Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 07 Agustus 2012

Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2-Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2-Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2-Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2-Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2-Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2-Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2

”Suhu hanya memanggil Siau un kepadaku, kalau dia orang
tua tidak memberitahukan kepadaku, mana aku bisa tahu?”
”Siapa pula gurumu?”
Siang Siau un mengerdipkan matanya berulang kali, lalu
menjawab:
”Suhu yaa suhu, sejak kecil aku hanya memanggil suhu
kepadanya, suhu tak pernah memberitahukan kepadaku siapa
namanya, mana aku tahu siapakah suhuku itu?”
”Mana suhumu sekarang?”
siang Siau un segera menunjuk kedepan sana.
”Suhu menyuruh aku menunggunya disini, mungkin
sebentar lagi akan menyusul kemari.”
”Bagaimana ceritanya sampai kau kenal dengan
keponakanku itu...?”
”Dia...”
Tiba tiba selembar wajah nona itu berubah menjadi semu
merah, tapi segera katanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Dia tidak kenal aku, akupun tidak kenalnya, suhuku yang
menyuruh aku memancingnya datang kemari”
”Ada urusan apa dia mesti dipancing kemari?”
oooodowoooo
”Bukankah semua pembicaraan kami sudah kau dengar?”
seru Siang Siau un-
”Aku minta kau yang mengatakannya kepadaku”
”Suhu menyuruh dia pergi ke Kim leng”
”Mau apa ke Kim leng?”
”Pergi ke perusahaan Seng kipiau klok dan mencari berita
tentang jejak ayahnya”
”Ehmmm, selain itu?” tanya Hee im hong kemudian-
Melihat kakek itu tidak menaruh curiga, diam diam Siang
Siau un merasa lega sekali, pikirinya kemudian-
”Jadi apa yang kubicarakan semula tak sampai terdengar
olehnya...”
Berpikir demikian, ia lantas menggeleng
”Sudah tak ada lagi”
”Kau tidak membohongi aku ?”
”Mengapa aku mesti membohongi dirimu ? orang lain
memancingnya keluar dengan maksud baik, dia enggan
menurutinya, benar benar sia sia belaka pekerjaanku kali ini...
sialan ” Gadis itu sengaja menunjukkan sikap mengambek dan
mendongkol.
”Baiklah” ujar Hee Im hong kemudian, ”kalah toh kau tidak
membohongi aku, lebih baik ikutilah aku untuk pergi ke
benteng keluarga Hee...”
Diam diam siang siau un merasa terkejut setelah
mendengar perkataan tersebut, dengan gelisah ia berseru,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Mengapa aku harus mengikuti kau pergi ke benteng
keluarga Hee? Aku toh tidakpunya urusan disitu ?”
”Tidak apa apa” Hee im hong tertawa dengan suara dalam,
”aku hanya menginginkan kau menjadi tamu selama beberapa
hari di benteng kami.”
Rupanya gadis itu sudah mempersiapkan jalan mundurnya
dengan sebaiknya, begitu selesai berkata, mendadak ia
menarik badannya dan secepat kliat melompat mundur ke
belakang.
Lompatan ini paling tidak mencapai jarak sejauh satu kaki
empat lima depa, kemudian membalikkan badan dan kabur
secepat cepatnya menjauhi tempat tersebut.
Sewaktu ia melompat ke belakang tadi, Hee Im hong jelas
terlihat tidak bergerak sama sekali, ketika ia membalikkan
badan, dihadapannya pun jelas tak nampak sesosok bayangan
manusia pun.
Namun setelah dia melesat ke depan sejauh lima kaki, tahu
tahu dihadapan mukanya sudah bertambah dengan sesosok
bayangan manusia yang tinggi besar, kini Hee im hong telah
berdiri hanya satu kaki saja dihadapan matanya.
”Heeeh heeh heeh selama berada dihadapanku, ingin
kulihat dengan cara apakah kau hendak melarikan diri.^.?”
Gelak tertawa Hee im hong seperti mengandung semacam
daya getaran yang tak berwujud, ini membuat Siang Siau un
merasa amat terperanjat, bukan saja telinganya dibikin
tergetar keras sampai mendengung, bahkan kepalanya ikut
dibikin pusing karena getaran yang keras tadi.
Daripada menyerah kalah dengan begitu saja, tentu lebih
baik beradu jiwa dengan sepenuh tenaga.
Mendadak Siang Siau un mencabut keluar sebilah pedang
pendek. Diantara cahaya pedang yang berkilauan, ia lepaskan
sebuah tusukan ke tubuh Hee im hong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Berbicara dari taraf kepandaian silat yang dimiliki gadis
tersebut, tentu saja ia tak akan mampu melukai Hee im hong,
tapi saat itulah mendadak terdengar seseorang membentak
dengan suara yang tua tapi nyaring.
”Murid ku, jangan bertingkah kurang ajar”
suara bentakan itu berasal dari bawah sebatang pohon
yang besar ditengah jalan raya. Persisnya pohon itu terletak di
belakang tubuh Hee Im hong.
Seperti diketahui Siang Siau un berlarian menelusuri jalan
raya, sedang Hee im hong menghadang dihadapannya, jadi
orang itu berada dibelakang Hee Im hong tapi dimuka Siang
siau un.
Dengan perasaan terkesiap buru buru Hee Im hong
berpaling sambil membalikkan tubuhnya, ia jumpai dibawah
sebuah pohon besar, lebih kurang empat lima kaki
dihadapannya, duduk seorang nenek pengemis yang
rambutnya telah beruban.
Dengan sorot mata yang tajam, dalam sekilas pandangan
wajah Hee Im hong sudah melihat dengan jelas bahwa nenek
pengemis itu berwajah panjang mirip keledai, sepasang
matanya terpejam hingga nampak bagaikan sebuah garis,
sekilas pandangan orang akan melihat mata itu seperti melek.
Tak melek pejam pun tak pejam.
Disampingnya tergeletak sebatang tongkat Ta kau pang
yang panjangnya delapan depa, dibawah sinar rembulan,
tongkat tersebut memancarkan sinar hijau yang gemerlapan-
Begitu melihat tongkat Ta kau pang yang berwarna hijau
itu, sekali lagi Hee Im hong merasakan hatinya bergetar keras.
Sementara itu kedengaran si nenek pengemis sedang
berkata.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”oooh, Hee pocu rupanya ? Maaf, maaf sekali lagi, bila
muridku telah melakukan kesalahan, harap pocu sudi
memaafkan dirinya”
”Sialan kau nenek pengemis” batin Siang Siau un segera,
siapakah yang menjadi muridmu ?”
Tentu saja ingatan tadi hanya melintas di dalam benaknya
dan tak sampai diutarakan keluar.
Sebab ia sudah melihat bahwa langkah Hee Im hong mulai
limbung dan ragu sejak bertemu dengan si nenek pengemis
tersebut, ini menandakan kalau dia merasa sangat ngeri dan
ketakutan atas kehadiran nenek pengemis itu. Ternyata apa
yang diduganya memang benar.
Ternyata Hee Im hong berseru tertahan, kemudian buru
buru menjura seraya berkata.
”oooh, aku kira siapa, rupanya Sin kay popo yang berada
disini, maaf, maaf sekali lagi. Kalau toh nona kecil itu adalah
murid cianpwee, tentu saja aku tak berani menegurnya, apa
yang kulakukan tadi tak lebih hanya mengajak muridmu
bergurau, harap cianpwee jangan sampai menjadi gusar.”
Nenek pengemis itu tertawa.
”Aaah, Hee pocu terlalu menyanjung aku si nenek, bila
pocu tak ada urusan lain, silahkan saja pergi” Hee Im hong
kembali tertawa paksa.
”Cianpwee telah berkunjung ke wilayah kami, hal ini benar
benar merupakan suatu kebanggaan untuk aku orang she
Hee, sudah sewajarnya bila cianpwee berkunjung serta
menginap selama berapa hari dalam benteng kami, agar aku
orang she Hee dapat menjadi seorang tuan rumah yang baik”
”Maksud baik pocu biar aku si nenek terima didalam hati
saja.” Ucap nenek pengemis itu sambil mendehem, ”aku si
nenek paling benci dengan segala macam macam tata cara,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bila berkunjung tentu kunjungi langsung nah Heepocu boleh
pergi sekarang...”
Buru buru Hee Im hong menjura:
”Kalau memang begitu, aku orang she Hee akan menerima
perintah dan mohon diri”
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan melejit
ketengah udara, seperti seekor bangau abu abu, dalam
sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari
pandangan mata.
Mendadak si nenek pengemis itu membuka habis matanya
sehingga tampak serentetan cahaya matanya yang tajam
bagaikan sembilu, terdengar ia bergumam seorang diri:
”Suatu ilmu langkah Pek poh leng siu (seratus langkah
melambung diudara) yang hebat, agaknya Hee Im hong
sengaja hendak mempamerkan kemampuannya dihadapanku”
Kemudian setelah berpaling, katanya lagi.
”Hei muridku ayo kemari, mengapa kau masih berdiri
termangu mangu disana?”
Tentu saja perkataan itu khusus ditujukan kepada Siang
Siau un yang masih berdiri di hadapannya.
Siang Siau un tidak maju menghampirinya, Cuma ia berpikir
dihati kecilnya ” Hee Im hong sudah pergi sekarang buat apa
sih kau mesti bersungguh hati?” Namun diluarnya diapun
menjura sambil berkata.
”Nenek. Terima kasih banyak atas bantuanmu yang
menolong boanpwee sampai terlepas dari persoalan, maaf
kalau boanpwee mesti pergi dulu karena masih ada urusan
lain-”
Tidak menunggu jawaban sampai nenek pengemis itu
menjawab, ia sudah membalikkan badan dan kabur dari situ.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siapa tahu meskipun dia sudah lari sejauh tujuh delapan
langkah, namun ujung bajunya seperti ditarik seseorang dari
belakang, kendatipun ia sudah mengeluarkan segenap
kekuatan yang dimilikinya, namun selalu gagal untuk
melepaskan diri.
Kejadian tersebut menimbulkan rasa heran dalam hatinya,
maka diapun berhenti seraya berpaling.
Nenek pengemis itu masih saja duduk bersandar pada akar
pohon, dia duduk tak duduk, berbaring tak berbaring,
sepasang matanya terpejam rapat, mulutnya membungkam
dan badannya tak bergerak, seakan akan orang yang bikin
susah dirinya bukan dia.
Dalam penasarannya dia berusaha meronta dengan sekuat
tenaga, siapa tahu semakin besar tenaga yang dipakai untuk
kabur kedepan, semakin besar pula tenaga yang
membetotnya dari belakang.
Akibat dari saling membetot tersebut, hampir saja
tubuhnya roboh terjengkang ke atas tanah.
Kejadian ini kontan saja mengobarkan hawa amarah nona
itu dengan perasaan mendongkol dia mencabut pedang
pendeknya, kemudian sambil memutar badan, senjatanya
dipakai untuk membacok sekenanya ke belakang.
Namun tak sesosok bayangan manusiapun yang terlihat.
Untuk sesaat dia menjadi mati kutunya, mau menangis tak
bisa mau tertawa pun tak dapat, namun ia mengetahui
dengan pasti, si nenek pengemislah yang sedang bermain gila
dengannya.
Dengan cepat ia menghentikan gerakannya, baru saja akan
bersuara...
Mendadak terdengar suara tertawa terkekeh kekeh
berkumandang memecahkan keheninganTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
”Hei rekan tua, buat apa sih kau mengganggu anak gadis
orang ”
Suara itu berasal dari seorang kakek.
Siang Siau un yang mendengar seruan mana segera
berpikir dalam hati. ”Aaah, rupanya memang si nenek
pengemis yang sedang bermain gila...”
Terdengar si nenek pengemis menyahut dengan ketus.
”Kau tak usah banyak tanya”
”oooh, teringat aku sekarang” kata si kakek lagi, ”bukankah
bocah perempuan ini adalah putrinya Siang Han hui dari Hoa
san ? orang lain kan tidak mengusiknya ?”
”Heei, aku suruh kau jangan banyak bertanya, lebih baik
kau tak usah banyak tanya” teriak si nenek lagi dingin,
”pokoknya aku si nenek sudah menerima bocah perempuan ini
sebagai muridku, tapi dia tak mau mengakui, memangnya
dengan andalkan namaku Pit gan kay poo (nenek pengemis
bermata sipit) belum cocok untuk menjadi gurunya? Nah coba
kau pikir apa aku tak pantas mengusiknya.”
Menangkap nama Pit gan kay poo, Siang Sian un menjadi
terperanjat sekali, pikirnya kemudian-
”Tak heran kalau Hee Im hong menunjukkan sikap yang
begitu menaruh hormat setelah bertemu dengannya tadi”
Kemudian ia berpikir lebih jauh.
”Kalau begitu, si kakek yang berbicara barusan adalah Siau
biu sin kay (pengemis sakti berwajah senyum) aku pernah
dengar yaya membicarakan tentang sepasang kakek dan
nenek pengemis ini. Konon mereka adalah supeknya ketua kay
pang saat ini, usia mereka berdua sudah mencapai sembilan
puluh tahunan sedang kepandaian silatnya telah mencapai
puncak kesempurnaan”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Berpikir demikian, cepat cepat dia menjatuhkan diri berlutut
seraya berseru: ”Suhu, maafkan kebodohan tecu,
sesungguhnya tecu masih ada urusan penting lainnya...”
Belum selesai ia berkata kepalanya sudah dibongkokkan,
namun bayangan tubuh si nenek pengemis tadi sudah tak
nampak lagi di bawah pohon besar itu.
Sementara dia masih tertegun, kedengaran suara bisikan
lembut berkumandang datang dari kejauhan.
”Bocah perempuan, bini tuaku sudah pergi, sebatang serat
pancing langit dan ilmu Ki khong kijin (menangkap orang
ditengah udara) yang ia tinggalkan itu dihadiahkan untukmu,
semoga kau bisa melatihnya dengan rajin-” Ternyata suara itu
berasal dari si kakek.
Mendengar perkataan tersebut, siang siau un segera
meraba kepunggung sendiri benar juga, ternyata ada seutas
tali serat yang lembut seperti rambut telah mengait bajunya
pada ujung benang tadi terdapat pula sebuah pancing, persis
seperti mata kail yang biasa dipakai untuk memancing Ikan-
Dengan mengikuti asal tali tersebut, ia berjalan menuju
kebawah pohon, ujung senar rupanya diikat pada sebatang
akar pohon yang besar.
Cepat cepat dia menggulung tali senar tersebut berikut
mata kailnya dan disimpan dalam saku.
Ketika diperhatikan lagi, ternyata ditempat bekas tempat
duduk nenek pengemis tadi, dijumpai pula secarik kertas.
Ketika kertas itu diambil dan diperiksa isinya, tampak
olehnya bagian atas kertas tersebut tertera empat huruf besar
yang berbunyi : ”Li Khong kiau hoat”, (ilmu pancing lewat
udara).
Tak terlukiskan rasa gembira gadis itu, cepat cepat kertas
itu dimasukkan kedalam sakunya lalu berpikir :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Asal aku telah berhasil mempelajari ilmu yang diajari suhu,
maka selanjutnya aku tak perlu untuk berkelahi dengan orang
lagi. Aku bisa mengail musuh dari jauh serta membekuknya
tanpa susah payah, waah... ini baru kejutan namanya” Cepat
cepat dia beranjakpergi dan meninggalkan tempat itu...
0000 (dw) oooo
Huan cu im berlarian kencang menuju ke arah benteng
keluarga Hee, ditengah jalan mendadak ia mendengar ada
orang memanggilnya dengan suara lirih. ”Muridku, cepat
berhenti”
Huan cu im dapat mengenali suara itu sebagai suara
gurunya, ia tertegun dan cepat cepat menghentikan
langkahnya. Kedengaran suhunya berkata lagi. ”cepat datang
ke hutan sebelah kanan”
Huan cu im menurut dan menjejakkan kakinya meluncur ke
hutan sebelah kanan-
Benar juga, dibalik kegelapan ia menjumpai gurunya
sedang duduk diatas sebatang pohon besar, dengan perasaan
gembira ia pun berteriak keras. ”Suhu...”
”Ssst...” buru buru Ju It koay menempelkan^ ari
telunjuknya diatas bibir, lalu bisiknya ”Hee Im hong juga
datang, kau mesti berhati hati jika berbicara ”
”Empek Hee juga datang kemari?” tanya pemuda itu
keheranan-
”Ya, barusan saja dia lewat menuju kesana”
Huan cu im tidak menguatirkan empek Heenya, yang paling
dikuatirkan adalah keadaan gurunya, maka dengan perasaan
gelisah ia lantas bertanya:
”Suhu, aku dengar kau orang tua minum arak sampai
mabuk tengah hari tadi, badanmu tidak merasa tak enak
bukan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ju It koay membelai cambangnya yang lebat lalu
tersenyum^
”Rupanya kau sudah mendengar tentang persoalan ini dari
budak she Siang? Kau takut suhumu keracunan bukan?”
”Kalau begitu suhu tidak keracunan?jadi Siang Siau un yang
membohongi tecu?”
”Tidak. Dia tak membohongimu ” Ju it koay semakin
merendahkan nada suaranya, ”Soh Han sim memang sudah
mencampuri arak yang kuminum dengan obat racun, untung
sekali aku sudah membuat persiapan sebelumnya dengan
menelan pil anti bisa. Inilah yang menyebabkan aku tetap
selamat.”
”Mengapa sih empek Hee menyuruh Soh Han sim
mencampuri arakmu dengan obat beracun?”
”Aaai, cerita ini panjang sekali untuk dikisahkan, dan
akupun tidak mempunyai cukup waktu untuk menjelaskan
semua ini kepadamu, pokoknya Hee im hong mempunyai
ambisi yang sangat besar, dia sudah menjaring banyak sekali
jago jago dari golongan lurus maupun sesat untuk berbakti
kepadanya. Obat racun yang dipergunakan mereka bernama
bubuk pembingun sukma, barang siapa menelan obat tadi
maka meski kejernihan otaknya tak sampai hilang dan ilmu
silatnya tetap utuh, namun mereka akan taat, patuh dan
tunduk kepada semua perintahnya, selama hidup tak akan
berpikiran cabang, menurut dugaanku setiap umat persilatan
yang pernah berkunjung ke Benteng keluarga Hee sebagian
besar telah dicekoki obat tersebut hingga menjadi anak buah
kepercayaannya, bisa dibayangkan apa akibatnya bila keadaan
seperti ini dibiarkan berlangsung terus.”
”Aaah, begitu seriuskah masalahnya?” tanya Huan cu im.
Kembali Ju It koay menghela napas panjang.
”Sebenarnya antara aku dengan Hee Im hong hanya
terjalin sedikit urusan perselisihan pribadi, namun belakangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini kulihat dalam dunia persilatan telah dilanda arus yang
besar, itulah sebabnya sengaja kuterima tawarannya untuk
menjabat sebagai ketua pelatih dengan maksud agar tetap
berdiam disitu sambil mengawasi gerak gerik mereka.
Walaupun begitu, namun aku tak boleh berdiam lebih lama
lagi didalam benteng keluarga Hee ini.”
”Maksud suhu, tecu harus segera meninggalkan Benteng
keluarga Hee...?” tanya Huan cu im tertegun.
”Benar, kau harus menuruti perkataan dari lo koan keh,
berangkat ke Kim leng untuk mencari lopiautau, dia
mempunyai hubungan persahabatan dengan kakek serta
ayahmu, asal berdiam ditempat tinggalnya akupun dapat
merasa berlega hati.”
”Bila tecu tetap tinggal di Benteng keluarga Hee, bukankah
akan menjadi pembantu yang setia untuk suhu?” Ju It koay
tertawa,
”Muridku, kau kelewat memandang rendah kemampuan
dari Benteng keluarga Hee, dengan kehadiranmu di benteng
ini, bukan saja tak akan mampu membantu apa apa untuk
gurumu bahkan justru akan menyulitkan diriku hal inilah yang
menjadi alasanku mengapa kau mesti pergi meninggalkan
sini.”
”Sekalipun harus pergi, paling tidak tecu kan mesti
memberitahukan niatku ini kepada empek Hee.”
”Menurut aturan, ia memang seharusnya berbuat demikian”
Ju It koay segera tertawa.
”Bila kau menyampaikan hal tersebut kepadanya,
bagaimana mungkin bisa pergi dari situ ?”
”Sudahlah, tak usah banyak bicara lagi” kata Ju It koay
sambil tersenyum, ”sebentar setelah Hee Im hong sudah
lewat, kaupun harus pergi dari sini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tidak menunggu sampai Huan cu im menyelesaikan kata
katanya, kembali ia menambahkan-
”Bila bertemu dengan Seng Bian tang nanti, jangan sekali
kali kau singgung tentang diriku, ayo, masih ada satu hal lagi
yang penting kau harus menyampaikan kepada Siang
ciangbunjin dari Hoa san pay bahwa Cing im totiang dari Go
bipay serta Lou Siu tong sekalian bisa jadi sudah diracuni oleh
Hee Im hong sehingga condong kepadanya. Ingatkan
kepadanya bahwa setiap perkataan mereka tak boleh
dipercayai dengan begitu saja...”
Baru saja berbicara sampai disini, mendadak ia membentak
dengan suara rendah: ”Muridku, jangan berisik”
Belum sampai ucapan itu diutarakan, ”Sreet” sesosok
bayangan manusia telah meluncur lewat bagaikan kilatan
halilintar, bayangan meluncur ditengah jalan besar dan
bergerak dengan kecepatan luar biasa.
Dengan wajah berubah Ju It koay berbisik kemudian-
”Waah kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki Hee Im hong
nampaknya jauh lebih sempurna daripada sepuluh tahun
berselang”
”Suhu, apakah baangan manusia yang melintas lewat tadi
adalah empek Hee?” tanya an cu im.
”Ehmm” Ju It koay membenarkan, ”sekarang aku harus
pergi muridku, disini terdapat enam puluh tahil perak.
Simpanlah dan kau gunakan sebagai ongkos dijalan,
sepanjang jalan aku mesti berhati hati...”
Selesai berkata, ia susupkan sekantung uang perak
ketangan Huan cu im.
Baru saja si anak muda itu hendak bertanya lagi, siapa tahu
baru saja mendongakkan kepala, bayangan tubuh gurunya
sudah lenyap entah kemana. Diam diam ia merasa terkesiap
sekali, pikirnya kemudian:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Tampaknya meski ilmu meringankan tubuh yang dimiliki
empek Hee telah mencapai puncak kesempurnaan, tapi jika
dibandingkan dengan kemampuan suhu, dia masih kalah satu
tingkat ”
Berpikir demikian, diam diam diapun menyelinap keluar dari
dalam hutan itu.
Perlu diketahui, dia belum pernah pergi jauh, setelah
mendengarpesan dari gurunya sekarang, dimana dia harus
pergi ke perusahaan Seng ki piau kiok di kota Kim leng tanpa
pamit, hatinya segera timbul perasaan tak enak, dia
beranggapan bila hal ini dilaksanakan maka ia akan bersalah
kepada empak Hee nya.
Namun apa boleh buat? Perintah gurunya tak bisa dibantah
lagi, terpaksa dia mesti melaksanakannya juga .
Setelah melangkah keluar dari hutan, di depan situ
terbentang sebuah jalan raya, sayang sekali dia tak
mengetahui harus menempuh arah manakah untuk menuju ke
kota Kim leng ?
Untuk beberapa saat lamanya si anak muda itu menjadi
tertegun
Mendadak kedengaran ada orang berteriak keras : ”Ihei,
bukankah didepan situ adalah Huan kongcu? Sudah, sudah
beres, akhirnya berhasil ditemukan juga ”
Baru saja suara itu berkumandang, sesosok bayangan
manusia sudah meluncur datang dengan kecepatan tinggi.
Huan cu im kenal dengan orang ini, sebab dia adalah
pelatih dari Benteng keluarga Hee si kuda langit Be Cuan gi.
Mengikuti dibelakang Be Cuan gi adalah empat lima orang
lelaki kekar, mereka semua adalah para centeng dari Benteng
keluarga hee.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Diam diam Huan cu im berkerut kening, gurunya
memerintahkan agar dia berangkat meninggalkan Benteng
keluarga Hee, tapi nyatanya ia berhasil ditemukan kembali
oleh mereka, berarti dia tak akan berhasil melaksanakan
perintah tersebut.
Dalam keadaan demikian, terpaksa dia harus menyongsong
kedatangan mereka dan berkata sambil menjura :
”Pelatih Be, kedatangan kalian memang kebetulan sekali,
aku sedang tersesat dan tidak tahu jalan manakah yang harus
ditempuh untuk kembali ke benteng.” Be Cuan gi tersenyum.
”Aku dan Suan Kok piau mendapat perintah dari pocu untuk
secara terpisah mencari Huan kongu, setelah kongcu berhasil
ditemukan mari kita pulang bersama sama”
”silahkan ” sahut anak muda itu.
”Mari ikutilah aku”
Huan cu im tidak mengatakan apa apa lagi dengannya,
masing masing lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuh
untuk kembali ke benteng keluarga Hee.
Waktu itu Hee Im hong masih menunggu di kamar baca
Huan cu im lantas melangkah masuk ke dalam ruangan sambil
berseru. ” Empek Hee”
Melihat anak muda itu telah kembali sambil mengelus
jenggotnya Hee Im hong tersenyum, ujarnya.
”Aaah, legalah hatiku setelah hiantit kembali ke benteng,
menurut laporan yang kudengar, konon hiantit keluar benteng
karena mengejar seorang wanita aku takut kau dipecundangi
orang, itulah sebabnya kutitipkan kepada Sun Kok piau serta
Bee cuan gi agar menyusulmu serta mengajakmu kembali”
”Terima kasih banyak atas perhatian dari empek Hee,
sebetulnya siautit sudah kembali semejak tadi, namun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berhubung malam sangat gelap. Lagi pula tidak kukenali jalan
kembali, akhirnya keponakanpun tersesat.”
-oo0dw0oo-
Jilid: 11
Perkataan ini segera dipercayai oleh Hee Im hong, sebab
dia memang menyaksikan Huan cu im kembali ke Benteng.
Karenanya dia manggut manggut seraya berkata ”Apakah
hiantit kenal dengan asal usul perempuan itu?”
Pada dasarnya Huan cu im memang seorang yang cerdik,
teringat bagaimana empek Hee nya melintas lewat didalam
hutan tadi ia lantas menduga bisa tadi jejaknya sudah dikuntil
semenjak tadi. Karenanya dia menggeleng seraya menjawab:
”Dia mengaku she Siang, tapi keponakan tidak mengenal
sama sekali dengannya”
”Sungguhkah hiantit tidak mengenalnya ?” ujar Hee Im
hong tersenyum, ”semisalnya setiap gerak geriknya, tingkah
lakunya atau suaranya sewaktu berbicara, apakah tiada yang
kau kenal ?”
Huan cu im jadi tertegun, serunya kemudian: ”Keponakan
benar benar tak dapat melihatnya”
”Tidakkah orang itu mirip dengan orang yang menyaru
sebagai ci giok...?”
”Dia... dia adalah orang yang menyaru sebagai ci giok ?”
Huan cu im terperanjat ”sayang sekali keponakan tidak terlalu
memperhatikan hal tersebut” Hee Im hong mengangkat
kepalanya, lalu bertanya lagi :
”Ia telah memancing hiantit meninggaikan benteng, apa sih
yang ia bicarakan denganmu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sudah jelas nada suara ini mengandung nada menyelidip.
Padahal apa yang mereka bicarakan tadi, ada sebagian kecil
yang sudah terdengar olehnya. Merah padam selembar wajah
Huan cu im, sahutnya agak tergagap: ”Dia... dia mengajak
siautit pergi ke Kim leng...”
Hee Im hong puas sekali setelah mendengar jawaban
tersebut, ternyata Huan cu im tidak membohonginya, maka
katanya kemudian sambil tertawa:
”Semasa lo koan keh masih hidup, iapun pernah
menyinggung tentang persoalan ini dan minta kau untuk pergi
ke Kim leng, padahal jika kau ingin ke Kim leng untuk
bermain, akupun tidak keberatan. Ehmmm... sekarang malam
sudah kelam, lebih baik hiantit kembali ke kamar untuk
beristirahat dulu ”
Betapa leganya perasaan Huan cu im karena empek Hee
nya tidak banyak bertanya diapun mengiakan, mengundurkan
diri dari kamar baca dan kembali ke gedung timur. Sementara
itu Hee Im hong mengelus jenggotnya sambil termenung
seorang diri:
”Budak itu dari marga Siang, mungkinkah dia adalah putri
Siang Han hui ? Agaknya ia sudah jatuh hati kepada
keponakan Huan-”
Yaa, dugaan ini memang cukup beralasan, andaikata
seorang gadis tidak jatuh hati kepada seseorang, masa dia
akan mengajaknya untuk pergi ke Kim leng ? Ia masih teringat
akan ucapan Siang Siau un kepada Huan cu im waktu itu :
”Hmm, rupanya kau benar benar ingin menjadi
menantunya Benteng keluarga Hee, karena itu kau merasa
berat untuk pergi dari situ...”
Tanpa terasa Hee Im hong bertepuk tangan dengan
bangga lalu berseru setelah tertawa tergelak.
”Ya a, betul Aku mesti berbuat begini ”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
^oooodowoooo^
Keesokan harinya, ciu Kay seng si congkoan dari benteng
keluarga Hee telah pulang dari dusun Kim gou cun dia pun
membawa surat dari Huan Tay nio, satu untuk Hee Im hong
sebagai rasa terima kasihnya atas perhatian pocu itu terhadap
putranya, sedang yang lain untuk anaknya dengan pesan agar
ia tetap tinggal dalam Benteng keluarga Hee dan mesti
menuruti semua perkataan dari empeknya itu.
Membaca surat itu, Hee Im hong merasa sangat puas,
kepada ciu Kay seng ia manggut manggut seraya berkata :
”Bagus, bagus sekali, cin congkoan, cara kerjamu sangat
memuaskan hatiku”
Buru buru ciu Kay seng membungkukkan badannya sambil
memberi hormat. ”Aaah sudah sepantasnya bila hamba
berbuat begini”
Hee Im hong mengangkat kepalanya kemudian sambil
memandang keluarpintu, lalu serunya: ”Kim koansi”
”Siap”
Kim Koansi menjawab sambil buru buru masuk ke dalam,
lalu dengan tangan diluruskan ke bawah ia bertanya:
”Pocu, ada perintah apa ?”
”Pergilah ke kuil cu im an dan undang popo agar
menjumpai aku di kamar baca.” Kim koansi mengiakan dan
buru buru berlalu.
Tak selang berapa saat kemudian, ia sudah mengajak Ho
popo menuju ke kamar baca. Serunya setelah masuk ke pintu
ruangan^ ”Lapor pocu, Hopopo telah datang.”
”Suruh dia masuk”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ho popo melangkah masuk ke kamar baca, kemudian
memberi hormat. ”Hopopo memberi hormat untuk pocu”
”Hopopo tak usah banyak adat, silahkah duduk” kata Hee
Im hong sambil mengulapkan tangannya dengan senyum
dikulum.
”Kamar baca pocu, mana ada tempat buat aku si nenek Ho
?” Kembali Hee Im hong tersenyum.
„Kau adalah mak inang dari Yong ji, selama beberapa tahun
kaulah yang selalu merawat dan memperhatikan anak Yong
sudah banyak waktu kuanggap kau sebagai orang sendiri
kapan sih kutunjuk sikap memandangmu sebagai orang
bawahan atau orang luar?“
„Terima kasih banyak atas kesudian pocu memandang
tinggi aku si nenek Ho“
„Duduklah dulu, aku ada urusan yang akan kurundingkan
denganmu“
”Kalau begitu aku si nenek Ho akan permisi untuk duduk”
Setelah mengambil tempat duduk dibagian bawah, iapun
bertanya. ”Pocu ada urusan apa?”
”Hopopo” ucap Hee Im hong sambil tersenyum tahukah
kau, tahun ini anak Yong sudah berumur berapa?”
”Tahun ini nona berusia sembilan belas tahun”
”Ehm,” Hee Im hong tersenyum sambil manggut manggut,
”betul, sudah masanya untuk kawin-”
Hopopo segera mengangkat kepalanya dan tertegun,
serunya kemudian : ”Maksud pocu, apakah kau hendak...”
”Yaa, aku memang bermaksud demikian” Hee Im hong
membenarkan, ”Itulah sebabnya kuajak kau merundingkan
persoalan ini.”
”Pocu...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia hanya menyebut kata pocu, sedang kata kata
selanjutnya tidak diutarakan, jelas ia sedang menunggu
keterangan dari pocunya.
Ooodowooo
”Yaa, aku si nenek Ho pernah dengar dia adalah Huan ji-ya
sudah lama dia bersaudara dengan pocu. Tatkala aku si nenek
masih mengikuti nyonya dulu, pernah kujumpai Huan jiya,
konon semenjak sepuluh tahun berselang ia pergi
meninggalkan rumah dan hingga kini belum juga ada kabar
beritanya ?”
„Benar“ Hee Im hong mengangguk. „Huanjite mempunyai
seorang putra yang bernama Huan cu im, tahun ini berusia
enam belas tahun, berapa hari berselang ia mendapat
perintah dari ibunya untuk datang ke benteng kita...“
Menyinggung soal Huan cu im Hopopo merasakan hatinya
berdebar keras, ia tak berani menengok Pocu nya barang
sekejap pun. Terdengar Hee Im hong berkata lebih jauh :
„orang ini berwatak baik, berilmu silat bagus, dia
merupakan pilihan yang cocok sekali...“
„Aku si nenek hanya seorang bawahan urusan macam
begini sudah sepantasnya diputuskan oleh pocu sendiri,
Cuma...“
Setelah mengucapkan Cuma tiba tiba ia berhenti berbicara
dan tidak dilanjutkan lagi
„Hopopo mempunyai usul apa silahkansaja diutarakan, ibu
anak Yong sudah meninggal lama sedang kau adalah mak
inangnya, sejak kecil anak Yong memang kau yang rawat.
Karena itulah aku mengundang kedatanganmu untuk
mendengar apa pendapatmu tentang usulku ini.“
„Ucapan Pocu kelewat serius, aku si nenek hanya merasa
bahwa usia Nona sudah cukup dewasa karena itu tentang soal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perkawinan yang merupakan masalah besar, sudah
sepantasnya bila kita dengarkan dulu pendapatnya pribadi.“
„Ehmm, betul juga“ Hee Im hong mengangguk aku pun
berpendapat demikian, „Cuma sekarang waktunya masih
terlampau awal, aku pikir lebih baik temukan dulu mereka
berdua.“
„coba kita lihat bagaimanakah pendapat anak Yong. Ehmm
aku rasa kata kataku ini kurang leluasa untuk disampaikan
sendiri kepada anak Yong, karena itu lebih baik kau saja yang
mencari tahu pendapatnya tentu saja kau pun tak perlu
berterus terang kepadanya, bila membiarkan anak Yong
merasa sendiri hal ini lebih tepat lagi. Dengan demikian aku
pun bisa mengutus orang untuk membicarakan hal tersebut
dengan Nyonya Huan”
”Bagaimana dengan nyonya Sin ?” tanya Hopopo agak
ragu.
”Anak Yong mempunyai kesan yang terlalu mendalam atas
ibu tirinya (nyonya Sin). Justru karena perselisihan paham itu
membuat ibu tirinya harus menyingkir ke Locu san. Biarpun
hari ini dia akan datang kemari, namun aku pikir lebih baik
anak Yong saja yang mengambil keputusan atas persoalan ini”
”oya...” ia berhenti sebentar, kemudian meneruskan lagi,
”sore nanti, sau ceng bu dari keluarga Tong di Szuchuan
suami istri dan Ban sau cengcu kakak beradik dari bukit Hong
san akan berkujung ke benteng kita ini, diantara mereka turut
hadir dua orang wanita. Itulah sebabnya ciu nie (nyonya Sin)
harus datang kemari. Coba kau sampaikan kepada anak Yong,
suruh diapun turut hadir agar bertemu dengan nyonya Sin?”
”Tidak apa apa” sahut Hee Im hong, ”kedua keluarga
tersebut mempunyai hubungan yang cukup baik dengan kita,
apalagi dengan kehadiran tamu dari luar, mereka ibu dan anak
pun tak bakal terjadi perselisihan apa apa, selain itu akupUn
hendak menggunakan kesempatan ini untuk mengundang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Huan cu im turut menghadirinya, dengan begitu kita bisa
mempertemukan anak Yong serta cu im tanpa menimbulkan
jejak. Seetlah pertemuan nanti, tidak ada salahnya bila kau
selidiki kesannya, bagaimanakah kesannya terhadap cu im,
lalu laporkan kepadaku. Cuma jangan kau terangkan hal ini
kepada anak Yong...”
Diam diam Hopopo merasa geli, padahal nona sudah
pernah bertemu dengan Huan siangkong, tentu saja hal ini
Cuma dipendam didalam hati dan tidak sampai diutarakan
keluar.
Maka diapun manggut manggut: ”Ya a, aku si nenek
mengerti”
”Baik, sekarang pulanglah, sore nanti temani anak Yong
kemari.”
”Kalau begitu aku sinenek mohon diri lebih dulu”
OooodwoooO
Sore itu, Huan cu im berdiri seorang diri didepan rak bunga
sambil termangu mangu.
Sekembalinya kedalam kamar semalam, semalaman suntuk
ia tak bisa tidur nyenyak, kini hatinya terasa semakin gundah.
Suhu menitahkan kepadanya agar berangkat ke Kim leng
mencari cong piautau dari perusahaan eng biantong, alhasil
dia gagalpergi dari situ, apa yang mesti dikatakan kepada
gurunya nanti?
Bila dia hendak ke Kim leng, bagaimana pula membuka
suara kepada empak Hee?
Hal tersebut sebenarnya sudah cukup menyusahkan
dirinya, apalagi kini cin cong koan telah pulang dan membawa
surat ibunya yang berpesan agar ia tetap tinggal dalam
benteng keluarga Hee serta tak boleh mengikuti adat sendiri,
terutama sekali ia tak pernah keluar rumah maka dilarang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkelana dalam dunia persilatan, ia diminta menuruti semua
perkataan dari empeknya...
Dengan demikian, apa pula yang mesti dia lakukan
sekarang? Kalau bisa, dia ingin sekali beretmu dengan
gurunya serta merundingkan persoalan ini dengannya.
”Huan kongcu ”
Suara teguran yang merdu dan lembut bergema datang
dari belakang tubuhnya.
Cepat cepat Huan cu im berpaling, dilihatnya ci giok telah
berjalan mendekat dengan langkah lemah gemulai, sepasang
matanya berkedip indah begitu mendekat ia pun menegur
sambil tertawa lirihi ”Apa sih yang sedang kau pikirkan?”
Tiba tiba Huan cu im merasa bahwa nada suara maupun
gerak g erik nona ini mirip sekali dengan ci giok yang dulu
(yakni ci giok yang dibantu mencabut keluar jarum Bwee hoa
ciam dari tubuhnya itu), untuk sesaat ia menjadi tertegun dan
mengawasi nona itu dengan wajah termangu...
Ditatap seperti ini, merah jengah selembar wajah ci giok. Ia
menundukkan kepalanya rendah rendah lalu berbisik.
”Kongcu, mengapa sih kau hanya mengawasi budak terus
menerus?”
Semakin dipandang Huan cu im merasa dia semakin mirip
dengan ci giok yang dulu, akhirnya dengan tergagap ia
berseru ”Kau...”
Sebetulnya dia ingin bertanya kepadanya ”Sesungguhnya
kau adalah ci giok yang dulu atau bukan?”
Tapi, tentu saja kata kata semacam itu tak baik diutarakan
keluar secara terang terangan-
”Kenapa dengan budak?” tanya ci giok sedih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Dulu, aku pernah berkenalan dengan seorang teman, dia
mempunyai wajah yang mirip sekali dengan nona...”
”Maka kau ingin bertanya kepadaku, apakah aku adalah
dia?” kata ci giok sambil tertawa ringan-
Nada ucapan serta suara tertawa ringannya ternyata mirip
pula dengan Siang Siau un.
Hampir saja Huan cu im curiga kalau telinganya telah salah
mendengar, untuk berapa saat ia merasa ci giok yang berada
dihadapannya sekarang sangat mencurigakan- ci giok tidak
membiarkan pemuda itu berbicara lagi, ia menunjuk ke depan
pintu lalu berbisik. ”Sst, ada orang datang ”
Kemudian ia melangkah masuk ke dalam ruangan- ketika
Huan cu im berpaling ia jumpai Kim koansi sedang melangkah
masuk ke dalam pintu halaman, begitu berjumpa dengan
Huan cu im, buru buru ia menjura seraya berkata: ”Huan
kongcu, kau diundang pocu”
”sekarang pocu berada dimana?”
”Di ruang tamu bagian depan, barusan telah datang berapa
orang tamu agung, pocu pun segera mengutus hamba untuk
datang mengundang Huan kongcu.”
”Siapa saja yang datang ?”
”Sore ini telah datang dua rombongan tamu, rombongan
pertama datang dari propinsi Szuchuan, mereka adalah sau
cengcu dari keluarga Tong yakni Tong Huan bun beserta
istrinya yang baru saja dinikahi, sedangkan rombongan kedua
adalah sau cengcu dari keluarga Ban dibukit Hing san, Ban
Sian ceng dan adik perempuannya si burung hong hijau Ban
Hui jin. Untuk menjamu kehadiran dua keluarga besar ini, Sim
hujin pun sudah berangkat dari bukit Locu san untuk hadir
pula disini...”
”Apakah selama ini Sim hujin hanya berdiam dibukit Locu
san dan jarang kembali ke benteng ?” Kim Koansi tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Diatas bukit Lo cu san pun terdapat sebuah Benteng
keluarga Hee, tempat tersebut malah jauh lebih besar
daripada tempat ini, sebetulnya pocu sendiri yang mengurusi
benteng tersebut, tapi sekarang benteng itu sudah diserahkan
kepenguasaannya kepada Sim hujin- ini yang menyebabkan
nonya Sin jarang sekali pulang sini.” Huan cu im segera
mengikuti Kim koansi menuju ke ruang tamu bagian depan.
Tiba didepan pintu, Kim koansi berhenti seraya berkata:
”Silahkan masuk Huan kongcu”
Huan cu im melangkah masuk ke dalam ruangan, ia jumpai
dalam ruangan sudah hadir dua oarng pria dan dua orang
wanita mereka sedang berbincang bincang dengan tuan
rumah.
Kempat orang itu masih muda muda, usianya diantara dua
puluh tahunan, yang lelaki tampan dan gagah, sedang yang
perempuan cantik dan lembut, agaknya mereka adalah kedua
orang sau cengcu dari keluarga Tong di Szuchuan serta
keluarga Ban dari Hong san-
Disamping Hee Im hong duduk seorang nyonya berbaju
hijau yang mengenakan untaian mutiara pada sanggulnya
perempuan itu berdandan menyolok sekali, mungkin dialah
istri muda dari empeknya, nyonya sin.
Ketika Hee Im hong melihat Huan cu im berjalan masuk ke
dalam ruangan, sambil tersenyum ia lantas berseru:
”Keponakan Huan cepat kemari mati kuperkenalkan dengan
dua orang sahabat muda kita...”
Sementara Hee Im hong berbicara, keempat tamu itu
sudah bangkit berdiri.
Hee Im hong lantas menunjuk ke arah seorang pemuda
berbaju biru serta seorang nyonya muda bergaun merah yang
duduk disampingnya sambil berkata:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Mereka berdua adalah sau cengcu dari keluarga Tong di
Szuchuan, Tong Bun huan Tong lote beserta Tong sau hujin
(nyonya muda Tong)”
Lalu sambil menunjuk seorang pemuda berjubah periente
dan seorang nona bergaun hijau disisinya ia perkenalkan lebih
jauh
”Sedangkah kedua orang ini adalah sau cengcu dari
keluarga Ban di bukit Hong san, Ban Sian cing, Ban lote serta
adik perempuannya, orang menyebutnya si burung hong hijau
Ban Huijin, nona Ban-”
Lalu sambil tersenyum ia berkata lagi:
”Dan dia adalah putra seorang saudara angkatku, Huan cu
im keponakan Huan. Ayahnya disebut orang sebagai sijago
berbaju hijau Huan Tay seng kalau dibicarakan tentunya kalian
sudah tahu bukan”
Atas perkenalan tersebut, kedua belah pihak pun saling
memberi hormat sambil mengucapkan kata kata merendah.
Kemudian dengan senyum dikulum Hee Im hong baru
menuding kearah nyonya berbaju hijau itu sambil berkata
kepada Huan cu im:
”Keponakan Huan mari dia adalah bibimu, hari ini kau baru
pertama kali bertemu dengannya”
Buru buru Huan cu im maju kemuka dan memanggil
dengan hormat: ”Bibi Hee”
Sin hujin tersenyum cerah serunya genit:
”Huan toa kuanjin, kulihat kau halus dan lembut penuh
dengan sopan santun, mirip benar dirimu dengan seorang
siangkong anak sekolahan yang baru lulus dari ujian negara
aku dengar dari pocu tadi, konon ilmu silatmu sangat tangguh
hingga Thian tiong busu yang sudah memperoleh latihan ketat
dari benteng kami pun tidak mampu menghadapimu, tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
heran kalau empek Hee mu begitu memuji muji akan
kehebatanmu”
Merah dadu selembar wajah Huan cu im oleh perkataan
tersebut, ia menjadi tergagap: ”Aah, kesemuanya ini Cuma
pujian dari empek Hee.” Kembali Sin hujin tersenyum.
”Mari, silahkan duduk semua, setelah berada dalam
benteng keluarga Hee, berarti kita semua adalah orang
sendiri, harap kalian tak usah sungkan sungkan lagi.”
Sementara itu si burung hong hijau dari bukit Hong an Ban
huijin telah melirk sekejap kearah Huan cu im sambil diam
diam memperhatikan ketampanan wajahnya, merah dadu
selembar wajahnya kemudian, gerak geriknya jadi serba salah
dan penuh dengan pancaran sinar mata yang aneh.
Saat itulah dari depan ruangan terdengar lagi suara
langkah manusia, kemudian muncul seorang nona berbaju
putih, dibelakangnya mengikuti Hopopo yang berbaju hijau.
Nona berbaju putih itu tak lain adalah Hee giok yong yang
diam dikuil cu im an hari ini wajahnya tak bercadar sehingga
nampak kecantikan wajahnya yang menawan hanya sayang
mukanya rada pucat, namun tidak sampai menutupi
keayuannya.
Setelah berada dalam ruangan dan melihat kehadiran Sin
hujin disitu, paras muka nona Hee segera berubah menjadi
dingin seperti es, namun ia tetap meneruskan langkahnya
menuju ke hadapan Hee Im hong.
”Ayahkah yang mengundang putrimu ?” ia bertanya sambil
memberi hormat. Hee Im hong mengelus jenggotnya sambil
tersenyum:
”Anak Yong, hari ini kita telah kedatangan berapa orang
tamu agung muda, diantaranya terdapat Tong sau hujin serta
nona Ban, mereka berdua adalah pendekar pendekar wanita
yang gagah perkasa, itulah sebabnya aku sengaja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengundangmu agar menemani mereka, mari, mari, biar
kuperkenalkan mereka semua...”
Mula mula ia perkenalkan dulu Tong Bun huan suami istri,
serta Ban Sian ceng kakak beradik, kemudian baru menunjuk
ke arah Huan cu im sembari berkata.
”Dia adalah putra paman Huan mu Huan cu im, tentunya
kau masih ingat bukan semasa masih kecil dulu, Huan jisiek
mu paling sayang dengan kau, setiap kali datang kemari
pertama tama kaulah yang dibopong lebih dulu, coba kau lihat
cu im sudah begini dewasa, ia berusia tiga tahun lebih muda
daripada umurmu, selanjutnya kalian boleh saling membahasai
kakak beradik”
Kemudian kepada Huan cu im, katanya pula:
”la bernama Giok yong, aku pun masih ingat ketika suatu
hari kau datang bersama ibumu, giok yong menarik tanganmu
sambil memanggil adik bahkan terus menerus memberi gula
gula untukmu”
Perkataan itu kontan sama membuat paras muka Huan cu
im serta Hee Giok yang berubah menjadi merah dadu.
Buru buru Huan cu im memberi hormat sambil berseru:
”Siaute menjumpai enci Giok yong”
Selembar wajah Hee Giok yang berubah menjadi merah
dadu, buru buru ia membalas hormat sambil memanggil lirih,
”Adik cu im”
Kemudian semua orang kembali mengambil tempat duduk.
Siburung hong hijau Ban Huijin duduk disamping Hee Giok
yang, katanya dengan gembira:
”Enci Hee, siumoay dengar kau adalah murid dari Kiu hoa
sinnie, dalam dunia persilatan sinni disebutjago nomor wahid
di kalangan Buddha aku yakin cici pasti sudah lama siumoay
ingin berjumpa dengan cici. Kebetulan sekali engkoh ku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendapat perintah datang ke Kim leng kali ini sekalian datang
menjenguk Hee cianpwee, maka akupun mengikutinya,
padahal ibuku tidak lega membiarkan aku pergi...”
”Enci Ban kelewat sungkan” kata Hee Giok yang,
”siaumoaypun sudah lama mendengar kalau ilmu pedang
keluarga Ban di bukit Hong san menjagoi dunia persilatan-
Sedang siaumoay tidak lebih Cuma seorang murid tercatat dari
suhu, yang kupelajari tak lebih seperseribu kemampuan
guruku kalau dibicarakan Cuma membikin wajah siaumoay jadi
merah saja...”
Begitulah kalau dua orang nona bertemu muka, mereka
segera mengobrol tiada habisnya.
Berbeda dengan Tong sau hujin, bagaimanapun ia sudah
kawin dan tak selincah gadis remaja, karenanya dia hanya
duduk mendampingi suaminya serta jarang sekali berbicara.
”Ban sau heng telah datang sehari terlambat” ucap Hee Im
hong sambil tertawa ”cing ing totiang dari Go bipay baru
berangkat kemarin, agaknya dia hendak naik kebukitBu tong,
itu berarti di kota Kim leng tinggal Siang Ciangbunjin dari Hoa
sanpay seorang, bila Ban sauheng berangkat kesitu, paling
banter kau hanya akan berjumpa dengan Siang ciangbunjin
seorang. Sebenarnya aku berniat mengundang siang toheng
agar berdiam pula selama beberapa hari dibenteng kami,
kemudian ketika aku dengar kepergian Siang toheng ke Kim
leng, lantaran urusan pribadi Hoa sanpay nya, karena itu niat
tersebut kuurungkan- Ban sauheng bila kau telah bersua
dengan Siang toheng, ajaklah dia berdiam selama berapa hari
dibenteng kami dalam perjalanan pulang nanti, agar aku bisa
mewujudkan keinginanku itu”
”Berhubung saat pertemuan sudah semakin dekat
cianpweepun merupakan seorang tokoh yang tersohor,
karenanya ibuku menitahkan boanpwee datang kemari untuk
memberi kabar kepada cianpwee” kata Ban Sian ceng
kemudianTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
”Aaah mana, mana, pertemuan puncak dibukit Hong san
masih ada satu bulan lagi. Pertemuan puncak inipun
diselenggarakan secara bergilir oleh partai kalian bersama Hoa
sanpay serta Go bipay, aku merasa kurang baik untuk turut
mengemukakan pendapat sebelum pertemuan puncak ini
diselenggarakan” Lalu kepada Tong Bun huan katanya pula
sambil tertawa:
”Bukankah Ban sauheng hendak pergi ke Kim leng untuk
menyambut kedatangan ketua Hoa sanpay dan Go bipay ? Tak
baik kau berdiam terlalu lama dalam benteng kami, tapi Tong
sauheng suami istri tidak gampang berkunjung ke timur,
sedangkan saat diselenggarakannya pertemuan puncak pun
masih jauh, bagaimana bila kau berdiam saja disini?”
”Mengganggu ketengangan cianpwee membuat hatiku
rikuh saja” buru buru Tong Bun huan memberi hormat.
Hee Im hong segera tertawa tergelak:
”Haaahh... haaahh... haaahh... padahal ketika aku menuju
Szuchuan tempo hari, hampir sebulan lebih aku berdiam di
dalam benteng kalian, bahkan aku merasa cocok sekali
berbincang bincang dengan ayahmu, sewakti aku hendak
berpamitan, ayahmu malah bersikeras hendak menahan
kepergianku, kami adalah sobat lama, jadi selama kalian
suami istri berdiam dibenteng ini anggaplah seperti berdiam di
rumah sendiri.”
Dalam pada itu langit sudah menjadi gelap. Centeng telah
memasang lentera didalam ruangan, dua orang pelayan telah
menyiapkan pula meja perjamuan disebelah kiri ruangan
sambil mempersilahkan pocu dan nyonya menemani tamunya
bersantap
Dalam perjamuan mana, Huan cu im dan Ban Sian Ceng
serta Tong Bun huan berbincang bincang amat asik,
sedangkan Hee Giok yang, Ban huijin berdua asyik pula
berbicara.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Diantara sekian orang, Sin hujin lah yang menaruh
perhatian paling khusus terhadap Huan cu im, tiada hentinya
dia menyumpit sayur untuknya.
Perjamuan ini berlangsung penuh kegembiraan, Ban Sian
Ceng serta Tong Bun huan juga mulai dipengaruhi arak.
Akhirnya Hee Giok yang bangkit berdiri lebih dulu untuk
memohon diri, sebelum beranjak pergi, ia berpaling ke arah
Huan cu im dan berbisik lirih ”Setiap waktu kunantikan
kunjunganmu ke kuil cu im an ”
”Siaute pasti akan ke situ untuk mengunjungi enci” Huan cu
im buru buru menjawab. Hee Giok yang tersenyum, kemudian
baru berlalu dari ruangan diiringin Hopopo.
Pembicaraan antara kedua orang itu tentu saja diperhatikan
pula oleh Hee Im hong terutama sekali kuil cu im an
merupakan tempat abu dari cu hujin (ibu kandung Giok ya)
Dihari hari biasa, tiada orang yang diijinkan untuk
berkunjung kesitu, bahkan diutarakan sebelum pergi hal ini
tentu saja bukan Cuma bertujuan basa basi saja, dari sini bisa
disimpulkan bahwa dia menaruh kesan yang sangat baik atas
diri Huan cu im
Menyaksikan hal tersebut diam diam Hee Im hong merasa
gembira sekali dia lantas bangkit berdiri, kemudian katanya
sambil mengelus jenggotnya:
”Ban sauheng Tong sauheng, harap duduk dikamar bacaku,
aku berharap bisa bertukar pandangan dengan kalian berdua
tentang pertemuan puncak dibukit Hong san nanti”
Ban Sian ceng dan Tong Bun huan bersama sama bangkit
berdiri seraya serunya ”Kami akan menuruti perkataan
cianpwee”
Sin hujin turut bangkit berdiri, kemudian katanya pula
sambil tertawa:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Tong sau hujin, nona Han, ayo ikut aku keruang belakang
saja...”
Huan cu im yang menyaksikan hal ini buru buru menjura:
”Empek Hee, bibi Hee, kalau begitu biar keponakan mohon
diri lebih dulu.”
Hee Im hong mengangguk.
”Ya a, waktu memang sudah malam, lebih baik keponakan
pulang untuk beristirahat”
Sesudah mohon diri kepada Ban Sian ceng dan Tong bun
huan, Huan cu im mengundurkan diri dari ruang tamu untuk
kembali kekamarnya.
Dari situ dia harus melewati dua buah halaman dengan
gedung yang besar, tatkala menelusuri sebuah beranda, tiba
tiba ia mendengar ada orang sedang berbisik:
”Kau tunggu saja disini, sekarang pocu baru saja mengajak
mereka menuju kamar baca, belum sampai waktunya.”
Bisikan itu sangat lirih, tetapi bagi Huan cu im yang belajar
ilmu tenaga dalam, suara yang berada sepuluh kakijauhnya
pun dapat ia dengar dengan jelas sekali.
Begitu bisikan tersebut menyusup ke dalam telinganya,
tergerak hatinya dengan segera pikirinya:
”Sudah jelas suara pembicaraaan itu berasal dari ciu
congkoan, jangan-jangan ia telah bersekongkol dengan orang
lain untuk melakukan suatu perbuatan yang tidak
menguntungkan empek Hee ?”
Ketika ingatan tersebut melintas lewat di dalam benaknya,
pemuda itu segera menyelinap ke samping beranda dan
menyembunyikan diri di balik kegelapanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
Dari situ ia perhatikan keadaan diseputar sana dengan lebih
seksama lagi, ternyata pembicaraan tadi berasal dari sebuah
kamar yang berada disebelah kiri.
Dengan peringan langkah kakinya, pelan pelan dia berjalan
menuju ke bawah jendela, kemudian mengintip ke dalam
ruangan tersebut.
Di dalam ruangan itu tak bersinar suasana gelap gulita,
namun hal tersebut tidak menyulitkan Huan cu im yang
mampu melihat didalam kegelapan malam.
Asal tiada lentera, ia cukup memejamkan matanya
sebentar. Ketika membuka matanya kembali, segala
sesuatunya sudah terlihat olehnya dengan jelas.
Ruang kamar tersebut tidak terlalu besar, waktu itu ciu
congkoan sudah pergi, agaknya ia sudah selesai berbicara,
disana hanya duduk seseorang.
Orang itu memakai jubah panjang berwarna biru langit,
berwajah tampan, alis mata tebal dan bermata jeli.
Ternyata orang itu adalah sau Cengcu dari keluarga Tong
dipropinsi Szuehuan, Tong Bun huan adanya.
Orang itu baru saja berpisah dengannya, sudah barang
tentu Huan cu im dapat mengenalinya, ini membuatnya
bertambah curiga, persoalan apakah yang dikasak kusukkan
Tong Bun huan dengan ciu Kay seng? Mungkinkah mereka
mempunyai suatu rencana tertentu?
”Tapi... aaah Ini tidak benar. Baru saja ia meninggalkan
ruang tamu sedang empek Hee juga telah mengajak Tong Bun
huan serta Ban Sian Ceng pergi ke kamar baca semestinya
mereka berada di kamar baca sekarang mengapa orang itu
bisa muncul disitu?”
Mau apa ciu congkoan mengajaknya ke situ? Mengapa pula
orang itu disuruh menunggu sebentar lagi ?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Untuk beberapa saat timbul pelbagai kecurigaan didalam
hatinya, hal ini membuat Huan cu im segera menyembunyikan
diri disitu dia ingin tahu apa gerangan yang telah terjadi.
Waktu berlalu dengan cepat, kurang lebih seperempat jam
kemudian baru kedengaran suara langkah kaki manusia yang
ringan lagi cepat memasuki ruangan itu.
Cepat cepat Huan cu im mengintip ke dalam ruangan lewat
celah jendela, dilihatnya ciu Kay seng masuk dengan langkah
tergesa-gesa sambil berbisik: ”cepat ikut aku, sudah
waktunya”
Tong Bun huan bangkit berdiri dengan cepat kemudian
mengangguk. Bersama ciu Kay seng keluar dari ruangan
tersebut.
Huan cu im tertawa dingin didalam hati, buru buru dia
mengundurkan diri kebalik kegelapan-
Dalam pada itu, ciu Kay seng telah mengajak Tong Bun
huan menelusuri serambi rumah, mereka berdua tak ada yang
berbicara, kedua orang itu berjalan menuju kekamar baca
dengan mulut terbungkam dalam seribu bahasa .
Huan cu im kuatir jejaknya diketahui mereka, ia peringan
langkah kakinya serta membuntuti dibelakang mereka dari
kejauhan-
Tak lama kemudian sampailah mereka di depan pintu
kamar baca, didepan kamar baca kebetulan terdapat sebuah
kebun bunga yang luas, diam diam Huan cU im menyelinap
kebalik gerombolan bunga itu.
Sementara itu ciu Kay seng telah mengulapkan tangannya
kebelakang memberi tanda kepada Tong Bun huan agar
menunggu disana, sedang ia sendiri maju kedepan dan
mengetuk pintu tiga kali.
Kemudian ciu Kay seng menggapai ke arah Tong Bun huan,
yang digapai buru buru menghampirinya, secara beruntun ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersama ciu Kay seng masuk kedalam kamar, seorang dayang
berbaju hijau cepat cepat merapatkan pintu kembali.
Menyaksikan semua peristiwa tersebut, Huan cu im kembali
berpikir di hati:
”Tampaknya mereka benar benar sedang melaksanakan
suatu rencana busuk secara diam diam sehingga dayang yang
meladeni empek Hee di kamar baca pun kena mereka suap.
Hmm.... Kalau aku tidak melihat masih mendingan, setelah
kujumpai malam ini aku bertekad akan membongkar rencana
busuk ini sampai tuntas ”
Berpikir sampai disitu, dia lantas melompat keluar dari
tempat persembunyiannya dan meng hampiri jendela .
Jendela itu merupakan sederet jendela yang menghadap ke
selatan, jendela itu tidak tertutup namun disekat dengan kain
korden berwarna kuning yang kedua ujungnya berkibar bila
terhembus angin.
Huan cu im berdiri dengan punggung menempel diatas
dinding, lalu dari bawah jendela ia mengintip ke dalam.
Suasana didalam kamar baca itu terang benderang
bermandikan cahaya, empek Hee duduk diatas kursi
kebesaran agaknya Ban Sian ceng telah berlalu dari situ.
Tak jauh dari sisi empek Hee, tepatnya di atas sebuah
bangku duduk pula seorang lelaki berjubah biru, ternyata
orang itu adalah Tong Bun huan-
Baru saja Huan cu im dibuat tertegun oleh peristiwa yang
berada didepan mata, ia kembali dikejutkan oleh
pemandangan berikut. Ternyata ciu Kay seng telah muncul
pula di dalam kamar baca didampingi seorang Tong Bun huan
lagi, apa gerangan yang telah terjadi? Mungkinkah terdapat
dua orang Tong Bun huan?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu Tong Bun huan yang diajak masuk oleh ciu
Kay seng telah memberi hormat kepada Hee Im hong sambil
berkata: ”Hamba menjumpai pocu”
Hee Im hong mengelus jenggotnya sambil mengangguk.
Kemudian sambil mengangkat kepalanya ia bertanya^
”Apakah segala sesuatunya sudah tiada persoalan lagi?”
”Yaa, hamba sudah berhasil menghapalkan segala
sesuatunya” jawab Tong Bun huan dengan hormat.
”Kalau begitu bagus sekali...”
Disaat Hee im hong mengangkat kepalanya itu, tiba tiba
sorot matanya dialihkan ke arah tempat persembunyian Huan
cu im.
Baru saja si anak muda itu terkejut tiba tiba telinganya
menangkap suara bentakan lirih dari gurunya. ”Muridku, cepat
mundur ”
Huan cu im tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir
lagi, cepat dia melompat mundur dari situ.
Namun baru saja tubuhnya berdiri tegak. Dihadapan
matanya telah bertambah dengan sesosok bayangan manusia
tinggi besar orang itu tak lain adalah empek Hee.
Kejut dan terkesiap menyelimuti perasaan Huan cu im,
dengan wajah merah padam panggilnya kemudian dengan
suara rikuh. ”Empek Hee.”
Orang yang munculkan diri bersama Hee Im hong adalah
Ju It koay, ia melayang turun tiga depa dibelakang Huan cu im
seperti sekilas cahaya petir berwarna hitam menati tubuhnya
sudah mencapai tanah, tongkat besinya baru berbunyi keras
karena mengetuk permukaan tanah...
Sebenarnya paras muka Hee Im hong diliputi keseriusan,
namun setelah mengetahui orang yang berada diluar jendala
adalah Huan cu im, sekulum senyuman segera menghiasi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bibirnya, sambil mengelus jenggotnya yang terurai didada,
katanya sambil tertawa ramah. ”Aku mengira siapa yang
datang, rupanya Huan hiantit.” Agak tergagap Huan cu im
berkata:
”Ketika siautit akan pulang kekamar tadi, diberanda
kudengar ciu congkoan sedang berbicara dengan seseorang
yang menyuruhnya menunggu sebentar karena sekarang
belum waktunya, siautit mengira dia telah bersekongkol
dengan orang luar hendak melakukan suatu tindakan yang
merugikan empek Hee, karena itu akupun menguntil
dibelakang mereka sampai disini...”
”Tak usah dikatakan lagi” tukas Hee Im hong sambil
mengulapkan tangannya, kemudian kepadaJu It koay yang
berada dibelakang pemuda itu katanya pula sambil tersenyum,
”Ketua pelatih, disini sudah tak ada urusan lagi”
Ju It koay memberi hormat kemudian melejit ke tengah
udara, disitu tubuhnya berputar kencang bagaikan sebuah
gangsingan, lalu meluncur ke halaman lain-
Memandang gerakan tubuh yang sangat indah itu, tanpa
terasa Hee Im hong manggut manggut berulang kali,
kemudian ujarnya kepada Huan cu im sambil tersenyum :
”Huan hiantit, setelah kau datang kemari, duduklah sebentar
didalam kamar bacaku ”
Sambil berkata ia menarik tangan Huan cu im dan pelanpelan
masuk ke dalam kamar bacanya.
Waktu itu dayang berbaju hijau tersebut sudah
membukakan pintu, ketika Huan cu im sudah masuk kedalam
kamar baca, ia tidak menjumpai Tong Bun huan yang
berbaring diatas meja tadi, tapi dikursi telah duduk pula
seorang Tong Bun huan yang lain-
Sewaktu melihat Hee Im hong masuk ke dalam kamar
baca, dengan hormat sekali ia lantas bangkit berdiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dari sikap hormat orang itu terhadap Hee Im hong, Huan
cu im segera dapat menduga kalau orang ini adalah Tong Bun
huan yang dibawa ciu Kay seng, jadi bukan Tong Bun huan
yang berbaring diatas meja seperti apa yang terlihatnya tadi.
Hanya tidak diketahui olehnya dibawa ke manakah Tong
Bun huan yang tergeletak di meja tadi?
Sudah pasti Tong Bun huan yang berada dihadapannya
sekarang adalah Tong Bun huan gadungan, tapi aneh,
mengapa empek Heenya justru mempersiapkan seorang Tong
Bun huan gadungan?
Sementara dia masih berpikir tiada hentinya, Hee Im hong
telah tertawa terbahak bahak sambil berkata:
”Tong sauheng, silahkan duduk. Kita semua adalah orang
sendiri, dikemudian hari tak usah beriaku sungkan sungkan
seperti ini”
Tong Bun huan mengiakan berulang kali kemudian baru
mengambil tempat duduk.
Dengan pandangan mata yang tajam Hee Im hong
memandang sekejap ke arah ciu Kay seng, kemudian ujarnya :
”Ketika aku menyuruh kau mengundang datang Tong
sauheng, waktu itu aku sedang membicarakan soal pertemuan
puncak dibukit Hong san bersama Ban sauheng, aku suruh
kau pergi memanggilnya sejenak lagi? Kenapa kau malah ke
situ dan menyuruh Tong sauheng yang menunggu sebentar ?
Kau tidak pantas mengatakan hal demikian, apa lagi
perkataanmu itu sampai kedengaran Huan hiantit dimana ia
mengira kau telah bersekongkol dengan orang luar untuk
mencelakai diriku betul hal ini tak sampai terjadi kesalahan
paham, namun menunjukkan kalau cara kerjamu tidak benar”
Biarpun Huan cu im tidak tahu apa sebabnya Hee Im hong
mempersiapkan seorang Tong Bun huan gadungan, namun
semua peristiwa yang telah dialami dan disaksikan dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mata kepala sendiri ini tentu saja tak bisa dihapuskan hanya
oleh beberapa patah kata dari empek Heenya saja.
Dengan ketakutan buru buru ciu Kay seng menjawab:
”Hamba memang bersalah, hamba memang tak pantas
mengucapkan kata kata yang tak senonoh terhadap Tong san
cengcu, lain kali hamba tidak berani lagi”
Tong Bun huan gadungan yang duduk di samping, cepat
cepat bangkit berdiri seraya menjura, katanya:
”ciu congkoan hanya suruh boanpwee menunggu sebentar
tanpa mengucapkan perkataan lain, harap cianpwee sudi
memaafkan-” Hee Im hong tertawa hambar.
”Baiklah, oleh karena Tong sauheng telah mintakan maaf
bagimu, kali ini kuampuni kesalahanmu sekali saja.”
”Terima kasih pocu” cepat cepat ciu Kay seng memberi
hormat. Huan cu im turut bangkit berdiri pula katanya :
”Empek Hee, bila kau dan saudara Tong masih ada urusan
yang hendak dibicarakan biarlah siautit mohon diri lebih dulu.”
„Baik, pergilah“ Hee Im hong manggut manggut.
Setelah mohon diri kepada Tong Bun huan, Huan cu im
mengundurkan diri dan kembali kekamarnya.
Sepeninggal pemuda itu, ciu Kay seng baru berkata dengan
perasaan kuatir : „Pocu, aku lihat Huan kongcu telah
menyaksikan semua perbuatan kita“
„Tidak jadi soal aku bisa mengatasi hal tersebut“ jawab Hee
Im hong seraya menggeleng. Kemudian kepada Tong Bun
huan, katanya pula
„Nah sekarang kaupun boleh pergi beristirahat, Cuma
jangan sampai menunjukkan hal hal yang mencurigakan-„
Kepada seorang dayang berbaju hijau yang berdiri
disisinya, Hee Im hong segera memerintahkan ^
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
„Kau hantariah Tong sau cengcu kembali ke kamarnya.“
”Budak terima perintah” dayang itu menjura.
Lalu sambil berpaling katanya pula :
”Tong sau cengcu, silahkan mengikuti budak”
Ia lantas melangkah keluar dari kamar baca itu.
Setelah meninggalkan Hee pocu Tong Bun huan mengikuti
dayang berbaju hijau itu keluar dari kamar baca, menelusuri
beranda dan menuju ke gedung tamu agung.
Tiba didepan pintu gedung, dayang berbaju hijau itu
berhenti, lalu bisiknya sambil mencibir bibir.
”cepatlah masuk ke dalam, sau hujin sedang menunggu
kedatanganmu...”
Tong Bun huan sangat gembira, ia memegang bahu
dayang tadi dan bisiknya sambil tertawa:
”Aku tak akan melupakan kebaikan cici”
Berubah wajah dayang berbaju hijau itu, dia mengelak ke
samping dan menegur dengan suara berat ” Kau pingin
mampus ”
Baru saja Tong Bun huan hendak minta maaf seorang
dayang berbaju hijau telah muncul dari balik gedung tamu
agung.
Ketika melihat Tong Bun huan, ia segera memberi hormat
sambil menyapa ”oooh, rupanya Tong sau cengcu telah
kembali”
Dayang berbaju hijau yang menjadi penunjuk jalan tadi
segera berkata. ”Tempat ini dilayani oleh enci Kui hiang,
budak mohon diri lebih dulu”
Dayang dari gedung tamu agung itu segera memberi
hormat lagi seraya berkata: ”Tong sau cengcu, silahkan”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tong Bun huan mendeham pelan, lalu dengan
membusungkan dada naik keatas loteng.
Kui hiang mengikuti dibelakangnya hingga tiba diloteng,
kemudian mengetuk pintu dua kali.
Dari dalam kamar terdengar suara Tong sau hujin bertanya
”Siapa diluar?”
”Sau hujin Tong sau cengcu telah kembali” sahut Kui hiang.
Pintu kamar segera dibuka orang, Tong sau hujin dengan
senyuman dikulum menyongsong kedatangan Tong Bun huan
didepan pintu. Kui hiang tidak ikut masuk, dari pintu luar dia
berseru cepat: ”Budak mohon diri lebih dulu”. Dan kemudian
merapatkan pintunya kembali.
Tong Bun huan gadungan segera memperiihatkan sikap
yang halus dan sopan, menyambut kedatangan Tong sau
hujin, katanya sambil tersenyum ramah ^ ”istriku, aku telah
kembali”
Tong sau hujin mengeriing sekejap kearahnya lalu menegur
lirih :
”Hei, dari mana kau pelajari istilah opera macam begitu?
Istriku istriku... kalau sampai kedengaran orang bisa
ditertawakan nanti”
Senyum tak senyum Tong Bun huan gadungan mendekati
perempuan itu, kembali ia berkata
”Kalau aku tidak memanggil istriku kepadamu, lantas aku
mesti memanggil dengan sebutan apa”
Sekali lagi Tong sau hujin mengeriing sekejap kearahnya,
kemudian dengan wajah memerah sahutnya lirih:
”Biasanya kau memanggil aku apa, masa lupa?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tong Bun huan gadungan meletakan sepasang tangannya
diatas bahunya, lalu mencium rambutnya yang mulus, setelah
itu katanya lagi sambil tertawa lirih
”Sekarang kita kan berada dalam kamar, apa salahnya bila
kau mengatakannya sendiri kepadaku? Itu kan lebih asyik
rasanya?”
”Tidak- aku tak mau bicara” sahut Tong sau hujin sambil
menggoyang kan pinggulnya.
Tong Bun huan gadungan terangsang oleh tingkah laku
perempuan muda itu, ia menempelkan bibirnya ke pipi Tong
sau hujin, lalu berbisik. ”Ayo cepat katakan, kalau tidak
kucium bibirmu”
”Kau berani?” seru Tong sau hujin sambil mengkilik kilik
pinggulnya dengan kedua belah tangan-
Dengan sambaran cepat Tong Bun huan gadungan
mencium bibir si perempuan muda itu, lalu tertawa tergelak.
”Haaahh... haahhh... haaah.. aku tak akan takut kegelian,
silahkan saja mengkilik kilik diriku”
Tong sau hujin mengkilik kilik pinggulnya berulang kali,
ternyata ia memang tak takut geli serta membiarkan
perempuan muda itu berbuat sekehendak hatinya.
Diam diam Tong sau hujin keheranan, ia tahu dengan pasti
suaminya takut geli, mengapa ia seperti menjadi kebal pada
malam ini?
Tanpa terasa perempuan muda itu mengangkat kepalanya
serta mengawasi lelaki yang berada dihadapannya dengan
wajah tertegun
”Aaah, ada yang tak beres..” Tiba tiba saja ia saksikan
sepasang mata lelaki itu sedang memandang kearahnya
dengan penuh bernapsu, sepasang biji matanya merah
membara serta memancarkan sifat kerakusan yang luar biasa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sorot mata tersebut mengingatkannya pada sinar mata
serigala kelaparan, padahal belum pernah ia jumpai sinar mata
semacam ini dari mata suaminya.
Dihari hari biasa suaminya selalu memandang wajahnya
dengan sinar mata yang lembut. Sorot mata penuh kasih
sayang, bukan napsu birahi macam binatang seperti apa yang
dipertunjukkan lelaki tersebut kepadanya
Kesemuanya itu kontan saja menimbulkan kecurigaan dihati
kecil perempuan muda itu.
”Yaaa, ada yang tak beres lagi..” Gelak tertawa inipun tidak
betul, gelak tertawa suaminya lembut dan halus, tapi gelak
tertawa orang ini... suara tertawanya membuat orang menjadi
ngeri dan berdiri semua bulu kuduknya.
Untuk sesaat perempuan muda itu menjadi seram dan
mundur selangkah tanpa terasa, ditatapnya wajah Tong Bun
huan gadungan lekat lekat, kemudian tegurnya : ”Mengapa sih
kau malam ini ? mengapa suaramu pun turut berubah...”
Tong Bun huan gadungan segera menyadari atas kesilafan
sendiri, cepat cepat dia mendehem menjawab:
”Aah, tadi aku sudah minum arak berapa cawan sehingga
kerongkonganku terasa kering sekali dan gatal gatal aneh, tapi
tak mengapa, mungkin gejala begini akan hilang setelah
kubasahi kerongkonganku dengan air...”
Dia membalikkan badan menuju kemeja dan mengambil
sebuah poci, kemudian poci tersebut diangkat dan diteguknya
dengan begitu saja sebanyak beberapa tegukan-
Perlu diketahui, Tong sau hujin baru tiga bulan kawin
dengan Tong sau cengcu, tapi ia tahu meski suaminya anak
keturunan dari keluarga persilatan, namun orangnya halus
lembut dan penuh tata kesopanan, dihari hari biasa dia selalu
menuang air tehnya kedalam cawan sebelum diminum, dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
boleh dibilang tak pernah meneguk secara langsung dari poci
teh seperti perbuatan orang kasar begini.
Sebagai putri kesayangan dari ciok Lip sam, ketua
perguruan Seng gi bun, ciok Siu go terhitung seorang
perempuan yang teliti dan pintar, begitu timbul kecurigaan
dalam hati kecilnya diam diam dia meningkatkan kewaspadaan
diri tanpa menunjukkan perubahan tersebut diatas wajahnya.
Begitulah, dengan suara yang merdu d iapun berkata lagi:
”Eeeh, kenapa sih kau hanya tahu meneguk air teh
sehingga memanggil akupun tidak ?”
Tong Bun huan gadungan menyeka mulutnya dengan
ujung baju, kemudian baru menyahut sambil tertawa:
”Kau suka aku memanggilmu dengan sebutan apa ? Sebut
saja dengan nama itu, bukan begitu ?”
Tong sau hujin mengiakan sambil beriagak tersipu sipu
malu, bisiknya kemudian :
”Nama kecilku kan Tin cu, dihari hari biasa kan kau
memanggil adik cu kepadaku, mengapa tidak kau sebut yang
sama pada hari ini...?”
Pelan pelan Tong Bun huan gadungan berjalan
menghampirinya, kemudian sambil tertawa cabul ia berkata :
”Baik, baik, aku akan memanggilmu adik cu, adikku
sekarang waktu malam, ayo kita tidur saja”
Kali ini Tong sau hujin sudah dapat membuktikan secara
jelas sekali, orang yang berada dihadapannya memang betul
betul bukan suaminya, sudah jelas ada orang sedang menyaru
sebagai suaminya untuk menodai dirinya.
Kenyataan ini kontan saja membuat perasaan perempuan
muda ini terkesiap. Tanpa terasa dia mundur berulang kali
sehingga akhirnya tiba ditepi pembaringanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
Memandang perempuan muda itu, Tong Bun huan tertawa
semakin cabul, bagaikan harimau lapar menubruk domba, ia
menubruk keatas tubuh perempuan itu sambil berseru: ”Adik
cu, mari kita nikmati malam ini...”
Hanya perkataan itu yang diucapkan, sebelum
menyelesaikan ia sudah tiba dimuka tubuh perempuan itu.
Maksudnya, setelah berhasil memeluk tubuhnya, barulah kata
berikut diucapkan, bukankah hal ini akan menambah
romantisnya suasana?
Tapi pada saat itulah ia mendengar suara gemerincingan
nyaring, kemudian cahaya perak berkelebat lewat, sebilah
pedang sudah ditempelkan diatas ulu hatinya.
Dengan wajah hijau membesi, bahkan tangan yang
memegang pedangpun kelihatan gemetar keras, Tong sau
hujin membentak keras ^
”Jika kau berani maju mendekat kubuat ulu hatimu
berlubang tertembus pedang ini ”
Tong Bun huan gadungan sangat terkejut dan cepat cepat
menghentikan langkahnya. ”Adik cu, kau... kau...” serunya
dengan wajah pucat pias.
”Tutup mulut ” bentak Tong sau hujin sambil tetap
menempelkan pedangnya diatas ulu hati lawan, ”Kau bilang
sekarang, siapakah kau...?”
”Aku... aku...” Tong Bun huan mengangkatnya sambil
tertawa getir, ”tentu saja aku adalah Tong Bun huan,
mengapa sih kau?”
”Bajingan laknat, kau berani menyamar sebagai suamiku?
Sudah bosan hidup rupanya?” teriak Tong sau hujin makin
gusar. ”Kau... kau...”
Tangan kirinya mengebas ke depan sementara tubuhnya
mundur selangkah dengan cepat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kebasan itu persis menghantam diatas tubuh pedang
tersebut sehingga senjata mana terpental kebelakang,
menyusul kemudian tubuhnya mendesak maju kedepan,
dimana tangan kanannya berkelebat lewat, tahu tahu ia sudah
mencengkeram tangan kanan Tong sau hujin yang
menggenggam pedang itu
Tampaknya Tong sau hujin tidak menduga sampai kesitu,
pergelangan tangannya segera kena dicengkeram.
Sambil tertawa cabul Tong Bun huan gadungan segera
berkata lagi
”Bukankah semenjak tadi sudah kukatakan, mari kita
nikmati malam ini dengan penuh kesahduan, siapa suruh kau
mencari penyakit sendiri, sekarang...”
Mendadak ia saksikan Tong sau hujin sama sekali tidak
meronta, sebaliknya hanya memandang kearahnya sambil
tertawa dingin, hal ini membuatnya keheranan-
Sudah jelas perempuan muda itu berhasil membongkar
penyaruannya. Mengapa dia malah tak meronta? Atau
mungkin ia sudah pasrah pada nasib dan bersedia ditiduri
olehnya?
Tanpa terasa sinar matanya dialihkan ke arah pergelangan
tangannya yang mencengkeram, lengan itu putih halus,
empuk dan lembut, sudah jelas berada dalam cengkeraman
sendiri.
Tapi kemudian ia melihat pada punggung tangan sendiri,
entah sedari kapan ternyata sudah tertancap sebatang jarum
perak yang lembut seperti bulu kerbau, jarum tersebut
memancarkan sinar keperak perakan yang amat menyilaukan
mata. Hampir saja ia menjerit kaget, ternyata jarum itu sudah
dipolesi dengan racun jahat.
Dia... adalah nyonya muda dari keluarga Tong diSzichuan,
sudah pasti jarum itu pun merupakan senjata rahasia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menunggal dari keluarga Tong, ”Siau li gin bong” atau cahaya
perak dibalik baju yang merupakan jarum sakti pencabut
nyawa yang diwariskan kepada para menantu keluarga Tong.
Tak heran kalau tangan sendiri yang sedang
mencengkeram pergelangan tangan lawan sama sekali tidak
merasakan apa apa, lengan tersebut sudah menjadi kaku dan
mati rasa.
Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan cahaya
perak dibalik baju dari keluarga Tong merupakan senjata
rahasia dengan racun yang sangat ganas, barang siapa saja
terkena racun itu maka dalam waktu singkat dia akan
kehilangan tenaga dalamnya, sekujur badan menjadi kaku dan
mati rasa.
Kecuali obat penawar dari keluarga Tong, boleh dibilang
racun tersebut tak akan dipulihkan dengan obat apapun, bila
dua belas jam kemudian tidak peroleh bantuan, dia akan
tewas dengan tubuh mengejang keras.
Dalam pada itu Tong sau hujin telah meronta serta
melepaskan diri dari cengkeraman Tong Bun huan gadungan,
kemudian katanya dingin: ”sekarang berbicaralah, siapakah
kau sebenarnya ?”
Pada saat itu, seluruh lengan kanan Tong Bun huan telah
mati rasa dan menjadi cacad, walaupun demikian, ia justru
berhasil menenangkan kembali hatinya. Sambil mengulurkan
tangan kanannya ia berseru ”Bawa kemari”
”Apa yang kau minta?”
”Tentu saja obat pemunahnya” Tong sau hujin segera
mendengus dingin:
”Hmm, kau menghendaki obat pemunah? Berarti kau
menghendaki nyawamu? Boleh saja kuserahkan obat
pemunah tersebut kepadamu, Cuma kau harus berbicara terus
terang lebih dulu kepadaku”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tong Bun huan tertawa dengan suara dalam
”Tentu saja aku menginginkan keselamatan jiwaku, tapi
akupun ingin tahu, apakah sau hujin sudah tidak menghendaki
nyawa suamimu lagi...?” Tong sau hujin jadi tertegun,
kemudian serunya gusar. ”Kau sedang menggertakku?”
”Heeeh... heeeh... heeeh... kenyataan memang begitu”
jengek Tong Bun huan gadungan sambil tertawa dingin,
”apabila aku mati, aku kuatir Tong sau cengcu...”
”Bailah, asal kau bersedia memberitahukan kepadaku
dimanakah suamiku sekarang siapa pula yang mendalangi
perbuatan terkutukmu itu, aku segera akan menyerahkan obat
penawar racun itu kepadamu”
”Sau hujin, kau anggap aku adalah seorang bocah berusia
tiga tahun...?” jengek Tong Bun huan gadungan sinis.
”Lantas, apa maumu?” tanya Tong sau hujin dengan kening
berkerut kencang.
”Sau hujin mesti memberikan dulu obat penawar racun itu
kepadaku, kemudian baru kuajak kau menjumpai Tong sau
cengcu”
”Tidak bisa” sahut Tong sau hujin tegas, ”kau harus
mengatakan dulu siapa yang mendalangi peristiwa ini dimana
suamiku sekarang kemudian baru kuberikan separuh obat
penawar racun kepadamu, bila suamiku berhasil ditemukan,
barulah kuberikan pula separuh yang lain-..”
Disaat sedang berbicara itu, Tong Bun huan gadungan
sudah mulai merasakan sekujur badannya kaku dan hilang
rasa, ini membuatnya amat terperanjat. Sesudah mendengus
dingin, katanya kemudian :
”Sekalipun aku memberitahukan kepadamu dan sau hujin
bisa menolong suamimu, memangnya kau mampu lolos dari
sini ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar ucapan mana, Tong sau hujin menjadi sangat
terkejut sehingga tanpa terasa berseru tertahan ^
”Jadi maksudmu Benteng keluarga Hee...”
Tiba tiba pintu kamar dibuka orang, Sin hujin telah berdiri
didepan pintu dengan senyum dikulum.
”Sau cengcu, sau hujin, kalian berdua memang
kebangetan. Masi baru kawin sudah cekcok sendiri ?” katanya
kemudian ”bagaimanapun juga, cekcok yaa cekcok. Janganlah
sempat menggunakan senjata segala, kalau sampai kena kan
berabe ? Untung Kui hiang cepat cepat memberi laporan
sehingga aku memburu kemari, mari untung saja tak sampai
terjadi apa apa dengan kalian”
Sembari berkata dia melangkah masuk ke dalam ruangan
Dibelakang Sin hujin mengikuti dua orang dayang berbaju
hijau, usianya masih muda, antara tujuh delapan belas
tahunan, tapi wajahnya amat genit.
Berjumpa dengan Sin hujin, Tong sau hujin seperti
berjumpa dengan sanak sendiri saja, buru buru dia
menyarungkan kembali pedangnya dan menyongsong
kedatangan perempuan itu sambil serunya :
”Hujin, kedatanganku tepat sekali, dia... dia bukan... bukan
suamiku...”
”Semalam sudah berkumpul, selamanya adalah suami isteri,
kau jangan berkata begitu sau hujin, cekcok diantara suami
istri sudah merupakan kejadian yang lumrah, orang kuno
bilang, diujung pembaringan bercekcok. Diakhir pembaringan
sudah saling membaik, kalau Cuma karena urusan kecil, biat
apa sih mesti bersungguh sungguh ?”
”Hujin, aku bukan lagi bercekcok dengannya, bajingan ini
menyaru sebagai suamiku dia bukan suamiku yang
sebenarnya” seru Tong sau hujin dengan gelisah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sun hujin segera menggenggam tangan kirinya dengan
lembut, kemudian setelah tertawa ringan katanya :
”Aah, mana mungkin? Dia kan jelas jelas adalah Tong sau
cengcu...?”
”Bukan, dia adalah orang yang menyamar sebagai
suamiku... dia bukan suamiku yang sebenarnya”
”Aaah, mustahil” pelan pelan Sin hujin berkata lagi,
”biarpun Benteng keluarga Hee bukan terbuat dari dinding
baja lantai besi, namun orang lain tak mungkin bisa
menyelundup kemari, siapa sih yang telah makan empedu
beruang sehingga berani menyaru sebagai Tong sau
cengcu...?”
”Tapi kenyataannya memang demikian, dia telah menyamar
sebagai suamiku” Sin hujin segera tertawa terkekeh kekeh.
”Mungkin hal ini Cuma khayalanmu saja setelah bercekcok
dengannya, orang lain kan tiada alasan untuk menyamar
sebagai Tong sau cengcu?
Lagi pula dia baru kembali dari kamar baca pocu,
sepanjang jalanpun dihantar oleh dayang yang bertugas
dikamar baca, mana mungkin bisa gadungan? Sudahlah, aku
lihat kalian berdua jangan cekcok lagi, cepatlah pergi tidur”
Tong sau hujin jadi tertegun pula sesudah mendengar
perkataan tersebut, diam diam pikirnya
”Betul juga perkataan ini, barusan suamiku bersama Ban
sau cengcu dan Hee pocu sama sama pergi kekamar baca,
tentu saja tak mungkin akan terjadi peristiwa apa apa,
ditambah pula bajingan ini baru datang dari kamar baca Hee
pocu yang dihantar oleh dayang yang bertugas disitu, tentu
saja tak mungkin ada orang menyarunya ditengah jalan,
jangan jangan-..”
Sementara itu Sin hujin telah berpaling tiba tiba ia
menyaksikan sinar mata Tong Bun huan gadungan telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membuyar, wajahnya pucat keabu abuan, tangan kirinya
menggenggam pergelangan tangan kanannya kencang
kencang, sedang sebatang jarum perak lembut menancap
diatas lengan kanannya, ia berdiri disitu tak berbicara ataupun
bergerak. Melihat kejadian tersebut, ia berseru kaget sambil
teriaknya tertahan:
”Sau cengcu mengapa kau? Kau... oooh, tanganmu
tertancap jarum perak dari Siu li gin hong yang diajarkan
kepada menantu keluarga Tong saja, kalau begitu Tong hujin
yang mewariskan kepandaian ini kepadamu bukan sau hujin?
Tapi, tidak seharusnya sau hujin melukai suami sendiri dengan
senjata rahasia yang begitu beracun, menurut nasehatku,
lebih baik tolong dulujika suamimu, sau hujin, berikan obat
penawar racun itu kepadaku kalau tidak. Keadaan bisa
teriambat”
-oo0dw0oo-
Jilid: 12
Ia selalu bersikeras mengatakan bahwa Tong Bun huan
gadungan tidaklah gadungan-
Semenjak tadi Tong sau hujin sudah curiga. Sekarang dia
semakin mengerti lagi, ditinjau dari apa yang terpapar
dihadapan matanya sekarang, sudah jelas peristiwa penyaruan
suaminya merupakan suatu rencana keji yang diatur oleh
orang orang Benteng keluarga Hee, dari sini bisa disimpulkan
pula kalau suaminya telah terjatuh ke tangan mereka...
Membayangkan hal tersebut, tanpa terasa hatinya menjadi
bergidik, diam diam hawa murninya dihimpun kedalam lengan
kirinya siap sedia meronta dari cekalan tangan kiri lawan,
sedangkan tangan kanannya siap menggenggam gagang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedang, katanya kemudian: ”Baiklah aku akan mengambil
obat pemunahnya.” Sin hujin tertawa terkekeh kekeh :
”Kesediaanmu datangnya kelewat cepat, bukankah kau
mengatakan dia bukan suamimu ? Mengapa kau bersedia
memberi obat penawar racun kepadanya?
Tiba tiba Tong sau hujin merasa tangan kirinya yang
dipegang lawan terasa gatal sekali
Sampai detik ini dia baru sadar rupanya sejak masuk sin
hujin menggenggam tangan kirinya karena ia memang
mempunyai suatu maksud tertentu.
Perlu diketahui, ilmu siu li gin bong yang dipelajarinya
justru terletak ditangan ini berarti tujuan Sin hujin memegang
tangan kirinya tadi adalah mencegah agar dia tak bisa
mempergunakan senjata rahasia andalannya lagi.
Sekarang telapak tangannya terasa gatal sekali, hal
tersebut meningkat kewaspadaan dalam hati Tong sau hujin,
cepat cepat dia menarik tangannya sambil meronta untuk
melepaskan diri dari celakan Sin hujin, kemudian sambil
meraba gagang pedangnya dengan tangan kanan, ia mundur
dua langkah ke belakang. Katanya kemudian sambil
mengawasi wajah Sin hujin lekat lekat : ”Kalau kudengar dari
nada pembicaraan nyonya, agaknya...”
”Agaknya kenapa?” sin hujin tertawa, ”maksudmu, kau
anggap akulah yang menjadi otak atau dalang dari peristiwa
ini, bukan demikian?”
”Jadi kau... kau sudah mengaku?” tanya Tong sau hujin
kaget bercampur keheranan-
”Anggap saja memang begitu”
”Apa maksudmu berbuat demikian?” teriak Tong sau hujin
semakin terperanjat,
”Kau ingin tahu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Aku hanya ingin tahu, dimanakah suamiku sekarang?”
Tertawa sesat yang menggidikkan hati segera menghias
wajah Sin hujin, sambil menuding ke arah Tong Bun huan
gadungan, ucapnya :
”Mulai sekarang, suamimu adalah dia, sudah jelas suamimu
berada dihadapanmu buat apa kau tanyakan lagi kepadaku ?”
”Tidak... tidak ” Tong sau hujin menjerit dengan perasaan
yang hancur lebur, ”dia gadungan, kemaa kalian larikan
suamiku ?”
”Sau hujin, kau jangan panik atau ribut dulu ” pelan pelan
sin hujin berkata lagi ”suamimu adalah Tong Bun huan, dan
dihadapan matamu sekarang telah berdiri seorang Tong Bun
huan yang hidup segar bugar, bukankah orang ini sudah
cukup ?”
”Sreet” Tong sau hujin meloloskan pedangnya kemudian
sambil menuding ke arah Sin hujin teriaknya :
”Bila kau tidak membebaskan suamiku, aku akan beradu
jiwa denganmu...”
”Ku nasehatkan kepadamu, lebih baik urungkan saja niat
seperti ini, apa sih bedanya antara dia dengan suamimu ?”
”Aku benar benar tak percaya, Heepocu yang begitu
termashur dalam dunia persilatan sebagai pendekar besar,
ternyata mempunyai istri yang terkutuk, biadab bejad
moralnya dan berhati busuk kau harus memikirkan baik baik
semua perbuatanmu itu, apa akibatnya dikemudian hari nanti
” Sin hujin tertawa geli.
”Tentu saja aku mengerti sangat jelas, keluarga Tong di
Szuchuan serta perguruan Heng gi bun merupakan perguruan
perguruan yang sukar untuk dihadapi”
”Asal kau sudah tahu, ini lebih baik lagi” Sin hujin segera
tertawa terkekeh kekeh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Justru karena aku mengetahui kesemuanya itu dengan
jelas, maka aku baru menyiapkan seorang suami baru bagimu.
Sekarang, kau harus menuruti perkataanku, setialah hidup
disampingnya, dengan begitu kau akan tetap sebagai sau
hujin dari keluarga Tong, tetap menjadi putri yang baik dari
ayahmu, kau sama sekali tak akan kehilangan apa apa
bagaimana ?”
Tong sau hujin menggertak giginya kencang kencang guna
menahan luapan emosinya, kemudian dengan penuh amarah
dia membentak keras.
”Kau perempuan yang tak tahu malu, tak nyana perkataan
semacam ini bisa meluncur dari mulutmu, kau...”
Berbicara sampai disini, tangan kirinya ikut digerakkan ke
depan-..
Ia menggerakkan tangan kirinya karena siap melepaskan
jarum maut Siu li gin bong nya.
Siapa tahu, mesti pergelangan tangan kirinya sudah
diangkat, namun Siu li gin bong tak ada yang memancar
keluar.
Hal ini disebabkan Siu li gin bong hanya terdiri dari
sebatang jarum perak yang lembut, benda itu baru bisa
dibidikkan keluar jika mempergunakan suatu ilmu khusus dari
keluarga Tong.
Cara khusus tersebut harus pula dikombinasikan dengan
tenaga dalam yang sempurna, bila penggunaan tenaga tepat,
maka serangan baru bisa dibidikkan sesuai dengan kehendak
hati.
Berhubung dia baru tiga bulan menjadi menantunya
keluarga Tong kepandaian itupun baru dalam taraf permulaan
belajar, sudah barang tentu serangannya tidak begitu matang.
Biar begitu, biasanya dalam jarak dua kaki ia jarang meleset.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi sekarang, berhasilnya jarum perak tersebut dibidikkan
keluar sama sekali tak ada hubungannya dengan kepandaian
tersebut, sebab disaat dia mengangkat tangannya tadi, tiba
tiba saja ditemukan bahwa kelima jari tangannya sudah
menjadi kaku dan mati rasa, sama sekali tidak menuruti
perintahnya lagi.
Tak heran kalau peristiwa tersebut membuat Tong sau
hujin merasakan hatinya tenggelam, sekarang ia baru teringat
bahwa telapak tangannya pernah terasa gatal sewaktu
digenggam oleh Sin hujin tadi ini membuktikan bahwa
perempuan tersebut sudah berbuat curang kepadanya...
Dalam pada itu Sin hujin sedang menengok ke arahnya
sambil tertawa terkekeh kekeh, lalu jengeknya :
”Kenapa? Apakah Siu li gin bong mu tak mampu
memperlihatkan kehebatannya lagi? Maka nya aku toh sudah
bilang tadi, urungkan saja niat macam begitu? Dengan sedikit
kemampuan yang kau miliki, itu mana mungkin kau bisa lolos
dari cengkeraman tangan Ji lay hud ku ini?”
Berbicara sampai disitu, ia berpaling kepada dua orang
dayang yang berada dibelakangnya sambil berpesan :
”Tong sau hujin sudah letih cepat kalian membimbingnya,
layanilah dengan berhati hati”
Dua orang dayang itu mengiyakan, satu dari kiri yang lain
dari kanan bersama sama maju kemuka menghampiri Tong
sau hujin
”Siapa yang berani mendekati aku?” bentak Tong sau hujin
penuh amarah.
Dengan pedang dilintangkan didepan dada selangkah demi
selangkah ia mundur terus kebelakang.
Sin hujin sama sekali tidak turun tangan dia hanya berdiri
disitu dengan senyuman dikulum katanya tiba tiba :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Keadaan sekarang sudah ibarat gendewa yang habis
membidik, lebih baik letakkan senjata dan menyerah kalah
saja”
Disaat Tong sau hujin sedang mundur ke belakang tadi,
tiba tiba satu ingatan melintas didalam benaknya, pikirnya
didalam hati :
”Sekarang suamiku sudah terjatuh ke tangan mereka, jika
akupun terjatuh pula ke tangan mereka, bukankah teka taki ini
tak akan terpecahkan untuk selamanya ? Sekarang aku harus
berusaha keras untuk melarikan diri dari sini, dengan demikian
mereka baru tak berani mencelakai jiwa suamiku...”
Belum habis ingatan itu melintas lewat, dua orang dayang
tadi sudah selangkah mendekatinya, cepat dia berpaling, pada
jarak tiga depa dibelakangnya tampak sederet daun jendela.
Tidak sangsi lagi, Tong sau hujin segera membentak keras.
”Berhenti ”
Tangan kanannya dikebaskan ke depan pedangnya lalu
memancarkan sekilas cahaya berbentuk kipas yang meluncur
ke arah dua orang dayang tersebut, sementara sepasang
kakinya segera menjejak tanah, dengan sekuat tenaga ia
terjang daun jendela itu.
”Blaaamm”
Diiringi suara yang keras, daun jendela itu tertumbuk
hingga terbuka Tong sau hujin segera terjun kebawah loteng
lewat jendela tersebut.
Berubah paras muka Sin hujin menyaksikan kejadian ini,
sambil mendengus dingin gumamnya ^
”Perempuan sialan itu benar benar keras kepala”
”Hujin perlukah kita kejar?” tanya dua orang dayang itu
dengan cepat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Diatas kerutan wajah sin hujin teriintas senyuman dingin
yang menggidikkan hati, sahutnya:
”Tidak usah, sewaktu kemari, aku telah menyuruh Kui
hiang memberitahukan kepada ciu Congkoan, aku yakin dia
tak akan mampu kabur terlalu jauh”
Baru selesai ia berkata, dari bawah loteng sana sudah
kedengaran ^uara ciu Kay seng sedang berseru ^
”Hujin, apa yang terjadi diatas loteng?”
”Kau orang dungu nampaknya” hardik Sin hujin sambil
mendekati daun jendela, ”memangnya tidak kau lihat Tong
sau hujin terjun lewat jendela?”
”Lapor hujin” seru ciu Kay seng sambil mendongakkan
kepalanya, ”hamba... hamba Cuma mendengar suara benturan
keras, ti... tidak kulihat siapa pun”
”Kalian memang benar benar gentong nasi yang tidak
berguna” umpat Sin hujin mendongkol. ”masa kalian tidak
melihat ia terjun lewat jendela? Ayo cepat dikejar sampai
ketemu.”
Ciu Kay seng mengiakan, cepat ia menjejakkan kakinya
melejit keudara dan meluncur keluar halamanooodowooo
Waktu sudah menunjukkan tengah malam lewat, tapi
suasana didalam kamar baca Hee pocu masih terang
benderang bermandikan cahaya lentera.
Hee Im hong duduk dikursi kebesarannya dengan wajah
amat berat dan serius. Disisinya duduk sin hujin yang
berdandan menyolok dengan baju warna hijau.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dibawah mereka berdua duduk siburung berkepala
sembilan Soh Han sim yang bermata seram, sedang di
sampingnya berdiri lagi seseorang, dia adalah ciu Kay seng.
Kedua orang itu berstatus sebagai congkoan Benteng
keluarga Hee, namun kelihatan sekali bahwa kedudukan Soh
Han sim masih jauh lebih tinggi daripada kedudukan ciu Kay
seng.
Sin hujin duduk di bangkunya sambil menghisap sebatang
hunewee, berapa saat kemudian dengan alis mata berkenyit ia
berkata:
”Kau bilang, dalam wilayah lima puluh li diseputar Benteng
keluarga Hee tidak dijumpai bayangan tubuhnya? Lantas
kemana ia telah pergi? Apa lagi ia sudah terkena bubuk
pembuyar tenagaku yang bersifat lamban, ia tak bakal bisa
kabur lebih dari lima puluh li”
”Lapor hujin, hamba telah menghubungi semua pos
penjagaan agar waspada mengawasi gerak gerik Tong sau
hujin, tapi laporan yang masuk kemudian mengabarkan bahwa
mereka tak menemukan jejaknya” sahut ciu Kay seng takut.
”Jadi maksudmu, ia punya sayap dan bisa terbang ke
angkasa?” tanya Sin hujin sambil menghisap huncweenya
dalam2.
”Hamba memang ingin melaporkan sesuatu hal kepada
pocu dan hujin-..”
”Katakan-”
”Hamba mendengar dari Sun Kokpiau, katanya sewaktu
hamba mendapat perintah dari hujin untuk menyusul ke
gedung tamu agung, Sun Kokpiau kebetulan sedang meronda
disekitar gedung tersebut, menurut laporannya ketika ia
sedang meronda di gedung nomor tiga, dimana letaknya
persis berhadapan dengan gedung loteng nomor dua, ia
mendengar suara benturan keras dari atas loteng nomor dua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketika ia mendongakkan kepala, tampak ada sesosok
bayangan manusia meluncut keluar dari jendela itu.”
”Eeehmm, bukankah waktu itu kaupun berada dibawah
loteng masa tidak kau lihat?” dengus Sin hujin dingin.
”ciu nio, biarkan ia berkata lebih jauh” tukas Hee Im hong.
Ooodowooo
Setelah menarik napas panjang ciu Kay seng berkata lebih
lanjut:
”Sun Kokpiau berdiri agak jauh waktu itu sehingga tidak
melihat dengan jelas siapakah orang itu, dia Cuma melihat
bayangan manusia itu segera terjun kebawah setelah
melewati jendela . ”
”Ia melompat dari jendela, tentu saja tubuhnya akan terjun
kebawah” tukas Sin hujin sambil tertawa dingin.
”Tapi menurut Sun Kokpiau, bayangan hitam itu segera
meluncur lagi keatas setelah terjun kebawah tadi, bahkan
kecepatannya sangat tinggi, dalam sekilas pandangan saja
sudah lenyap tak berbekas, dia masih mengira matanya kabur,
tapi kenyataannya dialah satu satunya orang didalam benteng
kita yang melihat Tong sau hujin terjun dari jendela.”
”Kau anggap perempuan busuk she Tong itu sudah
menjelma jadi bidadari dan kembali ke kahyangan?” kembali
sin hujin menjengek dengan sinis.
Berbeda sekali dengan Hee Im hong ia tertarik sekali
dengan ucapan ciu Kay seng itu, segera tanyanya:
Sun Kokpiau berjuluk terbang diatas rumput, tentu saja ia
dapat menangkap gerakan itu bagaimana selanjutnya?
”Ketika menyaksikan kejadian aneh itu, ia segera menyusul
kemari, kebetulan bertemu dengan hamba, maka kamipun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melakukan pemeriksaan yang seksama disekitar situ, alhasil
kami tak berhasil menemukan setitik bayangan manusia pun.
Pada saat sewaktu Tong sau hujin terjun ke bawah tadi,
hamba pun berada dibawah loteng, hanya dikarenakan
tertutup oleh wuwungan rumah, maka hamba Cuma
mendengar suara benturan tanpa menjumpai ada orang yang
turun ke bawah, sungguh, kata kataku ini merupakan
kenyataan”
”Menanti hamba menyusul ke tengah halaman, baru
kudengar dari hujin bahwa Tong sau hujin telah melarikan diri
dari jendela. Padahal di bawah jendela tidak terdapat tempat
berpijak kaki, jika ia melompat dari jendela, niscaya akan
turun ke bumi, mustahil tubuhnya dapat melejit ke udara dan
melayang ke atas, hamba rasa peristiwa ini benar benar
merupakan suatu teka teki yang jangat besar.” Hee Im hong
termenung sebentar, kemudian baru katanya:
”Perkataanmu itu memang masuk diakal, juga kejadian ini
memang sangat mencurigakan, tapi hilang lenyapnya Tong
sau hujin pun merupakan suatu kenyataan yang benar, ia bisa
kabur dari gedung tamu agung dibawah pengawasan kalian
dan lolos dari Benteng keluarga Hee sudah merupakan
kejadian tak masuk akal, apalagi menurut laporan dari
pelbagai pos penjagaan bahwa jejaknya sama sekali tidak
terlihat dalam wilayah lima puluh li, kejadian ini semakin
mengherankan lagi. Mungkinkah penjagaan dalam benteng
keluarga Hee kita sedemikian teledornya sampai orang yang
kabur pun tak berhasil ditemukan jejaknya?
”Hamba memang pantas dihukum, inilah keteledoran
hamba dihari hari biasa dalam pengawasan” buru buru ciu Kay
seng memberi hormat dengan ketakutan-
Soh Han sim yang selama ini membungkam dalam seribu
bahasa, tiba tiba berkata pula dengan suara dingin:
”Dalam peristiwa ini, ciu congkoan tidak bisa disalahkan
Pocu, menurut pendapat hamba, bisa jadi benteng kita telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kedatangan jago lihay pada malam ini, sehingga Tong sau
hujin berhasil diselamatkan olehnya.”
”Tentunya Soh congkoan ada suatu pendapat lain bukan ?”
tanya Hee Im hong.
”Hamba hanya berbicara berdasarkan kesimpulan yang
kuambil dari laporan ciu congkoan barusan, bayangkan saja,
Tong sau hujin telah terkena racun penyebar tenaga, ketika
menerjang jendela dan terjun ke bawah tadi, seharusnya dia
sudah kehabisan tenaga dan menurut teori dia pasti akan
terjerembab ke atas tanah.”
”Tapi berdasarkan kesaksian mata dari Sun Kokpiau,
setelah tubuhnya terjungkal ke bawah tadi tahu tahu
badannya melejit lagi ke udara bahkan dengan kecepatan
sangat tinggi, dalam sekilas kelebatan saja bayangan
tubuhnya sudah lenyap. Bukankah ini membuktikan ada jago
lihay yang telah menyelamatkan jiwanya?
”orang ini bisa menolong Tong sau hujin disaat ciu
congkoan melompat keluar dan Sun Kokpiau memburu ke
tempat kejadian bahkan sama sekali tidak meninggalkan jejak.
Sudah barang tentu para centeng yang kita tugaskan
dipelbagai pos penjagaan lebih lebih tak mudah untuk
menemukan jejaknya.”
”Ehmmm, betul juga perkataan ini” Hee Im hong manggut
manggut setelah termenung sejenak. ”Cuma...”
Dia hanya mengucapkan kata ”Cuma” kemudian tidak
melanjutkan lagi kata katanya.
”Soh congkoan, menurut pendapatmu siapakah dia?” Sin
hujin segera bertanya dengan cemas.
Soh Han sim tertawa seram.
”orang yang bisa menolong seseorang dari tengah udara
pada dunia persilatan dewasa ini rasanya hanya beberapa
orang saja”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Yaa betul, kemungkinan besar hasil perbuatannya...”
mendadak Hee Im hong berbisik dengan wajah berubah.
”Siapa yang kau maksudkan?” tanya Sin hujin-
”Nenek pengemis bermata sipit. Semalam aku telah
berjumpa dengannya...”
”Semalam pocu telah berjumpa dengan nenek pengemis
bermata sipit...?” tergerak hati soh Han sim.
”Bukankah si nenek pengemis itu sudah banyak tahun tak
pernah munculkan diri dalam dunia persilatan?” tanya Sin
hujin pula keheranan.
”Seorang muridnya telah menyelundup masuk ke dalam
benteng kita semalam, dia telah memancing keluar Huan
hiantit serta mengajaknya pergi ke Kim leng...”
”Apakah Pocu merasa Huan kongcu ada yang
mencurigakan? Tanya Soh Han sim kemudian setelah
mendehem.
Padahal sejak permulaan ia sudah menaruh kecurigaan
terhadap Huan cu im. Hee Im hong segera menggeleng.
”curiga sih tidak. Huan hiantit tak pernah berkelana didalam
dunia persilatan diapun tidak perlu untuk menipu atau
membohongi diriku”
Secara ringkas dia menceritakan apa yang dialaminya
semalam, kemudian menambahkan ”Lagi pula aku sudah
mengatur segala sesuatunya secara rapih dan bagus”
”Maksud hati pocu sudah kulihat sejak dahulu, bukankah
kau berniat memungutnya sebagai menantu?” seru Sin hujin
kemudian sambil tertawa merdu.
”Pocu, bagaimana menurut pendapatmu atas lenyapnya
Tong sau hujin kali ini?” sela soh Han sim dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hee Im hong mengangkat kepalanya dan memandang
sekejap kearahnya, kemudian baru berkata:
”Bagaimana pula menurut pendapat Soh congkoan?”
”Satu satunya jalan adalah menunda untuk sementara
waktu atas semua rencana kita semula, kemudian membiarkan
Tong huan turut menghadiri pertemuan puncak tersebut,
bagaimanapun jua ia toh sudah kita cekoki bubuk pembingung
ingatan sehingga dia hanya tahu setia kepada pocu seorang,
biarpun tidak seleluasa cara kerja orang kita yang disarukan
sebagai dirinya, aku pikir selisihpun tidak terlalu banyak.
Dengan demikian bila ia sampai ketemu mertuanya dalam
pertemuan tersebut pun tak sampai terjadi keonaran-”
”Yaa, terpaksa kita memang harus berbuat demikian” sahut
Hee Im hong seraya mengangguk.
”ciu congkoan, urusan ini kau saja yang melaksanakan”
Selama ini ciu Kay seng hanya berdiri disamping dengan
sikap munduk. Pada hakekatnya ia tidak mempunyai hak
untuk turut berbicara. Baru sekarang ia bisa mengiakan:
”Hamba mengerti” sahutnya cepat.
Ooooodwooooo
Huan cu im telah kembali ke gedung timur, ci giok
menyambut kedatangannya didepan pintu sambil menyapa :
”Kongcu sudah kembali?”
”Kau belum tidur?” tanya Huan cu im, ci giok tersenyum
manis. ”Kongcu kan belum pulang, masa budak berani tidur
lebih dulu?”
”Sekarang kan sudah jauh malam, pergilah tidur” kata
Huan cu im lagi.
Ci giok memandang pemuda itu seperti ingin mengucapkan
sesuatu, namun niat tersebut kemudian diurungkan, setelah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memberi hormat katanya ”Kalau begitu budak mohon diri lebih
dulu”
Menanti gadis itu sudah mengundurkan diri, Huan cu im
baru masuk kedalam kamar tidurnya.
”Muridku, cepat kau rapatkan kembali pintu kamarmu,” tiba
tiba suara gurunya bergema dari balik kegelapancepat
cepat Huan cu im memadamkan lentera dan
mengunci pintu kamarnya rapat rapat, kemudian bisiknya :
”Apakah suhu sudah datang sedari tadi?”
”Malam ini kau kelewat menyerempet bahaya tegur” Ju It
koay lirih.
Ketika tecu mendengar suara peringatan dari suhu yang
dikirim dengan ilmu menyampaikan suara ”keadaan sudah
terlambat tapi menurut pendapat tecu, empek Hee...”
”Tak perlu dikatakan lagi” tukasJu It koay sambil menghela
napas ringan- ”atas peristiwa malam ini, bisa jadi Hee pocu
sudah menaruh kecurigaan kepadamu, simpanlah baik baik pil
pemberianku ini, jika besok Hee pocu memanggilmu kekamar
baca entah apapun yang ia bicarakan mesti kau sanggupi
semuanya tanpa membantah, ingat entah minum teh atau
bersantap. Kau harus segera menelan pil ini, lagi pula jangan
sampai terlihat oleh siapapun.”
Sambil berkata dia menyodorkan sebutir pil kehadapannya.
Setelah menerima pil itu, Huan cu im kembali bertanya: ”Suhu
apakah...”
”Kau tak usah banyak tanya lagi,” tukas Ju It koay cepat.
”aku tak bisa berdiam terlalu lama disini, ingat saja baik baik
perkataanku ini. Oya, kaupun harus perhatiakn ci giok baik
baik, aku rasa perempuan ini bukan perempuan sembarangan,
nah, aku harus pergi dulu”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu dia sudah
menerobos jendela dan keluar dari situ.
Huan cu im menyimpan pil itu baik baik sekarang ia
semakin merasa, sejak kedatangannya dibenteng keluarga
Hee, hampir semua kejadian yang dialami ataupun disaksikan
olehnya makin lama semakin rumit rasanya, lagi pula diapun
tidak bisa membedakan apakah benteng keluarga Hee
tergolong pihak yang baik atau buruk.
Namun terlepas baik buruknya Benteng keluarga hee, yang
pasti sikap empek Hee terhadapnya memang cukup baik.
Keesokan harinya matahari sudah berada diatas awang
awang.
Diatas loteng tingkat kedua bangunan gedung tamu agung,
Tong Bun huan baru sadar kembali dari impiannya, dia merasa
kepalanya pusing sekali seperti mau pecah.
Ketika membuka matanya kembali, sinar mata memancar
masuk lewat jendela dan terasa amat menusuk pandangan,
sehingga hampir saja ia tak mampu membuka matanya lagi.
Ia bangun dan duduk. Tidak dijumpai istrinya berada disitu,
atau mungkin karena sedang bertamu, maka istrinya merasa
tak enak menemaninya berbaring terus di pembaringan?
Maka ia mengucak ucak matanya sambil turun dari
pembaringan, dalam kamar pun tidak ditemukan bayangan
tubuh istrinya.
Akhirnya Kui hiang muncul dari balik pintu sambil menyapa:
”tong sau cengcu kau sudah bangun? Biar budak siapkan
air untuk cuci muka”
”Nona Kui hiang, mana sau hujin?” Tong Bun huan segera
memanggilnya dengan cepat.
Mendengar ia menyinggung soal Sau hujin, Kui hiang
segera menutupi bibirnya dengan tangan sambil tertawa geli,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemudian serunya: ”Tong sau cengcu, masa kau tak bisa
mengingatnya sama sekali?”
”Apa yang kau maksudkan?” tanya Tong Bun huan
keheranan-
”Tentu saja masalah antara Tong sau cengcu dengan sau
hujin...”
Tong Bun huan semakin terkejut bercampur keheranan,
dengan mata terbelalak serunya:
”Apa yang telah terjadi dengannya? Nona Kui hiang, cepat
beritahukan kepadaku”
”ooh, kalau begitu Tong sau cengcu benar benar sudah tak
dapat mengingatnya kembali” kata Kui hiang sambil
mengawasi wajahnya, ”beginilah kejadiannya, semalam, Tong
sau cengcu dan sau hujin mungkin sudah kebanyakan minum
arak sehingga mabuk. Sekembalinya sau cengcu dari kamar
baca... budakpun tak jelas apa yang kemudian terjadi didalam
kamar budak Cuma mendengar Tong sau cengcu sedang
cekcok dengan sau hujin, budak takut kalian berkelahi terus
sehingga keadaan berabe, maka buru buru kulaporkan
kejadian ini kepada hujin...”
Tong Bun huan segera memegangi kepala sendiri sambil
memperlihatkan rasa kaget dan tercengang.
”Aku cekcok dengan sau hujin? Apa kau dengar apa yang
menyebabkan terjadinya percekcokan diantara kami berdua?”
”Budak sendiripun kurang jelas, pokoknya percekcokan
kalian berdua berlangsung amat sengit...”
”oooh Thian...” Tong Bun huan segera memagangi jidat
sendiri dengan perasaan lesu ”Aku tidak pernah cekcok
dengan Siu koh selama ini, oya, bagaimana selanjutnya?...
cepat katakan”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kui hiang pura pura berpikir sebentar, kemudian baru
melanjutkan:
”Kemudian nyonya datang dan menasehati kalian berdua
agar jangan cekcok. Tampaknya sau hujin seperti... seperti...”
Mendadak paras mukanya berubah menjadi merah dadu,
agaknya dia seperti tak mampu untuk melanjutkan kembali
kata katanya. Dengan gelisah Tong Bun huan segera berseru:
”Nona, cepat kau teruskan, agaknya istriku kenapa? Aaai,
sungguh mencemaskan”
Sekali lagi Kui hiang menutupi mulutnya sambil tertawa
cekikikan, kemudian baru katanya:
”Sau hujin bilang Tong sau cengcu adalah Tong sau cengcu
gadungan-..”
”Gadungan?” Tong Bun huan membelalakkan matanya
lebar lebar, wajahnya semakin keheranan, ”dia mengatakan
aku gadungan? Mana mungkin aku bisa gadungan? Oya,
apakah pun sudah mabuk?”
”Menurut pendapat budak. Delapan puluh persen sau hujin
sudah mabuk wajahnya saja merah padam amat
menggiurkan, dia pun enggan menuruti nasehat hujin, ia
bersikeras mengatakan sau cengcu bukan suaminya, ketika
hujin menyuruh dua orang dayang untuk membimbingnya, ia
menuduh hujin hendak mencelakai jiwanya...”
”Ngaco belo” seru Tong Bun huan sambil berkerut kening,
”bagaimana kemudian?”
”Sau hujin tak mau dibimbing oleh kedua orang dayang
tersebut, tiba tiba saja ia menumbuk jendela dan terjun ke
bawah.”
”Aaah” Tong Bun huan menegak sekejap keara h jendela
sambil berseru tertahan kemudian tanyanya lagi dengan
cemas, ”bagaimana kemudian...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Hujin sangat terkejut, cepat cepat dia mengirim orang
untuk mencarinya, tapi seluruh benteng tidak ditemukan
bayangan tubuh dari sau hujin akhirnya ciu congkoan
mengirim beberapa rombongan untuk mencarinya, inipun
tidak berhasil menemukan jejak sau hujin...”
”Aaai...” Tong Bun huan bergendong tangan sambil
berjalan bolak balik macam semut diatas kuali panas, dengan
amat gelisah dia berseru, ”kemana... ke mana, dia telah
pergi?”
”Tong sau cengcu tak usah gelisah, budak dengar dari ciu
congkoan, katanya sau hujin pergi meninggalkan benteng
dalam keadaan marah, mungkin dia tak enak kembali lagi
kesini setelah mabuknya hilang, oleh sebab itu bisa jadi ia
telah pergi ke bukit Kin kiong san”
”Aaai, tapi ia tak pernah meninggalkan rumah” keluh Tong
Bun huan sambil menghela napas.
”Semalam hujin pun berkata demikian, tapi ciu congkoan
berpendapat lain, dia bilang sau hujin adalah putri kesayangan
ciok elangbunjin yang sudah belajar silat sedari kecil, mana
mungkin ia bisa tersesat? Kemudian hujin pun masih tak lega
hati, maka pagi tadi ia telah mengirim orang untuk
menyusulnya kebukit Kiu kiong san.”
”Kalau begitu cepat siapkan air untukku cuci muka, aku
harus selekasnya pergi ke Kiu kiong san”
oooodwoooo
Tengah hari itu didalam kamar baca Hee Im hong kembali
disiapkan meja perjamuan . Dengan mempersiapkan meja
perjamuan di dalam kamar baca ini berarti tamu yang
diundang adalah tamu pria.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Meja perjamuan telah disiapkan, semuanya terdiri dari
empat buah tempat duduk dengan empat cawan, hanya sayur
saja yang belum dihidangkan.
Dilihat dari cara mengatur keempat cawan itu, bisa
diketahui perjamuan itu dipersiapkan untuk seorang tuan
rumah, seorang tamu utama dan dua orang tamu
pendamping.
Kini, didalam kamar baca telah duduk tiga orang, orang
pertama adalah Hee Im hong, tentu saja dia adalah tuan
rumah orang kedua adalah sau cengcu dari keluarga Ban
dibukit Hong san, Ban Siang cing, tentu dia adalah tamu.
Sedang orang ketiga adalah si burung berkepala sembilan
Soh Han sim yang bermata mengerikan meski dia disebut
sebagai salah satu congkoan dari benteng keluarga Hee,
namun ditinjau dari setiap gerak geriknya sudah jelas dia
merupakan tangan kanan dari Hee pocu yang kedudukannya
jauh melebihi ciu Kay seng.
Kini ia tinggal di kamar baca berarti dia termasuk salah
seorang tamu pendamping.
Dari keadaan ini bisa disimpulkan juga kalau Tong Bun
huan telah berangkt melakukan perjalanan ke bukit Kiu kiong
san untuk mencari bininya.
(Perguruan Heng gi bun terletak di bukit Kiu kiong, jadi Kiu
kiong san merupakan rumah mertua Tong Bun huan).
Lantas siapakah tamu pendamping yang lalu? Teka teki ini
dengan cepat terjawab, sebab dari luar kamar baca telah
muncul seseorang, orang itu tak lain adalah Huan cu im.
Setibanya didalam kamar baca, Huan cu im segera menjura
kepada Hee Im hong seraya berkata:
”Empek Hee, ada urusan apa kau memanggil siau^?”
Hee Im hong tertawa terbahak bahak :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Hiantit, cepatlah duduk. Ban sauheng adalah tamu kita,
sebagai sesama anak muda, tentu kalian lebih cocok untuk
berbincang bincang, itulah sebabnya aku khusus menyuruh
Kim koansi mengundangmu kemari untuk menemani tamu
kita”
Berbicara sampai disini, ia lantas berpaling kearah Soh
Hansim sambil berseru tertahan, kemudian meneruskan
”oya, kalian tentu belum pernah berkenalan bukan? Mari,
biar kuperkenalkan kalian berdua, dia adalah Soh congkoan
dari benteng ini.” Kemudian kepada Soh Hansim, katanya pula
”Dan dia adalah keponakan Huan cu im yang sering
kusinggung kepadamu”
soh Han sim segera tertawa seram.
”Huan kongcu, sudah lama kudengar namamu.”
Sebenarnya kata semacam ini hanya merupakan kata kata
sopan santun, namun diucapkan oleh nada suaranya yang
menyeramkan itu membuat orang mendapat kesan tak baik.
Huan cu im sudah dua kali pernah bertarung melawannya,
tentu saja ia cukup mengenali orang tersebut, tapi ia mesti
berlagak tak kenal, katanya pula sambil tersenyum,
”Soh congkoan terlalu memuji,justru akulah yang sudah
lama mendengar nama besar soh congkoan-”
Dengan sorot mata yang tajam Soh Han sim mengawasi
Huan cu im, kemudian katanya lagi:
”Huan kongcu, biarpun kita baru pertama kali bertemu, tapi
rasa rasanya kita seperti pernah bersua muka.”
Selama berapa hari ini, boleh dibilang pengalaman Huan cu
im semakin bertambah matang, mendengar ucapan tersebut
iapun tertawa hambar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Sudah berapa hari aku berdiam dibenteng ini, siapa tahu
Soh congkoan sudah pernah melihat aku.”
”Huan heng, silahkan duduk dulu baru berbicara” sela Ban
Sian ceng dari samping. ”Kalau begitu siaute permisi untuk
duduk” sahut Huan cu im sambil menjura.
Di hati kecilnya dia masih teringat akan peristiwa semalam
munculnya dua orang Tong Bun huan maka tanpa terasa sorot
matanya memandang sekejap kesekeliling tempat itu.
Sudah barang tentu Hee Im hong dapat menebak suara
hatinya itu, sambil mengelus jenggotnya dan tertawa katanya
:
”Keponakan Huan, apakah kau tidak melihat Tong sau heng
berada disini? Aaai, semalam Tong sauheng suami istri
dipengaruhi oleh arak sehingga cekcok hebat, dalam
marahnya Tong sau hujin telah pergi meninggalkan tempat ini,
akhirnya setelah Tong sau heng sadar dari mabuknya, cepat
cepat dia menyusul ke Kiu kiong san untuk minta maaf kepada
bininya.”
Dengan mata kepala sendiri Huan cu im menyaksikan
munculnya dua manusia kembar didalam kamar baca
semalam, sudah barang tentu dia tak akan percaya dengan
penjelasan Hee Im hong itu, tapi dia masih teringat dengan
pesan gurunya yang melarangnya banyak berbicara, oleh
sebab itu katanya kemudian-”Tak aneh kalau siautit tidak
menjumpai saudara Tong”
Setelah duduk. Seorang dayang segera datang
menghidangkan secawan air teh.
Soh Han sim pun memerintahkan.
”Semua yang diundang telah datang, perjamuan boleh
dimulai”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dayang itu mengiakan dan mengundurkan diri dengan
cepat, menyusul kemudian muncul dua orang dayang
menghidangkan sayur.
Hee Im hong segera mempersilahkanBan Sian ceng dan
Huan cu im untuk mulai bersantap. Dalam perjamuan, Hee Im
hong berkata kepada Huan cu im sambil tersenyum.
”Huan hiantit, Ban sau heng kakak beradik mendapat
perintah dari Tayhujin untuk pergi ke Kim leng kali ini untuk
menyongsong kedatangan ketua Hoa sanpay dan Go bi pay,
sebab tahun ini pertemuan puncak di bukit Hong san
diselenggarakan oleh keluarga Ban dari gunung Hong san
serta Hoa san dan Go bipay, Ban sauheng kakak beradik telah
memutuskan untuk berangkat besok pagi.”
Setelah berhenti sejenak dan mengangkat kepalanya, dia
berkata lebih jauh.
”Hal ini membuat aku teringat kembali akan keinginan
Huan hiantit, bukankah kaupun ingin pergi ke Kim leng?
Apalagi kebetulan sekali Siang Ciangbunjin dari Hoa juga
berdiam di Seng ki piaukiok, oleh sebab itu tak ada salahnya
bila hiantit berangkat bersama sama Ban sauheng kakak
beradik, sekalian mewakili diriku untuk menyampaikan salam
hormatku kepada Siang ciangbunjin, entah bagaimanakah
pendapat hiantit.”
Mendengar empeknya mengijinkan dia untuk berangkat ke
Kim leng bersama sama Ban Sian ceng kakak beradik, Huan cu
im menjadi gembira sekali, sebab hal ini memang pucuk
dicinta ulam tiba baginya, karenanya buru buru dia menjura
seraya menjawab ”Segala sesuatunya, siautit akan menuruti
perintah empek Hee.”
”Haah haah hah kalau begitu bagus sekali” Hee Im hong
tertawa bangga, Cuma ”sebelum hiantit berangkat ke Kim
leng, teriebih dulu ingin kusinggung tentang satu hal kepada
dirimu...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
senyuman yang ramah menghiasi ujung bibirnya,
sementara sorot matanya dialihkan ke wajah Huan cu im, tiba
tiba saja ia berhenti berbicara. ”Empek Hee ada perintah apa,
siautit pasti akan menuruti dengan segera”
”Antara diriku dengan ayahmu terjalin hubungan
persaudaraan yang amat akrab, hubungan kami melebihi
saudara kandung sendiri, dimasa ayahmu masih hidup, ooh,
bukan maksudku disaat ayahmu berada disini, dia pun selalu
menuruti perkataan aku si engkoh tua, Huan hiantit, tentunya
perkataanku ini bukan sengaja kubuat buat bukan-..?”
Huan cu im tidak mengerti apa maksud empek Hee nya
berkata demikian, namun mau tak mau dia toh mengangguk
juga. ”Ucapan empek Hee memang benar...”
”Kalau begitu, urusan hiantit bisa kuputuskan sendiri
untukmu bukan-..?” sambung Hee Im hong cepat.
Kemudian tak sampai Huan cu im berbicara, dia telah
melanjutkan lagi dengan penuh keramahan^
”Hiantit, kemarin kau telah berjumpa dengan putriku giok
yong, biarpun usianya tiga tahun lebih tua daripadamu
wajahnya tidak terhitung jelek bukan? Antara aku dengan
ayahmu sudah bersaudara lama, jika hubungan ini
ditingkatkan sebagai berbesanan bukankah ini lebih baik lagi?
Karena itu aku punya rencana untuk menjodohkan giok yong
kepada hiantit, tentunya aku tidak menampik bukan?”
Merah padam selembar wajah Huan cu im setelah
mendengar perkataan itu, ia menjadi tergagap:
”Siautit... siautit masih muda, lagi pula kepergianku kali ini
untuk mencari jejak ayahku, sekarang ayah belum kutemukan,
ibu pun masih ada, siautit tak berani memutuskan sendiri...”
”Haaahh... haaah... haaah...” Hee Im hong tertawa
tergelak. ”aku adalah saudara angkat ayahmu, soal mencari
ayahmu sudah merupakan bagian urusanku pula, soal ini tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
usah hiantit risaukan, aku Cuma ingin bertanya kepadamu
setuju tidak? Soal ini merupakan soal besar yang menyangkut
kehidupanmu selanjutnya, apabila hiantit tidak menampik, aku
akan menjumpai orang untuk membicarakannya dengan
ibumu, tak ada salahnya jika kalian tukar cincin dulu,
bagaimana pendapat hiantit?”
Hee Giok yang yang cantik, lembut dan menaruh kesan
yang mendalam terhadapnya, sudah barang tentu Huan cu im
setuju seratus persen, Cuma sebagai pemuda yang sok malu,
apalagi berada dihadapan Ban sau cengcu dan Soh Han sim,
tentu saja ia tak mampu mengutarakannya keluar.
Untuk sesaat sepasang pipinya berubah menjadi merah
padam dan ia tak berani menjawab. Soh Han sim yang berada
disampingnya segera menimbrung,
”Huan kongcu masih malu malu kucing, menurut pendapat
hamba Huan kongcu sudah setuju.”
”Aaah... haaah... haaahhh...” dengan penuh kegembiraan
Hee Im hong tertawa tergelak,
”hiantit tak usah malu malu kucing, baiklah, kita tetapkan
begini saja sebentar akan kuutus orang untuk membicarakan
persoalan ini dengan ibumu”
Sampai disini, Ban Siau ceng segera bangkit berdiri segera
mengangkat cawannya.
”Klonghi cianpwee, kiong hi saudara Huan biar keponakan
mengeringkan secawan arak untuk kebahagiaan kalian”
serunya. Selesai berkata, ia teguk habis isi cawannya.
Hee Im hong dan Huan cu im bersama sama mengeringkan
pula isi cawan masing masing. Menyusul kemudian Soh Han
sim turut bangkit berdiri dan berkata sambil tertawa,
”Hamba pun menyampaikan ucapan selamat untuk Pocu
dan Huan kongcu, terimalah secawan arak untuk pocu
berdua”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Selesai berkata ia menggapai ke arah seorang dayang yang
berada dibelakangnya.
Seorang dayang muncul membawa baki perak yang berisi
poci arak. Soh Han sim turun tangan sendiri memenuhi cawan
Pocu dan Huan kongcu dengan arak. Kemudian ia baru
meneguk habis isinya.
Sambil tersenyum Hee Im hong mengeringkan cawannya.
Terpaksa Huan cu im harus mengeringkan pula isi cawannya.
Perjamuan ini diselenggarakan dalam suasana riang
gembira. Tapi Huan cu im selalu merasa keheranan, dia masih
teringat dengan pesan gurunya, bila ia makan atau minum
sesuatu dalam kamar baca, maka jangan lupa untuk menelan
pil yang diberikan gurunya itu.
Disamping itu diapun kuatir sekali atas kejadian yang
disaksikan semalam, dimana ia jumpa Tong Bun huan
berbaring di meja dan muncul Tong Bun huan gadunganoleh
karena itu, setelah balas menghormati Hee Im hong
serta Soh Han sim dengan secawan arak. Dengan alasan mau
kencing ia keluar dari kamar baca, ditempat yang tiada orang
kedua, cepat cepat ia telah pil pemberian gurunya itu.
Menanti ia kembali ke kamar baca, perjamuan telah bubar,
dayangpun sudah menghidangkan air teh, waktu itu Ban Sian
ceng sedang berbincang bincang dengan Hee Im hong serta
Soh Han sim tentang perjalanannya ke Kim leng.
Huan cu im turut duduk mendampingi mereka, tapi
menggunakan kesempatan tersebut katanya kepada Hee Im
hong
”Empek Hee, baru pertama kali ini siautit pergi ke Kim leng,
entah apa petunjuk empek Hee?”
Sambil mengelus jenggotnya Hee Im hong tersenyum:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Pemilik perusahaan Seng kipiaukiok di kota Kim leng, Seng
Bian tong mempunyai hubungan persahabatan yang akrab
sekali dengan kakek dan ayahmu, tentu saja hiantit harus
pergi ke Seng ki piaukiok. Bila kau berniat untuk menemukan
jejak ayahmu, memang paling tepat jika kau minta bantuan
mereka, jadi aku tak usah berpesan apa apa, lagi pula
sepanjang jalan ada Ban sauheng yang menemani, bukan
Cuma akan menambah pengetahuanmu, pengalamanmu pun
akan bertambah jadi pesanku, bila ada sesuatu persoalan,
mintalah petunjuk kepada Ban sauheng, mengerti?” Huan cu
im mengiakan berulang kali. Sambil tersenyum Ban sian ceng
berkata pula,
”Petunjuk mah tak berani, bila dapat menempuh perjalanan
bersama saudara Huan, sepanjang jalan pun tidak usah
merasa kesepian-..”
”Empek Hee, apakah siautit harus berdiam terus di kota
Kim leng?” kembali Huan cu im bertanya.
Hee Im hong tertawa.
”Itu sih tak perlu, Ban sauheng ke situ untuk bertemu
dengan Siang ciangbunjin sedang jaraknya dengan pertemuan
puncak dibukit Hong san juga tinggal satu bulan lagi, ampai
waktunya aku akan pergi ke Hong san, karena itu Hiantit
boleh ikut bersama Ban auheng menuju ke bukit Hong san
pula.”
”Dalam pertemuan puncak di bukit Hong san, pelbagai jago
dari perguruan besar dan partai besar akan hadir semua
disitu. Pertemuan macam begini hanya akan diselenggarakan
sekali setiap sepuluh tahun, jadi untuk hiantit boleh dibilang
merupakan suatu kesempatan yang sangat baik, pertama bisa
menambah pengalaman, kedua bisa mencari kabar tentang
jejak ayahmu, bukankah hal ini bagus sekali ?”
Huan cu im sangat terharu, ia merasa Hee Im hong sangat
baik kepadanya, bukan saja telah menjodohkan putrinya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepadanya, lagi pula selalu berpikir demi kepentingannya,
boleh dibilang ia tidak menemukan sesuatu yang tak baik dari
empeknya terhadap dia.
Tentu saja dia pun merasa tiada alasan bagi orang tua itu
untuk mencelakai dirinya, hal mana dengan segera
menimbulkan rasa curiganya terhadap sikap maupun tindak
tanduk gurunya.
”Terima kasih banyak empek Hee ” ia berkata kemudian
terharu.
Hee Im hong tidak menjawab, dia hanya memandang
kearahnya sambil tertawa ramah.
Pada saat itulah, tiba tiba Huan cu im mendengar suara
gurunya sedang berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.
”Nak^ sekarang kau harus berkata kepada pocu bahwa
kepalamu rada pening, lalu mintalah diri kepada Pocu”
Mendengar bisikan gurunya, terpaksa Huan cu im
memagangi jidat sendiri seraya berkata:
”Empek Hee, siautit merasa agak pening, keponakan ingin
mohon diri lebih dulu”
”Mungkin hiantit minum arak kelewat cepat, sekarang
pergilan beristirahat sejenak, tentu keadaan akan sembuh
kembali” kata Hee Im hong sambil tertawa.
Huan cu im berpamitan pula kepada Ban Sian ceng serta
Soh Han sim, kemudian baru mengundurkan diri dari kamar
baca.
OoodwoOO
Dalam perkiraannya semula, setelah gurunya menyuruh dia
beralasan kepala pusing dan mengundurkan diri dari kamar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baca, ia pasti menantinya diberanda atau mungkin ada
perkataan yang hendak disampaikan kepadanya.
Siapa tahu meskipun sudah sampai di ruang sebelah timur,
ia tidak berjumpa dengan gurunya.
Ci giok yang menunggunya didepan halaman gedung,
ketika melihat Huan cu im munculkan diri, ia segera
menyongsongnya sambil tersenyum, lalu tegurnya: ”Huan
kongcu, kau minum arak?”
Huan cu im segera teringat dengan perkataan gurunya
semalam, bahwa ci giok bukan perempuan sembarangan,
tergerak hatinya dengan segera, pikirnya:
”Tadi aku beralasan kepada pusing kepada empek Hee,
berada dihadapannya aku pun tak boleh menunjukkan sikap
yang mencurigakan...” Berpikir demikian, dia lantas
memegangi kening sambil melanjutkan-
”Arak sih tidak banyak yang kuteguk. Tapi kepalaku terasa
pusing sekali, hingga terpaksa harus mohon diri lebih dulu”
”Kalau begitu kongcu pasti sudah mabuk. Biar budak yang
membimbingmu masuk” kata ci giok penuh perhatian-
Baru saja dia hendak membimbingnya, pemuda itu cepat
cepat menolak. ”Tak usah merepotkan nona” Kemudian
setelah tertawa terusnya,
”Aku hanya merasa kepalaku agak pening, sama sekali
tidak mabuk oleh arak”
”Kalau begitu cepatlah masuk untuk beristirahat, budak
akan segera buatkan teh kental untukmu”
Huan cu im masuk ke kamar bacanya yang berada di
sebelah kiri dan duduk disebelah bangku dekat jendela.
Dalam pada itu ci giok telah menyeduhkan secawan teh
kental sambil menyiapkan sebuah handuk panas, sambil
melangkah ke dalam ruangan tegurnya lagi. ”Kongcu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengapa kau tidak beristirahat sebentar didalam kamar
tidur...?”
”Aaah, biar duduk disini saja, sebentar toh akan membaik
sendiri”
ci giok meletakkan cawan tehnya kemeja, lalu mengambil
handuk panas itu sambil berjalan menghampirinya, katanya
kemudian-
”Kongcu bersandarlah biar budak membasahi jidatmu
dengan handuk panas, sebentar pusingmu pasti akan hilang
dengan sendirinya”
”Biar kulakukan sendiri” kata Huan cu im cepat sambil
menerima handuk itu.
”Kongcu” kata ci giok lagi dengan sedih, ”kau saja tak
segan segan mengobati lukaku, apa salahnya bila budak pun
mengompres kepalamu dengan handuk?”
Ketika mendengar ucapan yang terakhir ini, tiba tiba Huan
cu im melompat bangun, kemudian sambil memegang
sepasang tangan ci giok. Serunya dengan perasaan terkejut
bercampur girang:
”Jadi kau... kau adalah ci giok? Aku masih mengira kau
bukan ci giok yang dulu. Tahukah kau betapa rinduku padamu
selama ini...”
Ia memang selalu merindukan ci giok mungkin lantaran
teriampau gembira maka semua kata kata yang terpendam
dalam hatinya selama ini, diutarakan keluar tanpa tedeng aling
aling.
Ci giok segera dibikin terperanjat oleh perbuatan pemuda
itu, namun dihati kecilnya terasa manis dan hangat, selembar
wajahnya turut berubah pula menjadi semu merah karena
malu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan kepala tertunduk rendah rendah, buru buru ia
berkata:
”Kongcu, lepaskan tanganmu, kalau sampai ketahuan orang
kan malu...?”
”oooh maaf, aku kelewat gembira, aku kelewat gembira
sampai agak lupa daratan”
Setelah melepaskan genggamannya, pemuda itu baru
berkata lagi:
”Nona, mengapa tidak kau beritahukan hal ini kepadaku
semenjak dulu dulu?”
”Bukankah sekarang sudah kukatakan kepadamu?” jawab ci
giok tersipu sipu, ”kau masih pusing, mengapa mesti bangun
berdiri? Ayo cepat duduk dulu”
”Aku sudah tidak pusing lagi” sahut pemuda itu cepat ”oya,
malam itu kau pura pura rupanya?”
(yang dimaksudkan adalah ci giok yang tertotok jalan
darahnya, terbelenggu kaki tangannya, disembunyikan
dikolong ranjang dengan mulut tersumbat kain rongsok)
ci giok memandang wajahnya dengan sepasang mata yang
jeli, kemudian setelah tertawa rendah sahutnya.
”Kalau aku tidak berbuat begitu, mana mungkin bisa
mengelabuhi Kim koansi serta Hee pocu?”
”Masa sampai aku pun kena kau kelabuhi habis habisan?”
Sikap Huan cu im sekarang seperti baru bertemu dengan
sobat lama yang sudah banyak tahun tak dijumpainya saja, ia
mengawasi nona itu terus menerus, lalu setelah berpikir
sebentar ia bertanya lagi.
”Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu, bersediakah
nona untuk menjawabnya?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Ini tergantung apa yang ingin kau tanyanya” sahut si nona
sambil tertawa.
”Sebenarnya siapakah nona ? Bolehkah kuketahui siapa
namamu yang sebenarnya ?”
”Sampai waktunya, aku pasti akan memberi tahukan hal ini
kepadamu” sahut ci giok sambil mengerdipkan matanya
berulang kali.
”Menurut dugaanku, nona tak akan berdiam terlalu lama
lagi disini, jikalau hari ini nona tidak memberitahukan
kepadaku, di kemudian hari aku mesti mencarimu kemana ?”
”Lewat berapa hari lagi kan sama saja bila keburu katakan
kepadamu?”
”Besok aku hendak ke Kim leng”
”ooh, besok kongcu akan pergi ke Kim leng?”
Dengan perasaan terkejut dan diluar dugaan ci giok
mengawasi pemuda itu, tapi kemudian katanya lagi sambil
mengangguk,
”Ya a, kongcu memang seharusnya pergi ke Kim leng,
sebab inilah pengharapan dari lo koan keh sebelum ajalnya
tiba...”
Tiba tiba Huan cu im maju ke depan dan menggenggam
sepasang tangannya yang kecil mungil, kemudian bisiknya.
”ci giok. Kau jangan menyebut kongcu kepadaku, aku
bernama Huan cu im, panggil saja cu im kepadaku, aku tahu
kaupun bukan ci giok, sudah sepantasnya bila kau
memberitahukan kepadaku nama aslimu yang sebenarnya”
ci giok tertunduk malu, selembar wajahnya berubah
menjadi merah sampai ke telinga, namun ia tidak meronta, ia
membiarkan sepasang tangannya digenggam pemuda itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”cu im,” katanya kemudian dengan sedih, ”aku masih ada
tugas yang amat penting... saat ini aku belum dapat
memberitahukan kepadamu, sebab... aku masih ada tugas
yang amat penting untuk diselesaikan... hanya itu saja yang
bisa kukatakan kepadamu, harap kau bersedia mempercayai
aku”
”Aku percaya kepadamu” Huan cu im menggenggam
tangannya semakin kencang, seraya mengangguk.
Kemudian ia baru melepaskan genggaman tersebut.
”Apakah pocu sudah setuju?” tanya ci giok kemudian
sambil mengangkat kepalanya lagi.
”Empek Hee yang suruh aku kesana, besok aku akan
berangkat bersama sama Ban sau cengcu bersaudara dari
bukit Hong san-
Berkilat sepasang mata ci giok setelah mendengar
perkataan itu, katanya kemudian keheranan-
”Aneh betul, masa Hee pocu yang suruh kau pergi ke sana
?”
”Apanya yang aneh ? tanya Huan cu im tertawa. Ci giok
menggeleng.
”Aku lihat persoalannya tak akan begitu sederhana, tapi
aku tak tahu apa yang telah direncanakan olehnya ?”
Mendengar ucapan mana, Huan cu im lantas berpikir
”Tampaknya jalan pemikiran ci giok tak jauh berbeda
dengan suhu, agaknya mereka menaruh prasangka atau
pandangan yang mendalam sekali terhadap empek Hee, aaai
Hal inipun tak bisa salahkan mereka, terdapat banyak halpada
empek Hee memang gampang menimbulkan kecurigaan
orang.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu ci giok telah menegur setelah melihat
pemuda itu termenung saja. ”Apa sih yang sedang kau
pikirkan?”
”oooh, tidak ” Huan cu im mendongakkan kepalanya lagi
sambil tertawa, ”bila aku kembali dari Kim leng, apakah kau
masih berada disini ?”
”Sulit untuk dikatakan” sahut Ci giok sambil tertunduk
sedih, ”sekalipun aku sudah tak berada disini, aku pasti dapat
mencari sampai ketemu”
Berbicara sampai disini ia berseru tertahan, lalu tanyanya.
„Selama di Kim leng, kau hendak berdiam dimana ?“
„Empek Hee bilang, lopiautau dari Seng kipiaukiok
mempunyai hubungan yang akrab dengan kakek serta ayahku,
tentu saja aku pergi ke perusahaan Seng kipiaukiok“
Waah, itu bagus sekali“ wajah ci giok segera berseri, biji
matanya berputar berulang kali, kemudian terusnya, „Aku
mempunyai sepucuk surat, dapatkah kau bawakan ke alamat
yang kutuju ?“
”surat itu harus kuberikan kepada siapa ?”
”Alamatnya akan kutulis diatas sampul surat itu.”
”Baik, kalau begitu cepatlah kau buatkan surat tersebut”
”Tadi, bukankah kau mengatakan sakit kepala ? Lebih baik
beristirahatlah sejenak dalam kamar ”
Huan cu im mengangguk dan bangkit berdiri menuju ke
kamar tidurnya, ia bukan benar benar hendak beristirahat,
melainkan bila ia beristirahat maka ci giok tak usah
melayaninya dan perempuan itu pun bisa kembali kekamarnya
untuk menulis surat.
Tiba kembali dalam kamar, dalam senggangnya dia hendak
bersemedi untuk memulihkan kekuatan, siapa sangka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pikirannya terasa kalut dan tak karuan, hatinya tidak dapat
ditenangkan kembali.
Sebentar ia teringat akan enci Giok yong yang cantik,
lembut dan agaknya menaruh perasaan cinta kepadanya itu,
hal ini bisa dilihat olehnya dari sikap maupun caranya
berbicara dengan dirinya.
Hari ini, Hee Im hong telah mengumumkan soal
perkawinan mereka di hadapan Ban sau cengcu serta Soh Han
sim, tampaknya kejadian ini secara resmi telah diputuskan-
Semenjak pertama kali ia bertemu dengan enci Giok yong
biarpun dia mengenakan kain cadar, tapi ia dapat merasakan
gadis itu pemurung, setelah sua muka kemarin, ia bisa
membuktikan akan dugaannya itu.
Ia pun dapat melihat bahwa gadis itu amat sedih dan
murung sekali, sama sekali tak memiliki perasaan gembira, ini
semua menambah kesan baik serta rasa simpatiknya terhadap
perempuan itu.
Kemudian diapun teringat akan Ci giok membayangkan
pemandangan disaat ia membantu gadis itu membebaskan diri
dari tusukan jarum bwee hoa ciam.
Kemudian ia pun membayangkan setelah kepergian ci giok
(padahal Ci giok sama sekali tidak pergi, tapi waktu itu
menurut anggapan Huan cu im, Ci giok telah pergi) betapa
rindunya dia terhadap gadis itu bahkan setiap saat setiap detik
selalu teringat akan dirinya ia sadar benih cinta telah tumbuh
didalam hatinya.
Dari kedua orang nona ini, mereka sama sama berwajah
cantik bak bidadari dari kahyangan, keduanya tak bisa
dibandingkan satu dengan lain, bahkan bayangan tubuh
mereka selalu terbayang dalam benaknya setiap kali ia
memejamkan mata.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bayangkan saja, mana mungkin ia bisa menenangkan
hatinya? Apalagi dibuat untuk mengatur napas.
Karena hatinya tak tenang, maka diapun mengurungkan
niatnya untuk bersemedi, dengan cepat pemuda itu
membaringkan diri untuk tidur.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba tiba ia mendengar
pintu kamarnya dibuka orang, kemudian terasa ada seseorang
berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Bagi mereka yang belajar silat, pendengaran maupun
pandangan mereka selalu amat tajam.
Dengan cepat Huan cu im membuka matanya, melihat yang
masuk adalah ci giok. Buru buru ia bangun sambil berseru,
”oooh, rupanya kau”
”Apakah kehadiranku membangunkan dirimu ?” tanya ci
giok sambil berseru tertahan-
”oooh, tidak” Huan cu im segera menggeleng, ”aku Cuma
membaringkan diri, belum tidur sungguhan”
”Siapa bilang kau belum tertidur sungguhnya ?” ci giok
segera tertawa cekikikan, ”sewaktu masuk tadi, kulihat kau
sedang tertidur nyenyak” Kemudian ia mengeluarkan sepucuk
surat dari sakunya, dan berkata lebih jauh, ”Suratnya sudah
selesai kutulis, simpanlah baik baik, jangan sampai ketahuan
orang.”
Huan cu im menerima surat itu, ketika dilihatnya sampul itu
putih dan kosong tanpa nama dan alamat si penerima, tanpa
terasa ia bertanya lagi:
”Jika tidak kau tulis nama serta alamatnya, bagaimana
mungkin aku bisa menyampaikan ketempat tujuan?”
ci giok tertawa manis, sahutnya lirih:
”Aku kuatir ketahuan orang, maka sengaja kugunakan dua
buah sampul, setibanya di Kim leng nanti, robeklah sampul
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pertama, maka akan kau jumpai nama serta alamat si
penerima surat tersebut, Cuma persoalan ini penting sekali
artinya harap kau jangan memberitahukan kepada siapa pun”
”Kau tak usah kuatir, pasti akan kusimpan surat ini secara
berhati hati” Huan cu im mengangguk cepat.
Sementara berbicara ia telah masukkan surat itu ke dalam
sakunya dan menyimpannya secara baik baik
Dengan penuh perasaan berterima kasih Ci giok
memandang sekejap kearahnya, kemudian baru ujarnya:
”Kuucapkan hanya terima kasih dulu kepadamu”
”Antara kau dengan aku, buat apa mesti menggunakan
kata terima kasih...?” Ci giok kelihatan agak malu, tapi juga
sangat gembira katanya kemudian lirih.
”Ah mm kalau begitu aku tak akan mengatakan demikian”
Tiba tiba ia berseru tertahan, lalu sambil mendongakkan
kepalanya berkata:
”Aku hendak keluar dari sini, tadi Ciu congkoan datang
menjengukmu, karena kulihat kau sedang tertidur nyenyak
maka tidak kubangunkan dirimu, Ciu congkoan sudah bilang
sebentar lagi akan balik kemari, jika ditemukan aku berada
disini, tentu kurang enak jadinya, orang ini licik dan banyak
tipu muslihatnya, kau mesti berhati hati terhadapnya”.
Selesai berkata buru buru dia mengundurkan diri dari
dalam kamar tidur.
Baru tiba diruang tamu, tampak Ciu Kay seng berjalan
masuk dari luar, maka cepat dia menyongsong sambil
memberi hormat:
”Budak menjumpai congkoan”
”Ehmm...” ciu Kay seng meraba raba dagunya, lalu sambil
mengangkat kepala ia bertanya, ”apakah Huan kongcu telah
mendusin?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Lapor congkoan, Huan kongcu baru saja mendusin, budak
akan mengambilkan air cuci muka baginya”
sekali lagi ciu Kay seng mendehem pelanci
giok membalikkan badan dan lari masuk ke dalam,
serunya dengan merdu: ”Huan kongcu, ciu congkoan telah
datang”
Ketika Huan cu im berjalan keluar dari kamarnya, buru buru
ciu Kay seng maju memberi hormat.
”Aku yang rendah menjumpai Huan kongcu”
oleh karena Pocu nya telah mengumumkan akan
menjodohkan putrinya kepada Huan cu im, tentu saja ia mesti
memperlihatkan sikap yang sangat menaruh hormat. Buru
buru Huan cu im berkata:
”ciu congkoan tak usah banyak adat, nona ci giok telah
kudengar kalau congkoan telah datang satu kali, apakah ada
undangan dari empek Hee?” ciu Kay seng tertawa paksa:
”Setelah minum arak tadi kongcu kelihatan tak enak badan,
hal ini membuat pocu menjadi tak tega dan menyuruh aku
datang menengok. Apakah kongcu sudah merasa rada
baikan?”
”Terima kasih banyak atas perhatian dari empek Hee,
setelah tertidur sebentar, sekarang keadaanku sudah jauh
lebih baik”
-oo0dw0oo-
Jilid: 13
”syukurlah kalau begitu” ucap ciu Kay seng kemudian,
”berhubung besok pagi kongcu dan Ban sau Cengcu kakak
beradik hendak pergi ke Kimleng, malam ini akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diselenggarakan perjamuan perpisahan pocu khusus
menitahkan kepadaku untuk datang mengundang.”
”Kalau toh empek Hee yang mengundang ayo kita segera
berangkat”
”Silahkan kongcu”
Kedua orang itu berjalan keluar dari gedung timur,
menelusuri serambi panjang dan menuju keruang utama.
Ketika mereka sedang menelusuri serambi panjang,
mendadak Huan cu im mendengar ada seorang sedang
berbisik lirih:
”Muridku, tengah hari tadi Soh Han sim telah mencampuri
arakmu dengan bubuk pembingung pikiran untung sekali aku
telah mempersiapkan segala sesuatunya sehingga kau tak
sampai cedera, Cuma setelah bertemu dengan pocu nanti kau
mesti bilang kepalanya rada pusing sebab bagi mereka yang
telah dicekoki bubuk pembingun pikiran, meskipun kejernihan
otaknya tidak terganggu namun dia akan patuh pada perintah
dan selama hidup tak akan membantah, oleh sebab itu apa
saja yang dikatakan pocu nanti mesti kau sanggupi
seluruhnya, jangan sekali kali kau tunjukkan sikap seperti
mempertimbangkan masalah itu, nah bila kau masih ada yang
mencurigakan, malam nanti akan kubicarakan lagi denganmu”
Rupanya perkataan itu diucapkan gurunya dengan ilmu
menyampaikan suara.
Tanpa terasa Huan cu im menghentikan langkahnya, lalu
berpikir:
”Ternyata empek Hee telah memerintahkan Soh Han sim
untuk mencampur arakku dengan bubuk pembingung pikiran,
tapi mengapa dia harus berbuat begini ?”
Untuk dapat menggunakan ilmu menyampaikan suara,
maka seseorang harus memiliki tenaga dalam yang amat
sempurna dengan begitu nada suara baru bisa dlubah menjadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
getaran gelombang udara dan dikirim dengan
mempergunakan tenaga dalam.
Dengan disampaikannya suara tersebut langsung ke telinga
si pendengar, maka pihak ketigapun jangan harap bisa
menangkap pembicaraan mana.
Itulah sebabnya ketika Ju It koay berbicara dengan Huan
cu im, ciu Kay seng yang mengikuti dibelakang Huan cu im
sama sekali tidak mendengar apa apa.
Hanya ketika dilihatnya Huan cu im menghentikan
langkahnya secara tiba tiba, dengan cepat ia menegur. ”Huan
kongcu, kenapa kau?”
Huan cu im memagang jidat sendiri dengan lemas,
kemudian manyahut : ”Aku merasa agak pusing”
”Biar aku membimbing kongcu untuk berjalan”
”Tidak usah, aku sudah merasa rada baikan,” sahut Huan
cu im sambil menurunkan tangannya.
Selesai berkata, ia lantas maju kemuka dengan langkah
lebar.
Tentu saja ciu Kay seng tahu, bahwa orang yang sudah
dicekoki bubuk pembingung pikiran, bila telah sadar dari
mabuknya, dia akan merasa pusing sekali sebab inilah
gejalanya yang utama, namun keadaan tersebut lambat laun
akan sembuh dengan sendirinya. Karenanya dia berjalan
mengikuti dibelakang Huan cu im.
Tatkala Ju It koay sudah minum bubuk pembingung pikiran
tempo hari ia beriagak sakit kepala sampai kehilangan pikiran
dan bergulingan diatas tanah, ini dikarenakan Soh Han sim
tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki Ju It koay amat
sempurna, kuatir kadar obatnya terlampau sedikit sedikit
sehingga tak mendapat hasil, maka ia telah mencampurkan
kadar obatnya lima kali dari ukuran biasa. Ju It koay dapat
menduga sampai kesana, karena itu diapun beriagak lebih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mirip lagi alhasil siburung berkepala sembilan Soh Han sim
pun berhasil dikibuli olehnya.
Ketika Huan cu im melangkah masuk ke dalam ruangan
utama, Hee Im hong suami istri serta Ban Sian Ceng kakan
beradik sudah duduk menanti disitu, anak muda tersebut
segera maju kedepan memberi hormat kepada empek Hee
suami istri. Dengan wajah penuh perhatian Hee Im hong
segera bertanya: ”Huan hiantit bagaimana rasamu sekarang?”
Menyaksikan wajah Hee Im hong yang begitu ramah dan
penuh perhatian ini hampir saja Huan cu im tak berani
percaya kalau dialah yang memerintahkan Soh Han sim untuk
meracuni araknya.
Sambil memberi hormat, katanya kemudian,
”Terima kasih banyak atas perhatian empek Hee, mungkin
tengah hari tadi siautit sudah kebanyakan minum arak.
Setelah pulang dan tidur sebentar, rasanya sudah rada
mendingan, meski kepalaku terasa rada rada pening.”
Hee Im hong segera tersenyum,
”Sudah kubilang tadi, hiantit tak pandai minum arak dan
minum kelewat cepat padahal lelaki minum arak adalah
kejadian yang lumrah. Mungkin baru pertama kali ini kau
minum sehingga kepalamu terasa pening, tapi tak apa,
sebentar toh keadaanmu akan pulih kembali seperti sediakala”
Sin hujin yang berada disampingnya segera menyambung
pula sambil tertawa:
”Huan kongcu, cepat duduk. Lain kali jika tak pandai
minum, lebih baik kurangi saja minum arak”
Huan cu im mengiakan berulang kali lalu mengundurkan
diri dan duduk pada deretan bangku yang terakhir.
Saat itulah Ban Hui jin berpaling dan tersenyum kearahnya
sambil berseru:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Huan kongcu, aku dengar dari kakakku katanya, aku mesti
menyampaikan selamat untukmu”
Merah jengah selembar wajah Huan cu im, untuk sesaat dia
tak mampu menjawab. Buru buru Sin hujin menyela sambil
tertawa
”Nona Ban, persoalan ini mah masih terlalu awal untuk
dibicarakan, pocu masih harus mengirim orang guna
merundingkan persoalan ini dengan Huan hujin, sebentar bila
kau berjumpa dengan...” sebenarnya ia hendak berkata begini
:
”Sebentar, bila kau berjumpa dengan giok yong, tak usah
kau singgung persoalan ini.” Tapi sebelum kata kata tersebut
selesai diutarakan, terdengar suara langkah kaki manusia
bergema datang.
Ternyata Hee Giok yang telah masuk ke dalam ruangan
utama, karena itu terpaksa dia telan kembali kata kata
selanjutnya.
Ketika Ban Huijin melihat Hee Giok yong cepat cepat ia
bangkit dan menyambut kedatangannya, lalu berseru : ”Enci
Giok, kenapa kau baru tiba sekarang ?”
Hee Giok yang segera menarik tangan Ban Huijin seraya
minta maaf : ”Siumoay mamang sudah rupanya aku telah
membuatmu menunggu lama” Kemudian katanya lagi lirih :
”Enci Jin sebentar lagi siaumoay ada urusan hendak
diberitahukan kepadamu”
”Sedari tadi aku sudah tahu memang aku ingin
menyampaikan ucapan selamat kepadamu ” seru Ban Huijin
sambil tertawa.
”Mengapa harus mengucapkan selamat kepadaku ?” Hee
Giok yang bertanya keheranan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Aaah, masa kau masih berlagak pilon Bukankah kau
hendak memberltahukan kepadaku kalau empek telah
menjodohkan kau dengan Huan kongcu ?”
”Aku mengajakmu berbicara secara serius, masa kau malah
datang menggodaku...” Hee Giok yang kontan saja tersipu
sipu malu.
”Siapa sih yang lagi menggodamu?” kata Ban Huijin
bersungguh hati, ”aku mendengar berita ini dari engkoh ku,
tengah hari tadi empek sendiri yang mengumumkan
perjodohanmu dengan Huan kongcu, Cuma harus menunggu
persetujuan dari ibu Huan kongcu lebih dulu sebelum bisa
diresmikan”
Selembar wajah Hee Giok yang segera berubah menjadi
merah dadu karena jengahnya, ia berbisik lirih :
”Kenapa aku sendiri tidak tahu?
”Mungkin empek akan menunggu sampai mendapatkan
persetujuan dari ibu Huan kongcu lebih dulu, baru
memberitahukan berita gembira ini kepadamu” Tiba tiba Giok
yang mendengus :
”Mungkin semuanya ini merupakan idee dari manusia she
Sin itu, Sin hujin yang dimaksud) selama ini dia tinggal di Lo
cu san dan selalu menganggapku sebagai duri dalam mata
itulah sebabnya...”
”Enci Giok tak usah menuduh yang bukan bukan, oya,
bukankah tadi kau bilang hendak memberitahukan sesuatu
kepadaku? Apa sih yang hendak kau sampaikan kepadaku?”
”Kau tahu, semalam Tong hujin sudah tertimpa musibah ?”
bisik Hee Giok yang.
Ban Huijin segera mengangguk. ”Yaa siaumoay mendengar
kabar ini dari engkoh ku”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Aku lihat dibalik kejadian tersebut masih terdapat hal hal
yang tidak beres” kata Hee Giok yang lagi lirih.
”Lantas apa yang tak beres ?” tanya Ban Huijin tertegun.
”Mungkin kejadian ini ada sangkut pautnya dengan
perempuan she Sin itu, sebentar aku akan berbicara lebih teliti
lagi kepadamu”
Begitulah kalau dua orang nona saling bertemu, mereka
lantas mengobrol tiada hentinya, sudah barang tentu semua
orang pun tak ada yang memperhatikan mereka.
Menanti mereka sudah berbincang sekian waktu, kedua
orang itu baru kembali ke tempat duduk.
Berhubung Hee Giok yang telah diberitahukan oleh Ban
Huijin bahwa ayahnya telah menjodohkan dia dengan Huan cu
in,, maka sebagai seorang gadis yang pemalu, ia menjadi
rikuh sekali setelah bertemu muka dengan Huan cu in,,
sepasang pipinya berubah menjadi merah dadu, sikapnya
kemalu maluan sehingga tidak menunjukkan kemesrahan
seperti semalam.
Tentu saja Huan cu impun merasakan hal yang sama, ia tak
berani menyapa gadis itu, karenanya semua perhatian
ditujukan untuk berbincang bincang dengan Ban sian ceng.
Tak lama kemudian para dayang menyiapkan perjamuan,
perjamuan itu khusus diselenggarakan untuk menghantar
keberangkatan ketiga orang itu, sebagai tuan rumah, Hee Im
hong suami istri tiada hentinya meloloh tamu mereka dengan
arak.
Sementara itu, dihati kecil Huan cu im sudah timbul sebuah
borok yaitu perkataan dari gurunya yang mengatakan bahwa
Soh Han sim telah meracuni araknya tengah hari tadi, maka
dengan alasan kepalanya masih pening ia tampik pemberian
arak tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ban Sian ceng mengira tengah hari tadi anak muda
tersebut sudah mabuk maka ia tidak mencoba untuk
mengajak pemuda itu minum arak. Justru nona Ban lah yang
manfaatkan kesempatan tersebut untuk menghormati Huan cu
im dengan arak. Lalu menghormati pula Hee Giok yang
dengan secawan arak, ini membuat kedua orang itu menjadi
tersipu sipu malu meski gembira dihati.
Perjamuan ini baru berakhir setelah menjelang kentongan
pertama Hee Giok yang mengajak Ban Huijin untuk
mengundurkan diri lebih dulu, mereka berdua segera
berangkat menuju ke kuil cu im an-
Sedang Huan cu im dengan alasan kepala pening mohon
diri pula untuk kembali ke gedung timur.
Ketika ia tiba kembali di gedung timur, ci giok masih
menunggu kedatangannya di depan pintu, ia segera
menyambut kedatangan pemuda itu, begitu sang pemuda
menampakkan diri, serunya :
”Huan kongcu, bukankah kau bilang kepalamu pusing ?
Apakah sekarang sudah rada baikan ?”
”Aaah, itu kan alasan yang sengaja kukemukakan, kalau
tidak. Malam ini aku bisa diloloh lagi sampai mabuk” sahut
Huan cu im sambil tertawa. Ci giok mengerling sekejap
kearahnya, kemudian bisiknya lirih :
”Kau jahat, sampai akupun percaya dengan omonganmu
tadi, kau tahu aku jadi menguatirkan terus keselamatan
jiwamu”
Huan cu im merasa amat terharu, tapi berhubung gurunya
telah berjanji akan datang malam nanti ia tak berani banyak
berbicara dengannya, buru buru serunya: ”Sekarang hari
sudah malam lebih baik nona cepat cepat pergi tidur...”
”Apakah kau ingin mencuci muka dulu? Biar kusiapkan air
untukmu...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Aaah tidak usah, besok pagi aku masih harus melanjutkan
perjalanan, sekarang aku perlu banyak beristirahat dulu”
Dengan sepasang mata yang jeli, ci giok mengawasi
wajahnya lekat lekat, kemudian setelah mengangguk dia
membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.
Melihat hati sudah larut malam Huan cu im tak berani
membuang waktu lagi dia segera masuk ke dalam kamar.
Setelah menutup pintu dan menghembus padam lentera,
dengan tenang ia duduk di atas bangku sambil menantikan
kedatangan gurunya Sampai kentongan kedua lewat, didepan
jendelanya baru terasa ada angin berhembus lewat, tahu tahu
Ju It koay sudah muncul didalam kamarnya sembari berbisik:
”Muridku, kau belum tidur?”
Buru buru Huan cu im bangkit berdiri seraya berseru. ”Tecu
sudah menantikan kedatangan suhu semenjak tadi”
Ju It koay manggut manggut lalu duduk disebuah bangku
yang berada didepannya, sambil menuding ke muka katanya:
”Kaupun duduklah, aku ada persoalan yang hendak
dibicarakan denganmu” Huan cu im menurut dan segera
duduk.
”Apakah hari ini pocu telah membicarakan soal perkawinan
denganmu...?” tanya Ju It koay.
Bersemu merah selembar wajah Huan cu im, ia
menundukkan kepalanya dan menyahut.
”Yaa, benar, tecu sudah bilang kepada empek Hee, tecu
datang untuk mencari ayah kini berita ayah belum ditemukan,
apalagi ibu masih ada dan tecu masih muda maka tecu tak
berani mengambil keputusan atas hal tersebut”
Tiba tiba Ju It koay menghela napas pelan, katanya
kemudian:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Giok yang memang seorang bocah yang baik, Cuma... eh
mm usiamu masih kelewat kecil, tentang masalah ini biar kita
bicarakan dikemudian hari saja, untung saja kau segera akan
meninggalkan tempat ini”
Setelah berhenti sejenak. Kembali dia berkata:
”Menurut penglihatanku, agaknya Ban sau cengcu juga
telah dikerjai oleh Soh Hansim dalam minuman araknya. Aku
masih mempunyai sebutir pil penawar, ambil dan simpanlah
baik baik, untuk sementara waktu kau tak boleh membocorkan
rahasia ini, tunggulah sampai ada kesempatan baru minumkan
obat tersebut secara diam diam.
Setibanya di Kim leng dan bersua dengan Seng locianpwee
tak ada salahnya bila kau ceritakan semua yang kau lihat dan
dengar disini kepadanya tanpa tedeng aling aling, Cuma harus
berada dalam suasana yang paling tepat, dimana tiada pihak
ketiga yang turut hadir, dalam hal ini kamu mesti
mengingatnya secara baik baik”
Lemudian setelah berhenti sejenak Ju It koay berkata lebih
jauh ”pocu belum tahu kalau bubuk pembingun pikiran yang
ditanamkan kedalam tubuhmu sudah kupunahkan, setibanya
di Seng ki piaukiok nanti, bisa jadi dia akan memberi suatu
perintah kepadamu untuk melakukan sesuatu maka aku
anjurkan dalam menghadapi persoalan apa saja, kau mesti
berunding dulu dengan Seng locianpwee sebelum melakukan
suatu gerakan. Nah, oleh karena perjalanan ini merupakan
perjalanan yang pertama bagimu, maka kau mesti berhati hati
dalam setiap tindakan, sekarang aku harus pergi dulu.”
Tidak sampai Huan Cu im banyak bertanya, bayangan
manusia sudah berkelebatan lewat dan menerobos keluar
lewat jendela.
Huan Cu im segera menutup jendela sambil bersiap siap
untuk naik ke pembaringan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tiba tiba pintu kamarnya bergemericit, ini membuatnya
tertegun.
”Siapa disitu?” tegurnya kemudian-
Dari luar pintu kedengaran Ci giok menjawab dengan lirih.
”Budak disini khusus datang untuk mengantar air teh buat
kongcu.”
Mendengarjawaban mana, Huan Cu im segera berpikir:
”Sudah jelas kukatakan hendak tidur, mau apa dia datang
kemari ditengah malam buta begini?”
Meski berpikir demikian, ia toh bangkit berdiri juga untuk
membukakan pintu
Ketika pintu dibuka, Ci giok berdiri diluar sambil membawa
sebuah baki berisi air teh, ia langsung masuk kedalam dan
memandang sekejap kearah pemuda itu dengan sorot mata
yang jeli.
”Ternyata kongcu belum tidur,” katanya tertawa, ”kalau
begitu, tak salahlah jika budak menghantar air teh untukmu ”
Sambil berkata ia letakkan baki itu ke atas meja, kemudian
mengambil cawan teh dan diangsurkan kehadapan Huan Cu
im, katanya dengan merdu: ”Kongcu, silahkan minum teh ”
Huan Cu im menerima cawan teh itu dari tangannya,
kemudian berkata sambil tersenyum.
”Terima kasih nona, malam sudah larut, mengapa kau
masih datang menghantar air teh untukku ?”
Pelan pelah Ci giok menundukkan kepalanya lalu menjawab
:
”Sebab... sebab... besok pagi kau hendak pergi, entah
sampai kapan kita baru akan bersua kembali, maka... maka...”
Kepalanya ditundukkan semakin rendah, sambungnya lirih:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Maka aku... aku ingin kemari, untuk melihatmu lagi...”
Huan Cu im segera maju ke depan, serunya dengan amat
terharu:
”Terima kasih banyak. Padahal perasaanku pun sama
seperti kau, aku pun ingin sekali menengokmu lagi”
”Tadi kau bertanya siapa namaku, tapi tidak kuberitahukan
hal itu kepadamu...”
”Jadi nona khusus datang kemari untuk memberitahukan
nama aslimu...?”
”Tidak- sudah kubilang dikemudian hari kau pasti akan tahu
dengan sendirinya”
Pelan pelan Ci giok membalikkan tubuhnya, kemudian
berkata lagi dengan sedih: ”Tapi aku pikir...”
”Kau mau apa ?” tukas Huan Cu im sebelum gadis itu
menyelesaikan kata katanya Suara Ci giok semakin lirih
bisiknya lebih jauh:
”Mungkin ketika kau pulang kemari, aku sudah tidak berada
disini lagi dan tak akan bersua lagi denganku, mungkin disaat
kau bertemu kembali nanti, kaupun tak akan mengenali diriku
lagi”
”Aaa mana mungkin ini bisa terjadi?” seru Huan Cu im,
”selamanya aku tak akan pernah melupakan dirimu lagi”
Ci giok menggeleng, katanya jengah: ”Aku bukan
bermaksud begitu”
”Lantas maksudmu...”
Pelan pelan Ci giok membalikkan badan sambil
membereskan rambutnya, setelah tertawa manis katanya
”Sebab ci giok yang kau kenal bukan diriku, tentu saja
setelah bersua nanti kau tak akan mengenaliku lagi”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”oooh...” Huan Cu im berseru tertahan, kemudian
mengawasinya dengan tercengang, ”jadi wajahmu itu sudah
kau saru?”
Ci giok mengangguk pelan tapi segera menggeleng kembali
katanya dengan cepat:
”Jika aku hanya menyaru, semua orang yang berada disini
pasti akan mengetahui perbuatanku itu sebab mereka adalah
jago jago kawakan, karenanya aku hanya menghilangkan ciri
ciri khas diriku saja dengan obat penyaru muka”
”Jadi maksudmu kemari adalah untuk memperlihatkan raut
wajah aslimu itu kepadaku?” Cu giok mengangguk.
”Itulah alasanku yang terutama datang mencarimu
ditengah malam buta begini”
”Bila kau bersedia memperlihatkan wajahmu, dengan
senang hati aku akan melihatnya” kata Huan Cu im
”Kalau begitu, kau jangan mengintip dulu”
Dengan cepat sinona membalikkan badan berdiri
membelakanginya, kemudian menyeka wajahnya dengan sapu
tangan
Tak lama kemudian ia sudah membalikkan badan sambil
berbisik lirih ”Sekarang yang kau lihat adalah wajah asliku”
Sebenarnya Ci giok termasuk seorang gadis yang cantik
dan lembut, tapi setelah membalikkan tubuhnya, dia seperti
telah berubah menjadi seseorang yang lain-
Tidak. Bentuk wajahnya memang tak bisa berubah, tapi alis
matanya bagaikan semut beriring, tidak setebal tadi
hidungnya lebih mancung, bibirnya merah merekah, wajahnya
yang semula putih kekuning kuningan sekarang nampak putih
kemerah merahan putih seperti susu dan bercahaya
Pemuda itu hampir tak percaya dengan apa yang terlihat
didepan mata, dalam waktu singkat gadis itu seakan akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah berubah menjadi bidadari yang baru turun dari
kahyangan-
Hee Giok yang termasuk cantik tapi ia cantiknya lembut
dan tenang, hanya sayang sikapnya rada dingin dan serius
Siburung hong hijau Ban Huijin juga cantik, ia lincah
bagaikan seekor burung nuri
Ci giok berada sekali dengan kedua orang itu, dibalik
kecantikan dan kelembutan terselip pula sinar kegagahan
seperti sekuntum bunga mawar yang baru mekar, penuh
memancarkan hawa kehidupan yang segar dan baru.
Untuk sesaat Huan Cu im berdiri tertegun, memandangnya
dengan termangu mangu bahkan sorot matanya seakan akan
berat sekali untuk dialihkan dari wajah nona itu.
Sinona pun memandang ke arahnya dengan pandangan
yang lembut penuh kemesraan dan perasaan cinta, sepasang
pipinya kelihatan agak bersemu merah bisiknya tiba tiba
dengan suara lirih:
”Sekarang, sudah kau kenal bukan ?”
„Kau... kau sangat cantik“ bisik Huan Cu im agak tergagap.
Dengan wajah jengah Ci giok mengerling sekejap ke arahnya,
kemudian mengomel: „Aku kan lagi bicara serius denganmu.“
Huan Cu im merasakan jantungnya berdebar sangat keras,
digenggamnya sepasang tangan nona itu, lalu rengeknya lirih:
„Berilah kesempatan kepadaku untuk memperhatikan
wajahmu lebih seksama lagi „
Ci giok tidak meronta bahkan menurut dengan lembut,
pelan-pelan ia mendongakkan kepalanya lalu bertanya: „Masa
kau belum cukup melihatnya ?“
Huan Cu im memberanikan diri untuk menarik tubuhnya
sehingga terjatuh ke dalam pelukannya, lalu sahutnya:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
„Biar selama hidup pun aku merasa tak cukup untuk
memandangi terus wajahmu“
Ia memeluk tubuhnya yang lembut dan kepalanya pelanpelan
ditundukkan kebawah
Ci giok meronta pelan lalu berbisik agak gemetar:
”Kau...”
Kata kata selanjutnya tak mampu diteruskan lagi sebab dua
lembar bibir yang panas telah menyumbat bibirnya yang
mungil.
Gadis itu tidak berbicara lagi, pemuda itupun tidak. Meski
begitu kedua belah pihak sama sama dapat mendengar detak
jantung masing masing
Suasana dalam ruangan menjadi hening sepi dan tak
kedengaran sedikit suarapun sedemikian heningnya sampai
tak kedengaran suara apa pun...
”Eeehmm...” akhirnya Ci giok mendehem sambil
mendorong tubuhnya, ia malu sekali sampai pipinya menjadi
semerah buah apel, serunya kemudian: ”Kau jahat... aku...
aku tak mau...”
Selembar wajah Huan Cu impun berubah menjadi merah
padam katanya kemudian agak tergagap:
”Nona, aku... aku tadi tak dapat menahan diri tadi, kau...
kau tidak marah bukan?”
”Siapa yang marah kepadamu?” Ci giok tertunduk malu,
kemudian dengan sedih terusnya, ”besok kau hendak pergi
aku hanya ingin memberitahukan suatu hal padamu”
”Katakanlah, apa yang hendak kau beritahukan kepadaku?”
Dengan wajah memerah Ci giok tertunduk semakin rendah:
”Tempo hari... ketika kau... kau mencabutkan jarum dari...
dari tubuhku semua... semua bagian tubuhku yang suci telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kau... kau lihat... maka selama hidupku ini, kecuali kau...
aku... aku...”
Tiba tiba dua titik air mata jatuh beriinang membasahi
pipinya yang halus. Huan Cu im menjadi amat gelisah, cepat
dia berseru:
”Nona tak usah kuatir, aku bukan seorang lelaki yang tak
berperasaan aku tak akan melupakan kau untuk selamanya”
Hangat dan manis perasaan Ci giok setelah mendengar
perkataan itu, meski air mata masih membasahi pipinya, ia toh
sempat tertawa.
”Setelah mendengar perkataanmu itu aku pun dapat
berlega hati sekarang waktu sudah larut malam, kau harus
beristirahat dulu”
Kemudian ia membalikkan badan dan beranjak pergi
„Nona...“ seru Huan Cu im lirih.
Ci giok berputar badan lalu berkelebat lewat dengan amat
cepat, katanya sebelum berlalu dari kamar
„Kau harus tidur, aku tak akan mengganggu dirimu lagi „
ooooooodwooooooo
Kim leng adalah sebuah kota yang cukup ramai.
Perusahaan Seng ki piaukiok terletak di suatu sudut kota
yang cukup ramai di kota tersebut, pemiliknya seng Bian tong
berusia enam puluh tiga tahun, bukan saja memiliki
perawakan tubuh yang tinggi kekar, langkahnyapun masih
tegap dan wajahnya masih merah bercahaya sehingga sekilas
pandangan usianya seperti baru mencapai lima puluh
tahunan-Dalam keadaan dan situasi seperti apa pun, kau akan
selalu menyaksikan dua biji peluru besi yang selalu berputar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
putar ditangan piautau tua ini, karena ia memang dijuluki
orang si peluru besi.
Julukan tersebut tidak diperoleh secara gampang, konon
didalam saku Seng Bian tong semuanya terdapat lima biji
peluru besi, setiap peluru dapat mengancam jalan darah orang
secara tepat dan jitu, lagipula jika lima peluru dipergunakan
bersama, tak pernah korbannya bisa selamat.
Konon semenjak ia terjun ke dunia persilatan, paling banter
dia hanya menggunakan empat biji dan belum pernah
menggunakan lima biji peluru bersama sama.
Seng lopiautau ini berasal dari Hoa san, dia termasuk kakak
seperguruan dari ketua Hoa sanpay saat ini Siang Han hui.
Atas dasar inilah perusahaan Seng kipiau kiok selalu nomor
satu di kota Kim leng dan belum pernah ada umat persilatan
yang berani mengusiknya.
Sudah lama Seng lopiautau menyerahkan tampuk pimpinan
perusahaannya kepada putranya Seng ceng hoa,jadi kalau
begitu sebetulnya ia sudah dapat penuh berbahagia.
Tapi didalam kenyataannya ia belum pernah bisa hidup
dengan aman tenteram penuh kebahagiaan-
Setelah ia menyerahkan jabatan congpiautau kepada
putranya dia sendiri justru menempati kedudukan yang lebih
rendah dengan menjadi seorang piautau dalam perusahaan
Seng ki piaukiok
Ternyata Seng lopiautau adalah seorang yang suka
bergerak, dia bilang:
„Air yang mengalir tak akan berbau, rumah yang ditempati
baru tak akan rusak, manusia memang dilahirkan didunia
untuk bergerak kalau tidak bergerak meski besi pun akan
berkarat“
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan menyerahkan kedudukan congpiautau kepada
putranya dan menyerahkan persoalan yang memusingkan
kepala kepada putrinya, dengan menjabat sebagai seorang
piautau maka ia dapat mengikuti kereta barang untuk
berkelana kemana mana melemaskan otot dan mengunjungi
teman teman lama.
Kehadiran Seng ki piaukiok dikota Kim leng tak bisa
disangkal lagi merupakan kantor cabang Hoa sanpay dikota itu
asal ada orang Hoa sanpay berkunjung ke Kim leng mereka
tentu akan menginap dalam perusahaan tersebut.
Kali ini ketua Hoa sanpay siang Han hui telah berkunjung
ke Kim leng mereka pun berdiam dikantor perusahaan
tersebut.
Oooodwoooo
Ketika Huan Cu im bersama dua bersaudara Ban Sian cing
tiba dikota Kim leng magrib telah menjelang tiba.
Ban Sian cing bersaudara datang ke kota itu adalah atas
perintah ibu mereka untuk menyongsong ketua Hoa sanpay
Siang Han hui serta ketua Go bipay Cing im totiang sebab
pertemuan puncak bukit Hong san yang diselenggarakan
malam ini diadakan oleh pihak Hong sanpay Hoa sanpay dan
Go bipay.
(Cing im totiang sebenarnya berdiam di perusahaan Pek
juan piaukiok di kota Kim leng, tapi sekarang dia telah pergi
ke Bu tong san). Untuk menjumpai sang ketua, tentu saja
mereka tak bisa mengunjungi pada waktu senja karena itulah
Ban Sian ceng kakak beradik mencari sebuah rumah
penginapan di kota sebelah barat.
Huan Cu im memang bertujuan untuk mengunjungi Seng
Bian tong, karena itu setelah membersihkan badan di rumah
penginapan tersebut, dia pun berpamitan kepada dua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersaudara Ban dan langsung mencari alamat perusahaan
Seng ki piaukiok.
Kantor seng ki piaukiok terletak disebuah jalanan disebelah
selatan kota gedungnya sangat besar didepan pintu terdapat
tanah kosong yang ditumbuhi puluhan batang pohon besar,
sedangkan didepannya terbentang jalan raya beralaskan batu.
Saat itu pintu gerbang perusahaan Seng ki piaukiok
terbentang lebar, disebelah kiri pintu tergantung sebuah
papan nama berbentuk segi panjang yang bertuliskan:
„sengko ki piau kiok“
Huan cu im melompat turun dari kudanya ditepijalan,
setelah menambat kudanya di bawah sebatang pohon dia
menyeberangi tanah lapang dan mendekati pintu gerbang, di
situ ia jumpai ada tiga orang lelaki berbaju biru sedang duduk
diatas sebuah bangku panjang.
Ketika salah seorang diantara mereka menyaksikan
kedatangan Huan cu im, ia segera bangkit berdiri seraya
menyapa. „Kongcu datang mencari siapa ?“
„Aku khusus datang untuk menyambangi Seng piaucu „
sahut Huan Cu im seraya menjura. Tentu saja ketiga orang
lelaki itu adalah para centeng penjaga pintu gerbang
Sebagai manusia yang sudah berpengalaman luas dan
sepanjang tahun ikut berkelana dalam dunia persilatan,
mereka tentu saja memiliki ketajaman mata yang luar biasa.
Biarpun Huan Cu im masih berusia muda namun sikapnya
yang anggun dan gerak gerik^ yang gagah, ditambah pula
sebilah pedang tersoren di pinggangnya membuat setiap
orang akan mengetahui bahwa dia mempunyai asal usul yang
termashur. Sambil tersenyum lelaki itu berkata „Kongcu
silahkan masuk untuk minum teh“
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sembil berkata dia mengajak Huan cu im menyeberangi
sebuah halaman dan masuk ke dalam ruang tamu.
Kemudian ia baru bertanya lagi sambil tertawa paksa.
”Kongcu, siapa namamu dan berasal dari mana ? Dengan
begitu akupun bisa masuk untuk memberi laporan”
„Tidak berani, aku Huan Cu im datang dari telaga Cau oh“
„silahkan kongcu duduk sebentar, biar aku yang rendah
masuk ke dalam memberi laporan“ kata lelaki itu lagi sungkan-
„Silahkan loko“
Lelaki itu membalikkan badan dan mengundurkan diri dari
ruang tamu itu dengan langkah cepat.
Diam diam Huan Cu im mengamati sekeliling situ, ruang
tamu itu sangat luas, dibagian atas terpancang sebuah papan
nama yang bertuliskan empat huruf dari warna emas, tulisan
itu berbunyi: „Wa bu wi yang“
Diatas dinding sekeliling ruangan tergantung pula banyak
sekali papan papan nama, semuanya merupakan papan nama
hadiah dari suatu perusahaan, atau pejabat dari sini dapat
diketahui betapa termasyurnya nama perusahaan seng ki
piaukiok dimata masyarakat
Sementara Huan Cu im masih membaca papan-papan
nama itu, seorang lelaki datang menghidangkan air teh
sembari berkata: „Kongcu, silahkan minum teh“
„Terima kasih“
Tak lama kemudian terdengar lagi suara langkah kaki
manusia berkumandang dalam ruangan seorang lelaki muda
berjubah panjang warna hijau munculkan diri disitu, sambil
menyuru kepada sang pemuda ia segera menyapa:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
„Bila aku yang rendah teriambat menjemput kedatangan
Huan Kongcu sehingga kau harus menunggu lama, harap
Kongcu sudi memaafkan“
Huan Cu im dapat melihat bahwa lelaki itu paling banter
berusia tiga puluh tahunan, berwajah merah tapi gagah,
didengar dari nada pembicaraannya dia seperti si
penganggung jawab dalam perusahaan tersebut. Maka cepat
cepat dia membalas memberi hormat seraya mejawab: „Tidak
berani, boleh aku tahu siapa nama saudara...“
„silahkan Huan Kongcu duduk“ kata lelaki berbaju hijau itu
cepat, kemudian setelah Huan Cu im duduk dan ia menemani
di sampingnya barulah berkata kembali, „aku Seng Ceng hoa,
bolehkah kutahu ada urusan apa Huan kongcujauh jauh
datang kemari ?“
„ooh, rupanya Seng loko „ kata Huan Cu im sambil
menjura, sementara dalam hati kecilnya berpikir
”Entah apa hubungan orang ini dengan Seng loya cu ?”
Maka setelah memberi hormat lagi dia berkata.
”Aku khusus datang kemari untuk menyambangi pemilik
perusahaan” seng Ceng hoa tersenyum.
”Akulah yang menjadi pemilik perusahaan ini, bila Huan
kongcu mempunyai suatu maksud, silahkan saja diutarakan
secara berterus terang...”
Ternyata lelaki muda inilah pemilik perusahaan Seng ki
piaukiok yang termashur itu Huan Cu im jadi tertegun,
kemudian sambil mengawasi lelaki itu kembali dia berkata.
”Kakekku dan ayahku mempunyai hubungan persahabatan
yang sangat erat dengan Seng loya cu, aku jauh jauh datang
dari telaga Cau oh tidak lain adalah menyambangi Seng loya”
Seng Ceng hoa segera bangkit berdiri, lalu serunya sambil
tertawa tergelak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Huan kongcu datang dari Cau oh, jangan jangan ayahmu
adalah sijago berbaju hijau Huan Tay seng...”
”Betul, yang dikatakan loko adalah ayahku” sahut Huan Cu
im sambil bangkit berdiri pula.
”Haah... haah... haah... kalau begitu kita adalah orang
sendiri” seru Seng Ceng hoa sambil tertawa tergelak. ”sudah
banyak tahun ayahku tak pernah bersua dengan Huan toa
siok, dia sering kali rindu padanya, maaf kalau aku tak
sungkan sungkan menyebutmu sebagai saudara Huan,
silahkan duduk didalamsaja, ayahku sedang menemani
ciangbunjin berbicara dalam kamar baca, ayo turuti aku”
Selesai berkata dia lantas mengajak Huan Cu im menuju ke
luar.
Huan Cu im mengikuti lelaki itu menelusuri sebuah beranda
dan memasuki halaman kedua, pada sekeliling halaman
tampak aneka bunga yang berwarna warni, suasana di sini
jauh lebih rindang dan nyaman-
Seng Ceng hoa mengajak pemuda itu memasuki sebuah
pintu samping disisi kiri dan menuju ke halaman lain-
Dalam halaman tumbuh beberapa batang pohon pinang
serta beberapa kuntum bunga anggrek yang baru mekar, baru
melangkah masuk ke dalam halaman sudah terembus bau
harumnya yang semerbak.
Disebelah timur sana berjajar tiga buah ruangan, lamat
lamat terdengar ada orang sedang berbicara disana.
Seng Ceng hoa mendekati pintu ruangan itu, kemudian
katanya sambil tertawa.
”Ayah, ada tamu dari jauh yang datang menyambangi kau
orang tua”
Dari dalam ruangan segera terdengar seseorang bertanya
dengan suara yang tua.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Siapakah dia ?”
”Ananda telah mengundangnya masuk, bila ayah telah
berjumpa dengannya pasti akan terkejut bercampur gembira”
kata Seng Ceng hoa tertawa. Kemudian sambil membalikkan
badan katanya. ”Saudara Huan, silahkan masuk”
Ruangan tersebut merupakan sebuah kamar baca berikut
tempat tidur yang diatur sangat rapi dan bersih, diatas
pembaringan kayu tampak dua orang duduk disana.
Orang yang duduk disebelah kiri adalah seorang lelaki
setengah umur berjubah hijau yang berusia lima puluh
tahunan, wajahnya tampan dan jenggotnya panjang sedada.
Ia nampak keren dan berwibawa.
Sekalipun tadi Seng Ceng hoa tidak bilang ”ayah sedang
menemani ciangbunjin berbicara dalam kamar baca” pun,
dapat diketahui bahwa orang ini adalah seorang pendekar dari
kalangan lurus.
Tentu saja dia adalah ketua Hoa sanpay Siang Han hui
yang hendak dikunjungi Ban sian ceng bersaudara.
Sedang di sebelah kanan duduk seorang kakek berjubah
biru yang berperawakan tinggi besar dan berwajah merah
bercahaya kecuali rambut dan jenggotnya yang sudah
memutih, sama sekali tidak nampak ketuaan pada orang ini.
Dia tak lain adalah Seng Bian Tong, Seng loya cu dari
perusahaan Seng ki piaukiok.
Setelah masuk ke dalam ruangan, Seng Ceng hoa segera
memperkenalkan Huan cu im kepada ayahnya:
”Saudara Huan, dia adalah ayahku”
Seng Bian tong tidak kenal dengan Huan cu im buru buru
dia bangkit berdiri dari pembaringan dan bertanya agak
tertegun-”Ceng hoa, kongcu ini...” Seng Ceng hoa tersenyum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Bukankah kau orang tua seringkali membicarakan Huan
toa siok? Dia adalah Huan toa siok. Huan cu im”
Sementara itu Huan cu im telah maju selangkah ke depan
dan berseru sambil menyembah ”Aku yang muda Huan Cu im
menjumpai loya cu”
”oooh? Haaahhh... haaahhh... haaahhh...” Seng Bian tong
segera tertawa terbahak bahak. Sambil membangunkan Huan
Cu im kembali serunya:
”Keponakanku, kau tak usah banyak beradat apakah
ayahmu sudah ada kabar beritanya?”
”Belum” sahut Huan Cu im sambil bangkit berdiri, ”adapun
kedatanganku kemari adalah untuk mencari kabar berita
tentang ayah.”
”Haaahhh... haaahhh... haaahhh... sungguh tak nyana
keponakan sudah sebesar ini” kembali Seng Bian tong berkata
dengan gembira sambil mengawasi anak muda tersebut, ”mari
kukenalkan kepadamu, dia adalah Siang ciangbunjin dari Hoa
san pay, dengan ayahmu merupakan kenalan lama, kau boleh
menyebutnya sebagai Siang lopek” Huan cu im membalikkan
badan dan memberi hormat kepada siang Han hui serunya
”Boanpwee menjumpai Siang lopek”
Siang Han hui bangkit berdiri kemudian ujarnya sambil
tersenyum.
”Huan hiantit baru datang dari tempat yang jauh, silahkan
duduk sebelum berbicara”
”Huan bengte, silahkan duduk dulu” kata Seng Ceng hoa
pula, ”diluar sana aku masih ada urusan lain, maaf kalau tidak
bisa menemani lebih lama”
”oooh, silahkan seng loko berlalu”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sepeninggal Seng Ceng hoa, seorang lelaki berbaju hijau
datang menghidangkan air teh. Sambil tersenyum Siang Han
hui bertanya ”Baik baikkah ibumu ?”
”Terima kasih banyak lopek, ibu tetap sehat walafiat”
”Bagaimana dengan lokoankeh ? Apakah ia pun masih tetap
sehat walafiat?” tanya Seng Bian tong pula sambil mengelus
jenggotnya yang memutih. Paras muka Huan Cu im segera
berubah menjadi amat sedih, sahutnya, ”Lo koankeh telah
meninggal dunia.”
”Hei, kapan peristiwa ini terjadi ?” tanya Seng Bian tong
dengan wajah tertegun.
”Bulan berselang, dia menemani aku yang muda
berkunjung ke benteng keluarga Hee, di situlah dia mati
karena angin duduk”
”Jadi keponakan telah berjumpa dengan Hee pocu ?”
”Aku yang rendah datang dari benteng keluarga Hee,
datang bersamaku adalah Ban sau cengcu kakak beradik dari
bukit Hong san mereka pun datang kemari untuk
menyambangi Siang lopek”
”Mengapa mereka tidak datang bersamamu ?”
”Ban Seng cing bersaudara berdiam di rumah penginapan
Ban an dikota barat, mereka bermaksud akan datang
menyambangi Siang lopek esok paginya”
”Ban Sian cing kakak beradik telah berada di kota Kim leng,
masa mesti menginap di rumah penginapan ? Tiang keng, kau
panggil kiok cu kemari”
Seorang lelaki berbaju hijau yang berdiri didepan pintu
segera mengiakan dan mengundurkan diri dari situ.
Tak lama kemudian Seng Ceng hoa telah muncul kembali
seraya bertanya. ”Ayah, ada urusan apa kau manggil ananda
?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Ban sau cengcu Ban Seng cing kakak beradik dari keluarga
Ban mendapat perintah dari ibunya untuk menyambangi
ciangbunjin, sekarang mereka berdiam dirumah penginapan
Ban an dikota barat, cepat kau bawa kemari kakak beradik itu,
masa setelah berada di Kim leng, mereka mesti menginap
dirumah penginapan ?”
”Locianpwee, biar boanpwee pergi bersama Seng loko” kata
Huan Cu im kemudian sambil bangkit berdiri.
”Yaa, begitupun memang ada baiknya” kata Seng Ceng hoa
cepat, ”aku belum pernah berjumpa dengan Ban sau cengcu,
bila ditemani saudara Huan hal ini memang lebih baik lagi”
Seng Bian tong mengelus jenggotnya yang putih, kemudian
katanya kepada Huan Cu im
”Dulu ketika kakekmu masih hidup, dia adalah seorang
angkatan tua dalam urusan pengawalan barang, waktu itu aku
belum lama terjun ke dunia persilatan, atas kebaikan hati
kakekmu, kami pun angkat saudara, aku memanggil losiok
sedang dia menyebutku lote, sedang ayahmu, berhubung aku
saling membahasai saudara dengan kakekmu, maka dia
memanggilku toa siok”
”Padahal usiaku dengan kakekmu Cuma terpaut empat lima
belas tahunan saja, maka akupun bersikeras membahasai
saudara dengannya, kupanggil dia dengan sebutan lote, jadi
akibatnya hubunganku dengan kakek dan ayahmu pun
menjadi kacau balau tidak karuan” Kemudian setealh
tersenyum kembali dia berkata.
”Sekarang keponakan membahasai diri sebagai aku yang
muda berhubung hubunganku dengan ayah serta kakekmu,
padahal aku dengan ayahmu pun bersaudara oleh sebab itu
kurasa paling cocok apabila keponakan memanggilku sebagai
lopek saja, sedang kau menyebut diri sebagai siautit, dengan
demikian rasanya hubungan kita pun lebih akrab dan
kekeluargaan”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Padahal keadaan seperti ini banyak terjadi didalam dunia
persilatan, inilah yang disebut masing masing berhubungan
dengan masing masing, perduli amat bagaimanakan hubungan
dengan nenek moyang mereka, yang penting adalah
hubugnan yang terjalin sekarang. Apalagi akupun seorang
yang terbuka suka gampangan, jadi kuharap kau tak usah
bersikap sungkan sungkan lagi kepadaku di kemudian hari”
oleh karena Seng Bian tong bersikeras demikian, terpaksa
Huan cu im harus menuruti. ”Bila empek memang menitahkan
begitu, siautit pun akan turut perintah saja”
”Saudara Huan, mari kita berangkat” ajak Seng Ceng hoa
kemudian-
^ooodwooo^
Menjelang senja, Seng Ceng hoa dan Huan Cu im telah
menjemput Ban sian ceng bersaudara pindah ke Seng ki
piaukiok.
Menyusul kemudian di ruang tamu pun diselenggarakan
perjamuan yang meriah untuk menyambut kedatangan Ban
Sian ceng bersaudara serta Huan Cu im.
Selesai bersantap. Seng Cing hoa menemani Ban Sian ceng,
Ban Huijin dan Huan Cu im naik ke loteng, tempat itu
merupakan ruang khusus untuk tamu agung, setiap orang
mendapat satu kamar, ruangannya semua bersih dan nyaman,
dibandingkan dengan rumah penginapan tentu saja tempat
inijauh lebih nyaman-
Sepeninggal Seng Ceng hoa, ketiga orang itu pun masing
masing kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
^ooodowooo^
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Huan Cu im mengunci kamar tidurnya lalu mengeluarkan
surat yang dititipkan Ci giok kepadanya, sampul itu putih
bersih dan terbungkus rapat.
Sewaktu mengeluarkan sampul surat itu, tanpa terasa Huan
Cu im membayangkan kembali Ci giok. Untuk beberapa saat
dia sampai berdiri termangu mangu
Sampai lama kemudian ia baru merobek sampul depan,
ternyata didalamnya terdapat pula sebuah sampul surat yang
lebih kecil.
Dia tak tahu Ci giok hendak menyerahkan surat itu kepada
siapa ketika dibaca tulisan Ci giok kelihatan sangat indah,
malah setelah membaca tulisan itu dia segera tertawa geli.
Ternyata diatas sampul surat itu bertuliskan begini :
”Tolong disampaikan kepada Huan Kong cu cu im pribadi.”
Sampul itupun terbungkus sangat rapat.
”Waaah, rupanya dia menulis surat untukku” demikian
pemuda itu berpikir. Huan cu im belum pernah menerima
surat dari perempuan, apalagi surat cinta.
Tak teriukiskan rasa girang dan gembiranya saat itu, buru
buru dia merobak sampulnya dan mengeluarkan sepucuk
surat, disitu bertuliskan beberapa huruf yang berbunyi begini:
”Siang ciangbunjin dari Hoa sanpay berdiam di Seng ki
piaukiok, kemungkinan besar kau akan bertemu dengannya,
dia adalah seorang manusia dari golongan lurus, maka carilah
sebuah kesempatan untuk menceritakan semua yang kau lihat
dan kau dengar didalam benteng keluarga Hee kepadanya.
”Aku tahu, antara kau dengan Heepocu mempunyai
hubungan yang cukup akrab, Tapi masalah ini mempunyai
pengaruh yang amat besar terhadap keselamatan dunia
persilatan, boleh dibilang menyangkut mati hidup, sengsara
atau gembiranya segenap umat persilatan, karena itu kuharap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kau cukup bijaksana dalam hal ini, selesai membaca harap
surat ini dimusnahkan, maaf tidak kucantumkan nama”
Selesai membaca tulisan itu Huan cu im merasa sedikit
agak kecewa, tapi diapun merasa agak bimbang.
Kecewa karena setelah melihat surat itu ditujukan
kepadanya, dia mengira gadis itu tentu akan memberitahukan
siapa namanya dalam surat tersebut, atau mungkin dia akan
mengungkapkan perasaan cintanya kepada dia, tapi sekarang
semua yang diharapkan sama sekali tidak ditemukan-..
Yang membuatnya bingung adalah mengapa dia bersedia
menjadi seorang dayang didalam benteng keluarga Hee,
mengapa pula caranya berbicara persis seperti apa yang
diucapkan gurunya, seolah olah menganggap benteng
keluarga Hee sebagai sumber segala kejahatan-
Bahkan dia pun mengatakan bahwa mati hidup, sengsara
gembiranya dunia persilatan tergantung pada tindakanya yang
akan diambil, mungkinkah persoalan tersebut telah
berkembang menjadi demikian gawatnya ? Berpikir demikian
dia pun membakar surat itu diatas lilin- Pada saat itulah, tiba
tiba pintu kamarnya diketuk orang cepat cepat dia menuju ke
pintu dan membukanya.
Ternyata orang yang mengetuk pintu adalah Seng Ceng
hoa maka buru buru dia menyapa:
”seng loko, silahkan masuk”
seng Ceng hoa tersenyum.
”Rupanya saudara Huan belum tidur ?”
”Belum, apakah Seng loko mempunyai suatu petunjuk.”
”oooh, ayah yang menyuruh aku datang menengokmu,
apabila saudara Huan belum tidur, silahkan kau turut aku
kebawah”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Bila lopek mengundangku, sudah pasti beliau ada urusan
penting saudara Seng, ayo kita berangkat”
Kedua orang itu bersama sama turun loteng, kemudian
atas petunjuk Seng Ceng hoa mereka menuju kesebuah kamar
disebelah timur dan membuka pintunya. ”Kamar ini
merupakan kamar ayahku, silahkan saudara Huan masuk
kedalam” ia berkata.
Huan Cu im melangkah masuk kedalam ruangan tapi Seng
Ceng hoa tidak. Malah dia segera merapatkan pintu kamar.
Ruangan tersebut tidak terlalu besar, selain sebuah
pembaringan kayu, disana hanya terdapat sebuah meja kecil
yang dikelilingi empat buah kursi kayu. Seng Bian tong duduk
disitu sambil mempermainkan kedua biji peluru besinya.
Ketika melihat munculnya pemuda itu, sambil tertawa ia
berkata: ”Lo tit, silahkan duduk”
Huan Cu im maju beberapa langkah dan berhenti
dihadapannya, kemudian sambil memberi hotmat ujarnya:
”Entah ada urusan apa lopek mengundang kedatanganku?”
Seng Bian tong mengambil sebuah cawan dan diisi dengan
air teh, kemudian ia baru berkata:
”Keponakanku duduklah dulu tempat ini adalah kamar
pribadiku, tanpa perintahku tak seorangpun yang berani
masuk. Sengaja kuundang kedatanganmu dalam suasana
begini karena aku ingin menanyakan suatu masalah
kepadamu.”
Teringat akanpesan gurunya sebelum berpisah, cepat cepat
Huan Cu im berseru:
”Sekalipun lopek tidak mengundangku kemari, siautit juga
akan mencari kesempatan untuk berbicara empat mata
dengan lopek.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”oya...?” seru Seng Bian tong keheranan, ditatapnya
pemuda itu lekat lekat, kemudian baru bertanya,
”keponakanku kau ada urusan apa ?”
”Sebelum berangkat menuju ke sini, suhu telah berpesan
kepada siautit agar setelah bertemu dengan lopek maka
semua peristiwa yang kulihat dan kudengar didalam benteng
keluarga Hee harus dilaporkan kepada lopek.”
”oooyaaa...” Seng Bian tong segera memberikan perhatian
khusus, ”siapakah gurumu?”
”Suhu she Ju bernama It koay, dia orang tua cacad kaki
kanannya dan selalu berjalan dengan menggunakan sebuah
tongkat besi sebagai penyangganya, suhu bilang berhubung
orang persilatan mengatakan watak suhu amat kukoay, karena
itulah semuanya memanggil Ju It koay kepadanya...”
Seng Bian tong menaruh perhatian semakin serius, serunya
agak tercengang:
”Heran kenapa aku tak pernah mendengar nama ini? Oya,
aku baru datang dari benteng keluarga Hee, kapan bertemu
dengan gurumu itu...?”
”Saat ini suhu menjabat sebagai ketua pelatih didalam
benteng keluarga Hee”
Berkilat sinar tajam dari balik mata Seng Bian tong sesudah
mendengar ucapan itu kembali ia bertanya: ”Sejak kapan kau
belajar silat darinya ?”
”Peristiwa ini terjadi tiga tahun berselang semua
kepandaian silat yang siautit miliki berasal dari suhu”
Secara ringkas dia lantas menceritakan pengalamannya
ketika mengangkat guru dan belajar silat.
Selesai mendengar kisah itu kembali Seng Bian tong
bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Waktu itu, apakah gurumu sudah menjabat ketua pelatih
didalam benteng keluarga Hee?”
”Belum, suhu baru menjadi ketua pelatih didalam benteng
keluarga Hee belum lama berselang”
Secara ringkas Huan Cu im menceritakan kembali kisah
gurunya ketika memasuki benteng keluarga Hee belum lama
berselang.
Seperti kebiasaan semula, Seng Bian tong mengelus
jenggotnya yang putih sambil manggut manggut berulang kali,
agaknya ia seperti sudah mengetahui akan sesuatu. Setelah
termenung beberapa saat, diapun bergumam^
”Aneh, menurut apa yang kuketahui, agaknya didalam
dunia persilatan belum pernah terdapat seorang manusia
seperti ini...”
Dia segera mendongakkan kepalanya menengok wajah
Huan Cu im, kemudian baru katanya:
”Malam ini secara khusus kuundang kau kemari, tak lain
karena aku ingin mengetahui lebih jelas keadaan dalam
benteng keluarga Hee, sebelum berpisah dengan keponakan
suhumu berpesan pula agar kau menyampaikan apa yang
terlihat dalam benteng keluarga Hee kepadaku, hal ini
menunjukkan kalau gurumu ada maksud tertentu” Didalam
Huan Cu im berpikir:
”Ditengah malam begini Seng lopek mengundangku
menghadap. Ternyata yang ingin dia tanyakanpun keadaan
didalam benteng keluarga Hee, tampaknya semua orang
sudah mulai menaruh perhatian terhadap gerak gerik dalam
benteng tersebut, mungkinkah di dalam benteng keluarga Hee
benar benar sudah terkandung suatu peristiwa besar?”
Ia tidak cukup berpengalaman, sudah barang tentu tidak
dapat merasakan pula masalah besar apakah yang sedang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berlangsung dalam benteng keluarga Hee sambil mengangkat
kepalanya dia lantas bertanya:
”Entah ada persoalan apa saja yang ingin lopek tanyakan
kepadaku?”
seng Bian tong tersenyum
”Kalau toh suhumu telah berpesan kepadamu, agar
menceritakan semua yang kau lihat dan semua yang kau
dengar didalam benteng keluarga Hee kepadaku, harap kau
utarakan saja kesemuanya itu, aku rasa itupun sudah cukup
bagiku.”
Sesungguhnya Huan Cu im telah menjumpai banyak
peristiwa yang aneh selama berada didalam benteng keluarga
Hee Cuma sayang dia belum berpengalaman sama sekali,
sehingga tidak dirasakan olehnya bahwa peristiwa peristiwa
tersebut patut dicurigakan-
Setelah ditanya oleh Siang Bian tong sekarang, untuk
sesaat dia jadi kebingunan sendiri, sebab persoalan yang
dijumpai terlalu banyak keadaannya pun semrawut tak
karuan, sehingga dia menjadi bingung sendiri persoalan
manakah yang harus diceritakan dulu.
Dalam bingungnya dengan wajah memerah karena jengah
ia lantas berkata:
”Siautit juga tidak tahu persoalan yang manakah yang
termasuk penting, lebih baik siautit ceritakan saja
pengalamanku sejak masuk ke benteng keluarga Hee hingga
sekarang Cuma sudah barang tentu akan disertakan pula
kejadian kejadian yang tetek bengek.”
Seng Bian tong tahu kalau Huan Cu im masih muda dan
belum berpengalaman, sambil tersenyum ia mengangguk:
”Tidak jadi soal, pertemuan puncak dibukit Hong san sudah
berada didepan mata kali ini semua perguruan besar hendak
memilih seorang Bu lim bengcu untuk angkatan kesembilan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam pemilihan ini tampaknya posisi Hee pocu paling kuat,
karena itu semua orang berharap bisa mendapat keterangan
lebih banyak tentang dirinya, Lotit sudah cukup lama berdiam
dalam benteng keluarga Hee tentunya semakin teliti ceritamu
semakin baik untuk kami semua”
Sekarang Huan Cu im baru mengetahui persoalannya
dengan lebih jelas, ternyata didalam pertemuan puncak
dibukit Hong san hariPeh cun nanti, umat persilatan hendak
memilih Bu lim Bengcu angkatan kesembilan
Rupanya posisi empek Hee nya paling kuat diantara sekian
jago persilatan tak heran kalau dalam suratnya Ci giok menulis
bahwa persoalan ini mempunyai sangkut paut yang besar
dengan keadaan dunia persilatan, bahkan dikatakan pula kunci
dari semua persoalan ini terletak diatas pundaknya.
Itu berarti dapat tidaknya Hee im hong terpilih sebagai Bu
lim bengcu, Siang lopek dari Hoa sanpay tentu mempunyai
daya pengaruh yang amat besar.
Jika dipikirkan kembali, agaknya tindakan Ci giok menjadi
dayang dalam benteng keluarga Hee tindakan gurunya
menjadi ketua pelatih dalam benteng keluarga Hee bahkan
munculnya dua orang Tong sau ceng cu di kamar baca empek
Hee nya, serta usaha siburung kepala sembilan Soh Ihansim
meracuni arak yang diminumnya, serta pemberian pil penawar
racun dari gurunya untuk membebaskan Ban Sian ceng dari
pengaruh racun jahat mempunyai hubungan yang erat dengan
pertemuan puncak dibukit Hong san itu.
Berpikir sampai disini, Huan Cu im segera merasa bahwa
semua teka teki yang selama ini mencekam perasaannya
selama berada dalam benteng keluarga Hee, kini sudah dapat
dipecahkan seluruhnya.
Tapi, biarpun semua teka teki itu berhasil dipecahkan
olehnya, muncul kembali sebuah persoalan lain yang
membuatnya semakin sedih dan bingung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Empek Hee dan ayahnya mempunyai hubungan
persaudaraan sejak ia tiba di benteng keluarga Hee, iapun
selalu menganggap dirinya sebagai putra sendiri, malah telah
diumumkan bahwa enci Giok yang dijodohkan kepadanya.
Ia bersikap begitu baik kepaanya, dan sekarang dia hampir
sudah berhasil meraih kedudukan sebagai Bu lim Bengcu,
sepantasnya ia membantu usaha tersebut sekuat tenaga, atau
paling tidak jangan merusak rencana baiknya.
Kini, ia sudah tahu kalau Siang lopek dari Hoa sanpay
mempunyai pengaruh yang sangat besar didalam pertemuan
puncak ini, haruskah dia menceritakan semua persoalan ini
kepada mereka?
Menurut penilaian sendiri, andaikata semua persoalan
tersebut diutarakan secara blak blakan maka hal ini akan
memberikan pengaruh yang tidak menuntungkan bagi usaha
empek Hee untuk meraih jabatan Bu lim Bengcu.
Sementara itu, ketika Seng Bian tong melihat pemuda itu
Cuma termenung belaka, tanpa terasa iapun menegur.
”Keponakanku, apa yang sedang kau pikirkan?”
Merah jengah selembar wajah Huan Cu im buru buru
sahutnya agak tergagap
”Berhubung selama beberapa hari ini banyak sekali
persoalan yang kujumpai, untuk sesaat siautit menjadi
kebingungan setengah mati, ingin kuringkas ceritanya agar
yang tidak penting tak usah diceritakan-..” seng Bian tong
segera tersenyum
”Keponakanku” katanya, ”kau cukup bercerita atas
pengalamanmu sendiri secara garis besarpun boleh juga”
Sementara itu Huan cu im telah mengambil sebuah
keputusan yang amat besar dalam detik itu, ia merasa
walaupun Hee Im hong bersikap baik kepadanya, tapi
berdasarkan pengamatannya selama beberapa waktu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
benteng keluarga Hee memang agak misterius, seakan akan
dibaliknya terkandung suatu rahasia besr yang tak boleh
diketahui orang luar...
Seperti misalnya perbuatan mereka mencampurkan bubuk
pembingung pikiran ke dalam minuman guru dan dirinya
kemudian perbuatan mereka memalsukan Tong sau cengcu,
kesemuanya itu sudah jelas bukan perbuatan dari seorang
lelaki dari golongan lurus. Sebelum menjadi seorang Bu lim
bengcu saja mereka sudah banyak melakukan perbuatan yang
mencelakakan orang, andaikata sudah menjadi seorang Bu lim
Bengcu, bukankah akan lebih banyak manusia yang menjadi
korban.
Suhu adalah gurunya yang paling berjasa dan berbudi
baginya, Ci giok pun mempunyai hubungan cinta dengan
dirinya, tak mungkin mereka berdua akan menjerumuskan
dirinya ke dalam perbuatan yang tak senonoh, kenyataannya
kedua orang yang dikasihi itu minta kepadanya agar memberi
tahukan apa yang dilihat dan didengar dalam benteng
keluarga Hee kepada Seng lopek serta siang ciangbunjin,
sudah pasti anjuran mereka ini tidak bakal salah lagi.
Ditambah pula Seng lopek mempunyai hubungan tiga
keturunan dengan keluarganya, Siang ciangbunjin juga
merupakan kenalan lama ayahnya, ia wajib untuk
memberitahukan kesemuanya itu kepada mereka.
Berpikir sampai disini, pikiran Huan Cu im yang semula
cupat kini terbuka sama sekali, diambilnya cawan dan
meneguk setegukan teh, kemudian ia baru bercerita
bagaimana dia bersama Lo koan keh pergi ke benteng
keluarga Hee.
Kemudian bagaimana Lo koan keh meninggal akibat
terkena angin duduk, bagaimana menjelang ajalnya
menitipkan pesan kepada Ji giok yang meminta kepadanya
agar segera meninggalkan benteng keluarga hee untuk
menjumpai empek Seng...
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
-oo0dw0oo-
Jilid: 14
”Tunggu sebentar ” tiba tiba Seng Bian tong mengulapkan
tangannya sambil menukas, ”kau bilang Lo koan keh mati
karena terserang angin duduk...? Setelah minum arak apakah
dia muntah muntah hebat? Bahkan menjelang ajalnya sekujur
badan gemetar keras, sepasang tangannya seperti hendak
menggenggam sesuatu, setelah mati matanya melotot dan
mengucurkan darah dari ujung bibirnya ?”
”Perkataan lopek tepat sekali, keadaan Lo koan keh
sewaktu mati memang dalam keadaan begitu”
Seng Bian tong segera manggut manggut kemudian sambil
mengangkat kepala katanya lagi dengan suara dalam:
”Kalau ditinjau dari keteranganmu tadi, besar kemungkinan
Lo koan keh meninggal karena keracunan”
”Keracunan?”
Huan cu im merasa kepalanya seperti disambar geledek
ditengah hari bolong, ia terbelalak lebar lebar dengan mulut
melongo.
”Atas dasar apa kau mengatakan Lo koan keh mati akibat
keracunan...” tanyanya kemudian
”Aaai... inilah akibat dari pengalamanmu yang kurang
cukup, keadaan lo koan keh sewaktu tewas sudah jelas
merupakan gejala keracunan hebat, sudah pasti ada orang
telha mencampurkan racun penembus usus didalam araknya,
aai... menurut pendapatku...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Apaka lopek berhasil menemukan suatu jejak?” buru buru
Huan cu im bertanya. Seng Bian tong menggeleng, selang
berapa saat kemudian ia baru berkata:
”Walaupun aku tidak mengetahui apa tujuan mereka
membunuh lo koan keh, tapi bisa jadi lo koan keh mempunyai
banyak sebab yang mengharuskan dia disingkirkan-”
Dari ucapan itu, bisa diartikan bahwa Lo koan keh
menjelang ajalnya mungkin telah mengetahui suatu rahasia
dalam benteng keluarga Hee, atau mendengar, atau melihat
sesuatu di tempat tersebut.
Tentu saja Huan cu im dapat memahami maksud dari
perkataan ini... Tiba tiba Huan cu im berteriak keras
”Kalau begitu pasti perbuatan dari ciu congkoan, malam itu
ciu Kay seng yang menemani Lo koan keh minum arak. Ciu
Kay seng manusia biadab, mengapa dia harus membunuh Lo
koan keh?”
Perkataan tersebut diutarakan dengan penuh emosi,
bahkan tak bisa dibendung lagi air matanya jatuh bercucuran.
Memandang si anak muda tersebut pelan pelan Seng Bian
tong menghembuskan napas panjang, hiburnya kemudian-
”Keponakan, orang yang sudah mati tak mungkin bisa
hidup kembali, kau tak usah terlalu emosi lebih baik ceritakan
dulu keadaan yang kau alami didalam benteng keluarga Hee,
siapa tahu aku dapat menarik sedikit kesimpulan dari ceritamu
itu”
Huan cu im mengatakan, kemudian diapun bercerita bagian
Ji giok diseret pergi karena menutupi pesan terakhir Lo koan
keh dan bagaimana sebagai gantinya dia di layani oleh ci giok.
Malam itu ketika ia pulang dari kamar baca empek Hee,
didengarnya ci giok sedang berbicara dengan seseorang yang
berjanji akan bekerja pada kentongan kedua iapun curiga
mereka hendak melakukan suatu perbuatan yang tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menguntungkan benteng keluarga Hee.
Ketika malam tiba iapun menguntil dibelakang ci giok
sampai dikebun belakang dimana dilihatnya sidewa bermuka
merah Siu tong sedang bertarung melawan burung berkepala
sembilan Soh Han sim, dari pembicaraan mereka agaknya ci
im totiang dari Go bi pay sudah terjatuh ketangan pihak
benteng keluarga Hee.
Kemudian bagaimana ci giok melepaskan segenggam jarum
bwee hoa ciam yang dipentaikan oleh Soh Han sim, kemudian
dia melarikan gadis yang terluka dan bagaimana dia memukul
mundur Soh Han sim.
Cuma soal bagaimana dia menyelamatkan ci giok dari
jarum jarum bwee hoa ciam saja yang tidak dikemukakan.
Seng Bian tong yang mendengar sampai disitu segera
mengangguk berulang kali.
Ternyata siburung berkepala sembilan soh Han sim benar
benar berada didalam benteng keluarga Hee dulu orang itu
pernah menjadi pelindung hukum dari perkumpulan teratai
putih dan merupakan buronan kerajaan, sudah banyak tahun
ia tak pernah muncul didalam dunia persilatan-
”Dewa bermuka merah loko juga berapa hari berselang
baru kembali ke Kim leng, sewaktu bertemu denganku,
kenapa tidak ia ungkapkan peristiwa ini? Baik sekarang coba
kau lanjutkan ceritamu?”
Menyusul kemudian Huan cu im bercerita bagaimana
malam itu ci giok mengajaknya menolong Ji giok dan
menghantarnya ke kuil cu im an, sewaktu meninggaikan kuil
itu bagaimana dia dihadang Soh Han sim, untuk muncul
seorang perempuan berkerudung yang menyelamatkan
dirinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Tahukah kau siapakah perempuan berkerudung itu?”
tanya Seng Bian tong kemudian sambil tertawa.
Huan cu im tertegun.
”Hingga sekarang keponakan masih belum tahu siapakah
dia” sahutnya cepat. Seng Bian tong segera tersenyum.
”Kepandaian silat yang digunakan adalah cian hoa ci,
padahal kepandaian tersebut merupakan ilmu andalan Kiu hoa
sinni, putri Hee im hong tidak lain adalah muri Kiu hoa sinni”
”Aaah, jadi dia adalah enci Giok yong” seru Huan cu im
sedikit diluar dugaan-
Menyusul kemudian ia pun bercerita bagaimana dia kembali
ke kamarnya dan sewaktu berbicara dengan gurunya
ketahuan Hee Im hong kemudian bagaimana Hee Im hong
mengundang gurunya menjadi ketua pelatih benteng mereka.
Kemudian bagaimana pula keesokan harinya gurunya
datang menepati janji bagaimana melihat empek Hee dan Soh
Han im menghantar cing im totiang dan Dewa bermuka merah
Lou siu tong meninggaikan benteng, lalu bagaimana tengah
hari itu Soh Han sim mencampurkan bubuk pembingung
pikiran ke dalam arak gurunya...
Mendengar sampai disitu paras muka Seng Bian tong
berubah hebat, ia segera bertanya: ”Kau mendengar cerita ini
dari mana ?”
Huan cu im segera bercerita bagaimana Siang Siau un
memancingnya keluar dari benteng dan memberitahukan
kepadanya kalau gurunya keracunan dan minta dia kabur
secepatnya, lalu bagaimana ia bertemu dengan gurunya yang
ternyata sudah menelan pil penawar racun sebelum sempat
dikerjai orang.
Kemudian dia pun bercerita bagaimana Tong sau cengcu
suami istri dari Szuchuan dan BansaU cengcu kakak beradik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari Hong san datang berkunjung, bagaimana malam itu
diselenggarakan perjamuan untuk mereka.
Ketika perjamuan selesai, Hee Im hong menahan Tong
danBan sau cengcu dalam kamar bacanya, bagaimana ia
curiga mendengar orang berbisik bisik dan menemukan dalam
kamar duduk Tong Bun huan yang lain-
Ketika mendengar sampai disini, tak tahan lagi Seng Bian
tong menukas
”Keponakanku, bukankah kau berkata Tong Bun huan dan
Ban Sian ceng diundang Hee pocu menuju kamar bacanya ?”
”Benar ”
Maka Huan cu impun bercerita bagaimana ciu Kay seng
mengajak Tong Bun huan menuju ke kamar baca, bagaimana
ia menguntit secara diam diam dan menemukan Tong Bun
huan yang lain tertidur diatas meja.
Sewaktu mendengar sampai disini, Seng Bian tong
menghentikan permainan peluru besinya secara tiba tiba,
ditatapnya Huan cu im lekat lekat kemudian bertanya : ”Jadi
terdapat dua Tong Bun huan? Apakah keponakan tidak salah
melihat?” Dengan wajah serius Huan cu im menjawab:
”Siautit makan dan berbicara semeja dengan Tong sau
cengcu, bahkan kami sempat berbicara banyak. Tak mungkin
aku salah melihat”
”Ehmm...” Seng Bian tong segera manggut manggut, ”coba
kau lanjutkan ceritamu, bagaimana kemudian ?”
Jelas dia sudah menaruh perhatian khusus atas munculnya
dua orang Tong Bun huan dikamar baca Hee Im hong
tersebut.
Maka Huan cu impun bercerita bagaimana jejaknya
ketahuan Hee Im hong, bagaimana dia dipanggil masuk ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kamar baca dan waktu itu Tong Bun huan yang tertidur dimeja
sudah lenyap.
Sekali lagi Seng Bian tong mendengus ”Hee Im hong
memang benar benar hebat tak disangka ia bisa
menggunakan siasat selicik ini Hmm, apakah dia tidak
menaruh curiga padamu?”
”Untung sekali apa yang siautit ucapkan sejujurnya
dipercaya oleh empek Hee.”
Selanjutnya Huan cu impun bercerita bagaimana
sekembalinya kedalam kamar gurunya telah menyerahkan
sebutir pil penawar racun kepadanya.
Keesokan harinya, Hee Im hong pun mengundangnya
kekamar baca, disitu ia mendengar Tong Bun huan suami istri
cekcok semalam, dalam marahnya Tong sau hujin telah pergi
tanpa pamit sedang Tong Bun huan telah pergi mengejar
istrinya.
Saat itu didalam kamar baca tinggal Ban Sian ceng dan Soh
Han sim, dalam perjamuan mana Hee Im hong menyinggung
soal perkawinan, menggunakan kesempatan tersebut Soh Han
sim memberi selamat kepadanya, ternyata arak itu sudah
dicampuri bubuk pembingung pikiran maka ketika perjamuan
itu selesai, dia beralasan kepala pusing buru buru
meninggalkan tempat tersebut.
Seng Bian tong kembali manggut manggut, katanya
kemudian Soh Han sim mencampurkan racun ke dalam arak
ini berarti atas persetujuan Hee Im hong kalau begitu soal
perkawinan hanya alasan saja agar Soh Han sim punya
kesempatan untuk meracunimu. Untung suheng liehay
sehingga musibah ini bisa dilewatkan dengan begitu saja”
Setelah berhenti sejenak kembali dia berkata :
”Aaah benar, kenapa dia rela melepaskan kau datang ke
Kim leng ? Apakah hal ini disebabkan kau sudah dicekoki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bubuk pembingung pikiran sehingga mereka tidak kuatir kau
berpikiran cabang ?”
”Benar, suhupun berkata demikian, semalam sebelum
keberangkatanku, suhu telah berpesan kepadaku agar
menceritakan semua peristiwa yang dijumpai dalam benteng
keluarga Hee kepada lopek.”
”Bahkan suhu bilang, setelah siautit tiba di sini,
kemungkinan besar empek Hee akan memberi tugas kepadaku
dan memerintahkan siautit untuk melakukan suatu tugas,
dalam menghadapi persoalan apa pun siautit dianjurkan untuk
berunding dulu dengan lopek kemudian baru
melaksanakannya.”
”Akan menyusul perintah ?” mendadak Seng Bian tong
seperti memahami akan suatu, dia segera mengangguk, ”yaa
gurumu memang berotak tajam dan pintar sekali, andaikata
suhumu tidak menyinggung masalah ini, aku benar benar tak
akan menduga sampai kesitu”
Huan cu im belum cukup pengalaman oleh sebab itu dia
tidak memahami maksud ucapan dari Seng Bian tong tersebut,
karenanya dia hanya mengiakan berulang kali. Menyusul
kemudian Seng Bian tong bertanya lagi : ”Suhumu masih
berpesan apa lagi kepadamu ?” Huan cu im berpikir sebentar,
kemudian baru menjawab : ”sudah tidak ada lagi...”
Tapi secara tiba tiba ia seperti teringat akan sesuatu segera
ujarnya kembali :
”Menurut suhu, bisa jadi Ban sau ceng juga telah dicekoki
obat pembingung pikiran oleh Soh Han sim, dia orang tua
telah menyerahkan sebutir pil penawar racun kepadaku, dan
menyuruh siautit mencari kesempatan untuk mencekokkan pil
itu kemulutnya.” Seng Bian tong kembali mengelus jenggotnya
sambil mengangguk berulang kali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Kemungkinan tersebut memang ada, Cuma untuk
sementara waktu kau jangan berikan dulu obat tersebut pada
Ban sau cengcu, coba kita tunggu beberapa hari lagi.”
”Selain itu...” tiba tiba Huan cu im teringat dengan surat
yang dititipkan ”ci giok kepadanya telah menitipkan sepucuk
surat agar kubawa.”
”Dia menitipkan surat itu untuk siapa?” tanya Seng Bian
tong sambil tersenyum.
”Semula dia tidak bilang, katanya sampai itu baru boleh
diperiksa setelah tiba disini barusan siautit telah
memeriksanya, ternyata surat itu untuk siautit dan menyuruh
aku laporkan semua yang kulihat dan kudengar dalam
benteng keluarga Hee kepada lopek, sebab masalah ini
mempengaruhi keadaan dunia persilatan-”
”Mana suratnya sekarang?”
Merah padam selembar wajah Huan cu im
”Dia berpesan agar surat itu dimusnahkan setelah dibaca,
maka siautit pun telah membakarnya ”
”Bagus sekali” seng Bian tong tersenyum, ”biar kubicarakan
persoalan ini kepada ciangbunjin”
Kemudian setelah mempermainkan peluru besinya, sambil
tersenyum ia berkata lagi
”Kedatanganmu kali ini benar benar telah membawa berita
yang amat penting, bahkan amat mempengaruhi keadaan
dunia persilatan dimasa mendatang aku sama sekali tidak
menyangka kalau Hee Im hong memiliki nama baik diluar
ternyata mempunyai rencana busuk didalam kejadian tersebut
benar benar membuat orang tidak mau percaya saja”
”Sebenarnya apa sih maksud tujuan empek Hee dengan
perbuatannya itu...” tak tahan Huan cu im bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Apa lagi? Tentu saja dia sedang mengincar kedudukan Bu
lim Bengcu angkatan keempat tersebut” Seng Bian tong
menghela napas panjang, ”padahal seorang Bu lim Bengcu
adalah seorang pemimpin dunia persilatan yang bertujuan
untuk menegakkan keadilan dan kebenaran dalam dunia
persilatan, membereskan pertikaian antara partai dengan
partai, perguruan dengan perguruan, jadi sifatnya merupakan
kerja sosial tanpa memperoleh imbalan belaka, biarpun
demikian, jika kedudukan ini sampai terjatuh ke tangan
seorang manusia yang bertujuan jahat, bisa jadi kejadian
tersebut akan memancing datangnya bencana besar bagi
seluruh dunia persilatan-.”
Kemudian setelah mengangkat kepalanya memandang
sekejap wajah pemuda itu, katanya sambil tertawa :
”Sekarang waktu sudah larut malam, kau harus pergi untuk
beristirahat”
Huan cu impun segera berpamitan dan kembali keatas
loteng, ketika membuka pintu, mendadak ia seperti merasa
pintu tersebut pernah dibuka orang sebelum kedatangannya.
Sebetulnya hal itu Cuma siasat saja, jadi bukan suatu yang
pasti, maka setelah berada didalam kamar, serta merta
diperiksanya seluruh ruangan tersebut dengan seksama,
alhasil tidak dijumpai suatu apapun-
Maka dia menutup pintu dan siap membaringkan diri diatas
pembaringan-
Tapi pada saat itulah mendadak ia menemukan secarik
kertas diletakkan disamping bantalnya ketika diambil kertas itu
penuh tulisan, Cuma sayang tenaga dalamnya belum
mencapai tingkat kesepuluh sehingga meski dapat melihat
dalam kegelapan namun tak jelas membaca tulisan yang kecil
itu.
Tapi ia tahu surat tersebut tentu ditulis oleh orang yang
telah memasuki kamarnya itu lantas siapakah dia ? Apa pula
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang tercantum didalam surat tersebut ? Manusia memang tak
akan lepas dari rasa ingin tahu.
Terdorong untuk mengetahui siapa yang telah memasuki
kamarnya dan apa yang ditulis dalam kertas tadi Huan cu im
kembali memasang lentera kemudian membaca isi surat
tersebut.
”Besok pagi tunggu ditepi jembatan Bun tek kiau, bila
menjumpai seorang yang memakai topi pet bulu mengenakan
jubah panjang dan mengempit payung, ikutilah di
belakangnya, tiba ditujuan sebelum masing masing berbicara,
kau harus membunuh orang tadi”
Tulisan ini sangat aneh, dibawah tidak dicantumkan tanda
tangan seseorang, Tanpa terasa pemuda itu mulai berpikir:
”Surat ini diletakkan disisi bantalku, sudah pasti surat
tersebut untukku, tapi siapakah dia ?”
”oaaah... bukankah suhu bilang setelah Soh Han sim
meracuni seseorang dengan bubuk pembingung pikiran,
kemungkinan besar empek Hee akan menyusulkan
perintahnya, jangan jangan surat ini adalah perintah empek
Hee yang disampaikan suruhannya ?”
”Lantas mengapa dia bisa tahu kalau besok pagi bakal ada
orang semacam itu bakal lewat di jembatan Bun tek kiau ?”
Dia melipat surat itu dan dimasukkan kesaku kemudian
pergi tidur...
Keesokan harinya baru saja Huan cu im selesai
membersihkan badan, tampak si burung hong hijau Ban hui jin
telah muncul di situ dengan kecepatan bagaikan hembusan
angin.
Hari ini ia mengenakan baju biru dengan gaun ungu,
rambutnya yang panjang diikat dengan tali biru pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan senyuman dikulum dia berdiri dihadapannya
dengan gagah dan lincah. Berklat sepasang mata Huan cu im
menjumpai nona itu, buru buru serunya ”Selamat pagi nona
Ban”
Ban Hui jin mengerdipkan matanya kemudian tertawa.
”Huan siangkong” ia berkata, ”kakakku bilang hari ini dia
hendak berpesiar ke Ya hua tay, disitu dapat dipungut batuan
kecil panca warna indah sekali, kita bisa mengambilnya untuk
dipakai sebagai senjata senjata rahasia, kau kan tidak ada
urusan? Selesai bersarapan nanti bagaimana kalau kita kesana
bersama sama?”
”Tidak bisa, hari ini aku masih ada urusan” tolak Huan cu
im cepat.
Senyum riang yang semula menghiasi wajah Ban Huijin
seketika berubah menjadi dingin membeku, serunya cepat
cepat :
”Apakah urusanmu tak bisa ditundak sehari saja? Kemarin
malam aku sudah bilang dengan kakakku, akupun sudah
kegirangan semalam tapi kau... hmm, kau justru
menghilangkan kegembiraanku. ” Buru buru Huan cu im
tertawa.
”Hari ini aku benar benar ada urusan, biariah lain waktu
saja kutemani lagi nona dan kakakmu”
”Tidak. Aku tak mau pergi, kemana pun aku tak mau” seru
Ban Huijin mengambek.
Tidak menunggu Huan cu im menjawab ia sudah
membalikkan badan dan beranjak keluar dari kamar.
Menyaksikan gerak tubuhnya yang begitu lincah, tanpa
terasa Huan cu im memuji hati
”Dia memang benar benar bagaikan seekor burung hong ”
Blaaammm...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Rupanya ketika keluar dari kamar, Ban Ihujijintelah
mengutup pintu kamar tersebut keras keras.
Ini menandakan kalau gadis tersebut benar benar sudah
marah
Ketika Huan cu im melangkah keluar dari kamarnya
kebetulan Ban Sian Ceng juga sedang keluar dari kamarnya,
sambil menggelengkan kepalanya berulang kali katanya :
”Aaai... nona besarku itu endah mengambek kepada siapa
lagi ?”
”Agaknya ia sedang marah kepada siaute” jawab Huan cu
im dengan wajah merah, ”tadi nona Ban bilang telah berjanji
dengan saudara Ban untuk berpesiar ke Yu hoa tay dia
mengajak siaute turut serta sayang sekali siaute masih ada
urusan hari ini.”
”Kalau toh saudara Huan memang ada urusan lebih baik
kita pergi lain waktu saja toh kita mesti pergi ke Yu hoa tay
hari ini, mengapa sih dia mesti marah ?”
”Lebih baik saudara Ban yang membujuknya, besok pagi
siaute tentu akan menemaninya.”
”Sudahlah, kau tak usah menggubrisnya lagi,” Ban Sian
Ceng tertawa ramah. ”Dia memang masih berwatak kekanak
kanakan semakin dibujuk semakin menjadi kalau tak
diperdulikan, sebentarpun dia akan baik dengan sendirinya.”
Mereka berdua turun ke bawah bersama sama, disebuah
meja telah tersedia berapa macam hidangan dengan
setumpuk bakpao untuk sarapan-
Seorang nenek yang melayani sarapan datang menyambut
kedatangan mereka, katanya kemudian dengan ramah :
”Kongcu berdua, silahkan sarapan.”
”Saudara Huan, silahkan duduk,” kata Ban Sian cing sambil
mengangkat tangannya. Huan cu im memandang sekejap ka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
atas loteng, lalu tanyanya : ”Perlukah kita mengundang
adikmu ?”
”Tadikan sudah kubilang, tak usah menggubris dia lagi,”
kata Ban sian Ceng sambil tertawa, ”dalam keadaan demikian,
sekalipun kau pergi mengundangnya pun dia tak akan
menggubris, lebih baik kita bersarapan lebih dahulu.”
Ban sian ching bersama Huan cu im mengambil tempat
duduk untuk bersarapan, setelah itu baru pergi ke kamar
bacanya Seng Bian tong.
Waktu itu Seng Bian tong sedang berdiri ditengah halaman
sambil menghisap huncwee. Melihat kedatangan kedua orang
itu segera sapanya ramah : ”Apakah hiantit berdua dapat tidur
dengan nyenyak semalam ?” Ban Sian ceng segera
membungkukkan badannya memberi hormat, sahutnya
”Pelayan yang diberikan perusahaan anda benar benar
amat sempurnya dan menyenangkan, boanpwee memang
ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga
buat locianpwee.”
”Mari kita duduk berbincang didalam kamar baca.” Undang
seng Bian tong kemudian sambil mengangkat tangannya.
”Lapor lopek, siautit masih ada sedikit persoalan yang harus
diselesaikan dulu, maaf kami tak bisa menemani kau orang
tua,” kata Huan cu im cepat.
”ooooh... keponakan hendak kemana ? Kau baru sampai di
Kim leng daerah sekitar sinipun tidak hapal, bagaimana kalau
kuutus seorang pegawai perusahaan untuk menemanimu?”
Diam diam Huan cu im memberi kerdipan mata rahasia
kepadanya, sesudah itu baru sahutnya:
”oooh, tidak usah biar siautit pergi mencari sendiri.”
Selesai berkata diapun berpamitan dengan Seng Bian tong
kemudian bersama Ban sian ceng berdua menuju ke luar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Didepan pintu gerbang secara kebetulan berjumpa dengan
Seng ceng hoa, terdengar orang itu menyapa sambil
tersenyum.
”Saudara Huan, apakah kau datang kemari hendak
mencariku?”
”Saudara Seng siaute berniat untuk berjalan jalan sebentar,
aku hanya ingin mohon petunjuk dari saudara Seng, kalau
ingin menuju kejembatan Buntek kiau, kita harus melalui jalan
yang mana?”
”oooh, saudara Huan hendak pergi ke jembatan Bun tek
kiau? Biar aku utus seseorang untuk menemanimu”
”Tidak usah, lebih baik siaute pergi sendirian saja, cukup
saudara yang jelaskan kepada kujalan yang manakah yang
harus kulewati...”
Sebelum Seng ceng hoa menjawab, Huan cu im sudah
Celingukan sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu sambil
merendahkan suaranya dia berbisik
”Siaute hanya akan pergi sebentar saja, sekembalinya nanti
baru akan memberi laporan yang selengkapnya kepada Seng
lopek. Harap saudara Seng jangan mengungkapkan persoalan
ini kepada siapapun.”
Karena mendengar perkataan terse but, terpaksa Seng
ceng hoa manggut manggut seraya menjawab :
”Baiklah saudara Huan bila ingin pergi keBun tek kiau,
tempat tersebut terletak dipantai utara sungai chin hway
hoo...”
Secara ringkas dia lantas menjelaskan bagaimana harus
menempuh perjalanan untuk pergi keBun tek kiau...
Huan cu im mengingat baik baik keterangan setelah
berpamitan dengan Seng ceng hoa dan keluar dari Seng ki
kiaukiok, berangkatlah dia menuju ketimur.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ooooodwooooo
Tempat yang termashur disebelah timur kota Kim leng tak
lain adalah kuil Hu cu bio serta sungai chin hway hoo.
Hu cu bio seharusnya merupakan sebuah bangunan yang
angker dan anggun sebab bangunan ini melambangkan
kemajuan kebudayaan bangsa Tionghoa selama lima ribu
tahun lamanya.
Tapi bangunan tersebut justru lebih mirip sebuah pasar di
Peibing atau kuil Hian biau bio di siok ciu.
Di sekeliling kuil tumbuh aneka toko dan warung penjual
makanan pedagang kaki lima, rumah makan serta berbagai
ragam warung lainnya tumbuh disitu, boleh dibilang tempat ini
merupakan tempat hiburan yang terbesar dan teramai bagi
masyarakat kota Kim leng.
Ditepi kuil itu mengalirlah sungai ching hway hoo yang
amat termashur disenatero negeri, banyak seniman dan
sastrawan yang mempergunakan tempat itu untuk mencari
inspirasi baru, para pembesar memanfaatkan tempat itu untuk
menghibur diri, tak heran kalau tempat hiburan berada
dimana mana perahu pesiarpun berlalu lalang tiada habisnya.
Suatu pemandangan yang amat menawan.
Jembatan Bun tek kiau berada dipantai utara sungai chin
hway hoo disamping atas kuil Hu cu bio.
Dengan bersusah payah Huan cu im baru berhasil
menemukan jembatan Bun tek kiau tersebut namun manusia
yang berlalu lalang, laki perempuan dengan pakaian aneka
hilir mudik tiada hentinya, benar benar merupakan sebuah
tempat yang ramai sekali.
Menyaksikan kesemuanya ini timbul keraguan dalam
hatinya, bagaimana mungkin dia bisa menemukan seseorang
dengan ciri yang khusus ditempat keramaian seperti ini ?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia mengangkat kepalanya matahari sudah beradaa diatas
kepala hampir hampir mendekati tengah hari, namun pemuda
itu tetap berdiri ditepi atas jembatan sambil memperhatikan
setiap orang berlalu lalang.
Pada tahun belakangan ini orang yang mengenakan topi
pet dengan jubah panjang memang tak sedikit jumlahnya.
Apabila kau ingin melihat apakah dibelakang punggungnya
terdapat tambalan kain biru atau tidak- terutama sekali
ditempat keramaian seperti ini, berarti kau mesti menunggu
sampai orang itu lewat lebih dulu, kemudian baru memeriksa
punggungnya.
Pada hakekatnya Huan cu im hampir tak sanggup untuk
memejamkan matanya barang sekejap pun.
Tengah hari kini sudah menjelang tiba, tapi belum tampak
juga kemunculan orang tersebut, apakah dia sudah
menyeberang lewat, ataukah belum tiba ?
Diam diam Huan cu im mulai menggerutu didalam hati,
siapa tahu belum tentu ada orang semacam ini yang benar
benar akan lewat disitu...?
Sementara dia masih termenung sambil melamun, tiba tiba
sesosok bayangan manusia melintas lewat dalam kelopak
matanya.
Perawakan orang itu tidak teriampau tinggi dia
mengenakan sebuah topi pet yang sudah lusuh dan penuh
kerutan, pakaian panjangnya sudah luntur sehingga
mendekati putih, punggungnya bungkuk dan dibawah
ketiaknya mengempit sebuah payung, selangkah demi
selangkah ia berjalan naik ke atas jembatan.
Cepat cepat Huan cu im memperhatikan punggungnya
betul juga disitu ia temukan tambalan kain berwarna biru.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dialah orangnya. Ternyata pada tengah hari tepat benar
benar terdapat manusia dalam dandanan semikian melewati
jembatan tersebut.
Huan cu im benar benar merasa terkejut bercampur
keheranan, darimana orang yang meninggalkan pesan
kepadanya semalam bisa tahu kalau hari ini tengah hari tepat
akan muncul seseorang dengan dandanan demikian meleati
jembatan Bun tek kiau ?
Dia harus meng until dibelakangnya, sesampainya di
tempat tujuan harus membinasakan orang orang itu, tapi...
mengapa dia harus berbuat demikian ?
Sebenarnya ia datang atas dorongan rasa ingin tahu,
sebenarnya dia mengira belum tentu ada manusia demikian
yang benar benar akan melewati tempat ini tapi sekarang
terbukti sudah kalau benar benar ada manusia macam begini
yang melewatijembatan Bun tek kiau, itu berarti dia harus
membuntutinya untuk melihat apa gerangan yang terjadi...
Sementara dia masih termenung, orang itu sudah pergi
jauh maka Huan cu impun mulai mengikuti dibelakangnya,
bukan bermaksud untuk mengejarnya, melainkan hanya
mengikuti dari kejauhan saja.
Tentu saja orang itu tidak bakal tahu kalau di belakang
tubuhnya ada seseorang sedang mengikutinya, oleh sebab itu
dengan punggung terbungkuk dia hanya berjalan terus
menuju kearah barat dengan kepala tertunduk.
Huan cu im mengikuti terus dibelakang tubuhnya, entah
berapa jauh sudah mereka tempuh, hanya terasa perjalanan
semakin lama makin memasuki daerah sepi dan jauh dari
keramaian, kini di hadapan mereka telah terbentang sebuah
bukit tinggi yang terjal, curam dan berbahaya.
Namun orang itu masih berjalan terus ke depan, berpaling
sekejap pun tidak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tak selang berapa saat kemudian ia sudah keluar dari pintu
cing liang bun dan mendekati hutan yang lebat dengan
kicauan burung dikejauhan sana.
Ketika sampai ditepi hutan, mendadak orang itu
menghentikan langkahnya, lalu tanpa berpaling katanya
dengan suara yang berat dan parau : ”Sudah tiba ditempat
tujuan, letaknya dalam rumah kayu dibalik hutan tersebut.”
Huan cu im sekali lagi dibuat tertegun, segera pikirinya:
”Sekalipun dia tak berpaling, namun perkataan itu jelas
ditujukan kepadaku, ini berarti dia sudah tahu sejak tadi kalau
aku sedang mengikutinya... aaah tidak mungkin sudah jelas
sipenulis surat semalam yang menyuruh dia memancing
kedatanganku kemari, lantas mengapa pula aku mesti
membunuhnya setelah dia selesai membuka suara...?”
Suhu pernah pula berkata, dalam dunia persilatan, berlaku
sebuah pantangan yakni ”bertemu hutan jangan masuk”,
sekarang haruskah dia memasuki hutan itu?
Ternyata orang yang meninggalkan surat itu berbuat begitu
misterius, dengan bersusah payah dia memancing
kedatangannya kemari, tapi apakah tujuan yang sebenarnya?
Setelah berada disini, bila tidak memasuki sarang macan,
mana mungkin bisa peroleh anak harimau ?
Kalau memang dibalik hutan terdapat rumah kayu, ini
berarti sipembuat surat itu pasti menantikan kedatangannya di
dalam bangunan rumah itu paling tidak dia harus menyelidik
sampai jelas siapakah gerangan lawan dan apa maksud serta
tujuannya.
Dalam pada itu, ketika orang tersebut selesai berbicara, dia
segera melayang mengitari hutan dan berusaha kembali ke
arah semula, gerakan tubuhnya tidak terlampau cepat tapi
justru gesit dan cekatan bagaikan seekor monyet, tahu tahu
saja bayangan sudah menjauh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sudah barang tentu Huan cu im tidak akan melaksanakan
perintah seperti apa yang dicantumkan dalam surat itu, tanpa
sebab tanpa musabab harus membunuh seseorang, dia hanya
mengikut petunjuk orang tadi, berjalan menelusuri sebuah
jalan kecil disisi Hutan itu.
Disaat dia sedang menelusuri jalan kecil dibalik hutan
inilah, tiba tiba berkumandang suara jeritan ngeri yang
memilukan hati dari kejauhan sana.
Jerit kesakitan itu bagaikan jeritan sekarat seseorang yang
mengalami penderitaan hebat dan menjelang saat
kematiannya tiba, lagi pula bila ditinjau dari arah datangnya
suara jeritan tersebut, sudah jelas berasal dari arah dimana
orang tadi melarikan diri.
Tertegun juga Huan cu im mendengar seruan tadi, ini
berarti orang tersebut sudah menemui bencana dan mati
terbunuh, mungkinkah si penulis surat tersebut yang sudah
turun tangan membinasakan orang itu sendiri, karena ia tidak
membunuhnya?
Tapi, mengapa pula harus begitu? Apakah orang itu
mempunyai dosa besar yang pantas untuk menemui
kematiannya?
Huan cu im segera berpendapat bahwa sipenulis surat itu
sudah pasti bukan manusia baik hati, kalau tidak. Mustahil dia
akan menganggap nyawa manusia bagaikan batang rumput
yang berarti.
Dia tidak ragu lagi, dengan menelusuri jalan yang kecil
yang berkelak kelok itu dia berjalan terus ke depan, makin
masuk ke hutan semakin dalam, matahari semakin redup daun
yang rindang hampir membuat setitik cahaya pun tak mampu
menerobos masuk ke dalam.
Betul juga, diujung jalan kecil itu berdiri sebuah bangunan
rumah kayu yang gelap gulita, rumah tersebut hanya terdapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebuah pintu berwarna hitam, tiada suara tiada pula sesosok
bayangan manusia pun berada disitu.
Dengan memperbesar keberaniannya Huan cu im berjalan
menuju ke depan pintu, baru saja dia hendak mengetuk
pintu...
Mendadak dari balik pintu rumah berkumandang suara
seruan seseorang dengan nada yang amat aneh.
”Setelah sampai di depan pintu, mengapa tidak langsung
membuka pintu dan masuk ke dalam ?”
Nada suara orang itu memang benar benar rada aneh,
sukar rasanya untuk diketahui apakah dia sudah tua ? Atau
masih muda ? Pokoknya membuat si pendengar merasakan
hatinya sangat tak enak.
Huan cu im tidak ambil perduli siapakah orang itu, yang
penting baginya setelah sampai disini maka setelah bersua
nanti segala sesuatunya akan menjadi jelas. Oleh sebab itu dia
segera membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan-
Suasana di dalam ruangan rumah kayu itu jauh lebih redup
dan gelap. Hampir boleh dibilang susah untuk melihat kelima
jari tangan sendiri.
Disaat Huan cu im telah melangkah masuk ke dalam rumah
kayu itu tahu tahu... ”Blam” pintu rumah dibelakang tubuhnya
telah menutup sendiri secara otomatis.
Huan cu im baru pertama kali ini terjun ke dunia persilatan,
belum pernah ia jumpai peristiwa aneh dan seram seperti ini,
tidak urung hatinya menjadi tegang sambil menghentikan
langkahnya, diam diam ia persiapkan sepasang telapak
tangannya untuk menghadapi segala sesuatu yang tak
diinginkan.
Sepasang matanya dicoba untuk dipejamkan sebentar lalu
membukanya kembali dan memperhatikan sekejap sekeliling
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tempat itu, namun suasana didalam rumah kayu itu masih
tetap gelap gulita dan sukar untuk melihat sesuatu apa pun.
Pada saat itulah, tiba tiba terdengar suara yang sangat
aneh itu pelan pelan berkata lagi.
”Akulah yang mengundang kau untuk bersua disini, jangan
kuatir, biarpun ruangan ini gelap gulita, tidak bakal ada
kejadian yang tak menguntungkan akan menimpa dirimu”
Ditinjau dari arah berasalanya suara pembicaraan tersebut,
Huan cu im menduga orang itu seharusnya berada
dihadapannya, namun anehnya, ia justru tak berhasil
menemukan jejak orang itu. Maka sekali lagi ia bertanya.
”Sobat, sebenarnya siapakah kau? Apa maksudmu
mengundang kehadiranku disini ?” suara yang aneh tadi
segera tertawa,
”Tak usah kau ketahui siapakah aku, aku sendiripun tidak
akan bertanya kepadamu siapakah kau”
”Lantas ada urusan apa kau ?”
”Bukankah dalam sakumu terdapat sebuah mata uang kuno
yang terbuat dari perak? Ambillah keluar”
Mendengar perkataan itu, Huan cu im segera berpikir.
”Yaa..betul sebelum keberangkatanku tempo hari, empek
Hee pernah menyerahkan sebuah mata uang kuno yang
terbuat dari perak kepadaku, dia menyuruh aku membawa
terus benda tadi dan tak boleh dihilangkan, waktu itu dia tidak
banyak memberi penjelasan dan akupun tidak mengetahui apa
kegunaan dari mata uang tersebut, heran, mengapa orang ini
pun bisa tahu?”
Berpikir demikian, dia pun menjawab.
”Benar, aku memang mempunyai sebuah mata uang
semacam itu, sobat, apakah dikarenakan mata uang kuno itu
maka kau berdaya upaya memancing kedatanganku kemari ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Suara yang aneh itu tertawa, suara tertawanya kedengaran
agak parau dan aneh, selanya,
”Kau keliru besar, kusuruh kau mengeluarkan mata uang
kuno itu karena hendak kuperiksa keaslian benda tersebut.”
”Apa yang hendak kau periksa ? Dan apa gunanya ?” Huan
cu im semakin kebingungan-
„Heehh... heehh... heeh...“ kali ini suara yang aneh
tersebut tidak berkata, melainkan tertawa rendah dengan
suara yang menyeramkan-
Dibalik gelak tertawanya yang aneh itu, Huan cu im melihat
dari balik kegelapan lebih kurang delapan sembilan depa
dihadapan-nya, tiba tiba muncul sebuah tangan manusia,
telapak tangannya terbuka lebar, pada jari tengah tangan
tersebut tergantung sebuah rantai tipis yang membelenggu
sebuah mata uang kuno terbuat dari emas, benda itu
menggeletak pada telapak tangan kanannya.
Ternyata mata uang tersebut mempunyai motip dan ukiran
yang sama dan persis seperti mata uang perak yang
diserahkan empek Hee kepadanya itu.
(Pada permulaan tadi dikatakan, Huan cu im mampu
melihat dalam kegelapan, meski tenaga dalamnya masih
Cetek. Dan ruangan tersebut gelap gulita, namun berhubung
mata uang emas itu terbuat dari emas yang dapat
memancarkan sinar, maka anak muda tersebut dapat melihat
kesemuanya itu dengan jelas).
Dalam sebuah rumah kayu yang gelap gulita, tidak nampak
tubuh seseorang secara seutuhnya, tapi hanya melihat sebuah
tangan aneh digerak gerakkan dihadapannya, siapa pun yang
menyaksikan hal tersebut pasti akan terkejut dibuatnya. Tanpa
terasa Huan cu im mundur selangkah, lalu tegurnya dengan
perasaan bergidik. „Sobat, sebenarnya kau ini manusia atau
setan ?“ Suara yang aneh itu kembali tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
„Lote, kau tak perlu takut, aku tentu saja manusia, Cuma
kau tak sempat melihat dengan jelas, eh mm. Sekarang
tentunya kau sudah melihat mata uang emasku ini bukan ?“
„Yaa, sudah kulihat“ jawab Huan cu im sambil
mengangguk.
„Baiklah...“
Bersamaan dengan ucapan itu, tangan aneh yang muncul
di depan mata tadi segera ditarik kembali dan lenyap dari
pandangan mata, menyusul kemudian terdengar suara yang
aneh itu kembali berkata:
„sekarang, keluarkan mata uang perakmu dan perlihatkan
kepadaku.“ Hhuan cu im segera berpikir.
„Agaknya empek Hee memberikan mata uang perak itu
kepadaku dengan mengandung suatu maksud tertentu dibalik
kesemuanya ini pasti tersimpan pula sesuatu rahasia,
karenanya orang ini selalu berusaha untuk memeriksa mata
uang perakku, bila tidak kuberikan mata uang tersebut
kepadanya sudah jelas orang inipun tak bakal mengucapkan
sesuatu kepadaku...
Karena berpendapat demikian, maka dia merogoh ke dalam
sakunya, dan mengeluarkan mata uang perak itu, lalu
mengenakan rantainya diatas jari tengah tangan kanannya,
kemudian ia baru berkata
”Bailah, jika kau ingin memeriksa, sekarang periksalah
dengan seksama ” Sembari berkata, dia lantas
mengangsurkan tangan kanannya ke depan...
”Bagus sekali” suara aneh itu berseru kemudian, ”ternyata
kau memang utusan perak, sekarang kau boleh menyimpan
kembali mata uang perakmu itu” Setelah Huan cu im
menyimpan kembali mata uang peraknya, dia baru bertanya
”Apa kau bilang? Aku adalah utusan perak?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Benar, padahal usiamu masih muda, namun dapat
menempati kedudukan sebagai Utusan perak, ini sudah
merupakan sesuatu yang luar biasa...”
”Lantas siapa kau sendiri?”
”Eeeh... sewaktu Hee pocu menyerahkan kedudukan
utusan perak kepadamu, apakah dia tidak menjelaskan
tentang sesuatu kepadamu?”
”Aaah, nampaknya dibalik kesemuanya ini memang masih
terdapat sesuatu yang luar biasa...” pikir Huan cu im. Cepatcepat
dia menggeleng, lalu jawabnya
”Empek Hee menyerahkan benda ini kepadaku sehari
sebelum keberangkatanku ke Kim leng, dia hanya berpesan
agar benda itu kusimpan terus didalam saku dan tak boleh
sampai hilang, selain itu dia tak berkata apa apa”
”Baiklah, kalau begitu biar aku yang memberitahukan
kepadamu mata uang kuno ini semuanya terbagi menjadi
empat tingkatan, yang terbuat dari emas disebut Lengcu
emas, yang perak disebut Utusan perak- yang tembaga
disebut tembaga sedangkan yang besi disebut Busu besi, kau
adalah utusan perak dan kini tiba di Kim leng, itu berarti kau
akan melaksanakan semua perintah yang diberikan Lengcu
emas kepadamu, nah sekarang sudah mengerti ?”
Satu ingatan segera melintas dalam benak Huan cu im,
diam diam pikirnya:
”Soh Han sim telah mencampurkan bubuk pembingung
sukma ke dalam arakku maka aku harus berlagak seakan akan
kesadaran dan jalan pikiranku masih terpengaruh oleh obat
tersebut serta menuruti semua perintahnya...”
Berpikir demikian, dia lantas maju dan memberi hormat
seraya ujarnya.
”Walaupun empek Hee belum pernah memberi penjelasan
kepadaku, tapi Lengcu bisa membuktikan dengan mata uang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
emas tersebut, ini berarti kau tak bakal berbohong entah ada
urusan serta perintah apakah Lengcu mengundang
kedatanganku kemari?”
Suara yang aneh itu segera tertawa puas, sahutnya.
”Bagus sekali, tampaknya memang kau yang dimaksud, ada
pun maksudku mengundang kedatanganmu adalah untuk
menyerahkan sebuah tugas kepadamu untuk dilaksanakan-”
”Silahkan lengcu memberi perintah, aku pasti akan
melaksanakan dengan sebaik baiknya”
”Baik Disini terdapat sebutir pil, entah dimasukkan kedalam
air teh ataupun arak, pil tersebut akan segera mencair, obat
ini tiada berwarna ataupun berbau carilah suatu kesempatan
baik untuk memasukkan pil tersebut kedalam air teh atau arak
yang diminum Siang Han hui dari Hoa san, asal hal ini sudah
kau laksanakan maka tugasmu berarti telah selesai”
Begitu selesai berkata, tangan aneh tadi kembali muncul
didepan mata, pada telapak tangannya benar benar terdapat
sebuah bungkusan kecil yang segera dilemparkan ke depan
Huan cu im.
Dengan cepat Huan cu im menerimanya, baru saja dia
hendak bertanya lagi... Mendadak terdengar suara aneh tadi
menegur sambil mendengus dalam: ”Huan cu im, adakah
seseorang yang datang kemari bersama kau...?”
”Tidak ada, aku hanya datang seorang diri”
”Ini berarti orang tersebut datang kemari dengan menguntil
dibelakang mu” kata suara aneh tadi dengan nada dingin,
”barang siapa berani memasuki daerah terlarangku, berarti dia
hanya akan mati dan tak punya kesempatan hidup lagi,
sekarang kuperintahkan kepadamu untuk segera
membunuhnya”
Kalau disuruh membunuh orang, maka Huan cu impun
menjadi ragu ragu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Soal ini...”
”Ayo cepat berangkat” bentak suara aneh itu lagi,
”memangnya aku harus turun tangan sendiri?”
Huan cu im tidak mengetahui siapa yang telah datang
dihati kecilnya ia segera berpikir.
”Jangan jangan Seng ceng hoa yang secara diam diam
datang menguntil diriku? Orang ini adalah Lengcu emas,
berarti ilmu silat yang dimilikinya pasti sangat hebat padahal
aku hanya seorang diri belaka, andaikata yang datang betul
betul adalah Seng toako, dengan tenaga gabungan kami
berdua mungkin saja masih dapat membekuknya serta
menyingkap latar belakangnya”
Ingatan tersebut secepat kilat melintas di dalam benaknya,
dengan cepat dia mengiakan kemudian membalikkan badan
dan menerobos keluar lewat pintu.
Baru saja ia melangkah keluar dari pintu kayu, tiba tiba
terasa angin tajam menerpa wajahnya, tahu-tahu sesosok
bayangan manusia telah muncul dihadapannya, orang itu
adalah seorang kakek bermuka merah yang beralis mata tebal
dan bermata besar, cambangnya kaku bagaikan tombak.
Orang ini mengenakan sebuah jubah panjang berwarna
biru, tapi dibagian muka maupun belakangnya sudah dipenuhi
tujuh delapan belas buah tambalan, perawakannya sedang
tapi nampaknya keren, gagah dan perkasa.
Sesudah berdiri dihadapan Huan cu im, sepasang matanya
yang tajam bagaikan sambaran petir mengawasi wajah Huan
cu im beberapa kejap. Kemudian tegurnya^
”Engkoh cilik, siapakah kau?”
”Aku Huan cu im, dan siapa pula lotiang?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Aku Lian Sam sin, aku lihat engkoh cilik tidak mirip
seorang manusia buas yang suka melakukan kejahatan, apa
yang sedang kau perbuat disini?”
Lian Sam sin adalah tiang lo kanan dari tiang lo kiri kanan
perkumpulan Kay pang, orang menyebutnya sebagai pengemis
penakluk harimau, ia termasuk seseorang yang termashur
namanya dalam dunia persilatan-
Huan cu im belum pernah melakukan perjalanan dalam
dunia persilatan, oleh sebab itu diapun tidak mengetahui akan
asal usul lawannya, sambil angkat kepala dan tersenyum
sahutnya,
”oooh, rupanya kakek Lian, ada urusan apa sih kakek Lian
datang kemari?”
Menyaksikan mimik muka anak muda itu sama sekali tidak
berubah meski dia telah mengutarakan nama serta
julukannya, Pengemis penakluk harimau Lian Sam sin segera
menganggap Huan cu im adalah seorang jago lihay yang
sengaja merahasiakan ilmunya, karena itu sambil tertawa
tergelak katanya.
”Haaahhh... haaahhh... haaahhh..^ rupanya engkoh cilik
adalah seorang jagoan lihay, kalau begitu aku pengemis tua
benar benar sudah salah melihat, jadi engkoh cilik adalah
pemilik rumah kayu tersebut ?”
Berhubung si pendatang tersebut bukan Seng ceng hoa,
maka Huan cu im enggan menyangkal pun tak mau mengaku,
dia malah balik bertanya: ”Kakek Lian ada urusan apa sih ?”
Berkilat sepasang mata Lian Sam sin, telah mendengus dia
berkata:
”Kalau memang engkoh cilik berdiam di kawasan hutan ini,
berarti kaulah yang bertanggung jawab terhadap setiap
peristiwa yang terjadi dalam hutan ini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Hai, persoalan apa sih yang dimaksudkan kakek Lian?”
tanya Huan cu im keheranan-Lian Sam sin tertawa dalam.
”Engkoh cilik, masa terhadap pekerjaan yang kau lakukan
sendiri, kau mesti bertanya lagi kepada aku si pengemis tua?”
”Seharusnya kakek Lian menerangkan duduknya persoalan
sejelas mungkin, bila caramu berkata pun macam orang
mengajukan teka taki, dari mana aku bisa tahu ?”
”Baik”
Kata ”baik” tersebut sengaja diutarakan Lian Sam sin
dengan suara yang dalam dan berat, kemudian melanjutkan:
”Aku si pengemis tua ingin bertanya kepadamu, apakah
seorang anggota pengemis yang tergeletak dibalik hutan sana
tewas terbunuh ditanganmu?”
”Bukan” sahut Huan cu im sambil menggeleng setelah
tertegun beberapa saat.
”Haaahhh... haaahhh... haaahhh... engkoh cilik tak berani
mengakui?” Lian Sam sin tertawa tergelak.
”Seandainya orang itu memang mati di tanganku, mengapa
aku tak berani mengakui? Bila orang itu bukan tewas
ditanganku, mengapa pula aku harus mengakui?”
”Haaahhh... haaah, haaah...” sekali lagi Lian Sam sin
tertawa terbahak bahak. ”engkoh cilik telah mengubah
kawasan hutan ini sebagai daerah terlarang, diatas pohon kau
gantungkan papan peringatan yang berbunyi ”Barang siapa
yang memasuki hutan ini akan mati”, dan sekarang ditemukan
jenasah seorang anggota Kay pang dalam kawasan hutan ini
bila orang itu bukan mati ditanganmu, lantas perbuatan dari
siapakah itu?”
Mendadak Huan cu im teringat akan si manusia bertopi pet
yang mengempit payung rongsok itu, bukankah sewaktu dia
memasuki kawasan hutan itu, dari kejauhan sana
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkumandang suara jeritan kesakitan yang memilukan hati?
Rupanya dia adalah seorang anggota perkumpulan Kay pang.
Semasa masih berada dibenteng keluarga Hee tempo hari,
dia pernah mendengar empeknya membicarakan soal Kay
pang yang dikatakan sebagai perkumpulan yang paling setia
kawan dan terhitung perkumpulan paling besar dalam dunia
persilatan-
Konon anggota perkumpulan ini menyebar sampai disetiap
propinsi, malah pihak sembilan partai besar seperti Siau lim
dan Bu tong pay pun menaruh sikap hormat terhadap mereka,
itulah sebabnya kesannya terhadap Kay pang pun boleh
dibilang baik sekali.
Setelah mengetahui dari Lian Sam sin bahwa yang tewas
adalah anggota Kay pang, dengan perasaan terkejut ia lantas
berseru: ”Jadi dia... dia adalah anggota Kay pang?” Lian Sam
sin segera tertawa^
”Nah, sekarang engkoh cilik baru mengaku, bagus sekali,
kau membunuh seorang anggota perkumpulan kami, maka
kau mesti menebus dosamu itu, harap engkoh cilik suka
mengikuti aku si pengemis tua...”
”Aaah Lotiang kembali telah salah paham” buru buru Huan
cu im menggoyangkan tangannya berulang kali, ”anggota
perkumpulanmu itu bukan tewas ditanganku”
Pengemis penakluk harimau segera mengerutkan alis
matanya yang tebal, kemudian membentak dengan suara
dalam.
”Engko cilik, mengapa sih kau berusaha untuk mungkir
terus? Kau anggap aku si pengemis tua adalah manusia
gampang dipermainkan-..”
”Harap kakek Lian jangan salah paham dulu, aku sama
sekali tidak mempunyai maksud demikian-..”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tidak sampai anak muda itu menyelesaikan kata katanya,
Lian Sam sin kembali telah menukas dengan suara dalam.
”Aku si pengemis tua tak mau tahu apa maksud yang
sebenarnya, bila ingin memberi penjelasan, silahkan
disampaikan sesudah sampai di kantor cabang kami untuk
wilayah Kim leng”
”Kakek Lian-..”
”Bila kau sendiri enggan beranjak dari sini, biar aku si
pengemis tua yang membantumu berjalan” bentak Lian Sam
sin keras keras.
Oleh karena perkataannya sudah dua kali ditukas orang
ditengah jalan, lama kelamaan Huan cu im dibuat mendongkol
juga, dengan perasaan mangkel segera tegurnya. ”Lotiang,
sebetulnya kau bisa diajak berbicara soal Cengli tidak...?”
oooodwoooo
”Dalam hal yang mana aku tak berbicara soal cengli ?”
Baru selesai pengemis tua itu berkata, tiba tiba terdengar
suara seorang perempuan yang merdu bergema tiba, ”Hm
Tentu saja kau tak tahu soal cengli”
Dengan perasaan terkejut Pengemis penakluk harimau
berpaling ke arah sebuah pohon besar disisi kiri, lalu
bentaknya. ”Siapa di situ?”
Tampak sesosok bayangan biru berkelebat lewat, tahu tahu
sesosok bayangan manusia yang ramping dan lembut telah
melesat turun dari atas pohon dan melayang turun diantara
kedua orang tersebut.
Gadis itu berambut panjang, mengenakan baju ketat
berwarna biru langit dengan gaun berwarna putih, biji
matanya yang jeli berputar kian kemari, sementara sambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencibir bibir, sahutnya dingin. ”Aku yang berada disini, ada
apa ?”
Melihat kemunculan nona itu, Huan cu im sendiripun
merasa sedikit agak diluar dugaan segera serunya pula. ”Nona
Ban, rupanya kau...”
Yang datang memang si burung hong hijau Ban Huijin,
kalau selama berbicara dengan pengemis penakluk harimau
wajah maupun nada suaranya kedengaran dingin dan kaku,
maka selama berbicara dengan Huan cu im sikap maupun
nada suaranya justru halus, merdu dan hangat, bahkan
sekulum senyuman manis selalu menghiasi ujung bibirnya.
”Memangnya aku tak boleh kemari ?” kedengaran nona itu
berseru sambil memutar sepasang biji matanya.
Huan cu im segera tertawa rikuh.
”Dari mana nona bisa tahu kalau aku berada disini?”
tanyanya kemudian-
Sekali lagi Ban Huijin mengerdipkan sepasang matanya
yang jeli dan bening, kemudian katanya sambil tertawa
ringan-”Aku ogah memberitahukan kepadamu...”
”Biar nona ogah berbicara, aku pun dapat menebaknya,
bukankah kau bisa sampai kesini karena menguntil dibelakang
ku ?”
Merah dadu selembar wajah Ban Huijin, setelah
mencibirkan bibirnya ia memutar tubuhnya setengah
lingkaran, lalu sahutnya merdu. ”Aaah, aku mah tak sudi...”
”Hmm, sudah selesaikan pembicaraan kalian ?” tiba tiba
pengemis penakluk harimau Lian Sam sin menegur dengan
suara dalam dan berat diiringi dengusan dingin. Ban Huijin
mengerling sekejap ke arahnya, kemudian menegur:
”Bagaimana kalau sudah selesai, dan bagaimana pula kalau
belum selesai?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Ketahuilah, kesabaranku ada batasnya, engkoh cilik itu
mesti turut aku pergi ke kantor”
”Hmm, dengan mengandalkan apa kau hendak mengajak
Huan siangkong pergi dari sini?” dengus Ban Huijin.
”Sebab dia telah membunuh anggota Kay pang”
”Huuh, jangan kau anggap nama Kay pang bisa menakut
nakuti orang, atas dasar dan bukti apa kau mengatakan Huan
siangkong telah membunuh anggota Kaypang?”
Dengan pandangan penuh amarah Lian Sam sin melotot
sekejap kearahnya lalu menjawab:
”Saat ini Cuma dia seorang yang berada dalam hutan ini,
sedang diluar hutan situ dia tulis papa n peringatan yang
berbunyi Barang siapa memasuki hutan ini mati, nyatanya
anggota Kay pang ditemukan tewas dalam hutan, apakah
kesemuanya ini belum cukup untuk membuktikan
perbuatannya?”
”Hm, betul betul mengaco belo tak karuan” dengus Ban
Huijin lagi.
Lian Sam sin semakin bertambah geram, tiba tiba
bentaknya dengan suara keras.
”Apa kau bilang?”
”Aku bilang kau sedang mengaco belo karuan” teriak Ban
Huijin sambil membusungkan dadanya, ”Huan siangkong...”
”Hari ini, aku pengemis tua bersumpah akan membekuk
kalian berdua dan membawa kalian berdua ke kantor...”
bentak Lian Sam sin keras keras.
Tiba tiba tangan kanannya menyambar ke muka, dengan
kelima jari tangannya yang tajam seperti kaitan dia cengkeram
pergelangan tangan Huan cu im secepat kilat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Huan cu im sama sekali tidak menyangka kalau lawannya
akan melancarkan serangan secara tiba tiba dan dengan
kecepatan luar biasa, seketika itu juga ia terdesak sampai
mundur sejauh setengah langkah, kemudian telapak tangan
kanannya dibalik dan balas membacok pergelangan tangan
Lian Sam sin-
Perlu diketahui, pengemis penakluk harimau Lian Sam sin
adalah satu diantara dua tianglo Kay pang padahal kedudukan
seorang tianglo dalam Kay pang amat tinggi dan terhormat,
tidak dibawah kedudukan seorang pangcu, tentu saja tidak
gampang untuk menjadi seorang tiang lo dalam perkumpulan
Kay pang.
Kedudukan maupun nama besar bagi seorang jago
persilatan bukanlah bisa diperoleh secara kebetulan ataupun
untung untungan-
Itu berarti ilmu silat yang dimiliki pengemis penakluk
harimau Lian Sam sin bukan Cuma ilmu silat biasa saja, begitu
melihat datangnya bacokan dari Huan cu im, reaksinya
ternyata amat cepat.
”Bagus sekali” serunya sambil tertawa dingin. Dia menarik
tangan kanannya dengan cepat untuk menghindari bacokan
dari Huan cu im, lalu tubuhnya menerjang ke muka secara tiba
tiba, tangan kanannya dengan ilmu ”sikutan keulu hati”
menumbuk lawan, kemudian karena tak sampai menangkis
ancaman musuh, dengan jari tengah dan telunjuknya yang
ditekuk bagaikan kaitan, dia menyerang lawan bagaikan
sambaran petir. Bayangan jari tangan menyelimuti angkasa
dan langsung mendesak kehadapan muka.
Walaupun Huan cu im tidak tahu kalau Lian Sam sin adalah
seorang tianglo dari Kay pang, namun diapun mengerti kalau
ilmu silat yang dimiliki pengemis tua ini teramat hebat, cepat
cepat sepasang tangannya disilangkan didepan dada memuat
guntingan dan menyapu keluar teriaknya kemudian ”Lotiang,
harap tunggu dulu, kau sudah salah paham”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jurus serangan yang dipergunakan barusan adalah jurus
”Bintang dan rembulan saling berebut” dari tiga belas jurus
ilmu jari pedang sepasang tangannya seperti sambaran
pedang menyapu ke kiri dan ke kanan dari depan dada.
Meskipun Cuma jari tangan saja, namun oleh karena
tangan itu sebagai pengganti pedang maka terasa juga
pengaruhnya sebagai pedang dimana jari tangannya
menyambar, hawa pedang turut terpancar keluar pula,
membuat semua ancaman jari tangan musuh terbendung
semuanya...
Pengemis penakluk harimau Lian Sam sin hampir saja tak
percaya kalau musuhnya hanya orang bocah ingusan yang
masih tetek. Ternyata memiliki kepandaian silat yang begitu
hebat, untuk sesaat dia menjadi kaget dan terkesiap sehingga
mundur dua langkah kebelakang.
Bentrokan yang terjadi dalam pertarungan jarak dekat ini
meski tidak ada suatu kelebihan yang luar biasa, namun bagi
pandangan seorang ahli, pertarungan tersebut sudah terhitung
amat dahsyat dan mengerikan semua peristiwa hanya
berlangsung dalam sekejap mata saja.
Begitu tubuh mereka berdua saling berpisah, Lian sam sin
segera melotot kearah Huan cu im dengan sorot mata yang
tajam kemudian katanya^
”Gerak serangan engkoh cilik amat hebat, dan luar biasa,
mari, mari, sudah puluhan tahun aku si pengemis tua belum
pernah menjumpai jago muda yang begitu tangguh macam
kau, ayo kita bertarung diluar hutan saja”
„Lotiang, kau salah paham“ kembali Huan cu im berseru.
”Siapa bilang aku si pengemis tua salah paham?
Pertarungan kita ini hanya dibatasi kita berdua saja, kita
bertarung secara satu lawan satu asal kau mampu
mengungguli aku si pengemis aku segera putar badan dan
angkat kaki, sebaliknya bila aku si pengemis yang menang,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
maka kau mesti turut aku pergi ke kantor cabang kami di Kim
leng, tentunya hal ini adil bukan?”
”Tidak adil” tukas Ban Huijin-
Lian Sam sin segera melototkan matanya bulat bulat,
kemudian tegurnya terhadap Ban Hui jin ini
”Dalam hal yang mana perkataan aku si pengemis tidak
adil?”
”Kalau Huan cu im yang menang, maka kau balik badan
segera pergi sebaliknya bila dia kalah harus turut kau pergi ke
kantor cabangmu, itu mah namanya tidak adil, bila dia yang
kalah mengapa ia tak boleh seperti kau, balik badan lantas
pergi?”
”Sebab dia telah membunuh anggota Kay pang kami”
”Hmm, selama ini aku selalu menguntil di belakangnya, aku
sama sekali tidak melihat ia mencelakai anggota Kay pang
kalian, pembunuhnya jelas orang lain, kini kau bukannya pergi
mencari si pembunuh yang sesungguhnya, sebaliknya malah
melimpahkan dosa itu kepadanya, apakah ini adil namanya?
Memangnya kau melihat Huan siang kong telah membunuh
anggota Kay pang?”
-oo0dw0oo-
Jilid: 15
Lian Sam sin jadi tertegun, kemudian tanyanya:
”Sungguhkah pertanyaanmu itu ?”
”Buat apa aku mesti membohongi dirimu”
Lian Sam sin segera berpaling kearah Huan cu im,
kemudian tegurnya pula : ”Engkoh cilik mengapa tidak kau
katakan sedari tadi ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Tadi aku sudah berapa kali hendak berkata, tapi lotiang
selalu menukas perkataanku bagaimana mungkin aku bisa
menerangkan kepadamu ?”
”Baik,” kata Lian Sam sin kemudian, ”kalau begitu aku
pingin bertanya, tulisan di luar hutan yang berbunyi Barang
siapa yang memasuki hutan ini mati, apakah tulisanmu ?”
”Bukan”
”Apakah kau juga tidak berdiam didalam rumah kayu ini?”
kembali Lian Sam sin bertanya.
”Tidak”
Lian Sam sin segera menatap pemuda itu lekat lekat
kemudian tanyanya: ”Lantas ada urusan apakah engkoh cilik
datang kemari ?”
”Sewaktu berada di tepi jembatan Bun tek kiau, jumpai
seorang lelaki bertopi pet lalu dan mengempit sebuah payung
rongsok lewat dihadapanku, maka akupun menguntil di
belakangnya sampai disini, aku bisa menguntilnya hanya
terdorong rasa ingin tahu, ketika orang itu tiba didepan hutan,
akupun ikut masuk kedalam kawasan hutan ini dengan
menelusuri jalan kecil yang ada sementara dia mengintari
hutan tersebut belum sampai berapa langkah kumasuki hutan
ini dari kejauhan situ sudah terdengar suara jeritan ngeri yang
memilukan hati aku tidak tahu kalau dia sudah mati dibunuh
seseorang, lebih lebih tidak kuketahui dia adalah anggota Kay
pang.”
Semua pengakuannya ini memang suatu pengakuan yang
sejujurnya, hanya saja ia tidak menerangkan kalau ada orang
telah meninggalkan surat diatas pembaringannya.
Tatkala sianak mugaitu berkata Lian Sam sin dengan sorot
matanya yang tajam mengawasi wajahnya tanpa berkedip.
Seolah olah dia hendak mengamati apakah dia telah
berbohong ataukah berbicara yang sesungguhnya ?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Menanti Huan cu im telah menyelesaikan perkataannya, dia
baru berkata :
”Engkoh cilik, kau langsung mencari sampai disini dan kau
temukan rumah kayu tersebut, lantas apa yang kau perbuat?”
”Terdorong oleh rasa ingin tahuku, akupun maju mengetuk
pintu, namun tiada seorang manusiapun yang menjawab,
karena itu kudorong pintu rumah dan masuk kedalam,
ternyata rumah itu sangat gelap sehingga untuk melihat
kelima jari tangan sendiripun susahnya amat terpaksa aku
mengundurkan diri dari situ, dan akupun berjumpa dengan
lotiang.”
Sedang mengenai suara aneh yang terdengar dalam
ruangan gelap itu, Huan cu imtak ingin menjelaskan kepada
orang luar sebelum dia merundingkan hal ini dengan Seng
lopek.
Tentu saja banyak titik kelemahan yang terdapat dalam
pembicaraan tersebut, seperti misalnya kemarin ia baru
sampai di Kim leng mengapa dia datang seorang diri
kejembatan Bun tek kiau ? Dan apa pula maksudnya kesitu ?
Cuma tentang persoalan seperti ini sudah barang tentu Lian
Sam sin tak akan merasakannya.
Sekalipun demikian, hal tersebut sama sekali tak dapat
mengelabui Ban Huijin yang pintar dan berotak encer, sambil
mengedipkan sepasang matanya yang bulat dan jeli dia
memandang pemuda itu sambil tertawa.
Menurut pengamatan Lian Sam sin selama ini, dia merasa
Huan cu im tidak lebih hanya seorang pemuda yang baru
terjun ke dunia persilatan, semua pengakuannya seperti tidak
bohong. Karenanya sesudah termenung sejenak ia berkata :
”Baiklah, aku sipengemis tua percaya dengan perkataanmu
itu mati kita masuk kedalam ruangan itu dan coba kita periksa
apa isinya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ban Huijin terhitung juga seorang yang besar rasa ingin
tahunya, dia segera berteriak sesudah mendengar perkataan
tersebut:
”Yaa..betul, kita memang sudah seharusnya masuk
kedalam dan siap menyerbu masuk ke dalam rumah kayu itu.”
”Nona Ban, tunggu sebentar” buru buru Huan cu im
berteriak dengan cemas.
Mendengar teriakan itu, Ban Huijin segera menghentikan
langkahnya, kemudian sambil berpaling tanyanya : ”Ada apa
?”
Huan cu im segera memburu kemuka, kemudian
menjawab:
”Suasana di dalam rumah kayu itu gelap gulita sehingga
susah untuk melihat kelima jari tangan sendiri, lebih baik aku
saja yang berjalan didepan-”
Melihat pemuda itu begitu menaruh perhatian terhadap
dirinya, Ban Huijin segera berpaling dan melemparkan
sekulum senyum yang amat manis kearahnya sambil katanya
”Terima kasih banyak atas perhatianmu kepadaku...”
Ketika mengucapkan kata ”kepadaku” tiba tiba saja paras
mukanya berubah menjadi semu merah.
Sementara kedua orang itu masih berbicara, si Pengemis
penakluk harimau telah berebut berjalan dimuka dan
memasuki rumah kayu itu terlebih dulu
cepat cepat kedua orang itu mengikuti pula di belakangnya,
mereka masuk kerumah itu bersama sama.
Kali ini Huan cu im sudah mempunyai pengalaman, ketika
memasuki pintu, dia memungut sebutir batu dan dihanjalkan
di depan pintu sehingga pintu tersebut tidak merapat kembali,
dengan demikian sinar matahari dapat mencorong masuk ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam biarpun tidak terlalu terang paling tidak bisa
menyaksikan keadaan disekitar tempat itu secara lamat lamat.
Rumah kayu itu hanya terdiri dari sebuah ruangan
berbentuk persegi panjang pada bagian dalamnya digantung
sebuah tirai berwarna hitam sehingga ruangan tersebut
terbagi menjadi bagian luar dan bagian dalam.
Begitu menyerbu ke dalam ruangan Lian Sam sin langsung
menyingkap tirai hitam itu dan menuju kebelakang.
Diam diam Huan cu im manggut manggut sambil berpikir :
”oooh... rupanya didalam ruangan telah digantung sebuah
tirai warna hitam tak aneh kalau aku hanya mendengar
suaranya tak kelihatan manusianya, rupanya orang itu
berbicara dengan menyembunyikan diri dibalik tirai. Sudah
barang tentu aku tak dapat melihatnya, karena yang
diperlihatkan dari balik tirai hanya sebuah tangan saja,
makanya yang kujumpai hanya sebuah tangan pula.”
Berpikir demikian, dia turut pula melangkah masuk ke
dalam ruangan belakang^
Bagian ruangan yang berada dibelakang tirai hitam itu amat
sempit dibelakang Cuma terdapat sebuah jendela kayu, saat
itu Lian Sam sin telah membuka jendela tersebut dan
melongok keluar.
Diluar jendela terbentang pula sebuah hutan yang lebat,
tentu saja tidak terlihat apa apa disitu.
Huan cu im yang menyaksikan kejadian tersebut diam diam
menghembuskan napas lega, pikirnya :
”Kalau begitu, Lengcu mata uang emas telah pergi dari
sini.”
Dalam pada itu Lian Sam sin telah menutup kembali jendela
tersebut seraya berpaling, lalu tanyanya :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Sewaktu engkoh cilik masuk kemari tadi, benarkah kau
tidak menjumpai seseorang ?”
”Sewaktu aku masuk keruangan ini, berhubung tempatnya
gelap gulita sehingga sukar untuk menyaksikan sesuatu,
dengan cepat aku mengundurkan diri dari situ, tidak kujumpai
seorang manusiapun disitu.”
Lian Sam sin tidak berkata, dia Cuma mengangguk
berulang kali sebagai pertanda bahwa dia menaruh
kepercayaan penuh terhadap pengakuan dari Huan cu im itu.
Selang beberapa saat kemudian, ia baru berkata lagi :
”Mungkin sewaktu engkoh cilik masuk ke dalam rumah tadi,
di ruangan ini sudah tersembunyi seseorang, hanya saja
engkoh cilik tidak melihat akan kehadirannya saja.”
Diam diam Huan cu im terkejut juga mendengar perkataan
itu, Tapi sambil berlagak kaget tanyanya:
”Rupanya Lotiang telah menjumpai sesuatu?”
”E eh h mm...” Lian Sam sin manggut manggut
membenarkan, kemudian sambil mengangkat kepala, dan
tertawa dia melanjutkan ”walaupun aku sipengemis tua tidak
menyaksikan dengan mata kepala sendiri namun hidungku ini
dapat mengendus baunya.”
”Kenapa aku tidak dapat mengendus bau apapun?” tanya
Ban Huijin keheranan-Sambil mengelus jenggotnya Lian Sam
sin segera tertawa.
”Aku sipengemis tua sudah berkelana cukup lama dalam
dunia persilatan, puluhan tahun berkecimpung dalam hal yang
sama, lama kelamaan membuat aku dapat membedakan bau
manusia. Orang ini sudah cukup lama berdiam dalam ruangan
ini, tentu saja dia meninggalkan pula bau manusia di situ.”
Huan cu im yang mendengar semua pembicaraan tersebut,
diam diam berpikir. ”Tampaknya sipengemis tua ini benar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
benar lihay dan banyak pengalamannya.” Sementara itu Ban
Huijin telah bertanya lagi :
”Apakah lotiang bisa mengendus pula manusia macam
apakah dirinya ?”
”Soal ini...” Lian Sam sin tertawa paksa, kemudian baru
ujarnya, ”aku sipengemis tua hanya dapat mengendus bau
manusia, sedangkan tentang manusia macam apakah dirinya
itu, dari mana aku mampu untuk mengendusnya ?”
Tampaknya dia seperti enggan untuk dapat membicarakan
tentang manusia yang bersembunyi didalam ruangan itu
dengan mereka berdua sambil mengangkat kepalanya lagi dia
meneruskan :
”Mari kita pergi, orang itu sudah lama berlalu kita tak
berguna berada disini terlalu lama, lebih baik keluar dulu
sebelum berbicara lebih jauh”
Selesai berkata, dia lantas berjalan keluar lebih dulu dari
ruangan tersebut. Huan cu im danBan Huijin segera mengikuti
pula dibelakangnya.
Lian Sam sin sama sekali tidak menghentikan langkahnya
Ia menelusuri jalan setapak dalam hutan tersebut dan
langsung menuju keluar. Sambil berjalan ia bertanya pula
kepada Huan cu im :
”Engkoh cilik masih muda belia semestinya kau tidak
mempunyai musuh besar bukan ?”
Tentu saja pertanyaan semacam ini harus diajukan olehnya
karena anggota Kay pang yang telah tewas itu tak mungkin
tanpa sebab musabab akan memancing kedatangan Huan cu
im dari jembatan Bun tek kiau yang begitu jauh sampai disini,
sedangkan didalam rumah kayu itu pun sudah tersembunyi
seseorang yang tampaknya sudah lama menunggu, tentu saja
dibalik kesemuanya itu pasti terdapat alasan tertentu.
Sebelum Huan cu im menjawab, Ban Huijin telah menimbrung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lebih dulu ”Mana mungkin Huan siang kong punya musuh ?
Kami baru tiba di Kim leng kemarin.”
”oooh...” gumam Lian sam sin kemudian, ”kalau begitu
aneh sekali.”
Tak lama kemudian mereka bertiga sudah keluar dari
hutan, mendadak Lian Sam sin menghentikan langkahnya
seraya berpaling, kepada Huan cu im dia berkata :
”Walaupun aku sipengemis tua percaya bahwa semua
pengakuan engkoh cilik ini adalah sejujurnya, tapi kau si
engkoh cilik pun tak bisa dikatakan bebas sama sekali dari
kecurigaan bukan ?”
”Apa yang lotiang inginkan untuk dapat mempercayai diriku
?”
”Aku sipengemis tua masih tetap mengulangi perkataanku
yang semula, lebih baik kita bertarung dengan sebaik baiknya
di sini, jika engkoh cilik yang unggul, kau boleh segera
meninggalkan tempat ini, sebaliknya kalau kalah, harap kau
suka mengikuti aku si pengemis tua untuk berkunjung
kekantor cabang di Kim leng, tapi aku sipengemis tua jamin
perkumpulan kami hanya akan menyelidiki sebab sebab
kematian dari anggota kami saja, kepergian engkoh cilik tak
lebih hanya sebagai saksi, tiada orang yang akan
menyusahkan dirimu.” Huan cu im segera tertawa dingin.
”Heeeh... heeeh... heeeh... semua kisah pengalamanku
telah kututurkan kepadamu, mau percaya atau tidak terserah
kepadamu sendiri, aku sih tak sudi menerima ancaman atau
tekanan dari seseorang, apabila lotiang membutuhkan
kehadiranku sebagai saksi silahkan saja kau memberi alamat
kantor cabangmu aku bisa pergi sendiri ke sana dan tak bakal
mengingkar janji. . . ”
”Tidak bisa” Lian Sam sin menggelengkan kepalanya
berulang kali, ”pertarungan diantara kita berdua harus
dilangsungkan sehingga menang kalah dapat ditentukan”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Maaf, aku tak mau melayani kehendakmu itu, sampai
jumpa.” Kata Huan cu im sambil menjura.
Selesai berkata dia membalikkan badan dan siap berlalu
dari situ...
Lian Sam sin tertawa dingin, menyusul kemudian
terdengarBan Huijin menjerit kesakitan sambil berteriak keras
: ”Hei, lepaskan aku, mau apa kau ?”
Ketika Huan cu im berpaling, dia menyaksikan tangan kiri
Lian Sam sin telah mencengkeram urat nadi pada pergelangan
tangan kanan Ban Hui jin, sedangkan telapak tangan
kanannya ditempelkan di atas punggungnya.
Sebelum dia berucap sesuatu, sipengemis tua itu sudah
berkata lagi sambil tertawa dingin :
”Engkoh cilik, apabila kau menolak untuk melangsungkan
suatu pertarungan yang adil denganku, terpaksa aku
sipengemis tua akan menawan nona ini untuk kujadiakan
sebagai sandera...”
Huan cu imjadi amat gusar setelah menyaksikan peristiwa
ini, dengan kening berkerut bentaknya keras keras :
”Kalau kulihat dari usiamu yang sudah lanjut, tak kusangka
kau bisa melakukan perbuatan semacam ini, hmmm Apa
maksudmu menganiaya nona Ban disaat ia tak siap ? Baik,
Baik lepaskan dia terlebih dulu, aku akan melangsungkan
pertarungan yang sejujurnya melawanmu disini juga.”
Melihat pemuda itu sudah menyanggupi paras muka Lian
Sam sin berubah menjadi lembut kembali, dia segera
melepaskan cekalannya atas Ban Huijin lalu katanya :
”Tahukah engkoh cilik mengapa aku sipengemis tua
bersikeras hendak melangsungkan pertarungan melawanmu ?”
Dengan wajah merah padam karena mendongkol dan
marah, Ban Huijin segera menimbrung sambil mengumpat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Kau situa bangka celaka, jahatnya setengah mati.”
Sedangkan Huan cu im berdiri dengan wajah serius dan
menyahut ketus.
Bukankah kau mengatakan hendak menentukan siapa yang
lebih unggul diantara kita berdua ?”
Dalam marahnya, dia segan menyebut lawan sebagai
”lotiang” lagi, sopan santun telah ditangguhkan dengan begitu
saja.
”Benar” Lian Sam sin segera tersenyum ”selama puluhan
tahun terakhir ini belum pernah aku sipengemis tua didesak
mundur oleh seseorang dalam gebrakan yang pertama, tapi
barusan aku telah dipaksa mundur sejauh dua langkah oleh
engkoh cilik dalam satu gebrakan saja, itulah sebabnya aku
ingin tahu akan asal usul perguruan engkoh cilik. Yang lebih
penting lagi adalah untuk mencoba sampai dimanakah
kemampuan yang dimiliki engkoh cilik.”
”Kedua, berhubung seorang anggota Kay pang kami
terbunuh, padahal dia termasuk satu diantara delapan
pelindung hukum perkumpulan kami yang berilmu silat tinggi
maka aku si pengemis tua merasa wajib untuk mencoba
kemampuan yang dimiliki engkoh cilik sedangkan perbuatanku
mencengkeram pergelangan tangan nona tadi, sesungguhnya
tak lebih hanya ingin memanasi hatimu, masa aku sipengemis
tua benar benar hendak menganiaya seorang nona ?”
”Setelah kusanggupi tantanganmu itu, tentu saja tak akan
kupungkiri lagi, silahkan lotiang mulai melancarkan
seranganmu ”
Saat itu rasa mendongkol dan gusar yang membara didada
Ban Huijin belum hilang dengan mulut cemberut dia segera
ikut berteriak dari samping.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Huan siangkong, dia kan mencari gara gara kepadamu,
buat apa sih kau mesti bersikap sungkan sungkan kepadanya
?” Lian Sam sin tertawa terbahak bahak.
”Haa... haah... kalau begitu aku sipengemis tua tak akan
sungkan sungkan lagi...”
Sambil membentak keras mendadak dia maju selangkah ke
depan, dari posisi Tiong-kiong tangan kirinya bagaikan gaitan
mencakar kemuka, sementara telapak tangan kanannya
membacok ke depan dada secepat kilat.
Jurus serangan yang digunakan itu tak lebih Cuma jurus
”menaklukkan naga dengan tangan kosong” sebuah jurus
serangan biasa saja, namun dibalik cakarnya itu terasa hawa
serangan yang tajam memancar keluar dari kelima jari
tangannya.
Huan cu im tak berani berlaku gegabah cepat cepat dia
mundur setengah langkah, sementara tangan kanannya
dengan ilmu jari pedang melepaskan sebuah bacokan balasan-
Dalam dunia persilatan, orang sering kali mempergunakan
telapak tangan, atau kepalan atau jari tangan untuk
menghadapi serangan musuh, tapi jarang sekali
mempergunakan jari tangan sebagai pengganti pedang untuk
melancarkan serangan, Lian Sam sin yang menghadapi
keadaan demikian, tampaknya segera menaruh perhatian
khusus atas kemampuan lawannya ini.
Benar juga dalam bacokan yang dilancarkan Huan cu im
itu, terasa ada segulung desingan angin tajam yang turut
memancar dari balik serangan tadi, keadaannya sangat
mengerikan-
Didalam hati kecilnya Lian Sam sin segera berpikir,
”Entah darimana datangnya sianak muda ini ? Kalau dilihat
dari gerak serangan yang dipergunakan olehnya, sudah jelas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia memakai ilmu jari pengganti pedang untuk melepaskan
jurus jurus seangan ilmu pedang.”
Berpikir demikian, sambil tertawa terbahak bahak telapak
tangan kanannya berada didepan dada secepat kilat
disodokkan ke muka untuk menyongsong datangnya ancamar
musuh, dimana serangannya dilancarkan, hawa serangan
yang kuat serasa menyesakkan napas.
Huan cu im segera melihat bahwa tenaga dalam yang
dimiliki musuhnya amat sempurna dia tak berani beradu
kekerasan dengannya, dengan cepat tubuhnya berputar
sambil melangkah kesamping untuk meloloskan diri dari
ancaman tersebut.
”Engkoh cilik mengapa kau tak berani menyambur
seranganku ini dengan kekerasan ?” seru Lian Sam sin
kemudian dengan tertawa nyaring.
Ditengah bentakan tersebut, sepasang lengannya diputar
kencang melepaskan serangkaian serangan berantai, angin
serangan yang kuat dan dahsyat segera berhamburan kemana
mana.
Bagaimanapun juga Huan cu im adalah seorang pemuda
yang berdarah panas, ia segera termakan oleh hasutan Lian
Sam sin yang memanaskan hatinya itu, apa lagi di situ hadir
pula Ban Huijin yang sedang menonton jalannya pertarungan-
Harus diketahui, bagai seorang pemuda yang masih muda
belia, asaikan ada seorang nona yang berdiri di depannya,
maka lepaskan apa hubunganmu dengan nona tersebut, yang
jelas dari hati kecilnya akan timbul semangat juang yang jauh
lebih besar, terutama sekali rasa tak mau kalahnya dihadapan
orang, apalagi Ban Huijin yang berada dihadapannya sekarang
adalah keturunan keluarga Ban dari bukit Hong san...
Tentu saja Huan cu im enggan mengalah terus menerus,
sepasang tangannya segera diputar menggunakan tiga belas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jurus ilmu jari pedangnya untuk melangsungkan pertarungan
sengit melawan Lian Sam sin.
Tiga belas jurus ilmu jari pedangnya ini tak lain adalah hasil
ciptaan gurunya Ju It koay yang telah bersusah payah selama
puluhan tahun untuk mengambil inti sari dari jurus jurus
serangan terampuh dari berbagai aliran dan partai yang
kemudian diciptakan serangkaian jurus serangan yang luar
biasa.
Walaupun namanya saja terdiri dari tiga belas jurus,
padahal dalam setiap gerakan terbagi pula dalam tiga sampai
tujuh perubahan yang beraneka ragam, selain jurus jurus
untuk menghindarkan diri dari ancaman musuh, terdapat pula
gerak serangan yang tangguh, itulah sebabnya ilmu jari
pedang ini harus dikombinasikan dengan ilmu gerakan tubuh
yang enteng dan lincah sehingga ketangguhannya dapat
terlihat semua.
Sebaliknya ilmu pukulan yang bersifat keras berulang kali
gurunya telah berpesan, apabila keadaan tidak terlalu
mendesak atau memaksa, maka ilmu pukulan tersebut tak
boleh digunakan secara sembarangan
Selain itu dia pun waris mencampurkan seratus delapan
jurus ilmu Ki na jiu dan Tay lak eng jiau kang dibalik ilmu
pukulannya tadi setiap kali ia terpaksa harus
mempergunakannya .
oleh sebab itu semasa dalam latihan, Huan cu im selalu
melatih ilmu silatnya campur aduk lama kelamaan ilmu Hui sin
pat elang, tiga belas jurus ilmu jari pedang ilmu Tay lek eng
jiau kang dan seratus delapanjurus ilmu na-jiu bisa digunakan
sepotong demi sepotong secara terpisah, ataupun digunakan
secara gabungan dan dikombinasikan satu dengan lainnya.
Sesungguhnya tiga belas jurus ilmu jari pedang lebih
mengutamakan menghindarkan diri dari ancaman musuh
sambil mencari kesempatan untuk melepaskan serangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
balasan, tapi oleh karena Lian Sam sin mengatakan ia tak
berani menerima serangannya dengan kekerasan, maka dia
selipkan juga ilmu Tay lek eng jiau kang serta Hui sin pat
ciang nya. Dengan demikian, bukan saja dia pergunakan jurus
jurus serangan yang khusus dipakai untuk menghindari
serangan lawan, disertakan juga ilmu Ki najiau yang hebat dan
pukulan yang bertenaga raksasa, sebentar lagi memainkan
ilmu pukulan, lalu ilmu jari, ilmu cengkeraman dan ilmu
telapak tangan, perubahan demi perubahan dilakukan secara
beruntun dan bergantian^
Makin bertarung sipengemis penakluk harimau merasa
semakin terkejut bercampur keheranan ia merasa bahwa
pemuda tersebut selain memiliki tenaga dalam yang
sempurna, jurus jurus serangannya pun sama sekali diluar
dugaan-
Sebetulnya sipengemis tua itu bisa memaksa Huan cu im
untuk bertarung, hal ini tak lain disebabkan ia sudah mencoba
tadi bahwa usia Huan cu im mes kit masih muda, namun ilmu
pukulannya justru luar biasa dan pemuda tersebut boleh
dibilang merupakan jago muda yang belum pernah ditemui
selama puluhan tahun terakhir ini, terdorong oleh rasa ingin
tahu dan rasa ingin menang sendiri inilah, memaksanya untuk
menantang pemuda itu untuk berduel.
Sekarang, ia dapat melihat Huan cu im sebentar
menyerang dengan telapak tangan sebentar lagi dengan jari,
sebentar dengan cengkeram semuanya disertai dengan
perubahan yang begitu banyak. Diam diam ia semakin kagum.
Tiba tiba saja ia merasa ilmu cengkeraman yang
dipergunakan pemuda tersebut mirip sekali dengan aliran silat
dari Eng jiau bun, tanpa terasa pikirnya dengan perasaan
terkejut :
”Heran, sejak kapan Eng Jiau bun mempunyai seorang
tokoh muda yang memiliki ilmu silat begitu hebat ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Makin tangguh musuh yang dihadapi Lian Sam sin merasa
semakin asyik dan gembira serangan demi serangan yang
dipergunakan juga makin menghebat hingga angin tajam
menderu deru.
Beberapa gebrakan kemudian serangan yang dilancarkan
kedua belah pihak bergabung menjadi satu, diantaranya
bayangan manusia yang saling berkelebat, terciptakan selapis
bayangan semu yang menari nari, namun dari tenaga yang
terpancar dari balik tangan kedua belah pihak, terhembus
kekuatan yang bisa mencapai sejauh delapan sembilan depa
lebih, pada hakekatnya pasir dan debu dibuat beterbangan ke
udara keadaannya sangat mengerikan
Semua peristiwa itu kontan saja membuat siburung hong
hijau Ban Huijin yang menonton jalannya pertarungan
tersebut merasakan pandangan matanya jadi kabur, diam dia
ia merasa terkejut bercampur keheranan.
”Betul betul tidak kusangka kalau Huan siangkong memiliki
kepandaian silat yang begitu hebat, ini mah rasanya kelewat
menguntungkan Hee Giok yong...”
”Tapi merekakan belum secara resmi dikawinkan biarpun
sudah tukar cincin, rasanya akupun...”
Tiba tiba ia merasa pipinya jadi merah dan panas diam
diam ia mendesis lirih, perhatiannya terhadap pertarungan
yang sedang berlangsung diarenapun segera terpencar.
Pada permulaan pertarungan itu berlangsung, Huan cu im
masih penuh diliputi keragu raguan dan ngeri dalam
menghadapi serangan serangan Lian Sam sin yang dahsyat
dengan tenaga dalam yang amat sempurna.
Terutama sekali dia masih awam dalam dunia persilatan,
pengalamannya dalam bertarung melawan orangpun belum
cukup, biarpun jurus jurus serangan yang dilatihnya saban
hari amat hapal dan matang, namun setelah tiba waktunya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dipergunakan dia toh tetap merasa gugup dan kebingungan,
tak tahu jurus dipergunakan lebih dulu.
Menanti pertarungan telah berlangsung sekian waktu,
tehnik penggunaan jurus maupun gerak serangan yang
dipergunakanpun kian lama kian bertambah matang, segenap
pikiran daperhatiannya segera dipusatkan untuk menghadapi
serangan lawan, jurus demi jurus serangan yang
dipergunakanpun makin lama semakin lancar dan sesuai
dengan keinginan hati...
Walaupun demikian, dia tak lebih baru sepuluh tahun
mempelajari ilmu silatnya, tidak seperti apa pengemis
penakluk harimau Lian Sam sin yang sudah berlatih puluhan
tahun lamanya, tenaga dalam yang dimiliki pun sudah
mencapai berapa puluh tahun kematanganoleh
sebab itu biarpun ia mengeluarkan segenap inti sari
ilmu pedang dari berbagai aliran dan partai yang terhimpun
dalam tiga belas jurus ilmu jari pedang serta tenaga
cengkeraman dan angin pukulan dari ilmu Tay lek engjiau
kang, namun bila ingin bertarung melawan kesempurnaan
tenaga dalam yang dimiliki Lian Sam sin, dia masih tetap
bukan tandingan-
Tapi setiap kali bila Huan cu im sudah terdesak oleh angin
pukulan Lian Sam sin yang maha dahsyat tersebut sehingga
sukar untuk mempertahankan diri, ia selalu menggunakan
ilmu Hwee sin pat Ciang untuk menyambut ancaman lawan
dengan kekerasan-
Setiap kali sepasang telapak tangan mereka saling
membentur sehingga timbulkan suara benturan keras, posisi
kedua belah pihak tetap seimbang tiada yang menang tiada
pula yang kalah kedua orang itu sama sama mundur satu dua
langkah dari posisi semula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pengemis penakluk harimau Lian Sam sin adalah seorang
jago yang paling mengandalkan tenaga pukulan Yang kang,
begitu kuat dan hebatnya tenaga pukulan orang ini sehingga
ia disebut orang sebagai penakluk harimau, biasanya orang
persilatan yang bertemu dengannya paling enggan beradu
kekerasan dengannya.
Siapa sangka Huan cu im yang masih berusia begitu muda,
hanya dalam beberapa gebrakan saja ia sudah beradu
keekrasan sebanyak berapa kali dengannya.
Setiap kali pemuda itu sudah terdesak hebat hingga tak
mampu menandinginya lagi setiap kali pula pemuda tersebut
beradu kekerasan dengannya, tapi justru dari beradu
kekerasan inilah sang pemuda justru mampu mengembalikan
posisinya yang terdesak sehingga berada kembali dalam
keadaan seimbang.
Atas kejadian tersebut, timbullah keasyikan dan
kegembiraan pengemis penakluk harimau untuk menyerang
lebih jauh, dia salah mengira Huan cu im adalah seorang
jagoan yang sengaja menyembunyikan kepandaian silatnya,
oleh karena itu timbul niatnya untuk mencoba Huan cu im
lebih jauh.
Setiap kali dia melepaskan pukulan, hawa murninya selalu
dihimpun dan dilontarkan sepenuhnya, kian lama tenaga
pukulan yang disertakan dalam serangannya makin bertambah
hebat, akhirnya kekuatan yang terpancar justru bagaikan
kapak raksasa yang hendak membelah bukit karang.
Sebaliknya Huan cu im yang harus menghadapi serangan
musuh yang makin lama semakin bertambah hebat, hingga
pada hakekatnya setiap serangan memiliki bobot yang luar
biasa, diam diam hatinya menjadi terkejut bercampur
terkesiap.
Berada dalam keadaan demikian, pada hakekatnya ilmu
Kiam ci cap si dan Eng jiau kang nya sama sekali tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berfungsi lagi, dia hanya bisa mengeluarkan ilmu Hwee sin pat
ciang saja untuk mengajak lawannya bertarung dalam sistim
keras lawan keras.
Dan justru setiap kali dia baru bisa memperbaiki posisinya
apabila sudah mengeluarkan ilmu Hwee sin pat ciang tersebut
dan mendesak lawan mundur setengah langkah.
Itu berarti apabila dia meneluarkan ilmu Hwee sin pat ciang
tersebut secara beruntun, sudah pasti dari kalah dia akan
menang dan berhasil merobohkan lawannya, padahal berulang
kali suhunya telah berpesan agar ia tak melakukan hal
tersebut.
Oleh karena itu pertarungan yang dialami Huan cu im
sekarang bolek dibilang amat susah dan berat.
Biarpun demikian, keadaan seperti ini boleh dibilang
merupakan kesempatan baik yang tak pernah akan dijumpai
dilain waktu, pertarungannya melawan seorang jago lihay
dunia persilatan seperti Lian Sam sin membuatnya banyak
menyerap pengalaman yang berharga dalam pertarungan
yang berat dan ketat itu, disamping tehnik meraih
keseimbangan dibalik kekalahan dan mencari kemenangan
dibalik keseimbangan.
Pengemis penakluk harimau Lian Sam sin adalah seorang
jagoan yang berpengalaman amat luas, selama pertarungan
berlangsung, dia pun berhasil menemukan bahwa ilmu jari
serta ilmu cakar dari Huan cu im meski kurang tangguh,
namun ilmu silat yang sesungguhnya paling diandalkan oleh
pemuda itu tak lain adalah pukulan aneh yang selalu
diselipkan diantara beberapa jurus serangannya itu.
Kalau dilihat pula dari sikap tegang dan serius yang
menyelimuti wajah pemuda itu, jelas bukan disengaja atau
berpura pura, maka hal ini berarti disaat gurunya mewariskan
ilmu silat kepadanya, secara sengaja dia telah menyelipkan
semacam ilmu silat yang rahasia dan sakti dibalik jurus jurus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
silat lainnya, sedang pemuda itu sendiri sama sekali tidak
tahu. Lantas ilmu silat apakah itu ?
Kalau dilihat dari usia bocah itu, paling banter dia baru
mencapai usia enam tujuh belas tahunan, sekalipun semenjak
lahir dari rahim ibunya sudah belajar tenaga dalam, belum
tentu dia mampu melatih tenaga dalamnya sehingga dapat
beradu kekerasan dengan dirinya.
Ditinjau dari kejadian ini, maka bisa disimpulkan
kemampuannya bertarung seimbang melawan dirinya itu tak
lain berkat mengandalkan ilmu pukulannya yang aneh dan luar
biasa itu.
Sambil bertarung pengemis tua itu memperhatikan terus
dengan seksama, namun betapa pun ia sudah
memperhatikan, ia selalu menjumpai Huan cu im pasti
melakukan perputaran badan yang amat cepat lebih dulu
sebelum melakukan pukulan yang sangat aneh tadi, disaat
tubuhnya berputar inilah serangan dilepaskan-
Atau dengan perkataan lain, disaat dia melepaskan
pukulannya, selalu mempergunakan tubuhnya untuk menutupi
pandangan matanya lebih dulu membuat orang lalu tak dapat
melihat dengan jelas perubahan gerakan tangan dan jurus
serangan yang akan dipergunakannya .
Disaat kau sudah melihat telapak tangannya, tenaga
pukulan bagaikan amukan ombak dahsyat telah menggulung
tiba.
Lian Sam sin sudah sekian waktu memperhatikan dengan
seksama namun tak pernah berhasil menemukan sesuatu
apapun, hal ini membuatnya makin tercengang bercampur
kaget.
Banyak sudah ilmu pukulan yang dikenal dan diketahui
olehnya didalam dunia persilatan selama ini, namun belum
pernah mendengar orang membicarakan soal ilmu pukulan
sambil berputar badan macam ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akibatnya dia menaruh perasaan kagum bercampur kaget
atas kemampuan yang dimiliki Huan cu im dalam usia muda
itu.
Baru saja dia hendak menghentikan pertarungan untuk
mencari tahu asal usul Huan cu im, pada saat itulah tampak
sesosok bayangan manusia meluncur datang dengan
kecepatan tinggi, sambil berlarian mendekat terdengar orang
itu berteriak keras. ”Lian tiang lo cepat kau hentikan
pertarungan-”
Lian Sam sin menarik kembali serangannya lalu sambil
melompat ke belakang teriaknya keras keras.
”Engkoh cilik, cepat hentikan seranganmu”
Mendengar teriakan itu, Huan cu im segera menarik
kembali serangannya dan mundur ke belakang.
Ternyata pendatang adalah seorang lelaki kekar berbaju
hijau yang berusia dua puluh empat- lima tahunan, dia beralis
mata tebal dan bermata besar, mukanya merah dan
perawakan kekar, sehingga kelihatan sekali keperkasaannya.
Setelah berhenti, dia segera memberi hormat kepada Lian
Sam sin sambil menjura.
”Lian tianglo, suhu ada urusan hendak dirundingkan, harap
kau segera kembali ke kantor cabang Kim leng”
Lian Sam sin yang baru saja menemukan seorang jago
muda, tentu saja enggan meninggalkannya dengan begitu
saja maka seraya manggut manggut katanya.
”Aku sudah tahu, kau boleh pulang dulu, aku segera
menyusul ”
”Baik” sahut lelaki kekar berbaju biru itu kemudian seraya
memberi hormat, ”kalau begitu tecu pergi lebih dulu”
Setelah berpaling dan memandang sekejap ke arah Huan
cu im serta Ban Huijin, dia segera membalikkan tubuh dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berlalu dari situ. Dengan senyuman dikulum Lian Sam si
segera berkata.
”Dia adalah satu satunya ahli waris dari pangcu
perkumpulan kami, Leng Kang to”
Ban Huijin tidak menanggapi perkataan itu, malah serunya
kemudian kepada sang pemuda.
”Huan siangkong, ayo kita pergi”
”Nona, tampaknya kau masih marah kepada aku
sipengemis tua ?” seru Lian Sam sin kemudian sambil tertawa
paksa.
”Huuuh, aku mah tak akan marah” sahut Ban Huijin dingin.
”Asal tidak marah saja itu memang lebih baik” kata Lian
Sam sin kemudian sambil tersenyum, kemudian setelah
menepuk bahu Huan cu im, katanya lagi dengan nada tulus
”engkoh cilik, kau merupakan satu satunya jago muda yang
pernah kujumpai selama ini, kita boleh dibilang tidak saling
bertarung tidak saling mengenal, apabila engkoh cilik tidak
keberatan, ingin sekali aku sipengemis tua mengikat tali
persahabatan denganmu, entah bagaimanakah pendapatmu?”
”Hm, bukankah dia adalah orang yang kau tuduh sebagai
pembunuh keji?” ejek Ban Ihui jin dengan wajah cemberut.
Kembali Lian Sam sin tertawa.
”Pada mulanya aku sipengemis tua memang berpendapat
demikian, tapi sesudah masuk rumah kayu itu, aku sipengemis
tua segera menyadari bahwa apa yang dikatakan engkoh cilik
she Huan ini memang benar, apa lagi setelah melalu
pertarungan sengit yang saja berlangsung, aku si pengemis
dapat memastikan bahwa pembunuh yang telah
membinasakan anggota Kaypang kami adalah orang lain,
bukan hasil perbuatan dari engkoh cilik she Huan ini.”
”Mengapa begitu ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Selama aku sipengemis bertarung melawan engkoh cilik
she Huan hampir mencapai tiga puluhan jurus ini, dapat
kulihat bahwa jurus siauko kebanyakan aneh tapi tidak sesat,
gaya serangan yang dipergunakan seseorang dapat
menunjukkan pula bagaimanakah watak serta perangai si
manusia itu sendiri.”
”Anggota Kaypang yang terbunuh itu tewas akibat tusukan
pedang dari punggungnya, jurus serangan yang dipergunakan
disebut Tok tjoh Ji tong atau ular beracun memasuki goa,
jurus serangan itu sangat keji dan buas, dapat diduga bahwa
sipembunuhnya adalah seorang manusia licik yang keji, buas
dan tidak berperi kemanusiaan, perbuatan semacam ini sudah
jelas bukan perbuatan dari Huan siauko”
”Perlu diketahui Ji tong hiat terletak diantara sela-sela
tulang punggung, jurus serangan semacam itu biasa disebut
juga sebagai Hong bong ji tong atau burung hong memasuki
goa, merupakan tempat yang mematikan dibagian punggung
manusia.” Ban Huijin kembali mencibirkan bibirnya sembari
menggerutu :
”Huuuh, untung saja kau masih punya kebijaksanaan untuk
membedakan mana yang jahat dan mana yang benar...”
”Haaahhh haaahhh... haaahh seandainya kemampuan
semacam inipun tidak kumiliki buat apa aku disebut orang
sebagai pengemis penakluk harimau?” sahut Lian Sam sin
sambil tertawa tergelak gelak.
Nama pengemis penakluk harimau belum pernah didengar
ataupun diketahui oleh Huan cu im, oleh sebab itu diapun
tidak mengetahui sampai dimanakah kebesaran nama dan
kedudukan orang itu didalam dunia persilatan?
Tapi berbeda sekali dengan si burung hong hijau Ban
Huijin, begitu mendengar nama ”Pengemis penakluk harimau”,
ia nampak tertegun dengan wajah melongo, kemudian
pikirnya :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Aku pernah dengar bahwa pengemis penakluk harimau
adalah salah satu diantara tiga tokoh paling utama dalam
perkumpulan Kaypang, telapak tangan bajanya tiada
tandingan didunia ini, T^api nyatanya Huan siangkong mampu
bertarung seimbang dengannya.”
Sambil berpikir, dengan wajah terkejut bercampur
keheranan dia menengok ke arah Lian Sam sin, kemudian
tanyanya :
”Jadi kau adalah tianglo kanan dari Kay pang yang disebut
orang pengemis penakluk harimau ?”
Lian Sam sin tertawa terbahak-bahak.
”Haaahhh... haaahhh nona pernah mendengar tentang
namaku ini ?” Bersemu merah selembar wajah Ban Huijin,
jawabnya kemudian,
”ibuku sering membicarakan soal ini, katanya cianpwee
adalah seorang pendekar besar yang berjiwa besar, bijaksana
dan ksatria, memandang orang jahat bagaikan musuh besar,
apabila siauli sudah banyak melakukan kesalahan ataupun
sikap yang kasar tadi, harap cianpwee sudi memaafkan-..”
”ooh, tidak berani” Lian Sam sin tertawa bangga, ”sedang
mengenai kebencianku terhadap kaum penjahat, ini memang
benar. Asal kujumpai ada manusia yang melakukan kejahatan
dan kebengisan tak pernah melepaskan dengan begitu saja...”
Tiba tiba dia menyeka ujung bibirnya dengan ujung baju,
kemudian bertanya : ”Bolehkah aku tahu siapakah ibu nona?”
”ibuku adalah Lo tang keh dari keluarga Ban dibukit Hong
san-..”
”Aaah, haah... haah... haah...” cepat cepat Lian Sam sin
menjura seraya tertawa, ”kalau Ban Lo hujinsih cukup kenal
baik, kalau begitu nona adalah nona Ban yang disebut orang
sebagai si burung hong hijau ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kembali paras muka Ban Ihuijin berubah menjadi semu
merah, sahutnya lirih, ”Sianti adalah Huijin”
”Kenapa tidak nona katakan sedari tadi?” seru Lian Sam sin
kemudian, setelah berpaling kearah Huan cu im, kembali
katanya. ”Siapa pula Huan siauko ini? Kalau dilihat bahwa ia
menempuh perjalanan bersama sama nona Ban, bisa diduga
kalau diapun anak murid dari suatu perguruan besar ?”
Ban Huijin mengerling sekejap kearah Huan cu im, lalu
sahutnya sambil tertawa:
”Kau orang tua tentunya pernah mendengar tentang siJago
berbaju ijau Huan tayhiap bukan? Nah Huan siang kong
adalah...”
”Haaahh... haaah... haaah...” tidak sampai Ban Huijin
menyelesaikan kata katanya, Lian Sam sin telah menukas
sambil tertawa terbahak bahak.
”tentu saja aku si pengemis tua kenal dengan Huan
tayhiap. Rupanya engkoh cilik adalah putra dari Huan tayhiap.
Ini bagus sekali. Jadi ilmu silat keluarga tak aneh kalau aku si
pengemis merasa amat mengenal tapi tidak dapat meraba asal
usulnya”
Sesungguhnya apa yang dia katakan memang benar, ilmu
silat yang dimiliki jago berbaju hijau Huan Tay seng diperoleh
dari warisan keluarganya (kakek Huan Tay seng semasa
mudanya berasal dari perguruan bangau putih). Ilmu silat dari
keluarganya memang mempunyai perbedaan yang besar
sekali dengan ilmu silat dari aliran serta perguruan mana pun.
Kalau perguruan atau aliran lain, biasanya ilmu silat yang
mereka turunkan hanya terdiri dari sejenis aliran ilmu silat
tertentu, berbeda sekali dengan ilmu silat keturunan keluarga,
sekalipun kakeknya berasal dari suatu perguruan tertentu, tapi
bagi seseorang yang berpengalaman luas dalam dunia
persilatan, sering kali ilmu silatnya dapat menyerap aliran ilmu
silat lain dari pandangan atau pengelihatan saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dari sang kakek diwariskan kepada ayah, dari sang ayah
diwariskan kepada sang anak, turun temurun ilmu silat itu
diwariskan secara beruntun dan sama sekali tidak dikacaukan
satu sama lainnya.
Oleh karena itulah ilmu silat yang berasal dari keluarga
paling susah diketahui asal usul, perguruan atau alirannya,
ilmu silat mereka boleh dibilang terdiri dari suatu aliran yang
berdiri sendiri...
”Ilmu silat yang kupelajari sebenarnya berasal dari ajaran
guruku...” Huan cu im menerangkan.
Lian Sam sin mengawasi lekat lekat, kemudian tanyanya,
”Siapa sih guru engkoh cilik ?”
”Guruku she Ju bernama It koay ?”
Mendengar nama itu Lian Sam sin jadi tertegun,ju it koay
terasa aneh dan asing, belum pernah ia dengar nama orang
itu, dalam dunia persilatan pun rasanya belum pernah
terdapatjagoan semacam ini...
Tapi, bagaimana pun juga dia adalah seorang jago
kawakan dalam dunia persilatan, muridnya saja memiliki
kemampuan sedemikian hebatnya sudah dapat diduga
gurunya memiliki kepandaian yang jauh lebih tangguh.
Karenanya sambil tertawa terbahak bahak katanya
kemudian-
”Guru yang termashur akan menghasilkan murid yang
hebat, tak aneh kalau engkoh cilik memiliki kepandaian silat
yang luar biasa ”
”Lotiang kelewat memuji, kemampuan yang boanpwee
miliki masih belum terhitung seberapa” kata Huan cu im
seraya menjura.
”Baiklah, kita tak usah membicarakan soal itu lagi, tadi
akusipengemis mengatakan hendak mengikat tali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
persahabatan dengan engkoh cilik, entah bagaimanakah
pendapat engkoh cilik ?”
”Lotiang adalah seorang cianpwee yang dHormati dan
disegani oleh setiap umat persilatan, boanpwee beruntung
sekali dapat berkenalan dengan lotiang pada hari ini, soal
mengikat tali persahabatan-.. boanpwee...”
Tidak sampai si anak muda itu menyelesaikan kata katanya,
Lian Sam sin telah menukas.
”Aku sipengemis tua hanya ingin bertanya kepadamu,
apakah kau bersedia menjadi sahabatku ? Engkoh cilik tak
usah menyebut cianpwee, boanpwee lagi, kalau bersedia
katakan bersedia, kalau enggan katakan enggan, kan beres ?”
Ban Huijin mengerlip sekejap ke arahnya, kemudian
menimbrung pula dari samping.
”Yaa, benar Huan siangkong, kulihat kau memang kelewat
sedikit, bicaralah blak blakan...”
Bersemu merah selembar wajah Huan cu im oleh perkataan
tersebut, buru buru dia berkata.
”Lotiang begitu baik padaku, sudah barang tentu boanpwee
bersedia...”
”Bagus sekali” seru Lian Sam sin dengan gembira, ”mulai
sekarang kita adalah saudara sendiri, engkoh cilik tak usah
menyebut lotiang atau boanpwee lagi, kau sebut aku engkoh
tua, dan aku sebut kau adik cilik, bukankah ini lebih bagus ?”
”Kalau mesti menggunakan sebutan ini, rasanya
boanpwee...”
”Nah, nah... coba lihat, baru saja diberi tahu, sekarang
sudah lupa lagi, bukankah Lian cianpwee sudah menjadi
saudara angkatmu, sudah sepantasnya bila kalian saling
menyebut sebagai saudara kalau menampik melulu apakah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kau tidak merasa bahwa perbuatanmu itu kelewatan
manja...?”
Lian Sam sin tertawa terbahak bahak^ serunya pula:
”Haaah haaahh... haaahh... tampaknya nona Ban lebih blak
blakan, namun aku sendiri pun harus mengubah panggilan
dengan menyebutku sebagai engkoh tua, jangan cianpwee
cianpwee terus menerus..^”
Merah padam selembar wajah Ban Huijin, dengan agak
tersipu sipu katanya kemudian lirih,
”Setelah engkoh tua berkata begitu, baiklah aku menurut
perintah saja...”
Dengan wajah yang menaruh hormat Huan cu im menjura
pula kepada Lian Sam sin lalu berkata :
”Kalau memang engkoh tua tidak keberatan, terimalah
sebuah hormat dari siaute”
Dengan penuh kegembiraan Pengemis penakluk harimau
mencekal tangan Huan cu im dan digoyang goyangkan
berulang kali, katanya sambil tertawa tergelak.:
”Haaa... haaah... haaah... saudara cilik, engkoh tua benar
benar merasa amat gembira, sayang pangcu telah
mengundangku untuk membicarakan urusan penting, kau
menginap dimana sekarang? Sebentar engkoh tua pergi
menjengukmu”
”Saat ini siaute menginap di perusahaan Seng ki piauklok,
Cuma rasanya kurang pantas bila engkoh tua yang datang
menjenguk siaute, begini saja, besok pagi siaute yang akan
berkunjung ke kantor cabang perkumpulan Kay pang untuk
menjenguk engkoh tua, entah bagaimanakah pendapat
engkoh tua ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Baik ” Lian Sam sin manggut manggut, ”engkoh tua akan
menunggumu di kantor cabang, ehm... nona Ban, kau
bersedia datang bersama sama saudara cilik bukan ?”
Melihat pengemis itu memandang dia dan Huan cu im
sebagai satu rombongan, meski agak malu, gembira amat hati
kecilnya, dengan kepala tertunduk ia segera bertanya.
”Apakah engkoh tua akan menyambut kedatanganku dengan
gembira ?” Lian Sam sin tertawa.
”Tentu saja akan menyambut kedatanganmu dengan
gembira, bukankah kau menyebut engkoh tua pula kepadaku
? Sebagai engkoh tua, masa tidak senang menyambut
kedatangan Te moay nya ?”
Pengemis itu telah mengucapkan kata Tee adik lelaki da
nMoay adik perempuan menjadi satu, pada hakekatnya kedua
kata tersebut mempunyai arti ganda, yaitu sebagai saudara
lelaki dan saudara perempuannya, tapi bisa pula diartikan
sebagai ipar.
Ban Huijin adalah seorang nona yang pintar, sudah barang
tentu ia dapat menangkap arti dari perkataan tersebut,
mukanya menjadi merah padam, rasa malunya semakin
menebal, dihati kecilnya ia merasa manis dan hangat.
Tidak sampai Huan cu im berkata^, Lian Sam sin telah
berkata lagi sambil tersenyum. ”Baiklah, sekarang engkoh tua
akan pergi dulu”
Selesai berkata, sepasang kakinya segera menjejak tanah
dan tergopoh gopoh meninggalkan tempat tersebut.
”Nona Ban- ucap Huan cu im kemudian, ”kita pun harus
segera pergi...”
”Ehmm...” Ban Huijin mengiakan dan segera beranjak
pergi, sambil berjalan dia berpaling seraya ujarnya lagi.
”Huan siangkong, umurmu lebih muda berapa tahun sih
dari toako ku ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Tampaknya saudara Ban telah berusia dua puluh tahun
sekarang...?” Ban Huijin manggut manggut.
”Ya a, tahun ini toaku ku berusia dua puluh satu tahun”
”Kalau begitu aku lebih muda lima tahun dari saudara Ban”
Mencorong sinar terang dari balik mata Ban Huijin setelah
mendengar perkataan itu, sambil miringkan kepalanya dia
berseru.
”Kalau begitu kau berusia enam belas tahun? Lahir pada
bulan berapa...?”
”Bulan satu”
”Kalau begitu kau lebih tua sebelas bulan daripada diriku”
kata Ban Huijin gembira.
”Apakah nona juga berusia enam belas tahun ?”
sekali lagi paras muka Ban Ihuijin berubah menjadi merah
jengah, sahutnya lirih : ”Tahukah kau, mengapa aku
menanyakan berapa usiamu?”
”Tidak”
”Sebab selama ini aku memanggilmu Huan siang kong
kalau sampai kedengaran orang lain rasanya kurang sedap.
Oleh karena... oleh karena itu bila aku lebih tua daripada mu,
maka aku mesti memanggil adik Huan kepadamu...”
”Tapi kenyataannya sekarang membuktikan kalau aku lebih
tua daripada dirimu” tukas Huan cu im bangga.
Nona itu tertawa makin manis, dibalik tertawanya terselip
pula rasa malu.
Huan cu im yang menyaksikan kejadian tersebut jadi
tertegun, lalu tanyanya:
”Lantas aku mesti memanggil apa kepadamu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ban Huijin yang menjumpai sepasang mata anak muda itu
mengawasi dirinya tanpa berkedip mukanya segera berubah
menjadi merah, katanya cepat: ”Apa yang dipakai toako
memanggilku, panggillah dengan sebutan yang sama...”
Selesai berkata dia menundukkan kepalanya secara tiba tiba
lalu kabur ke depan-
Huan cu im segera merasakan hatinya berdebar keras,
cepat cepat dia menyusul pula di belakangnya.
Dengan mulut membungkam kedua orang itu menempuh
perjalanan beberapa saat lamanya, kemudian Ban Huijin baru
berpaling lagi sembari katanya. ”Huan toako, aku ingin
menanyakan sesuatu kepadamu”
”Apa yang ingin kau tanyakan ?”
”Pagi tadi, mau apa sih kau datang ke jembatan Bun tek
kiau ?” Huan cu im tampak sangsi, kemudian sahutnya.
”Soal ini... aku sudah lama mendengar akan nama besar
Kuil Hu cu bio dan sungai chin hay hoo, karena itu aku hanya
ingin berjalan jalan saja...”
Dengan mata yang berkedip Ban Huijin mengawasi wajah
pemuda itu lekat lekat, lalu tanyanya lagi :
”Diatas jembatan itulah kau telah berjumpa dengan
anggota Kay pang tersebut ?”
”Waktu itu aku sama sekali tidak tahu kalau dia adalah
seorang anggota Kay pang”
Ban Huijin tertawa, tiba tiba ia berpaling dan tanyanya
Huan cu im merasakan hatinya berdebar keras, cepat cepat
dia membantah:
”Aku toh tidak kenal dengan orang itu, buat apa mesti
menantikan kedatangannya?”
Ban Huijin tertawa rendah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Huan toako kau lupa rupanya bahwa aku menguntilmu
sejak kau meninggalkan rumah, kau berdiri disisi jembatan
tersebut lebih dahulu, sedangkan orang itu sama sekali tidak
berbicara sepatah katapun kepadamu, kaulah yang
menguntilnya samai tiba dihutan bukan demikian ? Nah... apa
yang hendak kau katakan sekarang ?”
Huan cu im menjadi amat sedih setelah mendengar
perkataan itu, pikirnya kemudian,
”Haruskau aku berbicara secara berterus terang kepadanya
?”
Tiba-tiba satu ingatan melintas didalam benaknya, pikirnya
lebih lanjut.
”Ban Sian cing telah dicekoki bubuk pembingung pikiran
oleh soh Han sim tanpa ia sadari, suhu telah menyerahkan
sebutir pil pemunah kepadaku dan sekarang aku sedang
kebingungan karena tak dapat mencekokkan obat tersebut
untuk saudara Ban, andaikata kuceritakan duduk persoalan
yang sesungguhnya kepadanya, kemudian dialah yang secara
diam diam memberikan obat pemunah itu buat saudara Ban,
bukankah urusan akan jauh lebih leluasa ?”
Ketika Ban Huijin melihat pemuda itu tidak berkata apa
apa, segera tegurnya lagi ”Huan toako, apa sih yang sedang
kau pikirkan?”
Huan cu im memandang sekejap sekeliling tempat itu,
melihat disitu tiada orang, ia baru menjawab dengan lirih.
”Sebenarnya dibalik kesemuanya ini terdapat sebuah
rahasia yang amat besar, lagipula akupun sangat
membutuhkan bantuanmu, hanya saja masalahnya
menyangkut suatu kejadian yang amat besar, padahal waktu
yang tersedia untuk kita sekarang tidak banyak. Kita harus
pulang secepatnya, begini saja, bukankah besok engkoh tua
mengundang kedatangan kita ke kantor cabangnya ? Di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tengah jalan besok akan kuceritakan kesemuanya itu
kepadamu ”
”Aaah, tidak mau, kau harus bercerita sekarang juga, kalau
mesti menunggu sampai besok, aku bisa mati karena panik
dan tidak tenang...” desak nona itu.
Sebelum Huan cu im sempat menjawab, tiba tiba ia melihat
datangnya sesosok bayangan manusia dari kejauhan sana,
dengan ketajaman matanya, dalam sekilas pandangan saja ia
sudah mengenali orang itu sebagai Seng ceng hoa.
Karena itu buru buru dia berkata:
”Nona Ban, saudara Seng ceng sudah datang”
”Saudara Seng yang mana ?”
”Yang mana lagi, tentu saja Seng ceng hoa loko dari
perusahaan Seng ki piaukiok”
”Mau apa dia datang kemari?”
”Tentu saja datang mencari kita”
”Bagaimana kalau kita menceritakan semua kejadian yang
barusan kita alami kepadanya?” tanya si nona lirih.
Huan cu im berpikir sebentar, kemudian sahutnya^
”Untuk sementara waktu lebih baik kita tak usah
memberitahukan kepadanya, oya, di hadapan kakakmu pun
kau tak boleh membicarakan persoalan ini, mengerti?”
oooodwoooo
”Yaa, aku mengerti” Ban Huijin manggut manggut.
Sementara pembicaraan masih berlangsung, Seng ceng hoa
telah tiba dihadapan mereka. Cepat cepat Huan cu im
menyambut kedatangannya sambil bertanya: ”Saudara Seng,
mengapa kau datang kemari?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ban Huijin sendiri, berhubung dia berada bersama sama
Huan cu im biarpun sebagai seorang gadis dunia persilatan,
tak urung merah padam juga selembar wajahnya karena
jengah.
Sambil tersenyum Seng ceng hoa segera berkata^
”Sewaktu hendak pergi tadi lote hanya mengatakan akan
pergi kejembatan Bun tek kiau, padahal kau belum lama tiba
dikota Kim leng dan kurang paham dengan daerah disekitar
sini, ayah jadi kuatir dan siap mengirim orang untuk
mencarimu kebetulan kalau nona Ban tidak berada dikamar,
dia takut kau sesat jalan, akhirnya menurut laporan seorang
pembantu perusahaan kami, katanya dia melihat nona Ban
seperti menguntil dibelakang saudara Huan dan menuju pula
kearah jembatan Bun tek kiau.”
”Sebenarnya saudara Ban juga akanpergi tapi karena ia tak
hapal dengan jalanan disini, maka siaute seorang diri yang
datang mencari, disepanjang jalan tadi kujumpai saudara Leng
dari Kay pang yang mengatakan bahwa kalian berdua sudah
bentrok dengan Lian tiang lo di KuiBin Sia, mendengar laporan
tersebut cepat cepat siaute memburu sampai disini...”
Ia memandang sekejap kearah dua orang itu, lalu tanyanya
lagi:
”Saudara Huan mengapa kalian bisa sampai disini? Dan
mengapa pula sampai ribut dengan Lian tianglo dari Kay
pang?”
”Aah, tidak apa apa, pada mulanya siaute pun tidak tahu
kalau dia tianglo dari kaypang, begitu bertemu dengan siaute
dia lantas menuduh aku telah membunuh seorang anggota
perkumpulannya, dan bersikeras hendak bertarung
melawanku, kemudian kesalah paham ini dapat menjadi jelas,
dan iapun mengikat tali persaudaraan denganku sebelum
pergi dari sini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebagai orang yang berpengalaman tentu saja Seng ceng
hoa dapat menduga kalau di balik kesemuanya ini masih ada
sebab sebab tertentu, namun ia tidak banyak bertanya,
setelah menghembuskan napas panjang ujarnya:
”Kedudukan Lian Tiang lo dalam perkumpulan kaypang
sangat tinggi, dia adalah seorang tokoh yang paling susah
dihadapi dalam dunia persilatan, biasanya jarang sekali
bersikap ramah terhadap orang lain, tapi kenyataannya
sekarang dia begitu baik terhadapmu, bahkan telah mengikat
tali persaudaraan denganmu, kejadian semacam ini benar
benar luar biasa”
”Seng toako tadi kau bilang apa nama tempat itu ?” tanya
Ban Huijin tiba tiba.
”Tempat ini adalah bukit cing Ling san, sedang tempat
dimana kalian berjumpa dengan Lian Tiang lo disebut Kui Bin
Sia”
”Apakah dibenteng muka setan (Kui Bin Sia) ada setannya,
aku lihat tempat itu memang rada rada seram dan
menggidikkan hati, bisa membuat bulu kuduk orang pada
bangun berdiri.”
Seng ceng Hoa segera tertawa^
”oooh, tidak ditempat itu terdapat sebuah pintu cing Lin
Bun, di dalam sejarah tempat itu dulunya berdiri sebuah
benteng kuno yang terdiri dari batu batu besar, tempatnya
sangat berbahaya sedang dinding bentengnya tinggi rendah
tak menentu, seolah olah terdapat banyak sekali ukiran muka
itulah sebabnya penduduk kota Kim leng sampai menyebut
tempat itu sebagai benteng muka setan, tempatnya memang
terpencil sehingga jarang sekali ada yang berkunjung kesana”
-oo0dw0ooTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
Jilid: 16
”ooh rupanya begitu, hampir saja membuat aku
terperanjat” kata Ban Hui jin sambil tertawa.
Sewaktu kembali keperusahaan Seng kipiaukiok tengah hari
telah lewat, SengBian Tong telah menunggu kedatangan
mereka dikamar baca untuk bersantap bersama.
Berhubung adiknya sudah terbiasa bersikap begitu jika
mengambek, apalagi melihat dia pulang bersama Huan cu im,
maka ia tak banyak bertanya.
Ketika Huan cu im tidak tidak melihat Siang Han hui
bersantap bersama diapun bertanya, baru diketahui rupanya ia
sedang berkunjung ke Sin soat san menyambangi temannya.
Seusai bersantap. Seng Bian tong mengundang Huan cu im
menghadap dalam kamar semedhinya dan bertanya ada
urusan apa dia sudah pergi sedari pagi buta?
Tanpa merahasiakan sesuatu apapun Huan cu im bercerita
bagaimana ia menerima surat semalam dan bagaimana dia
bertemu dengan seseorang yang aneh di Kui bin sia hari itu...
Sepanjang mendengarkan cerita tersebut tiada hentinya
Seng Bian tong mempermainkan sepasang peluru besinya, lalu
setelah termenung sejenak ia berkata:
”Ehmm,jika dilihat dari peristiwa ini, bisa diduga kalau Hee
Im hong telah menjaring banyak sekali jago jago lihay dan
diatur oleh pemimpin yang menggunakan kode sebagai emas
perak. Tembaga dan besi Cuma siapakah si Lengcu emas itu?”
Ketika berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia mendengus
dengan suara dalam dan tidak berbicara lagi:
”Seng lopek” ucap Huan cu im kemudian ”menurut
pendapatmu, apa yang mesti siautit lakukan sekarang?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Persoalan ini mesti menunggu sampai kembalinya
cianbunjin sebelum dibicarakan lebih jauh, untuk sementara
waktu tentu saja kau mesti menyesuaikan diri dengan mereka
dan tetap mempertahankan kontakku dengan Lengcu emas
tersebut, berusahalah sedapat mungkin untuk mencari tahu
rencana busuk apakah yang sedang mereka persiapkan.”
Kemudian sesudah berhenti sejenak. Terusnya:
”Ehmm... seandainya kau tidak kemari, aku masih tak tahu
kalau didalam perusahaan kami sesungguhnya sudah
bersembunyi seorang mata mata”
”Lopek, apakah menurut anggapanmu dalam perusahaan
ini sudah diselundupi orang orang mereka?” tanya Huan cu im
terkejut.
”Kau baru datang kemarin tapi surat dari pihak lawan
sudah dikirimkan kemari, coba bayangkan perusahaan Seng ki
piaukiok ini sudah kudirikan sejak puluhan tahun berselang,
sekalipun penjagaan tak bisa dibilang seperti sebuah benteng
baja, namun rasanya mustahil orang luar bisa masuk kemari
tanpa kami ketahui tapi nyatanya surat tersebut bisa
disampaikan kepadamu, kalau tiada orang dalam yang
membantu, coba pikirlah mana mungkin surat tersebut bisa
sampai di tanganmu ?” Kemudian setelah berhenti sejenak
terusnya :
”Yang lebih hebat lagi, orang itu nyatanya sanggup
menyampaikan surat tersebut langsung ke dalam kamar
tidurmu tanpa sepengetahuan siapa saja, ditinjau dari sini
dapat diduga kalau si pengantar surat tersebut sudah pasti
adalah anggota perusahaan ini.”
Tergerak hati Huan cu im sesudah mendengar perkataan
itu, katanya kemudian-
”Lopek, persoalan ini bisa kita selidiki dengan cepat.”
Seng Bian tong memandang sekejap ke arahnya kemudian
tersenyum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”coba kau utarakan apa akalmu ?”
”Sekarang tempat yang dipergunakan Lengcu emas untuk
tempat pertemuan sudah diketahui oleh Lian tiang lo dari Kay
pang sudah dapat diduga dia tak akan mempergunakan rumah
kayu itu lagi sebagai tempat pertemuan kami.”
”Ehmmm...” Seng Bian tong manggut manggut. Huan cu im
segera berkata lebih lanjut.
”Padahal ia belum sempat menjanjikan cara mengadakan
hubungan kembali denganku, ini berarti seandainya dia
hendak menyampaikan sesuatu perintah lagi, dapat dipastikan
dia akan mengutus orang lagi untuk menyampaikan perintah
tersebut kepadaku”
”Em, benar” tampaknya Seng Bian tong mengagumi
pendapat anak muda tersebut, dia manggut manggut dan
tertawa, ”lotit baru saja terjun kedalam dunia persilatan,
walaupun pengalamanmu masih amat cetek^ namun kau
sangat cerdik, tadipun aku sudah berpikir sampai kesitu, oleh
karenanya mari kita bekerja secara terpisah sementara kau
tetap melaksanakan semua perintahnya dan tak usah turut
campur dalam persoalan ini, secara diam diam aku akan
perhatikan masalah ini dan menemukan lebih dulu mata mata
yang telah menyelundup ke dalam tubuh perusahaanku ini.”
”Dengan demikian kita baru akan tahu pula keadaan lawan
sehingga tak akan sampai dipecundangi lawan- Nah baiklah,
urusan selanjutnya mari kita tunggu sekembalinya cianbunjin
sebelum diputuskan sekarang kau sudah kelewat lama
berdiam dikamar rahasiaku ini, bila kelamaan bisa
menimbulkan kecurigaan lawan, pergilah lebih dulu...” Huan
cu im mengiakan dan segera bangkit berdiri. Tapi Seng Bian
tong telah berkata kembali.
”Lotit, tampaknya nona Ban seperti belum sampai
dipengaruhi mereka bukan ?”
”Ya a agaknya dia memang tidak”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Kalau begitu bagus sekali” kata Seng Bian tong ”apabila
kau tidak memperoleh kesempatan selama ini, ada baiknya
kau serahkan saja pil pemunah pemberian gurumu itu kepada
nona Ban sebagai kakak beradik denganBan lote, tentunya dia
dapat bergaul lebih akrab, Cuma sebelum itu kau harus
merundingkan dulu persoalan ini dengan nona...”
”Sebetulnya siautitpun mempunyai keinginan untuk berbuat
demikian, hanya niat tersebut belum sempat kusampaikan
kepada nona Ban.”
”Cuma aku sarankan kepadamu jangan kelewat gegabah
ataupun terburu napsu dalam menangai persoalan ini, lebih
baik kau hubungi nona Ban lebih dulu kemudian baru
menyampaikan segala sesuatu kepadanya.”
Yang dimaksudkan hubungi disini adalah meminta kepada
Huan cu im agar mempererat hubungan cintanya dengan nona
itu.
Biarpun dia tidak mengetahui sampai di manakan
hubungan persahabatan diantara kedua orang itu, tapi sebagai
seorang yang berpengalaman, dari cara Ban Huijin menguntil
di belakang Huan cu im secara diam diam pagi tadi, ia sudah
dapat menebak bagaimanakah perasaan si nona terhadap
anak muda tersebut.
Seandainya nona itu tidak menguatirkan orang
bersangkutan buat apa pula dia menguntilnya secara
sembunyi sembunyi?
Lagi pula sewaktu kedua orang itu pulang kembali, dapat
dijumpai wajah berseri yang menyelimuti wajah nona Ban apa
lagi sewaktu bersantap dia selalu berbicara dan bergurau
dengan Huan cu im secara hangat dan mesra semua peristiwa
itu tak satupun yang dapat mengelabui matanya.
Huan cu im sebagai seorang pemuda yang pintar tentu saja
dapat menangkap arti lain dari perkataan seng lopek tersebut,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seketika juga paras mukanya berubah menjadi merah padam,
segera setelah mengiakan cepat cepat dia memohon diri.
Baru kembali ke gedung tamu agung dan belum sempat
naik ke atas loteng, ia sudah menjumpai Ban Huijin berlarian
menuruni anak tangga dengan wajah berseri.
Ketika melihat Huan cu im muncul di pintu, dengan senyum
dikulum dan wajah penuh kegembiraan ia segera berseru :
”Aku memang lagi mencarimu ”
Biarpun masih ada tiga empat buah undakan, namun
bagaikan kupu kupu di tengah aneka bunga dia segera
melayang turun dan hinggap dihadapan Huan cu im.
Huan cu im kuatir nona itu terjatuh cepat cepat dia
membangunkan tubuhnya seraya berseru:
”Ehhh... berhati hatilah ”
Ketika menyambar, ternyata ia persis menggenggam
sepasang tangannya yang putih dan halus.
Merah padam selembar wajah Ban Huijin ketika sepasang
tangannya tergenggam, ia segera meronta sambil bisiknya :
”Terima kasih...”
Kalau dibilang meronta maka lebih tepat untuk dibilang
menariknya kebelakang karena tangan tersebut masih tetap
dibiarkan tergenggam pemuda itu.
Huan cu im merasa sepasang dona itu amat lembut, empuk
dan halus, hatinya segera terasa berdebar amat keras cepat
cepat dia melepaskan tangannya seraya berbisik : ”oooh, maaf
” Ban Huijin tertawa.
”Kau adalah kakakku, karena kuatir aku terjatuh, tentu saja
kau harus membimbing adiknya...”
Rasa rikuh dan malu yang menyelimuti perasaan Huan cu
im baru terbuka sama sekali setelah mendengar perkataan ini,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sambil tertawa ia berkata lagi : ”Ya a a, benar kau memang
agak nakal, hampir saja membuat hatiku amat terperanjat”
Ban Huijin tertawa manis sekali, kemudian baru bertanya :
”Huan toako, tahukah kau apa sebabnya aku begitu terburu
napsu sehingga melompat turun ke bawah ?”
”Soal ini darimana aku bisa tahu ?”
”Aku hendak menyuruh kau menemaniku mencari batu di
Hi hoa tay”
”Dalam saat begini ? Ehmmm...”
Setelah memutar sepasang biji matanya yang bulat dan
jelas, Ban Huijin berkata lebih jauh :
”Sebenarnya aku telah berjanji dengan toako akan pergi
pagi tadi tapi gara gara kau menghilangkan kegembiraan
orang, maka aku minta kau menggantinya sekarang juga.”
Kemudian tidak sampai Huan cu im membuka suara, setelah
tertawa nakal terusnya lagi :
”Lagi pula pagi tadi aku telah menemanimu berkunjung ke
Kui bin Nia, maka sekarang kaupun harus menemaniku pergi
ke Hi hoa tay, kan ini pantas dan semestinya ?”
”Baiklah” akhirnya Huan cu im manggut manggut, ”mana
saudara Ban-..?” Dengan mulut cemberut sahut Ban Huijin :
”Barusan toako telah meneguk beberapa cawan arak dan
mabuk. Dia bilang kepalanya pusing dan enggan pergi, itulah
sebabnya aku lantas datang mencarimu.” Ternyata Ban Sian
cing tidak pergi.
”Lalu kita akan pergi dengan siapa lagi ?” tanya Huan cu im
lebih lanjut.
”Sudah tak ada lagi...”
”Waaah, kalau begitu...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika mengetahui bahwa mereka akan pergi berduaan
saja, Huan cu im baru menyesal karena terlampau cepat
menyanggupi permintaan nona tersebut, bagaimana
tanggapan orang luar seandainya mereka saksikan mereka
berdua pergi bersama ke Hi hoa tay ? Maka setelah menengok
sekejap nona itu, ujarnya lagi :
”Bagaimana...”
sebetulnya dia ingin berkata demikian : ”Bagaimana kalau
lain hari saja kita pergi ?”
Tapi setelah mengucapkan kata kata tersebut dia
terbungkam dan tak mampu melanjutkan kembali kata
katanya.
Sebaliknya Ban Huijin dengan wajah ebrseri menyahut
dengan cepat. ”Yaa, tentu saja kita harus pergi berduaan
saja.”
Mendadak diapun merasa kalau ucapan tersebut ada
penyakitnya, kontan saja paras mukanya berubah menjadi
merah dadu seperti kepiting rebus, cepat cepat lanjutnya :
”Huan toako, bukankah kau ada persoalan yang hendak
disampaikan kepadaku? Setibanya disitu, kita bisa sembari
mengumpulkan batu, kau menyampaikannya padaku.”
Huan cu im mengerti, tentunya gadis ini sudah tak sabar
menunggu sampai esok pagi, karenanya ia baru mencari akal
untuk berbuat demikian dengan sengaja merengek kepadanya
untuk diajak berpesiar ke Hi hoay tay, padahal tujuan yang
sebenarnya adalah mencari kesempatan agar ia bisa
menyampaikan persoalan yang hendak diberitahukan
kepadanya itu dengan segera.
Disamping itu, Huan cu im pun teringat dengan pesan Seng
lopek yang disampaikan kepadanya barusan, agar dia dapat
segera menghubungi Ban Huijin, dengan begitu diapun dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memancaatkan kesempatan tersebut untuk memberitahukan
kepadanya bahwa Ban Sian Cing telah terbius obat racun.
Teringat sampai disini, sambil tersenyum segera ujarnya :
”Cuma kita berdua kan tidak mengenaljalan untuk menuju
kesana...?”
Kembali Ban Huijin tersenyum manis.
”Apa sih yang mesti ditakuti?Jalanan kan lurus, memangnya
kita tak bisa bertanya?”
”Baik, mari kita berangkat, kita tanyakan dulu kepada
saudara Seng.”
”Siapa suruh kau bertanya kepada saudara Seng ?” Ban
Huijin segera mengomel. ”setelah berada diluar, masa kita tak
bisa bertanya kepada oarng dijalan?”
Agaknya sinona takut malu, dia kuatir Seng ceng hoa
melihat dia dan Huan cu im masuk keluar bersama sama
bagaimanapun juga hal ini memang cukup membuatnya malu.
Karenanya begitu selesai berkata, dia lantas menghambur
keluar bagaikan segulung hembusan angin.
OooooodwoooooO
Hi hoa tay adalah sebuah tempat berpesiar yang amat
termashur disebelah selatan kota Kim leng, disitu dihasilkan
batu batu kerikil yang berpanca warna, kecil mungil, tapi amat
menawan hati.
Menurut dongeng kuno pada jamannya Liang bu tee
bertahta dulu, ada seorang im kong hoatsu sedang memberi
ceramahnya disitu tiba tiba hujan bunga berhamburan dari
atas langit, itulah sebabnya tempat ini dinamakan Hi hoa tay
atau panggung hujan bunga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sepanjang jalan, Huan cu im dan Ban Huijin bertanya tanya
jalan kepada orang sebelum tiba di Hi hoa tay
Biarpun mereka tidak bergandengan tangan, namun Ban
Huijin selalu jalan begitu rapat dengan Huan cu im, lagipula
selalu memanggil Huan toako terus menerus membuat sang
pemuda merasa terbuai dalam alam impian-
Ditambah lagi yang laki laki ganteng dan gagah, sedang
yang perempuan cantik dan ramping, mereka benar benar
merupakan pasangan yang amat serasi, tak heran kalau
kemunculan kedua orang ini menarik perhatian orang banyak.
Biarpun Hi hoa tay merupakan sebuah tempat berpesiar
yang terkenal dengan pemandangan alam yang indah namun
bagaimanapunjua tempat itu amat terpencil dan sedikit
pengunjungnya .
Sambil mengerdipkan sepasang matanya yang jeli dan
bening bagaikan air, Ban Huijin berseru dengan gembira
”Sudah sampai, sudah sampai, Huan toako cepat kemari ”
Sambil menarik tangan Huan cu im, gadis itu berlari cepat
cepat ke depan-
Huan cu im mengikuti dibelakangnya dengan kencang,
tegurnya sambil tertawa :
”Kitakan sudah sampai ditempat tujuan, mau apa sih kau
mesti berlari lari ?”
”Aku minta kau untuk membantuku memunguti batu kerikil”
seru Ban Huijin manja.
Kalau lelaki dan perempuan muda saling bertemu, apalagi
dimasa remaja dimana benih cinta mudah tumbuh, maka
keadaan mereka ibaratnya besi semberani yang saling tarik
menarik mudah sekali untuk berdekatan satu sama lainnya,
apalagi jika disitu tiada kehadiran pihak ketiga gerak gerik
mereka akan jauh lebih bebas dan leluasa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada mulanya Ban Huijin hanya bermaksud menarik tangan
pemuda itu agar bisa lari lebih cepat, tapi sesampainya
ditempat tujuan, ia masih tetap menggenggam tangannya erat
erat, sementara tangannya yang lain dipergunakan untuk
membenahi rambutnya yang kusut. ”Pemandangan alam disini
benar benar sangat indah” serunya dengan manja.
Karena berlarian cepat, mukanyaj adi bersemu merah,
napasnya agak tersengkal, tapi sorot matanya memancarkan
sinar yang terang tak tertutup rasa girangnya yang meluap.
Huan cu im sendiri yang tangannya ditarik, hanya
mengikuti dibelakangnya seperti melayang di awan,
dipandangnya wajah nona itu lekat lekat kemudian
mengangguk. ”Ya a a, memang cantik sekali ”
Ban Huijin berpaling, sewaktu dilihatnya pemuda itu hanya
mengawasi wajahnya terus menerus tanpa berkedip mukanya
segera berubah menjadi semu merah, ujarnya kemudian
dengan tersipu sipu
”Aaah, kau memang jahat, aku kan lagi berbicara dengan
serius...”
Dengan perasaan terkejut buru buru Huan cu im berseru :
”Kau sedang marah ?”
Ban Huijin tidak menjawab, dia segera membungkukkan
badannya dan mengumpulkan beberapa biji batu kecil,
kemudian katanya lagi dengan gembira :
”Huan toako coba lihat sungguh indah batu ini mari kita
kumpulkan agak banyak sehingga bisa dipakai sebagai senjata
rahasia dikemudian hari, dengan begitu umat persilatan pun
akan memberi gelar yang amat indah kepadaku, coba menurut
pendapatmu apa yang akan mereka berikan kepadaku ?”
Menyaksikan gerak geriknya yang manja dan lincah Huan
cu im segera tersenyum: ”Bagaimana kalau Hui coa siancu ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Dan bagaimana dengan kau sendiri ?” tanya Ban Huijin
sambil mendongakkan kepalanya.
”Aku belum pernah mempergunakan senjata rahasia”
”Aaah, tidak. Kau harus memakai batuan ini sebagai
senjata rahasia pula, kalau kita sama sama pergunakannya,
itu baru menarik namanya. Oya... bagaimana kalau kuberi
julukan untukmu...”
Setelah tertawa cekikikan lanjutnya :
”Aaah, sudah ada, bagaimana kalau kau dinamakan Hui
hoa kongcu saja.”
”Aaah jelek.” Tukas Huan cu im sambil tertawa tergelak,
”kalau orang salah dengar bisa bisa aku dianggapnya sebagai
Hoa hoa kongcu (lelaki hidung bangor) ”
Dengan penuh kemesraan Ban Huijin mengerling sekejap
kearahnya, kemudian tertawa cekikikan
”Memangnya kau adalah seorang Hoa hoa kongcu tulen...”
”Bagus, kau berani menggodaku...” seru Huan cu im
sambil pasang gaya seakan akan hendak menangkap gadis
tersebut.
”Aaah...” Ban Huijin berseru kaget, lalu bagaikan kupu kupu
yang terbang ketakutan, dia melompat kesamping dan
berusaha untuk menghindarkan diri.
Hal tersbeut segera membangkitkan kembali sifat kekanak
kanakan Huan cu im, timbul niatnya untuk benar benar
menangkap gadis tersebut, serunya segera : ”^kau hendak
kabur kemana?”
Begitulah kedua orang itupun segera sudah saling berkejar
kejaran di Hi hoa tay, yang lain mengejar, seakan akan
sedang bermain petak saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ban Huijin berhamburan kian kemari berusaha menghindari
tangkapan bergema memecahkan keheningan-
Demikianlah setelah kejar mengejar berlangsung sekian
waktu, akhirnya sambil tertawa cekikikan dan minta ampun
dengan napas terengah engah Ban Huijin berseru : ”Engkoh
Huan, aku tak berani lagi”
Mendadak kakinya jadi lemas dan hampir saja roboh
terjengkang keatas tanah.
Huan cu im menjadi amat terkejut menyaksikan peristiwa
ini, cepat cepat dia melompat ke depan dan berusaha untuk
membimbingnya
Ban Huijin merasa lemas lalu terjatuh kedalam pelukan
Huan cu im...
Huan cu im sendiripun tanpa disadari segera membuka
tangannya lebar lebar dan memeluk tubuh sinona yang lembut
itu kencang kencang bisiknya kemudian ”Adik Jin, kenapa
kau?”
Kalau dihari hari biasa ia tak berani memanggil ”adik Jin”,
maka sekarang kata kata tersebut berhamburan keluar tanpa
disadari.
”Ehmm...” Ban Huijin merintih pelan sambil menyandarkan
kepalanya diatas pelukan pemuda itu.
Entah berapa saat sudah lewat, lama kemudian dengan
wajah tersipu sipu gadis itu baru mendorong tangannya dan
bangun dari dalam pelukan tubuhnya.
”adik Jin” buru buru Huan Cu im berseru, ”bagaimana kalau
kita mencari tempat untuk duduk beristirahat sejenak?”
Ban Huijin merasa amat gembira dan hangat seperti baru
saja makan gula gula semu merah yang menghiasi wajahnya
belum luntur, tetapi sambil membereskan rambutnya dia
menggelengkan kepalanya berulang kali :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Mari kita mengumpulkan batuan lebih dulu, engkoh Huan,
kau harus membantuku untuk mengumpulkan batuan itu. Oya
kau mesti mencari yang agak kecil, dengan demikian baru bisa
dipakai untuk sentilan jari, selain itu kau pun harus memilih
warna yang indah dan menarik”
”Baik, akan kubantu kau untuk mengumpulkannya” sahut
Huan cu im dengan cepat.
Mereka berdua pun sama sama mengumpulkan batu kerikil
kecil, Ban Huijin mengeluarkan sebuah kantong kain dan diisi
sampai penuh, lalu ujarnya sambil tertawa:
”Batuan ini sudah cukup buatku untuk dipergunakan
selama satu tahun, bila sudah habis terpakai nanti, kita datang
lagi ke Kim leng untuk mengumpulkannya” Lalu sembari
meluruskan badan, katanya lagi^
”Huan toako, ayo kita mencari tempat untuk duduk duduk,
kau harus memberitahukan kepadaku apa yang hendak kau
sampaikan kepadaku pagi tadi?”
Sambil berkata, sepasang matanya segera memperhatikan
sekejap sekeliling tempat itu dengan seksama, tiba tiba ia
melihat di sisi sebuah selokan terdapat batu besar berbentuk
persegi panjang, batu itu halus dan bersih dengan gembira ia
lantas berseru : ”Huan toako, cepat kemari”
Menyusul teriakan mana, seperti seekor burung kecil dia
melompat naik keatas batu tadi.
Huan cu im menyusul di belakangnya, ketika tiba disisi
selokan, Ban Huijin telah duduk diatas batu tersebut dan
menepuk nepuk sisi tubuhnya sambil berseru : ”Huan toako,
ditempat ini masih bisa didudukan satu orang lagi”
Walaupun Huan cu im merasa terlalu rapat dan mesrah apa
bila mereka berdua duduk bersama, tapi pemuda itupun tahu
betapa pentingnya persoalan yang hendak disampaikan
kepadanya dan tak boleh sampai terdengar pihak ketiga,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena itu dia mesti duduk rapat dengannya untuk bisa
diutarakan
Karenanya setelah sangsi sejenak. Akhirnya diapun duduk
disamping gadis tersebut.
”Disini tiada orang yang mendengarkan pembicaraa kita
lagi, ayo cepat berbicara” bisik Ban Huijin seraya berpaling.
Bukan saja nona ini manja, dia pun tidak merasa rikuh,
ketika berpaling, bibir dan hidungnya hampir menempel diatas
wajahnya, membuat Huan cu im merasakan hatinya bergolak
dan terangsang.
Cepat cepat pemuda itu meletakkan sepasang tangannya
diatas lutut sementara sorot matanya memandang air
diselokan yang jernih, katanya lirih :
”Setelah kuberitahukan kepadamu nanti, kau tak boleh
memberitahukan lagi kepada lain orang, termasuk toakomu
sendiri, mengerti ?”
”Aku tak bakal berbicara, setiap perkataanku akan
kusimpan di dalam hati, termasuk ibuku sendiri juga tak akan
kuberitahu, sekarang tentunya kau sudah percaya denganku
bukan ?”
Huan cu im manggut manggut. „Yaaa, aku percaya“
Menyusul kemudian dia pun bercerita bagaimana
ditemukan surat sekembalinya kedalam kamar semalam,
bagaimana dia diharuskan pergi ke Bun tek kiau pagi tadi
untuk mencari seseorang dan bagaimana dia berjumpa
dengan Lengcu Emas dalam rumah kayu tadi.
Ketika mendengar penuturan tersebut dengan perasaan
terkejut bercampur keheranan Ban Huijin segera berseru :
”Siapakah orang itu? Mengapa dia tahu kalau kau pun
mempunyai sebuah mata uang perak? Dari mana pula dia bisa
tahu kalau kau pasti akan menuruti perkataannya ?” Secara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
beruntun dia mengajukan tiga buah pertanyaan secara
berantai.
Semenjak ditengah jalan tadi Huan cu im telah
mempersiapkan diri secara baik baik dengan suara rendah
segera jawabnya :
”Sebab aku sudah dicekoki orang dengan bubuk
pembingung pikiran karena itu aku tentu akan melaksanakan
semua perintah yang mereka sampaikan kepadaku”
”Bubuk apakah yang disebut bubuk pembingung pikiran
itu? Apakah ada orang sudah melepaskan racun ke dalam
tubuhmu?” tanya Ban Huijin terperanjat.
”Barang siapa sudah menelan bubuk pembingung pikiran,
maka jalan pemikirannya akan terkendali, dan secara otomatis
orang itu akan menuruti semua perintah yang disampaikan
orang itu.”
Dengan sepasang matanya yang jeli Ban Huijin mengawasi
pemuda itu lekat lekat kemudian dengan wajah penuh rasa
kuatir tapi juga tak percaya dia berseru :
”Huan toako aku rasa kau tidak mirip dengan seseorang
yang telah terpengaruh pikiran dan kesadarannya”
”Mereka yang telah dicekoki bubuk pembingung pikiran
masih tetap memiliki pikiran dan kejernihan otaknya, daya
pengaruh racun tersebut tak akan terlihat dari luar”
”Waaah, bagaimana baiknya sekarang ? Adakah obat
pemunahnya ?” tanya Ban Huijin dengan gelisah.
Tak terlukiskan perasaan haru Huan cu im setelah
menyaksikan kegelisahan yang mencekam gadis tersebut
dengan suara yang lembut dan pelan katanya kemudian :
”Jangan kuatir, aku telah menelan obat penawarnya, kalau
tidak. Mana mungkin rahasia ini bisa kukatakan kepadamu ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Aaah ” paras muka Ban Huijin kembali berseri. ”Huan
toako memangjahat, hampir saja membuat orang mati
lantaran gelisah, oya... tahukah kau siapa yang telah
meracunimu ?”
”Soh Han sim ”
”Ia berani meracunimu? Mengapa tidak kau laporkan
perbuatannya itu kepada Hee pocu ?” tanya Ban Huijin
keheranan.
”Aku rasa didalam peristiwa ini empek Hee sendiripun
mengetahui bahkan menyetujuinya . . . ”
”Aaah ” sekali lagi Ban Huijin menjerit tertahan saking
kaget dan herannya. Memanfaatkan kesempatan yang ada
Huan cu im segera berkata lebih jauh.
”Bukan Cuma aku, bahkan saudara Ban pun bisa jadi sudah
diracuni Soh Han sim dengan bubuk pembingung pikiran itu.”
”Toako ku pun terkena dipecundangi lawan? Aneh,
mengapa tidak kutemukan sesuatu gejala yang aneh pada
dirinya?” Ban Huijin bertanya dengan terkejut.
”Bukan sudah kukatakan tadi, orang yang telah dicekoki
bubuk pembingung pikiran sama sekali tidak menunjukkan
gejala apa pun pada luarannya”
”Huan toako, bukankah kau telah menelan obat penawar
racun? Darimana kau peroleh obat penawar racun itu? Apakah
masih ada yang lain.”
”Aku masih mempunyai sebutir obat penawar racun, Cuma
benarkah kakakmu sudah terkena bubuk pembingung pikiran
hingga sekarang belum dapat kupastikan secara meyakinkan,
itulah sebabnya aku hendak meminta pertolonganmu”
”Soal siapa ?”
”Berhubung kau lebih dekat dan akrab hubungannya
dengan kakakmu maka di dalam beberapa hari mendatang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
harap kau suka lebih memperhatikan gerak geriknya, apabila
kau sudah yakin kalau dia telah keracunan, barulah kuberikan
obat penawar racun itu kepadamu”
”Bukankah tadi sudah kau katakan, orang yang telah
dicekoki bubuk pembingung pikiran, sama sekali tak akan
menunjukkan gejala apa pun pada luar wajahnya ?” Huan cu
im tertawa geli, selang berapa saat kemudian ia baru berkata :
”Ya a a, benar Dari luarnya memang tidak menunjukkan
suatu gejala pun, namun tak sulit untuk menemukan gejala
tersebut pada gerak geriknya, seperti misalnya aku, baru
sampai di Kim leng ternyata sudah ada orang yang
mengadakan kontak dengan diriku. Apabila kakakmu benar
benar sudah terpengaruh, aku yakin Lengcu emas pasti akan
berusaha menghubunginya atau mungkin juga akan
menyerahkan sesuatu tugas kepadanya, asalkan kau
memperhatikan gerak geriknya setiap saat, maka tidak sulit
rasanya untuk menemukan keanehan pada dirinya.”
Ban Huijin manggut manggut, tanyanya kemudian : ”Apa
yang mesti kulakukan seandainya berhasil menemukan
sesuatu...?”
”Kau harus selekasnya memberi kabar kepadaku, tentang
tindakan kita selanjutnya harus dirundingkan sesuai dengan
situasi dan kondisi waktu itu, mengerti ?”
”Baik, aku pasti akan melaksanakan dengan sebaikbaiknya”
dengan penuh rasa gembira bercampur rasa ingin
tahu, Ban Huijin mengangguk berulang kali. Ia segera
menyodorkan tangannya yang kecil dan lembut sambil
katanya lagi. ”Mari kita berjabatan tangan, persoalan ini hanya
kita berdua yang tahu.”
Huan cu im menyodorkan pula tangannya untuk
menggenggam tangan si nona lalu sahutnya. ”Kita sudah
hampir setengah harian lamanya keluar rumah, ayo kita
pulang sekarang.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan penuh kegembiraan Ban Huijin menenteng
sebungkus batu kerikil dan bangkit berdiri, lalu sambil
membereskan rambutnya yang kusut, katanya seraya
tersenyum manis, ”Huan toako, hari ini kita benar benar
bermain dengan gembira...”
ooodowooo
Ketika sampai di perusahaan Seng kipiau kick, magrib telah
menjelang tiba.
Dalam anggapan Seng ceng hoa, kedua orang itu memang
dasarnya merupakan sepasang kekasih, maka ia tidak terlalu
memperhatikan sebaliknya Ban Sin ceng memang ogah pergi
maka dia menyuruh adiknya pergi mencari Huan cu im, sudah
barang tentu dia lebih lebih tidak menaruh prasangka apa apa.
Kebetulan ketua Hoa san pay Siang Ihua hui juga baru
kembali dari menyambangi temannya, saat itu ia sedang
berbincang bincang dengan Seng Bian tong di dalam kamar
baca.
Tak lama kemudian malam sudah tiba, lentera telah disulut
di ruang tamu diluar kamar baca, meja perjamuan pun telah
disiapkan, namun Seng ceng hoa belum juga nampak batang
hidungnya.
Ban Sian Cing segera Celingukan kian kemari, kemudian
bertanya dengan keheranan-”Seng cianpwee, mana saudara
ceng hoa ?”
”oooh, ceng hoa baru saja keluar rumah” kata Seng Bian
tong sambil tersenyum, ”katanya seorang teman telah datang
ke Kim leng hari ini, maka dia pergi menengoknya entah ia
sudah pulang belum ? Tapi kita tidak perlu menunggunya lagi”
Perjamuan ini khusus diselenggarkan untuk menyambut
kedatangan Ban Sian ceng bersaudara serta Huan cu im,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudahbarang tentu hidangannya jauh lebih mewah ketimbang
malam sebelumnya.
Tuan rumah dan tamu lima orang bersantap dengan penuh
kegembiraan, sekalipun berkurang Seng ceng hoa seorang,
namun Siang Han hui dan Seng Bian tong adalah Bu lim
cianpwee, sedikit banyak ketiga orang itu merasa gerak
geriknya terkekang.
Ban Siang cing dan Huan cu im mempunyai takaran minum
arak yang sangat Cetek, namun mendengar Siang Han hui dan
Seng Bian tong membicarakan masalah dunia persilatan,
mereka bertiga toh asyik juga untuk mendengarkannya.
Selesai bersantap. Mereka berbincang bincang sejenak lagi
sebelum kembali ke kamar masing masing.
Sekembalinya ke kamar, Huan cu im melepaskan jubah
panjangnya dan bersiap siap memadamkan lentera untuk
beristirahat ketika secara tiba tiba ia menemukan ujung kertas
putih dibawah bantalnya, dengan perasaan tertegun ia lantas
berpikir.
”Jangan-jangan ada orang yang mengirim surat lagi
kepadaku ?”
Berpikir sampai disitu, dia pun membalikkan bantalnya,
betul juga, disitu tersisip secarik kertas yang ditindihkan
kebawah bantal, dibawah kertas terdapat pula secarik kain
hitam.
Cepat cepat diambilnya kedua bendak tersebut kemudian
diperiksa dibawah cahaya lentera, ternyata disitu bertuliskan :
”Kentongan ketiga malam nanti berangkatlah ke Kui bin sia
dan bersembunyi dihutan sebelah kiri, setelah masuk kedalam
hutan, tutup wajahmu dengan kain hitam, sampai saatnya
laksanakan tugas seperti apa yang diperintahkan Leng cu,
jangan sampai salah. Tertanda : Lengcu emas.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tertegun juga Huan cu im sehabis membaca tulisan ini
segera pikirnya :
”Kentongan ketiga malam nanti aku mesti pergi lagi ke Kui
bin sia, bahkan harus menutupi wajahku dengan kain
kerudung hitam, entah apa yang hendak dilakukan? Ehmmm
lebih baik kusampaikan berita ini kepada Seng lopek saja.”
Namun ingatan lain kembali melintas di dalam benaknya^
”Sudah pasti didalam perusahaan ini terdapat
penghianatnya, bila kusampaikan surat ini kepada Seng lopek,
bukankah sama artinya dengan membocorkan rahasia sendiri
? Yaa, betul, lebih baik aku pergi mencari Ban Huijin saja,
kemudian menyuruh dia yang menyampaikan surat ini kepada
Seng lopek, cara ini rasanya jauh lebih sesuai.”
Ia segera memadamkan lentera dan membuka pintu,
kemudian menyelinap ke beranda muka dan menyusup
kebawah jendela kamar nona Ban, dari situ ia mengetuk
jendela tersebut pelan pelan.
Pada waktu itu Ban Huijin sedang bersiap siap hendak
tidur, ketika mendengar ada orang mengetuk daun
jendelanya. Sebagai gadis yang teliti, maka diapun menduga
orang itu mengetuk jendelanya pelan pasti kuatir kedengaran
orang.
Itulah sebabnya dia segera memadamkan lenteranya,
kemudian menyelinap ke bawah jendela sambil bisiknya.
”Siapa disitu ?”
Huan cu im kuatir bila suaranya sampai kedengaran Ban
Sian cing, karenanya setelah mendengar suara teguran dari
Ban Huijin, ia segera menjawab dengan suara rendah.
”Aku, Huan cu im, kau jangan bersuara dulu, cepat buka
jendela, aku ada urusan hendak dibicarakan denganmu”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Berdebar keras hati Ban Huijin setelah mendengar ucapan
mana namun sambil membuka jendelanya setengah, dia
melongokkan kepalanya seraya menegur. ”Ada apa ?”
Hhuan cu im Celingukan sekejap ke sekeliling tempat itu ,
setelah yakin kalau diseputar sana tiada orang, maka dengan
suara rendah katanya.
”Sekembalinya ke kamar tadi, telah kutemukan secarik
kertas lagi yang menyuruhku pergi ke Kui bin sia kentongan
ketiga nanti, maka dari itu kau harus berusaha secepatnya
untuk menyampaikan kabar ini kepada Seng lopek. Aku kuatir
gerak gerikku sudah diawasi orang sehingga membocorkan
rahasiaku, maka sengaja aku datang kemari mohon
pertolonganmu agar membawa surat ini dengan begitu orang
tak sampai menaruh perhatian khusus.”
Selesai berkata ia lantas menggulung kertas itu dan
diangsurkan ke muka. Dengan cepat Ban Huijin menerimanya
kemudian bertanya lagi : ”Masih ada urusan lain ?”
”Kutunggu kedatanganmu di kamar, Cuma kau harus
berhati hati, jangan sampai ketahuan orang.”
”Yaa, aku mengerti” Ban Huijin manggut manggut.
”Nah, aku pergi dulu” bisik Huan cu im lagi, ”ayo, pintu
kamarku tak akan dikunci”
Selesai berkata diam diam ia mengundurkan diri dari situ,
sedangkan Ban Huijin juga segera menutup jendelanya rapat
rapat.
Dengan langkah yang berhati hati pula Huan cu im kembali
ke kamarnya, di depan pintu ia menanti sampai sekian lama,
barulah terdengar kemudian suara langkah kaki manusia yang
amat ringan naik ke atas loteng. Cepat cepat ia membuka
pintu kamarnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika sudah sampai diatas loteng, langkah kaki itu berjalan
lebih pelan. Huan cu im yang dapat melihat dalam kegelapan
bisa melihat kalau yang muncul adalah Ban Huijincepat
cepat dia menuju ke pintu, menanti si nona sudah
mendekat, ia baru mendesis memberi tanda.
Dengan cekatan dan ringan Ban Huijin segera menyelip
masuk ke dalam kamar. Dengan cepat Huan cu im menutup
pintu kamarnya, lalu bertanya dengan lirih. ”Kau telah bersua
dengan Seng lopek ?”
”Sudah” Ban Huijin manggut manggut.
”Apa yang dikatakan Seng lopek ?”
Dari dalam sakunya Ban Huijin mengeluarkan sebatang
bulu angsa berwarna putih putih, kemudian bisiknya.
”Menurut Seng lopek. Kau diperbolahkan pergi memenuhi
undangan tersebut, apabila terjadi sesuatu maka kau
diharuskan memasang bulu angsa tersebut diatas bahumu”
Huan cu im menerima bulu itu, kemudian tanyanya lagi:
”Apa gunanya bulu ini ?”
”Aku sendiripun tidak tahu, Seng lopek hanya berpesan
demikian-..”
Tiba tiba saja ia tertawa gembira, kembali dikeluarkan
sebatang bulu angsa dari sakunya, lalu sambil diperlihatkan ke
udara, bisiknya rendah. ”Menurut Seng lopek. Aku pun boleh
ikut, lagipula boleh pergi bersamamu”
”Aaah, hal ini mana mungkin ? Seandainya sempat
ketahuan musuh bagaimana jadinya ?”
”Menurut Seng lopek. Leng cu emas menyuruh kau datang
pada kentongan ketiga malam nanti, berarti bisajadi dia sudah
tiba disitu sebelum waktu yang ditentukan, oleh sebab itu kita
harus berangkan jauh lebih awal daripada dirinya, sekarang
juga harus berangkat.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Tapi sekarang baru menjelang kentongan pertama.” Seru
Huan cu im.
”Justru karena pergi kelewat awal maka jejak kita baru tak
akan ketahuan orang lain, malah kita bisa menemukan jejak
orang lain-”
”Tapi kau toh tidak memiliki kain hitam kerudung muka?”
”Siapa bilang aku tidak punya?” Ban Huijin tertawa manis,
”coba lihat, bukankah ini adalah kain hitam kerudung muka?”
Sembari berkata dia mengeluarkan selembar kain hitam
dari dalam sakunya dan diperlihatkan kepada pemuda
tersebut.
”Seng lopek kah yang memberikan kain kerudung hitam itu
kepadamu...?” tanya Huan cu im lagi keheranan-
”Sudahlah, tak usah banyak bertanya lagi, aku harus
kembali dulu ke kamarku untuk mengambil senjata, kaupun
jangan lupa membawa senjata. Oya, disamping itu Seng lopek
berpesan pula agar kita masuk keluar lewat pintu belakang,
dengan begitu gerak gerik kita tak sampai mengejutkan orang
lain, disamping itu kau mesti mengunci pintu depan dan keluar
dari jendela belakang, Nah berangkatlah dulu ke atas rumah
aku segera menyusul.”
Selesai berkata diapun membuka pintu kamar secara pelan
pelan, melongok sekejap ke sekeliling tempat itu kemudian
dengan cepat menyelinap keluar.
Huan cu im memasukkan setangkai bulu angsa itu kedalam
sakunya, dia tak tahu apa yang telah direncanakan Seng
lopek^ maka setelah mengambil pedang Pelangi hijaunya dan
disorenkan pada pinggang, diapun mengunci pintu depan,
membuka jendela belakang dan menyelinap keluar dari situ
Ketika dia menengok ke depan sana, suasana diseluruh
perusahaan Seng ki piaukiok terkecuali kamar baca dari Seng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lopiautau sudah memadamkan lenteranya suasana gelap gulita
mencekam seluruh tempat tersebut.
Sementara dia masih mengamati suasana di situ, Ban Huijin
telah menyelinap keluar pula dari jendela belakang kamar
tidurnya, lalu seperti sehembus angin lembut dia telah
menyelinap datang kemari.
Saat itu dia sudah berganti dengan pakaian ringkas
berwarna hijau dengan kain pembungkus kepala berwarna
hijau pula, sebilah pedang tersoren dipinggangnya, dandanan
tersebut merupakan dandanan seseorang yang hendak
berjalan malam.
Ketika nona itu menyaksikan Huan cu im masih
mengenakan jubah panjang, tanpa terasa segera tegurnya
ringan:
”Mengapa aku masih mengenakan jubah panjang ?”
”Jika tidak mengenakan jubah panjang, aku harus
mengenakan apa?”
”Untuk melakukan perjalanan ditengah malam begini, tentu
saja kau harus tukar dengan pakaian ringkas untuk berjalan
malam.”
”Aaah, itu sih terlampau merepotkan, memangnya dengan
mengenakan jubah panjang lantas aku tak dapat menempuh
perjalanan malam ?”
”Aaah segan aku denganmu...” Ban Huijin cemberut sambil
melengos kearah lain, ”ayo kita segera berangkat”
Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka
berdua melewati atap rumah menuju ke bagian belakang
perkampungan tersebut, setibanya diluar pagar mereka
berbelok menuju kebarat.
Tengah hari tadi mereka sudah pernah melewatijalanan
tersebut, tentu saja jalanan tersebut masih cukup dikenal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka, apalagi kentongan pertama sudah menjelang waktu
itu, orang yang berlalu lalang sudah semakin berkurang.
Agar gerak gerik mereka tidak sampai ketahuan orang,
terpaksa kedua orang itu memilih tempat yang gelap dan agak
terpencil untuk menyembunyian diri, barulah setelah melewati
jembatan Buntek kiau, suasana baru kian lama kian
bertambah sepi.
Dengan begitu mereka pun dapat mempergunakan ilmu
meringankan tubuh masing masing untuk berangkat ketempat
tujuan, sebelum kentongan kedua tiba mereka telah berada di
Kui bin sia.
Huan cu im segera mengangkat kepalanya dan
memperhatikan sejenak keadaan cuaca, lalu bisiknya :
”Aaah, nampaknya kedatangan kita terlalu pagi”
”Siapa bilang terlalu pagi”jawab Ban Huijin cepat,
”bukankah tadi sudah kukatakan kepada mu, justru dengan
datang lebih awal maka jejak kita baru akan sulit diketahui
orang, bahkan sebaliknya dapat mengetahui jejak orang lain”
”Mengetahuijejak siapa ?”
Ban Huijin segera menarik pemuda itu sambil mengomel:
”Kau ini, benar benar tidak memiliki pengalaman dunia
persilatan barang sedikitpun jua, kenapa masih saja berdiri
terus disitu? Ayo kita selekasnya menyembunyikan diri ke
dalam hutan sana.”
Kalau begitu mari kita menyembunyian diri kehutan sebelah
kiri saja.
”Tidak” tampik Ban Huijin, ia segera menarik pemuda itu
menuju kesisi hutan sebelah kanan, kemudian baru katanya
lagi, ”dia menyuruh kau bersembunyi disebelah kanan, dengan
begitu kita harus bersembunyi disebelah kanan, dengan begitu
kita baru bisa mengawasi gerak gerik mereka, menurut Seng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lopek. Bisa jadi mereka masih mempunyai rencana lain,
karena itu kau tidak dipergunakan menampakkan diri, juga tak
boleh bertindak secara gegabah, segala sesuatunya harus
menunggu sampai segala persoalan menjadijelas.”
”Baik, aku akan menuruti saja semua perkataanmu.”
Ban Huijin berpaling dan melemparkan s ekulum senyuman
yang amat manis ke arahnya, lalu bisiknya dengan lembut,
”Nah, beginilah baru seorang toako ku yang baik, padahal
akulah yang seharusnya menuruti perkataanmu.”
Berbicara sampai disini, dia lantas menjawil pemuda itu
sambil ujarnya lagi:
”Mungkin kedatangan kita paling awal, sekarang kita mesti
mencari tempat dulu untuk menyembunyikan diri, paling baik
lagi jikalau tak sampai diketahui orang lain, tapi kita justru kita
dapat melihat orang lain secara jelas.”
Sembari berkata diapun bergerak kedalam hutan sambil
celingukan kian kemari, berapa tombak kemudian akhirnya ia
berhasil menemukan dua batang pohon besar yang tumbuh
amat rimbun.
Dari atas hingga kebawah penuh rotan liar, seakan akan
sebuah tirai yang tebal lagi pula didepan pohon tadi tumbuh
semak belukar yang sangat lebat, ini membuat mereka berdua
dapat menyembunyikan diri secara sempurna. Dengan
perasaan girang Ban Huijin segera berseru : ”Huan toako, kita
bersembunyi disini saja”
Dia menyingkap tumbuhan rotan yang lebat itu sambil
menyelinap ke balik hutan, setelah itu bisiknya lagi.
”cepat kemari toako, tempat ini merupakan sebuah tempat
persembunyian yang sangat ideal dan nyaman, lagipula kita
pun bisa duduk duduk disini”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Huan cu im turut berjalan masuk kedalam ternyata Ban
Huijin telah duduk diatas dahan pohon ketika melihat
kedatangan pemuda itu, dia lantas menepuk nepuk dahan
disisinya seraya berkata:
”Mari, kaupun duduk disini, coba lihat, bukankah tempat ini
sangat bagus?”
Dahan pohon itu tidak terlalu besar, Huan cu im segera
duduk disampingnya dan berkata sambil tersenyum
”adik Jin, tidak kusangka kau adalah seorang gadis yang
pintar dan cekatan.”
”Aaah, apa sih artinya mencari sebuah tempat
persembunyian? Memangnya kemampuan seperti inipun
disebut pintar dan cekatan ? ibuku malah sering
mengumpatku sebagai budak yang tolol” kata Ban Huijin
sambil tertawa ringan-
”Aaah, itu kan disebabkan bibi kelewat menyayangimu,
maka ia baru berkata begini.”
”Tidak mungkin” Ban Huijin mencibir bibir, ”ibu paling pilih
kasih, baik di depan orang atau dibelakang orang, dia orang
tua selalu memuji muji kehebatan toako, dan selalu
mengatakan aku nakal, cerewet dan bodohi seakan akan aku
sama sekali tidak berguna saja.”
Huan cu im merasa amat geli setelah mendengar ucapan
mana, tanpa terasa dia berpaling dan tersenyum ke arahnya.
Ban Huijin menjadi jengkel, seraya serunya lagi.
”Eeei... kau berani mentertawakan aku ? Baik, aku tak akan
berbicara lagi denganmu” Sambil cemberut berlagak marah ia
latnas melengos ke arah lain-..
”Eeeh... kenapa menjadi marah ? Aku kan Cuma merasa
amat geli mendengar perkataanmu itu” kata Huan cu im.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Yaa, betul, aku memang sangat menggelikan” Ban Huijin
berseru makin mendongkol.
”Bukan, aku bukan maksudku begitu, Cuma kurasakan
bahwa caramu berbicara persis seperti seorang anak kecil,
bikin orang menjadi geli saja” Ban Huijin segera membungkam
dan tak berbicara lagi.
”Baiklah” kembali Huan cu im berkata, ”kalau enggan
berbicara, beristirahatlah sejenak.”
Ban Huijin masih tetap membungkam tanpa menjawab.
Melihat nona itu membungkam dan tidak berbicara lagi
maka Huan cu impun ikut terdiam.
Kedua orang itu duduk membungkam sekian lamanya, tiba
tiba pemuda itu berseru tertahan-
”Aaah, adik Jin, ada orang datang ”
”Hmmm aku tidak percaya” nona itu mendengus.
”Sungguh Ada orang telah datang”
”Mana orangnya ?” tanya Ban Huijin masih saja cemberut.
”Ssst, jangan berisik lagi”
Ketika menyaksikan pemuda itu berbicara dengan wajah
bersungguh sungguh maka diapun berjongkok dan
menyingkap semak belukar untuk mengintip keluar.
Betul juga, nampak sesosok bayangan manusia meluncur
datang ke arah hutan tersebut dengan kecepatan tinggi.
Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu, namun dia tidak
menuju ketempat mereka berada melainkan seperti anak
panah yang terlepas dari busurnya menyelinap ke tengah
hutan disebelah utara.
Dengan suara lirih Ban Huijin segera berbisik.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Mungkin sekali orang ini adalah orang yang dikirim lengcu
emas untuk bersembunyi di sini.”
”Ehmm, kalau ditinjau dari gerakan tubuhnya yang begitu
cepat, bisa kita duga bahwa dia memiliki ilmu silat yang
sangat tinggi ” sekali lagi Ban Huijin mendengus.
”Hm, aku toh tidak mengajakmu berbicara, mengapa pula
kau mengajakku berbicara ?” Huan cu im segera tersenyum.
”Sudahlah adik Jin,jangan nakal lagi, ahJangan berisik, ada
orang datang lagi.”
Kali ini Ban Huijin percaya dan benar benar tidak bersuara
lagi, ketika ia menengok ke depan melalui balik semak
belukar, betul juga, tampak olehnya sesosok bayangan
manusia sedang meluncur datang dengan kecepatan tinggi.
Kelihayan ilmu silat yang dimiliki orang ini nampakya jauh
melebihi orang pertama tadi, dalam waktu sekejap mata saja
ia telah tiba didepan hutan.
”cepat bersembunyi, agaknya dia sedang berjalan menuju
ke arah kita berada ” Huan cu im kembali berbisik.
Cepat cepat kedua orang itu menyembunyikan diri dengan
bertiarap ke atas tanah.
Terdengar ujung baju terhembus angin berkelebat lewat
dari atas kepala mereka dan sekejap mata kemudian sudah
tak kedengaran suara lagi, jelas orang itu sudah menerobos
masuk ke dalam hutan-
Huan cu im memasang telinga dan memperhatikan sejenak,
kemudian baru bisiknya ”Gerakan tubuh orang ini benar benar
sangat cepat ”
”Apakah dia sudah pergi jauh?” bisik Ban Huijin lirih.
”Tempat dimana dia menyembunyikan diri adalah di balik
hutan kita sana, tadi kita seharusnya bersembunyi didalam
hutan sebelah kiri, bila ditinjau dari keadaan ini berarti setiap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudut hutan telah disiapkan orang orangnya, sekarang kita
bersembunyi satu sudut dengannya, ini membuat kita kurang
leluasa dalam berbicara nanti.”
”Apakah dia dapat menangkap pembicaraan kita ?”
”Aku sendiri dapat menangkap suara yang berasal dari
sepuluh kaki disekitarku, sedangkan orang itu memiliki
kepandaian silat yang jauh lebih tangguh daripada ku, tentu
saja jarak pendengarannya akan lebih jauh lagi”
”Kalau begitu kita tak usah berbicara lagi”
Kedua orang itu benar benar tidak berbicara lagi, tapi Ban
Huijin pelan pelan menjatuhkan diri kedalam pelukan pemuda
tersebut.
Langit yang gelap gulita, hutan yang gelap pekat dan
tumbuhan rotan yang menyerupai tirai tebal, membuat kedua
orang itu seolah olah terpisah sama sekali dari dunia luar.
Dalam dunia yang kecil itulah mereka berdua duduk sambil
saling bersandaran.
Justru karena tidak saling berbicara, dua hati pun tergoda
oleh suasana dan keadaan sehingga tanpa terasa mereka
saling bergenggaman tangan dan saling bersenderan badan.
Huan cu im yang tergoda oleh keadaan segera memeluk
pinggang nona itu erat erat, mereka tak perlu berbicara lagi,
karena hati mereka sudah bersatu padu, keadaan demikian ini
rasanya jauh lebih baik daripada mengutarakan dengan
berbagai kata. Waktu pun pelan pelan berlalu dalam suasana
yang penuh romantis...
Mendadak terdengar suara gemerisik yang amat keras
bergema dari kejauhan sana yang semakin mendekati hutan
tersebut.
Huan cu im segera tersentak kaget, cepat cepat ia berbisik
kesisi telinga gadis itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”adik Jin, ada orang datang,jangan berisik.”
Merah padam selembar wajah Ban Huijin sesudah
mendengar perkataan itu, cepat cepat dia menyingkap semak
belukar dan melongok keluar sana.
Namun sebelum gadis itu bertindak lebih jauh, Huan cu im
telah menangkap tangannya seraya berbisik:
”orang itu sudah berada diluar hutan, bila kau membuka
rumput seenaknya sendiri, nisCaya jejak kita akan segera
ketahuan”
Pada saat itulah terdengar seseorang berseru dengan suara
nyaring:
”Aku orang she Lian telah datang memenuhi janji, mana
tuan rumahnya? Mengapa masih belum juga menampakkan
diri?”
Huan cu im yang mendengar suara seruan tersebut
menjadi tertegun dibuatnya.
Sebaliknya Ban Huijin segera menempelkan bibirnya disisi
telinga pemuda tersebut sambil katanya:
”^, rupanya yang datang adalah engkoh tua”
Huan cu im segera berpaling dan menempelkan pula
bibirnya disisi telinga nona itu sambil menyahut.
”Menurut pendapatmu, mungkinkah dia diundang kemari
oleh Lengcu emas...?”
”Ya a, bisa jadi memang demikian”
Pada saat itulah terdengar suara suara seseorang yang lain
menjawab dengan nada yang dingin dan menyeramkan-
”Lian tayhiap memang seorang yang sangat memegang
janji, sudah cukup lama siaute menantikan kedatanganmu
disini”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu mendengar suara tersebut, Huan cu im segera dapat
mengenali suara tersebut sebagai suara aneh dari Lengcu
emas.
Berdasarkan perhitungannya suara itu dikumandangkan
dari jarak delapan sembilan kaki disisi kirinya, yakni dibalik
hutan dimana mereka berdua menyembunyikan diri sekarang.
Itu berarti dia adalah bayangan hitam yang menerjang
masuk kedalam hutan tadi, tak disangka ia telah bersembunyi
disisi kirinya yang berjarak Cuma sepuluh kaki saja dari
tempat persembunyiannya tanpa diketahui olehnya, masih
untung mereka berdua tidak banyak berbicara, kalau tidak.
Bukankah jejaknya akan ketahuan ?
Dalam pada itu, Lengcu emas telah bertindak keluar dari
tempat persembunyiannya bersamaan dengan seruan
tersebut.
Pelan-pelan Ban Huijin menyingkap rerumputan lalu
mengintip keluar...
Tampak olehnya si engkoh tua Pengemis penakluk harimau
Lian Sam sin dengan dandanan seperti pagi tadi telah
mengundurkan diri sejauh empat lima kaki dan berdiri tak
bergerak. Ditengah kegelapan sorot matanya yang tajam
diarahkan ke arah hutan-
Yang dipandang olehnya tentu saja Lengcu emas sebab
Lengcu emas baru saja keluar dari balik hutan, posisinya
terletak disebelah kiri tempat dimana mereka berdua
menyembunyikan diri.
Oleh sebab itulah dalam perasaan Ban Huijin, sorot mata
Lian Sam sin yang tajam seolah-olah ditujukan ke arahnya, hal
tersebut membuat hatinya diam diam merasa terperanjat.
Ketika berpaling lagi ke arah lain, tampak olehnya dari balik
hutan sebelah kiri pelan pelan berjalan keluar sesosok
bayangan hitam yang tinggi kurus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang itu mengenakan baju berwarna hitam seluruh
mukanya dikerudungi pula dengan kain hitam sehingga hanya
nampak sepasang matanya yang memancarkan sinar tajam.
Justru karena perawakan tubuhnya ceking lagi jangkung,
ditambah lagi memakai baju hitam dan bergerak sangat
lamban sehingga kelihatan seperti melayang ditengah udara,
maka keadaannya tak ubahnya seperti sesosok sukma
gentayangan yang munculkan diri dari balik hutan-
Bergidik hati Ban Huijin setelah menyaksikan dandanan
seperti itu sekujur badannya menggigil, digenggamnya tangan
Huan cu im erat erat, kemudian bisiknya. ”Siapa sih orang
itu?”
”Dia adalah Lengcu emas”
”Hmm, jika ditinjau dari dandanannya yang macam setan
itu, sudah pasti dia bukan orang baik baik” dengus Ban Huijin
kemudian-
Walaupun perkataan itu diucapkan tidak terlalu nyaring
namun tidak termasuk pula pelan-
Untung saja Lian Sam sin dan lengcu emas telah saling
berhadapan muda waktu itu, terdengar si pengemis telah
menegur dengan suara nyaring. ”Kau kah yang menyebut diri
sebagai pemilik Kui bin sia ?”
Suara teguran yang amat nyaring ini segera menutupi
suara dengusan dariBan Huijin tadi.
Huan cu im segera berbisik lirih.
”Kalau ingin berbicara mesti berhati hati, jangan sampai
membocorkan jejak kita sendiri.”
Dalam pada itu Lengcu emas telah menjawab dengan suara
yang menyeramkan-”Benar, akulah orangnya”
”Sudah banyak tempat kukunjungi, baik didaerah utara
maupun daerah selatan, namun belum pernah kujumpai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
manusia seperti dirimu itu” jengek Lian Sam sin sinis. Kembali
Lengcu emas tertawa berat, lalujawabnya dengan suara yang
rendah dan dalam.
”Itu berarti pengetahuan dan pengalamanmu yang
terlampau cetek sehingga tidak banyak nama yang kau kenal”
Lian Sam sin tertawa nyaring:
”Kalau ditinjau dari keberanianmu menyebut diri sebagai
pemilik Kui bin sia, aku duga kau pasti seorang yang
mempunyai kedudukan dan nama besar dalam dunia
persilatan, mengapa kau tak berani melepaskan kain kerudung
hitammu agar aku si pengemis tua dapat menyaksikan
bagaimanakah raut wajah asli dari kau si Siacu ?”
”Aku rasa hal ini tidak perlu” kata Lengcu emas sembari
tertawa seram.
Lian Sam sin mendengus, kemudian dengan sorot matanya
yang tajam bagaikan sembilu diawasinya pihak lawan lekat
lekat, setelah itu katanya kemudian-
”Baiklah, kalau begitu silahkan kau sampaikan apa maksud
dan tujuanmu mengundang kehadiran aku si pengemis tua
kemari pada malam ini...?”
”Aku sengaja mengundang kehadiran loko, karena ada satu
masalah yang hendak kurundingkan denganmu.”
Ketika berbicara sampai disini, tiba tiba ia menarik suaranya
panjang panjang lalu berhenti berbicara. Setelah mengangkat
kepalanya pelan pelan ia bertanya lagi. ”Kau telah berkunjung
kerumah kayu di tengah hutan sana?”
”Benar”
”Untuk menyelidiki kematian dari seorang anggota
pelindung hukum perkumpulanmu?”
”Benar”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Aku harap kau sudah meninggalkan kota Kim leng
sebelum tengah hari esok”
”Apakah kehadiranku telah mengganggu pekerjaanmu?”
jengek Lian Sam sin dengan sepasang matanya memancarkan
sinar tajam.
-oo0dw0oo-
Jilid: 17
”Lebih baik kau jangan banyak menanyakan tentang
persoalan ini..” Lian Sam sin segera tertawa tergelak:
”Haaahh haa haa aku si pengemis tua mempunyai suatu
watak yang aneh, yaitu paling senang menanya seseorang
hingga sampai sejelas jelasnya, bukan Cuma mau bertanya
sampai jelas, aku si pengemis tua pun ingin tahu seandainya
aku tidak meninggalkan Kim leng, maka persoalan apakah
yang telah mengganggumu?” Kemudian setelah berhenti
sejenak. Sambungnya lebih jauh :
”Disamping itu akupun merasa amat tertarik sekali dengan
julukanmu sebagai pemilik Kui bin sia ini, pingin kuketahui
sebenarnya malaikat sakti dari manakah dirimu itu, apakah
kau bersedia memberi keterangan kepadaku ?”
”Lian Sam sin, aku minta kepadamu untuk meninggalkan
kota Kim leng karena mengingat kau tidak gampang
mendapatkan nama besarmu itu bila kau mengira aku sedang
mengajakmu untuk membicarakan soal pertukaran syarat,
maka anggapanmu itu keliru besar sekali.”
”Haahaa... haahaa....” Lian Sam sin segera mendongakkan
kepalanya dan tertawa terbahak bahak. Ditatapnya lawan
ketat ketat, kemudian serunya :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Rasanya aku si pengemis tua masih dapat menduga
beberapa bagian atas maksud dan tujuanmu, sekalipun kau
tidak bersedia melepaskan kain kerudung mukamu, akupun
dapat menduganya, oleh sebab itu.”
Sengaja dia menarik perkataan itu panjang panjang dan
tidak melanjutkan perkataannya lagi
Dengan suara rendah Ban Hui jin segera berkata :
”Huan toako, kalau didengar dari nada pembicaraannya itu,
tampaknya engkoh tua sudah mengetahui akan asal usul dari
Leng cu emas tersebut.”
Waktu itu, Huan cu im sedang memusatkan pikirannya
untuk mendengarkan pembicaraan kedua orang tersebut,
maka ia segera memberi tanda agar nona itu jangan berbicara
dulu. Dalam pada itu Lengcu emas telah maju kedepan dan
berseru dengan suara dalam : ”oleh karena itu kenapa ?”
Lian Sam sin berdiri dengan wajah serius katanya dengan
nada bersungguh sungguh :
”oleh karena itu aku berharap kau bisa menyadari
kesalahan dan jangan sampai terjerumus lebih jauh”
”Lian Sam sin” dengan pancaran hawa napsu membunuh
menyelimuti wajah Lengcu emas dan berteriak keras, ”malam
ini kau tidak perlu meninggalkan Kui bin sia lagi”
”Memangnya kau dapat menahan aku si pengemis tua ?
jengek Lian Sam sin sambil tertawa nyaring.
”Aku menghendaki nyawamu ”
”Bagus sekali kalau begitu” bentak Lian Sam sin dengan
suara keras, ”kebetulan sekali aku sipengemis tua memang
akan mencoba akan kelihayan jurus seranganmu”
Belum selesai dia membentak tiba tiba tubuhnya mendesak
maju kedepan telapak tangan kanannya diayunkan membuat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gerak tipuan sementara tangan kirinya secepat kilat
dilontarkan melancarkan cengkeraman kewajah Lengcu emas.
Jurus Kiam liong tam itu atau naga emas mementang cakar
ini sudah dipersiapkan semenjak tadi, maka begitu suara
bergema, tubuhnya sudah menerjang kedepan diiringi
sambaran cakar maut.
Namun Lengcu emaspun tidak berbuat bodoh, tubuh
bagian atasnya segera mengigos kesamping, lalu tangan
kirinya menyambar pergelangan tangan kirinya Lian Sam sin
sedang tangan kanannya membacok dada pengemis tersebut
dengan suatu ayunan maut.
Serangan tersebut dilancarkan amat cepat, tenaga
dalamnyapun amat sempurna, bukan saja tak kalah dari Lian
Sam sin, malahan bisa jadi melebihi kemampuannya.
Lian Sam sin amat terkesiap. Dengan cepat dia menarik
kembali tangan kirinya menyusul kemudian telapak tangan
kanannya didorong kemuka untuk menyambut serangan
tersebut dengan keras lawan keras.
”Blaaammm...”
Ketika sepasang telapak tangan mereka saling beradu satu
sama lainnya, segera timbul benturan keras yang berakibat
kedua belah pihak sama sama tergetar mundur selangkah.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Lian Sam sin, sambil
mendaham serunya: ”Tenaga dalam yang kau miliki benar
benar luar biasa”
Lengcu emas tertawa seram, tiba tiba ia mundur berapa
depa ke belakang kemudian sambil bertepuk tangan teriaknya
: ”Dimana utusan perak?
Ban Hui jin yang mendengar perkataan tersebut segera
berbisik lirih : ”Dia sedang memanggilmu ”
”Ssst, jangan berisik ”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara mereka berdua masih bercakap cakap.
Mendadak terdengar suara desingan angin tajam berkelebat
lewat, dua sosok bayangan manusia bagaikan burung elang
sudah meluncur keluar dari sisi kanan dan bagian depan hutan
tersebut kedua sosok manusia tadi langsung menuju ke
tengah arena.
Ternyata mereka adalah dua orang manusia berbaju hijau
yang berkerudung hitam, dengan pedang terhunus mereka
berdiri tak bergerak.
Dengan demikian berarti mereka telah membentuk posisi
segi tiga yang mengepung si pengemis penakluk harimau Lian
Sam sin ditengah arena.
Tapi kalau dibilang yang benar, seharusnya mereka hanya
mengurung pada bagian belakang, kiri dan depan Lian Sam
sin saja, dengan bagian kanannya tetap kosong.
Bagian kanan Lian Sam sin tak lain adalah bagian kiri
dimana mereka berdua menyembunyikan diri.
Dengan sorot mata memancarkan keheranan Lengcu emas
segera berpaling ke sisi kiri hutan dan memandang sekejap
kesana.
Dengan cepat Huan cu im mengerti apa gerangan yang
terjadi diam diam pikirnya :
”Kalau begitu tempat kosong yang berada disebelah kiri itu
seharusnya merupakan tempatku.”
Dalam pada itu Lian Sam sin telah mendongakkan
kepalanya dan tertawa tergelak ditatapnya dua orang manusia
berbaju hijau itu sekejap kemudian katanya : ”Apakah barisan
anda hanya terdiri dari kedua orang ini saja ?”
Dengan suara dalam Lengcu emas segera membentak :
”Maju”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bersamaan dengan seruan tersebut dia menerjang kemuka
dengan mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah
pukulan dahsyat ketubuh Lian Sam sin.
Tanpa mengeluarkan sedikit suarapun kedua orang
manusia berbaju hijau itu mengayunkan pedangnya dan
menyerang pula dari sisi kiri dan kanan-
Gerak serangan yang dilakukan kedua orang ini aneh sekali
tampak cahaya pedang menyilaukan mata, serangan yang
dilontarkan kedepanpun amat dahsyat dan luar biasa dapat
diketahui betapa lihay nya ilmu silat yang dimiliki orang itu.
Ban Hui jin yang menyaksikan kejadian tersebut tiba tiba
berseru tertahan, tanpa terasa dia mengalihkan perhatiannya
kebeiakang tubuh Lian Sam sin dimana seorang manusia
berbaju hijau sedang melancarkan serangan-
Sebaliknya Huan cu im yang menyaksikan Lengcu emas
bersama dua orang manusia baju hijau mengerubuti Lian Sam
sin menjadi gelisah, dia tidak mengetahui apa yang mesti
diperbuatnya sekarang.
Oleh sebab itu terhadap seruan tertahan dari Ban Hui jin
serta perubahan mimik wajahnya ia sama sekali tidak
menaruh perhatian
Lian Sam sin yang saling bentrok dengan Lengcu emas itu
segera mengetahui bahwa orang yang menyebut diri sebagai
pemilik Kui bin sia ini memiliki kepandaian silat yang sama
sekali tidak berada dibawah kepandaian sendiri sebaliknya dua
orang manysia berbaju hijau itupun agaknya bukan termasuk
manusia yang berasal dari golongan lemah.
Kerja sama tiga orang jagoan tangguh itu segera
menimbulkan kekuatan yang amat luar biasa lagi pula entah
serangan siapapun yang berhasil dipunahkan olehnya, dua
orang yang lain pasti memanfaatkan kesempatan tersebut
untuk menyerangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan satu melawan tiga orang, terpaksa ia harus
mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk
menghadapi.
Pertarungan semacam ini boleh dibilang paling membuang
tenaga dan paling tidak tahan untuk bertarung lama, bila
ditinjau dari persiapan lawan, agaknya pihak musuh telah
mempersiapkan orang orangnya secara sempurna dengan
maksud hendak merenggut selembar nyawanya.
Sementara dia masih termenung, ketiga lawannya sudah
bergerak kedepan, Lengcu emas menerjang tiba lebih duluan
sambil melepaskan bacokan maut yang disertai dengan
deruan angin serangan yang maha dahsyat.
Lian Sam sin tidak ingin bertarung secara kekerasan
melawan musuhnya, dengan cepat dia menjejakkan kakinya
keatas tanah sambil bergeser beberapa depa kesamping kiri
kemudian telapak tangan kirinya diayunkan kedepan
melepaskan sebuah bacokan dahsyat menerjang ayunan
pedang manusia berbaju hijau yang berada di sebelah kiri.
Geseran tubuhnya kesamping kiri ini benar benar dilakukan
dengan amat jitu, dengan amat manis sekali dia berhasil
meloloskan diri dari serangan yang datang dari depan dan sisi
kanan itu.
Agaknya manusia berbaju hijau yang berada disebelah kiri
itu tidak menyangka kalau dia akan maju bukannya
menghindar, terutama sekali serangan mautnya yang
menerjang keatas pedang sendiri
Betul pedang yang digenggamnya merupakan sebilah
pedang baja yang tidak gampang dipatahkan dengan
kekuatan serangan lawan namun dengan terjadinya tumbukan
tersebut berarti permainan jurus serangannya pun akan
menceng pula.
Tentu saja dia tak akan membiarkan orang lain menumbuk
diatas senjata itu sambil putar pergelangan tangannya untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memunahkan serangan lawan dia mundur selangkah
kebelakang.
Baru saja manusia berbaju hijau yang berada disebelah kiri
itu mundur, lengcu emas dan manusia berbaju hijau yang ada
disebelah kanan serentak maju kedepan sambil melancarkan
serangan
Yang satu melontarkan sepasang telapak tangannya secara
berantai, maka yang lain memutar pula pedangnya
menciptakan desingan angin tajam bagaikan amukan ombak
disamudra yang benar-benar mengerikan hati.
Sementara itu, manusia berbaju hijau yang berada
disebelah kiri itu segera maju kembali setelah mundur,
pedangnya melepaskan sebuah sapuan maut yang dahsyat
kemudian melepaskan pula serangkaian serangan gencar.
Semakin bertarung, Lian Sam sin semakin bersemangat,
tiba tiba serunya sambil tertawa tergelak :
”Suatu serangan yang amat bagus”
Tubuhnya segera berkelebat diantara ketiga orang
tersebut, sepasang telapak tangannya diputar sedemikian rupa
melepaskan serangan gencar yang membendung ancaman
dari ketiga orang lawannya.
Pertarungan yang berlangsung kali ini benar benar amat
sengit dan mengerikan hati, membuat pasir dan debu ikut pula
beterbangan.
Ban Hui jin yang mengikuti jalannya pertarungan tersebut
semakin memandang semakin tegang perasaannya, akhirnya
dia tak bisa menahan diri lagi digenggamnya tangan Huan cu
im erat erat lalu bisiknya lirih :
”Huan toako dia... mungkinkah dia adalah toako ku...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Siapa yang kau maksudkan?” tanya Huan cu im terkesiap.
Sambil menuding kedepan jawab Ban Hui jin : ”Itu dia
manusia berkerudung yang ada disebelah kiri”
”Apakah kau menduga dia adalah kakakmu?”
”Tidak- jurus serangan yang dipergunakan mirip dengan
Hong san kiam hoan, bahkan semakin kupandang semakin
mirip rasanya”
”Ehmm bisa saja hal ini terjadi”
Huan cu im terbayang kembali bagaimana dirinya bisa
menjadi utusan perak setelah dicekoki bubuk pembingung
pikiran oleh lawan Ban Sian Ceng telah dicekoki pula dengan
bubuk pembingung pikiran yang dicampurkan kedalam
araknya, sudah barang tentu dia pun akan menjadi seorang
utusan perak. Berpikir sampai disini, diapun berbisik ”Entah
siapakah seseorang yang lain itu?
”Waaah, bagaimana baiknya sekarang?” tanya Ban Hui jin
dengan perasaan gelisah.
”Tentang soal ini...”
Huan cu im hanya sanggup berkata demikian, sebab dia
sendiripun tidak tahu apa yang harus diucapkannya sekarang?
Pada saat itulah, tiba tiba Ban Hui jin mendengar seseorang
berbisik dengan suara lirih :
”Nona Ban, waktunya sudah tiba, kau dan Huan hiantit
segera mengenakan kain kerudung hitam dan kita maju
bersama sama, kalian berdua pergi menghadapi manusia
berkerudung yang ada disebelah kanan tapi kalian mesti ingat,
hanya boleh mendesaknya jangan beradu kekerasan
dengannya”
Ban Hui jin sudah mendengar kalau si pembicara tersebut
adalah Seng Lopek, dengan perasaan girang segera serunya
tanpa terasa : ”Baik ”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Huan cu im yang berada disisinya menjadi keheranan, ia
segera bertanya : ”Hei apa yang kau katakan ?”
”cepat kenakan kain kerudung hitammu, kita segera keluar”
”Kita keluar mau apa?”
”Tentu saja membantu engkoh tua, kita berdua bekerja
sama menghadapi manusia berkerudung yang berada
disebelah kanan”
”Bukankah kau mengatakan orang yang berada disebelah
kiri adalah kakakmu ?”
”oleh sebab itulah Seng lopek meminta kepada kita berdua
untuk menghadapi manusia berkerudung yang berada
disebelah kanan”
”Seng lopek yang menyuruh kita menghadapi manusia
berkerudung yang ada disebelah kanan itu ?”
”Aduuuh mak”Ban Hui jin berseru dengan gelisah
”kau lupa kita sedang berada dimana sekarang, mengapa
sih kau bertanya terus tiada hentinya”
”Kukatakan saja padamu Seng lopek telah datang dan
dialah yang minta kepada kita berdua untuk bekerja sama
untuk menghadapi manusia yang ada disebelah kanan itu,
Cuma kita hanya boleh mendesaknya, tak boleh beradu
kekerasan dengannya nah cukup, sekarang kau sudah paham
bukan?”
Huan cu im manggut manggut dengan cepat mereka
berdua mengeluarkan kain kerudung dan menutupkan keatas
wajah masing masing
Kemudian Ban Hui jin mengeluarkan pula bulu angsa putih
itu dan dikenakan pada pakaiannya sambil berbisik: ”Huan
toako, jangan lupa dengan benda ini”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Belum habis dia berkata, terdengar desiran angin tajam
memmbelah angkasa kembali muncul dua sosok bayangan
manusia yang meluncur kedepan hutan-
”Mari kita segera keluar” desak Ban Hui jin kemudian-
Ia segera menarik Huan cu im untuk bangkit berdiri,
kemudian dengan sekali jejakkan kaki merekapun terjun pula
ketengah arena pertarungan-
Dengan sorot mata yang tajam Huan cu im memperhatikan
kedua orang manusia yang berada dihadapannya, ternyata
merekapun mengenakan sebatang bulu angsa pada dadanya
mengertilah dia, kesemuanya ini pasti sudah diatur Seng lopek
secara sempurna.
Pada saat itulah, dua orang manusia yang berada
dihadapannyatelah menggerakkan senjatanya menyerang
lelaki berkerudung yang berada disebelah kiri Lian Sam sin.
Oooodwoooo
Huan cu im dan Ban Hui jin tak berani berayal lagi serentak
mereka meloloskan pedang masing masing dan menyerang
manusia berkerudung hitam yang berada disebelah kanan Lian
Sam sin-
Selama ini, sipengemis penakluk harimau Lian Sam sin
telah bertarung sebanyak tiga empat puluh gebrakan melawan
ketiga orang musuhnya, Lengcu emas yang berada
dihadapannya sama sekali tidak menggunakan senjata namun
setiap bacokan yang dilontarkan olehnya selalu menimbulkan
deruan angin serangan yang amat memekikkan telinga, hal ini
menunjukkan kalau tenaga dalam yang dimilikinya hampir
seimbang dengan kepandaian yang dimiliki sendiri
Hal ini masih ditambah pula dengan kerubutan kedua
manusia berkerudung yang datang dari kiri kanan arena,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
serangan pedang mereka benar benar amat gencar dan
menggidikkan hati.
Terutama orang yang berada disebelah kanan itu, didalam
perputaran pedangnya, tangan kirinya selalu mencari peluang
dengan membidikkan serangan angin jari yang kuat dan
dahsyat, membuat orang harus waspada dan tak berani
bertindak sembrono.
Tiga empat puluh gebrakan kemudian sipengemis tua itu
sudah dibuat kalang kabut tak keruan dan mesti menghadapi
dengan segenap kekuatan yang dimilikinya.
Ketika secara tiba tiba ia menyaksikan ada empat orang
manusia berkerudung muncul pula ditengah arena, diam diam
ia lantas berpikir :
”Tampaknya malam ini aku sipengemis tua benar benar
akan pulang ke akhirat”
Namun dimulutnya dia tak mau mengaku kalah dengan
begitu saja, sambil tertawa nyaring segera serunya :
”Bagus sekali, berapa orang lagi yang kalian miliki, ayo
suruh mereka maju semua”
Secara beruntun dia lancarkan dua buah pukulan berantai
untuk membacok tubuh Lengcu emas.
Semua peristiwa ini berlangsung didalam sekejap mata
saja, manusia berkerudung yang memakai bulu angsa putih itu
tahu tahu sudah berada didepan manusia berkerudung yang
ada disebelah kiri itu dan mencukilkan pedangnya keatas.
”Traaang...”
Diiringi suara benturan keras, ia telah menangkis pedang
dari manusia berkerudung disebelah kiri itu, suatu
pertarungan sengit pun segera berkobar^
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam pada itu Huan cu im danBan Hui jin berdua telah
mendesak tiba dari sisi kiri dan kanan tubuh manusia
berkerudung yang berada disebelah kanan
Tampaknya manusia berkerudung yang berada disebelah
kanan itu sudah mempunyai pengalaman yang cukup matang
didalam menghadapi serangan musuh, sebelum kedua orang
itu menyerbu kemuka, mereka sudah merasakan akan hal itu
dan segera membalikkan tubuhnya.
Ban Hui jin mendengus dia angkat pedangnya ke atas
untuk menangkis ancaman tersebut, kemudian balik
melepaskan sebuah tusukan kilat kedepan.
Manusia berkerudung itu menjadi tertegun tangan kirinya
segera melepaskan sebuah pukulan untuk menahan gerak
serangan pedang dari Ban Hui jin.
Huan cu im dapat merasakan bahwa orang itu memiliki
tenaga dalam yang cukup sempurna, dia segera maju kedepan
pedang pelangi hijaunya dengan pancaran sinar kehijau
hijauan langsung menusuk kedepan.
Tiba tiba manusia berkerudung itu membalikkan pedangnya
lalu. ”criiing” menekan diatas tubuh pedang Huan cu im,
kemudian bentaknya keras keras : ”Kalian-..”
Dia sengaja merubah nada suaranya dengan mengutarakan
suara tersebut jauh lebih berat, namun tidak dapat menutupi
ketuaannya.
Ban Hui jin enggan bersuara, pedangnya setelah ditarik
segera melancarkan serangan kembali, tiga titik cahaya perak
memancar keluar dari pedangnya dan mendesak ke depan.
Huan cu im sendiripun tidak berbicara, dimana cahaya
pedangnya berkelebat, dia segera mengembangkan
permainan ilmu pedangnya yang mengimbangi permainan dan
untuk mendesak manusia berkerudung tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Manusia berkerudung itu mendengus dingin, pedangnya
diputar putar tidak kalah gencarnya, pertarungan sengit pun
segera berkobar.
Dipihak lain Lengcu emas dan Lian Sam sin telah saling
beradu tenaga sebanyak dua kali akibat dari bentrokan
tersebut mereka berdua sama sama tergetar mundur sejauh
satu langkah, ketika secara tiba tiba ia menyaksikan
munculnya empat manusia berkerudung, hatinya segera
dibuat tertegun.
Lian Sam sin sendiri yang menyaksikan kedua orang
musuhnya yang menyergap dari kiri dan kanan kini sudah
disambut oleh tiga manusia berkerudung yang datang
belakangan, semangatnya kontan saja berkobar kembali,
ditatapnya Lengcu emas lekat lekat kemudian serunya sambil
tertawa terbahak bahak :
”Haaah haa haaa... mari, mari, sekarang tinggal kita berdua
saja, mari kita bertarung dengan sebaik baiknya ”
Di tengah bentakan mana tubuhnya segera melompat
kedepan dan sepasang telapak tangannya secara beruntun
melancarkan serangkaian serangan berantai.
Semenjak diketahui tiga orang jago lihay sehingga sama
sekai tidak mampu bertindak leluasa tadi ia sudah mendongkol
sekali dibuatnya, kini setelah ada orang yang menghadapi dua
musuh lainnya sehingga tinggal Kui bin slacu seorang yang
harus dihadapi, dengan semangat yang berkobar kobar ia
lantas bertarung penuh napsu membunuh.
Lengcu emas benar benar amat terkesiap menghadapi
situasi yang sama sekali tidak terduga olehnya ini, terutama
atas kemunculan empat orang manusia berkerudung yang
sama sekali tak dikenalnya itu, dia lebih panik lagi setelah
kedua orang pembantunya ternyata dihadapi oleh tiga
manusia berkerudung yang tak dikenalnya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Padahal sipengemis penakluk harimau Lian Sam sin
mempunyai kepandaian yang hampir seimbang dengan
kepandaian sendiri jelas tidak gampang untuk
mengunggulinya, ditambah pula masih ada seorang manusia
berkerudung lagi yang berdiri disisi Hutan sambil berpeluk
tangan, perasaan was was dan kuatirnya segera mencekam
seluruh perasaannya.
Ketika Lian Sam sin melompat kedepan sambil melancarkan
dua bacokan maut yang disertai kekuatan dahsyat, tentu saja
ia tak ingin menerimanya dengan kekerasan, sambil
mengebaskan ujung bajunya secepat kilat ia mundur sejauh
beberapa langkah ke belakang.
Tentu saja Lian Sam sin tak akan membiarkan musuhnya
mundur dengan begitu saja, sambil tertawa tergelak lagi
ejeknya: ”Apakah kau sudah takut dan putus asa?”
Ditengah suara tertawanya, dia mendesak maju kemuka,
tangan kanannya dengan jurus Naga hijau mementang cakar
langsung menyerang dada Lengcu emas.
Dalam serangan tersebut boleh dibilang ia telah
mempergunakan tenaganya sebesar delapan bagian, selain
serangannya dahsyat kekuatannya pun luar biasa, seperti
amukan ombak ditengah samudra langsung menumbruk
kedada lawan-
Menghadapi ancaman yang begitu mendesak kearahnya
Lengcu emas segera mendesis sinis, sambil memutar badan
dia melepaskan sebuah serangan balasan
Dalam pada itu Lian Sam sin telah merendahkan tubuhnya
bersamaan dengan dilepaskannya pukulan dengan telapak
tangan kanannya, sedang tangan kirinya diputar dengan
kelima jari tangannya yang dipentangkan lebar lebar dia
ancam dada musuh.
Didalam serangannya ini ia justru sembunyikan serangan
mematikan dibalik telapak tangan kanannya, jurus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
serangannya aneh dan sama sekali diluar dugaan, itulah jurus
menahan harimau merenggut nyali yang merupakan jurus
andalan Pengemis penakluk harimau artinya dengan telapak
tangan kanan menahan harimau, telapak tangan kirinya
mencomot nyali.
Padahal Lengcu emas telah mempersiapkan serangan
telapak tangan kanannya ketika secara tiba tiba ia
menyaksikan Lian Sam sin merendahkan tubuhnya dengan
merubah kuda kuda menjadi gaya Khi segera teringat bahwa
musuhnya akan mengeluarkan jurus Menahan Harimau
mencomot nyali tersebut.
Dengan perasaan terkejut bercampur gusar ia segera
menarik kaki kirinya mundur setengah langkah, sementara
telapak tangan kanannya menyambut serangan musuh dari
bawah.
Jurus serangan yang digunakan ini adalah jurus Atas bawah
saling menggempur suatu jurus yang mirip sekali dengan jurus
menahan harimau mencomot nyali. Serangan itupun
dilancarkan dengan sepasang telapak tangan digunakan
bersama, suatu gerakan yang persis untuk menandingi
ancaman lawan-
Kedua belah pihak sama sama melancarkan serangan
dengan kecepatan luar biasa tahu tahu... ”Plaaak plaaak ”
empat buah telapak tangan telah saling beradu satu sama
lainnya.
Kedua orang itu menggerakkan tubuhnya bersama sama
dan masing masing terdorong pula sejauh selangkah
kebelakang hal ini menunjukkan kalau kekuatan mereka
seimbang. Diam diam Lian Sam sin berpikir dengan keheranan
”Aneh sekali. Tampaknya orang ini cukup mengenali gerak
jurus seranganku”
Teringat kembali bau manusia yang terendusnya didalam
rumah kayu tengah hari tadi diam diam ia dibuat terkesiap.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Segera diawasi wajah lawan lekat lekat kemudian serunya
dingin :
”Berdasarkan jurus serangan ini, rasanya antara aku
sipengemis tua dengan dirimu tentunya tidak terlalu asing
bukan?”
”Bagi umat manusia kalau bukan musuh tentu sahabat kau
tak usah menjebakku dengan kata kata..”
”Bagus.. kalau begitu lebih baik kita tentukan kemampuan
kita melalui pertarungan-”
Dia menjejakkan kakinya sambil menerjang kemuka,
sepasang telapak tangannya secepat sambaran petir
melancarkan serangkaian serangan berantai.
Lengcu emas telah menyadari bahwa rencana malam ini
telah menemui kegagalan total. Sekalipun ada niat untuk
mengundurkan diri, namun setelah didesak Lian Sam sin
berulang kali lama kelamaan timbul juga amarahnya, dengan
suara dalam ia segera membentak ^ ”Memangnya kau anggap
aku takut kepadamu ?”
Sambil memutar sepasang telapak tangannya, dia balas
melancarkan serangan. Dalam pertarungan yang berlangsung
kemudian, kedua belah pihak sama sama mengerahkan
segenap kekuatan yang dimilikinya, setiap gerakan setiap
tindakan semuanya mengandung hawa naps u membunuh
yang amat mengerikan, angin pukulan yang menderu deru
menciptakan desingan angin tajam yang menyelimuti daerah
seluas satu kaki, keadaannya benar benar mengerikan
Bagi umat persilatan yang sudah terlibat dalam
pertarungan sengit, maka boleh dibilang setiap gerakannya
bisa jadi akan menimbulkan maut bagi lawannya.
Dipihak lain, manusia berkerudung berbulu angsa yang
sedang bertarung melawan manusia berkerudung yang ada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
disebelah kiri Lian Sam sin pun berlangsung amat sengit dan
ramai.
Permainan pedang dari manusia berkerudung berbulu
angsa itu amat hebat semua serangannya enteng dan tajam
namun ia membatasi gerakannya dengan saling menutul
belaka.
Sebaliknya berbeda sekali dengan manusia berkerudung
yang berada disebelah kiri, sebenarnya dia bekerja sama
mengerubuti Lian Sam sin tapi setelah diserobot oleh seorang
manusia berkerudung berbulu angsa dari tengah jalan,
akhirnya dia harus bertarung satu lawan satu, tentu saja hal
ini semakin menggusarkan hatinya.
Permainan pedangnya segera diperketat, cahaya pedang
berkelebat berulang bagaikan titiran air hujan dia menggencet
musuhnya habis-habisan.
Serangan maut yang segera dilancarkan disertai pula
dengan jurus- jurus aneh yang luar biasa, semua permainan
jurus yang tangguh pun dilonarkan tiada hentinya, ternyata
permainan yang dipakai adalah ilmu pedang ciong long kiam
hoat dari hong san. Manusia berkerudung yang menonton
jalannya pertarungan itu diam diam mengangguk setelah
menyaksikan peristiwa tersebut, pikirnya :
”Ternyata memang dia, agaknya dia memang sudah
terkena bubuk pembingung pikiran, sekalipun ilmu pedangnya
sangat lihay namun masih Cetek didalam pengalaman
menghadapi lawan, dia tak akan mampu menandingin ceng
hoa.”
Ternyata orang ini adalah si peluru besi seng Bian tong
sedang orang yang bertarung melawan manusia berkerudung
disebelah kiri itu adalah Seng ceng hoa.
Permainan ilmu pedang Hoa san kiam hoat dari Seng ceng
hoa selain matang dan sempurna, jurus jurus serangannya
tangguh dan pandai pula memanfaatkan kelemahan lawan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
disamping itu pengalamannya didalam pertarungan pun sudah
cukup luas, oleh sebab itulah betapapun gencarnya serangan
yang dilepaskan manusia berkerudung yang berada disebelah
kiri itu, dia toh masih tetap dapat menghadapi dengan santai.
Biarpun dia pun mempunyai pertahanan maupun
penyerangan, namun jurus jurus serangan yang dilepaskan
sering kali hanya terbatas saling menutul sehingga tak sampai
melukai lawan-
Sebaliknya manusia berkerudung disebelah kanan yang
bertarung melawan Huan cu im serta Ban Hui jin itu pun
memiliki ilmu pedang dan kepandaian silatnya luar biasa,
biarpun dia harus menghadapi dua orang musuh sekaligus
namun ia tak nampak gentar ataupun terdesak.
Terutama sekali permainan tangan kirinya yang sebentar
pukulan sebentar totokan jari itu boleh dibilang sekali
menerobos setiap titik kelemahan dan kesempatan yang ada
untuk mencekalai musuhnya, entah bacokan entah totokan
jari semuanya merupakan ancaman totokan yang
membahayakan jiwa kedua orang itu, bahkan kehebatannya
tidak dibawah permainan pedang ditangan kanannya, hal
mana membuat mereka berdua harus menghindar kian kemari
tiada hentinya.
Setelah memandang berapa saat, diam diam terdengar
juga perasaan Seng Bian tong segera pikirnya:
”Mungkinkah dia adalah sidewa bermuka merah Lo Siu tong
Didalam partai Go bi, kecuali cing totiang, hanya dia seorang
yang memiliki kepandaian silat sedemikian sempurnanya”
Sementara itu Huan cu im yang sudah bertarung belasan
gebrakan dan selalu menyaksikan permainan tangan kirinya
yang istimewa tiba tiba satu ingatan melintas lewat segera
pikirnya:
”Mengapa akupun tidak mempergunakan telapak tangan
dan jari tangan secara bergantian? Bila ilmu tersebut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dikombinasikan dengan permainan pedang, entah bagaimana
hasilnya? Yaaa mengapa tidak kucoba hal ini?”
Berpikir demikian permainan Kiu klong kiam hoat pada
tangan kanannya segera diperlambat, sementara kelima jari
tangan kirinya yang dipentangkan lebar lebar segera
menyambar bahu manusia berkerudung tersebut.
Ketika melihat datangnya sambaran tangan kiri lawan,
manusia berkerudung di sebelah kanan itu mendengus dingin,
kemudian memutar pergelangan tangannya untuk
melancarkan sebuah totokan.
Ban Hui jin segera memutar pula pedangnya melepaskan
sebuah bacokan kilat ke arah pergelangan tangannya.
Baru saja ilmu Ki na jiu yang dilepaskan Huan cu im dengan
tangan kirinya menemui kegagalan, akibatnya permainan
pedang padatangan kanannya turut menjadi lamban pula
akibat dari gerakan tersebut.
Melambannya gerakan ini persis memberi kesempatan yang
baik sekali untuk manusia berkerudung disebelah
kananpedang segera digetarkan keras keras, tujuh delapan
titik cahaya pedang bersama sama meluncur kedepan.
Semasa masih dirumah dulu, berhubung tak tersedia
pedang dirumahnya maka Huan cu im selalu melatih ilmu ci
kiam cap sasi tersebut dengan menggunakan ilmu jarinya
sebagai pengganti pedang .
Kemudian setelah berada di benteng keluarga Ihee dan
empek Ihee nya menghadiahkan sejilid kitab Kiu klong kiam
hoat dan sebilah pedang pelangi hijau kepadanya, dia
meninggalkan benteng tersebut disaat ilmu Kiu klong kiam
hoat baru saja dipelajari.
Padahal ilmu ci kiam cap sah si yang diajarkan gurunya
merupakan sebuah ilmu pedang hanya saja belum sempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempelajarinya dengan penggunaan pedang sehingga
akibatnya selama ini diapun tak berani menggunakannya.
Sekarang setelah menyaksikan tujuh delapan titik cahaya
pedang meluncur tiba dan menyergap badannya secara tiba
tiba, sebenarnya dia ingin menghindar namun sayang tak
sempat lagi, dalam sekejap mata itulah dia menjadi gugup
sehingga tanpa terasa pedangnya melakukan gerakan
membabat dari depan dada dan menyapu keluar seperti
gerakan sebuah kipas.
Di daLam jurus serangan tersebut, secara tidak sengaja
ternyata dia telah mempergunakan jurus serangan dari ci kiam
cap sah si.
”Traaang...”
Terdengar serentetan suara bentrokan senjata yang amat
nyaring bergema memecahkan keheningan, ternyata ketujuh
delapan buah titik cahaya pedang yang gencar dari manusia
berkerudung disebelah kanan itu berhasil terbendung semua
oleh serangannya itu.
Berhubung serangan musuhnya barusan saja akan
membabat tujuh delapan lubang didepan dadanya, Huan cu
im dibuat mendongkol juga, tubuhnya segera berputar
kencang, disaat berputar itulah tangan kirinya diayunkan
kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Seg ulung angin serangan yang tajam disertai gerakan
yang aneh langsung menggulung masuk ketubuh manusia
tersebut.
Pukulan ini dilancarkan dengan jurus Hwee sin pat ciang
(delapan pukulan sambil putar badan), sebuah ilmu pukulan
paling tangguh yang pernah diajarkan gurunya selama ini.
Tatkala jurus serangannya terbendung oleh semua
permainan pedang lawan tadi, manusia berkerudung disebelah
kanan itu merasa sedikit agak keheranan, yang pasti orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itupun mempergunakan ilmu pedang Kiu klong kiam hoat yang
sejalan dengan permainannya, tapi tahu tahu muncul sebuah
jurus serangan aneh yang berhasil mengunci semua gerak
serangan pedangnya.
Pada saat itulah tiba tiba terasa segulung angin pukulan
yang sangat keras telah menggulung tiba, begitu dahsyat
serangannya seperti amukan angin puyuh, membuat dia tak
sempat lagi untuk melihat secara pasti darimana datangnya
ancaman tersebut.
Buru-buru dia memutar tangan kirinya dan diayunkan ke
depan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut
dengan keras melawan keras.
Dengan cepat terjadi benturan yang keras dari kedua
gulung angin pukulan tersebut ditengah jalan-
”Blaaamm”
Pusaran angin berpusing yang amat kuat segera memancar
ke empat penjuru.
Huan cu im masih tetap berdiri tegak di tempat semula,
sebaliknya manusia berkerudung yang berada disebelah kanan
itu berhubung agak terlambat melepaskan pukulan sehingga
tak sempat lagi mengerahkan segenap kekuatannya untuk
menghadapi musuh, maka akibatnya bagaikan didorong ornag
keras-keras, tak bisa ditahan lagi tubuhnya mundur selangkah
lebar ke belakang.
Tidak. Dia sama sekali tidak mengetahui kalau musuhnya
adalah Huan cu im, sebab yang terlihat olehnya adalah
seorang lelaki baju hijau yang mengenakan kerudung hitam
diwajahnya.
(Ban Hui jinpun mengenakan kain kerudung, Cuma pakaian
yang dikenakan adalah pakaian ringkas).
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan gejolak perasaan kaget bercampur penasaran, api
kegusarannya kembali menggelora didalam dada segera
bentaknya keras keras: ”Bagus”
Tiba tiba pedangnya dipindahkan ke tangan kirinya
sementara kaki kiri maju selangkah lebar ke depan, tangan
kanannya diayunkan pula kedepan untuk menyambut
datangnya pukulan dari Huan cu im.
Tampaknya orang itu sudah berusia lanjut, namun sifat
berangasannya masih nampak, karenanya setelah menderita
kerugian ditangan Huan cu im tentu saja dia berusaha keras
untuk mendapatkan kembali kerugian tersebut.
Ban Hui jin yang bermata jeli segara mendapatkan sebuah
kesempatan yang amat baik, dia menyelinap kedepan dan
”Sreeet” melancarkan sebuah tusukan dari samping.
”Berhenti kau” mendadak manusia berkerudung disebelah
kanan itu membentak keras
”Traaang”
Dia memutar pedang ditangan kanannya dan menangkis
serangan Ban Hui jin itu keras keras.
DidaLam marah dan penasarannya, serangan tersebut telah
disertai dengan suatu tenaga dalam yang amat sempurna,
ternyata tangkisan tersebut berhasil memukul Ban Hui jin
sehingga tergetar mundur selangkah dan kelima jari
tangannya yang menggenggam pedangpun lamat lamat terasa
sakit.
Huan cu im masih muda dan berdarah panas, tentu saja
diapun enggan untuk mundur.
Melihat musuhnya mendesak tiba, ia segera mengalihkan
pedangnya ke tangan kiri, kemudian tangan kanannya dengan
mempergunakan Tay lek eng jiau kang dia lancarkan ancaman
kedepan-”Plaaakk”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kembali sepasang telapak tangan itu saling beradu satu
sama lainnya.
Ilmu yang dilatih Huan cu im adalah Tay lek eng jiau kang
sekalipun lebih mengandalkan tenaga Yang kang, namun
bagaimanapun juga tenaga dalam yang dimilikinya masih
terlampau Cetek begitu benturan terjadi, ia segera merasakan
dadanya menjadi sesak. Hawa darahnya bergolak keras dan
tubuhnya mundur sejauh tiga langkah lebih.
Menyaksikan hal ini, sambil mendesis penuh kebanggaan,
manusia berkerudung di sebelah kanan itu membentak lagi:
”Ayo, sambutlah sebuah pukulanku lagi”
Dalam bentakan mana, tubuhnya mendesak maju kedepan
sementara tangan kanannya didorong kemuka dan
melepaskan sebuah pukulan lagi.
Ban Hui jin amat terkejut melihat kejadian ini, dalam
gelisahnya dia menyambar tiga biji batu dari sakunya dan
segera disambitkan kearah lawan-
Huan cu im sendiri masih tetap berdiri tegak ditempat
semula, ketika manusia berkerudung disebelah kanan itu
sudah mengejar tiba, untuk sesaat dia tidak berpikir panjang
lagi, mendadak badannya berputar kencang lalu tangan
kanannya turut dilontarkan ke depan-
Tentu saja serangan yang dilancarkan olehnya inipun
menggunakan ilmu Hwee sin pat ciang.
”Blaaammm. . . ”
Sekali lagi terjadi benturan keras yang amat memekikkan
telinga, angin berpusing memancar kemana mana dan
memaksa manusia berkerudung yang mengejar kedepan itu
segera terdorong mundur sejauh tiga langkah lebih.
Hampir saja manusia berkerudung disebelah kanan itu tidak
mempunyai kesempatan untuk berdiri tegaki tubuhnya terkena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sambaran angin serangan dari Huan cu im sehingga tergetar
mundur kebelakang.
Bersamaan itu pula terdengar suara benturan keras,
ternyata dari tiga biji batu yang disambitkan Ban Hui jin, dua
diantaranya mengenai sasaran kosong, namun yang terkahir
berhasil menghantam bahu badan manusia berkerudung itu
keras keras.
Manusia berkerudung disebelah kanan ini benar benar
merasakan hatinya terkesiap. Pihak musuhnya meski
mengenakan kain kerudung, namun dia dapat merasa bahwa
usianya tidak terlalu tua, namun ketangguhan dalam
permainan serangan dan tenaga pukulannya benar benar
diluar dugaan orang.
Terutama sekali sambitan batu terbang yang dilontarkan
oleh Ban Hui jin itu persis menghajar Ki kut hiat, sebuah jalan
darah penting dibahu kanannya untuk sesaat lengan kanannya
itu terasa seperti kayu dan tak berasa lagi, dalam keadaan
begini tentu saja ia tak berani bertarung lebih jauh.
Dengan pedangnya diputar melindungi badan, tergopoh
gopoh dia mengundurkan diri dari sana.
Ban Hui jin amat gembira setelah menyaksikan kejadian
tersebut, buru buru teriaknya,
”cepat hadang dia, jangan biarkan dia berhasil melarikan
diri...”
Sambil membalikkan tubuh ia melesat ke depan siap
melakukan pengejaran-
Sebaliknya Huan cu im yang dua kali melepaskan pukulan
Hwee sin pat elang ternyata dua kali pula berhasil memukul
mundur manusia berkerudung itu, segera merasakan
semangatnya bangkit.
Tidak sampai Ban Hui jin memberi seruan, dia telah
melesat kedepan dan melakukan desakan lebih jauh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam pada itu, Ban Hui jin denganpedang terhunus telah
meluncur kedepan sambil melancarkan sebuah tusukan
kepunggung kanan manusia berkerudung itu.
Dengan hadangan kedua orang muda mudi ini, sulit bagi
manusia berkerudung disebelah kanan itu untuk meloloskan
diri.
Pada saat itulah tiba tiba Seng Bian tong yang menyaksikan
jalannya pertarungan dari sisi arena itu telah berseru keras
”Biarkan ia pergi”
Sebenarnya Huan cu im dan Ban Hui jin telah bersiap siap
turun tangan, ketika mendengar bentakan dari Seng lopek.
Terpaksa mereka tarik kembali serangannya sambil mundur.
Ban Hui jin segera menuding kearah manusia berkerudung
disebelah kanan itu sambil mendengus^
”Hmm, selama ini terlalu keenakan dirimu”
Hampir meledak dada manusia berkerudung disebelah
kanan itu setelah menerima ejekan tersebut, namun teringat
bahwa asal usulnya tidak boleh dibocorkan- apalagi tangan
kanannya sudah terluka sehingga tak bisa bertahan lebih
lama, terpaksa dia harus menahan rasa gusar dan
mendongkol.
Kakinya segera menjejak tanah, bayangan manusia
berkelebat lewat, seperti seekor burung rajawali dia melesat
meninggalkan tempat tersebut.
Dengan kepergian manusia berkerudung disebelah kanan
itu, maka kekuatan dipihak Lengcu emaspun semakin
bertambah lemah.
Lengcu emas mulai sadar bahwa manusia berkerudung
yang berdiri ditepi hutan tersebut kemungkinan besar adalah
pentolan dari beberapa orang manusia berkerudung lainnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sekarang dengan tersebut sudah terbukti dengan nyata,
sebab Huan cu im danBan Hui jin menuruti perkataan Seng
Bian tong dan melepaskan manusia berkerudung disebelah
kanan itu dengan begitu saja.
Berdasarkan hal itu maka bisa diduga pula kalau kedudukan
manusia berkerudung yang berdiri ditepi hutan itu pasti jauh
lebih tinggi dari ketiga manusia berkerudung lainnya yaitu
Seng ceng hoa, Huan cu im dan Ban Hui jin-
Padahal biasanya orang yang lebih tinggi kedudukannya
didalam dunia persilatan, tentu memiliki kepandaian silat yang
lebih tinggi pula.
Sekarang orang tersebut (Seng Bian tong) berpeluk tangan
belaka tanpa ikut terjun ke arena, ini menunjukkan kalau dia
hanya berniat untuk mengawasi situasi dalam arena.
Tapi kenyataannya dia telah memerintahkan kedua orang
anak buahnya (Huan cu im dan Ban Hui jin) untuk melepaskan
manusia berkerudung disebelah kanan, sebab manusia
berkerudung disebelah kanan hanya seorang utusan perak,
bukan pentolannnya. Hal ini sama pula artinya dengan ia
sedang mengawasi dirinya.
Sekarang, manusia berkerudung di sebelah kanan telah
mundur dengan menderita kekalahan, dua orang lawannya
pun sudah kehilangan musuh, sudah pasti mereka akan
menyerang dirinya. Bila sampai begini, bukankah dia akan
terjerumus kedalam kepungan musuh...
Semakin dipikir Lengcu emas merasa keadaannya semakin
tidak beres, dalam ragunya dia segera kena didesak oleh
serangkaian serangan gencar dari Lian Sam sin sehingga
mundur terus berulang kali.
Bagitu timbul niatnya untuk mengundurkan diri, secara
diam diam ia mengumpulkan tenaga dalam yang dimilikinya,
lalu tangan kanannya dengan jurus Hong jian li (menghadang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melintang seribu li) segulung angin pukulan yang amat kuat
segera menyerbu kedepan-
Lian Sam sin bertambah asyik lagi menghadapi serangan
musuh, melihat tiba ancaman, ia segera membentak keras,
”Bagus”
Tangan kanannya segera diayunkan pula ke depan untuk
menyambut datangnya ancaman dengan kekerasan-
”Blaaamm”
Ketika sepasang telapak tangannya saling beradu satu
sama lainnya, segera timbul suara ledakan yang memekikkan
telinga, akibatnya kedua orang itupun bergetar mundur
selangkah.
Lengcu emas mendesis sambil tertawa dingin, tiba tiba
tubuhnya melejit ke udara sambil menerkam kebawah,
sepasang telapak tangannya dilontarkan bersama segulungan
angin serangan yang amat dahsyat langsung saja
menghantam kepala Lian Sam sin-
Menghadapi serangan musuh yang mendekati adu nyawa
ini sudah barang tentu Lian Sam sin tak berani bertindak
gegabah, tenaganya dihimpun pula kedalam lengan, lalu
dengan jurus Siang jiu tou thian (menyungging langit dengan
tangan) dia songsong datangnya ancaman musuh...
Dalampada itu Huan cu im dan Ban Hui Jin telah
melepaskan manusia berkerudung di sebelah kanan dan
mengurung datang.
Sejak awal pertarungan Ban Hui jin telah melihat manusia
berkerudung disebelah kiri yang sedang bertarung melawan
Seng ceng hoa itu mempergunakan ilmu pedang Hong San
kiam hoat.
Hal ini menandakan pula kalau orang tersebut adalah
toakonya, oleh sebab itu dia segera bergeser menuju kearah
kedua orang tadi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebaliknya Huan cu im yang mengetahui akan kehebatan
Lengcu emas sangat menguatirkan keselamatan engkoh
tuanya (Lian Sam sin), apalagi setelah pertarungan berjalan
sekian lama namun belum menghasilkan apa apa, dia berniat
membantu engkoh tuanya untuk membekuk musuh tersebut.
Disamping itu dia pun ingin tahu siapakah manusia
sebenarnya yang menjadi Lengcu emas yang misterius itu,
maka diapun menarik kembali pedang pelangi hijaunya dan
menyerbu ke arena pertarungan kedua orang tersebut.
Sewaktu dia meluncur datang, kebetulan Lengcu emas
sedang menerjang kearah Lian Sam sin dengan pengerahan
segenap kekuatan yang ada.
Kembali empat buah telapak tangan kedua orang itu saling
bertumbukan satu sama lainnya, suatu ledakan yang amat
keras pun segera menggelegar diangkasa. Dalam waktu
singkat pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh
angkasa.
Sesungguhnya Lengcu emas memang sudah berniat
hendak mengundurkan diri, adapun terjangannya sepenuh
tenaga itu dilakukan sebagai taktik liciknya untuk
mempersiapkan pengunduran-
Tatkala empat buah telapak tangan saling beradu, dia
segera memanfaatkan tenaga dorongan dari Lian Sam sin
untuk meluncur keudara dan melayang dari arena pertarungan
tersebut.
”Mundur” bentaknya keras keras.
Bagaikan sambaran kilat bayangan tubuhnya berkelebat
menuju kearah balik hutan-
Pada waktu itu secara diam diam Ban Hui jin telah
mempersiapkan tiga biji batu, sebenarnya dia hendak
melepaskannya untuk mengusik permainan Hong san kiam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hoat dari manusia berkerudung disebelah kiri dan
membuktikan apakah dia toakonya atau bukan.
Akan tetapi setelah mengetahui Lengcu emas hendak
melarikan diri, tanpa berpikir panjang lagi segera bentaknya:
”Lihat serangan ”
Tangannya diputar dan ketiga biji itu segera disambitkan
kedepan, tiga biji titiran kilat segera meluncur kedepan dan
menyambar tubuh Lengcu emas.
Sungguh cepat gerakan tubuh dari Lengcu emas, tidak
diketahui apakah ketiga biji batu sambitan tersebut berhasil
mengenai sasaran atau tidak- sebab bayangan manusia begitu
berkelebat lewat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari
pandangan.
Dengan begitu kini tinggal manusia berkerudung disebelah
kiri saja yang masih bertarung melawan Seng ceng hoa.
Kedua orang itu sudah bertarung dengan mengandalkan
segenap kepandaian yang dimiliki, ratusan gebrakan sudah
lewat, namun keadaan masih tetap seimbang dan siapa pun
tak bisa mengungguli pihak yang lain-..
Dalam keadaan seimbang itulah secara tiba tiba manusia
berkerudung yang berada disebelah kiri itu mendengar tanda
perintah pengunduran diri dari Lengcu emas, sementara ia
masih tertegun, Seng ceng hoa telah membalikkan pedangnya
dan menekan diatas tubuh pedangnya itu.
Ban Hui jin setelah menanti semenjak tadi, melihat
munculnya kesempatan yang sangat baik, tentu saja dia
enggan melepaskannya dengan begitu saja.
Tubuhnya berkelebat cepat, lalujari tangannya berekelebat
lewat, tahu tahu ia sudah menotok jalan darah Pek lay hiat
dipunggungnya.
Setelah itu dia menyelinap ke hadapannya dan siap
menarik lepas kain kerudung hitam yang dikenakannya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi pada saat itulah angin serangan telah menyapu
datang, lengannya yang sudah siap menyambar kain kerudung
itu tahu tahu ditangkis orang, menyusul kemudian terdengar
Seng Bian tong membentak lirih : ”Jangan bertindak gegabah

Baru saja bentakan itu bergema, Seng Bian tong telah
mengayunkan tangannya untuk menepuk bebas jalan darah
manusia berkerudung disebelah kiri yang tertotok itu
kemudian mendorongnya hingga terdorong sejauh satu kaki
lebih kedepan-
Bagitu bebas dari totokan, manusia berkerudung disebelah
kiri itu tak berani bertindak gegabah lagi, dia melompat ke
depan dan dalam beberapa kali lompatan saja tubuhnya sudah
menyelinap sejauh puluhan kaki lebih.
Ban Hui jin menjadi melongo dan berdiri tertegun, ia
merasa tak habis mengerti kenapa empek Seng membiarkan
manusia berkerudung disebelah kiri itu kabur dari sana. Baru
saja dia hendak bersuara, Seng Bian tong telah membentak
dengan suara lirihi ”Kalian cepat pergi”
Seng ceng hoa segera memberi tanda kepada Huan cu im
sekalian, tanpa banyak berbicara lagi ketiga orang itu melejit
ke udara dan secepat kilat pergi meninggalkan Kui bin sia.
Sekarang berganti Lian Sam sin yang berdiri tertegun
penuh tanda tanya, apalagi setelah menyaksikan musuh
tangguhnya dan tiga manusia berkerudung yang
membantunya pergi tanpa berbicara, kesemuanya ini
membuatnya semakin tidak habis mengerti
Dengan demikian tinggal manusia berkerudung ditepi hutan
saja yang belum beranjak pergi, maka dihampirinya Seng Bian
tong lalu setelah memberi hormat katanya.
”Loko, selamat berjumpa, beruntung sekali loko telah
membawa orang datang membantuku hari ini, kalau tidak
ancaman bahaya maut tentu mengincar jiwaku. Kini musuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah berlalu, apakah loko bersedia memperlihatkan wajah
aslimu?” Seng Bian tong segera balas memberi hormat pula^
”Terima kasih atas perhatian Lian tiang lo, sayang sekali
oleh karena masih ada persoalan yang belum bisa dibuktikan,
aku tak dapat memperlihatkan wajah asliku sekarang tapi
dikemudian hari Lian tiang lo akan mengetahui dengan
sendirinya, untuk itu mohon Lian tiang lo sudi memaafkan”
selesai berkata dia lantas menjura sambil menambahkan:
”Berhubung masih ada urusan yang lain, maaf bila aku
harus pergi dulu”
Selesai berkata, dia membalikkan tubuhnya dan siap berlalu
dari tempat tersebut.
Lian Sam sin adalah seorang jago kawakan, ketika melihat
orang itu tidak bersedia memperlihatkan diri dengan wajah
aslinya, sedang dia sendiri tetap berada disitu dengan
membiarkan tiga rekannya pergi dahulu, jelas sudah bahwa ia
memang kuatir dirinya akan meng until jejak mereka nantinya.
Karena itu setelah menjura katanya kemudian: ”Harap engkoh
tua suka berhenti sejenak”
”Lian tiang lo masih ada petunjuk apa lagi?” tanya Seng
Bian tong sambil menghentikan langkahnya.
”Kalau toh engkoh tua enggan berjumpa muka dengan
wajah aslimu, tentu saja akupun tak berani memaksa,
agaknya engkoh tua seperti sudah mengetahui lebih dulu akan
peristiwa tersebut sehingga kau datang kemari dengan
berkerudung muka yang ingin kuketahui sekarang adalah
siapakah pemilik Kui bin siacu tersebut, bersediakah engkoh
tua memberi petunjuk?”
”Seperti yang telah kukatakan, aku datang hanya
dikarenakan hendak menyelidiki suatu persoalan tentang
orang yang mengaku sebagai Kui bin siacu tersebut, aku
sendiripun baru pertama kali ini mendengarnya, jadi aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sendiripun tak tahu, bila Lian tiang lo tiada persoalan lain lagi,
aku hendak lebih dulu”
Tentu saja dalam anggapan Lian Sam sin, lawannya
enggan berbicara, namun orangpun sudah membantunya,
berarti telah melepaskan budi kepadanya, bila lawan enggan
berbicara tentu saja diapun tak bisa memaksa lebih tahu.
Terpaksa seraya menjura katanya kemudian :
”Kalau begitu terimalah rasa terima kasihku atas bantuan
yang telah engkoh berikan tadi”
”Tidak berani” Seng Bian tong balas memberi hormat, ”kita
adalah sahabat lama, harap Lian tiang lo jangan berkata
demikian, urusan yang lebih mendetil akan kuberi tahukan
kemudian hari”
Selesai berkata, sekali lagi dia memberi hormat kemudian
baru berlalu dari situ.
”Sahabat lama?” sepeninggal Seng Bian tong untuk sesaat
la mana Lian Sam sin dibuat termangu mangu.
Akhirnya sambil menggaruk garuk kepalanya, dia
bergumam: ”Lantas siapakah dia?”
Dengan cepat diapun menjejakkan kakinya dan meranjak
pergi dari tempat itu.
Tak lama setelah kepergian Lian Sam sin, dari balik hutan
muncul kembali sesosok bayangan manusia.
Orang itu berwajah menyeramkan dengan sinar mata yang
liar seperti mata serigala, setelah mendesis dingin diapun
beranjak pergi dari situ.
Kalau ditinjau dari bentuk badannya, orang tersebut tak
lain adalah Lengcu emas yang gerak geriknya misterius itu.
Seng ceng hoa, Huan cu im dan Ban Hui jin berlarian cepat
menuju kearah Bun tek kiau, saat itulah Seng ceng hoa baru
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memperkenankan semua orang untuk melepaskan kain
kerudung mukanya.
Sambil membetulkan letak rambutnya yang kusut, Ban Hui
jin berkata kemudian: ”Seng toako, hari ini...”
”Nona Ban” tukas Seng ceng hoa, ”bila ada persoalan lebih
baik kita bicarakan di rumah nanti, kita harus pulang ke rumah
secepatnya sekarang”
Sebenarnya Ban Hui jin mempunyai banyak persoalan yang
ingin ditanyakan, tapi setelah ditukas terpaksa dia harus
menahan diri.
Berangkatlah mereka bertiga kembali ke perusahaan Seng
ki piaukiok, mereka masuk lewat pintu belakang dan Seng
ceng hoa mengajak mereka masuk keruang samping di bagian
belakang.
Setelah itu baru katanya:
”Saudara Huan, nona Ban, sekarang kalian harus kembali
dulu kekamar masing masing, sebentar aku pasti akan datang
memanggil kalian berdua.”
”Apakah nanti masih ada urusan lagi?” tanya Ban Hui jin
dengan cepat. Seng ceng hoa manggut manggut:
”Yaa, benar, setelah ayah kembali hal tersebut baru bisa
diputuskan...?”
”Seng toako,” tak tahan lagi Ban Hui jin bertanya dengan
suara lirih, ”sebenarnya siapa sih orang yang bertarung
melawanmu tadi...?”
Seng ceng hoa sangsi sejenak. Kemudian baru katanya:
”Soal ini... aku sendiripun kurang jelas...”
”Menurut pendapatmu, mungkinkah dia adalah toako ku?”
”Soal ini...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia benar benar merasa bingung dan tak mampu
menjawab secara sejujurnya. Mendadak dari arah belakang
kedengaran seseorang menyambung. ”Apa yang dikatakan
nona Ban memang benar, dia memang toakomu ”
Ketika semua orang berpaling, ternyata yang berbicara
adalah ketua Hoa san pay, Siang Han hui.
Dengan perasaan terkejut bercampur keheranan Ban Hui
jin segera berseru: ”Darimana Siang locia npwee bisa tahu?”
ooodowooo
Siang Han hui kembali tersenyum.
”Seng suheng masih tetap tinggal disitu karena dia kuatir
ada orang yang meng until jejak kita secara diam diam
sehingga membocorkan identitas kalian, namun setelah kalian
meninggalkan Kui bin sia toh akhirnya kena dikuntil juga oleh
orang lain”
”Dari cianbunjin bisa tahu?” tanya Seng ceng hoa dengan
perasaan terkejut. Siang Ha n hui tersenyum.
”Seng suheng meminta kepadaku untuk melindungi kalian
secara diam diam, menanti kalian sudah lewat aku baru
munculkan diri seperti tanpa sengaja, orang itu mejadi
terperanjat sekali melihat kemunculanku sehingga melarikan
diri terbirit birit.”
”Tahukah Siang cianpwee, siapa gerangan orang itu?”
tanya Ban Hui jin kemudian-sekali lagi Siang Han hui
tersenyum
”Aku rasa Seng suheng mungkin sudah mengetahui dengan
jelas asal usul dari orang ini”
Dia enggan mengungkapnya, dus berarti dia sudah
mengetahui akan asal usul orang tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kembali Ban Hui jin berkata
”Tadi, sebenarnya aku telah berhasil membekuk toako ku
namun Seng lopek yang membebaskan jalan darahnya
kemudian, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Siang Han
hui tertawa.
”Apabila nona harus membongkar identitas toakomu
ditempat tersebut, bukankah hal ini justru akan menyebabkan
peristiwa ini benar benar terjadi? Dalam hal ini, Seng suheng
pasti sudah mempunyai perencanaan sendiri”
Berbicara sampai disini, dia lantas berkata kepada Huan cu
im.
”Bukankah Huan hiantit masih memiliki sebutir pil penawar
racun bubuk pembingun pikiran ? Kau boleh menyerahkan
kepada Ceng hoa, kemudian kalian pulanglah dulu kekamar”
-oo0dw0oo-
Jilid: 18
Huan cu im mengiakan, dia mengeluarkan obat pemunah
tersebut dari sakunya dan diserahkan ke Seng ceng hoa.
"Kalau begitu kita akan pergi dulu sebentar kau harus
memanggil kami lho..." seru Ban Hui jin.
"Aku pasti akan memanggilmu"
Ban Hui jin segera berpaling dan katanya kemudian. "Huan
toako, mari kita kembali kekamar."
Mendadak ia merasa perkataannya ini seperti ada
penyakitnya, kontan saja paras mukanya berubah menjadi
merah padam karena jengah, dia segera memutar tubuhnya
dan beranjak pergi lebih dulu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sudah barang tentu Huan cu im tidak dapat menangkap
arti perkataan itu, dengan mengikuti dibelakangnya mereka
menuju keberanda sebelah kiri, kemudian melalui halaman
tengah menuju ke lapis kedua dari situ mereka baru melompat
naik keatap rumah dan kembali ke kamar masing masing.
oooodwoooo
Kentongan ketiga sudah lewat, suasana diruang tengah
gedung kedua perusahaan Seng ki kiaukiok masih diterangi
oleh cahaya lentera namun sepasang pintunya justru berada
dalam keadaan rapat rapat.
Diatas kursi berlapiskan kulit harimau ditengah ruangan,
duduklah tuan rumah si peluru besi seng Bian tong, dia masih
seperti keadaan dihari hari biasa, wajahnya yang merah
bersinar dihiasi dengan senyuman ramah, sementara
tangannya mempermainkan dua peluru baja.
Disamping kursinya duduklah congpiautau dari perusahaan
ekspedisi tersebut, yaitu Seng Ceng hoa.
Sedangkan pada delapan buah kursi dikiri dan kanannya
duduk dua orang wakil piautau dan lima orang piautau.
Perusahaan ekspedisi Seng ki piaukiok merupakan suatu
perusahaan yang mempunyai transaksi dagang terbesar,
jumlah piautau dan wakil piautaunya mencapai dua tiga puluh
orang, namun berhubung sebagian besar sedang keluar
rumah mengawal barang, maka yang masih tertinggal dalam
perusahaan malam ini hanya mereka berdelapan-
Mereka semua dibangunkan dari tidurnya oleh petugas
ditengah malam buta, konon congpiautau ada urusan yang
hendak dibicarakan ini semua membuat mereka mulai
bertanya tanya, apa gerangan yang telah terjadi didalam
perusahaan?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah semua orang berada diruang tengah mereka baru
menjumpai majikan tua mereka yang sudah tiga tahun tak
pernah mencampuri urusan perusahaan hadir juga disitu
semua orang semakin bertanya tanya, jelas sudah bahwa
persoalan yang terjadi sedikit rada luar biasa...
Terutama sekali setelah mereka masuk ke dalam ruangan,
ternyata kedua belah pintu ruangan segera ditutup rapat
rapat.
Dengan senyuman dikulum Seng Bian tong mempersilahkan
semua orang untuk mengambil tempat duduk. seorang
petugas segera menghidangkan air teh panas.
Setelah mengangkat cawan air tehnya Seng Bian tong
menengok ke arah semua orang sambil berkata :
"Silahkan kalian semua minum teh"
Semua orang tidak mengetahui persoalan apakah yang
dihadapi majikan tua mereka pada malam ini, tapi semua
orang tahu pasti tujuannya bukan cuma mengundang mereka
datang minum teh.
Diantara kedelapan orang itu, piautau berperawakan kurus
yang duduk dikursi paling ujung merupakan piautau tertua
dalam perusahaan, semua orang menyebutnya sebagai Thia
Kau kim kedua, sedang namanya sendiri adalah Thia Kim piau.
Selama dua puluh tahun terakhir ini dia selalu mengikuti
Seng Bian tong, baik sewaktu berkelana ke utara maupun
ketika mengembara keselatan, sekalipun namanya tidak begitu
terkenal namun tidak pernah pula menimbulkan persoalan-
Pertama tama dia meneguk dulu isi cawannya, lalu setelah
mendehem ia bangkit berdiri dan berkata sambil menjura:
"Aku duga loya cu pasti hendak menyampaikan suatu
pesan penting kepada semua orang dengan mengumpulkan
kami disini malam begini, apabila kami diharuskan melakukan
suatu tugas, kami pun sudah siap menantikan perintah loya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cu, baik terjun keair maupun ke api, kami tak akan menampik
secara terbuka, agar semua orang tak usah kuatir terus."
Seng Bian tong tersenyum kearahnya, sambil mengulapkan
tangannya ia berkata: "Thia piautau, silahkan duduk."
Thia Kim piau menurut dan segera duduk kembali. Setelah
tersenyum Seng Bian tong berkata lagi :
"Adapun maksudku mengundang kehadiran kalian semua,
memang disebabkan ada suatu persoalan yang hendak
diumumkan kepada kalian semua, karena utuhnya Seng ki
piaukiok selama puluhan tahun ini adalah berkat kerja sama
dari kita semua yang saling menganggap sesama rekan
bagaikan saudara kandung sendiri, setiap kali perusahaan ada
kesulitan, kalianpun selalu berupaya dengan sepenuh tenaga
untuk menanggulanginya, selama ini belum pernah ada orang
yang menunjukkan jiwa pengecut oleh sebab itulah selama
puluhan tahun ini kita masih dapat menegakkan kepercayaan
dimata masyarakat..."
Semua orang hanya mendengarkan perkataan dari majikan
tuanya ini tanpa komentar tak seorangpun yang berisik
ataupun bersuara, semuanya berusaha untuk mendengarkan
kata kata berikut.
Setelah berhenti sejenak, Seng Bian tong segera berkata
lebih lanjut: "Tapi baru baru ini didalam perusahaan kita telah
terjadi suatu peristiwa..."
Baru baru ini di dalam perusahaan telah terjadi peristiwa,
mendengar kata kata tersebut semua orang segera saling
berpandangan dengan penuh tanda tanya.
Kalau terjadi peristiwa dalam perusahaan biasanya diartikan
barang kawalan perusahaan mereka telah terjadi pembegalan.
Sambil tersenyum Seng Bian tong berkata lebih jauh :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yang aku maksudkan bukanlah barang yang kalian kawal
telah terjadi persoalan yang diartikan adalah di dalam
perusahaan kita ini telah terjadi persoalan,"
Mengetahui kalau barang kawalan perusahaan mereka tak
terjadi sesuatu, semua orang segera menghembuskan napas
lega tapi mendengar dalam perusahaan ini terjadi sesuatu,
kembali mereka saling berpandangan dengan tanda tanya.
Padahal mereka semua berdiam di dalam perusahaan
mengapa tidak seorangpun di antara mereka yang tahu kalau
disitu telah terjadi suatu peristiwa?
Hampir semua yang hadir dalam ruangan sekarang adalah
jago jago kawakan yang berpengalaman, sebelum majikan tua
mereka mengutarakannya keluar, tidak seorangpun yang
membuka suara untuk bertanya daripada bertanya lebih baik
menanti majikan tua mereka mengutarakannya keluar, tak
seorangpun yang untuk bertanya sebab daripada bertanya
lebih baik menanti sampai majikan tua mereka
mengungkapkan sendiri
Benar juga, pelan pelan sinar mata Seng Bian tongkang
dialihkan kewajah orang kemudian katanya pelan :
"Karena dalam perusahaan kita telah muncul seorang
penghianat"
Ucapan tersebut seketika disambut semua orang dengan
pandangan tertegun dan termangu.
Dalam perusahaan telah muncul penghianat, penghianat
bisa diartikan pula sebagai mata mata atau musuh dalam
selimut mengapa orang itu menyelundup kedalam perusahaan
mereka sebagai mata mata? Apakah dia bersekongkol dengan
kaum hitam untuk merencanakan sebuah pembegalan secara
besar besaran? Thia Kim piau segera menjura dan berkata
"Loya cu, entah siapakah penghianat di dalam perusahaan
kita ini harap loya cu utarakan keluar, hamba pasti akan puntir
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepalanya sampai patah, kalau dia tak mau mengaku, biar
kulubangi tubuhnya dengan enam buah bacokan. perduli
dengan peraturan dunia persilatan"
Seng Bian tong manggut manggut katanya kemudian
"Thia piautau, duduklah lebih dulu, sekarang aku sendiripun
tidak tahu siapakah penghianat tersebut?"
Thia Kim piautidak duduk. tapi melanjutkan kembali kata
katanya:
"Bagaimana loya cu dapat mengetahui akan hal ini dan apa
yang sebenarnya telah terjadi? Loya cu, dapatkah kau
menjelaskan yang lebih terperinci lagi?"
"Sebetulnya begini persoalannya, bukankah dalam
perusahaan kita telah kedatangan tiga orang baru semalam?
Yang seorang keponakanku yaitu putra dari jago berbaju hijau
HuanTay seng yang bernama Huan cu im sedang yang dua
orang lainnya adalah dua bersaudara keluarga Ban dari Hong
san. Ternyata ketika keponakanku kembali kekamarnya
semalam dia menemukan secarik kertas dibawah bantalnya
yang mengundangnya pergi ke Kui bin sia pagi tadi."
"Aaah, kalau begitu bisa jadi ada orang yang telah
menyelundup kedalam perusahaan kita" seru Thia Kim piau
tercengang-
"Semula aku memang berpendapat demikian, Tapi malam
ini kembali ada orang yang menghantarkan surat untuk Huan
hiantit serta Ban sauheng yang minta kepada mereka agar
pergi memenuhi undangan pada kentongan kedua malam ini."
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan lebih jauh
"Kalau kemarin malam kami tidak memperhatikan
persoalan ini secara serius maka pada malam ini aku telah
memerintahkan Ceng hoa untuk memperhatikan persoalan ini
padahal tidak ada orang luar yang telah menyelundup
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kedalam perusahaan kami, hal ini membuktikan kalau orang
tersebut berasal dari tubuh perusahaan kita sendiri."
"Apakah cong piautau telah berhasil menemukan siapakah
orang itu?" kembali Thia Kim piau bertanya.
"Gerak gerik orang ini sangat misterius lagi pula licik sekali,
Ceng hoa hanya sempat menyaksikan sesosok bayangan
hitam saja dan tidak berhasil melihat raut wajahnya secara
jelas namun dia berasal dari halaman depan, ini bisa diduga
kalau orang tersebut berdiam diloteng pada halaman depan.
"Itulah sebabnya aku sengaja mengumpulkan kalian semua
untuk bertanya kepada kamu sekalian, aku harap kalian mau
berbicara dengan sejujurnya Kita sudah bekerja sama sekian
lama didalam perusahaan bisa jadi hal ini terpaksa kulakukan
karena keadaan yang memaksa, asalkan orang itu mau
bertobat tentu saja akupun tidak akan menyusahkan dirinya"
Mendengar perkataan tersebut, semua orang segera saling
berpandangan tanpa berkata kata, siapakah diantara mereka
berdelapan yang merupakan mata mata? Sambil melototkan
sepasang matanya bulat bulat, Thia Kim piau segera berseru:
"Loya cu telah mengucapkan semua perkataan ini secara
jelas, siapa yang telah mengerjakan tentu diketahui olehnya
dengan jelas mengapa tidak mengaku saja atas kesalahan
yang diperbuat itu sehingga urusan dapat diselesaikan
secepatnya?"
Teriakan yang keras ini kontan saja menimbulkan kesan
anti patik diantara rekan rekannya, piautau yang paling muda
dan duduk diujung paling bawah, Go Seng hay segera berkata
dengan dingin :
"Engkoh tua sendiripun merupakan salah seorang diantara
kedelapan manusia tersebut, mengapa kau sendiri tidak
mengaku saja ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perkataan tersebut kontan saja membangkitkan amarah
Thia Ki mpiau ia segera bangkit berdiri lalu bentaknya : "Go
Seng hay, kau..."
"Kenapa dengan aku?" seru Go Seng hay sambil bangkit
berdiri pula, "apakah engkoh tua hendak melalap aku?"
seng Bian tong buru buru melerai, katanya dengan cepat :
"Saudara berdua, sekarang bukan saatnya untuk cekcok
sendiri, terus terang saja kukatakan kepada kalian, sekalipun
Ceng hoa tidak berhasil melihat wajah orang itu secara jelas
akan tetapi dia telah meninggalkan tanda tertentu diatas
tubuhnya, karena aku akan memberi waktu selama
seperminum teh kepadanya untuk mempertimbangkan
persoalan ini akupun barharap agar dia bersedia mengaku
dengan sejujurnya, bilamana seperminum teh kemudian
belum juga ada yang mengaku, berarti aku harus
mengungkapkan nama ini secara terbuka, saat tersebut dia
pasti akan menerima keadaan yang kurang menyenangkan"
Akan tetapi kedelapan orang itu masing masing tetap
membungkam dalam seribu bahasa. namun setiap orang mulai
menduga duga didalam hati kecilnya, siapa gerangan si
penghianat tersebut ?
oleh sebab itu semua orang meski membungkam dalam
seribu bahasa, namun dengan sorot mata curiga mengawasi
ketujuh orang rekan lainnya, mereka berharap bisa menduga
dari perubahan mimik wajah mereka siapakah penghianta
tersebut sebetulnya.
Seperminum teh sudah lewat dengan cepat namun tak
seorang manusiapun yang mengaku
Seng Bian tong segera mengalihkan sorot matanya dan
memperhatikan wajah kedelapan orang itu satu persatu
setelah bangkit berdiri katanya kemudian:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik, kalau memang sobat ini tak ingin mengaku maka
terpaksa aku harus mengatakan keluar, ketika sobat ini
menyelundup masuk kedalam gedung tamu agung, Ceng hao
telah menyebarkan bubuk putih diatas kepalanya maka
bilamana diantara kalian terdapat kapur putih diatas kepalanya
maka dialah penghianat tersebut. Sekarang aku minta kepada
kalian semua agar jangan bergerak dulu, Ceng hoa, kau
periksalah mereka satu persatu"
Seng Ceng hoa mengiakan dan segera bangkit berdiri orang
yang pertama kali menerima pemeriksaan tentu saja Thia Kim
piau yang duduk paling ujung. Dia tetap duduk tak bergerak
dan membiarkan kepalanya diperiksa orang.
Seng Ceng hoa segera berjalan menuju kebelakang
tuubhnya, setelah memeriksa rambut orang itu , tiba tiba saja
paras mukanya berubah hebat.
"Congpiautau apakah diatas kepalaku terdapat kapur
putihnya?" Thia Kim piau segera bertanya
Seng Ceng hoa tidak menjawab pertanyaan itu dia
berpaling ke arah ayahnya lalu berkata
"Lapor ayah, diatas kepala Thia toasiok..."
Baru mendengar sampai di situ, Thia Kim piau telah
melompat bangun seraya berteriak. "Apa? Diatas kepalaku
terdapat kapur putihnya ?"
Go Seng pay yang masih panas hatinya segera menjengek
sambil tertawa dingin:
"Tidak heran kalau engkoh tua menyuruh orang lain
mengaku, rupanya kaulah penghianatnya "
Merah padam selembar wajah Thia Kim piau dengan penuh
amarah dia segera berteriak "Kau jangan berbicara seenaknya
sendiri"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hmm, kenyataan toh sudah di depan mata. percuma saja
kau berteriak melulu"
Ketika Seng Bian tong mendengar di atas kepala Thia Kim
piau terdapat kapur putihnya, dia sendiripun kelihatan agak
tercengang, namun wajah yang tenang pelan pelan katanya:
"Harap jangan dulu, masing masing pihak duduk kalau
memang diadakan pemeriksaan lebih dulu sebelum mengambil
suatu kesimpulan, Ceng hoa lanjutkan pemeriksaanmu"
Seng Ceng hoa segera mengiakan dan satu persatu
melakukan pemeriksaan dengan seksama, menanti ketujuh
orang lainnya telah selesai diperiksa dia baru mendengus
sambil berseru:
"Bajingan ini benar benar amat licik"
Sambil mengelus jenggotnya Seng Bian tong manggut
manggut tanyanya tiba tiba
"Bukankah menurut hasil pemeriksaan diatas kepala setiap
orang ditemukan kapur putih?"
Perkataan ayah memang benar, kepala mereka semua
telah ditaburi kapur putih
Thia Kim piau yang mendengar perkataan ini kontan saja
berteriak dengan penuh amarah^
"Apa bila bajingan ini berhasil ditangkap akulah yang
pertama tama tidak akan mengampuni dirinya"
Go Seng hay segera menyela sambil tertawa dingin:
"Engkoh tua saat ini kita berdelapan tak ada yang lolos dari
kecurigaan ini, aku harap kau jangan kelewat banyak
berbicara lebih dahulu"
"Bagus" Seng Bian tong berseru kemudian sambil
mendengus, "Ceng hoa, surut mereka gotong keluar."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seng Ceng hoa mengiakan dengan cepat ia bertepuk
tangan dua kali...
Dari belakang penyekat segera muncul seorang dayang
berbaju hijau yang membawa sebuah papan kayu persegi
empat langsung menuju ke ruang tengah.
Seng Bian tong menunggu sampai orang itu melalui sisi
tubuhnya, kemudian baru menunjuk kearah papan yang
berada di tangan dayang tersebut sambil katanya ^
"Sudah kuduga kalau orang itu berani menyelundup
kedalam perusahaan kita sudah pasti merupakan seorang
manusia yang licik dan berpikiran panjang, kalau cuma
mengandalkan tebaran kapur diatas kepalanya saja, tak
mungkin akan membuat orang itu tunduk dan takluk seratus
persen, oleh karena itu aku telah menyuruh Ceng hoa
mempersiapkan sebuah papan yang diberi hangus tebal
dipintu masuk menuju ke kamar tidur Huan hian tit, asalkan
orang itu berani menyusup kedalam kamar maka bekas
kakinya tentu akan tertinggal disana, dan sekarang kita cukup
mencocokkan bekas telapak kaki itu dengan telapak kaki
kalian semua, dengan begitu siapapun tak akan berhasil
melepaskan diri"
Thia Kim piau kontan saja tertawa terbahak bahak setelah
mendengar perkataan itu serunya kemudian :
"Haahaa haaa... benar benar tidak aku sangka sangka
sekali kalau loya cu dapat memikirkan persoalan ini secermati,
sekarang sudah pasti keparat tersebut tidak dapat memungkiri
keadaan lagi..."
"diatas papan tersebut tertera bekas telapak kaki sebelah
kanan- kata Seng Ceng hoa selanjutnya, oleh sebab itu
kuminta kepada kalian semua agar melepaskan sepatu kanan
masing masing dan dicocokkan satu persatu, akhirnya
siapakah biang keladi tersebut tentu akan ketahuan juga."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendadak paras muka Go Seng hay berubah hebat, tiba
tiba saja dia bangkit berdiri kemudian setelah memberi hormat
kepada Seng Bian tong, katanya.
"Loya cu, tidak usah dicocokkan lagi, hamba memang
pantas dihukum mati, semalam maupun malam ini akulah
yang menghantarkan surat tersebut ke dalam kamar, dan
hamba pula yang mengerjakan kesemuanya itu hamba siap
menerima hukuman apapun yang akan dijatuhkan kepada diri
hamba."
Thia Kim piau tidak dapat menahan emosinya lagi ia segera
mencengkeram kerah bajunya kemudian berteriak dengan
penuh amarah "Bagus sekali, kau si bajingan tengik,
rupanya..."
"Tahan Kim piau" Seng Bian tong segera membentak keras,
"aku hendak mengajukan pertanyaan kepadanya."
Terburu buru Thia Kim piau melepaskan cengkeramannya,
kemudian setelah mendengus oenuh amarah katanya :
"Bocah keparat, kau memang bajingan tengik, bukan saja
telah menyeret kami ke dalam lumpur menuduh pula kami
sebagai penhianat, padahal kau sendirilah penghianat terkutuk
itu Hm, coba kalau loya cu tidak akan mengajukan pertanyaan
kepadamu, pasti kupuntir batang lehermu sampai putus."
"Harap loya cu memaklumi hamba sendiripun terpaksa
harus berbuat demikian-.." seru Go Seng hay dengan nada
melemas.
"Aku tahu" Seng Bian tong manggut, "kau sudah tiga tahun
berada didalam perusahaan ini, dihari hari biasa kaupun
sangat rajin bekerja serta tidak pernah melakukan kesalahan
apapun apabila kamu mempunyai suatu kesulitan, katakan
saja secara berterus terang"
Dengan wajah yang kusut karena sedih Go Seng hay
berkata :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tiga hari berselang hamba telah diracuni seseorang, ia
berjanji kepadaku asal aku sedia menyampaikan beritanya,
maka aku akan peroleh obat penawar racunnya..."
"Macam apakah orang itu ?" tanya Seng Bian tong.
"Hamba tak pernah berjumpa dengannya, seorang bocah
penjual bakpao yang menyampaikan surat tersebut kepada
hamba. waktu itu hamba telah bertanya kepadanya menurut
bocah itu dia sendiripun tak kenal dengan orang itu, setiap kali
dia menyampaikan surat untuk hamba orang itu selalu
memberi hadiah sepuluh ence uang tembaga untuknya"
"Selanjutnya orang itu sudah mengirim tiga pucuk surat,
dalam surat yang pertama mengatakan hamba telah
keracunan dan wajib menuruti perintahnya apabila
menginginkan jiwanya selamat, kedua kalinya itu kemarin, dia
menyuruh hamba meletakkan surat kedalam kamar Huan
siang kong, dan hari ini adalah untuk ketiga kalinya"
"Bocah keparat" teriak Thia Kim piau dengan gusar,
"pandai amat kau ini membersihkan diri dari persoalan ini,
siapa yang akan mempercayai ucapanmu itu?"
Go Seng hay segera memandang kewajah Seng Bian tong
dan berkata dengan nada memelas : "Semua perkataan yang
hamba ucapkan merupakan kata kata yang sejujurnya."
"Baik" kata Seng Bian tong kemudian sambil mengangguk,
"Aku percaya kepadamu" Lalu setelah mengelus jenggotnya
sambil termenung sejenak katanya lebih jauh :
"Setelah terjadinya peristiwa ini, sekalipun aku bersedia
menerimamu kembali, rasanya kau sendiripun tak akan punya
muka untuk mengendon terus disini. Aku bagai teringat bahwa
Lou loko merasa kurang leluasa menempatkan dirimu disana
maka akhirnya diperkenalkan untuk bekerja di sini, Nah kuberi
bekal dua ratus tahil perak kepadamu harap kau balik kembali
ke Pek juan siau kiok saja" Go Seng hay merasa berterima
kasih sekali, katanya kemudian :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Walaupun hamba telah melakukan kesalahan besar
ternyata loya cu tidak memperpanjang masalah tersebut, hal
ini membuat aku berterima kasih sekali, tentang hadiah
sebesar dua ratus tahil perak itu, hamba benar benar tidak
berani menerimanya." seng Bian tong tersenyum
"Apa yang telah aku ucapkan tidak akan kutarik kembali.
Ceng hoa, sediakan uang sebesar dua ratus tahil perak dan Go
piau tau keluar dari sini."
Seng Ceng hoa mengiakan, dia segera mengajak Go Seng
hay beranjak keluar dari situ. Sepeninggal Go Seng hay, Seng
Bian tong segera bangkit berdiri sambil berseru.
"Nah, sekarang urusan telah selesai, harap kalian kembali
untuk beristirahat tentang persoalan yang terjadi pada malam
ini tidak usah pula kalian bicarakan lagi, terutama sekalijangan
sampai tersiar sampai ditempat luaran."
Semua orang mengiakan bersama, kemudian masing
masing mohon diri untuk kembali kekamar masing masing.
Setelah mengundurkan diri kembali ke ruang belakang,
tidak lama kemudian Seng Ceng hoa jugatelah kembali kes itu
terdengar putranya ini segera bertanya : "Ayah apakah kau
orang tua percaya dengan perkataan dari Go Seng hay tadi?"
Sambil mempermainkan kedua biji peluru besinya, Seng
Bian tong tertawa ramah.
"Sudah cukup lama aku berkelana dalam dunia persilatan,
mana mungkin aku akan percaya dengan penuturannya
dengan begitu saja?"
"Lantas mengapa kau orang tua membiarkan dia pergi
dengan begitu saja?" seng Bian tong segera menghela napas
panjang:
"Aaai, bukankah kau sendiripun tahu bahwa Go Seng hay
bisa bekerja dengan kita karena perkenalan dari sidewa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bermuka merah Lou Siu tong dari perusahaan Pek juan piau
kiok?"
"Ananda tahu, selama ini empek Lou orangnya jujur dan
terbuka, ayah toh bisa memberitahukan kejadian yang
sebenarnya kepada empek Lou."
"Kau cuma tahu satu tidak mengetahui dua..." Seng Bian
tong menggelengkan kepalanya berulang kali, tiba tiba
tanyanya "Ceng hoa tahukah kau siapa manusia berkerudung
melawan Huan Hiantit dan nona Ban ketika berada di Kui bin
sia malam tadi ?"
"Ananda hanya merasakan bahwa ilmu silat yang dimiliki
orang ini sangat hebat sekali aku tidak dapat mengetahui asal
usulnya, atau mungkin kau orang tua sudah berhasil
mengetahuinya? "
Dengan merendahkan suaranya seng Bian tong segera
berbisik:
"Kau anggap siapakah dia? orang itu adalah dewa bermuka
merah Lou Siu tong"
Bergetar keras sekujur badan Seng Ceng hoa setelah
mendengar perkataan ini, serunya terkejut:
"Mungkinkah dia adalah empek Lou? Dia... mana mungkin
bisa dia ?" Dengan wajah bersungguh sungguh dan serius
Seng Bian tong berkata:
"Kalau dibicarakan dari watak serta tabiat dihari hari biasa
sudah barang tentu dia tak akan berbuat demikian tapi
bagaimana pula dengan Ban sauheng? Mengapa pula dia
bersedia menjalankan perintah dari Lengcu emas?"
"Maksud ayah, empek Lou pun sudah terkena bubuk
pembingung pikiran-.." tanya Seng Ceng hoa terkejut.
Seng Bian tong segera menghela napas panjang :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aaai, menurut dugaan ciangbunjin (Siang Han hui)
mungkin Cing im totiang dari Go bi pay pun sudah terkena
racun bubuk pembingung"
"Waah kalau begitu masalahnya menjadi amat serius" pekik
Seng Ceng hoa dengan wajah berubah.
"Yaa masalahnya memang amat serius, aaai... sayang
sekali kita gagal untuk menghadang Lengcu emas malam tadi
aku kuatir kota Kim leng akan dirubahnya olehnya menjadi
sebuah kota yang dilanda badai berdarah, penghadangnya
terhadap tianglo kanan perkumpulan kay pang Lian Sam sin
malam tadi merupakan salah satu contoh yang teramat jelas."
Berbicara sampai disini dia berhenti sejenak, kemudian
sambil mengangkat kepalanya kembali dia bertanya
"Bagaimana dengan persoalan yang menyangkut Ban
sauheng? Apakah segala sesuatunya telah dipersiapkan?
"Ananda telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan
sempurna"
"Bagus sekali, kalau begitu undanglah mereka semua agar
berkumpul kemari"
Seng ceng hoa mengiakan terburu buru dia beranjak pergi
dari ruangan tersebut.
Tak lama kemudian Seng ceng hoa muncul kembali diiringi
Huan cu im danBan Sian ceng kakak beradik.
Sambil tersenyum Seng Bian tong segera berkata:
"Silahkan duduk. silahkan duduk. sudah begini malam aku
masih saja mengganggu ketenangan kalian bertiga aku benar
benar merasa rikuh"
"Aaah, tidak apa apa..." seru Ban Huljin cepat sambil
membetulkan rambutnya yang kusut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seng ceng hoa segera mengambil tempat duduk pula
menemani para tetamunya.
Selama ini Ban Sian ceng kelihatan sangat tidak tenang,
mendadak dia mengangkat kepalanya sambil bertanya:
"Malam malam begini Seng lopek mengundang kehadiran
kami semua, rasanya ada urusan penting bukan?"
Nada suara itu jelas mengandung nada menyelidik...
Sambil mempermainkan sepasang peluru besinya, seng
Bian tong tertawa tenang katanya: "Persoalan si memang ada
sedikit..."
Baru saja berbicara sampai disini, seorang dayang telah
muncul sambil menghidangkan air teh.
Menanti dayang itu telah mengundurkan diri Seng Bian
tong baru membuka penutup cawannya dan menghembus air
teh yang panas itu sambil katanya dengan senyum dikulum
"Daun teh yang kupakai untuk menyedu air teh ini adalah
daun teh Liong keng yang khusus kupesan dari kota Hang ciu,
sedangkan air yang digunakan untuk menyeduh adalah air
Tong ning swan dari Hi hoa tay airnya manis lagi wangi.
silahkan kalian bertiga mencicipinya lebih dulu..."
Bukan masalah serius yang dibicarakan, ternyata dia malah
membicarakan soal daun teh. Huan Cu im yang mendengar
perkataan itu segera berseru:
"oooh, rupanya Seng lopek mempunyai pengetahuan yang
cukup dalam tentang seni minum teh."
Seng Bian tong kembali tertawa.
"Memiliki pengetahuan yang cukup sih tidak aku tidak
mempunyai kegemaran lain, minum teh pun merupakan
pekerjaan rutin yang kulakukan setiap hari, memang
kenyataannya air teh yang disedu dari daun Liong keng akan
menghasilkan air teh berwarna hijau, rasanya segera baunya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
harum. Biasanya orang yang hidup mengasingkan diri paling
gemar membuat santai sambil menikmati air teh"
Ban Hui jin segera menghirup satu tegukan kemudian baru
katanya:
"Apa yang dikatakan lopek memang benar, air teh ini segar
lagi harum, memang air teh yang bermutu, cuma sayang
terlalu panas"
Karena mendengar perkataan ini semua orang pun segera
mengangkat cawan masing masing dan menghirup air teh
tersebut. Sambil tersenyum Seng Bian tong kembali berkata:
"Untuk minum teh harus diminum dalam keadaan panas,
sebab bila sudah dingin maka teh maupun baunya akan jauh
berkurang"
"oooh, betulkah itu?" tanya Ban Hui jin
Kembali gadis itu mengangkat cawan air tehnya kemudian
dihirup pelan pelan. Dengan perasaan tak sabar Ban Sian ceng
segera bertanya pula^
"Seng lopek, bukankah barusan kau bilang ada urusan?
Sekarang boleh kau utarakan dengan berterus terang"
"Sesungguhnya bukan suatu kejadian besar" kata Seng
Bian tong dengan suara pelan. "hanya pada malam tadi,
didalam perusahaan kami telah ditemukan seorang
penghianat..."
"Apakah Seng lopek berhasil membekuk batang lehernya?"
tanya Ban sian ceng lagi sementara diam diam merasa
terkejut.
"Yaa, sudah berhasil dibekuk, sebetulnya dia masih
termasuk seorang piautau dari perusahaan kami, malah dewa
berwajah merah Lou Siu tong dari perusahaan Pek juga
piaukiok yang memperkenalkan dia kemari."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pelan pelan Ban Sian ceng menghembuskan napas lega, dia
tidak berkata apa apa lagi.
Seng Bian tong yang secara diam diam mengamati paras
mukanya dengan diam diam segera berpikir.
"Tampaknya dia seperti tidak punya hubungan apa apa
dengan Lou Siu tong..."
Sementara itu Ban Hui jin telah bertanya pula:
"Apakah dia sudah mengakui perbuatannya?" sambil
tersenyum Seng Bian tong manggut manggut, sahutnya.
"Yaa, dia sudah mengaku, Rupanya dia khusus
menyelundup kedalam perusahaan kita karena harus
menyampaikan sesuatu kabar yang diterimanya dari
seseorang yang bernama Kim ciang Lengcu (lengcu emas)"
Ketika mendengar nama "Lengcu emas" disinggung, tanpa
bisa dicegah lagi paras muka Ban Sian ceng segera berubah
hebat.
Seng Bian tong yang menyaksikan perubahan tersebut
diam diam tertawa geli. sebaliknya Ban Hui jin sengaja
bertanya lagi :
"seng lopek. sebetulnya manusia macam apa sih Lengcu
emas tersebut...?"
"Belum pernah kudengar nama tersebut dalam dunia
persilatan, sehingga aku sendiri pun kurang begitu jelas, tapi
aku rasa tentu ada hubungannya dengan suatu komplotan
yang diselenggarakan oleh orang orang dari golongan hitam."
"Lantas apa yang telah dia akui?" kembali Ban Hui jin
mendesak lebih jauh.
"orang ini benar benar sangat licik, pada mulanya dia
enggan mengucapkan sepatah katapuntapipada akhirnya
ketika Ceng hoa berhasil memperlihatkan bukti bukti yang
nyata, dia baru mengaku sudah dua kali menerima surat dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lengcu emas yang harus diserahkan kepada keponakan Huan-
.."
Tanpa terasa Ban Sian ceng melirik sekejap kearah Huan cu
im yang sementara itu hanya membungkam saja.
Tampaknya Ban Hui jin semakin tertarik dengan kejadian
tersebut, sambil berpaling ia bertanya lagi,
"Seng toako, bukti apa sih yang telah kau perlihatkan
kepadanya...?"
"Kalau dibicarakan sebetulnya bukan sesuatu yang luar
biasa" kata Seng ceng hoa, "ketika semalam saudara Huan
memberitahukan kepada ayah bahwa ada orang telah
menyampaikan surat kepadanya, ayah segera berpendapat
bahwa perbuatan ini pasti bukan perbuatan orang luar karena
itu pada malam tadi aku telah meletakkan selembar papa n
tulis dibalikpintu kamar saudara Huan, di atas papan tulis itu
sengaja kuberi selapis debu basah yang tipis sekali, bila dia
orang hendak menyusup kedalam kamar, maka dia tentu akan
meninggaikan bekas telapak kaki diatas lapisan papan
tersebut"
Ban Sian ceng mendengarkan pembicaraan mereka hanya
mengangkat cawan sambil pelan pelan meneguk isinya, tanpa
disadari secawan penuh air teh panas habis diteguk.
Mendadak sepasang tangannya nampak gemetar keras lalu
cawan yang berada dalam genggamannya itu terlepas dari
cekalan dan terjatuh keatas lantai hingga hancur berantakan.
Dengan perasaan terkejut buru buru Ban Hui jin menegur^
"Toako, mengapa kau?"
Bagiakan orang yang sedang mabuk arak, sepasang pipi
Ban Sian ceng berubah menjadi merah seperti api yang
membara, katanya dengan suara agak parau : "Aku... aku
merasa agak pusing"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tidak sampai adiknya bertanya lagi, dia sudah menjatuhkan
diri diatas meja dan mendengkur keras.
Ban Hui jin menjadi sangat gelisah, segera teriaknya keras
keras-"Toako, kau..."
"Nona Ban, kau tak usah gelisah" bisik Seng Ceng hoa
dengan suara rendah, "kakakmu bisa demikian karena baru
saja dia menelan obat penawar racun.
"oooh," Ban Hui jin segera mendongakkan kepalanya
sambil bertanya lagi, "Seng toako, apakah kau telah
mencampurkan obat penawar racun itu kedalam air teh??"
Sambil tersenyum Seng Ceng hoa segera manggut manggut
KembaliBan Hui jin berkata:
"Sampai kapan dia baru akan mendusin kembali ?"
"Aku rasa tidak akan terlalu lama dia akan mendusin
kembali" ucap Huan cu im menerangkan.
Sambil tersenyum Seng Bian tong ikut berkata^
"Nona Ban, duduklah lebih dahulu, sebentar dia toh akan
sehat dengan sendirinya"
Ban Hui jin menurut dan segera duduk. dengan mulut
membungkam semua orang pun sama sama mengamati Ban
Sian ceng, siapa pun tak bersuara untuk berbicara.
Tak sampai seperminum teh kemudian, tiba tiba Ban Sian
ceng membuka mata dan mendongakkan kepalanya. Kejut
dan gembira Ban Hui jin segera berseru : "Toako, kau telah
sembuh kembali?"
Ban Sian ceng mengalihkan pandangan matanya dan
memandang sekejap kesekeliling arena tiba tiba ia bangkit
berdiri dan berseru dengan perasaan takut, "Adikku,
perbuatan salah apakah yang telah kulakukan?" Seng Bian
tong tersenyum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kini racun jahat yang mengeram didalam tubuh Ban
sauheng telah punah sama sekali, benar benar s uatu
peristiwa yang pantas digirangkan dan diberi ucapan selamat
mari, mari, kita duduk dahulu sebelum berbicara lebih jauh..."
Ban Sian ceng menjura dalam dalam kepada Seng Bian
tong, kemudian katanya.
"Seng lopek kah yang telah menyelamatkan boanpwee?
Kesalahan apa saja yang telah boanpwee lakukan? Tolong
lopek sudi memberi petunjuk..." Sambil mengelus jenggotnya
Seng Bian tong tersenyum^
"Aaah, Ban sauheng hanya kena pecundang orang
sehingga berbuat tanpa sadar, kau telah diracuni seseorang
hanya untungnya saja belum sampai melakukan perbuatan
yang tercela, sedangkan soal pemunah racun atas diri Ban
sauheng dilakukan oleh Huan hiantit, aku tidak lebih hanya
mengundangmu untuk minum secawan air teh Liong keng
saja..."
Ban Sian ceng segera membalikkan badannya dan
menggenggam sepasang tangan Huan cu im erat erat, lalu
serunya dengan penuh luapan emosi^
"Siaute harus mengucapkan banyak banyak terima kasih
kepada saudara Huan"
"Saudara Ban tidak usah berterima kasih, tempo hari
andaikata siaute tidak menelan pil pemunah racun lebih dulu,
nasibku akan serupa dengan saudara Ban, dikendalikan orang
lain-.."
"oooh, rupanya saudara Huan juga telah diracuni orang
jahat, tapi siapakah orang yang meracuni kita? Dan apa pula
maksud dan tujuan mereka...?"
"Aaai, panjang sekali untuk menceritakan kejadian ini..."
Secara ringkas dia bercerita bagaimana dia bersama Ban
Sian ceng telah disuguhi arak bercampur racun oleh Soh Han
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sim, kemudian bagaimana mereka dikirim ke Kim leng untuk
menjupai lengcu emas, dan bagaimana pula jalannya peristiwa
di Kui bin sia malam tadi. Ketika selesai mendengar kisah
tersebut Ban Sian ceng segera berseru^
"Saudara Huan, tahukah kau siapa gerangan bajingan yang
menyebut dirinya sebagai Lengcu emas itu?"
"Siaute sendiripun tidak tahu, sayang dia berhasil
meloloskan diri malam tadi, namun aku yakin dia tentu satu
komplotan dengan Soh Han sim..."
"Dia telah meracuni kita berdua, lama tadi pun berusaha
untuk menghadang serta membunuh Lian Sam sin dari Kay
pang, sebenarnya apa sih maksud dan tujuan mereka?"
oooooodwooooo
Seng Bian tong segera menghela napas panjang :
"Saudara Ban, apakah kau lupa dengan maksud
kedatanganmu kekota Kim leng ini?" Ban Sian ceng agak
tertegun, kemudian ^
"Boanpwee mendapat perintah dari ibuku untuk datang
menyambut kedatangan Siang ciangbunjin serta ceng im
totiang"
"Nah, itulah dia" seru Seng Bian tong sambil tertawa
terbahak bahak. dipermainkan kedua biji peluru besi itu dalam
genggamannya "haaah... haaah... haaah... pertemuan di bukit
Hong sanpada bulan lima tanggal lima nanti adalah bertujuan
untuk memilih Bu lim Bengcu angkatan kesembilan bagi
sembilan partai besar dunia persilatan- aku rasa persoalannya
tentu ada kaitannya masalah ini."
"Ada kaitannya dengan peristiwa pemilihan Bu lim Bengcu?"
Ban Sian ceng agak tertegun.
"Yaa, besar sekali kaitannya"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tahukah Ban sauheng siapakah yang mempunyai harapan
paling besar didalam pemilihan Bu lim Bengcu kali ini?" tanya
Seng Bian tong kemudian-
"Boanpwee pernah mendengar dari ibu yang mengatakan
bahwa menurut peraturan orang yang dipilih menjadi Bu lim
bengcu belum tentu harus berasal dari sembilan partai besar,
tapi orang itu harus disokong oleh paling tidak dua orang
tokoh dari sembilan partai besar, selain itu orang tersebut
harus mempunyai watak yang baik, namanya yang termashur
dan kedudukan yang dihormati serta disegani oleh sesama
umat persilatan-"
"Sejak mendiang ayahku meninggal lima tahun berselang,
kursi Bengcu sudah lama menjadi lowong tanpa ada
penggantinya, sedang didalam pemilihan kali ini, aku dengar
pihak Siauw lim pay dan Heng sanpay telah menyokong Sam
siang tayhiap Yu Hua liong sebagai calonnya, pihak Bu tong
pay dan Go bipay menyokong Wi Lam tayhiap Hee Im hong
sebagai calonnya, sedangkan dari partai partai lain apakah
akan mencalonkan pula pilihannya, hal ini belum kudengar"
"Nah, menurut pendapat Ban sauheng, siapakah yang
mempunyai kesempatan terbesar untuk terpilih sebagai Bu lim
bengcu antara Yu Hua liong dengan Hee Im hong?" tanya
Seng Bian tong lagi.
"Waaah, itu mah susah untuk dikatakan, tatkala Bu lim
bengcu yang pertama dipilih, hal ini hanya diselenggarakan
oleh sembilan partai besar saja. Kemudian bergabung pula
keluarga Tong dari Sichuan, Tiam kong pay serta Kay pang
sehingga jumlahnya mencapai dua belas partai, jika calon
Bengcu hanya dua orang saja, maka pihak yang bisa
memperoleh dukungan dari ketujuh partai lainnya itulah yang
bakal terpilih menjadi Bengcu." seng Bian tong segera
tersenyum.
"Disinilah letak persoalannya, untuk menjadi seorang Bu lim
Bengcu maka dari dua belas partai yang ada, orang itu harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendapat dukungan sekurang kurangnya tujuh partai
diantaranya..."
Seperti memahami apa yang dimaksud, dengan perasaan
gemas dan mendongkol Ban Sian ceng segera berseru:
"Kita memilih seorang Bu lim Bengcu demi mengatasi
segala macam partisipasi di dalam dunia persilatan,
menegakkan keadilan dan kebenaran, menolong kaum lemah
dan meja menindas kaum kuat demi tercapainya suasana
aman tentram bagi seluruh umat manusia tugas ini merupakan
tugas sosial yang mulia tanpa mengharapkan pamrih, masa
kedudukan semulia ini pun harus diperebutkan dengan cara
licik, munafik dan melakukan-.." sekali lagi Seng Bian tong
menghela napas panjang:
"Perkataan Ban sauheng memang benar, tapi kenyataannya
dalam pemilihan Bu lim bengcu kali ini justru ada orang yang
kasak kusuk serta menyusun rencana yang tidak baik..."
"Apakah lopek maksudkan Hee Im hong?" tanya Ban Sian
ceng dengan kening berkerut.
"Seandainya benar benar memang dia, maka ia tak pantas
memperoleh dukungan dari pihak Bu tong pay serta Go
bipay..."
Seng Bian tong cepat cepat menggoyangkan tangannya
berulang kali serunya berseru:
"Untuk sementara waktu Ban sauheng lebih baik jangan
mengumbarkan berita ini lebih dulu keluaran, kini kekuaran
dari Hee Im hong sudah terhimpun, oleh sebab itu apabila kita
salah melangkah didalam pertemuan yang diselenggarakan
kali ini, besar kemungkinan akan menimbulkan bencana yang
tak terkirakan, untung saja racun jahat yang mengeram
didalam tubuh Ban sauheng telah punah, sehingga kita dapat
menyusun rencana kembali untuk mengatasi persoalan ini.
Kini ceng Im totiang telah pergi ke Bu tong pay, aku yakin
kepergiannya kesana pasti ada kaitannya dengan pertemuan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
puncak dibukit Hong san nanti, maka sekembalinya Ban
sauheng ke rumah nanti, ada baiknya kalau secara diam diam
kau sampaikan kejadian yang sebenarnya kepada ibumu, dan
yang terpenting adalah berita ini jangan sampai bocor
sebelum pertemuan puncak itu terselenggara."
"Lantas bagaimana tanggapan lopek tentang persoalan ini?
Dan apa pula yang mesti kita lakukan sekarang?"
"Satu satunya jalan terbaik saat ini adalah meminta
bantuan dari Ban sauheng untuk berlagak terus seperti orang
yang masih terpengaruh oleh obat racun dan melaksanakan
semua petunjuk yang disampaikan Lengcu emas kepadamu"
"Kemudian?"
"Di dalam peristiwa ini kita harus menghadapinya secara
halus dan menggunakan akal, jangan sekali kali melakukan
bentrokan fisik secara kekerasan-.."
"Boanpwee mengerti," Ban Sian ceng manggut manggut.
Fajar baru saja menyingsing, sinar matahari pagi
memancarkan cahayanya menyinari seluruh jagad.
Di depan pintu gerbang perusahaan Seng ki piaukiok tiba
tiba muncul seorang pengemis setengah umur yang membawa
kantongan kain pada bahu kirinya. Dengan langkah lebar
pengemis itu langsung mendekati pintu gerbang.
Seorang Siang cu jiu yang sedang duduk di bangku panjang
dibalik pintu gerbang, segera menegur dengan suara keras.
"Hey, sobat Tempat kami adalah sebuah perusahaan
pengawalan barang, lebih baik muntalah sedekah ditempat
yang lain"
"Aku memang tahu kalau tempat ini adalah sebuah
perusahaan pengawalan barang" ucap pengemis tua itu sambil
tertawa. "Aku memang khusus datang keperusahaan kalian"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ada urusan apa kau datang keperusahaan kami ?" suara
teguran dari Siangcujiu itu masih tetap kaku dan ketus.
"Mencari orang"
Sebelum Siangcujiu sempat bertanya lagi, pengemis
setengah umur itu sudah berkata lebih jauh:
"Tolong loko masuk dan memberi laporan, katakanlah aku
Lian Sam goan dari kantor cabang Kim leng perkumpulan
kaypang mendapat perintah dari Lian tianglo untuk
mengundang Huan sauhiap dan nona Ban yang berada di
perusahaan kalian untuk bertemu ditempat kami"
Sesudah mendengar perkataan itu, dengan gugup dan
setengah gelagapan Siang cujiu itu abru cepat bangun berdiri,
kemudian serunya sambil tertawa paksa: "oooh, rupanya Lian
loko dari Kay pang, mengapa tidak kau katakan sedari tadi?"
"Bukankah sudah kukatakan sekarang?" ucap Lian Sam
goan sambil tertawa.
"Harap Lian loko sudi menunggu sebentar, aku segera akan
masuk untuk memberi laporan"
"Merepotkan loko..." Lian Sam goan segera menjura.
Dengan langkah tergesa gesa siang cujiu itu segera
berlarian masuk kedalam untuk memberi laporan- Sementara
Lian Sam goan duduk menanti dibangku panjang itu.
Tak selang berapa saat saat kemudian, siang cujiu itu
sudah muncul kembali bersama Huan cu im dan Ban Hui jin.
cepat cepat Lian Sam goan bangkit berdiri untuk
menyambut. setelah berkata Huan cu im berkata:
"Aku adalah Huan cu im apakah loko dikirim kemari oleh
Lian tiang lo ?"
"Aku Lian Sam goan, berhubung Lian tiang lo kuatir kalian
berdua tak mengenal jalan sehingga tersesat, maka sengaja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengutusku untuk datang menyambut kedatangan kalian
berdua"
"Yaa betul" Ban Hui jin segera berseru, "kemarin engkoh
tua hanya berkata akan menunggu kami dikantor cabang kota
Kim lang tanpa menyebut alamat dari kantor cabangnya, pagi
tadi aku bersama Huan toako telah berkata kepada
congpiautau perusahaan ini, namun tak seorangpun yang tau
dimanakah letak markas kalian dikota Kim leng ini, coba kalau
Lian loko tidak kemari kami benar benar tidak tahu kemana
harus pergi mencari."
Begitu membuka suara, nona ini berbicara seperti kicauan
burung nuri saja, bercuit cuit tiada hentinya.
Perlu diketahui, meskipun perkumpulan Kaypang
merupakan sebuah perkumpulan yang besar dalam dunia
persilatan, namun mereka tak pernah mengumumkan letak
kantor kantor cabangnya diberbagai tempat, itulah sebabnya
Seng Ceng hoa sendiripun tak mengetahui letak markas
mereka.
Lagipula dalam dunia persilatan pun terdapat sebuah
peraturan yang tidak tercantum dalam tulisan namun diakui
oleh setiap manusia, yaitu setiap partai setiap perguruan
masing masing mempunyai rahasia sendiri maka bilamana
orang lain tidak mengumumkannya kepada orang luar,
sekalipun kau tahupun tidak boleh memberitahukan juga
kepada orang lain-
Seperti misalnya perusahaan Seng ki piaukiok ini, sudah
jelas tempat ini merupakan tempat pertemuan dari Hoa san
pay, sedangkan perusahaan Pekjuan piaukiok merupakan
tempat pertemuan bagi orang orang Go bi pay, namun mereka
semua hanya menganggap tempat itu sebagai sebuah
perusahaan pengawalan barang belaka tanpa memandangnya
sebagai sebuah basis dari suatu golongan tertentu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitulah, sambil tersenyum Lian Sam goan segera
berkata:
"Lian tiang lo telah menanti dikantor cabang kami, harap
kalian berdua segera mengikuti diriku"
"Silahkan Lian toako" seru Huan cu im kemudian^
Lian Sam goan tidak sungkan lagi, setelah keluar dari
perusahaan Seng ki piaukiok, dia langsung berjalan paling
dulu didepan. Ditengah jalan, Huan cu im bertanya^
"Apakah antara Lian loko dengan Lian tiang lo masih
berasal dari satu keluarga"
"Yaa, Lian tiang lo adalah familiku, ketika orang tuaku
meninggal dunia ketika aku masih kecil dulu, Lian tiang lo
segera mengajak aku berkelana"
"Apakah ilmu silat yang dimiliki Lian loko juga berasal dari
petunjuk Lian tiang lo?" Ban Hui jin turut menimbrung.
"Lian tianglo pernah juga memberi petunjuk ilmu silat
kepadaku, tapi ilmu silat semua anggota perkumpulan kami
berasal dari tiang lo yang khusus bertugas memberi pelajaran
silat"
"Kalau begitu, semua anggota perkumpulan mempelajari
ilmu silat yang sama semua?"
"Sewaktu jamannya tecu dulu, semua yang dipelajari
adalah sama, tapi kemudian apa yang dipelajari masing
masing orang berbeda, hal ini tergantung pada bakat dan
rejeki masing masing orang."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, ketiga orang
itu sama sekali tidak mengindahkan langkah kakinya, tak
selang berapa saat kemudian mereka telah tiba dikaki sebuah
bukit, Lian sam goan segera mengajak kedua orang itu
memasuki sebuah jalan bukit yang sempit dan mendadak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meneruskan perjalanannya dengan gerakan tubuh yang amat
cepat.
Huan cu im serta Ban Hui jin yang mengikuti dibelakangnya
terpaksa harus mempercepat juga langkah kaki mereka.
Setelah melingkari sebuah kaki bukit lagi, Lian Sam goan
menerobos masuk kedalam sebuah hutan pohon siong yang
lebat. tempat itu merupakan jalan berbatu yang tidak terlalu
lebar.
Sepanahan kemudian mereka telah melihat sebuah
bangunan kuil berdinding merah yang berdiri dikaki bukit,
ketika semakin dekat, mereka segera mengenali tempat itu
sebagai sebuah dewa bukit.
Didepan undak undakan batu kuil duduk beberapa orang
pengemis yang berpakaian compang camping, orang orang itu
sama sekali tidak memperhatikan kehadiran mereka bahkan
lagi sibuk mencari kutu dari rambut rekannya.
Ban Hui jin menjadi merinding sendiri setelah menyaksikan
kejadian itu, tanpa terasa seluruh tubuhnya terasa ikut
menjadi gatal semua...
Lian Sam goan mengajak kedua orang tamunya langsung
memasuki kuil tersebut.
Jangan dilihat kuil itu merupakan sebuah kuil bobrok,
bahkan patung pemujaan dan meja altarnya sudah rusak dan
terbengkalai, namun lantai dan dindingnya ternyata amat
bersih dan bebas dari debu serta sarang laba laba.
Setelah menembus ruang depan, ketiga orang itu menuju
kebagian belakang ruangan kuil itu.
Tiba tiba Lian Sam goan memperenteng langkah kakinya
dan mengajak mereka menuju ke beranda sebelah kiri.
Huan cu im segera dapat mengendus bau obat obatan yang
amat tebal dan tajam terhembus keluar dari arah depan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tampaknya dari pihak Kaypang ada orang yang sedang
menderita sakit parah.
Bila ditinjau dari langkah kaki dan gerak gerik Lian Sam
goan yang begitu berhati hati, seakan akan kuatir
mengagetkan seseorang, bisa bisa diduga kalau orang yang
sedang sakit berat itu tentu mempunyai kedudukan yang amat
tinggi.
Dari beranda sebelah kiri mereka membelok masuk
kedalam sebuah bangunan kecil, bangunan tersebut terletak
disebelah timur yang terdiri dari tiga buah ruangan, hampir
semua pintu dan jendela sudah tak utuh lagi.
Lian Sam goan baru menghentikan langkahnya setelah
berada didepan sebuah pintu diujung sebelah kiri, tampak dia
memberi hormat sambil berseru: "Lapor Lian tianglo, Huan-.."
Sebelum perkataannya selesai diucapkan, dari dalam
ruangan sudah kedengaran suara Lian Sam seng yang
menyahut sambil tertawa terbahak bahak.
"Sam goan, apakah kau telah mengundang datang saudara
cilik serta adik cilik? Cepat undang mereka masuk. cepat
undang mereka masuk ke dalam..."
Menyusul pembicaraan tersebut, orangnya sudah muncul
pula didepan pintu. Cepat cepat Huan Cu im berseru^
"Engkoh tua, tempat ini benar benar tidak mudah untuk
ditemukan, seandainya Lian loko tidak menyambut
kedatangan kami, mau tanya pun tak ada yang bisa
menunjukkan tempat ini "
"Yaa, Kay pang adalah kumpulan dari pengemis pengemis
miskin" kata Lian Sam seng sambil tertawa, "meskipun
namanya saja sebuah kantor cabang, sesungguhnya tidak
terdapat suatu tempat yang tertentu, dimana ketua cabang
berada, disitu pula letak cabang kami nah tentunya kau sudah
mengerti bukan sekarang? Mari, mari, kita duduk didalam saja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
" Huan cu im dan Ban Hui jin bersama sama melangkah
kedalam ruangan-
Didalam ruangan tersebut hanya terdapat sebuah meja
pendek saja tanpa perabot yang lain, tapi lalu Lian Sam seng
telah meletakkan dua tiga buah karung goni disekeliling meja
pendek tersebut sebagai tempat duduk dan mempersilahkan
tamunya menempati karung goni tersebut.
Ban Hui jin adalah seorang nona yang suka akan
kebersihan, apalagi setelah menyaksikan beberapa orang
pengemis mencari kutu didepan kuil tadi, dalam hati kecilnya
sudah timbul perasaan geli dan risih terhadap sekeliling
tempat tersebut.
Melihat tampilan karung goni itu, terus terang saja dia
merasa berat untuk mendudukinya, tapi engkoh tua pun
seorang yang baik, sehingga mau tak mau terpaksa dia harus
menempatinya juga, kendatipun dengan perasaan yang amat
berat.
Lian Sam seng adalah jago kawakan yang sudah
berpengalaman luas di dalam dunia persilatan, dari sikap ragu
ragu nona tersebut, ia segera dapat menduga apa yang
sedang terpikirkan olehnya, sambil tertawa dia pun segera
berkata:
"Adik kecil, duduk saja tanpa ragu, demi menyambut
kedatangan kalian berdua, aku memang secara khusus
menyiapkan karung karung goni baru untuk kalian, Nah,
sekarang tentunya kau bisa merasa lega hati bukan?"
Atas perkataannya itu, merah padam selembar wajah Ban
Hui jin, cepat cepat dia duduk diatas karung goni itu seraya
ujarnya^
"Engkoh tua, darimana kau bisa menduga sampai kesitu?
Tatkala melihat orang orangmu mencari kutu didalam kuil tadi,
terus terang saja hatiku merasa geli dan risih..." Lian Sam
seng tertawa terbahak bahak:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Haah haah haah... adik cilik, kau terlalu memandang hina
kemampuan kutu kutu berharga itu, tahukah kau bahwa kutu
adalah benda wasiat dari perkumpulan kami?"
"Aah, masa kutupun dijadikan benda wasiat?" Ban Hui jin
berseru keheranan-
"Yaa, sedikitpun tidak salah"
Kemudian setelah berhenti sejenak. pengemis tua itu baru
meneruskan kembali kata katanya:
".Setiap anggota Kay pang harus memelihara kutu kutu
wasiat itu diatas badannya, pertama untuk dijadikan bahan
latihan ilmu jarinya. Setiap hari mereka harus berlatih rajin
untuk menangkap kutu kutu tersebut, kemudian
melepaskannya kembali, dan kemudian ditangkap lagi,
kemudian dilepaskan kembali, demikianlah seterusnya. Apa
yang kau lihat tadi merupakan salah satu pelajaran yang harus
melakukan laksanakan setiap hari bila ada waktu senggang."
"Selain itu? Apakah masih ada kegunaan yang lain?"
kembali nona itu bertanya.
"Tentu saja masih ada" Lian Sam seng melanjutkan "bila
usianya semakin meningkat dewasa dan kedudukannya
semakin tinggi, dimana tenaga dalam yang dimilikinya sudah
mencapai suatu tingkatan tertentu, maka seekor kutu yang
ditangkap dari badan sendiri yang disentilkan keluar dengan
ilmu jari dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah orang
lain, bila jumlah musuh terlalu banyak kami pun bisa meraup
segenggam kutu yang disebarkan dengan ilmu Ban thian hui
hoa (seluruh angkasa penuh bunga) kearah lawan, bukankah
orang orang itu bisa dibekuk semuanya secara mudah?"
Kontan saja Ban Hui jin tertawa cekikikan setelah
mendengar perkataan tersebut. "Engkoh tua, rupanya kau
sedang bergurau"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak. aku sama sekali tidak bergurau" Lian Sam seng
berkata dengan wajah bersungguh sungguh, "dari
perkumpulan kami terdapat dua orang locianpwee yang
seringkali berbuat kocak dengan benda benda mestikanya itu,
konon ketika sedang berada di luar perbatasan tempo hari,
dengan segenggam kutu wasiatnya mereka berhasil
membunuh tiga belas orang penjahat yang amat keji dan
kejam, setelah peristiwa tersebut orang telah menjumpai
sebab sebab kematian dari ketiga belas orang pencoleng,
yakni diatas jalan darah kematian mereka masing masing
menempel seekor kutu wasiat "
"Engkoh tua siapa sih kedua orang locianpwee yang kau
maksudkan itu?" tanya Ban Hui jin lagi.
Mereka adalah pelindung hukum dari perkumpulan kami
yang lampau, Siau bin sin kou (pengemis sakti berwajah
senyum) Yu It leng serta Pit gau kay poo (nenek pengemis
bermata sipit).
"oooh, jadi kedua orang locianpwee itu masih hidup?"
"Engkoh tua pernah berjumpa dengan mereka berdua jauh
pada tiga puluh tahunan berselang, konon mereka telah
mengasingkan diri disebuah pegunungan yang terpencil dan
tidak mencampuri urusan dunia lagi, tapi ada pula yang
bilang, mereka pernah berjumpa mereka dipuncak bukit Hoa
san berapa tahun berselang, malah ada pula yang
mengatakan pernah bertemu disebuah rumah makan di ibu
kota, pokoknya semua orang melukiskan kedua orang tua ini
ibarat naga sakti yang nampak kepala tak nampak ekornya,
tapi bila ditanya siapa yang telah bertemu dengan mereka
berdua, ternyata tak seorangpun yang bisa menyebutkan
namanya..."
Berbicara sampai disini dia segera mengambil sebuah poci
air teh berwarna putih dengan bunga biru untuk memenuhi
dua cawan dengan air teh, kemudian sambil menyodorkan
cawan teh itu, katanya lagi sambil tertawa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kia hanya tahu berbicara terus sampai lupa menuangkan
air teh untuk kalian berdua, eeh, kalian jangan lihat tempat ini
adalah sarang pengemis, kau tahu daun teh yang kugunakan
untuk membuat air teh ini adalah daun teh pilihan yang
dibawa pangcu kami dari Im lam, sedang kedua cawan itupun
sudah dicuci sampai bersih sekali"
"Banyak terima kasih engkoh" cepat cepat Huan cu im
berseru.
Lian Sam seng segera melayangkan pandangan matanya
dari wajah Huan cu im ke wajah Ban Hui jin, kemudian sambil
mengelus jenggotnya dia berkata sambil tertawa:
-oo0dw0oo-
Jilid: 19
"Tampaknya saudara cilik jauh lebih jujur daripada adik
perempuanku ini"
"Engkoh tua, kau tidak adil kalau bicara kapan sih aku tidak
jujur..." sambil mengangkat bahunya Ban Hui jin segera
memprotes.
"coba bayangkan saja" kata Lian Sam seng sambil tertawa,
"semenjak sampai di sini, selain ketika masuk tadi memanggil
"engkoh tua" kepadaku hanya kali ini mengucapkan "terima
kasih" jadi hanya dua patah kata saja yang diucapkan sedang
kau? Semenjak masuk tadi sudah berapa patah kata yang kau
ucapkan ?"
Pertanyaan ini diutarakan sangat diplomatis, seandainya
ditanyakan secara langsung siapa yang telah mengajak
mereka pergi ke Kui bin shia, sudah barang tentu mereka tak
akan bersedia menjawab dengan sejujurnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perkataan dari mana bisa tahu kalau semalam engkoh tua
menjumpai kesulitan hanya menyangkut urusan pribadi saja
tapi rupanya pengemis ini telah memberi tahukan bahwa
jawaban mereka pasti akan meliputi pula semua persoalannya.
Sebelum berangkat tadi sebenarnya Seng Bian tong telah
berpesan kepada Huan cu im dan Ban Hui jin agar tidak
menyinggung soal peristiwa semalam dengan Lian Sam sin,
siapa tahu Ban Hui jin justru telah menyinggung persoalan
tersebut tanpa disengaja.
Kini, setelah didesak oleh Lian Sam sin sebagai orang yang
berhati jujur Huan cu im menjadi kegelapan dan untuk sesaat
tidak tahu bagaimana mesti memberi jawabnya. cepat Cepat
Ban Hui jin berkata:
"Engkoh tua, bagaimana kalau persoalan ini jangan kau
tanyakan dulu? Didalam peristiwa semalam, seorang
locianpwee telah memberitahukan kepada kami agar
persoalan ini jangan diberitahukan kepadamu untuk
sementara waktu, karenanya kami... kami tak dapat
memberitahukan persoalan ini kepadamu" Lian Sam sin
tertawa terbahak bahak:
"IHaahaa... haaahaaa bagus... bagus sekali. asal engkoh
tua sudah tahu kalau perbuatan ini merupakan perbuatan
kalian, itu sudah cukup, bila kalian enggan berbicara, engkoh
tua pun tidak akan bertanya lagi"
Tiba tiba dari luar pintu kedengaran seseorang berseru
dengan suara keras:
"Saudara Lian sedang berbincang bincang dengan siapa?
gembira amat nampaknya?"
Menyusul teguran tersebut, dari arah belakang muncul
seseorang...
orang itu mempunyai perawakan tubuh yang jangkung,
ceking dan berambut putih, hidungnya mancung, sepasang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
matanya cekung kedalam dan mukanya penuh berkeriput,
tampang dari seseorang yang sudah matang dalam
pengalaman-Buru buru Lian Sam sin bangkit berdiri seraya
menyapa
"Kedatangan saudara Kwa sungguh amat kebetulan, mari
siaute perkenalkan kau dengan saudara saudara cilik yang
baru kukenal"
Sementara pembicaraan berlangsung, Huan cu im serta
Ban Hui jin telah turut bangkit berdiri pula.
Lian Sam sin segera menunjuk ke arah orang yang baru
datang itu sembari berkata: "Dia adalah Kwa Tiang tay, Kwa
tiang lo, orang menyebutnya sebagai ciang klong kay
(pengemis penakluk naga), dia adalah tianglo kiri dari
perkumpulan kami, satu diantara dua pembantu utama
pangcu kami. Dalam dunia persilatan dia pun termasuk dalam
deretan jagojago kelas satu ilmu tangan sakti penakluk
naganya berkemampuan untuk menghancurkan batu nisan-"
Tidak sampai perkataan itu diselesaikan sambil tertawa
terbahak bahak Kwa Tiang tay telah menukas "Sudah
selesaikah pembicaraan saudara Lian? Masa dihadapan kedua
orang tamu kitapun kau terus menerus mengumpak diriku
habis habisan, apakah kau tidak kuatir ditertawakan orang?
Yang penting kau harus selekasnya memperkenalkan kedua
orang tamu kita ini" Huan cu im dan Ban Hui jin cepat cepat
menjura seraya berseru :
"Sudah lama kudengar nama besar Kwa tianglo, sungguh
beruntung hari ini kita bisa saling bersua"
Kembali Lian Sam sin tertawa terbahak bahak seraya
berseru
"Untuk memperkenalkan seseorang, apa salahnya bila
diterangkan sampai sejelas jelasnya ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian sambil menjura ke arah kedua orang itu, kembali
katanya lebih jauh:
"Dia adalah saudaraku Huan cu im, putra dari berbaju hijau
Huan tayhiap Sedangkan yang ini adalah adikku Ban Hui jin
putri kesayangan dari Ban Bengcu dari bukit Hong san."
"Selamat berjumpa.. selamat berjumpa.." seru Kwa Tiang
tay sambil tersenyum, "kalian berdua adalah angkatan muda
yang berprestasi dan berasal dari keturunan kenamaan,
bagaimana sih ceritanya sehingga saudara Lian pun dapat
berkenalan dengan mereka?"
Lian Sam sin segera mengambil sebuah karung goni dari
bawah alas dudukannya untuk diberikan sebuah untuk Kwa
Tiang tay kemudian katanya : "Silahkan duduk saudara Kwa"
Dia menuang pula secawan ait teh dan diangsurkan
kehadapannya rekannya ini.
"Terima kasih" ucap Kwa Tiang tay sambil menermia cawan
air teh tersebut. setelah itu Lian Sam sin baru berkata sambil
tertawa :
"Siaute bisa berkenalan dengan saudara cilik karena suatu
pertarungan secara tak sengaja"
Secara ringkas diapun menceritakan bagaimana kisahnya
sampai dia bertarung melawan Huan cu im.
Selesai mendengar kisah itu Kwa Tiang tay segera manggut
manggut seraya berkata.
"Bagus, bagus, saudara Lian bisa mendapatkan saudara
cilik dan adik cilik gara gara bertarung kapan kapan akupun
ingin bertarung dengan Huan sauhiap agar aku pun
mempunyai seorang saudara cilik dan adik cilik"
Selesai berkata dia segera mendongakkan kepalanya dan
tertawa tergelak tiada hentinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendadak Huan cu im merasakan sesuatu yang aneh dia
merasa suara tertawa dari Kwa Tiang tay ini seperti sangat
dikenali olehnya hanya untuk sesaat tak teringat olehnya
suara tertawa siapakah itu...
Pada saat itulah terdengar langkah kaki manusia yang
masuk kedalam ruangan tergesa gesa lalu nampak sesosok
bayangan manusia berkelebat lewat seorang pemuda
berdandan pengemis dengan wajah amat pucat dan panik
berlarian masuk sambil berteriak penuh kegelisahan-
"Kwa tianglo, Lian tianglo, aduh celaka, suhu..."
Huan cu im segera mengenali orang itu sebagai murid
ketua Kay pang saat ini yang bernama Kang to
Tidak sampai ia menyelesaikan kata katanya Kwa Tiang tay
sudah mencengkeram sepasang lengan Kang to sambil
berseru gelisah.
"Bagaimana dengan pang cu?"
Dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya, Leng
Kang to berkata
"Tak lama setelah suhu dia orang tua minum obat,
mendadak keadaan sakitnya mengalami perubahan tecu
sengaja datang kemari untuk mengundang tiangko berdua
untuk memeriksa keadaannya"
"Aaah, hal ini mana mungkin bisa terjadi? saudara Lian,
mari kita segera kesana" seru Kwa Tiang tay dengan perasaan
kaget bercampur keheranan.
Ketika Lian Sam sin mendengar penyakit pang cunya
mengalami perubahan yang gawat, cepat cepat dia berpaling
kearah Huan cu im dan Ban Hui jin sambil berseru: "Harap
kalian duduk sebentar, engkoh tua akan pergi sebentar saja."
Dengan langkah tergesa gesa dia lari keluar dari ruangan
itu. Leng Kang to segera berebut berjalan didepan membuka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tirai kain dan mempersilahkan kedua orang tianglo itu masuk
kedalam ruangan
Tempat itu merupakan sebuah ruangan yang terbaik
diseantero bangunan kuil tersebut, diatas sebuah
pembaringan kayu yang terletak disudut ruangan, berbaring
seorang kakek bermuka pucat pias seperti mayat. orang itu
adalah ketua Kaypang, coa coan tiong yang namanya pernah
menggetarkan diseluruh kolong langit dimasa lalu.
Kakek gagah perkasa yang pernah disegani dan dihormati
orang ini, kini berbaring dengan tubuh yang kurus kering
tinggal kulit pembungkus tulang karena digerogoti penyakit
yang menahun, sepasang matanya cekung kedalam dan
napasnya sangat lemah nampaknya orang ini sudah berada
tak jauh dari lembah kematian. cepat cepat Kwa Tiang tay dan
Lian Sam sin mendekati pembaringan itu sambil berseru :
"Pangcu."
Leng Kang toa menghampiri pula suhunya dan berbisik lirih
disisi telinganya: "Suhu, Kwa tianglo dan Lian tianglo telah
datang"
Pelan-pelan coa coan tiong membuka matanya dan
memandang kedua orang yang berada didepan pembaringan
itu dengan pandangan matanya yang sayu dan tak bersinar,
bibirnya bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun
tak sepatah kata pun yang dapat diucapkan
Lian Sam sin yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi
kecut hatinya, dengan air mata yang mengembang dalam
kelopak matanya dia berbisik lirih:
"Pangcu, beristirahatlah dengan perasaan tenang,
perkumpulan kami tidak terjadi sesuatu kau tak usah merasa
kuatir"
coa coan tlong kembali menggerakkan sepasang matanya
seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tenggorokannya hanya sempat memperdengarkan suara
gemerutuk yang keras.
Kelihatan sekali betapa gelisah dan cemasnya pangcu itu,
dadanya sampai naik turun tak menentu, sementara napasnya
memburu.
cepat cepat Leng Kang to menguruti dada gurunya sambil
berbisik lirih "Suhu, bila kau orang tua ingin mengucapkan
sesuatu, katakanlah nanti saja" Namun dengan kening
berkerut Kwa tiang tay segera berpaling sambil menukas
"Tampaknya pangcu sudah tak mampu menahan diri lagi,
dia seperti ingin menyampaikan pesan terakhirnya..."
"Biar beristirahat dulu sebentar, siapa tahu kalau
kesehatannya akan segera pulih kembali?" kata Lian Sam sin
cepat.
Kwa Tiang tay segera berpaling kembali ke arah Leng Kang
to sambil tanyanya :
"Kang to resep obat yang dibuat tabib Beng barusan
apakah sudah kau berikan kepada pangcu ?"
"Masakan pertama sudah diminum, masakan kedua sudah
matang namun berhubung masih terlalu panas maka belum
diberikan"
Tabib Beng adalah tabib paling termashur di kota Kim leng
ini kata Kwa Tiang tay dengan kening berkerut, "aneh sekali
kalau pangcu yang telah minum obatnya bukan bertambah
baik malahan keadaannya semakin gawat sehingga berbicara
pun tak mampu lagi."
Dalam pada itu, coa coan tiong yang telah diuruti dadanya
oleh Kang to, keadaannya sudah bertambah membaik, sorot
matanya masih saja ditujukan ke arah Kwa Tiang tay serta
Lian Sam sin dia seperti ingin mengucapkan sesuatu hanya
sayang niatnya itu tak mampu diutarakan keluar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sambil duduk didekat pembaringan, Leng Kang to
mengangkat cawan berisi obat sambil katanya:
"Suhu setelah minum obat ini sakitmu tentu akan sembuh
kembali, biar tecu suapi kau orang tua, mumpung obatnya
masih hangat"
Sambil berkata dia menggunakan sendok untuk menyuapi
gurunya dengan obat. Kwa Tiang tay segera berkata :
"Kang to, setelah pangcu selesai minum obat, biarlah dia
tidur nyenyak. jangan sekali kali kau usik dirinya."
"Tecu mengerti," Leng Kang to manggut manggut. Kwa
Tiang tay segera berpaling sambil katanya pula :
"Saudara Lian-.. lebih baik kita jangan mengganggu
ketenangan pangcu lebih dulu" Selesai berkata dia lantas
beranjak keluar dari ruangan-
Lian Sam sin dengan perasaan yang amat berat mengikuti
dibelakangnya melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Sesudah berada diluar ruangan Kwa Tiang tay mengalih
sorot matanya kearah seorang anggota kay pang yang berdiri
di bawah undak undakan batu kemudian berseru "Siang See
yong"
"Ya a..." orang itu menyahut sambil memberi hormat, "Kwa
tianglo ada urusan apa?"
"Tadi adakah seseorang memasuki ruangan belakang ?"
"Lapor tianglo, tak seorang pun yang masuk kemari"
"Siapa yang memakai obat buat pangcu?" kembali Kwa
Tiang tay bertanya lagi.
"Leng toako memasaknya sendiri."
Ternyata Leng Kang to adalah satu satunya murid Coa
pangcu, dia pun merupakan ahli waris satu satunya dari
perkumpulan Kaypang, oleh sebab itulah semua anggota
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perkumpulan, baik yang tua maupun yang muda, semuanya
memanggil "toako" kepadanya.
"Siapa pula yang membeli bahan obat obatan menurut
resep dari tabib Beng ?" tanya Kwa Tiang tay lebih jauh.
"Leng taoko juga yang pergi ke kamar obat Tay hoo tong
untuk membeli obat-obatan tersebut"
Kwa Tiang tay segera memandang sekejap kearah teko
pemasak obat yang masih berada diatas anglo, kemudian
tanyanya lagi :
"Apakah selama ini kau berdiri terus di sini tanpa
meninggalkan selangkahpun?"
"Tecu mendapat tugas untuk berjaga di tempat ini,
karenanya tidak selangkahpun tecu meninggalkan tempat."
"Bagus sekali, coba kau pergi mencari Kang to dan minta
resep obat dari tabib Beng, aku ingin memeriksanya."
Siang See yong segera mengiakan dan melangkah masuk
kedalam ruangan-
"Ada apa sih?" Lian Sam sin segera bertanya, "apakah
saudara Kwa menganggap obat obatan dari tabib Beng ada
yang tak beres..."
"Benar, aku memang berpendapat demikian," sahut Kwa
Tiang tay sambil mengangguk, "kalau tidak. mengapa keadaan
penyakit pangcu tiba tiba bertambah parah setelah minum
obat tersebut? Mau tidak mau kita mesti mencurigai jangan
jangan dia telah salah menyusun obat obatan tersebut"
"Tabib Beng sudah banyak tahun bekerja dikota Kim leng,
diapun termashur sebagai tabib nomor wahid bagi negeri kita
mustahil dia salah membuat resep"
Sementara pembicaraan ini berlangsung, siang See yong
telah muncul kembali dari kamarnya dengan membawa resep
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang dimaksud dan segera diserahkan ke hadapan Kwa Tiang
tay.
Sesudah menerima resep tersebut, Kwa Tiang tay segera
memeriksanya dengan seksama Lian Sam seng termenung
sejenak. kemudian ujarnya :
"Bila dilihat dari resep ini, bahan obat obatan yang dia
pergunakan hampir sama dengan obat obatan yang digunakan
Li It tak cara memeriksa nadipun tak jauh berbeda, rasanya
hal ini tak bakal salah lagi"
Kwa Tiang tay segera mengangkat kepalanya seraya
berseru : "Siang See yong, coba bawa kemari teko pemasak
obat itu."
"Baik" Siang See yong mengiakan.
Dia membalikkan badan dan mengambil teko pemasak obat
itu dari atas tungku kemudian diserahkan kepada Kwa Tiang
tay.
Kwa Tiang tay segera membuka penutup teko itu dan
menuang sisa obat tersebut keatas lantai
Lian Sam sin yang menyaksikan hal tersebut segera
menegur "Saudara Kwa, apa yang hendak kau lakukan?"
"Siaute hendak memeriksa, apakah obat obatan yang
diberikan kamar obat betul atau tidak?
Sambil memegang resep obat itu dia mulai berjongkok dan
memcocokkan ampas obat tersebut satu persatu.
Berhubung rekannya sedang mencocokkan ampas obat
obatan itu satu persatu, Lian Sam seng merasa kurang leluasa
untuk meninggalkan tempat tersebut, terpaksa dia menanti
disamping.
setiap tianglo dari Kay pang memang ahli didalam ilmu
pertabiban otomatis mereka pun mengenali setiap bahan obat
obatan tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tak lama setelah mencocokkan ampas obat obatan
tersebut tiba tiba terdengar Kwa Tiang tay menjengek sambil
tertawa dingin: "Heee heee... ternyata memang tidak meleset
dari apa yang kuduga"
"Apakah saudara Kwa berhasil menemukan kesalahan
dalam susunan obat obatan tersebut?" cepat cepat Lian Sam
sin bertanya
Dengan jepitan kedua jari tangannya Kwa Tiang tay
mengambil sepotong bahan obat obatan berwarna hitam
pekat yang panjangnya satu inci dari balik ampas obat obatan
tersebut kemudian sambil bangkit berdiri katanya: "Saudara
Lian, kau kenali benda apa ini?"
Lian Sam sin menerima ampas tersebut dan dilihatnya
dengan seksama, namun wajahnya segera berubah, tubuhnya
bergetar keras lantaran kaget, dengan suara tertahan ia
berbisik:
"Rumput beracun Kiu ciat tok hong Siapa yang telah
mencampuri rumput beracun itu didalam obat tersebut?"
"Bukankah saudara Lian sudah mendengar sendiri semua
pengakuan dari Siang See yong barusan?" kata Kwa Tiang tay
dengan suara yang menyeramkan,
"obat obatan tersebut dibeli sendiri oleh Kang to bahkan
dimasak sendiri olehnya padahal tiada orang kedua yang
datang kemari"
Biasanya rumput beracun Kiu ciat tok hong dipergunakan
oleh orang orang Kay pang untuk mengobati luka beracun
akibat pagutan ular, berhubung sifat racunnya terlampau
ganas biasanya dapat dipakai sebagai obat manjur untuk
mengobati luka luka beracun. Tapi bagi mereka yang tidak
keracunan obat itu cukup untuk merenggut selembar jiwanya
Dihari hari biasa, Lian Sam sin sangat menaruh hormat dan
kagum atas sikap Leng Kang to yang bersikap dewasa meski
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
usianya masih muda, namun dia ragu juga sesudah
mendengar perkataan dari Kwa Tiang tay yang menuduh
pemuda tersebut telah menghabisi nyawa gurunya sendiri dia
segera berkata:
"Aku rasa tak mungkin hasil perbuatan dari Kang to sibocah
tersebut?"
"Saudara Lian, kini bukti sudah berada didepan mata," seru
Kwa Tiang tay dengan suara dingin, "sikap pangcu kepadanya
boleh dibilang tidak jelek. namun ia justru telah melakukan
perbuatan yang terkutuk dan melakukan tersebut, apakah kau
masih hendak berusaha untuk melindungi jiwanya? Ayoh
berangkat biar sekarang juga kubunuh bocah keparat itu"
"Tunggu dulu saudara Kwa" cepat cepat Lian Sam sin
mencegah lagi, "lebih baik kita selidiki dahulu persoalan ini
sampai jelas sebelum mengambil tindakan lebih jauh."
"Suhu... suhu..."
Mendadak dari arah kamar kedengaran suara teriakan Leng
Kang to yang disertai isak tangis yang memilukan hati.
Kwa Tiang tay semakin naik pitam, dia membentak dengan
suara menggeledek.
"Manusia durhaka yang tak tahu diri, kau sudah mencelakai
pangcu, apa pula yang kau tangisi?"
Dengan langkah lebar dia segera berebut menuju kedalam
ruangan-
Cepat cepat Lian Sam sin mengikuti di belakangnya,
ditemukan coa pangcu telah menghembuskan napasnya yang
penghabisan sementara Leng Kang to berada disamping
pembaringan sedang menangis tersedu sedu.
"Leng Kang to" dengan suara menggeledek Kwa Tiang tay
segera membentak keras, "kau penghianat perguruan, ayoh
jawab, kenapa kau celakai pangcu sampai mati?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sekalipun Leng Kang to sedang menangis terisak dengan
begitu sedihnya namun bentakan dari Kwa Tiang tay
diutarakan dengan suara yang keras sekali, ketika ia
mendengar ada orang telah mencelakai pangcunya, dengan
perasaan kaget cepat ia hentikan tangisannya dan
membalikkan badan.
Segera terlihat olehnya Kwa Tiang tay sedang
mendekatinya selangkah demi selangkah dengan hawa
membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sementara suara
bentakan menggelegar di seluruh ruangan-
"Aku ingin bertanya kepadamu mengapa kau celakai
pangcu? Ayoh, kenapa tidak kau akui?"
"Kwa tianglo mencurigai tecu yang telah mencelakai
suhu..." teriak Leng Kang To dengan perasaan amat
terperanjat.
"Aku mencurigaimu?" Kwa Tiang tay mengejek dengan
nada yang menyeramkan "semua bukti telah berada di depan
mata buat apa aku mesti menaruh curiga lagi ?"
Leng Kang to semakin terkejut lagi oleh perkataan tersebut
sehingga untuk berapa saat dia berdiri tertegun katanya
kemudian dengan suara yang kaku
"Sehari menjadi guruku, selama hidup beliau adalah
guruku, suhu sudah melepaskan budi setinggi gunung kepada
tecu, jangan lagi membunuh tecu pun bersedia mengorban
jiwa demi keselamatan suhu, bagaimana mungkin-..
bagaimana mungkin aku memunuh guruku sendiri"
"Murid durhaka, kau masih hendak menyangkal?" bentak
Kwa Tiang tay dengan suara menggeledek,
"pengawaL.!!,"
"Tecu siap" seru Siang yong sambil memburu kedepan
pintu ruangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kau segera perintahkan orang untuk meringkus murid
durhaka ini kemudian undang kemari tianglo bagian ilmu silat
dan bagian hukum..."
"Tecu siap menerima perintah"
Menyusul kemudian muncul dua orang anggota pengemis
yang memasuki ruangan. Sambil mengulapkan tangannya Kwa
Tiang tay segera berseru "Kalian segera ringkus murid
durhaka itu"
Dua orang pengemis tersebut segera mengeluarkan tali
yang terbuat dari otot kerbau dan berjalan menghampiri Leng
Kang to
Dengan wajah basah oleh air mata Leng Kang to segera
menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah, serunya dengan
suara yang amat memilukan hati :
"Tecu bersedia untuk mengorbankan diri, namun tecu
penasaran bila harus menanggung dosa sebagai pembunuh
guru sendiri. Lian tianglo, semua ini kau begitu sayang kepada
tecu, selain suhu yang kini telah kembali ke alam baka hanya
kau orang tua yang bisa membela tecu dari fitnahan yang
amat keji ini biarpun tubuh tecu harus dicincang menjadi
berkeping keping, aku tentu akan sangat berterima kasih
kepadamu"
"Tutup mulut" bentak Kwa Tiang tay dengan suara keras
"kau bilang tuduhanku berupa fitnahan? Hmm kurang ajar
benar. Hey, mengapa kalian tidak segera meringkus bocah
durhaka ini ?"
Dua orang anggota pengemis itu tak berani ragu ragu lagi,
serentak mereka bertindak, dengan menelikung sepasang
tangan Leng Kang to kebelakang punggung lalu
membelenggunya kencang kencang.
Lian Sam sin yang memasuki ruangan, benar benar hatinya
merasa pedih dan murung, jenasah ketuanya belum lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi ahli waris pangcunya telah dituduh sebagai
pembunuh. Karenanya ketika mendengar suara tangisan dari
Leng Kang to, dia segera berkata :
"Kang to, kau tak usah kuatir asalkan kau benar benar
bukan pembunuh pangcu, meskipun peraturan perkumpulan
kita amat ketat, tak pernah kami menghukum mereka yang
tak berdosa. tetapi jika kaulah pembunuh pangcu, siapapun
tak akan mampu menyelamatkan jiwamu lagi"
"Perkataan Lian Tianglo sangat tepat" kata Kwa Tiang tay
sambil membalikkan badan "Antara aku dengan dirimu tiada
ikatan dendam ataupun sakit hati, buat apa aku mesti
memfitnahmu? Aku pasti akan menyuruh tianglo bagian
hukuman untuk menyelidiki persoalan ini dengan sebaik
baiknya dan menyelesaikan kasus tersebut tuntas Berbicara
sampai disini," diapun berkata pula kepada Lian Sam sin :
"Saudara Lian, kini pangcu sudah meninggal dunia, coba
kau periksalah jenasahnya pangcu, coba dilihat apakah ada
sesuatu yang mencurigakan?
Dia sebagai tianglo kiri dari Kay pang menurut peraturan
kay pang mempunyai hak untuk menduduki jabatan sebagai
pengganti pangcu untuk sementara waktu berhubung
sepeninggal ketuanya, ahli waris yang telah dipersiapkan
ternyata mempunyai kecurigaan sebagai pembunuh gurunya
sendiri.
Lian Sam sin amat terperanjat sesudah mendengar
perkataan tersebut, segera pikirnya :
"Tadi beberapa kali pangcu seperti ingin membuka suara
dan mengucapkan sesuatu, namun setiap kali dia tidak
mampu mengucapkan sepatah katapun, sekalipun keadaannya
sudah amat kritis waktu itu, semestinya tak mungkin susah
berbicara, yaaa... kalau dipikirkan kembali kejadian ini
memang amat mencurigakan, jangan jangan..."
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2 dan anda bisa menemukan artikel Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-abg-gay-pedang-pelangi-2.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita ABG GAY : Pedang Pelangi 2 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/08/cerita-abg-gay-pedang-pelangi-2.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

hendri prastio mengatakan...

Ekiosku.com Jual Beli Online Aman Menyenangkan
Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia

Posting Komentar