kubantu engkau membasmi barang jahat,
mengapa malah minta bayar ? Sebenarnya engkau yang
harus membayar kami!"
“Tidak ! Engkau harus membayar arak itu !"
Sian Li kaget karena Uk Uk dapat minum habis
segentong arak. Dia menyadari kakek Lo Kun tentu akan
bikin rusuh di kedai itu. Maka buru2 dia bilang, "Jangan
ribut, paman. Berapakah harga arakmu yang dihabiskan
adikku itu
"Gentong itu berisi 20 kati arak, tiap kati harganya satu
tail perak ....... "
"Baik, nanti akan kubayar semua,” kata Sian Li,
"sekarang tolong kasih bubur dan sayur.
Tak berapa lama pesanan itupun disediakan. Setelah
selesai makan maka Sian Lipun membayar rekeningnya.
Saat itu matahari sudah sepenggalah tingginya, Sian Li,
Lo Kun dan Uk Uk segera melanjutkan perjalanan naik ke
gunung Lo San.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 19.
Jamblang kocok
Memang apa yang dikatakan pemilik kedai itu benar.
Belum berapa lama mendaki gunung, Sian Li bertiga sudah
dihadang oleh sekelompok crang2 kasar.
"Berhenti," kata salah seorang yang bertubuh tinggi
besar, "mau kemana kalian ini?"
"Menikmati pemandangan gunung Losan yang terkenal
indah alamnya," sahut Sian Li.
"O, nona manis, mau piknik ya?"
"Cis," desis Sian Li.
"Bagus, mari kita antarkan naik keatas," kata lelaki itu
pula dengan tertawa.
"Tak perlu," jawab Sian Li, "aku dapat berjalan sendiri."
Lelaki tinggi besar itu tertawa, "Memang benar,"
katanya, "tetapi di puncak gunung ini ada yang menguasai.
Gunung ini bukan tempat pesiar. Tetapi bagai seorang nona
yang cantik, pemimpin kami tentu menyambut dengan
gembira."
"Hus, orangutan, jangan kurangajar terhadap cucuku!"
bentak Lo Kun.
"Bajingan, kutampar mulutku nanti!" teriak Uk Uk pula.
Lelaki tinggi besar itu terbeliak. Ia merasa anak itu
memakinya tetapi aneh, mengapa anak itu hendak
menampar mulutnya sendiri?
Sudah tentu dia tak mengerti bahwa Uk Uk mempunyai
istilah sendiri dengan kata aku-engkau, "Eh, babi kecil,
siapa yang engkau maki bajingan itu?" serunya.
"Aku, orangutan!" sahut Uk Uk.
"Engkau?"
"Hm."
"Ha, ha, babi gemuk, engkau sudah gila barangkali,
mengapa engkau memaki dirimu sendiri.”
"Orang gila! Engkau memaki aku, bukan engkau memaki
engkau sendiri!"
"Babi engkau ini!"
"Benar aku memang babi sung , . . . sung …… guh!"
"Ha, ha, ha ... . hauppppp," lelaki tingi besar itu tertawa
ngakak tetapi tiba-tiba mulutnya kemasukan benda bundar
yang hampir menerobos masuk ke dalam kerongkongan.
Sudah tentu dia gelagapan dan terbatuk-batuk. Huak, lalu ia
muntahkan benda itu. Ah, ternyata sebutir telur asin.
Tadi waktu di kedai, Uk Uk minta direbuskan telur titik
untuk bekal. Melihat lelaki tinggi besar itu tertawa lebar,
tangan Uk Uk terasa usil, ia menjemput sebutir telur dan
dijentikkan ke mulut orang. Akibatnya lelaki tinggi besar itu
keselak dan muntah2.
"Ha, ha. ha ....," terdengar kakek Lo Kun tertawa
ngakak.
Sudah tentu lelaki tinggi besar itu marah sekali. "Babi
cilik, kusembelih engkau !" dia terus loncat menerkam Uk
Uk.
Plak .... tetapi Uk Uk sudah menyelinap ke samping dan
menampar pipi orang. Beberapa kawannya yang melihat
lelaki tinggi besar dipermainkan Uk Uk, ikut marah dan
terus berhambur menerkam Uk Uk.
Plak, plak, plak ....
Tiga orang yang menyerbu Uk Uk itu menjerit kesakitan
karena pipinya mendapat hadiah tamparan dari Uk Uk.
Lelaki tinggi besar sekonyong-konyong menerkam. Uk
Uk lari belakang. Begitu dapat mensengkeram tubuh Uk Uk
terus diangkat keatas hendak dibanting, aduhhhh,
aduhhhh......belum sempat ia melemparkan tubuh Uk Uk,
tapi Uk Uk sudah menyambar kedua telinga orang itu dan
dipelintirnya keras2
Lelaki tinggi besar itu mati kutu. Kalau dia membanting
Uk Uk, jelas telinganya tentu akan ikut tertarik putus.
Tetapi dia tak sempat memikirkan hal itu karena telinganya
benar sakit sekali, aduhhhh.....
"Hayo, turunkan engkau!" teriak Uk Uk. Walaupun
menderita kesakitan yang hebat, tetapi orang itu masih
sempat terbeliak ketika mendengar kata2 Uk Uk. Mengapa
dia suruh menurunkan ‘engkau ' "Apakah aku harus
menurunkan diriku sendiri?
Tiba2 lelaki tinggi besar itu mengendapkan tubuh
berjongkok. Mungkin ini yang dimaksud babi cilik,
pikirnya.
"Turunkan engkau!" teriak Uk Uk pula. Ia memelintir
telinga orang makin keras.
"Aduh . . . ya, ya . . . , " dia tak sempat merenungkan
kata2 Uk Uk yang aneh itu dan terus menurunkan Uk Uk.
Uk Uk menggeliat berdiri tetapi masih menguasai kedua
telinga si tinggi besar, "Jawab . . . bu…… kankah aku ini
gerombolan begal gunung Losan?"
Lelaki tinggi besar itu mendelik, sahutnya, "Bukan,
engkau bukan gerombolan begal gunung Losan, engkau
orang asing yang datang kemari."
"Orang edan!" bentak Uk Uk, "siapa bilang aku ini orang
asing?"
"Bukankah engkau tetamu yang baru tiba digunung ini?"
seru lelaki tinggi besar pula.
"Bukan, aku bukan tetamu tetapi gerombol-begal gunung
ini. Hayo, mau mengaku atau kau putuskan telingaku!"
Dalam kesakitan itu, si tinggi besar masih dapat menilai
kita2 Uk Uk, "Baik, aku tak mau ngaku .... aduhhhhhhh!"
Dia menjerit keras sekali karena telinganya dipelintir Uk
Uk sedemikian rupa sehingga putus separoh. Darah
bercucuran mengalir ke lehernya. "Uk, lepaskan," melihat
itu kakek Lo Kun menyambar kedua tangan si tinggi besar
di telikung ke belakang.
"Mengapa engkau bandel?" bentak kakek Lo Kun.
Sambil mengerang-erang, si tinggi besar memaki,
“Bangsat gendut itu suruh aku tak mengaku nanti aku boleh
memutuskan telingaku, ternyata dia bajingan cilik yang tak
kena diturut omongannya ..... "
"Engkau yang salah, goblok!" Lo Kun balas dampratnya.
"Kenapa salah?"
"Uk Uk mempunyai bahasa sendiri, tahu!"
"Uk Uk? Siapa Uk Uk?"
"Itu adalah cucuku yang perutnya buncit itu, goblok!"
"O . . . aduh," tiba2 si tinggi besar memekik kesakitan.
Waktu sedang berbicara, ia hendak menggunakan
kesempatan untuk meronta tetapi akibatnya tulang
lengannya malah seperti mau patah.
Sekalian kawannya heran mengapa si tinggi besar yang
terkenal bertenaga paling kuat diantara kawan-kawannya,
tak mampu berkutik ditelikung seorang kakek pendek.
"Apakah mereka bukan bangsa manusia ?” bisik salah
seorang kepada kawannya. Mereka menyaksikan
bagaimana seorang bocah berperut buncit mampu menjiwir
telinga si tinggi besar dan kini si tinggi besar itu ditelikung
oleh seorang kakek pendek.
"Mungkin juga," kata kawannya.
"Ah, tidak, mereka bukan bangsa dedemit. Nona itu
seorang manusia biasa."
"Ya, memang. Kalau nona itu memang gadis biasa tetapi
bocah dan kakek itu, coba kau lihat, apa bangsa manusia
mempunyai potongan tubuh seperti itu. Si kakek pendek
dan berwajah seperti patung. Si bocah perut buncit,
mukanya bundar seperti bulan purnama . . , ."
Demikian basak-bisik di antara anggauta rombolan yang
dipimpin si tinggi besar itu.
"Kakek kate, jangan menyakiti aku. Kalau mau bunuh,
bunuhlah saja," seru si tinggi besar.
“Buat apa membunuh engkau?" sahut Lo Kun.
"Hm, berani membunuh aku, pemimpinku lentu akan
mencincangmu !''
'O, mengancam ya ?" seru kakek Lo Kun, "baik,
panggillah kepalamu kemari" — Ia terus lepaskan si tinggi
besar.
"Tunggu !" teriak Sian Li ketika si tinggi besar hendak
angkat kaki.
"Apa mau menangkap aku lagi ?" tanya orang tinggi
besar itu.
"Tidak," sahut Sian Li, "kakekku telah bermurah hati
mengampuni engkau. Kalau engkau seorang manusia baik,
engkau harus menghaturkan terima kasih. Tetapi aku tak
perlu mendapat pernyataan terima kasihmu. Cukup kalau
engkau mau menjawab pertanyaanku dengan sejujurnya,"
"Apa yang hendak engkau tanyakan?"
"Apakah gerombolanmu menangkap seorang pemuda
dan pengiringnya ?"
Tidak!"
"Bohong !" hentak Sian Li," aku tak perlu tanya
kepadamu lagi. Lekas panggil kepalamu."
Orang tinggi besar itu segera mengajak kawan-kawannya
naik gunung. Beberapa waktu kemudian mereka muncul
lagi.
“Ji-saycu kami mengundang kalian naik keatas," kata si
tinggi besar.
Ji artinya kedua. Say artinya markas gerombolan. Cu
artinya kepala. Ji say-cu berarti pemimpin kedua.
"Boleh, takut apa?" seru kakek Lo Kun "Uk, hayo kita
obrak-abrik sarang mereka."
Demikian mereka bertiga dengan diiring oleh belasan
anakbuah gerombolan segera naik ke atas gunung. Selama
dalam perjalanan itu Sian Li sempat memperhatikan
keadaan di gunung itu. Ia seperti mendapat kesan bahwa
tak ada jejak2 tentang pemusatan pasukan Ceng.
Markas mereka terletak di sebuah lembah yang strategis
sekali. Lembah itu dikelilingi jurang yang terjal. Hanya ada
sebuah mulut jalanan yang mencapai lembah itu.
Sian Li berhadapan dengan-seorang lelaki muda yang
berwajah aneh. Hidungnya mancung sekali, mata sipit dan
kening lebar.
"Apa maksud kedatangan kalian ke gunung ini?" tanya
orang itu.
"Siapa engkau?" balas Sian Li.
"Aku ji-saycu Li Kong dari Losan."
"Aku hendak minta seorang tawanan yang kalian
tangkap," kata Sian Li secara langsung.
"Tawanan? Tawanan apa?"
"Jangan berpura-pura," seru Sian Li, "kalian berkomplot
dengan pasukan Ceng untuk menculik Lau kongcu, putera
jenderal Lau Cek Jit di Sanse."
Orang itu terkejut, "Jangan bicara sembarangan saja.
Kami tak tahu menahu soal anak jenderal itu."
"Hm, dengan syarat apa engkau bersedia memberi
pengakuan?"
"Lho, apa maksudmu?" Li Kong terkesiap.
"Maling tentu tak ada yang mau mengaku kalau tidak
digebuk," kata Sian Li, "maka kutanya kepadamu, dengan
pakai syarat apa baru engkau mau mengaku?"
Li kongcu kicupkan matanya, "O, maksudmu engkau
hendak menantang berkelahi adu kepandaian?"
"Ya," jawab Sian Li, "kalau engkau kalah engkau harus
membebaskan putera jenderal Lau.”
"Kalau engkau yang kalah?" balas Li Kong.
"Kalian harus menyiapkan perjamuan besar untuk kita
bertiga," selutuk Lo Kun.
"O, engkau kakek tua renta. Mengapa engkau belum
mati?"
"Siapa yang suruh mati?"
"Orang seperti engkau kalau belum mati tentunya
menghabiskan bahan makanan saja."
"Ya, benar," sahut kakek Lo Kun, "aku sendiri juga tak
tahu mengapa aku belum mati. Hus, jangan bicara tak
keruan. Sekarang engkau berani terima tantangan cucuku
tidak?"
"Boleh."
'Engkau boleh memilih lawan dengan siapa kau akan
bertanding."
"Aku pilih nona itu saja."
"Banci !" teriak kakek Lo Kun, "mengapa engkau
seorang lelaki memilih bertanding lawan seorang dara ?"
"Itu yang tepat," sahut Li Kong," aku perjaka. Kalau
nona itu kalah, dia harus ikut aku.”
Sian Li tersipu merah mukanya. Cepat menghardik,
"Jangan banyak mulut, lekas engkau maju dan mulailah
kita adu kepandaian."
Li Kong serentak berbangkit dan menghampiri ke muka
Sian Li.
"Silakan menyerang dulu," seru Sian Li.
Li Kong membuka serangannya dengan suatu gerak
terkaman ke punggung si nona. Tetapi dengan mudah
serangan itu dapat dihindari Sian Li.
Keduanya segera terlibat dalam pertempuran yang makin
lama makin seru. Diam2 Li Kong terkejut mengapa seorang
dara yang cantik dapat mengimbangi permainannya.
Tiba2 Sian Li mundur dan berseru, "Silakan periksa
bijumu....."
Ketika Li Kong menunduk untuk memeriksa bajunya
ternyata sebuah kancing telah copot, entah kemana.
"Engkau memang lihay sekali. Tetapi jangan buru2
bersorak dulu. Kita bertempur pakai senjata saja,"
"Baik," Sian Li menerima tantangan. Li Kong memang
hebat. Dia dapat memainkan ilmugolok dengan hebat
sekali. Ilmu golok itu disebut Suan-hong-to atau ilmu golok
Angin-puyuh. Sesuai dengan namanya golok Li Kong
memang berputar seperti angin puyuh.
Tetapi Sian Li tetap dapat mengimbangi permainan
lawannya. Dia mainkan ilmupedang Giok-kiam-hwat atau
ilmupedang Bidadari.
Li Kong penasaran sekali. Dia adalah tokoh nomor dua
dari gunung Losan. Dihadapan anak-buahnya, dia tak
mampu mengalahkan seorang nona cantik yang tak dikenal.
"Ho, ho, cucuku Sian Li sekarang bertambah maju
kepandaiannya," seru Lo Kun, "hai, mata sipit, begitu
macam kepandaian yang engkau miliki, mengapa tak
menyerah saja !"
"Eng, eng . . . kong .. . dia mir, mir. . . rip. burung ba ...
ngau . . .," seru si pekok Uk Uk dengan nada tergagapgagap.
"Ya, benar, hidungnya begitu panjang seperti paruh
burung bangau," sahut kakek Lo Kun.
"Tapi bang . .. bangau itu paruhnya hi . . . hitam . . .
tidak me.. me… merah seperti dia ..."
"Ha, ha, ha," kakek Lo Kun tertawa mengakak," itu
bangau gadungan namanya." Eh, tetapi hidung harimau itu
juga merah, Uk."
'Kalau, kalau beg. .. begitu . . . dia bangau harimau, eng,
engkong . . ."
"Hai," teriak kakek Lo Kun," hidung harimau itu kalau
direndam arak, rasanya nikmat sekali,. Uk. Apa engkau
sudah pernah makan ? He setan cilik, engkau sudah pernah
makan, jangan bilang belum!"
"Kapan ?"
"Itu lho, arak yang pakai isi butir2 merak dan rasanya
kenyal2 enak itu."
"Lho, eng . . . engkong ., . bilang itu dawet hidung . . . ."
"Itulah !" teriak Lo Kun, "ya, memang saat itu kubilang
dawet hidung, sebenarnya hidung harimau kucacah dan
kurendam dengan arak. Bagaimana rasanya, Uk ?"
"Syurrr sekali eng… engkong !"
"Kalau begitu," tiba2 Lo Kun berseru kepada Sian Li,
"Sian Li, potonglah hidungnya yang panjang itu. Akan
kubuat campuran arak.
Sejak mendengar pembicaraan antara Kun dengan Uk
Uk tadi, walaupun sudah berusaha untuk menghilangkan
tetapi karena si kakek dan bocah itu bicara keras sebebasbebasnya,
terpaksa Li Kong mendengar juga. Dirinya
disebut seperti burung bangau, sudah membuat darahnya
naik. Apalagi waktu dikata hidungnya yang merah seperti
bangau-harimau, dia makin marah. Dan meledaklah
kemarahannya ketika hidungnya hendak di potong
dijadikan campuran arak. Bagaimana pun, dia tak dapat
menguasai diri lagi.
"Kakek bangsat, mampus engkau !" dengan menggerung
seperti harimau, Li Kong loncat ke samping untuk
membabat tubuh Lo Kun.
"Engkau edan !" teriak Lo Kun yang karena terkejut atas
serangan tak terduga-duga itu sambil buang tubuh ke
belakang dan bergelundungan di lantai,
Luput membabat Lo Kun, Li Kong melanjutkan untuk
menabas tubuh Uk Uk, 'Babi cilik, kusembelih engkau !
"Aduhhhhh.....!"
Uk Uk juga terkejut sekali atas serangan Li Kong itu.
Rasa kejut telah menggelorakan darahnya dan karena darah
bergolak maka isi perutnya meledak keluar, pufff. .. ia
menyembur. Arak dalam perutnya segera mencurah ke
muka Li Kong; rasakan mukanya seperti tersiram air panas,
celakanya, beberapa percik arak panas Uk Uk telah
menabur biji matanya. Semburan arak yang dilakukan Uk
Uk itu dilakukan dengan amat kerasnya. Li Kong menjerit
dan mendekap matanya yang pecah. Namun tokoh kedua
dari gunung Losan ini memang keras wataknya. Dia marah
sekali menerima derita kesakitan yang sedemikian hebat.
Setelah mengarahkan tempat Uk Uk berdiri, tiba2 dia terus
loncat untuk membenturkan kepalanya ke tubuh anak itu.
Dia kerahkan segenap tenaga untuk membentur. Kalau dia
harus mati, biarlah anak itu juga mampus. Demikian
tekadnya.
Tetapi saat itu Uk Uk cukup waspada loncat menghindar
ke samping dan darrrr . …. luput membentur Uk Uk, kepala
Li Kong terus membentur tiang yang terbuat dari batu,
Seketika terjadilah pemandangan yang amat mengerikan! Li
Kong terkapar di lantai berlumuran darah, kepalanya pecah
......
Melihat itu gemparlah sekalian anakbuah gunung Losan.
Mereka serempak menyerbu ketiga orang itu. Pertempuran
berlangsung dahsyat dan acak-acakan. Tetapi
bagaimanapun beraninya, karena melihat sekian banyak
kawan2 yang menggeletak rubuh, mau tak mau pecah juga
nyali kawanan
anakbuah gunung
Lo san itu. Mereka
yang masih belum
terluka. segera
melarikan diri.
Sian Li juga
sudah terlanjur
mengumbar
kemarahan.
Setelah dapat
menghancurkan
musuh, dia segera
mengajak Lo Kun
dan Uk Uk untuk
menyerbu kedalam
sarang mereka,
mencari Bun Sui.
Tetapi sampai
beberapa waktu
menyelidiki
segenap penjuru,
mereka tak menemukan barang seorang tawanan.
"Aneh," gumam Sian Li, "dimanakah mereka menyikap
putera jenderal dan para pengiringnya itu?"
Tiba2 mereka mendengar suara orang yang berisik.
Buru2 mereka keluar. Ternyata sisa anak buah Li Kong
yang melarikan diri tadi muncul kembali dengan mengiring
dua orang lelaki setelah tua. Yang seorang mengenakan
jubah pertapaan dan yang seorang berpakaian biasa.
"Omitohud!" seru pertapa setengah tua itu demi
menyaksikan keadaan markas yang porak-poranda dan
anakbuah yang menggeletak di lantai.
"Itulah mereka, toa-saycu, yang telah membunuh jisaycu!"
seru seorang anakbuah kepada pertapa itu.
"Benarkah sicu bertiga yang telah membunuhi mereka?"
tegur pertapa itu.
"Maaf, totiang, siapakah totiang ini?" balas Sian Li.
"Aku Lo san siangjin, tokoh pertama dari san-sam-ho,"
sahut pertapa itu.
Mendengar suara orang yang ramah, Sian Li pun agak
reda kemarahannya, "O, totiang ini kepala dari gerombolan
gunung Losan?"
"Ah, li-sicu terlalu berat menjatuhkan anggapan terhadap
Losan," kata Losan siang jin, "yang berada di gunung
Losan ini bukan gerombolan melainkan sebuah keluarga
besar dari rakyat miskin yang telah kehilangan segala
miliknya karena akibat perang."
"Ah, totiang seorang pertapa, mengapa totiang masih
suka mengelabuhi orang?" kata Sian Li.
"Bagaimana maksud li-sicu?" tanya pertapa dari gunung
Losan itu. Li artinya perempuan, dan sicu adalah sebutan
yang diucapkan seorang paderi, imam dan pertapa terdapat
seseorang.
"Orang2 Losan telah bersekutu dengan pasukan Ceng
sehingga pasukan Ceng bisa men'yusup ke gunung ini."
"Li-sicu, jangan menuduh semena-mena. Tuduhan yang
tak berdasar bukti, berarti fitnah."
"Tetapi itu suatu kenyataan," masih Stan Li bersikeras.
"Apakah li-sicu dapat membuktikan tentang persekutuan
itu?"
"Totiang," jawab Sian Li, "untuk mengelabuhi perhatian
orang, memang banyak sekali caranya. Prajurit2 Ceng itu
dapat menyembunyikan diri di daerah gunung yang begini
luasnya. Tatapi ada sebuah bukti yang kuat, yang tentu tak
dapat totiang sangkal lagi."
"Silakan li-sicu mengatakannya," kata pertapa Losan
yang masih tetap tenang2.
"Siapa yang menangkap putera jenderal Lau Cek Jing
yang berjalan melalui daerah gunung ini?"
"Putera jenderal Lau Cek Jing?" pertapa Lo-san
mengulang, "ah, harap li-sicu jangan bergurau.”
"Siapa yang bergurau dengan totiang? Aku bicara dengan
sungguh2."
"Jika demikian halnya," kata pertapa itu, akupun akan
menjawab dengan sungguh2 bahwa kami tak tahu menahu
soal putera jenderal Lau.”
Bagaimana kalau aku dapat membuktikan putra jenderal
Lau itu disembunyikan di daerah Losan ini?"
"Silakan mencari. Kalau benar anakbuah kami yang
melakukan, aku bersedia menerima hukuman.”
"Lho, apakah totiang bersungguh-sungguh?"
"Ya."
"Mengapa totiang bersekutu dengan pasukan Ceng.”
"Li-sicu," kata pertapa itu, "seorang pertapa diharuskan
untuk memiliki kesabaran dan ketenangan. Tetapi kalau
terus menerus dituduh berhianat pada negara dan menculik
putera seorang jenderal, kurasa kesabaran itu akan habis.
Karena kesabaran itu juga ada batasnya."
Melinat ketenangan dan kesungguhan kata orang, Sian
Li agak bersangsi.
"Ah, pertapa, memang lidah itu tak bertulang," tiba2
kakek Lo Kun berseru, "bisa saja kau ngomong yang indah2
tetapi buktinya anak jenderal itu memang hilang di gunung
ini. Hay engkau mau mengembalikan atau tidak? Kalau
tidak, terpaksa engkau harus kususulkan orang-orangmu
yang sudah pulang ke akhirat itu!"
"Siancay! Siancay!" seru Losan siangjin, janganlah lojin
tergesa-gesa menghambur tuduhan. Pinto, Losan siangjin,
sudah lama mengundur ciri dari dunia persilatan. Pinto
mengasingkan ke gunung ini karena jemu melihat keadaan
masyarakat negara yang diperintah raja Beng. Tetapi bukan
berarti pinto akan menghianatinya. Di gunung ini pinto
banyak menerima murid2 dan pengikut-pengikut. Kepada
mereka kutanamkan pendirian yang tegas bahwa setiap
murid dan anakbuah gunung Losan tak boleh berkawan
dengani orang Ceng. Kalau birani melanggar, tentu akan
menerima hukuman berat."
"Ah, itu urusanmu sendiri, pertapa,” kata Lo Kun,
“pokoknya, jenderal Lau telah mengatakan minta bantuan,
kepada kita untuk mencari anaknya yang hilang ditangkap
musuh di gununng ini. Kalau tak mau mengembalikan,
gunung ini akan kami ratakan dengan tanah!"
'"Siancay ! Siancay!" pertapa itu berseru, "tidakkah lojin
(orangtua) merasa kasihan kepada rakyat disini kalau
sampai gunung ini rata dengan tanah? Bukankah mereka
akan tertimpa guguran tanah?' Bukankah binatang2 buas
akan berhamburan masuk kota? Disini masih banyak
harimau buas."
Rupanya tajam sekali pandangan pertapa ini. Mendengar
kata2 Lo Kun, cepat dia dapat ketahui bahwa kakek itu
tidak normal pikirannya, maka sengaja ia merangkai kata2
untuk mengolok-olok.
"Aya !" teriak kakek Lo Kun, "harimau apakah ada
harimau hitam?”
"Segala macam harimau ada, lojin."
"Wah, kalau begitu sayang jika gunung ini diratakan
dengan bumi. Macan2 hitam itu tentu mengungsi ke
tempatku," kata Lo Kun, Losan siangjin melongo. Dia tak
tahu bahwa itu tinggal di gua Hek-hou-tong (gua Macan
hitam) di gunung Hok-hou-san.
"Li-sicu, kami benar2 tak tahu menahu soal putera
jenderal Lau Cek Jing yang hilang
===
Halaman 22-23 tidak ada. Lupa discan kali
===
"Babi kecil, kubedah ususmu !" teriaknya seraya loncat
menerkam Uk Uk. Dia tak percaya kalau bocah yang
perutnya buncit akan mampu menghindar.
"Pfufff !" tiba2 Uk Uk menyembur. Karena tadi dia dapat
menyembur Li Kong, maka teringatlah dia kalau perutnya
masih ada persediaan arak yang diminumnya di kedai tadi.
"Uh ……. Ui Bin terkejut. Karena tak berjaga-jaga,
hampir saja biji matanya pecah. Tetapi untunglah dia dapat
menutup kelopak matanya dengan cepat sehingga hanya
mukanya yang terhambur percikan arak. Tetapi hal itu
sudah cukup membuatnya menjerit kesakitan karena
rasanya seperti disembur air panas.
Adalah karena diminumi kakek Lo Kun sampai delapan
butir buah som yang tumbuh didasat laut sampai seribu
tahun, maka Uk Uk mempunyai tenaga-dalam yang panas.
Adalah karena panas itu rambutnya sampai tak dapat
tumbuh dan hanya bagian belakang seperti orang kuncir.
Setelah masuk kedalam perut, arak itu menjadi panas
sehingga waktu disemburkan, Ui Bun seperti disiram air
panas.
"Ha, ha, ha, ha .... ," Lo Kun tertawa mengakak, "baru
bergebrak sudah mundur, dasar kunyuk gunung!"
Ui Bin hendak maju tetapi dicegah Lo-san siangjin yang
kemudian berkata, "Si-cu, engkau lihay sekali, dapat
menyembur arak dari perut. Apakah si-cu mau menyembur
aku?"
Uk Uk berpaling kepada Lo Kun, "Eng ... engkong .. . or
. .. orang . . apa ini?"
"Pertapa."
"Ap . . apaaa pertap .. . tapa itu?"
"Pertapa adalah orang yang duduk semedhi di gunung
yang sunyi untuk rnensucikan batinnya."
"Wah, ka, kalau begitu ... . sama dengan bangsa bin ..
binatang bu, bu . . . as?"
"Hus, bukan!"
"Meng, mengapa tinggal di, di hutan?"
"Babi, kecil!, jangan kurang ajar terhadap toakoku!" Ui
Bin karena toako atau saudara tuanya dibuat main oleh Uk
Uk. Tetapi Lo-san siangjin tenang2 saja.
"Siau-situ, lekas semburlah aku," katanya.
"Lho, tidak mau!"
"Mengapa?"
"Masakan engkau suruh nyembur engkau sendiri”
"Bukan, engkau sembur aku," kata pertapa.
"0, aku juga bisa nyembur? Boleh, si . . lahkan."
Lo-san siangjin terbeliak. Dia heran atas kata2 bocah
gemuk itu.
"Engkau," katanya seraya menuding Uk "boleh
menyembur aku . . . , " ia menunjuk pada dirinya.
"Ya, boleh," seru Uk Uk. Tetapi sampai sekian jenak
belum juga Uk Uk bergerak, padahal Lo-san siangjin sudah
siap. Sudah tentu pertapa itu heran.
"Mengapa engkau diam saja?" tegurnya.
"Lho, aneh, mengapa aku diam saja?" balas Uk Uk.
"Engkau yang menyerang," pertapa menunjuk Uk Uk.
"Ya, boleh. Silakan."
"Lho, engkau ini bagaimana?"
"Habis, bukankah aku yang menyerang dulu?"
"Ya."
"Mengapa aku tak mulai?"
"Lho, kenapa tidak?" seru pertapa itu.
"Tanya pada aku sendiri," sahut Uk Uk.
"Eh, siau-sicu, apakah engkau ini waras? Tampaknya
engkau ini tidak waras pikiran," karena jengkel pertapa itu
berkata.
"Mung, mungkin be . . . nar. Aku, aku . . . memang ti, ti,
tidak waras . . . . “
"Ah, kemungkinan bocah ini memang gila,” pikir
pertapa. Kalau begitu percuma berhadapan dengan dia. Ia
berpaling ke arah Sian Li, katanya, "Li-sicu, adikmu itu
tentu tak waras pikirannya. Harap suruh dia menyingkir
saja."
Sian Li terpaksa tersenyum, "Tidak, dia tidak gila hanya
totiang yang tak tahu kepadanya.”
"Tak tahu bagaimana?" tanya pertapa.
"Dia mengartikan kata ' aku ' itu adalah kau dan kata '
engkau’ itu berarti aku. Coba renungkan pembicaraannya
tadi. Dia mengira totiang yang hendak menyerang maka dia
menunggu. Dan totiang tentu mengira dia yang akan
bergerak maka totiangpun menunggu," Sian Li memberikan
keterangan.
Setelah merenung sejenak, pertapa itu baru kaget, "Ah,
benar, memang kalau diartikan begitu, akulah yang disuruh
menyerang dulu. Tetapi mengapi anak itu membalik
arti.kata aku dengan engkau? Siapa yang mengajarnya
begitu?"
"Ini orangnya, akulah," seru kakek Lo Kun.
"Lho, itu kan membingungkan orang?" kata pertapa.
"Siapa suruh bingung?" balas Lo Kun, kalau bingung, itu
urusan orang lain. Tetapi dia tidak merasa bingung."
"Mengapa lojin tak membetulkan kesalahan itu?" tanya
pertapa.
"Siapa bilang tidak? Sudah beberapa kali kuberi
keterangan tetapi dia menolak. Dia mengatakan pelajaran
itu sudah terlanjur melekat di otaknya, sukar dihapus. Aku
bisa berbuat apa lagi?"
Lo-san siangjin mendapat kesan bahwa saat itu dia
sedang berhadapan dengan sekawan manusia yang aneh.
Seorang kakek pendek yang linglung dan seorang bocah
gemuk yang sinting. Hanya nona itu saja yang normal
pikirannya.
Setelah mendapat penjelasan dari Sian Li maka Lo-san
siangjin lalu mencobanya, "Hai, siau-sicu, akulah yang
mulai menyerang!"
"O, begitu? Mengapa tadi tak bilang?" kata Uk Uk. Ia
segera kerahkan semangat dan berdiri pada jarak dua meter
dari Lo-san siangjin, "terimalah . . . .! "
Securah arak segera menyembur kearah Lo-san siangjin
tetapi pertapa itu juga cepat menghambur tiupan dengan
mulut. Ternyata semburan arak Uk Uk itu terdampar ke
samping.
Uk Uk terkejut. Ia menyembur lagi tetapi tetap tak
berhasil. Sampai tiga kali juga gagal.
"Uk, berhentilah," seru Lo Kun, "pertapa itu memang
hebat, biar aku yang menghadapinya, tua lawan tua."
Uk Uk menurut dan sekarang Lo Kun yang maju
kehadapan Lo-san siangjin.
"Omitohud!'' seru Lo-san siangjin, "kita orangtua,
mengapa harus berkelahi? Kalau hendak berkelahi, apa lojin
berani melawan karang itu?"
"Lho, aku ini kan orang, mengapa disuruh berkelahi
melawan batu?"
"Manusia dengan binatang unggul mana?"
"Terang unggul manusia."
"Dengan batu unggul mana?"
"Terang unggul manusia."
"Lhah, mengapa lojin takut melawan batu itu?"
"Siapa bilang takut?" teriak Lo Kun, "coba tunjukkan
batu yang mana!"
Lo-san siangjin menghampiri segunduk batu karang
sebesar kerbau yang berada di halaman "Inilah musuh
lojin."
"Lalu suruh aku bagaimana?"
"Angkat!''
"Wah, tidak bisa."
"Gigit!"
'"Eh, jangan gila-gilaan, pertapa. Masakan orang disuruh
gigit batu."
"Kalau begitu pukul saja."
"Nah, begitulah," kata Lo Kun seraya bersiap-siap.
Setelah menyingsing lengan baju, dia terus ayunkan
tujunya, prakkkk.....Segumpal batu berhamburan tetapi
cuma sebagian saja itupun Lo Kun harus meringis karena
menahan kesakitan.
"Pertapa, engkau menipu aku!" teriaknya.
"Menipu bagaimana?"
"Ternyata tanganku sakit sekali."
Mau tak mau terpaksa Lo-san siangjin geli dalam hati.
Makin tebal dugaannya bahwa Lo Kun itu memang seorang
kakek linglung.
"Siapa yang suruh sakit?" Lo-san siangjin menirukan
perkataan Lo Kun.
"Uh . . . , " Lo Kun tak dapat menjawab kecuali hanya
mendengus.
"Aku tidak menipu. Lihatlah aku juga akan
pemukulnya," seru Lo-san siangjin. Dia tidak mendekati
batu seperti apa yang dilakukan Lo Kun melainkan dari
jarak satu meter dia ayunkan tangannya, bummmm .... batu
karang yang sebesar kerbau itupun pecah berantakan.
"Biat-gong-ciang yang sakti!" Sian Li memuji.
"Bukan, li-sicu," kata Lo-san siangjin, "bukan B'at-gong
ciang tetapi Kim-kong-ciang yang sudah duapuluh tahun
pinto pelajari."
"Sayang
"Mengapa li-sicu mengatakan begitu?" tegur Losan
sianjin.
"Totiang mempunyai kepandaian yang begitu sakti,
mengapa totiang rela bersekutu dengan orang Boan yang
jelas hendak menjajah kita?"
"Li-sicu, jangan menghambur fitnah!" seru Lo-san
siangjin, "hidupku sudah ibarat matahari yang mulai
merebah ke barat. Mengapa dalam menjelang senja itu aku
tidak ingin mencari kesenangan dan keteduhan? Perlu apa
aku harus membantu orang Boan? Pangkat, harta atau
nama? Ah sudah lampau. Aku tak menginginkan semua.
Aku hanya butuh ketenangan dan kedamaian."
Sian Li bersangsi. Menilik sikap dan ucapan pertapa itu,
memang tak ada tanda2 dia bersekongkol dengan pasukan
Ceng. Demikian sepanjang pengamatannya selama
mendaki ke atas gunung dia tak melihat tanda2 terdapatnya
barang seorang prajurit Ceng. Mungkinkah laporan prajurit
kepada jenderal Lau itu salah? Tetapi kemanakah Bun Sui
telah lenyap?
Tiba2 seorang anakbuah Lo- san datang menghadap,
"Siang-jin, di sekitar lembah Ong-lu. kok terjadi
pertempuran antara dua buah pasukan."
"Pasukan mana?" tanya Lo-san siangjin.
"Pasukan Beng dengan pasukan Ceng."
Lo-san siangjin terkejut, "Pasukan Ceng ? tempur dengan
pasukan Beng? Mengapa pertempuran itu berlangsung di
selat Hay-tengr- kok?”
Kemudian pertapa itu berpaling kepada Sian Li, 'Pinto
hendak meninjau ke lembah Hay-teng-kok. Silakan nona
menyelidiki markas kami. Kalau disini terdapat barang
seorang prajurit musuh, aku bersedia menerima hukuman
nona."
Sian Li mengiakan. Ia tak mau ikut dengan pertapa itu
karena ia masih sangsi. Hampir saja ia percaya seluruh
keterangan pertapa itu. Tetapi setelah mendengar laporan
tentang kehadiran pasukan Ceng di lembah Hay teng-kok ia
meragu lagi. Mungkinkah pasukan Ceng itu bersembunyi di
lembah Hay-teng-kok ? Jika demikian kemungkinan Lau
Bun Sui tentu ditawan oleh pasukan Ceng itu.
"Sian Li mengapa kita ikut pada pertapa itu ?" tegur
kakek Lo Kun.
"Kita pun akan ke sana tetapi tak perlu harus bersama
dengan pertapa itu," jawab Sian Li.
"Apakah engkau percaya kalau pertapa itu tak punya
hubungan dengan pasukan Ceng ?" tanya Lo Kun pula.
"Mudah-mudahan begitu," kata Sian Li, "tetapi kita
harus membuktikan kebenarannya dulu."
"Siapakah yang bertempur di lembah itu ?'"
“Fihak pasukan Beng tentulah pasukan yang diperintah
jenderal Lau untuk mengurung gunung. Tetapi kalau
tentang pasukan Ceng, aku tak tahu. Kemungkinan saja
yang menawan putera jenderal Lau itu."
"Mari kita kesana sekarang," ajak Lo Kun.
Hay-teng-kok merupakan sebuah selat lembah yang
menjulur ke sungai Hong-ho. Selat itu terletak dibagian
barat sungai Hongho dan masih masuk wilayah
pegunungan Losan.
Pada saat itu Lo-san siangjin dan ji-sute Ui Bin tiba di
daerah selat itu. Mereka melihat dua buah pasukan sedang
bertempur. Yang paling menonjol adalah pertempuran
antara dua orang perwira. Rupanya kedua orang itu adalah
pimpinan dari kedua pasukan yang sedang berhadapan itu.
Lo-san siangjin terus bergegas menghampiri. Maksudnya
hendak membantu fihak Beng menggempur pasukan Ceng.
Tetapi begitu dia muncul, seorang lelaki setengah tua segera
menyambutnya.! Orang itu mengenakan dandanan sebagai
seorang sasterawan. Sepasang pit menyelip dipinggangnya.
"Oh, Lo-san siangjin datang, bagus siangjin,” seru lelaki
itu dengan nada gembira, "mari kita basmi prajurit2 Beng
ini !"
Lo-san siangjin terkejut. Sebelum ia sempat membuka
mulut, dari fihak pasukan Beng muncul seorang lelaki muda
yang segera larikan kuda menerjang Lo-san siangjin.
"Bagus Lo - san siangjin, tak perlu susah mencarimu
engkau sendiri sudah datang mengantar jiwa !" seru pemuda
gagah yang tak lain adalah Bok Kian, keponakan dari
mentri perlahan Su Go Hwat
Seperti telah direncanakan semula, Bok Kian ikut dalam
pembebasan putera jenderal. Hanya kalau Sian Li dan
rombongannya supaya mengambil jalan dari muka maka
Bok Kian akan memutar dan menyerang dari belakang
gunung.
Waktu dia sedang menyusup hutan, dia mendengar
suara sorak sorai dari orang yang sedang bertempur.
Bergegas dia keluar dan naik keatas sebuah karang tinggi.
Dari tempat itu dia dapat melihat pemandangan ke
sekeliling penjuru. Serentak melihat sekelompok barisan
Beng yang dipimpin seorang perwira tengah bertempur
dengan pasukan Ceng Pasukan Beng itu diperintah jenderal
untuk mengepung gunung Losan agar gerombolan yang
menangkap putera jenderal Lau tak dapat meloloskan diri.
Bok Kian segera berlari-lari menuju ke tempat
pertempuran untuk membantu pasukan Beng. Pada saat
baru saja dia hendak menerjang ke dalam gelanggang
pertempuran, dilihatnya seorang petapa muncul dengan
seorang lelaki gagah.
Sebenarnya dia tak kenal pertapa itu. Tetapi mendengar
lelaki berpakaian sasterawan fihak musuh tadi memanggil
nama pertapa sebagai Lo-san siangjin, segeralah Bok Kian
dapat mengenalnya. Inilah kesempatan yang baik pikir Bok
Kian yang mengira Lo-san siangjin itu hendak membantu
pasukan Ceng.
Dia serentak mencabut pedang dan menerjang pertapa
itu. Melihat serangan Bok Kian yang begitu kalap, Ui
Binpun mencabut golok dan menangkisnya. Keduanya
segera serang menyerang dengan seru sekali. Walaupun
Bok Kian naik kuda tetapi Ui Bin dapat memberi
perlawanan yang seimbang.
"Siapakah sicu ?" teriak Lo-san-siangjin.
"Engkau pertapa penghianat, tak layak menanyakan
namaku," seru Bok Kian.
"Lo-san siangjin, bunuh saja pemuda itu !" teriak lelaki
sasterawan tadi.
Lo-san siangjin terkejut dan berpaling belum dia sempat
membuka mulut, Bok Kian sudah memakinya, "Bagus
pertapa, hayo, maju. Bukankah engkau sudah diberi
perintah tuanmu itu !"
"Hm, budak kurang ajar, jangan menghina Lo-san
siangjin, beliau adalah tokoh yang indahkan," seru Ko Cay
Seng pula.
Lo-san siangjin tercengang. Ia tak kenal dua orang itu.
Tetapi ia menyadari sasterawan itu orang fihak pasukan
Ceng pemuda yang menyerang itu dari fihak pasukan Beng.
Ia mulai menduga apa yang sebenarnya terjadi pada kedua
orang itu. Tetapi sebelum ia berhasil menemukan sesuatu,
sasterawan dari fihak Ceng itu sudah lari menghampiri Bok
Kian seraya berseru keras, "Lo-san siangjin, membunuh
ayam tak perlu pakai golok kerbau. Biarlah budak liar itu
kuhabisi, tak perlu siangjin mengotorkan tangan!"
Bok Kian bertempur dengan gagah. Namun karena
ditambah dengan seorang musuh seperti Ko Cay Seng, Bok
Kian kewalahan juga. Akhirnya waktu dia sedang
membabat thiat-pit ( pena besi ) dari Ko Cay Seng, golok Ui
Bin membabat kakinya. Untung dia masih dapat loncat
turun sehingga perut kudanya yang termakan golok. Karena
kesakitan, kudapun meringkik keras dan menerjang binal
kearah pasukan Ceng sehingga prajurit Ceng gempar untuk
menghindar.
Sekarang Bok Kian menghadapi Ko Cay Seng. Dengan
tumpahkan seluruh kepandaian, Bok Kian masih dapat
bertahan diri. Tetapi setelah, Ui Bin juga ikut menyerang,
mulai terdesaklah pemuda Bok Kian. Pemuda itu benar2
kewalahan.
"Lepas!" teriak Ko Cay Seng seraya menusuk
pergelangan tangan Bok Kian. Dan pada saat itu Ui Binpun
juga membabat kakinya.
Bok Kian rasakan pergelangan tangannya gemetar
sehingga tenaganya lunglai, tring .... pedangnyapun jatuh ke
tanah. Untung dia cepat loncat ke belakang untuk
menghindari babatan golok Ui Bin. Sekalipm dapat lolos
tapi tak urung Bok Kian pontang-panting juga.
Ui Bin tak mau memberi ampun lagi. Ia maju dan
menabas dengan goloknya sementar; Cay Seng juga siap
menusuk dengan thiat-pi?
"Hai, Bok kongcu, awas serangan dari belakang!" tiba2
dalam keadaan yang berbahaya, terdengarlah suara seorang
gadis berteriak.
Ui Bin terkejut, demikian juga Ko Cay Seng. Mereka
serempak tertegun. Dan pada saat itu pula, Sian Li
menyerang Ui Bin dan Ko Cay Seng diserang oleh seorang
kakek pendek.
"Oh, nona, berhenti dulu," buru2 Ui Bin berseru setelah
melihat Sian Li menyerangnya. Sian Li hentikan serangan.
Dia berpaling ke arah Bok Kian, "Bok kongcu, engkau tak
kena suatu apa?"
"Tidak, terima kasih," kata Bok Kian.
"Mengapa engkau menyerang kongcu? Hm, jelas engkau
memang berfihak kepada pasukan Ceng!" tegur Sian Li
tajam kepida Ui Bin.
"Hai, bung, mengapa engkau mengalah pada seorang
budak perempuan begitu saja?" Ko Cay Seng berteriak
kepada Ui Bin.
'"Bangsat, aku tak kenal kepadamu!" teriak Ui Bin.
"Ah, janganlah berkata begitu," seru Ko Cay Seng, "perlu
apa kita harus main sandiwara didepan kawanan musuh
yang begitu macam ? Apala lagi terhadap seorang nona, tak
usah kita main sandiwara dan bersikap sungkan. Ayo,
tangkaplah dia, kalau engkau enggan, biar aku yang
menangkapnya."
"Hm, Ui Bin, apakah engkau masih hendak menyangkal
?" geram Sian Li.
"Tidak, nona, kami tidak kenal dengan bangsat itu !" seru
Ui Bin.
"Menyingkirlah !" teriak Ko Cay Seng seraya terus
menyerang Sian Li, "biar nona ini kutangkapnya."
"Jangan ganggu cucuku !" bentak Lo Kun yang terus
menghantam orang she Ko itu.
Ko Cay Seng sekarang jago tutuk dengan pit besi.
Sekaligus dia dapat menutuk enam buah jalan darah di
tubuh lawan.
Boan-thian-lok-u atau Hujan-mencurah-dari langit,
adalah jurus yang diserangkan kepada Lo Kun. Sepasang
pit besi mencurah bagai hujan turun dari langit.
"Kurang ajar," tiba2 Lo Kun menjerit ketika tangannya
tertutuk. Dia menyurut selangkah. Melihat itu Ko Cay Seng
tak mau memberi kesempatan lagi. Pit terus ditusukkan ke
leher Lo Kun. Tetapi dengan cepat memukul tangan Ko
Cay Seng.
Ko Cay Seng terkejut sekali. Dia tak nyangka kalau
lengan Lo Kun yang terkena tutukannya itu masih dapat
digerakkan. Karena jarak begitu dekat dan gerakan Lo Kun
itu tak duga-duganya lebih dulu, Ko Cay Seng kerahkan
tenaga-dalam untuk menahan benturan tangan Lo Kun agar
pit-besinya tak sampai jatuh. Sedangkan pit ditangan
kiripun ditutuk ke lambung lawan.
Ktekkkk .... Ko Cay Seng terkejut karena lengannya
terasa gemetar seperti terkena strom listrik ketika beradu
dengan tangan Lo Kun. Tangannya menjadi lunglai dan pitbesinyapun
jatuh. Tetapi pada saat itu Lo Kunpun mendesis
kaget dan menyurut mundur beberapa langkah, kemudian
tegak berdiri seperti patung.
Ko Cay Seng cepat menjemput pitnya lagi dan terus lari
masuk kedalam gerombolan prajurit Ceng.
"Ah, janganlah sicu tergesa-gesa hendak pergi," baru Ko
Cay Seng lari beberapa langkah, Losan siangjin sudah
menghadangnya.
"Lo-san siangjin, mengapa siangjin malah memusuhi
aku? Bukankah kita ini bersekutu?" trriak Ko Cay Seng
sekeras kerasnya agar didengar oleh rombongan Sian Li.
"Sicu, janganlah bermain lidah untuk mencelakai orang.
Pinto tak kenal sicu dan tak bersekutu dengan pasukan
Ceng, mengapa sicu terus menerus mengatakan bersahabat
dengan kami ?" seru Lo-san siangjin.
"Ah, Lo-san . siangjin," kata Ko Cay Seng dengan
tertawa," siangjin seorang yang penuh kasih sayang,
bukankah semua manusia di dunia ini bersahabat semua ?"
Tiba2 Uk Uk melesat datang. Dia melihat kakek Lo Kun
menyurut mundur dan berdiri tegak. Ia menghampiri tetapi
dicegah Sian Li, "Uk Uk jangan mengganggu kakek. Dia
sedang menyalurkan napas. Kejarlah musuh itu saja !"
Mendapat perintah Sian Li, Uk Uk terus Ia hendak
menyerang Ko Cay Seng. Melihat itu tahulah pikiran licik
dari Ko Cay Seng,
"Awas, siangjin serangan dari belakang!" tiba2 Ko Cay
Seng berseru. Lo-san siangjin terkejut, ia memang
mendengar ada angin berkesiur dari. belakang. Cepat dia
berpaling, maksudnya hendak mencegah. Tetapi diluar
dugaan, tiba2 Ko Cay Seng dorongkan kedua tangannya,
wut .... Lo-san siangjin yang tak menyangka hal itu,
terkejut, terpaksa dia membiarkan punggungnya didorong
hingga tubuhnya ikut menjorok maju.
Saat itu Uk Ukpun tiba, melihat Lo-san siang-jin
menjorok maju seperti hendak menyerangnya, Ukpun
menghantam, darrrrr . . , . .
Lo-san siangjin terkejut. Karena tak dapat menghindar
terpaksa ia menyilangkan kedua tangan untuk menutup
dadanya.
Lo-san siangjin belum kenal siapa dan bagaimana Uk Uk
si bocah gendut yang pekok itu. Dan lagi tadi baru saja ia
mengerahkan tenaga dalam untuk menahan dorongan Ko
Cay Seng. Maka diapun hanya menggunakan dua bagian
tenaga-dalam saja. Dia mengira bocah gendut itu hanya
seorang bocah biasa saja, tentulah tak mungkin dapat
melukainya.
Karena melihat kakeknya diam, Uk Uk mengira kalau
Lo Kun menderita luka. Ia marah sekali maka ketika Losan
siangjin maju menyongsongnya, dia mengira siangjin
itu hendak menyerangnya. Uk Uk segera memukul dengan
sekuat tenaganya. Akibatnya memang hebat.
Setelah terdengar letupan keras, Lo-san sianjin merdesuh
kejut dan tubuhnya sempoyongan sampai beberapa
langkah. Belum sempat dia berdiri jejak, sekonyongkonyong
Ko Cay Seng mendorongnya lagi, "Siangjin,
masakan dengan bocah gendut semacam itu siangjin kalah.
Ah, tak pula siangjin sungkan atau kasihan kepadanya!"
Sebagai seorang jago tutuk yang ternama sudah tentu Ko
Cay Seng memiliki ilmu tenaga dalam yang hebat.
Tampaknya hanya seperti orang mendorong tetapi
sesungguhnya dia gunakan tenaga-dalam untuk
menghantam punggung Losan siangjin.
Lo-san siangjin terkejut. Cepat dia kerahkan tenagadalam
untuk bertahan. Tetapi celakanya, si pekok Uk Uk
maju mengantamnya lagi.
Waktu pertama kali menerima hantaman Uk 'U'k, Losan
siangjin terkejut. Ternyata anak gendut itu mempunyai
tenaga-dalam yang dahsyat. Cepat2 dia kerahkan tenagamurni
untuk menolak tetapi tak urung dia harus menderita.
Darahnya bergolak keras. Dan kini dengan sisa tenagadalam
yang masih ada, dia harus menahan dorongan Ko
Cay Seng dan harus menerima pukulan Uk Uk. Jika
disuruh memilih menerima pukulan K.o Cay Seng atau Uk
Uk, ia pilih menerima pukulan Ko Cay Seng. Ia sudah
merasakan betapa dahsyat tenaga-dalam yang dipancarkan
pada pukulan Uk Uk tadi.
Setelah memutuskan apa yang harus dilakukan, dengan
gerak Kim-pheng-tian-ki atau Alap2-emas-merentang-sayap,
ia merentang kedua tanganya, tangan kiri menahan pukulan
Ko Cay Seng dan tangan kanan menolak hantaman Uk Uk.
Darrrrr.....
Uk Uk terpental selangkah tetapi Lo-san siangjin tegak
berdiri mematung, wajah pucat-lesi dan pejamkan mata.
Uk Uk masih penasaran. Dia hendak maju memukul lagi
tetapi pada saat itu, Ui Bin sudak loncat mencengkeram
bahunya dan menyentakkan ke belakang sehingga Uk Uk
sampai terpental satu meter ke belakang.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Lucu Banget Silat : Bloon Cari Jodoh 3 [Karya SD Liong] dan anda bisa menemukan artikel Cerita Lucu Banget Silat : Bloon Cari Jodoh 3 [Karya SD Liong] ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-lucu-banget-silat-bloon-cari.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Lucu Banget Silat : Bloon Cari Jodoh 3 [Karya SD Liong] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Lucu Banget Silat : Bloon Cari Jodoh 3 [Karya SD Liong] sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Lucu Banget Silat : Bloon Cari Jodoh 3 [Karya SD Liong] with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-lucu-banget-silat-bloon-cari.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar