Cerita Dewasa Silat Pendekar Negeri Tayli Komplit Tamat ke 20

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 20 Juli 2012

Cerita Dewasa Silat Pendekar Negeri Tayli Komplit Tamat ke 20 - Berikut adalah CerSil Pendekar Negeri Tayli Komplit Tamat seri ke 20, yang mana sudah pernah diposting ser1 ke 1 - 19 nya yaitu:

Dan inilah Cerita Dewasa seri CerSil Pendekar Negeri Tayli Komplit Tamat yang ke 20

Tiba-tiba sebuah tangan pelahan meraba pundaknya. A Ci
terkejut dan mendongak, ia lihat Bok-kuihui dengan sorot
mata yang lemah-lembut sedang bertanya dengan tersenyum,
"Adik cilik, apa yang sedang kau kenangkan? Sedang
merindukan Cihumu, bukan?"
Meski adat A Cl gèsit dan nakal, tapi sekali isi hatinya kena
terkorek, mau-tak-mau mukanya menjadi merah juga, ia
menunduk dan tidak menjawab.
Bok-Kuihui lantas duduk, ia pegang dan mengelus sebelah
tangan A Ci, katanya pula dengan suara halus. "Adik cilik,
orang lelaki kebanyakan memang bersifat kasar dan suka
marah, lebih-lebíh orang seperti Hongsiang kita dan Lam-ih
Tai-ong, mereka adalah ksatria gagah perwira pada jaman ini,
untük menarik hati mereka sudah tentu tidak gampang."
A Ci mengangguk, ia merasa apa yang diucapkan Bokkuihui
itu memang betul.
(Oo^o^dwkz^http://kangzusi.com/^o^oO)
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 86
"Tentu kau tahu,” demikian Bok-kuihui menyambung.
"Wanita dalam istana kerajaan kita entah berapa ribu
jumlahnya, yang jauh lebih cantik dari padaku entah berapa
banyak, sebabnya Hongsiang hanya menyukai aku saja, hal ini
sebagian adalah karena ada jodoh, disamping itu berkat jasa
si padri tua di Seng-tik-si kotaraja itu. adik cilik, kaupun tidak
perlu sedih kalau Cihumu sekarang tidak memikirkan dirimu.
Kelak bila aku sudah ikut Hongsiang pulang ke kotaraja
bolehlah kau ikut ke Seng-tik-si untuk memohon pertolongan
kepada padri tua yang sakti itu, dia tentu punya akal yang
bagus.
"Akal bagus apa yang dipunyai padri tua itu?” Tanya A Ci
heran dan tertarik.
"Hal ini akan kukatakan padamu, tapi jangan sekali-kali kau
katakan kepada orang ketiga. Untuk ini kamu harus
bersumpah bahwa kamu takkan membocorkan rahasia.”
"Baik, Kalau kukatakan rahasia yang kudengar dari Bokkuihui
ini kepada orang lain, biarlah aku binasa dicincang
orang dan mati tak terkubur.”
"O, adik yang baik, ketahuilah bahwa padri tua itu maha
sakti, dahulu sesudah aku menyembah dan memohon
padanya, lalu dia memberikan sebotol kecil air suci, aku
disuruh berdoa dengan sujud dan diam-diam air suci itu
diminumkan kepada lelaki yang kusukai. Habis itu maka lelaki
itu selamanya akan mencintai aku seorang saja, sampai mati
pun hatinya takkan berubah.”
Habis berkata ia lantas mengeluarkan satu botol porselen
kecil warna jambon dan dipegang dengan hati-hati seakanakan
kuatir jatuh atau hilang.
A Ci menjadi heran dan bergirang pula, cepat ia memohon,
"O, enci yang baik, bolehkah kulihat macam apakah air itu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Melihat sih boleh saja, tapi hati-hati jangan sampai
tumpah, lho.” sahut Bok-kuihui sambil menyodorkan botol
porselen itu dengan hati-hati.
A Ci menerima botol kecil itu, ia coba membuka tutupnya
dan mengendus sekali, terasa bau harum sedap.
Segera Bok-kuihui mengambil kembali botol porselen itu
dan menutup sumbatnya serta berkata, "Sebenarnya dapat
kubagi sedikit air ini untukmu. Tetapi kukuatir kalau mendadak
Hongsiang berubah pikiran dan masih kuperlukan air suci ini.”
"Tadi engkau bilang Hongsiang sudah minum satu kali dan
takkan berubah pikiran padamu?” A Ci menegas.
"Walaupun demikian, aku tetap kuatir, aku tidak tahu
khasiat air suci ini apakah benar-benar dapat bertahan sekian
lama. Aku pun kuatir air gaib ini jatuh ke tangan selir yang lain
dan mereka pun diam-diam memberi minum kepada
Hongsiang, andaikan Hongsiang takkan balik pikiran padaku
juga sedikitnya akan berbagi pikirannya .... "
Baru bicara sampai di sini, tiba-tiba terdengar Yalu Hung-ki
sedang memanggil di luar. Cepat Bok-kuihui mengiakan dan
berlari keluar, "Bluk,” tahu-tahu botol porselen kecil tadi jatuh
dari bajunya tanpa diketahui olehnya.
A Ci terkejut dan bergirang pula, begitu Bok-kuihui
melangkah keluar kemah, cepat ia jemput botol kecil itu dan
dikantungi. Pikirannya, "Aku harus lekas bawa air ini untuk
diminumkan pada Cihu, habis itu akan kuisi dengan air biasa,
lalu ku kembalikan kepada Bok-kuihui.”
Begitulah, segera A Ci merangkah keluar melalui belakang
kemah dan berlari pulang ke istana Lam-ih Tai-ong. Tapi
tertampak olehnya di luar istana sudah penuh pasukan seperti
terjadi sesuatu urusan genting. Waktu melihat A Ci menjuju ke
istana para prajurit dan perwiranya juga tidak merintanginya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sesudah masuk pendopo, segera A Ci melihat Siau Hong
sedang berjalan mondar-mandir dengan berpunggung tangan
di dekat titian seperti orang yang tidak sabar lagi.
Begitu melihat A Ci, seketika Siau Hong sangat girang,
katanya, "Hah, baik sekali kamu sudah pulang. A Ci sungguh
aku sangat kuatir kamu akan ditahan oleh Hongsiang. Marilah
sekarang juga kita lantas berangkat, kalau terlambat mungkin
tidak keburu lagi.”
"Akan kemana kita? Mengapa terburu-buru? Sebab apa
Hongsiang akan menahan aku,” Tanya A Ci dengan heran.
"Coba dengarkan.” Kata Siau Hong.
Waktu mereka diam, maka terdengarlah derap ramai suara
kuda lari kian kemari disertai gemerincingnya suara senjata
dan pakaian perang prajurit di segenap penjuru.
"Ada apakah itu? Engkau akan memimpin pasukan pergi
perang?” Tanya A Ci.
"Prajurit-prajurit itu tidak di bawah pimpinanku lagi." Sahut
Siau Hong dengan tersenyum getir. "Hongsiang sudah
mencurigai aku, rupanya dia hendak menangkap aku.”
"Bagus, sudah lama kita tidak berkelahi, marilah sekarang
juga kita terjang keluar!” ajak A Ci dengan senang.
Namun Siau Hong menggeleng kepala, katanya, "Tidak
sedikit kebaikan yang telah kuterima dari Hongsiang, bahkan
beliau telah mengangkat aku menjadi Lam-ih Tai-ong,
sebabnya sekarang aku dicurigai adalah lantaran aku berkeras
tidak mau mengadakan ekspedisi ke selatan. Kalau aku
melukai bawahannya, ini akan merusak hubungan baik
persaudaraanku dengan beliau selama ini sehingga akan
ditertawai para ksatria bahwa aku adalah manusia yang lupa
pada budi orang A Ci biarlah kita berangkat begini saja, kita
pergi secara diam-diam tanpa pamit, asal mereka tidak dapat
menangkap aku, maka cukuplah.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya, marilah kita berangkat,” sahut A Ci. "Dan ke mana,
Cihu?”
"Ke Leng-ciu-kiong di Biau-biau-hong,” sahut Siau Hong.
Seketika air muka A Ci cemberut, katanya, "Ti ... tidak, aku
tidak mau bertemu dengan siluman jelek itu.”
"Urusan sudah kepepet, pergi ke Biau-biau-hong atau tidak
biarlah kita rundingkan lagi sesudah lolos dari bahaya, " ujar
Siau Hong.
Diam-diam A Ci berpikir, "Akan kau antar aku ke Biau-biauhong,
terang sama sekali engkau tidak menaruh hati padaku.
Bila selekasnya kuberi minum air suci enci ini badamu, asal
engkau jatuh hati padaku, engkau tentu akan menurut segala
apa yang kukatakan. Kalau terlambat, mungkin air suci ini
akan dirampas kembali oleh Bok-kuihui.”
Setelah ambil keputusan, segera ia berkata, "Baiklah,
tunggu sebentar, akan kubawa beberapa potong baju untuk
persediaan ditengah perjalanan.”
Cepat ia masuk ke ruang belakang, ia ambil sebuah
mangkuk dan menuang air suci botol porselen itu ke dalam
mangkuk, lalu dicampur dengan setengah mangkuk arak,
diam-diam ia berdoa, "Semoga malaikat dewata memberi
berkah agar Siau Hong minum air suci ini, selanjutnya akan
mencintai A Ci sepenuh hati dan akan menikah dengan aku
serta takkan terkenang lagi kepada enci A Cu.”
Habis berdoa, lalu ia kembali ke ruangan pendopo, katanya,
"Cihu, silahkan minum semangkuk arak ini untuk memperkuat
semangatmu, sekali kita sudah pergi, terang kita takkan
kembali lagi.”
Tanpa ragu Siau Hong menyambut suguhan itu, dibawah
sinar lilin dilihatnya kedua tangan A Ci agak gemetar, sorot
matanya menunjukkan sinar yang aneh, air mukanya tampak
bersemangat dan ramah pula. Hati Siau Hong agak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terguncang, "Dahulu A Cu sangat menyukai aku, takkala itu air
mukanya juga serupa ini, ai, tampaknya A Ci benar-benar
jatuh hati padaku.”
Segera ia angkat mangkuk arak itu, hanya beberapa kali
teguk saja sudah dihabiskan isi mangkuk itu. Lalukatanya.
"Apakah pakaianmu sudah kau bawa?”
A ci sangat girang melihat air suci bercampur arak itu telah
di minum habis oleh Siau hong, sahutnya cepat, "Tidak perlu
membawa baju lagi, marilah kita berangkat!”
Siau Hong sendiri sudah siapkan sebuah buntalan (Rangsel)
berisi beberapa potong baju dan sedikit uang receh sekedar
sangu. Sesudah menggendong rangselnya, segera Siau Hong
berkata pelahan, "Mereka pasti kuatir aku akan lari ke selatan,
maka kita justru lari ke utara saja.”
Ia gendong tangan A Ci dan pelahan membuka pintu
samping, coba mengintip keluar. Di lihatnya ada dua pengawal
sedang ronda kemari.
Dengan sembunyi di belakang pintu, Siau Hong sengaja
bedehem untuk memancing kedua penjaga.
Benar juga kedua penjaga itu lantas mendekati pintu
hendak memeriksa. Tapi secepat kilat Siau Hong menutuk
jatuh mereka dan diseret ke tempat yang tak kelihatan.
Bisiknya kepada A Ci, "Lekas ganti pakaian kedua orang ini.”
"Bagus!” sahut A Ci dengan gembira.
Cepat mereka mempelajari pakaian kedua penjaga itu
untuk dipakai mereka sendiri, lalu dengan tangan membawa
tombak rampasan mereka jalan berjajar ke depan seperti
penjaga biasa.
Baru belasan tindak jauhnya mereka lantas kepergok
seorang Sip-hu-tiang (komandan sepuluh orang, setingkat
sersan sekarang) dengan sepuluh orang prajurit pasukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pengawal raja yang sedang meronda. Cepat Siau Hong dan A
Ci menyisih ke tepi jalan dan memberi hormat.
Sip-hu-tiang itu hanya manggut-manggut saja dan lantas
lewat. Dibawah sinar obor yang cukup terang itu sekilas
terlihat olehnya pakaian perang yang dikenakan A Ci itu
kedodoran sehingga menyeret tanah, waktu dia perhatikan
pula, kelihatan golok yang tergantung dipinggang A Ci juga
setengah terseret di tanah Sip-hi-tiang itu menjadi gusar,
terus saja ia tonjok pundak A Ci sambil membentak, "Macam
apa seragammu ini?”
A Ci menyangka rahasianya ketahuan, tanpa bicara lagi ia
menangkis sambil menarik, menyusul kakinya menendang
perut Sip-hu-tiang itu. Kontan sersan itu menjerit kesakitan
dan jatuh terguling.
"Lekas lari,” ajak Siau Hong, Ia pegang tangan A Ci terus
kabur.
Namun kesepuluh prajurit tadi sempat berteriak-teriak,
"Ada mata-mata musuh! Ada mata-mata !”
Sebegitu jauh mereka belum tahu kedua orang itu adalah
samaran Siau Hong dan A Ci.
Tidak jauh mereka berlari, tiba-tiba mereka dipapak oleh
belasan prajurit penunggang kuda. Segera Siau Hong
mendahului menggertak dan putar tombaknya, sekali sapu,
kontan prajurit-prajurit itu mencelat dari kuda mereka. Cepat
Siau Hong angkat A Ci ke atas seekor kuda, ia sendiri pun
mencamplak kuda yang lain, lalu mereka berputar arah dan
menerjang ke pintu kota utara.
Ternyata dugaan Siau Hong tidak meleset, orang-orang
Cidan menyangka Siau Hong pasti akan lari ke selatan, maka
penjagaan bagian utara agak kendur. Apalagi penjaga-penjaga
itu sama kenal Siau Hong, dengan sendirinya mereka pun jeri,
hanya terpaksa oleh perintah raja mereka coba mencegat, tapi
sekali digertak dan diterjang Siau Hong, sebagian besar lantas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyingkir dan memberi jalan, kemudian mereka hanya
berteriak-teriak dan mengejar dari belakang.
Waktu komandan pasukan pengawal raja memburu tiba
dengan pasukan berjumlah besar, namun Siau Hong dan A Ci
sudah kabur cukup jauh.
Ketika sampai di pintu gerbang utara, Siau Hong melihat
pintu sudah tertutup rapat, di depan pintu penuh berbaris
ratusan prajurit dengan tombak terhunus. Nyata jalan larinya
teralang.
Kalau mau, sudah tentu Siau Hong dapat mengocarkacirkan
ratusan prajurit itu dengan gampang, tapi yang dia
tuju hanya meloloskan diri dan tidak ingin melukai bangsanya
sendiri. Maka ia rangkul A Ci ke atas kudanya sendiri,
menyusul pada suatu ketika yang baik ia terus meloncat ke
atas tembok benteng kota, dengan bantuan tombaknya, sekali
tancap di tembok, segera tubuhnya terlempar lagi lebih tinggi
dan akhirnya mencapai tempat yang dituju.
Waktu ia melongok ke luar benteng, keadaanya ternyata
gelap gulita. Rupanya orang Cidan memang tidak menduga
Siau Hong akan kabur ke jurusan utara, maka di sini tiada
diberi penjagaan apa-apa.
Segera Siau Hong bersuit panjang, lalu, katanya dengan
suara lantang berkumandang, ”Hendaknya para prajuri
menyampaikan kepada Hongsiang bahwa Siau Hong telah
berdosa dan kabur tanpa pamit, biarlah di kemudian hari Siau
Hong akan membalas budi kebaikan Hongsiang.”
Lalu ia rangkul pinggang A Ci dan siap melompat keluar
benteng kota. Asal dia sudah turun ke sana, itu berarti seperti
burung terbang di angkasa bebas tanpa rintangan apa pun.
Di Luar dugaan, baru saja ia hendak melompat sekonyongkonyong
perutnya terasa sakit, menyusul kedua lengannya
juga terasa kaku, mau-tak-mau tangan yang merangkul
pinggang A Ci itu menjadi kendur. Bahkan kedua kaki lantas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terasa lemas dan jatuh terduduk, perutnya terasa disayatsayat
sakitnya tidak kepalang sehingga mengeluarkan suara
rintihan.
Keruan A Ci terperanjat, ”He Cihu, kenapa?”
Seluruh badan Siau Hong serasa kejang semua, gigi sampai
gemertakan, sahutnya dengan terputus-putus, ”Aku ... aku
terkena ra ... racun jahat. Tunggu .... tunggu sebentar, biar
kuke ... kerahkan tenaga untuk mengeluarkan racunnya ... ”
Segera ia mengerahkan tenaga murninya keperut dengan
tujuan hendak mendesak keluar racun yang mengeram di
dalam perut itu. Tapi celaka, mendingan kalau dia tidak
menggunakan tenaga, sedikit dia mengerahkan tenaga,
seketika seantaro badan terasa sakit semua dan tenaga sukar
dikerahkan lagi.
Namun Siau Hong tidak menjadi bingung takkala
berbahaya, ia dengar suara riuh rendah derapan kuda berlarilari
kearahnya, beribu prajurit sedang lari dari selatan ke
sebelah utara. Ia coba mengatur napas. Ia merasa anggota
badan sudah mati rasa.
”A Ci, lekas melarikan diri saja, aku ... aku tak dapat
mengiringmu lagi,” katanya dengan perasaan berat.
A Ci adalah anak cerdik, sedikit berpikir saja segera paham
duduknya perkara, jelas dirinya telah tertipu oleh Bok-kuihui.
Air suci itu bukanlah air suci melainkan racun belaka.
Tentu saja A Ci menjadi kuatir dan menyesal pula, ia
rangkul leher Siau Hong dan menangis dengan sedih, katanya
sambil terguguk, ”O, cihu, aku ... akulah yang membikin susah
pada mu. Racun ... racun ini akulah yang memberi minum
padamu.”
Siau Hong terkesiap ia tidak paham mengapa bisa terjadi
demikian, tanyanya, ”Sebab apa kau ingin membinasakan
aku?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Tidak, tidak!” sahut A Ci sambil menangis, ”Aku tiada niat
membunuhmu. Aku tertipu oleh Bok-kuihui. Dia memberi
sebotol kecil air kepadaku, katanya kalau diminumkan
padamu, untuk selanjutnya engkau tentu akan suka padaku
dan akan ... akan mengawiniku. O, aku benar-benar terlalu
bodoh sehingga kena tertipu. O, Cihu, biarlah aku mati
bersamamu saja, kita takkan berpisah lagi untuk selamanya.”
Habis berkata, segera ia lolos golok dan hendak menggorok
leher sendiri.
”Nan ... nanti dulu!” seru Siau Hong, ia merasa seluruh
badannya panas bagai dibakar dan serasa disayat-sayat pula
sehingga susah menggunakan pikiran. Selang sejenak baru dia
paham penuturan A Ci, ktanya, ”Tapi aku ... aku takkan mati,
tidak perlu kau bunuh diri.”
Dalam pada itu terdengar kedua daun pintu gerbang
benteng kota yang berat dan besar itu sedang dibuka dan
mengeluarkan suara keriut-keriut.
Begitu pintu gerbang terpentang, berbondong-bondong
keluarlah beberapa ratus prajurit berkuda sambil bersorak dan
mengatur barisan, menyusul barisan berkuda masih terus
membanjir dari kota selatan dan keluar benteng.
Waktu Siau Hong memandang jauh ke utara, keadaan yang
tadinya gelap gulita dan tiada seorangpun itu sekarang telah
berubah menjadi terang benderang oleh beribu orang yang
menerjang ke utara sehingga beberapa li jauhnya. Waktu
memandang kembali ke selatan, ternyata hampir setengah
kota penuh api obor.
”Nyata Hongsiang telah mengerahkan seluruh pasukannya
untuk menangkap aku seorang.” demikian pikir Siau Hong.
Sementara itu di mana-mana, di luar dan di dalam benteng
kota terdengar teriakan riuh-rendah. ”Tangkap penghianat
Siau Hong! Tangkap penghianat! Wahai Siau Hong, lekas
menyerahkan diri!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perut Siau Hong kembali terasa sakit keras, katanya
dengan suara perlahan, ”A Ci, lekas berusaha menyelamatkan
diri saja!”
”Tidak,” sahut A Ci tegas. ”Aku ... akulah yang
meracunimu, mana boleh kucari hidup sendiri? Aku ... aku
akan mati bersamamu.”
Siau Hong tersenyum getir, katanya, ”Ini bukan racun yang
dapat membinasakan orang, tapi hanya membuat aku terluka
parah dan lumpuh saja supaya tidak bisa bergerak.”
”Apa betul?” tanya A Ci dengan girang. Dan segera ia
membalik tubuh, sekuatnya ia tarik Siau Hong untuk
digendongnya.
Tapi karena perawakannya kecil, sebaliknya badan Siau
Hong tinggi besar, dengan sendirinya kedua kaki Siau Hong
terseret di atas tanah.
Pada saat itulah belasan Bu-su (jago) Cidan sudah
merambat ke atas tembok benteng. Sebelah tangan mereka
bergolok dan tangan lain membawa obor. Tapi mereka jeri
kepada Siau Hong sehingga tidak berani mendekat.
”Tiada gunanya melawan, biarkan kita di tangkap mereka
saja!” ujar Siau Hong.
”Tidak, tidak!” sahut A Ci dengan menangis. ”Siapa saja
yang berani menggangu seujung rambutmu, segera kubunuh
dia.”
”A Ci, adikku yang baik, jangan kau bunuh orang untuk
membela aku. Jika aku mau membunuh orang tentu kuterima
titah raja dan menyerang ke selatan, maka peristiwa sekarang
pun tidak perlu terjadi lagi.”
Lalu Siau Hong membentak jago-jago Cidan tadi. ’Kenapa
takut-takut begitu. Ayo menemui Hongsiang bersamaku!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Untuk sejenak kawanan Bu-su itu tercengang, tapi mereka
lantas memberi hormat dan menjawab, ”Baik! Kami hanya
bertindak menurut perintah sehingga berlaku kasar terhadap
Tai-ong, harap Tai-ong jangan marah!”
Maklumlah, meski tidak lama Siau Hong menjabat Lam-ih
Tai-ong tapi namanya dan wibawanya sangat di segani oleh
setiap perwira dan bintara Cidan. Ketika berada di tengah
orang banyak mereka pun ikut berteriak, ”Tangkap penghianat
Siau Hong”, tapi sesudah berhadapan dengan sendirinya
timbul rasa jeri dan hormat mereka sehingga tidak berani
bersikap kasar lagi.
Begitulah, sekuatnya Siau Hong berusaha berdiri dengan
berpegangan di pundak A Ci, isi perutnya sakit bukan
kepalang bagai dipuntir-puntir. Para Bu-su tadi juga lantas
memasukkan kembali golok mereka ke sarungnya, lalu
mengawal di belakang Siau Hong yang setindak demi setindak
turun ke bawah tembok benteng melalui undak-undakan batu.
Ketika melihat Siau Hong, tanpa terasa para perwira dan
bintara Cidan lantas melompat turun dari kuda mereka.
Seketika suasana di luar dan di dalam kota menjadi sunyi
senyap meski jumlah prajurit itu berpuluh ribu jumlahnya.
Di bawah cahaya obor Siau Hong dapat melihat air muka
dan sikap para prajurit yuang menunjukkan rasa hormat da
segan padanya itu, tiba-tiba Siau Hong merasa lega dan puas.
Pikirnya, ”Jika aku jadi menggerakkan pasukan ke selatan,
berpuluh ribu prajurit yang hadir di s ini tentu akan separuh tak
dapat pulang kembali ke kampung halaman. Jika aku dapat
menyelamatkan jiwa tak berdosa sebanyak ini, sekali pun aku
akan dihukum mati oleh Hongsiang juga aku tidak menyesal.
Kuatirnya kalau ... kalau aku dihukum mati dan Hongsiang
akan menugaskan panglima lain untuk tetap menyerbu ke
selatan.”
Berpikir sampai disini, kembali dadanya kesakitan dan
tubuhnya sempoyongan. Cepat seoerang perwira memberikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kuda tunggangannya dan membantu Siau Hong naik kuda itu.
A Ci juga mendapatkan seekor kuda dan mengikuti dari
belakang.
Begitulah secara beramai-ramai Siau Hong digiring kembali
ke istana. Walaupun berhasil menangkap Siau Hong dan hal
ini merupakan jasa besar bagi mereka, tapi para perwira dan
prajurit Cidan tiada seorang pun yang mengunjuk rasa
senang.
Sesudah menyusur jalan kota, membelok ke sana dan di
sini kemudian mereka sampai di Poh-be-kio (Jembatan kuda
putih). Siau Hong larikan kudanya melintasi jembatan itu
dengan disusul oleh A Ci. Tapi ketika kudanya sampai di atas
jembatan, sekonyong-konyong A Ci berdiri, ”Byuuur”, ia terjun
ke sungai dan menghilang.
Mula-mula Siau Hong kaget oleh kejadian itu, tapi segera ia
merasa girang. Sebab teringat olehnya pertemuannya yang
pertama dengan nona nakal itu takkala itu A Ci pura-pura mati
kelelap di dalam danau. Dalam hal berenang dan menyelam
dalam air nona itu sangat mahir, bahkan ayah-bundanya juga
kena dikelabuhinya. Sekarang kalau anak dara itu melarikan
diri melalui air, hal ini teramatlah bagus hanya saja Siau Hong
merasa gegetun pula, sebab untuk selanjutnya mungkin tidak
dapat berjumpa lagi dengan anak dara itu.
Tapi ia sengaja berseru, "O, A Ci, mengapa engkau bunuh
diri, Hongsiang tentu takkan menyalakanmu, buat apa engkau
terjun ke dalam sungai?”
Mendengar ucapan Siau Hong itu, pula melihat A Ci benarbenar
karam di dalam sungai dan tidak muncul pula, para
perwira Cidan mengira anak dara itu memang sengaja bunuh
diri. Apalagi Yalu Hung-ki hanya memberi perintah menangkap
Siau Hong dan tidak termasuk A Ci, maka sekarang apakah
anak dara itu akan bunuh diri atau akan lari tak perlu mereka
pikirkan, mereka tetap melanjutkan perjalanan ke depan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sampai di istana Lam-ih Tai-ong, Hung-ki ternyata tidak
mau menemui Siau Hong, ia memberi perintah agar komandan
pasukan pengawal menahan tawanannya itu.
Mengingat Siau Hong memiliki tenaga sakti dengan ilmu
silat maha tinggi, kamar penjara biasa akan sukar mengurung
dia. Maka komandan bayangkari itu mendapat akal, ia suruh
bawahannya memborgol kaki dan tangan Siau Hong dengan
rantai besi, lalu dimasukkan ke sebuah kandang beruji besi.
Kandang beruji besi ini adalah kandang singa yang dahulu
pernah dibuat permainan oleh A Ci itu.
Diluar kandang besi itu berjaga beratus prajurit, semuanya
bertombak dan berbaris secara berlapis-lapis mengepung di
sekitar kurungan. Asal Siau Hong sedikit sembarangan
bergerak, serentak tombak para prajurit itu akan menusuk ke
dalam kandang sehingga Siau Hong tak sempat memutuskan
borgolnya dan membobol kandang dalam saat sesingkat itu.
Malahan di luar istana penuh pula pasukan pengawal
pribadi Hung-ki yang mengadakan penjagaan secara keras
sekali. Sebaliknya perwira-perwira yang semula bertugas
dalam kota Lam-khia itu sekarang dipindahkan ke luar kota,
rupanya Hung-ki kuatirkan perwira-perwira itu tetap setia
kepada Siau Hong fan mungkin akan berusaha menolong
bekas atasan mereka.
Di dalam kurungan itu Siau Hong sendiri tidak sempat
memikirkan urusan lain karena dia sedang mengertak gigi
menahan derita siksaan badan yang kesakitan. Sesudah 12
jam kemudian, sampai malam hari kedua, rasa sakit itu baru
berkurang. Bekerjanya racun mulai hilang. Tenaga Siau Hong
pelahan juga mulai pulih.
Tapi dalam keadaan terkurung apa yang bisa diperbuatnya?
Terpaksa Siau hong lapangkan hati, ia tidak mau berpikir
susah-susah, selama hidupnya banyak kejadian berbahaya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pernah dialaminya, ia tidak tahu apakah riwayatnya akan
tamat begini saja di dalam kandang besi itu?
Untunglah para prajurit yang menjaganya itu masih hormat
dan segan padanya, walaupun penjagaan sangat kuat dan
tidak pernah lengah, tapi pelayanan makan-minum tidak
pernah berkurang seperti biasa. Siau Hong juga tidak ambil
pusing, ia makan-minum sepuas-puasnya sehingga guci arak
dalam beberapa hari saja sudah bertumpuk-tumpuk setinggi
manusia.
Hung-ki sendiri tetap tidak pernah datang menjenguk, tapi
dia mengirim beberapa orang belakang, omong untuk
membujuknya, katanya Hongsiang adalah orang yang baik
budi, mengingat persaudaraan masa lalu, maka tidak tega
menggunakan kekerasan untuk menyiksanya asal saja Siau
Hong mau mengaku salah dan minta ampun, semua urusan
akan segera beres.
Tapi Siau Hong adalah seorang lelaki sejati, masa dia mau
tunduk dan minta mapun? Terhadap para pembujuk itu
bahkan ia tidak sudi mengubrisnya, ia hanya minum arak
sendiri sepuas-puasnya.
Dengan begitu telah berlangsung hampir sebulan lamanya.
Para pembujuk itu juga tidak bosan-bosan, setiap hari mereka
datang dan putar lidh tak berhenti-henti, mereka mengulangi
lagi macam-macam bujukan dengan logika-logika yang sudah
basi. Walaupun mereka tahu bujukan mereka itu tidak
mempan mengubah pikiran Siau Hong, tapi mereka masih
terus cerewet tanpa kenal lelah.
Lama-lama Siau Hong sendiri curiga. Pikirnya, "Hongsiang
bukan orang bodoh, masakah dia sengaja mengirim
pembujuk-pembujuk demikian tanpa membawa hasil apa-apa?
Ah, di balik urusan ini tentu ada sesuatu yang tak beres!”
Begitulah ia coba merenungkan apa sebabnya. Mendadak
teringat olehnya, "Ya, tentu Hongsiang telah mengirim
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
panglima lain dan mengerahkan pasukannya menyerbu
keselatan secara besar-besaran, sebaliknya dia sengaja
mengelabui aku dengan mengirim orang-orang yang tak
berguna ini untuk membujuk segala. Padahal sudah terang
aku tidak dapat melawan mereka, setiap saat dia dapat
membunuh aku, kenapa mesti susah-susah membujuk tanpa
hasil?”
Sesudah Siau Hong berpikir lagi, akhirnya ia pun paham,
"Ya, karena Hongsiang selalu menganggap dirinya sebagai
seorang Enghiong (pahlawan, ksatria), maka dia ingin aku
menyerah padanya lahir batin. Sekarang dia memimpin
pasukan sendiri menyerbu ke selatan, kalau berhasil
menduduki wilayah Song, kemudian dia akan datang padaku
dan pamerkan hasilnya itu. Rupanya dia tahu wataku sangat
keras, dia kuatir dalam gusarku mungkin akan mogok makan
dan bunuh diri, maka dia sengaja mengirim manusia-manisia
tak berguna ini untuk mengobrol tak karuan padaku.”
Tapi dia terkurung dalam kandang besi dan susah
meloloskan diri, terpaksa ia kesampingkan segala urusan.
Biarpun dia tidak mau menerima perintah Yalu Hung-ki untuk
menyerang kerajaan Song, tapi sekarang Hung-ki sudah
melakukan tindakannya itu, urusan tak bisa ditarik kembali lagi
terang tidak sedikit akan jatuh korban yang tak berdosa maka
selain menghela napas panjangdan minum arak sepuaspuasnya,
ia tidak mau banyak berpikir lagi.
Ketika didengarnya keempat pembujuk itu masih mengoceh
tak habis-habis, sekonyong-konyong Siau Hong bertanya,
"Pasukan Cidan kita tentunya sudah menyebrangi Hoang-ho
(Sungai Kuning) secara besar-besaran bukan?”
Para pembujuk itu tercengang san saling pandang dengan
bingung mereka tidak tahu cara bagaimana harus menjawab.
Akhirnya salah seorang pembujuk itu berkata, "Ucapan Siautaikong
juga ada benarnya, pasukan kita dalam waktu s ingkat
ini segera akan dikerahkan meski belum menyeberangi HoangTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
ho, rasanya kejadian itu akan berlangsung dalam waktu
singkat saja.”
"O, kiranya pasukan kita belum lagi dikerahkan dan entah
bilakah akan tiba hari yang baik itu?” tanya Siau Hong.
Keempat pembujuk itu saling mengedipkan mata, mereka
anggap rahasia yang maha penting itu tidak boleh
diberitahukan kepada Siau Hong. Maka yang seorang hanya
menjawab, "Ah, kami hanya pejabat rendahan saja, dari mana
bisa mengetahui rahasia militer yang penting itu?”
Dan yang lain berkata, "Asal pikiran Siau-taikong sudah
berubah, tentu Hongsiang sendiri akan mengajak Tai-ong
untuk berunding tentang urusan militer dan kenegaraan yang
maha penting itu.”
Siau Hong hanya mendengus saja dan tidak bertanya pula.
Pikirnya, "Jika serangan Hongsiang berhasil dengan lancar dan
dapat menduduki wilayah Song, tentu beliau akan mengiring
aku ke Pangliang untuk menemui dia. Tapi kalau usahanya
gagal dan pulang dengan tangan hampa, dia tentu malu untuk
menemui aku, dan langkah pertama yang akan dia ambil
adalah membunuh diriku. Ai, sebenarnya kuharapkan dia
berhasil menjajah Song atau mengharapkan dia gagal dan
kalah saja? Wahai Siau Hong! Mungkin sulit juga bagimu
untuk menjawab pertanyaan ini?”
Besoknya waktu petang, kembali keempat pembujuk itu
datang. Para prajurit yang bertugas menjaga Siau Hong juga
sudah bosen mendengarkan ocehan pembujuk yang tiada
kata-kata baru selalu itu-itu saja. Maka ketika melihat
kedatangan pembujuk-pembujuk itu, dengan kening
berkernyit prajurit-prajurit itu lantas berdiri menjauh.
Pembujuk pertama berdehem dulu, lalu membuka suara,
"Siau-taiong, ada firman dari Hongsiang, harap engkau
menerimanya. Kalau engkau menolak titahnya ini, engkau
sendirilah yang berdosa dan harus menerima ganjarannya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kata-kata seperti itu sebenarnya entah sudah beratus kali
didengar oleh Siau Hong dan muak baginya. Akan tetapi sekali
ini agak luar biasa, ia mendengar suara pembujuk ini rada
aneh, yaitu suara serak seperti orang sakit bengek. Maka
tanpa terasa Siau Hong memandang sekejap kepadanya. Dan
sekali memandang, seketika Siau Hong terheran-heran.
Ia lihat pembujuk itu sedang berkedip-kedip dan
memicingkan mata dengan macam-macam air muka yang
aneh. Ketika diperhatikan, Siau Hong merasa muka orang ini
tidak sama dengan pembujuk yang pernah dilihatnya. Waktu
diperhatikan lebih jauh, Siau Hong menjadi kaget dan
bergirang pula.
Ternyata kumis dan jenggot pembujuk yang jarang-jarang
ini semuanya tempelan belaka mukanya terpoles tinta bak
yang kehitam-hitaman sehingga sangat jelek tampaknya. Tapi
matanya jeli dan mulutnya kecil, air muka yang cantik itu
tertampak jelas dibalik kumis dan jenggot palsu yang jarangjarng
itu, siapa lagi dia kalau bukan A Ci.
Terdengar anak dara itu lagi berkata sambil menahan suara
yang dibikin-bikin, "ini, apa yang dititahkan Hongsiang ini
selamanya tentu benar, asal kamu melakukan apa yang
dikehendaki Hongsiang tentu akan besar faedahnya bagimu.
Nah, ini adalah firman tertulis dari maha raja Liau kita,
hendaknya kau baca dan mempelajarinya dengan baik-baik.”
Habis berkata lantas dikeluarkan sehelai kertas dan
dibentang ke depan Siau Hong.
Sementara itu hari sudah mulai gelap, beberapa prajurit
penjaga lagi sibuk menyalakan pelita di sekitar ruangan
pendopo.
Berkat cahaya lampu itu Siau Hong dapat melihat tulisan
dia atas kertas yang dibentangkan itu, ternyata tulisan dalam
beberapa huruf kecil itu berbunyi, "Bala bantuan sudah tiba,
malam ini juga lepas dari bahaya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siau Hong mendengus tanpa bicara, hanya kepalanya
mengeleng pelahan.
Tentu A Ci lantas berkata dengan nada yang dibuat-buat,
"Pasukan kita yang dikerahkan kali ini tidak sedikit jumlahnya.
Prajurit kita tangkas dan perbekalan cukup, sudah tentu kita
akan menang di mana pun pasukan kita tiba, maka jangan
engkau kuatir.”
"Tidak, justru karena aku tidak ingin banyak korban, maka
aku dikurung di s ini oleh Hongsiang,” kata Siau Hong.
"Untuk menangkan perang, yang diperlukan adalah
perhitungan yang tepat dan siasat yang lihai, mana boleh
berpikir tentang korban yang akan jatuh?” ujar A Ci.
Siau Hong coba melirik ketiga orang pembujuk yang lain,
terlihat diantaranya ada yang sedang goyang-goyang kipas
yang mereka bawa, ada yang kebas-kebas lengan baju secara
sembunyi-sembunyi seolah kuatir muka asli mereka dikenali
orang, terang mereka inilah bala bantuan yang dibawa oleh A
Ci.
Dengan menghela napas kemudian Siau Hong berkata, "YA,
aku sangat berterima kasih kepada maksud baikmu, tetapi
hendaklah maklum bahwa penjagaan musuh sangat rapat dan
keras, untuk merebut wilayah kedudukan mereka tidaklah
mudah .... "
Belum selesai ucapanya, tiba-tiba terdengar beberapa
prajurit penjaga tadi sedang menjerit kaget, "He, ada ular!
Ada ular berbisa! Dari mana datangnya ular-ular berbisa
sebanyak ini!”
Waktu Siau Hong menoleh, benar juga dilihatnya di
ambang pintu, dari celah-celah jendela dan lantai ruangan
sudah penuh dibanjiri ular berbisa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Binatang melata itu menyusur kian kemari dengan kepala
mendongak dan lidah mendesis, suasana menjadi kacau balau
dan kawanan prajurit berlari kain kemari untuk menghindar.
Hati Siau Hong tergetar, ”Melihat gelagatnya, agaknya
kawanan ular ini sengaja dilepaskan oleh saudaraku dari
anggota Kai-pang!”
Dalam pada itu para prajurit tadi sedang menggunakan
senjata mereka untuk membunuh dan mengusir kawanan ular.
Malahan komandan piket yang menjaga Siau Hong lantas
memberi perintah, ”Para prajurit yang menjaga Siau-taiong
tidak boleh sembarangan menyingkir pergi yang
membangkang akan dihukum mati!”
Rupanya komandan piket itu cukup cerdik, ia lihat
datangnya kawanan ular itu agak aneh dan luar biasa, ia
kuatir kalau kawanan prajuritpenjaga itu bingung menghadapi
kawanan ular dan kesempatan itu akan digunakan oleh Siau
Hong untuk meloloskan diri.
Karena perintah itu, terpaksa para prajurit yang menjaga
disekitar kurungan tidak berani sembarangan bergerak,
mereka tetap mengarahkan ujung tombak mereka kepada
Siau Hong yang mengeram di dalam kurungan itu. Namun
tidak urung mereka menjadi kebat-kebit juga, sambil
mengancam Siau Hong pandangan mereka pun berulangulang
diarahkan kepada kawanan ular, kala ada ular yang
mendekat lantas mereka bunuh.
Selagi suasana menjadi kacam, sekonyong-konyong
terdengar suara riuh ramai di belakang istana, ”Api! Ada api!
Kebakaran! Kebakaran! Tolong! Ada kebakaran! Tolong!
Segera komandan piket tadi berseru, ”Kahur, lekas
memberi lapor kepada komandan, tanyakan apakah Siautaiong
harus dipindahkan atau tidak?”
Yang bernama Kahur itu seorang Pek-hu-tiang (Kepala
seratus orang, pangkat setingkat kapten), ia mengiakan dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membalik tubuh. Baru saja dia hendak berlari pergi untuk
memunaikan tugasnya, tiba-tiba seorang membentaknya di
depan pintu ruangan, ”Tetap ditempatmu masing-masing,
jangan terkena tipu pancingan musuh, awas kalau ada orang
menyerbu ke sini segera Siau Hong dibunuh dahulu!”
Ternyata yang bicara adalah komandan pasukan pengawal
yang hendak diminta petunjuk itu sudah datang sendiri. Dia
bersenjata golok panjang dan dengan gagah berdiri di depan
pintu.
Sekonyong-konyong sesuatu bayangan berkelebat, seekor
ular kecil berwarna emas melayang ke atas dan menyambar
muka komandan pasukan pengawal itu, Cepat perwira itu
menyampuk dengan senjatanya, namun lebih dulu sudah
terdengar suara mendesingnya senjata rahasia, seketika
ruangan menjadi gelap gulita. Rupanya ada orang
menyambitkan senjata rahasia untuk memadamkan pelita.
Maka terdengarlah komandan pasukan pengawal itu
menjerit ngeri sekali, dia dipagut oleh ular berwarna emas tadi
dan roboh terguling.
Kiranya satu di antara keempat orang pembujuk palsu tadi
adalah Ciong Ling yang menyamar. Dia telah melepaskan Kimleng-
cu dan berhasil membinasakan perwira musuh.
Tanpa ayal lagi A Ci lantas mengeluarkan golok mustika,
cepat ia memotong putus rantai besi yang menyambung
borgol Siau Hong.
Selagi Siau Hong merasa ragu apakah dirinya dapat keluar
dari kurungan terali besi yang kuat itu, mendadak tanah
ditengah kurungan besi itu terasa blong, tubuhnya terasa
anjlok ke bawah.
Ia dengar A Ci sedang berkata di luar kurungan dengan
suara setengah tertahan, ”Lekas lari melalui jalan di bawah
tanah!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan belum lagi kaki Siau Hong menyentuh tanah, tiba-tiba
terasa kedua kakinya dicengkram tangan orang terus ditarik
lagi ke bawah. Ketika dapat berdiri tegak di bawah tanah,
dilihatnya orang yang menariknya itu adalah Hoa Hek-kin, itu
jagi tukang gangsir dari Tayli, Ternyata Hoa Hek-kin telah giat
bekerja selama belasan hari sehingga berhasil menggangsir
dan membuat sebuah lorong di bawah tanah yang menembus
tepat di bawah kurungan besi Siau Hong.
Segera Hek-kin menarik Siau Hong dan merangkak mundur
untuk keluar dari lubang gangsir itu. Betapa cepatnya cara
Hoa Hek-kin merangkak ternyata tidak kalah daripada orang
berjalan ditanah datar. Hanya sekejap saja puluhan meter
lubang gangsir itu telah dilaluinya, lalu ia memegang Siau
Hong untuk bediri dan menerobos keluar dari Liang itu.
Ternyata di mulut liang sudah menunggu tiga orang.
Mereka adalah Toan Ki, Hoan Hwa dan Pah Thian-sik. Begitu
melihat Siau Hong tertolong keluar dengan selamat segera
Toan Ki menyapa sambil menubruk maju untuk merangkul
sang Toako.
Siau Hong tepuk-tepuk punggung Toan Ki, lalu katanya
dengan tertawa, ”Hari ini baru kusaksikan ilmu sakti Hoa-suto,
sungguh kagum sekali dan terima kasih.”
”Sungguh hamba teramat bangga atas pujian Siau-taiong
ini, ” Sahut Hoa Hek-kin dengan rendah hati.
Tempat mereka berada itu tidak terlalu jauh dari istana
Lam-ih Tai-ong, maka terdengarlah di mana-mana penuh
suara teriakan prajurit Liau yang riuh rendah. Terdengar pula
orang meniup terompet dan lewat dibelakang rumah sana
disertai suara teriakan, ”Awas! Musuh telah menyerang pintu
gerbang timur, pasukan pengawal raja harus tetap berada di
tempat tugasnya dan tidak boleh sembarangan bergerak!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Siau-taiong, marilah kita terjang keluar melalui pintu
gerbang sebelah barat,” ajak Hoan Hwa yang merupakan ahli
siasat kerajaan Tayli.
Belum lagi Siau Hong menjawab, tiba-tiba dari lubang
gangsir di bawah tanah itu terdengar suara seruan A Ci yang
penuh rasa syukur dan girang, ”Cihu, tunggu dulu padaku!”
Menyusul anak dara itu lantas melompat keluar dari mulut
liang seperti kelinci gesitnya. Janggut anak dara itu masih
penuh jenggot palsu, mukanya penuh debu tanah dan kotor.
Namun bagi penglihatan Siau Hong, sejak dia kenal A Ci,
hanya saat inilah anak dara itu paling cantik tampaknya.
Segera A Ci meloloskan pula goloknya hendak memotong
borgol Siau Hong, tapi borgol itu menempel tepat di tangan
Siau Hong, bila sedikit kurang tepat tentu akan melukainya.
Maka ia menjadi ragu, akhirnya ia serahkan senjatanya
kepada Toan Ki dan meminta, ”Koko, harap engkau yang
memotongnya!”
Toan ki lantas angkat golok itu, di mana tenaga dalamnya
disalurkan dengan mudah saja borgol besi itu dapat
dipapasnya bagai memotong kayu mudahnya.
Dalam pada itu dari lubang gangsir itu menerobos keluar
pula tiga orang. Yang pertama adalah Ciong Ling, lalu Bok
Wan-jing dan orang ketiga adalah seorang anggota Kai-pang
berkantung delapan.
Anggota Kai-pang ini adalah ahli ular, kawanan ular yang
membanjiri ruang tadi adalah hasil kerjanya yang sukses.
Demi melihat Siau Hong dapat diselamatkan tanpa alangan
suatu apa pun, dengan air mata berlinang-linang anggota Kaipang
berkantung delapan itu lantas menyapa, ”Pangcu,
selama ini engkau .... ”
Sampai di sini ia tak sanggup meneruskan lagi saking
terharunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sudah lama sekali Siau Hong tidak pernah mendengar
orang menyebutnya ”Pangcu”, mau-tak-mau ia menjadi
terharu juga demi nampak sikap anggota Kai-pang yang
sedemikian setia padanya itu. Sahutnya dengan suara parau,
”Sungguh aku sangat berterima kasih atas bantuanmu.”
Sungguh bangga dan terharu pula anggota Kai-pang
berkantung delapan itu atas pujian Siau Hong, tak tertahankan
lagi air matanya lantas bercucuran bagai hujan.
”Kawan-kawan kita sudah mulai bergerak di pintu gerbang
timur, marilah kita cepat kabur saja mumpung suasana
sedang kacau!” demikian ajak Hoan Hwa, ”Dan yang paling
baik Siau-taiong jangan perlihatkan dirimu agar tidak dikenali
oleh pihak musuh.”
Siau Hong mengiakan atas saran itu. Segera mereka
menerjang keluar melalui pintu depan. Waktu Siau Hong
menoleh, kiranya rumah tempat mereka keluar itu adalah
sebuah rumah yang sudah rusak tak terawat dan tidak
menarik bila dipandang dari luar.
Karena A Ci sedikit banyak telah menguasai bahas Cidan,
maka dia lantas berteriak-teriak, ”Kebakaran! Kebakaran!
Lekas tolong kebakaran!”
Dengan menirukan apa yang dikatakan A Ci itu segera
Hoan Hwa dan Hoa Hek-kin juga ikut-ikut berteriak.
Pah Thian-sik memiliki ginkang yang paling tinggi, bila di
sekitarnya tiada prajurit Liau, segera ia menyalakan api
sehingga dalam sekejap saja ada belasan tempat berjangkit
kebakaran lagi.
Begitulah mereka bersembilan terus ke pintu gerbang
barat. Toan Ki dan lain-lain menyaru sebagai orang Cidan, apa
lagi suasana dalam kota telah kacau-balau sehingga
rombongan mereka tidak menimbulkan perhatian orang lain.
Terkadang bila ada pasukan berkuda Cidan menerjang lewat,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
segera mereka menyingkir ke tepi jalan yang sepi dan gelap
untuk menghindar.
Sekaligus mereka telah melintasi belasan jalan kota,
terdengar suara terompet berbunyi di sebelah utara diseling
dengan jerit orang ramai, ”Wah, celaka! Pasukan musuh telah
membobol pintu gerbang utara. Hongsiang telah ditawan
musuh! Hongsiang telah ditawan musuh!”
Karuan Siau Hong terkejut, ia berhenti dan berkata,
”Apakah betul raja Liau tertawan? Samte raja Liau itu adalah
saudara-angkatku, biarpun dia tidak setia padaku juga tidak
boleh kulupakan budinya, maka .... maka jangan mencelakai
dia .... ”
”Cihu jangan kuatir,” kata A Ci dengan tertawa. ”Berita
tertawannya raja Liau itu adalah siasat kita yang sengaja
disebar-luaskan oleh para Tongcu Leng-ciu-kiong untuk
membingungkan pihak musuh. Padahal di dalam kota Lamkhia
ini terdapat pasukan penjaga yang kuat, raja mereka pun
dikelilingi oleh puluhan ribu prajurit, masakah begitu
gampangnya untuk menangkapnya?”
”O, jadi para pengikut Jiko pun datang juga?” Siau Hong
menegas dengan girang dan kejut.
”Tidak Cuma pengikut si hwesio cilik saja yang datang,
bahkan hwesio cilik itu pun sudah tiba, malahan bininya juga
dibawa kemari sekalian.” kata A Ci.
”Hwesio cilik apa dan bininya siapa?” tanya Siau Hong
dengan bingung.
”Masakah Cihu sudah lupa?” sahut A Ci dengan tertawa.
”Hwesio cilik adalah si Hi-tiok-cu, bininya bukan lain adalah
putri kerajaan Se He yang dimenangkannya dalam sayembara
tempo hari. Hanya saja putri itu selalu menutupi mukanya
dengan kerudung sehingga selain hwesio cilik, orang lain tiada
satupun yang boleh melihatnya. Ketika kutanya si hwesio cilik
’bagaimana macam binimu itu, dia cantik atau tidk?’ Namun si
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hwesio cilik hanya tersenyum-senyum saja dan tidak mau
menjawab.”
Walaupun sedang melarikan diri, tapi tiba-tiba mendengar
hal-hal yang menarik itu, mau-tak-mau Siau Hong merasa
bersyukur juga bagi Hi-tiok yang berhasil memperistrikan putri
Se He itu, tanpa merasa ia memandang sekejap ke arah Toan
ki.
Seperti diketahui, ketika beramai-ramai mereka pergi ke Se
He untuk mengikuti sayembara, sebelum hasil sayembara itu
diumumkan Siau Hong sudah meninggalkan negeri itu lebih
dulu.
Rupanya Toan Ki tahu perasaan sang Toako dengan
tertawa ia berkata, ”Toako tidak perlu sangsi, sebab Siaute
sama sekali tidak sirik atas kejadian itu. Jiko juga tidak
terhitung mengingkari janji. Urusan ini memang agak panjang
untuk di ceritakan, biarlah nanti akan ku jelaskan dengan
pelahan.”
Tengah bicara, kembali mereka telah berlari suatu jarak
yang cukup jauh, tertampak sebuah panggung besar lapangan
depan sana juga sedang terbakar, api menjilat-jilat dengan
hebatnya. Dua helai bendera besar yang terpancang di tiang
bendera di depan panggung itu pun sudah terjilat api.
Siau Hong tahu lapangan itu adalah alun-alun terbesar di
kota Lamkhia, biasanya digunakan untuk latihan berbaris
prajurit Liau. Tapi entah sejak kapan didirikan panggung besar
itu, ternyata ia sendiri tidak pernah mengetahuinya.
”Sri baginda, setelah podium kebesaran dan bendera
kerajaan Liau terbakar, ini merupakan alamat jelek bagi
gerakan militer Liau, mungkin rencana menyerang kerajaan
Song terpaksa harus dipikirkan lagi oleh Yalu Hung-ki,”
demikian kata Pah Thian-sik dengan tertawa.
Mendengar Thian-sik memanggil ”Sri Baginda” dan
tertampak Toan Ki manggut-manggut, keruan Siau Hong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terheran-heran. Segera ia tanya, ”Samte, apakah engkau ...
sudah menjadi raja?”
Dengan muram Toan Ki menjawab, ”Ya, secara mendadak
ayah meninggal dunia dalam perjalanan pulang, paman
baginda telah meninggalkan tahta pula dan menjadi padri di
kuil Thian-liong-si, maka siaute disuruh menggantikan
tahtanya. Padahal Siaute sama sekali tidak punya kepandaian
apa-apa, sungguh memalukan untuk memangku jabatan
setinggi ini.”
”Ai, samte!” seru Siau Hong terkejut. ”Engkau sekarang
adalah kepala negara Tayli, mana boleh engkau sembarangan
menghadapi bahaya bagi kepentinganku? Apabila terjadi
sesuatu alangan, cara bagaimana aku akan bertanggung
jawab terhadap rakyat dan negeri Tayli kalian?”
Toan Ki tertawa, katanya, ”Tayli adalah sebuah negeri kecil
yang jauh terpencil di daerah selatan, sebutan ’raja’ Cuma
nama kosong belaka, dipandang juga Siaute tidak memper
seorang raja, sungguh hanya membikin malu saja. Adapun
hubungan kita melebihi saudara kandung juka Toako ada
kesukaran, masakah Siaute hanya tinggal diam tanpa ikut
campur?”
”Apalagi Siau-taiong telah berusaha mencegah raja Liau
memerangi kerajaan Song, untuk ini kami rakyat seluruh
negeri Tayli ikut merasa berterima kasih padamu” demikian
Thian-sik ikut bicara. ”Hendaklah maklum, bila raja Liau
berhasil menunjukkan Song, maka langkah selanjutnya tentu
akan mencamplok negeri Tayli pula. Padahal negeri kami kecil
dan lemah, mana dapat melawan pasukan Liau yang tangkas
dan kuat? Maka kalau Siau-taiong telah menyelamatkan
kerajaan Song berarti pula menolong negri Tayli kami. Bila
sekarang orang Tayli mencurahkan segenap tenaganya untuk
mengabdi kepada Siau-taiong juga sudah sepantasnya.”
”Aku hanya seorang yang paham ilmu silat saja soalnya aku
tidak tega membiarkan kedua negeri berperang dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menimbulkan korban yang tak berdosa, mana kuberani
anggap berjasa hanya karena sedikit usahaku itu?” sahut Siau
Hong.
Sedang bicara, tiba-tiba bagian selatan sana api berkilatkilat
menjulang tinggi, penduduk dalam berkelompok
berbondong-bondong menyelamatkan diri bercampur di antara
pasukan Liau yang coba menenangkan suasana.
Terdengar teriakan orang, ”Para paderi Siau-lim-si dari
selatan bersama orang-orang gagah yang tidak sedikit
jumlahnya telah membobol pintu gerbang selatan!”
Lalu ada pula yang berteriak, ”Lam-ih Tai-ong Siau Hong
telah memberontak dan menyerah kepada kerajaan Song, raja
Liau sudah dibunuh olehnya!”
Malahan ada beberapa orang Cidan menanggapi dengan
menggertak gigi, ”Siau Hong telah mengkhianati bangsa dan
menyerah kepada musuh, sungguh aku ingin mengigit
dagingnya dan mengunyahnya mentah-mentah.”
”Apa benar Sri Baginda telah dibunuh oleh bangsat maha
durjana Siau Hong?” demikian tanya seorang kawannya
dengan cemas.
”Mengapa tidak benar?” sahut seorang Cidan yang lain.
”Dengan mataku sendiri kusaksikan Siau Hong menerjang ke
depan Sri Baginda dan dengan tombaknya ia menusuk dada
Sri Baginda sehingga tembus.”
”Bangsat keparat Siau Hong itu mengapa sedemikian
kejamnya? Sesungguhnya dia itu orang Cidan atau bangsa
Han?” kata seorang tua dengan sengit.
”Konon dia orang Song yang sengaja menyaru sebagai
orang Cidan, bangsat itu benar-benar sangat licin dan kejam
melebihi binatang!” sahut pula kawannya tadi.
Mendadak orang-orang itu seraya lari sabil mencaci maki
dan mengutuki Siau Hong, karuan A Ci menjadi gusar, ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
angkat cambuknya terus menyabet ke arah orang Cidan yang
lewat di sisinya.
Namun Siau Hong keburu mencegahnya, sambil
menggoyangkan kepalanya ia berkata dengan suara tertahan,
”Biar mereka bicara sesukanya, jangan digubris!”
Lalu ia pun bertanya, ”Apakah benar-benar para padri sakti
Siau-lim-si juga ikut datang?”
”Harap Pangcu maklum, ketika nona Toan (A Ci) keluar dari
kota Lamkhia, di luar kota dia bertemu drngan Go-tianglo dari
Kai-pang kita dan membicarakan tentang pengorbanan
Pangcu, demi untuk menolong jiwa rakyat dan negeri Song
kita katanya Pangcu telah berusaha mencegah rencana raja
Liau yang akan menyerbu negeri Song sehingga menimbulkan
amarah raja Liau dan engkau ditawan. Atas cerita itu Gotianglo
tak mempercayainya karena pangcu diketahui sebagai
orang Cidan, masakah mungkin pikiranmu condong kepada
negeri Song kita? Maka diam-diam beliau menyusup ke kota
Lamkhia untuk menyelidiki sendiri persoalan Pangcu ini dan
akhirnya dapat diketahui dengan pasti bahwa apa yang
diceritakan nona Toan ternyata besar adanya. Segera Gotianglo
menyebar perintah ’Jing-tiok-leng’ (titah bambu hijau)
dan memberitahukan kepada para ksatria Tionggoan tentang
kebaikan budi dan jiwa ksatria Pangcu, karena terharu dan
berterima kasih atas keluhuran budi pangcu itu, maka dengan
dibawah pimpinan para padri Siau-lim-si itu, para ksatria
Tianggoan berbondong-bondong sama datang ke utara sini
untuk menolong Pangcu.”
Siau Hong menjadi teringat kepada peristiwa di Cip-hiancong
tempo dulu, disana dia bertarung dan dikerubuti oleh
para ksatria Tianggoan sehingga tidak sedikit jago silat
dibunuh olehnya. Tapi hari ini para kesatria itu justru datang
menolongnya, sungguh hatinya menjadi berduka dan
berterima kasih pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Ya, begitulah, maka dengan cepat berita tentang Cihu itu
telah disebarkan oleh para pengemis Kai-pang sehingga dalam
waktu singkat diketahui oleh para ksatria di mana-mana. Ai,
celaka! Wah sayang, sungguh sayang!” demikian tiba-tiba A Ci
berseru gegetun.
”Ada apa?” tanya Toan Ki kaget.
”Wah, Pek-giok-giok-ting (Wajan kumala hijau) yang
kugunakan untuk memancing kedatangan kawanan ular yang
kutaruh diruangan pendopo sana, dalam keadaan terburuburu
kulupa mengambilnya kembali,” tutur A Ci.
”Sudahlah, benda yang tak berarti itu buat apa mesti
dipikirkan dan dibawa ke mana pun kau pergi?” ujar Toan Ki
dengan tertawa.
”Hm, kau anggap wajan itu benda tak berarti? Kalau tiada
benda mustika itu, tentu kawanan ular itu takkan membanjiri
ruangan itu sedemikian cepatnya dan Cihu tentu juga susah
meloloskan diri secara begini mudah.” demikian bantah A Ci.
Tengah bicara, tiba-tiba terdengar suara riuh ramainya
orang bertempur. Dibawah cahaya api kelihatan prajuritprajurit
Laiu dalam jumlah besar sedang saling gasak sendiri.
”Aneh, mengapa mereka bertempur sendiri .... ” ujar Siau
Hong dengan heran.
”Toako mereka yang pakai kain putih di lengan itu adalah
kawan sendiri.” kata Toan Ki.
Segera A Ci mengeluarkan sepotong kain putih dan
diserahkan kepada Siau Hong, katanya, ”Ikatlah di lehermu,
Cihu!”
Sekilas pandang Siau Hong merasa bingung juga untuk
membedakan yang mana prajurit kawan atau lawan, ia
merasa bingung pihak mana yang harus dibunuhnya. Dan di
tengah suasana yang gaduh itu terkadang terjadi prajurit Liau
yang sebenarnya saling membunuh. Sebaliknya prajurit Liau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
palsu yang pakai tanda kain putih dileher itu dapat
mengayunkan senjata mereka dengan jitu pada badan prajurit
dan perwira Liau yang tulen sehingga orang-orang Liau satu
persatu bergelimpangan binasa.
Sambil memegangi kain putih yang diterimanya dari A Ci,
tangan Siau Hong menjadi gemetar, hatinya seakan sedang
menjerit, ”Aku adalah orang Liau, aku bukan orang Han! Aku
orang Liau dan bukan orang Han! Betapa pun kain putih ini
tak dapat kupakai di leherku!”
Dan pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mencicit
pintu gerbang barat yang antap itu didorong terpentang oleh
orang. Berbondong-bondong Toan Ki dan Hoan Hwe lantas
menerjang keluar dengan mengepit di samping Siau Hong.
Di bawah cahaya api yang terang benderang itu tertampak
jelas anggota Kai-pang dalam jumlah besar sudah menunggu
di luar kota dengan membawa kuda. Ketika melihat Siau
Hong, serentak mereka bersorak sorai, ”Kiau-pancu! Kiau-
Pancu!”
Di tengah malam gelap gulita tertampak dua barisan obor
menyingkir minggir, lalu seorang penunggang kuda tampak
maju ke depan. Penunggang kuda ini adalah seorang
pengemis tua, dengan kedua tangan terangkat ke atas ia
memegang Pak-kau-pang, itu pentung penggebuk anjing yang
merupakan benda tanda pengenal atau simbol Pangcu Kaipang.
Pengemis tua itu ternyata Go-tianglo adanya.
Sesudah berada di depan Siau Hong, cepat Go-tianglo
melompat turun dari kudanya dan berlutut, katanya, ”Goliang-
kung atas nama para anggota Kai-pang dengan ini
kepada Pangcu yang tidak bersalah, sungguh kami lebih
bodoh daripada hewan, untuk itu mohon Pangcu suka
memberi ampun dan sudilah melupakan apa yang telah lalu
dan kembali menjadi Pangcu kita untuk memimpin kami yang
selama ini seperti anak-anak yang kehilangan orang tua.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sembari berkata ia pun menyodorkan Pak-kau-pang ke
tangan Siau Hong.
Siau Hong menjadi terharu menghadapi kawan-kawan
seperjuangan masa lalu ini, katanya, ”Go-tianglo, Caihe
memang benar-benar orang Cidan. Sungguh aku merasa
terima kasih tak terhingga atas budi kebaikan kalian. Tentang
kedudukan Pangcu sekali-kali aku tak dapat menjabatnya.”
Berbareng ia pun membangunkan Go-tianglo.
Go-tianglo adalah seorang yang berhati lurus, ia menjadi
bingung atas sikap Siau-Hong itu, katanya sambil garuk-garuk
kepala, ”Engkau ... engkau mengaku sebagai orang Cidan pula
dan tak ... tak mau menjadi Pangcu? Ah, Kiau-pangcu,
sudahlah jangan marah lagi kepada perbuatan kami yang
ngawur dahulu itu dan terimalah kembali jabatanmu!”
Dalam pada itu terdengar suara tambur perang dalam kota
mendadak berbunyi menggelegar, terang ada pasukan besar
Liau segera akan menerjang keluar.
Cepat Toan Ki berkata, ”Go-tianglo, marilah kita lekas
berangkat, pasukan musuh terlalu kuat jika mereka sempat
menyusun kekuatan tentu kita tak dapat melawannya.”
Siau Hong juga tahu sebabnya orang-orang Kai-pang
bersama para ksatria Tionggoan dapat unggul sementara
adalah karena mereka menyerang secara mendadak sehingga
berhasil, kalau benar-benar bertempur melawan pasukan Liau
sudah tentu ribuan orang-orang kangouw itu bukan tandingan
pasukan Liau yang berjumlah ratusan ribu dan terlatih dengan
baik itu. Apalagi bila terjadi pertempuran tentu akan banyak
menimbulkan korban, hal ini sangat berlawanan dengan
keinginannya, maka ia lantas berkata, ”Go-tianglo, urusan
Pangcu biarlah dibicarakan nanti. Yang penting sekarang
memberi perintah agar saudara kita segera mundur ke barat
sana.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Go-tianglo mengiakan dan segera memberi perintah.
Serentak barisan belakang Kai-pang berubah menjadi barisan
depan dan cepat mengundurkan diri kejurusan barat. Tidak
lama kemudian Hi-tiok juga menysul tiba dengan membawa
para prajurit wanita dan ke-39 Tongcu dan ke-72 Tocu.
Sesudah beberapa li jauhnya, para jago negeri Tayli di
bawah pimpinan Siau Tio-sing dan Cu Tan-sin juga menyusul
datang. Tapi para ksatria Tionggoan dan para paderi Siau-limsi
tetap tidak kelihatan. Bahkan sayup-sayup terdengar suara
pertempuran gegap gempita di dalam kota Lamkhia.
Rupanya para ksatria Tionggoan dan para padri Siau-lim-si
telah dicegat musuh dalam kota, biarlah kita menunggu dulu
sementara,” ujar Siau Hong.
Tidak lama kemudian suara pertempuran dalam kota makin
lama makin keras. Toan Ki merasa tidak enak, katanya,
”Harap Toako tunggu dulu di sini, biarlah kupergi membantu
mereka.”
Habis berkata ia lantas memimpin para jago Tayli dan
memburu kembali ke kota Lamkhia.
Sementara itu subuh sudah tiba cuaca mulai terang. Siau
Hong sendiri merasa sedih dan kuatir, ia tidak tahu para
ksatria Tionggoan itu dapat meloloskan diri atau tidak.
Suara pertempuran semakin dahsyat, para jago negeri Tayli
telah menerjang kembali ke dalam pasukan musuh tapi para
ksatria Tionggoan tetap belum kelihatan lolos dari kepungan.
Tiba-tiba datang seorang kurir anggota Kai-pang dan
memberi laporan. ”Beberapa ribu prajurit Liau menjaga rapat
pintu gerbang barat, jago-jago Tayli tidak dapat menyerbu ke
dalam kota, sebaliknya para ksatria Tionggoan juga tidak dapt
menerjang keluar.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Segera Hi-tiok memberi tanda dan berseru, ”Orang-orang
Leng-ciu-kiong ikutlah padaku untuk memberi bantuan ke
sana.”
Segera ia pimpin anak buahnya yang berjumlah ribuan
orang itu dan menerjang kembali ke arah lamkhia.
Diatas kudanya Siau Hong coba memandang ke belakang,
tertampak kota Lamkhia penuh diliputi asap yang mengepul
tebal, dimana-mana terdapat gumpalan api yang menyalanyala,
sungguh sukar dibayangkan betapa jadinya kota itu di
tengah kancah kekacauan perang itu.
Sesudah ditunggu sekian lama pula, kembali seorang kurir
memberi lapor lagi. ”Toan-ongya dari Tayli dan Hi-tiok
siangsing dari Leng-ciu-kiong telah berhasil membobol
kepungan musuh dan sudah menyerbu ke dalam kota.”
Biasanya jika ada perempuan Siau Hong selalu memimpin
dan tampil paling depan, tapi sekarang dia hanya menunggu
dari jauh, rasanya cemas dan kuatir pula. Maka akhirnya ia
berkata, ”Biarlah kupergi melihatnya!”
Cepat A Ci, Bok Wan-jing dan Ciong Ling mencegahnya,
”Jangan, justru orang Liau lagi incar dirimu, jangan sekali-kali
engkau menempuh bahaya ini.”
”Tidak apa-apa, jangan kuatir,” ujar Siau Hong. Segera ia
melarikan kudanya ke depan disusul oleh para anggota Kaipang.
Sampai di luar pintu gerbang barat kota Lamkhia,
tertampak dibawah tembok benteng, di tepi jalan dan di
sepanjang sungai yang mengelilingi benteng kota itu penuh
bergelimpangan mayat yang beratus-ratus banyaknya. Ada
prajurit dan perwira Cidan, ada juga anak buah Toan Ki dan
Hi-tiok.
Pintu gerbang kota setengah tertutup, beberapa Tocu
bawahan Hi-tiok tampak memutar senjata, mereka sedang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berjaga disamping pintu dan sedang menghajar prajurit Liau
yang menerjang maju agar mereka tidak dapat menutup pintu
gerbang itu.
Tiba-tiba terdengar suara riuh ramai kuda berlari dari
sebelah utara dan selatan. Siau Hong terkejut, serunya,
”Celaka, pasukan Liau secara besar-besaran hendak
mengepung kita dari jurusan selatan dan utara.”
Cepat ia meloncat ke atas, kaki memancak lekat di dinding
benteng dengan tenaga dorongan itu tubuhnya lantas
mencelat ke atas dan menghinggap di atas tembok benteng,
dari situ ia dapat memandang jauh ke dalam kota. Maka
tertampaklah bagian barat kota dalam lingkaran seluas satu li
lebih itu terdapat gerombolan orang di sana-sini nyata para
ksatria Tionggoan telah dipotong dan dipisah-pisahkan oleh
prajurit Laiu yang berjumlah lebih banyak itu dan sedang
dikerubuti dalam kelompok-kelompok lebih kecil.
Walaupun para ksatria Tionggoan itu berilmu silat tinggi,
tapi setiap orang harus melawan beberapa orang sampai
belasan prajurit Liau yang tangkas, lama kelamaan mereka
menjadi kewalahan juga.
Dengan berdiri di atas tembok benteng Siau Hong dapat
memandang ke dalam dan ke luar kota, Ia menjadi bingung
juga menghadapi suasana pertempuran itu. Para ksatria
Tionggoan yang terkepung itu bertempur mati-matian demi
menolong dia, maka tidaklah mungkin ia menyaksikan para
ksatria itu binasa di bawah senjata prajurit Liau tanpa
memberi bantuan.
Tapi kalau dia melompat terus dan menolong mereka, ini
berarti dia secara terang-terangan bermusuhan dengan pihak
Liau dan menjadi penghianat bangsa, selain berdosa kepada
leluhurnya sendiri bahkan selamanya akan dicaci maki dan
dibusuk oleh bangsanya sendiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jika dia Cuma melarikan diri saja dan meninggalkan negeri
sendiri, perbuatan demikian paling-paling akan dianggap
sebagai tidak setia. Tapi kalau angkat senjata dan menyerang
bangsa dan negerinya sendiri, ini benar-benar perbuatan
penghianat yang maha berdosa.
Biasanya Siau Hong dapat bertindak cepat dan tegas, tapi
sekarang ia menjadi serba susah. Sekilas tertampak olehnya di
pojok bawah benteng sana ada beberapa jago Cidan sedang
mengerubut dua padri tua Siau-lim-si. Salah seorang padri tua
itu bersenjata golok, mulut menyemburkan darah terang
sudah terluka parah.
Waktu diperhatikan lebih jauh, segera Siau Hong kenal
padri tua itu adalah Hian-bing Taisu. Padri yang lain
bersenjata tongkat dan sedang berusaha mati-matian untuk
melindungi kawannya yang terluka. Padri bersenjata tongkat
ini ternyata Hian-sik adanya.
Saat itu dua jago Cidan sedang angkat parang mereka
untuk membacok Hian-bing. Segera Hian-bing bermaksud
menangkis dengan goloknya. Tak tersangka lukanya sudah
teramat parah, baru saja tangan terangkat sebatas dada,
sungguh celaka, rasanya sudah tidak kuat lagi.
Cepat Hian-sik memberi bantuan, tongkatnya menyampuk,
”trang-trang”, karuan parang musuh terbentur balik. Saking
kuat tenaga Hian-sik sehingga kedua jago Cidan tak mampu
menguasan lagi senjatanya, kedua parang itu membacok di
batok kepala sendiri sehingga pecah berantakan.
Sudah tentu Hian-sik sangat girang. Tapi mendadak
terdengar Hian-bing menjerit, tahu-tahu pundak kirinya
berlumuran darah, ternyata kena dilukai pula oleh musuh.
Kontan Hian-sik balas menyabet dengan tongkatnya
sehingga jago Cidan yang melukai Hing-bing itu terhantam
dan remuk tulang dadanya. Dan karena serangannya untuk
membela kawan itu, ia sendiri kurang penjagaan, kesempatan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu digunakan oleh seorang jago Cidan yang lain untuk
menusukkan tombaknya ke dada Hian-sik.
”Cret”, Hian-sik tidak sempat menangkis, perutnya dengan
tepat tertusuk tembus dan terpantek di dinding benteng.
Namun Hian-sik tidak lantas tewas, dengan tenaganya yang
masih ada mendadak ia menggertak sekali, tongkatnya
mengemplang kebawah sehingga kepala orang Cidan itu
hancur luluh dan mati lebih dahulu dari pada Hian-sik sendiri.
Melihat perut Hian-sik tertembus tombak musuh dan terang
tak bisa hidup lagi. Hian-bing menjadi bingung sehingga
permainan goloknya tak karuan jurusnya, dengan air mata
bercucuran ia berteriak-teriak, ”Sute! Sute!”
Darah panas Siau Hong bergolak, ia tidak dapat menahan
perasaannya lagi, mendadak ia berteriak keras, ”Ini s iau Hong
berada disini! Kalau mau bunuh boleh bunuhlah aku, tapi
jangan membunuh orang lain yang tak berdosa!”
Berbareng Siau Hong lantas melompat turun ke bawah, di
mana kakinya melayang, sebelum dia menyentuh tanah,
kontan empat jago Cidan sidepaknya sehingga mencelat. Dan
setelah berdiri tegak, cepat ia menarik Hian-bing dan tangan
lain pegang tongkat Hian-sik sambil berkata, ”Hian-sik Taisu,
bantuanku ini terlambat datangnya, sungguh dosaku tak
terhingga besarnya.”
Menyusul tongkat yang dipegangnya itu terus disabetkan
sehingga dua jago Cidan terpaksa melompat menyingkir.
”Tidak kami yang memfitnah Siau-pangcu sebagai orang
Cidan terlebih besar berdosa, ” sahut Hian-sik dengan
tersenyum getir. ”Dan syukurlah sekarang duduknya perkara
dapat dibikin jelas.... ”
Belum selesai ucapannya, sekali kepalanya menunduk,
ternyata napasnya sudah berhenti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sambil melindungi Hian-bing segera Siau Hong menerjang
ke arah beberapa jago Tayli yang sedang dikerubut musuh di
sebelah kiri sana.
Melihat Lam-ih Tai-ong mereka mendadak muncul dengan
gagah perwira, mau-tak-mau para prajurit dan perwira Liau
menjadi jeri. Sebaliknya Siau Hong lantas kerjakan
tongkatnya, walaupun tidak ingin membunuh orang, siapa pun
terluka bila berkenalan dengan tongkatnya.
Kawanan prajurit berteriak-teriak ketakutan dan beramairamai
menyingkir mundur sehingga Siau Hong dapat
menerjang kian kemari dengan cepat dan leluasa hanya dalam
waktu singkat is sudah dapat mengumpulkan dua-tiga ratus
ksatria Tionggoan yang tadinya bercerai-berai dan terkepung
tadi.
”Hendaknya para saudara jangan terpisah lagi
bergabunglah dalam rombongan besar untuk bertempur
bersama!” seru Siau Hong.
Segera ia memimpin dua-tiga ratus orang itu dan bergeser
ke sana dan ke sini, bila ada kawan yang terkepung lantas
didekatinya untuk menolongnya keluar. Maka rombongannya
itu makin lama makin bertambah banyak jumlahnya. Sampai
akhirnya sudah lebih seribu orang.
Lalu Siau hong menggabungkan diri dengan rombongan Hitiok,
Toan Ki dan para ksatria Tionggoan di bawah pimpinan
Hian-to Taisu dari Siau-lim-si terus menerjang ke pintu
gerbang kota.
Siau Hong mendahului memburu ke depan, dengan gagah
ia berdiri di atas pintu gerbang dan membiarkan rombongan
para ksatria Tionggoan, Tayli dan Leng-ciu-kiong keluar kota
dengan aman. Pasukan Liau yang mengejar itu ternyata tidak
berani maju, mereka hanya berteriak-teriak dari jauh dan
gentar terhadap wibawa Lam-ih Tai-ong mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Menunggu sesudah semua orang keluar benteng dengan
selamat, paling akhir barulah Siau Hong sendiri menyusul ke
luar kota. Waktu ia menoleh ke belakang, tertampak mayat
bergelimpangan di mana-mana dan tertumpuk-tumpuk entah
berapa banyak korban yang jatuh dalam pertempuran itu.
Tiba-tiba terlihat olehnya di antara mayat yang mengeletak
di dalam kota itu terdapat dua perwira wanita Leng-ciu-kiong
yang berlumuran darang sedang merintih-rintih dan merontaronta
hendak berdiri, tapi rupanya tidak kuat lagi.
Tanpa pikir Siau hong menerjang masuk lagi ke dalam kota,
ia pegang punggung ke dua wanita itu dan dibawa lari keluar.
Tapi tidak berapa jauh mendadak terdengar suara tambur
menggelegar mengguncang bumi, dua pasukan Liau secara
besar-besaran menyerbu tiba dari arah kanan dan kiri.
Seketika Siau Hong merasa cemas. Kedua pasukan musuh
itu jumlahnya paling sedikit ada sepuluh ribu banyaknya,
sedangkan kawan-kawan dipihak sendiri sudah bertempur
sekian lamanya, kalau tidak terluka tentu juga sudah terlalu
letih, maka bagaimana akan dapat menghadapi pasukan
musuh yang bertenaga baru itu?
Cepat ia berteriak, ”Kawan-kawan Kai-pang harap
mengiring dari belakang, serahkan kuda tunggangan kalian
kepada teman-teman lain yang terluka dan biarkan mereka
mundur lebih dulu!”
Anggota Kai-pang mengiakan serentak dan beramai-ramai
melompat turun dari kuda mereka.
Lalu Siau Hong berteriak pula, ”Pak-kau-tai-tin (Barisan
besar menggebuk anjing)!”
Maka terdengar suara tembang minta-minta para pengemis
sambil mengatur barisan selapis demi selapis.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Hian-to Taisu, Jite dan samte, lekas memimpin bawahan
kalian mundur dulu ke jurusan barat, biarkan kami yang
menjaga di bagian belakang!” teriak Siau Hong.
Di bawah sinar matahari ujung golok dan tombak pasukan
Liau tertampak gemerlapan menyilaukan mata, berpuluh ribu
kuda berlari serentak menerjang tiba, suara benar-benar
menggetar sukma dan menakutkan.
Melihat kekuatan musuh yang luar biasa itu, Hi-tiok dan
Toan-Ki menaksir Pak-kau –tai-tin yang dipasang anggota Kaipang
itu betapapun susah menahan terjangan pasukan
musuh. Maka mereka berdua lantas berdiri di kanan-kiri Siau
Hong dan berkata, ”Toako, kita adalah saudara angkat, kalau
ada kesukaran biarlah ditanggung bersama, mati atau hidup
harus bersama pula!”
”Jika begitu, lekas perintahkan bawahan kalian mundur
lebih dulu, ”kata Siau Hong.
Cepat Hi-tiok dan Toan Ki meneruskan perintah itu kepada
anak-buahnya masing-masing.
Siapa tahu bawahan Leng-ciu-kiong telah menyatakan tidak
mau meninggalkan majikan mereka dalam keadaan bahaya,
lebih-lebih para jago Tayli juga tidak mau mengundurkan diri
dan membiarkan raja mereka menghadapi maut.
Dalam pada itu, pasukan berkuda Liau sudah makin dekat
panah yang dibidikan sudah hampir mencapai tempat Siau
Hong dan kawan-kawannya berada.
Hian-to mestinya sudah mundur lebih dulu dengan
memimpin para ksatria Tionggoan, tapi sekarang demi
nampak rombongan Siau Hong dan terancam bahaya, seketika
ada beberapa puluh orang di antaranya berlari kembali untuk
membantu.
Diam-diam Siau Hong mengeluh. Pikirnya, ”Biarpun ilmu
silat kawan-kawan ini sangat tinggi tapi mereka tidak kenal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ilmu peperangan dan tidak tahu disiplin militer, cara
bagaimana mereka akan sanggup melawan pasukan Liau yang
berjumlah besar? Kematianku adalah tidak menjadi soal tapi
kalau para kawan juga dibinasakan oleh prajurit Liau di luar
kota Lamkhia ini, lantas bagaimana aku .... ”
Selagi bingung dan entah tindakan apa yang harus
diambilnya sekonyong-konyong di tengah pasukan Liau
terdengar suara gembrong yang nyaring ditabuh secara
menitir. Nyata itulah tanda menarik mundur pasukan.
Begitu mendengar suara titir gembreng, seketika pasukan
Liau yang sedang menerjang ke depan itu serentak membalik
haluan kuda mereka berputar, barisan belakang lantas
berubah menjadi barisan depan dan beramai-ramai mundir ke
utara dan selatan dari arah mereka datang tadi.
Siau Hong terheran-heran dan tidak mengerti apa yang
terjadi. Walaupun pasukan Liau sudah mundur, tapi dilihatnya
jauh di belakang pasukan Liau sana debu mengepul tinggi
disertai suara teriakan riuh ramai, rupanya bagian belakang
pasukan Liau itu telah digempur oleh pasukan lain pula.
Karuan Siau Hong tambah heran, ”Mengapa di belakang
pasukan Liau ada pasukan pihak lain lagi, jangan-jangan
terjadi pemberontakan pula? Dan siapakah yang
memberontak? Dari muka dan belakang Hongsiang digencet
musuh, tentu keadaannya sangat tidak menguntungkan.
(Oo^o^dwkz^http://kangzusi.com/^o^oO)
Jilid 87 (Tamat)
Begitulah jiwa kesatria Siau Hong, baru saja dia terhindar
dari kepungan pasukan Liau, sekarang dia sudah lantas
menguatirkan keselamatannya Yalu Hung-ki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat pasukan Liau mendadak ditarik kembali, segera
para anggota Kai-pang berteriak-teriak, tapi karena tiada
perintahnya Siau Hong mereka tidak berani sembarangan
mengejar dan membunuh musuh.
Waktu Siau Hong melompat dan berdiri diatas kudanya
untuk memandang jauh kebagian belakang pasukan Liau,
dilihatnya disana banyak berkibar panji-panji warna putih,
diudarapun terjadi hujan panah dan perajurit Liau banyak
yang terjungkal jatuh dari kudanya. Akhirnya sadarlah Siau
Hong: "Ah, kiranya adalah kawan-kawanku dari suku Nuchen
yang telah tiba. Entah dari mana mereka.”
Ilmu memanah pemburu-pemburu Nuchen itu sungguh
sangat lihai, merekapun sangat gagah dan tangkas dimedan
perang. Setiap seratus orang mereka terbagi menjadi satu
pasukan kecil, dengan menunggang kuda mereka berteriakterik
terus menerjang ketengah.
Karena diterjang secara mendadak, seketika barisan
perajurit Liau menjadi kacau balau. Pula suku Nuchen itu
memang tangkas dan gagah berani, panglima Liau dapat
melihat gelagat, ia kuatir digencet pula oleh pasukan yang
dipimpin Siau Hong, maka cepat-cepat ia memberi tanda
menarik mundur pasukannya.
Hoan Hwa berpangkat Suma atau menteri urusan perang,
maka dia mahir ilmu kemiliteran. Ia melihat ada kesempatan
bagus, segera katanya kepada Siau Hong: "Siau-taiong, lekas
kita serbu saja, inilah saat yang paling bagus untuk
menghancurkan musuh.
Tapi Siau Hong hanya menggeleng kepala saja.
”Jarak dari sini ke Gan-bun-koan terlalu jauh, kalau
kesempatan bagus ini tidak kita gunakan untuk
menghancurkan pasukan Liau, kelak tentu akan
membahayakan malah,” demikian kata Hoan Hwa pula.
”Apalagi jumlah musuh terlalu banyak dan jumlah kita sedikit,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kita belum tentu dapat mengundurkan diri dengan aman dan
selamat.”
Namun Siau Hong tetap menggeleng kepala.
Sungguh Hoan Hwa tidak habis mengerti. Pikirnya: "Siautaiong
tidak mau menyerang dan membunuh musuh, janganjangan
dia masih berharap kelak akan dapat memperbaiki
hubungan dengan raja Liau.”
Dalam pada itu terlihat orang-orang Nuchen dalam
kelompok-kelompok kecil dengan telanjang setengah badan,
ada yang bermantelkan kulit binatang, masih terus menerjang
musuh sambil menghujani panah sehingga musuh kalang
kabut. Ada lebih seribu orang perajurit Liau yang tidak sempat
masuk seluruhnya kedalam kota, semuanya telah dipanah
mati dibawah benteng kota.
Pemburu-pemburu Nuchen itu kalau habis membunuh
musuh segera buah kepala sang korban dipenggal olehnya
dan digantung disabuknya. Maka diantara orang-orang
Nuchen itu ada yang membawa puluhan buah kepala yang
penuh tergantung dipinggangnya.
Para kesatria sudah banyak berpengalaman dalam
pertarungan sengit, tapi pembunuhan secara kejam dan
biadab seperti orang-orang Nuchen ini baru pertama kali ini
dilihatnya. Keruan mereka terkesiap.
Tiba-tiba diantara pemburu-pemburu Nuchen itu muncul
seorang lelaki tinggi besar sambil berteriak-teriak, "Siau-toako,
Siau-toako, Wanyan Akut telah datang membantu engkau
berkelahi dengan orang Cidan!
Kiranya dia adalah saudara angkat Siau Hong ketika
bertemu dipegunungan Tiang-pek-san dahulu, yaitu Wanyan
Akut dari suku Nuchen.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sungguh girang Siau Hong tak terkatakan, cepat ia
memapak maju, kedua orang lantas saling rangkul dan
berjabat tangan dengan terharu.
”Siau-toako, dahulu engkau telah pergi tanpa pamit,
sungguh aku sangat kuatir dan rindu sekali,” demikian kata
Akut. ”Kemudian dari penyelidik dapat diketahui bahwa
engkau telah menjadi pembesar dinegeri Liau, hal inipun tidak
menjadi soal. Cuma orang Liau itu sangat licin, kukira
kedudukanmu mungkin tak bisa tahan lama. Benar juga,
kemarin dulu penyelidik memberi laporan pula, katanya
engkau telah dikurung oleh raja Liau keparat itu sebagai
binatang, sungguh kami merasa sangat kuatir dan secepatnya
memburu kemari. Syukurlah Siau-toako ternyata baik-baik
saja, kami merasa girang sekali.”
”Banyak terima kasih atas bantuan saudaraku.” sahut Siau
Hong.
Baru sekian bicaranya, tiba-tiba dari atas benteng telah
berhamburan anak panah kearah mereka. Cuma jarak mereka
cukup jauh dari tembok benteng, anak-anak panah itu tidak
dapat mencapai mereka.
”Kurang-ajar anjing-anjing Liau itu, aku sedang bicara
dengan Toako, kenapa mereka sengaja mengganggu,” maki
Akut dengan gusar. Habis berkata, ia pentang busurnya, susul
menyusul tiga kali membidik ia memanah dari bawah benteng
keatas, maka terdengarlah suara jeritan ngeri tiga kali, tiga
orang perajurit Liau kontan terjungkal kebawah.
Kalau panah perajurit-perajurit Liau itu tidak dapat
mencapainya, sebaliknya tiga kali panah Akut itu dengan
mudah telah menggulingkan tiga orang, maka dapat
dibayangkan betapa kuat dan jitu kepandaian memanah jago
Nuchen itu. Keruan perajurit-perajurit Liau menjadi ketakutan,
sambil berteriak-teriak lekas mereka memasang tameng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu suara tambur didalam kota Lamkhia
kedengaran masih gegap gempita, agaknya pihak Liau sedang
menghimpun tenaga lagi. Segera Akut berseru kepada anak
buahnya, "Wahai kawan-kawan, dengarkanlah! Anjing Cidan
itu rupanya bersiap-siap akan keluar lagi dari lubang
anjingnya, hayo kita bersiap untuk membunuhnya dengan
sepuas-puasnya!
Orang-orang Nuchen itu berteriak senang sebagai suara
ribuan binatang yang mengaum secara serentak.
Diam-diam Siau Hong menjadi kuatir. Kalau peperangan ini
sampai berlangsung, maka korban yang akan jatuh dari kedua
pihak tentu tidaklah sedikit. Cepat katanya: "Saudaraku yang
baik, kedatanganmu ini adalah untuk menolong aku dan
sekarang aku sudah lolos dari bahaya, buat apa mesti
bertempur lagi dengan orang. Sudah lama sekali kita tidak
berjumpa, marilah kita mencari suatu tempat yang aman dan
tenang untuk bicara dan minum sepuas-puasnya.
”Benar juga, marilah kita berangkat,” sahut Akut.
Tapi mendadak pintu gerbang kota terpentang, sepasukan
tentara Liau berkuda dan berpakaian lapis baja telah
menerjang keluar. Akut mencaci-maki. Ia pentang busur dan
memanah, kontan muka seorang perwira yang berada paling
depan itu terguling dari kudanya.
Orang-orang Nuchen yang lain beramai-ramai juga
melepaskan panah, yang mereka arah selalu bagian muka.
Dasar ilmu memanah orang-orang Nuchen itu memang
pandai, ujung panah berbisa pula, maka sasarannya yang
terkena panah itu tanpa bersuara sama sekali seketika
terjungkal dan binasa.
Hanya dalam sekejap saja didepan pintu gerbang kota
sudah bergelimpangan beberapa ratus mayat bercampur kuda
tumpuk menumpuk sehingga menyumbat pintu gerbang itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perajurit Liau yang lain menjadi ketakutan dan cepat-cepat
menutup pintu dan tidak berani mengejar lagi.
Dengan memimpin anak buahnya Wanyan Akut masih terus
mondar-mandir dibawah benteng sambil mencaci-maki dan
menantang. Sudah tentu mereka tidak mendapat jawaban.
”Marilah kita berangkat, saudaraku!” ajak Siau Hong.
Terpaksa Akut mengiakan. Tapi dia masih menuding keatas
benteng dan berteriak keras: "Dengarkan anjing-anjing Liau!
Untunglah kalian tidak mengganggu seujung rambut Toako
kami, maka bolehlah jiwa anjing kalian diampuni. Coba kalau
tidak, tentu kami meratakan bentengmu dan menumpas habis
anjing-anjing Liau kalian!”
Habis itu ia lantas mengikuti Siau Hong kearah barat. Kirakira
belasan li jauhnya, sampailah mereka diatas sebuah bukit.
Akut lantas melompat turun dari kudanya, ia ambil kantong
arak dari pelana kudanya dan diberikan kepada Siau Hong
sambil berkata, "Silakan minum arak, Toako.”
Siau Hong juga tidak menolak, ia angkat kantong arak itu
dan sekaligus ditenggaknya hingga hampir habis, lalu ia
kembalikan kepada Akut.
Sesudah Akutpun minum habis sisa arak itu, katanya
kemudian, "Toako, daripada pergi kelain tempat yang belum
tentu tujuannya, adalah lebih baik ikut bersama kami kembali
kepegunungan Tiang-pek-san, disana kita dapat berburu dan
minum arak serta hidup dengan bebas merdeka.
Tapi Siau Hong cukup kenal s ifat Yalu Hung-ki yang angkuh
dan tinggi hati, hari ini pasukan Liau telah diterjang sehingga
kocar-kacir oleh Wanyan Akut dan kawan-kawannya, bahkan
telah dicaci-maki pula olehnya, untuk semua ini Hung-ki tentu
tidak dapat menerimanya dengan mentah-mentah, tapi pasti
akan mengerahkan pasukannya untuk bertempur lagi. Meski
orang Nuchen sangat tangkas dan gagah berani, tapi jumlah
mereka hanya sedikit, memang belum diketahui akan menang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
atau kalah, tapi adalah lebih baik kalau pertempuran sengit
dapat dihindarkan.
Teringat oleh Siau Hong selama beberapa bulan tinggal di
pegunungan Tiang-pek-san dahulu, dimana selain sibuk
mengobati A Ci boleh dikata tiada punya rasa kuatir urusan
lain, lebih tiada terpikir tentang kedudukan dan kemewahan
orang hidup segala. Dan kalau untuk selanjutnya dapat hidup
bersama dengan suku Nuchen rasanya dapat juga
menghindarkan segala urusan yang mengesalkan. Maka dia
lantas menjawab, "Saudaraku, para kesatria dari Tionggoan ini
jauh-jauh datang kemari adalah karena ingin menolong aku.
Maka biarlah aku mengantar mereka ke Gan-bun-koan dulu,
habis itu aku akan kembali kesini untuk berkumpul dengan
saudaraku orang-orang Nuchen.”
”Bagus!” seru Akut dengan girang. ”Jika begitu biarkan
kutunggu saja didepan sana. Orang-orang Tionggoan itu
tampaknya sok cerewet dan besar kemungkinan bukan
manusia baik-baik, maka akupun sungkan untuk berkenalan
dengan mereka.”
Habis berkata ia lantas mohon diri dan membawa kawankawannya
menuju keutara.
Melihat datang dan perginya orang-orang Nuchen itu
sebagai angin lesus cepatnya dan sangat tangkas pula, diamdiam
para kesatria Tionggoan menganggap orang-orang
Nuchen itu lebih lihai daripada orang-orang Liau. Untung
mereka adalah kawannya Kiau-pangcu, kalau tidak tentu
urusan bisa runyam.
Dalam pada itu rombongan para kesatria itu sudah
bergabung menjadi satu, mereka ramai membicarakan
suasana pertempuran sengit diluar kota Lamkhia tadi.
Siau Hong lantas memberi hormat kepada para kesatria,
serunya, "Banyak terima kasih atas budi pertolongan kalian
yang tidak memikirkan dosa Siau Hong dahulu, sebaliknya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jauh-jauh datang kemari untuk menolong diriku, budi ini
sungguh susah dibalas selama hidupku ini.”
”Ah, mengapa Kiau-pangcu berkata demikian,” sahut Hianto
selaku pimpinan para kesatria Tionggoan yang menganggap
Siau Hong masih tetap Pangcu Kai-pang dan tetap she Kiau.
”Padahal apa yang terjadi dahulu itu hanya karena salah
paham belaka. Apalagi kita sama-sama orang Bu-lim dan
seharusnya bantu membantu bila ada kesukaran. Pula Kiaupangcu
telah rela mengorbankan kedudukan yang diagungkan
di negeri Liau demi keselamatan berjuta-juta rakyat
Tionggoan, untuk budi kebaikan inilah kami harus menyatakan
terima kasih kepada Kiau-pangcu.”
Segera Hoan Hwa juga berkata: "Para Enghiong yang
terhormat, menurut pendapatku, mungkin sekali pasukan Liau
takkan rela dengan kekalahan mereka tadi, maka mereka
masih akan datang mengejar kita. Entah apakah diantara
kawan-kawan ada yang berpendapat lain.”
Serentak banyak diantara para kesatria itu berteriak: "Bila
pasukan musuh berani mengejar, hayolah kita hajar mereka
lagi, masakah kita mesti takut.”
”Soalnya bukan takut atau tidak,” ujar Hoan Hwa, ”tapi
jumlah musuh terlalu banyak dan jumlah kita sangat sedikit,
kalau bertempur ditempat lapang begini akan tidak
menguntungkan kita. Maka menurut pendapatku adalah lebih
baik kalau kita mundur dulu kebarat, pertama jarak kita akan
lebih dekat dengan pasukan Song dan bila perlu mungkin kita
akan mendapat bantuan. Selain itu makin jauh pasukan
musuh mengejar kita tentu jumlah musuh apalagi terpencar
dan berjumlah sedikit, dengan demikian kita akan cari
kesempatan untuk menggempur kembali mereka.”
Para kesatria sama menyatakan setuju. Segera Hi-tiok
memimpin anak buah Leng-ciu-kiong sebagai barisan pertama,
menyusul adalah Toan Ki dengan jago-jago Tayli, lalu Hian-to
bersama para kesatria Tionggoan, sedang Siau Hong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memimpin anggota-anggota Kai-pang mengiringi dari
belakang.
Empat pasukan itu masing-masing berjarak satu-dua li
jauhnya, kurir berkuda kian kemari menyampaikan berita,
kalau ada musuh segera dapat saling membantu.
Sesudah menempuh perjalanan satu hari, malamnya
mereka lantas bermalam diudara terbuka, syukurlah semalam
suntuk mereka tidak diganggu oleh pasukan Liau, maka
lambat-laun rasa was-was semua orang menjadi reda.
Esok paginya mereka meneruskan perjalanan. Siau Hong
yang selalu didampingi oleh A Ci telah coba menanyai anak
dara itu, "Apakah pemuda she Yu itu masih tinggal di Lengciu-
kiong.”
Mulut A Ci yang kecil itu menjengkit, sahutnya, "Siapa yang
tahu? Tentunya juga masih disana. Kedua matanya sudah
buta, masakah dia dapat pergi dari pegunungan yang curam
itu? Nyata nadanya tetap tiada punya rasa perhatian
sedikitpun kepada Yu Goan-ci yang telah rela mengorbankan
matanya bagi anak dara itu.
Petang hari itu mereka telah sampai di Pek-lok-po, sebuah
kota dikaki gunung Ngo-tay-san, disitulah pasukan-pasukan
mereka berkemah mengaso.
Hoan Hwa memang mahir ilmu siasat dan pandai mengatur
barisan, sepanjang jalan ia telah meninggalkan berkelompokkelompok
kesatria yang tangkas untuk menjaga tempattempat
yang strategis, kalau ada jembatan lantas dihancurkan
untuk memperlambat pasukan musuh bila mengejar.
Sampai hari ketiga, tiba-tiba terlihat disebelah timur sana
asap mengepul tinggi mencakar langit. Terang itulah tanda
pasukan Liau sedang mengejar kearah mereka.
Melihat itu, para kesatria kembali berdebar-debar. Ada
diantaranya yang sok gagah dan suka bertempur seketika
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hendak memutar balik kesana untuk membantu regu-regu
yang ditinggalkan Hoan Hwa itu, tapi mereka keburu dicegah
oleh Hian-to dan Hoan Hwa.
Malam itu rombongan-rombongan mereka bermalam
dilereng sebuah gunung. Sampai tengah malam mendadak
mereka dikejutkan oleh suara teriakan kaget orang. Seketika
para kesatria terjaga bangun terus menyiapkan senjata
masing-masing.
Ternyata disebelah utara sana merah membara, entah
benda apa yang sedang terbakar sehingga berwujut lautan api
sehebat itu.
Siau Hong saling pandang sekejap dengan Hoan Hwa,
diam-diam kedua orang sama-sama merasakan alamat yang
tidak enak.
”Siau-taiong, menurut pandanganmu, bukankah ini
pertanda pasukan Liau sedang memutar dari jurusan sana
untuk menyerang kemari?” tanya Hoan Hwa.
”Raja Liau memang sudah bertekad akan menyerang Song
dan sedang mengerahkan pasukannya secara besar-besaran,
boleh jadi ini adalah pasukannya dari bagian utara,” sahut
Siau Hong.
”Ai, kebakaran besar itu entah telah banyak mengambil
korban harta benda dan jiwa rakyat jelata yang tak berdosa!”
kata Hoan Hwa dengan menghela napas.
Siau Hong tidak mau mengucapkan kata-kata jelek bagi
alamatnya Yalu Hungki yang masih dianggapnya sebagai
kakak-angkat, tapi dia cukup kenal watak raja Liau itu, karena
telah mengalami kekalahan dibawah serangan orang-orang
Nuchen, tentu Hung-ki merasa sangat penasaran sehingga
rasa dendamnya seluruhnya telah dilampiaskan atas diri rakyat
jelata yang tidak bersalah. Tentu pasukan yang dikerahkan ini
tidak kenal ampun lagi, asal ketemu orang tentu dibunuh dan
kalau melihat rumah pasti dibakarnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Api yang berkobar-kobar dengan hebat itu sampai fajar
sudah menyingsing masih belum juga padam, sampai sore
harinya, kembali disebelah selatan kelihatan api menyala-nyala
pula. Dibawah sinar matahari cahaya api tidak begitu jelas,
tapi asap tebal tertampak mengepul tebal menembus awan.
Sebenarnya Hian-to memimpin kawan-kawannya berjalan
didepan, ketika melihat kebakaran disebelah selatan itu,
segera ia menghentikan kudanya dan menunggu ditepi jalan.
Sesudah Siau Hong mendekat, lalu ia bertanya: "Kiau Pangcu,
pasukan Liau telah mengepung kita dari tiga jurusan, menurut
pandanganmu apakah Gan-bun-koan dapat dipertahankan?
Aku sudah mengirim orang untuk menyampaikan berita kilat
ke Gan-bun-koan, cuma saja panglima penjaga benteng itu
mungkin terlalu pengecut dan tiada punya semangat tempur,
boleh jadi sulit untuk menahan serbuan pasukan berkuda
orang Cidan.
Siau Hong terdiam, ia merasa susah untuk menjawab.
Lalu Hian-to berkata pula: "Tampaknya hanya orang
Nuchen saja yang dapat menghadapi ketangkasan orang
Cidan. Kelak bila kerajaan Song kita berserikat dengan orang
Nuchen, dengan digencet dari utara dan selatan mungkin akan
dapat memaksa bangsa Cidan berpikir dua kali dan tidak
berani sembarangan menyerbu keselatan.
Siau Hong tahu maksud paderi Siau-lim-si itu adalah ingin
dirinya berusaha menghubungi pemimpin suku bangsa
Nuchen, yaitu Wanyan Akut. Tapi demi teringat dirinya
sesungguhnya adalah orang Cidan, mana boleh bersekongkol
dengan bangsa lain untuk menyerang bangsa dan tanah
airnya sendiri.”
Untuk membelokkan pokok pembicaraan maka mendadak
ia bertanya, "Hian-to Taysu, apakah ayahku baik-baik saja
berada didalam kuil agung kalian.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hian-to tertegun, jawabnya: "Ayah Kiau-pangcu sudah
masuk kedalam lingkungan Budha dan menyucikan diri
diruang belakang Siau-lim-si, keberangkatan kami ke Lamkhia
kali ini tidak diberitahukan kepada ayahmu supaya tidak
merisaukan perasaannya.”
"Sungguh aku ingin pergi menemui beliau untuk
menanyakan sesuatu padanya,” kata Siau Hong.
"O,” Hian-to tidak bersuara lebih lanjut.
"Aku ingin tanya kepada beliau, Jikalau pasukan Liau
menyerang Siau-lim-si, lantas tindakan apa yang akan
dilakukan oleh beliau?” kata Siau Hong.
"Sudah tentu beliau akan berbangkit untuk menumpas
musuh, membela agama dan menyelamatkan kuil, apa yang
perlu diragukan lagi?” ujar Hian-to.
"Akan tetapi ayah adalah orang Cidan, apakah dia mau
disuruh membela orang Han untuk membunuh bangsanya
sendiri.”
Hian-to merenung sejenak, katanya kemudian, "Pangcu
ternyata benar-benar orang Cidan yang telah meninggalkan
kegelapan dan menuju kejalan yang terang, sungguh harus
diberi hormat dan mengagumkan.”
"Taisu adalah orang Han dan selalu anggap Han adalah
pihak yang terang dan pihak Cidan adalah pihak yang gelap.
Sebaliknya bangsa Cidan kami memandang kerajaan Liau yang
jaya adalah pihak yang terang dan kerajaan Song adalah pihak
yang gelap. Padahal leluhur dari bangsa kami telah banyak
menderita, kami diuber-uber dan dibunuh oleh suku bangsa
Sianbi dan lain-lain sehingga terpaksa berlari kian kemari
untuk menyelamatkan diri, betapa sengsaranya sungguh
susah dilukiskan. Ketika kerajaan Tong negeri kalian, karena
ilmu silat bangsa Han kalian telah berkembang dengan hebat,
karena itu tidak sedikit pula kesatria-satria bangsa Cidan kami
menjadi korban lagi dan banyak sekali kaum wanita kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diculik dan ditawan. Sekarang ilmu silat bangsa Han kalian
sudah banyak mundur, maka berbalik bangsa Cidan kami yang
akan membunuh kalian. Jika bunuh membunuh secara bergilir
ini berlangsung terus, bilakah baru akan berakhir.”
Hian-to menghela napas, katanya, "Hanya kalau segenap
raja-raja dan penguasa-penguasa didunia ini sudah memeluk
agama Budha yang mengutamakan welas asih kepada
sesamanya, dengan demikian barulah didunia ini takkan ada
peperangan dan saling bunuh membunuh.”
"Ya, entah bilakah baru akan tiba saat aman dan damai
bagi dunia ini.” sahut Siau Hong.
Begitulah rombongan mereka terus menuju kebarat.
Mereka melihat di jurusan-jurusan timur, utara dan selatan
rupanya siang dan malam pasukan Liau terus main bunuh dan
bakar dimana mereka tiba. Dengan gusar para pahlawan
mencaci-maki kekejaman musuh dan bertekad akan melabrak
pasukan musuh dengan mati-matian.
”Pasukan Liau semakin dekat, akhirnya kita tentu tiada
jalan mundur lagi,” demikian ujar Hoan Hwa. ”Menurut
pendapatku ada lebih baik kita pencarkan diri saja agar musuh
merasa bingung kemana harus mengejar kita.”
”Cara demikian bukankah berarti kita telah mengaku
kalah?” seru Go-tianglo dari Kai-pang. ”Hoan-suma, jangan
engkau membesarkan kekuatan musuh dan menilai rendah
tenaga kita sendiri. Pendek kata, apakah akan menang atau
kalah, kita harus melabrak habis-habisan anjing-anjing Liau
itu.
Bicara sampai disini, tiba-tiba terdengar suara mendesing,
sebatang anak panah menyambar dari arah tenggara sana dan
kontan seorang murid berkantong lima dari Kai-pang roboh
terpanah, menyusul dari balik bukit sana sepasukan Liau
lantas menerjang tiba sambil berteriak-teriak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Rupanya pasukan Liau ini telah menyusul mereka dengan
memotong jalan, jumlah pasukan ini kira-kira ada 500 orang.
”Serbu!” teriak Go-tianglo dan segera mendahului
menerjang musuh.
Memangnya para pahlawan sudah menahan gusar dan
dendam sejak tadi, kini mereka dapat melampiaskan perasaan
mereka, segera mereka menyerbu dengan gagah berani.
Karena jumlah dipihak pahlawan-pahlawan ini lebih besar
daripada pasukan Liau, ilmu silat mereka tinggi-tinggi pula,
maka ditengah suara teriakan riuh ramai perajurit-perajurit
Liau telah dilabrak hingga kocar-kacir, bagaikan membacok
semangka dan memotong sayur cepatnya, hanya sekejap saja
500-an perajurit Liau itu telah disapu bersih oleh para
pahlawan.
Ada belasan orang Bu-su Cidan sempat mendaki bukit dan
hendak melarikan diri tapi merekapun tersusul oleh jago-jago
silat Tionggoan yang tinggi Ginkangnya dan terbunuh habis
pula.
Setelah menangkan peperangan ini, para pahlawan sama
bersorak gembira, semangat mereka menyala-nyala lebih
hebat.
Tapi diam-diam Hoan Hwa berkata kepada Hian-to, Hi-tiok,
Toan Ki dan beberapa pimpinan lain, "Yang kita basmi ini
hanya suatu pasukan Liau yang kecil, sesudah terjadi kontak
ini, pasukan Liau yang lebih kuat tentu akan membanjir tiba.
Marilah kita lekas mundur pula kebarat!”
Baru selesai ia bicara, mendadak terdengar suara gemuruh
disebelah timur sana. Waktu para pahlawan memandang
kearah sana, tertampaklah debu mengepul tinggi hingga mirip
awan mendung yang menutupi langit.
Seketika para kesatria hanya saling pandang belaka,
keadaan menjadi sunyi senyap, hanya terdengar suara riuh
gemuruh itu tambah menggelegar dari jauh. Terang itulah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pasukan induk Liau yang serentak dilarikan untuk menerjang
kemari. Dari suaranya ini entah berapa ratus ribu jumlahnya.
Para kesatria sudah banyak mengalami pertarungan sengit
didunia Kangouw, tapi suara gemuruhnya pasukan besar
dilarikan seperti sekarang ini sungguh tidak pernah didengar
mereka. Dibandingkan dengan perang diluar kota Lamkhia,
terang kekuatan pasukan Liau sekarang jauh lebih hebat dan
susah ditaksir. Menghadapi suasana medan perang sedemikian
ini tanpa merasa hati para kesatria menjadi berdebar-debar
dan kebat-kebit.
Segera Hoan Hwa berseru, "Saudara-saudara sekalian,
kekuatan musuh teramat besar, daripada mati konyol
percuma, biarlah kita menghindari untuk sementara, asal
gunung tetap menghijau, tak perlu kuatir tiada kayu bakar.
Marilah kita mengundurkan diri untuk mencari kesempatan
buat menggempur kembali.”
Segera para kesatria melarikan kuda mereka kearah barat
dengan cepat. Mereka mendengar suara riuh gemuruh masih
terus menggelegar dibelakang mereka tak berhenti-henti.
Semalam suntuk mereka tidak mengaso, menjelang fajar
mereka sudah dekat dengan Gan-bun-koan. Para kesatria
mengeprak kuda mereka lebih cepat. Mereka berharap asal
dapat melintasi benteng itu, tentu pasukan Liau tidak mudah
akan membobol benteng pertahanan yang merupakan
perbatasan kedua negeri itu.
Sepanjang jalan ternyata tidak sedikit kuda-kuda para
kesatria binasa keletihan. Maka ada yang terpaksa berlari
dengan Ginkang, ada yang dua orang menunggang satu kuda.
Waktu terang tanah, jarak mereka dengan Gan-bun-koan
hanya tinggal belasan li saja, maka legalah para kesatria.
Mereka lantas melompat turun dari atas kuda, dengan
berjalan kaki mereka memberi kesempatan kepada kuda
mereka untuk melepaskan lelah. Sebaliknya suara riuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gemuruh berlarinya pasukan besar Liau dibelakang mereka
tidaklah berkurang, bahkan bertambah hebat.
Siau Hong menurun kesebelah bukit sana. Tiba-tiba
dilihatnya sepotong batu karang besar. Hatinya terkesiap.
Teringat olehnya inilah tempatnya dimana dahulu Hian-cu dan
Ong-pangcu memimpin para kesatria Tionggoan menyergap
ayahnya dan membunuh ibunya.
Waktu menoleh, dilihatnya didinding karang sana masih
jelas penuh bekas tatahan senjata. Terang itulah bekas
tempat tulisan yang ditinggalkan ayahnya yang kemudian
telah dihapus oleh Hian-cu.
Pelahan-lahan Siau Hong berpaling pula, tertampaklah
disebelah dinding karang itu ada sebatang pohon, telinganya
seakan-akan masih mendengar suara A Cu yang dahulu
sembunyi dibalik pohon itu, "Kiau-toaya, jangan engkau
memukul lagi, nanti bukit ini akan hancur kena hantamanmu.”
Ia termangu-mangu sejenak, tiba-tiba ucapan A Cu yang
lemah lembut dengan jelas bergema pula dalam benaknya,
"Sudah lima hari lima malam kunantikan engkau disini,
kukuatir engkau takkan datang. Tapi. akhirnya engkau toh
datang juga. Banyak terima kasih kepada Thian yang maha
murah hati, akhirnya engkau telah datang dengan selamat.”
Tanpa merasa air mata Siau Hong bercucuran, ia
mendekati pohon itu dan meraba-raba batang pohon, ia
melihat pohon itu sudah jauh lebih tinggi daripada waktu
pertemuannya dengan A Cu dahulu. Sungguh tak terkatakan
rasa duka hati Siau Hong, ia lupa kepada segala apa yang
sedang terjadi disekitarnya pada saat itu.
Sekonyong-konyong terdengar teriakan melengking
seorang, "Cihu, lekas lari, lekas mundur!” Menyusul A Ci telah
mendekatinya dan menarik-narik lengan bajunya.
Waktu Siau Hong mengangkat kepalanya, ia melihat dari
jurusan-jurusan timur, utara dan selatan telah membanjir
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pasukan Liau dengan tombak-tombak teracung keatas sebagai
hutan bambu. Nyata pasukan Liau itu merapat dalam
pengepungan mereka.
Siau Hong mengangguk, katanya, "Baiklah, mari kita
mundur kedalam Gan-bun-koan.”
Dalam pada itu kesatria-kesatria lain sudah mendahului
sampai didepan Gan-bun-koan, tapi ketika Siau Hong dan A Ci
sampai disitu, pintu gerbang benteng pertahanan itu masih
tetap tertutup rapat, tertampak air muka para kesatria penuh
rasa mendongkol dan penasaran.
Diatas benteng kelihatan berdiri seorang perwira pasukan
Song dan sedang berkata dengan suara lantang: "Menurut
perintah Thio-ciangkun yang menjadi komandan pasukan
penjaga benteng Gan-bun-koan ini, bahwasanya bila kalian
adalah rakyat Tionggoan dan mestinya boleh masuk kedalam
benteng tapi entah diantara kalian terdapat tidak mata-mata
musuh, maka diputuskan kalian harus membuang semua
senjata yang kalian bawa untuk diperiksa satu persatu,
sesudah terang kalian adalah orang banyak, maka dengan
kebaikan hati Thio-ciangkun kalian nanti akan diperbolehkan
masuk benteng.
Seketika ributlah para kesatria demi mendengar ocehan
perwira itu. Ada yang berkata, "Sungguh tidak pantas. Kita
berlari-lari sekian jauhnya dan melawan musuh dengan
sepenuh tenaga, tapi sampai disini malah dicurigai lagi sebagai
mata-mata musuh.”
"Ya, sebabnya kita membawa senjata adalah karena ingin
membantu kawan untuk melawan pasukan Liau. Kalau senjata
kita dilucuti, cara bagaimana kita dapat berperang lagi?”
demikian kata yang lain.
Bahkan ada diantaranya yang berwatak berangasan sudah
lantas mencaci maki, "Kurangajar! Sudah berjuang matimatian
tidak mendapat pujian sebaliknya dicurigai secara tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
beralasan. Apa benar kita tidak diperbolehkan masuk kedalam
benteng atau kita beramai-ramai mesti menyerbu saja
kedalam.”
Agar urusan tidak menjadi lebih runyam, segera Hian-to
mencegah kata-kata kasar para kawan. Lalu serunya kepada
perwira tadi, "Harap sukalah memberi lapor kepada Thiociangkun
bahwa kami semuanya adalah rakyat Song yang
setia dan berjuang bagi negara. Pasukan musuh sekejap lagi
akan tiba, kalau mesti pakai memeriksa dan menggeledah
segala, mungkin akan berbahaya dan terlambat bagi
keselamatan kami.”
Rupanya perwira itupun sudah mendengar suara caci-maki
tidak puas dari para kesatria, pula dilihatnya banyak diantara
rombongan Hian-to itu aneka macam pakaiannya dan tidak
mirip dengan rakyat umumnya didaerah Tionggoan, maka
perwira itu lantas bertanya lagi, "Hwesio tua, kau bilang kalian
adalah rakyat Song yang baik-baik, tapi kulihat banyak
diantara rombongan itu tidak mirip dengan orang Tionggoan
kita? Namun demikian, ya sudahlah, aku akan memberi
kelonggaran, mereka yang benar-benar adalah rakyat Song
akan dibolehkan masuk, sebaliknya mereka yang bukan rakyat
Song kita dilarang masuk.”
Untuk sejenak para kesatria menjadi saling pandang
dengan penuh mendongkol. Hendaklah maklum bahwa anak
buahnya Toan Ki itu adalah rakyat kerajaan Tayli, sedangkan
anak buahnya Hi-tiok apalagi tak keruan, mereka adalah gadogado,
campuran dari berbagai bangsa, ada orang seek, ada
orang Se He, Turfan, Korea dan lain-lain. Kalau sekarang yang
dibolehkan masuk benteng hanya rakyat Song saja, itu berarti
sebagian besar anak buah kerajaan Tayli dan Leng-ciu-kiong
tak bisa ikut masuk kedalam.
Terpaksa Hian-to membujuk lagi, "Mohon kebijaksanaan
Ciangkun bahwa banyak diantara kawan-kawan kami ini terdiri
dari orang Tayli, Se He dan lain-lain, mereka semuanya telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membantu kita melabrak pasukan Liau, jadi mereka adalah
kawan dan bukan lawan, mengapa mesti dibeda-bedakan
tentang rakyat Song atau bukan.”
Kiranya perjalanan Toan Ki kedaerah utara kali ini telah
dirahasiakan dengan sangat rapat, ia tidak ingin diketahui
kedudukannya sebagai kepala negara Tayli untuk menjaga
kalau-kalau mendadak negerinya diserang oleh kerajaan Song
atau mungkin juga dia akan dijebak dan ditawan sebagai
sandera. Sebab itulah dalam jawaban Hian-to itu tidak
disinggung-singgung tentang didalam rombongannya terdapat
seorang tokoh maha penting itu.
Maka terdengar perwira tadi berkata dengan kurang
senang, "Gan-bun-koan adalah gerbang terpenting diwilayah
utara kerajaan Song, tempat ini merupakan kunci utama
keselamatan negara. Coba lihatlah, pasukan Liau sudah tiba
secara besar-besaran, kalau aku sembarangan membuka pintu
sehingga memberi kesempatan kepada pasukan Liau untuk
menyerbu masuk kemari, lalu siapa yang akan bertanggungjawab
atas malapetaka yang akan timbul nanti.”
Sungguh mendongkol sekali Go-tianglo, ia tidak tahan lagi,
segera ia berteriak, "Kenapa kau hanya membacot saja sejak
tadi dan tidak secepatnya membuka pintu? Kalau kau buka
sejak tadi bukankah saat ini kami sudah didalam benteng dan
takkan menimbulkan malapetaka segala.”
Perwira itu menjadi gusar, dampratnya, "Kau pengemis tua
bangka ini berani sembarangan kentut didepan tuanbesarmu?”
Dan sekali ia memberi tanda, serentak diatas
benteng muncul ribuan perajurit pemanah dengan anak panah
sudah terpasang dibusurnya serta mengincar kebawah
benteng.
”Nah, lebih baik kalian lekas mundur saja, lekas! Kalau
rewel-rewel lagi tak habis-habis sehingga mengacaukan
pikiran perajurit kami, segera akan kuperintahkan melepaskan
panah,” demikian perwira itu mengancam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hian-to menghela napas panjang dan tidak berdaya
menghadapi perwira yang kepala batu dan susah untuk diajak
bicara itu.
Saat itu para kesatria berada ditengah selat Gan-bun-koan.
Kedua sisi benteng itu adalah tebing bukit yang terjal
meninggi kelangit. Sebabnya diberi nama Gan-bun-koan atau
benteng pintu burung belibis, yaitu sebagai perumpamaan
bahwa sekalipun burung belibis jika hendak terbang keselatan
juga terpaksa mesti terbang menyusur selat bukit yang terjal
dan tinggi itu untuk melukiskan betapa berbahayanya benteng
itu.
Diantara kesatria-kesatria dan pahlawan-pahlawan itu tidak
sedikit terdapat jago silat yang memiliki Ginkang yang tinggi,
dengan mudah saja mereka dapat mendaki bukit dan melintas
kebalik gunung sana untuk menyelamatkan diri bila dikejar
musuh, tapi sebagian besar pahlawan lainnya tentu tak
terhindar dari kebinasaan dibawah senjata pasukan Liau yang
sebentar lagi akan membanjir tiba itu.
Sementara itu pasukan Liau sudah makin dekat, hanya
karena terhalang oleh keadaan pegunungan yang luar biasa
itu, maka terpaksa mereka mesti menyempitkan kepungan
mereka dari kanan dan kiri dan akhirnya terpusat menjadi satu
jurusan terus menerjang maju kedepan. Suara tambur
bergemuruh memekak telinga. Saat itu yang terdengar hanya
suara tambur perang, suara derap larinya kuda tercampur
suara gemerincingnya suara pakaian perang para perajuritnya
dan suara menderunya panji-panji tertiup angin, sebaliknya
tak terdengar sama sekali berisiknya suara manusia, dari ini
dapat dibayangkan betapa tegas dan keras disiplinnya
pasukan Liau yang kuat itu.
Begitulah sebaris demi sebaris pasukan Liau terus
mendesak maju kedepan benteng Gan-bun-koan. Sesudah
mencapai jarak kira-kira satu panahan, lalu barisan-barisan itu
berhenti. Sepanjang mata memandang, dimana-mana hanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tertampak panji-panji berkibar dan gemilapannya senjata,
entah berapa jumlahnya pasukan Liau yang datang itu.
Melihat keadaan sudah kepepet, Siau Hong merasa tidak
dapat tinggal diam lagi. Segera ia berseru lantang: "Harap
para kawan tunggu sementara ditempatnya masing-masing
dan jangan sembarangan bergerak, biarlah Cayhe bicara
sendiri dengan raja Liau. Dan tanpa peduli seruan Toan Ki dan
A Ci yang mencegah maksudnya itu, segera ia memutar
kudanya dan dilarikan cepat kearah pasukan Liau.
Siau Hong angkat kedua tangannya lurus keatas kepala
sebagai tanda dia tiada membawa sesuatu senjata. Lalu ia
berteriak sekerasnya, "Sri Baginda raja Liau yang mulia, Siau
Hong ingin bicara sedikit dengan engkau, harap engkau sudi
tampil kemuka!”
Dia bicara dengan menggunakan tenaga dalam yang kuat,
maka suaranya dapat berkumandang hingga jauh. Ratusan
ribu perajurit dan perwira Liau boleh dikata tiada satupun
yang tidak mendengarnya dengan jelas. Mau-tak-mau setiap
orang Cidan itu berubah air mukanya.
Selang agak lama, mendadak terdengar suara gemuruh
tambur dan terompet ditengah pasukan Liau, beratus ribu
perajurit Liau itu serentak menyisih kepinggir sebagai ombak
terbelah kedua sisi. Maka tertampaklah delapan buah panji
kuning emas berkibar-kibar tertiup angin dan dilarikan
kedepan oleh delapan orang kesatria penunggang kuda.
Dibelakang kedelapan panji kuning itu menyusul barisanbarisan
bersenjata tombak, golok dan kapak, pemanah dan
golok-tameng. Sesudah tampil kedepan, lalu barisan-barisan
itu memisah kedua samping. Habis itu barulah tampak belasan
jenderal dengan pakaian perang yang mentereng
mengiringkan Yalu Hung-ki maju kedepan.
Serentak perajurit-perajurit Liau bersorak-sorai: "Banswe!
Banswe! (Banswe = Hidup). Demikian bergemuruhnya suara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sorakan itu seakan-akan menggetarkan lembah pegunungan
dan memecah bumi.
Melihat perbawa musuh sedemikian hebat, keruan perajurit
Song yang menjaga Gan-bun-koan itu menjadi terpengaruh
dan keder.
Waktu Yalu Hung-ki mendadak angkat golok mestika yang
dipegangnya itu keatas, seketika suara gemuruh pasukannya
lantas berhenti, bahkan suasana menjadi sunyi senyap, kecuali
suara ringkik kuda yang terkadang terdengar, boleh dikata
tiada suara lain lagi.
Sesudah Hung-ki menurunkan kembali goloknya, tiba-tiba
ia berseru kepada Siau Hong: "Siau-taiong, Siau-hiante yang
baik, kau bilang akan membawa pasukan Liau kedalam
benteng, mengapa sampai saat ini pintu gerbang belum lagi
dibuka.”
Mendengar ucapan Yalu Hung-ki ini, segera juru-bahasa
yang berada diatas benteng lantas menterjemahkan arti
ucapan itu kepada Thiociangkun, itu panglima penjaga Ganbun-
koan.
Keruan pasukan Song diatas benteng itu lantas geger,
beramai-ramai mereka mencaci-maki dan mengutuki Siau
Hong.
Siau Hong tahu maksud ucapan Hung-ki itu sengaja hendak
mengadu-domba agar dia dicurigai oleh pasukan Song dan
tidak berani membuka pintu gerbang benteng untuk
memasukkan pahlawan-pahlawan Tionggoan itu.
Segera Siau Hong melompat turun dari kudanya, ia
melangkah maju sambil berkata, "Baginda, Siau Hong merasa
telah menghianati budi kebaikanmu sehingga Baginda sendiri
sampai maju sendiri kemedan perang, sungguh dosaku tak
terbilang besarnya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baru sekian saja dia bicara, sekonyong-konyong dua sosok
bayangan orang melayang lewat dikedua sisinya. Begitu cepat
kedua bayangan itu sebagai kilat, terus saja mereka
menerjang kearah Yalu Hung-ki. Kiranya mereka adalah Hitiok
bersama Toan Ki.
Rupanya kedua orang itu melihat gelagat tidak
menguntungkan urusan hari ini, harus berani bertindak lebih
dahulu dengan menangkap raja Liau sebagai sandera (barang
jaminan), dengan demikian barulah keselamatan orang
banyak dapat terjamin. Maka begitu saling memberi tanda,
serentak mereka menerjang maju dari kanan-kiri.
Ketika akan maju kedepan pasukan untuk menemui Siau
Hong memangnya Yalu Hung-ki juga sudah menduga
kemungkinan saudara angkat akan menggunakan tipu lama
ketika Siau Hong menawan Cho-ong dan puteranya digaris
depan waktu raja muda itu memberontak, maka sebelumnya
Hung-ki juga sudah bersiap siaga.
Benar juga, sekali ia memberi aba-aba, serentak tiga ratus
perajurit bertameng lantas merubung maju. Tiga ratus buah
tameng laksana dinding baja yang kuat telah mengadang
didepan Yalu Hung-ki. Bahkan jago tombak, jago kapak juga
serentak berbaris didepan barisan tameng itu.
Namun sekarang Hi-tiok bukan Hi-tiok jaman dulu lagi, dia
sudah memperoleh ajaran murni dari Thian-san Tong-lo dan Li
Jiu-sui, dia telah meyakinkan pula seluruh ilmu silat yang
terukir didinding Lengciu-kiong, betapa tinggi kepandaiannya
sekarang boleh dikata tiada bandingannya dan dapat
dikeluarkan sesuka hatinya menurut keadaan.
Sedangkan Toan Ki sekarang juga lain Toan Ki yang dulu,
dia sudah memperoleh antero tenaga murni Ciumoti, betapa
hebat Lwekangnya juga susah diukur. Apalagi kalau dia sudah
keluarkan langkah ajaib Leng-powi-poh, biarpun penjagaan
serapat baja juga dapat ditembusnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitulah, maka dengan menyelinap kesana dan
menerobos kesitu, dengan cepat dan gesit sekali Toan Ki telah
merangsang maju melalui perajurit-perajurit bertombak dan
berkapak, asal ada sedikit lubang saja segera diterobos
olehnya.
Para perajurit Liau itu segera menggunakan senjata mereka
untuk membacok dan menusuk, tapi perbuatan mereka itu
berbalik celaka, bukan saja luput mengenai Toan Ki,
sebaliknya karena jarak diantara mereka sendiri terlalu dekat,
sehingga hampir seluruhnya serangan mereka mengenai
kawannya sendiri.
Adapun Hi-tiok juga lantas bekerja dengan cepat, kedua
tangannya menyambar kekanan dan kekiri, asal ada perajurit
Liau kena dicengkeramnya, kontan terus dilemparkannya
keluar barisan. Sambil melempar orang ia terus mendesak
maju kearah Yalu Hung-ki.
Mendadak dua perwira Cidan menerjang maju, dua tombak
mereka menusuk berbareng kedadanya Hi-tiok. Sekonyongkonyong
Hi-tiok meloncat keatas, kedua kakinya masingmasing
menginjak diatas ujung tumbak musuh. Kedua perwira
Cidan itu membentak-bentak sambil mengayun tumbak
mereka dengan maksud hendak menjungkirkan Hi-tiok
kebawah.
Tapi dengan meminjam daya guncangan tombak-tombak
lawan, Hi-tiok terus melayang keatas udara untuk kemudian
lantas menyambar keatas kepala Yalu Hung-ki.
Jadi yang satu selicin belut dan yang lain secepat burung
terbang, tahu-tahu Toan Ki dan Hi-tiok sudah menerjang
sampai didekat raja Liau itu.
Keruan Hung-ki terkejut, cepat ia angkat golok-mestikanya
dan membacok kearah Hi-tiok yang sedang menubruk dari
atas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi dari atas Hi-tiok sudah lantas mengulurkan tangannya
dan menahan diatas golok-mestikanya, berbareng orangnya
lantas meluncur turun, dimana tangannya bergerak, dengan
cepat pergelangan tangan kanan Hung-ki sudah kena
dipegang olehnya.
Dan pada saat yang hampir sama Toan Ki juga sudah
menyelinap tiba dari rintangan perajurit-perajurit Liau dan
dapat mencengkeram tangan kiri Hung-ki.
"Ikutlah!” bentak Toan Ki dan Hi-tiok berbareng. Segera
mereka angkat tubuh Hung-ki dari atas kudanya dan
melompat kedepan untuk dibawa lari secepat terbang.
Ditengah jerit kaget dan kuatir perwira dan perajurit Liau
yang riuh ramai itu, seketika mereka menjadi bingung karena
raja mereka sudah kena ditawan musuh. Ada beberapa
pengawal pribadi Hung-ki memburu maju hendak menolong,
tapi semuanya kena ditendang mencelat oleh Hi-tiok dan Toan
Ki.
Karena berhasil menawan raja Liau, sungguh girang Hi-tiok
dan Toan Ki tak terkatakan. Mendadak mereka melihat Siau
Hong telah memapak tiba, berbareng mereka lantas berseru,
"Toako!”
Tak terduga mendadak Siau Hong menggerakkan kedua
telapak tangannya berbareng, sekaligus ia serang kedua
saudara angkat itu. Keruan Hi-tiok dan Toan Ki terkejut,
tampaknya daya pukulan Siau Hong sebagai gugur gunung
dahsyatnya dan susah dielakkan pula. Terpaksa mereka
angkat tangan masing-masing untuk menangkis. Maka
terdengarlah suara plak-plok dua kali, empat tangan beradu
dan menimbulkan angin yang menderu keras.
Kesempatan itu segera digunakan oleh Siau Hong untuk
memburu maju, ia tarik Yalu Hung-ki kearahnya.
Dalam pada itu pasukan Liau dan kesatria-kesatria
Tionggoan juga telah membanjir maju dari arahnya masingTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
masing, yang satu pihak ingin merebut kembali raja mereka
dan pihak lain ingin membantu Siau Hong, Hi-tiok dan Toan
Ki.
Sudah tentu siapapun tidak menduga bahwa mendadak
Siau Hong telah mengadu pukulan dengan kedua saudaraangkatnya.
Karena itulah orang-orang kedua pihak sama-sama
tercengang.
Segera terdengar Siau Hong berseru lantang, "Jangan
bergerak, siapapun jangan bergerak, dengarkan dulu, aku
ingin bicara dengan raja Liau!”
Serentak pasukan Liau dan kesatria-kesatria Tionggoan
berhenti di tempatnya masing-masing, kedua pihak samasama
kuatir membikin susah orangnya sendiri, maka mereka
hanya berteriak-teriak saja dari jauh dan tidak berani
menerjang maju, apalagi tidak berani melepaskan panah.
Dalam pada itu Hi-tiok dan Toan Ki juga telah menyingkir
kira-kira beberapa tindak dibelakangnya Yalu Hung-ki untuk
menjaga kalau-kalau raja Liau itu lari kembali kedalam
pasukannya serta untuk merintangi bila ada jago Cidan
memburu maju hendak menolong rajanya.
Saat itu wajah Yalu Hung-ki sudah pucat pasi, pikirnya,
"Watak Siau Hong ini sangat keras, aku telah mengurung dia
didalam kerangkeng berterali besi dan menghina dia habishabisan.
Sekarang aku berbalik tertawan olehnya, tentu dia
akan membalas dendam sepuas-puasnya dan mungkin jiwaku
takkan diampuni lagi olehnya.”
Tak tersangka Siau Hong telah berkata, "Baginda, kedua
orang ini adalah saudara-angkatku, mereka takkan membikin
susah padamu, jangan kau kuatir.”
Hung-ki mendengus sekali dan tidak menjawab, ia menoleh
memandang sekejap kepada Hi-tiok, lalu memandang sekejap
pula pada Toan Ki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jiteku ini bernama Hi-tiok-cu, adalah majikan dari Lengciu-
kiong, dan Samte ini adalah Toan-kongcu dari kerajaan
Tayli,” demikian Siau Hong memperkenalkan. "Nama-nama
mereka juga pernah hamba ceritakan kepada Sri Baginda.”
”Ya, ternyata tidak bernama kosong, benar-benar sangat
hebat!” sahut Hung-ki sambil manggut-manggut.
”Kami akan segera melepaskan Sri Baginda kembali ke
pasukanmu, cuma kami ingin mohon sesuatu dari Baginda,”
kata Siau Hong pula.
Hung-ki hampir-hampir tidak percaya kepada telinganya
sendiri. Pikirnya, "Didunia ini masakah ada urusan sedemikian
enaknya? Ah, ya, tahulah aku, mungkin Siau Hong sudah
berbalik pikiran dan akan kembali padaku, maka ia akan
mohon aku menganugrahi mereka bertiga dengan pangkat
yang tinggi.”
Maka dengan muka tersenyum simpul ia menjawab, "Kalian
ada permohonan apa, sudah tentu aku akan memenuhi
dengan baik.”
"Baginda sekarang telah menjadi tawanan kedua saudaraangkatku
ini,” kata Siau Hong. ”Menurut peraturan bangsa
Cidan kita, untuk bisa bebas Sri Baginda harus memberi
tebusan dengan sesuatu.”
Seketika Hung-ki mengerut kening. "Apa yang kalian
kehendaki?” tanyanya.
"Maafkan kelancangan hamba yang telah mewakilkan
kedua saudara-angkatku untuk bicara dengan terus terang,
yang kami inginkan hanya suatu janji Baginda saja,” sahut
Siau Hong.
Kerut kening Hung-ki semakin rapat. ”Soal apa?” tanyanya
pula.
"Kami hanya mohon Baginda suka berjanji akan segera
menarik mundur pasukanmu dan untuk selama hidup Sri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baginda akan melarang setiap perajurit Liau mendekati
perbatasan wilayah antara kedua negeri Liau dan Song.”
Toan Ki sangat girang mendengar syarat yang
dikemukakan oleh Siau Hong itu. Pikirnya, "Asal pasukan Liau
tidak melintasi wilayah perbatasannya dengan Song dan
dengan sendirinya juga tak dapat mengancam negeri Tayli
kami.”
Karena itu, cepat iapun berseru: "Ya, betul, asal kau mau
berjanji dan segera kami akan melepaskan kau.”
Tapi lantas teringat olehnya bahwa tertawannya raja Liau
itu sebagian juga berkat tenaga sang Jiko dan entah
bagaimana pendapatnya tentang syarat yang dikemukakan
Siau Hong itu. Maka ia lantas bertanya kepada Hitiok, ”Jiko,
tebusan apa yang kau inginkan dari raja Cidan ini.”
Hi-tiok menggeleng kepala, sahutnya: "Akupun
mengharapkan janjinya itu saja.”
Air muka Hung-ki tampak bersengut, katanya, "Hm, kalian
berani memaksa dan mengancam diriku? Dan bagaimana
kalau aku menolak permintaanmu.”
”Jika begitu, tiada jalan lain, terpaksa gugur bersama,” kata
Siau Hong. ”Dahulu waktu kita mengangkat-saudara kita juga
pernah bersumpah untuk hidup dan mati bersama.”
Hung-ki tertegun. Pikirnya, "Siau Hong ini adalah seorang
nekat yang tidak kenal apa artinya takut. Dia berani berkata
dan berani berbuat, apa yang sudah diucapkan selamanya
dipegang teguh. Kalau aku menolak permintaannya, janganjangan
dia benar-benar menyerang diriku, sungguh celaka jika
aku mesti binasa ditangan seorang nekat sebagai dia ini.”
Karena itulah mendadak ia bergelak tertawa dan berseru
dengan lantang, "Dengan jiwaku Yalu Hung-ki ini dapat
menyelamatkan berjuta-juta jiwa dari rakyat kedua negara,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
haha, saudaraku yang baik, apa kau pandang jiwaku
sedemikian tinggi nilainya.”
”Sri Baginda adalah orang yang diagungkan dinegeri Liau,
diseluruh jagat ini masakah ada orang lain yang lebih tinggi
nilainya daripada Baginda?” sahut Siau Hong.
Kembali Hung-ki tertawa, katanya, "Jika demikian, dahulu
orang Nuchen hanya minta tebusan padaku sebanyak 30
kereta emas, 300 kereta perak dan 3000 ekor kuda, penilaian
mereka sesungguhnya terlalu dangkal, bukan.”
Siau Hong membungkuk tubuh kepada kakak-angkat itu
dan tidak menjawab lagi.
Hung-ki coba menoleh kebelakang, tertampak jago
pengawalnya yang paling dekat juga lebih dari puluhan meter
jauhnya, betapapun pasti susah untuk menolong dirinya.
Mengingat jiwanya yang lebih berharga daripada segala benda
apapun didunia ini, terpaksa Yalu Hung-ki menerima syarat
yang diajukan Siau Hong. Segera ia mengeluarkan sebatang
anak panah, ia angkat keatas, sekali tekuk, krak, patahlah
anak panah itu terus dibuangnya keatas tanah sambil berkata:
"Kuterima syaratmu!”
”Banyak terima kasih, Baginda,” kata Siau Hong.
Segera Hung-ki memutar tubuh dan hendak melangkah
pergi, tapi tertampak olehnya Hi-tiok dan Toan Ki masih
mengawasi dirinya dengan sorot mata berapi-api dan tiada
tanda-tanda mau memberi jalan padanya. Terpaksa ia
menoleh lagi memandang kepada Siau Hong, dilihatnya Siau
Hong juga diam saja. Maka tahulah Hung-ki apa maksud
mereka, terang mereka masih kuatir kalau-kalau dirinya
mengingkar janji hanya dengan ucapannya tadi.
Hung-ki lantas melolos golok-mestikanya dan diangkat
tinggi keatas, lalu serunya keras-keras,: "Wahai, dengarkanlah
para perajurit dan perwira Liau!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Serentak terdengar tambur perang ditengah pasukan Liau
bergemuruh ditabuh, lalu berhenti seketika.
Kemudian Yalu Hung-ki berseru pula, "Sekarang juga
kuperintahkan menghentikan peperangan ini, negeri Song dan
Liau adalah negeri bersaudara, maka hari ini juga pasukan kita
lantas ditarik mundur. Untuk selama hidupku ini aku melarang
setiap perajurit Liau melintasi perbatasan.” Habis berkata,
ketika golok-mestikanya diturunkan, kembali tambur
bergemuruh ditabuh lagi.
Dan baru sekarang Siau Hong membuka suara, "Dengan
hormat silakan Sri Baginda kembali ke pasukan!”
Hi-tiok dan Toan Ki segera menyingkir kesamping dan
memutar kebelakangnya Siau Hong.
Hung-ki merasa girang dan malu pula. Meski ia ingin
secepatnya meninggalkan tempat berbahaya itu, tapi iapun
tidak sudi mempertontonkan kelemahannya didepan Siau
Hong dan pasukan kedua pihak, maka ia berlaku tenang
sedapat mungkin dan melangkah kembali kepihak pasukannya
dengan pelahan-lahan.
Segera berpuluh pengawal pribadinya melarikan kuda
mereka memapak maju. Semula langkah Hung-ki masih
pelahan, tapi tanpa merasa jalannya makin lama makin cepat,
sehingga akhirnya kedua kakinya terasa lemas seakan-akan
jatuh, jalannya menjadi terhuyung-huyung, kedua tangannya
bergemetar dan keringat memenuhi dahinya.
Ketika para pengawalnya sampai didepannya dan
membawakan kuda tunggangannya, namun sekujur badan
Hung-ki sudah lemas semua rasanya, biarpun sebelah kakinya
sudah menginjak pelana, tapi tidak kuat mencemplak keatas
kudanya.
Cepat dua pengawalnya menahan bahunya dan
mengangkatnya keatas, dengan demikian barulah Hung-ki
dapat naik keatas kudanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat raja mereka telah kembali dengan selamat,
serentak para perajurit Liau bersorak-sorak lagi riuh rendah.
Dalam pada itu demi mendengar raja Liau memberi
perintah kepada pasukannya untuk mundur dan menyatakan
selama hidupnya akan melarang setiap perajurit Liau
melanggar perbatasan kedua negeri, maka baik tentera Song
diatas benteng maupun para kesatria diluar benteng juga
serentak bersorak gembira.
Semua orang cukup kenal sifat orang Cidan yang kejam
dan suka membunuh, tapi selamanya dapat pegang janji,
apalagi sekarang raja Liau sendiri yang mengumumkan
janjinya didepan pasukan kedua pihak, kalau kelak
mengingkar janji, tentu diapun akan dipandang hina oleh
rakyatnya sendiri dan tahta kerajaannya mungkin akan
guncang.
Begitulah dengan wajah guram Yalu Hung-ki merasa malu
benar-benar karena telah memberikan janji sebesar itu
dibawah ancaman Siau Hong. Peristiwa ini benar-benar sangat
menurunkan perbawanya dan memerosotkan pamor kerajaan
Liau. Tapi dari suara sorak-sorai sambutan pasukannya dapat
dirasakan pula bahwa apa yang sudah terjadi itu ternyata
tidak mengurangi dukungan para perajurit dan perwiranya
kepadanya. Ketika ia memandang para perajuritnya,
tertampak wajah setiap orang bercahaya dan berseri-seri.
Rupanya para perajurit itu demi mendengar pasukan
mereka segera akan ditarik mundur sehingga terhindar dari
kemungkinan mati dimedan perang dan tidak lama lagi akan
dapat berkumpul kembali dengan sanak keluarganya, maka
mereka menjadi kegirangan.
Maklum, sekalipun orang Cidan gagah berani, tapi s iapapun
tak dapat menjamin akan mati-hidup setiap orang dimedan
perang. Maka demi mendengar mereka akan terhindar dari
bencana perang, dengan sendirinya mereka sangat senang,
terkecuali beberapa perwira diantaranya yang mengimpikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan mengeduk keuntungan dan naik pangkat dalam
peperangan itu.
Diam-diam Hung-ki terkesiap, "Kiranya semangat perajuritprajuritku
juga sudah bosan perang, kalau aku berkeras
mengerahkan mereka menyerbu keselatan, bukan mustahil
akupun akan menderita kekalahan. Lalu teringat pula olehnya:
"Orang-orang Nuchen itu benar-benar sangat kurangajar,
mereka selalu merupakan ancaman dibelakang punggungku,
maka aku harus menumpas dulu manusia-manusia biadab itu.”
Segera ia mengacungkan golok-mestikanya keatas dan
berseru: "Harap Pak-ih Tai-ong memberi perintah, barisan
belakang segera berubah menjadi barisan muka, kita langsung
pulang ke Lamkhia!”
Serentak genderang berbunyi lagi dan meneruskan titah
raja itu. Maka terdengarlah suara sorak-sorai gegap gempita
yang makin menjauh dan makin menjauh.
Ketika Yalu Hung-ki berpaling, ia melihat Siau Hong masih
berdiri ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun, sorot matanya
tampak cemas.
Hung-ki tertawa dingin dan berseru, "Siau-taiong, kau telah
berjasa besar bagi kerajaan Song, terang hadiah besar dan
kedudukan tinggi sedang menantikan dirimu dalam waktu
singkat.”
”Sri Baginda,” mendadak Siau Hong menjawab dengan
suara keras. "Sekali Siau Hong adalah bangsa Cidan maka
untuk selamanya juga tetap bangsa Cidan. Hari ini hamba
telah memaksakan kehendak atas Baginda sehingga menjadi
seorang Cidan yang maha berdosa, untuk selanjutnya apakah
Siau Hong masih ada muka untuk hidup didunia ini!”
Sekonyong-konyong ia jemput kedua potong panah patah
yang dibuang Hung-ki tadi, sekali tenaga dalam dikerahkan,
crat-crat, mendadak ia tikam ulu hati sendiri dengan kedua
potong panah patah itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hung-ki menjerit kaget dan segera memutar kudanya dan
dilarikan beberapa tindak, tapi lantas menghentikan kudanya
lagi.
Kejut Hi-tiok dan Toan Ki tak terkatakan, berbareng mereka
melompat maju sambil berteriak: "Toako! Toako!”
Namun kedua potong panah patah itu dengan tepat telah
menancap di ulu hati Siau Hong. Kedua mata sang Toako
tertampak terpejam rapat, nyata orangnya sudah meninggal.
Cepat Hi-tiok merobek baju sang Toako dengan maksud
hendak memberi pertolongan kilat. Namun luka Siau Hong
teramat parah, dengan tepat ulu hatinya tertembus kedua
potong panah patah, terang susah untuk dihidupkan lagi.
Terlihat diatas dada sang Toako sebuah kepala serigala yang
menyeringai bertaring dan sangat buas tampaknya.
Hi-tiok dan Toan Ki menangis sedih dan memberi hormat
terakhir kepada sang Toako. Beramai-ramai anggota Kai-pang
juga berkerumun maju untuk memberi hormat.
”Kiau-pangcu,” seru Go-tianglo sambil memukul-mukul
dadanya sendiri, meski engkau adalah orang Cidan, tapi jauh
lebih gagah dan lebih kesatria daripada orang-orang Han yang
tak berguna sebagai kami ini!”
Para kesatria Tionggoan beramai-ramai juga mengerumuni
pahlawan pembela perdamaian itu dan ramai
mempercakapkannya. Ada yang bertanya: "Kiau-pangcu
ternyata benar adalah orang Cidan? Jika demikian mengapa
dia malah membela pihak Song kita.”
”Ya, tampaknya ditengah bangsa Cidan juga terdapat kaum
kesatria dan pahlawan,” demikian kata seorang lain.
”Sejak kecil dia dibesarkan ditengah-tengah bangsa Han
kita, sehingga dapat menteladani budi luhur bangsa kita,”
sambung yang lain lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Kalau kedua negara sudah berdamai dan dia sudah
menjadi juru penyelamat rakyat kedua pihak, mestinya dia toh
tidak perlu membunuh diri,” demikian pendapat yang lain.
”Kau tahu apa?” ujar kawannya. ”Meski dia berjasa bagi
kerajaan Song, tapi dia telah dipandang sebagai penghianat
dinegerinya sendiri. Jadi dia membunuh diri karena takut atas
dosanya sendiri.”
”Takut dosa apa? Kesatria besar sebagai Kiau-pangcu
masakah perlu merasa takut?” tukas kawannya tadi.
Sebaliknya Yalu Hung-ki menjadi bingung sendiri demi
menyaksikan Siau Hong telah membunuh diri. Pikirnya, "Dia
sebenarnya berjasa bagi kerajaan Liau atau berdosa? Dengan
susah payah dia telah mencegah aku menyerang wilayah
Song, sebenarnya dia berjuang bagi orang Han atau bagi
bangsa Cidan? Sejak dia mengangkat-saudara dengan aku,
selamanya dia sangat setia padaku. Hari ini dia telah
membunuh diri didepan Gan-bun-koan, tampaknya bukan
maksudnya karena kemaruk kepada kedudukan di negeri Song
sana, habis ... habis apa sebabnya.”
Maka berderaplah beratus ribu telapak kaki kuda menuju
keutara, para perwira Cidan berulang-ulang masih menoleh
kebelakang untuk memandang tubuh Siau Hong yang
menggeletak diatas tanah dan sudah tak bernyawa itu.
Terdengar pula suara berkaoknya burung, serombongan
burung belibis sedang terbang dari utara lewat diatas kepala
pasukan tentara dan menuju keselatan melintasi benteng Ganbun-
koan.
Makin lama makin menjauh suara gemuruh derap pasukan
Liau itu. Hitiok, Toan Ki dan lain-lain masih berdiri termangumangu
disamping jenazah Siau Hong, ada yang menangis
tergerung-gerung, ada yang cuma mencucurkan air mata
dengan kepala menunduk.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba terdengar jerit lengking seorang wanita muda,
"Minggir! Minggir! Semuanya minggir! Kalian sudah
menyebabkan kematian Cihuku, tapi masih pura-pura
menangis apa segala disini, apa gunanya.”
Sambil berkata wanita muda itu sembari mendorongdorong
minggir orang banyak yang berkerumun disekitar
jenazah Siau Hong. Siapa lagi dia kalau bukan A Ci.
Hi-tiok dan lain-lain sudah tentu tidak pikirkan ucapan anak
dara yang sebenarnya menyinggung perasaan itu, maka
mereka lantas sama menyingkir memberi jalan kepada A Ci.
Untuk sejenak A Ci termangu-mangu memandang jenazah
Siau Hong, kemudian ia berkata dengan suara halus, "Cihu,
orang-orang ini semuanya orang busuk, kau jangan gubris
pada mereka, hanya A Ci saja yang benar-benar berlaku baik
kepadamu.”
Habis berkata ia terus berjongkok untuk memondong
jenazah Siau Hong. Tapi tubuh Siau Hong sangat tinggi dan
besar, separo badannya terpondong, tapi kedua kakinya tetap
terseret diatas tanah.
A Ci berkata pula, "Cihu, aku tahu sekarang kau baru
menurut padaku, biarpun kupondong dirimu juga, kau tak
mendorong pergi aku lagi. Ya, harus beginilah memangnya!”
Hi-tiok dan Toan Ki saling pandang sekejap, pikir mereka,
"Agaknya dia terlalu berduka sehingga pikirannya berubah
kurang waras.
Lalu Toan Ki coba menghiburnya dengan suara halus,
"Adikku, secara kesatria Siau-toako telah gugur, orang
meninggal toh tak dapat hidup kembali, hendaklah kau ... kau
...”
Tapi A Ci lantas mendorong minggir sambil membentak,
"Jangan kau merebut Cihuku, dia adalah milikku, siapapun
tidak boleh menyentuhnya!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Toan Ki menoleh dan mengedipi Bok Wan-jing.
Wan-jing paham maksudnya dan segera mendekati A Ci,
katanya dengan pelahan, "Adik kecil, Siau-toako telah wafat,
marilah kita berunding cara bagaimana sebaiknya untuk
memakamkan dia ... ”
Tak terduga mendadak A Ci menjerit tajam sehingga Bok
Wan-jing terkaget dan tersentak mundur.
”Pergi! Pergi! Enyahlah semua!” demikian seru A Ci. ”Kaum
lelaki bukan manusia baik, kaum wanitanya juga bukan orang
baik! Kau bermaksud meracuni Cihuku, kau suruh dia minum
arak sehingga tak bisa berkutik. Hm, jika kau berani mendekat
segera akan kubunuh kau lebih dulu.”
Keruan Bok Wan-jing mengerut kening dan geleng-geleng
kepala kepada Toan Ki.
Pada saat itulah tiba-tiba dilereng bukit disisi kiri benteng
Gan-bun-koan sana ada suara teriakan orang, "A Ci! A Ci! Ha,
aku sudah mendengar suaramu! Dimanakah engkau
sekarang? Dimana.”
Suara itu kedengaran sangat memilukan hati, banyak
diantara kesatria Tionggoan itu mengenal suara orang itu,
yaitu orang yang pernah menjadi Pangcu dari Kai-pang dan
memakai nama samaran sebagai Ong Sing-thian, aslinya
bernama Yu Goan-ci.
Waktu semua orang memandang kearah datangnya suara,
maka tertampaklah kedua tangan Goan-ci masing-masing
memegangi sebatang tongkat bambu, tongkat kiri dipakai
sebagai alat pencari jalan, tongkat kanan sebaliknya
menumpang diatas pundak seorang laki-laki setengah umur
dan sedang muncul dari kelokan gunung sana.
Hi-tiok dan lain-lain menjadi terheran-heran. Waktu mereka
memperhatikan si lelaki setengah umur, kiranya dia adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Oh-lotoa yang ditugaskan menjaga Leng-ciu-kiong oleh Hitiok.
Wajah Oh-lotoa tampak kurus pucat, bajunya compangcamping
dan memperlihatkan sikap yang penasaran karena
terpaksa.
Maka tahulah Hi-tiok dan lain-lain. Rupanya Oh-lotoa telah
dipaksa oleh Goan-ci yang sudah buta itu agar membawanya
pergi mencari A Ci. Bukan mustahil sepanjang jalan Oh-lotoa
telah banyak menderita siksaan Goan-ci.
”Untuk apa kau datang kesini?” demikian tiba-tiba A Ci
mendamperat dengan gusar. ”Aku tidak ingin melihat kau,
tidak ingin melihat kau lagi!”
Sebaliknya Goan-ci menjadi girang, serunya: "Ha, engkau
ternyata benar berada disini. Aku dapat mengenali suaramu,
akhirnya aku dapat menemukan dikau!” Dan ketika dia dorong
tongkatnya sedikit, tanpa kuasa lagi Oh-lotoa lantas berlari
kedepan secepat terbang.
Cepat sekali datangnya Goan-ci dan Oh-lotoa itu, hanya
dalam sekejap saja sudah sampai disamping A Ci.
Hi-tiok, Toan Ki dan lain-lain sedang dalam keadaan tak
berdaya, demi nampak datangnya Yu Goan-ci, mereka pikir
pemuda ini rela mengorbankan kedua biji matanya untuk A Ci,
dengan sendirinya mereka mempunyai hubungan yang sangat
baik, maka boleh jadi pemuda buta ini akan dapat
menyadarkan A Ci. Sebab itulah Hi-tiok dan lain-lain lantas
menyingkir beberapa tindak lebih jauh dan tidak ingin
mengganggu percakapan kedua muda-mudi itu.
Maka terdengar Goan-ci telah menyapa, "Nona A Ci,
engkau baik-baik saja bukan? Apa ada orang berani membikin
susah padamu?”Meski selebar mukanya sudah rusak, tapi dari
nada ucapannya itu terang sekali dia merasa sangat girang
dan penuh perhatiannya kepada si anak dara.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Aku telah dibikin susah oleh orang lain, apa yang hendak
kau lakukan?” sahut A Ci. ”Siapakah dia?” cepat Goan-ci
menegas. ”Lekas nona katakan padaku, biar aku akan
menghajarnya sampai mampus!”
A Ci tertawa dingin, katanya sambil menunjuk para hadirin
yang berada disekitarnya, "Itulah, mereka semuanya telah
membikin susah padaku, sekaligus boleh kau membunuh habis
mereka!”
”Baik,” sahut Goan-ci. Lalu ia bertanya kepada Oh-lo-toa:
"Hei, lau-Oh (Oh si tua), orang-orang macam apakah yang
telah berani membikin susah kepada nona A Ci itu.”
”Wah, banyak sekali jumlahnya, engkau tak sanggup
membunuh mereka,” sahut Oh-lotoa.
”Biarpun tak dapat juga akan kulakukan,” kata Goan-ci.
”Habis, siapa suruh mereka berani main gila kepada nona A
Ci.”
Tiba-tiba A Ci berkata lagi dengan gusar, "Sekarang aku
sudah berada bersama dengan Cihu, untuk selanjutnya kami
takkan berpisah lagi selamanya. Nah, lekas enyahlah kau, aku
tak ingin melihat kau pula.”
Sungguh sedih Goan-ci bukan buatan, katanya, "Ja ... jadi
engkau tak ... takkan menemui aku lagi ....”
"Ya, ya, tahulah aku, biji mataku ini adalah pemberianmu,”
seru A Ci dengan suara keras. "Cihu mengatakan aku telah
utang budi kepadamu, maka aku diharuskan melayani kau
dengan baik. Tapi aku justeru tidak suka.”
Habis berkata, mendadak tangan kanannya terus
mencongkel kedalam matanya sendiri, terus dikorek keluar biji
matanya, lalu dilemparkannya kepada Goan-ci sambil
berteriak: "Ini, kukembalikan padamu! Sejak kini aku tidak
utang apa-apa lagi padamu dan Cihu tak dapat memaksa aku
mengikuti kau pula.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Meski kedua mata Goan-ci sudah buta, tapi demi
didengarnya jerit kaget orang-orang yang berada disekitarnya,
suaranya penuh rasa kuatir dan ngeri, maka tahu juga dia apa
yang telah terjadi. Dengan suara parau ia berteriak: "O, nona
A Ci, nona A Ci!”
Tapi begitu biji mata sendiri sudah dikorek keluar, segera A
Ci memondong jenazah Siau Hong dan melangkah kedepan
sambil berkata dengan suara halus mesra, "Cihu, sekarang
kita tidak utang apa-apa lagi kepada siapapun. Dahulu aku
telah melukai kau dengan jarum berbisa, tujuanku ialah ingin
engkau selalu berdampingan dengan aku. Dan sekarang
barulah cita-citaku itu terkabul.” Sambil bicara ia terus
melangkah semakin jauh kedepan dengan memondong
jenazah Siau Hong.
Melihat darah bercucuran dari cekung matanya A Ci hingga
membasahi mukanya yang putih cantik itu, hati semua orang
merasa ngeri dan kasihan pula. Maka ketika melihat anak dara
itu berjalan mendekat semua orang lantas menyingkir
kesamping.
A Ci berjalan lurus kedepan dan pelahan-lahan sampai
ditepi jurang.
Semua orang menjadi kuatir dan segera berteriak-teriak,
"Berhenti! Awas, didepan adalah jurang yang curam!”
Bahkan Toan Ki juga terus memburu maju sambil berseru:
"Awas adikku, jang ...” Namun sudah terlambat, A Ci masih
melangkah lurus kedepan, mendadak kakinya menginjak
tempat kosong dan terjerumuslah anak dara itu bersama
jenazah Siau Hong kedalam jurang yang tak terkirakan
dalamnya itu.
Tepat pada saat itu Toan Ki juga telah memburu sampai
ditepi jurang cepat ia ulur tangannya untuk menjambret, tapi
yang kena hanya secabik kain baju adik perempuannya itu dan
orangnya tetap terjerumus kebawah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Waktu Toan Ki melongok kedalam jurang, yang tertampak
hanya awan belaka yang menutup rapat dipermukaan jurang
sehingga tidak diketahui betapa dalamnya jurang itu,
bayangan A Ci dan Siau Hong dengan sendirinya tak terlihat
sedikitpun.
Para kesatria yang berdiri ditepi jurang semuanya ikut
menghela napas gegetun, apalagi yang berilmu silat agak
rendahan menjadi ngeri membayangkan betapa dalam dan
terjalnya jurang.
Hian-to dan beberapa kawannya yang berusia lebih lanjut,
mengetahui cerita tentang dahulu Hian-cu, Ong-pangcu dan
lain-lain pernah menyergap jago-jago Cidan diluar Gan-bunkoan
dan ibunya Siau Hong justeru terkubur didasar jurang
itu. Tak terduga bahwa beberapa puluh tahun kemudian Siau
Hong dan A Ci juga terkubur pula didalam jurang itu.
Pada saat lain tiba-tiba terdengar suara genderang
berbunyi diatas benteng, perwira yang menyampaikan
perintah komandannya tadi sedang berseru pula kepada para
kesatria: "Atas perintah Thio-ciangkun, panglima militer
benteng Gan-bun-koan, bahwasanya kalian ternyata bukan
mata-mata musuh dari negeri Liau, maka kalian dapat
diijinkan masuk benteng, tapi kalian harus taat kepada
undang-undang dan berlaku sopan-santun, dilarang membikin
rusuh dan mengacaukan suasana tenteram, hendaklah kalian
maklum.”
Tapi para kesatria diluar benteng serentak menjawab
dengan mencaci-maki, ada yang berteriak, "Persetan dengan
perintah panglimamu itu, biarpun mati juga kami tidak sudi
masuk kedalam benteng yang dijaga pembesar anjing macam
kalian itu!”
”Coba kalau pembesar anjing itu tidak bersikap plintatplintut,
tentu juga Siau-tayhiap takkan tewas seperti sekarang
ini!” demikian ditambahkan seorang kesatria lain.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitulah beramai-ramai para kesatria mencaci-maki sambil
menuding perwira diatas benteng itu. Sedangkan Hi-tiok dan
Toan Ki telah berlutut dan memberi hormat kearah jurang, lalu
pergilah mereka dengan mendaki gunung dan melintasi bukit
tanpa menghiraukan siperwira yang mencak-mencak diatas
benteng karena dicaci-maki oleh para kesatria itu.
Apa yang terjadi diluar Gan-bun-koan ini lantas digunakan
baik oleh panglima penjaga benteng itu untuk membuat
laporan kilat ke kotaraja, katanya dia telah memimpin sendiri
pasukannya dan bertempur mati-matian selama beberapa hari
menghadapi pasukan Liau yang berjumlah ratusan ribu orang,
berkat lindungan Thian dan Sri Baginda serta semangat
tempur para perajurit, perwira dan bintara, akhirnya berhasil
membinasakan Lam-ih Tai-ong kerajaan Liau yang bernama
Siau Hong dan raja Liau Yalu Hung-ki kemudian
mengundurkan diri dengan kekalahan habis-habisan.
Raja Song sangat girang mendapat laporan itu, segera ia
mengirimkan firman yang memberi penghargaan setinggitingginya
kepada para perajurit, perwira dan bintara, pangkat
mereka seluruhnya dinaikkan setingkat disertai hadiah-hadiah
yang besar. Para pembesar dipemerintah pusat juga tidak
ketinggalan untuk merayakan kemenangan itu secara besarbesaran.
Sementara itu Toan Ki telah ambil perpisahan dengan Hitiok
ditengah jalan, bersama Bok Wan-jing, Ciong Ling, Hoan
Hwa, Pah Thian-sik dan lain-lain, mereka lantas pulang ke
Tayli.
Setiba didalam wilayah negeri Tayli, jauh-jauh calon
permaisuri Ong Giok-yan dan para pembesar sudah
menantikan dan menyambut mereka. Ketika Toan Ki bercerita
tentang Siau Hong dan A Ci, Giok-yan menjadi terharu dan
menangis, semua orangpun ikut berduka.
Rombongan mereka terus menuju keselatan, karena Toan
Ki tidak ingin membikin kaget kepada penduduk setempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
maka rombongannya tidak mengenakan pakaian kebesaran,
tapi tetap menyamar sebagai kaum saudagar dan orang
pelancongan.
Sepanjang jalan tiada terjadi apa-apa, akhirnya sampailah
mereka diluar kota-raja Tayli. Toan Ki ingin pergi ke Thianliong-
si lebih dulu untuk menyampaikan sembah bakti kepada
Koh-eng Taysu dan paman bagindanya, Toan Cing-bing.
Tatkala itu sudah menjelang magrib, hari sudah mulai
gelap. Ketika lalu disebuah hutan didekat Thian-liong-si, tibatiba
ditengah hutan itu terdengar suara teriakan seorang anak
kecil, "Sri Baginda, Paduka Yang Mulia, nah, aku sudah
menyembah padamu, mengapa aku tidak diberi permen.”
Toan Ki dan lain-lain menjadi terheran-heran. Mengapa
ditempat ini, bahkan seorang anak kecil dapat mengenali
penyamarannya.
Tanpa merasa rombongan mereka lantas membelok
kedalam hutan itu untuk melihat siapakah sebenarnya anak
kecil itu. Tapi mendadak terdengar pula seorang sedang
berkata, "Kalian harus berseru, "Dirgahayulah! Semoga Sri
Baginda hidup bahagia dan panjang umur! Habis itu barulah
akan kuberi permen.”
Suara orang itu terdengar sudah sangat dikenal mereka.
Itulah Buyung Hok adanya.
Toan Ki dan Giok-yan terkejut, cepat kedua orang
bergandeng tangan dan bersembunyi dibalik pohon sambil
memandang kearah datangnya suara itu. Maka tertampaklah
Buyung Hok sedang duduk diatas sebuah kuburan, kepalanya
memakai kopiah raja buatan dari kertas dan sikapnya dibikin
keren.
Didepannya ada tujuh atau delapan orang anak kampung
sedang berlutut dan beramai-ramai lagi mengucapkan:
"Dirgahayu! Sri Baginda bahagia, panjang umur!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sambil berteriak-terial tak keruan menirukan apa yang
diajarkan Buyung Hok tadi sambil tiada hentinya menyembah,
malahan sudah ada yang menjulurkan tangannya sambil
berkata: "Mana permennya? Mana permennya.”
Terdengar Buyung Hok telah menjawab, "Para pengabdiku,
silakan bangun. Sekarang kerajaan Yan kita sudah
kubangkitkan kembali dan aku sudah naik tahta, dengan
sendirinya para pengabdiku akan mendapat ganjaran yang
setimpal menurut jasa masing-masing.
Lalu ia merogoh keluar segenggam permen dan dibagibagikan
kepada anak-anak kecil tadi.
Anak-anak itu berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil
berlari pergi, semuanya berteriak-teriak, "Besok kita akan
datang minta permen lagi!”
Maka tahulah Giok-yan bahwa pikiran sang Piauko sudah
tidak waras lagi karena gila hormat dan mengimpikan menjadi
kaisar, tapi tak terkabul. Sungguh hati Giok-yan tak terkatakan
dukanya.
Pelahan-lahan Toan Ki menarik tangan sang kekasih, ia
memberi isyarat tangan dan semua orang lantas mundur
keluar hutan secara diam-diam.
Buyung Hok terlihat masih duduk diatas kuburan tadi dan
mulutnya tampak berkomat-kamit tak berhenti-henti entah
sedang mengoceh apa ...
(Oo^o^dwkz^http://kangzusi.com/^o^oO)
Tamat
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Dewasa Silat Pendekar Negeri Tayli Komplit Tamat ke 20 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Dewasa Silat Pendekar Negeri Tayli Komplit Tamat ke 20 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/07/cerita-dewasa-silat-pendekar-negeri.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Dewasa Silat Pendekar Negeri Tayli Komplit Tamat ke 20 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Dewasa Silat Pendekar Negeri Tayli Komplit Tamat ke 20 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Dewasa Silat Pendekar Negeri Tayli Komplit Tamat ke 20 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2012/07/cerita-dewasa-silat-pendekar-negeri.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 8 komentar... read them below or add one }

Obat Tradisional Penyakit Maag Kronis mengatakan...

yah ceritanya lumayan bagus juga lumayan buat ngabuburit karna ceritanya ini terlalu panjang terims kasih atas informasinya.......!

simple tips mengatakan...

waw cerita rame bener mas,
gak kebayang kalo ane ngetik ampe 20 episode :D
met puasa mas, kabuurr

Obat keputihan Tradisional mengatakan...

lebih asik kalo di baca lagi nyantai .. ane save link buat ntr :D

Obat Tradisional Hernia mengatakan...

ceritanya bagus gan apalagi saat inikan kita sedang menghadapi bulan rhamadan lumaya buat nyore alnya ceritanya panjang sih thanks.....!

988bet mengatakan...

panjang bangeeeeeeeeettttt

Obat Herbal Typus mengatakan...

aduh mantep bener .. buat ngabuburit nih

Mau Bikin Website + Hosting Murah AbizZ? Ke Rajawebhost.com aja! mengatakan...

ahaha seru mba ceritannyaa

obat pelangsing aman,ampuh mengatakan...

hait....hait....tendang...masuk...goal,silat apa main bola ya hehe..

Poskan Komentar