Cerita ABG IGO Cantik : Anak Harimau 5

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 03 Agustus 2012

Cerita ABG IGO Cantik : Anak Harimau 5-Cerita ABG IGO Cantik : Anak Harimau 5-Cerita ABG IGO Cantik : Anak Harimau 5-Cerita ABG IGO Cantik : Anak Harimau 5-Cerita ABG IGO Cantik : Anak Harimau 5-Cerita ABG IGO Cantik : Anak Harimau 5


Berubah paras mukanya setelah mendengar perkataan
Lan See giok itu, setengah menyesal dia manggut-manggut
berulang kali
"Ohh, sudah barang tentu!" sahutnya.
Dalam waktu singkat perahu untuk bertanding telah tiba,
panggungnya rata dan licin seperti cermin, ketika tertimpa
sinar mata hari senja segera memantulkan cahaya kemerah
merahan.
Komandan Nyoo memerintahkan perahu itu berhenti
ditengah telaga, kemudian serunya.
http://kangzusi.com/
"Lapor pocu, hamba sebagai komandan pasukan
terdepan memohon ijin dari pocu untuk melayani
pertarungan ini"
Lan See giok manggut-manggut, ujarnya dengan tenang:
"Berhati-hatilah komandan Nyoo"
Baru selesai dia berkata, komandan Nyoo telah melejit
ke udara, tubuhnya yang tinggi besar seperti pagoda hitam
melayang turun diatas panggung perahu itu dengan enteng
dan tidak menimbulkan sedikit suara pun. Begitu
menjejakkan kaki di lantai, dia segera mengadu sepasang
senjatanya sehingga memercikkan bunga api.
Dengan suara yang menggeledek dia segera membentak.
"Barang siapa yang merasa bosan hidup silahkan saja
naik ke panggung untuk bertanding!"
Baru selesai dia membentak. lelaki berbaju hitam
bersenjata palu yang berada di perahu abu-abu itu sudah
membentak nyaring.
"Toayamu akan datang melayanimu."
Dalam bentakan keras dia melompat pula ke atas perahu
panggung tersebut, kemudian meloloskan pula sepasang
senjata palunya
"Ayo cepat sebutkan namamu" bentaknya kemudian
dengan mata melotot besar."
"Selamanya palu toaya mu tak pernah membunuh
manusia tak bernama!"
"Kau tak usah mengetahui si apa namaku, kalau
memang punya kepandaian, ayo di keluarkan saja semua."
Lelaki kekar yang bernama Lok Jui itu menjadi amat
gusar, ia berteriak penuh kegeraman:
http://kangzusi.com/
"Bajingan tengik, tak usah banyak bicara lagi, serahkan
nyawa anjingmu."
Sambil berteriak dia menerjang ke muka, senjata
ditangan kirinya memainkan jurus "bukit thai-san menindih
kepala." sedang senjata ditangan kanannya dengan jurus
"menyapu rata lima bukit" langsung menerjang ke depan
dengan tenaga serangan yang sangat hebat.
Komandan Nyoo tertawa tergelak.
"Haaahhh...haaaahhh....haaahhh....tampaknya kau
memang manusia gelandangan yang hanya main ngawur.
coba lihat, jurus serangan macam beginipun berani kau
perlihatkan dihadapanku...?"
Sembari berkata dia maju dua langkah ke depan, palu
ditangan kirinya memainkan jurus. "menyingkap awan
melihat rembulan", sedang palu ditangan kanannya
memainkan jurus "menyapu rata seribu prajurit" serangan
itu bersama sama ditujukan kearah senjata musuh.
"Duuuk. duuuk., .!" ..
Dua kali benturan keras berkumandang di susul percikan
bunga api memancar kemana mana. diiringi dengusan
tertahan. Lok Jui bergetar mundur sejauh tiga langkah
lebih.
Pada dasarnya komandan Nyoo memang tersohor
karena tenaga alamnya yang hebat sekarang ditambah pula
dengan khasiat Leng sik giok ji. boleh dibilang tenaga
dalamnya telah maju satu kali lipat.
Begitu hawa murninya digunakan. ia segera merasakan
tenaga serangannya menggulung keluar sangat hebat.
http://kangzusi.com/
Menyaksikan Lok Jui kena didesak mundur
semangatnya segera bangkit kembali, dengan menambah
kekuatan serangannya ia membentak nyaring.
"Roboh kau . . . . "
Ditengah bentakan, tubuhnya mendesak maju ke muka,
lalu palu kanannya dengan sepenuh tenaga dihantamkan ke
dada lawan. Lok Jui tak mau memperlihatkan
kelemahannya dihadapan lawan, iapun membentak keras
sambil menyongsong datangnya serangan lawan dengan
senjatanya
"Blaammmm...!"
Suatu benturan keras bergema memecah keheningan.
ditengah percikan bunga api yang memancar kemana mana.
Lok Jui menjerit kesakitan, pergelangan tangannya pecah
dan senjatanya mencelat ke udara sementara tubuhnya
bagaikan layang-layang putus benang meluncur ke belakang
dan jatuh ke dalam air.
Peristiwa ini kontan saja membuat paras muka si bajing
air berbulu emas berubah hebat, saking kagetnya dia sampai
membuka mulutnya lebar-lebar dengan mata terbelalak.
Ketiga orang komandan lainnya yang berdiri di sisi Lan
See giok ikut dibikin tertegun, kemampuan komandan
Nyoo, yang begitu dahsyat benar-benar membuat hati
mereka bertiga merasa sangat terkejut.
Bahkan komandan Nyoo sendiripun ikut dibikin
tertegun, ia sendiripun tidak dapat percaya kalau tenaga
dalam yang dimilikinya telah mencapai begitu sempurna.
Tapi dengan cepat ia berhasil menguasai diri, sambil
membentur-bentur kembali sepasang senjatanya. kembali
dia membentak keras
http://kangzusi.com/
"Masih ada siapa lagi yang tak takut mampus, ayo
silahkan maju ke depan!"
Walaupun si bajing air berbulu emas Ong Hua berniat
mengundurkan diri dari situ, namun mendengar tempik
sorak yang gegap gempita dari sekeliling tempat itu, panas
juga hatinya dibuat. dari malu dia menjadi naik darah.
dengan tekad mengadu jiwa segera teriaknya:
"Huuuh, kalau cuma berapa bagian tenaga kerbau sih tak
ada gunanya. kan jangan sombong dulu. coba lihat. aku
akan segera memberi pelajaran kepadamu!"
Sembari berseru dia melejit ke udara dan langsung
meluncur ke atas perahu panggung.
Ketika komandan Ciang menyaksikan Ong Hua tidak
membawa senjata, dia kuatir komandan Nyoo tanpa
sepasang senjata palunya bukan tandingan lawan. maka
kepada Lan See giok segera bisiknya,
"Lapor pocu-"
Belum habis ucapnya Siau thi gou yang sudah merasa
gatal sedari tadi, kini tak sanggup menahan diri lagi. segera
teriaknya keras-keras.
"Komandan Nyoo harap kau mundur. biar aku yang
menghadapi si bajing air ini"
Dalam bentakan keras tubuhnya sudah melayang ke
perahu panggung, maka ketika ucapnya selesai diutarakan,
tubuhnya sudah berdiri diatas panggung tersebut.
Sebenarnya komandan Nyoo sedang merasa serba susah
waktu itu, karena si bajing air berbulu emas Ong Hoa tidak
membawa senjata, dengan sendirinya dia pun tak bisa
menghadapi lawan dengan mempergunakan senjata. namun
http://kangzusi.com/
bila dia harus menghadapi dengan tangan kosong belaka. ia
pun tak yakin bisa menang.
Sementara hatinya sedang risau dan gelisah, Siau thi gou
telah tampilkan diri menggantikan dirinya, hal ini membuat
hatinya amat gembira, serta merta dia mengiakan dan
melompat kembali ke perahu sendiri.
Bajing air berbulu emas menjadi sangat geram ketika
melihat Siau thi gou menampakkan diri menggantikan
komandan Nyoo, dengan sorot mata buas ditatapnya bocah
itu lekat-lekat, kemudian tegurnya penuh amarah.
"Bocah keparat. siapa kau?" .
Siau thi gou melototkan matanya bulat-bulat. kemudian
jawabnya konyol.
"Aku adalah orangWi-lim-poo."
Jawaban yang sangat konyol ini kontan saja membuat
Lan See giok sekalian tak mampu menahan rasa gelinya
lagi. mereka segera tertawa terbahak-bahak.
Si bajing air berbulu emas maju lebih ke depan,
kemudian bentaknya lagi.
"Aku tanya siapakah namamu? Apa pula
kedudukanmu?"
"Ooooh. kau ingin mengetahui jabatanku?" seru Siau thi
gou berlagak dewasa. segera ditunjuknya komandan Nyoo
di perahunya, lalu melanjutkan, "mereka orangnya besar
tapi merupakan komandan kecil, sedang aku mesti
orangnya kecil, justru merupakan komandan besar,
mengerti kau?"
Bajing air berbulu emas tak dapat menahan hawa
amarahnya lagi, dengan sorot mata memancarkan sinar
buas dia menyumpah.
http://kangzusi.com/
"Bajingan hitam, kau memang manusia keparat, rasakan
sebuah pukulanku ini"
Dalam bentakan mana, tubuhnya menerjang ke muka,
telapak tangannya diangkat dan langsung diayunkan ke
bawah membacok tubuh Siau thi gou.
Dengan melototkan matanya yang besar Siau thi gou
mendengus dingin. dia menunggu sampai bacokan tersebut
hampir mengenai tubuhnya kemudian baru bergeser ke
samping dan menyongsong datangnya ancaman mana
dengan ayunan tangan kanan. bajing air berbulu emas
adalah seorang jago kawakan yang sudah cukup
berpengalaman dalam menghadapi pertarungan. dari cara
Siau thi gou berdiri serta menyambut serangannya secara
gegabah, dia lantas menduga bahwa bocah ini lebih banyak
mengandalkan tenaga kasarnya daripada otak.
Maka sambil mendengus dingin dan menyumpahi
didalam hati, bacokan tangan kanannya segera diubah
menjadi cengkeraman dan kali ini mencengkeram
tenggorokan Siau thi gou.
Mendadak Siau thi gou tertawa tergelak, "Haaaahhh...
haaahhh...haaahhh...Ong Hua, kau tertipu!"
Dalam pembicaraan tersebut, tubuhnya berkelebat
secepat kilat, dengan Jurus "naga menggulung dibalik
awan" mendadak tangannya yang dipakai untuk
membendung serangan lawan dirubah dan segera
mencengkeram pergelangan tangan kanan lawan.
Ong Hua sangat terkejut. dalam bentakan itu sebuah
tendangan kilat langsung di lancarkan ke perut Siau thi gou.
Thi-gou mendengus dingin, sebelum tendangan kaki
kanan Ong Hua mencapai sasarannya. dia sudah
mengerahkan tenaga nya sambil menggetar..
http://kangzusi.com/
Tak ampun lagi tubuh Ong Hua segera terbetot naik ke
tengah udara. Bentaknya kemudian.
"Enyah kau dari sini !"
Dalam bentakan mana tangan kanannya segera melepas
....
Diiringi jeritan kaget, tubuh Ong Hua segera meluncur
ke depan dan langsung menumbuk ke atas kapal abu
abunya....
Suasana diatas perahu abu-abu itu menjadi panik dan
kalut, sebaliknya Siau-cian dan Cay-soat tak bisa menahan
diri lagi hingga tertawa cekikikan.
Berhubung tenaga lemparan Siau- thi-gou sangat kuat,
ditambah pula tenaga Ong Hua sendiri yang sangat besar,
biarpun ada empat orang lelaki kekar yang coba
menyambut tubuhnya, tak urung kena tertumbuk juga
sehingga semuanya roboh terguling ke atas geladak.
Dalam kekalutan yang menyelimuti perahu tersebut, dua
orang pemimpin beserta puluhan orang lelaki lainnya
serentak memasang gendewa serta meloloskan senjata
masing-masing,
Lan See giok yang menjumpai keadaan ini kontan saja
memperingatkan.
"Kalian semua sudah lama bercokol di mulut telaga dan
memeras rakyat kecil, berbicara dari dosa kalian. Sudah
sepantasnya bila kamu semua dijatuhi hukuman mati,
namun mengingat kalian belum sampai melakukan
kejahatan besar. maka kali ini kuberi kesempatan kepada
kalian untuk menempuh jalan hidup baru, segera bubarkan
perkumpulan dan kembali ke jalan yang benar, kalau tidak
niscaya jiwa kalian akan kurebut!”
http://kangzusi.com/
Habis berkata dia lantai menyentilkan jari tangannya ke
arah depan ....
Segulung desingan angin tajam diiringi suara sambaran
angin yang luar biasa langsung menyapa panji biru di ujung
tiang layar perahu abu-abu tersebut.
"Kraakkk.."
Panji biru bersulamkan bajing air berwarna emas itu
segera patah den rontok ke bawah.
Semua orang yang berada dalam perahu abu-abu itu
menjadi ketakutan setengah mati. dengan wajah memucat
dan mata melotot mulut melongo. mereka berdiri tertegun
untuk sesaat.
Bajing air berbulu emas Ong Hua yang tergeletak diatas
geladak kapalnya sudah ketakutan setengah mati, sedari
tadi ia merasa sukmanya serasa melayang meninggalkan
raganya. sementara keringat bercucuran dengan amat
derasnya.
Sebaliknya para anggota Wi Li Poo yang berada di
ratusan buah kapal perang, di sekeliling sana turut dibikin
tertegun karena kagetnya, sekalipun mereka tahu kalau,
pocu baru mereka yang masih muda ini memiliki ilmu silat
yang hebat. namun tak ada yang menyangka kalau
kelihaiannya telah mencapai tingkatan yang begini luar
biasa.
Kepada komandan Nyoo yang masih berdiri tertegun
pula. tiba-tiba Lan See giok berteriak keras:
"Segera kembali kebarisan dan lanjutkan pelayaran!"
Komandan Nyoo mengiakan sambil memberi hormat,
kemudian turun dari kapal panggung.
http://kangzusi.com/
Kepada ketiga orang komandan lainnya. Lan See giok
berkata pula sambil manggut-manggut.
"Kalian bertiga pun boleh kembali ke kapal, untuk
beristirahat. kita teruskan perjalanan menurut jadwal yang
telah ditentukan.”
Selesai berkata bersama Siau Cian, Cay soat dan Siau thi
gou, mereka masuk kembali ke ruang kapal keraton.
Ketika si naga sakti pembalik sungai melihat Lan See
giok sekalian berjalan masuk ke dalam, dia lantas tertawa
terbahak bahak:
"hahhhh .... haaahhh... haahh... agaknya si bajing air
berbulu emas hendak menggunakan kesempatan ini untuk
membuat peraturan baru dan memaksa setiap perahu dari
Wi lim Poo yang masuk keluar lewat selat telaga harus
membayar ongkos, tak tahunya sarang merekapun ikut
terbongkar.."
"Engkoh tua." ujar Si Cay soat sambil menggandeng Siau
cian.. mengambil tempat duduk "menurut pendapatmu,
mungkinkah Ong Hua serta komplotannya masih tetap
bercokol disini?"
Tanpa sangsi si naga sakti pembalik sungai
menggelengkan kepalanya berulang kali:
"Tentu saja dia tak akan berani bercokol lebih jauh disini,
cuma pepatah kuno bilang, bukit mudah dirubah, watak
susah diganti. Setelah menderita kekalahan total disini,
sudah pasti mereka akan memindahkan markas operasinya
ke tempat lain!"
"Bila demikian halnya, bukankah sepanjang jalan nanti
kita masih akan menemui, pelbagai hambatan dari
komplotan-komplotan yang lain.." tanya Siau cian kuatir.
http://kangzusi.com/
"Aku pikir tak akan ada hambatan lagi!" pelan-pelan si
naga sakti pembalik sungai menggelengkan kepalanya.
Selesai berkata, dia lantas menengok sekejap kearah Hu
yong siancu yang cuma tersenyum dengan mulut
membungkam itu.
Dengan senyum dikulum Hu yong siancu segera
berkata:-
"Selewatnya mulut telaga kita akan sampai di sungai
Tiang kang, memang perkumpulan dan komplotan yang
bercokol di sepanjang sungai tersebut amat banyak, tapi
peristiwa yang berlangsung hari inipun dengan cepat akan
tersiar sampai di mana-mana, aku pikir semestinya memang
tiada orang yang berani menghadang perjalanan kita lagi..."
Sementara pembicaraan berlangsung, mata hari sudah
tenggelam di ujung langit, beberapa lentera mulai
menerangi ruang perahu, para dayang dan kacung pun
mulai menghidangkan makan malam.
Ketika rombongan kapal memasuki sungai Tiang kang,
waktu menunjukkan kentongan pertama.
Waktu itu angin berhembus sangat kencang, ombak
menggulung gulung setinggi anak bukit, langit yang gelap
dan kapal yang oleng membuat kapal-kapal tersebut
terpisah sampai sejauh dua tiga puluh kaki lebih.
Biarpun demikian, kapal-kapal perang itu masih tetap
bergerak maju, meski antar ujung dan akhir dari rombongan
terpisah sampai berapa li jauhnya.
Malam itu suasana aman tanpa kejadian apa-apa,
menjelang kentongan kelima datang nya sang fajar, ombak
mulai mereda dan anginpun berhenti berhembus, dengan
tiga layar penuh, semua kapal berlayar dengan kecepatan
tinggi.
http://kangzusi.com/
Dalam cuaca yang cerah bermandikan cahaya keemas
emasan, Lan See giok, Siau cian, Cay soat dan Thi gou
berdiri di ujung, geladak kapal, sambil menikmati
keindahan alam di pagi itu.
Tiba-tiba....
Dengan sorot mata berkilat Lan See giok menuding ke
arah timur sungai sambil seru nya gelisah:
"Coba kalian lihat, mungkin di depan sana lagi-lagi
terjadi suatu peristiwa."
Dengan perasaan tidak percaya Siau cian, Cay soat dan
Siau thi gou berpaling, ke arah yang ditunjuk pemuda
tersebut:..
Betul juga, pada permukaan sungai di sebelah timur,
tiba-tiba muncul puluhan buah titik hitam, tampaknya
pasukan depan kapal-kapal perang Wi lim poo telah mulai
berkumpul dan siap menghadapi peperangan.
Memandang hal ini, Siau cian segera berkata:
"Agaknya, kekuatan yang datang kali ini masih jauh
lebih kuat dari pada kekuatan yang dipimpin, si Bajing air
berbulu emas kemarin..."
"Akan kusampaikan kabar ini kepada bibi dan Thio
loko," kata Thi gou tiba-tiba dengan langkah cepat ia segera
lari masuk ke ruang kapal.
Memandang kapal yang mulai berkumpul semua itu,
Lan See giok berkerut kening, dan gumamnya seorang diri:
"Tampaknya kekuatan yang muncul di depan sana tak
kalah dari kekuatan Wi lim poo, tapi dari perkumpulan
manakah itu?"
Siau cian dan Cay soat juga tidak tahu, karenanya
mereka menggeleng dengan kebingungan.
http://kangzusi.com/
Pada saat itulah dari pasukan depan sana secara lamatlamat
kedengaran suara terompet yang dibunyikan nyaring.
Menyusul kemudian dari kapal-kapal perang yang berada
di sayap kiri dan kanan bergema pula suara terompet
balasan, kemudian semua kapal bergerak bersama menuju
ke depan dan bergabung dengan pasukan pelopor.
Tiba-tiba tampak bayangan manusia berkelebat dari
kapal sebelah kiri, komandan Ciang dari pasukan naga sakti
telah melompat turun ke sebuah sampan kecil dan buruburu
menuju ke kapal Lan See giok dengan wajah tergesagesa.
Sementara itu, Hu yong siancu dan Naga sakti pembalik
sungai telah muncul pula dari ruang perahu bersama Siau
thi gou.
Begitu bersua dengan Lan See giok sekalian, komandan
Ciang segera berseru.
"Lapor pocu, pasukan pelopor telah mengirim tanda
bahaya kalau musuh tangguh telah berada di depan mata."
"Ehmmmm" Lan See giok berkerut kening, "tahukah
komandan Ciang, pasukan musuh berasal dari
perkumpulan mana?"
"Hal ini harus diperiksa dulu dari panji yang berkibar di
ujung layar perahu lawan."
Dalam pembicaraan mana, Hu yong siancu bertiga telah
menghampiri mereka.
Naga sakti pembalik sungai memandang se kejap ke arah
timur, kemudian manggut-manggut.
"Ehmm, ucapan komandan Ciang memang benar,
agaknya kekuatan pasukan lawan tidak kalah dengan
kekuatan Wi lim poo kita!"
http://kangzusi.com/
Hu yong siancu cukup mengerti, apabila pasukan kapal
dalam jumlah besar terlibat di dalam suatu pertarungan,
maka dari kedua belah pihak tentu akan berjatuhan korban,
apalagi menyaksikan pasukan sayap kiri dan kanan telah
menyongsong kedatangan musuh dengan cepat, suasana
benar-benar amat tegang.
Ia tahu kedua pasukan sayap kiri dan kanan sedang
membantu pasukan pelopor melakukan penghadangan, ini
dilakukan untuk mencegah pasukan musuh menyerbu ke
lambung pasukan induk mereka sehingga mengacaukan
barisan.
Oleh sebab itu kepada komandan Ciang segera serunya:
"Cepat lepaskan tanda untuk menghentikan pelayaran,
secepatnya kita sambut mereka!”
Komandan Ciang mengiakan dan buru-buru menuju ke
buritan kapal .....
Dari sikap Hu yong siancu yang begitu serius, Lan See
giok sadar kalau masalahnya amat gawat, sebagai seorang
pemuda yang sama sekali tidak berpengalaman di dalam
pertarungan di atas air, ia memutuskan untuk menerima
petunjuk dari bibinya saja.
Suara bentakan-bentakan bergema dari dasar kapal, lalu
terdengar kapal dikayuh lebih kencang, perahu itupun
melesat ke depan lebih cepat lagi.
Siau thi gou ikut lari ke buritan kapal, dari situ dia
saksikan ada dua puluhan dayung panjang, yang sedang
mengayuh kapal menuruti irama yang teratur, buih-buih air
memancar kemana mana.
Ketika suara terompet panjang dan pendek dibunyikan
bergantian, pasukan sayap kiri dan kanan yang sedang
http://kangzusi.com/
bergerak ke depan itu segera mengendorkan dayungan dan
sama-sama menyingkir ke samping.
Pada saat inilah sebuah sampan kecil meluncur datang
menentang ombak dengan kecepatan tinggi .....
Dalam waktu singkat sampan tersebut sudah mendekati
kapal besar .....
Lan See giok melihat diatas sampan itu duduk empat
orang memegang dayung dengan seseorang berdiri di atas
geladak, sampan meluncur tiba dengan kecepatan luar
biasa.
Ketika sampan dan kapal besar saling berpapasan orang
itu dengan sigap, melompat naik ke atas geladak dan lari
menuju ke depan Lan See giok. Dalam sekilas pandangan
saja Lan See giok dapat mengenali bahwa orang itu, adalah
si lelaki setengah umur yang memberi laporan kemarin.
Begitu tiba dihadapan Lan See giok, lelaki setengah
umur itu segera memberi hormat sambil memberi laporan:
"Lapor pocu, pasukan kapal perang dari telaga Pek toh oh
telah menghadang perjalanan kita, bahkan nampaknya ada
maksud menantang untuk berperang, harap pocu memberi
keputusan!"
Begitu mendengar nama "pek-toh oh" Lan See giok
segera teringat pula dengan Si makhluk bertanduk tunggal
Si Yu gi sebagai biang keladi atas musibah yang menimpa
ayahnya, dengan penuh amarah ia segera membentak:
"Turunkan perintah, untuk siapkan pertarungan,
tenggelamkan semua kapal musuh!"
Lelaki itu mengiakan dan membalikkan badan siap
berlalu dari situ...
"Berhenti!" tiba-tiba Hu yong siancu membentak keras.
http://kangzusi.com/
Lelaki setengah umur itu tak berani membangkang
perintah, ia segera menghentikan langkahnya. Sementara
itu Hu yong siancu telah berpaling kearah Lan See giok
sambil berkata dengan suara dalam:
"Sekarang pasukan kapal perang dari telaga kelinci putih
telah menghentikan gerakan mereka, sudah sepantasnya
kalau kita-pun berusaha untuk menghindari benturan secara
kekerasan dengan pihak mereka sehingga terhindar dari
kerugian di kedua belah pihak dan menyebabkan rencana
perjalanan kita ke pulauWan san terpengaruh”
Paras muka Lan See giok hijau membesi, bibirnya pucat
dan hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya. sambil mengulapkan tangannya untuk
memerintahkan laki setengah umur itu pergi, Hu yong
siancu berkata lebih jauh:
"si makhluk bertanduk tunggal pribadi telah tewas, dia
sudah menerima ganjaran sebagai akibat dari perbuatannya,
apa yang telah dilakukan olehnya pribadi telah
dipertanggung jawabkan oleh dirinya sendiri, hal tersebut
sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan orang lain,
mengapa kau malah melampiaskan amarahmu kepada
orang lain....”
Paras muka Lan See giok masih belum juga pulih
kembali, namun ia mendengarkan dengan tubuh
mematung.
Sementara itu layar pada kapal keraton telah diturunkan,
karena jaraknya dengan kapal pemimpin pihak Pek toh oh
tinggal seratus kaki saja.
Dari kejauhan mereka dapat melihat bahwa semua
anggota pasukan dipihak kapal perang telaga kelinci putih
sama-sama mengenakan pakaian berkabung, sedang pada
tiang ujung kapal pemimpin mereka berkibar sebuah panji
http://kangzusi.com/
besar berwarna kuning yang di tengahnya bersulamkan
sebuah kelinci kemala.
Lan See giok sekalian yang menyaksikan kejadian
tersebut merasa tidak habis mengerti, sampai mereka
saksikan pakaian berkabung yang dikenakan setiap orang
yang berada di kapal perang lawan, mereka baru mengerti
apa gerangan yang terjadi, rupanya semua anggota Pek toh
oh sedang berkabung untuk kematian pemimpin mereka si
Makhluk bertanduk tunggal Si Yu gi.
"Tapi, bukankah si Makhluk bertanduk tunggal Si Yu gi
sudah mati banyak tahun, mengapa orang-orang itu masih
juga memakai pakaian berkabung? Mungkinkah belakangan
ini mereka baru mendapat tahu tentang kematian si
makhluk bertanduk tunggal itu?”
Sementara itu kapal sudah berlayar semakin lambat, dua
buah layar yang tersisapun telah diturunkan, dengan begitu
kapal hanya bergerak mengandalkan dayung.
Kapal besar yang ditumpangi komandan Nyoo, segera
bergerak pula mendekat untuk menyongsong kedatangan
kapal keraton tersebut.
Lan See giok memperhatikan sekejap keadaan di sekitar
situ, kemudian memberi tanda agar berhenti, kapal keraton
itu makin melambatkan gerakannya sebelum akhirnya
berhenti.
Dalam pada itu, dari jarak empat puluh kaki di depan
sana, pelan-pelan muncul pula sebuah perahu bertingkat
dua berwarna putih yang pelan-pelan bergerak
meninggalkan pasukan perang Pek toh oh.
Dengan sorot mata yang tajam Lan Se giok dapat
melihat, bahwa diantara sekawanan jago lelaki perempuan
yang berdiri di ujung geladak, berdiri pula seorang nyonya
http://kangzusi.com/
muda berwajah cantik yang mengenakan pakaian
berkabung.
Nyonya muda itu amat cantik dengan wajah yang bersih,
mata yang jeli dan bibir yang merah, sepasang pedang
tersoren di punggungnya, biarpun ia tidak berdandan
namun tidak mengurangi daya tariknya...
Naga sakti pembalik sungai segera memperingatkan Lan
See giok:
"Nyonya muda berbaju putih yang berdiri di depan sana
adalah istri makhluk bertanduk tunggal yang disebut Giok
toh hujin dia adalah putri bungsu pemimpin telaga yang
lampau, bernama Pek Gwat go, selain permainan sepasang
pedangnya, ilmu di dalam airnya sempurna, jarum perak
berbulunya juga hebat dan khusus mematahkan hawa
khikang pelindung badan, bila terjadi pertarungan nanti,
kau mesti bertindak lebih berhati hati."
Sementara pembicaraan berlangsung, perahu dari kedua
belah pihak telah berhenti, pada jarak tujuh delapan kaki,
tapi berhubung arus sungai amat deras, merekapun
menurunkan jangkar masing-masing.
Dengan sikap yang tenang Giok toh hujin Pek Gwat go
berdiri di ujung geladak, sorot matanya yang tajam menatap
Lan See giok tanpa berkedip, wajahnya dingin dan
mulutnya membungkam dalamseribu bahasa:
Di belakangnya berdiri seorang kakek berusia lima puluh
tahunan yang memakai pula pakaian berkabung, setelah
memandang sekejap kemari, buru-buru dia mendekati Pek
Gwat go sambil membisikkan sesuatu di sisi telinganya.
Paras muka Pak Gwat go tetap tenang dan hambar,
hanya sorot matanya yang jeli memandang sekejap ke arah
naga sakti pembalik sungai Thio lo enghiong.. kemudian ia
http://kangzusi.com/
manggut-manggut seperti mengijinkan atau menyetujui
suatu persoalan.
Kakek berpakaian berkabung itu segera maju ke depan,
kemudian setelah menjura katanya dengan lantang.
"Nyonya kami ada perintah untuk bertanya kepada naga
sakti pembalik sungai Thio lo enghiong dari telaga Phoa
yang, mengapa ia berada di kapal keraton dari Wi lim poo?
Mohon Thio lo enghiong sudi menjawab."
Naga sakti pembalik sungai segera tertawa terbahak
bahak, sahutnya dengan nyaring:
"Berikan jawaban kepada nyonya kalian, katakanlah, aku
sedang menemani Lan siau hiap berangkat ke pulau Wan
san untuk bertarung melawan tiga manusia aneh dari luar
samudra dan berusaha melenyapkan bibit bencana bagi
umat persilatan, oleh karena tekad Lan siauhiap mulia,
maka aku-pun bersedia mempertaruhkan jiwa tuaku untuk
menemani Lan siauhiap menuju ke-luar samudra, sudah
barang tentu aku harus berada di perahu ini."
"Mengapa manusia bengis Oh Tin san dari Wi lim poo
tidak nampak di perahu ini?". tanya kakek itu lagi.
Naga Sakti pembalik sungai segera mengelus jenggotnya
dan tertawa tergelak.
"Haahhhh... haaaahh.. haaaahh... Oh Tin san suami istri
telah mampus, mana mungkin mereka dapat muncul lagi di
tempat ini?"
Mendengar jawaban tersebut berubahlah wajah Pek
Gwat go, sementara kawanan jago yang berada di
belakangnya turut berdiri tertegun ......
Sambil tersenyum kembali si naga sakti pembalik sungai
menjelaskan:"
http://kangzusi.com/
"Apabila Oh Tin San suami istri masih hidup di dunia
ini, masa aku mau menaiki kapal keratonnya? Hu jin adalah
orang yang pintar, tentunya aku tak usah menerangkan
lebih jauh bukan."
Tampak Pek Gwat Go manggut-manggut, kemudian ia
membisikkan sesuatu kepada si kakek berbaju putih itu.
Kakek tadi manggut-manggut dan serunya lantang,
"Setelah kematian Oh Tin San si tua bangka celaka itu,
siapa yang menguasaiWi lim poo sekarang?"
"Lan siauhiap..."
Sambil berkata dia menuding kearah Lan See giok yang
masih berdiri dengan wajah angkuh. dengan sorot mata
yang jeli Pek Gwat go memperhatikan sekejap kearah Lan
See giok, kemudian mengerling lagi dengan sinis.
Menjumpai keangkuhan dan kepongahan Pek Gwat go,
Si Cay soat jadi mendongkol sekali, tiba-tiba dia berseru
dengan suara dalam:
"Apa maksud kalian menghalangi perjalanan kami
sehingga mengacaukan jadwal yang telah kami rencanakan?
Sekarang, aku minta hujin kalian memberikan
pertanggungan jawabnya."
Pek Gwat go melirik sekejap kearah Cay soat dengan
dingin, wajahnya tetap angkuh dan sama sekali tidak
menggubris, Sebaliknya si kakek berbaju putih itu segera
menjawab dengan lantang:
"Harap nona jangan marah, berhubungOh Tin San telah
menotok mati pemimpin kami Si Yu gi secara diam-diam,
maka kami bersumpah akan membalas dendam atas sakit
hati tersebut, oleh karena kalian memakai kapal-kapal milik
http://kangzusi.com/
Wi lim poo, tentu saja kami harus mencegat untuk
memeriksanya."
Hu yong siancu segera berkerut kening tiba-tiba ia
bertanya dengan keheranan:
"Perbuatan Oh Tin san menotok mati Si Oh-cu dalam
sebuah peti mati bobrok merupakan sebuah rahasia yang
jarang di ketahui orang, darimana kalian bisa mengetahui
tentang peristiwa tersebut?"
Begitu perkataan tersebut diutarakan, Pek Gwat go serta
puluhan orang jago yang berada dibelakangnya diam-diam
merasa terkejut, sebab biarpun perkataan dari Hu-yong
siancu itu tidak diutarakan dengan suara keras, namun
ditengah hembusan angin sungai yang begitu kencang,
orang yang berada di perahu sejarak puluhan kakipun dapat
menangkap dengan jelas, hal tersebut benar-benar sangat
mengejutkan hati mereka.
Setelah berhasil menenangkan diri, dengan wajah serius
kakek berbaju putih itu berkata lagi:
"Menjawab pertanyaan nyonya, orang bilang, Jika tak
ingin diketahui orang, janganlah melakukan hal tersebut.
Oh Tin san telah melakukan perbuatan terkutuk yang amat
keji, mana mungkin rahasia tersebut dapat disimpannya
sampai lama”
Ketika Siau cian menyaksikan sepasang mata Pek Gwat
go yang jeli mengawasi adik Gioknya tanpa berkedip, diamdiam
ia menjadi amat gusar, maka setelah mendengar
perkataan itu, satu ingatan segera melintas dalam benaknya.
"Hmmm!" dia mendengus dingin, "andai kata Lim lo
pacu Toan Ki tin dari telaga Tong ting tidak punya maksud
lain dengan menyampaikan kabar tersebut kepada kalian
http://kangzusi.com/
mana mungkin selama hidup kalian tak akan mengetahui
kabar tersebut."
Sekali lagi paras muka Pek Gwat go sekalian berubah
serentak mereka alihkan pandangan matanya ke wajah Siau
cian.
Hu yong siancu kuatir Siau cian membawa persoalan itu
jauh dari masalah yang sebenarnya sehingga menimbulkan
persengketaan baru, cepat-cepat dia mengalihkan pokok
pembicaraan kembali, lalu ujarnya:
"Dengan kematian Oh Tin san suami istri arwah Oh-cu
kalianpun dapat beristirahat dengan tenang dialam baka,
berarti dendam sakit hati ini sudah seharusnya diselesaikan
hingga disini saja, kuharap kedua belah pihak dapat
menghindari bentrokan fisik secara langsung hingga tidak
menimbulkan pembunuhan yang tak berguna, sekarang
kumohon kalian menyingkir dari sini, agar rombongan
kapal perang dari Wi lim poo dapat meneruskan
perjalanannya."
Tampak Pek Gwat go menggerakkan bibir dan berbisik
lagi kepada si kakek tersebut, Kakek berbaju putih itu
manggut-manggut, kemudian berseru dengan lantang:
"Perkataan nyonya memang amat tepat, sejak kini kami
tak akan menarik panjang lagi tentang peristiwa tersebut.
Cuma saja, menurut berita yang tersiar di luaran, konon
pejabat pocu Wi lim poo yang baru Lan See giok memiliki
kepandaian silat hebat yang mampu mengungguli tiga
manusia aneh dari luar samudra, hujin kami merasa
kesempatan seperti ini sukar dijumpai, karena itu ia
berkeinginan untuk mengajak Lan pocu bertarung beberapa
gebrakan."
Lan See giok berkerut kening mencorong sinar tajam dari
balik matanya, paras muka yang memucat berubah menjadi
http://kangzusi.com/
hijau membesi, dia bertekad hendak membunuh istri Si Yu
gi ini didalam air agar dendam kesumatnya dapat
terlampiaskan.
Hu yong siancu adalah seorang perempuan yang pernah
merasakan bagaimana kehilangan suami, maka terhadap
Pek Gwat go yang mengenakan pakaian berkabung itu dia
menaruh perasaan simpatik.
Maka ketika menyaksikan mimik wajah Lan See giok
tersebut, dia tahu kalau pemuda tersebut sudah dicekam
oleh hawa napsu membunuh, sadar kalau hal ini tak bisa
dicegah lagi, dia menggelengkan kepalanya sambil
menghela napas dan masuk kembali ke dalam ruangan
perahu.
Sementara itu, meskipun Lan See giok dicekam oleh
hawa amarah yang meluap namun sorot matanya tak
pernah beralih dari Hu yong siancu, maka ketika dilihatnya
perempuan itu masuk ke ruang perahu sambil menghela
napas sedih. ia menjadi terperanjat.
"Bibi..." serunya tanpa terasa.
Hu yong siancu menghentikan langkahnya kemudian
berpaling ke arah pemuda tersebut, katanya kemudian
dengan lembut:
"Kalau ingin bertarung. batasilah hanya sampai saling
menutul, jangan dikarenakan urusan kecil menyebabkan
masalah besar terbengkalai, perjalanan kita masih jauh. kita
mesti menghemat waktu dan tenaga untuk menghadapi
masalah mendatang, badanku kurang enak sekarang, biar
aku beristirahat dulu, kalian tak usah ikut aku. "
Selesai berkata, pelan-pelan dia berjalan masuk ke dalam
ruang perahu. .
http://kangzusi.com/
Sebenarnya Cay soat dan Siau cian hendak mengikuti
Hu yong siancu masuk ke dalam, tapi setelah mendengar
pesan ini, mereka tak ada yang berani mengikutinya lagi.
Tampaknya si naga sakti pembalik sungai dapat
memahami perasaanHu yong siancu waktu itu, kepada Lan
See giok segera bisiknya:
"Saudara cilik, batasi saja pertarungan nanti dengan
saling menutul, selesai urusan disini kita mesti meneruskan
perjalanan lagi."
Lan See giok yang melihat wajah bibinya murung dan
tak senang hati, kontan saja perasaannya menjadi tak
tenang, api amarahnya menjadi padam sama sekali,
minatnya untuk bertarung melawan Pek Gwat go pun
menghilang.
Ketika ia mendongakkan kepalanya lagi tampak Pek
Gwat go yang berada di atas perahunya telah melepaskan
pakaian berkabung sehingga hanya mengenakan pakaian
untuk renang, sepasang pedangnya telah diloloskan dari
sarung.
Pek Gwat go memiliki bentuk badan yang kecil mungil,
payudaranya montok, pinggangnya kecil dan pinggulnya
besar, sepasang pahanyapun kelihatan langsing dan amat
indah.
Baik anggota Wi lim poo maupun anggota Pek toh oh
sama-sama tertegun oleh kejadian ini, sekalipun diatas
kapal keraton berdiri dua orang gadis secantik bidadari dari
kahyangan, namun gaya Pek Gwat go justru mendatangkan
suatu kesan yang lain.
Lan See giok tidak berminat untuk memperhatikan gaya
Pek Gwat go tersebut, ia segera maju dua langkah ke depan,
lalu setelah menjura ujarnya dengan suara dalam:
http://kangzusi.com/
"Berhubung aku masih ada urusan penting yang mesti
diselesaikan secepatnya di pulau Wan san, hari ini tak ada
waktu bagiku untuk melayani keinginanmu tersebut, kalau
ingin bertarung, lebih baik kita langsungkan di atas perahu
saja ...."
"Sudah lama aku dengar akan kehebatan ilmu silat pocu,
itulah sebabnya kumohon petunjuk darimu, sebagai seorang
pocu yang menguasai wilayah air, aku yakin Lan pocu pasti
mahir dalam pertarungan di darat maupun di air, itulah
sebabnya kumohon pocu bertarung di dalam air saja...."
Semua perkataan dari Pek Gwat go itu di utarakan
dengan suara yang lembut dan merdu, begitu enak didengar
seolah-olah mempunyai suatu daya tarik tertentu.
Dengan kening berkerut Lan See giok tertawa dingin, ia
hendak mengucapkan sesuatu, namun tiba-tiba Si Cay soat
telah membentak nyaring, sambil menuding ke arah Pek
Gwat go dia berseru:
"Kau tak usah memojokkan posisi orang atau sengaja
mengulur waktu lagi, asal kau mampu mengungguli
pedangku ini engkoh Giok pasti akan melayani
keinginanmu itu."
Sambil berkata, dia lantas memutar pergelangan
tangannya diantara kilauan, cahaya yang menusuk
pandangan mata pedang Jit hoa kiam telah diloloskan dari
sarungnya.
Naga sakti pembalik sungai cukup mengetahui akan
kelihaian jarum bulu kerbau dari Pek Gwat go, buru-buru
dia, berbisik.
"Adik Soat harap mundur dengan segera, biar engkoh
Giok yang menyelesaikan persoalan ini, jangan lupa dengan
pesan Han lihiap sehingga membengkalaikan urusan besar."
http://kangzusi.com/
oooOdwOooo
BAB 35
WALAUPUN Si Cay soat merasa cemburu di samping
gusar, tapi setelah teringat dengar pesan bibinya, sudah
barang tentu tak berani berkeras kepala lagi.
Tiba-tiba Siau thi gou berteriak keras.
"Lebih baik kalian beristirahat semua, biar aku saja yang
bertarung melawan nyonya muda ini."
Sambil berkata dia lantas melepaskan pakaian atas dan
bersiap mencopot celananya pula.
Merah dadu selembar wajah Cay soat dan Siau cian
melihat ulah bocah tersebut, buru-buru ia berseru:
"Hai Thi gou, mau apa kau?"
Siau thi gou mengencangkan kembali tali kolor
celananya, kemudian menerangkan.
"Aku lupa membawa pakaian renang, maka aku mau
bertelanjang saja ...."
Atas jawaban ini, semua orang hanya bisa
menggelengkan kepalanya berulang kali, mereka benarbenar
dibuat tertawa getir.
Tiba-tiba, nampak Pek Gwat go berkerut kening, dengan
menunjukkan wajah kecewa kembali dia berpaling kearah
kakek tadi dan membisikkan sesuatu. Kakek itu
mengangguk, kemudian berseru lantang:
"Majikan kami bilang, bila pocu kalian tidak mengerti
ilmu di dalam air, biarlah pertarungan hari ini tak usah
dilangsungkan lagi.."
http://kangzusi.com/
Lan See giok gusar sekali atas perkataan tersebut, dengan
kening berkerut dia hendak mengucapkan sesuatu, tapi naga
Sakti pembalik sungai Thio lo enghiong telah tertawa
tergelak. seraya berkata:
"Bukan aku sengaja mengunggulkan diri, berbicara yang
benar, selain Hu yong Siancu Han lihiap yang tangguh
dalam air, mungkin tiada orang kedua yang mampu
menandingi Lan Siauhiap, bahkan aku sendiripun belum
tentu sanggup bertarung beberapa gebrakan melawan Lan
Siauhiap di dalam air, jadi kalian jangan berkata yang
bukan-bukan....”
Mendengar ucapan ini, dengan wajah dingin dan kaku
Pek Gwat go segera berseru "Kalau memang begini, akan
kutunggu kedatangannya didalam air..,."
Selesai berkata tubuhnya melejit ke udara dan melompat
sejauh beberapa kaki... menyusul kemudian tubuhnya
berjumpalitan diangkasa, sepasang pedangnya diputar
menciptakan dua gulung lingkaran cahaya, tubuhnya
berubah arah, sekarang dengan kepala di bawah kaki diatas
dia menyusup ke dalam air.
"Byuuurrr. . . ." Bunga air memercik ke mana-mana,
tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan
mata.
Kagum sekali segenap jago dari Wi lim Poo dan Pek toh
oh yang menyaksikan kejadian ini, tempik sorak bergema
memecahkan keheningan .....
Siau cian dan Cay soatpun diam-diam merasa kagum,
naga sakti pembalik sungai menggelengkan kepalanya, Siau
thi gou membelalakkan matanya lebar-lebar dan komandan
Ciang sekalian berdiri melongo...
http://kangzusi.com/
Lan See giok menundukkan kepalanya dan
memperhatikan sekejap gulungan ombak di sungai,
kemudian sambil tertawa hambar dia membebaskan ujung
bajunya, bagaikan seekor rajawali raksasa tubuhnya
melayang turun ke bawah.
Secara beruntun dia berputar tiga lingkaran dulu di
tengah udara, kemudian baru menyusup ke dasar sungai.
Demonstrasi yang begini indah tersebut kontan saja
membuat semua jago yang berada di perahu abu-abu itu
tertegun, sekarang mereka baru sadar, bila Pek Gwat go
ingin mengalahkan Lan pocu yang masih muda dan lihay
ini, hal tersebut lebih sukar dari pada naik ke langit.
Naga sakti pembalik sungai yang berada di atas perahu
manggut-manggut sambil mengelus jenggot, wajahnya
nampak berseri dan menunjukkan rasa bangga.
Siau cian dan Cay soat saling bertukar pandangan
sekejap, tak tahan mereka menutupi mulutnya dan tertawa
cekikikan.
Siau thi gou membelalakkan pula matanya. lebar-lebar
sambil membuka mulutnya lebar-lebar, dengan termangu
dia awasi gulungan ombak di tengah sungai, mulutnya yang
melongo seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tidak
diketahui olehnya apa yang hendak diucapkan keluar.
Untuk beberapa saat lamanya suasana di sekeliling
sungai itu amat hening, semua jago dari kedua belah pihak
sama-sama dialihkan ke permukaan sungai di mana Pek
Gwat go dan Lan See giok melenyapkan diri.
Mereka semua memusatkan pikiran dan perhatiannya,
sambil menguatirkan menang kalah majikan masingmasing,
sebab sejak terjun ke dalam air, baik Pek Gwat go
http://kangzusi.com/
mau pun Lan See giok sama-sama tidak muncul kembali
dari permukaan air.
Beberapa saat sudah lewat, namun kedua orang itu
belum juga menampakkan diri.
Semua Jago yang berada di kedua belah pihak mulai
berkerut kening, mereka benar-benar merasa tidak habis
mengerti.
Berapa saat kembali lewat, ombak masih menggulung
gulung tapi tak nampak sesosok manusia pun yang
menampakkan diri.
Saat itu si naga sakti pembalik sungai dan Cay soat
maupun Siau cian mulai mengerutkan dahi dengan
perasaan gelisah dan tidak tenang.
Siau thi gou yang paling menguatirkan keselamatan
kakaknya, ia sudah lari masuk ke dalam ruangan dan
mengundang Hu yong siancu keluar.
Begitu berdua dengan Hu yong siancu yang gelisah, naga
sakti pembalik sungai segera berkata dengan cemas: "See
giok sudah lama terjun ke dalam air, tapi sampai sekarang
belum juga menampakkan diri...."
Hu gong siancu tidak menjawab, cepat-cepat dia menuju
ke ujung geladak kemudian memeriksa keadaan arus air.
Dalam pada itu, kawanan jago yang berada di perahu
abu-abu itu sudah mulai gugup, seperti juga di pihakWi lim
poo, mereka dibuat gelagapan sendiri.
Hu yong siancu memandang sekejap keadaan sungai,
tapi berhubung arus sungai amat deras, maka sulit baginya
untuk menemukan sesuatu pertanda.
Siau cian dan Cay soat sudah amat gelisah hingga
mengucurkan air mata, mereka memaksa untuk menyusul
http://kangzusi.com/
ke bawah sungai, namun selalu dicegah oleh naga Sakti
pembalik sungai.
Hu yong siancu memperhatikan lagi suasana di bawah
air, kemudian dengan nada kurang pasti katanya:
"Kalau dilihat keadaannya, pertarungan yang
berlangsung antara kedua orang itu berjalan sengit .......”
"Tapi kalau berbicara dari tenaga dalam yang dimiliki
Lan See giok rasanya dia tidak membutuhkan waktu selama
ini untuk membereskan Si hujin" sela naga Sakti pembalik
sungai.
Hu yong siancu manggut berulang kali, kemudian
katanya lagi agak sangsi:
"Tapi itupun belum tentu, bila si hujin tidak mempunyai
keyakinan untuk berhasil, iapun tak akan berani menantang
anak, Giok untuk bertarung."
Siau cian dan Cay soat merasa gelisah sekali, tapi
sebelum mendapat persetujuan dari Hu yong siancu,
mereka berdua tak berani turun tangan secara sembarangan.
Tiba-tiba terdengar naga sakti pembalik sungai bertanya
kepada kapal di seberang sana.
"Tolong tanya saudara, apakah di dasar sungai ini
terdapat gua atau pusaran air?"
Setelah menyeka keringat yang membasahi jidatnya.
kakek berbaju putih itu menggelengkan kepalanya berulang
kali, sahutnya dengan gelisah.
"Menjawab pertanyaan lo enghiong, kami sendiripun
tidak tahu menahu, Harap lo-enghiong bersedia menjadi
penengah dalam peristiwa ini untuk terjun ke sungai dan
melihat keadaan, menurut pendapatku hujin kami bukan
http://kangzusi.com/
tandingan Lan pocu, bisa jadi telah terjadi suatu peristiwa
didalam air"
"Harap kau tak usah gelisah" Jawab naga sakti pembalik
sungai dengan cepat.
"Menurut pengamatan Hu-yong siancu Han lihiap,
pertempuran masih berlangsung amat seru didalam air"
Mendengar nama "Hu-yong siancu". segenap jago yang
berada diatas perahu abu-abu itu menjerit tertahan, sorot
mata mereka serentak ditujukan kemari dengan perasaan
kaget. rasa gelisah dan tak tenang yang semula mencekam
perasaan merekapun terlupakan untuk sementara waktu.
Berapa saat kemudian kakek berbaju putih itu sudah
berhasil menenangkan kembali hatinya, ia segera menjura
seraya berkata dengan hormat
"Kalau memang Han lihiap hadir disini, mengapa tidak
lo-enghiong katakan semenjak tadi? daripada kedua belah
pihak harus bertempur dan membuang waktu yang
berharga. Bila nyonya kami tahu kalau Han lihiap berada
diatas kapal, tak mungkin dia akan menantang Lan pocu
untuk berduel”
Belum selesai ia berkata. dari bawah permukaan air
kedengaran suara air membelah ke samping, lalu tampak
sesosok bayangan manusia melompat keluar.
Ketika semua orang mengalihkan matanya serentak
seruan kaget bergema dimana mana ternyata orang yang
munculkan diri adalah Pek Gwat go, cuma pedangnya
tinggal sebelah.
Tapi setelah menghembuskan napas dan berganti napas
baru, kembali dia menyelam ke dalam air.
http://kangzusi.com/
Dengan perasaan gelisah Cay soat dan Siau cian bersama
sama meloloskan pedang masing-masing, ketika tertimpa
sinar matahari, senjata tersebut segera memantulkan sinar
yang amat menyilaukan mata . . .
Hu yong siancu yang melihat hal ini cepat-cepat
mencegah, kemudian ujarnya lagi sambil memandang ke
sungai,
"Kalau dilihat dari keadaan, mereka, agaknya
pertarungan diantara kedua orang itu belum berhasil
menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah,
kalian berdua tidak usah bertindak secara gegabah dari-pada
ditertawakan orang di kemudian hari, betul tak akan
menciptakan pertarungan massal, tapi bisa di ejek orang
sebagai golongan yang hendak mencari kemenangan
dengan mengandalkan jumlah yang banyak ....”
Sebelum selesai dia berkata. dari balik permukaan sungai
tiba-tiba muncul segumpal darah kental.
"Aaahhh!"
Semua orang yang menyaksikan kejadian ini berseru
kaget. bahkan Hu yong siancu dan naga sakti pembalik
sungai pun ikut terkejut sehingga paras mukanya berubah.
Tapi gumpalan darah yang muncul itu segera buyar
terbawa oleh arus sungai.
Kakek berbaju putih serta puluhan orang jago yang
semula bergembira melihat kemunculan Pak Gwat go tadi.
kini dicekam lagi oleh perasaan tegang setelah melihat
cucuran darah itu..
Perasaan gelisah, ngeri dan panik kini menyelimuti
wajah setiap orang yang berada di sana.
http://kangzusi.com/
Sebab setiap orang dapat merasakan bahwa cucuran
darah yang begitu deras tak mungkin keluar dari tubuh
seseorang bila kepalanya tak sampai terpenggal atau
dadanya robek besar.
Pada. saat itulah....
Air sungai kembali merebak ke samping Pek Gwat-go
dengan pedang tunggalnya telah muncul lagi dari balik
permukaan air.
Rasa gelisah dan tegang yang sekian lama mencekam
perasaan si kakek berbaju putih serta puluhan orang
jagonya itu segera berubah menjadi perasaan terkejut dan
girang, serentak mereka bersorak sorai dengan penuh
kegembiraan.
Berbeda dengan Siau-cian, Cay soat dan Siau thi gou,
mereka rasakan kepalanya seperti disambar geledek.
menyangka pemuda tersebut sudah mendapat celaka,
hampir saja mereka jatuh pingsan ....
Tapi Pek Gwat go hanya sebentar berada di permukaan
air, setelah memandang sekejap kearah permukaan sungai
dengan pandangan kaget. dia menarik napas panjang
kemudian menyelam lagi secepat kilat ....
Siau cian, Cay soat dan Siau thi gou seperti orang kalap
segera berteriak marah.
”Ijinkan kami turun ke bawah"
Tapi Hu yong siancu yang berdiri dengan wajah pucat
dan memusatkan perhatian memperhatikan sungai itu lama
sekali tidak menggubris teriakan mereka bertiga, hanya
tangannya digoyangkan berulang kali memperlihatkan tidak
boleh.
Mendadak...
http://kangzusi.com/
Kembali suara air memercik ke samping, kemudian
sesosok bayangan biru melesat keluar.
Ketika semua orang memperhatikan dengan seksama,
ternyata dia adalah Lan See giok yang membawa pedang
dengan wajah serius
Karena itu semua orang dibikin tertegun dan tidak
mengetahui apa yang sebenarnya terjadi
Dengan kening berkerut dan mata bersinar tajam Lan
See-giok memandang pula ke permukaan air dengan wajah
gelisah, tampaknya dia tak sempat banyak berbicara lagi,
pedangnya diputar dan tubuhnya sekali lagi menyelam ke
dalam air.
Hu-yong siancu segera sadar kalau ada sesuatu yang tak
beres di situ, buru-buru dia berseru.
"Kalian tidak usah ikut, biar kuperiksa sendiri.!”
Sambil berkata ia segera terjun ke dalam air dan
menyelam ke dasar sungai.
Naga sakti pembalik sungai juga tidak ambil diam, segera
teriaknya keras-keras.
"Saudara sekalian. tampaknya ke dua orang itu sudah
mengalami ancaman bahaya di bawah air, bila ada papan
atau kayu siapkan dengan segera sehingga setiap saat bisa di
lemparkan ke dalam air "
Begitu teriakan itu diutarakan, para pengawal yang
berada di kedua belah pihak sudah menyiapkan papanpapan
serta kayu.
Kakek baju putih di seberang sana dan naga sakti
pembalik sungai dipihak sini. masing-masing menyiapkan
sebuah papan pula sambil memusatkan perhatian
mengawasi permukaan sungai.
http://kangzusi.com/
Cay soat, Siau cian maupun para jago lainnya benarbenar
dibuat kebingungan setengah mati, mereka tidak
mengerti dari mana datangnya darah segar tersebut dan
mengapa Lan See giok mendapat sebilah pedang milik Pek
Gwat go,
Pada saat itulah...
Dari balik sungai muncul lagi darah segar yang
menyebar kemana mana...
Kemudian disusul air yang memancar ke empat penjuru.
lalu sesosok bayangan biru dan perak munculkan diri,
Naga Sakti pembalik sungai segera membentak keras.
”Perhatikan papan..."
Ditengah bentakan, sepasang tangannya menolak ke
depan kuat-kuat papan yang berada di tangannya segera
meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi...
Semua orang mengalihkan perhatian masing-masing
kearah sungai, ternyata bayangan biru dan perak yang
muncul barusan adalah Lan See giok yang membopong Pek
Gwat go yang telah jatuh tak sadarkan diri. Lan See giok
yang baru muncul sambil mengempit tubuh Pek Gwat go
dapat menangkap suara bentakan si naga sakti pembalik
sungai yang menggeledek, maka mempergunakan tenaga
mengapungnya dia melejit setinggi tiga depa, pedangnya di
lemparkan pula ke depan si kakek berbaju putih itu
Bersamaan waktunya ketika ia melompat ke atas sambil
melemparkan pedangnya. papan yang dilemparkan naga
sakti pembalik sungai telah meluncur diatas permukaan air.
Melihat hal ini tubuhnya meluncur ke depan, lalu
memanfaatkan kesempatan di saat papan itu masih
mengapung, ia membentak keras, ujung baju tangan
http://kangzusi.com/
kanannya dikebaskan ke depan lalu ujung kakinya menutul
papan tadi, secepat sambaran kilat ia sudah melompat naik
ke atas perahu keraton.
Sementara itu kedua belah pihak sama-sama sudah
dicekam kegugupan dan kekalutan, si saga Sakti pembalik
sungai kembali mengambil sepotong kayu dan pusatkan
perhatiannya kearah permukaan air sebab papan yang
dilemparkan untuk pertama kalinya tadi sudah terbawa arus
hingga meluncur sejauh puluhan kaki lebih-
Siau cian, Cay soat dan Siau thi gou sudah tak berhasrat
lagi untuk berpikir mengapa Lan See giok membopong
tubuh Pek Gwat go, sebab Hu yong siancu masih berada di
dalam air.
Mendadak....
Dari balik sungai berkelebat sesosok bayangan ungu yang
diikuti kilatan cahaya tajam yang meluncur ke atas.
Si Naga sakti pembalik sungai tahu kalau orang itu
adalah Hu yong siancu yang membawa pedang Hu yong
kiam, maka sambil menghimpun tenaganya ke dalam
lengan. ia mengawasi Hu yong siancu munculkan diri dari
permukaan air.
Tiba-tiba bentaknya keras.
"Lihiap, perhatikan baik-baik ....."
Dalam bentakan tersebut, papannya meluncur ke arah
depan dengan kecepatan tinggi . . , .
Hu yong siancu sudah menduga agaknya bahwa naga
sakti pembalik sungai yang amat berpengalaman di dalam
air telah mempersiapkan diri sebaik baiknya.
Maka begitu muncul di permukaan ia segera menarik
napas panjang dan menghantam papan yang meluncur tibahttp://
kangzusi.com/
tiba itu dengan tangan kirinya, sedang pedang di tangan
kanannya memainkan jurus ikan leihi melompati pintu
naga. begitu muncul dia melejit ke udara dengan menjejak
papan dan meluncur ke depan....
Disaat tubuh Hu-yong siancu baru saja melompat ke
tengah udara inilah. dari balik permukaan sungai
kedengaran suara yang keras. lalu ditengah percikan air
sungai yang memancar ke empat penjuru, muncul se ekor
makhluk besar berbulu emas bermata merah dan bertaring
yang bentuk badannya mirip seekor kerbau.
Sambil mementangkan mulutnya lebar-lebar. makhluk
tersebut langsung menggigit papan yang mengapung
didekatnya.
"Kraaaaakkk!"
Papan yang tergigit itu seketika hancur berantakan
berkeping keping sedang makhluk besar itu kembali
menyelam ke dalam air...
Si Cay-soat membentak keras, pergelangan tangannya
segera diayunkan ke depan, dua titik cahaya tajam secepat
kilat, menyambar makhluk besar yang sedang menyelam ke
dalam air itu.
Hu yong siancu telah melayang turun diatas geladak,
kepada Cay soat katanya gelisah.
"Anak soat, makhluk besar itu tak bakal terbunuh bila
tidak menggunakan senjata mestika, kau tak usah
menghambur hamburkan senjata rahasiamu, lagi dengan
percuma"
Kemudian sambil berpaling ia bertanya lagi.
"Mana anak Giok serta Si hujin?"
http://kangzusi.com/
"Engkoh Giok membopong perempuan muda itu masuk
ke ruangan dalam . . , "? Sahut Siau thi gou.
Setelah Hu yong siancu naik ke atas perahu dalam
keadaan selamat. Siau cian dan Cay soat baru merasa lega,
dan pada saat inilah mereka baru teringat kalau Lan See
giok telah masuk ke dalam ruangan perahu sambil
membopong Pak Gwat go.
Dengan perasaan sangat gelisah ke dua orang itu segera
berlarian masuk ke dalam ruang perahu tersebut.
Sedang Hu yong siancu segera berkata ke pada si naga
sakti pembalik sungai,
"Thio lo enghiong, segera kau undang ke dua orang
dayang serta penanggung jawab dari pihak Pek toh oh agar
datang kemari, bisa jadi Si hujin mereka telah terluka oleh
gigitan binatang tadi.”
Selesai berkata, buru-buru dia masuk pula ke dalam
ruangan perahu.
Ketika tiba didalam kamar megah yang ditempati Lan
See giok, tampak Siau cian dan Cay-soat telah berada di
depan pembaringan. Lan See giok telah membaringkan Pek
Gwat go diatas pembaringannya dan menutupi tubuhnya
dengan sebuah selimut.
Hu-yong siancu yang menyaksikan hal ini tanpa terasa
bertanya kepada pemuda itu dengan gelisah.
"Anak Giok, bagaimana dengan Si hujin? Parahkah luka
yang dideritanya?"
Agak memerah wajah Lan See giok, sahutnya tersipu
sipu:
”Mungkin ia jatuh pingsan karena terkejut dimanakah
letak lukanya tidak anak Giok ketahui."
http://kangzusi.com/
Biarpun Si cay soat dan Siau cian menunjukkan sikap
yang terbuka, padahal dalam hati kecilnya merasa amat
cemburu.
Apalagi setelah melihat pemuda itu menjawab secara
terbata-bata, tanpa terasa mereka mendengus sambil
mencibirkan bibirnya,
Lan See giok yang menyaksikan hal tersebut, wajahnya
berubah semakin merah, buru-buru dia mengalihkan
pandangan matanya kearah lain.
Hu yong siancu adalah perempuan yang pintar, melihat
gelagat kurang baik. dia segera mengulapkan tangannya
sambil berkata.
"Kalian anak lelaki keluarlah lebih dulu!”, Bagaikan
mendapat pengampunan besar serta merta Lan See giok
beranjak dari ruangan tersebut dengan langkah lebar.
Siau-thi-gou masih berdiri di situ dengan mata terbelalak
dan mulut melongo, dia memandang sekejap sekeliling
ruangan dengan termangu, kecuali dia hampir semua orang
yang masih tertinggal dalam ruangan itu adalah kaum
wanita.
Terutama sekali para dayang cilik. mereka segera
memandang ke arahnya sambil tertawa geli.
Dengan cepat Siau thi-gou merasa kalau gelagat tidak
menguntungkan, yang diartikan bibinya sebagai anak lelaki
pasti termasuk juga dirinya.
Maka dengan wajah memerah, cepat-cepat dia ngeloyor
pergi pula dari situ.
Sepeninggal Siau thi-gou, Hu yong siancu baru
mendekati pembaringan dan memeriksa Pek Gwat-go.
http://kangzusi.com/
Ditemukan perempuan itu berbaring dengan wajah pucat
dan bibir terkatup kencang, agaknya jatuh tak sadarkan diri
karena terkejut, tapi kalau dilihat dari gayanya waktu tidur,
persis seperti perempuan cantik yang lagi tidur.
Melihat sampai disini, diapun menyingkap selimut yang
menutupi tubuh perempuan itu.
Pek Gwat-go masih berbaring dengan pakaian renangnya
yang ketat, cuma dari bagian selangkangan hingga bagian
dadanya telah robek selebar empat inci lebih.
Dengan demikian pakaian dalamnya yang melekat di
badan hampir terlihat sama sekali, pinggangnya yang
ramping, payudaranya yang montok dan bawah perutnya
yang bulat datar, badan yang mulus serta bau harum yang
semerbak, membuat perempuan itu nampak begitu
mempersonakan hati.
Siau cian dan Cay soat segera merasa sangat tak tenang
sehingga tanpa terasa mereka saling berpandangan sekejap,
rasa cemburu yang berkobar dalam hatipun semakin
membara, cuma biarpun cemburu membakar dada mereka,
tapi menghadapi kejadian semacam ini, merekapun sama
sekali tak berdaya.
Hu yong siancu menggelengkan kepalanya berulang kali,
kemudian menempelkan telapak tangannya di atas jalan
darah Sim-ki-hiat di dada Pek Gwat-go.
Akibat dari tekanan ini, Pek Gwat-go merintih pelahan
dan pelan-pelan membuka matanya kembali.
Pek Gwat-go memandang ke arah Hu yong siancu, Siau
cian dan Si Cay soat, kemudian keningnya berkerut
kencang, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.
Hu yong siancu tertawa lembut, ujarnya ramah:
http://kangzusi.com/
"Si hujin, pakaian renangmu tergigit babi sungai sehingga
robek, untung saja nyawamu, masih sempat diselamatkan
oleh anak Giok..."
Pek Gwat go sangat terkejut, buru-buru dia mencoba
mengatur pernapasan, tapi hawa murninya dapat beredar
tanpa hambatan dari seluruh tubuhnya juga tidak terasa
sakit, ia tahu tubuhnya tak sampai terluka, oleh gigitan babi
sungai tersebut.
Tapi ia memang seorang yang cerdik, dari sebutan Hu
yong siancu segera menyimpulkan bahwa nyonya cantik
yang anggun di depan matanya pastilah angkatan tua dari
Lan See giok.
Karena itu dengan senyum manis menghiasi wajahnya
dia bangkit berdiri dan siap untuk turun dari pembaringan.
"Si hujin baru saja sadar jangan bergerak kelewat cepat"
cegah Hu yong siancu sambil tertawa ramah,
Seraya berkata cepat-cepat ia menutupi pakaian renang
Pek Gwat go yang robek itu dengan selimut, kemudian
menekan bahunya agar ia membaringkan diri kembali,
Pek Gwat go masih belum tahu kalau celana renangnya
telah robek, sambil tertawa kembali katanya,
"Boanpwe sama sekali tidak merasa sesuatu yang kurang
enak"
Bagaimanapun juga, Siau cian dan Cay-soat masih
muda, belum lenyap sifat ke kanak kanakan dari watak
mereka, melihat Pek Gwat go masih belum tahu kalau
pakaian dalamnya kelihatan semua, kedua orang itu tak
bisa menahan rasa gelinya lagi dan segera tertawa
cekikikan.
http://kangzusi.com/
Pek Gwat go bukan orang yang bodoh, melihat Siau cian
berdua tertawa geli, dia segera teringat kalau celana
renangnya telah tergigit babi sungai, dengan perasaan
terkejut wajahnya kontan saja berubah hebat.
Buru-buru dia meraba celana renangnya itu, kemudian
paras mukanya berubah menjadi merah padam seperti
kepiting rebus, masih untung pakaian dalamnya tidak
ikutan robek.,
Pada saat itulah pintu kamar dibuka orang lalu muncul
dua orang dayang berpakaian berkabung yang membawa
pakaian milik Pek Gwat go.
Dari dandanan mereka. Hu-yong siancu tahu kalau
kedua orang ini berasal dari pihak Pek-toh-oh. maka
ujarnya sambil tersenyum.
"Untung saja kalian datang tepat pada waktunya, cepat
kalian layani nyonya kalian.”
Kemudian sambil berpaling kearah Pak Gwat-go yang
masih berdiri tersipu-sipu karena malu, kembali katanya
sambil tertawa."
"Si hujin. silahkan bertukar pakaian, kami akan
menunggumu di ruang muka"
Pek Gwat-go sedang melamunkan peristiwa yang baru
saja dialaminya didalam air, mendengar ucapan ini, buruburu
dia memberi hormat sambil menyahut.
"Silahkan cianpwe!"
Hu-yong siancu berpaling dan memandang sekejap
kearah Si Cay soat serta Siau-cian dengan pertanda agar
mereka turut mundur, bahkan kepada para dayang yang
berada di situpun dia mengulapkan tangannya menitahkan
http://kangzusi.com/
mereka untuk mundur, kemudian dia baru mengundurkan
diri pula dari ruangan,
Setelah menyaksikan Hu-yong siancu sekalian telah
berlalu, Pek Gwat go baru berbisik kepada kedua orang
dayangnya.
”Bagaimana cara kalian berdua menuju ke mari?"
Salah seorang dayang yang berusia agak tua sambil
meletakkan pakaian ke atas pembaringan, sahutnya.
"Kami menyeberang kemari bersama sama Ko tongcu"
Pek Gwat go tidak berminat untuk bertanya lagi, sambil
membuka selimut yang menutupi tubuhnya, dengan wajah
memerah ujarnya tersipu sipu:
"Coba kalian lihat, benar-benar memalukan tidak ...."
Dayang yang berusia lebih muda segera berbisik "Malah
Lan pocu yang muda dan ganteng itulah yang membopong
nyonya datang kemari."
Tampaknya Pek Gwat go merasa girang bercampur
malu, buru-buru dia berseru.
"Budak sialan, siapa bilang begitu, Kalau kau berani
mengaco belo lagi, hati-hati kuhajar bibirmu sampai penyot
...... "
Sembari berkata dia melepaskan pakaian renangnya yang
robek, seorang dayang segera memberi pakaian kering
untuk menutupi tubuhnya yang mungil.
Sedang si dayang yang mudaan itu berkata lagi dengan
wajah bersungguh-sungguh
"Bukan aku sengaja mengaco belo, malah beratus orang
yang berada di kapal perang sekeliling tempat ini melihat
dengan jelas..."
http://kangzusi.com/
Paras muka Pek Gwat go semakin merah karena jengah,
tapi senyuman manis menghiasi bibirnya. matanya melotot
besar dan berlagak mau memukul, serunya lirih.
"Kalau kau berani berbicara lagi, ku pukul kau.. ayo
bicara lagi tidak?"
Dayang itu mundur dengan ketakutan. tapi ia berseru
lagi.
"Tapi sungguh hujin.-"
Sebelum ucapan itu sempat dilanjutkan, si dayang yang
lebih tua usianya sudah melotot sekejap kearah rekannya,
maka kata-kata selanjutnya pun tak berani ia ucapkan lagi,
Dengan tenang Pek Gwat go membiarkan kedua orang
dayang itu membetulkan pakaian serta dandanannya,
sedang ia sendiri membayangkan kembali bagaimana Lan
See giok membopong tubuhnya dengan wajah gelisah, tadi
saat seperti itu benar-benar berbahaya sekali...
Dihati kecilnya berulang kali ia bertanya kepada diri
sendiri, ia tak tahu selanjutnya apa yang mesti dilakukan
olehnya untuk membalas budi kebaikan tersebut.
Sementara dia masih berpikir, dayangnya mulai
memakaikan pakaian berkabung di atas tubuhnya.
Tapi perempuan ini segera mengigos dan melepaskan
pakaian berkabung itu kembali.
Atas tindakan tersebut, kedua orang dayang itu menjadi
tertegun dan berdiri melongo.
Pek Gwat-go memandang sekejap pakaian berkabung
yang tergeletak diatas tanah itu, setiap kali ia teringat
kembali bagaimana keperawanannya ditipu orang,
bagaimana dia diperistri seorang suami yang licik dan
http://kangzusi.com/
berusia satu kali lipat dari usianya, ia benar-benar merasa
muak untuk memakai kembali pakaian berkabungnya itu.
Tapi bila teringat kembali tentang kekuasaan, teringat
bagaimana dia menguasahi segenap jago yang berada di
Pek tohOh, maka katanya kemudian dengan suara hambar:
"Kenakan!"
Cepat cepat ke dua orang dayang itu membantu untuk
mengenakan pakaian berkabung itu di tubuhnya.
Selesai mengenakan pakaian berkabung itu. sekali lagi
Pek Gwat go memandang sekejap ruangan kamar yang
mewah itu, kemudian berpaling dan memandang sekejap
lagi ke arah pembaringan.
Setelah itu sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat, ia
membiarkan pikirannya yang kalut dan bergelombang
lambat laun menjadi tenang kembali.
Tatkala dia membuka matanya kembali, diantara bulu
mata yang tebal dan sinar mata yang jeli, kini telah dibasahi
oleh butiran air mata.
Dengan sedih dia menghela napas, lalu dengan tertunduk
cepat-cepat berjalan menuju ke depan pintu.
Melihat hal ini, cepat-cepat ke dua orang dayang tersebut
lari ke depan pintu dan membukakan tirai baginya.
Sewaktu Pek Gwat go sudah keluar dari pintu kamar,
seorang dayang yang sengaja diperintahkan Hu yong siancu
untuk menyambutnya telah memberi hormat seraya
berkata.
"Silahkan hujin mengikuti budak"
Habis berkata dia berjalan keluar lebih dulu.
http://kangzusi.com/
Pek Gwat go manggut-manggut dan mengikuti
dibelakangnya dengan kepala tertunduk sedang kedua
orang dayangnya mengikuti pula di paling belakang.
Berhubung Pek Gwat go adalah pejabat Oh-cu dari Pek
toh oh, maka baru saja keluar dari penyekat ruangan, Hu
yong siancu serta Lan See giok sekalian telah bangkit berdiri
sambil menyambut kedatangannya.
Pek Gwat go mencoba untuk memperhatikan sekeliling
tempat itu, ia temukan anak buahnya si kakek berpakaian
kabung Ko Tongcu hadir pula di situ.
Maka sorot matanya pelan-pelan dialihkan dari wajah
naga sakti pembalik sungai, Siau thi gou, komandan Ciang.
Siau Cian, Si Cay soat dan akhirnya sampai di wajah Lan
See giok.
Menyaksikan wajah Lan See giok yang begitu tampan
hatinya segera berdebar keras, sekali lagi ia tertunduk
dengan wajah merah padam, maka dengan mencoba
menenangkan hatinya ia menuju ke depan Hu yong siancu
memberi hormat serta berkata merdu.
"Boanpwe Pek Gwat go lalu menjumpai Cianpwe..."
"Lapor hujin” timbrung si kakek berpakaian berkabung
itu tiba-tiba. "dia tak lain adalah Hu yong siancuHan lihiap
yang paling kau kagumi itu”
Pek Gwat go merasa terkejut dan sekali lagi dia
mendongakkan kepalanya sambil memandang sekejap
wajah Hu yong siancu dengan pandangan terkejut
bercampur gembira tak tertahankan lagi dia maju dua
langkah ke depan sambil berseru girang,
"Boanpwe Pak Gwat go sudah lama mengagumi nama
locianpwe, sayang selama ini kami tak berjodoh untuk
saling bersua. hari ini boanpwe dapat bertemu dengan
http://kangzusi.com/
locianpwe di sini. sungguh kejadian ini merupakan
keberuntungan bagiku."
Selesai berkata, kembali dia menyembah, si naga sakti
pembalik sungai yang pertama tama tak mampu menahan
diri lagi, ia tertawa terbahak-bahak, menyusul kemudian
orang-orang yang berada di ruangan itupun ikut tertawa
geli.
Dengan wajah memerah Hu-yong siancu segera maju ke
depan dan membangunkan Pek Gwat go dari atas tanah.
Selesai memberi hormat, Pek Gwat-go memandang
sekejap kearah semua orang dengan pandangan
kebingungan. ia tidak tahu apa sebabnya semua orang
tertawa geli?
Sambil tertawa terbahak-bahak Siau thi gou segera
berkata.
"Perempuan muda. masa kau belum tahu apa yang
menyebabkan mereka tertawa geli? Mereka sedang
menertawakan karena kau sebut bibi sebagai Locianpwe
pada hal bibi belum lagi tua!"
Mendengar ucapan tersebut. Pek Gwat go menjadi
paham.
Memang kalau dilihat dari wajah Hu yong siancu yang
begitu segar dan anggun, siapa pun tak berani mengatakan
bahwa perempuan ini sudah tua,
Tapi semenjak sepuluh tahun berselang sebelum ayahnya
meninggal dia pernah berkata kalau berbicara soal ilmu
berenang tiada orang di dunia ini yang mampu menandingi
Hu yong siancu, waktu itu usianya baru dua tiga belas
tahunan. dan baru sekarang dia dapat bersua dengan tokoh
wanita yang dikaguminya itu.
http://kangzusi.com/
Inilah sebabnya mengapa dia memanggil locianpwe
kepada perempuan tersebut.
Berpikir demikian, dengan wajah merah dadu sekali lagi
dia menundukkan kepalanya
Hu yong siancu tertawa riang, segera tegurnya kepada
Siau thi gou. sambil tertawa "Bibi sudah hampir berusia
empat puluh tahun. sudah sepantasnya kalau aku dianggap
tua"
Gelak tertawa yang riang dan gembira kembali bergema
dalam ruangan itu.
Suara gelak tertawa ini berkumandang sampai di luar
ruang perahu dan didengar segenap pasukan perang yang
masih berhadapan dengan tegang.
Kontan saja suasana tegang yang mencekam sekitar situ
seketika berubah menjadi suasana lega, damai dan
kegembiraan.
Hu yong siancu mempersilahkan Pek Gwat go untuk
mengambil tempat duduk, dayang pun datang
menghidangkan air teh.
Sambil mengelus jenggotnya, si naga sakti pembalik
sungai memperhatikan sekejap wajah Pek Gwat go, lalu
tanyanya dengan wajah tersenyum riang:
"Sekarang, harap si hujin bercerita tentang
pengalamanmu setelah terjun ke air. bagaimana sih
ceritanya sehingga kau dapat berjumpa dengan babi sungai
berbulu emas bermata merah yang terkenal karena
ganasnya itu?" ?
Pak Gwat go tertawa jengah, pertama tama dia
memandang sekejap ke wajah tampan Lan See giok,
http://kangzusi.com/
kemudian sambil memandang ke arah Hu yong siancu dan
naga sakti pembalik sungai katanya.
"Kali ini boanpwe benar-benar tak tahu diri telah
menantang Lan pocu untuk berduel, sehingga nyaris
selembar jiwaku melayang didalam sungai, sekarang
terlebih dulu ingin boanpwe sampaikan rasa terima kasih ku
kepada Lan pocu atas budi pertolongan yang telah
diberikan"
Dia bangkit berdiri lalu memberi hormat kepada Lan See
giok. Buru-buru anak muda itu bangkit berdiri dan
menjawab sambil tertawa merendah.
"Harap hujin jangan banyak adat kalau cuma urusan
kecil mah tak perlu berterima kasih lagi"
Sementara pembicaraan mereka balas memberi hormat.
bersama itu pula matanya melirik sekejap kearah Cay soat
dan Siau cian.
Menyaksikan sikap kedua orang gadis itu tetap tenang
dengan senyum dikulum, perasaan tak tenang yang semula
mencekam perasaannya kini hilang lenyap tak berbekas.
Setelah mengambil tempat duduk, Pek Gwat go baru
bercerita lebih jauh,
"Begitu terjun ke sungai, boanpwe langsung menyelam
ke dasar air, dengan harapan aku bisa melangsungkan
pertarungan melawan Lan pocu dibagian sungai yang
terdalam. tapi belum sampai tubuhku mencapai dasar
sungai, Lan pocu sudah menyusul tiba dengan kecepatan
luar biasa.
Diam-diam boanpwe merasa terkejut, sadarlah aku
bahwa ilmu berenang yang kumiliki masih selisih amat jauh
kalau dibandingkan dengan Lan pocu. Terpaksa kubalikkan
badan sambil menyambut dengan serangan pedang. tapi
http://kangzusi.com/
gerakan tubuh Lan pocu memang luar biasa cepatnya.
boanpwe yakin belum mencapai enam tujuh bagiannya.
Bisa jadi pakaian yang dikenakan Lan pocu adalah
sebuah pakaian mestika, selama berada didalam air selalu
memancarkan sinar yang tajam. ketika memantul terkena
sinar perak dari pakaian renang yang kukenakan maka
terpancarlah sinar terang yang membuat kedua belah pihak
sama-sama dapat melihat keadaan masing-masing dengan
jelas".
Mungkin disebabkan pantulan sinar yang memancar dari
tubuh kami berdua serta gerakan tubuh Lan pocu yang
begitu hebat sehingga menimbulkan gejolak yang keras di
dalam air, maka si babi sungai yang bersembunyi di dasar
air menjadi terpancing datang.
Semua orang tahu, babi sungai berbulu emas bermata
merah berusia paling tidak seratus tahun, dia paling ganas
dan bisa memakan daging sesamanya, tapi kali ini,
sekaligus kami telah bertemu dengan tiga ekor babi sungai
berbulu emas..,"
Mendengar ada tiga ekor, paras muka semua orang
berubah hebat, dengan perasaan terkejut bercampur
keheranan mereka saling bertukar pandangan sekejap.
Pek Gwat go tertawa lembut, menggunakan kesempatan
ini dia melirik sekejap ke arah Lan See giok, kemudian
melanjutkan:
"Pertama tama yang terkecil menerjang diriku lebih dulu,
waktu itu aku masih belum merasakan datangnya ancaman,
masih untung Lan pocu segera datang menerjang sambil
melepaskan sebuah pukulan, segulung arus sungai yang
kuat segera mementalkan babi sungai itu hingga terguling
ke belakang:
http://kangzusi.com/
Tampaknya serangan ini, menimbulkan sifat ganas si
babi sungai, bagaikan kalap binatang itu menyerang Lan
pocu habis habisan, tapi gerakan tubuh Lan pocu pun
sangat cepat, dalam sekali kelebatan saja tubuhnya sudah
lenyap, maka babi sungai itupun menyerang boanpwe
sebagai tempat pelampiasan.
Boanpwe sadar, gerakan tubuhku tidak secepat gerakan
si babi sungai itu, untung saja Lan pocu datang lagi dengan
cepat saat ia menarik tubuh boanpwe sambil melepaskan
sentilan jari ke dua mata babi sungai itu segera terkena
serangan.
Pada saat inilah babi sungai berbulu emas yang agak
besar datang menyergap dari dasar sungai, boanpwe yang
menjumpai Lan pocu sama sekali tidak bersenjata, maka
kuserahkan pedang yang ada di tangan kiri ku padanya..."
Mendengar sampai di situ, Cay soat yang diam-diam
merasa amat cemburu itu sengaja menggoda:
"Waaah kalau begitu Lan pocu merangkul pinggangmu
terus sambil berenang?"
Merah padam selembar wajah Pek Gwat go, dia melirik
sekejap kearah Si Cay soat dan Siau cian, sadar bahwa
kedua orang gadis ini pasti mempunyai hubungan asmara
dengan Lan pocu yang tampan, dia tertawa. Entah
mengapa, terbayang akan persoalan ini, segera timbul pula
perasaan cemburu dari hatinya, tapi teringat kembali Lan
See giok adalah tuan penolongnya, maka sambil
menggeleng dia menjawab agak malu
"Tidak, kulemparkan pedang tersebut ke pada Lan
pocu!"
Sementara itu paras muka Lan See giok berubah menjadi
merah dengan pikiran serta perasaan yang sangat kalut,
http://kangzusi.com/
namun ketika mendengar jawaban, dari Pek Gwat go
sangat tepat dan tidak mengungkap bahwa dia bertarung
melawan babi sungai itu sambil merangkul pinggangnya,
maka cepat-cepat diapun menimpali: "Benar, benar pedang
tersebut dia lemparkan kepadaku".
Si Cay soat dan Siau cian memandang sekejap wajah Pek
Gwat go dan See giok yang tersipu sipu, segera timbul
perasaan tidak percaya didalam hatinya, dengan sorot mata
penuh peringatan mereka berdua memandang sekejap ke
arah Lan See giok, sebenarnya hendak mengucapkan
sesuatu, tapi Hu yong siancu telah keburu menegur sambil
tersenyum:
"Anak Cian, kalian berdua jangan menimbrung dulu.
dengarkan sampai Si hujin selesai bercerita."
Walaupun Si Cay soat melihat bibinya cuma melarang
Siau cian banyak bicara, namun biarpun dia merasa tak
senang hati terhadap Pek Gwat go, hal inipun tak berani
diutarakan secara berterus terang.
Kembali Pek Gwat go mengerling sekejap kearah Lan
See giok, kemudian meneruskan:
"Oleh karena boanpwe merasa tegang, ditambah pula tak
mampu berganti napas di dalam air, terpaksa berulang kali
aku musti muncul di atas permukaan air untuk berganti
napas kemudian menyelam lagi, belum sampai di dasar
sungai, Lan pocu telah berhasil membunuh si babi sungai
yang telah dibikin buta matanya itu, berhubung gerakan
tubuh Lan pocu sangat cepat, untuk beberapa saat sulit bagi
boanpwe untuk melihat jelas posisi yang sebenarnya dari
Lan pocu, pada saat itulah seekor babi sungai datang
menerjang lagi, dalam kejutnya sekali lagi boanpwe
munculkan diri di atas permukaan air.
http://kangzusi.com/
Boanpwe sama sekali tidak melihat Lan pocu naik ke
permukaan, maka dengan perasaan tak lega, kembali aku
menyelam ke dasar sungai...:." ,
Siau thi gou yang duduk di sudut ruangan mendadak
tertawa terbahak bahak, kemudian ujarnya polos.
"Haahh... haahhh... haaahhh.... perempuan muda, kau
kuatirkan keselamatan engkoh Giok, engkoh Giok juga
menguatirkan keselamatanmu, baru saja kau turun ternyata
engkoh Giok sudah naik ke atas mencarimu..."
Tidak sampai Siau thi gou menyelesaikan kata katanya,
naga sakti pembalik sungai telah melotot sambil pura-pura
marah.
"Apa itu perempuan muda, perempuan muda kau mesti
panggil Si hujin kepadanya."
Siau thi gou yang kena ditegur nampak agak tertegun,
tapi ia segera membantah:
"Tapi perempuan muda kan nyonya muda, nyonya
muda sama pula sebagai perempuan muda!"
Naga sakti pembalik sungai yang dibantah dengan katakata
itu kontan saja hanya bisa melototkan matanya sambil
menggelengkan kepala berulang kali.
Seluruh isi ruangan, kecuali Pek Gwat go dan Lan See
giok yang tersenyum dengan wajah jengah, lainnya tak bisa
menahan diri lagi sehingga tertawa terbahak bahak.
Hu yong siancu menunggu sampai suara tertawa semua
orang mereda., kemudian baru ujarnya kepada Pek Gwat
go:
”Harap Si hujin bercerita lebih jauh."
Dengan senyum malu Pek Gwat go, mengiakan, lalu
berkata kembali dengan suara lembut.
http://kangzusi.com/
"Ketika boanpwe menyelam lagi ke dasar sungai,
kujumpai babi sungai tersebut masih juga berenang. Di
sekitar sana, dengan perasaan kaget boanpwe bersiap siap
hendak naik ke atas permukaan air lagi, tiba-tiba dari
belakang tubuhku, terdengar datang arus air, pada mulanya
boanpwe mengira Lan pocu yang telah berenang mendekat
....
Setelah berpaling, baru kujumpai ada seekor babi sungai
yang sangat besar telah mendekati tubuhku, boanpwe
terkejut sekali sambil membalikkan badan kutusuk binatang
itu keras-keras, tapi kulit tubuh babi sungai itu tebal lagi
kuat, biarpun tertusuk namun lama sekali tidak terluka atau
mati."
Pada saat itulah, secepat kilat binatang itu menyambar
datang .... ehmm.... ehmm apa yang terjadi kemudian sama
sekali tak kuketahui lagi."
Ketika berbicara sampai di sini, wajahnya berubah
menjadi merah padam sampai ke telinga, setelah
menggelengkan kepalanya berulang kali ia tertunduk
rendah-rendah,
Semua orang tahu Pek Gwat go merasa malu untuk
bercerita lebih jauh, maka semua orangpun tidak bertanya
lagi bagaimana See giok menolongnya waktu itu.
Ko tongcu atau si kakek berpakaian berkabung itu
adalah, seorang yang berpengalaman luas, dia tahu kalau
pemimpinnya berada dalam posisi terpojok, maka sambil
memandang ke arah Pek Gwat go segera timbrungnya
”Hujin, waktu itu Hu yong siaucu Han lihiap, telah
merasakan bahwa kalian bertemu dengan bahaya di bawah
air sana, beliau segera terjun ke air untuk menolong kalian."
http://kangzusi.com/
Mendengar perkataan tersebut, Pek Gwat go segera
bangkit berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada Hu
yong siancu.
Tiba-tiba terdengar Siau Thi gou berseru keras:
"Nyonya muda telah selesai bercerita, sekarang harus
giliran engkoh Giok, yang menceritakan pengalamannya."
Mendengar seruan ini, serentak semua orang berpaling
ke arah Lan See giok, Pek Gwat go juga berpaling ke wajah
See giok dengan wajah gelisah, dia seperti kuatir sekali
kalau pemuda itu mengungkapkan beberapa, adegan mesra
yang mereka lakukan di dalam air ......
Merah dadu selembar wajah Lan See giok, dia segera
bangkit dari tempat duduknya, kemudian memandang
sekejap ke arah Pek Gwat go yang sedang memandang ke
arahnya dengan gelisah itu.
Setelah memandang pula wajah semua orang yang
berada dalam ruangan, katanya sambil tersenyum:
"Semua peristiwa telah diceritakan oleh Si hujin...”
"Tidak bisa, engkoh Giok harus bercerita" seru Siau thi
go dan Cay soat hampir bersamaan waktunya.
Lan See giok segera mengangguk berulang kali, dengan
tenang dia menyahut sambil tertawa:
"Baik, baik, aku akan bercerita..."
Pertama tama dia memandang sekejap ke arah Hu yong
siancu dengan sorot mata mohon bantuan, kemudian ia
baru meneruskan:
"Jika aku harus menambahkan maka hanya ada satu hal
saja, yaitu ilmu berenang dari Si hujin memang lihay sekali,
permainan pedangnya di dalam air secepat sambaran kilat,
gerakan tubuhnya juga cepat sekali..."
http://kangzusi.com/
Cay soat dan Siau cian yang menyaksikan Lan See giok
serta Pek Gwat go selalu berbicara saling memuji, tanpa
terasa berkobar kembali rasa cemburu di hati mereka.
Tapi menyaksikan Hu yong siancu mengangguk berulang
kali, kemudian merasa juga kalau Hu yong siancu telah
terjun pula ke air, siapa tahu kalau memang begitulah
keadaannya.?
Tapi Cay soat yang binal tak tertahankan lagi segera
menimbrung dengan suara dingin:
"Selain itu?"
Padahal Lan See giok sudah tahu kalau kedua orang
kekasihnya menunjukkan wajah tak senang hati semenjak
tadi, sambil tersenyum dia lantas menjawab:
"Selain itu aku gagal untuk menangkap seekor babi
sungai yang hidup untuk diberikan kepada adik Gou!"
Mendengar ucapan ini, kembali semua orang tertawa.
Dalam gelak tertawa tersebut, ada yang benar-benar
tertawa ada pula yang tertawa biasa, tapi suasana di seluruh
ruang perahu itu diliputi suasana tertawa.
Hu yong siancu amat sayang kepada Lan See giok, kuatir
putrinya membuat ulah lagi maka diapun berkata kemudian
sambil tertawa:
"Pepatah bilang: Tidak bertarung tidak akan mengenal.
Setelah mengalami peristiwa itu hubungan antara Wi lim
poo dengan Pek toh oh pun semakin bersahabat, semoga
sejak kini masing-masing pihak dapat melakukan kerja
sama yang lebih akrab, bersama sama membasmi kaum
durjana dan melindungi kaum rakyat kecil, inilah perbuatan
mulia yang sangat diharapkan setiap manusia."
http://kangzusi.com/
Pek Gwat go buru-buru mengiakan sambil memberi
hormat, menyusul kemudian Ko tongcu juga mendukung
ucapan tersebut.
Naga sakti pembalik sungai memandang sekejap pasukan
kapal perang di luar jendela serta matahari yang sudah jauh
tinggi di angkasa, lalu sambil mengelus jenggotnya
tersenyum ia berkata.
"Kini hari sudah siang, perahupun kitapun sudah kelewat
lama berhenti disini, mari kita meneruskan perjalanan
sambil berbincang bincang ....."
Komandan Ciang dari pasukan naga perkasa segera
mohon diri kepada Hu yong siancu dan Lan See giok,
kemudian buru-buru keluar dari ruang perahu.
Biarpun Pek Gwat go tahu bahwa perjalanan harus
dilanjutkan, tapi dia merasa berat hati untuk mohon diri
dengan begitu saja, kepada Hu yong siancu segera ujarnya
dengan hormat:
"Boanpwe merasa kagum sekali atas tujuan kepergian
cianpwe serta Lan pocu menuju ke pulau Wan san untuk
melenyapkan ketiga pembawa bibit bencana itu dari muka
bumi, apabila cianpwe tidak menampik, boanpwe bersedia
mendukung usaha ini dengan menggabungkan ke tujuh
puluh buah kapal perang kami serta seribu orang anggota
perkumpulan kami untuk bersama sama berangkat ke pulau
tersebut."
Dengan senyum dikulum Hu yong siancu manggutmanggut,
dia melirik sekejap ke arah Cay soat dan Siau
cian, dilihatnya paras muka kedua orang ini telah berkerut
kencang, memahami perasaan putrinya maka diapun
berkata:
http://kangzusi.com/
"Walaupun didalam perjalanan kami hal ini mempunyai
beban yang cukup berat, namun pihak Wi lim Poo pun
mempunyai ratusan buah kapal perang dan dua ribu
anggota, ditambah lagi dengan bantuan ke empat
komandan serta Thio lo enghiong, aku pikir kekuatan kami
sudah cukup untuk menghadapi lawan."
Ko tongcu segera berkata pula:
"Melenyapkan bencana dari muka bumi merupakan
kebahagian bagi umat persilatan setiap orang merasa
berkewajiban untuk turut mendermakan kemampuannya
untuk berbuat begitu, pihak kami sangat bersedia
mendukung usaha seperti ini."
Kembali Hu Yong siancu tersenyum.
"Kesempatan yang akan kita jumpai selanjutnya masih
amat banyak, aku pikir tak usah terlalu tergesa gesa dalam
suatu saat, sebab bila kapal dan anggota yang kita sertakan
dalam perjalanan kali ini terlampau besar, ini berarti suatu
pemborosan yang tak berguna, apa lagi setelah ke pulau
Wan san, mungkin kami akan pergi ke Hay lam lebih dulu,
dengan persiapan yang kurang sempurna, rombongan
kalian akan menemukan pelbagai masalah besar..."
Pek Gwat go dan Ko tongcu Yang mendengar ucapan
tersebut segera manggut-manggut membenarkan, karenanya
mereka pun tidak bersikeras lebih jauh.
Pek Gwat go segera bangkit berdiri dan berkata:
"Kalau memang begitu, boanpwe ingin mohon diri lebih
dulu, semoga usaha cianpwe sekalian sukses dan berhasil
serta cepat-cepat kembali ke daratan, saat itu boanpwe pasti
akan berkunjung sendiri ke Wi lim poo untuk
menyampaikan selamat kepada cianpwe."
http://kangzusi.com/
Melihat Pek Gwat go ada maksud untuk meninggalkan
tempat itu, serentak Hu yong siancu sekalian bangkit
berdiri.
Sambil tersenyum Hu yong siancu segera berkata:
"Ucapan selamat sih tak usah, tapi setiap saat kami akan
menyambut kedatanganmu di Wi lim poo untuk menginap
selama berapa hari di sana."
Melihat ada kesempatan baik, satu ingatan segera
melintas dalam benak Pek Gwat go, sahutnya sambil
tersenyum:
"Sampai waktunya aku pasti akan datang berkunjung.."
Sembari berkata, semua orang segera beranjak menuju
keluar pintu untuk mengantar Pek Gwat go dan kakek
berbaju berkabung itu.
Dalam pada itu, perahu komando dari Pek toh oh cuma
berlabuh empat kaki dari perahu keraton, sedangkan
perahu-perahu yang lain sudah mundur sejauh beberapa li
di sisi sungai, suasana pertarungan sudah tidak nampak
lagi.
Sekali lagi Pek Gwat go dan kakek berbaju putih itu
memberi hormat kepada Hu yong siancu sekalian,
kemudian setelah saling menyampaikan kata-kata
perpisahan, mereka baru kembali ke perahunya.
Jangkar segera dinaikkan dan berangkatlah kapal
tersebut meneruskan perjalanannya kembali ke Pek toh oh.
Hu yong siancu dan Lan gee giok sekalian berdiri di
ujung geladak sampai Pek Gwat go sekalian jauh
meninggalkan tempat itu, kemudian mereka baru kembali
ke dalam ruangan.
http://kangzusi.com/
Perintah untuk berangkat segera diturunkan dan
berangkatlah, rombongan kapal perang itu meneruskan
perjalanan kembali.
Pada hari kelima mereka telah tiba di kota Kim leng.
O-oodw-oo-wioo-O
BAB 36
BEBERAPA hari kemudian .... Rombongan kapal
perang dari Wi lim poo telah keluar dari kota Go siong dan
kini memasuki lautan timur menuju ke selat Hiang ciu ....
Dengan masuknya rombongan kapal itu ke samudra
luas, semua orangpun merasakan hatinya lega.
Tapi semakin mendekati selat Hang ciu, pikiran dan
perasaan Hu yong siancu serta si naga Sakti pembalik
sungai justru merasa makin risau dan tidak tenang.
Selama ini Lan See giok selalu mempergiat latihannya
untuk memecahkan inti sari ilmu pedang Tay lo kiu thian
kiam hoat serta Pwee yap sam ciang.
Sejak belajar kedua macam ilmu tersebut hingga kini
belum pernah ia pergunakan ke dua macam ilmu tersebut
untuk menghadapi musuh musuhnya.
Sekarang, musuh tangguh sudah makin mendekatinya,
tiga manusia aneh dari luar lautan, tiga tokoh persilatan
yang angkat nama bersama sama gurunya To Seng cu,
dapat dibayangkan kepandaian silat mereka tentu hampir
berimbang dengan gurunya. Kini dia harus mulai
mempersiapkan diri dengan rencana perlawanannya
melawan ke tiga manusia tersebut seorang diri, sebab ia tak
dapat mengharapkan bantuan dari Hu yong siancu maupun
naga sakti pembalik sungai, sekalipun ke dua orang itu
http://kangzusi.com/
bekerja samapun belum tentu mampu menandingi lawan
lawannya
Ia dapat membayangkan pula, walaupun ketiga manusia
aneh dari luar lautan mempunyai kedudukan yang amat
tinggi, namun bila mereka sudah berada dalam keadaan
terancam nama baik serta jiwanya, ketiga manusia tersebut
niscaya akan mempergunakan segala macam tipu daya
yang licik untuk menghabisi nyawanya.
Akhirnya dia pun berhasil mendapatkan sebuah rencana
yang baik dan sempurna, dia hendak sekaligus menghabisi
nyawa ketiga manusia aneh tersebut.
Dipihak lain Si Cay soat dan Siau cian setiap hari
mempelajari ilmu pedang Tong kong kiam hoat, mereka
berdua sudah mulai merasakan kegelisahan dari Hu yong
siancu serta Si naga Sakti pembalik sungai ....
Sebab tiga manusia aneh dari luar lautan itu bukan cuma
seorang tokoh sakti saja dari dunia persilatan, melainkan
mereka benar-benar adalah gembong iblis yang ditakuti dan
disegani setiap orang.
Siau thi gou yang melihat engkoh Giok dan kedua
cicinya berlatih diri setiap hari secara tekun tanpa
menggubrisnya lagi, dia sendiripun tak mau menunjukkan
kelemahan di dalam ruang perahu dia berpikir sebentar
seorang diri, kemudian berlarian ke luar.
Begitu tiba di luar kapal, tanpa menghentikan gerakan
tubuhnya sepasang tangan mulai digerakkan kian kemari
memainkan delapan jurus ilmu naga dan harimau nya...
Angin pukulan yang menderu deru membuat para
pengawal diatas perahu tersebut sama-sama menghindarkan
diri jauh-jauh, ketika perahu itu berlayar setengah hari lagi,
dari pihak kapal pelopor diterima kabar bahwa pasukan
http://kangzusi.com/
paling depan sudah menjumpai rangkaian kepulauan Wan
san.
Maka si kepala regu pengawal kapalpun menyampaikan
kabar ini kepada dayang dan kacung yang ditugaskan
menjaga pintu ruangan:
"Adik cilik berdua, tolong sampaikan kepada pocu,
katakan bahwa pulau Wan san telah kelihatan di depan
sana."
Siau thi gou yang sedang duduk termenung di kursi
kontan melompat bangun setelah mendengar ucapan itu,
belum sampai kedua orang dayang dan kacung itu
menjawab, dia sudah berlarian menuju ke dalam ruangan
sambil berteriak keras:
"Bibi Wan, Thio loko, cici berdua, engkoh Giok, pulau
Wan san telah di depan mata."
Begitu siau thi gou berteriak, Hu yong siancu sekalian
segera berlarian keluar dari dalam ruang kapal.
Dengan kening berkerut naga sakti pembalik sungai Thio
Lo enghiong bertanya sambil menatap Thi gou lekat-lekat:
"Kau sudah melihatnya sendiri?"
Siau thi gou yang sedang gembira jadi tertegun
dibuatnya, setelah ragu sejenak, katanya kemudian:
"Kepala regu pasukan pengawal yang berkata begini,
katanya pulauWan san sudah kelihatan."
"Oooh, mungkin pasukan pelopor telah menangkap
bayangan pulau, kalau begitu mari kita bersiap sedia," seru
Hu yang siancu sambil tersenyum.
Kemudian kepada Siau cian katanya lagi:
http://kangzusi.com/
"Anak Cian. . pergilah ke kamarku dan ambillah kamus
yang kusimpan di situ."
Siau cian mengiakan dan bersama Cay soat segera
beranjak pergi dari situ.
Hu yang siancu dan Lan See giok bersama sama menuju
ke luar geladak, ketika memandang ke depan situ, tampak
ombak samudra menggulung bagaikan bukit, kapal-kapal
perang yang berada di sayap kiri dan kanan masih
terombang ambing dimainkan ombak.
Kapal perang yang kelihatan begitu besar sewaktu ada di
telaga, kini nampak begitu kecil seperti sebuah sampan saja.
Biar ombak besar, udara waktu itu amat cerah, di bawah
sinar matahari yang terang benderang, air laut yang
berwarna hijau memecahkan buih putih di sisi kapal.
Dari celah-celah pasukan pelopor yang bergerak di depan
sana, lamat-lamat tampak beberapa titik bayangan hitam
muncul di ujung langit sana.
Kepada si kepala regu pasukan-pasukan yang berdiri tak
jauh di situ, Hu yong siancu segera berkata:
"Harap kau melepaskan kode rahasia dan
memberitahukan kepada semua kapal agar menghentikan
perjalanan, lalu undang ke empat komandan kapal agar
berkumpul semua di sini untuk menunggu petunjuk
selanjutnya:"
Kepala regu itu mengiakan dan buru-buru berlalu dari
situ...
Dalam pada itu Siau cian dan Cay soat telah muncul
sambil membawa kamus peta laut yang dimaksud.
Hu yong siancu menerima kamus peta laut itu dan
bersama sama Lan See giok sekalian masuk kembali ke
http://kangzusi.com/
dalam ruangan, kemudian bersama Naga sakti pembalik
sungai sekalian mereka mulai merundingkan rencana
pengepungan.
Berdasarkan hasil penyelidikan yang pernah dilakukan
naga sakti pembalik sungai setengah tahun berselang, lalu
dicocokkan dengan kamus peta laut dan diambil
kesimpulan, mereka menarik kesimpulan bahwa Wan san
popo pasti berdiam di pulau terbesar yang berada dibagian
tengah menghadap timur laut.
Pulau ini jarang ada penghuninya, kalau toh ada mereka
adalah dayang atau murid serta cucu muridWan san popo.
Hasil kesimpulan tersebut, Hu yong siancu dan naga
sakti pembalik sungai menentukan beberapa hal yang
penting untuk disampaikan kepada para anggota
rombongan.
Setengah jam kemudian ke empat komandan kapal telah
muncul diatas perahu keraton disertai kapten kapal masingmasing.
Lan See giok segera membeberkan rencana yang telah
disusun oleh Hu yong siancu dan naga sakti pembalik
sungai itu kepada semua orang, kemudian mengatur pula
pengepungan yang khusus terhadap beberapa buah pulau
yang dianggap rawan.
Selesai pengumuman, semua orang kembali ke kapal
masing-masing untuk melaksanakan rencana, malamnya
lentera dipasang untuk memudahkan pengenalan.
Sepeninggal ke empat komandan kapal perang serta anak
buahnya, Lan See giok sekalian kembali melakukan
perundingan baru, sebab untuk menjelajahi kepulauan ini
paling tidak mereka membutuhkan waktu sampai setengah
bulan lamanya.
http://kangzusi.com/
Akhirnya ditetapkan mereka akan mencari Wan San
popo bersama sama, dengan demikian, bukan saja jumlah
anggota mereka jadi banyak, di samping itupun dapat saling
jaga menjaga dan bantu membantu.
Dan untuk menghindari pencarian yang tak beraturan
atas ketiga manusia aneh dari luar lautan, merekapun
memutuskan untuk menantang gembong iblis itu secara
terbuka, dengan demikian mereka tak usah kuatir gembonggembong
iblis tersebut melarikan diri dari situ.
Malampun semakin kelam, angin laut berhembus makin
kencang, perahu yang dimainkan ombak bergoyang tiada
hentinya kesana kemari ....
Hu yong siancu dan Lan See giok sekalian berdiri di
ujung geladak sambil memperhatikan suasana di sekitar
sana. kini ratusan kapal perang mereka telah mengepung
seluruh kepulauan Wan san, kini tinggal sebuah pulau lagi
di bagian timur sana sedang dilakukan pengepungan.
Berhubung cahaya lentera yang terang benderang di
setiap perahu, maka posisi setiap kapal perang yang me
lakukan pengepungan itu dapat terlihat dengan jelas sekali.
Kepulauan Wan san berada dalam keadaan gelap gulita,
tak nampak setitik sinar, tak nampak pula suatu gerakan,
selain suara ombak yang memecah di pantai, tak
kedengaran lagi suara yang lain.
Sementara itu kabut tebal menyelimuti angkasa, langit
tak bersinar dan tak berbintang, suara terompet dibunyikan
secara lamat-lamat dari kapal-kapal perang itu, ke
semuanya menambah seramnya suasana.
Menjelang kentongan pertama, semua kapal perang telah
mengepung pulau Wan San rapat-rapat, ke empat
http://kangzusi.com/
komandan pun sudah menaikkan lenteranya sebagai
laporan bahwa segala sesuatunya telah beres...
Lan See giok, Si Cay soat dan Siau thi gou
memperhatikan kepulauan berbentuk aneh yang berada di
kejauhan dengan perasaan yang amat gelisah, mereka tak
tahu apakah To Seng cu berada di pulau tersebut.
Begitu banyak pulau yang berada di situ, bila ingin
melakukan penggeledahan jelas tempat yang dipakai untuk
menyekap gurunya tidak mudah ditemukan.
Lan See giok yang berpendapat bahwa semua pulau telah
dikepung oleh kapal perang, mengapa mereka harus
menunggu lagi sampai hari esok...?
Tapi tiga buah pulau yang berada di bagian tengah begitu
gelap dan sepi, sedemikian sepinya sehingga mencurigakan
orang, dia tak percaya tiga manusia aneh dari luar lautan itu
tidak melihat kehadiran ratusan buah kapal perang yang
terang benderang itu.
Pertama tama Si Cay soat yang menyatakan kekuatiran
lebih dulu, ujarnya:
"Bila kita memutuskan akan menantang secara terbuka,
setiap saatkan kita bisa mendarat dan meneruskan
perjalanan sambil menyalakan obor? Aku tak kuatir pihak
lawan tak akan muncul untuk menghadang perjalanan kita,
asal ada seorang saja yang munculkan diri, aku yakin tidak
sulit untuk mengetahui bagaimana keadaan suhu
belakangan ini."
Lan See giok sendiripun sedang berpikir demikian, maka
ia segera mendukung usul tersebut.
Hu yong siancu pun merasa usul tersebut-pun masuk
diakal, maka sahutnya kemudian sambil mengangguk:
http://kangzusi.com/
"Kalau memang begitu, mari kita berangkat sekarang
juga!"
Lan See giok sudah tak mampu menahan diri lagi,
kepada dua orang pengawal di alat pemanah, ia segera
berteriak:
"Siapkan sampan cepat!"-
Begitu perintah diturunkan segera terjadi kesibukan
diatas perahu tersebut untuk menurunkan sebuah sampan.
Kemudian Lan See giok memerintahkan pula kacung
cilik untuk menyiapkan beberapa buah obor yang
diserahkan kepada Siau thi gou, kemudian menerangkan
pula berbagai tanda rahasia untuk berhubungan, dengan
kapal lain kepada Siau cian dan Cay soat. setelah itu
mereka baru turun ke sampan.
Dengan didayung oleh Siau cian serta Cay soat,
berangkatlah mereka menuju ke pulau besar yang berada di
sebelah barat.
Tapi berhubung ombak sangat besar, sampan itu tak
berani bergerak terlalu cepat, terutama sekali setelah
melewati kepungan kapal-kapal perang.
Dengan cepat mereka bergerak mendekati pulau dengan
batu karang yang terbesar di mana-mana itu.
Dalam pada itu semua orang yang berada diatas kapal
perang telah mempersiapkan diri secara ketat, semuanya
berada di depan alat pemanah otomatis sambil mengawasi
gerak gerik sekeliling tempat itu, ada pula yang
memperhatikan sekitar permukaan laut, kuatir ada anak
buah dari ke tiga manusia aneh yang menyusup datang .....
Setelah melalui batuan karang yang besar, sampan itu
mengikuti arus laut meluncur lebih ke depan.
http://kangzusi.com/
Waktu itu angin kencang dan ombak besar, arus laut
sangat deras, dalam keadaan begini sampan sukar
dikendalikan, andaikata Cay soat dan Siau cian tidak
cekatan, hampir saja sampan mereka tenggelam tersapu
ombak.
Agar ke empat komandan serta kapal-kapal perang
lainnya mengetahui posisi sampan kecil itu, naga sakti
pembalik sungai memerintahkan kepada Siau thi gou untuk
menyulut sebuah obor dan digenggam ditangan.
Tak lama kemudian mereka sudah menembusi pulaupulau
kecil berkarang dan akhirnya mendekati pulau besar
di sebelah barat, tapi suasana di atas pulau tersebut masih
tetap hening dan tak kedengaran sedikit suara pun.
Lan See giok mencoba untuk memperhatikan suasana di
pulau tersebut, ternyata pohon dan semak belukar tumbuh
amat lebat di situ, tiada suatu gerakan yang mencurigakan
di situ kecuali suara ombak dan angin yang
menggoyangkan pepohonan.
Menyaksikan hal ini Hu yong siancu segera berkerut
kening, lalu kepada naga sakti pembalik sungai tanyanya
"Lo enghiong, setengah tahun berselang apakah kaupun
melakukan pemeriksaan atas pulau ini?"
Naga sakti pembalik sungai segera mengangguk. "Ya,
sudah kuperiksa dengan seksama, beberapa li dari tempat
ini terdapat tujuh delapan buah rumah gubuk, selain itu
tidak nampak bangunan lain."
"Sudahkah Thio loko menyelidiki siapa-siapa saja yang
berdiam dirumah gubuk itu?" sela Lan See giok.
Naga sakti pembalik sungai termenung sejenak,
kemudian baru menjawab:
http://kangzusi.com/
"Menurut hasil penyelidikanku setelah melakukan
pengintaian selama lima hari, pulau ini cuma dihuni
belasan orang lelaki dan perempuan, bila dilihat dari
gerakan tubuh serta dandanan mereka, mirip sekali dengan
dayang dan kacung, tidak mirip seorang tuan rumah, sehari
harinya mereka jarang sekali masuk keluar, paling banter
mereka hanya berhenti di depan gedung paling besar yang
berada di paling belakang, atau mengirim makanan dan
minuman ...."
"Menurut pengamatan Thio loko, mungkin kah tempat
tersebut merupakan rumah kediaman Wan san popo?" sela
Si Cay soat.
Naga sakti pembalik sungai segera menggeleng.
"Mungkin bukan, sebab di pulau besar bagian tenggara
sana terdapat bangunan seperti keraton yang dihuni banyak
pelayan, bangunan perkampungan itu besarnya beberapa
kali lipat, karena itulah kusimpulkan Wan san popo
berdiam di pulau tersebut."
Lan See giok termenung dan berpikir sejenak, kemudian
katanya:
"Kalau memang begitu, lebih baik secara langsung kita
pergi ke pulau itu saja ....
Belum selesai dia berkata, dari balik pulau itu
kedengaran suara pekikan panjang yang amat nyaring
bergema memecahkan keheningan, suara itu meski cuma
lamat-lamat namun kedengarannya luar biasa ......
Lan See giok sekalian merasa amat terkejut suara
pekikan itu tinggi melengking dan tidak seperti jagoan biasa
didengar dari nada suaranya, orang yang memperdengarkan
suara pekikan tersebut tentulah seorang perempuan,
http://kangzusi.com/
Sambil mengangkat obornya tinggi-tinggi Siau thi you
segera berseru dengan gembira:
"MungkinWan san popo telah datang."
Si Cay soat sudah pernah mendengar suara pekikan
nyaring dari Lam hay lo koay, dia merasa orang itu meski
memiliki tenaga dalam yang sempurna, namun bila
dibandingkan Lam hay lo koay masih selisih jauh sekali.
Wan san popo dan Lam hay lo koay sama-sama
merupakan pentolan iblis yang berilmu tinggi, sudah barang
tentu selisih tenaga dalam yang mereka miliki tak akan
terlalu jauh, maka ujarnya kemudian:
"Si nenek siluman itu berdiam di pulau besar, mana
mungkin bisa dia ....."
"Kalau begitu bisa jadi dia adalah tamu yang mau datang
minum arak." seru Siau thi gou sambil melototkan sepasang
matanya bulat-bulat.
Sebelum ucapan itu selesai diutarakan, Si Cay soat telah
menukas agak gemas.
"Aaah, kau ini cuma tahunya makan melulu..."
Siau thi gou jadi tertegun dan seketika tak berani
berbicara lagi, sementara suara-suara pekikan panjang tadi
makin lama semakin bertambah dekat.
Dengan kening berkerut Lan See giok segera berseru
dengan penuh amarah.
"Kalau toh pihak lawan sudah datang menyambut,
kenapa kita tidak memapakinya?"
Hu yong siancu serta Naga sakti pembalik sungai segera
manggut-manggut menyatakan persetujuannya.
http://kangzusi.com/
Siau cian dan Cay soat mulai memperlambat sampan
dan membiarkan perahu itu diombang-ambingkan oleh
ombak laut, pelan-pelan mereka mendekati sebaris
pepohonan yang besar di tepi pantai.
Gerakan tubuh orang itu benar-benar amat cepat dalam
waktu singkat suara pekikan sudah memekikkan telinga,
mungkin jaraknya tinggal ratusan kaki saja.
Lan See giok kuatir orang itu menempati posisi yang
menguntungkan lebih dahulu, bila hal ini sampai terjadi,
maka keinginannya untuk mencapai pantai pasti akan sulit.
Karenanya sewaktu sampan masih berapa kaki dari
pantai. dia melejit ke udara dan meluncur ke depan.
Berada ditengah udara dia merentangkan lengannya
seperti seekor rajawali kemudian meluncur kearah pulau
tersebut dengan kecepatan luar biasa.
Ketika mencapai tengah jalan sepasang ujung bajunya
dikibaskan ke depan lalu tubuhnya turun dan melejit
kembali tahu-tahu dia sudah mencapai batuan cadas
diantara pepohonan di sisi pantai..
Gerakan tubuh si pendatang tersebut memang benarbenar
amat cepat, disaat tubuh Lan See giok melayang
turun ke atas tanah itulah, dia menangkap ditengah pekikan
nyaring membawa pula suara ujung baju yang terhembus
angin.
Lan See giok amat terkejut. secepat kilat dia meluncur ke
atas permukaan bumi.
Disaat kakinya baru menginjak tanah itulah, suara
pekikan telah berhenti dan orang itu sudah meluncur tiba
sambil membentak keras
http://kangzusi.com/
"Kawanan cecunguk dari mana yang datang kemari,
berani amat memasuki pulau dewa Wan san semaunya
sendiri!"
Didalam bentakan itu sebuah pukulan dilontarkan ke
depan, segulung angin serangan yang amat dahsyat seperti
amukan puyuhpun menggulung tubuh Lan See giok.
Diam-diam Lan See giok merasa keheranan, sudah jelas
suara pekikan tadi berasal dari perempuan, mengapa suara
bentakan kasar yang bergema sat ini justru suara lelaki?
Tapi, ia tak sempat untuk berpikir panjang lagi, telapak
tangan kanannya diputar dan melepaskan pula sebuah
pukulan yang tak kalah cepatnya.
"Blaaaamm....!"
Ditengah benturan keras yang memekikkan telinga. batu
dan pasir beterbangan di angkasa dan menyelimuti
sekeliling tempat itu, daun dan ranting berguguran ke tanah.
Akibat dari bentrokan tersebut. si pendatang kena
tergetar sehingga mundur sejauh beberapa langkah.
Sebaliknya Lan See giok masih tetap berdiri ditempat
semula tanpa bergerak sedikit pun jua. hanya baju birunya
saja yang berkibar ketika terhembus angin,
Ketika ia mendongakkan kepalanya barulah terlihat lebih
kurang tiga kaki dihadapannya berdiri sepasang laki
perempuan setengah umur yang mengenakan pakaian
perlente dan menunjukkan wajah kaget bercampur
keheranan.
Yang lelaki berusia tiga puluh delapan sembilan tahunan,
memakai jubah berwarna hijau dengan bunga-bunga emas,
sebuah topi kecil, bermuka kurus panjang dan bibir
http://kangzusi.com/
mencibir, waktu itu mukanya bergetar keras seakan akan
dibikin tertegun oleh peristiwa tersebut.
Sedangkan yang perempuan bermata lentik, bibir tipis
dan mengenakan baju warna merah dengan gaun panjang
berwarna hijau, sebilah pedang tersoren di pinggangnya.
Biarpun "perempuan ini terhitung cantik" namun
sikapnya membuat orang tidak tahan
Dia memandang sekejap kearah Lan See giok dengan
wajah tertegun dan kaget, sementara bibir kecilnya yang
melongo lama-lama sekali belum juga dapat merapat,
Sesudah berhasil mengendalikan diri, buru-buru laki
perempuan berpakaian perlente itu memandang sekejap
wajah Hu yong siancu sekalian, kemudian lelaki berjubah
mentereng itu berkerut kening dan menegur penuh amarah:
"Kalian berasal dari perguruan mana, berani amat
memasuki pulau dewaWan san ini"
Bertemu dengan laki perempuan setengah umur itu. Siau
thi gou bagaikan berjumpa dengan musuh besarnya saja, ia
segera berteriak keras:
"Kami datang dariWi Lim poo, memangnya kenapa tak
berani kemari?"
Kejut dan girang menyelimuti wajah laki perempuan
setengah umur itu,
Nyonya muda itu memperhatikan sekejap wajah Lan See
giok sekalian, kemudian dengan gembira serunya.
"Aaaah, kalau begitu kalian masih punya hubungan
dengan enci Hoa dan engkoh Tin san? Apa hubungan
kalian?"
Lan See-giok segera tertawa dingin,
http://kangzusi.com/
"Kami memang datang dariWi lim poo, tapi sama sekali
tiada hubungan dengan Oh Tin- san."
Dengan cepat lelaki setengah umur itu dapat merasakan
bahwa kedatangan Lan See giok sekalian mempunyai
maksud dan tujuan yang kurang baik, ia segera melotot den
menegur penuh amarah.
"Kalian termasuk golongan mana? Apa maksud, kalian
kemari? Ayo cepat berterus terang, kalau tidak. hmmm,.
jangan salahkan aku si ikan hiu berekor panjang Gan Bu
liong akan bertindak kejam dan tidak berperasaan!"
Siau thi gou tertawa terbahak bahak, ejeknya sinis,
"Oooh, rupanya kau adalah se ekor panjang Gan tak
berguna..? Haaahhh... haaaahhh... haaaahhh....kalau begitu
bagus sekali .."
Perlu diketahui, nama si Hiu berekor panjang Gan Buliong,
jika diambil arti menurut kata ucapannya maka bisa
diartikan lain.
Tak heran kalau si ikan hiu berekor panjang naik darah,
sebelum Siau thi gou menyelesaikan perkataannya, ia sudah
membentak keras. .
"Bajingan cilik, mulutmu jahat......"
Didalam bentakan mana, tubuhnya menerjang ke muka,
telapak tangannya yang kurus langsung dibacokkan ke atas
tubuh siau thi gou...
Sudah sejak tadi Si Cay soat tak sabar menanti, kalau
bisa dia ingin membereskan sepasang lelaki perempuan
setengah umur ini secepatnya.
Melihat si ikan hiu berekor panjang telah menyerang
dengan tenaga penuh, dia takut Siau thi gou tak tahu lihay
dan menyambut ancaman tersebut secara gegabah.
http://kangzusi.com/
Maka sambil membentak keras dia putar pergelangan
tangannya sambil meloloskan pedang, dimana cahaya tajam
berkelebat lewat, pedangnya telah membacok pergelangan
tangan kanan lawan, Nyonya setengah umur itu bermata
cukup jeli, tiba-tiba dia meloloskan pedang sambil
membentak pula, cahaya tajam berkilauan pedangnya
langsung menusuk ke bahu Si Cay soat.
Siau cian tak mau ambil diam, sambil membentak dia
putar pergelangan tangannya sambil menerjang dan
meloloskan pedang, didalam waktu singkat pedangnya telah
menyongsong serangan pedang dari nyonya tersebut.
Ditengah bentakan yang amat nyaring, gerakan tubuh
dari ke empat orang itu dilakukan semua dengan kecepatan
bagaikan sambaran kilat, membuat siapa saja merasakan
pandangan matanya menjadi kabur....
Si ikan hiu berekor panjang segera kena di desak oleh Si
Cay soat sehingga tubuhnya mundur sejauh tiga kaki....
Sedangkan nyonya berbaju perlente itu di paksa pula
oleh tiga buah serangan berantai dari Siau cian hingga
kalang kabut tak keruan...
Begitu bentrokan lewat, masing-masing pihak serentak
menghentikan pula serangannya.
Si ikan hiu berekor panjang dan nyonya muda
berpakaian perlente itu, sama-sama dibikin tertegun, dengan
pandangan kaget bercampur tercengang mereka awasi Lan
See-giok sekalian dengan wajah termangu, mereka sadar
orang-orang yang berada dihadapannya sekarang sudah
pasti bukan seorang jago persilatan biasa .
Sementara itu Hu-yong siancu dan Naga sakti pembalik
sungai telah menduga kala si ikan hiu berekor panjang dan
http://kangzusi.com/
nyonya berbaju perlente itu tentu murid Wan-san popo,
bahkan mereka berdua pasti sepasang suami istri,
Tapi berhubung pihak lawan tidak mengenali dia dan
naga sakti pembalik sungai maka merekapun segan untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
Tapi berdasarkan bentrokan yang dilakukan si ikan hiu
berekor panjang dengan Lan See- giok. dapat diketahui
meski tenaga dalam mereka boleh dibilang terhitung jagoan
kelas satu, namun masih selisih jauh bila dibandingkan
dengan kemampuan Lan See giok.
Tiba-tiba terdengar nyonya berbaju perlente itu berseru
sambil tertawa dingin.
"Sejak aku Huan Giok lien terjun ke dunia ramai, selama
puluhan tahun belakangan ini belum pernah bertemu
dengan lawan tandingan. Hmmm....! Hari ini kau mampu
mendesakku sehingga mundur sejauh berapa langkah, ingin
kulihat sampai di manakah kelihaianmu yang
sesungguhnya!"
Sembari berkata keningnya segera berkerut dan hawa
napsu membunuh menyelinap di wajahnya, sambil
mengawasi Siau cian lekat-lekat, selangkah demi selangkah
dia maju ke depan.
Lan See giok tertawa dingin. ejeknya:
"Huuuh, dasar orang lautan yang berpengetahuan picik
dan tekebur sendiri, tentu saja kau tak akan tahu kalau di
luar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada
manusia lain."
Mendengar perkataan itu Huan Giok lien menghentikan
langkahnya sambil berpaling kearah Lan See giok, tegurnya
penuh amarah.
http://kangzusi.com/
"Kau bilang aku Huan Giok lien bukan tandingnya"
Biarpun Lan See giok kalau ilmu pedang yang dimiliki
Huan Giok lien bagus, tapi bila dibandingkan Siau cian
masih kalah setingkat, karenanya dia manggut-manggut.
"Asal kau dapat mengungguli satu atau setengah gerakan
saja dari enci Cian, kami segera akan mengundurkan diri
dari kepulauanWan San ...."
Si ikan hiu berekor panjang Gan Bu liong sangat
mengandalkan kekuatan dibelakang punggungnya, Wan
San popo adalah gurunya. karena itu dia tertawa penuh
amarah setelah mendengar ucapan tersebut, teriaknya
kemudian.
"Selama puluhan tahun ini. pulau dewa Wan san tak
pernah diintip siapa saja. tapi sekarang kalian berani
mendatangi kepulauan kami seenaknya sendiri, dosa kalian
tak bisa diampuni lagi, kamu anggap masih dapat
mengundurkan diri dari sini dalam keadaan hidup " .?"
Sambil berkata sekali lagi dia mendongakkan kepalanya
dan tertawa seram.
Siau thi gou melotot besar, tiba-tiba dia membentak.
"Kau tidak menginginkan aku hidup? ,Hmmm. kalau begitu
akan kucabut dulu jiwamu."
Ditengah bentakan keras tubuhnya menerjang ke muka,
tiba-tiba saja dia mengeluarkan ilmu Liong hou jit si-nya
yang sangat ampuh itu...
Didalam waktu singkat bayangan tangan menyelimuti
angkasa. ditengah deruan angin serangan yang dahsyat ia
desak si ikan hiu berekor panjang habis habisan.
Tampaknya si ikan hiu berekor panjang tidak menyangka
kalau serangan yang di lancarkan bocah berkulit hitam itu
http://kangzusi.com/
begitu cepat dan dahsyat, belum habis gelak tertawanya
berkumandang, selapis bayangan pukulan telah meluncur
datang dengan amat cepat sehingga pada hakekatnya tak
nampak setitik lubang kelemahan pun.
Dalam kagetnya ia membentak keras, sepasang telapak
tangannya direntangkan ke samping dengan
mempergunakan tenaga dalam sebesar sepuluh bagian. dia
berharap dengan mengandalkan tenaga dalamnya yang
sempurna berhasil mengungguli musuhnya tersebut dengan
suatu sistim pertarungan keras lawan keras.
"Blaamm, blaammm!"
Dalam dua kali benturan keras, sepasang bahu dekat
persendian tulang tangan si ikan hiu berekor panjang sudah
terkena masing-masing satu pukulan.
Ditengah dengusan tertahan, tubuhnya mundur beberapa
langkah dengan sempoyongan.
Huan Giok lien amat terkejut, sambil menjerit kaget
cepat-cepat ia menubruk ke depan, sambil memayang tubuh
si ikan hiu berekor panjang tersebut.
Nampak bahu kiri dan lengan kanan si ikan hiu berekor
panjang terkulai lemas ke bawah, wajahnya pucat pasi,
wajahnya mandi dengan keringat, tapi ia masih tetap
menggertak gigi sambil menahan rasa sakit, dipandangnya
wajah Siau thi gou dengan penuh kebencian - -
Menjumpai musuhnya masih mampu berdiri tegak tanpa
mengerang kesakitan kendatipun secara beruntun sudah
termakan empat kali pukulan. Siau thi gou segera
mengacungkan ibu jarinya sambil memuji.
"Kau si ikan hiu berekor panjang ternyata sanggup
menerima empat buah pukulan naga dan harimau ku tanpa
mengerang kesakitan, aku Thi-gou benar-benar mengagumi
http://kangzusi.com/
dirimu sebagai seorang lelaki sejati, biar kemampuanmu tak
becus tapi aku tetap kagum kepadamu ."
Ketika mendengar nama ilmu pukulan naga dan
harimau, Huan Giok-lien segera terbelalak dengan wajah
kaget, mulutnya melongo dan lama sekali tak mampu
mengucapkan sepatah katapun.
Demikian pula dengan si ikan hiu berekor panjang,
untuk beberapa saat ia berdiri tertegun dengan wajah amat
terkejut.
Hu yong siancu sekalian lantas tahu pasti ada hal-hal
yang tidak beres, tanpa terasa mereka saling bertukar
pandangan sekejap dan masing-masing berusaha untuk
mengetahui kabar berita tentang To Seng-cu.
Menyaksikan lawannya cuma berdiri membungkam
dengan wajah melongo. dengan suara dingin Siau-thi-gou
berseru kembali.
"Bagaimana? Apakah kalian merasa tidak puas?"
Setelah berhasil menenangkan pikirannya. Huan Gioklien
bertanya agak gugup.
"Kau ....adalah......murid To Seng Cu locianpwe? "
Tidak sampai Hu yong siancu menjawab. Siau thi gou
Sudah maju selangkah ke depan sambil menepuk dada,
tegurnya penuh rasa geram...
"Kenapa? Kau anggap aku tak pantas menjadi murid
guruku?"
Hu yong siancu kuatir Siau thi gou membuat gara-gara
sehingga persoalan jadi kacau, tiba-tiba serunya dengan
suara dalam.
"Anak Gou, kembali"
http://kangzusi.com/
Tentu saja Siau thi gou tidak berani membangkang
perintah bibinya sesudah melotot sekejap ke arah Huan
Giok lien, dia membalikkan badan dan segera
mengundurkan diri.
Sementara itu ketika si ikan hiu berekor panjang dan
Huan Giok lien menyaksikan perempuan yang cantik dan
anggun itu memanggil murid To seng-cu tersebut sebagai
"anak Gou". kedua orang itu semakin tertegun lagi saking
kagetnya tapi merekapun belum pernah mendengar dari
suhu merekaWan san popo bahwasanya To Sang cu masih
mempunyai seorang adik seperguruan yang cantik dan
anggun, lalu siapakah dia?
Tanpa terasa dengan sorot mata kaget bercampur
tercengang kedua orang itu mengawasi wajah Hu yong
siancu tanpa berkedip
Naga sakti pembalik sungai segera merasa bahwa
kesempatan baik tak boleh dibuang percuma, dia harus
menggertak musuhnya agar bisa diperoleh kabar yang
dibutuhkan.
Maka setelah mendehem pelan dia mengelus jenggotnya
dia berkata sambil tersenyum
"Kalau didengar dari cara pembicaraan kalian berdua,
tampaknya kalian adalah murid-murid popo. sekarang
baiklah kuperkenalkan dulu beberapa orang ini kepada
kalian.”
Si ikan hiu berekor panjang Gan Bu liong amat
membenci Lan See giok sekalian akibat luka yang
dideritanya, sebelum si naga sakti pembalik sungai
menyelesaikan kata-katanya. sambil menahan rasa sakit
yang luar biasa ia lantas berteriak,
"Kau ini manusia apa? Siapa suruh kau banyak mulut?"
http://kangzusi.com/
Lan See giok jadi gusar sekali, tiba-tiba dia mengayunkan
tangannya siap melancarkan sebuah sentilan ke depan ...
Hu yong siancu kuatir urusan jadi terbengkalai, buruburu
cegahnya dengan suara dalam.
"Anak Giok, tahan"
Lan See giok melotot ke arah si ikan hiu berekor
panjang, lalu serunya gusar.
"Kau tak usah kurang ajar dan berlagak jumawa,
kukatakan kepadamu. bila ku ingin merenggut nyawamu,
maka hal ini hanya ku lakukan dengan sebuah sentilan jari
saja."
Sambil berkata dia menyentilkan jari tangan kanannya ke
arah sebatang bambu yang berada beberapa kaki dari
tempat mereka berada. .
Segulung desingan tajam meluncur ke depan membelah
angkasa dan langsung menghantam pohon bambu yang
besarnya se lengan manusia itu.
"Kraaakkkkk!"
Diiringi suara yang sangat keras, bambu itu patah
menjadi dua dan segera roboh ke atas tanah dengan
menimbulkan suara yang memekikkan telinga.
Kali ini ikan hiu berekor panjang dan Huan Giok lien
benar-benar termangu karena terkejut, ilmu sentilan jari
semacam ini hanya pernah mereka dengar dari cerita
gurunya. Wan san popo dan belum pernah disaksikan
dengan mata kepala sendiri, menurut keadaan sekarang,
pengetahuan mereka berdua memang amat cetek dan tidak
tahu kalau di luar langit masih ada langit, di atas manusia
masih ada manusia lain.
http://kangzusi.com/
Sementara itu pada jarak delapan sembilan kaki di sisi
arena telah berkumpul dua puluhan laki perempuan berbaju
indah, menurut kesimpulan dari pakaian yang mereka
kenakan, orang-orang itu, tentunya para dayang dan
pelayan si ikan hiu berekor panjang serta Huan Giok lien.
Biarpun paras orang-orang itu berubah hebat, namun tak
seorangpun diantara mereka yang menjerit kaget atau
berbisik bisik membicarakan kejadian tersebut.
Tahu kalau kebengisan dan keangkuhan si ikan hiu
berekor panjang telah memudar, naga sakti pembalik sungai
baru tertawa terbahak bahak sambil memperkenalkan diri
"Aku berdiam di telaga Phoa yang she Thio bernama
Lok heng, orang persilatan menyebut sebagai si naga sakti
pembalik sungai....”
Belum selesai mereka berkata paras muka Si ikan hiu
berekor panjang dan Huan Giok lien kembali telah berubah
hebat, kedua orang itu merasa amat keheranan, menurut
Oh Tin san, si naga sakti pembalik sungai adalah musuh
bebuyutan dari Wi Lim poo mengapa ia bisa berada satu
rombongan dengan orang-orangWi Lim poo.?
Terdengar si naga sakti pembalik sungai berkata lebih
jauh.
"Dia adalah Hu yong siancu Han Lihiap ...."
Mendengar nama tersebut, saking kagetnya hampir saja
si ikan Hiu berekor panjang lupa dengan rasa sakit di bahu
dan tulang lengannya, sekali lagi paras mukanya berubah,
dia tak mengira Hu yong siancu yang namanya termasyhur
dalam dunia persilatan sejak puluhan tahun berselang
ternyata masih tetap berwujud sebagai seorang wanita
berwajah cantik,
http://kangzusi.com/
Huan Giok lien jadi kurang percaya, mengapa tokoh dari
golongan lurus yang termasyhur namanya di dunia ini bisa
berkomplot dengan Oh Tin san?
Sementara itu naga sakti pembalik sungai masih
memperkenalkan terus.
"....sedang nona ini adalah satu satunya putri kesayangan
Han lihiap. bernama Ciu Siau cian...."
Huan Giok lien mengamati wajah Siau cian dengan
seksama, lalu berpikir.
"Tak heran kalau ilmu pedangnya begitu sempurna,
rupanya dia mempunyai seorang ibu yang nama besarnya
telah menggetarkan seluruh dunia persilatan, tentu saja
ilmu pedang putrinya tak akan sejelek ibunya ...
Sementara masih termenung, Naga sakti pembalik sungai
telah berkata lebih jauh .
"..... nona ini adalah satu satunya murid perempuan To
Seng cu locianpwe, Si Cay soat...."
Lalu sambil menuding Lan See giok katanya lagi.
"Sedang dia adalah putra tunggal si gurdi emas peluru
perak Lan tayhiap, juga merupakan pewaris ilmu silat To
Seng cu Cia locianpwe yang bernama Lan See giok.”
Untuk pertama kalinya Huan Giok lien memperhatikan
wajah Lan See giok, seketika itu juga ia terpikat oleh
ketampanan wajahnya. ia tidak percaya kalau dalam dunia
ini bisa terdapat pemuda yang begitu tampan.
Maka setelah mendengar kalau Lan See giok adalah
putra Lan Khong tay yang tersohor dimasa lalu, tanpa
terasa ia teringat kembali akan kisah romantis Lan Khong
tay denganHu yong siancu.
http://kangzusi.com/
Karenanya dia seperti memahami akan sesuatu, sorot
matanya yang tajam berulang kali dialihkan dari wajah Huyong
siancu ke wajah Lan See giok, seakan akan dia hendak
mencari persamaan dari wajah ke dua orang ini, apakah
diantara mereka berdua memang terjalin hubungan sebagai
ibu dan anak.
Hu-yong siancu sudah cukup berpengalaman dalam hal
semacam ini dia mempunyai perasaan yang tajam sekali,
terutama atas sorot mata orang lain yang aneh
Kontan saja selembar wajahnya menjadi merah padam
karena pandangan tersebut.
Naga sakti pembalik sungai segera berkerut menyaksikan
kejadian itu sehingga dia lupa untuk memperkenalkan Siau
thi gou
Padahal Siau thi gou sudah tak sabar menanti sedari tadi,
tapi ia pun merasa kurang leluasa untuk mengumbar napsu
karena itu setelah mendehem pelan katanya.
"Thio loko, masih ada aku?"
Segera si naga sakti pembalik sungai teringat akan Siau
thi gou, sambil tertawa tergelak. segera serunya.
”Saudara berdua. biar kuperkenalkan seorang lagi
kepada kalian berdua"
Sambil, menuding ke arah Siau thi gou yang telah
memasang gaya, dia berkata lebih jauh sambil tertawa.
"Dia adalah murid pertama yang diterima oleh To Seng
cu locianpwe sebelum yang lain. bila berbicara menurut
urutan perguruan, maka Lan See giok masih pantas
memanggil toa suheng kepadanya...”
http://kangzusi.com/
"Ooh, tidak-tidak, engkoh Gioklah yang pantas menjadi
toa suheng" cepat-cepat Siau thi gou membantah sambal
menggoyang kaki tangannya berulang kali.
Oleh perkataan ini, meski semua orang tak sampai
tertawa kegelian. namun suasana tegang yang semula,
mencekam arenapun menjadi jauh lebih berkurang,
Naga sakti pembalik sungai berkata kemudian lebih jauh:
"Setelah kau dengar perkenalanku ini, tentunya
kalianpun sudah dapat menduga apa maksud kedatangan
kami bukan?
Huan Giok lien segera manggut-manggut, "Yaa, menurut
perkenalan lo enghiong, tentunya kedatangan kalian untuk
menjemput To seng cu untuk diajak pulang bukan?"! Dari
ucapan "menjemput" Hu yong siancu sekalian segera
berkesimpulan bahwa To Seng cu selain berada di pulau
Wan san saat ini, keselamatan jiwanyapun tidak terancam.
Maka dengan wajah terkejut bercampur gembira ia
mengangguk berulang kali.
"Betul, kami memang datang untuk mengajak dia orang
tua pulang ke rumah."
Tanpa sangsi Huan Giok-lien segera berseru.
"Bagus sekali, mari ku ajak kalian menjumpainya"
Oleh jawaban ini, Hu yong siancu sekalian menjadi
setengah percaya setengah tidak, semuanya jadi tertegun
Tampaknya mereka tidak menyangka kalau masalahnya
dapat berubah secepat ini, karenanya mereka saling
berpandangan sekejap seakan akan tak percaya kalau
kejadian ini merupakan suatu kenyataan.
Dalam pada itu Huan Giok lien telah berbisik sesuatu
kepada si ikan hiu berekor panjang, tapi si ikan hiu berekor
http://kangzusi.com/
panjang seperti kurang setuju, sampai akhirnya Huan Giok
lien melotot dengan kening berkerut, dia baru melotot
sekejap kearah Lan See giok sekalian dengan penuh
kebencian lalu membalikkan badan dan menuju ke
rombongan pelayan.
Setelah kepergian si ikan hiu berekor panjang, Huan
Giok lien baru membalikkan badan menengok Lan See giok
sambil bertanya.
"Kalian membawa perahu?"
"Perahu kami ada didekat situ, mari ikut aku" jawab si
naga sakti pembalik sungai.
Dengan perasaan penuh pengharapan dan gembira,
berangkatlah semua orang mana ke perahu di tepi pantai..
Lan See giok juga merasa gembira, setelah semua orang
berada diatas perahu tanpa tertahankan lagi dia berpaling
kearah Huan Giok lien sambil bertanya.
"Tolong tanya kau hendak membawa kami pergi kemana
sekarang...?"
Sikap Huan Giok lien tenang tanpa sikap permusuhan,
sebelum pemuda itu menyelesaikan katanya ia telah
menukas.
"Aku she Huan bernama Giok lien, Huan adalah nama
marga dari Huan li hoo yang tersohor dimana-mana,
sedang Giok berarti kemala."
Lan See giok cukup mengetahui maksud hatinya tanpa
terasa dengan wajah memerah, buru-buru dia minta maaf.
"Maaf Huan lihiap, tolong tanya..."
Kembali Huan Giok Lien menggoyangkan tangannya
sambil tertawa. "Sebutan Huan lihiap tidak berani kuterima,
sebab dewasa ini orang yang pantas disebut sebagai seorang
http://kangzusi.com/
"lihiap" didalam dunia persilatan cuma Han locianpwe
seorang. yang lain sama sekali tak berhak mendapatkan
predikat tersebut.”
Hu yong siancu adalah orang yang pandai,
memanfaatkan itu ia segera menyela sambil tersenyum,
"Aaah, mana, mana, nona Lien kelewat memuji!"
Panggilan "nona Lien" tersebut seketika membuat wajah
Huan Giok lien jadi merah dadu dan berseri seri, dia benarbenar
merasakan kegembiraan yang tak terkirakan.
Siau cian dan Cay soat yang memegang dayung, kontan
saja saling berpandangan sambil mencibirkan bibir setelah
melihat wajah Huan Giok lien yang berseri itu .
Tapi. oleh karena Hu yong siancu yang menggunakan
sebutan tersebut. maka tak ada yang berani mengejek atau
menggoda, apa lagi pihak lawan toh sebagai penunjuk jalan
untuk bertemu dengan To Seng-cu- ?
Memanfaatkan kesempatan dikala Huan Giok lien
sedang gembira, Hu yong siancu segera mendesak lebih
jauh.
"Nona Lien sekarang kita hendak pergi ke mana?" .
Sambil berusaha untuk mengendalikan rasa gembiranya
yang meluap, sahut Huan Giok lien.
"Boanpwe mengajak cianpwe sekalian pergi ke istana
Tiang siu kiong...."
Lan See giok ingin mengetahui kabar tentang gurunya
secepat mungkin, dengan suara datar ia segera menyela.
"Apakah guruku berada di dalam istana Tiang Siu
kiong?"
http://kangzusi.com/
Huan giok lien menggelengkan kepalanya berulang kali,
sesudah tertawa genit sahutnya.
"Tidak. To Seng-cu locianpwe tidak berada dalam istana
Tiang siu kiong.., "
Berkilat sorot mata Lan See giok, wajahnya berubah
hebat, tanpa terasa ia menegur dengan suara dalam.
"Lantas mengapa kau ajak kami pergi ke istana Tiang siu
kiong. . ,"!"
Oleh sorot mata Lan See giok yang begitu tajam
bagaikan sembilu ini, Huan Giok lim jadi terperanjat
sampai tubuhnya menggigil, untuk beberapa saat dia tak
tahu bagaimana mesti menjawab pertanyaan tersebut,
Hu yong siancu yang menjumpai paras muka Cay soat
serta Siau thi gou turut berubah semua, dia kuatir tindakan
mereka yang gegabah akan mempengaruhi situasi yang
sedang mereka hadapi, maka, cepat-cepat ia menyela sambil
tertawa,
"Nona Lien, tahukah kau To Seng-cu locianpwe berada
dimana sekarang?"
"Boanpwe tidak tahu." agak gugup Huan Giok lien
menggelengkan kepalanya.
Lan See giok merasa sangat kecewa, kekecewaan itu
segera berubah menjadi kobaran hawa amarah. tanpa terasa
bentaknya.
”Lalu siapa yang tahu..".
Bentakannya yang menggeledek ini segera menggetarkan
perasaan Huan Giok lien sehingga wajahnya berubah
menjadi pucat pasi, telinganya mendengung keras dan
sekali lagi dibikin terperanjat.
http://kangzusi.com/
Hu Yong siancu cukup memahami perasaan gelisah yang
mencekam Lan See-giok saat ini. dia tidak menegurnya,
tapi kepada Huan Giok-lien berkata dengan suara datar,
"Tahukah nona Lien. siapa yang mengetahui jejak Cia
locianpwe berada dimana sekarang?"
Tampaknya Huan Giok lien mulai menyesal karena
tidak menurut peringatan dari ikan hiu berekor panjang
dengan menghantar sendiri rombongan tersebut menuju
istana Tiang-siu kiong, kini dia berdiri di ujung sampan
dengan posisi terjepit, mau mencoba kabur lewat air pun
sudah tak mungkin lagi sekarang.
Karena itu dengan alis mata berkernyit dia menengok
kearah Hu yong siancu, kemudian menjawab.
"Kabar berita To Seng cu locianpwe yang sebenarnya
hanya diketahui oleh guruku beserta Cinjin dan Koay kiat."
Dengan lembut Hu yong siancu manggut-manggut. lalu
bertanya lebih jauh.
"Apakah gurumu berada dalam istana Tiang siu kiong..."
Sekali lagi Huan Giok lien manggut-manggut.
"Benar dia berada di pulau besar itu"
Sambil berkata jari tangannya segera menuding kearah
pulau besar dibagian tengah.
Siau cian dan Cay soat turut mendongakkan kepalanya
memandang ke muka, pulau besar itu diliputi kegelapan,
paling dekat pun jaraknya masih berapa li, karena itu
mereka mendayung lebih kuat lagi sehingga sampan
tersebut melesat ke depan dengan kecepatan bagaikan anak
panah terlepas dari busurnya.
http://kangzusi.com/
Naga sakti pembalik sungai paling menguatirkan bila tiga
manusia aneh dari luar lautan berada di pulau tersebut. tibatiba
selanya pula.
"Apakah Si to cinjin dan Hay lam koay kiat dua orang
locianpwe sudah pulang ke rumah masing-masing."
"Belum, mereka masih berada di istana guruku"
Naga sakti pembalik sungai segera berkerut kening dan
memandang sekejap ke arah Hu yong siancu dengan gelisah
bercampur murung.
Biarpun Hu yong siancu merasa gelisah didalam hati,
namun di luar wajahnya
Masih tetap bersikap tenang, kembali dia tersenyum
seraya bertanya:
"Nona Lien, pernahkah kau bertemu muka dengan To
Seng-cu locianpwe ...."
Kembali Huan Giok lien menggeleng:
"Oleh karena boanpwe berdiam di pulau lain, sebelum
mendapat perintah suhu, boanpwe tak berani mendatangi,
istana Thian siu kiong dengan sembarangan, itulah
sebabnya belum pernah bersua dengan To Seng-cu
locianpwe."
"Kali ini kau mengajak kami ke situ, apakah popo tak
akan memarahimu?" sengaja Hu yong siancu bertanya lagi
keheranan.
"Tidak" Huan Giok lien menjawab tanpa ragu, "satu
bulan berselang suhu telah berpesan, bila ada orang yang
datang untuk menjemput To Seng cu locianpwe, perduli
jumlahnya banyak atau sedikit, tua atau muda, segera
mereka harus diajak pergi ke istana Tiang siu kiong..."
http://kangzusi.com/
Diam-diam Hu yong siancu sekalian merasa terkejut,
mereka tidak tahu apa sebabnya Wan san popo bisa tahu
bakal ada orang yang datang menyelidiki jejak To Seng cu
locianpwe?
Sementara itu, si naga Sakti pembalik sungai telah
bertanya pula dengan pikiran murung:
"Nona Lien, bagaimana sih hasil perundingan dari To
Seng cu locianpwe dengan suhumu sekalian? Akhirnya
mereka telah menyekap To Seng cu locianpwe dimana?
Masa nona Lien sama sekali tidak tahu?"
"Boanpwe benar-benar tidak tahu" jawab Huan Giok
lien, sambil menggeleng tanpa ragu.
Berbicara sampai disini, dengan kening berkerut ia
termenung sebentar, tiba-tiba tanyanya dengan nada aneh:
"Kalian benar-benar datang dariWi lim poo?"
Hu Yong siancu dan Lan See giok sekalian mengangguk
bersama sama.
Dengan wajah tidak mengerti Huan Giok lien segera
berseru:
"Oh Tin San toako dan enci Ci hoa merupakan orang
yang turut berunding disini, mereka semua tahu tentang
tempat yang dipakai untuk menyekap To Seng cu
locianpwe, sewaktu kemari apakah kalian tidak bertanya
kepada mereka?"
Mendengar ucapan mana, Hu yong siancu dan Lan See
giok merasa mendongkol campur menyesal, sewaktu bersua
dengan Oh Tin san suami istri tempo hari, mereka hanya
tahu membalas dendam dan lupa menanyakan keadaan di
luar lautan, setelah di singgung kembali oleh.... Huan Giok
sekarang, mereka baru merasa menyesal kali...
http://kangzusi.com/
Tapi persoalan apakah yang direncanakan dan
dirundingkan Oh Tin San suami istri beberapa orang itu
merasa persoalan ini perlu diketahui dengan secepatnya.
Maka Hu yong siancu segera, bertanya:
"Nona Lien, tahukah kau persoalan yang dibicarakan Oh
pocu suami istri ?"
"Sayang boanpwe tidak ikut hadir dalam perundingan
tersebut, sehingga tidak tahu persoalan apakah yang sedang
mereka bicarakan..” sahut Huan Giok lien dengan nada
permintaan maaf.
Tapi ketika berbicara sampai di situ, seperti teringat akan
sesuatu, dengan gembira terusnya lagi:
"Aaaah, boanpwe dapat mengingat kembali sekarang,
siau sumoayku Gi Hui hong mengetahui kejadian ini
dengan amat jelas, sebab sewaktu perundingan
dilangsungkan dia melayani suhu di samping suhu pun
paling suka dengannya."
Mendengar jawaban ini semua orang kembali merasa
kecewa dan gelisah, karena siau sumoay Gi Hui hong yang
dimaksud Huan Giok lien, biar pun sepanjang hari
mendampingi Wan san popo, sudah pasti mereka tak
mungkin pergi menjumpainya lebih dulu dan minta
kepadanya untuk memberitahukan tempat penyekapan
terhadap To Seng cu kepada mereka semua.
Melihat paras muka Hu yong siancu dan Lan See giok
semua menunjukkan wajah murung dan kesal, seperti
hatinya diliputi kekuatiran, cepat-cepat Huan Giok lien
menghibur:
"Biarpun demikian... menurut boanpwe yang mendapat
kabar dari sumber berita yang dapat dipercaya, To Seng-cu
locianpwe bukan disekap oleh suhu di suatu tempat,
http://kangzusi.com/
melainkan Cia locianpwe sendirilah yang bersedia tinggal di
suatu tempat untuk mengasingkan diri."
Lan See giok kembali menghela napas dan gelisah,
dengan cepat dia menyela:
"Dimanakah tempat untuk mengasingkan diri itu?"
Setelah ditegur oleh Lan See giok tadi, sampai sekarang
Huan Giok lien masih mendongkol, melihat ada
kesempatan untuk membalas, cepat dia menarik muka
sambil menegur: "Kau ini memang kebangetan sekali.
bukankah sudah ku bilang aku tidak tahu, kalau tahu
mengapa tidak kuberitahukan kepadamu?".
Sewaktu mengucapkan perkataan tersebut pada
mukanya, dia memang menarik muka, tapi makin lama
wajahnya semakin cerah dan akhirnya dia tak bisa menahan
diri lagi untuk tertawa cekikikan, Sebenarnya Lan See giok
hendak mengumbar hawa amarah nya, tapi setelah
menjumpai nona itu tertawa, dia malah merasa rikuh
dengan sendirinya.
Selama ini, Siau cian dan Cay soat sambil mendayung
perahu, mereka tak hentinya, mengawasi keadaan kedua
orang itu, sewaktu melihat sikap Huan Giok lien yang
sengaja mengambek, tanpa terasa mereka saling
berpandangan sambil tertawa lalu mencibir sinis.
Naga sakti pembalik sungai ada maksud untuk mencari
sedikit kabar dari mulut Huan Giok lien, agar Lan See giok
mempunyai persiapan sebelumnya, sambil tersenyum tibatiba
bertanya:
"Nona Lien, Si to cinjin dan Hay lam koay kiat belum
pulang juga sampai kini, apa yang telah mereka kerjakan
untuk mengisi, kekosongan selama setahun lebih ini?"
http://kangzusi.com/
Agaknya Huan Giok lien dapat menebak pula maksud
hati Naga sakti pembalik sungai, sahutnya sambil tertawa
hambar:
"Saban hari mereka tiga orang tua. selalu minum teh,
main catur dan melatih murid jika dilihat dari cara mereka
memberi petunjuk dan mendidik para suheng dalam latihan
ilmu silat, bisa jadi kesemuanya itu dipersiapkan untuk
menghadapi saudara Lan ini,"
Sambil tersenyum dia mengerling sekejap, agaknya
sedang mengerling ke arah Lan See giok dengan angkuh
pemuda itu mendengus, sekulum senyuman dingin
menghiasi wajahnya bagi pandangannya, Hay gwaa Sam
koaypun tak dipandang sebelah matapun, apalagi anak
murid mereka bertiga? .
Menjumpai sikap angkuh anak muda itu, diam-diam
Huan Giok lien merasa mendongkol., serunya kemudian
sambil tertawa dingin:
"Saudara-saudara seperguruanku yang berada di istana
Tiang siu kiong, tidak sebodoh aku Huan Giok lien, mereka
tak ada yang tidak becus macam diriku ini."
Satu ingatan segera melintas dalam benak Hu yong
siancu, sambil tersenyum ia segera bertanya:
"Nona Lien, murid siapa saja yang berada di dalam
istana Tiang siu kiong?"
Tampaknya Huan Giok lien ada maksud untuk
memanasi hati Lan See giok, dia mengerling sekejap ke
arah pemuda tersebut lalu sahutnya rada angkuh:
"Jangan dibicarakan soal saudara-saudara seperguruanku
yang lain, cukup kita ambil contoh adik seperguruanku
yang paling kecil Gi Hui hong, selain wajahnya cantik jelita
bak bidadari dari kahyangan, tubuh yang tinggi semampai,
http://kangzusi.com/
terutama sekali bila ia pergunakan ilmu pedang Peng pok
leng hiang kiamnya, belum pernah ada orang yang mampu
menandinginya, bahkan tiga jago dari Hay lam yang
menyerang bersama dan empat jago dari pulau Si to yang
maju berbareng, tiada seorangpun berhasil meraih
kemenangan..."
Lan See giok yang mendengar hal ini segera berkerut
kening, kemudian tertawa hambar.
Melihat Lan See giok tidak terpengaruh oleh kata
katanya, Huan Giok lien kembali berteriak dengan
mendongkol:
"Kukatakan kepadamu, kau bukan tandingannya, kau
tak akan mengunggulinya, sekali pun kau sanggup
mengalahkan dia, belum tentu dia akan menurut
kemauanmu!"
Lan See giok, Siau cian dan Cay soat yang
mendengarkan ucapan tersebut segera saling berpandangan
sekejap kemudian sambil tertawa geli menggelengkan
kepala kepalanya berulang kali, dalam hati mereka seakan
akan sedang mengejek:
"Huuuh, siapa suruh kau mengatakan begini?
Memangnya aku bakal tertarik?"
Baru saja Huan Giok lien hendak berkat lebih jauh,
sampan sudah merapat di pantai.
Semua orang lantas turun dari perahu dan mengikuti
dibelakang Huan Giok lien menuju ke tengah pulau.
Sepanjang jalan mereka lalui batuan karang yang
berbentuk aneh dengan aneka pohon dan rumput setinggi
lutut, angin gunung yang berhembus lewat dan
menggoyangkan dedaunan, membuat suasana terasa terang
dan menyeramkan.
http://kangzusi.com/
Tanpa terasa mereka jadi teringat sebutan si ikan hiu
berekor panjang atas pulauWan san yang dikatakan sebagai
pulau dewata mau tertawa rasanya karena geli.
Sementara itu Siau thi gou yang melihat keadaan pulau
tersebut segera bertanya dengan gelisah:
"Hei, jarak sampai di istana Tiang siu kiong masih
berapa jauh?"
Huan Giok lien tahu kalau Siau thi go sedang bertanya
kepadanya maka jawabnya hambar.
"Jaraknya masih ada tujuh delapan lebih.."
"Kalau begitu. mengapa kita tidak menempuh perjalanan
lebih cepat lagi?" seru Siau thi gou lagi.
Maka semua orang mengerahkan ilmu meringankan
tubuh masing-masing dan meluncur ke tengah pulau.
Hu yong siancu dan naga sakti pembalik sungai mesti
tahu kalau Lan See giok sekalian tidak memandang sebelah
matapun terhadap ke tiga manusia aneh dari luar lautan itu
namun dia tahu, hal ini tak lebih cuma sikap "anak harimau
yang tidak takut persoalan apapun."
Sebaliknya dia dan naga sakti pembalik sungai yang
sudah berpengalaman luas didalam dunia persilatan cukup
tahu akan kelihaian musuh, karena itu semakin mendekati
tujuan perasaan mereka semakin bertambah gelisah.
Dalam perjalanan yang begitu cepat, tiada hentinya
mereka berdua mengawasi beberapa orang bocah muda itu,
mereka tidak tahu apakah nasib baik atau buruk yang akan
menimpa mereka setibanya di istana Tiang siu kiong nanti?
Setelah menembusi hutan yang lebat dan melewati
sebuah tebing yang tinggi, beratus-ratus kaki di depan
mereka muncul sebuah bayangan hitam yang luas, hanya
http://kangzusi.com/
karena jaraknya terlalu jauh, semua orang tak dapat melihat
dengan jelas..
Tiba-tiba Huan Giok lien berseru tertahan dan segera
menghentikan tubuhnya dengan cepat.
Dengan perasaan tidak mengerti semua orang turut
menghentikan. langkahnya dan menengok kearah Huan
Giok lien dengan pandangan kaget bercampur tercengang.
Hu yong siancu tahu kalau ada hal-hal yang tidak beres,
segera bisiknya lirih:
"Nona Lien, adakah sesuatu yang tidak beres?"
Dengan pandangan ragu dia menuding arah gerombolan
hitam di kejauhan sana, lalu berkata:- "Disitulah letak
istana Tiang siu kiong, biasanya tempat itu terang
benderang bermandikan cahaya, tapi aneh benar malam ini
mengapa tak nampak cahaya lampu dan dicekam
kegelapan?"
Dengan kening berkerut Lan See giok mengerahkan
tenaga dalamnya untuk memandang ke depan, lalu sambil
mendengus dingin serunya dengan gemas: "Hmm, sungguh
tak dinyana ketiga makhluk tua itu sudah lama menunggu
kedatangan kita."
Sekali lagi Hu yong siancu sekalian rasakan hatinya
bergetar dengan wajah berubah, biarpun mereka sudah
mengerahkan ketajaman matanya untuk memandang,
namun yang terlihat tak lebih cuma bayangan bangunan
yang lamat-lamat, Diam-diam Huan Giok lien merasa
terkejut, ditatapnya Lan See giok dengan pandangan
tertegun, dia tak percaya kalau anak muda tersebut dapat
melihat kalau gurunya Wan San popo, Lam hay koay kiat
dan Si to Cinjin telah lama menantikan kedatangan mereka
di istana.
http://kangzusi.com/
Andaikata benar demikian, bukankah ini menunjukkan
kalau tenaga dalam yang dimiliki pemuda tampan berbaju
biru sudah mencapai tingkatan kesempurnaan yang luar
biasa?
ooo0dw0ooo
BAB 37
TAPI ingatan lain segera melintas kembali di dalam
benaknya, dari keberanian mereka mendatangi pulau Wan
san untuk menantang gurunya berduel, bila tanpa didukung
oleh kemampuan yang yakin bisa mengungguli gurunya
bertiga, mustahil mereka berani datang mencari gara-gara.
Berpikir sampai di sini, pandangan memandang rendah
pada musuh yang semula mencekam pikiran dan
perasaannya, seketika tersapu lenyap hingga tak berbekas.
Mendadak terdengar Siau thi gou berteriak keras dengan
penuh amarah.
"Kalau memang ketiga makhluk tua itu sudah menunggu
kematian di situ, mengapa kita tidak segera berangkat ke
depan?"
Suasana malam semakin kelam, keheningan mencekam
seluruh jagad, ditambah pula teriakan Siau thi gou penuh
mengandung hawa murni yang kuat, teriakan tersebut
kontan saja terbawa sampai sejauh beberapa li dan
terdengar jelas oleh ketiga manusia aneh di luar lautan yang
cuma berdiri kurang lebih seratus kaki di depan situ.
Maka dengan suara dalam Hu yong siancu segera
menegur:
"Thi gou, jangan berbicara yang bukan-bukan...."
http://kangzusi.com/
Belum habis dia berkata, dari kejauhan sana telah
berkumandang datang suara tertawa dingin yang
menggidikkan hati, membuat siapapun yang mendengar
suara itu segera bergidik dan berdiri semua bulu kuduknya.
Diam-diam semua orang merasa terkejut dan serentak
mengalihkan pandangan matanya ke depan, menurut berita
yang tersiar dalam dunia persilatan, konon ilmu silat yang
dimiliki tiga manusia aneh di luar lautan sangat hebat, dari
gelak tertawa yang menyeramkan barusan terbukti sudah
bahwa ucapan itu memang bukan kosong belaka.
Mendadak tampak Lan See giok berkerut kening, sambil
melotot dengan sinar mata tajam, kemudian dia
mendongakkan kepala dan tertawa terbahak bahak.
Suara tertawanya seperti suara genta yang berdentang
memecahkan keheningan, suara nya menggaung sampai
bermil-mil jauhnya dan membumbung di angkasa, seketika
itu juga gelak tertawa yang mengerikan tadi terbungkam
sama sekali.
Dari beberapa orang yang berada di belakang Lan See
giok, Huan Giok lien yang pertama tama tak mampu
menahan diri, di susul kemudian oleh naga sakti pembalik
sungai, malah Hu yong siancu serta Siau thi gou pun mulai
merasakan hawa darah di dalam dadanya bergolak amat
keras.
Dengan perasaan terkejutHu yong siancu segera berseru:
"Anak Giok, cepat berhenti!"
Lan See giok yang seluruh wajahnya diliputi hawa
membunuh segera menghentikan gelak tertawanya setelah
mendengar seruan itu, tapi di dalam dadanya masih terselip
perasaan kesal dan mangkel yang tak terkirakan.
http://kangzusi.com/
"Anak Giok, kenapa kau berbuat begitu bodoh?" tegur
Hu yang siancu kemudian dengan suara berat. "musuh
tangguh sudah di depan mata, suasana amat kritis, mengapa
kau malah menghambur hamburkan tenaga dalam dengan
percuma sehingga merugikan diri sendiri?"
Sementara berbicara, sisa tertawa keras yang mengalun
di angkasa telah menyebar sampai ke tempat kejauhan,
bahkan orang-orang yang berada di ratusan buah kapal
perang di tengah lautan pun merasa terperanjat oleh gelak
tertawa tersebut.
Sekilas perasaan menyesal segera menghiasi wajah Lan
See giok yang hijau membesi, namun dari pusarnya dia
masih merasakan juga dorongan hawa murni yang begitu
kuat hendak meletus keluar.
Mendadak terdengar Siau cian berseru tertahan:
"Aaah, ketiga manusia aneh itu telah datang."
Dengan perasaan terkejut semua orang berpaling, benar
juga dari balik kegelapan lebih kurang puluhan kaki di
depan sana, nampak tiga sosok bayangan manusia dengan
memancarkan enam buah mata yang bersinar tajam,
bagaikan tiga ekor kelelawar raksasa meluncur datang
dengan segera.
Dibelakang ketiga sosok bayangan manusia itu, pada
jarak dua tiga puluh kaki menyusul pula sejumlah bayangan
manusia yang ber-gerak datang dengan kecepatan tinggi
Lan See giok yang bermata tajam, dalam sekilas
pandangan saja dapat melihat bahwa orang yang berada
dipaling depan adalah Wan san popo.
Wan san pogo berwajah merah cerah dengan rambut
berwarna perak, sepasang matanya memancarkan sinar
tajam yang menggidikkan, dia memakai baju yang lebar
http://kangzusi.com/
dengan membawa sebuah tongkat besi, sebesar lengan
bocah yang beratnya paling tidak satu dua ratus kati. Saat
itu Wajahnya penuh diliputi perasaan terkejut, kaget, seram
dan gusar ....Orang yang di sebelah kiri adalah Sito Cinjin
yang berperawakan kurus kering.
Sito Cinjin mengenakan kopiah pendeta yang disertai
jubah pat kwa yang lebar, sepasang pedang tersoren di
punggung, pada bagian dagunya dihiasi jenggot kambing
yang telah memutih, sorot matanya yang tajam tak
ubahnya, seperti dua bilah pedang tajam.
Sebaliknya orang yang berada di sebelah kanan adalah
Lam hay koay kiat, manusia yang pernah mendatangi
puncak Giok li hong dibukit Hoa san tempo hari untuk
mengundang kedatangan To Seng cu ke pulau Wan San.
Lam hay lo cay mempunyai alis mata yang tebal dengan
wajah persegi lebar, dalam kejut dan gusarnya dia nampak
menyeramkan sekali .....
Tapi setelah mengetahui dengan pasti wajah beberapa
orang itu, sepasang matanya yang tajam segera dialihkan ke
wajah Siau thi gou, Cay soat dan See giok secara
bergantian. Sedang Lan See giok mengawasi lawannya, tiga
manusia aneh dari luar lautan itu sudah menghentikan
gerakan tubuh mereka lima kaki dihadapan semua orang,
sambil tertawa seram mereka awasi musuh-musuhnya tanpa
berkedip, sikapnya angkuh dan amat juma-wa.
Huan Giok lien yang bertemu dengan Wan San popo
segera berseru lirih: "Suhu.,."
Ia menubruk ke depan, pertama tama berlutut lebih dulu
untuk memberi hormat padaWan san popo, kemudian baru
memberi hormat pula kepada Lo koay dan Cinjin.Wan San
popo sama sekali tidak memandang sekejappun kearah
http://kangzusi.com/
Huan Giok lien, mengebaskan ujung bajunya dia berseru
dengan gusar: "Berdiri dibelakang sana !"
Sesudah memberi hormat buru-buru Giok lien berseru:
"Suhu, pemuda berbaju biru dan gadis berbaju merah dan
bocah bermata besar berkulit hitam itulah murid-murid To
Seng-cu locianpwe.."
"Aku sudah tahu". tukas Wan san popo kurang sabar,
"lam hay susiokmu telah mengatakan kepadaku."
Tampaknya Huan Giok lien sempat dibuat kalut pikiran
dan perasaannya oleh tertawa Lan See giok yang amat keras
dengan suara gemetar kembali dia berkata:
"Suhu, dia ......"
Belum sampai Huan Giok lien menyelesaikan kata
katanya, Wan San popo sudah melotot besar sambil
membentak.
"Enyah kau dari situ; cerewet amat kau!"
"Tidak suhu ...." kembali Huan Giok lien berseru
gemetar, "mereka datang dari telaga Phoa yang...."
Mendengar ucapan mana, Wan san popo beserta Lam
hay lo koay dan Si to cinjin segera mengalihkan sorot
matanya dan memandang sekejap ke arah lautan di
sekeliling situ.
Dalam pada itu, rombongan manusia yang mengikuti di
belakang ketiga manusia aneh itu sudah berdatangan semua
dan berdiri lima kaki di belakang ketiga orang tersebut
dengan sorot mata yang tajam mereka mengawasi Hu yong
siancu sekalian tanpa ber-kedip.
Biarpun Lan See giok merasa amat gusar dan kalau bisa
ingin segera mengajukan pertanyaan kepada mereka bertiga
agar di tunjukkan tempat untuk menyekap gurunya tapi
http://kangzusi.com/
dengan kehadiran Hu yong siancu di situ, mau tak mau dia
mesti menahan diri untuk menantikan tindakan yang
diambil bibinya.
Ditatapnya pula kawanan manusia yang berdiri
dibelakang ketiga manusia aneh tersebut, diantara mereka
terdapat perempuan tua dan muda, tampaknya mereka
tidak mirip kawanan jago biasa.
Yang terutama menarik perhatiannya adalah munculnya
seorang bocah perempuan berbaju hijau yang menggembol
pedang dari rombongan orang-orang tersebut dan
mendekatiWan san popo.
Gadis itu memakai baju hijau, berambut panjang, mata
besar. alis mata melentik, bibirnya merah dan berusia antara
sebelas dua belas tahun, ia nampak masih amat binal.
Berjumpa dengan gadis cilik itu, Lan giok teringat pula
dengan cerita Huan Giok lien tentang adik seperguruannya
yang kecil Gi Hui hong, siapa yang bisa mengunggulinya,
maka diapun akan menuruti perkataan orang itu.
Sementara dia masih berdiri termangu, terdengar Huan
Giok lien telah melapor maksud kedatangan Hu yong
siancu sekalian kepada gurunya, paras muka ke tiga
manusia aneh itu segera semakin berubah, makin berubah
semakin tak sedap dipandang.
Gadis cilik berbaju hijau itu maju ke depan tiba-tiba dan
mengawasi Cay soat dan Siau cian dengan sepasang mata
yang bersinar.
Tiba-tiba dihampirinya Wan san popo kemudian sambil
menuding kearah Cay soat dan Siau cian dia berseru polos:
"Suhu, anak Hong ingin bertanding ilmu pedang dengan
kedua orang cici itu"
http://kangzusi.com/
Agaknya pikiran dan perasaan Wan san popo waktu itu
amat buruk, dia segera melotot besar sambil membentak:
"Minggir jauh-jauh dari sini!"
Ditegur begitu kasar oleh gurunya. gadis berbaju hijau itu
kelihatan tertegun, kemudian matanya menjadi merah,
sedang kawanan laki perempuan yang ada beberapa kaki di
belakang situ menjadi ketakutan sampai wajah mereka
berubah menjadi pucat pias, mereka yang berniat hendak
memperlihatkan kebolehannya juga segera mengurungkan
niatnya.
Hu yong siancu berdiri dengan wajah serius, sewaktu
menjumpai sikap buas, garang dari ketiga manusia aneh
tadi, kening-nya telah berkerut kencang, ia sadar suatu
pertarungan sengit tak bisa dihindari malam ini.
Tapi dia tak ingin kehilangan sopan santun nya sebelum
pertarungan di mulai, karena bagaimanapun juga, Tiga
manusia aneh dari luar lautan tetap merupakan tokoh-tokoh
tua di dalamdunia persilatan.
Sementara itu ke tiga manusia aneh sudah selesai
mendengarkan laporan Huan Giok lien, Wan san popo
yang pertama tama menengok ke arah Hu yong siancu lebih
dulu, kemudian setelah tertawa dingin serunya:
"Jadi kau adalah Hu yong siancu yang mengunggulkan
diri sebagai pendekar yang tiada tandingannya di air
maupun di daratan. “
Mendengar kata-kata yang begitu kasar, timbul perasaan
tak senang di hati kecil Hu yong siancu.
Biarpun begitu dia memberi hormat juga sambil berkata
merendah:
http://kangzusi.com/
"Ahli waris Thian san pay, Han Sin wan datang
menjumpai popo..."
Wan san popo tidak membiarkan Hu yong siancu
menyelesaikan perkataannya, dia tertawa mengejek
kemudian selanya:
"Hei budak ingusan, rupanya kau ingin menggunakan
nama Thian san pay untuk menakut nakuti aku..,?"
Mendengar sampai di sini, amarah yang dikendalikan
sejak tadi oleh Lan See giok segera meletus, dengan kening
berkerut dia siap mengumbar amarahnya.
Tapi Hu yong siancu telah tertawa hambar dan berkata
dengan suara dalam:
"Popo terlalu banyak curiga, dalam memberi hormat
kepada seorang cianpwe, sudah sepantasnya, menyebutkan
pula asal perguruannya ...." .
Wan san popo tertawa bangga, rasa mangkelnya juga
jauh berkurang, tidak sampai Hu yong siancu
menyelesaikan perkataannya, dia manggut-manggut dan
berpaling kepada naga Sakti pembalik sungai sambil
menegur:
"Apakah kau adalah si setan air tua bangkotan naga sakti
pembalik sungai yang selama ini malang melintang di telaga
Phoa yang?"
Ucapan yang kasar ini membuat amarah Naga sakti
pembalik sungai meledak pula, tapi berhubung Hu yong
siancu selalu mengalah, maka diapun tak berani
mengumbar amarahnya pula.
Dengan wajah hijau membesi ujarnya kemudian dengan
suara yang berat dan dalam
http://kangzusi.com/
"Popo, kau sudah tua kenapa mulutmu justru tak tahu
aturan. hmmm, terhadap manusia yang tak tahu diri
selamanya aku ogah menjawab"
Api kegusaran kembali membara di dalam dadaWan san
popo, mata nya segera mendelik besar dan bentaknya.
"Bajingan cilik, kau berani kurang ajar kepadaku?
Hmmm, sudah banyak tahun aku tidak melakukan
pembunuhan. hari ini kuperintahkan kepadamu untuk
menghabisi sendiri nyawamu itu. kalau tidak, jangan
salahkan kalau aku akan bertindak keji selain membunuh
diri mu, semua nelayan dari kampung nelayan mu juga tak
akan kulepaskan seorangpun"
Ucapan yang kasar dan tak berperi-kemanusiaan ini
kontan saja menggusarkan Hu yong siancu sekalian, tubuh
mereka sampai gemetar keras menahan emosi.
Naga Sakti pembalik sungai segera mendongakkan
kepalanya dan tertawa tergelak serunya lantang.
"Aku dengar Wan San popo adalah manusia berhati
sekeji ular berbisa, selama ini aku tidak percaya, tapi setelah
bertemu kali ini. aku baru yakin bahwa kekejaman popo
justru sepuluh kali lipat dari pada racun ular berbisa.
Hmmm, yang bakal bunuh diri hari ini bukan aku, tapi
justru kau si nenek siluman yang sudah banyak
menanggung dosa."
Saking gusarnya paras muka Wan San popo berubah
menjadi hijau membesi, sambil berpaling ke arah Huan
Giok lien, tiba-tiba ia menuding si naga sakti pembalik
sungai sambil membentak keras.
"Maju sana, dalam sepuluh gebrakan kau harus sudah
memenggal kepalanya dan menghadap ku!"
http://kangzusi.com/
Si Cay soat yang diburu napsu amarah sudah tak sabar
lagi semenjak tadi. tiba-tiba ia membentak keras sambil
menerjang ke muka. dimana pergelangan tangannya
berputar, cahaya tajam secepat sambaran kilat telah
memancar di angkasa.
Ketika Si to cinjin yang berdiri tenang di sisi arena
melihat Si Cay soat meloloskan pedang Jit hoa kiamnya,
berkilat sepasang mata orang tersebut, sekilas perasaan iri
dan rakus segera menghiasi wajahnya yang kurus kering.
Si Cay soat berdiri ditengah arena, kemudian sambil
menuding ke arahWan san popo ejeknya sinis.
"Sudahlah, kau tak usah menyuruh muridmu yang turun
ke arena, lebih baik kau munculkan sendiri saja,"
Wan san popo amat gusar. dengan mata melotot, besar
bentaknya keras-keras.
"Perempuan rendah, kau anggap aku tak berani
melakukan pembunuhan atas dirimu?
Dengan cepat dia merentangkan tongkat bajanya
ditengah dada ....
Siau cian kuatir Cay soat tak mampu menandingi
musuhnya yang tangguh itu, sambil membentak keras dia
melompat pula ke arena sambil berseru.
"Adik Soat, nanti dulu, biar cici yang mencoba untuk
bertarung melawan si nenek siluman ini lebih dahulu."
Sambil berkata dia melayang turun di samping Si Cay
soat dan memutar pergelangan tangannya, cahaya emas
berkilauan, pedang Gwat hoa kiam telah diloloskan dari
sarung.
http://kangzusi.com/
Sekali lagi Si to cinjin dibuat silau oleh ketajaman
pedang Gwat hoa kiam ditangan Siau cian, sekali lagi ia
tertegun, tapi sifat rakusnya semakin kentara lagi.
Melihat Siau cian, dan Cay soat, dengan ketakutan Huan
Giok lien segera berseru.
"Suhu, mereka berdua adalah murid-murid To Seng cu
locianpwe---"
Semakin terang sinar tajam yang memancar keluar dari
balik mata Si to cinjin, buru-buru dia berseru kepada Wan
San popo dengan suara dalam.
"Lo toaci, dulu Cia Keng sudah pernah bilang bahwa
angkatan muda yang bakal muncul disini akan mampu
melampaui kemampuan kita tiga pendekar dari luar lautan,
aku pikir mungkin bocah-bocah busuk inilah yang
dimaksudkan, coba lihat, mereka cuma budak busuk dan
bocah ingusan belaka .... !!
Sambil berkata dia berpaling pula memandang sekejap
kearah Lam hay lokoay yang tampaknya masih termenung.
Si Cay soat serta Siau cian memang berniat untuk
menjajal kemampuan dari tiga manusia aneh tersebut.
sambil menuding ke arah Si to cinjin, kedua gadis itu segera
membentak.
*Hmmm, apa itu budak ingusan bocah busuk? Jika kau si
tosu siluman merasa tidak puas, ayo silahkan maju dan
bertarung dengan nonamu berdua-.."
Mendengar tantangan yang persis seperti yang
dikehendaki. Si to Cinjin segera pura-pura marah dan
mendongakkan kepalanya sambil tertawa tergelak,
Waktu itu sepasang mata Wan san popo telah berkilat
tajam dan wajahnya berubah hebat. tampaknya dia sudah
http://kangzusi.com/
melihat kalau kedatangan beberapa orang pemuda tersebut
mempunyai tujuan yang tidak menguntungkan.
Pada mulanya dia selalu menganggap janji To Seng cu
hanya bermaksud untuk mengulur waktu belaka. tapi kini
orang-orang yang dimaksudkan telah berdatangan semua,
sudah barang tentu kepandaiannya mereka pasti luar biasa
sekali.
Terutama sekali kawanan budak dan bocah ingusan
tersebut. buka mulut mengumpatnya sebagai nenek
siluman, tutup mulut memakinya pula sebagai nenek
siluman.
Kalau dibilang mereka masih muda tak tahu urusan
malah lebih tepat, kalau di bilang mereka tak memandang
sebelah mata pun terhadap tiga manusia aneh dari luar
lautan,
Berpendapat demikian, tanpa terasa dia berpaling dan
memandang sekejap kearah Lam hay lo koay yang berdiri
dengan wajah sedih dan murung.
Sikap rekannya yang sangat aneh tersebut dengan cepat
makin mempertebal keyakinannya bahwa apa yang diduga
memang benar
Sementara itu Siau cian dan Cay soat yang berdiri
ditengah arena dengan pedang terhunus telah membentak
lagi keras-keras.
"Tosu siluman, tutup mulutmu yang bau itu, kalau
dibandingkan dengan adik Giok ku. tenaga dalam yang kau
miliki itu masih ketinggalan jauh sekali. “
Mendadak Si to cinjin menghentikan gelak tertawanya,
dengan sepasang mata yang melotot besar seperti lampu
lentera kecil dia tertawa seram dan menatap Cay soat dan
http://kangzusi.com/
Siau cian tanpa berkedip, agaknya dia sudah benar-benar
marah.
Karena urusan sudah berkembang menjadi begini rupa
Hu yong siancu serta naga sakti pembalik sungai segera
menarik kembali sikap merendah mereka, mereka tak mau
memperdulikan soal sopan santun lagi sehingga
meruntuhkan semangat Lan See giok sekalian, lebih baik
biarkan saja mereka memperlihatkan kebolehan ilmu silat
yang dimilikinya.
Dalam pada itu Si to cinjin memandang sekejap ke arah
Cay soat dan Siau cian dengan wajib menyeringai seram.
sepasang pergelangan tangannya segera diputar dan ia
segera meloloskan sepasang pedangnya yang tersoren di
punggung dan berseru dengan suara menyeramkan.
"Sepasang pedang toya mu ini sudah puluhan tahun
lamanya tak pernah diberi darah, baiklah, biar malam ini
dia mencicipi darah kalian yang segar itu ...."
Dengan menyilangkan sepasang pedangnya di depan
dada dengan ujung pedang menghadap ke bawah, pelanpelan
dia melangkah masuk ke dalam arena,
Hu yong Siancu serta naga sakti pembalik sungai merasa
kuatir dan cemas kembali setelah melihat Si to cinjin
hendak turun tangan, bagaimanapun juga pihak lawan
merupakan seorang gembong iblis yang termasyhur di luar
lautan.
Yang membuat kedua orang itu gelisah ucapan orangorang
persilatan yang mengatakan tentang kehebatan ilmu
silat ke tiga manusia aneh itu, namun tiada yang tahu
sampai dimanakah kehebatan mereka yang sebenarnya.
http://kangzusi.com/
Terutama sekali Si to cinjin yang termasyhur karena ilmu
pedangnya, tapi angkatan belakangan tak ada yang tahu
berasal dari aliran manakah ilmu pedangnya tersebut.
Dalam pada itu kawanan manusia yang berdiri
dibelakang ketiga manusia aneh itu sudah berdiri tenang
dan memusatkan pikirannya mengawasi arena, kejut dan
girang menghiasi wajah orang-orang tersebut.
Yang membuat mereka terkejut adalah keberanian kedua
orang gadis cantik yang belum berusia dua puluhan tahun
itu untuk menantang Si to cinjin bertarung.
Yang membuat mereka gembira adalah semenjak
menjadi murid ke tiga manusia aneh itu, belum pernah
mereka jumpai ketiga gembong iblis tersebut
mendemonstrasikan kehebatannya, malam ini mereka telah
mendapatkan kesempatan untuk memenuhi keinginan
tersebut. tentu saja setiap orang merasa gembira.
Naga sakti pembalik sungai memandang ke arah Si to
cinjin yang berwajah menyeramkan itu dengan wajah
gelisah bercampur cemas, terutama sekali tiap langkah kaki
tosu tersebut selalu menimbulkan suara gemerisik yang
meninggalkan bekas kaki sedalam berapa inci, dari sini
dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimilikinya
sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.
Tapi Lam See giok yang berdiri di samping Hu yong
siancu justru menganggap Si to cin-jin ada maksud hendak
memamerkan tenaga dalamnya. dia merasa hal semacam
ini tak ada harganya untuk diperlihatkan terus.
Sebaliknya Si Cay soat dan Siau cian yang melihat
keadaan ini diam-diam merasa terkejut, biar begitu
senyuman dingin yang sinis masih tetap menghiasi bibir
mereka.
http://kangzusi.com/
Naga sakti pembalik sungai benar-benar merasa sangat
gelisah, sampai sekarang dia masih belum mengetahui
dengan jelas sampai dimanakah taraf ilmu pedang yang
dimiliki ke dua orang nona yang berdiri angkuh di tengah
arena tersebut.
Mendadak berkilat sepasang mata Hu yong siancu, dia
seperti teringat akan sesuatu, dengan wajah serius katanya
tiba-tiba.
"Anak Cian, kalian menghadapi cinjin nanti, jangan
sekali kali kalian celakai jiwanya.."
Si to cinjin teramat gusar setelah mendengar perkataan
itu. sebelum Hu yong siancu menyelesaikan perkataannya,
dan di saat pikiran Cay soat serta Siau cian masih
bercabang. dia telah membentak dengan suara keras.
"Betul-betul bikin hatiku marah sekali...."
Tubuhnya bergerak ke depan, secepat kilat pedangnya
menusuk dada Siau-cian dan Cay soat.
Seruan tertahan dan jeritan kaget bergema di angkasa,
bayangan manusia berkelebat lewat. Cay soat dan Siau cian
telak memisahkan diri ke kedua belah sisi. nyaris sekali
mereka termakan oleh serangan Si to cinjin yang teramat
cepat itu.
Belum pernah kawanan lelaki perempuan yang berdiri
tak jauh dari situ menyaksikan ilmu pedang begitu cepat
dan hebat, tanpa terasa lagi mereka berteriak memuji.
Sebaliknya Hu yong siancu, Siau thi gou dan naga sakti
pembalik sungai jadi terperanjat hingga paras muka mereka
berubah hebat.
Ilmu pedang yang dimiliki Si to cinjin memang sudah
termasyhur akan keampuhannya, terbukti sekarang bahwa
http://kangzusi.com/
serangan pedangnya memang amat cepat, lagi pula
sekaligus mengancam dua sasaran yang berbeda dalam
waktu yang bersamaan.
Untuk pertama kalinya sekulum senyuman yang cerah
dan sukar dicernakan dengan kata-kata menghiasi wajah
Lan See giok yang hijau membesi lantaran marah,
sebaliknya Cay soat dan Siau cian berlagak kaget
bercampur ketakutan, kemudian tertawa nakal.
Rupanya posisi yang mereka lakukan sekarang, tak lain
merupakan posisi pembukaan dari ilmu sepasang pedang
berangkai satu.
Hanya Si to cinjin seorang yang masih berdiri tertegun
dengan wajah memerah, tapi dengan cepat ia
mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak,
suara tertawa itu penuh mengandung nada amarah, kaget,
ngeri dan malu.
Sebab didalam serangan pedangnya tadi, dia telah
pergunakan jurus. "Guntur menggelegar petir menyambar."
yang merupakan jurus tangguh hasil ciptaannya selama ini.
Wan san popo yang melihat kejadian ini serta merta
mengalihkan toya besinya dengan perasaan gelisah,
diliriknya sekejap Lam-hay-lo koay yang nampak murung
itu dengan pandangan tak tenang seolah-olah ia sedang
berkata. Tampaknya ucapan Cia Keng memang benarbenar
akan menjadi kenyataan.
Si bocah perempuan Gi Hui hong dan Huan Giok lien
yang berdiri tak jauh di sisi Wan san popo pun agaknya
dapat melihat kalau keadaan kurang beres bagi pihaknya.
cuma mereka tetap membungkamdalam seribu bahasa
Hanya kawanan laki dan perempuan yang berdiri di
belakang Wan san popo saja yang tidak mengetahui
http://kangzusi.com/
keadaan sebenarnya, sebab mereka tak melihat sikap gelisah
dan tak tenang dari ketiga manusia aneh dari luar lautan
itu.
Dalam pada itu Si to cinjin telah ber-henti tertawa,
sambil mengawasi Siau cian berdua, serunya dengan penuh
perasaan benci.
"Setahun berselang aku pernah berkata kepada Cia Keng,
bila dalam masa hidupku masih ada orang yang mampu
mengungguli satu atau setengah jurus saja dari toya, maka
pinto segera akan menggorok leher untuk bunuh diri."
Ketika mendengar perkataan itu, paras muka Wan san
popo dan Lam hay lo koay segera turut berubah pula
menjadi sangat tak sedap dipandang.
Tampaknya Siau cian dan Cay soat sudah mempunyai
kepercayaan pada kemampuan sendiri, mereka tertawa
wajar, lalu ujarnya:
"Mati atau tidak, itu urusan pribadimu sendiri, yang jelas
kami akan melaksanakan perintah untuk tidak mencabut
nyawamu itu"
Sekali lagi Si to cinjin dibuat amat gusar sampai sepasang
matanya berubah menjadi merah darah, diiringi bentakan
keras. dia melepaskan sebuah tusukan lagi ke depan....
Tapi baru saja pedangnya digerakkan. Cay soat den Siau
cian telah menggerakkan pula pedangnya bersama sama
untuk saling melancarkan tusukan secara bersilang.
Buru-buru Si to cinjin menggerbakkan pedangnya untuk
menyongsong datangnya ancaman ini, tapi pada saat itu
juga secara tiba-tiba ia merasakan hatinya tidak tenang,
hawa murninya bergolak keras dan gerakan pedangnya
menjadi lamban semua gerakan serangan yang digunakan
http://kangzusi.com/
seakan akan tak dapat dilakukan lagi sesuai dengan
kehendak hati.
Kejadian tersebut kontan saja membuat ia merasa amat
terperanjat, ditengah pertarungan dia mencoba untuk
melakukan pemeriksaan ke sekeliling situ ia segera
menemukan kalau sepasang pedang ke dua gadis itu telah
melakukan gerakan berputar bagaikan hembusan angin
yang menggencetnya dari atas dan bawah, begitu bertepatan
gerakan mereka sehingga setiap tusukan selalu tertuju ke
jalan darah penting di sekujur badannya,
Diiringi bentakan nyaring mendadak Cay soat dan Siau
cian merubah gerak serangan-nya. dalam waktu singkat
serangannya berubah menjadi segumpal cahaya tujuh
warna yang segera menyelimuti sekujur tubuh mereka
berdua,
Dibalik cahaya yang gemerlapan inilah kembali
berkumandang suara bentakan keras pada saat yang
bersamaan tiba-tiba muncul lima buah bunga pedang perak
yang menyilaukan mata.
Menyusul serentetan suara dentingan nyaring yang
memekikkan telinga. cahaya tujuh warna tadi mengembang
semakin besar dan menyebar kemana mana, setelah itu
bergema jerit kesakitan yang penuh dicekam rasa kaget dan
ngeri.
Desingan pedang berhenti secara tiba-tiba cahaya tujuh
warnapun lenyap tak berbekas sesosok bayangan manusia
meluncur turun ke bawah.
Cay soat dan Siau cian melayang mundur sejauh dua
kaki sambil menyilangkan pedangnya di depan dada.
Keadaan Si to cinjin waktu itu mengenaskan sekali,
rambutnya sudah kusut, kopiahnya putus menjadi dua
http://kangzusi.com/
jubah yang dipakai pun sudah robek sebagian sehingga
keadaannya amat mengenaskan hati.
Wajahnya yang pucat kini berubah menjadi pucat pias
seperti kertas, sorot matanya berkedip kedip, peluh sebesar
kacang kedelai membasahi jidatnya dengan pandangan
terkejut bercampur ngeri dia memandang sekejap kearah
Cay soat dan Siau cian. kemudian seperti teringat akan
sesuatu, tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya sambil
tertawa tergelak.
Suara tertawanya amat mengerikan seperti lolongan
serigala sehingga mendirikan bulu kuduk siapa saja yang
melihatnya,
Kawanan laki perempuan yang berada di belakang
barisan pun ikut tertegun dengar wajah terkesiap, sekarang
mereka baru tahu apa sebabnya ke tiga manusia aneh
tersebut tidak memerintahkan mereka untuk menyambut
musuh-musuh yang datang.
Paras mukaWan san popo turut berubah menjadi sangat
mengerikan, sepasang matanya memancarkan sinar tajam
yang meng-gidikkan hati. dalam detik-detik itulah dia
seperti sudah dicekam oleh hawa napsu membunuh yang
amat keji.
Sebaliknya Lam hay lo koay melototkan sepasang
matanya bulat-bulat, bibirnya bergerak dan giginya saling
beradu keras tampaknya diapun sedang mengambil suatu
keputusan yang amat keji,
Hu yong siancu serta naga sakti pembalik sungai juga
sudah merasakan kalau situasi telah berubah menjadi sangat
buruk dengan kekalahan yang di derita Si to cinjin.
kemungkinan besar Wan san popo serta Lam hay lokoay
sudah terdesak untuk mengumbar hawa napsu
membunuhnya.
http://kangzusi.com/
Andaikata tiga manusia aneh tersebut menerjang
bersama secara kalap, maka kemampuan yang dimiliki Cay
soat serta Siau cian hanya cukup untuk melindungi diri.
sedang Lan See giok seorang diripun masih mampu
mengungguli lawan. hanya mereka berdua serta Siau thi
gou saja yang tak memiliki keyakinan untuk berhasil.
Mendadak Si-to-cinjin menghentikan gelak tertawanya,
kemudian membentak dengan suara keras,
"Serahkan nyawamu-…"
Sepasang pedangnya dilontarkan ke depan segulung
desingan angin serangan disertai kilatan cahaya tajam,
secara bersama sama meluncur ke depan dan menyambar
tubuh Cay Soat serta Siau cian.
Berhubung peristiwa itu dilakukan secara tiba-tiba lagi
pula dengan kecepatan luar biasa, sebelum jeritan kaget
sempat terucap dari mulut Hu yong siancu sekalian, cahaya
pedang telah tiba di depan dada Cay soat berdua.
Untung sekali posisi Cay soat dan Siau cian saat itu
merupakan posisi ilmu Siang kiam ciau hui yang
merupakan bagian dari Tong kong kiam hoat, maka begitu
serangan dilancarkan, Si to cinjin, kedua orang itu serentak
melayang ke samping secara memisahkan diri,
Namun cahaya pedang kelewat cepat. baru saja kedua
orang itu melayang sejauh dua depa, pedang lawan sudah
menyambar lewat diatas bahu mereka.
"Sreeeeet, sreeeeet--."
Diiringi dua kali desingan tajam. dua bilah pedang telah
meluncur sejauh berapa ratus kaki disertai seruan tertahan
dua orang gadis tersebut.,..
http://kangzusi.com/
Hu-yong siancu dan Lan Se giok berempat sama-sama
berseru kaget kemudian menerjang kearah Cay soat dan
Siau cian.
Ternyata kedua orang gadis itu sudah kena didesak oleh
hawa sakti yang memancar keluar dari sepasang pedang
lawan hingga berakibat bahu dan pakaian mereka robek.
Semua orang baru agak lega setelah tahu kalau luka yang
diderita kedua orang gadis itu sangat ringan.
Dalam pada itu Lan See giok telah membentak penuh
amarah, dengan cepat ia menerjang kehadapan Si-to cinjin
kemudian mengayunkan telapak tangan kanannya
melepaskan sebuah bacokan kilat
Segulung angin pukulan yang sangat dahsyat langsung
menghantam tubuh Si-to cinjin yang masih berdiri tak
berkutik dengan mata melotot dan gigi saling beradu.
"Blaaaammm-"
Benturan keras menggelegar, Si-to cinjin tanpa
menggetarkan sedikit suarapun dan tanpa merubah
posisinya mencelat sejauh tujuh delapan kaki lebih dari
posisi semula.
Dengan perasaan terkejut Lan See giok berdiri termangu.
ia tidak habis mengerti apa sebabnya Si to cinjin sama sekali
tidak melawan serangan yang dilepaskan itu?
Tapi dengan cepat anak muda itu menjadi sadar,
rupanya disaat melontarkan sepasang pedangnya tadi, Si to
cinjin telah mengerahkan segenap tenaga dalam yang
dimilikinya, oleh-sebab itu semenjak tadi. pula Si to cinjin
telah tewas karena kehabisan tenaga.
Mendadak bergema lagi suara bentakan keras yang
sangat memekikkan telinga, Lam hay lo koay dengan wajah
http://kangzusi.com/
yang kalap telah menerjang kehadapan Lan See giok,
sepasang telapak tangannya yang besar bagaikan kipas
secara langsung dibacokkan ke tulang iga dibagian dada
Lan See giok.
Melihat datangnya ancaman tersebut Lan See giok
tertawa seram, dia menggeserkan badannya ke samping
untuk melepaskan diri dari ancaman. kemudian telapak
tangan kanannya sekuat tenaga didorong ke depan untuk
menyongsong datangnya ancaman tersebut.
"Blaaammm.. "
Sepasang telapak tangan mereka segera saling beradu
satu sama lainnya sehingga menimbulkan suara benturan
yang sangat memekikkan telinga.
Desingan angin tajam yang berpusing menyebar ke
empat penjuru dengan membawa kabut dan debu yang
tebal, ditengah debu yang beterbangan diangkasa inilah
kedua orang tersebut sama-sama berpisah dengan langkah
sempoyongan,
"Bajingan muda, serahkan nyawamu!" jerit Wan san
popo pula dengan suara melengking
Ditengah suara lengkingan yang memekik-kan telinga,
bagaikan harimau betina yang kalap dia memutar toya
bajanya dengan jurus "bukit Tay san menindih kepala"
dihan-tamkan ke atas kepala Lan See giok yang sedang
mundur dengan sempoyongan,
Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut
menjadi terkejut dan tertegun.
Hu yong siancu bermata paling tajam, sambil
membentak pedangnya diloloskan keluar karena
menyambut serangan sudah tak mungkin lagi. maka dia
menirukan cara Si to cinjin melontarkan pedangnya tadi.
http://kangzusi.com/
tangan nya segera diayunkan sekuat tenaga, pedang Hu
yong kiam tersebut diiringi desingan angin tajam langsung
menyambar batok kepalaWan san popo.
Cay-soat dan Siau-cian turut menjerit kaget, serentak
mereka melompat pula ke depan menyusul dibelakang
pedangHu yong kiam yang sedang meluncur.
Tampaknya Wan san popo sudah pernah mendengar
Lam hay lo koay membicarakan soal Lan See giok,
karenanya sejak permulaan tadi dia sudah mengawasi anak
muda itu secara khusus. Ketika dilihatnya ada kesempatan
yang sangat baik, ia segera mempergunakannya untuk
melancarkan sergapan.
Tapi mimpipun dia tak mengira kalau serangan pedang
Hu yong siancu bisa datang sedemikian cepat, cahaya
pedang baru berkelebat lewat, tahu-tahu sudah mengancam
di depan mata, dengan hati terkejut buru-buru ia memutar
toyanya sambil menghantam pedang Hu yong kiam
tersebut.
"Traaangg.."
Pedang Hu yong kiam tersebut kena tertangkis sehingga
mencelat sejauh ratusan kaki di depan sana.
Disaat gerak tubuh Wan san popo agak terhambat inilah,
Cay soat dan Siau cian telah mengurung Wan san popo
dibalik cahaya pedang tujuh warna mereka yang amat
tajam.
Siau thi gou sadar bahwa kepandaian silatnya masih
belum mampu dipakai untuk menghadapi ketiga manusia
aneh tersebut karenanya dia segera berlarian ke muka untuk
mengejar pedang Hu yong kiam yang terlempar sejauh
ratusan kaki itu,
http://kangzusi.com/
Hu yong siancu dan naga sakti pembalik sungai telah
menghimpun tenaga dalam mereka ke dalam telapak tangan
sambil ber-siap sedia menghadapi segala kemungkinan,
mereka berdua kuatir kawanan laki perempuan yang berdiri
dikejauhan itu datang melancarkan serbuan serentak.
Sementara itu Lan See giok dan Lam hay lo hay sudah
bangkit tegak kembali. mereka sedang menghimpun tenaga
dalamnya sambil pelan-pelan berjalan mendekat.
Terutama sekali Lan See giok dengan sorot mata yang
tajam dia mengawasi Lam hay lo koay lekat-lekat, teringat
bagaimana orang itu mendatangi puncak Giok-li-hong
untuk mengundang gurunya datang ke pulau Wan san,
kalau bisa dia ingin menghabisi nyawa pihak lawan dalam
satu kali pukulan saja.
Sebaliknya Lam hay-lo-koay telah menduga semenjak
pertama kali bertemu dengan Lan See-giok di puncak Giok
li-hong tempo hari bahwa di kemudian hari pemuda
tersebut akan menjadi seorang tokoh sakti dalam dunia
persilatan. ternyata apa yang diduganya memang sangat
tepat.
Dalam sekilas pandangan saja. Lam hay lo koay sudah
mengetahui bahwa diantara orang-orang yang hadir saat
itu. Lan See giok lah yang memiliki tenaga dalam paling
sempurna, asal ia berhasil membunuh Lan See-giok, maka
yang lain tak perlu dirisaukan lagi,
Atas pandangan inilah dia berdiri termenung saja selama
ini hingga kesempatan yang dinantikan telah tiba.
Akhirnya dia berkesimpulan. bahwa dengan
menggunakan segenap tenaga pukulan yang dimilikinya, ia
baru akan berhasil membunuh Lan See-giok.
http://kangzusi.com/
Tapi hasil dari bentrokan tadi menunjukkan bahwa
masing-masing pihak malah tergetar mundur sejauh berapa
langkah dengan kekuatan seimbang hal inilah yang
membuatnya sangat terkejut dan pikirannya jadi kacau,
Maka kali ini dia telah menghimpun seluruh kekuatan
yang dimilikinya, dia bertekad hendak menghabisi .nyawa
musuh dalam serangan berikut ini.
Mendadak kedua belah pihak sama-sama membentak
keras, baik Lam hay lo-koay maupun Lan Se giok samasama
telah berjongkok sambil memutar tanganya lalu di
dorong bersama ke depan.
"Blammmm-- ."
Suatu ledakan keras sekali lagi bergema memecahkan
keheningan, debu dan pasir beterbangan di angkasa, ranting
dan pohon banyak yang bertumbangan, keadaan waktu itu
sungguh nampak menggidikkan hati.
Baik Lan See giok maupun Lam hay lokoay sama-sama
telah menggunakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya
untuk memantekkan kuda-kuda masing-masing di tempat
semula. biarpun sepasang bahu bergoncang keras. kaki
mereka sudah melesak sedalam setengah depa ke dalam
tanah, namun mereka enggan mundur selangkahpun dari
posisi semula.
Tapi akhirnya toh kedua orang itu sama-sama terdorong
mundur sejauh beberapa langkah..
Lam hay-lo koay benar-benar dibikin terperanjat, dia tak
menyangka dengan usia yang begitu muda ternyata Lan
See-giok berhasil memiliki tenaga dalam setaraf dengan
kemampuan yang dimilikinya. hampir saja dia tak mau
percaya.
http://kangzusi.com/
Sebaliknya Lan See giok yang terdesak mundur segera
merasakan gejolak yang amat kuat dari hawa murni yang
berada dalam pusarnya bahkan gejolak itu kian lama kian
bertambah kuat yang membuatnya tak bisa menahan diri
lagi untuk menghambur-kannya keluar tubuh ..
Begitu berdiri tegak, tanpa berganti napas lagi Lan Seegiok
telah mengebaskan tangan kanannya ke depan, lalu
sambil melompat maju sejauh lima depa, bentaknya keraskeras.
"Sambutlah sebuah pukulanku lagi ...."
Belum habis berkata, sepasang telapak tangannya telah
didorong keluar bersama sama..
Segulung angin pukulan yang amat dahsyat langsung
menggulung tubuh Lam hay lo koay yang baru saja berhasil
berdiri tegak.
Lam hay lo koay betul-betul sangat terkejut. dia sama
sekali tak menyangka kalau hawa murni yang dimiliki Lan
See giok dapat pulih kembali sedemikian cepatnya.
Dalam kagetnya, sekali lagi ia membentak keras,
sepasang telapak tangannya bersama sama didorong ke
muka untuk menyongsong datangnya ancaman lawan.
"Blaaammmm ..
Benturan keras menggema diikuti batu dan pasir yang
beterbangan, Lam hay-lo koay mundur terus ke belakang
dengan sempoyongan meski sepasang tangannya masih
diputar terus.
Sebaliknya kaki kanan Lan See giok mundur setengah
langkah saja, kemudian ia mendesak lagi ke depan.
Biarpun dia maju dengan langkah lembut. wajahnya
hijau membesi diliputi hawa napsu membunuh, hawa Sakti
http://kangzusi.com/
Hud kong sinkang telah dihimpun dalam lengannya,
gejolak hawa murni yang menggelora dalam pusar nya
membuat pemuda itu melakukan gerakan mendekati
setengah kalap ....
Tapi dalam hatinya dia selalu ingat baik-baik perkataan
Huan Giok lien tadi, yaitu selain tiga manusia aneh dan
siau sumoay nya. orang lain tak akan tahu dimana guru nya
To Seng cu disekap.
Maka sambil mendesak maju ke depan, dia tatap wajah
Lam hay lokoay yang pucat pias itu lekat-lekat. kemudian
serunya dengan penuh rasa geram.
"Dulu, gara-gara kedatanganmu, kau telah menipu suhu
turun gunung dan berkunjung ke pulau Wan san. satu tahun
lamanya tanpa kabar berita. sekarang cepat kau katakan
dimanakah suhuku kalian sekap, kalau tidak ..... Hmmmm.
. . . " Waktu itu Lam hay lo koay tak mampu berdiri tegak
dan nyaris jatuh tertunduk ke atas tanah, mendengar
perkataan itu, dia lantas mendongakkan kepalanya dan
tertawa seram:
Suara tertawanya amat mengerikan dan penuh diliputi
kesedihan yang luar biasa, nada suaranya tak jauh berbeda
seperti suara tertawa Si to cinjin sebelum menemui ajalnya
tadi.
Kemudian sambil menatap wajah Lan See giok yang
hijau membesi, ia berseru dengan penuh kebencian:
"Bocah keparat, dalam hidupmu kali ini, jangan harap
kau dapat bersua lagi dengan Cia Keng si anjing tua itu..."
Baru berbicara sampai di situ. Lan See giok sudah
mendesak maju ke depan sambil membentak keras,
sepasang telapak tangan-nya yang telah disertai tenaga Hudhttp://
kangzusi.com/
kong sinkang. langsung dihantamkan ke depan dada
makhluk tua itu.
Tenaga dalam yang dimiliki Lan See-giok sekarang, pada
hakekatnya masih lebih tinggi daripada gurunya sendiri,
bisa di bayangkan betapa dahsyatnya serangan yang
dilancarkan dengan segenap kekuatan yang dimiliki-nya itu.
Begitu sepasang telapak tangannya di dorong ke depan
gejolak hawa murni di dalam pusarnya mengikuti tenaga
Hud kong sinkang yang penuh, serta merta meluncur keluar
dari balik tangannya.
Segumpal kabut putih yang lamat-lamat disertai kilauan
cahaya tajam dengan membawa suara ledakan yang keras
menghantam ke tubuh musuh.
"Blaaammmm...."
Ditengah ledakan keras, batu dan pasir beterbangan
diangkasa. diantaranya terselip juga hancuran daging dan
darah..
Lam hay lokoay si manusia iblis yang telah membunuh
orang tanpa berkedip, kini telah menyusul Si to cinjin
kembali ke alam baka dan tak pernah akan mampu melakukan
kejahatan lagi.
Kawanan laki perempuan yang berdiri di kejauhan sana.
entah semenjak kapan telah mengundurkan diri sejauh
puluhan kaki dari posisi semula. wajah mereka memucat
nyali mereka pecah. rasa kaget dan terkesiap menyelimuti
perasaan setiap orang.
Sesudah berhasil membunuh Lam hay lo koay,
tampaknya amarah yang berkobar dalam dada Lan See giok
belum juga mereda, dia berpaling. dilihatnya Siau cian dan
Cay soat masih bertarung sengit melawan Wan san popo,
http://kangzusi.com/
bahkan dengan jelas dia melihat kalau tenaga dalam yang
dimiliki Cay soat sudah tidak mampu menghadapi keadaan.
Maka dengan suara yang keras dia mem-bentak,
"Kalian berdua segera minggir---"
Didalam bentakan tersebut dia melepaskan senjata gurdi
emasnya yang melilit di pinggang dengan sebuah sentakan
cepat. di antara cahaya emas yang berkilauan, senjata
tersebut tahu-tahu sudah disiapkan.
Bersamaan waktunya, Cay soat dan Siau cian segera
mengundurkan diri sejauh dua kaki dari tempat semula,
Wan san popo sudah melihat dengan jelas akan
kehebatan dari ilmu pedang Tong-kong-kiam hoat. dia
hanya bisa bertahan tak mampu melepaskan serangan
balasan. bila ingin meraih kemenangan maka ia harus
bertempur sampai lama hingga tenaga dalam yang mereka
miliki mulai tak sanggup menahan diri, ia baru manfaatkan
kesempatan tersebut untuk melancarkan serangan.
Siapa tahu pada saat itulah terdengar bentakan keras
menggelegar diangkasa, cahaya tujuh warna segera lenyap
dan kedua orang gadis Itu mundur dari arena.
Dihadapannya kini berdiri si pemuda berbaju biru
dengan hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya. dia membawa sebuah senjata lunak berbentuk
gurdi yang aneh sekali.
Melihat benda itu, mencorong sinar terang dari balik
mata Wan san popo. dia segera mendongakkan kepalanya
dan tertawa terge-lak:
"Haahhh... hahhh... haahhhh.... aku mengira siapa,
rupanya kau adalah anjing kecil anak si gurdi emas peluru
perak Lan Khong tay, tempo hari andaikata aku tidak
http://kangzusi.com/
berbaik hati dengan melepaskan selembar nyawa anjing Lan
Khong tay. malam ini mana mungkin kau Lan See giok si
bocah keparat dapat munculkan diri?"
Dengan senjata terhunus selangkah demi selangkah Lan
See giok mendesak maju ke muka, mendengar perkataan
tersebut ia segera berkerut kening, kemudian tegurnya.
"Kau bilang dimasa lalu kau pernah menyelamatkan
selembar jiwa ayahku?"
Hu yong siancu tahu bahwa Lan See giok adalah seorang
pemuda yang berperasaan, andaikataWan san popo pernah
menolong jiwa ayahnya, maka dia pasti tak akan bertindak
secara kelewat batas terhadap nenek iblis tersebut.
Tahu akan maksud lawan, dengan suara dalam toh ia
segera berseru keras.
"Anak Giok. kau jangan percaya dengan ocehannya itu,
selama hidup dia hanya tahu membunuh orang dan belum
pernah mengerti bagaimana caranya menolong orang.."
Belum selesai upacara tersebut diutarakan sekali lagi
Wan san popo telah tertawa tergelak dengan suara yang
tinggi melengking.
Haaaahh... haahhh.... Haaahhh.... benar, selama hidup
belum pernah kubiarkan korbanku tetap berada dalam
keadaan hidup. tidak terkecuali pula pada malam ini ........
Lan See giok menjadi amat gusar, kening nya berkerut
lalu bentaknya keras-keras.
"Malam ini, kaupun jangan harap bisa lolos dari
kematian dalam keadaan mengerikan. "
Begitu selesai berkata ia lantas menerjang ke muka,
senjata gurdi emasnya digetarkan menciptakan selapis
cahaya keemasan yang menyilaukan mata, dengan
http://kangzusi.com/
kecepatan luar biasa cahaya itu mengurung seluruh badan
Wan-san popo,
Saat ini Wan san popo sudah mengetahui secara pasti
bahwa tenaga dalam yang di miliki Lan See giok sudah
mencapai tingkatan yang luar biasa, sementara
pembicaraan masih berlangsung tadi, secara diam-diam
hawa murninya telah dihimpun menjadi satu.
Diiringi gelak tertawa yang menyeramkan. toya bajanya
langsung menyapu ke depan diiringi desingan suara yang
sangat meme-kikkan telinga.
Lan See giok tertawa dingin, tubuhnya melambung di
tengah udara sementara gurdi emasnya diayunkan ke
bawah untuk melilit toya baja lawan bagaikan seutas tali.
Cahaya emas berkelebat lewat dan segera membelenggu
toya baja musuh.
Tubuh Lan See giok yang masih di udara dengan cepat
berubah diri dalam posisi kepala di bawah kaki diatas,
Mengikuti gerak toya dia berputar setengah lingkaran,
kemu-dian sambil membentak keras ujung baju kirinya
dikebaskan ke depan kuat-kuat.
Segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat langsung
menyerang wajah Wan san popo.
Tak terlukiskan rasa terkejut Wan San popo menghadapi
ancaman seperti ini, agaknya dia tak mengira datangnya
ancaman seperti tersebut, untuk menghindar sudah tak
sempat lagi, sedang membuang badan pun sudah terlambat,
satu satunya jalan tinggal melepaskan toya untuk
menyelamatkan diri...
Dalam gelisah dan cemasnya, tangan kiri menggenggam
toyanya kencang-kencang, sementara telapak tangan
http://kangzusi.com/
kanannya diayunkan ke depan untuk menyongsong
datangnya ancaman tersebut.
Blaaamm…!"
Ditengah benturan keras, Lan See giok manfaatkan
tenaga pantulan yang timbul akibat benturan tersebut untuk
meluncur ke bawah dalam bentakan yang keras, tangan
kanannya digetarkan keras-keras.
Tidak ampun lagi toya baja yang berada dalam
genggeman Wan san popo telah terlepas dari cekalan Wan
san popo menjerit kaget, tubuhnya cepat-cepat mundur
sejauh lima kaki lebih,
Dengan gurdi emas terhunus Lan See giok siap sedia
melakukan pengejaran, tapi Hu yong siancu telah berseru
tiba-tiba.
"Anak Giok. berhenti!"
Ditengah bentakan tersebut, Hu yong siancu segera
terjun ke dalam arena dengan kecepatan luar biasa.
Baru saja Lan See giok berdiri tegak, Hu yong siancu
telah memberi hormat kepada Wan San popo sambil
berkata.
"Cianpwe, harap kau sudi memaklumi perangai anak
Giok yang terlalu menguatirkan keselamatan gurunya,
sehingga dia telah turun tangan secara gegabah, kuharap
popo sudi memaafkan, mohon sudilah kiranya popo
menunjukkan dimanakah To Seng-cu locianpwe disekap,
agar boanpwe sekalian dapat pergi menjumpainya."
Mendengar perkataan ini sekali lagi Wan san popo
mendongakkan kepalanya sambil tertawa seram. dibalik
suara tertawa itu terkandung nada sedih yang tak kalah
http://kangzusi.com/
dengan kepedihan hati Si to cinjin maupun Lam hay lo
koay.
Tampaknya rombongan laki perempuan yang berada
puluhan kaki dari arena tersebut sudah mulai memahami
maksud kedatangan Lan See giok sekalian, kembali mereka
mendesak maju ke depan, wajah mereka ada yang diliputi
perasaan takut dan kaget. tapi ada pula yang diliputi
kemarahan.
Yang membuat mereka kaget dan takut adalah
kemampuan si anak muda berbaju biru itu, di samping
mampu membunuh Lam hay lo koay. diapun berhasil
mengalahkan Wan san popo
Yang membuat mereka gusar atau murung adalah rasa
kuatir mereka atas kehadiran Hu yong siancu dan naga
sakti pembalik sungai sebagai guru anak-anak muda
tersebut, kalau muridnya saja sudah begini hebat,
bagaimana pula dengan guru mereka?
Dalam pada itu, Wan San popo telah menghentikan
gelak tertawanya, lalu serunya dengan perasaan benci:
"Cia Keng menganggap dirinya agung dan suci, enggan
mengotori diri dengan pertarungan melawan kami, dia lebih
suka berdiam di pulau Ang sik to selama satu tahun lebih,
apakah dia masih hidup hingga kini aku tak tahu, lebih baik
kalian pergi mencarinya sendiri ....,."
Lan See giok, Cay soat serta Siau thi gou yang
mendengar perkataan tersebut, dalam hatinya merasa amat
sedih bagaikan disayat sayat dengan pisau, tanpa terasa
serunya dengan air mata bercucuran:-
"Bila suhuku sampai mengalami sesuatu musibah, kau
nenek siluman jangan harap bisa hidup terus..:."
http://kangzusi.com/
Belum selesai ketiga orang itu berbicara sekali lagi Wan
san popo telah tertawa seram:
"Haaahhh... haaahhh...haahhh....tahun lalu aku pernah
berkata kepada Cia Keng, asal apa yang dibilang sebagai
pimpinan dunia persilatan mendatang telah kemari dan
mampu menghadapi seratus jurus ilmu toyaku, maka aku
akan segera mengakhiri hidupku di dunia ini dan tak perlu
kalian repot-repot untuk membereskan diriku lagi ........
Berbicara sampai di sini, telapak tangan kanannya segera
diayunkan untuk menghantam ubun-ubun sendiri:
Hu yong siancu sangat terperanjat, buru-buru teriaknya:
"Popo, tunggu dulu!"
Lan See giok tahu bahwa bibinya belum selesai
berbicara, cepat-cepat dia menyentilkan kelima jari
tangannya ke depan untuk menotok jalan darah Ci ti hiat di
tubuhWan san popo .......
Sayang sekali keadaan sudah terlambat...
Praaakkk .......
Cairan darah dan isi benak bertebaran kemana mana,
seorang jagoan yang sudah banyak tahun menjagoi dunia
persilatan dan termasyhur sebagai nenek iblis yang suka
membunuh dan kemudian tinggal di pula Wan San selama
puluhan tahun ini telah mengakhiri kehidupannya yang
penuh dengan dosa.
Gi Hui hong serta Huan Giok lien segera berteriak
memanggil gurunya, cepat mereka menubruk ke atas
jenasah Wan san popo.
Sebaliknya Hu yong siancu menghela napas sedih,
setelah memandang sekejap ke arah jenasah Wan san popo
sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, dia
http://kangzusi.com/
berpaling ke arah naga sakti pembalik sungai sam-bil
ujarnya:
"Lo enghiong, setengah tahun berselang pernahkah kau
perhatikan pulau Ang sik to tersebut?"
"Sebelah utara kepulauan ini rasanya memang terdapat
puluhan buah pulau berbatu merah," jawab naga sakti
pembalik sungai dengan kening berkerut, "tapi aku tidak
tahu di pulau yang manakah Cia locianpwe disekap, hal ini
perlu kita tanyakan sampai jelas..."
Belum selesai dia berkata, Cay soat telah mendengus
marah sambil berseru:
"sekarang, masih ada siapa lagi yang tak mau
memberitahukan soal ini...."
Hu Yong siancu dan naga sakti pembalik sungai samasama
termenung, sementara sorot mata mereka pun,
dialihkan ke wajah Gi-Hui hong yang sedang menangis
mengerang di sisi jenasah gurunya.
Dengan kening berkerut Lan See giok berseru kemudian
dengan suara penuh amarah:
"Kenapa mesti memohon bantuan mereka, biarpun bukit
golok hutan pedang, apa pula yang mesti kita takuti...?"
Belum selesai ia berkata, si bocah perempuan berbaju
hijau yang sedang menangis tersedu itu sudah melompat
bangun, kemudian berteriak keras:
"Percuma kalian pergi ke sana,, Cia lo cianpwe sudah
lama mati kelaparan."
Mendengar jawaban ini, Hu yong siancu sekalian
menjerit kaget dan segera berdiri tertegun.
Dalam pada itu sebagian besar dari kawanan laki
perempuan yang berdiri di luar arena telah mengurung Hu
http://kangzusi.com/
yong siancu sekalian, walaupun wajah mereka dicekam
perasaan sedih dan duka, namun tak seorang pun yang
maju ke depan untuk menangisi jenasah tersebut.
Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa mereka hanya
jago-jago lihay yang ditugaskan untuk menjaga istana Tiang
siu kiong dan sama sekali bukan murid dari ke tiga manusia
aneh tersebut.
Setelah tertegun beberapa saat, Hu yong siancu baru
bertanya dengan gelisah:
"Adik cilik, darimana kau bisa tahu?"
Gi Hui hong merasa amat kalut pikirannya waktu itu, dia
segera menyahut:
"Semula suhu sekalian berjanji akan mengirim beras
setiap bulannya untuk Cia lo cianpwe, tapi selama ini suhu
bertiga tak pernah mengirim orang untuk mewujudkan janji
itu."
Pucat pias selembar wajah Lan See giok sekalian saking
kagetnya, kembali mereka berseru:
"Darimana kau bisa tahu?"
Sambil menuding Wan san popo yang tergeletak di atas
tanah, Gi Hui hong berkata.
“Dua orang kakek dan suhu bertiga, mengajakku untuk
menghantar Cia locianpwe menuju ke pulau tersebut, dalam
perjalanan kembali tiba-tiba saja empek Lam hay dan suhu
membinasakan kedua orang kakek yang kami ajak serta
dalam perjalanan tersebut kemudian mayatnya dibuang ke
dalam laut."
Baru selesai perkataan itu diutarakan, kawanan laki
perempuan yang mengepung sekeliling arena telah menjerit
http://kangzusi.com/
kaget kemudian saling berpandangan dengan penuh tanda
tanya.
Dengan sekujur tubuh gemetar keras, Lan See giok
berkata sambil menahan bencinya:
"Kalau begitu ke tiga manusia aneh sudah berniat untuk
membunuh suhu secara pelan-pelan, nyatanya mereka
benar-benar termasuk manusia berhati bisa yang paling
kejam dan manusia yang paling takkan menepati janji di
dunia ini..:"
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Hu yong
siancu, sambil berusaha mengendalikan rasa sedih dan
gelisahnya, dia menengok bocah perempuan itu, dan
bertanya dengan lembut: "Adik cilik, menurut
pandanganmu, benarkah, tindakan yang telah dilakukan
empek Lam hay mu sekalian"
Dengan pandangan agak takut Gi Hui hong melirik
sekejap ke arah jenasah Wan san popo yang tergeletak di
tanah, jelas dalam hati kecilnya dia sudah merasa tak puas
terhadap segala perbuatan yang telah dilakukan suhu serta
empek Lam hay nya.
Ketika ia mendongakkan kepalanya memandang Hu
yong siancu, air mata telah bercucuran amat deras
membasahi wajah nya, kembali dia berkata:
"Cia locianpwe adalah orang yang amat baik, dalam tiga
hari kehadirannya di sini, dia seringkali memberi petunjuk
ilmu pedang kepadaku..."
Satu ingatan segera melintas dalam benak Lan See giok,
dengan wajah gelisah namun dengan nada lembut kembali
tanyanya:
"Adik cilik, tahukah kau Cia locianpwe berada di pulau
yang mana?"
http://kangzusi.com/
Nona cilik berbaju hijau itu segera mengangguk berulang
kali: "Yaa, aku tahu..."
Belum habis ucapan tersebut diutarakan, mendadak dari
antara rombongan manusia yang berkumpul di sekitar
arena, kedengaran seorang lelaki beralis-mata tebal
mendehem dengan suara dalam.
Mendengar suara deheman tersebut, paras muka si nona
cilik berbaju hijau itu segera berubah hebat, dengan
ketakutan dia menghentikan pembicaraannya dengan cepat.
Lan See giok gusar sekali, sambil mendengus telapak
tangannya diayunkan ke depan sambil melepaskan sebuah
sentilan jari kearah orang tersebut.
Tahu-tahu lelaki beralis mata tebal itu menjerit kesakitan,
sambil menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan ia
roboh terjungkal ke atas tanah, darah segar bercucuran
keluar dengan derasnya dari sela jari-jari tangannya.
Huan Giok lien yang selama ini hanya menangisi
jenasah Wan San popo tanpa mendongakkan kepalanya,
saat ini berpaling dan memandang pula kearah lelaki yang
telah tewas itu sekejap, namun dia tidak memperlihatkan
reaksi apapun, bahkan mengucapkan sepatah katapun tidak
.....
Melihat keadaan demikian ini, Hu yong siancu tahu
bertanya lagi kepada si nona berbaju hijau itupun percuma
sebab bocah itu tak akan berbicara lagi, maka sambil
berpaling ke arah Lan See giok sekalian dia berseru:
"Ayo berangkat, mari kita pergi mencari sendiri!"
ooo0dw0ooo
http://kangzusi.com/
BAB 38
DALAM hati kecilnya Lan See giok benar-benar amat
membenci lelaki beralis mata tebal itu, andaikata tiada
peringatan darinya, nona cilik berbaju hijau itu niscaya
sudah mengatakan semuanya kepada mereka.
Sementara itu Hu yong siancu berpendapat andaikata
mereka gagal menemukan pulau batu merah yang
digunakan untuk menyekap To Seng cu, bisa jadi mereka
akan datang kembali untuk minta pertolongan Gi Hui hong,
maka dengan ramah ditatapnya Huan Giok lien serta Gi
Hui hong, kemudian ujar nya:
"Nona Lien, adik cilik, selamat tinggal jika kebetulan
datang ke daratan Tionggoan, silahkan mampir ke rumahku
di tepi telaga Phoa yang"
Huan Giok lien dan Gi Hui hong tak bisa berkata apaapa,
mereka segera bangkit berdiri dan mengangguk
berulang kali:
Maka Hu yong siancu dan Lan See giok sekalian segera
mengerahkan ilmu meringankan tubuh masing-masing dan
meluncur ke arah mana mereka datang semula.
Perasaan mereka berenam waktu itu sangat berat,
mereka tak menyangka sama sekali kalau tiga manusia aneh
dari luar lautan adalah manusia-manusia busuk yang ingkar
janji.
Kini mereka sudah mati semua, tapi di dibandingkan
dengan dosa yang pernah diperbuat, kematian mereka
sungguh kelewat keenakan ...
Tiba di pantai, mereka berenam segera kembali ke atas
perahu dan didayung oleh Cay soat serta Siau cian, mereka
berangkat kembali menuju ke perahu keraton.
http://kangzusi.com/
Waktu itu fajar telah mulai menyingsing, saat semacam
ini merupakan saat air laut sedang pasang, angin berhembus
kencang dan ombak menggulung amat besar, sampan
tersebut segera oleng dan goncang hebat.
Sambil menghela napas panjang Naga sakti pembalik
sungai segera berkata memecahkan keheningan:
"Tampaknya Cia locianpwe lebih banyak terancam
bahaya daripada selamat."
Mendengar perkataan ini, Lan See giok, Cay soat dan
Siau thi gou tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, mereka
sama-sama menangis sedih.
Walaupun Hu yong siancupun berperasaan demikian,
tapi ia toh menghibur juga:
"Tenaga dalam yang dimiliki Cia locianpwe amat
sempurna, biarpun saban bulan cuma minum air dan
makan buah liar, ia masih sanggup untuk melanjutkan
hidupnya, malah kadangkala bila ia sedang bersemedi,
maka selama berbulan bulan lamanya dia tak pernah
makan, sekalipun dalam setahun ini ke tiga manusia aneh
tersebut tak pernah mengirim makanan, aku pikir dengan
kemampuan yang dimiliki Cia locianpwe, hidup selamat
selama setahun pasti bukan masalah baginya."
Naga sakti pembalik sungai merasa perkataan ini ada
benarnya juga, ia segera manggut-manggut berulang kali.
Tiba kembali di perahu keraton, ke enam orang itu
segera melompat naik ke atas kapal dan memerintahkan
kepada ke empat komandan agar mengumpulkan segenap
kapal perang di lautan sebelah timur laut, kemudian perahu
keraton pun segera berlayar.
http://kangzusi.com/
Ketika Hu yong siancu sekalian masuk kembali ke dalam
ruangan, para dayang telah mempersiapkan sarapan yang
amat lezat.
Dari luar perahu kedengaran suara bentakan-bentakan
nyaring disusul jangkar dan layar dinaikkan, pelan-pelan
kapal besar itu mulai bergerak.
Dari kejauhan sana kedengaran suara terompet
dibunyikan orang, kemudian segenap kapal perang mulai
bergerak menuju ke utara .......
Hu yong siancu dan Lan See giok sekalian buru-buru
bersantap, kemudian mereka mengambil peta laut dan
mulai meneliti posisi dari kepulauan yang terletak di
sebelah timur laut.
Tapi apa yang kemudian terlihat membuat ke enam
orang itu jadi tertegun, sebab di situ tercantum ada sembilan
belas buah pulau di timur laut yang berbatu merah, air yang
mengalir di situ berwarna hitam, tanahnya gundul dan
gersang, tiada burung tiada tumbuhan bahkan udang dan
ikanpun tak ada, menurut catatan arus yang beredar di situ
amat deras sehingga mengancam ke selamatan setiap
pelayaran....
Selesai melihat hal ini, dengan gelisah Lan See giok
segera berseru.
"Bagaimana baiknya sekarang ....?"
Pelan-pelan Hu yong siancu meletakkan kembali peta
laut itu ke meja, kemudian menjawab.
"Yang penting bagi kita sekarang adalah meninjau dulu
keadaan situasinya, kemudian baru mengambil keputusan,"
Selesai berkata dia lantas bangkit berdiri dan menuju
keluar ruangan diikuti yang lain.
http://kangzusi.com/
Waktu itu matahari sudah terbit, cahaya keemas emasan
memancar di seluruh ang-kasa sinar keemas emasan
memancar di samudra luas memantulkan cahaya yang
menyilaukan mata.
Tiga buah layar telah dinaikkan pada perahu tersebut,
gerakan kapalpun makin cepat, dikejauhan sana nampak
semua kapal perang sedang berkumpul.
Nun jauh di depan sana mereka pun menyaksikan
belasan buah pulau kecil tersebar di balik lautan, di bawah
pantulan cahaya matahari, pulau-pulau tersebut kelihatan
seperti kobaran api yang sedang membara.
Jam tujuh sudah lewat, sinar keemas emasan di
permukaan laut telah mereda, ratusan buah kapal perang
dariWi lim poo dengan posisi huruf delapan mulai bergerak
ke depan lalu mengurung ke sembilan belas pulau batu
merah itu.
Keadaan di sekitar pulau ini memang kelihatan aneh, air
laut yang berwarna hijau dengan buih putih, ternyata
berubah menjadi hitam ketika mengalir lewat sisi pulau
tersebut, semakin ke arah timur laut, air tersebut berubah
semakin gelap dan kental, barulah setelah melalui
kepulauan tadi, air laut kembali berubah menjadi hijau.
Yang lebih hebat lagi adalah keadaan dari ke sembilan
belas buah pulau itu, semuanya gundul dan gersang, tiada
tumbuhan tiada pepohonan, apalagi burung yang beterbangan.
Dari setiap pulau yang tersebut, diantara nya terdapat
sebuah pulau batu merah yang panjangnya mencapai tiga li
dengan lebar setengah li.
http://kangzusi.com/
Perahu keraton membuang sauh, setengah li dari jarak
kepulauan batu merah, ke empat komandan kapal segera
berdatangan semua dengan menggunakan sampan kecil.`
Ketika mereka berempat menyaksikan Lan See giok
sekalian berdiri dengan kening berkerut dan wajah sedih.
maka setelah memberi hormat mereka hanya berdiri di sisi
arena tanpa banyak berbicara.
Menggunakan kesempatan tersebut, si naga Sakti
pembalik sungai segera menyampaikan kisah pengalaman
mereka dalam bertarung melawan tiga manusia aneh
tersebut.
Ketika empat orang komandan tersebut mendengar kalau
tiga manusia aneh dari luar lautan telah tewas semua, paras
muka mereka segera berubah hebat.
Kemudian naga Sakti pembalik sungai menjelaskan pula
bahwa To Seng cu telah disekap ke tiga manusia aneh itu di
dalam pulau batu merah yang terdiri dari sembilan belas
buah tersebut, Sekalian dia menjelaskan pula keadaan
kepulauan tersebut.
Akhirnya dengan nada memohon ia bertanya:
"Dengan pengalaman kalian berempat selama banyak
tahun diatas air, berdasarkan keterangan yang kuucapkan
barusan, dengan cara apakah kami harus mendarat di pulau
batu merah itu?"
Ke empat orang komandan itu segera berkerut kening,
kemudian komandan Ciang dari pasukan naga perkasa
bertanya dengan tidak mengerti.
"Pulau manakah yang harus kita periksa dulu?".
"Kita periksa dulu pulau yang terbesar" sela Lan See giok
segera.
http://kangzusi.com/
Komandan Nyoo dari pasukan macan kumbang hitam
segera menyahut dengan suara keras.
"Itu mah gampang sekali, kita berlayar dulu sampai di
sisi arus laut yang sangat deras di luar pulau tersebut
kemudian kita lepaskan sebuah sampan kosong sebagai
percobaan, kemudian kita baru mendaratkan orang dengan
mempergunakan sampan kecil...
Mendengar keterangan itu, semua orang segera manggutmanggut
dan merasa bahwa cara tersebut memang
merupakan cara yang paling baik.
Dari atas puluhan buah kapal besar, ke empat komandan
Itu segera memilih enam orang ahli memegang kemudi
untuk turut berlayar, kemudian menurunkan pula enam
buah sampan kecil.
Maka kapal keratonpun pelan-pelan bergerak menuju ke
luar arus laut yang amat deras itu.
Waktu itu, meski ombak amat besar namun angin sudah
lebih lembut, dari kejauhan memandang, arus laut yang
amat deras di barat daya itu kelihatan memanjang bagaikan
sebuah jalan raya yang lebar.
Akhirnya kapal keraton itu membuang sauh pada jarak
belasan kaki dari arus laut tersebut, Hu yong siancu sekalian
masih saja berdiri di ujung geladak dengan kening berkerut,
mereka mengawasi pulau besar di depan situ dengan
perasaan kalut.
Tak lama kemudian enam buah sampan telah meluncur
ke depan, mula-mula mereka melepaskan dulu dua buah
sampan kosong menuju ke area arus laut yang deras tadi,
kemudian mendorongnya ke depan, Oleh dorongan dari
kedua lelaki kekar di sampan lain, sampan tersebut segera
meluncur ke arah arus laut yang amat deras tadi.. Hingga
http://kangzusi.com/
mencapai sisi arus laut yang deras itu, sampan tadi masih
bergerak tidak terlampau cepat, tapi lambat laun
gerakannya semakin bertambah cepat dan akhirnya
bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya sampan
itu meluncur kearah gulungan ombak berwarna hitam
tersebut.
"Blaaammm!" Diiringi benturan keras, sampan tersebut
sudah dilemparkan ombak ke udara dan hancur berantakan.
Hu yong siancu sekalian segera berkerut kening setelah
menyaksikan kejadian ini, sedangkan ke enam lelaki yang
bertugas sama-sama berubah wajahnya.
Sebaliknya komandan Nyoo segera mendelik kearah ke
enam orang lelaki kekar itu sambil membentak marah:
"Manusia yang tak berguna, para pelaut dari Wan san
mampu mendayung sampan mendekati pulau tersebut,
apakah kalian sama sekali tidak berkemampuan? Jangan
lupa, kalian adalah pendayung-pendayung andalan dari Wi
lim Poo."
Oleh bentakan tersebut, ke enam orang le-laki kekar itu
memperoleh kembali keberanian mereka, rasa takut dan
ngeri yang semula mencekam perasaan, kini sudah hilang
lenyap tak berbekas.
Melihat bentakannya berhasil memulihkan kembali
semangat anak buahnya, komandan Nyoo segera berteriak
lagi: "Tio Ji hay, kau maju lebih dulu!"
Sampan kecil yang berada ditengah dengan seorang
lelaki kekar di atasnya segera menyahut, dengan memegang
kencang sepasang dayungnya dia siap untuk berangkat,
namun keraguan sempat menghiasi wajahnya ...
Dengan suara lantang Komandan Nyoo berteriak:
http://kangzusi.com/
`Bila bertemu ombak miringkan sampan, bertemu karang
putar kemudi, bila merasa terseret arus laut, putarkan badan
dengan kencang Tio Ji hay, jangan lupa, segenap saudara
yang berada di atas kapal sedang memperhatikan dirimu
dari kejauhan."
Baru selesai perkataan tersebut diutarakan sampan kecil
Tio Ji hay telah meluncur ke arah depan....
Lan See giok sekalian membelalakkan matanya lebarlebar
sambil mengawasi sampan kecil yang dikemudikan
Tio Ji hay itu tanpa berkedip.
Sementara itu sampan telah melesat ke depan dengan
cepat, Tio Ji hay segera mengencangkan genggamannya
pada dayung tutup mulutnya rapat-rapat dan mengawasi
kepulauan di hadapannya dengan mata melotot besar.
Tatkala mendekati gelombang laut berwar-na hitam itu
mendadak sampan meluncur ke depan dengan kecepatan
makin tinggi, dan secepat kilat meluncur ke balik gulungan
ombak hitam tersebut.
Hu yong siancu dan Lan See giok sekalian segera
mengepal tinju masing-masing dengan kencang, peluh
dingin membasahi tubuh setiap orang hampir semuanya
menguatirkan keselamatan jiwa Tio Ji hay tersebut.....
Dalam pada itu, sampan kecil Tio Ji hay telah mulai
menerobos karang-karang tajam itu sambil meluncur terus
ke depan sana, dalam waktu singkat dia telah berhasil
melampaui empat buah pulau karang yang amat berbahaya,
asal maju seratus kaki lagi maka dia akan tiba di pulau batu
merah.
Mendadak diantara gulungan-gulungan ombak, muncul
pula segulung ombak raksasa yang segera menyapu sampan
Tio Ji hay.
http://kangzusi.com/
Semua orang yang menyaksikan peristiwa tersebut
menjadi terperanjat, paras muka mereka berubah hebat,
hampir semuanya menjerit kaget.
Ketika ombak raksasa itu menyapu tiba, sampan Tio Ji
hay segera terhisap sehingga meluncur ke depan dengan
kecepatan yang sukar dikendalikan lagi.
Dengan hati gelisah naga sakti pembalik sungai segera
menghimpun tenaga dalamnya dan berteriak keras.
"Lurus ke kiri putar ke kanan, miringkan posisi kapal ke
arah kanan..."
Sayang sekali sebelum teriakan itu di laksanakan, kapal
kecil itu sudah terlempar ke atas sebuah pulau karang...
"Blaammm .... "
Sampan tersebut hancur berantakan seketika, sedang
bayangan tubuh Tio Ji hay hilang lenyap tak berbekas.
Peristiwa ini berlangsung amat cepat, semua orang samasama
terbelalak dengan perasaan amat sedih, Siau cian dari
Cay soat pun merasa pedih sekali atas nasib tragis yang
telah menimpa Tio Ji hay, tanrpa terasa titik air mata jatuh
bercucuran.
Di pihak lain, Komandan Nyoo telah menengok sekejap
ke arah lima orang lelaki kekar di belakangnya, kemudian ia
berseru:
"Thio Lip heng..."
Seseorang menyahut dengan keras, kemudian sebuah
sampan meluncur kembali ke arah arus laut yang sangat
deras itu.
Lan See giok segera berkerut kening, mendadak
bentaknya dengan suara keras:
http://kangzusi.com/
"Kembali!"
Mendengar perintah ini, Thio Lip heng. segera memutar
kemudi dan mendayung kembali sampan tersebut,
Seruan ini tibanya sangat mendadak, serta merta ke
empat komandan kapal menengok ke arah Lan See giok
dengan pandangan ti-dak habis mengerti.
Dengan suara dalam Lan See giok segera berseru:
"Tio Ji hay tadi bukannya tak sempurna dalam ilmu
kemudi perahu, melainkan tenaga dalamnya tak sempurna
sehingga kekuatannya untuk mengendalikan kemudi tak
sesuai dengan kehendak hati."
Hu Yong siancu serta naga sakti pembalik sungai
serentak manggut-manggut membenarkan.
Dengan kening berkerut komandan Nyoo lantas berseru:
"Kalau memang begitu, biar hamba saja yang mencoba
sendiri.."
Sambil berkata dia melepaskan senjata andalannya dan
diletakkan di atas kapal.
"Tunggu dulu," tiba-tiba naga sakti pembalik sungai
mencegah, "lebih baik biar aku saja yang pergi mencoba.”
Hu Yong siancu juga merasa kalau Naga sakti pembalik
sungai yang lebih tepat untuk mencoba, bukan saja tenaga
dalam yang di-milikinya amat sempurna, diapun sangat
pandai dalam mengendalikan sampan, karena itu dia
mengangguk menyatakan per-setujuannya:
"Yaa, memang paling baik jika Thio lo eng-hiong yang
pergi mencoba sendiri...",
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Lan See
giok, serunya kemudian:-
http://kangzusi.com/
"Bibi, setelah pelajaran dari musibah yang menimpa Tio
Ji hay, aku yakin dengan tenaga dalam serta pengalaman
yang dimiliki Thio Loko, kami pasti akan berhasil mencapai
tempat tujuan, karenanya anak Giok ingin pergi bersama
sama Thio loko."
Hu yong siancu ragu sejenak, akhirnya dia mengangguk.
"Baiklah, cuma kau mesti berhati hati!"
Siau cian dan Cay soat yang mendengar ucapan tersebut,
wajahnya berubah sangat hebat, mereka meminta agar
diijinkan untuk turut serta, demikian pula dengan Siau thi
gou.
Hu yong siancu tahu, bukan saja mereka menguatirkan
keselamatan jiwa To Seng cu, yang pasti mereka lebih
menguatirkan keselamatan jiwa Lan See giok, akan tetapi
tanpa ragu permintaan mereka bertiga segera di-tampik.
Sebab menurut rencananya, apabila naga Sakti pembalik
sungai serta Lan See giok mengalami kegagalan dan
tenggelam ke laut, maka dia dan Siau cian akan mencoba
sekali lagi.
Dalam pada itu, Lan See giok dan naga sakti pembalik
sungai telah melayang turun ke atas sebuah sampan.
Lan See giok duduk bersila ditengah sampan dengan
memegang dayung kiri dan kanan, sebaliknya naga sakti
pembalik sungai duduk di buritan dengan mengendalikan
kemudi, dalam sebuah hentakkan keras, sampan meluncur
ke depan dengan cepat.
Ketika memasuki daerah arus laut yang deras, sampan
tersebut segera meluncur dengan kecepatan tinggi ....
Lan See giok mengawasi gulungan ombak hitam berapa
puluh kaki di depan sana, kemudian serunya tiba-tiba
http://kangzusi.com/
Kepada naga sakti pembalik sungai yang berada
belakangnya: "Thio loko, kau gunakan tenagamu untuk
mendayung, sedang siaute akan melepaskan pukulan untuk
mendorong ke depan, coba kita lihat apakah dengan cara ini
kecepatan luncur sampan dapat dikurangi."
Naga Sakti pembalik sungai segera memberi
persetujuannya, dengan cepat dia melaksanakan apa yang
diucapkan pemuda tadi, sementara Lan See giok
melontarkan pukulannya ke depan. Di tengah percikan
bunga air yang memancar ke tengah udara daya luncur
sampan itu segera terhambat dan menjadi jauh lebih lambat
......
Menyaksikan kejadian ini, semua orang yang berada
diatas kapal keraton maupun kapal perang lainnya sama
lama bersuara memuji.
Hu yong siancu, Cay soat dan Siau cian sekalian yang
melihat kejadian ini, tanpa terasa mereka sama-sama
mengendorkan pikiran yang dicekam ketegangan.
Ketika Lan See giok dan naga Sakti pembalik sungai
menarik kembali tenaga dalam mereka, sampan tersebut
meluncur kembali ke depan dengan kecepatan tinggi:
"Srreet...l" sampan itu terlempar ke udara dan kemudian
jatuh kembali ke bawah.
Dengan disertai goncangan yang luar biasa sampan itu
terombang ambing diantara permainan ombak dahsyat di
sela-sela batu karang, keadaannya berbahaya sekali.
Untung saja Naga sakti pembalik sungai amat pandai
mengendalikan sampan, di tambah pula Lan See giok
menggunakan tenaga dalamnya untuk menghambat
kecepatan kapal, karenanya bagian yang paling berbahaya
berhasil mereka lalui.
http://kangzusi.com/
Pulau batu merah yang berada di depan sana, makin
lama semakin mendekat ....
Lan See giok merasa pulau itu merah membara seperti
api, sedang sekelilingnya merupakan tebing karang yang
curam dan amat tajam, gulungan air laut dan arus yang
deras makin lama semakin menghebat ......
Sampan kecil yang sedang meluncur ke muka bagaikan
terbang itu mendadak membuat belokan tajam sehingga
menyongsong datangnya segulung ombak yang maha
dahsyat...
Mendadak dari belakang bergema suara bentakan keras.
"Naik..."
Di tengah bentakan, sampan kembali membuat belokan
tajam menyusul kemudian, meluncur ke depan dengan
mengambil posisi sejajar dengan pantai...
Lan See giok tak berani berayal lagi, mendengar seruan
mana sepasang telapak tangan nya ditekan ke atas sampan
lalu tubuhnya melejit ke tengah udara dan melayang ke atas
sebuah tebing batu merah di pantai pulau tersebut.
Mendadak terdengar Naga sakti pembalik sungai
berteriak lagi dengan suara keras.
"Gunakan pekikan panjang sebagai tanda, nanti aku
datang menjemputmu lagi..."
Lan See giok mengebaskan ujung bajunya dan melayang
turun ke atas tebing yang lain.
Menanti dia berpaling kembali sampan yang
dikendalikan naga sakti Pembalik sungai telah meluncur ke
lautan sebelah timur laut dengan kecepatan bagaikan anak
panah yang terlepas dari busurnya dalam sekejap mata dia
sudah berada dalam enam puluh kaki dari posisi semula.
http://kangzusi.com/
Memandang pula ke tempat kejauhan sana tampak
ratusan buah perahu berkumpul di antara kepulauan yang
menyebar sepanjang ujung langit, Siau cian, Cay soat dan
Siau thi gou yang berada di atas kapal keraton sedang
menggapai ke arahnya.
Keberhasilannya tiba di pulau batu merah membuat
pemuda tersebut selain bersyukur dan gembira, diapun
gelisah, tak tenang di samping sedih dan takut.
Ia merasa keberhasilannya mencapai pulau batu merah
merupakan suatu pekerjaan yang sangat tidak mudah, tapi
diapun tidak tahu apakah gurunya masih hidup di dunia ini
atau bagaimana caranya ia menemukan orang tua tersebut.
Maka setelah balas mengulapkan tangan ke arah Siau
cian sekalian, dia membalikkan badan dan berlarian menuju
ke tengah pulau.
Sepanjang jalan dia merasa bahwa pulau batu merah
memang berbentuk sangat aneh, daerah seluas berapa li itu
tidak ditumbuhi sama sekali oleh pepohonan ataupun
rumput, segala sesuatunya hanya terdiri dari batuan
berwarna merah menyala.
Setelah bergerak maju lagi ke depan, ia menangkap suara
deburan ombak yang memekikkan telinga, dengan perasaan
terkejut Lan See giok segera menghentikan langkah-nya
sambil memasang telinga dengan seksama, dia merasa suara
itu seperti bukan berasal dari lautan, melainkan datang dari
tengah pulau ini.
Maka dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya
dia bergerak menuju ke arah mana berasalnya suara tadi.
Ketika tiba di bagian pulau yang paling tinggi, ia
saksikan setengah li di depan sana seperti terdapat sebuah
http://kangzusi.com/
lembah bukit yang besar, dari sanalah deburan ombak yang
amat besar itu berasal.
Setelah mendekati tempat tadi, dia baru tahu bahwa
tempat tersebut merupakan sebuah telaga yang besar
dengan air berwarna hitam yang menggulung gulung,
tampaknya saja seperti mau meluap dan menggenangi
permukaan pulau.
Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menyaksikan
kejadian ini, seandainya air hitam tersebut benar-benar
meluap, niscaya diapun akan terseret ke dalam samudra
luas, Lan See giok tak ingin menyaksikan keadaan yang
mengerikan itu lebih jauh, dengan cepat pemuda itu
bergerak menuju kearah utara, dia berharap bisa
menemukan tempat yang berpepohonan.
Tapi, biarpun sebagian besar pulau tersebut telah
dijelajahi, namun tak sepotong tumbuhanpun yang
ditemukan.
Melihat kejadian seperti ini, membayang kan pula kalau
suhunya sudah satu tahun tidak diberi kiriman rangsum,
pemuda ini semakin pesimis atas keselamatan gurunya,
teringat akan hal yang memedihkan hatinya, tak kuasa lagi
pemuda itu menangis tersedu sambil berseru:
"Suhu...oooh suhu....anak Giok datang.
menjemputmu...."
Tapi selain suara deburan ombak yang mengerikan itu,
tiada kedengaran suara lain diatas pulau tersebut.
Mendadak ....
Suara helaan napas panjang yang entah darimana
datangnya lamat-lamat bergema di udara, Lan See giok
amat terperanjat, tanpa terasa dia membelalakkan matanya
http://kangzusi.com/
lebar-lebar sambil mendengarkan dengan seksama, namun
suara tersebut tidak kedengaran lagi.
Diam-diam pemuda tersebut berseru keheranan jangan
lagi helaan napas. Biar daun yang rontok pada jarak
sepuluh kaki pun dia masih dapat membedakan dengan
jelas, apalagi suara helaan napas?
Pemuda itu yakin tak salah mendengar, tanpa terasa
dengan menghimpun tenaga dalamnya ia berseru lagi:
"Suhu, anak Giok datang menjemput kau orang tua..."
Teriakan itu sangat keras dan membumbung sampai ke
balik awan sana rasanya....
Baru selesai dia berteriak. tiba-tiba terdengar seseorang
berseru dengan suara lembut tapi penuh kegembiraan,
"Anak Giok kah di sana?"
Kejut dan gembira melampaui batas seketika membuat
Lan See giok tertegun, helaan napas tersebut tak disangka
menghasilkan seruan yang amat dikenal olehnya, maka
setelah berhasil menguasai diri. dengan perasaan gembira ia
berteriak lagi:
"Suhu, aku disini, aku adalah anak Giok..."
Setelah berkata dengan air mata bercucuran ia berlutut ke
atas tanah, suara yang lembut dan penuh kasih sayang tadi
kembali berkumandang.
"Anak bodoh, selama ini suhumu selalu menunggu
dengan perasaan tenang, apa yang kau tangisi?"
Kali ini Lan See giok dapat mendengar lebih jelas lagi,
suara tersebut memang suara To Seng-cu gurunya yang
paling dicintai. tapi justru karena luapan gembira yang tak
terkirakan, pemuda itu malah menangis se-makin menjadi.
http://kangzusi.com/
Terdengar suara dari To Sing cu kembali bergema.
"Anak Giok janganlah menangis lagi, aku hendak
bertanya kepadamu"
Lan See giok segera berhenti menangis, kemudian
setelah menyeka air mata tanya nya lagi,
"Suhu kau orang tua berada dimana sekarang?"
To Seng-cu tertawa.
"Aku berada didalam gua batu merah, sekarang aku tak
dapat keluar. harus menunggu sampai permukaan air di
telaga pasir hitam mencapai titik surut yang rendah gua
batu merah itu baru akan nampak...!
"Suhu, sampai kapan air tersebut baru akan mencapai
titik surut yang terendah?" tanya pemuda itu tak sabar.
To Seng-cu terdiam sejenak, seperti lagi memeriksa suatu
tanda. setelah itu baru sahut-nya:
"Mungkin harus menunggu setengah jam lagi".
Mendengar kalau masih ada setengah jam, Lain See giok
kelihatan mulai tak sabar, kalau bisa dia ingin secepatnya
menyaksikan senyum ramah dari gurunya, maka dengan
gelisah dia bertanya lagi.
"Suhu, tempatmu berada sekarang terletak dibagian
mana? Dapatkah anak Giok mencarinya?"
"Anak Giok, apakah kau sudah melihat sebuah batu
merah darah yang berbentuk runcing dan tingginya dua
kaki?"
Lan See-giok menengok kearah yang dimaksud dan
sepasang matanya segera bersinar tajam, benar juga,
setengah li di barat daya terdapat sebuah tebing tinggi yang
http://kangzusi.com/
ber-bentuk sebuah runcingan batu berwarna merah darah,
dengan gembira ia lantas ber-seru.
"Suhu, anak giok telah menemukannya."
Dengan mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya, dia
segera berangkat menuju ke tebing curam di depan sana.
Ketika mendekati tempat tersebut, dari atas permukaan
batu ia temukan retakan-retakan batu yang luasnya
mencapai setengah depa, hanya sayang bagian bawah amat
gelap sehingga tak terlihat keadaan di bawah sana.
Mendadak terdengar suara To Seng-cu berkumandang
lagi dari balik celah batu.
"Anak Giok, kau sudah sampai?"
"Benar suhu, anak Giok berada disini." jawab Lan See
giok sambil menengok ke arah celah batu,
"Nah duduklah lebih dulu. aku hendak berbicara
denganmu." kata To Seng-cu gembira, Lan See giok
menyahut dan duduk diatas tanah, sementara sepasang
matanya mengawasi celah-celah batu tersebut dengan
harapan bisa melihat gurunya sekarang.
Tapi suasana gelap gulita kecuali bau harum yang
terhembus keluar. sama sekali tidak terlihat sesuatu apapun.
bau harum yang terendus berbeda pula dengan bau harum
dari Leng sik giok ji.
Sementara itu terdengar To Seng-cu telah bertanya lagi
dengan ramah:
"Anak Giok, apakah kau datang bersama sama naga
sakti pembalik sungai?"
"Yaa, masih ada pula bibiWan, enci Cian adik Soat serta
adik Gou..."
http://kangzusi.com/
To Seng-cu mendehem dengan gembira sekali kemudian
katanya lebih lanjut.
"Sudahkah kalian jumpa Wan san popo bertiga? Apakah
kalian telah bertarung?"
"Kentongan ketiga tengah malam tadi, kami telah bersua
muka dengan mereka bertiga di depan istana Tiang-siukiong,
mereka bertiga telah menghabisi nyawa sendiri."
"Aaah..." To Seng-cu berseru kaget, tampaknya kejadian
tersebut sama sekali berada di luar dugaannya, "mengapa
mereka bertiga bunuh diri?"
"Si-to cinjin menderita kekalahan di tangan enci Cian
dan adik soat dengan Ilmu Siang kiam cian hui. Wan san
popo kena di kalahkan oleh anak Giok, sedangkan Lam bay
lo koay beradu pukulan sebanyak empat kali dengan anak
Giok, tapi pada serangan yang terakhir ia tewas oleh
pukulanku"
Lama sekali To Seng-cu membungkam dalam seribu
bahasa, Lan See giok juga tak berani bertanya.,
Sampai berapa waktu kemudian, To Seng-cu baru
berkata lagi.
"Anak Giok, kau sanggup beradu tenaga sebanyak tiga
kali dengan jago Lam hay tersebut. bahkan pada serangan
yang terakhir berhasil membunuhnya, aku rasa didalam
setahun ini kau pasti sudah mendapatkan penemuan aneh
yang lain?"
Buru-buru Lan See giok mengiakan dan secara ringkas
menceritakan pengalamannya selama ini.
Akhirnya To Seng-cu berkata lagi:
"Sungguh tak nyana orang yang membunuh ayahmu
benar-benar adalah Oh Tin san, waktu itu aku datang
http://kangzusi.com/
terlambat sehingga ti-dak berani memastikan dialah
pelakunya"
Setelah berbicara sampai di situ, mendadak dia berseru
lagi dengan suara keras.
"Anak Giok, aku segera akan turun. dari-sini air dalam
telaga pasir hitam telah mencapai titik penyusutan yang
terendah"
Mendengar perkataan itu Lan See giok segera melompat
bangun sambil menengok ke arah lembah, benar juga air
hitam yang menggulung gulung dengan hebatnya tadi kini
sudah lenyap tak berbekas.
Ketika ia mengintip ke bawah, ternyata puluhan kaki di
dasar lembah menyerupai sebuah kuali besar yang hitam,
kini di dasar lembah tinggal lumpur hitam yang luasnya
mencapai berapa hektar.
Di sekeliling lembah itu terdapat banyak sekali gua-gua
hitam yang besar kecilnya tak menentu.....
Tiba-tiba dari balik lembah tersebut melayang keluar
sesosok bayangan kuning menyerupai burung yang terbang
ke atas tebing.
Cepat sekali gerakan bayangan kuning itu, didalam
waktu singkat sudah terlihat dengan jelas bahwa bayangan
tadi ialah sesosok bayangan manusia
Ternyata dia tak lain adalah To Seng-cu yang sedang
meluncur ke atas dengan kecepatan luar biasa.
Lan See giok tak dapat mengendalikan gejolak emosinya
lagi, dengan penuh kegembiraan ia berteriak keras,
"Suhu..... suhu...."
http://kangzusi.com/
Angin berhembus lewat, To Seng-cu dengan wajah
merah bercahaya dan senyum ramah menghiasi bibirnya
tahu-tahu sudah muncul dl depan mata.
Sudah setahun lebih Lan See giok tidak bertemu dengan
gurunya, menyaksikan keadaan To Seng-cu masih seperti
sedia kala, ia segera menjatuhkan diri berlutut dan
menangis tersedu sedu.
To Seng-cu pun dapat melihat bahwa muridnya sudah
tumbuh lebih dewasa dalam setahun ini, namun
menyaksikan dia menangis terisak, tak tertahankan lagi
orang tua itu tertawa terbahak bahak.
Dengan cepat dia membangunkan pemuda itu, lalu
ujarnya penuh kasih sayang:
"Anak Giok, cepat hapus air matamu. bibi Wan sekalian
pasti sedang menunggu dengan gelisah"
Lan See giok segera menghentikan tangis-nya dan
membesut air mata, kemudian sam-bil menunjuk kearah
tenggara, dia berseru.
"Suhu, anak Giok datang dari arah sana. “
"Hmm, tempo hari akupun datang dari tempat tersebut"
sambil berkata To Seng-cu segera bergerak lebih dulu
menuju ke depan.
Ketika tiba diatas batu karang. Tampaknya orang-orang
yang berada di kapal keraton telah menyaksikan kehadiran
mereka berdua, sorak sorai yang amat ramai segera
berkumandang.
Menyusul kemudian sesosok bayangan abu-abu
meluncur turun dari atas kapal dengan kecepatan tinggi
Dengan gembira Lan See giok berseru.
http://kangzusi.com/
"Suhu, orang yang berada diatas sampan itu adalah Thio
loko...!"
Dengan wajah penuh senyuman To Seng cu manggutmanggut
ujarnya: "Dengan tenaga yang dimiliki memang ia
sanggup melewati alam yang berbahaya itu tanpa banyak
menimbulkan persoalan."
Baru selesai dia berkata, sampan yang di kemudikan
naga sakti pembalik sungai telah berada lima puluh kaki
saja dari tebing karang tersebut.
To Seng cu segera berteriak.
"Lok heng, jangan bercabang pikiranmu!"
Bersamaan dengan seruan ini, dia menggandeng tangan
Lan See giok dan segera melompat kearah permukaan laut.
Ketika sepasang kaki mereka meluncur ke bawah,
kebetulan sekali sampan sedang meluncur lewat, serta
merta mereka berdua pergunakan ilmu bobot seribu dan
hinggap di atas sampan dengan mantap.
Menanti Lan See giok berhasil menenangkan pikirannya
seraya berpaling, mereka sudah berada ratusan kaki dari
tebing karang berwarna merah darah itu.
Setelah lolos dari daerah berbahaya, naga sakti pembalik
sungai baru memberi hormat seraya berkata.
"Locianpwe, dida1am satu tahun ini kau tentu sangat
menderita."
Sewaktu mengucapkan perkataan tersebut sepasang
matanya berkaca kaca dan hampir saja mengucurkan air
mata.
To seng-cu segera tertawa terbahak bahak
http://kangzusi.com/
"Haahhh.... haahhh.. haaahhh.... kalau dibilang
menderita, sesungguhnya lebih tepat dikatakan gara-gara
bencana mendapat keberuntungan, semestinya kalian
bergembira, untuk nasib baikku ini. “
Naga sakti pembalik sungai segera mengiakan berulang
kali.
Sementara itu kapal keraton telah datang menyambut,
Hu yong siancu sekalian telah menunggu di ujung geladak.
Setelah kapal keraton itu berada di sisi sampan To sengcu
baru menarik tangan Lan See giok untuk diajak naik ke
atas perahu disusul kemudian oleh naga sakti pembalik
sungai.
Si Cay soat dan Siau thi gou segera menangis sambit
berteriak memanggil "suhu" begitu bertemu dengan To
Seng-cu, serentak mereka berlutut di depan gurunya,
Hu yong siancu memberi hormat pula di susul Siau cian,
akhirnya ke empat komandan kapal yang tahu akan
kedatangan To Seng cu serentak menjatuhkan diri berlutut
To Seng-cu membalas hormat Hu yong siancu, setelah
itu baru memerintahkan Cay soat, Siau thi gou, Siau cian
dan ke empat komandan agar bangkit berdiri.
Setelah berada dalam ruang kapal, mereka baru
berbincang bincang dengan riang gembira.
Akhirnya To Seng-cu baru mengisahkan pengalamannya
semenjak tiba di pulau Wan- san.
Pertama tama dia menghela napas dulu. lalu baru
berkata,
"Tahun lalu, Lam hay koay kiat datang ke bukit Hoa san
untuk mengundang aku datang ke pulau Wan san guna
merundingkan usaha penyatuan seluruh dunia persilatan
http://kangzusi.com/
dengan memilih seorang tokoh silat sebagai pimpinan
umum. bila aku tidak hadir di sana. maka mereka melarang
aku mencampuri urusan dunia persilatan lagi andaikata di
kemudian hari terjadi suatu perubahan penting.
Untuk menyelamatkan seluruh dunia persilatan dari
bencana ini terpaksa kukabulkan permintaan mereka. waktu
itu aku sudah mempunyai suatu rencana yang matang
dalam menentukan langkah-langkah berikutnya, yakni apa
yang telah kalian lakukan sekarang.
Ketika sampai di pulau Wan san tahun lalu. akupun
berusaha untuk mengamati sikap maupun cara Wan san
popo berbicara tapi tak berhasil kutemukan adanya suatu
hasrat pada dirinya untuk menjadi pemimpin besar di dunia
persilatan.
Akhirnya dari mulut seorang muridnya yang terkecil
yakni Gi Hui-hong, baru kuketahui bahwa rencana busuk
ini sebenarnya disusun dan didalangi oleh Oh Tin san
suami istri"
Berbicara sampai di situ dia memandang sekejap kearah
Hu yong siancu, Siau cian dan Lan See-giok. kemudian
baru meneruskan kembali kata-katanya:
"Oh Tin san suami istri menyusun perbagai rencana
busuk, membunuh dan menyaru sebenarnya tak lain karena
hasrat mereka untuk mendapatkan kotak kecil tersebut, tapi
akhirnya usaha mereka gagal total. Hal ini berakibat bukan
saja dia membenci ku, diapun membenci Han lihiap serta
Lok heng.
Maka sekembalinya ke Wi lim poo, Oh Tin san suami
istri mengambil keputusan untuk mohon bantuan dari Wan
san popo yang menjadi gurunya Say nyoo-hui, bahkan
bertekad untuk memperdalam Ilmu silat mereka guna
membalas dendam atas kejadian yang mereka alami.
http://kangzusi.com/
Walaupun demikian, dihati kecil mereka pun Oh Tin-san
suami istri tahu bahwa kemampuan yang dimiliki kedua
orang itu meski sudah melatih diri satu dua tahun lagi
Cuma mampu menghadapi Han lihiap dan Lok-heng secara
paksa, bila ingin menghadapiku, hal tersebut akan
ketinggalan jauh sekali.
Di samping itu, yang paling penting lagi adalah
mencegah agar anak Giok jangan keburu mempelajari ilmu
silat yang tercantum dalam kitab pusaka Pwee yap cinkeng.
Oleh sebab itu berangkatlah mereka berdua ke pulau
Wan-san, bahkan mempergunakan kotak kecil itu sebagai
umpan untuk menarik perhatian Wan-san popo.
Atas bujuk rayu mereka yang pandai dan manis,
akhirnyaWan-san popo terbujuk juga oleh siasat tersebut.
Kebetulan sekali dalam beberapa hari mendatang, akan
diselenggarakan pertemuan puncak tiga manusia aneh dari
luar lautan yang diadakan setiap lima tahun sekali, Wan
san popo yang mempunyai tujuan pribadi sama sekali tidak
menyinggung soal kotak kecil. tapi dengan alasan hendak
mempersatukan dunia persilatan dan memilih seorang
pemimpin umum dunia persilatan, ia berhasil menarik
simpatik Lam hay lo-koay dan Si to cinjin.
Persoalan ini memang merupakan persoalan yang sudah
lama terpendam dalam hati mereka berdua, begitu
perundingan selesai. Lam hay lo koay yang mahir dalam
ilmu meringankan tubuh segera berangkat ke puncak Giok
li hong untuk menyampaikan undangan kepadaku.
Tentu saja pihak yang paling puas atas kejadian ini
adalah Oh Tin san suami istri apalagi setelah melihat aku
dan Lam hay lo koay tiba di istana Tiang siu kong hampir
bersamaan waktunya, mereka berkesimpulan walaupun
anak Giok sudah menjadi muridku. namun ia tak akan
http://kangzusi.com/
berhasil mempelajari seluruh kepandaian silatku. apalagi
mempelajari isi kitab Pwee yap cinkeng.
Pada waktu itu, akupun sudah menduga setelah berhasil
memperdalam ilmu silatnya, langkah pertama yang
dilakukan Oh Tin san suami istri adalah mencari Han lihiap
serta Lok heng untuk membalas dendam, kemudian
berangkatlah ke Giok li hong untuk mencari anak Giok
sekalian mencari kesempatan untuk merampas kotak kecil
tersebut.
Siapa tahu perhitungan manusia tak dapat mengungguli
kemauan takdir, pada malam sebelum kedatangan Lam hay
lo koay, aku telah mewariskan isi kitab pusaka itu kepada
anak Giok.
Selama berada dalam istana Tiang siu kiong, aku sudah
berunding selama tiga hari dengan Wan san popo sekalian,
akupun memperingatkan mereka, orang pandai dalam
dunia persilatan amat banyak, tak sampai satu tahun
kemudian pasti akan muncul jagoan baru dari angkatan
muda yang akan menjadi memimpin dunia persilatan.
Bahkan akupun sengaja berkata bahwa anak-anak muda
itu begitu ampuh sehingga mereka bertigapun bukan
tandingnya. karena itu kunasehati kepada mereka agar
hidup mengasingkan diri saja.
Sesungguhnya tenaga dalam yang dimiliki Wan san
popo, Lam hay lo koay dan Si to cinjin berada dalam
kedudukan seimbang, sekalipun mereka berhasil menguasai
dunia persilatan, belum tentu mampu menjadi tokoh nomor
wahid dikolong langit. itulah sebabnya dia punya rencana
apabila Oh Tin san suami istri telah berhasil memperoleh
kitab cinkeng, barulah dia akan muncul di daratan
Tionggoan.
http://kangzusi.com/
"Mereka pun sadar, bila ingin menguasai dunia
persilatan maka pertama tama harus melenyapkan diriku.
itulah sebabnya mereka merencanakan siasat keji dengan
mengirim aku ke pulau batu merah."
Berbicara sampai disini, Si Cay-soat menyela secara tibatiba.
"Apakah suhu tahu ketika Wan san popo kembali dari
mengantar suhu ke pulau tersebut. is telah membunuh dua
orang kakek penghantar itu?"
To Seng-cu manggut-manggut.
"Yaa. aku mengetahui kejadian ini dari cerita engkoh
Giok mu tadi, tapi biarpun mereka tidak membunuh kedua
kakek tersebut. akupun yakin mereka tak akan mengirim
beras kepadaku"
"Suhu" teriak Siau thi-gou dengan mata terbelalak
"selama satu tahun. kau makan apa saja ? Apakah kau tidak
merasa kelaparan?"
To Seng-cu memandang sekejap murid nya yang polos
itu lalu tersenyum ramah dari sakunya dia mengeluarkan
dua biji buah berbentuk merah kekuning kuningan.
kemudian katanya lagi sambil tertawa.
"Anak Gou, coba kau lihat benda apakah itu?"
Hu yong siancu yang melihatnya segera berseru.
"Locianpwe, bukankah itu buah Cu sian ko?"
Mendengar nama Cu-sianko, semua orang segera berseru
kaget, dan bersama-sama datang merubung.
Siau thi gou berlari paling cepat, pertama tama dia
berseru lebih dulu:
"Suhu.. bisa dimakankah buah ini?"
http://kangzusi.com/
Sambil berkata lidahnya segera menjilat bibirnya dengan
wajah rakus.
Sekali lagi To Seng-cu tertawa ramah setelah melihat
kejadian itu, sambil menengok semua orang, katanya:
"Tampaknya Gou ji ku ini tak pernah lupa soal makan!"
Kontan saja semua orang tertawa tergelak.
Sedangkan Siau thi gou masih tetap tenang-tenang saja.
sama sekali tidak nampak malu. menanti semua orang
sudah duduk. To Seng cu baru berkata kepada Siau thi gou
dengan lembut:
"Suhu merasa sayang untuk makan kedua butir buah ini,
karenanya aku selalu menyimpannya di saku...."
"Suhu, tanpa makan, apakah kau tak kelaparan?"
kembali Siau thi gou bertanya dengan penuh perhatian.
To Seng cu segera menggeleng, sahutnya tersenyum,
"Selama berada didalam gua. sepanjang hari aku
mendapat pengaruh dari sari mestika buah Cu sian ko
tersebut, akibatnya aku tidak merasa kelaparan lagi"."
Komandan Nyoo dari pasukan macan kumbang hitam
yang mendengar sampai di situ segera bangkit berdiri dan
bertanya dengan hormat:
"Locianpwe konon buah Cu sian ko adalah benda langka
yang merupakan mestika bagi umat manusia. tolong tanya
masih ada berapa biji buah Cu sian ko lagi di dalam gua
batu merah tersebut...?"
"Masih ada tiga biji" sahut To Seng cu tanpa ragu, "tapi
masih membutuhkan waktu berapa ratus tahun lagi sebelum
dapat menjadi matang ....."
http://kangzusi.com/
Mendengar jawaban ini komandan Nyoo dari pasukan
macan kumbang hitam kelihatan rada kecewa. tapi dia
segera mengiakan dan duduk kembali.
Sementara itu Siau thi gou dengan mata melotot besar
sedang mengawasi buah Cu sian ko itu lekat-lekat, biarpun
semua orang sudah duduk kembali ditempat masingmasing,
hanya dia seorang masih tetap berdiri dihadapan
To Seng-cu.
Ketika komandan Nyoo telah duduk kembali. dia tak
bisa menahan diri lagi dan segera bertanya.
"Suhu. kedua biji buah Cu sian-ko ini hendak kau
berikan kepada siapa? Enci Soat atau engkoh Giok?"
Dengan penuh kasih sayang To Seng-cu membelai
kepala Siau-thi gou, lalu sahutnya sambil tertawa.
"Tenaga dalam yang mereka miliki telah mendapat
kemajuan yang pesat sekali, karena nya mereka tak perlu
makan buah mestika lagi. dua biji Cu sian ko ini. satu
buatmu dan satunya lagi buat murid terkecil Wan san popo
yang bernama Gi Hui hong itu."
"Betul" Hu yong siancu dan naga sakti pembalik sungai
segera mengangguk. "bocah itu memang mempunyai bakat
yang bagus untuk belajar silat."
"Itulah sebabnya aku berniat mengajaknya pulang ke
bukit Hoa san...." lanjut To Seng-cu sambil tersenyum.
Mendengar berita ini, semua orang ikut bersyukur dan
gembira atas nasib baik Gi Hui hong.
Dalam pada itu tengah hari sudah lewat, para dayang
kembali mempersiapkan meja perjamuan.
Lan See giok segera menitahkan ke empat komandannya
agar kembali ke kapal masing-masing kemudian
http://kangzusi.com/
menitahkan semua kapal perang agar bersiap siap pulang ke
telaga Phoa yang, sedang perahu keraton balik kembali ke
pulau besar di bagian tengah.
Sudah hampir setahun lebih To Seng-cu tak pernah
makan ikan dan daging, ditambah lagi suguhan ke empat
muda mudi. ia bersantap dengan gembira sekali.
Akhirnya kapal keraton membuang sauh pada jarak tiga
kaki dari pulau besar itu, Lan See giok sekalian minta ikut
serta turun ke darat tapi permintaan mereka ditolak semua
oleh To seng-cu.
Sebelum melompat ke darat, To Seng cu berpesan
kepada Hu yong siancu sekalian yang menghantar sampai
di depan perahu.
"Tunggu saja kalian semua di sini, aku hanya pergi
sebentar dan balik kemari lagi"
Tidak nampak gerakan apa yang digunakan, tahu-tahu
saja bayangan manusia berkelebat lewat. bagaikan segulung
asap ia sudah melesat kearah istana Tiang siau kiong dan
sekejap mata kemudian sudah lenyap dari pandangan mata.
Menyaksikan hal itu, Hu-yong siancu segera berpaling
seraya katanya.
"Tampaknya ilmu silat yang dimiliki Cia locianpwe
benar-benar sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.”
Lan See giok, Si cay-soat maupun Siau thi-gou merasa
gembira sekali mendengar ucapan ini.
Hu yong siancu tahu bahwa gerakan tubuh To Seng cu
cepat sekali, maka mereka tetap berdiri di ujung geladak
sambil meminta kepada Lan See giok menceritakan
pengalamannya ketika mencari To Seng-cu di atas pulau
batu merah.
http://kangzusi.com/
Setelah Lan See giok selesai bercerita, beberapa orang
itupun membicarakan kembali masalah sekembali mereka
ke bentengWi lim poo.
Naga sakti pembalik sungai segera melirik sekejap kearah
Siau cian serta Si Cay-soat, kemudian sambil mengelus
jenggotnya dan tersenyumdia berkata.
"Menurut pendapatku, pekerjaan pertama yang harus
kita lakukan sekembalinya ke rumah nanti adalah
melangsungkan perkawinan bagi beberapa orang bocah ini,"
Begitu usul diucapkan. paras muka Lan See-giok segera
berubah menjadi merah padam, sementara Siau cian dan
Cay-soat menundukkan kepala dengan tersipu-sipu. hanya
Siau thi gou seorang yang bertepuk tangan sambil tertawa
terbahak bahak:
Dengan cepat Hu yong siancu melirik sekejap kearah
Lan See giok bertiga, kemudian sambil tersenyum ujarnya
dengan bersungguh sungguh.
"Memang akupun berencana melangsungkan upacara
perkawinan ini secepatnya. agar apa yang kuinginkan pun
segera terlaksana."
Me1ihat semua orang membicarakan masalah
perkawinan, Cay soat dan Siau cian berlagak mengambek.
padahal dalam hati kecil mereka berdua sangat berharap
mengetahui bagaimanakah mereka akan mengatur
perkawinan mereka.
Lan See giok sendiri meskipun turut bergembira hati, tapi
dalam benaknya segera muncul bayangan wajah Oh Li cu
yang sebatang kara dan wajahnya telah bercodet itu, tibatiba
saja ia merasa kalau gadis itu paling mengesankan.
http://kangzusi.com/
Sementara semua orang masih berbincang bincang,
mendadak sepasang mata See giok berkilat, lalu serunya
tertawa.
"Bibi, suhu telah kembali!"
Dengan cepat semua orang mendongakkan kepalanya,
benar juga, dari balik pepohonan yang lebat ditengah pulau
tersebut muncul setitik bayangan kuning yang meluncur
datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Melihat hal ini. Hu yong siancu segera berkata sambil
tertawa. "Dia orang tua selain berhati bajik, ketajaman
matanya pun mengagumkan, kalau tidak. bakat bagus itu
akan terpendam selamanya ditengah pulau terpencil."
Baru selesai ia berkata, To Seng-cu sambil mengempit Gi
Hui-hong telah melompati pohon liu di sisi pantai seperti
seekor rajawali raksasa. kemudian melayang turun ke atas
kapal.
Begitu tiba-tiba di geladak kapal, dengan wajah marah
To Seng-cu berseru.
"Untung aku tiba pada saatnya. kalau terlambat
selangkah saja. niscaya bocah ini sudah kehilangan nyawa"
Sembari berkata lantas dia menurunkan Gi Hui hong
yang dikempitnya itu ke atas geladak.
Semua orang merasa terkejut, mereka jumpai rambut Gi
Hui hong amat kusut, mukanya pucat dan matanya basah
oleh air mata. karenanya semua orang sama-sama berpaling
kearah To Seng cu dengan pandangan terkejut bercampur
keheranan.
To Seng-cu segera berkata lebih jauh.
"Sewaktu aku kesana, rombongan laki perempuan
sedang mengitari sebuah pohon besar, di sekitar pohon
http://kangzusi.com/
telah ditumpuki kayu kering, sedang bocah itu digantung
diatas pohon, si ikan hiu berekor panjang serta dua orang
murid preman dari Si-to cinjin sudah bersiap akan
membakar mati Siau hong sebagai hukuman atas perbuatan
membocorkan tempat penyekapan atas diriku di pulau batu
merah…
Mendengar kejadian itu Lan See giok amat gusar. segera
serunya dengan cepat:
"Suhu, anak Giok bersedia menghukum kawanan
manusia jahanam tersebut."
To Seng-cu segera mengulapkan tangannya dengan
menyahut agak sedih.
"Kawanan manusia tersebut tak lebih hanya terpengaruh
oleh kebuasan dan kekejaman Wan san popo bertiga dihari
hari biasa sehingga lambat laun tertumpuk watak yang buas
pada jiwa orang-orang itu. Karena kuatir mereka berbuat
kejahatan lagi di kemudian hari, maka telah kupunahkan
semua kepandaian silat yang mereka miliki, bahkan
menasehati mereka agar hidup aman di pulau itu sebagai
petani biasa.
Hu yong siancu dan naga sakti pembalik sungai segera
manggut-manggut menyetujui tindakan itu,
Mendadak pada saat itulah Siau thi gou yang berada di
belakang telah berbisik dengan suara hangat.
"Adik kecil ayo turut aku, kau mesti cuci muka dan
menyisir rambutmu lebih dulu"
Ketika semua orang berpaling, tampak Siau thi gou
sedang menarik tangan nona cilik berbaju hijau itu.
Cay soat yang melihat hal ini segera menarik kembali Gi
Hui hong, lalu sambil melotot kearah Siau thi gou serunya:
http://kangzusi.com/
"Kau adalah seorang koko, kenapa sembarangan
menarik tangan adik ini?"
Biasanya Siau thi gou paling takut dengan kakak
seperguruannya ini, tapi kali ini ia justru merasa tak mau
kalah, sambil mencibir ia menuding kearah Lan See-giok.
kemudian bantahnya.
"Engkoh Giok juga koko, mengapa dia bo-eh menarik
tanganmu sebagai si adik.."
Begitu ucapan diutarakan. kontan saja semua orang
tertawa terbahak bahak karena kegelian.
Cay soat yang pintar, mimpipun tak menyangka kalau
adik Gou yang polos itu bisa mengucapkan kata-kata
macam begini di depan suhu sekalian. tak ampun mukanya
berubah menjadi merah dadu, saking jengkelnya ia segera
mendepakkan kakinya berulang kali dan lari masuk ke
ruang dalam.
Akibatnya gelak tertawa semua orangpun semakin
bertambah keras dan nyaring.
Angin berhembus silir semilir matahari sudah condong
ke langit barat, samudra luas nampak begitu hening seperti
sebuah telaga yang dalam.
Ratusan buah kapa1 perang Wi lim poo dengan teratur
dan rapi memasang layar penuh-penuh dan meluncur
memasuki mulut sungai Tiang-kang.
Waktu itu, dalam ruang utama kapal keraton sedang
diselenggarakan sebuah perjamuan yang meriah untuk
perpisahan dengan To Seng cu yang hendak mendarat lebih
dulu.
http://kangzusi.com/
To Seng cu duduk dikursi utama dengan wajah riang,
sedang Hu yong siancu dan naga sakti pembalik sungai
mendampingi di sisi kiri dan kanannya.
Lan See giok. Ciu Siau cian, Si Cay soat. Siau thi gou
dan Gi Hui hong mengiringi di sekitar meja.
Ketika perjamuan baru berlangsung setengah jalan, Hay
bun, kota dermaga terbesar, dipantai utara sungai tiangkang
telah muncul di depan mata, di kota inilah To Seng-cu
akan mendarat dan pulang ke Hoa san lebih dulu.
Naga sakti pembalik sungai meletakkan kembali cawan
araknya ke atas meja, lalu katanya.
"Locianpwe sudah setahun lebih berdiam di pulau Wansan.
semestinya kau orang tua berdiam beberapa saat dulu
di Wi lim-poo. bila perkawinan See giok sudah selesai baru
kembali ke puncak Giok li hong "
To Seng-cu segera tersenyum.
“Kini bibit bencana sudah dipunahkan, keputusanku juga
telah mantap, setibanya kembali di puncak Giok li hong,
aku hendak menembusi jalan darah Jin meh dan tok meh di
tubuh Siau thi gou serta Siau hong agar dasar tenaga
dalamnya bertambah sempurna, kemudian tak akan
mencampuri urusan dunia lagi"
Mengambil kesempatan tersebut Hu yong siancu turut
membujuk:
"Anak Giok sekalian bisa mencapai keberhasilan seperti
hari ini, kesemuanya tak lain merupakan hasil didikan
cianpwe, kalau toh cianpwe berniat mengasingkan diri,
mengapa tidak memberi kesempatan dulu kepada bocahbocah
ini agar dapat menunjukkan baktinya kepadamu?"
http://kangzusi.com/
To Seng-cu memandang sekejap kearah Lan See giok,
Siau cian dan Cay soat, melihat paras muka mereka diliputi
perasaan sedih dan sepasang matanya berkaca kaca, tak
terasa lagi ia tertawa tergelak sambil berkata lagi dengan
ramah:
"Perpisahanku kali ini bukan perpisahan untuk
selamanya, cuma keputusan telah kuambil dan aku tak akan
mencampuri urusan dunia lagi, oleh sebab itu aku
memutuskan untuk pulang gunung secepatnya, di kemudian
hari kalian boleh bermain ke bukit Hoa san setiap saat
kalian hendak datang.... “
Kemudian setelah memandang wajah Siau thi gou dan
Siau hong, ia melanjutkan lagi.
"Thi gou dan Siau hong boleh bermain beberapa hari di
benteng Wi lim poo lebih dulu bila See giok sudah kawin,
kalian boleh kembali ke Hoa san dengan dihantar oleh Lok
heng."
Semua orang tahu kalau keputusan yang di ambil To
Seng-cu sudah bulat dan tak mungkin bisa ditahan lagi, tapi
karena To Seng-cu mengijinkan mereka naik ke Hoa san
dan menengoknya setiap saat, rasa sedih yang semula
mencekam mereka semuapun sedikit agak mengendor.....
Terutama sekali Siau thi gou, ketika mendengar dia
masih boleh berkumpul lagi dengan engkoh Giok selama
beberapa hari, bocah tersebut menjadi luar biasa
gembiranya.
Gi Hui hong dan Siau cian maupun Cay soat meski baru
bertemu belum lama, tapi dasar watak kekanak kanakannya
masih ada diapun berharap bisa bermain beberapa hari lagi
dengan encinya yang cantik itu.
http://kangzusi.com/
Pada saat itulah seorang kacung masuk ke dalam
ruangan sambil berkata:
"Lapor pocu, Hay bun telah berada di depan mata."
Mendengar perkataan ini, Lan See giok segera berpaling
dan memandang sekejap kearah To Seng cu dengan
pandangan berat hati .....
To Seng cu sendiri segera mengangkat cawan arak yang
berada didekatnya, kemu-dian berkata sambil tersenyum
ramah.
"Semoga kalian semua baik-baik menjaga diri, terimalah
salamku lewat secawan arak ini."
Semua orang segera mengangkat cawan dan bersama
sama meneguk habis isinya kemudian setelah meletakkan
cawan ke meja mereka beranjak keluar dari ruangan.
ooo0dw0ooo
BAB 39
SEMENTARA itu kapal keraton telah meluncur ke arah
barat kota Hay bun yang ge-lap dari pandangan.
To Seng-cu berpaling dan memandang sekejap ke wajah
semua orang, kemudian ujar nya.
"Perjalanan kalian ke pulau Wan san kali ini pasti sudah
menggemparkan seluruh dunia persilatan, sekembalinya ke
telaga Phoa yang, kalianpun harus segera mengasingkan
diri dan melepaskan diri dari keramaian dunia, ketahuilah
pohon yang besar mudah memancing datangnya angin,
manusia termasyhur hanya memberi kesulitan bagi diri
sendiri. .."
http://kangzusi.com/
Semua orang berdiri serius sambil mengiakan berulang
kali. To Seng-cu berkata lebih jauh.
"Sejak peristiwa ini, mungkin dunia persilatan akan
mengalami ketenangan selama puluhan tahun lamanya,
berhubung kematian dari Wan san popo sekalian, kawanan
manusia laknat lain yang ingin munculkan diri pun pasti
akan mengurungkan pula niatnya, pertikaian antar
perguruan memang tak bisa dihindari, karena itu kuharap
Wi lim poo dengan kekuatan yang dimiliki sekarang harus
bertindak secara bajik dan bijaksana, berbuatlah kemuliaan
dan hindari perbuatan maksiat yang terkutuk"
"Anak Giok punya rencana hendak mengembangkan
perikanan di wilayahnya telaga Phoa yang agar kaum
nelayan hidup lebih sejahtera dan pendapatan mereka
meningkat..." ucap See giok pelan.
Dengan gembira To Seng cu manggut-manggut,
kemudian ia berpaling pula ke arah Hu yong siancu sambil
katanya: "Han lihiap, setelah ini kaupun boleh pindah ke
dalam Wi lim poo, di samping memutuskan hubungan
dengan dunia luar, kaupun dapat mengawasi See giok
sekalian, bagaimanapun juga mereka masih tetap
merupakan kanak-kanak."
"Selama banyak tahun ini boanpwe sudah jemu dengan
keramaian keduniawian", ucap Hu yong siancu dengan
kening berkerut.
"Setiap ada waktu aku selalu pergi ke Kwan im an untuk
bersembahyang, maksud boan-pwe jika beberapa orang
bocah ini, sudah menikah maka boanpwe hendak...."
Sebelum Hu yong siancu menyelesaikan kata katanya,
To Seng-cu telah mendongakkan kepalanya dan tertawa
terbahak bahak.
http://kangzusi.com/
See giok maupun Siau cian yang mendengar perkataan
Hu yong siancu tadi justru menunjukkan wajah yang gugup
dan panik,
Malah si naga sakti pembalik sungai sendiripun merasa
kejadian ini agak di luar dugaan, karenanya dengan kening
berkerut dia awasi wajah Hu yong siancu tanpa berkedip.
To Seng-cu berhenti tertawa, katanya sambil mengelus
jenggot:
"Han lihiap pada dasarnya merupakan seorang pendekar
kaum wanita, mengapa kali ini justru mengambil langkah
bodoh yang menghilangkan semangat seorang pendekar
sejati? Coba lihatlah sendiri, berapa banyak umat persilatan
yang putus asa dan masuk menjadi pendeta, tapi benarkah
mereka peroleh kebebasan?. Akhirnya justru penderitaan
dan siksaan yang lebih hebat yang mereka peroleh."
Naga sakti pembalik sungai menyambung pula:
"Menurut pendapatku, sudah seharusnya Han lihiap
menghilangkan ingatan tersebut secepatnya, cepatlah
pindah ke Wi lim poo untuk menemani Lan See giok
sekalian, di kemudian hari kau pun bisa membopong cucu
dan hidup bergembira..."
Berbicara sampai di situ, ia bersama To Seng-cu segera
tertawa terbahak bahak dengan penuh kegembiraan.
Hu yong siancu juga memandang sekejap ke arah Lan
See giok, Siau cian dan Cay soat dengan senyum
kegembiraan.
Merah padam selembar wajah See giok, tapi ia merasa
hatinya hangat, sedang Cay soat tertunduk malu, cuma Siau
cian yang menunduk dengan wajah merah padam, hati nya
berdebar sangat keras.
http://kangzusi.com/
Sebab dalam satu bulanan lebih ini, dia seperti
merasakan ada sesuatu perubahan pada bagian tertentu
tubuhnya, perubahan ini membuat hatinya tak tenang, di
samping ketidak tenangan terselip pula kebahagiaan dan
penantian.
Sementara pembicaraan berlangsung, kapal keraton
sudah berada lima kaki saja dari tepi pantai.
Sedang suasana di pantai amat hening, gelap dan tak
nampak sesosok bayangan manusia pun.
Dengan penuh kasih sayang To Seng-cu memandang
sekejap ke wajah semua orang, kemudian serunya:
"Baik baiklah kalian menjaga diri, sampai jumpa lagi lain
kesempatan!"
Dengan suatu gerakan yang cepat ia melejit ke udara dan
langsung melayang ke atas daratan.
See giok, Siau cian, Cay soat, Thi gou dan Siau hong
serentak berlutut di atas tanah sambil berseru:
"Semoga suhu selamat sampai di tempat tujuan."
Hu yong siancu serta Naga Sakti pembalik sungai juga
berseru pula:
"Locianpwe harus menjaga diri pula baik-baik, maaf bila
boanpwe tak dapat menghantar lebih jauh."
Gelak tertawa yang amat nyaring berkumandang datang
dari atas daratan, kemudian tampak bayangan kuning
berkelebat ke arah barat laut dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat, hanya sekejap mata kemudian bayangan
tubuh itu sudah lenyap dibalik kegelapan.
Sepeninggal To Seng-cu, kapal keratonpun meneruskan
perjalanannya untuk menyusul rombongan kapal lain yang
sudah berangkat lebih dulu.
http://kangzusi.com/
Oleh karena sekembali mereka ke Wi lim poo mereka
hendak melangsungkan perkawinan dari Lan See giok,
maka Hu yong siancu dan naga Sakti pembalik sungai
sering mengadakan pertemuan untuk membicarakan
masalah ini.
Cay soat dan Siau cian bersembunyi sepanjang hari
didalam ruang perahu, dalam keadaan begini mereka malah
malu untuk bersua muka dengan Lan See giok.
Siau thi gou yang mendapat teman baru, selain lagi tidur,
sepanjang hari selalu mendampingi Siau hong
memperkenalkan pemandangan alam di bukit Hoa san,
memperkenalkan gua cousu nya mereka, memperkenalkan
asal usulnya dan usianya.
Sejak kehadiran Siau hong, Thi gou jauh lebih matang
dan tahu urusan, gerak gerik tingkah lakunya jadi lebih
sopan, dia seakan akan telah berubah menjadi manusia lain.
Hanya Lan See giok seorang yang berubah menjadi
pemurung, seringkali ia berdiri di ujung perahu sampai
berjam-jam lamanya sambil memandangi gulungan ombak
sungai, bukan saja ia sedang memikirkan rencana
membangun perikanan yang baik di telaga Phoa yang,
diapun sedang berpikir bagai-mana caranya mengatasi
masalah tentang Oh Li cu.
Seringkali dia membayangkan kembali pengalamannya
semenjak bersua dengan Oh Li cu untuk pertama kalinya
hingga gadis itu menghantar keberangkatannya ke pulau
Wan san tempo hari.
Ia dapat merasakan bahwa diantara sekian banyak orang,
hanya Oh Li cu yang mengalami perubahan terbesar,
pengalamannya paling tragis dan asal usulnya paling
mengenaskan, ia simpatik kepadanya tapi tidak tahu apa
http://kangzusi.com/
yang mesti diperbuat untuk menyelesaikan masalah
tersebut.
Dia cukup mengerti akan rasa cinta Oh Li cu kepadanya,
karena itu dia merasa tidak boleh menyelenggarakan pesta
perkawinannya dengan Siau cian serta Cay sot di-dalam
benteng Wi lim poo, sebab ia merasa tindakan demikian
amat menusuk perasaan Oh Li-cu, Ia bisa melihat betapa
eratnya hubungan Siau cian dengan Cay soat, kedua orang
itu hampir tak pernah berpisah dan saling berhubungan
bagaikan saudara sendiri, namun kedua orang itu belum
pernah menyinggung soalOh Li cu.
Diapun sering mendengar Hu yong siancu dan naga sakti
pembalik sungai membicarakan masalah perkawinannya,
tapi ke dua orang inipun belum pernah menyinggung soal
Oh Li-cu.
Dalam sekejap mata tersebut, dia merasa Oh Li cu
seolah-olah sudah terlupakan sama sekali, diasingkan,
dianak tarikan, ia merasa nasib gadis itu memang terlalu
menyedihkan.
Seringkali bila berpikir sampai disini ia bertekad hendak
baik-baik merawatnya sikapnya terhadap Oh Li cu seperti
sikap nya terhadap seorang kakak kandung, agar gadis itu
ikut bergembira, agar dia tahu kalau dalam dunia ini masih
terdapat sedikit kehangatan den kelembutan hidup.....
Setiap kali memikirkan persoalan tersebut, See giok selalu
merasakan hatinya berat dan pikiran nya tidak tenang,
maka dia berharap bisa selekasnya kembali ke benteng Wi
lim poo.
Dalam perjalanan kembali, rombongan kapal perang itu
bergerak lebih lambat, mereka membutuhkan waktu selama
sepuluh hari untuk tiba di kota Kim leng.
http://kangzusi.com/
Sepuluh hari kemudian rombongan kapal tiba dimulut
telaga, untuk mencapai telaga Phoa yang satu malaman
perjalanan lagi mereka akan tiba di Wi lim poo dengan
selamat.
Lan See giok segera teringat kembali dengan peristiwa
penghadangan kapal yang dilakukan si bajing air berbulu
emas tempo hari, karenanya seorang diri dia keluar dari
ruangan.
Memandang tanah persawahan yang hijau di sepanjang
pantai, serta angin yang berhembus sepoi-sepoi, pemuda itu
merasa hatinya lega dan nyaman.
Mendadak dari balik pohon kecil di tepi pantai kelihatan
seekor burung merpati putih berkepala hitam terbang
menuju ke arah selatan....
Satu ingatan segera melintas dalam benak Lan See giok,
dia jumpai merpati itu persis seperti burung merpati dariWi
lim poo, sedang arah yang ditujupun tak lain adalah Wi lim
poo.
Menyusul kemudian tampak seorang lelaki berpakaian
ringkas menyelinap dari balik pohon dan kabur menuju ke
arah kotaOh To tin...
Lan See giok merasa tidak habis mengerti, kemudian
menengok sekejap kearah kawanan pengawal di sepanjang
perahu, tapi orang yang itu masih berdiri tenang, seakan
akan tidak melihat apa yang terjadi di pantai.
Ia tahu kemampuan yang dimiliki para pengawal itu
masih rendah, sudah barang tentu tak akan mampu melihat
keadaan di pantai tersebut dengan jelas.
Tapi Thi gou dan Siau hong juga sedang berdiri di ujung
perahu, apakah kedua orang ini tidak melihatnya?
http://kangzusi.com/
Dengan penuh kecurigaan pemuda itu segera berpikir,
tapi akhirnya ia tertawa sendiri.
Sudah pasti mata-mata itu sengaja disiapkan Oh Li cu
dengan maksud agar dia mendapat kabar lebih dulu tentang
kembalinya rombongan kapal, dengan begitu diapun bisa
membuat penyambutan yang meriah.
Berpikir begitu, rasa harunya terhadap Oh Li cu semakin
bertambah, otomatis pandangan dan sikapnya terhadap
gadis itupun berubah juga.
Keesokan harinya ketika fajar baru saja menyingsing,
padang ilalang ditengah telaga Phoa yang telah muncul
dikejauhan sana.
Dengan membagi diri menjadi empat buah rombongan,
seratus buah kapal perang itu memasuki padang ilalang,
melalui empat arah yang berbeda.
Hu yong siancu, naga sakti pembalik sungai dan Lan See
giok sekalian bersama sama berdiri di ujung geladak, setiap
orang membawa perasaan yang berbeda beda, namun ada
satu yang sama yakni kelegaan hati setelah kembali ke
kampung halaman.
Ketika rombongan kapal mulai tiba di tengah padang
ilalang, dari atas benteng ratusan kaki di depan sana
bergema suara tambur dan terompet yang amat keras, para
pengawal mulai bersorak sorai dengan penuh kegembiraan.
Perahu naga emas berdiri di depan pintu benteng,
serombongan dayang berdiri di depan perahu dengan sikap
yang tenang.
Cay soat dan Siau cian yang menyaksikan kejadian ini
segera berseru dengan gembira:
http://kangzusi.com/
"Coba lihat, enci Lan telah menanti kedatangan kita di
sana..."
Tapi Hu yong siancu dan Lan See giok justru
mengerutkan dahinya rapat-rapat.
Sebab rombongan pelayan yang berdiri di sepanjang
perahu naga emas itu tidak memperlihatkan kegembiraan,
malah bagian tengah rombongan tidak nampak pula Oh Li
cu.
Pertama tama Lan gee giok yang tak bisa menahan diri,
ia segera berbisik:
`Bibi, kenapa tidak nampak Be Cui lan berada di atas
perahu tersebut?"
Pertanyaan ini sesungguhnya merupakan pertanyaan
yang hendak diajukan oleh Hu yong siancu kepada Lan See
giok, oleh sebab itu dia segera menggelengkan kepalanya
de-ngan perasaan tidak habis mengerti.
Cay soat dan Siau cian baru terkejut setelah mendengar
perkataan ini, menyusul semakin dekatnya kapal keraton
itu, mereka berdua dapat melihat bahwa di atas perahu
naga emas memang tidak nampak Oh Li cu, karenanya tak
tahan lagi mereka berseru kaget:
"Aaaah, benar, kenapa enci Lan tidak berada di atas
perahu ...?"
"Jangan-jangan nona Lan sakit?" kata naga sakti
pembalik sungai ragu-ragu.
Lan See giok segera teringat dengan merpati pos yang
dijumpainya kemarin, hatinya bergetar keras, ia tahu pasti
ada sesuatu yang tak beres dengan peristiwa itu.
http://kangzusi.com/
Ketika kapal besar tiba di depan pintu benteng, suara
tambur, terompet dan sorak sorai semakin gegap gempita,
perahu naga emas juga pelan-pelan maju menyambut.
Ketika Lan See giok belum juga nampak kehadiran Oh
Li cu, ia segera mengambil kesimpulan kalau Oh Li cu tidak
berada di dalam benteng, maka begitu masing-masing
perahu merapat, ia segera menengok ke arah kawanan
dayang tersebut sambit berseru:
"Mengapa nonamu tidak nampak?"
Kawanan dayang tersebut berwajah murung dan sedih,
seorang diantaranya segera maju ke depan dan berlutut
dihadapan Lan See giok, kemudian ujarnya dengan hormat:
"Sejak kemarin malam nona. kami telah pergi
meninggalkan benteng, dia hanya meninggalkan sepucuk
surat yang meminta ke pada budak untuk menyampaikan
sendiri ke pada Han lihiap."
Sambil berkata dia mengeluarkan sepucuk surat dan
segera dipersembahkan ke depan.
Paras muka semua orang berubah hebat setelah
mendengar perkataan itu, Lan See giok danHu yong siancu
segera melompat, naik ke atas perahu naga emas,
sedangkan Cay soat dan Siau cian juga gelisah, mereka
merasa kalau peristiwa ini benar-benar di luar dugaan.
Cepat-cepat Hu yong siancu menghampiri dayang
tersebut, kemudian menyambut surat tadi dan dibuka
sampulnya, tak tertahankan ia berseru pula dengan gelisah:
"Semalam, siapa yang menghantar nona kalian ke
darat?"
Sambil berkata dia menyimpan kembali surat yang telah
terbaca itu ke saku.
http://kangzusi.com/
Lan See giok dan Siau cian sekalian yang menyaksikan,
kejadian ini tak berani lagi menanyakan isi surat tersebut,
merekapun tak berani meminta surat tadi untuk diperiksa
isinya.
Seorang dayang yang agak dewasa segera menyahut
dengan hormat: "Nona pergi dengan menumpang perahu
naga emas."
"Sekarang kalian segera membawa kami kesana" seruHu
yong siancu gelisah.
Kawanan dayang itu segera mengiakan dan masingmasing
menempati tempat sendiri dan memegang dayung.
Kepada para kepala regu yang berada di atas kapal besar,
Lan See giok berseru.
"Kalian segera memberi kabar kepada ke empat
komandan agar membawa kapal masuk ke benteng,
semuanya tukar pakaian dan beristirahat sebelum
diselenggarakan perjamuan. “
Selesai berkata dia memberi tanda kepada dayang,
berangkatlah perahu naga emas itu menuju kearah barat
daya. Setelah perahu berangkat, Lan See giok baru kembali
ke ruangan dalam, di situ Hu yong siancu sekalian sudah
menempati tempat duduk masing-masing.
Ketika naga Sakti pembalik sungai menyaksikan
beberapa orang muda mudi itu tak berani berbicara,
melainkan mengawasi Hu yong siancu dengan kening
berkerut, segera tanyanya lirih: "Nona Be.."
Hu yong siancu tidak membiarkan naga sakti pembalik
sungai menyelesaikan perkataannya, ia segera memberi
penjelasan:
http://kangzusi.com/
"Dia pun hendak menempuh perjalanan bodoh bagi
seorang anggota persilatan."
Dari ucapan tersebut, naga sakti pembalik sungai segera
memahami sesuatu, kejut dan heran ia segera berseru: "Jadi
nona Be pun hendak mencukur rambutnya menjadi
pendeta.,..?"
Dengan sedih Hu yong siancu mengang-guk.
Siau cian dan Cay soat segera saling berpandangan
sekejap, sedangkan Lan See giok menunduk sedih, dia tahu
apa sebabnya Oh Li cu mengambil keputusan untuk
menempuh perjalanan seperti ini.
Thi gou dan Siau hong duduk di sudut ruangan dengan
termenung, tidak berbicara tidak pula tertawa, sebab
mereka sudah melihat kegelisahan pada wajah orang-orang
dewasa.
Hu yong siancu berpaling dan memandang sekejap
keluar jendela, kemudian katanya gelisah: "Hari ini adalah
tanggal satu, bila perahu kita dapat bergerak lebih cepat dan
tiba sebelum tengah hari, mungkin keadaan belum
terlambat ...."
"Bibi, kita hendak kemana ?" tak tahan See giok
bertanya.
"Kuil Kwan im an!"
Mendengar nama tersebut, timbul amarah di dalam dada
pemuda itu, ia segera mendengus berat dan berseru dengan
gemas:
"Hmmm, lagi-lagi Kwan im an, hari ini aku pasti akan
melepaskan api untuk membakar ludas kuil Kwan im an
yang khusus memancing orang lain untuk menjadi nikou
ini."
http://kangzusi.com/
Hu yong siancu benar-benar merasa keheranan, ia tak
mengerti apa sebabnya Lan See giok begitu membenci kuil
Kwan im an karenanya dengan kening berkerut ia segera
bertanya:
"Mengapa anak Giok?"
Dihadapkan dengan pertanyaan ini, Lan See giok segera
terbungkam dalam seribu bahasa, dia sendiripun tak bisa
menerangkan apa sebabnya ia bisa berperasaan demikian.
Hanya Siau cian seorang yang mengerti apa sebabnya
Lan See giok begitu gusar, sebab ia pernah memberitahu
kepada See giok bahwa Hu yong siancu sering berkunjung
ke kuil Kwan im an.
Sementara itu perahu naga emas melesat di atas telaga
dengan kecepatan tinggi, perahu nelayan masing-masing
pada menyingkir ke samping sedang nelayannya segera
mengawasi Lan See giok sekalian dengan pandangan mata
terkejut bercampur keheranan.
Pantai barat daya telaga Phoa yang sudah semakin dekat,
sekarang mereka sudah dapat melihat bayangan manusia di
pantai dengan jelas ....
Lan See giok, Si Cay soat, Siau cian, Thi gou dan Siau
hong sudah keluar dari ruangan, Lan See giok melihat
dengan jelas dusun di atas tanggul adalah dusun kecil
tempat kediaman bibiWan.
Begitu kapal merapat, mereka segera melompat ke darat
dan berlarian ke depan.
Siau cian melompat pula ke darat, lalu bisiknya kepada
Cay soat
http://kangzusi.com/
"Untuk memburu waktu, meski kita lewat di depan
rumahku, sayang tak ada kesempatan lagi untuk menengok
ke dalam "
Cay soat tidak berkata apa spa, dia cuma menggelengkan
kepalanya berulang kali.
Tiba di atas tanggul mendadak Lan See giok menjerit
kaget.
Semua orang menjadi tertegun, Lan See giok juga tidak
menggubris keheranan orang lain, bagaikan segulung asap
ringan didalam berapa kali lompatan saja ia telah tiba di
depan sebuah puing-puing yang berserakan belasan kaki di
depan sana.
Dengan cepat Siau cian dapat melihat pula keadaan di
depan mata dengan jelas, ia segera menjerit kaget lalu
bersama Cay soat berlarian ke depan.
Hu yong siancu sendiri, ketika melihat rumah yang telah
didiami selama banyak tahun kini berubah menjadi puingpuing
yang berserakan, hatinya merasa sedih sekali, tapi ia
masih tetap melanjutkan langkahnya mengikuti naga sakti
pembalik sungai.
Thi gou serta Siau hong jauh sebelum Siau cian sekalian
tiba ditempat tujuan, dia telah berada di sana.
Menyaksikan bangunan rumahnya telah ludes, bahkan
diantara puing-puing yang berserakan sudah mulai
ditumbuhi rerumputan, saking sedihnya hampir saja air
matanya jatuh bercucuran.
Dalam pada itu, beberapa orang perempuan dusun telah
munculkan diri dan berdiri tak jauh dari situ, ketika Hu
yong siancu dan naga sakti pembalik sungai mencari
keterangan, barulah diketahui api membakar bangunan
rumah itu secara tiba-tiba kira-kira satu bulan berselang.
http://kangzusi.com/
Mereka berdua dan Lan See giok sekalian segera
menghitung kembali waktunya, dengan cepat mereka sadar,
sudah pasti kebakaran tersebutj merupakan hasil perbuatan
dari Say nyoo hui Gi Ci hoa, istri Oh Tin san.
Hu yong siancu merasa tak ada gunanya untuk
memandangi terus rumahnya yang telah berantakan, maka
serunya kemudian
"Mari kita percepat perjalanan, waktu yang tersedia
sudah tidak banyak lagi."
Ucapan ini segera menyadarkan kembali Lan See giok
yang dicekam hawa amarah serta Siau cian yang diam-diam
sakit hati, maka dengan membawa rasa sedih yang luar
biasa, tergesa gesa mereka meneruskan perjalanan menuju
ke belakang dusun.
Begitu keluar dari dusun, semua orang ti-dak ambil
perduli masalah lain lagi, agar bisa mencapai kuil Kwan im
an secepat mungkin, masing-masing pihak segera
mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan meluncur
kearah hutan di balik bukit pada arah barat daya dusun itu.
Hu yong siancu amat hapal dengan daerah di sana,
karenanya semua orang mengikutinya di belakang nya.
Biarpun Gi Hui hong masih berusia sebelas dua belas
tahunan, namun ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya
tidak kalah dari Siau thi gou.
Setelah menembusi hutan dan bukit yang luasnya
mencapai berapa li, secara lamat-lamat dari kejauhan sana
mulai nampak bayangan bangunan rumah.
Sambil berlarian kencang, Hu yang siancu segera
menuding ke depan sambil berseru
"Itulah Kwan im an, kuil kaum nikou yang terbesar
untuk sekitar telaga Phoa yang."
http://kangzusi.com/
Dengan perasaan mendongkol Lan See giok memandang
ke depan, kuil Kwan im an luas nya mencapai ratusan
hektar dengan tiga buah bangunan utama dan dua belas
bangu-nan samping, memang keadaannya nampak keren
dan mentereng.
Terdengar Hu yong siancu berkata lagi
"Ketua kuilnya adalah Soat Yu nio yang termasyhur
karena ilmu meringankan tubuh nya dimasa lampau, dia
adalah seorang pendekar wanita yang hebat, sampai waktu
nya kuharap kalian semua bisa sedikit tahu diri."
Belum habis perkataan itu diutarakan, mendadak
terdengar suara lonceng dibunyikan keras-keras.
Paras muka Hu yong siancu segera berubah hebat, ia
bgerseru kaget dan segera mendongakkan kepalanya,
ternyata persis tengah hari. Lan See giok tahu tengah hari
sudah tiba, hatinya merasa sedih bercampur gelisah yang
kemudian berubah menjadi kobaran hawa amarah yang
meluap luap.
Tak tahan lagi ia segera berpekik nyaring kemudian
dengan mempercepat langkahnya, bagaikan sambaran kilat
langsung meluncur ke arah kuil kwan im an.
Suara pekikan yang begitu keras dan nyaring bergema
hingga menembusi angkasa dimana bayangan biru
berkelebat lewat, daun dan ranting sama-sama
bergoncang....
Hu yong siancu. serta naga sakti pembalik sungai cukup
menyadari perasaan Lan See giok waktu itu, apabila
membiarkan dia berlarian dengan menggunakan ilmu
meringankan tubuhnya, mungkin pada saat ini sudah
Sampai ditempat tujuan.
http://kangzusi.com/
Maka semua orang segera mempercepat gerakan
tubuhnya dengan harapan bisa menyusul Lan See giok,
daripada dalam keadaan pikiran yang kalut, ia melakukan
perbuatan-perbuatan yang sama sekali di luar dugaan.
Tapi bayangan tubuh Lan See giok makin lama semakin
bertambah jauh, dalam waktu singkat telah lenyap di balik
hutan lebat di balik bangunan tersebut.
Hanya di dalam sekali pekikan panjang saja, jarak Lan-
See giok dengan Kwan im an tinggal seratus kaki saja.
"Trraaang.......Traaang.."
Bunyi lonceng masih juga berdentang.
"Tuuunnng, tuuuuungg ....."
Suara tambur, dibunyikan bertalu talu...
Dibalik suara lonceng dan tambur, lamat-lamat terselip
pula suara keleningan, bokhi dan suara orang memanjatkan
doa, membuat siapapun yang datang dengan napsu,
seketika napsu itu hilang lenyap tak berbekas.
Kobaran hawa amarah yang semula menyelimuti wajah
Lan See giok hampir saja punah dan padam tak berbekas
oleh keadaan serius dan penuh ketenangan ini.
Dalam gerak meluncurnya yang cepat menuju ke
bangunan kuil itu, ia saksikan kuil Kwan im an memang
dibangun sangat kokoh, pintu gerbangnya yang hitam
bergelang emas dihiasi dengan sepasang patung singa
berwarna hijau, tiang penyangga rumah berukirkan naga
dengan enam buah patung malaikat menghiasi di sana sini.
Saat itu pintu gerbang terbuka lebar, di atas pintu
tergantung sebuah papan nama dengan tiga buah huruf
besar yang terbuat dari emas:
"Kwan Im An."
http://kangzusi.com/
Lan See giok langsung menerjang masuk ke dalam kuil,
tapi tanpa sadar ia menghentikan langkahnya diantara
ruang beranda.
Ruang utama terdiri dari sebuah bangunan yang megah
dan kokoh, seingat Lan See giok, bangunan ini merupakan
bangunan besar yang paling megah dan pernah disaksikan
selama ini.
Lebih kurang sepuluh kaki dari pintu gerbang, masingmasing
terdapat dua buah ruang samping yang
dihubungkan satu sama lainnya dengan lorong-lorong yang
terbuat dari batu besar.
Asap dupa telah menyelimuti seluruh ru-ang tengah
waktu itu, di atas altar, tampak patung Kwan Im pousat
dalam ukuran setinggi satu kaki.
Di samping kiri dan kanan meja altar, masing-masing
duduk bersila sepuluh orang nikou setengah umur berjubah
merah yang memejamkan mata sambil berdoa.
Di belakang nikou berbaju merah itu berdiri pula ratusan
orang nikou berjubah kuning, sedang bagian yang paling
belakang terdiri dari dua ratusan orang nikou berjubah abuabu,
jumlah mereka semua hampir mencapai tiga ratusan
orang.
Tepat di bawah meja altar, terdapat seorang perempuan
berjubah abu-abu yang duduk bersila di atas sebuah kasur
kuning dengan mata terpejam dan sepasang tangan
dirangkap di depan dada, berhubung rambutnya yang
panjang menutupi bagian wajah nya, maka bagaimanakah
raut muka, perempuan tersebut tidak kelihatan dengan jelas.
Di sisi kiri dan kanan perempuan berambut panjang itu,
masing-masing berdiri seorang nikou kecil berusia tiga
http://kangzusi.com/
empat belas tahunan, di tangan mereka membawa sebuah
nampan kemala..
Pada nampan kemala yang berada di sebelah kiri
terdapat sebuah botol porselen berwarna ungu yang penuh
berisi air suci, sedangkan pada nampan kemala sebelah
kanan terdapat sebilah pisau cukur yang tajam..
Segenap nikou yang hadir di dalam ruangan sama-sama
memejamkan matanya rapat-rapat, mereka tetap berdoa
dengan tenang, terhadap pekikan keras yang menusuk
pendengaran dari Lan See giok tadi, mereka bersikap
seolah-olah tidak merasa.
Dengan wajah termangu Lan See giok berdiri kaku
ditengah lorong, sorot matanya mengawasi seorang
perempuan berambut panjang yang berada di tengah
ruangan dengan pandangan bodoh.
Dari jubah yang begitu lebar dan rambut yang menutupi
wajahnya, ia tak sempat melihat dengan jelas apakah dia
Oh Li cu atau bukan.
Menghadapi suasana semacam ini, biarpun Lan See giok
merasa gelisah namun ia tak berani memasuki ruangan itu
secara sem-barangan, apa lagi menyingkap rambut panjang
perempuan itu serta memeriksa siapa gerangan dia?
Dengan tenang ia berdiri di situ, dengan sabar menanti
sampai kedatangan bibiWan sekalian....
Pada saat itulah suara keleningan dibunyikan dan suara
sembahyangpun pelan-pelan mereda, serentak semua nikou
yang berada dalam ruangan berpaling dan memandang ke
arah Lan See giok dengan pandangan terkejut bercampur
keheranan.
Perempuan berambut panjang yang duduk bersila di
tengah ruangan pun segera mengangkat kepalanya, seakan
http://kangzusi.com/
akan sedang mengawasi Lan See giok yang masih berdiri
dengan wajah murung dan gelisah itu ....
Suara pujian pada sang Buddha tiba-tiba berkumandang
dari belakang ruangan.
Dari belakang meja altar pelan-pelan berjalan ke luar
delapan orang nikou kecil membuat tempat dupa.
Di belakang ke delapan orang itu mengikuti tiga orang
nikou setengah umur berjubah merah yang membawa
keleningan, ada pula yang membawa Ji gi, semuanya
berwajah serius.
Dan pada bagian yang terakhir muncul seorang nikou
muda berwajah cantik yang mengenakan jubah berwarna
kuning emas.
Nikou muda tersebut mengenakan kopiah emas dengan
sebutir batu permata merah di bagian tengahnya, dengan
sorot mata yang jeli ia memandang sekejap kearah Lan See
giok yang berdiri di luar ruangan, kemudian langsung
menuju kearah perempuan berambut panjang yang duduk
ditengah ruangan itu.
Dalam pada itu ke delapan nikou cilik tadi sudah
memisahkan diri di kedua belah sisi, ketiga orang nikou
setengah umur berbaju merah itu berdiri dibelakang
perempuan be-rambut panjang. sebaliknya nikou muda
berwajah cantik tadi justru berdiri di samping perempuan
berambut panjang itu.
Lan See giok tahu, nikou muda berjubah emas itu
tentulah Soat Yu nio yang dimasa lampau termasyhur
didalam dunia persilatan karena ilmu meringankan
tubuhnya, yaitu teman lama bibiWan.
http://kangzusi.com/
Teringat bagaimana dia membujuk bibi Wannya agar
mencukur rambut menjadi pendeta. tiba-tiba saja
amarahnya kembali berkobar...
Teringat akan bibi Wan ia menjadi sangat keheranan,
sudah begitu lama ia berdiri menanti mengapa mereka
belum juga menampakkan diri?
Ketika berpaling, dijumpai Hu yong siancu dan naga
sakti pembalik sungai sekalian telah berdiri di luar pintu
gerbang dengan sikap tenang dan wajah mereka diliputi
keseriusan.
Pada saat inilah mendadak dari arah ruang utama
berkumandang suara pujian kepada sang Buddha.
Menanti Lan See giok berpaling kembali, ia jumpai Soat
Yu nio atau nikou muda berwa-jah cantik itu sudah
mendekati nikou kecil yang membawa air suci, tangannya
yang lentik segera ditutulkan pada air suci tadi. Kemudian
ia menghampiri perempuan berambut panjang itu.
mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan melentikkan
kelima jari tangannya. bagaikan titik air hujan, air suci itu
segera membasahi kepala serta dada perempuan berambut
panjang itu.
Kemudian alat-alat musik upacara pun dibunyikan
mengiringi pembacaan doa.
Lan See giok tahu. sebentar lagi perempuan berambut
panjang itu akan kehilangan rambutnya dan sepanjang
hidup menjadi pendeta...
Berhubung Hu yong siancu sekalian belum juga masuk
ke dalam, Lan See giok semakin menyimpulkan kalau
perempuan berambut panjang itu bukan Oh Li-cu.
karenanya diapun ingin mengundurkan diri dari kuil,
http://kangzusi.com/
menanti upacara sudah selesai. dia baru akan mencari
persoalan dengan Soat Yu-nio.
Suara keleningan berbunyi lagi memecahkan keheningan
ruangan.
Pelan-pelan pembacaan doa mulai mereda, kemudian
suasana di seluruh ruangan pun dicekam dalam keheningan
yang luar biasa.
Melihat hal ini, tanpa terasa Lan See-giok menghentikan
pula langkah tubuhnya yang hendak mengundurkan diri
dari situ.
Tampak Soat Yu-nio mendekati kembali nikou kecil
yang membawa baki berisi pisau kecil, kemudian sambil
membawa pisau cukur itu dia kembali lagi kehadapan
perempuan berambut panjang tadi seraya berkata dengan
lembut.
"Setelah rambutmu dicukur, maka sepanjang hidup kau
akan menjadi pendeta. hidup dan mati sebagai murid
Buddha yang terikat oleh peraturan. kau harus melupakan
segala budi dan dendam. memandang kejayaan kekayaan
dan kemiskinan sebagai asap yang mengangkasa."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan wajah serius
dia berkata kembali.
"Sejak kini perasaanmu harus setenang air, sepanjang
hidup tak boleh menjadi preman kembali, bersediakah
kau?"
Perempuan berambut panjang itu pelan-pelan
mengangguk dengan gerakan yang berat.
Soat Yu nio manggut-manggut, kemudian berkata lebih
jauh.
http://kangzusi.com/
"Sekarang kuijinkan kepadamu untuk bertemu muka
dengan dunia keramaian sebelum kucukur rambutmu
menjadi gundul, bukalah matamu lebar-lebar, bila saat ini
kau merasa menyesal, dipersilahkan segera meninggalkan
kuil ini!"
Sembari berkata dia menyingkap rambut yang menutupi
wajah perempuan tersebut dengan tangan kirinya.
Lan See giok segera dapat menyaksikan raut wajah orang
itu dengan jelas, sekujur badannya gemetar keras, paras
mukanya berubah sangat hebat .....
Ternyata perempuan berambut panjang itu tidak lain
adalah Oh Li cu yang basah wajahnya oleh airmata, tapi
Oh Li cu hanya menggelengkan kepalanya.
Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok saat itu, dia
hampir gila menghadapi kenyataan begini, dengan suara
menggeledek segera bentaknya.
"Jangan ......."
Terdorong oleh luapan emosi, dia sudah melupakan
segala tata krama dan sopan santun lagi. ditengah bentakan
keras, bagai-kan segulung asap tubuhnya meluncur ke
dalam ruangan ....
Tampaknya Hu yong siancu sama sekali tidak
menyangka kalau Lan See giok bakal menerjang ke dalam
ruangan secara kasar dan sembrono, menanti die berniat
menghalangi maksudnya, keadaan sudah terlambat.
Serentak semua nikou yang berada di dalam ruangan itu
melompat bangun sambil menjerit kaget.
Beberapa kali bentakan keras bergema memecahkan
keheningan, ketiga nikou setengah umur berjubah merah itu
serentak menghadang di depan ruangan, sementara ke
http://kangzusi.com/
enam buah telapak mereka diayunkan bersama ke depan
melepaskan segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat
.....
"Minggir...." bagaikan orang kalap Lan See giok segera
membentak keras.
Ditengah bentakan, sepasang telapak tangannya
melancarkan serangkaian serangan gencar, ditengah
benturan yang nyaring. tahu-tahu tubuhnya sudah
menembus lapisan angin pukulan dari ke tiga nikou
setengah umur itu dan langsung menyerbu ke dalam ruang
utama.
Belum pernah ketiga orang nikou setengah umur itu
menyaksikan kepandaian silat semacam ini, serentak
mereka jadi tertegun dan mundur setengah langkah tanpa
terasa.
Tubuh See giok meluncur ke depan dengan cepat, begitu
melampaui ketiga orang nikou setengah umur tersebut dia
langsung menyerbu ke ruang altar.
Peristiwa ini kontan saja membuat segenap nikou yang
hadir dalam ruangan sama-sama memperlihatkan rasa kaget
den terkesiap, namun ke delapan nikou kecil memegang
tempat dupa itu justru mengangkat tempat dupa masingmasing
sambil menghadang jalan pergi Lan See giok.
Dalam waktu singkat Lan See giok sudah menerjang
masuk ke ruang tengah, namun setelah menyaksikan patung
di depan altar dan asap dupa yang menyelimuti seluruh
ruangan, pikiran yang sedang kalut tadi seketika menjadi
terang kembali.
Tapi begitu menyaksikan Oh Li cu yang masih duduk
bersila dengan air mata bercucuran, kemudian menyaksikan
http://kangzusi.com/
wajah cantik yang dingin kaku dari Soat Yu nio, api
kegusaran yang baru saja padam sekali lagi menggelora.
Tiba-tiba terdengar Soat Yu nio berseru kepada ketiga
orang nikou yang masih berada di ruangan itu:
"Huhoat bertiga, segera kalian usir lelaki kasar ini dari
ruangan!"
Ketiga orang nikou setengah umur itu segera mengiakan
dan bersama-sama menghampiri Lan See giok.
Menghadapi keadaan demikian Lan See giok gusar
sekali. dia segera membalikkan badannya lalu dengan
kening berkerut bentak nya keras-keras.
"Jika kalian bertiga berani maju selangkah lagi, akan
kubunuh kalian segera!"
Oleh sikap Lan See giok yang begitu garang dan penuh
kewibawaan, kontan saja ketiga nikou tersebut jadi terkejut
dan serentak menghentikan langkah mereka.
Sekujur badan Soat Yu nio turut gemetar keras,
wajahnya yang cantik berubah menjadi hijau membesi,
dengan kening berkerut katanya.
"Semenjak memasuki kuilku ini sikapmu sudah kurang
ajar dan tak tahu tata krama, di samping mengganggu
ketenangan, mengacau pula upacara yang sedang kami
selenggarakan, dosamu tak bisa diampuni lagi. Tapi
mengingat kau masih muda dan tak tahu urusan, kuminta
sekarang juga kau tinggalkan, kuil ini dan berbicara bila
upacara telah usai nanti ...."
"Tidak bisa!" tukas Lan See giok sebelum pihak lawan
menyelesaikan kata katanya.
"Kalau tidak bisa lantas mau apa kau?" seru Soat Yu nio
penuh amarah.
http://kangzusi.com/
Sambil menunjuk ke arah Oh Li cu, kata See giok.
"Sekarang juga akan kubawa dia dari tempat ini!"
"Atas kemampuan apa kau hendak mengajaknya pergi
dari sini... ?"
"Dia adalah istriku, tentu saja aku berhak untuk
mengajaknya pergi dari sini."
Oh Li cu yang masing duduk bersila sambil
memejamkan matanya itu segera menutup wajahnya
dengan kedua belah tangan, tubuhnya gemetar keras, ia
mulai menangis tersedu sedu.
Tampaknya Soat Yu nio merasa di luar dugaan akan
jawaban tersebut, tapi ia toh mendesak kembali.
"Siapa yang bisa membuktikan bahwa dia adalah
istrimu.."
"Dua ribu orang anggota Wi lim poo, tiga ratus dua
puluh orang komandan kapten kapal, kepala regu,
semuanya merupakan saksi hidupku..."
Sementara berbicara, dia menyaksikan Hu yang siancu
telah berdiri di luar ruangan, maka sambil menuding ke
depan serunya lagi.
"Masih ada lagi bibiWan ku itu!"
Dengan wajah murung dan gelisah Hu yong siancu
segera melangkah masuk ke dalam ruangan dan langsung
menghampiri Soat Yu nio lalu setelah memberi hormat
katanya.
"Adik Soat aku datang terlambat, hatiku sungguh merasa
amat menyesal"
Sebagai seorang pimpinan kuil. biarpun hubungan Soat
Yu nio dengan Hu yong siancu bagaikan kakak beradik,
http://kangzusi.com/
namun di-dalam keadaan demikian dia pun tak ingin
merusak peraturan yang berlaku di dalam kuilnya, maka
dengan cepat dia membalas hormat seraya ujarnya:
"Sekarang upacara telah dimulai, terpaksa pinto harus
bekerja menurut peraturan, biar pinni bertanya lagi kepada
nona Be...."
Lan See giok tahu, apabila Oh Li cu menganggukkan
kepalanya maka tiada kesempatan lagi baginya untuk
merubah keadaan tersebut, buru serunya kemudian.
"Tidak bisa, tidak bisa, kau tak bisa memenuhi
keinginannya itu...."
Melihat anak muda itu tak tahu diri, Soat Yu nio
membentak lagi dengan mendongkol .
"Kalau tidak menuruti kemauannya, lantas harus
menuruti kemauan siapa?"
Lan See giok tahu bahwa keadaan sudah berkembang
menjadi suasana yang tak enak, maka dia bertekad untuk
bekerja tidak kepalang tanggung. dia berniat akan
mengobrak abrik kuil Kwan-im an tersebut. agar
dikemudikan hari pun Hu yong siancu tidak tergoda
pikirannya untuk mencukur rambut menjadi pendeta.
Berpikir demikian, ia lantas menunjuk pada diri sendiri
sambil menyahut.
"Menurut kemauanku.."
"Kalau menuruti kemauanmu lantas bagai mana?"
bentak Soat Yu nio lagi dengan tubuh gemetar keras,
"Turuti perintahku untuk memberi pakaian preman
kepadanya agar dia bisa bertukar pakaian dan segera pulang
bersamaku"
http://kangzusi.com/
Soat Yu nio segera mendongakkan kepala nya dan
tertawa keras penuh amarah,
"Kau anggap Kwan im an adalah rumah makan atau
penginapan yang bisa datang kalau mau datang dan bisa
pergi bila ingin pergi...."
Lan See giok cukup tahu bahwa masalahnya tidak akan
diselesaikan secara mudah. hal mana membuat hatinya
semakin gelisah, sementara dia merasa terdesak dan tak
mampu menjawab, mendadak terdengar siau thi gou yang
berada di luar ruangan telah berteriak keras,
"Engkoh Giok. buat apa kau mesti banyak berbicara
dengannya? Lebih baik kita lepaskan api dan kita bakar kuil
Kwan im an ini, coba kita lihat apakah mereka akan
membiarkan enci Lan pergi dari sini atau tidak"
Sambil berkata dia lantas membalikkan badan dan
menuju ke sudut ruangan siap menyulut api.
"Thi gou kembali!" naga sakti pembalik sungai segera
membentak keras.
Terpaksa Siau thi gou menghentikan langkahnya. tapi
sama sekali tak berniat untuk balik ke posisi semula.
Tampaknya Si Cay soat juga merasa amat tidak puas
terhadap pemimpin kuil Kwan im an tersebut. sambil
menoleh kearah Thi gou, sengaja dia menyindir.
"Buat apa kau mesti gelisah? Tunggu saja sampai dia
enggan melepaskan enci Lan dari sini, saat itulah baru kita
bakar kuil nya ini sampai rata dengan tanah.”
Mendengar kata-kata tersebut hampir jatuh pingsan Soat
Yu nio saking gusarnya, dia sama sekali tidak menyangka
kalau kawanan anak muda tersebut begitu kurang ajar dan
http://kangzusi.com/
tak tahu peraturan, karena itu timbul niatnya untuk
memberi pelajaran yang setimpal kepada mereka semua,
Sambil tertawa dingin dengan sorot mata yang tajam dia
memandang sekejap kearah Siau cian dan Cay soat sekalian
yang berada di luar ruangan, kemudian katanya kepada Lan
See giok dengan suara dalam.
"Semenjak kuil kami didirikan dan hingga kini, berlaku
peraturan yang berbunyi bahwa jika ada orang yang semula
berniat mencu-kur rambut. kemudian mengurungkan
niatnya, maka dia mesti mampu menembusi barisan Sam
cay tin dari ketiga orang pelindung hukum kami…"
Lan See giok tidak membiarkan Soat Yu nio
menyelesaikan kata katanya, setelah tertawa angkuh
serunya.
"Jangan lagi baru ketiga orang pelindung hukummu, biar
kau sendiri juga tak akan kupandang sebelah matapun
mengerti?"
Soat Yu nio betul-betul amat gusar sehingga badannya
gemetar keras, serunya kemudian dengan gemas.
"Perduli kau akan memandang sebelah mata terhadap
kami atau tidak. pokoknya kau mesti mencoba untuk
menembusi barisan kami ini sebelum dapat mengajak
istrimu pergi meninggalkan tempat ini...".
"Asal kau sudah mempersiapkan diri, tentu akan kuiringi
kehendakmu itu" jawab See giok sambil tertawa-angkuh:
Soat Yu-nio menganggap sikap See-giok kelewat
sombong dan tekebur, sikap beginilah yang membuatnya
tidak tahan, ia bertekad akan melenyapkan kesombongan
pemuda tersebut. maka setelah mendengus marah katanya,
http://kangzusi.com/
"Hmm. Melihat sikap angkuhmu itu, aku jadi muak,
hati-hati kalau sampai kalah dalam pertarungan nanti..."
"Kalau aku kalah, pasti akan kuhabisi nyawaku sendiri,
jadi kau tak usah menguatirkan diriku lagi." tukas sang
pemuda ketus.
Mendengar perkataan ini Soat Yu nio segera mengiakan
dengan marah, cahaya emas berkelebat lewat, dia sudah
melompat ke luar dari ruangan tersebut.
Oh Li cu yang selama ini memandang dengan air mata
bercucuran. kontan saja menjerit sambil menangis keras.
"Jangan. jangan, adik Giok, kau tak boleh berbuat
demikian."
"Kalau begitu kau harus menyanggupi permintaanku
untuk segera pulang bersamaku!" seru See giok
memanfaatkan kesempatan ini.
Mendengar seruan mana, sekali lagi Oh Li Cu menutup
mukanya sambil menangis tersedu-sedu.
Dalam pada itu, Soat Yu Nio yang telah berdiri ditengah
halaman setelah memandang kearah See-giok sambil
tertawa dingin, serunya dengan marah,
"Kau tidak usah membuang waktu dengan percuma,
mau pergi dari situ atau tidak, dia tak akan mampu
mengambil keputusan sendiri"
Lan See giok bertambah gusar, tidak nampak gerakan
apa yang telah digunakan olehnya, tahu-tahu diantara
bayangan biru yang berkelebatan lewat, dia sudah tiba di
luar ruangan.
Dalam pada itu. ketiga orang nikou setengah umur tadi
sudah berada di luar ruangan. begitu melihat See giok
muncul. mereka segera berkata kepada Soat Yu nio,
http://kangzusi.com/
"Lapor An-cu, biar tecu sekalian dengan barisan Sam cay
tin yang membekuk manusia latah ini"
Soat Yu-nio memang ada niat membiarkan ketiga orang
nikou setengah umur itu mencoba kepandaian silat dari See
giok lebih dulu.Maka sahutnya sambil manggut-manggut.
"Ehmm cuma kalian mesti berhati hati."
Lan See giok mendengar ucapan mana, kontan saja
mendongakkan kepalanya dan tertawa keras.
“Kalian bertiga yang mencari penyakit buat diri sendiri.
jangan salahkan kalau akupun tak akan memberi muka lagi
kepada kalian bertiga. “
Ketiga orang nikou setengah umur itu membentak
bersama. bayangan merah berkelebat lewat. mereka telah
mengepung Lan See giok ditengah arena,.
Hu yong siancu berdiri seorang diri diatas tangga
ruangan, selama ini dia mencoba ingin berbicara, tapi tiada
kesempatan bagi nya untuk turut menimbrung, dia tahu bila
ingin mengajak pulang 0h Li cu, hanya jalan semacam
inilah yang dapat ditempuh. Tapi dia dan Soat Yu nio
memiliki hubungan yang sangat erat dalam hubungan
persahabatan, semestinya dia memberi peringatan kepada
rekannya itu agar Soat Yu nio tahu bahwa tenaga dalam
yang dimiliki Lan See giok telah mencapai suatu tingkatan
yang luar biasa, namun ia tak pernah memperoleh
kesempatan untuk berbuat demikian.,
Dalam pada itu, ke tiga orang nikou yang berposisi
dalam barisan Sam cay tin telah memuji keagungan sang
Buddha menyusul suara bentakan. serentak tubuh mereka
ber-putar kencang.
Lan See giok tertawa terbahak bahak menghadapi
kejadian seperti ini, ejeknya.
http://kangzusi.com/
"Haahhh... haaahhhh... haaahhh... dengan
mengandalkan barisan semacam ini pun ingin menangkap
aku?!"
Sekali lagi tubuhnya berkelebat lewat, seketika itu juga
muncul belasan sosok bayangan manusia berbaju biru yang
beterbangan diantara kurungan ke tiga orang nikou
setengah umur itu seperti kupu-kupu yang sedang menari.
Bila dibandingkan dengan gerakan tubuh ke tiga nikou
setengah umur itu, maka kecepatannya masih beberapa kali
lipat lebih hebat.
Ketiga orang nikou setengah umur itu baru terperanjat
setelah menyaksikan kejadian ini. mereka merasakan
pandangan mata nya menjadi kabur, angin serangan yang
tajam menusuk badan. berpuluh puluh bayangan biru itu
berputar kian lama kian bertambah cepat…
Dengan wajah berubah hebat Soat Yu nio segera
membentak keras. "Cepat tahan…"
Lan See giok tertawa terbahak bahak, menirukan logat
Soat Yu nio ejeknya.
"Sekarang mau tahan atau tidak. bukan kau yang berhak
untuk memberi perintah."
Bersamaan dengan selesainya berbicara, gerakan
tubuhnya segera berubah, berpuluh puluh sosok bayangan
biru itu segera berobah menjadi segumpal bayangan pelangi
berwarna biru yang melingkari ke tiga orang nikou tersebut.
Ketika ke tiga orang nikou tadi mencoba untuk berputar
terus, tahu-tahu saja pandangan matanya terasa kabur.
angin tajam menderu deru dan keadaannya benar-benar tak
mampu untuk dipertahankan lebih lanjut. Soat Yu nio
benar-benar tertegun, demikian juga ratusan orang nikou
yang berada dalam ruangan utama.
http://kangzusi.com/
Hu yong siancu pun sadar bila keadaan seperti ini
dibiarkan berlangsung terus, sejenak kemudian ketiga orang
nikou itu akan kehabisan tenaga dan akhirnya jatuh pingsan.
ooo0dw0ooo
BAB 40
SADAR akan keadaan yang kritis, dengan suara dalam
perempuan itu membentak keras.
"Kini barisan Sam cay tin sudah hancur, mengapa kau
belum juga menghentikan gerakan tubuhmu?."
Bayangan pelangi biru segera berkelebat lewat,
bersamaan dengan menggemanya ucapan mana, Lan Seegiok
telah melayang kembali ke depan ruang utama.
Ketiga orang nikou setengah umur itu kontan saja roboh
ke atas tanah dengan wajah pucat pias dan napas terengahengah,
pelan membasahi seluruh tubuh mereka, mata terasa
berat dan tak mampu dipentangkan kembali.
Soat Yu nio merasa mendongkol bercampur gusar, dia
tahu nama besarnya akan jatuh pecundang pada hari ini,
tapi ibarat menunggang di punggung harimau. posisi nya
sekarang benar-benar serba susah. mau mundur tak bisa
mau majupun tak dapat, terpaksa dia harus mengeraskan
kepala untuk menghadapi segala sesuatunya. Maka setelah
memandang sekejap kearah ratusan orang nikou didalam
ruangan, sambil menuding ketika nikou setengah umur
yang sudah tergeletak di tanah itu serunya keras.
"Gotong mereka pergi!"
Baru selesai ia berkata, belasan orang nikou berbaju abuabu
telah berlarian menuju ke depan. lalu dengan panik dan
http://kangzusi.com/
gugup mereka gotong ketiga orang nikou setengah umur itu
lari masuk lewat pintu samping,
Lan See giok memandang sekejap kearah ketiga orang
nikou yang digotong masuk tersebut, kemudian ditatapnya
wajah Soat Yu nio lekat-lekat sambil jengeknya dingin:
"Sekarang sudah tiba giliran An cu untuk memberi
pelajaran kepadaku!"
"Pinni adalah seorang pemilik kuil, sudah sepantasnya
bila tamu yang mengajukan persoalan" jawab Soat Yu nio
sambil tertawa keras penuh amarah.
Lan See giok tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haahhh.. haahh.. kalau memang begitu, biar
kumohon pelajaran tentang ilmu meringankan tubuh yang
pernah An cu andalkan untuk menjagoi dunia persilatan
dimasa lampau."
Sekali lagi soat Yu nio mendengus gusar.
"Bagaimana caranya bertanding silahkan kau memberi
petunjuk sedang tentang ilmu meringankan tubuh yang
menjagoi dunia. itu mah hanya pujian dari rekan-rekan
dimasa lalu. belum pernah pinni membanggakan diri
tentang kelebihan semacam ini,"
Satu ingatan segera melintas dalam benak Hu yong
siancu. segera terpikir olehnya suatu cara bertanding yang
adil, maka cepat-cepat katanya.
"Berbicara soal ilmu meringankan tubuh, maka yang
menjadi pokok persoalan adalah masalah cepat, kebetulan
sekali musim buah Tho sedang tiba di luar kuil. An cu dan
anak Giok boleh masing-masing mengambil sebutir buah
tho, siapa yang tiba di ruangan lebih dulu dialah yang
berhasil unggul!"
http://kangzusi.com/
Tampaknya naga sakti pembalik sungai dapat meraba
maksud hati Hu-yong siancu, maka dia segera menimpali.
"Ucapan Han lihiap benar, cara. demikian memang
terhitung cara yang paling adil"
Soat Yu-nio adalah seorang yang cerdik, tentu saja
diapun tahu bahwa cara tersebut amat menguntungkan
dirinya. karena Hu yong siaucu memang sengaja memberi
kesempatan kepadanya untuk melindungi nama baiknya,
sudah barang tentu diapun tak ingin menolak, namun dia
juga tidak mengangguk sebagai pernyataan persetujuannya.
Kecerdasan Lan See-giok memang jauh melebihi siapa
saja, dia segera berpikir setelah mendengar usul mana.
"Aku tidak hapal dengan keadaan di luar kuil. padahal
hutan hijau menyelimuti luar kuil itu. tidak kuketahui hutan
buah tho berada dimana dan berjarak berapa jauh.... posisi
demikian jelas tidak menguntungkan bagiku"
Namun teringat akan kesulitan yang dihadapi bibinya,
terpaksa diapun mengangguk memberikan persetujuannya.
"Demikianpun ada baiknya juga, tapi aku tidak hapal
dengan daerah sekitar tempat ini. aku harus melihat dulu
daerahnya dengan diantar satu dua orang siau-suhu
sebelum pertandingan boleh dilakukan....."
Mendengar perkataan tersebut, ratusan nikou yang
berada didalam ruangan jadi tertegun dan saling
berpandangan muka. bahkan Hu yong siancu serta Soat Yunio
sendiripun tidak habis mengerti apa maksud tujuan
anak muda tersebut.
Lau See-giok berpaling. dia jumpai diatas ruang tengah
lebih kurang tujuh delapan kaki didepannya sana. telah
berdiri lima orang nikou kecil berusia dua tiga belas
http://kangzusi.com/
tahunan yang sedang melototkan mata mereka yang kecil
mengawasinya dengan kebingungan.
Maka dengan cepat tubuhnya melesat ke depan dan
menghampiri ke lima orang nikou cilik tersebut.
Pada hakekatnya ke lima orang nikou kecil itu tidak
menyangka kalau ada orang akan menerjang ke hadapan
mereka pandangan matanya terasa silau. Angin lembut
berhembus lewat. sebelum mereka sempat berteriak, dua
diantara mereka sudah disambar pemuda itu.
Dengan menggandeng kedua orang nikou cilik tadi,
tanpa menghentikan gerakan tubuhnya Lan See giok
memutar badan dan melayang kembali ke posisi semula,
semua gerakan dilakukan lambat nampaknya tapi
sesungguhnya cepat sekali.
Tiba kembali pads posisi semula. dia letakkan kedua
orang nikou itu ke tanah, kemudian berkata sambil tertawa.
"Kuminta suhu kecil berdua bertindak sebagai saksi.”
Sewaktu pergi dan kemudian kembali Lan See-giok telah
mempergunakan dua macam gerakan tubuh yang berbeda.
ini membuat ratusan orang nikou yang menyaksikan
peristiwa itu semakin termangu.
Soat Yu-nio juga sadar kalau kepandaian silatnya masih
kalah jauh bila dibandingkan dengan pemuda ini. daripada
mendapat malu ia berhasrat untuk mengaku kalah dan
membiarkan pemuda itu berlalu sambil membawa
gadisnya, hanya tidak diketahui olehnya pemuda
darimanakah dia, mengapa memiliki kepandaian silat yang
amat hebat?
Sementara dia masih termenung. tiba-tiba kedengaran
suara teriakan gembira berkumandang dari luar pintu kuil.
http://kangzusi.com/
"An cu, aku datang membawa kabar gembira, Tiga
manusia aneh dari luar lautan telah terbunuh ditangan
pejabat pocu baru dari bentengWi lim poo"
Ketika semua orang berpaling, tampaklah di muka pintu
telah berdiri seorang kakek berusia tujuh puluh tahunan
yang berambut putih panjang sedang berlarian masuk ke
dalam ruangan.
Diatas punggung orang itu tergantung dua buah
bungkusan besar berisi lilin dan hio.
Ratusan orang nikou yang pada dasarnya sudah dibuat
tertegun, kini semakin termangu lagi melihat kemunculan
kakek tersebut, dengan kening berkerut Soat Yu nio
menghampiri kakek itu, kemudian tegurnya,
"Tio Huang, apa yang lagi kau igaukan?"
Sambil tertawa terkekeh-kekeh kakek itu berkata lagi.
"An-cu, kali ini aku Thio Huang bukan lagi mengigau,
karena kebanyakan minum arak. berita gembira ini
merupakan suatu kenyataan, pejabat pocu yang baru dari
Wi lim poo telah membacok mampus Wan san popo serta
Si-to cinjin. menghancur lumatkan pula tubuh Lam-baylokoay,
sekarang kota Tek an sudah digemparkan oleh
berita besar tersebut, itulah sebabnya aku pulang agak
pagian hari ini. karena aku ingin An-cu mengetahui berita
besar ini secepatnya."
Cay soat, Siau cian dan Siau hong yang menyaksikan
kekocakan kakek itu akhirnya tak bisa menahan rasa
gelinya lagi dan segera tertawa cekikikan.
Tio Huang sama sekali tidak menggubris Siau cian
sekalian. sambil tetap memandang kearah Soat Yu nio yang
sedang berkerut kening. dia berkata lebih jauh,
http://kangzusi.com/
"An cu. konon Lan See giok si pocu baru itu masih
muda. tampan dan berilmu tinggi. seperti juga jago pedang
baju biru dimasa lampau, diapun gemar mengenakan
pakaian biru...."
Mendengar perkataan ini, paras muka Soat Yu nio segera
berubah hebat, keningnya berkerut kencang lalu sambil
mengulapkan tangannya ia berseru dengan suara berat.
"Hmmm, mulutmu bau arak. kalau bukan lagi mengigau
tentu sudah mabok hebat, ayo cepat mundur darisini."
"Baik, baik nona, aku memang amat bodoh" seru Tio
Huang sambil manggut-manggut berulang kali. "Tanpa
terasa aku menyinggung lagi soal Koh ya si jago pedang
baju biru sehingga membuat hatimu amat sedih. ..."
Sepasang bibir Soat Yu nio pucat pias, matanya basah
dan tubuhnya gemetar, entah dia lagi sedih ataukah marah?
Sementara itu Siau thi gou telah tertawa terbahak-bahak,
sambil menepuk bahu Tio Huang. katanya sambil tertawa:
"Dialah Lan pocu yang kau maksudkan tadi."
Sembari berkata dia lantas menuding ke arah Lan See
giok yang berdiri dengan wajah runyam dan serba salah itu.
Mula-mula Tio Huang agak terkejut. Lalu sambil
memburu ke depan digenggamnya tangan pemuda itu
sambil berseru dengan nada terkejut bercampur girang.
"Aaah. aaah-kau memang sangat hebat.. toa enghiong.
toa enghiong."
Lan See giok tidak membiarkan Tio Huang
menyelesaikan kata katanya. sambil menunjuk kedua
bungkusan besar yang menggembol dipunggungnya dia
berkata sambil tertawa:
http://kangzusi.com/
"Kau tentu amat lelah sesudah menempuh perjalanan
jauh, silahkan beristirahat dulu.."
"Haaahhh..haaah.haaahh, kau memang baik orangnya.."
sambil tertawa tergelak Tio Huang manggut-manggut,
Kemudian sambil menggotong kedua buntalan besarnya
dia membalikkan badan dan beranjak pergi.
Pada saat itulah nikou yang berkumpul diatas undak
undakan ruangan telah menyingkir semua ke samping,
kemudian tampak seorang gadis cantik berbaju biru digusur
ke luar oleh enam orang nikou setengah umur yang berbaju
merah.
Ketika Len See giok sekalian berpaling mereka segera
mengenali orang itu sebagai Oh Li cu yang berwajah
murung dan sudah memakai pakaian preman kembali.
"Enci Lan...." Cay soat dan Siau cian segera bersorak
gembira. Di tengah teriakan itu, tubuhnya segera berlarian
ke depan..
Dengan pandangan berterima kasih Oh Li cu
memandang sekejap kearah Cay soat dan Siau cian, lalu
didampingi kedua orang itu, mereka langsung menuju
kehadapan Hu yong siancu.
Melihat Oh Li cu telah mengenakan pakaian preman
kembali, Hu yong siancu merasa amat gembira, dengan
senyum di kulum ia segera menyongsong.
Tiba di depan perempuan tadi, Oh Li cu segera jatuhkan
diri berlutut, airmatanya tak tahan lagi jatuh bercucuran,
"Anak bodoh, ayo cepat bangun, setelah berterima kasih
kepada An-cu kita harus berangkat," seru Hu yong siancu
kemudian sambil tertawa.
http://kangzusi.com/
Oh Li cu mengiakan dan segera memberi hormat kepada
Soat Yu nio...
Soat Yu nio balas memberi hormat, lalu kepada ke enam
Orang nikou setengah umur berbaju merah itu tanyanya:
"Apakah kalian setuju kalau nona Be meninggalkan tempat
ini?"
Ke empat orang nikou setengah umur berbaju merah itu
bersama sama menyahut, salah seorang diantara mereka
segera men-jawab:
"Lan pocu telah menuruti peraturan dengan berhasil
melewati barisan Sam cay tin dari ketiga orang pelindung
hukum sedang nona Be juga bersedia untuk pula dan
berunding dulu dengan suaminya sebelum mengambil
keputusan terakhir, oleh sebab itu dia telah berganti pakaian
preman lagi."
Soat Yu nio sebenarnya sudah memahami maksud hati
ke enam rekannya itu, dan saja ia tak dapat mendesak
kepada mereka dihadapan rekan-rekan nikou yang lain
seraya manggut-manggut katanya. kemudian kepada Lan
See giok dengan wajah berseri
"Kalian berdua memang sepasang sejoli yang pantas, ku
berharap sekembalinya dari-sini kau bisa merawatnya baikbaik,
kalau tidak, bila ia sampai datang kemari lagi, biarpun
kau bakar ludas kuil kami, belum tentu dia akan berubah
pikiran."
Berhubung Oh Li cu sudah bersedia kembali, Lan See
giok merasa tujuannya telah tercapai, maka katanya
kemudian seraya menjura:
“Terima kasih banyak atas kebaikan An cu."
Hu yong siancu juga segera berkata kepada Soat Yu nio
sambil tertawa:
http://kangzusi.com/
"Semua ongkos pengeluaran atas diselenggarakannya
upacara hari ini akan kubayar semua, sebentar akan
kukirim orang menyampaikan kepada An-cu, disamping
akan kudermakan pula seratus tahil perak, seribu tahil emas
dan lima puluh koli kain untuk kalian”
Buru-buru Soat Yu nio sekalian mengucapkan terima
kasih.
Hu yong siancu sekalian ingin secepatnya kembali ke Wi
lim poo, maka setelah berpamitan mereka segera menuju ke
tepi telaga Phoa yang dengan menggunakan ilmu
meringankan tubuh masing-masing...
Hu yong siancu dan naga sakti pembalik sungai bergerak
dipaling muka, kemudian disusul Siau cian, Cay soat dan
Oh Li cu, di belakangnya adalah Thi gou dan Siau hong
sedangkan Lan See giok berada dipaling belakang.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba kembali di dusun
nelayan kecil itu.
Ketika lewat di depan rumah kediaman Hu yong siancu
yang terbakar, Oh Li cu berpaling kearah Siau cian dan
tanyanya:
"Adik Cian, apakah bibi sudah melihat hal ini?"
Siau cian manggut-manggut.
"Yaa, benar-benar tak kusangka Say nyoo hui si rase tua
itu betul-betul seorang perempuan yang tak tahu malu.”
Oh Li cu menghela napas sedih dan membungkam
dalam seribu bahasa ....
Mereka langsung naik ke perahu naga emas setibanya di
tepi pantai kemudian menitahkan kepada para dayang agar
kembali ke bentengWi lim poo.
http://kangzusi.com/
Dalam ruang perahu diselenggarakan perjamuan yang
meriah, masing-masing orang berbicara dan bergembira
tiada hentinya.
Oh Li cu sebenarnya sudah bertekad untuk mencukur
rambutnya menjadi pendeta sampai ia menyaksikan Lan
See giok menerjang masuk ke dalam kuil dengan wajah
gelisah, pikirannya baru mengalami perubahan .....
Apa lagi setelah ia mendengar Lan See giok
mengakuinya sebagai istrinya dihadapan umum, hampir
menangis tersedu si nona tersebut saking terharunya, sebab
ucapan itu tak pernah disangka sebelumnya ... .
Kini, dia baru tahu bahwa pemuda pujaan hatinya itu
sudah menjadi seorang tokoh persilatan yang nama
besarnya telah menggemparkan seluruh kolong langit.
Ketika tiba kembali di benteng Wi lim poo, suasana
dalam benteng tersebut terang benderang bermandikan
cahaya, di sana sini kedengaran orang sedang berbincang
bincang sambil tertawa gembira.
Ketika perahu naga emas telah tiba di benteng bagian
dalam, Lan See giok sekalian segera merasakan pandangan
matanya menjadi silau....
Suasana terang benderang bermandikan cahaya,
penjagaan amat ketat tapi semuanya bersih dan rapi.
Yang membuat Lan See giok tertegun adalah pintu
gerbang gedung kediaman Oh Tin san yang terbuka lebar,
cahaya lentera menerangi semua tempat, malah dari dalam
gedung telah muncul segerombol dayang yang menyambut
kedatangan mereka di depan pintu.
Pikiran dan perasaan Oh Li cu saat ini jauh lebih cerah
dan gembira, melihat semua orang tertegun bercampur
keheranan, sambil tertawa kata kemudian:
http://kangzusi.com/
"Bibi, Thio lo enghiong, oleh karena anak Lan telah
bertekad akan mencukur rambut menjadi nikou, maka
sebelum meninggalkan benteng ini, anak Lan telah
memimpin segenap dayang untuk melakukan pembersihan
atas semua gedung bagian belakang .......
Mendengar perkataan tersebut, Hu yong siancu sekalian
seperti memahami akan sesuatu, tanpa terasa mereka
berpaling dan memandang sekejap keluar perahu.
Terdengar Oh Li cu berkata lebih jauh.
"Pagoda air kupersiapkan bagi adik Giok untuk
membaca dan mengasingkan diri, ruang tengah buat bibi,
ruang kanan buat adik Soat sedangkan ruang yang sekarang
anak Lan tempati kuberikan untuk adik Cian..."
Cay soat yang menyaksikan Oh Li cu dapat menyusun
semua perencanaan dengan matang, hati kecilnya merasa
amat gembira, tanpa terasa ia berseru sambil tertawa
cekikikan:
"Enci Lan, bagaimana dengan kau sendiri?"
Agak memerah selembar wajah Oh Li cu, baru saja dia
hendak mengatakan sesuatu, Hu yong siancu telah berkata
pula sambil tertawa ramah:
"Aku sudah tua, sudah sepantasnya jika kucari sebuah
gedung kecil yang terpencil untuk meneruskan hari tuaku,
biar gedung tengah ditempati oleh anak Lan!"
Siau cian seperti teringat akan sesuatu, tanpa sadar ia
berseru:
"Aaah, bukankah gedung bagian tengah terdapat ruang
rahasia yang merupakan kuburan Phoa yang ong?"
Sambil tertawa Oh Li cu segera menggelengkan
kepalanya berulang kali, ucapnya:
http://kangzusi.com/
"Aaah, itu cuma bohong-bohongan saja..."
Tergerak hati See giok dan Siau cian, serentak mereka
bertanya bersama:
"Apakah enci Lan telah memeriksa dengan seksama?"
Oh Li cu tersenyum dan manggut-manggut:
"Sebentar pasti akan ku ajak bibi sekalian untuk melihat
lihat dengan lebih seksama..."
Belum selesai ia berkata, perahu naga emas telah
bersandar di atas tanggul kanan, maka semua orang pun
turun dari perahu itu.
Ketika para dayang melihat nona mereka muncul dari
atas perahu naga emas, kejut dan gembira menyelimuti
perasaan mereka semua, serentak mereka berdatangan
untuk memberi hormat kepada Hu yong siancu dan Lan
See giok. Setelah maju ke dalam ruangan, suasana di ruang
depan terasa terang benderang bermandikan cahaya, aneka
bunga menghiasi sepanjang beranda, suasana lebih rapi,
bersih dan menarik hati. Si Naga sakti pembalik sungai
yang menjumpai keadaan tersebut tanpa terasa tertawa
riang, pujinya cepat:
"Kalau kulihat keadaan dan dekorasi ruangan ini, bisa
kubayangkan berapa banyak pikiran dan tenaga yang telah
dikorbankan” kata naga sakti pembalik sungai.
Oh Li cu berpaling dan tersenyum lebih dulu kepada
naga sakti pembalik sungai dengan penuh rasa terima kasih,
lalu sambil menunjuk kearah sebuah lukisan pemandangan
yang besar, katanya kepada Hu yong siancu sekalian: "Bibi,
bagaimana kalau sekarang juga anak Lan mengajak kau dan
Thio lo enghiong sekalian masuk ke dalam untuk melihat
lihat ....?"
http://kangzusi.com/
Hu Yong siancu tersenyum dan manggut-manggut, Cay
soat dan Siau cian segera berteriak pula minta ikut. maka
Oh Li cu menuju ke belakang kursi utama, menekan sebuah
batu bata yang berada diatas dinding dan diiringi suara,
gemerincingan nyaring dinding tersebut bergeser ke
samping.
Terbukalah sebuah pintu rahasia dibekas tempat
penggantungan lukisan pemandangan tadi.
Setelah pintu terbuka lebar, Oh Li cu memerintahkan ke
empat dayangnya untuk berjalan dimuka sambil membawa
lentera.
Hu yong siancu mengikuti dibelakangnya, di susul naga
sakti pembalik sungai sekalian.
Berhubung di depan ada empat orang dayang yang
membawa lentera, maka semua pemandangan didalam
lorong rahasia tersebut dapat terlihat dengan jelas.
Tujuh delapan kaki kemudian terdapat pula sebuah
pintu, cuma pintu itu sudah kunci olehOh Li cu.
Ketika pintu tadi sudah terbuka, di sisi kiri dan kanan
masing-masing terdapat sebuah jalan bercabang, yang belok
ke kanan berjalan datar sedangkan yang ke kiri. berundakundakan
dan liku-liku penuh tangga.
Sambil menunjuk kearah jalan yang berada di sebelah
kiri, Oh Li cu berkata lagi:
"Lorong ini sangat dalam melalui bawah air dan
mencapai pagoda diatas air tersebut.”
Hu yong siancu sekalian tidak berkata apa-apa, mereka
cuma manggut-manggut belaka.
Berangkatlah mereka menuju ke lorong se belah kanan,
dimana lorong tersebut makin lama semakin, bertambah
http://kangzusi.com/
lebar, kemudian tibalah di depan sebuah pintu berbentuk
bulat.
Dibalik pintu adalah sebuah ruang tamu berbentuk bulat
pula, semua perabotannya baru sedangkan batu nisan besar
diatas dinding telah ditutup tirai.
"Adik Giok dan adik Cian kurang memperhatikan
kuburan palsu ini ketika datang tempo hari, padahal yang
dicari oleh Thi Wi kang maupun Be Siong-pak dalam
beberapa kali penyusupannya adalah harta karun yang
berada didalam kuburan palsu ini."
Semua orang berseru tertahan setelah mendengar
perkataan ini, tanpa terasa sorot mata mereka bersama
sama dialihkan kearah tirai diatas dinding itu.
Dalam pada itu, ke empat orang dayang tadi sudah
menyulut banyak sekali lampu lentera sehingga suasana di
dalam ruangan menjadi terang benderang.
Sambil menunjuk sebuah pintu kecil di sebelah kiri, Oh
Li-cu bertanya lagi:
"Sewaktu adik Giok dan adik Cian bertemu dengan Be
Siong pak malam itu, apakah dia muncul dari balik pintu
kecil ini?"
"Benar" sahut See giok berdua sambil mengangguk, "dia
muncul dari lorong sebelah kanan,"
Sambil menuding pintu kecil sebelah kiri, kembali Oh Li
cu berkata:
"Dibalik pintu kecil ini terdapat banyak sekali loronglorong
yang bercabang kian ke mari, dari sini orang dapat
mencapai semua kamar yang berada di pelbagai gedung."
Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar penjelasan
ini, seperti memahami akan sesuatu, ia lantas berseru:
http://kangzusi.com/
"Tak aneh kalau Oh Tin san melarang orang lain
memasuki gedung bagian belakang, mungkin inilah yang
menjadi alasannya. “
Sedangkan si naga Sakti pembalik sungai segera bertanya
dengan nada tak mengerti.
"Kalau memang lorong ini berhubung dengan berbagai
kamar di gedung belakang mengapa Be Siong pak dan Thio
Wi kang harus masuk dari gedung bagian depan?"
"Karena tombol rahasia dari berbagai kamar ruang
gedung sudah dirusak oleh Oh Tin San, dengan demikian
orang tak bisa sampai di tempat ini tanpa melalui pintu
utama."
"Enci Lan, sebenarnya barang apa saja yang tersimpan di
dalam kuburan palsu ini," Cay soat tak sabar.
"Waah, banyak sekali!" sahut Oh Li sambil tertawa
misterius.
Berbicara sampai di situ dia menuju depan tiang batu
sebelah kanan yang berukiran seekor naga, kemudian
menekan mata naga tersebut kuat-kuat, dari balik tiang
segera berkumandang suara gemerincing nyaring dan
menyusul kemudian seluruh ruangan turut bergetar keras
....,.
Ketika suara nyaring tadi telah mereda, buru-buru Oh Li
cu berjalan menuju ke depan tirai tadi dan menyingkapnya,
batu nisan telah lenyap sedang di atas dinding muncul pula
sebuah pintu besi yang amat besar.
Dengan pandangan mata penuh rasa cinta. Oh Li cu
memandang sekejap ke arah See giok, kemudian ujarnya
sambil tersenyum.
http://kangzusi.com/
"Adik Giok, sekarang harap kau mendorong pintu ini
dengan sekuat tenaga!"
Sambil tersenyum Lan See giok mengiakan lalu menuju
ke depan pintu dan mendorong-nya dengan mengerahkan
tenaga dalam, pintu baja tadi segera terpentang lebar.
Dibalik pintu terdapat anak tangga yang menjorok ke
bawah, dipimpin oleh Oh Li cu semua orang berbondong
bondong masuk ke balik pintu tadi.
Di ujung tangga terdapat lagi sebuah tirai yang tebal lagi
berat, setelah Oh Lien menyingkap tirai tersebut, serentetan
cahaya tajam segera memancar keluar yang membuat
pandangan semua orang menjadi silau.
Ternyata di balik tirai tebal itu adalah sebuah ruang batu
yang lebarnya tiga kaki, langit-langit ruangan beserta ujung
dan tengah ruangan masing-masing terdapat sebiji batu
permata yang amat besar memancarkan sinar terang,
sedangkan di atas lantai terdapat puluhan buah peti besi
yang besar.
Siau thi gou sudah tidak dapat menahan diri lagi, cepatcepat
dia menghampiri salah satu peti itu dan membukanya.
Apa yang kemudian terlihat kontan saja membuat semua
orang tertegun, ternyata isi peti adalah intan permata dan
mutu manikam yang tak terkirakan banyaknya.
Dengan kening berkerut Hu yong siancu segera berkata:
"Aku dengar setiap tahun Phoa yang ong keluar lautan
tempo dulu, jarang sekali ada yang tahu dia pergi ke mana,
kalau dilihat dari hasil kekayaannya sekarang, bisa jadi dia
menuju ke samudra jauh untuk merampok dan merompak
barang-barang milik saudagar kaya dari beberapa negara."
http://kangzusi.com/
Naga sakti Pembalik sungai manggut-manggut berulang
kali.
"Dugaan lihiap memang kemungkinan besar benar,
menurut hasil yang diperoleh pihak Wi lim poo di dalam
praktek mereka menarik pajak kaum nelayan, mustahil hasil
pajak tersebut dapat mengumpulkan harta kekayaan yang
begini besar."
Dalam pada itu Siau thi gou telah membuka, pula dua
peti yang lain tapi isinya sama, yaitu mutu manikam dan
intan permata yang tak ternilai harganya.
Mendadak terdengar Siau hong bersorak gembira:
"Engkoh Giok, di sini terdapat sebilah pedang pendek!"
Ketika mendengar perkataan tersebut, semua orang
segera berpaling, ternyata Siau hong berhasil mendapatkan
sebilah pedang pendek yang bertaburkan intan permata dari
balik sebuah peti yang terletak di sudut ruang batu itu, dia
sedang memandang kemari dengan wajah terkejut
bercampur gembira.
Berkilat sepasang mata See giok menyaksikan kejadian
ini, buru-buru serunya:
"Adik kecil, bawa kemari pedang tersebut dan
perlihatkan kepada bibi...."
Siau hong segera berlarian menuju ke depan Hu yong
siancu dan menyerahkan pedang tadi.
Setelah Hu Yong siancu menerima pedang tersebut, naga
sakti pembalik sungai dan Lan See giok sekalian segera
datang merubung.
Pedang pendek itu panjangnya itu satu depa delapan
inci, di gagang maupun sarung pedangnya bertaburan batu
http://kangzusi.com/
permata yang besar kecil tak menentu dengan aneka warna,
tampak nya benda itu bernilai amat tinggi ....
Lama sekali Hu yong siancu mengamati gagang pedang
tadi, kemudian ia baru berseru:
"Oooh, pedang irni adalah Ya soat kiam!"
Naga sakti pembalik sungai serta Lan See giok sekalian
menjadi tertegun oleh sebutan itu, sebab tiada orang yang
tahu asal usul dari pedang tersebut.
Ketika Hu yong siancu menekan sebuah tombol pedang
tadi segera lolos dari sarungnya dengan memercikkan
cahaya yang menyilaukan mata, sinarnya begitu tajam
hingga terasa menusuk pandangan.
Bukan begitu saja, terutama hawa dingin yang menyayat
tubuh, sungguh membuat bulu kuduk orang pada bangun
sendiri ....
Tak kuasa lagi Naga Sakti pembalik sungai berseru
memuji:
"Pedang bagus, benar-benar sebilah pedang yang tak
ternilai harganya ...."
"Sejarah pedang ini kelewat lama" kata Hu yong siancu
dengan wajah serius, "mungkin sudah ratusan tahun
lamanya tak pernah muncul di dalam dunia persilatan, bila
ingin mengetahui asal usul pedang tersebut, terpaksa kita
harus minta petunjuk dari To Seng cu Cia locianpwe."
Ketika Oh Li cu menyaksikan Siau hong sedang
membelalakkan sepasang matanya yang besar dan indah itu
sambil mengawasi pedang Ya soat kiam tanpa berkedip,
buru-buru dia berseru tertawa:
http://kangzusi.com/
"Bibi, pedang pendek itu ditemukan oleh adik Hong,
berarti pedang tersebut ada jodoh dengannya, hadiahkan
saja pedang itu untuknya ......
Sesungguhnya Hu Yong siancu dan naga sakti pembalik
sungai mempunyai perasaan yang sama, maka dia segera
manggut mang-gut"
"Begitu pun ada baiknya juga, biar Siau hong yang
membawanya pulang ke Hoa-san, sekalian diperlihatkan
kepada Cia locian-pwe..."
Tampaknya Siau thi gou jauh lebih gembira daripada
Siau hong, maka kepada Siau hong yang masih termangu
karena rasa terkejut dan gembiranya, buru-buru dia berseru:
"Ayo cepat kau ucapkan terima kasih kepada enci Lan!"
Dengan cepat Siau hong sadar kembali dan berterima
kasih kepadaOh Li cu, ujar nya dengan gembira
"Terima kasih banyak enci Lan, di kemudian hari siau
moay tentu akan menyimpan pedang pendek ini baik-baik,
sekarang siau-moay tak punya apa-apa sebagai balas budi
kepadamu, biarlah kuhadiahkan pedang peng pok leng
hiang kiam dari daerah Biau ini buat enci Lan!" Seraya
berkata dia lantas melepaskan pedangnya dari atas
punggung ..... Sementara Oh Li-cu hendak menampik, tibatiba
Hu yong siancu telah berkata sambil tertawa:
"Hal ini memang jauh lebih baik lagi, Peng pok leng
hiang kiam merupakan salah satu pedang antik dari wilayah
Biau, pedang tersebut tajamnya luar biasa, anak Lan mesti
menyimpannya dengan berhati hati,..."
Naga sakti pembalik sungai yang berada di sisinya segera
menyambung pula dengan wajah serius:
"Pedang ini sudah digembol Wan san popo selama
delapan sembilan puluh tahunan, entah berapa banyak
http://kangzusi.com/
darah jago persilatan yang telah menodai pedang tersebut,
dulu pedang ini pernah dikenal sebagai senjata maut bagi
umat persilatan, karena itu ku harap nona Be dapat
menyimpannya dengan baik-baik ......
Sebetulnya Oh Li cu ingin menampik, tapi sesudah
mendengar perkataan tersebut terpaksa diterimanya senjata
itu dari tang Siau hong ....
Pada saat itulah dari luar pintu muncul seorang dayang
yang memberi laporan.
"Hidangan malam telah disiapkan, silahkan pocu
sekalian bersantap..."
Selesai bersantap dalam suasana yang riang gembira,
mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk
beristirahat.
Keesokan harinya, ketika semua orang sedang
berkumpul di ruang depan untuk sarapan, komandan Ciang
dari pasukan naga perkasa muncul dengan langkah tergesa
gesa.
Dengan perasaan tidak mengerti Lan Se giok segera
bertanya:
"Komandan Ciang, ada urusan apa?"
Komandan Ciang memberi hormat dulu kepada Hu yong
siancu, kemudian sahutnya dengan hormat:
"Lapor pocu, saudara kita. Yang berada di loteng
benteng telah menemukan enam buah perahu besar muncul
di telaga sebelah utara dan sedang bergerak kemari, kalau
dilihat dari bentuk perahunya, mirip, sekali dengan perahu
dari telaga Pek toh oh..."
http://kangzusi.com/
Lan See giok yang mendengar perkataan itu menjadi
amat terperanjat, bayangan tubuh Pek Gwat go yang
bertubuh ramping sekali lagi melintas di dalam benaknya.
Karena itu sebelum komandan Ciang menyelesaikan
kata katanya, ia sudah menimbrung:
"Mau apa dia datang kemari?"
Sambil tertawa terkekeh kekeh Siau cian segera
menggoda:
"Apa lagi? Tentu saja membawa arak wangi untuk
memberi hadiah kepada kau si toa enghiong."
Merah padam selembar wajah Lan See giok, buru-buru
serunya kepada komandan Ciang:
"Cepat kirim perahu untuk menyambut kedatangan
mereka. katakan kalau aku sudah mengikuti suhu pulang ke
Hoa san..."
Tapi sebelum ucapan tersebut selesai, Si Cay soat telah
menukas dengan nada tak puas:
"Hal ini mana boleh jadi, bibi sendiri yang mengundang
kedatangannya ke Wi lim poo untuk menginap selama
beberapa hari disini, masa kau menyuruhnya pulang?
Apalagi dari mana kau tahu kalau kedatangannya hanya
khusus untuk menjengukmu?"
Paras muka Lan See giok berubah semakin merah
padam, seketika itu juga ia dibikin terbungkam dalam seribu
bahasa:.
Oh Li cu tidak begitu tahu tentang duduk persoalan yang
sebenarnya, oleh sebab itu dia hanya membungkam diri
dalam seribu bahasa.
http://kangzusi.com/
Tampaknya Hu yong siancu pun tidak menyangka kalau
Pek Gwat go, benar-benar akan datang, maka setelah
termenung sejenak, sahutnya kemudian:
"Harap komandan Ciang mengirim kapal untuk
mengundang kedatangan mereka, kami akan menyambut di
depan pintu gerbang."
Komandan Ciang mengiakan dan buru-buru berlalu dari
situ.
Sepeninggal komandan Ciang, Hu yong siancu segera
berpaling ke arah Lan See giok sekalian dan berkata lebih
jauh:,
"Sekarang mari kita keluar, sewaktu lewat di ruang telaga
emas, sekalian kita jemput Thio lo enghiong."
Maka berangkatlah mereka semua mening-galkan
gedung dan menuju ke ruang telaga emas dengan perahu
naga emas.
Baru tiba di depan ruangan, Naga Sakti Pembalik sungai
telah muncul dengan langkah tergesa gesa, kalau dilihat dari
wajahnya yang terkejut, bisa diketahui kalau iapun sudah
tahu akan kehadiran kapal-kapal Pek toh oh.
Baru saja perahu mencapai beberapa kaki dari tepi
pantai, naga sakti pembalik sungai telah melompat ke
tengah udara.
Kemudian begitu tiba di atas geladak, ia bertanya kepada
Hu yong siancu:
"Apakah kita hendak menyambut kedatangan Pek Gwat
go?"
Sambil tersenyum Hu yong siancu mengangguk.
"Yaa, aku sudah mengutus komandan Ciang untuk
menyambut kedatangan mereka."
http://kangzusi.com/
Dengan penuh kegelisahan Naga Sakti pembalik sungai
memandang sekejap kearah See giok, Cay soat, Siau cian
dan Oh Li cu, kemudian serunya lagi tidak tenang:
"Tapi dia masih dalam masa berkabung..."
"Dia tak bakal kemari dengan pakaian berkabungnya,"
tukas Hu yong siancu lagi Sambil tertawa.
Semua orang jadi tertegun, mereka tidak mengerti apa
sebabnya Hu yong siancu bisa tahu kalau Pek Gwat go
tidak bakal datang dengan mengenakan pakaian berkabung.
Sementara berbicara, perahu naga emas telah berada tak
jauh dari pintu benteng.
Berhubung Lan See giok menyambut sendiri, maka ke
empat komandan serta kepala regu yang lain dengan
masing-masing menumpang sampan kecil menanti pula, di
sepanjang pintu gerbang dengan rapi, biarpun jumlahnya
mencapai ratusan kapal, rapi dan teratur sekali.....
Tatkala perahu naga emas mencapai pintu benteng, dari
kejauhan sana, sudah muncul dua buah perahu besar yang
bergerak menghampiri mereka.
Lan See giok segera dapat melihat bahwa pada ujung
kapal pertama berdiri Pek Gwat go yang bertubuh ramping,
di belakang perempuan itu berdiri dua orang dayang.
Merekapun dapat melihat dengan jelas bahwa Pek Gwat
go yang berparas cantik. memang tidak mengenakan
pakaian berkabung.
Perempuan itu muncul dengan pakaian yang amat indah
dengan rambut disanggul model keraton, dandanannya
perempuan tersebut kelihatan jauh lebih cantik.
http://kangzusi.com/
Hampir termangu Lan See giok menyaksikan kecantikan
perempuan itu, ia merasa kecantikannya melebihi
kecantikan perempuan tersebut sebulan berselang
Bila dibandingkan dengan Siau cian, Pek Gwat go
memang kalah sedikit, tapi masih setanding dengan Cay
soat maupun Oh Li cu. malah dibalik kecantikan wajahnya
terselip juga suatu daya pikat dan rangsangan yang amat
besar.
Sementara dia masih mengamati perempuan itu dengan
termenung, perahu besar yang ditumpangi Pek Gwat go
sudah semakin rapat.
Para dayang di atas perahu naga emas segera memasang
papan penghubung ke atas perahu besar itu.
Dengan langkah lebar Pek Gwat go menyeberang ke atas
perahu naga emas, pertama tama ia memberi hormat dulu
kepada Hu yong siancu dan naga Sakti pembalik sungai,
sambil berkata: `
"Boanpwe dengar Lan pocu telah pulang dengan
gemilang, karenanya telah kusiapkan Sam seng (tiga jenis
hewan) untuk menyampaikan selamat kepadanya, sekalian
memberi salam untuk cianpwe."
Buru-buru Hu yong siancu dan naga Sakti pembalik
sungai balas memberi hormat:
"Dengan senang hati kami sambut kedatangan hujin, tak
perlu hujin repot-repot lagi.."
Kemudian Pek Gwat go memberi hormat pula kepada
See giok, Cay soat dan Siau cian, lalu diperkenalkan pula
kepada Oh Li cu dan Gi Siau hong.
http://kangzusi.com/
Ketika perahu naga emas masuk ke gedung benteng
bagian belakang, perjamuan diadakan di ruang depan
Pada saat itulah, komandan Ciang muncul kembali
dengan langkah tergesa gesa sambil memberi laporan:
"Lapor pocu, saudara-saudara kita yang bertugas di
loteng pengintai telah menemukan kembali puluhan buah
kapal dalam bentuk yang berlainan muncul di utara telaga,
tampaknya mereka semua berdatangan ke arah benteng
kita."
Berkilat sepasang mata Pek Gwat go mendengar
perkataan tersebut, seperti teringat akan sesuatu, ia segera
menjelaskan:
"Oooh, kalau begitu mereka adalah para jago yang diutus
berbagai perkumpulan untuk melakukan kunjungan
kehormatan."
Mendengar perkataan itu, Lan See giok segera berkata
kepada komandan Ciang dengan suara dalam:
"Harap kalian empat komandan keluar dari benteng dan
menolak kunjungan mereka, katakan saja kalau aku sudah
mengikuti suhu pulang ke Hoa San dan tak tahu sampai
kapan baru kembali, sekalian sampaikan rasa terima kasih
kita untuk kunjungan mereka."
Komandan Ciang mengiakan dengan hor-mat kemudian
buru-buru berlalu dari situ.
Pek Gwat go jadi tertegun setelah mendengar perkataan
mana, tanpa terasa dia memandang sekejap ke arah See
giok dengan pandangan penuh arti, lalu tanyanya:
"Lan pocu, kau menampik tamu lain yang datang
memberi selamat, kenapa hanya mengijinkan aku saja yang
datang kemari?"
http://kangzusi.com/
Merah padam selembar wajah See giok, baru saja dia
hendak memberi alasan, Siau Thi gou telah menimbrung
sambil tertawa:
"Sebab kau adalah satu satunya orang yang datang untuk
memuji engkoh Giok ku...."
Agaknya rahasia hati Pek Gwat go tertebak secara jitu
oleh Siau thi gou kontan saja dia menjadi merah padam
wajahnya dan tersipu sipu.
Hu yong siancu sekalian kuatir Pek Gwat go dibuat tak
tenteram karena malu, karena nya mereka pura-pura
tertawa tergelak karena gembira, hanya See giok seorang
yang melotot kearah Siau thi gou dengan menarik
mukanya..
Siau thi gou segera sadar kalau telah salah berbicara,
maka kata-kata selanjutnya segera ditelan kembali.
Kebetulan sekali dari luar pintu muncul belasan orang
centeng dan dayang yang membawa alat-alat untuk
menghias ruangan.
Siau cian, Cay soat dan Oh Li cu serentak berhenti
tertawa, seperti memahami akan sesuatu mereka segera
berkerut kening.
Pek Gwat go juga berpaling keluar ruangan dengan
wajah tidak mengerti,
Menggunakan kesempatan itu Hu yong siancu segera
berkata lagi sambil tersenyum:
"Lusa, bulan lima tanggal lima belas adalah hari baik,
aku ingin secepatnya menyelenggarakan pesta perkawinan
bagi anak Giok."
Sambil berkata dia menuding kearah Siau cian, Cay soat
dan Oh Li cu.
http://kangzusi.com/
Biarpun Siau cian bertiga sudah mempersiapkan diri
sebaik baiknya tak urung mereka toh menundukkan
kepalanya juga dengan wajah merah padam.
Pet Gwat go pun nampak agak terperanjat, tampaknya
dia tak menyangka akan kejadian tersebut, maka setelah
berhasil mengendalikan diri, ia segera mengangkat
cawannya untuk memberi selamat kepada Lan See giok
berempat.
Lan See giok masih dapat meneguk habis isi cawannya,
lain dengan Siau cian bertiga, mereka semakin bertambah
malu.
Sambil tertawa terbahak bahak naga Sakti pembalik
sungai segera berkata pula dengan mengandung arti
mendalam:
"Untuk menghindari kerepotan dalam peristiwa tersebut,
pada hari perkawinan kami tidak bermaksud mengundang
tamu dari luar."
Pek Gwat go adalah seorang yang pintar, tentu saja
diapun dapat memahami arti lain dibalik ucapan si naga
sakit pembalik sungai, walaupun hatinya sakit, terpaksa dia
harus mengendalikan perasaannya dan berlagak tenang.
Sebenarnya dia datang dengan mbaksud berdiam
beberapa hari sambil mengisi kekosongan hatinya, terhadap
See giok dia tak menaruh rencana apa-apa, tapi dia dapat
melihat bahwa pemuda tersebut sudah menaruh
kewaspadaan terhadapnya. Sejak perpisahan di sungai
tempo hari, dalam hati kecilnya selalu terbayang bayangan
wajah Lan See giok yang tampan, pada hakekatnya hal ini,
membuatnya tak enak makan tak nyenyak tidur.
ia sadar bahwa dirinya hanya seorang pe-rempuan yang
telah ternoda, mustahil dia dapat menandingi Siau cian dan
http://kangzusi.com/
Cay soat sekalipun ia mengerti bahwa kecantikan wajahnya
tak kalah dari mereka.
Tapi ia tak sanggup mengendalikan diri agar tidak
memikirkan Lan See giok.
Bila malam sudah tiba, diapun akan terbayang kembali
bagaimana mereka berpelukan di dalam air, bagaimana
pakaiannya robek tergigit babi sungai dan bagaimana,
tubuhnya yang setengah terbuka digendong pemuda itu.
Bila membayangkan adegan-adegan hangat itu, dia selalu
diburu oleh niatnya untuk menengok pemuda tersebut,
bahkan dia bertekad akan mendapatkan sang pemuda
dengan cara apa pun. Tapi setelah menyaksikan suasana
gembira dalam ruangan, lalu ingat pula akan ucapan naga
Sakti pembalik sungai barusan, hatinya semakin kalut.
Hu yong siancu adalah orang yang berpengalaman
dalam soal ini, dia cukup memahami bagaimanakah
perasaan dan penderitaan Pek Gwat go waktu itu. Pada saat
itulah seorang dayang muncul sambil memberi laporan:
"Lapor pocu, hadiah dari hujin telah diterima semua, ke
enam kapal besar menanti perintah."
Baru saja See giok hendak minta petunjuk Hu yong
siancu, Pek Gwat go telah bangkit berdiri sambil
berpamitan:
"Boanpwe masih ada urusan lain sehingga tak bisa
berdiam terlalu lama disini, biar kumohon diri lebih dulu,
jika lain kali ada kesempatan tentu akan berkunjung
kembali.”
Perubahan yang sama sekali di luar dugaan ini kontan
saja membuat Lan See giok sekalian tertegun.
http://kangzusi.com/
Sebaliknya Hu yong siancu cukup memahami perasaan
Pek Gwat go, ia tidak mencoba untuk menahannya, malah
sambil bangkit berdiri sahutnya tersenyum:
"Biarpun jarak antara Pek toh oh dengan Wi lim poo
selisih berapa hari perjalanan sesungguhnya kita
bertetangga dekat, memang waktu dilain masa masih
banyak waktu bagi kita untuk berkumpul masih banyak"
Pek Gwat go mengiakan pelan, dihantar semua orang
berangkatlah ia menuju ke perahu naga emas yang sudah
menunggu di luar pintu gedung,
Setelah semua orang naik ke atas kapal, diiringi suara
dentingan keleningan, pelan-pelan kapal bergerak menuju
ke luar pintu benteng.
Suasana dalam bentengWi lim poo amat ramai, suasana
gembira menyelimuti seluruh pelosok, kesemuanya ini
menambah kesepian dan kepedihan hati Pek Gwat go.
Akhirnya perahu merapat dengan ke enam kapal besar
dari Pek toh oh, Pek Gwat go melirik sekejap kearah Lan
See giok dengan pandangan berat hati, akhirnya setelah
berpamitan dengan Hu yong siancu, dia mela-yang kembali
ke perahu sendiri.
Hu yong siancu. Siau cian, Cay soat dan Oh Li cu
menggoyangkan tangannya berulang kali sambil
menyerukan ucapan selamat jalan.....
Sebaliknya Lan See giok hanya berdiri belakang Siau
cian sekalian tanpa berbicara, hanya sorot matanya yang
tajam mengawasi wajah Pek Gwat go tanpa berkedip.
Detik itu dia merasa bahwa orang yang sesungguhnya
patut dikasihani dan merasa kesepian bukanlah Oh Li cu,
melainkan Pek Gwat go.
http://kangzusi.com/
Bayangan tubuh Pek Gwat go yang ramping lambat laun
semakin mengecil dan akhirnya turut tertelan bersama
lenyapnya perahu.
Tapi bayangan wajah Pek Gwat go yang murung dan
sedih masih melekat di dalam benak pemuda itu.
Suara keleningan tiba-tiba bergema menyadarkan
kembali Lan See giok dari lamunannya, perahu naga emas
sedang pelan-pelan memasuki pintu gerbang benteng.
Ketika mendongakkan kepalanya, langit tampak cerah,
matahari bersinar terang, tiga buah lentera merah
bergoyang pelan terhembus angin....
Benteng Wi lim poo yang bersejarah puluhan tahun pun
mengikuti majikan barunya menuju ke kehidupan baru.
Sampai disini pula cerita "ANAK HARIMAU" sampai
jumpa dilain cerita.
TAMAT

Anda sedang membaca artikel tentang Cerita ABG IGO Cantik : Anak Harimau 5 dan anda bisa menemukan artikel Cerita ABG IGO Cantik : Anak Harimau 5 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-abg-igo-cantik-anak-harimau-5.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita ABG IGO Cantik : Anak Harimau 5 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita ABG IGO Cantik : Anak Harimau 5 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita ABG IGO Cantik : Anak Harimau 5 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-abg-igo-cantik-anak-harimau-5.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 2 komentar... read them below or add one }

http://catatanno-free.blogspot.com/ mengatakan...

bagus..

Dykrullah mengatakan...

habis 1 jam lebih ni buat baca artikel ni q,,hehe.
artikel yang bagus gan..

Posting Komentar