Cerita Silat Mantab : Naga Dari Selatan 2

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 01 Agustus 2012

Cerita Silat Mantab : Naga Dari Selatan 2-Cerita Silat Mantab : Naga Dari Selatan 2-Cerita Silat Mantab : Naga Dari Selatan 2-Cerita Silat Mantab : Naga Dari Selatan 2-Cerita Silat Mantab : Naga Dari Selatan 2


Melihat cara menjatuhkan diri dari sianak tengeng tadi,
bermula Nyo Kong-lim sudah termangu. Dan setelah
melihat lagi cara jatuh sianak muda yang aneh itu,
bertereaklah pemimpin Hoasan itu dengan kagumnya:
„Bocah lihay, bisa ilmu istimewa dari Ang Hwat cinjin!"
Sekali Nyo Kong-Iim bertereak begitu, maka seluruh
hadirin menjadi gempar! Sedang yang bertereak sendiripun
buru2 putar sam-ciat-kun hingga merupakan sebuah
lingkaran sinar hitam, sedangkan orangnya menyerang
maju. Cara berkelahi begitu, Tio Jiang belum pernah
mendengar atau melihatnya. Ketika dia hendak gunakan
lubang kesempatan untuk maju menyerang, sam-ciat-kun
itu berubah menjadi semacam perisai sehingga Tio Jiang
terdesak mundur beberapa langkah. Dalam gugupnya Tio
Jiang kembali gunakan jurus Hong-cu-may-ciu (sigila
menjual arak) pikirnya hendak menyelinap kebelakang
lawan.
Tentunya Kong-lim tahu akan maksud orang, tapi
ternyata dia malah memperlambat serangannya se-olah2
memberi kesempatan pada orang untuk melakukan
rencananya. Tapi ketika Tio Jiang sudah berada dibelakang
orang, tiba2 kedengaran suara orang mengeluh heran
„iih.....". Itulah suara Cian-bin Long-kun The Go, hingga
Tio Jiang berayal dari memutar tubuh untuk melihatnya.
Tapi dalam keayalan itu, Kong-lim sudah berputar tubuh
seraya menghantamkan samciat-kun, trang......beradulah
pedang dengan sam-ciat-kun, disusul dengan geseran kaki
tersurut 3 tindak kebelakang. Baik Kong-lim maupun Tio
Jiang, sama2 terpental. Tio Jiang rasakan tangannya kanan
kesemutan, begitu pula Kong-lim, siapa yakin hantamannya
itu tentu dapat memukul lepas senjata lawan, tapi
sebaliknya malah menderita kesakitan itu. Orang she Nyo
yang bertenaga kuat sekali itu, belum pernah mengalami
kerugian macam begitu. Dengan ke-heran2an kagum dia
mengawasi sianak muda, yang walaupun tengeng ternyata
lihay sekali kepandaiannya. Sebagai seorang yang jujur,
mau tak mau dia berseru memuji: „Bagus!"
Kini keduanya berhadapan muka lagi. Hanya saja
karena, tengeng, jadi tubuh Tio Jiaiig menghadap
kesamping, sikapnya lucu juga. Kini mata semua hadirin
terbuka. Tak lagi mereka berani memandang sebelah mata
pada anak tengeng itu. „Toacecu, turutlah suhuku.........”
sebenarnya, Tio Jiang bermaksud menasehati toa-cecu itu
supaya menurut nasehat Ceng Bo, tapi demi teringat bahwa
maksud suhunya itu yalah menyuruh orang jangan
melawan pemerintah Ceng, dia tak mau teruskan kata2nya
dan merobahnya dengan permintaan berkelahi, serunya:
„Toacecu, silahkan memulai lagi!"
Tapi Nyo Kong-lim, yang senang akan sikap sianak
muda yang polos itu, mengalah: „Siaoko, kau saja yang
mulai dulu, agar jangan dikatakan aku yang tua hendak
menindas yang muda!"
Dalam kebatinan, Tio Jiangpun anggap lawannya itu
seorang laki2 sejati. Hanya karena membela sang suhu,
terpaksa dia harus bentrok dengannya. „Maaf!" serunya
sembari, melangkah maju dua tindak dan sret...... memapas
bahu orang. Atas serangan, itu Nyo Kong-lim mendak
kebawah, lalu balas menyerang. Demikianlah keduanya
segera bertempur lagi.
Tio Jiang tetap gunakan ilmu pedang to-hay-kiam-hwat.
Pada 4 jurusan dan 8 penjuru, sinar pedang mengurung
Nyo Kong-lim dengan gencarnya, sehingga para hadirin
menjadi terkesiap kaget. Pikir mereka, kalau muridnya saja
sudah sedemikiann lihaynya, apalagi gurunya. Kini mereka,
tunduk betul2 atas kesaktian Ceng Bo siangjin. Sedang si
Ceng Bo siangjin itu sendiri, bermula terperanjat sekali
melihat Tio Jiang unjukkan permainan to-hay-kiam-hwat.
Tapi demi dilihatnya semua mata hadirin tertuju
kepadanya. dengan sikap mengagumi, cepat sekali dia
unjuk muka berseri. Sedang kedua wanita muda tadipun tak
putus2nya berseru me-muji2, hingga orang2 yang sedikit
saja masih mempunyai perasaan halus, tentu akan
mengerutkan alisnya.
Sebenarnya Nyo Kong-lim itu juga seorang jago kelas
berat. Hanya karena sejak menjadi Toa-cecu digunung Hoasan
dia jarang keluar berkelana lagi, jadi orang persilatan
hanya mendengar namanya tapi belum pernah
menyaksikan kepandaiannya. Dia timpali permainan
pedang Tio Jiang dengan gerakan sam-ciat-kun yang seru
sekali. Sedang dalam pada itu, tubuhnya yang tinggi besar
itu berlincah2an dengan gesitnya. Saking cepatnya
pertempuran itu, dalam sekejab saja, 20 jurus sudah
berlangsung, namun masih tetap seri saja.
„Toako, mengapa membuang2 tempo untuk melayani
anak tengeng itu ?" kedengaran beberapa Cecu yang duduk
dimeja pat-sian itu ramai2 menganjurkan.
Bermula karena sayang akan kegagahan Tio Jiang, Nya
Kong-lim tak mau keluarkan seluruh kebiasaannya. Nanti
kalau sudah kehabisan tenaga, biarlah anak muda itu
mundur sendiri. Tapi ternyata anak muda itu makin lama
malah makin bersemangat. Maka demi mendengar anjuran
saudara2nya itu, sembari mengiakan, Kong-lim segera
perhebat sam-ciat-kunnya. To-hay-kiam-hwat benar
merupakan, ilmu pedang yang luar biasa indahnya, tapi
karena Tio Jiang masih belum sempurna, jadi dalam
beberapa jurus kemudian, dia tampak terdesak. Kini dia
hanya dapat menangkis, tapi tak mampu membalas
serangan.
Pada saat itu dengan gunakan jurus hay-li-long-hoan
(puteri laut memain gelang), dengan susahnya Tio Jiang
menangkis serangan heng-soh-cian-kun (menyapu ribuan
serdadu) dari Nyo Kong-lim. Nyo Kong-lim tak mau
sia2kan kesempatan itu. Tiba2 sam-ciat-kun dilempangkan
seperti pit untuk menutuk jalan darah siang-jiok-hiat
dipinggang sianak muda. Tapi ketika melihat sianak muda
itu rupanya tak dapat menghindar lagi, karena sayang akan
bakatnya, maka Nyo Kong-lim agak tarik sedikit tangannya
kebelakang, asal menutuk kena saja, sudahlah, jangan
sampai membahayakan jiwa orang. Tapi diluar dugaan,
tubuh Tio Jiang terhuyung dan jatuh menengadah
kebelakang, seperti macam gerak tiat-pian-kio, maka
serangan sam-ciat-kun tadipun hanya melayang diatas
tubuhnya saja. Karena tadi sudah dikendorkan, begitu
luput, cepat sekali Nyo Kong-lim, menarik balik sam-ciatkunnya.
Tapi berbareng pada saat itu, seperti macam orang
gila Tio Jiang menubruk lawan dengan membolangbalingkan
pedangnya.
Melihat itu, sudah tentu Nyo Kong-lim tertegun heran.
Terang itu bukan gerakan ilmu silat. Jangan2 karena kalap,
sianak muda itu lalu membabi buta hendak mengadu dliwa,
Maka diapun tak mau melayani dengan kekerasan,
melainkan mundur 3 tindak. Tapi ternyata Tio Jiang tetap
mengejarnya dengan mengobat-abitkan pedangnya keatas.
To-hay-kiam hwat sudah sakti, ditambah pula dengan
gerakan Tio Jiang yang serba aneh itu, telah membuat Nyo
Kong-lim kebingungan serta terpaksa main mundur lagi.
Dengan begitu, kini Tio Jianglah yang memegang inisiatip
penyerangan. Maju lagi kemuka, dia kirim tebasan kemuka
dan bahu orang.
Dua kali Nyo Kong-lim terdesak mundur tadi, sudah
membuat gempar para penonton. Masa seorang pemimpin
darl ke 72 Cecu gagah itu sampai kena didesak mundur oleh
seorang pemuda tengeng yang tak ternama. Maka kini Nyo
Kong-lim. mulai unjuk gigi. Begitu serangann pedang tiba,
sam-ciat-kun segera menyambutnya seperti seekor ular
keluar dari guanya. Ujung toya membabit keatas, disusul
dengan sodokan kemuka, ujung kedua menonjol maju
untuk menutuk jalan darah lwe-kwan-hiat disiku tangan
orang. Jadi sekali gerak, dua serangan Indah dan sebatnya
bukan kepalang. Benar juga pengaruh serangan Tio Jiang
menjadi lambat. Buru2 dia tarik pedangnya, tapi orangnya.
tak mau mundur melainkan meraba maju. Hal mana telah
membuat Nyo Kong-lim kaget, serunya: „Mau kepingin
mati?"'
Tapi ternyata Tio Jiang bukan merabu maju, melainkan
dengan se-konyong2 miring kesamping, terus menyelinap
kebelakang orang. Tanpa memutar kebelakang lagi, Nyo
Kong-lim mainkan sam-ciat-kun dalam jurus giok-tay-wiyau
(sabuk kumala melibat pinggang). Setelah sam-ciat-kun
ber-putar2 baru orangnya membalik, kebelakang, tapi
ternyata sianak muda sembari melorot turun sudah
menyusup kesamping lagi. Dan dari situ dengan gerak „Ho
Peh koan-hay," dia menusuk pinggang orang.
Gerakan itu sungguh membingungkan Nyo Kong-lim
yang belum tahu dimana posisi lawan, atau dari sebelah
kanannya ada angin menyamber kepinggag. Dalam
gugupnya dia menyapu sembari berputar kesamping. Tapi
bagaikan bayangan, sianak muda, itu tetap mengintil
sembari guratkan ujung pedangnya, bret kolor celana
pemimpin Hoasan itu tergurat putus. Hal mana sudah tentu
membuatnya gusar sekali. Cepat diaa kebas pedang lawan
dengan sam-ciat-kunnya, dan berbareng dengan memutar
tubuh dia ulurkan tangannya kiri untuk merebut senjata
sianak muda. Dikebas sam-ciat-kun tadi, tangan Tio Jiang
sudah kesemutan lagi rasanya, dan tahu2 ada sebuah
tangan besar yang penuh bulu hendak mencengkeram
mukanya, ter-sipu2 dia melangkah mundur. Tapi astaga,
begitu terdengar suara orang tinggi besar itu ketawa,
pedangnya sudah pindah tangan.
Senjata dapat direbut lawan, sudah cukup berbicara
kalah atau menang. Dengan merah padam mukanya, Tio
Jiang berdiri menjubelek. Tapi berbareng dengan itu
terdengarlah riuh rendah gelak tawa dari para hadirin. Nyo
Kong-lim lemparkan pedang sianak muda, tapi dalam pada
itu kedua gundik Ceng Bo siangjin itu menjerit-jerit: „Ai.....,
ai....., mampus aku! Orang tinggi besar itu masa didepan
orang banyak, meloloskan celananya?!"
Nyo Kong-lim terperanjat mengawasi celananya, aduh
mati aku......karena kolornya putus digurat sianak muda,
celananya kedodoran dan pahanya yang penuh bulu itu
tampak bulat2 kelihatan oleh orang banyak, sehingga
menimbulkan buah tertawaan mereka. Dengan geram kemalu2-
an, buru2 Nyo Kong-lim beresi tali celananya itu,
kemudian tantang lagi pada Tio Jiang: „Anak muda,
ambillah pedangmu dan hayo bertempur lagi!"
GAMBAR 29
Disusul dengan terpental pedangnya Tio Jiang, tahu2 celana
Nyo Kong-lim kedodoran hingga kelihatan kedua pahanya yang
penuh bulu.
Menurut nilai pertandingan itu, terang Nyo Kong-lim
lebih unggul. Sebagai orang jujur macam Tio Jiang, sedikit
itu ya sedikit, kalah ya kalah. Apa yang dipikir dalam
hatinya, mulutnyapun mengatakan begitu. Senjatanya
terebut lawan, secara sportief dia mengaku kalah. Biar sang
suhu saja yang menghadapinya.
„Toa-cecu, banyak terima kasih atas pengajaranmu tadi.
Hopwe mengaku kalah dan menghaturkan hormat," kata
Tio Jiang sembari menjura. Setelah itu dia memungut
pedangnya, lalu hendak mundur.
Nyo Kong-lim terperanjat dan kagum atas kejujuran
sianak muda itu. Seketika timbullah perasaannya senang
akan dia, ujarnya: „Siaoko, sayang seorang anak laki
perwira seperti kau ini, keliru memilih guru yang sesat!"
Mendengar suhunya dimaki lagi, Tio Jiang putar
tubuhnya untuk melototi mata pada orang she Nyo itu.
Tiba2 serasa dilihat ada sesosok bayangan berkelebat
disamping Ceng Bo siangjin. Sayang kepalanya tengeng,
jadi gerakannya tak leluasa. Ketika dia putar tubuhnya
untuk mengawasi adakah orang itu si The Go, ternyata
bayangan itu sudah lenyap lagi. Karena sudah 3 kali ini Tio
Jiang merasa, yakin kalau bayangan ituu adalah si The Go,
kini dia mulai curiga. Tapi tatkala dia hendak mencarinya,
tiba2 kedengaran Ceng Bo, siangjin berkata: „Jiang-ji,
terhadap sibangsat tadi, mengapa kau tak mau menempur
sekuat tenaga?"
Tio Jiang melengak lagi. Baru dua bulan dia tak
berjumpa dengan suhunya mengapa kini sang suhu berobah
sedemikian galaknya. Enam tahun lamanya, belum pernah
dia mendengar suhunya memaki bangsat. Tapi karena di
sesali oleh sang suhu, diapun hanya mengaku salah saja.
„Murid memang bersalah!" serunya, lalu menuding pada
Nyo Kong-lim: „Toa-cecu, aku masih hendak minta
pelajaran lagi padamu!"
Habis berkata, terus saja dia melangkah maju, menusuk
kedada Nyo Kong-lime Belum orang she Nyo itu bergerak
menangkis, atau tiba2 dari tengah2 lapangan muncullah
seseorang dengan seruannya yang keras: „Siaoko, tahan!"
Melihat orang itu, bukan kepalang kaget Tio Jiang,
sampai2 pedang yang dicekalnya itu hampir terlepas.
Bermula dia tak percaya kepada matanya. Tapi serta
diawasi dengan perdata, memang tak salah lagilah dianya.
Mukanya kotor, punggung menonjol keatas, ya sidia, Hwat
Ji tojin atau sibongkok yang menjadi pelayan biara Cin
Wan Si digunung Lo-hou-san! Pertama, mengapa dia turut
hadir dalam pertemuan para orang gagah ini? Kedua,
dahulu gagu tuli mengapa mendadak sontak kini bisa
bicara? ,Suhu berobah aneh, sigagu bisa bicara, aneh,
adakah aku ini sedang bermimpi tanya Tio Jiang seorang
diri. Karena bingung memikirkan dia menjublek disitu
sampai sekian saat.
Si Bongkok unjukkan muka-setan pada Tio Jiang, lalu
menuding kearah Ceng Bo, serunya: „Ceng Bo siangjin, kau
maukan agar saudara2 dalam dunia persilatan itu berhamba
pada tentara Ceng saja, bukan ?"
Bening dan nyaring nada suara si Bongkok itu, suatu
tanda bagaimana tinggi ilmunya lwekang. Tapi karena si
Bongkok itu memakai dialect (logat) utara, jadi orang2
sama kurang jelas. Sebaliknya Tio Jiang kembali
terperanjat. Ingin sekali dia mendengar bagaimana
penyahutan suhunya itu.
Bermula kaget juga Ceng Bo melihat munculnya si
Bongkok, tapi dengan cepat dia segera dapat menyahut:
"Memang pinto mempunyai maksud begitu."
Si Bongkok kelihatan maju beberapa tindak kemuka, lalu
bertanya dengan suara keras: „Maksudmu sendiri atau atas
perentah dari Li Seng Tong congpeng tentara Ceng itu?"
Karena pertanyaan itu diucapkan pe-lahan2, maka
semua orang sama mendengar jelas, dan mereka merasa
heran bagaimana seorang bongkok yang tak mempunyai
tanda2 keistimewaan suatu apa, berani begitu garang
menanyai seorang tokoh macam Ceng Bo siangjin. Siangjin
ini tertawa tawar, lalu berbangkit me-ngebut2kan lengan
bajunya. Dengan wajah cemas, dia menyahut: „Pinto hanya
memikirkan keselamatan saudara2 seperjoangan saja. Mau,
tidaknya, terserah pada masing2. Kalau saudara2 ingin
mengadu telur dengan batu, silahkan cari kematian sana !"
Atas penyahutan itu, rombongan Nyo Kong-lim menjadi
panas hati. Ada beberapa orang yang tak kuat menahan
kemarahannya lagi, segera berteriak: „Bagaimana kau
merasa pasti kalau kita semua ini bukan lawan pemerintah
Ceng?"
Ceng Bo siangjin hendak menyahut, tapi si Bongkok
maju lagi selangkah seraya me-lambai2kan tangannya
kepada hadirin supaya jangan gaduh. Setelah itu, dia
mengajukan pertanyaan lagi: „Ceng Bo siangjin, apakah
kau mengenal aku si Bongkok ini?"
Bermula Tio Jiang menganggap pertanyaan si Bongkok
itu edan. Masakan suhunya tak kenal padanya? Tapi
ternyata, setelah bersangsi sebentar, kedengaran suhunya itu
berkata : „Banyak tahun yang lalu, pinto pernah bertemu
dengan cunke (anda), tapi lupalah siapakah gelaran cunke
ini?"
Tio Jiang seperti rasakan otaknya terbalik. Sebaliknya si
Bongkok itu segera mendongak keatas tertawa keras.
Bening dan nyaring nada ketawanya itu, hingga kalau tak
melihat orangnya, tentu orang takkan percaya kalau suara
sebagus itu ternyata keluar dari mulut seorang bongkok.
„Benar, 10 tahun yang lalu kau memang pernah bertemu
dengan aku disebuah pondok dikaki gunung Lo-hou-san!
Ha, ha.............! 10 tahun, lamanya terpaksa aku bertapa
menjadi orang gagu, baru hari ini dapat mencari keterangan
yang jelas! Kau masih berani jual lagak disini, tak takut
kalau Kiang Siang Yan akan mencarimu ?"
Pucat lesi wajah Ceng Bo siangjin seketika itu. Berpaling
kebelakang dia segera ber-kaok2 ketakutan: „Cian-bin
Long-kun........! Cian-bin Long-kun.........!"
Sebenarnya saat itu seharusnya Tio Jiang sudah
mengetahui duduk perkara mengenai diri „suhunya" itu.
Tapi dasar dia itu sedang buta cinta, jadi waktu mendengar
Cian-bin Long-kun dipanggil, diapun ikut2an berseru:
„Cian-bin Long-kun, mana Lian suci ?"
Karena kedua 'orang itu ber-teriak2 tak keruan, hadirin
menjadi panik. Sebaliknya Nyo Kong-lim yang menampak
si Bongkok itu hanya bersenyum mengawasi saja, segera
maju menghampiri, tanyanya: „Bukankah cunke ini seperti
yang diagungkan oleh orang persilatan sebagai Thay-san
sin-tho Ih Liok ?"
"Benar, siapakah gelaran yang mulia dari Toa-cecu ini,
Ih Liok lama nian mengaguminya!" sahut Ih Liok seraya
mengangguk.
Sebagai orang yang berwatak blak-blakan, seketika
berserulah Nyo Kong-lim dengan girangnya: „Ih thocu, 72
Cecu dari Hoa-san, hendak mohon kau menjadi Toa-cecu !"
Sebenarnya Thay-san sin-tho atau si Bongkok sakti dari
gunung Thay-san itu hanya berkelana didaerah utara dan
selatan dan Sungai Kuning saja, jarang dia berkunjung ke
Kwitang dan Kwisay. Tapi ilmu „tho kang" (tenaga punuk),
sangat termasyur diseluruh penjuru. Melihat walaupun Nyo
Kong-lim itu orangnya tinggi besar namun hatinya masih
seperti anak kecil, tertawa si Bongkok, ujarnya : „Mengapa
Toa-cecu mengucap begitu !" Kemudian menuding pada
Ceng Bo siangjin, dia berkata lagi :„Tunggu dulu sehabis Ih
Liok beresi bangsat itu!" Dan sambil berkata Itu, dia maju
menghampiri Ceng Bo siangjin.
Ber-ulang2 mengaoki Cian-bin Long-kun tetap orang itu
tak muncul, Ceng Bo itu sudah kelabakan. Kini demi
dilihatnya Thay-san sin-tho yang lihay Itu menghampirinya,
dengan ketakutan dia putar tubuhnya ter-birit2 lari. Tapi
dengan sebat sekali, Ih Liok melesat maju dengan kelima
jarinya dipentang. Melihat itu Tio Jiang cemas. Sekali enjot,
dia melesat kebelakang si Bongkok. "Thocu, jangan kurang
ajar!" serunya sembari menusuk kebahu kanan orang.
Sebenarnya Ih Liok hendak menangkap orang yang
mengaku menjadi Ceng Bo siangjin itu, guna ditanyai
keterangan tentang peristiwa 10 tahun yang lalu itu beserta
hilangnya sebuah pedang pusaka. Tapi serentak Tio Jiang
hendak menusuknya, tahulah dia kalau anak itu tetap
menyangka si Ceng Bo tetiron itu sebagai suhunya. Dia
kenal watak anak itu, maka tak dapat mempersalahkannya.
Tapi untuk memberi penjelasan, terang memakan waktu.
Maka sembari pendakkan badan, dia menyeruduk Tio Jiang
dengan punuknya, Tio Jiang terperanjat, masa daging
punuk hendak diadu dengan ujung pedang. Cepat2 dia
hendak tarik pedangnya itu, tapi tahu2 tangan si Bongkok
sudah membalik kebelakang dan menyawut tangannya.
Selcali dipijat, aduh mak, bukan kepalang sakit tangan Tio
Jiang dibuatnya, sehingga trang.......... pedangnya terlepas
jatuh. Saking terkesiap melihat kesaktian si Bongkok itu,
Tio Jiang ter-longong2! disitu. Kini barulah si Bongkok
berpaling kebelakang, ujarnya dengan ketawa: „Siaoko,
jangan cemas, nanti saja-pasti kujelaskan padamu!"
"Suhu........" belum Tio Jiang melanjutkan kata2nya,
atau tiba2 dia berseru kaget: ,Ai........., kemana, suhu tadi ?"
Kiranya selagi kedua orang itu berayal, si Ceng Bo
tetiron sudah menghilang ketikungan balik gunung.
„Ho, hendak lari kau?!" seru si Bongkok sembari enjot
tubuhnya mengejar. Tapi baru memburu sampai ditengah,
tiba2 terdengar suara sorak sorai bergemuruh dan
muncullah sejumlah besar orang2 yang memakai kuncir.
Terang itulah tentara, Ceng. Dalam sekejap mata, mendesing2lah
ribuan anak panah terbang diudara, menghujani
rombongan orang gagah yang berada ditanah lapangan situ.
Yang paling celaka, adalah Thay-san sin-tho. Karena
berada dimuka sendiri, dia seperti dihujani dengan anak
panah. Syukur ilmu silatnya tinggi. Selagi melayang
ditengah udara, begitu didengar ada suara mendesing, dia
cepat meluncur turun. Begitu punggungnya yang bongkok
itu mengenai tanah, sembari, berjumpalitan, dia sudah
menyawut dua batang anak panah yang lalu digunakan
untuk melindungi tubuhnya hingga tak sampai terluka.
Mulut menyumpah serapah Ceng Bo tetiron sebagai
penghianat yang keji, sekalian orang gagah itu segera putar
senjatanya untuk menangkis hujan anak panah, sembari
mundur. Ada beberapa orang yang tadinya menyokong usul
Ceng Bo tetiron, karena memangnya mereka itu adalah kaki
tangan pemerintah Ceng yang menyelundup kedalam
rombongan orang gagah, sudah ber-kaok2: "Ceng Bo
siangjin, mengapa kawan2 sendiri kau binasakan ?" Tapi
belum ucapan itu selesai, sudah ada beberapa orang yang
rubuh ........... terkena panah.
GAMBAR 30
Mendadak Tio Jiang dan Nyo Kong-lim dihujani anak panah
meyusul serombongan tentara Ceng yang berkuncir sudah datang
menyerbu.
Tio Jiang yang hanya memikiri diri Bek Lian, bermula
hendak mengejar jejak The Go, tapi hujan anak panah yang
lebat itu, telah merintanginya. Terpaksa dia putar
pedangnya untuk melindungi diri sembari melangkah maju.
Tapi barisan pemanah musuh itu, kuat dan gapah sekali.
Tidak semakin reda, sebaliknya hujan anak panah itu makin
deras seperti hujan dicurahkan dari langit. Sudah beberapa
kali Tio Jiang hampir terkena.
Saat itu rombongan orang gagah lainnya sembari
menangkis sembari mundur ketepi pantai. Jadi yang masih
tinggal, hanya Thay-san sin-tho dan Tio Jiang.
"Suhu, suhu! Lian suci berada dengan Cian-bin
Longkun, ha!" teriak Tio Jiang sembari menangkis.
Mendengar itu terpaksa si Bongkok mundur kedekat sianak
muda itu, ujarnya: "Siaoko, 3 bulan tak berjumpa,
kepandaianmu maju pesat sekali!"
"Thocu, kau bukan orang baik. Mengapa dalam 6 tahun
kau pura2 gagu?" tanya Tio Jiang, yang sudah biasa bercanda
dengan si Bongkok itu. Tapi pada lain ketika teringat
bahwa dengan kesaktiannya tadi, terang si Bongkok itu juga
seorang cianpwe dalam persilatan, maka dia kemalu2-an
sendiri, karena merasa tak pantas memanggil begitu
"Siaoko ceritanya panjang sekali. Nanti saja setelah
mengundurkan rombongan tentara Ceng itu dan
menangkap Ceng Bo siangjin, baru kujelaskan padamu,"
sahut si Bongkok dengan tertawa sembari menangkis
serangkan anak panah.
Mendengar suhunya hendak ditangkap, kembali Tio
Jiang tertegun. Dan karena gerakan tangannya agak
terlambat, sebatang anak panah menyambar didekat sisi
telinganya, sehingga dia berjingkrak kaget. "Thocu
(bongkok), enam tahun suhu memperlakukan baik2,
mengapa kau hendak menangkapnya?"
"Ho, jadi kau masih menganggap imam tua tadi sebagai
suhumu?" tanya si Bongkok tertawa.
Terkilas dalam pikiran Tio Jiang bagaimana aneh sekali
sikap suhunya tadi. Tapi biar bagaimana juga, dia merasaa
berhutang budi besar pada suhunya itu. To-hay-kiam-hwat
yang sedemikian saktinya, sedang puterinya sendiri tak
diajari, sebaliknya diturunkan padanya. Adakah dia sampai
hati untuk membaliki muka kepada suhu yang berbudi itu?
Nyo Kong-lim tadipun mendamprat habis2an pada
suhunya. Jadi terang suhunya pasti tak dapat melawan
dikerubuti oleh sekian tokoh2 lihay nanti. Memikir sampai
disitu, ujung pedang dimiringkan dan sret ........ memapas
bahu si Bongkok, serunya: "Kalau hendak menangkap
suhu, harus kalahkan dulu aku!" Tapi berbareng pada saat
itu, dua batang anak panah menyambar disisinya. Malah
yang sebatang telah menyusup bajunya hingga robek.
Waktu dipuncak Giok-li-nia dahulu, 'sering si Bongkok
itu' menyaksikan Tio Jiang berlatih ilmu pedang. Jadi
tahulah kalau serangan sianak muda itu disebut jurus "ching
wi kiam hwat", maka dengan tenangnya dia pakai anak
panah untuk membuat lingkaran sinar, guna menghalau
serangan itu. Tapi kini Tio Jiang sudah mempelajari habis
dan mengerti keindahan sari ilmu pedang to-hay-kiam-hwat
itu. Begitu dilihatnya si Bongkok pakai sebatang anak
panah untuk menangkis, dia segera geser sedikit kesamping
pedangnya, dap tiba2 ujungnya ditusukkan kemuka.
Ih Liok tak menyangka sama sekali akan gerakan yang
luar biasa dari sianak muda itu. Dengan gugupnya, dia
cepat memutar tubuhnya kebelakang, terus menyingkir dua
tindak, baru dia dapat menghindar. Tapi tak urung sebatang
anak panahnya tadi, sudah kena terpapas kutung oleh
pedang Tio Jiang. Namun Thay-san sin-tho adalah tokoh
kenamaan, begitu membuang kutungan anak panah itu,
,segera dia sudah dapat mencari gantinya lagi. "Siaoko,
kenapa kau ini" serunya dengan geli.
Tapi berbareng dengan itu, tiba2 dari arah belakang sana
terdengar suara tambur riuh rendah dipukul orang, dan
tereakan gegap gempita dari rombongan orang gagah tadi.
Lekas2 Tio Jiang berpaling dan menampak dimulut muara
sana muncul ber-puluh2 perahu kecil yang penuh membawa
barisan pemanah. Malah sudah di lancarkan serangan anak
panah yang gencar. Jadi kini rombongan orang gagah itu
dijepit dari muka belakang. Saking marahnya, Nyo Konglim
kedengaran ber-tereak2 seperti kebakaran janggut:
"Hay-te-kau, orang mengagungkan kau ini sebagai lelaki
sejati, tak tahunya tak nempil dengan binatang berekor
macam babi dan anjing saja!"
Sembari ber-tereak2 begitu, Nyo Kong-lim putar samciat-
kunnya dengan dahsyat maju menyerbu maju. Tadi
saja demi diketahui tentara Ceng sudah mengatur stelling
bayhok (barisan pendam) dibelakang gunung, pemimpin
Hoa-san itu sudah murka. Tapi setelah berunding dengan
saudara2-nya para Cecu, diputuskan mundur kembali dulu
ke Hoa-san, Disana hendak menyusun kekuatan, guna meI
kukan perang total dengan musuh itu. Tapi demi kini
diketahuinya musuh telah mengurungnya dengan rapat, dia
teramat gusar.
Dengan memutar sam-ciat-kun laksana kitiran, dia
mengamuk seperti banteng ketaton. Ber-puluh2 batang anak
panah yang menuju kepadanya, segera tersinglap
berhamburan terbentur sam-ciat-kun. Tak berapa lama
kemudian, pemimpin Hoa-san itu makin mendekati kearah
Thay-san sin-tho dan Tio Jiang sana. Sembari berjuang
mati2-an, mulut pendekar gunung Hoa-san itu tak henti2-
nya mengumpat caci Ceng Bo siangjin.
Mendengar makian Toa-cecu Nyo Kong-lim, Tio Jiang
makin marah. Sembari teruskan serangannya kepada Thaysan
sin-tho Ih Liok, dia bentak Nyo Kong-lim: ,Toa-cecu
kau memaki siapa?"
Nyo Kong-lim berasal dari keluarga pasaran (rendah),
jadi soal "me-maki2” sudah menjadi darah dagingnya.
Apalagi pada, saat itu, dia sedang gusar sekali, maka tak
peduli setan belang lagi, dia, segera menyahut seribu satu
makian: "Ceng Bo siangjin, makanya orang2 persilatan
sama mengatakan kalau isterimu minggat. Karena menilik
perbuatanmu macam babi anjing itu, kalau yang menjadi
isteri tak main gila dengan lain lelaki, sungguh dunia ini
tidak adil. Hayo, unjukkan cecongornya untuk mengetahui
siapa lelaki siapa perempuan. Apakah kau kira permainan
kanak2 ini akan dapat menangkap Nyo toaya-mu ini?"
Tio Jiang teringat akan sumaoynya, Yan-chiu. Kalau
sumoay itu ada disitu tentu akan dapat me-retour makian
itu kepada sipengirim. Tapi ah..., sumoay itu tiada kabar
beritanya, kemungkinan besar lebih banyak celaka daripada
selamat. Maka kini dia tumpahkan kejengkelannya itu
kepada Nyo Kong-lim. Begitu tarik pulang serangannya, dia
cepat beralih menyerang Nyo Kong-lim.
Seorang-kasar macam Nyo Kong-lim mana mau
memikir ini itu. Tanpa banyak bicara lagi, dia segera
sambut serangan anak muda itu. Demikianlah dalam
sekejab saja keduanya segera terlibat dalam pertempuran
yang seru. Ber-kali2 Thay-san sin-tho menereakinya supaya
berhenti, namun kedua orang itu sudah seperti orang kalap.
Tiba2 dari atas gunung sana kedengaran seseorang
ketawa gembira sekali: "Ha......, ha......, anjing berkelahi
dengan anjing, saling gigit menggigit mati2an. Biarlah.....,
biarlah......, toh nanti keduanya akan mati dalam hujan
panah!"
Tio Jiang rasanya kenal sekali akan suara orang itu.
Cepat sekali dia putar separoh tubuhnya mengawasi keatas.
Ya, benar, itu dia si Cian-bin Long-kun The Go! Tapi
karena dia mendongak begitu, wut.........., sam-ciat-kun
Nyo Kong-lim sudah menyambar datang. "Cian-bin Longkun,
mana Lian suci?" tereak Tio Jiang tanpa pedulikan
Nyo Kong-lim lagi.
"Toa-cecu, tahan!" tiba2 Thaysan sin-tho yang sedari tadi
mengawasi akan jalannya pertempuran itu, kedengaran
berseru.
Atas seruan itu, Nyo Kong-lim tersadar. Memang anak
itu seorang anak jujur setia, tak boleh dicelakai. Maka
buru2 dia sentakkan tangannya kebelakang. Tapi biar
bagaimana juga, serangannya dalam jurus "Sun Bu
patahkan kaki" itu, dilancarkan dengan se-kuat2-nya, maka
walaupun dia berhasil juga untuk menarik balik dengan
tiba2 itu, namun tak urung dia terjorok kebelakang. Justeru
pada saat itu salah satu dari hujan anak panah yang masih
deras itu, telah menyambar pundaknya, sehingga pemimpin
Hoa-san itu ber-kaok2 mengaduh kesakitan, dan mulutnya
segera menghamburkan makian: "Keparat, anggaplah
kalian anjing, tapi aku tetap akan menghajarmu, anjing!”
Yang dimaki itu bukan Tio Jiang, melainkan The Go.
Dan ber-sama2 Thay-san sin-tho, kini dia menyerbu keatas.
Sebaliknya Tio Jiang yang sudah - dibutakan cinta kepada
Bek Lian itu, kembali ulangi pertanyaannya tadi, serunya:
"Cian-bin Long-kun, Lian suci kau bawa kemana, hayo
bilang tidak ?"
The Go dengan enak saja ber-kipas2, seraya menyahut
dengan tertawa, mengejek: "Hem.........., menjadi sute tak
tahu kemana perginya sang suci, masa tanya pada lain
orang? Siaoko, kurasa kau tak menanyakan sucimu, tapi
menanyakan orang yang kau cintai bukan? Ha....., ha.....,
sewaktu kau sakit, orang yang kau cintai itu pergi tanpa
pamit. Bukankah ini berarti menyintai orang yang tak cinta?
Ho, ngenas, kasihan!"
Ucapan itu telah menusuk betul2 keulu hati Tio Jiang.
Lupa dia kalau saat itu, masih ditengah hujan panah.
Pedang terkulai kebawah, orangnya menjublek berdiri
seperti patung. Hujan anak panah yang masih berseliweran
dikanan kirinya itu, tak diacuhkan sama sekali.
Mata The Go yang tajam dapat mengetahui keadaan
saingannya itu. Pikirannya jahat timbul. Dia ambil busur
dan anak panah dari seorang serdadu Ceng yang berada
didekatnya. Busur dipentangnya lebar2, sekali lepas maka
menderulah sebatang anak panah kearah tenggorokan Tio
Jiang. Anak ini tengah merenungkan ucapan si Cian-bin
Long-kun itu tadi. Memang rasanya kata2 itu tepat.
Buktinya, Bek Lian telah lari bersama. The Go ketika dia
pingsan dipulau kosong tempo hari. Tapi heran, kalau Bek
Lian benar tak menyinta, mengapa malam itu ia
memberikan tanda, mata peniti kupu2 padanya? Justeru dia
melamun sampai disitu, anak panah tadi sudah terpaut
hanya 2 meteran jauhnya. Kalau dia mau menghindar,
rasanya masih bisa. Tapi seperti orang linglung, dia malah
merogoh kedalam baju, Perlunya untuk merabah peniti
kupu2. Dan begitu tangannya menyentuh benda itu, hatinya
serasa terhibur. Namun pada detik itu, anak panah telah
menyambar tiba, tepat mengenai tenggorokannya, sret
........... darah muncrat keluar, dan barulah dia tersadar.
Secepat kilat, dia tangkap tangkai anak panah itu.
Untunglah dia lekas2 bisa berbuat begitu, karena terang tadi
The Go telah gunakan seluruh kekuatannya untuk
memanah. Tak boleh tidak, panah itu tentu akan menembus
batang leher Tio Jiang. Maka meskipun tangan Tio Jiang
keburu mencekalnya, tak urung setengah dim dari ujung
panah itu telah menyusup kedalam tenggorokan. Sakitnya
sampai menusuk ke-ulu hati. Dan begitu tubuhnya
terhuyung, kembali betisnya termakan sebatang anak panah
lagi.
Tempo hari Yan-chiu memberikan peniti kupu2 milik
Bek Lian itu kepada Tio Jiang, se-mata2 adalah untuk
memper-olok2-nya saja. Jadi bukan untuk mencelakai
sukonya itu. Maka kalau saat itu ia menyaksikan buah
perbuatannya yang dipikul oleh Tio Jiang itu, ia pasti, akan
mengucurkan air mata. Tapi bagaimanaa lagi, nasi sudah
menjadi bubur.
GAMBAR 31
Selagi Tio Jiang ter-menung2 dilanum, cinta meradadak The
Go lepaskan anak panah dan tepat menancap ditenggorokan
pemuda itu.
Balik menutur keadaan Tio Jiang, dalam pikirannya
yang sudah limbung akibat luka ditenggorokannya itu, tiba2
dia beringas pula. Biar bagaimanaa dia harus cari orang she
The itu untuk menanyakan dimana sang suci itu. Ini perlu,
sebab dia ingin mendengar keterangan dari mulut orang
yang dicintai itu sendiri, bagai manakah sejatinya
pikirannya itu. Yang perlu, dia hendak bertanya, mengapa
malam itu Bek Lian sanggup untuk menjadi isterinya?
"Cinta menangkan segala", demikian kata orang. Dan ini
rupanya berlaku jugaa bagi Tio Jiang. Tenggorokan adalah
bagian yang berbahaya dari tubuh manusia. Ini sudah
terpanah, begitu pula betisnya. Andaikata lain orang pasti
siang2 sudah rubuh. Tapi karena mempunyai kekuatan
batin Yang keras, Tio Jiang malah beringas. Dengan putar
pedangnya, dia menerjang maju. Benar anak panah tadi
sudah dicabutnya, tapi karena dia bergerak, maka darahpun
mengalir seperti menganak sungai. Kini Tio Jiang bukan
seperti manusia lagi macamnya, melainkan seperti manusia
darah. Begitu menghampiri kedekat Thay-san sin-tho dan
Nyo Kong-lim, kedua orang ini menjadi berdiingkrak kaget.
"Siaoko, kau kenapa itu ?" tanya mereka serentak.
Tio Jiang memutar kepalanya, dengan bengis dia deliki
mata kepada mereka Tapi begitu mulutnya hendak
berkata2, se-konyong2 dia kesima, serunya dalam hati:
"Hai? Leherku! Mengapa dapat diputar?" Dia coba lagi
untuk menoleh kekanan kiri dan ternyata mudah sekali,
tidak tengeng kaku lagi. Dalam kegirangannya, dia
unjukkan ketawa pada kedua orang tadi.
Biasanya orang ketawa itu tentu sedap dipandang. Tapi
tidak dengan Tio Jiang. Karena dia sudah berobah menjadi
manusia-darah, begitu ketawa, malah membikin takut
orang.
"Kau ini orang mati atau orang hidup?" seru Nyo Konglim.
Tio Jiang tak sahuti pertanyaan orang. Pikirannya
dikliputi rasa girang, karena bukankah nanti Bek Lian
takkan mencelahnya sebagai orang tengeng? Tapi dalam
pada itu, dia juga merasa heran. Mengapa dengan
terpanahnya tenggorokannya itu, malahan dapat
memulihkan tengengnya? Bukankah tempo hari Sik Lo-sam
mengatakan, tiada obatnya lagi? Kiranya dia memang tak
mengetahui, bahwa untuk menyelamatkan jiwanya, Sik Losam
terpaksa gunakan ciong-chiu-hwat (ilmu tutuk berat)
untuk menutup jalan darahnya. Sebenarnya walaupun
dikatakan tutukan tangan berat, tapi seharusnya tak boleh
seratus persen digunakan. Tapi karena kurang faham, jadi
Sik Lo-sam telah pakai seluruh tenaga untuk menutuknya,
hingga akibatnya dia menjadi tengeng. Sudah begitu orang
tua kate itu masih malu mengatakan kalau dia tak bisa
memulihkan kembali, maka mengatakan kalau tiada
obatnya lagi.
"Siaoko, ini sambutlah dan poleskan pada
tenggorokanmu!" seru. Thay-san sin-tho seraya
melemparkan sebuah bungkusan kertas. Sibongkok ini tahu
bahwa sekalipun Tio Jiang mandi darah, tapi lukanya tak
berbahaya.
Kini ketiga orang itu sudah berhasil menyerbu sampai
kekaki gunung. Barisan pemanah tentara Ceng itu
bertempat diatas batu2 besar. Maka begitu ketiga orang tadi
sudah mencapai kaki gunung dimana banyak terdapat
batu2, mereka tak bisa berbuat apa2 lagi. Sekalipun masih
menghujani anak panah, tapi percuma saja. Juga hujan
panah dari jurusan laut tadi, karena sudah terpisah pada
jarak jauh, pun tak sampai disitu.
Entah sudah berapa kali Tio Jiang pakai obat kepunyaan
si Bongkok itu. Ketika masih digunung dahulu, setiap kali
tertusuk duri atau jatuh, begitu pakai obat itu, tentu sembuh
dengan lantas. Maka meskipun masih mendendam karena
orang hendak menangkap suhunya, namun Tio Jiang
sambuti obat itu dan dipakainya untuk mengobati
tenggorokan dan betisnya yang kena panah itu. Kemudian
diangsurkannya kepada Nyo Kong-lim yang terluka
pundaknya itu.
Mereka bertiga adalah orang2 yang berwatak sama, suka
blak2an tanpa tedeng aling2. Baru beberapa menit tadi
mereka saling bertempur, kini sudah baik dan akur kembali.
"Sayang, siaoko. Kau sesungguhnya seorang lelaki utama,
mengapa memperoleh seorang guru yang begitu?" kata Nyo
Kong-lim sembari mengobati lukanya.
Kembali Tio Jiang kerutkan alisnya, namun mulutnya
tak dapat berkata apa2. Tiba2 dia teringat bahwa tempatnya
situ adalah dikaki gunung, jadi kalau membiluk sedikit,
tentu akan bisa berjumpa dengan suhunya. Tanpa banyak
pikir lagi, dia lantas berseru keras2: "Suhu, suhu!"
Baru dua kali dia bertereak, tenggorokannya berasa sakit
lagi. Maka dia tak mau lagi bertereak, melainkan hendak
lanjutkan penyerbuannya lagi. Tapi tiba2 si The Go yang
berada dipuncak gunung sana menjerit kaget. Sudah tentu
Tio Jiang berpaling kebelakang untuk mengetahui apa yang
terjadi. Hai, tentara Ceng yang berada ditepi laut sana,
tampak kacau balau keadaannya. Dalam kekacauan itu
tampak ada seorang dalam sebuah perahu, mengamuk
laksana banteng ketaton. Setiap arah tangan menghantam,
terdengarlah jeritan orang. Setiap kaki menendang,
terdengarlah orang mengerang. Dan demi didengarnya Tio
Jiang berseru memanggil tadi, orang itu segera berseru:
,Jiang-ji, mengapa kau juga berada disini ?"
Tio Jiang mengawasi pula dengan seksama. Orang itu
mengenakan jubah pertapaan, Gerak terjangnya bebas
lepas. Sekian ratus tentara Ceng itu dianggapnya seperti
rumput saja. Ah............, siapa, lagi imam gagah itu kalau,
bukan gurunya yang teramat dicintai itu! Diam2 dia
bergirang hati dan mengira dugaannya tadi tepat, yakni
mengapa sang suhu sengaja menganjurkan para orang
gagah supaya takluk kepada fihak Ceng, yalah karena,
disebabkan sesuatu hal, Buktinya kini suhunya itu kembali
sudah mengamuk tentara Ceng lagi. Saking girangnya, dia
deliki mata pada Nyo Kong-lim. "Toa-cecu, orang
bagaimanakah suhuku itu, seharusnya kau sudah tahu
sekarang."
Toa-cecu dari Hoasan itu ter-longong2 melihat keanehan
itu. Dilihatnya belasan perahu tentara Ceng itu dalam
sekejab saja sudah disapu bersih oleh Ceng Bo siangjin.
Sebagai seorang yang polos, cepat dia mengakui
kesalahannya. Untuk menyahut pertanyaan Tao Jiang, dia
segera menampar mukanya sendiri, plak.........! ,Manusia
edan..........!" serunya memaki diri sendiri.
Tio Jiang geli, tapi Nyo Kong-lim itu sudah lari
menghampiri kearah Ceng Bo, seraya bertereak-tereak:
"Hay-tekau, 72 saudara Cecu dari Hoa-san, tetap akan
minta kau menjadi pemimpin kami!"
Bermula para orang gagah itu terkesiap melihat
munculnya Ceng Bo, tapi demi diketahui sepak terjang
siangjin itu membasmi tentara Ceng, mereka bersorak
kegirangan. Ber-bondong2 mereka datang mengerumuni
imam yang gagah perkasa itu. Kawanan orang yang tadi
pro menakluk pada pemerintah Ceng, juga menjadi heran
atas kejadian itu. Tapi Ceng Bo tak mengacuhkan mereka.
Langsung dia memapaki Nyo Kong-lim, serunya sembari
memberi hormat: "Adakah saudara ini Nyo Toa-cecu dari
ke 72 cecu Hoa-san ? "
Sudah tentu sikasar itu melengak. "Hay-te-kau, kau
pandai juga bersandiwara!" sahutnya dengan ter-gelak2.
Ceng Bo siangjinpun heran. Tapi karena menganggap
orang she Nyo itu seorang kasar yang blak2an, maka
diapun tak marah. Tapi ketika hendak berkata lagi, sekonyong2
dari balik gunung muncul seseorang yang sambil
bertepuk tangan segera mengeluh keras: "Ah......, sayang!
Terlambat sedikit saja, mereka sudah lolos!"
Itulah sibongkok Thay-san sin-tho Ih Liok. Tapi begitu
melihatnya, Ceng Bo siangjin tampak kerutkan alisnya.
Wajahnya nampak kurang senang. Sebaliknya Nyo Konglim
segera memanggil sibongkok: "Tho-cu, lekas kemari!"
Sibongkok segera menghampiri. Tapi tatkala lewat
disamping Tio Jiang, dia segera seret tangan si anak muda
itu.
Karena ber-tahun2 sibongkok itu mengelabuhi Tio Jiang,
dengan ber-pura2 sebagai orang gagu, Ceng Bo tak
menyukai sibongkok, maka diapun tak mau menyapanya,
melainkan bertanya kepada muridnya: "Jiang-ji, mengapa
kau berada disini? Dimana Ki dan Kiau-susiok berdua? Dan
mana Siao Chiu?"
"Suhu, apa kau tak mengetahui bahwa, Li Seng-Tong
sudah menduduki Kwiciu. Setelah membunuh kaisar Siau
Bu, dia mengirim 300 ribu tentara untuk mengurung Gwatsiu-
san. Saudara Thian Te Hui boleh dikata telah binasa!”
Wajah Ceng Bo tampak berobah keren, serunya:
"Mengapa kau takut mati melarikan diri ?"
Saking takutnya, Tio Jiang ter-sipu2 jatuhkan diri
berlutut. Sedang disana demi menyaksikan peribadi Ceng
Bo siangjin yang sedemikian perwiranya itu, Nyo Kong-lim
lalu unjukkan, jempol tangannya, berseru memuji: "Hebat!"
"Murid berhasil menerjang kepungan musuh dan bisa
lolos. Ki dan Kiau susiok diserang cerai berai oleh musuh.
Sedang sumoay yang bermula, selalu berdampingan dengan
murid, karena gelombang serangan serdadu musuh yang
sedemikian banyaknya itu, maka terpencarlah kita semua
...... entah kemana," Tio Jiang memberi keterangan.
Kemudian tuturkan juga pengalamannya selama itu.
Karena dia tak dapat berbohong, maka tentang bagaimana
dirinya terluka, bagamana dia hendak mengadu jiwa,
bagaimana, dia tukar menukar ilmu dengan Sik Lo-sam,
Kemudian bagaimana dia sampai di pulau Ban-san-to.
Setelah itu dia menyerahkan diri rela menerima, hukuman
apapun yang hendak dijatuhkan sang suhu, karena dengan
menurunkan ilmu pedang to-hay-kiam hwat kepada Sik Losam
itu, dia telah menyalahi peraturan perguruan.
Memang setelah mendengar penuturan muridnya itu,
wajah Ceng Bo tampak berobah bengis, kemudian pada lain
saat kedengaran dia berkata: "Menurut peraturan kaum
kita, sekalipun saudara seperguruan, tak diperbolehkan
untuk mencuri lihat latihan lain saudara seperguruan
................”
Belum dia menghabiskan keputusannya itu, sikasar Nyo
Kong-lim terus saja mengibaskan sam-ciat-kun seraya
berseru keras: "Hay-te-kau, kalau kau hendak menghukum
anak itu, sungguh tak mempunyai liang-sim (hati bajik)!"
"Apa maksud Toa-cecu berkata begitu?" tanya Ceng Bo
dengan heran.
Tanpa tedeng aling2 lagi, Nyo Kong-lim segera
menuturkan apa yang terjadi barusan tadi. Bagaimana
karena membela, sang suhu, anak itu telah bertempur
dengan dia. Keterangan Nyo Kong-lim itu dibenarkan oleh
para orang gagah. Ceng Bo siangjin tergerak hatinya. Tapi
dia adalah seorang yang dapat membedakan mana soal
peribadi dan mana soal hukum. Dengan menghela napas,
dia berkata: "Bangunlah, setelah urusan segera selesai,
kupertimbangkan lagi. Kini kuberi! kesempatan padamu,
mendirikan jasa untuk menebus dosa! "
Tio Jiang menghaturkan terima kasih. "Hay-te-kau,
sandiwara yang kau bawakan tadi, sungguh bagus!" kembali
Nyo Kong-lim bergelak tertawa. Ceng Bo siangjin tetap tak
mengerti, mengapa seorang lelaki gagah begitu,
omongannya tak keruan. Tapi tiba2 Thay-san sin-tho turut
campur bicara: "Ceng Bo siangjin, dengarkanlah
penjelasanku. Memang urusan itu panjang nian untuk
diceritakan. Mengapa aku si Bongkok ini sampai ber-tahun2
menjadi orang bisu adalah karena untuk menyelidiki urusan
itu, syukur kini sudah dapat kubikin terang. Ceng Bo
siangjin, kau benar2 seorang lelaki berpambek perwira
sekali, bukan orang yang takut mati!”
Ceng Bo siangjin kerutkan alisnya, menegas: ”Apa
maksudmu ?"
„Siangjin, apakah kau pernah mendengar bahwa didunia
persilatan terdapat seorang yang bernama Tan It-ho?" tanya
si Bongkok pula.
„Rasanya sudah, bukankah yang gelarannya 'Yau-sinban-
pian' (Gerak robah selaksa) itu ?" ujar Ceng Bo.
Atas itu Thay-san sin-tho mengiakan, katanya pula :
"orang itu pandai sekali bermake-up (menyaru) dengan
topeng kulit muka, lagi pintar meniru nada suara orang.
Ilmu silatnya sih biasa saja, tapi dengan mengandalkan
kedua macam kepandaiannya itu, dia banyak melakukan
perbuatan2 jahat. Tadi diapun muncul disini, menyaru
menjadi dirimu, menganjurkan supaya para saudara kaum
persilatan tunduk saja pada pemerentah. Ceng!"
Bukan saja Ceng Bo, pun sekalian orang2 yang hadir
disitu terperanjat bukan kepalang. „Masakan
kepandaiannya tadi sedemikian hebat hingga dapat
mengelabuhi orang banyak ?" kata Ceng Bo.
„Tadi sih dia gagal, tapi pada 10 tahun yang lalu, karena
disewa oleh orang dia telah berhasil dengan bagus sekali
memainkan peranannya dikaki gunung Lo-hou-san. Dia
dapat menipu sehingga dapat mencerai beraikan 'Kau'
(Hay-te-kau) dan 'Yan' (Kiang Siang Yan), serta melarikan
sebatang pedang pusaka !" menerangkan si Bongkok.
Hati Ceng Bo tergerak, maju selangkah dia menegas:
„Bagaimana kau tahu? !"
"Kata Sik Lo-sam bahwa saat itu aku berada ditempat
kejadian itu, memang aku menyaksikan dengan mata
kepala sendiri!" sahut Thay-san-sin-tho.
Tiba2 Ceng Bo siangjin bertereak keras2, sehingga
sekalian orang sama berd ingkrak kaget. „Dimana manusia
itu ?" tanyanya.
Tapi si Bongkok kedengaran menghela napas, jawabnya:
„Karena ayal sedikit saja, dia sudah lolos dengan perahu.
Tapi terang dia bersama Cian-bin Long-kun. Kalau kita
dapat mengejar Cian-bin Long-kun itu, bangsat itu tentu
takkan dapat Lari!"
Ceng Bo tampak berdiam diri. Pikirannya jauh melayang
akan peristiwa 10 tahun yang lalu, serta siwanita berambut
panjang yang dijumpainya dilaut itu. Samar2 dia serasa
terang akan duduk perkaranya.
Melihat ditinggal bicara sendiri, sikasar Nyo Kong-lim.
muring2. "Hay-te-kau, mengapa tak lekas2 pergi ke Hoasan?
Sekalian saudara sudah menunggumu!" serunya.
Mendengar itu, Ceng Bo, agak gelagapan. Urusan peribadi
pada 10 tahun itu, tinggalkan dulu saja. Urusan negara
lebih penting. Baik, mari kita berangkat ke Hoa-san!"
sahutnya, Kemudian diajaknya para orang gagah itu
menuju kepantai, dari situ mereka berlayar keutara.
Tio Jiang, Ceng Bo siangjin, Thay-san sin-tho, dan Nyolim
berkumpul disebuah perahu. Selama dalam perlayaran
itu, tampak Ceng Bo selalu merenung saja. Sebaliknya
dengan mendapat kawan seorang imam yang begitu gagah
perwira, Nyo Kong-lim tak putus2nya bicara dan tertawa,
sehingga perahu itu penuh diliputi dengan gelak ketawanya.
Lewat bebrapa saat, Ceng Bo siangjin minta supaya Thaysan
sin-tho, menghampiri kedekatnya. Sedang Nyo Konglim
asyik menceritakan pada Tio Jiang tentang keadaan ke
72 Cecu Hoa-san itu.
Sembari mendengari. Tio Jiang sembari se-bentar2
memasang mata kearah suhunya. Dia heran sewaktu sang
suhu memanggil si Bongkok. Entah apa yang dibicarakan
mereka. Tapi samar2 Tio Jiang seperti teringat akan
kejadian pada masa yang lalu. Misalnya bagaimana sekali
ketika masih digunung, Bek Lian telah menangis dengan
ter-lara2. Bermula dikiranya kalau dia (Bek Lian) kesalahan
padanya, tapi ternyata suci itu teringat akan ibundanya. Bek
Lian telah menanyakan perihal ibunya kepada sang ayah,
tapi ayah itu tetap tutup mulut saja. Dan teringat pula
tempo hari Sik Lo-sam pernah menyebut kata2 ,Hay-te-kau
dan "Kiang Siang Yan." Sedangnya dia berpikir sampai
disitu, dilihatnya wajah Ceng Bo siangjin berobah murka
sekali. Kemudian pada lain saat, suhunya itu mondar
mandir diatas lantai perahu, krak......, krak..... lantai perahu
yang dilewatinya itu sama melekah atau ada yang amblong.
"Hay-te-kau, mengapa tak kau jumpalikkan sekali perahu
ini untuk melampiaskan kemarahanmu itu, perahu
tenggelam ....... kita semua kan akan mandi dilaut ?" Seru
sikasar Nyo Kong-lim demi melihat gerak gerik Ceng Bo.
Atas seruan itu, Ceng Bo hentikan langkahnya. Tapi dari
mimik wajahnya, dia tetap dirangsang kemurkaan hebat.
Tio Jiang juga tak mengerti apa kata si Bongkok tadi,
hingga menyebabkan sang suhu sedemikian murkanya.
Selama ini belum dia melihat suhunya sedemikian
murkanya. Juga lain2 orang yang tak tahu menahu akan
urusan peribadi Ceng Bo, hanya menganggap bahwa
siangjin itu sebagai seorang patriot besar tentu sedang
tumpahkan kemurkaannya terhadap tindakan tentara Ceng
selama ini. Menampak siangjin itu begitu murka,
merekapun tak berani bercuit.
Perahu berlayar dengan cepatnya dan saat itu sudah
tengah hari. Tiba2 Nyo Kong-lim berteriak : „Hai, mengapa
kapal besar dimuka sana itu ter-katung2 ditengah laut ?"
Ceng Bo pun melihat hal itu. Perahu besar itu adalah
perahu yang dipakai The Go dan Bek Lian beserta sejumlah
tentara Ceng untuk menggempur Kwiciu tapi telah dipegat
oleh Ceng Bo tempo hari. Terang kala itu perahu
membentur karang dan sudah akan tenggelam, tapi
mengapa sampai sekarang masih ter-katung2 timbul tidak
tenggelam bukan ?
„Siapa diantara saudara2 yang mengetahui laut sana itu
terdapat karang ?" tanya Ceng Bo kepada awak kapal. Salah
seorang tampil kemuka dan menerangkan bahwa laut itu
disebut Hay-sim-kau atau Laut Karang. „Siapakah nama
saudara ? Tempat itu bukankah dahulu tempat pertapaan Su
Liong Po ?" tanya Ceng Bo. Orang itu menerangkan bahwa
dia bernama Su Khin-ting bergelar Bo-lin-hi (ikan tak
bersisik), kemudian menuturkan bahwa Su Liong Po itu
sudah lama meninggal.
Ceng Bo memandang orang itu, wajah siapa sih tak
mengunjuk apa2 yang luar biasa, kecuali sikap dan
bicaranya tadi cukup tegas. Tahu Ceng Bo bahwa dengan
bergelar Bo-lin-hi itu, kepandaian didalam air dari orang itu
tentu istimewa. Sekilas terbayang dalam ingatan Ceng Bo,
bahwa wanita berambut panjang yang muncul diperahu
tenggelam itu dulu, menilik daerah laut situ adalah Haysim-
kau, ke-mungkinan besar ia itu adalah murid daripada
Su Liong Po tersebut. Su Liong Po, juga seorang wanita
yang sudah berumur lanjut. Ia termasyhur memiliki ilmu
lwekang istimewa yang disebut ,Thay-im lian sing".
Setelahh mendapat keterangan dari Thay-san sin-tho tadi,
samar2 Ceng Bo menjatuhkan dugaannya kalau wanita
berambut panjang itu, adalah orang yang ber-tahun2 ini
dicarinya dengan sia2 itu. "Saudara Su, apakah kau pernah
menyelam kebawah laut situ ?” tanyanya kemudian.
"Dua tahun yang lalu, pernah dua kali meninjau kesana.
Tapi ternyata dibawah laut situ hanya terdapat batu2
karang yang aneh bentuknya, tapi tak dapat kuketemukan
pintu goa dimana dahulu Su Liong Po telah meyakinkan
pelajarannya,” sahut Su Khin-ting.
"Ilmu lwekang dari Su Liong Po itu disebut 'thay-im lian
sing," suatu jenis lwekang yang paling istimewa sendiri.
Untuk meyakinkan ilmu itu, harus berada dibawah tanah,
Tiap sejam sekali muncul keatas untuk, menghirup hawa
sampai 32 kali. Akhirnya setelah mencapai tingkat seperti
apa yang dikatakan dalam kitab Lam Hwa Keng ‘dimana
sang malaekat tinggal, disitulah sang naga akan muncul.
Tenang bagaikan sesosok malaekat, bergerak bagaikan
seekor naga', maka sempurnakah sudah peyakinan itu. Su
Liong Po atau wanita malaekat naga, begitulah mendapat
gelarannya. Terang ia tentu mempunyai goa rahasia didasar
laut Hay-sim-kau situ, soalnya saudara belum dapat
menemukannya saja," menerangkan Ceng Bo.
Sekalipun penumpang2 perahu itu sebagian besar adalah
orang2 persilatan namun mereka tak pernah mendengar hal
itu. Hal ini menambah kekaguman mereka, terhadap Ceng
Bo siangjin yang begitu luas pengalamannya. Malah setelah
habis menutur tadi, Ceng Bo tampak melucuti jubah
pertapaannya, lalu mengajak Su Khin-ting: "Sdr. Su, karena
kau sudah pernah kesana, maukah menemani aku sekali
lagi ?”
Sudah tentu Su Khin-ting menurut, tapi sebaliknya Nyo
Kong-lim cemas, serunya: "Hay-to-kau, jangan lupa kita
masih mempunyai urusan besar!" Namun Ceng Bo hanya
mendengus saja, terus loncat kedalam laut.
Gelar Hay-te-kau atau Naga didasar laut itu, ternyata tak
bernama kosong. Sekali terjun kedalam air, dia sudah
menyelam jauh kedalam. Ketika Su Khin-ting yang
mengikuti dibelakang membuka mata, ternyata siangjin itu
sudah berada 3 tombak lebih didepan sana. Nyo Kong-lim
perentah menurunkan layar, supaya perahu berjalan
selambat mungkin. Tio Jiang sebaliknya segera menanyai si
Bongkok apa yang dibicarakan dengan suhunya tadi.
"Siaoko, mengapa harini kau begini teliti?" sahut si
Bongkok sembari menoleh kekiri kanan. Melihat sikap si
Bongkok itu, tahulah Tio Jiang kalau pertanyaannya tentu
tak dijawab.
Kini kita ikuti perjalanan Ceng Bo siangjin dan Su Khinting.
Tak berselang berapa lama, Ceng Bo tiba pada sebuah
deretan batu karang raksasa yang ber-warna hitam
bertutulkan putih. Batu2 itu menjulang didasar laut. Ceng
Bo meluncur turun kesana. Karena tengah hari, jadi dasar
laut situpun kelihatan terang. Pegunungan karang itu tinggi
rendah menonjol turun, bentuknya beraneka ragam
anehnya. Tapi walaupun berenang mengelilingi seputarnya,
namun kedua orang itu tak berhasil menemukan sesuatu
yang luar biasa. Ceng Bo berhenti sejenak sambil
memegangi sebuah tiang batu, kemudian dia meneliti lagi
sekeliling tepian pegunungan itu, namun tetap tak berhasil
menemukan apa2. Su Kin-ting membuat isyarat tangan
yang maksudnya menerangkan, dua kali sudah dia
berkunjung kesitu, pun tiada berhasil.
GAMBAR 32
Sesudah Ceng Bo Siangjin menyelam kedasar laut bersama Su
Kin Ting, tidak lama lantas tertampak didepan ada batu2 karang,
putih yang aneh2.
Pikiran Ceng Bo bekerja. Lam-hay Hek-mo-kun (Raja
Iblis Hitam dari Laut Selatan) yakni gelaran dari Su Liong
Po sebelumnya, meyakinkan ilmunya di laut Hay-sim-kau
situ, semua orang sudah mengetahuinya. Benar semasa
Hek-mokun tersebut masih hidup, tiada seorangpun yang
diidinkan Masuk kedalam laut Hay-sim-kau situ, namun
bagaimana dia tentu melakukan peyakinannya itu dibawah
laut dan se-kali2 bukan diatas permukaan laut. Konon
kabarnya, ilmu thay-im-liang-sing itu, sewaktu
meyakinkannya, tak boleh tersentuh dengan benda yang
bagaimana pun kecilnya juga. Kalau dia meyakinkan diluar
karang (diatas permukaan laut), terang tak mungkin karena
gelombang laut itu penuh dengan bermacam2 benda.
Memikir sampai disitu, Ceng Bo siangjin mulai mencari
lagi. Dan akhirnya jerih payahnya itu berbuah. Dia
menemukan sebuah batu karang yang bentuknya luar biasa
serta berbeda dengan yang lain.
Batu itu hanya 2 meter pesegi besarnya. Anehnya, diatas
batu tersebut tiada tumbuh pakis (lumut), jadi licin2 saja.
Terang kalau sering dijamah oleh tangan orang. Karena
berada didasar laut, batu itu sebagian telah ditimbun oleh
pasir, maka pada pencarian pertama tadi, sudah tak
tertampak jelas. Ceng Bo memberi isyarat supaya Su Khinting
datang kesitu. Mereka berdua segera menyingkirkan
timbunan pasir itu. Setelah itu Ceng Bo menghantam
kemuka. Hantamannya itu diarahkan pada air, bukan pada
batu tadi. Ber-gulung2 air meluncur kemuka, lalu dengan
tiba2 dia menarik tangannya kebelakang. Begitulah dengan
mendorong-tarik itu, maka timbullah suatu tenaga
hantaman yang dahsyat. ilmu silat Su Khin-ting juga tak
lemah, tapi terdampar oleh tenaga dahsyat tadi, dia sudah
tak dapat berdiri tetap. Diam2 dia kagum sekali kepada
imam yang sakti itu. Pada lain saat, ketika Ceng Bo
menarik tangannya kebelakang, dia sertai dengan tenaga
Iwekang sehingga air ber-gulung2 turut tersedot kebelakang.
Oleh tenaga sedotan yang kuat sekali itu, akhirnya batu
karang tadi turut bergoyang2 dan bergeser beberapa dim.
Sekali Ceng Bo mendorong kuat2, maka batu karang itu
segera bergeser jauh dan tampaklah sebuah lubang goa.
Sebenarnya pegunungan karang tersebut, adalah gunung
didasar laut. Sifatnyapun serupa dengan gunung didaratan,
maka juga terdapat goa2-nya. Tanpa, ragu2 lagi, keduanya
segera menyusup kedalam lubang itu. Kiranya benar seperti
yang diduga mereka, tempat itu merupakan sebuah goa
bundar seluas satu tombak. Goa itu penuh dengan ikan2
kecil yang tubuhnya dapat memancarkan cahaya sinar,
sehingga goa itu seperti diterangi dengan ratusan lampu
kecil. Air disitu pun jernih sekali, sehingga kalau orang
berada disitu rasanya seperti memasuki sebuah Cui-ci-kiong
(istana didalam air).
Ceng Bo menduga disitulah tempat pertapaan dari So
Liong Po dahulu. Dia berenang mengelilingi dinding goa
itu. Disana sini didapati seperti ada ukiran huruf2, tapi kini
sudah rusak oleh guratan2 yang malang melintang
memenuhi dinding itu, sehingga tulisan2 tadi tak dapat
dibaca lagi. Tak tahu Ceng Bo apa maksud kesemuanya itu.
Tiba2 pada sebuah dinding lain, dia tertegun mengawasi
sebuah lukisan yang diukir disitu. Melihat itu, Su Khintingpun
lekas2 menghampiri. Entah bagaimana dulu
sipelukis dapat mengukir lukisan itu didinding tersebut.
Tapi jelaslah sudah, lukisan itu menggambarkan sebuah
pondok gubuk, seorang wanita cantik tidur diatas balai2,
wajahnya mengunjuk malu dan marah besar. Ditepi balai2,
tampak ada 2 orang lelaki yang dengan beringas bengis
tengah mencekik tengkuk (leher bagian belakang) dari
seorang lelaki lain, wajah siapa mirip dengan Ceng Bo
siangjin. Orang laki itu (yang melukiskan Ceng Bo)
tampaknya seperti me-ratap2 minta ampun. Diantara
buaian air laut mengalir, lukisan itu tampaknya hidup
sekali.
Bagi Su Khin-ting, lukisan itu tak dimengertinya. Tapi
Ceng Bo siangjin segera menginsyafi apa artinya. Kiranya
apa yang telah dikatakan Thay-san sin-tho itu, benar semua.
Kedua penjahat tadi (yakni lukisan kedua orang laki yang
mencekik orang) karena hendak mencuri pedang pusaka
kepunyaannya (Ceng Bo) dan Kiang Siang Yan, telah
gunakan tipu muslihat yang keji. Selagi Ceng Bo naik
keatas gunung mencari obat, mereka telah menutuk jalan
darah Kiang Siang Yan yang tengah sakit berat itu.
Kemudian menyuruh si Yau-sin Ban-pian Tan It-ho
menyaru jadi Ceng Bo dan disuruh membujuk agar Kiang
Siang Yan menyerahkan pedangnya pusaka !
Ah........, tak heranlah kini Ceng Bo, mengapa
sedemikian murka Kiang Siang Yan pada saat itu. Tanpa
mengucap apa2, ia lolos merana ke-mana2. Tentu isterinya
itu sampai ditempat situ dan berhasil menemukan goa
tempat pertapaan Su Liong Po. Ukiran tulisan2 pada
sekeliling dinding gua itu tadi, tentulah merupakan
pelajaran dari ilmu sakti thay-im-lian-sing, dan mulailah
Kiang Siang Yan meyakinkannya. Kiang Siang Yan
seorang wanita yang pandai ilmu sastera dan ilmu silat.
Dengan kecerdasan otaknya, ia tentu dapat menangkap inti
sari pelajaran itu. Terang kalau lukisan keadaan digubuk
kaki gunung Lo-hou-san itu, ialah yang membuatnya !
Hati Ceng Bo makin pilu. Sekilas terbayanglah dia akan
siwanita rambut panjang yang dijumpai diatas perahu
tempo hari. Sebelum menjadi isterinya, Kiang Siang Yan itu
sebenarnya adalah sumoaynya. Sudah tentu ilmunya
lwekang sama. Tapi kala itu, ketika memeriksa bekas tiang
perahu yang ditabas oleh wanita tersebut, ternyata berlainan
sekali. Kini baru dia jelas duduk perkaranya, bahwa ilmu
lwekang wanita itu adalah dari pelajaran thay-im-lian-sing.
Dengan begitu, jelaslah sudah wanita berambut panjang itu
bukan lain yalah isterinya sendiri, Kiang Siang Yan, atau
ibu dari Bek Lian. Ah, hampir sepuluh tahun dia selalu
mengenang dan mencari isteri yang dikasihinya, tapi begitu
berjumpa, dia sudah tak mengenalnya! Ah..., sayang......,
sayang...........
Sebaliknya, Kiang Siang Yan tentu sudah mengenal
suaminya itu. Hanya mengapa ia tak mau mengenal lagi,
itu disebabkan dua hal: Pertama, dalam kalbu nyonyah
gagah itu tentu masih ter-bayang2 bagaimana wajah sang
suami yang begitu pengecut minta ampun pada musuh,
Kedua, karena thay-im-lian-sing itu harus diyakinkan
dibawah tanah atau laut, jadi sipeyakin tentu menjadi orang
yang mempunyai watak aneh dan hatinya berobah dingin
tak berperasaan lagi.
"Untuk menyelesaikan salah faham itu, jalan satu2nya
yalah harus dapat membekuk Tan It-ho dan kedua bangsat
itu. Demikianlah putusan Ceng Bo. Su Khin-ting
menampak Ceng Bo ter-longong2 mengawasi lukisan
didinding gua itu, pun tak berani mengusiknya. Berkat ilmu
dalam, air sangat mahir, maka walaupun sampai sekian
lama mereka berdua berada dalam air, namun tak menjadi
halangan. Lewat beberapaa saat Imemudian, barulah Ceng
Bo kelihatan bergerak keluar, diikuti Su Khing-ting. Setelah
meletakkan batu karang tadi ditempat semula, keduanya
segera melambung keatas.
---oodw0tahoo---
BAGIAN 10 : GURITA RAKSASA
Baru saja muncul dipermukaan air, kedengaran Ceng Bo
menghela napas, ujarnya: „Saudara Su, apa yang kau
ketahui dalam gua karang tadi, harap saudara suka
merahasiakan." Su Khing-ting mengangguk. Tampak oleh
kedua orang itu, perahu yang ditumpangi Nyo Kong-lim
dan kawan2 berada tak jauh disebelah muka. Tapi anehnya
perahu itu kelihatan terombang-ambing keras sekali, dan
kedengaran pula Nyo Kong-lim ber-tereak2 dengan
nyaringnya.
Ber-gegas2 Ceng Bo sianjin dan Su Khin-ting berenang
menghampiri. Kiranya orang2 sama berkumpul ditepian
badan perahu. Terdengar angin pukulan men-deru2,
rupanya Nyo Kong-lim tengah berkelahi. Dengan terkejut,
Ceng Bo segera meluncur pesat untuk mendekati perahu.
Tampak dengan jelas tubuh Nyo Kong-Iim, yang tinggi
besar itu berloncatan kian kemari berkelahi dengan seorang
wanita, yang bukan lain adalah siwanita berambut panjang
tempo hari dan yang kini dia yakin itu adalah isterinya
sendiri Kiang Siang Yan In Hong. Sudah tentu bukan
kepalang girangnya.
Gerakan dari wanita itu cukup lincah dengan serunya,
namun sedikitpun tak mengeluarkan suara apa2. Benar
tampaknya sam-ciat-kun dari ketua Hoa-san itu dimainkan
dengan gencar sekali, tapi dalam pandangan seorang akhli,
itu sia2 saja. Nyata2 dia bukan tandingan siwarita ltu. Di
bawah serangan siwanita yang ber-tubi2 itu, permainan
sam-ciat-kun sudah kacau balau. Hanya karena
mengandalkan tenaga besar dan perawakannya yang kuat,
barulah orang she Nyo itu dapat bertempur dengan gigih,
walaupun dengan susah payah sekali.
Melihat itu, Ceng Bo meluncur cepat. Baru dia hendak
ayunkan tubuhnya keatas perahu, tiba,2 didengarnya
disebelah sana Su Khing-ting menjerit ngeri. Cepat Ceng Bo
mengawasi. Kiranya orang she Su itu tampak
membelalakkan mata, kedua tangannya diacungkan keatas,
macamnya seperti orang dicengkeram setan.
”Sdr. Su!, kau kenapa?" Ceng Bo berseru, tanya.
Su Khin-ting dengan napas ter-engah2 menyahut terputus2:
„Siangjin......lekas tinggalkan....... jangan sampai
terlambat....... biar aku saja........ yang korban ........” Nada
suaranya sedih memilukan.
Ceng Bo heran. Su Khin-ting, dialah yang mengajaknya
kedalam laut. Kalau ada bahaya apa2, masa dia berpeluk
tangan saja?
”Saudara Su, apakah kau mendapat kejang urat (kram)?"
tanyanya sembari berenang menghampiri. Memang bagi
seorang perenang, kejang urat dikaki, adalah suatu hal yang
membahayakan jiwa. Begitu urat kaki kejang, orangnyapun
tentu akan tenggelam binasa.
„Hai ........!, hai........!" tiba2 Su Khing-ting berteriak
kalang kabut demi dilihatnya Ceng Bo hendak
menghampari. Dan, sehabis itu, dia bergerak me-regang2
tangan dan tubuh, kemudian tenggelam kedalam air. Sudah
tentu Ceng Bo teramat kagetnya. Dengan mengempos
semangat, dia selulup kedalam air untuk memeriksanya.
Tapi baru saja selulup, atau pahanya terasa dilibat kencang2
oleh semacam benda, sehingga dia tak kuasa lagi bertahan
dan kena diseret masuk kedalam laut.
Dalam gugupnya, Ceng Bo masih sempat mengawasi
keadaan Su Khin-ting. Kiranya kawannya itu juga
mengalami nasib serupa, dilibat oleh semacam benda
hitam. Karena air laut bergelombang keras, jadi tak dapat
Ceng Bo me-lihat jelas. Samar2 seperti dilihatnya orang she
Su itu tengah digubat oleh semacam tali jaring yang
berwarna putih. Tengah Ceng Bo hendak mengawasi
dengan perdata, tiba2 kakinya terasa, sakit sekali. Buru2 dia
kerahkan lwekang untuk meronta se-kuat2nya, namun tak
berhasil. Hal itu makin membuatnya terkejut. Tenaga yang
digunakan tadi, bukan kepalang dahsyatnya. Ibarat bisa
digunakan untuk menghancurkan gunung, tapi mengapa
tak mampu lepas dari libatan benda putih itu. Tambahan
pula, rasa nyeri pada kakinya itu, tetap tak berkurang.
Hendak dia memeriksanya, atau tiba2 tampak sebuah benda
macam sutera putih ber-gerak2 dari dalam laut. Dan pada
lain saat, Ceng Bo melihat dari dasar laut disebelah muka
sana ada dua buah lentera besar yang memancarkan cahaya
warna hijau gelap. Benda putih macam selendang sutera itu,
kiranya berasal dari lentera hijau itu.
Kini jelaslah sudah Ceng Bo siangjin apa artinya itu.
Diam2 dia mengeluh dalam hati. Baru saja hatinya merasa
girang bakal berjumpa dengan isteri yang dicintainya itu,
atau kini dia sudah ditimpaa bahaya besar. Dengan ilmunya
kepandaian, tidaklah sukar untuk melepaskan diri dari
genggaman makhluk laut itu. Tapi biar bagaimana dia
harus menolong juga Su Khin-ting. Tak mau dia cari
selamat dewek. Ketika, dipereksanya, ternyata benda yang
melibat kakinya itu, pada bagian atas terdapat banyak sekali
lubang2 penyedot. Kulitnya licin dan kusam. Tenaganya
maha kuat. Terang itulah salah sebuah tangan dari seekor
ikan gurita, raksasa. Sama sekali gurita raksasa itu
mempunyai 8 tangan. Maka disebut juga ikan pat-jiao-hi
atau delapan cakar. Binatang itu dapat hidup lama sekali.
Yang tergolong raksasa, benar hanya lebih kurang 3 meter
besarnya, namun kedelapan tangannya itu dapat dijulurkan
sejauh tiga empat tombak. Ada kalanya binatang itu
menghampiri ketepi laut, untuk mencari mangsa berupa
binatang kerbau atau kambing yang kebetulan berada ditepi
situ. Korban itu disergap dengan gubatan tangannya yang
kuat dan panjang, terus diseret masuk kedalam laut. Setiap
pelaut kenal apa artinya bahaya yang dihadapi bila
berpapasan dengan makhluk jahat itu ditengah laut. Maka
sedapat mungkin, mereka menjauhi binatang itu. Sekali
kena digubat, jangan harap dapat lolos lagi.
Mengetahui kelihayan musuhnya itu, Ceng Bo kerahkan
seluruh tenaganya untuk meronta. Saking kerasnya tenaga
ronta itu, air sampai muncrat ber-gulung2 keatas. Namun
libatan pat-jiao-hi itu tetap tak terlepas bagaikan terpateri.
Tapi dalam pada itu, dia mendengar suara berkeretakan
beberapa kali. Benar genggaman tak lepas, tapi tangan itu
menjadi rowak, hingga libatan pada kaki Ceng Bo pun tak
sekencang tadi lagi. Saking kesakitan, tangan yang melibat
itu segera, dikendorkan lalu di-kibas2kan sedemikian
hebatnya, sehingga air muncrat seperti ditiup badai yang
dahsyat. Tapi berbareng itu, tangannya yang lain segera
menyambar untuk menggubat pinggang Ceng Bo.
Betapapun saktinya siangjin itu, namun tak dapat dia
menghadapi kekuatan makhluk laut raksasa itu. Cepat dia
merabah kepinggang, pikirnya hendak mencabut pedangnya
pusaka, yang ketajamannya dapat digunakan untuk
memotong segala macam logam. Tapi pada lain saat, dia
segera mengeluh hebat. Kiranya pedang itu masih terselip
pada jubah pertapaan yang ketika hendak masuk
menyelidiki gunung karang didasar laut tadi, telah
ditanggalkan dan ditinggalkan diatas perahu. Baru2 dia
meluncur jauh untuk menghindar. Kemudian setelah berputar2,
dia berenang menghampiri pula.
GAMBAR 33
Mendadak Ceng Bo Siangjin merasa kakinya digubat oleh
sesuatu, lalu badannya terseret kedasar laut. Waktu ia tegasi,
ternyata seekor gurita raksasa dengan delapan kakinya yang
panjang telah menggubat badannya.
Setelah sekali mengungkap balik tubuhnya, makhluk
raksasa itu kelihatan berdiam tenang. Untuk mencari tahu
keadaan Su Khing-ting, Ceng Bo tak jeri lagi berenang
mendekati. Amboi, kiranya Su Khing-ting sudah tak
berdaya diringkus gurita itu, siapa tengah mengangkat
tubuh orang Su itu untuk dimasukkan kedalam mulutnya.
Tapi serta dilihatnya orang she Su itu masih me-ronta2 kaki
tangannya, timbullah harapan Ceng Bo. Terang sang kawan
itu masih belum binasa. Sekali kedua kakinya menjejak,
Ceng Bo melesat maju, lalu menghantam tangan sigurita.
Untuk melancarkan hantaman didalam air, berbeda dengan
diatas daratan. Karena terhalang oleh desakan air, jadi
tenaga hantaman itu agak berkurang dayanya. Tapi karena
didalam air, tambahan lagi tangan sigurita itu licin luar
biasa, jadi tak memberi hasil apa2. Malah pada saat itu,
sigurita sudah kibaskan kedua tangannya yang lain untuk
menyerang. Tapi kini Ceng Bo sudah tak menghiraukan
suatu apa lagi. Seluruh perhatiannya hanya ditimpahkan
untuk menolong Su Khing-ting saja. Cepat dia cengkeram
tangan sigurita yang tengah melibat Su Khing-ting itu.
Kalau diatas daratan, cengkeram Ceng Bo itu pasti akan
menghancur remukkan benda yang dicengkeramnya. Tapi
karena didalam air, cengkeram itu hanya berhasil
menguntungkan tangan sigurita. Walaupun kutungannya
masih tetap melibat Su Khin-ting, namun dengan sekali
meronta saja dapatlah orang she Su itu terlepas, terus
berenang melambung keatas permukaan air. Tapi tatkala
Ceng Bo hendak mengikuti, tiba2 pinggang dan pahanya
terasa dilibat kencang sekali. Kiranya kedua tangan sigurita
tadi, sudah berhasil melibat Ceng Bo siangjin.
Dua kali kedua tangan sigurita itu putus, maka saking
marahnya kali ini binatang itu melibat se-kuat2nya. Kalau
Ceng Bo pada saat itu tak lekas2 kerahkan lwekangnya
untuk melawan, tentu dia akan sudah binasa. Setelah
berhasil melibat Ceng Bo, binatang itu segera membawanya
kedasar laut. Dalam pada itu, Ceng Bo menghantam lagi
dan berhasil memutuskan salah sebuah tangan sigurita.
Namun dua tangannya yang lain, dengan cepat sekali sudah
bergerak melibat tubuhnya. Bagaikan sebuah karung yang
melembung kempes, gurita itu masuk kedalam dasar laut
sembari menyeret sang korban. Saking pesatnya sigurita itu
berjalan didalam air, hidung Ceng Bo serasa dituangi air.
Buru2 Ceng Bo menutup napasnya. Tapi karena begitu,
gerakannyapun agak lambat. Baru setelah kedua tangan
sigurita yang hendak melibat tadi dapat dibikin putus, Ceng
Bo jejakkan kakinya kepada kutungan tangan-gurita tadi,
lalu bagaikan anak panah dia melesat 3 tombak jauhnya,
pikirnya hendak muncul kepermukaan air. Tapi meskipun
dari 8 tangan sudah 7 yang putus, namun gurita itu masih
tetap mengejarnya. Dalam kecepatan berenang, sudah tentu
orang tak bisa menang dengan binatang itu. Pikir Ceng Bo,
sekalipun semua tangan sigurita itu dibikin putus, namun
binatang itu tetap mengejar dan menggubatnya. Maka jalan
satu2nya ialah membunuhnya saja. Tapi untuk melakukan
hal itu, tak semudah seperti kehendaknya, karena dia tak
membekal senjata apa2. Tiba2 terkilaslah suatu pikiran
bagus. Ketika digubat lagi, dia tak mau melawan dan
biarkan dirinya diseret kedasar laut. Begitu melalui
pegunungan karang Hay-sim-kau tadi, dia hantam sebuah
batu karang yang panjangnya hampir 2 meter. Potongan
batu itu ujungnya tajam, dan kini segera dicekalnya untuk
dijadikan senjata. Pada saat itu, sigurita sudah menyeret
tubuh Ceng Bo untuk dimasukkan kedalam mulut. Malah
karena tadi ke 7 tangannya diputuskan, dengan marahnya
binatang itu hendak lekas2 menelan sang korban. Ceng Bo
kerahkan tenaganya, batu lancip itu dihantamkan sekuat2nya
kedalam mulut sibinatang, dan setelah itu, dengan
tangannya kiri dia hantam putus tangan yang melibat
tubuhnya itu, lalu tubuhnya membarengi melesat
kebelakang.
Karena hantaman Ceng Bo itu keras sekali, maka batu
sepanjang 2 meter tadi dengan cepatnya masuk kedalam
mulut sigurita, terus meluncur kedalam perut. Begitu
perutnya kemasukan benda keras itu, tubuh sigurita,
seketika. Menjadi surut kecil dan pada lain saat melembung
besar.
Oleh karena gerak surut-melembung itu dilakukan berulang2,
maka air disekitar situ menjadi berombak keras,
bertaburan buih. Saat itu Ceng Bo sudah menyingkir
beberapa tombak jauhnya. Sembari melepaskan kutungan
tangan-gurita yang melibat tubuhnya tadi, dia menunggu
kesudahan dari sigurita. Rupanya binatang itu tengah
menderita kesakitan hebat. Tubuhnya berkembang kempis
beberapa kali, lama kelamaan tenaganya makin berkurang,
dan akhirnya bagaikan sebuah kantong, gurita itu silam
kedasar laut tiada berkutik lagi.
Secepat terlepas dari bahaya itu, Ceng Bo ber-gegas2 naik
kepermukaan air. Tapi se-konyong2 matanya tertumbuk
pada sebuah benda mencorong berkilauan ditempat sigurita
jatuh itu. Ketika diawasi dengan seksama kiranya perut
sigurita tadi sudah pecah dan, batu karang tadi menonjol
keluar. Tapi benda tadi tetap ber-kilau2an memancarkan
cahaya. Rupanya benda itu keluar dari dalam perut sigurita.
Karena binatang itu sudah mati, tanpa ragu2 lagi Ceng Bo
menyelam menghampiri. Ketika benda itu dijemputnya,
ternyata sebuah kotak dan terbungkus dengan lemak yang
licin sekali. Rupanya saking keliwat lama berada didalam
perut sigurita, benda itu terbungkus dengan ludah atau
getah perut. Oleh karena, didalam air tak dapat melihat
jelas apakah adanya benda itu, maka setelah diselipkan
dalam baju, dia meluncur naik kepermukaan air.
Begitu berada dipermukaan air, ternyata matahari sudah
condong disebelah barat. Entah sampai kemana, tadi dia
diseret oleh gurita itu. Tapi yang nyata baik laut perairan,
Hay-sim-kau maupun perahu Nyo Kong-lim dan kawan2,
sudah tak nampak lagi disitu. Dia mendongkol sekali
kepada gurita tadi. Coba kalau tidak terganggu sibinatang
itu, tentu tadi dia sudah dapat bertemu dengan isterinya.
Kini dia ter-katung2 ditengah lautan.
Dan karena sudah keliwat menggunakan tenaga,
walaupun kepandaiannya tinggi, namun tak urung dia
merasaa cape juga. Apa boleh buat kini dia apungkan diri,
biarkan kemana ombak hendak mendamparnya. Jaraknya,
dengan daratan tak jauh, bila air pasang datang tentu dalam
setengah malam saja dia akan sudah dibawa ketepi pantai.
Tapi kalau jauh dengan daratan, satu2nya harapan yalah
kalau ada perahu berlayar lewat disitu. Jika tiada perahu
yang lalu disitu, terpaksa dia harus ter-apung2 dilaut sampai
entah berapa lama.
Se-konyong2 dia teringat akan benda yang keluar dari
perut gurita tadi. Ketika benda itu diambil dan
dipereksanya, hatinya ber-debar2 keras. Begitu kotoran dan
lendir gurita yang melekat dibersihkan, Ceng Bo segera
berseru kaget. Kiranya benda itu adalah sebuah peti kecil
berbentuk, persegi, terbuat dari emas. Kunci daripada kotak
kecil itu, merupakan dua batang pedang2an kecil, yang
halus sekali buatannya. Tangan Ceng Bo serasa gemetar.
Walaupun dia sudah mengetahui akan isinya, namun
dibukanya juga tutup kotak itu. Benar seperti apa, yang
diduganya, kotak emas itu berisi sebutir beng-cu (mutiara
mustika) yang luar biasa bagusnya.
Sampai sekian saat baru Ceng Bo menutup kotak emas
itu lagi. Pikirannya me-layang2. Kotak emas berisi beng-cu
adalah miliknya sendiri yang telah diberikan kepada sang
isteri. Kiang Siang Yan pernah bersumpah, bahwa dalam
hidupnya, ia takkan berpisah dengan mustika itu. Tapi
mengapa kotak itu berada didalam perut gurita? Adakah
isterinya itu sudah mengingkari sumpah kesetiaannya?
Lagi2 pikirannya melayang kepada, siwanita berambut
panjang. Siapakah gerangan ia itu? Dari sikap dan nada
suaranya, wanita itu tak mirip dengan sang isteri. Rambut
sang isteri dahulu hitam mengkilap bagus sekali. Sedang
rambut wanita, aneh itu berwarna kelabu serta morat-marit
tak karuan.
Entah berapa lama Ceng Bo ter-menung2 dalam
lamunan kenangannya itu, tapi tahu2 dia sudah terdampar
kedekat pantai. Baru pada saat itu, dia tersadar lagi.
Kepentingan negara dan rakyat, diatas kepentingan
peribadi. Biarlah dia kubur dulu kenangannya tentang sang
isteri itu, karena negara sedang dalam bahaya.
Demikian pikirannya tergugah dan semangatnya timbul
lagi. Kini dia silam kedalam air terus berenang se-kuat2nya.
Begitu sampai ditepi pantai, dia lalu loncat keatas daratan.
Kalau menilik keadaannya, tempat itu terang bukan sebuah
pulau, namun keadaan disitu sunyi sekali, tiada tampak
barang seorang manusiapun jua. Untuk sesaat tak dapat dia
mengenal nama tempat itu. Maka lebih dahulu dia jemur
pakaiannya yang basah kuyup itu, lalu mengobati luka2nya.
Setelah itu dia teruskan perjalanannya.
Menjelang magrib, dia tiba ditepi sebuah hutan.
Dibelakang hutan itu rupanya terdapat sebuah gunung.
Tapi oleh karena hari petang, jadi tak dapat melihatnya
dengan jelas. Baru dia hendak ayunkan langkahnya masuk
kedalam hutan, tiba2 didengarnya ada beberapa puluh anak
panah melayang kearahnya. Mengira kalau disebelah muka
ada bayhok (barisan pendam) tentara Ceng, maka dia maju
memapaki. Dalam beberapa gerakan saja, dia sudah
berhasil menghalau anak panah itu. Setelah itu dia hendak
menyerbu maju, pikirnya hendak menanyakan jalan pada si
penyerang. Tapi se-konyong2 terdengar suara orang
perempuan berseru nyaring: “Gunung ini milikku, jalan ini
aku yang membuat, kalau hendak lalu disini, tinggalkanlah
uang sewanya !”
Suara itu melengking bening. Nadanya mirip dengan
suara kanak2, tapi sengaja di-buat2 agar kedengaran garang.
Ceng Bo cepat mengenali suara itu. Dia mendongkol dan
geli. Dan habis mengeluarkan gertakan tadi, melesatlah
sesosok tubuh keluar, dibarengi dengan gertak ancaman
yang garang: “Saudara2, ada seekor kambing gemuk datang
!" Berbareng mulut berseru, begal perempuan itu terus
memutar liu-sing-tui (bandringan) menghantam dada Ceng
Bo.
“Berani mati kau!" bentak Ceng Bo seraya menangkap
bandringan itu.
“Makanan keras, angin kencang, lari!" teriak begal
perempuan, itu dengan kagetnya, sambil terus lari kedalam
rimba lagi.
“Siao Chiu, apa2an kau!" seru Ceng Bo. Atas seruan itu
sibegal perempuan merandek kesima. Begitu maju
mengawasi, selebar mukanya merah padam. Kiranya begal
perempuan yang garang itu, bukan lain adalah Liau Yanchiu,
sumoay Tio Jiang atau murid buncit dari Ceng Bo
siangjin yang genit nakal itu. Sesaat itu, dari dalam rimba,
muncul tiga atau empat puluh lelaki yang bertubuh kuat
serta masing2 mencekal senjata. Tampak bandringan dari
pemimpinnya kena direbut musuh, mereka berteriak
gempar. Tapi hanya berteriak saja, tak berani maju
menyerang.
Takut digegeri suhunya, Yan-chiu segera timpahkan
kemarahannya pada kawanan anak buahnya itu, serunya
lantang2: “Manusia tak punya guna, apa tak tahu siapa
yang datang ini. Mengapa berani ribut tak keruan
dihadapan suhuku?”
Aneh sekali begitu sinona mendamprat, ber-puluh2 lelaki
yang gagah itu segera mengiakan dengan serta merta.
Setelah itu, Yan-chiu segera memberi hormat pada
suhunya. Dengan mata merah dan seperti mewek ia
memberi keterangan: “Suhu, sepergi suhu tempo hari,
tentara Ceng dalam jumlah yang besar telah menyerbu. Ki
dan Kiau susiok serta suko kukuatir sudah dibinasakan
musuh. Murid yang berhasil lolos kemari ini, segera
mengumpulkan ratusan orang, tetap melanjutkan
perlawanan kepada tentara Ceng !"
Ceng Bo tergerak hatinya melihat jiwa patriot dari
muridnya itu. Tapi demi teringat akan tingkah laku Yanchiu
tadi, dia geli juga. Sampai sekian saat, baru dia
menghela napas berkata: “Siao Chiu, sukomu tak kurang
suatu apa. Aku sudah berjumpa dengannya."
“Benarkah itu, suhu? Tapi Lian suci kemana?" tanya
Yan-chiu sambil berjingkrak kegirangan.
Demi mendengar pertanyaan itu, wajah Ceng Bo tambah
keren, hingga Yan-chiu tak berani mendesak lagi, katanya :
“Suhu, kedatanganmu kemari ini sungguh kebetulan sekali.
Kita dapat kumpulkan anak buah, beli kuda dan bikin
pembalasan pada musuh!"
Oleh karena banyak sekali yang hendak ditanyakan,
maka Ceng Bo segera ikut sang murid menuju ke “soache"
(markas diatas gunung). Apa yang disebut “soache" itu
ternyata adalah sebuah biara gunung, yang pada kedua
sampingnya dialingi oleh beberapa buah pondok gubuk.
Ketika Ceng Bo masuk, per-tama2 yang dilihatnya yalah
tho-te-ya (patung penunggu bumi) sudah dihancurkan. Ditengah2
ruangan tergantung sebuah papan yang bertuliskan
“tiong gi tong" atau paseban setia luhur. Dari coretannya,
terang tulisan itu ditulis oleh Yan-chiu sendiri. ,Suhu,
lihatlah. Disitu aku telah mencontoh perilaku kaum gagah
dari gunung Liang-san dahulu!" kata Yan-chiu dengan
bangga.
Atas keterangan itu, walaupun biasanya Ceng Bo mahal
senyuman, kini terpaksa tertawa juga. Yan-chiu dapat hati.
Dituturkannya bagaimana tempo hari dia telah lolos dari
kepungan tentara Ceng. Waktu menceritakan tentang
keganasan tentara Ceng yang mem-bunuh2i rakyat tak
berdosa wajah Yan-chiu merah padam murka sekali. Dalam
markasnya situ, Yan-chiu mempunyai anak buah sebanyak
30 orang lebih. Pemimpinnya bernama Siao-pah-ong Tan
Jiang. Bermula pada waktu mendapatkan Yan-chiu, Tan
Jiang hendak mengambilnya menjadi isteri. Tapi dalam dua
tiga gebrak saja, Yan-chiu telah berhasil merobohkan. Sejak
itu, si genit tersebut diangkat menjadi pemimpin mereka.
Yan-chiu telah mengadakan reorganisasi dalam
rombongannya. Banyak juga ia menerima tambahan tenaga
dari pelarian2 yang singkirkan diri dari tindasan tentara
Ceng. Sehingga kini jumlahnya menjadi 100 orang lebih.
Dengan melakukan taktik gerilya, Yan-chiu dan
rombongannya berhasil menerbitkan gangguan besar pada
pasukan2 Ceng yang lalu didaerah tersebut.
“Siao-chiu, apakah namanya tempat ini? Berapa jauhnya
dari Hoa-san ?" tanya Ceng Bo kemudian segera setelah
Yan-chiu menutur habis. Tapi Yan-chiu hanya
membelakakkan mata, karena ia sendiri tak mengetahui
juga. Saking mabuk “naik pangkat" menjadi pemimpin
rombongan, ia sudah tak pusing2 lagi mencari tahu apakah
namanya, gunung situ. “Hayo, salah seorang maju kemari!"
serunya setelah dia tak dapat menjawab pertanyaan sang
suhu.
Seorang liaulo (anak buah) masuk kedalam. “Li-tay-ong
ada perentah apa ?" katanya dengan memberi hormat.
Mendengar liaulo itu menyebut li-tay-ong (ratu begal) pada
Yanchiu, gelilah Ceng Bo. Dia, duga tentang si Yan-chiu
sendiri yang meng-ada2kan. Begitu siliaulo masuk, Yanchiu
mulai beraksi. Dengan dehem2 dahulu, ia berkata:
“Lekas katakan apakah namanya tempat ini! Dari Hoasan
masih berapa jauhnya? Kalau tak dapat memberi
keterangan, akan kupersen 20 gebukan!"
“Li-tayong, gunung ini disebut Yan-san, kalau menuju
kebarat sampailah ke Hoasan," sahut siliaulo ter-sipu2.
Mendengar itu, Ceng Bo segera bertanya kepada sang
murid: “Siao-chiu, bukankah tadi kau mengatakan kemaren
ada sepasukan tentara Ceng menuju kearah barat?"
“Benar, mereka keliwat besar jumlahnya, sedang fihak
kami hanya 100-an orang, maka terpaksa dengan mata
merah kami awasi mereka berjalan. Syukur aku berhasil
membekuk seorang ordonan (pemberita). Setelah kusuruh
orangku memotong kuncirnya, orang itu kumasukkan
dalam perapian!" sahut Yan-chiu. Girang hati Ceng Bo
mengetahui bahwa, sang murid ternyata tak men-sia2kan
harapannya. Sekalipun gadis itu genit nakal, namun dapat
menjalankann tugas se-baik2nya. Bermula Yan-chiu sudah
segera akan menghabisi jiwa ordonan itu, tapi karena
siordonan tersebut ber-ulang2 menyebutnya “li-tay-ong"
untuk minta ampun, saking senangnya disebut begitu, Yanchiu
tak jadi membunuhnya. Coba jangan Yan-chiu
dimabuk sebutan itu, walaupun ia tak turun tangan tapi
anakbuahnya yang sebagian besar terdiri dari pemuda2 atau
orang2 lelaki yang telah kehilangan rumah tangga anak
isteri serta ayah bunda, tentu segera mencingcang serdadu
musuh tersebut.
Ceng Bo minta supaya ordonan itu dibawa menghadap,
siapa segera ditanyainya:
”Mengapa tentara Ceng setelah berhasil menduduki
Kwitang tak sekalian menyerbu Kwisay, sebaliknya menuju
kearah barat laut?"
“Li congpeng mengatakan ........” belum ordonan
tersebut menghabiskan kata2nya, Yan-chiu sudah cepat2
memutusnya: ”Li Seng Tong!"
“Ya, ya, ya......, Li Seng Tong mengatakan, salah
seorang dari kedua kaisar Lam Beng sudah dibinasakan,
tinggal satu masih bersemayam di Kwisay. Kaisar itu sudah
seumpama kura2 dalam jambangan. Tapi yang paling
menjengkelkannya yalah orang2 Hoa-san yang berkeras
kepala itu”
„Hohan," lagi2 Yan-chiu menukas omongan orang.
Saking takutnya ordonan itu terpaksa mengulangi lagi
kata2nya: “Ya......., terhadap para hohan (orang gagah)
Hoa-san itu. Maka dia lalu mengirim sejumlah besar
pasukan !"
“Berapakah jumlahnya tentara ltu ?" tanya Ceng Bo
dengan terperanjat.
„3000 orang tentara pilihan dan 10 pucuk meriam besar",
sahut siordonan.
Atas pertanyaan Ceng Bo, siapa yang memimpin
pasukan itu, siordonan menerangkan : „Li cong ..........
Seng Tong sendiri." Diam2 Ceng Bo mengeluh dalam hati.
Sudah lama dia mendengar bahwa Li Seng Tong itu
seorang panglima perang yang pandai. Benar pertahanan ke
72 markas digunung Hoa-san itu cukup kokoh, tapi mana
bisa tahan dibombarder dengan meriam ? Karena baru
kemaren hari pasukan Ceng itu menuju ke Hoa-san, terang
akan dapat mempergoki rombongan Nyo Hong-lim.
Teringat nasib apa yang bakal menimpa ke 72 markas Hoasan
itu, Ceng Bo menjadi gelisah sekali. Ular tanpa kepala,
tentu tak dapat berjalan. Pasukan tanpa pemimpin, pasti
akan kalut. Begitu pula nasib ke 72 markas di Hoa-san yang
tanpa Cecu (pemimpin markas ) masing2.
Terkilas dalam hati Ceng Bo, bahwa kini mencari sang
isteri untuk menjelaskan kesalahan paham itu, makin
penting artinya. Karena dengan tambahan seorang tenaga
macam sang isteri itu, kubu2 pertahanan melawan tentara
Ceng, pasti bertambah kokoh lagi. Maka dengan serentak
berbangkitlah dia dari tempat duduknya, sehingga
membikin siordonan tadi gemetar ketakutan. „Siao-chiu,
lekas kumpulkan anak buahmu disini. Pilih salah seorang
yang faham jalanan menjadi pengunjuk jalan ke Hoasan.
Jangan berayal, lekas!" serunya pada Yan-chiu, siapa segera
melakukan perentah itu.
Dari mulut li-tay-ong Yan-chiu, anak buah sekalian sama
mengetahui bahwa guru dari li-tayongnya itu adalah Hatekau
Bek Ing, tokoh yang termasyhur didunia persilatan itu.
Kedatangan Ceng Bo kesitu, telah mengobarkan semangat
keberanian mereka. Begitulah dengan dua, orang pencari
kayu dan, Yan-chiu berangkat menuju Hoa-san.
Dengan mengambil jalan-singkat, yang ber-belit2 melalui
tebing dan naik turun gunung, keesokan harinya saja
mereka tiba, pada sebuah soache (markas). Dimuka itu
sudah telah ditumpuki kayu2, rupanya mereka, bersiap.
Begitu Ceng Bo melesat maju menghampiri, dan orang
membentak keras:
“Siapa yang berani mengadu biru kemarkas ini ?!"
„Adakah Nyo-toa cecu sudah kembali?" sahut Ceng Bo
dengan pertanyaan.
Sampai sekian saat tiada penyahutan dari sebelah dalam.
Baru setelah itu ada seseorang menonjolkan kepalanya
keluar seraya bertanya: „Siapakah yang datang ini?
Mengapa menanyakan, Nyo-toa cecu? Toa cecu memenuhi
undangan Ceng Do siangjin datang kepulau Ban-san-to,
sampai saat ini belum pulang."
Ceng Bo telah menduga akan adanya keterangan itu,
maka dengan cepatnya dia segera memberi perintah: „Lekas
buka pintu markas, aku ini adalah Ceng Bo siangjin sendiri
!"
Orang itu melihat bahwa rombongan tamu diluar markas
itu, terdiri dari 100 orang. Kuatir mereka adalah kaki
tangan pemerintah Ceng, orang tadi tak membukakan
pintu, serunya: ”Sebelum mendapat perintah dari Toa cecu,
harap anda pulang dahulu !”
Yan-chiu sangat murka. Sekali enjot kaki, tubuhnya
melayang melalui pagar tumpukan kayu itu. Dan pada lain
saat terdengar suara „plak" maka, orang yang munculkan
kepalanya tadi, segera terbanting meloso. Dan berbareng
itu, pintu markaspun terpentang lebar !
Tieng Bo siangjin tak keburu mencegah perbuatan
muridnya itu. Dia menghampiri dan menolong orang itu.
Melihat siangjin itu berwajah agung, walaupun pakainnya
sudah kumal2 tak keruan, orang tadi buru2 hendak
berbangkit. Tapi ternyata bantingan Yan-chiu tadi cukup
hebat, hingga dia tak kuasa untuk bangun. Ceng Bo
menerangkan bahwa dia telah bertemu dengan pemimpin
mereka, Nyo Kong-lim dipulau Ban-san-to, Kedatangannya
kemari itu. Ialah hendak merundingkan cara perlawanan
terhadap tentara Ceng yang kini sudah menyusun
barisannya dikaki gunung situ.
Seluruh thaubak (kepala liaulo) dan anak buah dari
markas itu segera berkumpul untuk mendengarkan amanat
Ceng Bo. Kiranya markas itu adalah markas pertama dari
ke 72 markas gunung Hoasan. Yang menjadi Cecu bernama
Ko Kui, seorang bun-bu coan-cay (pandai sastera dan iimu
silat), disamping memiliki kecerdasan otak , yang luar biasa.
Tapi itu waktu diapun ikut pada Nyo Kong-iim kepulau
Ban-san-to, jadi belum pulang juga. Ceng Bo terperanjat.
Terlambat sedikit saja dia datang kesitu markas no. 1 itu
tentu akan jatuh ketangan musuh. Dan kalau markas kesatu
jatuh, ke 71 markas lainnya sukar dipertahankan. Tengah
berunding itu, tiba2 terdengarlah suara ledakan dahsyat.
Sebuah bola api, jatuh diluar markas.
Ledakan itu men-denging2 ditelinga. Disusul lagi dengan
beberapa kali dentuman menggelegar, maka kapur dinding
ruangan situ menjadi rontok, bumipun bergoncang.
Sampai2 ”raja gunung dua bulan” Yan-chiu, ciut nyalinya,
Wakil Cecu bernama Liang Pheng, bergelar Ban Li Hui
(terbang selaksa Ii). Oleh karena iImunya silat biasa saja,
jadi belum2 dia sudah pucat wajahnya. Lebih2 para anak
buahnya. Melihat kepanikan suasana para anak buah
dimarkas situ, Ceng Bo membesarkan semangat mereka:
“10 kali dentuman tadi, hanya suatu percobaan menyulut
meriam dari fihak tentara Ceng. Malam ini mereka baru
tiba, jadi tentunya belum menyerang sungguh2, harap
saudara2 tenang."
Tapi wakilnya Ko Kui tadi menyatakan, bahwa lebih
baik segera mundur kemarkas pusat saja, karena walaupun
bagaimana juga, markas disitu yang hanya terbuat dari
bahan balok kayu, mana bisa tahan serangan meriam.
Pernyataan itu rupanya didukung oleh seluruh anak
buahnya
Kalau menurut disiplin tentara, wakil Cecu tadi harus
segera dibunuh agar disiplin anak buah dapat dipulihkan.
Tapi di-pikir lagi untuk merebut hati anak tentara, tak semata2
mengandallkan cara tersebut. Ceng Bo sudah
mendapat cara lain, yakni mengadakan serbuan pada fihak
musuh. Menghasilkan kemenangan sedikit saja, cukup
sudah untuk memulihkan semangat para anak buah. „Siaochiu,
ada berapa orang dari anak buahmu yang bernyali
besar?" tanyanya kepada sang murid.
Yan-chiu terkejut girang. Tak disangkanya kalau sang
suhu memandang mata pada anak buahnya. Dengan
berlagak geleng2 kepala, dia menyahut: „Pun-tayong
.........” baru dia mengucap kata2nya yang berarti „aku
siraja gunung" itu, sang suhu telah deliki mata kepadanya,
hingga semangatnya buyar, mulutnya terkancing rapat.
Karena selama 2 bulan ini ia biasa menyebut dirinya
sebagai „pun-tayong", maka sampai2 ia lupa dengan siapa
ia berhadapan ketika itu.
“Ada berapa?" Ceng Bo ulangi lagi pertanyaannya tadi.
Kini baru Yan-chiu berani menyahut: ”Kalau disorter, 8
atau 10 orang rasanya, ada."
“Saudara Liang supaya berjaga disini. Biar aku bersama
muridku dan anak buahnya melakukan penyelidikan
kefihak musuh!" kata Ceng Bo kepada si Liang Pheng.
“Apa maksud suhu itu?!" tanya Yan-chiu dengan
kagetnya. ,Aku hendak ajak kau bersama beberapa anak
buahmu untuk menyelidiki markas besar tentara Ceng
sana," sahut Ceng Bo dengan tegasnya.
Betapapun, centil dan lincahnya nona itu, namun pada
saat mendengar ucapan itu, tak urung bercekat juga hatinya.
Mengapa tidak? Tentara Ceng yang bermarkas dikaki
gunung, tidak kurang 3000 jiwa, jumlahnya. Mereka,
adalah tentara pilihan. Untuk melakukan penyelidikan
kesana terang sukar, tapi lelah sukar lagi kalau dengan
rencana merebut kemenangan kecil. Tapi sebagai nona yang
berotak, cerdas, tahulah ia bahwa gerakan itu hanya
dimaksud untuk mempertinggi moreel anak buah markas
disitu. Dan ini memang penting. „Baik, mengapa mesti
takuti orang2 yang bukan laki bukan perempuan memakai
kuncir itu? Lihatlah pun-tay................... eh, aku turun
gunung nanti, tentu akan kuangkut meriam2 mereka itu
kemari” sahutnya dengan garang.
Liang Pheng tak berani buka mulut, tapi hatinya tetap
tak percaya kepada si nona. Memang dia seorang yang berhati2.
Tak temaha jasa, tapi jangan sampai kesalahan.
Terpaksa dia menyangupi permintaan Ceng Bo untuk
berjaga markas situ. Ceng Bo siangjin segera perentah Yanchiu
supaya memilih 10 orang anak buahnya yang berani
serta sedikit2 mengerti ilmu silat. Demikian Suhu dan
murid beserta 10 orang itu segera turun gunung.
---oodw0tahoo---
BAGIAN 11 : LICIN BAGAI BELUT
Setelah mengantar keberangkatan mereka, Liang Pheng
segera menutup rapat2 pintu markas. Dia tak berani lengah
tidur. Diperintahkan supaya semua liaulo mengadakan
ronda dan penjagaan yang kuat. Para thaubak berkumpul
dalam gedung permusyawaratan, untuk menanti
perkembangan lebih jauh. Hampir sejam lamanya, Ceng Bo
dan rombongannya tak kedengaran beritanya, sedang
dibawah kaki gunung sanapun sepi2 saja keadaannya. Mau
tak mau, mereka, menjadi gelisah juga. Tengah mereka
mondar-mandir di ombang-ambingkan kecemasan itu, tiba2
kedengaran diluar sana, ada suara gaduh. Diantaranya ada
orang berseru “jangan main gila” Buru2 Liang Pheng dan
kawan2-nya menuju keluar. Ternyata para liaulo sudah
panik dan mundur dengan kacaunya. Malah ada beberapa,
orang yang mengaduh kesakitan dan terjungkal ditanah.
Ada seorang lelaki yang hendak menerobos masuk kedalam
markas situ, tapi dihadang oleh beberapa liaulo. Namun
dengan memukul dan menyepak, berhasillah orang itu
membubarkan penghadangnya, dan terus melangkah
masuk.
Orang itu ternyata seorang pemuda, Rupanya, dia
memiliki ilmu silat yang tinggi. Kalau tak menyaksikan
sendiri, mungkin Liang Pheng dkk tak percaya kalau
siorang yang dandanannya sebagai seorang mahasiswa itu
dapat merobohkan kawanan liaulo. Dan setelah menghalau
lagi ber-puluh2 liaulo orang itu akhirnya menghampiri
kemuka Liang Pheng. “Adakah kau ini Cecu disini?" tanya
orang muda itu setelah sejenak mengawasi tuan rumah.
Sambil mundur selangkah, Liang Pheng menyahut:
„Benar. Ada keperluan apakah maka saudara malam2
begini datang kemari?”
Mahasiswa muda itu segera mengeluarkan sebuah kipas,
sambil ber-kipas2 dia berkata: “Aku yang rendah ini orang
she The nama Go. Orang memberi julukan Cian-bin Longkun.
Kini menjadi kunsu (pesehat militer) dari congpeng Li
Seng Tong!"
Liang Pheng melengak kaget, begitu pula seluruh liaulo.
Seperti telah diterangkan diatas, walaupun ilmunya silat
kurang tapi Liang Pheng itu mempunyai otak. “Oh, kiranya
saudara ini adalah kunsu dari tentara Ceng, maaf kami
sudah tak menyambut sepantasnya. Tapi entah ada
keperluan apa kedatangan saudara ini ?"
The Go tak mau marah mendengar ucapan orang yang
sinis itu. Sebaliknya dengan mendongak tertawa lebar, dia
berkata: „Induk pasukan Ceng yang kuat, sudah tiba dikaki
gunung. 10 kali dentuman meriam tadi, kurasa Cecu pasti
sudah mendengarnya. Karena kini Nyo Kong-lim sudah
binasa ditangan Ceng Bo siangjin, maka ke 72 Cecu Hoasan
ibarat ular yang tak berkepala lagi. Taruh kata Cecu tak
ingin dikatakan temaha pangkat, tapi se-kurang2nya tentu
mau juga memikirkan kepentingan ke 72 Cecu sekalian”
Kata2 The Go itu sudah tentu menyebabkan Liang
Pheng pusing kepala. Kalau diingat tadi Ceng Bo siangjin
mengatakan bertemu dengan Nyo Kong-lim dipulau Bansan-
to dan ternyata kini sebelum Toa cecu itu datang,
siangjin tersebut sudah datang kesitu lebih dahulu,
kemungkinan besar Toa cecu Nyo Kong-lim itu tentu sudah
dibunuh oleh siimam tersebut. Tapi kalau dipikir lagi,
mengapa Ceng Bo membunuh Nyo Kong-lim, tokh mereka
berdua tak saling bermusuhan. Oleh karena pikiran hanya
ribut mencari kesimpulan, lupalah sampai si Liang pheng
itu memberitahukan pada The Go bahwa Ceng Bo siangjin
tadi sudah datang kemarkas situ. Coba dia mengatakan hal
itu, tak nanti The Go berani unjuk kegagahan lagi disitu.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya wakil Cecu itu berkata:
“Ceng Bo siangjin dengan Toa cecu tak mempunyai
dendam permusuhan apa2, mengapa mencelakainya ?"
Kiranya The Go sudah memperhitung orang akan
rnengajukan pertanyaan begitu, rnaka; diapun sudah siap
dengan jawabannya :„Kata orang 'kenal orangnya tapi
sukar mcngenal hatinya'. Undangan Ceng Bo siangjin
kepada sekalian orang gagah supaya datang kepulau Bansan-
to-itu, sebenarnya xnemang, suatu rencananya hendak
menumpas mereka. Karena Nyo-cecu membandel, Ceng Bo
siangjin telah bertindak. Lama sudah, siangjin itu mengiler
akan kedudukan gunung Hoa-san dengan ke 72 markasnya,
maka tak segan2 lagilah dia melakukan rencananya yang
keji itu. Ah, kasihan Nyo-cecu yang mati dalam penasaran
itu!," berkata sampai disini, untuk mengunjukkan
kesungguhan kejadian itu, The Go pura2 bersedih.
Sebagai Cecu pertama dari Hoasan, sudah tentu Liang
Pheng banyak menerima budi kebaikan dari Nyo Kong-lim.
Apalagi peribadi Nyo Kong-lim yang tegas jujur itu telah
dapat merebut hati sekalian anak buahnya. Sudah tentu
mereka menjadi gusar mendengar berita itu. Melihat
umpannya termakan, The Go maju selangkah lagi, ujarnya:
„Jalan yang terbaik, kita harus buka pintu markas ini guna
menyambut kedatangan tentara Ceng. Ini untuk
menghindari malapetaka yang tak diinginkan !"
Betul semula sekalian orang sama percaya atas
keterangan The Go tadi. Tapi karena terlalu pagi, dia sudah
membuka kartu, sebaliknya malah menerbitkan kesangsian
orang. Kiranya sejak Li Seng Tong berhasil menduduki
wilayah Kwiciu, Nyo Kong-lim melatih keras anak
buahnya. Toa-cecu itu telah menanam kesadaran kedalam
sanubari seluruh anak buah, bahwa musuh negara itu
adalah tentara penjajah asing Ceng, bahwa melawan
penjajah itu adalah tugas suci dan mulia. Dan indoktrinasi
kesadaran itu, termakan betul2 oleh anak buah Hoa-san.
Mendengar anjuran menakluk dari The Go tadi, Liang
Pheng masih berdiam merenung, tapi ada beberapa kawan
yang berwatak keras, sudah tak tahan lagi. Sret.....,
sret........, mereka loncat kemuka untuk membacok pada
The Go. “Kalau menyuruh kami menyambut tentara
penjajah Ceng, rasakan dulu golokku ini!" seru mereka.
“Tahan!" buru2 Liang Pheng mencegahnya, tapi sudah
terlambat. Hujan bacokan telah menabur The Go, siapa
ternyata masih ber-kipas2 sembari tersenyum. Tapi begitu
bacokan2 itu tiba, se-konyong2 dia perdengarkan tertawa
keras panjang. Begitu lengan bajunya di-kibas2an, orangnya
pun segera tampak melesat kesana-sini dalam ruangan itu.
Dan tahu2 hanya kedengaran bunyi berkerontangan
beberapa kali dari senjata yang jatuh ketanah, disusul
dengan suara gedebak-gedebuk dari tubuh yang
menggelepar rubuh. Beberapa penyerang itu hanya
thaubak2 kecil, maka dalam beberapa gebrak saja dengan
mudahnya The Go telah dapat menutuk jalan darah mereka
hingga rubuh. Sekalipun begitu, masih ada beberapa orang
lagi yang hendak mengunjuk rasa setia-kawan terus hendak
menerjang The Go, tapi keburu dicegah oleh Liang Pheng.
Dengan ber-kipas2 dan unjuk senyuman, berkatalah The
Go: “Kutahu Cecu seorang yang mengenal gelagat. Kalau
nasehatku ini diturut, bukan saja jasa besar serta kekayaan
Liang Pheng tak berani bergerak karena insyaf bukan
lawannya, tapi serta orang begitu rendah menganggap
peribadinya, maka cepat ia memutus kata2 orang:
“Bagaimana saudara begitu yakin, kalau aku ini kemaruk
akan pangkat dan harta kekayaan?"
“Ah........., tapi mati hidup saudara2 disini ini, hanya
tergantung pada keputusan Cecu seorang!" The Go
mengancam halus.
Rupanya kata2 yang terakhir dari The Go itu,
mempengaruhi pikiran Liang Pheng, yang akhirnya
mengakui bahwa ada sebagian dari ucapan anak muda itu
memang beralasan. Bagaimana kedahsyatan meriam tentara
Ceng itu, telah disaksikannya sendiri. Kalau ke 10 buah
meriam musuh itu berbareng diletuskan, dapatkah anak
buah markas disitu yang hanya berjumlah lebih kurang 200
orang bertahan? Mundur salah, majupun keliru. Di-pikir2
lebih baik tarik mundur seluruh anak buahnya dari markas
situ. Peribahasa 'selama gunung itu masih menghijau,
masakan takut tak bakal mendapat kayu bakar'. Asalkan
kekuatan masih utuh, masakan tak ada harapan untuk balas
menggempur musuh.
Rupanya The Go telah dapat membaca pikiran orang.
Dia biarkan saja Cecu itu berpikir sampai sekian Iama.
Lewat beberapa jenak, akhirnya kedengaran juga Liang
Pheng berkata: “Kalau aku disuruh ajak sekalian saudara
menakluk pada tentara Ceng, itulah tak mungkin!"
Pernyataan yang gagah itu, telah disambut dengan sorak
gembira oleh sekalian anak buahnya, selaku pendukungnya.
“Maksud kedatanganku kemari ini, adalah demi
kepentingan saudara2 sekalian, agar tak mengalami apa2!"
kata The Go dengan tertawa.
Liang Pheng setengah tak percaya, tanyanya: “Habis
kalau menurut pendapat saudara, sebaiknya bagaimana?"
”Rencana Li congpeng untuk menyerang markas ini, itu
sudah pasti. Cecu boleh ajak sekalian saudara tinggalkan
tempat ini. Tindakan ini menguntungkan kedua fihak
bukan?" menerangkan The Go.
Bermula Liang Pheng pun sudah mempunyai rencana
itu. Jadi kata2 sang tetamu itu, sesuai dengan pikirannya.
Begitulah dia segera perentahkan pada anak buahnya
supaya mundur kemarkas kedua. Bahwa tanpa mengucur
darah setetespun, The Go telah dapat merebut markas
kesatu yang penting sekali kedudukannya itu, telah
membuatnya kegirangan sekali. Dengan mendapat
kedudukan markas kesatu yang dapat dijadikan pangkalan
penting itu, rasanya ke 72 markas digunung Hoasan situ
tentu akan mudah direbutnya. Dalam pikirannya, dia sudah
membayangkan suatu pahala besar.
Mengapa tahu2 The Go bisa muncul disitu? Baik kita
mundur sedikit. Setelah bersama Bek Lian dia
meninggalkan pulau kosong dulu itu, akhirnya berhasillah
dia tiba di Kwiciu. Sebagai jenderal yang pandai, Li Seng
Tong tak hanya mengandalkan pada The Go seorang.
Kwiciu sangat penting artinya, dan tempat ituu harus dapat
direbutnya untuk memberi pukulan terakhir dari sisa
kerajaan Lam Beng. Mata2-nya melapor, bahwa ditengah
perjalanan romhongan The Go telah mengalami halangan.
Kuatir kalau kabar itu bocor sehingga, musuh siap
mengadakan penjagaan, Li Seng Tong segera pimpin
sendiri 3000 tentara pilihan, menyerang Kwiciu. Ternyata
gerakan itu telah mendapat hasil gilang gemilang, karena
boleh dibilang tanpa, perlawanan suatu apa. Pembesar2
militer Lam Beng kalau tidak lari tunggang langgang, tentu
menyerah tanpa bersyarat. Maka pada keesokan harinya,
tatkala penduduk Kwiciu membuka pintu, mereka dapati
jalan2 dikotanya sudah penuh dengan serdadu2 Ceng yang
mondar-mandir kian kemari.
Setelah menduduki Kwiciu, pertama hal yang dikerjakan
Li Seng Tong ialah mengirimm pasukan besar untuk
mengurung gunung Gwat-siu-san, tempat dimana, seluruh
anggota Thian Te Hui dan tokoh2 persilatan sama
berkumpul mendirikan pertandingan luitay. Li Seng Tong
cukup menginsyafi, sumber perlawanan terhadap fihak
Ceng itu, pertama bersumber pada rakyat, ini harus
selekasnya ditindas. Hal kedua, ialah membunuh kaisar
Siau Bu yang berkedudukan di Siau Ging segera ter-birit2
lari ke Ngo-ciu di Kwisay.
Tengah Li Seng Tong sibuk mencari tenaga yang cakap,
datanglah The Go. Anak muda itu terus saja diberi
kedudukan penting. Rencana menggunakan nama Ceng Bo
siangjin untuk mengundang para orang gagah kepulau Bansan-
to itu, adalah The Go yang mengusulkan. Siapa tahu,
rencananya yang mendapat pujian dan persetujuan penuh
dari Li Seng Tong, telah gagal.
Malah kalau tak lekas2 lolos, dia tentu akan-celaka
ditangan Thay-san sin-tho Ih Liok.
Dengan bermuram durja, dia menghadap Li Seng Tong
lagi. Dalam pembicaraan selanjutnya, The Go,
mengusulkan untuk menduduki gunung Hoa-san. Lagi2
usul itu mendapat persetujan Li Seng Tong. The Go tahu
bahwa untuk menyerang Hoa-san yang mempunyai 72
markas itu, terang sukar sekali. Maka dia gunakan siasat
gertakan. Dengan membawa sejumlah besar tentara Ceng,
dan membawa 10 pucuk meriam, dia bermarkas dikaki
gunung tersebut. Secara demonstratif, dia perentahkan 10
kali tembakan. Setelah itu baru dia datangi kemarkas kesatu
tadi seorang diri. Kalau orang macam Ceng Bo siangjin
atau lain2 tokoh yang bernyali besar, tak nanti kena
digertak. Tapi Liang Pheng bukan tokoh yang berkaliber
begitu. Maka dengan mudahnya did digertak mundur dari
markas situ. Tapi, dari pengalaman pertama itu, tahulah
The Go bahwa semangat anak buah sudah digembleng
kokoh. Andaikata Liang Pheng tadi tak kena dipengaruhi,
rasanya tak semudah itu dia dapat merebut markas no. 1
dari Hoa-san tersebut.
Pada saat itu The Go ber-kipas2 dengan puas sekali.
Lewat setengah jam lamanya datang seorang liaulo melapor
pada Liang Pheng bahwa semua persiapan untuk mundur
sudah siap, tinggal menunggu perintah saja. Dengan
batuk2, Liang Pheng segera berbangkit. Tapi tepat pada saat
itu diluar sana terdengar ramai2 para liaulo berseru
“Cecu!."
Kemudian terdengar seseorang berkata dengan suara
keras: “Hai, tentara Ceng sudah berada dikaki gunung,
mengapa kalian tak bersiap. Pintu markas tak dijaga barang
seorang penjagapun juga? Mana Liang-cecu?"
Mendengar suara itu, serasa longgarlah kesesakan dada
Liang Pheng. Buru2 dia lari keluar menyambutnya.
Sebaliknya The Go mengeluh dalam hati. Diapun ikut
keluar. Seorang lelaki gagah berumur 30-an yang berwajah
kuning langsap dan memiliki sepasang alis bagus, tengah
naik keatas markas situ.
“Ko-heng, syukur kau sudah datang. Sungguh berat
masalah ini, aku tak sanggup memutuskan!" seru Liang
Pheng kepada orang itu yang bukan lain adalah Ko Kui,
Cecu dari markas ke 1 yang ikut menyertai kepergian Nyo
Kong-lim ke Ban-san-to.
Belum lagi menyahut seruan wakilnya itu, demi melihat
The Go berada disitu, alis Ko Kui segera tampak
menjungkat, lalu berkata dengan suara dingin: “Hm,
bangsat, mengapa, kau berada disini ?"
Kiranya waktu dipuncak gunung Ban-san-to The Go
memberi perintah pada barisan panah supaya menyerang
para orang gagah tempo hari, telah dapat dilihat jelas oleh
orang banyak. Sebagai seorang yang terang otaknya, Ko
Kui tentu masih ingat akan wajah The Go. Sebaliknya dari
marah, The Go segera menyahut dengan tenangnya: “Tadi
Liang cecu telah menurut anjuran siaote untuk tinggalkan
markas ini dari serbuan musuh. Ini demi mengingat
keselamatan para saudara2 sekalian. Adakah Ko-cecu
bermaksud hendak menghalanginya?"
“Liang-heng, apakah keterangan orang itu benar?" tanya
Ko Kui setengah tak percaya.
“Benar!" sahut Liang Pheng. Serentak murkalah Ko Kui,
katanya dengan pedas: “Liang-heng, apakah pesan Toacecu
kita sewaktu hendak pergi tempo hari? Tentara Ceng
itu amat ganasnya. Kalau markas pertama ini jatuh, ke 72
markas yang lain, sukar dipertahankan. Kekuatan untuk
melawan penjajah, akan patah. Apakah kau tak menyadari
hal itu?"
Liang Pheng bungkam dalam seribu bahasa. Sebenarnya
tahu juga dia akan hal itu. Soalnya dia itu kurang tegas dan
kedua kalinya karena memikiri nasib anak buahnya.
“Karena toako sudah kembali, kami semua tentu tunduk
pada perintahmu," akhirnya dia berkata.
Ko Kui menghela, napas, ujarnya: “Saudaraku yang
baik, mengapa kau sampai gelap pikiran begitu? Sedetik saja
aku terlambat datang, bukankah markas ini akan jatuh
ketangan musuh?"
Liang Pheng mengunjuk penyesalannya. Sebaliknya The
Go segera menyela dengan tertawa tawar: „Ucapan Ko
cecu itu kurang tepat!"
„Apa?" sahut Ko Kui sembari deliki mata.
“Sekalipun sejam tadi kau sudah datang kemari,
markasmu ini tetap akan jatuh kedalam tanganku!"
Ko Kui tahu apa artinya kata2 orang she The itu.
Sekalipun ilmunya silat Iihay tapi masakan dia dapat tahan
dikeroyok sekian banyak orang. Ah.........., kalau tak
dihajar, belum tahu rasa rupanya bangsat itu, demikian
pikir Ko Kui. “Lama nian kudengar cerita dikalangan
persilatan, bahwa Cian-bin Long-kun dan ibunya telah
mendapat gemblengan dari Ang Hwat cinjin, maka ingin
sekali aku meminta barang sedikit pengajaran !" katanya
sembari tanggalkan pakaiannya luar yang sudah compang
camping tak keruan itu. Dengan pakai baju dan celana
pendek dia tampil kemuka menghadapi lawan.
Yang paling dibenci The Go ialah apabila ada orang
berani menyindir „anak dan ibu sama mendapat pelajaran
dari Ang Hwat cinjin." Perkelahiannya dengan Kiau To
ketika dipuncak Giok-li-nya tempo hari, adalah karena
kata2 itu juga. Dengan wajah pucat ke-hijau2an karena
menahan murka, dia tantang lawan : “Jadi Ko-cecu ini
hendak ajak berkelahi ?”
Sebagai jawaban, Ko Kui segera cabut sepasang senjata
yang aneh bentuknya. Bermula kelihatannya hanya seperti
dua lembar kain hitam. Tapi begitu dikibaskan, kiranya
merupakan sepasang sarung tangan yang selengan
panjangnya. Jari-jari dari sarung tangan itu, panjangnya ada
1/2 meter. Mau tak mau ter-kesiap juga The Go. Teringat
dia akan pembilangan orang bahwa senjata itu disebut „ing
jia thao" sarung cakar garuda. Ujung jari2 yang lancip itu,
dapat dipergunakan untuk menutuk jalan darah orang.
Jurus permainan hampir menyerupai dengan permainan
„Toa lat Ing jiao chiu hwat" (ilmu cakar, garuda yang
bertenaga besar) ciptaan Tat Mo loco, itu cikal bakal dari
Siao-lim-pay.
GAMBAR 34
Dengan senjatanya yang berupa sarung tangan berjari
sepanjang hampir setengah meter, segera Ko Kui melancarkan
serangan ber-tubi2 pada The Go.
Tapi The Go tak gentar. Dia yakin, dalam dunia
persilatan tiada ilmu tutukan yang dapat menandingi
kesaktian Ang Hwat cinjin. Cepat dia pun tebarkan
kipasnya, lalu berputar2 sejenak. Ko Kui tertawa dingin,
tanpa menunggu orang berdiri tegak, dia segera menyerang
dengan sepasang sarung tangan itu, yang satu dihantamkan
keatas yang lain kebawah. Melihat serunya serangan itu,
The Go melejit menghindar. Agar jangan sampai terlibat
lama2 dengan sigapnya dia maju menutuk jalan darah taymeh-
hiat dipinggang lawan. Ko Kui tak mau menyingkir,
melainkan gerakkan senjata ditangan kiri untuk mencakar
kipas musuh. Kelima jari dari sarung tangan itu bermula
lemas2 saja tampaknya. Tapi begitu berada ditangan Ko
Kui, jari2 itu segera menjulur kaku bagai baja kerasnya.
Tampak orang begitu sembrono itu, The Go balikkan
tangkai kipas untuk menutuk jalan darah disiku tangan
lawan. Tapi lagi Cecu itu tak mau menyingkir, malah maju
selangkah untuk mengemplang kepala orang dengan
senjatanya yang kanan. The Go heran. Separoh tubuhnya
bagian atas dia surutkan kebelakang untuk menghindar,
namun tutukan2-nya tadi tetap dilangsungkan, dan berhasil
mengenai sasarannya. Menurut dugaan, tangan Ko Kui
pasti akan lumpuh, tapi kenyataan tidak apa2. Dan
berbareng pada saat itu, jari2 sarung tangan itu malah
merangsang kemukanya. Dalam gugupnya, terpaksa The
Go gunakan jurus permainan “hong cu may ciu" (sigila
menjual arak). Begitu tubuhnya mendak, dia segera melesat
kebelakang lawan. Disitu dengan sebat dia tutuk jalan darah
sin-to-hiat dipunggung orang.
Lagi2 Ko Kui unjuk permainan yang aneh. Terang
hendak ditutuk punggungnya, dia tak mau berpaling
kebelakang, melainkan ayunkan sepasang sarung tangannya
kebelakang. Kesepuluh jari2 sarung tangan itu me-nari2
dengan lincahnya. Sebentar lemas, sebentar kaku.
Otak The Go bekerja keras. Tadi terang dia sudah
berhasil menutuk tangan lawan, tapi lawan tak kena apa2
berkat memakai sarung tangan itu. Ditilik dari situ terang
sarung tangan itu merupakan suatu senjata yang kebal
dengan segala tabasan senjata tajam. Teringat dia akan
suatu tokoh persilatan yang kenamaan, Sin Eng Ko Thay
atau Ko Thay si Garuda Sakti, yang telah gunakan waktu 3
tahun lamanya untuk mencari kulit kura2 hitam dari dasar
Laut. Secara istimewa kulit (bukan batoknya yang tebal) itu
telah dibuatnya menjadi semacam sarung tangan. Kalau
benar Ko Kui itu turunan Sin Eng Ko Thay, terang dia
mempunyai senjata yang ampuh sekali. Jangankan ditutuk,
sedang ditabas dengan pedang yang bagaimana
tajamnyapun takkan mempan. Memikir sampai disini,
tercekat juga hati The Go. Tapi pada lain saat terkilaslah
suatu pikiran bagus dalam otaknya. Karena memiliki
senjata kebal itu, lawan tentuu bernyali besar tak
menghiraukan setiap serangan. Andalan lawan itu, hendak
dia gunakan sebagai siasat untuk merebut kemenangan.
Se-konyong2 dia miringkan tubuh kekiri tapi lalu
menjatuh kekanan, tingkahnya macam orang mabuk yang
terhuyung2 hendak jatuh. Begitu jatuh, sebelah tangannya
bertahan ketanah, lalu kakinya kanan menendang kearah
jalan darah ci-ceng-hiat dilengan orang. Ko Kui tertawa
dingin. Tanpa menghindar, dengan “gerakan garuda lapar
menerkam mangsa" kedua tangannya menyawut betis
lawan. Karena dugaannya, benar, The Go girang sekali.
Begitu tubuhnya membalik, dia bergelundungan sampai 2
meter jauhnya. Dan setelah dapat menghindar dari
sergapan lawan tadi, tiba2 dia loncat bangun. Laksana kilat,
dia menerjang kemuka untuk menutuk jalan darah leng-tohiat
disiku tangan lawan.
Melihat lagi2 orang hendak mengarah jalan darah
dibagian lengannya, Ko Kui tak ambil mumet lagi. Dia tokh
mempunyai senjata kebal, mengapa takuti tutukan itu?
Maka demi serangan The Go tiba, dia malah
menyambutnya dengan hantaman kearah kepala lawan.
The Go telah memperhitungkan hal itu. Serangannya
kearah siku tadi hanyalah serangan kosong. Dia tahu
musuh tentu tak menghiraukan dan tentu akan menerkam
kepalanya. Ini berarti dadanya terbuka, tak terlindung lagi.
Secepat tubuhnya mendak sembari condong kemuka, ujung
kipas yang sedianya ditutukkan pada lengan tadi, lekas
ditarik untuk ditutukkan kedada orang pada bagian jalan
darah hoa-kay-hiat. “Rubuhlah, jangan membandel!"
serunya.
Karena terlalu mengandalkan pada-sarung tangannya
yang kebal, tadi Ko Kui biarkan saja lengannya ditutuk.
Dan untuk merebut kemenangan dia menghantam kepala
lawan. Maka atas perobahan serangan orang yang
sedemikian cepat dan dekat sekali, sudah tentu dia tak
berdaya menghindar lagi. Jalan darah hoa-kay-hiat,
merupakan jalan darah utama dari tubuh manusia. Begitu
kena ditutuk, maka tangan dan kaki Ko Kui serasa lemah
lunglai, matanya ber-kunang2 dan kepalanya pening.
Dalam keadaan antara sadar tak sadar itu, terdengar suara
ketawa panjang dari The Go, dan pada lain saat tak kuasa
lagi Ko Kui untuk berdiri tegak, Bumi dirasakan seperti berputar
dan sekali mulutnya memuntahkan darah segar,
rubuhlah dia ketanah.
Liang Pheng pucat seperti mayat wajahnya. Sebaliknya
sembari ber-kipas2 The Go mengejek: “Bukankah telah
kukatakan tadi, walaupun kau datang sejam lebih pagi,
namun markas ini tetap akan jatuh ketanganku ?"
Setelah rubuh ditanah, Ko Kui coba empos
semangatnya. Tapi karena hoa-kay-hiat terluka, seluruh
kepandaiannya pun punah. Sekalipun dia sembuh, namun
dia bakal menjadi seorang invalid. Terdengar dia menghela
napas, sekalipun didengarnya ejekan The Go tadi, namun
dia tetap meramkan mata tak menghiraukan. The Go sudah
merasa pasti, dengan menundukkan Ko Kui itu, berarti
sudah mengukup kemenangan total, maka dia segera ulangi
permintaannya kepada Liang Pheng agar lekas
memerentahkan pengunduran anak-buahnya. Namun Liang
Pheng masih bersangsi.
“Liang-heng," tiba2 dengan suara sember tak lampias Ko
Kui berseru, ”tak lama Toa-cecu pasti datang, jangan
sampai terperangkap ....... tipu muslihat bangsat itu!"
The Go murka sekali. Segera dia maju menghamperi Ko
Kui tahu bahwa jiwanya terancam, maka dia tetap
meramkan mata menunggu sang ajal. Sekali The Go
mendupak, maka Ko Kui, salah seorang pendekar, perwira
perserekatan orang gagah dari Hoasan telah binasa secara
mengenaskan dikaki The Go! Melihat kekejaman itu,
Marahlah seluruh anak buah markas disitu. Namun karena
merasa bukan tandingannya, mereka tak dapat berbuat
apa2.
Yang paling sulit sendiri kedudukannya, adalah Liang
Pheng. “Liang-cecu kau tak lekas memberi perintah,
akupun tak sungkan lagi!" ancam The Go pada wakil Cecu
itu.
Liang Pheng memandang kearah anak buahnya. Dari
sorot mata dan wajah mereka, mengunjuk kemarahan.
Jalan satu2nya ialah mengulur waktu, demikian pikir Liang
Pheng, siapa sembari batuk2 segera berkata: “Cian-bin
Longkun ..............”
“Liang-cecu, bukankah kau hendak main ulur waktu?
Kukuatir sebelum balabantuanmu datang, jiwamu sudah
melayang!" tukas The Go dengan tertawa dingin.
Karena siasatnya ditelanjangi, wajah Liang Pheng pucat
lesi sehingga ter-huyung2 mundur sampai beberapa
langkah. Tiba2 dari arah belakang terasa ada angin
menyambar. Coba dia tak lekas2 menyingkir, pasti akan
sudah tertumbuk oleh seseorang yang menobros datang.
Begitu orang itu muncul, maka gegap gempitalah sorak
sorai dari sekalian anak buah markas. Begitupun Liang
Pheng yang mengetahui siapa yang datang itu segera
bertereak girang:
“Toa-cecu!"
Orang bertubuh tinggi besar yang muncul itu, memang
adalah Nyo Kong-lim sendiri. Mengikut dibelakangnya
adalah rombongan tokoh2 kaum persilatan. Begitu tampil
kemuka segera toa-saycu dari Hoasan itu berseru lantang2:
“Hola, kiranya kutu busuk ini!"
Melihat kedatangan Nyo Kong-lim diiringi oleh tokoh2
persilatan yang mengunjukkan kemurkaan kepadanya, The
Go telah memikirkan suatu siasat. Maka dengan berlaku
tenang sedapat mungkin, dia bersenyum menyambutnya:
“Bagus, Nyo-toa-cecu sudah datang. Aku datang kemari
untuk menyerahkan surat permakluman perang. Besok
terang tanah fihak kami akan menyerang markas ini, harap
Toa-cecu bersiap, agar jangan menuduh fihak kami main
curang! "
Sebenarnya begitu tampak The Go, Nyo Kong-lim sudah
siapkan sam-ciat-kun untuk menghantamnya. Tapi demi
mendengar mulut orang mengatakan begitu, dia tertegun
sejenak karena mengingat bahwa tak selayaknya seorang
utusan musuh yang menyampaikan surat tantangan itu
dibunuh. The Go yang licin segera gunakan kesempatan itu
untuk melangkah keluar pintu markas. Dan rupanya karena
melihat Nyo Kong-lim diam saja, orang2pun tak mau
menghalangi.
The Go tahu kalau semua mata memandang kearahnya
dengan penuh kebencian, namun kesemuanya itu dianggap
sepi saja. Dengan langkah lebar dia menuju kepintu. Adalah
pada saat sang rase hendak berhasil lolos, tiba2 terdengarlah
suara jeritan yang seram. Dengan berlagak ke-gagah2an,
The Go berpaling. kebelakang, seraya siap dengan
kipasnya. “Bagus, mengapa tak berani tampil berterang2an?"
serunya dengan garang.
Tantangan itu sudah bersambut dengan cepatnya. Dari
dalam rombongan para orang gagah, tampillah seorang
bongkok. “Orang she The, lain orang rela melepasmu, tapi
aku si Bongkok tetap hendak menahanmu beberapa hari
disini!" seru orang bongkok itu yang bukan lain. Thay-san
sin-tho Ih Liok.
Wajah The Go pucat seketika. “Toa-cecu, bagaimana
ini?" tanyanya kepada Nyo Kong-lim yang kebetulan pada
saat itu justeru sedang berjongkok untuk memereksa mayat
Ko Kui. Mendapatkan salah seorang saudara
seperjoangannya mati secara begitu mengenaskan, bukan
kepalang kemurkaan Nyo Kong-lim. Maka atas pertanyaan
The Go tadi, dia segera berbangkit. “Apa kataku? Hutang
jiwa bayar jiwa!" serunya dengan kalap sembari melangkah
maju terus hantamkan sam-ciat-kun kepundak orang untuk
mengarah jalan darah keng-thian-hiat.
Dengan tertawa mengejek, The Go menghindar
kesamping. Tapi se-konyong2 dari arah belakang ada
samberan angin dingin, tahu2 rambutnya telah rompal kena
dibabat senjata tajam. Ketika dia buru2 menyingkir, Nyo
Kong-lim kedengaran berseru: “Siaoko, tunggu, aku hendak
balaskan sakit hati Ko-cecu!"
Orang yang menyerang dari belakang tadi, adalah Tio
Jiang, itu murid kesayangan Ceng Bo siangjin. “Toa-cecu,
biarkan kutanyakan dia dimana adanya suci-ku dulu!"
sahutnya dengan geram.
Pada saat itu, seluruh orang yang hadir disitu sama
bersiap dengan senjata masing2. The Go terkepung ditengah2.
Sekalipun dia mempunyai kepandaian untuk menobros
langit mebyelusup kebumi, namun sukar juga rasanya dia
lolos dari kepungan terapat itu. Tahu The Go bahwa
jiwanya berada ditangan sekalian patriot penentang
penjajah Ceng. Kesemuanya itu harus dilawan dengan akal,
se-kali2 tak boleh dengan kekerasan. Setelah menetapkan
haluannya, dia segera menertawai Tio Jiang, serunya:
“Siaoko, taruh kata benar kau hendak menanyakan soal
suci-mu, apakah pantas membokong orang ?”
Seorang jujur macam Tio Jiang, terpaksa mengakui
bahwa serangannya dari belakang tadi memang tak layak,
karena itu dia tak mampu berbantah, kecuali mukanya
menjadi merah padam. Setelah memukul knock-out Tio
Jiang dengan kata2 yang tajam, The Go mendongak ketawa
ter-bahak2, lalu berseru dengan nyaring: “Nyo toa-cecu,
dengan setulusnya hati aku datang menyampaikan surat
tantangan. Tapi aku dikepung begini rupa. Apakah kau tak
takut diketawai oleh kaum persilatan ?"
Kembali seorang jujur hampir menjadi korban lidah The
Go yang tajam. Menilik pertanyaan itu memang beralasan,
maka Nyo Kong-lim sudah ambil keputusan untuk melepas
sirase yang licin. Dan keputusan itu segera hendak dia
keluarkan coba tidak si Bongkok keburu maju kemuka dan
menuding pada The Go, dampratnya: “Orang she The,
jangan kau mimpi bisa bersilat lidah. Karena kejujurannya,
saudara2 yang hadir disini pasti akan tertipu dengan kata2-
mu yang penuh muslihat itu. Tapi bagi si Bongkok ini,
sudah kenyang dengan segala macam permainan bangsat
itu. Persetan dengan kata2mu yang indah itu. Kalau kau,
hendak berlalu dari sini, kau harus minta idin dulu padaku
si Bongkok ini!"
Selama pertempuran dipulau Ban-san-to tempo hari,
tahulah sudah The Go bahwa diantara sekian tokoh yang
berada dimarkas situ, hanyalah si Bongkok itu yang paling
lihay sendiri. Entah dapatkah dia mengatasi, itu tak
diketahuinya. Tapi baiklah dicobanya dulu, untuk menguji
sampai dimana kesaktian si Bongkok. “Silahkan cuwi
sekalian memberi tempat yang lebih longgar, agar aku dapat
meminta pengajaran barang sejurus dua dari Thay-san sintho
yang termasyhur ini” serunya sembari mengangkat
tangan memberi hormat.
Mengira kalau orang hendak menantang berkelahi, maka
sekalian orang sama mundur kedekat tembok ruangan
disitu. Dengan laku tenang sembari menyungging
senyuman, The Go lalu mulai berputar dalam sebuah
lingkaran kecil, serunya: “Nah, Bongkok, kalau tak biarkan
aku berlalu, habis kau. Mau apa?"
Bongkok hanya perdengarkan ketawa dingin. Tiba2 The
Go menerjang kemuka terus menutukkan kipasnya kepada
orang. Gerakan itu sangat cepat dan secara tak terduga
sekali. Tapi Ih Liok bukan si Bongkok sakti dari gunung
Thay-san kalau dia kaget dengan serangan mendadak itu.
Dengan tertawa menghina, dia balikkan tubuhnya
kebelakang. Tutukan kipas The Go tadi, tepat membentur
punuk daging dipunggung si Bongkok ....................
---oodw0tahoo---
BAGIAN 12 : SI BONGKOK
Diam2 The Go bersorak dalam hati. Rangka kipasnya
terbuat dari lidi baja murni. Baja diadu dengan daging,
terang menang. Maka dengan kerahkan seluruh tenaganya,
dia tusukkan kipas se-kuat2nya. Tapi astaga, begitu ujung
kipas menyentuh daging-tambahan itu, serasa seperti
membentur segunduk kapas yang empuk. Dan malah
rasanya, tubuhnyapun ikut kesedot menjorok kemuka.
Terang kipasnya menyusup kedalam daging, mengapa
dirinya yang tersedot ? Mati aku demikian dia mengeluh.
Thay-san sin-tho terkenal mempunyai tho-kang, ilmu-punuk
yang sakti. Segumpal daging mentah yang menemplek
dipunggungnya itu telah dilatih menjadi semacam senjata
yang ampuh. Dia dapat dijulur-surutkan menurut
sekehendak hati, dapat berobah menjadi lunak bagaikan
kapas untuk menerima setiap serangan, tapi dapat pula
berobah menjadi tenaga, gempuran hebat untuk
melemparkan setiap penyerang.
Cepat The Go kendorkan tangannya lalu mundur, tapi si
Bongkok sudah mendahuluinya, dengan Sebuah tamparan
yang dengan tepatnya mengenai sasaran. Betapapun The
Go sudah bertindak dengall cepatnya, namun tak urung
siku tangannya telah kena, dihantam, Syukur dia tadi
memang hendak mundur, maka tak sampai menderita luka
berat. Mengingat bahwa lebih banyak bahaya daripada
selamatnya kalau dia terus berada diruangan situ, maka
jalan satu2nya ialah meloloskan diri. Dilihatnya dijendela
sana hanya terdapat seorang liaulo, maka sekali melesat dia
merat kesana. Orang banyak coba menghalanginya, namun
sekali hantam dapatlah The Go merobohkan liaulo itu, lalu
loncat menobros keluar dari jendela.
"Jangan lepaskan dia!" teriak si Bongkok dengan
geramnya.
"Jangan kuatir, dia tak mampu lari!" tiba2 terdengar
suara sambutan, disusul dengan terlemparnya sesosok
tubuh dari jendela kedalam ruangan. Itulah si Cian-bin
Long-kun The Go. Selagi orang2 sama ke-heran2an, tiba2
seorang nona dara masuk kedalam ruangan sembari tertawa
cekikikan dan mencekal sebuah bandringan.
"Yan-chiu sumoay?" seru Tio Jiang demi melihatnya.
Memang dia itu adalah Yan-chiu. "Suko, kiranya kau tak
terbunuh tentara Ceng?!" sahut nona itu dengan tak kurang
girangnya. Tapi demi teringat akan peristiwa "pertunangan"
pada malam itu, dia ke-merah2an mukanya.
"Siao Chiu, kau sudah mendirikan pahalamu pertama!"
kata si Bongkok sembari menekan jalan darah The Go.
Bahwa si Bongkok gagu bekas kawannya dahulu dapat
berbicara, telah membuat Yan-chiu melengak kaget.
Sebelum ia tahu apa yang harus diperbuat, se-konyong2
Ceng Bo siangjinpun menobros masuk, seraya berseru pada
Nyo Kong-lim:
"Nyo-heng, lekas atur siasat untuk menghadapi tentara
Ceng!"
Setelah sampai ditengah jalan, Ceng Bo anggap lebih
baik dia ajak Yan-chiu seorang diri untuk menyelidiki
kekubu musuh. Maka disuruhnya ke 10 anak buahnya itu
menunggu disitu, sedang dia sendiri bersama Yan-chiu lalu
gunakan ilmunya berjalan cepat meluncur kekaki gunung.
Ternyata kubu2 tentara Ceng itu sangatlah rapatnya,
namun rapih sekali formasinya. Terang kalau musuh
berjumlah besar, keduanyapun tak berani gegabah. Tapi
yang aneh, sekalipun sudah mondar mandir beberapa kali,
tetap mereka tak berhasil mendapatkan tempat
persembunyian dari ke 10 pucuk meriam itu. Begitu pula
tak diketahuinya, yang manakah markas panglima. Sebagai
orang yang faham ilmu perang, tahulah Ceng Bo bahwa
musuh mempunyai seorang panglima perang yang pandai
sekali. Jadi nyatalah Li Seng Tong itu tak bernama kosong.
Karena sudah sekian lama melakukan penyelidikan itu,
dikuatirkan akan diketahui jejaknya oleh fihak musuh,
maka dia segera ajak Yan-chiu balik keatas gunung.
Setiba dimuka pintu markas, mereka merasa suasananya
agak berlainan. Yan-chiu lari mendahului sang suhu. Tapi
begitu tiba dimarkas, ia kesamplokan dengan seorang yang
lari dari jendela. Cepat ia ayunkan bandringannya menurut
ilmu bandringan yang diajarkan oleh Kui-eng-cu. Tapi The
Go cukup lihay, dengan tipu tiat-pan-kio, yakni tubuhnya
diayunkan kebelakang seperti sebuah jembatan
melengkung. Tapi permainan bandringan "hong hong sam
thau" (burung Kim 3 kali mengangguk) dari Yan-chiu jauh
berbeda dengan dahulu. Begitu bola bandringan melayang
diatas tubuh The Go, Yan-chiu cepat sentakkan tangannya
kebawah sehingga bola itu dapat membal balik
menghantam tubuh lawan. The Go dihadapkan dengan dua
pilihan, yaitu loncat masuk kembali kedalam ruangan dan
diringkus atau mandah terhantam bola bandringan yang
akan menyebabkannya kalau tak mati konyol tentu luka
berat. Dia memilih jalan pertama dengan berkesudahan
begitu masuk kedalam ruangan, terus ditutuk jalan
darahnya oleh Thay-san sin-tho. Dan begitu 'Ceng Bo
muncul, nyali The Go semangkin copot. Tapi sebagai
seorang yang penuh tipu muslihat, dia tetap melipur getar
bibirnya mengunjuk wajah yang tenang. Kalau tak dibikin
lumpuh oleh tekanan si Bongkok tadi, mungkin dia masih
akan jual lagak sebagai utusan negara.
Melihat beradanya The Go disitu, menimbulkan
kebimbangan Ceng Bo. Disamping dia hendak lekas2
merundingkan siasat menghadapi musuh dengan Nyo
Kong-lim, juga ingin tanya peristiwa si Yau-sin ban-pian
Tan It-ho pada The Go. Juga rasanya tak dapat dia
menahan hatinya untuk segera monanyai Tio Jiang,
bagaimana jalannya pertempuran Nyo Kong-lim dengan
siwanita berambut panjang diatas geladak perahu tempo
hari itu. Setelah ditimbang dengan kepala dingin, akhirnya
dia hendak mendahulukan kepentingan negara dari urusan
lain2nya. Musuh didepan mata, harus segera dihalau.
"Nyo-heng, hasil penyelidikanku dengan Yan-chiu
kemarkas musuh tadi, menyatakan bahwa disiplin mereka
sangat rapi sekali. Panglimanya tentu seorang jenderal yang
pandai. 3000 serdadu, sih tak perlu ditakuti. Tapi ke 10
pucuk meriam mereka itulah yang perlu kita pikirkan. Oleh
karena tadi kami belum berhasil menemukan tempat
persembunyiannya, maka, malam ini harus dilakukan
penyelidikan lagi sampai berhasil. Ini untuk menentukan
langkah kita selanjutnya."
Sebaliknya Nyo Kong-lim yang jujur itu, menyatakan isi
hatinya: ,Ceng Bo siangjin, boleh dikata wilayah Kwitang
kini sudah diduduki musuh. Mumpung sekalian saudara
persilatan sama berada disini, maka Hay-te-kau, peganglah
pucuk pimpinan Hoa-san ini, karena tempat ini merupakan
kubu2 pertahanan rakyat yang terakhir, Aku, Nyo Konglim,
senang mendengar titahmu!" Habis berkata begitu, dia
mengambil sebuah lencana-baja dari dalam baju,
diserahkan kepada Ceng Bo. Lencana itu diukir bentuk
gunung Hoa-san dengan ke 72- Ce. "Inilah lencana
pimpinan dari ke 72 Cecu Hoasan, harap kau suka terima!"
Ceng Bo siangjin terharu. Tak disangkanya didalam
semak belukar pegunungan lebat, terdapat seorang peribadi
yang berwatak kuat macam Toa-cecu itu. Ia lihat
bagaimana pembesar2 kerajaan saling berebut mencari
pangkat dan kedudukan hingga merusak negara, tapi
siorang jujur begitu tulus ikhlas menyerahkan kedudukan
padanya. "Nyo-heng, saat ini bukan saat main sungkan2-an.
Musuh sudah didepan mata, usah kita main mengalah. Kau
lebih faham akan keadaan ke 72 ce disini, peganglah terus
tampuk pimpinannya !"
Nyo Kong-lim hendak membantah, tapi Thay-san sin-tho
keburu mendahului-nya: "Mengapa ini itu seperti ular
kambang? Nyo-heng, ucapan Ceng Bo siangjin itu tepat.
SudahIah jangan sungkan, lebih baik lekas2 jatuhkan
hukuman pada bangsat ini!" katanya sembari perkeras
tekanannya. The Go sudah kerahkan lwekang untuk
menahan, tapi mana dia mampu menangkan kesaktian si
Bongkok, apalagi memang si Bongkok itu sengaja hendak
memberi pil-pahit padanya. Maka saking sakitnya, kepala
The Go basah dengan kucuran keringat.
The Go sadar bahwa sekalian yang berada disitu itu
adalah para orang gagah patriot dalam dunia persilatan.
Meminta ampun, itu akan sia2 saja malah tentu di-maki2.
Maka lebih baik dia berlaku gagah saja. Walaupun selebar
mukanya pucat pasi menahan penderitaan hebat, namun,
bybirnya tetap berhias senyuman.
"Ih-heng, tutuk saja nui-hiatnya (jalan darah supaya
orang lemas). Tunggu nanti sampai kita selesaikan urusan
penting ini," kata Ceng Bo. Ih Liok segera jalankan perintah
siangjin tersebut. Sekali tutuk, maka lemah lunglailah tubuh
The Go seperti tak bertulang. Terbaring ditanah, dia hanya
me-ngicup2kan kedua matanya.
Kini sekalian orang sama mendengarkan penuturan
Liang Pheng tentang kejadian yang dialaminya. Melihat
wajah, dan sikap dari sekalian orang yang bertekad bulat
melawan penjajah Ceng itu, diam2 Liang Pheng menjadi
malu sendiri. Orang2 sama bersyukur, kalau terlambat
sedikit saja markas ke 1 disitu tentu akan sudah jatuh
ditangan The Go, dan ini membahayakan kedudukan
seluruh Hoa-san. Nyo Kong-lim segera mengirim berita
agar pasukan dimarkas besar lekas datang kesitu. Dalain
waktu semalam itu saja, maka pertahanan markas ke 1 telah
diperkuat. Balok2 dan tong2 besi di-tumpuk2 merupakan
perbentengan yang kokoh.
Juga penguburan Ko Kui telah mendapat perhatian
selayaknya. Semua orang turut mengucurkan air mata atas
gugurnya seorang pahlawan yang berhati baja itu. "Kalau
Sin-eng Ko Thay mengetahui tentang kematian saudara Ko
Kui, dia pasti tak mau sudah!" kata Nyo Kong-lim. Sembari
menghela napas, dia serahkan senjata sarung-tangan kulit
kura2 milik Ko Kui itu kepada Tio Jiang, ujarnya: "Siaoko,
sarung tangan ini tak mempan senjata tajam. Karena kini
belum dapat diserahkan kepada Ko lo-tayhiap, maka untuk
sementara kau pakailah!"
Maksud Nyo Kong-lim itu baik sekali. Karena
diketahuinya anak muda itu hanya mempunyai sebilah
pedang yang bertotolkan karatan, maka disuruhnyalah
memakai. Tapi dia tak mengira, kalau hal itu kelak bakal
menimbulkan bermacam2 urusan. Tio Jiang juga senang
akan senjata ampuh itu, tapi dia tak berani mengambil
putusan, melainkan memandang kearah gurunya. Setelah
Ceng Bo mengangguk barulah dia mau menerimanya.
Nyo Kong-lim menyuruh dua orang liaulo yang
berkepandaian cukup dan faham keadaan gunung Hoasan,
untuk turun kekaki gunung guna menyelidiki meriam fihak
tentara Ceng. Sekalipun malam itu tak terjadi apa2, tapi
orang2 sama tak dapat tidur nyenyak. Dalam kesempatan
itu Ceng Bo menanyakan Nyo Kong-lim perihal
pertempurannya dengan siwanita berambut panjang diatas
perahu tempo hari. "Huh, jangan di-ungkat2 lagi urusan itu,
aku heran dengan wanita yang luar biasa ganasnya itu!"
sahut Nyo Kong-lim.
"Adakah wanita itu menyebutkan namanya ?" tanya
Ceng Bo.
Setelah mengingat sebentar Nyo Kong-lim menyahut
tidak. ”Karena laut keliwat dalam, terpaksa kita tak dapat
melepas jangkar (sauh), maka segera kusuruh putar haluan
perahu mengitari perairan karang Hay-sim-kau situ. Lewat
beberapa lama, karena kau masih belum nampak muncul,
aku lantas hendak menyuruh orang menyusulmu kedalam
dasar laut baru menutur sampai disitu, tampak Nyo Konglim
celingukan kian kemari, lalu tiba2 berseru: ,Hai, mana
Bo-lin-hi Su Khin-ting?"
Ceng Bo cepat2 menuturkan apa yang telah dialaminya
dengan Su Khin-ting dibawah laut situ. Mendengar kisah
pertempuran antara dua orang manusia dan seekor gurita
raksasa, semua orang sama leletkan lidah. Setelah melihat
lukisan pada dinding gua dibawah laut, bermula Ceng Bo
yakin bahwa siwanita berambut panjang itu tentulah sang
isteri, Kiang Siang Yan In Hong. Tapi ketika didapati kotak
berisi mutiara berada dalam perut sigurita, pikiran Ceng Bo
agak bersangsi. Kotak berharga itu dahulu adalah
pemberiannya kepada In Hong selaku tanda pengikat
kawin. Dengan beradanya barang itu didalam perut gurita,
jangan2 sang isteri itu telah binasa dimangsa makhluk laut
tersebut. Maka dia cenderung pada dugaan, kemungkinan
besar wanita berambut panjang itu adalah kawan dari sang
isteri. Tapi itu hanya dugaan, yang penting dia harus lekas
dapat berjumpa, dengan wanita berambut panjang itu lagi
guna ditanyai keterangan yang jelas. Maka setelah
menuturkan pengalamannya dengan seringkas mungkin
buru2 dia minta agar Nyo Kong-lim melanjutkan lagi
penuturannya.
Nyo Kong-lim masih meng-ingat2 lagi, dan ketika dia
baru hendak membuka mulut, Thay-san-sin-tho Ih Liok
sudah mendahuluinya: "Nyo-heng tak pandai bercerita,
biarkan aku saja yang menuturkan." Memang watak Nyo
Konglim itu menyamai Tio Jiang, seorang jujur yang tak
pandai berbicara. Maka dengan girang dia menyetujui.
Karena para orang gagah lainnya sudah sama mengalami
sendiri peristiwa diatas perahu itu, jadi mereka, tak mau
mendengarkan lagi cerita itu. Ada yang masuk tidur, ada
yang keluar meninjau pos penjagaan. Begitulah kini dalam
ruangan situ hanya tinggal Nyo Kong-lim, Ih Liok, Ceng
Bo siangjin, Tio Jiang, Yan-chiu dan beberapa orang saja,
serta si The Go yang menggeletak dilantai sana tak dapat
berkutik. Karena percaya akan kelihayan si Bongkok, maka
orang2 yang berada disitu tak ambil perhatian lagi kepada
penghianat The itu. Betapapun lihaynya tokh se-kurang2-
nya 4 atau 5 jam barulah dia akan dapat sembuh, demikian
pikir mereka.
Yan-chiu, belum pernah merasakan begitu girang seperti
pada malam itu. Tadi suhunya menuturkan
pertempurannya dengan gurita raksasa, hatinya berdebar
keras, peluhnya mengalir deras dan mulutnya meng-gigit2
kuku jarinya. la begitu tegang, se-olah2 turut ambil bagian
sendiri dalam pertempuran itu. Dan kini si Bongkok bakal
membawakan kisah pertempuran lain yang tak kurang
serunya, ia makin terpesona. Juga Tio Jiang yang rindukan
sang suhu, ikut duduk disitu menemaninya. Mulailah Thaysan-
sin-tho Ih Liok menghidangkan ceritanya:
"Karena sudah menunggu sampai sekian lama, kami
sekalian menjadi gelisah. Toacecu mondar mandir
digeladak dengan cemas sekali. Tiba2 dari arah laut sana,
terdengar suara aneh yang halus, dan nyaring sekali. Para
saudara2 yang biasa hidup dilautan, menjadi heran juga.
Ketika itu perahu ditengah laut besar, tiada bertepi tiada
pula sebuah perahupun yang mendatangi, mengapa ada
suara tersebut? Lama kelamaan nada suara aneh itu
berobah menjadi semacam orang merintih, tapi lengking
suaranya menusuk tajam kedalam anak telinga. Ini
menandakan bahwa siorang itu tentu tinggi sekali ilmunya
lwekang. Kini dari heran sekalian orang diperahu itu
menjadi tegang. Terang itulah seorang kaum persilatan
yang berkepandaian tinggi. Dan tepatlah dugaan itu, karena
tak lama kemudian dipermukaan laut tampak mengapung
sebuah benda hitam. Benda itu dengan pesatnya meluncur
kearah perahu. Suara rintihan itu makin lama makin jelas
juga.........”
”Apakah yang dirintihkan orang itu ?" tiba2 Ceng Bo
memutus.
"Akh........., sayang kepandaianku dalam ilmu surat
terbatas, namun masih dapat juga kukenal rintihan itu
sebagai syair Souw Hak Su dalam kisah tragedi 'Ratapan
kalbu Ong Ciau-kun' !"
Adakah syair itu berbunyi begini: 'Siapakah gerangan
yang berdendang itu, sehingga. membuyarkan impian indah
dibalik jendela hijau. Rembulan sisir dan asap kesedihan
bertebaran memenuhi angkasa'?" tanya Ceng Bo.
"Hai, mengapa Bek-heng tahu sekali ?" tanya Ih Liok
dengan terperanjat.
Tapi Ceng Bo hanya menghela napas saja. "Teruskanlah
penuturan tadi!" katanya dengan rawan. Orang2 yang
berada disitupun siap mendengarinya lagi dengan penuh
perhatian, sebaliknya si Bongkok tak mau lekas2 mulai
menutur lagi, melainkan merenung sampai sekian lama.
"Thocu, lekaslah!" tiba2 Yan-chiu yang tak sabaran
mendesaknya. Karena ketika digunung Giok-li-nia dahulu
ia biasa memanggilnya ,thocu" (si Bongkok), jadi otomatis
iapun berseru begitu. Tapi sesaat ingat bahwa si Bongkok
itu ternyata seorang cianpwe kenamaan yang menyamar, ia
merasa jengah sendiri. Tapi si Bangkok rupanya tak
menghiraukan hal itu. Tiba2 tangan si Bongkok
menggebrak meja dan mulutnya berseru keras: "Bek-heng,
bukankah ia itu .........”
GAMBAR 35
Dengan panjang lebar si Bongkok menceritakan pertempuran
diatas perahu antara Nyo Kong-lim dan wanita aneh yang
berambut panjang itu.
Belum lagi dia teruskan kata2nya, atas dilantai sana The
Go mendadak melesat menerobos keluar. Gerakannya amat
gesit sekali. Orang2 yang mendengari cerita si Bongkok
tadi, sama duduk membelakangi The Go, jadi tak tahulah
mereka akan lolosnya sibelut yang licin itu. Hanya si
Bongkoklah yang tak pernah lengah sedetikpun. Walaupun
sembari bercerita, tapi dia tetap dapat mengetahui lolosnya
orang muda itu. Maka itu, ketika The Go baru tiba
diambang pintu, ia serentak bangkit dari tempat duduknya.
Ceng Bo dan Nyo Kong-lim pun cepat mengetahui hal itu.
Ketiga jago lihay itu dengan serentak melesat memburu. Sekonyong2
The Go kibaskan lengan baju dan belasan siucian
(passer) melayang berhamburan. Ceng Bo kebutkan lengan
bajunya dan beberapa batang siucian itu segera terjemput
didalam tangannya. Ketika dipereksa ternyata siucian itu
adalah lidi baju rangka kipas si The Go. Jelaslah kalau
rencana meloloskan diri dari orang she The itu memang
sudah disiapkan dengan masak, yaitu menggunakan
kesempatan selagi orang2 tengah asyik mendengarkan cerita
si Bongkok. Tapi yang mengherankan orang, mengapa
selekas itu The Go dapat sembuh dari tutukan si Bongkok
yang teramat saktinya itu? Tapi justeru karena berayal
dilamun keheranan itu, The Go sudah melesat keluar.
Thay-san sin-tho coba menghalangi. Lebih dahulu dia
menghantam kemuka, hingga daun pintu rubuh dan
menyusul itu tubuhnya melejit keluar. Tapi disana, The Go
sudah tak kelihatan bayangannya lagi. Saat itu Ceng Bo dan
Nyo Kong-lim pun sudah menyusul keluar. Yan-chiu
mendongkol dan me-maki2 dalam hati. Tapi ia bukan getun
karena lolosnya The Go, melain marah karena The Go itu
menyebabkan putusnya cerita si Bongkok yang menarik
perhatiannya itu. Mereka berpencar mencarinya. Ketika
menanyai saudara2 yang bertugas menjaga diluar ruangan,
semua menyatakan tak nampak barang seorangpun yang
loncat keluar.
Thay-san sin-tho menarik kesimpulan. Betapapun
lihaynya ilmu mengentengi tubuh dari anak muda itu, tak
nanti dalam sekejab itu dapat melenyapkan diri. Jadi
tentunya dia masih bersembunyi disekeliling tempat situ.
Setelah menyuruh Nyo Kong-lim memerintah agar para
penjaga berjaga2, dia sendiri lalu mencari disekeliling
gedung permusyawaratan situ. Tapi tetap sia2.
”Ah dasarnya bangsat itu masih terang bintangnya, maka
aku sampai lupa bahwa dia itu memiliki kekebalan
antitutuk. Karena dia itu rapat sekali hubungannya dengan
Ang Hwat cinjin, maka begitu lahir, setiap hari dia tentu
digosok dengan obat-istimewa-, hiat-ko buatan cinjin itu,
yang khasiatnya yalah untuk menutup jalan darah dari
tutukan. Ditambah pula anak itu tentu mewarisi ilmu
memindah kedudukan jalan darah dari Ang Hwat. Kalau
penghianat itu sampai berhasil meloloskan diri dan
mengadu pada Ang Hwat cinjin, rasanya tentu berabe
juga!"
Ceng Bo sendiri yang mempunyai keperluan untuk
bertanya pada The Go, terpaksa kembali kedalam ruangan
lagi. Pada saat itu, kedua liaulo yang diperintahkan
menyelidiki tempat persembunyian meriam2 musuh itu
sudah kembali dengan hasil nihil. Malah hampir sedikit
saja, mereka dipergoki musuh. Ceng Bo sangsikan
kepandaian kedua liaulo itu, makanya tak berhasil.
"Pergilah kalian berdua untuk menyelidiki,” kata Ceng
Bo kepada Tio Jiang dan Yan-chiu berdua, ”kalau sampai
terang tanah tak berhasil, markas ini sukar dipertahankan.
Tugas kali ini berat dan penting sekali, harap kalian
berhati2!"
Tio Jiang dan Yan-chiu ber-gegas2 menjalankan titah
suhunya itu. Setelah itu, si Bongkok lanjutkan
penuturannya lagi, sebagai berikut: "Kiranya setelah dekat
benda hitam itu adalah seorang wanita berambut panjang.
Karena tak mengerti bahwa wanita itu tengah merintihkan
syair "Ratapan kalbu Ong Ciau Kun”, maka Nyo toa-cecu
segera berseru keras2: "Ih-heng, wanita itu seorang siluman
jahat!" Ih Liok yang yakin bahwa wanita itu tentu seorang
tokoh persilatan lihay, buru2 hendak mencegahnya, tapi
ternyata Nyo Kong-lim sudah terlanjur mengatakannya
dengan kasar. Maka sahutnya: "Nyo-heng, harap jangan
sembarangan mengomong! "
Namun rupanya wanita aneh berambut panjang itu telah
mendengarnya. Diantara segompyok rambut panjang yang
terurai kacau balau itu, tampak sepasang matanya
memancarkan sorot ber-api2, sehingga walaupun ketika itu
masih pada waktu siang hari, tak urung orang2 sama berdiri
bulu romanya.
"Kalau bukan bangsa siluman, masa sorot matanya
begitu macam?" kembali Nyo Kong-lim omong seenaknya
sendiri tanpa menghiraukan peringatan si Bongkok. Tapi
baru kata2nya itu selesai, tanpa mengeluarkan sedikit
suarapun, wanita aneh itu ayunkan tubuhnya loncat keatas
haluan perahu. Yang luar biasa adalah gerakannya itu,
sedikitpun tak mengeluarkan suara apa2. Orang2 yang
berada didalam perahu sama mundur.
"Mengapa katakan mataku ber-api2 seperti setan api ?"
tanya wanita itu dengan nada yang dingin sekali.
Nyo Kong-lim yang kasar dan sembrono itu, menjadi
kurang senang. "Lantas kau mau apa ?" sahutnya. Wanita
yang rambutnya hampir menutupi selebar muka itu
perdengarkan suara ketawa yang dingin sekali. Rambutnya
itu tiba2 berayun2 naik turun sampai 3 kali. Sebagai orang
persilatan yang penuh pengalaman, si Bongkok segera tahu
bahwa siwanita itu memiliki lwekang yang teramat sakti.
Dalam dunia persilatan itu tak sedikit jumlahnya tokoh2
yang berilmu tinggi, dan terhadap mereka lebih baik jangan
sampai kebentrok. Maka dengan ter-sipu2, dia segera
menyanggapi: "Saudaraku ini memang gemar omong,
harap cunke (saudara yang terhormat), jangan ambil
marah!"
”Tapi kalau mulutnya besar, tentu besar juga
kepandaiannya," kata wanita aneh itu sembari menyapukan
matanya kesekelilingnya. "Hiii.......," serunya sembari
menghampiri kearah Tio Jiang.
Sejak siwanita berambut panjang itu naik keatas perahu,
orang2 diatas situ sudah sama bersiaga. Melihat wanita
yang menghampiri itu matanya memancar sorot yang jahat,
tanpa banyak omong lagi Tio Jiang lagi putar pedangnya
dalam gerak "Ceng Wi mengisi laut" guna melindungi
dirinya. Kalau bermula hanya berjalan pelan2, kini demi
melihat jurus permainan ilmu pedang itu, se-konyong2
wanita aneh itu menerjang maju.
Bukan kepalang terkejutnya Tio Jiang. Gerakan tadi
sebetulnya hanya melindungi diri, tak nyana kalau siwanita
aneh itu berbalik malah menyerbunya. Walaupun masih
pada jarak jauh, tapi gerakan wanita itu telah menerbitkan
samberan angin. Hi........, jangan2 ia itu benar2 seorang
siluman, tapi masakan pada tengah hari bolong ada setan
muncul ? Ah, tentunya seorang tokoh lihay dari dunia
persilatan, pikir Tio Jiang sembari robah setengah bagian
yang terbelakang dari permainan pedang itu menjadi jurus
menyerang. Begitu pedang menurun, dia lalu menusuk
kearah siwanita.
Sejak mendapat pelajaran lwekang „Cap ji si heng kang
sim ciat" dari Sik Lo-sam dipulau kosong tempo hari,
kepandaian Tio Jiang bertambah pesat majunya. Apalagi
selama 3 bulan sesudah itu, sering dia bertempur dengan
musuh yang tangguh, jadi latihannya ilmu pedang tohaykiam-
hwat, mendekati kesempurnaan. Perobahan gerak
dari bertahan menjadi menyerang itu, teramat cepat dan
tangkas sekali. Yakin dia, taruh kata lawan bisa
xnenghindar tapi ilmu permainannya pedang itu memiliki
perobahan yang sukar diduga, bagairriana.pun juga wanita
aneh itu tentu sukar bertahan.
Tapi segera dugaannya itu kecele. Dia memang gesit,
tapi siwanita aneh lebih tangkas lagi. Begitu pedang
membabat, siwanita sudah condongkan tubuhnya kemuka
dalam kedudukan yang bagus sekali. Memang setiap jurus
permainan silat dengan senjata itu, tentu masih ada lubang
kekurangannya, Hanya, saja dalam ilmu permainan yang
lihay, lubang kekurangan itu sedikit sekali. Atau kalau ada,
tentu tak mudah orang mengetahuinya. Malah terhadap
ilmu silat atau senjata yang sakti, biarpun tahu ada lubang
kekurangan itu, namun orang tak berani gegabah
menyerangnya.
Dalam jurus „Ceng Wi mengisi laut" yang dimainkan
Tio Jiang itu, lubang kelemahannya adalah pada bagian
pundak kiri. Tapi manakah orang yang berani menyerang
bagian itu ? Karena dikala tangan kanan memainkan
pedang, tangan kiripun ber-gerak2 dalam jurus permainan
untuk mengimbangi gerakan pedang. Apabila pundaknya
kiri diserang, terang orang bakal dibabat oleh pedang
ditangan kanan itu. Taruh kata hantaman pundak kiri itu
dari sebelah atas, pinggang orang pasti termakan oleh
tutukan Tio Jiang. Namun kenyataannya, wanita aneh itu
sudah gerakan tangannya untuk menebas pundak kiri Tio
Jiang. Tio Jiang buru2 mundur sembari menarik
pedangnya. Adalah karena kemajuan yang didapatnya
dalam waktu2 terakhir ini, maka, dia sudah dapat
menghindar tabasan siwanita aneh yang luar biasa cepatnya
itu. Tapi celaka, walaupun tabasan tak mengenai, namun
samberan anginnya yang menyambar disisinya itu, telah
membuat Tio Jiang cukup meringis kesakitan. Hal mana
sangat membuat terperanjat Tio Jiang. Terang siwanita
aneh itu hanya menyerang dengan seenaknya saja,
tampaknya tak memakai tenaga sama sekali, tapi mengapa
samberan anginnya sedemikian dahsyat? Oi, hebat..........
kalau tadi sampai kena ditabas, bukantah tulang pundaknya
akan remuk luluh? Dia tak kenal dan tak bermusuhan
dengan si-wanita itu, mengapa seganas itu ia menurunkan
tangan jahat kepadanya ?
Dalam penghindarannya tadi, Tio Jiang mundur
kesamping sampai dua tindak. Tapi bagaikan bayangan
saja, siwanita aneh itu tetap mengintilnya. Dalam jarak
yang sedemikian dekatnya itu, lebih nyata pula bagaimana,
hebat mengerikan orang sorot sepasang mata dari siwanita
aneh itu. Tapi heran, mengapa bentuk dan gaya kicupan.
mata itu menyerupai mata Bek Lian ? Demikian dalam
saat2 yang berbahaya itu tiba2 Tio Jiang teringat pada sangsuci.
---oodw0tahoo---
BAGIAN 13 : MASUK SARANG MACAN
Karena mengenang sang suci itu, Tio Jiang tertegun.
Tahu2 kelima, jari siwanita yang bagaikan kait besi itu
menerkam dadanya. Baru kini Tio Jiang gelagapan. Hendak
menyingkir, terang tak keburu. Maka cepat dia hendak
kerahkan lwekang untuk melindungi dada supaya jangan
terluka. Tapi pada saat2 yang berbahaya itu, untung Nyo
Kong-lim keburu bertindak memberi pertolongan. Tanpa
menghiraukan peraturan apa2 lagi, dia menyapu dengan
sam-ciat-kun.
Nyo Kong-lim suka akan pemuda yang jujur itu, maka
tak segan dia memberi pertolongan seperlunya. Selagi
cengkeram siwanita hendak mencapai sasarannya sapuan
sam-ciat-kun menyambar datang. Siwanita perdengarkan
sebuah ketawa seram. Batal menerkam, ia gunakan
tangannya kiri untuk menampar. Benar Tio Jiang lolos dari
bahaya besar, tapi tak urung dadanya terasa sesak, sehingga
dia harus mundur sampai beberapa langkah. Karena perahu
itu tak berapa besar, hampir saja dia kecebur kelaut.
Siwanita melihati Tio Jiang dengan tertawa dingin,
sembari sedikit loncat kesamping, hingga hantaman Nyo
Kong-lim tadi menemui tempat kosong. Kong-lim hendak
tarik pulang sam-ciat-kun tapi karena tadi dihantamkan
dengan keras, jadi agak ayal sedikit. Dan lubang
kesempatan sedikit itu, telah digunakan secara
mengagumkan sekali oleh siwanita, yang secara tiba2 dan
cepat luar biasa apungkan diri menginjak ujung sam-ciatkun
yang diatas. Nyo Kong-lim diam2 memaki wanita yang
dianggapnya gila itu, dia balikkan tangannya hendak
membetot, tapi dengan berjumpalitan wanita itu sudah
menginjak kegeladak, krek..... , krek...... , sam-ciat-kun itu
terinjak melesek masuk kedalam papan geladak.
Kalau sekalian orang berseru kaget, adalah Nyo Konglim
yang ber-kaok2 seperti orang kalap. Dengan undang
seluruh kekuatannya, dia sentakkan sam-ciat-kun keatas.
Nyo Kong-lim dikaruniai tenaga kekuatan besar. Tatkala.
berumur 8 tahun, dia sudah dapat mengangkat lumpang
batu seberat ber-puluh2 kati, untuk dinaik turunkan.
Apalagi kini setelah dewasa dan belajar silat. Sekalipun
sam-ciat-kun itu ditindih oleh batu besar ribuan kati, tentu
dapat juga dia, menariknya. Apalagi hanya diinjak oleh
seorang wanita kurus.
Ak..... , ak...... , ak...... , 3 kali sudah mulut Nyo Konglim
menggeram dan 3 kali pula dia kerahkan tenaganya
menarik. Tapi wanita aneh itu tetap tegak seperti gunung,
sedikitpun tak bergeming. Malah bukan begitu saja. Melalui
sam-ciat-kun. yang dicekalnya itu, rasanya ada semacam
tenaga yang menyerang ketangannya hingga tangannya
serasa sakit kesemutan, dan akhirnya lengannya berasa
lemas sekali. Celaka aku, keluhnya. Terang wanita aneh itu
sudah salurkan lwekang untuk menyerangnya. Tapi entah
macam lwekang apa yang sedemikian lihaynya itu. Tahu
gelagat jelek, buru2 Nyo Kong-lim lepaskan sam-ciat-kun,
kemudian loncat mundur. Yakin dia, kalau berkeras adu
tenaga, terang dia bakal menderita.
GAMBAR 36
Se-konyong2 bagian toya Nyo Kong-lim kena diinjak wanita
aneh yang rambutnya hampir menutupi seluruh wajahnya.
Kejadian itu telah membuat sekalian orang menjadi
pucat terperanjat. Kalau orang macam Nyo Kong-lim
dengan mudah dapat ditindas, habis siapa lagi yang berani
menandingi? Sesudah mundur itu, Nyo Kong-lim tak
henti2nya obat-abitkan lengannya kanan. Pikirnya karena
tadi keliwat banyak menggunakan tenaga, maka lengannya
menjadi lemah lunglai.
"Huh, kalau tak mengingat karena kau hendak menolong
seorang sahabat, tentu takkan kuampuni perbuatanmu
menyerang secara gelap itu!" seru siwanita aneh sembari
ketawa mengejek. Napas Nyo Kong-lim ter-engah2, tak
dapat dia menyahut. Tiba2 Thay-san sin-tho yang sejak tadi
menyelip diantara awak kapal, kini tampil kemuka, ujarnya:
"Cunkeh tak kenal kami, entah apa maksud kedatangan
cunkeh kemari ini?"
Jelek rupanya, bongkok punggungnya, tapi Ih Liok itu
cukup cerdas pikirannya. Ucapannya itu tak dapat dianggap
menyalahi orang, tapi mengandung maksud mendamprat
orang yang dikatakan cari perkara. Mendengar itu sepasang
mata siwanita yang memancarkan sorot ke-hijau2an itu
memandang kearah si Bongkok. Si Bongkok seorang yang
bernyali besar, tinggi pula ilmu kepandaiannya. Benar
tampaknya dia tenang2 saja, tapi diam2 hatinyapun
bercekat dan bersiaga.
"Benar, dengan orang2 diperahu aku tak kenal mengenal.
Tapi ada seorang yang mempunyai hubungan rapat dengan
orang yang paling kubenci. Bangsa manusia begitu kalau
tak dibasmi tentu menimbulkan bahaya bagi dunia!" kata
siwanita dengan nada. yang dingin,
"Siapakah dianya?" tanya si Bongkok.
"Dia!" sahut siwanita sembari menuding pada Tio Jiang.
Karuan Tio Jiang menjadi terperanjat disamping heran,
Dia seorang anak yatim piatu tiada sanak kadang lagi,
mengapa dikatakan mempunyai hubungan rapat dengan
seseorang. "Cianpwe, jangan salah faham!" serunya
serentak. Tapi sembari perdengarkan suara ketawa yang
seram, siwanita sudah segera menerjangnya. Apa boleh
buat, untuk menjaga, diri, Tio Jiang sambut kedatangan
wanita itu dengan serangan to-hay-kiam-hwat.
Sedang Nyo Kong-limpun sudah berhasil membetot
keluar sam-ciat-kun dari lantai geladak, terus dihantamkan
pada siwanita. Meskipun diserang dari muka dan belakang,
siwanita aneh itu bagaikan sesosok bayangan berlincahan
diantara sabetan pedang dan hantaman sam-ciat-kun. Gerak
tubuh siwanita itu tak mengeluarkan suara apa2, tapi baik
Tio Jiang maupun Nyo Kong-lim merasa dikelilingi oleh
samberan angin yang keras. Malah seorang tokoh persilatan
macam si Bongkok yang faham akan aliran cabang
persilatan didaerah utara maupun diselatan, tak mampu
mengenali aliran cabang dari siwanita aneh itu.
Dalam beberapa jurus saja, Tio, Jiang dan Nyo Kong-lim
sudah keripuhan. Mereka kini hanya difihak membela diri,
tak dapat balas menyerang. Sampai pada saat itu, apa boleh
buat si Bongkok hendak turun tangan. Tapi belum lagi dia
bergerak, atau se-konyong2 kedengaran orang berseru:
”Ceng Bo siangjin!"
Memang pada saat itu tampak Ceng Bo siangjin dan Su
Khin-ting muncul dipermukaan air. Dan salah seorang
awak perahu telah menereakinya. Juga si Bongkok melihat
hal itu, pikirnya kalau siangjin itu sudah datang, tak perlu
jerikan siwanita itu lagi.
”Ceng....... " baru dia hendak turut meneriaki, Ceng Bo
sudah selulup lagi untuk menolong Su Khin-ting. Sudah
tentu siangjin itu tak mendengar teriakannya, dan si
Bongkokpun tak berdaya apa2.
Tapi anehnya begitu mendengar nama Ceng Bo
diteriakkan, wanita aneh itu mendorongkan kedua
tangannya hingga Tio Jiang dan Nyo Kong-lim mundur
kebelakang. Kemudian dengan gerak "han te pat jong",
wanita tersebut apungkan diri kedekat rombongan awak
perahu seraya berseru dengan nyaring: "Siapa yang
meneriakkan Ceng Bo siangjin tadi ?
Bagi orang yang kepandaiannya masih dangkal, nyalinya
sudah copot mendengar suara siwanita, yang mengandung
getaran lwekang itu. Yang menereaki Ceng Bo siangjin tadi,
kiranya adalah salah seorang thaubak (kepala liaulo)
Hoasan. Diapun seorang yang keras wataknya. "Akulah!"
sahutnya sembari tampil kemuka.
Siwanita aneh perdengarkan ketawa seram, wajahnya
berobah, menyeramkan orang. la singkap rambutnya yang
terurai menutupi muka, dengan tajam menatap Go Tiong,
thaubak itu. Tapi Go Tiong yang tak kenal kelihayan orang,
tetap tegak disitu. Semua, orang, kagum atas keberanian
dan kejujuran Go Tiong, maka mereka serentak maju
mendampinginya guna. memberi pertolongan apabila
sampai thaubak itu diserang. Betapapun lihaynya siwanita,
namun kalau dikeroyok orang banyak, tentu akan
kewalahan juga. Wanita itu maju selangkah, hal mana
makin membuat darah orang2 tersirap. Tapi ternyata ia tak
menyerang, melainkan bertanya: "Mengapa tadi kau
meneriaki Ceng Bo siangjin?”
"Oleh karena Ceng Bo siangjin tadi muncul dipermukaan
air,!" sahut Go Tiong.
"Apa katamu?" tanya siwanita itu dengan setengah tak
percaya. Kini tahulah si-Bongkok bahwa siwanita itu
mempunyai hubungan dengan Ceng Bo siangjin, mungkin
suatu dendam kesumat yang hebat. Maka diapun segera
memberi penjelasan: "Memang Ceng Bo siangjin turun naik
dalam perahu ini. Oleh karena hendak melakukan
penyelidikan didasar laut Hay-sim-kau, dia selulup kesana.
Tapi dia sudah muncul dipermukaan air, tapi entah
bagaimana, kembali silam lagi.”
"Hm, mengapa dia berani menjumpai aku ?" siwanita
perdengarkan ketawa-nya yang sinis.
Heran si Bongkok dibuatnya, tapi dia tak berani
menegas. Siwanita tampak merenung. Tiba2 dengan gerak
"yi hi ta ting" ikan lehi meletik, ia loncat kedalam laut.
Adalah pada saat ia masuk kedalam laut, Ceng Bo siangjin
telah diseret oleh sigurita kedasar laut, maka keduanyapun
tak dapat bertemu. Mungkin karena mempunyai perasaan
lain, siwanita itu tak kembali keatas perahu dan terus
menuju kedalam gua karang didasar laut Hay-sim-kau.
Oleh karena sampai sekian lama Ceng Bo tak kunjung
datang, akhirnya Nyo Kong-lim perentahkan berlayar. Dia
kuatir karena waktunya mendesak kalau tak cepat2 kembali
ke Hoasan mungkin nanti The Go dan Tan It-ho mengadu
biru dimarkas itu, dan ini membahayakan kedudukan ke 72
Cecu Hoasan.
Tiba dipantai utara, benar juga hari sudah malam.
Begitulah langsung mereka menuju ke Hoasan. Sewaktu
dilihat disekeliling kaki gunung Hoasan tampak banyak
kubu2 tentara, Ko Kui (cecu markas ke 1) menjadi heran,
dia segera minta idin pada Nyo Kong-lim, untuk
mendahului pergi kemarkas dengan mengambil jalan
singkat.
Ketika dia tiba dimarkas, tepat kala itu wakilnya (Liang
Pheng) tengah hendak memberi perintah menarik mundur
anak buah kemarkas no. 2. Kemudian bertempur dengan
The Go, akhirnya wakil Cecu itu telah menemui ajalnya
secara mengenaskan. Demikian si Bongkok mengakhiri
kissah penuturannya. Entah bagaimana perasaan Ceng Bo
siangjin setelah habis mendengar itu, tapi sebagai seorang
yang kuat perasaannya, dia tetap berusaha menahannya.
Andaikata dia seorang diri, tentulah akan sudah
mengucurkan air mata karena terharu melihat nasib sang
isteri yang sangat dikasihinya itu.
Hari sudah menjelang pukul 3 malam, turut kata The
Go, begitu terang tanah tentara Ceng pasti akan sudah
bergerak menyerang. Suasana sudah tentu menjadi tegang.
Hanya sebentar2 terdengar Nyo Kong-lim ber-teriak2
memberi perintah pada anak buahnya.
"Terkaan Ih-heng itu memang benar. Wanita itu adalah
isteriku yang kasar!" tak lama kemudian Ceng Bo berkata,
kepada si Bongkok, siapa tampaknya tak heran atas
keterangan itu, sahutnya: "Kalau benar ia itu Kiang Siang
Yan, mengapa ilmu kepandaiannya tak sama dengan Bekheng?"
Ceng Bo tuturkan apa yang telah disaksikan digua dasar
laut Hay-sim-kau. "Dalam 10 tahun ini, dengan tekun ia
telah meyakinkan ilmu lwekang sakti thay-im-lian-sing.
Dengan begitu, kini aku bukan tandingannya lagi!" katanya
pula.
"Haya, celaka ni!” seru si Bongkok, ”ketika lolos dari,
pondok, Kiang Siang Yan telah membawa dendam
penasaran sedalam laut. Konon kabarnya, thay-im-lian-sing
itu akan merobah orang menjadi seorang yang ganas keliwat2.
Kalau lain2 ilmu lwekang akan menjadi seorang
lebih tenang dan sabar, sebaliknya ilmu thay-im-lian-sing itu
kebalikannya! "
"Benar, karena dengan kebencian dia meyakinkan ilmu
itu, maka sudah tentu dendamnya makin menyusup
kedalam tulangnya. Ia tentu akan memakan dagingku,
merobek kulitku. Ah, meskipun kesalahan itu akibat
perbuatan manusia terkutuk, tapi untuk menjelaskan
bukanlah mudah. Makanya ia selalu menentang
tindakanku, sengaja menyuruh Lian-ji ikut pada The Go!"
kata Ceng Bo.
”Apa katamu itu, Bek-heng?" tanya si Bongkok dengan
terperanjat sekali
Apa boleh buat, Ceng Bo tuturkan juga kejadian
diperahu dengan Bek Lian dan The Go,
”Habis kemana nona Lian sekarang?" tanya si Bongkok
sembari banting2 kaki. Ceng Bo sendiri kacau balau
hatinya. Isteri yang dicintainya, lolos tak ketahuan
rimbanya, disusul dengan puteri biji matanya, menyintai
seorang penghianat bangsa. Betapapun juga, imam itu tetap
seorang yang terdiri dari darah dan daging, maka,
bagaimana hancurnya sang hati, tentu dapat dimaklumi.
”Kalau si The Go masih disini, kita bisa menanyainya!"
katanya sembari menghela napas panjang.
"Ah, kalau tahu begitu, kita tentu tak membiarkan dia
lolos, ai.... , ai....!" seru si Bongkok sembari ber-kuik2
dengan gusar. Karena sudah terlanjur, kedua orang itu tak
dapat bicara apa2. Tiba2 datanglah Nyo Kong-lim
menanyakan mengapa Tio Jiang dan Yan-chiu belum
datang. Ceng Bo terperanjat. Memang kedua anak
muridnya itu cukup lama perginya. Si Bongkok tawarkan
diri untuk menyusul. Tapi belum setengah jam dia turun
gunung, dengan cepat sudah balik melapor: "Aneh,
mengapa, siaoko dan nona Liau tak kelihatan jejaknya?
Tentara Ceng masih menggeros, semua, jadi terang
keterangan The Go itu bohong. Tapi yang memgherankan
mengapa tak dapat kuketemukan letak markas besar
panglima mereka. Juga tempat persembunyian meriam2
mereka, itu entah dimana!"
Ceng Bo makin resah, ujarnya: ”Li Seng Tong benar
seorang panglima perang yang pandai, tapi menghadapi
orang2 persilatan dia tentu tak dapat berbuat banyak. Turut
pendapatku, tentu disana bersembunyi seorang juru pemikir
yang lihay."
"Ah, tentunya si Cian-bin Long-kun The Go lah!" sahut
si Bongkok serentak.
Ceng Bo anggukkan kepalanya, ujarnya: "Memang dia
cukup hebat. Walaupun ustanya masih muda, tapi sudah
begitu pandai, Sayang dia terjun kejaIan yang sesat"
Dalam hati, si Bongkok sendiri juga mengagumi
kecerdikan The Go. Dalam riwayat perkelanaannya didunia
persilatan, belum pernah diingusi macam yang terjadi
dengan diri The Go tadi. Begitulah persiapan dalam markas
kesatu itu, terus diatur dengan tak henti2nya. Sekarang
marilah kita tengok keadaan Tio Jiang dan Yan-chiu.
Begitu keluar dari pintu gerbang markas, dilihatnya
udara mendung sekali. Takut kalau saling berpencar,
keduanya lalu bergandengan tangan. Selama dalam
perjalanan turun gunung itu tak putus2nya Yan-chiu
menuturkan pengalamannya selama berpisah itu. Dengan
genit dan lucunya, ia ceritakan bagaimana rasanya menjadi
raja gunung selama dua bulan. Bermula dibiarkan saja
sumoay itu bercerita sembari bergelak tawa, tapi setelah
hampir dekat kemarkas musuh, dia lalu melarangnya. Tapi
Yan-chiu sudah salah mengerti, dikiranya sang suko jemu
mendengar ceritanya, maka dengan ketus ia berseru: ”ya
sudah...., tak boleh bicara ya sudah......!"
Tahu akan perangai sang sumoay, Tio Jiang hanya
ganda tertawa saja. Dengan begitu habislah perselisihan
kecil itu.
Begitu mendekati kubu musuh, Yan-chiu sembari
berjinjit kaki, membisiki kedekat telinga sang suko: "Suko,
aku hendak tanya padamu sebuah lagi, boleh tidak?"
Tio Jiang sijejaka bodoh, kuatir kalau membuat sang
sumoay marah lagi, terpaksa mengiakan. "Suko, mana
peniti kupu2 yang Lian suci berikan padamu tempo hari?"
katanya sembari ketawa cekikikan.
Tio Jiang seperti disengat kalajengking saking kagetnya.
Tukar menukar tanda pengikat kawin itu dilakukan hanya
berdua orang saja, mengapa Yan-chiu dapat mengetahui?
Tapi dasarnya bodoh, dia hanya mengira kalau Yan-chiu
tentu mengintip, maka rahasia itu sampal bocor. Dengan
suara ter-putus2 gemetar, dia sagera menyahut: "Masih
padaku. Sumoay ......... se-kali2 jangan bilang pada Suhu,
agar dia orang tua tidak marah !"
Sudah tentu Yan-chiu geli, jawabnya ter-sipu2: "Ya....,
ya...., ya......, aku tak akan bilang!"
Dalam pikiran sinona yang nakal itu hanya terlintas
suatu rencana memperolokkan suko dan sucinya. Apabila
kedua orang itu berjumpa satu sama lain hendak ia
pertunjukkan barang panjer masing2 dan mengocok
keduanya sampai puas betul. Hanya begitulah maksudnya,
jadi bersifat hati kanak2. Sedikitpun ia tak sadar bahwa hal
itu telah menyiksa Tio Jiang setengah mati, dan akhirnya
putus asa. Tapi biarlah jangan kita ungkap dahulu kejadian
yang belum datang itu.
Karena ceriwis dan cekikikan, Tio Jiang mengira kalau
sang sumoay menggodanya soal perjodohan itu, maka
diapun tak marah. Demikianlah kini keduanya sudah
hampir mendekati kubu2 musuh. Sebagai seorang anak
perempuan, Yan-chiu lebih teliti. Dilihatnya diatas tanah
hutan situ banyak sekali terdapat bekas tapak kuda dan
roda2 kereta. Yan-chiu me-raba2 tengkuk leher Tio Jiang,
hingga saking kagetnya Tio Jiang sampai lompat
berjingkrak. Ketika diketahuinya bahwa itulah sang sumoay
yang sengaja hendak mempermainkan, Tio Jiang
mendongkol sekali. Tapi hendak mendamprat, dia tak
berani kuatir menerbitkan suara yang dapat didengar oleh
serdadu2 Ceng. Maka apaboleh buat dia hanya deliki mata
saja kepada gadis nakal itu. Tahu, sang suko marah tapi tak
dapat berbuat apa2, Yan-chiu makin gembira Tio Jiang
mendelik, ia balas unjuk muka-setan sembari me-lelet2-kan
lidah. Tio Jiang meringis betul2. Puas menggoda, baru Yanchiu
berbisik kedekat telinga sukonya, suruh dia melihat apa
yang terlihat ditanah situ. Saking girangnya, Tio Jiang
sampai berjingkrak2: "Sumoay, bukankah itu bekas roda2
meriam ?"
"80 persen, ya!" sahut Yan-chiu.
"Suhu suruh aku menebus dosa dengan jasa. Kalau aku
dapat merusakkan ke 10 pucuk meriam itu, tentu akan
berjasa besar," kata Tio Jiang dengan girang. Yan-chiu
menanyakan dengan heran. Tapi Tio Jiang membantah,
masa ditempat macam begitu dia disuruh menceritakan.
"Kalau tak mau memberi tahu, aku tak mau menemani
mu suko!" Yan-chiu unjuk gertakannya. Tahu akan tabiat
sang sumoay, terpaksa Tio Jiang bercerita. Berulang kah
Yan-chiu leletkan lidah saking kagum, dan ketika
mengetahui sang suko telah mempelajari sekian banyak
ilmu silat yang luar biasa, Yan-chiu segera minta diajari.
Untuk jangan melenyapkan kegembiraan sinona, Tio Jiang
menyanggupi: "Baik, tapi mari lebih dahulu kita cari tempat
meriam2 itu! "
Keduanya segera berjalan menurut bekas roda itu. Tak
berapa jauh, bekas2 roda itu tampak saling bersilang. Kini
makin teguhlah dugaan mereka akan tempat
persembunyian meriam2 itu. Setelah berunding, keduanya
memutuskan untuk tetap bersama2 mencarinya, tak usah
berpencar. Benar juga tak berapa jauh, mereka tampak ada
dua orang serdadu mondar-mandir didepan sebuah kubu.
Bekas roda, itu menjurus kesana. Dilihat bentuknya, kubu
itu menyerupai tempat tinggal orang.
Setelah saling memberi isyarat mata, keduanya segera
menyelinap pe-lahan2. Yan-chiu berhasil mendekati
dibelakang, salah seorang serdadu, siapa ternyata tak
mengetahuinya. Sekali menarik kuncir orang, serdadu itu
segera terjengkang jatuh kebelakang. Begitu mulutnya
hendak berteriak, buru2 Yan-chiu menutuk jalan darah
thian-tho-hiat ditenggorokan, hingga tamatlah riwayatnya.
Sedang yang seorang lagi pun kena ditutuk pingsan oleh Tio
Jiang. Dengan tak menerbitkan barang suatu suara,
keduanya ber-jengket2 menghamperi kubu. Tapi begitu
Yan-chiu susupkan kepalanya kedalam tenda kubu, segera
ia-lekas2 tarik keluar seraya memaki sukonya: "Suko,
mengapa kau begitu kurang ajar, suruh aku tonton
pemandangan macam. begitu?!"
Tio Jiang segera susupkan kepala dan diapun menjadi
menyeringai juga. Kiranya didalam kubu situ bukannya
meriam yang ada, tapi 7 atau 8 orang serdadu Ceng sama
terlentang tidur. Serdadu2 itu berasal dari daerah utara yang
dingin. Meskipun didaerah selatan itu waktu dalam bulan
11, dan 12, tapi mereka tak merasa kedinginan. Dan
memang sudah menjadi adat kebiasaan orang utara, kalau
tidur tentu lepas pakaian. Sudah tentu pemandangan itu
sangat "mengerikan" Yan-chiu. Tapi sebagai anak laki,
sudah tentu Tio Jiang tak menjadi jengah. Dia heran
mengapa bekas tapak roda tadi terang masuk kedalam kubu
situ, tapi mengapa kawanan serdadu yang ada?. Diawasinya
lagi dengan perdata dan akhirnya tampak juga diujung sana
ada sebuah benda warna hitam, berbentuk bulat,
menggeletak ditanah. Karena tak mengetahui benda apa itu,
buru2 dia memberi isyarat agar Yan-chiu datang kesitu.
Sudah tentu Yanchiu tak mau, kapok ia. Apa boleh buat,
Tio Jiang terpaksa menghampiri sang sumoay, ujarnya:
”Sumoay, mengapa pada saat2 yang penting, kau
mundur teratur?"
"Suko, kalau kau menghina, tentu kubilangkan pada
suhu!" sahut Yan-chiu dengan uring2an.
"Diujung kubu itu ada sebuah benda yang hitam gelap
warnanya. Kupikir hendak menobros masuk untuk
memeriksanya, harap kau berjaga diluar, sumoay," kata Tio
Jiang.
GAMBAR 37
Dengan batang kayu itu, Tio Jiang menyusup kedalam kemah
musuh, ia gunakan ilmu menutup yang di pelajarinya dari Sih
Lo-sam, dengan gerak cepat, sekejap saja ia telah tutuk jalan darah
lumpuh tujuh perajurit penjaga.
Setelah sumoaynya setuju, bermula Tio Jiang hendak
gunakan pedangnya tapi tak jadi. Dia memotes sebatang
ranting puhun, lalu menyusuk kedalam tenda. Menurutkan
ajaran Sik Lo-sam, dalam sekejab saja dia sudah dapat
menutuk jalan darah ke-8 serdadu itu. Setelah itu dia
menghampiri kesudut tenda. Ah......., makanya tak dapat
kawan2nya yang dahulu mencari tempat persembunyian
meriam, karena senjata itu disembunyikan didalam tanah.
Permukaan lubang itu, ditutup dengan sebuah papan.
Waktu papan itu diangkat, terdapatlah sebuah lubang gua
dibawah tanah dengan diterangi oleh beberapa batang lilin.
Disitu terdapat dua orang serdadu tengah duduk
mengantuk. Tio Jiang berkerja sebat. Meriam digulingkan,
isinya dibuang, sementara sipenjagapun ditutuk pingsan.
Setelah merusakkan beberapa barang dalam kubu tersebut,
Tio Jiang lalu menyusup keluar lagi. Tapi disitu Yan-chiu
tak nampak bayanganya. Berulang kali Tio Jiang
memanggilnya tapi senantiasa tak berbalas.
Tio Jiang makin gelisah. Taruh kata dia berhasil
merusakkan ke 10 pucuk meriam musuh, namun kalau
Yan-chiu sampai ada apa2, artinya dia itu tetap berdosa.
Apa boleh buat dia terpaksa menyelidiki berpuluh kubu
yang berada disitu. Pada sebuah kubu, didapatinya ada
seorang serdadu Ceng rubuh binasa. Hal mana membuat
Tio Jiang girang, karena dia dapat mengetahui jejak lari
sang sumoay. Dengan menurutkan arah pengunjukan itu,
akhirnya berhasillah dia keluar dari barisan kubu2 musuh,
tapi sampai berapa kali dia berseru keras, tetap tiada
berbalas.
Ketika itu Tio Jiang mendongkol dan gelisah.
Mendongkol karena mengira sumoaynya lagi2 hendak main
ugal2an. Gelisah karena memikiri penemuannya tadi.
Meriam sudah diketahui, tapi kalau tak lekas2 dihancurkan,
nanti terang tanah tentu akan digunakan menyerang Hoasan.
Maka Tio Jiang mondar mandir saja disekitar kaki
gunung situ, belum dapat mengambil keputusan. Adalah
pada saat itu, si Bongkok sebenarnya juga sudah datang
untuk mencari dia dan Yan-chiu, tapi karena kebetulan Tio
Jiang baru mengitari bagian sana, jadi tak dapat dilihat si
Bongkok.
”Tio Jiang, Tio Jiang! Mengapa dikau begitu tolol? Biar
tak menjumpai jejak Yan-chiu, tapi seharusnya kau lekas2
menghancurkan senjata2 maut itu dulu. Apakah kau tak
mengerti bahwa keayalanmu itu berarti maut bagi sekian
banyak orang2 gagah yang berada digunung Hoasan?" tiba2
dia bertanya seorang diri. Memikir sampai disitu, peluh
membasahi sekujur tubuhnya. Buru2 dia kembali kedaerah
perkubuan musuh lagi. Menyusur bekas roda2 meriam, dia
memasuki kubu demi kubu. Untungnya para serdadu yang
bertugas dalam setiap kubu itu sama menggeros seperti
babi, jadi mudahlah dia hancurkan meriam2 itu satu per
satu. Dan dalam waktu tak berapa lama saja, berhasillah dia
menghancurkan 9 pucuk meriam. Meriam ke 10, atau
meriam yang penghabisan setelah agak lama dicarinya
barulah dapat diketemukan tempat persembunyiannya.
Segera ia menyusup kedalam kubu itu, ia dapatkan
suasana didalam situ agak lain. Baru dia merandek sejenak,
atau tiba2 dia rasa ada serangkum angin menyambar dari
muka. Karena tak keburu berkelit, maka Tio Jiang cukup
gunakan jurus "hong cu may ciu" melejit kesamping.
Dengan ujung ranting puhun tadi, dia segera tutuk jalan
darah orang dibagian betis pada jalan darah wi-tiong-hiat.
Orang itu bergelundungan ditanah untuk menghindar,
kemudian berseru melengking: "The toako, akulah! Ini
benar2 'istana raja laut kebanjiran air' (artinya orang sendiri
hantam orang sendiri) !"
Tio Jiang rasanya faham akan suara itu. Ah, benar
dialah! Itulah Chi Sim, salah seorang dari persaudaraan
Chi. Sewaktu pertempuran luitay di gunung Gwat-siu-san
tempo hari, hanya dia seorang yang tak mendapat luka.
Tentu kini dia mengikut The Go. Tapi mengapa orang she
Chi itu mengira kalau dia itu si The Go? Oho, mungkin
orang mengambil kesimpulan begitu itu karena, tampak dia
(Tio Jiang) tadi gunakan jurus hong-cu-may-cu, itu ilmu
silat warisan Ang Hwat cinjin yang diturunkan pada The
Go. Ah, biar bagaimana meriam yang no. 10 itu harus
dihancurkan agar tak menerbitkan bahaya bagi Hoa-san.
Memang penjaga dalam buku itu adalah si Chi Sim,
siapa tak mengira kalau yang hendak masuk kedalam kubu
situ adalah The Go. Malah ketika si The Go palsu diam
saja, Chi Sim mengira kalau orang menjadi kurang senang.
"The toako, seranganmu tadi laksana kilat cepatnya. Kalau
aku tidak lekas2 menyingkir, tentu habislah riwayatku!"
kata Thyi Sim sembari ketawa ingin mengambil hati orang.
Tio Jiang geli tapi tak mau menyahut. Belum lagi dia
mengambil putusan, diam saja atau menyahut, sudah
kedengaran lagi si Chi Sim mengoceh: "Tadi aku telah
menjambangi nona Bek. Semalam ia tak tidur karena kau
tak pulang. Kemana saja pergimu tadi malam itu toako ?"
Kaget Tio Jiang sukar dilukiskan. Apakah betul2 Bek
Lian tak mau pada dirinya dan mati hidup hendak ikut
pada The Go? Kalau tidak, mengapa suci itu tetap mengintil
orang kemana The Go pergi? Gusar dan pedih, Tio Jiang
cepat melesat maju untuk menampar muka Chi Sim,
plak.............
Karena sedang berusaha untuk mengambil hati "The
Go", maka Chi Sim sudah tak ber-jaga2 akan datangnya
serangan yang begitu mendadak itu. Saking keras tamparan
si Tio Jiang, maka gigi Chi Sim telah copot sampai dua biji.
Dia ber-kuik2 kesakitan, serunya ter-putus2: "The toako,
mengapa kau .............”
Belum kata2 itu diselesaikan, tiba2 jalan darah
dibelakang batok kepalanya dipijat keras2 oleh orang (Tio
Jiang). Chi Sim coba meronta dari cengkeraman itu, tapi
bukan saja tak dapat lolos malah dirasakan ada semacam
tenaga yang panas, menyalur pada kepalanya. "The toako,
jangan bersenda-gurau" serunya.
Mana Tio Jiang mau meladeni, dengan bengis dia
menggertak: "Siapa yang sudi jadi The toako-mu? Dimana
nona Bek, lekas bilang!"
"Siapa .......kau .......kau ini?" tanya Chi Sim dengan
ketakutan. Tio Jiang makin perkeras tekanannya dan paksa
orang menunjukkan tempat persembunyian Bek Lian. Apa
boleh buat Chi Sim terpaksa menurut, tapi lebih dahulu dia
minta orang kendorkan cengkeramannya. Tapi Tio Jiang
sudah ketelanjur gusar melihat orang berayal, dampratnya:
"Sampai ditempatnya, tentu kukendorkan. Kalau berani
main gila, tentu kukirim kau keakherat !"
Begitulah dengan serta merta Chi Sim bawa Tio Jiang
ber-biluk2 diantara kubu2, sehingga sampai
membingungkan Tio Jiang. Yang diketahuinya, kubu2 itu
diatur dengan rapi sekali, mirip dengan formasi sebuah
barisan. Maka tak heranlah kalau orang tak dapat
mengetahui tempat markas panglima. Untung tadi Yanchiu
dapat melihat bekas tapak roda, hingga dapat
mengetahui tempat persembunyian meriam2. itu. Jadi kalau
menurut cengli (nalar) Yan-chiulah yang harus diberi
ganjaran jasa. Ini telah menjadi keputusan Tio Jiang juga,
apabila kelak berhadapan dengan suhunya. Memikirkan hal
itu, tiba2 dia teringat bahwa masih ada sepucuk meriam
yang belum dihancurkan. "Kembali" bentaknya dengan
suara tertahan.
"Kemana?" tanya Chi Sim dengan heran. Tio Jiang
menyuruh kembali ketempat tadi. Terpaksa, Chi Sim
menurut. Begitu sampai dikubu tadi, segera Tio Jiang tutuk
jalan darah pemingsan Chi Sim, kemudian menghancurkan
meriam disitu. Selesai tugasnya, baru dia buka jalan darah
si Chi Sim lagi dan suruh dia membawanya ketempat Bek
Lian. Sepanjang jalan, mereka tak berjumpa barang seorang
serdadupun juga. Hal mana membuat Tio Jiang heran.
"Mengapa tiada seorangpun serdadu penjaga?" tanyanya.
"Kubu2 disini diatur menurut susunan barisan yang
ditentukan Ang Hwat cinjin. Kalau orang luar sampai
masuk kemari, mereka akan ber-putar2 kesana-sini namun
tetap, berada diluar. Bagi tokoh yang tinggi ilmunya,
paling2 hanya, dapat mencapai susun yang ketiga,"
menerangkan Chi Sim, Tio Jiang terperanjat. Tapi pada lain
saat Chi Sim mengatakan sudah sampai dikubu Bek Lian,
Tio Jiang belum mau kendorkan cengkeramannya. Dia,
susupkan kepalanya melongok kedalam, tapi disitu tiada
seorangpun juga. Dengan geramnya Tio Jiang cekik
tengkuk Chi Sim. Cekikan itu dipelajarinya dari Sik Losam,
maka keadaan. Chi Simpun persis seperti ketika dia
(Tio Jiang) dicekik Sik Lo-sam di Giok-li-nia tempo hari.
Dengan meng-uak2 kesakitan, Chi Sim diseretnya masuk
kedalam kubu. Tio Jiang curiga mengapa didalamm kubu
situ kosong tiada orangnya, kecuali sebuah meja hijau
dengan 3 batang lilin, sebuah tempat tidur dengan selambu
sulaman. Sama sekali tak mirip dengan kubu tentara.
Diam2 Tio Jiang berpendapat, mungkin disitulah tempat
tinggal Bek Lian. Ketika memandang kearah tempat tidur,
dilihat selimut dan bantal agak berserakan dan tatkala
tangannya meraba keatasnya, masih terasa hangat. Terang
orang baru saja habis menidurinya
"Orang she Chi, lekas katakan, adakah benar2 nona Bek
berada disini ?" tanyanya. Dicekik tengkuknya itu, Chi Sim
ketakutan setengah mati. Buru2 dia pegangi tangan
pencekiknya itu. Bukan hendak melawannya, tapi hendak
berjaga2 kalau orang perkeras cekikannya, dapatlah dia
berusaha untuk meringankan kesakitannya. Kini kalau dia,
menerangkan dengan terus terang, tentulah Tio Jiang mau
mengampuninya. Maka, tanpa ragu2 lagi, diapun segera
menyahut: "Kedatangan nona Bek ke Kwiciu sini adalah
bersama dengan The toako. Sudah dua hari ini The toako
pergi belum pulang, sehingga membuat nona Bek bersedih
sampai tak mau makan, karena selalu mengenangkan The
toako"
"Ngelantur!" bentak Tio Jiang demi mendengar
keterangan orang yang menyayat hatinya itu. Hal itu telah
membuat kaget Chi Sim. Coba dia itu orangnya bisa
berpikir, tentulah akah segera mendapat kesan bahwa tentu
ada apa2 antara pemuda itu dengan nona Bek, makanya dia
begitu tanya melilit tentang sinona, Dan dengan pengertian
itu, dapatlah dia merangkai kebohongan. Tapi Chi Sim sih
orangnya kasar. Dia keliwat takut mati, maka teruskan lagi
keterangannya:
"Aku omong hal yang sebenarnya. Nona Bek memang
rindu pada The toako. Beberapa kali dia mengunjungi
kemarkas congpeng untuk menanyakan diri The toako,
mengapa sampai sekian lama belum pulang serta pergi
kemana saja agar ia dapat menyusul. Oleh karena kepergian
The toako kali ini bersifat rahasia, jadi Li congpeng tak mau
memberitahukannya. Nona Bek marah dan membuat gaduh
dimarkas congpeng!"
Tio Jiang memang kenal akan adat perangai sang suci.
Kalau sudah marah sucinya itu tentu takkan peduli segala
apa. Kalau ditilik dari tingkah laku Bek Lian terhadap The
Go ketika dipulau kosong tempo hari, keterangan Chi Sim
itu memang tak bohong. "Setiap orang telah mengetahui
rencana keji dari The Go dipulau Ban-san-to!" kata Tio
Jiang sambil menghela napas.
Atas penyelaan Tio Jiang itu, Chi Sim berhenti sejenak.
Tapi dia. segera lanjutkan keterangannya lagi:
"Sedatangnya dari Ban-san-to, The toako kembali
majukan sebuah rencana untuk menyerang Hoa-san. Kali
itu Bek Lian berkata ikut pada The toako. Melihat ia itu
seorang gadis, semula Li congpeng tak memberi idin. Nona
Bek minta diadu dengan dua orang perwira. Akhirnya,
kedua perwira itu telah dikalahkannya dan barulah Li
congpeng mengidinkan."
Tio Jiang percaya penuh keterangan itu. Makin keras
niatnya untuk menemui sang suci. Hendak dia tanyakan,
mengapa malam itu sudah memberikan panjer nikah
kemudian tak menyintai dia (Tio Jiang). Dengan ketetapan
itu, segera dia tutuk jalan darah pemingsan Chi Sim, hingga
orang itu rubuh tak berkutik dilantai, melainkan sepasang
matanya saja yang masih bisa mengawasi Tio Jiang.
"Dalam waktu empat, kau akan pulih sendiri!" kata Tio
Jiang, terus keluar. Diluar kubu penuh dengan kabut. Hari
sudah menjelang terang tanah. Dia mulai lakukan
penyelidikan, tapi kabut makin tebal sehmgga dalam jarak
beberapa meter saja sudah tak dapat melihat apa2. Tiba2
Tio Jiang teringat bahwa kubu2 itu disusun menurut ajaran
Ang Hwat cinjin yang disebut barisan Ko-cut-tin. Hendak
dia balik saja mencari pada Chi Sim, tapi matanya sudah
kehilangan penglihatan karena tebalnya sang kabut. Apa
boleh buat, Tio Jiang segera mengambil sebuah arah, terus
lari kemuka. Hari makin terang. Oleh karena semalam tak,
tidur, maka sekalipun Tio Jiang seorang sehat kuat,
terpaksa merasa letih juga. Pada kala itu, kira2 dia sudah
berlari sejauh 30-an li jauhnya. Tapi anehnya, masih
ubek2an berada di-tengah2 barisan kubu situ. Kemana dia
lari, kesitu dia selalu tak menjumpai seorangpun juga.
Lama2 mendongkol juga Tio Jiang. Sekali berbuat, tak
mau kepalang tanggung lagi. Dia menobros kedalam sebuah
kubu, pikirnya hendak menyeret seorang serdadu untuk
dipaksanya menjadi pengunjuk jalan. Tapi untuk
kekagetannya, begitu masuk begitu disambut dengan
beberapa senjata rahasia. Dalam gugupnya, segera dia
gunakan jurus thiat-pian-kio, lengkungkan tubuhnya
kebelakang. Ber-puluh2 senjata rahasia men-desing2 diatas
tubuhnya. Diam2 Tio Jiang bersyukur didalam hati. Tapi
ketika dia hendak bangun, tiba2 melayang sebuah
hantaman. Oleh karena tubuh Tio Jiang masih melengkung
kebelakang, tambahan pula tak membekal senjata apa2,
terpaksa dia buang dirinya untuk bergelundungan
kesamping. Tapi tanpa disengaja, gerakannya itu sesuai
dengan jurus hong-cu-may-ciu atau sigila menjual arak, itu
ilmu pusaka dari Ang Hwat cinjin.
---oodw0tahoo---
BAGIAN 14 : LAWAN LAMA
Dengan bergelundungan beberapa tindak, kini Tio Jiang
sudah berada diluar tenda. Justeru kabut masih tebal, jadi
dia tak dapat melihat apa2. Dengan ter-nnangu2 tak tahu
apa yang harus dikerjakan, dia terkenang akan sang suci
yang sudah menyintai The Go. Hatinya serasa pilu dan
pedih. Lewat berapa saat kemudian, diantara kabut yang
sudah agak menipis itu, dilihatnya ada sesosok bayangan
berkelebat. Buru2 dia bersiap. Rupanya orang itupun
mengetahui dirinya..... Sekali enjot sang kaki, orang itu
segera menerjang kearah Tio Jiang. Orang itu bertubuh
kecil kurus, sedang pakaiannya agak kebesaran.
Tio Jiang tak hiraukan lagi siapakah dia itu lalu buru2
berkelit kesamping. Karena masih mempunyai urusan
penting, Tio Jiang tak mau layani orang itu. Begitu
menghindar dia terus lari. Tapi karena pikirannya sedang
dilamun kesedihan, dia seperti orang linglung. Maunya
hendak berputar, tapi ternyata malah menuju kearah
sipenyerang tadi. Dan karena sudah begitu, tak mau dia
kepalang tanggung terus ulurkan tangannya untuk menutuk
jalan darah keng-tian-hiat dipundak orang.
Orang itupun tak mau unjuk kelemahan. Begitu
miringkan tubuh, dia menyambut sebuah senjata yang bulat
datar bentuknya dan ke-hitam2an warnanya, mirip dengan
sebuah ayakan (saringan) bakmi. Senjata, itu diserangkan
seperti cara orang hendak menutup kepala lawan. Agak
jauh jaraknya, sudah mengeluarkan samberan angin yang
keras. Tio Jiangpun tak mau berayal, cepat pedang dilolos
terus dimainkan dalam jurus Ho Pek kuan hay untuk
menangkis.
Sewaktu kedua senjata itu saling berbenturan, Tio Jiang
rasakan suatu tenagaa yang luar biasa kuatnya. Buru2 dia
kerahkan ilmunya lwekang "yap ji si heng kang sim ciat",
kearah lengan kanan. Begitu tangannya menghantam, plak,
benda bundar kepunyaan musuh itu tertindih dibawah tapi
Tio Jiang sendiri telah menderita kerugian besar. Pedang,
pemberian sang suhu itu, kutung menjadi dua
Kejut Tio Jiang tak terlukiskan. Buru2 dia menyingkir
beberapa langkah. Dan karena tebalnya kabut, dapatlah dia,
menyingkir serangan musuh. Dia masih kurang
pengalaman. Sebenarnya, pedang putus, belum pasti kalau
kalah angin. Saling berbentur senjata, sudah tentu senjata
yang terbuat dari bahan baja akan menderitaa kerugian.
Ditempat penghindarannya, Tio Jiang masih dapat
mendengar angin pukulan men-deru2. Tapi karena musuh
tak dapat melihatnya, jadi hanya ngawur saja. Tio Jiangpun
tahan napasnya. Berapa saat kemudian, serasa ada lain
orang yang muncul kesitu, lalu bertanya: "Apa ada mata2
musuh"
"Ya, tapi entah lari kemana karena kabut begini tebal.
Bagaimana dengan budak she Lian itu ?" tanya orang yang
menyerang Tio Jiang tadi.
"Budak itu bermulut tajam. Kalau tak dicegah congpeng,
tentu siang2 sudah kukirim keakherat!" sahut siorang
yang baru datang. Mendengar itu, Tio Jiang mengeluh
dalam hati. Ah, jadinya sang sumoay itu sudah kena
ditangkap musuh. Tentu karena tak sabaran menunggunya,
sumoay itu segera mengaduk ke-mana2. Sebagai seorang
suko, mana dia peluk tangan tinggal diam saja? Tanpa
banyak bimbang lagi, dia terus melangkah maju. Walaupun
kutung, pedang itu masih hampir satu meter panjangnya.
Teringat dia, dahulu Sik Losam juga mengajarnya ilmu
pedang pendek, ajaran Tay Siang Siansu, itu suhu-dari Kiau
To. Ternyata pedang pendek tak kurang lihaynya dari
pedang panjang. Selama itu, dia belum berkesempatan
untuk mempraktekkan. Kini baiklah dicobanya.
Dengan ber-jengket2, dia menghampiri maju. Begitu
dekat dia segera terjang kedua lawannya tadi. Ternyata
kedua orang itu tak mau menyingkir mundur, sebaliknya
segera gerakan senjatanya yang berbentuk bundar tadi
untuk menghadangnya. Baru saat itu Tio Jiang tersadar.
Terang kedua orang itu adalah dua dari ketiga tianglo
(paderi tua) gereja Ci Hun Si dari gunung Kun-san selatan
yang dahulu pernah bertempur, diluitay Gwat-siu-san. Ya,
tak salah lagi, paderi itulah yang tempo hari pernah melukai
dirinya dengan pukulan thiat-sat-ciang (pukulan pasir besi).
Senjata bundar yang digunakan masing2 itu, tentulah
sebuah permadani atau dampar. Dengan pedang kutung,
terang takkan menandingi senjata mereka. Maka lagi2 Tio
Jiang loncat mundur untuk bersembunyi dalam kabut tebal.
"Tikus, mengapa bersembunyi !" mereka berseru dengan
kerasnya. Dan suara itu makin meyakinkan Tio Jiang akan
benarnya dugaannya tadi. Anak itu lupa atau mungkin tak
sadar, bahwa kini dirinya sudah jauh berlainan dari ketika
dia baru turun gunung tempo hari. Sejak digembeleng oleh
Sik Lo-sam, dia telah menjadi seorang akhli silat yang
tangguh dan memiliki beraneka ilmu pelajaran silat yang
sakti. Tambahan pula sejak Sik Lo-sam menurunkan
pelajaran ilmu lwekang "cap ji si heng kang sim ciat" yang
sakti itu, ilmu lwekangnya maju pesat sekali.
Pada saat itu, dia pikir hendak lolos kembali ke Hoa-san
dulu, baru nanti lakukan pembalasan pada To Ceng
hweshio (salah seorang dari mereka) yang dahulu
melukainya itu. Tapi pada lain saat, dia tampar mulutnya
Sendiri sembari memaki dirinya sendiri: "Huh, Tio Jiang,
mengapa kau begini tak punya malu? Sumoaymu ditangkap
musuh, entah siksaan apa yang dideritanya, mengapa kau
tak berusaha menolong ?”
Karena berpikir begitu, terus Tio Jiang hendak menyerbu
maju, Tapi ternyata sudah kalah dulu. Kala itu kabut sudah
menipis, tadi ketika dia menampar mulutnya sendiri, telah
menyebabkan kedua hwesio itu mengetahui tempat
persembunyiannya. Jadi sebelum Tio Jiang bergerak, dia,
sudah diterjang.
Dengan pedang yang sudah kutung itu, Tio Jiang tak
bisa berdaya. Tapi se-konyong2 dia teringat akan senjata
sarung tangan pemberian Nyoo Kong-lim tempo hari.
Sambil nienyingkir menghindar, dia keluarkan sarung
"cakar garuda" itu. Kedua hweshio itu, yang ternyata
adalah To Ceng dan To Kong, menyerang dari kanan dan
kiri. Yang satu menghantam keatas, yang lain menyerang
kebawah. Tak tahu bagaimana harus mainkan cakar-garuda
itu, terpaksa Tio Jiang gunakan hay-lwe-sip-ciu, salah satu
jurus dari ilmu pedang to-hay-kiam-hwat. Wut...., wut.....,
wut......, tahu2 3 jari dari sarung cakar-garuda itu
menyantol permadani. Tio Jiang buru2 hendak menariknya,
tapi permadani itupun mengeluarkan suatu tenaga kuat
tertarik kebelakang. Buru2 Tio Jiang mundur sampai 3
langkah. Namun ketika, mengawasi dengan seksama,
ternyata keadaan lawan lebih celaka lagi dari dia. Hweshio
itu ter-huyung2 hampir jatuh kebelakang.
Kini timbullah nyali Tio Jiang. Dengan andalkan
kelincahan dan ketangkasannya, dia mainkan sepasang
sarung tangan cakar-garuda itu. Ya, apapun boleh. Setempo
menurut permainan golok, malah bila perlu menurut
permainan ilmu silat tangan kosong. Beberapa kali sudah,
To Ceng dan To Kong merasa tentu berhasil dalam
serangannya, tapi setiap kali sianak muda selalu dapat
terlolos karena gunakan jurus permainan hong-cu-may-ciu
atau sigila menjual arak. Memang gerakan permainan dari
ilmu silat yang luar biasa itu, seringkali diluar dugaan
lawan.
Begitulah walaupun dikerubut dua, Tio Jiang main serie.
Belasan jurus telah berlangsung, masih belum ketahuan
kalah menangnya. Pada saat itu, timbullah suatu
kesimpulan pada Tio Jiang. Kiranya kedua hweshio yang
namanya begitu disegani sebagai sam-tianglo (tiga tertua)
gereja Ci Hun Si, hanya sebegitu sajalah kepandaiannya.
Karena mendapat kesan itu, keberaniannya makin menyala.
Dan karena hatinya besar, permainannyapun makin
bersemangat. Kadang2 dia lancarkan serangan berbahaya.
Sebaliknya karena tak dapat menangkan sianak muda,
kedua hweshio itupun geram sekali. Mereka mulai buka
serangan ganas. Begitu sang kaki menggelincir, To Kong
maju merapat Tio Jiang menghantam dengan damparnya
(permadani). Karena tak mengetahui siasat orang, Tio Jiang
cepat hantam iga sebelah kanan dari To Kong.
To Kong perdengarkan ketawa dingin. Dampar
dimiringkan menangkis serangan, tangannya kiri
menghantam dada Tio Jiang. Tangan kanan ataupun kiri
dari ketiga hweshio gereja Ci Hun Si itu terlatih dengan
thiat-sat-ciang semua. Jarak keduanya dekat sekali, apalagi
karena tadi menyerang jadi kini dada Tio Jiang tak
terlindung. Jadi hantamannya tadi, terang akan mendapat
hasil.
Karena tak keburu berkelit, terpaksa Tio Jiang turunkan
tubuhnya kebawah. Pikirnya, biar kena asal tak dibagian
jalan darah yang berbahaia. Selagi memendak turun itu,
dilihatnya To Kong hanya pikirkan menyerang, tapi lengah
melakukan penjagaan diri, jadi bagian kakinya tak
terlindung. Kesempatan itu tak di-sia2kan Tio Jiang. Cepat
dia tarik kembali tangannya kanan, lalu secepat kilat
diterkamkan pada kaki lawan, dan berhasillah. Sekali
tangan mendorong, maka terlemparlah To Kong keatas.
Jadi hantamannya kedada tadi gagal, sebaliknya dirinya
kini terlempar keudara.
Buru2 To Kong gunakan jurus "le hi ta ting" ikan le-hi
meletik. Tapi Tio Jiangpun berjumpalitan untuk
mengikutinya, terus menghantam. To Kong hendak
menangkis dengan damparnya, tapi karena sudah meluncur
turun jadi kedudukannya (posisi)pun berlainan seperti kalau
berada diatas tanah. Ini sudah disadari To Kong siapa sekonyong2
segera, meronta kesamping. Tapi Tio Jiang tak
mau memberi kesempatan lagi. Sekali cakar-garuda
dijulurkan, siku tangan To Kong kena tertutuk, sehingga
saking kesemutan tak bertenaga lagi, tangan To Kong
dipaksa melepaskan senjata damparnya. Tio Jiang
memburu kemuka. Sekali tendang, dampar itu terlempar,
justeru tepat mengenai dampar yang hendak digunakan
menyerang oleh To Ceng.
GAMBAR 38
Tio Jiang kewalahan dikeroyok To Cing dan To Kong, dua
diantara tiga Tianglo atau tetua dari Cu-hun-si. Dalam gugupnya
cepat ia keluarkan sarung tangan bercakar yang diperolehnya dari
Nyo Kong-lim, ketika pemiliknya, Kok Kui meninggal, dengan
sarung tangan bercakar ini segera ia balas merangsak.
Dalam kesibukannya, Tio Jiang sudah keluarkan seluruh
kebisaannya. Dan hasilnya ternyata boleh dibanggakan.
Tubuh memendak turun dan berjumpalitan ditanah tadi,
adalah diambil dari jurus hong-cu-may-ciu, sedang
tendangan kearah dampar tadi, adalah jurus thiat-bun-tui
(tendangan nyamuk), ajaran dari Sik Lo-sam. Kemudian
tutukan pada siku tangan musuh tadi, diambil dari jurus
hay-siang-tiauto, salah atau jurus permainan ilmu pedang
to-hay-kiam-hoat.
Karena heran atas hasil yang didapatnya, Tio Jiang
terlongong2 kesima. To Kong tak mau sia2kan ketika
sebagus itu, lalu hendak balas menyerang. Tio Jiang sudah
lantas menyambutinya dengan gaya mirip orang mabuk
dari ilmu silat hong-cu-may-ciu. Karena lengannya kanan
terluka, gerakan To Kong terhambat. Dalam dua jurus saja,
betisnya, kena ditutuk oleh Tio Jiang lagi. Kali ini Tio Jiang
gunakan tenaga penuh untuk menutuk, jadi sekali kena,
rubuhlah To Kong. Dan karena geram, Tio Jiang susuli lagi
dengan tebasan kearah jalan darah lo-tong-hiat dipinggan
orang. Seketika To Kong roboh knock-out.
To Ceng murka dan menyerang dengan kalap. Tio Jiang
menjadi sibuk. Kabut sudah tipis, dan para anak tangsi
tentara Ceng ber-bondong2 keluar dengan berisik sekali.
Tapi anehnya, disekeliling tempat pertempuran itu tiada
tampak barang seorang serdadupun. Adakah dia sudah
keliru memasuki, kubu markas panglima musuh, maka
tiada sembarang serdadu berani masuk disitu?
Sekalipun demikian, Tio Jiang tetap gelisah. Bentar hari
akan terang tanah. Seorang gagah tetap akan kewalahan
kalau dikeroyok musuh yang berjumlah besar. Untuk lolos,
lebih dulu dia harus dapat merobohkan To Ceng hweshio.
Begitulah dia lalu perhebat serangannya cakar-garuda,
tangan menghantam kaki menendang, namun To Ceng
hanya bertahan saja, tak mau balas menyerang.
Beberapa serangan Tio Jiang telah macet ditangkis
dampar. Lama kelamaan jengkel juga, dia. Dengan
menggerung keras, dia enjot tubuhnya sampai satu tombak
tingginya. Kemudian dengan cian-kin-tui (tindihan 1000
kati) dia meluncur turun kearah lawan. Dengan jurus
pedang hay-lwe-sip-ciu, dia menusuk punggung sihweshio.
Karena tak keburu berjaga, To Ceng kibaskan tangan
kirinya kebelakang untuk menangkis. Tapi dia sudah
menaksir salah. Hay-lwe-sip-ciu adalah jurus penghabisan
dari ilmu pedang to-hay-kiam-hoat. Jurus itu mengandung 7
serangan kosong 7 serangan isi. Gerak perobahannya amat
luar biasa sekali. Tambahan lagi, Tio Jiang telah salurkan
lwekangnya kearah sang tangan, hingga kelima jari sarung
tangan cakar-garuda itu merupakan 5 batang pedang
pendek yang tajam. Begitu tampak To Ceng gerakkan
tangannya kiri menangkis kebelakang, sambil miringkan
tubuh Tio Jiang segera mendesakkan serangannya. Terang
serangan itu akan memperoleh hasil.
Se-konyong2 terdengarlah letusan dahsyat, berbareng
pada saat itu dilamping gunung Hoasan sana tampak api
berkobar. Bum..., bum...., bum..., bum..., kembali terdengar
dentuman meriam ber-turut2. Digunung sanapun lagi2
tampak 4 gulung api besar me-nyala2.
Tio Jiang kaget sampai kucurkan keringat dingin.
Kesepuluh meriam musuh sudah dihancurkan, mengapa
masih bisa menembak? Ah....., syukurlah bom yang
ditembakkan itu tak jatuh di-markas2, demikian dia
menghibur diri sendiri. Tapi baru dia berpikir begitu, diatas
gunung terbit kebakaran besar. Menurut letaknya, terang
itulah markas pertama yang merupakan tulang punggung
Hoa-san.
Pertama kali terdengar dentuman meriam tadi, Tio Jiang
sudah lambat gerakannya. Maka dalam pada itu, To Ceng
sudah keburu putar tubuhnya. Selagi hati Tio Jiang kacau
balau, tahu2 sebuah benda bundar hitam menutup
mukanya. Sesaat matanya ber-kunang2, dia tak kuasa
berdiri tegak lagi ...... lalu rubuh ketanah tak ingat orang.
Entah sudah berapa lama dia berada dalam keadaan
pingsan tadi, ketika ingat kembali, kepalanya serasa sakit
seperti mau pecah. Dadanyapun terasa sesak dan sakit.
Diapun tak mengetahui tempat apa disitu itu. Dia hendak
menghela napas, tapi astaga, tak dapat! Hai........, kiranya
mulutnya telah disumbat orang dengan sebiji buah tho
besar. Ketika pikirannya makin sadar, didapati tangan dan
kakinya diikat pada sebuah tiang kayu.
GAMBAR 39
Ketika Tio Jiang sadar kembali, ia merasa kepala sakit, dada
jarem, waktu ia pentang matanya, sekeliling gelap gelita, ia
hendak menghela napas, tapi tenggorokan se-akan2 buntu,
kiranya mulutnya telah disumbat musuh. Ketika ia meronta, tapi
lantas insaf dirinya terikat pada suatu tiang kayu. Malahan
samar2 dalam dilihatnya tidak jauh disebelahnya juga ada suatu
bayangan orang yang mungkin juga kena, diringkus musuh.
Tio Jiang goyang2kan kepalanya, untuk coba
mengerahkan lwekang, tapi tangannya malah terasa makin
sakit, tali pengikatnya tetap tak bisa putus. Tio Jiang coba
gali ingatannya. Sampai sekian lama barulah dia teringat
bahwa letusan meriam tadilah yang menyebabkan dia
berayal, hingga dapat dirubuhkan sihweshio. Dia coba
salurkan iImu lwekang "cap ji si heng kang sim ciat", tapi
yang paling menjengkelkan yalah buah tho yang
menyumpal mulutnya itu. Kini dia mendapat akal. Dia
beringsut menghampiri ranjang yang terdapat disitu. Begitu
tempelkan mulutnya keranjang, dengan sekuat tenaga dia
menggigit buah itu. Kalau dia tak berbuat begitu, paling2
hanya tak dapat bersuara saja. Tapi begitu menggigit sekeras2nya
..... dan menimbulkan rasa sakit bukan kepalang
hingga matanya sampai kucurkan air mata, alias .....
mewek.
Kiranya buah tho itu bukan buah sesungguhnya,
melainkan sebuah besi yang dibuat macam bentuk buah
tho. Sudah tentu dia meng-erang2 kesakitan. Tiba2
didengarnya tak jauh dari situ ada juga suara orang mengerang2
(se-sambat) seperti merintih-rintih. Dari nada
suaranya, terang orang itupun mengalami nasib serupa
dengannya, yakni mulutnya tersumpal dengan buah besi.
Orang itu ternyata berada dekat sekali, tapi karena suasana
disitu teramat gelapnya, jadi tadi dia tak dapat melihatnya.
Oleh sebab senasib sependeritaan, tentu orang itu bukan
musuh. Maka kali ini dia kerahkan kekuatan besar untuk
mengeluarkan suara, lebih keras agar dapat didengar orang.
Dan ini ternyata, berhasil. Orang disisi sana mengauk juga,
dan ini telah membuat Tio Jiang girang setengah mati.
"Siao Chiu!" hendak mulutnya berteriak, tapi buah besi
dimulutnya itu..... keliwat besar, hingga tak mampu dia
mengeluarkan suara kecuali a-u .... a-u.... saja.
Tapi itu sudah cukup bagi Tio Jiang. Terang orang yang
disebelah sana itu adalah Yan-chiu, yang mengalami nasib
serupa dengannya. Dan untuk kegirangannya, kini setelah
berteriak keras2 tadi buah besi didalam mulut itu agak
terasa Ionggar sedikit. Jadi kalau diusahakan, tentu dapat
keluar. Maka dicobanya sekali lagi. Mulutnya dingangakan
se-lebar2nya, lidahnya bantu men-dorong2, dan bergerak2lah
buah besi itu. Begitu mengempos semangat, dia
menyembur se-kuat2nya, huh........bluk......! Buah tho besi
itu jatuh keluar.
"Yan-chiu sumoay! Bagaimana kau?" serunya dengan
segeraa setelah--berhasil mengeluarkan sumpal mulutnya.
Tapi Yan-chiu hanya "a-u .... a-u.... " tak dapat menjawab.
Terang nona itupun tersumbat mulutnya.
"Sumoay,........ngangakanlah mulutmu lebar2 lalu
muntahlah se-kuat2nya!" Yan-chiu turut apa yang
diperentahkan, tapi walaupun hidungnya beberapa kali
mendengus keras, tapi tetap tak mampu mengeluarkan
sumpalnya itu. "Sumoay, jangan takut, tunggu kulepaskan
ikatan tanganku ini, nanti segera kubantu!" seru Tio Jiang
sembari kerahkan tenaganya meronta. Krek....., krek.....,
akhirnya putuslah tiang kayu dengan mana dia diikat itu.
Karena tiangnya putus, maka Tio Jiangpun jatuh
tertelungkup. Hendak dia segera bangun tapi tak bisa,
karena kakinya masih terikat. Jadi hanya bergelundung
kesana kesini saja. Tiba2 dia menyentuh sebuah benda
lunak dan berbareng itu didengarnya suara "a-u .... a-u.... "
dari atas. Tahulah kini Tio Jiang, bahwa yang disentuhnya
itu yalah kaki Yan-chiu. Buru2 dia menggigiti tali pengikat
kaki sang sumoay. Kala mulutnya menyentuh tali itu,
barulah dia tahu tali itu terbuat dari urat kerbau maka tak
heranlah kalau tadi dia sudah tak berhasil untuk
memutuskannya.
Begitu tali tergigit putus, saking girangnya kaki Yan-chiu
lantas menendang kalang kabut hingga hampir menendang
kepala Tio Jiang. Sudah tentu Tio Jiang ber-kaok2
memperingatkannya.
Kini dia hendak coba bangun. Begitu kerahkan seluruh
kekuatan, dia, loncat bangun dan karena kaki tangan terikat
lagi2 dia terjerungup kemuka. Ini sudah diperhitungkannya,
maka dia menjatuhi tubuh Yan-chiu, dan astaga tepat benar
jatuhnya itu, muka menempel dengan muka. Bagi Tio Jiang
yang kalbunya hanya ada seorang Bek Lian saja, hal itu tak
berarti apa2. Tapi tidak demikian dengan Yan-chiu.
Walaupun, rapat sekali hubungan dengan sang suko, tapi
selamanya belum pernah ia berapat-rapatan pipi dengan Tio
Jiang seperti pada saat itu. Serasa darahnya berdenyut keras
dan jantungnya berdetak hebat. Kini Tio Jiang segera menghampus2kan
mulutnya ketubuh Yan-chiu untuk mencari
bagian tangan. Sudah tentu sinona merasa geli tapi nyaman
juga.
Akhirnya berhasillah Tio Jiang mendapatkan tali
pengikat tangan Yan-chiu. Setelah beberapa kali
mengerjakan sang gigi, talipun dapat digigitnya putus.
Saking tak tahan kerinya, begitu bebas Yan-chiu terus
jorokkan sang suko. Lupa ia kalau sang suko itu masih
terikat kaki dan tangannya hingga sekali jorok, bluk .........
jatuhlah Tio Jiang. "Siao-chiu, kenapa?" seru Tio Jiang
dengan heran.
Pada saat itu Yan-chiupun sudah mengeluarkan sumpal
besi dimulutnya. Tahu kalau tadi ia yang salah, namun
masih tak mau ia mengaku. "Kau sendiri, mengapa menghembus2
tubuhku!" sahut Yan-chiu dengan ke-merah2an
mukanya. Kemudian ia loloskan semua tali yang masih
mengikat dikaki tangannya. Karena sekian lama diikat,
darahnya serasa berhenti. Untuk melancarkan, lebih dahulu
nona itu berlatih silat sekali dua jurus
"Siao-chiu, lekas bukakan tali pengikatku ini!" seru Tio
Jiang dengan mendongkol karena masih menggeletak
ditanah. Yan-chiu lakukan permintaan itu dengan segera.
Tapi betapapun ia meregangnya, tali yang terbuat dari
gulungan urat2 kerbau itu, tak dapat diputuskan. Tio Jiang
menyuruhnya menggigiti. Tapi sampai beberapa jam, Yanchiu
baru berhasil menggigit putus 3 utas, pada hal tali
terbuat dari 8 utas urat digulung menjadi satu.
"Sumoay kau menyingkir dulu!" seru Tio Jiang lalu ia
kerahkan lwekang sakti "cap ji si heng kang sim ciat".
Begitu ber-gerak2, sisa tali urat kerbau yang belum terputus
tadi menjadi berkeretekan putus. Bukan kepalang girangnya
Tio Jiang. Setelah membuka tali pengikat kakinya, dia
segera tarik tangan Yan-chiu untuk diajak pergi. Sinonapun
amat girang. Sebagai seorang anak yatim piatu, ia sudah
anggap suhu dan suci serta sukonya itu sebagai ayah dan
kakak2nya. Maka sembari tempelkan tubuhnya pada bahu
sang suko, ia terus hendak loncat.
”Hai, dimanakah kita sekarang ini? Bagaimana kita
dapat keluar dari sini ?" tiba2 ia berseru memperingatkan
Tio Jiang.
Memang tempat disitu, gelap sekali hingga tak tampak
apa2. Mereka lari kian kemari dan dapatkan bahwa tempat
itu hanya lebih kurang 5 tombak luasnya tapi dikelilingi
oleh tembok yang licin penuh lumut. Hendak loncat keatas
pun tak mampu karena tak kelihatan tepi atasnya.
"Sumoay, bagaimana kau bisa sampai kemari?" akhirnya
dia keputusan akal beritanya.
Mendengar itu, se-konyong2 Yan-chiu marah besar dan
mendamprat: "Lian suci kutu busuk !"
Tio Jiang terperanjat dan menegas kenapa?
"Kukatakan kutu busuk, tak peduli siapa dia tetap kutu
busuk!" sahut sinona genit, siapa setelah mengeluarkan
hawa kemarahannya lalu tertawa lagi.
Tio Jiang tak mengerti apa yang dimaksud oleh sang
sumoay itu. Tapi dia menduga, tentu sumoaynya itu
ketemu dengan sang suci. Dan begitu teringat akan orang
yang dikenang itu, dengan kontan dia segera menanyakan:
"Surnoay, adakah kau berjumpa dengan Lian suci ?"
"Kalau berjumpa lalu bagaimana? Orang toh sudah tak
ingat akan cinta persaudaraan lagi!" sahut Yan-chiu dengan
dada berkembang kempis. Tahu ada apa2 yang kurang
beres, hati. Tio Jiang berdebur keras. Dengan tangannya
yang sedingin es dia pijat lengan sang sumoay dengan keras
dan menyuruhnya bicara yang jelas.
"Aduh!" teriak Yan-chiu karena kesakitan, ”bilang ya
bilang, masa lenganku kaupijat se-mau2nya. Ketika aku
berjaga diluar tenda, tiba2 disebelah muka sana tampak ada
sesosok bayangan mondar-mandir ..........”
"Lian suci ?" Tio Jiang buru2 memutus
"Ha, ketika kulihat orang itu berkuncir, kemarahanku
timbul seketika. Begitu menghampiri segera kutendangnya
dan rubuhlah dia!" tutur sigadis tak menjawab.
"Sumoay, kusuruh kau berjaga diluar tenda, mengapa
pergi ke-mana2?" Tio Jiang sesali sang sumoay.
Padahal kalau sang sumoay masuk kedalam tenda,
bukankah malah berbahaya? Tapi Yan-chiu yang lincah itu
tak mau disalahkan, sahutnya dengan tangkas: "Kalau aku
tak kesana, mungkin tak nanti dapat berjumpa dengan Lian
sucimu itu !"
Dalam setiap perdebatan memang Tio Jiang selalu tak
menang dengan sumoaynya yang genit nakal itu. Kali itu,
diapun terpaksa bungkam saja. Melihat itu, Yan-chiupun
merobah lagunya. Dengan nada girang ia lanjutkan pula
ceritanya: ”Setelah kuberesi serdadu itu, tiba2 kudengar ada
orang menghela napas. Dari nada suaranya, terang seorang
wanita. Dan akupun kesanalah !"
Sampai disini lagi2 Tio Jiang hendak menyela. Tapi baru
bibirnya bergerak, teringatlah akan watak dara genit itu,
jangan2 nanti membikin kurang senang hatinya. Apa boleh
buat, dia batalkan saja niatnya itu. Kata Yan-chiu pula :
"Tapi ketika aku tiba kesana, ternyata tiada seorangpun
juga. Suara itu begitu dekat kedengarannya, tapi sampai
sekian lama ku-ubek2an tetap tak dapat menemukannya.
Karena jengkel kumemaki : 'Siapa yang main setan2an
disitu?' Baru kukeluarkan makian itu, segera kurasa ada
angin menyamber dari sebelah belakang! Dan ketika
kumenoleh kebelakang, ai, kiranya pecundangku, kedua
keledai gundul dari Ci Hun Si! Keduanya masing2
membawa damparnya. Huh, wajahnya itu ngeri
kumelihatnya, pucat lesi seperti mayat hidup. Melihat aku,
mereka tak berani terus menyerang."
Memang apa yang dikatakan Yan-chiu tak dusta. Sejak
salah seorang dari ketiga hweshio Ci Hun Si itu kena
dirobohkan oleh Yan-chiu, mereka agak jeri juga. Bukan
jeri terhadap sinona, tapi terhadap orang dibelakang layar
yang diam2 memberi bantuan pada sinona itu. Tapi dasar
nakal, tahu orang tak berani menyerang, Yan-chiu malah
memain dengan bandringannya seraya berseru: „Hai, dua
ekor keledai gundul. Tadi nonamu mendengar suara helaan
napas dari seorang wanita, adakah kalian yang berbuat tak
senonoh ? "
GAMBAR 40
........ Ketika aku mendadak menoleh, wah, celaka, ternyata
dibelakangku sudah berdiri dua kepala gundul, yaitu pecundangku
dahulu, To Kong dan To Bu Hwesio, demikian tutur Yan-chiu
kepada Tio Jiang.
Memang kedua hweshio bukan lain yalah To Ceng dan
To Kong, siapa sudah tentu menjadi murka tak terkira. Tapi
mereka cukup ber-hati2. Mengapa sinona begitu garang,
tentulah dibelakangnya mempunyai andalan yang lihay.
---oodw0tahoo---
BAGIAN 15 : LUPA DARATAN
"Nona kecil, besar sekali nyalimu berani masuk kedalam
sarang macan sini!" sahut mereka dengan tertawa dingin.
"Huh, apanya yang perlu ditakuti ?" ujar Yan-chiu.
Ucapan itu yang sebenarnya karena kegenitan sinona,
ternyata, diterima lain oleh kedua hweshio. Kalau sinona
sudah begitu tabah, tenang tentu mempunyai pelindung
yang sakti. Dan ini makin membuat mereka tak berani
gegabah turun tangan. Sebaliknya sigenit makin melonjak.
Mengira orang jeri, ia makin garang. Tapi justeru itu telah
membuka kedoknya sendiri, dan menyebabkan urusan jadi
runyam. Yan, chiu menggunakan kesempatan bagus itu
untuk mengunjukkan kecakapannya bermain lidah,
mencuci maki orang sampai meringis seperti monyet kena
terasi. Antara lain dikatakan kedua hweshio itu adalah
bangsa hweshio cabul yang suka menodai kehormatan
kaum wanita.
Sam-tianglo dari Ci Hun Si namanya cukup bersemarak
didunia persilatan. Sudah tentu lama2 panas juga telinga
mereka dikocok begitu macam oleh seorang nona. Begitu
sang mata gelap, To Ceng sudah menerjang maju
mencengkeram. Karena tak keburu berkelit, Yan-chiu sudah
kena dicengkeram. Masih untung To Ceng berlaku murah
karena jeri akan menerbitkan kemarahan siorang sakti yang
dikiranya melindungi sinona. Kalau tidak begitu, tentu jiwa
Yan-chiu sudah amblas.
Yan-chiu diam2 mengeluh celaka. Untuk melawan,
terang ia tak ungkulan. Satu2nya daya yalah
menghadapinya dengan siasat tipuan. Maka dengan wajah
tenang menyungging senyum, ia menghardik: "Bagus,
hweshio kurus, jadi betul2 kau tak takut?"
"Takut apa?" tanya To Ceng coba memancing
keterangan dari sinona, karena sebenarnya diapun gelisah
ragu2.
Yan-chiu ketawa cekikikan, serunya: "Ho...., jadi kalian
sudah lupa akan kejadian diluitay tempo hari ? "
To Ceng melengak. Baru dia hendak membuka mulut
atau Yan-chiu sudah berpaling kebelakang seraya berseru
keras: "Cianpwee, silahkan kemari lekas!"
Seruan itu sudah tentu membuat kedua hweshio itu
terbang semangatnya. To Ceng agak menyurut kebelakang
dan Yan-chiu segera meronta. Sekali 'bergerak, " berhasillah
ia lepas dari cengkeram To Ceng. Andaikata saat itu ia terus
lari, belum tentu To Ceng dan To Kong berani
mengejarnya. Tapi dasar nona nakal, ia hendak bikin
pembalasan pada To Ceng yang menyakiti lengannya tadi.
Sekali loncat kesamping, ia hantam pundak To Ceng.
Karena tak mencluga, bahu To Ceng kena dihantam telak.
Walaupun lwekang sinona belum tinggi begitu pula
tenaganya tak seberapa kuat, tapi karena pukulan itu tepat
sekali jatuhnya, mau tak mau To Ceng meringis kesakitan
juga. Habis memukul, Yanchiu hendak lari, tapi To Ceng
yang sudah murka itu segera mencengkeram lengannya:
lagi, sehingga kini Yan-chiu harus meringis kesakitan pula.
Kini tahulah sudah hweshio itu, bahwa seruan sinona
tadi hanyalah tipu muslihat untuk menyiasatinya saja. Yanchiu
segera didorong kemuka disuruh masuk kedalam
sebuah tenda. Karena kerasnya dorongan itu, Yan-chiu
terjerembab jatuh kedalam tenda. Tapi begitu ia
mendongak, girangnya bukan kepalang. "Lian suci !"
teriaknya.
Dibelakang meja tulis besar yang berada didalam kubu
itu, duduklah seorang lelaki setengah tua. Wajahnya keren,
mengenakan pakaian pembesar kerajaan Ceng. Berdiri
disebelahnya, adalah seorang wanita muda yang sangat
cantik. Wanita yang ter-iba2 dihadapan sinar lampu, bukan
lain ialah Bek Lian.
Mendengar seruan Yan-chiu, Bek Lian berpaling
kebelakang dan menyahut dengan enggan sekali, se-olah2
menganggap pertemuan dengan sang sumoay yang telah
lama berpisah itu tiada berarti apa2. Hal mana sudah tentu
membuat Yan-chiu heran,
”Li congpeng, sebernarnya kemanakah perginya engkoh
Go? Mengapa sampai sekarang belum, pulang?" kedengaran
Bek Lian bertanya kepada si pembesar itu.
Belum sipembesar yang disebut "Li congpeng" itu
menyahut, Yan-chiu yang sudah tak sabar lagi segera
berseru: "Lian suci, mengapa kau berada disini? Apakah
juga ditangkap oleh kedua keledai.......eh, kedua hweshio
itu ?"
Semula Yan-chiu hendak mengatakan "keledai gundul",
tapi mengingat dirinya masih dalam tawanan orang, jadi
terpaksa dia robah perkataannya seperti diatas.
"Siao-Chiu, jangan mengganggu aku dulu, karena aku
masih mempunyai urusan," sahut Bek Lian dengan kurang
puas, lalu ulangi lagi pertanyaannya kepada sipembesar: "Li
Congpeng, kalau kau tak mengatakan, akupun tak mau
menurut lagi. !"
Sipembesar kedengaran batuk2. Yan-chiu yang cerdas
segera memastikan bahwa pembesar itu tentu Li Seng Tong,
itu panglima besar dari tentara Ceng. Mengira sang suci
mengancam hendak membuka rahasia militer, buru2 Yanchiu
menyeletuk: "Bagus, Lian suci, kalau dia berani
rnembandel, bongkar saja rahasianya!"
"Siao Chiu, apa kau tahu dimana engkoh Go?" tanya Bek
Lian seraya berpaling. Sudah tentu Yan-chiu heran dan
menegas. "Sore tadi engkoh Go keluar, tapi sampai
sekarang belurn pulang, ah......aku cemas setengah mati!"
kata Bek Lian, gelisah. Mendengar itu Yan-chiu menghela
napas. Kiranya sang suci itu sudah begitu ter-gila2 pada
kekasihnya. Bagaimana The Go ditangkap oleh Thay-san
sin-tho dimarkas ke 1, telah diketahui Yan-chiu. Namun
bagaimana akhirnya pemuda itu telah berhasil melarikan
diri, Yanchiu sudah tak tahu, maka ia mengatakan
seenaknya saja: "Manusia rendah macam begitu, biarkan
saja digebuki orang, perlu apa kau tanyakan?"
Bek Lian meradang. Dengan sorot mata murka, dia
melejit kehadapan Yan-chiu. "Siao Chiu, mengapa kau
berani omong tak keruan ?" bentaknya dengan sengit. Yanchiu
heran atas sikap sang suci itu. la tak tahu, bahwa sejak
Bek Lian serahkan hatinya kepada The Go, ia sudah buta
segala apa. Apapun tak peduli baginya, kecuali keselamatan
diri orang yang dicintainya itu. Sebaliknya Yan-chiupun tak
kurang sengitnya. Masa dibilangi baik2 malah kurang
senang. "Siapa yang ngaco belo? Cian-bin Long-kun sudah
didalam tangan suhu dan Thay-san sin-tho, mana dia bisa
lari ?"
Kiranya Bek Lian tak kenal siapakah Thay-san sin-tho
itu. Namun demi didengarnya nama sang ayah, terbanglah
semangatnya. Cepat berpaling kearah sipembesar, ia
berseru: "Li Congpeng, mengapa kau biarkan engkoh Go
jatuh ketangan musuh ?"
"Cian-bin Long-kun pergi menyelidiki keadaan markas
ke 1 di Hoasan, mana aku tahu keadaannya waktu ini?" Li
Seng Tong balas bertanya dengan nada berat. Hati Bek Lian
serasa hancur, butir2an air mata mengucur turun dari
kelopak matanya. Melihat sang suci begitu dekat
hubungannya dengan sipembesar, lekas2 Yan-chiu minta
sang suci mendesak sipembesar agar membebaskan dirinya.
Tapi dalam hati Bek Lian, hanya ada seorang Cian-bin
Long-kun, mana ia mau menggubris sang sumoay lagi.
Sekali bergerak, melesatlah Bek Lian keluar dari tenda situ.
Hal mana membuat Yan-chiu gusar bukan kepalang.
Mulutnya segera me-maki2 kalang kabut.
"Jiwi taysu, jebeloskan budak perempuan itu kedalam
sumur kering sana!" perintah Li Seng Tong pada kedua
hweshio tadi.
Bercerita sampai disini, tiba2 Yan-chiu bertepuk tangan
kegirangan, serunya: "Suko, ya benar, inilah sebuah sumur
kering!"
Tapi Tio Jiang diam saja tak mau menyahut.
"Suko, kau dimana?" seru sigadis heran. Namun sampai
dua kali ia ulangi pertanyaannya itu, tetap Tio Jiang tak
menyahut. Karena tempat mereka berdua situ adalah
didasar sebuah sumur kering, jadi gelapnya bukan main.
Yan-chiu ulurkan tangan me-raba2, astaga, itulah lengan
sang suko, siapa terus ditariknya keras2: "Suko, apa kau
sudah gagu,?"
Disentak begitu, baru Tio Jiang gelagapan. Kiranya
sewaktu mendengar cerita "Yan-chiu, bagaimana sikap Bek
Lian yang begitu mesranya kepada The Go itu, hati Tio
Jiang seperti dibanting hancur. Dan sampai sekian lama dia
ter-longong2 diam seperti kehilangan semangat. Seruan
Yan-chiu sampai dua kali tadi, sampai tak didengarkannya.
Kasihan anak itu. Gadis yang siang malam dirinduinya itu,
ternyata menyintai lain orang. Dan kalau Tio Jiang berlaku
begitu, sebenarnya adalah gara2 sinona genit Yan-chiu.
Memang Bek Lian sedari dulu tak mempunyai hati kepada
sang sute. Hanya karena permainan Yan-chiu yang sudah
memberikan sebuah peniti kupu2, maka Tio Jiang mengira
kalau sucinya itu mau membalas cintanya. Memang cinta
itu buta. Mendadak dia tersadar. Bek Lian tentu menyusul
The Go keatas Hoasan dan dengan begitu bukankah akan
celaka dibombader oleh meriam2 tentara Ceng tadi? Sukar
mencari seorang lelaki seperti Tio Jiang. Tahu sang suci tak
menyintainya, namun dia tetap tak berobah hatinya.
"Siao Chiu, hayo lekas keluar dari tempat ini. Lian suci
tentu menyusul The Go keatas gunung, jangan2 ia nanti
mendapat kecelakaan kalau kita tak keburu menolongnya!"
"Lian suci sudah tak menghiraukan kita, mengapa kau
mau menolongnya?" seru Yan-chiu dengan uring2an demi
diketahui sang suko itu masih mabuk cinta.
Tio Jiang tak pandai main lidah, jadi apa-yang
dikandung dalam hati terus dinyatakan saja, ujarnya: "Siao
Chiu, Lian suci dengan aku mempunyai ikatan janji seumur
hidup bagaimana aku bisa tinggal diam saja ?"
Mendengar itu, pecahlah ringkik tertawa sinona genit.
Sudah tentu Tio Jiang melongo.
"Sumoay, kau ketawai apa?" tanyanya.
Bermula Yan-chiu segera akan menceritakan saja duduk
perkara yang sebenarnya. Tapi terkilas pada pikirannya,
lebih baik jangan sekarang, karena siapa tahu nanti Tio
Jiang akan kalap benturkan kepala didinding sumur situ.
"Jiang suko, aku ewah dengan pikiranmu yang buta itu !"
"Kan sudah selayaknya berbuat begitu, karena hati kami
sudah terikat cinta" tanpa ragu2 lagi Tio Jiang membela
diri. Diam2 Yan-chiu sangat kagumi kejujuran sang suko.
Rasa sympathinya makin besar. Dahulu ia anggap Tio Jiang
itu hanya sebagai saudara seperguruan saja. Kini melihat isi
hati Tio Jiang itu, ia menganggap itulah seorang pemuda
yang di-idam2kan oleh setiap gadis, mencinta setulus hati
dan rela berkorban untuk orang yang dicintainya itu.
Memikir sampai disitu, mau tak mau berobahlah wajah
Yanchiu ke-merah2an karena jengah.
"Suko, marilah kita cari jalan keluar dari sini!" akhirnya
ia terima ajakan sang suko. Begitulah mereka berunding
cara bagaimana dapat keluar dari dasar sumur kering itu.
Tengah mereka asyik begitu, se-konyong2 disebelah atas
sana tampak ada sinar terang memancar kebawah. Buru2
Yan-chiu tarik sukonya kesamping. ,Mungkin ada orang
turun kemari, jangan sampai kelihatan" bisiknya. Begitulah
keduanya segera tempelkan tubuh rapat2 kedinding sumur.
Benar juga tak antara lama, terdengar ada orang berkata:
"Hi........, mengapa tak kelihatan? Jangan sampai kedua
anak kurang ajar itu lolos!"
"Jangan ngoceh tak keruan! Mereka diikat dengan tali
urat kerbau, mulutnya disumpal buah besi, sekalipun
seorang anak dewa tak nanti dapat lolos juga!" sahut
kawannya. Jadi terang yang disebelah atas itu ada dua
orang. Habis berkata begitu, terdengarlah salah secrang dari
mereka tertawa, serunya: "Oi, budak perempuan itu boleh
juga dah ! Lauko, bukankah kau bermaksud turun kebawah
untuk bercumbu2an dengan ia?" Kawannya itu
menyambutnya dengan suara ter-kekeh2, ujar: "Lauhia,
jangan kasih tahu siapapun juga. Memang anak perempuan
itu cukup cantik; Memikat hati orang !"
Kalau kedua orang disebelah atas itu bercanda dengan
girangnya, adalah Tio Jiang menjadi murka sekali. Tapi
bagaimana lagi, dia tak dapat berbuat apa2. Yan-chiu
sembari jinjit, berbisik kedekat telinga sang suko: "Suko,
kata mereka aku ini cantik, bagaimana pendapatmu?"
"Sumoay, dalam keadaan begini kau masih suka berolok2
?" sahut Tio Jiang.
"Hayo bilang tidak, apakah aku ini buruk rupa?" Yanchiu
sudah mulai meradang.
Tio Jiang yang tak bisa berbohong itu segera menyahut:
"Sudah tentu tak buruk dan emangnya cantik sekali !"
Yan-chiu tertawa puas dan sembari makin menempel
rapat ia bertanya pula: "Kalau melihat aku, kau tergerak
hatimu tidak, suko?"
Bohwat alias kewalahan betul2 Tio Jiang saat itu.
Dengan deliki mata ia memandang Yan-chiu. Justeru pada
saat itu, sorot dari atas itu makin menerangi dasar sumur
situ. Niatnya dia hendak damprat sang sumoay, tapi demi
matanya tertumbuk akan wajah sinona yang tampaknya
makin cantik dalam keadaan tak berhias serta rambut
terurai itu, mau tak mau tergeraklah hati Tio Jiang.
Darahnya tersirap, ingin sekali dia makin merapat kepada
sinona nakal itu untuk menciumnya.
"Tergerak!" akhirnya meluncurlah kata2 dari mulutnya.
Tapi pada lain saat, dia merasa ucapannya itu keterlaluan,
maka buru2 menyusulinya: "Ah, bukan, Siao Chiu. Kau
tahu aku sudah mencintai Lian suci, maka sudah tentu tak
dapat ........ "
Geli Yan-chiu bukan terkira. Tapi menjaga tak sampai
suara ketawanya kedengaran, ia tahan se-dapat2nya hingga
tubuhnya saja yang menggigil seperti orang kedinginan. Tio
Jiang makin ke-heran2an.
"Engkoh tolol, siapakah yang ingin kau peristerikan! Tak
usah kau katakan yang bukan2 !" akhirnya Yan-chiu
berkata, sehingga wajah Tio Jiang merah padam kemalu2an.
Diam2 Yan-chiu melamun jauh.
Begitu murni cinta Tio Jiang pada sang suci, walaupun
pada hakekatnya sang suko itu hanya menjadi korban
perolokannya. Kelak kalau hal itu diketahuinya dan suko
itu tak memarahi bahkan mau memperisterikan ia (Yanchiu),
bagaimanakah perasaannya? Ah, Liau Yan-chiu,
Liau Yanchiu, apakah kau suka terima peminangan Tio
Jiang itu? Atau kau tolak dia? Demikian Yan-chiu bertanya2
dalam lamunannya. Dan tak dapat ia memberi
jawaban pada pertanyaan yang dikhayalkan itu.
Itulah dara Lo-hu-san yang genit lincah! Umurnya sih
baru lebih kurang 16 tahun, dan ketika berada di Lo-hu-san
ia selalu jengah memikirkan soal hubungan wanita dengan
pria itu. Tapi mengapa pada saat itu ia melamunkan yang
tidak2, bertanya pada hatinya sendiri bagaimana jika kelak
dipinang oleh sang suko? Itulah pembaca, tanpa disadari
nona genit itu telah terpanah asmara, Orang yang menjadi
tambatan idam2annya, bukan lain adalah sukonya sendiri,
Tio Jiang, jejaka bodoh yang polos itu.
Saat itu dari sebelah atas meluncurlah seutus tali besar
hingga sampai kedasar sumur. Setelah itu lalu ada dua
orang serdadu Ceng melorot turun dari tali itu. Begitu
Mereka sudah berada di-tengah2, Tio Jiang melesat maju
untuk, menarik tali itu.
"Lauko, jangan bergurau. Sumur ini sangat dalam, kalau
sampai jatuh, wah, jangan main2!" seru salah seorang pada
kawannya ketika tali ber-gerak2. Dan sekali Tio Jiang
menyentak, maka buyarlah impian yang indah dari kedua
serdadu Ceng tadi. Tubuhnya serasa dihantam oleh suatu
tenaga besar dan saking sakitnya mereka dipaksa untuk
lepaskan cekalannya ...... bum, ....... bum, segera
kedengaran suara dua sosok tubuh jatuh dari atas sekira
satu tombak tingginya. Jatuhnya begitu payah hingga lebih
banyak matinya daripada hidup.
"Lekas-naik keatas!" seru Tio Jiang seraya melambaikan
tangan pada sumoaynya. Sekejab saja, keduanya sudah
berada diatas. Saat itu sudah hampir sore. Entah sudah
berapa hari mereka dikurung dalam sumur kering itu.
Ketika melihat kesekelilingnya, ternyata kubu2 tentara,
Ceng tadi sudah tak kelihatan disitu, entah pindah kemana.
Sedang dimarkas no. 1 gunung Hoasan sana tampak
menjulang gulungan asap. Teringat Tio Jiang sewaktu
berkelahi dengan To Ceng dan To Kong, memang dimarkas
ke 1 sana mendadak timbul kebakaran. Adakah markas itu
kini sudah terbakar habis ?
"Siao Chiu, hayo lekas keatas gunung!" serunya dengan
gugup. Tapi Yan-chiu lebih terliti. Ketika habis
mendengarkan keterangan Tio Jiang tadi, segera ia
menyatakan pendapatnya: "Suko, kalau memang tentara
Ceng menang dan markas Hoasan no. 1 itu sudah terbakar,
sukar untuk kita naik kesana. Taruh kata kita dapat sampai
kesana, toh sama artinya dengan mengantar jiwa saja!"
Tio Jiang tak dapat membantah. Sampai sekian saat dia
diam saja. Tiba2 dia banting2 kaki berseru: "Waktu Lian
suci naik keatas gunung, tentara Ceng tengah melancarkan
serangan meriam2-nya, jangan2 ia mendapat kecelakaan.
Biar bagaimana aku harus kesana!"
Yan-chiu tak dapat mencegah kemauan, sang suko itu.
Apa boleh buat iapun lari mengikutnya naik keatas gunung.
Disepanjang jalan ternyata tak menemui halangan suatu
apa, karena dimarkas ke 1 itu sudah menjadi rata dengan
tanah. Mayat2 bergelimpangan disana-sini, gedung
permusyarahan sudah menjadi tumpukan puing, Hanya ada
sisa2 bangunan yang masih menyala lelatu apinya.
Tio Jiang dan Yan-chiu heran melihat pemandangan itu.
Baru semalam dia tinggalkan markas itu, mengapa, kini
menjadi tumpukan puing? Kemana perginya tentara Ceng
itu? Kemana pulakah beradanya rombongan orang gagah
gunung Hoasan serta suhunya? Keduanya kesima
dihadapan tumpukan puing2 dan sisa api unggun yang
membisu dihadapannya.
Tiba2 Yan-chiu mendapat pikiran. Diantara sekian
mayat yang bergelimpangan itu, masakan tiada seorang
yang masih bernyawa, dan ini bisa ditanyai keterangan.
Setelah disetujui Tio Jiang, keduanya segera melakukan
pemeriksaan pada korban2 disitu. Keduanya adalah orang2
persilatan, jadi nyalinya cukup besar. Tapi walaupun
sampai sekian saat meriksa kesana-sini, ternyata semua
korban2 yang bergelimpangan disitu sudah menjadi mayat.
Kalau tidak kepalanya hangus, mukanya hancur atau
dadanya tertusuk senjata tentu tulang belulangnya remuk.
Betul diantaranya beberapa serdadu Ceng, tapi sebagian
besar adalah anak buah dari gunung Hoa-san. Dari
keadaannya, mereka itu sudah lama menjadi mayat.
"Hai .....mayat2! Mengapa kamu membisu saja!, hayo
lekas bersuara!" mendadak Yan-chiu berseru nyaring.
Mendengar sang sumoay unjuk ugal2an lagi, walaupun
sedang resah hati, Mau tak mau Tio Jiang tertawa kecut
juga. Tapi diluar dugaan seruan Yan-chiu tadi sudah
bersambut dengan suara rintihan. Mendengar itu segera Tio
Jiang dan Yan-chiu menghampiri kearah datangnya
rintihan itu. Segera Yan-chiu mengenali orang itu sebagai
anak buahnya sendiri. Dengan napas ter-engah2 orang itu
berkata: "Li-tayong ......meriam, lihay sekali.......sekalian
saudara sama melarikan diri"
"Ceng Bo siangjinn berada dimana?" tanya Yan-chiu.
Orang itu ulurkan tangannya menunjuk kearah barat
daya (barat selatan). Hendak dia mengatakan sesuatu, tapi
tiba2 kepalanya terkulai kedada dan putuslah jiwanya.
Yanchiu segera ajak sang suko untuk mencari suhu mereka.
Setelah mengawasi sekeliling tempat itu dengan elahan
napas terharu, segera keduanya ayunkan langkahnya kearah
barat. Namun dalam hati Tio Jiang tetap mengandung
pertanyaan yang tak dapat dijawabnya. Terang semalam dia
telah rusakkan 10 pucuk meriam musuh, mengapa meriam2
itu masih bisa muntahkan pelurunya. Adakah meriam2
yang dirusakkannya itu palsu dan yang tulen masih
disembunyikan mereka?
Keduanya tak faham akan jalanan digunung Hoa-san
situ. Mereka kira ke 72 markas itu terletak dibelakang satu
dengan yang lain. Mereka tak mengetahui bahwapegunungan
Hoa-san itu luas sekali sampai beberapa ratus
Ii kelilingnya. Benar pegunungan itu disebut Hoa-san, tapi
sebenarnya entah berapa jumlahnya puncak2 dari
pegunungan itu. Hampir sejam lebih mengitari gunung itu,
tapi makin lama makin tersesat jalan. Bukan jalanan yang
ditemuinya, tapi, padang belantara daerah pegunungan
yang sunyi senyap. Tiba2 Yan-chiu yang berjalan dimuka,
berhenti. Tio Jiang buru2 menghampirinya. Kiranya
dibawah kaki tempat mereka berdiri itu, adalah sebuah
lembah yang tak terkira dalamnya. Begitu curam lembah
itu, hingga keduanya tak dapat melihat jelas dasarnya.
Ketika terasa ada angin menyambar, maka dibawah lembah
sana segera terdengar suara menderu2. Ketika itu adalah
permulaan musim semi, hawa udarapun masih dingin.
Puncak karang dimana keduanya berada itu, kira2 ada 5
atau 6 tombak luasnya. Lembah yang memisahkan puncak
itu dengan puncak karang yang disebelah sana, mirip
dengan bentuk sebuah mulut yang aneh. Yan-chiu hendak
kembali kebelakang, tapi tiba2 Tio Jiang mengeluarkan
seruan tertahan: "Hai, lihatlah sumoay, siapakah yang
berada dipuncak karang sebelah muka itu?"
Yan-chiu mengawasi kemuka. Disebelah sebuah puhun
siong tua yang tumbuh diatas puncak karang sana, tampak
ada seorang wanita berdiri tegak. Sambil menutupkan
sepasang tangannya pada kedua belah pipi, wanita muda itu
memandang kesebelah utara. Benar karena menghadap
kesebelah sana maka mukanya tak tertampak, namun dari
bentuk tubuhnya yang molek langsing itu, tentulah ia itu
seorang wanita yang cantik. Dan dari potongan tubuhnya
itu, kedua suko dan sumoay itu segera dapat mengenalinya.
Ya, tak salah lagi, itulah Bek Lian, suci mereka yang manis
itu.
"Lian suci, kau disitu ....... mengapa?" Yan-chiu segera
meneriakinya. Diulangnya sekali lagi teriakan itu, namun
rupanya Bek Lian tak mau mendengari serta masih tetap
berdiri membelakangi. Kuatir kalau teriakan sumoaynya itu
kurang keras, make Tio Jiang segera empos lwekangnya
"cap ji si heng kang sim ciat" dan berseru lantang sekali:
"Lian,-suci!"
Karena ilmu lwekangnya maju pesat sekali, maka
teriakan Tio Jiang itu menggelegar berkumandang jauh
sekali. Disana sini segera riuh, sambut menyambut
kumandang suara "Lian-suci"..., "Lian-suci"...... wanita itu
benar2 tergetar dan berpaling kebelakang. Kini walaupun
terpisah dengan jurang yang lebarnya 6 atau 7 tombak, tapi
satu sama lain dapat melihat dengan jelas, memang wanita
itu benar Bek Lian adanya. Hanya saja wajahnya tampak
sayu muram, air matanya ber-linang2.
Berjumpa dengan orang yang dirindukan, Tio Jiang ingin
menumpahkan seluruh isi hatinya, tapi entah bagaimana,
makin bernapsu menyatakan makin mulutnya berat
sehingga akhirnya tak dapat die bicara same sekali. Setelah
sejenak memandang kepada kedua saudara seperguruannya
itu, tanpa mengucap apa2, Bek Lian berpaling kebelakang
pula. Ia tampak memandang kearah utara lagi. "Lian-suci!"
teriak Tio Jiang dengan se-kuat2nya. Mestinya Bek Lian
mendengar seruan itu, tapi ternyata ia tetap berdiam diri
saja.
"Hai....., Lian-suci yang manis, apakah yang kau
pandang itu ?" tanya Yan-chiu Sembari menyengir kurang
senang, lalu berjengket dengan ujung kaki untuk melihat
kesebelah utara. Tapi disana ia tak melihat sesuatu yang
aneh.
Buru2 ia panjat sebuah puhun yang tumbuh didekat situ
untuk melongok kearah tempat Bek Lian berdiri. Begitu
mengawasi, saking terkejutnya hampir saja ia jatuh dari
pohon. Melihat tingkah Yan-chiu yang mencurigakan itu,
Tio Jiang pun segera loncat keatas puhun. Kejutnya, malah
melebihi Yan-chiu tadi. Dengan gigi bercakrukan berserulah
dia ter-putus2: "Lian-suci! Jangan..........loncat,
jangan........Ioncat !"
Kiranya puncak karang tempat Bek Lian berdiri itu
hanya satu tombak luasnya. Disebelah depan pun terdapat
sebuah lembah yang teramat curamnya. Dari atas pohon
situ, dapatlah dilihatnya apa yang terjadi dengan Bek Lian.
Bek Lian tengah mondar mandir ditepi puncak, sedang
ketika itu angin berembus dengan kuatnya. Pakaiannya
yang bergontaian tertiup angin itu, sepintas pandang seperti
orangnya sudah tengah ayunkan tubuh loncat kebawah
Iembah. Sekali loncat tentu tamatlah riwayatnya. Maka tak
heranlah ketika Yan-chiu dan Tio Jiang melihat hal itu,
mereka sama berdiri bulu romanya. Tio Jiang ulangi lagi
seruannya beberapa kali, namun Bek Lian tetap tak
mengacuhkan. la memandang jauh kebawah lembah, air
matanya bercucuran turun seperti hujan dicurahkan.
Tio Jiang seperti semut diatas kuali panas. Hendak dia
loncat kesana, tapi apa, daya untuk melintasi jarak pemisah
yang antara 6 tombak jauhnya itu. Sekalipun ilmunya
mengentengi tubuh lihay, namun tak nanti dia dapat
meloncati jarak itu, kecuali dia bisa tumbuh sayap. Tiba2
terkilas dalam pikiran Tio Jiang, mengapa sang suci yang
kepandaiannya masih kalah dengan dia itu, dapat naik
kepuncak itu terpisah lima enam-tombak jaraknya, jangan2
sang suci itu pergi kesana dengan jalan melompati selat
lembah itu. Dan kalau sang suci bisa, mengapa dia tidak?
Memikir sampai disini, tanpa terasa dia meniru tingkah Sik
Lo sam, menampar mukanya sendiri sembari memaki:
"Huh, Tio Jiang....., Tio Jiang....... Macammu mana
berharga mencintai Bek Lian. Masa selat lembah begitu saja
kau sudah jeri melompatinya ?"
Melihat kelakuan sang suko yang menampar muka dan
bicara sendiri itu, Yan-chiu heran juga. Tapi Tio Jiang tak
ambil peduli lagi. Loncat turun dari atas puhun, segera dia
mundur kebelakang sampai belasan langkah. Sekali enjot.
dia terus berjumpalitan sampai 3 kali kemuka. Dan begitu
tiba ditepi puncak dia menjejak se-kuat2nya. Tubuhnya
segera melayang diudara. Apa yang didengarnya hanyalah
deru angin menyambar disisi telinganya dan jeritan Yanchiu
dari arah belakang. Begitu memandang kesebelah
bawah, bulu romanya berdiri tegak. Dan tepat pada saat itu,
dirasanya sang tubuh melayang turun kebawah. Buru2 dia
empos semangatnya. Tapi tepat pada detik itu, tiba2
terdengarlah suara auman senjata rahasia. Lima bintik sinar
perak, menyambar kearahnya.
Ketika hendak menurun tadi, buru2 Tio Jiang pijakkan
kaki kiri nya keatas kaki kanan. Dan sekali, enjot, dia
melambung lagi keatas. Tapi samberan kelima biji senjata
rahasia itu luar biasa cepatnya. Malah ketika sampai
ditengah jalan, senjata2 rahasia itu sama berpencaran
sendiri, menghantam bagian kepala, tubuh dan kaki.
Sesaat itu tahulah Tio Jiang, bahwa senjata rahasia itu
adalah Bek Lian yang menyabitkan. Itulah yang disebut
liuyap-piau (piau yang bentuknya seperti daun puhun liu),
permainan yang diyakinkan dengan tekun oleh Bek Lian
sewaktu masih digunung Giok-li-nia. Dalam gugupnya, Tio
Jiang segera berjumpalitan. Tapi sayang karena latihannya
ilmu mengentengi tubuh masih belum sempurna, maka
walaupun kelima biji liu-yap-piau itu dapat dihindari,
namun tubuhnya meluncur turun kebawah lembah.
Lembah itu tak terukur dalamnya. Dalam sekejab saja,
lenyaplah sudah bayangan Tio Jiang.
Sewaktu Tio Jiang hendak loncat tadi, Yan-chiu sudah
akan turun dari puhun untuk mencegahnya. Tapi ia kalah
cepat dengan sang suko yang sudah loncat kemuka itu.
Dengan menjerit kaget, dia awasi tubuh sukonya. Dalam
hati, ia mendoa mudah2an sukonya dapat berhasil melintasi
lembah yang berbahaya itu. Tapi bukan kepalang kagetnya
demi dilihatnya Bek Lian dengan geram sekali sudah
menaburkan liu-yap-piau. Liu-yap-piau itu terbuat dari baja
lemas pilihan. Jumlahnya hanya belasan saja. Jadi kalau tak
bertemu dengan musuh tangguh, Bek Lian tak sembarangan
mau menggunakannya. Dan rasa kagetnya makin men-jadi2
demi setelah berjumpalitan tubuh Tio Jiang lalu meluncur
kebawah lembah. Nona yang biasa lincah tangkas itu, pada
itu tak dapat berbuat apa kecuali ter-longong2 sambil
mengucurkan air mata, kesedihan.
Tiba2 disebelah muka sana didengarnya Bek Lian juga
ter-isak2 menangis pe-lahan2. Kiranya nona itu juga
menangis tersedu sedan. Sebenarnya Yan-chiu tak mau
mengadu biru dalam hubungan Tio Jiang dengan Bek Lian.
Tapi dalam beberapa hari ini, demi difahaminya betapa
kesungguhan hati sang suko mencintai sucinya itu, iapun
tergerak perasaannya. Pula menilik kelakuan yang tak
selayaknya dari sang suci itu, sympathi Yan-chiu terhadap
sukonya, makin tebal. Maka tanpa disadari, timbullah rasa
bencinya terhadap Bek Lian. "Orangnya kan sudah jatuh
kebawah, masa ber-pura2 menangis seperti sang kucing
menangisi sitikus saja!" serunya dengan sinis.
Saat itu angin reda, jadi Bek Lian dapat mendengar jelas
apa yang dikatakan sang sumoay itu. „Kalian tak usah
pedulikan aku!" sahutnya seraya mendongak.
„Apa ?" menegas Yan-chiu karena tak mengerti ucapan
orang. Bek Lian gentakkan kepalanya tertawa dingin :
„Siapa yang mengurusi aku, tentu akan turun kebawah
lembah sana. Kalau seorang ayah boleh tak mengakui
anaknya, mengapa seorang suci tak boleh mengusir sutenya
?"
Mendengar sang suci mengoceh tak keruan, Yan-chiu
maju selangkah seraya berseru: „Mana suhu ?"
Bek Lian menangis. „Entah, tak tahulah !" sahutnya
kemudian.
Yan-chiu makin gusar, tanyanya pula: „Dan mana Cianbin
long-kun-mu itu ?"
Mendengar nama itu disebut, serentak majulah Bek Lian
menghampiri ketepian puncak. "Jadi kau tahu tentang
engkoh Go?" tanyanya sembari menangis. Kini Yan-chiu
timbul rasa kasihannya. Bek Lian menyintai The Go
sebenarnyapun bukan suatu kesalahan. Mungkin sang suhu
menentangnya, jadi sucinya itu. lalu mengambil putusan
pendek begitu. „Lian suci, bagaimana kau bisa berada disitu
? Sukalah memberitahukan agar aku bisa menyusul
ketempatmu situ," katanya dengan lemah lembut.
Tapi diluar dugaan, Bek Lian segera menyahut dengan
gugup : „Jangan datang kemari !" ,
„Mengapa ?"
„Ya, tak perlu kemari. Kalau kau berani datang sini, aku
tentu tak sungkan lagi !" kata Bek Lian.
Tapi dasarnya bengal, Yan-chiu menantangnya: „Tapi
aku justeru hendak kesitu !" katanya sembari mengambil
sikap seperti hendak melompat. Hal itu sebenarnya hanya
untuk mengetahui bagaimana reaksi sang suci. Biasanya
Bek Lian cukup faham akan sifat2 yang nakal dari
sumoaynya itu. Tapi karena semalam ia menderita
goncangan bathin hebat, pikirannyapun menjadi kalut.
Demi dilihatnya Yan-chiu hendak melompat, ia terus
taburkan 5 biji liu-yap-piau.
Tadi memang sebelah kaki Yan-chiu sudah sengaja
diacungkan kemuka, jadi bergelantungan diatas lembah.
Begitu liu-yap-piau menyambar, cepat2 ia dongakkan
tubuhnya kebelakang. Benar liu-yap-piau dapat dihindari,
tapi batu ditepian puncak yang diinjak dengan sebelah kaki
itu tiba2 sol alias longsor. Sudah tentu tubuhnya terhuyung
dan jatuh kebawah lembah. Dalam lain kejab, ia tentu akan
mengalami nasib serupa dengan Tio Jiang. Untunglah
dalam detik2 berbahaya itu, matanya dapat melihat
serumpun puhun rotan yang tumbuh ditepi puncak situ.
Secepat kilat tangannya menyawut dua batang rotan yang
tumbuh bergelantungan didinding bagian bawah samping
karang itu. Tapi mana dua batang rotan dapat menahan
berat tubuh seorang yang menggandulinya? Akar dari rotan
itu, segera ber-gerak2 tercabut keatas.
Dalam keadaan yang berbahaya itu, Yan-chiu berusaha
untuk menguasai ketenangannya, Sedianya ia hendak
gunakan gerakan „tho cu boan sim" si bongkok balikkan
tubuh. Dengan meminjam kekuatan rotan, ia akan
apungkan tubuh keatas puncak lagi. Tapi baru ia hendak
kerahkan tenaga kearah tangan, tiba2 terdengarlah suara
angin menderu. Sebuah liu-yap-to (golok bentuk daun liu)
yang besarnya hanya lebih kurang 5 dim menyambar diatas
kepalanya. Beberapa butir batu segera berhamburan jatuh
dari atas puncak. Karena dirinya sedang bergelantungan,
jadi Yan-chiu tak dapat berkelit, maka ada beberapa butir
batu yang jatuh menimpa kepalanya, sakitnya lumayan
juga. Dan yang lebih hebat dari itu, salah sebatang dari 3
batang rotan yang dicekalnya itu menjadi putus terpapas
liu-yap-to tadi.
Berpaling mengawasi kearah sang suci, didapatinya
dalam tangan sang suci itu masih menggenggam, 3 batang
liuyap-to. Dengan wajah dingin tak kenal kasihan lagi, Bek
Lian menatap tajam2 kearah Yan-chiu. Keadaan Bek Lian
pada saat itu, mirip dengan sebuah patung ukiran kayu dari
seorang wanita ayu, Yan-chiu mengeluh dalam hati. Kalau
Bek Lian timpukkan dua buah liu-yap-tonya lagi, maka ia
tentu akan kecemplung kedalam dasar lembah.
Ilmu menimpuk dengan liu-yap-to termasuk salah satu
macam kepandaian yang luar biasa dari Ceng Bo siangjin.
Siangjin itu telah memberi pelajaran ilmu itu. pada Bek
Lian dan Yan-chiu. Tapi disebabkan sifat Yan-chiu yang
kurang sabar, setelah belajar beberapa bulan, akhirnya dia
menyerah. Pilihannya jatuh pada senjata bandringan liusingcui
yang hampir setombak panjangnya. Kalau ilmu
permainan itu diyakinkan dengan sempurna, rasanya dapat
menyamai semacam senjata rahasia kegunaannya. Maka
sejak itu, ia tak lanjutkan latihanya lagi. Sebaliknya Bek
Lian siang-malam berlatih dengan tekun sekali, sehingga
akhirnya ia mahir sekali dalam permainan itu. Seratus kali
timpuk, seratus kali tentu mengenai sasarannya. „Liansuci!"
seru Yan-chiu dengan cemasnya.
Seruan Yan-chiu itu sedemikian rawan menghibakan
hati. Betapun keras hati seseorang, tak urung tentu tergerak
juga. Tapi bagi Bek Lian yang sudah menderita siksaan
batin itu, perasaannya sudah mati. Kalau Yan-chiu jatuh
kedalam lembah, paling banyak ia tentu mati. Dan ini akan
himpaslah sudah segala beban kuajibannya sebagai
manusia. Tidak demikian dengan dirinya. Hidup tidak
matipun bukan. „Kau suruh aku bagaimana lagi ? Paling2
kau nanti mati didasar lembah, dan kematianmu itu tentu
memuaskan, jauh lebih baik dari diriku ini!" sahutnya
dengan nada dingin. Masih Yan-chiu tak tahu mengapa Bek
Lian sampai berubah sedemikian tak berperasaan itu.
Rencananya, begitu sang suci agak lengah, hendak ia
apungkan tubuhnya melayang keatas puncak karang.
„Lian........ su.........", mulut berseru tangannya segera siap
melakukan rencananya itu. Tapi ternyata Bek Lian tetap
mengawasi gerak geriknya. „Wut", sebuah liu-yap-to
melayang pula dan sesaat Yan-chiu rasakan cekalannya
agak kendor lagi. Kiranya sebatang rotan yang dicekalinya
itu, putus pula.
"Aku hendak naik kesorga tapi tiada mendapat jalan,
mau masuk ke neraka tiada mendapat pintu. Maka takkan
kubiarkan kau menyiarkan hal ini pada lain orang. Aku tak
suka dikasihani oleh siapapun juga!" seru Bek Lian
disebelah sana.
---oodw0tahoo---
BAGIAN 16 : SETAN LAWAN IBLIS
Yan-chiu tak pedulikan ocehan orang, tetap ia hendak
lanjutkan rencananya. Tapi se-konyong2 terdengarlah
wut...., wut....., suara samberan dua kali dan batang rotan
yang dicekalinya itu putus semua, tubuhnyapun melayang
turun kebawah. Samar2 masih didengarnya sang suci
melengking seperti orang gila: „Siao Chiu, segera kau dapat
mati, wah senangnya! Ha...., ha.......ha..., ha...... "
Pada lain saat, dilihatnya suasana makin gelap gelita,
angin menderu-deru disisi telinganya, kepalanya terasa
pening. dan matanya ber-kunang2. Yan-chiu yang masih
belum tinggi kepandaiannya itu, segera pingsan tak
sadarkan diri
Entah sudah berapa lama ia dalam keadaan begitu, tapi
ketika tersadar didengarnya ada suara orang ber-kata2.
Yang seorang sembari berkata sembari ketawa dengan
keras, sedang yang lain nada suaran ya kecil halus macam
orang perempuan. Lapat2 didengarnya juga deru samberan
angin pukulan, sepertinya kedua orang itu tengah berkelahi.
Tapi ditilik dari lagu pembicaraannya, kedua orang itu tak
mirip dengan orang yang sedang tantang2an.
Dalam pada itu, tak habis keheranan Yan-chiu, Terang
tadi ia telah jatuh kedalam lembah, tapi mengapa dirinya
tak kurang suatu apa. Salah seorang dari kedua orang yang
tengah adu mulut dan adu kepandaiannya itu, nada
suaranya tak sedap dipendengaran telinga. Jangan2~
bangsa siluman mereka itu ?! Tapi biarlah kunantikan saja,
demikian keputusan Yan-chiu lalu meramkan matanya lagi.
„Ha...., ha...... jurus keberapakah ini, apa masih ada
lainnya lagi ?" kata yang seorang sembari tertawa mengejek.
„Kau sambut saja, jangan banyak omong!" sahut yang
lain dengan marahnya. Nada suaranya melengking
sedemikian tajam, sehingga mau tak mau Yan-chiu
membuka matanya lagi.
Dan ketika membuka mata lebar2, bukan kepalang kejut
dan girangnya. Kiranya terpisah hanya berapa meter dari
tempatnya situ, tampak Tio Jiang tengah berdiri. Malah
tampak sang suko itu mengawasi kearahnya. Tapi ketika ia
hendak meneriaki, Tio Jiang cepat2 menggoyangkan
tangan, menyuruhnya diam. Setelah itu sang suko
menunjuk kemuka. Yan-chiu memandang kearah yang
ditunjuk itu, dan amboi........, hampir saja dia berjingkrak
bangun.
Kiranya disana, tampak ada seorang lelaki dan seorang
perempuan tengah ber-putar2 dalam lingkaran. Ternyata
didasar lembah itu tak segelap yang diduganya. Sinar
matahari dapat menyinari masuk, maka walaupun
menjelang magrib, namun masih tampak terang benderang.
Dasar lembah itu penuh ditumbuhi tanam2an. Cuma saja
disekitar tempat silelaki dan siwanita ber-putar2 itu, puhun2
yang tumbuh disekelilingnya sama tumbuh. Wanita itu
berambut panjang terurai menutupi mukanya. Sepasang
matanya memancarkan sorot ke-hijau2an warnanya.
Barang siapa yang mengawasinya, tentu akan bergidik.
Sedang silelaki itu pakaiannya luar biasa anehnya. Dia
seperti memakai sarung dari kulit rase, tapi kakinya tak
memakai sepatu. Gerak kakinya mantep, jauh berlainan
dengan gerak kaki siwanita yang se-olah2 terapung diatas
tak menyentuh tanah itu.
Begitu mereka berputar tubuh, Yan-chiu melengak.
Rasanya ia sudah pernah kenal dengan silelaki itu. Ya,
benar ia sudah kenal baik dengan orang itu, tapi ah.....,
lupalah siapa dianya itu. Setelah saling berhadapan,
siwanita itu berseru : “Jurus ini disebut ce-gwat-bu-kong
(rembulan dan bintang tiada bercahaya). Hati2lah !"
Habis berkata, terus menerjang. Gerakannya itu luar
biasa cepatnya. Yan-chiu tak terpisah jauh dari kedua orang
yang tengah bertempur itu. Semestinya, ia tentu rasakan
samberan angin dari gerakan siwanita itu. Tapi nyatanya,
baik suara maupun anginnya, tiada terasa sama sekali. Yanchiu
kesima kaget, masa didunia terdapat manusia macam
begitu. Jangan2 ia itu berada diakherat ini ?! Teringat ia
akan penuturan orang, bahwa bangsa setan hantu itu tiada
mempunyai bayangan, maka serentaklah ia berbangkit
untuk mengawasi. Oho......., mereka masing2 mempunyai
bayangan, jadi bukan bangsa lelembut. Waktu mengawasi
jalannya pertempuran, kiranya silelaki dan siwanita itu
sudah merapat satu mama lain hingga merupakan sebuah
lingkaran bayangan. Tapi pada lain saat, keduanya saling
berpencar lagi.
“Bagus, bagus, lihay amat kau! Didunia jarang mendapat
tandingan tentu !" seru silelaki dengan tertawa keras. Dan
serta tampak Yan-chiu sudah berdiri, silelaki aneh itu segera
unjuk muka-setan, serunya: „Ho, kau sudah bangun?"
Melihat tingkah silelaki aneh itu, tersadarlah ingatan
Yan-chiu. Tak salah lagi, dia yalah sipengemis lucu yang
tempo diluitay telah membantunya merobohkan salah
seorang samtianglo dari Ci Hun Si. Tempo hari sih pakaian
dan mukanya kotor kumal, tapi kini dengan mukanya yang
bersih, janggut bercabang tiga serta jubah kulit rase itu,
mirip sudah dia dengan seorang pedagang kaya dari daerah
utara. Malah sesaat itu teringatlah Yan-chiu bahwa ia masih
menyimpan sebuah gelang besi dari orang aneh itu. Saking
girangnya, Yan-chiu bertepuk tangan berseru: „Oi.....,
kiranya kau ......"
Tapi baru dia berseru begitu, siwanita tadipun
memandang kearahnya. Bulu roma Yan-chiu seketika
berdiri, perasaannya tak enak, maka buru2 ia memalingkan
kepalanya. Tapi disana dilihatnya sang suko mengawasi
tajam2 pada siwanita itu, rupanya tengah bersiaga keras.
Tiba2 ia teringat akan cerita Nyo Kong-lim tentang seorang
wanita berambut panjang. Jangan2 inilah wanita itu.
Dengan sigap, ia berpaling lagi kemuka; justeru kala itu
mata siwanita aneh itu tengah menatapnya. Begitu saling
bentrok pandangan mata, menggigillah Yan-chiu. Kalau
pada tengah malam ia menjumpai wanita itu, mungkin ia
kira tentu berhadapan dengan sesosok hantu !
Melihat Yan-chiu tak berani memandangnya, tertawalah
siwanita itu ter-kekeh2, ujarnya: “Kui Ing-cu, apakah budak
perempuan itu juga muridnya Ceng Bo siangjin ?"
„Ceng Bo siangjin juga seorang pemimpin ternama
dalam jaman ini, masakan dia mau mempunyai seorang
murid kantong kosong seperti dianya itu!" sahut silelaki
aneh dengan tertawa meringis. Yan-chiu tak marah
dikatakan begitu, melainkan deliki mata saja. Mencuri
kesempatan selagi siwanita itu tak mengawasinya, silelaki
aneh itu kembali unjuk muka-setan pada Yan-chiu.
Matanya dimerem-melekkan beberapa kali.
Sebagai gadis yang cerdas, segera Yan-chiu dapat
menangkap, maksud isyarat orang.
„Macam Ceng Bo siangjin, mana layak menjadi
suhuku?" ia mendamperat. Tapi segera ia jeri sendiri.
Sungguh keterlaluan sekali ucapannya tadi. Kalau sampai
didengar sang suhu, jangan tanya dosa lagi. la celingukan
kesana-sini, lalu tertawa sendiri. Masakan sang suhu bisa
datang ketempat macam begitu ?
“Siao Chiu, jangan kurang ajar!" tiba2 seorang lelaki
membentak. Semangat Yan-chiu serasa terbang. Kedua
tangannya didekapkan kekepala, „Celaka!" serunya dengan
ketakutan. Tapi demi ia berpaling dan melihat yang
membentak tadi hanya sang suko, kontan ia menyahut:
„Fui, siapa yang kurang ajar?"
Kui Ing-cu tertawa ter-kakah2, sebaliknya siwanita aneh
segera memujinya: „Bagus! Macam apakah Ceng Bo
siangjin itu. Budak, siapakah suhumu ?" Mendengar itu
Yan-chiu kemekmek. la kerlingkan ekor mata kearah
silelaki aneh, siapa ternyata tengah memandang kelangit.
„Suhu wanpwe ialah Ma Bu-tek!" sahutnya se-kena2nya.
Ma Bu-tek, artinya „kuda tiada terlawan."
“Ma Bu-tek ?" menegas siwanita setelah merenung
sejenak, „rasanya seorang yang tiada terkenal itu."
Kemudian ia berpaling kearah Kui Ing-cu, serunya: „Mari
mulai lagi, sudah janji 300 jurus, mengapa baru 70 saja
sudah berhenti ?
Kui Ing-cu ter-bahak2. „Kiang Siang Yan, kau anggap
'thay im lian sing kang" mu itu tiada lawannya dikolong
langit, maka setelah bertempur seri dengan aku, kau lantas
kurang terima bukan ?"
Mendengar nama „Kiang Siang Yan", Tio Jiang dan
Yan-chiu sama terperanjat. Kiranya wanita itu adalah isteri
suhunya atau subo mereka juga!
“Ya, memang. Apa kau berani lanjutkan pertempuran
lagi ?" tanya Kiang Siang Yan dengan tertawa dingin,
seraya ber-putar2 mendekati Kui Ing-cu. Bermula Tio
Diang dan Yan-chiu yang berdiri dekat sekali tak
merasakan samberaan apa2, tapi tahu2..... terasa ada
dorongan suatu tenaga yang maha kuat.
Buru2 kedua anak muda itu gunakan cian-kin-tui agar
tak jatuh. Tio Jang yang yang kepandaiannya tinggi, hanya
ter-huyung2 sedikit. Tapi Yan-chiu sudah sempoyongan
sampai empat-lima tindak kebelakang baru kemudian dapat
tegak lagi. Diam2 ia leletkan lidah. Belum Pernah ia
melihat atau mendengar ilmu kepandaian macam begitu.
Kiang Siang Yan pun sudah bertempur lagi dengan Kui
Ing-cu. Baru Kiang Sian Yan menghampiri, Kui Ing-cu
sudah segera menyambutnya dengan sebuah hantaman
keras, hingga terpaksa. Kiang Siang Yan melambung
keatas. Rambutnya kejur menjulai kebawah, begitu ulurkan
jari2 tangan kanannya yang keras bagai kait itu, ia
melayang kearah kepala lawan, serunya: „Inilah yang
disebut 'peh hun kam kau' (mega putih mengejar anjing!" -
Yan-chiu melengak, masa ada jurus silat Yang namanya
begitu aneh ? Tiba2 Kui Ing-cu miringkan tubuh, sepasang
tangannya digerak2kan terus dihantamkan kearah Kiang
Siang Yan serunya: „Jurusku ini, juga disebut Peh-hunkam-
kau."
Baru Yan-chiu ketahui bahwa kedua orang aneh itu.
tengah adu lidah (bersitegang leher ngotot). Dalam
Pertempuran sedahsyat itu, keduanya tetap dapat bergurau
suatu, suatu pertanda bagaimana lihay mereka itu. Yanchiu
makin ketarik. Tadi Kian Siang Yan masih melayang
diatas dan Kui Ing-cu telah menyambutnya dengan tebasan
dua belah tangannya, tapi entah bagai mana, tahu2 Kiang
Siang Yan sudah meluncur turun dibelakang lawannya.
Karena hantamannya menemui tempat kosong, maka
terdenrlah bunyi krek-bum....... dari puhun tua yang
tumbang kena hantaman Kui Ing-cu itu. Cepat2 Kui Ing-cu
berpaling kebelakang seraya berseru: „Huh, sial, sial,
kepalaku dilangkahi oleh bibi itu!" Mendengar kata2 itu,
pecahlah ketawa Yan-chiu.
„Budak perempuan, kau tertawai apa" tiba2 Kui Ing-cu
deliki mata terus mirngkan tubuh dan menampar Yan-chiu,
sudah tentu bukan kepalang, kejut Yan-chiu, hendak
menghindar sudah tak keburu. Se-konyong2 dilihatnya ada
sesosok bayangan berkelebat dihadapannya, dan menampar
juga, plak ........ bukan Yan-thiu yang kena ketampar, tapi
kedua tenaga hantaman dari Kui Ing-cu dan sibayangan
yang bukan lain adalah Kiang Siang Yan itu yang saling
berbentur. Entah berapa jurus lagi pertempuran akan
berlangsung setelah itu. Tapi tahu2 Kui Ing-cu loncat
kesamping dan berseru keras: „Kiang Siang Yan, aku punya
usul baru!"
“Kui Ing-cu, kaupun terhitung dalam golongan datuk
jaman ini. Mengapa kau lepaskan tangan jahat pada
seorang budak perempuan yang masih bau pupuk ?!" jawab
Kiang Sian Yan dengan ejekan dingin.
Kui Ing-cu tertawa panjang, serunya: “Tapi bagaimana
kau perlakukan bocah lelaki itu tadi?" Yang dimaksud
dengan bocah lelaki ialah Tio Jiang, siapa waktu jatuh
kedasar lembah situ justeru tepat Kui Ing-cu tengah
mengukur kepandaian dengan Kiang Siang Yan. Demi
tampak ada sesosok tubuh meluncur turun, dengan segera
Kui Ing-cu melesat untuk menyanggapinya, sehingga Tio
Jiang tak kurang suatu apa dan dapat berdiri tegak lagi.
Tapi begitu Kiang Siang Yan mengetahui Tio Jiang itu
adalah murid Ceng Bo siangjin yang dibencinya itu, terus
saja menghantamnya, sukur keburu dihadang oleh Kui Ingcu.
Maka demi Kui Ing-cu menyebut2 hal itu, Kiang Siang
Yan tak dapat menyahut, lalu berganti haluan, tanyanya:
„Lekas katakan apa usulmu itu !"
„Naga2nya kita berdua ini, sekalipun bertempur sampai
300 jurus, pun bakal tiada yang menang atau kalah....."
Baru Kui Ing -cu berkata begitu, Kiang Siang Yan terus
menukasnya; „Rasanya tak sampai begitu lama."
„Maka aku.. mempunyal usul entah bagaimana
Pendapatmu," teruskan Kui Ing-cu tanpa pedulikan ejekan
orang.
„He, apa2an begitu sopan santun?"
„Lekas katakan" seru Kiang Siang Yan.
Kui Ing-cu cekikikan seraya menunjuk pada Tio Jiang
dan Yan-chiu. „Kedua bocah itu, kepandaiannya tak
terpaut banyak satu sama lain. Kita masing2 mengambil
seorang untuk memberinya pelajaran silat. Setelah itu kita
adu mereka, bermula dengan tangan kosong lalu dengan
senjata. Siapa yang lebih pandai mengajar, dialah yang
menang. Setuju tidak kau ?" tanyanya.
”Hm........, kaum persilatan menyohorkan kau seorang
yang kaya muslihat. Nyatanya memang begitulah! Bocah
lanang itu terang lebih lihay dari sibudak perempuan, jadi
kau hendak cari enak sendiri bukan ?" jawab Kiang Siang
Yan dengan tertawa mengejek. Kui Ing-cu balas tertawa,
ujarnya: “Kiang Siang Yan, kalau kau takut kalah, ambil
saja bocah lanang itu !"
Seketika marahlah Kiang Siang Yan. Rambutnya yang
terurai itu serentak menjulur dengan kaku, serunya: „Kui
Ing-cu, sambutlah seranganku ini !" Begitu kakinya
bergerak, tahu2 tubuhnya sudah melesat kesamping Kui
Ing-cu. Begitu sepasang tangan diangkat, plak........bukan
untuk menampar Kui Ing-cu tapi untuk saling ditepukkan
sendiri. Tapi begitu kedua tangan itu bercerai, tahu2
mendorong kearah Kui Ing-cu.
Kui Ing-cu pun aneh. Ketika Kiang Siang-Yan bertepuk
tangan, dia diam saja. Tapi sewaktu tangan Kiang Siang
Yan hendak mendorongnya, se-konyong2 dia memutar
tubuh, hingga jubahnya yang terbuat dari kulit rase itu
bertebar keatas. Sambil berseru: „Pukulan thay-im-ciang
yang lihay", orangnyapun sudah menyingkir pergi.
Tio Jiang dan Yan-chiu yang mengawasi pakaian Kui
Ing-cu, serentak menjadi terkejut. Baju yang terbuat dari
kulit rase itu, begitu terbentur dengan tangan Kiang Siang
Yan tadi, telah berlubang sebesar mangkok. Jeri, kagum
dan heran, demikian perasaan Tio Jiang dan Yan-chiu
terhadap kedua cianpwe persilatan itu.
Sewaktu menyingkir tadi, Kui Ing-cu telah lewat disisi
Yan-chiu, slapa tahu2 telinganya seperti tersusup dengan
perkataan: „Budak perempuan, makilah aku lekas. Kalau
berhasil memikat wanita itu, seumur hidupmu kau tak
menyesal !"
Yan-chiu yang cerdas segera mengetahui bahwa rencana
Kui Ing-cu untuk mengusulkan mengambil jago itu,
dimaksud agar ia dan sukonya dapat menerima pelajaran
yang sakti. Ia mengangguk mengiakan. Begitu Kui Ing-cu
sudah berada, disebelah sana, mulut Yan-chiupun segera
mulai berkicau: „Setua itu umurmu, mengapa hendak
menghina seorang muda seperti nonamu ini. Apakah itu
bukan perbuatan seorang ..........” sampai disini Yan-chiu
merandek. Ia tak boleh memaki keliwat kurang ajar,
jangan2 nanti bisa menimbulkan kemarahan siorang aneh
yang bermaksud baik terhadap dirinya itu. Sebenarnya ia
hendak mengatakan „seorang bajingan besar", tapi tak jadi
dan berganti dengan lain istilah: „Kau ini benar2 seorang
telur busuk !"
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 17 : ADU JAGO
Ilmu “Thay-im-lian-seng" telah merobah seorang jago
wanita yang berhati mulia seperti Kang Siang Yan, menjadi
seorang eksentrik atau yang beradat aneh. Tiada barang
sekejabpun dia melupakan peristiwa 10 tahun dipondok
kaki gunung Lo-hu-san. Khusus itu adegan dimana Ceng
Bo siangjin, sang suami, serta merta bertekuk lutut meratap
pengampunan pada musuh. Kenangan itu menggores dalam
didalam sanubarinya, dan ini membuat ia benci sekali
kepada sang suami itu.
Ikatan cinta selama 20 tahun terangkap menjadi suami
isteri, telah dikikis habis oleh thay-im-lian-seng. Hilang
kepercayaannya mengapa seorang jantan perwira macam
sang suami dapat bertekuk lutut terhadap beberapa musuh
saja. Maka dengan me-nyala2 rasa kebencian, tempo hari ia
telah selulup kedalam air untuk mencari suami itu. Tapi
setelah tiada berjumpa, ia naik pula kedaratan.
Ketika digoa gunung Hoasan ia menjumpai Bek Lian,
timbullah kenangannya. Sepuluh tahun yang lalu, Bek Lian
hanya seorang gadis kecil yang rambutnya dikepang dua.
Kini sepuluh tahun kemudian ia sudah berobah menjadi
seorang nona yang cantik bagaikan bidadari hidup. Rasa
kecintaan seorang ibu terhadap anak, meletik pula. Dan
ketika melihat sang puteri itu ber-sama2 dengan seorang
pemuda ganteng, secara diam2 ia lalu mengikuti mereka ke
Hokciu.
Kang Siang Yan sudah meliliki dasar ilmu kepandaian
yang cukup tinggi. Ditambah 10 tahun ia berlatih keras, kini
sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Keistimewaan dari
ilmu lwekang thay-im-lian-seng, yalah baik memukul,
menendang, bergerak maju mundur, sedikitpun tak
mengeluarkan desis suara. Oleh karena itulah maka The Go
dan Bek Lian tiada mengerti kalau dikuntit. Ketika ia tiba
didaratan, didengarnya pasukan Ceng sudah mengepung
Hoasan, malah dari seorang persilatan ia mendapat tahu,
bahwa The Go juga ikut dalam pasukan Ceng itu.
Terdorong hendak bertemu dengan puterinya, ia cepat2
menuju kesana.
Tiada disangka, begitu menginjak gunung ia berjumpa
dengan Kui-ing-cu, siorang kurus yang tak kurang anehnya
itu. Entah apa sebabnya, orang itu menghamburhamburkan
olok dan makian, kemudian memikatnya
datang kedasar lembah itu. Pada pokoknya, Kui-ing-cu
mengejek kepandaian dari Kang Siang Yan, sehingga
keduanya bersepakat untuk adu kepandaian sampai 300
jurus, adalah karena itu, tanpa sengaja mereka dapat
menolong jiwa Tio Jiang dan Yan-Chiu.
Kui-ing-cu pernah sekali berjumpa dengan Ceng Bo
siangjin. Dia suka sekali akan kenakalan dan kegenitan dari
Yan-chiu, yang dalam banyak hal menyerupai wataknya.
Maka dia lalu merancangkan suatu akal, agar Yan-chiu bisa
diterima menjadi murid-darurat dari Kang Siang Yan.
Secara rahasia dia kisiki sinona supaya memakinya, dan
ketika hal itu dilakukan, diapun pura2 murka lalu hendak
menyerang. Untuk „membeli" kepercayaan Kang Siang
Yan, dia mendampracan-chiu: „Apa katamu, budak edan ?
Tadi aku hendak mengajarmu beberapa macam kepandaian
supaya dapat mengalahkan anak itu, tapi kini huh, persetan!
Biar kau dipukul mampus olehnya!"
„Uiii, siapa sudi kau ajari?" Yan-chiu jebikan
bibir.........., „bibi ini lebih jempol dari kau, aku sudah
melihat sendiri. Kalau kau tak jeri, tentu tak minta berhenti
setengah jalan begini! Bukankah kau hendak ulur waktu
untuk cari kesempatan kabur ? Kalau bibi ini mau memberi
sedikit pelajaran padaku, tak nanti kau dapat lolos!"
Sahut menyahut semacam ber-olok2 itu, telah membuat
Tio Jiang bersimbah peluh. Kalau saja orang aneh itu keluar
tanduk, tentu Yan-chiu akan celaka. Beberapa kali, dia
gentak2kan kakinya untuk mencegah sang sumoay, namun
tak digubris. Sebaliknya Kang Siang Yan terpikat. la, benci
sekali orang kurus itu, tapi mulutnya kaku tak dapat
berdebat, Bahwa Yan-chiu telah nerocos dengan mulutnya
yang tajam itu, telah membuatnya tertawa puas. Se-olah2
seluruh isi hatinya untuk mendamprat siorang aneh itu,
telah diwaklli Yan-chiu.
„Kui-ing-cu, dengar tidak kau ? Seorang anak saja tahu
slapa yang lebih lihay, masa kau masih keras kepala?" ia
menyeletuk.
Melihat orang termakan jerat, Kui-ing-cu dan Yan-chiu
gembira benar. Masing2 mengunjuk muka-setan dan
berkatalah Kui-ing-cu: „Siapa sudi percaya kata2 seorang
budak perempuan? Sudahlah, kau berani tidak terima
tantanganku tadi?"
Belum Kang Siang Yan menyahut, Yan-chiu sudah
mengipasi. „Mengapa bibi takut? Cukup satu macam ilmu
pukulan saja, anak itu tentu kujatuhkan !"
Mendengar dirinya disebut „anak itu" dan hendak diajak
berkelahi, Tio Jiang yang tak tahu akan sandiwara itu,
kelabakan setengah mati, seru ya: „Yan ...........''
„Huh, telur busuk macam kau, siapa kesudian kau
panggil ?" bentak Yan-chiu memutus kata2 Tio Jiang, siapa
menjadi cep kelakep tak dapat berkata. Kui-ing-cu kenal
watak Tio Jiang yang jujur, besok saja dia jelaskan hal itu,
tapi sekarang agar tidak pecah rahasia, dia segera tarik
lengan TIo Jiang, serunya: „Anak, ikut aku. Biar kuajarimu
sebuah ilmu pukulan untuk melabrak anak perempuan
kurang ajar itu !"
Tio Jiang hendak bicara tapi tiada kesempatan lagi,
karena tubuhnya terasa diseret oleh Kui-ing-cu menuju
kebawah sebatang puhun.
Didesak begitu, Kang Siang Yan terpaksa menyerah.
„Baik, Kui-ing-cu, 3 jam kemudian kita suruh mereka
bertempur!" serunya dengan nyaring yang dijawab oleh
Kui-ing-cu dengan kata „baik". Ilmu lwekang kedua tokoh
itu sangatlah tingginya, jadi suara seruan mereka
melengking tajam sekali kedengarannya.
Yan-chiu bukan kepalang girangnya, tak henti2nya ia
menyebut bibi kepada Kang Siang Yan yang sudah tentu
menjadi senang juga. „A-thau (budak perempuan),
tunjukkan barang sejurus kebisaanmu!" katanya.
„Celaka, masa belum diajari, malah disuruh
mengunjukhan kepandaian," demikian Yan-chiu mengeluh.
Tapi ia tak berani membantah. Untuk jangan diketahui
aselinya, baiklah ia keluarkan salah satu ajaran Ceng Bo
siangjin yang disebut ilmu silat Leng-wan-kun.
Sebenarnya Leng-wan-kun itu, adalah pelajaran pertama
yang diterima oleh Ceng Bosiangjin ketika diwaktu muda
dia belajar silat. Ketika guru Ceng Bo tengah pesiar
kegunung Ngo-bi-san, dilihatnya kawanan orang utan bermain2
loncat naik turun diantara puhun dengan tangkas
sekali. Diperhatikan cara2 binatang itu bergerak, dan
achirnya diciptakannyalah sebuah ilmu silacang
berdasarkan gerak orang utan yang tangkas itu. Maka ilmu
silat itu dinamakan Leng-wan-kun, atau silat orang utan
yang tangkas. Dan ketika Yan-chiu melihat Ceng Bo
siangjin memainkan ilmu itu, ia ketarik sekali dan mohon
suhunya mengajarkan. Berkat bakat pembawaannya yang
lincah tangkas, Yan-chiu telah dapat mempelajari ilmu itu
dengan mahir sekali.
Leng-wan-kun terdiri dari 32 jurus. Setiap jurus
merupakan jurus serangan. Begitu dimainkan, maka bertubi2lah
serangan menjatuhi fihak lawan, sehingga lawan
tak mempunyai. kesempatan untuk balas menyerang lagi!.
Demikian setelah mengambil keputusan, Yan-chiu terus
mengambil sikap hendak memulai. Tapi se-konyong2 Kuiing-
cu kedengaran berseru: „Kang Siang Yan, jauh
sedikitlah, jangan mencuri lihat kepandaianku !"
Saking menahan kemarahannya tapi tak dapat
mengeluarkan, Kang Siang Yan mendongak, seluruh
rambutnya menjingrak kebawah dengan kencangnya. Yanchiu
dapatkan bahwa paras dari subonya (ibu guru) itu
mirip sekali dengan Bek Lian.. Ah, kiranya sedemikian
cantik subonya itu, tapi mengapa sepasang matanya
sedemikian menakutkan ? „Bibi, bolehkah aku mewakilimu
mendamperatnya ?" tanyanya.
Kang Siang Yan mengangguk.
„Biarpun kau tak menyuruh, kamipun juga pergi, karena
kuatir kau curi lihat nanti bisa dibuat menjagoi dunia
persilatan!" segera Yan-chiu berseru keras. Disebelah sana
terdengar orang tertawa membatu roboh, diantaranya
terdapat nada ketawa Tio Jiang. Diam2 Yan-chiu menduga
kalau Kokonya sudah diberitahu.
Yan-chiu mengikut Kang Siang Yan menuju kebalik
sebuah batu gunung. „Bibi, kepandaianku jelek harap kau
suka memberi petunjuk!" katanya setelah berada disitu dan
lalu bersyiap dalam gaya „kun wan kuan thian" (kawanan
kera memandang langit), sepasang kaki disurutkan, tangan
kiri menutup dahi dan tangan kanan mengepal. Diluar
dugaan, waktu melihat itu, wajah Kang Siang Yan berobah,
tanyanya „A-thau, dari mana kau pelajari ilmu silat itu ?"
Pertanyaan itu diajukan dengan nada, geram, terbukti
dart suaranya yang tajam. Karena hebatnya lwekang Kang
Siang Yan maka anak telinga Yan-chiu seperti ditusuk
jarum, sehingga saking kagetnya ia lompat berjingkrak. Tak
tahu ia apa sebabnya, tapi yang nyata dilihatnya wajah
Kang Siang Yan berobah bengis. Sekilas teringatlah akan
kecerobohannya. Ilmu silat Leng-wan-kun adalah pelajaran
yang paling dibanggakan oleh sucouwnya (kakek guru),
tentulah subonya itu mengetahui. Tolol...., tolol.....,
mengapa pertama kali ia sudah keluarkan ilmu silat itu ?!
Tapi ia bukan Liau Yan-chiu kalau dalam menghadapi hal
itu sudah mundur teratur. Cepat ia sudah mendapat akal,
serunya: „Adalah suhuku Ma Bu Tek yang mengajarkan !"
Kang Siang Yan perdengarkan suara ter-kekeh2 yang
seram, lalu setindak demi setindak maju menghampiri Yanchiu.
Sepasang matanya pencarkan sorot ber-kilau2an,
sehingga hati Yan-chiu kebat kebit. Namun ia masih pura2
tenang.
„Teruskan lagi" achirnya Kang Siang Yan memberi
perentah. Kini Yan-chiu sudah mendusin. Jurus pertama
kun wan-kuan-hay tadi dilakukan dengan genah. Tapi jurus
ke dua Yang seharus „Leng wan hi kou" (orang utan
mempersembahkan buah), telah diganti begitu rupa seperti
orang main pencak cakalele, tubuhnya menurun sedikit lalu
kakinya bergantian menendang kesana-sini, Sembari main
pencak itu, ia melirik kearah Kang Siang Yan, wajah siapa
tampak berobah tenang. Heh, demikian Yan-chiu dapat
bernapas legah - lagi.
„Stop, berhentilah! Apa nama jurusmu itu?" tanya Kang
Siang Yan. Sambil menarik pulang tangannya, Yan-chiu
menyahut dengan tangkasnya: „Kata suhuku, itulah jurus
'Thian-he-bu-tek-kun'."
Dalam sepuluh tahun kemari, hati Kang Siang Yan
selalu direndam oleh kebencian, sehingga perangainyapun
berobah eksentrik. Wajahnya sedingin es, tak pernah
bersenyum. Tapi pada saat itu demi mendengar jurus
„thian-he-bu-tekkun" atau ilmu silat tiada tandingannya
didunia, pecahlah mulut Kang Siang Yan menghamburkan
tawa. „A-thau, kau dibohongi suhumu, mana didunia ada
ilmu silat macam begitu ?"
Hati Yan-chiu serasa terlepas dari tindihan sebuah batu
besar. Menuruti lagu orang, la, menyahut: „Bibi, sukalah
kau mengajari barang sejurus saja yang genah!"
Kata orang „segala apa dapat diterebos, melainkan
pantat kuda saja yang tidak". Ujar2 itu berlaku juga pada
para maha wiku dan dewa, apalagi Kang Siang Yan.
„Athau, anggap saja peruntunganmu bagus. Untuk
memenangkan pertaruhan tadi, kau bakal mendapat
keuntungan besar!" katanya. Sudah tentu Yan-chiu ter-sipu2
mengiakan. Kata Kang Siang Yan pula: „Anak itu adalah
murid Hayte-kau Bek Ing, sudah tentu menjadi kebanggaan
Hay-te-kau. Meskipun anaknya lolok (sedikit tolol), tapi
ilmu silatnya boleh juga!"
Yan-chiu heran mengapa subonya itu begitu membenci
sang suhu. Namun tak berani ia bertanya.
„Untung kepandaian dari Hay-te-kau itu, dapat kufahami
semua......" baru saja Kang Siang Yan bicara sampai disini,
Yan-chiu memberanikan diri memutusnya: „Bibi, pernah
apa kau dengan Hay-te-kau ?"
„A-thau, apa katamu ?" bentak Kang Siang Yan dengan
mata beringas. Yan-chiu leletkan lidah, menyahut: “Oh,
kutahu bibi ini tentu susiok (paman guru) dari dia, kalau
tidak masa mengetahui kepandaiannya ?”
Kang Siang Yan menghela napas panjang „Sekarang
hendak kuajarmu sebuah ihnu silacang disebut Ngo-hokkun.
Kulihat ilmu mengentengi tubuhnya cukup baik, tentu
lekas dapat. Nah, lihatlah dengan perdata!" habis berkata,
tiba2 meloncat keudara, bum....... tangannya menghantam
kebawah, puhun2 siong didekat iitu sama bergoncang dan
daunnya rontok. Kini tubuhnya me-layang2 diudara diikuti
oleh samberan angin yang men-deru2. Gayanya tak ubah
seperti seekor kelelawar yang me-nyambar2 diudara, penuh
padat dengan kelincahan dan keindahan.
Ngo-hok-kun atau silat lima ekor kelelawar terdiri dari 26
jurus. Dengan penuh perhatian Yan-chiu mencatat
semuanya itu dalam hati. Boleh dikata lebih dari separoh
bagian dia telah dapat menghafalnya. Berulang kali ia
mainkan iImu silat itu, dengan Kang Siang Yan tak
putus2nya memberi petunjuk. Tak sampai dua jam,
meskipun belum seluruhnya dapat memahami intisari
kesaktiannya, namun ia mendapatkan ilmu silat itu jauh
lebih hebat dari Leng-wan-kun. Didalam girangnya ia
segera berseru keras2: „Telur busuk”
Tio Jiang menyahut seraya keluar, disusul oleh Yanchiu,
siapa tanpa tanya ini itu terus saja lancarkan
serangannya Ngo-hok-kun yang habis dipelajari itu. Tio
Jiang memendak untuk menghindar. Demikianlah kedua
„jago" itu bersabung dengan seru. Disebelah sana sang
botoh, Kui-ing-cu dan Kang Siang Yan, melihati dengan
penuh perhatian.
Yan-chiu tahu kalau sukonya itu tak nanti akan
melukainya, maka sembari bertempur ia memikat sukonya
berada lebih jauh dari kedua tokoh aneh itu. „Suko, bikin
serie saya agar kita dapat mengeduk pelajaran mereka!"
bisik sinona.
„Siao - Ciu, Lian suci masih berada diatas karang!" sahut
Tio Jiang. Penyahutan itu telah membuat Yan-chiu
mendongkol benar, dampratnya: „Kau ini sungguh gila
basa! Mengapa otakmu penuh dengan Lian suci, saja ?
Apakah aku ini bukan seorang anak perempuan ? Mengapa
kau tak pikiri aku ?" Tapi seketika itu Yan-chiu meram,
telah keterlaluan bicara, wajahnya menjadi merah padam.
Untuk menutupi malu, dia perhebat serangannya kepada
sang suko.
Melihat perobahan itu, Tio Jiang terkesiap. Dilihatnya
gerak sang sumoay itu luar biasa juga. Selama dua jam
dengan Kui-ing-cu tadi, dia tak diajari apa2, kecuali sedikit
penjelasan tentang ilmu lwekang. Tapi ini saja cukup
membuat Tio Jiang girang bukan buatan, karena kini
pengetahuannya tambah maju, Maka diapun tak berani
mohon pengajaran lainlnya dari orang aneh itu.
Karena itu, dalam menghadapi serangan Ngo-hok-kun,
dia telah menjadi kelabakan juga. Akhirnya setelah dapat
meloloskan diri dengan susah payah, dia keluarkan ilmu
silat ajaran Sik Lo-sam. Berkat kini ilmunya lwekang sudah
dalam, jadi dapatlah dia memaksakan suatu pertandingan
seri. Sampai 3 kali Yan-chiu ulangi penyerangannya Ngohok-
kun itu, namun tetap seri. Akhirnya dia terpaksa loncat
keluar gelanggang, serunya: „Pertandingan seri, nanti kita
bertemu lagi!" Habis berkata begitu. ia lari menghampiri
Kang Siang Yan, lapornya: „Bibi, anak itu benar lihay, aku
belum dapat menjatuhkan!"
Tadi diperhatikan oleh Kang Siang Yan bahwa anak
perempuan itu benar bertempur secara mati2an. Kini demi
dilihatnya wajah Yan-chiu ke-merah2an, ia menduga tentu
penasaran, maka iapun menghiburinya: „Sememangnya,
anak itu mempunyai dasar latihan yang lebih tinggi dari
kau. Kalau kini kau sudah dapat bertanding seri, itu
menandakan bagaimana hebatnya Ngo-hok-kun. Jangan
takut, kuajari lagi lain macam!"
Difihak lain, Kui-ing-cupun tampak mengajak Tio Jiang
masuk kedalam rimba lagi. Ketika kedua „jago" itu hendak
berkelahi lagi!, haripun sudah menjelang malam. Kuying-cu
memotes dua buah dahan pohon siong yang besar, lalu
disulut untuk penerangan. Lagi2 dalam pertempuran yang
kedua kali itu, keduanya tetap main seri, Kui-ing-cu
keluarkan olok2nya, yang dibalas dengan tepat oleh Yanchiu.
Dalam kesempatan yang luang, Kui-ing-cu telah
menyusupkan kata2nya kepada Yan-chiu: „Budak, ilmu
lwekang dari wanita Itu tinggi sekali, dalam waktu sesingkat
ini tak nanti kau, dapat mempelajarinya, Tapi ia
mempunyai sebuah ilmu pedang yang sakti yalah yang
disebut Hoan-kang-kiam-hwat, (ilmu pedang membalikkan
sungai), Besok pagi hendak ku usulkan pertandingan
dengan senjata. Kau harus pura2 kalah, agar ia suka
mengajarkan ilmu pedang itu !"
Dalam dua kali bertempur itu, Yan-chiu telah
memperoleh kemajuan yang pesat sekali. Sudah tentu ia
ingin mendapat pelajaran lebih banyak lagi, maka iapun
mengangguk. Malam itu Yan-chiu diajak Kang Siang Yan
berburu kelinci hutan, yang dipanggangnya untuk dahar
malam. Untuk tempat tidur, mereka menumpuk daun
puhun. siong buat sebagai pengganti kasur.
Keesokan harinya pagi2 sekali, Yan-chiu sudah
dibangunkan Kang Siang Yan. Saat itu kedengaran Kui-ingcu
berkaok2: „Kang Siang Yan, lekas suruh jagomu keluar
menerima hajaran !"
Yan-chiu terus saja hendak maju, tapi dicegah oleh kang
Siang Yan, serunya: „Kui-ing-cu, hari ini aku belum
mengajarinya, kau mau bertanding apa ?"
„Ya, ya, benar. Dengan tangan kosong kurang menarik,
apa kau berani bertanding dengan senjata ?" balas Kuiingcu.
„Hm, mengapa tidak ?" sahut Kiang Siang Yan, tapi
sesaat itu dia teringat kalau Tio Jiang adalah murid
kesayangan Hay-te-kau. Sudah tentu anak itu faham ilmu
pedang to-hay-kiam-hwat (menjungkirkan laut). Dalam
ilmu thay-im-lian-seng, tiada terdapat pelajaran
menggunakan senjata. Untuk memenangkan pertandingan,
ia harus mengajarkan ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat
pada Yan-chiu. Setelah menentukan langkah, berkatalah ia
kepada Yan-chiu: „A-thau, ambillah setangkai dahan !"
Yan-chiu girang sekali. Perintah itu berarti ia akan diajari
ilmu pedang. Maka dengan cepatnya diapun sudah
memutus setangkai dahan puhun siong. Kang Siang Yan
beberapa kali tebaskan tangannya, hingga dahan itu kini
menjadi runcing seperti pedang. „A-thau, ilmu pedang ini,
lain dari yang lain. Aku akan memainkan lambat2, supaya
kau dapat mengerti jelas !"
Habis itu, Kang Siang Yan pindahkan dahan itu
ditangan kiri, sedang tangan kanan lalu ber-gerak2
ngimbangl. „Bibi, mengapa pedang itu dimainkan dengan
tangan kiri ?" tanya Yan-chiu.
„Benar, ilmu pedang ini memang khusus diperuntukkan
kaum wanita, gerakannya sangat halus tangkas dan harus,
dimainkan dengan tangan kiri. Sudahlah, jangan banyak
bertanya, perhatikan saja !" jawab Kang Siang Yan. Yanchiu
tak berani bertanya lagi. Tampak Kang Siang Yan berputar2
diri, ujung pedang mengacung keatas. Tiba2 sekali
berputar, ujung itu diguratkan dalam bentuk sebuah
lingkaran kecil, kemudian tak hentinya di-kibas2kan
achirnya ditusukkan kemuka. Gerakan ilmu pedang itu
memang luar biasa, maka Yan-chiupun memperhatikan
sepenuhnya.
„Jurus ini dinamakan „Pah-ong oh-kang" (baginda
Pahong. melintasi sungai Hitam). Coba kau lakukan!" kata
Kang Siang, Yan sembari berikan dahan itu kepada
Yanchiu. Setelah menirukan hampir sejam lamanya, baru
Kang Siang Yan mengajari lagi jurus kedua.
Ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat dan To-hay-kiamhwat,
adalah sepasang. Sama2 terdiri dari 7 bagian jurus.
Seperti jurus2 pada To-hay-kiam-hwat, pun jurus2 dari
Boan-kang-kiam-hwat itu mempunyai nama2 aneh, yakni:
Pah-ong-oh-kang, Kut-ji-tho-kang, It-wi-tok-kang, Kangsim-
poh-lo, Kang-cui-kiu-jiok, Kang-te-yong-cwan dan
Kang-cui-kui-tang. Baru mempelajari jurus kelima, Yanchiu
sudah setengah mati girangnya.
Melihat anak itu lekas sekali menangkap pelajaran, Kang
Slang Yanpun girang. Setelah ke 7 jurus itu diajarkan
semua, disuruhnya Yan-chiu mengulang. lagi seluruhnya.
Pada ketika Kang Siang Yan anggap permainan Yan-chiu
sudah cukup, haripun sudah dekat tengah hari. Mereka
dahar lagi santapan hasil hutan situ. Lupa Yan-chiu akan
rencananya semula. Dengan memiliki ilmu pedang yang
lihay itu nanti hendak unjuk gigi membuat kaget sang suko.
Biarkan suko itu mendapat tanda mata berupa lubang
tusukan pada bajunya. Hm....., garangnya! Kuatir waktunya
tak mengidinkan, setelah meruncingkan dahan itu lagi,
Yan-chiu loncat keluar dan berseru: „Keluarlah hai, bujang!
Biar kukirim kau ke Se-thian (akherat) !"
Biasanya ia selalu membahasakan „suko" pada Tio
Jiang, kini mendapat keaempatan bagus, berulang kali dia
memanggil „bujang atau telur busuk" sampai puas. Dalam
setengah harian itu, lagi2 Kui-ing-cu hanya memberi
penjelasan mendalam tentang ilmu lwekang, hingga makin
sempurnalah pengertian Tio Jiang akan ilmu itu.
Mendengar tantangan sinona, Tio Jiangpun lalu memotes
setangkai dahan. Tanpa sungkan lagi. Yan-chiu segera buka
serangan dengan jurus pertama „Pah-ong-oh-kang", dan
untuk itu Tio Jiang gunakan jurus „Tio Ik cu-hay" (Tio Ik
memasak laut). Sewaktu menyerang itu, tubuh keduanya
mendorong maju, tapi anehnya, kedua dahan masing2
melayang kesamping, sehingga kini mereka saling
berhadapan muka sedemikian rapatnya, se-olah2 orang
membisiki kawan seperti orang bertempur.
Yan-chiu terperanjat dan kuatir kalau2 diketahui
rahasianya oleh Kang Siang Yan. Kini buru2 dia berganti
dengan jurus Kut-ji-tho-kang (Kut Gwan mencebur
kesungai). Tapi astagafirullah! Lagi2 kedua dahan itu
masing2 lewat disisinya, bahkan kini lengan keduanya
seperti orang saling merangkul.
Yan-chiu makin heran. Jurus ketiga ia lancarkan, pun
mengalami nasib serupa saja. Demikan-jurus kelima dan
keenam. Tatkala menginjak jurus ke 7, atau jurus yang
terakhir yang semestinya merupakan jurus yang terlihay,
senjata keduanya saling berbentur. Tubuh Yan-chiu
menjorok kebelakang, sedang tangan kiri Tio Jiang tepat
menjulur kemuka dan dengan tepatnya merangkul pinggang
sumoay itu. Merah padam wajah kedua anak muda itu.
Cepat2 keduanya loncat menyingkir. „Bibi, runyam ni!"
seru Yan-chiu.
Kang Siang Yan sendiripun tak mengerti. Kang Siang
Yan mengasah otak dan tiba2 tersedarlah ia. Ternyata
sepasang ilmu pedang itu, harus dimainkan oleh pasangan
pria-wanita untuk menghadapi musuh. Dan ini baru
mengunjukkan kesaktiannya. Tapi kalau pria dan wanita
Itu saling bertempur sendiri, tiada seorangpun yang akan
dapat melukai kawannya. Sewaktu Kang Siang Yan dan
Hay-te-kau masing2 mempelajari ilmu pedang itu,. mereka
masih ber-kasih2an, jadi tak pernah terlintas dalam
pikirannya untuk bertempur sendiri. Apa lagi peraturan
perguruan menetapkan, siapa pun juga tidak boleh mencuri
lihat kepandaian saudara seperguruannya, Jadi keduanya
tak mengerti akan keindahan dari ilmupedang masing2.
Setelah menyelesaikan pelajarannya, mereka terangkap
menjadi suami isteri, jadi tak pernah bertempur. Oleh
karena itu, mereka gelap akan inti kebagusan kedua ilmu
pedang itu. Baru kini Kang Siang Yan terbuka matanya.
Memikir sampai disitu, terdengar ia menghela napas. la,
menduga, pencipta dari sepasang ilmu pedang itu, tentu
sudah mengerti akan kehidupan sepasang suami isteri atau
sepasang kekasih. Bagaimanapun juga, tetap ada
kemungkinan bahwa suami isteri itu akan timbul
perpecahan atau percekcokan. Bermula bibit itu kecil saja,
tapi jurang salah paham itu makin lama makin lebar dan
achirnya jadilah suatu pertentangan hebat. Apabila kedua
suami isteri itu sampai bertempur, masing2 tiada dapat
tercelaka. Malah kedua ilmupedang itu digubah sedemikian
rupa, sebingga dapatlah pasangan yang sedang menuruti
kemarahan hati masing2 itu, akan tersedar dan berakhir
dengan suatu perdamaian dan kerukunan kembali. Ah,
tentulah pencptanya itu seorang yang pernah mengalami
badai gelombang penghidupan didalam melayari bahtera
hidupnya.
Pikiran Kang Siang Yan melayang jauh akan masa
kehidupan suami-isteri dengan Bek Ing. Adakah disitu
terselip suatu kesalahan faham ? Ah, ia menyaksikan hal itu
dengan mata kepala sendiri, masa bisa keliru! Maka dalam
sekejab saja kenangan Itupun lenyap dalam pikirannya.
„Kang Siang Yan, bukantah kita serie namanya ? Maaf,
aku tak dapat menemani lama2 !" seru Kui-ing-cu.
„Jangan kesusu pergi dulu! Masa hanya sekali bertanding
senjata, lantas sudah!" cepat Kang Siang Yan mencegahnya,
sembari merebut dahan kayu yang dicekal Yan-chiu turut
tertarik kemuka dan jatuh, cring.........sebuah benda jatuh
keluar dari dalam bajunya. Yan-chiu menjadi pucat dan
buru2 hendak mengambilnya, tapi kalah cepat dengan Kang
Siang Yan yang sudah menyambarnya. Melihat rahasia
telah pecah, dengan gugupnya Yan-chiu mundur hampai 10
tindak seraya melambaikan tangan pada Kui-ing-cu.
Begitu melihat benda itu, wajah Kang Siang Yan
berobah murka besar. Kiranya benda itu adalah thiat-hoan
(gelang besi) pemberian Kui-ing-cu ! Gelang yang melingkar
macam ular itu, adalah ciri peribadi dari Kui-ing-cu. Setiap
orang persilatan sama memakluminya. Misalnya ketika
pertempuran diluitay gunung Gwat-siu-san tempo hari, toaah-
ko Thian Te Hwe yani Ki Ce-tiong pun mengenali benda
itu sebagai milik Kui-ing-cu, apalagi seorang tokoh macam
Kang Siang Yan.
Kini jelaslah Kang Siang Yan akan persoalannya,
Dirinya dijadikan, bulan2 sandiwara kedua orang itu, yang
maksudnya supaya ia menurunkan pelajaran silat pada
sinona. Sudah tentu marahnya bukan kepalang, sehingga
seluruh rambut kepalanya sama menjingkrak lempang.
Dalam wajahnya yang cantik itu, terlihat juga raut muka
yang menyeremkan orang. „Setan cilik, besar sekali
nyalimu ya ?!"
Yan-chiu mundur lagi sampai sepuluhan. tindak, namun
Kang Siang Yan menyeringai seram: „Setan cilik, kau naik
kelangit, aku susul kelangit. Kau masuk kebumi aku kejar
kesana. Apa abamu ?"
Kini Yan-chiu yang main mundur itu sudah. tiba
disamping Kui-ing-ciu. „Lo-cianpwe, tolonglah aku!"
serunya dengan meratap. Tapi Kui-ing-cu siorang aneh itu
malah terkekeh-kekeh, sahutnya: „Apa bukan 'telur busuk'
lagi ?"
Melihat sorot mata Kang Siang Yan memancar buas dan
sikapnya sudah siap menyerang, wajah Yan-chiu menjadi
pucat, dia meratap gugup sekali: „Lo-cianpwe, jangan
bergurau lagi!" ,
“A-thau, kemana larinya kecerdasanmu biasanya itu ?"
balas Kui-ing-cu dengan tenang2. Memang karena jeri akan
kesaktian Kang Siang Yan, Yan-chiu sudah menjadi
ketakutan sedemikian rupa. Sepatah kata darl Kui-ing-cu itu
telah menyadarkannya. Resiko itu, dia sendiri yang harus
menghadapinya, karena toh ia sendiri yang berbuat. Sesaat
itu timbullah nyali ya. Dengan mendapat ketenangannya
lagi, ia berseru, kepada Kang Siang Yan: „Subo, lain kali
aku sungguh tak berani lagi!" ,
Mendengar dirinya disebut „subo" (ibu guru), Kang
Siang Yan termangu. Diam2 dia anggap gadis itu keliwat
cerdik sehingga dirinya, sampai kena dikelabui mentah2.
Pertama kali sewaktu mempertunjukkan ilmu silat Langwan-
kun, memang ia sudah curiga, Tapi karena pandainya
gadis itu mainkan rolnya, sehingga kini dengan serta merta
ia telah turunkan pelajaran yang sakti2. Kalau dulu,
mungkin Kang Siang Yan akan menyudahi begitu saja
urusan itu, tapi kini setelah kemasukan hawa jahat dari
ilmu thay-im-lian-seng, sudah menjadi kerangsokan setan.
Sekali bergerak tampak dia melesat kearah Yan-chiu, Kui
Ing-cu dan Tio Jiang. Melihat sikapnya, ia tentu akan
menyerang. Tapi entah bagaimana, terpisah tujuh delapan
tindak jauhnya, tiba2 ia berhenti dengan serentak. Benar2 ia
telah menguasai puncak kesempurnaan ilmunya, sehingga
„kalau bergerak seperti kelinci, jika diam bagaikan gunung",
artinya ia dapat menguasai gerak-geriknya dengan tepat.
Yan-chiu bertiga kagum sekali atas gerakan wanita tersebut
yang mengunjuk sampai dibatas mana ilmu lwekangnya.
Kui-ing-cu tahu kalau wanita itu amat murka, sehingga
wajahnya sedemikian pucat. Sahutnya: „Kedua anak ini
mengakui kau sebagai subo. Dalam pertemuan pertama,
seharusnyalah kalau memberi sedikit hadiah, mengapa kau
begitu pelit ?"
Kang Siang Yan termenung diam. Memang peristiwa
pertengkarannya dengan sang suami, sudah menjadi buah
tutur orang persilatan. Walaupun begltu, tak mau ia
menerangkan kepada Kui-ing-cu. Dalam keheningan
suasana itu, tiba2 Kui-ing-cu ulurkan tangan mencubit
lengan Yan-chiu, sehingga nona itu menjerit kesakitan.
Kang Siang Yan terkesiap, adalah detik2 kesiap itu, secepat
kilat Kui-ing-cu melesat kearahnya dan tahu2 Kang Siang
Yan rasakan matanya ber-kunang2. Tahu ia kalau orang
telah menyerang dengan tiba2, hal mana telah
menimbulkan kegusarannya. Tak kurang sebatnya, ia
menebas dengan thay-im-ciang yang tak bersuara itu.
Kui-ing-cu takut kalau Kang Siang Yan menghancurkan
gelang besinya itu. Gelang besi itu merupakan ciri
peribadinya, dengan dirusak orang, hilanglah mukanya.
Maka tadi dia telah nekad untuk merebutnya. Tapi
perbuatan itu telah menimbulkan kemarahan Kang Siang
Yan. Kalau kepandaian Kang Siang Yan lemah, tentu. Kuiing-
cu akan dapat mencapai maksudnya, tapi wanita itu
setingkat kepandaiannya dengan dia, malah ilmunya thayim-
ciang luar biasa berbahayanya karena tidak
mengeluarkan suara hingga orang sukar untuk menolaknya.
Baru tubuh keduanya berbentur sejenak, atau secepat itu
pula sudah saling berpencar lagi. Benar gelang telah
terampas oleh Kui-ing-cu, tapi pundaknyapun kena
terbentur dengan samberan pukulan thay-im-ciang.
Bagaimana lihaynya, terpaksa dia menggigil juga tubuhnya.
Itu saja dia hanya terkena separoh bagian dari pukulan
maut tersebut. „A-thau, sambutilah ini !" serunya
melemparkan gelang besi kepada Yan-chiu. Habis itu, dia
lalu duduk bersila mengambil napas. Kang Siang Yan
memandangnya dengan menyeringai, ujarnya : „Kui-ing-cu,
kau telah termakan thay-im-ciangku, kalau kuhajar lagi
dirimu, adalah semudah orang membalik telapak tangan.
Tapi kau tentu tak mau mengaku kalah. Kalau kau masih
mau mengukur kepandaian, tunggulah sampai 7 hari, lagi!"
Kata2 itu ditutup dengan,sebuah tawa dingin.
Melihat tiang-pelindungnya terluka, Tio Jiang dan Yanchiu
sangat terperanjat. Tio Jiang menyembat sebatang
dahan puhun sebesar lengan, melangkah kehadapan
sumoaynya, hal mana telah membuat sinona sangat
berterima kasih.
Biasanya ia sangat cerdas, tapi entah bagaimana pada
saat itu otaknya macet, tak dapat memikir jalan lolos.
Tampak ia kepalkan kedua tangannya sendiri yang basah
dengan keringat itu.
Kang Siang Yan perdengarkan suara ketawa, yang
kumandangnya makin dekat. Dan berbareng dengan itu
Kang Siang Yan loncat - merangsangnya. Tio Jiang
menyambut dengan sebuah tusukan dahan kayu tadi, tapi
sesaat itu Juga sikunya terasa dipijat keras dan tahu2 dahan
itu sudali pindah ketangan Kang Sang Yan, siapa sudah
loncat beberapa tindak kebelakang. „Kalian berdua ini,
tidak berharga membikin kotor tanganku! A-thau, lekas
kembalikan kepandaianku tadi. baru nanti kuampuni!"
serunya kepada Yan-chiu, lalu gerakkan. dahan kayu tadi
yang secepat kilat sudah lantas melayang kearah Yan-chiu.
Yan-chiu mau menghindar, tapi sudah tak keburu lagi, sret
.......dahan kayu itu menancap masuk kedalam sebuah batu
karang yang berada beberapa centi dimukanya. Tangkainya
tak henti2nya bergoncang !
Saking takutnya, Yan-chiu mengucurkan keringat dingin.
„Lekas lakukan sendiri!" kembali Kang Siang Yan
membentak yang dimaksud dengan „mengembalikan Ilmu"
yalah suruh Yan-chiu mengutungi sendiri kaki tangannya,
sehingga menjadi seorang invalid. Kui-ing-cu terluka,
sedang ia dan sukonya bukan lawan wanita itu. Saking
bingungnya, ia lalu menangis, ratapnya : „Subo, aku
berjanji tak gunakan kepandaian dari ajaranmu tadi. Kalau
harus mengutungi kaki tangan, artinya pelajaranku sendiri
dulu juga turut hilang, bukantah ini tak adil !"
Yan-chiu masih berusia muda, jadi lugu pembicaraannya
itu pun masih mengunjuk sifat kanak2. Dalam menghadapi
ancaman sehebat itu, kata2nya masih lucu kedengarannya.
Juga Tio Jiang tak kurang kagetnya. Dia menghampiri dan
dengan kerahkan tenaganya, cabut dahan kayu yang
menancap pada karang tadi. Kala mendengar ratapan Yanchiu,
diapun tergetar hatinya. Dipandangnya wajah Kang
Siang Yan untuk mengharap kemurahan hatinya, namun
agaknya hati Kang Siang Yan sudah membatu. „A-thau,
berani berbuat berani menanggung resiko. Kalau berayal
dan sampai aku terpaksa turun tangan, akibatnya akan lebih
hebat !" serunya.
Kali ini Tio Jiang tak kuasa menahan perasaannya lagi!.
Mulutnya menyatakan apa yang dirasa oleh sang hati,
”Subo, Siao Chiu sudah berjanji tak akan menggunakan
pelajaran darimu, mengapa kau mendesaknya ? Masakan
orang tak dapat menerima perasaan orang ?" serunya
dengan tabah. Mendengar itu, Kang Siang Yan mendongak
tertawa, rambutnya menjigrak kencang, lalu dengan suara
yang bagaikan guntur menyambar, berkata: „Kalau aku tak
mau menerima, habis kau mau apa ? A-thau, lekas kerjakan
sendiri!"
Tio Jiang segera angsurkan dahan kayu tadi pada Yanchiu,
siapa kedengaran bertanya dengan heran: „Suko,
adakah kau juga maukan aku melakukan perentah itu ?"
Tio Jiang membungkuk untuk mengambil sebatang
ranting kecil sera ya berbisik: „Siao Chiu, sedikitnya kita
berharap dapat bertahan sampai beberapa jurus!"
„Suko, mana kita bisa menandinginya ?" ,
„Itu bukan soal, asal kita tak mati sia2!"
Tanya jawab itu didengar juga oleh Kang Siang Yan. Dia
benci kepada sang suami karena suaminya itu dianggap
berlaku pengecut. Bahwa TIo Jiang telah berlaku gagah
untuk melindungi sumoaynya, ia terpikat Juga. „Baiklah,
biar aku mengalah sampai 3 jurus!" serunya dengan tertawa
dingin.
Tiga jurus, mungkin ada perobahan, demikian pikir Yanchiu
siapa terus pindahkan „pedang" ketangan kiri, lalu
membuat sebuah gerakan hingga menerbitkan lingkaran
sinar. Habis itu, maju selangkah ia menusuk dengan gerak
jurus Hoan-kang-kiam-hwacang pertama yakni Pah-ong-ohkang.
Ilmu pedang itu baru saja ia pelajari dari Kang Siang
Yan. Melihat sumoaynya sudah bertindak, Tio Jiang pun
maju dengan serangannya Thio-Ik cu-hay. Sepasang ilmu
pedang yang sakti, saling bertemu pula dalam menghadapi
bahaya. Yang satu dari kanan dan yang lain dari kiri,
berbareng menyerang dengan serentak.
Untuk serangan pertama itu Kang Siang Yan sesuai
dengan janjinya, hanya menghindar kesamping, sehingga
serangan kedua anak muda tadi menemui tempat kosong.
Tio Jiang tak mau buang tempo, secepat kilat merobah
gerakannya dengan jurus Boan-thian-ko-hay, ujung kayu
menuju kearah tenggorokan Kang Siang Yan, sedang
berbareng itu Yan-chiupun lancarkan jurus kedua Khut-jitho-
kang. Dua buah serangan itu merupakan pasangan yang
tiada bandingannya lagi, yang satu menyerang yang lain
bertahan.
Tapi kepandaian Kang Siang Yan sudah mencapai
tingkat yang sukar diukur. Dengan hanya melangkah
setindak, dapatlah ia menghindar. Tapi Tio Jiang tetap
membayangi, dengan sebuah serangan lagi. Sedang disana
Yan-chiupun sudah memutar tubuh lalu menyerang dari
belakang Kang Siang Yan. Satu dimuka satu dibelakang.
Sinar pedang me-lingkar2, perbawanya hebat benar. Sekali
kurang cepat, lengan baju Kang Siang Yan telah kena
tertusuk oleh dahan Tio Jiang, baru ia enjot tubuhnya
loncat melewati kedua samberan pedang lawan.
Pengalaman itu telah memaksanya berpikir dan
mengakui betapa kehebatannya sepasang ilmu pedang. itu,
Misalnya kedua anak muda itu yang dalam tingkat
kepandaian masih kalah beberapa kali lipat ganda darinya,
namun sekali kurang hati2, hampir saja tadi ia terluka.
Terkenang ia akan mesa kejayaannya ber-sama2 sang suami
menjagoi dunia persilatan. Selama itu belum pernah ia
mendapat tandingan. Tapi kini hanya tinggal ia seorang diri
dan memikir sampai disini, kemarahannya berkobar lagi,
serunya: „Tiga jurus sudah lampau, aku yang turun tangan
atau kau mengerjakan sendiri'"
Waktu ujung dahannya menusuk lengan baju Kang
Siang Yan, Tio Jiang rasakan ada suatu tenaga dahsyat
menyampoknya. Mau tak mau Tio Jiang harus mengakui
betapa hebat ilmu lwekang sang subo itu. Jangankan hanya
dia dan Yan-chiu, sekalipun ditambah 20 orang lagi,
rasanya masih belum mampu melawannya. Tapi karena
urusan sudah sampai sekian macam, lebih baik terus
menggempur daripada melihat sang sumoay kutung kaki
tangannya, Maka iapun segera memberi isyarat Yan-chiu
untuk menyerang lagi.
Dengan perdengarkan suara tawa dingin, lengan baju
Kang Siang Yan mengibas kemuka Yan-chiu dan tahu2
tangannya sudah mencekal dahan Yan-chiu, terus hendak
menariknya. Tapi berbareng itu, Tio Jiang sudah
menusukkan dahannya kejalan darah thian-tho-hiat
ditenggorokannya, sehingga terpaksa Kang Siang Yan
memutar balik tubuhnya. Kesempatan itu digunakan Yanchiu
untuk menarik kembali dahannya, inilah kesaktian dari
sepasang ilmu pedang itu.
Tapi kini Kang Siang Yan tak mau memberi kesempatan
kedua anak muda itu untuk melancarkan jurus ke 5. Sang
tangan baju mengebut, dan Yan-chiu rasakan dirinya
tertindih oleh sebuah tenaga dahsyat, sehingga dadanya
hampir susah untuk bernapas. Tak berani ia menangkis,
melainkan buru2 mundur. Tio Jiang buru2 maju menolong,
tapi jarak keduanya agak jauh, sehingga sepasang ilmu
pedang itu hilang daya gunanya. Kang Siang Yan tiba2
berputar kebelakang, kelima jarinya yang bagai kait besi itu
menerkam dan Tio Jiang rasakan tangannya sakit, lalu
buru2 mundur kebelakang. Tapi dahannya sudah berpindah
ditangan Kang Siang Yan, siapa dengan melintir beberapa
kali saja telah membuat dahan sebesar lengan itu hancur
lebur seperti bubuk. Sekali menekan, dahan itu patah
menjadi beberapa kutung kecil.
Melihat yan-chiu terpisah jauh dari Kang Siang Yan, Tio
Jiang menereakinya: „Siao Chiu, lekas, lekas lari!" Yanchiu
tak mengerti apa maksud sang suko, tapi sekonyong2
Tio Jiang menyerang Kang Siang Yan dengan nekadnya.
Kini baru Yan-chiu tersadar akan maksud yang mulia dari
sukonya itu. Dia rela berkorban supaya sumoaynya
selamat.
Adakah seorang lelaki yang berhati lebih mulia dari itu ?
Dia rela binasa, untukku, mengapa aku berlaku pengecut ?
Demikian Yan-chiu mengambil keputusan. „Jiang suko,
biarlah kita mati ber-sama2!"
Sahut menyahut itu terdengar oleh Kang Siang Yan,
siapa menduga kalau kedua anak muda itu adalah sepasang
kekasih. Waktu Tio Jiang merangsang maju, ia kebutkan
lengan baju dan se-olah2 ada sebuah dinding tembok kuat
menghadang, hingga Tio Jiang tak dapat menobros dekat.
Waktu melihat sang sumoay tak mau lari, hati Tio Jiang
makin gelisah. Ber-ketes2 peluh mengucur dari kepalanya,
urat2 didahinya pada menonjol.
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 18 : TELUR DIUjUNG
TANDUK
Adalah karena menganggap kedua anak muda itu
sepasang kekasih, maka Kang Siang Yan tergetar hatinya,
maka dia tak mau balas menyerang sianak muda.
Pikirannya terkenang akan sang suami yang begitu mesra
sekali kasih sayangnya, namun dalam saat2 berbahaya, dia
telah berlaku begitu pengecut. la menghela napas dalam.
Sepasang tangannya yang sedianya sudah siap dilancarkan
kepada sepasang gadis dan jejaka itu, diturunkan pula.
Melihat kesempatan itu, Tio Jiang melesat kearah Yanchiu.
Betapa tajam biasanya mulut Yan-chiu itu, namun
dalam saat2 yang mengharukan itu, ia segera menyongsong
kedatangan Tio Jiang itu dengan getaran jiwa raganya.
Kepalanya disusupkan kedada sang suko, air matanya
membanjir dengan suara sedu-sedan.
Kang Slang Yan termenung melihatnya. Pertama, waktu
nampak pemuda itu maju kehadapan untuk melindungi
Yan-chiu, ia sudah symphati. Kemudian, waktu
menyaksikan pemandangan yang tragis romantis itu,
hatinyapun mengiri. Turut perasaannya dia tak mau
melukai nona itu, tapi sang napsu amarah tetap mengatakan
bahwa biar bagaimana nona yang sudah berani menipu
pelajarannya itu, harus dihukum. „A-thau, apa kau masih
membangkan tak mau melakukan perentahku tadi ?"
tanyanya kemudian. Tapi berbareng itu, disebelah sana
tampak Kui-ing-cu sudah berbangkit bangun. Kecuali
wajahnya yang agak pucat, nampaknya dia tak kena apa2.
Kang Siang Yan yakin bahwa ilmunya thay-im-ciang
tadi, walaupun hanya mengenai separoh, tapi biar
bagaimana lihaynya orang tentu harus memerlukan 7 hari
untuk bisa sembuh kembali. „Kui-ing-cu, apakah kau
hendak membantu lagi pada, kedua bocah itu?" tanyanya
dengan sinis.
Kui-ing-cu tertawa, sahutnya: „Kang Siang Yan, benar2
lihay ilmu thay-im-ciang mu itu! Mungkin yang menjagoi
dalam dunia. Rupanya seluruh kepandaian dari Hu Liong
Po, telah kau warisi semua. Sayang seorang sakti seperti Hu
Liong Po itu tiada meninggalkan. keharuman nama, oleh
karena perjalanan hidupnya. Kang Siang Yan,
renungkanlah!"
Seharusnya orang akan tergerak hatinya mendengar
nasehat mas dari Kui-ing-cu itu, namun Kang Siang Yan
tetap berhati batu. „Perlu apa dengan etiket kosong itu ?"
sahutnya dengan mengejek.
„Baik, kalau kau turut kemauanmu dewek, asal kami
bertiga tua-muda ini bersatu, kaupun takkan berbuat banyak
!" kata Kui-ing-cu dengan nada berat. Tapi belum Kang
Siang Yan menyahut, dari balik gunung sana kedengaran
suara orang bersenandung: „Mengapa bersitegang leher
mencari menang, damai adalah jembatan menuju
kebahagiaan!"
Nampaknya senandung itu lelah dan lamban, tapi setiap
patah kata me-lengking2 bagaikan martil memukul batu.
Tio Jiang dan Yan-chiu heran, tapi tak mengetahui letak
keistimewaan suara itu. Lain halnya dengan Kang Siang
Yan dan Kui-ing-cu yang segera sama2 terperanjat, karena
suara itu diucapkan oleh seorang ahli lwekang yang tinggi
sekali tingkatannya. Kalau ditilik dari tingkat
kepandaiannya, mungkin orang itu adalah Ang Hwat cinjin
dari gunung Ko-to-san. Tapi kalau ditinjau dari senanjung
itu, terang bukan. Ah, entah kawan entah lawan. Begitulah
kedua tokoh lihay itu me-nimang2 sembari ber-siap2.
Seorang hweshio tua yang wajahnya bercahaya merah,
tubuhnya tinggi besar, mengenakan jubah pertapaan kain
macao kasar, telanjang kaki dan mencekal sebatang tongkat
timah yang melebihi tinggi orangnya, nampak berjalan pelahan2
keluar dari balik gunung. Setindak demi - setindak ia
melangkah dengan tenang tapi kokoh laksana sebuah
gunung. Waktu sudah dekat, nampak bagaimana sepasang
alisnya yang sudah putih semua itu menjulai panjang
sampai tiga dim. Rambut janggutnya jarang, hingga
kelihatan tegas daging janggutnya. Per-tama dia
memandang kearah Tio Jiang dan Yan-chiu, habis itu lalu
berputar diri menghadap Kang Siang Yan, ujarnya: „Siancay....,
siancay....! Sepuluh tahun tak berjumpa, kiranya litham
(anda) sudah berubah banyak !"
Sewaktu hweshio itu tadi muncul dari balik gunung,
agaknya ingat2 lupa Kang Siang Yan sudah pernah
mengenalnya. Kini demi mendengar kata2nya, ia tak
merasa sangsi lagi. Itulah suhu dari ketua kedua Thian Te
Hui Kiau To yang disebut Tay Siang Siansu dari gereja
Liok-yong-si di Kwiciu. „Bagus, toa-hweshio !" seru Kuiing-
cu. Tay Siang Siansu berpaling, setelah mengawasi
sejenak, dia berkata: ”Andapun sudah terluka, apakah tak
tahu ?"
„Benar, toa-hweshio, adakah kau mempunyai daya ?"
tanyanya seraya diam2 mengagumi kepandaian sihweshio
tua itu.
Tay Siang merogoh kedalam baju dan menyerahkan
sebutir pil pada Kui-ing-cu, siapa dengan kegirangan sekali
sudah lantas menelannya.
„Tay Siang Siansu, orang agama mengapa suka usilan ?
Lekas menyingkir, jangan mengganggu aku!" bentak Kang
Siang Yan dengan murka.
Kembali sihweshio rangkapkan kedua tangannya,
menyahut dengan tenang: „Siancay......! Sepuluh tahun
yang lalu pinceng pernah menerima ajaran dari kalian.
Ketika menderita kekalahan, bermula pinceng menyiksa diri
untuk berlatih lagi guna membalas sakit hati. Tapi ternyata
pelajaran Hud (Budha) itu tiada batasnya. Nyonya,
sekalipun kau sekarang tusuk tubuhku beberapa kali,
akupun tak nanti membalasnya !"
Ucapan itu merupakan sumber air dingin yang
mengguyur tubuh Kang Siang Yan. Heran ia mengapa
orang begitu meremehkan akan dendam kesumat ? Jadi
terang ilmu lwekang thay-im-lian-seng itu berlawanan
dengan ilmu lwekang kaum Hud dari Tay Siang Siansu.
Cara jalan pikirannyapun, berbeda sekali. Petuah dari
hweshio tua itu, menggetarkan sanubari orang, tapi sayang
jiwa Kang Siang Yan telah keliwat mendalam diracuni
dengan thay-im-lian-seng yang jahat itu.
„Kau tak menyalahi padaku, mengapa aku harus
mengusikmu ? Budak ini telah menipu pelajaranku, maka
akan kumintanya mengembalikan!" serunya sembari terus
enjot diri kearah Yan-chiu.
Kui-ing-cu cepat2 hadangkan lengannya. Tapi gerakan
Kang Siang Yan sebat, sekali. Luput yang pertama, ia
melejit lagi kesamping sinona terus mencengkeram jalan
darah tay-tong-hiat dipunggungnya.
Yan-Chiu rasakan tubuhnya kedinginan sekali, sehingga
giginya kedengaran gemerutuk. Buru2 ia loncat kemuka,
tapi Kang Siang Yan tetap membayangi. Kemana Yan-chiu
hendak menghindar, kesitu punggungnya selalu masih
dilekati tangan Kang Siang Yan. „A-thau, jadi kau minta
aku turun tangan ?" serunya. Yan-chiu tak dapat berkutik
lagi, hanya sepasang matanya mengawasi kearah Kui-ingcu.
Kui-ing-cu hilang akal. Tadi bermula dengan munculnya
Tay Siang hweshio yang pernah terikat permusuhan dengan
suami isteri Kang Siang Yan - Bek Ing itu, dia kira bakal
terjadi perobahan. Tiada kira setelah 10 tahun mengisap
pelajaran Hud itu, Tay Siang telah berobah menjadi seorang
yang tawar akan segala dendam kesumat. Dia sendiri
merasa belum sembuh sama sekali. Benar tadi telah
menelan pil sam-kong-tan dari Tay Siang Siansu, tapi juga
masih memerlukan suatu waktu yang tertentu, baru dapat
pulih betul2. Atas pandangan minta dikasihani dari Yanchiu
tadi, dia terpaksa tak dapat berbuat apa kecuali tertawa
kecut.
Ternyata Kang Siang Yan telah gunakan thay-im-ciang
untuk menekan punggung Yan-chiu, siapa sudah tentu tak
kuat menahannya. Tubuhnya serasa demam, giginya
menggigil bergemerutukan. Wajahnya berobah menjadi kehijau2an.
Beberapa kali Tio Jiang hendak maju menerjang,
tapi setiap kali dengan hanya mengebutkan lengan baju
Kang Siang Yan telah dapat menggebahnya. Beberapa
jenak kemudian, tampak Yan-chiu sudah kepayahan,
serunya: „Kaum agama mengagungkan welas asih, tapi kau
hweshio, apakah benar2 tegah melihati aku mati ?"
Tay Siang Siansu mengawasi sejenak, lalu menghela
napas, ujarnya: „Sian-cay........, nona kecil itu benar2 tak
kuat menahannya, harap nyonya suka sudahi hukuman
itu'."
”Kalau aku tak melepaskannya, habis mau apa?" Kang
Siang Yan tertawa dingin. Adalah karena tanya jawab itu,
Yan-chiu makin bertambah kesakitan. Melihat itu Tay
Siang segera ulurkan tongkatnya kepada Yan-chiu: „Nona
kecil, peganglah ini "
GAMBAR 41
„Pegang ini !" mendadak Tay Siang Siansu mengulurkan
tongkatnya kepada Yan-chiu hingga anak dara itu mendadak
merasa semacam tenaga hangat mengalir ketubuhnya melalui
tongkat itu.
Yan-chiu menurut. Dari tongkat timah itu dirasanya ada.
Hawa hawa hangat mengalir kelengannya lalu menjalar
keseluruh tubuh. Melihat datang bintang penolong yang
berupa penyaluran lwekang melalui tongkat, Yan-chiu
makin memegang erat2 tongkat itu. Wajahnyapun tampak
agak tenang. Melihat itu, Kui-ing-cu menjadi girang, tapi
sebaliknya Kang Siang Yan murka sekali. Sebenarnya tadi
ia tak ingatan hendak melukai sungguh2, tapi kini
berobahlah pendiriannya.
„Kepala gundul, jadi kau mau menolong jiwa budak ini
?" tanyanya dengan bersenyum iblis. Dan sesaat itu Yanchiu
rasakan hawa dingin tadi merangsang lagi. Tahu ia
kalau Kang Siang Yan perhebat tenaga lwekangnya. „Toahweshio,
aku merasa dingin lagi": serunya dengan gugup.
Tay Siang Siansu kedengaran menghafal ayat kitab Hud
(Buddha) dan Yan-chiu segera rasakan hawa hangat pula.
Tapi tak lama kemudian, tekanan thay-im-ciang
merangsang hebat lagi. Dengan begitu Yan-chiu telah
menjadi „medan pertarungan" lwekang yang hebat.
Tay Siang tak menduga kalau Kang Siang Yan berhati
seganas itu. Kini urusan sudah runyam betul, ibarat orang
naik kepunggung harimau, maju mundur serba salah. Kalau
dia tak perhebat saluran lwekangnya, Yan-chiu tentu tak
kuat. Tapi kalau dia perhebat salurannya, Kang Siang Yan
pun tentu memperhebat tekanannya juga. Dengan
dirangsang hawa panas dingin begitu, wajah Yan-chiu pun
sebentar merah sebentar pucat. Darahnya serasa bergolak
kencang sedang pekakas dalamnya serasa bergoncang
hebat.
Tahu juga Tay Siang Siansu, dalam beberapa saat
kemudian tentu Yan-chiu akan tak kuat menderita lagi.
„Nyonya, mengapa harus merusakkan tubuh nona kecil ini
?" katanya demi kasihan atas keadaan Yan-chiu. Tapi Kang
Siang Yan sudah dirangsang kemarahan, tak mau
menyahut omongan orang. Tay Siang Siansu tak gentar
menghadapi lwekang Kang Siang Yan, tapi yang jadi
korban adalah Yan-chiu sendiri nanti. Begitupun pikiran
Kui-ing-cu, dan Tio Jiang yang sibuk tak keruan sendiri itu.
Kalau keduanya turut mencekali tongkat itu, tentu dapat
menambah tekanan fihak Tay Siang, tapi jiwa Yan-chiu
pasti akan melayang! Tio Jiang putar otaknya keras2,
akhirnya dia menemui jalan, serunya dengan pilu: „Lian
suci....., Lian suci......! Siao Chiu mendapat kesukaran dan
aku tak dapat tinggal diam. Kalau aku sampai binasa,
jangan persalahkan aku !"
Sehabis berseru itu, dia merogoh keluar peniti kupu2
lalu, disisipkan ketangan Kui-ing-cu,, katanya: „Locianpwe,
peniti ini adalah milik seorang nona bernama Bek
Lian. Apabila jiwaku melayang didasar lembah ini, tolong
cianpwe serahkan benda itu padanya serta sukalah
sampaikan pesanku terakhir kepadanya: „Sekalipun dalam
kehidupan sekarang tak beruntung terangkap menjadi
suami-isteri, tapi pada penjelmaan kemudian, kita berdua
tentu akan tetap berdampingan."
Habis meninggalkan pesan, dia menerjang dengan
sepasang tangan menyerang Kang Siang Yan. Belum
orangnya tiba, angin pukulannya sudah men-deru2. Begitu
merangsang maju, dia tutuk jalan darah wi-tiong-hiat sang
subo. Karena kaget Tio Jiang meneriaki nama Lian suci,
Kang Siang Yan berpaling kebelakang. Dan melihat Tio
Jiang mengeluarkan peniti kupu2, wajahnya terkesiap.
Hendak ia mengucap sesuatu, tapi Tio Jiang telah
merangsangnya begitu kalap, sehingga terpaksa ia
menggeser setengah tindak, lalu hantamkan sebelah
tangannya, bum............. dalam jarak hanya 3 tindak
jauhnya mendapat pukulan thay-im-lian-seng, Tio Jiang
mengira kalau jiwanya pasti melayang. Tapi aneh, ketika
dia menarik napas, ternyata tak merasa sakit apa2. Tapi
oleh karena dia sudah mengambil keputusan nekad untuk
mengadu jiwa, maka dengan kalap dia ulangi. lagi
serangannya. „Budak, dari mana kauperoleh peniti kupu2
itu ?" bentak Kang Siang Yan.
Atas bentakan itu, Tio Jiang merandek, sahutnya:
„Pemberian Lian suci !"
„Ngaco belo!" bentak Kang Siang Yan pula.
”Lian suci telah mengikat jodoh denganku, peniti kupu2
ini sebagai panjarnya, mengapa ngaco belo?" tanya Tio
Jiang dengan ke-malu2an. Mendengar itu, hati Kang Siang
Yan tergetar dan karena itu, tekanannya agak kendor.
Sekali didesak oleh lwekang Tay Siang Siansu akhirnya
tangan itu terlepas dari punggung Yan-chiu.
Walaupun keadaannya sudah antara, sadar dengan tiada,
namun pikiran Yan-chiu masih agak terang. Demi
punggungnya dirasakan longgar, cepat2 ia loncat kemuka,
terus berdiri diantara sihweshio dan Kui-ing-cu. Dipalu
lwekang panas-dingin tadi, sebenarnya Yan-chiu sudah
mendapat luka dalam. Maka ketika ia loncat kemuka,
serasa bumi yang dipijaknya itu ber-putar2, wajahnya pun
kelihatan pucat lesi. Sekali menjerit keras, rubuhlah ia tak
ingat orang.
„Siancay....., siancay........! Karena loceng keliwat usil
nona kecil ini sampai terluka, loceng tak boleh berpeluk
tangan!" kedengaran Tay Siang Siansu menghela napas
seraya melangkah maju mengangkat tubuh Yan-chiu lalu
dibawa pergi. Kang Siang Yan hendak mengejar, tapi ia
berpaling kebelakang mengawasi Tio Jiang tanyanya:
„Lian-ji terang ber-kasih2an dengan seorang pelajar
ganteng, masa bertungangan padamu ? Lekas katakan !"
Setelah Yan-chiu terlepas dari bahaya, hati Tio Jiang
legah sekali. Kini tak gentar lagi dia menghadapi
pertanyaan Kang Siang Yan, maka soal pertungangan itu
dituturkannya, begitu pula semua pengalamannya dengan
Bek Lian. Sewaktu mendengar Bek Lian lepas hui-to
sehingga Tio Jiang sampai jatuh kedalam lembah situ,
murkalah Kang Siang Yan. „Jadi kau maksudkan puteriku
itu seorang yang boceng, tak kenal cinta tak tahu membalas
budi ?"
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 19 : IBU DAN ANAK
”Bukan, kukira Lian suci tentu kena ditipu oleh orang
she The itu, yang berusaha hendak memikatnya. Lian suci
bukan seorang yang tak tahu budi !" sahut Tio Jiang dengan
sejujurnya. Kang Siang Yan mengawasi tajam2 pada anak
muda yang tampaknya ke-tolol2an itu. Pikirnya, ketika
didalam goa tempo hari dengan mata kepala sendiri ia
saksikan Bek Lian bersama-sama dengan The Go, mereka
sangat berkasih2an nampaknya. Mengapa kini anak itu
menggigau begitu ? Tapi kalau tidak, mengapa anak itu
menyimpan peniti kupu2, yang terang adalah miliknya
(Kang Siang Yan) yang diserahkan pada Bek Lian? Sikap
dan wajah anak itu, menunjukkan seorang yang jujur, jadi
tentu tak berbohong. Akhirnya ia menarik kesimpulan,
disitu tentu ada persoalannya. „Dimana sekarang Lian-ji ?"
„Diatas puncak karang lembah ini," sahut Tio Jiang
seraya menuding keatas, ”karena melihat ia hendak bunuh
diri loncat kebawah lembah, maka aku buru2 loncat hendak
mencegah, tapi telah diserang jatuh olehnya dengan
timpukan hui-to."
„Hem........." kedengaran Kang Siang Yan menggerutu
terus menarik lengan Tio Jiang diajak keatas gunung, tanpa
menghiraukan Kui-ing-cu lagi.
Lembah itu ternyata curam dan gundul, hanya tumbuh
beberapa tanaman kecil dan sedikit rotan. Tiba2 Kang Siang
Yan mengangkat tubuh Tio Jiang lalu dengan secara
mengagumkan sekali bagai seekor cecak merayap, ia
merayap naik keatas. Tio Jiang merasa seperti melayang
diudara, angin dan kabut silih berganti lalu disisihnya. Tak
antara lama kemudian, sinar matahari makin terang
benderang, jadi tentu sudah hampir tiba diatas puncak
lembah. Tiba2 serasa dia dilemparkan oleh Kang Siang Yan
keatas, maka buru2 ia gunakan gerak „burung merpati
membalik badan" dan tepat jatuh berdiri diatas tanah.
Menyusul Kang Siang Yan pun tampak melayang naik.
Tio Jiang dapatkan tempat itu adalah karang yang
kemarin ditempati oleh Bek Lian. Tapi heran, mengapa kini
sucinya itu tiada tampak disitu ?
„Lian suci......! Lian suci......!" dia segera berteriak
dengan cemas. Tiba2 didengarnya dari balik sebuah batu
besar, ada suara orang menangis. Setelah memandang
sejenak pada Kang Siang Yan, dia bergegas menghampiri
kesana. Ha.....!, kiranya disitu terdapat seorang nona cantik
tengah menangis sembari separoh ber-jongkok. „Lian
suci......, aku datang, subopun juga!" serunya dengan
kegirangan.
Pe-lahan2 Bek Lian mendongak, ah......, mungkin sehari
semalam ini ia terus menerus menangis sehingga sepasang
biji matanya benjul begap.
„Lian suci.....," bisik Tio Jiang sambil berjongkok,
„apakah Cian-bin Long-kun menghinamu ?"
„Plak......!" tepat kata2 itu berhenti, tepat mukanya
ditampar Bek Lian, sudah tentu Tio Jiang ke-heran2an.
„Sudahku, katakan jangan datang kemari, mengapa kau
berani datang ?" bentak Bek Lian. Tapi sembari mengusap
mukanya, Tio Jiang menyahut dengan sabar: „Subo juga
kemari !"
„Subo apa, kalau aku mempunyai ibu tentu tak nanti
bernasib begini!" damprat sinona. Pada saat itu Kang Siang
Yan tepat menghampiri, kesitu, jadi ia mendengar juga,
kata2 Bek Lian itu. Kasih seorang ibu, menangkan segala.
Hatinya seperti disayat sembilu, serunya: „Bek Lian, biji
mataku!"
Mendengar itu, Bek Lian mendongak mengawasi.
Dihadapannya tampak berdiri seorang wanita yang
walaupun rambutnya terurai panjang tapi wajahnya
menyerupai dirinya. Wajahnya yang mengunjuk rasa kasih
sayang, serta kedua matanya yang memancarkan sumber
kecintaan seorang ibu, adalah yang ia cari dalam impian
selama 10 tahun ini. Tanpa dapat dicegah lagi, menjeritlah
ia lalu menubruk kedalam pelukan sang ibu. „Ma.....,
ma......! Anakmu ini bernasib malang!"
Ucapan itu bagaikan sembilu menyayat hati Kang Siang
Yan. Sepuluh tahun mengingkari kewajibannya sebagai
seorang ibu, entah bagaimana penderitaan dari sang anak
yang haus dengan kecintaan ibunya itu. „Lian-ji......, A
Lian......, jangan bersedih, ibumu disini !"
Bek Lian tumpahkan kesedihannya didalam dekapan
dada sang ibu. Tak henti2nya tangis isaknya mengiring
sang, air mata. Sepuluh tahun keduanya kehilangan satu
sama lain, kini pertemuan itu menjadi curahan haru dan
sesai. masing2. Sampaipun Tio Jiang yang menyaksikan,
turut kucurkan air mata.
Entah sampai berapa lama kedua ibu dan anak itu
menumpahkan perasaannya masing2. Tapi setelah sekian
lama, menangis, kini longgarlah perasaan Bek - Lian dan
akhirnya berhentilah ia menangis. „Ma......, kemanakah
kau pergi selama ini ? Mengapa begitu tega meninggalkan
aku ?"
”A Lian, tambatan hatiku, ibu takkan meninggalkan kau
lagi!," sahut Kang Siang Yan sambil mem-belai2 rambut
Bek Lian. Adalah setelah mendengar keduanya bicara, Tio
Jiang lalu menyela: „Subo, suhu masih berada di Hoasan
bersama2 ke 72 Cecu mengadakan perlawanan pada tentara
Ceng. Apakah subo tak hendak, menjumpainya?"
Diluar dugaan, Kang Siang Yan dan Bek Lian deliki
mata kepadanya, sehingga dia kembali merasa heran.
Karena tak tahu bagaimana harus berbuat, dengan terlongong2
memandang Bek Lian, dia bertanya: „Lian suci,
apakah kau tak kurang suatu apa ?"
Kang Siang Yan memandang Bek Lian sebentar, lalu
mengawasi Tio Jiang, tanyanya: „A Lian, sitolol itu
mengatakan padaku bahwa kau telah mengikat pertunangan
padanya, benarkah itu ?''
„Fui! Apa2an itu ?" sahut Bek Lian dengan jemu.
”Lian suci, malam itu bukankah kau telah memberikan
persetujuan ?" tanya Tio Jiang dengan gugup.
Bek Lian melangkah setindak membentak: „Kau gila!
Malam yang mana'"
Bagi Tio Jiang malam bahagia itu diukir betul2 dalam
lubuk ingatannya. „Bulan 12 tanggal 6!" sahutnya dengan
tanpa ragu2.
„Edan kau!" tiba2 Kang Siang Yan membentaknya.
Wajah Tio Jiang merah padam, ujarnya; „Kalau ada
sepatah kata2ku yang bohong, biarlah aku tak dapat mati
dengan aman !"
”Siapa peduli dengan sumpahmu itu ?" seru Bek Lian
dengan mengejek. Tiba2 Kang Siang Yan loncat maju
menerkam bahu Tio Jiang yang tak keburu untuk
menghindar lagi. Sesaat itu pundaknya terasa seperti dijepit
oleh kait baja. „Tolol, bulan 12 tanggal 6 malam, Lian-ji tak
berada di Kwiciu!" seru Kang Siang Yan.
„Ma, mengapa kau tahu ?" tanya Bek Lian dengan
kagetnya.
„Kujumpai kau ber-sama2 seorang pelajar ganteng bergegas2
melakukan perjalanan. Bukantah dia itu murid Ang
Hwat cinjin yang disebut Cian-bin long-kun The Go?" kata
Kang Siang Yan dengan tertawa.
„Benar, itulah engkoh Go. Ma, aku......., aku........."
„A Lian, kutahu isi hatimu. Jangan kuatir, aku
dibelakangmu!" tukas Kang Siang Yan.
„Ma, tapi kini engkoh Go berada dalam tangan ayah,
dikuatirkan dia tentu mendapat kecelakaan."
„Mengapa begitu ?" tanya Kang Siang Yan. Tapi belum
Bek Lian menutur, Tio Jiang yang sedari tadi tak dibawa
ber-cakap2, tak dapat menahan sabar lagi. „Lian suci, kalau
kau benar tak memberi persetujuan pada malam itu,
mengapa barang ini bisa jatuh kedalam tanganku ?" sembari
menunjukkan peniti kupu2 dia berseru. Bek Lian agak
kesima melihat itu, tapi ia sendiri tak tahu sebabnya. Tapi
oleh karena pikirannya hanya pada The Go yang itu waktu
berada dalam tahanan sang ayah, maka tak mau lagi ia
hiraukan Tio Jiang.
„Tatkala aku berada diperkemahan tentara Ceng,
kudengar Siao Chiu mengatakan bahwa engkoh Go sudah
jatuh ditangan ayah. Ma, ketika dilautan tempo hari ayah
telah memaksa kami berdua bunuh diri, kaupun tahu
sendiri. Maka begitu mendengar berita itu, aku ber-gegas2
naik kegunung sana," Bek Lian mulai mengadu.
Lucu adalah tingkah Tio Jiang yang digilakan asmara
itu. Waktu Bek Lian dan Kang Siang Yan hanya uplek
bicara sendiri tak menghiraukannya; iapun sudah tak enak.
Apalagi setelah Bek Lian menyangkal soal pertunangan itu,
hati Tio Jiang remuk rendam seperti gelas dibanting diatas
batu. Tanpa disadari dia berlutut sembari memandang
peniti kupu2nya itu. Sikapnya seperti orang yang sudah
berobah pikiran.
Kiranya sewaktu Bek Lian hendak menyusul ke Hoasan,
tiba2 ditengah, jalan peluru meriam jatuh tak jauh dari situ.
Bummm......... bunyi menggelegar bagai halilintar memecah
bumi itu, disusul dengan terbakarnya hutan digunung situ.
Puhun2 sama-ber-derak2 roboh dan apipun berkobar
dengan cepatnya. Pucatlah wajah Bek Lian. Hendak
kembali, ia tak tega memikirkan nasib The Go. Maka
dengan gunakan ilmu berjalan cepat, ia teruskan mendaki
keatas. Tapi berselang berapa lama lagi, bum....., bum.....,
bum....., bum....., kembali 4 kali dentuman menggelegar,
jatuh dibelakangnya. Bek Lian makin gugup. Hari masih
remang2, belum terang tanah. Ia terus mendaki keatas, tapi
karena tak kenal jalanan, tiada berapa, lama ia mendengar
disebelah depan sana ada suara hiruk pikuk.
Didalam tirai asap yang membungkus tempat itu, tanpa,
disadari Bek Lian telah tiba dimuka sebuah Soache
(markas). Orang2 dalam markas itu kedengaran ramai2
menunjuk pada bola-api (peluru) yang jatuh dilamping
gunung. Diantara orang2 itu, terdapat Tieng Bo siangjin
dan si Bongkok. Maka tanpa pedulikan apa2 lagi, Bek Lian
segera berteriak seperti orang gila: „Yah, dimana engkoh
Go? Jangan mencelakai dia....."
Sewaktu mendengar dentuman meriam musuh, Ceng Bo,
siangjin tengah memberi perintah pada anak buah markas
bagaimana untuk mempersiapkan penjagaan. Demi
mendengar teriakan Bek Lian tadi, bukan kepalang
terkejutnya. Melihat keadaan anaknya itu sedemikian rupa,
pakaiannya tak keruan, rambutnya terurai kacau dan
wajahnya cemas ketakutan, buru2 Ceng Bo menobros
keluar markas. Begitu menjamret tubuh Bek Lian, terus dia
enjot lagi tubuhnya melayang keatas pintu markas. Gerakan
yang mengagumkan dari siangjin itu, telah mendapat
sambutan tepuk sorak yang hangat dari Nyo Kong-Iim dan
lain2nya.
”Dari mana kau?" tanya Ceng Bo setelah membawa Bek
Lian masuk. Tapi Bek Lian tak lekas2 menjawab hanya,
menyapukan matanya mencari The Go kesekeliling tempat
situ. Dalam kalbunya hanya terukir seorang The Go. Tidak
menjawab pertanyaan sang ayah, sebaliknya ia malah balas
bertanya: „Mana engkoh Go ?" dan tanpa tunggu
penyahutan sang ayah ia sudah berteriak keras2: „Engkoh
Go.....! Engkoh Go......! "
Kali ini Ceng Bo siangjin betul2 hilang kesabarannya
lagi.
„Budak hina, kau panggil siapa?" bentaknya dengan
murka.
Bek Lian menyeringai, sahutnya: „Aku mencari engkoh
Go."
Ceng Bo melangkah setindak, sekali tangan mengayun,
dia tampar muka Bek Lian, plak ......didorong oleh amarah,
Ceng Bo telah menampar keras hingga pipi Bek Lian yang
halus bagaikan bunga melati itu, menjadi benjul ke-biru2an.
GAMBAR 42
„Cinta itu buta,", demikian kata pepatah. Mungkin begitulah
Bek Lian menjadi buta dimabuk cinta kepada The Go, sehingga
ketika berhadapan dengan sang ayah, masih dia tidak sadar.
Saking gusarnya, „plak", Ceng Bo Siangjin memberi tempililigan
sekali kepada gadisnya itu.
„yah, pukullah aku, tapi jangan mencelakai engkoh Go!"
kata Bek Lian seperti orang linglung. Melihat Ceng Bo
siangjin marah, orang2 sama tak berani buka suara. Syukur
si Bongkok Ih Liok yang tak tega melihat Bek Lian dihajar,
lekas2 menyela: ”Nona Lian, The Go sudah lolos dari sini
tak kurang suatu apa. Kami sekalian disini sedang sibuk,
kau beristirahat dululah kedalam markas sana !"
Serasa longgarlah dada Bek Lian mendengar hal itu.
Tanpa menghiraukan lagi mengapa si Bongkok yang biasa
gagu itu bisa mendadak sontak bicara, ia serentak menyahut
lega
”Ya, syukurlah kalau begitu”
„Nanti masih hendak kutanya lagi, sana lekas masuk!"
bentak Ceng Bo siangjin. Bek Lian menurut. Saat itu
seluruh anak buah dalam markas sama keluar semua. Bek
Lian men-cari2 barangkali dapat melihat sang kekasih dan
benar juga tiba2 dia berteriak keras: „Engkoh Go!"
Teriakan itu telah membikin terkejut semua orang.
Mereka sama mengawasi kearah yang diteriakkan Bek
Lian. Ada seorang liaulo (anak buah) menyusup kedalam
rombongan orang banyak. Hanya saja gerakan liaulo itu
tangkas sekali. Terang itulah suatu ilmu mengentengi tubuh
yang lihay. Sampaipun Nyo Kong-lim terbelalak kaget.
Seingatnya, dalam kalangan liaulo tiada seorang yang
setangkas itu.
Tapi si Bongkok sudah bertindak sebat. Sembari
perdengarkan suitan, dia loncat melalui serombongan
orang, terus mengudaknya. Tapi kala itu hari masih
remang2, tambahan pula markas sangat luas, untuk mencari
seorang yang dandanan semacam liaulo yang berjumlah
sekian banyak, bukan pekerjaan mudah. Tak lama
kemudian tampak dia muncul lagi, tanyanya: „Nona Lian,
benarkah tadi kau melihat The Go?"
„Ih-thocu, kenapa kini kau dapat bicara? Benar dia
engkoh Go, tak nanti aku salah lihat," sahut Bek Lian. Si
Bongkok dan Nyo Kong-lim saling bertukar pandangan dan
pada banting2 kaki.
Memang Cian-bin Long-kun The Go itu seorang anak
muda yang cerdas, penuh akal. Untuk menjaga
kemungkinan yang tak diinginkan, ketika dia naik keatas
Hoasan, dia mengenakan dua macam pakaian. Yang
didalam pakaian liaulo, luarnya pakaiannya sendiri. Ketika
dia berhasil sembuh dari tutukan, dia segera enjot kakinya
melesat keluar dan diburu oleh si Bongkok. Begitu
membiluk pada sebuah tikungan, cepat dia buang
pakaiannya luar dan kini dengan berpakaian liaulo, dia
menobros masuk kedalam rombongan liaulo. Itulah
sebabnya maka si Bongkok telah kembali dengan tangan
hampa.
Itu waktu Nyo Kong-lim telah mendatangkan bala
bantuan dari markas yang terdekat, ditambah Yan-chiu
dengan 100-an orang anak buah, maka banyaklah wajah2
baru yang satu sama lain tak saling kenal. Keadaan ini
sangat menguntungkan The Go. Jika kala itu dia lantas
turun gunung, tentu mudah. Tapi dia seorang yang bernyali
besar. Sudah diketahui bahwa nanti terang tanah Li Seng
Tong tentu akan membombarder markas itu, maka lebih
baik dia menjadi colok dari dalam. Dentuman pertama,
sangat menggirangkan hatinya. Tapi kegirangan itu segera
tersapu seketika dengan munculnya Bek Lian.
Heran dia melihatnya, tapi demi diketahuinya Bek Lian
hendak mencarinya, dia merasa puas, lalu hendak lanjutkan
rencananya. Tak terduga mata Bek Lian yang selalu
terbayang wajahnya itu, telah dapat melihatnya bahkan
malah meneriaki namanya. Saking gugupnya, dia terus
menyusup masuk kedalam rombongan liaulo. Bek Lianpun
tersadar akan kekhilafannya. Tak seharusnya ia membuka
rahasia sang kekasih.
Suasana menjadi panik. Ceng Bo siangjin cepat loncat
kebawah menghampiri Bek Lian. Dalam pandangan imam
patriot itu, Bek Lian kini bukan anaknya, melainkan
seorang kaki tangan musuh. Bek Lian segera rasakan
lengannya sakit sekali sehingga menjerit: „Ayah !"
Ceng Bo tak kenal kasihan lagi. Bermula
dicengkeramnya lengan sang anak, lalu ditutuk jalan darah
yang-ko, dan -ki-ti-hiat. Habis itu dipeluntirnya lengan Bek
Lian, hingga nona itu sampai terputar tubuhnya, lalu
ditutuk bahunya. Sekali didorong kemuka maka Bek Lian
ter-huyung2 kemuka. „Ringkus gadis hina ini!" seru Ceng
Bo pada kawanan liaulo.
Jiwa patriot yang perwira dari Ceng Bo siangjin itu, telah
disambut dengan puji-sorak oleh semua orang. Tapi tiba2
ada orang berteriak keras2: „Api.....! Api..... !" Dan
memang dibelakang istal kuda api menjilat keatas. Kembali
orang2 menjadi panik ber-gegas2 memadamkan kebakaran
itu. Tapi karena dimarkas itu kekurangan air, jadi
kebakaran itu tak dapat ditolong. Si Bongkok cepat dapat
menduga bahwa yang melepas api itu tentulah The Go,
maka. dengan gagahnya dia menobros kesana. Adalah Nyo
Kong-lim yang per-tama2 melihat ada seseorang tengah
berloncatan diantara api dengan membawa sebatang obor.
Dengan menggerung keras, dia maju menerjang dengan
sam-ciat-kun. Memang orang itu bukan lain adalah The Go,
siapa dengan sebat sekali sudah berputar badan lalu
Iontarkan obor itu kearah Nyo Kong-lim.
Nyo Kong-lim seorang lurus, akalnya sederhana. Dia tak
sangka kalau bakal dilontari obor. Dia cepat2 miringkan
kepala menghindar, tapi kalah cepat. Separoh mukanya
telah kena dicium api hingga janggut brewoknya terbakar.
Dia ber-jingkrak2 murka, tapi karena keayalan itu, The Go
sudah melesat kesamping untuk secepat kilat memberi
tutukan pada jalan darah jip-tong-hiat didada ketua Hoasan
itu. Dengan surutkan dada, Nyo Kong-lim mundur
selangkah sembari hantamkan sam-ciat-kun kepinggang
orang. Tapi dengan tangkasnya The Go loncat sampai 2
meter keatas. Ketika terapung diatas, dia gerakkan sepasang
kakinya untuk mendupak jalan darah jin-tiong-hiat dikepala
Nyo Kong-lim, siapa terpaksa harus mundur beberapa
langkah lagi. Syukur saat itu si Bongkok datang dan wut
.......angin pukulannya menyingkap pergi asap yang
menyelimuti tempat itu. Melihat dirinya terkepung oleh dua
musuh tangguh, The Go copot nyalinya. Sekali enjot sang
kaki dia melesat kembali kedalam orang banyak.
Saking murkanya, Nyo Kong-lim dan Ih Liok berdua
rasakan dadanya seperti mau meledak. Mereka memburu
maju tapi tepat pada saat itu sebuah bola-api jatuh tepat
ditengah2 markas situ. Itulah jasa The Go. Sebenarnya
pasukan meriam Ceng kehilangan sasaran, tapi begitu
melihat The Go memberi kode dengan lambaian obor,
mereka segera lepaskan dua kali tembakan yang tepat
mengenai.
Hiruk pikuk dalam markas situ tak dapat dicegah lagi.
Orang2 sama ber-teriak2 minta tolong. Kegagahan mereka
copot seketika demi menyaksikan kedahsyatan peluru
meriam itu. Tunggang langgang mereka hendak tinggalkan
markas situ. Ceng Bo siangjin serta Nyo Kong-lim dan
kawan2 hendak mencegah, tapi tiada kuasa lagi.
„Keparat! Hay-te-kau, apa daya kita?" tanyanya kepada
Ceng Bo.
Siapapun tiada pilihan lagi kecuali memerintahkan:
„Mundur! Toa-cecu, mundur kemarkas ke-5 !"
Lwekang Ceng Bo siangjin sangat tinggi. Walaupun
dalam kumandang dahsyat dari letusan peluru dan suasana
hiruk pikuk, namun semua orang dapat mendengarnya.
Nyo Kong-lim segera pimpin pengunduran. „Ih-heng,
markas ini sukar dipertahankan. Mari kita berpencar
mencari si Cianbin Long-kun. Kalau sampai tak dapat
meringkusnya, kita tak enak hati terhadap saudara2 Hoasan,"
kata Ceng Bo siangjin kepada si Bongkok, yang
tampak mengiakan. Begitulah dalam, suasana yang kacau
balau itu, keduanya mulai mencari.
Ternyata itu waktu The Go berada didalam ruangan
paseban. Sedianya dia hendak mengumpat disitu sampai
orang2 Hoasan sudah menyingkir semua. Benar dipaseban
itu sudah dimakan api, tapi lebih aman rasanya daripada
kalau diluar dengan resiko dapat dipergoki si Bongkok,
Ceng Bo siangjin atau lain2nya. Siasatnya itu memang
lihay, karena siapakah yang menduga kalau tempat yang
tengah dimakan api itu dijadikan tempat bersembunyi?
Namun dia boleh mengelabuhi semua orang tapi tidak
sibongkok Thay-san-sin-tho Ih Liok. Setelah sekian lama
tak dapat menemukan jejaknya, Ih Liok yakin The Go tentu
bersembunyi didalam paseban. Maka tanpa hiraukan api
yang men-jilat2 dia menobros masuk. Aha......., itulah dia si
Cianbin Long-kun dengan ter-tawa2 telah „bercanda"
dengan letikan api yang menyerang tubuhnya. Oleh karena
letikan api riuh ber-derak2, maka The Go sudah tak
mengetahui kalau si Bongkok berada disitu.
Berhadapan dengan musuh lama, merahlah biji mata si
Bongkok. Pertama kali The Go dapat lolos, si Bongkok
sudah menganggap hal itu sebagai suatu hinaan. Maka kali
ini tak mau dia lepaskan sang burung lagi. Sekali melesat
maju, tangan dan kakinya berbareng menyerang. Tapi
karena mendengar ada samberan angin dari samping, The
Go lekas2 menghindar. Hanya saja paseban itu sudah
banyak dimakan api, jadi tempat yang masih luang, tinggal
tak seberapa banyak. Baru dia loncat dua tindak kesamping,
disitu api sudah mengulurkan lidahnya, hingga terpaksa dia
balik lagi. Kini apa boleh buat, dia undang seluruh
tenaganya untuk menangkis serangan si Bongkok. Masih
untung dia berkepandaian tinggi, jadi meskipun separoh
tubuh menjadi kesemutan karena menerima hantaman si
Bongkok, namun dia masih bisa melejit kesamping orang
dan bahkan memperoleh kesempatan juga untuk menutuk
jalan darah siau-yau-hiat dipinggang lawan.
Si Bongkok hanya tertawa dingin. Begitu tutukan The
Go datang, cepat sekali dia putar tubuhnya hingga ujung
jari sianak muda menutuk tepat pada punuk atau segumpal
daging yang menonjol dipunggungnya itu. Astaga, mengapa
selunak kapas? Saking terperanjat, The Go terus hendak
menarik balik tangannya tapi mana dapat semudah itu!
Dengan ter-kekeh2, Ih Liok berpaling sembari menerkam.
Masih The Go dengan goyangkan pundaknya bisa
menghindar, tapi serangan kedua dari si Bongkok sudah
menyusul tiba.
„Celaka,” The Go mengeluh. Se-konyong2 „Bumm
.......", peluru tepat jatuh dipaseban itu; Dua buah tiang
besar pada paseban yang sudah tengah dimakan api,
ambruk menjatuhi kepala Ih Liok siapa dengan sebatnya
segera mundur.
GAMBAR 43
Dalam keadaan kacau balau, asap tebal dan api men-jilat2
hebat. Ih Liok,si Bongkok dari Thay-san, masih terus mencecar
The Go mati2an.
Kala itu dia tengah „menangkap" jari The Go dengan
tho-kang atau ilmu lwekang punuk. Karena kejadian tadi,
perhatiannya terganggu dan ini dapat digunakan sebaik2nya
oleh The Go untuk menarik keluar jarinya. Dua
buah jari itu menjadi merah bengap, sakitnya bukan
kepalang. Diam2 The Go menyumpahi si Bongkok yang
hendak dibalasnya apa bila kelak dapat kesempatan. Begitu
terlepas, The Go terus hendak lolos dari pintu, tapi mana
pintu itu masih ada?
Berpaling kebelakang The Go dapati wajahnya si
Bongkok itu sudah beringas seperti orang gila. Apa boleh
buat, dia terpaksa menutupi mukanya dengan lengan baju,
lalu menobros, dan berhasil. Tapi begitu berada diluar,
segera kedengaran ada orang memanggilnya: „Engkoh Go!"
Itulah Bek Lian, dia tahu. Tapi karena sampai sekian
lama matanya dihadapkan dengan api besar, jadi sesaat itu
dia silau tak dapat melihat jelas keadaan disekelilingnya.
Tanpa menyahut, dia membabi buta maju kemuka. Tapi
baru melangkah dua tindak, ada sebuah suitan berbunyi.
Ketika diawasinya, Ceng Bo siangjin tampak menghadang
dimuka. Wajah siangjin itu mengunjuk kemurkaan hebat.
Jeri melihat itu, The Go hendak balik saja kebelakang, tapi
baru tubuhnya berputar, disana sudah kedengaran suara
orang ketawa ter-kekeh2 Thay-san sin-tho Ih Liok dengan
baju hangus dimakan api dan biji matanya melotot,
menghampiri datang.
Dalam jepitan kedua tokoh sakti itu, The. Go merasa
harinya sudah dekat. Tapi sebelum mati dia hendak
berpantang ajal dahulu. Tiba2 matanya tertumbuk pada,
tubuh Bek Lian yang menggeletak ditanah dengan diikat.
Hatinya memaki benci, tapi lahirnya mengunjuk tawa
mesra. „Lian-moay, apa kau tak terluka?" tegurnya dengan
tenang.
Sudah tentu Bek Lian tak tahu kebatinan orang yang
dikasihinya. „Engkoh Go, aku tak kena apa2," sahutnya
dengan serta merta. Bermula The Go hendak membuka
mulut lagi, tapi lengan kiri-kanannya telah dicekal masing2
oleh Ceng Bo siangjin dan Ih Liok. Karena tahu akan sia2
saja, The Gopun, tak mau meronta. Malah dengan
menyungging senyum dia berkata: „Jiwi locianpwe, cayhe
(aku) tentu tak mungkin lolos, mengapa jiwi gunakan
tenaga kuat2 begini ?"
Mendengar orang, masih bermaksud mengejek, Ih Liok
murka sekali, cuh........, segumpal ludahnya menyemprot
muka The Go, siapa tak dapat menghindar lagi. Sesaat itu
dirasakan mukanya sakit sekali. Memang semburan ludah si
Bangkok itu disertai lwekang, jadi pipi The Go seperti
dihantam palu besi, rasanya. Tapi sebagai Cian-bin Longkun
atau si Wajah Seribu, benar dalam hati gusar sekali
namun mukanya masih mengunjuk senyum.
”Terima kasih atas pengajaran Iocianpwe ini!" ujarnya,
Mendengar itu, Ceng Bo segera, membentaknya:
„Bangsat, jangan main lidah tajam lagi ! "
Nada suara Ceng Bo sangat berwibawa, hingga tak
berani lagi The Go bercuit. Dengan urat kerbau yang
direndam minyak, kini The Go diikat kencang2 dan
diletakkan didekat Bek Lian. Ceng Bo mencari dua batang
pikulan, lalu bersama Ih Liok segera membawa mereka
pergi.
Kala itu boleh dibilang seluruh anak buah sudah
tinggalkan markas itu. Malah dibawah sana ada sebuah
regu pasukan Ceng mulai menyerang naik. Setelab lepaskan
pandangan sebentar pada keadaan markas yang
mengharukan itu, Ceng Bo dan si Bongkok segera
tinggalkan tempat itu menuju kebelakang gunung. Tentara
Ceng pun segera membongkar kubu2 untuk lakukan
pengejaran. Adalah pada saat itu, Tio Jiang dan Yan-chiu
berhasil keluar dari sumur kering kemudian menuju
kemarkas situ. Jadi mereka hanya menemui markas No -1
itu sudah menjadi tumpukan puing tak keruan.
Tahu kalau bakal celaka, Bek Lian tak bersedih. Mati
hidup asal berdampingan dengan orang yang dikasihinya,
puaslah ia. Maka selama dalam perjalanan itu, tak
putus2nya ia mengajak The Go bicara. Juga The Go tak
mau unjuk kecemasannya, dia tetap menyahuti dengan
asyik gembiranya. Satu2nya harapan, mudah2an nanti
muncul suatu pertolongan yang tak di-sangka2. Ceng Bo
sudah mengambil keputusan, hendak mencari sebuah
tempat sunyii lalu menghabisi jiwa kedua anak muda itu.
Jadi dia antapkan saja mereka bergurau. Tidak demikian
dengan si Bongkok yang tak putus2nya me-maki2.
GAMBAR 44
Alangkah gusarnya Ceng Bo Siangjin melihat gadisnya rela
menyerahkan diri kepada pemuda penghianat bangsa itu, sekali
angkat tangannya, segera ia hendak gablok batok kepala kedua
muda-mudi itu.
Tak lama kemudian, Ceng Bo tiba2 berhenti, katanya
”Ih-heng, aku hendak melakukan sesuatu, harap Ih-heng
menjadi saksi agar kaum persilatan tak mengatakan bahwa
aku seorang ayah yang kurang keras, sehingga anakku
perempuan melakukan perbuatan yang memalukan!"
Ih Liok cukup kenal akan perangai siangjin itu, jadi
hanya mengiakan saja. Tapi tiba2 The Go tertawa
menyindir: „Untuk mengejar nama kosong telah tega
membunuh darah daging sendiri, itu namanya tak kenal
perikemanusiaan tak tahu kebajikan."
Ceng Bo terkesiap. Diam! dia mengakui ucapan itu
memang tepat. Tapi kalau teringat akan perbuatan Bek Lian
dan The Go yang telah menjual bangsanya itu, hatinya
keras lagi, lalu teruskan perjalanannya. Tak antara berapa
lama kemudian, tibalah merelka disebuah puncak karang
dimana dahulu Tio Jiang dan Yan-chiu pernah kesasar
datang disitu. Setelah menurunkan kedua orang yang
dipikulnya, maka dengan menghela napas panjang
bertanyalah Ceng Bo
”Ih-heng, kau atau aku yang turun tangan?"
„Bek-heng, aku ada sedikit omongan, entah kau suka
mendengari tidak ?" sahut Ih Liok. Ceng Bo menyuruhnya
mengatakan. ,Nona Lian masih muda jadi tak tahu akan
persoalan, tak selayaknya dihukum seperti bajingan ini !"
„Hati orang bisa memaafkan, tapi hukum tak boleh
dilanggar!' sahut Ceng Bo setelah merenung sejenak,
kemudian menghela napas lagi.
„Thocu, jangan usil. Aku tetap mau sehidup semati
dengan engkoh Go, apa pedulimu ?" tiba2 Bek Lian berseru,
lalu berpaling kepada The Go: „Engkoh Go, kini kita
berdua sudah diambang pintu kematian, biar kuberitahu
padamu, aku...........aku sudah berbadan dua!"
Girang The Go bukan kepalang. Tapi bukan karena sang
isteri tak resmi itu sudah hamil, melainkan karena
mempunyai jalan untuk lolos. Sebaliknya Ceng Bo makin
meluap kemurkaannya. Dia benci anaknya yang sudah
begitu memalukan itu. Tangan segera diangkat dan .........
”Jangan,” tiba2 The Go berteriak "taruh kata kedosaan
Lian-moay itu pantas menerima hukuman mati, orok dalam
kandungannya itu masa juga berdosa! Mengapa kau hendak
lakukan perbuatan yang tak kenal peri-kemanusiaan itu !"
Benar juga Ceng Bo menjadi tertegun dan batal turun
tangan. ”Ih thocu, dengarkanlah. Kalau sampai, Ceng Bo
siangjin tak mengampuni pada seorang orok yang tak
berdosa, apa katamu terhadap kaum persilatan ?" seru The
Go.
Ceng Bo perdengarkan ketawa dingin. Begitu
menjambret tubuh Bek Lian, dia segera membawanya
keatas puncak karang buntu. Setelah memutuskan beberapa
tali pengikat tubuh Bek Lian, dia berkata: „Disini cukup
dengan puhun buah2an yang dapat kau makan sampai 7
atau 8 bulan. Sepuluh bulan kemudian, aku nanti datang
kemari, mencari-mu!" Habis itu, lalu turun! lalu memikul
The Go dibawa pergi.
”Bek-heng, mengapa kau tak selesaikan bangsat ini?”
tanya Ih Liok
„Tak nanti dia bisa lari keatas langit. Sepuluh bulan lagi,
sekalian dihukum ber-sama2. Kalau sekarang dibunuh dia
tentu penasaran!" sahut Ceng Bo. Diatas puncak karang
buntung itu, Bek Lian hanya dapat mengawasi kekasihnya
dibawa pergi oleh sang ayah.
Karena hatinya berduka, tadi Bek Lian telah tak dapat
mendengar kata2 ayahnya yang mengatakan kalau The Go
akan dibunuh 10 bulan kernudian. Begitu ayahnya dan si
Bongkok lenyap dari pemandangan, dia makin berduka tak
keruan. Sebentar nekad hendak bunuh diri loncat kebawah,
sebentar merasa kasihan akan orok yang dikandungnya.
Pikirannya yang sudah buta dengan cinta dan gelap dengan
kedukaan tak dapat mernikir mengapa sang ayah begitu
membenci sekali kepada The Go. Yang dirasakan hanya
kedukaan yang kemudian berobah menjadi rasa benci.
Munculnya Tio Jiang dan Yan-chiu disebelah puncak sana,
telah dijadikan tumpuan arus atau bulan2 kesalahan. Baru
setelah kini berjumpa dengan ibunya, ia menjadi longgar
perasaannya. „Ma, berilah pertimbangan!" katanya setelah
menutur, habis semua pengalamannya.
Melihat anak kesayangannya disiksa begitu macam oleh
suaminya yang dalam pandangannya tetap merupakan
seorang pengecut yang sangat dibencinya, maka makin
menjadi2lah kemurkaan Kang Siang Yan. Ia melangkah
maju menghampiri sebuah batu besar dan wut .................
tangannya menempel pada batu itu. Lama kemudian baru
ia tarik kembali tangannya itu. Sewaktu tangannya melekat,
batu itu biasa saja, tak kena apa2. Tapi tangannya ditarik,
maka ber-derai2lah batu itu menggemuruh rontok menjadi
beberapa potongan kecil. Tapi Kang Siang Yan, tak
menganggap hal itu aneh, katanya: „A Lian, mari kita
pergi!"
Dengan kata2 itu, ia tampak memimpin tangan Bek
Lian. Sekali mengenjot kaki, Bek Lian rasakan dirinya
terbang diantara deru angin dan tahu2 kakinya menginjak
dipuncak karang sebelah sana. Jadi tadi dia sudah dibawa
terbang melompati jarak pemisah lembah yang lebar itu.
Girang benar hati Bek Lian. Terang kepandaian ibunya itu
diatas ayahnya. Oleh karena takut kalau sampai terlambat
menolong sang kekasih, maka Bek Lian terus ajak ibunya
lekas2 tinggalkan tempat itu.
Kebencian lama masih belum dilampiaskan kini datang
lagi yang baru. Bagi Kang Siang Yan tiada kecintaan suami
isteri lagi dengan Ceng Bo. Tujuan telah tetap, hendak
mencari suami yang dianggap pengecut itu. Maka dengan
gunakan ilmu berlari cepat, kedua ibu, anak itu segera
melesat kemuka dengan pesatnya.
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 20 : PEDANG JANTAN DAN
BETINA
Kini mari kita ikuti keadaan Tio Jiang, sahabat kita, jujur
tolol itu. Waktu mulut Bek Lian menyangkal pertunangan
itu, Tio Jiang sudah lemah lunglai mendeprok ditanah.
Kemudian setelah mendengar lagi bahwa Bek Lian benar2
sudah menjadi isteri The Go, kepalanya ber-kunang2 seperti
dipalu godam. Tak tahu dia, kemana hendak
menyembunyikan mukanya ?
Begitu kedua wanita itu sudah jauh, pikirannya baru
mulai terang lagi. Dibayangkannya, apabila kedua ibu anak
itu sampai membikin onar, tentu akan hebat jadinya.
Apakah sang suhu dapat melawan kedua wanita itu, itu soal
kecil. Tapi kalau sampai suhunya terganggu oleh
kedatangan kedua wanita itu, bukankah saudara2 di Hoasan
itu akan seperti anak ayam kehilangan induknya. Siapa
yang akan memberi pimpinan kepada mereka dalam
menghadapi serangan tentara Ceng itu? Urusan negara
diatas segala urusan peribadi. Sejak kecil selain diberi
pelajaran ilmu silat oleh Ceng Bo siangjin, pun jiwa Tio
Jiang telah disi dengan doktrin (ajaran) patriotisme. Makin
memikirkan hal itu, makin dia menjadi sibuk tak keruan.
Mondar-mandir kesana sini, dia tampak mengasah otak.
Akhirnya dia menemui keputusan. Dia harus mendahului
kedatangan Kang Siang Yan dan Bek Lian untuk memberi
kisikan pada sang suhu agar ber-siap2.
Tio Jiang hanya pikirkan soal cara menolong sang suhu,
tak mau memeriksa dirinya adakah dia dapat melampaui
larinya Kang Siang Yan atau tidak. Dengan pejamkan
mata, dia segera enjot tubuhnya melompat kepuncak sana.
Berhasil tidak melompati jurang pemisah yang lebar itu,
bukan soal. Yang dipikirkannya, dia sudah mendapat
keputusan dan harus dikerjakan lekas2. Syukurlah, karena
sehari semalam dia diwejang oleh Kui-ing-cu tentang
intisari ilmu lwekang, jadi kepandaian dalam ilmu itu kini
bertambah pesat sekali. Maka sekali loncat, dapatlah dia
mencapai karang sana. Mungkin kalau kemaren dibiarkan
melompati jurang yang lebarnya 7 tombak itu, tentu dia
akan gagal. Sewaktu dia mengawasi jurang yang habis
dilompatinya itu, kepalanya berkeringat.
Setelah itu dia terus berlari turun entah kemana asal
sepembawa, kakinya saja. Kira2 sejam kemudian,
kepalanyapun sudah basah mandi keringat, tapi dia tak
kenal jalan. Maka setelah berselang sekian lama barulah dia
dapat berjumpa dengan dua orang pencari kayu. Salah
seorang dari mereka terus saja diterkamnya. „Bung, mana
letaknya markas pusat dari Hoa-san ?" tanyanya.
Melihat kawannya diterkam begitu rupa oleh seorang
pemuda yang kasar, si pencari kayu yang satunya segera
hantamkan pikulannya kearah kaki Tio Jiang. Tio Jiang
menyingkir kesamping, tapi diluar dugaan pencari kayu itu
rnenyapu lagi dengan pikulannya, lalu ditarik clan
dijojohkan, maka buk terjungkallah Tio Jiang kebelakang.
Cepat Tio Jiang bangun, tapi pikulan sipencar kayu itu
kembali menyapu kepinggang. Tio Jiang kesal hatinya Tak
mau dia, diganggu lama2, cepat dia sambut pikulan itu.
Namun sipencari kayu itu gesit sekali. Pikulan diturunkan
kebawah untuk menyodok kaki Tio Jiang, siapa buru2
loncat keatas. Tapi sebagai bayangan, pikulan sipencari
kayu mengejar keatas sambil diputar-putarkan dan lagi2 Tio
Jiang terjengkang ketanah..........
Kejadian itu, sungguh membuat Tio Jiang heran,
sehingga dia ter-longong2 duduk ditanah. Mengawasi
tukang kayu itu, nyata hanya seorang dusun biasa saja.
Aneh, mengapa dia yang mempunyai kepandaian silat,
sekali dua kali dijegal dengan pikulan, bisa jatuh terjungkal?
Ah....., mungkin tadi dia bingung hatinya, maka dengan
penasaran dia terus bangun dan menghantam pencari kayu
tersebut. Orang itu loncat kesamping dan ,Hai........tiba2 dia
bertereak keras, hingga Tio Jiang kesima. Dalam detik2
kekosongan itu, tahu2 kakinya sakit didorong oleh suatu
tenaga dahsyat dan bluk.........untuk yang ketiga kalinya dia
jatuh kebelakang lagi! Malah kali ini, dia harus mendahar
santapan lezat berupa lumpur
GAMBAR 45
Tio Jiang menyangka, orang hanya tukang kayu biasa saja,
siapa duga, sekali orang itu ayun pikulannya, kontan Tio Jiang
kejegal hingga jatuh terjengkang
„Aku tadi kan hanya tanya jalan, mengapa kau 3 kali
bikin aku jatuh," seru Tio Jiang sembari berbangkit.
„Ho...., ho...., ho.....," tertawa sipencari kayu, ”kalau tak
diberi hajaran, lain kali kau pasti main melukai orang.”
„Maaf, bung, aku tadi kesalahan. Tolong tanya mana
jalanan ke markas besar Hoa-san ?" tanya Tio Jiang dengan
agak tenang. Sipencari kayu satunya yang dicengkeram
pundaknya oleh Tio Jiang masih meng-erang2 kesakitan,
jadi tak mau dia menyahuti pertanyaan orang. „Sudahlah,
kalau kalian tak mau memberitahukan," kata Tio Jiang
sembari hendak ayunkan langkah. Tapi tiba2 sipencari kayu
yang menyerang dengan pikulan tadi, berseru: „Engkoh
kecil, perlu apa kau tanyakan tempat itu ?"
Tio Jiang menjawab hendak mencari suhunya. Sipencari
kayu menanyakan pula siapa nama suhunya itu.
„Siang Ceng he Bo (diatas bening dibawah
bergelombang), Ceng Bo siangjin!" sahut Tio Jiang.
„Oh, kiranya orang sendiri," seru sipencari kayu sembari
lemparkan pikulannya ketanah, „engkoh kecil, apakah kau
kenal akan toa-ah-ko dan ji-ah-ko dari Thian Te Hwe"
„Ki dan Kiau kedua susiok itu, mengapa tidak? Lekas
beritahukan dimana markas besar itu, jangan sampai
terlambat!" seru Tio Jiang. Namun orang itu masih ayal2an,
ujarnya: „Ki lotoa dan Kiau loji, sekarang berada
ditempatku! "
„Benar?" teriak Tio Jiang kegirangan sekali. Tapi seruan
itu disela dengan muncul dua orang lelaki dari balik
gunung. Yang berjalan dimuka bertubuh tinggi besar,
adalah Ki Ce-tiong. Sedang dibelakangnya adalah Kiau To.
”Mengapa jiwi susiok berada disini ? Apakah sudah
mengetahui kalau Hoa-san diserbu tentara Ceng?" tanya Tio
Jiang sembari menyongsong kedua pernimpin Thian Te Hui
itu.
„Ma Cap-jit, mengapa tak kau katakan ?" Ki Ce-tiong
dan Kiau, To serempak bertanya pada sipencari kayu yang
lihay tadi. Tapi orang itu hanya ganda tertawa, sahutnya:
„Tentara Ceng mengepung atau tidak, tiada sangkut paut
denganku. Kalian merawat luka2 kalian kalian, sedang aku
menebang kayuku, persetan dengan tentara Ceng atau
Beng!"
Ki Ce-tiong mem-banting2 kaki, serunya: „Ma Cap-jit,
kau bikin kapiran urusan besar!"
Sebalikiya Tio Jiang tak sabaran lagi menunggu
pembicaraan mereka yang tak berguna itu, katanya dengan
gugup: „Jiwi susiok, subo dan Lian suci kini mencari suhu.
Kita harus lekas2 memberitahu, kalau terlambat, nasib Hoasan
sukar ditolong!"
Saking gugupnya, Tio Jiang tak mengatakan maksud
kepergiannya itu. Pikirnya, apa yang diketahui, orang lain
tentu tahu juga. Dia tak tahu kalau sehabisnya lolos dari
kepungan tentara Ceng, beberapa bulan ini Ki Ce-tiong dan
Kiau To beristirahat dirumah Ma Cap-jit untuk merawat
luka2nya yang parah, Sudah tentu keduanya tak mengerti
apa yang diucapkan Tio Jiang itu. ”Engkoh kecil, karena
kesusu kau tadi telah terjatuh 3 kali, tapi rupanya kau perlu
jatuh satu kali lagi ni!" tiba2 Cap-jit berkata.
„Dalam urusan sebesar ini, mengapa hatiku tak resah?"
balas Tio Jiang seraya deliki mata orang she Ma itu. Ma
Cap-jit ayunkan pikulannya hendak menyerang lagi tapi
dicegah oleh Ki Ce-tiong: ”Siao-ko (engkoh kecil), dia
adalah seorang persilatan yang mengasingkan diri. Ilmu
pikulannya itu terdiri dari 17 jurus, setiap jurus tentu dapat
membikin terjungkal orang. Banyak orang lihay yang
pernah merasakan pikulan itu, maka kaum persilatan
menjulukinya sebagai Ma Cap-jit atau orang she Ma si 17."
Tio Jiang membahasakan Cap-jit siok pada orang; itu,
lalu meminta agar kedua pemimpin Thian Te Hui itu lekas2
berangkat. Tapi Ki Ce-tiong juga tak kenal dimana letak
markas besar Hoasan itu, maka dia minta agar Ma Capjit
suka mengantarkannya. Tapi Ma Cap-jit menolak, katanya:
”Aku tak pusingi urusan itu, kalian pergi sendiri sajalah.
Dari sini kalian menuju ketimur, setelah melalui dua buah
puncak, tentu akan sampai ditempatnya!"
„Ma Cap-jit, terima kasih dan selamat tinggal!" Ki Ce
tiong dan Kiau To serempak minta diri, tapi orang aneh itu
diam saja. Dia angkat pikulannya yang dimuati dua untai
sayur, lalu ajak kawannya berlalu. Masih terdengar ngiang
nyanyian gunung yang didendangkan dengan bebas
gembira. Selama beristirahat ditempat itu, Ki Ce-tiong
sudah dapat pulih lagi seperti dahulu (pulih
kepandaiannya). Begitulah dengan gunakan ilmu
mengentengi tubuh mereka bertiga lalu berangkat.
Benar juga, ketika melewati sebuah puncak, mereka
menampak banyak sekali kubu2 tentara Ceng. Menuruti
adat Kim To, saat itu juga dia hendak mengadakan serbuan,
tapi Tio Jiang mencegah. Dia tetap kuatirkan
keselamatannya sang suhu yang hendak didatangi oleh
Kang Siang Yan dan Bek Lian itu. Syukur Kiau To pun
menurut. Begitulah dengan mengambil sebuah jalan kecil,
setelah melewati sebuah puncak lagi, mereka tiba dimarkas
besar Hoa-san.
Markas pusat itu terletak di-tengah2 dari ke 72 markas,
keadaannya strategis sekali, merupakan jantung gerakan
dari ke 72 markas itu. Nampak dalam markas itu para anak
buahnya teratur rapi, ketiga orang itu segera percepat
langkahnya. Setengah jam kemudian, sampai mereka
dipintu markas. Demi mengetahui kedatangan kedua
pemimpin Thian Te Hui itu, Ceng Bo Siangjin ter-sipu2
menyambut dengan girang. Mereka diperkenalkan kepada
sekalian orang gagah lainnya.
”Bagus, Hoa-san hendak menyerahkan tampuk
pimpinan pada jiwi," seru sikasar Nyo Kong-lim dengan
gembira. Malah seketika, itu juga dia serahkan lengpay
(tanda tampuk pimpinan) pada mereka berdua.
„Nyo-heng, setiap orang baru tentu kau serahi pimpinan,
nah habis berapa banyak Toacecu nanti ?" seru si Bongkok
tertawa. Nyo Kong-lim merah mukanya, sahutnya dengan
tertawa lebar: „Memang begitulah watakku, karena
kuanggap kepandaianku, ini masih rendah!"
Melihat sifat ketua Hoa-san yang blak2an itu, Ki Cetiong
dan Kiau To segera menjabat tangannya dengan
mesra, katanya: „Nyo-heng, kita bersatu melawan penjajah,
jangan banyak sungkan! "
Kedatangan kedua pemimpin Thian Te Hui telah
disambut hangat oleh seluruh anak buah markas. Semangat
perjoangan mereka makin ber-nyala2. Juga Ceng Bo merasa
terhibur, tapi demi dilihatnya wajah Tio Jiang agak gugup
seperti hendak mengatakan sesuatu, dia segera menegurnya
: „Jiang-ji, mana Siao Chiu? Seharusnya setelah kamu dapat
menyelidiki tempat meriam, terus kembali kemarkas !"
„Meriam2 mereka telah kuhancurkan, tapi mengapa
masih dapat memuntahkan peluru?" jawab Tio Jiang lalu
menuturkan semua kejadian yang dialaminya.
„Ho, siaoko, kau telah tertipu! Tentu The Go sibangsat
itu yang merencanakan, syukur dia sudah ketangkap disini,
biar nanti kusiksanya supaya mengaku!" kata si Bangkok.
„Suhu, apakah subo belum datang kemari?" tanya Tio
Jiang dengan gugup.
„Apa?" Ceng Bo balas bertanya dengan kaget. Tio Jiang
ceritakan duduknya perkara. Ceng Bo tahu kalau muridnya
itu tentu tak bohong, maka diapun agak gugup. Tapi pada
saat itu si Bongkok sudah membawa The Go keluar.
Dihadapan sekian banyak orang yang sangat membencinya
itu, The Go masih coba berlaku tenang.
„Penghianat busuk! Bukankah ke 10 meriam yang berada
dalam kubu2 tentara Ceng itu palsu?" bentak si Bongkok
seraya memaki. Namun tertawalah The Go, sahutnya:
„Ilmu perang adalah suatu seni yang penuh tipu muslihat.
Kalau ada meriam sesungguhnya, masakan diluar kubu
dibiarkan ada bekas roda keretanya?"
Meskipun orang2 sama membencinya, namun mereka
mengakui kebenaran ucapan, itu. Ceng Bo siangjinpun
menghela napas, menyayangkan anak muda yang cerdik
tapi sesat jalan itu. Habis itu, dia suruh orang membawa
The Go masuk lagi. Tapi baru ada dua orang liaulo hendak
mengangkatnya tiba2 diluar terdengar ribut2, menyusul ada
serangkum angin keras meniup kedalam ruangan itu. Bagi
yang ilmu silatnya masih cetek, tubuhnya tentu sudah
menggigil. Anehnya begitu angin reda, entah bagaimana
tadi tahu2 diruangan situ ketambahan dengan dua orang
wanita. Yang satu rambutnya terurai, yakni Kang Siang
Yan, sedang satunya lagi matanya bengap, yaitu Bek Lian.
Begitu tampak The Go menggeletak ditanah Bek Lian terus
memburunya dan menjerit: „Engkoh Go, apa kau tak kena
apa2?"
Melihat bintang penolongnya tiba, semangat The Go
tergugah lagi. „Lian-moay aku tak kena apa2," sahutnya
tersipu2.
Kang Siang Yan sapukan matanya kearah sekalian
orang. Dengan mata ber-sinar2 dia menatap tajam2 Ceng
Bo sejenak, lalu perdengarkan suara ketawa dingin sehingga
membikin orang2 merinding. Pelahan-lahan dia
menghampiri, The Go, dengan ujung kaki ia songkel tubuh
anak muda itu keatass untuk disanggapi, lalu memijat tali
pengikat tubuh The Go. Tali Yang terbuat dari urat kerbau
itu putus seketika. Kesemuanya itu hanya dilakukan oleh
dua buah jari saja. Begitu dapat bebas, The Go ter-tawa2
girangnya bukan kepalang.
GAMBAR 46
Betapa cemas dan gusar Ceng Bo Siangjin ketika2 tiba2
melihat kedatangan isteri yang sangat dicintainya itu hingga The
Go terhindar dari kematian. Dasar „jejaka muka seribu", segera
The Go ganti haluan, dengan hormatnya ia, memberi hormat dan
memanggil ibu mertua kepada Kang Siang Yan.
Waktu melihat kedatangan sang isteri-dengan puterinya,
hati Ceng Bo berdebar keras. Hendak dijelaskan salah
faham dari 10 tahun yang lalu itu, tapi, demi dilihatnya
Kang Siang Yan melepaskan The Go, wajahnya berobah
keras lagi dan batal bicara. Oleh karena dia diam saja,
semua orangpun tak berani berbuat apa2. Maka ruangan itu
se-olah2 menjadi dunianya di The Go dan Kang Siang Yan.
„Gakbo tayjin (mertua perempuan yang terhormat),
menantu memberi hormat!" Cian-bin Long-kun, si aktor
yang lihay, mainkan peranannya sembari melirik kearah
Bek Lian.
Bek Lian-tersenyum puas. Juga Kang Siang Yan kena
terpikat oleh tingkah The Go yang menjurah dengan
hormat dihadapannya itu.
„Bangunlah, menantuku!" seru Kiang Sang Yan sembari
kebutkan lengan baju. Sesaat itu The Go rasakan angin
keras menyampok, hingga, buru2 dia berdiri. Diam2 dia
sangat, kagumi lwekang mertuanya itu, Bek Lianpun segera
menghampiri kedekat The Go.
Bek Lian seperti orang yang hidup kembali. Entah
bagaimana ia hendak curahkan isi kalbunya pada sang
kekasih itu. Sementara itu Kang Siang Yan tampak mondarmandir
didalam ruangan situ, se-olah2 hendak menantikan
siapa yang berani mengganggu kepada puteri dan
menantunya itu. Ceng Bo menarik kesimpulan bahwa sebab
musabab dari keadaan hari itu adalah terletak pada
kesalahan faham 10 tahun yang lalu itu. Maka meskipun
melihat tingkah laku Bek Lian dan The Go yang
menganggap sepi sekalian orang itu, dia tak marah.
„Hong-moay, apakah kau tak kurang suatu apa?"
tegurnya pada sang isteri. Nama aseli dari Kang Siang Yan
adalah In Hong, dan biasanya Ceng Bo memanggilnya
Hongmoay (adik Hong).
Bermula Kang Siang Yan duga suaminya itu tentu
bersikap keras, maka atas salam tegur yang mesra itu, ia
kesima juga. „Ah, dia memang pengecut takut sama yang
kuat, maka dia pura2 berlaku manis begitu," demikian Kang
Siang Yan menarik kesimpulan. Maka dengan ketawa sinis
dia menyahut: „Bek Ing, kau masih tetap seperti 10 tahun
yang lalu: „takut mati karena temahai hidup! Dengan orang
macam kau, akupun tak sudi mengotorkan tangan! Lian-ji,
hayo kita pergil"
Ketika hendak berlalu lebih dahulu Kang Siang Yan
menatap Ceng Bo lagi dengan pandangan mata yang
menghina, namun siangjin itu hanya menghela napas, saja
tak dapat berkata apa2. Adalah Thaysan sin-tho Ih Liok
yang cepat berseru: „Kang Siang Yan, tahan dulu!"
„jadi kaulah yang tidak terima ?" hardik Kang Siang Yan
seraya berhenti.
„Kau katakan kalau pada 10 tahun yang lalu Bek-heng
berlaku pengecut takut mati, apakah kau ketahui kalau
disitu terselip suatu kesalahan faham ?" tanya si Bongkok Ih
Liok, lalu dengan nyaring tuturkan duduknya perkara yaitu
karena ada orang berniat hendak memiliki sepasang pedang
dari suami isteri itu, maka dia telah menyewa Yau-sin-banpian
Tan It-ho untuk menyaru jadi Ceng Bo. Oleh karena
semua orang telah menyaksikan sendiri roman muka Tan
It-ho yang dapat menyaru seperti pinang dibelah dua
sebagai Ceng Bo ketika dipulau Ban-san-to tempo hari,
merekapun memberi kesaksian.
Mendengar itu, Kang Siang Yan tergerak hatinya, tapi
belum mau percaya seluruhnya. Sebenarnya Ceng Bo
seorang yang menjaga gengsinya, tapi dalam keadaan
semacam itu, dia terpaksa kesampingkan hal itu. Maju dua
tindak, dia keluarkan kotak emas dan berkata: „Hongmoay,
ketika didasar laut aku telah dapat menemukan
kotak ini. Kalau kau mempercayai keterangan Ih-heng tadi,
sukalah kau terima lagi kotak ini!"
Demi melihat kotak itu, terkenanglah Kang Siang Yan
akan kejadian pada 30 tahun yang lalu, yalah ketika dia
saling tetapkan jodoh dengan Bek Ing. Kenangan itu
terbayang lagi dihadapannya. Dalam pandangannya, Ceng
Bo itu adalah Bek Ing dari 30 tahunan yang lalu, ketika
serahkan kotak itu selaku ikrar janji untuk ber-sama2
mengarungi bahtera penghidupan. Kala itu dengan
menundukkan kepala ke-malu2an, ia ulurkan tangannya
menerima, dan teringat sampai disini tanpa tersadar
diapun....... ulurkan sebelah tangannya kemuka. Betapa
kagetnya ketika dia tersadar dari lamunannya dan dapati
kota emas itu berada dalam tangannya lagi. Dihadapan
sekian banyak orang, sudah tentu ia agak kikuk „Thocu,
kalau ada sepatah saja dari kata2mu itu yang bohong,
nyawamu pasti kucabut!" serunya kepada Ih Liok, siapa
hanya tertawa ter-bahak2 tak mau menyahuti.
„Hong-moay, kau kira aku ini seorang macam begitu?
Setelah mencuri pedangmu, entah kepada siapa bangsat itu
memberikannya. Hal itu dapat ditanyakan pada orang she
The itu!" kata Ceng Bo sembari tampil kemuka dua tindak
lagi!"
Kini benar2 Kang Siang Yan sudah seratus persen
mempercayai keterangan si Bongkok tadi. Sukar dilukiskan
betapa perasaannya ketika itu. Sepuluh tahun ia menderita
pahit getir yang tak terkira hanya karena menuruti suara
hati kemarahannya terhadap sang suami yang ternyata tidak
seperti yang diduganya. Ah.........
„Sampai keujung langit, akupun tetap hendak mencari
pedangku itu!" serunya, kemudian, „Nah, sampai berjumpa
pula lain waktu!"
Mengetahui sang isteri sudah tak salah faham lagi,
giranglah Ceng Bo, sehingga sekian saat baru dia dapat
membuka mulut: „Hong-moay, apa kau hendak berlalu?"
Atas itu, Kang Siang Yan mengangguk.
Kiranya kedua pedang dari suami isteri itu, terdiri dari
„jantan'" dan „betina" yang disebut ,Pi-ih-siang-hong-kiam"
(sepasang pedang burung hong hong yang menyerupai
bulu). Pedang Bek Ing, disebut yap-kun, sedang kepunyaan
In Hong dinamakan kuan-wi. Pedang itu peninggalan dari
ayah In Hong yakni Wi-tin-pat-hong In Thian-kau.
Ketajamannya dapat dibuat memapas batu kumala.
Konon menurut cerita, didaerah Tiongkok selatan hidup
sepasahg burung hong, yang baik terbang maupun mencari
makan selalu berdampingan, tak mau berpisah. Pasangan
burung itu disebut pi-ih-siang-hong. Yang jantan dinamakan
yap-kun dan yang betina kuan-wi. Sepasang pedang pusaka
itu diberi nama burung hong tersebut. Sipria dengan
mencekal pedang yap-kun memainkan ilmupedang to-haykiamhwat.
Siwanita dengan rnenghunus pedang kian-wi
memainkan ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat.
Kesaktiannya mengarungi dunia persilatan. Sampaipun itu
waktu Tay Siang Siansu dari gereja Liok-yang-si yang
menjadi guru Kiau To, meskipun ilmunya lwekang lebih
tinggi dari Bek Ing dan In Hong berdua, tapi tokh akhirnya
dapat, dikalahkan oleh sepasang ilmu pedang dari suami
isteri itu.
Sejak pedang In Hong dicuri orang, 10 tahun lamanya
Ceng Bo siangjin pun tak mau gunakan pedangnya.
Meskipun kala itu dia ada membawanya, tapi juga belum
pernah digunakan. Kini setelah tersadar dari kekeliruannya,
Kang Siang Yan mengambil putusan hendak mencari
pedangnya itu, baru nanti ia berkumpul lagi dengan
suaminya. Karena yakin akan kelihayan sang isteri
sekarang, Ceng Bopun tak mau mencegahnya. Maka oleh
karena sudah tak ada yang perlu dibicarakan, Kang Siang
Yan segera ajak Bek Lian berlalu.
Seruan itu telah menyadarkan pikiran sekalian orang
yang berada diruang situ. Oleh karena tadi janggutnya
kebakar obor si The Go, Nyo Kong-lim segera mencegah:
„Kang Siang Yan, silahkan kau pergi sendiri, tapi orang she
The itu harap ditinggal!"
Tapi The Go yang sudah kuat kedudukannya, segera
mengejek: „Toacecu, kalau aku tinggal dikuatirkan kau tak
tahan nanti!" Digandengnya tangan Bek Lian untuk diajak
berdiri disamping Kang Siang Yan.
Ceng Bo siangjin serba sulit. Kalau berkeras hendak
menahan The Go, ada kemungkinan nanti bentrok lagi
dengan sang isteri. Maka tak dapat mulutnya mengatakan
sesuatu, kecuali sang mata mengawasi siorang she The itu
melangkah pergi. Ketika dia hendak membuka mulut, Kang
Siang Yan sudah mendahului mengancam: „Siapa yang
berani menghadang kami bertiga, dia tentu akan lekas
menghadap, raja akherat!"
Sikasar Nyo Kong-lim tak mau banyak pikir lagi. Sekali
loncat kemuka, dia kibaskan sam-ciat-kun sampai lempang.
„Jangan umbar suara, rasailah ruyungku ini!" serunya
sembari ayunkan sam-ciat-kun.
„Nyo-heng, jangan!" seru Ceng Bo dengan gugup. Tapi
sudah terlambat. Ruyung menyambar, Kang Siang Yan
cepat menangkap lalu menariknya kebelakang. Tubuh
tinggi besar bagai sebuah pagoda dari Nyo Kong-lim itu
segera ter-huyung2 mau jatuh. Dalam kagetnya, dia segera
hendak lepaskan cekalannya, tapi sudah kasip. Sekali
tangan Kang Siang Yan menjorok, maka Nyo Kong-lim
segera terlempar kebelakang, ngeri benar ......... kalau
terbentur dengan tiang besar pasti dia akan luka parah.
Wut......, tiba2 tampak sesook tubuh melesat, menyongsong
Nyo Kong-lim dengan punggungnya yang benjul besar itu.
Ya, memang dia adalah Thay-san sin-tho Ih Liok.
Dorongan lwekang yang dilancarkan oleh Kang Siang
Yan itu, hebatnya bukan buatan. Sekalipun Kui-ing-cu, Tay
Siang Siansu dan lain2 tokoh lihay, sukar untuk menolong
Nyo Kong-lim dalam keadaan begitu. Tapi ketika
menyentuh punuk A Bongkok, Nyo kong-lim serasa
terbentur dengan kapas. Buru2 dia tegak lagi. Dia sih tak
kurang suatu apa, tapi Thay-san sin-tho tidak demikian.
Karena menahan gempuran lwekang Kang Siang Yan yang
sedahsyat itu, maka diapun lalu menguak keras dan
muntahkan darah segar........
„Ih-heng, kau bagaimana?" tanya Ceng Bo bergegas
menghampiri. Tapi si Bongkok itu seorang jantan yang
keras, sahutnya: „Tak apa2, kalau mengaso 3 sampai 6
bulan, tentu akan sembuh!"
„Siapa yang berani menghadang lagi ?" seru Kang Siang
Yan dengan seramnya. Orang2 sama beringas murka, tapi
satupun tiada yang berani maju. Kini terpaksa Ceng Bo
keraskan hatinya berkata: „Hong-moay, apapun kau boleh
lakukan kecuali jangan membawa pergi The Go itu. Orang
itu berhati binatang berhamba pada musuh, tak boleh
diampuni!"
„Kalau aku hendak membawanya, habis mau apa?"
tanya Kang Siang Yan dengan murka. Rupanya
penyakitnya eksentrik angot lagi. Lagi2 Ceng Bo didesak
kepojok kesulitan. Tetap melarang, tentu bentrok dengan
isterinya yang sudah berbaik itu. Tapi kalau membiarkan,
dia malu kepada orang banyak. Saking bingungnya, sampai
sekian saat dia termenung diam.
„Masing2 orang mempunyai cita2 sendiri, mengapa
hendak memaksanya yang berarti mencelakai dua jiwa?"
kata Kang Siang Yan pula. Turut adat Kang Siang Yan,
ucapan itu sudah keliwat mengalah sekali. Diantara sekian
banyak orang, hanya si Bongkok sendiri yang terang
hatinya, walaupun kini dia sedang luka.
”Kang Siang Yan, bawalah orang itu telah
membangkitkan kemarahan orang banyak. Hari ini dapat
lolos, tapi besok pagi tentu tidak!" serunya.
Kang Siang Yan perdengarkan tertawa dingin, berputar
tubuh lalu pergi. Baru sampai diambang pintu, tiba2 Kiau
To berseru: „Cian-bin long-kun, bagaimana dengan janji
hari Peh-cun nanti?"
„Kiau Ioji, siapa yang tak datang, bukan laki2!" sahut
The Go serentak,
„Sudah tentu aku datang!" balas Kiau To dengan keren.
Orang2 sama tak mengerti apa yang dimaksudkan dengan
„janji hari Pehcun" itu, Setelah rombongan Kang Siang Yan
pergi, baru Siau To menceritakan hal itu. Mendengar itu,
walaupun kalau Ang Hwat cinjin dari gereja Liok-yong-si
itu tak boleh dibuat main2, tapi karena hal itu merupakan
kesempatan, baik untuk menangkap si The Go, maka
sekalian orang telah mencapai kata sepakat begini: Karena
temponya masih 3 bulan, mereka hendak berpencar
mengundang bantuan dari tokoh2 Iihay. Nanti sampai
temponya mereka hendak datang be-ramai2 ke Gereja Liokyong-
si itu.
Pada hari ketiga, tiba2 mereka melihat dibawah gunung
penuh rapat dengan kubu2 tentara Ceng. Jadi nyata Hoasan
sudah dikepung rapat oleh musuh, malah kali ini
agaknya kepungan itu berlipat ganda kuatnya. Diam2
kebencian seluruh orang Hoa-san ditumpahkan pada The
Go yang dianggap menjadi biang keladinya. Hanya
anehnya, meski mempunyai kekuatan yang sedemikian
hebatnya itu namun musuh tetap tidak mau menyerang
keatas. pihak Hoa-san pun terpaksa mengadalkan siasat
bertahan diri. Perang dingin itu berlangsung sampai 1 bulan
lamanya. Ransum pihak Hoa-san sudah mulal habis,
sedangkan tentara Ceng belum nampak mundur. Sudah
tentu orang Hoa-san menjadi bingung gelisah.
Hari itu adalah tanggal 14 bulan 3, Nyo Kong-lim
kedengaran megghela napas: „Keparat, rangsum kita hanya
masih tinggal dua hari, kalau mereka tak menyerang
kitapun akan mati kelaparan !"
Ceng Bo siangjin juga tak dapat berbuat apa2. Berulang
kali dia suruh orang untuk menyelidiki fihak musuh, namun
tiada membawa hasil apa2. Pernah Kiau To membawa 100-
an anak buah untuk menyerbu kebawah, tapi dia balik
pulang sendirian dengan penuh luka. Seluruh, anak
buahnya tak satupun yang masih hidup.
Dua hari kemudian, rangsum habis. Kini anjing dan
kuda yang dijadikan kawan perut dan hal itu dapat bertahan
sampai 3 hari lagi. Setelah itu keadaan menjadi genting.
lbaratnya sebutir beraspun tiada ketinggalan lagi, Malah
saking tak tahan, sudah ada beberapa liaulo yang diam2
nyeberang kepada musuh. Keesokan harinya kawanan
liaulo itu sama ber-teriak2 dikaki gunung, se-olah2
menganjurkan kawan2nya yang lain supaya mengikuti
jejaknya. Benar juga, besok paginya ada beberapa laulo
yang menghilang.
Ceng Bo siangjin mengadakan permusyawarahan dengan
sekalian saudara2. Tiba2 datanglah seorang, utusan dari
fihak tentara Ceng yang membawa surat untuk Nyo Konglim.
Oleh karena ketua Hoa-san itu buta huruf, maka surat
lalu diberikan pada Ceng Bo siangjin siapa lalu
membacanya :
„Dengan ini congpeng tentara Ceng, Li Seng Tong,
memberitahuhan pada Hoa-san Nyo Kong-lim, bahwa
gunung Hoasan sudah sebulan lebih dikurung, sehingga
anak buah Hoa-san lemah kurus karena persediaan ransum
habis. Kuberi batas waktu sehari sampai besok, kalau mau
menyerah tentu akan diganjar pangkat besar, tapi kalau
membangkang, akan digempur habis2an. Harap
direnungkan, se-masak2nya !"
„Tebas kepala utusan ini!" seru Nyo Kong-lim dengan
murka sehabis mendengar bunyi surat itu. Tak tiada
seorang dari liaulo yang melakukan perintah itu. Malah ada
belasan thaubak (kepala hauk) yang tampil kemuka, kata
mereka: „Toacecu, para Cecu mempunyai kepandaian jadi
tak jeri. Tapi kami sekalian saudara ini tentu takkan bisa
selamatkan jiwa !"
Nyo Kong-lim tak dapat membantah, malah Ceng Bo
siangjin yang sedianya hendak me-robek2 surat itu telah
membatalkan niatnya, katanya kepada utusan itu:
„Sampaikan pada Li Seng Tong, kami minta perpanjangan
waktu sampai 3 hari lagi ! "
Ketika si utusan berlalu, dengan marah2 Nyo Kong-lim
menegur: „Hay-te-kau, apa kau berniat menakluk?"
Ceng Bo siangjin kedengaran menghela napas, ujarnya:
„Nyo-heng, harap suruh sekalian thaubak berkumpul disini
!"
Nyo Kong-lim tak tahu apa maksud siangjin itu, namun
dia jalankan perintahnya. Setelah sekalian thaubak lengkap
berkumpul, berkatalah Ceng Bo siangjin: „Kutahu saudara2
sekalian telah menunaikan tugas dengan baik dan cukup
lama menderita. Malam ini aku bersama Toacecu hendak
melakukan serangan ke-kubu2 musuh. Kalau berhasil
menangkap Li Seng Tong, kita tertolong semua. Tapi
andaikata gagal dan mengalami apa2, saudara2 boleh
lakukan apa yang dirasa baik untuk saudara ! "
Sekalian thaubak kembali ketempat masing2. Menurut
perhitungan Ceng Bo, orang2 yang pantas diajak menyerbu
hanyalah 6 orang yakni Nyo Kong-lim, Ih Liok, Tio Jiang,
Ki Ce-tiong, Kiau To dan dia sendiri. Kembali dia
perdengarkan helaan nafas, ujarnya: „Usaha kita malam
nanti, penuh bahaya banyak gagal daripada berhasilnya.
Tapi kita tak boleh jeri atau putus asa Begitulah setelah
dahar seadanya, mereka berenam siap2 menantikan tibanya
tengah malam.
Luka si Bongkok, kini ternyata sudah sembuh. Karena
sudah sekian lama mengeram diri, dia merasa keisengan
lalu, ber-jalan2 keluar sembari menggendong tangan. Demi
menampak keadaan para liaulo yang sudah tak
bersernangat itu, diam2 si Bongkok menarik napas. Kala itu
hari sudah petang, tiba2 pada sebuah kubu musuh,
dilihatnya bukan seperti sebuah kubu melainkan semacam
tumpukan dami padi. Dan begitulah keadaan lain2 kubu
dikanan kiri. Tiba2 terkilas sesuatu pada pikirannya dan
berteriaklah dia: „Celaka, kita masuk perangkap !"
„Bek-heng, Nyo-heng, kita ditipu musuh!" serunya demi
dia datang ber-gegas2! menemui Ceng Bo siangjin dan Nyo
Kong-lim.
„Ditipu bagaimana?" tanya Ceng Bo.
„Masa, kubu2 mereka itu, bukan kubu sesungguhnya
melainkan tumpukan dami!" menerangkan si Bongkok yang
sudah tentu menggemparkan sekalian orang. Ber-bondong2
mereka menuju keluar untuk menyaksikan dan memang
kubu2. musuh itu tampak ,mati tiada tanda2' ada asap
mengepul karena dihuni orang.
„Keparat, itulah siasat 'Kota kosong', hayo kita serbu
seru Nyo Kong-lim.
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 21 : MEMBAYAR HUTANG
„Kalau benar tentara Ceng masih kuat dan persediaan
ransumnya masih cukup, mengapa mereka mengirim,
utusan memberi ultimatum? Kurasa, karena mereka sudah
lapuk dalam, jadi menggunakan siasat 'Kota kosong' (gertak
sambel) ini," seru Ki Ce-tiong.
Sekalian orang gagah menyetujui pendapat itu. Begitulah
sebelum petang hari, 2000 anak buah Hoasan bersiap turun
gunung. Setengah jam kemudian, mereka sudah tiba dikaki
gunung. Dengan ber-sorak2, mereka menyerbu. Benar juga
dalam kubu musuh itu hanya terdapat berpuluh serdadu
yang sudah lemah dan cacad. Untuk kegirangan anak buah
Hoa-san, ternyata diperkubuan situ terdapat sejumlah besar
persediaan beras. Karena sudah beberapa hari menahan
lapar, jadi mereka lalu serempak menghidupkan api
menanak nasi dan memakannya dengan lahap sekali.
Tapi Thay-san sin-tho Ih Liok yang cerdas segera
mendapat kesan lain. „Bek-heng keadaan ini amat
mencurigakan!" serunya. Memang Ceng Bo siangjinpun
curiga, mengapa musuh meninggalkan ransum disitu.
Makin memikirkan hal itu, Ih Liok makin gelisah. Kalau
benar musuh memasang perangkap, habislah nasib sekian
banyak anak buah Hoa-san. Buru2 dia mencari Nyo Konglim.
„Nyo-heng, lekas suruh sekalian saudara tinggalkan
tempat ini !"
Tapi ketika Nyo Kong-lim mengeluarkan perintah itu,
sekalian anak buah tak mau. Mereka, tengah berpesta pora
seperti harimau lapar. Ih Liok dan Nyo Kong-lim tak dapat
berbuat apa2. Mereka hanya mengharap agar
pengundurkan musuh itu benar2 suatu pengunduran, bukan
siasat.
„Kalau benar ini merupakan siasat, arsiteknya tentu si
Cian-bin Long-kun!" Tio Jiang mengutarakan dugaannya.
Juga sekalian orang gagah berpendapat demikian. Dalam
kepandaian silat, banyaklah fihak Hoa-san yang melebihi
dari orang she The itu, tapi dalam soal mengatur rencana
dan siasat, semua tak ada yang menang.
„Kalau kali ini kita sampai termakan perangkapnya,
kelak tentu kucincang manusia itu!" kata, Ih Liok. Tapi
baru saja kata2 itu diucapkan, atau bum........pecahlah
sebuah dentuman laksana membelah bumi. Belasan kubu
terbakar seketika. Dan didalam tereakan ”celaka" dari
sekian banyak orang, dentuman kedua kembali menyusul.
Dentuman reda, jerit tangis mengganti memekakkan
telinga. Kerat2 anggauta tubuh manusia bertebaran kemana2
ditimpa oleh hujan darah diatas lautan api. Sungguh
suatu pemandangan yang mengerikan bulu roma
Tiba2 Ih Liok mencabut pedang yang terselip dipinggang
Ceng Bo, lalu memapas kutung jari tangan kirinya sendiri.
„Ih-heng, mengapa kau ?" tanya Ceng Bo dengan kaget.
„Jika dalam kehidupan sekarang ini, Ih Liok tak dapat
mencincang tubuh The Go, biarlah lukaku ini jadi busuk!"
seru Ih Liok dengan wajah pucat. Memang karena malu
hati dan geram terkena perangkap si The Go ini, si Bongkok
telah mengikrarkan sumpah.
Meriam musuh masih berdentuman tak henti2nya,
disana sini orang menjerit dan merintih laksana
menghadapi kiamat.
”Untuk membalas sakit hati, 10 tahunpun tak terlambat.
Mengapa seorang ksatrya lekas berputus asa ?" Ceng Bo
menasehati. si Bongkok siapa segera menyahut dengan pilu:
„Bukan kusayangkan selembar jiwaku ini, tapi adalah
karena gara2ku maka sekian banyak saudara telah
berkorban jiwa!"
Semua orang sarna menghiburnya. Kala itu suara
tembakan meriam sudah berhenti tapi sehagai gantinya
tentara Ceng dengan gegap gempita menyerbu datang.
Keenam pahlawan Hoasan itu segera bersatu padu
menghadapi. Sudah lebih sebulan Tio Jiang menganggur
dan hanya berlatih keras sehingga kini kepandaiannya
bertambah maju pesat. Melihat kesempatan ini, dia maju
mempelopori dimuka sendiri. Direbutnya sebatang tombak
dari seorang serdadu musuh dan dalam sekejab saja dia
sudah berhasil membinasakan 6 orang musuh lagi. Juga
Ceng Bo siangjin, Ki Ce-tiong, Nyo Kong-lim dll hebat
tandangnya. Bagaikan sekawan harimau menggasak
gerombolan anak kambing, demikian amukan pahlawan2.
Hal ini tepat seperti kala mereka rnembuka jalan darah dari
kepungan tentara Ceng digunung Gwat-siu-san tempo hari.
Selama bertempur itu, Ceng Bo siangjin tetap bahu
membahu dengan Thay-san-sin-tho Ih Liok. Menjelang
tengah malam, suasana medan pertempuran itu makin sepi
dengan tereakan orang. Ini menandakan bahwa anak buah
Hoasan telah kena dihancurkan musuh. Betapa geram dan
pilunya keenam orang gagah itu, dapat dibayangkan.
Dengan bersuit-keras, serentak Ceng Bo mencabut pedang
pusaka yang dalam 10 tahun belakang ini tak pernah
digunakan. „To hay kiam hwat" ilmu pedang membalik
laut, haus dengan darah lagi. Imam yang gagah perkasa itu
menyerbu maju, diikuti oleh kelima kawannya.
Kemana pedang yap-kun berkelebat, disitulah pedang
dan tombak musuh kutung bertebaran kesana-sini. Belum
pernah dalam sejarah pertempuran, serdadu2 Ceng itu
melihat kesaktian seorang pahlawan macam si imam itu.
Bagaikan air surut, mereka sama menyisih mundur,
memberi jalan kepada ke-enam pahlawan itu. Tapi
mendadak terdengar lagi aba2 tembakan dan serdadu2 itu
segera bergelombang-maju menyerang lagi. Kembali „To
hay kiam hwat" meminta korban belasan jiwa serdadu
musuh. Melihat caranya sang suhu menarikan „To hay
kiam hwat" sedemikian hebatnya Tio Jiang sangat kagum
sekali.
Se-konyong2 mata Tio Jiang tertumbuk pada sebuah
pemandangan yang mempesonakan, Tak berapa jauh dari
situ, dipinggir sebatang puhun siong yang tumbuh dihutan
dekat tempat itu, tampak ada seorang gadis langsing
bersandar berdiri membelakangi arahnya. Dalam cahaya
bulan remang2, tegas dilihatnya itulah Bek Lian.
Tersirap darah didada Tio Jiang. Gerakannya agak
berayal dan hampir sedikit saja dia termakan sebatang
tombak musuh. Walaupun nyata2 Bek Lian tak mencintai,
namun api asmara dalam hati anak itu tetap tak padam.
Dalam kamus hatinya, dunia ini hanya ada Bek Lian
seorang. Maka untuk kedua kali, dia ulangi lagi melirik
kearah itu. Ternyata Bek Lian masih tetap berdiri disitu
seorang diri. Seketika lupalah dia kalau masih ditengah
medan pertempuran. Sret...., sret......, sret......, 3 kali dia
bolang balingkan pedang untuk mengundurkan beberapa,
serdadu, lalu menyelinap ketempat Bek Lian tadi.
Oleh karena tengah bertempur mati2an jadi kelima tokoh
tadi tak mengetahui akan kepergian Tio Jiang. Tampak
makin lama Ceng Bo makin beringas. Dengan perkasa dia
berhasil membuka sebuah jalan darah, diikuti oleh keempat
kawannya. Setelah itu dengan pesatnya mereka lolos.
Agaknya kawanan musuh masih coba, mengejar, tapi mana
mereka dapat mengikuti lari ke-lima pahlawan yang lihay
itu.
„Hai, kemana Jiang-ji ?" tanya Ceng Bo setelah berhasil
lolos.
„Entahlah!" sahut Nyo Kong-lim. Ih Liok tampak
kerutkan kening, sementara Kiau To mem-banting2 kaki,
serunya: „Mengapa bocah itu tak tahu bahaya?" Sedang Ki
Ce-tiong menyatakan kekuatirannya jangan2 Tio Jiang
tertangkap musuh. Tapi, tetap kelima orang itu tak tahu
kemana perginya Tio, Jiang.
Setelah memulangkan napas, berkatalah Ceng Bo:
„Kalian tunggu disini, biar kubalik kesana melihatnya!"
„Tidak, kalau satu pergi, pergi semua!" seru Nyo Konglim
sambil getarkan Sam-ciat-kun. Lain2 kawanpun setuju.
Bermula fihak tentara Ceng sudah segera akan menarik
pulang barisannya, karena sudah mendapat hasil
kemenangan. Tapi dengan datangnya kembali kelima
harimau itu, mereka jadi kalang kabut lagi. Tapi setelah
beberapa lama kelima orang itu mengobrak-abrik kian
kemari tak menjumpai Tio Jiang, mereka lalu mengangkat
kaki lagi. Saking letihnya, mereka berlima sampai
kehabisan tenaga.
„Mati hidup terserah Allah. Jiang-ji seorang anak jujur
berhati patriot, semestinya dia tak sampai mengalami nasib
buruk!" kata Ceng Bo sembari menghela napas.
„Li Seng Tong pandai memakai orang. Kalau siaoko
tertangkap, jiwanya pasti terpelihara. Kelak kalau mereka
sudah mundur kita dapat menyirepi kabar ke Kwiciu!" ujar
Ih Liok. Demikianlah mereka hanya menghela napas tak
dapat berdaya apa2. Malam itu mereka tidur dihutan.
Keesokan harinya, benar juga tentara Ceng telah ditarik
mundur. Oleh karena kini hanya tinggal berlima, maka.
Ceng Bo usulkan supaya pulang dulu ketempat
kediamannya di Lo-hu-san, guna merencanakan siasat lagi.
„Siaoko pernah mengatakan kalau suhuku Tay Siang
Siansu masih hidup. Untuk menggempur gereja Ang-hunkiong,
kita harus mendapat bantuannya!" kata Kiau To.
„Akupun hendak kegunung Hud-san mencari pemilik
dari senjata Eng-jiao-thau (sarung cakar garuda)," kata Ki
Ce-tiong. Juga Ih Liok hendak mengundang bantuan
kawannya. Maka undangan Ceng Bo tadi terpaksa tak
dapat dipenuhi. Begitulah mereka, lalu ambil selamat
berpisah satu sama lain.
Kini mari kita ikuti Tio Jiang, sibocah sembrono itu.
Dengan, ber-debar2 dia menghampiri Bek Lian.
Anehnya, mengapa sampai sekian lama Bek Lian tetap
membelakangi saja dan tak kelihatan bergerak, Tio Jiang
sudah curiga, tapi dia sudah dimabuk cinta. „Lian suci!"
serunya, sembari maju mengulurkan tangan. Ketika hendak
menyentuh bahu Bek Lian, se-konyong2 ujung kakinya
melesak kebawah. Celaka! Bam dia hendak loncat, sebuah
samberan angin keras menghantam kepalanya. Makin cepat
dia hendak enjot kakinya mehambung keatas, tapi hai ......,
begitu sang kaki di-enjot, bukannya dapat melambung
malah terjerumus kebawah. Kiranya tempat yang
dipijaknya itu merupakan sebuah lubang jebakan yang
ditutupi tumpukan rumput!
Sembari berjumpalitan, Tio Jiang jatuh kebawah. Karena
lubang perangkap itu tak se-berapa tingginya, Tio Jiang
cepat enjot tubuhnya loncat keatas dan sudah mau berhasil
kalau tidak se-konyong2 dimulut lubang itu muncul belasan
batang kait, sehingga pakaian dan badannya kena tertusuk.
Betapapun lihaynya, akhirnya Tio Jiang dapat juga
diringkus hidup2 oleh serdadu2 Ceng. Begitu berada diluar,
segera terdengar gelak tertawa seseorang dan sesosok tubuh
melesat menutuk jalan darah dibagian iganya. Kini Tio
Jiang tak dapat berkutik lagi. Ketika diawasinya, orang itu
bukan lain adalah sang musuh lama, Cian-bin Long-kun
The Go !
Bukan main gusarnya Tio Jiang melihat orang itu.
Ketika dia melirik kesamping, dilihatnya Bek Lian masih
menyandar dipuhun. „Lian suci, kau sangat kejam!"
serunya. The Go ter-bahak2 menghampiri, lalu mengangkat
„Bek Lian" terus dilemparkan kearah Tio Jiang, serunya:
„Ini gadis yang kau rindui siang malam, ciumlah sepuas2mu
!"
Astaga! Baru kini Tio Jiang tersadar atas ketololannya.
Yang disangka Bek Lian itu ternyata adalah sebuah
orang2an yang diberi pakaian Bek Lian. Kembali dia
termakan tipu The Go, hingga sampai dia ter-longong2.
Kini dilihatnya The Go sudah berganti dengan pakaian
seorang pembesar militer Ceng. Rambutnya dipangkas dan
dibelakangnya memakai kuncir. Wajahnya girang kebangga2an.
„Anjing Boan kau!" damprat Tio Jiang sembari meludah.
Dia tak pandai bicara, tapi kata2 yang dikeluarkan sepenuh
hati itu, membuat The Go terkesiap. „The Go....., The
Go......, jasamu menghancurkan Hoa-san itu, tidak kecil.
Bukan saja seluruh dunia persilatan memujimu, pun
pemerintah Ceng akan mengganjarmu pangkat besar.
Mengapa kau hiraukan makian seorang budak macam
begitu ?" pikiran The Go membantah sendiri. Maka
wajahnyapun berobah tenang dan mendongak tertawa
riang.
Amarah Tio Jiang ber-golak2 memenuhi ruang dadanya,
namun karena kaki tangannya terikat, dia tak dapat
berkiitik. Tiba2 terdengar suara kecil merayu: „Engkoh Go,
mengapa kau tertawa? Apa yang kau girangkan ?"
The Go berpaling dan sesosok tubuh langsing melesat
lari kearahnya. Oho, itulah Bek Lian, sijelita yang digilai
Tio Jiang. Dia segera berseru dengan suara ter-putus2:
„Lian suci! Kau........... kau........... "
Banyak nian kata2 yang hendak diucapkan Tio Jiang,
tapi entah bagaimanaa serasa tenggorokannya tersumpal
dengan suatu kesesakan hawa, sehingga untuk bernapas
saja susah rasanya. Tapi sebaliknya Bek Lian hanya dingin2
saja mengawasi Tio Jiang sejenak, lalu menggelandot pada
Tho Go sembari tempelkan mulutnya ketelinga sikekasih.
Entah apa yang dibisikkan dengan riangnya itu.
Bermula Tio Jiang mendongkol dan marah sekali. Tapi
serta dilihatnya sinona sedemikian dingin terhadapnya dan
begitu mesra terhadap The Go seorang penghianat bangsa,
tawarlah perasaan Tio Jiang, Bidadari sekalipun gadis itu,
namun dengan tingkah lakunya yang memuakkan itu,
dapatkah ia menjadi pujaan hatinya? Ah...., tidak..., tidak.
Dan seketika tenanglah perasaan Tio Jiang. Hawa yang
menyumbat tenggorokannya tadi, tanpa terasa menurun
lagi kedada lain ber-putar2 didalam perut terus naik lagi.
Tio Jiang sangat kaget mengalami keadaan tubuhnya,
Baik ilmu lwekang „Cap ji bu heng kang sim" yang
dipelajari dari Sik Lo-sam, maupun lwekang ajaran sang
suhu, se-kali2 tak boleh ber-golak2 begitu karena
ditimbulkan hawa kemarahan. Kalau hawa murni itu
sampai meluap kemudian balik menyusup kesaluran yang
salah, dia tentu ba menjadi seorang senewen. Teringat akan
itu, buru2 dia kembalikan hawa murni yang ber-golak2 itu,
tapi sukar.
Hawa itu sudah menyalur keseluruh tubuh, melewati
kepala, jalan darah lalu kembali lagi kedada. Walaupun
kaget, tapi kini Tio Jiang rasakan semangatnya segar.
Sekilas teringat dia akan wejangan Kui-ing-cu tempo hari.
Ilmu lwekang itu tergantung dari bakat sipelajar sendiri.
Menurut cabang persilatannya, lwekang itupun masing2
berlainan, mempunyai kelebihan sendiri2. Kalau orang
dapat mengambil sari kebagusan dari setiap Iwekang itu,
tentu akan berhasil menciptakan suatu macam lwekang
sendiri yang hebat.
Itu waktu Tio Jiang hanya mendengarkan saja tak ambil
perhatian terhadap nasehat Kui-ing-cu. Pikirnya, untuk
Mempelajari semacam lwekang saja dia masih belum mana
dapat menciptakan sendiri? Kini dalam menghadapi saat2
genting dimana hawa murninya setiap detik bisa menyalur
salah, dia segera teringat akan ajaran Kui-ing-cu. Bek Lian
dan The Go, dianggap sepi saja. Pikirannya dibulatkan satu,
dan hawa murni itu kembali beredar lagi. Kalau tadi yang
pertama tidak dengan sengaja, kini dia empos betul2
semangatnya dan tahu2 begitu serasa bergetar, jalan darah
yang ditutuk si The Go tadi telah dapat diterobos buka oleh
emposan hawa murninya!
Girang Tio Jiang tak dikata. Ilmu tutukan The Go itu
adalah ilmu istimewa dari Ang hwat cinjin yang sudah
termasyhur lihaynya, tapi toh ternyata dapat dijebolkan. Ini
membuktikan kalau dalam sekejab mendapat penerangan
itu, ilmunya bertambah maju pesat sekali. Hal ini kelak dia
baru mengerti setelah bertanya pada Kui-ing-cu. Dan sejak
itu, dia selalu berhati2 mengendalikan perasaannya.
Setelah jalan darahnya terbuka lagi, kembali dia hendak
mencoba sampai dimana kemajuannya pada saat itu. Dia
salurkan lwekang kearah sepasang lengan, lalu meronta
keras. Hai, tali pengikat yang terbuat dari urat kerbau
direndarn minyak itu, putus semua. Dalam terperanjat
girangnya itu, dia lagi2 gerakkan sang kaki dan kembali tali
peiigikatnya putus juga. Sedikitpun Tio Jiang yang sangat
gemar ilmu silat itu, tak ngimpi kalau dalam beberapa detik
itu saja dia telah mencapai kesempurnaan yang begitu
gilang gemilang. Sudah tentu girangnya sukar dilukis.
Adalah disana The Go dan Bek Lian masih bercumbu2an
dengan mesranya. Mereka tak mengetahui kalau
Tio Jiang sudah bebas. Maka dengan menyeringai hina, dia
mengejek: „Anak kerbau, kau ingin mati secara bagaimana,
bilanglah!"
Habis berkata, The Go tertawa puas. Bek Lian yang
mendengari, diam saja malah setelah menatap sebentar
kearah Tio Jiang, ia memandang lagi pada The Go dengan
mesranya. Dengan begini, nona itu sudah kelebuh dalam
sekali ke dalam perangkap asrama yang dipasang The Go.
Tio Jiang hanya tertawa dingin saja. Bermula saat itu,
juga dia hendak loncat menerjang penghianat itu, tapi
sekilas terlintas dalam pikirannya untuk mencari keterangan
lebih jauh dulu sebelum turun tangan. „Cian-bin Longkun,
kemana Li Seng Tong sekarang?" tanya dengan tenang.
”Li congpeng siang2 sudah balik. Tentara Ceng disini,
adalah orang2ku!" sahut The Go, dengan tertawa bangga.
Dengan wajah keren, Tio Jiang memaki: „Kalau begitu,
dosamu sudah memuncak, sampai mati masih dicaci
orang!"
Mulut The Go yang masih tertawa tadi, tak dapat
meneruskan ketawanya lagi. „Anak kerbau, kematianmu
sudah didepan mata, mengapa masih kurang ajar? Hai,
anak2 !, Bawa wajan dan api kemari"
„Cian-bin Long-kun, perlu apa alat masak itu?" tanya,
Tio Jiang dengan keheranan. The Go ter-bahak2,
sahutnya :
„Tulang kepalamu keras, maka perlu digodok dengan
wajan !"
Tio Jiang menelan ludah, terhadap manusia sekejam itu
tak dapat dia bersabar lagi. Sekali loncat dia menerjangnya.
„Bangsat, jangan umbar kebiadaban !"
The Go terperanjat, dengan gugup dia segera tarik tubuh
Bek Lian kemuka, untuk menutupi diri. Terjangan Tio
Jiang tadi disertai dengan sebuah hantaman kuat, tapi demi,
melihat kelicikan The Go menjadikan Bek Lian perisainya,
dia buru2 tarik pulang tangannya. „Lian suci, bangsat itu
telah menjadikan kau sebagai perisainya, apa kau belum
insyaf ? "
Sebaliknya Bek Lian malah deliki mata dan tertawa
dingin „Makin kau menjelekkan namanya, makin aku
mencintainya !"
Tio Jiang tertegun. Sucinya itu bukan seorang dungu,
mengapa kini begitu limbung pikirannya? Tapi dalam pada
itu, walaupun heran mengapa Tio Jiang bisa lolos, The Go
terus keluarkan kipasnya yang terbuat dari lidi baja murni.
Sekali bergerak dengan thui-jong-bong-gwat (mendorong
jendela melihat rembulan) dia maju menutuk tenggorokan
Tio Jiang.
Sejak perkenalan pertama di Lo-hu-san entah sudah
berapa kali Tio Jiang selalu mendapat kopi pahit dari The
Go. Lama nian hati anak muda ini hendak membikin
pembalasan. Dan inilah saatnya. Begitu miringkan tubuh
menghindar, dia maju selangkah. Secepat kilat, dia
cengkeram ugal2 tangan lawan. Gayanya lain dari Tio
Jiang dahulu, hingga membuat The Go kagum dan heran
juga. Cepat2 The Go itu tarik turun tangannya, lalu
dijulurkan lagi untuk menutuk dada. Juga serangan itu,
indah dan cepat.
„Bagus!" seru Tio, Jiang melihat gaya tangkisan yang
dapat menyerang itu. Dia putar tubuhnya sembari mendak,
lalu tiba2 dia gunakan sepasang tangan mendorong dada
orang yang terbuka itu. Dapat dipastikan serangannya itu
tentu berhasil. Se-konyong2 ada angin menyambar dari
belakang, maka terpaksa dia tarik tangannya kanan untuk
menangkap kebelakang, hai mengapa benda itu sedingin es?
Adalah karena dia tertegun bahwa yang disawutnya itu
adalah sebatang liu-yap-to milik Bek Lian, The Go sudah
beroleh kesernpatan untuk loncat menyingkir. Wajahnya
pucat lesi, dahinya mandi keringat. Ternyata dia seperti
orang yang sudah mati dapat hidup kembali, hatinya
berguncang keras
Ketika Tio Jiang berpaling kebelakang, didapatinya Bek
Lian bersikap bengis sembari menghunus pedang. „Lian
suci, mengapa kau?" tegur Tio Jiang.
„Kalau kau berani melukai engkoh Go, aku tentu
mengadu jiwa denganmu!" seru Bek Lian.
„Lian suci, bangsat itu berdosa besar. Semua saudara
dari Hoa-san, telah hilang jiwa gara2 tipunya. Mengapa
harus diampuni ? "
„Tidak mengampuni dia berarti tidak mengampuni aku!"
seru Bek Lian sembari putar pedangnya terus menusuk dada
Tio Jiang dengan jurus cing-wi-tian-hay. Bagi Tio Jiang,
ilmu pedang to-hay-kiam-hwat sudah difahaminya.
Terhadap, sang suci sedikitpun dia tak jeri. Tapi mengingat
ikatan saudara seperguruan tak mau dia membalas,
melainkan menghindar kesamping. Tapi good-will itu telah
dirusak oleh The Go yang se-konyong2 loncat menurun
menutuk jalan darah dikaki. Jadi dalam keadaan itu, Tio
Jiang diserang dari muka dan belakang. Tapi Tio Jiang
sekarang lain dengan Tio Jiang setengah tahun dulu. Sekali
enjot sang kaki, tubuhnya melambung keudara.
GAMBAR 47
Dalam keadaan tergencet dikeroyok, ketika The Go
melontarkan hantaman pula, terpaksa Tio Jiang melompat keatas
terus berjumpalitan hingga melintasi diatas kepalanya The Go.
Biasanya kalau orang loncat keatas, tentu akan jatuhnya
melayang turun kemuka. Tapi karena Bek Lian berada
disebelah muka, Tio Jiang tak mau berbuat begitu. Dia
buang kepalanya kebelakang dan berjumpalitan diudara,
lalu melayang melalui kepala The Go dan turun
dibelakangnya. Suatu loncat-indah yang mengagumkan
sekali!
Melihat Tio Jiang menghilang tiba2, dengan gugup The
Go segera berputar kebelakang, tapi dia sudah disambut
dengan sebuah hantaman. Karena jaraknya sudah
sedemikian dekat jadi The Go dipaksa untuk menangkis,
krak...... baik dia maupun Tio Jiang sama2 tersurut
kebelakang sampai 3 tindak. Hanya saja kalau dia
terhuyung, adalah murid Ceng Bo itu hanya tergetar sedikit,
malah sudah lantas merangsangnya lagi. Dari sini bisa
diketahui sampai dimana, kini nilai kepandaian kedua
seteru besar itu.
The Go gunakan jurus hong-cu-ma-ciu untuk
menghindar, tapi karena tadi dia sudah terluka, dalamnya,
jadi gerakannyapun lamban. Apalagi karena Tio Jiang pun
faham akan ilmu silat hong-cu-may-ciu (dari Sik Lo-sam),
jadi dengan susah payah barulah The Go dapat lolos.
Namun bagai bayangan, Tio Jiang tetap membayangi
kemana larinya.
Dalam beberapa gebrak saja, pakaian kebesaran si The
Go itu sudah compang-camping tak keruan, dan terusmenerus
dia main mundur. Pada lain saat, Tio Jiang
mendesak rapat, setelah menangkis serangan The Go, dia
ulurkan tangan kanan. „Lepas!" dan tahu2 kipas The Go
telah dapat direbut.
Saking ketakutan, The Go segera men-jerit2:
„Hayo, lekas keroyok dia!"
Bagaikan tawon keluar dari sarangnya, kawanan serdadu
Ceng yang sudah sedari tadi mengawasi pertempuran itu
disamping, segera maju menyerang Tio Jiang. Tapi Tio
Jiang cepat merangsang hebat pada The Go, sehingga untuk
beberapa saat kawanan serdadu itu tak berdaya turun
tangan. Masih The Go dapat memaksa bertahan sampai
dua jurus, tapi pada lain saat pahanya tiba2 dirasakan sakit
sekali terkena tutukan Tio Jiang. Saking sakitnya dia tak
kuasa berdiri lagi, berbareng dengan itu tangan kiri Tio
Jiang pun sudah melayang kearah umbun2
kepalanya..............
„Tahan dulu!" seru The Go dengan gugup, lalu berteriak
lagi se-kuat2nya: „Lian-moay, jangan kau mengambil
keputusan pendek begitu!"
Lagi2 Tio Jiang kena diselomoti oleh rase yang licin itu.
Ini sebagian disebabkan karena api-asmaranya terhadap
sang suci masih tetap menyala, sebagian memang wataknya
yang ksatrya. Buktinya tempo Yan-chiu didesak hebat Kang
Siang Yan tempo hari, diapun mati2an mengadu jiwa. Dia
berpaling kebelakang, tapi bukannya Bek Lian hendak
bunuh diri, tapi menghunus pedang dengan cemasnya.
Tahu kalau diselomoti, cepat Tio Jiang berpaling kemuka
lagi, tapi sirase The Go sudah menyingkir pergi!
Dengan menggerung keras, Tio Jiang loncat memburu,
tapi segera dihadang oleh lingkaran pagar tombak dan
golok dari kawanan serdadu. Tapi mana serdadu2 kerucuk
itu bisa menandingi amukan murid kesayangan Ceng Bo
siangjin? Sekali bergerak, dia sudah dapat menyampok
jatuh beberapa serdadu dan merampas tombaknya. Dengan
sebatang tombak, dia mengamuk laksana banteng ketaton,
namun lapisan serdadu itu sangatlah rapatnya. Sekalipun
begitu, mereka tak dapat mendekati Tio Jiang, rupanya
mereka jeri juga akan kegagahan jago muda itu. Kalau dia
berhenti, serdadu2 itupun berhenti tak berani menyerang.
Kalau dia menyerang lagi, pun mereka bergerak pula.
”Menyingkir!" tiba2 dari dalam kawanan serdadu itu
Ioncat maju seorang opsir yang mencekal toya long-gepang.
Tanpa berkata sepatah kata, orang itu segera
menghantam kepala Tio Jiang. Melihat gerakan kaki orang
itu tak teratur, Tio Jiang ganda tertawa saja. Tahu dia,
orang itu hanya bertenaga besar tapi ilmunya silat biasa
saja. Begitu menghindar kesamping, dia lalu maju kemuka
dan blek tangannya menabas pundak siopsir, siapa toyanya
terlempar dan orangnya jatuh terlentang!
Tio Jiang cepat mengambil alih toya long-ge-pang itu,
yang ternyata berat. „Hem......, sejak rombonganmu masuk
kekota, entah berapa banyak rahayat Han yang kehilangan
jiwa, sekarang hendak kubestelkan kau keakherat!" seru Tio
Jiang seraya menjambret tubuh opsir itu terus di-putar2 lalu
dilemparkan kemuka. „Aduh" terdengar suara jeritan dalam
kawanan serdadu sana.
Kembali Tio Jiang mengamuk, sehingga kawanan
serdadu itu kocar kacir mundur. Kemana long-ge-pang
menghantam, darah menyembur membawa gumpalan
daging. Ki-ni terbukalah suatu jalan darah untuk Tio Jiang.
Tapi sekonyong2 ada dua orang maju dengan masing2
mencekal sebuah tun-pay (perisai) besar macamnya.
Wut....., wut...., kedua benda itu berbareng menyerang dan
berhasil mengapit long-ge-pang. Tio Jiang coba kerahkan
tenaga untuk membetot, tapi tak bergeming. Mengapa tiba2
dalam barisan musuh terdapat seorang lihay, demikian
diam2 Tio Jiang terkesialp. Oho......., kiranya kedua orang
itu bukan lain adalah dua paderi besar atau Sam-tianglo dari
gereja Ci-hun-si. Malah kini mereka lengkap tiga
jumlahnya. Yang dua menjepit long-ge-pang dengan
dampar, sedang yang seorang lagi melesat maju
menghantam perut Tio Jiang dengan pukulan hek-sat-ciang
(pukulan pasir hitam).
GAMBAR 48
Belum lagi Tio Jiang dapat merobohkan To Ceng, sementara
itu To Kong dan To Bu juga sudah datang, ia menjadi lebih
payah menghadapi keroyokan tiga tertua dari Ci-hun-si An.
Tio Jang undang seluruh kekuatannya, baru dia berhasil
menarik lolos long-ge-pang. Tapi kedua paderi itu bukan
tokoh lemah. Benar Tio Jiang telah membuat kemajuan
pesat, namun masih kalah dengan peyakinan mereka dari
berpuluh tahun itu. Apalagi dua orang maju berbareng.
Krek........putuslah long-ge-pang itu, hingga Tio Jiang
terjerembab jatuh kebelakang dengan mencekal separoh
kutungan toya. Keadaan itu teramat berbahaya, karena
berbareng dengan itu ketika tianglo itu maju serempak
menyerang 3 bagian tubuhnya .
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 22 : TIGA ORANG HWESHIO
DAN SEORANG PEMALSU
Sebat luar biasa, terpaksa Tio Jiang menekankan
kutungan tangkai toya itu ketanah tubuhnya segera
melambung setombak tingginya. Tapi ketiga paderi itu
merangsang lagi keatas. Namun murid kesayangan Ceng Bo
itu tak gugup. Kutungan toya dijadikan semacam pedang,
diobat-abitkan ditengah udara. Sambil meluncur turun dia
mainkan jurus boan-thian-kok-hay. Memang hebat nian
ilmupedang tohay-kiam-hwat itu. Ketiga tianglo itu
menyingkir mundur, hingga Tio Jiang leluasa turun
ketanah. Dan sekali injak tanah, dia mainkan lagi jurus haylwe-
sip-ciu.
Hay-lwe-sip-ciu atau 10 benua didalam laut, merupakan
jurus terakhir dari ilmupedang to-hay-kiam-hwat.
Perbawanya dahsyat sekali. Sekalipun hanya dengan
kutungan toya, namun karena lwekangnya kini maju pesat,
Tio Jiang tetap membahayakan lawan, sehingga ketiga
tianglo itu tak berani merapat dekat2 dan mundur lagi dua
langkah. Mendapat hasil, Tio Jiang makin bersemangat.
Kutungan toya, dimainkan selebat hujan. Begitulah
pertandingan satu lawan tiga itu berjalan dengan seru dalam
tempo yang cepat.
Se-konyong2 ketiga tianglo itu bersuit dan sama
menyingkir mundur Wut....., wut....., ujung toya kutung
menghantam beberapa kali kearah dampar mereka, tapi
sedikitpun tidak pecah atau hancur karena dampar itu
terbuat dari bahan bulu suri kera putih dari gunung Sip-bantay-
san. Tio Jiang heran mengapa, ketiga tianglo itu main
mundur bertahan diri. Padahal terang, setiap kalau ujung
toya kutung menghantam dampar, tentu se-olah2 terbentur
dengan suatu „tembok keras", sehingga, setiap kali itu juga
Tio Jiang harus gunakan tangkisan lwekang untuk
menghalau pukulan balik dari dampar itu. Baru setelah
berjalan 50-an jurus, kagetlah Tio Jiang. Kedua lengannya
kini terasa lemah lunglai kesemutan.
Ketiga tianglo Ci-hun-si itu adalah jago2 kawakan.
Ketika didapatinya perobahan besar yang luar biasa dari
perbawa permainan Tio Jiang, mereka mengatur siasat. Tak
mau menyerang, melainkan bertahan, tapi tetap mengepung
rapat. Senjata dampar itu, memang tepat sekali untuk
menjalankan siasat bikin lemah lawan itu. Setiap kali Tio
Jiang menggempur, merekapun menggunakan lwekang
untuk menangkis, alhasil, lama kelamaan habislah tenaga
Tio Jiang.
Tio Jiang tersadar tapi agak teriambat. Sekali lagi dia
coba kerahkan tenaga, wut...., wut...., hay-li-long-hoan
disusul dengan hay-lwe-sip-ciu dilancarkan, dan berhasil
membuat ketiga paderi itu menyingkir mundur. Tapi
dengan serangan yang diforser itu, napas ter-sengal2, tenaga
habis dan terlongong2lah dia.
„He...., he...., he....," ketiga paderi itu tertawa terkekeh2,
„bocah, serahkan diri agar tak mengalami sakit!"
Sembari mengejek, sembari mereka bertiga menghampiri
maju. Dampar menggelimpang dan 3 buah thiat-sat-ciang
berbareng menghantam.
Tio Jiang merasa masih ada sisa tenaga untuk melawan,
tapi karena dirasakan sia2 saja, tak mau dia menangkis.
Begitu ketiga tangan hitam itu melayang datang, buru2 Tio
Jiang gunakan jurus terakhir dari hong-cu-may-ciu yakni
yang disebut ciu-seng-hin-lan (bau arak membangunkan
bunga). Begitu tubuhnya turun sampai menempel tanah, dia
telah memberosot keluar dari sela2 ketiga tangan dan
dampar............
„Hebat!" diam2 ketiga tianglo itu memuji dalam hati.
Sukur disana pagar barisan serdadu sudah menghadang Tio
Jiang yang rupanya hendak lolos itu. Tio Jiang berhasil
merubuhkan beberapa serdadu, tapi belum sempat lolos
ketiga tianglo itu sudah memburu datang lagi. Tio Jiang
sudah mandi keringat. Kini dia kalap sudah. Tangan kiri
menghantam dan tangan kanan mengayun toya kutung.
Tanpa hiraukan To Ceng dan To Bu yang, sudah
menghampiri didekatnya, dia menghantam se-kuat2nya
pada To Kong.
Semasa kecil ketiga tianglo itu sebetulnya adalah 3
kawan yang karib. Mereka ber-sama2 menjadi paderi dan
ber-sama2 pula meyakinkan ilmu silat. Persahabatan yang
sudah dipupuk puluhan tahun itu sudah mendarah daging
bagai saudara putusan perut. Demi melihat sahabatnya
terancam bahaya besar itu, To Ceng dan To Bu batal
menyerang Tio Jian, tapi segera datang menolong To Kong.
Sebenarnya karena kalap, maka Tio Jiang telah
lancarkan serangan nekad tadi. Bahwa ternyata serangan itu
menimbullkan reaksi lain berhubung kedua hweshio lainnya
sibuk menolong, telah menyebabkan kegirangan Tio Jiang.
sekali toya kutung diturunkan, dia menyapu kearah kaki
ketiga paderi itu. Sapuan itu disebut tipu ngo-hou-tuan-kunhwat,
ilmu toya dari 5 harimau menerkam nyawa. Dan
ketika ketiga, tianglo itu loncat keatas, Tio Jiang menyusuli
lagi dengan serangan to-hay-kiam-hwat. Ketiga tianglo itu
sibuk benar2 , bluk...., bluk ..... mereka menangkis dengan
dampar.
Tio Jiang terperanjat, karena didapatinya toya itu hampir
tetlepas dari cekalannya, suatu pertanda, kalau tenaganya
mendekati habis. Buru2 dia lempar toya kutung itu dan
berbareng itu loncat melejit kesamping menyambar
sebatang golok dari seorang serdadu Ceng.
Begitu ketiga paderi itu memburu, Tio Jiang menimpuk
dengan golok. Dan selagi ketiga lawannya itu sibuk
menangkis, dia sudah balikkan tangan kiri menghantam
rubuh seorang serdadu lagi. Rupanya serdadu itu remuk
tulang belulangnya. Cepat Tio Jiang mengangkat kaki
serdadu itu, lalu di-putar2 terus dilemparkan kearah ketiga
hweshio tadi. Ketiga tianglo itu menjadi melongo, karena
selama ini belum pernah dijumpai orang berkelahi macam
cara sianak muda itu. Tapi Tio Jiang tak mau ambil pusing.
Susul me,nyusul dia lemparkan lagi dua orang mayat
serdadu kepada ketiga lawannya itu.
Kawanan serdadu Ceng itu hanya kantong2 nasi yang
tiada berguna. Menghadapi jago silat macam Tio Jiang,
mereka merupakan anak kambing yang dibuat mainan oleh
harimau. Dalam sekejab waktu saja, Tio Jiang telah
menimpukkan 30-an serdadu. Ketiga tianglo itu terhalang
dalam jarak seta tombak lebih. Mereka tak berdaya
mendekati jago muda itu. Sebaliknya karena memberi basil,
Tio Jiang terus gunakan cara itu.
Tapi fihak serdadu Ceng menjadi panik. Bermula mereka
tampak garang hendak membunuh „seekor harimau", tapi
kini ternyata harimau itu hendak menerkam mereka.
Hampir 35 serdadu telah melayang jiwanya. Namun lapisan
serdadu pengepung itu tak mau bubar. Sedang barisan yang
terdekat dengan Tio Jiang sudah merinding dan berdesak2an
mundur, hingga saling pijak2an sendiri. Melihat
itu Tio Jiang lari menghampiri dan meloncati mereka.
Menghadapi tembok lapisan serdadu yang mengepung
dibagian luar, bermula Tio Jiang tak mau segera
menyerang. Tapi melihat kesaktian anak muda itu,
walaupun andaikata mau, mereka dapat menyerangkan
senjatanya, tapi mereka lebih suka mundur menyingkir
untuk memberi jalan. Tio Jiang sudah diambang pintu
kebebasan.
Pada seat itu, tersadarlah ketiga tianglo tadi. Tanpa
hiraukan entah mati atau masih hidupkah kawanan serdadu
yang bergelimpangan desak mendesak itu, mereka loncat
memburu. Belum orangnya tiba, sebuah dampar telah
melayang kearah punggung Tio Jiang. Tio Jiang berputar
tubuh sembari menangkap dampar itu. Namun dampar itu
telah dilontarkan dengan tenaga lwekang oleh To Ceng.
Benar Tio Jiang dapat menyanggapi dengan tepat, tapi
begitu jarinya kendor sedikit, dampar itu jatuh ketanah.
To Ceng tianglo perdengarkan tertawa seram sembari
melesat kesamping Tio Jiang, wut....., wut......, sepasang
tangannya berbareng menghantam. Tio Jiang tak berdaya
menangkis, dia hanya dapat miringkan tubuh kesamping
menghindar. Tapi keayalan itu telah menyebabkan To Bu
dan To Kong sudah tiba. To Bu mengait dengan ujung kaki
dan dampar itu melayang kearah To Ceng yang segera
menyambutinya. Kini tiga serangkai hweshio lihay itu
kembali mengeroyok To Jiang.
Kini Tio Jiang tak mencekal senjata apa2. Bertempur -
mati2an sekian lama, tenaganya sudah habis, sedang pada
saat itu dia masih harus menghadapi keroyokkan dari 3
hweshio yang berilmu tinggi. Jadi kans untuk meloloskan
diri, kecil atau boleh dibilang tiada sama sekali. Namun
menyerah, Tio Jiang tetap berpantang. Kalau dapat
membunuh seorang lawan, serie namanya. Tapi kalau
dapat membunuh artinya masih untung karena dia hanya
kehilangan sesosok jiwa. Demikian keputusan Tio Jiang
yang sembari empos semangatnya tampak memandang tak
berkesiap pada To Ceng. Tiba2 dia merangsangnya. To
Ceng melejit kesamping, sedang To Bu menyerang dari kiri,
brettt...... karena tak keburu menghindar separoh baju Tio
Jiang telah robek !
Tio Jiang merasa terhina dan hinaan itu mendesaknya
kesudut tekad: bertempur sampai mati! Dia menjemput
sebuah golok lalu melancarkan 3 kali serangan gencar
berturut2, menyerang kepala, perut dan kaki To Ceng.
Benar dampar dapat digunakan untuk menangkis, tapi
dalam menghadapi serangan berantai yang disebut sam-celian-
hoan (3 bintang merangkai untai) itu, terpaksa To Ceng
mundur. Serangan dibagian kepala. dan perut dapat
dihindarinya, tapi karena kurang sebat kakinya telah
terpapas, darahnya menyembur keluar
Tapi berbareng pada saat itu, dari belakang terasa ada
angin menyamber. Cepat Tio Jiang berputar tubuh untuk
mengiringi dua buah serangan. To Kong dan To Bu
terpaksa mundur. Melihat caranya anak muda itu
bertempur seperti orang kerangsokan setan, ketiga tianglo
itu jalankan lagi siasat. „membikin lelah" orang. Tak rnau
menyerang, tapi tetap mengurungnya.
„Mengapa tak mau menyerang?" tegur Tio Jiang dengan
ter-engah2. To Kong tertawa meringkik, sahutnya: „Kini
walaupun Hay-te-kau sendiri yang datang, juga diharuskan
menghadap Giam-lo (raja akherat) !" -
Tio Jiang menghela napas, hendak balas mendamprat
tapi sayang mulutnya tak lincah. Maka tanpa mengatakan
apa2, dia maju selangkah dan ayunkan goloknya. Tiba2
pada saat itu dari atas sebatang puhun terdengar suara
melengking memaki : „Kepala gundul yang tak tahu malu!
Kamu bertiga ekor keledai gundul tak mampu mengalahkan
seorang murid Hay-to-kau saja, masa berani umbar suara
menantang Hay-te-kau! Cis!, kalau Hay-te-kau berada
disini, dikuatirkan kau menjadi setan tak berkepala lagi !"
Tio Jiang tertegun, lalu berseru keras: „Siao Chiu,
kaukah?"
„Hi...., hi....., ya....! benar akulah, suko!" suara diatas
puhun itu menyahut, „hebat benar kau tadi suko, lama
sudah aku disini menyaksikan !"
Tio Jiang mendongkol, masa orang hampir melayang
jiwanya......kok, malah enak2 menonton. Terlalu benar
sigenit itu ! Ketika mengawasi kearah puhun, sinona itu
masih tetap selincah dahulu. Dengan gerakan yang enteng,
ia loncat turun ketengah gelanggang. Tapi, hai, mengapa
gerakannya itu sedikitpun tak mengeluarkan suara? Ah,
tentulah dara nakal itu selama dua bulan berada dengan
Tay Siang Tansu, telah berhasil „memeras" kepandaian dari
hweshio besar itu. Mendadak sontak semangat Tio Jiang
naik seratus derajat. Kini keduanya berdiri bahu membahu.
”Siao Chiu, apa kau sudah lama disitu tadi?"
„Belum, hanya sudah hampir dua jam!"
„Mengapa tak lekas2 membantu aku?" tegur Tio Jiang
dengan mendongkol. Sebaliknya sigenit itu hanya ganda
tertawa, sahutnya: „Suko, kau memiliki beberapa macam
kepandaian yang istimewa. Kalau tak melihat kau satu persatu
mengeluarkan tentu aku tak dapat memintamu
mengajari. Nah, kau mau mengajari aku tidak ?"
„Hayo kita lolos lulu dari sini, baru nanti bicara lagi”
sahut Tio Jiang geli berbareng mendongkol. Yan-chiu
mengiakan, tapi segera dia bertanya: „Suko, ape kau tidak
membekal pedang? Hayo kita mainkan Hoan-kang-kiamhwat
dan to-hay-kiam-hwat."
Belum Tio Jiang menyahut, disebelah sana ketiga tianglo
tadi sudah membentak: „Budak Hina, dineraka sini tiada
pintu untuk keluar, masa kau ngimpi hendak lolos?! "
Tatkala Yan-chiu melayang turun masuk ketengah
gelanggang tadi, ketiga tianglo itu tak mau
menghadangnya. Mereka sudah merasakan pil-pahit dari
sigenit, baik berupa hajaran (ketika diluitay) maupun
kocokan mulutnya yang tajam. Tanya jawab antara kedua
anak muda tadi yang se-olah2 menganggap sepi adanya
ketiga hweshio itu disitu, telah menimbulkan kemurkaan
mereka bertiga. Maka sembari membentak, mereka segera
serentak maju kedekat.
„Tahan!" seru Yan-chiu sembari cabut pedangnya.
Ketiga tianglo itu terkesiap, heran hendak mengapa gadis
nakal itu. „Didunia persilatan ketiga tianglo dari gereja Cihun-
si itu juga merupakan tokoh2 ternama. Tapi masa kini
mengeroyok dua bocah kemaren sore saja, tak, mau
memberikan senjata apa2 pada lawan!" sambil ketawa
dingin Yan-chiu mengocok, sehingga saking gusarnya
ketiga tianglo itu tak dapat mengucapkan apa2 sampai
sekian saat.
„Kau minta senjata apa?", tanya mereka kemudian.
Yan-chiu cekikikan girang, sahutnya: „Kamsia, kurang
sebilah pedang saja!"
To Kong hweshio segera mengambil sebatang pedang
dari seorang opsir. Kemarahannya tadi disalurkan kearah
tangannya yang sekali menyelentik, pedang itu segera
melayang kearah Yan-chiu. Tio Jiang terkejut, buru2 dia
hendak maju menyanggapi, tapi telah kalah dulu dengan
Yan-chiu, yang tampak menguratkan pedang pusakanya
dalam separoh lingkaran, tring...... selentikan Iwekang To
Kong tadi telah digurat buyar, dan jatuhlah pedang itu
kebawah disambuti dengan manis oleh Yan-chiu lalu
diberikan pada sukonya.
Bagi Tio Jiang yang kini sudah memiliki pelbagai ragam
ilmu silat itu, segera dapat mengenal gerakan tangan
Yanchiu menggurat tadi adalah termasuk ilmu lwekang
yang tinggi, yakni cara untuk menyambut ancaman
lwekang berat atau yang disebut „4 tail menyambut ribuan
kati". Diam2 Tio Jiang girang. Tak tahu dia cara bagaimana
sumoaynya yang nakal itu, telah dapat mengeduk ilmu
lwekang tinggi dari Tay Siang Siansu. Begitu menyambuti
pedang Tio Jiang lalu berseru: „Jurus pertama!"
Dia mainkan jurus „Tio Ik cu hay", sementara Yan-chiu
segera mainkan „Khut cu tho kang." Sepasang ilmu pedang
mengalami „reuni" (pertemuan kembali) lagi dengan
sasaran pertama To Kong tianglo!
Rupanya To Kong belum kenal kelihayan pasangan ilmu
pedang yang termasyhur itu. Melihat orang menusuk dada,
dia hanya, gunakan damparnya untuk menangkis. Mimpipi
pun tidak dia kalau begitu menusuk, se-konyong2 kedua
pedang itu berpencar, satu menyerang paha satu
memangkas betis, Begitu tangkisan menemui tempat
kosong, To Kong terperanjat. Masih untung dia
mempunyai dasar latihan selama berpuluh tahun, hingga
dalam saat berbahaya itu dia masih dapat loncat mundur.
Tio Jiang dan Yan-chiu berhenti sebentar untuk
menghalau, To Ceng dan To Bu yang menyerang dari
samping. Begitu mereka mundur, kedua anak murid Ceng
Bo itu segera merangsang To Kong lagi. Malah kali ini luar
biasa sebatnya. Belum To Kong berdiri jejak, sepasang
pedang itu dengan rukun sekali sudah menyongsongnya.
Jurus kedua, boan-thian-kok-hay dan Pah-ong-oh-kang,
dengan manis hendak „memeluk" dada, hingga saking
gugupnya To Kong buang dirinya kebelakang berjumpalitan
sampai 3 kali baru dapat menghindar...........
Tio Jiang dan Yan-chiu tak mau kasih hati. Dengan enjot
sang kaki, mereka maju mengejar sembari lancarkan jurus
ketiga: „cing-wi-tian-hay" dan „it-wi-to-kang". Dalam
paniknya, To Kong gunakan dampar untuk menangkis.
Tapi dengan sebatnya, kedua anak muda itu berpencar.
Begitu dampar lewat disisinya, tiba2 Yan-chiu bertereak:
„Kena!" ujung pedang sinona, telah masuk dua dim
kedalam bahu To Kong. Untung ketika ia akan susuli lagi
dengan lain tusukan, To Ceng dan To Bu keburu datang.
Melihat paduan itu telah memberi hasil, yang luar biasa,
Yan-chiu sangat girang sekali. „Karena Allah bersifat
murah, maka untuk sementara kutitipkan dulu kepalamu
itu!" damprat Yan-chiu. Lihay benar lidah nona genit itu.
Sebetulnya karena diserang oleh To Ceng dan To Bu, ia
terpaksa repot melayani, tapi tokh dengan garang ia masih
dapat mendamprat si To Kong.
Juga Tio Jiang tak kurang girangnya atas hasil luar biasa
dari sepasang ilmu pedang itu. Dia pun segera berpaling
kebelakang untuk menghadapi kedua lawannya itu. Selama
7 jurus itu dilancarkan, sam-tianglo dari, gereja Ci-hun-si
yang termasyhur itu tak dapat berbuat apa2. Mereka hanya
bertahan tak mampu balas menyerang.
„Siao Chiu, kita harus lekas2 keluar dari kepungan ini!"
dia menyerukan sang sumoay, tapi rupanya sigenit itu
masih belum puas.
”Biar kita tinggalkan dulu tanda mata pada kedua
keledai gundul ini" sahutnya dan sret...... ia lancarkan jurus
kang-sim-bo-lo. Karena tak keburu menghindar, empat,
buah jari tangan To Ceng terpapas kutung, sehingga saking
sakitnya dia meng-erang2 sambil mundur. Yan-chiu dan
Tio Jiang maju memburu, saking ketakutan To Ceng enjot
kakinya loncat melewati pagar barisan serdadu. Ah.....,
masa dia dapat loncat jauh melalui lapisan serdadu yang
begitu banyak, bluk....... beberapa serdadu telah keinjak
jatuh. Namun tianglo gereja Ci-hun-si yang berhati kejam
itu, tak ambil pusing adakah serdadu2 itu mati atau hidup,
pokok asal dia sendiri bisa selamat. Begitupun To Kong dan
To Bu mengikuti tindakan kawannya, menyusup masuk
kedalam barisan serdadu. Oleh karena kepalanya sudah
begitu, maka barisan serdadu itupun juga ikut bubar.
Sedari mendapat luka tadi, The Go ajak Bek Lian berlalu
dan main pasrah saja pada anak buahnya. Sudah tentu
opsir2 bawahannya itu buyar nyalinya. Kemana Tio Jiang
dan Yan-chiu menerjang, disitu tentu terbit kekalutan.
„Suko ketiga keledai gundul itu sudah lari, kita balik saja
untuk mengejarnya !"
Sudah sejak tadi, Tio Jiang lampiaskan kemarahannya
mengamuk tentara musuh, rasanya puaslah sudah dia.
„Siao Clihi, sudahlah. Lebih baik kita lekas2 mencari suhu
dan para cianpwe yang entah kemana larinya itu!"
cegahnya. Yan-chiu jebikan bibir, rasanya masih belum
puas.
„Baiklah, kuajarkan kau sebuah ilmu pedang yang
sakti!", buru2 Tio Jiang menghibur ketika ditengah jalan.
Baru setelah mendengar itu, wajah Yan-chiu tampak berseri
gembira.
Setelah melalui sebuah tikungan gunung, mereka
mentiari sebuah tempat yang sepi dan melepaskan dahaga
derigan, air sebuah sumber. Untuk pengisi perut, dicarinya
buah2an. Sembari beristirahat itu, Tio Jiang tuturkan
pengalaman selama berpisah. Ketika sampai bagian tentang
kesaktian Kang Siang Yan, Siao Chiu leletkan lidahnya.
Tapi ketika diceritakan soal kejahatan The Go, mulut Yanchiu
tak putus2nya menghambur makian. Malah lebih
banyak makiannya daripada Tio Jiang yang menuturkan.
Habis itu, kini giliran Yan-chiu yang bercerita. Ternyata
ia dibawa kegunung Hoa-san oleh Tay Siang Siansu. Disitu
setelah diberi pil sam-kong-tan, dalam beberapa hari saja, ia
sudah sembuh kembali. „Siao Chiu, tapi dalam 2 bulan ini,
kepandaianmu maju pesat sekali!" Tio Jiang menyela.
Sigenit hanya cekikikan saja, tangan dan kakinya
membuat gerakan seperti hendak menerangkan sesuatu, tapi
karena masih cekikikan jadi Tio Jiang tak jelas apa yang
dikatakan itu. „Lucu...., lucu.... sekali! Begitu tinggi
kepandaian hweshio tua itu, tapi begitu jujur juga hatinya!"
seru Yan-chiu sembari mendekap pinggang untuk menahan
gelaknya.
„Bagaimana?" tanya Tio Jiang melongo keheranan. Yanchiu
malah makin keras gelaknya. Setelah puas ketawa,
baru dia menyahut: „Tiga hari saja, lukaku sudah sembuh,
tapi aku pura2 me-rengek2 kesakitan. Setiap hari ber-ganti2
saja yang kukatakan, kalau tidak jantungku lemah .... atau
pinggang pegal.... tentu..... kepala pening,....ya pendeknya
ada2 saja yang kurengekkan itu. Tak henti2nya mulutku
menyesali hweshio tua itu yang sudah berani menyalahi
subo, sehingga akibatnya aku menderita luka berat. Karena
percaya, hweshio tua itu gugup dan lalu menurunkan
pelajaran ilmu lwekang kalangan Hud yang disebut 'Taysiang
Iwekang'. Ha....., senang sekali bukan, suko?"
Diam2 Tio Jiang memaki sumoaynya yang nakal itu,
masa seorang Siansu atau hweshio besar berani
mempermainkannya! „Siao Chiu, Tay Siang Siansu adalah
seorang hweshio agung yang saleh, jadi dia tak mau
membikin malu kau. Coba kau pikir, masakan tokoh
semacam dia tak mengerti kalau kau pura2 sakit? Hanya
karena melihat bakatmu yang bagus, maka dia tak pelit
menurunkan pelajaran yang sakti itu. Selanjutnya kau harus
berlaku hormat pada golongan cianpwe ya !"
Dalam hati Yan-chiu mengindahkan nasehat sang suko
itu, namun mulutnya tetap tak mau mengalah. „Suko, siapa
yang sudi mendengari wejanganmu itu.? Kalau aku tak
pura2 sakit, masakan bisa mendapat pelajaran sakti itu?"
Tio Jiang sampai beberapa saat tak dapat menjawab,
akhirnya...... baru dia mengatakan: „Ya, sudahlah, aku
hanya bermaksud baik untuk kepentinganmu."
„Nah, akupun mengerti," ketawa Yan-chiu, hingga
membuat Tio Jiang meringis, sambil ter-longong2
memandang sang sumoay. Ada pepatah mengatakan
„wajah seorang perawan itu berobah 18 kali". Dua bulan
saja tak melihat, kini dalam pandangan Tio Jiang, sigenit
itu telah berobah Iebih cantik dan menarik.
„Suko, apakah Lian suci tak mengakui kalau sudah
bertunangan padamu?" Yan-chiu alihkan pembicaraan
karena jengah diawasi sang suko itu, sahut Tio Jiang
dengan suara sember. Mendengar itu Yan-chiu menjadi
geli, tanyanya pula: „Suko, apakah kau sedih ?"
Tio Jiang melengak, katanya dengan sungguh2:
„Bermula memang begitu, tapi setelah menyaksikan ia
menyintai The Go dan tak cinta lagi pada bangsa Han,
hatiku sembuh lagi."
Yan-chiu mendengari dengan tekun. Sambil terdiam ia
tundukkan kepala memain ujung baju, wajahnya
kemerah2an memancarkan sinar harapan. Tapi karena Tio
Jiang tengah memikirkan persoalan Bek Lian dan The Go,
jadi dia tak memperhatikan. Sampai sekian lama, baru Yanchiu
kedengaran bertanya: „Suko, aku hendak tanya
padamu sepatah kata."
Kali ini Tio Jiang heran. Biasanya sumoay itu selalu
tangkas bicara, mengapa kini plegak-pleguk ke-malu2an
begitu. „Katakanlah!" Tio, Jiang menyuruhnya sambil
mengawasi kearah sang sumoay, siapa kebetulan itu
waktupun memandangnya dengan ke-malu2an. Heran Tio
Jiang, mengapa mata Yan-chiu ke-merah2an seperti orang
habis menegak arak.
„Tak jadi, mari kita lanjutkan perjalanan saja lagi” tiba2
Yan-chiu tundukkan kepala berseru. Dasar hatinya tak isi,
maka Tio Jiang pun diam saja tak mau menanyai lebih
jauh. Dia hanya menanyakan hendak pergi kemana.
„Terserah kemana sajalah!" sahut Yan-chiu sembari melirik
pula.
Karena tak mempunyai tujuan tertentu, mereka lalu jadi
berangkat menurut sepembawa kakinya.
Tak berapa lama kemudian, hujan turun. Semula karena
hujannya hanya rintik2, kedua anak muda itu tak
menghiraukan. Setelah melewati sebuah hutan, mereka
tetap berjalan. Lama kelamaan, hujan makin lebat, pada hal
keduanya kini tiada tempat untuk meneduh lagi. Buru2
mereka gunakan kepandaian berlari cepat. Tak berselang
berapa lama kemudian, disebelah muka tampak ada sebuah
bio (biara) kecil, kedalam mana keduanya segera menyusup
masuk.
Bio itu tiada palangnya pintu, juga tiada patung
pemujaannya. Hujan lebat yang didera oleh angin kencang
itu, masuk juga kedalamm bio tersebut, sehingga lantainya
basah, Saking kecilnya tho-te-bio atau bio untuk menuju
penunggu bumi (bau rekso), mereka berdua tak dapat
duduk.
„Suko, hayo kita menyusup kebawah meja sembahyang
itu!" seru Yan-chiu sewaktu dilihatnya dibawah meja itu
kering saja, Tapi karena tempat itu sempit sekali, Tio Jiang
enggan. „Mengapa diam saja, apa mau terus2an berdiri
disini?" Yan-chiu ulangi ajakannya. Kali ini Tio Jiang
terpaksa menurut.
Karena keliwat sempit, begitu anak muda itu masuk
kebawah meja, maka sesaklah tempat itu. Apalagi karena
pakaian mereka basah kuyup, jadi makin tak enak lagi.
Keadaan ini berlangsung sampai beberapa saat.
„Suko, setelah Lian suci tak menyintai kau, apakah kau
tak mau jatuh cinta pada lain gadis lagi?" tiba2 Yan-chiu
memecah kesunyian. Bagi seorang gadis seperti Yan-chiu,
sudah tentu merasa kalau pertanyaannya itu keliwat batas.
Tapi apa daya? la ketarik sekali akan peribadi sang suko
yang sederhana jujur dan setia dalam percintaan. Ia sendiri
tak tahu entah apa sebabnya, tapi berada disamping Tio
Jiang, hatinya merasa girang sekali. Sebenarnya kalau mau,
ia masih boleh tinggal bersama Tay Siang Siansu untuk
meyakinkan lain2 ilmu yang lebih sakti, tapi ia tak mau.
Hal ini disebabkan rasa rindunya hendak berjumpa dengan
sang suko. Berkat pembawaannya yang lincah tangkas,
dapat juga mulutnya mengeluarkan pertanyaan semacam
itu.
GAMBAR 49
Suko, apa selain Lian-suci, tiada orang kedua yang bisa kau
cintai lagi ?" tanya Yan-chiu tiba2. Tio Jiang melengak, sampai
lama sekali baru jawab: „Entahlah, aku sendiri tidak tahu."
Tio Jiang menghela napas, sahutnya: „Siao Chiu, aku
sendiri tak tahu." Kata2 itu memang keluar dari isi hatinya.
Setelah kehilangan gadis pujaannya, dia telah mengalami
ketawaran hati jadi tak tahulah bagaimana hendak
menjawab pertanyaan sumoaynya itu. Mendengar itu,
sampai beberapa saat Yan-chiu terdiam, kemudian katanya
„Tio suko, aku telah ber-olok2 keterlaluan padamu. Kalau
kuberitahukan apakah kau marah ?"
Huh, entah berapa kali sudah kau meng-olok2 aku, tapi
aku tetap bersabar. Demikian pikirnya dan demikian pula
sahutnya: „Sudah tentu tidak !"
„Malam itu.........."
„Sst, diam!" tiba2 Tio Jiang mencegahnya. Sebenarnya
Yan-chiu sudah ambil putusan hendak menceritakan
olok2nya memberi peniti kupu2 pada itu malam. Hendak ia
menerangkan, bahwa hal itu se-mata2 hanya bergurau saja
disamping hendak menghibur sang suko agar lekas sembuh
dari penyakitnya. Tapi baru mulai sudah terganggu dengan
cegahan sang suko. Dan memang berbareng itu terdengar
derap kaki orang menghampiri kebio situ. Nyata derap kaki
itu menyatakan siorang tengah ber-gegas2. Maka Tio Jiang
dan Yan-chiu segera menahan napas seraya saling
berjabatan tangan dengan erat sekali.
„Blak!" demikian bunyi daun pintu bio ketika didorong
oleh sipendatang, siapa masuk2 terus memaki: „Setan alas,
hujan lebat ini !"
„Memang beginilah keadaan rumah yang atapnya tiris,"
sahut seorang lagi. Jadi rupanya mereka itu ada dua orang.
Makin lama rupanya mereka itu masuk kedalam dan
menghampiri meja sembahyangan. Tio Jiang sudah terus
hendak menobros keluar untuk menemui orang2 itu, tapi
buru2 dicegah Yan-chiu. „Jangan, suko, lebih baik kita
sembunyi disini mendengari pembicaraan mereka. Mungkin
ada apa2nya yang menarik!" bisik Yan-chiu.
„Keparat, mengapa didalam bio juga basah begini!"
kembali siorang Yang rupanya gemar memaki tadi
keluarkan makiannya lagi. „Dibawah kolong meja
sembahyangan tentu kering, hayo kita menyusup kesitu!"
ajak kawannya.
Kaget Tio Jiang bukan kepalang. Buru2 dia siapkan
senjatanya, siapa tahu mereka adalah lawan.
”Ah, kan kita tak lama meneduh disini, lebih baik kita
duduk diatas meja itu saja!" sahut yang satu. Dan bluk....,
bluk...., keduanya segera sudah loncat keatas meja.
„Kurang ajar!" bisik Yan-chiu dengan mengkal.
Sebaliknya Tio Jiang berusaha keras untuk menahan
gelinya. Tiba2 wajahnya berobah ketika mendengar salah
seorang ada yang menyebut nama kawannya.
GAMBAR 50
Cepat Tio Jiang dan Yan-chiu menyelusup kebawah meja
sembahyang ketika tiba2 mendengar suara tindakan orang
mendatangi. Benar juga, dua orang telah masuk kelenteng itu dan
duduk diatas meja sembayang untuk pasang omong.
„Saudara It-ho, ada urusan apa Cian-bin Long-kun
mencarimu?" demikian salah seorang.
Sedang yang ditanya kedengaran menghela napas
menyahut: „Dia telah mengikat tantangan dengan ketua
Thian Te Hui untuk adu kepandaian digereja Ang-hunkiong
gunung Ko-to-san pada nanti pesta air (pehcun).
Benar dengan Ang Hwat Cinjin sebagai andalan, dia tak
jerikan lawan, namun sedikitnya diapun harus unjuk
kepandaian juga. Tahu kalau akulah yang mencuri pedang
Kang Siang Yan pada 10 tahun yang lalu dia hendak
membelinya.”
Kata2 itu membikin terkejut Yan-chiu, siapa lalu
menyikut sukonya. Tapi Tio Jiang diam saja. Dia tengah
pasang telinga benar2.
„Memang benar, kaum persilatan manakah yang tak
mengakui bahwa Yau-sim-ban-pian Tan It-ho itu
mempunyai kepandaian untuk menembus langit? Sampai
pedang pusaka dari Kang Siang Yan, diapun berani
mencurinya. Kabarnya pedang itu terdiri dari sepasang, laki
dan perempuan. Milik Kang Siang Yan itu tentulah yang
perempuan!" kedengaran pula suara dari atas meja.
„Benar, saudara Lim, pedangi itu dinamakan „kuan wi",
dapat memapas logam seperti memapas lumpur.
Merupakan pedang nomor satu tajamnya didunia," sahut
Tan It-ho.
„Saudara It-ho, rasanya kau belum pernah
mengunjukkan pedang itu diluaran, dapat siaote (aku)
melihatnya barang Sejenak?" tanya yang disebut si Lim tadi.
Tan It-ho kedengaran menghela napas panjang, sahutnya:
„lama pusaka itu tak berada padaku !"
„Saudara Tan, aku Hun-ou-tiap Lim Ciong, bukan yang
kemaruk untung melupakan budi, mengapa kau, begitu pelit
?" kata si Lim dengann kurang senang.
Mendengar orang menyebutkan namanya sendiri itu,
Yan-chiu segera membisiki sukonya: „Suko, si Hun-ou-tiap
Lim Ciong itu, adalah orang yang ketika dalam
pertandingan luitay di Gwat-siu-san telah dikutungi sebelah
tangannya oleh Lian suci ........."
Kuatir kalau ketahuan orang, maka dalam membisiki
sukonya itu, begitu rapat Yan-chiu tempelkan bibirnya
ketelinga Tio Jiang, hingga yang tersebut belakangan itu
mendapat perasaan aneh yang sukar dikatakan, sampai dia
ter-longong2 tak dapat bicara.
„Janganlah saudara Lim curiga padaku, kalau benar
pedang itu masih ditanganku, masa, terhadap The Go yang
sudah mengurukku dengan budi besar itu, aku dapat
menolaknya?" kata Tan It-ho pula.
Mendengar itu Lim Ciong mendesak dimana adanya
pedang pusaka, itu. Terpaksa Tan It-ho menerangkan:
„Setelah mendapat pedang itu, karena merasa
kepandaianku tak cukup, maka aku bermaksud hendak
mempersembahkannya kepada Ang Hwat cinjin dengan
syarat agar cinjin itu suka mengajari aku barang satu dua
macam ilmu kepandaian untuk menjaga diri. Tapi tiba2 ada
seorang sahabat dari, Kwisay berkeras hendak
meminjamnya, hingga terpaksa aku kesana sendiri untuk
mengantarkan. Tapi sepulangnya dari, sana ketika melalui
pegunungan Sip-ban-tay-san, pedang itu telah disamun oleh
suku bangsa Biau ! "
„Apakah kau juga mengatakan begitu kepada Cian-bin
Long-kun?" tanya Lim Ciong.
„Benar, maka dia suruh aku menuju ke Sip-ban-tay-san,
mencari orang yang merampas pedang itu!" sahut Tan It-
Ho.
„Suku bangsa Biau digunung Sip-ban-tay-san itu keliwat
banyak jumlahnya, mana kau dapat mencarinya?"
„Orang Biau itu dari suku Thiat-theng-biau"
„Astaga, mengapa berurusan dengan suku itu?" seru Lim
Ciong dengan kaget.
Mendengar itu Tan It-hoo segera menegas: „Adakah
saudara Lim mengetahui tentang suku itu?"
„Tidak begitu jelas. Hanya turut pembicaraan seorang
sahabat persilatan Hek-to (golongan hitam), suku Thiattheng-
biau mempunyai senjata pelindung diri yang sakti.
Mereka mencari semacam rotan hutan, dijemur kering lalu
dianyam menjadi sematiam perisai yang dikenakan Sebagai
baju yang menutup kepala sampai ujung kaki. Rotan hutan
itu disebut thiat-theng (rotan besi), kebal terhadap tusukan
segala senjata tajam. Maka suku itu disebut Thiat-thengbiau,
atau suku Biau daerah thiat-theng. Kepala suku
dinamakan Kit-bong-to, orangnya gagah berani pandai
berperang, bukan?"
Mendengar itu se-konyong2 Tan It-ho menggebrak meja,
sehingga, debu yang melekat dibawahnya sama rontok
jatuh kebawah. Bukan kepalang mendongkolnya Yan-chiu,
hatinya penuh dengan umpat caci tapi sang mulut tak
berani mengeluarkan.
„Saudara Lim, cerita sahabatmu itu tentu masih ada
lanjutannya lagi. Kalau dapat memberikan pengunjukan
jelas, kelak tentu akan kubalas budi itu!" kata Tan It-ho lagi.
Hun-ou-tiap Lim Ciong tertawa menyeringai, sahutnya:
„Kit-bong-to itu gemar paras elok, memang setiap orang
tentu mempunyai cacad. Turut omongan sahabatku itu, Kitbong-
to mempunyai semacam obat racun yang luar biasa
lihaynya. Pernah ketika disungai Cu-kang, dia mengantar
dua orang gadis nelayan yang cantik. Sebagai gantinya, Kitbong-
to memberi beberapa obat racun istimewa kepada
sahabatku itu."
„Hai, kalau begitu sahabatmu itu bukankah Can Bik-san
yang digelari kaum Hek-to sebagai Ngo-tok-lian-cu-piau
(senjata rahasia lian-cu-piau 5 racun) ?"
„Benar! Dua gadis nelayan itu cukup membuatnya
mengangkat nama didunia persilatan," kata Lim Ciong.
Selesai pembicaraan itu, hujanpun sudah reda. „Aku
mempunyai suatu usul, entah Cian-bin Long-kun
menyetujui tidak ya ?" kata Tan It-ho.
„Usul apa ?" tanya Lim Ciong.
„Baru2 ini Cian-bin Long-kun telah dapat memikat
seorang anak perawan bernama Bek Lian, yang cantiknya
bagai bidadari turun dari kahyangan. Kalau dia mau
serahkan gadis itu, kutanggung Kit-bong-to tentu akan
terbang ke Nirwana!"
Baru Tan It-ho jelaskan usulnya itu, Tio Jiang sudah tak
kuat menahan hatinya lagi. „Kawanan tikus, jangan lari!"
serunya seraya menyundul meja itu dengan kepalanya,
hingga Tan It-ho dan Lim Ciong menjadi gelagapan seperti
disamber halilintar. Oleh karena ilmu silat mereka hanya
biasa saja, begitu meja terbalik, merekapun jumpalitan jatuh
kebawah.
Saking kesusunya, begitu meja terangkat, Tio Jiang tak
dapat segera memberosot keluar, maka dia hantam saja
meja itu hingga berlubang besar. Hun-ou-tiap yang sedikit
lambat, telah kena dipegang kakinya oleh Tio Jiang terus
dibanting ketanah. Hanya sekali Lim Ciong menjerit ngeri,
dan begitu jatuh ditanah tubuhnya terkulai tak dapat
berkutik lagi. Habis itu; Tio Jiang menghantamkan kedua
lengannya keatas, hingga meja itu kini hancur separoh, baru
dia dapat keluar. Tapi si Yau-sim-ban-pian Tan It-ho sudah
tak kelihatan bayangannya.
„Siao Chiu, apa kau mengetahui bangsat she Tan itu ?"
Serunya pada Yan-chiu siapa kedengaran menyahut dari
ujung tembok sebelah utara: „Aku juga sedang mencarinya
disini !"
Mendengar Yan-chiu berada disebelah utara, Tio Jiang
lalu memburu kesebelah barat. Tapi baru dia tiba disitu,
tiba2 ada sesosok tubuh melesat keluar dan itu bukan lain
Yan-chiu adanya. Tio Jiang heran dibuatnya. Terang tadi
sumoay itu berada disebelah timur utara, masa kini berada
disebelah barat?
„Suko, kau bilang bangsat itu bersembunyi dibawah
patung malaekat yang berada disebelah barat selatan sana,
tapi mana buktinya?" belum Tio Jiang menanyakan, Yanchiu
sudah mendahului. Kembali Tio Jiang tertegun, karena
dia tak merasa pernah mengatakan begitu. „Siao Chiu, kau
sendiri tadi mengatakan sedang mencari bangsat itu
disebelah utara, bukan?" kini dia balas menanya. Tak dapat
membekuk Tan It-ho, Yan-chiu sudah mendongkol. Maka
demi mendengar pertanyaan sukonya itu, dia segera
menyahut dengan geram :
„Rupanya kau ketemu setan tadi, siapa yang berkata
begitu padamu ?"
Tiba2 Tio Jiang teringat sesuatu. Sekali melesat, dia
loncati tubuh Lim Ciong, terus memburu kesebelah utara
timur. Kiranya dibelakang patung malaekat disitu, ada
sebuah gang kecil. Dia lari menyusur gang itu, namun tetap
tiada ketemu sebuah bayanganpun juga. Masih belum puas
ia mencari dibelakang bio itu. Baru setelah tak mendapat
hasil suatu apa, dia terpaksa balik masuk.
„Aku tak percaya kalau bangsat itu dapat lolos!" kata
Yan-chiu.
„Kita diselomoti !" sahut Tio Jiang. Habis itu, dia
bertanya kepada Yan-chiu lagi : „Tadi kau sangka aku
mengatakan padamu kalau bangsat itu berada disebelah
barat utara sini, bukan ? "
Yan-chlu mengiakan. „Itu si Tan It-ho yang
mengatakan!" kata Tio Jiang. Yan-chiu terbelalak matanya,
membantah :
„Ngaco belo ! Masa suaramu aku tak kenal ?"
„Memang dalam hal ilmu silat Tan It-ho itu biasa saja.
Tapi dia mempunyai dua macam kepandaian yang
istimewa. Kesatu, dia pandal menyaru sehingga orang tentu
kena dikelabui. Kedua, dia pandai menirukan suara orang
sampai persis sekali. Aku pernah menyaksikan sendiri kala
dipulau Ban-san-to dia menyaru jadi suhu, sampai aku
sendiri kena di selomoti! Tadi diapun tentu gunakan
kepandaiannya meniru suaraku dan suaramu untuk
mengacaukan kita berdua!"
Yan-chiu banting2 kaki. Tapi dibalik itu, diam2 ia
kepingin juga mempelajari seni kepandaian itu. Kini mereka
memeriksa Lim Ciong yang ternyata terluka parah.
Lengannya yang tinggal satu itu, pun kini sudah patah.
Wajahnya mengunjuk kesakitan. hebat. „Dimana si The Go
sekarang, hayo lekas bilang!" bentak Tio Jiang.
„Hohan, ampunilah jiwaku!" meratap Lim Ciong
ketakutan.
„The Go masih berada digedung congpeng Kwiciu sana
!"
„Huh, kau ini memang manusia jahat, sudah kutung
sebelah lengan masih, belum kapok .............. "
„Suko, tak usah marah2 padanya!" tukas Yan-chiu
seraya angkat pedangnya.
"Lihiap, ampunilah diriku!" seru Lim Ciong ketakutan.
Sekilas Yan-chiu mendapat lain pikiran. Pedang
diturunkan, hanya ujungnya saja kini ditempelkan kearah
tenggorokan Lim Ciong. Dilekati alat maut yang sedingin
es itu, Lim Ciong tegang kaku tak berani bergerak
sedikitpun juga. Karena sedikit saja bergerak,
tenggorokannya pasti tertutuk tembus.
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 23 : KERA BERSAUDARA
BUAYA
Diam2 Yan-chiu geli melihat keadaan Lim Ciong itu.
„Mana tempatnya Thi-theng-biau yang kau ceritakan tadi !"
tanyanya.
Biji mata Lim Ciong tampak berkicup. Diam2 dia telah
memasang perangkap, sahutnya: „Lihiap, kalau kukatakan
apakah kau sudi memberi ampun ?"
Baik Tio Jiang maupun Yan-chiu, adalah anak yang
berhati welas asih. Seorang yang kedua lengannya sudah
patah, biar bagaimana tentu tak dapat melakukan kejahatan
lagi Apalagi wajah Lim Ciong yang me-ratap2 belas kasihan
itu, menyebabkan kedua anak muda itu mengiakan. „Baik,
lekas katakan. Kalau dikemudian hari kau sudah kapok,
tentu, kuampuni jiwamu !"
Lim Ciong menghela napas longgar. Sebentar matanya
menatap kearah ujung pedang yang melekat
ditenggorokannya itu, lalu berkata: „Suku, Thiat-theng-biau
itu tinggal dipuncak Tok-ki-nia dari pegunungan Sip-bantay-
san. Anak buahnya hanya berjumlah 200-an orang."
Mendengar kata2 „Tok-ki-nia", Tio Jiang terkesiap. Rasanya
dia sudah pernah mendengar nama itu. Mungkin Sik
Lo-sam yang menceritakan hal itu, tapi entah lupalah dia.
„Tok-ki-nia?" dia menegas pula. Mendengar pertanyaan
itu, tiba2 wajah Lim Ciong,berobah seketika. Sampai sekian
jenak, baru tampak tenang lagi. Tapi mata Yan-chiu yang
celi segera mengetahui hal itu, bentaknya: „Bangsat, kau
masih berani menipu orang lagi ya?"
„Tidak, tidak! Kalau ada sepatah saja perkataanku yang
bohong, biarlah aku mati didalam hujan panah!" buru2 Lim
Ciong memberi jaminan. Yan-chiu leletkan lidah
mendengar sumpah orang seberat itu. Juga Tio Jiang
menaruh kepercayaan. Oleh karena tak suka melihat
cecongor Lim Ciong lebih lama, maka Tio Jiang segera
tarik tangan sumoaynya diajak keluar. Dengan berkutetan
susah payah Lim Ciong paksakan dirinya untuk berdiri. Dia
iringkan bayangan kedua anak muda itu dengan tersenyum
iblis.
Kalau benar The Go masih berada di Kwiciu, Bek
Lianpun tentu berada dengannya. Kalau Tan It-ho keburu
menjumpai The Go, dikuatirkan The Go yang tak cinta
setulus hati pada Bek Lian itu, tentu akan menyetujui usul
Tan It-ho: tukarkan Bek Lian dengan pedang kuan-wi pada
Kit-bong-to. Maka ayun langkah Tio Jiang dan Yan-chiu itu
ditujukan untuk mengejar Tan It-ho, atau palirIg tidak
harus dapat mendahului manusia seribu muka itu. Maka
sampai petang hari, keduanya masih pesatkan larinya,
menuju ke Kwiciu. Juga malamnya mereka tetap lanjutkan
perjalanannya.
Keesokan harinya, mereka menjumpai orang2 yang
dijumpai dijalan itu, sikapnya aneh. Dan yang terlebih
mengherankan lagi, sejumlah besar serdadu Ceng sama
berbondong2 keluar dari kota Kwiciu. Mereka berkelompok2,
ada yang terdiri dari 10 orang, ada tujuh atau
delapan orang. Selama berjalan itu, mereka hiruk-pikuk tak
keruan macamnya. Ada sementara rombongan anak2 nakal
yang melempari batu kearah kawanan serdadu2 Ceng itu.
Melihat itu Tio Jiang dan Yan-chiu menjadi heran.
Bukankah Kwitang dan Kwisay sudah diduduki tentara
Ceng, mengapa rahayat masih begitu bernyali besar?
Dalam men-duga2 itu, keduanya sudah mendekati kota.
Tiba2 ada seorang pembesar tentara Ceng, dengan
terhuyung2 tak tetap jalannya, keluar dari pintu kota. Dia
tak membekal senjata. Kepada kawanan serdadu itu, dia
meneriaki keras2, entah apa yang diteriakan itu. Tio Jiang
dan Yan-chiu tak mengerti akan bahasa mereka, tapi jelas
dilihatnya bahwa serdadu2 itu semuanya adalah bangsa
Boan.
Sedari tentara Ceng menduduki kota Kwiciu, mereka:
segera memaksa orang2 Han untuk menjadi serdadu guna
menambah angkatan perangnya. Dan orang2 Boan itu
diangkat menjadi opsir dan pembesar militer, Tapi mengapa
kini keadaan mereka tak - keruan macamnya? Sampai
sekian lama, Yan-chiu tetap tak memperoleh jawaban
pendugaannya itu. Tapi dalam pada itu, jelas didengarnya
baik didalam maupun diluar kota, rahayat sama ber-sorak2
gempar, sana sini orang memasang petasan. Suasananya
lebih ramai dari Tahun Baru.
Oleh karena didalam sekian banyak orang yang sama
berbondong2 entah apa maksudnya itu, Yan-chiu tak dapat
memperoleh keterangan jelas, dia menjadi tak sabar lagi.
Sekali enjot sang kaki, dia segera melayang menyerang
seorang opsir Ceng. Ternyata opsir itu mengerti ilmu silat
juga. Dia miringkan tubuh menghindar lalu mengirim
hantaman. Melihat itu, Yan-chiu berbalik girang. Sudah
lama ia merasa keisengan tak berkelahi. Kini dapat sparring
partner (lawan bertanding). Dengan gunakan cian-kin-tui
atau tenaga tindihan 1000 kati, dia meluncur turun. Begitu
turun, dia segera kerjakan kakinya untuk mengait dengan
gerak kau-theng-thui. Bum, tak ampun lagi opsir itu
tergelincir jatuh !
Yan-chiu ter-bahak2, sementara opsir itu dengan
merangkang bangun lalu berteriak keras menyerangnya.
Yan-chiu melejit kesamping, sekali ulurkan tangan, kembali
opsir itu terjerembab jatuh. Bahkan kali ini Yan-chiu
gunakan tenaga, sehingga opsir itu keras sekali
terbantingnya. Hidung pencet, mata bendul, mulutnya
meng-erang2 kesakitan.
,,Aku hanya hendak bertanya sepatah kata, mengapa kau
memukul?" seru Yan-chiu. Terang dirinya diserang lebih
dulu dan dibanting sampai dua kali, masa masih
dipersalahkan. Sudah tentu opsir itu meringis seperti
monyet kena terasi. Akhirnya terpaksa dia menyahut: „Apa
yang hendak kau tanyakan itu?"
,,Mengapa kamu tak berpesta pora didalam kota,
sebaliknya malah seperti anjing digebuk lari pontang,
panting keluar kota ?" tanya Yan-chiu. Opsir itu deliki.
Berputar kebelakang dia berteriak beberapa kali dan
berbarislah beratus serdadu Ceng itu lalu menuju kebarat.
Opsir itu mengikuti dibelakang. Mendongkol tak dijawab
pertanyaannya, Yan-chiu mengejar lalu menangkap kuncir
orang. Baru ia hendak memaksanya berkata, tiba2 dari
samping melesat sesosok bayangan. „Nona, lepaskanlah
dia. Bangsat macam begitu, sudah tiada berharga lagi!" kata
orang itu.
Tio Jiangpun sudah mendatangi. Kuatir sang sumoay
berlaku kasar, lekas2 dia menjurah, ujarnya: „Lotio, apa
maksudmu ?"
Orang tua itu terkekeh-kekeh, sahutnya: „Ini artinya
Allah tiada mau membasmi bangsa Han. Sikuncir Boan,
selekasnya akan angkat kaki dari Kwitang dan Kwisay !"
„Jangan2 kaisar kantong nasi itu akan kembali lagi ?"
Yan-chiu menyela. Tapi sebaliknya Tio Jiang bertanya :
„Adakah saudara2 dari Thian Te Hui muncul lagi ?"
„Salah semua," sahut siorang tua.
„Habis bagaimana ?" tanya kedua anak muda itu dengan
heran. Wajah siorang tua berseri girang, serunya: „Kemaren
tanggal 10 bulan 4, Li congpeng telah membawa anak
buahnya dari kedua propinsi Kwi, menakluk pada Beng!"
„Adakah keteranganmu itu benar, Lotio ?" Tio Jiang dan
Yan-chiu serentak bertanya dengan girang.
„Aku seorang tua, masa masih suka bergurau? Kawanan
serdadu Ceng itu digebah pergi oleh anak buah Li Seng
Tong tayjin. Tak lama lagi kaisar Ing Lek akan kembali ke
Kwiciu sini!" sahut siorang tua dengan tegas.
Yan-chiu tak bersangsi lagi. Ia segera tarik tangan
sukonya diajak masuk kedalam kota. Seluruh penduduk tua
muda besar kecil, sama2 bersuka ria. Kini kedua anak muda
itu percaya penuh. Kalau tadi saja mereka masih memaki Li
Seng Tong, kini berbalik memujinya setinggi langit.
Keduanya ambil putusan menuju kekantor congpeng. Para
pengawal digedung situ, ternyata sudah berganti
uniformnya (pakaian seragam). „Apakah Li congpeng ada
?" tanya Tio Jiang.
Penjaga itu tak memandang mata pada kedua anak muda
kita. „Li congpeng masih sibuk!" sahutnya ringkas. Saking
gusar, Yan-chiu segera ayun tangannya. Ada 4 atau 5 orang
serdadu pengawal menjerit jatuh. Yan-chiu tarik sukonya
menobros masuk. Tanpa ada yang berani menghadang,
mereka berdua langsung masuk keruangan besar
dibelakang. Disitu kedengaran ada orang berkata: „Kalau
sekarang kuturut permintaanmu, lantas kau bagaimana?"
„Sudah tentu aku taat janjiku!" sahut sebuah suara lagi
yang nadanya seperti orang perempuan. Tio Jiang dan Yanchiu
terperanjat. Yang pertama tadi, mereka kenal sebagai
suara Li Seng Tong, sedang suara wanita itu adalah suara
Lam-hay-hi-li Ciok Siao-lan!
„Ciok Siao-lan, kaukah?" tiba2 Yan-chiu menegur.
Kedengaran suara berkerontangan, seorang gadis cantik
yang berkulit hitam, tampak menyongsong keluar dengan
senjatanya hi-jat. Memang ia adalah Ciok Siao-lan adanya,
siapapun tercengang melihat kedatangan kedua anak muda
itu.
”Mengapa-kalian,datang kemari ?" tegurnya.
„Mencari Cian-bin Long-kun!" sahut Tio Jiang dengan
tegas. Lagi2 Siao-lan terkesiap, menggetarkan senj atanya,
berkata: „Perlu apa cari dia? Akupun juga sedang
mencarinya !"
”Dan kau perlu apa padanya?" Yan-chiu membalas.
Tiba2 Siao-lan menghela napas panjang, ujarnya:
„Mencarinya atau tidak, sebenarnya sama saja !"
Selagi Tio Jiang dan Yan-chiu hendak menegas, dibalik
ruangan besar muncul seorang lelaki yang berwajah keren,
mengenakan pakaian luar biasa, bukan Ceng bukan Beng,
tapi lebih banyak menyerupai pakaian pembesar dalam
sandiwara.
„Li congpeng, kau tak kecewa sebagai seorang pahlawan
besar!" Yan-chiu segera memujinya. Memang orang itu
adalah Li Seng Tong sendiri, siapa hanya ganda tertawa
saja, tak mau menyahut sebaliknya malah berkata kepada
Siaolan: „Siao-lan, kau beristirahat dulu kedalam. Sakitmu
masih belum sembuh, jangan keliwat ngotot !"
Dari nada suaranya, mengunjuk perhatian sekali,
diucapkan dengan ramah tamah tak memadai ucapan
seorang pembesar agung. Sudah tentu Tio Jiang dan Yanchiu
heran dibuatnya.
„Apa maksud kedatangan kalian ini?" tegur Li Seng
Tong kemudian pada Tio Jiang dan sumoaynya.
„Dimanakah sekarang Cian-bin Long-kun itu?" ujar Tio
Jiang. Li Seng Tong melirik pada Siao-lan sejenak, lalu
menyahut: „Entahlah, punkoan sedang sibuk, harap jiwi
keluar dulu !"
Yan-chiu melangkah maju setindak, katanya: „Kami
mencarinya karena ada urusan penting !"
„Sst, jangan sampai Siao-lan mendengarnya. Kemaren
sore, The Go telah membawa gadis she Bek itu, entah
kemana!" Li Seng Tong menyahut dengan suara berbisik.
„Mengapa?" tanya Tio Jiang dan Yan-chiu serentak.
„Karena punkoan sudah kembali kepada Tay Beng,
mungkin merasa berdosa besar dia lalu ketakutan sendiri!"
sahut Li Seng Tong. Mendengar itu Tio Jiang segera ajak
sumoaynya berlalu, karena turut gelagatnya The Go pasti
sangat membutuhkan pedang pusaka kuan-wi itu. Begitu
ketemu dengan Tan It-ho dia tentu jalankan usul keji itu.
Yan-chiu berpaling kearah Li Seng Tong sebentar, sahutnya
: „Tunggu sebentar dulu. Li congpeng, mengapa kau
sekonyong2 membaliki diri, kepada pemerintah Boan
Ceng?"
Li Seng Tong menghela napas dalam. Sampai sekian
lama baru dia mengucap: „Kemauan alam !"
„Huh, doa sajak apa itu ?" kata Yan-chiu seraya
melangkah keluar diikuti sukonya. Ketika dijalan besar,
didapati orang2 sama mengerumuni sebuah rumah cat
merah dan melontari batu. Ternyata, rumah itu adalah
gedung kediaman pembesar Beng yang menakluk pada
Ceng. Bermula Yan-chiu juga hendak ikut2an, tapi keburu
digelandang oleh sang suko. (Catatan: Peristiwa setelah
berhasil menduduki Kwitang dan Kwisay lalu tiba2-Li Seng
Tong berbalik menakluk pada pemerintah Beng itu, tercatat
dalam buku sejarah. „Sejarah ringkas kerajaan Lam, Beng"
dan „Peristiwa Kwiciu". Mengapa jenderal itu berbuat
demikian, merupakan teka-teki sejarah. Yang diketahui
orang, dia dipengaruhi oleh seorang wanita).
„Siao Chiu, dahulu rahayat mengutuk Li Seng Tong
sebagai penghianat bangsa, tapi kini dia disanjung-puji. Jadi
segala apa itu tergantun dari perbuatan orang sendiri," kata
Tio Jiang ditengah perjalanan. „Ah lihat2 dulu orangnya.
Kalau orang macam The Go tiba2 berobah baik, rasa2nya
setanpun takkan mempercayainya!" bantah Yan-chiu. Tio
Jiang terdiam. Lewat sekian lama tiba2 dia berkata:
„Jangan2 The Go kembali kegereja Ang-hun-kiong."
„Tepat, hayo kita ke Ko-to-san saja!" sahut Yan-chiu.
Begitulah keduanya segera berputar balik arah, menuju
kegunung Ko-to-san.
Ko-to-san terletak disebelah selatan dari propinsi Kwiciu.
Berita Li Seng Tong menakluk pada kerajaan Beng, sudah
pecah diseluruh negeri. Maka disepanjang kota kecil yang
dilaluinya, tampak suasana penuh dengan kawanan serdadu
Ceng yang ber-bondong2 menuju kebarat. Beberapa kali
mereka berjumpa dengan serdadu2 Ceng itu, setiap kali
Yan-chiu tentu memberi hajaran. Tiga hari kemudian
menjelang sore hari, keduanya sudah tiba dikaki gunung
Ko-to-san.
„Siao Chiu, apa kita langsung menuju keatas gunung?"
tanya Tio Jiang agak bersangsi. Yan-chiu leletkan lidah
berkata: „Mungkin kita tak kuat melawan Ang Hwat
cinjin.”
Tapi Tio Jiang berkeras: „The Go tentu sudah berada
disana, kalau tak menyusul, kesana, bagaimana kita bisa
mencari -Lian suci ?"
„Jadi kalau demikian, kita harus pergi?"
„Tentu !"
„Ya, kalau nanti The Go tak ada kita bilang saja datang
hendak mengunjuk hormat pada Ang Hwat cinjin. Sebagai
seorang locianpwe, dirasa Ang Hwat cinjin tentu takkan
sampai memperlakukan keras kepada kita !"
„Tapi kalau The Go ada?" tanya Tio Jiang.
Yan-chiu mengecupkan biji matanya, menjawab:
”Masakan dia bisa lari kemana?"
Begitulah setelah menanyakan letak gereja itu pada
seorang penduduk, keduanya mulai mendaki keatas. Kala
itu matahari menjelang turun memancarkan sinar keemasan.
Dari jauh sudah kelihatan dinding gereja yang
berwarna merah diatas puncak gunung sana. Sepintas
pandang, mirip dengan segumpal awan merah. Lapat2
terdengar suara genta gereja ber-talu2 dibunyikan. Diam2
kedua anak muda itu mendapat kesan, bahwa kiranya tak
kecewa gereja Ang-hun-kiong itu menjadi tempat kediaman
seorang guru besar dari kalangan persilatan yang begitu
dimalui orang.
Tak lama kemudian, tibalah sudah mereka disebuah
lapangan diluar gereja itu. Temboknya yang menjulang
tinggi, nampak megah dan perkasa. Sehingga seorang anak
peremuan yang genit macam Yan-chiu, tak urung merasa
tercekat hatinya. Baru mereka mendekati pintu besar, dari
sebuah thing (pagoda kecil) yang terletak dimuka pintu itu,
muncul dua orang to-thong kecil dengan pertanyaannya :
„Ada keperluan apa jiwi datang kemari ?"
„Siao-totiang, tolong tanya adakah Cian-bin Long-kun
The Go yang termasyhur didunia persilatan itu berada
disini?" tanya Yan-chiu cepat2 mendahului sukonya, karena
kuatir sang suko yang tak pandai bicara itu nanti plegakpleguk
tak tegas. Sudah tentu Tio Jiang mendongkol dan
deliki mata, tapi Yan-chiu menganggap sepi saja.
„0oo..., kiranya jiwi hendak mencari The suko. Sejak
musim rontok tahun yang lalu dia turun gunung, sampai
sekarang belum pulang kemari," menerangkan kedua tothong
kecil itu.
„Masa" tiba2 Tio Jiang menyeletuk.
Kedua to-thong itu kiblatkan biji matanya menukas:
„Apa mungkin kau lebih tahu dari kita yang berada disini ?"
Tio Jiang terbentur dan menyeringai. Sedang Yan-chiu
yang mendongkol terpaksa tahan perasaannya, karena
kuatir kesalahan dengan Ang Hwat cinjin. „Harap jiwi
siaototiang jangan marah. Sukoku sebenarnya orang baik2,
tapi ada sedikit cacad, yaitu agak dogol," kata Yan-chiu
sambil tertawa.
”Rupanya kau ini lebih baik!" kedua to-thong itu turut
tersenyum riang. Yan-chiu merasa suka dengan kedua anak
gereja yang wajahnya terang berseri dan bibirnya kemerah2an
itu. „Ya, memang aku ini suka bicara. Tapi
siapakah nama yang mulia dari jiwi ini ?"
Anak gereja itu hanya kurang lebih berumur dua
tigabelas. Di-junjung2 dengan sebutan „siao-totiang" oleh
sumoay Tio Jiang, girangnya setengah mati. „Kami
bernama Kuan Gwat dan Siang Hong, termasuk murid
angkatan ke 3 dari sucou. The Go adalah suko kami," sahut
mereka.
„Ai....., ai......, makanya dalam usia semuda ini sudah
begitu lihay. Sungguh mengagumkan!" Yan-chiu mengobral
sanjung pujian, walaupun sebenarnya kepandaian kedua
anak gereja itu tak seberapa. Dasar anak2, kedua to-thong
itu menganggap Yan-chiu seorang nona yang baik hati. Dan
tanpa disadari, kelak Yan-chiu akan memperoleh bantuan
besar ketika ia mendapat kesusahan digereja itu.
Oleh karena The Go tak ada, Tio Jiang menyatakan
hendak mencari suhunya saja, tapi Yan-chiu berkeras
hendak menuju kegunung Sip-ban-tay-san, minta rotan besi
pada suku Thiat-theng-biau. Syukur kalau The Go disana,
bolehlah diberesi. Tio Jiang terpaksa menurut.
Kini kita tinggalkan dulu perjalanan kedua anak muda
itu ke Sip-ban-tay-san. Mari kita jenguk keadaan The Go.
Setelah dilukai Tio Jiang, dia ber-gegas2 membawa Bek
Lian ke Kwiciu. Sesudah beristirahat semalam, lukanya
banyak baikan. Tiba2 didengar diluar gedung ada suara
hiruk-pikuk. Setelah dicari keterangan, ternyata Li Seng
Tong berontak terhadap pemerintah Ceng. Sudah tentu
terkejutnya bukan kepalang, karena besok paginya dia
bermaksud hendak menghadap congpeng itu. Keluar
dijalanan, disana sini rakyat sama ber-jubal2 ber-sorak2
dengan gempar, sedang serdadu2 Ceng sama kalut tak
keruan keadaannya. Buru2 dia potong kuncirnya, lalu
berganti pakaian. „Lian-moay, Li Seng Tong orang yang
suka bolak balik pikirannya. Lebih baik kita pergi ketempat
sucou sana saja !"
„Aku tak hiraukan kepada Ceng atau Beng dia
memberontak, asal aku tetap didampingmu!" sahut Bek
Lian dihiring senyum tawanya. Tapi karena hati The Go
kala itu sangat kalut, dia anggap sepi saja cinta kasih
isterinya itu. Sejak mengandung, beberapa hari ini Bek Lian
suka muntah2, tak suka makan. Tubuhnya makin kurus
wajahnya pucat lesi. Melihat itu, rasa cinta The Go makin
hari makin luntur. Adalah,karena takut terhadap Kang
Siang Yan, dia terpaksa belum berani bertindak.
Begitulah dengan ber-gegas2 The Go segera ajak Bek
Lian angkat kaki. Begitu tiba diluar kota, dia tepat
berpapasan dengan Tan It-ho. „The-heng, wah, berbahaya
sekali!" seru It-ho dengan ter-engah2.
„Apanya?" The Go tak mengerti maksud kata2 orang.
Tan It-ho segera tuturkan pengalamannya berjumpa dengan
kedua anak murid Ceng Bo siangjin dibio kecil itu. The Go
benci tujuh turunan terhadap kedua anak muda itu.
„Tanheng, bagaimana kabarnya pedang itu ?" tanyanya.
Tan It-ho lirikkan ekor mata kearah Bek Lian. Rupanya
itu sebagai suatu isyarat rahasia, dan The Gopun tak mau
bertanya lagi. The Go ajak Tan It-ho menginap dihotel.
Malamnya mereka bertiga pesan hidangan lengkap, tapi
ternyata Bek Lian tak suka makan, lalu masuk tidur lebih
dulu. Melihat Bek Lian sudah pergi, baru Tan It-ho mulai
membentangkan siasatnya: „Cian-bin Long-kun, siaote ada
merencanakan sebuah siasat, apabila sampai menyalahi
sukalah kau memaafkan !"
Sejak dijatuhkan Tio Jiang, The Go perihatin sekali. Ang
Hwat cinjin mempunyai ilmu pedang Chit-sat-kiam-hwat
yang saktinya bukan kepalang. Terdiri dari 49 jurus.
Beberapa kali dia pernah minta ajaran itu, tetapi suhunya
selalu memberi alasan, ilmu itu akan hilang kesaktiannya
kalau tiada memiliki pedang pusaka yang tajam. Maka
terhadap pedang pusaka kuan-wi-kiam, The Go mau
mempertaruhkan segala apa asal bisa memiliki. Dengan
pedang kuanwi-kiam dan ilmu pedang Chit-sat-kiam-hwat,
hendak dia cuci bersih hinaan dari orang2 yang dibencinya,
pada nanti pertempuran dihari pehcun. Sewaktu It-ho
menerangkan bahwa pedang pusaka itu berada ditangan
suku Thiat-thengbiau, perasaannya sudah longgar. Apalagi
ketika It-ho mengatakan mempunyai daya, hatinya segera
me-lonjak2.
Sebagai seorang durjana, Tan It-ho ber-hati2. Sebelum
mengatakan lebih jauh dia celingukan kian-kemari dulu
adakah ada lain orang yang mencurigakan. Ternyata disitu
sepi orang, kecuali ada seorang hweshio yang sedang
menjalankan tugas berkelana, tengah mengantuk dan
letakkan kepalanya diatas meja. Dihadapannya tertumpuk
beberapa bak-pao, sedang orangnya mendengkur keras.
Tidur mendengkur atau ngorok, belum berarti orang tidur
pulas betul2, bisa juga orang itu ber-pura2 saja. Ini dapat
diketahui dari cara dengkuran orang itu. Sebagai seorang
durjana, It-hopun dapat mempelajari adakah orang itu
sungguh tidur atau pura2. Setelah didengarnya dengan
perdata, hweshio itu memang tidur sesungguhnya, barulah
It-ho legah, katanya: „Thiat-theng-biau itu sangat gagah
perkasa dan kebal segala macam senjata. Dengan
kekerasan, rasanya sukar memperoleh hasil.”
”Lekas katakan siasatmu itu saja. Kang Siang Yan sudah
bersumpah hendak mendapatkan lagi pedang itu, kalau
sampai keduluan, tentu lebih sukar lagi!" The Go -
mendesak dengan tak sabar. Tan It-ho terperanjat, serunya:
„Kang Siang Yan ? Benarkah ucapanmu itu ?"
„Tan It-ho, jangan ngaco belo yang tidak2! Kalau kau
dapat membantu aku sampai mendapatkan pedang itu,
nanti aku ajarkan padamu 3 macam kepandaian sakti dari
gereja Ang-hun-kiong menurut sesuka pilihanmu, puas ?"
Tan It-ho teramat sukanya, lalu duduk merapat pada The
Go, katanya: „Tapi kepala suku Thiat-theng-biau yang
bernama Kit-bong-to itu gemar sekali akan paras cantik "
„Susah...., susah...., kalau kita antar beberapa wanita
cantik, masakan dia lantas menerimanya saja?" tukas The
Go. Tan It-ho mendekati tujuannya: „The toako, Kit-bongto
banyak pengalamannya, terhadap wanita biasa tentu dia
tak memandang mata !"
„Habis, bagaimana kemauanmu ?"
Diam2 Tan It-ho mengejek sang kawan yang biasanya
membanggakan diri sebagai gudang otak, mengapa kini
sedemikian tololnya. Tapi dia beranggapan lain, mungkin
The Go sudah dapat menebak, tapi tak enak untuk
mengatakan sendiri. „Siaote hendak mempersembahkan
kata2, mohon toako jangan marah!" katanya.
The Go bersikap tenang saja. Setelah menuangkan arak
dan meneguknya habis, dia berkata: „Tak apa, bilanglah!"
Lagi2 Tan It-ho celingukan keempat penjuru, setelah
disitu makin sepi orang kecuali sihwesio yang masih
menggeros tadi, segera dia berkata: „Puteri dari Hay-te-kau
itu laksana bidadari menjelma, Kit-bong-to pasti jatuh hati!"
Mendengar itu wajah The Go berobah seketika, brak.....,
brak.....dia menggebrak meja: „Tan It-ho, selama ini
kuanggap kau sebagai sahabatku yang sejati, mengapa
berani mengucapkan kata2 itu?"
(Oo-dwkz-TAH-oO)
BAGIAN 24 : KETAWA MONYET
Tan It-ho terkesiap kaget. Diam2 dia menduga, apakah
The Go itu sungguh mencintai Bek Lian dengan setulus hati
? Sampai sekian saat dia tak dapat berkata suatu apa,
sedangkan dengan dada berombak-ombak The Go meneguk
araknya lagi. Tiba2 terkilas dalam pikiran Tan It-ho,
bagaimana pribadi The Go yang terkenal sangat licik-licin
itu. Rupanya dia berlaga kaget dan marah2, agar terhindar
dari kesalahan. Bermula Tan It-ho sesali dirinya mengapa
mengambil resiko besar begitu, tapi pada lain saat ketika dia
memikirkan betapa hebat 3 macam pelajaran Ang Hwat
cinjin itu, semangatnya timbul lagi. Bukankah dengan
memiliki kepandaian itu, dia akan dapat malang melintang
didunia kangouw? Dia berpantang mundur, serunya: „The
toako, orang mengatakan 'dalam kesukaran harus berdaya,
ada daya tentu ada harapan'. Pertemuan pehcun, sudah
didepan mata. Kalau tak memiliki pusaka, tentu tak dapat
mengalahkan musuh. 'Isteri adalah ibarat pakaian' kata
orang pula. Dengan puteri Hay-te-kau, kau belum tentu
hitam putihnya. Masa remaja muda hanya sekali dalam
hidup. Kalau hanya tergantung pada seorang perempuan
saja, masakan hidup kita ini berbahagia ?"
Ucapan beracun dari Tan It-ho itu termakan betul dalam
hati The Go. Setelah Bek Lian hamil, The-Go, memang
agak menyesal. Kalau tanpa persetujuan fihak orang tua,
dapatkah perkawinan itu berlangsung terus ? Tapi kalau
melihat kecantikan yang gilang gemilang dari Bek Lian,
berat rasa hati untuk meninggalkan.
Dalam hati dia mulai me-nimang2 usul It-ho tadi,
namun lahirnya dia masih mengunjuk wajah gusar,
katanya: „Tan-heng, aku si The Go, mana bisa berbuat tak
bertanggung jawab begitu ?”
„Heh....., heh...., heh.....," Tan It-ho ter-kekeh2 demi
mengetahui isi hati The Go yang mulai goncang itu.
Sembari tertawa, dia sapukan ekor mata kesekelilingnya.
Sihweshio masih asyik mendengkur dengan kerasnya.
Jongos sudah sama menyingkir untuk beristirahat. Hatinya
makin legah, katanya: „The toako, kau kenyang dengan isi
segala macam kitab, mengapa pikiranmu limbung?"
„Kalau kuturut rencanamu, lalu ?" The Go menyeringai.
„Turut pikiranku, kau ajak saja nona itu ke Ko-to-san
untuk menghadap sucoumu. Mana ia tahu Ko-to-san atau
Sip-ban-tay-san? Malam ini aku hendak pergi lebih dahulu
menjumpai Kit-bong-to dan memberitahukan maksud kita.
Simata keranjang itu mana tak terpikat melihat kecantikan
nonamu? Dengan pedang pusaka kuan-wi-kiam
ditanganmu, dalam pertempuran hari pehcun nanti,
siapakah yang dapat menandingi kau?" Tan It-ho
bentangkan tipunya.
„Sip-ban-tay-san sangat luas sekali, dimana tempat
kediaman Kit-bong-to itu?" The Go mulai menurut. Hendak
It-ho menerangkan, tapi tiba2 dia tak mau membuka mulut.
Tangannya dicelupkan kedalam teh, lalu menulis diatas
meja: „Dipuncak Thiat-nia, penuh dengan batu2 hitam,
seluruhnya hanya ada satu macam tumbuhan thiat-theng
(rotan besi)" Sehabis menulis, lekas2 dihapusnya bersih2.
Sementara mulutnya pura2 mengatakan: „Siaote sendiripun
kurang jelas, kita nanti tanya saja kalau sudah tiba disana !"
The Go puji sikap ber-hati2 dari orang itu. Setelah
memiliki ilmu silat, orang yang pandai menyaru dan meniru
suara orang itu, tentu akan berguna padanya. It-ho-heng,
siaote ada suatu permintaan, entah Ho-heng menyetujui
tidak!"
Tan It-ho terperanjat dan mempersilahkan The Go
mengatakan. „Dalam soal kecerdasan, kita berdua ini tiada
yang melawan didunia persilatan. Hendak siaote
mengangkat persaudaraan, dengan Ho-heng, entah
bagaimana pikiran saudara ?”
Bukan kepalang girang It-ho mendengar maksud The Go
itu. Memang diapun butuh sekali akan bantuan orang she
The itu. Begitulah kedua orang yang ganas dan licin bagai
belut itu segera mengangkat saudara. Atau lebih tepat
dikatakan 'si kera dan buaya' mengangkat saudara. (Dalam
dongeng kanak2, kera dan buaya itu saling bermusuhan,
jadi kalau mereka mengangkat saudara, itu hanya pulasan
saja).
Oleh karena Tan It-ho pernah tua, jadi dia yang menjadi
toako (saudara tua). Setelah merayakan upacara itu dengan
3 tegukan arak, mereka lantas hendak masuk tidur. Tiba2
brak....., terdengar pintu terbuka dan masuklah seorang
lelaki tinggi besar kedalam ruangan situ. Begitu masuk
orang itu segera menghamburkan makian: „Jahanam, kakek
moyanglu 18 turunan ! "
Mendengar suara orang itu, The Go tampak gugup, lalu
bertanya kepada Tan It-ho: „Toako, apakah kau membawa
topeng muka?" Tan It-ho mengeluarkan sebuah topeng kulit
muka. Begitu dipakai, pemuda The Go yang tampan segera
menjadi seorang yang buruk rupa. Setelah itu, baru The Go
berani mendongak mengawasi kemuka dan tak kuat
menahan gelinya lagi. Orang lelaki kasar tadi
mengawasinya sejenak, lalu memaki: „Bangsat, apanya
yang lucu?"
Tan It-ho hendak membalas, tapi secara diam2 dicegah
The Go, hingga membuat yang tersebut duluan heran.
Memang tindakan The Go itu beralasan, karena sikasar itu
bukan lain adalah Nyo Kong-lim, itu pemimpin dari ke 72
Cecu Hoa-san. Entah bagaimana dia bisa datang ketempat
itu. Brewok janggutnya tinggal separoh, mukanya pun
belang hitam putih, rambutnya yang sebelah kiripun
(separoh) sudah kelimis, sehingga kulit kepalanya tampak
jelas. Barang siapa melihatnya, jangan tanya tentu akan
kaku perutnya karena geli. Dari wajahnya, dia tengah
dirangsang kemurkaan. The Go tahu ilmu silat ketua Hoasan
itu cukup tangguh, maka siapa yang berani
mempermainkannya? Ah, jangan2 Kang Siang Yan?!
Teringat akan nama Kang Siang Yan, The Go kucurkan
keringat dingin. Dia bergidik sendiri kala membayangkan
apabila rencananya keji itu sampai ketahuan Kang Siang
Yan, tentu mayatnya tiada tempat untuk mengubur lagi!
Tapi ah...., mana Kang Siang Yan sempat untuk memperolok2
orang kasar itu ? Demikian karena sudah berganti
rupa, maka dengan tenangnya The Go duduk mengawasi.
Nyo Kong-lim kelihatan mengambil sebuah tempat
duduk, lalu bung...., bung...., bung...., tinjunya berlincahan
diatas meja dan mulutnya ber-kaok2: „Hayo, lekas
bawakan, arak dan daging "
Jongos yang tadinya sudah siat-siut matanya, minta
ditidurkan itu, begitu melihat kedatangan sikasar dan
sikapnya yang bengis itu, segera buyar rasa kantuknya. Tersipu2
dia membawakan barang pesanan itu.
Nyo Kong-lim usap2 kepalanya yang gundul separoh itu,
lalu meng-elus2 janggutnya yang tinggal separoh itu juga.
„Jahanam .....", tiba2 dia berhenti merenung sejenak lalu
melanjutkan lagi: „Jahanam, apakah bukan sibudak
perempuan itu yang main gila padaku?" Tapi sesaat lagi, dia
menyahut sendiri: „Tidak, tidak, budak itu bersama siaoko
pergi ke Sip-ban-tay-san, masakan dia bisa kemari
mengolok2kan aku ? !"
Berkata begitu, wajahnya tampak agak tenang, kemudian
se-konyong2 dia tertawa ter-bahak2 sendiri, seperti orang
setengah gila. Baru separoh ketawa, dia lantas berhenti dan
berkata sendirian: „Rupanya budak itu galang-gulung rapat
dengan si siaoko, biar kutanyakan pada suhunya, bilakah
aku dapat minum arak kebahagiaannya (menikah) ?" Habis
berkata, dia kembali ter-bahak2 seorang diri.
Bermula The Go dan Tan It-ho anggap ketua Hoasan itu
tolol tapi menyenangkan. Tapi lama kelamaan didengarnya
suara ketawanya itu bukan seperti orang ketawa lagi,
melainkan menyerupai orang menangis. Ketika keduanya
mengawasi tajam2, mereka segera merasa kaget. Walaupun
Nyo Kong-lim masih tengah ketawa, tapi sepasang matanya
tampak mendelik, kaki tangannya ber-jingkrak2, sikapnya
kesakitan sekali.
Sebagai seorang murid dari Ang Hwat cinjin, tokoh besar
dalam ilmu menutuk jalan darah itu, mata The Go yang
tajam segera mendapat tahu bahwa dalam sekejab waktu
barusan tadi, sikasar itu telah ditutuk jalan darahnya oleh
seseorang. Justeru yang diarah adalah jalan darah 'tertawa'.
Maka walaupun terus menerus ketawa, tapi nada
ketawanya itu menyerupai orang merintih kesakitan.
The Go terkesiap. kaget. Didalam ruangan situ hanya
terdapat 4 orang. Dia berdua dengan It-ho terang tak
melakukan. Adakah sihweshio penidur itu seorang tokoh
persilatan yang bersembunyi ? Tapi yang luar biasa,
mengapa Nyo Kong-lim sampai tak mengetahui kalau
dirinya dibokong orang, pada hal kaum persilatan mengenal
dia sebagai jago silat yang mahir ilmu lwekang. Sihweshio
itu masih tetap terkulai menggeros, mulutnya ngiler seperti
kelebuh benar2 di dalam pulau kapuk.
„Biar kau tahu rasa sekarang!" demikian diam2 The Go
girang menampak keadaan Nyo Kong-lim yang dibencinya
itu. Tapi baru dia mempunyai perasaan begitu se-konyong2
pinggangnya terasa lentuk, celaka...... secepat merasa
secepat itu pula dia empos semangatnya untuk kerahkan
tenaga perlawanan. Tapi sudah kasip, sekali mulutnya
pecah „ha...., ha..., hi..., hi...", terus menerus dia bergelak
ketawa tak berkeputusan juga. Tapi adalah karena
kelihayan pelajaran ilmu tutuk Ang Hwat cinjin, sehingga
walaupun tertawa, namun The Go masih dapat berdaya
untuk menyalurkan lwekang guna menindas rasa
ketawanya itu. Tepat pada saat itu, Nyo Kong-limpun
sudah berhenti ketawa. Dengan melotot mata, dia mendelik
gusar kearahnya.
”Hiante, apakah kau juga kena bokongan orang ?" tanya
Tan It-ho ketika merasa keadaan yang tidak wajar itu.
Belum The Go menyahut, Nyo Kong-lim sudah
menggerung keras sembari menerjang datang. „Jahanam,
kiranya kau!" sembari memaki tangannya menghantam.
Ketika dirinya diketahui, The Go tak mau menangkis
serangan yang dahsyat itu. Sekali tangannya menekan meja,
tubuhnya segera melambung setombak keatas. Juga Tan Itho
yang melihat gelagat jelek, segera mundur menyingkir.
“Bang..., bang....! karena orangnya sudah menyingkir,
maka meja itulah yang menjadi sasaran pukulan Nyo Konglim,
sehingga hancur ber-keping2. Sikuasa hotel ketakutan
seperti melihat setan. Dia ber-ingsut2 lari keluar dan terkencing2
mendeprok ditanah.........
Melihat pukulannya menemui tempat kosong, Nyo
Kong-lim cepat mencabut ruyung sam-ciat-kun, yang terus
dikibaskan lempang kemuka kearah The Go dan Tan It-ho.
„Bangsat, kau berani mempermainkan loya, mengapa
sekarang takut berkelahi ? Mari, kau rasakan ruyungku ini
sekali saja!" serunya sembari mengayunkan sam-ciat-kun
dalam gerak “heng soh cian kun" (menyapu ribuan lasykar).
Ujung ruyung bergeliatan, terpencar menutuk kedua orang
itu.
Mendengar itu, tahulah The Go kalau sikasar itu
sebenarnya belum mengetahui siapakah dirinya itu. Nyo
Kong-lim itu kasar orangnya, seribu satu alasan dia tentu
tak mau menerima, maka lebih baik diladeni saja. Begitu
ruyung tiba, The Go mendak kebawah sembari menyingkir
kesamping, lalu secepat kilat dia julurkan kelima jarinya
untuk menerkam dada orang. Ternyata itulah. suatu
gerakan yang istimewa lihaynya. Kelima jari itu sebenarnya
dipencar untuk menutuk jalan darah orang masing2 pada
kiok-kwat, siangwan, ki-bun, tiong-wan dan kian-li, lima
tempat.
„Lihay benar ilmu tutukanmu!" seru Nyo Kong-lim
sembari menarik pulang ruyung dan mundur 3 langkah
kebelakang. Tanpa disengaja, tubuhnya yang menyurut
kebelakang itu telah menatap kepala sihweshio, hai gila
betul rupanya hweshio itu. Disekitarnya terjadi ribut2,
malah kepalanya juga dibentur tubuh orang, tapi masa dia
masih enak2 tidur seperti babi mati. Hidungnya masih tetap
mendengkur keras seperti cerobong kapal.
Sebagai seorang persilatan yang sudah kenyang makan
asam garam, heran Nyo Kong-lim melihat ilmu tutukan
yang menyerangnya itu. Sepanjang pengetahuannya, ilmu
tutukan macam itu, hanya dimiliki oleh Ang Hwat cinjin
seorang saja. Oleh karena dia benci sekali kepada The Go,
jadi Ang Hwat cinjinpun turut2an dibencinya. „Anak jadah
(haram), kiranya kau masih sanak kadangnya Ang Hwat
sikeledai gundul itu ya!" serunya sembari kibaskan sam-ciatkun.
Kini dia lancarkan serangan istimewa. Sembari
menghantamkan sam-ciat-kun tangannya kiripun ikut
menebas bahu Tan It-ho, blek...... It-ho yang tak ber-jaga2
itu termakan dulu. Sekali menjerit 'aduh...., mati', separoh
tubuhnya seperti mati-rasa. Melihat itu The Go sangat
gugup. Dia masih perlu dengan tenaga It-ho, sedapat
mungkin jangan sampai orang itu keburu kehilangan jiwa
dulu. „Tan-heng lekas lari sendiri, aku setuju rencanamu,
jangan sampai membikin kapiran !" serunya kepada It-ho.
Walaupun It-ho merasa aneh akan kejadian dalam
ruangan penginapan situ, namun dia, turut juga perentah
The Go itu. Begitu Nyo Kong-lim tengah sibuk menangkis
serangan The Go yang mengarah pinggangnya, It-ho cepat
menyelinap keluar meloloskan- diri.
Nyo Kong-lim terperanjat mendengar kata2 „jalankan
menurut rencana" dari The Go tadi. Walaupun dia tak tahu
apa maksudnya, namun karena nada suara The Go itu
seperti pernah dikenalnya, ia menjadi tersentak sejenak.
Keayalan ini, menyebabkan perutnya hampir dimakan
tutukan tangan The Go. „Keparat....., siapa kau ini ?"
serunya sembari sapukan sam-ciat-kun mundur selangkah.
Karena terpaksa tadi secara spontan The Go telah
mengucapkan kata2, hal mana telah menimbulkan
kecurigaan musuh terhadap dirinya. Musuh menegas,
sudah tentu dia tak mau bicara lagi. Dalam pada itu, dia
ambil putusan hendak lekas2 menyelesaikan pertempuran
itu. Karena kalau terlibat lama, ada kemungkinan
rombongan Ceng Bo siangjin akan keburu datang disitu.
Dengan kehilangan seorang tiang pengandal macam Li
Seng Tong, sudah tentu dia tak berdaya menghadapi
kawanan orang gagah itu. Cepat diambilnya sepasang
sumpit, menyelinap kebelakang Nyo Kong-lim lalu
menutuk dua buah jalan darah dipunggungnya.
„Ilmu tutukan yang bagus!" seru Nyo Kong-lim sembari
kibaskan sam-ciat-kun keatas. Sam-ciat-kun atau tongkat 3
ros (buku), merupakan 3 batang tongkat pendek yang
disambung2. Tapi dalam tangan Nyo Kong-lim senjata itu
merupakan senjata yang dapat digerakkan sesuka hatinya.
Sam-ciat-kun ber-putar2 melibat Iengan The Go. The Go
memuji ketua Hoasan itu yang walaupun kasar tapi ternyata
mempunyai kepandaian berisi. Tanpa berayal, dia enjot
kakinya untuk loncat menghindar, tapi tiba2 telapak
kakinya terasa kesemutan. Serupa dengan jalan darah
siauyau-hiat (tertawa) tadi, kini jalan darah hian-kia-hiat
pada telapak kakinyapun kenaa ditutuk orang.
Oleh karena terperanjat, The Go jadi menurun kebawah
dan berbareng pada saat itu, sam-ciat-kun menyapu datang.
Terpaksa dia gunakan gerak tiat-pian-kio (jembatan
gantung) lemparkan tubuhnya kebelakang, lalu menyusul
dengan ilmu mengentengi tubuh i-heng-huan-wi, dia
letikkan tubuhnya kesamping. Cara penghindaran itu
ternyata berhasil bagus sekali didalam menghadapi
serangan sam-ciat-kun yang dilancarkan dengan jurus2
istimewa yakni „bintang pagi menjulang balik" dan
diteruskan „air terjun memancar jatuh"
Untuk kegirangannya, setelah menghindar, telapak
kakinyapun sudah sembuh dari rasa kesemutan. Ini
disebabkan karena The Go memiliki lwekang ajaran Ang
Hwat cinjin yang luar biasa. Maka ketika serangan sam-ciatkut
menyambar lagi, dia melintas maju lalu menutukkan
sumpit kearah jalan darah si-tiok-hiat. Tiba2 sihweshio
penidur tadi tampak bergerak pinggang, tangannya diangkat
keatas dengan jari2nya ditekuk kebelakang. Tampaknya
seperti orang ngolet (bergeliat), namun anehnya Nyo Konglim
dan The Go berdua segera rasakan ada angin keras
menyambar kearah mereka.
Sebagai orang persilatan, Nyo Kong-lim dan The Go
segera sama terperanjat Terang oletan sihweshio itu
merupakan pukulan lwekang biat-gong-ciang. Mau tak mau
terpaksa keduanya sama mundur sampai 3 tindak.
„Aku hanya ingin tidur sekejab saja, mengapa kalian
ribut2 tak keruan itu? Huh, kurang ajar!" tiba2 sihweshio itu
mengangkat kepala berkata.
„Ho, kiranya kau! Hampir saja aku keliru memukul
orang yang tak bersalah!” seru Nyo Kong-lim dengan
murka, lalu menarikan sam-ciat-kun merangsang sihweshio.
Sebaliknya sihwesio tampaknya seperti tiada kejadian
suatu apa, enak2 saja dia beresi jubahnya yang kucal2 itu.
Amboi, deru tarian sam-ciat-kun yang begitu dahsyat,
baru sampai ditengah jalan tiba2 terkulai kebawah, hingga
hampir makan kakinya, sendiri. Sudah tentu The Go yang
mengawasi dengan perdata, menjadi terkejut tak terkira.
Terang tadi dilihatnya hweshio itu hanya mengangkat
tangannya keatas sedikit, mengapa Nyo Kong-lim yang
bertenaga seperti kerbau itu, tak kuat lagi mencekal samciat-
kunnya?. Jadi nyata sampai dimana kesaktian
sihweshio itu. Tapi seingatnya, tokoh persilatan manakah
yang memiliki kepandaian begitu itu? Rasanya tidak ada.
„Kepala gundul, aku tak mau hidup ber-sama2 dalam
satu dunia dengan kau!" seru Nyo Kong-lim sambil berjingkrak2
untuk menghindar dari serangan sam-ciat-kunnya
sendiri. Habis itu, dia lalu serangkan lagi senjatanya. Tapi
dengan langkah lenggang, hweshio itu lari keluar tak mau
menghiraukan.
„Ada kau tiada aku, ada, aku tiada kau, sama dengan
ada rambut dikepalamu tiada rambut dikepalaku".
”Kalau kupangkas lagi rambutmu yang tinggal separoh
itu, aku tentu dapat enak2 menikmati kaki-anjing
panggang!" serunya ketika berlari itu.
„Anjing kepala gundul, jadi kaulah yang memangkas
rambutku ini? Hampir saja kusalah duga kalau sibudak
perempuan itu!" seru Nyo Kong-lim sembari mengejar
keluar. Sembari sahut2an, kedua orang tersebut sudah jauh
dari rumah penginapan situ.
Melihat keduanya sudah berlalu, The Go legah hatinya.
Sedangkan sipelayan tadipun berani masuk kedalam lagi.
Ketika dia sedang mengomel panjang pendek karena meja
kursinya hancur, tiba2 diatas meja sihweshio tadi dilihatnya
ada setumpuk perak, sekira 5 tail beratnya. Wajah sipelayan
yang kecut tadi, seketika berobah riang lagi. Sedang The
Gopun lalu masuk kekamarnya.
Didalam kamar Bek Lian tidur dengan enak sekali.
Rupanya tengah menantikan kedatangan The Go, karena
lampunya masih menyala. Karena tak mau membuat
terkejut, The Go mendekati pe-lahan2, tapi rupanya Bek
Lian mengetahui lalu menggeliat kesamping, dan tidur lagi.
Demi melihat wajah Bek Lian, berdeburlah jantung The
Go. „Didunia ini tak kurang dengan wanita cantik. Hanya
dengan barter secara yang diusulkan Tan It-ho tadi, barulah
aku dapat memiliki pedang pusaka itu. Aku belum resmi
mengikat perkawinan dengannya, tapi sudah mempunyai
anak, ah kalau hal ini sampai diketahui orang, kemana
hendak kutaruh mukaku ? Kalau tidak kejam itu bukan
lelaki! Persetan!" demikian pikiran jahat merangkum hati,
The Go. Dan saking kerasnya getaran hati, kakinya turun
dibanting, hal ini telah mengejutkan Bek Lian. „Engkoh
Go, tidurlah lekas, sudah jauh malam!" seru sinona.
Sebaliknya The Go yang sudah dirangsang racun kata2
Tan It-ho tadi segera suruh Bek Lian bangun. Dengan
alasan menghindar dari kejaran musuh yang hendak
melakukan pembalasan, malam itu juga The Go ajak Bek
Lian tinggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan
lagi.
Kita tengok Nyo Kong-lim sisembrono itu. Ternyata dia
mengalami pengalaman seperti petang hari tadi lagi.
Dirinya dipermainkan oleh sihweshio, saking gusarnya dia
mengejar. Tapi biar dia kencangkan larinya sedang
sihweshio itu hanya enak2 saja tampaknya, namun tetap tak
dapat mencandaknya. Begitu dengan keadaan pada saat itu.
Setiba dihutan. yang sepi, Nyo Kong-lim kehabisan bensin.
„Anjing kepala gundul, kenapa kau tak pangkas sekali sisa
rambutku ini ?'' makinya dengan keras.
Sihweshio tertawa cekikikan. „Aku bosan jadi hweshio,
hendak kembali lagi menjadi orang biasa. Tapi kalau belum
mencari pengganti kau, mana aku dapat lepaskan
kedudukanku ?" sahutnya.
„Tapi mengapa separoh kepalamu tak tumbuh
rambutnya?" tanya Nyo Kong-lim.
„Kalau tumbuh, lalu bagaimana ?" sahut sihweshio.
Sikasar tertegun, heran dia mengapa didunia bisa terdapat,
kejadian begitu?
„Baik, kalau benar separoh bagian dari kepalamu itu bisa
keluar rambutnya, rambutku yang separoh ini biar kau
cukur sekali!" serunya dengan geram.
Sihweshio tertawa, ujarnya: „Sekali taytianghu (lelaki
sejati) mengeluarkan kata2........"
„Laksana kuda lari sukar diburu!" sambung Nyo Konglim
serentak.
Sihweshio kembali tertawa. Dia ulurkan tangannya
merabah keatas kepala dan se-konyong2 berseru:
„Lihatlah!"
(Oo-dwkz-TAH-oO)
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Mantab : Naga Dari Selatan 2 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Mantab : Naga Dari Selatan 2 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-silat-mantab-naga-dari-selatan-2.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Mantab : Naga Dari Selatan 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Mantab : Naga Dari Selatan 2 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Mantab : Naga Dari Selatan 2 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-silat-mantab-naga-dari-selatan-2.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar