Cerita Seks ; Pendekar Negeri Tayli 17

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Jumat, 20 Juli 2012

Cerita Seks ; Pendekar Negeri Tayli 17-Cerita Seks ; Pendekar Negeri Tayli 17-Cerita Seks ; Pendekar Negeri Tayli 17-Cerita Seks ; Pendekar Negeri Tayli 17-Cerita Seks ; Pendekar Negeri Tayli 17


Mestinya gerakan "Leng-san-pai-hud" itu Cuma suatu gaya
pemberian hormat sebagai tanda merendah diri, tak terpikir
bahwa sekarang Hi-tiok sudah penuh dengan lwekang "pakbeng-
cin-gi" yang diperolehnya dari Bu gai-cu, ditambah lagi
ajaran-ajaran Thian-san Tong-lo dan Li Jiu-sui, bahkan tidak
sedikit manfaat yang diperolehnya dari ukiran di dindirg keluar
batu bawah tanah Leng ciu-kiong. maka sekali dia bergaya
memberi hormat dangan kedua tangannya terangkat, seketika
jubahnya lantai mclembung hawa murninya bekerja untuk
melindungi seluruh tubuhnya.
Karena Hi tiok sudah mulai, terpaksa,Cumoti melayani,
segera sebelah telapak tangannya menghantam ke depan
sehingga mengeluarkan suara rnendesir dari angin pukulannya
itulah ilmu sakti pukulan Pan-yak-ciang.
Wi-to-ciang yang dimainkan Hi-tiok adalah ilmu pukulan
dasar, bagi setiap murid Siau-lim-pai yang muiai belajar silat
sebaliknya Pan yak-ciang hoat adalah ilmu pukulan yang maha
sakti, untuk melatihnya diperlukan waktu puluhan tahun maka
selama sejarah Siau-lim-si boleh dikata tidak pernah terjadi
Wi-to-ciang digunakan melawan Pan-yak-ciang."
Tapi sekarang Hi-tiok sedikit pun tidak gentar begiltu
pukulan lawan tiba cepat ia mengegos dan balas menyerang
pula, sekali ini kedua telapak tangannya menyodok ke depan
dalam gerakan yang bernama "San-bun hou-hoat" (membela
agama di depan gunung), gerak-serangannya tetap biasa saja
tapi membawa tenaga yang maha dahsyat.
Cumoti putar ke samping, dengan jari yang tersembunyi di
balik lengan baju segera ia menutuk ke depan. Cepat Hi–tiok
menghindarkan tenaga tutukan hebat yang tak kelihatan itu.
Namun Cimoti sudah menduga ke mana Hi-tìok pasti akan
menghindar, maka menyusul ia lantas menghantam dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pululan Kim-kong-kun, "bluk", pundak Hi-tiok dengan tepat
kena digenjot sehingga orangnya terhuyung huyung
kebelakang.
Maka tertawalah Cumoti, katanya, "Siausuhu mau mengaku
kalah atau belum?"
Ia menduga dengan pukulan dahsyat itu tentu dapat
menghancurkan tulang pundak lawan.
Tak terduga bahwa Hi-tiok memiliki "Pak-bong-cin-gi" yang
tidak gentar terhadap pukulan apa pun, bahkan setiap kali
kena hantaman, setiap kali hawa murninya tambah Kuat
malah.
Begitulah maka dengan cepat Hi-tíok lantas menerjang
maju pula, kedua telapak tangannya menggaplúk dari kiri ke
kanan, serangan ini bernama "Hong-sui-kui hal" (air bah
mengalir ke Laut) tenaga dalam yang dibawa pukulannya itu
sedahsyat air bah melanda.
Karuan Cumoti terkejut sudah terang lawan kena hantam
tapi tidak cedera bahkan dapat balas menyerang dengan
pukulan yang lebih dahsyat. Lekas ia pun manangkis
sekuatnya, menyusul kedua kaki juga menendang secara
berantai, plak-plok, dalam sekejap saja ia menendang tujuh
kali dan seluruhnya mengenai dada Hi-tiok.
Tendangan ini pun termasuk salah satu kepandaian Siaulim-
pai yang disebut "Ju-eng-sui-beng" (seperti bayangan
mengikut bendanya), yaitu menggambarkan betapa cepatnya
tendangan itu secara susul-menyusul. Sampai tendangan
ketujuh Hi-tiok mencelat beberapa meter jauhnya. Bahkan
Cumoti tidak memberi kesempatan lagi kepada Hi-tiok, jarinya
menutuk dua kali pula dari jauh sehingga mengeluarkan suara
mencicit, itulah "To-lo-ci-hoat” yang lihai.
Tapi Hi-tiok sempat pasang kuda-kuda dan menyambut
dengan pukulan "Hek-hou-thau-sim" (harimau kumbang
mencuri hati), salah satu pukulan Lo-han-kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Serangan Hi-tiok ini sebenarnya terlalu dangkal, sebab
setiap orang Siau-lim-si boleh dikata pasti paham gerak
serangan itu, tapi sekararg dikerahkan oleh Hi-tiok dengan
tenaga Siau-bu-siang-kang, maka tenaga tutukan Cumoti yang
hebat itu kena dipatahkan di tengah jalan.
Rupanya Cumoti sengaja hendak pamer kepandaiannya,
habis To-lo-ci-hoat segera berganti membelah dengan telapak
tangannya dalam ilmu, "Jian-bok-to-hoat" (ilmu golok
membakar kayu).
Ilmu golok yang dimainkan dengan telapak tangan kosong
ini cepat luar biasa, sekaligds ia dapat membelah dan
membacok 9 x 9 = 81 kali di sekeliling sebatang kayu, kayu itu
tidak terbelah menjadi dua tapi dari hawa panas yang keluar
dari "golok tangan" Itu dapat membuat kayu Itu terbakar.
Mendiang guru Siau Hong, yaitu Hian-kho Taisu sangat mahir
ilmu gulok Ini, tapl sejak dia wafat, di Siau-lim-si tiada seorang
pun, yang mahir lagi.
Cumoti mulai memotong sekali, "bluk”, dengan tepat
lengan kanan Hi-tiok kena ditabas.
"Cepat amat!" Seru Hi-tiok sambil balas menghantam, dan
baru kepalan sempat di tengah jalan kembali lengannya kena
dibacok lagi.
Walau pun Cumoti menggunakan telapak tangan sebagai
golok, tapi tenagànya dikerahkan pada tepi telapak tangan,
kerasnya tidak kalah daripada golok baja dan cukup kuat
untuk mengutungkan lengan. Tapi beruntun Hi tiok kena
ditebas dua kali dan tetap tidak beralangan apa-apa
sebaliknya telapak tangan Cumoti malah terasa kesakitan.
Sunggu kejut Cumoti tak terkatakan, sekilas terpikir
olehnya jangan-jangan hwesio keroco ini memakai baju
pusaka dan sebagainya, kalau tidak biarpun dia memiliki ilmu
kebal sebangsa Kim-ciong-loh dan Tiat-poh-san juga tak tahan
oleh serangan barusan yang hebat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terpikir demikian, segera ia ganti serangan, sekarang yang
diarah selalu bagian muka Hi-tiok ia mencakar dan menutuk,
beruntun ia keluarkan beberapa macam ilmu sakti Siau-lim-pai
untuk menyerang mata dan tenggorokan Hi-tiok.
Karena serangan kilat ini Hi-tiok menjadi kelabakan dan
terdesak mundur, tapi ia masih tetap balas memukul sekali
demi sekali seluruhnya adalah tipu "Hok-hou thau-sim"
anehnya selalu Cumati terdesak mundur kelakah kebelakang,
dan oleh karena satu langkah itulah maka macam-macam
serangan Cumoti itu menjadi susah mencapai sasarannya,
sekalipun menyenggol saja tidak bisa.
Dengan gemas kembali Cumoti mangeluarkan belasan
macam kepandaian Siau-lim-pai yang berbeda-beda untuk
menyerang Hi-tiok. Para padri Siau-lim-si sampai terkesima
menyaksikan itu, diam-diam mereka mengakui ucapan Cumoti
yang mengaku mahir ke-72 macam ilmu silat Siau-lim-pai dan
ternyata tidak omong kosong belaka.
Sebaliknya Hi-tiok tetap melayani dengan Loh-han-kun
saja, jika kececer, segera ia menghantam dengan "Hek-houthau-
Sim", bila terdesak, kembali menyambut dengan pukulan
"Hek-hon-thán sim", jadi itu-itu saja gerak tipu yang
digunakan Hl-tiok. lain tidak.
Keruan kelakuannya menjadi lucu, semua orang
menganggapnya kelewat bodoh, biar guru silat pasaran pun
akan mentertawainya.
Jadi yang satu maha lihai dan yang lain kelewat bodoh,
namun yang lihai toh tak dapat merobohkan yang bodoh,
sebab di dalam gerakan "Hek-hou-thau-sim" yang dímainkan
Hi-tiok itu justru membawa tenaga dalam yang makin dahsyat,
jarak kedua orang juga makin lama makin jauh.
Sekarang Cumoti dapat merasakan bahwa tenaga dalam
yang dikeluarkan Hi-tiok Itu ternyata juga. mengandung Siaubu-
siang-kang, bahkan terasa lebih kuat daripada dirinya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cuma saja cara menggunakannya tidak tepat dan kurang
pandai. Tapi kalau pertarungan diteruskan, susah juga untuk
memperoleh kemenangan.
Maka ketika dilihatnya Hi-tlok menghantam lagi dalam
"Hong-hou-thai-sim", yaitu pukulan yang disodok mengarah
hulu hati lawan, segera Cumoti mencengkeram ke depan,
kedua tangannya memegang berbareng sehingga kepalan Hi
tiok tertangkap, segera kedua tangannya menekuk jari jempol
dan jari kecil Hi-tiok dan ditelingkung ke atas.
Kim-na-jiu-boat atau ilmu memegang dan menangkap ini
sangat hebat sekali, Hi-tiok tidak dapat menggunakan gerakan
"Hok-hou-thau-sim" untuk menghadapi Cumoti lagi. Tapi
karena jarinya tertekuk, saking kesakitan dengan sendirinya ia
keluarkan "Thian-san-ciat-bwe-jiu" ajaran Thian san Tong lo,
tangan kanan Hi-tiok yang terpegang itu mendadak memuntir
dan membalik ke atas, dengan cepat dan tepat sekall ia balas
mencengkeram pergelangan kiri Cumoti.
Sungguh sama sekali tak terduga oleh Cumoti bahwa
tangan yang sudah terpegang itu mendadak bisa
mengeluarkan semacam kekuatan yang aneh dan memberosot
lepas dari cengkeramannya, bahkan berbalik tangan sendiri
yang terpegang malah.
Biarpun pengetahuan ilmu silat Cumoti sangat luas, tapi
Thian-san-ciat-bwe-jiu ini adalah ciptaan Tong-lo sendiri
sehingga dia tidak kenal asal-usul kungfu Hi-tiok itu.
Dalam kejutnya segera Cumoti merasa pergelangan tangan
kirinya seakan-akan terjepit oleh anggam besi dan sukar
terlepas. Untung dalam keadaan gugup Hi-tiok cuma berharap
menyenyelamatkan diri dan tidak sempat menyerang pula
maka ia cuma pegang tangan Cumoti dengan kencang agar
lawan itu tidak dapat menelingkung dirinya sebaliknya lupa
memencet urat nadi pergelangan tangan Cumoti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena sedikit kesalahan itu, segera Cumoti mengerahkan
tenaga dalam sehingga tangan Hi-tiok tergetar seakan-akan
retak. Dalam keadaan kaku agak hi-tiok kuatir kalau
cekalannya dilepaskan tentu Cumoti akan menyerang pula
dengan cara-cara yang lebih lihai maka sekuatnya ia kerahkan
beng-cin-gi pula.
Berturut-turut Cumoti meronta tiga kali dan tetap tak
terlepas, keruan ia sangat takut, cepat ia gunakan telapak
tangan kanan untuk membacok leher Hi-tiok. Dalarn gugupnya
ia tidak sempat menggunakan ilmu silat Siau-lim-pai lagi tapi
bacokan tangan ini menggunakan kepandaiannya yang berasal
dari Turfan.
Sekarang mereka bertempur dari jarak dekat, maka ketika
merasa terancam segera tangan kiri Hi-tiok menggunakan
Thian san-liok-yang-jiu untuk mematahkan serangan Cumoti.
Sekali serangan gagal, dengan sendirinya Cumoti
melontarkan serangan lain pula, tapi Liok yang-jiu juga
beruntun-runtun dimainkan Hi-tiok sehinggà setiap serangan
Cumoti dapat dipatahkan.
Sudah tentu para penonton banyak yang terheran-heran,
mereka bertarung dari jarak dekat boleh dikatakan saling
bergumul, tangan kiri Cumoti kelihatan dicengkeram kencang
olah Hi-tiok, sedang tangan kanan Cumoti berulang-ulang
menghantam, tapi selalu tidak dapat mencapai sasarannya.
Bahkan lama kelamaan mereka merasa terdesak oleh angin
pukulan Cumoti yang membadai, makin larna makin kuat
sehingga menyesakkan napas.
Walaupun setiap bacokan telapak tangan Camoti itu sangat
dahsyat dan tajam melebihi senjata, tapi Thian-san-liok-yang
jiu yang dimainkan Hi-tiok sekarang sudah sangat hebat,
terutama sesudah dia menyelami pelajaran yang terukir di
dinding kamar batu di bawah tanah Leng-cin-kiong itu. Cuma
sayang selama ini dia belum pernah menggunakannya untuk
bergebrak dangan orang, sekarang baru mulai dicoba sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
harus menghadapi jago kelas sátu seperti Cumoti dan mesti
bergumul dari jarak dekat, menyadari seluruh kepandaiannya
itu paling-paling cuma dua-tiga bagian saja yang dapat
dimainkannya. Apalagi tenaga serangan Cumoti makin lama
makin lihai sehingga yang dipikir oleh Hi-tiok asal dapat
selamat saja, maka permainannya juga cuma mengutamakan
menjaga diri saja.
Sebenarnya bukan maksud Hi-tiok hendak menangkap
Cimoti, soalnya la merasa ilmu silat lawan lebih pandai
berpuluh kali lipat daripada dirinya, serangan sebelah tangan
saja sedahsyat itu apalagi kalau menyerang dengan kedua
tangan, bukan mustahil jiwanya akan melayang seketika.
Lantaran itulah secara mati-matian Hi-tiok terus pegang
pergelangan tangan Cumoti agar sebelah tangan itu tak bisa
digunakan untuk menyerang.
Walaupun bodoh sekali pikiran Hi-tiok itu, tapi dalam saat
berbahaya ternyata berguna juga. memang benar serangan
hebat dari Cumoti menjadi kencang karena hanya sebelah
tangan saja yang digerakkan. Sebaliknya bagi Hi-tiok yang
belum masak betul dalam menggunakan kepandaian
permainan sebelah tangan menjadi lebih leluasa daripadà
permainan dua tangan, dengan demikian, kedua orang terus
bergebrak sampai ratusan jurus dan keadaan masih tetap
sama kuat.
Bagi padri agung seperti Hian-cu, Sin kong Hian to, Liong
beng, Cilo Singh dan lain-lain. mereka dapat melihat Cumoti
tidak dapat melepaskan tangan kirinya yang terpegang Hi-tiok,
sedangkan tangan kiri Hi-tiok sama sekali tidak dapat
melawan serangan tangan kanan Cumoti, jadi kedua orang itu
sama sama unggul di lengan sebelah kanan dan asor di
tangan sebelah kiri. Pertarungan demikian ini, biarpun para
paderi itu sudah kenyang asam garam juga belum pernah
menyaksikan selama hidup ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Menyaksíkan pertempuran itu, hampir seluruh padri Siaulim-
si merasa heran dan kuatir pula. Mereka tidak tahu selama
Hi-tiok menghilang setengah tahun entah dari mana dapat
mempelajari ilmu silat sehebat itu. Mereka melihat serangan
Cumoti itu sangat lihai, asal Hi Tiok kena dihantam sekali pasti
tamatlah riwayatnya. Sebaliknya dalam keadaan tangan lawan
terpegang Hi-tiok jika salah seorang padri Siau-liam-si itu
berani maju membantu maka dengan sekali tonjok saja cukup
membikin jiwa Cumoti melayang.
Tapi sudah tentu mereka tidak mau bertindak demikian
sehingga dapat meruntuhkan nama baik sendiri. Maka para
padri itu hanya kebat-kebit merasa kuatir mengikuti
pertarungan kedua orang itu.
Sesudah ratusan jurus lagi, rasa takut Hi-tiok pelahan mulai
hilang, maka permainan Thian-san-liong yang jitu dapat
dilontarkan dengan lebih lancar, cara melontarkan tenaga
serangannya dapat diketahuinya pula, maka lambat laun
dalam sepuluh gebrakan ia dapat balas menyerang satu-dua
kali dan tidak lama kemudian dapat balas menyerang sampai
tiga-empat kali.
Melihat keadaan Hi-tiok tambah baik dan terhindar dari
kemungkinan bahaya, diam-diam para padri Siau-lim-si ikut
bergirang.
Dalam pada itu sejak munculnya Cumoti, timbul
pertentangan batin Sin-kong Siangjin, ia berharap Cumoti
menjatuhkan nama baik Siau-lim-pai, tapi tidak suka pula
kalau padri as ing itu malang melintang di Tionggoan.
Ketika dilihatnya Cumoti bergebrak dengan Hi-tiok sampai
sekian lama dan masih belum terpisahkan, diam-diam ia
berharap kedua orang ituakan babak-bonyok dan akhirnya
gugur bersama, dengan demikian ia sendiri akan dapat
mengeduk keuntungan biarpun nanti susah memperoleh
kepandaian Siau-lim-paì yang lain dari Polo Singh, namun dari
pan-yak-ciang, Mo-ko-ci-hoat dan Kim-leng-kun yang telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dihapalkannya tadì dapatlah dibawa pulang ke Jing-liang-si
untuk dipelajari lebih mendalam dan dikombinasikan dengan
demikian bukan mustahil kelak dirinya akan menjadi cakal
bakal gabungan ketiga macam kungfu sakti itu.
Sebaliknya Polo Singh juga mempunyai pikiran sendiri.
Selama ini dia sembunyi di Ceng-keng-kok dan telah banyak
membaca kitab pusaka Siau-lim-pai, ia merasa ilmu silat
tinggalan padri agung Siau-lim-si yang dulu memang sangat
luas dan hebat, makin dipelajari makin sukar dijajali sehingga
lambat-laun Polo Singh sendiri tenggelam dalam keasyikannya.
Sekarang sang Suheng hendak memapaknya pulang, ia
merasa apa yang sudah dibaca dan teringat baik itu masih
bukan apa-apa kalau dibandingkan kepandaian yang
dìpertunjukkan Cumoti dan Hi-tiok sekarang. Pulang ke
kampung halaman memang menyenangkan, tapi berat juga
rasanya jika kesempatan mempelajari ilmu silat secara lebih
mendalam susah diketemukan lagi di kemudian hari.
Hendaklah maklum bahwa Polo Singh ini seorang padri
Thian-tiok yang, berbakat dan gila ilmu silat. Seperti juga
dalam bidang lain, misalnya seni main catur, main piano,
melukis dan sebagainya, semakin dipelajari semakin terasa tak
habis-habis dan tiada batas-batasnya, ilmu yang dipelajari itu,
asal tahu di dunia ini ada pihak lain yang lebih pandai, maka
sedapat mungkin ingin belajar kenal dan mengukur
kepandaian lawan itu.
Maksud tujuan Polo Singh semula adalah ingin mencuri
kitab pusaka Siau-lim-si untuk dibawa pulang ke Thian-tiòk,
tak terduga olehnya bahwa ilmu silat Siau-lim-si itu ternyata
sedemikian luasnya, semakin dipelajari semakin terasa tidak
habis-habis, maka sekarang ia pun merasa saying dan berat
untuk meninggalkan biara agung itu.
Dalam pada itu keadaan Hi-tiok sekarang sudah tambah
baik, dari dua kali serangan Cumoti ia sudah mampu balas
menyerang satu kali, walaupun masih lebih banyak diserang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
daripada menyerang tapi tenaga dalamnya, makin lama
makin, kuat sehingga tiap-tiap kali Cumoti merasa makin sulit
untuk menangkis.
Suatu ketika, mendadak Hi-tiok ganti tipu serangan. ia tidak
menggunakan Thian-san-liok-yang-jiu, tapi tiba-tiba sejurus
pukulan ajaran Li-Jiu-sui dahulu dilontarkannya, yang diincar
adalah bagian selangkangan.
Sekali berhasil membikin lawannya terdesak, segera
semangat Hi-tiok terbangkit, menyusul ia keluarkan sejurus
ajaran Thian-san Tong-lo ketika bertanding melawan Li Jiu-sui,
mendadak telapak tangannya menyambar ke atas kepala
Cumoti dengan gaya hendak menjambak. Walaupun kepala
Cumoti gundul kelimis, tapi jika kena digaruk bukan tidak
mungkin kepalanya akan pecah.
Ternyata serangan yang dilontarkan Hi-tiok itu adalah
ciptaan Li Jin-sui dan Thian-san Tong-lo, tipu serangannya keji
dan lihai pula, yaitu seperti lazimnya kaum wanita berkelahi
dan main. jambak, cakar dan mencengkram bagian-bagian
yang terlarang segala.
Keruan Hian-cu dan padri agung lain sama berkerut kening
menyaksikan tipu serangan Hi-tiok yang semakin aneh dan
keji itu. Selama sejarah Siau-lim-si belum pernah terdapat
kungfu sedemikian aneh dan kejinya.
Dalam pada itu Cumoti sendiri juga sudah merasa keadaan
sangat tidak menguntungkan baginya. Berulang-ulang ia
membetot dan meronta, tapi tetap sukar terlepas. Jika dia
mengerahkan tenaga maka tenaga pegangan Hi-tiok juga
tambah kuat.
Dalam keadaan tak berdaya, timbul seketika napsu
jahatnya untuk membunuh Hi-tiok, Berturut-turut ia
menyerang pula tiga kali ketika Hi-tiok menangkis, pada suatu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kesempatan Cumoti mencabut sebilah belati kecil yung terselip
dalam kaos kakinya terus menikam bahu Hi-tiok.
Kepandaian yang dipelajari Hi tiok itu adalah bertangan
kosong, ketika mendadak sinar senjata berkelebat, belati
musuh tahu-tahu menusuk tiba, ia menjadi bingung cara
bagaimana menangkisnya, tanpa pikir segera ia mendahului
sambar tangan orang yang memegang belati itu yang
digunakan adalah Kim-na-jiu-hoat yang cepat lagi jitu dari
Thian-san-kiat-hwe-jiu maka tahu-tahu pergelangan tangan
Cumoti kena dicengkeramnya.
Tapi pada saat itu juga mendadak Cumoti mengerahkan
tenaganya sambil lepas tangan sehingga belati itu meluncur ke
depan. Karena kedua tangan Hi-tiok digunakan untuk
mencengkeram kedua tangan lawan ia tak bisa mengelak lagi,
tanpa ampun belati itu menancap di pundaknya.
Para penonton sama menjerit kaget. Pada saat itulah tibatiba
diantara orang banyak melompat keluar empat padri,
serentak sinar tajam berkelebat, sekaligus ujung empat
batang pedang mengancam tenggorokan Cumoti.
Dalam kagetnya Cumoti meronta sekuatnya dan hendak
melompat mundur, tapi cekalan Hi-tiok ternyata sangat kuat,
sedikitpun tidak bergeming. Cumoti merasa lehernya "nyes"
dingin, ujung keempat pedang telah menyentuh kulit
dagingnya. Bahkan terdengar keempat padri itu membentak
bersama, "Manusia tak kenal malu, lekas serahkan Jiwamu!"
Dari suara mereka yang nyaring merdu itu kedengaran
seperti suara kaum wanita muda.
Segera Hi-tiok dapat mengenali mereka adalah Bwe-kiam
berempat, cuma mereka memakai kopian padri sehingga ikat
rambut mereka tertutup, jubah padri yang mereka pakai juga
jubah padri Siau-lim-si. Keruan Hi-tiok terkejut dan heran,
serunya, "Jangan mengganggu jiwanya!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bwe-kiam mengiakan, tapi ujung pedang mereka masih
tetap mengancam tenggorokan Cumoti.
"Hahahaha!" tiba-tiba Cumoti bergelak tertawa. "Rupanya
Siau-lim-si tidak cuma pandai main keroyok bahkan diam diam
menyembunyikan wanita di dalam kuilnya. Nama baik selama
beratus tahun kiranya cuma begini. Hahaha, baru sekarang
aku tahu!"
Hi-tiok sangat gugup dan bingung sehingga cekalan kedua
tangan dilepaskan. Segera Kiok-kiam membuang pedangnya
dan cepat mencabut belati yang menancap dipundak sang
majikan lalu menggunakan saputangannya untuk membalut
luka Hi-tiok. Sedangkan ujung pedang Bwe kiam bertiga masih
tetap mengancam tenggorokan Cumoti.
"Meng ... mengapa kalian datang kemari?" tanya Hi-tiok
dengan gugup.
Sebelum Bwe-kiam berempat menjawab, sekonyongkonyong
tangan kanan Cumoti bergerak, dangan ilmu "Hweyam-
to" yang sakti tiba-tiba terdengar "trang-tring-treng" tiga
kali, ketiga pedang Bwe-kiam bertiga patah seketika. Keruan
Bwe-kiam bertiga terkejut cepat mereka melompat mundur,
ketika diperiksa, ternyata senjata mereka hanya tertinggal
bagian gagangnya saja.
"Nah, Hòngtiang Suheng, apa yang hendak kau katakan
lagi?” seru Cumoti kepada Hian-cu Taisu sambil tertawa.
Air muka Hian-cu tampak membesi, sahutnya, "Seluk-beluk
kejadian ini aku sendiri tidak paham, tapi pasti akan kuselidiki
dan diputus menurut tata tertib biara kami. Sekarang boleh
silakan Beng-Ong dan para Suheng mengaso dulu ke pondok
tamu yang tersedia."
"Jika demikian terpaksa mengganggu," sahut Cumoti sambil
memberi hormat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika Hian-cu membalas hormat, kedua tangan Cumoti
yang terangkup itu menggeser ke samping dan diam-diam
mengerahkan tenaga, maka terdengarlah suara "bar-ber"
beberapa kali disusul jerit kaget Bwe-kiam berempat, kopiah
padri mereka tersampuk jatuh semua sehingga kelihatan
rambut mereka yang panjang dan indah, banyak pula rambut
putus yang ikut bertebaran jatuh ke lantai bersama kopiah.
Tenaga Hwe-yam-to yang digunakan Cumoti tidak cuma
menyampuk jatuh kopiah keempat ñona itu, bahkan memapas
sebagian rambut mereka yang lemas, maka dapat
dibayangkan betapa hebat iwekang Cumoti yang telah
mencapai tingkatan paling sempurna itu.
Dengan demontrasi kepandaiannya bukan saja Cumoti
hendak pamer kekuatan yang cuma memotong rambut dan
tidak melukai orangnya sebagai tanda kemurahan batinya,
berbareng ia sengaja menelanjangi penyamaran keempat
nona itu agar pihak Siau-lim-si tidak bisa menyangkal terhadap
bukti-bukti nyata itu.
Keruan air muka Hian-cu tampak masam, katanya
kemudian, "Para Suheng, silakan!"
Serentak Sin-kong, Cilo Singh dan lain-lain lantas
berbangkit dan diantar oleh padri penyambut tamu ke ruang
istirahat. Mereka menduga Hian-cu sebentar lagi pasti akan
mengambil tindakan tegas mengingat pelanggaran Hi-tiok
yang luar biasa itu, jangankan di dalam Siau-lim-si terdapat
beberapa gadis yang menyeru sebagai padri biarpun wanita
biasa saja tidak boleh sembarangan masuk ke dalam kuil suci
itu.
Dan baru saja para tamu itu keluar segera berkatalàh Bwekíam,
"Cujin, hamba sekalian diam-diam telah menyusul ke
sini untuk melayani Cujin harap engkau jangan marah kepada
kami."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lam-kiam juga berkata, "Itu hwesio yang bernama Yam-kin
benar-benar terlalu kurang ajar, dia baru tahu rasa sesudah
kami beri hajaran setimpal padanya sehingga tidak berani lagi
menganiaya Cujin, tak terduga hwesio besar tadi telah melukai
Cujin pula."
Baru sekarang Hi-tiok paham duduknya perkara,Rupanya
tempo hari Yan-kin telah dihajar oleh Bwe-kiam berempat
sehingga babak belur dan diancam pula, pantas Yan-kin lantas
ketakutan dan sikapnya berubah baik padanya. "Jika demikian,
teranglah Bwe-kiam berempat sudah cukup lama menyamar
dan menyelundup ke dalam Siau-lim-si, wah, urusan bisa
runyam," demikian pikir Hi-tiok.
Cepat Hi-tiok berlutut dan menyembah patung Budha di
ruang pendopo itu dan berdoa. "Dosa Tecu teramat besar
sehingga mendatangkan malapetaka yang tak terperikan
kepada biara kita mohon Hongtiang memberi hukuman
seberat-beratnya."
"Cujin," tiba-liba Kiok-kiam berseru, "buat apa engkau
menjadi hwesio segala, lebih baik marilah kita pulang saja ke
Biau-biau-hong daripada makan nasi dan minum air tawar di
sini, bahkan mesti diperintah lagi oleh orang?"
Segera Tiok-kiam juga berkata sambil menuding Hian-cu,
"He, kamu hwesio tua ini, kalau bicara hendaknya sopan
sedikit, tahu! Jangan terlalu garang kepada Cujin kami. Awas,
kami berempat ini takkan sungkan-sungkan ambil tindakan
padamu."
"Diam," bentak Hi-tiok dengan gugup. "Kalian sudah
mengacau di sini, masih banyak bicara apa lagi? Lekas tutup
mulut!"
Tapi keempat nona itu masih terus bicara ini dan itu tak
berhenti-henti.
Para padri Siau-lim-ii saling pandang dengan melongo.
Mereka melihat keempat nona itu sama rupa dan sama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tingkah-lakunya, semuanya cantik dan lincah, tak tahu apa
artinya diam, mereka tidak tahu dari mana datangnya
keempat nona nakal demikian.
Seperti telah diceritakan, Bwe-kiam berempat adalah
kembar empat, asalnya adalah putri keluarga miskin di kaki
gunung Tai-soat-san, orang tua mereka memang sudah punya
beberapa orang anak, ketika mereka dilahirkan pula sekaligus,
sudah tentu orang tua mereka tidak sanggup piara mereka
dan terpaksa , dibuang di tempat sunyi.
Kebetulan Thian-san Tong-lo lewat di situ dan mendengar
suara tangisan orok, ketika mengetahui ada bayi kembar
empal yang dibuang orang tuanya, nenek itu sangat tertarik
dan segera di bawa pulang ke Lcng-ciu-kiong. Di sanalah Bwekiam
berempat dibesarkan dan diajarkan ilmu silat.
Walaupun Bwe-kiam berempat separti dayangnya Tong-lo,
tapi sesungguhnya mirip nenek dengan cucu-cucu dan mereka
sangat disayang oleh Tong-lo. Selamanya mereka pun tidak
pernah turun gunung, dengan sendirinya mereka tidak kenal
dunia ramai dengan seluk-beluknya, selamanya mereka cuma
tunduk kepada Tong-lo seorang, sesudah Hi-tiok
menggantikan sebagai majikan, mereka juga meladeninya
dengan penuh setia, bahkan karena sifat Hi-tiok yang ramahtamah
kepada mereka sehingga mereka tidak begitu takut
seperti terhadap Tong-lo ....
Begitulah maka Hian-cu kemudian berkata, "Kecuali para
Suheng dan Sute angkatan Hian dan Hui-lun yang boleh
tinggal di sini, yang lain-lain silahkan kembali ke ruangan
masing-masing?"
Para padri mengiakan dan berturut-turut keluar dari ruang
pendopo itu. Hanya sekejap saja ruang itu tinggal kurang lebih
30 padri tua serta Hui-lun, guru Hi-tiok, ditambah Hi-tiok dan
keempat dayangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Segera Hui-lun juga melangkah maju dan berlutut di
hadapan Hian-cu, katanya, "Tacu tidak becus mengajar muríd
sehingga mengeluarkan murid murtad seperti ini, mohon
Hungtiang. Menjatuhkan hukuman setimpal."
"Hihihihi!” tiba-tiba Tiok-kiam mengikik geli. "Hanya sedikit
kepandaian seperti kamu ini juga berani menjadi guru Cujin
kami! Apakah semalam kamu belum kapok jatuh terguling
beberapa kali. dijegal oleh Toaci kami?"
"Wah, celaka!" demikian diam-diam Hi-tiok mengeluh. "Jadi
guruku juga telah dipermainkan oleh mereka."
Dalam pada itu terdengar Bwe-kiam berkata dengan
tertawa. "Kudengar dari Yan-kin, katanya kamu ini guru Cujin
kami, maka aku sengaja hendak menguji dirimu, coba kalau
Sam-moai barusan tidak bilang padamu, sampai mati pun
kamu tidak tahu mengapa bisa jatuh terguling beberapa kali.
Hihihi, sungguh lucu!"
"Hian-ciam, Hian-gui, Hian-liam dan Hian-ceng Sute, harap
kalian menghentikan tingkah laku keempat nona ini," tiba-tiba
Hian-cu berkata.
Keempat padri tua yang disebut itu mengiakan dengan
hormat. lalu mereka berpaling kepada Bwe-kiam berempat
dan berkata, "Atas perintah Hongtiang pada kalian, harap
jangan sembarangan bicara dan bertingkah lagi!"
"Kami justru mau bicara dan bertingkah, mau apa?” sahut
Bwe-kiam.
"Jika begitu, terpaksa maafkan kami!” kata keempat padri
tua itu berbareng dan sekali jubah mereka mengebas dengan
teraling-aling kain jubah mereka terus mencengkeram
pergelangan tangan Bwe-kiam berempat. Keempat padri lua
itu menggunakan Kim-na jiu-hoat yang berbeda, tapi
semuanya adalah kepandaian Siau lim-pai yang sangat lihai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di antara keempat nona itu hanya Kiok-kiam saja yang
masih bersenjata pedang, senjata ketiga dari lain sudah
dipatahkan oleh Cumoti tadi. Maka dengan cepat Kiok-kiam
putar pedangnya untuk melindungi ketiga saudaranya itu dan
Bwe-kiam bertiga juga menggunakan pedang patah mereka
untuk menyerang lawan.
Keruan Hi-tiok kelabakan, cepat ia berkata, "Jangan!
Lemparkan pedang kalian dan jangan bergerak!"
Karena dibentak oleh sang majikan Bwe-kiam berempat
tertegun, sehingga gerangan mereka berhenti di tengah jalan.
Memangnya kepandaian, mereka bukan tandingan keempat
padri tua Siau-lim-si, maka dengan mudah sekali mereka kena
ditangkap.
Sekuatnya Bwe-kiam membetot tangannya yang terpegang
tapi tak bisa lepas. Dia mengomel, "Kami tunduk kepada
perintah Cujin, makanya sungkan pada kalian, kenapa kalian
main pegang-pegang segala? Aduh, sakiiitt! Jangan pegang
terlalu keras!"
Lam-kiam juga mendamprat, "Keledai gundul kecil, lekas
lepaskan tanganku!"
"Kau mau lepas tidak? Kalau tidak, segera akan kumaki
binimu, hoi!" demikian Tiok-kiam juga berteriak-teriak.
Dasar anak dara yang masih hijau, masakah padri tua
bangka dimaki sebagai "keledai gundul kecil" dan hwesio
dianggap punya bini seperti orang biasa.
Bahkan Kiok-kiam berseru, "Biar aku meludahi dia!"
"Cuh", mendadak ia menyemburkan ludahnya ke arah Hianceng.
Namun sedikit menunduk dapatlah Hian-Ceng
menghindarkan air ludah itu, berbareng ia keraskan
cekatannya sehingga Kiok-kiam menjerit kesakitan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitulah, Tai-hiong-po-tian yang merupakan ruang
pendopo suci dan angker itu dalam sekejap itu ramai dengan
jerit seru anak-anak dara.
Akhirnya Hian-Cu mengancam, "Keempat nona harap
tenang dan jangan ribut, kalau tidak menurut hendaknya para
Sute tutuk hiat-to bisu mereka!"
Supaya tidak ditutuk, sebab hal itu berarti hilangnya
kebebasan mereka, terpaksa Bwe-kiam berempat tidak berani
ribut lagi, sambil moncongkan mulut mereka melorok kepada
Hian-cu. Hian-ceng berempat juga lantas lepaskan cekalan
mereka dan berdiri di samping untuk mengawasi keempat
dara itu.
Lalu Hian-cu berkata, "Hi tiok, coba sekarang ceritakan
pengalamanmu selama ini, tidak boleh mengurangi sedikit pun
apa yang terjadi."
"Tecu akan memberi lapor dengan sejujurnya," sahut Hitiok
sambil menyembah.
Lalu berceritalah dia semua kejadian yang dialaminya,
dimulai dia ditugaskan mengirim surat dan ditawan Yap Ji-nio,
lalu ketemu dengan Hian-lan dan lain-lain dan secara
kebetulan dapat memecahkan problem catur sehingga menjadi
Ciangbunjin Siau-yau-pai, tentang dia digoda A Ci sehingga
melanggar pantangan makan barang berjiwa akhirnya tentang
pertamuannya dengan Thian-san Tong-lo dan kejadian dalam
gudang es, di sana dia bertemu pula dengan Li Jiu-sui dan
akhirnya dia menjadi majikan Leng ciu kiong. Bahkan tentang
pelanggarannya main-main dengan dewi impiannya juga
diceritakan tanpa mengurangi sedikit pun walau cara
menguraikannya agak maiu-malu dan tergagap-gagap tak
lancar.
Para padri terheran-heran sekali atas pengalaman Hi-tiok
yang aneh itu, kalau melihat apa yang terjadi tadi mereka
percaya cerita Hi-tiok itu pasti tidak bohoñg, sebab kalau HiTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
tiok tidak menyerap ilmu sakti Bu gai-cu, Tong-lo dan Li Jiu-sui
bertiga, pula telah mempelajari banyak ilmu sakti di dinding
kamar batu di Leng-ciu-kiong pasti tidak mungkin dia mampu
menandingi Tai-lun Beng-ong. yang maha lihai itu.
Begitulah sehabis melapor, berulang Hi-tiok menjura dan
minta ampun atas segala dosanya sambil menangis.
Setelah termenung sejenak kemudian Hian-cu berkata,
"Para Suheng dan Sute pengalaman Hi-tiok ini memang benar
luar biasa. Urusan ini menyangkut nama suci biara kita, aku
sendiri merasa sulit untuk, mengambil keputusan, maka
diharap para Suheng dan Sute suka memberi pandangan
superlunya."
Watak Hian-ceng paling keras, segera ia manggembor,
"Lapor Hongtiang, menurut pendapatku, Walaupun kesalahan
Hi-tiok teramat besar, tapi jasanya juga tidak kecil. Coba kalau
tadì dia tidak mengalahkan padri asing itu, tentu pamor biara
kita akan runtuh habis-habisan. Maka aku mengusulkan boleh
perintahkan Hi-tiok masuk ke Tat-mo-ih untuk memperdalam
ilmu silatnya dan agar menginsafi dosa-dosanya, untuk
selanjutnya dilarang keluar biara dan tidak boleh ikut campur
urusan biara."
Hendaknya dikelahui bahwa mempelajari ilmu silat di Tatmo-
ih adalah tugas kehormatan, bagi padri Siau-lim-si, kalau
ilmu silatnya belum mencapai tingkatan tertinggi tidak
mungkin dapat di terima. Di antara padri angkatan Hian
sebanyak lebih 30 orang itu cuma 7 atau 8 orang saja yang
pernah masuk Tat-mo-ih, bahkan Hian-song sendiri belum
pernah. Sekarang dia mengusulkan Hi-tiok dikirim ke Tat-moih,
ini bukan lagi hukuman melainkan boleh dikatakan scbagai
anugerah malah.
Tapi kepala Kai-lut-ih. Hian-cit Taisu, lantas berkata,
"Dengan kepandaiannya memang cukup syarat untuk masuk
Tat-mo-ih, tapi ilmu silat yang dia pelajari adalah dari
golongan luar, apakah Tat-mo-ih kita boleh dimasuki oleh jago
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
silat seperti dia, hal ini apakah sudah dipikirkan oleh Hiansong
Sute?"
Mendengar itu, para padri sama menunduk dan berpìkir,
mereka merasa usul Hian-seng itu memang kurang pantas.
"Habis bagaimana kalau menurut pendapat Suheng?"
Tanya Hian-seng kepada Hian-cit.
"Tentang ini, aku pun serba susah," sahut Hiau cit. "Hi-tiok
berjasa dan berdosa pula. Ada jasa harus diberi ganjaran, ada
dosa harus dihukum. Keempat nòna ini telah menyelundup ke
dalam biara kita, hal ini bukan atas perintah Hi-tiok, maka kita
dapat katakan terus terang duduknya perkara kepada Cumoti,
Sin kong dan lain-lain. Apakah nanti mereka mau percaya atau
tidak boleh terserah, pokoknya dalam hati kita dapat
bertanggung jawab kepada diri kita sendiri dan tak perlu
pusing kepada sangkaan jelek orang lain. Tapi Saal Hi-tiok
mengingkari perguruan sendiri dan belajar lagi kepada
golongan lain, di Siau-lim-si kita sudah tiada tempat lagi
baginya."
Maksud ucapan Hiaa-cit itu terang hendak memecat Hi-tiok
dari Siau-lim-si. Hukuman ini merupakan hukuman paling
berat dalam agama mereka, Keruan para padri saling pandang
dengan kuatir.
Dalam pada itu Hian-cit berkata pula, "Berulang dia
melanggar pantangan agama, mestinya ilmu silatnya harus
dipunahkan, kemudian baru diusir pergi. Tapi ilmu silat yang
pernah dimilikinya sudah dipunahkan orang lain lebih dulu,
kepandaian yang dimilikinya sekarang bukan lagi ilmu silat
golongan kita, maka kita tidak berhak buat memunahkannya."
Mendengar kepala Kai-lut-ih itu memutuskan mengusir dia
dengan menangis Hi-tiok menyembah dan minta ampun agar
hukuman itu diringankan asal jangan mengusirnya keluar
Siau-lim-si.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seketika para paderi hanya saling pandang saja dengan
bingung dan rasa tidak tega. Mestinya kalau melihat
kesungguhan Hi-tiok, bukan mustahil dia akan dapat
memperbaiki segala perbuatannya yang salah itu. Tapi
sekarang soalnya menyangkut nama baik Siau-lim-si, dalam
urusan ini telah menyangkut Cumoti, Cilo Singh dan padri
agung dari Jing-lim-si dan lain-lain. Kalau Hi-tiok dihukum
kurang keras, tentu Siau-lim-si, akan dituduh membela
muridnya sendiri.
Pada saat itulah tiba-tiba muncul seorang padri tua dengan
dipayang dua orang muridnya. Kiranya Hian-to yang tadi
dilukai Cumoti dan pulang ke kamarnya untuk mengaso dia
tetap menguatirkan keadaan di luar, maka sekarang keluar
lagi.
"Hongtiang," demikian Hian-to lantas berkata, "jiwaku ini
berkat pertolongan Hi-tiok, sekarang aku ingin bicara sedikit,
entah boleh tidak?"
Hian-to masih terhitung Suhengnya Hian-cu, ilmu silatnya
sangat tinggi pula, maka biasanya Hian-cu sangat senang
padanya, cepat ia menjawab, "Suheng. silakan duduk,
bicaralah pelahan supaya tidak, mengganggu lukamu."
"Bahwasanya Hi-tiok telah menyelamatkan jiwaku belum
terhitung apa-apa," demikian kata Hian-to. "Sekarang kita
masih ada enam persoalan yang belum bisa diselesaikan,
kalau Hi-tiok dibiarkan tinggal di sini akan besar faedahnya
bagi kita. Jika dia, diusir pergi kita pasti ... pasti akan sulitlah."
"Keenam soal yang dimaksudkan Suheng kalau tidak salah
adalah, pertama Cumoti belum bisa digebuk pergi. Kedua
mungkin mengenai peristiwa Polo Singh, Ketiga adalah soal
tantangan Pangcu Kai-pang yaug mengaku bernama Ong singthian
itu. Adapun tiga persoalan lain diharap Suheng suka
memberi penjelasan?" demikian Tanya Hian-cit.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hian-to menghela napas panjang, lalu berkata, "Ialah
mengenai tewasnya Hian-pi, Hian-kho, Hian-thong dan Hianlan
Sute."
Serentak para padri sama mengucap "Omitohud" demi
mendengar nama-nama keempat padri yang sudah meninggal
itu.
Seperti dikelahui, Hian-kho Taisu tewas di tangan Kiau
Hong Hian-lan dan Hian-thong terbunuh oleh Ting Jun-jiu,
sedangkan siapa pembunuh Hian-pi sampai sekarang masih
merupakan teka-teki, semua orang hanya tahu Hian-pi terkena
hantaman "Kim-kong-cu", senjata gada yang merupakan
senjata andalan Hian-pi sendiri dan termäsuk satu di antara
ke-72 macam ilmu silat Siau- lim-si.
Semula orang menyangka Hian-pi dibunuh oleh keluarga
Buyung yang terkenal suka menggunakan kepandaian khas
orangnya untuk diserang atas korban itu. Namun kemudian
ketika bertemu dengan Buyung Hok tampak sangat gagah
ksatria dan bukan golongan pengecut yang habis bunuh orang
tidak mau mengaku. Ditambah lagi setelah menyaksikan
Cumoti juga mahir Pan-yak-ciang dan lain-lain ilmu silat Siaulim-
pai hal ini membuktikan bahwa Buyung Hok bukan satusatunya
tersangka yang dapat menggunakan senjata '"Kimkong-
cu."
Maka berkatalah Hian-cu, "Aku sendiri adalah Hongtiang,
tapi sama sekali tak dapat menyelesaikan keenam persoalan
itu, sungguh sangat memalukan. Akan tetapi kepandaian Hitiok
sekarang seluruhnya jelas berasal dari Siau-yau-pai,
masakah ... masakah Siau-lim-si harus ...."
Sampai di sini Hian-cu sukar meneruskan lagi. Namun para
padri dapat memahami maksudnya.
Semua orang terdiam sejenak, akhirnya Hian to berkala
pula, "Habis bagaimana kalau menurut pikiran Hongtiang?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Omitohud!" sabda Hian-cu. "Kita telah menerima warisan
leluhur, hari ini kita menghadap alangan besar maka menurut
pendapatku, kita harus bertindak menurut garis lurus
sebagaimana mestinya. Lebih baik gugur sebagai satria
daripada hidup menanggung malu. Asalkan kita berjuang
sepenuh tenaga, mungkin nama baik Siau-lim-si masih dapat
kita pertahankan, jika terpaksa, biarlah kita membelanya
dengan mati-matian.”
Hian-cu berkata dengan tegas dan kerang sehingga para
padri serentak menyatakan setuju.
Segera Hian-cu berkata pula kepada Hian-cit, "Sute, silakan
melaksanakan hukum biara kita."
Hian-cit mengiakan dan segera memberi perintah kepada
padri penyambut tamu, "Undanglah Tai-lun Beng-ong dan
para padri agung!"
Diam-diam Hian-to dan Hian-seng merasa menyesal, meski
mereka ada maksud untuk membela Hi-tiok, tapi Hongtiang
lebih mengutamakan nama baik keseluruhan Siau-lim-pai
mereka sehingga mau tidak mau mereka harus tunduk.
Hi-tiok sendiri tidak tahu keputusan itu tak bisa ditarik
kembali lagi, biarpun memohon lagi juga percuma. Pikirnya,
"Setiap orang Siau-lim-si sudah seharusnya mengutamakan
nama baik golongannya. Aku sendiri harus terima akibat dari
perbuatanku sendiri dan sekali-kali tidak boleh unjuk rasa
takut dan minta belas kasihan didepan orang luar sehingga
merosotkan pamor Siau-lim-si."
Begitulah tídak lama kemudian Cumoti, Cilo Singh, Sin-kong
dan lain-lain telah diundang hadir di ruang pendopo. Menyusul
suara genta bertalu-talu pula padri Siau-lim-si juga sama
berkumpul. Lalu mulailah Hian-cu membuka, suara, "Tai-lun
Beng-ong dan para Suheng. sesudah diusut, diketahui murid
Sian-lim-si angkatan Hi yang bernama Hi-tiok telah melanggar
pantangan makan minum arak, membunuh dan berzinah serta
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah berani belajar ilmu silat dan menjabat pula Ciangbunjin
golongan lain. Untuk semua dosanya ini kepala Kal lut-ih dari
Siau-lim-si, Hian cit Sute akan segera menjatuhkan hukuman
yang setimpal sedikit pun tidak boleh memberi kelonggaran."
Mendengar keputusan Hian-cu ini, Cumoti, Sin kóng dan
laín-laín agak melengak juga. Ketika melihat Bwe-kiam
berempat semula mereka menyangka Hi-tiok telah
menyembunyikan perempuan muda, pantangan yang di
langgarnya paling-paling cuma berzinah saja, siapa tahu dosa
Hi-tiok yang diumumkan Hian-cu sekarang ternyata lebih dari
itu.
To-jin dari Bo-to-si menjadi hwesio ketika usianya sudah
setengah umur, maka ia cukup tahu seluk-beluk orang hidup,
ditambah perangainya juga welas-asih dan suka membantu,
orang dalam kesulitan, maka ia lantas berkata, "Hongtiang
Suheng. keempat nona ini kelihatan masih suci bersih terang
masih perawan, bagi setiap orang yang berpengalaman
dengan gampang akan dapat mengetahuinya. Bahwa tingkahlaku
Hi-tiok tadi agak melampaui batas memang betul tapi
kalau dituduh pelanggaran 'berzìnah' untuk ini kukira agak
berlebih-lebihan.”
"Banyak terima kasih atas petunjuk Suheng.” kata Hian-ci.
"Tapi pelanggaran Hì-tiok ini bukan dimaksudkan atas diri
keempat nona ini. Hi tiok sekarang telah menjadi Cujin dari
Leng-ciu-kiong dan keempat nona ini adalah dayangnya,
maksudnya menyelundup ke biara kami hanya bertujuan
menjaga keselamatan majikan mereka, sebelumnya Hi-tiok
sendiri juga tidak tahu. Memang Siau-lim-si harus merasa
malu telah dapat diselundupi orang luar, tapi jelas ini bukan
kesalahan Hi-tiok."
"Jika demikian, orang luar tidak enak untuk ikut campur
lagi," ujar To-jing.
Sebenarnya semua yang hadir tiada yang kenal "Leng-ciukiong"
segala karena selama ini Thian-tan Tong-lo jarang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkunjung ke Tionggoan dan bergaul dengan orang
persilatan. Hanya Cumoti saja yang pernah mendengar nama
Tong-lo, tapi juga tidak tahu dengan jelas.
Semula Cumoti, Sin-kong, Cilo Singh dan lain-lain
bermaksud jelek terhadap Siau-lim-si, tapi sekarang Hian-cu
bertindak tegas tanpa pandang bulu terhadap anak muridnya
sendiri, di depan orang banyak diumumkan pula dosa Hi-tiok
yang mestinya tidak diketahui orang luar, hal ini membuat
mereka mau-tak-mau harus kagum terhadap kebijaksanaan
ketua Siau-lim-si itu.
Kemudian Hian-cit lantas melangkah maju, dengan suara
lantang ia tanya, "Hi tiok, dosamu yang disebut Hongtiang tadi
apa kamu akui semuanya dan apakah kamu ingin membela
diri?"
"Tecu mengakui semua dosa itu dan rela menerima setiap
hukuman," sahut Hi-tiok.
Seketika semua orang mencurahkan perhatian kepada
Hian-cit untuk mendengarkan sangsi hokum yang hendak
dijatuhkannya.
Maka berserulah Hian-cit, "Hi-tiok melanggar empat
pantangan besar, maka harus dihukum rangket seratus kali di
depan umum. Hi-tiok, kau terima tidak?"
"Tecu terima dengan baik, banyak terima kasih atas
kemurahan hati Thai-supek," sahut Hi-tiok.
"Tanpa izin Hongtiang dan gurumu sendiri kamu
mempelajari ilmu silat golongan lain, maka, ilmu silat yang
kauperoleh dari Siau-lim si akan dipunahkan dan kamu
dihukum pecat, untuk selanjutnya kamu bukan murid Siau-limpai
lagi kau terima tidak?" tanya Hian-cit pula.
Hi-tiok menjadi sedih, tapi ia pun tahu keputusan ini tidak
mungkin dihindarkan lagi, terpaksa ia jawab, "Keputusan Thaisupek
memang maha adil, Tecu terima dengan rela."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tadi para padri dari golongan lain telah menyaksikan Hitiok
melabrak Cumoti dengan ilmu silat Siau-lim pai seperti Wi
to ciang dan Lo-han-kun, tapi mereka tidak tahu bahwa
kepandaian Hi tiok yang sebenarnya pada hakikatnya bukan
kungfu Siau-lim-pai. Sebaliknya Cumoti yang mengaku mahir
ke-72 macam ilmu silat Siau-lim-pai sesungguhnya cuma
lahirnya atau gayanya saja yang dipahami. Iwekang Siau-limpai
yang asli boleh dikatakan tidak dipahami olehnya, Siau-busiang-
kang yang digunakan Hi-tiok tadi sudah tentu juga
dipahami Cumoti, tapi dia tidak kenal Pah-teng-cin-gi, Thiansan-
Hok-yang jiu dan Ciat-bwe-jín segala, maka ia sangka
kepandaian Hi-tiok itu adalah ilmu silat Siau-lim-pai yang lihai.
Sekarang didengarnya ilmu silat Hi-tiok akan dipunahkan,
tentu saja ia sangat girang di dalam hati. Sebaliknya To-jing,
Kat-hian dan lain-lain merasa sangat sayang bagi Hi-tiok.
Maka terdengar Hian-cit berkata pula, "Karena kamu telah
menjadi Ciangbunjin Siau-yau-pai dan Cujin Leng-ciu-kiong,
maka kamu dilarang menjadi murid Budha lagi, selanjutnya
kamu bukan lagi padri Siau-lim-sí."
Hi-tiok sudah yatim piatu, sejak bayi dibesarkan di Siau-limsi,
sekarang dia diharuskan berpisah dengan tempat
bernaungnya selama ini, betapa pun dia merasa sedih juga
maka menangislah dia dan dengan terguguk ia menyatakan
terima kasih kepada para padri agung Siau-lim-si yang telah
mendidiknya selama ini.
Akhìrnya Hian-cit berkata pula, "Sekarang hendaklah Huilun
mendengarkan keputusan!"
Segera Huí lun melangkah maju dan berlutut.
"Hui-lun", seru Hian-cit, "sebagai guru Hi-tiok kamu salah
mendidik dan kurang memberi petunjuk sehingga
mengakibatkan pelanggaran yang dilakukan Hi-tiok ini.
Sekarang kamu dlhukum rangket 30 kali dan harus bersujud di
dalam Kai lut-ih selama tiga tahun, kauterima tidak."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tecu terima dengan rela," sahut Hui-lun dengan gemetar.
Tiba-tiba Hi-tiok berseru, "Thai-supek, Tecu bersedia
mewakilkan suhu menerima hukuman 30 kali rangketan itu!"
"Jika demikian maka Hi tiok akan dirangket 130 kali," kata
Hian-cit. "Ciang-heng Tecu (murid pelaksana hukum), siapkan
pentungan sekarang, Hi-tiok masih anggota Siau-lim-si, maka
hukuman ini harus dilaksanakan tanpa ampun. Nanti sesudah
dia keluar dari keanggotaan biara kita, dan dia akan menjadi
Ciang-bunjin, golongan biara kíta harus menaruh hotmat juga
padanya."
Keempat murid pelaksana hukum segera akan jalankan
perintah itu, tidak lama kemudian mereka telah menyiapkan
empat batang pentungan.
Selagi Hian-cik hendak memberi aba-aba agar hukuman itu
dilakukan, tiba-tiba seorang padri penjaga berlari masuk
sambil mempersembahkan setumpuk kartu nama kepada
Hian-cu, katanya, "Lapor Hongtiang para ksatria Ho-siok
(daerah utara sungai kuning) mohon bertemu!"
Ketika Hian Cu periksa kartu-kartu nama itu jumlah
seluruhnya ada lebih 30 helai dan sebagian besar adalah
ksatria ternama dari daerah utara diantaranya banyak pula
ksatria yang pernah hadir dalam Eng-hiong-tai-hwe di Ciphian-
ceng dahulu.
Diam-diam Hian-cu heran ada urusan apakah sekaligus
datang ksatria dan tokoh sebanyak itu?
Dalam pada itu di luar biara terdengar suara orang ramai,
para-ksatria sudah tidak sabar menunggu lagi, "Hian-seng
Sute harap keluar menyambut mereka!" kata Hian-cu. Lalu
sambungannya pula, "Hadirin sekalian karena banyak tamu
berkunjung kemari, urusan pembersihan rumah tangga biara
kami ini terpaksa ditunda untuk sementara agar tidak
mengganggu kedatangan pera tamu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian ia pun berangkat memapak keluar pendopo.
Tidak lama, tertampaklah Hian-seng dan padri penyambut
tamu datang mengiringi para ksatria Ho-siok.
Hian-cu, Hian-cit, Hian-seng dan lain-lain adalah padri yang
saleh, mereka juga tokoh persilatan terkemuka sehingga
terhadap sesama tokoh persilatan mereka sangat kagum satu
sama lain. Sekarang biarpun sedang menghadapi urusan
dalam yang menekan perasaan, tapi demi nampak datangnya
para kenalan itu, seketika semangat mereka terbangkit juga.
Bahkan diantara pendatang itu ada beberapa orang
merupakan sobat baik Hian-seng dan padri agung lain, maka
sesudah bersalaman dengan mesra, lalu mereka disilakan
masuk pendopo dan dlperkenalkan kepada Cumoti dan lainlain.
Sin-kong, Liong-beng dan lain-lain juga bukan kaum
keroco, maka banyak juga kawan mereka diantara para ksatria
Ho siok itu.
Dan baru saja Hian-cu hendak tanya maksud kedatangan
para ksatria Ho-siok itu, tiba-tiba para penyambut tamu
datang lagi melapor bahwa beberapa puluh tokoh Bu-lim dari
daerah Sontang dan Sonsai juga berkunjung tiba. Maka Hiatciam
lantas disuruh keluar menyambut lagi.
"Katni diundang Ong-pancu dari Kai-pang untuk
menyaksikan keramaian apakah beliau sendiri belum datang?"
demikian tiba-tiba seorang laki-liki hitam kekar berteriak.
"Buat apa ributi" demikian seorang lagi yang bersuara
tajam melengking menanggapi "Kita sudah datang, kalau ada
ramai-ramai masakah kami kekurangan tontonan?"
Segera Hian-cu membuka suara, "Para kawan telah sudi
berkunjung kemari secara serentak, sungguh Siau-lim-si
merasa mendapat kehormatan besar. Apabila pelayanan
kurang baik. harap suka memberi maaf."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah, Hongtiang tidak perlu sungkan," sahut hadirin
beramai.
Dalam pada itu beberapa tokoh yang menjadi sobat baik
padri Siau-lim-si lantas menuturkan maksud kunjungan
mereka ini. Kiranya Pang-cu Kai-pang yang mengaku bernama
Ong Sing-thian itu sudah menyebarkan kartu undangan
kepada pera ksatria, katanya Siau-lim-pai dan Kai-pang
biasanya sama-sama menjagoi dunia persilatan Tionggoan,
tapi Ong Sing-thian yang baru menjabat sebagai Pangcu itu
ingin menentukan seorang Bu-lim Beng-cu (pemimpin dunia
persilatan) dan mengadakan peraturan tertentu agar ditaati
oleh setiap orang persilatan. Untuk itu telah ditetapkan
tanggal 15 bulan enam Ong Sing-thian akan datang sendiri ke
Siau-lim-si untuk bicara dengan Hian-cu.
Dari kartu undangan yang dipertunjukan itu dapat dibaca
kalimat-kalimat yang bernada congkak, seakan-akan Bu-lim
Beng-cu itu nanti sudah pasti akan diduduki oleh orang yang
bernama Ong Sing-thian itu.
Maksud dan tujuan Ong Sing-thian pun cukup jelas, yaitu
hendak menggunakan kepandaiannya untuk mengalahkan
para padri Siau-lim-si dan menundukkan Siau-lim-pai yang
telah terkenal selama beratus tahun itu.
Begitulah maka tidak lama kemudian telah datang pula
ksatria dari berbagai penjuru, baik dari utara maupun selatan
telah berkumpul semua, padahal jarak kediaman para ksatria
itu terpisah sangat jauh, namun dalam sehari saja mereka
sudah berkumpul, hal ini menandakan persiapan kai-pang
yang rapi dan terang sudah mengaturnya sekian lama.
Hian-cu dan para padri Siau-lim-si tidak memberi komentar
apa-apa, tapi dalam hati mereka sangat gusar dan kuatir pula.
Tindakan Kai-pang ini boleh dikatakan sangat kurangajar.
sebab baru beberapa hari yang lalu mereka menerima surat
Ong Sing-thian yang menyatakan hendak berkunjung ke SiauTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
lim-si untuk membicarakan soal Bu-lim Beng-Cu dan
menyatakan pula akan tiba dalam waktu singkat, di dalam
surat itu sama sama sekali tidak disebut-sebut tentang
diundanganya para satria dari berbagai penjuru itu. Siapa
duga sekarang para ksatria itu telah berkumpul hingga Siaulim-
si kerepotan menghadapi persoalan itu.
Sebenarnya Siau-lim-sl. juga banyak mempunyai sobat
andai di kalangan kongouw, tapi sebelum ini sama sekali tidak
diperoleh kabar apa-apa, jadi sebelum bertanding Siau-lim-si
sudah kebesaran asòr lebih dulu.
Dalam watak Hian seng memang kasar, dengan
mendongkolnya segera ia menegur sobat baiknya yang
bernama Cukat Tiong, bergelar Hopak-sin-tan (si pelor sakti
dari Hopak), serunya, "Bagus sekali Cujin-loji, kamu mendapat
berita peristiwa ini, tapi diam-diam saja dan tidak mau
mengirim kabar padaku. Ya, anggaplah persahabatan kita kita
selama 30 tahun ini telah putus sampai di sini saja."
Dengan muka merah padam Cukat Tiong memberi
penjelasan, "Aku ... aku juga baru mendapat kartu undangan
ini pada tiga hari yang lalu tanpa banyak pikir siang-malam
aku lantas memburu kemari, di tengah jalan aku sampai ganti
dua ekor kuda karena kuatir terlambat dan tak sempat
memberi sedikit bantuan kepadamu tua bangka ini, tapi
mengapa engkau malah menyalahkan aku?"
"Jadi kamu bermaksud baik juga, ya?" jengek Hian-seng.
"Mengapa bukan maksud baik?" sahut Cukat Tiong
beruring-uring. "Sekalipun ilmu silat Siau-lim-si kalian maha
tinggi, bila saudara tua ikut datang memberi semangat,
apakah ini bermaksud jelek?"
Karena penjelasan itu barulah Hian-seng merasa lega.
Ketika ksatria lain ditanya, ternyata ada yang terima kartu
undangan lebih dulu bagi yang kediamannya jauh, yang
tempat tinggalnya dekat Siau-lim-si baru terima kartu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
undangan beberapa hari yang lalu tapi semuanya segera
berangkat dengan terburu-buru sehingga dapat tiba tepat
pada waktunya.
Jadi bukan para sobat-andai itu tidak mau memberi kabar
kepada Siau-lim-si sebelumnya, rupanya hal itu sudah
diperhitungkan oleh pihak Kai-pang sedemikian rupa sehingga
mereka menaksir datangnya para ksatria itu akan berbareng
sekaligus dalam satu hari saja.
Mengingat kerapian persiapan Kai-pang ini Hian-cu dan
kawan-kawannya menjadi kuatir jangan-jangan pihak Kai-pang
masih banyak tindakan menyusul yang lebih lihai, diam-diam
mereka sangat prihatin dan waspada.
Hari ini adalah tanggal 15 bulan enam sebagaimana di
tetapkan oleh Ong Sing-thian, hawa panas terik.
Memangnya padri Siau lim-si lagi sibuk menghadapi Sinkong
Siangjin, Cilo Singh dan lain-lain kemudian menempur
Cumoti dan memeriksa perkara Hi-tiok.
Sekarang mendadak membanjir lagi para ksatria dari
segenap penjuru itu, keruan mereka tambah repot
melayaninya.
Untung padri penyambut tamu Siau-lìm-si sudah
berpengalaman, ruang biara juga luas, perbekalan pun cukup
sehingga di bawah pimpinan Hian ceng yang merupakan
kepala bagian penyambut tamu itu dapat berjalan dengan
teratur baik.
Tengah Hian-cu sibuk menghadapi kenalan-kenalan di
antara hadirin itu, tiba-tiba terdengar pula laporan padri
penjaga, '"Pangeran Toan, Tin-lam-ong negeri Tayli tiba!"
Hian-cu menjadi girang dan cepat menyambut ke luar
sendiri.
Seperti telah diceritakan, berhubung dengan tewasnya
Hian-pi Taisu, maka padri Siau lim-si menyangka keluarga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Buyung dari Koh-soh yang membunuhnya dan telah
menyebarkan undangan kepada para ksatria di segenap
penjuru untuk merundingkan citra menghadapi Koh-soh
Buyung itu.
Menerima undangan itu, raja Tayli segera mengirim
saudaranya sendiri, yaitu Toan Cing sun bersama Hoan Hwa,
Po Thian-sik, Tang Su-kui dan lain-lain untuk membantu Siaulim-
si.
Tak terdüga sebelumnya Siau Hong telah mengamuk di
Cip-hian-ceng sehingga sebelum Eng-hiong-tai-hwe dibuka
para ksatria itu sudah diobrik-abrik dan kacau balau.
Karena itu para ksatria menganggap Kiau Hong adalah
musuh bersama dunia persilatan Tionggoan sehingga
permusuhan mereka terhadap "Lam Buyung" teralihkan dan
"Pak Kian Hong" yang dijadikan sasaran.
Karena kerajaan Song dan Cidan adalah musuh bebuyutan,
maka ketika Kiau Hong diketahui adalah keturunan bangsa
Cidan. keruan rasa permüsuhan ksatria Tionggoan kepadanya
semakin menjadi-jadi.
Walaupün negeri Tayli jauh terletak di selatan dan keluarga
Toan sebenarnya adalah bangsa Han, tapi mereka sudah lama
mendirikan negara dan tidak ingin bermusuhan dengan
kerajaan Liau (negara bangsa Cidan), sebab itu juga tidak
mau ikut bertengkar dengan Kiau Hong.
Kemudian ketika Toan Cing-sun terancam oleh Toan Yankhing,
untung dia ditolong oleh Kiau Hong, dengan demikian
ia menjadi utang budi malah, kepada Kian Hong.
Sesudah urusan di Tionggoan selesai, mestinya Toan Cingsun
hendak terus pulang ke Tayli, tapi di tengah jalan ia
mendapat berita dari negeri Tayli bahwa putra mahkota, Toan
Ki, telah diculik oleh Cumoti dan dibawa lari ka Tionggoan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Keruan ia kaget dan kuatir, segera ia mencari pütranya itu
kemana-mana. ditambah lagi dia berada pula dengan
kekasihnya yang lama, yaitu Cin Ang-bian dan Wi Sing-tiok,
dasar sifat Toan Cing-sun memang romantis dan bangor.
Sekali kecantol urüsan perempuan, lupa daratanlah día
sehingga selama beberapa bulan ini dia masih berada di
Tionggoan.
Paling akhir ini dia mendengar Pangcu Kaì-pang yang baru
bernama Ong Sìng thían hendak terebut pimpinan dengan
Siau-lim-pai sebagai Bu-lim Beng-cu, ia pikir di tempat ramairamai
itu mungkin dapat diperoleh sedikit kabatnya sang
putra. Maka buru-buru ia dating ke Siau-lim-si.
Selama itu Wi Sing tiok terus mendampingi Toan Cing-sun,
pertama día merasa berat berpisah dengan kekasihnya, kedua
ingin mencari putrinya si A Ci. Tapi kaum wanita dilarang
masuk ke Siau-lim-si, maka ia sengaja menyamar sebagai
lelaki dan ikut dalam rombongan Toan Cing-sun itu."
Begitulah sesudah Hian-cu menyilakan Toan Ceng-sun dan
rombongannya masuk ke ruang pondopo. Lalu diperkenalkan
kepada para ksatria. Orang pertama yang diperkenalkan
padanya adalah Tai-lun Beng ong Cumoti dari Turfan.
Mendengar nama padri itu, seketika air muka Toan Cingsun
berubah, la memberi salam dan segera menegur,
"Rupanya putraku yang bodoh itu mendapat perhatian Beng
ong dan kabarnya telah dibawa ke timur sini, sepanjang jalan
tentu telah banyak mendapat petunjuk berharga dariJ Taisu
dan mendapat kemajuan, sungguh aku merasa sangat
berterima kasih."
"Ah, mana, mana!" sahut Cumoti dengan merendah, Tapi ia
lantas geleng kepala pula dan berkata, "Dan sayang, sungguh
sayang!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seketika hati Cing-sun berdebut keras ia sangka mungkin
telah terjadi apa-apa atas diri Toan Ki, maka cepat ia tanya,
"Apa maksud ucapan Beng-ong ini?"
"Tempo hari Sianceng telah beruntung dapat bertemu
dengan Koh-eng Taisu, Thian-in Hongtiang dan kakakbagindamu,
mereka semuanya ramah-tamah, sangat kereng
dan tenang benar-benar kaum ini yang susah dicari. Nama
Tin-lam-ong sendiri terkenal di seluruh jagat, mengapa dalam
urusan anggota keluarga mesti mengunjuk rata kuatir
sedemikian?"
Memang dalam gugup dan kuatirnya nada suara Toan Cingsun
tadi kedengaran agak gemetàr. Maka Cing-Sun cepat
menenangkan diri, ia pikir kalau benar sang putra mengalami
sesuatu juga ada gunanya dikuatirkan lagi sebaliknya malah
akan ditertawai oleh padri as ing ini.
Maka katanya kemudian, "Kasih sayang kepada putra-putri
sendiri adalah sifat dasar setiap orang di dunia ini, kalau
manusia tidak melahirkan putra-putri, tentu manusia akan
lenyap dari dunia ini. Kami adalah orang biasa, sudah tentu
tak dapat dibandingkan padri saleh sebagai Beng-ong yang
welas-asih dan menganggap segala apa di dunia ini cuma
kosong belaka."
Cumoti tersenyum, sahutnya, "Ketika mula-mula aku
bertamu dengan putramu kulihat bentuk kepalanya menonjol
kelak pasti akan menjayakan keluarga Toan dan menjadi Tuan
yang diagungkan di negari Tayli."
"Terima kasih," kata Cing-sun, Tapi diam-diam ia
menggerutu, "Keledai gundul ini sungguh sangat licin,
bícaranya melantur-lantür saja dan membikin hatiku semakin
kuatir.”
Tiba-tiba Cumoti menghela napas dan berkata, "Ai,
sungguh sayang, putra keluarga Toan ini, ternyata tidak punya
rejeki yang báik."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan ketika melihat air muka Toan Cing-sun berubah lagi,
lalu dengan tersenyum ia melanjutkan, "Dia ikut datang ke
Tionggoan sini dan bertemu dengan seorang nona cantik
sejak-sejak itu ia melengket dan selalu berada di samping si
Jelita dan hilanglah segala cita-citanya yang muluk-muluk dan
semangat jantannya, ia selalu mengintil di belakang si cántik,
ke mana si cantik pergi, di sana pula dia mengekor. Siapa saja
yang melihat tentu akan mengatakan dia adalah seorang
pemuda bangor, dan tidak memper sebagai seorang pangeran
terhormat."
Sampai di sini tiba-tiba terdengar suara orang tertawa geli,
suara tertawa kaum wanita. Waktu semua orang memandang
ke arah suara tertawa itu, ternyata seorang laki-laki setengah
umur bermuka jelek.
Kiranya orang yang tertawa ini adalah Wi Sing-tiok,dia
adalah ibu A Cu, dan seperti juga A Cu, rupanya sudah
pembawaannya bahwa dia diberkahi dengan kepandaian
menyamar yang amat mahir. Sekarang dia menyaru sebagal
lelaki, baik wajahnya maupun tingkah-lakunya memang persis
sebagai kaum lelaki. Cuma suaranya agak lembut dan kalah
daripada suara A Cu yang pandai menirukan lagak-lagu kaum
lelaki itu.
Ketika melihat perhatian semua orang, tercurahkan
padanya, cepat ia bikin kasar suaranya dan berkata,
"Pangeran cilik negeri Tayli itu rupanya memang turunan ayah
harimau tidak nanti melahirkan anak anjing! Hahaha! Sungguh
hebat!"
Bahwasannya Toan Cing-sun adalah seorang pangeran
"Don juan" memang sudah terkenal dikalangan kangouw,
maka demi mendengar Wi Sing-tiok mengatakan kelakuan
Toan Ki itu adalah turunan, para ksatria itu saling-pandang
dengan tertawa geli.
Cing-sun sendiri lantas terbahaik juga, katanya kepada
Cumoti, "Anak tak becus itu .... "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bukan tidak becus, justru dia sangat becus, malahan
pandai sekali!" potong Cumoti.
Cing-sun tahu orang sengaja menyindir dia pandai memikat
wanita, ia tidak ambil pusing dan melanjutkan, "Entah
sekarang berada di mana dia? jika Beng-ong tahu kiranya,
sudilah kiranya memberi tahu?"
"Dasar Toan-kongcu memang seorang romantis, setiap hari
senantiasa tenggelam dalam lamunan asmara," ujar Cumoti.
"Maka waktu aku bertemu dengan dia paling akhir ini dia
tampak kurus kering dan pucat-pasi, apakah sekarang masih
hidup atau sudah mati aku sendiri sukar mengatakannya
dengan pasti."
Tiba-tiba Cing-sun teringat kejadian di Tayli dahulu, Toan Ki
telah mencintai seorang gadis kampungan, Bok Wan-jing,
celakanya secara sangat kebetulan itu justru adalah putrinya
sendiri, jadi tunggal ayah lain Ibu dengan Toan Ki, kejadian itu
membuat pemuda itu sangat terguncang hatinya, kalau
sekarang dia masih terus tergila-gila kepada adik perempuan
sendiri itu, maka urusan benar-benar akan celaka 13.
Selagi Cing-sun merasa kuatir, tiba-tiba seorang padri
muda tampil ke muka dan memberi hormat padanya sambil
menyapa, "Harap Ongya jangan kuatir, Toan-Samteku itu
sama sekali tidak kurus-kering, tubuhnya sehat walafíat dan
segar-bugar.”
Cepat Cíng-sun membalas hormat dengan heran, Kalau
melihat dandanannya, padri itu terang adalah hwesio keroco
Sian-lim-si, kenapa dia menyebut anak Ki sebagai "Samte"
(adik ketiga)"
Maka ia coba tanya, "Apakah belum lama ini Siausuhu
pernah melihat putraku itu?"
Hwesio muda itu bukan lain adalah Hi-tiok. Baru saja dia
hendak menceritakan pertemuannya dengan Toan Ki di Lengciu-
kiong, mendadak suara Toan Ki bergema di luar pendopo
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sana "Ayah, anak berada di sini, apakah engkau baik-baik
saja?"
Dan baru lenyap suaranya, tahu-tahu sebuah bayangan
orang sudah menyelinap masuk dengan kecepat luar biasa
terus menubruk ke dalam pelukan Toan Cing-sun. síapa lagi
dia kalau bukan Toan Ki.
(Oo^o^dwkz^http://kangzusi.com/^o^oO)
Jilid 72
Iwekang Toan Ki sekarang sudah amat tinggi, telinganya
menjadi sangat tajam pula, maka sebelum masuk ke dalam
biara lantasdi dengarnya sang ayah sedang bercakap dengan
Cumoti dan taisu-taisu siau lim si, maka dengan tidak sabar
lagi terus saja ia masuk menggunakan "leng-po-wi-poh" untuk
menyelinap masuk ke dalam pendopo itu.
Kemudain ayah dan anak itu saling rangkul dengan
perasaan yang gembira yang tak terperihkan. Dilihatnya
kondisi sang putra memang kurusan sedikit, tapi penuh
dengan semangat dan sekali-kali tidak pucat pasi sebagai
mana yang dikatakan Cumoti.
Kemudian Toan Ki berpaling kepada Hi-tiok dan menyapa,
"Jiko, kenapa engkau telah menjadi hwesio lagi?"
Hi-tiok telah berlutut setengah harìan di depan patung
Budha untuk mengakui dosanya, sekarang demi nampak Toan
Ki, seketika teringat ia kepada "dewi ¡mpian" itu sehingga
mukanya merah jengah dan sikapnya juga kikuk-kikuk,
dangan sendirinya ia tidak berani sembarangan mencari tahu
dan tanya Toan Ki tentang kekasih yang dirindukannya itu.
Dalam pada Cumoti yakin datangnya Toan kike Siau-lim-si
pasti tidak sendirian. Ia tahu pemuda itu sangat kesemsem
pada Giok-yan, hanya nona itulah yang mempunyai daya tarik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sehigga Toan Ki ikut datang ka Siau-lim-si. Sebaliknya ia pun
tahu Giok-yan hanya mencintai kakak misannya, yaitu Buyung
Hok, jika ada satu ada dua, tidak mungkin Giok-yan berpísah
dengan Buyung Hok, karena keyakinan itu, segera kerahkan
tenaga dalam dan berseru, "Buyung kongcu, jika sudah
sampai di Siau-lim-paikenapa tak lekas masuk biara dan
menyembah Budha."
Para ksatria melengak, mereka heran apakah si Buyungkongcu
juga sudah dating? Tapi mengapa tìada sesuatu tanda
ke datangannya, sebaliknya padri as lng ini sudah tahu malah?
Mereka tidak tahu bahwa Cumoti hanya berdasarkan
dugaannya saja atas diri Toan Ki dan Giok-yan, padahal ia
sendiri tidak tahu percis datangnya Buyung Hök.
Tak tersangka di luar biara ternyata sunyi-sunyi saja,
selang sejenak barulah terdengar suara Cumoti sendiri yang
berkumandang kembali dari lembah pegunungan sana. Diamdiam
Cumoti terkesiap, ia pikir dugaannya sekali ini ternyata
meleset, sebab kalau Buyung Hok benar ikut datang, tentu dia
akan menjawab seruannya.
Dan baru saja ia hendak tertawa dan mengucapkan katakata
untuk menutupi salah duganya itu, tiba-tiba terdengar
suara seorang yang dalam melengking sedang berkata,
"Buyung-kongcu dan Ting-lokoai sedang bertarung dengan
serunya, sesudah Ting-lokoai terbunuh barulah ia dapat
bersembahyang ke Siau-lim-si s ini."
Mendengar suara itu, seketika air muka Toan Cing-sun dan
Toan Ki berubah, mereka kenal itu, suara "Ok-koan-boan-ong"
Toan Yan-khing, kepala "Su-ok” yang maha jahat itu.
Dahulu mereka ayah dan anak pernah hampir binasa
ditangan durjana itu, sekarang kepergok lagi di Siau-lim-si,
andaikan nanti tidak mati di tangannya juga pasti akan
kehilangan muka habis-habisan di depan ksatria yang
berkumpul di sini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Selagi Cing-sun kebat-kebit tak tentram sambil memikirkan
cara menghadapi musuh nanti, dalam pada itu Toan Yan-khing
yang berjubah panjang dan berkaki tongkat südah melangkah
masuk. Di belakangnya tampak mengikut "Bu-ok-put-ok" Yap
Ji-nio, "Hiong-sin-ok-sai" Lam-hai-gok-sin dan "Kiong-hiongkek-
ok" in Tiong-ho, Jadi "Su-ok” sekaligus telah datang
semua.
Terhadap tetamunya Hian-cu tidak pandang bulu, biarpun
"Su-ok" terkenal maha jahat juga dilayani dengan hormat.
Ketika mendadak melihat Toan Ki juga berada di situ,
seketika wajah Lam-hai-gok-sin berubah merah dan segera
putar tubuh hendak kabur.
Namun Toan Ki sudah lantas menegurnya dengan tertawa,
"Eh, murid baik, apakah sehat-sehat saja selama ini?"
Mendengar panggilan itu, Lam-hai-gok-sin merasa tak bisa
lari lagi, dengan marah-marah ia menjawab, "Maknya, Suhu
keparat, kiranya kamu belum mampus!"
Keruan para hadirin melengak heran mendengar tanya
jawab itu. Pemuda lemah-lembut sebagai Toan Ki memanggil
seorang yang bengis jahat sebagai murid, hal ini saja tidak
aneh, sekarang sang murid memanggil guru dengan cara
sangat kurang ajar, tentu saja hal ini lebih-lebih
mengherankan mereka.
Dalam pada itu Yap Ji-nio yang memondong seorang bayi
berumur antara satu tahunan juga lantas berkata dengan
tertawa, "Ting losian sedang mengunjukkan kesaktiannya
sehingga Buyung-kongcu selalu dihajar habis-habisan.
Pertarungan hebat itu jarang ada dijagat ini, apakah kalian
beramai-ramai tidak ingin pergi melihatnya?"
Mendengar itu, Toan Ki berseru kaget dan segera
mendahului menerobos keluar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kiranya dugaan Cumoti tadi memang tidak meleset. Sejak
Toan Ki meninggallcan Lang-ciu-kiong, segera ia menyusul ke
arah Buyung Hok dan Ong Giok-yan dan dapat bertemu
dengan mereka beberapa ratus li di timur Biau-biau-Hong.
Meski Pau Put-tong merasa jemu kepada pemuda dogol itu,
tapi juga tidak berani mengusirnya atau melarang dia dalam
rombongan mereka.
Di tangah jalan mereka mendengar kabar tentang Kai-pang
hendak berebut Bu-lim Beng-cu dengan Siau-lim-pai. Karena
Buyung Hok bercita-cita hendak bersahabat dengan ksatria
seluruh jagat sebagai sebagai modal pergerakannya
membangun kerajaan Yan di kemudian hari, maka diam-diam
ia berunding dengan Ting Pak-jwan dan lain-lain.
Menurut perhitungan mereka, jika Kai-pang dan Siau-limpai
saling gempur sehingga kedua pihak sama-sama celaka,
maka keluarga Buyung yang akan menarik keuntungannya,
boleh jadi akan dapat merebut gelar sebagai Bu-lim Beng-cu
dan dapat memerintah para ksatria kangouw, dan ini berarti
suatu kesempatan bagus yang tidak boleh disia-siakan bagi
pergerakannya.
Tak tersangka baru saja mereka sampai di kaki gunung, di
situ mereka lantas kepergok Sing-siok lokoai Ting Jun-jiu.
rupanya selama beberapa bulan itu Ting lokoai telah membuka
pintu lebar-lebar untuk menerima murid, tidak peduii dari
golongan dan aliran apa saja asal mau masuk perguruannya
dan tunduk pada perintahnya, mereka semuanya diterima
tanpa syarat lain. Sebab itulah dalam waktu singkat saja
kawanan sampah masyarakat persilatan Tionggoan telah
banyak menggabungkan diri dengan Sing-siok-pai.
Buyung Hok sudah pernah bergebrak beberapa kali
melawan Ting Jun-jiu dan belum pernah ketahuan siapa lebih
unggul dan asor. Sekarang kepergok lagi. ia lihat pihak Lokoai
berjumlah sangat besar diam-diam Buyung Hok merasa kuatir.
Sebaliknya Hong Po-ok yang tidak pernah kenal apa artinya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
takut dengan tangkas segera menerjang ditengah-tengah
musuh dan bertempur melawan para pengikut Sing-siok-pai
itu.
Karena tidak mahir ilmu silat maka Toan Ki hendak
mengajak Giok-yan menyingkir saja. Tapi nona itu justru
sangat menaruh perhatian terhadap keselamatan sang Piauko,
maka ia tidak lalu menyingkir.
Jumlah pengikut Sing-siok-pai yang amat bányak itu dalam
waktu singkat saja sudah melanda rombongan Buyung Hok.
Tapi dengan langkah ajaib "Leng-po-wi-poh" dapatlah Toan Ki
lari keluar dari kepungan musuh sehingga bertemu dengan
ayahnya. Sekarang ia dengar Yap ji-nio mengatakan Buyung
Hok dihajar habis-habisan oleh Ting Jun-Jiu dan barulah Toan
Ki ingat kembali kepada keselamatan Giok-yan, ia pikir nona
itu harus lekas digendong keluar dari kepungan musuh.
Begitulah maka secepat terbang ia lari mendahului keluar dari
Siàu-lim-si.
Ting Jun-jiu adalah pembunuh Hian-thong dan Hian-lan,
dengan sendirinya dia dipandang sebagai musuh besar Siaulim-
pai. Maka saat mendengar iblis tua itu sudah sampai di
situ, seketika gegerlah para padri Siau-lim-si.
Segera Hian-teng mendahului berteriak, "Hari ini kita harus
tangkap hidup-hidup Ting-lokoai untuk membalas dendam
Hian-thong dan Hian lan Suheng!"
"Mereka adalah tamu, kita harus berbuat halus dahulu dan
kemudian baru memakai kekerasan," kata Hian-cu.
Para padri serentak menyatakan baik. dan Hian-cu berkata
pula kepada para tamu, "Para hadirin, apakah suka ikut pergi
menyaksilan pertempuran hebat antara Ting-lokoai melawán
orang she Buyung itu?"
Memang para ksatria sudah getol sekali ingin menyaksikan
pertarungan itu, demi mendengarkan itu, sebagian kaum
muda yang sudah tak sabar lagi segara mendahului berlari ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
luar, Menyusul Su-ok, Sin-kong dan lain-la¡n serta rombongan
Toan Cing-sun juga beramai-ramai ikut dari belakang. Dalam
pada itu para padri Siau-lim-si juga sudah siapkan senjata dan
berbaris keluar.
Sampai di luar biara, padri pengintai yang bertugas
disamping gunung tampak berlari kembali untuk memberi
lapor, "Ribuan orang Sing-siok-pai telah mengepung
rombongan Buyung-kongcu dekat gardu tunggu di tengah
gunung dan bertempur dengan sengit."
Han cu mengangguk tanda tahu. Lalu ia medekat jalanbatu
dan memandang ke bawah, terlihat di bawah sana
manusia berkerumun dengan rapat, tampaknya jumlahnya
tidak kurang dari ribuan orang. Sayup-sayup terdengar pula
sorak-sorai anggota Sing-siok-paí yang menyanjung puji
kepada Ting-lokoai. Sedangkan Tin jun jiu sendiri tampak
memimpin di samping sambil mengelus-elus jenggot.
"Para padri Siau-lim-si, pasang Lo-han-tai-tin (Barisan Lohan)!"
demikian terdengar Hian-seng berseru.
Serentak kawanan padri siau-lim-si hyang berjumlah 500
orang lebih itu membentuk barisan Lo-han-tai-tin.
Menyusul tersebarlah padri-padri lain mengelilingi
pegunungan Siau-lim-san sana.
Sudah lama para ksatria sangat ingin melihat "Lo-han-tai
tin" yang hebat, tapi selama ini belum pernah ada orang
menyaksikan barisan 'tersohor' itu. Sekarang mereka lihat para
padri Siau-lim-Si itu tersebar dalam kelompok dan rombongan
dengan warnajubah yang berbeda-beda, bahkan senjata yang
dipakai suatu regu lain pun tidak sama, secepat terbang para
padri berlarian di lereng gunung sehingga dalam sekejap saja
orang-orang Sing s iok-pai sudah terkurung di tengah.
Jumlah orang Sing-siok-pai mestinya jauh lebih banyak
daripada pihak Sían-lim-pai, tapi kebanyakan di antara mereka
adalah anggota biar belum terlatih. Kalau bertempur
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perseorangan boleh, tapi sekarang harus berperang secara tak
karuan mereka menjadi gugup, seketika puji-puji kepada Singslok
Losian menjadi hilang.
"Ting-siangsing dari Sing-siok-pai telah berani datang ke
Siau-lim-si s ini tanpa Siau-lim-pai mengundangnya, maka para
ksatria semuanya harap waspada, di samping itu mungkin
mereka melihat apa daerahTionggoan terdapat wilayah yang
lebih baik dari wilayah barat?" demikian Hian-Cu berseru.
Tapi para ksatria dari Ho-siok, Kanglam dan lain-lain lantas
berteriak-teriak mencaci-maki Ting jin-jiu yang dikatakan
sebagai hantu, pengganas harus dibasmi oleh setiap orang
persilatan. Lantas mereka pun melolos senjata dan hendak
bertempur bahu membahu dengan Siau-lim-pai.
Takkala itu Buyung Hok dan kawan-kawan sudah berhasil
merobohkan 20-30 orang Sing-siok-pai. Sekarang mereka
kedatangan bala bantuan maka lantas berhenti bertempur.
Sedangkan orang-orang Sing-siok-pai juga tidak berani
menerjang maju lagi.
Kesempatan itu dlgunakan oleh Toan Ki untuk menyelinap
ke tengah orang banyak sana dan dapat mendekati Ong-Giokyan,
katanya, "Nona Ong, sebentar biia keadaan genting,
biarlah aku menggendongmu lagi untuk lari keluar!"
Muka Giok-yan menjadi merah, sahutnya, "Aku toh tidak
terluka, juga tidak ditutuk orang aku ... aku sendiri masih
dapat berjalan ... "
Ia melirik sekejap ke arah Buyung Hok, lalu lanjutnya,
"Kepandaian Piauko juga jauh lebih dari cukup untuk
melindungi aku, maka sebaiknya engkau sendiri lekas lari saja,
Toan-kongcu!"
Sudah tentu kecut rasa hati Toan Ki atas jawaban ítu.
Pikirnya, "Ya, memangnya kepandaianku mana bisa
dibandingkan dengan piaukomu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun derníkian ia masih merasa berat untuk tinggal pergi
begitu saja. Ia mengada-ada untuk mengajak bicara, "No ...
nona Ong, apakah kau tahu ayahku juga sudah datang? Beliau
berada... berada di sanal"
Sebenarnya sudah cukup lama Giok-yan berkenalan dengan
Toan Ki, tapi selama ini pemuda itu tidak pernah menceritakan
asal-úsulnya. Giok-yan dipandangnya sebagai dewi kayangan
yang suci dan agung sebaliknya ia anggap diri sendiri seorang
yang biasa saja, dalam pandangannya dewi kayangan tentu
tiada memperdulikan pangeran orang biasa. Jika dia
mengatakan asal-usulnyamungkin akan disangka sengaja
mengugulkan kebangsawannya.
Sudah tentu Toan Ki juga tahu cinta si nona dewi hanya
dicurahkzan kepada Buyung Hok seorang, Tapi asal sì nona
sudi tertawa atau sedikit memberi angin padanya, maka
senanglah Toan Ki melebihi orang putus lotre 120 juta. Namun
demikian bicara tentang pikiran ingin mempersunting si jelita,
untuk ini Toan Ki juga cukup tahu diri terpikir pun tidak berani.
Ya, tentu juga pernah sekilas keinginan seperti itu, yakni
terkadang terurai di dalam mimpi.
Sebaliknyo Giok-yan juga agak terharu dan merasa terima
kaalh kepada Toan Ki yang telah beberapa kali
menyelamatkan dia tanpa menghiraukan jiwanya sendiri.
Namun begitu pada hakekatnya ia pun tidak pernah
memperhatikan pemuda itu.
Terkadang kalau mereka bicara tentang ilmu sikat dan
ternyata Toan Ki sama sekali tidak becus, maka Giok-yan
hanya tahu Toan Ki adalah seorang pelajar tolol yang hanya
mahir suatu jurus langkah ajaib saja. Sekarang demi
mendengar bahwa ayah pemuda itu pun datang, ia menjadi
agak heran dan bertanya, "'O, apakah ayahmu datang dari
Tayli? Kalian ayah dan anak tentu sudah lama berpisah
bukan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya," sahut Toan Ki dengan senang. "Nona ong, maukah
kuperkenalkan dirimu kepada ayahku? tentu ayah akan sangat
suka padamu."
Muka Giok-yan menjadi merah pula, sahutnya sambil
geleng kepala, "Tidak, aku tidak mau menemuinya?"
"Mengapa?” tanya Toan Ki agak kecewa. Dan ketika
melihat nona itu tidak rnenjawab. Kembali Toan Ki mengadaada
pula, "Eh, nona Ong, aku punya seorang saudara angkat
Hi-tiok namanya dia telah menjadi hwesio pula. Dan .... dan
ada juga seorang muridku dia juga sudah datang. Woh.
sungguh ramai sekali."
Giok-yan tampak terbelalak heran, pikirnya, ia sendiri tidak
becus ilmu silat, masákáh punya murid segala? Apa barangkali
mengajar dia membaca dan bersanjak?"
Karena merasa geli, tanpa terasa ia tersenyum.
Toan Ki menjadi girang melihat si jelita mau tersenyum,
segera ia menambahkan, "Nona Ong, muridku itu bernama
Gok-losam, bergelar Lam-hai-gok-sin dan punya alias 'Hiongsin-
ok-sat'. Ilmu silatnya juga tidak lemah!"
"Seorang baik-baik kenapa mesti pakai nama seburuk itu?"
ujar Giok-yan dengan tersenyum. Dari potongan Toan Ki yang
lemah-lembut itu. ia menduga muridnya tentu juga seorang
pelajar muda yang sopan-santun.
Tak terduga Toan Ki lantas menjawab, "Baik apa? Dia
justru tidak baik!”
Begitulah, biarpun terkepung di tengah orang Sing-siok-pai,
tapi dapat berbicara dan membuat Giok-yan tertawa,
sekalipun langit akan ambruk juga tak terpikir lagi oleh Toan
Ki.
Dalam pada itu dengan barisan Lo-han-tai-tin para padri
Siau-lim-si sudah balas mengepung maju dari segenap
penjuru. Ada sekelompok orang Sing-siok-pai hendak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menerjang tapi baru saja sedikit bertempur mereka sudah
kena dilabrak habis-habisan.
Cepat Tìng-lokoai berseru, "jangan bergerak dulu, tetap
pada tempat masing-masing!"
Lalu ia berteriak keras-keras, "Hian-cu Hongtiang, Siau-limsi
kalian suka mengaku sebagai pemimpin persilatan
Tionggoan, tapi menurut pandanganku sebenarnya kalian
tidak cukup dengan sekali gempur saja!"
Serentak para anggota Sing-siok-pai bersorakan memuji,
"Ya, sekali Sing-siok Losian sudah maju para hwesio Siau-limsi
pasti akan mampus semua!"
"Kalian mengaku sebagai pemimpin persilatan, tapi
sebentar tentu kalian akan rasakan batapa hebatnya Sing-siok
Losiang"
Bahkan ada yang terus mengeluarkan tambur dan
gembreng untuk mengiringi lagu pujian itu sehingga suasana
menjadi ramai.
Sudah tentu sebagian besar para ksatria tidak pernah
menyaksikan kelakuan pihak Sing-siok-pai itu, keruan mereka
terheran-heran geli.
Di tengah suasana riuh ramai itu, tiba-tiba dari bawah
gunung terdengar suara derapan kuda yang nyaring dan
makin lama makin mendekat, tidak lama kemudian dari balik
lereng sana tertampaklah empat helai bendera kuning yang
besar, pembawa bendera adalah adalah empat penunggang
kuda, bendera itu berkibar-kibar tertiup angin.
Kedua bendera sebelah kanan jelas kelihatan tertulis "Ong.
Cengpangcu Kai-pang", dan kedua bendera sisi kiri tertulis
"Ong, Ciangbun Kek-lok-pai".
Sesudah agak dekat, keempat penunggang kuda itu
melompat turun dari kuda mereka, lalu keempat helai bendera
kuning ditancapkan di suatu tanjakan yang paling tinggi. Dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dandanan keempat orang itu dapat dikenal mereka adalah
anggota Kai-pang.
"Ini dia, Pangcu Kai-pang Ong Sing-thian sudah tiba?"
demikian para ksatria saling memberi tahu.
Seperti diketahui Ong Sing thian itu adalah nama samaran
Yu Goan-ci. Selain Cumoti, Cilo Singh, Ting Jun-jiu, Buyung
Hok dan kawan-kawannya tiada lagi orang lain yang kenal dia.
Tentang sejak kapan dia diangkat menjadi Pangcu Kai-pang
dan dari mana asal-usul Kekiok-pai itu lebih-lebih tiada
seorang pun yang tahu.
Dan baru saja keempat helai bendera kuning itu
dipancangkan di tempat yang tinggi, menyusul babarisan
penunggang kuda lantas muncul dengan cepat. Yang di muka
adalah ratusan anggota Kai-páng berkentung enam, di
belakangnya ada anggota berkantung tujuh dan belasan
anggota berkantung delapan.
Selang sejenak muncul pula empat Tianglo yang
menggendong sembilan buah kantung. Semuanya tidak
bersuara mereka melompat turun dari kuda terus berbaris di
kedua sisi jalan.
Sementara itu terdengar pula suara derapan kuda yang
berdetak-detak, dua ekor kuda berwarna kelabu mendatang
dengan berjajar. Penunggang sebelah kiri adalah seorang
anak dara cilik berbaju warna ungu, cantik molek tapi biji
matanya tampak guram.
Melihat anak dara itu, seketika Wi-Sing-tiok berseru, "A Ci!"
Rupanya ia menjadi lupa dirinya di dalam penyamaran
sebagai lelaki sehingga suara seruan itu diucapkan menurut
suara aslinya. Sedangkan, penunggang kuda yang sebelah
kanan berbaju compang-camping penuh tambalan yang luar
biasa adalah air mukanya kaku dingin bagai mayat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi bagi yang berpengalaman segera mengetahui orang
itu memakai kedok, agaknya muka aslinya tidak ingin
diperlihatkan kepada orang lain. Hal ini menimbulkan rasa
curiga para ksatria. Apa barangkali orang ini adalah tokoh
ternama dalam dunia persilatan dan sengaja menyamar
sebagai Ong Sing-thian, maka muka aslinya tidak mau
diperlihatkan kepada orang lain. Dan kalau dia mampu
menjadi Pangcu Kai-pang terang dia bukanlah tokoh
sembarangan. Wah, jangan-jangan dia adalah Kiau Hong, itu
pangcu Kai-pang yang dahulu sekarang memegang pimpinan
kembali dan lenjuja dJiang memusuhi Siau-lim-pai. Demikian
pikir mereka.
Cumoti dan beberapa orang lainnya pernah kenal muka asli
Goan-ci. tapi sekarang melihat dia berada di atas kudanya,
dengan sikap yang kereng dan gagah, sorot matanya tajam
mengerling kian kemari, sama sekail berbeda dengan Goan-ci
yang lucu dan takut-takut dahulu itu tentu saja mereka
terheran-heran. Terutama Ting Jun jiu yang pernah keok di
tangan Goan-ci itu menjadi lebih-lebih waspada.
Kedatangan Ting-lokoai ini mestinya hendak mengeduk
keuntungan tatkala Siau-lim-pai bertempur dengan Kai-pang,
maka secara licik dia hendak membokong Ong Sing-thian
untuk melenyapkan musuh besar itu. Tak terduga baru sampai
punggung gunung sudah kepergok dengan rombongan
Buyung Hok hingga saling labrak, lalu padri Siau-lim-si juga
membanjir keluar sehingga sebelum pihak Kai-pang tiba pihak
Sing siok-pai sudah bertempur lebih dulu dengan Siau-Lim-pai.
Tadi A Ci juga mendengar seruan ibunya, tapi sekarang dia
ada urusan penting dan tidak ingin bertemu dulu dengan sang
ibu, maka ia pura-pura tidak mendengar, ia berkata kepada
Goan-ci alias Ong Sing-Thian, "Engkoh Sing agaknya banyak
sekali orang yang berada di sekitar, aku seperti mendengar
orang menyanyi mangatakan Sing-siok Losian maha sakti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
segala, Apakah bedebah Ting Jun-jiu dan begundalnya itu
juga berada di sini?"
"Ya, benar jumlah mereka ternyata tidak sedikit," sahut
Goan-ci.
"Wah. itulah sangat kebetulan!" seru A Ci dengan tertawa.
"Dengan demikian aku menjadi tidak perlu mencarinya ke
Sing-siok-pai yang jauh itu.”
Sementara itu anggota Kai-pang yang berjalan kaki
berbondong-bondong juga sudah sampai di atas gunung dan
telah berbaris di belakang barisan Goan-ci.
Ketika A Ci mengangkat tanganvya memberi aba-aba
segera, dua orang anggota Kai-pang masing-masing
mengeluarkan segulung kain warna ungu. Waktu dibeberkan,
kiranya adalah dua helai bendera besar dari sutra ungu.
Tatkala itu angina meniup keras, tapi kedua orang Kai-pang
itu cukup tangkas, mereka seperti tiang bendera saja sehingga
kedua bendera itu dapat dibentang dan berkibar.
Maka tertampaklah setiap bendera itu berisi enam huruf
merah yang berbunyi, "Toan, ciangbun Sing-siok-pai."
Dan begitu kedua bendera itu berkibar, seketika anggota
Sing-siok-pai menjadi kacau, segera orang-orang berteriak,
"Ciangbunjin Sing-siok-pai adalah Ting-losian yang terkenal di
seluruh jagat ini, masakah ada Ciangbunjin she Toan apa
segala?"
Menyusul seruan lain, "Huh, mengaku-ngaku dan memalsu,
tidak kenal malu! Apakah jabatan Ciangbujin boleh diangkat
sendiri? Huh, lekas masuk kemari s iluman cilik itu, kalau kamu
minta digilas hancur!"
Semua padri Siau-lim-pai dan para ksatria agak terkejut
ketika tiba-tiba mengetahui telah bertambah seorang
Ciangbujin Sing-siok-pai, tapi diam-diam mereka pun senang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan bersyukur, kalau di antara golongan setan iblis itu saling
gontok-gontokan sendiri.
Kemudian A Ci menepuk tangan tiga kali dan berseru,
"Wahai dengarkan para anggota Sing-siok-pai! Menurut
peraturan kita selama ini, jabatan Ciangbunjin harus direbut
dengan kekuatan.
Siapa paling tinggi ilmu silatnya, dia yang menjadi ketua
menjadi Ciangbunjin. Setengah tahun yang lalu Ting Jun-jiu
telah kuhajar habis-habisan, ia telah berlutut dan menyembah
padaku untuk minta ampun serta mengangkat aku sebagai
gurunya. Kedudukan Ciangbunjin juga dia serahkan padaku
sekalian? Hai, Ting Jun-jiu. kuraagajar benar kamu ini! Kamu
sekarang adalah Toatecu (murid pertama) dan harus memberi
teladan yang baik, mengapa kauberani membohongi guru dan
mengapusi para Sutemu?”
Karena suara A Ci memang nyaring, maka ucapannya itu
dengan jelas sekali dapat didengar oleh semua orang.
Keruan semua orang terheran-heran, Tampaknya A Ci
cukup anak dara berumur 16-17 tahun kedua matanya buta
pula, mengapa dapat mengalahkan Toan lokoai dan menjadi
Ciangbun Sing-siok-Pai?
Toan Cing-sun dan Wi Sing-tiok juga saling pandang
dengan ternganga. Mereka tahu anak dara itu memang betul
murid Ting Jun-Jiu, nakal dan licin ilmu silatnya biasa saja
kalau tidak mau dikatakan rendah, tapi sekarang di depan
umum dia berani mengolok-olok Ting lokoai urusan ini tentu
bisa runyum, dengan kekuatannya yang Cuma terdiri dari
beberapa orang ini betapapun susah melawan Sing-siok-pai
untuk menyelamatkan A Ci.
Sebaliknya walaupun diolok-olok, Ting Jun-jiu tetap
tertawa-tawa saja. Dasar wataknya memang culas dan kejam
sedangkan guru dan suhengnya juga dibunuh olehnya namun
tempo hari ia telah mengalami kekalahan dari Goan-ci.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Waktu itu Goan-ci baru saja mengelotok topeng besi yang
mengerudungi kepalanya itu sehingga mukanya dedel-dowel
tak keruan dan mengerikan, ia mengaku sebagai ketua Keklok-
pai dan bernama Ong Sing-Thian, maka Ting Jun-jiu,
menyangka dia adalah gurunya Thi-thau-jin, si kepala besi
yang sebenarnya adalah Goan-ci sendiri.
Sekarang di depan orang banyak A Ci mengibarkan panji
dan mengaku sebagai ketua Sing-lok-pai, keruan dada Ting
Jun jiu- serasa akan meledak, biar bagaimana pun ia bertekad
akan menempur Ong Sing thian dengan mati-matian jika tidak
mau kehilangan pamor.
Maka tetap dengan tersenyum ia lantas menjawab, "A Ci
cilik, ucapanmu memang tidak salah siapa yang kuat, dia yang
menjadi Ciangbunjin golongankita. Sekarang kaupun
mengincar keduukan Ciangbunjin tentu kamu memiliki
kepandaian. Sungguh-sungguh, maka bolehlah maju untuk
coba-coba beberapa Jurus denganku?"
Baru selesai ucapannya, sekonyong-konyong sesosok
bayangan berkelebat dan tahu-tahu di hadapannya sudah
berdiri seorang. itulah dia Y u Goan-ci.
Sungguh kejut Ting Jun-jiu tak terkatakan oleh kegesitan
Goan-ci itu. Tanpa terasa ia mundur selangkah. Tapi meski dia
sudah melangkah mundur toh tetap Goan-ci masih berada di
depannya dalam jarak seperti tadi, maka dapat diduga tatkala
dia melangkah mundur itu di luar tahunya Goan-ci juga telah
meleset maju. Keruan Ting-lokoai tambah gentar oleh
kecepatan Goan-ci yang luar biasa itu.
Memangnya Ting-lokoai sudah nekat hendak menempur
Goan-ci, sekarang Goan-ci mendesaknya sedemikian rupa,
karuan ia menjadi murka juga. "Aku kan menantang A Ci,
kenapa kamu ikut campur?" tegur Ting-lokoai berbareng
tangannya menarik ke belakang sehingga seorang anak
buahnya kena dicengkeram terus dilemparkan ke arah Goanci.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi Goan-ci cukup gesit dan tangkas, mendadak
tangannya juga menyambar ke belakang dan tepat seorang
anggota Kai-pang berkantung lima yang berdiri kira-kita dua
meter di belakangnya tanpa kuasaterus melayang ke depan
dan menubruk anggota Sing siok-pai yang dilemparkan Ting
Jun jiu tadi.
Melihat benturan yang keras itu, semua orang menduga
kedua orang itu tentu akan sama-sama tertimbuk hancur
binasa. Tak terduga setelah terbentur, segera terdengar suara
mencicit seperti benda hangus, lalu semua orang mengendus
bau sangit dan busuk memualkan. Maka tahulah mereka
bahwa Ting Jun-jiu dan Ong Sing-thian sama-sama
menggunakan racun, cepat mereka menahan napas dan ada
yang pencet hidung sendiri, ada yang lekas-lekas menyingkir
pula.
Kedua orang yang paling tumbuk itu lantas jatuh terkulai ke
tanah tanpa berkutik lagi, rupanya sudah mati sejak tadi.
Dengan gebrakan ini meski sama-sama kuatnya, tapi diamdiam
mereka pun sama jeri dan berbareng melangkah
mundur. Menyusul kedua orang sama-sama menjambret pula
ke belakang dan kembali seorang anggota golongan masingmasing
tanpa kuasa kena ditarik dan terlempar ke depan.
Kedua korban itu saling tumbuk lagi di udara dan
mengeluarkan bau sangit, lalu jatuh dan binasa.
Kiranya kepandaian yang digunakan Ting Jun-jiu dan Goanci
adalah semacam ilmu jahat dari Sing-siok-pai yang bernama
"Hu-si-iok" (racun pembusuk Jenazah). Seorang korban
dijambret dari jauh, lalu dilempar ke arah musuh. Padahal
sekali jambret itu sang korban sudah binasa lebih dulu
sehingga sekujur badan mayat itu beracun. Kalau lawan
menangkis dengan tangan pasti akan terkena racun jahat itu.
Andaikan pakai senjata juga racun yang menempel di senjata
itu akan menjalar ke telapak tangan. Bahkan mengegos juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
susah terhindar dari kecipratan hawa berbisa mayat yang
ditimpukkan itu.
Seperti diketahui, sejak Goan-ci mempelajari kungfu Singsiok-
pai berdasarkan uraian A Ci, maka ia telah melatihnya
dengan giat sehingga mendapat kemajuan pesat. Ia pikir agar
rahasia kepalsuannya tidak terbongkar, maka ia harus
meyakinkan ilmu silat setinggi-tingginya. Dari situlah ia
berhasil meyakinkan ilmu Hu-si-tok dari Sing-siok-pai yang
lihat itu melalui penuturan A Ci.
Biarpun A Ci tergolong seorang nona yang pintar dan
cerdik, tapi karena matanya sudah buta mala ia dengar sendiri
pemuda pujaannya yang mengaku bernama Ong Sing-thian,
ketua Kek-lok-pai itu, dengan sekali hantam telah
mengalahkan Tin Jun-jiu, maka sama sekali ia tidak menduga
bahwa Ong-kongcu yang maha sakti itu sebenarnya justru
memperoleh ilmu silat dari uraiannya. Setiap jurus yang
diuraikan A Ci tentu dipraktekan oleh Goan-ci dengan baik.
Karena dalam badan Goan-ci sudah penuh racun dingin ulat
sutra es, pula ditambah iwekang dari Ih-kim-keng, dengan
sendirinya menjadi luar biasa tenaga dalamnya. Satu jurus
biasa yang tiada artinya bagi A Ci di tangan Goan-ci akan
berubah menjadi maha sakti, Keruan A Ci merasa kagum tak
terhingga.
Sebaliknya Goan-ci juga mengajarkan sedikit cara berlatih
Iwekang menurut Ih-kin-keng. Ia mengatakan ilmu itu adalah
ilmu dasar Kek-lok-pai. Maka A Ci juga lantas melatihnya,
walaupun tidak banyak kemajuannya, tapi badannya tambah
sehat dan segar.
Namun sifat A Ci suka bergerak, disuruh tinggal di tempat
yang sunyi untuk melatih ilmu silat, dengan sendirinya ia jadi
bosan. Maka hanya beberapa bulan saja ia sudah tidak
kerasan dan mendesak Goan-ci membawanya jalan-jalan ke
kota.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu kepandaian yang dimiliki A Ci, hampir
seluruhnya sudah dipàhami Goan-ci, terpaksa ia menurut
permintaan dara itu dan berangkat.
Kebetulan ketika bertemu kelenteng kuno waktu mereka
hendak berteduh, diluar dugaan mereka mendengar
percakapan orang-orang anggota Kai-pang tentang pemilihan
Pangcu yang akan diadakan pada hari tertentu di kaki gunung
Hok-gu-san.
Karuan A Ci sangat girang, segera ia suruh Goan-ci
menawan kedua anggota Kai-pang itu setelah ditanya,
akhirnya diketahui bahwa sesudah Siau Hong dipecat, Thongkong
dan Cit-hoat tianglo berturut-turut juga meninggal dunia,
dalam keadaan tiada pimpinan maka kekuatan Kai-pang
mundur banyak. Sebab itulah para Tianglo Kai-pang
menetapkan hari tertentu untuk mengadakan pemilihan ketua
baru.
Karena pernah tinggal cukup lama bersama Siau Hong, A Ci
banyak dengar cerita tentang kejadian dan peraturan Kaipang,
maka diketahuinnya anggota Kai-pang sendiri yang
dapat dipilih sebagai Pangcu, Segera ia memaksa kedua
anggota Kai-pang itu mau menerima mereka sebagai anggota.
Karena disiksa dengan cara-cara keji, saking tidak tahan
akhirnya kedua anggota Kai-pang itu menerima denganbaik
keinginan A Ci itu, dan dalam waktu yang tepat dapatlah
mereka ikut hadir di lereng Huk-gu-san.
Tatkala itu kepandaian Goan-ci sudah tentu tak dapat
ditandingi oleh Song-tianglo, Go-tianglo, Tan-tianglo dan lainlain.
Maka dalam beberapa kali gebrak, dengan mudah sekali
Goan-ci dapat merebut kedudukan Pangcu. Karena melihat
kepandaian Goan-ci memang sangat tinggi dan sukar dijajaki,
maka semua anggota Kai-pang sangat kagum dan takluk
padanya, semuanya merasa beruntung dan bahagia,
memperoleh seorang pemimpin maha sakti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seperti diketahui di dalam Kai-pang ada seorang tokoh
yang cerdik pandai bernama Coan Koan-jing, pernah menjabat
Tho-cu (pemimpin) "Tai-si-han-tho" suatu pasukan yang
merupakan tulang punggung Kai-pang. Dengan licin dia
mengadakan fitnah dan hasutan agar anggota Kai-pang
membangkang kepada pimpinan Siau Hong. Kebetulan
kedudukan Siau Hong diketahui memang betul adalah
keturunan bangsa Cidan sehingga akhirnya Siau Hong benarbenar
dipecat dari Kai-pang.
Waktu Coan Koan-jing mengadakan "kudeta" kebetulan
Thong-kong Tianglo dan Cit-hoat Tianglo juga ikut tersangkut
dan ditawan, apalagi sebagian besar anggota Kai-pang
sebenarnya masih sangat sayang kepada Siau Hong yang
gagah perwira itu. Muka tidak lama kemudian Song-tianglo
dan lain-lain lantas mencari sesuatu alasan dan memecat
kedudukan Coan Koan-jing sebagai Tho-cu serta menurunkan
pangkatnya menjadi anggota berkantung lima, padahal
sebelumnya ia berkantung delapan.
Sesudah Goan-ci menjabat Pangcu, Coan Koan-jing lantas
mencari kesempatan baik dan berhasil mendekati A Ci. Dasar
licin, ia pandai menjilat dan mengumpak, ia pintar mencari
macam-macam permainan untuk menyenangkan A Ci yang
buta itu. Bahkan akhirnya ia mengusulkan agar Kai-pang
berebut Bu-lim Beng-cu dengan Siau-lim-pai, supaya "Ong
Sing-thian" dapat menjadi tokoh nomor satu di dunia
persilatan.
Dasar sifat A Ci juga suka menang dan suka mencari
perkara, biarpun buta wataknya itu tetap tidak pernah
berubah, Tentu saja usul Coan Koan-jing itu sangat mencocoki
kesukaannya.
Sebenarnya Goan-ci tidak pernah ingin menjadi Bu-lim
Beng-cu apa segala, tapi ia sudah biasa tunduk kepada segala
apa yang dikatakan A Ci, maka ia pun tidak membantah usul
Coan Koan-Jing itu. Segera segala rencana dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pelaksanaannya diserahkan pada Coan Koan-jing untuk
mengaturnya. Dan berkumpulnya para ksatria dari segenap
penjuru di Siau-lim-si pada tanggal 15 bulan enam itu bukan
lain adalah hasil karya Coan Koan-jing.
Sebelum Kai-pang berangkat ke Siau-sit-san, sementara itu
pangkat Coan Koan-jing sudah naik empat tingkat, sekarang
dia sudah Tianglo sembilan kantung untuk menggantikan
kedudukan Go-tianglo yang dipukul mati oleh Siau Hong
dahulu, dia dan Song, Go dan Tan Tianglo disebut Su-taitianglo
(empat tertua).
Bahwasanya di Siau-sit-san akan bertemu dengan Ting Junjiu,
hal ini sama sekali di luar perhitungan Coan Koan-jing.
Tapi ia pun tahu Ting jun-jiu pasti akan menantang A Ci, maka
sebelumnya ìa telah membisiki Goan-ci, asal Ting-lokoai
membuka suara pemuda itu disuruh, segera maju untuk
mewakilkan A Ci.
Sekarang kedua orang sudah bergebrak dan sama-sama
mengetahui kelihaian masing-masing. Mereka masih terus
saling timpuk dengan menggunakan anak buahnya sendiri
sebagai senjata, dan tìap-tiap kali menimpukan orang lantas
sama-sama mundur selangkah. Maka terdengarlah suara
"blak-bluk” berulang-ulang, dalam sekejap saja masing-masing
pihak sudahmengorbankan sembilan anak buahnya sendiri
sehingga di tanah sudah menggeletak 18 sosok mayat yang
menyeramkan.
Dengan ketakutan anak buah Sing-siok-pai lantas main
mundur ke belakang untuk mencari selamat agar tidak
dijadikan korban oleh sang guru. Namun begitu suara pujapuji
mereka kepada Ting-lokoai masih tidak berhenti, cuma
suaranya agak gemetar.
Sebaliknya anggota Kai-pang juga terperanjat ketika
mendadak nampak Pangcu mereka mengeluarkan ilmu berbisa
itu. Ada yang berpikir, "Tindak-tanduk Kai-pang kita
selamanya terkenal mengutamakan keluhuran budi, mana
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
boleh Pangcu menggunakan ilmu jahat yang tidak cocok
dimiliki oleh seorang ksatria sejati?"
Dan ada pula yang berpendapat, "Andaikan Siau Hong
masih menjadi Pangcu kita tentu beliau akan menggunakan
ilmu sejati dari Kai-pang sendiri untuk menghajar Iblis tua itu."
Begitulah, sesudah kedua orang sama-sama melemparkan
sembilan anak buahnya, maka masing-masing juga sudah
mundur hamper 9 meter jauhnya, jadi jarak mereka sekarang
sudah belasan meter. Ketika Ting Jun-jiu menggunakan
tangannya hendak mencengkeram pula, tahu-tahu ia
menangkap tempat kosong, waktu menoleh, sekilas ia lihat
anak buahnya semua menyingkir agak jauh dengan ketakutan.
Dalam pada itu orang kesepuluh yang dilemparkan Goan-ci
itu sudah menyambar tiba. Keruan Ting Jun-jiu terkejut dan
gusar pula kepada anak buahnya. Dalam keadaan berbahaya,
tanpa pikir lagi ia terus melompat mundur kalangan tengah
anak buahnya.
Sementara itu anggota Kai-pang yang dilemparkan Goan-ci
itu sudah meluncur tiba dengan cepat. Ketika anggota Singsiok-
pai hendak lari sudah tidak keburu lagi, maka
terdengarlah jeritan takut tujuh atau delapan orang, sekaligus
mereka kena di timpuk oleh mayat itu. Karena mayat itu
benar-benar maha jahat, dalam sekejap saja kedelapan
korban itu bergelimpangan di tanah dengan muka hitam
hangus, sesudah berkelejetan beberapa kali, lalu binasa.
A Ci terlihat senang, ia tertawa mengejek, katanya, "Hei,
Ting-jun-jiu, Ong pangcu adalah pembela aku, ketua Singsiok-
pai, jika kauingin bertanding dengan aku, kamu harus
mampu menangkan pertandingan dulu, Nah, bagaimana
sekarang yang kalah kamu atau dia?"
Ting Jun-jiu sangat mendongkol, Bicara tentang kepandaian
sejati sekali kali ia tidak kalah. Walaupun tenaga dalam Goanci
memang hebat tapi dari caranya melempar korban tadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terang dia cuma mendapat sedikit kepandaian kasaran dari A
Ci saja, di mana letak perubahan-perubahan kelihaian ilmu
"Hu-si-tok” itu sama sekali tak diketahui. Jadi kalahnya
terletak pada anggota Sing-siok-pai lebih pengecut dan takut
mati sehingga dia kehilangan senjata dan akhirnya dapat di
dahului oleh serangan Goan-ci.
Namun Ting-lokoai lantas mendapat akal tiba-tiba ia
mendongak dan terbahak-bahak.
"Eh, tertawa? Masih tertawa? Apa yang kau tertawakan?"
tanya A Ci.
Tapi Ting Jun-jiu masih terus bergelak tertawa, sekonyongkonyong
kedua tangannya bekerja sekaligus 8 sampai 9 anak
buah Sing siuk-pai disambarnya terus ditimpukkan susul
menyusul ke arah Goan-ci dengan cepat luar biasa.
Goan-ci sendiri, tidak mahir "Hu-si-tok" secara berantai itu,
ia hanya sempat menimpukkan tiga anggota Kai-pang dan
untuk selanjutnya ia jadi kelabakan. Dalam keadaan
berbahaya, terpaksa ia meloncat setinggi-tingginya ke atas
sehingga mayat-mayat berbisa itu menyambar lewat di
bawahnya.
Tujuau Ting lokoai justru ingin memaksa Goan-ci
menghindar, tiba-tiba sabelah tangannya mengayun ke depan
terus ditarik lagi. Maka terdengarlah A Ci menjerit kaget dan
tanpa kuasa tubuhnya terseret dan melayang ke arah Ting
Jun-Jiu.
Keruan semua penonton terparanjat. Mereka tahu ada ilmu
sebangsa "Kim-liong-kang" (Ilmu menangkap naga), "Na-houkang"
(ilmu menangkap harimau) dan sebagainya yang dapat
mencengkeram musuh dari jarak beberapa meter jauhnya tapi
tidaklah mungkin mencapai sejauh belasan metar seperti Tinglokoai
sekarang ini. Tentu saja banyak di antara penonton itu
merasa sangat jeri dan kagum pula kepada ilmu sakti Lokoai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka tidak tahu bahwa cara Ting-lokoai menangkap A Ci
itu bukan dengan kepandaian yang sejati, tapi ia
menggunakan semacam alat yang merupakan satu di antara
ketiga jimat Sing-siok-pai mereka yaitu alat yang disebut "Juni-
soh" (tali benang sutra halus).
Benang sutra yang sangat halus dan bening tembus itu
diperoleh dari ulat sutra salju yang badannya lebih kecil dari
ulat es dan tak berbisa. Tapi sutra yang dihasilkan ulat salju
itu sangat ulet dan kuat. Ulat salju itu tidak dapat membuat
kepompong sehingga sutranya juga sangat terbatas dan susah
dicari. Dahulu sebabnya Leng Jian-li membunuh diri adalah
karena digoda oleh A Ci dengan jaring yang terbuat dari sutra
halus yang tak kelihatan ini.
Sekarang tali sutra yang digunakan Ting Jin-jiu ini jauh
lebih ulet daripada kepunyaan A Ci itu. Ketika sekaligus ia
melemparkan sembilan anak buahnya, berbareng ia pun
mengayunkan tali sutranya. Jadi mayat-mayat berbisa yang
dia lemparkan itu hanya untuk memaksa Goan-ci menyingkir
dan untuk mengetahui pandangan para penonton saja dengan
demikian orang menjadi tidak menduga sama sekali akan tali
sutra yang dia ayunkan itu.
Ketika A Ci terkejut atas serangan itu, namun sudah kasip,
ia kena diseret ke arah Ting lokoai. Menyusul punggung A Ci
lantas dijambret oleh iblis tua itu, bahkan sekalian ditutuk hiatto
nya supaya tidak dapat berkutik, lalu tali sutra itu digulung
dan dimasukkan ke dalam baju. Jadi melemparkan sembilan
korban, mengayunkan tali sutra, menarik dan menangkap A
Ci, semuanya dilakukan Ting Jun-jiu dengan sekaligus di
tengah gelak tertawanya yang tak putus-putus sampai A Ci
tertawa olehnya.
Saat itu tubuh Goan-ci masih terapung di udara, keruan ia
terkejut dan kuatir ketika melihat A Ci tertangkap musuh.
Dalam pada itu sembilan mayat berbisa sudah melayang lewat
di bawah kakinya, maka waktu turun ia terus menubruk maju
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan sebelah telapak tangan menghantam sekuatnya ke arah
Ting-lokoai.
Cepat Ting Jun-jiu angkat A Ci dan disodorkan ke depan
untuk menerima pukulan Goan-ci yang maha dahsyat itu.
Keruan Goan-ci menjadi bingung. Meski ilmu silatnya sekarang
sudah sangat tinggi, tapi pengalamannya dalam pertempuran
boleh dikata masih hijau, maka waktu pukulan sendiri hendak
mencelakai A Ci tanpa pikir lagi ia tarik kembali tenaga
pukulan sendiri itu, padahal asal dia sedikit miringkan
pukulannya dan dengan sendirinya akan luput mengenal A Ci.
Tapi dia terlalu cinta dan menghormati A Ci, begitu melihat
gelagat jelek, tanpa pikir ia tarik kembali tenaga pukulan
sendiri sehingga dadanya mirip dihantam sendiri oleh tenaga
pukulan yang sama dahsyatnya. Kontan ia sempoyongan
sendiri dan memuntahkan darah segar.
Kalau orang lain mungkin jiwanya sudah melayang, untung
Goan-ci sudah berhasil menyakinkan iwekang dari kitab Ih-kinkeng.
namun begitu pukulan sendiri itu pun membuatnya
tumpah darah. Dan baru dia hendak ganti napas untuk
menyerang pula, namun Ting-lokoai sudah tidak memberi
kesempatan lagi padanya, beruntun-runtun ia memukul empat
kali.
Karena belum sempat menghimpun kembali tenaganya,
terpaksa Goan-ci hanya menangkis sebisanya dan setiap kali ia
menangkis, setiap kali muntah darah pula. Bahkan sedikit pun
Ting-lokoai tidak kenal ampun, menyusul pukulan kelima
dilancarkan lagi untuk membinasakan lawannya.
Melihat itu, para penonton menjadi gempar beberapa orang
berteriak dan membentak akan kekejaman Lokoai itu.
Beberapa ksatria diantaranya juga sudah siap-siap hendak
memberi bantuan kepada "Ong Sing-thian".
Tak terduga baru saja pukulan kelima Ting-Jui jiu sendiri
tergetar mundur selangkah. Bagi para ksatria yang tajarn
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pandangannya segara mengetahui bahwa dalam gebrakan itu
Ting-lokoai mengalami kerugian, maka mereka pun urung
memberi bantuan.
Kiranya sesudah muntah darah akhirnya hawa murni Goancidapat
berjalan lancar lagi, tepat dapat menyambut serangan
kelima Ting-lokoai dangan racun jahat ulat es dan Iwekang
yang hebat.
Pada setengah tahun yang lalu Ting Jun-jiu juga pernah
kecundang di bawah pukulan Goan-ci selama setengah tahun
ini melatih tenaga pukulan sudah tentu Ting Jun jiu bukan
tandingannya. Coba kalau Goan-ci tidak terluka lebih dulu,
kelima kali gontokan tadi pasti akan membikin Ting Jun-jiu
yang terdesak mundur dan bukan Goan-ci.
Walaupun sudah tergetar dan dada terasa sesak, namun
Ting-lokoai masih belum kapok dan merasa penasaran. Segera
ia kerahkan segenap tenaganya, sambil membentak, dengan
kumis dan jenggot sama menyengkit saking murkanya, terus
saja ia lontarkan pukulan yang maha dasyat.
Namun Goan-ci malah melangkah maju dan menyambut
pukulan itu sambil berseru, "Lekas lepaskan nona Toan!"
Beruntun-luntun la pun membarengi hantam empat kali
setiap kali menghantam selalu diikuti dengan melangkah ke
depan, Karena majunya itu, sekarang jaraknya dengan Ting
Jun-jiu sudah sangat dekat, asal tangannya meraih tentu A Ci
akan dapat dirampas olehnya.
Melihat muka Goan-c¡ yang kaku dingin bagai mayat
(karena memakai kedok) itu, mau tak mau Ting-lokoai
menjadi jeri. Tapi ia masih coba tersenyum dan berkata,
"Awas, segera aku akan menggunakan Hu-si-tok lagi, boleh
coba menyambutnya pula!"
Sembari berkata tubuh A Ci terus diangkat dan digoyanggoyangkan
pelahan beberapa kali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"He. jangan, jangan!" seru Goan-ci dengan suara gemetar,
terang kuatirnya tak terhingga.
Mengapa Goan-ci begitu kuatir? Sebab sekali Ting Jun jiu
menggunakan ilmu "Hu-si-tok", itu berarti seketíka A Ci akan
menjadi mayat berbisa.
Ting Jun jiu memang orang cerdik, demi melihat kelakuan
Goan-ci itu, segera ia tahu bahwa pemuda itu sudah tergilagila
kepada A Ci. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan
dirinya. Tujuannya semula sebenarnya A Ci akan dibinasakan
supaya tidak dapat berebut kedudukan Ciangbujin Sing-siokpai
mereka. Sekarang melihat Goan ci begitu kuatir atas
keselamatan A Ci maka ia menaksir nona cilik itu tentu dapat
diperat untuk menundukkan Ong Sing-thian yang lihai itu.
Maka berkatalah Ting-lokoai, "Apa kamu tidak ingin dia
mati?"
"Ya. le ... lekas lepaskan dia, lni sang ... sangat berbahaya
...." demikian sahut Goan-ci dengan terputus-putus.
"Haha, kalau aku mau membunuh dia boleh dikata terlalu
gampang, buat apa melepaskan dia?" sahut Lokoai dengan
tertawa. "Dia adalah muridku yang murtad dan khianat, kalau
orang begini tak dibunuh, siapa yang harus dibunuh?"
"Tapi .... tapi dia adalah.. . adalah nona A Ci, ba .. .
bagaimanapun jangan .. . jangan kaubunuh dial Engkau telah
membutakan matanya, maka .... maka aku mohon padamu,
jang....jangan membunuh dia lagi! Le ... lekas kau lepaskan
dia dan aku tentu akan membalaa kebaikan ... kebaikanmu
ini!"
Dalam kuatirnya cara bicara Goan-ci menjadi tak keruan
sehingga sama sekail tidak pantas sebagai seorang Pungcu
atau ketua Kek-lok-pai.
Maka Ting Jin-jiu menjawab, "Untuk mengampuni dia sih
boleh àsal saja kamu menerima beberapa syaratku."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Boleh, boleh!” sahut Goan-ci cepat, "Jangankan beberapa
syarat, sekalipun seratus atau serìbu syarat juga kuterima."
"Bagus," kata Lokoai. "Nah, pertama, kamu harus segera
mengangkat aku sebagai guru, untuk selanjutnya kamu adalah
murid Sing-siok-pai kami."
Tanpa pikir lagi Goan-ci berlutut dan menyembah, katanya,
"Suhu, terimalah hormat muridmu Ong Sing-thian!"
Dalam pikiran Goan-ci, toh dulu dia sudah pernah
mengangkat Lokoai sebagai guru, kalau sekarang
menyembah, lagi apalah alangannya?
Ia tidak menduga bahwa dengan tindakannya itu para
ksatria telah dibuatnya menjadi panik. Para Tianglo dan
anggota Kai-pang yang terkemuka juga merasa penasaran
sekali. Pikir mereka"Kai-pang kini adalah suatu organisasi
terbesar, selamanya terkenal sebagai golongan yang luhur
budi dan membela keadilan tapi sekarang Pangcu justru
mengangkat guru pada Sing-siok-Lokoai yang terkenal busuk
dan jahat itu. Terang orang demikian tidak dapat
dipertahankan jadi pang-cu kita."
Sebaliknya di pihak Sing-siok-pai serentak berbunyilah
tambur gembreng dan seruling, bergemuruh mereka
menyanyikan lagu Sing-siok losian maha saktl dan macammacam
sanjung keji yang mendirikan bulu roma
pandengarnya.
Tadi ketika melihat A Ci ditawan Ting Jun jiu, Toan Cingsun
dan Wi Sing-tiok juga saling pandang dengan kuatir. Tapi
mareka insaf bukan tandingan Sing-sok Lokoai kalau berani
maju tentu akan mengantarkan nyawa belaka. Kemudian
ketika melihat "Ong Sing-thian" berlutut dan minta ampun
demi putri mereka itu, hal ini benar-benar di luar dugaan
mereka,
Diam-diam Wi Sing-tiok sangat heran dan giráng pula,
dengan berbisik-bisik ia berkata kepada Cing-sun, "Lihatlah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu, betapa mendalam cinta kasih orang, setitik pun engkau
tak dapat memadainya,"
Di sebelah sana Toan Kí juga lagi melirik ke arah Giok-yan,
katanya di dalam hati, "Betapa rindu dendamnya kepada nona
Ong boleh dikata sudah tiada taranya, tapi kalau dibandingkan
Ong-pangcu ini mungkin masih jauh sekali. Coba kalau nona
Ong yang tertawan Sing-siok LoKoai, apakah aku mau berlutut
dan menyembah padanya?"
Berpikir sampai di sini. mendadak semangat Toan Ki
bergolak, ia merasa mati pun rela asalkan demi Ong Giok-yan,
apalagi cuma dihina saja di depan umum. Karena pikiran itu,
tanpa terasa ia berkata, "Mau. aku mau. tentu aku mau!"
Giok-yan menjadi heran, tanyanya, "Kau mau apa?”
"O. ti.... tidak, aku ... aku ... " Toan Ki menjadi gelagapan
dengan muka merah.
Dalam pada itu habis menyembah Goan-ci sudah berdiri
kembali. Ketika melihat A Ci masih dicengkeram Ting lokoai,
segera ia berkata, "Suhu lekas engkau melepaskan dial"
"Budak cilik ini terlalu kurangajar masakah begini enak
lantas mengampuni dia!” sahut Lokoai dengan mendengus.
"Ya, kecuali kalau kaumau menebus dosanya dengan
membuat beberapa pahala bagiku."
"Ya, ya, Tecu harus membuat pahala apa" tanya Gonn-ci.
"Sekarang Juga boleh kautantang Hongtiang Siau-lim-si
Hian-cu, gempur dan bunuhlah dia," kata Lokoai.
Goan-ci menjadi ragu, jawabnya, "Tecu tiada permusuhan
apa-apa dengan dia, meski Kai-pang hendak berabut
kedudukan dengan Siau-lim-pai, namun tidak perlu saling
membunuh."
Lokoai menjadi gusar, dampratnya, "Kau berani
membangkang pada perintah guru hal ini menandakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemunafikanmu, kamu mengangkat guru padaku jadi cuma
pura-pura saja?"
Yang diharapkan Goan-ci asalkan A Ci bias selamat, maka
ia tidak pedulikan lagi tata-krama orang kangouw apa segala.
Segera ia menjawab, "Ya, ya! Cuma ... Cuma cuma silat Siaulim
pai teramat lihai, Tecu akan ... akan berbuat sebisa
mungkin. Tapi ... tapi harap Suhu juga pegang janji jangan ...
jangan engkau membikin susah nona A Ci."
"Membunuh Hian-cu atau tidak bergantung padamu,
membunuh A Ci atau tidak bergantung padaku,” sahut Lokoai,
Rupanya dia sengaja menghasut agar Kai-pang bertempur
dengan Siau-Lim-pai, dengan demikian dia dapat mengail di
air keruh.
Terpaksa Goan-cl putar tubuh ke arah Slau lim-pai,
serunya. "Hian-cu Hong-tiang, selamanya Siau-lim-pai dan Kaipang
sama-sama menjagoi dunia persilatan Tianggoan,
masing-masing tiada di bawah perintah siapa-siapa. Tapi hari
ini kita harus menentukan unggul dan asor, yang menang
akan menjadi Bu-lim Beng-cu, yang kalah mesti tunduk pada
perintahnya,"
Sinar matanya mengerling ke arah para ksatria, lalu
melanjutkan, "Nah, para ksatria hari ini sudah hadir semua di
sini, kalau ada di antaranya yang merasa tidak terima boleh
ciaju untuk bartanding dengan Bu-lim Beng-cu,"
Di balik ucapannya ilu seakan-akan sekarang juga dia
sudah menjadi Bu-lim Beng-cu. Sudah tentu semua oravg
sangat gusar. Tadi pambicaraan Ting Jun-jiu dan Goan-ci juga
sudah didengar para padri Siau-lim-pai, mereka menjadi
sangat murka karena Lokoai berani terang-terang menyuruh
Ong Sing-thian menantang dan membunuh Hian-cu
Hongtiang, Tapi kalau melihat pertarungan kedua orang tadi
terang kepandaian Ong sing-thian itu memang sangat tinggi
lagi keji, maka sukar diramalkan apakah Hian cu mampu
melawannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Walaupua Hían-cu tidak suka berkelahi, tapi ia sudah
ditantang secara terbuka, untuk menghindar terang tak bisa
lagi. Terpaksa ia rangkap kedua tangannya dan bersabda,
"Selama beratus tahun ini kai-pang terkenal sebagai saka guru
dunia parsilatan Tionggoan, setiap ksatria di dünia tahu siapa
yang tidak kagum. Pangcu kalian yang dahulu juga bersahabat
sangat karib dengan kami. Sekarang Ong-Pangcu menjabat
sebagai Pang-cu baru, memang kami agak teledor karena
terlambat mengirimkan ucapan selamat. Namun begitu
hubungan kita selama ini sangat baik dan saling menghormati,
entah mengapa hari ini Ong pangcu marah-marah kepada
kami, dapatkah kami diberitahu di mana letak kesalahannya
dan biarlah dipertimbangkan secara adil oleh para ksatria yang
hadir di sini."
Goan-ci rnasih hijau dan kepalang tanggung sekolahnya,
sudah tentu ia tidak dapat berdebat dengan Hian-cu. Tapi
sebeium datang ke Siau lirn-si ia sudah mendapat "kursus”
dari Coan Koan-jing. tentang apa-apa yang harus dikatakan,
maka sekarang ia pun menjawab, "Di utara kerajaan Song kita
ada negeri Tayli, dibarat ada Se He dan turfan daa diselat ada
kerajaan Liau keempat negeri as lng itu selala mengìncar tanah
air kita, maka .. . maka ... "
Ternyata dia telah salah mengatakan letak negeri-nagerl
Tayli dan Liau, mestinya Tayli terletak dì selatan dan Liau di
utara. Karena itu banyak di antara para pendengarnya tertawa
geli mengejek.
Goan-ci tahu ucapannya ada yang keliru tapi tak mungkin
ditarik kembali lagi, karuan ia menjadi malu, untung la
memakai-kedok sehingga orang lain tidak tahu. Dan sesudah
tergegap-gegap sebentar kemudian la berdehem dan
melanjutkan "Ehem! Kerajaan Song kita terlalu miskin dan dan
lemah, maka kaum kita harus beramai-ramai membela ...
membela tanah air dan bersama-sama melawan musuh."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar ucapannya cukup beralasan serentak para
ksatria memberi aplus tanda setuju.
Keruan Goan-ci menjadi semangat, segara ia menyambung,
"Dan akhir ini, karana gangguan-gangguan negeri musuh itu,
maka ... mka kewajiban kaum kità juga tambah barat kita ...
kita harus bersatu-padu. bergotong-royong untuk menghadapi
segala kesukaran itu. Tapi di antara berbagai golongan dan
aliran kita justru masih suka gontok-gontokan, saling bunuh
mambunuh, pendek kata akan merugikan persatuan kita,
seperti tempo hari, hanya seorang Kiau Hong saja sudah
membikin kocar-kacir para ksatria Tionggoan, apalagi paling
akhir Ini kabarnya Sing siok Lo ...siok Lo ... Lo itu juga .... "
Sebenarnya Coan-Koan-jing telah mengajarkan dia agar
menyatakan. "Sing-siok Lokoai telah mernbunuh dua padri
agung Siau-lim-si dan orang orang Slau-lim-pai sama sekali
tak berdaya." Kalimat itu sebenarnya sudah diapalkan Goan-ci
di luar kepala, tapi sekarang dia telah mengakui Lokoai
sebagal Suhu, dengan sendirinya ia tidak dapat menyebutnya
sebagai Lokoai maka kata-kata yang hampir diucapkan itu
ditelannya kembali mentah-mentah.
Karena itu para ksatrla msnjadl geli, segera ada orang
menanggapi, "Dia adalah Lokoai (iblis tua), dan kamu adalah
Siau-yau (dewi s iluman cilikz) Hahaha!"
Namun orang orang Sing-siok pai juga tidak mau kalah
suara, serentak mereka menggema ke angkasa. Tapi pada
waktu suara mereka sudah mulai pila, sekonyong-konyong di
antara orang banyak ada seorang yang mulai menyanyi lagi
dengan suara yang serak tapi bernada tinggi.
Mula-mula ia menyanyi menurunkan irama orang-orang
Sing-siok-pai tadi, begitu pula syairnya juga sama, tapi ketika
sampai pada bait syair yang terakhir, mendadak ia sengaja
menekuk suaranya sedemikian rupa, dan kata-kata pujian
pada Ting Jun-jiu juga diganti sehingga menjadi "Sing-siok
Lokoai, kentut busuk."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semula orang-orang Sing-siok-pai mengira di antara
kawannya ada yang sengaja menyanyi "solo" dengan suara
tenor. siapa duga kata-kata terakhir itu sama sekali berbeda
daripada syair Lagu yang sebenarnya, kata-kata itu sengaja
ditarik panjang sehingga kedengarannya menjadi sangat
merdu.
Keruan para ksatria tertawa tarpingkal-pingkal, sebaliknya
orang-orang Sing-siok-pai sama mencaci maki.
"Wah. Pau-samko, suaramu boleh juga, ya!" demikian seru
Giok-yan dengan tersenyum.
"Ah, lumayan saja!” sahut Pau Put-tong.
Kiranya penyanyi solo dengan suara tenor itu adalah hasil
karya Pau put-tong yang jahil. Keruan semua orang tambah
geli.
Dan ditengah gelak-tawa dan caci-maki itu Goan-ci
berbisik-bisik berunding dengan Coan Koan-Jing. Lalu berseru
pula, "Mengingat apa yang kukatakan tadi, demi kepentingan
bersama, kami mengusulkan agar di antara kita dipilih seorang
Bu-lim Beng-cu untuk memberi pimpinan pada kita. Untuk ini
entah Hian-cu Hongtiang setuju atau tidak?"
"Usul Ong-pangcu memang cukup beralasan," sahut Hiancu
dengan kalem. "Cuma ada sesuatu yang aku kurang
mengerti, maka diharap Ong-pangcu suka memberi
penjelasan."
"Tentang apa?" tanya Goan-ci.
"Sekarang Ong-pangcu telah mengangkat Sing-siok Losian
sebagai guru, dengan demikian. engkau sudah terhitung orang
Sing-siok-pai, benar tidak?"
"ini ... ini adalah utusan pribadiku dan ... dan tiada
sangkut-pautnya denganmu," sahut Goan-ci dengan tergagap.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tapi Sing-siok-pai terhitung aliran benua barat dan bukan
sekaum dengan kita." Sambung Hian-cu. "Maka soal pemilihan
Bu-lim Beng-cu segala sesungguhnya bukanlah urusan Singsiok-
pai dan juga tidak ada hak buat ikut campur."
"Ya, benar!”
"Tepat sekali ucapan Hongtiang itu!"
"Benar, kamu adalah budak golongan asing mana boleh
mimpi hendak menjadi Beng-cu dunia persilatan Tionggoan
kita!" demikian beramai- ramai para ksatria berteriak.
Goan-ci menjadi bingung dan tak dapat menjawab. ia
pandang Ting Jun jiu dan pandang Coan Koan jing pula
dengan harapan mereka dapat membantu jawabannya.
Maka sesudah berdehem-dehem dulu, lalu Ting Jun-jiu
berseru, "Ucapan, Hong-tiang barusan kurang tepat, sebab
aku berasal dari propinsi Soe-tang dan terhitung suatu
kampung dengan nabi Khong-hu-cu, aku yang membangun
Sing-siok-pai, mana boleh dikatakan sebagal aliran negeri
asing? Kalau bicara tentang asing dan tidak, cikal-bakal Siaulim-
si sendiri, Tat-mo Cosu (Budhi darma) kan berasal dari
negeri Thian-tiok, agama Budha juga berasal dari negeri
asing, kalau kalian juga dituduh menganut ajaran dan
kepandaian impor, apakah kalian mau terima?"
Sanggahan ini membuât Hian-cu dan lain-lain merasa susah
untuk menjawabnya.
Bahkan Coan Koan-jing juga segera ikut bicara, "Sumber
asal mulanya ilmu silat di dunia ini memang sukar diusut. Ada
kepandaian berasal barat yang dipelajari di negeri timur
sebaliknya banyak juga ilmu negeri timur yang masuk ke
negeri barat. Yang terang Ong-pangcu kita adalah bangsa
awam, Kai-pang juga sudah dikenal sebagai organisasi
terbesar di negeri kita dia dengan sendirinya beliau harus
dianggap sebagai tokoh persilatan Tionggoan, pendek kata
urusan hari ini hanya dapat diputuskan dengan kekuatan dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak perlu berperang lidah, apakah sebentar Sìau-lim-pai atau
Kai-pang akan menang, hal ini akan ditentukan oleh
pertandingan kalian sebagai pemimpin kedua pihak, maka
tidak perlu banyak bicara lagi. Tapi kalau pihak Siau-lim-pai
menyadari bukan tandingan Pangcu kami dan terima mengaku
kalah serta bersedia mengangkat Pangcu kami sebagai Bengcu,
maka segala pertarungan tentu akan dapat dihindarkan."
Di balik kata-katanya itu seakan-akan menganggap Hian-cu
merasa jeri, maka sengaja menggunakan macam-macam
alasan. Keruan Hian-cu sangat mendongkol, segera ia
melangkah maju dan berkata, "jika Ong-pangcu sudah
berkeras ingin main-main beberapa jurus denganku, bila
kutolak lagi tentu akan menjadi kurang hormat. Kai-pang
kalian yang telah bersahabat selama beratus tahun dengan
Siau-lim-si kami. Nah, wahai para kawan yang hadir di sini,
oleh karena terpaksa, tiada jalan lain lagi terpaksa kulayani
tantangan Ong-pangcu."
"Ya, kami menyaksikan Siau-lilm-si bukan pihak yang
salah," seru para ksatria.
Dalam pada itu Goan-ci sudah tidak sabar lagi karena
menguatirkan keselamatan A Ci yang masih berada dalam
genggaman Ting-lokoai itu. Segera ia berteriak, "Sudahlah,
tidak perlu banyak cingcong, silakan maju!"
Dasar Goan-ci memang bukan anak baik-baik, pada waktu
kecilnya kurang didikan dan sangat nakal, sesudah besar
bergaul pula dengan A Ci yang jahil itu, maka sedikit-banyak
ia telah ketularan sifat-sifat yang tidak baik, kepandaian yang
dipelajari juga ilmu keji dari golongan Sing-siok-pai. Karena itu
sekarang ia berubah menjadi orang yang tidak kenal kebaikan
dan jahat lagi.
Begitulah maka Hian-cu menanggapi pula, Siancai! Katakata
Ong pangcu ini sungguh sangat tidak sesuai dengan
nama Kai-ping yang tersemat selama beratus tahun ini."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mau bertempur ayolah lekas bertempur, kalau tidak, boleh
mundur saja!" seru Goan-ci sambil mendesak maju. Sembari
bicara ia pun melirik kearah Ting Jun-jiu yang masih
mencengkeram A Ci itu, rasanya benar-benar tidak sabar lagi.
"Baiklah, kalau begitu biarlah kubelajar kenal dengan Ongpangcu
punya Hang-liong-sip-pat-Ciang (delapan belas jurus
pukulan penakluk naga) dan Pak-kau-pang-hoat (ilmu pentung
penggebuk anjing), supaya para ksatria yang hadir dapat
kenal betapa hebatnya kepandaian Kai-pang yang kesohor
itu," kata Hian-cu sambil bersiap-siap.
Goan-ci tampak melengok dan menyurut mundur malah.
Sebab walaupun dia telah menjadi Pangcu, tapi Hang-liongsip-
pat-ciang dan Pak-kau-pang-hoat yang dikatakan itu boleh
dikatakan sejurus pun tidak bisa. Ia pernah dengar bahwa
kedua macan kungfu itu biasanya mesti diajarkan oleh Pangcu
lama kepada Pangcu baru, maka kedua macam ilmu itu
disebut "Tin-pang-sin-kang" (ilmu sakti pemimpin). Terkadang
Hang-liong-sip-pat-Ciang itu juga diajarkan kepada anggota
biasa, sebaliknya Pak-kau pang-hoat hanya diajarkan kepada
Pangcu saja. Boleh dikatakan setiap Pangcu Kai-pang selama
beratus tahun ini tiada satu pun yang tidak mahir dua macam
kepandaian itu. Sekarang Goan-ci disuruh untuk mengunakan
kedua macam ilmu silat yang tak dipahaminya, sudah tentu la
merasa serba susah.
Melihat sikap Goan-ci itu, segera Hian-cu menambahi lagi,
"Aku adalah ketua Siau-lim-si dan tentu akan menggunakan
kepandaian utama golongan kami seperti Kim-kong-pan-yakciang
untuk coba-coba dengan Hang-liong-sip-pat-ciang kalian
dan Hok-mo-siang-thong untuk melawan Pak kau pang-hoat
Ong-pangcu. Cuma, ai sungguh sangat disayangkan, selama
ini di antara dua golongan kita hanya saling tukar pikiran saja
dan selamanya tidak pernah digunakan untuk saling gebrak.
Tapi sekarang terpaksa mesti kulayani Ong-pangcu, sungguh
menyesal sekali."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Para ksatria merasa kagum dan hormat terhadap ucapan
Hian-cu yang luhur budi itu. Segera tampak jubah Hian-cu
mulai bergoyang, kedua tangannya terangkap di depan dada,
lalu didorong maju pelahan itulah salam pembukaan ilmu
pukulan Pan-yak-ciang.
Goan-ci juga tidak banyak omong segera telapak tangan
kirinya menghantam, menyusul tangan kanan juga memotong
ke depan dengan cepat sekali. Tenaga pukulan yang susul
menyusul itu memang sangat hebat dan aneh. Maka
terdengarlah suara beradunya tenaga pukulan, menyusul
terdengar suara "brat-bret" dua kali tahu-tahu kedua ujung
ikat pinggang Hian-cu terputus dan melayang ke kanan-kiri.
Kiranya tanaga pukulan kedua tangan Goan-ci itu
mencakup lingkaran yang sangat luas ketika tenaga
pukulannya sebagian dipatahkan oleh pukulan Hian-cu, maka
ujung kain ikal pinggang Hian cu yang berkibaran itu terkupas
putus oleh tenaga pukulan Goan-ci yang menyambar lewat ke
samping itu.
Menyaksikan gebrakan itu, terentak pula ksatria dan padri
Siau-lim-si lama berteriak-teriak, "ini kan kepandaian jahat
Sing-siok-pai dan bukan Heng liong-sip-pat-ciang!"
"Ya, itu bukan kepandaian asli Kai-pang!”
Bahkan di antara anggota Kai-pang juga ada yang
berteriak, "Kita bertanding dengan Siau-lim-pai, maka kita
tidak boleh memakai ilmu jahat golongan lain! Benar, harus
menggunakan Heng-liong-sip-pat-ciang! Kenapa memakai ilmu
jahat golongan lain, membikin malu Kai-pang saja!"
Gebrakan pertama itu sebenarnya Goan-ci lebih unggul,
tapi demi mendengar teriakan-teriakan itu. ia menjadi ragu
sehingga jurus kedua tak bisa dilancarkan lagi. Sebaliknya
orang 'Sing-siok-pai lantas berseru, "Nah, sudah terang ilmu
sakti Sing-siok-pai jauh lebih hebat, buat apa mesti memakai
Heng-liong-sip-pat-ciang apa segala yang tak berguna!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ayo, Ong-suheng, maju dan labrak lagi, bikin keok dia!"
Seketika suara sanjung puji "Sing-siok losian maha sakti”
lantas bergema pula.
Di tengah suara riuh ramai itu sekonyong-konyong dari
bawah gunung berkumandang suara seorang yang keras dan
lantang, "Siapa bilang ilmu silat Sing-siok-pai jauh lebih hebat
daripada Hang-liong-sip-pat-ciang?"
Begitu lantang dan nyaring suara itu sehingga suara ribut
orang banyak tersirap seketika. Dengan terkejut semua orang
sama tutup mulut. Maka terdengarlah suara derapan kuda
yang ramai, belasan penunggang kuda secepat angin telah
menerjang tiba.
Penunggang-penunggang kuda itu seluruhnya memakai
mantel sutra merah, orangnya gagah dan kudanya tangkas,
semua kuda pilihan berwarna hitam mulus. Sesudah dekat,
pandangan semua orang merasa silau. Ternyata tapal kuda itu
semuanya terbuat dari emas.
Jumlah penunggang kuda itu seluruhnya 19 orang. Meski
tidak banyak, tapi pembawa mereka melebihi suatu bárisan
besar.
Sesudah dekat, 18 penunggang kuda itu lantas memisah
kedua sisi, tinggal penunggang kuda yang paling belakang
masuk terus menyusur maju dengan cepat.
Melihat penunggang kuda itu, serentak orang-orang Kaipang
berteriak-teriak, "Siau-pangcu!, Siau-pangcu!"
Menyusul sebagian besar di antara mereka lantas
merubung maju untuk memberi hormat.
Kiranya panunggang kuda ini memang benar adalah Siauhong.
Sama sekali tak terduga olehnya bahwa meski dia sudah
dipecat tapi sekarang masih ada anggota Kai-pang sebanyak
ini yang menyembah padanya. Saking terharunya sampai tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tertahan mengambang air matanya, cepat ia melompat turun
dari kudanya dan balas menghormat.
Segera katanya, "Orang Cidan Siau Hong telah dipecat dan
sudah tiada hubungan lagi dengan Kai-pang mana boleh para
saudara tetap menyapa dengan sebutan lama? Selama
berpisah tentu saudara baik-baik saja bukan?”
(Oo^o^dwkz^http://kangzusi.com/^o^oO)
Jilid 73
Anggota-anggota Kai-pang yang memberi hormat itu
sebagian besar adalah murid berkantung tiga dan empat yang
masih muda dan berjiwa lebih dinamis apa yang mereka
pikirkan segera dilaksanakan. Karena mereka masih sangat
menjunjung pribadi Siau Hong yang luhur budi dan gagah
perwira itu maka begitu bertemu serentak mereka tetap
memanggilnya sebagai "Kiau-pangcu”, mereka lupa bahwa
"Kiau-pangcu" itu sudah dipecat bahkan adalah bangsa Cidan
yang merupakan musuh besar mereka.
Karena jawaban Siau Hong itu, segera ada sebagian yang
menunduk kepala dan mengundurkan diri, tapi masih tetap
ada sebagian yang berkata pula. "Engkau juga baik-baik, Kiau
... Kiau .... Selama berpisah ini sungguh kami selalu terkenang
Padamu!"
Kedatangan Siau Hong ke Tionggoan ini memang
disengaja, pengiring-pengiringnya itu adalah "18 ksatria
penunggang kuda” yang merupakan jago pilihan bangsa
Cidan. Dahulu Siau Hong hampir mati dikeroyok orang banyak
di Cip-hian-ceng, untung dia ditolong oleh seorang ksatria
berbaju hitam. Hal ini menandakan bahwa betapa pun tinggi
ilmu silatnya juga susah melawan orang banyak yang
berjumlah ratusan. Tapi sekarang ia membawa 18 jago,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
apalagi kuda tunggangan mereka juga kuda pilihan, bila perlu
mereka tidak sulit melarikan diri dengan mencamplok kuda.
Ketika masih di bawah gunung tadi Siau Hong sudah
mendengar teriakan orang s ing-siok-pai yang membual bahwa
ilmu sakti Sing-siok-pai jauh lebih hebat dari pada Hang-liongsip-
pat-ciang hal ini membuatnya marah sekali. Mesti bukan
anggota kai-pang lagi, tapi ia tidak terima kalau Hang-liongsip-
pat-ciang yang lihai itu dihina orang. Bahkan sekilas iapun
melihat Ting jun-jiu menawan seorang dara cilik berbaju ungu
yang segera dikenalnya sebagai a Ci.
Kedatangannya di Tiongoan ini antara lain juga hendak
mencari A Ci. Sekarang melihat anak dara itu ditawan orang,
seketika teringat olehnya pesan terakhir A Cu yang minta dia
menjaga baik-baik adik perempuannya itu. Tanpa piker lagi
segera ia mendekati Ting-lokoai sekali tangan kirinya
terangkat, kontan ia hantam kedepan dengan gerakan "Gangliong-
yu-hwe", salah satu jurus Hang-liong-sip-pat-ciang yang
ampuh.
Waktu Siau hong menyerang, jaraknya dengan Ting Jun-jui
masih belasan meter jauhnya, tapi karena datangnya terlalu
cepat sehingga dimana tenaga pukulannya sampai tahu-tahu
jarak mereka hanya tinggal beberapa meter saja.
Ting-lokoai juga sudah kenal nama "Lam Buyung dan Pak
Kiau Hong” yang tersohor, maka dia pun tidak berani
memandang enteng lawan. Ketika melihat Siau Hong mulai
menyerang dari jauh, sekali-kali tak terduga olehnya bahwa
dirinya yang dijadikan sasaran, apalagi menyusul Siau Hong
juga melesat maju dan kembali menyerang dengan jurus
kedua "Gang liong-yu hwe" di lancarkan,jadi tenaga pukulan
pertama didorong oleh tenaga pukulan kedua, karuan
bagaikan gugur gunung dahsyatnya.
Hanya sekejap saja Ting-lokoai merasa, dadanya sesak,
napas susah, tenaga pukulan lawan sungguh bagai air bah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang melanda dan tak terbendungkan seakañ-akan dirinya
dan A Ci akan tenggelam di tengah gelombang tenaga itu.
Dalam kagetnya Ting-lokoai tidak sempat memikirkan cara
paling sempurna untuk melayani serangan itu. Tapi ia tahu
kalau menangkís dengan sebelah tangan saja tentu bukan
mustahil tangan sendiri akan patah boleh jadi otot tulang
seluruh badan akan tergetar remuk. Sementara itu pukulan
lawan yang dahsyat sudah tiba dalam keadaan genting ia
terpaksa ia melemparkan A Ci ke atas, berbareng kedua
tangannya terus bergerak untuk berjaga di depan dada,
sedangkan ujung kakinya menutuk pelahan dan melompat
mundur.
T¡ba-tiba Siau Hong menyusul serangan "Gang-liong-yuhwe”
yang ketiga belum lenyap tenaga pukulan yang lebih
dahulu, segera tenaga pukulan lain sudah membanjir lagi.
Lokoai tidak berani menangkisnya dengan keras lawan
keras, ia miringkan pukulannya sehingga kedua tenaga
pukulan Cuma saling senggol saja. namun begitu Lokoaí
merasa lengannya linu pegal dan napas sesak, capat ía
melompat mundur düa-tiga meter jauhnya sambil
mengerahkan hawa berbisa di tangannya untuk berjaga jaga
kalau lawan mendesak maju.
Namun dengan pelahan Siau Hong tangkap dulu A Ci yang
sementara itu baru jatuh dari udara sekalian ia membuka hiatto
si nona yang tertutuk tadi.
Sejak A Ci ditawan Ting Jun-jiu, walaupun matanya tak bisa
melihat dàn mulut tak dapat bicara, namun segala apa yang
terjadi di sekelilingnya dapat didengarnya dengan jelas, Maka
begitu hiat to terbuka, dengan girang segera ia berseru, "Cihu
yang baik, banyak terima kasih atas pertolonganmu!”
Bila teringat anak dara Itu mengeluyur pergi tanpa pamit
sehingga dirinya dibikin kelabakan mencarinya, sungguh anak
dara yang terlalu nakal, maka Siau Hong menjadi gregatan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"plok", ia gaplok sekali pantat anak dara itu sambil mengomel,
"kenapa kaupergi tanpa bilang bilang padaku snggaeh aku
bingung mencarimu ke mana-mana?"
Keruan A Ci kesakitan dan berkeok-keok "Aduh cihu busuk,
kenapa engkau memukul orang?”
"Biar, aku justru ingin menghajarmu budak nakal ini!" kata
SiauHong.
Ketika A Ci berpaling dan sekilas dilihatnya kedua bola mata
anak dara Itu buram tak bersinar terang sudah buta, sungguh
kaget Siau Hong tak terhingga serunya, "Hei kau ... matamu
kenapa?”
"Tidak apa-apa, biar kenapa kaupusing?" sahut A Ci dengan
uring-uringan.
Dengan munculnya Siau Hong tadi, para ksatria Tionggoan
menjadi panik bila teringat pada kejadian di Cip-hian-ceng
dahulu di mana berpuluh kawan mereka telah dibinasakan
Siau Hong. Mereka menduga sebentar tentu sukar terhindar
pertempuran mati-matian pula. Kemudian ketika mereka
menyaksikan dengan sekali-dua gebrak saja Siau Hong telah
mengalahkan Sing-siok- Lokoai yang malang melintang, tadi
seketika mereka saling pandang dengan kagum dan kuatir
pula. Sebaliknya ada sebagian anggota Sing siok-pai yang
tidak kenal malu masih berani mencaci-maki Siau Hong dan
ada yang menyanjung puji lokoai.
Di sebelah lain Goan-ci merasa jeri juga dengan datangnya
Siau Hong, ketika dilihatnya A Ci digaplok dan diomeli Síau
Hong, ia menjadi tidak tahan dan segera melompat maju serta
berkata, "Lekas lepaskan nona A Ci."
"Síapa kau?" tanya Siau hong sambil menurunkan A Ci
ketanah.
Dahulu Goan-ci sering bertemu dengan Siau Hong ketika
berada di negeri Liam, tapi sekarang muka Goan-ci sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berubah sama sekali, kedudukannya juga sudah lain, sudah
tentu Goan-cí tidak perlu takut lagi padanya. Namun
permbawa Siau Hong sebagai "Lam-ih Tai-ong" terlalu berakar
dalam lubuk hatí Goan ci, apalagi Siau Hong telah
menyelamatkan A Ci dengan gagah perkasa, budi kebaikan ini
bagi Goan-ci melampaui dendam terbunuhnya orang tua.
Karenai ítu Goan-ci menjadi kalah pembawa lebih dulu dan
menjawab dengan tetgagap, "Aku adalah ... adalah Ciangbun
Kek-lok-pai, Kai-pang Pangcu Ong .... Ong Sing Thian.” tapi di
antara anggota Kai-pang sagera ada orang berteriak, "Kamu
südah mengangkat guru pada Sing-siok Lokoai, mana boleh
mengaku sebagai Pangcu lagi!"
"Akulah Ciangbun Slng-siok-pai yang sesungguhnya," kata
A Ci. "Ong-pangcu tadi cuma menjura kepada Sing-siok Lokoai
dengan 'Kap-tan-hoa-Hiat kang (ilmu meluluhkan darah
musuh dengan menjura), apakah kalian sangka dia sungguhsungguh
ingin menjadi murid Lokoai? Justru Lokoai yang telah
diselomoti, tidak lebih dari tiga hari seluruh badan Ting-lokoal
akan hancur luluh menjadi darah. Kalau kalian tidak percaya
boleh lihat saja nanti!"
Dasar memang jebolan murid Sing-siok pai, kepandaian A
Ci dalam hal membual dan membohong dengan sendirinya
sangat pintar. Maka orang orang Kai pang menjadi ragu
mereka tahu Sing-siok-pai memang memiliki macam-macam
ilmu jahat dan berbisa, apa yang dikatakan A Ci memang
bukan mustahil.
Sebaliknya Siau Hong tahu A Ci sengaja ngaco-belo lagi,
sekilas ia lihat Toan Cing-sun dan Wi Sing tiok juga berada di
situ, ia menjadi girang dan segera berseru, "Kiranya Tin lam
ong juga berada di s ini biarlah putrimu ini kuserahtkan kepada
kalian untuk diberi pendidikan sebaik-biaknya."
Lalu ia gandeng tangan A Ci ke arah Toan Cing-sun,
pelaban ia dorong anak dara itu ke depan dan segera
dirangkul oleh Wi Sing tiok dengan air mata berlinang linang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"O, anakku, ken ... kenapa keduá matamu ini?” tanya Singtiok
dengan menangis.
Sebaliknya A Cì tiada mempunyai rasa kasih sayang kepada
ayah bundanya, maklum sejak kecil ia tidak pernah merasakan
kasih saying orang tua. Dasar wataknya tidak mau kalah,
maka ia pun tidak mau mengakü kedua matanya ítu díbutakan
oleh Ting jun-jiu, dengan suara keras ia menjawab, " aku
sendiri sengaja membutakan mataku karena aku sedang
melatih semacam ilmu gaib Sing-siok-pai Ting-lokoai sendiri
pun tidak mampu melatih ilmu ini.”
Dalam pada ítu Toan Ki juga sangat girang atas munculnya
Síau Hong, cumu dia belum sempat menyapa sang Toako
karena Siau Hong lagi melabrak Ting Jun jiu, Ia heran ketika
mengetahuí bahwa nona buta itu oleh Siau Hong dikatakan
sebagai putri ayahnya. Tapi la pun tahu sifat sang ayah yang
romantis, segera ia dapat menduga hubungan ayahnya
dengan Wi Sing-tiok.
Sesudah A Ci diserahkan kepada orang tuanya oleh Siau
Hong, segera Toan Ki tampil kemuka dan berseru. "Toako,
bàik-baikkah selama berpisah sungguh sangat merindukan
adikmu ini?”
Sejak Siau Hoing angkat saudara dengan Toan Ki,
walaupun singkat sekali waktu berkumpul mereka, tapi Siau
Hong tetap sangat simpati dan suka sekali kepada Toan Ki,
segera ia pegang kedua tangan adïk angkat îtu dan
menjawab, "banyak sekàli kejadian sesudah berpisah dan
susah diceritakan dalam sekejap untung kita sama-sama
dalam keadaan baik-baik semua."
Belum lagi mereka sempat bicara lebîh banyaktiba-riba
terdengar teriakan orang banyak yang mencaci-maki Siau
Hong, "Hai, orang she Kiau, kamu telah membunuh saudaraku
sakit hati itu belum terbalas, biarlah hari ini aku mengadu jiwa
denganmu!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya, Kiau Hong adalah anjing Cidan yang harus kita bunuh
bersama, hari inl tidak boleh lagi dià lolos dari Siau-sit-sian
ini!"
Menyusul banyak lagi caci-maki yang menuduh Siau Hong
membunuh ayah atau putranya, semua ingin memuntut balas
atas korban yang dahulu pernah dibunuh oleh Siau Hong di
Cip-bian-ceng.
Makin lama makin banyak yang mendamprat dan memakì,
bukan mustahil dalam sekejap lagì akan terjadi pertempuran
ramai pula. Sebaliknya rombongan Siau Hong hanya 18 orang
saja ia pun bermusuhan dengan Kai-pang, Siau-lim-pai dan
Sing siok-pai, kalau sampai terjadi pertempuran itu berarti
Siau Hong ber-l8 orang harus menandingi seribu orang pasti
sukar baginya untuk meloloskan diri.
Namun Siau hong tidak gentar, dengan suara lantang ia
berseru."Kedatangan Siau Hong ini mestinya ada suatu urusan
dengan Siau-lim-si jika kalian ingin membunuh orang she Siau
ini, apa kalian mampu atau tidak boleh dicoba nanti, tapi saat
ini aku belum sempat melayani kalian.
Dalam keadaan rebut sudah tentu para ksatria Tionggoan
itu tidak mau menunggu iagi, segera ada beberapa orang
yang kasar melontarkan caci maki yang kotor dan keji. Dan
karena hasutan dan bermain-main mereka lantas merubung
maju hendak mengerubut.
Sebelumnya Siau Hong tidak menduga bahwa dì Siau sitsan
telah berkumpul musuh sebanyak itu, sskarang sudah
tentu ia pun pantang mundur, Tapi ia lihat para ksatra itu
kebanyakan adalahkawan lama, ia kenal mereka sebagai
ksatria yang gagah perwira, sebabnya mereka memusuhi
dirinya adalah lantaran dia di anggap bangsa Cidan, pula ada
orang sengaja menghasut dan mengadu-domba sehingga
terjadi salah paham pembunuh yang pernah terjadi di Cip-hiaciang
itu sesungguhnya bukan maksud hatinya kalau hari ini
terjadi pertarungan sengit pula susah memperoleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemenangan, andaikan dirinya dapat eloloskan diri, tapi
ksatria-ksatria yang dia bawa serta itu pasti sulit lolos.
Sebaliknya kalau para ksatria Tionggoan itu terbunuh lebih
banyak, hal ini berarti memperdalam permusuhan dan makin
menyakitkan hati, lalu apa gunanya semua ini?
Karena pikiran itu, segera Siau Hong mengambil keputusan,
"Di depan orang sebanyak ini terpaksa urusan yang hendak
kutanyakan kepada Siau-Lim-si harus ditunda dulu dan
sementara ini lebih baik aku menghindarkan diri saja supaya
tidak terjadi banjir darah lagi. Bila keadaan di sini sudah
tenang kembali barulah aku akan dtang ke sini pula."
Sesudah mengambil keputusan itu, segera ia berkata
kepada Toan Ki, "Adik yang baik, adaan sekarang sangat
gawat dan susah bagi kita untuk bicara, sementara ini adik
boleh menyingkir dahulu, tempo masih banyak, biarlah kita
bertemu lagi lain hari."
Maksud tujuan Siau Hong adalah minta Toan Ki menyingkir
ke samping agar sebentar bila musuh menerjang ke bawah
gunung Toan Ki takkan ikut terbawa bawa di tengah
pertempuran.
Tapi biarpun Toan Ki tidak mahir ilmu namun wataknya
sangat gagab berani. Ia lihat ksatria yang berjumlah ribuan
orang itu hendak membunuh kakak angkatnya, tanpa terasa
timbul rasa keadilannya, dengan suara keras ia berteriak,
"Toako, pada waktu kita mengangkat saudara apa yang telah
kita ucapkan? Bakankah kita telah bersumpah ada rejeki
dibagi bersama, ada kesukaran dipikul berbareng. Kita tidak
dilahirkan pada hari dan Waktu yang sama, tapi rela mati pada
hari dan waktu yang sama. Hari ini Toako menghadapi
kesukaran manakah adik harus berpeluk tangan dan takut
mati!”
Dahulu dalam setiap kali terancam selalu Toan Ki dapat
menyelamatkan diri dengan langkah aJaib leng Po-wi-poh.
Tapi sekarang ia sama sekali tidak memikirkan atau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyelamatkan diri, semakin berbahaya keadaannya semakin
teguh tekatnya gugur bersama Siau Hong untuk memenuhi
kéwajibannya sebagai saudara angkat yang sehidup semati.
Hampir seluruh ksatria Tionggoan itu tidak kenal macam
apakah tokoh Toan Ki itu, tapi melihat dia mengaku sebagai
saudara angkat Siau Hong dan bertekat membantunya, sudah
tentu tiada seorang pun yang jeri pada pemuda yang muda
belia dan lemah itu.
Maka Siau Hong berkata pula,'"Adikku yang baik, sungguh
aku sangat berterima kasih pada maksudmu yang luhur ini.
Tapi rasanya tidaklah gampang bila mereka ingin membunuh
aku. Maka lebih baik lekas engkau menyingkir saja agar aku
nanti tidak menguatirkan keselamatanmu sehingga tidak
leluasa melabrak musuh."
"Engkau tidak perlu menguatirkan diriku.” sàhut Toan Ki,
"Aku toh tiada punya permusuhan apa-apa dengan mereka
membunuhku?"
Siau Hong menjadi serba salah menghadapi saudara angkat
yang polos itu, pikirnya dengan rasa pilu, "Jika di dunia ini
orang mau bicara tentang permusuhan atau tidak, tentu dunia
ini akan aman tentram dan tiada percekcokan."
Dalam pada itu di sebelah sana Toan Cing-sun juga sedang
pesan kepada Hoan Hua dan lain-lain agar sebentar bila Siau
Hong terancam bahaya, mereka harus menyelamatkan
secepat mungkin untuk membalas budi pertolongan Siau Hong
dahulu. Sudah tentu Hoan Hun dm lain-lain mengiakan dan
siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Di pihak lain Buyung Hok juga lagi berunding dengan
kawan-kawannya, Sebenarnya Kongya Kian sangat kagum
sekali kepada pribadi Siau Hong sejak perkenalannya waktu
berlomba minum arak dahulu, maka ia menganjurkan
memberi bantuan kepada Siau Hong. Begitu pula Pau-Put tong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan Hong Po-ok juga sangat kagum terhadap Siau Hong,
maka mereka pun menyetujui usul Kongya Kian.
Sebaliknya Buyung Hok sendiri berpendapat lain, katanya,
"Saudara-saudara sekalian, kita harus mengutamakan
pembangunan kerajaan Yan Raya kita sebagai tugas utama
dan jangan tertarik kepada Siau hong seorang dan harus
bermusuhan ksatria sejagat."
"Ucapan Kongcu memang benar," kata Ting Pek-jwan. "Dan
cara bagaimana kita harus bertindak?"
"Kita harus menarik simpati orang banyak agar berfaedah
bagi pergerakan kita kelak," kata Buyung Hok, Habis itu,
mendadak ia bersuit keras dan tampil ke muka, serunya
dengan lantang, "Siau-heng, engkau adalah ksatria Cidan dan
terlalu memandang enteng kapada para ksatria Tionggoan
kami, maka hari ini biarlah orang she Buyung dari Koh-soh
belajar kenal dulu dengan kepandaianmu. Kalau aku harus
mati di bawah tangan Siau-hong juga cukup berharga, paling
dikit aku telah berjuang bagi sesama kawan ksatria
Tionggoan. Nah, silakan Siau-heng mulai."
Ucapan Buyung Hok ini sesungguhnya segaja
diperdengarkan kepada ksatria Tionggoan, Sebab dengan
demikian biarpun nanti kalah atau menang tentu para ksatria
akan memandang Buyung Hok sebagai kawan sehidup semati
mareka.
Benar juga, demi mendangar kata-kata Buyung Hok ítu,
serentak bergemuruhlah suara sorai puji orang banyak.
Maklum, meski mereka ada maksud hendak mengerubut Siau
Hong, tapi sejak tadi tiada seorang pun berani bertindak lebih
dulu, mereka kenal betapa lihainya Siau Hong, sekali sudah
bergebrak, maka beberapa orang yang maju lebih dulu dapat
dipastikan akan binasa oleh pukulan bekas Pangcu Kai-pang
itu. Sekarang tiba-tiba Buyung Hok tampìl ke muka lebih dulu,
keruan mereka sangat senang dan bersemangat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Nama "Pak Kiau Hong dan Lam Buyüng juga sudah lama
didengar Siau Hong sendiri, ia tahu ilmu silat keluarga Buyung
tentu bukan main hebatnya, Sekarang keluarga Buyung
menantangnya, tentu saja Siau Hong terperanjat, Walaupun
tidak gentar, tapi ia menduga pasti akan menjadi pertarungan
sengit.
Segera ia pun memberi salam dan menjawab "Sudah lama
kudengar nama Buyung-kongcu yang tersohor, sungguh
sangat beruntung hari ini dapat berkenalan di s ini."
"Buyung-heng, dalam hal ini terang kaulah yang salah!"
tiba-tiba Toan Ki berseru "Siau-toako sendiri baru sekarang
kenal dirimu dan selama ini kalian tiada permusuhan apa-apa,
mengapa engkau sengaja ikut memusuhi Toako tatkala ia
harus menghadapi musuh sebanyak ini."
"Wah, rupanya Toan heng hendak menjadi ksatria pembela
keadilan ya? Jika perlu, ayo boleh maju sekalian!" demikian
sahut Buyung hok degan mengejek. Memangnya dia sudah
merasa sirik karena Toan Ki selalu merecoki Giok-yan maka
sekarang rasa dongkolnya telah dilampiaskan sekalian.
Tapi Toan Ki menjawab, "Kepandaian apa yang dapat
menandingimu? Akú hanya bicara secara adik saja."
Dalam pada itu Ting Jun-jiu yang dihantam mundur olah
Siau Hong tadi telah maju kembali. la mengakak tawa dan
berkata, "Orang she Siau kulihat engkau masih terlalu muda,
maka tadi aku mengalah tiga Jurus padamu, tapi jurus
keempat ini aku tak dapat mengalah lagi."
Juga Goan-Ci lantas melangkah maju, katanya kepada Siau
Hong, "Aku Ong Sing-thian mengucapkan terima kasih
padamu karena engkau telah menyelamatkan nona A Ci.
Tetapi sakit hati pembunuhan orang tua sedalam lautan, hari
ini jangan kauharap dapat lolos dengan hidup dari sini orang
she Siau!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu Hian-seng Taisu dari Siau-lim-pai diam-diam
juga telah memberi perintah agar lo-han-tui-tín s iap siaga dan
menjaga jalan penting dengan kuat agar Siau Hóng tidak
dapat lolos.
Melihattiga tokoh terkemuka telah mengepung dirinya,
begitu pula para padri Siau-lim-pai tampak berjaga-jaga
dengan rapat keadaan íní terang jauh lebih berbahaya
daripada pertempuran di Cap-hian-ceng dahulu. Dan sebelum
Siau Hong dapat mengambil tindakan apa-apa, mendadak
terdengar suara kuda meringkik ngeri, 19 ekor kuda bagus
tunggangan mereka tahu-tahü telah roboh semua dengan
mulut berbuih dan binasa.
Karuan Siau Hong kaget, Sedangkan ke-18 ksatria Cidan
tampak membentak-bentak dan lantas menyerang sehingga
dalam sekejap saja belasan orang Sing-siok-pai telah
terbunuh, selebihnya lantas ngacir menggabungkan diri
dengan kawan-kawannya.
Kiranya pada waktu ting jun-jiu maju menantang Siau Hong
lagi, maka anak buahnya juga lantas bertindak dengan
membunuh kuda tunggangan Siau Hong dan kawan-kawannya
dengan menggunakan racun. Dengan demikian Siau hong
dipaksa menghadapi jalan buntu karena tak bisa kabur dengan
menunggang kuda lagi.
Melihat kuda kesayangannya mati secara menggenaskan di
tangan kawanan pengecut itu, seketika darah panas Siau
Hong bergolak dan timbul seketika jiwa ksatrianya dengan
bersuit panjang ia berkata, "Buyung-heng, Ong-pangcu, Tinglokoai.
ayolah kalian maju sekaligus saja, masakah orang she
Siau ini gentar padamu!"
Karena dia gemas kepada orang-orang Sing-siok-pai yang
keji itu,kontan pukulan pertama ia keluarkan ke arah Ting Junjiu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ting-lokoai sudah kenal betapa lihainya Siau Hong, cepat ia
keluarkan kedua tangannya untuk menangkis dengan
sekuatnya.
Tapi Siau Hong sekalian menggeser tenaga pukulan kedua
orang dan memotong miring ke jurusan Buyung Hök.
Kepandaian Buyung Hok yang paling hebat adalah memutar
balikkan serangan musuh untuk menyerang kembali kepada
musuh. Tapi sekarang pukulan Siau Hong membawa tenaga
duaorang yang maha dahsyat, pula datangnya miring dari
samping sehingga entah tempat mana yang diincar, Buyung
Hok menjadi susah untuk menghadapi serangan ini, terpaksa
ia kerahkan segenap tenaga, kedua tangan memapak ke
depan dan berbareng ia pun melompat mundur dua-tiga meter
jauhnya.
Sedikit Siau Hong mengegos sehingga pukulan Buyung Hok
terhindar, mendadak ia menggertak dengan suara
menggeledek, kepalan menjotos lurus ke depan pada Goan ci.
Karena perawakan Siau Hong tinggi besar sehingga hampir
lebih tinggi satu kepala daripada Goan-ci, maka jotosan itu
jadi mengarah muka Goan-ci.
Memangnya Goan-ci sudah jeri menghadapi Siau Hong, ia
menjadi kaget pula ketika mendengar suara gertakannya.
Apalagi serangan Siau Hong itu datangnya mendadak,
sebelumnya ia baru menghantam Ting Jun-Jiu dan Buyung
Hok, tahu-tahu menjotos pula ke arah Goan-ci, tiga kali
serangan itu boleh dikata suatu rangkaian secepat kilat.
Dalam gugupnya segera Goan-ci hendak menangkis,
namun tenaga pukulan lawan terang sudah mendekati
mukanya. Untung dia telah berlatih ilmu ih-kin-keng sehingga
iwekangnya juga banyak bertambah, secara otomatis timbul
daya tolak dari badánnya dan cepat ia mendongakkan
kepalanya ke belakang sambil berjumpalitan püla dengan
demikian kepalanya nyaris háncür oleh pukulan Siau Hong
yang dahsyat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun begitu lantas terdengar suara seruan heran para
penonton. Goan-ci merasa mukanya silir dingin tahu-tahu kain
kedoknya sudah hancur menjadi kain kecil-kecil dan
bertebaran bagai Kupu-kupu. Ternyata luput mukanya dari
serangan itu, tapi tidak luput kain kedoknya yang tergetar
hancur oleh tenaga pukulan Siau Hong. Dan ketika melihat
muka pemuda yang mengaku sebagai Ciangbunjin Kok-lok-pai
dan Pangcu Kai pang ítu tak karüan macamnya karena bekas
luka tampaknya sangat seram dan menakutkan, maka muka
mereka sama berseru kaget.
Dengan sekaligus Siau Hong mendesak mundur tiga jago
kelas satù di jaman ini, semangatnya seketika berkobar-kobar
lebih hebat, teriaknya, "Mana arak!"
Segera seorang ksatria Cídan mengiakan dan
menanggalkan sebuah kantung kulit yang menggablok di atas
kuda mati dan berlari-lari mendekati Siau Hong serta
menghaturkan dengan hormat.
Siau Hong copot sumbat kantung kulit itu, ia angkat
kantung itu tinggi-tinggi ke atas, maka tertüanglah arak putih
yang harum. Sambil mendongak, Siau Hong menenggak arak
itu.
Arak yang terisi dalam kantong kulit itu sedikitnya ada 20
kati, tapi Síau Hong terus menenggak tanpa berhenti sehingga
arak seisi kantung terhabis sama sekali. Kelihatan perut Siau
Hong sedíkít kembung, tapi air mukanya tetap biasa saja
tanpa mabük sedikit pun.
Di tengah kejut para penonton, tiba-tiba Siau Hong
memberi tanda pula dan ke 17 ksatria Cidan yang lain masingmasing
juga membawakan pula satu kantung arak.
"Saudara-saudara, Toan-Kongcu ini adalah adik angkatku,"
kata Siau Hong kepada ksatria-ksatria Cidan itu. "Hari ini kita
telah terkepung di tengah musuh, kita hanya berjumlah
belasan orang saja, tentu susah meloloskan diri."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sampai disini segera ia, menarik tangan Toan Ki dan
berkata pula, "Adikku yang baik, kau bersedia sehidup semati,
sungguh tidak mengecewakan sebagai saudara angkat,
apakah sebentar kita akan mati atau akan hidup biarkan saja,
sekarang kita harus minum dulu sepuas-puasnya!"
Terdorong oleh semangat jantan kakak angkat itu, tanpa
pikir Toan Ki terus terima juga sekantong arak dan menjawab,
"Benar, kita harus minum dulu!"
Dan baru Toan Ki hendak menenggak araknya, sekonyongkonyong
di tengah padri-padri Siau-lim-si telah berlari keluar
seorang, sambil berseru, "Toako dan Samte, kalian hendak
minum arak, kenapa tidak panggil juga padaku?"
Itulah dia Hi tiok.
Ia menyaksikan munculnya Siau Hong yang gagah perwira
dan membikin silau para ksatria maka diam-diam ia pun
sangat kagum. Kemudian dilihatnya Toan Ki secara konsekwen
bersedia sehidup semati dengan kakak angkat itu. Padahal
dahulu waktu dia sendiri mengangkat saudara dengan Toan Ki
di Leng-ciu-kiong, didalam upacara itu telah dimasukkan juga
Siau Hong sebagai Toako mereka. Seorang lelakì sejati harus
bisa pegang, janji dan berani menghadapi segala
kemungkinan apalagi dilihatnya Siau Hong dan Toan Ki yang
bersikap gagah perkasa dihadapan musuh banyak itu, seketika
timbul juga semangat ksatria Hi tiok, ia tidak pikirkan
keselamatan sendiri dan tentang peratüran-peratiran agama
apa segala dan segera tampil kemuka.
Siau Hong belum kenal Hi tìok, maka ia menjadi tertegun
heran ketika Hi tiok memanggìlnya Sebagai Toako. Sebaliknya
Toan Ki lantas memapak maju dan memegang tangan Hi-tiok!,
lalu dìbawanya kehadapan Siau Hong dan berkata, "Toako, dia
juga kakak angkatku. Waktu menjadi hwesio gelarnya adalah
Hi-tiok dan sekarang telah ganti nama menjadì Hi tiok cu. Di
waktu kamì mengangkat saudara, maka Toako juga telah kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masukkan didalam hitungan. Nah, Jiko lekas kau memberi
hormat kepada Toako!"
Segera Hi-tiok berlutut dan memberi hormat katanya.
"Toako, terimalah salam hormat siaute!"
Siau Hong tersenyum. Dìam-diam ia merasa Toan Ki benarbenar
agak dogol, dia mengangkat saudara dengan orang
masa juga mengikut sertakan sang Toako. Padahal sekarang
jiwanya terancam di tengah kepungan musuh, namun orang
(Hi-tiok) ternyata tidak gentar dan berani tampil ke muka, hal
ini membuktikan dia adalah seorang jantan sejati seorang
lelaki yang setia kawan dan berbudi kalau bisa bersaudara
dengan ksatria demikian juga boleh dikatakan suatu
kehormatan besar.
Karena itu Siau Hong lantas berlutut juga dan membalas
hormat dengan kata-kata ramah tamah. Jadi mereka telah
mengulangi sumpah setia sebagai saudara angkát di depan
para ksatria sejagat.
Siau Hong tidak tahu Hi-tiok memiliki ilmu silat sakti, la
anggap saudara angkat ¡tu cuma seorang hwesio rendahan di
Siau-lim-si, tapi berani ikut maju untuk memenuhi panggilan
persaudaraan pada saat menghadapi bahaya, kalau dia
disuruh menyingkir tentu malah akan menyinggung
perasaannya.
Maka setelah angkat kantung araknya segera Siau Hong
berkata, "Ke-dua adik yang baik, ke-18 ksatria Cidan ini adalah
kawanku yang setia, hubungan kami sehari-hari mirip saudara
sendiri, maka marilah kita minum bersama, habis itu segera
kita melabrak musuh sekuatnya."
Habis berkata, segera ia membuka sumbat kantung arak
dan menenggak seteguk, lalu diangsurkan kepada Hi-tiok.
Dengan semangat berkobar-kobar Hi-tiok juga tidak pikirkan
larangan minum arak apa segala lagi, segera ìa pun angkat
kantung arak, dan menenggak, kemudian disodorkan kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Toan Ki. Dan sesudah Toan Ki minum seteguk lalu ia serahkan
kepada salah seorang Cidan dan begitu seterusnya ke-18
ksatria Cidan itu pun sama-sama mengakat sekantung arak
masing-masing dan menenggaknya.
”Toako," kata Hi-Tiok kemudian kepada Siau Hong,”Singsiok
Lokoai ini telah membinasakan Suhu dan suhengku, ia
telah membunuh pula Hian-lun dan hian-thong Susiokco dari
Siau lim-si maka sekarang aku hendak menuntut balas
padanya,"
Siau Hong menjadi heran "Kau ber...."baru saja dia hendak
tanya, tahu-tahu kedua tangan Hi-tiok sudah bergerak dan
menghantam ke arah Ting Jun-jiu.
Melihat ilmu pukulannya sangat aneh dan sangat kuat, Sian
Hong terkejut dan girang pula, katanya di dalam hati, "Kiranya
ilmu silat jiko sedemikian lihai, sungguh aku tidak menduga
sama sekali."
"Lihat pukulan!" mendadak Siau hong juga membentak dan
berbareng kedua kepalan tangannya ke arah Buyung Hok dan
Yan Goan-ci sekaligus.
Rupanya ke-18 ksatria Cidan dapat memahami maksud
Cukong (junjungan) mereka maka tanpa disuruh lagi segera
mereka mengelilingi Toan Ki dan melindunginya.
Dalam pada itu Buyung Hok dan Goan Ci juga telah
menyambut dan menghindarkan serangan Siau Hong tadi.
Sedangkan Hi-tiok juga lagi mencecar Tìng lokoai dengan
Thian-san liok-yang-ciang yang hebat.
Meski Liok-yang-ciang itu adalah cìptaan Thian-san Tong-lo,
tapi dasarnya bersumber dari ilmu Siau-yau-pai. Maka cuma
dua-tiga gebrak saja diam-diam Ting Jun-jiu terperanjat, ia
heran mengapa hwesio cilik ini pun mahir ilmu pukulan Siauyau-
pai?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena sudah pernah adu pukulan dan ke cundang di
tangan Goan-ci, sekarang melihat Hi-tiok mengeluarkan ilmu
pukulan Siau-yau-pai, maka Lòkoai tidak berani sembarangan
menggunakan pukulan barbisa lagi, sebab kuatir tak mempan
terhadap lawan, sebaliknya dirinya sendiri bisa celaka malah.
Karena itu ia ambil keputusan akan menjajaki dulu asal usul si
gundul pacul itu, kemudian baru akan menggunakan racun
bila perlu.
Ilmu silat Siau-yau pai itu mengutamakan kegesitan dan
keluwesen, sedangkan Ting-Lokoai dan Hi-tiok adalah tokohtokoh
terkemuka dari golongan mereka, dengan sendirinya
gaya mereka menjadi sangat indah dan cepat luar biasa.
Hampir seluruh ksatria yang hadir itu tidak pernah
menyaksikan ilmu silat golongan Siau yau-pai, maka
semuanya menjadi sangat tertarik, merekaa melihat gaya ilmu
silat Siau-yan-pai itu sangat indah bagai menari, tapi setiap
pukulan selalu mengincar tempat mematikan di tubuh lawan,
sungguh mereka belum pernah lihat dan tidak kenal apa
namanya ilmu silat semacam ini.
Disebelah sana Siau Hong sendiri lagi melawan keroyokan
Buyung Hok dan Goan-ci, untuk sepuluh jurus petama ia selalu
mencecar lawannya, tapi sesudah belasan jurus ia merasa
setiap pukulan Goan-ci penuh mengandung hawa maha
dingin. Pada saat Siau Hong lagi mengadu tenaga dengan
Buyung Hok, Goan ci juga menyerangnya, seketika ia merasa
di serang hawa dingin yang susah di tahan.
Seperti diketahui dalam badan Goan ci sudah penuh racun
dingin dari ulat sutra es, di tambah lagi mendapat pemupukan
iwekang Ih-kin-keng, maka sekarang iwekangnya yang maha
dingin itu sudah merupakan Salah satu Iwekang maha lihai di
dunia ini.
Walaupun Siau Hong sangat gagah perwira, tapi
menghadapi ilmu yang aneh dan lihai itu, mau tak mau ia
merasa susah juga melayani, apalagi kepandaian Buyung Hok
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
juga seimbang dengan dia, pada waktu Goan-ci terdesak
Buyüng Hok membantunya pula, dengan demikian Siau Hong
menjadi serba repot.
Di bawah keroyokan dua jago seperti Buyung Hok Goan-ci,
keadaan Siau Hong sekarang boleh dikatakan jauh lebih
berbahaya daripada dahulu ketika dikerubuti orang banyak di
Cip hian-Ceng.
Tapi dasar Siau Hong memang gagah perkasa semakin
payah keadaannya semakin semangat daya tempurnya,
tenaga sakti dalam tubuhnya bekerja terus, ia mainkan " Hang
liong-sip-pat-ciang," ilmu pukulan penakluk naga yang maha
dahsyat telah dikeluarkan seluruhnya sehingga Buyung Hok
dan Goan ci sukar mendekat, dengan demikian pula racun
dingin pukulan Goan-ci menjadi susah mencapai tubuhnya.
Namun dengan memainkan ilmu pukulan dahsyat itu,
dengan sendirinya tenaga dalam Siau Hong banyak terkuras.
Asal ratusan jurus lagi tentu kekuatannya akan surut dan
lemah. Goan-ci belum berpengalaman dalam pertarungan, ia
tidak tahu seluk-beluk kelemahan atau keunggulan pihak
sendiri dan pihak lawan. Sebaliknya Buyung Hok yang luas
pengetahunya telah memperhitungkan bila pertarungan
demikian diteruskan, asal dirinya dan Ong Sing-thian dapat
berlahan sampai satu jam, akhirnya pihak sendiri pasti akan
menang.
Biasanya "Pak Kiau Hong" dan "Lam Buyung" (Kiau Hong di
utara dan Buyung di selatan) mempunyai nama harum yang
sederajat di dunia persilatan, hari ini untuk pertama kalinya
kedua tokoh ternama itu bertemu dan saling gebrak, tapi Lam
Buyung memerlukan bantuan Ong-sing-thian dari Kai-pang
untuk mengarubut lawan itu andaikan Siau Hong dapat
dibinasakan, toh hal ini sudah membuktikan bahwa "Lam
Buyung" sesungguhnya kalah lihai daripada "Pak Kiau Hong."
Begitulah diam-diam Buyung Hok berpikir dan menimbang
dalam hati, akhirnya ia berpendapat, "Usaha membangun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kembali kerajaan Yan adalah urusan lebih besar dan nama
pribadi adalah soal kecil, jika sekarang aku dapat menumpas
Siau Hong yang dianggap oleh para ksatria Tionggoan sebagai
musuh bersama mereka, tentu mereka akan kagum dan
mengindahkan diriku dan dengan sendirinya kedudukan Bu-lim
Beng-cu akan kupegang dan mereka akan berada di bawah
perintahku, besar harapan kerajaan Yan akan dapat dibangun
kembali dengan segera. Apalagi kalau Siau Hong sudah
binasa, andaikan orang anggap Lam Buyung lebih asor
daripada Pak Kiau Hong toh kejadian ini pun sudah lampau."
Lalu terpikir pula olehnya, 'Jika Siau Hong binasa, Ong singthian
akan merupakan lawan pula. Bila kedudukan Bu lim
Bengcu ini sampai direbut olehnya, maka aku akan diharuskan
tunduk kepada perintahnya. Wah, hal ini pun tidak
menguntungkan."
Karena itu, maka pada waktu menyerang lagi diam-diam ia
menghemat tenaga kelihatannya dia menyerang sekuatnya,
tapi sebenarnya memupuk tenaga sendiri, dengan demikian
daya tekanan Hang-liong-sip-pat-ciang yang dilontarkan Siau
Hong sebagian besar dibebankan kepada Goan-ci. Karena cara
permainan Buyung Hok itu memang cepat dan bagus sehingga
kelicikannya sukar diketahui orang lain.
Begitulah dalam sekejap lagi serang menyerang ketiga
orang itu sudah mencapai ratusan jurus, Berulang Siau Hong
hendak memancing Goan-ci agar mau masuk perangkapnya.
Dengan pengalaman Goan-ci yang masih hijau itu memang
beberapa kali hampir kejeblos ke dalam perangkap Siau Hong,
untung Buyung Hok lantas membantunya dari samping dan
dapat mematahkan setiap serangan Siau Hong. Sebaliknya
tiap tiap pukulan Siau Hong yang maha dahsyat selalu
disambut mentah-mentah oleh Goan ci yang memiliki iwekang
maha kuat.
Saat itu Toan Ki masih berada di tengah lindungan ke-18
ksatria Cidan. Ia menyaksikan sang jiko dapat mendesak Ting
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lokoai dan sedikit pun tidak kelihatan asor, sebaliknya sang
Toako yang mesti melawan dua musuh, walaupun
kelihatannya gagah perkasa, setiap pukulannya tampak sangat
dahsyat, tapi mungkin tidak tahan lama.
Diam-diam Toan Ki berpikir, "Tadi aku berkaok-kaok
hendak sehidup semati dengan kedua kakak angkat, tapi
sesudah bertempur aku malah sembunyi di bawah lindungan
orang. Huh, terhitung adik angkat macam apakah aku lni?
Masakah caraku ini dapat dianggap sehidup semati. Huh,
benar-benar memalukan. Biarpun aku tidak mahir ilmu silat,
tapi aku dapat menggoda Buyung hok dengan langkah ajaib
Leng-po-wi-poh agar Toako sempat mampuskan dulu si muka
buruk yang mengaku sebagai Ong-pangcu itu. Ya, aku harus
bertindak demikian."
Karena pikiran ini, segera ia menyelinap ke luar dari
lingkungan ke-18 ksatria Cidan dan berseru lantang, "Buyungkongcu,
engkau mengaku sebagai ”Lam Buyung' yang sama
derajat dengan 'Pak Kiau Hong' seharusnya engkau mesti satu
lawan satu dengan Toako kami, mengapa engkau pakai
pembantu dan mengeroyok Toako toh dengan demikian kalian
tetap kewalahan, andaikan nanti kalian mampu menandingi
Toako sama kuatnya juga hal ini akan memalukan dan
diterwakan sesama orang Bu-lim. Nah, marilah lebih baik kita
berdua main-main sendiri boleh coba kau serang aku!"
sembari berkata tubuh Toan Ki terus melayang dan
menyerobot ke belakang Buyung Hok, sekali ulur tangan,
segera kuduk Buyung Hok hendak dicengkramnya.
Melihat datangnya Toan Ki sangat cepat dan aneh
langkahnya, tanpa pikir Buyung Hok putar tangannya dan
menampar ke belakang, "plok", dengan tepat pipi kanan Toan
Ki kena digampar sehingga merah bengap, saking sakitnya
sampai air mata Toan Ki bercucuran.
Kiranya langkah ajaib Leng po-wi-poh itu meski sangat
hebat tapi Toan ki sendiri tídak becus ilmu silat, maka langkah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ajaib itu hanya berguna untuk berlari saja menghindarkan
serangan lawan, sekali Toan Ki menggunakan langkah ajaib
itu, biarpun jago kelas satu juga sukar menjamah ujung
bajunya.
Tapi sekarang dia yang hendak menyerang orang. Dengan
caranya yang geremat-geramut sudah tentu tidak dapat
melawan Koh soh Buyung yang berkepandaian lihai. Maka
ketika ditampar sudah tentu Toan Ki tidak mampu mengelak
karuan mukanya lantas merah bengap dan meringis kesakitan.
Sebaliknya ketika telapak tangan Buyung Hok dengan cepat
menyentuh pada pipi Toan Ki seketika ia pun merasa tenaga
dalamnya mendadak tertuang keluar dan menghilang tak
tertahankan lagi, dan karena karena kehilangan tenaga itu
untuk sejenak lengannya ítu terasa kaku. Sudah tentu Buyung
Hok terperanjat, pikirnya, "ilmu sihir atau ilmu siluman apakah
yang dia gunakan rasanya mirip benar dengan Hoa-kang-taihoat
milik Ting-lokoai itu? Jangan-jangan ilmu jahat Sing-siokpai
itu benar-benar telah dipelajari bocah she Toan ini,
terpaksa aku harus lebih hati-hatí menghadapi dia.”
Karena itu, segera ía mendamprat, "Orang she Toan, sejak
kapan kaupun masuk Siok-siok-pai?”
"Apa katamu? ... " baru Toan Ki hendák bertanya
sekonyong-konyong kaki Buyung Hok melayang tiba sehingga
dia didepak terguling.
Kiranya Buyung Hok mengira orang mahir Hoa-Kang taihoat
maka tidak berani menempurnya dari depan lagi, tapi
pada saat tak terduga ía terus menendangnya sehingga Toan
Ki roboh terjungkal. Sama sekali Buyung Hok juga tidak
menduja bahwa dengan mudah lawannya dapat ditendang
terjungkal, segera ia memburu maju dan dengan kaki kanan ia
injak dada Toan Ki yang belum lagi sempat bangun.
'Kau minta mampus atau ingin hidup?" bentak Büyung Hok.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sekilas Toañ Ki melihat Siau Hong masih melabrak Ong
Sing-thían dengan sengit, la pikir kalau menjawab dengan
kata-kata kasar tentu akan segera dibunuh oleh Buyung Hok
dan hal ini akan berarti Buyung Hok dapat membantu Ong
Síng thian untuk mengeroyok sang Toako lagi. Akan lebih baik
aku main ulur waktu saja dengan dia. Maka Toan Ki lantas
menjawab, "Apa gunanya mati? Sudah tentu lebih baík hidüp
di dunia ramai ini!"
Sama sekali Buyung Hok tidak menduga bahwa dalam
keadaan terancam jiwanya pelajar tolol ini masih berani bícara
secara jahil dan acuh-tak acuh. Dengan mendongkol ia
membentak pula, "Jika ingin hidup, kamu harus .... "
Mestinya ia hendak menyuruh Toan Ki menjura seratus kali
padanya untuk menghinanya di depan orang banyak tapi
lantas terpikir olehnya bila Toan Ki dilepaskan, untuk
membekuknya lagi, mungkin akan susah, maka ucapannya
lantas berganti menjadi, "harus memanggil seratus kali ’kakek’
padaku!"
"Usiamu cuma beberapa tahun lebih tua dari padaku,
masakah cocok untuk menjadi kakekku!” sahut Toan-kí
dengan tertawa.
"Blang," mendadak Buyung Hok menghantam sehingga
mengenai tanah di samping kanan kepala Toan Ki, seketika
debu pasir berhamburan dan berwujud sebuah lubang. Coba
kalau pukulan itu sedikit menceng saja, bukan mustahil kepala
Toan Ki sudah hancur luluh.
"Nah, kau mau memanggil atau tidak?" bentak Buyung
pula.
Toan Ki miringkan kepalanya agar matanya tidak kelilipan
oleh debu pasir dan sekilas dilihatnya Ong Giok-yan berdiri di
antara Pau Put-tong dan Hong Po-ok. Dengan jelas Toan Ki
melihat nona itu sedang memperhatikan dirinya, yang
bertempur dengan Buyung Hok. tapi biarpun dirinya sekarang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah kalah dan diancam oleh Buyung Hok, sedikit pun nona
itu ternyata tidak memperlihatkan rasa kuatir. Nyata apa yang
dipikirkan oleh nona itu mungkin hanya satu saja, yaitu sang
Piauko akan membunuh Toan-kongcu?"
Dan kalau dirinya dibunuh Buyung Hok, boleh jadi nona itu
juga takkan sedih. Hancur luluh hati Toan Ki demi melihat
sikap Giok-yan itu. Seketika ia merasa lebih baik mati di
bawah Pukulan Buyung Hok saja daripada kelak akan
menderita siksaan batin yang rindu dendam karena kasih tak
sampai. Maka tanpa pikir ia terus menjawab pertanyaan
Buyung Hok tadi, "Kenapa bukan dirimu saja yang memanggil
seratus kali 'kakek' padaku?"
Karuan Buyung Hok manjadi gusar, sebelah tangannya
terangkat dan segera menghantam kemuka Toan Ki.
Pada saat yang sama, sekoyong-konyong dua sosok
bayangan orang menerjang tiba secepat kilat yang seorang
berteriak. "Jangan melukai putraku!"
Dan yang lain berseru, "Jangan mencelakai Suhuku!"
Mereka adalah Toan Cing-sun dan Lam-hai-go-siu.
Walaupun kedatangan mereka sangat Cepat, tapi toh sudah
terlambat untuk mencegah pukulan Buyung hok itu. Sebagai
tokoh persilatan terkemuka, berbareng dua rangkuman tenaga
pukulan mereka susul menyusul menyerang ke bagian
mematikan di tubuh Buyung Hok.
Dalam keadaan menyerang dan diserang, walau Büyung
Hok dapat membunuh Toan Ki, ia sendiri pasti juga akan
celaka. Sudah tentu ia tidak ingin dirinya celaka maka segera
ia menarik kembali pukulannya tadi dan digunakan untuk
menangkis puluhan Toan Cing-sun, sedangkan tangan lain
juga berputar ke belakang untuk mematahkan serangan Lamhai-
gok-sin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena benturan tenaga itu, ketiga orang sama-sama
kesiap, ketiganya merasa kepandaian lawan memang sangat
hebat. Karena terburu-buru ingin menyelamatkan putranya,
segera jari telunjuk Toan Cing-sun bergerak dan menutuk lagi
dengan ilmu jari "it yang-ci".
"Awas, Piàuko, ini kungfu It-yang-ci keluarga Toan di Tayli,
tidak boleh kau anggap enteng," seru Giok yan.
Dalam pada itu Lam-hai gok-sin juga berteriak teriak,
"Bedebah keparat, meski Suhuku tidak genah, setidaktidaknya
dia adalah guruku. dan kalau kau pukul Suhuku, itu
berarti memukul aku si Gak luji ini. Bila Suhuku ini mendadak
takut mati terus memanggil 'kakek' padamu, wah, tentu aku
Gak Loji juga akan sial dan cara bagaimana aku harus
memanggil padamu? Bukankah tingkatanku akan merosot tiga
angkatan dan bukankah aku akan menjadi cucumu yang
celaka! Kurangajar! Kamu benar-benar terlalu kurang ajar,
Hari ini biarlah aku mengadu jiwa dengamu!"
Begitulah, sembari memaki segera ia mengeluarkan
senjatanya yang istimewa, yaítu "Gok-hi-cian" (gunting congor
buaya) dan segera menggunting ke kanan dan ke kiri ke arah
Buyung Hok.
Selama hidup Lam hai gok Sin paling takut kalau
tingkatannya berada di bawah orang lain. sampai-sampai
urusan nomor dua dan tiga dalam "Su-ok" juga di perebutkan
dengan Yap Ji-nio, Sekarang jika toan Ki benar-benar
memanggil "kakek" pada Buyung Hok, maka tanpa bisa
dítawar lagi Lam-hai gok-sin juga akan ikut menjadi "cucu"
orang, Hal ini baginya benar-benar suatu kejadian yang sial.
Sebab ítulah ia mati darípada hídup dihina.
Buyüng hokz sendiri tidak paham mengapa Lam-Haí-goksin
marah-marah dan mencaci-maki padanya, Namun sebelah
kakinya masih tetap! Menginjak di atas dada Toan Ki dan
kedua tangannya dipakai untuk melawan Toan cing sun dan
Lam-Hai gok sin.sesudah belasan jurus lambat-laun ia merasa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lam-hai-gok-sin lebih mudah dilawan biarpün orang
bersenjata gunting yang aneh. Sebaliknya It-yang-ci yang
dilontarkan Toan Cing-sun benar-benar tidak boleh dipandang
enteng.
Sebab itulah ia mencurahkan perhatiannya untuk melayani
Toan Cing sun dan cuma menggunakan sisa tenaga lain untuk
melawan Lam-hai-Gok sin, bahkan terkadang dengan
pukulannya yang hebat ia desak Gok-sin hingga terpaksa
meloncat mundur.
Toan Ki yang dadanya terinjak, meski sudah meronta ronta
hendak bangun, tetap gagal dan tidak kuat.
Sudah tentu yang paling kuatir adalah Toan Cing sun ia
tahu bila kaki Buyung Hok menginjak lebih keras pasti sang
putra akan muntah darah dan mungkin binasa. Dalam
keadaan demikian terpaksa ia harus menggunakan serangan
kilat untuk menyelamatkan dulu putranya itu. Segera ia
mainkan It-yang ci dengan cepat, ia mencecar dengan
serangan dahsyat.
Tiba-tiba suara seorang berseru mengejek, „Huh, It yang ci
dari Tayli mengutamakan sikap agung berwibawa tutukan
yang dahsyat harus tidak harus mengurangi perbawa seorang
raja. Kalau bermain cara hantam kromo demikian masakah
dapat disebut sebagai It-yang ci? Hehe, benar-benar
membikin malu keluarga Toan dari Tayli."
Cing-sun kenal pembicara itu adalah musuh besarnya Yan
khing Thaisu alias Toa-ok. Apa yang dikatakannya itu memang
benar, tapi Cing sun sendiri terlalu menguatirkan keselamatan
sang putra, maka pikirannya menjadi kacau dan tidak sempat
memikirkan gaya dan sikap agung lagi.
Dan karena permainan Cing-sun agak kasar, ketika ia
menutuk pula dan tenaga tutukan itu kena dítarík sekekalian
Buyung Hok, "crit", tahu-tahu ketika Lam-hai gok sin kena
tertutuk.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karuan Lam-hai-Gok-sín berkeok-keok kesakitan dan gelí.
"Maknya .... " baru saja ia hendak memaki, mendadak
senjata guntingnya jatuh ke bawah dan mengetuk telapak kaki
sendiri, ia berjingkrak kesakìtàn dan mestinya hendak
mencaci-maki lagi, tapi lantas terpikir olehnya yang
menggunakan It-yang-ci dan salah menyerangnya itu adalah
ayah sang Suhu, kalau memakinya berarti memaki kakeknya
sendirí. Ia pikir orang ini hanya boleh dibunuh dan tidak boleh
dimaki, kalau ada kesempatan biar menggunting saja
kepalanya. Sebab itulah makinya tadi menjadi urung
diteruskan.
Pada waktu Cing sun salah menyerang teman sendiri,
sedikit terpencar perhatiannya itu telah digunakan dengan
baik oleh Buyung Hok, secepat kilat Ia pun menutuk dada
lawan dan dengan tepat mengenai Tiong-tan-hiat. Seketika
Cing-sun meràsa napasnya sesak da n dada kesakitan.
"Bagus, Piauko! Jurus Ya ja-tam-hai yang hebat!" seru
Giok-yan memuji.
Padahal serangan Buyung Hok itu dilakukan dengan
terburu-buru dan tidak mengenai tempat yang mematikan,
tapi Giok-yan sengaja memujinya.
Dalam pada itu serangan Buyung Hok sudah menyusul
pula, segera tangan kanan menyodok ke depan untuk
menghantam dada lawan. Karena napas Cing-sun belum lagi
lancar, terpaksa ia tak dapat menangkis, kontan ia
manyemburkan darah karena hantaman Buyung Hok Itu.
Namun begitu demi menyelamatkan sang putra, tetap ia tidak
mau mengundurkan diri, cepat ia mengerahkan tenaga.
Sementara itu serangan Buyung Hok yang lain sudah tiba
pula.
Toan Ki yang masih terinjak di bawah kaki Buyung Hok
menjadi kaget ketika melihat sang ayah tumpah darah,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sedang serangan Buyung Hok di lontarkan pula, dengan kuatir
segera ia membentak, "Ho , kau berani melukai ayahku!”
Dalam gugupnya, dengan sendirinya tenaga andalannya
bergolak dan meluncur keluar melalui jarínya. Dan itulah
"Siang-yang-kiam" yang keluar dari Lak-mah-sin-kiam yang
tak berujut itu.
"Cret", tahu-tahu lengan baju Buyung Hok terkupas
terpotong oleh Kiam-gi (hawa pedang) yang tak kelihatan itu.
Menyusul hawa pedang terus membentur pukulan Buyung Hok
tadi, kontan Buyung Hok merasa tangan sakit pegal. Ia
terkejut dan cepat melompat mundur.
Bebas dari injakan kaki orang, cepat Toan Ki merangkak
bangun dan kembali jari kecil kiri menuding pula, dengan jurus
"Siau-tik-kiam" ia menusuk ke arah musuh.
Buyung Hok tidak berani ayal, ia kebaskan lengan baju
untuk menangkis, terdengar lagi suara "brat-bret" dua kali,
lengan bajunya terkupas potong oleh hawa pedang.
"Awas Kongcu!" seru Ting Pek-jwan. Itu Bu-heng-Kiamgi,(
hawa pedang tak berwujud) pakailah senjata ini.”
Berbareng ia lolos pedang sendiri dan dilemparkan kepada
Buyung Hok.
Toan Ki merasa sangat sedih dan dongkol panas tadi
mendengar Gíok-yan bersorak memuji serangan Buyung Hok,
dan yang diserang justru dada ayahnya.
Dengan perasaan yang bergejolak itu, maka tenaga
dalamnya juga ikut bekerja serentak, sekaligus ¡a ményerang
dengan Siau-siang, Siang-heng, Tiong-hang, Kwan-heng ,
Siau-hong dan Biau-heng, Lak-meh-kiam-hoat dikeluarkan
seluruhnya dengan lancar seakan-akan dibantu oleh suatu
kekuatan gaib.
Buyung Hok sendíri juga tambah semangat barusan
mendapat lemparan senjata dari Ting Pek-juan, ia putar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedang dengan kencang hingga seluruh tubuh seperti
terbungkus dalam lapisan sinar pedang.
Orang-orang Bu-lim biasanya cuma mendengar kepandaian
keluarga Buyung itu sangat tinggi dan luas. boleh dikatakan
serba bisa, tapi tidak menduga bahwa ilmu pedangnya
ternyata sedemikian bagusnya.
Namun begitu, betepa hebat Ilmu pedang Buyung Hok itu
tetap dia tidak dapat mendekati Toan Ki dalam jarak dua-tiga
meter.
Kedua tangan Toan Ki kelihatan menutuk kesana dan ke
sini danBuyung Hok terpaksa harus berkelit kian kemari
dengan sibuk Sekonyong-konyong terdengar "krek" sekali,
tahu-tahu pedang yang dipegang Buyung hok menjadi belasan
potong dan mencelat ke udara sehingga mengeluarkan Sinar
gemerdep.
Walaupun terkejut, Buyung Hok tidak menjadi gugup,
menyusul ia menghantamkan telapak tangannya sehingga
belasan potong pedang patah itu tertimpuk ke depan dan
mirip hujan senjata rahasia dan menyerang ke arah Toan Ki.
"Haya, celaka!" teriak Toan Ki dengan kelabakan dan cepatcepat
ia menjatuhkan diri dan bertiarap di atas tanah.
Maklum dia tidak mahir ilmu silat, jangakan dihujani senjata
rahasia sebanyak itu, biarpun sibatang saja dia sudah
kerepotan. Untung juga dia bertiarap hingga belasan pedang
patah itu menyambar lewat di atas kepalanya. Tapi cara
berkelit dengan bertiarap hingga mirip "anjing menubruk tahi"
itu sudah tentu tidak pantas dipandang orang. Sebaliknya
meski pedangnya diputuskan tapi Buyung Hok bisa merubah
menjadi pihak yang menang, tentu saja ia lebih gemilang
daripada lawannya.
”Terimalah senjata ini Kongcu!" seru Hong Po-ok sambil
melemparkan goloknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cepat Buyung Hok sambar senjata itu. Ia lihat Toan Ki
sudah merangkak bangun, segera ia mengejeknya dengan
tertawa, "Jurus Toan-heng barusan mungkin bernama anjing
menubruk tahi, apakah itu termasuk kungfu lihai dari keluarga
Toan di Tayli?”
Toan Ki melengak tapi lantas menjawab, ”Bukan!”
Menyusul jarinya bergerak, segera ia menusuk pula dengan
Siau ciang-kiam.
Kembali buyung Hok putar goloknya dengan segera ia
mengeluarkan bermacam-macam ilmu golok dari berbagai
golongan seperti tidak habis-habis kepandaiannya tak
terhingga. Cuma meski ilmu golok Buyung Hok sangat hebat
tetap susah mendekati Toan Ki.
Sebaliknya ketika Toan Ki menusuk lagi dengan jarinya dan
terpaksa Buyung Hok menangkis dengan goloknya, tahu-tahu
terdengar "trang" sekali, kembali golok itu tergetar patah.
Cepat Kongya Kian melemparkan senjatanya sendiri, yaitu
dua batang Boan-koan-pit dari baja, Buyung Hok membuang
golok patah dan sambut Boan-koan pit yang dilemparkan anak
buahnya itu, menyusul ia gunakan untuk menyerang dengan
cepat.
Dalam pada itu semangat pertempuran Toan Ki sudah
tambah kuat, sesudah berpuluh jurus sekarang rasa jerinya
sudah lenyap, Teringat pula ajaran-ajaran Iwekang dari
paman bagindanya Koh-eng Taisu. Segera ia dapat
memainkan Lak-meh-sin-kiam dengan lebih lancar.
Tiba-tiba terdengar Siau Hong berkata padanya, "Samte
permainan Lak-meh-sin-kiam sekaligus ini tampaknya engkau
belum apal betul sehingga banyak lubang yang dapat
digunakan musuh untuk balas menyerang. Lebih baik kamu
menggunakan salah satu macam di antaranya saja.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik banyak terima kasih atas petunjuk Toako." jawab
Toan Ki. Waktu ia melirik, ia lihat Siau Hong sudah berdiri di
samping dengan berpeluk tangan, sebaliknya Ong Sing-thian
tampak menggeletak di alas tanah dan sedang rnerintih-rintih
kesakitan, ternyata kedua kakinya telah patah.
Kiranya sesudah Toan Ki ikut maju menempur Buyung Hok
sehingga Siau Hong hanya melawan Goan-ci sendirian,
seketika Siau Hong berada di atas angin. Walaupun beberapa
kali mengadu tangan dan merasa hawa dingin pukulan Goanci
itu susah ditahan, untung tenaga dalam Síaü Hong teramat
kuat dan tidak sampai keracunan.
Segera Siau Hong berganti siasat sedapat mungkin ia
menghindari adu pukulan sebaliknya ia mengunakan tipu
serangan lain.
Mendadak ia memukul susul menyusül dua kali sehingga
terpaksa Goan-ci mesti menangkis sekuatnya, kesempatan ítu
segera digunakan Siau Hong untuk menyapak dengan kakinya.
Kemahiran Goan-ci hanya racun dingin yang diperolehnya
dari ulat es dan iwekang dari Ih tin kang, dalam hal ilmu silat
hanya dipelajarinya sedikit-sedikit dari A Ci, sudah tentu ià
tidak mampu menghindarkan serampangan kaki Sìau Hong.
Maka tanpa ampun lagi, "krak-krek", kedua tulang kakinya
disapu patah oleh Siau Hong sehingga roboh terjungkal.
"Hm, selamanya Kai-pang méngútamakan kejujuran dan
berdiri di pihak yang baik, sebagai pangcu masakah kamu
malah berkomplotan dengan kawanan siluman Sing-siok-pai?
Benar-benar membikin malu nama baik Kai-pang selama
beratus tahun ini!" damprat Siau Hong.
Sebabnya Goan-ci dapat menjabat Pangcu adalah karana
orang lain tidak mampu melawan ilmu silatnya yang berbisa,
bicara tentang pengalaman dan pengetahuan dia boleh
dikatakan sangat hijau, apalagi dia memakai kedok,
kelakuannya serba sembunyi-sembunyi, segala urusan selalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bergantung kepada A Ci dan Coan Koan-jing, dengan
sendìrinya para Tionglo Kaì Pang merasa tidak suka padanya.
Apalagi tadi Goan-ci telah menyembah kepada Ting jun-jiu
dan masuk menjadi anggota Sing-siok-pai, tentu saja para
Tianglo semakin memandang hina padanya. Maka sekarang
tiada seorang pun yang mau menolongnya biarpun kedüa
kakinya disarampang patah olah Siau Hong. sebaliknya diamdiam
para Tionglo merasa bersyukur dan senang malah.
Ada juga beberapa orang separti Coan Koan jun dan
begundalnya ingin maju menolong sang Pangcu yang
menggeletak di tanah itu, tapi demi nampak sikap Siau Hong
yang gagah perkasa dan angker itu, mereka menjadi jeri pula.
Sesudah merobohkan Goan-ci, Siau Hong melihat
pertarungan Hi-Tiok melawan Ting Jun-jíu pün sudah
menduduki tempat yang unggul, sebaliknya Toan ki yang
melawan Buyung Hok dengan Lek-meh-sin-kiang terkadang
bagus dan sekali tempo sangat lambat sehingga banyak
kesempatan baik untuk mengalahkan lawan tersia-siakan,
bahkan kalau kena pukül bukan mustahil Toan Ki sendiri yang
akan celaka di tangan Buyung Hok sebab itulah ia lantas
bersuara memberi petunjuk kepada Toan Ki.
Dan karena Toan k¡ melirik sekejap keadaan Siau Hong
yang telah mengalahkan Goan-cí itu sedikít lengah saja telah
digunakan oleh Buyung Hok dengan baik. Sebelah Boan-koanpit
secepat kilat disambitkanke dada Toan Ki.
Melihat sambaran Boan koan-pit itu sedemikian hebatnya,
tampaknya akan segera menembus dadanya, Toan Ki menjadi
kelabakan dan berteriak-teriak, "Toako! tolong, Toako!"
Cepat Síau Hong bertindak, dengan Jurus "Kian-liong-caithian"
(melihat naga di sawah) salah satu jurus Hang liong sip
pát ciang keras dihantamkan ke depan sehingga Boan koan pit
itu tersampuk dan melengkung bagian Tengahnya, karena itu
arahnya lantas berkisar dan membelok kebelakang kepala
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Toan Ki, bahkan terus berputar balik dan menyambar ke arah
Buyung Hok malah.
Kejadian ini pun di luar dugaan Siau Hong sendiri, ia tidak
menduga bahwa selama ini tenaga dalamnya telah maju
sedemikian pesatnya sehingga tanpa terasa tenaga
pukulannya dapat membuat batang potlot baja itu
melengkung, bahkan terus mengitar balik ke árah
penyambitnya.
Sebenarnya tindakan Siau Hong ini hanya secara kebetulan
saja, namun demikian sudah membikin para ksatria melongo
kesima, semuanya terkejut dan merasa kepandaian Siau Hong
benar-benar sudah mencapai tarap yang sukar diukur.
"Nah, itu namanya 'Ih-pi-ci-to, hoan-si-pat sin," teriak Hoan
Hua.
Tapi Buyung Hok sempat mengangkat Boan-koan-pit yang
lain untuk menangkis, "trang", kedua batang Boan-koan-p¡t
kebentur, lengan tergetar sampai kesemutan, diam-diam ia
mengakui betapa kuatnya tenaga Siau Hong.
Namun sebelum Boan-koan-pit yang melengkung tadi
terpental jatuh, sekali tangannya meraup dengan tepat Boan
koan-pit bengkok itu kena ditangkapnya dan dapat digunakan
sebagai senjata pula dalam bentuk gaetan.
Melihat macam-macam kepandaian Buyung Hok yang serba
bagus itu, ditambah lagi tenaga pukulan Siau Hong yang
hebat tadi, seketika bersoraklah para ksatria memberi pujian,
Mereka merasa tontonan hari ini benar-benar berharga
untuk dilihat dan perjalanan mereka ke Siau-lim-pai ini tidak
percuma juga.
Dalam pada itu sesudah terhindar dari serangan Boan
koan-pit, hanya tertegun sejenak saja segera Toan Ki.
menutuk ke depan pula dengan Jari jempol dalam jurus "Siausiang-
kiam" yang dahsyat. Walaupun Buyung Hok masih dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menangkis dengan Boan-koan-pit yang sekarang berbentuk
lain itu namun lambt-laun ia merasa penuh juga.
Sebaliknya. karena mendapat petunjuk dari Siau Hong,
maka sekarang Toan Ki melulu memainkan siau-siang-kiam
sajà sehingga daya tekannya benar-benar bertambah hebat
dan tidak memberi lobang kelemahan bagi Buyung Hok.
Sebenarnya Lak-meh-kiam hoat itu meliputi enam jurus
yang satu lebih hebat daripada yang lain kalau dimainkan
secara berantai.
Tapi Toan Ki tidak paham letak kelihaian ilmu pedang tak
berwujud itu, ia cuma memainkan Siau-siang-kiam secara
berulang-ulang. Namun begitu sesudah belasan kali berulang,
Buyung Hok terdesak hingga mandi keringat, ia main
mundur terus dan akhirnya kepepet sampai di samping
sebatang pohon besar. di situlah ia coba bertahan pula
dengan membelakangi pohon.
Setelah memainkan Siau-siang-kiam, segera Toan Ki
menekuk jempolnya dan berganti dengan jari telunjuk,
sekarang yang dimainkan adalah Siau-yang kiam.
Siau-yang-kiam memang kurang dahsyat dibandingkan Siau
siang-kiam, tapi lebih cepat dan lebih ganas. Maka ketika
Jarinya menusuk, seketika Buyung Hok tambah kerepotan
menghindarkan diri.
Melihat keadaan sang Piauko terancam bahaya, Giok yan
menjadi kuatir. Meski ia tahu segala macam Ilmu silat dari
berbagai golongan persilatan tapi terhadap Lak-meh-sin-kiam
sama sekali tidak paham sehingga tidak dapat memberi
petunjuk apa-apa kepadà sang Piauko maka dia hanya kuatir
saja dan tak berdaya.
Melihat ilmu pedang Toan Ki yang tak berwujud itu makin
dimainkan makin hebat, diam-diam Siau Hong sangat senang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan kagum. Tiba-tiba hatinya menjadi pedih pula demi
teringat kepada A Cu.
Sebabnya A Cu rela mati mewakilkan ayahnya adalah
lantara kuatir kalau aku tidak dapat melawan Lak-meh-sinkiam
keluarga Toan mereka. Sedangkan kalau melihat ilmu
pedang yang dimainkan Samte ini memang sedemikian
saktinya, andaikan aku yang diserang seperti Buyung Hok
sekarang. terang aku pun tidak sanggup melawannya. Jadi A
Cu telah mengorbankan jiwanya untuk keselamatan diriku,
padahal aku adalah ....adalah bangsa Cidan yang kasar,
masaakah aku ada harganya untuk mendapatkan cinta si nona
yang suci murni itu? Demikian pikir Siau Hong.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang banyak
dari arah barat laut sana sedang berteriak. "Sing síok Lokoai,
kau berani bergebrak dengan Kaucu kami dari Leng ciü kiong?
Sekarang kamu berlutut dan menyembah untuk minta ampun
jika tidak ingin mampus?"
Waktu Siau Hong berpaling, la lihat di lambung gunung
sana berdiri delapan baris kaum wanita ada yang tua dan ada
yang muda. setiap barisan itu memakai pakaian seragam
berbeda warna.
Disamping kedelapan barisan wanita itu ada pula ratusan
orang kangouw dengan dandanan berbeda daripada orang
biasa. Orang orang kang-ouw yang tampaknya gagah dan
tangkas itu juga sedang berteriak-teriak, "Kaucu, lekas
tanamkan Sing-si-hu padanya, biar dia tahu rasa!”
"Ya, terhadap Sing-siok Lokoai tiada obat yang lebih
mujarab daripada diberi persen dengan Sing-si-hu!"
Saal itu Hi-tiokz sedang melabrak Ting-lokoai dengan
sepenuh tenaga. Baik ilmu silatnya maupun tenaga dalamnya
Hi-tiok berada di atas Ting Jun jiu maka sejak tadi mestinya
dia dapat mengalahkan lawan, cuma dia kurang
berpengalaman di medan tempur sehingga kepardaiannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang sejati tidak sempat dikeluarkan seluruhnya. Pula dia
berhati welas asih, banyak tipu serangan mematikan tak mau
digunakannya, apalagi seluruh badan Lokoai boleh dikata
racun melulu, hal ini membuat Hi-tiok agak jeri dan tidak
berani sembarangan menyentuh badannya, makanya sampai
sekian lama ia masih belum dapat merobohkan iblis tua itu.
Ketika mendadak mendengar suara orang banyak yang
memanggil dia, segera Hi-tiok berpaling dan terlihat delapan
daripada sembilan pasukan wanita Leng ciu kiong telah datang
semua. Dan kaum laki-laki itu adalah para Tongcu dan Tocu
yang jumlahnya tidak sedikit.
”Sia-popo. Oh-siangsing, mengapa kalian pun datang
semua?” seru Hi-Tiok dengan girang.
"Lapor Kaucu, hamba sekalian telah menerima berita Bwekiam
berempat dan mendapat tahu para keledai gundul Siaulim-
pai hendak membikin susah kepada Kaucu, maka buruburu
hamba mengumpulkan para Tongcu dnn Tucu dan
menyusul kemari," demikian sahut Sia-popo. "Dan sekarang
ternyata Cujin tidak kurang suatu apa pun, sungguh hamba
sekalian merasa sangat girang."
"Siau-lim-pai adalah perguruanku, kamu tidak boleh
memakai kata-kata kasar, lekas minta maaf kepada Hongtiang
Siau lim-si," bentak Hi-Tiok.
Sembari berkata tetap Hi-tiok memainkan Thian-san ciatbwe-
jiu dengan tidak kurang hebatnya.
Sia-popo tampak gugup karena teguran Hi-tiok itu, dengan
hormat ia mengiakan dampratan sang Cujin, lalu mendekati
Hian-cu dan berlutut, ia menyembah beberapa kali dan
berkata, "Sia-Popo dari Leng-ciu-kiong tadi telah bicara secara
kasar dan menyinggung nama baik para Taisu Siau-lim-si,
untuk itu harap Hongtiang suka memaafkan dan mohon diberi
hukuman yang pantas."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia bicara dengan sungguh-sungguh dan penuh hormat,
kata demi kata sangat lantang dan jelas, hal ini menandakan
Iwekangnya yang tinggi dan sudah tergolong jago kelas satu.
Hian-cu mengebatkan lengan bajunya berkata, "Ah, Lisicu
tidak perlu banyak adat, silahkan bangun!"
Dengan kebasan langan baju yang menggunakan delapan
bagian tenaga itu mestinya Hiau-cu hendak mengangkat
bangun si nenek, tak tersangka badan Sia-popo cuma sedikit
tergetar saja dan tidak sampai terangkat. Bahkan ia nenek itu
lantas menjura lagi dan minta ampun, habis itu baru dia
berbangkit dengan pelahan dan kembali ke tempatnya tadi.
Para padri Siau lim-si angkatan Hian tadi telah mendengar
penuturan Hi-Tiok tentang pengalamannya di Biau-biau-hong.
sebaliknya padri lain dan para kesatria yang menyaksikan itu
menjadi terheran-heran akan kepandaian si nenek yang luar
biasa itu tampaknya kawan-kawannya baik wanita maupun
laki-laki itu pun bukan kaum lemah, tapi mengapa sudi
mengaku harnba pada Hi-tiok.
Dalam pada itu anggota Sing siok-pai yang dasarnya
memang terdiri dari manusia-manusia rendah dan kurangajar
itu, demi melihat banyak di antaranya wanita Leng-ciu-kiong
itu masih muda dan cantik serentak mereka berkeok-keok dan
bersiul-siul menggoda dengan kata-kata yang kotor.
Sebaliknya para Tongcu dan Tocu itu adalah orang kasar
pula, demi mendengar ucapan orang Sing-siok-pai yang tidak
sopan itu, kontan mereka balas mecaci maki sehingga seketika
itu ramailah suara orang membentak dan memaki.
Bahkan para Tongcu dan Tocu serentak meloloskan senjata
hendak melabrak lawan-lawannya. Tapi anggota Sing-siok-pai
tidak berani sembarangan bergerak karena belum mendapat
perintah guru mereka. Mereka masih tetap mencaci maki
dengan kata-kata yang semakin kotor.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara Toan Ki masih terus memusatkan perhatiannyq
untuk menyerang Buyung Hok dengan Siau-yang-kiam. Karena
tercecer, maka akhirnya Buyung Hok menjadi susah
membendung arah datangnya hawa pedang serangan Toan Ki
itu, terpaksa ia putar sepasang Boan-koan-pit yang lurus dan
bengkok itu untuk melindungi tubuhnya.
(Oo^o^dwkz^http://kangzusi.com/^o^oO)
Jilid 74
"Crit", sekonyong-konyong hawa pedang Toan Ki
menembus pertahanan Buyung Hok sehingga kopyahnya
terpapas jatuh, seketika rambutnya terurai, keadaannya serba
runyam.
"Jangan, Toan kongcu!" teriak Giok yan dengan kuatir.
Toan Ki terkesiap, menghela napas panjang dan serangan
lain tidak jadi dilontarkan lagi. Katanya di dalam hati, "Ya, aku
tahu yang kau pikirkan hanya piaukomu seorang saja,
andaikan aku membunuhnya, tentu engkau akan sangat
terluka dan selanjutnya takkan tertawa lagi. Aku menghormati
dan mencintaimu, tidak nanti aku membikin dirimu hidup
merana."
Dalam pada itu Buyung Hok telah mengikat kembali
rambutnya dengan wajah pucat, kalau mendapat bantuan
seorang wanita untuk mengatakan ampun kepada lawan,
maka ke mana lagi mukaku harus ditaruh selanjutnya?
Karena pikiran itu, ia lantas membentak, "Seorang laki-laki
biar mati juga tidak sudi minta kemurahan hatimu."
Berbareng ia putar Boan-koan-pit dan menubruk maju lagi.
"Eh, eh, jangan! kita kan tiada permusuhan apa-apa.
Kenapa mesti bertempur lagi?"' seru Toan Ki sambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menggoyang-goyang kedua tangannya ke depan. "Sudahlah
aku tak mau berkelahi lagi, tak mau lagi!"
Dasar watak Buyung Hok memang tinggi hati selamanya
dia tidak pandang sebelah mata pada siapa pun, tapi sekarang
dia kecundang di depan orang banyak celakanya lawan adalah
orang yang dikenal sebagai pelajar tolol itu, apalagi lawannya
lantas mengalah lantaran Giok-yan ikut minta. Sudah tentu la
tidak mau terima mentah-mentah kekalahannya.
Maka sekali menubruk maju, segera ia gunakan Boan-koanpit
yang bengkok itu untuk menyerang müka Toan Ki,
sebaliknya Boan-koan-pit lurus menusuk dada lawan, pikirnya,
"Biarlah kau bunuh aku dengan hawa pedang tak kelihatan itu,
marilah kita. gugur bersama daripada hidup menanggung
malu di dunia ini."
Nyata, dengan serangan Buyung Hok itu, terang dia sudah
nekat dan tidak menghiraukan sendiri lagi.
Di lain pihak Toan Ki menjadi bingung juga ketika melihat
Buyung Hok menubruk ke arahnya, kalau ia gunakan Lakmeh-
sin-kiam, kuatír akan membinasakan lawan itu. Dan
karena sedikit ayalserangan Buyung Hok sudah tiba, "Bles”,
tahu-tahu Boan-koan-pit menancap dibadan Toan Ki sedang
dalam kagetnya mengeges sedikit ke kiri sehingga tusukan itu
tidak tepat menembus dadanya tapi menancap bahunya,
begitu hebatnya serangan itu sehingga bahu Toan Ki
tertembus.
Dan Takkala Toan Ki menjerit kaget menyusül Buyung Hok
ayun Boan-kuau-pit lain yang bengkok itu untuk menggaet
leher Toan Ki.
Saat itu Toan telah dipantek oleh Boan-koan-pit sehingga
susah mengelak lagi, tampaknya dia pasti akan dibinasakan
oleh serangan Buyung Hok yang sudáh kalap itu.
Melihat keadaán berbahava itu, kembali Toan Cing-Sun dan
Lam-hai-gok-sin menubruk maju lagi hendak menolong. Tapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali ini Buyung-Hok sudah bertekad harus mernbunuh Toan
Kí, maka ia tidak menghiraukan keselamatan sendiri yang
diserang sekaligus oleh Toan Cing-sun dán Lam-hai-gok-sin
berdua.
Tampaknya leher Toan Kí akan segera dapat digantul oleh
Boan-koan-pitnya yang bengkok itu, walaupün Buyung Hok
sendiri juga takkan terhindar dari kematian karena di serang
bareng oleh Cing-sun dan Gok-sin, di luar dugaan pada detik
yang menentukan itu sekonyong-koyong Buyung Hok merasa
"Sin-to-hiat" di punggungnya terasa kesemutan dan tahu-tahu
badan kena dicengram dan diangkat ke atas oleh tangan
seseorang.
Sin-to-hiat adalah hiat-to terpenting di bagian punggung,
sekalí tempat itü terpegang seketika terasa kedua tangan linu
pegal dan tak bertenaga lagi sehingga senjata yang
dipegangnya juga terjatuh.
Maka mendengar Siau Hong membentak dengan suara
bengis, "Orang sengaja mengampun jiwamu, tapi kamu malah
turun tangan keji. Huh, terhitung ksatria macam apakah ini!"
Kiranya Siau Hong telah mengikuti tindakan Buyung Hok
yang nekat tadi dengan menubruk maju tanpa menghiraukan
keselamatannya sendiri, dalam keadaan begitu, kalau Toan Ki
mau menyerang lagi, dengan gampang sekali jiwa Buyung Hkk
pasti akan melayang.
Tapi sama sekali tak terduga bahwa pada saat yang
menguntungkan itu mendadak Toan Ki "melongok" di tengah
jalan dan tidak mau menyerang, Sebaliknya serangan Buyung
Hok tadi teramat cepat datängnya, walau Siau Hong juga
harus memburu maju secepat kilat terus mencengkram
pinggang Buyung Hok, tapi tidak beruntung Toan Ki sudah
dilukai lebih dulu.
Sebenarnya dengan kepandaian Buyung Hok yang tinggi
itu, meski masih kalah setingkat dari pada Siau Hong, tapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
juga tidak perlu sekali gebrak saja lantas tertawan. Soalnya
waktu itu dia sudah kalap dan nekat, yang dipikir hanya
membinasakan Toan Ki melulu dan sama sekali tidak
menghiraukan keselamatannya sendiri. Sedangkan
cengkeraman Siau Hong itu pun semacam Kim-tiaw-jiu-hoat
yang amat cepat dan lihai, yang diarah juga hiat-to terpenting,
maka Buyung Hok lantas tertangkap dan tak bisa berkutik lagi.
Dasar perawakan Siau Hong juga tinggi besar tangan
panjang dan kaki jangkung, ia pegang Buyung Hok ke atas
hingga mirip elang mencengram anak ayam.
Melihat sang majikan terancam bahaya, serentak Ting Pek-
Jwan, Kongya Kian, Pau Put-tong dan Hong Po-ok berempat
berlari maju sambil berteriak, "Jangan mencelakai Cukong
kami!"
Begitu juga Giok-yan ikut berlari dan berseru, "Piauko!
Piauko!"
Namun berada di bawah cengkraman orang biarpun
Buyung Hok mempunyai kepandaian setinggi langit juga sukar
dikeluarkan. Sungguh ia ingin lebih baik mati saja daripada
menderita hinaan sehebat itu.
Tiba tiba Siau Hong tertawa dingin dan berseru, "Huh, Siau
Hong adalah seorang laki-laki sejati ternyata diberi nama
sejajar dengan manusia rendah seperti ini, sungguh
memalukan saja!"
Dan sekali bergerak segera ia lemparkan Buyung Hok.
Di lempar oleh tenaga Siau Hong yang maha kuat itu,
kontan Buyung Hok mencelat sampai belasan meter jauhnya.
Segara ia melejit hendak berbangkit, tak tersangka ketika Siau
Hong mencengkram hiat to punggungnya tadi, tenaga dalam
Siau Hong telah dikerahkan sehingga menembus seluruh urat
nadinya, maka dalam waktu sekejap saja Buyung Hok tidak
dapat melancarkan kembali jalan darahnya, "Blang", tanpa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ampun lagi ia terbanting di tanah dalam keadaan serba
runyam.
Ting Pek jwan dan lain-lain tidak sempat mengerubut Siau
Hong lagi dan serentak putar balìk dan lari mandekati Buyung-
Hok. Tapi sebelum Pak-jwan dan kawan-kawannya mendekat,
Buyung Hok sudah berbangkit. Dengan muka pucat bagaikan
mayat ia terus lolos pedang yang tergantung di pinggang Tìng
Pek-jwan, menyusul sebelah tangan menolak ke depan
sehingga Pek-jwan dan Giok-yan berlima didesak mundur, lalu
ia angkat pedang terus mengorok leher sendiri.
Keruan Giok-yan terkejut, cepat ia berteriak-teriak, "He,
Piauko, jangan .... "
Dan pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mendesing
nyaring memecah angkasa, sepotong am gi (senjata rahasia)
tahu-tahu menyambar dari tempat jauh dan melintasi
lapangan terus membentur pedang yang terpegang di tangan
Buyung Hok itu. "Trang", kontan Buyung Hok merasa tangan
kesemutan, pedang terlepas dari cekalan telapak tangan
sampai tergetar lecet dan berdarah.
Waktu Buyung Hok memandang ke arah datangnya,
senjata rahasia itu, ia lihat di atas karang sana berdiri seorang
padri berjubah putìh perawakannya tinggi kurus, mukanya
memakai kain kedok putih, hanya kelihatan sepasang matanya
yang bersinar tajam.
Dengan tenang padri jubah putih itu melintas lapangan
yang dikerumuni orang banyak itu dan mendekati Buyung
Hok. Tiba-tiba ia tanya pemuda itu, "Kamu mempunyai putra
atau tidak?"
Sebenarnya semua orang sama terkejut dan kagum ketika
mendengar suara mendesingnya senjata rahasia yang nyaring
memecah angkasa tadi. Kini demi nampak padri berjubah
putih yang menyambitkan senjata rahasia itu mendekati
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Buyung Hok dan mengajukan pertanyaan yang aneh itu
mereka tambah heran dan geli pula.
Didengar dari suaranya, agaknya usia padri jubah putih itu
sudah cukup tua. Jubah padri yang dipakai itu pün agak
berbeda daripada jubah yang dipakai oleh hwesio Siau-lim-si.
Begitulah, maka terdengar Buyung Hök menjawab, "Aku
belum kawin, dari mana punya putra!”
"Dan kau punya kakek-moyang atau tidak?" kembali padri
jubah putih bertanya dengan kereng.
Buyung Hok sangat mendongkol, jawabnya dengan ketus,
"Sudah tentu punya! Aku sendiri akan mati, peduli apa
denganmu? Seorang boleh dibunuh dan tidak sudi dihina.
Buyung Hok adalah seorang laki-laki sejati dan tidak mau
terima ucapanmu yang kasar ini."
"Hm, kakek moyangmu mempunyai keturunan ayahmu
mempunyai putra sebagai dirimu. Tapi, tahu betapa gagah
perwiranya raja Yan seperti Buyung Lok, Buyung Tok dan lainlain,
sungguh tidak nyana akhirnya mesti mengalami nasib
putus keturunan!" demikian padri jubah putih berkata dengan
mengejek.
Buyung Lok, Buyung Tok dan lain-lain adalah raja kerajaan
Yan yang terkenal sangat pandai dan gagah, namanya
disegani kawan dan lawan. mereka itu adalah leluhur Buyung
Hok yang terkenal dalam lembaran sejarah.
Sekarang dalam keadaan kalap dan nekat mendadak
Buyung Hok mendengar nama-nama kakek-moyangnya itu,
seketika ia merasa kepalanya seperti disiram air dingin dan
sadar seketika. Pikirnva, "Mendiang ayahku telah
memperingatkan aku agar mengemban cita-cita membangun
kembali kerajaan Yan sebagai tugas utama dalam hidupku ini.
Sekarang aku terburu napsu dan nekat ingin membunuh diri,
selanjutnya keluarga Buyung tentu akan putus turunan. Ya,
anak saja belum punya, mana aku dapat bicara tentang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perjuangan menjayakan nama keluarga dan membangun
kembali kerajaan Yan?"
Teringat semua itu, seketika Buyung Hok mandi keringat
dingin, tanpa terasa ia berlutut dan menyembah kapada padri
tadi, katanya, "Buyung Hok terlalu bodoh, berkat petunjuk
padri agung yang berharga ini, sungguh selama hidup takkan
kulupakan budi kebaikan ini."
Dengan begitu saja padri itu menerima penghormatan
Buyung Hok, sahutnya, "Ya, sejak dulu sampai sekarang,
seorang pejuang sejati harus berani menghadapi segala
penderitaan Seperti Han-Koat, Toan-ko-cung, semuanya
pernah mengalami kegagalan dan dihina. Tapi akhirnya
mereka berhasil mendirikan dinasti Han dan Tong. Jika mereka
juga memble seperti dirimu dengan menggorok leher sendiri,
hal ini berarti tamatlah segala cita-cita dan hilangnya harapan
leluhur. Sungguh dangkal benar pengetahuanmu!"
Buyung Hok terima petuah itu dengan berlutut mendadak
ia terkesiap dan heran, "Padri saleh ini seakan-akan tahu citacita
apa yang terkandung dalam pikiranku sehingga memberi
banyak contoh yang berharga bagiku?"
Maka dengan hikmat ia pun mengakui kesalahannya.
"Nah, bangunlah!” kata padri itu akhirnya.
Dengan hormat Buyung Hok menyembah lagi beberapa
kali, lalu berbangkit.
"llmu silat keturunan keluarga Buyung dari Koh-soh
sungguh sangat hebat dan tiada bandingannya di dunia ini.
soalnya kau sendiri yang belum dapat belajar sampai
tingkatan yang tertinggi," kata pula padri itu. "Memangnya
kaù sangka ilmu silat keluarga Buyung beñar-benar kalah
daripada Lak-meh-sin-kian keluarga Toan dì Tayli? Ini, coba
lihat yang jelas!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Habis berkata, sekonyong-konyong ia mengunakan jari
telunjuknya dan menutuk tiga kali ke depan. Saat itu Toan
Cing-Sun dan Pa Thian-sik berdiri disebelah Toan Ki. Cing-sun
sedang menutuk hiat-to disekitar terluka. Toan Ki yang
tertusuk Boan-koan-pit dan telah dicabut keluar itu. Tak
terduga tiba-tiba jari padri itu menutuk secepat kilat dada
Cing-sun dan Thian-sik lantas terasa kesemutan dan roboh ke
belakang, berbareng Boan-koan-pit yang dicabut dan
dipegang Cing-sun itu lantas terpental dari cekalan dan
meluncur cepat ke depan, "plok" senjata itu menancap diatas
batang pohon di kejauhan sana.
Sesudah roboh, segera Cing-sun dan Thian-sik melompat
bangun dan saling pandang mereka terperanjat. Sungguh tak
terkira hebatnya tenaga tutukan padri jubah putih itu, terang
padri itu tidak bermaksud membunuh mereka, kalau mau pasti
jiwa mereka sudah melayang sejak tadi.
Dalam pada itu terdengar padri jubah putih itu sedang
berkata kepada Buyung Hok, "Nah, inilah 'Jap-hap-ci' (tutukan
campuran) yang hebat dari keluarga Buyung kalian. Dahulu
kupelajari secara tak sengaja dari leluhurmu, padahal aku pun
cuma paham sebagian kecil saja, ilmu silat lain yang tak
kuketahui entah masihberapa banyak. Hehe, masakah dengan
sedikit, kepandaian bocah yang masih hijau sebagai dirimu ini
lantas dapat mengembangkan nama kebesaran Koh-soh
Buyung yang tersohor itu?"
Semula para ksatria juga sangat jeri kepada nama "Koh-soh
Buyung" yang tersohor itu tapi ketika melihat Buyung Hok
dikalahkan habis-habis oleh Toan Ki yang ketolol-tololan itu,
kemudian dibanting pula oleh Siau Hong tanpa bisa berkutik
maka dalam hati para ksatria lantas timbul rasa kecewa
kepada keluarga Buyung yang dianggapnya cuma punya nama
kosong belaka.
Tapi sekarang setelah menyaksikan sì padri jubah putih
memperlihatkan tutukan saktinya, mau tak mau timbul
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kembali rasa kagum dan homat para ksatria kepada "Koh-soh
Buyung." Cuma saja dalam hati semua orang sama bertanyatanya,
"Siapakah gerangan padri ini? Ada hubuungan apakah
antara dia dengan Buyung Hok?"
Kemudian padri baju putih itu berpaling Ke arah Siau Hong,
katanya sambil merangkap tangannya, "Ilmu silatl Kiaui-taihiap
sungguh maha sakti dan tidak bernama kosong, maka
ingin kubelajar kenal beberapa jurus denganmu."
Memangnya Siau Hong sudah siap, maka ketika merangkap
tangannya memberi salam, segera la pun merangkap kepalan
tangan dan balas menghormat sambil berkata, "Ahh, Taisu
tidak perlu sungkan-sungkan!”
Maka terbenturlah dua arus tenaga maha kuat badan kedua
orang pun sama-sama tergeliat sedikit.
Pada saat itulah dari udara tiba-tiba melayang turun
sesosok bayangan hitam laksana elang raksasa menyambar ka
bawah dan dengan tepat jatuh di tengah-tengah antara padri
jubah putih dan Siau Hong yang sedang mengadu kekuatan
itu.
Karena datangnya bayangan orang itu teramat cepat dan
melayang turun dari udara saking terkejutnya sampai semua
orang sama menjerit. Dan sesudah bayangan orang itu berdiri
tegak di atas tanah barulah semua orang dapat melihat jelas
kiranya pada tangan orang itu terpegang seutas tambang
yang sangat panjang, ujung tambang yang lain terikat di
pohon besar yang berada di tempat beberapa meter jauhnya.
Jadi orang itu melayang tiba dengan ayunan tambang yang
panjang itu.
Orang itu tampak berkepala gundul, nyata juga seorang
padri. Terbalik daripada si padri jubah putih yang memakai
kain kedok putih, padri jubah hitam ini juga memakai kain
kedok hitam sekarang cuma kelihatan sinar matanya yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkilatan. Kedua padri hitam-putih ini berdiri berhadapan dan
saling pandang.
Kedua padri itu berdiri saling pandang sampai sekian
lamanya dan tetap tiada yang membuka suara.
Semua orang melihat perawakan kedua padri itu samasama
sangat tinggi cuma padri jubah hitam agak lebih kekar
dan padri jubah putih lebih kurus.
Di antara para penonton itu hanya ada seorang yang
merasa sangat girang dan terima kasih ialah Siau Hong. Dari
gaya dan cara si padri jubah hitam itu melayang tiba dengan
tambang yang panjang itu dapat dikenali tak lain tak bukan
adalah Hek ih-tai-han (si lelaki baju hitam) yang pernah
menolong jiwanya di Cip-hian ceng dahulu. Cuma waktu itu
Hek-ih-tai-han memakai topi dan berbaju orang biasa,
sedangkan sekarang dia pakai jubah padri.
Tapi dengan pandangan Siau Hong yang tajam segera la
dapat mengenalnya dari gerak gerik dan ilmu silatnya. Apalagi
dahulu sesudak hek-ih-tai-han itu menolongnya dan
mcmbawanya ke atas gunung, di sana mereka telah saling
gebrak belasan jurus, maka Siau Hong tidak pernah
melupakan gerak gerik tuan penolongnya itu.
Banyak di antara hadirin sekarang dahulu juga ikut hadir di
Cip-hian-ceng, cuma takkala itu Hek-ih-tai-han datang dan
pergi dalam sekejap saja sehingga orang lain sukar melihat
gerakannya itu dan dengan sendirinya sekarang pun tiada
seorang pun yang kenal dia.
Sesudah paling pandang sampai sekian lama, tiba-tiba
kedua padri hitam putih itu bicara berbareng, "Kau .... " tapi
lantas berhenti púla karena yang diucapkan ternyata sama.
Dan setelah lewat sejénak lagi barulah si padri jubah putih
melanjutkan, "Kau ini siapa?”
"Dan kau sendiri s iapa?” balas padri jubah hitam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar suara padri jubah hitam itu baru sekarang para
ksatria tahu bahwa padri itu juga sudah tua. Sebaliknya Siau
Hong pun lantas kenal suara itu memang tidak salah lagi
adalah tuan penolongnya, suatu yang pernah memberi
petunjuk dipergunungan sunyi dahulu. Seketika hatinya
berdebar-debar, sungguh ia ingin segera maju mengajak
bicara dan menyatakan terima kasihnya.
Dalam pada itu terdengar si padri jubah putih bertanya lagi,
"Kau sembunyi selama berpuluh tahun dalam Siau-lim-si, apa
maksud tujuanmu?”
"Ya, aku juga tanya padamu, apa pula maksud tujuanmu
kau sembunyi berpuluh tahun di siau-lim-si?" balas tanya si
padri baju hitam.
Karuan tanya-jawab kedua padri hitam-putih itu membuat
para padri Siau-lim-si, baik Hian-cu Hongtiang maupun tertua
yang lain sama merasa terheran-heran dan saling pandang
dengan tegang. Pikir mereka, "Mengapa kedua padri ini
mengaku sembunyi di dalam biara kita selama berpuluh tahun
tanpa kita ketahui? Apa benar bisa terjadi hal begini?”
Sementara itu terdengar si padri jubah putih itu sedang
menjawab, "Aku sembunyi di Siau-lim-si karena ingin
menyelidiki duduk perkara suatu urusan yang sebenarnya."
"Ya, aku sembunyi di Siau-lim-si juga ingin menyelidiki
duduk perkara sebenarnya suatu urusan," sahut si padri jubah
hitam.
"Urusan yang hendak kuselidiki itu sekarang juga sudah ku
ketahui dengan jelas. Dan bagaimana dengan urusanmu?”
"Urusan yang hendak kuselidlki sekarang juga sudah
kuketahui dengan jelas," kata si padri jubah putih. "Ilmu silat
saudara sangat hebat dan boleh dikatakan jarang ada
bandingannya. Kita sendiri sudah pernah bertanding tiga kali
dan tetap susah menentukan unggul dan asor. Apakah
sekarang kita perlu bertanding lagi?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku pun sangat kagum terhadap ilmu silat tuan andaikan
kita bertanding lagi kiranya sukar menentukan kalah atau
menang," sahut padri baju hitam.
Semua orang menjadi lebih heran demi mendengar
pembicaraan kedua "padri" itu, tidak lazim kaum padri
menggunakan sebutan-sebutan "saudara" atau "tuan" segala.
Maka terdengar padri jubah putih menjawab, "jika begitu,
biar kita saling mengagumi saja dan mempunyai jiwa yang
berdekatan, kita tidak perlu bertanding lagi."
'Baik sekali," kata padri jubah hitam.
Kedua padri lalu saling mengangguk dan jalan berbareng
ke bawah besar di sana serta berduduk berjajar di situ sambil
memejamkan mata sehingga mirip orang bersemedi dan tidak
bicara lagi.
Setelah mengalami kekalahan tadi karena pikiran pepet
seketika hingga Buyung Hok bermaksud membunuh diri, tapi
telah ditolong dan ditegur oleh padri jubah putih dan akhirnya
sadar kembali akan kekeliruan yang cupat itu, sungguh ia
merasa malu dan berterima kasih pula. Pikirnya, "Padri agung
ini katanya kenal leluhurnya siapa yang di kenalnya kakek atau
ayah? Rasanya untuk pergerakanku selanjutnya aku perlu
minta petunjuk yang berharga dari padri agung ini,
kesempatan baik ini tak boleh kulewatkan."
Karena melihat kedua padri Itu sedang semedi, Buyung
Hok lantas mundur kesamping dan tak berani
mengganggunya, ia ambil keputusan akàn menunggu agar
nanti dapat minta petuah yang lebih berharga bila padri jubah
putih itu sudàh berbangkit.
Teringat tadi sang Pìauko hampir saja bunuh diri, perasaan
Giok-yan sampai sekarang belum lagi tentram, ia memegangi
lengan baju Buyung Hok dengan air mata bercucuran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sekarang perhatian semua orang lantas terpusat pada Hitiok
yang masih terus melabrak Ting Jun-jiu itu.
Tiba-tiba Kiok-kiam teringat sesuatu, segera ia mendekati
Salah seorang ksatria Cidan dan berkata padanya, "Cujin kami
sedang bertempur, pasti perlu minum sedikit arak agar
tenaganya bertambah hebat. Dapatlah kami mendapatkan
sedikit arakmu?"
"Persediaan arak di sini cukup banyak boleh kau ambil
saja." sahut ksatria Cidan itu sambil menyodorkan dua
kantung besar.
"Banyak terima kasih," sahut Kiok-kiam dengan tertawa,
"Kekuatan minum Cujia kami terlalu sedikit, sekantung saja
sudah lebih dari cukup."
Lalu ia menerima satu kantung arak itu ia buka sumbatnya
dan mendekati medan pertempuran, serunya kepada Hi-tiok,
"Cujin, untuk menanam bibit Sing-si-hu pada Sing-siok Lokoai,
bukankah diperlukan, sedikit air arak?"
Habis berkata, segera la angkat melintang kantung arak itu
dan menyodorkan ke depan, seketika arak mancur keluar dari
kantung itu dan menyembur kearah Hi-tiok.
"Bagus adik Kiok!" seru Bwe-kiam bertiga dengan bersorak
gembira.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar dari bawah gunung ada
suara wanita yang sedang menembang membawakan lagu
opera "Nyo Kui-hui mabuk arak."
Di tengah suara tembang itulah arak menyembur bagai
panah dari kantung arak yang dipegangi Kiok-kiam itu.
Saat itu Hi-tiok sedang melabrak Ting Jun-jiu dengan
sekuat tenaga, cuma sayang belum diketemukan cara paling
tepat untuk menundukkan Ting-lokoai. Tadi ketika dia
mendengar teriakan anggota Long-ciu-kiong yang minta dia
menggunakan "Sing-sì-hu", ia merasa cara ini terlalu keji dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
belum mau digunakan. Sekarang melihat Kiok-kiam telah
menuangkan air arak kearahnya, mau-tak-mau ia angsurkan
sebelah tangannya dan meraup segenggam air arak itù.
Pada saat lain dilihatnya dari balik lereng gunung sana
muncul sembilan orang. Kiranya Khim-sian Kheng Kong-leng
berdelapan, yaitu apa yang disebut "Ham kok-pat-yu"
(delapan sahabat dari lembah Ham). murid, murid Liong-uh
lojin, seorang lagi adalah A Pik, dia adalah murid Khong Kongleng.
Dan yang menembang adalah si pemain sandiwara Li Gui
lut.
Ketika melihat Hi-tiok sedang melabrak Ting Jui-jin,
keadaan sangat seru, segera Kong-leng dan lain-lain berteriakteriak
memberi semangat, "Ciangbun Susiok hari ini benarbenar
unjuk kesaktiannya, lekas Susiok bunuh Ting-lokoai
untuk membalas sakit hati Suhu!"
Para padri Siau-lim-si menjadi heran mengapa orang-orang
itu menyebut Hi-tiok sebagai susiok mereka.
Dalam pada itu Kiok-kiam masih terus menyemburkan
araknya tanpa berhenti sehingga ada sebagian menyemprot
ke atas kepala Ting Jun-jiu.
Sesudah menempur Hi-tiok sampai sekian lama Ting jun-jiu
merasa serangan lawan berubah terus tak habis-habis
sehingga dia sendirì terdesak dan kerepotan, sekarang
mendadak disembur pula oleh air arak tiba-tiba Lokoai
mendapat akal licik sekonyong-konyong lengan bajunya
mengebas sehingga air arak itu muncrat kembali
berhamburaran kearah Hi-tiok bagai hujan mencurah.
Tak kala itu Hi-tiok sedang mengerahkan segenap tenaga
dalamnya sehingga kumpulan iwekang yang diperolehnya dari
Bu-gai-cu, Thian-san Tong-lo dan. Li Jui-sui terbentang sekuat
dinding baja dan membungkus seluruh tubuhnya, sudah tentu
tidak mempan diserang apa pun, malahan sejak tadi berulang
ting-lokoai telah mengguna racun dan tetap tak mampu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merobohkan Hi-tiok. Sekarang arak yang muncrat ke arah Hitiok
bagai hujan itu sebelum mendekati baju Hi-tiok sudah
tertolak kembali oleh tenaga dalamnya yang maha dahsyat itu.
Sekonyong-konyong terdengar suara jeritan dua orang.
Kiok-kiam dan A Pik berbareng roboh.
Kiranya air arak yang dihamburkan kembali oleh Ting Junjíü
itu, setiap-titik air mengandung racun yang disebarkan oleh
kebasan lengan baju tadi. Kiok-kiam berdiri sangat dekat
medan tempur, A Pik juga sedang berlari ke arah Buyung Hok
dan hendak memberi sembah kepada majikannya itu, maka
keduanya keciprat air arak berbisa itu dan roboh terjungkal.
Sekilas Hi-tiok melihat air muka Kiok-kiam dan A Pik
berubah pucat guram bagai mayat ia kaget dan gusar pula.
Maka timbul juga akhirnya tekadnya untuk menumpas Ting
Jun-jiü, kalau iblis ini belum dibasmi, tentu kelak akan banyak
berbuat kejahatan lagi. Apalagi lantas terdengar Seruan Sihsin-
ih yang kuatir, "Susiok, jahat sekali racun ini, lekas Susiok
bekuk Lakoai dan paksa dia menyerahkan obat penawarnya!”
Maka tanpa pikir lagi segara Hi-tiok melancarkan serangan
dengan lebih gencar. Telapak tangan kiri diam-diam
mengerahkan lwekang dan menjalankan Pak-beng-cin-gi.
Tidak lama kemudian air arak yang tergenggam ditangannya
terbeku menjadi beberapa lapis es kecil, menyusul terus
manghantam ke depan beruntun tiga kali.
Ting Jun-jiu merasa diserang oleh hawa yang mengigilkan.
Karuan ia terkejut, ”Kenapa tenaga dalam keledai gundul kecil
ini mendadak bisa berubah?"
Cepat ia mencurahkan pikiran dan bertahan dengan
sepenuh tenaga. Tapi menyusul beberapa hiat to penting di
bagian pundak, perut, paha, betis dan lengan juga terasa
ditempel sesuatu yang maha dingin, Diam-diam Lokoai
memaki, "Kurang ajar, hawa pukulan keledai gundul cilik yang
dingin ini hebat juga sehingga dapat membuat aku menggigil."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Segera ia pun mengerahkan tenaga untuk bertahan. Tapi
tiba-tiba "Thian-cu-hiat" di kuduk, "Hong-bun-hiat" di bagian
punggung dan "Ci-Sing-hiat” di belakang pinggang juga terasa
sangat dingin.
Dengan pengetahuan dan pengalaman Ting-lokoai
yangluas, seketika ia merasa heran dan curiga, pikirnya,
"Biapun pukulannya lebih dingin lagi juga tidak mungkin dapat
memutar untuk menyerang punggungku, apalagi yang terasa
dingin adalah bagian hiat-to penting, jangan-jangan bangsat
gundul cilik ini ada tipu muslihat yang aneh. hal ini aku perlu
berjaga-jaga."
Karena itu, segera ia pun balas menyerang, kedua lengan
bajunya mengebas berbareng, menyusul sebelah kaki terus
menendang. Cara menendang dengan ditutupi kebasan lengan
baju ini adalah kepandaian sejati Ting Jun-jiu, biasanya sangat
jitu, seratus kali menyerang seratus kali kena, kalau musuh
tidak binasa, tentu juga terluka parah.
Tak disangka serangan kilat yang diandalkan ini sekarang
gagal dan tidak manjur. Baru saja kaki terangkat setengah
jalan, sekonyorg-konyong "Hok-tho-hiat” dan "Yang-kau-hiat"
bagian dada terasa linu pegal, bahkan lantas berubah gatal
tak tertahankan. Tanpa terasa i menjerit. Dan karena merasa
gatalpegal itulah, maka kaki yang akan mengenai sasarannya
itu lantas terasa dan terpaksa ditarik kembali.
Anehnya sekali ia menjerit, maka menyusul ía terus
menjerít-jerit pula beberapa kali. Sebaliknya anak murid Singsiok-
pai masih terus bersorak memuji tentang Sing-siok Losian
maha sakti segala, bahkan sambil mengolok-olok pihah lawan
dan dikatakan sebentar pasti akan dibinasakan Sing-siok
Losian, lebih baik sekarang juga minta ampun saja.
Jadi sorak-sorai pujian mereka itu diselingi dengan jerit
mengaduh Ting Jun-jiu sehingga kedengarannya menjadi
sangat lucu. Sebagian anak muridnya yang lebih cerdik
dengan segera tutup mulut demi melihat gelagat tidak seperti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dugaan mereka, namun sebagian besar kawannya masih terus
berkaok-kaok dan pentang bacot.
Begitulah, dalam sekejap saja serentak Ting Jun-Jiu merasa
tujuh hiat-to terpenting tubuhnya terasa gatal tak
tertahankan, rasanya seperti digigit dan disusupi oleh beribu
semut kecil, gatal-gatal geli dan sakit nyelekit.
Padahal ketujuh hiat-to itu adalah tempat yang mematikan,
untung ilmu silat Ting-lokoai memang luar biasa lihainya
takkala bertempur ia melindungi tempat-tempat hiat-to
dengan tenaga dalam yang kuat sehingga serangan Sing-si-hu
yang dilancarkan Hi-tiok itu sukar mengenai dia namun begitu
toh tidak urung ketujuh hiat-to itu akhirnya disusupi oleh
lapisan es kecil sebagai bibit Sing-si-hu yang disambitkan Hitiok.
Sebenarnya Sing-si-hu itu bukan sesuatu senjata rahasia
dan juga bukan racun, tapi semacam tenaga yang tak dapat
dipegang dan tak bisa teraba, Ketika Ting Jun-jiu meresa
terserang hawa dingin pada saat itulah Hi-tiok mengerahkan
Iwekangnya untuk menyusupkan lapisan es itu ke dalam
tubuh iblis itu dan es itu dengan segera cair terkena hawa
panas badan dan tidak berbalas lagi. Namun begitu tenaga
dalam Hi-tiok sudah menyusup ke dalam urat nadinya.
Karena merasa gatal pegal tak tertahan, dengan kelabakan
Ting Jun jiu mengeluarkan macam-macam obat yang dia
bawa, sekaligus ia minum beberapa macam obat penawar,
menyusul lantas mengerahkan Iwekangnya untuk menolak
rasa gatal itu, tapi bukannya sembuh, sebaliknya rasa gatal
pegal itu semakin menjadi-jadi. Coba kalau orang lain tentu
sudah berguling guling di atas tanah, Tapi tenaga dalam Ting
Jun jiu memang maha sakti sehingga dia masih dapat
bertahan dengan mati-matian.
Celakanya Sing si-hu itu justru semacam kekuatan yang
aneh, kalau mengenai orang yang tidak mahir ilmu silat, maka
penderitaannya juga tidak berat sebaliknya semakin kuat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Iwekang penderita itu, semakin hebat pula bekerjanya Sing-sihu.
Maka tertampaklah Tíng-lokoai mulai sempoyongan seperti
orang mabuk arak mukanya sebentar merah padam dan lain
saat pucat pasi, kedua tangannya bergerak-gerak seperti
menari sikapnya beringas menakutkan.
Melihat penderitaan Lokoai itu. Hi-tiok agak menyesal
pikirnya "meski dosa Iblis ini pantas diberi ganjaran, tapi apa
yang harus dideritanya ternyata sedemikian hebatnya. Tahu
begitu tentu aku cuma menanamkan satu-dua potong Sing sihu
saja dan kiranya sudahlah cukup.”
Melihat keadaan Suhu mereka yang serba celaka itu. anak
murid Sing-siok-pai yang tadinya masih bersorak-sorai memuji
itu seketika bungkam dan ikut merasa takut pula. Walaupun
masih ada satu-dua di antaranya yang berkepala batu dan
tetap memberi suara yang mengumpak Sing-siok Lokoai,
betapapun suara mereka sudah tidak selantang tadi.
Pada saat itulah mendadak sí pemain sandiwara Li Gui lui
menembang pula dangan membawakan lakon Pat-sian
(delapan dewa) mabuk dangán mengikuti gerak gerik Singsiok
Lokoai yang sempoyongan seperti orang mabuk itu.
Karuan para ksatria terbahak-bahak geli mendengar
tembang Li Gui-lui yang jenaka itu.
Selang tak lama, akhirnya Ting Jun-Jui tidak tahan lagi, ia
tarik dan betot Jenggotnya sendiri sehingga secomot
janggotnya yang indah memutih perak itu dibubut sendiri dan
bertebaran terbawa angin. Menyusul lantas baju sendiri yang
dirobek-robek sehingga kelihatan kulit badannya yang putih
bersih.
Usia Ting jun jiu sudah lebih 70 tahun, tapi badànnya
masih sehat dan kuat seperti anek muda. Dalam keadaan
kalap, dimana jaringan sampai, di situlah badannya lantas
tergeruk luka, darah lantas mengucur pula. Sembari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menggaruk-garuk dengan sekeras-kerasnya, berbareng ia pun
berteriak-teriak, "Gatal! Aduh, gatal bukan main! Matilah aku!"
Selang tak lama, sebelah kakinya lantas bertekuk lutut, jerit
mengaduhnya semakin mengerikan.
Walaupun para ksatria itu terhitung tokoh-tokoh yang
berpengalaman semua, tapi demi nampak seorang tua
bermuka muda dan bergaya luwes sebagai dawasa, seorang
tokoh terkemuka dunia persilitan seperti Ting Jin-jiu dan
sekarang berubah gila bagai kesurupan setan sambil
mengeluarkan suara jeritan serupa binatang buas itu mau-takmau
semua orang ikut ketakutan, sampai Li Gui-lui yang
biasanya suka melucu juga ikut bungkam karena takut. Hanya
kedua padri hitam pütih tadi yang masih tetap duduk semedi
d¡ bawah pohon dengan tenang seakan-akan tidak melihat
dan mendengar apa yang terjadi di sekitarnya.
Maka Hian-cu berkata, "Siancai, Siancai Hi-tiok, boleh kau
hapuskan penderitaan Ting-siangsing sekarang."
Hi-tiok mengiakan dan menerima baik perintah ketua Siau
lim-si itu.
"Nanti dulu," tiba-tiba Hian cit mencegahnya 'Hongtiang
suheng juga terbinasa di tangan iblis tua ini mana boleh kita
mengampunin dia?"
Di sebelah sana Kheng Kong-leng juga bekata, "Cíangbun
Susiok, engkau adalah ketua dari golongan kita, kenapa masih
tunduk kepada períntah orang lain? Sakit hati Suhu dan Suco
(kakek guru) kita masakah tidak dibalas?"
Seketika Hi-tiok menjadi bingung dan tidak b¡sa mengambil
keputusan.
Maka Sih-sin-ih lantas ikut bicara, "Susiok, lebih penting
memintakan dulu obat penawarnya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hi-tiok membenarkan usul itu. Segera ia berkata, "Nona
Bwe-kiam, boleh kau minumkan setengah butir Tin-yang-wan
(pil pemunah gatal) padanya."
Bwe-kiam mengiakan dan mengeluarkan sebuah botol
porselin kecil, ia menuang sebutir obat sebesar kacang. Tapi
demi nampak sikap Ting jun-Jiu yang beringas bagai orang
gila itu, ia menjadi takut dan tidak berani mendekat.
Segera Hi-tiok mengambil pil itu. ia membelahnya separoh,
lalu berseru, "Ting siangsing, coba pentangkan mulutmu, biar
kuminumkan pil pemunah rasa gatal ini!"
Sambil masih menggerung-gerung Ting-lokoai lantas
pentang mulut ke atas. Sekali Hi-tiok menjentik, setengah
butir pil itu lantas melayang kedepan dan tepat masuk
kerongkongan Ting Jun-jiu.
Karena seketika khasiat pil itu belum lagi bekerja, saking
gatalnya sampai Ting Jun-jiu berguling-guling di atas tanah.
Selang tidak lama kemudian rasa gatalnya mulai hilang dan
barulah ia dapat berbangkit. Pikiran sehat iblis tua itu ternyata
tidak hilang, menyadarl dirinya tak dapat melawan lagi maka
sebelum Hi-tiok membuka suara pula, buru-buru ia
mengeluarkan obat penawar dan diberikan kepada Sih-sin ih
katanya, "Yang warna merah obat luar yang putih obat
dalam?"
Rupanya karena menggerung-gerung sekian lamanya,
maka suaranya sekarang berubah serak.
Sih-sin-ih yakin Ting-lokoai tidak berani berdusta dan main
gila lagi maka tanpa ragu ia membubuhkan dan minumkan
obat yang diterimanya dari Lokoai itu kepada Kiok-kíam dan A
Pik.
"Sing-siok Lokoai." seru Bwe-kiam. "separoh pil penghapus
rasa gatal itu hanya bertahan untuk tiga hari saja, lewat tiga
hari tentu rasa gatal geli itu akan kumat pula. Tatkala mana
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
apakah Cukong Kami akan memberikan obat lagi atau tidak
semuanya bergantung pada tingkah lakumu nanti."
Ting-Jun-Jiu sendiri masih belum hilang rasa
penderitaannya tadi, badannya masih gemetar dan tidak
sanggup bicara lagi.
Dasar anggota Sing siok-pai itu memang manusia licin dan
pengecut, mereka sangat pandai melihat gelagat dan
mengikuti arah angin, demi melihat Ting Jun-Jiu sudah keok,
segera ada dua-tiga orang berlari ke hadapan Hi-tiok, mereka
memberi sembah dan minta diterima sebagai hamba, kata
mereka, "Leng-ciu-kiong Cujin maha bijaksana dan berilmu
maha sakti, hamba sekalian merasa kagum sekali dan bersedia
mengabdi bagi Cujin dengan segenap jiwa raga kami."
"Ya, dan kedudukan bu-lim Beng-cu ini terang tak bisa lain
kecuali Cujin yang berhak memangkunya," timbrung yang lain,
"Dan asal cujin memberi perintah, biar masuk lautan api atau
terjun ke dalam air mendidih pasti hamba sekalian tak berani
menolak."
Bahkan banyak di antaranya demi untuk membuktikan
kesetiaan mereka, terus saja mereka menuding Ting Jun-jiu
dan mencaci-makinya habis-habisan. Malahan ada yang minta
kepada Hi-tiok agar lekas membinasakan Ting-lokai supaya
iblis itu kelak tidak dapat berbuat kejahatan lagi. Menyusul
terdengar suara tambur dan gembreng bergeremuruh dan
serentak orang-orang Sing-siok-pai lantas menyanyikan lagu
"Leng ciu cujin, maha sakti” dan lain-lain, jadi mereka Cuma
menggantikan kata-kata sing-siok Losian dengan Leng-cíu-
Cujin, sedang iramanaya tidak berubah.
Dasar jiwa hi-tiok memang sederhana, demi mendengar
sanjungan puji orang-orang sing-siok-pai itu, mau-tak-mau
agak syur juga hatinya.
Namun Lak-kiam lantas membentak, "Kalian manusia yang
tidak tahu malu ini masakah menggunakan cara menjilat SingTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
siok Lokoai untuk memuji Cujin kami? Benar-benar terlalu
kurangajar dan tidak tahu malu!"
Seketika orang-orang Sing-siok-pai itu menjadi gugup dan
takut, ada yang menjawab, "Ya, ya! hamba tentu akan
mencari cara dan model lain, tanggung Siankoh (dewi) akan
puas nanti!”
Ada yang bilang, "Keempat siankoh benar-benar secantik
bídadari turun dari kayangan, Kelak pasti memperoleh jodoh
jejaka yang gagah!"
Begitulah macam-macam pujian yang muluk-muluk dan
membuat pendengarannya merasa mengirik yang dikeluarkan
oleh anggota sing-siok-pai itu.
Dan sesudah memberi sembah kepada Hí-Tiok pula mereka
mengundurkan diri ke belakang barisan para Tongcu dan Tocu
dengan rasa bangga dan puas sehingga para ksatria
Tionggoan dan padri Siau-lim-si tidak mereka pandang
sebelah mata lagi.
Kèmudian Hian-cu berkata. "Hi tiok, engkau telah
mendirikan suatu aliran tersendiri diharap kelak akan menuju
ke arah yang baik arah yang berguna bagi sesamanya dan
diharap dapat mengawasi anak muridmu supaya mereka tidak
berbuat kejahatan dan membahayakan sesama orang
kangouw. Jika semua ini dapat kau laksanakan, maka soal
kamu menjadi padri atau tidak adalah sama saja."
"Ya, Hi-tiok menerima pesan Hongtiang dengan rasa terima
kasih," sahut Hi-tiok dengan suara berat.
Lalu Hian-cu menyambung pula, "Keputusan memecat
dirimu tak bisa di tarik kembali lagi, tapi tentang hukuman
rangket boleh dibebaskan!"
Dan belum lagi Hi-tiok menjawab, tiba-tiba terdengar
seorang tertawa terbahak-bahak berkata, "Hahaha! Kukira
Siau-lim-si paling mengutamakan tata tertib dan menegakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hukum secara teguh, siapa tahu juga cuma sebangsa manusia
yang pandai lihat arah angin saja, hanya berani kepada yang
lemah dan takut kepada yang kuat.”
Waktu semua orang memandang ke arah pembicara itu,
kiranya Tai-lun Beng-ong Cumoti.
Air muka Hian-cu berubah merah, katanya, "Teguran Bengong
memang tepat. Kami mengaku salah Hian-cit Sute,
laksanakan hukuman!"
Hiau-cit mengiakan dan berpaling kepada bawahannya
sambil berseru, "Siapkan pentung hukuman!”
Lalu katanya kepada Hi-tiok, "Hi-tiok, sekarang kamu masih
terhitung murid Siu lim-pai, hendaknya bertiarap dan
menerima rangketan."
Hi-tiok menyatakan siap, lalu ia berlutut dan memberi
hormat kepada Hian-cu dan Hian-cit, katanya, "Tocu Hi-tiok
telah melanggar larangan besar biara kita maka dengan
hikmat tecu menerima hukuman rangket menurut peraturan!"
Tapi mendadak bekas orang-orang Sing-siok-pai tadi
berteriak-teriak, "Leng ciu-kiong Cujin kami adalah Bu-lim
Beng Cu, masakah para padri Siau-lim-si berani sembarangan
menyentuh badan beliau?”
"Ya, jika kalian berani mengganggu seujung bulu romanya,
rasakan nanti labrakan kami ini. Biarpun hancur lebur bagi
beliau juga kami merasa bahagia!"
Namun Sia-popo dan kawan-kawannya cukup memahami
pikiran Hi-tiok. segera membentak, "Hai, tutup bacot kalian!
Apakah Leng-ciu-kiong Cujin cocok untuk disebut-sebut oleh
kalian kawanan setan ìblis yang tidak kenal malu ini? Lekas
tutup bacot!"
Karena dampratan itu, seketika orang-orang Sing-siok-pai
tadi bungkam kembali, tampa bernapas pun tidak berani
keras-keras.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Laksanakan hukum!" bentak Hian cit kemudian.
Segera padri pelaksana hukum dari Kai-lat-ih mendekati Hitiok
dan menyingsìng jubahnya keatas sehingga kelihatan kulit
punggungnya, Sedang padri lain lantas mengangkat
pentungan ke atas dan siap memukul.
Hi-Tiok sendiri tidak berani mengerakan tenaga dalam
untuk melawan rangketan itu, ia pikir hukuman itu diterimanya
sebagai akibat perbuatannya sendiri, maka setiap langketan
itu berarti akan mengurangi sebagiaan dosanya. Jika dia
mengerahkan tenaga untuk melawan dan tidak merasakan
sakitnya rangketan itu. maka hukuman itu berarti tiada
berguna baginya. Sebab itulah ia diam saja dan
mengendurkan otot dagingnya untuk menerima hukuman
rangket itu.
Tapi belum lagi pentung padri Siau-lim-si itu dijatuhkan ke
bokong Hi-tiok, sekonyong-konyong terdengar jeritan seorang
wanita yang tajam, "Hoi, nanti dulu! Apa ... apa itu yang
kelihatan diatas punggungmu?"
Waktu semua orang memandang punggung Hi tiok,
tertampaklah bagian pinggang belakang itu ternyata ada
sebuah titik bekas luka selomotan api dupa yang terjajar
secara rajin.
Umumnya pada waktu setiap biku atau hwesio dinobatkan,
di atas kepalanya yang gundul itulah yang diselomoti dengan
dupa berapi sehingga meninggalkan bekas selomatan itu.
Siapa duga selain diatas kepala, bahkan di punggung Hi-tiok
juga bekas selomotan dupa, malahan bekas selomotan itu
jauh lebih besar, kira-kira sebesar mata uang, hal ini
menandakan selomotan itu dilakukan pada waktu dia masih
bayi sehingga bekas selomotan itu pun ikut membesar takkala
badan Hi-tiok bertumbuh. Maka kalau dilihat sekarang bekas
selomotan itu sudah kurang sempurna lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika semua orang tercengang heran, tiba-tiba di antara
orang banyak berlari keluar seorang perempuan setengah
umur berbaju hijau pupus. rambutnya panjang terurai sampai
di pundak, ke dua pipinya masing-masing terdapat tiga jalur
bekas luka garukan. Dia bukan lain adalah "Bu ok-put-tiok", si
orang kedua dari Su-ok, Yap Ji-nio adanya.
Begitu mendekat, sekali tangannya bergerak, kontan kedua
padri pelaksana hukuman Siau-lim-si tadi ditendang pergi,
menyusul Yap Ji-nio lantas hendak menarik celana Hi-tiok.
Melihat gelagatnya. celana Hi-tiok itu hendak dibelejeti
mentah-mentah tanpa menghiraukan Hi-tiok sebenarnya
bukan anak kecil lagi, tapi pemuda berusia 21 tahun.
Keruan Hi-tiok terkejut dan kelabakan, cepat ia lompat
bangun sambil memegangi celananya yang kedodoran dan
hampir terlepas itu, ia lompat pergi dua-tiga meter jauhnya,
lalu berpaling dan bertanya. "Kau ... kau mau apa?”
Badan Yap Ji-nio tampak bergemetar, "O.oo ... anakku!"
mendadak ia berseru, ia pentang kedua tangan terus hendak
merangkul Hi-tiok.
Tapi Hi tiok sempat berkelit sehingga Ji nio menubruk
tampat kosong.
Semua orang merasa heran dan mengira jangan-jangan
wanita ini sudah gila.
Berturut-turut Yap Ji-nio menubruk lagi beberapa kali dan
setiap kali dapat dihindarkan Hi-tiok dengan cepat. Maklum,
sejak Ji-nio dihantam sekali oleh Goan-ci sehingga jatuh
kelengar. Untung dia ditolong seseorang dan ketika sadar
kembali iwekangnya sudah banyak surut. Ginkang yang
mestinya merupakan kepandaian utama Yap Ji-nio juga telah
mundur separoh dari pada tadinya.
Karena menubruk beberapa kali tidak kena, Ji nio tambah
kalap bagai orang gila ia berteriak-terak, ”Oh. anakku! Ken ...
kenapa engkau tidak mau mengakui ibumu ini."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hi tiok terkesiap, perasaannya seperti kena arus listrik
serunya dengan tak lampias, "Engkau .. engkau ibuku?"
"O, anakku," seru Ji-nio. "Tidak lama sesudah aku
melahirkan dirimu aku lantas menyelomot punggung dan
kedua belah bokongmu masing-masing sembilan titik dupa.
Coba kau periksa, bukankah kedua belah bokongmu masingmasing
ada sembilan titik bekas selomotan?"
Sungguh Hi tiok terperanjat luar biasa. Memang benar
bahwa di atas kedua belah bokongnya yang putih halus itu
terdapat sembilan titik bekas selomotan dupa. Karena hal itu
sudah ada sejak kecil, pula tidak tahu asal-usulnya sendiri
maka selamanya ia tidak pernah beberkan rahasia badan
sendiri kepada orang lain.
Terkadang bila dia sedang mandi dan melihat tanda
istimewa di atas bokong sendiri itu selalu ia anggap dirinya
memang dilahirkan sebagai anak Budha, makanya terdapat
bekas selomotan yang aneh itu. Karena itulah meka ia tambah
alim dan sujud kepada agamanya.
Sekarang demi mendengar ucapan Yap Ji-nio itu, rasanya
seperti bunyi halilintar di s iang bolong, dengan suara gemetar
dan tak tertahankan ia menagis, "Ya, ya! Memang ... memang
di atas bokongku ada bekas selomot ... selomotan itu. Apa ...
apa engkau ... ibu yang ... yang menyelomoti aku dahulu?”
Maka menangislah ji-nio dengan tergerung-gerung sambil
sesambatan, "Ya, benar! Jika ...Jika bukan aku yang
menyelomot, dari mana ...àku akan bisa tahu? O, aku telah ...
telah menemukan putraku, aku menemukan putra
kandungku..O, aku ... aku sudah menemukan anakku
sekarang!"
Sembari menangis terus saja ia ulur tangan buat merangkul
Hi-tiok.
Sekali ini Hi-tiok tidak menghindar dan menolak lagi, ia
membiarkan dirinya dipeluk Ji-nio.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sejak kecil Hi-tiok sudah yatim piatu dan dipiara padri Siaulim-
si. tentang kedua belah bokongnya ada bekas selomotan
dupa hanya dia sendiri yang tahu, sekarang Yap Ji-nio
ternyata dapat mengatakannya dengan jitu, sudah tentu tidak
perlu disangsikan lagi akan kebenaran ucapan Ji-nio tadi.
Untuk pertama kali inilah mendadak Hi-tiok merasakan
cinta kasih seorang ibu yang belum pernah dinikmatinya
selama ini, saking terharu air matanya lantas bercucuran juga.
Serunya dengan suara parau, "Ibu ... O, ibu! Engkau
....engkau adalah ibuku!"
Kejadian mendadak ini benar-benar di luar dugaan siapa
pun. Dengan terheran-heran semua orang menyaksikan Hitiok
dan Yap Ji-nio saling rangkul dan menangis, berduka dan
bergirang pula. Menyaksikan adegan demikian, biarpun hati
para ksatria sekeras baja juga ikut luluh dan terharu.
Maka terdengar Ji-nio berkata, "Anakku, tahun ini engkau
berusia 24 tahun, selama 24 tahun ini, siang malam
senantiasa kupikirkan dirimu. Aku menjadi iri bila melihatnya
orang lain punya anak, sebaliknya anakku sendiri diculik
bangsat terkutuk, makanya aku ... aku pun suka menculik
anak orang lain. Tetapi .. tetapi anak orang lain sudah tentu
tidak sebaik anaknya sendiri."
"Hahahaha!" tiba-tiba Lam-hai gok-sin tertawa. "Sam-moai,
jadi sebabnya kau suka menculik anak kecil orang untuk
dibuat mainan sesudah bosan memain lantas kau minum
darahnya, kiranya lantaran anakmu sendiri diculik orang.
Sering aku Gak-loji suka tanya padamu, tapi engkau tidak mau
menerangkan sebab musababnya. Ehm, bagus-bagus
sekali..He, bocah Hi-tiok, ibumu adalah adik angkatku, nah,
lekas kau panggil Empek (paman) padaku!"
Mengingat bahwa tingkatannya sekarang ternyata lebih tua
daripada Leng-ciu-kiong Cujin yang berkepandaian maha sakti,
sungguh girang Lam-hai-gok-sìn tidak kepalang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebaliknya terdengar In Tiong-ho berkata sambil geleng
kepala, "Salah, salah! Tidak bisa! Hi-tiok cu adalah saudara
angkat Suhumu, maka kamu harus panggil dia Supek.
Sedangkan aku adalah saudara angkat ibunya, tingkatanku
juga lebih tua dua angkatan daripadamu, maka kamu harus
lekas panggil 'Susiokco' (kakek guru) padaku!”
Lam-hai-gok-sin melengak oleh keterangan itu dipikir-pikir
memang serba salah akhirnya ia meludah dan mendadak
memaki, "Maknya, Locu tidak mau panggil!"
Dalam pada itu Yap ji-nio telah melepaskan rangakulannya
pada Hi-tiok, ia pegang pundaknya dan dipandang dari kanan
dan kiri dengan girang tak terlukiskan. Lalu ia berpaling
kepada Hian-cu dan berkata, "Dia adalah putraku, kamu
keledai gundul ini tidak boleh mengganggu dia!"
Tiba-tiba Hi-tiok teringat sesuatu. Tempo hari waktu dia
memecahkan problem catur pernah dia lihatnya Yap Ji-nio
bersikap sangat mesra pada Sing-siok Lokoai, bahkan
memanggilnya "Engkok Jun-jin yang tercinta” apa segala,
terang di antara mereka berdua seperti ada hubungan
istimewa. Wah, jangan-jangan dirinya adalah putra Ting Junjui.
Sungguh celaka bila betul begitu, Sang ibu adalah Yap Jinio
yang bejat dan jahat termasuk satu di antara Su-ok yang
terkutuk dan kalau sang ayah benar benar Ting jun jiu
adanya, maka nama busuknya jauh lebih lebih tak terkatakan
lagi. Yang penting celaka adalah tadi dia malah sudah
melabraknya dan menanamkan Sing si-hu pada tubuhnya
sehingga dia tersiksa setengah hidup. Wah, lantas bagaimana
baiknya? Demikian pikir Hi-tiok.
Hi-tiok coba melirik ke arah Ting Jun-jiu dengan rasa tidak
tentram, mukanya sebentar merah sebentar pucat, kemudian
pun pandang Yap Ji-nio dengan harapan ibunya akan
mengatakan siapakah gerangan ayahnya yang sebenarnya?
Tapi bila sudah di katakan pun ayahnya benar-benar Ting Jun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jiu, wah, kan jadi benar celaka 13? Maka lebih baik tidak
dikatakan saja.
Namun sejak kecil Hi-tiok sudah yatim piatu, sekarang
dapat bertemu dengan ibundanya, sudah tentu ia pun
berharap dapatbertemu dengan ayahnya pula.Ya, biarpun
ayahnya adalah Ting-Jun-jui mau-tidak-mau día harus
mengakuinya.
Tengah Hi-tiok merasa ragu dan serba susah tiba-tiba
terdengar Yap Ji-Nio berseru, ”Entah kampret keparat mana
yang menculik anakku sehingga kita ibu dan anak terpisah
selama 24 tahun, Nah, anakku, marilah kíta menjelajahi dunia
ini dan harus menemukan bangsat keparat itu, kíta akan
mencincang dia hingga hancur luluh. Ibu tidak dapat melawan
dia, tapi ilmu silat anak sekarang maha tinggi, kebetulan dapat
membalas sakit hati ibu."
Mendadak padri jubah hitam yang sejak tadi duduk semadi
di bawah pohon itu berdiri, lalu berkata dengan pelahan,
"Anakmu ini diculik orang atau di rampas orang? Dan bekas
luka enam jalur garukan pada mukamu itu disebabkan apa?"
Air muka Yap Ji-nio berubah hebat, jeritnya dengan suara
tajam, "kau ... kau siapa? Dari mana kau tahu!"
"Masakah kamu menjadi pangling padaku?" Tanya padri
jubah hitam.
"Hah, kau, ya, benar kau!" Jerit Ji-nio pula segera ia pun
menubruk maju.
Tapi kira-kira dua meter di depan padri itu, mendadak Jinio
berdiri tegak sambil menuding dengan beringas dan tidak
berani mendekat lagi.
"Ya, memang akulah yang merampas anakmu itu." kata si
padri jubah hitam. "Dan enam jalur luka pada mukamu itu pun
akulah yang menggaruknya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sebab apa sebenarnya sebab apa kau rampas anakku?"
teriak Ji-niu. "Selamanya kita tidak saling kenal, tiada punya
permusuhan apa pun, tapi mengapa kau ... kau bikin susah
padaku, membikin aku menderita s iang dan malam selama 24
tahun?"
"Tempo hari waktu terkena pukulan Ong-Sing-thian yang
jahat itu, jiwamu mestinya sukar dipertahankan lagi, tapi
siapakah yang menolongmu?" tiba-tiba padri itu bertanya pula.
"Aku tidak tahu," sahut Ji-nio. "Apakah mungkin engkau
yang , .. yang menolong aku?"
"Benar, memang aku," padri itu mengangguk.
Tempo hari waktu Yap Ji-nio jatuh pingsan karena pukulan
Goan-ci itu, dalam keadaan tak sadar dia cuma merasa ada
orang telah menolongnya dengan menyalurkan iwekang yang
sangat tinggi namun orang itu sudah tinggal pergi ketika Ji-nio
siuman kembali. Kemudian Ji-nio pernah tanya Ting jun-jiu
dan Toan Yan-khing, tapi mereka tidak merasa telah
menolongnya sehingga kejadian itu tetap merupakan tanda
tanya didalam hati Ji-nio. Ia tahu perbuatannya sendiri terlalu
jahat sehingga tiada seorang tokoh persilatan dari kalangan
baik-baik sudi menolongnya, sebaliknya sedepat mungkin
malah akan membunuhnya.
Sekarang paderi jubah hitam itu mengaku telah menolong
jiwanya, kalau dilihat dari kepandaiannya yang amat
mengejutkan tadi memang tidak perlu disangsikan lagi akan
kemampuan padri ini. Tapi karenanya juga Ji-nio menjadi lebih
curiga. Dengan termangu-manggu ia pandang padri itu sambil
berkata, "Sebab apa? Sebab ... sebab apa kau menolong
aku?”
Tiba-tiba padri jubah hitam itu menunjuk Hi tiok dan
berkata. "Siapakah ayah bocah ini?”
Ji-nio tergetar hebat, sahutnya dengan gemetar, "Dia ... dia
... Tidak, tidak dapat kukatakan. Tidak mungkin kukatakan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perasaan Hi-tiok terguncang hebat, cepat ia berlari
mendekati Ji-nio sambil berseru, "Mak, kau katakan pada ku
saja! Siapakah ayahku?"
"Ti ... tidak, tidak dapat ku katakan," sahut Ji-nio sambil
goyang-goyang kepala.
"Yap Ji-nio," kata padri jubah hitam berkata pelahanpelahan,
"asalnya kau adalah seorang nona yang baik,
seorang nona yang cantik dan prihatin. Tapi pada waktu kau
berumur 18 tahun kau telah terpeleset oleh seorang lelaki
yang berkedudukan dan berilmu silat tinggi, kau telah
menyerahkan kehormatan kepadanya sehingga melahirkan
anak ini betul tidak?"
Ji-nio tampak diam, seperti patung di tempatnya, sampai
agak lama baru mengangguk dan berkata, "Ya!"
"Lelaki itu memang terlalu serakah, dia Cuma memikirkan
kesenangannya sendiri, memikirkan nama baik dan hari depan
sendiri, sebaliknya tidak ingat kepada dirimu sebagai seorang
nona yang belum menikah dan sudah punya anak, dia tidak
ingat bagai bagaimana keadaanmu yang menyedihkan
itu,"demikian kata padri itu lebih jauh.
"Tidak, tidak!" sahut Ji-nio. "Dia telah memikirkan diriku dia
banyak memberi uang padaku dan mengatur hidupku hari-hari
selanjutnya."
"Tapi mengapa dia tidak mau mengambil dirimu sebagai
istri saja. sebaliknya membiarkan dirimu terlunta-lunta di
rantau!" tanya si padri.
"Aku tak dapat menikah padanya, mana boleh dia
mengambil aku sebagai istri!" sahut Ji-nio. "Tapi dia seorang
baik selamanya dia sangat baik padaku. Hanya aku sendirilah
yang tidak ingin membikin susah padanya. Dia ... dia adalah
orang baik."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Nyata dari ucapannya itu terang ia masih penuh kenangan
dan rasa bahagia kepada kekasihnya dahulu yang sekarang
telah meninggalkan dia itu, sedikit pun tidak mengurangi
cintanya walaupun sudah menderita dan merana selama ini.
Diam-diam semua orang membatin, "Yap ji-nio terkenal
maha jahat, tapi terhadap kekasihnya itu benar-benar sangat
setia dan cinta murni. Entah siapakah gerangan sang lelaki
itu."
Mendengar kisah roman Ji-nio itu, Toan Ki, Wi Sing-tiok,
Hoan Hoa, Pa thian-sik dan lain-lain tanpa merasa sama
melirik ke arah Toan Cing-sun. Mereka merasa kekasih Yup Jinio
itu, baik kedudukan, sifatnya yang romantis dan
perbuatannya, semuanya mirip dengan kelakuan Cing-sun.
Bahkan ada yang berpendapat, "Ya, jika demikian terang
maksud kedatangan Su-ok ke negeri Tayli tempo dulu itu
benar kemungkinan ingin membikin perhitungan perkara ini
dengan Tin-lam-ong."
Kalau semua orang menyangka keras kekasih Yap Ji-nio itu
tentu Toan Cing-sun adanya, sebaliknya Cing-sun sendiri juga
merasa ragu dia sedang bertanya kepada dirinya sendirl.
"Wanita yang ku kenal memang tidak sedikit tapi apakah
termasuk juga Yap Ji-nio ini? Mengapa sedikit pun aku tidak
ingat lagi?"
Maka terdengar si padri jubah hitam sedang berkata pula
dengan suara lantang. "Ayah bocah ini sekarang juga berada
di sini, kenapa tidak kau tunjuk dia saja dan suruh dia
mengaku?"
"Ti ... tidak, aku tidak dapat mengatakannya," sahut Ji-nio
dengan gemetar.
Hi-tiok hanya melirik ke arah Ting Jun-jiu dan ingin tahu
reaksinya. Sebaliknya hati Toan Cing sun juga berdebar-debar.
"Kenapa kau selomot anakmu dengan dupa di bagian
punggung dan kedua belah bokongnya?" tanya si padri pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak, aku tidak tahu? aku tidak tahu!” seru Ji nio sambil
menutupi mukanya. "O, aku mohon padamu, jangan ... jangan
kau bertanya lagi."
Namun padri itu sedikit pun tidak terpengaruh, la tanya
terus, "Apa barangkali kau ingin anakmu menjadi hwesio sejak
dilahirkan.”
"Tidak, tidak, bukan!" sahut Ji-nio.
"Habis, mengapa?"
"Entah, aku tidak tahu, aku tidak tahu!"
"Sikap kamu tidak mau mengaku pun aku tahu," kata si
padri dengan suara keras. "Ialah lantaran ayah si bocah itu
sebenarnya adalah seorang padri alim dan terhormat."
"O!" Ji-nio merintih dan tak tahan lagi. Ia jatuh pingsan.
Seketika gegerlah para ksatria. Kalau melihat keadaan Yap
Ji-nio itu tentang apa yang dikatakan si padri jubah hitam itu
tidak omong kosong. Jadi orang yang bergendak dengan Ji-nio
sehingga melahirkan Hi tiok itu kiranya juga seorang hwesio.
Maka ramailah orang berbisik-bisik membicarakan "skandal"
luar biasa itu.
Dalam pada itu Hi-Tiok memayang bangun Yap ji-nio dan
berseru, "Mak, mak! Sadarlah engkau!”
Selang tak lama, pelahan Ji-nio mulai siuman lalu berkata
dengan suara berat, "Nak, lekas kau bawa aku pergi dari sini,
orang ini adalah ....adalah hantu , ia serba tahu semua aku
tidak ingin melihat dia lagi. Sakit .... sakit hati ini pun tidak
perlu dibalas lagi."
"Ya, mak. marilah kita pergi," sahut Hi-tiok.
"Nanti dulu," cegah si padri tiba-tiba, "Apa yang hendak
kukatakan belum lagi habis. Kau bilang tidak mau membalas
sakit hati lagi. Tapi sakít hatiku belum ku balas. Yap Ji nio,
apakah kau tahu sebab apa aku merampas anakmu? sebabnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
íalah ... ialah ada orang juga orang merampas anakku
sehingga keluargaku berantakan dan orangnya binasa, kami
suami istri dan ayah anak bercerai berai. Maka perbuatanku
itu hanya membalas dendam belaka."
"Jadi ada orang telah merampas anakmu? Dan engkau
cuma ingin membalas dendam?” Ji nio menegas.
"Benar," sahut si padri jubah hitam, "Aku sengaja
merampas anakmu dan kutaruh di kebun sayur Siau-lim-si
supaya hwesio di situ memeliharanya sehingga dewasa dan
mengajarkan ilmu silat padanya. Sebab anakku sendiri juga
telah dirampas orang dan dibesarkan serta mendapat didikan
ilmu silat dari hwesio Siau-lim-si. Apakah kau ingin melihat
mukaku yang asli?”
Dan tanpa menunggu jawaban Yap Ji-nio, dengan cepat
padri itu menanggalkan kain kedok sendiri. Seketika para
ksatria menjerit kaget.
Ternyata "padri" itu bermuka lebar dan penuh brewok,
wajahnya sangat angker dan gagah, usianya antara 60-an
tahun.
Sungguh kejut dan girang Siau Hong tak terkirakan, cepat
ia memburu maju dan menyembah sambil berseru, "Kau ...
engkau adalah ... "
"Hahaha!" orang itu terbahak-bahak, "Anak baik, anak baik,
memang benar aku ini ayahmu. Kita ayah dan anak
mempunyai perawakan dan muka yang serupa, maka tidak
pakai bukti juga semua orang tahu aku adalah bapakmu."
Ketika ia tarik bajunya sendiri sehingga dadanya terbuka,
maka tertampaklah sebuah lukisan cacah kepala serigala, lalu
ia pun tarik bangun Siau Hong dan membuka bajunya, segera
kelihatan juga tato kepala serigala yang menyeringai dengan
kedua taringnya yang menyeramkan di dada Siau Hong itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kedua orang berbareng lantas bersiul sambil menengadah,
suara mereka nyaring berkumandang sehingga lembah
gunung seakan-akan terguncang. 18 ksatria Cidan juga
serentak mencabut golok mereka, pembawa mereka sungguh
luar biasa laksana pasukan raksasa.
Lalu Siau Hong mengeluarkan sebuah bungkusan kecil kain
minyak, dari situ ia mengeluarkan sehelai kertas kuning yang
yang terlipat. Ketika itu dibentang, maka kelihatanlah hurufhuruf
cidan yang tercetak. Itulah tulisan tinggalan ayah Siau
Hong di dinding karang yang diterimanya dari Ti-kong Taisu
dahulu.
"Hahaha, tulisan Siau Wan-san sebelum ajal haha!"
demikian orang tua berewok alias Siau Wan-san terbahak
sambil tuding tulisan di atas kertas yang dibentang Siau Hong
itu. "Haha, anakku pada saat aku terjun ke bawah jurang,
ingin menyusul ibumu, tak tersangka ajalku belum waktunya
tamat, tahu-tahu aku kecantol di dahan pohon raksasa di
bawah jurang dan tidak jadi mati. Dengan demikian gagal
maksudku membunuh diri sebaliknya lantas timbul cita-citaku
untuk membalas dendam. Tatkala di luar Gan-bun-koan
dahulu itu, ibumu yang tak bisa ilmu silat itu tanpa alasan
telah dibunuh jago silat Tionggoan sini, coba katakan, sakit
hati ini harus kita balas atau tidak?”
"Sakit hati ibu sedalam lautan, sudah tentu harus dibalas!"
sahut Siau Hong tegas.
"Orang-orang yang dahulu ikut membinasakan ibumu itu
sebagian besar sudah kubunuh pada waktu itu juga," kata
Siau Wan-san. "Sedangkan Ti kong dan manusia yang
menyamar dan mengaku bernama Tio-ci-sun itu pun sudah
mampus di bunuh anak Ong Kiam-thong, itu Pangcu Kai-pang
sudah mampus karena sakit, baginya boleh dikatakan terlalu
untung. Cuma itu Toa-ok-jin (durjana besar) yang mereka
sebut sebagai Toako pemimpin itu sampai sekarang masih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hidup segar-bugar. Coba katakan nak, cara bagaimana kita
harus menghadapinya."
"Siapakah dia itu!" tanya Siau Hong cepat.
”Ya, siapakah dia?" mendadak Siau Wan-sin bersiul
panjang, sinar matanya bagai kilat menyapu ke arah para
ksatria Tionggoan.
Para ksatria yang kebentrok sinar matanya sama merasa
kebat-kebit. Walaupun mereka tiada sangkut-pautnya dengan
peristiwa di luar Gan-bun-koan dahulu, tapi demi melihat sikap
Siau Wan-san yang gagah berwibawa itu semuanya merasa
jeri dan tiada seorang pun berani bergerak atau bersuara
seakan-akan kuatir menimbulkan bencana bagi mereka
sendiri.
"Anakku," kata Siau wan-san kemudian "pada hari itu aku
bersama ibumu dengan membopong dirimu sedang
berkunjung ke rumah nenekmu, tidak tersangka setiba di luar
Gan-bun-koan mendadak berpuluh jago silat Tionggoan
menyergap kita sehingga ibumu dan para pengiring kita
terbunuh semua. Kerajaan Song memang bermusuhan dengan
bangsa Cidan kita dan bukan kejadian aneh kalau saling
bunuh-membunuh, Tapi para jago silat Tionggoan ini
bersembunyi di lereng bukit sana terang mereka mempunyai
muslihat tertentu. Anakku, apakah kau tahu apa sebabnya?”
Siau Hong menyahut, "Dari Ti-kong Taisu anak mendengar
katanya mereka mendapat berita bahwa jago silat Cidan
hendak menyerbu ke Siau-lim-si dan merampas kitab pusaka
mereka agar ilmu silat mereka dapat disebar-luaskan di negeri
Liau kita dan kelak akan dapat di pergunakan sebagai modal
untuk menyerang kekerajaan Song sebab itulah mereka
menyergap ayah dan membunuh ibu."
"Hehe, hehe! Sebenarnya waktu itu aku tiada maksud
hendak merebut kitab pusaka Síau-lim-si mereka yang
memfitnah aku," kata Siau Wan san dengan tertawa pedih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik, baik! Sekali Siau Wan-san di fitnah orang, maka aku
lantas sengaja berbuat. Selama 30 tahun ini aku telah
bersembunyi di Siau lim-si dan telah membaca sepuaspuasnya
segala kitab pusaka Ilmu silat mereka. Nah, para
padri saleh Siau-lim-si, kalau kalian mampu bolehlah
membunuh Siau Wan-san. kalau tidak, maka ilmu silat Siaulíím-
paí tentu akan tersebar di negeri Liau. Jika kalian ingin
menjebak aku lagi di Gan-bun-koan pasti kalian akan
terlambat."
Semua padri Siau-lim-si menjadi terperanjat oleh cerita Siau
Wan-san itu. Mereka pikir jika beñar apa yang dikatakan
sehingga ilmu silat Siau-lim-pai tersebar di negeri musuh, itu
berarti orang Cidan akan mirip harimau tumbuh sayap dan
benar-benar membahayakan.
"Ayah," kata Siau Hong. "kalau Toa-ok-jin itu membunuh
ibu, hal ini boleh dikatakan terjadi karena salah paham, Tapi
dia membúnuh juga ayah bunda angkatku Kiau Sam-hoai
suami-istri sehingga anak yang harus menanggung nama
jelek, hal itu sungguh tidak pantas. Maka sebenarnya siapakah
Toa-ok-jin itu, harap ayah memberi tahu saja."
"Hahaha!" tiba-tiba Siau Wan-san tertawa. "Nyata kau pun
salah sangka, anakku!"
"Salah sangka?" Siau Hong menegas dangan heran.
"Ya, kau salah sangka," sahut Wan-san mengangguk.
"Sebab suami-istri orang she Kiau itu akulah yang
membunuhnya!"
"Hah, ayah yang membunuhnya?" Siau Hong menegas
dengan terkejut. "Se ... sebab apa?"
"Kamu putraku, mestinya keluarga kita dapat hidup
berbahag¡a, tetapi orang Tionggoan ini memandang bangsa
Cidán kita bagai mahluk yang lebih rendah daripada hewan
dan sedikit-sedikit lantas main bunuh bangsa kita." demikian
sahut Wan-san, "Mereka merampas anakku dan diberikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada orang lain. Suami-istri she Kiau itu mengaku sebagai
orang tuamu, ia merampas kebahagiaan keluarga kita dan
tidak mengatakan duduknya perkara padamu, kesalahannya
inilah pantas di hukum mati."
"Tapi ... tapi ayah dan ibu angkat sangat berbudi pada
anak, mereka adalah orang baik sekali." ujar Siau Hong
dengan rasa pedih. '"Jika demikian, jangan-jangan orang yang
membakar Tan-keh-ceng, yang membunuh Tam-kong dan
Tam-poh apakah juga ... juga .... "
"Benar, semuanya perbuatanku," sahut Wan-san. "Habis,
sudah terang mereka mengetahui biang keladi yang dahulu
memimpin mereka menyergap kitadi Gan-bun-koan tapi
mereka tidak mau mengatakan padamu, semuanya melindungi
dìa, bukankah mereka pun pantas dibunuh?"
Untuk sejenak Siau Hong terdiam, pikirnya, "Semula Toa
ok-jin yang kucari itu kusangka sama orangnya dengan 'Toako
pemimpin’ yang dikatakan mereka, siapa tahu pembunuhanpembunuhan
itu adalah perbuatan ayah. Ai, sungguh sukar
untuk dipahami."
Kemudian ia berkata pula dengan terputus-putus. "Hian ...
Hian koh Taisu dari Siau-lim-si adalah guru yang telah
mendidik dan membesarkan anak selama ini .... " Sampai di
sini suaranya menjadi terguguk-guguk, la menunduk dan air
mata berlinang-linang.
"Hm, masakah orang Tionggoan ada yang baik? Memang,
Hian-koh itu pun mati di bawah pukulanku." kata Siau Wan
san.
Mendengar pengakuan itu serentak para padri Siau-lim-si
sama menyebut, "Omitohud!"
Suara mereka sangat berduka dan penuh kemarahan,
walaupun seketika itu tiada orang yang lantas menantang Siau
Wan-san, tapi dari suara "Omitohud" mereka yang penuh rasa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
duka itu terang mereka sudah bertekad akan membikin
perhitungan dengan Siau Wan san.
(Oo^o^dwkz^http://kangzusi.com/^o^oO)
Jilid 75
Siau Wan-san tidak menghiraukan suara padri Siau-Lim-si
itu, ia berkata pula, "Di antara orang-orang yang ikut
membunuh istriku dan merampas putraku terdapat pangcu
Kai-pang dan juga terdapat tokoh Siau lim-pai. Hehe, mereka
ingin menutupi utang darah mereka untuk selamanya dengun
jalan mengubah anakku menjadi orang Han, menyuruh
anakku mengangkat musuh sebagai guru dan menerima waris
kedudukan Pangcu Kai-pang dari musuh. Hehe, pada malam
itu sesudah kuhantam sekali pada Hian-keh, lalu aku sembunyi
di situ. Ketika dia melihat wajahmu sangat mirip aku dia
mengira kamu yang menyerang dia, sampai si gundul kecil
yang melayani Hian-keh juga tidak dapat membedakan mana
dirimu dan aku. Nah bangsa cidan kita sudah disembelih dan
dianiaya, apakah kita tidak masih tidak cukup menderita?”
Baru sekarang Siau Hong paham duduknya perkara.
Makanya malam itu ketika Hian-keh melihat día mendadak
padri tua itu kaget tak terkira sedangkan hwesio cilik juga
memberi kesaksian bahwa dirinya yang memukul Hian-koh,
sudah tentu sama sekali tak terpikir olehnya bahwa pembunuh
yang sebenarnya adalah seorang yang bermuka mírip dengan
dirinya dan mempunyai hubungan darah yang erat.
Maka kemudian Siau Hong berkata. "Jika ayah yang
membunuh orang-orang itu, Jadinya tiada bedanya seperti
anak yang membunuh mereka, maka tuduhan yang selama ini
dilimpahkan padaku juga tidak membuat penasaran. Tentang
orang yang mereka namakan Toako Pemimpin yang
mengepalaikawan-kawan menyergap dan membunuh ibu itu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
apa sekarang ayah dapat menyelidiki dengan jelas siapa orang
itu.”
"Hehe, masakah usahaku selama ini percuma saja? Sudah
tentu telah kuselidiki dengan jelas." ujar Wan-sin. "Jahanam
itu telah mambuat berantakan keluargaku, kalau sekali
kuhantam membinasakan dia, bukankah cara ini terlalu enak
baginya?
..... (Terputus) ………………………………………….tak dapat
dibaca )......
Mendengar pernyataan Hian-cu itu seketika menjadi ramai.
Dan mendapat berbagai tanggapan, ada yang menjadi
terkejut dan mencemooh dan ada yang kasihan. Sungguh
siapa pun tidak menduga bahwa Hongtiang atau ketua Siaulim-
si yang berwibawa dan terhormat itu bisa melakukan
perbuatan semacam itu?
Sesudah agak lama barulah suara berisik itu mulai mereda.
Lalu Hian-cu berkata pula dengan pelahan, suaranya tetap
ramah dan tenang seperti biasanya, "Siau sicu, engkau
terpísah 30 tahun dengan putramu dan baru sekarang dapat
bertemu tapi engkau sudah mengetahui bahwa dia berilmu
silat sangat tinggi, namanya sangat termasyur dan telah
menjadi tokoh terkemuka dunia kongouw, dengan sendirinya
hatinya terhibur dan merasa lega. Sebaliknya setiap hari aku
bertemu dengan putraku, namun tidak kukenal dia, aku
menyangka dia telah diculik penjahat dan tidak tahu mati
hidupnya, malahan siang malam berkuatir baginya."
"Engkau ... tidak perlu bercerita lagi bahwa engkau ...
bagaimana? Apa mau di ... dikata lagi?" seru Yap Ji-nio
dengan menangis.
Namun Hian-cu menjawab dengan suara halus, ”Ji-nio,
kalau kesalahan itu sudah kita perbuat, untuk menyesal juga
sudah terlambat. Ai, selama beberapa tahun ini tentu banyak
membikin susah dirimu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku tídak susah," kata Ji-nío dengan menangís. "Kau
sendiri menderita batin tapi tak bisa dikatakan, itulah benarbenar
süsah."
Hian-Cu mengeleng kepala pelahan, lalu katanya kepada
Siau Wan san, "Siau-sicu, pertempuran Gan bun koan ítu
adalah salah pimpinanku. Tapi para saudara telah membela
dan berkorban Jiwa bagiku, biarpun hari ini aku pun mati juga
sudah terlambat. Cuma masih ada suatu hal yang aku benarbenar
tidak paham sampai sekarang.”
Sampai disini tiba-tiba ia perkeras suaranya dàn berseru,
"Buyung Bok, Buyung-siansing, dahulu engkau telah
menyampaikan berita palsu itu padaku, katanya jago jago
Cidan hendak menyerbu Siau-lim-si apakah maksud tujuanmu
dengan kabar palsu itu?”
Kembali semua orang terkejut demi mendengar nama
"Buyung Bok” itu. Di antara para ksatria itu hanya terbatas
orang yang luas pengalamannya saja yang pernah mendengar
bahwa di antara tokoh angkatan tua "Koh soh buyung”
terdapat seorang yang bernama Buyung Bok. Karena tindak
tanduk Buyung Bok itu sangat aneh dan misterius maka jarang
yang kenal mukanya, apalagi dua-tiga puluh tahun paling
akhir ini sudah tiada orang menyebutnya lagi, Kenapa
sekarang mendadak Hian-cu menyebut nama Buyung Bok?
Dan ketika semua orang memandang menurut arah yang
dituju Hian-cu, kiranya yang dimaksud adalah si padri jubah
putih yang masih duduk di bawah pohon itu.
Maka terdengar padri itu tertawa panjang sambil berdiri
katanya, "Hongtiang Taisu, penglihatanmu ternyata sangat
tajam sehingga dapat mengenali diriku."
Habis berkata ia terus tarik satu kedok sendiri sehingga
wajahnya yang putih bagus da agak kurus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Buyung Hok berdiri tidak jauh di sebelahnya dalam
kagetnya ia terus berteriak, "Hei, ayah jadi engkau belum .,..
belum meninggal?"
"Buyung-sicu," kata Hian-cu pula, "kita sebenarnya adalah
sahabat lama, selamanya kuhormati kematian dirimu. Maka
takkala kau sampaikan berita itu padaku, dengan sendirinya
aku percaya padamu. Tapi sesuatu peristiwa yang keliru itu,
untuk selanjutnya engkau tidak dapat kutemukan lagi. Tidak
lama kemudian terdengar kabar bahwa engkau telah wafat,
waktu itu aku benar-benar sangat berduka kukira kaupun
sama menyesalnya karena percaya pada kabar orang lain
sehingga terjadi kesalahan besar yang tak bisa ditarik kembali
itu. Siapa tahu ... ai!"
Suara hembusan napas panjang itu penuh mengandung
rasa menyesal dan cercaan.
Siau Wan-san saling pandang sekejap dengan Siau Hong.
Baru sekarang mereka tahu bahwa manusia yang
menyampaikan berita palsu untuk mengadu domba itu
ternyata adalah Buyung Bok. Seketika timbul suatu pikiran
yang sama dalam benak kedua ayah dan anak itu, yakni, "Jadi
peristiwa menyedihkan di Gan-bun-koan dahulu itu walaupun
dipimpin oleh Hian-cu, tapi dia adalah ketua Siau-lim-si, sudah
sepantasnya dia memikirkan kepentingan bangsa dan
neger¡nya serta kitab pusaka biaranya dengan sendirinya pula
dia bertindak sekuat tenaga. Dan kemudian sesudah tahu
perbuatannya yang salah itu. lalu sebisa mungkin dia berusaha
memperbaíki kesalahannya. Jadì Toa ok-jin atau si durjana
yang sesungguhnya bükanlah Hian-cu melainkan Buyung Bok
adanya."
Karena dendam kesumat selama 30 tahun, maka rasa
permusuhan Siau Wan-san terhadap Hian-cu susah
dihapuskan. Sebaliknya Siau Hong merasa terharu dan kasihan
juga kepada nasib Hian-cu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitulah terdengar Buyung Bok bergelak tertawa, katanya,
"Bangsa Han dan orang Cidan adalah musuh bebuyutan, asal
bertemu lantas saling bunuh tanpa membedakan salah atau
benar, kenapa aku yang disalahkan? Marilah nak, kita pergi
saja!"
Segera ia gandeng tangan Buyung Hok untuk diajak pergi.
"Nanti dulu!" bentak Siau Hong mendadak. "Masäkah
begitu enak lantas hendak mengeluyur pergi?”
"Habis mau apa?" sahut Buyung Bok. "Apakah kau ingin
belajar kenal dengan kepandaian sejati Koh-Boh Buyung?"
"Sakit hati pembunuhan ibu mana boleh tidak dibalas?"
kata Siau Hong. "Segala kejadian yang menyedihkan adalah
karena perbuatanmu. Maka hari ini aku harus menuntut
keadilan padamu,"
"Hahahal" tiba-tiba Buyung Bok tertawa panjang, ia
lepaskan tangan Buyung Hok dan segera melompat pergi, ia
berlari menuju ke atas gunung malah.
"Mari kejar!" seru Wan-san kepada Siau Hong. Kedua orang
segera mengundak ke atas gunung dari jurusan kanan dan
kiri.
Kepandaian ketiga orang itu sudah mencapai tingkatan
tertinggi, maka dalam sekejap saja mereka sudah pergi sangat
jauh dan hanya kelihatan tiga bayangan orang, satu di muka
dan dua di belakang, semuanya menuju ke arah Siau-lim-si
dan untuk sekejap pula lantas menghilang di balik dinding
biara agung itu.
Tindakan Buyung Bok itu benar-benar membuat para
ksatria sangat heran. Pikir mereka, "Kepandaian Buyung Bok
itu sama hebat dengan Siau Wan-san. Tapi kalau ditambah
seorang Siau Hong, pasti Buyung Bok sukar dilawan. Dan
kenapa dia tidak berlari ke bawah gunung, sebaliknya malah
lari ke dalam Siau-lim-si?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ayah. ayah!" Buyung Hok berteriak-teriak dan segera ia
pun menyusul ke atas gunung. Ginkangnya juga sangat tinggi,
tapi kalau dibandingkan ketiga orang didepan ternyata masih
kalah setingkat.
Segera Ting Pak-jwan. Kongya Kian, Pau Put-tong, Hong
Po-ok dan ke-18 ksatria Cidan juga bermaksud memburu ke
atas gunung untuk membantu majikannya masing-masing.
Tapi baru saja mereka akan bergerak, tiba-tiba Hian-cit
membentak. "Pasang barisan dan rintangi mereka?”
Serentak beratus-ratus padri Siau Lim-Si mengerubung
maju dan pasang barisan masing-masing dengan senjata siap
di tangan untuk merintangi setiap orang yang berani maju.
"Siau Lim-si kami adalah tempat suci dan bukan tempat
berkelahi untuk umum, maka perempuan diharap jangan
sembarangan masuk ke sana!” seru Hian-cit pula dengan
garang.
Melihat begitu hebatnya barisan padri Siau-Lim-Si, Pek jwan
insaf tidak mungkin dapat menerjang lewat kesana, terpaksa
ia tidak berani bergerak lagi walaupun dalam hati sangat
menguatirkan keadaan sang majikan.
Sebaliknya Pau Put-tong lantas menanggapi ucapan Hian
Cit tadi, " Benar, Siau Lim-Si memang tempat suci, tempat suci
untuk mengadakan hubungan gelap dan melahirkan anak
haram!”
Karena kata-kata ini seketika beratus pasang mata dengan
sorot mata yang gusar terpancar arahnya. Tapi dasar watak
Pau Put-tong tidak kenal apa artinya takut biarpun tahu bukan
tandingan salah seorang padri angkatan "Hian" dari Siau-Lim-
Si, tapi sekali dia sudah bicara apa pun juga siap akan
dihadapinya. Maka terhadap pelototan mata beratus padri
Siau-Lim-si itu kontan dibalasnya dengan mendelik pula.
Maka terdengar Hian-cu berkata dengan suara lantang.
"Aku telah melanggar larangan besar agama sehingga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencemarkan nama baik Siau-Lim-pai. Nah Hian-Cit Sute,
Kalau menurut peraturan apa hukumanku itu?”
"Ini... ini ... Suheng .... " sahut Hian cit dengan tergegap
dan ragu.
"Negara mempunyai undang-undang dan keluarga
mempunyai peraturan, setiap golongan, aliran atau
perkumpulan tentu juga punya murid yang menyeleweng."
kata Hian-Cu. "Nah. Murid pelaksana hukuman, siapkan
pentungan dan rangket Hi tiok 130 kali, yang seratus kali
adalah hukuman yang dijatuhkan atas dosanya dan 30 kali
adalah hukuman kepada gurunya yang diwakilkan olehnya."
Segera murid pelaksana hukum memandang Hian-Cit,
ketika padri agung itu mengangguk, dalam pada itu Hi-tiok
sudah bertiarap dan siap menerima hukuman. Segera padri
yang memegang pentungan itu mulai menghantam punggung
dan bokong Hi-tiok sehingga babak belur dan berdarah.
Walau pun dalam hati Yap Ji-nio sangat sedih, tapi
biasanya dia jeri kepada wibawa Hian-cu, maka tidak berani
memohonkan ampun. Dengan susah payah akhirnya Hi-tiok
selesai menerima 130 kali rangketan itu. Karena dia tidak
melawan dengan tenaga dalamnya, maka sakitnya tidak
kepalang sehingga tidak sanggup berdiri lagi.
"Sejak kini kamu dipecat dan bukan padri Siau-lim-si lagi,"
kata Hian-cu.
Hi-tiok mengiakan dengan air mata berlinang-linang.
Lalu Hian-Cu berkata pula, "Hian-cu melanggar pantangan
berzinah, dosanya sama dengan Hi-tiok, tapi dia adalah
Hongtiang, maka hukumannya harus berlipat ganda. Nah,
padri pelaksana hukum, rangket Hian-cu 200 kali. Nama baik
Siau Lim-si harus tetap terpupuk, sedikit pun tldak boleh
pandang bulu dan pilih kasih."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Habis berkata, ia lantas bertiarap sendiri terhadap patung
Budha yang jauh berada di tengah pendopo Siau lim-si di atas
gunung. Ia menyingsing bajunya sendiri sehingga kelihatan
punggungnya.
Seketika para ksatria saling pandang dengan melongok.
Bahwasannya Hongtiang Siau-Lim-si menerima hukuman di
depan umum, sungguh kejadian yang mengejutkan dan luar
biasa.
Dengan ragu Hian-cit coba bertanya, "Suheng Engkau .... "
"Laksanakan hukuman semestinya.” seru Hian-Cu. "Nama
baik Siau Lim-Si mana boleh tercemar di tanganku?"
Terpaksa Hian-cit mengiakan dan memberi perintah,
"Baiklah, hukuman dimulai!”
"Maaf Hongtiang!" lebih dulu kedua pelaksana hukuman
memberi hukuman. Habis itu mereka melangkah mundur dua
tindak dan angkat pentungan mereka terus menghantam ke
Hian-Cu secara bergiliran.
Kedua padri pelaksana hukum itu tahu yang membuat tidak
enak Hongtiang mereka adalah di jatuhihukuman di depan
umum dan bukan soal babak belurnya rangketan itu. Kalau
sekarang mereka merangket dengan ringan tentu akan di buat
comooh orang luar malah. Maka mereka terus menghantam
sebagaimana mestinya tanpa pandang bulu. Hanya sekejap
saja punggung dan bokong Hian-Cu sudah babak-bundas
penuh darah.”
Para padri Siau Lim-si lain sama menunduk sambil berdoa
mereka hanya mendengar kedua padri pelaksana hukum itu
menjatuhkan pentungan mereka dan mengeluarkan suara
"plak-plok" diseling dengan suara hitungan.
Mendadak To-Ling Taisu dari Bo-to-si berseru "Hian Cu
Suheng biara kalian sangat mengutamakan tata tertib dan
menjatuhkan hukuman kepada Hongtiang sendiri tanpa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pandang bulu, sungguh aku sendiri kagum. Cuma usía Hian-cu
Suheng sudah lanjut, piula tidak mau menggunakan
Iwekangnya untuk menahan pukulan ítu, rasanya 200 kali
rangketan akan susah diterimanya. Maka ingin kumohon
ampun baginya sekarang sudah lebih 80 kali rangketan,
sisanya boleh ditunda saja pada lain hari."
"Ya, Setuju, Setujul" segera banyak di antara ksatria itu
menyokong usul To jing.
Tapi sebelum Hian-cit menjawab segera Hian-cu berseru
"Banyak terima kasih atas maksud baik para kawan. Namun
peraturan tetap peraturan dan tidak boleh dltawar. Maka padri
pelaksana hukum, hendaknya rangket terus?"
Sebenarnya kedua padri yang merangket tadi sudah
berhenti, demi mendengar perintah sang ketua terpaksa
mereka menghantam dan menghitung lagi.
Kira-kira empat puluh kali rangketan pula Hian-cu tidak
tahan lagi, kedua tangannya yang menyanggah diatas tanah
itu menjadi lemas sehingga mukanya menempel tanah.
"O, semuanya adalah salahku dan tak dapat menyalahkan
Hongtiang. akulah yang salah karena ditipu orang sehingga
sengaja menggoda Hongtiang maka ... maka rangketan yang
lain biarlah aku saja yang menerimanya," demikian seru Yap
Ji-nio dengan menangis, la berlari-lari maju hendak tiarap di
atas badan Hian-cu untuk mewakilkan terima rangketan yang
masih kurang itu.
Tapi sebelum mendekat, sekali jari Hiau cu menutuk,
seketika Hiat-to dipinggang Yap Ji-nio tertutuk dan tak
berkutik. "Bodoh. Engkau bukan orang dalam agama dan tidak
bersalah, kenapa minta dihukum?"
Dan ketika Yap Ji-nio terpaksa diam di tempatnya dengan
air mata berlinang lalu Hian-cu berseru, "Teruskan rangketan!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan susah payah akhirnya genaplah 200 kali rangketan
itu dilaksanakan. Darah sampat mengenangi tanah sekitar
badan Hian-Cu di mana dia tengkurap. Sekuat mungkin Hiancu
menahan diri sehingga tidak sampai jatuh pingsan.
Lalu kedua padri pelaksana hukum memberi hormat kepada
Hian-cu, "Lapor Siaco, hukuman atas Hongtiang sudah
selesai."
Hian-cit cuma mengangguk saja dan tak sanggup bicara.
Sesudah Hian-cu merangkak bangun, lalu ia hendak
menutuk pula Yap Ji-nio untuk membuka hiat-to yang
ditutuknya tadi. Tak terduga karena lukanya terlalu parah
sehingga tutukannya itu menjadi gagal.
Sejak tadi Hi-tiok menunggu di samping ibunya, melihat
kegagalan Hian-cu itu, segera ia mewakilkan membuka hiat to
ibunya.
Tiba-tiba Hian-Cu menggapai pada Ji-nio dan Hi-tiok agar
mendekatinya. Hi-tiok menjadi ragu sesudah berhadapan
dengan ketua Siau-lim-si itu ia tidak tahu apa mesti
memanggil "ayah" atau tetap menyebut "Hongtiang” saja?
Hian-cu lantas berkata kepada para hwesio Siau-Lim-si,
"Empat padri angkatan "Hian” dari Siau-lim-si kita telah
dibunuh orang. Hian-thong dan Hian-lan Sute diketahui
sebagai korban keganasan Ting-siangsing dari Sing siok pai,
Hian koh sute tewas di bawah pukulan Siau-sicu. Masih ada
pula Hian-pi Sute yang belum di ketahui meninggal dibunuh
oleh siapa. Semula aku kira adalah perbuatan ”Koh-soh
Buyung”, Tapi sesudah menyaksikan kepandaian Buyung Bok
losian yang telah menahan bunuh diri putranya, barulah ku
tahu bahwa sahabat lama ini kiranya belum meninggal dan
nyata "Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin” memang ilmu sakti nomor
satu di dunia ini. Cuma saja Siau-lim-pai kita selamanya tiada
permusuhan apa-apa dengan Buyung-Losicu, entah mengapa
dengan susah payah dia menjalankan muslihatnya untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghancurkan golongan kita, hal ini benar-benar tidak dapat
kupahami.”
"Tangkap hidup-hidup Buyung Bok dan hukum mäti dia
untuk membalaskan Sakit hati Hian-pi Taisu!"' serentak semua
orang berteriak saking duka dan gusernya.
Tapi Hian-cu menggeleng kepala dan tersenyum, katanya
pula dengan perLahan "Setiap orang mempunyai kesalahan
dan dosa masing-masing, semoga Budha maha kasih memberi
jalan bagi mereka yang tersesat."
Lalu ia mengulurkan lengan yang sebelah memegang
tangan Ji-nio dan yang lain memegang tangan Hi-tiok katanya,
"Orang hidup di dunia ini ada kehendak dan ada kasih, tapi
semuanya sebenarnya hampa belaka, sungguh sulit, Sülit!"
Habis berkata pelahan ia pejamkan mata dan tidak
bersuara lagi.
Ji-nio dan Hi-tiok tidak berani bergerak, sebab mengira
masih ada apa-apa yang hendak dikatakan Hiau-cu. Tak
terduga tangan Hiau-cu yang memegang mereka itu makin
lama makin dingin, Karuan Ji-nio terkejut, cepat ia perìksa
pernapasan Hian-cu dan ternyata sudah berhenti, nyata ketua
Siau-lim-si itu sudah wafat.
"Ken ... kenapa kau tinggalkan aku dengan begini saja!"
seru Ji-nio dengan wajah pucat. Mendadak ia melompat
setinggi dua-tiga meter ke atas dan membiarkan dirinya
dirinya terbanting ke bawah, "bluk", dengan keras badannya
terkapar di samping Hian-cu, dan sesudah berkelojotan
beberapa kali lalu tidak bergerak lagi.
"Ibu, ibu! Jangan , .. jangan .... " seru Hi-tiok dengan
bingung. Waktu ia angkat bangun ibunya, tertampaklah
sebilah belati sudah menancap di hulu hati sang ibu, terang
sukar dihidupkan kembali lagi. Cepat Hi-tiok menutuk hiat-to
disekitar luka itu, kemudian ia hendak menolong Hian-cu pula,
dengan sibuk ia hendak menolong dua orang sekaligus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Segera Sih-sin-ih ikut maju buat membantu tapi dilihatnya
kedua orang itu sudah berhenti bernapas terang tak tertolong
lagi maka ia berkata, "Susiok hendaklah jangan terlalu
berduka kedua orang tua sudah tak bisa tertolong pula."
Tapi Hi-tiok masih ngotot dan tidak putus asa, Uia masih
berkutat sampai sekian lama dan sudah tentu tak berhasil. Ia
dengar para padri sedang berdoa, dalam dukanya hi-tiok
lantas menangis juga dengan tergerung-gerung. Selama 24
tahun ini ia hidup yatim-piatu dan tidak pernah merasakan
setitik bahagia hidup kekeluargaanan, baru beberapa hari ini
dia bertemu dengan ayah bundanya, siapa tahu belum ada
satu jam lamanya kedua orang tua itu sudah meninggal
semua. Kalau ada peristiwa yang paling memilükan di dunia ini
rasanya tiada yang lebih tragis daripada Hi-tiok ini.
Tadi semua orang agak memandang hina kepada Hian-cu
karena sebagai ketua Síau-l¡m-si dia telah melanggar
peraturan suci, tapi kemudian mereka merasakan kesalahan
Hian-cu itu telah ditebus dengan hukuman 200 kali rangketan
di depan umum. Sama sekali mereka tidak menduga bahwa
sesudah dirangket, mendadak Hian-cu membunuh diri untuk
menebus dosanya.
Sebenarnya bila Hian-cu ingin menebus dosanya dengan
kematian, maka mestinya hukuman rangket itu tidak perlu
diterimanya, namun dia bertekad sehabis dirangket baru
membunuh diri, hal ini benar-banar perbuatan seorang sejati.
Karena kagum kepada jiwa Hian-cu yang besar itu, segera
banyak di antara para ksatria mendekati jenazah dan memberi
penghormatan terakhir.
Lam-hai-gok-sin juga lantas berkata kepada Yap Ji-nio, "Jici
(kakak kedua), Gak-Losam sekarang tidak akan berebut
urutan lagi denganmu, biarlah engkau saja yang menduduki
tempat kedua itu!"
Selama ini Lam-hai-gok-sin selalu berebut "tua" dengan
Yap-ji-nio, selalu ia mencari daya upaya agar dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menduduki tempat kedua dari su-ok itu. Tapi sekarang dia
mengalah dengan ikhlas, hal ini menunjukkan dia juga sangat
berduka dan kagum kepada kematian Yap-ji-nio yang setia itu.
Dalam pada itu orang-orang Kai-pang juga merasa lesu
semua. Dengan penuh semangat mereka mengeluruk ke siau
lim-si, siapa tahu Ong-pancu mereka datang-datang lantas
bertekuk lutut dan mengangkat guru kepada sing-siok lokoai,
bahkan kemudian kedua kaki sang pangcu itu di patahkan
pula oleh siau Hong.
Maka Goan-tianglo lantas berseru "Saudara-saudara
sekalian, untuk apa lagi kita berdiam di s ini? Memangnya ingin
menunggu sedekah nasi basi? Ayolah pergi dari sini!”
Para pengemis serentak mengiakan dan segera hendak
pergi semua.
Tapi mendadak terdengar Pau put-tong berseru kepada
mereka, "He, nanti dulu! Ada sesuatu yang hendak
kuberitahukan kepada Kai-pang.”
Dahulu Tan-tianglo pernah bertempur dengan Pat-tong dan
Po-ok di kota Busik, ia kenal mulut Put-tong tidak ada katakata
bersih, maka dengan suara garang segera ia
menanggapi, "Orang she Pau, kalau mau bicara boleh lekas
bicara jika mau kentut lekas kentut!”
"Waduuuh! Baunya bacin!” seru Put-tong sambil pencet
hidungnya sendiri. ”Hai, pengemis tukang kentut, apakah
dalam Kai-pang kalian ada seorang pengemis tua bangka
bernama Ih It-jing?”
Mendengar nama kawannya itu seketika Tan-tianglo sangat
tertarik, jawabnya, ”Jika ada mau apa? Kalau tidak ada
bagaimana?”
”Aku sedang bicara dengan seorang pengemis tukang
kentut dan kamu menanggapi ucapanku, apakah kamu
mengaku sebagai tukang kentut?” tanya Put-tong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena ingin tahu urusan yang menyangkut kepentingan
organisasi mereka sudah tentu Tong Tianglo tidak sabar untuk
adu mulut dengan Put-tong. Maka jawabnya, "Aku ingin tanya
tentang Ih It jing yang kau katakan itu. Dia adalah anggota
kami dan sedang diutus berdinas ke negeri Se He, apakah
saudara mengetahui kabar beritanya?"
"Aku justru ingin bicarakan suatu urusan negeri Se He
dengan kalian," kata Put tong. "Cuma Ih It-jing itu sudah lama
melaporkan diri kepada Giam-lo-ong (Raja akherat)!"
"Hah, apa betul ucapanmu?" Yan-tianglo menegas dengan
agak kaget. "Numpang tanya, ada urusan apa tantang negeri
Se he?"
"Kamu memaki aku bicara sepertl kentut, maka sekarang
aku tidak ingin kentut lagi." sahut Put-tong.
Sungguh Tan-tianglo sangat mendongkol, tapi dia memang
seorang sabar, dengan tertawa ia berkata, "Ya, tadi
umpatanku telah menyinggung perasaan saudara, maaf!"
"Minta maaf sih tidak perlu, asal selanjutnya kamu sedikit
kentut dan banyak bicara, saja.” ujar Put-tong.
"Apa-apaan ini?” demikian pikir Tan-tianglo dengan
mendongkol. Tapi karena ingin minta keterangan terpaksa ia
mengalah. Maka ia hanya diam saja tanpa menjawab.
"Hah, kamu tidak mau bicara, jadi cuma mau kentut saja!"
kembali Put-tong mendesák.
Tapi Tan-tíanglo tetap mengalah, sahutnya tak acuh, "Ah,
jangan bergurau?”
Melihat dirinya sudah menang, kemudian Put-tong berkata,
"Jika kamu sudah mau buka suara, itu berarti tidak mau
kentüt lagi. Baiklah biar kukatakan padamu. Setengah tahun
yang lalu, ketika aku ikut Kongcu kami bersama Ting-toako
dan lain-lain, di tengah perjalanan bertemu dengan dua orang
pengemis, yang satu sudah mampus dan yang lain baru
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekarat. Yang mati itu sangat kurus, mungkín mati kelaparan
karena tidak cukup sedekah yang diperolehnya sehingga
tinggal kulit pembungkus tulang belaka dan akhirnya mampus.
Sungguh kasihan.”
"Müngkin dia Tik Pin, Tik-hiante dari Kai-pang kami,” ujar
Tan-tiang-lo.
"Ketika aku menemukan dia, keadaannya sudah kaku dan
entah día sudah laporkan diri belum kepada Giam-lo-ong,"
tutur Put-tong pula. "Dan karena dia sudah tak bisa bicara,
dengan sendirinya aku tak dapat tanya dia tinggal di mana
dan siapa namanya. Cuma aku pun kuatir jangan-jangan dia
akan memaki aku kalau mau bicara lekas bicara, jika mau
kentut lekas kentut kan celaka!"
Tan-tianglo diam saja mendengarkan ocehan Pau Put-tong.
Diam-diam ia harus mengakui orang she Pau ini sukar diajak
bercekcok, sekali salah omong, maka tidak habis-habis akan
dibalasnya.
"Huh, kamu diam saja, tentu dalam hati kamu mencacimaki
padaku ... " begitulah kembali Pau Put-tong mengoceh
dan memberi "kuliah" panjang lebar kepada Tan-tianglo dan
sesudah melihat lawannya itu tetap tidak berani menjawab,
kemudian barulah ia berkata, "Nah, boleh dengarkan sekarang
Selain pengemis mati yang kau katakan she Tik itu, masih ada
seorang pengemis tua yang terluka parah dan mengaku
bernama Ih-It-jing. Dia membawa sehelai maklumat dari
kerajaan Se He dan minta kami menyampaikannya kepada
ketua Kai-pang kalian."
Karena kuatir orang mengolok-olok Tan-tianglo lagi. Segera
Song-tianglo mewakilkan bicara, lebih dulu ia memberi
hormat, lalu berkata, "Pau-siangsing telah menyampaikan
berita ini kepada kami, sungguh kami segenap anggota Kai
pang merasa sangat berterima kasih."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak, tidak! Begitu tidak segenap anggota Kai-pang kalian
akan berterima kasih padamu," seru Put-tong.
"Apa maksüd ucapan Pau-siansing ini?" tanya Song-tianglo
dengan tercengang.
"Yang terang Pangcu kalian bukan saja tidak terima kasih
padaku, sebaliknya di dalam hati dia pasti akan dendam
padaku sampai ke tulang sumsum!" kata Püt-tong sambil
menunjuk Yu Goan ci.
"Mengapa bisa begitu? Mohon pau-siansing memberi
keterangan,” kata Song dan Tan-tianglo bersama.
”Habis, Ih-It-jing itu pun kemudian mati dan orang yang
membunuh mereka itu bukan lain adalah Ong-pangcu kalian,"
kata Put-tong.
Seperti diketahui, ketika Goan-ci memukul mati kedua
pengemis she Tik dan Ih, hal itu memang dilihat oleh Pau Puttong,
Sebelum itu Goan-Ci pernah mendapatkan pemberian
belati dari Hong Po-ok untuk mengupas kerudung besinya,
sebab itulah orang lain tídak tahu bahwa Ong Sing-thian
adalah Yu Goan-ci, tapi bagi Buyung Hok dan kawankawannya
sudah dapat menduga akan hal ini.
Karena keterangan Put-tong tadi, maka geregetanlah
kawanan pengemis. Segera Gu-Tianglo mendekati Goan-ci,
dengan suara bengís ia tanya, "Betul tidak keterangannya
itu?"
Karena kedua kakinya dipatahkan oleh Siau Hong, maka
sedari tadi Goan-ci duduk di tanah dengan tidak bicara, diamdiam
ia mengerahkan Iwekangnya untuk menahan sakit.
Ketika mendadak didengarnya Pau Put-Tong membongkar
kejadian tempo hari. Diam-diam ia gugup dan kuatir. Maka
waktu ditegur Cin-tianglo seketika ia menjadi gelagapan dan
tidak sanggup menjawab.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melíhat sikapnya ítu, tahulah para pengemis bahwa diamdiam
Goan-ci telah mengakui adanya kejadian itu. Namun apa
pún juga dia adalah Pangcu, mereka tak dapat bertindak
padanya.
"Kenapa kau binasakan kedua saudara kita sendiri?" tanya
Go-tianglo pula.
"Aku ... aku mestinya tidak ... tidak bermaksud mencelakai
jiwa mereka tapi me .... mereka sendirilah yang tidak tahan,"
sahut Goan-Ci tergagap.
Karena jawaban ini, maka makin yakinlah Pau Pit-tong
bahwa Ong Sing-thian itu memang benar adalah Yu Goan-ci
yang aneh tindak-tanduknya itu.
Karena tidak ingin borok Kai-pang dikatahui orang luar
terpaksa Song-Tianglo kesampingkan dulu akan kematian
kedua kawannya itu, ia berkata kepada Pau Put-tong, "Entah
maklumat yang diserahkan Ih It-Jing itu apakah Pau-siangsing
membawanya sekarang?”
”Tidak!" jawab Put tong sambil geleng kepala.
Wajah Song tianglo berubah agak kurang senang pikirnya,
"Kurang ajar! Jadi bicara panjang lebar tadì sejak tadi
tujuanmu hanya sengaja hendak mempermainkan orang!”
Dan belum lagi ia tanya pula, tiba-tiba put-tong berpamit,
"Nah, selama gunung tetap menghijau dan sungai selalu
mengalir, biarlah kita bertemu pula kelak!"
Habis itu ia terus putar tubuh dan bertindak menjauh.
"Eh, maklumat negeri Se He itu kenapa tidak saudara
sampaikan kepada kami?" cepat Go-tianglo bertanya.
"Aneh." sahut Put-tong, "Dari mana kau tahu Ih It-jing
menyerahkan maklumat itu kepadaku sehingga kau gunakan
kata 'sampaikan'? Apa barangkali kau sendiri menyaksikannya
tempo hari?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan menahan rasa gusar Song-tianglo ikut bicara,
"Sudah terang Pau-heng tadi mengatakan Ih It-jing dari Kaipang
kami membawa sehelai maklumat dari kerajaan Se He
dan minta Pau-heng menyampaikan kepada kami, Apa yang
Pau-heng katakan ini telah didengar pula oleh para ksatria
yang hadir di sini, kenapa mandadak Pau-heng menarik
kembali ucapannya sediri?”
”Tidak, tidak! Aku tidak berkata demikian,’ sahut Put tong.
Dan ketika melihat air muka Song tianglo berubah kurang
senang, segera ia menyambung pula, "Biasanya para Tianglo
Kai-pang terkenal sebagai kaum Jantan sejati, kenapa di
depan para ksatria sejagat ini berani memutar balikan
persoalan, apakah dengan demikian nama baik para Tianglo
takkan runtuh sama sekali?"
Song, Tan dan Go tianglo saling pandang sekejap dengan
muka cemberut, sungguh mereka sangat mendongkol atas
sikap Pau Put tong yang "plin-plan" itu, mereka menjadi ragu
apa mesti ambil tindakan keras atau bersabar.
Akhirnya Tan-tianglo berkata dengan gusar, "Sebenarnya
apa kehendak Pau-heng, harap suka bicara secara blak-blakan
saja."
"Wah, kenapa kamu begini bodoh?" sahut Put-tong. "Eh.
Tan tianglo, tempo hari kamu bertanding dengan Hong-sute
kami di Bu-sik. Waktu itu kau bawa, sebuah kantung besar
dan di dalam kantung berisi seekor ketungging besar,
ketungging besar itu punya ekor panjang, ekor panjang itu
sangat berbisa, sangat berbisa itu kalau mengantup akan bikin
jiwa sang korban melayang, betul tidak?"
Diam-diam Tan-tianglo tambah mendongkol oleh ucapan
Pau Put-tong yang bertele-tele itu, mestinya beberapa kata
yang cekak-aos sengaja diulur-ulur ada ekor, ada sengat,
panjang, besar dan segala. Namun begitu, terpaksa ia pun
mengiakan perkataan orang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maka Put-tong berkata lagi, "Bagus! Nah, sekarang aku
ingin bertaruh dengan dirimu, Jika kamu menang, segera aku
akan memberitahukan berita yang dibawa oleh pengemis she
Tik dari Se-He itu. Sebaliknya kalau aku yang menang muka
kamu harus menyerahkan kantung besar dengan isi
ketungging itu, semuanya harus diberikan padaku. Nah, kau
berani bertaruh tidak?”
"Apa yang hendak Pau-heng pertaruhkan?” tanya Tantianglo.
"Barusan Song-Tianglo kalian menuduh dia minta barang
padaku, la berkeras mengatakan kawan kalian yang bernama
Ih it-jing itu minta aku menyampaikan sehelai maklumat
kerajaan Se-He kepada kalian. Padahal sama sekali aku tidak
pernah berkata demikian. Nah, maka kita boleh bertaruh. Jika
benar aku pernah berkata seperti itu maka kalian adalah pihak
yang menang, sebaliknya kalau aku tidak pernah omong
begitu itu berarti aku yang menang."
Tan-tianglo ragu sejenak, ia coba memandang kedua
kawannya dan melihat Song dan Go-tiang|o sama
mengangguk seakan-akan mengatakan di bawah saksi para
ksatria sebanyak ini masakah Pau Put-tong dapat mangkir,
maka boleh bertaruh saja dengan dia.
Segera berkatalah Tan-tianglo, ”Baik, aku bertaruh
denganmu! Tapi entah cara bagaimana Pau-heng hendak
membuktikan pertaruhan ini? Apakah perlu mengangkat
beberapa juri yang jujur dan terhormat di antara para ksatria
yang hadir ini?”
"Bukan, bukan!" sahut Put tong dengan istilahnya yang
khas. "Kaubilang hendak mengangkat beberapa orang yang
jujur dan terhormat di antara hadirin untuk menjadi juri
apakah selain beberapa orang itu, selebihnya bukan orang
jujur dan tidak terhormat, semuanya rendah dan kotor? Ai, ai,
engkau sungguh terlalu menghina para ksatria yang hadir ini
Kai-pang kalian benar-benar terlalu kurangajar!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
”Ah, janganlah Pau-heng bergurau, sekali-kali tiada
maksudku begitu," kata Tan-tianglo dengan mendongkol
"Habis bagaimana kalau menurut usulmu?”
"Kenapa mesti susah?" sahut put-tong. "Kalah atau menang
cukup dengan satu-dua orang saja, biarlah sebentar aku
memecahkan bagimu. Nah. serahkan sini."
Sambil mangucapkan kata-kata terakhir itu, berbareng ia
pun menyodorkan tangannya.
Keruan Tan-tianglo terkejut. "Apa?" tanyanya.
"Apalagi? Kantung ketungging dan obat penawar!”
"Pau-herg belum memberi bukti-bukti nyata, mengapa
sudah anggap dirimu yang menang?"
"Aku kuatir sesudah kalah jangan-jangan kamu mungkir
janji dan tak mau menyerahkan barang-barangmu itu."
"Hahaha!" Tan-tianglo bergelak tertawa. "Hanya makluk
berbisa sekecil ini apa sih artinya, Jika Pau-heng memang
kehendaki, biarlah segera kuberikan dan kenapa mesti pakai
bertaruh segala?"
Sambil bicara ia terus menanggalkan sebuah kantung kain
yang berada di punggungnya dan mengeluarkan sebuah botol
porselen kecil dan diserahkan kepada Put-tong.
Tanpa sungkan lagi Put-tong menerimanya, ia membuka
mulut kantung itu dan melongok isinya, ia lihat di dalam
kantung ada beberapa ekor ketungging besar berwarna
loreng, cepat la menutupnya kembali dan menyimpan obat
penawar tadi. Lalu katanya, "Nah, sekarang akan
kuperlihatkan buktinya mengapa aku menang dan kamu
kalah."
Lalu ia menanggalkan bajunya. ia kebas-kebas bajunya dan
mengeluarkan isi sakunya yang hanya terdapat beberapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
potong uang perak pecahan, batu api dan besi ketikan api lain
barang tidak ada lagi. Kemudian ia memakai kembali bajunya.
Sudah tentu Song, Tan dan Go-tianglo tidak paham apa
maksud orang. Namun lantas terdengar Pau Put-tong berkata,
"Jiko, boleh kau pegang maklumat itu dan perlihatkan kepada
mereka."
Sebenarnya Kongya Kian lagi kelebakan menguatirkan
keselamatan Buyung Hok, tapi karena tidak mampu
menembus barisan pertahanan padri Siau-lim-si, terpaksa ia
tidak dapat berbuat apa-apa. Maka dengan tersenyum la
lantas mengeluarkan kertas maklumat dari Se He itu dan
dibentang.
Waktu semua orang memperhatikan ini maklumat itu,
mereka hanya lihat ada sebuah cap merah besar, selebihnya
adalah huruf-huruf yang tidak dikenal.
"Nah, dengarkan yang jelas." demikian kata Put-tong
kemudian. "Tadi aku cuma mengatakan bahwa Ih It-jing
menyerahkan sehelai maklumat kepada kami dan minta kami
menyampaikannya kepada Tianglo kalian betul tidak?"
"Ya, benar," sahut Song-tianglo bertiga dengan girang
karena orang mengaku sendiri apa yang dikatakannya tadi.
"Tapi Song-tianglo berkeras menuduh aku pernah
mengatakan Ih It jing telah menyerahkan sehelai maklumat
padaku dan minta aku menyampaikannya kepada Tianglo
kalian benar tidak?"
"Ya, benar! Memangnya apa bedanya?" seru ketiga Tianglo
itu berbareng.
"Sudah tentu beda, beda besar sekali! Bedanya seperti
langit dan bumi! " teriak Put-tong sambil geleng-geleng
kepala. "Apa yang kukatakan ialah 'kami', tapi Song-tianglo
menuduh 'aku', kami adalah kami dan aku adalah aku, kami
dan aku mana boleh dicampuradukan menjadi satu? Kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
termasuk Buyung-kongcu, T ing-toako, nona Ong dan lain-lain,
sebaliknya aku cuma si 'bukan-bukan' orang she Pau itu, mana
boleh kalian anggap sama dan tiada bedanya?"
Seketika Song, Tan dan Go tianglo menjadi bungkam,
mereka hanya saling pandang belaka. Sama sekali mereka
tidak menduga bahwa Pau Put-tong sengaja main pokrol
bambu, sengaja membeda-bedakan kata 'kami' dan aku
secara membingungkan.
Sekali mendapat angin terus saja Pau Put-tong menyusul
lagi, ”Nah, jadi sudah jelas bukan? Jadi yang harus
menyampaikan berita maklumat ini bukanlah aku si orang she
Pau ini, tapi rombongan kami dari Koh-soh Buyung ini. Aku
sendiri pernah kecundang di tangan kalian di Bu-sik, umpama
aku tidak bermaksud mencari balas pada kalian, tapi berita
demikian terang tak sudi kusampaikan kepada kalian."
Sampai di sini lalu ia berpaling kepada Kongya Kian dan
berkata, "Jiko,. kitia sudah menang, boleh simpan kembali
maklumat itu."
Tan-tianglo sangat cerdik mendengar kata-kata Pau Put
tong tadi segera ia tahu bahwa ocehan Pau Put-tong yang
panjang lebar dan putar kayun itu titik pokoknya adalah
mengenai persoalan kecundangnya di kota Bu-sik dulu.
Maka sambil memberi hormat Tan-tianglo berkata, "Tempo
hari dengan bertangan kosong, Pau heng telah menempur
tongkat baja Go-tianglo kami dan terang Pau-heng tidak lebih
unggul.
Kemudian sesudah Kiau-pangcu kami tampil ke muka,
akhirnya baru dapat menang sejurus pada Pau-heng. Tatkala
itu Pau-heng lantas pergi dengan berdendang tanpa
memikirkan pertarungan hebat itu. Sungguh segenap anggota
Kai-pang kami sangat menghargai jiwa besar Pau-heng, tapi
kenapa Pau-heng sendiri malah merasa rendah hati dan
mengaku kalah di tangan para Tianglo kami? Ingat kukatakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa sekali-kali tidak pernah terjadi hal seperti itu! Apalagi
Kiau Hong sudah lama putus hubungan dengan Kai-pang
kami, bahkan sekarang boleh dikata dia adalah musuh kita
bersama."
Dia tidak tahu sebabnya Pau Put-tong putar lidah panjang
lebar justru mengharapkan pernyataannya yang terakhir itu.
Jadi Tan-tianglo tanpa sadar telah terjebak.
Maka Pau Put tong lantas menumpangi umpan ítu, ”Kalau
demikian halnya, neh, sekarang kalian boleh pimpin anggota
Kai-pang kalian untuk menawan Kiau Hong yang merupakan
musuh kita bersama itu. Sesudah itu mengingat persahatan
baik kita tentu kami akan menyerahkan maklumat ini padamu.
Bahkan bila kalian tidak kenal huruf cacing dalam maklumat
itu, maka Kongya jiko tentu suka menolong kalian pula untuk
memberi penjelasan secukupnya. Nah bagaimana pendapat
kalian?”
Tan-tianglo menjadi ragu, ia pandang Song tianglo dan
pandang Go-tianglo pila.
"Ya. harus begítu, kanapa mesti ragu?" tiba-tiba seorang
berseru.
Waktu semua orang memandang ke arah pembicara itu,
kiranya Coan Koan-Jing yang terkenal cerdik itu, Terdengar ia
menyambung, "Kerajaan Liau adalah musuh bebuyutan
kerajaan Song kita. Sedang ayah Kiau Hong mengaku telah
sembunyi selama 30 tahun di dalam Siau-lim-si dan banyak
mempelajari iimu silat dari kitab pusaka yang telah dicuribacanya
itu. Kalau sekarang kita tidak bersatu menumpasnya,
kelak dia akan menyebarkan kepandaian yang diperolehnya
dari Siau lim-si itu kepada bangsa Cidan mereka, maka itu
berarti suatu bahaya besar bagi bangsa kita."
Semua orang menganggap uraian Coan Koan jing cukup
beralasan. Akan tetapi Hian-cu telah meninggal, Ong Singthian
sudah patah kedua kakinya, Siau-lim-pai dan Kai-pang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang merupakan dua saka guru dunia persilatan Tlonggoan
dalam keadaan tanpa pimpinan. Dalam keadaan demikian
sangat diperlukan seorang yang sanggup memimpin mereka.
Karena itu semua orang Cuma saling pandang belaka dan
tidak dapat mengambil sesuatu keputusan.
Segera Coao Koan-jing berseru pula, "Boleh silakan ketiga
padri agung angkatan Hian dari Siau-lim-si dan katiga Tianglo
dari Kai-pang bersama-sama memimpin dan memberi
komando pada kita. Pendeknya kitä harus membasmi dahulu
Siau Wan-san dan Siau Hong yang merupakan bahaya bagi
kerajaan Song kita. Jika ada urusan lain biarlah ditunda dan
dirembuk lagi nanti.”
"Benar, harap para padri agung dan ketiga Tianglo suka
memimpin kita!"
"Ya, urusan yang menyangkut kepentingan bangsa ini,
harap keenam Locianpwe suka tampil ke muka!”
"Memang harus begitu! Kita akan tunduk kepada setiap
perintah untuk membunuh kedua anjing keparat ini!" demikian
beramai-ramai orang banyak lantas berteriak. Dan dalam
sekejap saja beratus orang itu serentak melolos senjata,
bahkan ada sebagian yang s iap menyerbu ke-18 ksatria Cidan
yang masih berada di s itu itu.
"Para saudara Cidan itu, silakan kemari!" seru Sia-popo.
Tapi karena tidak tahu apa maksud tujuan nenek itu, maka
ke-18 orang itu tetap diam saja di tempatnya dengansenjata
terhunus dan berdiri merapat. Biarpun tahu bukan tandingan
kaum ksatria Tionggoan yang berjumlah besar itu, tapi
rupanya mereka pun sudah bertekad akan bertempur sampai
titik darah terakhir.
Maka Sia-popo berseru pula, "Leng-cin Pat-poh, lindungilah
ke-18 sahabat Cidan itu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maka larilah kedelapan barisan wanita Leng-cit-kiong ke
depan para ksatila Cidan, Begitu pula para Tongcu dan ToCu
ke-36 pulau dan ke-72 gua.
Para bekas anggota Sing-slok-pai rupanya juga ingin unjuk
jasa di depan majikan baru mereka. Maka tanpa disuruh
mereka pun ikut-ikut merubung maju sambil mamberi
semangat sehingga menambah perbawa mereka.
"Cujin," kata Sia-popo kepada Hi-tiok dengan hormat, "ke-
18 ksatria cidan ini adalah bawahan kakak angkat Cujin, jika
mereka dibunuh orang di depan hidung Cujin, ha! ini akan,
terlalu merosotkan pamor Leng-ciu-kiong kita. Maka kita tidak
boleh tinggal diam, kita harus mengawasi mereka dan harap
Cujin memberi keputusan."
Hi-tiok sendiri sangai berduka atas kematian ayah-ibunya.
Ia sendiri juga tidak dapat mengambil keputusan apa-apa
maka ia cuma mengangguk saja dan berkata, "Lang ciu-kiong
kita dengan Siau lim-pai adalah kawan dan bukan lawan,
hendaknya kita jangan merenggangkan hubungan baik ini
lebih-lebih janganlah sampai terjadi saling bunuh!"
Hian-cit juga tahu pihak Leng-ciu-kiong itu bukan lawan
empuk, maka demi mendengar ucapan Hi tiok itu segera ia
berkata, "Ke 18 orang Cidan ini dibunuh atau tidak tak jadi
soal, untuk sementara ini bolehlah kita kesampingkan du!u.
Nah, Hi-tiok Siansing kami hendak menangkap Siau Hong,
engkau akan membantü pihak mana?"
"Aku ... aku tidak, membantu pihak mana-mana," sahut Hitiok
dengan ragu. "Siau lim pai adalah tempat asalku, Siau
Hong adalah saudara angkatku, aku tidak boleh memihak
siapa pun juga. Cuma ... cuma, Susiokco, kumohon engkau
jangan mengganggu Siau toako kami biarlah kunasehati dan
supaya .. supaya jangan menyerang negeri kita."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Diäm-diam Hian cit menganggap ucapan, "Hi-Tiok
siangsing, sebutan 'Sosiokco' hendaklah jangan kau gunakan
lagi."
"Ya, ya aku lupa," sahut Hi-Tiok.
"Baiklah, jlka Leng-ciu-kiong sudah menyatakan tidak
membantu salah satu-pihak, makä Siau-lim-pai kami dengan
pihak kalian adalah kawan dan bukan lawan, kedua pihak
jangan sampai bercekcok,” sampai di sini Hian-cit lantas
berpaling kepada ketiga Tianglo Kai-pang dan berkata, "Para
Tianglo, marilah kita pergi ke biara kami untuk melihat
bagaimana jadinya dì sana?"
"Baik!" seru Song-tianglo bertiga. "Ayolah para anggota
Kai-pang, ikutlah semua ke atas gunung."
Segera para padri Siau-lim-si mendahului berangkat dan
disusul dengan anggota Kai-pang dan pada ksatria Tionggoan
lainnya, beramai-ramai mereka menerjang ke atas gunung.
"Sungguh hebat, Samte." kata Ting Pek-jwan sambil berlari,
"hanya dengan lidahmu saja dapat kau tarik bala bantuan
sebanyak ini bagi Cukong dan Kongcu."
"Bukan, bukan ! Sudah tertahan sekian lama., entah
bagaimana keadaan Cukong dan Köngcu sekarang'" sahut Puttong.
"Sudahlah, jangan 'bukan, bukan" apa lagi, lekas jalan!"
kata Giok yan sembari percepat langkahnya.
Tiba-tiba dilihatnya Toan Ki juga mengintil di sebelahnya,
maka katanya pula, "Toan-kongcu, apakah kaupun hendak ke
sana? Engkau akan membantu Gihengmu dan memusuhi
Piaukoku?"
Nyata nada ucapannya itu mengunjuk rasa kurang senang.
Rupanya si nona masih gusar kepada Toan Ki karena kejadian
Buyung Hok hendak bunuh diri lantaran dikalahkan Toan Ki
dan Siau Hong tadi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Toan Ki melengak atas teguran itu dan menghentikan
langkahnya. Sejak perkenalan dengan Giok-yan belum pernah
ia mendapat sikap kaku seperti itu dari si nona, maka ia
terkesima. Seketika ia menjadi gugup dan bingung, selang
sejenak baru ia sanggup bersuara, ”O, aku .... aku tidak
bermaksud memusuhi Buyung-kongcu .... "
Tapi waktu ia perhatikan sebelahnya, ternyata Giok-yan
dan rombongannya sudah tak kelihatan lagi, di sekitarnya
hanya para ksatria saja yang sedang berlari-lari dengan cepat
ke atas gunung.
Dengan menghela napas Toan Ki membatin, "Jika nona
Ong sudah curiga padaku, buat apa aku mencari penyakit
sendiri ke sana?"
Tapi lantas timbul pula pikiran lain, "Siau-toako akan
dikerubut oleh seribu orang ini, keadaan nya tentu berbahaya,
sedangkan Ji-ko sudah menyatakan tidak membantu salah
satu pihak, kalau aku sendiri tidak membantunya sekuat
tenaga, bukankah percuma saja kami mengangkat saudara?
Ya, biarpun nona Ong akan marah padaku, terpaksa aku tidak
peduli lagi."
Karena pikiran itu, segera ia berlari-lari ke atas gunung.
Karena langkah ajaibnya yang hebat itu, dalam sekejap
saja ia sudah melampaui orang lain. Sampai di depan Siau-limsi,
kelihatan orang banyak sama mengalir masuk ke dalam
biara agung itu, tanpa pikir ia pun ikut menyelinap ke daiam.
Kompleks Siau-lim-si sangat luas, bangunan berates-ratus
banyaknya. Ia dengar para padri dan orang-orang Kai-pang
berteriak member semangat sambil putar ke sana sini di
antara ruangan dan pendopo yang tak terhitung banyaknya itu
untuk mencari Siau Wan-san ayah dan anak beserta Buyung
Bok ayah dan anak. Namun sampai sekian lama mereka ubekubekan
kian kemari tetap tidak menemukan jejak musuh,
bahkan suara saja tidak terdengar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang banyak tampak hilir mudik kian kemari sambil saling
bertanya-tanya, "Di mana orangnya? Ketemu belum?"
Dan Siau-lim-si yang maha agung itu seketika berubah
menjadi seperti pasar ramainya.
Toan Ki sendiri juga bingung, tiba-tiba ia lihat dari pintu
samping sana menyelinap keluar seorang padri tua dengan
tindakan cepat seperti kuatir dipergoki orang. Ia menjadi
tertarik jangan-jangan ada rahasia apa-apa atas padri tua ini,
kalau aku mengintil di belakang padri ini mungkin akan dapat
menemukan jejak Siau-toako daripada mencarinya secara
ngawur, demikian pikirnya.
Segera dengan langkah "Leng-po-wi-poh" yang ajaib itu ia
menglntil di belakang si padri tua. Ia lihat pudri itu berlari ke
tengah hutan yang terletak di samping biara dengan
menyusur sebuah jalan kecil, sesudah membelok dan
menikung beberapa kali, tiba-tiba terbentang sebuah sungai
kecil dengan suara air yang gemercik. Ditepi sungai berdiri
sebuah gedung berloteng dengan megahnya. Dimuka gedung
terpancang sebuah papan bertulisan tiga huruf ”cong-kengkok”
(gedung penyimpan kitab, gedung perpustakaan).
"Ceng-keng-kok Siau-lim-si sangat terkenal, kiranya
bangunan itu berada di sini dan bukan berada dalam biara
induk mereka," demikian pikir Toan Ki.
Dalam pada itu dilihatnya padri tua tadi langsung menuju
ke dalam Cong-kek-kok itu, maka Toan Ki juga menyusulnya
ke situ. Sampai di depan pintu mendadak dari dalam
melompat keluar dua orang padri setengah umur dan
merintanginya dengan menegur, "Sicu hendak ke mana?"
"Aku ... aku ingin tahu ... apakah ... " sahut Toan Ki dengan
gelagapan.
"Hendaknya Sicu kembali saja, Cong-kang-kok kami bukan
tempat yang boleh dimasuki sembarangan orang," kata salah
seorang padri itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan padri yaug lain juga berkata, "Oràng she Siau itu tidak
berada di sini!"
"Jika begitu, akulah yang semberono, harap Taisu
memaafkan," kata Toan Ki.
"Ya kami terpaksa menjalankan kewajiban, harap sicu
jangan marah," sahut kedua padri itu.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seorang
berkumandang keluar dari dalam gedung perpustakaan itu,
”Kau lihat mereka menuju ke jurusan mana?"
Toan Ki kenal suara itu adalah suara Hian Cit. Lalu
terdengar seorang menjawab, "Tecu berempat berjaga di sini,
ketika padri jubah putih itu menerobos masuk kemari,
sekaligus Tecu, Berempat lantas tertutuk sehingga tak
sadarkan diri. Waktu Supek membangunkan Tecu, sementara
itu padri jubah putih itu entah menghilang ke mana."
"Daun jendela ini lantas rusak, Mungkin orangnya
menerobos dan lari ke belakang gunung." demikian terdengar
suara seorang tua lain.
"Ya, tampaknya memang begitu," terdengar Hian-cit
menjawab.
"Dan entah kitab apa yang telah mereka curi dari dari
gedung ini?" ujar padri tua tadi.
"Mereka sudah sembunyi selama berpuluh tahun di s ini dan
tiada seorang pun di antara kita yang tahu, sungguh kita
terlalu goblok.", ujar Hian cit. Dan kalau mereka mau mencuri
kitab, bilamana berpuluh tahun itu mereka dapat mencuri
dengan sepuas-puasnya, masakah mesti tunggu sampai
sekarang?"
"Benar juga ucapan Suheng," sahut padri tua. Berbarang
terdengar kedua orang sama-sama menghela napas, agaknya
mereka sangat lesu dan sedih terhadap apa yang telah terjadi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Toan Ki merasa tidak enak mendengarkan pembicaraan
urusan mereka, maka ia memberi hormat kepada kedua padri
setengah umur tadi, lalu tinggal pergi.
Padahal pembicaraan Hian-cit dengan kawánnya itu
dílakukan di dalam gedung dan dengan suara pelahan, cuma
iwekang Toan Ki sekarang sudah sangat tinggi, maka ia dapat
mendengarnya, sebaliknya kedua padri penjaga pintu itu sama
sekali tidak mendengar apa pun.
Begitulah pelahan Toan Ki berjalan pergi sambil berpikir,
"Mereka mengatakan Siau-toako telah menuju ke belakang
gunung, biarlah aku menyusulnya ke sana."
Lereng pegunungan Siau-lim-san ¡tu sangat rindang
dengan hutan lebat dan jalanan terjal. Sesudah beberapa li
jauhnya, Toan Ki tidak mendengar lagi suara ramai-ramai di
dalam Siau lim-si itu. Keadaan berubah menjadl sunyi senyap,
meski tatkala itu sebenarnya dalam musim panas.
Diam-diam Toan Ki merasa lega demi melihat keadaan
hutan pegunungan yang mudah bagi Siau Hong dan ayahnya
untuk melarikan diri bila dikerubut para ksatria Tionggoan.
Sebaliknya ia jadi kuatir pula kalau sang Toako sampai
membinasakan Buyung Bok ayah dan anak, untuk ini tentu
Giok-yan akan merana seumur hidup dan ini sesungguhnya
juga tidak diharapkannya.
Teringat ada kemungkinan Buyung Hok akan terbunuh oleh
Siau Hong, tanpa terasa ia menjadi bimbang dan berjalan
menurut arah langkah dan makin jauh makin tinggi ke atas
lereng gunung. Tiba-tiba terdengar suara orang berkhotbah
dalam agama Budha, suaranya ramah tapi tandas.
Toan Ki merasa girang, ia pikir kalau di s ini ada orang, ”ada
baiknya tanya padanya apakah melihat Siau Toako atau
tidak?"
Segera ia menuju ke arah suara orang itu. Sesudah
menyusuri sebuah hutan bambu tiba-tiba tertampak di tanah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hutan bambu itu ada sebuah pelataran di situ berkumpul
beberapa orang. Seorang padri berjubah warna kelabu duduk
mengdengkur di atas sebuah batu karang dan suara khotbah
itu diucapkan olehnya.
Di depan padri itu berlutut beberapa orang bukan saja
termasuk Siau Wan-san, Siau Hong, Buyung Bok dan Buyung
Hok, bahkan padri Thian tiok Cilo Singh dan Polo Singh Sinkong,
Siangjin Liong-beng Siansan, To-jing Taisu dan lain-lain
serta beberapa padri agung angkatan "Hian" dari Siau-lim-si
juga berlutut di situ. Beberapa meter di sebelah sana tampak
berdiri Cumoti, itu Imam negara Turfan.
Semua orang yang berlutut itu sama menunduk dengan
penuh khidmat mendengarkan khutbah padri jubah kelabu itu
sebaliknya air muka Cumoti tampak mengunjing sikap
mengejek dan merasa tidak sependapat dengan khotbah itu.
Toaa Ki heran mendengar khotbah yang mengandung
filsafat orang hidup dan penuh keberatan itu. Ia lihat jubah
padri itu serupa dengan jubah padri Siau-lim-si, malahan dari
dandanannya kentara kalau kedudukannya sangat rendah,
mungkin padri tukang sapu atau tukang kebun, tapi entah
mungapa para padri agung Siau-lim-si, Siau-toako dan lainlain
sama berlutut mendengarkan khotbahnya?
Pelahan Toan Ki mendekatinya dengan mengitar ke depan
sana agar dapat melihat jelas wajah padri jubah kelabu itu,
dan untuk itu ia harus menuju ke belakang Siau Hong dan
lain-lain. Karena tidak ingin mengagetkan orang lain, Toan Ki
sengaja membikin pelahan langkahnya dan memutar agak
jauh dengan berjinjit-jinjit. Waktu dekat di sebelah Cumoti.
Tiba-tiba dilihatnya padri itu menoleh padanya dengan
tersenyum, terpaksa ToanKi juga membalasnya dengan
tersenyum, Tak terduga pada saat itu juga sekonyongkonyong
terasa ada serangkum angin maha kuat menyambar
ke dadanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Toan Ki tahu gelagat jelek, sambil menjerit kaget segera ia
bermaksud menggunakan Lak-meh-sin-kiam untuk melawan,
tapi sudah terlambat, dada lantas terasa kesakitan, dalam
keadaan samar-samar masih didengarnya ada orang
bersabda, "Siancai! Siancail"
Habís itu ia lantas tak sadarkan diri ....
Kiranya tadi sesudah penyamaran Buyung Bok terbongkar
oleh Hian-cu, ia tahu dirinya sudah terlalu dibenci oleh para
ksatria Tionggoan, maka cepat ia berlari ke atas gunung, ia
tahu komplek bangunan Siau-lim-si itu sangat luas dan sudah
hapal baginya, asal diasembunyi di salah satu tempat itu tentu
akan sukar ditemukan orang.
Tak terduga Siau Wan-san dan Siau Hong terus
mengejarnya dengan kencang, terutama Siau Hong yang lebih
muda dan tangkas, ketika sampäi di depan biara Siau-lim-si,
jarak mereka sudah tinggal belasan meter saja. Melihat lawan
hampir lari masuk ka dalam pakarangan biara itu, sambil
menggertak segera Siau Hong melontarkan pukulan dahsyat
dari jauh.
Karena serangan itu, terpaksa Buyung Bok terus membalik
tangannya untuk menangkis, ketika kedua tenaga pukulan
beradu, lengan Buyung Bok terasa sakit pegal tergetar, Ia
terkejut, ia tidak menduga bahwa musuh yang masih muda itu
memiliki tenaga sedemikian lihainya. Sekali menyelinap, cepat
ia menyusup masuk ke dalam Siau-lim-si.
Sudah tentu Siau Hong tidak tinggal diam, segera ia
memburu. Sesudah ubek-ubekan, akhirnya Buyung Bok lari
sampai di 'Cong keng-kok,’ Buyung Bok menerjang ke dalam
gedung ini dengan menjebol jendela dan sekaligus menutuk
pinggang empat padri penjaga di situ, Lalu ia membalik tubuh
dan menantang, "Siau Wan-san, apakah kalian ayah dan anak
akan maju berbareng atau kita berdua saja yang bertempur
mati-matian!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siau Wan-san tidak lantas manjawab ia merintangi dulu
jalan keluar dan berkata kepada Siau Hong, "Nak, kau cegat di
depan Jendela, jangan sampai dia lolos."
Sesudah Siau Hong mengiakan lalu mereka ayah dan anak
mengambil kedudukan mengepung sehingga Buyung Bok tak
bisa lari lagi, kemudian Siau Wan-san berkata, "Permusuhan
kita terlalu mendalam dan baru akan berakhir bila ada yang
mati. Karena ini bukan pertandingan biasa, sudah tentu kami
ayah dan anak akan maju sekaligus untuk mencabut
nyawamu!”
Buyung Bok terbahak-bahak selagi hendak menjawab, tibatiba
terdengar suara tindakan orang dan muncul seorang
kiranya Cumoti. Dia memberi hormat kepada Buyung Bok dan
berkata, ”Buyung sicu, sejak berpisah di Thian-tiok, kemudian
kabarnya engkau telah wafat, sungguh aku ikut berduka cita.
Tak tahunya sicu sengaja mengasingkan diri dengan maksud
tujuan tertentu, sungguh menggembirakan hari ini dapat
bertemu pula di s ini.”
"Ah, karena terpaksa, aku mesti pura-pura mati sehingga
memb¡kin Taísu ikut kuatir, sungguh memalukan," sahut
Buyung Bok sambil memberi hormat.
Mendengar percakapan mereka itu, Siau Wan-san saling
pandang dengan Siau Hong. Mereka menduga jika Cumoti
yang lihai itu adalah sahabat Buyung Bok, maka sebentar
padri itu tentu akan membantu pihak lawan dan menang atau
kalah menjadi sukar diramalkan lagi.
Dalam pada itu terdengar Cumoti berkata pula, "Dahulu
Siauceng pernah mendengar uraian Buyung siansing tentang
ilmu pedang di dunia ini katanya 'Lak-meh-sin-kiam' dari
negeri Tayli adalah ilmu pedang nomor satu di dunia, tapi
Siansing merasa menyesal karena selama hidup ini tidak
pernah melihatnya. Maka sesudah kudengar berita duka
tentang wafatnya Siansing, segera kupergi ke Tayli untuk
memohon kitab Lak-meh-sin-kiam agar dapat kubakar di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
depan makam Siansing sekedar sebagai tanda baktiku kepada
sahabat lama. Tak tersangka si tua Koh-eng di Thian-liong-si
itu teramat licik, pada detik terakhir dia menggunakan tenaga
dalamnya untuk merusak kitab pusaka itu sehingga cita-cita
Siauceng untuk memenuhikewajiban sebagai sahabat tidak
terkabul, sungguh aku sangat menyesal dan malu.”
"Walaupun maksud baik Taisu tidak terlaksana tapi
terhadap pikiran Taisu itu sungguh aku merasa sangat
barterima kasih," ujar Buyung Bok, "Apalagi Lak-meh-sin-kiam
keluarga Toan itu masih tetap dipahami keturunannya, tadi
ketika Toan-kongcu, bertempur dengan putraku yang tak
becus itu, dari gaya dan daya ilmu pedang itu tampak sekali
memang tidak bernama kosong untuk disebut sebagai ilmu
pedang nomor satu di jagat ini."
Pada saat itulah tiba-tiba muncul pula seorang itulah dia
Buyung Hok. Dia agak ketinggalan di belakang sehingga waktu
masuk ke Siau-lim-si lantas kehilangan jejak ayahnya dan Siau
Wan-san berdua. Ketika mencari sampai di Cong-keng-kok
sudah didahului Cumoti pula. Kebetulan ia dapat dengar
ucapan ayahnya tentang dia ditaklukan Toan Ki dengan Lakmeh-
sin-kiam itu, keruan ia menjadi malu.
Sementara itu Buyung Bok berkata pula kepada Cumoti
"Kedua orang ini sudah bertekad akan membunuh diriku entah
bagaimana pendapat Taisu?”
"Sebagai sahabat mana dapat kutinggal diam?" sahut
Cumoti.
Melihat Buyung Hok juga sudah tiba. Siau Hong menjadi
lebih prihatin karena pihak lawan sekarang telah berubah
menjadi tiga orang sedangkan pihak sendiri hanya berdua
saja. Walaupun kepandaian Buyung Hok agak lemah, tapi juga
tidak boleh dipandang ringan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun sadar Siau Hong memang gagah berani dalam
keadaan semakin sulit semakin membangkitnya jiwa
kepahlawanannya, maka dengan suara keras segera ia
membentak, "Pendek kata urusan hari ini harus ada
penyelesaian yang pasti sebelum terjadi mati dan hidup tidak
nanti berakhir. Nah, sambutlah seranganku!"
Habis berkata, kontan ia menghantam ke arah Buyung Bok.
Cepat Buyung Bok mengebaskan lengan baju dengan
sekuatnya untuk mematahkan serangan itu. Maka
terdengarlah suara "brak" yang keras sebuah rak kayu hancur
berantakan. kitab di atas rak itu pun jatuh berantakan.
"Lam Buyung, Pak Kiau Hong! Nyata memang tidak
bernama kosongi" seru Buyung Bok dengan tersenyum. "Siau
hong, aku ingin bicara sedikit, entah kamu mau
mendengarkan atau tidak?”
"Betapapun engkau akan putar lidah dan bermulut manis
jangan harap akan dapat membatalkan maksudku membalas
sakit hati terbunuhnya istriku," sahut Siau Wan-san,
"Melihat keadaan sekarang, biarpun engkau tetap ingin
membunuhku untuk membalas dendam toh rasanya tidak
mudah," sahut Buyung Bok. "pihak kami ada tiga orang,
sedangkan kalian cuma berdua, coba katakan apakah engkau
yakin pasti akan menang?"
"Biarpun kekuatan pihakmu lebih besar, seorang laki-laki
sejati kenapa mesti gentar menghadapi lawan yang lebih
banyak!" sahut Siau Wan-san.
"Ya, memangnya ksatria sebagai kalian pernah gentar
terhadap siapa?" kata Buyung Bok. "Tetapi takut atau tidak,
yang terang bila kalian ingin membunuh aku pasti tidak
gampang lagi. Maka aku ingin mengadakan kompromi
denganmu, bila kupenuhi cita-cita kalian dalam hal membalas
dendam, hendaknya kalian juga memenuhisuatu
permintaanku."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siau Wan-san dan Siau Hong menjadi heran dan curiga,
untuk sekian lamanya mereka tidak sanggup menjawab.
Maka Buyung Bok berkata pula, "Asal kalian sanggup
memenuhi syaratku ini, maka kalian boleh maju untuk
membunuhku, untuk ini aku akan mandah dibunuh dan takkan
melawan, Cumoti Suheng dan anak Hok juga tidak boleh
menolongku."
Ucapan ini tidak cuma membuat Siau Hong berdua merasa
heran, bahkan Cumoti dan Buyung Hok juga terkejut. Segera
Buyung Hok berseru, "ayah, Kita kan sudah menang jumlah
orang ....”
Cumotl juga berkata, "Ya, kenapa Buyung siansing omong
demikian? Asal aku masih berada di sini, sudah tentu takkan
kubiarkan siapa pun mengusik engkau."
Namun Buyung Bok menjawab, "Maksud baik Taisu
sungguh kuterima dengan terima kasih. Kepada Siau-heng
ingin kuminta penjelasan sesuatu dulu. Dahulu aku sengaja
menyampaikan berita palsu sehingga terjadi malapetaka
besar, apakah Siau-heng mengetahui bagaimana maksud
tujuanku dengan melakukan perbuatan yang rendah itü?”
"Kamu memang manusia rendah dan pengecut segala
kejahatan juga biasa kaulakukan masakah pakai maksud
tujuan apa segala?" damprat Siau Wan-san dengan murka,
dan begitu melangkah maju. Segara ia menghantam.
Namun Cumoti lantas melompat ke depan dan
menangkiskan serangan itu, "Plak" kedua tenaga pukulan
beradu dan ternyata sama kuatnya sehingga diam-diam kedua
orang saling kagum terhadap lawan masing-masing.
"Hendaknya Siau heng jangan marah dahulu harap
dengarkan uraianku sehingga selesai," kata Buyung Bok, "Aku
Buyung Bok jelek-jelek juga mempunyai sedikit nama di dunia
kangouw selamanya aku tidak kenal dengan Siau-heng dan
dengan sendirinya kita tidak parnah bermusuhan dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempunyai dendam apa pun, Menganai Hian-cu Hongtiang
dari Siau-lim-si, bahkan aku adalah sobat baiknya yang lama.
Maka kalau aku sampai mencari akal untuk mengadu domba
kalian, jika dipikirkan secara mendalam, mustahil aku tidak
mempunyai maksud tujuan tertentu."
"Maksud tujuan tertentu apa? Coba ka ... katakan!" teriak
Siau Wan san dengan mata melotot dan marah membara.
"Siau-heng, engkau adalah bangsa Cidan, sedangkan
Cumoti Suheng ini orang Turfan, bagi jago silat Tionggoan
kalian dianggap sebagai bangsa asing dari negeri lain,"
demikian tutur Buyung Bok. "sudah terang putramu adalah
Pang-cu Kai-pang dengan ilmu silat yang tinggi dan
kecerdasan yang terpuji, seorang ksatria yang sukar dicari
yang pernah menjabat Pang-cu mereka, tetapi demi anggota.
Kai-pang mengetahui dia adalah bangsa Cidan, serentak
mereka membangkang, bukan Cuma tidak mengakui dia
sebagai Pangcu, bahkan semua orang hendak membunuhnya.
Coba katakan, Siau-heng, apakah itu adil?”
"Kerajaan Song dan Liau sudah ratusan tahun lamanya
berperang," sahut Siau Wan-san. "setiap kali kedua bangsa itu
bertemu di perbatasan tentu saling membunuh, hal ini sudah
terjadi sejak dulu. Maka kalau orang Kai-pang mengetahui
anakku adalah bangsa musuh, sudah tentu mereka tidak
mengakuinya sebagai Pancu. Soal ini masuk diakal, tak dapat
bicara tentang adil dan tidak.”
(Oo^o^dwkz^http://kangzusi.com/^o^oO)
Jilid 76
Sesudah merandek sejenak, lalu Siau Wan-san
menyambung pula, "Seperti istriku telah dibunuh oleh Hian-
Cu, Ong Kiam-thong dan lain-lain, hal ini juga bukan maksud
mereka yang sebenarnya. Andaikan sengaja juga tidak perlu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diherankan karena antara kedua bangsa memang sedang
bermusuhan. Tetepi kamu sengaja memfitnah dan mengadu
domba, kejahatanmu ini tak dapat diampuni.”
"O, jadi kalau menurut pendapat Siau heng, pertentangan
di antara kedua Negara, baik dalam keadaan perang dan
saling membunuh, yang diutamakan adalah mengalahkan
musuh dan mencapai kemenangan, apakah tidak perlu
menjaga kehoramatan dan menjunjung keluhuran budi?"
tanya Buyung Bok.
"Di medan perang boleh digunakan segala akal dan siasat
untuk mengalahkan musuh, hal ini adalah jamak, buat apa
kau bicara tentang urusan yang tiada sangkut-pautnya dengan
perkara kita sekarang?”
Buyung Bok tersenyum, tiba-tiba ia Tanya pula, "Siau-heng,
kau sangka aku Buyung Bok ini orang dari mana?"
"Koh-soh Buyung, siapa yang tidak kenal? adalah bangsa
Han di daerah Kanglam, masakah perlu engkau menguji aku?"
sahut Siau Wan-san.
"Hahaha justru salahlah sangkaan Siau-heng ini!” kata
Buyung Bok sambil tertawa dan menggoyang kepala. Tiba-tiba
ia berpaling kepada Buyung Hok dan berkata, "Nak, kita ini
bangsa apa?"
"Keluarga Buyung kita adalah bangsa Sianbi, kerajaan Yan
kita dahulu pernah mengguncangkan daerah sekitar Hopak
dan mendirikan negeri yang jaya, cuma sayang musuh terlalu
licin dan ganas sehingga kerajaan kita tertumbangkan,”
demikian sahut Buyung Hok.
"Ayah sengaja memberikan nama 'Hok' (membangun
kembäli) padamu, apakah artinya itu?" tanya Buyung Bok
pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mungkin ayah ingin anak senantiasa ingat kepada pasan
leluhur kita agar jangan lupa berusaha membangun kembali
kerajaau Yan kita." sahut Buyung Hok.
"Coba keluarkan cap mustika kerajaan kita dan perlihatkan
kepada Siau-siansing berdua," kata Buyung Bok.
Buyung Hok mengiakan dan mengeluarkan sebuah cap
ukiran dari batu kemala hitam persegi. Di atas cap kemala itu
terukir seekor macan tutul yang sangat indah. Ketika Buyung
Hok mengangkat capnya, maka tertampaklah huruf-huruf
yang terukir pada cap itu.
Dengan pandangan yang tajam segera Siau Wan-san, Siau
Hong dan Cumoti dapat melihat bahwa pada setempel itu
terukir tulisan "Pusaka Raja Yan" Mungkin sudah terlalu tua
setempel itu sehingga bagian ujung kelihatan gumpal sedikit.
Tapi terang bukan barang buatan baru walaupun susah
dibedakan tulen atau palsunya.
Lalu Buyung Bok berkata pula, "Coba keluarkan sekalian
daftar silsilah kerajaan Yan kita agar dibaca Siau-siansing."
Kembali Buyung Hok mengiakan. Ia simpan dulu setempelnya,
lalu mengeluarkan sebuah bungkusan sehelai kain minyak,
dari dalam bungkusan la keluarkan sehelai kain sutra kuning
yang tertampak tertulis dua macam huruf. Yang sebelah
kanan hurufnya tak dikenal mungkin tulisan Sianbi, Tapi huruf
sebelah kiri adalah tulisan Han yang jelas tertera nama-nama
raja kerajaan Yan dimulai sejak cikal-bakal mereka dan pada
baris yang terakhir terbaca nama "Buyung Hok," di atas nama
Buyung Hok tertampak pula tertulis nama "Buyung Bok.”
"O, jadi Buyung-siansing sebenarnya adalah pangeran
kerajaan Yan, maafkan bila aku bersikap kurang hormat," kata
Cumoti.
"Ah, aku sendiri dapat selamat sampai sekarang sudah
terhitung untung," ujar Buyung Bok dengan menghela napas.
"Siau heng, sesuai dengan pesan leluhur maka jika keluarga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Buyung dari Sianbi kami ingin membangun kembali kerajaan
Yan, menurut pendapatmu usaha kami ini pantas atau tidak?"
"Yang menang menjadi raja, yang kalah menjadi
penyamun, setiap ksatria ada hak buat berebut kemenangan,
kenapa mesti tanya tentang pantas dan tidak!" sahut Wansan.
"Bagus! Ucapan Siau-heng ini sangat cocok dengan
pikiranku," ujar Buyung Bok. "Jadi kalau keluarga Buyung kami
ingin membangun kembali kerajaan Yan, untuk itu dengan
sendirinya diperlukan kesempatan yang baik. Mengingat
kekuatan kami terlalu lemah dan orang kami terlalu sedikit
untuk membangun kembali suatu negara sudah tentu amat
sukar. Dan kesempatan satu-satunya yang terbuka adalah
bilamana dunia ini kacau-balau bila di seluruh pelosok terjadi
peperangan.
"Hm, jadi kau sengaja membuat berita palsu untuk
mengadu domba, maksud tujuanmu supaya Song dan Liau
berperang dan kaupun akan dapat mengaduk di air keruh?"
jengek Siau Wan-san.
"Benar," jawab Buyung Bok, "kalau terjadi peperangan
antara Song dan Liau, maka kerajaan Yan akan mendapat
kesempatan untuk bergerak."
"Ya. jika terjadi seperti apa yang digambarkan Buyungslansing,
maka bukan saja kerajaan Yan ada harapan
dibangun kembali, bahkan kerajaan Turfan kami juga dapat
membagì sedikit rejeki," ujar Cumoti.
Namun Siau Wan-san lantas mendengus dan melirik kedua
orang itu dengan menghina.
Tapi Buyung Bok berkata pula, "Putramu menjabat Lam-ih
Tai-ong di negeri Lian, dia memegang kekuasaan militer yang
besar dan berkedudukan di Lamkhia. Jika dià mengerahkan
pasukannya ke selatan dan menduduki daerah utara lembah
Hongho, maka maju setindak lagí dia dapat mengangkat diri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sendiri sebagai raja, kalau tidak ia pun akan tetap disegani
oleh raja Liau. Tatkala mana dia akan sekaligus dapat
menumpas kaum ksatria Tionggoan seperti menginjak semut
mudahnya, dengan demikian dapatlah dia melampiaskan
dendamnya waktu dipecat dan diusir oleh orang Kai-pang."
"Huh, maksudmu kau ingin anakku berjuang bagimu agar
kau sempat menggagap ikan di air keruh dan mambantu
ambisimu yang besar untuk membangun kembali kerajaan
Yan." jengek Siau Wan-san.
"Betul," kata Buyung Bok. "Dan bila sudah begitu, maka
pasukan kami akan dapat bergerak dan membantu pihak Lian,
malahan Turfan, Se he dan Taìli juga dapat bergerak
sekaligus, berlìma negara dapat membagi-bagi kerajaan Song
sebaliknya takkan merugikan kerajaan Liau, bahkan
menguntungkan, masa Siau-heng tidak mau?"
Bicara sampai di s ini, mendadak Buyung Bok mengeluarkan
Sebilah belati yang mengkilat terus ditancapkan di atas meja
sebelahnya, lalu berkata pula, "Nah. asal Siau-heng mau
menerima usulku ini, maka boleh silakan segera mencabut
nyawaku untuk membalaskan sakit hati nyonya, untuk itu
sama sekali aku takkan melawan."
Dan "bret", berbareng ia robek baju sendiri sehingga
kelihatan dadanya.
Uraian Buyung Bok itu sungguh di luar dugaan Siau Wansan
dan Siau Kong. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa
dalam keadaan yang menguntungkan bagi pihaknya itu
Buyung Bok terima dibunuh tanpa, melawan. Maka untuk
sesaat Siau Wan-san berdua menjadi bingung dan tak dapat
menjawab.
Tiba-tiba Cumoti berkata, "Buyung-siansing, kata
pribahasa, kalau bukan bangsa sendiri tentu pikirannya tidak
sama. Apalagi urusan kenegaraan seharusnya tidak seganTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
segan main muslihat dan buat licin. Jika Buyung-siansing nanti
meninggal dengan sukarela, sebaliknya ayah dan anak she
Siau itu tidak menepati janji bukankah kematianmu menjadi
sia-sia belaka?"
"Siau-heng sudah mengasingkan diri selama berpuluh
tahun dan baru sekarang muncul di dunia ramai tapi putranya,
Siau-taihiap adalah seorang ksatria termashur, namanya
terkenal di seluruh jagat, kata-katanya seperti emas, mana
bisa mereka ingkar janji?" ujar Buyung Bok. "Sedangkan untuk
seorang nona cilik yang bukan sanak dan bukan kadang saja
dia sudi berkorban dan menghadapi bahaya, masakah
sekarang dia mau ingkar janji sesudah membunuh aku? Sudah
lama kuperhitungkan kejadian ini usiaku sudah lanjut dengan
jiwaku yang sudah lapuk ini untuk menukar tahta, kesempatan
baik ini tidak boleh kusia-siakan!"
Melihat kesungguhan Buyung Bok itu, untuk sejenak Siau
Wan-san menjadi ragu. Ia tanya Siau Hong, "Anakku,
tampaknya orang ini bersungguh-sungguh. Bagaimana dengan
pendapatmu?"
"Tidak boleh jadi!" sahut Siau Hong sambil mendadak
memukul ke arah meja. "Brak", meja itu pecah berantakan
dan belati yang menancap di atasnya menembus papan loteng
dan jatuh ke tingkat bawah Cong-keng-kok itu. Lalu katanya
dengan kereng, "Sakit hati terbunuhnya ibu mana boleh dijualbelikan?
Kalau dapat dibalas harus dibalas, kalau tidak dapat
balas biarlah jiwa kita ayah dan anak tamat di sini pula.
Perbuatan yang kotor dan rendah masakah sudi dilakukan
oleh kami ayah dan anak keluarga Siau?"
Sekonyong-konyong Buyung Bok terbahak-bahak sambil
menengadah, katanya, "Sudah lama kudengar kepandaian
Siau-taihiap tiada bandingannya dan mempunyai pengetahuan
yang luas, siapa tahu hanya seorang yang sok gagah belaka
dan tidak kenal akan kebaikan, Hehe, sungguh menggelikan,
hehe, sungguh mentertawakan!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siau Hong tahu orang sedang menyindirnya, namun tetap
jawabnya dengan dingin, "Baik Siau Hong seorang ksatria atau
seorang bodoh, pendek kata tidak sudi diperalat untuk
memenuhi cita-citamu."
"Kauterima gaji rajamu dan harus setia pada kerajaanmu,
tapi kamu cuma ingat pada sakit hati orang tua dan tidak
pikirkan kesetiaan kepada negara, apakah kalian sudah
memenuhi kewajibanmu sebagai pengabdi kerajaan Liau?”
tanya Buyung Bok.
Sambil melangkah maju setindak Siau Hong menjawab
dengan bersitegang, "Apakah kau pernah menyaksikan saling
membunuh secara kejam di daerah perbatasan antara rakyat
Song dan Liau? Apa pernah kau lihat keluarga rakyat kedua
negeri tercerai-berai oleh karena peperangan? Syukurlah di
antara kedua negara telah berhenti perang selama beberapa
puluh tahun, bila sekarang mulai perang lagi, sekali pasukan
berkuda Cidan memasuki wilayah Song, apakah kau dapat
membayangkan betapa banyak orang Song akan menjadi
korban mencara mengerikan?"
Berkata sampai di sini ia lantas ingat kejadian bunuh
membunuh secara kejam antara prajurit Song dan Liau tatkala
mereka mengadakan "panen", maka dengan suara makin
lantang Siau Hong menyambung pula, "Padahal prajurit Song
berjumlah banyak dengan kekayaan alam yang cukup pula
asal mereka mendapat pimpinan panglima yang pandai dan
melabrak kita sekuatnya tidak mungkin kita dapat menang
biarpun kita bergabung menjadi satu. Dan banjir darah
demikian itu hasilnya akan memberi kesempatan kepada
keluarga Buyung kalian untuk membangun kembali kerajaan
Yan, sungguh enak betul perhitunganmu ini?"
"Siancai! Siancai!" demikian tiba tiba terdengar suara
seorang tua menyela di luar jendela. "Siau-kiau memiliki hati
bijak dan pikiran bijaksana sungguh seorang ksatria sejati."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Keruan kelima orang yang berada dalam kong-keng-kok itu
terkejut. Mereka tergolong tokoh-tokoh kelas wahid tapi
mereka sama sekali tidak tahu bahwa di luar jendela ada
orang mengintip pembicaraan mereka.
Maka Buyung Hok segera membentak, "Siapa itu?"
Bareng ia terus menghantam sehingga kedua sayap daun
jendela terpental dan jauh di bawah talang. Maka
tertampaklah di serambi sana seorang padri kurus kering
berjubah warna kelabu, sedang menyapu dengan
membungkuk. Usia padri itu sudah lanjut, rambutnya jarang
dan putih seluruhnya, gerak-geriknya lugas lamban seperti tak
bertenaga dan tampaknya tidak mahir ilmu silat.
"Sudah berapa lama kau sembunyi di s ini?” kembali Buyung
Hok menegur.
Pelahan padri tua itu mengangkat kepalanya dia menjawab,
"Apakah Sicu tanya padaku sudah .... sudah betapa lama
sembunyi di sini!"
Dari suaranya semua orang yakin padri inilah yang
bersuara memuji ucapan Siau Hong tadi. Tertampak kedua
matanya menyipit dengan sinar mata yang buram tanpa
semangat.
"Ya, sudah berapa lama kau sembunyi di sini?" demikian
Buyung Hok mengulangi pertanyaannya.
Maka padri tua itu menekuk-nekuk jarinya, sesudah
menghitung sekian lamanya, akhirnya dia geleng kepala
sambil berkata dengan mengunjuk rasa menyasal, "Wah, aku
.. aku sudah lupa, entah sudah 42 tahun atau 43 tahun. Aku
masih ingat ketika malam pertama Siau-lokian ini datang
membaca kitab ke sini, tatkala itu aku ... aku sudah belasan
tahun berada di sini. Kemudian .... kemudian Buyung lokian
juga datang dan tahun yang lalu itu padri Thian-tiok yang
bernama Polo Singh juga datang kemari buat mencuri kitab,
Ah, yang satu pergi dan yang lain datang lagi sehingga kitab
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seluruh gedung ini entah diobrak-abrik tak karuan entah apa
yang dikehendaki kalian ini."
Kaget Siau Wan san tak terperikan. Padahal ia yakin tiada
seorang pun tahu ketika dia menyeludup ke dalam Siau-lim-si
untuk memperdalam ilmu silat mengapa padri tua ini dapat
mengetahuinya? Barangkali di bawah tadi padri ini telah
mendengar pembicaraanku dan sekarang sengaja ngaco belo
saja. Maka ia lantas berkata, "Tapi mengapa selama ini aku
tidak pernah melihat dirimu?"
"Dengan penuh perhatian Siau kisu sedang mempelajari
ilmu sakti Siau lim pai dengan sendirinya engkau tidak
memperhatikan diriku." Sahut padri tua itu, "Malahan aku
masih ingat pada malam pertama itu kitab yang dipinjam baca
oleh Siau-kisu kalau tidak salah adalah 'Bu-siang-hiat-ci-boh'.
Dan ai, sejak malam itu Siau-kisu lantas tersesat ke jalan yang
salah. Sayang, Sungguh sayangl"
Sungguh kaget Siau Wan-san tidak kepalang, sebab apa
yang dikatakan padri tua itu memang benar, kitab pertama
yang dibacanya dari gedung perpustakaan pada malam
pertama itu memang betul adalah 'Bu-siang hiat-ci-boh’.
Padahal waktu itu tiada orang lain yang tahu, masakah waktu
itu padri tua ini juga berada di sini dan menyaksikan sendiri?
Begitulah untuk sekian lama Siau Wan-san sampai ternganga
dan tidak sanggup bicara.
Lalu padri tua itu berkata pula, "Waktu Siau-kisu datang
lagi dan kitab yang dipinjam adalah 'Pau-yak-ciang hoat'.
Padahal sebelumnya sengaja kutaruh sejilid kitab 'Hoat-hoa
keng' (nama kitab Budha) di tempat yang suka digerayangi
olehmu dengan harapan isinya dapat dibaca dan dipahami
olehmu, tak terduga Siau-kisu sudah tenggelam dalam ilmu
silat sehingga sama sekali mengesampingkan ajaran-ajaran
Budha yang murni dan yang diutamakan adalah kitab ajaran
ilmu silat, sesudah mengambil lagi 'Hok-mo siang-hoat'
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
engkau lantas pergi dengan gembira. Ai, orang yang sudah
tersesat entah kapan baru akan sadar kembali?"
Kerana setiap tingkah-lakunya di Cong-keng-kok ini pada
30 tahun yang lalu telah diuraikan padri tua itu dengan tidak
salah sedikit pun, dari kaget pelahan Siau Wan-san menjadi
takut dan dari takut menjadi ngeri sehingga keluar keringat
dingin.
Kemudian padri tua itu berpaling ke arah Buyung Bok.
Melihat sinar mata padri yang buram tapi seakan-akan gaib
dan dapat menembus isi hatinya, setiap rahasia seakan-akan
telah diketahuinya dengan jelas mau-tak-mau Buyung Bok
merasa merinding juga.
Maka terdengar padri tua itu berkata lagi dengan menghela
napas, "Buyung kisu meski orang Sianbi, tapi turun temurun
sudah menetap di Kang lam, semula kukira Buyung-kisu tentu
akan mempelajari kitab Budha yang berada di sini, tak
tersangka baru menemukan sejilid Ciam-hoa-ci-hoat dan
Buyung-kisu lantas girang sekali seperti mendapat mustika."
Sungguh kejut Buyung Bok tak terkatakan sebab kitab
pertama yang dibacanya dalam gedung ini pada pertama kali
ia datang memang betul adalah 'Ciam hoa-ci' seperti dikatakan
padri tua itu. Padahal waktu itu ia telah periksa gedung itu dia
tidak menemukan orang kedua mengapa padri tua ini dapat
mengetahuinya? Ia dengar padri tua berkata pula, "Malahan
hati Buyung-kisu jauh lebih serakah daripada Siau kisu. Kalau
Siau kisu cuma mempelajari cara-cara mengatasi ilmu silat
Siau-lim pai sebaliknya Buyung kisu menguras seluruh ke 72
macam ilmu silat biara kami dan tiga tahun kemudian barulah
kau datang lagi ke sìnì. Tentu selama tiga tahun itu engkau
berusaha sebisanya untuk mamahami ke 72 macam
kepandaian itu boleh jadi sudah kau ajarkan pula kepada
putramu."
Sampai di s ini s inar matanya lantas beralih ke arah Buyung
Hok, tapi cuma sekejap saja lantas menggeleng kepala. Ketika
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
la memandang Cumoti, tiba-tiba ia mengangguk dan berkata,
"O. tahulah aku! Rupanya usia putramu masih terlalu muda
sehingga tidak dapat mempelajari kungfu Siau-lim pai yang
hebat itu, maka telah kau ajarkan kepada seorang padri agung
negeri lain. Tai-lun Beng-ong, engkau salah sama sekali,
engkau telah mencampur aduk dan memutarbalikan kungfu
itu, maka sekarang bencana sudah berada di depan mata."
Cumoti tidak pernah kenal padri tua itu, dengan sendirinya
la tidak gentar padanya. Maka dengan sikap dingin ia
menjawab. "Kau bilang campur aduk putar balik serta bencana
apa segala? Ucapan Taisu ini apakah tidak terlalu dlbesarbesarkan
untuk menakut-nakuti?”
"Tidak, bukan sengaja dibesar-besarkan dan untuk
menakuti, tapi sesungguhnya," sahut si padri tua. "Beng-ong.
harap kau kembalikan saja kitab Ih-kin-keng itu padaku."
Baru sekarang Cumoti terperanjat, la heran dari mana padri
tua ini mengetahui dia telah merebut 'Ih-kin-keng' dari orang
berkepala besi (Goan-ci) itu? Masakah begitu gampang aku
disuruh menyerahkan padamu? Maka ia sengaja menjawab,
"Aku tidak paham 'Ih-kin-keng' apa yang Taisu maksudkan?
Entah kitab apakah itu?”
Maka padri tua itu berkata pula. "Tujuan murid Budha
belajar ilmu silat adalah untuk kesehatan badan, untuk
membela agama dan membasmi kejahatan, dalam
mempelajari setiap macam ilmu silat harus selalu berdasar
pada pikiran kebajikan dan welas asih. Kalau dasar
pengetahuan agama Budha belum kuat, maka pada waktu
belajar silat tentu akan merusak dirinya sendiri. Semakin tinggi
ilmu silatnya semakin berat luka badannya. Kalau yang
dipelajari hanya ilmu pukulan dan tendangan atau permainan
senjata kasaran saja memang tidak besar merugikan diri
sendiri asal badan sehat dan kuat masih dapat bertahan,
tetapi .... "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sampai di sini, tiba-tiba dari bawah loteng melompat naik
beberapa hwesio. Mereka adalah Hian-seng dan Hian-peng
dari Siau-lim-pai, di belakangnya adalah Sin kong Sian-jin. To-
Jing Taisu. Polo Singh dan Cilo Singh dan paling akhir adalah
Hian cin dan Hian-ceng.
Mereka terheran-heran ketika melihat Siau Wan-san dan
anaknya. Buyung Bok dan anaknya serta Cumoti sedang
mendengarkan pembicaraan seorang hwesio tua yang tak
dikenal. Tapi mereka adalah padri saleh dan berpengelaman
mereka tidak lantas mengganggu melainkan berdiri di samping
untuk ikut mendengarkan apa yang dibicarakan.
Padri tua itu pun tidak menghiraukan para pendatang baru
itu, la masih meneruskan uraiannya, "Tetapi kalau yang
dipelajari adalah ilmu silat Siau-lim-pai kami yang tertinggi
sebangsa Ciam-hoa-ci-hoat. Pan-yah-ciang-hoat dan lain-lain
jika ajaran itu tidak dibarengi dengan pengetahuan ajaran
Budha yang welas-asih, maka akhirnya s ifat keras dan angkuh
akan merasuk semakin mendalam dan jauh lebih celaka
daripada terserang oleh segala macam senjata atau racun ..."
Semua orang merasa ucapan padri tua itu, mengandung
falsafah yang dalam sehingga mereka sangat tertarik.
Maka padri itu melanjutkan, "Sudah ribuan tahun sejarah
Siau-lim-si kami dan dari dahulu kala hingga sekarang hanya
Tat-mo Cosu seorang saja yang serba pandai dalam macammacam
ilmu selain beliau tidakpernah ada lagi. Kitab ke-72
macam ilmu silat itu selalu berada dalam gedung ini dan
selamanya terbuka untuk dibaca anak murid Siau-lim-pai.
Apakah Beng-ong tahu apa sebabnya?"
"Itu adalah urusan dalam biara kalian sendiri dari mana
orang luar bisa tahu?" sahut Cumoti.
Cian-seng, Hian-ceng dan lain-lain menjadi heran pula.
Kalau melihat dandanan padri tua ini jelas dia adalah padri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pekerja Siau-lim-si tapi mengapa mempunyai pengetahuan
agama sedalam itu.
Hendaknya diketahui bahwa padri pekerja di Siau-lim si itu
tidak diharuskan mengangkat guru? maka juga tidak
mendapat didikan ilmu silat. Tugasnya adalah mengerjakan
segala pekerjaan kasar seperti menyapu, mencuci dan
sebagainya. Mereka tidak termasuk dalam murid-murid
angkatan Hian
Hui, Hi dan Khong maka dengan sendirinya Hian-seng dan
padri agung lain tidak kenal padri tua ini.
Dalam pada itu si padri tua telah melanjutkan uraiannya,
"Ke-72 macam ilmu silat Siau-lim-si kami semuanya dapat
melukai dan membunuh orang, lihai dan ganas, sebab itulah
tiap-tiap macam ilmu silat itu harus disertai dengan ajaran
agama Budha adalah menolong sesamanya, sebaliknya ilmu
silat justru digunakan untuk membunuh sesamanya, keduanya
saling bertentangan. Maka harus diusahakan semakin tinggi
agamanya, semakin besar pikiran welas-asihnya, dengan
demikian barulah ilmu silat dapat diyakinkan dengan semakin
tinggi, namun para padri saleh yang sudah mencapai
tingkatan demikian tentu juga tidak sudi lagi mempelajari ilmu
membunuh lain yang lihai.”
"Omitohud! Mendengar uraian Taisu ini baru sekarang
pikiran Siauceng terbuka," demikian kata To-jing Taisu sambil
memberi hormat.
"Ah, itu cuma sedikit pendapatku yang Cupet, jika salah
masih diharapkan petunjuk dari kalian," sahut si padri tua.
"Harap Taisu sudi memberi ceramah püla," kata hadirin
yang lain.
Sebaliknya Cumoti sedang berpikir, "Ke-72 macam Ilmu
silat Siau-lim-pai itu telah dicuri oleh Buyung siansing dan
disebarkan keluar, tapi sekarang mereka menggunakan
seorang padri tua untuk main sandiwara dan membikin takut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang lain supaya tidak berani meyakinkan ilmu silat sakti
mereka, Hehe, manakah aku Cumoti dapat ditipu segampang
ini?"
Terdengar si padri tua sedang berkata pula, "Di dalam Siaulim-
si kami dengan sendirinya juga terdapat satu-dua orarg
yang terlalu kemaruk kepada Ilmu silat dan melupakan
pelajaran agama sehingga akhirnya Cai-hwe-jip-mo (tersesat
dan membakar diri sendiri) atau terluka dalam lumpuh dan tak
bisa disembuhkan. Dahulu Hian-ting Taisu yang berbakat Itu
dalam semalaman urat nadinya mendadak putus semua
sehingga menjadi cacat untuk selamanya. Sebabnya adalah
akibat seperti apa yang kukatakan tadi."
Tiba-tiba Hian-seng dan Hian-peng berlutut dan memohon,
"Taisu, apakah hian-ting Sute dapat ditolong?"
"Sudah terlambat, tak bisa ditolong lagi," sahut padri tua
itu. "Waktu Hian-ting Taisu memperdalam ilmu silatnya dì sini,
berulang kali pernah kuperingatkan dia tapi dia tetap tak
sadar. Sekarang urat-nadinya sudah putus, cara bagaimana
bisa ditolong?”
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara pelahan 'crit critcrit"
tiga kali, habis itu lantas tak terdengar apa-apa lagi.
Hian-seng dan lain-lain tahu itulah ilmu jari Bu-siang-hiat-ci
golongan sendiri, maka mereka lama memandang ke arah
Cumoti. Air muka padri asing itu kelihatan agak berubah, tapi
sengaja tersenyum-senyum seperti titdak terjadi apa-apa.
Rupanya semakin mendengarkan uraian si padri tua tadi,
semakin penasaran rasa hati Cumoti. Ia sendiri sudah
mempelajari ke-72 macam ilmu sakti Siau-lim-pai itu, Mengapa
urat-uratnya tidak putus dan menjadi orang cacat? Maka
diam-diam ia melancarkan serangan "Bu-siang-jiat-ci" ke arah
padri tua itu.
Tak terduga tenaga jarinya cuma berhenti di depan tubuh
padri itu seakan-akan terbentur oleh selapis dinding baja yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
maha kuat dan tak kelihatan, lalu tenaga tutukannya hilang
sirna. Keruan Cumoti terkejut, baru sekarang ia percaya padri
tua ini memang luar biasa dan bukan sengaja hendak
menggertak saja.
Namun padri tua itu anggap serangan Cumoti itu seperti
tidak terjadi, la masih berkata kepada Hian-seng dan Hianpang,
"Harap kedua Taisu berbangkit. Aku sendiri adalah
petugas dalam Siau-lim-si, mana berani menerima
penghormatan kedua Taisu seperti ini?"
Seketika Hian-seng berdua merasa seperti diangkat oleh
suatu kekuatan yang tak kelihatan sehingga mau-tak-mau
mereka berbangkit, anehnya sedikit pun tidak kelihatan padri
tua itu bergerak. Karuan mereka terperanjat atas kesaktian
padri tua itu.
Padri tua melanjutkan uraiannya, "Ke-72 macam ilmu silat
Siau-lim si kita seluruhnya terbagi dalam hal daya-guna. Yang
dikatakan daya adalah kekuatan badaniah, dan guna adalah
cara menggunakannya. Seperti Tai-lun Beng-ong dan kedua
Polo dan Cilo Suheng dari Thian-tiok, pada badan mereka
sendiri memang sudah memiliki kekuatan iwekang yang tinggi
maka yang dipelajarinya dari biara kita hanya cara
menggunakan ke-72 macam ilmu itu saja walaupun juga
membahayakan, tapi sementara ini masih tidak kelihatan.
Yang diyakinkan Beng-ong sendiri bukankah 'Siau-bu-siangkang'
dari Siau-yau-pai?”
Kambali Cumoti terkejut, dia mencuri belajar 'Siau-bu-siang
kang' dari Siau-yau-pai, hal ini sama sekali di luar tahu orang,
mengapa padri tua itu bisa tahu? Tapi lantas teringat olehnya,
"Ah, tadi Hi-tiok bertempur denganku, yang dia gunakan juga
Siau-bu-siang-kang. Besar kemungkinan Hi-tiok yang memberi
tahu padanya, kenapa aku mesti heran?"
Karena itu Cumoti lantas menjawab, "Meski Siau-bu-siangkang
berasal dari golongan To, tapi paling akhir ini murid
agama Budha banyak yang mempelajarinya, maka ilmu ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
boleh dikatakan mencakup ajaran golongan To dan Bud.
Malahan dalam Siau-lim-si kalian sendiri juga terdapat ahli
ilmu itu."
"O, jadi dalam Siau-lim-li juga ada yang mahir 'Siau-busiang-
kang’? Baru sekarang kudengar," kata si padri tua
dengan terheran-heran.
Cumoti tidak menjawab lagi, tapi diam-diam ia
menganggap padri tua itu pandai main sandiwara dan purapura
tidak tahu.
Maka padri tua itu berkata pula, "Ilmu Siau-bu-siang-kang
memang sangat bagus dan sangat luas, dangan menggunakan
ilmu ini sebagai dasar akan dapat menggunakan ke-72 macam
ilmu silat Siau-lim-si kita. Cuma pada bagian yang paling
penting dengan sendirinya akan kentara ada sedikit
kejanggalannya."
Mendengar Keterangan ini, segera Hian-seng berpaling
kepada Cumoti dan berkata, "Jadi Beng-ong mengaku mahir
ke-72 macam ilmu sakti Siau-lim-pai kami, kiranya begitulah
cara kemahiranmu?"
Namun Cumoti hanya tersenyum saja tanpa menjawab
sindiran itu.
Dalam pada itu si padri tua telah meneruskan. "Bila Bengong
cuma mempelajari cara menggunakan ke 72 macam ilmu
silat itu, maka bahayanya tentu juga tidak seberapa dan tak
sampai membahayakan jiwa. Tapi saat ini 'Seng-Cu-hiat' di
badan Beng-ong telah timbul bintik merah dan bagian 'Biolong-
hiat' kentara agak gemetar, dari tanda-tanda ini terang
setelah Beng-ong mempelajari ke-72 macam ilmu silat kami,
lalu secara paksa menyakinkan pula lwekang 'lh-kin-keng' …..”
Sampai di sini mendadak ia berhenti dari sorot matanya
tampak sekali dia merasa sangat sayang dan kasihan kepada
orang yang bersangkutan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba Cumoti ingat sejak dapat merebut Ih-kin-keng
dari tangan si kepala besi karena tahu kitab itu adalah kitab
pusaka dunia persilatan, maka la lantas melatihnya dengan
giat. Tapi meski sudah dilatih ke sana dan ke sini tetap tiada
kemajuan. Namun dia tidak putus asa, la anggap kitab pusaka
yang namanya sederajat dengan Lak-meh-sin kiam di negeri
Tayli itu tentu tidak dapat dipahami dalam waktu s ingkat maka
dia mempelajarinya dengan lebih tekun.
Sampai akhirnya la mulai merasa pikirannya menjadi
gelisah dan tidak tentram, semakin dilatih semakin tak keruan
jentrungannya. Jika demikian apakah yang dikatakan padri tua
ini memang ada benarnya. Apa latihanku sudah campur-aduk
dan terjungkir balik dan dalam waktu tingkat akan
membahayakan diriku sendiri? Tapi lantas terpikir olehnya
mungkin padri tua ini sengaja menakut-nakuti saja, kalau
masuk perangkapnya maka tamatlah namaku yang tersohor
selama ini. Karena itu ia tidak ambil pusing lagi terhadap
ucapan si padri tadi.
Dalam pada itu si padri tua sedang menatap padanya
dengan penuh perhatian mula-mula ia lihat air muka Cumoti
mengunjuk rasa kejut, lalu kuatir tapi kemudian mengangkat
kening seakan tidak percaya pada apa yang dikatakannya itu.
Maka padri tua memhela napas pelahan, lalu bertanya kepada
Siau Wan san "Siau-kisu paling akhir ini apakah kedua hiat-to
di bagian perutmu ada rasa sakit?”
Seketika badan Siau Wan-san tergetar, sahutnya cepat,
"Ya, penglihatan Taisu memang sangat jitu memang begitulan
halnya."
"Dan di bagian Koan-goan hiat yang mulai kaku dan mati
rasa itu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya pula si padri
tua.
Siau Wan san tambah terkejut, sahutnya, "Tempat yang
kaku dan mati rasa ini mula-mula cuma sebesar mata uang,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sesudah sepuluh tahun kini telah berubah menjadi sebesar
mulut mangkok."
Mendengar itu, tahulah Siau Hong bahwa tanda-tanda yang
timbul pada hiat-to di badan ayahnya adalah akibat melatih
ilmu sakti Siau-lim-pai itu. Dan dari nada ucapan sang ayah
agaknya gangguan-gangguan itu sudah berlangsung beberapa
tahun lamanya dan tetap sukar lenyap sehingga menjadikan
kekuatiran besar bagi keselamatannya. Jika demikian, apa
alangannya kalau kiranya sekarang memohonkan pertolongan
kepada padri tua itu atas diri sang ayah?
Begitulah, maka Siau Hong lantas melangkah maju dan
berlutut dihadapan si padri tua sambil berkata, "Jika Sinceng
(padri sakti) sudah tahu akan sumber penyakit ayahku, mohon
welas-asih Sinceng agar suka memberi pertolongan."
"Silakan bangun, Siau-kisu," kata si padri tua. "Jiwa Siaukisu
terlalu bajik dan luhur, selalu mengutamakan kepentingan
sesamanya, engkau tidak mau menggunakan permusuhan
pribadi untuk membikin susah rakyat kedua negeri, atas
keluhuran budi Siau-kisu ini, permintaan apa pun juga pasti
akan kupenuhi dengan baik. Maka tidak perlu banyak adat."
Siau Hong sangat girang, sesudah menyembah pula dua
kali barulah ia berbangkit, Lalu padri tua itu bicara pula. "Siaulokisu
sudah terlalu banyak membunuh orang dan
memperlihatkan korban orang yang tak berdosa, seperti
Kiau Sam-hoai suami istri dan Hian kok Taisu, mestinya
mereka tidak boleh dibunuh."
Sebagai seorang ksatria Cidan, meski usianya sekarang
sudah tua, tapi jiwa Siau Wan-san yang gagah perwira tetap
tidak berkurang, demi mendengar dirinya dicela, segera ia
menjawab, "Aku pun tahu lukaku terluka parah, tapi usiaku
sudah lanjut, putraku sudah jadi omong, biarpun aku akan
mati, apa yang mesti kusesalkan? Tapi kalau Sinceng ingin aku
mengaku salah, itulah tidak boleh jadi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak berani kuminta Siau-sicu mengaku salah, semua luka
yang diderita Siau-kisu itu adalah lantaran menyakinkan ilmu
silat Siau-lim-pai, untuk bisa sembuh harus mencari obatnya di
dalam ajaran Budha," berkata sampai di s ini tiba-tiba padri tua
itu menoleh kepada Buyung Bok dan melanjutkan pula,
"Buyung-kisu memandang kematian sebagai pulang ke
asalnya dan dengan sendirinya aku tidak perlu banyak omong.
Ketemu kalau kuberi petunjuk jalannya sehingga Buyung-kisu
terhindar dari siksaan seperti ditusuk jarum setiap hari tiga kali
yang timbul dari Yang-pek, Liau-coan dan Hong-hu-hiat, lantas
bagaimana Buyung sicu akan bicara?"
Air muka Buyung Bok berubah hebat sehingga badan
gemetar. Memang ketiga hiat-to yang disebut itu pada tiaptiap
hari waktu pagi, siangdan petang selalu menderita
kesakitan bagai ditusuk jarum. Rasa sakit itu makin lama
makin hebat dan tidak dapat disembuhkan dengan obat apa
pun. Bahkan kalau sedikit mengerahkan tenaga, seketika rasa
sakit seperti ditusuk jarum itu semakin merasuk ke tulang
sumsum, karena itulah sudah lama ia kehilangan gairah untuk
hidup terus. Makanya dia rela mati untuk menukar syarat
perjanjian dengan Siau-heng, walaupun katanya demi
membangun kembali kerajaan Yan mereka, tapi sebagian
besar juga lantaran dia telah menderita penyakit payah itu dan
benar-benar membuatnya bosan hidup.
Sekarang mendadak didengarnya padri tua itu menyebut
sumber penyakitnya dengan jitu, karuan kagetnya tak
terkirakan dan membikin hatinya menjadi tak karuan. Seketika
ia merasa penyakit ketiga hiat to yang disebut tadi kerasa
kembali. Padahal waktu itu mestinya belum tiba waktunya
penyakit itu kumat, tapi karena guncangan perasaan sehingga
menimbul kembali penyakitnya yang sudah ditahan itu.
Tapi sebagai seorang tokoh nomor wahid, sudah tentu
Buyung Bok cc|jgan memohon pertolongan kepada seorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedri tua yang tak terkenal itu. Maka dengan sekuatnya ia
mengertak gigi untuk menahan rasa tersksa itu.
Buyung Hok cukup kenal watak sang ayah yang suka
menang dan tidak mau mengalah itu, lebih suka terbunuh
daripada dihina di depan umum. Maka ia lantas melangkah
maju, ia memberi hormat kepada Siau Hong dan ayahnya
sambil berkata, "Selama gunung tetap menghijau dan air
sungai tetap mengalir, biarlah sementara ini kami mohon diri
dulu. Jika kalian tetap ingin menuntas balas kepada kami ayah
dan anak, maka kami akan menantikan kedatangan kalian di
tempat kediaman kami di Koh-soh."
Habis itu la lantas gandeng tangan ayahnya dan mengajak
meninggalkan gedung itu.
"jadi begitu tega kau biarkan ayahmu tetap menderita
siksaan penyakit jahat itu?" tanya padri tua.
Wajah Buyung Hok tampak pucat pasi, ia tidak menjawab,
ia tarik tangan ayahnya dan segera hendak bertindak pergi.
"Nanti dulu!" bentak Siau Hong mendadak "Apakah kalian
hendak merat dengan begini saja. Masakah di dunia ini ada
perkara seenak ini? Kalau ayahmu menderita penyakit,
seorang laki-laki sejati tidak nanti menyerang orang yang
sedang terancam bahaya, maka bolehlah dia dilepaskan. Tapi
kau sendiri kan sehat dan kuat!"
Buyung Hok menjadi naik darah, Ia balik membentak, "Jika
begitu, biarlah aku melayani Siau-heng saja!"
Siau Hong bahkan tidak bicara lagi dan kontan
menghantam dengan jurus "Kian-liong-cai-thiat” (nampak
naga di sawah), salah satu jurus serangan hebat dan Hangliong
sip-pat-ciang.
Melihat serangan hebat itu, cepat Buyung Hok
mengerahkan seluruh tenaganya dan menangkis dengan
kedua tangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Omitohud! Tempat suci ini jangan dibuat gaduh oleh kalian
sehingga membikin marah Budha," kata si padri tua sambil
merangkap kedua tangannya di depan dada.
Aneh juga, rangkapan kedua tangan padri tua itu seketika
berubah menjadi serangkum tenaga yang mirip dinding tak
berwujud dan tak teruntühkan serta mengalang di tengahtengah
antara Siau Hong dan Buyung Hok sehingga tenaga
pukulan kedua orang yang maha dahsyat itu tertumbuk pada
dinding tak berwujud itu dan hilang sirna tanpa bekas bahkan
tanaga pukulan Siau Hong itu terasa t¡dak terpental balik
sedikit pun, tapi sama sekali lenyap ke dalam dinding tak
kelihatan itu.
Siau Hong terkesiap. Setama hidupnya belum pernah ia
temukan tandingan ia yakin biarpun ilmu silat Hi-tiok sangat
aneh dan lihai, ilmu pedang Toan Ki juga maha sakti namun
kepandaian kedua adik angkat itu toh masih kalah setingkat
daripada dirinya. Tapi sekarang padri tua yang tak terkenal ini
ternyata memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada
dirinya, maka terang balas dendam hari ini pasti takkan
terkabul.
Dasar Siau Hong memang sangat berbakti kepada orang
tua, teringat keadaan sang ayah, segera ia memberi hormat
dan berkata kepada si padri tua, "Caihe adalah orang kasar
dan tidak kenal sopan-santun, harap Sinceng suka memberi
maaf."
"Mana, mana! Loceng justru sangat mengindahkan Siaukisu,
sebutan ksatria sejati hanya engkau saja yang pantas
memperolehnya," kata si padri tua dengan tersenyum.
"Ayahku telah berdosa karena banyak membunuh orang,
sebab musababnya adalah lantaran diriku," ucap Siau Hong
pula. "Maka mohon Sinceng sukalah menyembuhkan luka
ayah, untuk segala dosa beliau itu biarlah Caihe yang akan
menanggungnya, biar mati pun Caihe rela."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Padri itu tersenyum, sahutnya, "Tadi sudah kukatakan jika
ingin menyembuhkan luka dalam Siau-lokisu, untuk itu harus
dicari melalui ajaran Budha. Budha timbul dari dalam hati,
Budha adalah kesadaran. Orang lain hanya dapat memberi
petunjuk saja dan tak dapat membantu dengan kekuatan.
Sekarang ingin kutanya Siau-lokisu, jika engkau dapat
menyembuhkan lukamu, apakah engkau juga mau
menyembuhkan luka Buyung-lokisu?"
Siau Wan-san melengak, sahutnya kemudian, "Aku di ...
disuruh menyembuhkan luka Buyung, .. Buyung si laknat itu?”
"Mulutmu harus kenal balas,...tahu?" bentak Buyung Hok
dengan gusar.
"Hm,..si laknat tua Buyung itu telah membunuh istriku
tercinta, dan menghancurkan hidupku ini, aku justru ingin
mencencangnya hingga hancur luluh," sahut Siau Waa-san
dengan mengertak gigi.
"O, jadi sebelum Siau-lokisu menyaksikan binasanya
Buyung-lokisu, maka dendam tetap tak terlampias?" tanya si
padri tua.
"Ya," jawab Siau Wan-san tegas. "Aku sembunyi selama 30
tahun di Siau-lim-si, maksud tujuanku justru ingin membalas
dendam."
"Apa susahnya untuk itu?" ujar si padri tua sambil
mengangguk. Tiba-tiba ia berbangkit dan mendekati Buyung
Bok dangan pelahan, mendadak ia mengangkat sebelah
tangannya terus menabok kepala Buyung Bok.
Tadinya Buyung Bok tidak menaruh perhatian apa-apa atas
diri padri tuà itu, demi nampak batok kepalanya mendadak
dihantam, cepat la angkat tangan untuk menangkis,
berbareng tubuhnya lantas menggeser mundur.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua gerakan ini luar biasa cepat dan tepatnya sehìngga
Siau Wan-san dan Siau Hong juga diam-diam mengagumi
kepandaian Buyung Bok itu.
Tak tersangka tabokan padri tua itu tetap dilanjutkan
dengan perlahan dan tahu-tahu "plok", dengan tepat "Pekhwe-
hiat" di ubun-ubun kepala Buyung Bok kena ditabok.
Nyata tangkisan dan geseran Buyung Bok tadi sama sekali tak
dapat menolong dirinya dari serangan itu.
"Pek-hwe-hiat" adalah hiat-to paling lemah dan mematikan
di tubuh manusia, maka begitu kena tabokan itu seketika
tubuh Buyung Bok tergetar, napas lantas terhenti badan terus
roboh ke belakang.
Keruan Buyung Hok terkejut, cepat ia memburu maju dan
memayangnya sambil berteriak-teriak, "Ayah! Ayah!"
Ia lihat mata dan mulut sang ayah terkatup rapat, napas
sudah berhenti, waktu ia raba dadanya, ternyata jantungnya
juga berhenti berdenyut. Sungguh duka dan gusar Buyung
Hok tak kepalang sama sakali tak diduganya bahwa padri tua
yang mengoceh tentang welas-asih dan kebajikan segala itu
bias mendadak turun tangan keji dan membunuh ayahnya.
"Kau .... kau bangsat gundul tua bangka!" teriak Buyung
Hokz dengan murka. Ia sandarkan jenazah ayahnya di
samping tiang, lalu menubruk maju, kedua tangan
menghantam berbareng dengan dahsyat.
Tapi padri tua itu sama sekail tak ambil pusing. Ketika
tenaga pukulan Buyung Hok tampil mengenai tubuh si padri,
tahu-tahu terasa lepas tertumbuk pada dinding yang tak
berwujud bahkan Buyung Hok sendiri lantas terpental hingga
membentur sebuah rak kitab. Anehnya tenaga pukulan
Buyung Hok yang mengenai dinding tak berwujud itu seakanakan
punah, sebaliknya ia merasa seperti didorong oleh suatu
tenaga yang lunak sehingga punggungnya yang membentur
rak kitab itu tidak sampai membuat rak itu roboh, bahkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kitab-kitab yang penuh tertaruh di atas rak juga tidak terjatuh
sejilid pun.
Dasar Buyung Hok memang sangat cerdik, meski la sangat
berduka alas meninggalnya sang ayah, Tapi ia pun tahu ilmu
silat padri tua itu berpuluh kali lebih lihai daripada dirinya, jika
pakai kekerasan terang tiada gunanya. Maka ia lantas
bersendar di rak buku itu, pura-pura terengah-engah
napasnya, tapi diam-diam memikirkan tindakan apa yang
harus diambil atau mesti menggunakan serangan kilat di luar
dugaan lawan.
Namun si padil itu lantas berpaling kepada Siau Wan-san
dan berkata, "Tadi Siau-lokisu menyatakan ingin menyakinkan
sendiri kematian Buyung-lokisu untuk melampiaskan dendam
kesumatmu selama ini. Sekarang Buyung lokisu sudah
meninggal, apakah dendam Siau-lokisu sudah terlampias?"
Siau Waa-sao sendiri sangat terperanjat melihat Buyung
Bok ditabok mati oleh padri tua itu. Maka la menjadi bingung
dan tak dapat menjawab pertanyaan itu.
Selama 30 tahun ini Siau Wan-san selalu berusaha hendak
membalas dendam kematian sang istri, baru tahun terakhir ini
dia mengetahui duduknya perkara, la telah membunuh para
ksatria yang dulu ambil bagian dalam peristiwa berdarah diluar
Gan-bun-koan itu, sampai Hiat-koh Taisu dan Kiau Sam-hoai
suami istri juga dibunuh olehnya.
Akhirnya diketahuinya pula bahwa "Toako Pemímpin." yang
dicari itu adalah ketua Siau-lim-si, Hian-Cu Hongtiang,
malahan di depan para ksatria segenap penjuru itu
dibongkarnya pula borok Hian-cu yarg mengadakan
perzinahan dengan Yap Ji-nio, maka sakit hatinya boleh
dlkatakan terbalas dengan sangat sempurna pula.
"Tapi kemudian demi nampak kematian Hian-cu itu
dilakukan dengan gilang gemilang dan secara ksatria, samarsamar
dalam lubuk hati Siau Wan-san terasa perbuatannya itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
agak keterlaluan, malahan kematian Yap Ji-nio juga membuat
perasaannya agak tidak enak. Cuma waktu itu iamendapat
tahu pula bahwa biangkeladi yang membikin peristiwa
berdarah itu tak lain tak bukan adalah Buyung Bok alias si
padri jubah putih yang telah sama-sama bersembunyi dalam
Siau-lim-si sama pernah bergebrak beberapa kali dengan
dirinya itu, maka antera amarah Siau Wan-san lantas
tertumplek atas diri Buyung Bok.
la sudah terlalu benci kepada musuh itu sehingga ingin
dapat roakan dagingnya dan mengunyah kulitnya. Sungguh
kalau bisa ia ingin mencabut ototnya dan membakar tulangnya
sekaligus untuk membalas dendam. Siapa duga mendadak
muncul seorang pudrí tua yang tak dikenal dan dengan mudah
sekali musuh besarnya itu dltabok mati olehnya. Seketika Siau
Wan-san menjadi bingung dan seakan-akan kehilangan
pegangan hidup lagi.
Pada waktu mudanya, dengan segenap jiwa-raga Siau
Wan-san ingin berjuang bagi nusa dan bangsanya, ingin
namanya tersohor dan tercatat dalam lembaran sejarah. Dia
adalah teman main sejak kecil dengan istrinya, keduanya
saling mencintai.
Sesudah menikah dan melahirkan putra pertama, semangat
patriot Siau Wan-san semakin berkobar dan cita-citanya
semakin tinggi. Tak tersangka lantas terjadi peristiwa yang
mengenaskan di luar Gan-bun-koan, di sana ia sendiri gagal
membunuh diri.
Namun kejadian Itu telah mengubah seluruh pandangan
hidupnya, ia merasa segala nama dan tugas, harta dan
kedudukan, segalanya mirip sampah belaka, yang terpikir
olehnya siang dan malam adalah cara bagaimana menuntut
balas.
Sebenarnya dia adalah seorang ksatria yang berjiwa besar
dan sangat bijaksana, tapi karena dendam kesumat itu dangan
sendirinya wataknya makin lama makin menyendiri dan aneh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ditambah lagi telah bersembunyi berpuluh tahun di dalam
Siau-lim-si, siang tidur dan malam keluar, dengan giat ia latih
ilmu silat, selama itu jarang bicara dengan orang, maka tidak
heran kalau perangainya juga berubah luar biasa.
Sebenarnya dia harus merasa puas dan senang karena
musuh-musuhnya yang dibenci itu satu persatu telah terbunuh
olehnya atau mati di hadapannya. Tapi dia justru merasa
sangat sunyi dan hampa, la merasa tiada sesuatu tujuan hidup
lagi di dunia Ini, biarpun hidup terus juga percuma.
Ia coba melirik ka arah Buyung Bok yang bersandar di tiang
itu, tertampak wajah Buyung Bok tenang-tenang saja dengan
mengulum senyum seakan-akan kematiannya itu lebih
menyenangkan daripada hidup.
Begituldh dalam hati Siau Wan san berbalik merasa Buyung
Bok lebih beruntung, sesudah mati maka tamatlah segalanya.
Dalam sekejap itu timbul macam-macam pikiran.
Musuhnya sekarang sudah mati semua, sakit hatinya sudah
terbalas. Tapi ke mana dirinya harus pergi? Apa pulang ke
negeri Liau dan hidup tirakat di luar Gan bun-koan sana? Atau
mengembara tanpa arah tujuan bersama anak Hong?
Tapi ia merasa kemana pun tetap tiada artinya lagi.
Tiba tiba sí padri tua membuka suara pula, "Siau-lokisu,
Jika engkau hendak pergi bolehlah silahkan!”
"Tidak ... tidak," sahut Wan-san dengan menggeleng, "Ke
mana aku harus pergi? Aku tak bisa pergi ke mana-mana."
"Aku yang membunuh Buyung-lokisu sehingga engkau tidak
dapat membalas dendam dengan tangan sendiri, maka
engkau merasa menyesal bukan?" tanya si padri tua.
"Bukan," sahut Wan-san. "Andaíkan tidak kau binasakan dia
juga aku tidak ingin membunuh dia lagi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya, tetapi karena kematian ayahnya itu. Buyung-siauhiap
ini sekarang akan menuntut balas padaku dan padamu, lantas
bagaimana baiknya?" tanya si padri.
Dengan rasa hampa dan putus asa Siau Wan-san
menjawab, "Taisu cuma mewakilkan aku membunuh musuh,
Jika Buyüng-siauhíap mau menuntut balas bagi ayáhnya,
biarlah dia tunjukan padaku saja."
Mendadak ia menghela napas, lalu berkata pula, "Ya,
bolehlah dia mencabut nyawaku saja. Anak Hong, kaupun
boleh pulang saja ke negeri Lian, urusan kita sudah selesai,
jalan sudah mencapai titik akhirnya."
"Ayah, engkau ... " seru Siau Hong.
Tapi si padri tua lantas berkata, "Bila engkau dibunuh
Buyung-siauhiap tentu putramu juga pasti akan menuntut
balas pada Buyung-siauhiap, cara balas membalas ini bilakah
terakhir? Maka lebih baik segala dosa biarlah kupikul saja,
semuanya aku yang menanggungnya!"
Habis berkata ia terus melangkah maju, la angkat
tangannya dan menghantam kepala Siau Wan-san.
Keruan Siau Hong terkejut, karena tadi sudah terjadi, ia
tahu bila padri itu dapat sekali tabok membinasakan Buyung
Bok, maka dengan sendirinya dengan sekali tabok juga
ayahnya akan terbunuh. Tanpa pikir lagi ia membentak, "Nanti
dulu!”
Berbareng kedua tangannya menghantam sekaligus ke
pada si padri tua.
Sebenarnya Siau Hong sangat kagum dan mengindahkan
padri tua itu, tapi sekarang demi untuk menolong sang ayah,
la tidak paduli bahwa pukulan kedua tangannya ini membawa
seluruh tenaganya yang maha dahsyat dan maha kuat biarpun
berotot kawat tulang besi juga akan binasa seketika.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun dengan tangan kiri padri tua itu sempat menahan
tenaga pukulan yang dilontarkan Siau Hong, sedang tangan
kanan masih terus menabok kepala Siau Wan-san.
Siau Wan-san sendiri sama sekali tidak berpikir untuk
menghindar atau menangkis serangan itu. Maka tampaknya
telapak tangan kanan si padri tua segera akan mengenai "Pekhwe-
hiat" di ubun-ubun kepalanya.
Sekonyong-konyong padri itu membentak sekali, tabokan
itu tiba-tiba berubah arah dan menghantam Siau Hong.
Saat itu tenaga pukulan kedua tangan Siau Hong sedang
saling tolak dengan tangan kiri si padri, ketika mendadak
melihat tangan kanan lawan ganti haluan dan menyerang ke
arahnya, cepat Siau Hong tarik kembali tangan kirinya untuk
menangkis sambil berseru "Ayah, lekas lari! Lekas!"
Tak terduga bahwa perubahan pukulan padri tua itu hanya
tipu pancingan belaka sekadar mengurangi daya tekanan
kedua tangan Siau Hong, ketika Siau Hong menarik sebelah
tangannya, segera padri tua itu juga putar balik tangan
kanannya, maka terdengarlah suara "plak" pelahan, dangan
tepat ubun-ubun kepala Siau Wan san kena ditabok.
Dan pada saat itu juga pukulan tangan kanan Siau Hong
juga sudah tiba, "blang", dengan tepat dada padri tua kena
dihantam, "krak-krek", beberapa tulang iga si padri patah.
Namun dengan tersenyum padri tua itu masih berkata,
"Sungguh kepandaian yang bagus! Hang-liong-sip-pat-ciang
memang ilmu pukulan nomor satu di dunia."
Baru selesai ucapannya, tanpa ampun lagi darah segar
terus menyembur dari mulutnya.
Siau Hong tertegun sejenak kemudian ia memayang
bangun tubuh ayahnya. Ia lihat napas sang ayah sudah putus,
denyut Jantungnya juga sudah berhenti, terang orangnya
sudah meninggal.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat itulah tiba-tiba di bawah sana ada suara seruan
orang, "Apa barangkali berada di atas Cong-keng-kok ini?”
Menyusul terdengar beberapa orang sedang lari
mendatangi.
"Sudah saatnya, marilah pergi!” kata si padri tua dan
segera ia memjambret leher baju jenazah Siau Wan San
dengan tangan kanan, sedang tangan kiri dipakai menjambret
leber baju jenazah Buyung Bok, lalu dengan langkah lebar ia
melayang ke luar jendela.
"Kau ... kau hendak ke mana?" bentak Siau Hong dan
Buyung Hok berbareng, sekaligus mereka pun sama-sama
menghantam punggung si padri tua.
Hanya sedetik sebelum itu mereka hendak bertempur matimatian,
tapi sekarang ayah masing-masing telah dibunuh
orang dalam menghadapi musuh bersama mereka lantas
berdiri di Satu pihak dan bersama-sama mengejar musuh.
Gabungan tenaga pukulnn mereka berdua sudah tentu
maha dahsyat. Tapi tubuh si padri tua mirip layang-layang
saja, di bawah dorongan tenaga pukulan Siau Hong dan
Buyung Hok itu ia malahan dapat melayang pergi beberapa
meter jauhnya dengan masih tetap menjinjing dua sosok
tubuh yang sudah tak bernyawa, kemudian ketiga sosok tubuh
turun ke atas tanah dengan cepat dan ringan bagai burung
terbang.
Sekali lompat segera Siau Hong mengudak keluar jendela.
Ia lihat padri tua itu berjalan ke atas gunung dengan
menggondol dua sosok mayat. Dengan mempercepat
langkahnya Siau Hong menduga dalam beberapa tindak saja
dapat menyusul sampai di belakang si padri tua.
Tak terduga bahwa ginkang padri itu benar-benar luar
biasa anehnya dan seperti memiliki ilmu gaib seja, biarpun
Siau Hong mengejar dengan sepenuh tenaga, jaraknya
dengan si padri tetap ada belasan meter jauhnya, berulang ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pun melontarkan pukulan dari jauh, tapi jaraknya dengan si
padri tetap belasan meter jauhnya, berulang-ulang ia pun
melontarkan pukulan lagi dari jauh, tapi selalu mengenai
tempat kosong.
Maka jauh makin tinggi si padrì menuju ke atas gunung, ia
berputar-putar di antara lereng gunung itu dan akhirnya
sampai di suatu tanah lapang di tengah sebuah hutan, di
situlah ia meletakkan kedua mayat yang dibawanya itu di
bawah sebatang pohon, Ia dudukkan kedua sosok jenazah itu
dengan gaya bersila, lalu ia, sendiri duduk di belakang kedua
mayat, kedua tangannya menahan punggung kedua mayat.
Dan baru saja ia duduk, sementara itu Siau Hong pun sudah
menyusul tiba.
Biarpun Siau Hong tampaknya kasar, menghadapi sesuatu
urusan ia bisa berlaku teliti dan cerdik. Demi melihat tingkah
laku padri tua itu agak luar biasa, maka la pun tidak mau
sembarangan bertindak pula. Ia dengar si padri tua berkata,
"Aku membawa mereka berjalan-jaian untuk melemaskan otot
dan melancarkan darah mereka.”
Hampir-hampir Siau Hong tidak percaya pada telinganya
sendirl. Manakah mungkin mengajak jalan-jalan orang mati
dan katanya untuk melemaskan otot dan melancarkan jalan
darah mereka, apakah maksud yang sebenarnya?
Saking herannya ia coba menegas, "Melemaskan otot dan
melancarkan darah mereka?"
"Ya, karena luka dalam mereka terlalu parah, maka mereka
harus dibiarkan istirahat dulu untuk kemudian baru
disembuhkan,” kata si padri.
Siau Hong terkesiap, sungguh ia tidak habis mengerti,
"Apakah ayah belum meninggal? Jadi padri ini sedang
berusaha menyembuhkan luka dalam ayah? Masakah di dunia
ini ada cara penyembuhan demikian dengan membunuh si
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penderita lebih dulu untuk kemudian baru
menyembuhkannya?"
Dalam pada itu Buyung Hok, Cumoti. Hian seng, Hian-ceng,
Sin-kong Siangjin dan lain-lain juga sudah menyusul tiba.
Mereka lihat ubun-ubun kedua jenazah yang digondol lari si
padri tua itu tiba-tiba mulai mengepulkan hawa putih yang
tipis.
Sejenak kemudian si padri tua lantas memutar kedua
mayat sehingga muka berhadapan muka, lalu keempat tangan
mayat itu diaturnya hingga saling menjabat tangan.
"Apa ... apa yang kau lakukan ini? Tanya Buyung Hok
dengan bingung.
Tapi si padri tua tidak menjawabnya la mulai mengitari
kedua sosok mayat dengan langkah pelahan sambil berulangulang
menutuk, terkadang menutuk 'Tai-cui-hiat' di bahu Siau
Wan-san lain saat ia menabok 'Giok-cin-hiat' di punggung
Buyung Bok. Sedangkan hawa putih yang menguap dari ubunubun
kedua mayat itu semakin lama makin tebal.
Lewat beberapa saat lagi sekonyong-konyong badan Sian
Wan-san dan Buyung Hok berbareng sama-sama bergarak
satu kali.
Keruan Siau Hong dan Buyung Hok terkejut dan bergirang.
"Ayah!" seru mereka bersama.
Sejenak kemudian Siau Wan-san dan Buyung Bok
membuka mata dengan pelahan. sesudah saling pandang
sekejap. Lalu mata mereka terpejam pula. Air muka Siau Wansan
tampak merah bercahaya. sebaliknya air muka Buyung
Bok pucat Menghijau.
Baru sekarang semua orang paham sebabnya padri tua itu
menabok mati dulu kedua orang itu adalah supaya mereka
berhenti bernapas dan jantung berhenti berdenyut, rupanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cara demikian adalah semacam ilmu penyembuhan luka dalam
yang parah.
Jadi tujuan si padri tua sebenarnya adalah baik, hal ini
mestinya dia dapat menerangkan sebelumnya, kenapa dia
sengaja bergurau sehingga Siau Hong dan Buyung Hok dibikin
kuatir dan marah, malahan dia sendiri sampai merasakan
pukulan dahsyat Siau Hong sehingga tumpah darah.
Begitulah semua orarg merasa heran dan tidak habis
mengerti. Dalam pada itu si padri tua kelihatan masih sibuk
menutuk dan menabok dengan penuh perhatian atas kedua
penderita, semua orang tidak berani membuka suara dan
bertanya.
Sebaliknya terdengar suara napas Siau Wan San dan
Buyung Bok dari pelahan mulai cepat dan dari lemah berubah
menjadi kuat.
Menyusul air muka Siau Wan-san tampak semakin merah
sampai akhirnya seakan-akan merah berdarah. Sebaliknya air
muka Buyung Bok tambah hijau mengerikan. Dan tubuh kedua
orang itu pun tampak gemetar agaknya keadaan mereka juga
agak berbahaya.
Semua orang yang menyaksikan itu tahu bahwa air muka
merah itu menandakan hawa Yang terlalu keras, suhu badan
terlalu panas bagai dibakar. Sebaliknya air muka hijau
menunjukkan hawa Im terlalu besar, hawa dingln yang
mengeram dalam badan terlalu kuat.
Pada saat lalu mendadak terdengar si padri tua
membantak, "Haahh! Keempat tangan saling berpegang,
tenaga dalam saling membantu. Im membantu Yang dan Yang
mengurangi Im. Pikiran yang angkara murka pandangan yang
bermusuhan jagat dewa batara hilang s irna!"
Karena bentakan si padri tua, tiba-tiba dua pasang tangan
Siau Wan-san dan Buyung Bok yang tadinya saling genggam
itu lantas saling pegang dengan lebih eral hawa murni masingTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
masing lantas membanjir pula pada badan lawan sehingga
tercampur baur dan saling membantu kekurangan masingmasing,
Lalu air muka kedua orang sama-sama berubah
menjadi putih pucat, tak lama kemudian kedua orang samasama
membuka mata dan saling tertawa dengan penuh arti
antara sahabat karib.
Sungguh girang Siau Hong dan Buyung Hok tak terkatakan
demi melihat ayah mereka sudah hldup kembali dangan sehat.
Maka tertampaklah kedua orang tua itu lantas bergandengan
tangan dan sama-sama berlutut di hadapan si padri tua.
Lalu berkatalah padri tua itu, "Kalian berdua dari hidup
sampai mati dan dari mati kembali hidup lagi apakah sekarang
masih ada sesuatu yang tak terlepaskan dari pikiran kalian?
Jika tadi kalian lantas mati untuk seterusnya, apakah kalian
masih dapat berpikir tentang membangun kembali kerajaan
Yan atau menuntut balas terbunuhnya istri segala?"
"Tecu telah menjadi hwesio selama 30 tahun di siau-lim-si
secara menyamar dan dengan sendirinya tiada sedikit pun
rasa kesadaran sebagai murid Budha, maka diharap Suhu suka
menerima Tecu," sahut Siau Wan-san.
"Apa engkau tidak ingin lagi membalas sakit hati
terbunuhnya istrimu?" tanya si padri.
"Selama hidup Tecu juga banyak membunuh orang, bila
anggota keluarga orang-orang yang kubunuh itu juga sama
menuntut balas padaku, maka biar Tecu mati seratus kali juga
tidak cukup untuk memenuhi tuntutan mereka," ujar Wan-san.
"Dan engkau bagaimana?" tiba-tiba si padri tua berpaling
pada Buyung Bok.
Buyung Bok tersenyum dan berkata, "Rakyat jelata adalah
manusia, raja juga manusia, Kerajaan Yan dibangun kembali
atau tidak semuanya adalah kosong belaka!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagus, engkau telah mencapai kebijaksanaan dan
memperoleh kesadaran Siancai! Siaocai!" sabda si padri.
"Mohon Suhu menerima Tecu dan banyak memberi
petunjuk pula," pinta Buyung Bok.
"Kalian ingin pelepasan diri dan menjadi padri, untuk itu
kalian harus minta diterima para Taisu dari Siau-lim-si," kala si
padri tua. "Sekarang ada beberapa patah kata boleh juga
kuuraikan lagi kepada kalian."
Begitulah lalu padri tua itu memberi khotbah lagi. Siau
Hong dan Buyung Hok juga lantas ikut berlutut di depannya.
Ketika khothah padri tua itu sedemikian bagusnya sehingga
Hian-seng, Sin-kong. To-jing, Cilo, Polo Singh dan lain-lain
sangat tertarik maka tanpa terasa akhirnya mereka pun
berlutut untuk mendengarkan khotbah ... "
Begitulah maka pada waktu Toan Ki sampai di situ, saat
mana si padri tua asyik memberi penjelasan arti khotbahnya
yang penuh filsafat itu, Karena ingin melihat bagaimana wajah
padri tua itu, maka Toan Ki berputar ke depan sana, siapa
tahu Cumoti mendadak menyerang hingga dadanya terkena
tutukan 'Hwe-yam-bo' yang lihai.
Toan Ki lantas tak sadarkan diri dan entah berselang
berapa lama baru siuman kembali. Waktu ia buka mata
pertama-tama yang tertampak olehnya adalah langit-langit
kelabu, menyusul ia tahu dirinya tidur di atas ranjang dengan
berselimut.
Karena seketika itu pikirannya belum jernih sama sekali,
maka ia coba mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi.
Ia ingat telah kena serangan Cumoti, tapi ia tidak mengerti
mengapa bisa berada di tempat tidur itu!
Ia merasa haus sekali dan segera ingin bangun, tapi sedikit
bergerak saja dadanya lantas terasa sakit tidak kepalang
sehingga dia menjerit pelahan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maka terdengarlah suara seorang wanita muda berkata dl
luar, "Ah...Toan-kongcu sudah mendusin!"
Dari nada ucapannya itu agaknya merasa sangat girang.
Toan Ki merasa suara wanita muda itu sudah dikenalnya.
Dan baru d¡a mengingat-ingat siapakah geranganya, tiba-tiba
seorang anak dara melangkah masuk drngan tindakan cepat,
Tertampaklah sebuah wajah bulat telur, pipi terdapat sebuah
lekuk kecil yang manis. Kiranya Ciong ling adanya, si nona cilik
yang dahulu berjumpa dengan Toan Ki di sarang orang-orang
'Buliang-kiam' [baca jilid ke 1).
Ayah Ciok Ling, yaitu Ciong Ban-siu, berjuluk 'Kim-jin-cinsat'
(ketemu orang lantas bunuh), adalah musuh Toan Cingsun,
ayah Toan Ki. Ketika mengetahui Toan Ki adalah putra
musuh besarnya, Ciong Ban-siu lantas ikut mengatur tipu
muslimat hendak membunuhnya.
Tak tersangka ketika Toan Ki keluar dari rumah batu
tempat dia semula dikurung, tahu-tahu ia membawa seorang
gadis yang keadaan pakaiannya sudah tak karuan, dan gadis
itu ternyata adalah Ciong Ling, jadi Ciong Ban siu tidak
berhasil membikin celaka Toan Ki, sebaliknya membikin malu
putrinya sendiri, Keruan dia keki setengah mati.
Kemudian Ciong Ling digondol lari oleh In Tiong-ho dan tak
diketahui mati hidupnya, terkadang bila ingat akan kejadian
itu, betapapun Toan Ki merasa sedih dan menyesal. Siapa
duga sekarang dapat bertemu kembali dengan anak dara itu di
sini.
Begitülah, maka wajah Ciong Ling menjadi merah juga
ketika sinar matanya berbentruk dengan pandangan Toan Ki.
Tapi ia lantas menegur dengan tersenyum-senyum, "Tentu
engkau sudah lupa padaku bukan? Apa masih ingat aku ini
siapa?"
Melihat sikap Ciong ling itu, dalam benak Toan Ki tiba-tiba
terbayang pula adegan masa dahulu waktu Ciong Ling duduk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di atas belandar kedua kakinya berayun-ayun sambil
menyisilkuaci. Sungguh aneh juga, sampai sekarang ia pun
masih ingat betul sepatu yang dipakai si nona yang berwarna
hijau bersulam bunga kuning kecil itu. Tanpa terasa ia lantas
tanya, "Eh, ke mana sepatumu yang bersulam bunga kuning
itu?"
Kembali wajah Ciong ling bersemu merah ia tidak manduga
bahwa Toan Ki ternyata masih ingat kepada sepátunya itu, hal
ini menandai kau bahwa pemuda itu tidak melupakan dia.
Maka dengan tersenyum ia menjawab, "Sudah lama rusak,
heran juga engkau masih ingat tentang itu?"
"Dan kenapa kamu tídak makan kuaci lagi?” tanya pula
Toan Ki dengan tertawa.
"Aih, engkau ini sungguh terlalu! Orang lagi kuatir setengah
mati selama beberapa hari merawat lukamu ini, masakah
masih ada waktu iseng untuk makan kuaci segala?" jawab
Ciong Ling. Tapi segera ia merasa jawabannya itu terlalu
menonjolkan perasaan yang sebenarnya terhadap Tuan Ki
maka kembali wajahnya merah lagi.
Dengan termangu-mangu Toan Ki memandangnya. selang
sejenak baru bertanya pula, "Dan di mana kau punya Kimleng-
cu, itu ular kecil berwarna emas?”
"Aku sudah lama terlunta-lunta dl luar dan tidak pernah
pulang ke rumah dari mana bisa membawa ular segala?"
sahut Ciong Ling.
"O. ya. tempo hari kamu digondul lari oleh 'Kiong-hiongkek-
ok' In Tiong-ho," kata Toan Ki tiba tiba. "Wah, aku
menjadi kuatir sekali, Cuma sayang aku tidak mahir ilmu silat,
terpaksa aku suruh muridku si Lam-hai Gok sín untuK
menolongmu. Dan entah cara bagaimana kau dapat
menyelamatkan diri sungguh aku sangat kuatir."
"Muridmu itu ternyata sangat setia padamu,sahut Ciong
Ling dengan tertawa. "Meski ginkang si jangkung itu sangat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hebat, tapi ia membawa diriku dengan sendirinya kurang
leluasa larinya. Maka cuma beberapa li jauhnya ia sudah
tersusul oleh muridmu .... "
Sampai di sini ia berhenti, sikapnya tampak malu-malu
kikuk.
"Lalu bagaimana?" tanya Toan Ki.
Mendadak Ciong Ling tertawa, "Hihi, coba kau terka cara
bagalmane muridmu itu memanggil aku? Sungguh aku
menjadi dongkol dan geli pula."
Melihat gaya Ciong Ling yang malu-malu kucing dan
menggiurkan itu, hati Toan Ki terguncang. Teringat olehnya
apa yang dikatakannya dahulu, maka jawabnya dengan
tersenyum, "Ya, dengan sendirinya muridku itu memanggilmu
sebagai 'Sunio' (Ibu guru), betul tidak?"
Dengan tersenyum simpul Ciong Ling lantas bercerita,
"Ketika itu aku dikempit oleh durjana itu, aku meronta-ronta
sekuatnya, tapi tak bisa melepaskan cengkeramannya.
Sungguh hatiku ketakutan setengah mati, tapi aku pun
mendengar muridmu sedang menguber sambil berteriakteriak!
dengan suaranya yang serak, "Sunio! Sunio! Boleh
mengitik-ngitik ketiaknya, si jangkung itu paling takut geli!"
"Hah, kebetulan," pikirku. Mengitik-ngitìk justru adalah
kepandaianku yarg khas. Maka dengan segera aku mengulur
tangan hendak mengitik-ngitik ketiak durjana itu. Tak terduga
baru saja jariku menempel ketiaknya, belum lagi aku mengkilikili,
tahu-tahu dia sudah terkekeh-kekeh lebih dulu. Dan
karena tertawanya itu larinya menjadi kendur, maka dengan
segera dia dapat disusul oleh muridmu. Gak-losam, kamu kena
diakali orang! seru durjana jangkung itu. Tapi Gak losam
menjawab. Diakali atau tidak, pendek kata lekas kau lepaskan
ibu guruku, kalau tidak, ini rasakan senjataku gunting congor
buaya itu!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Karena terpaksa maka aku dilepaskan oleh durjana
jangkung itu," demikian Ciong Ling melanjutkan ceritanya.
"Dan pada waktu dia lengah segera aku mengitik-ngitik dia
sehingga durjana itu menungging sambil memegangi perutnya
dan terkakak-kakak saking gelinya, semakin dia tertawa
semakin menjadi, aku mengitik-ngitik sampai dia terbatukbatuk
dan mengucurkan air mata. Akhirnya Gak-losam
memintakan ampun baginya, Sunio, boleh mengampuni dia
saja, kalau mengitik-ngitik lagi, jika sampai napasnya sesak,
mungkin dia bisa mati!"
"Aku menjadi heran, ilmu silat durjana itu sangat tinggi
masakah bisa mati terkili-kili saking geli? Maka jawabku, Ah,
masa ya? Aku tidak percaya, ingin kucoba! Tapi Gak losam
mencegah, "Eh. jangan! Mana boleh dicoba sekali dia mampus
tentu tak bisa dihidupkan lagi. Kelemahan setan jangkung ini
justru terletak pada Thian-cong-hiat di bawah katiaknya,
tempat itu tidak boleh tersentuh sedikit pun.”
"Karena itulah aku tidak jadi mengitik-ngitik dia lagi. Ketika
durjana itu sudah berdiri tegak kembali, dia melotot padaku,
habis itu mendadak ia meludahi Gak-losam sambil memaki,
"Buaya mampus, buaya bacinl Tempat kelemahanku kenapa
kau beritahukan kepada orang luar?”
"Eeh, kau berani memaki orang!” aku mengomel sambil
mengulur tangan hendak mengitik-ngitiknya lagi, Tak
tersangka sekali ini perbuatanku tidak manjur lagi, mendadak
durjana jangkung itu mengayunkan kakinya sehingga aku
kena ditendang terjungkal lalu ia tinggal pergi. Cepat Gaklosam
membangunkan aku sambil bertanya, Sunio, sakit tidak?
"Pada saat itulah tiba-tiba tertampak ayahku memburu tiba
dengan golok terhunus sambil berteriak-teriak, Budak celaka,
kenapa kamu diam di sini, apa ingin mampus? Segera Gaklosam
menoleh dan memaki, "Kurang ajar! Apa mulutmu
minta di sikat ya?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ayahku menjadi gusar sahutnya. Aku memaki anak
perempuanku sendiri, peduli apa denganmu? Aneh juga entah
mengapa mendadak Gak-losam marah-marah. Ia tuding
ayahku dan mendamprat pula "Kau , .. kau bangsat kau berani
menarik keuntungan atas diriku? Biar ... . biar Gak-losam
mengadu jiwa denganmu?”
(Oo^o^dwkz^http://kangzusi.com/^o^oO)
Jilid 77
"Aneh, dimanakah pernah kutarik keuntungan darimü?
Sahut ayahku, Dengan marah-marah Gak-losam berkata,
Habis, dia kan ibu guruku dia lebih tua satu tingkatan
daripadaku, ini pun apa boleh buat, sebab memang demikian
halnya. Tapi sekarang kauberani mengaka sebagai bapaknya,
bukankah... bukankah kamu menjadi lebih tua dua tingkat dari
padaku? Hm, aku Gak losam selamanya bersinggasana di laut
selatan, di sana, siapa yang tidak memanggiku tuan besar
atau kakek-moyang. Tapi setiba di Tionggoan, dimana-mana
aku selalu lebih rendah satu-dua angkatan daripada orang
lain. Sungguh sialan! Maka aku tak mau lagi, ya, tidak mau!”
Ciong Ling memáng gadis lincah dan cerdik, bicaranya
mencorocos terus, cara menirukan lagu bicara Lam-hai-gaks¡
n Juga sangat mirip mau-tak-mau Toan Ki merasa geli juga.
Lalu si noná melanjutkan ceritanya, "Maka ayahku berkata,
Kau mau atau tidak masa bodoh, yang terang anak dara ini
adalah putriku, dengan sendirinya aku adalah bapaknya,
kenapa kau bilang aku mengaku-ngaku apa segala?”
"Rupanya kewalahan berdebat, mendadak Gak-losam
mencari-carl alasan, katanya, Sudah tentu kamu cuma
mengaku-ngaku saja. coba lihiat, Sunio begini cantik,
sebaliknya kamu sejelek siluman, mana mungkin kamu ini
ayahnya yang tulen? Tentu Sunioku ini putri orang lain dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bukan keturunanmu. Kamu adalah ayah palsu dan bukan
ayahnya yang asli!"
"Sungguh tidak kepalang murka ayahku, ia angkat golaknya
terus membacok Gak-losam. Cepat aku mencegahnya, "Ayah,
orang ini telah menyelamatkan aku dari gangguan orang jahat
tadi, harap jangan membunuh dia!"
"Sekonyong konyong ayah tambah murka, ia memaki
padaku, Budak busuk, memangnya sejak dulu aku sudah
curiga kamu bukan keturunanku yang sejati, sampai si tolol ini
pun berkata demikian, masakah urusan perlu disangsikan lagi?
Hm, biarlah kumampuskan dia dulu, habis itu akau kubunuh
dirimu dan kemudian membunuh pula ibumu!"
Seperti diketahui ibu Ciong Ling adalah bekas kekasih Toan
Cing-sun, ayah Toan Ki. Makin besar muka Ciong Ling juga
semakin cantik sehingga sedikit pun tidak memper muka
Ciong Ban-Siu yang lonjong bagai muka kuda itu, sudah tentu
rasa cemburu Ciong Ban-siu semakin menjadi-jadi dan
pikirannya juga senantiasa diliputi oleh rasa curiga.
Begitulah sampai di sini air mata Ciong Ling sendiri pun
berlinang-linang dan hampir-hampir menetes. Cepat Toan Ki
menghiburnya, "Jangan kuatir! Aku tahu ayahmu paling takut
bini, tidak nanti dia berani membunuh ibumu."
Ciong Ling tertawa, tanyanya, 'Eh, dari mana kau tahu?"
Karena tertawanya itu, air matanya yang tadinya berlinanglinang
di kelopak mata itu lantas meleleh ke pipi.
"Dahulu waktu aku menyampaikan berita kerumahmu di
Ban-jiat-kok, dengan mataku sendiri küsaksikan ayahmu
sangat penurut pada ibumu, sedikit pun tidak berani
membangkang perintahnya," sahut Toan Ki.
Ciong Ling menghela napas dan untuk sekian lamanya diam
saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kemudian bagaimana kenapa kamu sampai di sini?" tanya
Toan Ki.
"Waktu kulihat ayah dan muridmu bertempur dan seketika
sukar dilarai, maka aku lantas berteriak-teriak, Hai, Gak-losam,
kamu tidak boleh mencelakai ayahku!' Lalu aku berseru pula
'Ayah, jangan kau celakai Gak-losam! Dan tanpa
memperdulikan bagaimana kesudahan pertarungan meraka
itu, segera kutinggal pergi."
"Ya, ada baiknya juga jalan-jalan keluar untuk menghibur
diri," ujar Toan Ki.
"Sebenarnya aku hendak mencari dirimu, sudah kucari kian
kemari tatap tidak tahu ke mana harus mencarimu?" tutur
Ciong Ling. "Belum lama ini kudengar kabar bahwa para
ksatria seluruh jagat hendak berkumpul di Siau-lim-si, diamdiam
kupikir boleh jadi kaupun akan datang di sana maka aku
lantas berangkat ke Siau-lim-pai sini. Tapi aku sendiri bukan
kaum ksatria atau orang gagah segala, dengan sendirinya aku
tidak berani datang ke Siau-lim si dan terpaksa berkeliaran di
lereng gunung sini untuk mencari kabar dirimu pada setiap
orang yang kujumpai. Untung di sini ada sebuah rumah
kosong tanpa sungkan aku lantas tinggal di s ini."
"Dan berkat Tuhan Maha pengasih, akhirnya aku dapat
berjumpa denganmu," tukas Toan Ki dengan pelahan sambil
memegang tangan si nona yang masih terharu, terutama
mengingat si nona yang masih muda-belia itu telah terluntalunta
dirantau dan tentu tidak sedikit mengalami penderitaan
hidup, hal ini menandakan betapa cinta si nona kepadanya.
"Kau sendiri kenapa bisa berada di sini?" tanya Ciong Ling
sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Ya, aku justru ingin tanya padamu mengapa aku bisa
berada di sini?" sahut Toan Ki dengan mata terbelalak. "Aku
cuma ingat diserang oleh seorang hwesio jahat, dadaku kena
tikaman hawa pikirnya yang tak berrwujud sehingga terluka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
parah, tapi apa yang terjadi selanjutnya aku sendiripun tidak
tahu."
"ini benar-benar sangat aneh," kata Ciong Ling sambil
berkerut kening, "Kemarin sore,, waktu kupergi mencari sayur
di kebun dan kembalinya selagi hendak mengolah sayur itu
didapur, tiba-tiba kudengar di dalam kamar ada suara orang
merintih. Aku kaget, dengan membawa bando (pisau perajang
sayur) aku masuk ke dalam kamar. Kulihat di atas tempat
tidurku ada orang. Kutegur beberapa kali, tapi tiada jawaban,
Kukira pasti orang jahat yang hendak mengganggu aku, maka
dengan mengangkat bendo segera hendak kubacok orang
yang rebah di tempat tidurku itu. Wah, untung juga engkau
rebah dengan telentang sehingga sebelum batok kepalamu
pecah oleh senjataku keburu aku sudah mengenali mukamu
.... "
Berkata sampai di sini si nona tepuk-tepuk dada sendiri
dengan pelahan, suatu tanda hatinya masih berdebar debar
bila teringat kepada kejadian berbahaya waktu itu.
Toan Ki sendirl menduga mungkin tempat dia rebah
sekarang terletak tidak jauh dari Siau-lim-si maka sesudah
dirinya terluka parah, lalu ada orang menolongnya dan dibawa
ke kini.
Kemudian aku memanggilmu, tapi engkau merintih-rintih
saja dan tidak gubris padaku." tutur Ciong Ling pula. "Waktu
kuraba jidatmu, Wàh, panasnya bukan main. Kulihat bajumu
penuh darah, maka kutahu engkau terluka. Waktu kubuka
bajumu untuk periksa lukamu, ternyata sudah diperban
dengan baik dan rapi. Kukuatir mengganggu lukamu itu, maka
tidak berani kubuka perbannya. Aku menunggu lagi sampai
lama sekali dan engkau belum sadar juga. Ai, aku merasa
gìrang dan kuatir pula dan tidak tahu cara bagaimana harus
berbuat."
"Maaf, aku telah membuatmu ikut berkuatir, Sungguh aku
merasa tidak enak," ujar Toan Ki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sekonyong-konyong Ciong Ling menarik muka masam,
katanya, "Huh, engkau bukan manusia baik-baik, Tahu begitu,
tentu sejak dulu aku tidak mau pikirkan dirimu. Dari sekarang
juga aku tak mau peduli padamu lagi, apakah engkau akan
hidup atau mati, pandek kata aku tak peduli."
"Eh, ada apa? Kenapa mendadak marah?" tanya Toan Ki
dengan heran.
"Hm, kau tahu sendiri kenapa malah tanya padaku?" sahut
Ciong Liog dengan mendengus dan mencibir.
"Ai, aku benar ... benar tidak tahu," kata Toan Ki cepat. "O,
nonaku yang baik!, adikku yang manis, harap katakanlah apa
sebabnya?"
"Cih, siapa nonamu, siapa adikmu?" omel Ciong Ling "Apa
yang kaukatakan dalam mimpi tentu kautahu sendiri, kenapa
malah tanya padaku? Sungguh tidak genah."
"Apasih yang kukatakan dalam mimpi?" tanya Toan Ki
dengan gugup, "Itu kuucapkan dalam keadaan tak sadar dan
tidak boleh dianggap betul-betul. Oya, aku menjadi ingat.
Pasti dalam mimpi aku berjumpa denganmu, saking girangnyá
kata-kataku menjadi agak kasar sehingga membikin marah
padamu."
Mendadak Cing Ling termangu-mangu dan mencucurkan air
mata, katanya, "Sampai saat ini engkau masih mau mendustai
aku, Sebenarnya dalam mimpi engkau bertemu dengan
siapa?"
"Sesudah terluka aku lantas, ták sadarkan diri lagi, maka
aku benar-benar tidak tahu apa yang kukatakan waktu
mengigau," sahut Toan Ki.
"Siapa itu nona Ong? Nona Ong itu siapa?" seru Ciong Ling
mendadak dengan suara keras. "Mengapa waktu tak sadarkan
diri selalu kau sebut namanya?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Toan Ki menjadi pedih sahutnya, "Jadi aku menyebutnyebut
nama nona Ong?"
"Mengapa tidak? Dalam keadaan tak indar saja kausebut
namanya, apalagi sekarang, tentu sekarang kaupun terkenang
padanya," kata Ciong Ling. "Baiklah, boleh kau panggil kau
punya nona Ong untuk melayanimu saja aku tak mau peduli
lagi.”
Toan Ki menghela napas, sahutnya, "Tapi dalam hati nona
Ong justru tidak pernah terdapat orang macam diriku, biarpun
aku merindukan dia juga tiada gunanya."
"Sebab apa?"' tanya Ciong Ling.
"Dia cuma suka kepada Piaukonya, terhadap diriku dia itu
acuh tak acuh," sahut Toan Ki.
Ciong Ling berubah girang, katanya, "O, terima kasih
kepada langit dan bumi, ternyata orang jahat telah
mendapatkan ganjaran setimpal."
"Aku orang jahat, maksudmu?" tanya Toan Ki.
"Hábis, muridmu Gak losam adalah satu di antara Su ok,
muridmu saja sejahat itu, apalagi gurunya, sudah tentu
jahatnya tiada takaran." kata Ciong Ling.
"Dan bagaimana dengan sang ibu gurúnya?" Toan Ki
menambahkan dengan tertawa.
"Cis!" semprot Ciong Ling dengan wajah marah jengah, tapi
sedap dalam hati. Ia lantas berlari-lari ke dapur. Tidak lama
kemudian la kemudian membawa semangkuk kuah, katanya,
"Kuah ini sudah kusiapkan sejak tadi, hanya menunggu
engkau sadar kembali."
"O, banyak terima kasih," kata Toan Ki. Dan ketika melihat
si nona sudah dekat, segera ia bermaksud bangun untuk
menerima kuah itu, tapi lukanya lantas kesakitan sehingga
menjerit tertahan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jangan bangun, biar aku menyuapmü, kakek-moyang si
jahat," seru Ciong Ling.
”Kakek moyang si jahat apa maksudmu? tanya Toan Ki.
"Habis, engkau kan guru si durjana maha jahat itu,
bukankah engkau adalah kakek moyang si jahat?"
"Dan kau sendiri? .... "
Tapi Ciong Ling lantas menyiduk satu sendok kuah yang
masih panas-panas itu, katanya dengan pura pura marah,
"Kau berani sembarangan omong, apa minta disuap dengan
kuah panas ini?"
Toan Ki menjulurkan lidah dan berkata, "Wah, ampun!
Nenek moyang si jahat benar-benar lihai, maha jahat?”
Ciong Ling mengikik tawa sehingga kuah di dalam senduk
hampir-hampir tersiram ke atas badan Toan Ki, cepat ia
tenangkan diri. Ia coba dulu suhu kuah itu dan ternyata sudah
agak dingin. lalu ia suapi Toan Ki.
Sesudah minum beberapa senduk kuah yang disuapkan
Ciong Ling itu, dari jarak dekat dapatlah Toan Ki melihat muka
Ciong Ling yang manis di atas bibirnya ada beberapa butir
keringat yang lembut. Tatkala itu adalah musim panas baju
yang dipakai Ciong Ling tipis dan cekak sehingga tangannya
kelihaian putih bersih laksana salju. Seketika hati Toan Kl
terguncang.
Entah mengapa tiba-tiba teringat olehnya, "Alangkah
bahagianya aku jika yang menyuapi aku sekarang ini adalah
nona Ong, biarpun yang di suapkan padaku ini adalah barang
busuk atau racun juga aku bersedia mati dengan rela."
Melihat Toan Ki termangu-mangu memandang padanya,
sudah tentu sekali-kali Ciong Ling tidak menyangka kalau saat
itu yang dipikirkan pemuda itu adaiah gadis lain. Maka dengan
tersenyum Ciong Ling bertanya, "Apa yang kau lihat?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baru saja Toan Ki hendak menjawab, tiba-tiba terdengar
suara berkeriutnya pintu didorong orang, Menyusul tedengar
suara seorang wanita muda sedang berkata, "Bolehlah kita
mengaso sebentar di sini."
Lalu suara seorang lelaki menjawab, "Baiklah! Tentu
engkau masih sangat lelah, sungguh aku ... aku merasa tidak
enak."
"Ah, omong kosongl" semprot si wanita.
Dari suara kedua orang itu dapat dikenali Toan Ki sebagai
suara A Ci dan Goan-ci, Sekarang dia sudah tahu A Ci adalah
anak tidak sah dari ayahnya jadi terhitung saudara satu ayah
lain ibu dengan dirinya.
Diketahuinya adik perempuan itu sejak kecil sudah berguru
pada Sing-siok Lokoai sehingga tingkah-lakunya juga ketularan
sifat liar dan jahat si iblis tua itu, bahkan Leng Jian li, si
tukang pancing, itu tokoh dari Tayli justru binasa oleh karena
merasa terhina oleh nona nakal itu.
Toan Ki sendirl sangat akrab dengan Sam-kong dan Su-un
(tiga tokoh dan empat jago) dari Tayli itu, bila teringat pada
kematian-Leng Jian-li sungguh ia tidak suka bertemu dangan
adik perempuannya yang terlalu nakal dan binal itu.
Apalagi kemarin ia sendiri telah membantu Siau Hong dan
bermusuhan dengan Goan-ci. Jika sekarang kepergok pula
selagl dia sendiri terluka bukan mustahil jiwanya akan sukar
diselamatkan lagi. Karena itu cepat ia mamberi tanda dengan
jari di depan mulut agar Ciong Ling jangan bersuara.
Si nona paham maksud Toan Ki, ia mengangguk sambil
memegang semangkuk kuah dan tidak berani ditaruh di atas
meja sebab kuatir akan menerbitkan suara.
Kemudian terdengar A Ci sedang berteriak-teriak di luar.
"Hai, apakah di dalam orang?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciong Ling memandang Toan Ki dan tidak menjawab
pertanyaan A Cl itu, pikirnya, "Nona di luar itu besar
kemungkinan adalah nona Ong dan si lelaki adalah Piauko
nona Ong, makanya kakanda Ki tidak ingin bertemu dengan si
dia.”
Sebenarnya Ciong Ling sangat ingin tahu betapa cantikmoleknya
nona Ong itu sehingga dapat membuat kanda Ki
sedemikian kesemsem? Tapi ia tidak berani keluar, ia pikir
kalau sampai kakanda Ki bertemu dengan si dia, wah, tentu
akan runyam malah, maka lebih baik tinggal diam saja, jika
tidak mendadak penyahutnya orang mungkin nona Ong itu
akan pergi dengan sendirinya bersama Piaukonya.
Dalam pada itu terdengar A Ci lagi berteriak-teriak pula di
luar, "Hai, apakah penghuni rumah ini sudah mampus semua,
kenapa tiada seorang pun yang keluar? Kalau tetap tak keluar,
biar nona bumi-hanguskan rumah-gubukmu ini?”
'Wah, galak benar nona Ong ini?" demikian Ciong Ling
membatin.
Tiba-tiba terdengar suara Goan-ci, "Ssst, jangan bersuara,
ada orang datang!”
"Siapa? Apa orang Kai-pang?" tanya A Ci.
"Ada empat atau lima orang, boleh jadi orang-orang Kai
pang, arah yang mareka tuju adalah sini," sahut Goa-ci.
"Para Tianglo Kai-pang itu sudah timbul maksud khianat
padamu, jika kita kepergok mereka tentu bisa celaka," ujar A
Ci.
"Habis bagaimana baiknya?" tanya Goan-ci dengan kuatir.
"Kita sembunyi saja di dalam kamar, engkau terluka parah,
tidak mungkin melawan mereka." kata A Ci.
Diam-diam Toan Ki mengeluh demi mendengar A Ci dan
Goan-ci hendak sembunyi di dalam kamar. Walaupun dirinya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak suka kepada adik perempuan tiri itu, tapi tidak menjadi
asal kalau kepergok. Hanya watak Pangcu Kai-pang itu sangat
eksentrik, aneh luar biasa, kalau dipergoki tentu bisa celaka.
Maka cepat Toan Ki memberi isyarat kepada Ciong-Ling
agar anak dara itu lekas berusaha menghindari. Namun di
rumah gubuk yang sempit itu ke mana dapat menghindar?
Asal A Ci dan Goan-ci melangkah masuk tentu akan segera
dilihatnya.
Selagi Ciong Ling celingukan dengan bingung, sementara
itu suara tindakan kedua orang di luar itu terdengar sedang
mendekati kamar. Terpaksa ia berbisik, "Sembunyi di kolong
ranjang.”
Apa yang dikatakan ranjang itu sebenarnya adalah balaibalai
buatan dari pasangan batu yang serba guna, pada
musim dingin kolong balai-balai itu dapat digunakan sebagai
anglo atau tungku pemanas badan dengan membakar api di
bawahnya. Dan karena sekarang adalah musim panas, dengan
sendirinya kolong balai-balai itu kosong, penuh hangus bekas
bakaran. Maka begitu Toan Ki menyusup ke dalam, seketika
hidungnya banyak menghirup debu hangus sehingga hampir
saja bersin, untung dia lantas pancet hidung sendiri dan tidak
jadi mengeluarkan suara.
Ciong Ling meringkuk di sebelah Toan Ki, waktu ia
mengintip keluar sana, dilihatnya sepasang kaki kecil
bersepatu sulam telah melangkah masuk ke dalam kamar,
nyata itulah kaki kaum wanita. Sebaliknya lantas terdengar si
lelaki sedang berkata, "Ai, terpaksa aku mesti digendong kian
kemari olehmu, sungguh aku terlalu merendahkan keagungan
nona."
"Kita senasib, yang satu buta dan yang lain pincang, ini
namanya gotong royong bersatu hati." sahut si wanita muda.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciong Ling menjadi heran, katanya di dalam hati, "O, jadi
nona Ong itu adalah orang buta, dia mengendong Piaukonya,
Maka aku tidak melihat kaki lelaki itu.”
Dalam pada itu A Ci telah menaruh Goan-Cí di atas balaibalai,
lalu terdengar Goan-ci berkata. ”He, tempat ini baru saja
direbahi orang, di kolong selimut ini pun masih hangathangat."
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar mara gadubrakan, pintu
didobrak orang sehingga terpentang,beberapa orang
menerjang ke dalam. Seorang di antaranya lantas berkata
dengan kasar, "Ong-pangcu. urusan Kai-pang kita belum
selesai, kenapa kau tinggal pergi begitu saja, apa maksudmu
sebenarnya?”
Itulah Song tianglo. Dia membawa dua murid Kai-pang
berkantong tujuh dan dua orang berkantung enam datang
mencari Yu Goan ci alias Ong Sing-thian, sang Pangcu.
Kiranya sesudah Siau Wan-san ayah dan anak menguber
Buyung Bok ke dalam Siau lim-si dan disusul para padri dan
ksatria Tioaggoan, tinggal orang-orang Kai pang yang merasa
kehilangan pamor habis-habisan, kalau mereka tidak lekas
lekas berdaya, mungkin kedudukan Kai-pang sebagai
organisasi terbesar di dunia persilatan akan susah
dlpertahankan lagi.
Karena marasa percekcokan antara Siau Wan-san dan
Buyung Bok itu tiada sangkut-pautnya dengan Kai-pang, maka
para pengamis itu tidak ingin ikut campur, yang mereka
pikirkan adalah perlu mengangkat seorang pangcu baru yang
bijaksana bagi perkembangan Kai-pang mereka yang jaya.
Tapi waktu mereka mencari Ong Sing thian, ternyata sang
Pangcu sudah menghilang entah kemana. Padahal untuk bisa
mengangkat Pangcu baru diperlukan hadirnya Pangcu lama.
Karena itu para pengemis lantas mencari sang Pangcu,
mereka menduga Ong Sing-thian tidak pergi jauh karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kedua kakinya sudah patah. Malahan kemudian diketahui pula
bahwa A Ci juga menghilang, maka para pengemis menduga
nona itu pasti kabur bersama Ong Sing-thian.
Song-tianglo sendirl memimpin empat murid Kai-pang dan
mencari di sebelah tenggara Siau- lim-san, dari jauh dilihatnya
baju warna ungu menyelinap ke dalam sebuah rumah petani,
Ia kenal A Ci memakai pakaian ungu, tertampak pula gadis itu
mengendong orang yang mirip Ong Sing-thian, maka cepat ia
memburu tiba dan menerjang ke dalam kamar rumah petani
itu. Betul juga lantas dilihatnya A Ci dan Ong Sing-thian duduk
di atas balal-balai.
Dengan suara dingin A Ci lantas menyemprot, "Songtianglo,
jika kamu masih menyebut dia sebagai Pangcu,
mengapa kamu gembar-gembor tak karuan sama sekali tidak
pakai peraturan cara ketemu dengan Pangcu kalian?"
Song-tianglo melangak, la pikir banar juga ucapan Si nona
maka katanya, "Pangcu, saudara-saudara kita masih berada di
Siau-lim-san, apa yang harus kami lakukan selanjutnya harap
Pang-Cu memberl petunjuk."
"Apa kalian masih menganggap aku sebagai Pangcu?"
Goan-ci menegas. "Kamu minta aku kembali ke sana, maksud
kalian hanya ingin mambinasakan aku bukan? Tidak, aku tak
mau kesana!"
Segera Song-tianglo memberi tanda kepada keempat
anggota Kai-pang, "Lekas pergi menyampaikan berita bahwa
Pangcu berada di sini."
Keempat orang itu mengiakan. Dan baru saja mereka
hendak melangkah pergi, mendadak A Ci membentak, "Turun
tangan!"
Kontan sebelah tangan Goan-ci menghantam ke depan.
Seketika Ciong Ling dan Toan Ki yang sembunyi di kolong
balai-balai itu merasa hawa dingin menusuk tulang, keempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
anggota Kai-pang tahu-tahu menggeletak di lantai tanpa
bersuara sedikit pun, terang sudah mati.
Kaget dan gusar pula Song-tianglo, sambil siap siaga ia
berkata, "Ter ... terhadap saudara sendiri ken ... kenapa kau
turun tangan sekeji ini?"
"Bunuh dia sekalian!" seru A Ci mendadak.
Tanpa ayal lagi kembali Goan-ci menghantam. Ketika Songtianglo
menangkis, "blak", kontan tubuh pengemis tua itu
mencelat dan terguling-guling keluar pintu.
A Ci tertawa senang, katanya, "Ong-kongcu, orang itu pasti
akan mampus juga, eh, kau lapar tidak? Marilah kita mencari
sedikit makanan."
Segera ia menggendong Goan-ci ke dapur, ia ambil
santapan yang sudah disiapkan oleh Ciong Ling tadi ke
ruangan tamu, lalu dimakan bersama Goan-ci.
”Kedua orang itu benar-benar tidak tahu aturan, masakah
daharan kita disikat begitu saja tanpa permisi," bisik Ciong
Ling di tepi telinga Toan Ki.
"Mereka sangat kejam, sekali serang tentu membunuh
orang, sebentar lagi tentu mereka juga akan ke sini,
mumpung mereka sedang makan minum lebih baik kita
mengeluyur pergi dari pintu belakang saja," ujar Toan Ki
dengan suara perlahan.
Ciong Ling memang tidak ingin melihat pertemuan antara
Toan Ki dengan "nona Ong", sudah tentu ajakan Toan Ki
sangat kebetulan baginya. Maka dengan perlahan mereka
lantas merangkak keluar dari kolong balai-balai. Melihat muka
Toan Ki penuh hangus sehingga sangat lucu kelihatannya,
hampir saja Ciong Ling mengikik geli, Cepat ia dekap mulut
sendiri.
Sesudah keluar pintu kamar dan menyusur ke ruang dapur
baru saja mereka hendak melangkah keluar pintu belakang,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
celaka 13, rasa terkili-kili di hidung Toan Ki yang tertahan
sejak tadi tak bisa dikuasai lagi. "Haciim!" ia bersin dengan
keras.
Keruan Ciong Ling mendongkol, dalam pada itu terdengar
suara gadubrakan di ruangan depan tadi, terang suara bersin
Toan Ki telah didengar A Ci. Ciong Ling menjadi gugup, ia lihat
tadi tiada yang dapat dibuat sembunyi, hanya di belakang
dapur itu ada sebuah gudang kayu bakar. Tanpa pikir lagi ia.
tarik Toan Ki dan menyusup ke tengah onggok jerami yang
tertimbun dalam gudang itu.
Dalam pada itu terdengar A Ci sedang bertanya kepada
Goan-ci, "He, seperti ada orang memanggil aku? Kukira di sini
pasti ada orang."
"Ah, besar kemungkinan ada petani di sini, tak perlu
digubris." ujar Goan-ci.
"Masakah tali digubris? Engkau terlalu gegabah, kelak
engkau pasti akan rugi sendiri." Kata A Ci. "Sst, jangan
bersuara!"
Karena matanya buta, dengan sendirinya telinganya
menjadi jauh lebih tajam dan pada orang biasa, samar samar
ia dengar ada suara kresek-kresek di gudang kayu, maka ia
lantas berbisik, "Di tengah onggok rumput ada orang!"
Sesudah menyusup ke dalam onggok jerami, mestinya
Ciong Ling dan Toan Ki tidak berani bersuara atau bergerak
sedikit pun. Tapi mendadak Ciong Ling merasa mukanya
ketetesan cairan, waktu ia raba dan dicium, ia endus bau anyir
darah keruan ia terkejut dan bertanya, "He, lu ... lukamu
kambuh lagi?"
"Ssst, jangan bersuara!" bisik Toan Ki.
Tapi karena ucapan Ciong Ling itu, suaranya segera
didengar oleh A Ci. Ia menjawab Goan-ci dan memberi tanda
ke arah gudang kayu. Segera Goan-ci menghantam ke sana,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"brak", papan pintu pecah berantakan dan bertebaran
bersama jerami.
Selagi Goan-ci hendak menghantam pula, cepat Ciong Ling
berseru, "Jangan memukul lagi, kami akan keluar!"
Lalu ia memayang Toan Ki dan merangkak keluar dari
tempat sembunyi mereka.
Rupanya luka Toan Ki yang ditikam oleh ”Hwe-yam-to" tak
berwujud serangan Cimoti itu menjadi pecah lagi setelah
banyak bergerak karena diseret sembunyi ke sini dan ke sana
oleh Ciong Ling sehingga darah mengucur lagi.
Waktu dia merangkak keluar dari onggok jerami, sementara
itu badannya sudah berlepotan darah tercampur hangus,
kotoran jerami dan lain-lain sehingga tak keruan macamnya.
"He, kenapa ada suara seorang nona cilik?" demikìan tanya
A Ci kepada Goan Ci.
"Ya, seorang lelaki dan seorang nona cilik bersembunyi di
tengah onggok jerami, badan mereka berlepotan darah, kedua
mata dara cilik yang berkilat-kilat itu sedang memandang
dirimu," sahut Goan-ci.
Sejak A Ci buta, ia paling sirik, bila ada orang menyebut
tentang "mata". Sekarang Goan-ci tidak cuma bilang "mata"
saja, bahkan mengatakan "mata yang berkilat-kilat", hal ini
semakin menyinggung perasaannya. Maka tanyanya segera,
"Berkilat-kilat bagaimana? Apakah matanya sangat celi dan
indah?"
Goan-ci tidak tahu A Ci sangat marah, maka jawabnya,
"Pakaian dara silik itu sangat kotor, tentu dia anak petani di
sini. Hanya matanya memang sangat celi dan hitam
mengkilat."
Keruan A Ci tambah murka, sekonyong-konyong timbul
semacam pikirannya yang keji, katanya segera, "Ong-kongcu,
kenapa engkau tidak mencukil matanya yang indah itu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Goan-ci terperanjat, tanyanya, "Tanpa sebab mengapa
mencukil matanya?"
Sesudah sekian lamanya berada bersama, A Ci kenal
perangai Goan-ci yang suka sembarangan membikin susah
orang lain. Segera ia berkata pula, "Mataku Sudah dibutakan
Ting-lokoai, maka boleh kau cukil mata nona cilik itu untuk
dipasangkan padaku agar aku dapat melihat lagi, bukan kah
cara demikian sangat baik?"
Tapi Goan-cl menjadi kuatir pikirnya, 'Jika kau dapat
melihat lagi sehingga tahu mukaku yang buruk seperti s iluman
ini, tentu engkau tak mau gubris lagi padaku dan boleh jadi
engkau akan mengenàli pula mukaku yang asli dan
mengatahui aku ini si Badut kepala besi, segala Ong Singthian,
ketua Kek-lok-pai dan apa lagi tidak lain hanya dusta
belaka, maka pasti engkau akan putuskan hubungan dengan
aku seketika. Wah, permintaanmu ini sakali-kali tak boleh
terjadi."
Karena itu, lalu jawabnya. "Jika aku dapat menyembuhkan
matamu ini biarpun aku harus hancur-lebur juga aku rela tapi
.... tapi rasanya tidak dapat lagil"
Walaupun A Ci juga tahu tidak dapat mencukil mata orang
lain untuk menggantikan mata sendiri yang buta, tapi sejak
dia buta sungguh rasa dendamnya tak kepalang, kalau bila ia
ingin setiap manusia di jagat ini juga dibuat buta semua,
dengan demikian barulah ia merasa puas. Maka katanya,
"Engkau bolum mencoba dari mana kau tahu tidak dapat?
Ayo, lekas lakukan cukil dulu matanya itu!"
Memangnya Goan-ci sudah berada di gendongannya, maka
A Ci lantas melangkah ke arah Toan Ki dan Ciong Ling.
Dalam pada itu Ciong Ling menjadi ketakutan demi
mendengar tanya jawab A Ci dan Goan-ci tadi, maka sebelum
A Ci mendekat lebih dulu ia sudah angkat langkah seribu alias
lari. Dasar gerak-gerik Ciong Ling memang lincah dan gesit,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam keadaan takut larinya menjadi lebih cepat lagi maka
dalam sekejap saja la sudah lari beberapa puluh meter
jauhnya.
A Ci sandiri buta, menggendong Goan-ci pula, dengan
sendirinya susah mengejar Ciong Ling. Maka waklu
mendengar suara lari Ciong Ling yang sudah menjauh itu, la
tahu tak dapat menyusulnya segara la berhenti dan berkata,
"Jika anak dara itu lari boleh bunuh saja yang lelaki!”
Ciong Ling terperanjat ketika dari jauh mendengar ucapan
A Ci itu, segera ia berhenti lari dan putar balik, la lihat Toan Ki
menggeletak di tanah dan banyak mengucurkan darah,
bentaknya segera, "Anak buta kau berani mencelakai dia?"
Sekarang dia sudah berhadapan dengan A Ci dan dapat
melihat jelas mukanya, ia lihat si "Nona Ong” memang sangat
cantik, sungguh sukar dipercaya bahwa hatinya ternyata
begitu kejam.
"Tutuk dia punya hiat-tol" tiba-tiba A Ci berseru pula.
Walaupun Goan-ci sebenarnya tidak mau, tapi selama ini ia
tidak berani membangkang perintah A Ci, dahulu waktu di
negeri Liau bagitu, sekarang sesudah jadi Pangcu Kai-pang
juga tetap demikian maka demi mendengar perintah A Ci,
seketika ia menutuk ke depan, "crit", kontan Ciong Ling
tertutuk roboh.
"Nona Ong. jangan ... mencelakai dia!" seru Ciang Ling.
"Dia ... dia selalu terkenang-padamu. dalam mimpi pun selalu
menyebut namamu, dia benar-benar sangat cinta padamu."
"Heh, apa katamu? Nona Ong?" tanya A Ci dengan heran.
"Apa engkau bu , .. bukan nona Ong!" Ciong Ling menegas.
"Habis siapa engkau?"
A Ci tersenyum, katanya, "Meski Ong-kongcu ini adalah
orang kusendiri, tapi aku sendiri bukan she Ong. boleh juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
asal dia selalu menurut pada perintahku dan tidak boleh
membangkang sedikit pun."
Hati Goan-ci berdebar demi mendengar ucapan A Ci yang
seakan-akan memberi bayangan bila dirinya senantiasa
menurut kemauan si nona, maka ada kemungkinan si nona
akan mau menjadi istrinya. Seketika Goan-Ci merasa
tenggorokannya seperti tersumbat, hendak bicara, tapi berat
sekali rasanya.
Kemudian A Ci menurunkan Goan-ci dan membiarkannya
duduk bersandarkan pohon, lalu katanya, "Nah, lekas mencukil
mata anak dara itu!"
Dalam keadaan kesemsem, tanpa pikir lagi Goan-cì
mengiakan, ia mengulur sebelah tangannya dan mencengkram
kuduk Ciong Ling.
Karuan Ciong Ling Ketakutan dan berteriak-teriak, "Jangan
mencukil mataku, jangan!"
Saat itu Toan Ki dalam keadaan sadar tak sadar, tapi ia pun
lahu kedua orang itu hendak mencukil biji mata Ciong Ling
untuk menggantikan mata A Ci yang sudah buta itu. ia pun
tahu tadi Ciong Ling sebenarnya dapat melarikan diri, tapi
demi untuk menolong dia, si nona lari balik hingga tertangkap.
Maka dengan sekuatnya Toan Ki coba berkata, "Le ... lebih
baik kalian mencukil biji mataku saja. Kita ... kita adalah orang
sekeluarga, tentu ... tentu akan lebih cocok .... "
A Ci tidak paham apa yang dikatakan Toan Ki tentang
"orang sekeluarga," tetap mendesak Goan-ci, "Ayo, kenapa
tidak lekas turun tangan.”
"Ya," sahut Goan-Ci dan segera ia seret Ciong ling lebih
dekat, sekali ia puntir kepala Ciong Ling ke atas, lalu dengan
jari kanan hendak mencolok mata kiri s i nona.
Untung pada saat itu keburu ada suara bentakan seorang
perempuan, "Hai, apa yang sedang kalian lakukan di s itu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Goan-ci tertegun, cepat ia menoleh seketika air mukanya
bwrubah, ternyata di bawah pohon, di tepi parit pegunungan
sana berdiri dua orang lelaki dan empat wanita. Kedua orang
lelaki itu adalah Siau Hong dan Hi-tiok, sedang keempat orang
wanita adalah Bwe-kiam dan kawan-kawannya.
Sekilas Siau Hong, sudah lihat Toan Ki menggeletak di s itu,
cepat ia melompat maju dan membangunkan Toan Ki.
Katanya dengan berkerut kening, Lukanya pecah lagi dan
mengeluarkan darah sebanyak ini!"
Segera sebelah kakinya berlutut dan menyandarkan tubuh
Toan Ki pada pahanya, lalu di periksanya luka saudara angkat
itu.
Sementara itu Hi-tiok juga sudah mendekatinya katanya
setelah melihat luka Toan Ki itu, "Toako jangan kuatilr
kupunya Kilu-coan-him-coa-wan ini sangat manjur sekali bagi
luka demikian!"
Segera ia menutuk beberapa hiai-to di sekitar luka Toan Ki
itu untuk menghentikan darah yang masih mengucur itu lalu
dijejalkan sebutir Kiu-coan-him-coa-wan ke mulut Toan Ki.
Wajah Toan Ki yang pucat pasi itu menampilkan senyuman
lega, katanya, "Toako, Jiko, lekas ... lekas cegah mereka yang
hendak men ....mencukil mata nona Ciong itu."
Serentak Siau Hong daa Hi-tiok lantas memandang ke arah
Goan-ci.
Dalam gugupnya cepat Goan-ci melepaskan
cengkaramannya atas diri Ciong Ling, Sedangkan A Ci lantas
mengenali suara Siau Hong, katanya segera "Cihu, apa pesan
Enciku sebelum ajalnya? Sesudah kau pukul mati dia,
sekarang engkau melupakan pula segala pesannya padamu?"
Mendengar nona cilik itu menyinggung A Cu kembali Siau
Hong berduka dan medongkol pula maka ia hanya mendengus
sekali dan tidak menjawab.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
A Ci berkata pula, "Engkau tidak menjaga diriku dangan
baik dan tidak pusing pula ketika mataku dibutakan oleh Tinglokai.
Cihu, setiap orang sama engatakan engkau adalah
ksatria nomor satu di jaman ini tapi engkau tidak mampu
melindungi keselamatan adik iparmu sendiri. Apa barangkali
engkau tidak punya kepandaian? Hm, padahal Ting-lokoai
sudah terang bukan tandinganmu, soalnya engkau tidak mau
menjaga dan membela diriku."
"Kau sendiri mengeluyur pergi secara mendadak dan tanpa
pamit, dari mana kudapat mencari dirimu?" sahut Siau Hong.
"Namun ... namun matamu buta, hal ini memang ... memang
salahku yang kurang sempuma menjaga keselamatanmu."
Semula sebenarnya Siau Hong sangat marah ketika melihat
A Ci bikin gara-gara lagi dengan menyuruh Goan-ci mencukil
mata orang lain. Tapi sekarang dia lantas teringat pesan A Cu
pada malam yang gelap gulita dengan hujan badai di atas
jembatan batu itu A Cu kena hantamannya. Lalu memberi
pesan terakhir dalam pelukannya agar selunjutnya süka
menjaga adik perempuannya, yaitu A Ci. Untuk itu Siau Hong
sendiri pernah berjanji jangankan Cuma satu permintaan,
biarpun seratus atau seribu permintaan juga akan dituruti.
Tapi akhirnya A Ci tersesat ke jalan yang jahat, matanya
buta pula, untuk ini terang dirinya harus bertanggung jawab
karena kurang sempurna mengawasi anak dara cilik itu.
Berpikir sampai di sini, perasaan Siau Hong menjadi pedih,
sorot matanya penuh menunjuk kehalusan budi. Walaupun A
Ci tidak dapat melihat air muka Siau Hong, cukup lama dia
tinggal bersama sang Cihu, maka ia cukup kenal watak Siau
Hong, asal dirinya menyingung tentang A Cu, itu berarti obat
yang paling mujarab, biar urusan maha besar apa pun juga
pasti akan diterima Siau Hong.
Dan karena benci pada Ciong Ling yang telah menyebutnya
"anak buta ' diam-diam ia bersumpah akan membuat Ciang
Ling juga merasa bagaimana rasanya orang buta. Maka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sesudáh menghela napas, lalu ia berkata kepada Siau Hong,
"Cihu mataku buta, segala apa tak bisa kulihat lagi lebih baik
aku mati saja."
"Kau boleh ikut ayahmu pulang ke Tayli saja,” Ujar Siau
Hong. "Betapa bahagíanya hidup dalam istana raja Tayli sana,
sekali kamu bersuara akan mendapat jawaban orang banyak,
biarpun matamu buta. tapi kamu akan dilayani dayang-dayang
yang tak terhitung banyaknya, tentu kamu takkan susah.”
"Ibuku bukan istri pangeran yang sah. Bila aku tinggal di
Taílí sana, kalau sampai terjadi percekcokan antar anggota
keluarga, sedangkan mataku súdah buta, aku pasti akan
dibunuh orang." kata A Ci.
Benar juga pikir Síau-Hong akan alassan A Ci maka
jawabnya, "Jika begitu boleh kau ikut aku pulang ke Lam-khin,
akan ku suruh orang melayanimu dengan baik supaya bias
hidup dengan tentram dan senang, jauh lebih enak dari pada
terlunta-lunta di dunia kangouw.
"Pulang kembali ke istañamu?" A Ci menegas. "Aduh mak!
Sedangkan dahulu waktu mataku tidak buta hidupku di sana
pun terasa sebat, apalagi sekarang? Kaupun tidak sama
seperti Ong-pangcu íni yang segala apa selalu menurut
padaku. Maka aku lebih suka hidup terlunta-lunta di kangouw
secara bebas."
Siau Hong coba memandang sekejap pada Goan ci pikirnya,
"Urusan begini memang aku tidak dapat melarang dia.
Tampaknya A Ci sudah menyukai Pangcu Kai-pang ini."
Karena itu mendadak rasa bencinya pada Goan-ci
bertambah satu lapis lagi, segera ia Tanya kepada A Ci,
"Saudara Ong ini sebenarnya dari mana asal-usulnya? Apa
sudah pernah kau tanya dia?"
"Sudah tentu aku pernah tanya dia," sahut A Ci. "Cuma
asal-usul seseorang juga tidak selalu dapat dipercaya.
Misalnnya Cihu sendiri dahulu waktu engkau masih menjabat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangcu Kai-pang apakah engkau pernah bilang kepada orang
lain bahwa engkau adalah keturunan Cidan?"
Siau Hong menjadi kurang senang karena setiap kata A Ci
itu selaiu berduri. Maka ia hanya mendengus sekali dan tidak
bicara lagi. Dalam hati ia tak bisa ambil keputusan apa mesti
membiarkan A Ci ikut pergi bersama Ong Sing-thian atau
tidak?”
Tapi A Ci lantas berkata, "Cihu, engkau takkan
mempedulikan aku lagi, ya?”
"Habis apa pula kehendakmu?" sahut Siau Hong sambil
berkerut kening.
"Soalnya sangat mudah sekali." ujar A Ci Ku minta engkau
mencukilkan biji mata nona cilik iti dan dipasangkan pada
mataku."
Sesudah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula,
"Ong pangcu sudah menyanggupi melakukan hal itu bagiku
bila engkau tidak datang dan mencegahnya, tentu sejak tadi
urusan sudah beres. Ya, boleh juga engkau yang
melakukannya bagiku. Cihu, aku sangat ingin tahu apakah
engkau lebih baik padaku atau Ong-pangcu lebih baik padaku.
Dahulu engkau menghantam patah tulang rusukku, lalu kau
bawa aku jauh ke timur laut sehingga kesehatanku sembuh
kembali, Takkala itu betapa baiknya engkau padaku, apa yang
kumaukan tentu kau lakukan. Kita berdua tinggal dalam satu
kemah, tanpa pikirkan siang atau malam senantiasa kau
pondong tubuhku. Cihu, apakah engkau sudah melupakan
semua itu?”
Mendengar uraian A Ci itu, seketika mata Goan-ci
menyorotkan sinar kebencian yang tak terkatakan, sinar mata
yang buas dan penuh cemburu dan seakan-akan hendak
berkata, "A Ci adalah Milikku, jangan kau coba menyentuhnya
sedikitpun.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siau Hong sendiri tidak memperhatikan sinar mata Goan-ci
yang luar biasa itu, la menjawab pertanyaan A Ci tadi,
"Tatkala itu kamu terluka parah karena pukulanku, demi untuk
menyembuhkanmu mau-tak mau aku harus mengikuti segala
keinginanmu. Sedangkan nona cilik ini adalah kawan adik
angkatku, mana boleh kau cukil matanya untuk menggantikan
matamu? Apa lagi di dunia ini pada hakekatnya tiada cara
pengobatan demikian, cara berpikirmu ini sungguh terlalu
aneh!"
Tiba-tiba Hi-tiok menimbrung. "Kulihat kedua mata nona
Toan itu cuma rusak selaputnya saja karena terbakar, kalau
dapat diganti dengan sepasang biji mata orang hidup memang
bukan mustahil akan dapat disembuhkan kembali."
Memang ilmu pengobatan dari golongan Siau-yau-pai boleh
dikata maha sakti, walaupun pengetahuan Hi-tiok dalam hal ini
tidak banyak, tapi dia telah belajar selama beberapa bulan
dengan Thian-san Tong-lo, maka macam-macam cara
pengobatan yang aneh pernah didengarnya juga dari nenek
sakti itu.
Karena keterangan Hi-tiok itu membuat A Ci bersorak
gembira, katanya, "Wah, bagus! Hi-tiok siansing, ucapanmu
tidak mendustai aku bukan?"
"Sudah tentu aku tidak dusta, cuma ....”
"Cuma apa?" A Ci menegas dengan tidak sabar. "O, Hi-tiok
Siansing yang baik, engkau adalah saudara angkat Cihuku,
maka kita pun sebenarnya adalah orang sendiri. Tadi kaupun
sudah mendengar kata-kata Cihu, dia paling sayang padaku.
Eh, Cihu, betapapun engkau harus minta adik angkatmu agar
Suka menyembuhkan mataku."
”Aku memang pernah dengar cerita paman guruku bahwa
biji mata yang belum rusak dapat diganti dengan biji mata
hidup yang lain, cuma cara mengganti biji mata ini aku sendiri
tidak paham," ucap Hi-tiok.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jika begitu harap memohonkan pertolongan paman
gurumu itu," sahut A Ci.
"Ai, sayang beliau sudah lama wafat," sahut Hi-tiok sambil
menghela napas.
"Ha, jadi kau sengaja omong kosong untuk
mempermainkan aku," omel A Ci.
"Tidak, tidak," cepat Hi-tiok menerangkan. "Leng-ciu-kiong
kami banyak banyak menyimpan kitab püsaka, kuyakin ilmu
penyembuhan mata itu juga terdapat di antara kitab-kitab
kami itu. Hanya saja ... hanya saja .... "
"Kamu ini memang aneh, seorang lelaki mengapa suka
bicara demikian rupa, tadi ada 'cuma', sekarang tambah lagi
'hanya saja' apa segala?" kata A Ci.
"Hanya saja siapa yang mau memberikan biji mata hidup
untuk menggantikan matamu?" kata Hi-tiok akhirnya.
"Hihi!" A Ci tertawa. "Kukira, soal apa yang sukar, tak
tahunya Cuma soal biji mata. Ini kan gampang, asal kau cukil
biji mata nona she Ciong itu, bukankah urusan menjadi
beras?”
"Tidak, tidak boleh jadi!" seru Ciong Ling. "Kalian tidak
boleh mencukil mataku."
"Benar!" kata Hi-tiok. "Jika kamu tidak ingin kehilangan
mata, sudah tentü nona Ciong pun tidak ingin buta matanya.
Kata Khong-hu-cu 'Apa yang kita sendiri tidak mau, janganlah
dilimpahkan kepada orang lain.’ Apalagi nona Ciong ini adalah
sobat baik Samte kami ... "
Berkata sampai sobat baik mendadak hati Hi-tiok tergetar,
"Wah, celaka! Tempo hari ketika aku makan minum bersama
Samte di Leng-ciu-kiong dan saling mengutarakan perasaan
masing-masing diketahui bahwa kekasihnya adalah 'Dewi
impian’ ku pula. Tampaknya sekarang Samte sangat baik pada
nona Ciong ini, Bahkan tadi Samte menyatakan bersedia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
matanya dicukil daripada mata nona Ciong yang dicukil, dari
hal ini saja dapat di ketahui betapa mendalam cinta Samte
kepadanya."
Lalu terpikir pula oleh Hi-tiok, "Apa mungkin nona Ciong ini
adalah dewi impian yang pernah berkumpul tiga malam
berturut-turut denganku itu?”
Teringat akan pengalaman tempo dulu itu, kembali hati Hitiok
berdebar-debar, ia coba melirik ke arah Ciong Ling ia lihat
meski kepala dan muka nona itu penuh debu hanlus, tapi
semua itu tidak menutupi kecantikannya.
Waktu berkumpulnya Hi-tiok dengan Dewi impiainnya
cukup lama, cuma ketika itu mereka berada di dalam gudang
es yang gelap gulita, maka bagaimana sebenarnya wajah sang
"dewi impian" itu tidaklah jelas baginya, kecuali kalau dia
menggunakan tangannya untuk meraba muka dan bagianbagian
tertentu barulah mungkin dapat mengenalinya. Tapi
disiang hari bolong, di depan orang banyak mana berani Hitiok
menggunakan tangannya untuk meraba mukanya Ciong
Ling?
Karena itu, untuk sekian lamanya la merasa bingung, ia
coba ingat-ingat suara "dewi impian' itu, rasanya agak
berbeda dengan suaranya Ciong Ling. Tapi suara seseorang
besar kemungkinan akan berlainan bila berada didalam
gudang dan berada di luar rumah. Apalagi waktu se dewi
impian bicara dengan dia hanya dilakukan dalam keadaan
bisik-bisik penuh kasih mesra, sedangkan sekarang Ciong Ling
berteriak dan menjerit dalam keadaan ketakutan, suasana
yang berbeda tentu juga tidak heran bila mengakibatkan
perbedaan suara.
Begitulah dengan termanggu-manggu Hi-tiok
memperhatikan Ciong Ling, dalam hati sesungguhnya sangat
ingin mengulurkan tangannya untuk meraba-raba muka si
nona agar dapat diketahui apakah nona itu adalah Dewi
impiannya sendiri atau bukan? Dan karena timbul rasa kasih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mesranya itu, dengan sendirinya air mukanya lantas
mengunjuk rasa lemah lembut dan ramah tamah.
Ciong Ling sampai terheran-heran ia pikir si gundul ini
(rambut Hi-tiok belum tumbuh kembali walau pun sudah ganti
pakaian biasa) tampaknya sangat ramah-tamah, tentu dia
tìdak mau mencukìl mataku. Maka legalah hatinya.
Dalam pada itu A Ci telah berkata pula, "Hi-tiok Siansing,
aku adalah adik perempuan kau punya Samte, sedangkan
nona Ciong ini hanya kawannya saja. Perbedaan ini tentu
sangat besar."
Sementara itu sesudah minum Kiu-coan-him-coa-wan,
dalam sekejap saja darah sudah berhenti mengucur keluar
dari luka Toan Ki, pikirannya juga pelahan-pelahan jernih
kembali, maka beberapa kata-kata A Ci yang terakhir itu dapat
didengarnya dengan jelas. Karena itu ia lantas menjengek dan
berkata, "Hm, jadi kau sudah tahu bahwa kau membunyai
hubungan darah dengan aku, tapi mengapa kau suruh orang
untuk mencelakai aku?”
"Engkoh cilik," sahut A Ci dengan tertawa. "Waktu kau
sembunyi didalam kamar sudah tentu aku tidak tahu bahwa
kau yang berada disitu, kemudìan sesudah mendengar
suaramu barulah aku mengenalimu. Mataku sudah buta jika
tidak mendangarkan susramu, dari mana aku bisa tahu
engkau adalah saudaraku sendiri?"
Benar juga pikir Toan Ki, maka katanya, "Ya, sudah. Jika
Jiko paham cara pengobatan mata, tentu dia akan berusaha
untuk menyembuhkanmu. Tapi biji mata nona Ciong sekali-kali
tak boleh kau ganggu."
"Eh, tadi kudengar engkau membaiki nona Ong dengan
berbagai daya upayamu, mengapa dalam sekejap saja kau
penujui pula nona Ciong ini?” tanya A Ci.
"Ngaco!" sahut Toao Ki dengan muka merah jengah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dan kalau nona Ciong ini adalah calon Enso (kakak ipar
istri kakak), dangan sendirinya tidak boleh kuganggu dia tapi
kalau bukan mengapa aku dilarang?” kata A Ci pula. "Nah,
engkohcilik, katakanlah terus terang dia Ensoku atau bukan?”
Hi-tiok melirik ke arah Toan Ki dengan hati berdebar-debar
ia tidak tahu Ciong ling, itu sang "Dewi impian" yang
dirindukannya atau bukan? Jika bukan sih tidak menjadi soal,
tapi kalau betul wah, kan runyam bila sampai diambil istri oleh
Toan Ki.
Begitulah, maka Hi-tiok juga ingin tahu apa jawahan Toan
Ki. Ciong Ling pun sedang menantikan keterangan Toan Ki,
pikirnya, "Kiranya nona buta ini adalah adik perempuanmu,
sampai dia juga mengatakan kausuka pada nona Ong maka
hal ini tidak perlu disangsikan lagi. Tapi kenapa tadi kau bilang
aku adalah ibu guru Gak-Losam? Mengapa engkau bersedia
menyerahkan biji matamu untuk mewakilkan mataku yang
akan dicukil nona buta itu?"
Akhirnya terdengar Toan Ki menjawab. "Pendek kata kamu
tidak boleh membikin susahnona Ciong. Usiamu masih sekecil
ini tapi selalu berbuat hal-hal yang tidak pantas. Leng liam li
bukankah mati lantaran marah padamu. Kalau sekarang kamu
berniat jahat lagi, tentu Jiko tak mau mengobati matamu."
"Waduh lagaknya seperti orang tua mengajar anak
perempuan ya?" sahut A Ci dengan mulut mengjangkit.
Melihat semangat Toan Ki sudah mulai pulih, suaranya
penuh tenaga, maka Siau Hong tahu Kuim-coan-wan yang
diberi Hi-tiok itu sangat manjur, keselamatan adik angkat itu
sekarang tidak perlu dikuatirkan lagi. Segera katanya, ”samte,
marilah kita mengaso dulu ke dalam rumah dan sekaligus
merundingkan langkah-langkah selanjutnya.”
Toan ki mengiakan dan segera bangun, Ciang Ling menjadi
kuatir, serunya, "Eh, hati-hati nanti lukamu kambuh lagi!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Obatmu benar-benar sangat manjur, Jiko," käta Siau
Hong.
Hi tiok hanya mengiakan saja, dalam hati ia sedang
memikirkan nada ucapan Ciong Ling yang penuh perhatian
kepada Toan Ki tadi, karena belum tahu persis apakah nona
itu Dewi Impian atau bukan, maka ia pun tidak tahu apa mesti
cemburu atau tidak, ia hanya merasa bingung seakan-akan
kehilangan sesuatu.
Sesudah semua orang masuk ke dalam rumah, Toan Ki
rebah kembali di atas balai-balai dan Siau Hong duduk di
depannya, Bwe-kiam berempat sibuk masak air da menanak
nasi, mereka melayani Siau Hong, Toan Ki, Ciong Ling dan Hitiok
dengan Baik, sebaliknya sama sekali tidak gubris kepada
Goan ci dan A Ci.
Tentu saja A Ci sangat mendongkol. Kalau menuruti
wataknya, mestinya keempat dara Leng-ciu-kiong itu sudah
didamprat dan diracun sekalian atau ditinggal pergi saja, tapi
sekarang karena dia perlu minta pertolongan Hi-Tiok untuk
menyembuhkan matanya, terpaksa ia menahan rasa gusar itu.
Siau Hong adalah seorang lelaki yang berhati lapang, sudah
tentu ia tidak mengurusi apakah A Ci sedang marah marah
atau tidak? Dalam isengnya ià menarik laci meja yang terletak
di dekat balai-balai itu, kotika melihat laci meja itu, seketika ia
tertegun.
Melihat sikap sang Toako yang agak aneh itu, Hi-tiok dan
Goan-ci ikut memàndang ke dalam laci. Kiranya di dalamnya
terisi macam-macam mainan kanak-kanak, ada harimau kayu,
anjing-anjingan lempung, bumbung wadah jangkrik dan
beberapa belah pisau kecil yang sudah berkarat. Kesemua itu
adalah barang mainan anak kecil yang tidak perlu diherankan.
Tapi Siau Hong justru ambil harimau kayu itu dan mengamatamatinya
dengan termangu-mangu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
A Ci tidak tahu apa yang sedang dilakukan Siau Hong,
padahal hidupnya senantiasa ingin disanjung puji dan suka
memerintah tapi di depan Siau Hong dan Hi-tiok mau tak mau
Goan-ci merasa jeri sehingga sama sekali ia tidak berani ajak
bicara pada A Ci, hal ini membuat A Ci semakin mendongkol
dan makin uring-uringan, tiba-tiba sikutnya menumbuk sebuah
alat tenun kayu di sebelahnya sehingga ambruk dalam
gusarnya A Ci terus lolos pedang dan "crat", ia membacok alat
tenun itu sehingga terbelah menjadi dua.
"A Ci, ada apa?” bentak Siau Hong mendadak.
"Alat tenun itu membentur tanganku hingga kesakitan,
maka kuhancurkan dia, apa sih alangannya?" sahut A Ci.
"Kau keluar sana! Masakah benda dalam rumah ini boleh
kau rusak semaunya?" kata Siau Hong dengan gusar.
"Keluar ya keluarl" sahut A Ci. Dan dengan langkah cepat ia
terus bertindak keluar.
Tak tersangka karena terburu-buru, "duk” batok kepalanya
kebentur tepian pintu. Tapi tanpa bersuara sedikit pun ia
meraba raba jelas jalannya dan tetap melangkah keluar
dengan cepat.
Hati Siau Hong menjadi lemas dan merasa kasihan cepat ia
memburu maju dan memegang tangan A Ci katanya dengan
suara halus "A Ci apakah sakit?"
A Ci tak sangup menjawab lagi, ia putar badan dan
menjatuhkan diri ke dalam pelukan Siau Hong sambil
menangis tersedu-sedan.
Tangan Siau Hong menepuk bahu A Ci, katanya dengan
suara ramah. "Ya, A Ci aku yang salah tidak seharusnya aku
berlaku kasar padamu."
"Engkau ... engkau sudah berubah, Engkau sudah
berubah." kata A Ci sambil mengangis. "Engkau tidak ..... tidak
seperti dulu lagi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
'Duduklah A Ci, minum sedikit, ya?” bujuk Siau Hong. Lalu
ia ajak masuk nona itu dan mengangkat mangkuk sendini
yang berisi air teh dan disodorkan ke mulut A Ci, sebelah
tangannya digunakan untuk merangkul punggung A Ci.
Dahulu karena menyesal telah melukai nona cilik itu, pula
mengingat pesan terakhir A Cu, maka selama lebih setahun
Siau Hong merawat A Ci, baik makan minum, maupun ganti
pakaian, sisir rambut dan sebagainya selalu Siau Hong
melayaninya seperti terhadap adik perempuan sendiri sedikit
pun tidak mempunyai perasaan di luar garis.
Tatkala itu bila A Ci hendak minum obat karena belum
sanggup duduk tegak, Siau Hong mesti membantunya dengan
merangkul badan si nona agar dapat menegak, lama-lama
kebisaan itu menjadi berakar, maka sekarang ketika memberi
minum Siau Hong pun merangkul punggung si nona seperti
dahulu.
Sesudah A Ci minum beberapa ceguk dengan dirangkul
Siau Hong, perasaan mejadi agak lega katanya kemudian
dengan tertawa, "Cihu, apa engkau masih akan mengusir
aku?"
Siau Hong tidak menjawab, pelahan ia lepaskan tubuh si
nona dan menoleh untuk menaruh kembali mangkuk teh di
atas meja. Karena waktu itu sudah dekat magrib, dalam
keadaan remang-remang tiba-tiba dilihatnya sepasang sinar
mata yang buas bagai binatang sedang menatapnya dengan
penuh kebencian. Ia terkejut. Ia lihat itu lah sorot matanya
Goan-ci yang duduk di pojok sana dengan mengertak gigi,
hidungnya berkembang-kempis seolah-olah binatang liar yang
ingin menerkamnya.
Diam-diam Siau Hong membatin, "Orang ini entah dari
mana asal-usulnya, sungguh sangat luar biasa.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam pada itu terdengar A Ci, sedang berkata pula, "Cihù,
aku cuma merusakkan sebuah alat tenun lama, kanapa
engkau sedemikian marah?"
"Apa kau tahu bahwa ini adalah rumah ayah bunda
angkatku dan alat tenun yang rusak ini adalah milik ibu
angkatku?" sahut Siau Hong.
Semua orang terkejut mendengar keterangan itu. "Toako,
jadi engkau yang menyelamatkan aku ke sini?" tanya Toan Ki.
Siau Hong mengangguk. Ia pegang harimau kayu yang
kecil itu dan dipandangnya dengan termenung-menung.
Sementara itu hari sudah gelap, Tiok Kiam telah menyalakan
pelita minyak sehingga bayangan Siau Hong yang kekar itu
tersorot ke dinding rumah.
Siau Hong mengamat-amati mainan harimau kayu yang
kecil itu dan berkata dengan suara penuh perasaan, "Ini
adalah mainan yang diukir oleh ayah angkatku. Takkala itu
usiaku kira-kira lima tahun, beliau duduk di samping meja, di
bawah sinar pelita minyak separti sekarang ini, dan mengukir
mainan kayu ini bagiku. Ibu angkat sendiri sibuk menenun
situ. Aku berdiri menunggui ayah angkat yang sedang
mengukir harimau kayu ini, aku menyaksikan moncong
harimau selesai diukir, lalu telinganya, sungguh alangkah
senangnya hatiku .... "
Toan Ki dan Hi-tiok tahu akan nasib Siau Hong yang
malang itu, mereka tahu sang Toako itu dibesarkan oleh ayahibu
angkatnya, tapi kedua orang tua itu dibunuh oleh Siau
Wan-san,ayah Siau Hong yang sebenarnya. Maka bila
sekarang terkenang budi kebaikan ayah ibu angkatnya di
masa dahulu itu, sudah tentu ia sangat berduka dan terharu.
Kiranya waktu Cumoti mendadak menyerang Toan Ki,
untung juga si padri tua yang sedang berkhotbah itu sempat
mengebaskan lengan bajunya sehingga Cumoti terdorong
pergi beberapa meter jauhnya. Karena itu Cumoti ketakutan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan lekas-lekas melarikan diri. Siau Hong sendiri lantas
mengadakan pertolongan kepada Toan Ki yang terluka parah
itu dengan bantuan obat luka mujarab pemberian Hian-seng
dari Siau-lim-si.
Untung tenaga dalam Toan Ki sekarang sudah sangat
hebat, tikaman Cumoti yang tak berwujud itu tidak sampai
menembus dadanya sehingga jiwanya masih dapat ditolong.
Di lain pihak Siau Wan-san dan Buyung Bok ternyata sudah
mencapai kesadaran dan mengangkat padri tua yang tak
bernama itu sebagai guru dengan resmi mereka memeluk
agama Budha.
Karena kuatir luka Toan Ki tambah parah bila tak terurus,
segera Siau Hong membawanya ke rumah ayah-ibu angkatnya
dahulü, sesudah menidurkan Toan Ki di balai-balai, lalu tinggal
pergi lagi dengan maksud menemui ayahnya, lain mesti
mengatur ke-18 ksatria Cidan yang mengikutinya dari negeri
Liau itu. Sama sekali ia tidak menduga bahwa tempat
kediaman yang ditinggalkan mendiang ayah-lbu angkotnya itu
sudah ada orang yaitu kenalan lama Toan Ki sendiri,Ciong
Ling.
Waktu Siau Hong sampai di Siau-lim-si pula, keadaan di
sana sudah kembali dalam ketenangan. Rupanya setelah
menyaksikan permusuhan Siau Wan-san dan Buyung Bok yang
mendalam itu telah diselesaikan bahkan sekarang mereka
telah menjadi saudara seperguruan, maka ilmu silat Siau-limpai
yang pernah dipelajari Síaü Wan-san, takkan tersebar lagi
ke negeri Liau, hal ini membuat para ksatria Tionggoan sama
merasa lega, maka beramai-ramai mereka lantas mohon diri.
Sementara itu hari sudah gelap, waktu siau hong mohon
bertamu dengan ayahnya, di luar dugaan permintaannya
ditolak menurut padri penyambut tamu yang menyampaikan
permintaan Siau Hong itu, katanya ayahnya sudah melepaskan
diri dari keluarga dan menjadi hwesio, gelarnya sekarang
adalah Hui-ho Hwesio, beliau mengharapkan putranya (Siau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hong) menggunakan pengaruhnya untuk berusaha sedapat
mungkin hidup berdampingan secara damai antar kedua
negeri Song dan Liau demi kesejahteraan manusia.
Sungguh Siau Hong sangat berduka, sejak kecil berpisah
dengan ayahnya sesudah bertemu sebentar saja sekarang
orang tua itu sudah melepaskan diri dari kekeluargaan,
rasanya untuk seterusnya tiada kesempatan buat bertemu
lagi. Ia pikir demi pesan sang ayah tadi, selaku Lam-ih Tai-ong
harus berusaha mencapai perdamaian di antara negara
tetangga.
Tengah Siau Hong termenung. Tiba-tiba dari dalam Sianlim-
si beramai-ramai keluar beberapa padri tua, mereka
adalah Sin-kong Sianjin, Cilo Singh dan lain-lain dengan
diantar oleh Hian Cit dan Hian Seng, Polo Singh tampak berdiri
di belakang Hian-Cit dan merangkap tangannya sebagai tanda
hormat mengantar keberangkatan tamu mereka.
Terdengar Cilo Singh berkata, "Sute, aku akan kembali ke
Thian-tiok yang jauh di barat sana dan entah kapan baru bisa
berjumpa pula, apa engkaü sudah bertekad akan menetap di
sini dan tak ingin pulang ke kampung halaman asalmu lagi"
"Mengapa Suheng masih belum menyadari semua ini?"
sahut Polo Sing. "Thian-tiok adalah Tionggoan dan Tionggoan
adalah Thian-Tiok, begitu pula maksud tujuan kedatangan
Budidarma ke timur sini."
Cilo Singh terkesiap, katanya, "Terima kasih atas petunjuk
Sute, baru sekarang pikiranku terbuka. Engkau bukan lagi
Sutekú melainkan guruku."
"Mencapai kesadaran tidak membedakan cepat atau
lambat, yang penting asal sama-sama mencapai kesadaran,"
kata Polo Singh dengan tertawa.
Siau Hong menyingkir ke samping, ia tunggu sesudah Sinkong,
To jing, Cilo Singh dan lain-lain turun kebawah gunung,
lalu ia pun menyusul di belakang mereka dengan langkah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perlahan, Tapi baru dia melangkah beberapa tindak, tiba-tiba
dari Siau-lim-si keluar lagi seorang, itulah Hi-Tiok adanya.
Sungguh girang Hi-tiok tak terkira demi melihat Siau Hong,
cepat la menyusulnya dan berkata. "Toako, aku sedang
hendak mencari dirimu. Kabarnya Samte terluka parah, entah
bagaimana keadaannya?"
'"Ya, aku telah membawanya kesuatu rumah petani," sahut
Siau Hong.
”Marilah kita pergi melihatnya, boleh?" tanya Hi-tiok.
"Baik sekali." sahut Siau Hong.
Segera mereka berdua berangkat dengan cepat. Tapi
belum ada belasan meter jauhnya, Bwe-kiam berempat tibatiba
muncul dari dalam hutan sana dan mengikut ke belakang
mereka. pertengahan jalan Hi Tiok memberitahukan kepada
Siau Hong bahwa ke-18 ksatria Cidan juga sudah pergi dengan
selamat.
Siau Hong menyatakan syukur, diam-diam ia membatin,
"Adik angkat ini sungguh sangat aneh, dia adalah saudara
angkatku atas perantaraan Samte, di luar dugaan takkala aku
terancam bahaya aku telah mendapat bantuannya yang
sangat berharga.”
Selain itu Hi-tiok juga menberitahu bahwa Ting Jun-jiu
sekarang sudah di bawa pengawasan Kai-lut-ih Siau-lim-si,
tiap-tiap tahun pada waktu tertentu padri Siau-lim-si akan
memberì minum obat Leng-ciu-kiong untuk memunahkan
siksaan Sing-si-hu bilamanà kumat dan karena mati hidupnya
Sudah tergenggam di tangan orang, dapat dipastikan iblis tua
itu tidak berani main gila lagi dengan segala kejahatanya.
"Jiko,” kata Siau Hong dengan, tertawa, "engkau telah
membasmi suatu penyakit besar bagi kaum pesilatan, di
bawah pengaruh ajaran agama mungkin Ting jun-jiu akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapat mencapai kesadaran atas segala perbuatannya masa
lalu."
Tapi Hi-tiok tampak muram, katanya, "Aku sendiri ingin
menetap di Siau-lim-si, tapi aku justru diusir mereka.
Sebaliknya Ting Jun-jiu yang maha jahat, itu malah dapat
menyucikan diri di sana, sungguh tidak adil."
Siau Hong tersenyum, katanya, "Jite, kamu iri pada
keadaan Ting Jun jiu sekarang. tapi dia justru beribu kali lebih
iri padamu. Engkau adalah Cujin Leng-ciu-kiong dan
membawahkan 36 Tongcu dan 72 Tocu betapa hebat
perbawamu ini masakah engkau merasa tidak senang?"
"Tidak," sahut Hi-Tiok dengan geleng kepala, "Penghuni
Leng-ciu-kiong itu adalah kaum wanita semua. aku sendirl
cuma seorang hwesio kecil, hidup sendirian di antara mereka
sesungguhnya tidak bebas."
"Hahahaha! Apakah kamu masih seorang hwesio kecil?"
sahut Siau Hong dangan terbahak-bahak.
"Tapi akan tiba saatnya nanti akan kuubah Leng-Ciu-kiong
Leng Ciu-si, akan kuperintahkan nenek-nenek dan nona-nona
itu menjadi Nikoh (biksuni) semua."
"Hahahaha!" kembali Siau Hong bergelak tartawa. "Hwesio
tinggal bersama dengan Nikoh, hahahahaha, sungguh berita
luar biasa di dunia ini?"
Begitulah sambil bicara dan tertawa, akhirnya kedua orang
itu sampaì di rumah Kiau Sam-si dan kebetulan mereka
pergoki Goan-ci hendak mencukil mata Ciong Ling dan
syukurlah masih sempat mancegahnya. Baru sekarang A Ci
paham sebabnya Siau Hong marah-marah padanya karena
merusak sebuah alat tenun, kiranya tempat ini adalah bekas
kediaman Siau Hong semasa kecil. Namun begitu dasar watak
A Ci juga keras, meski tahu salah toh día tidak mau minta
maaf.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maka Toan Ki lantas bertanya, "Toako, Jiko, apakah kalian
melihat ayahku?"
Siau Hong mengatakan tidak, sedang Hi-tíok menjawab,
"Ketika para ksatria Tionggoan beramai-ramai bubar dan
pergi, aku menjadi lupa memberi salam hormat kepada
paman, sungguh aku tidak tahu aturan."
"Jiko, tidak perlu sungkan-sungkan,” kata Toan Ki. "Hanya
saja Toan Yan-khing itu adalah musuh ayah, aku kuatir dia
membikin susah ayahku.”
"Urusan ini tidak perlu dikuatirkan, sekarang juga ku pergi
mencari paman dan bila perlu membantunya, ” ujar Siau
Hong.
"Huh, paman apa segala kenapa tidak memanggilayah
mertua?” A Ci berolok-olok.
"Ya, apa yang sudah terjadi (maksudnya kematian A Cu)
merupakan penyesalanku selama hidüp, apa mau dikatakan
lagi." sahut Siau hong dengan menghela napas.
Tapi sebelum dia melangkah pergi saat ¡tulah Bwee-kiam
masuk membawakan daharan untuk Toan Ki, demi mendengar
percakapan tadi, ia lantas berkata, "Siau-taihiap tidak perlu
merepotkan diri, biarlah hamba sekarang juga menyampaikan
perintah Cujin agar semua pengikut Leng-ciu-kiong
mengamat-amati Toan Yan-khing, jika kelihatan dia
bermaksud jahat supaya member tanda bunga api, dan segera
kita dapat membantu, bagaimana sengan pendapat Siautaihiap?”
"Bagus sekali." Kata Siau Hong dengan girang. "Dangan
bantuan kawan-kawan Leng-ciu-kiong yang tidak sedikit itu
tentu akan lebih baik daripada kita mencarinya dengan Cuma
beberapa orang saja."
Begitulah Bwee-kiam lantas pergi menyampaikan perintah
itu. Rupanya orang-orang Leng-ciu-kiong itu mempunyai cara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang sangat tepat dalam mengadakan hubungan. Misalnya Hitiok
telah berada di rumah Kiau Sam-hoai, sementara itu para
wanita dari Hian-thian-poh sudah mendapat kabar, di bawah
pimpinan Hu Bin-gi mereka sudah menyusul sampai di sekitar
rumah itu dan diam-diam menjaga keselamatan sang cijin.
Maka legalah hati Toan Ki tentang keselamatan ayahnya.
Tapi segera teringat pula olehnya akan diri Ong Giok yan,
pikirnya, "Dia sudah sangat benci padaku mungkin selanjutnya
dia tak mau gubris lagi padaku.”
Terpikir demikian tanpa terasa ia menghela napas.
Rupanya ciong ling sangat memperhatikan keadaan toan Ki,
maka ia lantas bertanya, "Apa lukamu kesakitan?”
"Ah, tidak hanya sedikit saja.” Sahut Toan Ki.
"Nona Ciong.” Tiba-tiba A Ci menimbrung, "tampaknya
engkau sangat suka pada engkohku ini, tapi sama sekali
engkau tidak kenal perasaannya. Kukira rindumu ini kelak
pasti akan sia-sia belaka.”
"Aku tidak ajak bicara padamu, buat apa banyak omong,"
sahut Ciong Ling.
"Aku cerewet atau tidak memang bukan soal," sahut A Ci
tartawa. "Aku hanya kuatir ada seorang nona yang berpuluh
kali lebih cantik, lebih berbudi dan lebih mesra daripadamu,
terang engkohku takkan suka padamu apa kautahu mengapa
engkohku menghela napas? Orang menghela napas
menandakan perasaannya kurang puas. Kau sendiri tidak
menghela napas karena engkau puas berdampingan dengan
engkohku, sebaliknya engkohku menghela napas disebabkan
dia senang memikirkan seorang nona lain."
Rupanya A Ci tidak berhasil mencungkil mata Ciong Ling,
maka sekarang sengaja mencari macam-macam kata untuk
menusuk perasaan nona itu agar berduka dan terluka, dengan
demikian barulah a Ci senang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mestinya Ciong Ling sangat gusar, tapí kalau dipikir lagi, ia
merasa, apa yang dikatakan A Ci itu juga beralasan, maka
rasa gusarnya berubah menjadi cemas dan sedih. Cuma saja
usianya masih terlalu muda, sifatnya lincah kekanak-kanakan,
walau mencintai Toan Ki, tapi bukan cinta yang meresap, jadi
hanya cinta lahir saja, ia merasa senang terhibur bila dapat
berada bersama dengan Toan Ki. Maka soal toan Ki
merindukan kekasih lain, hal ini hanya membuatnya merasa
berduka sekedarnya saja, selain itu ia pun tidak merasakan
apa-apa lagi.
Maka Toan Ki berkata, "Jangan kau percaya ucapan A Ci
yang ngawur itu, ñona Ciong!"
A Ci menjadi gusar, díkatakan ngawur, itu berarti
menyinggung matanya yang buta, segera ia berkata pula,
"Koko, sebenarnya engkau lebih suka nona Ong atau lebih
senang pada nona Ciong? Noná Ong telah berjanji akan
bertemu dengan aku besok pagi. Coba katakan apa yang kau
pesan tentu kusampaikan padanya."
Mendengar itu, serentak Toan Ki bangun duduk di atas
balai-balai dan cepat tanya, "Benarkah kamu telah berjanji
dengan nona Ong untuk bertemu? Di mana dan kapan,
hendak membicarakan urüsan apa?"
Melihat betapa gugupnya Toan Ki itu, tak perlu diterangkan
lagi juga Ciong tahu entah berapa kalí nona Ong itü lebih
penting dalam pandangan Toan Ki daripada dirinya. Namun
watak Ciong Ling memang lebih lapang, rasa duka semula
sekarang pun sudah hampir lenyap. Coba kalau Giok-yan,
tentu akan berduka setengah mati. Sebäliknya kalau Bok Wanjing,
tentu dia akan bidikkan panahnya yang berbisa itu ke
arah Toan Ki. Sedang A Ci tentu akan berusaha
membinasakan saingannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Malahan Ciong Ling sekarang lantas berkata, "Eh, jangan
bergerak, hati-hati nanti lukamu pecah dan mengucurkan
darah."
Di sebelah sana diam-diam Hi-tiok, mengikuti garak-gerik
mereka, pikirnya, "Nona Cíong ini sedemikian mendalam
cintanya kepada Samte, besar kemungkinan día bukan Dewi
Impianku. Kalau tidak masakah sama sekali dia tidak
mengunjuk sesuatu perasaan ketika mendengar suaraku tadi?”
Tapi segera timbul pula pikiran lain, "Ah, tidak betul seperti
Tong-lolo dan Li Jiu-sui, Sie-popo, Ciok-soh dan lain-lain,
wanita-wanita itu semuanya sangat pintar dan bertipu akal,
sama sekali berbeda daripada kaum lelaki. Bukan mustahil
nona Ciong ini adalah Dewikz Impianku, Cuma dia sengaja
diam saja."
(Oo^o^dwkz^http://kangzusi.com/^o^oO)
Jilid 78
Dalam pada itu Toan Ki sedang mendesakA Ci agar
mengatakan di mana Giok-yan akan bertemu dengan nona itu
menurut apa yang dijanjikan. Karena itu, A Ci sengaja bicara
melantur-lantur untuk mempermainkan Toan Ki.
Tak terduga Lam-kiam yang kebetulan berada di s itu lantas
menimbrung, katanya, "Toan-kongcu adik perempuanmu
hanya bergurau saja denganmu masakah engkau menanggapi
dengan sungguh-sungguh?”
"Dari mana Cici tahu adikku cuma bergurau saja?" tanya
Toan Ki.
"Kalau kukatakan jangan-jangan nona Toan akan marah
padaku kecuali kalau Cujin mengizinkan aku bicara," ujar Lamkiam
dengan tenang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jiko," segera Toan Ki berkata kepada Hi-tiok "bolehlah kau
suruh dia bicara."
Hi-tiok mengangguk tanda setuju. Maka Lam-kiam lantas
bícara, "Malahan Cujin sendiri juga menyaksikan cuma beliau
tidak mau bilang. Nona Ong telah ikut bersama rombongan
Büyung-kongcu katanya hendak pergi ke Se He untuk
mengikuti sayembara putri Se He di sana, mungkin saat ini
mereka sudah beratus li jauhnya, dari mana dia dapat berjanji
dengan nona Toan untuk bertemu besok?"
"Budak busuk sudah tahu aku tidak suka kamu ikut omong
kau justru banyak mulut," semprot A Ci, "Kalian berempat
saudara memang serupa, suka usilan. Majikan tidak bicara tapi
kalian selalu suka menimbrung."
"Nona Toan, jangan mengomeli ciciku," tiba-tiba Kiok-kiam
menanggapi di luar sana. "Hendaknya diketahui bahwa aku
adalah pemegang kunci Sin-long-kok tempat penyimpanan
kitab-kitab pusaka Leng-ciu-kiong kami, untük mempelajari
cara menyembuhkan matamu, Cujin harus mencuri kitab ke
Sin-long-kok.”
Diam-diam A Ci terkesiap. Kalau kaum budak itu ikut main
gila, bükan mustahil matanya akan sukar disembuhkan lagi.
"Hm, bagus!" demikian díam-diam ia memakí. "Awas, kelak
bila mataku sudah sembuh, tentu kalian akan rasakan
kelihaíanku."
Toan Ki mengucapkan teríma kasih atas pemberítahuan
Lam-kiam tadi, lalu katanya kepada Siau Hong, "Toako,
apakah benar rombongan Buyung-kongcu telah berangkat ke
negeri Se He?"
"Benar,” sahut Siau Hong. "Lamat-lamat ku dengar hal ¡tu
ketika dia mohon díri kepada ayahandanya.”
"Untuk apakah dia pergi ke sana?” demikian Toan Ki
bergumam sendiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"'Mengenai maksud tujuannya aku tahu," Kata Hi-tiok.
"Menurut keterangan Kongya Kian kepala para pengemis Kaipang
katanya di tengah jalan mereka telah menemukan
seorang anggota Kai-pang yang membawa pulang secarik
maklumat kerajaan Se He tentang sayembara raja Se He yang
lagi mencari menantu pada hari Tiongciu nanti, seluruh ksatria
dan jago muda di segenap perjuru diharap mengikuti
sayembara itu agar dapat dipilíh sebagai Huma (menantu
raja)."
"Eh, Cüjin, mengapa engkau tidak coba-coba ikut
sayembara itu," tiba-tiba Tiok-kiam menimbrung. "Asalkan
Síau-taihiap dan Toan-kongcu tidak menyaingi engkau sangat
mudah bagimu untuk dipilih sebagai Huma."
Dasar sifat Tiok-kiam berempat saudara itu memang masih
kekanak-kanakan biasanya mereka dipandang sebagai cucu
sendiri oleh Tong-lo, Cuma saja watak Tong-lo sangat keras,
maka keempat anak dara itu tidak beraní sembrono kepadà
nenek itu tapí sejak mereka melayani Hi-tiok yang ramah
tamah sedikit pun tidak pernah berlagak tuan besar, maka
Bwe-kiam berempat juga tidak terlalu jeri kepada majikan
baru itu apa yang mereka ingin katakan lantas dikatakan
begitu saja.
Hi-tiok menjadi kikuk, cepat sahutnya, "tidak, tidak
mungkin aku adalah seorang hwesio…”
Tapí belum lanjut ucapannya Bwe-kiam berempat lantas
mengikik tawa.
Karuan muka Hì-tiok menjadi merah ia coba melirik Ciong
Ling, dilihatnya nona itu sedang termangu-mangu
memandangi Toan Ki, sama sekali tidak memperhatikan
kepada apa yang diucapkannya tadi. Tiba-tiba Hi-tiok teringat
kepada pertemuannya dangan sang Dewi Impian di dalam
gudang es istana raja Se He, bukan mustahil Dewi Impian itu
sekarang juga masih berada di sana, kenapa aku tidak pergi
ke sana untuk coba mencarinya?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba Toan Ki juga berkata padanya, "Jiko Leng-ciukiong
kalian sangat berdekatan dengan Se He, kenapa kita
tidak pesiar sekalian ke Se He? Wah, pada hari Tiongciu nanti
pasti akan ramai sekali di kotaraja Se He itu. Dan sesudah itu
barulah kita berkunjung ke tempatmu untuk menikmati arak
simpanan Thian-san Tong-lo yang tak terkatakan harumnya
itu."
Siau Hong sendiri sudah beberapa hari tidak minum arak,
meski ke-18 ksatria Cidan yang dibawanya dari negeri Liau itu
masing-masing membawa kantung kulit besar berisi tuak
pilihan, tapi sekarang pengiring-pengiring itu sudah tidak
mendampingi lagi, maka ia menjadi ketagihan demi
mendengar Toan Ki bicara tentang arak di Leng-ciu-kiong.
Dalam pada itu A Ci lantas mendahului menyatakan setuju,
"Ya, pergi, marilah Cihu, beramai-ramai kita pergi ke sana
semua!”


Ia tahu untuk bisa menyembuhkan matanya yang buta itu
harus ikut Hi-tiok ke Leng-ciu-kiong, tapi kalau tidak didukung
oleh Siau Hong mungkin akan banyak alangannya.
Ketika melihat Siau Kong diam saja, segera A Cl
mendekatinya dan memohon pula, "Cihu, jika engkau tidak
membawa aku ke Leng-ciu-kiong, mata ... mataku ini tiada
harapan disenbuhkan lagi dan tak bisa melihat untuk
selamanya."
Siau Hong pikir kedua mata anak dara itu memang perlu
disembuhkan. Apalagi rasanya juga sangat berat untuk
berpisah dengan para ksatria Tionggoan dan saudara-saudara
angkat yang baik budi ini, kalau pulang ke negeri Liau tentu
akan hidup kesepian lagi walaupun mempunyai kedudukan
yang agung di sana.
Maka jawabanya kemudian, "Baiklah! Jiko, samte, marilah
kita beramai-ramai pergi ke Se He, kemudian kita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengunjungi Leng-ciu-kiong samte untuk minum sepuaspuasnya
selama beberapa hari di sana."
Begitulah, esok paginya beramai-ramai mereka lantas
berangkat. Lebih dulu Hi-tiok menyambangi makam ayahbundanya
(Hian-cu dan Yap Ji-nio), lalu rombongan mereka
berangkat menuju ke barat.
Para wanita Leng-ciu-kiong menyewakan sebuah kereta
keledai bagi Toan Ki dan Yu Goan-ci yang terluka itu. Goan-ci
merasa serba salah, ia lebih suka dihina dan dimaki daripada
berpisah dengan A Ci. Setiap kali asal A Ci mau menyingkap
tirai kereta dan bicara sepatah dua kata dengan dia, maka
Goan-ci akan girang setengah mati.
Cuma sekarang A Ci menunggang kuda dan selalu mengutil
di sebelah Siau Hong, walaupun dalam hati Goan-ci merasa
gelisah, tapi sedikitpun tidak berani mengunjuk rasa kurang
senang terhadap si nona.
Kira-kira dua hari kemudian, kedelapan barisan wanita
Leng-ciu-kiong sudah mulai bergabung kembali, Pimpinan
Hian-thian-poh memberi lapor kepada Hi-tiok dan Toan Ki
bahwa keadaan Toan Ki telah diberitahukan kepada Tin-lamong
dan orang tua itu merasa sangat lega beliau cuma
menyampaikan pesan agar Toan Ki selekasnya pulang ke
Tayli.
Menurut laporan itu katanya rombongan Lam-ong menuju
ke timur-laut, sebaliknya rombongan Toan Yan-khing dan
Lam-hai-gok-sín menuju ke jurusan barat-daya sehingga
kedua rombongan itu tídak nanti kepergok.
Toan Ki merasa senang dan lega oleh keterangan itu, ia
mengucapkan terima kasih kepada para wanita Hian-thian
poh.
Tiba tiba Ciong Ling berkata, "Toan-kongcu, ayahmu
mengharapkan kau lekas pulang ke Tayli, mengapa beliau
sendiri malah menuju ke tímur-laut?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Toan Ki tersenyum dan belum lagi menjawab tiba-tiba A Ci
menyela. "Tentu ayah ditahan oleh ibuku dan dilarang pulang
ke Tayli. Nah nona Ciong jika kau ingin menambat hati
engkohku ini maka perlu kau belajar dulu pada ibuku.”
Ciong Ling sendiri tahu kepergian Toan Ki ke Se He ¡ni
sebenarnya ingin berjumpä pula dengan nona Ong itu, tapi ¡a
tidak ambil pusing sebab ia sudah puas karena selama
beberapa hari ini dapat berdampingan dengan Toan Ki. Maka
sekarang ia pun tidak gubris kepada sindiran A Ci itu.
Begitulah mereka melanjutkan perjalanan, karena hawà
sangat panas, pula masih cukup lama dengan hari Tiongciu,
maka perjalanan mereka dilakukan dengan seanaknya saja.
Di tengah jalan keadaan luka Toan Ki dapat sembuh
dengan cepat. Hi tiok juga telah menyambung tulang kaki
Goan-ci yang patah itu dengan kepitan kayu dan tampaknya
besar harapan akan dapat pulih kembali.
Goan-ci sama sekali tidak mau bicara dengan siapa pun,
meski Hi-tiok mengobati kakinya, dalam hatinya tetap penuh
dendam dan benci.
Suatu hari, sampailah mereka di jalan raya Ham-yang di
situ menurut sejarah pernah terjadi pertempuran yang
menentukan antara Lau-pang (cikal-bakal kerajaan Han, 260
seb. M) dan Hang Ih.
Hi-tiok dan Siau Hong tidak banyak bersekolah, maka
mereka menjadi sangat tertarik mendengarkan cerita Toan Ki
tentang sejarah masa lampau.
Tengah mereka asyik mendengarkan cerita Toan Ki, tibatiba
terdengar suara derapan kuda lari yang ramai, dari
belakang memburu tiba dua penunggang kuda. Cepat Siau
Hong dan lain-lain menyingkirkan kuda mereka ke tepi jalan
agar kedua penunggang kuda dari belakang itu dapat lewat.
Hanya A Ci saja yang tidak mau menyingkir sebaliknya ia tetap
mengadang di tengah jalan. Bahkán waktu kedua penunggang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kuda itu sudah dekat, mendadak ia ayun pecutnya ke
belakang.
Namun satu di antara kedua penunggan kuda ¡tu pún
sempat angkat pecutnya untuk menangkis cambukan A Ci itu,
bahkan terdengar día teriak, "Toan-kongcu, Siau-taihiap,
harap tahan dulu!”
Waktü Toan Ki menoleh, kiranya kedua pendatang itu
adalah Pah Thian-sik dan Cu Tan-Sin. Dalam pada itu Pah
Thian-sik sudah dapat menangkis cambukan A Ci tadi dan
bersama Cu Tan sin melompat turun dari kuda mereka dan
lantas berlutut memberi hormat kepada Toan Ki.
Mesk¡ Toan Ki adalah tuán muda, tapi nyatanya ía pandang
Pah Thian-sik dan Cu Tan-tan sin sebagai angkatan tua, maka
cepat ia pun melompat turun dari kudanya dan balas
menghormat, katanya, "Apakah ayah baik-baik saja?"
Tapi mendadak terdengar suara sambaran pecut, tahu-tahu
A Ci mencambuk lagi ke atas kepala Pah Thian-sik. Saat itu
Thian-sik belum bangun kembali, terpaksa ia mengegos ke kiri
dengan masih tetap berlutut. Dengan demikian pecut A Ci itu
mengenai tanah, maka Thian-sik sekalian gunakan dengkulnya
untuk menindih ujung pecut. Waktu A Ci hendak menarik
kembali pecutnya, dengan sendirinya tidak kuat.
A Ci tahu bila main betot tentu kalah kuat tenaganya, maka
ia terus lemparkan tangkai pecut ke arah Thian sik.
Rupanya Pah Thian-sik masih mendongkol karena
meninggalnya Leng Jian li gara-gara kenakalan A Ci, maka
sekarang ia sengaja hendak membikin kapok anah dara itu
supaya tidak berani main gila lagi.
Tak sangka bahwa meski mata A Cl sudah buta, tapi gerakgeriknya
masih sangat cepat, tahu-tahu gagang pecut
menyambar tiba, cepat Thian-sik egoskan kepalanya ke
samping, "plok", tidak urung pundaknya terhantam gagang
pecut itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Adik Ci, kembali kamu ngacau lagi?" bentak toan Ki
segera.
"Mengacau apa?" sahut A Ci. "Dia inginkan pecutku maka
kuberikan padanya."
Watak Pah Thian-sik memang sangat sabar, maka ia hanya
tertawa dan berkata, "Banyak terima kasih atas hadiah pecut
nona ini."
Lalu tidak tarik panjang lagi kejadian itu melainkan lantas
mengeluarkan sepucuk surat dihaturkan kepada Toan Ki.
Waktu Toan Ki menerima surat itu, ia lihat di atas sampul
tertulis nama dirinya sebagai penerima surat, la kenal itulah
tulisan sang ayah. Cepat ia betulkan pakaiannya, dengan
khidmat ia buka dan membaca surat itu.
Kiranya isi surat itu membawa pesan Toan Cing-sun agar
bila ada jodoh. Toan Ki disuruh mengikuti sayembara untuk
berebut putri Se He. Dikatakannya bahwa negeri Tayli kecil
dan lemah, kalau dapat berbesanan dangan kerajaan Se He,
hal ini akan menguntungkan politik pertahanan kerajaan Tayli
dan bagi kesejahteraan rakyat. Adapun soal perjodohan Toan
Ki dengan putri keluarga Ko akan diselesaikan oleh paman
bagindanya kelak.
Habis membaca surat sang ayah, air muka Toan Ki tampak
agak pucat, katanya dengan terputus-putus, "Soal ini ... ini .."
Tapi Pah Thian-sik lantas mengeluarkan sepucuk surat
pula, katanya, "ini adalah surat pribadi Ongya kepada Sri
Baginda di Se He sebagai surat lamaran, harap setiba di
Lengciu surat ini supaya dihaturkan kepada Sri Baginda Se
He.”
"Ya, Kongcu, semoga tujuanmu ini berhasil dengan baik
dan dapat membawa pulang seorang putri cantik molek
sehingga negeri kita pun ikut kukuh dan kuat," kata Cu Tansin
dengan tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Toan Ki tambah kikuk, katanya, "Dari mana ayah
mengetahui bahwa aku pergi ke Se He?"
"Ongya mengetahui Buyung-kongcu hendak melamar putri
Se He beliau menduga tentu Kongcu juga ... juga akan ikut
pergi ke sana,” tutur Thian-sik.
"Hihihi!" tiba-tiba A Ci tertawa, "ini namanya yang paling
kenal anaknya hanya sang ayah. Ketika ayah mendengar
Buyung Hok hendak pergi ke Se He, segera beliau menduga
nona Ong pasti ikut pergi juga dan dengan sendiriaya beliau
yakin putra mestikanya ini tentu juga akan mengintil ke sana.
Hm, bila belandar di atas menceng, tentu tiang di bawahnya
juga akan miring. Mengapa, dia tidak kenal dirinya sendiri?"
Thîan-sik, Tan-sin dan Toan Ki melengak demi mendengar
ucapan yang kurangajar itu, masakah seorang anak boleh
mencela orang tua secara kasar demikian?
Tapi A Ci lantas berkata pula, "Koko, dalam surat ayah itu
apakah juga menyinggung díriku?"
"Ayah tidak tahu bahwa kamu bersama berada dengan
aku," sahut Toan Ki.
"Ya, dia memang tidak tahu. Tapi apa dia tidak memberi
pesan agar kau cari diriku? Apa tidak suruh kau jaga adik
perempuanmu yang buta?”
Dalam surat Toan Cing-sun itu sama sekali tidak menyebutnyebut
tentang A Ci, kalau Toan Ki bicara terus terang
dikuatirkan adik perempuannya akan tersinggung, maka
berulang ia mengedipi Thian-sik dan Tan-s¡n agar mereka
mengakui adanya perintah Toan Cing-sun untuk mencari A Ci.
Tak tersangka Thian-sik berdua sengaja berlagak pilon saja
dan tidak mau menanggapi maksud Toan Ki itu. Sebaliknya
Tan-sin berkata, "Tin-lam-ong minta hamba berdua
mendampingi Kongcu agar bilamana perlu dapat membantu,
betapapun putri Se He harus Kongcu boyong pulang ke Tayli,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kalau tidak hamba berdua tentu akan diomeli Ongya, andaikan
tidak diomeli juga hamba berdua merasa malu akan disangka
tidak becus mengasuh.”
"Aku Sudah terang tidak mahir ilmu silat masa bisa
menandingi para ksatria yang datang dari segenap panjuru itu
nanti." sahut Toan Ki dengan tersenyum getir.
Tapi Pah Thian-sik lantas berkatà pula, "Ongya menyuruh
hamba menyampaikan salam kepada Siau-taihiap dan Hi-tiok
Siangsing, beliau berharap kalian sudi mengingat sesama
saudara angkat dan sudi memberi bantuan kepada Kongcu
kami. Kata Ongya ketika bertemu di Siau-lim-san, karena
dalam keadaan tergesa-gesa, maka beliau tidak sempat
bercengkerama dengan Siau-taihiap berdua, sebagai gantinya
sekarang beliau suruh hamba menyampaikan sedikit kado."
Lalu ia mengeluarkan sebuah singa-singaan kemala hijau
dan dihaturkan kepada Siau Hong.
Sedangkan. Cu Tan-sin juga lantas mengeluarkan sebuah
kipas terbuat dari gading, pada daun kipas itu ada tulisan
tanganToan Cing-sun, ia serahkan kipas itu kepada Hi-tiok.
Siau Hong berdua menerimanya dengan ucapan terima
kasih, kata meraka, "Urusan Samte sudah tentu kami bantu
sepenuh tenaga, masakah perlu pesan lagi dari paman?
Sungguh kami merasa tidak enak, belum-belum sudah
menerima hadiah lebih dulu."
"Apakah kau sangka ayahku berhati begitu baik?" tiba-tiba
A Ci menyela lagi. "Dia justru ingin kalian berdua jangan
berebut menjadi huma dengan engkohku. Dengan janji kalian
ini, maka itu berarti kalian telah tertipu oleh ayahku."
"Ah, sejak Tacimu meninggal, masakah aku mempunyai
niat untuk menikah pula?" ucap Siau Hong dengan menghela
napas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mulutmu berkata demikian, siapa bisa tahu apa yang
terpikir dalam hatimu?" ujar A Ci. "Hi-tiok Siangsing memang
polos dan jujur, tidak romantis seperti engkohku itu, di manamana
suka berkasih-kasihan. Jika Hi tiok Siansing belum
pernah mengikat janji dengan orang, bukankah sangat bagus
memperistrikan putri Se He saja?"
"Hm, ma , .. mana boleh jadi!" sahut Hi tiok dengan muka
merah dan menggoyang-goyang tangan. "Aku sendiri pasti
tidak ambil bagian, aku dan Toako tentu akan membantu
Samte mencapai perjodohan yang setimpal ini."
"Banyak terima kasih atas kesanggupan Siau-taihiap dan
Hi-tiok Siangsing," demikian serentak Thian sik dan Tan sin
memberi hormat.
Nyata bukan saja Siau Hong dan Hi-tiok sudah teringat oleh
janji mereka sebagai ucapan ksatria, bahkan dengan demikian
Toan Ki menjadi tak bisa menolak perintah ayahnya.
Begitulah perjalanan mereka akhirnya rnendekati Leng-ciu,
orang Bu-lim yang saling berjumpa di tengah jalan juga
tambah banyak.
Hendaklah maklum bahwa kerajaan Se He meski lebih kecil
daripada kerajaan-kerajaan Song dan Liau, tapi terhitung
suatu negeri besar di daerah barat dengan sendirinya banyak
orang persilatan ingin memperistrikan sang putri yang agung
dan kabarnya cantik pula.
Cuma tokoh-tokoh Bu lim yang ternama pada umumnya
sudah beristri dan berkeluarga. Kalau ada jago muda, dalam
hal ilmu silat juga belum tentu tinggi. Karena itu banyak
bandit-bandit dan petualang-petualang yang masih bujangan
sama menaruh harapan akan dipilih sebagai menantu raja,
maka beramai-ramai mereka sama datang ke Lengciu. Bahkan
banyak tokoh-tokoh dan ksatria tua yang membawa serta
anak muridnya dengan tujuan menguji nasib, eh, siapa tahu
dapat dipungut sebagai menantu raja Se he.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitulah, maka sepanjang jalan banyak sekali ksatria
muda yang berpakaian mentereng dan parlente, sampaisampai
senjata yang mereka bawa juga serba "lux". Maklum,
pada umumnya orang persilatan kebanyakan dari keluarga
mampu, sebaliknya kaum sekolahan kebanyakan adalah
keluarga miskin apalagi kalau kelakuan orang yang pandai silat
Itu tidak baik tentu sumber keüangan jauh lebih mudah
datangnya, misalnya dengan jalan merampas dengan
kekerasan atau mencuri secara diam-diam. Oleh sebab itulah
pakaian mereka sekarang sedapat mungkin serba mewah
dangan tujuan akan mendapat perhatian khusus dari sang
putri.
Pada hari itu rombongan Siau Hong sedang melanjutkan
perjalanan dengan santai. Tiba-tiba terdengar derapan lari
kuda, seorang penunggung kuda tampak datang dari depan,
penunggangnya kelihatan terluka lengan kanan diperban dan
tergantung di depan dada dengan ikatan kain, bajunya juga
sobek, keadaannya kumal.
Síaü Hong dan lain-lain juga tidak ambíl perhatian mereka
menyangka orang ini mungkin terjatuh atau dipukul luka
orang kejadian demíkian adalah sangat jamak bagi orang
persilatan.
Tak terduga, tidak lama kemudian kembali ada tiga
penunggang kuda berlari datang pula dari depan para
penuggang kuda itu semuanya terluka parah ada yang patah
kaki dan ada yang putus lengan. Orang-orang itu seperti
sangat lesu dan malu serta melarikan diri dengan kepala
tertunduk.
"Apa di depan sana ada orang berkelahi, mengapa banyak
orang terluka?" kata Bwe-kiam yang usilan.
Baru lenyap suaranya, kembali dari dépan datang pula dua
orang. Kedua orang ini tidak menunggang kuda, mukanya
penuh darah, satu di antaranya kepalanya diperban
dengankain dan darah masih merembes keluar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Segera Tiok-kiam menegur mereka, "Hei, kalian mau obat
luka tidak? Mengapa kalian terluka?"
Tapí orang itu melotot pada Tiok-kiam dengan penuh
kebencian, bahkan meludah ke tanah lalu tinggal pergi tanpa
gubris. Keruan Tiok-kiam menjadi gusar, "sret", segera ia lolos
pedang dan hendak menyerang orang itu.
"Sudahlah," cegah Hi-Tiok. "Orang itu terluka parah, tidak
perlu cekcok dengan dia."
"Adik Tiok kan bermaksud baik hendak memberi obat, tapi
orang itu sedemikian kasarnya, biar dia mampus saja karena
lukanya itu," ujar Lam-Kiam.
Pada saat itulah lagi-lagi ada empat penünggang kuda
sedang mendatangi dengan cepat. Terdengar para
penunggang kuda itu sedang saling damprat dan saling
menyalahkan satu sama lain. Ketika berpapasan dengan
rombongan Siau Hong. Karena kalah banyak, mereka lantas
menyusur ke samping dan lewat dengan cepat.
Dari caci-maki mereka itu agaknya keempat orang itu sama
mengimpikan dipilih menjadi menantu raja Se He, tapi di
depan sana seperti ada suatu rintangan yang tak bisa
ditembus mereka, bahkan mereka dilukai dan ngacir, akhirnya
mereka sama menuduh kawan sendiri yang tidak mau
membantu dan macam-macam lagi.
Tengah Siau Hong dan lain-lain merasa terheran-heran.
tiba-tiba dari depan datang lagi beberapa orang, semuánya
terluka dan babak-belur, ada yang kepalanya bocor, ada yarg
matanya matang biru dan ada yang kakinya pincang.
Dalam herannya segera Ciong Ling memapak maju dan
bertanya, "Hai. apakah orang yang merintangi di depan sana
sangat lihai?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seorang laki-laki setengah umur di antaranya mendengus,
jawabnya, "Kamu seorang nona, kamu dapat lewat tanpa
alangan. Tapi kalau lelaki, hm, lebih baik putar balik saja.”
Ucapan ini membuat Siau Hong dan Hi-tiok ikut heran kata
mereka, "Coba lihat ke sana!"
Segera rombongan mereka mempercepat kuda mereka ke
depan.
Kira-kira beberapa li jauhnya tertampaklah sebuah jalanan
sempit di lereng bukit yang berliku-liku itu. Jalanan itu sangat
sempit sehingga cukup dilalui oleh satu penunggang kuda
saja. Sesudah lewat beberapa pengkolan lagi. Akhlrnya
tertampaklah di depan sana berjubel-jubel orang banyak.
Siau Hong coba melarikan kuda ke depan, ia lihat di tengah
jalan yang sempit itu berdiri berjajar dua orang lelaki kekar.
Keduanya sama-sama tinggi besar dan gagah perkasa. Yang
seorang bersenjata gada besi dan yang lalu memegang
sepasang gandan besar dengan garang mereka menghadapi
belasan orang yang menggerombol di depannya.
Terdengar orang-orang bergerombol di depan kedua lelaki
gagah itu riuh-ramai membujuk dan memohon agar mereka
suka memberi jalan bahkan ada yang menjanjikan balas jasa
yang besar malahan juga ada yang mengancam karena kedua
lelaki itu tetap tidak mau menyìngkir.
Akhirnya karena kedua lelaki gagah itu tetap tidak
menggubris ocehan orang banyak itu, maka seorang telah
membentak "Kurangajar, rupanya minta diberi hajar adat baru
mereka mau minggat!”
Berbareng ia terus putar pedang dan menerjang maju,
kontan ia menusuk dada lelaki yang sebelah kiri.
Perawakan lelaki itu sangat tinggi besar, senjatanya juga
sangat antap, tapi gerak-geriknya sangat gesit. Ketika kedua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gandennya ditentukan dengan cepat, pedang penyerang itu
terjepit oleh gandennya.
Sepasang ganden yang berbentuk astokino (segi banyak)
itu beratnya masing-masing lebih 40 kali, maka begitu
terdengar suara "trang" yang keras tahu-tahu pedang yang
terjepit itu patah menjadi beberapa potong. Bahkan lelakl itu
terus ayun sebelah kakinya sehingga dengan tepat perut se
penyerang dengan pedang itu menjerit dan terpental.
"Jite, tenaga orang ini cukup hebat juga," kata Siau Hong
kepada Hi-tiok.
"Ya, memang," sahut Hi-tiok.
Dalam pada itu ada seorang lagi dengan memutar dua
golok sekencang kitiran telah menyeruduk maju, begitu dekat
dengan kedua lelaki gagah tadi, orang itu menggertak sekali
terus menjatuhkan diri ketanah, mendadak ia mainkan
goloknya dengan mengelinding di atas tanah, yang diincar
adalah bagian kaki lawan.
Lelaki bersenjata gada tidak peduli serangan lawan itu,
begitu angkat gadanya segera ia menggemplang ke tengah
sinar golok, maka terdengarlah jeritan ngeri, tahu-tahu kedua
golok orang itu patah, gagang golok menancap di dada
sendiri, badan berlumuran darah, tampaknya lebih banyak
mampusnya daripada hidup lagi.
Berturut-turut orang dilukai, yang lain-lain menjadi
mengkeret dan tidak berani berkoak-koak lagi seperti tadi.
Tiba-tiba terdengar suara "keteprak-keteprak” suara
derapan kaki binatang tunggangan, ternyata seekor keledai
datang dari belakang sana dan penunggangnya adalah
seorang pelajar muda, usianya paling-paling cuma 18-19
tahun, pakaiannya parlente, orangnya cakap, sikapnya halus
dan sopan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika pemuda itu hendak melampaui rombongan Siau
Hong, karena jalanan sempit terpaksa ia harus menyerempet
kuda-kuda orang lain.
Melihat pemuda itu, mendadak Toan Ki berseru, "He, kau
... kau .... " tapi ia tidak sanggup melanjutkan. Sebaliknya
pemuda pelajar itu sama sekali tidak memandang padanya, ia
menyalip keledainya ke depan.
"He, Toan-kongcu, kau kenal dia?" tanya Ciong Ling
dengan heran.
Wajah Toan Ki menjadi merah, sahutnya, "O, ti ... tidak,
aku salah lihat. Dia ... dia adalah seorang lelaki, dari mana
kukenal dia?”
Karenu ucapannya yang ganjil itu, seketíka A Ci berolok
dengan tertawa, "Koko, jadi engkau hanya kenal kaum wanita
dan tidak kenal orang lelaki?”
Sesudah merandek sejenak, lalu ia tanya pula, "Apakah
orang yang baru saja lewat itu orang lelaki? Padahal sudah
terang dia wanita."
"Kau bilang dia seorang wanita?" Toan Ki menegas.
"Sudah tentu, badannya begitu harum, bau wangil kaum
wanita," sahut A Ci.
Hati Toan Ki berdebur keras, pikirnya, "Ya ... jangan-jangan
memang benar dia ada adanya?”
Dalam pada itu si pemuda pelajar tadi sudah melarikan
keledainya sampai di depan kedua lelaki gagah dan sedang
membentak, "Minggir!"
Dari suaranya yang nyaring merdu itu. nyata memang
suara orang wanita. Maka Toan Ki tambah yakin lagi, segera ia
berseru. "He, nona Bok Wan ... Wan-jing, adikku! Kau ... kau
... aku ... aku , .. kita .... kita .... "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitulah sambil berteriak-teriak tak karuan ia terus keprak
kudanya menyusul ke depan.
"Hati-hati Samte, lukamu belum sembuh!' seru Hi-tiok
kuatir. Segera bersama Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin juga
memburu ke depan.
Pemuda pelajar itu hanya menatap sekejap kedua lelaki
gagah itu, sama sekali ia tidak menoleh atas seruan Toan Ki
tadi. Waktu Thian-sik dan Tan-sin mendekat, mereka coba
mengamatinya dari samping. tertampak pemuda itu memang
cantik molek, nyata memang benar Bok wan-jing yang dahulu
pernah ikut Toan-Ki ke istana Tin-lam-ong itu. Diam-diam
mereka merasa malu, masakah orang melek kalah awas
daripada seorang gadis buta.
Seperti diketahui badan Bok Wan-jing mengeluarkan bau
wangi yang khas, maka A Ci dapat mengendus bau harum itu
dengan hidungnya yang tajam, sejak matanya buta, maka
indrà pendengaran dan perciumannya menjadi jauh lebih lihai
daripada orang biasa.
Begitulah ketika Toan Ki sampai di samping Bok Wan-jing,
segera ia hendak manjawilnya dan bertanya dengan suara
halus, "O, adikku, selama ini engkau berada dl mana?
Sungguh aku sangat merindukan dikau!"
Wan-Jing menghindari jamahan tangan Toan Ki, lalu
menoleh dan menjawab dengan suara dingin, "Kau rindu
padaku? Buat apa kau píkirkan diriku? Apa benar engkau
kangen padaku?"
Toan Ki tertegun, ia merasa tidak dapat menjawab
pertanyaan itu.
Sebaliknya satu di antara kedua lelaki gagah tadi lantas
terbahak-bahak, katanya, "Bagus! Jadi kamu adalah anak
perempuan, nah, boleh lewat ke sana!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sedang lelaki yang lain juga berkata, "Hanya wanita saja
yang boleh lewat, kaum lelaki busuk tidak boleh. Ho, kamu
lekas enyah, lekas putar baik?”
Sambil berkata jarinya terus menuding Toan Ki, lalu
menyambung pula, "Hm setiap melihat pemuda muka halus
macammu hatiku tentu gemas. Ayo lekas enyah, kalau berani
maju selangkah lagi segera kucencang dirimu!”
"Hai, ucapan saudara ini sungguh aneh," sahut Toan Ki.
"Ini kan jalan raya dan boleh dilalui oleh siapa pun juga sebab
apa saudara melarang aku? Coba terangkan."
"Pangeran Cong-coan karajaan Turfan memberi perintah
agar jalan ini ditutup selama sepuluh hari, sesudah lewat hari
Tiangciu baru jalan ini dibuka kembali," demikian lelaki itu
menjelaskan. "Maka sebelum lewat hari Tiongciu, jalan ini
hanya boleh dilalui kaum wanita dan kaum lelaki dilarang.
Kaum padri boleh lewat orang preman tidak boleh. Orang tua
boleh orang muda dilarang. Mati boleh, hidup tidak boleh. Ini
namanya empat boleh dan empat tidak!"
"Apa alasan peraturan demikian," tanya Toan Ki.
"Alasan? haha. Alasan? ini ganden tuan besar dan gada
kawanku inilah alasannya," sahut lelaki itu dengan galak. "Apa
yang diucapkan pangeran Cong-can itu adalah undangundang.
Karena kamu kaum lelaki, bukan hwesio lagi bukan
kakek-kakek maka kalau ingin lewat jalan ini kecuali kamu
menjadi bangkai dahulu."
"Huh, banyak rewel apa?" bentak Bok Wan jing, berbareng
dua panah kecil terus menyambar ke arah kedua lelaki itu.
Maka terdengarlah suara "plok-plok" dua kali kedua panah
itu jelas telah menembus baju dada kedua lelaki itu dan
mengeluarkan suara tapi kedua orang itu sama sekali tidak
terluka apa-apa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lelaki yang bersenjata gada menjadi gusar, bentaknya,
"Nona cilik yang tidak tahu gelagat, kau berani menyerang
kami?"
Sungguh kejut Boh Wan-jing tak terkatakan ia pikir kedua
lelaki itu besar kemungkinan memakai baju dalam anti senjata
makanya panah berbisa yang dilepaskan itu tak dapat
melukainya.
Dalam pada itu lelaki bersenjata gada itu sudah ulur tangan
hendak mencengkeram Bok Wan jing. Walaupun Wan-jing
berada di atas keledai sekaligus lelaki itu hendak
mengcengkam dada Wan-jing.
"He, saudara jangan kurangajar'" seru Toan ki sambil
angkat tangan kanan untuk merintangi orang.
Tapi lelaki itu mendadak menurunkan tangannya sehingga
pergelangan tangan Toan Ki dengan tepat kena terpegang
malah.
"Bagus! Mari kita besat tubuh si muka halus ini menjadi
dua!" seru lelaki yang bersenjata gandon. Segera ia gunakan
tangan kiri untuk memegang kedua gandennya, sedangkan
tangan kanan dipakai mencengkeram pergelangan tangan kiri
Toan Ki, lalu membetot dengan sekuatnya.
"He, jangan mencelakai engkohkul" teriak Bok Wan-jing
dengan kuatir, berbareng beberapa panah berbisa terus
dibidikkan pula. Tapi hasilnya tetap nihil, meski panah-panah
itu jelas mengenai tubuh kedua musuh, namun sama sekali
tidak dapat melukai mereka.
Di sebelah sana Hi-tiok, Pah Thian-sik dan Cu-Tan- sin
teralang oleh kuda tunggangan Toan Ki dan Bok Wan jing dan
tidak keburu memberi pertolongan. Segera Hi-tiok melompat
ke depan meninggalkan kudanya, ia melayang sampai di
sebelah lelaki bersenjata gada dan segera hendak menusuk
iga lawan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi mendadak terdengar Toan Ki bergelak tertawa,
katanya, "Hahahaha! Jiko tidak usah kuatir, mereka tidak
mampu mencelakai aku!"
Benar juga, sejenak kemudian kedua lelaki yang gagah
perkasa bagai menara tadi pelahan mulai lemas, kepala
mereka bergeleng-geleng tak bertenaga, berdirinya juga mulai
tidak kuat dan akhirnya "bluk-bluk", kedua orang terguling
semua ke tanah.
Rupanya "Cu-hap kang" di tubuh Toan Ki telah bekerja
sehingga tenaga kedua lelaki itu disedot habis, akhirnya roboh
dengan lemas.
"Kalian Budak banyak melukai dan membunuh orang, maka
ganjaran ini pun setimpal bagi kalian, diharap saja lain kali
jangan main gila lagi." kata Toan Ki.
"Biarpun ingin main gila juga tidak mampu lagi mereka,"
kata Ciong Ling yang juga memburu tiba. Lalu ia berpaling
kepada Bok Wan Jing dan berkata, "Bibi Bok, sungguh tidak
nyata berjumpa lagi dengan engkau di sini."
"Kamu adalah adik perempuanku, kenapa panggil aku
sebagai bibi?" sahut Wan-jing dengan sikap dingin.
"Ah, engkau suka bergurau saja, mengapa aku bisa
menjadi adik perempuaanmu?" ujar Ciong Ling dengan heran.
"Boleh kau tanya dia kalau tidak percaya," kata Wan-jing
sambil menunjuk Toan Ki.
Ciong Ling lantas menoleh ke arah Toan Ki dengan maksud
ingin penjelasannya.
Diam-diam Toan Ki terkejut. Ia pikir nyonya Ciong (ibü
Ciong Ling) tentu ada hubungan istimewa dengan ayahku,
Kalau tidak tentu Bok Wan jing tidak berani sembarangan
berkata demikian, teringat olehnya kejadian dahulu waktu dia
datang ke Ban-jiat-kok, di tangah lembah maut itu ditemukan
batu nisan yang tertulis "Kuburan Ban Siu Toan" yang berarti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sepuluh ribu kali dendam dengan Toan, untuk bisa memasuki
kuburan yang merupakan tempat kediaman Ciong Ban sin
(Ayah Ciong Ling) ¡tu orang harus menendang tiga kali pada
huruf Toan pada batu nisan ini. Dari sini dapat pula diketahui
betapa dendam dan benci Ciong Ban-sin terhadap keluarga
she Toan.
Begitulah memang kejadian dulu itu sangat mencurigakan.
Tapi lantas terpikir pula olehnya, "Jika nona Ciong ini benar
keturunan ayah kenapa beliau pernah omong di hadapan
Ciong-kokcu bahwa nona Ciong akan diambilnya untuk selirku?
Biarpun kata-kata itu segaja dipakai mengolok-olok Cíongkokcu,
rasanya juga, tidak pantas dikeluarkan terhadap putraputrinya
sendiri. Ya, jangan-jangan .. jangan-jangan ayah
sendiripun tidak tahu bahwa ... bahwa nona Ciong ini
keturunannya?”
Seíketika itu Toan Ki menjadi serba bingung dan terkesima.
Kesempatan itu segera digunakan oleh Orang banyak yang
tadinya dirintangi kedua lelaki gagah tadi untuk meneruskan
perjalanan ke Lengciu.
Tiba-tiba terdengar A Ci berseru kepada Toan Ki, "Koko,
nona yang berbau harum ini apakah juga kekasihmu? Ayolah
perkenalkan dia padaku!"
"jangan ngaco belo, dia ... dia adalah Encimu, lekas
memberi hormat padanya, " Kata Toan Ki.
"Masakah aku mempunyai rejekí sedemikian baik?" jengek
Wan-jing dengan gusar. Lalu ia pecut keledainya dengan
pelahan dan dilarikan ke depan.
Cepat Toan Ki menyusulnya dan bertanya, "Adikku yang
manis, selama ini engkau berada di mana? Ai, tampaknya
engkau... agak kurus sedikit.
Seperti diketahui perangai Bok Wan-jing sangat angkuh dan
tinggi hati sedikit-sedikit suka membunuh orang. Tapi demi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendengar ucapan Toan Ki ini, seketika terasa pedih hatinya
air mata tak tertahan lagi dan segera bercucuran.
"Adikku, rombongan kami berjumlah banyak dan dapat
saling membantu, ada lebih baik kau ikut bersama kami saja,"
kata Toan Ki.
"Siapa perlu bantuanmu?" sahut Wan-jing. "Tanpa dirimu
bukankah selama ini aku pun bisa hidup sendiri?"
"Tapi ... tapi banyak sekali ingin kubicarakan denganmu,"
kata Toan Ki. "Adik yang baik berjanjilah bahwa engkau akan
ikut bersama rombongan kami."
"Kau íngin bicara apa dengan aku? Huh, tentu cuma omong
kosong belaka," ujar Wan jing. Walaupun mulutnya masih
bicara teras tapi hatinya sudah lembek dan diam-diam sudah
ragu.
Tentu saja Toan Ki kegirangan, segera ia mengada-ada
lagi, "Adikku, walaupun engkau agak kurusan sedikit, tapi
makin cantik, makin ayu.”
Mendadak Bok Wan-jing menarik muka katanya, "Sebagai
kakakku, selanjutnya jangan kau bicara demikian padaku."
Perasaannya sesungguhnya sangat kusut. Sudah terang dia
tahu Toan Ki adálah kakaknya sendirl dari tunggal ayah lain
Ibu, tapi rasa rindunya kepada pemuda itu selama ini tidak
pernah berkurang bahkan makin hari makin tumbuh.
Sementara itu Toan Ki berkata dengan tertawa, "Apa
salahnya kalau aku bilang kamu makin cantik? Eh, Mengapa ...
mengapa engkau menyaru sebagai lelaki dan pergi ke
Lengciu? Apakah kaupun ingin dipilih sebagai Huma? Wah,
pemuda pelajar tampan sebagai dirimu tentu sekali lihat putri
Se He akan terpikat?"
"Dan kau sendiri untuk apa pergi ke Lengciu?” Balas tanya
Wan-Jing.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku? Aku ... aku hanya pergi melihat ramai-ramai saja dan
tiada maksud lain.” sahut Toan Ki dengan wajah sedikit
merah.
"Huh. engkau selalu dusta padaku," jengek Wan-jing. "Ayah
suruh kau pergi melamar putri Se He dan memerintahkan
orang-orang she Pah dan Cu itu sampaikan surat padamu, apa
kau sangka aku tidak tahu?”
"Eh, dari mana kau tahu?” Tanya Toan Ki dengan heran.
"Ibuku mempergoki ayah di tengah jalan, aku sendiri waktu
itu ikut bersama ibu, dengan sendirinya urusan ayah kudapat
mendengarnya," tutur Wan jing.
"Kiranya demikian," kata Toan Ki. "Ya, aku pun tahulah
sekarang!"
"Kau tahu apa?" tanya Wan-jing heran.
"Karena kaü tahu aku hendak pergi ke Langciu makanya
engkau menyusul kemari betul tidak?"
Muka Wan-jing menjadi merah sebab ucapan Toan Ki
dengan jitu telah mengenai isi hatinya. Namun demikian toh
mulutnya tetap tidak mau mengaku sahutnya, "Buat apa aku
menyusul kau ke sini?” Aku cuma ingin tahu betapa cantiknya
putri Se He itu sehingga membikin gempar para ksatria
seluruh jagat ini "
Mestinya Toan Ki ingin memuji dan mengatakan bahwa
kecantikan putri Se He itu, pasti ada separuh kecantíkanmu.
Tapi ia merasa ucapan demikian tidak pantas dikatakan
kepada Adik perempuannya sendiri maka kata-kata yang
hampir tercetus itu ditelannya kembali mentah-mentah.
Dalam pada itu Wan-jing sedang berkata "aku pun ingin
tahu apakah Pangeran dari kerajaan kita dapat mengikat
jodoh dengan putri Se He itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sesst, ketahuilah bahwa aku sudah pasti tidak ingin
menjadi Huma kerajaan Se He," kata Toan Ki dengaa pelahan.
"Moimoai, maksudku ini jangan kau bocorkan kepada orang
lain, Pendek kata bila ayah memaksa aku, pasti aku akan
kabur saja."
"Masakah kau berani membangkang perintah ayah?”
"Aku tidak membangkang, tapi Kabur, menghilang?”
"Menghilang dan membangkang perintah apa bedanya?”
ujar Wan-jíng dengan tertawa, "Masakah putri yang cantik
molek itu tidak menarik bagimu?”
Sejak bertemu baru sekarang Wan jing memperlihatkan
tertawanya. Karuan Toan Ki sangat girang, sahutnya,
"Memangnya kau sangka aku mata keranjang serupa ayah?
Asal ketemu lantas süka sehingga banyak menimbulkan garagara?"
"Nah, kulihat kaupun tídak banyak berbeda dengan ayah.
Ayahnya begitu masakah anaknya bisa berlainan? Cuma saja
engkau tidak pünya rejeki sebagai ayah," ujar Wan-jíng. Ia
menghela napas, lalu menyambung, 'Seperti ibu, kalau b¡cara
tentang ayah, wah, bencinya tak terkira, tapi bila bertemu,
maka lemaslah hatinya. Tapi nona-nona di jaman sekarang
tentu tidak ada lagi yang baik seperti ibuku.”
Begitulah mereka melanjutkan perjalanan sambil
mengobrol, tidak lama kemudian Ciong Ling, Hi-tiok, Siau
Hong dan lain-lain juga menyusulnya.
Beberapa li kemudian hari mulai gelap. Tiba-tiba terdengar
suara jeritan kuatir seseorang dari sebelah kiri sana menyusul
ada suara teriakan keras pula, suara orang yang sedang
menghadapi suatu bahaya. Dari suara-suara itu dapat dikenali
ada juga suara Lam-hai gok-sin.
"He, itulah suara muridku!" kata Toan Ki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Muridmu orang baik, lekas kita pergí melihatnya!" seru
Ciong Ling.
"Ya, mari cepat!" sahut Hi-tiok. Meskipun Ibunya (Yap Jinio)
adalah sekomplotan dengan Lam-hai-goh-sin, maka
sedikit banyak timbul juga rasa kekeluargaannya.
Segera mereka melarikan kuda ke arah suara-suara tadi.
Sesudah melintasi lereng bukit dan menyusur hutan, tiba-tiba
di tepi jurang di depan sana memperlihatkan suatu adegan
yang sangat mendebarkan hati.
Tertampak di atas sebuah karang yang menonjol di tapi
jurang tumbuh sebatang pohon Siong tua sebuah dahan
pohon menjulur ke jurang, di atas dahan kelihatan disanggah
oleh sebatang tongkat pada ujung tongkat itu menggelantung
seorang berjubah hijau. Siapa lagi dia kalau bukan Toan Yankhing.
Dengan tangan kiri Toan Yan-khlng menggunakan tongkat
untuk nenahan dahan pohon, tubuhnya tergantung di udara,
sedang tangan kanan yang juga mamegang tongkat pada
ujung tongkat yang dipegang oleh seorang lain ternyata
adalah Lam-hai-gok-sin.
Sambil sebelah tangan memegang ujung tongkat Toan Yankhing
maka sebelah tangan Lam-hai-gok-sin yang lain
digunakan untuk menjambak rambut seorang lain lagi, orang
ketiga ini adalah Kiong-hiong-kek-ok in Tiong ho.
Kedua tangan In Tiong ho tertampak digunakan untuk
mencengkeram sepasang tangan seorang wanita muda. Jadi
keempat orang itu seakan-akan tergendong menjadi satu
danterkontal kantil di udara keadaan mereka terang sangat
berbahaya. Asal salah seorang di antara mereka itu lepas
tangan, Maka orang yang di bawahnya tentu akan terjeblos ke
dalam jurang yang curam itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam pada itu tiba tiba angin pegunungan meniup santer
sehingga Lam hai-gok-sin, ln Tiong-ho dan wanita muda yang
terkatung-katung di udara itu tertiup setengah putaran.
Tadinya wanita muda itu tergantung mungkur, maka
sekarang mukanya dapat terlihat dengan jelas. Mendadak
terdengar Toan Ki menjerit keras dan himpir-hampir
terperosot jatuh dari kudanya.
Kiranya wanita muda itu bukan lain adalah Ong Giok-yan
yang senantiasa dirindukannya siang dan malam selama ini.
Sesudah tenangkan diri. Toan Ki melihat karang itu sangat
terjal dan berbahaya, tiada mungkin kuda dapat mencapainya.
Maka cepat ia melompat turun dari kudanya dan berlari-lari ke
sana.
Ketika hampir dekat dengan pohon siong tadi, tiba-tiba
dilihatnya dan seorang pendek gendüt berkepala besar sedang
menebang pohon dengan sebatang kapak besar.
Keruan kecut Toan Ki lebih-lebih bukan buatan, cepat ia
berseru, "Hei, hei Apa yang kau lakukan di s itu?"
Namun si gendut tidak gubris padanya dan masih
mengayun kapaknya menebang pohon.
Segera Toan Kì gunakan jarinya menuding dapan,
maksudnya hendak menyerang si gendut dengan Lak-meh-siakiam.
Tak tersangka karena dia belum mampu menguasai
tenaga murni sendiri, takkala dia ingin menggunakan
kepandaiannya itu jadi tidak manjur, meski dia tüding-tuding
beberapa kali tetap hawa pedang itu sukar dikerahkan.
Terpaksa ia berteriak, "Toako, Jiko, Moaimoai, nona Ciong,
lekas kalian kemari, lekas tolong!"
Di tengah suara sahutan dan bentakan, segera Siau Hong
dan lain-lain memburu tiba.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kiranya tubuh si gendut itu sangat pendek, karena teralingaling
oleh batu karang, maka sama sekali tak kelihatan dari
jauh, pula angin pegunungan meniup dengan santer sehingga
suara kapaknya menebang pohon pun tak terdengar. Untung
pohon siong itu sangat besar sehingga dalam waktu singkat
sukar untuk menumbangkannya.
Melihat itu, Siau Hong dan lain-lain menjadi sangat heran
dan kuatir pula, mereka tidak paham mengapa bisa terjadi
adegan semacam permainan akrobat udara itu.
Segera Hi-Tiok beseru, "He. engkoh gemuk, jangan kau
tebang pohon itu!"
Tapi si gendut telah menjawab, "Pohon ini aku yang tanam,
aku suka menebangnya untuk dibikin peti mati, peduli apa
dengan kau?"
Sembari bicara kapaknya juga terus bekerja tanpa berhenti.
Sedangkan di bawah jurang terdengar suara gembar-gembor
Lam-hai-gok-sin.
"Jiko, orang gendut itu susah untuk diajak bicara, harap
kau suka membekuk dia dulu, urusan belakang." pinta Toan
Ki.
Hi-Tiok mengiakan. Tapi belum lagi ia bergerak,
sekonyong-konyong seorang yang bertongkat telah melayang
kesana secepat terbang, hanya beberapa kali loncatan saja
orang itu sudah berada di depan si gendut tadi. Dan sesudah
orang itu berdiri tegak barulah semua orang dapat melihat
jelas, kiranya dia adalah Yu Goan ci, entah sejak kapan dia
telah lengeloyor turun darl keretanya.
Bok Wan-jing belum pernah kenal Goan-Ci seketika
mendadak melihat mukanya yang jelek menyeramkan itu, ia
menjerit kaget.
Dalam pada itu Goan-Ci telah menggunakan sebelah
tongkatnya untuk menyanggah tubuhnya tongkat yang lain
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terangkat ke atas, lalu katanya dengan tegas, "Siapa pun
dilarang ke sini!”
"He, Ong pangcu, lekas kau bekuk saja saudara gendut itu,
suruh dia jangan menebang pohon lagi," seru Toan Ki cepat.
"Hm, buat apa aku mesti membekuk dia?” sahut Goan-ci
dengan sikap dingin "Apa gunanya aku menaklukan dia?"
"Kalau kau tidak membekuk saudara gendut itu, bila pohon
itu tumbang, semua orang yang bergantungan itu tentu akan
terbantìng mati semua di dalam jurang," kata Toan Ki.
Melihat keadaan sudah kepepet, kalau terlambat sebentar
lagi tentu urusan akan runyam, tanpa pikir lagl Hi-tiok terus
melompat maju. Ia pikir andaikan tidak dapat mencegah
perbuatan si gendut yang sedang menebang pohon itu, paling
tidak harus menarik Toan Yan-khing dan lain-lain ke atas.
Maklum, Hi-tiok merasa utang budi kepada Toan yan-khing
karena tempo hari kepala Su-ok itu telah mengajarkan rahasia
memecahkan problem catur sehingga dia berhasil memperoleh
kepandaian-kepandaian sakti.
Tak terduga, sebelum Hi-tiok bertindak, mendadak Goan-ci
telah menancapkan tongkat ditanah lalu tangan kanan itu
menghantam, kontan serangkum hawa maha dingin
menyambar ke muka Hi-Tiok.
Walau pun Hi-Tiok tidak gentar terhadap serangan berbisa
itu, tapi ia pun tahu tenaga pukulan Goan-ci itu sangat
dahsyat dan tidak boleh di pandang enteng, cepat ia kerahkan
tenaga untuk menangkis. Tapi mendadak pukulan Goan-ci
yang kedua terus diarahkan kedahan pohon, dimana dipakai
menyanggah tongkatnya Toan Yan-khing. Kalau dahan itu
terpukul patah tanpa ampun lagi Toan Yan-khing berempat
pasti akan hancur lebur terjeblos ke dalam jurang.
Keruan Toan Ki kelabakan, cepat ia beteriak, "Tahan dulu!
Jiko, jangan kau maju ke sana, segala urusan boleh
dibicarakan secara baik-baik dan jangan main kekerasan. OngTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
pangcu, sebenarnya apa maksudmu ini? Siapakah yang kau
musuhi? Kenapa kau hendak membikin celaka orang?”
"Toan-kongcu," sahut Goan-ci, "terlalu mudah bagiku jika
mau membekuk si gendut ini. Tapi ... tapi apa balas jasanya
bagiku?"
"Segala apa akan kuberikan padamu! Apa yang kau minta
tentu akan kupenuhi! Nah, le ... lekas kau bertindak, kalau
terlambat tentu tidak keburu lagi!" seru Toan Ki.
"Bila s i gendut ini sudah kubereskan, segera aku akan pergi
bersama nona A Ci, untuk mana kau dan kawan-kawanmu
tidak boleh merintangi kami, apa kau bersedia menerima
syarat ini?” Tanya Goan-ci.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Seks ; Pendekar Negeri Tayli 17 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Seks ; Pendekar Negeri Tayli 17 ini dengan url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/07/cerita-seks-pendekar-negeri-tayli-17.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Seks ; Pendekar Negeri Tayli 17 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Seks ; Pendekar Negeri Tayli 17 sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Seks ; Pendekar Negeri Tayli 17 with url https://cerita-eysa.blogspot.com/2012/07/cerita-seks-pendekar-negeri-tayli-17.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...