Cerita Lucu Terbaru Silat : Bloon Cari Jodoh 5 [Karya SD Liong]

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 03 Agustus 2012

Cerita Lucu Terbaru Silat : Bloon Cari Jodoh 5 [Karya SD Liong]-Cerita Lucu Terbaru Silat : Bloon Cari Jodoh 5 [Karya SD Liong]-Cerita Lucu Terbaru Silat : Bloon Cari Jodoh 5 [Karya SD Liong]-Cerita Lucu Terbaru Silat : Bloon Cari Jodoh 5 [Karya SD Liong]-Cerita Lucu Terbaru Silat : Bloon Cari Jodoh 5 [Karya SD Liong]

"Ah, kita terjebak," keluh Han Bun Liong, "musuh sudah
mengetahui tindakanku keluar menyerang ini ...."
"J ka begitu, kita masuk kedalam kota saja, loya," kata
bung Ui Gi.
Oleh karena beberapa kawan menyetujui, terpaksa Han
Bun Long meluluskan. Tetapi alangkah kejutnya ketika
pintu kota ditutup dan dari atas pintu muncul Sou Kian
Hin.
"Sou kongcu, bukalah pintu," seru kawan Han Bun
Liong yang bernama Gui Tik.
"Engkau ikut paman Han menyerbu musuh, mengapa
belum bertempur sudah hendak masuk kedalam kota lagi ?"
seru Sou Kian Hin.
"Kita terjebak musuh dan dikepung dari empat jurusan !"
"Itu sudah lumrah," sahut Sou Kian Hirt dengan santai.
"mengapa kalian tak menggunakan siasat juga ?"
"Eh, Sou kongcu, aku tak tahu maksudmu."
"Kami akan mempertahankan kola ini dan kalian yang
menyerbu musuh."
"Bantulah dengan anakpasukan lagi, kongcu."
"Tidak bisa," sahut Sau Kian Hin, "kota harus
dipertahankan."
"Tetapi......... tetapi ini mengenai keselamatan Han loengbiong
...."
"Juga kelamatanmu, bukan ? Tetapi beribu ribu rakyat
Thay-goan perlu diselamatkan juga bukan ?"
"Sou kon-cu, apa maksudmu ?"
"Musuh telah mengadakan serangan besar-besarun. Jika
pintu kota dibuka, mereka pasti akan menyerbu masuk."
“Lalu.........” seru Gui Tik.
"Berusahalah untuk menahan musuh agar jangan masuk
kedalam kota," seru Sou Kian Hin.
Gui Tik hendak berkata lagi tetapi dicegah Han Bun
Liong, “Sudahlah, saudara Gui, Sou kongcu benar. Kita
harus menahan musuh."
Han Bun Long tenangkan diri sesaat memperhitungkan
kalau menyerbu ke muka tentu akan berhadapan dengan
berlapis- lapis pasukan musuh. Karena jalanan ke muka itu
menuju ke kubu markas pasukan musuh.
"Saudara Gui," katanya sesaat kemudian, "kita pecah
anakbuah kita menjadi dua. Engkau pimpin serangan ke
selatan dan aku menyerang ke utara."
"Tetapi Han lo-enghiong," kata Gui Tik, "kita hanya
membawa duapuluh anakbuah. Kalau dipecah dua, kan
masih sedikit kekuatannya."
"Ini sudah resiko kita, saudara Gui."
"Tetapi kalau San kongcu mau membuka pintu dan
mengeluarkan beberapa kelompok pasukan lagi, kita tentu
lebih kuat."
"Jangan mengharapkan hal yang tak mungkin saudara
Gui."
"Tetapi lo-enghiong yang pimpinan pertahanan kota
Thay-goan. Mestinya mereka harus tunduk pada perintah
lo- enghiong."
"Rakyat sudah tak menghendaki aku. Mereka
mengangkat Sou kongcu menjadi pimpinan."
"Ah, kurasa, dalam peristiwa itu memang tak wajar.
Seperti halnya wabah yang telah membunuh ternak dan
memakan korban beberapa penduduk serta terbakarnya
gudang ransum."
"Apa maksud saudara Gui?"
"Rasanya hal itu memang digerakkan oleh tangan kotor
yang hendak menghancurkan kita dari dalam."
Han Bun Liong terkejut.
"Lalu siapa yang saudara curigai?"
"Aku curiga pada Sau kongcu . .. . "
"Ah, jangan saudara berprasangka begitu. Apakah
saudara mempunyai bukti?"
"Sebenarnya aku sudah menyelidiki hal itu. Dan tahu
siapa yang membakar gudang. Tetapi ketika orang itu
hendak kutangkap di rumahnya, ternyata dia sudah mati."
"Dibunuh orang?"
"Diracun!"
"Ahh . . . . "
"Dan aku sendiri beberapa hari yang lain hampir saja
juga mati. Habis makan perutku terasa sakit sekali. Aku
curiga kalau makanan diberi racun. Sisa makanan
kuberikan kepada anjing. Ternyata anjing itu juga mati.
Akhirnya kudapatkan kalau yang memasukkan racun
kedalam hidanganku adalah juru masak. Kupanggil juru
masak itu, dia tak ada. Katanya, malam itu dia pamit
pulang. Kusuruh orang ke rumahnya ternyata dia tak
pulang. Dan sampai kemarin, dia tetap tak kembali di
rumahnya......... "
"Ah, tetapi hal itu belum membuktikan bahwa Sou
kongcu yang melakukan," sanggah Han Bun Liong. Dia
memang tak percaya seorang putera residen yang dengan
gagah berani menyerang musuh kemudian ditawan lalu
dapat meloloskan diri dari tawanan, akan berbuat hal
seperti yang dikatakan Gui Tik.
"Saudara2, sekarang marilah kita membuka serangan.
Jika masih selamat, kelak kita akan berjumpa lagi. Tetapi
kalau andaikata binasa, kelak kita bertemu di akhirat," kata
Han Bun Liong dengan nada yang sarat.
Rupanya jago tua itu sudah mantap, akan menyerang
musuh agar musuh jangan sampai menyerang kota. Biarlah
dia gugur asal rakyat Thay goan selamat.
Keduapuluh orang itu dipecah menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama dipimpin Gui Tik, dan menyerang ke
utara. Kelompok kedua dipimpin Han Bun Liong sendiri,
menyerang ke selatan„
Tetapi sebagaimana yang tadi, tiba2 barisan obor di utara
maupun selatan itu lenyap tiba2. Han Bun Liong terkejut.
Ketika berpaling ke belakang, dilihatnya beratus-ratus obor
sudah mengerumuni di muka pintu kota, Han Bun Liong
dan Gui Tik telah dipotong sampai terpisah jauh satu sama
lain.
"Ha, ha, ha, Han Bun Liong, Han Bun Liong engkau
sudah tua mengapa masih ngotot seperti anakmuda ? Apa
yang hendak engkau cari .... ?" tiba2 terdengar sebuah suara
yang nyaring dari dalam pasukan musuh.
Han Bun Liong terkejut. Sebagai seorang jago silat dia
tahu bahwa orang yang berseru itu memiliki tenaga-dalam
yang kuat sekali.
"Hm siapakah engkau ?"
"Aku ? Aku ini musuh atau kawan, terganlung pada
anggapanmu. Tetapi aku hanya melihat dan bicara menurut
kenyataan. Bukankah engkau sudah tua ? Mengapa engkau
tidak mau menikmati hari tuamu melainkan harus
menyibukkan diri terjun dalam peperangan lagi ? Bukankah
beberapa peti harta bendamu sudah engkau ungsikan keluar
daerah ?"
Bukan kepalang kejut Han Bun Liong mendengar hal itu.
Beberapa anakbuahnya-pun ikut terkejut. Mereka mengira
selama ini Han Bun Liong seorang hartawan yang jujur dan
murah hati. Segala harta bendanya hampir habis di
sumbangkan dalam perjuangan menentang penjajah Ceng.
"Hm, siapa engkau ? Mengapa engkau takut unjuk diri ?"
seru Han Bun Liong.
“Yang penting bukan siapa diriku tetapi benar atau
tidaknya yang kukatakan itu."
"Jangan memfitnah!" seru Han Bun Liong.
"Fitnah lebih kejam dari pembunuhan! Fitnah memang
jahat sekali. Tetapi apa yang kukatakan itu bukan fitnah
melainkan kenyataan."
"Ngaco!" bentak Han Bun Liong.
"Baiklah, apakah engkau tak keberatan kalau kukatakan
rahasiamu itu di depan orang banyak?"
Karena sudah terlanjur menginjak pembicaraan soal ini
maka malu hatilah Han Bun Liong apabila tak berani
menerima tantangan orang itu.
Sebenarnya sejak pertama kali bertukar pembicaraan,
Han Bun Liong sudah berusaha untuk mempertajam
penglihatan menembus dalam kegelapan dan mencari orang
yang bicara kepadanya itu. Tetapi karena malam gelap dan
di fihak pasukan Ceng terdiri dari beratus- ratus prajurit,
sukar bagi Han Bun Liong untuk menemukan orang itu.
"Hm, jika engkau seorang ksatrya, unjukkan lah siapa
dirimu!" seru Han Bun Liong.
"Nanti engkau tentu akan mengetahui siapa diriku.
Sekarang aku hendak membuka kedokmu dulu. Hai, rakyat
Thay-goan, dengarkanlah kisah nyata siapa sesungguhnya
Han Bun Liong itu. Kalian semua mengagumi dan
menghormatinya sebagai seorang hartawan yang murah
hati tetapi sebenarnya dia adalah seorang manusia berhati
serigala. Harta kekayaannya itu sebenarnya bukan miliknya
tetapi titipan orang. Dan dia tak mau mengembalikan
kepada orang itu lagi. Harta benda itupun bukan milik
orang yang titip kepadanya tetapi milik kerajaan Beng ..... “
"O, harta curian! Harta curian!" teriak beratus-ratus
orang. Yang berteriak itu adalah prajurit2 Ceng sendiri
untuk menyambut pernyataan orang tadi.
"Benar," seru orang itu pula, "ada seorang perwira dari
Lasykar Tani yang dipimpin pemberontak Li Cu Seng.
Ketika Cu Seng berhasil menduduki kotaraja Pak kia,
perwira itu berhasil masuk kedalam keraton dan mengambil
beberapa peti intan permata yang berharga. Barang2 itu
dititipkan kepada Han Bun Liong. Dan orang yang
menitipkan itu sudah mati . .. . "
"Dimana harta karun itu?"
"Kembalikan harta karun itu, Han Bun Liong!"
"Sabar, saudara, sabarlah. Tak mungkin saudara akan
meminta kembali harta karun itu kepadanya, karena .. . "
"Sudah diludaskan!"
"Dihabiskan, dibagi-bagikan secara royal sekali.
"Tiap hari berpesta pora menjamu tamu!" Demikian
teriak beberapa orang.
"Salah," seru orang itu pula, "harta karun itu tidak
dihabiskan Han Bun L.ong. Dia sendiri cukup kaya."
"Lalu dimana harta karun itu ?"
"Tanyakan sendiri kepadanya !"
Serentak dari empat penjuru, terdengar suara
menggelagar, "Han Bun Liong, dimanakah harga karun itu
?"
Dalam suasana malam sunyi, teriakan beratus-ratus
prajurit Ceng itu menggema dengan nyaring sehingga
rakyat yang berada dalam kota Thay-goan dapat mendengar
jelas.
Sepanjang hidup baru pertama kali itu Han Bun Liong
menderita serangan amarah yang begitu hebat. Dia tak
dapat mengendalikan diri lagi. Serentak dengan
menggembor keras, dia terus mainkan pedang maju
menyerang.
Tetapi pasukan Ceng yang hendak diserang tentu
mundur. Dan serempak itu pasukan Ceng lain yang sudah
siap di belakang Hun Bun Liong lalu tampil mengejar.
Kalau dikejar akan menghilang dan dari belakang akan
tampil pasukan lain lagi.
Dengan permainan itu, Han Bun Liong benar2 seperti
dipermainkan. Ia sudah membulatkan tekad untuk
mengadu jiwa tetapi yang diajak adu jiwa akan menghilang,
Pancak dari pada luap amarahnya yang tak dapat
dikendalikan lagi terjadi ketika dari atas pintu kota telah
berktbar bendera kerajaan Ceng dan tampak beberapa
perwira Ceng berdiri disitu.
"Han Bun Liong, apa yang engkau cari ? Lihatlah, rakyat
Thay-guan sudah gembira menyambut kedatangan pasukan
kerajaan Ceng. Mereka tahu kami datang bukan untuk
menindas tetapi untuk mengembalikan keamanan dan
kesejahteraan" terdengar seorang perwira Ceng berseru.
Han Bun Liong marah. Tetapi yang membuatnya hampir
pingsan karena marah adalah seorang pemuda yang duduk
disamping perwira Ceng itu. Siapa lagi pemuda itu kalau
bukan Sou Kian Hin.
"Sou kongcu, engkau ..... "
"Maaf, paman Han. aku hanya menurut suara rakyat
saja, Rakyat sudah keliwat menderita kelaparan dan
kecemasan. Mereka ingin mengenyam kehidupan yang
tenang. Ternyata pasukan Ceng telah datang dengan
membawa pengayoman dan ktsejahteraan bagi rakyat Thaygoan,
Maka kuminta paman Han juga mau masuk ke kota.
Para ciangkun dan pembesar Ceng akan menyambut
kedatangan paman Han dengan rasa hahagia......... ."
“Hm, terima kasih Sou kongcu. Jika mau menakluk pada
kerajaan Ceng, perlu apa aku harus mengorbankan segala
harta benda dan jiwaku ? Bukankah dulu2 aku sudah dapat
bekerja kepada mereka ?"
"Ah, paman Han," seru Sou Kian Hin, "keadaan
memaksa kita harus melihat kenyataan. Pandangan kita
terhadap kerajaan Ceng salah. Ternyata mereka baik sekali
kepada kita."
"Hm tak ada tuan yang tak baik kepada anjing
peliharaannya. Silakan engkau menjadi anjing peliharaan
orang Ceng, tetapi aku Han Bun Liong, tetap akan menjadi
seorang rakyat Han yang bebas!"
Sudah tentu Sou Kian Hin malu dan marah karena
dikatakan seperti anjing. "Han Bun Liong adalah karena
mengingat engkau seorang tua yang banyak menanam
kebaikan kepada penduduk Thaygoan maka aku masih
bersikap mengbormat kepadamn. Ketahuilah, aku sekarang
yang menjadi residen kota Thay- goan !"
"O, karena itulah maka engkau lalu berhamba kepada
orang Boan ? Bagus, silakan saja. Tetapi jangan coba2
membujuk aku untuk menjadi budak Boan !" seru Han Bun
Liong.
Keadaan Han Bun Liong saat itu benar2 seperti seekor
harimau yang masuk kota. Dia di kepung dan ditonton oleh
prajurit Ceng dan rakyat kota Thay-goan.
"Saudara2, aku akan menjemput mereka !" katanya
kepada beberapa anakbuahnya. Dia terus mencabut pedang
dan mengamuk.
Tetapi tampaknya prajurit2 Ceng yang diserang itu tak
mau melayani dengan sungguh2. Mereka hanya menahan
serangan sambil mundur.
Han Bun Liong mengamuk bagai seekor harimau
mencium bau darah. Tetapi kearah mana ia mengamuk,
tentulah barisan musuh yang diamuk itu akan mundur.
Tetapi dari belakang. kanan dan kiri tentu mereka maju
merapat lagi. Dengan demikian, Han Bun Liong tetap
terkepung.
Pertempuran berjalan dengan seru sehingga sampai fajar.
Saat itu Han Ban Liong sudah lemas. Peristiwa yang
menyakiti hati, menimbulkan kemarahan besar. Dan karena
semalam suntuk harus bertempur maka tenaganyapun
habis.
"Ah, Han Bun Liong seorang lelaki. Daripada hidup
herlumur nista, lebih baik aku mati," saat itu dia berdiri
tegak seraya memandang ke sekeliling. Anakbuahnya sudah
lunglai, rakyat duduk di tanah. Maklum, mereka adalah
rakyat biasa, karena semalam suntuk bertempur, mereka
sudah tak kuat berdiri lagi. Bulat sudah keputusannya untuk
bunuh diri.
Tiba2 genderang bertalu riuh dan terdengar bunyi derap
kuda lari mendatangi. Pasukan yang berada di sebelah
depan Han Bun Liong menyisih ke samping dan muncullah
dua orang penunggang kuda. Yang seorang mengenakan
seragam militer yang gagah dan yang seorang adalah
sasterawan setengah tua yang jelas bukan orang Boan.
Sekalian anakpasukan Ceng segera berdiri tegak dan
memberi hormat kepada kedua orang itu.
"Tay- ciangkun, ban-swe !" seru sekalian pasukan. Tayciangkun
artinya panglima besar. Ban-swe artinya
dirgahayu.
Kedua penunggang kuda itu berhenti pada jarak lima
meter dari Han Bun Liong. Sasterawan setengah tua turun
dari kudanya.
"Han wan-gwe, maaf, Han wan-gwe tentu menderita
kejut," kata sasterawan itu dengan ramah.
"Siapakah anda ?"
"Aku orang she Ko nama Cay Seng."
"Apakah anda juga orang persilatan ?"
"Sebenarnya seorang bun (sasterawan) tetapi saterawan
mogol. Juga seorang persilatan tetapi juga setengah matang.
Bun mogol, Bu setengah matang."
"Hm, lalu apakah engkau bekerja pada kerajaan Boan."
Ko Cay Seng menghela napas, "Dibilang bekerja pada
kerajaan Boan juga boleh, tidak juga boleh. Artinya, aku
bekerja pada kerajaan Boan demi kepentingan rakyat kita."
'Ya, kutahu."
"O, apakah Han wan-ghee sudah mengetahui?"
'Sudah," sahut Han Bun Long, "karena memang
bcgitulah jawaban setiap orang yang bekerja pada kerajaan
Boan."
Merah muka Ko Cay Seng terkena sentila kata Han Bun
Liong yang tajam itu. Namun dia tetap tenang, Setiap orang
mempunyai pendirian hidup sendiri. Tetapi pendirian itu
harus disesuaikan dengan kenyataan. Itu baru benar."
Han Bun Liong diam saja.
"Lalu apa maksud anda menemui aku? Bukankah aku
sudah terkepung dan setiap saat dapat anda tangkap?"
"Ya, memang begitu, Han wan-gwe," kata Ko Cay Seng,
"tetapi apakah Han wan-gwe tak merasakan sesuatu yang
tak wajar?"
"Soal apa?"
"Selama Han wan-gwe bertempur semalam tadi?"
Han Bun Liong merenung sejenak, "Memang ada
sesuatu yang tak wajar. Setiap kali kuserang pasukan Ceng
tentu mundur dan tak mau balas menyerang."
Ko Cay Song tertawa, "Benar, sebagai seorang jago tua
tentulah Han wan-gwe dapat merasakan hal itu. Tetapi
adakah Han wan-gwe dapat menduga apa sebabnya?"
"Coba engkau bilang."
"Jika mau menangkap atau membunuh Han wan-gwe,
tentulah pasukan Ceng sudah dapat melakukannya dengan
mudah. Tetapi mereka memang dilarang membunuh Han
wan-gwe .. . "
"Siapa yang melarang?"
"Panglima besar kerajaan Ceng sendiri."
Han Bun Liong terkesiap, "Mengapa?"
"Karena panglima besar sangat sayang dan menghargai
Han wan- gwe. Han wan-gwe seorang tokoh yang tiada
bandingannya, sayang mendapat tempat yang tidak sesuai
dengan bakat Han wan-gwe. Ada sebuah pepatah yang
mengatakan burung yang bagus harus memilih hinggap di
pohon yang baik . tentulah Han wan-gwe sudah tahu' hal
itu bukan?"
"Ko sian-seng," sahut Han Bun Liong, "memang benar
kata-katamu itu. Karena bangsa burung hanya memikirkan
soal kenikmatan saja. Mereka hanya pandai mengkibur
majikannya dengar suaranya yang merdu atau bulunya
yang indah. Bangsa burung tiada gunanya kecuali hanya
untuk menyenangkan hati orang yang memeliharanya."
Ko Cay Seng terkesiap.
"Tetapi lain halnya dengan binatang anjing. Orang kalau
dimaki sebagai anjing tentu marah. Tetapi sesungguhnya,
tidak seluruh orang itu lebih baik dari anjing. Ada orang
yang lebih rendah budinya dari anjing. Anjing dapat
menjaga rumah, menjaga keselamatan keluarga tuannya
Anjing adalah binatang yang tahu akan kesetyaan. Apa kata
anda terhadap orang yang tak setya kepada negara dan
bangsanya sendiri? Apakah orang semacam itu lebih baik
daripada seekor anjing?"
Merah muka Ko Cay Seng. Tetapi cepat dia
menenangkan, katanya, "Bagaimanapun juga manusia tetap
lebih tinggi daripada anjing. Kesetyaan itu memang luhur.
Tetapi kesetyaan yang buta adalah bodoh dan salah. Anjing
tetap binatang yang tak dapat membedakan benar dan
salah, kecuali hanya setya saja. Walaupun majikan mereka
seorang penjahat, seorang pembunuh, seorang pembohong,
dia akan tetap setya. Lain dengan manusia. Manusia tidak
harus seperti anjing. Harus dapat membedakan mana yang
salah dan yang benar. Jika tidak dapat membedakan, nah,
barulah dia tepat disebut lebih rendah dari anjing."
Han Bun Liong tak mau meladeni.
"Han wan-gwe, seorang ksatrya harus pandai
menycsuaikan diri dan tahu keadaan. Aku memang bekerja
pada kerajaan Ceng karena kuanggap hal itu dapat
membawa kebaikan kepada rakyat kita. Dan ketahuilah,
bahwa dunia ini tidak langgeng sifatnya. Demikian pala
dengan kejayaan sebuah kerajaan. Sudah berabad-abad
kerajaan Beng berdiri. Memang raja2 Beng yang terdahulu
bijaksana dan pandai mengurus negara. Tetapi raja Beng
yang sekarang, lemah dan hanya gemar berfoya2. Ini suatu
pertanda zaman bahwa sudah tiba waktunya kerajaan itu
harus tenggelam dan diganti dengan sebuah kerajaan baru .
. . . "
"Hm," dengus Han Bun Liong.
"Suatu bukti lagi," kata Ko Cay Seng, "begitu cepat
kotaraja Pak-kia jatuh ke tangan pasukan kerajaan Ceng.
Bukankah hal itu sudah cukup menunjukkan bahwa
memang bintang dari kerajaan Beng itu sudah waktunya
pudar?" seru Ko Cay Seng.
"Hm, tak perlu panjang lebar memberi kuliah," tukas
Han Bun Liong, "katakanlah, apa maksudmu menemui
aku?"
"Seperti telah kukatakan tadi bahwa panglima besar
kerajaan Ceng sangat menghargai Han wan-gwe sehingga
beliau berkenan menyempatkan diri datang menjumpai
wan-gwe. Apakah wangwe merasa lebih berharga sehingga
tak mau menyambut panglima besar kerajaan Ceng?"
Han Bun Liong memang sudah menduga kalau perwira
Ceng yang naik kuda bulu putih itu tentu seorang militer
yang berpangkat. Tetapi dia tak sangka kalau penurggang
kuda bulu putih itu adalah panglima besar kerajaan Ceng
sendiri.
"O, maaf, tay-ciangkun. Aku tak tahu sehingga tak
menghormat kedatangan tay-ciangkun," walaupun terhadap
lawan tetapi dalam pembicaran, Han Bun Liong tetap
menghormati kedudukan orang.
"Ah, Han sianseng sungguh seorang yang hebat," seru
panglima besar Torgun dalam bahasa Han yang lancar,
"sudah lama aku mendengar nama anda dan baru hari ini
aku beruntung dapat bertemu muka."
Habis berkata Torgun terus turun dari kuda putih,
menghampiri Han Bun Liong dan ulurkan tangan untuk
berjabatan.
Tanpa curiga Han Bun Liongpun menyambuti. Pada saat
tangannya berjabatan, ia rasakan sebuah arus tenaga-dalam
yang kuat, melanda ke telapak tangan, mengalir ke lengan
dan terus menyusup ke arah jantung. Han Bun Long
terkejut. Ia tak menyangka bahwa panglima besar kerajaan
Ceng, selain seorang militer juga memiliki ilmu tenagadalam
yang sakti. Jelas Torgun itu tentu seorang jago silat
yang berilmu tinggi.
Han Bun Liong merasakan serangan itu. Ia hendak
mengerahkan tenaga-dalamnya juga tetapi merasa
terlambat. Percuma saja, pikirnya, karena arus tenagadalam
orang sudah menyerbu jantungnya.
"Ah, percuma." pikirnya dan diapun pejamkan mata
menunggu ajal.
"Ah, Han sianseng merendah diri," kata Torgun dan
seketika arus tenaga dalam yang menyusup ke lengan Han
Bun Liongpun menyurut lenyap.
Han Bun Liong terkejut. Jelas panglima Ceng telah
menguasai ilmu tenaga-dalam yang dapat dipancarkan dan
ditarik menurut sekehendak hatinya.
"Terima kasih, tay-ciangkun. Sungguh suatu kehormatan
besar bagi si tua Han Bun Liong dapat berjabatan tangan.
Andaikata mati pun sudah puas," seru Han Bun Liong. Dia
memang sudah memutuskan akan mati- ditangan seorang
panglima besar, adalah suatu kehormatan besar.
Tetapi Torgun hanya ingin menguji. Dia kecele karena
Han Bun Liong tak membuat reaksi. Dia tak mau
membunuh Han Bun Liong maka tenaga-dalamnya pun
ditarik kembali.
"Han sianseng, disini-bukan tempat bicara mari kita
masuk ke markas," kata Torgun seraya menarik tangan
orang. Terpaksa Han Bun Lion mengikuti. Dia tak gentar
karena sudah membekal tekad untuk mati.
Gui Tik dan anakbuahnya juga ditangkap dan dibawa ke
markas.
Han Bun Liong diperlakukan baik oleh Torgun dan
diminta supaya membantu kerajaan Ceng tetapi dia
menolak. Akhirnya karena secara halus tak dapat dibujuk,
Han Bun Liong lalu di jeblus kan dalam penjara dibawah
tanah dan disiksa, kaki tangannya dirantai seperti seekor
binatang buas.
Demikian Han Bun Liong mengakhiri ceritanya kepada
ketiga anakmuda itu.
"Hm, jika tahu dia yang berhianat, tentu waktu main
barong-say malam itu, dia sudah kubunuh." seru In Hong.
"Ah, berbahaya nona In," kata Han Bu Long "kalau saat
itu dia mati, kalian tentu aka dibunuh juga.
“Ya, benar,” "kata in Hong, "tetapi dia selalu
mengganggu ci Ing saja. Nanti pada suatu hari dia pasti
kubunuh."
Han Bun Liong menghela napas, “Suasana sekarang
sudah jauh berobah. Kota Thay-goan sudah diduduki
tentara Ceng, Dimara-mana tersebar mata2. Hendaknya
segala tindakan kita harus diperhitungkan dengan hati2.”
Jago tua itu memuji keberanian In Hong dan Han Bi Ing
serta Kim Yu Ci yang berani menempuh bahaya besar
merampok penjara.
"Ah, janganlah paman memuji aku," aku," kata In Hong,
"kalau tak ada bantuan ci Ah Ling, ink mungkin kami dapat
menyelundup masuk ke dalam penjara dibawah tanah itu."
Kembali Han Bun Liong menghela napas.
"Memang saat ini negara sedang dalam bahaya besar.
Menilik kekuatan pasukan Ceng, kemungkinan kerajaan
Beng tak dapat dipertahankan lagi," katanya.
"Ah, apakah kita harus menyerah begitu saja ?" seru In
Hong.
"Tidak, In titli," Han Bun Liong tersenyum, “putera2
kesuma bangsa seperti kalian ini harus tetap melanjutkan
perjuangan untuk mengusir musuh dari bumi kita. Kutahu,
bahwa setiap terjadi perobahan suasana, tentulah
bermunculan tokoh2 penting, baik yang ikut membantu
musuh maupun yang menentang musuh. Disamping
banyak, bangsa kita yang rela menjadi penghianat bangsa,
pun tak sedikit putera puteri kita yang berani mengorbankan
diri sebagai pahlawan. Aku terharu mendengar
perkumpulan Hong-hian-hwe. Mereka adalah gadis2 suci
yang rela mengorbankan diri untuk menyelamatkan rakyat.
Kita berdosa kepada pengorbanan mereka apabila kita tak
dapat mengusir penjajah,"
Kim Yu Ci mengangguk. "Memang dalam keadaan
menghadapi musuh, semua orang dapat membaktikan diri
menurut kemampuan masing2. Pahlawan bukan hanya
semata yang bertempur dengan musuh, pun setiap orang
yang berani mengorbankan diri untuk menyelamatkan
bangsa. juga seorang pahlawan."
"Paman Han," tiba2 In Hong menyelutuk, "benarkah
harta karun itu bukan milik paman sendiri ?"
Han Bun Liong mengangguk, "Benar. Harta karun itu
memang barang titipan dari saudara Nyo Sian, seorang
pewira dari pasukan Li Cu Sang. Aku sebenarnya tak mau
tetapi dia memaksa dengan mengatakan begini," Daripada
harta karun itu jatuh ke tangan kaum thaykam (kebiri) dan
mentri2 dorna, lebih baik kita angkuti saja."
"Untuk apa sekian banyak harta benda itu?' tanyaku.
"Harta itu banyak gunanya. Lebih2 dalan suasana
perang. Kita dapat menggunakan harta itu untuk melawan
musuh," kata No Sian.
"Maksudmu, harta itu boleh digunakan untuk keperluan
perjuangan kita ?" aku menegas pula.
"Pertama, mengapa harta karun itu kutitipkan pada
saudara Han, karena kupandang saudara Han seorang
hartawan sehingga orang takkan curiga. Kedua kalinya,
saudara seorang dermawan dan seorang pendekar golongan
hiap-gi. Maka apabila perlu, silakan saudara Han
mengambilnya. Terserah mau diberikan kepada siapa saja
yang saudara pandang layak dibantu," kata Nyo Sian.
"Karena dia mengatakan begitu maka akupun baru mau
menerima barang titipan itu," kata Han Liong memberi
keterangan kepada In Hong.
"Yah, apakah engkau kenal dengan seorang yang
bernama Lu Pin ?" tanya Han Bi Ing yang juga
menceritakan tentang peristiwa Lu Pin yang datang hendak
mencari ayahnya itu.
“O, dia;" kata Han Bun Liong, "dia adalah teman Nyo
Sian yang tahu perbuatan Nyo Sian mengangkuti harta
benda keraton. Dia pernah datang kepadaku untuk
meminta harta karun itu tetapi kutolak, Yang titip Nyo Sian
yang berhak minta kembali adalah Nyo Sian, kataku. Dia
pergi hendak mengajak Nyo Sian tetapi sampai sekarang dia
belum pernah datang lagi. Lalu apa katanya kepadamu ?"
"Dia mengatakan telah bertemu dengan Nyo Sian tetapi
saat ini Nyo Sian menderita sakit lepra. Dia hanya
membawa surat Nyo Sian untuk ayah,"
“Jangan percaya, paman Han," seru In Hong "kecua:i
Nyo Sian sendiri yang datang, jangan menerima segala
bukti."
"Ya," kata Han Bun Liong, "memang bisa saja dia
membuat surat mencontoh tulisan Nyo Sian. Atau
kemungkinan juga bisa dia mermak Nyo Sian untuk
menulis surat. Tetapi aku takkan memberikannya, kecuali
Nyo Sian datang sendiri.
Pendirlan Han Bun LIong itu didukung ketiga
anakmuda.
"Apabila Nyo Sian sudah mati, lebih baik gak-hu
mempergunakan harta karun itu untuk kepentingan
perjuangan," kata Kim Yu Ci.
"Kurasa tidak perlu tunggu Nyo Sian mati, sekalipun
masih hidup, Han pehpeh boleh menggunakan harta itu. Itu
kan juga bukan harta miliknya Nyo Sian," seru In Hong.
Han Bun Liong mengaugguk. Kemudian dia
menanyakan dimana harta karun itu.
"Disimpan oleh Wan-ong-ko yang menjadi teman
seperjalananku ke gunung Lou- hud-san. Ayah tak perlu
kuatir, kelak kalau ketemu dia tentu akan kutanyakan
dimana dia menyimpannya."
Demikian sambil menunggu suasana di luar sudah
tenang, terpaksa mereka tinggal dalam kamar rahasia itu.
Kawan atau Lawan.
Han Bun Liong, Kim Yu Ci, Han Bi Ing dan In Hong
untuk sementara akan bersembunyi dulu di ruang rahasia di
bawah tanah dalam gedung keluarga Han. Nanti apabila
suasana sudah reda, barulah mereka akan keluar.
Memang benar Panglima Taras marah sekali dengan
peristiwa perampokan tawanan orang she Han dari penjara
rahasia. Bahkan dia sendiri matanya juga terserang jarum
bwe-hoa-ciam dan banyak pembesar2 negeri antara lain
residen Sou Kian Hin yang kehilangan kuncirnya.
Panglima Taras memerintah supaya dilakukan
penggeledahan dan razzia besar pada setiap rumah
penduduk di Thay-goan.
Suasana kota itu menjadi tegang. Malam hari sunyi
karena tak ada orang yang berani keluar malam. Banyak
rakyat yang menderita tindakan sewenang- wenang dari
kawanan prajurit Ceng. Tetapi sampai sebegitu jauh belum
juga mereka berhasil menangkap biangkeladi dari
kerusuhan itu. Memang banyak yang ditangkap dan disiksa
tetapi akhirnya dilepas lagi tiada bukti kuat.
Sekarang kita tinggalkan dulu rombongan Kim Yu Ci
bersama kedua gadis. mari kita kembali mengikuti
perjalanan pendekar Huru Hara, sahabat kita yang sudah
agak lama kita tinggalkan itu.
Setelah meninggalkan gunung Hong-hong-san, pendekar
Huru Hara bersama si bocah kuncung Ah Liong tujukan
langkahnya ke utara. Dia hendak mencari barisan Suka
Rela di propinsi Shoa-tang.
"Engkoh Hok, apa sih barisan Suka Rela itu. Mengapa
ada barisan kok suka rela ?" tanya Ah Liong kepada
pendekar Huru Hara yang biasa dipanggil dengan sebutan
engkoh Hok.
"Barisan suka rela itu adalah barisan dari rakyat yang
secara suka rela masuk menjadi pejuang. Tidak ada
paksaan, mereka berjuang atas kemauannya sendiri maka
dinamakan barisan Suka Rela," kata pendekar Huru Hara.
"Siapa yang mengumpulkan dan mengepalai barisan itu
?" tanya Ah Liong pula.
"Itulah yang hendak kuselidiki, Ah Liong,” kata
pendekar Huru Hara.
"Lho, engkau hendak menyelidiki atau hendak mencari
paman engkoh yang ditangkap itu?”
"Kedua-duanya, Ah Liong. Paman Cian-li ji itu orang
kuno, aneh dan nyentrik. Tetapi dia baik dan sayang
kepadaku. Engkau tahu mengapa dia bernama Cian li-ji?”
"Cian-li-ji itu artinya Telinga-seribu-li. Telinga yang
dapat menangkap suara pada jarak selibu li," kata pendekar
Huru Hara.
"O, hebat," seru Ah Liong.
"Dia juga mempunyai penyakit seperti engkau."
"Penyakit apa?" tanya Ah Liong.
"Apa kegemaranmu kalau berhadapan dengan musuh?"
"Apa ya? Eh, eh . . . . "
"Tolol! Bukankah engkau gemar memutus celana
orang?"
"Benar! Sejak taliku putus dan anuku kelihaan oleh
engkoh, aku sakit hati. Untuk membalas kepada engkoh, sih
tidak boleh karena aku seorang adik. Maka kutumpahkan
penasaranku itu kepada setiap orang yang menjadi lawan.
Dengan begitu tentu akan bertambahlah jumlah orang yang
celananya melorot turun . . . . "
"Hm, engkau ini memang kurang ajar. Tetapi ingat,
jangan sekali- kali engkau lakukan hal itu terhadap seorang
gadis atau wanita. Kalau engkau sampai melakukan hal itu,
aku tak mau jadi engkohmu lagi, tahu?"
"Baik, engkoh," kata Ah Liong. Anak yang bandel itu
kalau terhadap Huru Hara selalu menurut dan taat, "tetapi
apa penyakit paman Cian-li-ji itu?"
"Dia gemar menampar pipi orang."
"Uhhhh," desuh Ah Liong, "itu kegemaran aneh juga.
Tetapi sayang kan kalau pipi yang halus harus ditampar ?"
"Tentu saja pipi musuh, bukan pipi sembarang orang dan
terutama bukan pipi wanita. Aku pun melarangnya
menampar pipi kaum wanita.
"Hai ..... ," tertak Huru Hara tiba2, "mengapa aku begini
pelupa ?"
"Kenapa ?"
"Kita ini salah jalan. Mengapa menuju Shoa-tang ?"
"Lho engkoh ini bagaimana sih ? Aku hanya menurut
saja,"
"Bukankah Ang Hin kepala gunung Hong hong-san
mengatakan bahwa barisan 'Suka Rela itu berpusat di
gunung Lu-Bang-san di wilayah Sanse ?"
"Entah bagaimana keterangan Ang Hin kepada engkoh.
Aku tak ikut mendengarkan."
"Sudahlah," seru Huru Harai, "hayo kita putar haluan,
menuju ke barat saja."
Keduanya segera berganti arah. Tiba2 mereka
mendengar derap kuda lari pesat.
"Rupanya ada orang datang kemari." kata Huru Hara. Ia
terus menyeret Ah Liong bersembunyi dibalik gerumbul
pohon.
"Mengapa harus bersembunyi, engkoh ?"
"St. kita lihat siapa yang datang dulu," bisik Huru Hara,
Seekor kuda hitam lari melintas jalansepi. Dari tempat
persembunyiannya. Huru Hara merasa kenal dengan
pemuda itu. Dia merasa sudah pernah bertemu dan bicara,
Tetapi untuk sesaat dia agak lupa.
Belum sempat ia teringat siapa pemuda itu, sekonyongkonyong
dari balik gunduk batu di tepi jalan,
berhamburanlah tiga empat buah tali dan jaring kearah
tubuh pemuda itu.
Uhhhh . , . karena tak menyangka-nyangka pemuda itu
hendak berusaha untuk menghindari tali tetapi tak sempat
menghindar tebaran jaring yang menelungkupi kepalanya.
Seketika kepala dan tubuh pemuda itu terjaring dan pada
lain saat dia menjerit tertahan karena jaring ditarik turun
kebawah sehingga dia turut jatuh ketanah.
Pemuda itu tak berkutik dan pada saat itu, salah seorang
dari kawanan yang menghadangnya segera ayunkan
tombaknya.
"Tunggu ..... !"
Orang yang hendak menombak itu terkejut ketika
mendengar suara teriakan yang nyaring seperti halilintar
berbunyi. Cepat mereka bepaling. Seorang pemuda dan
seorang bocah laki berloncatan, pemuda itupun sudah tiba
di hadapan mereka.
"Lepaskan kongcu itu," hardik pemuda yang datang itu
dengan bengis.
"Siapa engkau!" kawanan orang itu balas menghardik.
Mereka terdiri dari enam orang. Menilik dandanannya
mereka adalah orang2 persilatan.
"Kubilang, lepaskan kongcu itu!" pemuda yang bukan
lain Huru Hara mengulang perintahnya
"Eh, lagakmu seperti seorang jenderal saja !” teriak salah
seorang kawanan penghadang itu, "siapa engkau!"
"Aku Huru Hara, utusan Raja Akhirat!"
"Kentut!" teriak mereka, "kalau melihat dandananmu
seperti pendekar kesiangan itu, mungkin engkau memang
seperti tukang sapu akhirat. Tetapi dIsini bukan akhirat.
Lebih baik engkau kembali ke akhirat saja!"
"Untuk yang terakhir kali, kuperintahkan segera lepaskan
kongcu itu," seru Huru Hara pula.
"TIdak. Jangan turut . . . , " baru salah seorang berkata
begitu, tahu2 Huru Hara sudah lesat dan orang itupun
menjerit rubuh.
Kawan- kawannya yang lima terkejut. Hampir mereka
tak percaya apa yang disaksikan tadi. Gerakan pemuda
aneh itu benar2 seperti setan.
Namun mereka menyadari bahwa yang dihadapinya itu
adalah seorang jago yang sakti. Serempak mereka mencabut
senjatanya masing2.
"Bagus, hayo kalian maju berlima, agar lekas dapat
kubereskan," seru Huru Hara dengan gembira.
Kelima orang itu menggunakan bermacam-macam
senjata. Ada yang menggunakan pedang, golok, bindi,
trisula dan tombak. Tetapi Huru Hara dapat melayani
mereka.
"Ah Liong, tolonglah pemuda dalam jaring itu," seru
Huru Hara.
Ah Liong cepat menghampiri pemuda itu. Tetapi saat itu
dia diserang oleh orang yang menggunakkan golok, "Jangan
kurang ajar, bocah kuncung!" teriak orang itu seraya
membabat leher Ah Liong.
Ah Liong mengendapkan tubuh. Selekas golok lewat
diatas kepalanya dia terus menyeruduk bawah dan tahu2,
uhhhh . . . . orang itu menjerit kaget karena celananya putus
tali dan meloncat. Buru2 dia mendekap dengan tangan kiri.
"Nih, rasakanlah, plok . .. . , " Ah Liong menonjok
hidung orang itu sehingga berlumuran darah. Orang itu
menjerit seperti babi hendak disembelih dan terus
terhuyung-huyung mundur.
Jika mau menggunakan pedang Pek-kak-kiam atau
pedang Tanduk putih yalah pedang pusaka yang
mengandung magnit, tentulah keempat lawannya itu sudah
kalah. Tetapi dia tak mau lawannya mati, karena hendak
menangkap hidup keempat orang itu agar dapat ditanya
keterangannya.
Plak . . . sebuah tendangan singgah di lambung lawan
yang bersenjata pedang. Orang itu meliuk-liuk kerena
tulang iganya patah. Duk, orang yang bersenjata
tombakpun tersodok perutnya hingga jatuh terlentang.
Krak. bindi dari lawan yang lain mencelat keudara dan
orang yang menggunakan bindi itupun terseok-seok
mendekap lengannya yang patah tulangnya Tinggal yang
menggunakan tombak. Orang itu nekad melontarkan
tombaknya kepada Huru Hara.
"Aduh ..... ," teriak orang yang juga menggunakan
tombak dan hendak menombak pemuda dalam jaring tadi.
Tombak dapat dihindari Huru Hara dan melayang ke
belakang. tepat menancap di dada kawannya sendiri. Habis
melontarkan tombak, orang itu terus lari.
Huru Hara tak mau mengejar. Dia sudah mendapat tiga
orang yang dapat memberi keterangan.
Saat itu pemuda yang terjaring dalam jala tadipun sudah
dapat dikeluarkan Ah Liong. Pemuda itu menghampiri dan
mengucap terima kasih.
"Ah, ternyata Bok kongcu," seru Huru Hara setelah
berhadapan dengan pemuda itu. Memang pemuda itu tak
lain adalah Bok Kian, putera keponakan menteri
pertahanan Sa Go Hwat yang pernah bertemu dengan Huru
Hara di gunung Hong.
"Mengapa kongcu dicelakai mereka ?"
"Entah, aku juga tak tahu."
"Siapakah mereka
Bok Kian gelengkan kepala tak tahu.
"Aneh, kalau kongcu belum kenal mengapa mereka
hendak mencelakai kongcu ?"
"Aku sendiri juga heran," kata Bok Kian yang berpikiran
polos.
"Mengapa kongcu sampai disini ?"
"Aku mendapat titah dari paman Su, supaya
menyampaikan berita kepada jenderal Ui Tek Kong supaya
bcrsiap diri untuk diajak menggempur jenderal Co Liang
Giok."
"Lho, bukankah Co Liang Gok itu jenderal kerajaan
Beng ?" Huru Hara heran.
"Benar," kata Bok Kian, "tetapi dia hendak memberontak
kepada kekuasaan kerajaan Beng,"
"Ah," teriak Huru Hara, "bagaimana buktinya dia
hendak memberontak ?"
“Saat ini paman Su berada di Yang- ciu untuk menilik
keadaan pasukan. Dia mendengar kabar bahwa pasukan
Ceng sudah menyerang wilayah Soa-tang, Ho-lam dan Ho -
pak …”
"Ah," Huru Hara mendesah.
"Mengapa ?"
"Hampir saja aku hendak menuju ke Shoatang untung
tak jadi."
"Mengapa Loan-heng hendak kesana ?"
"Aku hendak mencari pamanku yang ditawan anakbuah
barisan Suka Rela."
"Apa hubungannya pasukan Ceng menyeberang wilayah
Shoa-tang, Holam dan Hopak dengan tuduhan bahwa
jenderal Co Liang Giok hendak memberontak?" tanya Huru
Hara.
"Paman Su menerima amanat dari kerajaan bahwa
jenderal Co Liang Giok hendak memberontak. Itulah
sebabnya paman Su terus hendak mengajak jenderal Ui
menumpas mereka."
"Ah, sungguh berbahaya," kata Huru Hara dalam
keadaan seperti sekarang ini, kita harus bersatu, mengapa
terpecah belah dan harus tumpas menumpas sendiri.
Apakah Su tayjin percaya?"
"Paman Su percaya kalau titah itu dari seri baginda Hok
Ong maka dia terpaksa harus melakukan."
"Hm," dengus Huru Hata, "kalau aku bertemu dengan Su
tayjin tentu akan kusarankan agar diselidiki dulu
kebenarannya dan jangan gegabah bertindak karena besar
sekali akibatnya."
Kemudian Huru Hara menghampiri salah seorang
penghadang yang masih rebah ditanah "Engkau minta mati
atau hidup?"
"Ampun hohan," seru orang itu.
"Baik, tetapi engkau harus memberi keterangan yang
jujur. Siapakah kalian ini?"
"Hamba seorang jagoan dunia hitam yang melakukan
pekerjaan untuk orang. Ada orang yang mengupah hamba
supaya membunuh kongcu itu."
"Mengapa harus membunuh kongcu?" desak Huru Hara.
"Hamba tak tahu hohan," kata orang itu.
"Bohong!" bentak Huru Hara seraya mencekik orang itu,
"mau bilang terus terang atau tidak!"
“Ba…… ik …… ba ….ik…..”
Pada saat Huru Hara lepaskan cekikannya tiba2
terdengar derap beberapa ekor kuda lari mendatangi dan
pada lain saat muncullah lima penunggang kuda. Yang
didepan sendiri seorang pemuda cakap.
"Hai, Bok-te, mengapa engkau disini?" tiba2 pemuda
cakap itu melesat turun dari kudanya dan menghampiri Bok
Kian.
"O, Su- heng, engkau juga datang," kata Bok Kian.
Ternyata pemuda yang datang itu adalah Su Hong Liang.
Karena Su Hong Liang lebih tua, ia memanggil Bok-te (
adik Bok ) dan Bok Kian menyebut Su-heng (engkoh Su) .
Seperti diketahui, Bok Kian itu keponakan Su Go Hwat
dari isterinya. Sedang Su Hong Liang itu juga keponakan,
putera dan saudara tua Su Go Hwat.
"Engkau dari mana Bok-te?" ulang Su Hong Liang.
“Paman menugaskan aku untuk memberitahu pada
jenderal Ui Tek Kong untuk diajak menyerang jenderal Co
Liang Giok."
“O, apakah jenderal Co hendak memberontak ?"
"Menurut firman yang diterima paman dari kerajaan,
memang begitu," kata Bok Kian.
"Hm, makanya Ma kongcu putera Ma Su Ing tay-haksu
mengutus kedua pengawal supaya aku bersama-sama
menyelidiki gerak gerik jende Co."
"Oh," desuh Bok Kian, "lalu bagaimana hasil
penyelidikan Su-heng ?"
"Memang ada tanda2 jenderal Co hendak
memberontak," kata Su Hong Liang.
"Apakah dia takluk kepada pasukan Ceng,” tanya Bok
Kian.
"Tidak."
"Lalu mengapa dia hendak memberontak,” Bok Kian
heran.
"Dia hendak membawa pasukan ke kotaraja untuk
membersihkan beberapa mentri yang katanya menjadi
biangkeladi dari kehancuran kerajaan Beng."
"Oh," Bok Kian makin terkejut.
"Lalu bagaimana pandapat paman Su Go Hwat ? "tanya
Su Hong Liang.
"Saat ini paman berada di kota Yang- ciu sedang menilik
keadaan pasukan kita. Tiba2 paman menerima titah dari
baginda supaya mengajak jenderal Ui Tek Kong untuk
menggempur jenderal Co Liang Giok yang hendak
memberontak."
"Dan paman lalu bertindak ?"
"Rupanya paman Su masih hendak merundingkan hal itu
dengan jenderal Ui. Kemungkinan paman akan menemui
jenderal Co untuk mengetahui bagaimana pendiriannya
yang sebenarnya."
Tampak Su Hong Liang kerutkan dahi. “Tetapi kalau
sudah menerima firman dari kerajaan, seharusnya paman
dapat bertindak dengan tegas, tak perlu harus berunding
lagi."
"Ya," kata Bok Kian, "tetapi paman berpendapat, apabila
masih dapat ditempuh dengan jaIan damai. sebaiknya
digunakan jalan damai. Itu lebih bijaksana dan
menguntungkan. Karena kalau sampai gempur-gempuran
sendiri, tentu akan melemahkan kekuatan kita dan
menguntungkan musuh."
"Tetapi menurul penyelidikanku, memang jenderal Co
sudah tak dapat dicegah lagi. Dia hendak mengadakan
pembersihan ke kotaraja. Ini sangat berbahaya. Lebih baik
sebelumnya dia harus lekas ditumpas dulu." kata Su Hong
Liang.
"Kurasa paman Su tentu akan dapat bertindak dengan
bijaksana," sambut Bok Kian.
Su Hong Liang hanya mendesuh. Kemudian bertanya
apa yang terjadi pada diri Bok Kian di tempat itu. Bok Kian
menceritakan apa yang dialaminya beberapa saat
kemudian. Untung pendekar Huru Hara keburu datang
kalau tidak, mungkin dia sudah mati,
"Mana penjahat itu?" tanya Su Hong Liang. Ketika Bok
Kian memberitahu ketiga penjahat yang masih menggeletak
itu, Su Hong Liang memberi isyarat mata kepada kedua
orang kawannya dan mereka lalu merighampiri ketiga
penjahat itu.
Orang yang hendak dipaksa mengaku keterangan oleh
pendekar Huru Hara tadi, begitu melihat Su Hong Liang,
matanya terbelalak dan mulutpun berseru, 'Su kong . . . . "
"Nih, terimalah!" Su Hong Liang menyabet leher orang
itu dengan pedangnya. Seketika putuslah nyawa orang itu
sebelum sempat melanjutkaa kata-katanya.........”
Kedua kawan Su Hong Liang tadipun sarempak pada
waktu yang bersamaan, sudah memberesi kedua orang yang
menggeletak di sebelah sana.
"Su kongcu, mengapa engkau membunuh orang itu?"
tanya pendekar Huru Hara yang kesima melihat tindakan
pemuda itu sehingga tak keburu mencegah.
"Mengapa tidak? Bukankah dia hendak mencelakai Bokto?"
sahut Su Hong Liang, "engkau telah menolong jiwa
Bok-te dan aku yang menyempurnakannya."
"Tetapi aku sedang menanyai keterangannya," kata Huru
Hara.
"Perlu apa ?" seru Su Hong Liang, “sudah jelas mereka
hendak mencelakai Bok-te, dalam suaana perang seperti
saat ini, tidak perlu kita harus bertele-tete memeriksa. Kalau
salah, terus bunuh saja !”
"Tetapi tadi kudergar dia memanggil nama kongcu,
Apakah bukan engkau ?" tegur Huru Hara dengan tajam.
"Aku putera keponakan mentri pertahanan Su Go Hwat
tayjin, sudah tentu banyak yang kenal. Kemungkinan dia
akan meratap minta ampun. aku tak ingin mendengar
ocehan semacam itu lagi," kata Su Hong Liang.
"Ah. tetapi tindakan kongcu itu kurang bijaksana. Lebih
baik kalau kita pariksa dulu orang itu sampai jelas agar kita
tahu siapa sesungguhnya yang hendak mengarah jiwa Bok
kongcu. Waktu kuperiksa, dia mengatakan kalau dia diupah
untuk membunuh Bok kongcu. Tetapi belum sempat
kuperiksa lagi tahu2 kongcu sudah membunuh,” kata Huru
Hara agak menyesali orang.
"Sudahlah, urusan sudah terlanjur masakan disesali lagi.
Orang yang hendak membunuh toh sudah kubunuh, Dan
aku memang berhak untuk melakukan hal itu."
Huru Hara tak puas mendengar omongan pemuda itu.
Belum sempat dia membuka mulut, tahu2 Ah Long sudah
nyelonong, "Itu lancang namanya.”
Su Hong Liang terkejut dan berpaling. Ketika
mengetahui yang mengatakan dia lancang itu seorang
bocah kuncung, dia marah, "Hai, apa katamu bocah
kuncung ?"
"Engkau lancang !" seru Ah Liong.
“Eh, engkau berani mengatakan aku begitu?”
"Karena engkau juga menghina engkohku.”
"Siapa yang menghina ?"
"Ketiga penjahat itu adalah engkohku yang menangkap,
mestinya yang berhak mengadili adalah engkohku !"
"Eh, bocah kuncung, tahukah engkau siapa aku ini ?"
"Tahu."
Su Hong Liang terbeliak, "Engkau tahu diriku siapa ?"
"Aku kan tidak buta ?"
"Kalau sudah tahu mengapa engkau berani membacot ?"
"Apakah itu salah ?"
"Ya, sudah tentu salah. Orang yang berani mengatai
seorang keluarga mentri, harus dihukum.”
"Siapa keluarga mentri ?"
"Gila ! Bukankah engkau mengatakan kau tahu siapa
diriku ?"
"Ya, aku tahu, masakan aku buta ?"
"Mengapa engkau tak mengerti kalau aku putera
keponakan dari mentri Su Go Hwat yang kuasa besar ?"
“Aku tahu engkau ini seorang manusia, seorang pemuda.
Tetapi aku tak mau mengerti engkau putera kemanakan
mentri besar atau bukan."
“Setan ! Engkau berani menghina ?"
"Jawablah," seru Ah Liong sambil bercekak pingang,
"apa hubungan soal disini dengan mentri besar yang
berkuasa itu ? Ini kan urusan penjahat yang ditangkap
engkoh dan hendak diperiksa, mengapa engkau lancang
membunuhnya ?"
"Bok-te, siapakah bangsat kecil itu ?" teriak Su Hong
Liang.
"Adik dari Loan-heng ini," kata Bok Kian.
"Hai, bung, mengapa engkau tak dapat mengajar adikmu
?" tegur Su Hong Liang.
"Apanya yang harus diajar ?" tenang2 Huru Hara
menjawab.
"Dia berani kurang ajar kepadaku !"
"Baik," kata Huru Hara, "tetapi kita harus adil. Kita bagi
persoalannya. Dia mengatakan engkau lancang, itu
memang kurang ajar. Tetapi dia salah atau tidak. Engkau
memang lancang atau tidak ?"
Su Hong Liang terbeliak.
"Aku bersedia menghukum kekurangan ajaran adikku
tetapi engkaupun harus mengaku bersalah," kata Huru Hara
pula.
'Gila !" teriak Su Hong Liang, "engkau berani menghina
aku ?"
"Siapa yang menghina ? Bukankah engkau suruh aku
menghukum adikku ? Nah, begitulah syaratnya. Kalau
engkau mau mengaku salah, akupun mau menghajarnya !"
"Su kongcu." tiba2 salah seorang kawanan yang bertubuh
tinggi besar, brewok dan bersimbak dada maju, "tak perlu
banyak membuang waktu dengan segala cacing2 begini . ..."
Dengan tinjunya yang sebesar buah kelapa, dia
menghantam Huru Hara, "Cacing, nih rasakanlah .... duk .
..."
Huru Hara terkejut tetapi marah juga terhadap si tinggi
besar yang terlalu kasar itu. Dia tangkis pukulan orang
tinggi besar itu.
Bok Kian terkejut dan berteriak. Dia kuatir Huru Hara
akan menderita luka. Tetapi alangkah terkejutnya ketika
melihat kesudahannya.
Huru Hara tersurut mundur selangkah, tetapi si tinggi
besar itu mencelat sampai dua tombak jatuh jungkir balik
dan akhirnya mencium tanah.
Sudah tentu hal itu mengejutkan sekali. Orang tinggi
besar itu bernama Thay San, menjadi pengawal Su Hong
Liang. Dia bertenaga kuat sekali. Siapa namanya yang asli
orang tak tahu, tetapi karena perawakannya tinggi besar
dan gagah perkara, apalagi dia mangatakan bersal dari
gunung Thay-san maka orang menyebutnya dengan nama
si Thay-san.
Su Horig Liang memelihara dua orang pengawal
peribadi. Satu si tinggi besar Thay-san dan yang satu Hwesat-
ciang si pukulan Pasir-api Hun Ti Siang.
Melihat rekannya terpental sampai jungkir balik,
terkejutlah Hun Ti Siang. Cepat dia maju hendak
menyerang Huru Hara tetapi saat itu Ah Liong sudah maju.
"Engkohku sudah menerima serangan kawanmu.
Sekarang akulah yang akan menghadapi engkau!"
Bok Kian terkejut. Dia melirik kepada Huru Hara dan
menduga tentulah Huru Hara akan melarang anak itu.
Tetapi diluar dugaan Huru Hara tenang2 saja dan tak
mengacuhkan hal itu.
"Satan cilik," teriak Hun Ti Siang, "engkau berani
melawan aku?"
"Tidak," sahut Ah Liong.
"Mengapa engkau berani menghadang dimukaku?"
"Aku tidak berani melawanmu tetapi kalau engkau
berani menyerang, terpaksa aku membela diri," sahut Ah
Liong.
"Baik, aku memang hendak memberi hajaran kepada
engkohmu dan engkau sendiri."
"Ya, sebelum menghajar engkohku, hajarlah aku. Kalau
engkau memang dapat menghajar aku, baru engkau layak
berhadapan dengan engkohku. Karena jangankan hanya
engkau seorang, sekalipun kamu semua maju bareng, tentu
tak mampu nga1ahkan engkohku."
Sudah tentu Pasir-api Hun Ti Siang seperti orang yang
kebakaran jenggot marahnya, "Setan cilik, engkau harus
mampus .. . .!”
Dia terus menyerang tetapi Ah Liong berlari-larian
menghindar dan berputar mengelilinginya.
Huru Hara terkejut ketika merasakan angin pukulan
orang she Hun itu memancarkan hawa -panas seperti api.
Memang dia percaya Ah Liong tak mungkin dapat dipukul
tetapi ia kuatir anak itu tak tahan akan angin panas dari
pukulan orang.
Sebelum dia sempat memikirkan daya untuk menoloug
Ah Long, tiba2 pula terdengar suara kuda berlari
mendatangi. Dan beberapa saat kemudian muncul dua ekor
kuda yang dinaiki oleh seorang nona. Yang satu
mengenakan kain cadar hitam penutup mukanya dan satu
seorang dara berwajah cerah.
"Hai, Ing-moay, engkau juga kemari?" Su Hong Liang
demi melihat gadis bercadar itu.
"Ah, Ing-moay . . . . , " seru Bok Kian pula.
Ternyata kedua gadis yang datang itu ada Su Tiau Ing
dan dara pelayannya yang bernama Jui Liu atau yang biasa
dipanggil Ah Liu.
Huru Hara teringat bahwa ia pernah bertemu dengan
kedua gadis itu ketika singgah di rumah-makan yang
menyajikan bak-pau berisi daging manusia dulu.
Malihat Su Tiau Ing, puteri caatik dari mentri Su Go
Hwat, wijah Su Hong Liang seketika berubah terang
benderang. Ia menghampiri gadis yang menjadi adik
sepupunya, "Ing-moay, mengapa engkau tampak begitu
tegang? Apakah di perjalanan engkau mendapat gangguan?"
"Tidak," sahut Su Tiau Ing ringkas, "aku mendapat
perintah dari ayah untuk menyusul Bok heng.”
"O, tentu penting sekali."
"Ya," sahut Su Tiau Ing, "ayah hendak menyampaikan
pesan kepada jenderal Ui Tek Kong supaya mengerahkan
pasukannya menahan serangan musuh di Shoa-tang. Soal
jenderat Co Liang Giok, ayah dapat mengatasi sendiri."
"Ah.. mengapa paman menitahkan begitu? Kukira kita
harus membersihkan tubuh kita dari setiap kaum
pemberontak baru kita dapat kokoh menghadapi serangan
luar. Kalau hanya memikirkan serangan musuh tetapi tak
lekas menindak orang dalam yang memberontak, kekuatan
kita tentu lemah," kata Su Hang Liang.
"Tetapi kurasa paman Su benar," tiba2 Bok Kian
menyanggah, "aku percaya dengan kewibawaan dan
kebijaksanaannya, paman tentu dapat menyadarkan
jenderal Co supaya kembali kepada jalan yang benar."
"Ah, umpama bisul, kalau hanya diobati tentu hanya
kempes tetapi dalamnya masih kotor. Lebih baik dipotong
supaya kotorannya keluar bersih. Demikian dengan jenderal
yang sudah menunjukkan tanda hendak berontak. Mungkin
paman Su dapat menasehati dan diapun mau tunduk.
Tetapi kurasa hanya untuk sementara. Apabila tiba saatnya
yang tepat, dia tentu akan memberontak lagi. Maka
mumpung belum terlanjur, lebih baik sekarang ditumpas
saja," kata Su Hong Lian.
"Ya, memang itu lebih tegas," tiba2 Su Tiau Ing berkata.
"Ing-moay !” teriak Bok Kian terkejut, "bukankah
engkau diutus paman untuk menyampaikan pesan kepada
jenderal Ui Tek Kong?"
"Ah, Bok te, dalam mengutus kepentingan negara setiap
orang berhak menilai dan mempunyai pendirian. Kita tak
perlu ragu mengoreksi tiap langkah yang kurang benar,
demi kepentingan negara," bantah Su Hong Liang,
"andaikan Ing-moay tak mau menyampaikan pesan itu
kepada jenderal Ui, tetap menunggu kedatangan paman
untuk bersama-sama menumpas jenderal yang berontak
itu."
"Jangan!" cegah Bok Kiang, "Ing-moay pribadi boleh tak
setuju tetapi perintah paman harus dilaksanakan."
"Harus? Siapakah yang mengharuskan aku ?” Su Tiau
Ing melengking.
Bok Kian yang berwajah polos, tampak melongo. Dalam
pergaulan dengan Su Tiau Ing, dia memang selalu
mengalah. Tak jarang dia mendapat muka asam, cibiran
bibir dan cemohan dari adik misannya itu, tetapi dia tetap
sabar. Kadang sidara pelayan Ah Liu yang sering
membelanya kalau dia benar.
Tetapi terhadap Su Hong Liang, Tiau Ing memang lebih
memberi hati. Su Hong Liang lebih tampan, lebih pintar
bicara, lebih pandai mengambil hati. Anehnya, si dara
pelayan Ah Liu tidak suka. Ia lebih kasihan kepada Bok
Kian yang jujur.
"Bok- te, engkau kan tahu bagaimana watak Ing-moay.
Kalau dia bilang tidak mau, biar ada geledeg menyambar,
dia tetap tak mau," seru Su Hong Liang dengan tertawa.
Secara licik, dia hendak menganjurkan supaya Tiau Ing
tetap kukuh pada pendiriannya.
Tiba2 sidara pelayan Ah Liu berseru, "Siocia, lalu
bagaimana dengan pesan tayjin itu?"
"Biarlah saja," sahut Tiau Ing.
"Ah, kurasa kurang baik, siocia," kata Ah Lau, "tayjin
tentu marah dan kecewa. Lain kali tentu tak mau mengutus
siocia keluar lagi. Wah, berabe kan? Kelak kita tentu tak
dapat kaluar kemana-mana lagi,"
Su Tiau Ing tertegun. Apa yang dikata Liu itu memang
benar. Ayahnya memang memanjakan dia. Tetapi kalau
dalam urusan pemerintahan, mentri Su Go Hwat itu sangat
keras. Siapa yang melanggar tentu dihukum. Pcrnah sekali
keponakannya, Su Hong Liang, melalaikan tugas yang
diserahkan kepadanya. Mentri Su Go Hwa marah dan
suruh keponakannya itu dijebluskan dalam penjara. Setelah
itu sebenarnya mentri Sudah tak mau menerima
keponakannya lagi. Tetapi karena engkohnya datang
meminta maaf dan Hong Liang juga berjanji takkan berbuat
begitu lagi, mentri Su baru mau menerimanya lagi.
"Ah Liu, jangan ikut campur !" bentak Hong Liang.
"Tetapi engkoh Liang, Ah Liu memang benar. Kalau
ayah sampai marah, aku tentu dilarang keluar lagi," kata
Tiau Ing lalu bertanya kepada Ah Liu. "lalu bagaimana
baiknya
"Bagaimana kalau siocia minta bantuan Bok-kongcu ?"
balas Ah Liu.
"Ya," kata Tiau Ing, "tetapi ...."
"Bok kongcu, apakah engkau mau mewakili siocia
menyerahkan pesan Su tayjin kepada jenderal Ui?" tanpa
menunggu nonanya selesai berkata, Ah Liu terus bertanya
kepada Bok Kian.
"Baik, Ah Liu," kata Bok Kian.
Sebenarnya Su Hong Liang hendak mencegah tetapi
terlambat. Ah Liu sudah meminta dan Bok Kianpun sudah
menyanggupi. Dia hanya terkejut.
Ah Liu meminta surat mentri Su Go Hwat dari Tiau Ing
dan diberikan kepada Bok Kian.
Tiba2 terdengar suara kuda berlari lagi. Dan pada
beberapa saat kemudian, muncul dua penunggang kuda.
Yang satu seorang nona cantik dan yang satu seorang
wanita berumur 40-an tahun. Kedua penunggang kuda itu
berhenti di tempat rombongan anak2 muda itu.
"Ih, nona Ma," sahut Su Hong Liang seraya memberi
hormat.
Nona itu mengerling pandang ke sekeliling lalu bertanya.
"Engkoh Liang, siapakah nona cantik disampingmu itu ?".
"0, maaf, aku lupa memperkenalkan. Inilah adik Su Tiau
Ing, puteri dari paman Su Go Hwat,” Su Hong Liang
memperkenalkan kepada nona itu. “adik Ing, yang datang
ini adalah Ma Giok Cu siocia, puteri tay-haksu Ma Su Ing
tayin."
"O, maaf Ma siocia, aku berlaku tak hormat,” kata Tiau
Ing seraya memberi hormat.
Ma Giok Cu tertawa sinis, "Tak apa Su socia, kutahu
engkau tentu sedang sibuk dengan engkoh Liang. Apa saja
sih yang kalian bicarakan sampai dihadiri sekian- banyak
orang ini?"
Habis berkata kembali Ma Giok Cu mengeliarkan
pandang memeriksa orang2 yang berada di tempat itu.
Ketika pandang matanya tertumbuk pada pendekar Huru
Hara, ia terkesiap kaget melihat dandanan pemuda itu.
Tetapi ketika memandang Ah Liong, ia makin terbelalak.
Ternyata saat itu Ah Liong deliki mata dan leletkan lidah
kepadanya.
"Ih, setannnn!" teriak Ma Giok Cu.
Sekalian orang terkejut dan serempak mencurah pandang
kearah Ah Liong yang tengah dipandang Ma Giok Cu.
Mereka terkejut tapipun geli ketika melihat Ah Liong
bergaya mempertunjukkan tampang setan itu.
"Ma siocia, dia seorang bocah liar, bukan setan," kata Su
Hong Liang lalu berteriak kepada Ah Liong, "Hai, setan
cilik, jangan kurang ajar kepada puteri tay-haksu!”
Ah Liong menyeringai.
-0oodwoo0-
Jilid ke 27
Perang ....
Ah Liong memang mengkal melihat sikap dan tingkah
laku yang baru datang itu. Waktu pertama kali nona itu
mengerlingkan mata memandang sekalian orang, waktu
tiba pada gilirannya, Ah Long sudah menyengirkan hidung.
Tetapi tupanya Ma Giok Cu tak sempat memperhatikan.
Waktu kedua kalinya Ma Giok Cu mengeliarkan
pandang lagi, Ah Liong sengaja deliki mata dan leletkan
lidahnya seperti setan. Dan ternyata memang Ma Giok Cu
terkejut dan tertarik perhatiannya.
"Hai, apa-apaan engkau, setan cilik!" teriak Su Hong
Liang makin marah.
"Kenapa sih?" balas Ah Liong.
"Mengapa engkau berani menyengir kepadaku?"
"Lho, aku kan menggunakan hidungku sendiri untuk
menyeringai, apa tidak boleh?"
"Itu berarti menghina aku!"
"Aneh," gerutu Ah Liong, "orang menyeringai dengan
hidungnya sendiri, dituduh menghina. Apa engkau merasa
terhina?"
"Tentu!"
"Engkau merasa terhina bagaimana?"
"Engkau seorang bocah liar berani menghina aku dan
nona Ma, puteri mentri besar dari kerajaan Beng."
"Aku tidak memaki dan tidak mencelah ke padamu dan
kepada nona itu. Aku menyeringai dengan hidungku
sandiri. Uh, bung, jangan main kuasa seperti pembesar
saja!"
"Rangket bangsat cilik itu!" teriak Su Hong Liang kepada
kedua pengawalnya. Dan Hun Ti Siang yang tadi belum
selesai perkelahiannya, dengan Ah Liong, maju
menghampiri lagi.
"Berhenti tiba2 Huru Hara membentak "Jangan main
sewenang-wenang!"
“O, engkau hendak membela adikmu?" seru Hun Ti
Siang.
"Ya," sahut Huru Hara, "jika tadi engkau hendak
melawannya, aku sih tak keberatan Tetapi kalau sekarang,
lain halnya."
"Mengapa lain ?"
"Kalau tadi, itu soal mengadu kegagahan, siapa yang
lebih sakti. Tetapi sekarang, engkau bukan lagi seorang
jago, melainkan seorang alat dari tuanmu yang sewenangwenang
itu. Coba bilang, apakah orang yang menyeringai
dengan hidungnya seudiri itu melanggar undang2. Kalau
melanggar, aku ingin tahu, undang2 kerajaan manakah itu
!"
"Bagussss . !" tiba2 terdengar lengking seorang dara. Dan
ketika sekalian orang memandang kearahnya, ternyata yang
berseru memuji itu adalah Ah Liu, pelayan Su Tiau Ing.
Ma Gioa Cu deliki mata kepada dara itu, lalu bertanya
kepada Su Hong Liang, "Eagkoh Liang, siapakah orang
yang dandanannya seperti pendekar kesiangan itu ?"
"Dia adalah engkoh dari bocah liar itu," sahut Su Hong
Liang.
"O, pantas," kata Ma Giok Cu," adiknya kuncung,
engkohnya punya rambut seperti dua buah tanduk, hi, hi, hi
..... "
"Dengar ! Bukankah nona itu menghina aku? Ai
mengapa engkau tak berani menindaknya tetapi hanya
berani menindak adikku,” tegur Huru Hara.
"Jangan banyak mulut!” Hun Ti Siang terus memukul,
krak .....
Huru Hara tak senang melibat tingkah Hun Ti Siang
yang berandalan itu. Maka ditangkisnya pukulan orang she
Hun itu, Akibatnya Hun Ti Siang menjerit keras,
terhuyung-huyung sambil mendekap lengan kanannya yang
tulangnya patah.
Su Hong Liang terkejut. Kedua pengawalnya, si tinggi
besar Thay-san dan kini si Pasir-api Hun Ti Siang, telah
dirubuhkan oleh Huru Hara dalam sekali gebrak saja. Dia
marah. Tetapi sebelum sempat bertindak, Bok Kian sudah
menyelutuk, "Su-heng, sudahlah, kita ini kan orang sendiri,
mengapa harus saling bermusuhan ? Yang penting kita
harus lekas mengerjakan tugas kita masing2."
Kemudian dia terus hendak mengajak Huru Hara
berangkat. Tetapi tiba2 Ma Giok Cu mencegahnya,
"Tunggu dulu !"
"O, apakah Ma siocia ada keperluan dengan kami ?"
tanya Bok Kian.
"Ya, tetapi bukan dengan engkau. Kalau engkau hendak
pergi, silakan pergi saja," kata Ma Giok Cu, "aku perlu
dengan pendekar kesiangan itu."
Mendengar itu Huru Hara segera melangkah maju ke
hadapan Ma Giok Cu, "Baik, aku pendekar Huru Hara,
akan menunggu apa saja yang hendak engkau katakan !"
“Pendekar Huru Hara ?" Ma Giok kaget.
"Hm," dengus Huru Hara.
"Apa engkau membuat huru hara ?"
"Ya, aku memang pencari huru hara."
"Kalau begitu engkau seorang pemberontak.”
"Ya, memang aku seorang pemberontak."
"Jangan guyon,” teriak Ma Giok Cu.
"Siapa yang ada waktu guyon ? Aku memang tukang
membuat huru hara. tukang berontak. Tetapi yang
kuberontak adalah peristiwa2 ketidak-adilan, manusia2
yang jahat dan lalim!”
"Hai, bung, jangan kurang ajar. Ma su Ing adalah puteri
dari mentri tay- haksu Ma Su Ing tayjin," seru Su Hong
Liang.
"Kalau dia seorang puteri tay-haksu. lalu engkau suruh
aku bagaimana ? Pay kui atau menyembah dibadapannya ?
Seperti halnya dengan kau sendiri. Engkau adalah
keponakan dari mentri pertahanan Su Go Hwat tayjin.
Tetapi yang mentri itu adalah Su tayjin, bukan engkau.
Engkau bukan orang berpangkat, jangan main kuasa,
jangan seperti seorang pembesar !"
Marah padam wajah Su Hong Liang disemprot begitu
tajam oleh Huru Hara.
"Kuperingatkan, engkau masih mempunyai perhitungan
yang belum selesai dengan aku. Engkau berani membunuh
penjahat yang kutangkap. Padahal dari mulut panjahat itu
tentu dapat kuketahui siapa yang menyuruh membunuh
Bok kong ," kata Huru Hara lagi.
Belum Su Hong Liang menyahut, Ma Giok Cu sudah
berteriak, "Apa ? Engkau hendak mengganggu engkoh
Liang ?
"Ya," sahut Huru Hara, "apa hubungan dengan engkau
?"
"Kalau tak ada hubungannya masakan aku mau turut
campur, Engkau boleh mengganggu siapun kecuali engkoh
Liang!” !"
Mendengar itu tersipu-sipulah Su Hong Liang. Tampak
Su Tiau Ing melengos.
“Soal itu, jangan kita bicarakan dulu," ka Huru Hara,"
sekarang apa yang nona hendak katakan kepadaku ?"
"Sekali tepuk dua lalat," seru Ma Giok Cu, "aku memang
hendak menjajal kepandaianmu. Menilik engkau berdandan
sebagai seorang pendekar nyentrik dan bernyali besar kalau
bicara, tentulah engkau memiliki kepandaian sakti. Dan
kebetulan pula engkau hendak mengganggu engko Liang.
Maka ingin aku mencoba kepandaianmu.”
"O, begitu," kata Huru Hara, "aku tidak cari huru hara,
tetapi huru hara yang mencari aku. Baiklah, nona, aku
menurut saja."
"Lau-ma, silakan menghajar adat kepada pendekar
kesiangan iau," seru Ma Giok Cu seraya berpaling kepada
wanita setengah tua.
"Baik," kata wanita itu seraya maju kehadapan Huru
Hara.
"Apakah wanita ini yang nona perintahkan untuk
menguji aku?" seru Huru Hara terkejut. Ma Giok Cu
mengiakan.
"Maaf aku tak mau," kata Huru Hara terus berputar
tubuh dan hendak melangkah.
"Tunggu!" teriak Ma Giok Cu, "mengapa engkau
menolak bertempur dengan Lau-ma?"
"Aku paling segan bertempur dengan wanita. kalau nona
mengajukan jago lelaki, biarpun berapa orang maju, aku
mau melayani. Tetapi kalau wanita, maaf saja . . . . "
"Eh, bung, jangan menghina aku," seru wanita yang
dipanggil Lau-ma itu, "apa engkau kira aku tak mampu
menghajar engkau?"
"Aku tidak mengira begitu. Hanya aku memang segan
bertempur melawan wanita."
"Hm, jangan menghina!" seru Lau-ma, "kalau dalam
sepuluh jurus aku tak dapat merubuhkan engkau, engkau
boleh bebas!"
"Ah . .. , " Huru Hara mendesah.
"Lekas bersiap!" bentak Lau-ma. Kemudian ia mulai
membuka serangan.
Gayanya lemah gemulai seperti tak bertenaga ketika
sepasang tangan Lau-ma menari-nari mengarah kepada
Huru Hara. Tetapi ternyata Huru Hara terteliak kaget ketika
ia merasa keduabelas jalandarah tubuhnya yang penting
seperti dibayangi oleh jari jemari wanita itu.
Beberapa tokoh yang berada ditempat itu terkejut
menyaksikan permainan yang aneh dari wanita yang
disebut Lau-ma. Tetapi tiada seorang pun yang tahu
ilmusilat apakah yang dimainkan Lau-ma.
"Sin-ci-kui-ing!" tiba2 salah seorang yang datang bersama
Su Hong Liang, yalah seorang lelaki setengah tua yang
bermata tajam, berseru tertahan.
Sin-ci-kui-ing artinya Bayangan-jari- setan. Sebuah
ilmusilat yang hampir sudah tak ada lagi dalam dunia
persilatan.
Crek, crek . . . . dua buah jalandarah pada bahu dan
pinggang Huru Hara tertutuk sehing Huru Hara terhuyung.
Tetapi Lau-ma sendiri juga mengerut dahi.
Walaupun tusukan jarinya dapat mangenai jalandarah
tubuh orang, tetapi Lau-ma rasakan jarinya itu seperti
terlanda oleh suatu arus tenaga yang kuat sehingga
lengannya hampir lunglai. Ia benar2 terkejut.
Dan lebih terkejut pula ketika maju manyerang lagi,
ternyata Huru Hara juga sudah siap tempur pula.
"Ih, jelas dia terkena tutukan jariku, mengapa dia masih
tetap segar bugar?" pikir Lau-ma.
Cret, cret .....
Kembali dua buah tutukan jari Lau- ma nyasar pada
dada dan iga Huru Hara. Huru Hara mendesis dan
terhuyung mundur. Tetapi Lau-ma pun tertegun.
"Aneh, aneh benar," gumamnya dalam hati. Mengapa
setiap kali jarinya mengenai tubuh Huru Hara tentu tubuh
orang itu memancarkan arus tenaga refleks.
"Baru dua jurus," seru Huru Hara, hayo lanjutkan lagi
sampai sepuluh jurus."
Lau-ma makin penasaran. Jarinya menari-nari bagaikan
beratus bayang2 setan menyambar maut. Huru Hara tetap
tak membalas menyerang, hanya menghindar saja. Namun
cara menghindar setelah melalui dua jurus serangan lawan,
sudah mulai teratur.
"Siocia, ilmusilat apakah yang dimainkan wanita itu?"
tanya Ah Liu kepada Su Tiau Ing. Ah Liu sejak kecil ikut
pada keluarga Su. Walau pun seorang pelayan tetapi dalam
pergaulan sehari-hari dia lebih menyerupai seorang kawan
daripada dajang. Dan memang Su Tiau Ing tidak
menganggapnya sebagai pelayan tetapi seorang
kepercayaan. Oleh karena Tiau Ing tak punya saudara laki
ataupun perempuan, dia sayang pada Ah Liu.
Sebenarnya mentri Su Go Hwat tak mempunyai pikiran
untuk memberi pelajaran ilmusilat kepada puterinya.
Apalagi sebagai seorang mentri pertahanan, dia sibuk
dengan tugas2 negara.
Tetapi pada suatu hari datanglah seorang rahib yang
hendak minta idin dan sumbangan pada mentri Su guna
membangun sebuah vihara. Kebetulan mentri Su tak
dirumah. Penjaga2 menolak kedatangan rahib itu secara
kasar. Terjadi ribut2. Kebetulan Su Tiau Ing yang waktu itu
baru berumur 10-an tahun lari dari dalam. Dia tidak melihat
ada ribut2 di depan pintu itu. Entah karena apa, kaki Tiau
terselimpat dan jatuh. Rupanya keras juga jatuhnya itu
hingga dia pingsan.
Melihat itu rahib memaksa hendak maju untuk
menolong tetapi penjaga tetap merintangi. Rupanya rahib
itu hilang kesabarannya. Sekali dorong beberapa penjaga
yang bertubuh kekar terpelanting jatuh mencium lantai.
Rahib mendukung Tiau Ing dibawa masuk.
Sebenarnya rahib itu hendak menyembuhkan Tiau Ing
yang menderita gegar otak tetapi penjaga2 yang dihajar tadi
datang pula dengan membawa belasan prajurit. Mereka
hendak menahan rahib itu. Rahib terpaksa menghajar
mereka sampai pontang panting. Kemudian rahib itu
memberi pertolongan pada Tiau Ing, meminumkan obat
dan mengurut-urut tubuhnya.
Dua jam kemudian datanglah mentri Su heran melihat
keadaan rumahnya yang kacau seperti habis dijadikan
gelanggang pertempuran. Bujang tua memberi laporan
tentang peristiwa yang terjadi di gedung kediamannya
mentri. Mentri terkejut dan gopoh menuju ke kamar putri.
Dilihatnya Tiau Ing sedang tidur dan dijaga oleh seorang
rahib setengah tua yang tengah bersemedhi..
Setelah Tiau Ing sembuh, mentri Su Go Hwa berterima
kasih kepada rahib itu dan menyerahkan Tiau Ing supaya
diambil anak-angkat karena rahib itulah yang telah
menyelamatkan jiwa Tiau Ing.
Mendengar keterangan rahib bahwa Tiau Ing
sesungguhnya mempunyai bakat tulang yang bagus untuk
mempelajari ilmusilat, mentri pun mengijinkan. Sejak itu
Tiau Ing diberi pelajaran ilmusilat oleh rahib itu. Ah Liu
juga gemar dan dia sering mengikuti latihan2 yang
dilakukan Tiau Ing. Tiga tahun kemudian rahib itu baru
meninggalkan rumah kediaman mentri. Hanya kadang dia
datang untuk menjenguk kemajuan ilmusilat yang dipelajari
Tiau Ing.
Mendengar pertanyaan Ah Liu, Tiau Ing kerutkan dahi,
"Entahlah, aku juga tak tahu. Suhu pun tak pernah
menceritakan tentang ilmusilat semacam itu."
"Tetapi pendekar aneh itu lebih istimewa siocia," kata
An Liu, lihattah, dia tak mau balas menyerang dan
membiarkan dirinya diserang oleh wanita itu. Dan anehnya
diapun dapat mengikuti segala gerak dan gaya serangan
lawan. Hm, ilmusilat wanita itu aneh tetapi gerak gerik
pendekar itu lebih aneh lagi."
"Ya, kini kita baru mendapat pengalaman bahwa ilmu
silat itu tak terbatas tingginya alirannyapun bermacammacam.
Engkau harus berlatih pelajaran silat yang engkau
miliki itu, Liu," kata Tiau Ing.
"Tentu, siocia," kata Ah Liu, "atau memang berpendapat
bahwa penting bigi kita kaum wanita yang dianggap lemah
itu memiliki ilmu - untuk bela diri. Kalau perlu untuk
menyikat orang jahat,"
"Ah Liu, lihatlah ..... ," tiba2 Tiau Ing berseru supaya Ah
Liu memperhatikan gelanggang pertempuran.
Ternyata pada waktu keduanya bercakap-cakap itu
pertempuran sudah mencapai delapan jurus. Wanita itu
tetap tak mampu merubuhkan Huru Hara.
"Masih dua jurus lagi," seru Huru Hara, "hayo,
keluarkanlah semua kepandaianmu !"
Tiba2 wanita itu hentikan serangannya. berdiri tegak,
pada lain saat dia mulai menjambaki rambutnya sendiri,
menarik-narik telinga dan hidungnya. Sepasang matanya
berobah mengerikan dan sekonyong- konyong dia
meringkik-ringkik seperti setan kelaparan.
Sekalian orang yang berada di tempat itu seketika seperti
orarg yang kena pesona. Mereka terlongong-longong
kehilangan semangat dan kesadaran pikirannya.
Tampak Huru Hara sesaat juga kesima. Wajahnya
kosong. Tetapi beberapa saat kemudian air mukanya mulai
merah berseri lagi.
Melihat itu wanita Lau-ma menerjangnya lagi dengan
masih meringkik-ringkik seperti binatang buas.
Rupanya Huru Hara mengkal. Diapun menirukan gaya
orang, ikut meringkik-ringkik. Sepinlas pandang, kedua
orang itu mirip dengan dua sosok setan yang sedang
bercanda.
Bluk , . beberapa saat kemudian tiba2 wanita itu jatuh
terduduk dan pejamkan mata. Mukanya pucat lesi.
Huru Hara juga pejamkan mata tetapi masih berdiri
tegak.
"Lau ..... ," baru Ma Giok Cu hendak memanggil wanita
itu mengangkat tangan memberi isyarat supaya gadis itu
jangan menganggunya dulu.
Ma Giok Cu terkejut. Ia tahu kalau Lau-ma itu
menderita luka- dalam, atau paling tidak kehabisan tenaga.
"Hm, bangsat itu harus kuhajar. Mumpung dia sedang
pejamkan mata memulangkan tenaga, harus kudahului,"
pikir Ma Giok Cu. Diam2 dia merogoh saku bajunya dan
mengeluarkan senjata rahasia yang bentuknya seperti biji
teratai, namanya thi-lian-cu. Sekali ayun, ia taburkan thilian-
cu kearah Huru Hara.
Tetapi serempak dengan itu sesosok tubuh kecil berayun
ke tempat Huru Hara dan menyeruduk kaki Huru Hara
hingga Huru Hara terpelanting.
"Gila engkau, Ah Liong ! Mengapa engkau menanduk
aku ?" teriak Huru Hara serta tahu apa yang membentur
kakinya itu.
"Jangan salah faham engkoh: Gadis itu, lempar benda
kecil kepadamu, lihatlah buktinya.” Ah Liong lari
menjemput sebatang thi-lian-cu yang jatuh di tanah,
diberikan kepada Huru Hara.
"Hm, siapakah yang hendak menyerang secara
menggelap kepadaku itu ?" tanyanya.
"Gadis itu !" Ah Liong menuding kearah Giok Cu.
"Benarkah itu, nona ?" tegur Huru Hara
"Ya," jawab Ma Giok Cu, "siapa suruh kau melukai Liumaku
?"
''Siapa yang melukainya ?"
'Engkau !"
"Hm, mentang2 engkau ini puteri seorang mentri lalu
seenakmu sendiri saja menuduh orang. Engkau dan
sekalian orang yang berada tentu tahu, bahwa wanita itu
yang menyerang aku hanya bertahan. Dia terluka karena
ulah-tingkahnya sendiri yang hendak mempertunjukkan
ilmu Setan-meringkik."
"Hm, engkoh Liang, tolong tangkapkan pendekar liar
itu," tiba2 Tiau Ing berseru.
Setelah menyaksikan kepandaian Huru Hara
menghadapi Thay-san. Hun Ti Siang dan terakhir Lau-ma,
tergetarlah hati Su Hong Liang. Ia tahu kenapa Thay-san
yang bertenaga seperti gajah, ia-pun kenal siapa Hun Ti
Siang yang punya pukulan berhawa panas seperti api. Ia
pun pernah mendengar bahwa Lau-ma, inang pengasuh
yang memomong Ma Giok Cu sejak kecil, adalah suhu dari
Ma Giok Cu. Memang kabarnya Lau-ma itu dulu berasal
dari isteri seorang ketua perguruan silat dan memiliki
kepandaian tinggi. Apa yang di lihatnya tadi, membuktikan
bahwa kabar2 tentang diri Lau-ma itu memang sungguh
terbukti kebenarannya .
Setelah tiga jago itu berturut-turut dikalahkan Huru
Hara, Su Hong Liang sadar kalau Huru Hara itu selain
pendekar aneh memang seorang jago silat yang luar biasa
anehnya.
Sebenarnya seruan Ma Giok.Cu itu membuat Su Hong
Liang salah tingkah. Kalau ia menurutinya, ia sungkan
kepada Su Tiau Ing. Tentulah Tiau Ing akan menuduh dia
menerima cinta Ma Giok Cu. Padahal, diam2 dia suka
kepada Tiau Ing yang lebih cantik.
Dengan modal wajahnya yang tampan dan pandai
bicara, Su Hong Liang memang banyak menjadi rebutan
para siocia2 (gadis2 orang berpangkat), termasuk Ma Giok
Cu puteri dari mentri tay-haksu (perdana mentri) Ma Su In
yang paling berkuasa di kerajaan.
Su Tiau Ing lebih halus dan ramah, Ma Giok Cu manja
dan berhati tinggi. Tetapi karena takut dan perlu
menggunakan kekuasaan ayahnya (Ma Su Ing), Su Hong
Liang memerlukan Ma Seng Ing juga.
"Engkoh Liang, jangan, orang itu hebat sekali
kepandaiannya.," Su Tiau Ing mencegah. Mendengar itu
marahlah Ma Giok Cu," Apa? Engkau berani melarang
engkoh Liang ? Hm, kalau aku yang minta tolong, engkoh
Liang tentu bersedia, Kutahu bagaimana hati engkoh Liang
terhadap diriku."
"Terserah, itu urusan kalian," sahut Tiau Ing," tetapi
sebagai saudara. aku berhak untuk memikirkan kepentingan
engkoh Liang."
"Saudara ? Hm, kalau engkau tahu bagaimana janji
engkoh Liang kepadaku, engkau tentu malu mengatakan
begitu. Apa sih hak seorang saudara saja ?" bantah Ma Glok
Cu.
Su Hong Liang terkejut. Ia hendak membantah. Karena
selama ini tak pernah ia memberi satu janji kepada Ma
Giok Cu, walaupun hubungannya baik. Ia tahu puteri
mentri tay- hak Ma Su Ing itu memang jatuh hati
kepadanya.
Mendengar perang mulut antara kedua sio-cia itu, Su
Hong Liang makin bingung. Untung saat itu salah seorang
dari kawannya yang bertubuh kecil tegap, segera berseru.
"Su kong-cu, serahkan manusia itu kepadaku , ..."
"O, terima kasih Ciong wisu," sahut Su Hong Liang
legah.
Orang itu bernama Ciong Wi Ho, menjabat angkat wi-su
(pengawal keraton). Sebenarnya sebagai wi-su, dia harus
menjaga keselamatan raja tapi ternyata dia diambil oleh Ma
Su Ing untuk menjaga pengawal peribadinya.
Tak mudah menjadi anggauta wi-su dalam keraton.
Tentu jago yang berkepandaian tinggi baru dapat diterima.
Dan Ciong Wi Ho itu memang hebat kepandaiannya. Dia
seorang jago ilmusilat kun (kera) yang tiada tandingannya.
Rupanya Su Hong Lang masih kuatir kalau-kalau Ciong
Wi Ho kalah. Dia segera suruh kedua pengwalnya, Thaysan
dan Hun Ti Siang untuk membantu. Hun Ti Siang terus
saja maju ke tempat Huru Hara tetapi Thay-san menolak.
"Hai, kenapa engkau ?" tegur Su Hung Liang.
"Dia seorang pendekar yang jempol. Aku kagum
kepadanya," sahut si tinggi besar.
"Lalu engkau takut ?"
"Bukan takut tetapi aku memang harus menghormati
seorang jago yang hebat."
"Lho, engkau ini kan orangku. Mengapa kau tak mau
kuperintah ?" seru Su Hong Liang.
"Banat., kongcu," sahut si tinggi besar Thian san," tetapi
dulu kan aku sudah berjanji. Aku minta kebebasan untuk
memilih musuh. Dan lagi, sewaktu-waktu aku dapat minta
berhenti. Bukan kongcu meluluskan ?"
"Gila I" teriak Su Hong Liang, "saat ini justeru tenagamu
diperlukan mengapa engkau hendak membelot ?"
"Suruhlah aku menempur siapa saja tapi jangan dengan
pendekar itu."
"Engkau takut. bukan? Cis, pengecut !"
"Bukan takut tetapi aku kagum kepadanya. Terhadap
orang yang kukagumi aku tak bisa menyerangnya."
"Apa yang engkau kagumi ? Kepandaiannya? Huh, apa
arti kepandaian seseorang ,saja ? Aku lebih punya
kekuasaan dari dia, Aku mempunyai paman seorang mentri
pertahanan. Dan ayah Ma Giok Cu siocia itu adalah mentri
yang paling berkuasa. Kalau engkau mau kerja kepadaku,
kelak engkau tentu akan mendapat pangkat yang tinggi."
"Terima kasih, kongcu," sahut si tinggi besar, "aku sudah
biasa hidup berkeliaran di hutan gunung Thay-san. Aku tak
menginginkan pangkat yang tinggi. Aku bingung kalau
menjadi pembesar ...."
'Hi, hi, hi ..... ," tiba2 terdengar suara yang tertawa
mengikik.
Ketika Hong Liang berpaling ternyata yang tertawa itu
adalah si dara Ah Liu.
"Engkau budak gila ! Mengapa tertawa ?" seraya deliki
mata.
"Geli kongcu," sahut Ah Liu.
“Geli apa ?"
"Bahwa ternyata di dunia ini masih terdapat orang yang
berhati polos seperti si tinggi besar itu. Orang lain berlombalomba
hendak mencari pangkat dia malah tak mau
mendapat pangkat karena bingung kalau menjadi pembesar,
hi, hi, .............”
"Itu baru seorang yang perwira !" tiba2 pula teriak
melengking. Ketika Hong Liang waling ternyata
yangberseru itu adalah sisetan kuncung, Ah Liong.
"Bangsat cilik, jangan ikut campur!" teriak Su Hong
Liang.
"Aku punya mulut, punya telinga. Siapa yang larang aku
tertawa dan bicara ?" sahut Ah Liong sembari bercekak
pinggang.
“Jahanam engkau !” Hong Liang menuding bocah itu.
"Hai. cici engkau boleh tertawa mengikik mengapa aku
dilarang oleh tuanmu itu ?" teriak Ah Liong kepada Ah Liu.
"Kalau engkau merasa bebas, silakan tertawa, "seru Ah
Liu."
"Apa engkau senang kalau aku tertawa
"Mengapa tidak senang ?"
"Jadi engkau setuju kan ?"
"Lho, orang senang tentu setuju," seru Ah Liong.
"Belum tentu," bantah Ah Liu," aku sering mendengar
orang tertawa karena tertawa itu buat orang sehat. Tetapi
belum tentu aku setuju.”
"Jangan cerewet saja !" bentak Su Hong Liang.
"Tuh, rasain sekarang engkau, cici !" Ah Liong.
"Engkau juga, setan cilik !" bentak Hong Liong.
"Eh, hak apa engkau melarang aku tertawa dan bicara ?"
Ah Liong tak sabar juga.
"Thay-san, hajar bocah liar itu !" kembali Hong Liang
berseru memberi perintah. Tetapi si tinggi besar menolak
lagi, "Dia tak bersalah.”
"Lho, engkau berani membantah lagi ?”
"Mengapa tidak engkau sendiri yang menghajar aku ?"
lengking Ah Liong.
"Bajingan cilik, engkau kira aku tak berani?” Su Hong
Liang terus maju menghampiri. "Berhenti !' tiba2 Huru
Hara maju.
"Aku hendak menghajar bocah itu, bukan engkau !"
"Lebih baik engkau menghajar aku saja, kalau engkau
berani. Jangan musuhi anak kecil.
"Engkoh Hok, biarkan dia maju," seru Ah Long.
"Ah Liong, jangan cari perkara," seru Huru Hara," kalau
tidak mengingat pamannya, Su Go Hwat tayjin itu seorang
yang bijaksana, mungkin dia sudah kuremuk tulangnya."
"Engkoh Liang, sudahlah, jangan melayani dia," seru
Thu Ing. Dia kuatir akan keselamatan Hong Liang kalau
bertempur melawan Huru Hara
"Engkoh Liang, jangan takut. Kalau dia berani
mengganggumu akan kulaporkan kepada ayah biar dia
ditangkap,” Ma Giok Cu tak mau ketinggatan. Bahkan dia
menunjukkan kekuasaan ayahnya.
Huru Hara tertawa, "Ho, engkau kira aku takut dengan
kekuasaan ayahmu. Aku bukan bawahan ayahmu. Aku tak
bersalah melanggar undang-undang, mengapa aku takut ?"
"Hai, mengapa sama dengan pendirianku ?" tiba-tiba si
tinggi besar Thay-san melengking,
Ciong Beng Ho, wisu (pengawal istana) yang menyertai
perjalanan Su Hong Liang, ikut bicara, "Su kongcu, kongcu
masih punya tugas penting. “Kurasa tak perlu meladeni
segala orang liar disini….”
Su Hong Liang memang cerdik. Dia tahu gelagat tak
menguntungkan apabila tetap berkeras hendak menghadapi
Huru Hara. Kedua kalinya, ia sudah mendapat firasat
bahwa kemunculan ke dua gadis, puteri mentri tay-haksu
Ma Su In dan puteri mentri pertahanan Su Go Hwat itu
tentu akan menimbulkan kesulitan kepadanya. Ia tahu
bahwa Ma Giok Cu jatuh hati kepadanya. Begitu pula Su
Tiau Ing juga lebih tertarik kepadanya daripada kepada Bok
Kian. Kalau nanti ia pergi bersama Ma Giok Cu, Tiau Ing
tentu tak senang. Tetapi kalau dia pergi bersama Ma Tiau
Ing, Ma Giok Cu tentu marah. Lebih baik ia lekas2 pergi
meninggalkan kedua gadis itu.
"Baik, Ciong wisu, mari kita Ianjutkan perjalanan lagi,"
kata Su Hong Liang terus manceplak kudanya.
"Engkoh Liang, mengapa lama engkau tak pulang?" seru
Tiau Ing.
"Engkoh Liang, ayah sangat mengharap kedatanganmu.
Ada urusan penting," kata Ma Giok Cu tak mau kalah.
"Maaf, Ing moay dan nona Ma, aku masih ada suatu
tugas penting yang harus kuselesaikan,” kata Su Hong
Liang seraya mencongklangkan kudanya. Hong Ti Siang
dan kedua wisupun mengikutinya.
"Hai, mengapa tidak ikut?" teriak Ah Liu kepada si tinggi
besar Thay-san.
"Kongcu marah kepadaku. Dia tak mengajak aku," kata
si tinggi besar.
Bok Kian menganggap bahwa saat itu dia harus lekas2
berangkat juga. Ia mengajak Huru Hara dan Ah Liong.
Setelah ketiga pemuda itu pergi maka Ah Liong bertanya
lagi, "Hai, bung tinggi, mengapa engkau tak ikut?"
"Mengapa harus ikut? Aku belum kenal dan merekapun
tidak mengajak," sahut Thay-san.
Kini yang masih berada di tempat ini Su Tian Ing
bersama Ah Liu dan Ma Giok Cu bersama Lau ma yang
masih duduk memulangkan tenaga.
"Mengapa engkau tidak ikut pada kongcu?" tegur Ma
Giok Ca kepada Ah Liu. Sebenarnya ucapannya itu
ditujukan kepada Su Tiau Ing.
"Ikut atau tidak, aku hanya mendengar perintah
siociaku," sahut Ah Liu.
"Uh, silakan ajak siociamu ikut dia. Toh tak lama lagi,
dia akan menjadi menantu dari mentri haksu," gumam Ma
Giok Cu.
Su Tiau Ing tetkesiap. Tetapi sebelum ia membuka
mulut, Ah Liu yang tahu akan isi hati tuannya segera
mewakili bertanya, "Mentri taykaksu? Apakah bukan Ma
Su Ing tayjin?"
"Hm, apakah didalam kerajaan Beng terdapat mentri tayhaksu
yang lain?"
"Ah, aku hanya bertanya, siocia. Harap jangan marah,"
kata Ah Liu, "jika begitu bukankah Ma Su Ing tayjin itu
ayah siocia sendiri?"
"Kalau sudah tahu, mengapa harus bertanya lagi?" balas
Ma Giok Cu, "engkau seorang budak mengapa mau tahu
aja? Apakah engkau merasa sakit kalau Su kongcu akan
menikah dengan aku?"
"Ah Liu, kita pergi . .. , " Su Tiau Ing terus loncat keatas
pelana kudanya dan segera kaburkan binatang itu. Ah Liu
juga mau ikut tetapi dia berpaling kepada si tinggi besar
Thay-sa "Hai, bung, engkau hendak kemana?"
"Entah, aku sendiri juga tak tahu," sahut Thay- san.
"Bagaimana kalau ikut pada siociaku?"
"Terserah kalau begitu," sahut Thay-san, “tapi aku tak
mau terikat. Kalau perintah siociamu aku tak setuju, aku
tak mau melakukan. Juga setiap kali aku hendak pergi, aku
harus diidinkan pergi, jangan dihalangi. Pendek kata, aku
mau ikut tetapi tak mau terikat."
"Lekas engkau lari di belakangku!" seru Ah Liu seraya
mencongklangkan kudanya. Dan si tinggi besar Thaysanpun
segera lari mengikuti di lakang kuda Ah Liu.
Tetapi Ah Liu heran dan terkejut. Dia hanya terlambat
beberapa saat karena harus mengurus Thay-san. Tetapi
ternyata sudah melarikan kudanya sampai beberapa li, dia
tak melihat Su Tiau Ing.
"Siocia! Siocia .... ! " teriak Ah Liu ketika ia berhenti
disebuah hutan yang sepi.
"Hai, siocia siapa yang engkau teriaki itu?" tiba2 si tinggi
besar Thay-san yang tiba, segera menyeru.
"Limbung engkau! Siocia siapa lagi kalau bukan siociaku
sendiri!"
"Kalau begitu engkau salah cara memanggilnya."
"Salah bagaimana?"
"Beginilah caranya," kata Thay-san lalu menarik napas
dan sesaat kemudian menghambur teriak, "Siociaku . . . !
Siociakuuuuu .... ! " Suara keras seperti geledek sehingga
gemanya sampai bertebaran di empat penjuru.
"Engkau gila!" teriak Ah Liu, "berhentil"
"Kenapa?" si Thay- san terlongong.
"Masakan meneriaki begitu macam?" seru Liu,
"sudahlah, jangan seperti orang gila! Engkau ke timur, aku
ke barat. Nanti kita kembali di sini lagi . . . " — habis
berkata Ah Liu terus larikan kudanya menuju ke barat.
Thay-san juga lantas lari ke timur. Beberapa saat
kemudian dia berhenti, "Dia suruh aku ke timur ini untuk
apa? Dia tak bilang apa2. Celaka!"
Dia terus berputar diri dan balik ketempat jang tadi
untuk mencari Ah Liu. Tetapi baru beberapa langkah. dia
terkejut, "O, tentulah dia cari nonanya. Ya, benar . ... ," dia
berputar dan terus lari ke timur.
Thay-san memang agak tolol dan pelupa. Tadi Ah Liu
pesan, setelah lari ketimur, bertemu atau tidak dengan Tian
Ing, harus kembali lagi ke tempat semula. Tetapi Thay-san
lupa. Dia lari ke timur tanpa berhenti. Pokoknya asal lari
saja.
Entah sudah berapa puluh li dia berlari tak tahu. Pokok
selama napasnya masih kuat akan tetap lari. Haripun
pelahan-lahan mulai gelap tetapi dia tak menghiraukan.
Sepanjang jalan dia terus lari, melintas lembah, naik
gunung.
Akhirnya ketika fajar menyingsing lagi, kehabisan napas
dan jatuh tersungkur ke tanah. "Wah, ngantuk sekali nih . ..
, " dia terus mendengkur.
Entah berapa jam dia tidur. Ketika ia buka mata ternyata
hari sudah sore. Lebih terkejut lagi ketika ia merasa berada
di sebuah ruangan.
"Gila, dimana aku ini?" dia bangun hendak lari. Tetapi
empat penjuru ruangan terbuat daripada tembok. Dia tak
dapat keluar. Tiba2 ia melihat pintu lalu dihampirinya dan
dihantamnya, bam . . . .
Terdengar bunyi macam meriam berdentum. Pintu itu
terbuat daripada besi. Suaranya seperti gunung roboh tetapi
tetap tak pecah.
Dia marah. Dengan singsingkan lengan baju, dia mulai
menghimpun tenaga dan dihantamnya pintu itu sekuatkuatnya,
huhhhh .. . . dia menjerit sekeras-kerasnya karena
hantamannya itu. mengenai tempat kasong sehingga tinju
terus meluncur menghantam tanah dan diapun ikut jatuh
menyusur tanah.
Pada lain saat dia rasakan punggungnya diinjak oleh
beberapa kaki orang dan diringkus.
"Hai, apa salahku?" teriaknya ketika diangkat berdiri
oleh beberapa orang.
Ternyata ketika ia menghantam pintu tadi kebetulan dari
luar, beberapa orang telah memburu pintu itu sehingga
hantamannya mengenai angin Dan dia terus diringkus oleh
beberapa orang.
"Siapa engkau ini!" bentak salah seorang dari kawanan
lelaki yang meringkusnya itu.
"Aku Thay- san!"
"Hus, Thay-san itu gunung!' bentak salah seorang lelaki.
"Itu memang namaku," seru si tinggi besar.
"Ha, ha, ha," beberapa lelaki itu tertawa geli, "namamu
Thay-san? Lalu mengapa engkau tidur di tengah jalan?"
"Aku ngantuk sekali."
"Apa engkau tak punya rumah?"
"Punya tetapi jauh di Thay-san sana."
"Engkau dari mana dan hendak kemana?"
"Aku bersama dengan Su kongcu .. . .
"Siapa Su kongcu itu?"
"Su kongcu adalah putera keponakan mentri Su Go
Hwat tayjin."
"Siapa nama yang lengkap dari Su kongcu itu?"
"Eh, mengapa engkau bertanya begitu melilit sekali?
Siapa kalian ini?"
"Jika engkau mau menjawab dengan jujur akan
kubawamu kehadapan pimpinan kami. Mungkin engkau
akan mendapat kebebasan."
"Kebebasan? Apakah aku tak bebas?"
"Tergantung dari sikap dan keteranganmu. Engkau bisa
bebas, pun bisa tidak."
"Huh!" seru Thay-san, "tempat apa ini?"
"Inilah markas besar dari barisan Sukarela."
"Barisan apa itu?"
"Barisan orang2 terutama kaum pendekar yang secara
suka rela akan berjuang."
"O, kalian ini anggauta barisan itu?"
"Ya."
"Mengapa kalian menangkap aku?"
"Karena engkau tidur mendengkur di tengah jalan maka
kubawa engkau kemari untuk di periksa. Mungkin engkau
ini seorang mata-mata.”
"Hus! Aku dijadikan pengawal dari Su kong-cu. Barisan
Suka Rela itu membantu kerajaan Beng atau kerajaan
Ceng?"
"Yang berhak menjawab pertanyaan itu adalah pimpinan
kami."
"Siapa pimpinan kalian?"
"Engkau akan tahu sendiri nanti."
“O, apakah kalian hendak menghadapkan aku kepada
pimpinan kalian?"
"Ya," sahut penjaga, "mari ikut."
Thay-san dibawa ke sebuah ruangan yang menyerupai
sebuah guha. Ketika hendak memasuki guha itu, matanya
ditutup dengan kain hitam.
"Nah, sudah sampai," kata penjaga seraya membuka
kain penutup mata Thay-san.
Thay-san dibawa masuk kedalam sebuah tempat. Disitu
terdapat sebuah patung yang berwajah seram. Tak lama
kemudian muncullah seorang pemuda yang gagah, diiring
oleh dua orang pengawal bersenjata pedang panjang.
"Siapa namamu?" tegur pemuda itu.
"Thay-san."
"Itu nama gunung!"
"Bukan, itu namaku."
"Hm, mengapa engkau berada ditengah jalan. Apa
engkau tak tahu bahwa jalan itu sudah termasuk wilayah
kekuasaan kami?"
"Kuanggap jalan diseluruh negeri ini adalah milik
negara. Mengapa aku harus tahu jalan mana yang dikuasai
oleh orang orangmu?"
"Jangan bandel."
"Hus, aku bicara secara terus terang. Apanya yang
bandel."
"Katakan mengapa engkau tidur di jalan."
"Ngantuk."
"Hanya orang sinting kalau ngantuk terus tidur di
sembarang tempat."
"Hus! Ngantuk itu ibarat orang yang hendak buang hajat.
Kalau sudah menyerang, wah, tak dapat ditahan lagi."
Pemuda itu terpaksa tersenyum mendengar kata2 Thaysan.
Diam2 ia tahu bahwa Thay-san itu seorang yang polos
setengah linglung.
"Apa pekerjaanmu?"
"Pengawal."
"Pengawal siapa?
"Su kongcu, putera keponakan mentri Su Go Hwat.”
"Jangan bohong!" bentak pemuda itu terkejut.
"Hus! Siapa yang bohong? Aku memang pengawal dari
Su kongcu. Tak percaya? Panggil Su kongcu kemari untuk
dipadu."
"Mana Su kongcu sekarang?"
"Entah, dia mengatakan hendak menyelesaikan tugas
yang penting."
"Mengapa engkau tak diajaknya?"
"Aku sendiri juga tak tahu mengapa tiba2 dia tak
mengajakku."
"Kan kemana engkau sekarang ?"
"Aku bertemu dengan pembantu Su siocia. Ia
menawarkan aku kalau-kalau mau ikut pada siocia. Akupun
mau saja."
“Siapa yang engkau sebut Su siocia itu?"
"Engkau memang geblok," gumam Thay-san sehingga
orang itu merah mukanya, "siapa lagi Su-siocia itu kalau
bukan puteri dari mentri Su Go Hwat."
"Gila !" teriak orang itu, "puteri dari Su Go Hwat pengpoh-
siang-si itu ?"
"Apa engkau tuli ?" balas Thay-san.
Orang yang sikap dan wibawanya seperti pimpinan
disitu, memang bermula terkejut karena si tinggi besar
sering menyemprotnya dengan kata ‘hus’. Tetapi setelah
tahu bahwa si Thay-san memang kurang waras. dia pun tak
marah. Bahkan dimaki `goblok. dan `tuli`, diapun tak
marah.
"Dimana Su siocia itu ?" tanya pimpinan itu,
"Gila !" teriak Thay-san, "kalau aku tahu dimana Su
siocia, tentu aku sudah ikut."
"Apa engkau hendak mencarinya ?"
"Apa engkau tahu ?" balas Thay-san.
Orang itu kerutkan kening. Pada lain saat memberi
perintah kepada kedua pengawalnya.
"Bawa dia ke kamar tahanan nona itu. Suruh dia
mengenalnya siapa," katanya.
Thay- san terus dibawa ke sebuah tempat yang lebih
dalam. disitu terdapat sebuah bangunan. Pada tiap ruangan,
pintunya bukan kayu tetapi terali besi.
Thay- san diajak menghampiri sebuah ruangan dan dari
pintu terali besi ruang itu, kedua pengawal menunjuk
kedalam seraya bertanya, "Apa engkau kenal dengan nona
itu ?"
Thay-san memandang kesebelah dalam. Dilihatnya
seorang nona sedang duduk diam, bertopang dagu. Nona
itu cantik tetapi wajahnya tampak murung dan kecewa.
"Nona Su .... !" tiba2 Thay-san berteri memanggil.
Nona itu terhenyak.
"Nona Su, ? Apakah engkau bukan nona Su Tiau Ing ?"
teriak si tinggi besar.
Nona itu agak terkejut.
"Nona Su, mengapa engkau diam ? Apa engkau tak
dapat bicara lagi teriak si tinggi besar tanpa menghiraukan
suatu apa.
"Siapa nona itu," tanya kedua pengawal.
"Ini kan nona Su Tiau Ing."
"Siapa nona Su Tiau Ing itu ?"
"Puteri dari mentri Su Go Hwi."
“Uh...," kedua pengawal itu terkejut.
"Hai, lekas keluarkan nona itu," bentak Thay-san.
"Gila, mana aku berani ?"
"Hus, .mengapa takut ?"
"Pemimpin kamilah yang berhak mengeluarkannya.
Sebelum mendapat perintahnya, kami berdua tak berani.
Mari kita laporkan kepada pimpinan."
"Tidak !" tiba2 Thay-san menjambak kepala pengawal
itu, "lekas buka atau tidak !"
Tindakan si tinggi besar itu tak diduga-duga sehingga
kedua pengawal itu harus meringis kesakitan karena
rambutnya dijambak sekeras-kerasnya.
"Engkau gila !" teriak mereka.
"Lekas buka !"
"Kami tak punya anak kuncinya."
"Bohong !"
PLakkkkk ..... tiba2 si tinggi besar membenturkan kepala
kedua pengawal itu sekerasnya sehingga menimbulkan
suara seperti buah kelapa pecah.
Tak ampun lagi kedua pengawal itupun rubuh ke tanah.
"Nona Su, nona Su, lekas buka pintu !" tek Thay-san
seraya mengguncang-guncang terali sekuat-kuatnya.
Nona itu berbangkit dan berseru penuh keheranan,
"Siapa yang engkau panggil nona Su itu ? Disini tak ada
lain orang kecuali aku !"
“Ya, memang engkau sendiri !”
"Aku ?" nona itu menegas.
"Ya," sahut Thay-san, "bukankah engkau nom Su Tiau
Ing, puteri mentri Su yang masyhur itu ?"
“Gila !”
"Siapa yang gila ?"
“Engkau."
"Kenapa ?"
"Aku bukan Su Tiau Ing, puteri mentri Go Hwat tayjin."
"Tidak bisa !” teriak si tinggi besar, "engkau ini nona Su
Tiau Ing. M:ngapa engkau menolak dirimu sendiri."
"Ah engkau memang limbung !"
"Tidak, aku tidak limbung. Aku masih waras. Barusan
kemarin aku bertemu dengan engkau dan dara yang
menjadi pembantumu itu. Masa engkau sudah lupa ? Aku
kan orang yang datang bersama dengan Su kongcu yang
katanya cngkoh misanmu."
Nona itu tercengang.
"Aku mempunya engkoh ? Ah, engkau bukan limbung
tetapi benar2 sudah gila !"
"Lekas buka pintu !” teriak Thay-san.
"Tidak bisa. Pintu dikunci dari luar."
“O, kalau begitu tunggu dulu," Thay-san terus lari
menuju ke ruang tempat pemimpin. Pemimpin itu masih
duduk menunggu laporan. Dia terkejut ketika melihat Thaysan
kembali seorang diri.
"Mana kuncinya," begitu datang Thay-san terus berseru.
"Kunci apa?"
"Kunci ruang berpintu terali besi itu."
"Buat apa engkau minta kunci?"
"Aku hendak melepaskan nona itu. Mengapa engkau
menahannya disitu?"
"Siapa nona itu?"
"Engkau tidak tahu siapa dia?"
Pemimpin itu gelengkan kepala.
"Goblok!" damprat Thay-san, "dia adalah nona Su Tiau
Ing."
“Su Tiau Ing? Siapa Su Tiau Ing itu?"
"Puteri mentri Su Go Hwat yang termasyhur.”
"Hai!" pemimpin itu berseru kaget, "puteri mentri
pertahanan Su Go Hwat tayjin?"
“Jangan ribut! Lekas serahkan kuncinya," bentak Thaysan.
Pemimpin itu kerutkan dahi, "Tidak, aku tidak
membawa kuaci. Yang membawa kunci adalah pimpinan
kami yang nomor satu."
"Mana dia?"
"Dia sedang keluar."
"Kalau begitu, pintu itu harus kujebol," kata Thay-san
seraya lari keluar lagi.
"Orang itu terpaksa menyusul.
"Nona Su, celaka, kuncinya dibawa kipala mereka.
Tetapi jangan kuatir, akan kujebol pintu ini," seru Thay-san
ketika tiba di depan ruang tahanan. Dia terus kerahkan
tenaganya untuk menarik terali besi itu.
"Hai, jangan gila-gilaan engkau!" bentak pemimpin yang
tiba disitu dan melihat tingkah Thay san.
"Apa? Engkau berani melarang aku hendak
mengeluarkan nona Su?"
"Gila! Yang berkuasa disini adalah aku. mengapa engkau
berani berbuat seenakmu sendiri?
"Hus! Nona Su kan puteri mentri, mengapa engkau
jebluskan dalam ruang tahanan?" .Thay san balas
membentak.
"Jangan lancang!" orang itu ulurkan tangan
mencengkeram bahu Thay san. Entah bagaima Thay-san,
seperti tak bertenaga lagi. Dia hendak meronta tetapi tak
mampu.
"Kalau kuremas tulang pi-peh-kutmu, engkau pasti cacat
seumur hidup!" bentak orang itu.
Merah padam muka Thay-san. Dia heran mengapa
tenaganya hilang sama sekali. Bahkan untuk menendang
saja dia tak kuat.
"Apa engkau mau membunuh aku?" teriak orang tinggi
besar itu.
"Belum perlu," kata pemimpin, "tergantung dari
sikapmu. Kalau engkau menurut, bukan saja jiwamu
selamat, pun engkau akan kuangkat sebagai pengawalku."
'Siapa engkau?"
"Aku adalah pimpinan barisan Suka Rela."
"Tidak sudi!"
"Apa? Tidak sudi? Mengapa?"
“Engkau jahat karena menahan nona Su. Kalau engkau
mau mengeluarkan dia, baru aku mau tunduk."
“Stt,” desis pemimpin seraya menarik tubuh Thay-san ke
dekatnya dan lalu membisiki ke dekat telinganya, "dia
adalah puteri mentri pertahanan kerajaan Beng. Dia akan
kujadikan sandera.”
"Hah?" Thay-san terbeliak, "mengapa akan engkau
jadikan sandera? Bukankah barisan Suka Rela itu berjuang
membantu kerajaan Beng?"
"Jangan bicara keras2," kata pemimpin itu, Barisan Suka
Rela bekerja bebas. Kita nanti lihat pihak mana yang besar
dan kuat, kita bantu."
"Kalau fihak kerajaan Ceng yang menang?"
"Kita bantu mereka."
"Penghi . . . auhhhhh," sebelum sempat menyelesaikan
kata-katanya, Thay-san sudah menjerit kesakitan karena
bahunya diremas.
"Kalau engkau berani menentang aku, tulang bahumu
tentu kuremuk!"
"Aduh," Thay-san bernapas longgar setelah cengkeraman
orang itu dikendorkan, "aku tak ngerti mengapa engkau
hendak menyandera nona Su."
"Dengarkan," kata orang itu, "dengan mempunyai
sandera nona Su, kita dapat menekan mentri Su Go Hwat
agar menurut permintaan kita.”
"Engkau hendak minta apa?"
"Tergantung pada keadaan nanti. Pokoknya kita punya
sandera yang berharga maka jangan engkau lepaskan dia,
tahu?"
Kedua orang itu berada tepat dimuka pintu terali karena
tadi Thay-san habis berusaha untuk menjebol pintu, tahu2
dia sudah dicengkeram bahunya oleh pemimpin barisan
Suka Rela itu.
"Ketahuilah," bisik pemimpin itu pula, bahwa Su kongcu
. . . . "
"Su kongcu siapa!” tukas Thay-san.
"Su kongcu yang engkau kawal itu."
"Dia putera keponakan mentri Su Go Hwat.”
"Benar, memang dia adalah Su Hong Liang kongcu,
keponakan dari mentri Su Go Hwat."
"O, lalu?"
"Dia adalah pimpinan kami yang tertinggi ..... "
"Bagus!" teriak Thay-san.
"Apanya yang bagus?"
"Kalau dia tahu nona Su berada disini, engkau tentu
dihajar Su kongcu dan diperintahkan mengeluarkan nona
Su."
"Hi, hi, hi," pemimpin itu tertawa geli.
"Apa-apaan engkau tertawa !" bentak Thay-san,
"Engkau tak tahu, goblok," kata orang itu tetengah
berbisik, "Su kongcu adalah pemimpin kami. Tak mungkin
dia marah kepadaku dan tak mungkin dia mau
mengeluarkan nona Su."
"Apa katamu, bang ..... " baru Thay-san hendak memaki,
cengkeraman orang itu ciperkeras lagi sehingga si tinggi
besar menguak kesakitan.
Tetapi entah bagaimana tiba2 tangan orang itu terasa
mengendor dan makin mengandor, Ketika Thay-san
meronta, orang itupun terdorong mundur.
"Jangan meliar !' seru orang itu dengan masih tegak
seperti patung.
"Engkau kira aku takut kepadamu ? Nih, terimalah, plok
..... ," Thay-san menampar mulut orang itu sekeraskerasnya
sehingga sebuah giginya sampai tanggat dan
mulutnya menghambur darah. Tetapi orang itu tetap tegak
diam tak mau membalas.
"Hai, mengapa engkau tak mau membalas ?" seru Thaysan.
"Dia tertutuk jalandarahnya ..... " tiba2 terdengar sebuah
suara lembut. Ketika Thay-san berpaling, dia berjingkrak
kaget.
Ternyata yang bicara itu adalah si gadis cantik yang
berada dalam ruangan. Gadis itu entah kapan sudah berdiri
dibelakang pintu terali.
"Siapa yang menutuknya ?" seru Thay-san
“Ini,” gadis itu acungkan sebuah benda lipatan yang
terbuat daripada kulit.
"Itu kan payung !"
"Ya, memang ini payung. Di kututuk punggungnya
dengan ujung payung ini."
"Oh, engkau hebat nona Su …." puji Thay-san.
"Dalam sejam kemudian, dia tentu dapat bergerak lagi,"
kata gadis itu.
“O, kalau begitu dia harus kuringkus dulu,” kata Thaysan
terus menghampiri orang itu.
"Jangan kurang ajar ! Kalau aku berteriak anakbuahku
tentu ..... haup……. ," dia tak dapat melanjulkan kata2nya
karena mulutnya didekap tangan Thay san dan dengan
sebuah tebasan tangan kearah lehar, orang itupun pingsan.
"Bagus!" seru si gadis itu, "lekas buka pintu.”
tu."
"Tak ada kuncinya."
"Goblok ! Geledah badan mereka bertiga.”
"O, benar nona Su," seru Thay-san terus menggeledah
baju pemimpin barisan Suka Relu itu dan, "hola, inilah
kuncinya. Dia membohongi aku !"
Setelah pintu dibuka, keluarlah nona itu, “Lekas ikat
orang itu dan masukkan kedalam ruangan," perintahnya.
Dengan cepat Thay-san melaksanakan perintah. Bukan
saja kaki dan tangan orang itu diikat, dan mulutnya
disumbat dengan robekan bajunya, setelah itu pintu dikunci
lagi.
"Berikan kuncinya kepadaku," kata si nona. Ia
menyimpan kunci itu dalam bajunya.
"Sekarang kita hendak kemana,. nona Su ?". tanya Thaysan.
Nona itu cepat dapat mengetahui bahwa Thay-san itu
seorang pcmuda tolol tetapi limbung. bahkan dia dianggap
sebagai Su Tiau Ing, Tetapi tak apa, pikirnya. Yang penting
Thay-san itu memang bermaksud baik hendak
menolongnya. Masalah nama, biarlah saja.
"Kita harus cepat2 keluar dari tempat ini," kata gadis itu
seraya ayunkan langkah.
Beberapa saat berjalan, nona itu berhenti. Thay-san
menegur, "Kenapa berhenti nona Su ?"
"Jalanan keluar hanya melalui pintu depan dan disana
dijaga orang. Kita harus cari akal,” nona itu mengerut dahi,
"apa engkau membawa korek ?"
"Aku tidak merokok mengapa bawa korek,” sahut Thaysan.
Nona itu terus ayunkan langkah.
"Hai, kemana engkau ?" seru Thay-san seraya menyusul.
"Cari korek ke dapur," sahut nona itu. Setelah melalui
beberapa ruangan, akhirnya mereka berhasil menemukan
tempat itu. Dan mereka berhasil mendapatkan korek serta
minyak,
"Buat apa ?" tanya Thay-san.
"Bakar sarang ini," sahut nona itu dengan ringkas.
"Ho, bagus nona Su," sambut si tinggi besar dengan
gembira.
Mereka membakar dapur setelah itu menggeratak ke lain
ruangan dan membakar baberapa tempat. Api cepat
berkobar besar. Tak berapa lama terdengarlah hiruk pikuk
orang berlari kian-kemari untuk memadamkan kebakaran.
Nona itu bersama Thay-san lari ke pintu luar. Disitu
masih terdapat empat penjaga. Dengan mudah keempat
orang itu dapat dibekuk dan dibanting si tinggi besar hingga
tak berkutik. Maka dapatlah si nona dan Thay-san keluar.
"Kita hendak kemana rona Su ?" Thay-san dalam
perjalanan.
"Mencari orang," kata si nona.
"Siapa? Apakah gadis yang . . . hai, kemana dia?" tiba2
Thay-san menjerit kaget sehingga nona itupun ikut terkejut,
"Siapa?" tegurnya.
"Dia," sahut Thay-san terus lari kembali.
"Hai, kemana engkau?" tanya si nona.
"Kembali tempat kita berjanji."
"Dengan siapa engkau berjanji?" seru sinona, tapi si
tinggi besar sudah lari jauh. Nona itu geleng2 kepala, "Ah,
tambah seorang limbung lagi. Rupanya dunia ini penuh
dengan orang linglung dan limbung. Kakek Lo Kun
limbung, Uk Uk pengung dan ini tambah lagi seorang
linglung.
Siapakah nona itu?
Ternyata dia adalah Liok Sian Li. Mengapa dapat
tertawan dalam markas barisan Suka Rela. Baiklah kita
mundur sebentar.
Bersama kakek Lo Kun dan si Uk Uk, Sian Li menuju ke
Shoa-tang untuk mencari Blo`on. Tapi ternyata saat itu
Shoa-tang sudah geger karena diserang pasukan Ceng.
"Ah, lebih baik ke San-se saja," kata Sian Li.
Entah bagaimana ketika tiba disebuah hutan dan
bermalam di sebuah kuil tua, Sian Li mendengar derap
orang berlari-lari. Karena Lo Kun dan Uk Uk sudah tidur,
Sian Li keluar seorang diri.
Dalam kegelapan malam ia melihat sesosok tubuh
sedang berlari dan dikejar oleh beberapa be!as orang.
Tiba2 orang itupun berhenti dan menghadapi
pengejarnya, “Ho, engkau kira aku takut kepada kalian?"
"Kakek cebol, engkau berani lari?" teriak kawanan orang
yang mengejarnya itu. Ternyata mereka adalah sekelompok
orang2 yang bersenjata.
"Lekas tangkap!" teriak salah seorang yang menjadi
pimpinan mereka.
"Hai, tunggu!” tiba2 Sian Li lari menghampiri. Orang2
itupun terkejut.
"Mengapa kalian hendak mengeroyok seorang kakek
tua?' seru Sian Li. Dia tak senang menyaksikan perbuatan
yang tak adil semacam itu.
"O, budak perempuan, mengapa engkau malam2 keluar
rumah?" seru salah seorang.
"Mungkin bukan manusia tetapi bargsa jin.”
"Ya, tentulah kuntilanak yang suka keluar malam
mencari mangsa orang lelaki ……”
"Bangsat!” teriak Sian Li marah seraya menampar orang
itu.
Terjadi pertempuran. Kawanan orang bersenjata itu
pontang panting menghadapi Sian Li dan si kakek.
Akhirnya mereka mundur.
"Kakek, tunggulah disini," Sian Li terus mengejar
kawanan orang itu. Rupanya dia masih belum puas.
Tetapi bala bantuan orang itu, muncul. Bahkan
jumlahnya lebih banyak lagi. Walaupun Sian Li cukup
tangguh tetapi karena dikeroyok berpuluh orang yang
bersenjata, dia kewalahan juga. Dan celakanya ternyata
salah seorang dari kawanan pengeroyok itu menggunakan
jaring untuk menjaring. Akhirnya Sian Li dapat ditangkap.
"Tangkap kakek cebol itu," seru pimpinan mereka.
Tetapi kakek pendek itu sudah tak ada di tempatnya lagi.
Demikian asal mula maka Sian Li tahu2 dapat berada
dalam ruang tahanan di markas pasukan Suka Rela.
Siapakah kakek itu? Dia tak lain adalah kakek Cian-li-ji
yang ditangkap oleh anakbuah barisan Suka Rela. Setelah
tenaganya pulih, dia dapat meringkus seorang penjaga dan
meloloskan diri. Tetapi belum berapa lama diapun dikejar.
Sebenarnya dia hendak mencegah agar Sian Li jangan
mengejar tetapi Sian Li sudah lari jauh. Cian-li ji hendak
menyusul tetapi tiba-tiba mendengar suara orang yang
menangis.
Dia terus mencari ke tempat orang, itu. Maka ketika
kawanan anakbuah barisan Suka Rela mencarinya, Cian-liji
sudah tak ada ditempat tadi.
Cian- li-ji memiliki telinga yang luar biasa tajamnya. Dia
dapat menangkap suara sampai jarak satu li. Setelah
melintasi beberapa bukit, akhirnya tibalah ia disebuah
lembah yang curam. Ia turun kedalam lembah dan akhirnya
mendapatkan bahwa suara tangis itu berasal dari sebuah
guha batu yang telah tertutup. Tetapi ia tahu jelas bahwa
suara tangis itu berasal dari seorang wanita.
“O, apakah nona yang menolong aku tadi,” pikirnya.
Dia juga seorang kakek yang sederhana cara berpikirnya.
Karena tadi bertemu dengan orang nona maka dia terus
menarik kesimpulan kalau yang menangis itu tentulah nona
itu. Padahal kalau pikirannya agak waras, dia tentu sudah
dapat mengetahui kalau Sian Li sedang mengejar kawanan
anakbuah Suka Rela, tak mungkin ia berada dalam sebuah
guha dan menangis.
"Nona, mengapa engkau menangis disitu,” serunya dari
celah lubang gunduk batu yang menutup pintu guha.
Suara tangis itu berhenti tetapi tak ada nyahutan.
"Nona mengapa engkau berada disitu?" Cian li-ji
mengulang pula, "dan mengapa engkau menangis ? Apakah
engkau terluka ?"
"Siapa itu ?" tiba2 terdengar suara dari dalam guha.
"Aku kakek yang engkau bantu tadi."
"Kakek siapa ?"
"Cian-li-ji."
"Cian-li-ji ? Siapa itu ?"
"Eh, engkau ini bagaimana nona ? Barusan saja engkau
melihat aku dikejar kawanan anakbuah barisan Suka Rela,
mengapa engkau sudah lupa?”
"Aku tak tahu siapa engkau, pergilah ! Jangan ganggu
aku !" teriak orang dalam guha itu.
"Eh, jangan marah," kata Cian-li-ji, "bukalah pintu dan
engkau tentu tahu siapa diriku ini.”
"Tidak ! Jangan ganggu aku !"
Cian-li ji terkejut, Mengapa tiba2 saja nona iru begitu
ketus kepadanya. Pada hal baru beberapa saat dia
menolongnya. Sian-li-ji terus angkat kaki tetapi baru
beberapa langkah dia berhenti, “ah dia sudah membantu
aku, akupun harus membantunya. Mungkin dia ditangkap
kawanan berandal Suka Rela itu lalu dimasukkan dalam
guha dan menutup dengan batu besar. Dia menangis
lantaran tak mampu keluar. O, benar, benar. Aku harus
menolongnya .. . . "
Dia terus lari kembali ke guha dan berusaha untuk
membuka pintu guha.
"Hai, apa-apaan itu?" tegur suara dari dalam guha,
Tetapi Cian-li-ji tak mau menghiraukan. Dia terus
mendorong dan mendorong sehingga akhirnya batu itu
dapat terkisar ke samping.
"Nona keluarlah . .. , " Cian-li-ji terus maju hendak
mengajak orang dalam guha itu keluar. Tetapi alangkah
kejutnya ketika orang itu menusuknya dengan pedang.
"Haya, celaka . . . " Cian-li- ji loncat keluar, "mengapa
engkau malah menyerang aku?”
Orang dari dalam guha itupun melesat keluar dan
menyerang Cian li-ji. Sudah tentu Cian-li-ji sibuk bukan
kepalang. Dia berloncatan kian kemari untuk menghidar.
Orang itupun diam2 heran. Dia tak kenal siapa kakek
pendek itu. Tetapi dia kagum gerakan kakek itu.
Diserangnya dengan ilmu pedang Gwat-li- kiam-hwat yang
lihay namun kakek itu tetap dapat menghindar.
"Nona, tunggu dulu, kita bicara secara baik2," seru Cianli-
ji.
Melihat kakek itu tak mau balas menyerang timbullah
rasa kasihan dalam hati nona itu. Ia hentikan serangannya.
"Mau bicara apa engkau?" tegurnya.
"Mengapa engkau menyerang aku?"
"Mengapa engkau mengganggu aku?"
"Ih, aku tidak mengganggu. Aku hendak menolongmu
karena mendengar engkau menangis."
"Aku tidak minta pertolonganmu."
"Eh, engkau memang aneh nona. Barusan engkau telah
membantu aku waktu aku dikejar anakbuah barisan Suka
Rela. Mengapa sekarang engkau bersikap begitu ketus
kepadaku?"
"Ngaco! Siapa yang membantumu?"
"Uh, bagaimana engkau ini. Siapa lagi bukan engkau.
Masa baru beberapa menit engkau sudah lupa."
"Apa engkau waras?"
"Lho, aku tidak gila."
"Kalau pikiranmu waras mengapa engkau mengoceh tak
keruan. Aku tak pernah bertemu dengan engkau apalagi
membantumu."
"Ah, jangan begitu dong, nona. Walaupun sudah tua
tetapi pikiranku masih belum pikun. Jelas engkaulah yang
menolong aku menghajar kawanan anakbuah barisan Suka
Rela tadi,"
Nona itu banting2 kaki karena jengkel. Dia tak lain
adalah Su Tiau Ing yang dicari Ah Liu dan si tinggi besar
Thay-san tadi.
Memang peristiwa dalam dunia ini kadang aneh dan
tidak diduga- duga. Seperti apa yang terjadi dalam peristiwa
Tiau Ing. Ah Liu dan Thay-san mencarinya. Thay san yang
mencari ke timur, karena ngantuk terus tidur di tengah jalan
dan ditangkap kawanan anak buah barisan Suka Rela lalu
dibawa kedalam markas mereka. Secara kebetulan dia
bertemu dengan Sian Li. Tetapi Thay-san yang limbung
menganggap Sian Li adalah Tiau Ing. Bagaimanapun Sian
Li heran menjelaskan, tidak dianggap oleh orang tinggi
besar itu.
Dan sekarang kebalikannya, Cian-li-ji yang berhasil
meloloskan diri dari tawanan barisan Suka Rela karena
dikejar anakbuah barisan Suka Rela telah bertemu dengan
Sian Li. Sian Li mengejar kawanan anakbuah barisan Suka
Rela itu tetapi ditangkap dan ditawan.
Lalu Cian-li-ji mendengar suara orang nangis.
Didapatinya yang menangis itu berada dalam guha. Dia
mendoroug batu penutup guha menemukan seorang nona
dalam guha itu. Ternyata nona itu adalah Tiau Ing tetapi
Cian li-ji keras menganggapnya sebagai San Li, nona yang
membantunya tadi.
Jadi Thay-san menganggap Sian Li itu Tiau Ing dan
Cian- li-ji menganggap Tiau Ing itu Sian Li. Ahhhhhh
………….
Mengapa Tiau Ing berada dalam guha ?
Ternyata waktu mendengar kata2 Ma Giok Cu bahwa Su
Hong Liang akan menikah dengan puteri mentri tay-haksu
Ma Su Ing, serasa gelap pandang mata Su Tiau Ing.
Diam2 Su Tiau Ing memang lebih menaruh perhatian
kepada Su Hong Liang daripada kepada Bok Kian. Su
Hong Liang lebih tampan. lebih pandai bicara dan lebih
pandai memikat dari Bok Kian. Dan tampaknya Su Hong
Liang memang berusaha untuk merebut hati Tiau Ing.
Tetapi Su Tiau Ing masih ragu2. Su Hong Liang itu putera
dari peh-hu (empeh) Tiau Ing atau engkoh dan Su Go
Hwat. Keduanya tunggal she yaitu sama2 she Su. Menurut
adat istiadat pada masa itu, perkawinan antar she yang
sama, tidak dibenarkan.
Tetapi entah bagaimana ketika mendengar ucapan Ma
Giok Cu bahwa Su Hong Liang bakal menikah dengan Ma
Giok Cu, kepala Su Tiau Ing menjadi pusing seketika. Dia
merasa dunia itu kosong melompong. Hidup itu tiada
artinya hambar. Dia terus mencongklangkan kuda
sekencang-kencangnya. Dia membiarkan dirinya hendak
dibawa kemana oleh kudanya.
Setelah beberapa waktu menyerahkan diri dalam ketidakketentuannya,
maka akhirnya dia tiba di sebuah lembah.
Tiba2 ia mendapat pikiran. Ia loncat dari kudanya dan
menuruni lembah. Ia mendapatkan sebuah guha. Ia
menutup diri dalam guha itu. Ia tak tahu apa yang akan
dilakukannya. Hanya ia merasa bahwa hidup itu sudah
terasa hampa baginya. Ia hendak mengunci diri dalam
kesunyian. Entah sampai berapa lama ia sendiri tak tahu.
Memang apabila Su Tiau Ing mempunyai perasaan
demikian, dapat dimaklumi. Ia puteri seorang mentri besar.
Hidupnya serba kecukupan dan manja. Sejak kecil ia sudah
ditinggal ibunya maka sang ayah dalam kesibukan tugas2
negara masih tetap menyelinapkan waktu khusus untuk
memberi perhatian dan kasih sayang kepada puterinya.
Seorang gadis yang berangkat dewasa dalam curahan
kemewahan dan kemanjaan, seorang gadis remaja yang
baru mulai mengenal apa yang disebut asmara, tiba-tiba
segala impiannya yang indah telah hancur berantakan bagai
kaca dibanting ke batu. Sudah barang tentu hal itu
membuat dia menderita shock yang menggoncangkan
jiwanya.
Memang dalam soal asmara, pikiran dapat peka
tetapipun juga dapat gelap. Sebenarnya Su Tiau lng itu
cerdas pikirannya. Seharusnya dia meminta keterangan
kepada Su Hong Liang tentang kebenaran dari ucapan Ma
Giok Cu. Tetapi kecerdasannya itu sedanng ditelan amukan
pikirannya yang gelap.
Diganggu kakek Cian-li-ji, dia marah dan menyerangnya.
Setelah menumpahkan kemarahan dan tak berhasil melukai
Cian li-ji, akhirnya kemarahan yang meluap-luap itu mulai
menurun. Dan turunnya kemarahan pun mulai menyiak
kegelapan pikirannya.
Pelahan-tahan pikirannya mulai tenang dan jernih. Ia
menilai kakek Cian-li-ji bukan orang jahat. Jelas kakek itu
hendak memberi pertolong kepadanya. Mungkin kakek itu
salah faham atau salah lihat. Tadi mungkin kakek itu
bertemu dengan seorang nona yang membantunya maka
kakek itu lalu mengira kalau dia (Su Tiau Ing) adalah nona
itu. Ya, benar, tentulah demikian.
"Hm, engkau mengatakan tadi bertemu dengan aku."
kata Tiau Ing, "di mana engkau bertemu dan itu waktu aku
sedang mengapa, coba engkau ceritakan."
"Ih, engkau masih muda mengapa engkau begitu pelupa
?"
"Sudahlah, tolong ceritakan bagaimana duduk
perkaranya tadi.,"
Cian-li-ji lalu bercerita. Mulai dari dia disekap orangorang
barisan Suka Rela sampai dia berhasil meloloskan
diri, dikejar pasukan Suka Rela dan muncullah seorang
nona yang membantunya, "Engkaulah nona itu. apa engkau
lupa ?"
Yah, bagaimana lagi. Kalau berhadapan dengan kakek
selimbung itu, apa mau dikata. Apa ruginya kalau dia
mengiakan saja, Tiau Ing.
Timbul suatu keheranan dalam hati Ing mengapa barisan
Suka Rela malah menahan kakek itu. Dan heran pula ia,
siapakah sesungguhnya nona yang muncul membantu
kakek Cia-li ji untuk menghajar anakbuah barisan Suka
Rela itu.
Dalam diri kakek itu banyaklah Su Ing menghadapi
rahasia-rahasia yang aneh. Apakah pendekar Huru Hara itu
? Apakah rasanya ia pernah mendengar juga tentang
pendekar semacam itu.
"Paling baik aku mengakui saja sebagai nona yang
membantunya itu, mungkin nanti dapat mengetahui lebih
banyak persoalan aneh dari dia," pikir Su Tiau Ing.
"O, ya, aku memang lupa." katanya.
"Nah, itu baru seorang nona yang baik, kata Cian-li- ji,
"tetapi siapakah engkau ini ? kenapa engkau membantu aku
?"
Su Tiau Ing gelagapan. Apakah mengakui siapa dirinya?
''Sudah kakek, engkau boleh panggil siapa saja," katanya.
"Dan mengapa engkau menangis dalam gua? Apakah
kawanan anakbuah barisan Suka Rela itu menghina
engkau?" tanya Cian-li-ji.
"Ah, tidak apa2, aku menangis karena jengkel, " kata Su
Tian Ing.
"Jengkel? jengkel kepada siapa?"
"Jengkel kepada manusia di dunia ini."
“Lho, kalau begitu engkau juga jengkel kepadaku.”
"Bukan engkau tetapi kepada seorang pemuda yang tak
tahu membalas budi orang."
"Siapa dia? Bilanglah, akan kucari pemuda itu dan
kuhajarnya!"
"Kakek,” kata Tiau Ing, “apakah engkau pernah
beristeri?”
"Ya, dulu, pernah satu kali."
“Lalu dimana isterimu?”
“Sudah meninggal.”
“O,” seru Tiau Ing, “apakah engkau setia kepada
isterimu itu?”
“Sudah tentu setia. Mengapa?”
"Apakah dulu sebelum menikah, engkau pernah pacaran
dengan isterimu?”
"Ah. jaman dulu tidak ada model pacaran. Aku melihat,
aku terus suka dan diapun kebenaran juga suka, lalu kita
menikah. Itu saja aku sudah beruntung. Banyak pemuda2
jamanku yang tak dapat memilih jodoh, tetapi dipilihkan
oleh orangtuanya.”
"Andaikata engkau berjanji kepada seorang gadis untuk
menikahinya, apakah engkau harus menetapi janji atau
engkau boleh mengingkari janji dan kawin dengan lain
gadis?"
"Aku tak mengerti maksudmu."
"Maksudku, apakah lelaki itu mempunyai hak untuk
mengingkari janji?"
“Kurasa tidak."
"Apakah lelaki itu tidak punya kesetiaan terhadap
wanita?”
“Kurasa juga tidak."
"Apakah lelaki itu boleh mempermainkan wanita?"
"Kurasa tidak."
"Kalau ada lelaki yang berbuat begitu, apa katamu,
kakek?"
"Sebagai sesama lelaki, aku tak suka terhadap lelaki
semacam itu. Lelaki yang suka memainkan hati wanita,
patut dihajar."
"Hm," desuh Su Tiau Ing.
"Eh, tetapi siapakah lelaki itu? Apakah engkau
dipermainkan oleh seorang lelaki? Siapa namanya? Aku
bersumpah akan membalaskan sakit hatimu, nona."
“Lho, mengapa kakek sampai bertindak begitu?”
"Setiap kebaikan yang diterima Cian-li-ji tentu akan
dibalas. Setiap hinaan tentu akan dihimpaskan. Engkau
membantu aku dan akupun harus membantumu."
Su Tiau Ing sebenarnya masih ragu2 untuk mengatakan.
Bagaimanapun juga, Su Hong Liang itu masih engkoh
sepupuhnya. Tetapi tiba2 kakek Cian-li-ji membantah,
"Lekas bilang, siapa dia ? Awas, kalau engkau tak mau
bilang !"
Sudah tentu Su Tiau Ing tercengang berhadapan dengan
kakek yang begitu limbung pikirannya.
"Ih, mengapi engkau malah mengancam aku," tegurnya.
“Engkau menghina aku !"
Su Tiau Ing makin heran. Ia merasa tak menghina
mengapa kakek itu marah, “siapa yang menghina engkau,
kakek ?"
"Engkau," sahut Cian li ji, "engkau telah membantu aku
tetapi engkau tak mau memberi kesempatan kepadaku
untuk balas membantu engkau. Apakah itu bukan berarti
menghina aku. Mentang2 aku ini sudah tua, dikira tak
mampu membantumu. Hayo, lekas sebutkan siapa nama
orang itu. Kalau bertemu, tentu kupelintir batang lehernya
...."
Pikir Su Tiau Ing, jelas kalau Cian-li-ji seorang kakek
linglung. Masakan dia sempat bertemu dengan Su Hong
Liang. Dan kalau toh bertemu, juga tipis, kemungkinan
kakek itu mampu berbuat apa2 terhadap Su Hong Liang.
Biar kukatakan, agar hatinya puas,” pikir Tiau Ing.
"Dia seorang pemuda yang bernama Hong Liang,
keponakan dari menteri Su Go Hwat.”
"Cukup!" tukas Cian- ji, "kalau aku ketemu orang yang
bernama Su Hong Liang tentu kan kuhajar sampai minta
ampun."
"Hm," dengus Su Tiau Ing dalam hati.
"Nona hendak kemana kita sekarang?" tanya Cian-li-ji.
“Kita?" Su Tiau Ing menegas.
"Ya, kita berdua."
"Engkau sendiri hendak kemana?" tanya Tiau Ing.
"Aku hendak mencari keponakanku pendekar Huru
Hara," sahut Cian-li-ji, "dan engkau?”
"Aku sih tak punya tujuan."
“Jika begitu mari kita bersama-sama. Kalau nanti engkau
hendak menuju ke lain tempat, silahkan."
Akhirnya Su Tiau Ing kena dibujuk Cian li ji. Keduanya
segera tinggalkan lembah itu.
Sekarang kita ikuti perjalanan si An Liu menuju ke barat.
Setelah beberapa saat berjalan dan tepat tak mendapatkan
Tiau Ing dia heran, "In, kemanakah siocia?"
Dia kembali ketempat ia berjanji akan bertemu Thay-san.
Tetapi ternyata orang tinggi besar itu tak tampak.
"Ih, kemana saja orang tinggi besar itu ?" pikirnya. Hari
itu sudah hampir gelap, "ah, tak baik kalau bermalam
disini. Aku harus cari tempat untuk bermalam."
Dia terus ayunkan langkah menuju ke timur. Ia harus
dapat berjumpa dengan Thay-san yang tadi juga menuju ke
timur.
Tak berapa lama berjalan, dari jauh ia melihat sebuah
kuil tua. Dia segera mempercepat langkah menuju ke kuil
tua itu.
"Ah, lumayan juga tempat ini. Malam ini baik aku tidur
disini saja," katanya. Dia lalu membersihkan tempat
disudut ruang dan terus rebahkan diri.
Belum lagi mata dapat dipejamkan. Tiba2 ia mendengar
suara orang berteriak, "Hai, kemana Sian-li ?"
Dan menyusul kedengaran suara orang mengomel,
"Huh, jangan mengganggu orang tidur !"
"Tetapi kakek, ci Sian Li tak ada," kata yang pertama
yang nadanya seperti seorang anak. "Dia kan seorang gadis,
tentu tak mau tidur bersama kita. Sudahlah, hayo tidur
lagi," kata orang yang nadanya seperti orang tua.
Memang kedua orang itu tak lain adalah Uk Uk dan Lo
Kun. Semula mereka bertiga dengan Sian Li. Adalah karena
Sian Li mendengar suara orang berlari diluar kuil ( Clan-li-ji
) maka dia terus keluar meninggalkan kedua kawan yang
masih mendengkur.
Kini Uk Uk bangun karena hendak kencing. Dia terkejut
karena Sian Li tak ada maka dia membangunkan Lo Kun.
Lo Kun masih segan bangun. Dia terus memejamkan mata
lagi.
"Ih, ada suara napas orang," pikir Uk Uk. Dia terus
merangkak dan menuju ke ruang sudut. Ternyata ia melihat
sesosok tubuh sudah rebah.
"O, engkau disini ci Sian Li," serunya kepada orang itu.
Sudah tentu Ah Liu yang baru liyer-liyer hendak jatuh
pulas, terkejut mendengar suara itu. Dia membuka mata
dan menggeliat duduk.
"Siapa engkau!" tegurnya ketika melihat seorang bocah
laki sedang memandangnya dari jarak beberapa meter.
“Eh, ci Sian Li, mengapa? Aku kan Uk Uk,” seru Uk Uk.
"Siapa Uk Uk? Itu bukan nama. Itu anjing
menggonggong," seru Ah Liu.
"Lho, aku kenapa? Mengapa aku lupa kepada engkau?"
seru Uk Uk. Dia kumat lagi tentang memutar-balikkan dari
istilah aku dan engkau. Baginya aku herarti engkau. Dan
engkau berarti aku. Kalau menyebut dirinya dia bilang kau.
Dan kalau menyebut orang lain, bukan bilang 'engkau ' ,
tetapi aku.
"Hai, engkau ini manusia atau setan?" teriak Ah-Liu.
"Lho, aku ini kenapa? Mengapa aku lupa kepada
engkau?" Uk Uk mengulang teriakannya.
"Gila!" Ah Liu melonjak bangun, "siapa engkau?"
"Aneh sekali aku ini, ci Siang Li . . . . "
"Aku bukan Sian Li!" seru Ah Liu.
"Eh, mungkin aku sedang kemasukan setan penunggu
kuil tua ini. Masakan aku lupa diriku sendiri. Bukankah aku
ini Sian Li?"
"Setan!" Ah Liu makin keras dugaannya bahwa bocah
kuncung yang omongannya tak keruan itu tentu bangsa
setan. Bahkan dia terus menghantam Uk Uk.
Karena mengira Sian Li yang memukul, Uk diam saja.
Akibatnya, kepalanya kena terpukul dan menjeritlah Uk Uk
sekeras kerasnya, "Aaaaaahhhhh…………. mengapa aku
ini ci Sian Li? Apa engkau bersalah kepada aku?"
“P.ok . . . “. karena gemas Ah Liu menendang hingga Uk
Uk terguling-guling ke lantai.
Uk Uk lari menghampiri Lo Kun dan menguncang tubuh
kakek yang masih enak-enak mendenngkur itu, "Kakek Lo,
kakek Lo, ci Sian Li .ngamuk. Dia kesurupan setan kuil ini.
Masakan engkau ditendang dan ditempeleng sekeras-keras.
Nth lihat, kepala engkau sampai benjut ..... "
"Tidur saja Uk Uk, jangan mengurus Sian Li .. ..... " Lo
Kun beringsut lalu tidur lagi.
"Lho, kakek Lo, kenapa aku ? Ci Sian kemasukan setan
dan mengamuk, mengapa aku diam srja ?" teriak Uk Uk.
"Sudahlah Uk, jangan mengganggu lain orang. Tidur
sajalah." kata Lo Kun.
Uk Uk tak puas. Dia terus menyeret tubuh kakek itu
keluar ruang depan, "Tuh lihatlah, kakek Lo, ci Sian Li
masih marah .....”
Ah Liu makin heran. Melihat perwujudan kedua orang
itu dia makin keras menduga. kalau Lo Kun dan Uk Uk itu
tentulah bangsa setan penunggu kuil disitu.
"Huh, apa engkau kira aku takut pada setan cebol dan
setan kuncung semacam kalian ?" seru A Liu.
Dia maju dan ayunkan tangannya ....
-oo0dw0oo-
Jilid 28.
Ngalor Ngidul
Uk Uk terkejut. Dia loncat menghindar. Tetapi Lo Kun
yang masih meram, harus menerima pukulan Ah Liu,
plakkkk ....,....
Lo Kun menggeliat tetapi tidak bangun. Hanya mulutnya
yang mendesus kesakitan, "Ah, anak manis, jangan terlalu
bengis .... ,”
"Eh, setan cebol ini malah mengejel aku,” pikir Ah Liu.
Dia mengirim tendangan lagi, plokkkkk.....
"Eh, mengapa engkau marah, nona manis?” seru Lo kun
yang matanya masih meram.
Ah Liu makin penasaran. Sebuah pukulan dan sebuah
tendangan, tak dapat membuat mahluk yang disangkanya
setan cebol itu kesakitan.
Ah Liu maju dan mendupak perut Lo Kun tapi
kebetulan, mungkin sedang bermimpi Lo Kun ulurkan
tangan dan menyambar kaki Ah Liu, "Ai, nona manis......"
Blukkkkk.....
Tiba2 Ah Liu jatuh terbanting ke lantai, mata kakinya
kena disaut tangan Lo Kun sehingga dara itu jatuh.
"Ai, kakimu kecil tetapi jarimu kenapa besar- besar ?"
seru Lo Kun sambil menyeret kaki Liu.
Sudah tentu Ah Liu kaget setengah mati. Dia keroncalan
hendak melepaskan diri. Dalam pada itu ia memperhatikan
bahwa kakek cebol itu masih meram seperti orang tidur.
"Ih, dia masih tidur. Mengapa mampu menyambar
kakiku ?" pikirnya. Akhirnya ia mendapat akal. Dia biarkan
kakinya diseret begitu sudah dekat pada si kakek, Ah Liu
terus bergerak.
Dasar Ah Liu itu juga gadis yang nakal. Dia tak mau
menampar atau memukul melainkan menggunakan kuncir
rambutnya untuk menusuk lubang hidung Lo Kun.
"Aih .,. ah. ah, ah, ahinpgrgg....." tiba2 Lo Kun
berbangkis sekerasnya.
''Ih, kurang waras kakek ini,. sudah berbangkis mengapa
matanya masih meram ?" pikir A Liu ketika melihat
keadaan Lo Kun.
Cepat gadis itu mendapat akal untuk memberi pelajaran
pada Lo Kun. Dia meraup batu kerikil dan cepat
melolohkan ke mulut Lo Kun.
"Auhhhh, buffF ....... ," kali ini Lo Kun benar2 ketemu
batunya. Batu yang masih terbungkus tanah itu rasanya tak
keruan sehingga Lo Kun harus menyemburkannya keluar.
Tetapi dia tetap meram.
Dikili hidungnya sampai berbangkis, dilolohi batu
mulutnya, tetap Lo Kun meram saja. Melihat itu Uk Uk
yang mengira Ah Liu itu sebagai Sian Li, ikut mendongkol.
"Nih, ci Sian, masukkanlah kedalam mulutnya.
Tanggung kali ini kakek Lo Kun tentu bangun," Uk Uk
menghampiri dan mengangsurkan se jemput benda putih.
Sebenarnya Ah Liu tak kenal siapa Uk Uk, siapa Lo
Kun. Tetapi karena terangsang oleh rasa dongkol terhadap
Lo Kun yang bandel, tanpa disadari dia menerima
pemberian Uk Uk itu, tanyanya, "Apa ini?"
"Garam," kata Uk Uk.
"Garam?" tanya Ah Liu, "dari mana engkau
memperolehnya?"
"Aku paling doyan asin. Kemana saja aku selalu
membawa garam. Dengan garam aku dapat memakan
segala sayur mentah."
Ah Liu membetot hidung Lo Kun sehingga karena tak
dapat bernapas Lo Kun ngangakan mulut. Cepat Ah Liu
terus masukkan garam itu kedalam mulutnya.
"Ahhh, asin .......... ai nona manis, masakanmu kok asin
begini. Kata orang, perempuan yang masakannya asin itu
pertanda minta kawin, hu huh, huh....," tiba2 Lo Kun
mengoceh tak ruan sembari mulut beikomat kamit
memainkan lidahnya.
"Gila," bentak Ah L:u. Tetapi dia benar2 heran dan tobat
melihat kakek itu. Mulut dimasuki garam pun tetap tidur. Ia
memandang Uk Uk.
"Apakah kalau tidur dia memang begini! tanyanya.
"Jangan kuatir ci Sian," kata Uk Uk seraya terus
berbangkit lalu menggeledah tubuh Lo Kun, “nih. dia......"
Ah Liu terkejut. Itulah buli-buli arak. Buat apa bocah itu
mengambilnya.
"Memang kalau sudah tidur, dengan cara apa saja tak
dapat kita membangunkannya sebelum dia bangun sendiri.
Tetapi dengan arak ini tentu bangun !" kata Uk Uk.
"Arak ?" Ah L:u menegas
"Ya, mari kita minum," Uk Uk membuka sumbat bulibuli
lalu meneguknya, geluguk, gfll guk, "wah, enaknya....."
“Ci Sian, aku juga harus minum," Uk Uk
mengangsurkan buli-buli itu kepada Ah Liu.
Ah Liu menolak karena dia tak pernah minum.
"Lho, aku harus minum, kalau tidak dia tentu tak mau
bangun," kata Uk Uk.
Ah Liu kerutkan alis. Uk Uk menyebut 'aku' harus
minum arak. Bukankah dia sudah minum, Mengapa dia
masih mengatakan lagi ?
“Eh, bukankah engkau sudah minum ?" tegurnya.
"Belum, aku belum minum," sahut Uk Uk. Ah Liu
melongo, '"Eh, siapa yang engkau maksudkan dengan kata
'aku” itu ?"
"Aku yang ini'" Uk Uk menuding pada Ah Liu.
Ah Liu terkejut, lalu menegas lagi, "Dan yang mana
'engkau’ itu ?"
"Ini engkau," Uk Uk menunjuk pada dirinya sendiri.
"Oh, Ah Liu mengeluh. Anak ini memang tidak waras,
Masakan kata 'aku' dan 'engkau', dibalik artinya. Untung
aku meminta penjelasan, kalau tidak tentu pembicaraan
menjadi runyam.
"Lekas, ci Sian, aku minumlah," kata Uk Uk seraya
mendesakkan buli-buli ke muka Ah Liu.
Ah Liu berpikir. Kalau memang begitn sjaratnya, apa
boleh buat. Masakan kalau hanya minum seteguk saja dia
akan mabuk. Ah Liu menyambuti dan meneguknya sedikit.
Eh, ternyata rasanya manis2 harum. Jika begitu apa
salahnya kalau ia minum lebih banyak lagi ? Dan terus dia
meneguk sampai beberapa kali.
"Hai, kurang ajar engkau budak perempuan masakan
arakku hendak engkau habiskan," tiba2 Lo Kun melek dan
terus menyambar buli-buli di tangan Ah Liu. Kemudian
diteguknya, geluguk-geluguk.
"Hai, Sian Li, mengapa engkau juga doyan arak? Siapa
yang suruh engkau minum?" seru Lo Kun.
Blukkkk .... tiba2 Ah Liu terkulai rebah ke lantai.
Ternyata arak Lo Kun itu tergolong arak berat. Minum
seteguk saja kalau bukan peminum kelas berat tentu sudah
pusing. Apalagi Ah Liu tidak pernah minum. Dan karena
merasa enak, ia minum sampai beberapa teguk. Sudah tentu
dia terus jatuh tak sadarkan diri lagi.
"Hai, kenapa engkau Sian Li," seru Lo Kun terkejut. Dia
juga belum memeriksa terang si gadis dihadapannya itu.
Dia mengira Ah Liu itu Sian Li.
"Ci Sian, bangunlah," seru Uk Uk pula, masakan
engkong sudah bangun, aku malah ganti yang tidur, eh,
benar, benar .......... " entah bagai mana Uk Uk juga terus
rebah ke lantai.
"Gila engkau Uk!" teriak Lo Kun seraya menjiwir telinga
Uk Uk, "engkau membangunkan aku mengapa setelah aku
bangun, engkau terus tidur !"
"Itu kan sudah adil, eng .., kong ..."
"Hus, adil bagaimana ?"
"Tadi engkong yang tidur, engkau dan ci Sian bangun.
Sekarang aku bangun, seharusnya engkau dan ci Sian tidur,
Bergiliran yang jaga."
"O, benar, benar," kata Lo Kun, "tetapi aku belum
kenyang yang tidur. Bagaimana kalau aku tidur lagi dan
engkau yang jaga dulu ?"
"Ya, memang begitu. Aku yang jaga dan engkau yang
tidur," seru Uk LIk.
"Mati.....," diam2 Lo Kun mengeluh. Dia teringat bahwa
Uk Uk itu kalau bilang 'aku' itu berarti engkau. Dan kalau
berkata 'engkau' itu artinya aku.
"Tetapi Uk ……”
"Engkong sudah bilang sendiri, mengapa mau menjilat
kembali ?" cepat Uk Uk menukas.
Lo Kun tertegun. Dia memang selalu memberi ajaran
kepada Uk Uk bahwa orang yang baik itu harus selalu
menepati janjinya. Sekarang Uk Uk menggunakan senjata
itu untuk memukul Lo Kun.
'Ya, baiklah, tetapi jangan lama2. Nanti kalau engkau
sudah ngantuk, aku tentu akan engkau bangunkan," kata Lo
Kun. Tetapi Uk Uk sudah tak menyahut. Lo Kun tinggal
melek seorang diri, "Sialan, anak- anak ini. Masakan orang
lagi enak2 tidur, dibangunkan. Setelah aku bangun mereka
terus tidur."
Lo Kun sayang pada Uk Uk karena sejak kecil dialah
yang merawatnya. Oleh karena itu walaupun mulut
mengomel tetapi dia tak marah.
Tiba2 ia merasa hendak kencing. Maka dia pun segera
keluar. Diluar masih gelap. Tengah dia mencari tempat
yang sepi, sekonyong konyong dia mendengar suara orang
berjalan. Dan tak lama dari ujung jalan muncul belasan
orang.
"Wah, hari begini malam kemana kita harus mencarinya
?" seru salah seorang.
''Ya, memang Li thau-leng kalau memberi perintah
seenaknya saja. Kalau tidak menurut kita tentu diberi
hukuman." sambut kawannya.
"Hm, orang tinggi besar itu memang keparat,
menyusahkan kita saja," gerutu yang lain."
"Tetapi kita memang bersalah," kata salah seorang yang
bernada lain. "coba pikirkan, baru beberapa hari seorang
tawanan lolos, sekarang kembali ada tawanan yang lolos
lagi. Apalagi menurut thauleng, nona yang kita tawan itu
penting sekali."
"O, makanya Li thaucu begitu marah." kata orang yang
lain, "kalau kita dapat menangkap si tinggi besar, kita bakal
mendapat hadiah besar."
"Eh, kawan, bagaimana kalau beristirahat dulu di kuil
tua itu. Malam2- begini mencari orang, sangat sukar. Lebih
baik kita mengasuh dikuil itu besok pagi baru kita lanjutkan
pencarian kita lagi," usul salah seorang.
Rupanya usul itu disetujui kawan-kawannya. Mereka
terus menuju ke kuil tua. Hampir tiba di dekat kuil, tiba2
muncul seorang kakek cebol.
"Hai, apakah itu bukan kakek pendek yang melarikan
diri ?" teriak salah seorang dari kawanan pendatang itu.
"Ya, benar ! Hayo kita ringkus !" seru yang lain.
Duabelas orang itu terus lari menyerbu kakek pendek yang
bukan lain kakek Lo Kun. Lo Kun mendengar pembicaraan
mereka.
"Kurang ajar, kalau mereka menempati kuil tentulah
kedua cucuku terganggu. Lebih baik kutendang mereka."
pikir Lo Kun yang terus maju di tengah jalan.
Kawanan orang itu adalah anakbuah pasukan Suka Rela.
Mereka diperintah oleh pimpinan untuk mengejar Thay-san
dan Sian Li yang loloskan diri. Begitu melihat Lo Kun,
mereka terus menganggapnya sebagai kakek Cian li-ji.
Memang kedua kakek itu sama tingginya dan sama pula
memelihara jenggot panjang yang menjulai sampai ke dada.
Maka sepintas pandang sukar membedakan, apalagi pada
malam hari.
"Ho, engkau mau mengeroyok aku ? Boleh, boleh," seru
Lo Kun seraya menyingsingkan lengan baju, "tunggu....." ia
mendorongkan tangan kepada kawanan anakbuah barisan
Suka Rela yang hendak menerjang. Beberapa orang itu
terhenti dan beberapa yang tersurut mundur. Mereka
merasa seperti dilanda angin keras.
Tiba2 Lo Kun terus ngacir masuk kedalam gerumbul.
'Hai. hendak lari kemana engkau setan cebol ?" teriak
beberapa anakbuah barisan seraya terus mengejar. Tetapi
mereka tertegun dan terlongong-longong melongo, ketika
melihat apa yang sedang dilakukan kakek cebol itu.
Ternyata Lo Kun sedang buang air alias kencing.
Melihat beberapa orang memburunya, dia berseru, 'Lho,
mengapa ada orang kecing mau melihat ? Mau minum air
kencing?”
Sudah tentu beberapa orang itu gelagapan dan mundur.
"Hm, kawanan manusia itu memang harus diberi
pelajaran, biar kapok,” pikir Lo Kun dan dia terus mencari
akal. Tiba2 ia melihat sebatang pohon pepaya, "bagus,
rasain lu nanti," katanya seraya menghampiri pohon
pepaya. Daunnya dihilangkan dan kini dia mendapat
sebatang pelepah pepaya yang ujungnya buntet. Kemudian
dia mencurahkan air seninya kedalam tabung pelepah
pepaya itu.
"Nah, sekarang badanku sudah ringan, perut tidak
mondol-mondol lagi," serunya ketika kembali kehadapan
kawanan anakbuah barisan Suka Rela, "silakan kalian
menyerang."
Duabelas anakbuah barisan Suka Rela segera menyerbu
seperti kawanan serigala yang berebut mangsa. Tetapi cepat
pula Lo Kun memutar tabung pelepah pepaya tadi untuk
disongsongkan ke mulut mereka.
"Auh ....... auh ....... buhhhh ....... aduh bau-nya .......
huakkkk ....... huakkkk .......... "
Terdengar silih berganti suara anakbuah barisan Suka
Rela itu menjerit, berkaok dan muntah-muntah.
Apa yang terjadi?
Ternyata kakek yang masih suka ugal-ugalan itu
menggunakan pelepah pepaya berisi airkseni untuk
menabur muka kawanan orang itu.
Orang tua memang air seninya berbau keras. Tetapi bau
air seni kakek Lo Kun memang luar biasa. Pernah pada
suatu hari ketika bermalam di sebuah hutan, karena sehari
suntuk harus berjalan naik turun gunung dan menahan
lapar, pada malamnya Uk Uk tidur dengan pulas sekali.
Menjelang pagi, anak itu tetap tak mau dibangunkan. Lo
Kun sayang pada anak itu. Dia tak mau menampar atau
menyelentik telinga anak itu. Lalu apa akal untuk
membangunkan anak itu?
'Hm. rasain lu," katanya lalu kencing dekat Uk Uk. Saat
itu kontan saja Uk Uk termelenting bangun dan mendekap
hidungnya.
Air seni Lo Kun memang bukan buatan duilah setan
baunya.
Ada lagi ceritanya yang lucu. Waktu masih kecil, Uk Uk
pernah jatuh sakit. Badan menggigil panas dan hidung
tersumbat. Dia menangis sakit. Karena bingung dan gugup,
akhirnya Lo Kun keki. Dia mengambil botol dan mengisi
dengan seninya.
"Coba sedotlah," katanya kepada Uk Uk. Percaya kalau
kakek itu akan memberi makan Uk Uk pun lalu
menyedotnya, uffff …...
"Hai, hidungku tembus sekarang," teriak Uk Uk dengan
gembira. Dia jengkel dengan hidungnya yang tersumbat
sehingga tak dapat bernapas. Begitu hidungnya sudah
lancar, dia kegirangar kali, "Hai, sungguh obat mujarab…..!
Dia terus menyedotnya berulang kuli, uff, tiff ....
huakkkk .... tiba2 dia muntah- dan melemparkan botol itu.
Lo Kun mengikuti tingkah ulah anak gendut itu dengan
tertawa. Habis muntah2, anak itu tidur. Dan waktu bangun
dia sudah sembuh sama sekali dari sakitnga.
"Obat apa itu eng ....... engkong ....... , " tanya Uk Uk.
"Wasiat," sahut kakek Lo Kun singkat.
"Wah, manjur sekali," kata Uk Uk, teta ........tetapi .......
meng ....... apa ....... baunya kok begitu ...... keras, ya .... "
Kakek Lo Kun hanya tersenyum. Yang penting Uk Uk
sembuh. Titik.
Juga ada lagi sebuah cerita lucu. Juga terjadi dalam
hutan ketika Lo Kun dan Uk Uk menempuh perjalanan.
Hutan itu sebuah rimba belantara yang jarang didatangi
orang. Orang mengatakan bahwa di hutan itu terdapat
harimau yang buas. Tetapi Lo Kun tak menggubris.
Begitu tiba di tengah hutan, entah dari mana tiba2
sesosok tubuh sebesar anak kerbau loncat ke hadapan Lo
Kun dan Uk Uk dan menghamburkan aum yang sedahsyat
gunung meletus. Karena terkejut, Uk Uk sampai jatuhkan
diri dan menutupi mukanya, "Hih, ngeri ....”
Juga Lo Kun terkejut bukan kepalang. Tanpa disadari
timbul juga rasa seram dalam hati hingga kedua kakinya
gemetar keras dan tali celananya menjadi basah. Dia
terkencing tak terasa.
Aummmm ....... terdengar harimau itu mengaum keras
dan ....... berputar diri terus lari ngiprit.
Uk Uk membuka mata, "Hai, kemana binatang yang
menyeramkan itu ...... huak ........ diapun juga muntah2,
terus mendekap hidungnya kencang2.
"Eng ....... eng ....... kong, ngompol ..... “ serunya.
Lo Kun yang semula masih terlongong-longong melihat
harimau lari ngiprit dan Uk Uk muntah2, terkejut
mendengar teriak Uk Uk. memandang ke celananya, "Haya
.... celaka dia terus lari kesebuah sungai dan terjun untuk
menghilangkan bau air seni di celananya.
Demikian keistimewaan dari air seni seorang kakek aneh
semacam Lo Kun.
Dan ketika air seni itu menabur muka kawanan
anakbuah barisan Suka Rela, tanpa ampun lagi merekapun
bubar tak keruan.
"Ha, ha. ha, ha ..... " Lo Kun tertawa terbahak- bahak.
Baru dia tertawa tiba-tiba terdengar suara yang amat
gemuruh.
"Hujan," pikirnya. Tetapi ketika menengadahkan kepala,
bukan kepalang kejutnya. Ternyata suara gemuruh seperti
gunung roboh itu bukan hujan melainkan kawanan tawon
yang jumlahnya ratusan ribu. Tawon itu secara massal,
brrgelombang turun kebawah hendak menyerang Lo Kun.
"Haya, celaka!" teriak Lo Kun yang terus lari sipat
kuping.
Dari mana dan mengapa kawanan tawon itu mengamuk
?
Ternyata cipratan air seni kakek Lo Kun telah
menimbulkan bau yang menyengat. Dan terbawa angin
maka bau itupun melayang keatas. Di atas pohon terdapat
sarang tawon. Rupanya sekalipun tawon, juga ternutup
hidungnya waktu diserang bau yang keras itu. Mereka
ngamuk dan penyerang manusia yang memancarkan bau
itu.
Betapapun kencang lari Lo Kun tetapi karena kawanan
tawon itu terdiri dari ratusan ribu, maka tak urung muka
dan tubuh Lo Kun kena disengat. Dia tak menghiraukan
apa-apa lagi teus lari sekencang-kencangnya. Dia lupa
untuk kembali kedalam kuil dan lari tanpa tujuan.
Entah sudah berapa puluh li dia berlari, waktu merasa
tak dikejar tawon lagi, barulah dia berhenti lalu duduk
dibawah pohon.
'"Sial dangkal," serunya seorang diri, "gara2 ngebet
kencing sampai mukaku begap semua, " terus mengusapusap
kedua pipinya yang berobah bengap seperti bakpau.
Tengah dia masih mendongkol dan kesakitan tiba?
terdengar suara orang sedang berjalan mendatangi dan
bicara, "Nona Su, kemana saja kita ini?" terdengar suara
seorang lelaki berseru.
''Sudahlah, jangan banyak tanya. Pokokti kita jalan
sampai dimana, situlah kita nanti berunding lagi." sahut
seorang wanita muda.
"Wah, tetapi kalau malam2 begini berjalan apa tidak
berbahaya?" tanya yang lelaki lagi.
"Ai, lalu apa harus tidur di tengah hutan?”
"Aku sih biasa kalau tidur di tengah hutan, tetapi nona
tentu tidak," jawab si lelaki, "hai apakah itu ....... ? " tiba2
pula ia berteriak kaget, segera menuding kearah sebatang
pohon di muka.
"O, kayaknya seorang lelaki tua," kata si gadis itu.
'Uh. bukan, tentu bangsa setan. Memang di tengah hutan
yang jarang diinjak manusia, tentu masih terdapat bangsa
setan. Mana ada makhluk sependek itu?" kata si lelaki yang
bertubuh tidak besar.
Ketika dekat, nona itu terkejut, "Apakah itu bukan kakek
Lo Kun?" katanya seorang diri.
"Lo Kun? Hai, sungguh kebetulan sekali," kata lelaki
tinggi besar itu terus lari menghampiri Lo K'un dan tanpa
berkata ba atau bu, dia mencengkeram tubuh Lo Kun,
diangkat dan terus dibanting ke dalam semak2, "Mampus lu
setan tua ....!"
Gadis itu itu terbeliak, "Hai, mengapa engkau banting
dia?"
"Bukankah dia Lo Kun? Si Lo Kun itu adalah setan
penunggu gunung Thay-san yang kukang ajar, suka
menjahili orang. Aku pernah dijegal kakiku sampai aku
jatuh terguling-guling ke dalam lembah. Sekarang aku
hendak membalas dendam kepadanya," seru lelaki tinggi
besar yang tak lain adalah Thay-san.
Malam itu Thay-san dan Sian Li ( tetapi Thian-san
kukuh menganggap nona itu adalah Su Tiau Ing ) ,
melanjutkan penjalanan. Mereka melintasi sebuah hutan
yang kebetulan terdapat kakek Lo Kun yang sedang
beristirahat.
"Tetapi dia bulan setan," kata Sian Li.
"Jelas setan," teriak Thay san, "sudahlah nona Su,
engkau ini puteri seorang mentri kerajaan tentu belum
pernah datang ke gunung Thay-san. Sedang aku ini berasal
dari gunung itu, maka tahu jelas siapa setan cebol yang jahil
dari gunung itu."
Sian Li tak mau menjawab melainkan menghampiri
untuk menjenguk kedalam semak. Dilihatnya kakek itu
sedang keroncalan dan bergeliat bangun.
"Ho, setan cebol, rasain lu. Hayo kalau berani keluar,
tentu akan kulempar kedalam jurang," seru Thay-san yang
juga menghampiri.
"Tetapi dia bukan setan. Kalau setan tentu dapat
menghilang." bantah Sian Li.
"Benar, tetapi kalau kesiangan dan ketahuan apalagi
dapat dipegang manusia, setan itu lumer dan tak dapat
menghilang lagi."
"Tidak, dia bukan setan !"
"Ai nona Su, mengapa engkau malah membela setan
cebol ? Biarin saja dia mati atau setengah mati," kata Thaysan.
"Bangsat engkau raksasa, mengapa engkau melempar
aku kedalam semak berduri ?" tiba2 Lo Kun loncat keluar
dari dalam semak.
"Lho, engkau bisa bicara sekarang, setan cebol ?" seru
Thay-san.
"Edan engkau !" teriak Lo Kun, "kecil-kecil aku memang
bisa bicara."
"Siapa namamu ?" tegur Thay-san.
"Lo Kun.»
'Nah, itu dia. Eagkau memang si Lo Kun setan cebol dari
gunung Thay-san yarg pernah mengait kakiku sampai aku
jatuh kedalam jurang dulu ....," Thay-san terus menubruk
tetapi kali ini Lo Kun sudah siap. Dia menghindar.
"Gila !" teriak Lo Kun, "aku bukan setan aku manusia !”
“Jahanam, setan berani membohongi manusia,". teriak
Thay-san yang menerkam lagi. Tetapi Lo Kun juga
menghindar lagi.
'Hai, apakah engkau bukan Sian Li ?'' tiba2 Lo Kun
berteriak ketika berdiri dekat dengan Sian Li.
Tetapi sebelum Sian Li menjawab, tiba2 pula Thay-san
sudah menjerit, 'Setan cebol, jangan ngaco belo ! Siapa yang
engkau panggil Sian Li.”
"Anak perempuan itu."
"Linglung! Dia bukan Sian Li tetapi nona Su Tau Ing,
puteri dari mentri Su Go Hwat.
'Limbung !" balas Lo Kun, "dia jelas Sian Li cucuku
sendiri,"
"E, setan cebol ini kalau tidak kuhajar sampai mampus
tentu masih mengacau saja. Masa puteri seorang mentri
kerajaan diaku sebagai cucunya.
Thay san menyingsing lengan bajunya dia meninju Lo
Kun, brakkkkk........ Lo Kur menghindar dan sebatang
pohon. sebesar betis, tumbang karena terkena tinju Thaysan.
"Berhenti!" bentak Sian Li ketika melihat Thay-san
hendak menyerang lagi. Thay-an menurut. Entah
bagaimana dia taat kepada Sian Li yang dikiranya Su Tian
Ing itu.
"Mengapa nona Su ?" yanyanya.
"Segala urusan diurus dulu dengan baik, kalau sudah tak
dapat diurus, baru dengan tinju," kata San Li.
"Apanya lagi yang perlu diurus ? Jelas dia itu setan cebol
dari gunung Thay-san."
"Kurasa bukan," kata Sian Li. "dia bisa bicara, bisa
bergerak, tentulah bangsa manusia.
"Engkau gila Sian Li," seru Lo Kun, "masa aku ini
bangsa setan....."
Sian Li makin terkejut. Dia makin mendapat dugaan
bahwa ......, "Apakah kakek ini........"
"Setan cebol, engkau jelas bangsa setan. Kalau tidak
masa bicaramu ngoceh tak keruan. Dia bukan Sian Li tetapi
nona Su Tiau Ing," tiba2 tinggi besar Thay-san menukas.
"Engkau ini memang orang gila," teriak Lo Kun, "dia
jelas cucuku yang bernama Sian Li, masa kini engkau
anggap nona Su Tiau Ing."
"Persetan dengan Sian Li !”
"Lho, persetan juga dengan Su Tiau Ing !" balas Lo Kun.
"Kakek Lo Kun," tiba2 Sian Si berseru.
Kini rupanya setelah memandang jelas sampai berapa
saat barulah Sian Li percaya kalau kakek itu memang Lo
Kun. Tadi dia sangsi karena wajah Lo Kun berobah gemuk
akibat begap disengat tawon.
"O, sekarang engkau baru percaya ? Masa .....hai, tidak !"
tiba2 Lo Kun menjerit.
"Mengapa ?" Sian Li terkejut.
"Tetapi Sian Li kan masih tidur, mengapa tahu2
gentayangan bersama seorang raksasa ? Kalau
begitu.....kurang ajar engkau !" teriak Lo Kun.
"Lho, kenapa kakek Lo ?"
"Engkaulah yang bangsa setan !" teriak Lo Kun," ya,
benar, engkau setan perempuan dan setan raksasa .........."
Sian Li melongo, "Aku masih tidur?” menegas, "dimana
aku tidur ?"
"Engkau dan Uk Uk tadi membangunkan aku, setelah
aku bangun, kalian berdua terus tidur. Ya. aku ingat jelas
hal itu. Mengapa sekarang tiba2 engkau keluyuran disini ?
Tak mungkin, tak mungkin. Engkau tentu bangsa
kuntilanak .,..."
"Kakek Lo, aku ini Sian Li aseli."
"Tidak !" Lo Kun menolak, "Sian Li
tidur dalam kuil."
"Tidak kakek Lo Kun" teriak Sian Li
"Jangan banyak mulul, kuntilanak!” teriak Lo Kun
seraya menampar. Karena tak menyangka kalau kakek itu
akan menampar, Sian Li terkejut dan pipinyapun kena.
plak.....!
"Lho, engkau berani menampar nona Su ?" teriak Thaysan
terus menerjang Lo Kun.
Kali ini Lo Kun jengkel. Dia tak mau menghindar
melainkan menyongsong dengan pukulan.
Bunkkkkk......si tinggi besar mencelat sampai beberapa
langkah tetapi Lo Kun juga terlempar ke belakang.
"Sialan," gumam Lo Kun dalam hati, "kalau terus
menerus disini, kedua setan itu tentu akan menggoda aku
saja ........"
D a terus lari.
"Hai, setan cebol, mau lari kemana engkau!" teriak Thaysan
lalu mengejarnya.
Sian Li yang masih termangu-mangu karena pipinya
ditampar itu, terkejut tetapi sudah terlambat. Kedua orang
itu sudah menghilang dalam kegelapan.
Sian Li menghela napas dan geleng2 kepala. Mengapa
malam ini aku mengalami beberapa peristiwa yang aneh ?"
Ia teringat karena keluar mendengar suara orang lari, dia
ditangkap kawanan anakbuah barisan Suka Rela.
Kemudian dia ditolong oleh seorang pemuda tinggi besar
bernama Thay-san, Thay-san menganggapnya sebagai Su
Tiau Ing puteri dari mentri Su Go Hwat. Eh, sekarang
bertemu dengan Lo Kun dan celakanya kakek itu
menganggap dia bukan Sian Li tetapi setan. Dan kalau
menurut omongan kakek itu, Sian Li masih tidur di kuil.
"Aneh, kalau begitu dalam kuil itu tentu terdapat seorang
nona. Lalu siapakah nona itu?" pikirnya, "benar2 peristiwa
gila. Aku akan mencari ke kuil itu .... "
Kita tinggalkan Sian Li yang sedang mencari kuil tempat
ia bermalam. Sekarang mari kita ikuti perjalanan kedua
orang limbung, kakek Lo Kun dan Thay-san yang sedang
kejar mengejar.
Setelah naik turun beberapa bukit dan tiba disebuah
gerumbul pohon, tiba2 Lo Kun berhenti. Tak lama
kemudian Thay-sanpun tiba.
"Mengapa berhenti?" tanya Thay-san.
"Napasku habis, kita beristirahat dulu," sahut Lo Kun.
"O, benar, aku juga putus napasku," kata Thay-san.
Keduanya lalu duduk di bawah pohon. Lo Kun
mengeluarkan buli-buli arak dan menenggaknya. Bau arak
yang harum, menampar hidung Thay-san."
"Engkau curang!" seru Thay-san ketika Lo Kun menutup
buli-buli araknya. "Mengapa?"
"Kalau engkau ksatrya, engkau harus memberi aku
minum arak juga supaya aku dapat mengejarmu. Kalau
tidak, huh, engkau seorang rendah budi!"
"Hus, rendah budi bagaimana?"
"Ya, dong, kalau mau disuruh mengejar, yang mengejar
juga harus diberi minum!"
"O, benar, benar," Lo Kun terus memberikan buli-buli
kepada Thay-san.
Memang keduanya termasuk orang gemblung. Mereka
sebenarnya bermusuhan tetapi Thay-san sudah keblinger
pikirannya, dia mengira kejar mengejar. Dan celakanya Lo
Kun juga menerima begitu saja alasan Thay-san.
Setelah minum beberapa teguk, Thay-san berkata, "wah,
enaknya .......... "
"Hus, gila, mana buli-buli itu, jangan engkau habiskan,"
Lo Kun terus menyambar buli-arak.
Beberapa saat kemudian, Lo Kun berdiri dan berseru,
"Hayo, kita mulai lagi, kejarlah aku ...” Tanpa
menghiraukan suatu apa dia terus lari.
Thay-san mendengar seruan Lo Kun tetapi entah
bagaimana matanya terasa mengantuk sekali. Begitu hebat
rasa kantuk itu menyerang dirinya hingga, bluk ..... dia
terus tidur meloso di bawah pohon.
Lo Kun lari dan lari tanpa menghiraukan suatu apa. Dia
tak mau berpaling untuk melihat apakah Thay-san masih
mengejar atau tidak.
Beberapa saat lemudian, dia berhenti lagi dan terus
membuka buli-buli dan meneguk isinya.
"Eh, kemana si raksasa tadi?" tiba2 ia berpaling.
Pada saat itu muncullah dua orang lelaki bertubuh tinggi
besar. Tetapi bukan Thay-san.
"Hai, setan, mengapa engkau memecah dirimu menjadi
dua ?" teriak Lo Kun marah.
"Hus, siapa engkau kakek cebol !" bentak kedua lelaki
gagah perkasa itu.
"Lho, apakah engkau bukan yang mengejar aku tadi ?"
seru Lo Kun.
'Siapa yang mengejarmu ?"
"Ho, engkau ini benar2 setan bukau manusia, kalau
manusia tentu tak dapat memecah menjadi dua ganti
pakaian begitu !" seru Lo Kun.
"Hou te, mungkin dia seorang kakek gila,” kata yang
seorang. Hou-te artinya adik Hou.
Kedua orang itu memang kakek beradik. Kakaknya
bernama Gu Liong dan adiknya Gu Hou. Dulunya mereka
bekerja sebagai penebang kayu. Kemudian mereka masuk
menjadi lasykar barisan Suka Rela. Karena keduanya
berasal dari daerah itu maka mereka ditugaskan oleh
pimpinannya untuk mencari Thay-san dan Sian Li bahkan
kakek Cian-li-ji yang telah lolos dari tawanan.
"Tetapi kalau menurut perawakannya kakek ini seperti
kakek yang meloloskan diri tempo hari," kata Gu Liong,
"kemungkinan dia pura2 seperti orang linglung supaya
terhindar dari kecurigaan."
"Lalu bagaimana maksud engkoh?" tanya Gu Hou.
"Tangkap saja dia dan bawa ke markas Kalau memang
dia itu kakek yang tempo hari lolos, ya sudah. Tetapi kalau
bukan, kita lepas lagi. Pokok kita sudah mendapat hasil
supaya jangan dimarahi pimpinan."
Gu Hou setuju akan pendapat engkohnya. keduanya
segera mengepung Lo Kun.
'Hai, kakek cebol, engkau menyerah atau tidak?” seru
kedua kakak beradik itu.
"Hus, aku menyerah kepada siapa?"
"Akan kami bawa engkau kedalam markas."
''Edan engkau, markas mana?"
"Markas barisan Suka Rela."
"Mengapa?"
""Bukankah engkau kakek yang beberapa hari
meloloskan diri dari tawanan kita?"
"Edan ! Tahu saja tidak dimana markas itu mengapa
engkau berani menuduh begitu ? seru Lo Kun.
"Tidak!" bentak Gu Hou, "engkau harus mengaku. Kalau
tidak, akan kami lempar kedalam jurang,"
"Mengaku bagaimana
"Pokoknya engkau harus mengakui bahwa engkau benar
kakek yaug lolos itu."
"Aku bukan orang itu !"
"Tidak peduli engkau orang itu atau bukan, engkau harus
mengaku sebagai orang itu.
'Eh, kalian hendak cari perkara, ya ?" Lo Kun seraya
menggulung lengan bajunya, kalian kira aku takut kepada
kalian berdua ?”
"Eh, kakek, engkau berani melawan ? rasakanlah tinjuku
ini," seru Gu Hou seraya ia meninju.
Lo Kun menghindar kesamping tetapi Gu Liong .sudah
menyambutnya. Terpaksa Lo Kun mengendapkan tubuh
kebawah tetapi Gu Hoi sudah menyongsong dengan
tendangan. Lo Kun ngegos ke kiri, kembali disitu kaki Gu
Liong sudah siap mendupaknya.
"VVut.... tiba2 Lo Kun mencelat ke atas dan menabok
kepala kedua orang itu, plak… plak.....
Gu L;org dan Gu Liong rasakan kepala pusing. Tabokan
kakek itu cukup keras.
"Hou-te, mengapa kita kalah dengan seorang kakek cebol
saja?" seru Gu Liong seraya mencabut senjatanya, sebatang
kapak besar.
Gu Hou juga mencabut senjatanya, sebatang beliungraksasa,
"Nah, engkau mau menyerah atau nekad melawan.
Tetapi kuperingakan, beliungku tak pernah gagal untuk
memenggal kepala orang. Tak percaya, lihatlah……” dia
menghampiri sebatang pohon dan ayunkan beliungnya,
kraakkkk, bum .... pohon itupun tumbang.
"Ha, ha." Lo Kun tertawa, "engkau kira aku takut ?
Engkau kira aku juga tak punya senjata wasiat ?
"Silakan mengeluarkannya.”
"Begini," kata Lo Kun, "senjata wasiatku itu jarang
kupakai kalau tak terpaksa. Dan setiap keluar tentu harus
ada hasilnya."
"Sudahlah, engkau mau mengajak apa ?" tukas Gu Hou.
"Bertaruh," kata Lo Kun.
"Bertaruh apa ?" Gu Hou heran.
"Kalau aku kalah, aku menyerah. Terserah mau kalian
jadikan apa saja diriku nanti," kata Lo Kun, "tetapi kalau
aku menang, kalianpun harus menurut apa perintahku.
Berani ?"
"Baik," serempak kakak beradik Gu itu berteriak, "hayo,
kita mulai!"
"Tunggu du'u," kakek itu terus lari kedalam gerumbul
pohon. Dia hendak mencari pohon pepaya tetapi tak
bertemu. Tiba2 ia melihat ada gerumbul pohon bambu.
Cepat2 dia menghambil dan memotong sebatang. Setelah
dipotong, dia t mihh satu ruas, ujungnya dilubangi.
Kemudian! kencing dalam tabung bambu itu.
"Ha. ha, cukup dengan tabung bambu ini kalian tentu
sudah menyerah," kata Lo Kun. I
"Hub, apa-apaan engkau kakek cebol," ejek Gu Hou.
"Tetapi ada sebuah perjanjian lagi," kata Lo Kun, "kalah
atau menang, kita tak boleh lari."
"Tentu, siapa yang mau melarikan diri menghadapi
engkau, kakek cebol," kembali Gu Hou mengejek.
"Baik, kita mulai sekarang," kata Lo Kun. Gu Liong
mengambil tempat di muka dan Gu Hou di belakang Lo
Kun. Tetapi Lo Kun diam saja.
"Serang!" teriak Gu Liong seraya menghantam dengan
kapaknya. Dan Gu Houpun ayun beliungnya.
Lo Kun mengendap ke bawah, selekas kapak dan beliung
lewat diatas kepalanya, dengan kecepatan seperti kucing
melompat, dia menabur isi tabung itu kemuka Gu Liong
lalu loncat ke hadapan Gu Hou dan menabur mukanya.
"Huakkkk.....huakkkkkk.....kedua kakak beradik itu
muntah2 dan mendekap hidungnya. Tetapi setiap kali
melepaskan dekapannya, kembali mereka muntah2 lagi.
Mengapa ?
Ternyata air seni kakek Lo Kun itu melekat pada muka
dan hidung mereka sehingga baunya tak mau hilang,
"Celaka.....!" teriak Gu Liong.
"Minta ampunnnn.....," seru Gu Hou. Keduanya terus
lari.
"Hai, kalian hendak ingkar janji ya ?" teriak Lo Kun
seraya mengejar,
Ternyata kedua saudara itu mencari sangai maka begitu
melihat ada sebuah telaga, mereka terus loncat kedalam
telaga itu.
Beberapa saat kemudian mereka baru naik ke darat.
Disitu Lo Kunpun sudah menunggu, "Ha , bagaimana
kalian ?"
"Jangan kuatir, kakek," seru Gu Liong," kami takkan
ingkar janji."
"Jadi kalian mau menyerah, kan ?"
"Tentu, tentu."
"Benar ?"
"Ya."
"Mengapa kalian menyerah ? Siapa yang suruh
menyerah ?"
"Eh, bagaimana engkau ini, paman," seru Liong, "kan
tadi kita sudah berjanji begitu."
"Berjanji? O, ya, benar, benar. Lalu sekarang
bagaimana?"
"Terserah kepadamu. Kami kan sudah menyerah."
"Kalian harus ikut aku dan menurut yang
kuperintahkan!"
"Baik," kata kedua saudara Gu itu. Keduanya berasal
dari gunung sehingga alam pikiran dan sikap mcrekapun
masih polos dan jujur. Karena sudah kalah janji,
merekapun lalu ikut pada Lo Kun.
"Tetapi bagaimana dengan pimpinan barisan Suka Rela
nanti?" tanya Gu Liong.
"Apa? Barisan Suka Rela?"
"Ya, kami memang masuk menjadi anggauta barisan
Suka Rela. Tetapi karena kami sudah kalah, maka kamipun
akan ikut kepadamu. Tetapi bagaimana kalau pimpinan
barisan Suka Rela sampai menangkap kami?"
"Siapa pimpinan barisan Suka Rela itu?" tanya Lo Kun.
"Li Tiong Ki." '
"Siapa Li Tiong Ki?"
“Putera dari panglima barisan Tani, Li Cu Seng."
"Siapa Li Cu Seng?"
"Manusia."
"Lho, mengapa engkau menjawab begitu?”
"Karena aku tahu dia tentu manusia, tak tahu siapa
namanya dan orang mana."
"O, benar," kata Lo Kun, "soal pimpinan barisan Suka
Rela, serahkan saja kepadaku. Tetapi omong2, barisan Suka
Rela itu berfihak kepada siapa saja?"
"Kerajaan Beng."
"Bagus!" teriak Lo Kun, "kalau begitu kalian kubebaskan
dan boleh »kembali kepada barisanmu lagi."
"Tidak!" teriak Gu Liong dan Gu Hou.
"Lho, mengapa?"
"Karena setelah kupikir-pikir barisan Suka Rela itu
ternyata bukan sungguh2 berfihak pada kerajaan Beng."
"Lho, aneh. Lalu berfihak kepada siapa?"
"Menilik gelagatnya kepada kerajaan Ceng."
"Apa buktinya?"
"Begini," kata Gu Liong, "kemarin kami menangkap
seorang tinggi besar yang sedang tidur di tengah jalan. Dia
mengaku bernama Thay-san. Pimpinan kami menanyainya.
Dia mengatakan kalau menjadi pengawal dari Su kongcu
..."
"Siapa Su kongcu itu?"
"Putera keponakan dari mentri kerajaan Beng, Go Hwat
tayjin."
“'O, siapa nama Su kongcu itu?"
"Su Hong Liang," kata Gu Liong, "pimpinan kami tak
percaya lalu suruh orang membawanya ke kamar tahanan
untuk mengenali seorarg nona yang kami tawan. Dan
ternyata orang tinggi besar itu mengatakan kalau nona yang
tertawan itu adalah nona Su, puteri dan mentri ; Go Hwat
itu."
'Gila !" teriak Lo Kun, "mengapa mentri Go Hwat saja ?
Apa lain orang tidak ada ?"
"Kalau memang dia puteri dari mentri itu, mau diapakan
lagi ? Apa suruh dia menjadi putri lain mentri ?" Gu Hou
agak mendongkol.
“Setelah tahu bahwa nona yang kami tawan itu putri dari
mentri Su, pimpinan kami suruh menjaganya dengan ketat.
Katanya nona itu akan dijadikan sandera untuk memaksa
mentri Su Go Hwat menurut kemauan barisan Suka Rela."
"Edan," seru Lo Kun," mau apa barisan Suka Rela itu
kepada mentri Su ?"
"Sebenarnya masih ada seorang pimpinan lagi yang lebih
atas dari pimpinan kami Li Tian Ki itu. Tetapi orang itu tak
mau unjuk diri secara terang-terangan. Dia selalu
mengenakan kedok muka apabila berkunjung ke markas
kami."
"Siapa namanya ?"
"Juga tak ada orang tahu. Tetapi menurut kabar dari
kawan2, orang itu orang she Su juga,
"Haya, lagi2 orang she Su," seru Lo Kun, “Apakah dunia
ini hanya orang she Su melulu?”
"Habis, kalau memang dia orang she Su, apa harus
diganti?" balas Gu Hou.
"Teruskan ceritamu!"
"Dari beberapa kawan, aku mendapat keterangan bahwa
barisan Suka Rela itu jangan terlalu bersikap memusuhi
kerajaan Beng .......... "
"Bagus!" tukas Lo Kun.
"Tetapi juga jangan memusuhi kerajaan Ceng,"
melanjutkan Gu Hou.
"Gila!" teriak Lo Kun, "kerajaan Ceng itu jelas musuh
kita, bagaimana tidak boleh dimusuhi?"
"Karena mereka hendak naik dua perahu."
"Naik dua perahu? Mana perahunya?"
"Perahunya bukan perahu sungguh tetapi kedua kerajaan
yang saling bermusuhan itu."
"Kerajaan mengapa disamakan dengan perahu?”
"Ah, itu kan hanya ibarat saja."
"O, mengapa tadi tak bilang begitu?" kata Lo Kun, "lalu,
apa barisan Suka Rela itu hendak ikut sana ikut sini?"
"Bukan," sahut Gu Liong, "mereka hendak menunggu
siapa yang menang. Kalau kerajaan Beng yang menang,
mereka ikut kerajaan Beng menghancurkan pasukan Cing.
Tetapi kalau kerajaan Ceng yang menang, mereka segera
akan menggabungkan diri untuk menghancurkankan
kerajaan Beng."
"Banci!" teriak Lo Kun," apakah pemimpin barisan Suka
Rela itu orang banci?"
"Tidak, dia seorang pemuda."
"Kalau orang laki mengapa pendiriand begitu ?"
"Silakan tanya kepadanya sendiri," seru Gu Hou.
"Tidak." sahut Lo Kun, "kalianlah yang wajib bertanya
kepadanya. Sekarang kalian boleh kembali kedalam barisan
Suka Rela dan menanyakan hal itu kepada pimpinan. Kalau
dia tak mempunyai pendirian yang tegas, ikut kerajaan
Beng atau ikut Ceng, bilang kepada mereka, suruh
pimpinan itu mundur saja."
"Tidak mau," seru Gu Liong, "aku dan adikku tidak mau
kembali ke barisan itu."
"Lho, kenapa ?"
"Bukankah aku harus ikut engkau ?"
"Tak perlu, kalian kubebaskan."
"Benar ?"
"Ya, sejak saat ini kalian bebas, tak ikut aku dan tak
perlu menurut perintahku."
"Baik terima kasih," kata kedua saudara. Lo Kun terus
berputar tubuh dan hendak melanjutkan perjalanan kembali
ke kuil tua, tapi kedua saudara Cu itu tetap mengikutinya.
Karena harus mencari jalan ke arah kuil yang letaknya ia
agak lupa maka Lo Kun harus menggunakan waktu cukup
lama baru tiba di kuil itu. Dari jauh dia melihat tiga sosok
manusia sedang berdiri di halaman kuil. Ada dua orang
yang saling tuding menuding.
Lo Kun cepat lari. Dia kuatir ada orang yang
mengangggu Uk Uk dan Sian Li. Begitu tiba, dia terkejut.
Ternyata ketika orang yang berada di halaman itu adalah
Uk Uk, Sian Li dan seorang lelaki tinggi besar. Eh,
bukankah dia si Thay-san ?
Saat itu Thay-san sedang otot-ototan dengan Sian Li
(palsu) dan Uk Uk.
"Ah, engkaulah nona Su, mengapa menyangkal ?"
teriaknya menuding Sian Li atau yang sebenarnya adalah
Ah Liu, bujang dara dari Su Tiau Ing.
"Eh, orang tinggi, engkau ini bagaimana, aku kan si Ah
Liu yang bersama engkau hendak mencari nona Su," seru
nona itu.
"Ti….dakkkk," teriak Uk Uk, aku bukan Ah Liu, aku ini
ci Sian Li."
"Hai," teriak Thay san, "engkau ini anak waras atau gila
? Engkau bukan Ah Liu juga bukan ci Sian Li, engkau ini
bocah laki genduk !”
"Orang tinggi," balas Uk Uk, "aku gila, ya?"
"O, makanya." sahut Thay-san yang tak mengerti akan
adat kebiasaan Uk Uk yang mengartikan kata 'aku’ itu
dimaksudkan ‘engkau’.
"Engkau tidak tahu Thay-san," tiba2 Ah Liu melengking,
"bahwa yang dimaksud oleh anak ini dengan kata ‘engkau'
adalah ‘aku’. Kalau dia bilang ‘aku’, itu artinya ‘engkau’.
Dia memang membalikkan arti kata ‘engkau’ dengan
‘aku’." I
"Kalau begitu, dia mengatakan aku yang gila?" seru
Thay-san.
"Memang begitu maksudnya."
"Kurang ajar, engkau, bocah gendut. Aku bilang apakah
engkau yang gila?" seru Thay-san.
"Ya, memang aku ini gila." sahut Uk Uk.
"Kurang ajar!" setelah tahu kalau Uk Uk memang
membalikkan istilah ‘aku’ dengan ‘engkau’, Thay-san terus
menampar kepala bocah itu.
Tetapi tamparannya luput dan tiba2 dia jerit keras,
"Matiiiiik .........., " tangannya terus mendekap pinggang
celananya.
"Mengapa?" seru Ah Liu.
"Sialan benar," kata Thay-san terus lari ke balik
gerumbul. Ternyata tali kolor celananya telah ditarik Uk Uk
sampai putus.
Sebenarnya Uk Uk tidak mempunyai kebiasaan menarik
putus tali celana orang, sepertinya Ah Liong. Tetapi entah
bagaimana, dia kepada si Thay-san yang tinggi besar. Dia
mau melukai orang itu melainkan cukup memberinya
keripuhan setengah mati.
Setelan Thay-san pergi mengumpat, Uk Uk menegur Ah
Liu, "Ci Sian, mengapa aku sekarang sikap aneh? Mengapa
aku mengatakan kalau bukan ci Sian?"
"Ya, benar, Uk," tiba2 terdengar Lo Kun berseru. Dia tak
tahan melihat peristiwa yang berlangsung ditempat itu.
"O, eng ....... kong, koag .... aku datang .....mengapa
engkong pergi ....?"
"Siapa pergi?"
'Waktu engkau tidur bersama .... sama ci Sian, engkong
lenyap. Kemana saja?"
"Aku hendak buang air kecil. Tiba2 ada beeberapa
kawanan anakbuah barisan Suka Rela yang hendak
bermalam dalam kuil. Lalu aku ..."
'Tidak eng....... engkong ....... engkau masih tidur .......
tak mungkin eng ....... engkau keluar.. "
"Bocah edan," pikir Lo Kun yang menyadari adat
kebiasaan Uk Uk berkata dengan ‘aku' menjadi 'engkau'.
'Ya, bukan aku tetapi engkau yang keluar dan
menghadang kawanan anakbuah barisan Suka Rela itu.
Lalu engkau bertempur dan mereka kalah tetapi celaka Uk
.......... "
"Bagaimana eng ....... engkong ........ "
Lo Kun lalu menceritakan pengalamannya diserang
kawanan tawon dan akhirnya bertemu dengan Thay-san.
Dia dapat lolos akan tetapi dihajar oleh kedua saudara Gu
yang juga bertubuh tinggi besar seperti Thay-san. Mereka
tempur dan kedua saudara itu kalah. Terus kedua saudara
itu juga anakbuah barisan Suka Rela. Dia hendak ikut Lo
Kun tetapi Lo membebaskan dan suruh kedua saudara itu
kembali ke markas barisannya untuk menanyai pendirian
pemimpin barisan Suka Rela.
“Benar, benar, memang begitu," tiba2 terdengar suara
orang berseru. Ketika Lo Kun berputar ke belakang ternyata
kedua saudara Gu sudah berada dibelakangnya.
"Hai, mengapa kalian kemari?" tegur Lo Kun.
"Aku tak mau pulang ke barisan lagi. Aku hendak ikut
engkau paman cebol," sahut Gu Liong.
"Hus, mau ikut orang mengapa mengejek aku seorang
cebol ?"
"Habis kalau engkau memang pendek, apakah harus
kukatakan tinggi ?" sahut Gu Liong.
"Sudahlah, jangan banyak membantah,” tukas Lo Kun,
"mengapa kalian hendak ikut aku.”
"Engkau seorang kakek yang baik. Aku senang ikut
engkau dari pada ikut barisan Suka Rela yang banci itu."
'Wah, bagaimana ?" Lo Kun garuk2 kepala,
rombonganku sudah dua orang, cucuku Uk Uk dan cucuku
Sian Li. Kalau tambah dua lagi yang begitu besar seperti
raksasa, bagai aku dapat memberi makan."
"Biar dah eng ..... engkong . ….. engkau suka dengan
kedua engkoh tinggi itu," seru Uk Uk, “kalau lelah kita kan
dapat minta gendong kepada mereka ?"
"Hus, apa mereka mau?" seru Lo Kun.
"Mau, mau," sahut Gu Liong
"Tetapi apakah makanmu banyak, engkoh tinggi ?" seru
Uk Uk.
"Ya, cukupan."
"Hai mengapa ada orang yang menyamai aku tingginya."
tiba2 Thay-san keluar dari balik gerumbul setelah
memperbaiki celananya.
"Lho, engkau juga tinggi besar ?" seru Gu Lion g, "siapa
engkau ?"
"Thay-san dan engkau?"
Kedua saudara Gu itu memperkenalkan diri.
"Apa maksudmu kemari ?" tegur Thay-san.
"Mau ikut kakek cebol itu."
“O, benar, memang kakek cebol dan bocah gendut itu
perlu orang2 semacam engkau yang dapat digunakan jadi
kuda kalau perlu," kata Thay-san.
"Hus, jangan ngaco!" bentak Gu Hou.
Thay-san tak menggubris, dia terus berpaling kearah Ah
Liu, "Nona Su......”
"Gila engkau !" tcriak Ah Liu,' "aku bukan nona Su, coba
pandanglah aku. Masakan engkau lupa kepadaku yang
bersama-sama engkau hendak mencari nona Su itu ?
"Apa iya ! O, benar2 engkau apa bukan Ah Liu ?" seru
Thay- san.
"Itu dia," teriak Ah Liu, "kiranya engkau sudah ingat
sekarang."
"Tidak bisa !" teriak Uk Uk, "dia bukan Ah Liu, dia
adalah ci Sian Li, taciku."
'"Gila engkau ! seru Thay-san.
"Ya, memang aku gila !"
Thay-san terkedap. Ia ingat kalau anak ini memutarbalikkan
arti 'aku' dengan ‘engkau'.
"Hai bocah gendut, jangan gila-gilaan. Dia bukan
tacimu. Dia adalah Ah Liu, kawanku yang baru," Thay-san
terus ulurkan tangan hendak menggandeng tangan Ah Liu.
Tetapi saat itu Uk Uk sudah maju dan melonjak, plak….
plak tahu2 kedua pipi Thay-san ditamparnya.
"Lo, berani menampar pipiku," Thay-san marah dan
menghantam Uk Uk. Tetapi pada saat itu Gu Liong dan Gu
Hou sudah melesat menjotos Thay-san.
"Berhenti l'' teriak Lo Kun karena menyapih peristiwa
perkelahian yang acak-acakan itu. Gi Liong dan Gu Hou
menurut. Tetapi Thay-san tetap menjotos mereka, duk, duk
.... kedua saudara Gu itu telempar jatuh.
"Hai, raksasa liar, aku curang!" teriak Uk Uk menuding
Thay-san.
"Apanya yang curang?"
'"Engkong sudah suruh aku berhenti, mengapa aku
masih memukul orang ?"
"Eh, gendut, aku kan bukan budak engkong ku,
mengapa, harus menurut perintahnnya ?''
"'Raksasa liar, rasakan pukulanku,” Uk Uk terus
menjotos. Thay-san tertawa dan menangkis. Ia kira kalau
adu pukulan anak itu tentu patah tulangnya. Tetapi ternyata
Uk Uk tak mau beradu pukulan melainkan endapkan tindju
dan tubuh kebawah terus menghantam telapak kaki Thayisan
keras-kerasnya.
"Aduhhhhhhh," Thay-san menjerit dan terlatih-tatih
mundur seraya mengangkat kaki kiranya yang terpukul itu.
Melihat itu Ah Liu kasihan. Dia menghampiri Uk Uk
dan menabok kepalanya, plak..... “Bocah kurangajar,
mengapa melukai orang !"'
"Lho, ci Sian mengapa aku memukul engkau ? Bukankah
engkau hendak membela aku ?"
'"Siapa sudi menerima pertolonganmu. Dia memang
kawanku, mau apa !”
"Eng .... engbong..... ci Sian .... suka sama raksasa hutan
itu ....." teriak Uk Uk.
Lo Kun maju menghampiri kemuka Ah Liu, “Apakah
engkau benar bukan Sian Li?”
"Sejak didalam kuil aku sudah mengatakan kalau bukan
Sian Li tetapi anak gendut itu tetap memaksa aku menjadi
Sian Li. Salah siapa?”
"Uk, ini bukan Sian Li," akhirnya Lo Kun memberi
keterangan.
"O, makanya dia berani menampar kepalamu," kata Uk
Uk lalu menjerit, "Huh, cabul, cabul .... "
"'Kenapa Uk?" Lo Kun terkejut.
"Kalau bukan ci Sian Li mengapa dia berani tidur
disampingmu, engkong. Apakah itu bukan gadis cabul
namanya?"
"Gila!" teriak Ah Liu yang merah mukanya "Aku kan
sudah bilang bukan Sian Li, tetapi kau tetap kukuh
mengatakan aku ini Sian Li, Malah engkau terus tidur di
sampingku. Engkau sendiri yang cabul!"
"Wah, celaka kalau begitu. Diwaktu engkau tidur,
engkau bermimpi seperti membeli buah kelengkeng. Lalu
engkau makan. Tetapi aneh, buah kelengkeng itu tak mau
pecah. Karena gereget lalu engkau gigit sekerasnya. Tetapi
saat itu dengar suara orang menjerit sekeras-kerasnya tahu2
muka engkau didupak sekuat-kuatnya sehingga engkau
gelagapan bangun ....”
"O, enak juga orang bermimpi itu. Bisa makan
kelengkeng tanpa bayar, bisa mendapat yang diinginkan
tanpa susah payah," kata Lo Kun.
"Itu kan kalau memang buah kelengkeng sungguhan,
engkong," kata Uk Uk.
"Habis, apakah buah kelengkeng palsu?"
"Aku ini bagaimana eng ....... engkong? Orang ngimpi
masakan makan buah kelengkeng sungguh. Tetapi yang
kumakan itu memang barang sungguh2, bukan hanya
impian saja."
"Ho, buah kelengkeng sungguh??"
"Bukan."
"Habis, apa?"
"Jempol kaki gadis itu," dia menuding Ah Liu, "kurang
ajar memang dia itu. Waktu tidur bergeliatan dan jempol
kakinya masuk kedalam mulutku. Kebetulan aku sedang
bermimpi dan rasa sedang makan buah kelengkeng. Karena
kelengkeng tak mau pecah lalu kugigit sekeraskerasnya……”
"Dan anak perempuan itu lalu menjerit kesakitan?" tukas
Lo Kun.
"Benar, eng ....... engkong ..."
"Ha, ha, ha....." tiba2 Thay-san tertawa gelak2.
"Thay-san, mengapa engkau malah tertawa gembira?"
seru Ah Liu.
"Siapa tak tertawa kalau mendengar jempol orang
dikunyah-kunyah dikira kelengkeng, ha, ha ....... haup .......
tiba2 Thay-san tak dapat melanjurkan tawanya karena
mulutnya kemasukan sebuah benda bulat. Dia muntahkan
benda itu, astaga ... ternyata seekor cengkerik.
“Bangsat, siapa yang melempar cengkerik ke dalam
mulutku?” Thay-San marah marah.
"Ha, ha, ha ……..,” tiba2 Uk Uk tertawa keras.
"Bocah gendut, apakah engkau yang melakukannya ?"
'Tidak," sahut Uk Uk, "cengkerik itu terbang sendiri dan
mengira kalau masuk kedalalam liang, ha, ha, ha .... "
"Engkoh tinggi, mari kita cari rona Su lagi,” kata Ah Liu
yang terus mengajak Thay san meninggalkan tempat itu.
Uk Uk hendak menghalangi tetapi dicegah Lo Kun,
"Biarkan mereka pergi."
Kini yang tinggal hanya Lo Kun, Uk Uk dan kedua
saudara Gu. Mereka berunding untuk mencari Sian Li.
“Eh, kalian berdua saudara Gu. Apakah kalian masih
ingat gadis yang ditawan di markas pasukan Suka Rela dan
yang kemudian dapat meloloskan diri itu ?" tanya Lo Kun.
Gu Long memberi gambaran tentang wajah dan
perawakan gadis itu.
"Haya, celaka, kemungkinan itulah Sian-li hayo kita
kesana !" seru Lo Kun.
"Tunggu dulu paman," cegah Gu Liong. “Hendak
kemanakah paman ini ?"
"Habis kemana harus mencari cucuku Sian Li itu ?" Kata
Lo Kun lalu deliki mata kepada Uk Uk, "hai, engkau bocah
gendut, mengapa menjaga tacimu saja tak mampu !"
"Lho, waktu ci Sian pergi, engkong dan engkau kan
masih tidur. Mengapa engkong sendiri tak tahu kalau ci
Sian pergi ?"
"Nanti dulu !" tiba2 Thay-san berseru, "siapakah yang
engkau maksudkan sebagai Sian Li ?" — Dia hentikan
langkah.
"Eh, raksasa, mengapa tolol benar engkau Sian Li itu
adalah cucuku, masakan engkau tak tahu !” sahut Lo Kun.
"Lho, mengapa aku harus tahu ? Kapan engkau
memberitahukan kepadaku ?”
"Sudahlah, jangan berbantah yang tak berguna," kata Ah
Liu," coba engkau ceritakan apa yang engkau ketahui dan
mengapa engkau bertanya soal gadis yang bernama Sian Li
itu,"
"Begini," kata. Thay san, "waktu aku ditangkap dan tidur
ditengah jalan, aku disuruh mengenali seorang gadis yang
menjadi tawanan barisan Suka Rela itu. Dan ketika
kupandang, gadis itu kuanggap sebagai Su Tiau Ing......"
"Aduh," tiba2 Lo Kun mendesuh," lagi2 orang she Su.
Apakah tak ada lain berita yang bukan orang she Su ?"
"Sudahlah kakek, jangan menukas cerita orang," bentak
Ah Liu, "biarkan engkoh tinggi melanjutkan ceritanya."
"Huh, memang engkau bukan Sian Li lagi sekarang
berani membentak-bentak aku," Lo Kun menggerutu.
"Hai, anak perempuan," kata Thay-san kepada Ah Liu,
"aku sendiri baru pertama kali bertemu dengan nona Su
Tiau Ing. Sebenar! aku masih belum jelas sekali wajahnya.
Coba takanlah apa ciri yang istimewa dari nona Su itu.”
'Siociaku beralis tebal, mata bening mempunyai tahi lalat
di janggutnya. Cantiknya bukan kepalang .......... " .
"Kakek Lo," seru Thay-san, "bagaimana cucumu Sian Li
itu?"
"Tidak ada."
"Apakah dia tak punya tahi lalat?"
"Hai, orang tolol," teriak Uk Uk, "masakan orang punya
tahi lalat. Jangan menghina ci Sian. Tahi lalat itu tentu bau,
masakan menempel di muka ci Sian.”
"Gendut bodoh!" seru Thay-san, "yang disebut tahi-lalat
itu bukan tahi dari binatang tetapi seperti ini ...... andengandeng."
"Buat apa punya andeng-andeng di muka.”
"Lho, engkau ini bagaimana. Kalau tahi lalat itu tumbuh
di bagian yang tepat, misalkan tumbuh diatas mulut
disamping hidung, tentu menambah cantik orangnya!"
"Benar begitu?"
"Ya."
"Berani sumpah makan cacing?"
"Edan," teriak Thay-san, "masa sumpah kok disuruh
makan cacing."
"Justeru itulah yang belum pernah terjadi dalam dunia.
Kalau sumpah disambar geledek, dicekik setan, ditimpah
gunung kan sudah banyak. Aku tak mau meniru orang.
Pokok engkau berani tidak sumpah makan cacing?"
"Sudahlah, jangan guyon," seru Thay-san, “apakah cici
Sian Li itu punya tahi lalat?"
"Punya dong," sahut Uk Uk bangga.
"Dimana?"
"Diatas mulut dekat hidung .......... "
"Gilaaaaa!" teriak Thay-san tiba2 dan terus hendak lari.
Melihat itu Uk Uk loncat menyekapnya, "hai, raksasa
tinggi, mau kemana?"
"Mau mencari gadis."
"Gadis siapa?"
"Sian Li, tacimu itu."
"Hus, itu taci engkau," seru Uk Uk.
"Edan, eh, ya benar, memang taciku," kata Thay-san
setelah teringat akan pengertian Uk Uk mengenai kata
‘Aku' dan 'engkau'.
"Dimana dia sekarang?"
“Tentu dia berada dalam tawanan barisan Suka Rela itu.
Setelah keluar bersama aku, lalu kita bercerai lagi di hutan.
Dia tentu masih di hutan.”
"Engkoh tinggi, lalu dimana nona Su ?” Ah Liu
bertanya.
"Lha. soal itu memang rumit. Pokok waktu berada
dalam tawanan barisan Suka Rela aku nolong seorang
gadis. Kita bersama-sama keluar dan melarikan diri.
Bermula kukira dia adalah nona Su. Tetapi setelah
mendengar keterangan si gendut itu, aku bersangsi, apakah
nona itu Sian Li atau nona Su. Paling baik kita kesana
untuk buktikan."
"Tunggu," teriak Lo Kun, "kalau ke sana harus beramairamai
saja. Supaya di tengah jalanan tidak kesepian."
"Tetapi eng , .. engkong," seru Uk Uk, bagaimana soal
makan nanti. Apakah kita bisa makan sekian banyak orang
ini ?"
"Hus, aku bisa cari makan sendiri," Thay-san.
"Aku juga hanya sedikit makanku," kata Ah Liu.
"Kalau tak ada makanan, kami dapat hidup dengan
minum air saja," seru kedua saudara Gu.
"Matik engkau………..”
"Kenapa Uk ?" tegur Lo Kun.
"Engkau sendiri banyak makannya," kata Uk Uk. Lo
Kun terus mengajak berangkat.
***
Amuk, amuk
Sekarang kita tinggalkan dulu Lo Kun yang memimpin
rombongan tiga orang tinggi, Uk Uk dan Ah Liu untuk
mencari Sian Li dan Su Tiau Ing. Kita ikuti perjalanan
pendekar Huru Hara bersama Ah Liong dan Bok Kian yang
hendak mencari Cian- li-ji.
Bok Kian mewakili Su Tiau Ing untuk menyampaikan
pesan ayah nona itu (mentri Su Go Hwat) kepada jenderal
Ui Tek Kong di Shoantang agar mengerahkan pasukannya
menahan pasukan kerajaan Ceng yang mulai menyerang
Shoatang.
"Loan-heng hendak kemana ?" tanya Bok Kian kepada
pendekar Huru Hara.
"Aku akan mengawalmu menemui jenderal Ui Tek
Kong," sahut pendekar Huru Hara.
"Tetapi bukankah Loan-heng perlu hendak mencari
paman Cian-li ji ?"
“Ah, hal itu kita kesampingkan dulu saja. Sekarang
negara sedang dalam bahaya, musuh sudah menyerang
diambang pintu. Segala urusan peribadi, harus kita hapus.
Kita tumpahkan seluruh perhatian dan pengabdian kita
demi negara dan rakyat.
“Bok-heng, tahukah engkau berapa luasnya dunia ?”
"Wah, luas sekali," kata Bok Kian.
"Nah, kalau sudah tahu bahwa dunia itu luas mengapa
kita kecewa kalau kita tak dapat memperoleh sesuatu benda
yang kita inginkan. Carilah lagi, dunia ini luas dan benda2
semacam itu amat banyak jumlahnya."
Bok Kian yang polos tampak terkesiap mendengar
ucapan pendekar Huru Hara, "Eh, mengapa Loan-heng
mengatakan soal itu ?"
"Engkau seorang pemuda jujur," kata pendekar Huru
Hara, "tetapi ada kalanya orang yang gelap pikiran tak
mengerti bagaimana luhur sifat jujur itu. Tetapi itu bukan
salah Bok-heng melainkan salah orang yang tak tahu
menilai diri Bok-heng.”
"Lon heng, aku tak mengerti maksud ucapanmu,"
akhirnya Bok Kian berkata.
"Sekarang negara sedang dalam bahaya, musuh sudah
menyerang diambang pintu. Segala urusan peribadi, harus
kita hapus. Kita tumpahkan seluruh perhatian dan
pengabdian kita demi negara dan rakyat. Apakah Bok-heng
setuju ?"
"Setuju sekali !" sahut Bok Kian.
"Bagus, Bok-heng, itulah sikap seorang pemuda jantan.
Apalagi urusan wanita.”
"Tak apa," kata pendekar Huru Hara," urusan negara
lebih penting dari urusan peribadi. Kurasa Kakek itu tentu
sanggup menjaga diri. Kalau memang nasibnya harus mati
ditangan barisan Suka Rela, ya apa boleh buat. Tetapi
rasanya barisan Suka Rela itu berfihak kepada kerajaan
Beng.”
Bok Kian mengangguk. Tampak ada sesuatu yang
terkandung dalam pikiran pemuda itu.
"Bok-heng, siapakah Su Hong Liang itu,” tiba2 perdekar
Huru Hara bertanya.
"Dia adalah putera keponakan dari paman Su.”
"Tetapi Bok-heng kan juga putera keponakan dari Su
tayjin juga."
"Ya, aku dari bibi dan dia dari paman Su.”
"Mengapa nona Su tampak lebih mendengar kata Su
Hong Liang daripada engkau ?"
"Ah, sudah selayaknya."
“Sudah selayaknya bagaimana ?"
"Su Hong Liang koko lebih cakap dan lebih pintar. Ing
moay tentu lebih menurut kepadanya.”
"Tetapi rasanya tidak hanya terbatas menurut saja," kata
pendekar Huru Hara, "rupanya nona Su juga menaruh
perhatian kepada Hong Liang."
"Ah," Bok Kian hanya menghela napas.
"Mengapa Bok heng menghela napas ?"
"Ah, tak apa2" kata Bok Kian sambil menengadahkan
kepala memandang langit.
"Bok-heng," kata pendekar Huru Hara, “lihatlah langit
itu. Awan berarak-arak tak menentu, bukan ?"
"Benar."
"Tahukah engkau apa arti awan itu?" tanya pendekar
Huru Hara.
"Tidak."
"Awan itu adalah lambang dari kehidupan manusia.
Hidup manusia itu juga tak menentu. Apakah Bok-heng
tahu bagaimana nasib Bok-heng kelak?"
"Tidak,"
"Demikian pula dengan awan. Awan tak pernah tinggal
dan diam. Selalu bergerak. Demikian ia dengan kehidupan
manusia. Tiada hal yang langgeng, semua akan bergerak,
semua akan berobah. Awanpun tidak selamanya putih, ada
kalanya hitam juga. Pun hidup manusia itu juga begitu ada
kalanya senang, ada kalanya susah."
"Ya, benar kata Loan-heng itu."
“Oleh karena itu Bok-heng," kata pendekar Huru Hara
lebih lanjut," susah senang itu memang sudah menjadi
bagian yang tak mungkin terhindar dari kehidupan
manusia. Maka kita harus menghadapinya dengan tabah.
Apalagi Bok-heng seorang lelaki. Janganlah kita putus asa
apabila kita tak berhasil mendapatkan apa yang kita
inginkan. Kalau jodoh mau kemana. Kalau memang bukan
jodoh, walaupun kita kejar mati-matian juga akan luput."
Engkoh. Hok, lihatlah," tiba2 Ah Liong berseru seraya
menunduk ke sebelah muka.
Ternyata disebelah muka, tampak berjajar kelompok
barisan yang dipimpin oleh seorang lelaki tua berambut
putih. Dikanan kirinya terdapat dua orang imam.
Huru Hara dan kedua kawannya berhenti. "Hai, siapa
kalian bertiga?" seru lelaki berambut putih itu.
Bok Kian maju dan menjawab, "Aku utusan dari mentri
Sa Go Hwat tayjin untuk menemui jenderal Ui Tek Kong."
"O, bagus, bagus!"' seru lelaki tua itu.
"Kenapa?" Bok Kian heran.
"Aku dan rombonganku memang sudah lama rnununggu
kedatanganmu disini."
"Siapa lopeh ini?" tanya Bok Kian.
"Aku adalah utusan dari jenderal Ui Tek Kong untuk
menangkap engkau."
"Mengapa?" Bok Kian terkejut sekali.
"Karena jenderal Ui Tek Kong sudah menyerah pada
pasukan kerajaan Ceng dan dengan begitu tak terikat lagi
dengan mentri kerajaan Beng."
"Benarkah itu?" Bok Kian makin kaget.
"Perlu apa aku harus bohong?"
"Lalu mengapa jenderal Ui menyuruh kalian menangkap
aku?"
"Karena mulai sekarang, engkau adalah musuh," kata
lelaki berambut putih seraya memberi isyarat agar
anakbuahnya segera bergerak.
"Tunggu!" seru Bok Kian.
"Kenapa?"
"Akulah utusan dari mentri Su Go Hwat tayjin. Kalau
mau tangkap, tangkaplah aku kalau kalian mampu. Tetapi
kedua orang ini," ia menunjuk pada Huru Hara dan Ah
Liong, "tiada sangkut pautnya dengan perutusan ini. Harap
jangan mengganggu mereka.
"Itu tergantung dari sikap mereka berdua. Kalau mereka
mau bekerja kepada kerajaan Ceng tentu akan kami sambut
dengan baik. Tetapi kalau mereka bersikap memusuhi, tentu
akan kuhajar.”
"Mau menghajar aku?" tiba2 Ah Liong marah karena
diperlakukan seperti barang saja.
"Bocah cacingan, mau apa engkau bercekak pinggang
begitu?" tegur lelaki berambut putih.
"Aku dan engkoh Hok adalah kawan seperjalanan dari
Bok-heng ini. Mengganggu dia berarti mengganggu aku
juga."
"Ha, ha, ha," lelaki berambut putih itu tertawa gelak2,
"sikapmu seperti jagoan yang hebat saja anak kerempeng.
Apakah engkau kira kami sedang main2? Sekali
anakbuahku bergerak, tulang belulangmu tentu hancur
berantakan."
"Huh, kalau engkau mampu mengalahkan aku, itu sudah
jempol. Dan kalau engkau mampu memenangkan engkoh
Hok ini, engkau adalah manusia yang paling sakti dalam
dunia ini. Aku akan berlutut menjadi muridmu."
"Benarkah omonganmu itu?"
"Aku adalah seorang lelaki. Masakan aku berkata tidak
bertanggung jawab?"
"Li Tik, majulah menangkap bocah gila itu," seru lelaki
berambut putih kepada seorang lelaki bertubuh kekar.
Lelaki bertubuh kekar yang bernama Li Tik itu terus
maju dan langsung menerkam Ah Liong.
"Auhhhhh ……,” entah dengan gerak apa, yang tampak
Ah Liong hanya menyusup kebawah dan tahu2 Li Tik
menjerit kaget dan mendekap pinggang celananya.
Plak, plak ....... Ah Liong menampar pipi kanan dan kiri
Li Tik. Li Tik terseok-seok mundur lalu lari sambil
mendekap pinggang celananya. Sudah tentu sekalian orang
tertawa melihat ulah Li Tik yang aneh.
"Hm, Ah Liong kumat," batin pendekar Huru Hara yang
tahu kalau Ah Liong telah memutus tali celana orang.
"Tangkap bocah liar itu," seru lelaki berambut putih.
Beberapa anakbuahnya segera maju menyerbu. Ah
Liongpun bergerak lari kian kemari. Seorang anakbuah
kawanan penghadang itu disambarnya, diangkat keatas dan
terus dilontarkan kepada kawan-kawanya, brakkkkk.....
Lelaki berambut putih terkejut menyaksi kekuatan Ah
Liong. Walaupun bocah itu bertubuh kurus tetapi ternyata
memiliki tenaga yang hebat sekali. Beberapa anakbuahnya
tak mampu menangkap anak itu bahkan kebalikannya
malah diobrak-abrik oleh anak kuncung itu.
Kedua imam yang menyertai lelaki berambut putih,
tampak kerutkan dahi. Ia mengucapkan berapa patah kata
kepada lelaki berambut putih lalu maju ke muka.
"Hm, bocah kuncung, engkau hebat sekali. Tenagamu
amat kuat," seru imam bertubuh kurus itu, "tetapi
sanggupkah engkau menahan sebuah pukulanku ?"
"Mengapa tidak ?" sahut Ah Liong.
"Bagus, engkau memang jempol," seru ini kurus itu,
"sekarang siaplah."
Ah Liongpun berdiri tegak. Melihat itu pendekar Huru
Hara terkejut. Kalau dalam hal tenaga-luar, Ah Liong
memang boleh diandalkan. Anak itu mampu mengangkat
seekor kerbau, Tetapi dalam asal tenaga-dalam, jelas anak
itu belum berapa tinggi. Diam2 pendekar Huru Hara
mencari akal untuk menolong Ah Liong.
Saat itu si imam kurus sudah mulai menghimpun tenaga
dan pada lain saat sudah mengayunkan tinjunya. Diluar
dugaan gerak pukulan imam itu pelahan saja. Sebelum
pendekar Haru Hara tahu apa yang harus dilakukan, tibatiba
Ah Liong menjerit dan terlontar sampai dua tombak
jauhnya, huakkkkk.....anak itu muntah darah.
Bukan kepalang kejut Huru Hara. Serempak dia lari
menghampiri dan bertanya, "Ah Liong, bagaimana engkau
?"
Ah Liong hanya diam dan meramkan mata. "Ah Liong,
makanlah ini," Huru Hara memberinya sebutir Cian-lian
hay-te-som atau som dari dasar laut yang berumur seribu
tahun. Som ini diperoleh ketika dulu waktu masih menjadi
pendekar Blo'on, dia telah kesasar masuk kedalam laut dan
tiba disebuah kerajaan didasar laut, (baca : Pendekar
Blo'on).
"Beristirahatlah Ah Liong, akan kubereskan imam itu,"
kata Huru Hara lalu menghampiri ke muka imam kurus.
'Bagus, imam kurus," serunya, "engkau telah pemberi
pelajaran yang berguna kepada adikku. Lain kali dia tentu
akan lebih berhati-hati dan giat berlatih tenaga-dalam."
"Ah, anak kacoa semacam itu, masih harus berlatih
sepuluh tahun lagi baru layak berhadapan dengan aku."
'Ya, mungkin benar," kata Huru Hara, "maka sekarang
aku perlu meminta pelajaran dari engkau agar kelak dapat
kuberikan kepada adikku. Bukankah engkau bersedia ?"
Imam kurus itu belum kenal siapa Huru Hara. Yang
dilihatnya, Huru Hara itu seorang pemuda nyentrik.
Pakaiannya seperti seorang pendekar memakai kain
penutup kepala tetapi diberi dua buah lubang. Dan dari
kedua lubang itu menyembul dua untai rambut. Sepintas
seperti tanduk.
"Baik, tentu saja aku tak keberatan untuk memberi
pelajaran kepadamu. Engkau minta pelajaran seperti yang
kuberikan kepada adikmu atau lain macam lagi ?"
"Segala kepandaianmu, kuminta supaya engkau berikan
kepadaku."
"Hus, kalau begitu, aku kan menjadi guru nanti," seru
imam kurus.
"Tidak, tetapi engkau tentu akan merasa bahwa setiap
engkau memberi pelajaran, engkau tentu tak puas dan ingin
memberikan pelajran yang baru lagi."
"Apa-apaan engkau ini. Satu macam pelajaran saja
kiranya sudah cukup."
"Baiklah," sahut Huru Hara," begini kalau dengan satu
macam pelajaran sudah cukup, ya satu macam saja. Tetapi
kalau engkau rasa belum puas, engkau harus memberi
pelajaran yang lain lagi , setuju ?"
"Ya," sahut imam kurus itu," sekarang bersiaplah engkau
untuk menerima pelajaran yang pertama.”
Huru Harapun tegak dihadapan imam kurus. Ia marah
karena Ah Liong terluka maka diapun mengerahkan tenaga
Ji-ih-sin-kang untuk menyambut pukulan si imam.
"Nih, terimalah......" setelah mengepalkan kedua
tinjunya maka imam kurus itupun lalu gerakan tinju
kanannya ke dada Haru Hara. Dess.
Pukulan itu memang tidak mengenai dada. tapi tenagadalam
yang terkandung dalam pulau itulah yang akan
meremukkan pekakas dalam dada Huru Hara.
"Uh ....... ," tiba2 imam kurus itu mendesuh kejut ketika
ia merasa tenaga-dalam yang dilancarkan itu tertolak oleh
suatu gumpalan tenaga-dalam dan mengalir kembali ke
lengan si imam terus langsung menggempur dadanya
sendiri. Dia terpental ke belakang sampai dua langkah.
Dia heran mengapa menderita peristiwa seaneh itu. Jelas
Huru Hara hanya diam saja dan tidak mengadakan gerakan
menangkis atau balas memukul tetapi mengapa tenagadalamnya
terdorong balik kedalam tubuhnya ?
“Bagaimana imam kurus ?" tegur Huru Hara.
"Pelajaran yang kedua akan kuberikan," seru imam kurus
itu seraya gerakkan kedua tangannya mencengkeram
kemuka. Karena tenaga dalamnya berkurang maka dia
gunakan dua buah tangannya untuk meremas.
Tetapi makin dia menggunakan tenaga-dalam yang
besar, reaksi yang dideritanya pun makin besar. Seketika
iman kurus itu menjerit dan terhuyung-huyung beberapa
langkah ke belakang akhirnya jatuh terduduk, blukkkk.....
Wajah imam kurus itu tampak pucat lesi seperti mayat.
Dia pejamkan mata dan berusaha untuk menyalurkan
pernapasan menyembuhkan luka dalam yang dideritanya.
"Hai, imam kurus, mengapa beristirahat ? Tadi kan
engkau berjanji akan memberi pelajaran yang ketiga dan
seterusnya ?" seru Huru Hara.
Namun imam kurus itu diam saja.
-oo0dw0oo-
Jilid 29
Peristiwa yang terjadi pada diri imam kurus telah
menyebabkan lelaki berambut putih dan imam yang lain
berobah wajahnya.
Imam kurus itu bernama It Bin cinjin dari kuil Ong-yabio
di Mongol. Dia memiliki tenaga-dalam Thiat-sin-kang
yang sakti. Mampu menghancurkan batu yang keras.
Dan lelaki berambut putih itu juga hebat, ia tahu kalau
imam kurus menderita luka-dalam yang parah. Maka
diapun segera maju kemuka pendekar Huru Hara.
"Hm, engkau tahu siapa yang engkau lukai ?" tegurnya.
“Mengapa aku perlu tahu?" balas Huru Hara.
"Hm, ketahuilah, dia adalah imam It Bin dari kuil Ongya-
bio di Mongolia. Engkau telah melukainya berarti
engkau menantang pada para imam di Ong-ya-bio," seru
lelaki berambut putih itu.
"Jika karena melukai dia lalu harus mengikat
permusuhan dengan para imam kuil Ong-ya bio, ya apa
boleh buat," sahut Huru Hara, tapi apakah menurut
maksudmu aku tak seharusnya melukai imam kawanmu itu
dan seharusnya aku tak perlu mengurus adikku yang dilukai
iman itu ? Begitukah kehendakmu ?"
"Aku hanya berurusan dengan keponakan mentri Su Go
Hwat, mengapa engkau turut campur ?" seru orang itu.
"Bok kongcu adalah sahabatku. Mengganggu dia sama
dengan mengganggu aku," sahut Huru Hara," tidak puas ?
Silahkan maju menangkap aku.”
Tantangan Huru Hara itu membuat merah muka si
imam yang satunya. Dia terus enjot tubuhnya melayang ke
udara lalu menukik turun seraya merentang kedua
tangannya. Kuku2 pada jari tangannya tampak meregang
tegak seperti cakar tajam.
Huru Hara menghindar dan balas menyerang. Sebelum
imam itu sempat berbalik tubuh, tengkuknya sudah
dicengkeram Huru Hara, terus di lempar kearah lelaki
rambut putih tadi.
"Serbu," setelah menghindar, lelaki berambut putih
memberi komando kepada anak-buahnya.
Bok Kian serentak maju menyongsong mereka.
"Bok- Heng, bereskan mereka, aku yang akan membekuk
benggolannya," seru Huru Hara.
Lelaki berambut putih dan imam yang satu itupun segera
turun tangan menghadapi Huru Hara. Bahkan keduanya
langsung menggunakan senjata. Lelaki berambut putih
menggunakan pedang dan si iman memakai kebut berduri,
yalah kebut yang terbuat daripada kwat baju yang ujungnya
runcing seperti jarum.
"Hm, kedua manusia ini memang sadis sekali," pikir
Huru Hara, "biar kuberinya pelajaran yang pahit."
Dia terus melolos pedang dari kerangka tanduk kerbau
putih. Tatkala kedua lawan dengan permainan yang
dahsyat menaburkan "senjatanya, mereka menjerit kaget
ketika senjata mereka terasa berat dan melekat pada pedang
Huru Hara.
"Uh, uh....." kedua orang itu mendengus panjang pendek
dan berusaha untuk menarik senjatanya. Tetapi sebelum
sempat menarik lebih lanjut mereka menjerit sekeras
kerasnya, "Hai, celaka......"
Senjata dilepas dan kedua orang itu cepat mdekap
pinggang celananya. Apa yang terjadi ?
Teinyata Ah Liong mulai beraksi. Dia segerra sembuh
dari lukanya setelah makan som dari bawah laut pemberian
Huru Hara. Dia ingin melakukan pembalasan dengan
sepuas-puasnya. Maka pada saat kedua orang itu sedang
menarik senjatanya yang melekat pada pedang Huru Hara,
secepat kilat Ah Liongpun sudah turun tangan mengerjain
mereka......
Pada saat kedua orang itu mendekap pinggang celana,
Ah Liong menarik baju mereka sekuat-kuatnya,
bratttt......kini lelaki berambut putih dan imam itu robek
bajunya sehingga tampak celananya. Sudah tentu kedua
orang itu makin bingung. Tangan kiri masih mendekap.
pinggang celana, tangan kanan mendekap bajunya yang
robek agar jangan terlepas ....
Ah Liong masih belum puas. Ia menampar dan menabok
kepala kedua orang itu sekeras-kerasnya sehingga mereka
menjerit-jerit kesakitan. Masih Ah Liong belum puas. Dia
mencabut pisau belati dari pinggang lelaki berambut putih
itu terus menggunduli kedua orang itu.
Memang sepintas agak berlebihan cerita ini, tetapi harus
diingat bahwa Ah Liong mengerti ilmusilat dan dia
memiliki gerakan yang cepat, misalnya, dengan supit dia
dapat menangkap nyamuk. Maka dalam menggunduli
rambut kedua orang itu, gerakannya dilakukan dengan
teramat cepatnya, Apalagi pisau itu memang amat tajam.
Sebelum kedua orang itu sempat berbuat apa2, mereka
sudah menjadi paderi kepala gundul.
Kedua lelaki berambut putih dan imam itu termangumangu
heran. Mereka memiliki kepandaian silat yang tinggi
tetapi mengapa berhadapan dengan seorang pemuda
nyentrik dan seorang bocah kuncung mereka tak dapat
berbuat suatu apa dan bahkan dijadikan bulan-bulan
permainan oleh bocah kuncung itu ?
Sementara kawanan anakbuah yang berhadapan dengan
Bok Kian pun pontang panting dihajar pemuda itu.
Akhirnya dalam keadaan menderita kekalahan yang amat
memalukan dan menjengkelkan kawanan penghadang
itupun segera melarikan diri.
"Engkoh Hok. bagaimana dengan imam kurus itu ?" seru
Ah Liong.
"Sudahlah, biarkan saja. Dia cukup menderi luka parah,"
kata Huru Hara. Dia segera mengajak Bok Kian dan An
Liong melanjutkan perlanan lagi.
"Loan-heng, benarkah mereka itu orang2 dari jenderal Ui
Tek Kong ?" tanya Bok Kian.
"Mungkin saja," sahut Huru Hara.
"Wah kalau begitu berbahaya apabila kita menghadap
jenderal itu."
"Aku hanya menduga, belum tentu pasti begitu. Kita
harus tetap menghadap jenderal itu.
Demikian mereka tertiga melanjutkan perjalanan. Pada
hari itu mereka telah memasuki daerah Shoa-tang dan
langsung mereka menuju ibukota tempat markas jenderal
Ui Tek Kong.
Tetapi baru beberapa saat menginjak wilayah Shoa-tang,
mereka sudah dikepung oleh sekelompok barisan Ceng
yang dipimpin oleh seorang perwira.
"Hai siapa kalian, kunyuk2hutan ini ?" teriak perwira
Ceng itu dengan garang.
"Babi engkau," balas Ah Liong yang dimaki sebagai
kunyuk hutan.
"Eh, bangsat cilik, engkau berani menghina seorang
perwira Ceng ?"
"Tak peduli engkau ini perwira Ceng atau Beng atau
setan alas, pokoknya barangsiapa yang menghina aku, tentu
akan kumaki-maki sepuas hatiku," seru Ah Liong.
"Siapa kalian ini ?" perwira itu beralih perhatian kepada
Bok Kian yang dianggap paling genah diantara ketiga orang
itu.
"Aku hendak kedalam kota," sahut Bok Kian yang jujur.
"Ho, apa engkau tak tahu bahwa kota telah kami kepung
?"
"Oh. Jadi kota sudah jatuh ketangan pasukan Ceng?"
Bok Kian terkejut.
"Jatuh itu hanya soal wiktu saja. Esok entah lusa tentu
jatuh ketangan kami," kata perwira Ceng itu dengan
bangga.
"Hm,” dengus Huru Hara.
"Maka lebih baik kalian jangan masuk kedalam kota dan
ikut kami saja," kata perwira Ceng lebih lanjut.
Sebelum Bok Kian menyahut, Huru Hara sudah
mendahului, "Siapa pemimpin pasukan kerajaan Ceng yang
menyerang Shoa-tang ?"
"Pangeran Barbak," sahut perwira itu.
"O, si Barbak !" tiba2 Ah Liong berseru.
Perwira itu terkejut dan membentak, "Hus bangsat cilik,
apa engkau kenal dengan pangeran barbak ?"
"Barbak ?" seru Ah Liong.
"Ya."
"Barbak kan pimpinanmu ?"
"Ya, Apa engkau kenal ?"
"Siapa bilang kenal?"
"Mengapa engkau menyebut namanya begitu saja.?"
"Habis, siapa sih namanya kalau bukan si barbak ?"
Sudah tentu perwira itu amat marah. Diayunkan
cambuknya kearah kepala Ah Liong, tetapi dengan lincah
Ah Liong menghindar. Perwira makin penasaran. Dia
menghajar lebih ngotot.
Setelah berloncatan menghindar, tiba2 Ah Liong
menyambar ujung cambuk si perwira dan terus menariknya.
Perwira itu naik kuda. Dia mengira enak saja menghajar
seorang anak laki kurus. Siapa tahu sampai beberapa saat
dia tak mampu mengenai tubuh anak itu. Dan ketika ia
makin penasaran, ujung cambuknya telah disambar dan
ditarik anak itu.
"Uhhhhh," ia menjerit kaget ketika ia merasa tenaga
bocah kuncung itu sekuat kerbau. Dia hendak bertahan
tetapi sudah terlambat, blukk……… jatuhlah dia ke tanah.
Dan sebelum dia sempat berbangkit, tangannya sebelah
kanan sudah ditelikung ke belakang oleh Ah Liong,
"Auhhhl ……… perwira itu menjerit tertahan.
Melihat itu kawanan prajurit Ceng terus hendak
menyerbu tetapi Ah Liong berteriak, "Berhenti! Kalau
berani maju pemimpinmu ini tentu kubunuh," cepat Ah
Liong mencabut pedang perwira itu dan dilekatkan ke
lehernya.
Kelompok barisan prajurit Ceng itu terdiri dari lima
puluh orang. Sebenarnya mereka sedang bertugas untuk
meronda sekeliling kota. Agar jangan sampai orang masuk
kedalam kota dan menangkap orang yang hendak
meloloskan diri dari dalam kota.
Berpuluh prajurit Ceng itu kesima menyaksikan peristiwa
yang tak dinyana-nyana. Hampir mereka tak percaya bahwa
perwira mereka yang termasyhur gagah berani dalam
peperangan, dengan mudah dapat diringkus oleh seorang
bocah yang rambutnya kuncung.
Dan lebih terkejut pula ketika mereka hendak maju
menyerang ternyata dengan ketangkasan yang luar biasa,
bocah itu sudah mencabut dan melekatkan pedang si
perwira ke lehernya. Kawan prajurit itu benar2 mati kutu.
Seorang prajurit yang penasaran masih melanjutkan
langkahnya maju tetapi pada saat itu terdengar si perwira
menjerit, "aduh....." lehernyapun mengalirkan darah.
"Berhenti,” teriak perwira itu dengan tegang.
Prajurit itu terpaksa berhenti. Namun dia heran mengapa
ditelikung oleh seorang bocah kuncung, perwira itu tak
mampu berkutik. Memang prajurit itu tak tahu bahwa Ah
Liong memiliki tenaga sebesar kerbau.
"Hayo, lemparkan senjata kalian semua !" riak Ah Liong
dengan garang.
Berpuluh prajurit Ceng terbeliak dan saling tukar
pandang.
"Eh, tidak mau ya ?" seru Ah Liong dan
“Aduhhhh………,” tiba2 perwira iiu berteriak kesakitan
karena ujung pedang Ah Liong menyusup ke lehernya.
"Lemparkan senjata kalian !" teriak perwira itu.
Prajurit2 Ceng itu meragu. Apakah dengan begitu
mereka harus menyerah kepada seorang bocah kuncung
saja ? Mengapa perwira mereka begitu tak becus ?
"Lekas !" kembali perwira itu berteriak karena Ah Liong
menekankan pedang lebih dalam ke lehernya.
Dalam keadaan seperti itu terpaksa kawanan prajurit itu
melemparkan senjata mereka.
"Engkoh Bok, tolong ikat mereka semua," kembali Ah
Liong berteriak memberi komando.
Entah bagaimana Bok Kianpun menurut saja, Ah
Liongpun minta agar perwira itu juga diikat tangannya.
"Engkoh Bok lucuti pakaian mereka," kembali Ah Liong
berseru dan dia sendiripun terus melucuti pakaian si
perwira. Setelah itu mencukur rambutnya. Demikian dalam
waktu yang singkat kelimapuluh prajurit yang semula
begitu garang, kini menjadi seperti seorang paderi yang
berkepala gundul dan hanya pakai celana dalam.
"Pergilah !" seru Ah Liong. Perwira dan kelimapuluh
anakbuahnya itupun segera ngeloyor pergi. Tangan mereka
masih terikat. Mereka berhenti disebuah hutan dan saling
membuka tali ikatannya.
"Celaka," seru si perwira, "dalam keadaan begini, kalau
kita kembali ke markas, panglima Barbak tentu marah dan
tak mau memberi ampun kepada kita lagi."
"Lalu bagaimana ?" tanya prajurit2.
"Untuk sementara waktu lebih baik kita sembunyi di
hutan saja. Tunggu sampai nanti keadaan sudah berobah
baru kita pertimbangkan lagi cara untuk bergabung diri
dengan induk pasukan." kata siperwira.
Sedangkan saat itu Ah Liong dan Huru Hara pun sedang
berunding.
"Ah Liong, wah. lagakmu seperti seorang jenderal saja,
ya, ya ?" tegur Huru Hara.
"Habis, bukankah dulu sudah pernah kukatakan kalau
engkoh jadi panglima akupun akan menjadi jenderal kecil.
Sekarang engkoh dapat membuktikan apakah aku layak
menjadi jenderal kecil atau tidak?"
"Hm, jangan bermulut besar dulu," seru Huru Hara,"
masih banyak peristiwa2 yang jauh lebih besar dan hebat
dari ini. Bukankah saat ini kita sedang hidup dalam jaman
haru hura dan perang ?"
"Benar, Loan-heng," Bok Kian ikut buka mulut,
"memang dalam suasana yang tak menentu ini segala
kemungkinan dapat terjadi."
"Hai, Liong, mengapa engkau suruh melucuti pakaian
kawanan prajurit Ceng itu ?" seru Huru Hara pula.
"Ada gunanya, engkoh Hok," sahut Ah Liong, "kita
nanti suruh anakbuah kita menyaru jadi prajurit Ceng untuk
menipu mereka."
"Hm, boleh juga engkau," seru Huru Hara tetapi jangan
lupa, panglima Barbak itu juga pandai. Masakan dapat
ditipu oleh seorang bocah yang masih kuncung."
"Eh, jangan menghina bocah kuncung, engkoh Hok,"
sahut Ah Liong, "lihat saja nanti."
'Loan-heng," kata Bok Kiang, "rasanya kota sudah
dikepung musuh. Untuk menemui jenderal Ui tentu sukar.
Bagaimana tindakan kita ?"
"Aku memang sedang memikirkan hal itu Bok-heng,"
jawab Huru Hara, "dan rasanya memang sulit. Pintu kota
tentu tertutup rapat dan pasukan jenderal Ui tentu menjaga
pintu kota dengan ketat. Kemungkinan diatas pintu kota
tentu disiapkan barisan pemanah untuk menghalau apabila
musuh berani mendekati pintu."
'Ya, kemungkinan begitu, Bok Kian menyetujui.
"Ada sebuah jalan." kata Huru Hara, "tetapi cara itu
memang sukar dan kemungkinan dapat berhasil atau tidak,
tergantung dari keadaan.
“O, harap Loan-heng suka mengatakan apa yang
menjadi rencana Loan-heng itu,” Bok Kian meminta.
Tidak memberi keterangan kepada Bok Kian,
kebalikannya Huru Hara malah bertanya kepada Ah Liong,
"Ah Liong, pernahkah engkau menangkap ular?"
"Ular ? Ya, pernah."
"Kalau menangkap ular bagaimana cara yang terbaik?"
"Tangkap kepalanya dan pijat angsang dibawah leher,
ular itu tentu kehilangan tenaga,"
"Bagus," seru Huru Hara, "menangkap ular harus
menangkap kepalanya dulu, bukan ? Nah, rencanaku untuk
melepaskan kota ini dari kepungan pasukan kerajaan Ceng
yalah juga begitu. Kita harus membekuk kapalanya,
panglima Barbak."
Bok Kian terbeliak. "Tetapi untuk mendekati markas
mereka saja sukar, apalagi hendak menangkap panglima
itu."
"Itulah Bok-heng," seru Huru Hara, "justeru kesukaran
itulah letak seninya. Setiap hal yang sukar tentu
mengandung seni. Tetapi kalau mudah, itu bukan seni
namanya. Demikian dengan keadaan yang sedang kita
hadapi saat ini. Kalau kita mampu membekuk Barbak, itu
seni besar.
"Tetapi Loan-heng," kata Bok Kian, "ini bukan mainmain,
kalau tertangkap kita tentu akan dihukum."
"Ya," kata Huru Hara. "sekarang kita terpaksa
beristirahat dulu. Tunggu setelah malam hari, baru kita
nanti bekerja."
Kucing - kucingan
Propinsi Shoa-tang terletak di pesisir timur. Daerah yang
menjurus ke laut berbentuk sebuah jaz'rah yang
memisahkan laut Pok-hay dengan laut Hong-hay.
Shoa-tang terletak disebelah selatan dari pro pinsi
Hopak. Disebelah barat dari Shoa-tang adalah propinsi Sanse,
Dan disebelah selatan dari Shoa-tang adalah propinsi
Kiangsu.
Kotaraja Pak-kin yang sekarang sudah diduduki pasukan
Ceng dan telah diproklamirkan sebagai kotaraja kerajaan
Ceng, terletak di propinsi Hopak. Dan kota Lam-kia yang
sekarang dijadikan kotaraja dari kerajaan Beng terletak di
propinsi Kiangsu. Dengan demikian apabila pasukan Ceng
hendak menyerang kotaraja Lam-kia, terlebih dulu harus
melalui Shoatang.
Dengan begitu Shoa-tang dan Sanse, terutama Shoatang,
merupakan pintu masuk ke Lam-kia apabila pasukan
kerajaan Ceng hendak melanjutkan serangannya untuk
menghancurkan kerajaan Beng.
Itulah sebabnya maka mentri pertahanan Su Go Hwat
menempatkan jenderal Ui Tek Kong di Shoa-tang. Mentri
itu tahu bahwa jenderal Ui Tek Kong setya dan berani.
Sedangkan yang ditaruh di propinsi Sanse adalah jenderal
Co Liang Ciok. Justeru jenderal inilah yang marah karena
muak melihat tingkah laku para mentri terutama mentri tayhaksu
Ma Su Ing yang tidak becus, korup dan sewenangwenang.
Co Liang Cok hendak membawa pasukannya untuk
melakukan pembersihan ke kotaraja Lam-kia. Tetapi oleh
Ma Su Ing, tindakan jenderal itu dianggap sebagai
memberontak maka dia minta kepada mentri pertahan Su
Go Hwat untuk menindak jenderal itu.
Bermula mentri penahanan Su Go Hwat hendak
mengajak pasukan jenderal Ui Tek Kong bersama
membereskan jenderal Lau. 'Tetapi karena pasukan Ceng
mulai bergerak keselatan menyerang Soa-tang maka mentri
pertahanan Su membatalkan rencananya.
Bermula mentri Su mengirim Bok Kian untuk
menyampaikan perintahnya agar jenderal Ui siapkan
pasukannya untuk diajak menghukum jenderal Lau. Tetapi
ketika mendengar kabar bahwa pasukan Ceng menyerang
Shoa-tang, mentri pertahanan Su bergegas membatalkan
perintah yang pertama. Dia menyuruh puterinva, Su Tiau
Ing, untuk menyusuli surat agar jenderal Ui kerahkan
pasukannya untuk mempertahankan Shoa tang. Soal
ajakannya kepada jenderal Ui untuk menghukum jenderal
Lau, dibatalkan.
Itulah sebabnya maka Bok Kian yang baru pulang
mengantar surat kepada jenderal Ui, ditengah jalan telah
berpapasan dengan Su Tiau Ing yang sedang menuju ke
Shoa-tang untuk menyampaikan surat kepada jenderal Ui.
Sayang karena mendengar kata Su Hong Liang yang pintar
bicara, Su Tiau Ing tak mau mengantar surat kepada
jenderal Ui. Untung Bok Kian mau mewakili untuk
mengantarkan surat itu lagi kepada jenderal Ui.
Demikian peristiwa yang terjadi selama ini. Dan kini
bersama pendekar Huru Hara dan Ah Liong maka Bok
Kianpun menuju ke Shoa-tang.
Agar lebih jelas bagaimana jalan cerita perjuangan
pendekar Huru Hara, Ah Liong dan Bok Kian dalam
membantu jenderal Ui menghadapi serangan pasukan Ceng
yang besar, baiklah kami hidangkan dulu tentang keadaan
propinsi Shoa-tang.
Peperangan antara kerajaan Boan Ceng atau Boan-ciu
melawan kerajaan Beng, memakan waktu yang lama.
Setelah pasukan Ceng berhasil menduduki kotaraja Pak-kia
(Peking) dan kerajaan Beng hijrah ke selatan di kota Lamkia
(Nanking), pasukan Ceng masih mengejar terus dan
berhasil menghalau sisa2 kerajaan Beng dari kota Lam kia.
Setelah Lam-kia. jatuh, kerajaan Beng lari lagi dan pindah
makin keselatan di propinsi Hok ciu.
Dalam peperangan yang panjang itu banyak sekali terjadi
peristiwa2 besar dan aneh dan timbul tenggelamnya
pahlawan2 pendekar yang berjuang membela negara,
disamping munculnya penghianat2 bangsa yang membantu
musuh.
Dalam kancah peperangan yang lama dan dahsyat itulah
pendekar Huru Hara yang sebenarnya adalah si Blo'on Kim
Yu Yong putera pendekar besar Kim Thian Cong, muncul.
Dia bersama-sama dengan manusia2 aneh dan lucu, akan
tampil di percaturan peperangan. Huru Hara selalu
menyibukkan diri dalam peperangan. Walaupun secara
resmi dia tak mau menjabat pangkat di pemerintahan sipil
maupun militer, tetapi peranannya amat besar dalam
membantu kerajaan Beng menghadapi musuh. Adalah
karena kesibukan2 itu maka rencana para tokoh ketua
persilatan untuk mencarikan jodoh kepada Blo'on hampir
tak ada kedapatan lagi. Namun bagaimanapun juga,
pencarian gadis yang tepat sebagai jodoh Blo'on terus
berjalan.
Untuk lebih dapat menikmati cerita ini dengan jelas
maka akan kami tuturkan tentang keadaan propinsi Shoatang
agar dapat mengikuti jalannya peperangan lebih
berkesan.
Ibukota propinsi Shoa-tang banyak potensi kekayaan
alam dan tempat2 yang indah, antara lain telaga Po-to,
telaga Tay-beng dan gunung Cian-hud-san yang terkenal.
Cian-hud-san artinya gunung Seribu-dewa. Juga dipesisir
selatan yang berbatas dengan laut Pak-hay. banyak sekali
pemandangan yang indah dan kaya akan hasil ikan,
Ada lagi sebuah gunung termasyhur yalah gunung Thaysan,
salah satu dari lima buah gunung terbesar di negara
Tiong-goan. Sedangkan dijazirah Ceng-hay, bagian selatan
dari Shoa-tan terdapat gunung Lo-san.
Serangan pasukan Ceng dilakukan dengan rapih dan
cepat sehingga dalam waktu singkat dapat memasuki
wilayah Shoa-tang dan saat itu ibukota Ce-lam sedang
dikepung oleh pasukan Ceng yang dipimpin oleh Barbak,
seorang pangeran yang masih dekat (keluarga) dengan
panglima besar Torgun.
Malampun tiba dan Huru Hara berunding dengan Bok
Kian cara bagaimana untuk bertindak malam itu.
"Kita harus menyerbu markas besar tentara Ceng," kata
Huru Hara, ''kalau dapat, kita culik panglima Barbak dan
memaksanya supaya memerintahkan pasukannya ditarik
mundur dari Ce-lam.
Bok Kian mengangguk, "Tetapi apakah tidak berbahaya
memasuki markas mereka ?
"Bok-heng," kata Huru Hara, "saat ini kita memang
sedang berada dalam bahaya. Kita bergerak atau tidak,
sama saja. Bahaya itu tetap akan mengancam kita."
"Ah Liong, dimana pakaian seragam prajurit Ceng itu ?"
tanyanya kepada Ah Liong.
"Ada, kubungkus jadi satu," kata Ah Liong.
"Berikan satu saja kepadaku," kata Huru Hara. Tak
berapa lama Ah Liongpun menyerahkan seperangkat
pakaian seragam prajurit Ceng kepada Huru Hara.
"Ah Liong, engkau jadi setan malam ini !" Sudah tentu
Ah Liong terkejut mendengar kata Huru Hara itu, "Jidi
setan?" ia menegas.
"Ya. jadilah setan," kata Huru Hara, "engkau harus
melumuri mukamu dengan arang hitam.”
"Wah, susah. Dimana aku dapat mencari orang hitam ?"
"Carilah ke rumah penduduk, lekas!" seru Huru Hara.
Ah Liong terus berangkat.
"Dan Bok-heng supaya menyaru sebagai seorang prajurit
Ceng," kata Huru Hara. Bok Kian pun melakukan perintah.
Tak lama kemudian muncullah Ah-Liong. Melihat anak
itu Huru Hara dan Bok Kian tertawa geli. Muka Ah Liong
berobah hitam, demikian pakaiannya.
"Hai, Ah Liong, dari mana engkau memperoleh pakaian
hitam itu ?" tegur Huru Hara.
"Aku masuk kedalam rumah seorang penduduk yang
kosong. Selain orang akupun menemukan pakaian kain
hitam yang sudah compang-camping. Orangnya sih tidak
ada maka kuambil dan kupakailah pakaian itu. Engkoh
Hok, apakah aku sudah mirip dengan setan ?"
"Ya,"
"Lalu bagaimana aku harus bertindak?”
"Engkau harus menggoda prajurit yang menjaga pintu
markas musuh. Kalau mereka tidak menggubris barulah
Bok-heng muncul dan mengatakan supaya penjaga itu mau
diajak untuk menolong kawan-kawannya yang diserang
oleh musuh dan banyak yang menderita luka parah atau
mati. Nah, apabila prajurit penjaga itu sudah pergi,
bereskanlah dia. Sedang aku hendak menyelundup masuk
kedalam markas , untuk mencari Barbak.”
"Wah, genting sekali pekerjaan ini," seru Ah Liong, "aku
harus jadi setan yang menggoda prajurit2 penjaga supaya
mengejar aku. Tetapi engkoh Hok, bagaimana ya, tingkah
laku setan itu supaya menarik perhatian orang ?
"Apa saja sih," Huru Hara berkata, "engkau boleh
bercuwat-cuwit, boleh jumpalitan, boleh berlari-lari. Dan
kalau perlu boleh juga engkau seret mereka....."
"U, bagus, bagus," teriak Ah Liong. Tiba2 saja dia ingat
akan kegemarannya.
"Loan-heng, setelah pekerjaan selesai, lalu dimana kita
akan berkumpul ?" tanya Bok Kian.
"Waktu kita menuju ke kota ini, kita melalui sebuah
telaga. Telaga apa itu namanya ?" Huru Hara balas
bertanya.
"Telaga Po-to," sahut Bok Kian.
"Nah, disitulah kita nanti berkumpul,” kata Huru Hara.
"Lalu aku kemana engkoh Hok ?" sela Ah Liong.
"Ikutlah pada Bok-heng."
"Ah. aku ikut engkau saja, engkoh Hok."
"Hus, berbahaya. Masuk kedalam markas besar seorang
panglima pasukan, seperti masuk dalam sarang harimau,
tahu ?"
"Tetapi aku kan sudah jadi setan ?"
Mau tak mau Huru Hara tertawa, "Ya, setan gadungan.
Engkau tentu akan ditangkap oleh kawanan penjaga.
Sudahlah, Ah Liong, turutlah perintahku," kata Huru Hara,
"bukankah engkau hendak merjadi jenderal kecil? Uh. tidak
mudah jadi jenderal itu. Harus berani menderita
gemblengan yang keras. Kalau perlu harus tahan di siksa.
Apalagi hanya jadi setan gadungan, itu sih mending."
"Wah, apakah jadi jenderal itu syaratnya harus mau
menjadi setan gadungan?" tanya Ah-Liong polos.
"Tidak," kata Huru Hara, "hal itu tergantung dari
keadaan. Pokoknya, seorang jenderal itu benar2 seorang
yang sudah penuh mengalani gemblengan yang matang dan
pengalaman yang luas. Sudahlah, lekas engkau berangkat !"
Terhadap Huru Hara. Ah Liong memang taat. Dia terus
berangkat.
"Bok-heng, mari kita ikuti anak itu, kata Huru Hara.
Keduanya segera mengikuti perjalanan Ah Liong.
Sebenarnya siangnya Ah Liong sudah diajar Bok Kian
dan Huru Hara melihat markas pasukan Ceng. Tetapi
karena markas itu dijaga ketat, mereka hanya melihat dari
kejauhan saja. Bagaimana keadaan dan letak yang
sebenarnya dari markas itu, Ah Liong belum tahu jelas.
Namun karena taat kepada perintah Huru Hara, Ah Liong
pun nekad.
Dengan berjalan berindap - indap diantara bayang2 yang
gelap, perlahan-lahan Ah Liong menghampiri kesebuah
pesanggrahan yang besar. Sekeliling pesanggrahan itu
dipagari dengan kawat berduri. Pintu besar pesanggrahan
itu dijaga oleh enam orang prajurit bersenjata yang berjalan
mundar-mandir kian kemari.
"Wah, bagaimana ya cara untuk menggoda mereka ?" Ah
Liong menimang dalam hati, "kalau langsung muncul saja,
tentu mereka akan kaget dan akan tetap menjaga di pintu.
Lebih baik kupancingnya supaya mereka bingung.
Habis berpikir, Ah Liong terus bersuit. Tetapi tepat pada
saat itu dari lain arah terdengar suara orang tertawa
mengguguk seperti setan merintih. Ah Liong terkejut,
“Celaka, aku jadi setan, nyata ada setan sesungguhnya....."
“Suara apa itu ?" seru salah seorang prajurit jaga kepada
kawan-kawannya.
"Seperti orang bersuit tetapi mengapa seperti juga orang
merintih-rintih ?” sahut kawannya.
"Awas, mungkin ada musuh yang hendak menyerang
markas ini," kata kawannya yang lain.
Sementara Ah Liong mendapat pikiran, "Setan itu tentu
tidak bersuit tetapi harus menangis, buktinya, setan yang
sesungguhnya itu juga merintih-rintih. Kalau begitu aku
harus menangis
"Hi, hi, hi….hi, hi, hilikkkk…..-," Ah Liong mulai
menangis.
Tepat pada saat itu terdengar suara orang tertawa
meloroh, "Ho, ho, ho, hooooo......"
“Celaka," teriak kawanan prajurit penjaga itu, "ini orang
atau setan ?"
Jika kawanan penjaga itu terkejut, Ah Liong sendiri juga
kaget, "Ah, celaka setan itu. Aku menirukan menangis, dia
tertawa. Nah, awas lu, aku mau tertawa juga !"
"Hu, hu, hu, ha, ha, ha, hl, hi, hikkkk . .. Ah Liong
lantas tertawa.
Serempak terdengar suara orang menirukan lolong
serigala, "Auuuuu.... auuuuu....."
Kawanan penjaga terkejut, "Ah, rupanya ada orang yang
sengaja menggoda kita," kata salah seorang.
"Engkau dan dia ke sana dan aku dengan Lo Sun ke
gerumbul itu," kata seorang penjagal Dari enam penjaga,
yang empat menghampiri kearah suara itu. Yang dua
menuju ke timur, yang dua menghampiri ke gerumbul barat
tempat Ah Liong bersembunyi.
Kedua prajurit yang menghampiri ketempat Ah Liong
bersembunyi, sambil menghunus senjata menuju kearah
gerumbul, "Hai, siapa yang bersuaraterus? Setan atau
manusia ?"
"Setan ....!" karena gugup Ah Liong menjerit. Kalau
mengaku manusia tentu akan diserbu maka ia harus
mengaku sebagai setan, pikirnya.
Kedua prajurit itu terkejut dan saling berpandangan.
Salah seorang kembali berseru untuk menegas, "Hai, kamu.
manusia atau setan ?"
"Setan-!" teriak Ah Liong.
"Setan atau manusia ?"
"Manusia !"
"Manusia atau setan ?"
"Setan !" teriak Ah Liong yang tanpa sadar kontan
menjawab menurut pertanyaan yang terakhir. Kalau yang
terakhir setan, dia menjawab setan. Kalau yang terakhir
manusia, ia menjawab manusia.
"Kurang ajar, engkau manusia, ya !" teriak rajurit.
"Bukan, aku setan !" jawab Ah Liong,
"Coba kalau setan, engkau unjukkan diri," tiba2 prajurit
itu mendapat akal untuk memancing orang.
Ah Liong terhanyut oleh permintaan orang. Dia harus
membuktikan diri kalau benar2 seorang setan. Maka tanpa
banyak pikir lagi, dia terus loncat keluar dari gerumbul dan
menarik sudut mulutnya dengan kedua tangan agar
terentang lebar dan deliki mata kearah kedua prajurit itu.
Memang kedua prajurit itu terkejut ketika melihat
sesosok tubuh manusia kecil yang bermuka hitam dan
berpakaian compang camping warna hitam . .
" Setan......" seru salah seorang prajurit terus hendak lari
tetapi kawannya cepat menarik! lengan orang itu," jangan
takut, dia bukan setan. Mari kita serang !" — prajurit itu
terus menerjang
Ah Liong terkejut, "Hai, mengapa engkau tidak takut ?"
serunya. Dan karena diserang di terus lari.
Kedua prajurit itu penasaran. Dikejarnya Ah Liong.
Keduanya marah karena merasa dipermainkan sehingga
lupalah mereka akan perintah atasannya bahwa apapun
yang terjadi penjaga pintu pesanggrahan tak boleh
meninggalkan pos penjagaannya.
Setelah sampai ditempat yang sepi dan jauh dari
pesanggrahan, Ah Liong berhenti dan bercekak pinggang,
"Hai mau apa kalian mengejar aku. Aku kan setan,
mengapa kalian berani melawan aku ?"
Kedua prajurit itu tak mau meladeni ocehan Ah Liong.
Mereka terus menyerang. Tetapi Ah Liong berlari-lari
mengelilingi mereka dengan gerak yang secepat setan.
"Celaka," pikir kedua prajurit itu, "kalau manusia tak
begini pesat gerakannya. Apakah benar2 setan?"
Tetapi keraguan mereka sudah terlambat. Ketika mereka
hendak menghentikan serangannya, tiba2 mereka menjerit
kaget. “Uuhhhh......" cepat2 keduanya mendekap pinggang
celananya.
"Ha, ha. prajurit Ceng, prajurit bayaran.
Pakai celana saja kedodoran
Tali celana putus gelagapan
Prajurit macam apa begituan Tahunya makan dan minta
bayaran . .
sambil menari-nari, Ah Liong bernyanyi mengejek kedua
prajurit itu kebingungan.
"Bajingan, mampus lu . . . !" marah karena di ejek kedua
prajurit itu terus maju menyerang tanpa menghiraukan tali
celananya yang putus lagi.
"Bagus, hayo kejarlah aku," seru Ah Liong. Kedua
prajurit itu mengejar. Tetapi karena celana dalamnya
melorot lama kelamaan mereka merasa risih juga.
"Lho, kenapa berhenti?" Ah Liong juga berhenti dan
menegur.
Kedua prajurit itu tak mau menjawab. Pikirnya setan
kecil itu terpisah beberapa tombak, tentulah tak mungkin
akan menyerang. Maka merekapun meletakkan senjatanya
dan terus membuka celana untuk membenahi tali kolor
celana-dalamnya.
Tiba2 sesosok bayangan kecil hitam melesat kearah
mereka dan, plok…. plok..... aduh….. aduh …duh ....
kedua prajurit itu menjerit kesakitan karena muka mereka
ditampar sekeras kerasnya oleh Ah Liong. Ketika tanpa
sadar mereka mendekap muka, tahu2 kepala merek ditarik
ke belakang "…… aduhhhhh”, ternyata kuncir mereka
ditarik sekuat-kuatnya. Begitu kuat tarikan itu sampai
kucirnya jebol. Bayangkan saja bagai mana rasanya rambut
yang ditarik sampai jebol itu. Kedua, prajurit itu meraungraung
seperti anjing melolong ditengang malam . …. ..
Ah Liong tak mau kepalang tanggung. Kedua prajurit itu
diringkus dan diikat pada sebatang pohon.
"Beres," katanya lalu kembali menuju ke markas pasukan
Ceng.
Dia terkejut karena melihat pesanggrahan itu timbul
kebakaran. Prajurit2 berhamburan dan berteriak-teriak, lari
kian kemari.
"Ha», setan . . . . !' teriak sekawan prajurit yang lari
keluar dan melihat Ah Liong berada di pintu.
"Ya, aku memang setan." seru Ah Liong seraya maju
menerjang kawanan prajurit itu. Prajurit2 itu hebis
menderita kejut kerena pesanggrahan terbakar. Kini mereka
makin kejut lagi ketika melihat seorang minusia pendek
bermuka hitam berpakaian compang camping warna hitam.
Mereka kaget. Ketika Ah Long maju menghampiri, mereka
terus lari.
Ah Liong gemas. Sudah kepalang tanggung, dia terus
menerjang masuk kedalam pesanggrahan seraya berteriakteriak,
"Aku setan ., ,. aku setan ..,.”
Ternyata dalam pesanggrahan itu memang timbul
kegemparan. Bersamaan waktunya pada saat dua orang
penjaga tadi mengejar Ah Liong, ada dua orang penjaga
lain yang menghampiri suara yang berasal dari arah timur.
Ternyata kedua prajurit itu jugamelikat seorang mahluk
aneh. Bertubuh pendek, berjanggut putih dan bermuka
hitam.
"Hai, setan cebol, engkau manusia atau setan ?" tegur
kedua prajurit itu.
"Setan," sahut lelaki tua pendek itu. "Kurang ajar, setan
masakan mengaku setan. Dia tentu manusia, hayo kita
ringkus," kata salah seorang prajurit. Kedua prajurit itu
terus maju.
Setan cabol itu lari, "Hayo, kejarlah aku kalau kalian
mampu....."
Seperti halnya Ah Liong. setan cebol itu pun memiliki
ilmu lari cepat yang luar biasa. Bagaimana pun kedua
prajurit itu hendak mengejarnya tetap tak mampu
menangkap setan cebol itu. Mereka lari sampai tiba di
sebuah hatan dan tahu2 setan cebol itu menghilang.
Mendadak dua orang prajurit yang masih menjaga di
pintu pesanggrahan melihat seorang setan cebol muncul
dan terus menyerang mereka. Kedua prajurit itu hendak
melawan tetapi dalam waktu yang amat singkat sekali
mereka sudah dibikin tak berdaya.
"Tunggu !" tiba2 seorang pemuda lari menghampiri setan
cebol itu.
"Hai, engkau.....!" teriak setan cebol itu seraya memeluk
pemuda pendatang itu.
"Hus, siapa engkau !" teriak pemuda itu seraya menyiak
tubuh orang.
"Gila engkau. Masakan engkau tak kenal padaku? Aku
kan pamanmu Cian-li-ji," seru setan cebol itu.
"Ahhhhhh ………,” pemuda itu yang tak lain adalah
peadekar Huru Hara segera memeluknya.
"Loan-heng, mengapa Loan-heng memeluk seorang
mahluk cebol ?" tiba2 terdengar sebuah suara orang
menegur.
Ketika Huru Hara berpaling ternyata yang datang itu
adalah Bok Kian.
"Bok-heng, ini bukan mahluk setan tetapi pamanku Cianji-
ji yang tertawan pasukan Suka Rela tempo hari," kata
Huru Hara.
"Sudah jangan banyak bicara," bentak Cian li-ji," dari
dalam pesanggrahan sedang keluar berpuluh-puluh prajurit.
Lekas kita bekerja!"
"Hai, tunggu! Bekerja apa?" teriak Huru Hara karena
tangannya ditarik Cian-li-ji.
"Menolong gadis itu!"
"Nanti dulu, paman. Gadis siapa?"
"Nona Su . . . . "
"Hai, siapa?" teriak Bok Kian.
"Hus, aku memberitahu kepada keponakanku ini. Bukan
kepadamu," bentak Cian-li-ji.
Bok Kian terkesiap tetapi dia mendesak, "Tetapi lopeh
menyebut nona Su. Siapakah nona Su itu?"
"Dia mengaku bernama Su Tiau Ing ..."
"Paman, dimana dia!" karena tegang Bok Kian terus
mencekik leher baju Cian-li-ji.
"Lepasssss!" Cian-li-ji meronta sekuat-kuatnya karena
napasnya sesak. Ketika Bok Kian melepaskan
cengkeramannya, Cian-li-ji terus hendak menyerang tetapi
cepat dicegah Huru Hara, "Jangan paman, dia adalah
sahabatku."
"Sahabatmu? Mengapa dia hendak mencekik leherku?"
teriak Cian-li-ji.
"Maaf, lopeh. Aku merasa tegang sekali mendengar
lopeh mengatakan nona Su Tiau Ing," kala Bok Kian.
"Bok-heng, apakah nona Su Tiau Ing itu bukan puteri
dari mentri Su Go Hwat tayjin?" tanya Huru Hara. Bok
Kian mengiakan. "Paman Cian, dimana nona Su?" tanya
Hu-Hara.
"Didalam pesanggrahan ini .... "
"Apa?" Bok Kian kembali mencengkeram leher baju
Cian-li-ji dan mengguncang- guncangkannya, "hayo, bilang.
Dimana nona Su?"
"Lepassss ....," karena mengkal lehernya dicekik lagi,
Cian-li-ji terus mendupak perut Bok Kian, "aduhhhh ....,"
Bok Kian lepaskan cengkeramannya dan mendekap
perutnya.
"Paman Cian, mengapa engkau melukai kawanku?"
tegur Huru Hara.
"Siapa suruh dia mencekik leher bajuku begitu kencang?"
"Dimana nona Su?"
"Didalam pesanggrahan ini."
"Mengapa?"
"Dia ditawan prajurit Ceng."
"Bagaimana engkau tahu?"
"Mengapa tidak tahu? Aku berjalan bersamanya."
"Engkau bersama nona Su? Mana mungkin?*
"Sudahlah, nanti saja kuterangkan. Sekarang yang
penting kita harus menolong nona itu."
"Bok-heng, engkau menyelundup ke sebelah kanan dan
lepaskan api. Paman Cian engkau ke sebelah kiri dan
bakarlah pesanggrahan ini. Aku akan langsung menerjang
kedalam untuk mengobrak-abrik mereka!" habis berkata
Huru Hara terus menerjang masuk.
Kali ini Huru Hara sudah tak mau main gila lagi. Dia
bahkan melolos pedang Tanduk-putih atau pedang Cekthiat-
kiam atau pedang besi magnit. Kali ini dia menyadari
kalau masuk kedalam sarang harimau. Dia harus
mengamuk seperti banteng ketaton.
Dari dalam pesanggrahan berhamburan keluar berpuluh
prajurit. Mereka terkejut melihat seorang pemuda
bertanduk mengamuk kalang kabut.
"Bunuh!" teriak kawanan prajurit itu. Dan mereka segera
menyongsong amukan pemuda itu.
Terdengar dering gemerincing dari suara senjata beradu
disusul dengan jerit erang prajurit2 yang kejut2 mengerikan
dan tubuh2 yang berhamburan jatuh.
Huru Hara tidak mengerti silat. Dia memutar pedang
sekenanya saja. Tetapi karena tenaga-lakti dalam tubuhnya
memancar, maka gerak pedangnya itupun secepat kilat
menyambar dan sedahsyat badai meniup. Tiada seorang
prajurit yang mampu mendekatinya. Dan celakanya senjata
prajurit itu seperti tertarik kemuka akibat tersedot pedang
Cek thiat-kiam yang dimainkan Huru Hara.
Tetapi pesanggrahan itu penuh dengan beratus bahkan
beribu prajurit. Gelombang pertama tersapu bersih,
munculah kedua gelombang kedua yang lebih besar
jumlahnya. Namun Huru Hara sudah terlanjur seperti
orang kerangsokan setan. Rawe2 rantas, malang2' putung.
Barang siapa menghadang di muka tentu disapunya.
Kawanan prajurit itu terkejut menyaksikan kegagahan
Huru Hara. Beberapa prajurit lari melapor pada panglima.
Sementara pertempuran masih berlangsung hebat, tiba2
dari samping kiri terdengar kawanan prajurit itu menjerit
kaget, "Setan, ada setan ...”
Seorang mahluk berwajah hitam dan pakaian hitam yang
compang-camping menyerbu masuk. Mahluk itu juga
membolang-baringkan pedang menyerang kawanan
prajurit.
Belum rasa kejut mereka reda, tiba2 di samping kanan
muncul pula seorang manusia cebol, berwajah hitam dan
mempunyai jenggot yang panjang. Juga mahluk cebol itu
mengamuk dengan membawa sepotong besi panjang.
"Hai, engkau juga setan . . . !" tiba2 mahluk cebol itu
menegur setan kecil.
"Lho, engkau juga setan?" balas setan kecil.
"Ya."
"Rupanya engkau setan tua, ya?"
"Ya, dan engkau setan cilik, bukan? bahkan setan cebol.”
"Ya," sahut setan kecil, "siapa namamu?
"Ah Liong, jangan gila!" bentak Huru Hara, yang masih
mengamuk, "dia kan kakek Cian-li-ji."
"Hai, benarkah itu !'' teriak setan kecil yang bukan lain
adalah Ah Liong. Anak itu terus lari menubruk setan cebol
yang ternyata Cian-li-ci. Kedua saling berpelukan.
"Ah Liong engkau gila !" tiba2 Huru Hara -membentak
keras dan melesat ke samping menyabat seorang prajurit
yang habis membabat kepala Ah Liong.
Ternyata waktu Ah Liong sedang memeluk Cian-li-ji,
seorang prajurit menggunakan kesempatan itu untuk loncat
kepala Ah Liong. Mendengar teriakan Huru Hara, Cian-li-ji
terkejut dan menarik tubuh Ah Liong kebawah. Kepala Ah
Liong memang terhindar dari bacokan tetapi ujung jenggot
kakek itu telah terpapas.
"Kurang ajar, jenggotku kutung," seru Cian li-ji. Dia
mendorong Ah Liong kesamping lalu menyambar tongkat
besi dan mengamuk lagi.
Tetapi prajuril2 itu berjumlah banyak. Walaupun banyak
yang sudah menggeletak tetapi mereka datang lagi seperti
air sungai yang tak pernah putus. Cian-li-ji, Huru Hara dan
Ah Liong kewalahan juga.
"Berhenti!" tibu2 terdengar sebuah teriakan yang
dahsyat, Prajurii2 itupun hentikan serangannya lalu
menyisih kesamping memberi jalan.
Sekelompok perwira mengiringkan seorang laki
berpakaian indah, melangkah maju.
"Hai, siapakah engkau!" bentak lelaki itu dengan suara
garang.
"Aku Huru Hara!"
"Mengapa engkau berani menyerang pesanggrahan ini?''
"Aku hendak bertemu panglima Barbak."
"Gila! Apa engkau belum pernah melihat panglima itu?"
"Belum."
"Akulah panglima Barbak sendiri."
"O, engkau? Bagus," seru Huru Hara, "aku hendak bicara
kepadamu."
"Soal apa?"
"Soal kota Ce-lam."
"O, bagaimana kota itu?"
“Begini,” kata Huru Hara, "jika diadakan pertempuran,
kedua belah fihak tentu akan menderita kerugian besar.
Banyak korban akan jatuh.
“Terang," sahut Barbak, "perang memang begitu. Kalau
takut mati, menyerah saja!"
"Nanti dulu," kata Huru Hara, "aku akan menawarkan
suatu perjanjian kepadamu. Begini. Kita kembali pada cara
kuno saja."
"Apa maksudmu?"
"Tak perlu prajurit harus bertempur melawan prajurit
tetapi cukup panglima dengan panglimanya. Kalau
panglimanya kalah, pasukannya harus menyerah kalah."
Barbak kerutkan dahi, "Lalu maksudmu?"
"Aku akan berhadapan dengan engkau. Kalau aku kalah,
kota Ce-lam akan kuserahkan kepadamu……..”
"Apakah engkau diutus oleh jenderal Ui Tek Kong?"
tanya Barbak. "Bukan."
"Lalu atas nama siapa engkau berani mengadakan
perjanjian begitu?"
"Mentri pertahanan Su Go Hwat tayjin!"
"Apakah dia mengatakan begitu?"
"Yang penting engkau percaya tidak keteranganku ini.
Kalau tak percaya, percuma. Lebih baik kutinggalkan
tempat ini. Kalau mau tangkap silakan tangkap. Tetapi
ingat, walaupun aku engkau langkap atau engkau bunuh,
tetapi disaksikan oleh sekian ribu orang yang berada disini,
aku mengatakan bahwa aku sebenarnya belum kalah
dengan engkau. Hanya karena engkau tak berani berkelahi
dengan aku dan menggunakan kekuatan pasukan besar,
maka akupun tertangkap!
"Hm, jangan berkokok seperti ayam jantan yang habis
bertelur. Engkau kira aku takut kepadamu?"
"Selama engkau belum memberi jawaban yang nyata,
aku tak dapat berkata lain," sahut Huru Hara.
"Hm, mengapa aku harus takut. Kalau engkau tak
pegang janji, kepalamulah yang akan menjadi tebusannya,"
seru Barbak.
"Tentu jangan kuatir."
"Hm, sekarang sebutkan bagaimana permintaanmu."
perintah Barbak.
"Ada dua macam pertandingan," kata Huru Hara
"pertama, kita bertanding dengan tangan kosong. Terserah
engkau mau mengajukan jago siapa saja. Dan kedua, baru
bertanding pakai senjata. Juga engkau bebas mengajukan
jago pilihanmu.”
"Hm, baik," kata Barbak.
"Untuk pertandingan pertama, kalau aku menang, aku
minta engkau supaya menyerahkan seorang kepadaku."
"Siapa ?"
"Seorang nona yang engkau tawan tadi."
"O, puteri dari mentri Su Go Hwat itu ?
"Ya."
"Tetapi kalau engkau kalah !" tanya Barbak.
"Aku akan memberikan kepalaku kepadamu.”
“Ah, jika begitu, mana mungkin engkau mengadakan
pertandingan yang kedua lagi ?"
"Dan pertandingan yang kedua, kalau aku menang,
engkau harus menarik mundur pasukanmu. Tetapi kalau
aku kalah, kota Cu-lat kuberikan kepadamu .'"
Barbak mengerut dahi.
Seorang lelaki berpakaian seperti seorang pendekar, maju
kedekat Barbak, "Ciangkun perkenankanlah aku
menghadapi orang, sinting itu.”
Barbak berpaling, Dilihatnya yang bicara itu adalah Ang
eng cu Pok Tian, salah seorang pengawalnya yang memiliki
ilmu kepandaian silat tinggi. Ang-eng-cu artinya si
Rajawali-merah. Dia mendapat gelar itu karena memiliki
suatu ilmu tenaga-sakti Ang-hoa-hiat, sebuah ilmu tenagadalam
yang hebat. Barang siapa terkena pukulan beracun
itu, dagingnya tentu akan mlonyoh seperti terbakar api.
Ilmu pukulan Ang-hoa hiat itu tergolong sejenis ilmu hitam
yang ganas.
"Baiklah, kalau Pok-heng mau menghadapi orang, itu
silahkan," kata Barbak setelah tahu siapa Pok Tian, "tetapi
dengan bernyali begitu besar, kukira dia tentu memiliki
kepandaian yang sakti Harap Pok-heng suka berhati-hati.”
Dengan mengatakan baik, jago ilmu pukulan Ang-boahiat
itu terus melangkah maju kehadapan Huru Hara.
"Akulah yang mewakili ciangkun untuk menerima
tantanganmu," katanya.
"O. bagus, tetapi sayang....."
"Apa maksudmu ?"
"Bukankah engkau orang bangsa Han ?"
"Aku berasa) dari daerah Hek-liong - kiang. Daerahku
campuran antara Han dengan suku Nichen.”
"Pantas," seru Huru Hara, "kalau pendirianmu juga turut
angin."
"Setan! Jangan mencampuri urusanku. Lekas kita
mulai," seru Ang-eng-cu Pok Tian.
"Aku sudah siap sejak tadi, silakan," seri Huru Hara.
Pok Tian ingat akan pesan Barbak bahwa dengan
membawa sikap dan ucapan yang begitu sombong, tentulah
Huru Hara memiliki kepindaian sakti. Maka diapun
berhati-hati. Pok Tian membuka serangan dengan jurus
Song-eng-jip tong atau Sepasang- garuda- masuk-liang.
Kedua tangan bergantian maju mundur, mengarah kepala
Huru Hara.
Huru Hara memperhatikan gerak tangan lawan. Dan
ketika serangan tiba, diapun berkysar ke samping lalu
menyodok iga orang. Tetapi Pok Tian tidak begitu mudah
dikalahkan. Dengan sebuah gerak geliat yang indah, Pok
Tian sudah lolos dari sodokan Huru Hara lalu dengan cepat
menyambar tubuh Huru Hara.
Jarak amat dekat dan sambaran itu dilakukan dengan
teramat cepat sekali. Pok Tian mengira tak mungkin Huru
Hara mampu lolos. Tetapi alangkah kejutnya ketika Huru
Hara mencelat ke belakang. Entah dengan cara dan gerak
bagaimana, hampir Pok Tian tak dapat mengetahui.
"Hm, pantas dia begitu sombong," dengusnya dalam
hati. Dia maju pula dengan mainkan sepasang tangannya
dalam jurus Song-eng coan-how atau Sepasang garuda
menyusup awan. Yang diarah adalah tenggorokan dan dada
lawan. Kedua tangannya bergerak mirip dengan dua ekor
garuda yang berlomba-lomba masuk kedalam awan.
Cepatnya bukan alang kepalang.
Namun Huru Hara dengan gerak tubuh yang luar biasa
cepatnya selalu menghindari seringan lawan. Walaupun
tidak memakai tata langkah gerakan ilmusilat tetapi tetap
dia dapat meloloskan diri.
Demikian serangan demi serangan, jurus berganti jurus
telah dilancarkan Ang-eng-cu Pok Tian. Tetapi sampai
sebegitu jauh, belum mampu mengenai sasarannya.
Pok Tian heran. Dia tak mengerti dengan gerak ilmusilat
apakah Haru Hara itu bergerak. Rasanya gerakan Huru
Hara itu tidak menurut tata ilmusilat tetapi mengapa selalu
dapat terlepas dari serangannya.
Juga Barbak kerutkan dahi penuh keheranan, lia juga
memiliki kepandaian ilmusilat yang tinggi tapi juga tak tahu
ilmusilat apa yang dimainkan Huru Hara itu.
Rupanya Pok Tian sudah kehilangan kesabarannya. Tak
terasa sudah limapuluh jurus ia menyerang tetapi tetap
belum berhasil.
"Aku harus memancarkan tenaga-sakti Ang hoa-hiat
untuk menyelesaikan pertempuran ini,” pikirnya.
Segera dia kerahkan tenaga-sakti Ang-hoa hiat
penghancur tubuh manusia, Seketika kuku sepuluh jarinya
berobah merah. Dan setelah itu diapun segera mulai
menyerang. Sepintas gerak tangan Pok Tian itu seperti
mencurahkan hujan darah yang berwarna merah.
Huru Hara terkejut. Dia tak tahu apa gerakan ilmu yang
dikeluarkan lawan tetapi dia menduga tentulah lawan
sedang menyerang dengan tenaga-sakti beracun.
"Hm, manusia semacam ini harus dilenyapkan," Huru
Hara memutuskan.
Jika tadi dia hanya menghindar sekarang mulai
menggerakkan kedua tangannya untuk menampar dan
menghantam. Tampaknya memang seperti orang yang
menghantam biasa tanpa menurut peraturan ilmusilat tetapi
bagi Pok Tian, merasa tamparan Huru Hara itu
memancarkar tenaga yang amat kuat sekali. Hampir saja
tak dapat bernapas.
"Celaka, aku harus ganti siasat," tiba2 loncat mundur.
"Hai, apakah engkau berani adu pukul secara jantan ?"
serunya.
"Bagaimana maksudmu ?"
"Kita saling tukar tiga pukulan. Aku yang menghantam
dulu, engkau boleh menangkis. Kemudian engkau, dan aku
yang bertahan. Demikian seterusnya sampai tiga kali. Siapa
yang tetap dapat berdiri tegak, dia yang menang."
"Baik," sahut Huru Hara lalu tegak dihadapan Pok Tian..
"Siapa dulu yang memukul ?" tanya Pok Tian.
"Engkau !"
"Hm, sombong benar manusia ini," pikir Pok Tian yang
diam2 juga girang karena ia mendapat kesempatan untuk
menghancurkan dada orang itu.
"Baik nah terimalah......" setelah memusatkan tenagasakti
Ang hoa-hiat, tiba2 dia menghantam dada Huru Hara.
Huru Hara hanya songsongkan tangannya kearah
jatuhnya pukulan lawan. Tidak terdengar suara tangan
beradu tetapi tahu2 Pok Tian mengaduh dan menyurut
mundur dua langkah.
Sekalian orang heran, Bukankah Huru Huru tidak
menyentuh tangan Pok Tian tetapi mengapa Pok Tian
menjerit dan terpental sampai dua langkah kebelakang ?
"Nah, engkaulah yang mulai," seru Pok Tian.
"Tidak, engkau saja yang tetap memukul," seru Huru
Hara,
"Kenapa ?
"Kalau aku menghantam, engkau tentu remuk menjadi
bubukan abu!"
“Gila."
"Sudahlah, jangan banyak omong!" bentak Huru Hara,
"bukankah aku sudah memberi banyak keramahan
kepadamu? Kalau engkau masih kurang, nah, pukullah, aku
takkan menangkis."
"Hm, jangan sombong, bung. Engkau tentu menyesal
kalau aku melakukan sungguh2."
"Siapa bilang menyesal?"
"Apakah engkau bersungguh-sungguh?"
"Apa kira aku bergurau?"
"Sungguh?"
"Mulutku hanya satu!"
"Baik," seru Pok Tian dengan bersemangat. Dia terus
bersiap tegak di hadapan Hura Hara. Sementara Huru
Harapun tegak menghadapinya.
"Maaf, pergilah sendiri ke akhirat," seru Pok Tian seraya
terus mencengkeram lengan Huru Hara.
Sekalian orang terkejut. Terutama Ah Lion, Dia melihat
Huru Hara diam saja, "Engkoh Hok tamparlah manusia
itu!" serunya.
Cian-li-ji juga bingung. Dia mondar mandir berjalan kian
kemari tanpa menghiraukan beratus-ratus prajurit Ceng
yang berada di ruang itu, "Hm, kalau dia sampai celaka,
markas ini tentu kuratakan dengan tanah . . . . "
Seorang prajurit yang jahil segera menegur, "Dengan apa
engkau hendak meratakan markas ini kakek cebol?”
"Hus, kurang ajar, engkau!"
"Aku kan bertanya, mengapa marah?" seru prajurit itu.
"Akan kubakar mukamu ini, sahut Cian-li-ji.
Prajurit itu tertawa, "Huh, enaknya kalau ngomong.
Sebelum dapat membakar, kepalamu tentu sudah hilang.”
"Bangsat, engkau hendak mengambil ke . . . eh, kenapa
engkau?" tiba2 Cian-li ji berseru heran melihat prajurit itu
tiba2 terkejut dan mendekap pinggang celananya, dan terus
berputar tubuh, tergopoh-gopoh lari seperti orang yang
hendak ngebet berak.
Cian-li-ji melihat Ah Liong menyengirkan hidung dan
memberi kicupan mata kepadanya.
Sementara itu suasana pertempuran antara Pok Tian
lawan Huru Harapun telah terjadi perobahan. Tampak
wajah Pok Tian merah dan dahinya mengerut tegang sekali.
Bahkan makin lama matanyapun tampak berwarna merah.
Sedang Huru Hara hanya diam menatapnya, tentu hal
itu menarik perhatian sekalian orang.
Beberapa saat kemudian, Pok Tian lepaskan
cengkeramannya dan ngelupruk jatuh ke lantai.
Beberapa prajurit segera maju menolong.
"Hai," teriak prajurit2 itu, "Pok ciangkun sudah mati....."
Teriakan itu mengejutkan sekalian prajurit Ceng. Mereka
segera hendak menyerbu Huru Hara.
"Berhenti!" bentak Barbak dengan wajah membesi. Ia
melangkah maju kehadapan Huru Hara," Engkau benar2
hebat. Kami bangsa Boan ciu sangat menghargai seorang
yang gagah perkasa. Jika engkau mau bekerja pada kerajaan
Ceng engkau akan diangkat sebagai panglima."
"Hm, serupa tapi tak sama," sahut Huru Hara.
"Apa maksudmu ?"
"Sekarang aku sudah 'menjadi panglima kerajaan Beng,
kalau hanya diangkat sebagai panglima kerajaan Ceng,
bukankah sama. Hanya bedanya, kerajaan Beng dengan
kerajaan Ceng."
"Lalu engkau minta pangkat apa ?"
"Siapa yang mengepalai panglima2 Ceng”
"Pangeran Torgun, paman dari baginda Ceng sekarang.
Pangkatnya panglima tertinggi yang kuasa penuh atas
seluruh pasukan Ceng."
"Aku harus lebih tinggi dari si Torgun baru aku mau,"
seru Huru Hara.
"Hm," dengus Barbak yang menahan kemarahan karena
mendengar Huru Hara memandang rendah pada Torgun,
"jangan keliwat tinggi tuntutanmu. Torgun adalah paman
dari seri baginda yang sekarang. Dan engkau ? Apakah
engkau masih keluarga raja ?"
"Tidak apa ! Aku akan menjadi engkong angkat raja !"
tiba2 terdengar suara melengking. Sekalian orang terkejut
dan memandang kearah suara orang itu. Ah, ternyata si
kakek cebol Cian-li-ji.
"Pendekar Huru Hara," seru Barbak dengan suara serius,
"disini adalah markas besar pasukan kerajaan Ceng. Kalau
bicara, harap berhati2. Aku menawarkan suatu kesempatan
yang tak sembarang orang bisa memperolehnya. Sekali lagi
kuulangi tawaranku tadi. Jika engkau mau bekerja pada
kerajaan Ceng, maka engkau akan diangkat sebagai
panglima. Dan kelak apabila perang sudah selesai engkau
tentu akan diangkat sebagai gubernur. Suatu jabatan yang
tertinggi dikalangan orang Han."
"Tidak bisa," seru Huru Hara, "kalau aku diangkat
sebagai panglima yang tertinggi, lebih linggi dari Torgun,
aku mau. Tetapi kurang dari itu, hm, lebih baik aku jadi
pendekar Huru Hara saja."
"Huru Hara," seru Barbak dengan makin bengis," jika
begitu engkau cari penyakit sendiri. Sekarang, marilah kita
bertempur!"
"Tunggu," seru Huru Huru, "bukankah engkau tetap
menganggap perjanjian kita tadi berlaku?"
"Hm, tentu," dengus Barbak.
"Jika demikian kuminta gadis puteri menti Su tayjin itu
dibebaskan dulu."
Barbak berpaling dan memberi perintah kepada seorang
perwira untuk membawa Su Tiau Ing keluar.
Tak berapa lama perwira itu berlari-lari dengan tegang,
"Ciangkun, wah, celaka, nona itu sudah dilarikan oleh
seorang pemuda!"
"Apa?" teriak Barbak terkejut.
"Api telah mengamuk di seluruh penjuru markas dan
kamar tahanan juga dimakan api. Tiba2 muncul seorang
pemuda yang mengamuk dan menolong nona itu . . . . "
"Kantong nasi yang tiada berguna!" bentak Barbak
marah sekali, "masakan menjaga tawan seorang nona saja
tak mampu. Bawa penjaga itu ke lapangan dan potong
kepalanya!"
Kemudian Barbak mencabut senjatanya. Ternyata dia
seorang ahli bermain tombak. Tombaknya tombak trisula
yakni tombak yang mempunyai tiga ujung. Ujung tengah
amat runcing, ujung sebelah samping seperti gigi gergaji dan
ujung sebelah samping lagi tajam seperti mata pedang.
Huru Hara terkejut. Belum pernah ia melihat tombak
macam begitu. Diam2 menimang dalam hati. Suasana
dalam markas itu penuh dengan hawa pembunuhan yang
meluap luap. Setiap saat tentu akan terjadi penumpahan
darah yang hebat. Setelah kekalahan Pok Tian tadi, tampak
prajurit dan perwira2 Ceng memberingas.
"Aku harus cepat2 menguasai Barbak," pikirnya. Ia
segera melolos pedang Tanduk- kerbau-putih.
Sampai beberapa saat Bsrbak masih melintangkan
tombaknya dimuka dadanya. Matanya menatap lekat2 pada
ujung tombak. Prajurit2 Ceng pelahan-lahan menyurut
mundur sehingga terbukalah sebuah gelanggang yang luas
di tengah ruangan itu.
Tiba2 Barbak melemparkan tombaknya keatas sehingga
sampai tiga meter tingginya. Selekas tombak meluncur dan
disambuti, dia lerus menyerang Huru Hara. Gaya dan
tenaganya benar2 menakjubkan. Tak ubah seperti seekor
singa yang menerkam.
Huru Hara terkejut. Tombak Barbak itu dilihatnya
seperti pecah menjadi tiga macam senjata, tombak, pedang
dan gigi gergaji atau dalam istilah senjata disebut Liong-ya (
gigi naga )
Angin meniup keras membawa suara yang sedahsyat
badai mengamuk.
Hebat benar2 memang keperkasaan dari panglima Ceng
itu. Jika dalam medan pertempuran melawan pasukan
musuh, tentulah prajurit2 musuh akan lari sebelum
bertempur.
Tetapi dalam menghadapi Huru Hara, lainlah
keadaannya. Huru Hara berlincahan kian kemari
menurutkan gerak serangan tombak lawan. Tombak makin
cepat, makin cepat pula gerak loncatan Huru Hara. Dan
selama itu Huru Hara tidak mau balas menyerang
walaupun tangannya mencekal pedang.
Rupanya Huru Hara sudah -menentukan siasat. Dia
hendak membiarkan dirinya diserang agar Barbak
kehabisan tenaga baru dia akan bertindak untuk
menyelesaikannya.
Barbak heran disamping penasaran sekali. Apa yang
dimainkan itu adalah ilmu tombak simpanan yang
diperolehnya dari ajaran ayahnya sendiri. Dan menurut
cerita ayahnya, ilmu tombak itu didapatkannya dari seorang
sakti.
"Jika engkau sudah menguasai ilmu permainan tombak
ini, jangankan hanya sepuluh bahkan seribu perajurit tak
mungkin mampu menghadapimu," kata orangtua yang tak
mau disebut namanya itu.
Memang dalam sejarah kebangkitan suku Boan, ketika
berperang melawan pasukan kerajaan Beng, ayah dari
Barbak itu banyak sekali jasanya sampai2 oleh musuh dia
digelari sebagai si Tombak- maut.
Tetapi Barbak tidaklah semahir menguasai Ilmu tombak
itu seperti ayahnya. Hanya karena dalam ilmu tenagadalam
Barbak lebih unggul maka kekurangannya itu dapat
tertutupi.
"Setankah gerangan orang ini," tanyanya dalam hati,
"hm, sekali ini coba saja engkau rasakan."
Tiba2 Barbak merobah ilmu permainan tombaknya. Dia
lebih banyak menggunakan tombak itu dalam gaya seperti
orang menabas daripada menusuk. Ternyata perobahan itu
juga membawa hasil. Huru Hara tampak kewalahan dan
peras keringat untuk menghindari maut.
Cret .... karena keliru langkah akibat tertipu siasat
Barbak, hampir saja Huru Hara kehilangan leher. Tetapi
untunglah dia masih sempat menarik kepalanya kebelakang
sehingga hanya leher bajunya saja yang terpapas ....
"Hola, selamat, selamat," teriak kakek Cian-li-ji yang
hampir saja akan maju menerjang kedalam gelanggang
ketika mata trisula hanya kurang beberapa dim dari leher
Huru Hara.
“Hayo, engkoh Hok, balaslah panglima Ceng itu !" teriak
Ah Liong.
Tetapi Huru Hara tak menggubris. Dia tetap mempunyai
perhitungan sendiri. Dia tahu kapan nanti harus bertindak.
Pertempuran yang berat sebelah dimana yang satu
menyerang dan lawannya hanya berloncatan menghindar
kian kemari saja itu, berulang cukup lama. Tak terasa sudah
seratus jurus.
Saat itu tampak Barbak merah mukanya kepala dan
dahinya sudah basah dengan keringat. Dan rupanya napas
panglima itu pun juga sudah mulai menurun. Dia telah
menghamburkan tenaga banyak sekali. Tanpa disadari dia
telah terangsang oleh nafsu amarah.
Beberapa saat kemudian tiba2 Huru Hara menggerakkan
pedangnya untuk menangkis, "Beristirahatlah dulu,
panglima Ceng....."
"Uh," Barbak mendesuh kejut dan berusaha untuk
menarik tombaknya yang masih melekat pada pedang
lawan. Tetapi betapapun dia hendak menarik, tetap tak
mampu melepaskan tombaknya itu.
Terjadilah adegan yang menarik, Barbak usaha untuk
menarik tombaknya, sedang Huru Hara mempertahankan
pedangnya supaya jangan ikut tertarik Barbak.
Rupanya keadaan Barbak yang sudah makin tampak
kepayahan itu dapat dilihat oleh anak-buahnya, Mereka
menyadari bahwa panglima mereka terancam bahaya
kekalahan, Mereka tahu kemungkinan Barbak akan
memegang janji untuk menarik mundur pasukannya. Tetapi
hal itu berakibat besar. Apalagi panglima besar Torgun
mendengar berita tentang penarikan mundur pasukan Ceng
dari kota Celam yang sudah hampir berhasil direbut itu
hanya karena kalah bertaruh dalam pertandingan dengan
seorang pendekar nyentrik, betapalah murka panglima besar
Torgun nanti.
Prajurit2 pasukan Ceng semua maklum akan perangai
dan peribadi Torgun. Panglima besar itu keras dan disiplin
sekali. Maka tidak mustahil kalau nanti Torgun akan
menjatuhkan hukuman mati kepada Barbak. Dan bukan itu
saja anak pasukan Barbak, pun akan diturunkan
pangkatnya dan dihukum.
Demikian bayang2 yang menghinggapi perwira dan
prajurit2 Ceng setelah menyaksikan keadaan Barbak saat
itu. Tanpa diperintah oleh Barbak, seorang perwira
memberi isyarat dan menyerbulah beribu-ribu pasukan
prajurit Ceng kepada Huru Hara.
"Paman Cian, Ah Liong lekas kemari !" cepat Huru Hara
berseru dan secepat kilat ia berkisar tubuh lalu
mencengkeram tengkuk Barbak. Karena tombak yang
melekat pada pedang diputar kebelakang oleh Huru Hara
maka tangan Barbak yang pantang melepaskan tombak ikut
terpuntir kebelakang. Dengan mudah dapatlah Can-li-ji
yang saat itu sudah berada disamping Haru Hara,
membekuknya.
Barbak terkejut bukan main. Lebih terkejut lagi ketika
dia belum sempat meronta, tahu-tahu, matiiiiiikkkk ....
tangan kirinya terus mendekap pinggang perutnya. Ai, siapa
lagi kalau bukan si setan cilik Ah Liong itu yang membuat
gara-gara. Dia juga sudah berada disamping Huru Hara dan
sebagai adat kebiasaan tangannya selalu gatal kalau melihat
celana musuh. Crek, ia menyambar dan putuslah tali celana
dalam Barbak. .
Sepanjang hidup dari kecil sampai besar, belum pernah
Barbak menderita siksa yang sehebat saat itu. Memang
tidaklah terlalu sakit tetapi apa yang dirasakan saat itu jauh
lebih menyiksa dari pada terkena tabasan pedang. Betapa
tidak! Tengkuk dicengkeram Huru Hara, tangan kanan
ditelikung Cian-li-ji dan tali celana-dalamnya diputus si Ah
Liong, aduh maaaak.....
"Berhenti!" teriak Huru Hara dengan suara menggeledek
ketika ratusan prajurit Ceng hendak maju menyerbu,
"berani menyerang, panglima kalian tentu kubunuh!"
Beratus-ratus prajurit Ceng terbeliak. Mereka tak tahu
harus berbuat bagaimana. Kalau berhenti dikuatirkan
pendekar Huru Hara akan menganiaya penglima. Namun
kalau tetap menyerang, tentulah Huru Hara akan
membunuh panglima Barbak.
"Kalian tak boleh bergerak," seru Huru Hara pula,
"setelah aku keluar dari pesanggrahan ini barulah panglima
kalian kulepas !"
Sambil berkata Huru Hara dan Cian-li-ji serta Ah Liong
menyeret Barbak keluar. Ratusan prajurit itu tetap
mengikut."
“Hm, apakah kalian tak sayang akan jiwa panglima
kalian ?'" seru Huru Hara pula.
"Bagaimana kami dapat mempercayai kata-katamu ?"
seru seorang perwira.
"Hm, apakah engkau kira aku seperti panglimamu yang
tak pegang janji itu ?" dengus Huru Hara, "tidak, aku
seorang pendekar yang menjunjung kesetyaan ucapan."
Namun beratus-ratus prajurit Ceng itu masih meragu.
"Baik," akhirnya Huru Hara berseru, "kalau kalian mau
mengikuti, kalian harus membuang senjata kalian dulu.
Dan hanya diperbolehkan mengikuti pada jarak sepuluh
tombak. Ingat apabila kalian ada yang berani melanggar
perintahku, tentu tak kuampuni lagi jiwanya !''
Demikan beratus-ratus prajurit Ceng itu segera
membuang senjatanya dan mengikuti.
Suatu pemandangan yang benar2 mengherankan dan
hampir tak dapat dipercaja. Seorang panglima telahdiringkus
dan diseret oleh tiga manusia nyentrik. Sedang
beratus ratus prajurit hanya mengikuti pada jarak sepuluh
tombak tanpa berani berbuat suatu apa. Apabila hal itu
sampai tersiar keluar, orang tentu akan gempar.
"Sebenarnya aku dapat membunuhmu atau paling tidak
menekanmu supaya engkau mau menarik mundur
pasukannya dari Ce-lam," kata Huru Hara setelah tiba
diluar pintu pesanggrahan "tetapi aku sudah berjanji kepada
anakbuahmu untuk melepaskan engkau. Nah, sampai
jumpa lagi dilain kesempatan !"
Huru Hara melepaskan Barbak dan terus lari bersama
Cian-li ji dan Ah Liong.
"Kemana kita sekarang ?" tanya Cian-li-ji.
"Mencari nona Tiau Ing," kata Huru Hara.
"O, benar, benar," seru Cian-li-ji, "ya, dia juga seorang
nona baik. Aku menemukan dia sedang menangis dalam
gua dalam sebuah lembah.
"O, ya, aku lupa untuk bertanya bagaimana cara paman
bisa lepas dari tawanan orang barisan Suka Rela itu. Tetapi
nanti sajalah paman ceritakan, sekarang mari kita berusaha
mencari nona Su dan Bok Kian itu."
"Engkoh Hok," tiba2. Ah Liong melengking, "kurasa
engkoh Bok tentu sudah dapat menyelamatkan taci Tiau
Ing. Apakah tidak lebih baik kita membantu rakyat Celam
untuk menghadapi pasukan musuh ?"
"Engkau gini, Ah Liong," tiba2 Huru Hara
mengacungkan jempol tangannya, "ya, memang, soal nona
Tiau Ing biarlah diurus oleh Bok Kian. Dan jiwa rakyat Celam
jauh lebih penting dan banyak jumlahnya daripada jiwa
seorang puteri mentri,"
Mereka segera menuju ke tembok kota.
"Tatapi Huru Hara," tiba2 kakek Cian li-ji berkata,
"bagaimana kita akan masuk kedalam kota ?"
"Kita panjat tembok," kata Huru Hara. Dan dia segera
berjongkok, "harap paman Cian berdiri diatas punggungku,
setelah itu engkau Ah Liong harus naik keatas bahu paman
Cian dan terus loncat keatas tembok."
Cian-li ji terus melakukan perintah. Dia loncat dan
berdiri diatas punggung Huru Hara sedang Ah Liong
setelah ancang-ancang lalu loncat keatas bahu Cian-li-ji.
"Aduh, setan cilik, edan engkau.....," teriak Cian-li-ci
seraya meronta sehingga dia jatuh dari atas punggung Huru
Hara.
"Mengapa ?" tegur Hnru Hara.
"Setan cilik itu berdiri diatas kepalaku !" teriak Cian-li ji.
"Engkau memang kurang ajar, Ah Liong," tegur Huru
Hara.
"Aku tak sengaja. Aku loncat. Kuperkirakan menginjak
bahunya ternyata terlalu tinggi sehingga menginjak kepala.
Makanya kakiku terasa seperti menginjak bola yang licin.
Kemungkinan engkong itu yang terlalu pendek....."
"Hus engkau menginjak kepalaku malah masih mengejek
aku pendek !"
"Sudahlah, lekas mulai lagi," seru Huru Hara.
Cian-li-ji meramkan mata sudah berdiri di atas punggung
Huru Hara. Ia ngeri membayangkan kalau kepalanya akan
diinjak kaki Ah Liong lagi. Maka dia menutupi kepalanya
dengan kedua tangan. Dan agar lebih aman lagi. dia
tebarkan jari tangannya keatas. Biar untuk pagar, pikirnya.
Ah Liongpun terus enjot tubuh melayang ke atas dan
…."Idiiiihhhh.....," tiba2 Ah Liong loncat turun dan terus
menuding Cian-li-ji, "engkau seorang kakek cabul !"
"Kenapa engkau Ah Liong," seru Huru Hara yang heran
melihat tingkah laku kedua orang itu.
"Dia cabul, engkoh Hok," sahut Ah Liong.
"Cabul bagaimana ?" ,
"Dia telah menusuk anuku ……”
“Paman, mengapa engkau juga suka bergurau dengan
anak kecil?"
'Siapa bergurau?" balas Cian-li-ji.
"Mengapa engkau memegang anunya?"
"Anunya? O, aku hanya menebarkan jariku karena takut
kepalaku diinjakkya lagi. Kalau sampai menyentuh anunya,
itu sih salahnya sendiri mengapa punya anu tidak dapat
menyimpan baik2," jawab Cian-li-ji.
Andaikata bukan pada saat seperti itu, tentulah Huru
Hara sudah tertawa. Tetapi karena dia harus lekas2
mengerjakan pekerjaan yang penting maka diapan
menahan-geli dan terus berkata, "Sudahlah, paman, jangan
seperti anak kecil. Lekas mulai lagi. Ah Liong, jangan
menginjak kepala paman Cian. Dan engkau paman Cian,
jangan menyentuh anu si Ah Liong.
Demikian mereka lalu mulai lagi. Dan kali ini Ah Liong
berhasil berdiri diatas bahu Cian-li-ji, lalu dia loncat keatas,
hekkk .... karena Ah Liong menginjak sekuat-kuatnya untuk
mengantar tubuhnya melayang keatas, kakek Cian-li-ji
terpaksa ia tertekan kebawah dan mengaduh.
Tetapi baru dia berdiri tegak lagi tiba2 aduhhhh .... tahu2
kepalanya diinjak si Ah Liong. Cian-li-ji meronta untuk
melemparkan Ah Liong.
"Kenapa?" tegur Huru Hara.
“Baru aku mencapai puncak tembok, tanganku sudah
digebuk orang……..”
“Siapa yang menggebuk?"
"Seorang prajurit berkumis lebat."
"Baik, sekarang silakan paman Cian yang naik ke
tembok. Ah Liong, engkau berdiri di atas punggungku dan
paman Cian akan berdiri diatas bahumu!"
Ketika Ah Liong melakukan perintah dan berdiri diatas
punggung Huru Hara, Cian-li-jipun segera loncat keatas,
wut .... dia melayang melampaui kepala Ah Liong.
Karena melihat Cian-li-ji sudah loncat keatas tetapi tak
hinggap pada bahunya, Ah Liong-pun mengangkat muka
memandang keatas, astaga .....
Ah Liong menjerit ketika melihat sesosok tubuh kecil
meluncur turun kebawah. Deras sekali luncur tubuh itu
sehingga dia tak sempat menundukkan kepala, brukkkk ....
mukanya diduduki Cian-li-ji.
"Kakek sialan ....!" Ah Liong menjeril kesakitan seraya
loncat turun dari punggung Huru Hara.
"Mengapa?" tegur Huru Hara.
"Dia menduduki mukaku!" teriak Ah Liong.
"Wah, paman Cian sungguh keterlaluan," gumam Huru
Hara.
"Begini, aku sih tak sengaja menduduki mukanya. Aku
loncat tetapi terlampau tinggi maka waktu kakiku hendak
memijak, aku memijak angin dan terus meluncur ke bawah,
tepat memijak mukanya .., ."
"Sudahlah, jangan bergurau saja. Kalau serdadu Ceng
datang, kita tentu akan ditangkap. Hayo lekas mulai lagi,"
perintah Huru Hara.
Maka diulangi lagi loncat meloncat itu. Ah Liong tegak
diatas punggung Huru Hara dan siap menerima Cian-li-ji.
Sebagaimana halnya dengan Cian-li-ji, dia juga sudah jeri
kalau mukanya dipinjak kaki Cian-li-ji maka diapun
bersiap-siap untuk menjaga mukanya.
"Wut.....Cian-li-ji dengan gaya kucing loncat segera enjot
tubuhnya ke udara. Eh. Iagi2 dia terlalu tinggi sehingga
harus meluncur turun lagi. Dan betapalah kejut Ah Liong
ketika adegan yang tadi berulang lagi. Kaki Cian-li-ji
menutur lurus kebawah mengarah mukanya.
"Kurang ajar benar, kakek ini," pikir Ah Liong. Dia
segera miringkan tubuh sembari menyambuti tubuh Cian-liji
dengan kedua tangannya.
"Uhhhhh.....," Can-li-ji loncat turun dan mendekap
pinggang celananya, "engkau cabul ya setan cilik!" dia terus
lari kebalik pohon.
Ternyata tali celana dalamnya telah putus dikerjai Ah
Liong.
Huru Hara tahu akan perbuatan Ah Liong yang hendak
membalas dendam kepada Cian-li-ji. Dia geli tetapipun
mengkal sekali.
"Anak setan, engkau cabul benar!" teriak Cian-li-ji seraya
menuding Ah Liong, "mengapa engkau putuskan tali
celanaku ? Apakah ....”
"Sudahlah paman," cepat Huru Hara menukas, begini
saja. Karena kalian tetap bertingkah maka sekarang tak
perlu cara seperti tadi. Hayo, kalian berdiri tegak !"
Cian-li-ji dan Ah Liong tak mengerti maksud Huru Hara
tetapi keduanyapun melakukan perintah juga.
"Pejamkan mata !" seru Huru Hara seraya mencekal Ah
Liong dan wuttttt.... tahu2 anak itu telah melayang ke
udara. Lalu mencekal Cia li-ji terus dilemparkan ke udara.
Kemudian Huru Hara enjot tubuhnya.
-oo0dw0oojilid
30.
Kawan atau lawan.
Dengan cara itu barulah Huru Hara berhasil mencapai
tembok kota yang tinggi. Adalah karena Cian-li-ji dan Ah
Liong membuat reaksi memancarkan tenaga, tenaga Ji-ihain-
kang Huru Ha rapun memancar sehingga dapatlah ia
melontarkan kedua orang itu keatas. Dan sekali tenaga-sakti
Ji-ih-sin-kang memancar, diapun mampu untuk melayang
ke udara.
"Hai, jangan, aku bukan musuh!" teriak Cian li ji ketika
seorang prajurit Beng hendak menombaknya.
Tring .... Cian-li-ji hanya menjerit-jerit tetapi prajurit itu
tetap menusuknya. Untung Huru Hara cepat menyampok
dengan pedangnya sehingga tombak prajurit itu melekat.
Sekali tarik prajurit itu terjungkal dan tombakpun beralih ke
tangan Huru Hara.
"Nih, paman Cian, pakailah untuk membelai diri," kata
Huru Hara. Kemudian memerintahkan Ah Liong, "Ah
Liong, sembunyilah dibelakangku.”
Tepat pada saat itu maka dari bawah, meluncurlah
puluhan anakpanah. Cian-li-ji memutar tombaknya sederas
angin kencang. Demikian pula Huru Hara. Hanya bedanya
kalau anakpanah yang dibentur tombak Cian-li-ji tentu
jatuh kebawah tetapi anakpanah yang ditangkis pedang
Huru Hara tentu melekat pada pedang.
"Hai, prajurit, jangan memanah kami. Kami adalah
kawan," seru Huru Hara.
"Paman Cian, mari kita loncat turun," Huru Hara terus
melayang kebawah diikuti Cian-li ji dan Ah Liong.
Begitu tiba ditanah, puluhan prajurit segera
mengepungnya. Huru Hara mengangkat tangani berseru,
"Tahan kawan, kami orang Beng juga!"
"Hm, mau apa engkau menerobos masuk ka dalam
kota?" tegur seorang perwira.
"Kami hendak mohon menghadap jenderal.
Perwira itu terkejut, "Siapa engkau!"
"Aku utusan dari mentri Su Go Hwat tay-jin untuk
menyampaikan berita kepada jenderal Ui."
Perwira itu kerutkan dahi. Dia menatap tajam kepada
Huru Hara lalu Cian-li-ji dan Ah Liong.
Kalau melihat wajah mereka, mereka itu orang-orang
jujur walaupun seperti orang tidak waras. Tetapi kalau
mempercayai mereka itu utusan dari mentri pertahanan Su
Go Hwat memang sukar diterima, pikir perwira itu,
"Lekas, urusan ini amat penting," seru Huru Hara.
Akhirnya perwira itu mengambil keputusan Masakan
ketiga orang itu mampu lolos kalau ia bawa menghadap
jenderal Ui Tek Kong. Siapa tahu kalau memang ketiga
orang itu utusan mentri pertahanan, kan dia akan mendapat
teguran keras dari jenderal Ui apabila tidak membawa
mereka menghadap.
"Baik," kata perwira itu lalu mengiring mereka menuju
ke markas.
Sebenarnya Ce-lam merupakan kota yang ramai. Tetapi
saat itu tampak seperti kota mati. Di jalan tak ada
kesibukan penghidupan lagi. Pintu2 rumah tutup. Disana
sini hanya tampak kelompok2 prajurit yang silang selisih
melakukan tugas.
Markas pasukan Beng bertempat digedung tihu (residen)
yang besar dan luas. Sekeliling markas itu dijaga ketat oleh
prajurit2 berserjata.
Huru Hara bertiga langsung dibawa menghadap jenderal
Ui.
"O, engkau pendekar Huru Hara," tegur Jenderal Ui Tek
Kong yang mengenali Huru Hara sebagai orang yang
pernah menghadapnya sebagai utusan jenderal Ko Kiat
untuk mengantar peti berharga sebagai sumbangan jenderal
Ko Kiat atas kematian dari ibunda jenderal Ui.
"Benar ciangkun," kata Huru Hara.
"Mengapa engkau kemari?"
"Bolehkah hamba bercerita ?" tanya Huru Hara.
"Silakan."
Huru Hara lalu menceritakan tentang peristiwa bertemu
dengan Bok Kian dan ditengah jalanbertemu pula dengan
Su Tiau Ing. Karena Su Tiau Ing masih ada tugas lain maka
Bok Kian mewakili nona itu untuk menyampaikan surat
mentri Su Go Hwat kepada jenderal Ui.
"Tetapi dalam perjalanan kami mendapat kabar kalau
nona Su telah ditangkap pasukan Ceng yang mengepung
kota ini. Maka kami berusaha menolong. Nona Su dapat
ditolong dan sekarang diselamatkan Bok Kian. Dimana Bok
Kian dan nona Su bersembunyi, kami tak tahu. Karena
mengingat soal ini amat penting maka hamba perlukan
menghadap ciangkun untuk menyampaikan pesan mentri
Su tayjin."
"O, apakah pesan itu?"
"Bahwa mentri Su tayjin tak jadi mengajak ciangkun
untuk menghukum jenderal Co Liang Giok tetapi ciangkun
diminta supaya memperkuat daerah Shoatang ini yang
sedang diserbu musuh."
"Benar, aku sendiripun memang mempunyai pendirian
begitu. Soal jenderal Co Liang Giok adalah urusan dalam,
boleh dipertangguhkan dulu demi memelihara persatuan.
Yang penting harus menghadapi serangan pasukan Ceng
dulu," kata jenderal Ui Tek Cong.
"Ciangkun benar2 seorang jenderal yang bijaksana," seru
Huru Hara, "lalu apakah yang dapat kami lakukan untuk
mempertahankan kota ini?”
Jenderal Ui menghela napas.
"Sudah hampir setengah bulan kota ini telah dikepung
musuh. Memang bermula musuh melancarkan serangan
besar- besaran tetapi dapat kita kalahkan sehingga mereka
berganti siasat. Mereka hendak mengepung kota ini agar
puus hubungan dengan lain kota."
"Tetapi ciangkun dapat bertahan sampai setengah
bulan," kata Huru Hara.
"Ah." kata Ui Tek Kong, "sekuat-kuat mental kita untuk
bertahan tetapi perut kita pun harus diisi....."
"O, apakah persediaan bahan makanan di kota ini sudah
berkurang?"
"Sekarang terpaksa kami adakan jatah makanan, baik
dikalangan anak pasukan maupun rakyat. Seluruh
persediaan makanan telah kuperintahkan untuk dipusatkan
disebuah gudang, prajurit dan rakyat kami beri jatah tiap
hari. Dengan demikian kami dapat mengendalikan bahan
makanan dalam jangka waktu cukup lama."
Huru Hara mengangguk.
"Tetapi sekarang persediaan makanan sudah makin
menipis dan mulai kemarin jatah makanan dikurangi dan
dianjurkan supaya rakyat makan bubur," kata jenderal Ui
pula.
"Ciangkun, apakah ciangkun belum pernah berusaha
untuk menerobos kepungan mereka-?” tanya Huru Hara.
"Sudah, tetapi pasukan mereka terlalu besar sehingga
beberapa kali usaha kita untuk menerobos keluar gagal."
"Lalu bagaimana tindakan ciangkun selanjutnya ?
Apakah akan tetap bertahan begini ?"
"Aku sedang mempertimbangkan suatu langkah." kata
jenderal Ui, "daripada harus mati konyol, mumpung tenaga
anakpasukan masih kuat, kita serbu mereka."
"Bagus!" tiba2 Cian-Li-ji beiseru, "itu baru tindakan yang
tepat. Apa sih pasukan Ceng itu? Buktinya tadi hanya tiga
orang saja, kami dapat mengobrak-abrik markas mereka ?"
"Paman Cian ....!" seru Haru Hira.
"Lho. apakah kalian sudah pernah mengobrak-abrik
markas musuh ?" buru2 jenderal Ui bertanya.
"Sudah," kata Cian-li-ji sambil busungkan dada,
“panglima mereka yang bernama Bar itu sudah dapat kami
bekuk dan seret keluar."
"Siapa penglima Bar?" jenderal Ui terkejut.
"Salah paman," kata Huru Hara, "bukan panglima Bar
tetapi Barbak, harus pakai Bak, jangan cuma Bar saja."
"Panglima Barbak yang memimpin pasukan menyerang
Shoa-tang itu ?" jenderal Ui makin kaget.
"Ya siapa lagi kalau bukan dia," seru Cian-li-ji, "coba
keponakanku ini tidak kasihan kitakan sudah dapat
membunuhnya."
"Coba kalian ceritakan kisahnya," perintah Ui Tek Kong.
"Untuk menolong nona Su. kami bertiga langsung
menyerbu ke markas pasukan Eng. Aku dan Bok Kian lalu
menyelundup kemana-mana untuk melepas api dan
keponakanku Huru Hara langsung menyerbu kedalam
markas . . ."
"Engkong, aku dimana ?" tiba2 Ah Liong melengking
karena namanya tidak ikut disebut.
"O, engkau juga ikut. Benar, aku lupa," kata Cian li-ji
"karena prajurit2 tak mampu menghadapi amukan Huru
Hara mereka lalu mengundang pemimpinnya si Barbak itu.
Huru Hara menantang Barbak untuk berkelahi satu lawan
satu. Pakai taruhan besar, lho!"
"Apa taruhannya?" jenderal Ui terkejut.
"Kepala manusia."
"Hai, jangan bicara sembarangan lopeh!" bentak jenderal
Ui.
"Siapa yang bicara sembarangan. Aku bercerita dengan
sungguh2. Memang pakai pertaruhan. Kalau Huru Hara
kalah, dia akan menyerahkan kepalanya. Tetapi kalau
Barbak kalah, dia harus membebaskan nona Su."
“O," desuh jenderal Ui.
"Masih ada pertarulan kedua," kata Cian-li-ji, "kalau
pertandingan pakai senjata, Huru Hara kalah, dia sedia
dipenggal kepalanya. Tetapi kalau dia menang dia minta
supaya Barbak menarik mundur pasukannya dari sini."
"Oh, hebat sekali!" seru jenderal Ui, "apakah Barbak
menerima tantangan itu?"
"Menerima."
"Lalu bagaimana kesudahannya?"
"Sudah tentu keponakanku Huru Hara yang menang.
Tetapi ternyata nona Su sudah ditolong Bok Kian, jadi
percuma. Tetapi untuk pertandingan kedua, waktu Barbak
sudah hampir kalah dia curang. Dia suruh anakbuahnya
menyerang kami
Terpaksa kami ringkus si Barbak dan kami seret keluar
baru kami lepaskan . . . . "
'O, dia engkau jadikan sandera?"
"Benar, kami terpaksa menyandera si Barbak supaya
kami dapat keluaf dari dalam markas."
"Ah, - sungguh hebat sekali tetapi sayang," kata jenderal.
Ui.
"Apanya yang sayang ciangkun?"
"Sudah dapat membekuk Barbak mengapa tak kalian
suruh dia harus menarik mundur pasukannya."
"Soal itu memang sudah kupikir, ciangkun," kata Huru
Hara, "tetapi pada waktu itu janjiku hanyalah supaya
Barbak melarang anakbuahnya mengganggu jalan kami
keluar dari markas."
"Tak apa, ciangkun," seru Cian-li-ji, "jika perlu kami
dapat mengulangi lagi langkah itu. Nanti kami suruh si
Barbak menarik mundur pasukannya dari sini."
Jenderal Ui geleng2 kepala, "Mana mungkin mereka
mau menerima tawaran semacam itu lagi? Mereka sudah
kalah tentu takkan menerima tantangan itu dan mereka
akan menangkap kalian."
"Ya, tetapi kita dapat mencari lain cara untuk
mengundurkan mereka, ciangkun," kata Huru Hara.
"Tiada lain jalan kecuali harus bertempur mati-matian
melawan mereka," kata jenderal Tek Kong.
"Baik, jika ciangkun menghendaki demikian sambut
Huru Hara, "tetapi yang penting kita harus mengungsikan
wanita, anak2 dan orang2 tua dari kota ini, baru nanti kita
lakukan pertempuran mati hidup dengan mereka."
Jenderal Ui garuk2 kepala, "Tetapi bagaimana kita
mengungsikan mereka? Kota sudah dikepung dari empat
penjuru. Kemanapun kita menerobos tentu akan disambut
mereka."
"Ciangkun," kata Huru Hara, "aku tak tahu bagaimana
keadaan kota ini. Rasanya tentu masih ada jalan yang
terbaik untuk lolos."
"Baiklah, engkau boleh memeriksa keadaan kota ini dan
nanti berilah laporan lagi cara bagaimana untuk lolos," kata
jendral itu.
"Tetapi ciangkun, anak pasukan tak kenal hamba bertiga,
mereka tentu akan curiga," kata Huru Hara.
"Akan kusuruh seorang perwira menemani engkau,"
jenderal itu seraya memerintah seorang perwira untuk
mengikuti Huru Hara.
Demikian dengan diantar oleh seorang perwira, Huru
Hara, Cian-li-ji dan Ah Liong segera berkeliling
mengadakan pemeriksaan di seluruh kota.
Ternyata para wanita, anak dan orang2 tua ditempatkan
disebuah gedung asrama. Sedangkan yang laki dan
pemuda2 dikerahkan untuk membantu para prajurit
menjaga di atas tembok kota.
Tiba2 Huru Hara sampai pada sebuah kuil besar yang
terletak dipinggir kota. Kuil itu memakai papan nama Cianhud-
si atau kuil Seribu-buddha. Didalamnya banyak
terdapat ratusan arca dewa2.
Hian Beng siansu, kepala paderi menyambut kedatangan
Huru Hara.
"Maaf, siansu, apakah tindakan siansu menghadapi
kepungan musuh selama ini?" tanya Huru Hara.
"Apa daya kami, sicu," kata Hian Beng siansu, "kecuali
hanya berdoa meminta kepada Hud-ya agar melimpahkan
kemujijatan dapat menyelamatkan kota ini."
"Siansu, bagaimana tindakan siansu kalau pasukan Ceng
dapat menduduki kota ini?"
"Kami akan meloloskan diri."
"Meloloskan diri? Dari mana siansu dapat meloloskan
diri?"
"Sicu," kata paderi itu, "sebenarnya sudah lama kami
memikirkan suatu jalan rahasia yang dapat kami jadikan
jalan untuk meloloskan diri bilamana kota ini sampai
diduduki pasukan Ceng."
"O, maksud siansu membuat sebuah terowongan ?"
"Ya, benar. Tetapi sayang masih belum dapat menembus
ke luar tembok kota."
"Bolehkah aku melihatnya?"
"Tentu saja" kata Hian Beng siansu. Dia mengantarkan
Huru Hara ke belakang. Di situ terdapat sebuah taman dan
gunungan tiruan. Paderi mendorong gunungan palsu dan
terbukalah sebuah lubang. Mereka turun kebawah.
"Berapa jauhnya lorong terowongan ini ?" tanya Huru
Hara.
"Baru mencapai tembok kota saja." "Apakah diluar
tembok kota terdapat hutan?" tanya Huru Hara.
"Apa," seru Hian Beng siansu, "kira2 satu li disebelah
barat kota, terdapat sebuah hutan."
"Wah, satu li cukup jauh," kata Huru Hara, "apakah
diluar tembok kota, ada tempat yang sunyi ?"
"Ya, disebelah barat laut."
"Bagus," seru Huru Hara, "akan kusuruh berpuluh orang
untuk, menggali supaya tembus kesana."
Huru Hara minta diri dan menghadap jenderal Ui Tek,
"Ciangkun, apabila hamba boleh meminjam seratus orang
untuk menggali terowongan itu, dalam dua hari hamba rasa
tentu sudah dapat tembus keluar kota.
Ui Tek Kong meluluskan. Dan begitulah hari itu seratus
orang pemuda yang masih kuat disuruh mengerjakan
penggalian terowongan di belakang kuil Cian-kud-si.
Dua hari kemudian pekerjaan itu telah selesai dan Huru
Hara menghadap jenderal Ui lagi, "Ciangkun, nanti malam
hamba bertiga akan menyelundup kedalam terowongan itu
dan langsung akan mengadakan pengacauan dari belakang
pasukan musuh. Apabila nanti di kubu mereka sudah terbit
kebakaran, harap ciangkun segera membuka pintu barat dan
menerjang keluar."
"Baik, tetapi siapa yang jaga kota ini ?" tanya jenderal Ui.
"Kota ini sudah tak dapat dipertahankan lagi. Yang
penting pasukan ciangkun harus dapat diselamatkan. Kelak
ciangkun dapat menyusun kekuatan lagi untuk melakukan
serangan balasan. Lalu kemanakah kiranya ciangkun
hendak membawa pasukan ciangkun ?"
"Kupikir hendak menuju ke gunung Thaysan. Disana
akan menyusun kekuatan lagi."
"Baik, kuminta ciangkun membawa para wanita, anak2
dan orang2 tua itu mengungsi sekali,'"
Jenderal Ui Tek Kong mengiakan. Kemudian ia berkata
lagi, "Tetapi engkau hanya tiga orang, mampukah engkau
mengacau mereka?"
"Harap ciangkun jangan kuatir," kata Huru Hara, "aku
tahu begaimana harus bertindak."
"Baik, akan kucatat jasamu agar kelak engkau mendapat
pahala," kata jenderal Ui.
"Tidak perlu," sahut Huru Hara, "yang penting adalah
lolos dari sergapan musuh dan kelak balas menyerang
mereka. Soal jasa, aku tak mengharap."
Demikian malam itu, Huru Hara, Cian-li-ji dan Ah
Liong menyusup melalui terowongan di kuil Gian-hud-si.
Mereka tiba di luar tembok kota lalu menghampiri ke kubu
pasukan Ceng.
"Paman Cian dan engkau Ah Liong, bakarlah kubu
mereka dan aku yang akan menyerbu,” kata Huru Hara.
Saat itu sudah tengah malam. Karena sudah setengah
bulan pasukan jenderal Ui tidak mengadakan gerakan suatu
apa, maka seperti tiap malam, prajurit2 Ceng itu hanya
tidur. Ada yang melewatkan malam dengan minum dan
berjudi. Mereka yakin pasukan jenderal Ui tentu tak berani
membuka pintu kota.
Tiba2 kesunyian malam dipecahkan oleh suara orang
berteriak-teriak, "Api . . . api . . . ! "
Lebih terkejut ketika melihat seorang yang memakai
tanduk, sedang mengamuk mengobrak-abrik kubu.
Cepat mereka lari menghampiri orang itu.
'Hai, siapakah engkau!" teriak seorang perwira Ceng
yang mencekal tombak.
"Menyerah atau mati!'' teriak orang itu yang tak lain
adalah Huru Hara seraya mengamuk dengan pedang.
Beberapa orang yang berani menghadang tentu disabat
roboh.
Perwira itu loncat dan menyerang, uhh . . . ia terkejut
ketika tombaknya melekat pada pedang orang itu. Dan
sekali orang itu menarik, si perwirapun ikut tertarik, plok . .
. .ia mencelat sampai beberapa tombak ketika Huru Hara
menendangnya.
Juga dari kanan dan kiri kubu, timbul kegaduhan yang
hebat. Seorang kakek cebol dan seorang bocah kuncung
juga ikut ngamuk. Kakek itu membawa sepotong besi dan si
bocah kuncung sepasang sumpit.
"Setan cebol, mampus engkau!" teriak prajurit yang
menyerang Cian-li ji. Tetapi kakek cebol itu berputar-putar
dan menghantam kepala prajurit itu.
"Setan cilik, dari mana engkau!" prajurit yang menyerang
Ah Liong menusuk dengan tombak tetapi Ah Liong
menghindar lalu loncat dan, aduuuhhh ......prajurit itu
segera menjerit karena sebuah biji matanya telah di sumpit
oleh Ah Liong,
Dan beberapa prajuritpun menjerit karena hidung atau
telinga mereka berlumuran darah Bahkan dalam
pertempuran yang dahsyat itu masih sempat pula Ah Liong
mempraktekkan keugal-ugalannya. Beberapa prajurit
menjerit kaget dan mendekap pinggang celananya.
Kemudian dengan enak saja Ah Liong mencabut rambut
atau kumis atau bahkan bulu mata mereka sehingga mereka
menjerit-jerit kesakitan.
Hanya tiga manusia nyentrik yang mengamuk tetapi
cukuplah membuat kubu pasukan Ceng gempar tak keruan.
"Hm, engkau setan cilik,” sebuah suara yang
menggeledek dan bertiuplah angin yang dahsyat.
Ah Liong berpaling. Ternyata seorang perwira Ceng
yang bertubuh tinggi besar tengah mengayunkan golok
panjang membabatnya.
"Celaka !" teriak Ah Liong seraya loncat keatas,
siungggg......golok panjang itu membabat di bawah kakinya,
hanya terpaut beberapa centi.
Perwira Ceng itu adalah pimpinan pasukan yang
mengepung kota Ce-lam dari sebelah barat. Dia bernama
Mohan, bertenaga besar dan pandai memainkan golok
panjang.
Tabasannya luput, perwira tinggi pasukan Ceng itu,
menggerung dan menyerang lagi dengan golok panjangnya.
Dalam waktu singkat, Ah Liong telah menjadi bulan-bulan
serangan pemimpin pasukan Ceng itu. Sedemikian gencar
dan dahsyat serangan perwira Mohan sehingga Ah Liong
kelabakan karena tiada kesempatan untuk memperbaiki
diri. Untung dalam ilmu ginkang atau Meringankan-tubuh,
bocah itu telah mencapai tataran yang tinggi, sehingga dia
dapat terhindar dari bahaya maut.
Adalah berkat latihan keras yang diberikan neneknya
waktu dia masih kecil, antara lain tiap pagi harus
memanggul kerbau ke sungai, naik turun gunung mencari
kayu bakar dan air, maka Ah Liong memiliki dasar ilmu
Gin-kang yang kokoh sehingga dia mampu lari secepat
kijang dan loncat setinggi beberapa meter.
Namun karena serangan golok panjang dari pimpinan
pasukan Ceng sedemikian hebat, terpaksa Ah Liong harus
mandi keringat berloncatan dan menghindar kian kemari.
“Matikkkk ....," tiba2 Ah Liong menjerit karena waktu
hendak loncat mundur, kakinya terlanggar sesosok mayat
prajurit Ceng sehingga dia terjatuh, Dan saat itu Mohanpun
sudah ayunkan goloknya.....
"Dukskkk . . .. , aduh.....tiba2 pula Mohan menjerit
kesakitan karena kepalanya ditimpah sesosok tubuh
manusia.
Sudah tentu peiwira Ceng itu terhuyung ke muka.
Ternyata yang melemparkan mayat prajurit Ceng itu adalah
kakek Cian-li ji. Dia habis membereskan seorang prajurit
Ceng dan ketika berpaling kesamping, kejutnya bukan alang
kepalang ketika melihat Ah Liong jatuh dan perwira Ceng
hendak ayunkan goloknya. Karena jarak agak jauh dan tak
sempat untuk mencegah maka Cian-li ji terus mengangkat
prajurit Ceng itu dan dilemparkan kearah si perwira.
Melihat perwira Ceng itu jatuh ketempatnya, Ah Liong
terkejut. Dia melenting bangun dan secara reflek, dia
mencengkeram punggung celana si perwira itu, diserempaki
dengan sebuah tendangan, plok.....perwira itu hampir jatuh
tersungkur, tetapi untung dia masih mampu berdiri tegak
walaupun harus gentayangan sampai beberapa langkah.
"Uhhhh," tiba2 mulutnya mendesuh kejut dan cepat2 ia
mendekap pinggang celananya. Wajahnya merah padam. Ia
hendak membalas Ah Liong tetapi tali celana dalamnya
putus.
Tepat pada saat itu, pasukan Ceng panik tak keruan.
Mereka menjerit, berteriak dan lari berserabutan. Ternyata
jenderal Ui Tek Kong dengan membawa pasukannya,
menyerbu kubu pasukan Ceng. Sudah tentu keadaan makin
kacau tak keruan.
Prajurit2 Ceng hendak melampiaskan kemarahannya
kerena lebih dari setengah bulan dikepung. Mereka
menyerang ganas membunuh setiap prajurit musuh yang
dihadapinya.
Mengadapi serangan itu, pasukan Ceng benar2 tak
berdaya. Mereka lari tanpa dapat dikendalikan lagi.
Singkatnya, pasukan jenderal Ui Tek Kong berhasil
menghancurkan pasukan Ceng yang mengepung di pintu
barat. Kemudian jenderal Ui membawa pasukannya
menuju ke gunung Thay-san.
"Ah Liong, paman Cian, lekas ikut aku," seru Huru Hara
waktu menghampiri kedua orang itu.
Mereka bertiga tidak ikut pasukan jenderal Ui,
melainkan kembali ke terowongan.
"Eh, mau kemana nih ?" seru Cian-li-ji.
"Masuk ke kota Ci lam lagi."
"Lho, sudah dapat lolos mengapa masih kembali lagi ?"
Cian Li-ji heran.
"Kita bakar mereka."
"Mereka siapa ?"
'"Pasukan Ceng."
"Eh, bukankah pasukan Ceng sudah dapat dihancurkan
?"
"Yang dari timur belum," kata Huru Hara.
Paderi Hui Beng juga terkejut ketika melihat Huru Hara
dan kedua kawannya muncul lagi.
"Mengapa sicu kembali kemari ?" tegurnya.
"Aku hendak mohon bantuan siansu. Maukan siansu
membantu ?"
"Sudah tentu apa yang pinceng lakukan, pinceng tentu
akan senang membantu sicu.
"Kuminta siansu membuka pintu timur dan
mempersilakan Ceng masuk kota," kata Huru Hara.
Kepala kuil Cian-hud-si itu terkejut, "Tetapi sicu....."
"Pasukan jenderal Ui sudah membukakan diri maka
tiada halangan siansu membukakan pintu kota agar
pasukan Ceng disebelah timur masuk."
Paderi itu tertegun.
"Sekali tepuk dua lalat," kata Huru Hara melanjutkan,
"dengan membukakan pintu kota, selamatlah para paderi di
kuil ini dari hukuman mereka, Dan disamping itu,
usahakanlah agar sian su jangan menimbulkan kecurigaan
mereka. Bahkan kalau dapat, siansu supaya bersikap
bersahabat dengan mereka."
"Ah....."
"Kami akan bersembunyi dalam terowongan rahasia itu
dan akan mengadakan pengacauan, pada fihak musuh."
Walaupun berat dalam hati tetapi paderi Hian Beng
menyanggupi permintaan Huru Hara. Ia tahu bahwa
pemuda nyentrik itu tentu mempunyai rencana terhadap
pasukan Ceng.
Keesokan harinya pagi2 sekali Hian Beng siansu bersama
seluruh paderi kuil Cian-hud-si yang berjumlah duapuluh
orang, berbondong bondong membuka pintu kota sebelah
timur. Kemudian mereka tegak berdiri diambang pintu kota
dengan sikap penuh kedamaian.
Tak berapa lama dari fihak pasukan Ceng, muncul dua
orang perwira penunggang kuda.
"Apalah maksud siansu membuka pintu kota ini ?" tegur
kedua perwira itu.
"Omitohud ! Damai di dunia, damailah umat manusia,"
seru Hian Beng siansu, "pasukan kera jaan Beng telah
meninggalkan kota ini maka kamipun memberanikan diri
uatuk membuka pintu kotia menyambut kedatangan
pasukan Ceng kedalam kota Cianlam," seru paderi itu.
Kedua perwira hu tampak terkejut, "Benarkah begitu,
siansu ?" tanya mereka setengah bersangsi."
"Siancay ! Siancay ! Kami orang-orang beragama
pantang berbohong. Silakan sicu memeriksa kedalam kota.
Apabila kami berbohong, kami bersedia menerima
hukuman."
Setelah berunding kedua perwira itu menyatakan akan
masuk kedalam kota. Demikian dengan diantar rombongan
paderi itu, kedua perwira lalu masuk kedalam kota.
Apa yang dikatakan Hian Beng siansu memang benar.
Kota sudah kosong dari prajurit Beng. Atas pertanyaan
kedua perwira, Hian Beng siansu mengatakan bahwa
pasukan Beng dibawah pimpinan jenderal Ui Tek Kong
semalam telah menerjang keluar melalui pintu kota sebelah
barat dan sampai saat itu tak kembali lagi, "Kemungkinan
mereka sudah meloloskan diri kearah barat," Hian Beng
siansu menutup keterangannya
Demikian pasukan induk yang dipimpin panglima
Barbak segera menduduki kota Celam. Malam itu diadakan
pesta untuk merayakan kemenangan. Seluruh pasukan yang
mengepung kota Celam dari empat jurusanpun memasuki
kota, kecuali pasukan yang berjaga di pintu barat. Mereka
menderita kerusakan besar karena diobrak-abrik Huru Hara
bertiga dan diserang pasukan jenderal Ui Tek Kong.
"Tiga orang yang dandanannya seperti orang sinting ?"
panglima Barbak terkejut ketika mendapat laporan tentang
tiga manusia aneh yang mengobrak-abrik pasukan Ceng di
pintu barat.
Perwira Mohan membenarkan, "Mereka terlalu kurang
ajar sekali, terutama si bocah lelaki kuncung dan kakek
cebol. Bocah itu telah memutus tali celana prajurit2 kita ...."
"Apakah engkau juga dikerjain ?" tukas panglima
Barbak.
Mohan tersipu-sipu merah mukanya, "Apabila kelak
bertemu lagi, bangsat kecil itu tentu kucincang."
Panglima Barbak termenung-menung memikir ketiga
manusia aneh yang mengacau pasukan Ceng.
"Siapa gerangan ketiga manusia sinting itu ?" tanyanya
kepada para anakbuahnya.
Ada seorang prajurit yang memberi keterangan bahwa
pemuda yang nyentrik itu bernama pendekar Huru Hara.
"Siapakah namanya yang sebenarnya ?"
"Hamba tak tahu. Tetapi konon kabarnya dia pernah
menolong panglima Taras ketika diserang pasukan Beng."
Demikian pembicaraan yang dilakukan panglima Barbak
dengan para anakbuahnya ketika sudah memasuki kota
Celam, Dan untuk menghibur prajuritnya maka Barbak
meluluskan untuk mengadakan perjamuan, merayakan
kemenangan mereka.
"Kurang ajar," lengking seorang prajurit kepada kawankawannya,
mengapa kota ini seperti sebuah kota mati ?
Penduduknya tak tampak sama sekali. Juga kaum
wanitanya, satupun tak ada."
"Mereka ikut pada pasukan jenderal Ui." kata prajurit
yang lain.
"Ah, celaka kalau begitu. Kita kan tak dapat bersenangsenang
dengan wanita."
"Ah, lu, memang doyan sekali bermain perempuan.
Setiap kali menduduki kota, pertama-tama engkau tentu
mencari wanita cantik."
"Iya dong," sahut prajurit yang bertubuh kekar itu," perlu
apa kita mengadu jiwa dalam medan peperangan kalau
setiap kali menang tidak dapat menikmati hasil
kemenangan itu. Kapan lagi kita mempunyai kesempatan
untuk mencicipi wanita2 cantik kalau tidak dalam keadaan
perang seperti ini ? Ha, ha, salahmu sendiri mengapa
engkau tak mau menikmati kesenangan itu."
Demikian mental para prajurit Ceng. Setiap kali
menduduki kota, mereka tentu memuaskan diri. Ada yang
merampok harta benda rakyat, ada yang merampas isteri
dan anak gadis orang, Adai pula yang memeras dan lain2
tindakan yang menindas rakyat.
Dengan sikap dan ucapan yang tenang dan ramah
dapatlah Hian Beng siansu memperoleh kepercayaan dari
pimpinan pasukan pendudukan Ceng.
Pada hari kedua dari pendudukan tentara Ceng,
terjadilah suatu peristiwa hilangnya empat penjaga pintu
kota barat. Waktu mendapat laporan, panglima Barbak
terkejut.
"Ah, mungkin mereka melarikan diri," katanya.
Tetapi ternyata pada malam ketiga, empat penjaga pintu
barat, hilang lagi. Kejadian itu berlangsung, sampai
berturut-turut tiga malam.
Kali ini Barbak tak dapat meremehkan lagi, "Tentu ada
sesuatu yang harus diselidiki. Tak mungkin mereka
melarikan diri. Tentu ada penyebabnya."
Dia mengatur siasat. Penjagaan pintu kota tetap
dilakukan empat orang prajurit. Tetapi diam-diam
memerintahkan sepuluh prajurit bersembunyi di kejauhan
untuk mengintai gerak gerik mereka.
Sampai tengah malam tiada terjadi apa2, Hampir
kesepuluh prajurit yang bersembunyi itu akan merebahkan
diri tidur karena kesal hati atau tiba2 terdengarlah suara
burung hantu berbunyi. Karena merasa seram, rasa kantuk
kesepuluh prajurit-itupun lenyap seketika.
Tiba2 mereka menyaksikan suatu pemandangan cukup
membangkitkan rasa takut sehingga bulu kuduk mereka
berdiri.
Entah dari mana datangnya, tahu2 muncullah tiga sosok
mahluk hitam. Dari kepala sampai kaki tertutup oleh kain
hitam. Hanya bagian mata saja yang diberi lubang.
Juga cara ketiga mahluk aneh itu berjalan, memang luar
biasa. Yang bertubuh pendek, berputar-putar tubuh seperti
gangsingan. Yang bertubuh kecil berjalan dengan
berloncatan jungkir balik. Sedang yang bertubuh agak tinggi
berjalan dengan cara loncat maju mundur. Tak hentihentinya
mulut mereka bercuat-cuit seperti setan.
"Setan......," teriak salah seorang penjaga pintu kepada
kawan-kawannya. Ketiga kawan-nyapun tahu dan pucat
seketika. Sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, ketiga
mahluk aneh itu sudah melayang ke hadapan mereka dan,
bluk, bluk, bluk.....keempat prajurit penjaga itu rubuh
berjatuhan karena ditempeleng dan ditampar kedua mahluk
aneh itu. Cepat keempat tubuh prajurit penjaga itu dijinjing
dan terus dibawa pergi,
Melihat peristiwa itu kesepuluh prajurit yang
bersembunyi dibalik gerumbul segera mengikuti. Ternyata
ketiga mahluk aneh itu melemparkan tubuh2 prajurit
penjaga kedalam sungai.
"Setan dari mana berani menggangu orang ini!" seru
kepala prajurit yang memimpin kelompok prajurit itu.
Cuwat-cuwit, demikian suara ketiga mahluk aneh itu dan
merekapun terus menyerbu kawanan prajurit itu.
Karena terpengaruh oleh rasa seram dan ngeri maka
kawanan prajurit itupun sudah runtuh morilnya. Apalagi
menghadapi scrangan ketiga mahluk yang luar biasa
cepatnya. Dalam beberapa menit saja, merekapun sudah
rubuh dan terus dilempar kedalam sungai.
Keesokan harinya bukan main kelabakan panglima
Barbak. Bukan saja keempnt penjaga pintu lenyap, pun
kesepuluh prajurit yang ditugaskan untuk mengawasi
mereka, juga turut hilang tak berbekas.
Barbak penasaran sekali. Malam itu sengaja pintu kota
sebelah dijaga oleh seratus prajurit bersenjata lengkap. Coba
saja apakah mereka juga akan lenyap, pikir Barbak.
Keseratus prajurit itu takut akan perintah Barbak.
Mereka tak berani lengah dan tidur walaupun angin tengah
malam mulai makin terasa dingin dan kantukpun
menyerang hebat.
Tiba2 angin berkesiur membawa bau arak yang harum.
Prajurit2 itu mulai ketakutan setengah mati. Hari dingin,
minum arak harum, wah betapa nikmatnya.
''Gila, dari mana bau yang harum ini ? Tentulah ada
orang minum arak," kata seorang pinjurit seraya ayunkan
langkah.
"Hai, mau kemana tuh ?" tegur kawannya,
"Cari orang itu," sahut si prajurit.
"Eh, lu mau cari anak sendiri ya ? Aku ikut,"! seru tiga
kawannya.
Tak berapa lama merekapun lenyap dibalik kegelapan
malam.
"Hai, mengapa mereka tak kembali ?" seru lain prajurit,"
gila, mungkin mereka berpesta pora minum arak harum.
Hm, mau main korupsi sendiri .....," prajurit itupun terus
ayunkan langkah.
"Aku ikut." seru lima orang prajurit yang lain.
Tetapi sampai beberapa lama keenam prajurit yang
menyusul keempat prajurit taai, juga belum kembali.
"Gila," kata seorang prajurit, "mengapa mereka kembali
lagi ?"
Dia terus hendak menyusul tetapi dicegah oleh
kepalanya, "Jangan ! Rupanya telah terjadi sesuatu kepada
mereka."
Karena berkurang sepuluh prajurit maka pasukan prajurit
Ceng yang menjaga pintu kota itu tinggal sembilan puluh
orang. Pimpinan pasukan mengirim empatpuluh prajurit
untuk mencari kesepuluh prajurit yang tak kembali tadi.
Beberapa saat kemudian kembali angin bertiup. Kali ini
bukan bau arak harum tetapi bau daging bakar yang lezat.
Dalam malam sedingin itu, perut mudah terangsang makan
kalau diserang bau daging bakar atau masakan yang lezat.
"Aku lapar," kata seorang prajurit yang terus ngeloyor
pergi ke arah bau sate bakar itu, Tanpa bilang apa2, empat
orang kawannya segera mengikuti.
Lebih kurang dua ratus langkah dibalik sebuah
gerumbul, mereka melihat seorang, mahluk yang kepala
dan tubuh berkudung kain hitam sedang membakar daging.
Kelima prajurit itu menghunus senjata dan menghampiri,
“Celaka, daging tikus.....!" seru mereka ketika tiba ditempat
mahluk aneh itu.
Plok, plok, plok.....tiba2 mahluk aneh itu melontar sate
tikus kearah mereka dan tepat mengenai mukanya. Tikus
bakar itu masih panas. Dan ketika mengenai muka, sudah
tentu panasnya bukan main, "Aduh . .. aduh ...." kelima
prajurit itu berteriak mengaduh dan serempak melepaskan
senjatanya terus mendekap muka masing2.
Plak, plak. plak.....terdengar mahluk aneh itu loncat dan
ayunkan tangannya menampar muka- kelima prajurit itu.
Seketika mereka tak sempat menjerit dan terus roboh. Cepat
sekali mahluk aneh itu bekerja. Dalam beberapa kejap,
kelima prajurit itu sudah diikat jadi satu dan mulutnya
disumpal dengan tikus bakar.
Keempatpuluh lima prajurit yang masih menjaga pintu,
sudah mulai curiga mengapa kelima kawannya tak kembali.
"Wah, jangan2 mereka hilang juga," kata seorang
prajurit.
"Semua prajurit tak boleh meninggalkan tempat ini,"
perintah kepala kelompok, "rupanya kita bergahadapan
dengan musuh yang berbahaya."
"Manusia atau setan,” tanya beberapa prajurit.
"Kemungkinan besar bangsa manusia."
Demikian sisa prajurit yang masih berjumlah
empatpuluh lima orang itu bersiap-siap. Beberapa waktu
kemudian, sayup2 dari arah tempat yang gelap sekira
duapuluhan tombak jauhnya, muncullah dua mahluk hitam
yang pendek. Keduanya menari-nari dan menyanyi-nyanyi.
Entah apa yang mereka nyanyikan karena yang kedengaran
hanya suara cuwat-cuwit dan tertawa yang mengikik
kadang meloroh.
"Setan......" seru beberapa prajurit.
"Hm, kita hajar," kata kepala pasukan seraya maju.
Sepuluh prajurit mengiringinya.
Tetapi mereka heran karena mereka tak pernah
mendekat kedua mahluk itu. Mereka maju, kedua mahluk
itupun mundur sehingga jaraknya tetap terpisah 20-an
tombak.
"Kejar !” seru kepala pasukan seraya lari memburu
kemuka. Kedua mahluk itapun juga lari.
Kepala pasukan itu makin penasaran. Dia dan
anakbuahnya makin memburu keras. Tanpa disedari
mereka telah terpancing meninggalkan posnya sampai jauh.
Tiba2 kedua mahluk aneh itu lari kedalam kuil Cian-hudsi.
Serempak kawanan prajurit Ceng menyerbu kuil itu,
sehingga para paderi kuil itu gelagapan bangun.
"Ah, ada keperluan apa maka sicu pada saat begini
malam datang kemari ?" tegur Hian Beng siansu.
Semua prajurit Ceng tahu bahwa para paderi dari kuil
Cian-hud-si itu karena berjasa membuka pintu kota, telah
mendapat perlakuan baik dari panglima Barbak. Prajurit
Ceng dilarang mengganggu paderi dari Cian-hud-si.
"Maaf, siansu," kata kepala prajurit, "kami diganggu oleh
dua mahluk aneh dan ketika kami kejar mereka masuk
kedalam kuil ini."
"Ah," Hian Beng terkejut, "masakan mereka berani
berbuat begitu ?"
"Benar siansu," seru sekalian prajurit memperkuat
keterangan kepala mereka, "kami semua menyaksikan
sendiri."
Hian beng siansu merenung sejenak, "Ah, mungkin
bangsa mahluk gaib penunggu tempat ini.”
"Apa ?" seru kepala prajurit terkejut.
"Memang ditempai ini sering muncul mahluk2 aneh
tetapi mereka tak berani mengganggu kami," ujar Hian
Beng siansu,
Kepala prajurit kerutkan dahi, "Tetapi kami duga kedua
orang itu tentu bangsa manusia biasa."
"Apakah sicu tak percaya bangsa setan ?"
"Kami memang hanya mendengar orang bercerita
tentang setan tetapi seumur hidup kami tak pernah
melihatnya."
"Lalu maksud sicu ?"
"Jika siansu tak keberatan kami hendak melakukan
pemeriksaan kedalam kuil."
"O, sicu hendak menggeledah ?"
"Maaf, siansu, kami tak bermaksud mengotori kuil
siansu tetapi kebalikannya kami hendak membersihkan kuil
ini dari gangguan setan atau manusia jahat yang pura2
menyaru jadi bangsa setan."
Setelah berdiam sejenak kepala kuil Cian-hud-si itu
mengangguk, "Silakan."
Tetapi hasil pemeriksaan mereka ternyata nihil. Kedua
mahluk aneh itu tak ada. Setelah menghaturkan maaf,
merekapun kembali.
Sampai ditengah jalan mereka terkejut ketika melihat
sesosok tubuh bertutup kain hitam tegak di tengah jalan.
Merekapun serempak bersiap.
"Siapa engkau !" bentak kepala prajurit. "Aku adalah
penunggu jalan ini," seru mahluk itu.
"Ngaco !" bentak kepala pasukan itu, “di dunia ini tidak
ada setan !"
"Siapa bilang? Coba saja engkau buktikan aku ini setan
atau bukan." seru mahluk hitam itu.
"Mengapa engkau muncul disini ?"
"Mintak pajak !"
"Gila ! Minta pajak apa ?"
"Setiap manusia yang lewat dalam ini harus memberi
pajak kepadaku. Jika menolak, akan kubunuh !"
"Uh, enak saja kalau ngomong! Setan jahat semacam
engkau harus diberantas !" seru kepala prajurit seraya
memberi isyarat. Mereka sepuluh prajurit segera
menyerang. Tetapi setan itu bergerak luar biasa cepatnya.
Dalam beberapa kejab lima enam prajurit terlempar jatuh
sampai dua tiga meter. Dan entah dengan gerak apa, tahu2
kepala prajurit itupun sudah dibekuk dan dilempar kedalam
semak berduri.
Empat orang prajurit segera lari ketakutan. Tetapi cepat
sekali satu demi satu. mereka sudah diringkus dan dilempar
kedalam semak belukar oleh mahluk aneh itu.
"Hm, untung tidak ada Ah Liong. Kalau anak itu disini
mereka tentu sudah digunduli dan ditelanjangi," seru
mahluk itu.
Empatpuluh prajurit yang menjaga di pintu-pintu kota,
kembali bergidik seram ketika mereka melihat kedua
mahluk hitam pendek menyusul lagi.
"Hai, kemana kawan2 dan pimpinan kita ?" seru mereka.
"Celaka, tentulah sudah dikerjai setan itu," kata prajurit
lain.
Dan kali ini kedua mahluk hitam pendek itu tidak mau
menari-nari di kejauhan tetapi malah menghampiri
ketempat kawanan prajurit itu.
Tiba2 salah seorang mahluk yang bertubuh kurus
melemparkan dua buah benda kearah kawanan prajurit itu.
Mereka terkejut dan menangkis, brek, brek.....
"Haya. celaka.....," serentak berpuluh-puluh prajurit itu
menjerit keras ketika mereka diserang oleh ratusan ekor
tawon. Juga ada yang menjerit-jerit seperti kerongsokan
setan. Mereka lari sambil mengusap-usap muka, leher dan
tubuh mereka.
Ternyata kedua benda yang dilempar oleh mahluk hitam
kurus itu adalah sarang tawon dan sarang semut merah.
Waktu ditangkis, sarang pecah dan tawon serta semutpun
berhamburan mencurah ke arah kawanan prajurit Ceng itu.
“Minta ampuuuuunnnnn.....” bubarlah seketika
berpuluh-puluh prajurit Ceng itu. Mereka lari pontang
paming seperti dikejar setan.
"Ha, ha, hi, hi, hi ..... " kedua mahluk aneh itu tertawa
mengakak dan mengikik. Mereka lalu berpelukan dan
menari-nari kegirangan.
"Hai, Ah Liong, apa-apaan engkau itu?" tiba2 mahluk
aneh.yang mencegat kawanan prajurit di tengah jalan
tadipun muncul.
"Cukup dengan dua macam po-pwe (pusaka) berpuluhpuluh
prajurit Ceng itu sudah kabur tunggang langgang,
engkoh Hok," seru mahluk bertubuh kecil kurus.
"Bagus, mari kita pulang," kata mahluk itu.
Ternyata ketiga mahluk aneh itu tak lain adalah Huru
Hara, Cian-li ji dan Ah Liong. Mereka mempunyai rencana
umuk menyaru sebagai setan, menggoda dan mengacau
penjaga pintu kota.
Sudah tentu bukan kepalang marah panglima Barbak
menerima laporan bahwa seratus prajurit yang dikirim
untuk menjaga pintu kota sebelah barat telah lari kocar
kacir karena diserang oleh tiga mahluk aneh.
"Tidak mungkin setan," seru panglima Barbak
menggebrak meja ketika sisa prajurit yang bertugas di pintu
barat pagi itu menghadap untuk melaporkan kejadian
semalam.
Barbak perintahkan untuk mencari prajurit? yang lenyap
itu. Yang diketemukan adalah kepala prajurit dan
anakbuahnya yang dilempar kedalam semak berduri oleh
setan penghadang jalan tadi malam. Mereka masih tak
sadarkan diri, tubuh dan pakaian penuh guratan duri.
Karena mereka semua belum dapat memberi keterangan
maka Barbak tak tahu tentang bagaimana mahluk2 aneh itu
menghilang masuk kedalam kuil Ciau-hud-si.
"Nanti malam tambahkan lagi dua ratus prajurit untuk
menjaga pintu barat," kata Barbak, "dan nanti malam aku
sendiri juga akan melakukan ronda."
Begitulah malam itu pintu sebelah barat dijaga ketat
sekali seperti menjaga serangan musuh yang kuat. Dua
ratus prajurit bersenjata lengkap berbaris dengan rapi.
Tetapi malam itu tiada kejadian suatu apa. Merekapun
dengan hati legah menghadap panglima Barbak untuk
memberi laporan. Tetapi alangkah kejut mereka karena
panglima Barbak sedang menerima seorang prajurit yang
melaporkan bahwa empat prajurit di pintu timur telah
bilang.
"Jahanam!" teriak Barbak marah sekali, "mereka benar2
hendak mempermainkan kita."
"Siapakah mereka itu ciangkun?" tanya seorang perwira.
Dia seorang perwira bernama Mogli, kakak dari perwira
Mohan yang digunduli Ah Liong tempo hari.
"Mereka tentulah ketiga manusia nyentrik yang pernah
menyerbu markas kita tempo hari," kata Barbak, "siapkan
penjagaan yang kuat di pintu timur juga. Akan kukeluarkan
perintah untuk menangkap ketiga manusia gila itu. Barangsiapa
dapat menangkap mereka, mati atau hidup, akan
kuberi ganjaran !"
Demikian pada malam itu, pintu barat dijaga duaratus
prajurit bersenjata dan pintu timur juga. Dan pada malam
itu panglima Barbak sendiri mengadakan inspeksi,
berkeliling meronda.
Malam itu tiada kejadian suatu apa. Barisan prajurit
yang menjaga dikedua pintu itupun pagi harinya melapor ke
markas. Mereka mengira tentu akan mendapat pujian dari
panglima Barbak. Tetapi apa yang dialaminya ketika tiba di
markas, benar2 membuat mereka terlongong-longong
melongo.
Keadaan dalam markas yang merupakan sebuah gedung
besar bekas tempat tinggal tihu (residen) tampak porak
poranda. Perabot2 ruangan, meja kursi dan pigura2
dinding, berantakan tak keruan.
"Apakah yang terjadi," kepala pasukan penjaga pintu
kota bertanya kepada seorang prajurit yang bertugas di
markas.
"Semalam markas kita telah dikacaukan oleh puluhan
ekor tikus," sahut prajurit itu.
"Tikus? Masakan tikus dapat melakukan penyerangan
sampai begini rupa ?"
"Engkau tak tahu," sahut prajurit dalam markas itu,
"entah dari mana datangnya, tahu2 pada saat itu ketika
hampir mendekati pukul dua malam, ratusan ekor tikus
yang ekornya menyala api, berhamburan jatuh kedalam
ruangan dan terus lari kesegenap penjuru markas. Tikus itu
rupanya kesakitan dan mengamuk. Ekornya yang terbakar
itu, membakar juga kain gordyn sehingga menimbulkan
kebakaran."
"O…."
"Bukan hanya kegitu saja, pun tikus itu menyerang setiap
orang yang dijumpainya. Bahkan merekapun masuk
kedalam kamar tidur dan menyerang orang yang sedang
tidur. Seluruh prajurit yang berada dalam gedung markas
menjadi panik tak keruan. Mereka lari tunggang langgang
dan diburu oleh kawanan tikus yang marah itu."
"Apakah panglima tak berada dalam markas?"
"Saat itu panglima sedang keluar melakukan inspeksi.
Memang waktu pulang dia terkejut dan marah sekali.
Tetapi dia tak tahu kepada siapa kemarahannya harus
ditumpahkan.
"Apakah ketiga manusia gila itu yang melakukannya ?"
Prajurit dari markas gelengkan kepala, "Tak ada orang
yang tahu. Ketiga manusia gila itu tak menampakkan diri."
"Lalu bagaimana tindakan panglima ?"
"Panglima benar2 marah sekali. Besok akan dilakukan
penggeledahan besar-besaran dalam kota. Tiap rumah atau
tempat yang mencurigakan akan dibakar dandimusnahkan.
Ketiga manusia besok itu harus dapat
ditangkap."
Memang yang mengacau markas pasukan Ceng itu
adalah Huru Hara bersama Cian-li-ji dan Ah Liong. Huru
Hara teringat akan pengalamanannya waktu membakar sate
tikus di pagoda Suikong-tha atau pagoda Cahaya Indah.
Ia segera mengajak kedua kawannya untuk menangkap
tikus. Huru Hara tak banyak mengalami kesukaran,
demikian pula Ah Liong yang trampil sekali menggunakan
sepasang sumpitnya untuk menangkap tikus. Hanya Cian-liji
yang agak kewalahan.
Tetapi orangtua kate itu tak kurang akal. Ia
menggunakan arak harum untuk memancing kedatangan
tikus2, kemudian tikus itupun disemburnya dengan arak
yang berada dalam mulutnya. Dengan cara itu dapatlah ia
memperoleh berpuluh-puluh tikus.
Kemudian ekor tikus itu disiram dengan minyak, setelah
ditempatkan dalam peti kayu, lalu dibawa ke markas.
Empat penjaga pintu markas dibikin tak berdaya lalu
mereka masuk kedalam markas dan melemparkan kotak
yang telah disulut api, membakar ekor tikus2 itu. Karena
kesakitan maka kawanan tikus itu menerjang dan
mengamuk keseluruh sudut gedung markas, menimbulkan
kebakaran dan kepanikan prajurit2.
Sehabis mengacau di markas besar pasukan Ceng, Huru
Hara bertiga lalu pamit pada Hian Beng siansu, "Siansu,
kami hendak meninggalkan kota ini Teruskanlah siasat
siansu untuk pura2 maju bekerja-sama dengan mereka. Lain
waktu aku tentu akan datang kemari lagi," kata Huru Hara.
"Ah, sebenarnya kamipun juga ingin pergi dari kota ini.
Lebih baik tinggal di kuil yang sepi di puncak gunung
daripada harus bercampur dengan orang2 dan prajurit
Ceng," kata Hian Beng.
"Saat ini nasib kerajaan Beng sedang ditentukan oleh
peperangan. Kalau menang, kerajaan Beng tetap akan tegak
berdiri. Tetapi kalau kalah tentu akan dihancurkan orang
Ceng. Oleh karena itu kuminta siansu mengesampingkan
dulu segala perasaan suka tak suka untuk secara diam2
membantu perjuangan para pendekar pencinta tanah-air
yang kini sedang berjuang melawan penjajah Ceng," kata
Huru Hara.
Huru Hara lalu mengajak Ah Liong dan Cian-li-ji
mengambil jalan dari terowongan rahasia dikebun belakang
kuil Cian-hud-si.
"Engkoh Hok, mengapa kita tinggalkan kota ini ?
Bukankah prajurit2 Ceng itu masih belum habis ?" kata Ah
Liong.
"Memang sengaja kusisakan."
"Lho, apa tidak dibasahi saja ?"
"Tidak perlu."
"Eh, aneh lu Huru Hara," Cian-li-ji menyelutuk,
"mengapa musuh masih disisakan ?"
"Kalau musuh habis, lalu dengan siapa kita akan
bertempur?" enak saja Huru Hara menyahut.
"O, maksudmu supaya kita bisa latihan bertempur ?"
"Ya."
"Benar, engkoh Hok," teriak Ah Liong, "selama ini aku
belum mendapat kesempatan untuk mempraktekkan ilmu
kepandaianku. Tadi waktu bertempur dengan prajurit2
Ceng, banyak sekali aku harus menyesuaikan ilmu
kepandaian itu dengan keadaan yang kuhadapi."
"Bagus, Ah Liong," seru Huru Hara, "sempurnanya ilmu
itu kalau sering dipraktekkan."
"Benar engkoh Hok." sahut Ah Lioag, "ilmuku
menerkam ikan, makin hebat,"
"Menerkam ikan ?" Huru Hara terkesiap.
"Ya, dulu waktu di gunung, nenek mengharuskan aku
tiap hari menangkap ikan dengan tangan. Bertahun-tahun
kulakukan perintah itu sehingga aku telah mencapai tingkat
yang hebat. Sekali menerkam kedalam air, ikan yang
sedang meluncur, pun dapat kutangkap."
"Lalu dimana engkau mempraktekkan ilmu itu ?" tanya
Huru Hara.
"Bukankah setiap kali aku mencomot, tentu putus tali
celana orang ?"
"Ha, ha, ha.....," Cian-li-ji tertawa mengakak.
Huru Hara terpaksa tertawa juga. Tak berapa lama
mereka keluar dari terowongan dan berada diluar tembok
kota.
"Kemana kita sekarang ?" tanya Cian-li-ji.
"Memberi laporan pada mentri Su Go Hwat," jawab
Huru Hara.
"Lho, apa tidak perlu mencari engkoh Bok Kian itu ?"
tanya Ah Liong.
"Ya sambil menuju ke tempat mentri Su Go Hwat,
kitapun mencari Bok Kian."
"Bagaimana dengan jenderal Ui ?” tanya Cian li-ji.
"Untuk sementara biarlah dia mengungsi ke gunung.
Nanti apabila sudah mendapat perintah dari Su Go Hwat,
barulah aku akan ke sana untuk merundingkan rencana
dengan jenderal itu."
"Eh, bagaimana dengan jenderal yang engkau katakan
hendak memberontak itu ?" tanya Cian-li-ji.
"Jenderal Co Liang Giok, maksud paman?"
"Ya, jenderal itu."
"Nanti setelah menghadap Su tayjin, aku memang ingin
meninjau keadaan jenderal yang dituduh memberontak itu."
"Maksudmu ?"
"Aku akan mohon kepada Su tayjin supaya meluluskan
aku untuk menangani jenderal itu. Kalau ia memang
memberontak, akan kutangkap. Tetapi kalau tidak, tentu
akan kubantu."
"Betul, engkoh Hok, kalau dia berhianat tentu akan
kucomot tali celananya ... ."
"Hus, jangan gila-gilaan engkau I" bentak Huru Hara,"
masa jenderal mau engkau comot tali celananya."
"Hai, Ah Liong, apa engkau tak tahu siapa nama
engkohmu ini ?" tanya Gian-li-ji.
"Tahu."
"Mengapa tiap kali engkau memanggilnya engkoh Hok ?
Apakah namanya Hok ?"
"Dulu kuanggap dia adalah Ah Hok, engkoh angkatku,
cucu dari mendiang nenek itu. Dan dia memang mengaku
begitu. Maka selanjutnya kuanggap dia adalah Ah Hok dan
kupanggil engkoh Hok."
"Biarlah paman, mau panggil apa saja terserah. Yang
malu bukan aku tetapi dia yang salah panggil, kan ?" seru
Huru Hara.
Begitulah mereka melanjutkan perjalanan menuju ke
Yang-ciu mencari mentri Su Go Hwat.
Hari itu mereka melewati perbatasan Shoa-tang dan tiba
di sebuah desa. Ah Liong minta makan karena lapar. Maka
mereka bertigapun segera singgah disebuah rumahmakan.
Rumah makan itu walaupun tidak besar tetapi bersih dan
terkenal masakannya. Maka banyaklah tetamunya.
Memang makanan disitu cukup membuat lidah orang
bergoyang. Tengah ketiga orang itu menikmati hidangan
maka masuklah seorang lelaki setengah tua, sekira berumur
35-an tahun. Dia hanya seorang diri dan mengambil tempat
duduk tak jauh dari meja Huru Hara.
Sebenarnya Huru Hara tak mau mempedulikan tetamu
lain-lainnya tetapi secara kebetulan saja ia sempat
memperhatikan dua orang tetamu yang duduk disudut
ruang. Kedua tetamu itu, yang satu berdandan seperti
paderi dan yang satu seperti orang biasa. Yang menarik
perhatian Huru Hara adalah mata kedua orang itu selalu
berkilat-kilat memandang keerah tetamu yang baru datang
lagi. Dan keduanya lalu bicara kasak kusuk dengan
pelahan-lahan.
Tetamu yang baru datang itu tenang2 saja menghabiskan
hidangannya. Setelah selesai makan dan minum dia terus
memanggil pelayan. Tetapi ketika hendak mengeluarkan
uang ia terkejut, wajahnya pucat seketika.
"Ah, uangku....."
"Bagaimana tuan ?" tegur jongos yang kerutkan dahi.
"Uangku telah hilang."
"Dimana ?"
"Entahlah, aku tak ingat."
"Apakah tuan ingat kalau membawa uang ?" kata
pelayan. Nadanya sudah mulai mengejek.
"Tentu saja. Aku hendak menempuh perjalanan jauh,
tentu saja membawa bekal. Kalau tak membawa bagaimana
aku berani masuk kedalam rumah makan."
"Memang seharusnya begitu. Tetapi kenyataannya lain .
. .."
"Pelayan, engkau berani menghina aku ?" tetamu itu
mulai marah.
"Tidak," sahut pelayan, "aku hanya bicara menurut apa
adanya saja."
"Panggil pemilik rumahmakan ini," kata tetamu itu.
“Untuk apa ?"
"Sudahlah jangan banyak tanya. Aku akan
menyelesaikan urusan ini dengan pemilik rumahmakan
sendiri."
Tak berupa lama pemilik rumahmakanpun datang dan
memberi keterangan oleh pelayan.
"Maaf, disini kami menjual makanan secara kontan,"
kata pemilik rumahmakan itu.
"Apakah ciangkui tak percaya. Kalau tidak percaya,
biarlah aku menulis surat bon, "kata orang itu seraya
mengeluarkan secarik kertas dan menulis, kemudian
diserahkan kepada pemilik rumah nakan itu.
Membaca surat itu, pemilih rumah makan kerutkan dahi
dan terus melemparkannya, "Sudah kukatakan, kami hanya
menjual makanan secara kontan."
"Apakah engkau tak percaya ?" kata tetamu itu mulai
tegang.
"Aku hanya percaya pada uang, bukan pada segala
surat."
"Ho, ciangkui, engkau memang keterlaluan sekali....."
"Apa ?" ciangkui atau pemilik rumah makan itu deliki
mata," engkau berani mengatakan aku keterlaluan. Engkau
barani masuk ke rumah makan dan pesan hidangan tetapi
tak punya uang masih berani mengatakan aku keterlaluan .,
." ciangkui terus hendak mengangkat tangannya memukul.
"Tunggu . . . . ! tiba2 kedua tetamu yang du duk di sudut
ruang tadi berseru dan menghampiri.
Huru Hara sebenarnya juga mau berbangkit tetapi kalah
dulu dengan kedua orang itu. Tadipun dia melihat surat
yang dilemparkan pemilik rumah-makan berhamburan ke
lantai dan dipungut oleh kedua orang itu.
"Tak perlu ribut2, ciangkui," kata salah seorang dari
kedua tetamu itu, "berapa rekeningnya saudara ini akulah
yang membayar."
Ciangkui segera menghitung. Tetamu itupun
mengatakan, suruh menghitungkan rekeningnya juga,
"semua berjumlah berapa dengan rekening makananku,"
katanya.
"Hanya tiga tail, tuan," kata ciangkui.
"Baik," kata lelaki itu seraya merogoh saku celananya.
Tetapi seketika dia juga pucat.
"Kenapa?" tegur kawannya si paderi.
"Uangku ....!"
"Hilang?" si paderi juga terkejut.
"Jelas tadi kumasukkan dalam kantong celana, mengapa
sekarang hilang?" seru orang itu.
"Wah, celaka, pada hal aku tak pernah membekal uang,"
kata paderi itu.
Ciangkui kerutkan dahi, "Apa-apaan ini! Apakah kalian
hendak main sandiwara?" tegurnya dengan tajam.
"Apa?" bentak lelaki itu, "engkau berani menuduh aku
pura2!"
"Pokoknya tak usah ramai2, yang penting bayarlah
rekening makanan yang telah kalian makan tadi."
"Tidak bayar, mau apa !" tiba2 paderi itu membentak dan
terus mencengkeram leher baju ciangkui.
"Sabar, suhu," kali ini Haru Hara berbangkit dan
menghampiri, "biarlah aku yang membayari semua
rekening."
"Ah, terima kasih saudara," kata lelaki kawan paderi itu,
"lain kali kalau berjumpa tentu akan kukembalikan."
"Jangan memikirkan soal sekecil ini, Sudah lumrah kalau
kita kaum pengembara saling tolong menolong," kata Huru
Hara seraya merogoh kedalam sakunya. Juga Huru Hara
terkejut.
"Mengapa engkoh Hok ?" Ah Liong ikut kaget.
"Uangku amblas!" seru Huru Hara.
"Lo-ji," tiba2 ciangkui berseru kepada lo-ji atau pelayan,
"lekas panggil polisi. Laporkan kalau ada beberapa orang
yang sengaja hendak mengacau rumahmakan kita."
Pelayan terus hendak berangkat tetapi tiba2 punggung
celananya ditarik orang, "Tunggu dulu, bung !"
Pelayan itu terkejut dan cepat2 mendekap pinggang
celananya karena talinya putus Dia berpaling, "Kurang ajar,
engkau berani menarik celanaku sampai putus talinya ?"
"Mau kemana engkau ?t" seru orang yang menarik itu
yang tak lain adalah Ah-Liong.
"Panggil polisi !"
"Engkohku adalah orang jujur. Dia tadi memang
membawa uang. Entah mengapa sekarang hilang. Urusan
begitu saja masa hurus panggil polisi segala ?"
"Eh, bocah, engkau masih berani buka bacot begitu?"
ciangkui yang tadi kesakitan karena leher bajunya
dicengkeram si paderi, sekarang hendak menumpahkan
kemarahannya kepada Ah-Liong. Dia terus ulurkan tangan
hendak mencekik leher Ah Liong.
Ah Liong menghindar kesamping dan mencomot
pinggang celana ciangkui, uhhhh .... ciangkui terkejut dan
gopoh mendekap celananya.
Melihat ciangkui dan pelayannya sibuk membenahi
celananya yang talinya putus, paderi dan kawannya tadi
tertawa.
"Sudahlah, ganti celanamu dulu," seru si paderi seraya
menarik tangan kawannya, "mari kita semua tinggalkan
tempat ini."
Belum berapa langkah, dua orang tetamu yang lain
berbangkit dan menghadang, "Jangan kalian seenakmu
sendiri, habis melahap makanan terus mau ngacir pergi
tanpa bayar!"
"Lho, engkau mau mencampuri urusan ini ?" seru si
paderi.
"Aku bersahabat baik dengan ciangkui di rumah makan
ini. Aku tak senang melihat dia menderita kerugian," kata
kedua lelaki yang bertubuh tinggi besar.
Kawan si paderi berkata, "Harap jangan salah mengerti.
Bukan kami tak mau membayar, tetapi uang yang berada
dalam sakuku benar2 telah hilang."
"Ya, akupun juga begitu," kata Huru Hara, "pada hal
jelas aku masih membekal uang. Kalau tidak masakan aku
berani masuk kedalam rumah makan ini."
"Mengapa uang kalian hilang?"
"Siapa tahu? Kalau tahu apa sebabnya hilang, tentu akan
kuurus," sahut lelaki kawan si paderi.
Lelaki tinggi besar itu kerutkan dahi, "Coba kalian
ingat2. Apakah waktu dalam perjalanan menuju kemari,
kalian bertemu dengan siapa saja?"
"Tidak bertemu dengan siapa2!"
"Engkoh Hok, bukankah tadi engkoh bertemu dengan
seorang pengemis lumpuh yang minta belas kasihan kepada
engkoh?" tiba2 Ah Liong berkata.
Belum Huru Hara menjawab, lelaki kawan si paderi itu
sudah berteriak, "Betul, adik kecil, aku juga bertemu dengan
seorang pengemis lumpuh yang minta belas kasihan."
"Pengemis lumpuh ?" lelaki tinggi besar terterkejut,
"apakah bukan....."
"Mengapa?" tegur lelaki kawan si paderi.
"Orangnya tua?"
"Ya."
"Pakaiannya tambalan?"
"Benar," sahut lelaki kawan si paderi.
"Bawa tongkat bambu kuning?"
"Hai! Benar, apakah engkau tahu?"
"Sialan!" seru lelaki tinggi besar itu seraya banting2 kaki,
"dimana dia sekarang?"
Sudah tentu lelaki kawan si paderi itu melongo, serunya,
"Apakah engkau kenal kepadanya?"
"Kenal," seru lelaki tinggi besar itu, "dia adalah Ui-tioksin-
jiu si Tangan-sakti bambu-kuning yang termasyhur
sebagai pencuri nomor satu dalam dunia persilatan."
"Oh." seru lelaki kawan si paderi, "mengapa engkau
hendak mencarinya?"
"Barangku juga dicurinya!" seru lelaki tinggi besar.
"Barang apa?"
"Hm, tak perlu tahu," dengus lelaki tinggi besar itu.
"Nah, apakah sekarang engkau percaya kalau uangku
dicuri orang?"
"Ciangkui," tidak menjawab pertanyaan itu sebaliknya
lelaki tinggi itu terus berseru kepada pemilik rumahmakan,
"semua rekening aku yang bayar!"
Ia terus mengeluarkan uang dan membayar semua
rekening dan orang2 yang bersangkutan
"Hayjo, bawalah aku ketempat pengemis itu," seru lelaki
tinggi besar.
Mereka segera beramai-ramai keluar dan tiba2 lelaki
kawan si paderi berseru, "Hai, aneh, dia tadi disini,
mengapa sekarang menghilang?"
'Ya, benar, dia tadi duduk dibawah pohon itu," seru Ah
Liong.
Sekalian orang heran karena pengemis lumpuh itu sudah
tak berada ditempatnya.
"Apa ini?" tiba2 pula lelaki kawan si paderi berteriak
seraya menjemput sepotong kayu dan dibacanya. Ternyata
potongan kayu itu bergurat huruf yang berbunyi:
“Maaf, tuan2, aku mau tidur.”
"Kurang ajar sekali pengemis lumpuh itu." gumam lelaki
tinggi besar, "dimanakah rumahnya?"
Mereka lalu menanyakan pada penduduk di sekeliling
tempat itu tetapi mereka hanya mengangkat bahu, "Kami
tak tahu dimana rumahnya. Pengemis itu memang aneh.
Kadang muncul kadang sampai beberapa hari tidak
kelihatan."
"Jika begitu," kata Huru Hara, "kita lanjutkan perjalanan
kita masing2 sembari mencari tempat tinggal pengemis itu."
Orang2 itupun berpencar, masing2 menempuh jalan
sendiri. Tetapi hanya lelaki dan paderi itu yang mengikuti
perjalanan tetamu yang pertama-tama kehilangan uangnya
tadi.
"Terima kasih atas perhatian saudara," kata orang itu
kepada lelaki kawan si paderi. Dia memperkenalkan diri
dengan nama Lim Siong.
"Aku bernama Ih Jiang dan ini adalah Gong Goan
taysu," kata lelaki kawah paderi itu mengenalkan diri. Dia
lalu menanyakan hendak kemana Lim Siong menuju.
"Aku hendak ke kotaraja Lam-kia," sahut Li Siang.
'"O, kebetulan, kamipun hendak ke sana," kata Ih Jiang.
Dan Lim Siongpun tak curiga bahkan dia senang karena
mendapat kawan seperjalanan.
Sementara Huru Hara dan kedua kawannya berjalan
pelahan-lahan. Bahkan Huru Hara malah berhenti dan
duduk di tepi jalan.
"Kenapa ?" tegur Cian-li-ji.
"Aku masih heran memikirkan kenapa uangku bisa
amblas."
"Bukankah dicopet oleh si pengemis lumpuh itu."
"Ya, tetapi heran, mengapa aku tak merasa sama sekali,"
kata Huru Hara.
"Dia kan bergelar pencuri nomor satu dalam dunia,
sudah tentu kita tak merasa."
“Tetapi pengemis itu memang aneh," gumam Hu ru
Hara.
"St," tiba2 Cian-li-ji memberi isyarat-dcngan jarinya
menutup ke mulut, "aku mendengar suara orang berkelahi."
Huru Hara terkejut. Ia tahu kalau kakek cebol itu
mempunyai keistimewaan dapat mendengar suara dari
jarak satu li. Dia segera berbangkit "Hayo. kita cari mereka
...."
Dengan menurutkan suara yang dapat ditangkap telinga
Cian-li-ji, mereka bertiga naik kesebuah bukit dan turun
kedalam sebuah lembah.
"Hai, kemana kita ini ?" seru Ah Liong.
"Hus, diam!" bentak Cian-li-lt. Dia lari menuruti lembah
kemudian mendaki keatas sebuah karang tinggi. Dari atas
karang, dia berhenti.
"Tuh, lihat!" serunya sembari menuding ke bawah
karang.
Ternyata dibawah karang itu merupakan sebuah airterjun.
Sekeliling air-terjun penuh dengan batu2 karang
yang aneh bentuknya.
Di tepi kubangan air yang menampung jatuhnya airterjun
tampak seorang lelaki tengah menyerang seorang tua
berpakaian compang-camping. Ada suatu hal yang
membuat Huru Hara bertiga terbelalak. Lelaki itu adalah
kawan si paderi tadi. Sedangkan saat itu si paderi hanya
enak2 duduk diatas batu melihat kawannya bertempur.
Tampak kawannya yang bernama Ih Jiang itu tengah
menyerang kalang kabut kepada sipengemis. Tetapi
pengemis itu sambil duduk, berloncatan kian kemari untuk
menghindar.
"Engkoh Hok, apakah itu bukan pengemis lumpuh yang
minta belas kasihan kepada engkoh?" seru Ah Liong.
"Ya."
"Kurang ajar, kita ringkus saja dan paksa dia
mengembalikan uang engkoh," kata Ah Liong seraya terus
hendak menuruni karang. Tetapi bahunya dicekal Huru
Hara, "Jangan terburu-buru. Lihat dulu apa sekab mereka
berkelahi."
"Kita sendiri dapat berkelahi. Perlu apa melihat orang
berkelahi ?" bantah anak itu.
"Jangan bandel," bentak Huru Hara, "aku ingin tahu
barang apa milik orang itu yang dicomot pengemis lumpuh
itu."
"Pengemis lumpuh kembalikan kim - pay (lencana emas)
itu, baru aku mau memberi ampun," seru Ih Jiang.
"Engkau harus mengatakan dulu dari mana engkau
memperoleh lencana emas itu baru nanti kukembalikan.
Kalau tidak, perlu apa kukembalikan ? Kan lebih enak
kujual pada toko emas saja.”
"Gila," bentak Ih Jiang “engkau minta tebusan berapa,
akan kubayar, tetapi jangan sekali-kali engkau jual kim-pay
itu.”
"Sudah kukatakan," jawab pengemis lumpuh, "kalau
engkau mau mengatakan dari mana engkau memperoleh
lencana itu, tentu akan kukembalikan. Aku tak minta
tebusan apa2.”
"Jangan mengurus urusanku.”
"Baik," seru pengemis lumpuh, “engkau cukup
menjawab sebuah kata. Apa arti huruf yang tercetak pada
lencana itu ?"
Kembali Ih Jiang tertegun.
"Ceng," seru pengemis lumpuh pula, apa artinya huruf
Ceng itu ?"
"Itu bukan urusanmu !" bentak Ih Jiang.
"Bukankah ceng itu berarti kerajaan Ceng sekarang ?"
"Tutup mulutmu !"
"Dengan begitu jelas engkau ini adalah kaki tangan
kerajaan Ceng," seru pengemis pula
Walaupun terpisah jauh dan berada di atas tebing karang
yang tinggi tetapi Huru Hara dapat mendengar
pembicaraan mereka. Diam2 dia terkejut. “Hm, kaki tangan
Ceng," gumamnya.
Sementara itu tampak In Jiang menghunus pedang,
"Hm, pengemis lumpuh, berani sekali engkau menghina
aku."
Diserangnya pengemis lumpuh itu dengan gencar tetapi
pengemis lumpuh itu juga tak kalah gesitnya. Dia
menghindar kian kemari dan ada kalanya melenting ke
udara. Tetapi anehnya, pengemis lumpuh itu tak balas
menyerang. Entah tak mampu atau entah masih menunggu
kesempatan.
Ih Jiang makin gelisah. Dihadapan Gong Goan taysu,
dia malu sekali karena tak mampu mengalahkan seorang
pengemis tua yang lumpuh.
"Pengemis ini memang tak kecewa digelari sebagai Rajacopet
di dunia persilatan," diam2 Ih Jiang membatin, wah,
kalau aku tak mampu mengalahkannya, betapalah
maluku....."
Sebenarnya dia hendak berseru meminta bantuan si
paderi tetapi mulut rasanya amat berat. Ia dan paderi itu
sama2 diundang Ko Cay Seng dan diangkat sebagai orang
kepercayaan. Kalau dia kalah dengan seorang pengemis
lumpuh saja, bukankah paderi itu akan memandang rendah
kepadanya.
Tengah dia gelisah, tiba2 pengemis lumpuh itu berseru,
"O, kalau engkau lelah, panggillah kawanmu. Majulah
kalian berdua sekali,"
"Hai, paderi gemuk," serunya kepada si paderi,"
mengapa engkau diam saja melihat kawanmu kewalahan ?
Hayo majulah engkau sekalian !"
Diam2 Ih Jiang girang karena pengemis itu menantang
Gong Goan taysu. Dan ternyata paderi itupun panas
hatinya.
“Pengemis lumpuh, engkau sendiri yang minta. Jangan
salahkan aku," seru paderi Gon Goan seraya melangkah
maju.
"Bagus," seru pengemis lumpuh gembira, "jangankan
hanya engkau seorang, pun ditambah lagi dengan lima
enam orang asal gemuk seperti engkau, aku pasti masih
sanggup melayani ..."
Dalam berkata-kata itu dia sudah harus menghindari
serangan si paderi yang menggunakan sepasang kepalannya
yang besar.
Angin pukulan paderi itu menimbulkan suara menderuderu
yang amat keras. Bum . . . sebuah pukulannya yang
luput telah menghantam segunduk batu karang sehingga
hancur berantakan.
Tetapi beberapa waktu kemudian, tampak pengemis
lumpuh itu makin kewalahan. Makin jelas bahwa dia
memiliki ilmu gin-kang yang sempurna tetapi ternyata dia
tak begitu lihay ilmu-silatnya.
Dikerubut dua jago tangguh dari kerajaan Ceng, mau tak
mau pengemis lumpuh itu mulai terdesak juga. Dan pada
suatu kesempatan ketika dia berhasil menghindari sabatan
pedang Ih Jiang, tiba2 tinju si paderi berhasil membentur
bahunya sehingga pengemis itu terhuyung-huyung.
"Mampus engkau setan lumpuh!" teriak Ih Jiang seraya
loncat menyerang.
"Hai, jangan main bunuh!" tiba2 terdengar suara orang
berteriak seperti halilintar meletus di udara dan serempak
tampak sesosok tubuh melayang turun dari ketinggian
puluhan tombak. Sedangkan dua orang lagi dengan saling
berpelukan juga ikut loncat turun.
Blungngng .... tepat pada saat terdengar orang itu
berteriak maka si pengemis lumpuh tadipun sudah loncat
kedalam telaga. Tetapi pada lain saat ketika orang pertama
yang melayang turun tadi berdiri tegak di tanah, adalah
kedua kawannya itu meluncur masuk ke . . . dalam kolam
juga.
"O, engkau," seru Ih Jiang ketika melihat bahwa yang
berteriak dan sekarang tegak dihadapannya itu tak lain
adalah pendekar Huru Hara. Sedang kedua orang yang
kecemplung kedalam kolam air tempat penampung airterjun
itu adalah kakek Cian-li-ji dan Ah Liong. Kedua
orang itu hendak mengikuti gerak Huru Hara yang
melayang turun tetapi mereka ngeri maka keduanya saling
berpelukan dan meramkan mata. Karena karang tinggi itu
tepat diatas kolam maka keduanyapun tercebur ke
dalamnya.
Huru Hara terkejut dan berpaling. Dilihatnya kakek
Cian-li-ji gelagapan terminum air. Untung dia dapat diseret
Ah Liong yang pandai berenang, ke tepi dan naik ke darat.
"Mengapa engkau kemari?" ulang Ih Jiang.
"Engkau terlalu sewenang-wenang terhadap seorang
pengemis lumpuh," sahut Huru Hara.
"Dia tak mau mengembalikan benda milikku yang
dicopetnya, bukankah engkau sendiri juga di copetnya?"
"Ya, tetapi biarlah."
''Kenapa? Engkau merelakan uangmu?"
"Ya," sahut Huru Hara, "karena itu kesalahanku dan
kepandaiannya. Mengapa aku tak mampu menjaga uangku
dan mengapa dia mampu mencopet uang yang berada
dalam sakuku. Dia pantas menerima pujianku dan biarlah
uang itu diambilnya."
Ih Jiang terbeliak, "Aneh sekali omonganmu itu. Ya,
kalau engkau berpendirian begitu, terserah. Tetapi aku lain.
Mengambil benda milik orang itu adalah jahat, harus
dihajar."
"Aku tidak menghalangi engkau menghajarnya," jawab
Huru Hara pula, "tetapi caramu bertindak itu keterlaluan
sekali. Masakan engkau sendiri tak becus lalu mengajak
kawanmu si paderi gemuk itu bersama-sama
mengeroyoknya Pengemis lumpuh itu tak pakai senjata,
sedang kalian berdua menyerangnya begitu ganas. Adilkah
itu?"
Merah muka Ih Jiang. Sebelum dia menjawab si paderi
Gong Goan sudah membentak, "Hai, pendekar sinting,
jangan ikut campur urusan kami!"
"Ho, babi gemuk, kalau aku mau ikut campur, lalu
bagaimana?" tantang Huru Hara yang tak senang melihat
sikap paderi Gong Goan.
"Kalau begitu, inilah bagianmu!" Gong Goan terus
menghantam kepala Huru Hara.
Huru Hara menyurut mundur selangkah sehingga
pukulan paderi itu mengenai angin. Tetapi paderi itu makin
ngotot. Dia loncat dan kali ini gunakan pukulan Lik-biatngo-
gak atau Menghantam- dahsyat-lima-gunung.
Melihat itu Huru Hara tak mau menghindar. Dia
mengangkat tangannya menangkis dan uh . . . terdengar
mulut Gong Goan mendesuh kaget dan tubuhnya terpental
sampai tiga langkah.
Huru Hara sudah terlanjur marah. Dia loncat menerkam
dada si paderi, diangkatnya lalu di lempar kedalam kolam.
Blungugng .....
-oo0dw0oo-
Jilid 31.
Ih Jiang, terkejut menyaksikan kesaktian Huru Hara.
Padahal padri Gong Gon itu terkenal memiliki tenaga gwakang
(luar) yang luar masa.
Lik-biat-ngo-gak naerupakan sebuah ilmu pukulan yang
perbawanya sedahsyat ilmu pukulan Kim-kong-ciang dari
perguruan Siau-lim si. Dan Gong Goan telah mencapai
tataran dimana pukulannya Lik-biat-ngo-gak itu mampu
menghancurkan gunduk karang sebesar anak kerbau.
Tetapi Ih Jiang tak sempat melihat keadaan Gong karena
saat rtu Huru Hara sudah menghampiri ketempatnya.
"Wah, engkau hebat sekali," tiba2 Ih Jiang malah berseru
memuji. Dia memang cerdik dan licik, cepat dapat
mengetahui gelagat.
“Sayang aku talc butuh pujianmu," sahut Huru Hara.
"Lalu engkau menginginkan apa ?"
"Aku menginginktan supaya engkau bertobat."
"Bertobat ? Apakah dosaku ?"
"Setumpuk gunung," sahut .Huru Hara, "engkau telah
mencontreng muka bangsa Han. Engkau ikut mencelakakan
bangsa Han. Apa perlunya ?"
"Aku tak tahu maksudmu."
"Hm, bukankah engkau seorang kaki tangan orang Boan
Ceng ?"
Ih Jiang tertegun, kemudian menjawab, "Setiap orang
mempunyai keadaan dan keyakinan sendiri2."
"Bagaimana keadaan dan keyakinanmu ?"
Aku seorang lelaki. Bertahun-tahun aku menuntut
ilmusilat agar kelak dapat menjadi seorang yang terkenal.
Sekarang kesempatan itu telah terbuka luas. Dengan
membantu kerajaan Ceng, aku mempunyai kesempatan
kelak akan menjadi pembesar negeri."
"Hm, ketahuilah," dengus Huru Hara, "bela jar ilmusilat
bukanlah suatu tujuan untuk manjidi orang terkenal dan
mendapat pangkat. Tetapi untuk kesehatan diri, menjaga
diri dan mengembangkan ilmu pusaka dari leluhur kita.
Kalau mau mengawalkan, amalkanlah ilmusilat itu untuk
membantu yang lemah memberantas yang jahat."
"Hm, simpanlah nasehatmu," kata Ih Jiang, "jangan
terlalu muluk2 dengan impian. Yang penting adalah
kenyataan. Orang yang memiliki kepandaian sakti seperti
engkau, pada waktu ini, besar sekali kesempatannya untuk
mendapat pangkat tinggi. Kalau engkau mau, aku dapat
membantu-mu. Hidupmu pasti bahagia kelak."
"Cis," Huru Hara meludah, "lebih baik menjadi cacing
yang bebas di tanah, daripada menjadi anjing peliharaan
orang Boan. Silakan engkau nikmati sendiri falsafah keanjinganmu,
jangan coba cari pengikut."
"Sudahlah, aku akan berurusan dengan pengemis itu
sendiri, jangan ikut campur," akhirnya Ih Jiang
mengalihkan pembicaraan.
"Soal benda yang diambilnya?" masih Huru Hara
menyelutuk.
"Hm."
"Mengingat tadi engkau mau membayar orang yang
sedang mendapat kesukaran, kali ini engkau kubebaskan.
Pergilah!" habis berkata Huru Hara terus menghampiri ke
kolam.
"Ah Liong, mana pengemis tadi?" tanyanya kepada Ah
Liong yang masih duduk beristirahat di tepi kolam bersama
Cian-li-ji.
“Oh, ya, benar, mengapa pengemis itu tak muncul sejak
dia kecebur dalam kolam," seru Ah Liong.
"Carilah !" Huru Hara menyuruhnya.
Ah Liong segera loncat kedalam kolam. Ko lam itu
cukup luas dan dalam sehingga menyerupai sebuah telaga
kecil. Di1ihatnya sesosok tubuh sedang menggeletak di
dasar kolam, Ah Liong segera menyeretnya keatas dan
dibawa naik ke darat.
"Hai, apakah ini bukan Gong Goan taysu?" seru Huru
Hara.
Memang korban itu adalah Gong Goan taysu. Tetapi
paderi itu hanya mengenakan celana dalam saja. Jubahnya
sudah hilang. Ah Liong memijak perut paderi itu. Karena
perut dipijak, mulut paderi itu mengalirkan air. Setelah
ditolong Ah Liong yang rupanya faham menolong orang
yang tenggelam dalam air, paderi itupun siuman.
"Kemana pengemis itu ?" tanya Huru Hara.
"Hilang," sahut Ah Liong.
"Hilang ?"
"Ya, sudah kucari didasar kolam tetapi tak dapat
kuketemukan, Apa itu tidak hilang namanya ?"
"Aneh benar," seru Hum Hara, "masakan orang bisa
menghilang.
"Ya, pengemis lumpuh itu memang luar biasa anehnya.
Dia lumpuh tapi dapat mencopet barang orang. Dia kecebur
dalam telaga, tetapi ia bisa meng hilang ..... "
"Bohong !" Huru Hara terus loncat kedalam air. Dia
meluncur ke dasar telaga. Waktu kecil, diapun suka mandi
di sungai sehingga pandai be renang. Dia tak percaya
pengemis lumpuh dapat menghilang.
Setelah mencari-cari beberapa saat dan talc melihat
pengemis itu, tiba2 dia nellhat sekabing papan besi menutup
di tengah dasar telaga. Timbul kccurigaannya. Dia
hampirinya papan besi itu lalu diangkatnya.
"Ah," ia terkejut ketika papan besi itu terbuka dan
tampak sebuah lubang. Segera ia meluncur masuk dan
papan besi itupun menutup lagi.
Dia terus berenang menyusur sebuah terowongan air
sampai pada akhirnya dia melihat diatas terowongan itu
terdapat sebuah lubang besar. Cepat dia naik keatas lubang
itu dan ah ..... ternyata dia berada didalam sebuah gua.
"0, kebetulan sekali, mari siauhiap, kita minum anak,"
tiba2 ia terkejut mendengar suara orang berkata-kata.
Ketika berpaling, dilihatnya disebelah samping gua itu
terdapat sebuah ruangan. Dalam ruangan itu tampak
seorang tua duduk bersila menghadapi-sebuah meja 'batu.
Diatas meja batu itu terdapat sebuah poci dan cawan arak.
Dan seoiring bermacam-macam buah.
'Siapa engkau?" tegur Huru Hara sera ya menghampiri.
"Ai, apakah siauhiap lupa kepadaku?" orang itu tertawa.
"Apakah engkau pengemis lumpuh itu?"
"Ya, benar, akulah pengemis lumpuh itu."
"Mau apa engkau?" tegur Huru Hara dengan bengis.
"Apakah engkau pengemis lumpuh itu?" "Ya, benar,
akulah pengemis lumpuh itu."
"Mau apa engkau?" tegur Huru Hara dengan bengis.
"Ai, duduklah siauhiap. Jangan tegang. Aku seorang
sahabat sendiri," kata pengemis tua nu.
Kini dia sudah berganti pakaian, tidak lagi menge nakan
pakaian compang camping.
Huru Hara tak takut. Diapun duduk. "Siauhiap, silakan
minum arak simpananku,” kata pengemis itu seraya
mengangsurkan ca-wan yang sudah diisi arak.
"Huru Hara menyambuti dan terus meneguk. "Terima
kasih," katanya, "siapa engkau ini?"
"Sudah lama aku tak memakai namaku yang aseli. Orang
hanya menyebutku sebagai Ui-tiok-sin-jiu si-Copet-bambukuning."
"0," desuh Huru Hara, "apakah gua ini tempat
tinggalmu?"
Ui-tiok-sin jiu mengiakan, "Siauhiap adalah orang yang
pertama dapat mengunjungi tempatku ini. Selama ini belum
pernah orang tahu dan datang kemari."
"Mengapa engkau suka mencopet ?" tegur Huru Hara
langsung.
"Siauhiap," kata pengemis tua itu, "apa engkau kira copet
itu suatu pekerjaan hina?
"Tentu saja !"
"Ya, itu kalau copet kecil, copet di pasar. Tetapi aku
adalah raja copet. Seorang raja, tentu tak mau sembarangan
mencopet barang sepele."
"0, apakah yang engkau copet itu barang pilihan ?"
"Tentu, tentu," sahut raja copet itu, "aku tentu memilih
orang dan barang yang bernilai seperti ini............ ," dia
terus berbangkit dan merogoh kedalam sebuah lubang.
"Hai, kurang ajar, engkau tidak lumpuh ?" teriak Huru
Hara terkejut ketika melihat pengemis itu dapat berdiri dan
berjatan.
"Lho, engkau ini bagaimana siauhiap ?" seru raja copet
itu," masakan engkau senang melihat orang yang lumpuh.
Seharusnya engkau gembira melihat aku tidak lumpuh."
"Ah, engkau memang aneh. Engkau seorang pengemis
lumpuh tetapi ternyata engkau dapat berjalan. Engkau
seorang pencopet tetapi tidak mencopet barang dan orang
sembarangan.”
Raja copet itu tertawa, memang begitulah dunia ini
penuh dengan manusia2 yang aneh.
Seperti dirimu sendiri. Kalau melihat wajahmu, aku
terkenang pada seseorang. Tetapi kalau melihat engkau
begitu aneh, akupun heran."
“Ah, aku juga heran kepadamu. Sekarang engkau juga
heran kepadaku. Sekarang satu-satu dulu. Engkau atau aku
yang mendapat jawaban dulu.”
"Engkau saja siauhiap. Aku orang tua .,,harus mengalah.
Silahkan tanya apa yang menjadi keherananmu," kata raja
copet.
"Aku ingin tahu bagaimana dan siapakah sebenarnya
dirimu. Mengapa engkau melakukan pekerjaan copet?
Apakah di dunia ini tak ada pekerjaan yang lebih baik dari
mencopet?" Huru Hara mulai mengajukan pertanyaan.
Pengemis lumpuh itu ini menghela napas, "Dulu aku
berasal dari keluarga she Bin. Kemudian aku merantau dan
bertemu dengan seorang copet yang mengajarkan aku ilmu
copet. Sejak itu aku menjadi pencopet. Karena banyak yang
mengagumi kepandaianku maka aku digelari sebagai raja
copet. Ada peristiwa yang menggelikan. Setiap aku datang
ke sebuah kota, apabila orang tahu aku, entah bagaimana
tahu2 ada orang datang membawa ang- pau ( bungkusan
hadiah uang ) kepadaku dan minta supaya aku jangan
melakukan operasi di kota itu. Karena setiap kali begitu,
akhirnya aku nganggur tetapi mendapat pensiun dari
orang."
"Siapa yang memberi ang-pau itu?"
"Kukira kalau pembesar negeri tetapi ternyata bukan.
"Tentu para pedagang yang ketakutan kalau barangnya
engkau gasak," seru Huru Hara.
"Juga bukan."
"Lalu siapa?"
"Perhimpunan kaum copet di kota itu. Mereka takut
kalau aku mengoperasi habis-habisan kota itu sehingga
mereka kehabisan rejeki. Maka mereka rela memberi angpau
agar aku jangan melakukan praktek di kotanya."
"Hm, aneh juga," kata Huru Hara.
"Lama2 aku bosan juga hidup nganggur tetapi terima
hadiah buta. Aku lalu beroperasi lagi. Tetapi aku memilih
calon korbanku. Pembesar rakus, hartawan kejam,
pmghianat dan manusia yang kuanggap busuk, tentu
kugasak. Nah, lihatlah ini .....
Huru Hara terkejut ketika melihat pengemis itu menuang
sebuah kantong dan isinya ternyata benda2 emas.
"Apakah itu?" tanyanya.
"Ini adalah kim-pay ( lencana emas ), bin-tang jasa yang
diberikan kerajaan Ceng kepada orang2 Han yang bekerja
dan berjasa kepada mereka. Kugasak semua lencana dan
bintang jasa mereka. Mereka benar2 kerupukan sekali."
"Lalu buat apa benda2 itu?"
"Nanti sauhiap akan tahu sendiri."
"Hm kalau begitu engkau anggap aku ini juga seorang
manusia busuk !" seru Huru Hara.
"Ah, tidak," pengemis lumpuh itu tertawa, "aku kan
hanya main2 saja dengan sauhiap_ Nih, uang sauhiap
kukembalikan, Sepeserpun tak hilang," ia serahkan sebuah
bungkusan kepada Huru Hara.
"Lalu perlu apa engkau mengambilnya ?"
"Pertama, untuk memberi peringatan kepada sauhiap
supaya sauhiap lebih berhati-hati. Dalam dunia persilatan
itu, penuh dengan orang sakti dan aneh. Kedua kalinya,
supaya sauhiap kenal dengan aku."
"Mengapa engkau kepingin kenal dengan aku?; tanya
Huru Hara.
"Wajah sauhiap membuat aku terkenang pada seseorang.
Akupun tertarik akan peribadi sauhiap yang nyentrik.
Tanbul keinginanku untuk mengenal siapa sauhiap ini. Dan
aku juga senang melihat kemurahan hati sauttiap terhadap
diriku sebagai seorang pangemis lumpuh."
"0 " desuh Huru Hata yang mulai mendapat kesan baik
terhadap orang itu, "jadi engkau ini sebenarnya tidak
lumpuh ?"
"Melihat keperluan," sahut pengemis itu, "kalau perlu
aku bisa menjadi orang lumpuh kalau perlu aku dapat
berjalan seperti orang sehat."
Huru Hara mengangguk-angguk,
"Sauhiap," kata Ui-tiok-sin-jiu," ada sebuah benda lagi
yang engkau tentu akan terkejut sekali !"
"Apa itu ?" Huru Hama tertegun ketika pengemis lumpuh
menyerahkan sebuah bungkusan kulit kepadanya. Diapun
segera menyambuti dan membukanya. Ternyata sepucuk
surat dinas yang ditutup dengan lak merah.
"Buka sajalah !" seru Ui-tiok-sin-jiu.
"Tapi segel merahnya tentu rusak."
"Nanti aku yang memperbaiki lagi."
Huru Hara menurut. Setelah segelnya dibuka pun
membaca surat itu. Wajahnya amat tegang.
"Mengapa?" seru Ui tiok-sin- jiu.
"Surat dari mentri Su Go Hwat kepada tay hak-su Ma Su
Ing di kotaraja.
"Ya, kuduga memang begitu," kata Ui-tiok- sin-jiu,
“tetapi bagaimana bunyiuya ?"
Huru Hara membacakan:
Ancaman tentara Ceng dari utara lebih berbahaya. Harus
segera di badapi maka mohon bala bantuan un tuk
mempertahankan daerah Kangpak.
Su Go Hwat.
"Ini surat panting sekali," seru Huru Hara, "mengapa
engkau curi ?"
Panama lumpuh tersenyum.
“Engau ingat akan seorang tetamu yang datang seorang
diri ke dalam rumah makan itu ?" tanyanya.
“O, apakah bukan orang yang kehilangan uangnya itu?”
"Mungkin juga, karena uangnyapun ikut terambil dengan
surat ini."
"Jadi orang itukah yang membawa surat ini ?" Huru Hara
menegas.
“Ya.”
"Mengapa engkau ambil ?"
"Untuk mengamankannya."
Huru Hara tertegun, "Bagaimana maksudmu?"
"Aku menyangsikan kejujuran orang itu," kata Ui tioksin-
jiu.
"Apa engkau sudah kenal ?"
"Belum," sahut Ui- tiok- sin- jiu, "tetapi engkau tentu
sempat memperhatikan lain tetamu yang mengunjungi
rumahmakan itu."
"Maksudmu paderi dan kawannya itu ?"
"Bukan."
"0, kedua lelaki tinggi besar itu ?"
"Ya," kata Ui-tiok-sin-jiu," dia adalah jago dari istana
kerajaan Beng."
"Lho, kalau begitu dia kan kawan sendiri."
"Bukan," sahut Ui-tiok-sin-jiu," dia orangnya Ma Su Ing."
"Bagaimana engkau tahu ?" Huru Hara terkejut.
"Dalam perjalanan mereka bercakap - cakap cara
bagaimana untuk bertemu-dengan orang yang diutus mentri
Su Go Hwat. Mereka terkejut ketika melihat aku duduk
ditepi jalan - Hai, apa engkau mendengar pembicaraanku
tadi ? - salah seorang menegur aku. Kukatakan tidak. Dan
mereka pun lalu memberi uang kepadaku ..... "
“Bagaimana engkau dapat memastikan kalau kedua
lelaki tinggi besar itu ponggawa istana raja Beng ?"
"Lagi2 karena ilmu copetku," ia menyerahkan kepada
Huru Hara dua buah lencana. Dan ketika Huru Hara
memeriksa ternyata lencana itu bertulis huruf Wi.
"Apa artinya ?" tanyanya.
"Wi artinya melindungi atau jaga. Tanda dari seorang wisu
atau bhayangkara yang menjaga istana," Ui-tiok-sin-jiu
menerangkan.
"Hm, apakah dia hendak menemui utusan dari mentri Su
Go Hwat ?"
"Kurasa belum saling kenal maka kedua orang itupun
mencari kesempatan untuk mengawasi orang yang
sekiranya diduga sebagai utusan."
Huru Hara merenung. Dia hendak mencari pikiran
bagaimana menghadapi persoalan itu. "Bagaimana
pendapatmu ?" tanyanya.
Ui-tiok-sin-jiu juga garuk2 kepala, "Paling2 kita
selamatkan surat mentri Su tayjin dan serahkan pada Ma Su
Ing."
“Mengapa tidak diserahkan saja kepada kedua wi-su itu
?"
"Aku kuatir kedua wi-su itu tidak bermaksud baik.
Kemungkinan dia disuruh orang untuk merampas surat itu
agar jangan sampai pada Ma Su Ing"
"Tetapi mengapa begitu ? Bukankah ini urusan
pertahanan negara yang amat penting ?"
"Ah, dalam negara yang sudah kacau seperti saat ini,
banyak orang mengail di air keruh. Mereka mencari
keuntungan sebanyak-banyaknya."
Huru Hara mengangguk dan merenung, lagi. Beberapa
saat kemudian tiba2 dia berseru, "Aku ada akal tatapi
sanggupkah engkau melakukannya?"
"Tentu," sahut Ui-tiok-sin-jiu dengan tegas.
"Begini," kata Huru Hara, "kita lakukan siasat, engkau
pura2 kutangkap dan surat itu akan kuserahkan kepada
utusan mentri Su Go Hwat.
"Bagaimana kalau dia benar bersekongkol dengan kedua
wi- su itu ?"
"Jangan kuatir. Kita buat lagi surat yang palsu. Yang
aseli kita bawa. Tetapi sanggupkah engkau memalsu surat
itu ?"
"Memalsu tulisan termasuk dalam mata pelajaran ilmu
copet yang kupelajari," kata Ui-tiok sin-jiu, "baik, akan
kusiapkan surat palsu itu."
Ui-tiok-sin-jiu terus mengambil peralatan tulis dan
membuat sebuah surat. Dia memang ahli dalam meniru
tulisan.
"Tunnggu," seru Huru Hara, "tambahkan sedikit
perkataan di akhir tulisan. Katakan, kalau Ma Su Ing tak
mau mengirim bala bantuan, mentri Su akan menarik
mundur pasukannya dari utara."
"Tepat," seru Ui-tiok-sin-jiu. Dalam beberapa saat
kemudian selesailah surat itu dan diberikan kepada Huru
Hara.
"Engkau akan kuhawa untuk mencari utusan mentri Su
Go Hwat. Surat palsu itu akan kuserahkan kepadanya. Dan
aku terus akan menuju ke Lam-kia menghadap Ma Su Ing.
Sedang engkau harus memata-matai utusan mentri Su itu."
Demikian keduanya segera keluar dari gua. Huru Hara
hendak kembali mengambil jalan dari terowongan yang
tembus di dasar telaga tetapi dicegah Ui-tiok-sin-jiu.
"Tak perlu," kata pencopet itu, "kita ambil jalan dari
gunung itu dan menuju ke air-terjun." Ketika mereka tiba di
air- terjun ternyata
Ah Liong dan Cian-li ji tak berada disitu lagi. "Hai,
kemanakah mereka," seru Huru Hara. Setelah mencari ke
sekeliling tempat tetap tak menjumpai kedua orang itu.
"Wah, mereka tentu juga bingung dan mencari engkau,"
kata Ui-tiok-sin-jiu.
"Hm."
"Lalu bagaimana kita sekarang?"
"Tetapi mengejar jejak utusan mentri Su tayjin," kata
Huru Hara. Pikirnya, Cian- li ji pernah bilang karena
ditawan pasukan Suka Rela tetapi akhirnya dapat lolos.
Tentulah sekarang kedua orang itu akan dapat menjaga diri.
"Lalu bagaimana dengan kedua kawanmu itu?"
"Urusan negara lebih penting. Aku harus cepat2
menghadap Ma Su Ing agar segera dapat mengirim bala
bantuan ke utara," kata Huru-Hara.
Keduanya segera melanjutkan perjalanan ke selatan.
Diam2 Huru Hara heran atas keihayan ilmu lari cepat dari
Ui-tiok-sin- jiu.
Beberapa saat kemudian mereka sudah mencapai
sepuluhan li dan saat itu tiba di sebuah tempat yang sepi di
lereag gunung. Mereka tetkejut ketika di sebelah muka
tampak debu mengepul dan terdengar suara bentakan
orang. Cepat mereka menghampiri ke tempat itu.
Ternyata hiruk pikuk berasal dari orang yang sedang
berkelahi. Huru Hara terkejut karena mengenali salah
seorang yang sedang berhadapan dengan tiga orang lawan
itu bukan lain adalah lelaki yang menjadi utusan mentri Su
Go Hwat.
"Hai, berhenti," seru Huru Hara. Orang yang menjadi
utusan mentri Su hendak menurut tetapi tiba2 dia diringkus
oleh salah seorang dari kctiga nengeroyoknya.
Huru Hara marah. Dia loncat dan menyambar orang
yang meringkus utusan mentri Su lalu dihentakkan ke
belakang, uhhhh............ orang itu terpelanting mencelat
sampai baberapa langkah. Dan pertempuran itupun
berhenti.
"Mengapa saudara berkelahi dengan ketika orang itu ?'
tegur Huru Hara,.
"Aku tak kenal dengan mereka. Tahu2 mereka muncul
dan memaksa aku harus menyerahkan surat. Pada hal aku
tidak membawa surat apa2," kata urusan mentri Su.
"Mengapa kalian hendak maminta surat kepadanya ?
Surat apa yang kalian inginkan?” tegur Huru Hara kepada
kedua pengeroyok itu.
"Dia adalah utusan dari mentri Su Go Hwat. Akan kami
minta surat itu.
Huru Hara tidak terkejut. Diam2 dia hanya mengakui
bahwa keterangan Ui-tiok-sin-jiu ternyata benar.
"Setan alas," damprat Huru Hara,. "mentri Su adalah
mentri besar dari kerajaan Beng. Mengapa kalian hendak
merampas suratnya?"
"Itu bukan urusanmu!" bentak kedua orang itu.
"Hm, kalian kalau belum dihajar tentu belum kapok,"
Huru Hara terus maju memukul. Tetapi kedua orang itu
cepat menghunus senjata dan memapas tangan Huru Hara.
Huru Hara loncat ke udara dan berjumpalitan tiba di
belakang mereka. Sebelum mereka sempat berbalik tubuh,
dengan gerak secepat kilat, Huru Hara sudah
mencengkeram tengkuk mereka dan terus dilempar ke
muka, blunt, blum ..... kedua orang itu jatuh ke dalam
semak2 berduri.
"Apakah engkau benar utusan dari mentri Su tayjin?"
katanya kepada orang itu.
Karena sudah ketahuan dan apalagi mendapat
pertolongan dari Huru Hara maka orang itu-pun mengaku
siapa dia sebenarnya.
"Mana surat itu?" tegur Huru Hara
Entah bagaimana tiba2 orang itu pucat wajahnya.
"Mengapa tak mau menjawab?" ulang Huru Hara. Diam2
Huru Hara curiga atas sikap orang. Dia tak mau
menerangkan soal surat yang dicopet Ui-tiok- sin-jiu.
"Hilang dicuri orang .... ." akhirnya orang itu menjawab.
Huru Hara tak keget karena dia sudah menduga begitu,
Ia mengeluarkan sampul yang dilak (tutup) cikeng merah
dan diberikan kepada orang itu, "Apakah bukan ini ?"
Orang itu tersenyum, "Ya, itulah Dari mana engkau
memperolehnya ?"
"Orang inilah yang mencopetnya," kata Huru Hara
sembari menunjuk pada Ui-tiok-sin-jiu.
"0, terima kasih tuan," kata utusan itu.
"Surat itu jelas dari mentri Su Go Hwat tayjin, lekaslah
serahkan kepada tay-haksu Ma Su Ing. Mengapa engkau
tak hati2 menjaganya ?" tegur Huru Hara.
"Sebenarnya sudah kusimpan dengan rapat tetapi entah
bagaimana, tahu2 surat itu hilang." Demikian setelah
mengucapkan terima kasih utusan itupun segera
melanjutkan perjalanan.
"Ah, ternyata dia memang bekerja dengan setia," kata
Huru Hara kepada Ui- tiok-sin-jiu. Raja copet itu hanya
garuk2 kepalanya. "Bagaimana kalau aku ikut kepada
sauhiap. Apakah sauhiap meluluskan ?" tanya Raja copet.
"Perlu apa engkau mau ikut aku ?"
"Aku juga tak punya sanak kadang dan gemar
mengembara," kata Raja copet. "dan aku seperti mendapat
firasat bahwa surat So Go Hwat tay-jin yang dibawa orang
itu akan berbuntut panjang.”
"Apa maksudmu ?"
"Bukankah ketiga orang tadi telah mencepat perjalanan
utusan itu ? Mengapa soal mentri Su Go Hwat mengirim
surat kepada Ma Su Ing telah menimbulkan perhatian orang
? Tidakkah ada fthak tertentu yang menginginkan agar surat
itu jangan sampai tiba di tangan Ma Su Ing ?"
"Hm, peristiwa itu tentu ada orang yang sengaja
membocorkan," kata Huru Hara.
"Benar sauhiap." kata Ui-tiok-sin-jiu, oleh karena itu
akupun kuatir bahwa perjalanan utusan itu tentu akan
mengalami beberapa kesulitan. Dan lagi sauhiap, jelas
kudengar kedua wi-su istana itu juga akan mencari utusan
mentri Su tayjin, Aku tertarik dengan peristiwa ini. Maka
apabila sauhiap tak keberatan, aku hendak ikut pada
sauhiap. "
Setelah berpikir sebentar, Huru Hara menyatakan tak
keberatan. Ia pikir, orang itu mempunyai ilmu kepandaian
mencopet yang istimewa. Siapa tahu nanti akan ada
gunanya.
Demikian keduanya lalu melanjutkan perjalanan. Huru
Hara menyatakan dia hendak mengikuti perjalanan utusan
pembawa surat itu secara diam2.
Pada. hari itu mereka tiba disebuah kota dan menginap
disebuah rumah penginapan. Sengaja Huru Hara dan Uitiok-
sin-jiu mengambil kamar yang tak jauh dari kamar
utusan mentri Su.
Malam hari ketika suasana sudah sepi, Huru Hara. dan
Ui-tiok-sin-jiu duduk bersemedhi. Lewat tengah malam,
mereka mendengar suara seperti daun kering berhamburan
jatuh ke tanah.
"St, ada orang lihay datang ke rumah penginapan ini,"
bisik Ui-tiok-sin-jiu.
Huru Hara hanya meugangguk. Dia memang menangkap
juga suara halus itu. Dia lanjutkan semedhinya dan bahkan
mempertajam indera pen dengarannya.
Krit, krit ..... terdengar daun jendela di gurit dengan
ujung pisau yang tajam dan tak berapa lama terdengar
sebuah benda yang loncat masuk kedalam kamar.
Huru Hara terkejut dan saat Itu Ui-tiok-sin-jittpun
menggamit kaki Huru Hara, Keduanya dengan pelahanlahan
membuka pintu dan terus menuju ke arah kamar yang
dimasuki penjahat itu.
Apa yang diduga keduanya memang tepat. Ternyata
penjahat malam itu masuk ke kamar urusan mentri Su.
Huru Hara dengan tenaga-saktinya Ji-ih-sin kang dapat
melakukan gin-kang yang hebat. Gerak tubuhnya Iaksana
daun kering yang gugur ke tanah. Pun Ui-tiok-sin-jiu si
Raja-copet juga. memiliki ilmu gin-kang yang luar biasa.
Keduanya dengan berindap-indap menghampiri ke kamar
utusan mentri Su. Diluar bawah jendela keduanya berhenti
untuk mendengarkan apa yang terjadi dalam ruang.
Lampu dalam kamar yang sudah padam ternyata
menyala kembali. Diam2 Huru para membatin, penjahat itu
memang bernyali besar sekali berani menyatakan lampu.
"Ah, setan alas , ," tiba2 terdengar suara oraug mendesuh
kaget, "ini surat palsu. Tanda tangan mentri Su bukan
begini."
Huru Hara dan Ui-tiok-sin-jiu terkejut. Ternyata penjahat
itu telah menggeratak surat penting dari mentri Su Go
Hwat. Huru Hara hendak menerobos masuk untuk
membekuk penjahat itu tetapi cepat dihalangi Ui-tiok-sin-jiu
yang memberi isyarat supaya dia suka bersabar dulu,
Tak lama terdengar suara orang mengulang dan napas
yang memburu keras, "Hai, mana surat yang aseli itu !"
"Surat .... yang mana ?"
"Surat dari mentri Su Go Hwat kepada Ma Su Ing."
"Siapa eng .. ; . engkau!"
"Jangan banyak mulut. Lekas bilang, dimana surat itu
atau kuhancurkan urat jantungmu,” kata si penjahat.
"Apa yang harus_kukatakan?" kata utusan
mentri Su.
"Dimana surat yang aseli itu!"
"Suratnya ya itu. Aku tak bawa surat lain lagi."
Penjahat itu tertawa scram, Hm, jangan engkau coba2
untuk berbohong. Engkau dapat mengelabuhi orang lain
tetapi jangan harap mampu menyelomoti aku. Aku kenal
baik dengan tulisan mentri Su."
"Tetapi aku tak punya ............. "
"Hm, kalau belum merasakan tanganku, engkau memang
masih bandel," dengus si penjahat. Tak berapa lama
terdengar suara merintih-rintih yang ngeri dari utusan
mentri Su. Rupanya dia tak tahan menderita siksaan
penjahat itu. Kembali Huru Hara hendak bertindak tetapi
Ui-tiok-sin-jiu masih menahannya dan minta supaya dia
bersabar sebentar waktu lagi.
"Ya, ya, aku mau .. . mengatakan ............. jangan
menyiksa begini ..... " akhirnya utusan mentri Su itu
menyerah.
"Dimana surat yang aseli itu?" kembali si penjahat
mengulang pertanyaannya.
“Surat itu....... surat itu ..... "
"I.ekas katakan !" bentak si penjahat.
"Surat itu telah di ... ambil............ . ambil ...."
"Cepat !" bentak si penjahat yang makin gemas.
"Dua orang . ,............ wisu istana ."
"Wi-su istana raja Beng ?"
"Ya . ..."
"Mengapa engkau berikan ?"
"Mereka telah memaksa aku harus menyerahkan surat
itu."
"Siapakah yang memerintah kedua wi-su untuk
merampas surat itu ?"
"Entah, aku tak tahu."
"Tetapi mengapa engkau menyimpan surat palsu ini ?"
"Aku memang sengaja membuat dua surat. Yang satu
aseli dan yang lain palsu. Hal itu dikarenakan aku harus
menjaga segala kemungkinan yang tidak diharapkan dalam
perjalanan. Di tengah jaIan aku telah kecopetan dan yang
dicopet kebetulan surat yang palsu itu . ..."
"Ngaco !" bentak penjahat itu, "bagaimana mungkin surat
yang sudah dicopet, dapat kembali lagi kepadamu ?"
"Ada seorang pemuda yang membawa seorang pengemis
tua kepadaku. Dia mengatakan bahwa yang mencopet surat
itu adalah pengemis tua itu dan kebetulan dia dapat
menangkapnya. Surat itu dikembalikan lagi kepadaku."
"Hm, dapatkah omonganmu itu kupercaya ?"
"Hohan, aku bersumpah, kalau sampai keteranganku. ini
ada sepatah saja yang bohong, biarlah aku mati disambar
geledeg ............. aduh............ "tiba2 terderigar utusan
mentri Su itu menjerit dan tak terdengar bersuara lagi.
Huru Hara serentak berbangkit. Dia tak dapat menahan
kesabarannya lebih lama lagi. Tetapi sebelum dia sempat
bergerak, tahu2 dari dalam ruangan telah melesat keluar
penjahat itu menerobos jendela. Gerak penjahat itu
memang hebat sekali.
"Hai, mau lari kemana engkau bangsat !" sebelum Huru
Hara bertindak, Ui-tiok-sin-jiu sudah loncat hendak
menerkam.'
"Huh, siapa engkau .... ! cepat sekali penjahat yang
mukanya ditutup dengan topeng hitam ayunkan tangannya
menghantam.
"Uhhhhh ............. ." Ui-tiok-sin-jiu menlompat beberapa
langkah ke belakang dan berdiri tegak. Hantaman penjahat
itu menggunakan tenaga-dalam yang sakti sehingga Ui-tioksin-
jiu sesak napasnya dan terpaksa harus berhenti untuk
menenangkan diri. Dia menyadari kalau dirinya menderita
luka.
"Besar sekali nyalimu, penjahat !" Huru Hara pun
mengejarnya.
Penjahat itu Iari keluar kota. Ketika tiba di sebuah hutan,
dia berhenti.
"Hm, mau apa engkau mengejar aku?" tegurnya nya
dengan nada bengis.
"Menangkapmu," enak saja Huru Hara menjawab.
Penjahat bertopeng itupun tertawa mengukuk. Nadanya
bagai burung hantu menangis di tengah kuburan.
"Engkau menangkap aku? Sebelumnya, jawablah," seru
penjahat bertopeng itu dengan congkak, "mampukah
engkau menangkap angin? Nah, kalau engkau sudah
mampu menangkap angin barulah engkau boleh bicara
hendak menangkap aku!'
"Mengapa tidak mampu?" seru Huru Hara, "mau lihat
buktinya kalau aku dapat menangial angin, nib, tuuuuuttttt .
. . . "
Dengan menahan napas dan kerahkan tenaga-dalam
maka Huru Hara berkentut sekeras-kerasnya.
Sudah tentu penjahat bertopeng itu merasa terhina,
"Bangsat, engkau menghina aku?"
"Kalau kusuruh engkau makan kentut itu sih masih
ringan. Seharusnya engkau kusuruh makan ampas
kentutku!"
"Bangsat, mampus engkau!" tiba2 penjahat bertopeng itu
melontarkan sebuah hantaman yang dahsyat. Hantaman itu
disebut Biat- gong- ciang atau ilmu pukulan Membelahangkasa.
Suatu ilmu pukulan tenaga--dalam yang dahsyat.
Huru Hara songsongkan tangannya kemuka untuk
menyambut. Dia terdorong selangkah kebelakang tetapi
penjahat bertopeng itupun gemetar tubuhnya. Keringat
bercucuran membasahi kepalanya.
Dia.terkejut sekali ketika mendapatkan bahwa tenagadalam
yang dipancarkan dalam pukulan Biat-gang-ciang itu
telah tertolak balik dan menggempur dirinya sendiri. Dia
pun berjuang sekuat tenaga untuk bertahan diri. Itulah
sebabnya dia sampai gemetar dan bercucuran keringat.
"Aneh sekali," katanya- dalam hati, "siapakah orang ini ?
Kalau melihat wajahnya dia seperti si Bloon dulu. Tetapi
masakan Blo'on memiliki Ilmu tenaga-sakti yang aneh
seperti itu."
"Bagaimana, bung ?" suru Huru Hara, "apa masih ingin
adu pukulan lagi ?"
"Siapa engkau !" seru penjahat bertopeng. "Aku Huru
Hara !"
"Bohong !" teriak penjahat bertopeng, "siapa namamu
yang sesungguhnya ?"
"Apa perlunya engkau bertanya namaku ?"
"Karena aku teringat akan scseorang."
"Siapa ?"
"Blo`on anak dari Kim Thian Cong "
Huru Hara terkejut, "Siapa engkau !" bentak Huru Hara.
"Ha, jelas engkau tentu si Blo’on," seru penjahat
bertopeng."
"Ngaco!"
"Kalau bukan Bloon mengapa engkau gugup dan kaget?"
"Aku tak kenal siapa Blo’on. Yang didepanmu dan akan
menangkapmu adalah si Huru Hara. Hayo kita bertempur
lagi!"
Penjahat bertopeag tertawa seram. Pelahan-lahan ia
merogoh ke dalam saku bajunya dan berseru, "Huru Hara,
aku sudah mencoba tenaga pukulanmu. Sekarang aku ingin
mengetahui sampai dimana kepandaianmu menyambuti
senjata-rahasia ku ini! Bersiaplah .. .. "
"Balk!"
Penjahat bertopeng melontarkan sebuah benda berbentuk
seperu burung walet kertas. Senjata rahasia itu disebut Yancu-
wi mau ekor burung sriti.
Serentak di udara terdengar bunyi mendesing keras dan
seperti burung hidup maka senjata Ya cu-wi itupun terbang
berputar-putar di udara.
Penjahat bertopeng menyusuli lagi dengan sebuah Yancu-
wi.. Yan-cu-wi kedua itu tepat membentur Yan-cu-wi
kesatu lalu keduanya beriring terbang mengitari tempat itu.
Kembali penjahat bertopeng melepaskan Ya cu-wi lagi.
Yan- cu-wi membentur ekor Yan-cu-wi yang kedua dan
melekat. Dengan demikian ketiga Yan-cu-wi itu saling
melekat berurut- urutan. Dengan datangnya Yan-cu-wi
ketiga maka Yancu-wi kesatu dan kedua mulai tambah
tenaga lagi. Ketiga benda itu terbang melayang-layang
mengelilingi diatas kepala Huru Hara.
Tak berapa lama waktu ketiga Yan-cu-wi agak lambat
layangnya, penjahat bertopeng melepaskan Yan-cu-wi
keempat. Yan-cu- wi itupun melekat pada ekor Yan-cu-wi
yang ketiga dan keempat Yan-cu-wi itupun terbang deras
lagi.
Huru Hara melihat kesemuanya itu dengan terkejut.
Namun ia tak berani lengah.
Beberapa saat kemudian penjahat bertopeng melepaskan
Yan-cu-wi yang kelima. Tetapi kali ini Yan-cu-wi , itu tidak
melekat pada ekor Yancu-wi yang keempat melainkan
membentur di tengah keempat Yan- cu-wi, tringng .....
Terdengar benturan logam yang nyaring dan benar2
menakjubkan sekali. Keempat Yan-cu-wi itu, yang dua
melayang ke kanan dan yang dua melayang ke kini. Mereka
melayang berlawanan arah. Sedang Yan- cu- wi yang
kelima itu sehabis membentur terus melambung keatas.
Sepasang Yan- cu- wi yang berlawanan arah itu saling
bertemu, setelah berbentur mereka lalu berjajar empat dan
melayang ke tengah, tepat diatas kepala Huru Hara.
Tiba2 Yan-cu-wi kelima yang melambung keudara tadi,
meluncur turun dan membentut keempat Yan-cu-wi.
Tringng ..... lima Yan-cu-wi serempak berhamburan
menyerang Huru Hara.
Cepatnya seperti angin, dahsyatnya bukan kepalang.
Huru Hara terkejut. Tak mungkin dia menghindar dan
serangan kelima Yan-cu-wi yang menabur dari lima arab.
Dalam detik2 yang berbahaya itu tiba2 dia teringat akan
pedang Thatcek-kiam yang berada dalam kerangka tanduk
kerbau putih. Cepat dia mencabut dan memutarnya . . . . .
Cret, cret, cret . , . . . terdengar suara benda saling
melekat beberapa kali dan tahu2 kelima Yang- cu- wi itu
hilang.
"Gila .... !" penjahat bertopeng bukan main kagetnya
ketika mehhat kelima senjata rahasia Yan- cu-wi melekat
pada batang pedang Huru Hata. Pada hal begitu yan-ca-wi
itu membentur tubuh orang, tentu akan meletus dan
menghambutkan cairan lima jenis racun. Tetapt ternyata
pada waktu melekat pada pedang Huru Hara. Yan-cu-wi itu
tak sempat meletus.
"Engkau setan atau manusia !" teriak penjabat bertopeng
dengan mata terbelalak.
"Setan kek, manusia kek, apa bedanya? Beda manusia
dengan setan adalah kerena sifat manusia itu baik dan setan
itu jabat. Kalau manusia juga jahat seperti engkau,
bukankah sama dengan setan?" sahut Huru Hara dengan
sinis.
"Balk, karena engkau mampu menghadapi taburan
senjata rahasia tadi, maka engkau congkak setengah mati.
Tetapi jangan anggap engkau sudah menang, bung!"
"Aku mengejar engkau bukan untuk mencari
kemenangan tetapi hendak menangkapmu untuk
mempertanggung jawabkan perbuatanmu menganiaya
utusan dari mentri Su Go Hwat tadi."
"Uh, itu kan urusanku sendiri. Apa engkau orang
bawahan mentri Su Go Hwat?"
"Aku rakyat kerajaan Beng maka aku harus mengakui dia
sebagai mentri kerajaan Beng yang saat ini sedang
menghadapi tugas berat melawan pasukan Ceng. Aku wajib
membela dan melindungi kepentingan mentri Su tayjin!"
"Wah, wah, besar sekali omonganmu, seolah engkau
sudah berhak mengatur semua orang. Mari kita lanjutkau
pertempuran lagi dengan tangan kosong. Kalau engkau
mampu mengalahkan aku, aku akan enyah dari sini."
Enak saja," sahut Huru Hara, "siapa yang mau
membebaskan engkau?"
"Engkau mau menangkap aku? Apa salahku.
"Engkau membunuh utusan mentri Su."
"Tidak! Dia hanya kututuk jalandarabnya sehingga tak
dapat berkutik. Beberapa waktu lagi dia akan sembuh
sendiri."
"Engkau hendak merampas Surat mentri Su.
"Surat itu telah dipalsu orang. Yang asli telah diserahkan
kepada dua wi-su istana Beng."
"Hm, benarkah itu?"
"Mengapa aku harus berbohong? Cobala engkau periksa
orang itu. Mungkin saat ini dia sudah siuman."
Huru Hara tertegun.
"Engkau masih mau melanjutkan hendak menangkap aku
atau tidak?" kembali penjahat bertopang itu berseru.
"Hal itu tergantung pada omonganmu. Kalau engkau tak
bohong, akupun takkan menangkapmu. Tetapi kalau
engkau bohong, tentu akan kutangkap."
"Lalu maksudmu sekarang?"
"Untuk sementara engkau kubebaskan dulu. Kalau
engkau bohong, kelak apabila bertemu lagi, tentu akan
kutangkap," habis berkata Huru Hara terus berputar tubuh
dan lari.
"Hai, bung, mengapa engkau tak mau tanya namaku?"
teriak penjahat bertopeng.
"Perlu apa . . . , " sahut Huru Hara yang lanjutkan
larinya.
"Aku adalah Bu Te sin-kun ....”
Huru Hara menghentikan larinya dengan mendadak.
Lalu berputar "Apa? Engkau Bu Te sin-kun?" serunya keras.
Tetapi tak ada jawaban. Huru Hara lari balik ketempat
Bu Te sin-kun tetapi penjahat bertopeng yang mengaku Bu
Te sin-kun itu sudah tak tampak bayangannya lagi.
"Ah, bodoh sekali aku," gumam Huru Hara, "mengapa
tak kutanya namanya? Kalau tahu dia itu Bu Te sin-kun,
tentu tak kulepaskan. nanti yang merampas Giok-say dari
jenderal Ko Kiat. Pada hal Giok-say ( singa kutnala ) itu
berisi peta simpanan harta karun raja Beng yang pertama."
Apa boleh buat karena Bu Te sin-kun sudah lenyap,
diapun hendak kembali ke rumah penginapan lagi.
Dia terkejut karena tak mendapatkan Ui-tiok-sin-jiu
berada di kamarnya. Diatas meja dia melihat secarik kertas
yang bertuliskan beberapa huruf, berbunyi
Aku hendak mengejar kedua
wi-su itu. Urusan mentri Su
tayjin memang bersekongkol
dengan mereka.
Huru Hara mencari utusan mentri di kamarnya tetapi
orang itupun sudah pergi. Saat itu sudah menjelang pagi.
Dia meninggalkan uang meja kamarnya sebagai
pembayaran sewa kamar lalu berangkat menyusul Ui-tioksin-
jiu atau Pengemis Bambu Kuning.
Tetapi dia tak berhasil bertemu, baik dengan si Bambu
Kuning maupun dengan kedua wi-su. Terpaksa dia
lanjutkan perjalanan menuju ke kotaraja Lam-kia untuk
menghadap mentri tay-haksu Ma Su Ing.
Utusan mentri Su Go Hwat itu ternyata memang.
Sebelumnya dia sudah mempersiapkan duplikat atau
salinan dari surat mentri yang aseli. Kebetulan yang
dicomot pengemis copet Bambu Kuning adalah salinan
surat itu. Kemudian raja copet membuatkan turunan yang
palsu dan diberi kan kepada utusan mentri lagi. Dengan
demikian, raja copet Bambu Kuning memalsu surat yang
palsu. Surat mentri yang aseli telah diberikan kepada kedua
wi-su istana. Entah apa maksudnya.
Sebenarnya Huru Hara hendak membuang Surat palsu
yang dibawanya itu. Tetapi akhirnya ia memutuskan.
Daripada menghadap tanpa membawa apa2, biarlah surat
yang dibuat oleh Ui-tiok-sin-jiu itu yang akan dihaturkan
kepada mentri Ma Su Ing.
Ma Su Ing yang berpangkat tay-haksu, merupakan mentri
yang paling berkuasa dalam pemerintahan kerajaan Beng.
Baginda Hok Ong hampir tak pernah mengurus urusan
negara. Tiap hari dia hanya dihibur dengan wanita2 cantik
dan minuman. Segala surat2 dan keputusan penting yang
menyangkut negara, berada di tangan Ma Su Ing semua.
Paling-paling apabila perlu, mentri Ma Su Ing meminta
tanda tangan baginda.
Ma Su Ing tahu bahwa dalam kerajaan Beng hanya
tinggal seorang saingan yang paling berat yani mentri Su
Go Hwat yang menjabat sebagai mentri pertahanan.
Su Go Hwat seorang mentri yang setya dan jujur. Ma Su
lag dengan akalnya yang cerdik dapat mempengaruhi
baginda Hok Ong agar menugaskan mentri Su Go Hwat
keluar untuk mengatur dan menyusun pasukan dalam
menghadapi serangan pasukan Ceng. Pasukan kerajaan,
berada dibawah pimpinan para jenderal yang terbesar di
wilayah kekuasaan kerajaan Beng.
Dengan tiadanya Su Go Hwat di kotaraja, maka
kekuasaan Ma Su Ing makin kuat. Dia seorang mentri yang
licik dan hianat. Dia menyadari bahwa kerajaan Ceng'
mempunyai pasukan yang kuat dan dipimpin oleh jenderal
jenderal yang setya dan pandai. Sebaliknya jenderaljenderal
kerajaan Beng, banyak yang tidak becus. Mereka
haus kekuasaan, rakus dan kcrup. Mereka saling berebut
daerah kekuasaan dan saling cakar cakaran sendiri.
Jelas bahwa kerajaan Beng tak dapat diharapkan lagi,
pikir Ma Su Ing. Diam2 ia sudah merencanakan untuk
mengadakan hubungan dengan fihak Ceng. Sudah tentu dia
harus merahasiakan rencana itu dan harus berhati-hati
melaksanakannya.
Tiba di kota raja, Huru Hara terkejut. Mengapa kota raja
itu tidak menunjukkan suasana kesiap-siagaan? Bukankah
kerajaan Beng sudah lari pindah ke Lam-kia dan saat itu
pasukan Ceng sudah mulai melancarkan serangan lagi?
Berada di kotaraja Lam- kia, Huru Hara seperti
merasakan suasana yang lain. Kehidupan di kota itu sama
sekali tak mengunjukkan sedang perang. Toko2, rumah
makan, pasar dan rakyat masih hidup dalam suasana biasa.
"Gila, apakah maksudnya ini?" tanya Huru Hara dalam
hati, "mengapa kerajaan tidak tampak mengadakan
persiapin suatu apa? Mengapa tak ada gerakan untuk
menambah pembentukan pasukan lagi?"
Karena hari masih pagi. Huru Hara singgah di sebuah
rumahmakan. Selain untuk benstirahat, sekalian dia hendak
mencari keterangan dimana tempat tinggal Ma Su Ing.
Diantara tetamu yang berkunjung di rumahmakan itu,
terdapat beberapa orang yang sedang bercakap-cakap.
"Wah, kalau terus menerus begini, mana kita tahan?"
kata seorang lelaki yang berpakaian seperti seorang dagang.
"Apanya yang tak tahan?" tanya seorang tetamu yang
duduk berhadapan dengan pedagang itu.
"Apanya lagi kalau bukan soal pajak," keluh pedagang
itu, "bukankah baru2 ini tay haksu Ma Su Ing telah
mengeluarkan pengumuman menaikkan pajak? Celaka,
kawan, masakan pajak bagi kaum pedagang begitu tinggi?"
"Berapa sih yang engkau anggap tinggi itu?"
"Duapuluh lima persen. Apa tidak mencekik Ieher?
Bayangkan saja, berapa keuntungan kita? Taruh kata sekitar
25 sampai 31 persen. apakah kita tidak mengeluarkan
ongkos2 untuk membayar pegawai dan lain2? Lalu apakah
kita bisa untung lagi?"
"Mengapa pajak dagang sampai begitu tinggi?" tanya
kawannya.
"Katanya diminta kerelaan dan kesadaran dari para
pedagang untuk membantu pembiayaan pasukan perang
yang sedang berperang melawan pasukan Ceng."
"Hm, memang rakyat wajib membantu negara yang
sedang perang," kata kawannya.
"Membantu sih membantu," gumam si padagang, "tetapi
kalau membantu diluar kekuatan bukankah akhirnya kita
akan ambruk sendiri. Aku sudah pikir2 untuk menutup
tokoku dan beralih pada lain bidang saja."
"Bidang apa yang engkau inginkan?"
"Tani, beternak atau perusahaan industri apa saja, masih
banyak yang menguntungkan. Pajaknya tentu tIdak sebesar
kaum dagang."
Kawannya geleng2 kepala.
"Siapa bilang pajaknya ringan?" tiba2 terdengar suara lain
tamu yang duduk di sebelah meja lain, "aku membuka
perusahaan sepatu. Pajaknya juga berat hampir setaraf
dengan orang dagang. Aku pikir juga akan beralih menjadi
orang tani saja. Tenteram dan tidak besar pajaknya."
"Salah," seru seorang tetamu lain, "kalia kira tenang2 saja
kehidupan orang tani sekarang. Huh, memang pajaknya
tidak sebesar pedagang tetapi kami diharuskan menjual
pada pemerintah dengan harga yang ditetapkan oleh
pemerintah.l Sama dalihnya bahwa kaum petani juga
diminta kesadaran dan kerelaannya untuk membantu
negara dalam peperangan ini. Padi dan gandum akan
diperuntukkan rangsum para prajurit kerajaan Ben yang
berjuang di medan perang. Yaah, itu memang alasan tepat
asal memang benar2 digunakan
"Lho, apa engkau kira tidak digunakan dengan tepat?"
tanya seorang tetamu.
"Engkau tidak tahu, akupun tidak tahu, dia dan mereka,
kita semua tak tahu. Hanya Thian yang maha tahu kemana
gerangan padi yang diserahkan para petani itu larinya."
"Tetapi kawan," kata tetamu yang lain tadi, "fitnah itu
lebih kejam dari pembunuhan. Dari mana engkau
mengatakan kalau persediaan beras itu tidak digunakan
dengan tepat?"
"Kawan," jawab orang yang ditanya, "cobalah engkau
menjawab pertanyaanku ini. Apakah engkau merasa bahwa
keadaan di kotaraja ini menyerupai suasana negara yang
sedang berperang."
Orang itu terbelalak, "Aku juga baru datang dari lain
daerah. Memang kurasakan kehidupan di kotaraja ini tetap
seperti biasa. Tiada tanda2 kearah suasana negara dalam
perang."
"Nah, dari situ saja kiranya cukup sudah untuk menarik
kesimpulan bagaimana keadaan pemerintahan kerajaan
Beng saat ini. "
"Betul kawan," seru si pedagang, "pajak dagang
dinaikkan begitu tinggi. Tetapi nyatanya jenderal2 yang
memimpin pasukan di berbagai wilayah negara kita, tidak
mendapat dana bantuan. Mereka diharuskan berdikari
memenuhi kebutuhannya sendiri."
"Lho, dari mana mereka akan memperoleh dana untuk
mencukupi kebutuhannya?"
"Dari mana lagi kalau bukan dari rakyat setempat, rakyat
dari daerah yang mereka kuasa harus memberi dana dan
menyerahkan bahan makanan untuk ransum prajurit . . . . "
Tiba2 pembicaraan mereka terhenti seketik manakala
saat itu beberapa prajurit kerajaan melangkah masuk
kedalam rumahmakan itu.
"Huh, mengapa kalian ini!" bentak salah seorang prajurit
yang bertubuh kekar, berkumis lebat. Rupanya dia merasa
kalau mata beberapa tetamu sama mencurah kepada
rombongannya.
"Ah, maaf, loya. Kami tak apa2," kata seopedagang tadi.
"Mengapa kalian memandang rombongank begitu lekat!"
"Tidak apa2, loya, kami hanya terkejut." "Apa terkejut?"
"Karena biasanya prajurit itu jarang sekali yang masuk ke
rumahmakan . . . "
"Apa? Engkau berani menghina aku tak punya uang?"
teriak prajurit berkumis lebat dengan mata melotot.
"Ah, tidak loya. Harap jangan salah faham," kata si
pedagang, "kami maksudkan para prajurit itu sudah
mendapat jaminan gajih dan bahan makanan yang baik."
"Hai, mengapa engkau tahu?"
"Aku seorang pedagang. Baru2 ini pajak dagang
dinaikkan lagi dengan dalih untuk menjamin dana prajurit -
yang membela negara."
"Siapa bilang jaminan prajurit dinaikkan?" seru prajurit
berkumis lebat dengan gemas, "gaji dan jaminan bahan
makanan yang kita terima tetap sama saja. Paling2 kami
hanya mendapat kelonggaran."
"Kelonggaran apa?" desak si pedagang.
"Eh, jangan ceriwis saja, ya? Mangapa engkau bertanya
begitu melilit? Hm, rupanya engkau tintu seorang matamata
. . ….”
"Tidak loya, tidak," seru si pedagang kaget, "aku bukan
mata-mata. Aku seorang pedagang dari luar kota.
Tetapi prajurit berkumis lebat itu tetap menghampiri dan
menggertak, "Bohong, engkau tentu mata-mata. Lekas
serahkan dirimu atau terpaksa kau kutangkap dengan
kekerasan," prajurit itu
tarus menghunus pedangnya.
Si pedagang gemetar, "Ampun loya, aku benar-benar
rakyat baik, bukan mata-mata."
"Ah, nonsens. Lekas serahkan dirimu!"
Rupanya pedagang itu sudah berpengalaman. Segera dia
mengeluarkan sebuah pundi2 uang dan diserahkan kepada
prajurit yang berkumis lebat, "Inilah loya, tanda bakti kami
kepada prajurit2 yang membela negara dan melindungi
rakyat ..... "
Sinar mata prajurit itu berobah seketika waktu melihat
pundi2 yang berisi uang perak. Cepat ia menyambuti dan
berkata, "Ya, baiklah, tetapi apakah engkau benar2 rela dan
ikhlas?"
"Tentu saja rela, loya."
"Apa engkau hendak menyuap aku?"
"Ah, tidak loya. Itu bukan uang snap melainkan suatu
tanda penghargaan aku sebagai rakyat yang merasa telah
mendapat perlindungan kepada loya."
"Hm, kalau begitu terpaksa kuterima. Hanya kunasehati.
Jangan kami sembarangan bicara d tempat umum. Itu
berbahaya. Untung engkau berjumpa dengan prajurit yang
sadar seperti aku. Coba dengan prajurit yang bengis, engkau
tentu sudah ditangkap dan dihukum."
Pedagang itu kembali menghaturkan terima kasih.
Rombongan prajurit itu terdiri dari lima orang. Mereka
mengambil duduk tak jauh dari tempat Huru Hara. Pelayan
bergegas menghampiri dan memberi hormat, "Loya
sekalian mau pesan hidangan dan minuman apa?"
Prajurit berkumis lebat berkata, "Kasih arak. yang baik
dan 'hidangan yang- paling 1ezat.
Tak lama kemudian pelayanpun membawa pesanan
mereka. Mereka makan dengan gembira-ria macam orang
berpesta pora,
Tak berapaa lama, entah dari mana maka masuklah
seorang lelaki tua yang berjalan dengan membawa tongkat
bambu. Rupanya diapun hendak makan di rumahmakan
itu.
Ketika lewat disamping meja rombongan prajurit, entah
bagaimana tiba2 orang tua itu terjatuh tepat di kaki prajurit
berkumis lebat tadi.
"Hai, apa-apaan itu!" tanpa disadari prajuit berkumis
lebat itupun membungkukkan tubuh untuk mengangkat
orangtua itu.
"Ah, terima kasih loya," kata orangtua itu sambil
memberi hormat, "aku si orangtua agak pusing dan lemas
kakiku sehingga terjatuh."
"Hm," prajurit berkumis lebat hanya mendengus dan tak
menghiraukan orang. Dia melanjukan makan dan minum
sampai puas.
"Terima kasih loya," rupanya orangtua itu tak tadi
duduk. Dia keluar lagi. Waktu lewat di meja rombongan
prajurit, kembali dia menghaturkan terima kasih kepada
prajurit berkumis. Namun prajurit berkumis itu acuh tak
acuh.
Selesai makan dengan sikap seperti tuan besar prajurit
berkumis itu segera memanggil pelayan, 'berapa
rekeningnya?"
Pelayan terkejut. Biasanya prajurit2 kerajaan yang makan
di rumahmakan tentu tak mau membayar.
"Baik, loya, harap tunggu sebentar akan kumintakan
rekeningnya kepada ciangkui," pelayan itu gopoh menuju
ke tempat kassir. Tak berapa lama dia kembali dengan
membawa bon, "Lo semua sepuluh tail tetapi ciangkui
hanya menu separoh saja."
"Mengapa?"
"Karena ciangkui menghargai loya sekali yang membela
negara dari serbuan musuh," k pelayan.
"0, bagus, bagus," prajurit berkumis lebat segera
mengambil pundi2 dari dalam sakunya. Tetapi seketika itu
juga dia menjerit, "Hai . . . !
"Kenapa?" tanya kawannya.
"Pundi2 uang tadi lenyap!" teriak prajurit berkumis
seraya sibuk merogoh-rogoh kantong celana dan bajunya.
"Mungkin jatuh," kata kawannya. Dan merekapun sibuk
mencari kian kemari dibawah kolong meja. Tetapi tak
menemukan suatu apa.
"Jelas kumasukkan dalam kantong celana dan pada hal
aku tak pernah beranjak dari tempat duduk, mengapa
pundi-pundi itu lenyap. Prajurit berkumis itu berteriakteriak
seperti orang kebakaran jenggot.
"Aku jelas tak pergi kemana-mana mengapa pundi2 itu
bisa lenyap?" masih ia berkaok-kaok penasaran.”
"Tetapi tadi engkau kan menolong seorang tua yang jatuh
di kakimu?" tiba2 salah seorang kawannya
memperingatkan.
Prajurit berkumis lebat itu tertegun. Ia seperti mengingatingat
peristiwa tadi. Kemudian berkata, "Ya, benar. Tetapi
aku hanya mengangkatnya bangun. Masakan dia yang
mencomot pundi-pundi itu?"
"Ya, ya, benar," kata prajurit yang lain. "jalan saja sudah
geluyuran jatuh masakan dapat merogoh pundi2 yang
berada dalam saku celanamu. Tak mungkin orangtua itu
yang mengambil."
"Lalu kemana pundi2 itu?" seru prajurit ben kumis lebat.
Kawan-kawannyapun bingung tak dapat menjawab.
Sekalian tetamupun heran. Mereka menyaksikan peristiwa
prajurit berkumis lebat memeras si pedagang. Merekapun
tahu kalau pedagang yang ketakutan itu terpaksa
menyerahkan pundi2 uangnya. Tetapi mereka tak tahu
benar2, kemana le-. nyapnya pundi2 itu.
"Hai, hendak kemana engkau? Tunggu dulu tiba2
seorang prajurit berbangkit dan berteriak seraya menuding
seorang tetamu yang hendak meninggalkan ruang. Ternyata
tetamu itu adalah si pedagang yang sial tadi.
Prajurit berkumis lebat terkejut juga, tanya "Mengapa
engkau tahan dia?"
"Banyak orang dagang memelihara setan. Setan itu
disuruh mengambil uang yang dibayarkai kepada orang.
Aku pernah tahu sendiri penistiwa itu. Seorang yang baru
menjual barangnya kepada seorang pedagang, waktu pulang
ke rumahnya, uangnya hilang. Itu tetanggaku sendiri jadi
aku tahu jelas."
"Hm, benar juga," prajurit berkumis lebat itu segera
menghampiri si pedagang.
"Kurang ajar engkau!" ia menuding muka pedagang itu,
"mengapa engkau suruh setan piaraanmu mengambil lagi
pundi2 uang yang engkau berikan kepadaku tadi?"
"Tidak, loya, aku tak memelihara setan," seru pedagang
itu terkejut sekali.
"Ah, tidak," bentak prajurit berkumis lebat, engkaulah
yang suruh setanmu itu mengambil kembali pundi2 uang
dalam saku celanaku.”
"Sungguh mati, loya, aku talc piara setan dan tak
mengambil pundi2 itu."
"Diam!" bentak prajurit berkumis lebat dengan bengis,
"angkat kedua tanganmu keatas dan jangan bergerak!"
Pedagang itu dengan ketakutan melakukan perintah.
Prajurit berkumis ternyata menggeledah badan pedagang
itu.
"Ha, apa ini?" tiba2 dia mengeluarkan segenggam
kepingan perak dari baju pedagang itu.
"Itu sisa uangku, loya," kata si pedagang, untuk bekal
pulang."
"Tidak, tentu ini uang dalam pundi2 tadi. jumlahnya
masih 20 tail perak. Awas, jangan suruh setan piaraanmu
mengambilnya lagi," tanpa berkata lebih lanjut, uang itu
terus dimasukkan ledalam kantongnya dan lalu
menghampirt si pelayan.
"Loya, itu uangku yang masih tersisa," kata prdagang
itu," uang dalam pundi2 tadi sedianya akan kubelikan emas
di kota ini tetapi sudah kuhaturkan kepada loya."
"Apa?" prajurit berkumis lebat itu deliki mata, "tidak
kutangkap saja engkau sudah untung. Apa engkau minta
kutangkap."
"Tetapi apa salahku loya?"
"Engkau seorang mata2. Dan berani mempermainkan
prajurit kerajaan. Memberi uang tetapi engkau suruh setan
mengambilnya lagil"
"Tidak loyal"
Plak ..... tiba-tiba prajurit berkumis lebat itu menampar
muka si pedagang. Pedagang mengaduh kesakitan dan
mendekap pipinya yang bengap.
Rupanya prajurit itu masih belum puas. Dengan garang
dia ayunkan tangannya lagi.
"Jangan sewenang-wenang terhadap rakyat bung," tiba2
terdengar sebuah suara dan tahu prajurit berkumis lebat itu
terlempar sampai beberapa langkah ke belakang.
Bukan kepalang kejut prajurit berkumis lebit. Ketika
berdiri tegak, diiihatnya Huru Hara yang berada
dihadapannya.
"Engkau berani melempar aku?" seru prajurit berkumis
lebat seraya maju dan terus menjotos.
Huru Hara hanya mengangkat tangan untuk menerima
jotosan si prajurit, plak ..... tahu2 prajurit berkumis itu
terlempar ke belakang dan membentur kawan-kawannya.
Kelima prajurit serempak maju menyerbu Huru Hara.
Tetapi mereka menjerit kaget dan kesakitan ketika beradu
dengan tangan Huru Hara.
"Pemberontak!" teriak prajurit berkumis lebat seraya
menghunus pedang.
"Siapa pemberontak?"
"Engkau berani melawan prajurit kerajaan.”
"Tidak."
"Tidak? Mengapa engkau melempar tubuh kami?"
"Aku hanya melindungi diriku dari bantaman kalian?
Salahkah aku?"
"Tentu! Siapa yang berani melawan prajurit kerajaan
harus ditangkap!"
"Aku tidak berani melawan kepada prajurit kerajaan
tetapi terhadap perbuatan kalian yang sewenang-wenang
itu. Masa pedagang itu sudah engkau porot uangnya, masih
engkau tuduh yang bukan2 dan sisa uangnya engkau
rampas lagi. Apakah itu bukan sewenang-wenang
namanya?"
"Tutup mulutmu, bangsat!" prajurit berkumis rus
membacok.
Brakkkk . . . . Huru Hara menghindar dan meja
makanpun terbelah oleh pedang prajurit berkumis itu.
Keempat kawannya segera hendak menerjang tapi
dengan sigap Huru Hara sudah mencengrram tengkuk
prajurit berkumis yang masih berkutetan hendak mencabut
pedangnya yang menancap pada meja, terus didorong
kearah keempat ajurit itu, brukkkk . . .. keempat prajurit itupun
jatuh sungsang sumbal karena dilanda tubuh si prajunt
berkumis.
Walaupun sudah mendapat latihan sebagai prajurit
namun mereka tetap harus meringis kesakitan karena
kepalanya memar dan tulang pungungnya patah. Dengan
terseok-seok mereka segera lari keluar.
"Terima kasih hohan," kata si pedagang. "Harap lekas
pergi. Kotaraja bukan tempat yang aman," Huru Hara
memberi pesan. Dan dia terus memanggil cangkui,
"Ciangkui, berapa kerusakan disini, aku yang ganti semua."
Ciangkui menghaturkan terima kasih.
Setelah membereskan semua maka Huru Harapun minta
keterangan dimana tempat kediama tay-haksu Ma Su Ing.
Setelah itu maka Hu Harapun melangkah keluar.
Memang suasana kotaraja baru itu tidak menunjukkan
suatu keperihatinan dari scbuah negeri yang sedang
berperang. Diam2 Huru Hara mulai menilai siapakah
sesungguhnya peribadi tay-haksu Ma Su Ing itu. Adakah
dia benar2 seorang mentri setya ataukah mentri yang tidak
becus.
Menilik tingkah laku kawanan prajurit di rumahnaakan
tadi, timbullah kesan Huru Hara bahwa dikalangan tentara
kerajaan Beng, disiplin sudah tak dipatuhi lagi. Atau
mungkin pucuk pimpinan yang tidak becus memegang
peraturan sehingga tentara bertingkah sewenang-wenang
terhadap rakyat.
Tengah dia menyusur jalan besar yang akan menuju ke
tempat kediaman mentri Ma Su In tiba2 ia melihat
sepasukan kecil prajurit kerajaan sedang berjalan menuju ke
arahnya.
"Mungkin saja ada undang2 perang yang berlaku di
kotaraja ini sehingga tentara mempunyai kekuasaan besar,"
pikirnya,
"Itulah orangnya!" teriak sebuah suara dari rombongan
prajurit itu.
Huru. Hara terkejut. Ia seperti sudah pernah mendengar
nada suara orang itu. Sebelum ia sempat meneliti siapa
orapg itu, tahu2 rombongan prajurit itu sudah
mengepungnya.
"Pemberontak, lekas menyerah, teriak seorang prajurit
yang berpangkat sersan,
"Siapa yang engkau katakan pemberontak Itu?" sahut
Huru Hera.
"Engkau!" sersan itu menuding.
"Gila!" bentak Huru Hara " aku orang Han yang
memusuhi musuh, mengapa enak saja engkau menuduh
aku seorang pemberontak?"
"Jangan banyak mulut" sersan itu balas membentak,
"mau menyerah atau tidak.'
"Hm, beginikah tingkah laku prajurit keraja:m kita? 0,
kalau menghadapi musuh tidak berdaya, tetapi kalau
terhadap rakyat sendiri bertingkah sewenang --wenang."
"Tangkap !” Perintah sersan itu, serentak duapuluh
prajuritpun menyerbu.
Huru Hara sebenarnya tak ingin cari perkara, Tetapi
ternyata perkara, yang mencari dirinya. Apa boleh buat.
Diapun segera menerjang mereka.
Dalam beberapa kejap saja sudah ada beberapa prajurit
yang menjerit dan rubuh Bahkan, si sersan yang ikut maju
juga meringis kesakitan karena hidung dan mulutnya keluar
kecap.
Rombongan prajurit itu benar2 heran dan penasaran.
Mengapa seorang pemuda yang kepalanya memelihara dua
buah kuncir dan pakaiannya serba nyentrik, dapat melawan
puluhan prajurit. Ada beberapa prajurit yang sedikit2
mengerti ilmusilat, heran melihat gerak gerik Huru Hara
waktu bertempur. Pemuda nyentrik itu tidak main silat
menurut jurus silat yang benar tetapi Iebih banyak ngawur
asal menggerakkan tangan saja. Namun anehnya, setiap
kali tangan Huru Hara bergerak tentu prajurit itu menjerit
kesakitan.
Karena kewalahan, beberapa prajurit yan merasa ngeri,
segera lari tunggang lauggang. Melihat itu kawankawannyapun
juga ikut lari…..
"Hm, kawanan prajurit kerajaan memang menjemukan
sekali," dengus Huru Hara.
Huru Hara terus hendak melanjutkan perjalanan tetapi
dari arah depan kembali muncul sekelompok prajurit yang
dipimpin oleh seorang paderi. Waktu dekat ternyata paderi
itu bukan paderi Tiong-goan tetapi menilik wajah dan
pakaiannya adalah paderi dari Tibet.
"Hwat-su, itulah pemberontaknya." seru salah seorang
prajurit yang bukan lain adalah si sersan yang hidungnya
bonyok tadi.
"Hm," dengus paderi Hoan-ceng ( asing ) itu dengan
muak. Matanya memandang berkilat-kilat kearah Huru
Hara.
"Hai, setan, engkau minta hidup atau minta mati?”
serunya dengan garang.
Huru Hara geram sekali, "Hai, binatang, engkau ini
manusia atau binatang?" balasnya dengan kata dan sikap
seperti paderi itu.
"Kurcaci! Berani engkau menghina aku!"
"Siapa yang suruh tidak berani?" sahut Huru Hara yang
rupanya mulai kambuh ke-blo`onan-nya.
"Siapa engkau kurcaci?" tegur paderi hoan-ceng itu.
Hoan-ceng artiaya paderi dari tauah asing atau bukan dari
Tiong-goan.
"Engkau sendiri siapa sih?" balas Huru Hara mengejek.
"Bangsat! Jangan kurang ajar terhadap Sam-ceng loyal"
teriak si sersan.
"Apa sih itu Sam-ceng loya?"
"Sam-ceng toya adalah 'tiga serangkai padri suci dari
istana kerajaan Beng."
"Ha, ha, ha . . . . " tiba Huru Hara tertawa keras.
“Diam !” bentak si sersan," mengapa engkau tertawa ?”
"Aku tertawa karena geli. Masakan mahluk seperti iblis
itu Iayak di kata suci?" seru Huru Hara.
Mendengar itu tak kuasa lagi si imam yang disebut
sebagai Sam-ceng, menahan kesabarann.
Darrrrr . .. .
Seketika ia lepaskan pukulan yang menggelegar. Sekalian
prajurit terkejut, demikian juga Huru Hara. Untung Huru
Hara sudah silap sehingga dia masih sempat untuk
mengangkat tangan melindungi diri.
Uh . . . . Huru Hara tersurut setengah langkah. Tetapi
paderi itu terdorong mundur dua langkah. Dia benar2
terkejut. Pukulan yang dilepaskan itu disebut Sip-lut-ciang
atau Pukulan Sepuluh-geledek. Dahsyatnya setara dengan
Biat-gong-ciang dari perguruan Siau-lim atau Pik giok-ciang
(pukulan Mambelah-kumala) dari perguruan Bu-tong-pay.
Memang dia hanya menggunakan lima bagian tenagadalamnya.
Tetapi itupun sudah jang orang kuat
menghadapi. Bahwa Huru Hara bukan saja sanggup
bertahan, pun bahkan dapat memancarkan tenaga-sakti
yang aneh yang mendorong balik tubuh paderi itu, benar2
membuat paderi terkejut bukan kepalang.
"Siapa engkau?" seru paderi hoan-ceng
"Engkau harus memberitahukan namamu lebih dulu, aku
mau kasih tahu namaku," sahut Huru Hara.
"Aku adalah paderi Sakya dari istana," sahut paderi
hoan-ceng itu.
"Lho, aneh, namanya saja Sakya, tentu bulan paderi
Tiong-goan, mengapa bisa berada di istana? Siapa yang
suruh?"
"Sam-ceng merupakan penasehat dari tay-haksu Ma Su
Ing. Disamping itu tay-haksu masih memiliki Sam-sukia (
Tiga Duta ) dan Sam-wisu ( Tiga Pengawal )."
"0, engkau bekerja pada tay-haksu?"
"Hm."
"Mana tay-haksu?"
"Hm, jangan terlalu kurang ajar! Siapa engkau'!"
"Namaku Huru Hara, aku ingin menghadap tay-haksu."
"Gila! Masakan nama orang begitu gila-gilaan.”
"Namaku yang lengkap adalah Loan Thian. Biasa cukup
disebut si Huru Hara."
"Perlu apa engkau hendak menghadap tay-haksu?"
"Itu bukan urusanmu. Nanti kalau aku sudah berhadapan
dengan tay-haksu baru akan kukatakan maksud
kedatanganku."
"Tetapi aku adalah orang kepercayaan tay-haksu." seru
Sakya hwatsu.
“Aku tidak menginginkan orang kepercayaan.” tetapi tayhaksu
sendiri. Karena urusan ini penting dan harus
kusampaikan kepada tay-haksu sendiri."
"Hm, siapakah yang suruh mengtiadap haksu itu?"
"Pokoknya, rahasia. Bawalah aku kepada tay-haksu."
"Hm, dalam jeman seperti ini, banyak orang mengakuaku
menjadi orang kepercayaan atau keluarga mentri anu,
pembesar anu. Perlunya, akan menyelundup untuk
memata-matai keadaan bahkan kalau dapat akan
membunuh mentri yang akan ditemuinya itu.”
'0, engkau mencurigai aku?."
"Aku sudah mendapat wewenang penuh. tay- haksu
untuk memeriksa dulu setiap orang yang akan menghadap
tay-haksu."
"Wah. sayarg, aku justeru tak mau kau menyampaikan
tugasku itu bukan kepada thaksu sendiri. Lalu bagaimana?
Apakah engkau tetap merintangi aku?"
"Tidak perlu, kecuali engkau tak mau menyerahkan
urusan yang hendak engkau sampaikan kepada tay-haksu
itu kepadaku!"
"Terang aku tidak man!"
"Hm, Kalau begitu terpaksa engkau akan kuhajar . ..... ."
Sikya hwatsu terus menyerang Huru Hara, Dan keduanya
segera terlibat dalam pertempuran yang dahsyat.
Karena yang bertempur itu salah seorang dari Sam-ceng
istana maka kawanan prajurit itupun tak berani ikut
campur. Mereka tegak berjajar di kehling gelanggang
pertempuran.
Juga Sakya hwatsu tak terhindar dari rasa aneh yang
besar. Dia jelas memperhatikan bahwa gerak permainan
Huru Hara itu tidak menurut jurus tata- silat yang umum
tetapi semaunya sendiri, bahkan kadang pemuda
menyentrik itu hanya menirukan saja gerak serangan Sakya
hwat-su.
Pernah karena penasaran dan khe-ki, Sakya-hwatsu
mengajak adu pukulan dan waktu kedua pukulan saling
berbentur, dia terkejut. Dia merasa dari tangan pemuda itu
seperti memancarkan arus tenaga-dalam yang memantul
balik. Misalnya ketika ia melontarkan pukulan Sepuluhpetir
dengan diisi enampuluh bagian tenaga-dalam, ketika
berbentur dengan tangan Huru Hara, ternyata tenagadalamnya
itu tertolak balik dan melanda dirinya lagi.
Sakya hwatsu benar2 tak habis herannya, apakah yang
dimiliki pemuda nyentrik itu? Selama berpuluh tahun ia
meyakinkan ilmu silat dan tenaga-dalam dari aliran Tibet,
belum pernah dia berhadapan dengan ilmu semacam yang
dimiliki pemuda nyentrik itu.
Namun Sakya hwatsu juga seorang dedengkot persilatan
yang berpengalaman. Dia tahu pemuda lawannya itu
memiliki suatu ilmu ajaib, tetapi diapun tahu kalau cara
Huru Hara berkelahi itu tidak menurut garis rel yang benar
tetapi hanya secara acak-acakan saja. Dia harus kuhadapi
dengan ilmusilat yang tinggi, katanya dalam hati.
Tetapi diapun kecele lagi. Karena walaupun kelabakan
tetapi Huru Hara masih dapat menghindari semua serangan
Sakya hwatsu. Geraka pemuda nyentrik itu benar2 luar
biasa cepatnya.
Namun Sakya hwatsu tak berani mengendorkan
serangannya. Diserangnya dengan bermacam-macam jurus
ilmusilat yang aneh sehingga Huru Hara harus bekerja matimatian
untuk menghindar.
Tiba2 muncul sebuah tandu yang dipikul oleh empat
orang lelaki dan diiring oleh sepasang gadis berpakaian
indah.
Tandu itu berhenti dan dari dalam terdengar suara orang
berseru, "Hai, siapa yang berkelahi itu? Mengapa hwatsu
juga terlibat dalam perkelahian?"
Kawanan prajurit terkejut. Sersan segera maju
menghampiri, "Maaf, siocia, Sakya hwatsu sedang
menangkap seorang pemuda nyentrik."
"Siapa pemuda itu?" tanya suara dari dalam tandu.
"Dia mengatakan bernama Huru Hara dia hendak
menghadap tay-haksu tayjin."
"0, kalau memang benar2 hendak menghadap' ayah,
mengapa harus dihalangi?" tegur suara dari dalam tandu
yang jelas adalah suara seorang gadis. Dan kalau menilik
dia menyebut ayah kepada tay-haksu, Ma Su Ing, tentulah
dia itu puterinya.
Memang benar, yang berada dalam tandu adalah puteri
tay-haksu yang bungsu bernama Giok Hoa, adik dari Ma
Giok Ing.
"Tetapi siocia, dia telah melukai beberapa prajurit kita,"
kata si sersan pula.
"Mungkin karena hendak kalian tangkap, kan?" tanya Ma
Giok Hoa.
"Ya," sahut si sersan, "karena dia tak mau mengatakan
apa keperluannya hendak ntenghadap haksu tayjin. Juga
kepada Sakya hwatsu dia tetap berkeras kepala sehingga
hwatsu marah."
"Ah, jangan mencurigai orang. Curiga itu tidak baik,"
kata Ma Giok Hoa lalu keluar dari tandu dan maju
menghampiri.
Puteri Ma Su Ing yang bungsu itu baru berumur I8 tahun.
Seorang dara remaja yang cantik dan berwajah cerah. Tayhaksu
Ma Su Ing mempunyai tiga orang anak. Yang besar
anak laki bernama Ma Sun, nomor dua perempuan yaitu
Ma Giok Cu dan yang kecil juga perempuan yalah Ma
Giok Hoa itu.
Ma Sun berwatak congkak karena mengandalkan
kekuasaan ayahnya. Ma Giok Cu juga angkuh dan manja.
Tetapi Ma Giok Hoa beda sendiri. Dara itu berhati welas
asih dan jujur.
Saat itu dia habis berkunjung ke sebuah vihara untuk
bersembahyang. memanjatkan doa agar kerajaan Beng tetap
dilindungi. Dan kembali pulang, di tengah jalan ia melihat
ramai-ramai. Huru Hara sedang dikepung oleh kawanan
prajurit.
"Hwat-su, jika pemuda ini hendak menghadap ayah,
kuminta hwatsu suka meluluskan,” kata Ma Giok Hoa
kepada Sakya hwatsu.
Sebenarnya Sakya hwatsu memang gelisah karena tak
dapat mengalahkan Huru Hara. Apalagi kalau dia sampai
kalah, tentulah dia akan kehilangan muka. Maka
kedatangan puteri bungsu tay-haksu itu sungguh kebetulan
sekali.
"Sebenarnya orang itu harus ditangkap dan diperiksa .. ..
"
"Biarlah aku yang menanggung apabila sampai berbuat
apa2, hwatsu," tukas Ma Giok Boa.
Sudah tentu sekalian orang termasuk Huru Hara sendiri
tak habis herannya mengapa puteri Ma Su Ing itu mau
mengucapkan begitu.
"Nona, engkau belum kenal aku, mengapa nona berani
menanggung diriku?" tanya Huru Hara.
"Aku percaya pada semua orang," sahut Ma Giok Hoa,
"karena setiap kejahatan tentu akan berbalas sendiri."
Huru Hara terkejut. Dara yang masih semuda itu
mengapa dapat memiliki pikiran yang begitu tinggi.
Begitulah karena pengaruh Ma Giok Hoa maka Huru
Harapun dibebaskan. Diam2 dia mengikuti perjalanan
rombongan tandu Ma Giok Boa yang menuju ke tempat
kediaman tay-haksu Ma Su Ing.
Gedung kediaman tay-haksu itu besar dan megah sekali.
Penjaga segera menghadang Huru Hara yang hendak ikut
masuk bersama tandu Ma Giok Hoa, Tetapi nona itu
memberi isyarat agar Huru Hara diidinkan masuk.
Huru Hara benar2 tak mengerti atas sikap si dara
terhadapnya. Namun diapun terus mengikuti saja.
"Tunggu dulu di sini, akan kuberitahukan kcpada ayah,"
kata dara itu seraya terus masuk ke dalam ruangan. Tak
berapa lama dara itu keluar lagi. "Ah, ayah sedang tidur.
Harap tunggu."
Dara itu mengajak Huru Hara ke taman. Di situ terdapat
sebuah pagoda tempat peranginan, "Silakan tunggu di sini,
aku hendak ganti pakaian."
Huru Hara kagum atas keindahan taman gedung
kediaman mentri tay-haksu. Tamannya saja begitu indah
permai, penuh berhias beraneka bunga dan terdapat kolam
dengan air pancuran yang mengasyikkan.
"Hm, rakyat di mana2 sedang sengsara tetapi mentri tayhaksu
ini menikmati kehidupan yang begini nikmat . . . . , "
pikir Huru Hara.
"Hai, mahluk apa disitu itu!" tiba2 terdengar seorang
gadis menjerit kaget.
Huru Hara juga melonjak kaget. Dia sedang melamun
sehingga tak tahu kalau di belakangnya telah muncul
seorang gadis. Lebih kaget lagi ketika ia melihat bahwa
yang muncul itu adalah gadis yang pernah dijumpainya
beberapa waktu yang lalu.
"Nona Ma ... ," tanpa disadari ia berseru.
"Hai, bulus, engkau kiranya!" teriak gadis itu. Dia bukan
lain adalah Ma Giok Cu, puteri pertama dari tay-haksu Ma
Su Ing.
-oo0dw0oo-
Jilid 32
Panas dingin
Ma Giok Cu terkejut sekali karena melihat pendekar
nyentrik yang dulu pernah dijumpainya bersama dengan
Bok Kian, berada disitu. Gadis itupun segera ingat
bagaimana inang pengasuhnya Liu Ma, dikalahkan oleh
pemuda nyentrik itu.
"Hai, bulus, mengapa engkau berani masuk ke taman tayhaksu,”
bentaknya dengan deliki mata.
Karena berhadapan dengan seorang gadis, Huru Hara
masih dapat menahan kesabarannya walaupun dirinya
dimaki sebagai bulus atau kura2.
"Aku hendak menghadap tay-haksu," sahut Huru Hara.
"Apa? Engkau hendak menghadap ayah?"
"Ya."
"Tidak bisa!"
"Lho, aneh," kata Huru Hara, "mengapa tidak bisa?
Apakah ada larangan tak boleh menghadap tay-haksu."
"Ayah adalah seorang mentri besar dalam kerajaan.
Mana sudi menerima seorang manusia seperti engkau?"
"Lho, kenapa? Apakah aku tidak memenuhi syarat
sebagai manusia?"
"Manusia yang waras tentu tidak seperti engkau. Masa
ada seorang muda yang potongan rambutnya seperti
sepasang tanduk begitu."
"Apa hubungan rambut dengan diriku sebagai manusia.
Aku punya tubuh dan jiwa, bisa bicara. Apakah bedanya
dengan manusia lain? Soal rambutku ini, setiap orang
mempunyai selera sendiri2. Tetapi sudahlah, nona
kedatanganku bukan untuk minta dinilai aku ini layak
disebut manusia atau bukan, melainkan hendak menghadap
tay-haksu."
Ma Giok Cu berpaling seperti mencari seseorang. Ia
kerutkan dahi, "Uh, tadi engkoh Hong Liang mengiringkan
aku ke taman ini. Tetapi di manakah dia sekarang?"
pikirnya heran.
"Hai, kura2," serunya kepada Huru Hara "sekarang aku
hendak menagih hutang kepadamu.”
"Hutang? Hutang apa aku kepada nona,” Huru Hara
terkejut.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Lucu Terbaru Silat : Bloon Cari Jodoh 5 [Karya SD Liong] dan anda bisa menemukan artikel Cerita Lucu Terbaru Silat : Bloon Cari Jodoh 5 [Karya SD Liong] ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-lucu-terbaru-silat-bloon-cari.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Lucu Terbaru Silat : Bloon Cari Jodoh 5 [Karya SD Liong] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Lucu Terbaru Silat : Bloon Cari Jodoh 5 [Karya SD Liong] sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Lucu Terbaru Silat : Bloon Cari Jodoh 5 [Karya SD Liong] with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-lucu-terbaru-silat-bloon-cari.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar